Fikih Riba (Bag. 13): Ketentuan-Ketentuan pada Riba Jual Beli (1)

Daftar Isi ToggleKetentuan-ketentuan “harus sejenis”Apakah yang dimaksud dengan harus sejenis dalam tukar menukar?Apakah semua nama yang khusus itu pasti dikategorikan sejenis?Setelah membahas ‘illat pada keenam komoditas riba jual beli, di antara pembahasan yang tidak kalah penting adalah mengetahui tentang ketentuan-ketentuan apa saja yang terdapat pada riba buyu’ (riba jual beli). Menyegarkan kembali ingatan, bahwasanya riba terbagi menjadi dua:Riba duyun (riba yang terkait dengan utang piutang)Riba buyu’ (riba yang terkait dengan jual beli)Perlu diketahui bahwa keenam komoditas yang disebutkan dalam hadis ‘Ubadah bin Shamith radhiyallahu ‘anhu adalah masuk pada pembahasan riba buyu’ dan bukan riba duyun. Sehingga ketentuan ini tidak terlepas dari keenam komoditas ribawi atau barang yang serupa dengan komoditas tersebut.Telah dijelaskan pula terkait dengan keadaan dan kondisi transaksi komoditas ribawi pada riba buyu’, (pada tulisan Fikih Riba Bag. 9). Ringkasnya, terdapat empat keadaan:Pertama: Menukar barang yang satu jenis dan satu ‘illat, seperti menukar emas dengan emas.Kedua: Menukar barang yang beda jenis dan satu ‘illat, seperti menukar emas dengan perak.Ketiga: Menukar barang yang beda ‘illat ribawi dan beda jenis, seperti menukar emas dengan beras.Keempat: Menukar barang yang bukan termasuk kategori barang ribawi, seperti menukar buku dengan pulpen.Sebagaimana yang telah dijelaskan, bahwa pada empat keadaan ini, terdapat syarat-syarat dan ketentuan-ketentuan tersendiri yang harus terpenuhi. Seperti harus sejenis, sama rata dalam timbangan dan takaran, dan barang yang ditukar harus diberikan secara tunai.Secara spesifik, pembahasan ini akan menjelaskan tentang ketentuan-ketentuan di atas.Ketentuan-ketentuan “harus sejenis” Apakah yang dimaksud dengan harus sejenis dalam tukar menukar? Perlu diketahui bahwa al-jins (jenis) secara bahasa adalah,الشَّامِلُ لِأَشْيَاء مُخْتَلِفَةٍ بِأَنْوَاعِهَا“Istilah yang mencakup berbagai hal yang berbeda macam-macamnya.”  Adapun an-nau’ (macam) secara bahasa adalah,الشَّامِلُ لِأَشْيَاء مُخْتَلِفَةٍ بِأَشْخَاصِهَا“Istilah yang mencakup berbagai hal yang berbeda satuannya.” Contoh dari “jenis” adalah kurma dan contoh dari “macam” adalah kurma ajwa, kurma sukari, dan lain sebagainya. Contoh lainnya, beras disebut dengan “jenis”; adapun beras pandan, beras merah, atau beras rojolele, semua ini disebut dengan “macam”.– Sehingga ketentuannya adalah setiap dua macam yang berkumpul dalam satu nama khusus, maka keduanya adalah satu jenis. Seperti contoh yang disebutkan di atas, kurma ajwa dan kurma sukari itu sama jenisnya. Begitupun dengan beras pandan, beras merah, atau beras rojolele, ini semua sama jenisnya; karena secara keseluruhan, semuanya adalah beras.Artinya, walaupun namanya berbeda, akan tetapi tetap dari jenis yang sama. Apa konsekuensinya? Konskekuensinya adalah harus tetap adanya kesetaraan dan kesamaan, serta tidak boleh adanya lebih (selisih) ketika terjadi transaksi penukaran. Misalnya, antara kurma ajwa dan kurma sukari; ketika keduanya ditukar, maka tidak boleh ada lebih dalam takarannya. Jika ada lebih, inilah yang dinamakan dengan riba fadhl.Sebagaimana telah dijelaskan dalam hadis ‘Ubadah radhiyallahu ‘anhu, ketentuan tidak boleh ada selisih adalah jika ditukar dengan jenis yang sama. Di kalangan para ulama pun tidak ada perbedaan tentang masalah wajibnya kesetaraan dalam penukaran barang atau komoditas ribawi yang sejenis, kendati macamnya berbeda.Karenanya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang jual beli muzaabanah. Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu berkata,أنَّ رسولَ اللهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ نهى عن المُزابنة والمُزابنةُ اشتراءُ الثمرِ بالتمرِ كيْلًا والكرْمُ بالزبيبِ كيْلًا“Bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang jual beli muzabanah. Muzabanah adalah membeli buah kurma basah (yang masih di pohon) dengan kurma kering dengan cara ditakar, dan (membeli) buah anggur basah dengan kismis (anggur kering) dengan cara ditakar.” (Muttafaqun ‘alaih)Mengapa jual beli muzabanah ini dilarang? Karena kedua barang yang ditukar berasal dari jenis yang sama, tentu syaratnya tidak boleh ada lebih dalam penukaran. Darimanakah lebihnya? Lebihnya adalah ketika kurma basah ditukar dengan kurma kering, maka terdapat perbedaan dalam takaran. Ketika kurma basah itu mengering, maka akan berkurang takaran dan timbangannya. Di situlah letak ribanya.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya,أنَّهُ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ سُئِلَ عن شراءِ التَّمرِ بالرُّطَبِ فقال أينقصُ الرُّطَبُ إذا يبِسَ؟ قالوا نعَم قال فلا إذَن“Bahwasanya beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya tentang hukum membeli kurma kering (tamr) dengan kurma basah (ruthab). Beliau pun bertanya, ‘Apakah kurma basah akan berkurang (timbangannya) ketika mengering?’ Para sahabat menjawab, ‘Ya’. Beliau lalu bersabda, ‘Jika demikian, maka jangan (lakukan)’.” (HR. At-Tirmidzi)Apakah semua nama yang khusus itu pasti dikategorikan sejenis?Lebih dalam lagi membahas tentang “jenis” yaitu terkait dengan kesamaan pada nama yang khusus, apakah semua nama yang khusus itu pasti dikategorikan sejenis?Kesamaan pada nama yang khusus terikat dengan dua hal:Pertama, kesamaannya harus secara makna, bukan sekedar lafaz (ucapan) semata. Hal ini untuk mengecualikan suatu barang atau benda yang sama nama, namun beda hakikatnya.Contohnya seperti gula jawa (gula aren/merah) dengan gula pasir. Keduanya sama dalam nama, namun hakikat zatnya berbeda. Yang satu dari nira pohon palem/kelapa, dan yang satu lagi dari tebu. Sehingga keduanya bukan satu jenis yang sama, sehingga boleh menukar 1 kg gula jawa dengan 2 kg gula pasir secara barter tanpa terkena riba fadl.Kedua, kedua barang harus berserikat dalam satu sumber. Jika dua barang yang sama dalam nama khusus itu berasal dari dua asal yang berbeda, maka keduanya adalah dua jenis yang berbeda.Contohnya seperti tepung gandum dengan tepung jagung atau cuka apel dengan cuka anggur. Menurut jumhur ulama, ini termasuk dari jenis yang berbeda meskipun namanya sama. Hal ini karena sumbernya berbeda, meskipun namanya sama-sama tepung dan sama-sama cuka. Sehingga ketika terjadi transaksi berupa barter, tidak terkena riba fadl.Demikianlah hal yang berkaitan dengan ketentuan dari al-jins (jenis) pada pembahasan komoditas ribawi. Wallahu a’lam.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 12 LANJUT KE BAGIAN 14***Depok, 3 Zulhijah 1447/ 20 Mei 2026Penulis: Muhammad Zia AbdurrofiArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Pembahasan ini diambil dari kitab Shahih Fiqih Sunnah/Kasyful Akinnah (5: 185-188), dengan beberapa perubahan.Referensi:Abu Malik Kamal bin Sayyid Salim. Shahih Fikih Sunnah. Jilid 5 (Kasyf al-Akinnah). Cetakan ke-2. Mesir: Maktabah At-Taufiqiyyah, tahun 2016.

Fikih Riba (Bag. 13): Ketentuan-Ketentuan pada Riba Jual Beli (1)

Daftar Isi ToggleKetentuan-ketentuan “harus sejenis”Apakah yang dimaksud dengan harus sejenis dalam tukar menukar?Apakah semua nama yang khusus itu pasti dikategorikan sejenis?Setelah membahas ‘illat pada keenam komoditas riba jual beli, di antara pembahasan yang tidak kalah penting adalah mengetahui tentang ketentuan-ketentuan apa saja yang terdapat pada riba buyu’ (riba jual beli). Menyegarkan kembali ingatan, bahwasanya riba terbagi menjadi dua:Riba duyun (riba yang terkait dengan utang piutang)Riba buyu’ (riba yang terkait dengan jual beli)Perlu diketahui bahwa keenam komoditas yang disebutkan dalam hadis ‘Ubadah bin Shamith radhiyallahu ‘anhu adalah masuk pada pembahasan riba buyu’ dan bukan riba duyun. Sehingga ketentuan ini tidak terlepas dari keenam komoditas ribawi atau barang yang serupa dengan komoditas tersebut.Telah dijelaskan pula terkait dengan keadaan dan kondisi transaksi komoditas ribawi pada riba buyu’, (pada tulisan Fikih Riba Bag. 9). Ringkasnya, terdapat empat keadaan:Pertama: Menukar barang yang satu jenis dan satu ‘illat, seperti menukar emas dengan emas.Kedua: Menukar barang yang beda jenis dan satu ‘illat, seperti menukar emas dengan perak.Ketiga: Menukar barang yang beda ‘illat ribawi dan beda jenis, seperti menukar emas dengan beras.Keempat: Menukar barang yang bukan termasuk kategori barang ribawi, seperti menukar buku dengan pulpen.Sebagaimana yang telah dijelaskan, bahwa pada empat keadaan ini, terdapat syarat-syarat dan ketentuan-ketentuan tersendiri yang harus terpenuhi. Seperti harus sejenis, sama rata dalam timbangan dan takaran, dan barang yang ditukar harus diberikan secara tunai.Secara spesifik, pembahasan ini akan menjelaskan tentang ketentuan-ketentuan di atas.Ketentuan-ketentuan “harus sejenis” Apakah yang dimaksud dengan harus sejenis dalam tukar menukar? Perlu diketahui bahwa al-jins (jenis) secara bahasa adalah,الشَّامِلُ لِأَشْيَاء مُخْتَلِفَةٍ بِأَنْوَاعِهَا“Istilah yang mencakup berbagai hal yang berbeda macam-macamnya.”  Adapun an-nau’ (macam) secara bahasa adalah,الشَّامِلُ لِأَشْيَاء مُخْتَلِفَةٍ بِأَشْخَاصِهَا“Istilah yang mencakup berbagai hal yang berbeda satuannya.” Contoh dari “jenis” adalah kurma dan contoh dari “macam” adalah kurma ajwa, kurma sukari, dan lain sebagainya. Contoh lainnya, beras disebut dengan “jenis”; adapun beras pandan, beras merah, atau beras rojolele, semua ini disebut dengan “macam”.– Sehingga ketentuannya adalah setiap dua macam yang berkumpul dalam satu nama khusus, maka keduanya adalah satu jenis. Seperti contoh yang disebutkan di atas, kurma ajwa dan kurma sukari itu sama jenisnya. Begitupun dengan beras pandan, beras merah, atau beras rojolele, ini semua sama jenisnya; karena secara keseluruhan, semuanya adalah beras.Artinya, walaupun namanya berbeda, akan tetapi tetap dari jenis yang sama. Apa konsekuensinya? Konskekuensinya adalah harus tetap adanya kesetaraan dan kesamaan, serta tidak boleh adanya lebih (selisih) ketika terjadi transaksi penukaran. Misalnya, antara kurma ajwa dan kurma sukari; ketika keduanya ditukar, maka tidak boleh ada lebih dalam takarannya. Jika ada lebih, inilah yang dinamakan dengan riba fadhl.Sebagaimana telah dijelaskan dalam hadis ‘Ubadah radhiyallahu ‘anhu, ketentuan tidak boleh ada selisih adalah jika ditukar dengan jenis yang sama. Di kalangan para ulama pun tidak ada perbedaan tentang masalah wajibnya kesetaraan dalam penukaran barang atau komoditas ribawi yang sejenis, kendati macamnya berbeda.Karenanya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang jual beli muzaabanah. Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu berkata,أنَّ رسولَ اللهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ نهى عن المُزابنة والمُزابنةُ اشتراءُ الثمرِ بالتمرِ كيْلًا والكرْمُ بالزبيبِ كيْلًا“Bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang jual beli muzabanah. Muzabanah adalah membeli buah kurma basah (yang masih di pohon) dengan kurma kering dengan cara ditakar, dan (membeli) buah anggur basah dengan kismis (anggur kering) dengan cara ditakar.” (Muttafaqun ‘alaih)Mengapa jual beli muzabanah ini dilarang? Karena kedua barang yang ditukar berasal dari jenis yang sama, tentu syaratnya tidak boleh ada lebih dalam penukaran. Darimanakah lebihnya? Lebihnya adalah ketika kurma basah ditukar dengan kurma kering, maka terdapat perbedaan dalam takaran. Ketika kurma basah itu mengering, maka akan berkurang takaran dan timbangannya. Di situlah letak ribanya.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya,أنَّهُ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ سُئِلَ عن شراءِ التَّمرِ بالرُّطَبِ فقال أينقصُ الرُّطَبُ إذا يبِسَ؟ قالوا نعَم قال فلا إذَن“Bahwasanya beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya tentang hukum membeli kurma kering (tamr) dengan kurma basah (ruthab). Beliau pun bertanya, ‘Apakah kurma basah akan berkurang (timbangannya) ketika mengering?’ Para sahabat menjawab, ‘Ya’. Beliau lalu bersabda, ‘Jika demikian, maka jangan (lakukan)’.” (HR. At-Tirmidzi)Apakah semua nama yang khusus itu pasti dikategorikan sejenis?Lebih dalam lagi membahas tentang “jenis” yaitu terkait dengan kesamaan pada nama yang khusus, apakah semua nama yang khusus itu pasti dikategorikan sejenis?Kesamaan pada nama yang khusus terikat dengan dua hal:Pertama, kesamaannya harus secara makna, bukan sekedar lafaz (ucapan) semata. Hal ini untuk mengecualikan suatu barang atau benda yang sama nama, namun beda hakikatnya.Contohnya seperti gula jawa (gula aren/merah) dengan gula pasir. Keduanya sama dalam nama, namun hakikat zatnya berbeda. Yang satu dari nira pohon palem/kelapa, dan yang satu lagi dari tebu. Sehingga keduanya bukan satu jenis yang sama, sehingga boleh menukar 1 kg gula jawa dengan 2 kg gula pasir secara barter tanpa terkena riba fadl.Kedua, kedua barang harus berserikat dalam satu sumber. Jika dua barang yang sama dalam nama khusus itu berasal dari dua asal yang berbeda, maka keduanya adalah dua jenis yang berbeda.Contohnya seperti tepung gandum dengan tepung jagung atau cuka apel dengan cuka anggur. Menurut jumhur ulama, ini termasuk dari jenis yang berbeda meskipun namanya sama. Hal ini karena sumbernya berbeda, meskipun namanya sama-sama tepung dan sama-sama cuka. Sehingga ketika terjadi transaksi berupa barter, tidak terkena riba fadl.Demikianlah hal yang berkaitan dengan ketentuan dari al-jins (jenis) pada pembahasan komoditas ribawi. Wallahu a’lam.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 12 LANJUT KE BAGIAN 14***Depok, 3 Zulhijah 1447/ 20 Mei 2026Penulis: Muhammad Zia AbdurrofiArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Pembahasan ini diambil dari kitab Shahih Fiqih Sunnah/Kasyful Akinnah (5: 185-188), dengan beberapa perubahan.Referensi:Abu Malik Kamal bin Sayyid Salim. Shahih Fikih Sunnah. Jilid 5 (Kasyf al-Akinnah). Cetakan ke-2. Mesir: Maktabah At-Taufiqiyyah, tahun 2016.
Daftar Isi ToggleKetentuan-ketentuan “harus sejenis”Apakah yang dimaksud dengan harus sejenis dalam tukar menukar?Apakah semua nama yang khusus itu pasti dikategorikan sejenis?Setelah membahas ‘illat pada keenam komoditas riba jual beli, di antara pembahasan yang tidak kalah penting adalah mengetahui tentang ketentuan-ketentuan apa saja yang terdapat pada riba buyu’ (riba jual beli). Menyegarkan kembali ingatan, bahwasanya riba terbagi menjadi dua:Riba duyun (riba yang terkait dengan utang piutang)Riba buyu’ (riba yang terkait dengan jual beli)Perlu diketahui bahwa keenam komoditas yang disebutkan dalam hadis ‘Ubadah bin Shamith radhiyallahu ‘anhu adalah masuk pada pembahasan riba buyu’ dan bukan riba duyun. Sehingga ketentuan ini tidak terlepas dari keenam komoditas ribawi atau barang yang serupa dengan komoditas tersebut.Telah dijelaskan pula terkait dengan keadaan dan kondisi transaksi komoditas ribawi pada riba buyu’, (pada tulisan Fikih Riba Bag. 9). Ringkasnya, terdapat empat keadaan:Pertama: Menukar barang yang satu jenis dan satu ‘illat, seperti menukar emas dengan emas.Kedua: Menukar barang yang beda jenis dan satu ‘illat, seperti menukar emas dengan perak.Ketiga: Menukar barang yang beda ‘illat ribawi dan beda jenis, seperti menukar emas dengan beras.Keempat: Menukar barang yang bukan termasuk kategori barang ribawi, seperti menukar buku dengan pulpen.Sebagaimana yang telah dijelaskan, bahwa pada empat keadaan ini, terdapat syarat-syarat dan ketentuan-ketentuan tersendiri yang harus terpenuhi. Seperti harus sejenis, sama rata dalam timbangan dan takaran, dan barang yang ditukar harus diberikan secara tunai.Secara spesifik, pembahasan ini akan menjelaskan tentang ketentuan-ketentuan di atas.Ketentuan-ketentuan “harus sejenis” Apakah yang dimaksud dengan harus sejenis dalam tukar menukar? Perlu diketahui bahwa al-jins (jenis) secara bahasa adalah,الشَّامِلُ لِأَشْيَاء مُخْتَلِفَةٍ بِأَنْوَاعِهَا“Istilah yang mencakup berbagai hal yang berbeda macam-macamnya.”  Adapun an-nau’ (macam) secara bahasa adalah,الشَّامِلُ لِأَشْيَاء مُخْتَلِفَةٍ بِأَشْخَاصِهَا“Istilah yang mencakup berbagai hal yang berbeda satuannya.” Contoh dari “jenis” adalah kurma dan contoh dari “macam” adalah kurma ajwa, kurma sukari, dan lain sebagainya. Contoh lainnya, beras disebut dengan “jenis”; adapun beras pandan, beras merah, atau beras rojolele, semua ini disebut dengan “macam”.– Sehingga ketentuannya adalah setiap dua macam yang berkumpul dalam satu nama khusus, maka keduanya adalah satu jenis. Seperti contoh yang disebutkan di atas, kurma ajwa dan kurma sukari itu sama jenisnya. Begitupun dengan beras pandan, beras merah, atau beras rojolele, ini semua sama jenisnya; karena secara keseluruhan, semuanya adalah beras.Artinya, walaupun namanya berbeda, akan tetapi tetap dari jenis yang sama. Apa konsekuensinya? Konskekuensinya adalah harus tetap adanya kesetaraan dan kesamaan, serta tidak boleh adanya lebih (selisih) ketika terjadi transaksi penukaran. Misalnya, antara kurma ajwa dan kurma sukari; ketika keduanya ditukar, maka tidak boleh ada lebih dalam takarannya. Jika ada lebih, inilah yang dinamakan dengan riba fadhl.Sebagaimana telah dijelaskan dalam hadis ‘Ubadah radhiyallahu ‘anhu, ketentuan tidak boleh ada selisih adalah jika ditukar dengan jenis yang sama. Di kalangan para ulama pun tidak ada perbedaan tentang masalah wajibnya kesetaraan dalam penukaran barang atau komoditas ribawi yang sejenis, kendati macamnya berbeda.Karenanya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang jual beli muzaabanah. Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu berkata,أنَّ رسولَ اللهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ نهى عن المُزابنة والمُزابنةُ اشتراءُ الثمرِ بالتمرِ كيْلًا والكرْمُ بالزبيبِ كيْلًا“Bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang jual beli muzabanah. Muzabanah adalah membeli buah kurma basah (yang masih di pohon) dengan kurma kering dengan cara ditakar, dan (membeli) buah anggur basah dengan kismis (anggur kering) dengan cara ditakar.” (Muttafaqun ‘alaih)Mengapa jual beli muzabanah ini dilarang? Karena kedua barang yang ditukar berasal dari jenis yang sama, tentu syaratnya tidak boleh ada lebih dalam penukaran. Darimanakah lebihnya? Lebihnya adalah ketika kurma basah ditukar dengan kurma kering, maka terdapat perbedaan dalam takaran. Ketika kurma basah itu mengering, maka akan berkurang takaran dan timbangannya. Di situlah letak ribanya.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya,أنَّهُ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ سُئِلَ عن شراءِ التَّمرِ بالرُّطَبِ فقال أينقصُ الرُّطَبُ إذا يبِسَ؟ قالوا نعَم قال فلا إذَن“Bahwasanya beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya tentang hukum membeli kurma kering (tamr) dengan kurma basah (ruthab). Beliau pun bertanya, ‘Apakah kurma basah akan berkurang (timbangannya) ketika mengering?’ Para sahabat menjawab, ‘Ya’. Beliau lalu bersabda, ‘Jika demikian, maka jangan (lakukan)’.” (HR. At-Tirmidzi)Apakah semua nama yang khusus itu pasti dikategorikan sejenis?Lebih dalam lagi membahas tentang “jenis” yaitu terkait dengan kesamaan pada nama yang khusus, apakah semua nama yang khusus itu pasti dikategorikan sejenis?Kesamaan pada nama yang khusus terikat dengan dua hal:Pertama, kesamaannya harus secara makna, bukan sekedar lafaz (ucapan) semata. Hal ini untuk mengecualikan suatu barang atau benda yang sama nama, namun beda hakikatnya.Contohnya seperti gula jawa (gula aren/merah) dengan gula pasir. Keduanya sama dalam nama, namun hakikat zatnya berbeda. Yang satu dari nira pohon palem/kelapa, dan yang satu lagi dari tebu. Sehingga keduanya bukan satu jenis yang sama, sehingga boleh menukar 1 kg gula jawa dengan 2 kg gula pasir secara barter tanpa terkena riba fadl.Kedua, kedua barang harus berserikat dalam satu sumber. Jika dua barang yang sama dalam nama khusus itu berasal dari dua asal yang berbeda, maka keduanya adalah dua jenis yang berbeda.Contohnya seperti tepung gandum dengan tepung jagung atau cuka apel dengan cuka anggur. Menurut jumhur ulama, ini termasuk dari jenis yang berbeda meskipun namanya sama. Hal ini karena sumbernya berbeda, meskipun namanya sama-sama tepung dan sama-sama cuka. Sehingga ketika terjadi transaksi berupa barter, tidak terkena riba fadl.Demikianlah hal yang berkaitan dengan ketentuan dari al-jins (jenis) pada pembahasan komoditas ribawi. Wallahu a’lam.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 12 LANJUT KE BAGIAN 14***Depok, 3 Zulhijah 1447/ 20 Mei 2026Penulis: Muhammad Zia AbdurrofiArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Pembahasan ini diambil dari kitab Shahih Fiqih Sunnah/Kasyful Akinnah (5: 185-188), dengan beberapa perubahan.Referensi:Abu Malik Kamal bin Sayyid Salim. Shahih Fikih Sunnah. Jilid 5 (Kasyf al-Akinnah). Cetakan ke-2. Mesir: Maktabah At-Taufiqiyyah, tahun 2016.


Daftar Isi ToggleKetentuan-ketentuan “harus sejenis”Apakah yang dimaksud dengan harus sejenis dalam tukar menukar?Apakah semua nama yang khusus itu pasti dikategorikan sejenis?Setelah membahas ‘illat pada keenam komoditas riba jual beli, di antara pembahasan yang tidak kalah penting adalah mengetahui tentang ketentuan-ketentuan apa saja yang terdapat pada riba buyu’ (riba jual beli). Menyegarkan kembali ingatan, bahwasanya riba terbagi menjadi dua:Riba duyun (riba yang terkait dengan utang piutang)Riba buyu’ (riba yang terkait dengan jual beli)Perlu diketahui bahwa keenam komoditas yang disebutkan dalam hadis ‘Ubadah bin Shamith radhiyallahu ‘anhu adalah masuk pada pembahasan riba buyu’ dan bukan riba duyun. Sehingga ketentuan ini tidak terlepas dari keenam komoditas ribawi atau barang yang serupa dengan komoditas tersebut.Telah dijelaskan pula terkait dengan keadaan dan kondisi transaksi komoditas ribawi pada riba buyu’, (pada tulisan Fikih Riba Bag. 9). Ringkasnya, terdapat empat keadaan:Pertama: Menukar barang yang satu jenis dan satu ‘illat, seperti menukar emas dengan emas.Kedua: Menukar barang yang beda jenis dan satu ‘illat, seperti menukar emas dengan perak.Ketiga: Menukar barang yang beda ‘illat ribawi dan beda jenis, seperti menukar emas dengan beras.Keempat: Menukar barang yang bukan termasuk kategori barang ribawi, seperti menukar buku dengan pulpen.Sebagaimana yang telah dijelaskan, bahwa pada empat keadaan ini, terdapat syarat-syarat dan ketentuan-ketentuan tersendiri yang harus terpenuhi. Seperti harus sejenis, sama rata dalam timbangan dan takaran, dan barang yang ditukar harus diberikan secara tunai.Secara spesifik, pembahasan ini akan menjelaskan tentang ketentuan-ketentuan di atas.Ketentuan-ketentuan “harus sejenis” Apakah yang dimaksud dengan harus sejenis dalam tukar menukar? Perlu diketahui bahwa al-jins (jenis) secara bahasa adalah,الشَّامِلُ لِأَشْيَاء مُخْتَلِفَةٍ بِأَنْوَاعِهَا“Istilah yang mencakup berbagai hal yang berbeda macam-macamnya.”  Adapun an-nau’ (macam) secara bahasa adalah,الشَّامِلُ لِأَشْيَاء مُخْتَلِفَةٍ بِأَشْخَاصِهَا“Istilah yang mencakup berbagai hal yang berbeda satuannya.” Contoh dari “jenis” adalah kurma dan contoh dari “macam” adalah kurma ajwa, kurma sukari, dan lain sebagainya. Contoh lainnya, beras disebut dengan “jenis”; adapun beras pandan, beras merah, atau beras rojolele, semua ini disebut dengan “macam”.– Sehingga ketentuannya adalah setiap dua macam yang berkumpul dalam satu nama khusus, maka keduanya adalah satu jenis. Seperti contoh yang disebutkan di atas, kurma ajwa dan kurma sukari itu sama jenisnya. Begitupun dengan beras pandan, beras merah, atau beras rojolele, ini semua sama jenisnya; karena secara keseluruhan, semuanya adalah beras.Artinya, walaupun namanya berbeda, akan tetapi tetap dari jenis yang sama. Apa konsekuensinya? Konskekuensinya adalah harus tetap adanya kesetaraan dan kesamaan, serta tidak boleh adanya lebih (selisih) ketika terjadi transaksi penukaran. Misalnya, antara kurma ajwa dan kurma sukari; ketika keduanya ditukar, maka tidak boleh ada lebih dalam takarannya. Jika ada lebih, inilah yang dinamakan dengan riba fadhl.Sebagaimana telah dijelaskan dalam hadis ‘Ubadah radhiyallahu ‘anhu, ketentuan tidak boleh ada selisih adalah jika ditukar dengan jenis yang sama. Di kalangan para ulama pun tidak ada perbedaan tentang masalah wajibnya kesetaraan dalam penukaran barang atau komoditas ribawi yang sejenis, kendati macamnya berbeda.Karenanya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang jual beli muzaabanah. Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu berkata,أنَّ رسولَ اللهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ نهى عن المُزابنة والمُزابنةُ اشتراءُ الثمرِ بالتمرِ كيْلًا والكرْمُ بالزبيبِ كيْلًا“Bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang jual beli muzabanah. Muzabanah adalah membeli buah kurma basah (yang masih di pohon) dengan kurma kering dengan cara ditakar, dan (membeli) buah anggur basah dengan kismis (anggur kering) dengan cara ditakar.” (Muttafaqun ‘alaih)Mengapa jual beli muzabanah ini dilarang? Karena kedua barang yang ditukar berasal dari jenis yang sama, tentu syaratnya tidak boleh ada lebih dalam penukaran. Darimanakah lebihnya? Lebihnya adalah ketika kurma basah ditukar dengan kurma kering, maka terdapat perbedaan dalam takaran. Ketika kurma basah itu mengering, maka akan berkurang takaran dan timbangannya. Di situlah letak ribanya.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya,أنَّهُ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ سُئِلَ عن شراءِ التَّمرِ بالرُّطَبِ فقال أينقصُ الرُّطَبُ إذا يبِسَ؟ قالوا نعَم قال فلا إذَن“Bahwasanya beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya tentang hukum membeli kurma kering (tamr) dengan kurma basah (ruthab). Beliau pun bertanya, ‘Apakah kurma basah akan berkurang (timbangannya) ketika mengering?’ Para sahabat menjawab, ‘Ya’. Beliau lalu bersabda, ‘Jika demikian, maka jangan (lakukan)’.” (HR. At-Tirmidzi)Apakah semua nama yang khusus itu pasti dikategorikan sejenis?Lebih dalam lagi membahas tentang “jenis” yaitu terkait dengan kesamaan pada nama yang khusus, apakah semua nama yang khusus itu pasti dikategorikan sejenis?Kesamaan pada nama yang khusus terikat dengan dua hal:Pertama, kesamaannya harus secara makna, bukan sekedar lafaz (ucapan) semata. Hal ini untuk mengecualikan suatu barang atau benda yang sama nama, namun beda hakikatnya.Contohnya seperti gula jawa (gula aren/merah) dengan gula pasir. Keduanya sama dalam nama, namun hakikat zatnya berbeda. Yang satu dari nira pohon palem/kelapa, dan yang satu lagi dari tebu. Sehingga keduanya bukan satu jenis yang sama, sehingga boleh menukar 1 kg gula jawa dengan 2 kg gula pasir secara barter tanpa terkena riba fadl.Kedua, kedua barang harus berserikat dalam satu sumber. Jika dua barang yang sama dalam nama khusus itu berasal dari dua asal yang berbeda, maka keduanya adalah dua jenis yang berbeda.Contohnya seperti tepung gandum dengan tepung jagung atau cuka apel dengan cuka anggur. Menurut jumhur ulama, ini termasuk dari jenis yang berbeda meskipun namanya sama. Hal ini karena sumbernya berbeda, meskipun namanya sama-sama tepung dan sama-sama cuka. Sehingga ketika terjadi transaksi berupa barter, tidak terkena riba fadl.Demikianlah hal yang berkaitan dengan ketentuan dari al-jins (jenis) pada pembahasan komoditas ribawi. Wallahu a’lam.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 12 LANJUT KE BAGIAN 14***Depok, 3 Zulhijah 1447/ 20 Mei 2026Penulis: Muhammad Zia AbdurrofiArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Pembahasan ini diambil dari kitab Shahih Fiqih Sunnah/Kasyful Akinnah (5: 185-188), dengan beberapa perubahan.Referensi:Abu Malik Kamal bin Sayyid Salim. Shahih Fikih Sunnah. Jilid 5 (Kasyf al-Akinnah). Cetakan ke-2. Mesir: Maktabah At-Taufiqiyyah, tahun 2016.

Jangan Merasa Aman dengan Imanmu Hari Ini – Syaikh Shalih al-Ushaimi #NasehatUlama

Karena itu, wahai saudara-saudaraku, hendaknya seseorang senantiasa khawatir terhadap dirinya sendiri. “Dan ketahuilah bahwa Allah membatasi antara manusia dan hatinya.” (QS. Al-Anfal: 24) Ia harus khawatir terhadap dirinya. Hari ini engkau taat, boleh jadi besok engkau menjadi pelaku maksiat. Hari ini engkau berada di atas sunah, boleh jadi besok engkau menjadi pelaku bid’ah. Hari ini engkau seorang muslim, boleh jadi besok engkau menjadi kafir. Keadaan kita tidak lebih baik daripada sebagian orang yang dahulu menyaksikan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam secara langsung dan membersamai beliau, serta mendengar langsung sabda-sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian setelah itu, mereka murtad dari Islam dan keluar darinya. Karena itu, siapa yang memperhatikan keadaan ini, niscaya rasa khawatir terhadap dirinya akan semakin besar. Maka ia tidak akan membawa dirinya ke dalam suatu urusan, kecuali yang sudah jelas baginya. Jika ada perkara yang belum jelas baginya, ia menyerahkannya kepada ahlinya, yaitu orang-orang yang Allah Subhanahu wa Ta’ala perintahkan agar urusan dikembalikan kepada mereka. Dengan begitu, ia menjaga agamanya. Namun, jika ia nekat masuk ke dalam perkara yang bukan kapasitasnya, boleh jadi ia akan berakhir pada kesudahan yang tidak terpuji. Siapa yang membaca sejarah, ia akan menemukan banyak pelajaran di dalamnya. Bacalah sejarah, sebab di dalamnya terdapat banyak pelajaran. Banyak kaum tersesat, karena mereka tidak mengetahui kabar yang benar. ===== لِذَلِكَ دَائِمًا يَا إِخْوَانُ الْإِنْسَانُ يَنْبَغِي أَنْ يَخَافَ عَلَى نَفْسِهِ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَحُولُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِهِ يَخَافُ عَلَى نَفْسِهِ أَنْتَ الْيَوْمَ مُطِيعٌ وَرُبَّمَا تَكُونُ غَدًا عَاصِيًا وَأَنْتَ الْيَوْمَ سُنِّيٌّ وَرُبَّمَا تَكُونُ غَدًا مُبْتَدِعًا وَأَنْتَ الْيَوْمَ مُسْلِمٌ وَرُبَّمَا تَكُونُ غَدًا كَافِرًا لَسْنَا فِي حَالٍ أَكْمَلَ مِنْ أُنَاسٍ كَانُوا فِي مَقَامِ مُشَاهَدَةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَصُحْبَتِهِ وَسَمَاعِ قَوْلِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ ارْتَدُّوا بَعْدَ ذَلِكَ عَنِ الْإِسْلَامِ وَخَرَجُوا مِنْهُ لِذَلِكَ مَنْ نَظَرَ إِلَى هَذِهِ الْحَالِ عَظُمَ خَوْفُهُ عَلَى نَفْسِهِ فَلَا يُورِدُ نَفْسَهُ إِلَّا فِيمَا تَبَيَّنَ لَهُ وَإِذَا لَمْ يَتَبَيَّنْ لَهُ شَيْءٌ وَكَلَ الْأَمْرَ إِلَى أَهْلِهِ الَّذِينَ أَمَرَ اللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى بِالرَّدِّ إِلَيْهِمْ فَيَحْفَظُ بِذَلِكَ دِينَهُ وَإِنْ تَقَحَّمَ مَا لَيْسَ لَهُ فَإِنَّهُ رُبَّمَا صَارَ إِلَى عَاقِبَةٍ لَا تُحْمَدُ وَمَنْ يَقْرَأ التَّارِيخَ يَجِدْ فِيهِ الْعِبَرَ اقْرَأ التَّارِيخَ إِذْ فِيهِ الْعِبَرُ ضَلَّ أَقْوَامٌ لَيْسَ يَدْرُونَ الْخَبَرَ

Jangan Merasa Aman dengan Imanmu Hari Ini – Syaikh Shalih al-Ushaimi #NasehatUlama

Karena itu, wahai saudara-saudaraku, hendaknya seseorang senantiasa khawatir terhadap dirinya sendiri. “Dan ketahuilah bahwa Allah membatasi antara manusia dan hatinya.” (QS. Al-Anfal: 24) Ia harus khawatir terhadap dirinya. Hari ini engkau taat, boleh jadi besok engkau menjadi pelaku maksiat. Hari ini engkau berada di atas sunah, boleh jadi besok engkau menjadi pelaku bid’ah. Hari ini engkau seorang muslim, boleh jadi besok engkau menjadi kafir. Keadaan kita tidak lebih baik daripada sebagian orang yang dahulu menyaksikan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam secara langsung dan membersamai beliau, serta mendengar langsung sabda-sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian setelah itu, mereka murtad dari Islam dan keluar darinya. Karena itu, siapa yang memperhatikan keadaan ini, niscaya rasa khawatir terhadap dirinya akan semakin besar. Maka ia tidak akan membawa dirinya ke dalam suatu urusan, kecuali yang sudah jelas baginya. Jika ada perkara yang belum jelas baginya, ia menyerahkannya kepada ahlinya, yaitu orang-orang yang Allah Subhanahu wa Ta’ala perintahkan agar urusan dikembalikan kepada mereka. Dengan begitu, ia menjaga agamanya. Namun, jika ia nekat masuk ke dalam perkara yang bukan kapasitasnya, boleh jadi ia akan berakhir pada kesudahan yang tidak terpuji. Siapa yang membaca sejarah, ia akan menemukan banyak pelajaran di dalamnya. Bacalah sejarah, sebab di dalamnya terdapat banyak pelajaran. Banyak kaum tersesat, karena mereka tidak mengetahui kabar yang benar. ===== لِذَلِكَ دَائِمًا يَا إِخْوَانُ الْإِنْسَانُ يَنْبَغِي أَنْ يَخَافَ عَلَى نَفْسِهِ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَحُولُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِهِ يَخَافُ عَلَى نَفْسِهِ أَنْتَ الْيَوْمَ مُطِيعٌ وَرُبَّمَا تَكُونُ غَدًا عَاصِيًا وَأَنْتَ الْيَوْمَ سُنِّيٌّ وَرُبَّمَا تَكُونُ غَدًا مُبْتَدِعًا وَأَنْتَ الْيَوْمَ مُسْلِمٌ وَرُبَّمَا تَكُونُ غَدًا كَافِرًا لَسْنَا فِي حَالٍ أَكْمَلَ مِنْ أُنَاسٍ كَانُوا فِي مَقَامِ مُشَاهَدَةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَصُحْبَتِهِ وَسَمَاعِ قَوْلِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ ارْتَدُّوا بَعْدَ ذَلِكَ عَنِ الْإِسْلَامِ وَخَرَجُوا مِنْهُ لِذَلِكَ مَنْ نَظَرَ إِلَى هَذِهِ الْحَالِ عَظُمَ خَوْفُهُ عَلَى نَفْسِهِ فَلَا يُورِدُ نَفْسَهُ إِلَّا فِيمَا تَبَيَّنَ لَهُ وَإِذَا لَمْ يَتَبَيَّنْ لَهُ شَيْءٌ وَكَلَ الْأَمْرَ إِلَى أَهْلِهِ الَّذِينَ أَمَرَ اللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى بِالرَّدِّ إِلَيْهِمْ فَيَحْفَظُ بِذَلِكَ دِينَهُ وَإِنْ تَقَحَّمَ مَا لَيْسَ لَهُ فَإِنَّهُ رُبَّمَا صَارَ إِلَى عَاقِبَةٍ لَا تُحْمَدُ وَمَنْ يَقْرَأ التَّارِيخَ يَجِدْ فِيهِ الْعِبَرَ اقْرَأ التَّارِيخَ إِذْ فِيهِ الْعِبَرُ ضَلَّ أَقْوَامٌ لَيْسَ يَدْرُونَ الْخَبَرَ
Karena itu, wahai saudara-saudaraku, hendaknya seseorang senantiasa khawatir terhadap dirinya sendiri. “Dan ketahuilah bahwa Allah membatasi antara manusia dan hatinya.” (QS. Al-Anfal: 24) Ia harus khawatir terhadap dirinya. Hari ini engkau taat, boleh jadi besok engkau menjadi pelaku maksiat. Hari ini engkau berada di atas sunah, boleh jadi besok engkau menjadi pelaku bid’ah. Hari ini engkau seorang muslim, boleh jadi besok engkau menjadi kafir. Keadaan kita tidak lebih baik daripada sebagian orang yang dahulu menyaksikan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam secara langsung dan membersamai beliau, serta mendengar langsung sabda-sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian setelah itu, mereka murtad dari Islam dan keluar darinya. Karena itu, siapa yang memperhatikan keadaan ini, niscaya rasa khawatir terhadap dirinya akan semakin besar. Maka ia tidak akan membawa dirinya ke dalam suatu urusan, kecuali yang sudah jelas baginya. Jika ada perkara yang belum jelas baginya, ia menyerahkannya kepada ahlinya, yaitu orang-orang yang Allah Subhanahu wa Ta’ala perintahkan agar urusan dikembalikan kepada mereka. Dengan begitu, ia menjaga agamanya. Namun, jika ia nekat masuk ke dalam perkara yang bukan kapasitasnya, boleh jadi ia akan berakhir pada kesudahan yang tidak terpuji. Siapa yang membaca sejarah, ia akan menemukan banyak pelajaran di dalamnya. Bacalah sejarah, sebab di dalamnya terdapat banyak pelajaran. Banyak kaum tersesat, karena mereka tidak mengetahui kabar yang benar. ===== لِذَلِكَ دَائِمًا يَا إِخْوَانُ الْإِنْسَانُ يَنْبَغِي أَنْ يَخَافَ عَلَى نَفْسِهِ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَحُولُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِهِ يَخَافُ عَلَى نَفْسِهِ أَنْتَ الْيَوْمَ مُطِيعٌ وَرُبَّمَا تَكُونُ غَدًا عَاصِيًا وَأَنْتَ الْيَوْمَ سُنِّيٌّ وَرُبَّمَا تَكُونُ غَدًا مُبْتَدِعًا وَأَنْتَ الْيَوْمَ مُسْلِمٌ وَرُبَّمَا تَكُونُ غَدًا كَافِرًا لَسْنَا فِي حَالٍ أَكْمَلَ مِنْ أُنَاسٍ كَانُوا فِي مَقَامِ مُشَاهَدَةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَصُحْبَتِهِ وَسَمَاعِ قَوْلِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ ارْتَدُّوا بَعْدَ ذَلِكَ عَنِ الْإِسْلَامِ وَخَرَجُوا مِنْهُ لِذَلِكَ مَنْ نَظَرَ إِلَى هَذِهِ الْحَالِ عَظُمَ خَوْفُهُ عَلَى نَفْسِهِ فَلَا يُورِدُ نَفْسَهُ إِلَّا فِيمَا تَبَيَّنَ لَهُ وَإِذَا لَمْ يَتَبَيَّنْ لَهُ شَيْءٌ وَكَلَ الْأَمْرَ إِلَى أَهْلِهِ الَّذِينَ أَمَرَ اللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى بِالرَّدِّ إِلَيْهِمْ فَيَحْفَظُ بِذَلِكَ دِينَهُ وَإِنْ تَقَحَّمَ مَا لَيْسَ لَهُ فَإِنَّهُ رُبَّمَا صَارَ إِلَى عَاقِبَةٍ لَا تُحْمَدُ وَمَنْ يَقْرَأ التَّارِيخَ يَجِدْ فِيهِ الْعِبَرَ اقْرَأ التَّارِيخَ إِذْ فِيهِ الْعِبَرُ ضَلَّ أَقْوَامٌ لَيْسَ يَدْرُونَ الْخَبَرَ


Karena itu, wahai saudara-saudaraku, hendaknya seseorang senantiasa khawatir terhadap dirinya sendiri. “Dan ketahuilah bahwa Allah membatasi antara manusia dan hatinya.” (QS. Al-Anfal: 24) Ia harus khawatir terhadap dirinya. Hari ini engkau taat, boleh jadi besok engkau menjadi pelaku maksiat. Hari ini engkau berada di atas sunah, boleh jadi besok engkau menjadi pelaku bid’ah. Hari ini engkau seorang muslim, boleh jadi besok engkau menjadi kafir. Keadaan kita tidak lebih baik daripada sebagian orang yang dahulu menyaksikan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam secara langsung dan membersamai beliau, serta mendengar langsung sabda-sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian setelah itu, mereka murtad dari Islam dan keluar darinya. Karena itu, siapa yang memperhatikan keadaan ini, niscaya rasa khawatir terhadap dirinya akan semakin besar. Maka ia tidak akan membawa dirinya ke dalam suatu urusan, kecuali yang sudah jelas baginya. Jika ada perkara yang belum jelas baginya, ia menyerahkannya kepada ahlinya, yaitu orang-orang yang Allah Subhanahu wa Ta’ala perintahkan agar urusan dikembalikan kepada mereka. Dengan begitu, ia menjaga agamanya. Namun, jika ia nekat masuk ke dalam perkara yang bukan kapasitasnya, boleh jadi ia akan berakhir pada kesudahan yang tidak terpuji. Siapa yang membaca sejarah, ia akan menemukan banyak pelajaran di dalamnya. Bacalah sejarah, sebab di dalamnya terdapat banyak pelajaran. Banyak kaum tersesat, karena mereka tidak mengetahui kabar yang benar. ===== لِذَلِكَ دَائِمًا يَا إِخْوَانُ الْإِنْسَانُ يَنْبَغِي أَنْ يَخَافَ عَلَى نَفْسِهِ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَحُولُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِهِ يَخَافُ عَلَى نَفْسِهِ أَنْتَ الْيَوْمَ مُطِيعٌ وَرُبَّمَا تَكُونُ غَدًا عَاصِيًا وَأَنْتَ الْيَوْمَ سُنِّيٌّ وَرُبَّمَا تَكُونُ غَدًا مُبْتَدِعًا وَأَنْتَ الْيَوْمَ مُسْلِمٌ وَرُبَّمَا تَكُونُ غَدًا كَافِرًا لَسْنَا فِي حَالٍ أَكْمَلَ مِنْ أُنَاسٍ كَانُوا فِي مَقَامِ مُشَاهَدَةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَصُحْبَتِهِ وَسَمَاعِ قَوْلِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ ارْتَدُّوا بَعْدَ ذَلِكَ عَنِ الْإِسْلَامِ وَخَرَجُوا مِنْهُ لِذَلِكَ مَنْ نَظَرَ إِلَى هَذِهِ الْحَالِ عَظُمَ خَوْفُهُ عَلَى نَفْسِهِ فَلَا يُورِدُ نَفْسَهُ إِلَّا فِيمَا تَبَيَّنَ لَهُ وَإِذَا لَمْ يَتَبَيَّنْ لَهُ شَيْءٌ وَكَلَ الْأَمْرَ إِلَى أَهْلِهِ الَّذِينَ أَمَرَ اللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى بِالرَّدِّ إِلَيْهِمْ فَيَحْفَظُ بِذَلِكَ دِينَهُ وَإِنْ تَقَحَّمَ مَا لَيْسَ لَهُ فَإِنَّهُ رُبَّمَا صَارَ إِلَى عَاقِبَةٍ لَا تُحْمَدُ وَمَنْ يَقْرَأ التَّارِيخَ يَجِدْ فِيهِ الْعِبَرَ اقْرَأ التَّارِيخَ إِذْ فِيهِ الْعِبَرُ ضَلَّ أَقْوَامٌ لَيْسَ يَدْرُونَ الْخَبَرَ

Jangan Sampai Shalat Kita Seperti Jasad Tanpa Ruh – Syaikh Sulaiman ar-Ruhaili #NasehatUlama

Betapa perlunya kita memperhatikan hal ini, wahai saudara-saudara, yaitu mengosongkan hati kita untuk ibadah, saat kita sedang beribadah. Sehingga kita tidak tersibukkan oleh selain ibadah itu. Penulis berkata: Yaitu dengan mengosongkan hatinya hanya untuk Allah dalam ibadah tersebut, serta mengerahkan seluruh kesungguhannya untuk menghadapkan diri kepada Allah di dalam ibadah itu, dan memusatkan hatinya pada ibadah itu, serta melaksanakannya dengan cara yang paling baik dan paling sempurna, baik secara lahir maupun batin. Karena salat memiliki sisi lahir dan sisi batin. Sisi lahirnya adalah gerakan-gerakan yang terlihat dan bacaan-bacaan yang terdengar. Sedangkan sisi batinnya adalah kekhusyukan dan merasa diawasi oleh Allah, yaitu mengosongkan hati hanya untuk Allah dan menghadapkan diri sepenuhnya kepada-Nya dalam salat itu, sehingga hatinya tidak berpaling dari-Nya kepada selain-Nya. Sisi batin ini kedudukannya ibarat ruh bagi salat. Sedangkan gerakan-gerakannya ibarat jasadnya. Maka apabila salat itu kosong dari ruhnya, ia seperti jasad tanpa ruh. Tidakkah seorang hamba merasa malu? Tidakkah seorang hamba merasa malu menghadap Rabbnya dalam keadaan seperti itu? Karena itu, salat tersebut digulung sebagaimana pakaian usang digulung, lalu dipukulkan ke wajah pemiliknya. Dan salat itu berkata, “Semoga Allah menyia-nyiakanmu sebagaimana engkau telah menyia-nyiakanku!” ===== مَا أَحْوَجَنَا إِلَى أَنْ نَتَنَبَّهَ لِهَذَا يَا إِخْوَةُ أَنْ نُفَرِّغَ قَلْبَنَا لِلْعِبَادَةِ وَنَحْنُ فِي الْعِبَادَةِ بِحَيْثُ لَا نَشْتَغِلُ بِغَيْرِهَا قَالَ وَهُوَ أَنْ يُفَرِّغَ قَلْبَهُ لِلَّهِ فِيهَا وَيَسْتَفْرِغَ جُهْدَهُ فِي إِقْبَالِهِ فِيهَا عَلَى اللَّهِ وَجَمْعِ قَلْبِهِ عَلَيْهَا وَإِيقَاعِهَا عَلَى أَحْسَنِ الْوُجُوهِ وَأَكْمَلِهَا ظَاهِرًا وَبَاطِنًا فَإِنَّ الصَّلَاةَ لَهَا ظَاهِرٌ وَبَاطِنٌ فَظَاهِرُهَا الْأَفْعَالُ الْمُشَاهَدَةُ وَالْأَقْوَالُ الْمَسْمُوعَةُ وَبَاطِنُهَا الْخُشُوعُ وَالْمُرَاقَبَةُ وَتَفْرِيغُ الْقَلْبِ لِلَّهِ وَالْإِقْبَالُ بِكُلِّيَّتِهِ عَلَى اللَّهِ فِيهَا بِحَيْثُ لَا يَلْتَفِتُ قَلْبُهُ عَنْهُ إِلَى غَيْرِهِ فَهَذِهِ بِمَنْزِلَةِ الرُّوحِ لَهَا وَالْأَفْعَالُ بِمَنْزِلَةِ الْبَدَنِ فَإِذَا خَلَتْ مِنَ الرُّوحِ كَانَتْ كَبَدَنٍ لَا رُوحَ فِيهِ أَفَلَا يَسْتَحِي الْعَبْدُ أَفَلَا يَسْتَحِي الْعَبْدُ أَنْ يُوَاجِهَ سَيِّدَهُ بِمِثْلِ ذَلِكَ وَلِهَذَا تُلَفُّ كَمَا يُلَفُّ الثَّوْبُ الْخَلِقُ وَيُضْرَبُ بِهَا وَجْهُ صَاحِبِهَا وَتَقُولُ ضَيَّعَكَ اللَّهُ كَمَا ضَيَّعْتَنِي

Jangan Sampai Shalat Kita Seperti Jasad Tanpa Ruh – Syaikh Sulaiman ar-Ruhaili #NasehatUlama

Betapa perlunya kita memperhatikan hal ini, wahai saudara-saudara, yaitu mengosongkan hati kita untuk ibadah, saat kita sedang beribadah. Sehingga kita tidak tersibukkan oleh selain ibadah itu. Penulis berkata: Yaitu dengan mengosongkan hatinya hanya untuk Allah dalam ibadah tersebut, serta mengerahkan seluruh kesungguhannya untuk menghadapkan diri kepada Allah di dalam ibadah itu, dan memusatkan hatinya pada ibadah itu, serta melaksanakannya dengan cara yang paling baik dan paling sempurna, baik secara lahir maupun batin. Karena salat memiliki sisi lahir dan sisi batin. Sisi lahirnya adalah gerakan-gerakan yang terlihat dan bacaan-bacaan yang terdengar. Sedangkan sisi batinnya adalah kekhusyukan dan merasa diawasi oleh Allah, yaitu mengosongkan hati hanya untuk Allah dan menghadapkan diri sepenuhnya kepada-Nya dalam salat itu, sehingga hatinya tidak berpaling dari-Nya kepada selain-Nya. Sisi batin ini kedudukannya ibarat ruh bagi salat. Sedangkan gerakan-gerakannya ibarat jasadnya. Maka apabila salat itu kosong dari ruhnya, ia seperti jasad tanpa ruh. Tidakkah seorang hamba merasa malu? Tidakkah seorang hamba merasa malu menghadap Rabbnya dalam keadaan seperti itu? Karena itu, salat tersebut digulung sebagaimana pakaian usang digulung, lalu dipukulkan ke wajah pemiliknya. Dan salat itu berkata, “Semoga Allah menyia-nyiakanmu sebagaimana engkau telah menyia-nyiakanku!” ===== مَا أَحْوَجَنَا إِلَى أَنْ نَتَنَبَّهَ لِهَذَا يَا إِخْوَةُ أَنْ نُفَرِّغَ قَلْبَنَا لِلْعِبَادَةِ وَنَحْنُ فِي الْعِبَادَةِ بِحَيْثُ لَا نَشْتَغِلُ بِغَيْرِهَا قَالَ وَهُوَ أَنْ يُفَرِّغَ قَلْبَهُ لِلَّهِ فِيهَا وَيَسْتَفْرِغَ جُهْدَهُ فِي إِقْبَالِهِ فِيهَا عَلَى اللَّهِ وَجَمْعِ قَلْبِهِ عَلَيْهَا وَإِيقَاعِهَا عَلَى أَحْسَنِ الْوُجُوهِ وَأَكْمَلِهَا ظَاهِرًا وَبَاطِنًا فَإِنَّ الصَّلَاةَ لَهَا ظَاهِرٌ وَبَاطِنٌ فَظَاهِرُهَا الْأَفْعَالُ الْمُشَاهَدَةُ وَالْأَقْوَالُ الْمَسْمُوعَةُ وَبَاطِنُهَا الْخُشُوعُ وَالْمُرَاقَبَةُ وَتَفْرِيغُ الْقَلْبِ لِلَّهِ وَالْإِقْبَالُ بِكُلِّيَّتِهِ عَلَى اللَّهِ فِيهَا بِحَيْثُ لَا يَلْتَفِتُ قَلْبُهُ عَنْهُ إِلَى غَيْرِهِ فَهَذِهِ بِمَنْزِلَةِ الرُّوحِ لَهَا وَالْأَفْعَالُ بِمَنْزِلَةِ الْبَدَنِ فَإِذَا خَلَتْ مِنَ الرُّوحِ كَانَتْ كَبَدَنٍ لَا رُوحَ فِيهِ أَفَلَا يَسْتَحِي الْعَبْدُ أَفَلَا يَسْتَحِي الْعَبْدُ أَنْ يُوَاجِهَ سَيِّدَهُ بِمِثْلِ ذَلِكَ وَلِهَذَا تُلَفُّ كَمَا يُلَفُّ الثَّوْبُ الْخَلِقُ وَيُضْرَبُ بِهَا وَجْهُ صَاحِبِهَا وَتَقُولُ ضَيَّعَكَ اللَّهُ كَمَا ضَيَّعْتَنِي
Betapa perlunya kita memperhatikan hal ini, wahai saudara-saudara, yaitu mengosongkan hati kita untuk ibadah, saat kita sedang beribadah. Sehingga kita tidak tersibukkan oleh selain ibadah itu. Penulis berkata: Yaitu dengan mengosongkan hatinya hanya untuk Allah dalam ibadah tersebut, serta mengerahkan seluruh kesungguhannya untuk menghadapkan diri kepada Allah di dalam ibadah itu, dan memusatkan hatinya pada ibadah itu, serta melaksanakannya dengan cara yang paling baik dan paling sempurna, baik secara lahir maupun batin. Karena salat memiliki sisi lahir dan sisi batin. Sisi lahirnya adalah gerakan-gerakan yang terlihat dan bacaan-bacaan yang terdengar. Sedangkan sisi batinnya adalah kekhusyukan dan merasa diawasi oleh Allah, yaitu mengosongkan hati hanya untuk Allah dan menghadapkan diri sepenuhnya kepada-Nya dalam salat itu, sehingga hatinya tidak berpaling dari-Nya kepada selain-Nya. Sisi batin ini kedudukannya ibarat ruh bagi salat. Sedangkan gerakan-gerakannya ibarat jasadnya. Maka apabila salat itu kosong dari ruhnya, ia seperti jasad tanpa ruh. Tidakkah seorang hamba merasa malu? Tidakkah seorang hamba merasa malu menghadap Rabbnya dalam keadaan seperti itu? Karena itu, salat tersebut digulung sebagaimana pakaian usang digulung, lalu dipukulkan ke wajah pemiliknya. Dan salat itu berkata, “Semoga Allah menyia-nyiakanmu sebagaimana engkau telah menyia-nyiakanku!” ===== مَا أَحْوَجَنَا إِلَى أَنْ نَتَنَبَّهَ لِهَذَا يَا إِخْوَةُ أَنْ نُفَرِّغَ قَلْبَنَا لِلْعِبَادَةِ وَنَحْنُ فِي الْعِبَادَةِ بِحَيْثُ لَا نَشْتَغِلُ بِغَيْرِهَا قَالَ وَهُوَ أَنْ يُفَرِّغَ قَلْبَهُ لِلَّهِ فِيهَا وَيَسْتَفْرِغَ جُهْدَهُ فِي إِقْبَالِهِ فِيهَا عَلَى اللَّهِ وَجَمْعِ قَلْبِهِ عَلَيْهَا وَإِيقَاعِهَا عَلَى أَحْسَنِ الْوُجُوهِ وَأَكْمَلِهَا ظَاهِرًا وَبَاطِنًا فَإِنَّ الصَّلَاةَ لَهَا ظَاهِرٌ وَبَاطِنٌ فَظَاهِرُهَا الْأَفْعَالُ الْمُشَاهَدَةُ وَالْأَقْوَالُ الْمَسْمُوعَةُ وَبَاطِنُهَا الْخُشُوعُ وَالْمُرَاقَبَةُ وَتَفْرِيغُ الْقَلْبِ لِلَّهِ وَالْإِقْبَالُ بِكُلِّيَّتِهِ عَلَى اللَّهِ فِيهَا بِحَيْثُ لَا يَلْتَفِتُ قَلْبُهُ عَنْهُ إِلَى غَيْرِهِ فَهَذِهِ بِمَنْزِلَةِ الرُّوحِ لَهَا وَالْأَفْعَالُ بِمَنْزِلَةِ الْبَدَنِ فَإِذَا خَلَتْ مِنَ الرُّوحِ كَانَتْ كَبَدَنٍ لَا رُوحَ فِيهِ أَفَلَا يَسْتَحِي الْعَبْدُ أَفَلَا يَسْتَحِي الْعَبْدُ أَنْ يُوَاجِهَ سَيِّدَهُ بِمِثْلِ ذَلِكَ وَلِهَذَا تُلَفُّ كَمَا يُلَفُّ الثَّوْبُ الْخَلِقُ وَيُضْرَبُ بِهَا وَجْهُ صَاحِبِهَا وَتَقُولُ ضَيَّعَكَ اللَّهُ كَمَا ضَيَّعْتَنِي


Betapa perlunya kita memperhatikan hal ini, wahai saudara-saudara, yaitu mengosongkan hati kita untuk ibadah, saat kita sedang beribadah. Sehingga kita tidak tersibukkan oleh selain ibadah itu. Penulis berkata: Yaitu dengan mengosongkan hatinya hanya untuk Allah dalam ibadah tersebut, serta mengerahkan seluruh kesungguhannya untuk menghadapkan diri kepada Allah di dalam ibadah itu, dan memusatkan hatinya pada ibadah itu, serta melaksanakannya dengan cara yang paling baik dan paling sempurna, baik secara lahir maupun batin. Karena salat memiliki sisi lahir dan sisi batin. Sisi lahirnya adalah gerakan-gerakan yang terlihat dan bacaan-bacaan yang terdengar. Sedangkan sisi batinnya adalah kekhusyukan dan merasa diawasi oleh Allah, yaitu mengosongkan hati hanya untuk Allah dan menghadapkan diri sepenuhnya kepada-Nya dalam salat itu, sehingga hatinya tidak berpaling dari-Nya kepada selain-Nya. Sisi batin ini kedudukannya ibarat ruh bagi salat. Sedangkan gerakan-gerakannya ibarat jasadnya. Maka apabila salat itu kosong dari ruhnya, ia seperti jasad tanpa ruh. Tidakkah seorang hamba merasa malu? Tidakkah seorang hamba merasa malu menghadap Rabbnya dalam keadaan seperti itu? Karena itu, salat tersebut digulung sebagaimana pakaian usang digulung, lalu dipukulkan ke wajah pemiliknya. Dan salat itu berkata, “Semoga Allah menyia-nyiakanmu sebagaimana engkau telah menyia-nyiakanku!” ===== مَا أَحْوَجَنَا إِلَى أَنْ نَتَنَبَّهَ لِهَذَا يَا إِخْوَةُ أَنْ نُفَرِّغَ قَلْبَنَا لِلْعِبَادَةِ وَنَحْنُ فِي الْعِبَادَةِ بِحَيْثُ لَا نَشْتَغِلُ بِغَيْرِهَا قَالَ وَهُوَ أَنْ يُفَرِّغَ قَلْبَهُ لِلَّهِ فِيهَا وَيَسْتَفْرِغَ جُهْدَهُ فِي إِقْبَالِهِ فِيهَا عَلَى اللَّهِ وَجَمْعِ قَلْبِهِ عَلَيْهَا وَإِيقَاعِهَا عَلَى أَحْسَنِ الْوُجُوهِ وَأَكْمَلِهَا ظَاهِرًا وَبَاطِنًا فَإِنَّ الصَّلَاةَ لَهَا ظَاهِرٌ وَبَاطِنٌ فَظَاهِرُهَا الْأَفْعَالُ الْمُشَاهَدَةُ وَالْأَقْوَالُ الْمَسْمُوعَةُ وَبَاطِنُهَا الْخُشُوعُ وَالْمُرَاقَبَةُ وَتَفْرِيغُ الْقَلْبِ لِلَّهِ وَالْإِقْبَالُ بِكُلِّيَّتِهِ عَلَى اللَّهِ فِيهَا بِحَيْثُ لَا يَلْتَفِتُ قَلْبُهُ عَنْهُ إِلَى غَيْرِهِ فَهَذِهِ بِمَنْزِلَةِ الرُّوحِ لَهَا وَالْأَفْعَالُ بِمَنْزِلَةِ الْبَدَنِ فَإِذَا خَلَتْ مِنَ الرُّوحِ كَانَتْ كَبَدَنٍ لَا رُوحَ فِيهِ أَفَلَا يَسْتَحِي الْعَبْدُ أَفَلَا يَسْتَحِي الْعَبْدُ أَنْ يُوَاجِهَ سَيِّدَهُ بِمِثْلِ ذَلِكَ وَلِهَذَا تُلَفُّ كَمَا يُلَفُّ الثَّوْبُ الْخَلِقُ وَيُضْرَبُ بِهَا وَجْهُ صَاحِبِهَا وَتَقُولُ ضَيَّعَكَ اللَّهُ كَمَا ضَيَّعْتَنِي

Fatwa Ulama: Hukum Zikir Setelah Salat Ketika Safar

Daftar Isi ToggleFatwa Syekh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullahPertanyaan:Jawaban: Catatan penerjemahFatwa Syekh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullah Pertanyaan:Apakah zikir tasbih (subhanallah) setelah salat wajib ketika safar hukumnya sunah? Ataukah tidak ada zikir tasbih setelah salat Asar atau Zuhur ketika safar?Jawaban: Rangkaian zikir setelah salat hukumnya sunah, baik ketika safar maupun tidak, baik ketika sedang menunaikan ibadah haji maupun tidak, serta berlaku untuk pria maupun wanita. Setelah selesai mengucapkan salam, disunahkan untuk mengucapkan,أَسْتَغْفِرُ اللهَ، أَسْتَغْفِرُ اللهَ، أَسْتَغْفِرُ اللهَ“Aku memohon ampun kepada Allah.” (3x)  اللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلَامُ وَمِنْكَ السَّلَامُ، تَبَارَكْتَ يَا ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ“Ya Allah, Engkau adalah As-Salam (Maha Pemberi Keselamatan), dan dari-Mu lah keselamatan. Maha Suci Engkau, wahai Zat Pemilik Keagungan dan Kemuliaan.” لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ“Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya segala kerajaan dan bagi-Nya segala puji, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.” لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ“Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.”لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَلَا نَعْبُدُ إِلَّا إِيَّاهُ، لَهُ النِّعْمَةُ وَلَهُ الْفَضْلُ وَلَهُ الثَّنَاءُ الْحَسَنُ“Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, dan kami tidak menyembah kecuali kepada-Nya. Bagi-Nya segala nikmat, bagi-Nya segala karunia, dan bagi-Nya pujian yang baik.”لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ“Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, dengan memurnikan agama hanya untuk-Nya, walaupun orang-orang kafir membencinya.”اللَّهُمَّ لَا مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ، وَلَا مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ، وَلَا يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ“Ya Allah, tidak ada yang dapat menghalangi apa yang Engkau berikan, dan tidak ada yang dapat memberi apa yang Engkau halangi. Dan tidaklah bermanfaat kekayaan orang yang kaya terhadap-Mu.”Semua zikir ini diucapkan oleh Nabi ﷺ setelah salat, baik itu salat Zuhur, Asar, Magrib, Isya, maupun Subuh. Setelah salat Magrib dan Subuh, disunahkan untuk mengucapkan zikir tambahan berikut sebanyak sepuluh kali, baik ketika safar maupun mukim (tidak safar), لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، يُحْيِي وَيُمِيتُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ“Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya segala kerajaan dan bagi-Nya segala puji. Dia menghidupkan dan mematikan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.”– Fatwa Selesai [1] –Catatan penerjemahSalah satu dari sekian banyak kemurahan Allah Ta’ala kepada hamba-Nya adalah keringanan syariat di kala situasi sulit, di antaranya ketika safar di mana salat wajib dapat dijamak dan diqasar dengan sejumlah kriteria tertentu. Melihat hal ini, barangkali ada yang berpikir: Jika yang wajib saja diringankan tata cara pelaksanaannya, bagaimana dengan amal sunah yang tidak mengapa jika ditinggalkan? Apakah amal sunah lebih baik ditinggalkan saja ketika safar, menimbang amal wajib pun diringankan pelaksanaannya?Melalui fatwa Syekh di atas, kita dapat memahami bahwa adanya keringanan pada amal yang wajib ketika safar, bukan berarti otomatis mengakibatkan semua amal sunah menjadi lebih utama ditinggalkan. Bahkan ketika safar, justru ada amalan-amalan sunah khusus seperti mengucap takbir ketika jalan menanjak, mengucap tasbih ketika jalan menurun, maupun memperbanyak doa.Sahabat Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu mengatakan,كُنَّا إِذَا صَعِدْنَا كَبَّرْنَا، وَإِذَا نَزَلْنَا سَبَّحْنَا“Ketika kami (para sahabat) berjalan menanjak, kami bertakbir. Dan apabila berjalan menurun, kami bertasbih.” [2]Rasulullah ﷺ bersabda,ثَلَاثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ لَا شَكَّ فِيهِنَّ: دَعْوَةُ الْمَظْلُومِ، وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ، وَدَعْوَةُ الْوَالِدِ عَلَى وَلَدِهِ“Ada tiga doa yang mustajab dan tidak diragukan lagi keampuhannya: doa orang yang dizalimi, doa seorang musafir (yang sedang safar), dan doa orang tua untuk anaknya.” [3]Alhasil, apa pun kondisi yang sedang kita jalani, akan selalu ada peluang untuk beribadah. Selain itu, sebaiknya jangan biarkan safar kita menjadi perjalanan yang kosong dari ibadah sama sekali. Wallahu waliyyut taufiq.Baca juga: Adab-Adab Safar (Bepergian jauh)***Semarang, 6 Zulhijah 1447Penerjemah: Reza MahendraArtikel Muslim.or.id Referensi:[1] Majmu’ Fatawa wa Maqalat Ibnu Baz, 30: 205, https://binbaz.org.sa/fatwas/20761[2] HR. Bukhari no. 2993.[3] HR. At-Tirmidzi no. 1905, At-Tirmidzi menilainya hasan sahih.

Fatwa Ulama: Hukum Zikir Setelah Salat Ketika Safar

Daftar Isi ToggleFatwa Syekh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullahPertanyaan:Jawaban: Catatan penerjemahFatwa Syekh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullah Pertanyaan:Apakah zikir tasbih (subhanallah) setelah salat wajib ketika safar hukumnya sunah? Ataukah tidak ada zikir tasbih setelah salat Asar atau Zuhur ketika safar?Jawaban: Rangkaian zikir setelah salat hukumnya sunah, baik ketika safar maupun tidak, baik ketika sedang menunaikan ibadah haji maupun tidak, serta berlaku untuk pria maupun wanita. Setelah selesai mengucapkan salam, disunahkan untuk mengucapkan,أَسْتَغْفِرُ اللهَ، أَسْتَغْفِرُ اللهَ، أَسْتَغْفِرُ اللهَ“Aku memohon ampun kepada Allah.” (3x)  اللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلَامُ وَمِنْكَ السَّلَامُ، تَبَارَكْتَ يَا ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ“Ya Allah, Engkau adalah As-Salam (Maha Pemberi Keselamatan), dan dari-Mu lah keselamatan. Maha Suci Engkau, wahai Zat Pemilik Keagungan dan Kemuliaan.” لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ“Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya segala kerajaan dan bagi-Nya segala puji, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.” لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ“Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.”لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَلَا نَعْبُدُ إِلَّا إِيَّاهُ، لَهُ النِّعْمَةُ وَلَهُ الْفَضْلُ وَلَهُ الثَّنَاءُ الْحَسَنُ“Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, dan kami tidak menyembah kecuali kepada-Nya. Bagi-Nya segala nikmat, bagi-Nya segala karunia, dan bagi-Nya pujian yang baik.”لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ“Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, dengan memurnikan agama hanya untuk-Nya, walaupun orang-orang kafir membencinya.”اللَّهُمَّ لَا مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ، وَلَا مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ، وَلَا يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ“Ya Allah, tidak ada yang dapat menghalangi apa yang Engkau berikan, dan tidak ada yang dapat memberi apa yang Engkau halangi. Dan tidaklah bermanfaat kekayaan orang yang kaya terhadap-Mu.”Semua zikir ini diucapkan oleh Nabi ﷺ setelah salat, baik itu salat Zuhur, Asar, Magrib, Isya, maupun Subuh. Setelah salat Magrib dan Subuh, disunahkan untuk mengucapkan zikir tambahan berikut sebanyak sepuluh kali, baik ketika safar maupun mukim (tidak safar), لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، يُحْيِي وَيُمِيتُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ“Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya segala kerajaan dan bagi-Nya segala puji. Dia menghidupkan dan mematikan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.”– Fatwa Selesai [1] –Catatan penerjemahSalah satu dari sekian banyak kemurahan Allah Ta’ala kepada hamba-Nya adalah keringanan syariat di kala situasi sulit, di antaranya ketika safar di mana salat wajib dapat dijamak dan diqasar dengan sejumlah kriteria tertentu. Melihat hal ini, barangkali ada yang berpikir: Jika yang wajib saja diringankan tata cara pelaksanaannya, bagaimana dengan amal sunah yang tidak mengapa jika ditinggalkan? Apakah amal sunah lebih baik ditinggalkan saja ketika safar, menimbang amal wajib pun diringankan pelaksanaannya?Melalui fatwa Syekh di atas, kita dapat memahami bahwa adanya keringanan pada amal yang wajib ketika safar, bukan berarti otomatis mengakibatkan semua amal sunah menjadi lebih utama ditinggalkan. Bahkan ketika safar, justru ada amalan-amalan sunah khusus seperti mengucap takbir ketika jalan menanjak, mengucap tasbih ketika jalan menurun, maupun memperbanyak doa.Sahabat Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu mengatakan,كُنَّا إِذَا صَعِدْنَا كَبَّرْنَا، وَإِذَا نَزَلْنَا سَبَّحْنَا“Ketika kami (para sahabat) berjalan menanjak, kami bertakbir. Dan apabila berjalan menurun, kami bertasbih.” [2]Rasulullah ﷺ bersabda,ثَلَاثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ لَا شَكَّ فِيهِنَّ: دَعْوَةُ الْمَظْلُومِ، وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ، وَدَعْوَةُ الْوَالِدِ عَلَى وَلَدِهِ“Ada tiga doa yang mustajab dan tidak diragukan lagi keampuhannya: doa orang yang dizalimi, doa seorang musafir (yang sedang safar), dan doa orang tua untuk anaknya.” [3]Alhasil, apa pun kondisi yang sedang kita jalani, akan selalu ada peluang untuk beribadah. Selain itu, sebaiknya jangan biarkan safar kita menjadi perjalanan yang kosong dari ibadah sama sekali. Wallahu waliyyut taufiq.Baca juga: Adab-Adab Safar (Bepergian jauh)***Semarang, 6 Zulhijah 1447Penerjemah: Reza MahendraArtikel Muslim.or.id Referensi:[1] Majmu’ Fatawa wa Maqalat Ibnu Baz, 30: 205, https://binbaz.org.sa/fatwas/20761[2] HR. Bukhari no. 2993.[3] HR. At-Tirmidzi no. 1905, At-Tirmidzi menilainya hasan sahih.
Daftar Isi ToggleFatwa Syekh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullahPertanyaan:Jawaban: Catatan penerjemahFatwa Syekh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullah Pertanyaan:Apakah zikir tasbih (subhanallah) setelah salat wajib ketika safar hukumnya sunah? Ataukah tidak ada zikir tasbih setelah salat Asar atau Zuhur ketika safar?Jawaban: Rangkaian zikir setelah salat hukumnya sunah, baik ketika safar maupun tidak, baik ketika sedang menunaikan ibadah haji maupun tidak, serta berlaku untuk pria maupun wanita. Setelah selesai mengucapkan salam, disunahkan untuk mengucapkan,أَسْتَغْفِرُ اللهَ، أَسْتَغْفِرُ اللهَ، أَسْتَغْفِرُ اللهَ“Aku memohon ampun kepada Allah.” (3x)  اللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلَامُ وَمِنْكَ السَّلَامُ، تَبَارَكْتَ يَا ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ“Ya Allah, Engkau adalah As-Salam (Maha Pemberi Keselamatan), dan dari-Mu lah keselamatan. Maha Suci Engkau, wahai Zat Pemilik Keagungan dan Kemuliaan.” لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ“Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya segala kerajaan dan bagi-Nya segala puji, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.” لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ“Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.”لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَلَا نَعْبُدُ إِلَّا إِيَّاهُ، لَهُ النِّعْمَةُ وَلَهُ الْفَضْلُ وَلَهُ الثَّنَاءُ الْحَسَنُ“Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, dan kami tidak menyembah kecuali kepada-Nya. Bagi-Nya segala nikmat, bagi-Nya segala karunia, dan bagi-Nya pujian yang baik.”لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ“Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, dengan memurnikan agama hanya untuk-Nya, walaupun orang-orang kafir membencinya.”اللَّهُمَّ لَا مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ، وَلَا مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ، وَلَا يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ“Ya Allah, tidak ada yang dapat menghalangi apa yang Engkau berikan, dan tidak ada yang dapat memberi apa yang Engkau halangi. Dan tidaklah bermanfaat kekayaan orang yang kaya terhadap-Mu.”Semua zikir ini diucapkan oleh Nabi ﷺ setelah salat, baik itu salat Zuhur, Asar, Magrib, Isya, maupun Subuh. Setelah salat Magrib dan Subuh, disunahkan untuk mengucapkan zikir tambahan berikut sebanyak sepuluh kali, baik ketika safar maupun mukim (tidak safar), لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، يُحْيِي وَيُمِيتُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ“Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya segala kerajaan dan bagi-Nya segala puji. Dia menghidupkan dan mematikan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.”– Fatwa Selesai [1] –Catatan penerjemahSalah satu dari sekian banyak kemurahan Allah Ta’ala kepada hamba-Nya adalah keringanan syariat di kala situasi sulit, di antaranya ketika safar di mana salat wajib dapat dijamak dan diqasar dengan sejumlah kriteria tertentu. Melihat hal ini, barangkali ada yang berpikir: Jika yang wajib saja diringankan tata cara pelaksanaannya, bagaimana dengan amal sunah yang tidak mengapa jika ditinggalkan? Apakah amal sunah lebih baik ditinggalkan saja ketika safar, menimbang amal wajib pun diringankan pelaksanaannya?Melalui fatwa Syekh di atas, kita dapat memahami bahwa adanya keringanan pada amal yang wajib ketika safar, bukan berarti otomatis mengakibatkan semua amal sunah menjadi lebih utama ditinggalkan. Bahkan ketika safar, justru ada amalan-amalan sunah khusus seperti mengucap takbir ketika jalan menanjak, mengucap tasbih ketika jalan menurun, maupun memperbanyak doa.Sahabat Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu mengatakan,كُنَّا إِذَا صَعِدْنَا كَبَّرْنَا، وَإِذَا نَزَلْنَا سَبَّحْنَا“Ketika kami (para sahabat) berjalan menanjak, kami bertakbir. Dan apabila berjalan menurun, kami bertasbih.” [2]Rasulullah ﷺ bersabda,ثَلَاثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ لَا شَكَّ فِيهِنَّ: دَعْوَةُ الْمَظْلُومِ، وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ، وَدَعْوَةُ الْوَالِدِ عَلَى وَلَدِهِ“Ada tiga doa yang mustajab dan tidak diragukan lagi keampuhannya: doa orang yang dizalimi, doa seorang musafir (yang sedang safar), dan doa orang tua untuk anaknya.” [3]Alhasil, apa pun kondisi yang sedang kita jalani, akan selalu ada peluang untuk beribadah. Selain itu, sebaiknya jangan biarkan safar kita menjadi perjalanan yang kosong dari ibadah sama sekali. Wallahu waliyyut taufiq.Baca juga: Adab-Adab Safar (Bepergian jauh)***Semarang, 6 Zulhijah 1447Penerjemah: Reza MahendraArtikel Muslim.or.id Referensi:[1] Majmu’ Fatawa wa Maqalat Ibnu Baz, 30: 205, https://binbaz.org.sa/fatwas/20761[2] HR. Bukhari no. 2993.[3] HR. At-Tirmidzi no. 1905, At-Tirmidzi menilainya hasan sahih.


Daftar Isi ToggleFatwa Syekh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullahPertanyaan:Jawaban: Catatan penerjemahFatwa Syekh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullah Pertanyaan:Apakah zikir tasbih (subhanallah) setelah salat wajib ketika safar hukumnya sunah? Ataukah tidak ada zikir tasbih setelah salat Asar atau Zuhur ketika safar?Jawaban: Rangkaian zikir setelah salat hukumnya sunah, baik ketika safar maupun tidak, baik ketika sedang menunaikan ibadah haji maupun tidak, serta berlaku untuk pria maupun wanita. Setelah selesai mengucapkan salam, disunahkan untuk mengucapkan,أَسْتَغْفِرُ اللهَ، أَسْتَغْفِرُ اللهَ، أَسْتَغْفِرُ اللهَ“Aku memohon ampun kepada Allah.” (3x)  اللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلَامُ وَمِنْكَ السَّلَامُ، تَبَارَكْتَ يَا ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ“Ya Allah, Engkau adalah As-Salam (Maha Pemberi Keselamatan), dan dari-Mu lah keselamatan. Maha Suci Engkau, wahai Zat Pemilik Keagungan dan Kemuliaan.” لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ“Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya segala kerajaan dan bagi-Nya segala puji, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.” لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ“Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.”لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَلَا نَعْبُدُ إِلَّا إِيَّاهُ، لَهُ النِّعْمَةُ وَلَهُ الْفَضْلُ وَلَهُ الثَّنَاءُ الْحَسَنُ“Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, dan kami tidak menyembah kecuali kepada-Nya. Bagi-Nya segala nikmat, bagi-Nya segala karunia, dan bagi-Nya pujian yang baik.”لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ“Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, dengan memurnikan agama hanya untuk-Nya, walaupun orang-orang kafir membencinya.”اللَّهُمَّ لَا مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ، وَلَا مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ، وَلَا يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ“Ya Allah, tidak ada yang dapat menghalangi apa yang Engkau berikan, dan tidak ada yang dapat memberi apa yang Engkau halangi. Dan tidaklah bermanfaat kekayaan orang yang kaya terhadap-Mu.”Semua zikir ini diucapkan oleh Nabi ﷺ setelah salat, baik itu salat Zuhur, Asar, Magrib, Isya, maupun Subuh. Setelah salat Magrib dan Subuh, disunahkan untuk mengucapkan zikir tambahan berikut sebanyak sepuluh kali, baik ketika safar maupun mukim (tidak safar), لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، يُحْيِي وَيُمِيتُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ“Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya segala kerajaan dan bagi-Nya segala puji. Dia menghidupkan dan mematikan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.”– Fatwa Selesai [1] –Catatan penerjemahSalah satu dari sekian banyak kemurahan Allah Ta’ala kepada hamba-Nya adalah keringanan syariat di kala situasi sulit, di antaranya ketika safar di mana salat wajib dapat dijamak dan diqasar dengan sejumlah kriteria tertentu. Melihat hal ini, barangkali ada yang berpikir: Jika yang wajib saja diringankan tata cara pelaksanaannya, bagaimana dengan amal sunah yang tidak mengapa jika ditinggalkan? Apakah amal sunah lebih baik ditinggalkan saja ketika safar, menimbang amal wajib pun diringankan pelaksanaannya?Melalui fatwa Syekh di atas, kita dapat memahami bahwa adanya keringanan pada amal yang wajib ketika safar, bukan berarti otomatis mengakibatkan semua amal sunah menjadi lebih utama ditinggalkan. Bahkan ketika safar, justru ada amalan-amalan sunah khusus seperti mengucap takbir ketika jalan menanjak, mengucap tasbih ketika jalan menurun, maupun memperbanyak doa.Sahabat Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu mengatakan,كُنَّا إِذَا صَعِدْنَا كَبَّرْنَا، وَإِذَا نَزَلْنَا سَبَّحْنَا“Ketika kami (para sahabat) berjalan menanjak, kami bertakbir. Dan apabila berjalan menurun, kami bertasbih.” [2]Rasulullah ﷺ bersabda,ثَلَاثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ لَا شَكَّ فِيهِنَّ: دَعْوَةُ الْمَظْلُومِ، وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ، وَدَعْوَةُ الْوَالِدِ عَلَى وَلَدِهِ“Ada tiga doa yang mustajab dan tidak diragukan lagi keampuhannya: doa orang yang dizalimi, doa seorang musafir (yang sedang safar), dan doa orang tua untuk anaknya.” [3]Alhasil, apa pun kondisi yang sedang kita jalani, akan selalu ada peluang untuk beribadah. Selain itu, sebaiknya jangan biarkan safar kita menjadi perjalanan yang kosong dari ibadah sama sekali. Wallahu waliyyut taufiq.Baca juga: Adab-Adab Safar (Bepergian jauh)***Semarang, 6 Zulhijah 1447Penerjemah: Reza MahendraArtikel Muslim.or.id Referensi:[1] Majmu’ Fatawa wa Maqalat Ibnu Baz, 30: 205, https://binbaz.org.sa/fatwas/20761[2] HR. Bukhari no. 2993.[3] HR. At-Tirmidzi no. 1905, At-Tirmidzi menilainya hasan sahih.

Khutbah Jumat: Saat Maksiat Dibiarkan, Azab Bisa Menimpa Semua Orang

Pernahkah kita bertanya, mengapa suatu musibah terkadang menimpa banyak orang, padahal tidak semuanya melakukan maksiat? Al-Qur’an dan Sunnah menjelaskan bahwa ketika kemungkaran dibiarkan tanpa ada yang berusaha mencegahnya, dampaknya dapat meluas kepada masyarakat secara umum. Artikel ini membahas ayat, hadis, dan penjelasan para ulama tentang bahaya membiarkan kemaksiatan serta pentingnya amar makruf nahi mungkar demi keselamatan bersama.  Daftar Isi tutup 1. Khutbah Pertama 1.1. Musibah yang Tidak Hanya Menimpa Pelaku Maksiat 1.2. Tafsir As-Sa’di: Bencana Umum Akibat Kemungkaran yang Dibiarkan 1.3. Perumpamaan Kapal yang Hampir Tenggelam 1.4. Ketika Miras Menjadi Sumber Kerusakan Bersama 1.5. Amar Makruf Nahi Mungkar adalah Sebab Keselamatan Umat 1.6. Nasihat Terakhir 2. Khutbah Kedua  Khutbah Pertamaإِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَاتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ. فَقَالَ تَعَالَى يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ أَمَّا بَعْدُ،Kaum muslimin rahimani wa rahimakumullah,Marilah kita meningkatkan ketakwaan kepada Allah, dengan menjauhi maksiat. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Musibah yang Tidak Hanya Menimpa Pelaku MaksiatFirman Allah Ta’alaوَاتَّقُوا فِتْنَةً لَا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً ۖ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ“Dan peliharalah dirimu dari siksaan (fitnah) yang tidak hanya menimpa orang-orang zalim saja di antara kamu. Ketahuilah bahwa Allah sangat keras hukuman-Nya.” (QS. Al-Anfal: 25)Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan:Allah memperingatkan hamba-hamba-Nya yang beriman agar mewaspadai suatu fitnah, yaitu ujian dan bencana yang dampaknya tidak hanya menimpa pelaku kezaliman dan kemaksiatan saja. Musibah itu dapat menimpa mereka semua, baik yang berbuat dosa maupun yang tidak melakukannya, apabila kemungkaran tidak dicegah dan tidak dihilangkan.As-Suddi berkata:“Ayat ini secara khusus turun mengenai para sahabat yang ikut dalam Perang Badar. Kemudian mereka terkena fitnah tersebut pada Perang Jamal sehingga sebagian mereka terlibat peperangan.”Sedangkan Abdullah bin Abbas menafsirkan firman Allah:وَاتَّقُوا فِتْنَةً لَا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةًyakni ditujukan secara khusus kepada para sahabat Nabi ﷺ.Dalam riwayat lain dari Ibnu Abbas, beliau berkata:“Allah memerintahkan kaum mukminin agar tidak membiarkan kemungkaran terjadi di tengah-tengah mereka. Jika mereka membiarkannya, Allah akan meratakan azab kepada mereka semuanya.”Penafsiran ini merupakan tafsir yang sangat baik.Karena itulah Mujahid bin Jabr berkata mengenai ayat ini:“Ayat tersebut juga berlaku untuk kalian.”Demikian pula pendapat Adh-Dhahhak, Yazid bin Abi Habib, dan sejumlah ulama lainnya.Adapun Abdullah bin Mas’ud berkata:“Tidak seorang pun di antara kalian kecuali akan menghadapi fitnah (ujian). Allah Ta’ala berfirman:إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ‘Sesungguhnya harta dan anak-anak kalian hanyalah ujian.’ (QS. At-Taghabun: 15)Maka siapa saja yang ingin berlindung, hendaklah ia memohon perlindungan kepada Allah dari fitnah-fitnah yang menyesatkan.”Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir.Pendapat yang benar adalah bahwa peringatan dalam ayat ini mencakup para sahabat maupun seluruh kaum muslimin setelah mereka, meskipun ayat tersebut pertama kali ditujukan kepada para sahabat. Hal ini diperkuat oleh banyak hadits yang berisi peringatan terhadap berbagai fitnah yang akan muncul. Tafsir As-Sa’di: Bencana Umum Akibat Kemungkaran yang DibiarkanSyaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di dalam kitab tafsirnya menjelaskan:{ وَاتَّقُوا فِتْنَةً لَا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً } بَلْ تُصِيبُ فَاعِلَ الظُّلْمِ وَغَيْرَهُ، وَذَلِكَ إِذَا ظَهَرَ الظُّلْمُ فَلَمْ يُغَيَّرْ، فَإِنَّ عُقُوبَتَهُ تَعُمُّ الْفَاعِلَ وَغَيْرَهُ، وَتُدْفَعُ هَذِهِ الْفِتْنَةُ بِالنَّهْيِ عَنِ الْمُنْكَرِ، وَقَمْعِ أَهْلِ الشَّرِّ وَالْفَسَادِ، وَأَنْ لَا يُمَكَّنُوا مِنَ الْمَعَاصِي وَالظُّلْمِ مَهْمَا أَمْكَنَ. { وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ } لِمَنْ تَعَرَّضَ لِمَسَاخِطِهِ، وَجَانَبَ رِضَاهُ.“Takutlah terhadap bencana yang tidak hanya menimpa pelaku kezaliman saja, tetapi juga dapat menimpa orang lain. Hal itu terjadi ketika kezaliman dan kemaksiatan tampak terang-terangan, namun tidak ada yang berusaha mengubah atau mengingkarinya. Akibatnya, hukuman Allah bisa menimpa pelaku maksiat sekaligus orang-orang di sekitarnya.Fitnah dan bencana semacam ini dapat dicegah dengan menegakkan amar makruf nahi mungkar, menindak pelaku kejahatan dan kerusakan, serta tidak memberi mereka kesempatan untuk terus melakukan kemaksiatan dan kezaliman selama masih memungkinkan untuk dicegah.Ketahuilah bahwa Allah sangat keras hukuman-Nya terhadap orang yang mengundang kemurkaan-Nya dan menjauh dari keridaan-Nya.” Perumpamaan Kapal yang Hampir TenggelamKetika kemungkaran dibiarkan, hukuman dan musibah tidak hanya menimpa pelakunya, tetapi dapat meluas kepada masyarakat secara umum. Makna inilah yang kemudian dijelaskan Nabi ﷺ melalui perumpamaan yang sangat indah tentang sebuah kapal di tengah lautan.Dalam hadits dari sahabat An-Nu‘man bin Basyir radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَثَلُ الْقَائِمِ عَلَى حُدُودِ اللهِ، وَالْمُدَاهِنِ فِيهَا، كَمَثَلِ قَوْمٍ اسْتَهَمُوا عَلَى سَفِينَةٍ فِي الْبَحْرِ، فَأَصَابَ بَعْضُهُمْ أَعْلَاهَا، وَأَصَابَ بَعْضُهُمْ أَسْفَلَهَا،“Perumpamaan orang yang menegakkan batas-batas Allah dan orang yang bersikap lunak terhadap pelanggaran batas-batas itu adalah seperti sekelompok orang yang berundi untuk menempati sebuah kapal di laut. Sebagian mereka mendapat bagian atas, dan sebagian lainnya mendapat bagian bawah.فَكَانَ الَّذِينَ فِي أَسْفَلِهَا يَصْعَدُونَ فَيَسْتَقُونَ الْمَاءَ، فَيَصُبُّونَ عَلَى الَّذِينَ فِي أَعْلَاهَا، فَقَالَ الَّذِينَ فِي أَعْلَاهَا: لَا نَدَعُكُمْ تَصْعَدُونَ فَتُؤْذُونَنَا. Orang-orang yang berada di bagian bawah biasa naik ke atas untuk mengambil air, lalu air itu mengenai orang-orang yang berada di bagian atas. Maka orang-orang yang di atas berkata, ‘Kami tidak akan membiarkan kalian naik lalu mengganggu kami.’فَقَالَ الَّذِينَ فِي أَسْفَلِهَا: فَإِنَّا نَثْقُبُهَا فِي أَسْفَلِهَا فَنَسْتَقِي. فَإِنْ أَخَذُوا عَلَى أَيْدِيهِمْ فَمَنَعُوهُمْ نَجَوْا جَمِيعًا، وَإِنْ تَرَكُوهُمْ غَرِقُوا جَمِيعًا.Orang-orang yang berada di bawah pun berkata, ‘Kalau begitu, kami akan melubangi bagian bawah kapal ini agar kami bisa mengambil air.’Jika orang-orang yang di atas menahan tangan mereka dan mencegahnya, mereka semua akan selamat. Namun jika mereka membiarkannya, mereka semua akan tenggelam.” (HR. Bukhari no. 2493, At-Tirmidzi no. 2173, dan Ahmad no. 18361)Ketika sebagian penumpang ingin melubangi kapal demi kepentingan mereka sendiri, seluruh penumpang terancam tenggelam. Jika mereka dicegah, semuanya selamat; namun jika dibiarkan, semuanya binasa. Demikianlah kemaksiatan dan kemungkaran di tengah masyarakat. Ia sering bermula dari satu orang atau sekelompok kecil manusia, tetapi ketika didiamkan dan tidak ada yang menegakkan amar makruf nahi mungkar, dampaknya dapat merusak keamanan, keberkahan, dan keselamatan bersama. Oleh karena itu, menjaga agama bukan hanya urusan pribadi, melainkan tanggung jawab bersama demi keselamatan seluruh umat. Ketika Miras Menjadi Sumber Kerusakan BersamaKarena itu, kaum muslimin tidak boleh memandang remeh kemungkaran yang terjadi di sekitarnya. Ambillah contoh minuman keras (miras). Pada awalnya mungkin hanya diminum oleh segelintir orang, tetapi dampaknya tidak berhenti pada diri peminumnya saja. Miras dapat merusak akal, menghancurkan kesehatan, menghabiskan harta, memicu pertengkaran dalam rumah tangga, menelantarkan anak dan istri, bahkan menjadi sebab berbagai tindak kejahatan dan kecelakaan yang membahayakan masyarakat luas. Ketika kemaksiatan semacam ini dibiarkan menyebar tanpa adanya upaya pencegahan dan nasihat, maka kerusakannya akan semakin meluas.Allah Ta’ala berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالأنْصَابُ وَالأزْلامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ , إِنَّمَا يُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُوقِعَ بَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاءَ فِي الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ وَيَصُدَّكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَعَنِ الصَّلاةِ فَهَلْ أَنْتُمْ مُنْتَهُونَ“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah rijsun (kotor) termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. Sesungguhnya setan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu).” (QS. Al-Maidah: 90-91).Sungguh sangat disayangkan, ada sebagian orang yang memiliki harta lalu ingin dipandang sebagai orang yang paling baik, paling dermawan, dan paling mudah membantu. Ketika diminta membelikan minuman keras, ia pun menuruti permintaan itu dengan alasan ingin menyenangkan teman atau menjaga hubungan baik. Padahal hakikatnya ia sedang membantu tersebarnya kemaksiatan dan ikut membuka pintu kerusakan bagi diri peminum, keluarganya, dan masyarakat di sekitarnya. Kebaikan bukanlah mengikuti semua keinginan manusia, tetapi membantu mereka dalam ketaatan dan menjauhkan mereka dari kemaksiatan kepada Allah Ta’ala.Dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَعَنَ اللَّهُ الْخَمْرَ وَشَارِبَهَا وَسَاقِيَهَا وَبَائِعَهَا وَمُبْتَاعَهَا وَعَاصِرَهَا وَمُعْتَصِرَهَا وَحَامِلَهَا وَالْمَحْمُولَةَ إِلَيْهِ“Allah melaknat khamar, orang yang meminumnya, orang yang menuangkannya, penjualnya, pembelinya, orang yang memerasnya, orang yang mengambil hasil perasannya, orang yang mengantarnya, dan orang yang meminta untuk diantarkan.” (HR. Abu Daud, no. 3674 dan Ibnu Majah, no. 3380. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan). Amar Makruf Nahi Mungkar adalah Sebab Keselamatan UmatAbu Bakr Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu, setelah memuji Allah dan menyanjung-Nya, berkata:“Wahai manusia, sesungguhnya kalian membaca ayat ini, namun kalian menempatkannya bukan pada makna yang semestinya:عَلَيْكُمْ أَنْفُسَكُمْ ۖ لَا يَضُرُّكُمْ مَنْ ضَلَّ إِذَا اهْتَدَيْتُمْ‘Jagalah diri kalian sendiri. Orang yang sesat tidak akan membahayakan kalian apabila kalian telah mendapatkan petunjuk.‘ (QS. Al-Ma’idah: 105)Padahal kami pernah mendengar Nabi ﷺ bersabda:إِنَّ النَّاسَ إِذَا رَأَوُا الظَّالِمَ فَلَمْ يَأْخُذُوا عَلَى يَدَيْهِ أَوْشَكَ أَنْ يَعُمَّهُمُ اللَّهُ بِعِقَابٍ‘Sesungguhnya apabila manusia melihat orang yang berbuat zalim lalu mereka tidak mencegahnya, maka hampir saja Allah menimpakan hukuman kepada mereka semua.’Dan aku juga mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:مَا مِنْ قَوْمٍ يُعْمَلُ فِيهِمْ بِالْمَعَاصِي، ثُمَّ يَقْدِرُونَ عَلَى أَنْ يُغَيِّرُوا، ثُمَّ لَا يُغَيِّرُوا، إِلَّا يُوشِكُ أَنْ يَعُمَّهُمُ اللَّهُ مِنْهُ بِعِقَابٍ‘Tidaklah suatu kaum kemaksiatan dilakukan di tengah-tengah mereka, lalu mereka mampu mengubah dan mencegahnya tetapi tidak melakukannya, melainkan hampir saja Allah menimpakan hukuman kepada mereka semua.’ (HR. Abu Dawud no. 4338, At-Tirmidzi no. 3057, Ibnu Majah no. 4005, dan Ahmad no. 1. Dinilai sahih oleh Al-Albani dalam Shahih Abi Dawud). Nasihat TerakhirJangan pernah menganggap kemungkaran sebagai urusan pribadi semata. Kemaksiatan yang dibiarkan dapat merusak keberkahan keluarga, masyarakat, bahkan menjadi sebab datangnya musibah yang meluas. Seorang mukmin hendaknya membenci kemungkaran, menasihati dengan cara yang baik, dan tidak membantu tersebarnya dosa dalam bentuk apa pun. Keselamatan umat tidak hanya dibangun dengan ibadah pribadi, tetapi juga dengan kepedulian terhadap agama Allah di tengah masyarakat.اللَّهُمَّ أَصْلِحْ أَحْوَالَنَا، وَاحْفَظْنَا مِنَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الْآمِرِينَ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّاهِينَ عَنِ الْمُنْكَرِAllahumma ashlih ahwalana, wahfazhna minal fitani ma zhahara minha wa ma bathan, waj‘alna minal amirina bil ma‘ruf wan nahina ‘anil munkar.“Ya Allah, perbaikilah keadaan kami, lindungilah kami dari berbagai fitnah yang tampak maupun yang tersembunyi, dan jadikanlah kami termasuk orang-orang yang mengajak kepada kebaikan serta mencegah kemungkaran.”أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا َوَاسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ إِنَّهُ هُوَ السَمِيْعُ العَلِيْمُ Khutbah Keduaاَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ،فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا،اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌاَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَةِاللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَىاللَّهُمَّ إنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَاللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا تَحُولُ بِهِ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعَاصِيكَ، وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَا بِهِ جَنَّتَكَ، وَمِنَ الْيَقِينِ مَا تُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مَصَائِبَ الدُّنْيَا، اللَّهُمَّ مَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا، وَأَبْصَارِنَا، وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا، وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا، وَاجْعَلْ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ ظَلَمَنَا، وَانْصُرْنَا عَلَى مَنْ عَادَانَا، وَلَا تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِي دِينِنَا، وَلَا تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا، وَلَا مَبْلَغَ عِلْمِنَا، وَلَا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لَا يَرْحَمُنَا.اللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِاللَّهُمَّ إِنَّا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا ظُلْمًا كَثِيرًا، وَلَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ، فَاغْفِرْ لَنَا مَغْفِرَةً مِنْ عِنْدِكَ، وَارْحَمْنَا، إِنَّكَ أَنْتَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ.عِبَادَ اللّٰهِ اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ. يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ.فَاذْكُرُوا اللّٰهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ. وَ اشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ. وَلَذِكْرُ اللّٰهِ اَكْبَرُ Catatan: Khutbah Jumat pada 12 Juni 2026 di Masjid Jami’ Al-Adha Pondok Pesantren Darush Sholihin Panggang Gunungkidul —– @ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com  Tagsamar makruf nahi mungkar Azab Allah bencana dosa sosial fitnah hadis kapal kemaksiatan khamar miras musibah nasihat islam tafsir Al-Anfal 25

Khutbah Jumat: Saat Maksiat Dibiarkan, Azab Bisa Menimpa Semua Orang

Pernahkah kita bertanya, mengapa suatu musibah terkadang menimpa banyak orang, padahal tidak semuanya melakukan maksiat? Al-Qur’an dan Sunnah menjelaskan bahwa ketika kemungkaran dibiarkan tanpa ada yang berusaha mencegahnya, dampaknya dapat meluas kepada masyarakat secara umum. Artikel ini membahas ayat, hadis, dan penjelasan para ulama tentang bahaya membiarkan kemaksiatan serta pentingnya amar makruf nahi mungkar demi keselamatan bersama.  Daftar Isi tutup 1. Khutbah Pertama 1.1. Musibah yang Tidak Hanya Menimpa Pelaku Maksiat 1.2. Tafsir As-Sa’di: Bencana Umum Akibat Kemungkaran yang Dibiarkan 1.3. Perumpamaan Kapal yang Hampir Tenggelam 1.4. Ketika Miras Menjadi Sumber Kerusakan Bersama 1.5. Amar Makruf Nahi Mungkar adalah Sebab Keselamatan Umat 1.6. Nasihat Terakhir 2. Khutbah Kedua  Khutbah Pertamaإِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَاتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ. فَقَالَ تَعَالَى يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ أَمَّا بَعْدُ،Kaum muslimin rahimani wa rahimakumullah,Marilah kita meningkatkan ketakwaan kepada Allah, dengan menjauhi maksiat. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Musibah yang Tidak Hanya Menimpa Pelaku MaksiatFirman Allah Ta’alaوَاتَّقُوا فِتْنَةً لَا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً ۖ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ“Dan peliharalah dirimu dari siksaan (fitnah) yang tidak hanya menimpa orang-orang zalim saja di antara kamu. Ketahuilah bahwa Allah sangat keras hukuman-Nya.” (QS. Al-Anfal: 25)Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan:Allah memperingatkan hamba-hamba-Nya yang beriman agar mewaspadai suatu fitnah, yaitu ujian dan bencana yang dampaknya tidak hanya menimpa pelaku kezaliman dan kemaksiatan saja. Musibah itu dapat menimpa mereka semua, baik yang berbuat dosa maupun yang tidak melakukannya, apabila kemungkaran tidak dicegah dan tidak dihilangkan.As-Suddi berkata:“Ayat ini secara khusus turun mengenai para sahabat yang ikut dalam Perang Badar. Kemudian mereka terkena fitnah tersebut pada Perang Jamal sehingga sebagian mereka terlibat peperangan.”Sedangkan Abdullah bin Abbas menafsirkan firman Allah:وَاتَّقُوا فِتْنَةً لَا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةًyakni ditujukan secara khusus kepada para sahabat Nabi ﷺ.Dalam riwayat lain dari Ibnu Abbas, beliau berkata:“Allah memerintahkan kaum mukminin agar tidak membiarkan kemungkaran terjadi di tengah-tengah mereka. Jika mereka membiarkannya, Allah akan meratakan azab kepada mereka semuanya.”Penafsiran ini merupakan tafsir yang sangat baik.Karena itulah Mujahid bin Jabr berkata mengenai ayat ini:“Ayat tersebut juga berlaku untuk kalian.”Demikian pula pendapat Adh-Dhahhak, Yazid bin Abi Habib, dan sejumlah ulama lainnya.Adapun Abdullah bin Mas’ud berkata:“Tidak seorang pun di antara kalian kecuali akan menghadapi fitnah (ujian). Allah Ta’ala berfirman:إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ‘Sesungguhnya harta dan anak-anak kalian hanyalah ujian.’ (QS. At-Taghabun: 15)Maka siapa saja yang ingin berlindung, hendaklah ia memohon perlindungan kepada Allah dari fitnah-fitnah yang menyesatkan.”Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir.Pendapat yang benar adalah bahwa peringatan dalam ayat ini mencakup para sahabat maupun seluruh kaum muslimin setelah mereka, meskipun ayat tersebut pertama kali ditujukan kepada para sahabat. Hal ini diperkuat oleh banyak hadits yang berisi peringatan terhadap berbagai fitnah yang akan muncul. Tafsir As-Sa’di: Bencana Umum Akibat Kemungkaran yang DibiarkanSyaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di dalam kitab tafsirnya menjelaskan:{ وَاتَّقُوا فِتْنَةً لَا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً } بَلْ تُصِيبُ فَاعِلَ الظُّلْمِ وَغَيْرَهُ، وَذَلِكَ إِذَا ظَهَرَ الظُّلْمُ فَلَمْ يُغَيَّرْ، فَإِنَّ عُقُوبَتَهُ تَعُمُّ الْفَاعِلَ وَغَيْرَهُ، وَتُدْفَعُ هَذِهِ الْفِتْنَةُ بِالنَّهْيِ عَنِ الْمُنْكَرِ، وَقَمْعِ أَهْلِ الشَّرِّ وَالْفَسَادِ، وَأَنْ لَا يُمَكَّنُوا مِنَ الْمَعَاصِي وَالظُّلْمِ مَهْمَا أَمْكَنَ. { وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ } لِمَنْ تَعَرَّضَ لِمَسَاخِطِهِ، وَجَانَبَ رِضَاهُ.“Takutlah terhadap bencana yang tidak hanya menimpa pelaku kezaliman saja, tetapi juga dapat menimpa orang lain. Hal itu terjadi ketika kezaliman dan kemaksiatan tampak terang-terangan, namun tidak ada yang berusaha mengubah atau mengingkarinya. Akibatnya, hukuman Allah bisa menimpa pelaku maksiat sekaligus orang-orang di sekitarnya.Fitnah dan bencana semacam ini dapat dicegah dengan menegakkan amar makruf nahi mungkar, menindak pelaku kejahatan dan kerusakan, serta tidak memberi mereka kesempatan untuk terus melakukan kemaksiatan dan kezaliman selama masih memungkinkan untuk dicegah.Ketahuilah bahwa Allah sangat keras hukuman-Nya terhadap orang yang mengundang kemurkaan-Nya dan menjauh dari keridaan-Nya.” Perumpamaan Kapal yang Hampir TenggelamKetika kemungkaran dibiarkan, hukuman dan musibah tidak hanya menimpa pelakunya, tetapi dapat meluas kepada masyarakat secara umum. Makna inilah yang kemudian dijelaskan Nabi ﷺ melalui perumpamaan yang sangat indah tentang sebuah kapal di tengah lautan.Dalam hadits dari sahabat An-Nu‘man bin Basyir radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَثَلُ الْقَائِمِ عَلَى حُدُودِ اللهِ، وَالْمُدَاهِنِ فِيهَا، كَمَثَلِ قَوْمٍ اسْتَهَمُوا عَلَى سَفِينَةٍ فِي الْبَحْرِ، فَأَصَابَ بَعْضُهُمْ أَعْلَاهَا، وَأَصَابَ بَعْضُهُمْ أَسْفَلَهَا،“Perumpamaan orang yang menegakkan batas-batas Allah dan orang yang bersikap lunak terhadap pelanggaran batas-batas itu adalah seperti sekelompok orang yang berundi untuk menempati sebuah kapal di laut. Sebagian mereka mendapat bagian atas, dan sebagian lainnya mendapat bagian bawah.فَكَانَ الَّذِينَ فِي أَسْفَلِهَا يَصْعَدُونَ فَيَسْتَقُونَ الْمَاءَ، فَيَصُبُّونَ عَلَى الَّذِينَ فِي أَعْلَاهَا، فَقَالَ الَّذِينَ فِي أَعْلَاهَا: لَا نَدَعُكُمْ تَصْعَدُونَ فَتُؤْذُونَنَا. Orang-orang yang berada di bagian bawah biasa naik ke atas untuk mengambil air, lalu air itu mengenai orang-orang yang berada di bagian atas. Maka orang-orang yang di atas berkata, ‘Kami tidak akan membiarkan kalian naik lalu mengganggu kami.’فَقَالَ الَّذِينَ فِي أَسْفَلِهَا: فَإِنَّا نَثْقُبُهَا فِي أَسْفَلِهَا فَنَسْتَقِي. فَإِنْ أَخَذُوا عَلَى أَيْدِيهِمْ فَمَنَعُوهُمْ نَجَوْا جَمِيعًا، وَإِنْ تَرَكُوهُمْ غَرِقُوا جَمِيعًا.Orang-orang yang berada di bawah pun berkata, ‘Kalau begitu, kami akan melubangi bagian bawah kapal ini agar kami bisa mengambil air.’Jika orang-orang yang di atas menahan tangan mereka dan mencegahnya, mereka semua akan selamat. Namun jika mereka membiarkannya, mereka semua akan tenggelam.” (HR. Bukhari no. 2493, At-Tirmidzi no. 2173, dan Ahmad no. 18361)Ketika sebagian penumpang ingin melubangi kapal demi kepentingan mereka sendiri, seluruh penumpang terancam tenggelam. Jika mereka dicegah, semuanya selamat; namun jika dibiarkan, semuanya binasa. Demikianlah kemaksiatan dan kemungkaran di tengah masyarakat. Ia sering bermula dari satu orang atau sekelompok kecil manusia, tetapi ketika didiamkan dan tidak ada yang menegakkan amar makruf nahi mungkar, dampaknya dapat merusak keamanan, keberkahan, dan keselamatan bersama. Oleh karena itu, menjaga agama bukan hanya urusan pribadi, melainkan tanggung jawab bersama demi keselamatan seluruh umat. Ketika Miras Menjadi Sumber Kerusakan BersamaKarena itu, kaum muslimin tidak boleh memandang remeh kemungkaran yang terjadi di sekitarnya. Ambillah contoh minuman keras (miras). Pada awalnya mungkin hanya diminum oleh segelintir orang, tetapi dampaknya tidak berhenti pada diri peminumnya saja. Miras dapat merusak akal, menghancurkan kesehatan, menghabiskan harta, memicu pertengkaran dalam rumah tangga, menelantarkan anak dan istri, bahkan menjadi sebab berbagai tindak kejahatan dan kecelakaan yang membahayakan masyarakat luas. Ketika kemaksiatan semacam ini dibiarkan menyebar tanpa adanya upaya pencegahan dan nasihat, maka kerusakannya akan semakin meluas.Allah Ta’ala berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالأنْصَابُ وَالأزْلامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ , إِنَّمَا يُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُوقِعَ بَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاءَ فِي الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ وَيَصُدَّكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَعَنِ الصَّلاةِ فَهَلْ أَنْتُمْ مُنْتَهُونَ“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah rijsun (kotor) termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. Sesungguhnya setan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu).” (QS. Al-Maidah: 90-91).Sungguh sangat disayangkan, ada sebagian orang yang memiliki harta lalu ingin dipandang sebagai orang yang paling baik, paling dermawan, dan paling mudah membantu. Ketika diminta membelikan minuman keras, ia pun menuruti permintaan itu dengan alasan ingin menyenangkan teman atau menjaga hubungan baik. Padahal hakikatnya ia sedang membantu tersebarnya kemaksiatan dan ikut membuka pintu kerusakan bagi diri peminum, keluarganya, dan masyarakat di sekitarnya. Kebaikan bukanlah mengikuti semua keinginan manusia, tetapi membantu mereka dalam ketaatan dan menjauhkan mereka dari kemaksiatan kepada Allah Ta’ala.Dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَعَنَ اللَّهُ الْخَمْرَ وَشَارِبَهَا وَسَاقِيَهَا وَبَائِعَهَا وَمُبْتَاعَهَا وَعَاصِرَهَا وَمُعْتَصِرَهَا وَحَامِلَهَا وَالْمَحْمُولَةَ إِلَيْهِ“Allah melaknat khamar, orang yang meminumnya, orang yang menuangkannya, penjualnya, pembelinya, orang yang memerasnya, orang yang mengambil hasil perasannya, orang yang mengantarnya, dan orang yang meminta untuk diantarkan.” (HR. Abu Daud, no. 3674 dan Ibnu Majah, no. 3380. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan). Amar Makruf Nahi Mungkar adalah Sebab Keselamatan UmatAbu Bakr Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu, setelah memuji Allah dan menyanjung-Nya, berkata:“Wahai manusia, sesungguhnya kalian membaca ayat ini, namun kalian menempatkannya bukan pada makna yang semestinya:عَلَيْكُمْ أَنْفُسَكُمْ ۖ لَا يَضُرُّكُمْ مَنْ ضَلَّ إِذَا اهْتَدَيْتُمْ‘Jagalah diri kalian sendiri. Orang yang sesat tidak akan membahayakan kalian apabila kalian telah mendapatkan petunjuk.‘ (QS. Al-Ma’idah: 105)Padahal kami pernah mendengar Nabi ﷺ bersabda:إِنَّ النَّاسَ إِذَا رَأَوُا الظَّالِمَ فَلَمْ يَأْخُذُوا عَلَى يَدَيْهِ أَوْشَكَ أَنْ يَعُمَّهُمُ اللَّهُ بِعِقَابٍ‘Sesungguhnya apabila manusia melihat orang yang berbuat zalim lalu mereka tidak mencegahnya, maka hampir saja Allah menimpakan hukuman kepada mereka semua.’Dan aku juga mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:مَا مِنْ قَوْمٍ يُعْمَلُ فِيهِمْ بِالْمَعَاصِي، ثُمَّ يَقْدِرُونَ عَلَى أَنْ يُغَيِّرُوا، ثُمَّ لَا يُغَيِّرُوا، إِلَّا يُوشِكُ أَنْ يَعُمَّهُمُ اللَّهُ مِنْهُ بِعِقَابٍ‘Tidaklah suatu kaum kemaksiatan dilakukan di tengah-tengah mereka, lalu mereka mampu mengubah dan mencegahnya tetapi tidak melakukannya, melainkan hampir saja Allah menimpakan hukuman kepada mereka semua.’ (HR. Abu Dawud no. 4338, At-Tirmidzi no. 3057, Ibnu Majah no. 4005, dan Ahmad no. 1. Dinilai sahih oleh Al-Albani dalam Shahih Abi Dawud). Nasihat TerakhirJangan pernah menganggap kemungkaran sebagai urusan pribadi semata. Kemaksiatan yang dibiarkan dapat merusak keberkahan keluarga, masyarakat, bahkan menjadi sebab datangnya musibah yang meluas. Seorang mukmin hendaknya membenci kemungkaran, menasihati dengan cara yang baik, dan tidak membantu tersebarnya dosa dalam bentuk apa pun. Keselamatan umat tidak hanya dibangun dengan ibadah pribadi, tetapi juga dengan kepedulian terhadap agama Allah di tengah masyarakat.اللَّهُمَّ أَصْلِحْ أَحْوَالَنَا، وَاحْفَظْنَا مِنَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الْآمِرِينَ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّاهِينَ عَنِ الْمُنْكَرِAllahumma ashlih ahwalana, wahfazhna minal fitani ma zhahara minha wa ma bathan, waj‘alna minal amirina bil ma‘ruf wan nahina ‘anil munkar.“Ya Allah, perbaikilah keadaan kami, lindungilah kami dari berbagai fitnah yang tampak maupun yang tersembunyi, dan jadikanlah kami termasuk orang-orang yang mengajak kepada kebaikan serta mencegah kemungkaran.”أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا َوَاسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ إِنَّهُ هُوَ السَمِيْعُ العَلِيْمُ Khutbah Keduaاَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ،فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا،اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌاَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَةِاللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَىاللَّهُمَّ إنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَاللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا تَحُولُ بِهِ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعَاصِيكَ، وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَا بِهِ جَنَّتَكَ، وَمِنَ الْيَقِينِ مَا تُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مَصَائِبَ الدُّنْيَا، اللَّهُمَّ مَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا، وَأَبْصَارِنَا، وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا، وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا، وَاجْعَلْ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ ظَلَمَنَا، وَانْصُرْنَا عَلَى مَنْ عَادَانَا، وَلَا تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِي دِينِنَا، وَلَا تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا، وَلَا مَبْلَغَ عِلْمِنَا، وَلَا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لَا يَرْحَمُنَا.اللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِاللَّهُمَّ إِنَّا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا ظُلْمًا كَثِيرًا، وَلَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ، فَاغْفِرْ لَنَا مَغْفِرَةً مِنْ عِنْدِكَ، وَارْحَمْنَا، إِنَّكَ أَنْتَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ.عِبَادَ اللّٰهِ اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ. يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ.فَاذْكُرُوا اللّٰهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ. وَ اشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ. وَلَذِكْرُ اللّٰهِ اَكْبَرُ Catatan: Khutbah Jumat pada 12 Juni 2026 di Masjid Jami’ Al-Adha Pondok Pesantren Darush Sholihin Panggang Gunungkidul —– @ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com  Tagsamar makruf nahi mungkar Azab Allah bencana dosa sosial fitnah hadis kapal kemaksiatan khamar miras musibah nasihat islam tafsir Al-Anfal 25
Pernahkah kita bertanya, mengapa suatu musibah terkadang menimpa banyak orang, padahal tidak semuanya melakukan maksiat? Al-Qur’an dan Sunnah menjelaskan bahwa ketika kemungkaran dibiarkan tanpa ada yang berusaha mencegahnya, dampaknya dapat meluas kepada masyarakat secara umum. Artikel ini membahas ayat, hadis, dan penjelasan para ulama tentang bahaya membiarkan kemaksiatan serta pentingnya amar makruf nahi mungkar demi keselamatan bersama.  Daftar Isi tutup 1. Khutbah Pertama 1.1. Musibah yang Tidak Hanya Menimpa Pelaku Maksiat 1.2. Tafsir As-Sa’di: Bencana Umum Akibat Kemungkaran yang Dibiarkan 1.3. Perumpamaan Kapal yang Hampir Tenggelam 1.4. Ketika Miras Menjadi Sumber Kerusakan Bersama 1.5. Amar Makruf Nahi Mungkar adalah Sebab Keselamatan Umat 1.6. Nasihat Terakhir 2. Khutbah Kedua  Khutbah Pertamaإِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَاتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ. فَقَالَ تَعَالَى يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ أَمَّا بَعْدُ،Kaum muslimin rahimani wa rahimakumullah,Marilah kita meningkatkan ketakwaan kepada Allah, dengan menjauhi maksiat. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Musibah yang Tidak Hanya Menimpa Pelaku MaksiatFirman Allah Ta’alaوَاتَّقُوا فِتْنَةً لَا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً ۖ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ“Dan peliharalah dirimu dari siksaan (fitnah) yang tidak hanya menimpa orang-orang zalim saja di antara kamu. Ketahuilah bahwa Allah sangat keras hukuman-Nya.” (QS. Al-Anfal: 25)Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan:Allah memperingatkan hamba-hamba-Nya yang beriman agar mewaspadai suatu fitnah, yaitu ujian dan bencana yang dampaknya tidak hanya menimpa pelaku kezaliman dan kemaksiatan saja. Musibah itu dapat menimpa mereka semua, baik yang berbuat dosa maupun yang tidak melakukannya, apabila kemungkaran tidak dicegah dan tidak dihilangkan.As-Suddi berkata:“Ayat ini secara khusus turun mengenai para sahabat yang ikut dalam Perang Badar. Kemudian mereka terkena fitnah tersebut pada Perang Jamal sehingga sebagian mereka terlibat peperangan.”Sedangkan Abdullah bin Abbas menafsirkan firman Allah:وَاتَّقُوا فِتْنَةً لَا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةًyakni ditujukan secara khusus kepada para sahabat Nabi ﷺ.Dalam riwayat lain dari Ibnu Abbas, beliau berkata:“Allah memerintahkan kaum mukminin agar tidak membiarkan kemungkaran terjadi di tengah-tengah mereka. Jika mereka membiarkannya, Allah akan meratakan azab kepada mereka semuanya.”Penafsiran ini merupakan tafsir yang sangat baik.Karena itulah Mujahid bin Jabr berkata mengenai ayat ini:“Ayat tersebut juga berlaku untuk kalian.”Demikian pula pendapat Adh-Dhahhak, Yazid bin Abi Habib, dan sejumlah ulama lainnya.Adapun Abdullah bin Mas’ud berkata:“Tidak seorang pun di antara kalian kecuali akan menghadapi fitnah (ujian). Allah Ta’ala berfirman:إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ‘Sesungguhnya harta dan anak-anak kalian hanyalah ujian.’ (QS. At-Taghabun: 15)Maka siapa saja yang ingin berlindung, hendaklah ia memohon perlindungan kepada Allah dari fitnah-fitnah yang menyesatkan.”Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir.Pendapat yang benar adalah bahwa peringatan dalam ayat ini mencakup para sahabat maupun seluruh kaum muslimin setelah mereka, meskipun ayat tersebut pertama kali ditujukan kepada para sahabat. Hal ini diperkuat oleh banyak hadits yang berisi peringatan terhadap berbagai fitnah yang akan muncul. Tafsir As-Sa’di: Bencana Umum Akibat Kemungkaran yang DibiarkanSyaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di dalam kitab tafsirnya menjelaskan:{ وَاتَّقُوا فِتْنَةً لَا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً } بَلْ تُصِيبُ فَاعِلَ الظُّلْمِ وَغَيْرَهُ، وَذَلِكَ إِذَا ظَهَرَ الظُّلْمُ فَلَمْ يُغَيَّرْ، فَإِنَّ عُقُوبَتَهُ تَعُمُّ الْفَاعِلَ وَغَيْرَهُ، وَتُدْفَعُ هَذِهِ الْفِتْنَةُ بِالنَّهْيِ عَنِ الْمُنْكَرِ، وَقَمْعِ أَهْلِ الشَّرِّ وَالْفَسَادِ، وَأَنْ لَا يُمَكَّنُوا مِنَ الْمَعَاصِي وَالظُّلْمِ مَهْمَا أَمْكَنَ. { وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ } لِمَنْ تَعَرَّضَ لِمَسَاخِطِهِ، وَجَانَبَ رِضَاهُ.“Takutlah terhadap bencana yang tidak hanya menimpa pelaku kezaliman saja, tetapi juga dapat menimpa orang lain. Hal itu terjadi ketika kezaliman dan kemaksiatan tampak terang-terangan, namun tidak ada yang berusaha mengubah atau mengingkarinya. Akibatnya, hukuman Allah bisa menimpa pelaku maksiat sekaligus orang-orang di sekitarnya.Fitnah dan bencana semacam ini dapat dicegah dengan menegakkan amar makruf nahi mungkar, menindak pelaku kejahatan dan kerusakan, serta tidak memberi mereka kesempatan untuk terus melakukan kemaksiatan dan kezaliman selama masih memungkinkan untuk dicegah.Ketahuilah bahwa Allah sangat keras hukuman-Nya terhadap orang yang mengundang kemurkaan-Nya dan menjauh dari keridaan-Nya.” Perumpamaan Kapal yang Hampir TenggelamKetika kemungkaran dibiarkan, hukuman dan musibah tidak hanya menimpa pelakunya, tetapi dapat meluas kepada masyarakat secara umum. Makna inilah yang kemudian dijelaskan Nabi ﷺ melalui perumpamaan yang sangat indah tentang sebuah kapal di tengah lautan.Dalam hadits dari sahabat An-Nu‘man bin Basyir radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَثَلُ الْقَائِمِ عَلَى حُدُودِ اللهِ، وَالْمُدَاهِنِ فِيهَا، كَمَثَلِ قَوْمٍ اسْتَهَمُوا عَلَى سَفِينَةٍ فِي الْبَحْرِ، فَأَصَابَ بَعْضُهُمْ أَعْلَاهَا، وَأَصَابَ بَعْضُهُمْ أَسْفَلَهَا،“Perumpamaan orang yang menegakkan batas-batas Allah dan orang yang bersikap lunak terhadap pelanggaran batas-batas itu adalah seperti sekelompok orang yang berundi untuk menempati sebuah kapal di laut. Sebagian mereka mendapat bagian atas, dan sebagian lainnya mendapat bagian bawah.فَكَانَ الَّذِينَ فِي أَسْفَلِهَا يَصْعَدُونَ فَيَسْتَقُونَ الْمَاءَ، فَيَصُبُّونَ عَلَى الَّذِينَ فِي أَعْلَاهَا، فَقَالَ الَّذِينَ فِي أَعْلَاهَا: لَا نَدَعُكُمْ تَصْعَدُونَ فَتُؤْذُونَنَا. Orang-orang yang berada di bagian bawah biasa naik ke atas untuk mengambil air, lalu air itu mengenai orang-orang yang berada di bagian atas. Maka orang-orang yang di atas berkata, ‘Kami tidak akan membiarkan kalian naik lalu mengganggu kami.’فَقَالَ الَّذِينَ فِي أَسْفَلِهَا: فَإِنَّا نَثْقُبُهَا فِي أَسْفَلِهَا فَنَسْتَقِي. فَإِنْ أَخَذُوا عَلَى أَيْدِيهِمْ فَمَنَعُوهُمْ نَجَوْا جَمِيعًا، وَإِنْ تَرَكُوهُمْ غَرِقُوا جَمِيعًا.Orang-orang yang berada di bawah pun berkata, ‘Kalau begitu, kami akan melubangi bagian bawah kapal ini agar kami bisa mengambil air.’Jika orang-orang yang di atas menahan tangan mereka dan mencegahnya, mereka semua akan selamat. Namun jika mereka membiarkannya, mereka semua akan tenggelam.” (HR. Bukhari no. 2493, At-Tirmidzi no. 2173, dan Ahmad no. 18361)Ketika sebagian penumpang ingin melubangi kapal demi kepentingan mereka sendiri, seluruh penumpang terancam tenggelam. Jika mereka dicegah, semuanya selamat; namun jika dibiarkan, semuanya binasa. Demikianlah kemaksiatan dan kemungkaran di tengah masyarakat. Ia sering bermula dari satu orang atau sekelompok kecil manusia, tetapi ketika didiamkan dan tidak ada yang menegakkan amar makruf nahi mungkar, dampaknya dapat merusak keamanan, keberkahan, dan keselamatan bersama. Oleh karena itu, menjaga agama bukan hanya urusan pribadi, melainkan tanggung jawab bersama demi keselamatan seluruh umat. Ketika Miras Menjadi Sumber Kerusakan BersamaKarena itu, kaum muslimin tidak boleh memandang remeh kemungkaran yang terjadi di sekitarnya. Ambillah contoh minuman keras (miras). Pada awalnya mungkin hanya diminum oleh segelintir orang, tetapi dampaknya tidak berhenti pada diri peminumnya saja. Miras dapat merusak akal, menghancurkan kesehatan, menghabiskan harta, memicu pertengkaran dalam rumah tangga, menelantarkan anak dan istri, bahkan menjadi sebab berbagai tindak kejahatan dan kecelakaan yang membahayakan masyarakat luas. Ketika kemaksiatan semacam ini dibiarkan menyebar tanpa adanya upaya pencegahan dan nasihat, maka kerusakannya akan semakin meluas.Allah Ta’ala berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالأنْصَابُ وَالأزْلامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ , إِنَّمَا يُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُوقِعَ بَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاءَ فِي الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ وَيَصُدَّكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَعَنِ الصَّلاةِ فَهَلْ أَنْتُمْ مُنْتَهُونَ“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah rijsun (kotor) termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. Sesungguhnya setan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu).” (QS. Al-Maidah: 90-91).Sungguh sangat disayangkan, ada sebagian orang yang memiliki harta lalu ingin dipandang sebagai orang yang paling baik, paling dermawan, dan paling mudah membantu. Ketika diminta membelikan minuman keras, ia pun menuruti permintaan itu dengan alasan ingin menyenangkan teman atau menjaga hubungan baik. Padahal hakikatnya ia sedang membantu tersebarnya kemaksiatan dan ikut membuka pintu kerusakan bagi diri peminum, keluarganya, dan masyarakat di sekitarnya. Kebaikan bukanlah mengikuti semua keinginan manusia, tetapi membantu mereka dalam ketaatan dan menjauhkan mereka dari kemaksiatan kepada Allah Ta’ala.Dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَعَنَ اللَّهُ الْخَمْرَ وَشَارِبَهَا وَسَاقِيَهَا وَبَائِعَهَا وَمُبْتَاعَهَا وَعَاصِرَهَا وَمُعْتَصِرَهَا وَحَامِلَهَا وَالْمَحْمُولَةَ إِلَيْهِ“Allah melaknat khamar, orang yang meminumnya, orang yang menuangkannya, penjualnya, pembelinya, orang yang memerasnya, orang yang mengambil hasil perasannya, orang yang mengantarnya, dan orang yang meminta untuk diantarkan.” (HR. Abu Daud, no. 3674 dan Ibnu Majah, no. 3380. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan). Amar Makruf Nahi Mungkar adalah Sebab Keselamatan UmatAbu Bakr Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu, setelah memuji Allah dan menyanjung-Nya, berkata:“Wahai manusia, sesungguhnya kalian membaca ayat ini, namun kalian menempatkannya bukan pada makna yang semestinya:عَلَيْكُمْ أَنْفُسَكُمْ ۖ لَا يَضُرُّكُمْ مَنْ ضَلَّ إِذَا اهْتَدَيْتُمْ‘Jagalah diri kalian sendiri. Orang yang sesat tidak akan membahayakan kalian apabila kalian telah mendapatkan petunjuk.‘ (QS. Al-Ma’idah: 105)Padahal kami pernah mendengar Nabi ﷺ bersabda:إِنَّ النَّاسَ إِذَا رَأَوُا الظَّالِمَ فَلَمْ يَأْخُذُوا عَلَى يَدَيْهِ أَوْشَكَ أَنْ يَعُمَّهُمُ اللَّهُ بِعِقَابٍ‘Sesungguhnya apabila manusia melihat orang yang berbuat zalim lalu mereka tidak mencegahnya, maka hampir saja Allah menimpakan hukuman kepada mereka semua.’Dan aku juga mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:مَا مِنْ قَوْمٍ يُعْمَلُ فِيهِمْ بِالْمَعَاصِي، ثُمَّ يَقْدِرُونَ عَلَى أَنْ يُغَيِّرُوا، ثُمَّ لَا يُغَيِّرُوا، إِلَّا يُوشِكُ أَنْ يَعُمَّهُمُ اللَّهُ مِنْهُ بِعِقَابٍ‘Tidaklah suatu kaum kemaksiatan dilakukan di tengah-tengah mereka, lalu mereka mampu mengubah dan mencegahnya tetapi tidak melakukannya, melainkan hampir saja Allah menimpakan hukuman kepada mereka semua.’ (HR. Abu Dawud no. 4338, At-Tirmidzi no. 3057, Ibnu Majah no. 4005, dan Ahmad no. 1. Dinilai sahih oleh Al-Albani dalam Shahih Abi Dawud). Nasihat TerakhirJangan pernah menganggap kemungkaran sebagai urusan pribadi semata. Kemaksiatan yang dibiarkan dapat merusak keberkahan keluarga, masyarakat, bahkan menjadi sebab datangnya musibah yang meluas. Seorang mukmin hendaknya membenci kemungkaran, menasihati dengan cara yang baik, dan tidak membantu tersebarnya dosa dalam bentuk apa pun. Keselamatan umat tidak hanya dibangun dengan ibadah pribadi, tetapi juga dengan kepedulian terhadap agama Allah di tengah masyarakat.اللَّهُمَّ أَصْلِحْ أَحْوَالَنَا، وَاحْفَظْنَا مِنَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الْآمِرِينَ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّاهِينَ عَنِ الْمُنْكَرِAllahumma ashlih ahwalana, wahfazhna minal fitani ma zhahara minha wa ma bathan, waj‘alna minal amirina bil ma‘ruf wan nahina ‘anil munkar.“Ya Allah, perbaikilah keadaan kami, lindungilah kami dari berbagai fitnah yang tampak maupun yang tersembunyi, dan jadikanlah kami termasuk orang-orang yang mengajak kepada kebaikan serta mencegah kemungkaran.”أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا َوَاسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ إِنَّهُ هُوَ السَمِيْعُ العَلِيْمُ Khutbah Keduaاَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ،فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا،اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌاَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَةِاللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَىاللَّهُمَّ إنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَاللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا تَحُولُ بِهِ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعَاصِيكَ، وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَا بِهِ جَنَّتَكَ، وَمِنَ الْيَقِينِ مَا تُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مَصَائِبَ الدُّنْيَا، اللَّهُمَّ مَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا، وَأَبْصَارِنَا، وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا، وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا، وَاجْعَلْ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ ظَلَمَنَا، وَانْصُرْنَا عَلَى مَنْ عَادَانَا، وَلَا تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِي دِينِنَا، وَلَا تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا، وَلَا مَبْلَغَ عِلْمِنَا، وَلَا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لَا يَرْحَمُنَا.اللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِاللَّهُمَّ إِنَّا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا ظُلْمًا كَثِيرًا، وَلَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ، فَاغْفِرْ لَنَا مَغْفِرَةً مِنْ عِنْدِكَ، وَارْحَمْنَا، إِنَّكَ أَنْتَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ.عِبَادَ اللّٰهِ اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ. يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ.فَاذْكُرُوا اللّٰهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ. وَ اشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ. وَلَذِكْرُ اللّٰهِ اَكْبَرُ Catatan: Khutbah Jumat pada 12 Juni 2026 di Masjid Jami’ Al-Adha Pondok Pesantren Darush Sholihin Panggang Gunungkidul —– @ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com  Tagsamar makruf nahi mungkar Azab Allah bencana dosa sosial fitnah hadis kapal kemaksiatan khamar miras musibah nasihat islam tafsir Al-Anfal 25


Pernahkah kita bertanya, mengapa suatu musibah terkadang menimpa banyak orang, padahal tidak semuanya melakukan maksiat? Al-Qur’an dan Sunnah menjelaskan bahwa ketika kemungkaran dibiarkan tanpa ada yang berusaha mencegahnya, dampaknya dapat meluas kepada masyarakat secara umum. Artikel ini membahas ayat, hadis, dan penjelasan para ulama tentang bahaya membiarkan kemaksiatan serta pentingnya amar makruf nahi mungkar demi keselamatan bersama.  Daftar Isi tutup 1. Khutbah Pertama 1.1. Musibah yang Tidak Hanya Menimpa Pelaku Maksiat 1.2. Tafsir As-Sa’di: Bencana Umum Akibat Kemungkaran yang Dibiarkan 1.3. Perumpamaan Kapal yang Hampir Tenggelam 1.4. Ketika Miras Menjadi Sumber Kerusakan Bersama 1.5. Amar Makruf Nahi Mungkar adalah Sebab Keselamatan Umat 1.6. Nasihat Terakhir 2. Khutbah Kedua  Khutbah Pertamaإِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَاتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ. فَقَالَ تَعَالَى يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ أَمَّا بَعْدُ،Kaum muslimin rahimani wa rahimakumullah,Marilah kita meningkatkan ketakwaan kepada Allah, dengan menjauhi maksiat. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Musibah yang Tidak Hanya Menimpa Pelaku MaksiatFirman Allah Ta’alaوَاتَّقُوا فِتْنَةً لَا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً ۖ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ“Dan peliharalah dirimu dari siksaan (fitnah) yang tidak hanya menimpa orang-orang zalim saja di antara kamu. Ketahuilah bahwa Allah sangat keras hukuman-Nya.” (QS. Al-Anfal: 25)Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan:Allah memperingatkan hamba-hamba-Nya yang beriman agar mewaspadai suatu fitnah, yaitu ujian dan bencana yang dampaknya tidak hanya menimpa pelaku kezaliman dan kemaksiatan saja. Musibah itu dapat menimpa mereka semua, baik yang berbuat dosa maupun yang tidak melakukannya, apabila kemungkaran tidak dicegah dan tidak dihilangkan.As-Suddi berkata:“Ayat ini secara khusus turun mengenai para sahabat yang ikut dalam Perang Badar. Kemudian mereka terkena fitnah tersebut pada Perang Jamal sehingga sebagian mereka terlibat peperangan.”Sedangkan Abdullah bin Abbas menafsirkan firman Allah:وَاتَّقُوا فِتْنَةً لَا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةًyakni ditujukan secara khusus kepada para sahabat Nabi ﷺ.Dalam riwayat lain dari Ibnu Abbas, beliau berkata:“Allah memerintahkan kaum mukminin agar tidak membiarkan kemungkaran terjadi di tengah-tengah mereka. Jika mereka membiarkannya, Allah akan meratakan azab kepada mereka semuanya.”Penafsiran ini merupakan tafsir yang sangat baik.Karena itulah Mujahid bin Jabr berkata mengenai ayat ini:“Ayat tersebut juga berlaku untuk kalian.”Demikian pula pendapat Adh-Dhahhak, Yazid bin Abi Habib, dan sejumlah ulama lainnya.Adapun Abdullah bin Mas’ud berkata:“Tidak seorang pun di antara kalian kecuali akan menghadapi fitnah (ujian). Allah Ta’ala berfirman:إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ‘Sesungguhnya harta dan anak-anak kalian hanyalah ujian.’ (QS. At-Taghabun: 15)Maka siapa saja yang ingin berlindung, hendaklah ia memohon perlindungan kepada Allah dari fitnah-fitnah yang menyesatkan.”Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir.Pendapat yang benar adalah bahwa peringatan dalam ayat ini mencakup para sahabat maupun seluruh kaum muslimin setelah mereka, meskipun ayat tersebut pertama kali ditujukan kepada para sahabat. Hal ini diperkuat oleh banyak hadits yang berisi peringatan terhadap berbagai fitnah yang akan muncul. Tafsir As-Sa’di: Bencana Umum Akibat Kemungkaran yang DibiarkanSyaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di dalam kitab tafsirnya menjelaskan:{ وَاتَّقُوا فِتْنَةً لَا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً } بَلْ تُصِيبُ فَاعِلَ الظُّلْمِ وَغَيْرَهُ، وَذَلِكَ إِذَا ظَهَرَ الظُّلْمُ فَلَمْ يُغَيَّرْ، فَإِنَّ عُقُوبَتَهُ تَعُمُّ الْفَاعِلَ وَغَيْرَهُ، وَتُدْفَعُ هَذِهِ الْفِتْنَةُ بِالنَّهْيِ عَنِ الْمُنْكَرِ، وَقَمْعِ أَهْلِ الشَّرِّ وَالْفَسَادِ، وَأَنْ لَا يُمَكَّنُوا مِنَ الْمَعَاصِي وَالظُّلْمِ مَهْمَا أَمْكَنَ. { وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ } لِمَنْ تَعَرَّضَ لِمَسَاخِطِهِ، وَجَانَبَ رِضَاهُ.“Takutlah terhadap bencana yang tidak hanya menimpa pelaku kezaliman saja, tetapi juga dapat menimpa orang lain. Hal itu terjadi ketika kezaliman dan kemaksiatan tampak terang-terangan, namun tidak ada yang berusaha mengubah atau mengingkarinya. Akibatnya, hukuman Allah bisa menimpa pelaku maksiat sekaligus orang-orang di sekitarnya.Fitnah dan bencana semacam ini dapat dicegah dengan menegakkan amar makruf nahi mungkar, menindak pelaku kejahatan dan kerusakan, serta tidak memberi mereka kesempatan untuk terus melakukan kemaksiatan dan kezaliman selama masih memungkinkan untuk dicegah.Ketahuilah bahwa Allah sangat keras hukuman-Nya terhadap orang yang mengundang kemurkaan-Nya dan menjauh dari keridaan-Nya.” Perumpamaan Kapal yang Hampir TenggelamKetika kemungkaran dibiarkan, hukuman dan musibah tidak hanya menimpa pelakunya, tetapi dapat meluas kepada masyarakat secara umum. Makna inilah yang kemudian dijelaskan Nabi ﷺ melalui perumpamaan yang sangat indah tentang sebuah kapal di tengah lautan.Dalam hadits dari sahabat An-Nu‘man bin Basyir radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَثَلُ الْقَائِمِ عَلَى حُدُودِ اللهِ، وَالْمُدَاهِنِ فِيهَا، كَمَثَلِ قَوْمٍ اسْتَهَمُوا عَلَى سَفِينَةٍ فِي الْبَحْرِ، فَأَصَابَ بَعْضُهُمْ أَعْلَاهَا، وَأَصَابَ بَعْضُهُمْ أَسْفَلَهَا،“Perumpamaan orang yang menegakkan batas-batas Allah dan orang yang bersikap lunak terhadap pelanggaran batas-batas itu adalah seperti sekelompok orang yang berundi untuk menempati sebuah kapal di laut. Sebagian mereka mendapat bagian atas, dan sebagian lainnya mendapat bagian bawah.فَكَانَ الَّذِينَ فِي أَسْفَلِهَا يَصْعَدُونَ فَيَسْتَقُونَ الْمَاءَ، فَيَصُبُّونَ عَلَى الَّذِينَ فِي أَعْلَاهَا، فَقَالَ الَّذِينَ فِي أَعْلَاهَا: لَا نَدَعُكُمْ تَصْعَدُونَ فَتُؤْذُونَنَا. Orang-orang yang berada di bagian bawah biasa naik ke atas untuk mengambil air, lalu air itu mengenai orang-orang yang berada di bagian atas. Maka orang-orang yang di atas berkata, ‘Kami tidak akan membiarkan kalian naik lalu mengganggu kami.’فَقَالَ الَّذِينَ فِي أَسْفَلِهَا: فَإِنَّا نَثْقُبُهَا فِي أَسْفَلِهَا فَنَسْتَقِي. فَإِنْ أَخَذُوا عَلَى أَيْدِيهِمْ فَمَنَعُوهُمْ نَجَوْا جَمِيعًا، وَإِنْ تَرَكُوهُمْ غَرِقُوا جَمِيعًا.Orang-orang yang berada di bawah pun berkata, ‘Kalau begitu, kami akan melubangi bagian bawah kapal ini agar kami bisa mengambil air.’Jika orang-orang yang di atas menahan tangan mereka dan mencegahnya, mereka semua akan selamat. Namun jika mereka membiarkannya, mereka semua akan tenggelam.” (HR. Bukhari no. 2493, At-Tirmidzi no. 2173, dan Ahmad no. 18361)Ketika sebagian penumpang ingin melubangi kapal demi kepentingan mereka sendiri, seluruh penumpang terancam tenggelam. Jika mereka dicegah, semuanya selamat; namun jika dibiarkan, semuanya binasa. Demikianlah kemaksiatan dan kemungkaran di tengah masyarakat. Ia sering bermula dari satu orang atau sekelompok kecil manusia, tetapi ketika didiamkan dan tidak ada yang menegakkan amar makruf nahi mungkar, dampaknya dapat merusak keamanan, keberkahan, dan keselamatan bersama. Oleh karena itu, menjaga agama bukan hanya urusan pribadi, melainkan tanggung jawab bersama demi keselamatan seluruh umat. Ketika Miras Menjadi Sumber Kerusakan BersamaKarena itu, kaum muslimin tidak boleh memandang remeh kemungkaran yang terjadi di sekitarnya. Ambillah contoh minuman keras (miras). Pada awalnya mungkin hanya diminum oleh segelintir orang, tetapi dampaknya tidak berhenti pada diri peminumnya saja. Miras dapat merusak akal, menghancurkan kesehatan, menghabiskan harta, memicu pertengkaran dalam rumah tangga, menelantarkan anak dan istri, bahkan menjadi sebab berbagai tindak kejahatan dan kecelakaan yang membahayakan masyarakat luas. Ketika kemaksiatan semacam ini dibiarkan menyebar tanpa adanya upaya pencegahan dan nasihat, maka kerusakannya akan semakin meluas.Allah Ta’ala berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالأنْصَابُ وَالأزْلامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ , إِنَّمَا يُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُوقِعَ بَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاءَ فِي الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ وَيَصُدَّكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَعَنِ الصَّلاةِ فَهَلْ أَنْتُمْ مُنْتَهُونَ“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah rijsun (kotor) termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. Sesungguhnya setan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu).” (QS. Al-Maidah: 90-91).Sungguh sangat disayangkan, ada sebagian orang yang memiliki harta lalu ingin dipandang sebagai orang yang paling baik, paling dermawan, dan paling mudah membantu. Ketika diminta membelikan minuman keras, ia pun menuruti permintaan itu dengan alasan ingin menyenangkan teman atau menjaga hubungan baik. Padahal hakikatnya ia sedang membantu tersebarnya kemaksiatan dan ikut membuka pintu kerusakan bagi diri peminum, keluarganya, dan masyarakat di sekitarnya. Kebaikan bukanlah mengikuti semua keinginan manusia, tetapi membantu mereka dalam ketaatan dan menjauhkan mereka dari kemaksiatan kepada Allah Ta’ala.Dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَعَنَ اللَّهُ الْخَمْرَ وَشَارِبَهَا وَسَاقِيَهَا وَبَائِعَهَا وَمُبْتَاعَهَا وَعَاصِرَهَا وَمُعْتَصِرَهَا وَحَامِلَهَا وَالْمَحْمُولَةَ إِلَيْهِ“Allah melaknat khamar, orang yang meminumnya, orang yang menuangkannya, penjualnya, pembelinya, orang yang memerasnya, orang yang mengambil hasil perasannya, orang yang mengantarnya, dan orang yang meminta untuk diantarkan.” (HR. Abu Daud, no. 3674 dan Ibnu Majah, no. 3380. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan). Amar Makruf Nahi Mungkar adalah Sebab Keselamatan UmatAbu Bakr Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu, setelah memuji Allah dan menyanjung-Nya, berkata:“Wahai manusia, sesungguhnya kalian membaca ayat ini, namun kalian menempatkannya bukan pada makna yang semestinya:عَلَيْكُمْ أَنْفُسَكُمْ ۖ لَا يَضُرُّكُمْ مَنْ ضَلَّ إِذَا اهْتَدَيْتُمْ‘Jagalah diri kalian sendiri. Orang yang sesat tidak akan membahayakan kalian apabila kalian telah mendapatkan petunjuk.‘ (QS. Al-Ma’idah: 105)Padahal kami pernah mendengar Nabi ﷺ bersabda:إِنَّ النَّاسَ إِذَا رَأَوُا الظَّالِمَ فَلَمْ يَأْخُذُوا عَلَى يَدَيْهِ أَوْشَكَ أَنْ يَعُمَّهُمُ اللَّهُ بِعِقَابٍ‘Sesungguhnya apabila manusia melihat orang yang berbuat zalim lalu mereka tidak mencegahnya, maka hampir saja Allah menimpakan hukuman kepada mereka semua.’Dan aku juga mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:مَا مِنْ قَوْمٍ يُعْمَلُ فِيهِمْ بِالْمَعَاصِي، ثُمَّ يَقْدِرُونَ عَلَى أَنْ يُغَيِّرُوا، ثُمَّ لَا يُغَيِّرُوا، إِلَّا يُوشِكُ أَنْ يَعُمَّهُمُ اللَّهُ مِنْهُ بِعِقَابٍ‘Tidaklah suatu kaum kemaksiatan dilakukan di tengah-tengah mereka, lalu mereka mampu mengubah dan mencegahnya tetapi tidak melakukannya, melainkan hampir saja Allah menimpakan hukuman kepada mereka semua.’ (HR. Abu Dawud no. 4338, At-Tirmidzi no. 3057, Ibnu Majah no. 4005, dan Ahmad no. 1. Dinilai sahih oleh Al-Albani dalam Shahih Abi Dawud). Nasihat TerakhirJangan pernah menganggap kemungkaran sebagai urusan pribadi semata. Kemaksiatan yang dibiarkan dapat merusak keberkahan keluarga, masyarakat, bahkan menjadi sebab datangnya musibah yang meluas. Seorang mukmin hendaknya membenci kemungkaran, menasihati dengan cara yang baik, dan tidak membantu tersebarnya dosa dalam bentuk apa pun. Keselamatan umat tidak hanya dibangun dengan ibadah pribadi, tetapi juga dengan kepedulian terhadap agama Allah di tengah masyarakat.اللَّهُمَّ أَصْلِحْ أَحْوَالَنَا، وَاحْفَظْنَا مِنَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الْآمِرِينَ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّاهِينَ عَنِ الْمُنْكَرِAllahumma ashlih ahwalana, wahfazhna minal fitani ma zhahara minha wa ma bathan, waj‘alna minal amirina bil ma‘ruf wan nahina ‘anil munkar.“Ya Allah, perbaikilah keadaan kami, lindungilah kami dari berbagai fitnah yang tampak maupun yang tersembunyi, dan jadikanlah kami termasuk orang-orang yang mengajak kepada kebaikan serta mencegah kemungkaran.”أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا َوَاسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ إِنَّهُ هُوَ السَمِيْعُ العَلِيْمُ Khutbah Keduaاَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ،فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا،اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌاَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَةِاللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَىاللَّهُمَّ إنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَاللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا تَحُولُ بِهِ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعَاصِيكَ، وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَا بِهِ جَنَّتَكَ، وَمِنَ الْيَقِينِ مَا تُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مَصَائِبَ الدُّنْيَا، اللَّهُمَّ مَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا، وَأَبْصَارِنَا، وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا، وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا، وَاجْعَلْ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ ظَلَمَنَا، وَانْصُرْنَا عَلَى مَنْ عَادَانَا، وَلَا تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِي دِينِنَا، وَلَا تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا، وَلَا مَبْلَغَ عِلْمِنَا، وَلَا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لَا يَرْحَمُنَا.اللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِاللَّهُمَّ إِنَّا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا ظُلْمًا كَثِيرًا، وَلَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ، فَاغْفِرْ لَنَا مَغْفِرَةً مِنْ عِنْدِكَ، وَارْحَمْنَا، إِنَّكَ أَنْتَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ.عِبَادَ اللّٰهِ اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ. يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ.فَاذْكُرُوا اللّٰهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ. وَ اشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ. وَلَذِكْرُ اللّٰهِ اَكْبَرُ Catatan: Khutbah Jumat pada 12 Juni 2026 di Masjid Jami’ Al-Adha Pondok Pesantren Darush Sholihin Panggang Gunungkidul —– @ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com  Tagsamar makruf nahi mungkar Azab Allah bencana dosa sosial fitnah hadis kapal kemaksiatan khamar miras musibah nasihat islam tafsir Al-Anfal 25

Musibahmu karena Dosa…atau karena Allah Sayang Padamu? – Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaili #NasehatUlama

Bagaimana seseorang yang tertimpa musibah mengetahui bahwa ia sedang diuji untuk mengangkat derajatnya, bukan karena dosa-dosanya? Ujian adalah bagian dari perbuatan Allah ‘Azza wa Jalla, dan Allah ‘Azza wa Jalla tidak melakukan sesuatu melainkan mengandung hikmah. Tidaklah suatu musibah menimpa seorang mukmin, melainkan di dalamnya terdapat hikmah-hikmah yang hanya diketahui oleh Allah. Musibah itu bisa jadi merupakan peringatan karena kelalaian, yakni ketika seseorang telah menjauh dari pintu Allah, dan lalai menunaikan hak Allah ‘Azza wa Jalla, maka Allah menurunkan musibah kepadanya untuk menyadarkannya dari kelalaian itu, agar ia kembali kepada Rabbnya Subhanahu wa Ta’ala. Bisa jadi pula musibah itu menjadi penghapus dosa. Seorang hamba berbuat dosa, lalu Allah menimpakan musibah kepadanya untuk menggugurkan dosa tersebut. Bisa jadi juga sebagai pengangkat derajat. Allah menghendaki seorang hamba meraih kedudukan tertentu di surga, tapi ia tidak dapat mencapainya hanya dengan amalannya, maka Allah menimpakan ujian kepadanya agar ia meraih kedudukan itu di surga. Ketika musibah datang, para ulama berkata: “Seorang mukmin hendaklah berbaik sangka kepada Rabbnya, dan berburuk sangka kepada dirinya sendiri.” Ia berbaik sangka kepada Rabbnya, sebab Allah sesuai dengan sangkaan hamba-Nya kepada-Nya. Dan ia berburuk sangka kepada dirinya, dengan mengatakan: “Musibah ini tidak menimpaku melainkan karena dosaku.” Ia pun mengintrospeksi dirinya dan mengevaluasi dirinya, agar kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Musibah itu, wahai saudara-saudaraku, bisa jadi juga sebagai penghapus dosa-dosa. Bagaimanapun keadaannya, tidaklah musibah menimpa seorang mukmin melainkan untuk mewujudkan kemaslahatan baginya, atau untuk menolak kemudaratan darinya. Maka, ujian dari Allah terjadi karena hikmah-hikmah yang agung. Namun seseorang tidak perlu sibuk untuk mencari tahu apakah musibah ini karena sebab ini atau itu. Yang perlu ia lakukan hanyalah berbaik sangka kepada Rabbnya, dan berburuk sangka kepada dirinya sendiri, agar semua itu menjadi sebab datangnya kebaikan baginya dan jalan kembalinya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. ===== كَيْفَ يَعْرِفُ الْمُبْتَلَى أَنَّهُ ابْتِلَاء (ابْتُلِيَ) رِفْعَةً لِلدَّرَجَاتِ وَلَيْسَ بِذُنُوبِهِ؟ الِابْتِلَاءُ مِنْ أَفْعَالِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَاللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لَا يَفْعَلُ إِلَّا لِحِكْمَةٍ وَلَا يَنْزِلُ بَلَاءٌ بِمُؤْمِنٍ إِلَّا وَفِيهِ مِنَ الْحِكَمِ مَا اللَّهُ بِهِ عَلِيمٌ فَقَدْ يَكُونُ الْبَلَاءُ تَنْبِيهًا مِنْ غَفْلَةٍ فَيَكُونُ الْإِنْسَانُ بَعُدَ عَنْ بَابِ اللَّهِ وَقَصَّرَ فِي حَقِّ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فَيُنْزِلُ اللَّهُ بِهِ بَلَاءً يُنَبِّهُهُ بِهِ مِنْ هَذِهِ الْغَفْلَةِ لِيَعُودَ إِلَى رَبِّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَقَدْ يَكُونُ تَكْفِيرًا لِذَنْبٍ فَيَكُونُ الْعَبْدُ أَذْنَبَ ذَنْبًا فَيُنْزِلُ اللَّهُ بِهِ الْبَلَاءَ تَكْفِيرًا لِذَنْبِهِ وَقَدْ يَكُونُ رِفْعَةً لِلدَّرَجَةِ فَيَكُونُ اللَّهُ أَرَادَ بِالْعَبْدِ مَنْزِلَةً فِي الْجَنَّةِ فَلَمْ يَبْلُغْهَا بِعَمَلِهِ فَيُنْزِلُ بِهِ الْبَلَاءَ لِيَبْلُغَ تِلْكَ الدَّرَجَةَ فِي الْجَنَّةِ وَإِذَا نَزَلَ الْبَلَاءُ يَقُولُ الْعُلَمَاءُ الْمُؤْمِنُ يُحْسِنُ الظَّنَّ بِرَبِّهِ وَيُسِيءُ الظَّنَّ بِنَفْسِهِ يُحْسِنُ الظَّنَّ بِرَبِّهِ وَاللَّهُ عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِهِ بِهِ وَيُسِيءُ الظَّنَّ بِنَفْسِهِ يَقُولُ مَا نَزَلَ بِي هَذَا الْبَلَاءُ إِلَّا مِنْ ذَنْبِي وَيُرَاجِعُ نَفْسَهُ وَيَتَفَقَّدُ حَالَهُ لِيَرْجِعَ إِلَى اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَالْبَلَاءُ يَا إِخْوَةُ أَيْضًا قَدْ يَكُونُ تَكْفِيرًا لِلسَّيِّئَاتِ وَعَلَى كُلِّ حَالٍ لَا يَنْزِلُ بَلَاءٌ بِالْمُؤْمِنِ إِلَّا لِتَحْقِيقِ مَصْلَحَةٍ لَهُ أَوْ دَفْعِ مَفْسَدَةٍ عَنْهُ فَالِابْتِلَاءُ مِنَ اللَّهِ لِحِكَمٍ عَظِيمَةٍ لَكِنْ لَا يَعْتَنِي الْإِنْسَانُ بِأَنْ يَعْرِفَ هَلْ هَذَا الْبَلَاءُ لِكَذَا أَوْ لِكَذَا وَإِنَّمَا يُحْسِنُ الظَّنَّ بِرَبِّهِ وَيُسِيءُ الظَّنَّ بِنَفْسِهِ حَتَّى يَكُونَ ذَلِكَ سَبَبًا لِخَيْرِهِ وَرُجُوعِهِ إِلَى اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى

Musibahmu karena Dosa…atau karena Allah Sayang Padamu? – Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaili #NasehatUlama

Bagaimana seseorang yang tertimpa musibah mengetahui bahwa ia sedang diuji untuk mengangkat derajatnya, bukan karena dosa-dosanya? Ujian adalah bagian dari perbuatan Allah ‘Azza wa Jalla, dan Allah ‘Azza wa Jalla tidak melakukan sesuatu melainkan mengandung hikmah. Tidaklah suatu musibah menimpa seorang mukmin, melainkan di dalamnya terdapat hikmah-hikmah yang hanya diketahui oleh Allah. Musibah itu bisa jadi merupakan peringatan karena kelalaian, yakni ketika seseorang telah menjauh dari pintu Allah, dan lalai menunaikan hak Allah ‘Azza wa Jalla, maka Allah menurunkan musibah kepadanya untuk menyadarkannya dari kelalaian itu, agar ia kembali kepada Rabbnya Subhanahu wa Ta’ala. Bisa jadi pula musibah itu menjadi penghapus dosa. Seorang hamba berbuat dosa, lalu Allah menimpakan musibah kepadanya untuk menggugurkan dosa tersebut. Bisa jadi juga sebagai pengangkat derajat. Allah menghendaki seorang hamba meraih kedudukan tertentu di surga, tapi ia tidak dapat mencapainya hanya dengan amalannya, maka Allah menimpakan ujian kepadanya agar ia meraih kedudukan itu di surga. Ketika musibah datang, para ulama berkata: “Seorang mukmin hendaklah berbaik sangka kepada Rabbnya, dan berburuk sangka kepada dirinya sendiri.” Ia berbaik sangka kepada Rabbnya, sebab Allah sesuai dengan sangkaan hamba-Nya kepada-Nya. Dan ia berburuk sangka kepada dirinya, dengan mengatakan: “Musibah ini tidak menimpaku melainkan karena dosaku.” Ia pun mengintrospeksi dirinya dan mengevaluasi dirinya, agar kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Musibah itu, wahai saudara-saudaraku, bisa jadi juga sebagai penghapus dosa-dosa. Bagaimanapun keadaannya, tidaklah musibah menimpa seorang mukmin melainkan untuk mewujudkan kemaslahatan baginya, atau untuk menolak kemudaratan darinya. Maka, ujian dari Allah terjadi karena hikmah-hikmah yang agung. Namun seseorang tidak perlu sibuk untuk mencari tahu apakah musibah ini karena sebab ini atau itu. Yang perlu ia lakukan hanyalah berbaik sangka kepada Rabbnya, dan berburuk sangka kepada dirinya sendiri, agar semua itu menjadi sebab datangnya kebaikan baginya dan jalan kembalinya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. ===== كَيْفَ يَعْرِفُ الْمُبْتَلَى أَنَّهُ ابْتِلَاء (ابْتُلِيَ) رِفْعَةً لِلدَّرَجَاتِ وَلَيْسَ بِذُنُوبِهِ؟ الِابْتِلَاءُ مِنْ أَفْعَالِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَاللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لَا يَفْعَلُ إِلَّا لِحِكْمَةٍ وَلَا يَنْزِلُ بَلَاءٌ بِمُؤْمِنٍ إِلَّا وَفِيهِ مِنَ الْحِكَمِ مَا اللَّهُ بِهِ عَلِيمٌ فَقَدْ يَكُونُ الْبَلَاءُ تَنْبِيهًا مِنْ غَفْلَةٍ فَيَكُونُ الْإِنْسَانُ بَعُدَ عَنْ بَابِ اللَّهِ وَقَصَّرَ فِي حَقِّ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فَيُنْزِلُ اللَّهُ بِهِ بَلَاءً يُنَبِّهُهُ بِهِ مِنْ هَذِهِ الْغَفْلَةِ لِيَعُودَ إِلَى رَبِّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَقَدْ يَكُونُ تَكْفِيرًا لِذَنْبٍ فَيَكُونُ الْعَبْدُ أَذْنَبَ ذَنْبًا فَيُنْزِلُ اللَّهُ بِهِ الْبَلَاءَ تَكْفِيرًا لِذَنْبِهِ وَقَدْ يَكُونُ رِفْعَةً لِلدَّرَجَةِ فَيَكُونُ اللَّهُ أَرَادَ بِالْعَبْدِ مَنْزِلَةً فِي الْجَنَّةِ فَلَمْ يَبْلُغْهَا بِعَمَلِهِ فَيُنْزِلُ بِهِ الْبَلَاءَ لِيَبْلُغَ تِلْكَ الدَّرَجَةَ فِي الْجَنَّةِ وَإِذَا نَزَلَ الْبَلَاءُ يَقُولُ الْعُلَمَاءُ الْمُؤْمِنُ يُحْسِنُ الظَّنَّ بِرَبِّهِ وَيُسِيءُ الظَّنَّ بِنَفْسِهِ يُحْسِنُ الظَّنَّ بِرَبِّهِ وَاللَّهُ عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِهِ بِهِ وَيُسِيءُ الظَّنَّ بِنَفْسِهِ يَقُولُ مَا نَزَلَ بِي هَذَا الْبَلَاءُ إِلَّا مِنْ ذَنْبِي وَيُرَاجِعُ نَفْسَهُ وَيَتَفَقَّدُ حَالَهُ لِيَرْجِعَ إِلَى اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَالْبَلَاءُ يَا إِخْوَةُ أَيْضًا قَدْ يَكُونُ تَكْفِيرًا لِلسَّيِّئَاتِ وَعَلَى كُلِّ حَالٍ لَا يَنْزِلُ بَلَاءٌ بِالْمُؤْمِنِ إِلَّا لِتَحْقِيقِ مَصْلَحَةٍ لَهُ أَوْ دَفْعِ مَفْسَدَةٍ عَنْهُ فَالِابْتِلَاءُ مِنَ اللَّهِ لِحِكَمٍ عَظِيمَةٍ لَكِنْ لَا يَعْتَنِي الْإِنْسَانُ بِأَنْ يَعْرِفَ هَلْ هَذَا الْبَلَاءُ لِكَذَا أَوْ لِكَذَا وَإِنَّمَا يُحْسِنُ الظَّنَّ بِرَبِّهِ وَيُسِيءُ الظَّنَّ بِنَفْسِهِ حَتَّى يَكُونَ ذَلِكَ سَبَبًا لِخَيْرِهِ وَرُجُوعِهِ إِلَى اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى
Bagaimana seseorang yang tertimpa musibah mengetahui bahwa ia sedang diuji untuk mengangkat derajatnya, bukan karena dosa-dosanya? Ujian adalah bagian dari perbuatan Allah ‘Azza wa Jalla, dan Allah ‘Azza wa Jalla tidak melakukan sesuatu melainkan mengandung hikmah. Tidaklah suatu musibah menimpa seorang mukmin, melainkan di dalamnya terdapat hikmah-hikmah yang hanya diketahui oleh Allah. Musibah itu bisa jadi merupakan peringatan karena kelalaian, yakni ketika seseorang telah menjauh dari pintu Allah, dan lalai menunaikan hak Allah ‘Azza wa Jalla, maka Allah menurunkan musibah kepadanya untuk menyadarkannya dari kelalaian itu, agar ia kembali kepada Rabbnya Subhanahu wa Ta’ala. Bisa jadi pula musibah itu menjadi penghapus dosa. Seorang hamba berbuat dosa, lalu Allah menimpakan musibah kepadanya untuk menggugurkan dosa tersebut. Bisa jadi juga sebagai pengangkat derajat. Allah menghendaki seorang hamba meraih kedudukan tertentu di surga, tapi ia tidak dapat mencapainya hanya dengan amalannya, maka Allah menimpakan ujian kepadanya agar ia meraih kedudukan itu di surga. Ketika musibah datang, para ulama berkata: “Seorang mukmin hendaklah berbaik sangka kepada Rabbnya, dan berburuk sangka kepada dirinya sendiri.” Ia berbaik sangka kepada Rabbnya, sebab Allah sesuai dengan sangkaan hamba-Nya kepada-Nya. Dan ia berburuk sangka kepada dirinya, dengan mengatakan: “Musibah ini tidak menimpaku melainkan karena dosaku.” Ia pun mengintrospeksi dirinya dan mengevaluasi dirinya, agar kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Musibah itu, wahai saudara-saudaraku, bisa jadi juga sebagai penghapus dosa-dosa. Bagaimanapun keadaannya, tidaklah musibah menimpa seorang mukmin melainkan untuk mewujudkan kemaslahatan baginya, atau untuk menolak kemudaratan darinya. Maka, ujian dari Allah terjadi karena hikmah-hikmah yang agung. Namun seseorang tidak perlu sibuk untuk mencari tahu apakah musibah ini karena sebab ini atau itu. Yang perlu ia lakukan hanyalah berbaik sangka kepada Rabbnya, dan berburuk sangka kepada dirinya sendiri, agar semua itu menjadi sebab datangnya kebaikan baginya dan jalan kembalinya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. ===== كَيْفَ يَعْرِفُ الْمُبْتَلَى أَنَّهُ ابْتِلَاء (ابْتُلِيَ) رِفْعَةً لِلدَّرَجَاتِ وَلَيْسَ بِذُنُوبِهِ؟ الِابْتِلَاءُ مِنْ أَفْعَالِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَاللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لَا يَفْعَلُ إِلَّا لِحِكْمَةٍ وَلَا يَنْزِلُ بَلَاءٌ بِمُؤْمِنٍ إِلَّا وَفِيهِ مِنَ الْحِكَمِ مَا اللَّهُ بِهِ عَلِيمٌ فَقَدْ يَكُونُ الْبَلَاءُ تَنْبِيهًا مِنْ غَفْلَةٍ فَيَكُونُ الْإِنْسَانُ بَعُدَ عَنْ بَابِ اللَّهِ وَقَصَّرَ فِي حَقِّ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فَيُنْزِلُ اللَّهُ بِهِ بَلَاءً يُنَبِّهُهُ بِهِ مِنْ هَذِهِ الْغَفْلَةِ لِيَعُودَ إِلَى رَبِّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَقَدْ يَكُونُ تَكْفِيرًا لِذَنْبٍ فَيَكُونُ الْعَبْدُ أَذْنَبَ ذَنْبًا فَيُنْزِلُ اللَّهُ بِهِ الْبَلَاءَ تَكْفِيرًا لِذَنْبِهِ وَقَدْ يَكُونُ رِفْعَةً لِلدَّرَجَةِ فَيَكُونُ اللَّهُ أَرَادَ بِالْعَبْدِ مَنْزِلَةً فِي الْجَنَّةِ فَلَمْ يَبْلُغْهَا بِعَمَلِهِ فَيُنْزِلُ بِهِ الْبَلَاءَ لِيَبْلُغَ تِلْكَ الدَّرَجَةَ فِي الْجَنَّةِ وَإِذَا نَزَلَ الْبَلَاءُ يَقُولُ الْعُلَمَاءُ الْمُؤْمِنُ يُحْسِنُ الظَّنَّ بِرَبِّهِ وَيُسِيءُ الظَّنَّ بِنَفْسِهِ يُحْسِنُ الظَّنَّ بِرَبِّهِ وَاللَّهُ عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِهِ بِهِ وَيُسِيءُ الظَّنَّ بِنَفْسِهِ يَقُولُ مَا نَزَلَ بِي هَذَا الْبَلَاءُ إِلَّا مِنْ ذَنْبِي وَيُرَاجِعُ نَفْسَهُ وَيَتَفَقَّدُ حَالَهُ لِيَرْجِعَ إِلَى اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَالْبَلَاءُ يَا إِخْوَةُ أَيْضًا قَدْ يَكُونُ تَكْفِيرًا لِلسَّيِّئَاتِ وَعَلَى كُلِّ حَالٍ لَا يَنْزِلُ بَلَاءٌ بِالْمُؤْمِنِ إِلَّا لِتَحْقِيقِ مَصْلَحَةٍ لَهُ أَوْ دَفْعِ مَفْسَدَةٍ عَنْهُ فَالِابْتِلَاءُ مِنَ اللَّهِ لِحِكَمٍ عَظِيمَةٍ لَكِنْ لَا يَعْتَنِي الْإِنْسَانُ بِأَنْ يَعْرِفَ هَلْ هَذَا الْبَلَاءُ لِكَذَا أَوْ لِكَذَا وَإِنَّمَا يُحْسِنُ الظَّنَّ بِرَبِّهِ وَيُسِيءُ الظَّنَّ بِنَفْسِهِ حَتَّى يَكُونَ ذَلِكَ سَبَبًا لِخَيْرِهِ وَرُجُوعِهِ إِلَى اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى


Bagaimana seseorang yang tertimpa musibah mengetahui bahwa ia sedang diuji untuk mengangkat derajatnya, bukan karena dosa-dosanya? Ujian adalah bagian dari perbuatan Allah ‘Azza wa Jalla, dan Allah ‘Azza wa Jalla tidak melakukan sesuatu melainkan mengandung hikmah. Tidaklah suatu musibah menimpa seorang mukmin, melainkan di dalamnya terdapat hikmah-hikmah yang hanya diketahui oleh Allah. Musibah itu bisa jadi merupakan peringatan karena kelalaian, yakni ketika seseorang telah menjauh dari pintu Allah, dan lalai menunaikan hak Allah ‘Azza wa Jalla, maka Allah menurunkan musibah kepadanya untuk menyadarkannya dari kelalaian itu, agar ia kembali kepada Rabbnya Subhanahu wa Ta’ala. Bisa jadi pula musibah itu menjadi penghapus dosa. Seorang hamba berbuat dosa, lalu Allah menimpakan musibah kepadanya untuk menggugurkan dosa tersebut. Bisa jadi juga sebagai pengangkat derajat. Allah menghendaki seorang hamba meraih kedudukan tertentu di surga, tapi ia tidak dapat mencapainya hanya dengan amalannya, maka Allah menimpakan ujian kepadanya agar ia meraih kedudukan itu di surga. Ketika musibah datang, para ulama berkata: “Seorang mukmin hendaklah berbaik sangka kepada Rabbnya, dan berburuk sangka kepada dirinya sendiri.” Ia berbaik sangka kepada Rabbnya, sebab Allah sesuai dengan sangkaan hamba-Nya kepada-Nya. Dan ia berburuk sangka kepada dirinya, dengan mengatakan: “Musibah ini tidak menimpaku melainkan karena dosaku.” Ia pun mengintrospeksi dirinya dan mengevaluasi dirinya, agar kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Musibah itu, wahai saudara-saudaraku, bisa jadi juga sebagai penghapus dosa-dosa. Bagaimanapun keadaannya, tidaklah musibah menimpa seorang mukmin melainkan untuk mewujudkan kemaslahatan baginya, atau untuk menolak kemudaratan darinya. Maka, ujian dari Allah terjadi karena hikmah-hikmah yang agung. Namun seseorang tidak perlu sibuk untuk mencari tahu apakah musibah ini karena sebab ini atau itu. Yang perlu ia lakukan hanyalah berbaik sangka kepada Rabbnya, dan berburuk sangka kepada dirinya sendiri, agar semua itu menjadi sebab datangnya kebaikan baginya dan jalan kembalinya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. ===== كَيْفَ يَعْرِفُ الْمُبْتَلَى أَنَّهُ ابْتِلَاء (ابْتُلِيَ) رِفْعَةً لِلدَّرَجَاتِ وَلَيْسَ بِذُنُوبِهِ؟ الِابْتِلَاءُ مِنْ أَفْعَالِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَاللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لَا يَفْعَلُ إِلَّا لِحِكْمَةٍ وَلَا يَنْزِلُ بَلَاءٌ بِمُؤْمِنٍ إِلَّا وَفِيهِ مِنَ الْحِكَمِ مَا اللَّهُ بِهِ عَلِيمٌ فَقَدْ يَكُونُ الْبَلَاءُ تَنْبِيهًا مِنْ غَفْلَةٍ فَيَكُونُ الْإِنْسَانُ بَعُدَ عَنْ بَابِ اللَّهِ وَقَصَّرَ فِي حَقِّ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فَيُنْزِلُ اللَّهُ بِهِ بَلَاءً يُنَبِّهُهُ بِهِ مِنْ هَذِهِ الْغَفْلَةِ لِيَعُودَ إِلَى رَبِّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَقَدْ يَكُونُ تَكْفِيرًا لِذَنْبٍ فَيَكُونُ الْعَبْدُ أَذْنَبَ ذَنْبًا فَيُنْزِلُ اللَّهُ بِهِ الْبَلَاءَ تَكْفِيرًا لِذَنْبِهِ وَقَدْ يَكُونُ رِفْعَةً لِلدَّرَجَةِ فَيَكُونُ اللَّهُ أَرَادَ بِالْعَبْدِ مَنْزِلَةً فِي الْجَنَّةِ فَلَمْ يَبْلُغْهَا بِعَمَلِهِ فَيُنْزِلُ بِهِ الْبَلَاءَ لِيَبْلُغَ تِلْكَ الدَّرَجَةَ فِي الْجَنَّةِ وَإِذَا نَزَلَ الْبَلَاءُ يَقُولُ الْعُلَمَاءُ الْمُؤْمِنُ يُحْسِنُ الظَّنَّ بِرَبِّهِ وَيُسِيءُ الظَّنَّ بِنَفْسِهِ يُحْسِنُ الظَّنَّ بِرَبِّهِ وَاللَّهُ عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِهِ بِهِ وَيُسِيءُ الظَّنَّ بِنَفْسِهِ يَقُولُ مَا نَزَلَ بِي هَذَا الْبَلَاءُ إِلَّا مِنْ ذَنْبِي وَيُرَاجِعُ نَفْسَهُ وَيَتَفَقَّدُ حَالَهُ لِيَرْجِعَ إِلَى اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَالْبَلَاءُ يَا إِخْوَةُ أَيْضًا قَدْ يَكُونُ تَكْفِيرًا لِلسَّيِّئَاتِ وَعَلَى كُلِّ حَالٍ لَا يَنْزِلُ بَلَاءٌ بِالْمُؤْمِنِ إِلَّا لِتَحْقِيقِ مَصْلَحَةٍ لَهُ أَوْ دَفْعِ مَفْسَدَةٍ عَنْهُ فَالِابْتِلَاءُ مِنَ اللَّهِ لِحِكَمٍ عَظِيمَةٍ لَكِنْ لَا يَعْتَنِي الْإِنْسَانُ بِأَنْ يَعْرِفَ هَلْ هَذَا الْبَلَاءُ لِكَذَا أَوْ لِكَذَا وَإِنَّمَا يُحْسِنُ الظَّنَّ بِرَبِّهِ وَيُسِيءُ الظَّنَّ بِنَفْسِهِ حَتَّى يَكُونَ ذَلِكَ سَبَبًا لِخَيْرِهِ وَرُجُوعِهِ إِلَى اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى

Hak-Hak Tetangga

Oleh: Prof. Dr. Abdullah bin Muhammad Ath-Thayyar Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيلِ “(Dan berbuat baiklah kepada) tetangga yang dekat, tetangga yang jauh, teman sejawat, dan orang yang dalam perjalanan.” (QS. An-Nisa: 36). Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa ia berkata: “Rasulullah pernah bersabda: ‘Siapa yang mau mengambil dariku kata-kata ini, lalu mengamalkannya atau mengajarkannya kepada orang yang akan mengamalkannya?’ Aku menjawab: ‘Saya, wahai Rasulullah!’ Maka beliau memegang tanganku dan menyebutkan lima perkara dengan bersabda: ‘Jauhilah perkara-perkara yang haram, niscaya engkau menjadi orang yang paling tunduk kepada Allah, ridhalah dengan apa yang Allah bagikan kepadamu, niscaya engkau menjadi orang yang paling kaya, berbuat baiklah kepada tetanggamu, niscaya engkau menjadi seorang mukmin; cintailah untuk orang lain apa yang engkau cintai untuk dirimu sendiri, niscaya engkau menjadi seorang muslim, dan janganlah banyak tertawa, karena banyak tertawa dapat mematikan hati.’” (HR. At-Tirmidzi). Diriwayatkan dari Abu Syuraih Al-Khuza’i bahwa Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُحْسِنْ إِلَى جَارِهِ “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berbuat baik kepada tetangganya.” (HR. Muslim). Tetangga terbagi menjadi tiga jenis: Tetangga yang non-Muslim, maka ia hanya punya hak sebagai tetangga saja. Tetangga yang Muslim, maka ia punya hak sebagai tetangga sekaligus sebagai saudara se-Islam. Tetangga yang Muslim dan masih punya hubungan kerabat, maka ia punya hak sebagai tetangga, hak sebagai saudara se-Islam, juga hak untuk dijalin silaturahminya. Dengan demikian, seorang Muslim harus bersikap baik dengan tetangganya, memperlakukannya dengan perlakuan yang baik, tidak mengganggunya, dan tidak memandangi istrinya, karena terdapat larangan keras dalam hal ini sebagaimana yang diriwayatkan Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Aku pernah bertanya kepada Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam: ‘Dosa apa yang paling agung di sisi Allah?’ Beliau menjawab: ‘Engkau mengadakan sekutu bagi Allah, sedangkan Dia telah menciptakanmu.’ Aku pun menanggapi: ‘Sungguh itu dosa yang amat besar. Kemudian dosa apa lagi?’ Beliau menjawab: ‘Lalu engkau membunuh anakmu karena takut ia akan makan bersamamu.’ Aku bertanya lagi: ‘Kemudian apa lagi?’ Beliau menjawab: ‘Engkau berzina dengan istri tetanggamu.’” (HR. Muslim). Allah Subhanahu wa Ta’ala juga menurunkan firman-Nya: وَالَّذِينَ لَا يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ وَلَا يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَلَا يَزْنُونَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ يَلْقَ أَثَامًا “Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan lain bersama Allah, tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan alasan yang benar, dan tidak pula berzina. Barang siapa melakukan itu, niscaya dia akan mendapatkan dosa (balasan yang berat).” (QS. Al-Furqan: 68). Betapa indah ungkapan seorang penyair: أَغُضُّ طَرْفِي إِنْ بَدَتْ لِي جَارَتِي حَتَّى يُوَارِيَ جَارَتِي مَأْوَاهَا Kutundukkan pandanganku saat ada tetangga perempuan tampak di hadapanku Sampai rumahnya kembali menutupinya  Ada banyak hak yang harus ditunaikan oleh seseorang kepada tetangganya, di antaranya: Apabila ia meminta bantuan, engkau hendaknya membantunya Diriwayatkan dari Jabir bin Abdullah bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: مَنْ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ أَنْ يَنْفَعَ أَخَاهُ فَلْيَفْعَلْ “Barang siapa di antara kalian mampu memberi manfaat bagi saudaranya, maka hendaklah ia melakukannya.” (HR. Muslim). Manusia terbaik adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain. Manusia terbaik adalah yang senantiasa membantu orang lain, karena manusia tidak dapat hidup sendiri tanpa bantuan manusia lainnya, sebagaimana yang dikatakan seorang penyair: النَّاسُ لِلنَّاسِ مِنْ بَدْوٍ وَحَاضِرَةٍ بَعْضٌ لِبَعْضٍ وَإِنْ لَمْ يَشْعُرُوا خَدَمُ Manusia bagi manusia lainnya, baik yang hidup di pedalaman atau di perkotaan Sebagian mereka merupakan pelayan sebagian lainnya, meskipun mereka tidak menyadarinya Alqamah bin Labid pernah menasihati anaknya: “Wahai anakku! Apabila engkau butuh teman, maka bertemanlah dengan orang yang menghiasimu dengan pertemanannya, apabila engkau tertimpa musibah, ia menolongmu, apabila engkau berbicara, ia meluruskan ucapanmu, apabila engkau melawan musuh, ia menguatkan perlawananmu, apabila tampak darimu kekurangan, ia menutupinya, apabila tampak darimu kelebihan, ia mengakuinya, apabila engkau meminta sesuatu kepadanya, ia memberimu, apabila suatu kesulitan menimpamu, ia menghiburmu. Sosok teman yang tidak mendatangkan keburukan kepadamu, dan orang yang sikapnya terhadapmu tidak berubah-ubah.” Apabila engkau berutang, ia memberimu utang Diriwayatkan dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: رَأَيْتُ لَيْلَةَ أُسْرِيَ بِي عَلَى بَابِ الْجَنَّةِ مَكْتُوبًا: الصَّدَقَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا، وَالْقَرْضُ بِثَمَانِيَةَ عَشَرَ، فَقُلْتُ لِجِبْرِيلَ: مَا بَالُ الْقَرْضِ أَفْضَلُ مِنَ الصَّدَقَةِ؟ قَالَ: لِأَنَّ السَّائِلَ يَسْأَلُ وَعِنْدَهُ، وَالْمُسْتَقْرِضَ لَا يَسْتَقْرِضُ إِلَّا مِنْ حَاجَةٍ “Pada malam aku melakukan perjalanan Isra’, aku melihat tulisan di pintu surga: ‘Sedekah akan dilipatgandakan sepuluh kali lipat, dan memberi pinjaman dilipatgandakan delapan belas kali.’ Aku lalu bertanya kepada Jibril: ‘Mengapa memberi pinjaman lebih afdal daripada sedekah?’ Ia menjawab: ‘Karena orang yang meminta itu terkadang meminta meskipun ia sendiri punya. Sedangkan orang yang berutang tidak berutang kecuali karena terdesak kebutuhan.’” (HR. Ibnu Majah). Pinjaman yang baik adalah pinjaman yang tidak menimbulkan sikap mengungkit-ungkit dan menyakiti hati, serta transaksinya tidak mengandung perkara haram seperti riba dan lain sebagainya, karena apa yang tumbuh dari hal yang haram, maka tempatnya pasti neraka. Apabila ia kesulitan, engkau membantu dan menolongnya Hal ini sebagai penegas makna yang disampaikan Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam dalam hadis yang diriwayatkan An-Nu’man bin Basyir Radhiyallahu ‘anhu bahwa beliau bersabda: مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ، إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى “Perumpamaan orang-orang beriman dalam saling mencintai, saling menyayangi, dan saling mengasihi adalah seperti satu tubuh, apabila satu anggota tubuh sakit, maka seluruh tubuh ikut merasakan dengan tidak bisa tidur dan demam.” (HR. Muslim). Diriwayatkan juga dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: إِنَّ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ خَلْقًا خَلَقَهُمْ لِحَوَائِجِ النَّاسِ، يَفْزَعُ النَّاسُ إِلَيْهِمْ فِي حَوَائِجِهِمْ، أُولَئِكَ الْآمِنُونَ مِنْ عَذَابِ اللَّهِ “Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla memiliki hamba-hamba yang Dia ciptakan untuk memenuhi kebutuhan manusia. Orang-orang datang kepada mereka dalam memenuhi berbagai kebutuhan mereka. Mereka itulah orang-orang yang aman dari azab Allah.” (HR. Ath-Thabrani). Seorang muslim harus mengetahui bahwa harta yang ada padanya adalah harta Allah, sedangkan dirinya hanyalah penjaganya, dan siapa yang menanam, akan memanen, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ;وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ “Barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.” (QS. Al-Zalzalah: 7-8). Apabila ia sakit, engkau menjenguknya Diriwayatkan dari Ali Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Aku pernah mendengar Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَعُودُ مُسْلِمًا غُدْوَةً، إِلَّا صَلَّى عَلَيْهِ سَبْعُونَ أَلْفَ مَلَكٍ حَتَّى يُمْسِي، وَإِنْ عَادَهُ عَشِيَّةً إِلَّا صَلَّى عَلَيْهِ سَبْعُونَ أَلْفَ مَلَكٍ حَتَّى يُصْبِحَ، وَكَانَ لَهُ خَرِيفٌ فِي الْجَنَّةِ “Tidaklah ada seorang muslim yang menjenguk muslim lainnya pada pagi hari melainkan tujuh puluh ribu malaikat akan mendoakannya hingga sore hari, dan jika ia menjenguknya pada sore hari, maka tujuh puluh malaikat akan mendoakannya hingga pagi hari, dan baginya kebun di surga.” (HR. At-Tirmidzi). Menjenguk orang sakit akan membangun kedekatan mereka satu sama lain, meningkatkan optimisme orang yang sakit, dan membuat hubungan mereka menjadi kuat. Tidak cukup sampai di situ, ini juga menjadi pengingat mendalam bagi orang yang menjenguk, karena ia melihat bahwa sebesar apapun kesombongan dan kedurhakaan manusia, hanya dengan sedikit penyakit sudah bisa membuatnya terkapar di atas ranjang. Dengan demikian, orang yang menjenguk itu akan menjauhi kemaksiatan, agar tidak tertimpa balasan buruk dari Yang Maha Perkasa lagi Maha Besar yang dapat mengujinya dengan penyakit yang merenggut hidupnya. Orang yang menjenguk orang sakit disunnahkan untuk mengucapkan kepadanya: “Tidak mengapa, semoga menjadi pembersih dosa, insyaallah”, “Semoga Allah memberimu kesehatan dan afiyat”, “Semoga panjang umur”, “Semoga lekas sembuh”, dan kalimat-kalimat baik lainnya yang dapat memberi pengaruh besar pada diri orang yang sakit. Apabila ia mendapat kebaikan, engkau mengucapkan selamat Seseorang harus menampakkan kebahagiaan atas hal baik yang didapatkan oleh tetangganya, agar ia merasakan kasih sayangnya terhadap tetangga tersebut, dan merasakan kebahagiaannya atas sesuatu yang membuat tetangga itu bahagia. Apabila engkau melihat tetangga atau temanmu memakai pakaian baru, katakan kepadanya seperti sabda Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam pada momen itu, sebagaimana yang diriwayatkan Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhuma bahwa Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam melihat Umar memakai gamis putih, lalu beliau bertanya: “Pakaianmu ini selesai dicuci atau pakaian baru?” Umar menjawab: “Selesai dicuci.” Beliau lalu bersabda: “Pakailah pakaian baru, hiduplah mulia, dan matilah syahid.” (HR. Ibnu Majah). Apabila tetanggamu pulang dari perjalanan jauh, katakan kepadanya: “Segala puji bagi Allah yang telah memberimu keselamatan” atau “Segala puji bagi Allah yang telah mempertemukanku lagi denganmu.”  Apabila ia hendak menunaikan haji, katakan kepadanya saat berpisah seperti yang disabdakan Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam kepada seorang pemuda yang hendak pergi haji, diriwayatkan Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhuma bahwa ada anak muda yang datang kepada Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam dan berkata: “Aku akan menempuh jalan ini untuk haji.” Kemudian beliau berjalan bersamanya seraya bersabda: “Wahai anak muda! Semoga Allah membekalimu dengan ketakwaan, mengarahkan kebaikan kepadamu, dan membuatmu mencapai tujuanmu.” Ketika anak muda itu telah kembali, ia mengucapkan salam kepada Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam, dan beliau pun mengangkat kepala beliau kepadanya seraya berkata: “Wahai anak muda, semoga Allah menerima hajimu, menghapus dosamu, dan mengganti biaya hajimu.” (HR. Ath-Thabrani). Apabila tetanggamu hendak menikah, katakanlah kepadanya setelah akad nikah seperti sabda Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam:  بَارَكَ اللَّهُ لَكُمَا، وَبَارَكَ عَلَيْكُمَا، وَجَمَعَ بَيْنَكُمَا فِي خَيْرٍ “Semoga Allah memberkahi kalian berdua, melimpahkan keberkahan atas kalian berdua, dan menyatukan kalian berdua dalam kebaikan.” (HR. At-Tirmidzi). Apabila ia dikaruniai anak, katakanlah kepadanya: بَارَكَ اللَّهُ لَكَ فِي الْمَوْهُوبِ، وَشَكَرْتَ الْوَاهِبَ، وَبَلَغَ أَشُدَّهُ، وَرُزِقْتَ بِرَّهُ “Semoga Allah memberkahimu pada anak yang dianugerahkan kepadamu, semoga engkau bersyukur kepada Sang Pemberi (Allah), semoga ia mencapai usia dewasa, dan semoga engkau dikaruniai baktinya.”  Di antara hak-hak tetangga lainnya Menghiburnya atas musibah yang menimpanya, mengantarkan jenazahnya ketika ia wafat, tidak meninggikan bangunan sehingga menghalangi udara ke rumahnya kecuali dengan izinnya, dan tidak menyakitinya dengan asap makananmu kecuali engkau memberinya sebagian masakan itu. Apabila engkau membeli buah, hadiahkan juga untuknya. Awalilah mengucapkan salam. Jangan menyibukkannya terlalu lama dengan obrolanmu. Tundukkanlah pandanganmu dari istrinya. Jangan melihat tajam ke sesuatu yang ia bawa masuk ke dalam rumahnya. Juga hak-hak baik lainnya terhadap tetangga. Semoga salawat dan salam senantiasa terlimpah kepada Nabi kita, Muhammad, dan kepada keluarga serta seluruh sahabat beliau. Sumber: https://www.alukah.net/sharia/0/9644/حقوق-الجار/ Sumber artikel PDF 🔍 Berdoa Saat Haid, Bacaan Niat Puasa Mulud, Surat Yang Pertama Kali Diturunkan, Pendeta Kalah Debat Masuk Islam, Doa Diberikan Jodoh Visited 501 times, 3 visit(s) today Post Views: 59

Hak-Hak Tetangga

Oleh: Prof. Dr. Abdullah bin Muhammad Ath-Thayyar Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيلِ “(Dan berbuat baiklah kepada) tetangga yang dekat, tetangga yang jauh, teman sejawat, dan orang yang dalam perjalanan.” (QS. An-Nisa: 36). Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa ia berkata: “Rasulullah pernah bersabda: ‘Siapa yang mau mengambil dariku kata-kata ini, lalu mengamalkannya atau mengajarkannya kepada orang yang akan mengamalkannya?’ Aku menjawab: ‘Saya, wahai Rasulullah!’ Maka beliau memegang tanganku dan menyebutkan lima perkara dengan bersabda: ‘Jauhilah perkara-perkara yang haram, niscaya engkau menjadi orang yang paling tunduk kepada Allah, ridhalah dengan apa yang Allah bagikan kepadamu, niscaya engkau menjadi orang yang paling kaya, berbuat baiklah kepada tetanggamu, niscaya engkau menjadi seorang mukmin; cintailah untuk orang lain apa yang engkau cintai untuk dirimu sendiri, niscaya engkau menjadi seorang muslim, dan janganlah banyak tertawa, karena banyak tertawa dapat mematikan hati.’” (HR. At-Tirmidzi). Diriwayatkan dari Abu Syuraih Al-Khuza’i bahwa Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُحْسِنْ إِلَى جَارِهِ “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berbuat baik kepada tetangganya.” (HR. Muslim). Tetangga terbagi menjadi tiga jenis: Tetangga yang non-Muslim, maka ia hanya punya hak sebagai tetangga saja. Tetangga yang Muslim, maka ia punya hak sebagai tetangga sekaligus sebagai saudara se-Islam. Tetangga yang Muslim dan masih punya hubungan kerabat, maka ia punya hak sebagai tetangga, hak sebagai saudara se-Islam, juga hak untuk dijalin silaturahminya. Dengan demikian, seorang Muslim harus bersikap baik dengan tetangganya, memperlakukannya dengan perlakuan yang baik, tidak mengganggunya, dan tidak memandangi istrinya, karena terdapat larangan keras dalam hal ini sebagaimana yang diriwayatkan Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Aku pernah bertanya kepada Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam: ‘Dosa apa yang paling agung di sisi Allah?’ Beliau menjawab: ‘Engkau mengadakan sekutu bagi Allah, sedangkan Dia telah menciptakanmu.’ Aku pun menanggapi: ‘Sungguh itu dosa yang amat besar. Kemudian dosa apa lagi?’ Beliau menjawab: ‘Lalu engkau membunuh anakmu karena takut ia akan makan bersamamu.’ Aku bertanya lagi: ‘Kemudian apa lagi?’ Beliau menjawab: ‘Engkau berzina dengan istri tetanggamu.’” (HR. Muslim). Allah Subhanahu wa Ta’ala juga menurunkan firman-Nya: وَالَّذِينَ لَا يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ وَلَا يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَلَا يَزْنُونَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ يَلْقَ أَثَامًا “Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan lain bersama Allah, tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan alasan yang benar, dan tidak pula berzina. Barang siapa melakukan itu, niscaya dia akan mendapatkan dosa (balasan yang berat).” (QS. Al-Furqan: 68). Betapa indah ungkapan seorang penyair: أَغُضُّ طَرْفِي إِنْ بَدَتْ لِي جَارَتِي حَتَّى يُوَارِيَ جَارَتِي مَأْوَاهَا Kutundukkan pandanganku saat ada tetangga perempuan tampak di hadapanku Sampai rumahnya kembali menutupinya  Ada banyak hak yang harus ditunaikan oleh seseorang kepada tetangganya, di antaranya: Apabila ia meminta bantuan, engkau hendaknya membantunya Diriwayatkan dari Jabir bin Abdullah bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: مَنْ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ أَنْ يَنْفَعَ أَخَاهُ فَلْيَفْعَلْ “Barang siapa di antara kalian mampu memberi manfaat bagi saudaranya, maka hendaklah ia melakukannya.” (HR. Muslim). Manusia terbaik adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain. Manusia terbaik adalah yang senantiasa membantu orang lain, karena manusia tidak dapat hidup sendiri tanpa bantuan manusia lainnya, sebagaimana yang dikatakan seorang penyair: النَّاسُ لِلنَّاسِ مِنْ بَدْوٍ وَحَاضِرَةٍ بَعْضٌ لِبَعْضٍ وَإِنْ لَمْ يَشْعُرُوا خَدَمُ Manusia bagi manusia lainnya, baik yang hidup di pedalaman atau di perkotaan Sebagian mereka merupakan pelayan sebagian lainnya, meskipun mereka tidak menyadarinya Alqamah bin Labid pernah menasihati anaknya: “Wahai anakku! Apabila engkau butuh teman, maka bertemanlah dengan orang yang menghiasimu dengan pertemanannya, apabila engkau tertimpa musibah, ia menolongmu, apabila engkau berbicara, ia meluruskan ucapanmu, apabila engkau melawan musuh, ia menguatkan perlawananmu, apabila tampak darimu kekurangan, ia menutupinya, apabila tampak darimu kelebihan, ia mengakuinya, apabila engkau meminta sesuatu kepadanya, ia memberimu, apabila suatu kesulitan menimpamu, ia menghiburmu. Sosok teman yang tidak mendatangkan keburukan kepadamu, dan orang yang sikapnya terhadapmu tidak berubah-ubah.” Apabila engkau berutang, ia memberimu utang Diriwayatkan dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: رَأَيْتُ لَيْلَةَ أُسْرِيَ بِي عَلَى بَابِ الْجَنَّةِ مَكْتُوبًا: الصَّدَقَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا، وَالْقَرْضُ بِثَمَانِيَةَ عَشَرَ، فَقُلْتُ لِجِبْرِيلَ: مَا بَالُ الْقَرْضِ أَفْضَلُ مِنَ الصَّدَقَةِ؟ قَالَ: لِأَنَّ السَّائِلَ يَسْأَلُ وَعِنْدَهُ، وَالْمُسْتَقْرِضَ لَا يَسْتَقْرِضُ إِلَّا مِنْ حَاجَةٍ “Pada malam aku melakukan perjalanan Isra’, aku melihat tulisan di pintu surga: ‘Sedekah akan dilipatgandakan sepuluh kali lipat, dan memberi pinjaman dilipatgandakan delapan belas kali.’ Aku lalu bertanya kepada Jibril: ‘Mengapa memberi pinjaman lebih afdal daripada sedekah?’ Ia menjawab: ‘Karena orang yang meminta itu terkadang meminta meskipun ia sendiri punya. Sedangkan orang yang berutang tidak berutang kecuali karena terdesak kebutuhan.’” (HR. Ibnu Majah). Pinjaman yang baik adalah pinjaman yang tidak menimbulkan sikap mengungkit-ungkit dan menyakiti hati, serta transaksinya tidak mengandung perkara haram seperti riba dan lain sebagainya, karena apa yang tumbuh dari hal yang haram, maka tempatnya pasti neraka. Apabila ia kesulitan, engkau membantu dan menolongnya Hal ini sebagai penegas makna yang disampaikan Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam dalam hadis yang diriwayatkan An-Nu’man bin Basyir Radhiyallahu ‘anhu bahwa beliau bersabda: مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ، إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى “Perumpamaan orang-orang beriman dalam saling mencintai, saling menyayangi, dan saling mengasihi adalah seperti satu tubuh, apabila satu anggota tubuh sakit, maka seluruh tubuh ikut merasakan dengan tidak bisa tidur dan demam.” (HR. Muslim). Diriwayatkan juga dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: إِنَّ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ خَلْقًا خَلَقَهُمْ لِحَوَائِجِ النَّاسِ، يَفْزَعُ النَّاسُ إِلَيْهِمْ فِي حَوَائِجِهِمْ، أُولَئِكَ الْآمِنُونَ مِنْ عَذَابِ اللَّهِ “Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla memiliki hamba-hamba yang Dia ciptakan untuk memenuhi kebutuhan manusia. Orang-orang datang kepada mereka dalam memenuhi berbagai kebutuhan mereka. Mereka itulah orang-orang yang aman dari azab Allah.” (HR. Ath-Thabrani). Seorang muslim harus mengetahui bahwa harta yang ada padanya adalah harta Allah, sedangkan dirinya hanyalah penjaganya, dan siapa yang menanam, akan memanen, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ;وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ “Barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.” (QS. Al-Zalzalah: 7-8). Apabila ia sakit, engkau menjenguknya Diriwayatkan dari Ali Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Aku pernah mendengar Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَعُودُ مُسْلِمًا غُدْوَةً، إِلَّا صَلَّى عَلَيْهِ سَبْعُونَ أَلْفَ مَلَكٍ حَتَّى يُمْسِي، وَإِنْ عَادَهُ عَشِيَّةً إِلَّا صَلَّى عَلَيْهِ سَبْعُونَ أَلْفَ مَلَكٍ حَتَّى يُصْبِحَ، وَكَانَ لَهُ خَرِيفٌ فِي الْجَنَّةِ “Tidaklah ada seorang muslim yang menjenguk muslim lainnya pada pagi hari melainkan tujuh puluh ribu malaikat akan mendoakannya hingga sore hari, dan jika ia menjenguknya pada sore hari, maka tujuh puluh malaikat akan mendoakannya hingga pagi hari, dan baginya kebun di surga.” (HR. At-Tirmidzi). Menjenguk orang sakit akan membangun kedekatan mereka satu sama lain, meningkatkan optimisme orang yang sakit, dan membuat hubungan mereka menjadi kuat. Tidak cukup sampai di situ, ini juga menjadi pengingat mendalam bagi orang yang menjenguk, karena ia melihat bahwa sebesar apapun kesombongan dan kedurhakaan manusia, hanya dengan sedikit penyakit sudah bisa membuatnya terkapar di atas ranjang. Dengan demikian, orang yang menjenguk itu akan menjauhi kemaksiatan, agar tidak tertimpa balasan buruk dari Yang Maha Perkasa lagi Maha Besar yang dapat mengujinya dengan penyakit yang merenggut hidupnya. Orang yang menjenguk orang sakit disunnahkan untuk mengucapkan kepadanya: “Tidak mengapa, semoga menjadi pembersih dosa, insyaallah”, “Semoga Allah memberimu kesehatan dan afiyat”, “Semoga panjang umur”, “Semoga lekas sembuh”, dan kalimat-kalimat baik lainnya yang dapat memberi pengaruh besar pada diri orang yang sakit. Apabila ia mendapat kebaikan, engkau mengucapkan selamat Seseorang harus menampakkan kebahagiaan atas hal baik yang didapatkan oleh tetangganya, agar ia merasakan kasih sayangnya terhadap tetangga tersebut, dan merasakan kebahagiaannya atas sesuatu yang membuat tetangga itu bahagia. Apabila engkau melihat tetangga atau temanmu memakai pakaian baru, katakan kepadanya seperti sabda Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam pada momen itu, sebagaimana yang diriwayatkan Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhuma bahwa Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam melihat Umar memakai gamis putih, lalu beliau bertanya: “Pakaianmu ini selesai dicuci atau pakaian baru?” Umar menjawab: “Selesai dicuci.” Beliau lalu bersabda: “Pakailah pakaian baru, hiduplah mulia, dan matilah syahid.” (HR. Ibnu Majah). Apabila tetanggamu pulang dari perjalanan jauh, katakan kepadanya: “Segala puji bagi Allah yang telah memberimu keselamatan” atau “Segala puji bagi Allah yang telah mempertemukanku lagi denganmu.”  Apabila ia hendak menunaikan haji, katakan kepadanya saat berpisah seperti yang disabdakan Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam kepada seorang pemuda yang hendak pergi haji, diriwayatkan Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhuma bahwa ada anak muda yang datang kepada Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam dan berkata: “Aku akan menempuh jalan ini untuk haji.” Kemudian beliau berjalan bersamanya seraya bersabda: “Wahai anak muda! Semoga Allah membekalimu dengan ketakwaan, mengarahkan kebaikan kepadamu, dan membuatmu mencapai tujuanmu.” Ketika anak muda itu telah kembali, ia mengucapkan salam kepada Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam, dan beliau pun mengangkat kepala beliau kepadanya seraya berkata: “Wahai anak muda, semoga Allah menerima hajimu, menghapus dosamu, dan mengganti biaya hajimu.” (HR. Ath-Thabrani). Apabila tetanggamu hendak menikah, katakanlah kepadanya setelah akad nikah seperti sabda Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam:  بَارَكَ اللَّهُ لَكُمَا، وَبَارَكَ عَلَيْكُمَا، وَجَمَعَ بَيْنَكُمَا فِي خَيْرٍ “Semoga Allah memberkahi kalian berdua, melimpahkan keberkahan atas kalian berdua, dan menyatukan kalian berdua dalam kebaikan.” (HR. At-Tirmidzi). Apabila ia dikaruniai anak, katakanlah kepadanya: بَارَكَ اللَّهُ لَكَ فِي الْمَوْهُوبِ، وَشَكَرْتَ الْوَاهِبَ، وَبَلَغَ أَشُدَّهُ، وَرُزِقْتَ بِرَّهُ “Semoga Allah memberkahimu pada anak yang dianugerahkan kepadamu, semoga engkau bersyukur kepada Sang Pemberi (Allah), semoga ia mencapai usia dewasa, dan semoga engkau dikaruniai baktinya.”  Di antara hak-hak tetangga lainnya Menghiburnya atas musibah yang menimpanya, mengantarkan jenazahnya ketika ia wafat, tidak meninggikan bangunan sehingga menghalangi udara ke rumahnya kecuali dengan izinnya, dan tidak menyakitinya dengan asap makananmu kecuali engkau memberinya sebagian masakan itu. Apabila engkau membeli buah, hadiahkan juga untuknya. Awalilah mengucapkan salam. Jangan menyibukkannya terlalu lama dengan obrolanmu. Tundukkanlah pandanganmu dari istrinya. Jangan melihat tajam ke sesuatu yang ia bawa masuk ke dalam rumahnya. Juga hak-hak baik lainnya terhadap tetangga. Semoga salawat dan salam senantiasa terlimpah kepada Nabi kita, Muhammad, dan kepada keluarga serta seluruh sahabat beliau. Sumber: https://www.alukah.net/sharia/0/9644/حقوق-الجار/ Sumber artikel PDF 🔍 Berdoa Saat Haid, Bacaan Niat Puasa Mulud, Surat Yang Pertama Kali Diturunkan, Pendeta Kalah Debat Masuk Islam, Doa Diberikan Jodoh Visited 501 times, 3 visit(s) today Post Views: 59
Oleh: Prof. Dr. Abdullah bin Muhammad Ath-Thayyar Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيلِ “(Dan berbuat baiklah kepada) tetangga yang dekat, tetangga yang jauh, teman sejawat, dan orang yang dalam perjalanan.” (QS. An-Nisa: 36). Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa ia berkata: “Rasulullah pernah bersabda: ‘Siapa yang mau mengambil dariku kata-kata ini, lalu mengamalkannya atau mengajarkannya kepada orang yang akan mengamalkannya?’ Aku menjawab: ‘Saya, wahai Rasulullah!’ Maka beliau memegang tanganku dan menyebutkan lima perkara dengan bersabda: ‘Jauhilah perkara-perkara yang haram, niscaya engkau menjadi orang yang paling tunduk kepada Allah, ridhalah dengan apa yang Allah bagikan kepadamu, niscaya engkau menjadi orang yang paling kaya, berbuat baiklah kepada tetanggamu, niscaya engkau menjadi seorang mukmin; cintailah untuk orang lain apa yang engkau cintai untuk dirimu sendiri, niscaya engkau menjadi seorang muslim, dan janganlah banyak tertawa, karena banyak tertawa dapat mematikan hati.’” (HR. At-Tirmidzi). Diriwayatkan dari Abu Syuraih Al-Khuza’i bahwa Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُحْسِنْ إِلَى جَارِهِ “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berbuat baik kepada tetangganya.” (HR. Muslim). Tetangga terbagi menjadi tiga jenis: Tetangga yang non-Muslim, maka ia hanya punya hak sebagai tetangga saja. Tetangga yang Muslim, maka ia punya hak sebagai tetangga sekaligus sebagai saudara se-Islam. Tetangga yang Muslim dan masih punya hubungan kerabat, maka ia punya hak sebagai tetangga, hak sebagai saudara se-Islam, juga hak untuk dijalin silaturahminya. Dengan demikian, seorang Muslim harus bersikap baik dengan tetangganya, memperlakukannya dengan perlakuan yang baik, tidak mengganggunya, dan tidak memandangi istrinya, karena terdapat larangan keras dalam hal ini sebagaimana yang diriwayatkan Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Aku pernah bertanya kepada Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam: ‘Dosa apa yang paling agung di sisi Allah?’ Beliau menjawab: ‘Engkau mengadakan sekutu bagi Allah, sedangkan Dia telah menciptakanmu.’ Aku pun menanggapi: ‘Sungguh itu dosa yang amat besar. Kemudian dosa apa lagi?’ Beliau menjawab: ‘Lalu engkau membunuh anakmu karena takut ia akan makan bersamamu.’ Aku bertanya lagi: ‘Kemudian apa lagi?’ Beliau menjawab: ‘Engkau berzina dengan istri tetanggamu.’” (HR. Muslim). Allah Subhanahu wa Ta’ala juga menurunkan firman-Nya: وَالَّذِينَ لَا يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ وَلَا يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَلَا يَزْنُونَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ يَلْقَ أَثَامًا “Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan lain bersama Allah, tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan alasan yang benar, dan tidak pula berzina. Barang siapa melakukan itu, niscaya dia akan mendapatkan dosa (balasan yang berat).” (QS. Al-Furqan: 68). Betapa indah ungkapan seorang penyair: أَغُضُّ طَرْفِي إِنْ بَدَتْ لِي جَارَتِي حَتَّى يُوَارِيَ جَارَتِي مَأْوَاهَا Kutundukkan pandanganku saat ada tetangga perempuan tampak di hadapanku Sampai rumahnya kembali menutupinya  Ada banyak hak yang harus ditunaikan oleh seseorang kepada tetangganya, di antaranya: Apabila ia meminta bantuan, engkau hendaknya membantunya Diriwayatkan dari Jabir bin Abdullah bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: مَنْ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ أَنْ يَنْفَعَ أَخَاهُ فَلْيَفْعَلْ “Barang siapa di antara kalian mampu memberi manfaat bagi saudaranya, maka hendaklah ia melakukannya.” (HR. Muslim). Manusia terbaik adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain. Manusia terbaik adalah yang senantiasa membantu orang lain, karena manusia tidak dapat hidup sendiri tanpa bantuan manusia lainnya, sebagaimana yang dikatakan seorang penyair: النَّاسُ لِلنَّاسِ مِنْ بَدْوٍ وَحَاضِرَةٍ بَعْضٌ لِبَعْضٍ وَإِنْ لَمْ يَشْعُرُوا خَدَمُ Manusia bagi manusia lainnya, baik yang hidup di pedalaman atau di perkotaan Sebagian mereka merupakan pelayan sebagian lainnya, meskipun mereka tidak menyadarinya Alqamah bin Labid pernah menasihati anaknya: “Wahai anakku! Apabila engkau butuh teman, maka bertemanlah dengan orang yang menghiasimu dengan pertemanannya, apabila engkau tertimpa musibah, ia menolongmu, apabila engkau berbicara, ia meluruskan ucapanmu, apabila engkau melawan musuh, ia menguatkan perlawananmu, apabila tampak darimu kekurangan, ia menutupinya, apabila tampak darimu kelebihan, ia mengakuinya, apabila engkau meminta sesuatu kepadanya, ia memberimu, apabila suatu kesulitan menimpamu, ia menghiburmu. Sosok teman yang tidak mendatangkan keburukan kepadamu, dan orang yang sikapnya terhadapmu tidak berubah-ubah.” Apabila engkau berutang, ia memberimu utang Diriwayatkan dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: رَأَيْتُ لَيْلَةَ أُسْرِيَ بِي عَلَى بَابِ الْجَنَّةِ مَكْتُوبًا: الصَّدَقَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا، وَالْقَرْضُ بِثَمَانِيَةَ عَشَرَ، فَقُلْتُ لِجِبْرِيلَ: مَا بَالُ الْقَرْضِ أَفْضَلُ مِنَ الصَّدَقَةِ؟ قَالَ: لِأَنَّ السَّائِلَ يَسْأَلُ وَعِنْدَهُ، وَالْمُسْتَقْرِضَ لَا يَسْتَقْرِضُ إِلَّا مِنْ حَاجَةٍ “Pada malam aku melakukan perjalanan Isra’, aku melihat tulisan di pintu surga: ‘Sedekah akan dilipatgandakan sepuluh kali lipat, dan memberi pinjaman dilipatgandakan delapan belas kali.’ Aku lalu bertanya kepada Jibril: ‘Mengapa memberi pinjaman lebih afdal daripada sedekah?’ Ia menjawab: ‘Karena orang yang meminta itu terkadang meminta meskipun ia sendiri punya. Sedangkan orang yang berutang tidak berutang kecuali karena terdesak kebutuhan.’” (HR. Ibnu Majah). Pinjaman yang baik adalah pinjaman yang tidak menimbulkan sikap mengungkit-ungkit dan menyakiti hati, serta transaksinya tidak mengandung perkara haram seperti riba dan lain sebagainya, karena apa yang tumbuh dari hal yang haram, maka tempatnya pasti neraka. Apabila ia kesulitan, engkau membantu dan menolongnya Hal ini sebagai penegas makna yang disampaikan Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam dalam hadis yang diriwayatkan An-Nu’man bin Basyir Radhiyallahu ‘anhu bahwa beliau bersabda: مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ، إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى “Perumpamaan orang-orang beriman dalam saling mencintai, saling menyayangi, dan saling mengasihi adalah seperti satu tubuh, apabila satu anggota tubuh sakit, maka seluruh tubuh ikut merasakan dengan tidak bisa tidur dan demam.” (HR. Muslim). Diriwayatkan juga dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: إِنَّ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ خَلْقًا خَلَقَهُمْ لِحَوَائِجِ النَّاسِ، يَفْزَعُ النَّاسُ إِلَيْهِمْ فِي حَوَائِجِهِمْ، أُولَئِكَ الْآمِنُونَ مِنْ عَذَابِ اللَّهِ “Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla memiliki hamba-hamba yang Dia ciptakan untuk memenuhi kebutuhan manusia. Orang-orang datang kepada mereka dalam memenuhi berbagai kebutuhan mereka. Mereka itulah orang-orang yang aman dari azab Allah.” (HR. Ath-Thabrani). Seorang muslim harus mengetahui bahwa harta yang ada padanya adalah harta Allah, sedangkan dirinya hanyalah penjaganya, dan siapa yang menanam, akan memanen, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ;وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ “Barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.” (QS. Al-Zalzalah: 7-8). Apabila ia sakit, engkau menjenguknya Diriwayatkan dari Ali Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Aku pernah mendengar Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَعُودُ مُسْلِمًا غُدْوَةً، إِلَّا صَلَّى عَلَيْهِ سَبْعُونَ أَلْفَ مَلَكٍ حَتَّى يُمْسِي، وَإِنْ عَادَهُ عَشِيَّةً إِلَّا صَلَّى عَلَيْهِ سَبْعُونَ أَلْفَ مَلَكٍ حَتَّى يُصْبِحَ، وَكَانَ لَهُ خَرِيفٌ فِي الْجَنَّةِ “Tidaklah ada seorang muslim yang menjenguk muslim lainnya pada pagi hari melainkan tujuh puluh ribu malaikat akan mendoakannya hingga sore hari, dan jika ia menjenguknya pada sore hari, maka tujuh puluh malaikat akan mendoakannya hingga pagi hari, dan baginya kebun di surga.” (HR. At-Tirmidzi). Menjenguk orang sakit akan membangun kedekatan mereka satu sama lain, meningkatkan optimisme orang yang sakit, dan membuat hubungan mereka menjadi kuat. Tidak cukup sampai di situ, ini juga menjadi pengingat mendalam bagi orang yang menjenguk, karena ia melihat bahwa sebesar apapun kesombongan dan kedurhakaan manusia, hanya dengan sedikit penyakit sudah bisa membuatnya terkapar di atas ranjang. Dengan demikian, orang yang menjenguk itu akan menjauhi kemaksiatan, agar tidak tertimpa balasan buruk dari Yang Maha Perkasa lagi Maha Besar yang dapat mengujinya dengan penyakit yang merenggut hidupnya. Orang yang menjenguk orang sakit disunnahkan untuk mengucapkan kepadanya: “Tidak mengapa, semoga menjadi pembersih dosa, insyaallah”, “Semoga Allah memberimu kesehatan dan afiyat”, “Semoga panjang umur”, “Semoga lekas sembuh”, dan kalimat-kalimat baik lainnya yang dapat memberi pengaruh besar pada diri orang yang sakit. Apabila ia mendapat kebaikan, engkau mengucapkan selamat Seseorang harus menampakkan kebahagiaan atas hal baik yang didapatkan oleh tetangganya, agar ia merasakan kasih sayangnya terhadap tetangga tersebut, dan merasakan kebahagiaannya atas sesuatu yang membuat tetangga itu bahagia. Apabila engkau melihat tetangga atau temanmu memakai pakaian baru, katakan kepadanya seperti sabda Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam pada momen itu, sebagaimana yang diriwayatkan Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhuma bahwa Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam melihat Umar memakai gamis putih, lalu beliau bertanya: “Pakaianmu ini selesai dicuci atau pakaian baru?” Umar menjawab: “Selesai dicuci.” Beliau lalu bersabda: “Pakailah pakaian baru, hiduplah mulia, dan matilah syahid.” (HR. Ibnu Majah). Apabila tetanggamu pulang dari perjalanan jauh, katakan kepadanya: “Segala puji bagi Allah yang telah memberimu keselamatan” atau “Segala puji bagi Allah yang telah mempertemukanku lagi denganmu.”  Apabila ia hendak menunaikan haji, katakan kepadanya saat berpisah seperti yang disabdakan Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam kepada seorang pemuda yang hendak pergi haji, diriwayatkan Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhuma bahwa ada anak muda yang datang kepada Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam dan berkata: “Aku akan menempuh jalan ini untuk haji.” Kemudian beliau berjalan bersamanya seraya bersabda: “Wahai anak muda! Semoga Allah membekalimu dengan ketakwaan, mengarahkan kebaikan kepadamu, dan membuatmu mencapai tujuanmu.” Ketika anak muda itu telah kembali, ia mengucapkan salam kepada Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam, dan beliau pun mengangkat kepala beliau kepadanya seraya berkata: “Wahai anak muda, semoga Allah menerima hajimu, menghapus dosamu, dan mengganti biaya hajimu.” (HR. Ath-Thabrani). Apabila tetanggamu hendak menikah, katakanlah kepadanya setelah akad nikah seperti sabda Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam:  بَارَكَ اللَّهُ لَكُمَا، وَبَارَكَ عَلَيْكُمَا، وَجَمَعَ بَيْنَكُمَا فِي خَيْرٍ “Semoga Allah memberkahi kalian berdua, melimpahkan keberkahan atas kalian berdua, dan menyatukan kalian berdua dalam kebaikan.” (HR. At-Tirmidzi). Apabila ia dikaruniai anak, katakanlah kepadanya: بَارَكَ اللَّهُ لَكَ فِي الْمَوْهُوبِ، وَشَكَرْتَ الْوَاهِبَ، وَبَلَغَ أَشُدَّهُ، وَرُزِقْتَ بِرَّهُ “Semoga Allah memberkahimu pada anak yang dianugerahkan kepadamu, semoga engkau bersyukur kepada Sang Pemberi (Allah), semoga ia mencapai usia dewasa, dan semoga engkau dikaruniai baktinya.”  Di antara hak-hak tetangga lainnya Menghiburnya atas musibah yang menimpanya, mengantarkan jenazahnya ketika ia wafat, tidak meninggikan bangunan sehingga menghalangi udara ke rumahnya kecuali dengan izinnya, dan tidak menyakitinya dengan asap makananmu kecuali engkau memberinya sebagian masakan itu. Apabila engkau membeli buah, hadiahkan juga untuknya. Awalilah mengucapkan salam. Jangan menyibukkannya terlalu lama dengan obrolanmu. Tundukkanlah pandanganmu dari istrinya. Jangan melihat tajam ke sesuatu yang ia bawa masuk ke dalam rumahnya. Juga hak-hak baik lainnya terhadap tetangga. Semoga salawat dan salam senantiasa terlimpah kepada Nabi kita, Muhammad, dan kepada keluarga serta seluruh sahabat beliau. Sumber: https://www.alukah.net/sharia/0/9644/حقوق-الجار/ Sumber artikel PDF 🔍 Berdoa Saat Haid, Bacaan Niat Puasa Mulud, Surat Yang Pertama Kali Diturunkan, Pendeta Kalah Debat Masuk Islam, Doa Diberikan Jodoh Visited 501 times, 3 visit(s) today Post Views: 59


Oleh: Prof. Dr. Abdullah bin Muhammad Ath-Thayyar Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيلِ “(Dan berbuat baiklah kepada) tetangga yang dekat, tetangga yang jauh, teman sejawat, dan orang yang dalam perjalanan.” (QS. An-Nisa: 36). Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa ia berkata: “Rasulullah pernah bersabda: ‘Siapa yang mau mengambil dariku kata-kata ini, lalu mengamalkannya atau mengajarkannya kepada orang yang akan mengamalkannya?’ Aku menjawab: ‘Saya, wahai Rasulullah!’ Maka beliau memegang tanganku dan menyebutkan lima perkara dengan bersabda: ‘Jauhilah perkara-perkara yang haram, niscaya engkau menjadi orang yang paling tunduk kepada Allah, ridhalah dengan apa yang Allah bagikan kepadamu, niscaya engkau menjadi orang yang paling kaya, berbuat baiklah kepada tetanggamu, niscaya engkau menjadi seorang mukmin; cintailah untuk orang lain apa yang engkau cintai untuk dirimu sendiri, niscaya engkau menjadi seorang muslim, dan janganlah banyak tertawa, karena banyak tertawa dapat mematikan hati.’” (HR. At-Tirmidzi). Diriwayatkan dari Abu Syuraih Al-Khuza’i bahwa Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُحْسِنْ إِلَى جَارِهِ “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berbuat baik kepada tetangganya.” (HR. Muslim). Tetangga terbagi menjadi tiga jenis: Tetangga yang non-Muslim, maka ia hanya punya hak sebagai tetangga saja. Tetangga yang Muslim, maka ia punya hak sebagai tetangga sekaligus sebagai saudara se-Islam. Tetangga yang Muslim dan masih punya hubungan kerabat, maka ia punya hak sebagai tetangga, hak sebagai saudara se-Islam, juga hak untuk dijalin silaturahminya. Dengan demikian, seorang Muslim harus bersikap baik dengan tetangganya, memperlakukannya dengan perlakuan yang baik, tidak mengganggunya, dan tidak memandangi istrinya, karena terdapat larangan keras dalam hal ini sebagaimana yang diriwayatkan Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Aku pernah bertanya kepada Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam: ‘Dosa apa yang paling agung di sisi Allah?’ Beliau menjawab: ‘Engkau mengadakan sekutu bagi Allah, sedangkan Dia telah menciptakanmu.’ Aku pun menanggapi: ‘Sungguh itu dosa yang amat besar. Kemudian dosa apa lagi?’ Beliau menjawab: ‘Lalu engkau membunuh anakmu karena takut ia akan makan bersamamu.’ Aku bertanya lagi: ‘Kemudian apa lagi?’ Beliau menjawab: ‘Engkau berzina dengan istri tetanggamu.’” (HR. Muslim). Allah Subhanahu wa Ta’ala juga menurunkan firman-Nya: وَالَّذِينَ لَا يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ وَلَا يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَلَا يَزْنُونَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ يَلْقَ أَثَامًا “Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan lain bersama Allah, tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan alasan yang benar, dan tidak pula berzina. Barang siapa melakukan itu, niscaya dia akan mendapatkan dosa (balasan yang berat).” (QS. Al-Furqan: 68). Betapa indah ungkapan seorang penyair: أَغُضُّ طَرْفِي إِنْ بَدَتْ لِي جَارَتِي حَتَّى يُوَارِيَ جَارَتِي مَأْوَاهَا Kutundukkan pandanganku saat ada tetangga perempuan tampak di hadapanku Sampai rumahnya kembali menutupinya  Ada banyak hak yang harus ditunaikan oleh seseorang kepada tetangganya, di antaranya: Apabila ia meminta bantuan, engkau hendaknya membantunya Diriwayatkan dari Jabir bin Abdullah bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: مَنْ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ أَنْ يَنْفَعَ أَخَاهُ فَلْيَفْعَلْ “Barang siapa di antara kalian mampu memberi manfaat bagi saudaranya, maka hendaklah ia melakukannya.” (HR. Muslim). Manusia terbaik adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain. Manusia terbaik adalah yang senantiasa membantu orang lain, karena manusia tidak dapat hidup sendiri tanpa bantuan manusia lainnya, sebagaimana yang dikatakan seorang penyair: النَّاسُ لِلنَّاسِ مِنْ بَدْوٍ وَحَاضِرَةٍ بَعْضٌ لِبَعْضٍ وَإِنْ لَمْ يَشْعُرُوا خَدَمُ Manusia bagi manusia lainnya, baik yang hidup di pedalaman atau di perkotaan Sebagian mereka merupakan pelayan sebagian lainnya, meskipun mereka tidak menyadarinya Alqamah bin Labid pernah menasihati anaknya: “Wahai anakku! Apabila engkau butuh teman, maka bertemanlah dengan orang yang menghiasimu dengan pertemanannya, apabila engkau tertimpa musibah, ia menolongmu, apabila engkau berbicara, ia meluruskan ucapanmu, apabila engkau melawan musuh, ia menguatkan perlawananmu, apabila tampak darimu kekurangan, ia menutupinya, apabila tampak darimu kelebihan, ia mengakuinya, apabila engkau meminta sesuatu kepadanya, ia memberimu, apabila suatu kesulitan menimpamu, ia menghiburmu. Sosok teman yang tidak mendatangkan keburukan kepadamu, dan orang yang sikapnya terhadapmu tidak berubah-ubah.” Apabila engkau berutang, ia memberimu utang Diriwayatkan dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: رَأَيْتُ لَيْلَةَ أُسْرِيَ بِي عَلَى بَابِ الْجَنَّةِ مَكْتُوبًا: الصَّدَقَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا، وَالْقَرْضُ بِثَمَانِيَةَ عَشَرَ، فَقُلْتُ لِجِبْرِيلَ: مَا بَالُ الْقَرْضِ أَفْضَلُ مِنَ الصَّدَقَةِ؟ قَالَ: لِأَنَّ السَّائِلَ يَسْأَلُ وَعِنْدَهُ، وَالْمُسْتَقْرِضَ لَا يَسْتَقْرِضُ إِلَّا مِنْ حَاجَةٍ “Pada malam aku melakukan perjalanan Isra’, aku melihat tulisan di pintu surga: ‘Sedekah akan dilipatgandakan sepuluh kali lipat, dan memberi pinjaman dilipatgandakan delapan belas kali.’ Aku lalu bertanya kepada Jibril: ‘Mengapa memberi pinjaman lebih afdal daripada sedekah?’ Ia menjawab: ‘Karena orang yang meminta itu terkadang meminta meskipun ia sendiri punya. Sedangkan orang yang berutang tidak berutang kecuali karena terdesak kebutuhan.’” (HR. Ibnu Majah). Pinjaman yang baik adalah pinjaman yang tidak menimbulkan sikap mengungkit-ungkit dan menyakiti hati, serta transaksinya tidak mengandung perkara haram seperti riba dan lain sebagainya, karena apa yang tumbuh dari hal yang haram, maka tempatnya pasti neraka. Apabila ia kesulitan, engkau membantu dan menolongnya Hal ini sebagai penegas makna yang disampaikan Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam dalam hadis yang diriwayatkan An-Nu’man bin Basyir Radhiyallahu ‘anhu bahwa beliau bersabda: مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ، إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى “Perumpamaan orang-orang beriman dalam saling mencintai, saling menyayangi, dan saling mengasihi adalah seperti satu tubuh, apabila satu anggota tubuh sakit, maka seluruh tubuh ikut merasakan dengan tidak bisa tidur dan demam.” (HR. Muslim). Diriwayatkan juga dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: إِنَّ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ خَلْقًا خَلَقَهُمْ لِحَوَائِجِ النَّاسِ، يَفْزَعُ النَّاسُ إِلَيْهِمْ فِي حَوَائِجِهِمْ، أُولَئِكَ الْآمِنُونَ مِنْ عَذَابِ اللَّهِ “Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla memiliki hamba-hamba yang Dia ciptakan untuk memenuhi kebutuhan manusia. Orang-orang datang kepada mereka dalam memenuhi berbagai kebutuhan mereka. Mereka itulah orang-orang yang aman dari azab Allah.” (HR. Ath-Thabrani). Seorang muslim harus mengetahui bahwa harta yang ada padanya adalah harta Allah, sedangkan dirinya hanyalah penjaganya, dan siapa yang menanam, akan memanen, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ;وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ “Barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.” (QS. Al-Zalzalah: 7-8). Apabila ia sakit, engkau menjenguknya Diriwayatkan dari Ali Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Aku pernah mendengar Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَعُودُ مُسْلِمًا غُدْوَةً، إِلَّا صَلَّى عَلَيْهِ سَبْعُونَ أَلْفَ مَلَكٍ حَتَّى يُمْسِي، وَإِنْ عَادَهُ عَشِيَّةً إِلَّا صَلَّى عَلَيْهِ سَبْعُونَ أَلْفَ مَلَكٍ حَتَّى يُصْبِحَ، وَكَانَ لَهُ خَرِيفٌ فِي الْجَنَّةِ “Tidaklah ada seorang muslim yang menjenguk muslim lainnya pada pagi hari melainkan tujuh puluh ribu malaikat akan mendoakannya hingga sore hari, dan jika ia menjenguknya pada sore hari, maka tujuh puluh malaikat akan mendoakannya hingga pagi hari, dan baginya kebun di surga.” (HR. At-Tirmidzi). Menjenguk orang sakit akan membangun kedekatan mereka satu sama lain, meningkatkan optimisme orang yang sakit, dan membuat hubungan mereka menjadi kuat. Tidak cukup sampai di situ, ini juga menjadi pengingat mendalam bagi orang yang menjenguk, karena ia melihat bahwa sebesar apapun kesombongan dan kedurhakaan manusia, hanya dengan sedikit penyakit sudah bisa membuatnya terkapar di atas ranjang. Dengan demikian, orang yang menjenguk itu akan menjauhi kemaksiatan, agar tidak tertimpa balasan buruk dari Yang Maha Perkasa lagi Maha Besar yang dapat mengujinya dengan penyakit yang merenggut hidupnya. Orang yang menjenguk orang sakit disunnahkan untuk mengucapkan kepadanya: “Tidak mengapa, semoga menjadi pembersih dosa, insyaallah”, “Semoga Allah memberimu kesehatan dan afiyat”, “Semoga panjang umur”, “Semoga lekas sembuh”, dan kalimat-kalimat baik lainnya yang dapat memberi pengaruh besar pada diri orang yang sakit. Apabila ia mendapat kebaikan, engkau mengucapkan selamat Seseorang harus menampakkan kebahagiaan atas hal baik yang didapatkan oleh tetangganya, agar ia merasakan kasih sayangnya terhadap tetangga tersebut, dan merasakan kebahagiaannya atas sesuatu yang membuat tetangga itu bahagia. Apabila engkau melihat tetangga atau temanmu memakai pakaian baru, katakan kepadanya seperti sabda Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam pada momen itu, sebagaimana yang diriwayatkan Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhuma bahwa Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam melihat Umar memakai gamis putih, lalu beliau bertanya: “Pakaianmu ini selesai dicuci atau pakaian baru?” Umar menjawab: “Selesai dicuci.” Beliau lalu bersabda: “Pakailah pakaian baru, hiduplah mulia, dan matilah syahid.” (HR. Ibnu Majah). Apabila tetanggamu pulang dari perjalanan jauh, katakan kepadanya: “Segala puji bagi Allah yang telah memberimu keselamatan” atau “Segala puji bagi Allah yang telah mempertemukanku lagi denganmu.”  Apabila ia hendak menunaikan haji, katakan kepadanya saat berpisah seperti yang disabdakan Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam kepada seorang pemuda yang hendak pergi haji, diriwayatkan Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhuma bahwa ada anak muda yang datang kepada Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam dan berkata: “Aku akan menempuh jalan ini untuk haji.” Kemudian beliau berjalan bersamanya seraya bersabda: “Wahai anak muda! Semoga Allah membekalimu dengan ketakwaan, mengarahkan kebaikan kepadamu, dan membuatmu mencapai tujuanmu.” Ketika anak muda itu telah kembali, ia mengucapkan salam kepada Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam, dan beliau pun mengangkat kepala beliau kepadanya seraya berkata: “Wahai anak muda, semoga Allah menerima hajimu, menghapus dosamu, dan mengganti biaya hajimu.” (HR. Ath-Thabrani). Apabila tetanggamu hendak menikah, katakanlah kepadanya setelah akad nikah seperti sabda Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam:  بَارَكَ اللَّهُ لَكُمَا، وَبَارَكَ عَلَيْكُمَا، وَجَمَعَ بَيْنَكُمَا فِي خَيْرٍ “Semoga Allah memberkahi kalian berdua, melimpahkan keberkahan atas kalian berdua, dan menyatukan kalian berdua dalam kebaikan.” (HR. At-Tirmidzi). Apabila ia dikaruniai anak, katakanlah kepadanya: بَارَكَ اللَّهُ لَكَ فِي الْمَوْهُوبِ، وَشَكَرْتَ الْوَاهِبَ، وَبَلَغَ أَشُدَّهُ، وَرُزِقْتَ بِرَّهُ “Semoga Allah memberkahimu pada anak yang dianugerahkan kepadamu, semoga engkau bersyukur kepada Sang Pemberi (Allah), semoga ia mencapai usia dewasa, dan semoga engkau dikaruniai baktinya.”  Di antara hak-hak tetangga lainnya Menghiburnya atas musibah yang menimpanya, mengantarkan jenazahnya ketika ia wafat, tidak meninggikan bangunan sehingga menghalangi udara ke rumahnya kecuali dengan izinnya, dan tidak menyakitinya dengan asap makananmu kecuali engkau memberinya sebagian masakan itu. Apabila engkau membeli buah, hadiahkan juga untuknya. Awalilah mengucapkan salam. Jangan menyibukkannya terlalu lama dengan obrolanmu. Tundukkanlah pandanganmu dari istrinya. Jangan melihat tajam ke sesuatu yang ia bawa masuk ke dalam rumahnya. Juga hak-hak baik lainnya terhadap tetangga. Semoga salawat dan salam senantiasa terlimpah kepada Nabi kita, Muhammad, dan kepada keluarga serta seluruh sahabat beliau. Sumber: https://www.alukah.net/sharia/0/9644/حقوق-الجار/ Sumber artikel PDF 🔍 Berdoa Saat Haid, Bacaan Niat Puasa Mulud, Surat Yang Pertama Kali Diturunkan, Pendeta Kalah Debat Masuk Islam, Doa Diberikan Jodoh Visited 501 times, 3 visit(s) today Post Views: 59

Teks Khotbah Jumat: Jadilah Rakyat Terbaik

Daftar Isi ToggleKhotbah pertamaUjian kehidupan dan permasalahan kerakyatanJanji Allah ﷻ untuk menghadirkan pemimpin negeri yang salehJanji pertama: Memberikan kejayaan dan kepemimpinanJanji kedua: Syiar dan syariat Islam akan berjayaJanji ketiga: Memberikan rasa aman dan membalikkan rasa takut kepada musuhAncaman Allah ﷻ kepada mereka yang kufur setelah janji terpenuhiKhotbah keduaJadilah rakyat terbaik untuk melahirkan pemimpin terbaikKhotbah pertamaبسم الله الرحمن الرحيمالسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاتهإِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَ مِنْ سَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ  وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ له وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لاَ نَبِيَّ بَعْدَهُاللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّكَ المُصْطَفَى وَ عَلَى آلِهِ وَ صَحْبِهِ وَ مَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِيْنِقال الله تعالى فى كتابه الكريميا ايها الذين آمنوا اتقوا الله حق تقاته ولا تموتن الا وانتم مسلمونيا أيها الناس اتقوا ربكم الذي خلقكم من نفس واحدة وخلق منها زوجها وبث منهما رجالا كثيرا ونساء واتقوا الله الذي تساءلون به والأرحام إن الله كان عليكم رقيبايا أيها الذين آمنوا اتقوا الله وقولوا قولا سديدا يصلح لكم أعمالكم ويغفر لكم ذنوبكم ومن يطع الله ورسوله فقد فاز فوزا عظيماأما بعدPara jemaah rahimakumullah,Segala puji bagi Allah ﷻ yang telah menakdirkan manusia sebagai pemimpin di muka bumi. Segala puji bagi Allah ﷻ yang telah menanamkan ilmu menata sosial kemasyarakatan kita. Marilah kita syukuri nikmat Allah yang begitu luas ini dengan ketakwaan. Karena bekal terbaik yang dapat menyelamatkan kita di dunia dan akhirat hanyalah ketakwaan. Allah ﷻ berfirman,وَتَزَوَّدُوا۟ فَإِنَّ خَيْرَ ٱلزَّادِ ٱلتَّقْوَىٰ“Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.” (QS. Al-Baqarah: 197)Dan Allah ﷻ juga mewajibkan kepada kita semua untuk bertakwa dengan sebenar-benarnya. Sehingga tiada jalan yang dapat menutup usia kita dengan selamat, melainkan dengan beriman dengan keimanan yang sesungguhnya.Dan tidaklah semua ketaatan itu dapat kita lakukan, kecuali karena Allah telah mengutus Rasul-Nya yang agung, Nabi Muhammad ﷺ. Berselawatlah kepadanya, niscaya Allah akan balas 10x lipat bagi kita semua.Ujian kehidupan dan permasalahan kerakyatanKeadaan ekonomi dan kehidupan masyarakat kita saat ini tentu memberatkan hati kebanyakan dari kita. Tak sulit menemukan kabar rekan, tetangga, dan saudara yang mengalami himpitan kehidupan saat ini. Para jemaah, ketahuilah! Pergiliran masa jaya dan kehancuran adalah sebuah kepastian, sunnatullah yang mesti terjadi dan tidak dapat dapat ditolak. Allah ﷻ berfirman,وَتِلْكَ الْاَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِۚ“Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran).“ (QS. Ali Imran: 140)Keadaan seperti ini, tentu adalah sebab dari sebagian dosa kita. Allah Ta’ala memberikan takdir terbaik berupa pemimpin yang sesuai dengan keadaan komunitas masyarakatnya. Terdapat suatu ungkapan yang masyhur di kalangan para alim ulama terdahulu,كَمَا تَكُونُوا يُوَلَّى عَلَيْكُمْ“Sebagaimana keadaan kalian, demikian pula pemimpin yang akan ditetapkan atas kalian.” [1]Al-Alusi rahimahullah membawakan perkataan ini ketika menafsirkan sebuah firman Allah ﷻ,وَكَذَٰلِكَ نُوَلِّى بَعْضَ ٱلظَّٰلِمِينَ بَعْضًۢا بِمَا كَانُوا۟ يَكْسِبُونَ“Dan demikianlah Kami jadikan sebagian orang-orang yang zalim itu menjadi wali (pemimpin) bagi sebagian yang lain disebabkan apa yang mereka usahakan.” (QS. Al-An’am: 129)Janji Allah ﷻ untuk menghadirkan pemimpin negeri yang salehAllah ﷻ berfirman dalam surahAn-Nur ayat 55, bahwa Dia ﷻ berjanji,وَعَدَ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مِنكُمْ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّٰلِحَٰتِ“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh.”Allah ﷻ menetapkan janji kepada orang yang beriman dan beramal saleh. Perhatikan bagian awal ayat ini sebagai syarat atas terpenuhi janjinya Allah ﷻ yang akan disebutkan setelah ini.Janji pertama: Memberikan kejayaan dan kepemimpinanApa janji Allah ﷻ tersebut? Janji Allah ﷻ adalah janji untuk menjadikan orang beriman dan beramal saleh sebagai pemimpin dan mendapatkan kejayaan. Allah ﷻ berfirman,لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِى ٱلْأَرْضِ كَمَا ٱسْتَخْلَفَ ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ“Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka (yakni kaum beriman dan beramal saleh) berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa.”Artinya, sungguh Allah ﷻ sudah pernah mewujudkan janji ini kepada orang sebelum kita. Dan ini mudah bagi Allah ﷻ untuk mengulangnya. (Tafsir Al-Madinah)Janji kedua: Syiar dan syariat Islam akan berjayaTidak hanya kejayaan kepada kaum muslimin, tetapi juga kepada seluruh perangkat agama ini, syiar, dan syariatnya. Allah ﷻ berfirman,وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ ٱلَّذِى ٱرْتَضَىٰ لَهُمْ“Dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridai-Nya untuk mereka.”Yakni, Allah akan memberi kejayaan bagi agama Islam sebagai agama yang Dia ridai bagi mereka. (Tafsir Al-Madinah Al-Munawwarah)Janji ketiga: Memberikan rasa aman dan membalikkan rasa takut kepada musuhAllah ﷻ juga berjanji memberikan keamanan dan ketentraman setelah ketakutan mereka terhadap para musuh. Hal ini jika mereka hanya menyembah Allah semata, tanpa menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.وَلَيُبَدِّلَنَّهُم مِّنۢ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا ۚ“Dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentosa.”Percayalah janji Allah ﷻ ini! Ia akan gantikan keadaan ini dengan keadaan yang lebih baik! Syaratnya adalah iman dan amal saleh!Namun, perhatikanlah syarat yang ditegaskan ulang berikut,يَعْبُدُونَنِى لَا يُشْرِكُونَ بِى شَيْـًٔا ۚ“Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku.”Ancaman Allah ﷻ kepada mereka yang kufur setelah janji terpenuhiAllah ﷻ tidak sekadar memberikan janji yang menggembirakan jiwa, tetapi juga syarat dan ancaman kepada kita semua. Nikmat kejayaan itu, jika tidak bisa membuat hati mereka melunak terhadap iman, sungguh itu adalah kerusakan yang teramat. Allah ﷻ berfirman,وَمَن كَفَرَ بَعْدَ ذَٰلِكَ فَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْفَٰسِقُونَ“Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.”Dalam Tafsir Al-Muyassar, disebutkan bahwa, “Barangsiapa kafir setelah mengambil alih kekuasaan kaum Musyrikin, keadaan aman, penguasaan dan kekuasaan yang penuh dan mengingkari nikmat-nikmat Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang telah keluar dari ketaatan kepada Allah.”Maka, tugas kita adalah mewujudkan sebab janji Allah ﷻ, yaitu menjadi masyarakat yang beriman dan beramal saleh. Energi yang kita gunakan untuk sibuk mencela pemimpin kita lebih baik kita alihkan kepada upaya memperbaiki diri dan mendidik umat. Biarlah tugas memberikan nasihat tersebut dikerjakan oleh para ahli, justru kebanyakan kita adalah orang yang mendapatkan tugas untuk bersabar dan berdoa kepada Allah ﷻ.بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمKhotbah keduaالحمد لله على إحسانه، والشكر له على توفيقه وامتنانه، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له تعظيما لشأنه، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله الداعي إلى رضوانه، اللهم صلى على محمد وعلى آله وأصحابه وأخوانهJadilah rakyat terbaik untuk melahirkan pemimpin terbaikOleh karena itu, jadilah kita rakyat terbaik agar dapat melahirkan pemimpin yang terbaik. Bagaimana cara menjadi rakyat terbaik? Perhatikanlah wasiat dalam Shahih Muslim (no. 3447) dari ‘Auf bin Malik yang beliau dengar dari Rasulullah ﷺ, beliau bersabda,خِيَارُ أَئِمَّتِكُمْ الَّذِينَ تُحِبُّونَهُمْ وَيُحِبُّونَكُمْ وَيُصَلُّونَ عَلَيْكُمْ وَتُصَلُّونَ عَلَيْهِمْ“Sebaik-baik pemimpin kalian adalah mereka mencintai kalian dan kalian mencintai mereka, mereka mendoakan kalian dan kalian mendoakan mereka.”Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun melanjutkan,وَشِرَارُ أَئِمَّتِكُمْ الَّذِينَ تُبْغِضُونَهُمْ وَيُبْغِضُونَكُمْ وَتَلْعَنُونَهُمْ وَيَلْعَنُونَكُمْ“Dan sejelek-jelek pemimpin kalian adalah mereka yang membenci kalian dan kalian membenci mereka, mereka mengutuk kalian dan kalian mengutuk mereka.”Selanjutnya beliau ditanya,يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفَلَا نُنَابِذُهُمْ بِالسَّيْفِ“Wahai Rasulullah, tidakkah kita memerangi mereka?”فَقَالَ: لَا, مَا أَقَامُوا فِيكُمْ الصَّلَاةَ. وَإِذَا رَأَيْتُمْ مِنْ وُلَاتِكُمْ شَيْئًا تَكْرَهُونَهُ, فَاكْرَهُوا عَمَلَهُ, وَلَا تَنْزِعُوا يَدًا مِنْ طَاعَةٍMaka beliau bersabda, “Tidak, selagi mereka mendirikan salat bersama kalian. Jika kalian melihat dari pemimpin kalian sesuatu yang tidak baik, maka bencilah tindakannya, dan janganlah kalian melepas dari ketaatan kepada mereka.”Dari hadis tersebut, kita dapatkan dua pelajaran besar:Pertama, cara menjadi rakyat terbaik agar dapat melahirkan pemimpin terbaik ada 3, yaitu:1) Mencintai mereka;2) Mendoakan mereka;3) Menjaga ketaatan kepada mereka dalam hal kebaikan.Kedua, jika kita ditakdirkan Allah ﷻ mendapatkan pemimpin yang buruk, maka lakukanlah hal ini:1) Sadarilah bahwa itu disebabkan keburukan yang kita lakukan;2) Bencilah perbuatannya, jangan benci orangnya;3) Jagalah ketaatan selagi mereka menegakkan salat; dan4) Berdoa.Maka berdoalah dengan doa terbaik, termasuk doa Rasulullah yang paling sering dibaca dalam banyak majelisnya yaitu,اللَّهُمَّ لَا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا بِذُنُوْبِنَا مَنْ لَا يَخَافُكَ فِيْنَا وَلَا يَرْحَمُنَا“Ya Allah! Janganlah Engkau jadikan pemimpin kami disebabkan dosa-dosa kami, orang-orang yang tidak takut kepada-Mu dan tidak mempunyai belas kasihan kepada kami.” (HR. Tirmidzi no. 3502, dinilai sahih)إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًااللهم اغفر للمؤمنين والمؤمنات والمسلمين والمسلمات الأحياء منهم والأمواتاللَّهُمَّ لَا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا بِذُنُوْبِنَا مَنْ لَا يَخَافُكَ فِيْنَا وَلَا يَرْحَمُنَاربنا لا تزغ قلوبنا بعد إذ هديتنا وهب لنا من لدنك رحمة إنك أنت الوهاباللهم ارنا الحق حقا وارزقنا اتباعه وارنا الباطل باطل وارزقنا اجتنابهرَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ  اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَ الْمُسلِمِيناللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَاننَاَ الْمُسلِمِين وَ المُجَاهِدِينَ فِي فِلِسْطِيناللَّهُمَّ ثَبِّتْ إِيمَانَهُمْ وَ أَنْزِلِ السَّكِينَةَ عَلَى قُلُوبِهِم وَ وَحِّدْ صُفُوفَهُمْاللَّهُمَّ أَهْلِكِ الكُفّار وَالمُشْرِكِينَرَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَقِنَا عَذَابَ النَّارِWa shallallahu ‘ala sayyidina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajmain. Akhirud da’wa ‘anilhamdu lillahi rabbil ‘alamin.***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id Referensi:Tafsir Al-MuyassarTafsir Al-Madinah Al-Munawwarah versi tafsirweb.comCatatan kaki:[1] Sebagian menyandarkan kepada Imam At-Thurtusi, serta Al-Alusi dalam tafsirnya. Dibawakan pula oleh ulama kontemporer seperti Imam Ibnu Utsaimin dan Ibnu Baz.

Teks Khotbah Jumat: Jadilah Rakyat Terbaik

Daftar Isi ToggleKhotbah pertamaUjian kehidupan dan permasalahan kerakyatanJanji Allah ﷻ untuk menghadirkan pemimpin negeri yang salehJanji pertama: Memberikan kejayaan dan kepemimpinanJanji kedua: Syiar dan syariat Islam akan berjayaJanji ketiga: Memberikan rasa aman dan membalikkan rasa takut kepada musuhAncaman Allah ﷻ kepada mereka yang kufur setelah janji terpenuhiKhotbah keduaJadilah rakyat terbaik untuk melahirkan pemimpin terbaikKhotbah pertamaبسم الله الرحمن الرحيمالسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاتهإِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَ مِنْ سَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ  وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ له وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لاَ نَبِيَّ بَعْدَهُاللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّكَ المُصْطَفَى وَ عَلَى آلِهِ وَ صَحْبِهِ وَ مَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِيْنِقال الله تعالى فى كتابه الكريميا ايها الذين آمنوا اتقوا الله حق تقاته ولا تموتن الا وانتم مسلمونيا أيها الناس اتقوا ربكم الذي خلقكم من نفس واحدة وخلق منها زوجها وبث منهما رجالا كثيرا ونساء واتقوا الله الذي تساءلون به والأرحام إن الله كان عليكم رقيبايا أيها الذين آمنوا اتقوا الله وقولوا قولا سديدا يصلح لكم أعمالكم ويغفر لكم ذنوبكم ومن يطع الله ورسوله فقد فاز فوزا عظيماأما بعدPara jemaah rahimakumullah,Segala puji bagi Allah ﷻ yang telah menakdirkan manusia sebagai pemimpin di muka bumi. Segala puji bagi Allah ﷻ yang telah menanamkan ilmu menata sosial kemasyarakatan kita. Marilah kita syukuri nikmat Allah yang begitu luas ini dengan ketakwaan. Karena bekal terbaik yang dapat menyelamatkan kita di dunia dan akhirat hanyalah ketakwaan. Allah ﷻ berfirman,وَتَزَوَّدُوا۟ فَإِنَّ خَيْرَ ٱلزَّادِ ٱلتَّقْوَىٰ“Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.” (QS. Al-Baqarah: 197)Dan Allah ﷻ juga mewajibkan kepada kita semua untuk bertakwa dengan sebenar-benarnya. Sehingga tiada jalan yang dapat menutup usia kita dengan selamat, melainkan dengan beriman dengan keimanan yang sesungguhnya.Dan tidaklah semua ketaatan itu dapat kita lakukan, kecuali karena Allah telah mengutus Rasul-Nya yang agung, Nabi Muhammad ﷺ. Berselawatlah kepadanya, niscaya Allah akan balas 10x lipat bagi kita semua.Ujian kehidupan dan permasalahan kerakyatanKeadaan ekonomi dan kehidupan masyarakat kita saat ini tentu memberatkan hati kebanyakan dari kita. Tak sulit menemukan kabar rekan, tetangga, dan saudara yang mengalami himpitan kehidupan saat ini. Para jemaah, ketahuilah! Pergiliran masa jaya dan kehancuran adalah sebuah kepastian, sunnatullah yang mesti terjadi dan tidak dapat dapat ditolak. Allah ﷻ berfirman,وَتِلْكَ الْاَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِۚ“Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran).“ (QS. Ali Imran: 140)Keadaan seperti ini, tentu adalah sebab dari sebagian dosa kita. Allah Ta’ala memberikan takdir terbaik berupa pemimpin yang sesuai dengan keadaan komunitas masyarakatnya. Terdapat suatu ungkapan yang masyhur di kalangan para alim ulama terdahulu,كَمَا تَكُونُوا يُوَلَّى عَلَيْكُمْ“Sebagaimana keadaan kalian, demikian pula pemimpin yang akan ditetapkan atas kalian.” [1]Al-Alusi rahimahullah membawakan perkataan ini ketika menafsirkan sebuah firman Allah ﷻ,وَكَذَٰلِكَ نُوَلِّى بَعْضَ ٱلظَّٰلِمِينَ بَعْضًۢا بِمَا كَانُوا۟ يَكْسِبُونَ“Dan demikianlah Kami jadikan sebagian orang-orang yang zalim itu menjadi wali (pemimpin) bagi sebagian yang lain disebabkan apa yang mereka usahakan.” (QS. Al-An’am: 129)Janji Allah ﷻ untuk menghadirkan pemimpin negeri yang salehAllah ﷻ berfirman dalam surahAn-Nur ayat 55, bahwa Dia ﷻ berjanji,وَعَدَ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مِنكُمْ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّٰلِحَٰتِ“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh.”Allah ﷻ menetapkan janji kepada orang yang beriman dan beramal saleh. Perhatikan bagian awal ayat ini sebagai syarat atas terpenuhi janjinya Allah ﷻ yang akan disebutkan setelah ini.Janji pertama: Memberikan kejayaan dan kepemimpinanApa janji Allah ﷻ tersebut? Janji Allah ﷻ adalah janji untuk menjadikan orang beriman dan beramal saleh sebagai pemimpin dan mendapatkan kejayaan. Allah ﷻ berfirman,لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِى ٱلْأَرْضِ كَمَا ٱسْتَخْلَفَ ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ“Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka (yakni kaum beriman dan beramal saleh) berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa.”Artinya, sungguh Allah ﷻ sudah pernah mewujudkan janji ini kepada orang sebelum kita. Dan ini mudah bagi Allah ﷻ untuk mengulangnya. (Tafsir Al-Madinah)Janji kedua: Syiar dan syariat Islam akan berjayaTidak hanya kejayaan kepada kaum muslimin, tetapi juga kepada seluruh perangkat agama ini, syiar, dan syariatnya. Allah ﷻ berfirman,وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ ٱلَّذِى ٱرْتَضَىٰ لَهُمْ“Dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridai-Nya untuk mereka.”Yakni, Allah akan memberi kejayaan bagi agama Islam sebagai agama yang Dia ridai bagi mereka. (Tafsir Al-Madinah Al-Munawwarah)Janji ketiga: Memberikan rasa aman dan membalikkan rasa takut kepada musuhAllah ﷻ juga berjanji memberikan keamanan dan ketentraman setelah ketakutan mereka terhadap para musuh. Hal ini jika mereka hanya menyembah Allah semata, tanpa menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.وَلَيُبَدِّلَنَّهُم مِّنۢ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا ۚ“Dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentosa.”Percayalah janji Allah ﷻ ini! Ia akan gantikan keadaan ini dengan keadaan yang lebih baik! Syaratnya adalah iman dan amal saleh!Namun, perhatikanlah syarat yang ditegaskan ulang berikut,يَعْبُدُونَنِى لَا يُشْرِكُونَ بِى شَيْـًٔا ۚ“Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku.”Ancaman Allah ﷻ kepada mereka yang kufur setelah janji terpenuhiAllah ﷻ tidak sekadar memberikan janji yang menggembirakan jiwa, tetapi juga syarat dan ancaman kepada kita semua. Nikmat kejayaan itu, jika tidak bisa membuat hati mereka melunak terhadap iman, sungguh itu adalah kerusakan yang teramat. Allah ﷻ berfirman,وَمَن كَفَرَ بَعْدَ ذَٰلِكَ فَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْفَٰسِقُونَ“Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.”Dalam Tafsir Al-Muyassar, disebutkan bahwa, “Barangsiapa kafir setelah mengambil alih kekuasaan kaum Musyrikin, keadaan aman, penguasaan dan kekuasaan yang penuh dan mengingkari nikmat-nikmat Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang telah keluar dari ketaatan kepada Allah.”Maka, tugas kita adalah mewujudkan sebab janji Allah ﷻ, yaitu menjadi masyarakat yang beriman dan beramal saleh. Energi yang kita gunakan untuk sibuk mencela pemimpin kita lebih baik kita alihkan kepada upaya memperbaiki diri dan mendidik umat. Biarlah tugas memberikan nasihat tersebut dikerjakan oleh para ahli, justru kebanyakan kita adalah orang yang mendapatkan tugas untuk bersabar dan berdoa kepada Allah ﷻ.بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمKhotbah keduaالحمد لله على إحسانه، والشكر له على توفيقه وامتنانه، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له تعظيما لشأنه، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله الداعي إلى رضوانه، اللهم صلى على محمد وعلى آله وأصحابه وأخوانهJadilah rakyat terbaik untuk melahirkan pemimpin terbaikOleh karena itu, jadilah kita rakyat terbaik agar dapat melahirkan pemimpin yang terbaik. Bagaimana cara menjadi rakyat terbaik? Perhatikanlah wasiat dalam Shahih Muslim (no. 3447) dari ‘Auf bin Malik yang beliau dengar dari Rasulullah ﷺ, beliau bersabda,خِيَارُ أَئِمَّتِكُمْ الَّذِينَ تُحِبُّونَهُمْ وَيُحِبُّونَكُمْ وَيُصَلُّونَ عَلَيْكُمْ وَتُصَلُّونَ عَلَيْهِمْ“Sebaik-baik pemimpin kalian adalah mereka mencintai kalian dan kalian mencintai mereka, mereka mendoakan kalian dan kalian mendoakan mereka.”Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun melanjutkan,وَشِرَارُ أَئِمَّتِكُمْ الَّذِينَ تُبْغِضُونَهُمْ وَيُبْغِضُونَكُمْ وَتَلْعَنُونَهُمْ وَيَلْعَنُونَكُمْ“Dan sejelek-jelek pemimpin kalian adalah mereka yang membenci kalian dan kalian membenci mereka, mereka mengutuk kalian dan kalian mengutuk mereka.”Selanjutnya beliau ditanya,يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفَلَا نُنَابِذُهُمْ بِالسَّيْفِ“Wahai Rasulullah, tidakkah kita memerangi mereka?”فَقَالَ: لَا, مَا أَقَامُوا فِيكُمْ الصَّلَاةَ. وَإِذَا رَأَيْتُمْ مِنْ وُلَاتِكُمْ شَيْئًا تَكْرَهُونَهُ, فَاكْرَهُوا عَمَلَهُ, وَلَا تَنْزِعُوا يَدًا مِنْ طَاعَةٍMaka beliau bersabda, “Tidak, selagi mereka mendirikan salat bersama kalian. Jika kalian melihat dari pemimpin kalian sesuatu yang tidak baik, maka bencilah tindakannya, dan janganlah kalian melepas dari ketaatan kepada mereka.”Dari hadis tersebut, kita dapatkan dua pelajaran besar:Pertama, cara menjadi rakyat terbaik agar dapat melahirkan pemimpin terbaik ada 3, yaitu:1) Mencintai mereka;2) Mendoakan mereka;3) Menjaga ketaatan kepada mereka dalam hal kebaikan.Kedua, jika kita ditakdirkan Allah ﷻ mendapatkan pemimpin yang buruk, maka lakukanlah hal ini:1) Sadarilah bahwa itu disebabkan keburukan yang kita lakukan;2) Bencilah perbuatannya, jangan benci orangnya;3) Jagalah ketaatan selagi mereka menegakkan salat; dan4) Berdoa.Maka berdoalah dengan doa terbaik, termasuk doa Rasulullah yang paling sering dibaca dalam banyak majelisnya yaitu,اللَّهُمَّ لَا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا بِذُنُوْبِنَا مَنْ لَا يَخَافُكَ فِيْنَا وَلَا يَرْحَمُنَا“Ya Allah! Janganlah Engkau jadikan pemimpin kami disebabkan dosa-dosa kami, orang-orang yang tidak takut kepada-Mu dan tidak mempunyai belas kasihan kepada kami.” (HR. Tirmidzi no. 3502, dinilai sahih)إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًااللهم اغفر للمؤمنين والمؤمنات والمسلمين والمسلمات الأحياء منهم والأمواتاللَّهُمَّ لَا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا بِذُنُوْبِنَا مَنْ لَا يَخَافُكَ فِيْنَا وَلَا يَرْحَمُنَاربنا لا تزغ قلوبنا بعد إذ هديتنا وهب لنا من لدنك رحمة إنك أنت الوهاباللهم ارنا الحق حقا وارزقنا اتباعه وارنا الباطل باطل وارزقنا اجتنابهرَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ  اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَ الْمُسلِمِيناللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَاننَاَ الْمُسلِمِين وَ المُجَاهِدِينَ فِي فِلِسْطِيناللَّهُمَّ ثَبِّتْ إِيمَانَهُمْ وَ أَنْزِلِ السَّكِينَةَ عَلَى قُلُوبِهِم وَ وَحِّدْ صُفُوفَهُمْاللَّهُمَّ أَهْلِكِ الكُفّار وَالمُشْرِكِينَرَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَقِنَا عَذَابَ النَّارِWa shallallahu ‘ala sayyidina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajmain. Akhirud da’wa ‘anilhamdu lillahi rabbil ‘alamin.***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id Referensi:Tafsir Al-MuyassarTafsir Al-Madinah Al-Munawwarah versi tafsirweb.comCatatan kaki:[1] Sebagian menyandarkan kepada Imam At-Thurtusi, serta Al-Alusi dalam tafsirnya. Dibawakan pula oleh ulama kontemporer seperti Imam Ibnu Utsaimin dan Ibnu Baz.
Daftar Isi ToggleKhotbah pertamaUjian kehidupan dan permasalahan kerakyatanJanji Allah ﷻ untuk menghadirkan pemimpin negeri yang salehJanji pertama: Memberikan kejayaan dan kepemimpinanJanji kedua: Syiar dan syariat Islam akan berjayaJanji ketiga: Memberikan rasa aman dan membalikkan rasa takut kepada musuhAncaman Allah ﷻ kepada mereka yang kufur setelah janji terpenuhiKhotbah keduaJadilah rakyat terbaik untuk melahirkan pemimpin terbaikKhotbah pertamaبسم الله الرحمن الرحيمالسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاتهإِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَ مِنْ سَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ  وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ له وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لاَ نَبِيَّ بَعْدَهُاللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّكَ المُصْطَفَى وَ عَلَى آلِهِ وَ صَحْبِهِ وَ مَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِيْنِقال الله تعالى فى كتابه الكريميا ايها الذين آمنوا اتقوا الله حق تقاته ولا تموتن الا وانتم مسلمونيا أيها الناس اتقوا ربكم الذي خلقكم من نفس واحدة وخلق منها زوجها وبث منهما رجالا كثيرا ونساء واتقوا الله الذي تساءلون به والأرحام إن الله كان عليكم رقيبايا أيها الذين آمنوا اتقوا الله وقولوا قولا سديدا يصلح لكم أعمالكم ويغفر لكم ذنوبكم ومن يطع الله ورسوله فقد فاز فوزا عظيماأما بعدPara jemaah rahimakumullah,Segala puji bagi Allah ﷻ yang telah menakdirkan manusia sebagai pemimpin di muka bumi. Segala puji bagi Allah ﷻ yang telah menanamkan ilmu menata sosial kemasyarakatan kita. Marilah kita syukuri nikmat Allah yang begitu luas ini dengan ketakwaan. Karena bekal terbaik yang dapat menyelamatkan kita di dunia dan akhirat hanyalah ketakwaan. Allah ﷻ berfirman,وَتَزَوَّدُوا۟ فَإِنَّ خَيْرَ ٱلزَّادِ ٱلتَّقْوَىٰ“Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.” (QS. Al-Baqarah: 197)Dan Allah ﷻ juga mewajibkan kepada kita semua untuk bertakwa dengan sebenar-benarnya. Sehingga tiada jalan yang dapat menutup usia kita dengan selamat, melainkan dengan beriman dengan keimanan yang sesungguhnya.Dan tidaklah semua ketaatan itu dapat kita lakukan, kecuali karena Allah telah mengutus Rasul-Nya yang agung, Nabi Muhammad ﷺ. Berselawatlah kepadanya, niscaya Allah akan balas 10x lipat bagi kita semua.Ujian kehidupan dan permasalahan kerakyatanKeadaan ekonomi dan kehidupan masyarakat kita saat ini tentu memberatkan hati kebanyakan dari kita. Tak sulit menemukan kabar rekan, tetangga, dan saudara yang mengalami himpitan kehidupan saat ini. Para jemaah, ketahuilah! Pergiliran masa jaya dan kehancuran adalah sebuah kepastian, sunnatullah yang mesti terjadi dan tidak dapat dapat ditolak. Allah ﷻ berfirman,وَتِلْكَ الْاَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِۚ“Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran).“ (QS. Ali Imran: 140)Keadaan seperti ini, tentu adalah sebab dari sebagian dosa kita. Allah Ta’ala memberikan takdir terbaik berupa pemimpin yang sesuai dengan keadaan komunitas masyarakatnya. Terdapat suatu ungkapan yang masyhur di kalangan para alim ulama terdahulu,كَمَا تَكُونُوا يُوَلَّى عَلَيْكُمْ“Sebagaimana keadaan kalian, demikian pula pemimpin yang akan ditetapkan atas kalian.” [1]Al-Alusi rahimahullah membawakan perkataan ini ketika menafsirkan sebuah firman Allah ﷻ,وَكَذَٰلِكَ نُوَلِّى بَعْضَ ٱلظَّٰلِمِينَ بَعْضًۢا بِمَا كَانُوا۟ يَكْسِبُونَ“Dan demikianlah Kami jadikan sebagian orang-orang yang zalim itu menjadi wali (pemimpin) bagi sebagian yang lain disebabkan apa yang mereka usahakan.” (QS. Al-An’am: 129)Janji Allah ﷻ untuk menghadirkan pemimpin negeri yang salehAllah ﷻ berfirman dalam surahAn-Nur ayat 55, bahwa Dia ﷻ berjanji,وَعَدَ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مِنكُمْ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّٰلِحَٰتِ“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh.”Allah ﷻ menetapkan janji kepada orang yang beriman dan beramal saleh. Perhatikan bagian awal ayat ini sebagai syarat atas terpenuhi janjinya Allah ﷻ yang akan disebutkan setelah ini.Janji pertama: Memberikan kejayaan dan kepemimpinanApa janji Allah ﷻ tersebut? Janji Allah ﷻ adalah janji untuk menjadikan orang beriman dan beramal saleh sebagai pemimpin dan mendapatkan kejayaan. Allah ﷻ berfirman,لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِى ٱلْأَرْضِ كَمَا ٱسْتَخْلَفَ ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ“Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka (yakni kaum beriman dan beramal saleh) berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa.”Artinya, sungguh Allah ﷻ sudah pernah mewujudkan janji ini kepada orang sebelum kita. Dan ini mudah bagi Allah ﷻ untuk mengulangnya. (Tafsir Al-Madinah)Janji kedua: Syiar dan syariat Islam akan berjayaTidak hanya kejayaan kepada kaum muslimin, tetapi juga kepada seluruh perangkat agama ini, syiar, dan syariatnya. Allah ﷻ berfirman,وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ ٱلَّذِى ٱرْتَضَىٰ لَهُمْ“Dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridai-Nya untuk mereka.”Yakni, Allah akan memberi kejayaan bagi agama Islam sebagai agama yang Dia ridai bagi mereka. (Tafsir Al-Madinah Al-Munawwarah)Janji ketiga: Memberikan rasa aman dan membalikkan rasa takut kepada musuhAllah ﷻ juga berjanji memberikan keamanan dan ketentraman setelah ketakutan mereka terhadap para musuh. Hal ini jika mereka hanya menyembah Allah semata, tanpa menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.وَلَيُبَدِّلَنَّهُم مِّنۢ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا ۚ“Dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentosa.”Percayalah janji Allah ﷻ ini! Ia akan gantikan keadaan ini dengan keadaan yang lebih baik! Syaratnya adalah iman dan amal saleh!Namun, perhatikanlah syarat yang ditegaskan ulang berikut,يَعْبُدُونَنِى لَا يُشْرِكُونَ بِى شَيْـًٔا ۚ“Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku.”Ancaman Allah ﷻ kepada mereka yang kufur setelah janji terpenuhiAllah ﷻ tidak sekadar memberikan janji yang menggembirakan jiwa, tetapi juga syarat dan ancaman kepada kita semua. Nikmat kejayaan itu, jika tidak bisa membuat hati mereka melunak terhadap iman, sungguh itu adalah kerusakan yang teramat. Allah ﷻ berfirman,وَمَن كَفَرَ بَعْدَ ذَٰلِكَ فَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْفَٰسِقُونَ“Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.”Dalam Tafsir Al-Muyassar, disebutkan bahwa, “Barangsiapa kafir setelah mengambil alih kekuasaan kaum Musyrikin, keadaan aman, penguasaan dan kekuasaan yang penuh dan mengingkari nikmat-nikmat Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang telah keluar dari ketaatan kepada Allah.”Maka, tugas kita adalah mewujudkan sebab janji Allah ﷻ, yaitu menjadi masyarakat yang beriman dan beramal saleh. Energi yang kita gunakan untuk sibuk mencela pemimpin kita lebih baik kita alihkan kepada upaya memperbaiki diri dan mendidik umat. Biarlah tugas memberikan nasihat tersebut dikerjakan oleh para ahli, justru kebanyakan kita adalah orang yang mendapatkan tugas untuk bersabar dan berdoa kepada Allah ﷻ.بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمKhotbah keduaالحمد لله على إحسانه، والشكر له على توفيقه وامتنانه، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له تعظيما لشأنه، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله الداعي إلى رضوانه، اللهم صلى على محمد وعلى آله وأصحابه وأخوانهJadilah rakyat terbaik untuk melahirkan pemimpin terbaikOleh karena itu, jadilah kita rakyat terbaik agar dapat melahirkan pemimpin yang terbaik. Bagaimana cara menjadi rakyat terbaik? Perhatikanlah wasiat dalam Shahih Muslim (no. 3447) dari ‘Auf bin Malik yang beliau dengar dari Rasulullah ﷺ, beliau bersabda,خِيَارُ أَئِمَّتِكُمْ الَّذِينَ تُحِبُّونَهُمْ وَيُحِبُّونَكُمْ وَيُصَلُّونَ عَلَيْكُمْ وَتُصَلُّونَ عَلَيْهِمْ“Sebaik-baik pemimpin kalian adalah mereka mencintai kalian dan kalian mencintai mereka, mereka mendoakan kalian dan kalian mendoakan mereka.”Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun melanjutkan,وَشِرَارُ أَئِمَّتِكُمْ الَّذِينَ تُبْغِضُونَهُمْ وَيُبْغِضُونَكُمْ وَتَلْعَنُونَهُمْ وَيَلْعَنُونَكُمْ“Dan sejelek-jelek pemimpin kalian adalah mereka yang membenci kalian dan kalian membenci mereka, mereka mengutuk kalian dan kalian mengutuk mereka.”Selanjutnya beliau ditanya,يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفَلَا نُنَابِذُهُمْ بِالسَّيْفِ“Wahai Rasulullah, tidakkah kita memerangi mereka?”فَقَالَ: لَا, مَا أَقَامُوا فِيكُمْ الصَّلَاةَ. وَإِذَا رَأَيْتُمْ مِنْ وُلَاتِكُمْ شَيْئًا تَكْرَهُونَهُ, فَاكْرَهُوا عَمَلَهُ, وَلَا تَنْزِعُوا يَدًا مِنْ طَاعَةٍMaka beliau bersabda, “Tidak, selagi mereka mendirikan salat bersama kalian. Jika kalian melihat dari pemimpin kalian sesuatu yang tidak baik, maka bencilah tindakannya, dan janganlah kalian melepas dari ketaatan kepada mereka.”Dari hadis tersebut, kita dapatkan dua pelajaran besar:Pertama, cara menjadi rakyat terbaik agar dapat melahirkan pemimpin terbaik ada 3, yaitu:1) Mencintai mereka;2) Mendoakan mereka;3) Menjaga ketaatan kepada mereka dalam hal kebaikan.Kedua, jika kita ditakdirkan Allah ﷻ mendapatkan pemimpin yang buruk, maka lakukanlah hal ini:1) Sadarilah bahwa itu disebabkan keburukan yang kita lakukan;2) Bencilah perbuatannya, jangan benci orangnya;3) Jagalah ketaatan selagi mereka menegakkan salat; dan4) Berdoa.Maka berdoalah dengan doa terbaik, termasuk doa Rasulullah yang paling sering dibaca dalam banyak majelisnya yaitu,اللَّهُمَّ لَا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا بِذُنُوْبِنَا مَنْ لَا يَخَافُكَ فِيْنَا وَلَا يَرْحَمُنَا“Ya Allah! Janganlah Engkau jadikan pemimpin kami disebabkan dosa-dosa kami, orang-orang yang tidak takut kepada-Mu dan tidak mempunyai belas kasihan kepada kami.” (HR. Tirmidzi no. 3502, dinilai sahih)إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًااللهم اغفر للمؤمنين والمؤمنات والمسلمين والمسلمات الأحياء منهم والأمواتاللَّهُمَّ لَا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا بِذُنُوْبِنَا مَنْ لَا يَخَافُكَ فِيْنَا وَلَا يَرْحَمُنَاربنا لا تزغ قلوبنا بعد إذ هديتنا وهب لنا من لدنك رحمة إنك أنت الوهاباللهم ارنا الحق حقا وارزقنا اتباعه وارنا الباطل باطل وارزقنا اجتنابهرَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ  اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَ الْمُسلِمِيناللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَاننَاَ الْمُسلِمِين وَ المُجَاهِدِينَ فِي فِلِسْطِيناللَّهُمَّ ثَبِّتْ إِيمَانَهُمْ وَ أَنْزِلِ السَّكِينَةَ عَلَى قُلُوبِهِم وَ وَحِّدْ صُفُوفَهُمْاللَّهُمَّ أَهْلِكِ الكُفّار وَالمُشْرِكِينَرَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَقِنَا عَذَابَ النَّارِWa shallallahu ‘ala sayyidina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajmain. Akhirud da’wa ‘anilhamdu lillahi rabbil ‘alamin.***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id Referensi:Tafsir Al-MuyassarTafsir Al-Madinah Al-Munawwarah versi tafsirweb.comCatatan kaki:[1] Sebagian menyandarkan kepada Imam At-Thurtusi, serta Al-Alusi dalam tafsirnya. Dibawakan pula oleh ulama kontemporer seperti Imam Ibnu Utsaimin dan Ibnu Baz.


Daftar Isi ToggleKhotbah pertamaUjian kehidupan dan permasalahan kerakyatanJanji Allah ﷻ untuk menghadirkan pemimpin negeri yang salehJanji pertama: Memberikan kejayaan dan kepemimpinanJanji kedua: Syiar dan syariat Islam akan berjayaJanji ketiga: Memberikan rasa aman dan membalikkan rasa takut kepada musuhAncaman Allah ﷻ kepada mereka yang kufur setelah janji terpenuhiKhotbah keduaJadilah rakyat terbaik untuk melahirkan pemimpin terbaikKhotbah pertamaبسم الله الرحمن الرحيمالسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاتهإِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَ مِنْ سَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ  وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ له وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لاَ نَبِيَّ بَعْدَهُاللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّكَ المُصْطَفَى وَ عَلَى آلِهِ وَ صَحْبِهِ وَ مَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِيْنِقال الله تعالى فى كتابه الكريميا ايها الذين آمنوا اتقوا الله حق تقاته ولا تموتن الا وانتم مسلمونيا أيها الناس اتقوا ربكم الذي خلقكم من نفس واحدة وخلق منها زوجها وبث منهما رجالا كثيرا ونساء واتقوا الله الذي تساءلون به والأرحام إن الله كان عليكم رقيبايا أيها الذين آمنوا اتقوا الله وقولوا قولا سديدا يصلح لكم أعمالكم ويغفر لكم ذنوبكم ومن يطع الله ورسوله فقد فاز فوزا عظيماأما بعدPara jemaah rahimakumullah,Segala puji bagi Allah ﷻ yang telah menakdirkan manusia sebagai pemimpin di muka bumi. Segala puji bagi Allah ﷻ yang telah menanamkan ilmu menata sosial kemasyarakatan kita. Marilah kita syukuri nikmat Allah yang begitu luas ini dengan ketakwaan. Karena bekal terbaik yang dapat menyelamatkan kita di dunia dan akhirat hanyalah ketakwaan. Allah ﷻ berfirman,وَتَزَوَّدُوا۟ فَإِنَّ خَيْرَ ٱلزَّادِ ٱلتَّقْوَىٰ“Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.” (QS. Al-Baqarah: 197)Dan Allah ﷻ juga mewajibkan kepada kita semua untuk bertakwa dengan sebenar-benarnya. Sehingga tiada jalan yang dapat menutup usia kita dengan selamat, melainkan dengan beriman dengan keimanan yang sesungguhnya.Dan tidaklah semua ketaatan itu dapat kita lakukan, kecuali karena Allah telah mengutus Rasul-Nya yang agung, Nabi Muhammad ﷺ. Berselawatlah kepadanya, niscaya Allah akan balas 10x lipat bagi kita semua.Ujian kehidupan dan permasalahan kerakyatanKeadaan ekonomi dan kehidupan masyarakat kita saat ini tentu memberatkan hati kebanyakan dari kita. Tak sulit menemukan kabar rekan, tetangga, dan saudara yang mengalami himpitan kehidupan saat ini. Para jemaah, ketahuilah! Pergiliran masa jaya dan kehancuran adalah sebuah kepastian, sunnatullah yang mesti terjadi dan tidak dapat dapat ditolak. Allah ﷻ berfirman,وَتِلْكَ الْاَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِۚ“Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran).“ (QS. Ali Imran: 140)Keadaan seperti ini, tentu adalah sebab dari sebagian dosa kita. Allah Ta’ala memberikan takdir terbaik berupa pemimpin yang sesuai dengan keadaan komunitas masyarakatnya. Terdapat suatu ungkapan yang masyhur di kalangan para alim ulama terdahulu,كَمَا تَكُونُوا يُوَلَّى عَلَيْكُمْ“Sebagaimana keadaan kalian, demikian pula pemimpin yang akan ditetapkan atas kalian.” [1]Al-Alusi rahimahullah membawakan perkataan ini ketika menafsirkan sebuah firman Allah ﷻ,وَكَذَٰلِكَ نُوَلِّى بَعْضَ ٱلظَّٰلِمِينَ بَعْضًۢا بِمَا كَانُوا۟ يَكْسِبُونَ“Dan demikianlah Kami jadikan sebagian orang-orang yang zalim itu menjadi wali (pemimpin) bagi sebagian yang lain disebabkan apa yang mereka usahakan.” (QS. Al-An’am: 129)Janji Allah ﷻ untuk menghadirkan pemimpin negeri yang salehAllah ﷻ berfirman dalam surahAn-Nur ayat 55, bahwa Dia ﷻ berjanji,وَعَدَ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مِنكُمْ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّٰلِحَٰتِ“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh.”Allah ﷻ menetapkan janji kepada orang yang beriman dan beramal saleh. Perhatikan bagian awal ayat ini sebagai syarat atas terpenuhi janjinya Allah ﷻ yang akan disebutkan setelah ini.Janji pertama: Memberikan kejayaan dan kepemimpinanApa janji Allah ﷻ tersebut? Janji Allah ﷻ adalah janji untuk menjadikan orang beriman dan beramal saleh sebagai pemimpin dan mendapatkan kejayaan. Allah ﷻ berfirman,لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِى ٱلْأَرْضِ كَمَا ٱسْتَخْلَفَ ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ“Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka (yakni kaum beriman dan beramal saleh) berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa.”Artinya, sungguh Allah ﷻ sudah pernah mewujudkan janji ini kepada orang sebelum kita. Dan ini mudah bagi Allah ﷻ untuk mengulangnya. (Tafsir Al-Madinah)Janji kedua: Syiar dan syariat Islam akan berjayaTidak hanya kejayaan kepada kaum muslimin, tetapi juga kepada seluruh perangkat agama ini, syiar, dan syariatnya. Allah ﷻ berfirman,وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ ٱلَّذِى ٱرْتَضَىٰ لَهُمْ“Dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridai-Nya untuk mereka.”Yakni, Allah akan memberi kejayaan bagi agama Islam sebagai agama yang Dia ridai bagi mereka. (Tafsir Al-Madinah Al-Munawwarah)Janji ketiga: Memberikan rasa aman dan membalikkan rasa takut kepada musuhAllah ﷻ juga berjanji memberikan keamanan dan ketentraman setelah ketakutan mereka terhadap para musuh. Hal ini jika mereka hanya menyembah Allah semata, tanpa menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.وَلَيُبَدِّلَنَّهُم مِّنۢ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا ۚ“Dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentosa.”Percayalah janji Allah ﷻ ini! Ia akan gantikan keadaan ini dengan keadaan yang lebih baik! Syaratnya adalah iman dan amal saleh!Namun, perhatikanlah syarat yang ditegaskan ulang berikut,يَعْبُدُونَنِى لَا يُشْرِكُونَ بِى شَيْـًٔا ۚ“Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku.”Ancaman Allah ﷻ kepada mereka yang kufur setelah janji terpenuhiAllah ﷻ tidak sekadar memberikan janji yang menggembirakan jiwa, tetapi juga syarat dan ancaman kepada kita semua. Nikmat kejayaan itu, jika tidak bisa membuat hati mereka melunak terhadap iman, sungguh itu adalah kerusakan yang teramat. Allah ﷻ berfirman,وَمَن كَفَرَ بَعْدَ ذَٰلِكَ فَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْفَٰسِقُونَ“Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.”Dalam Tafsir Al-Muyassar, disebutkan bahwa, “Barangsiapa kafir setelah mengambil alih kekuasaan kaum Musyrikin, keadaan aman, penguasaan dan kekuasaan yang penuh dan mengingkari nikmat-nikmat Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang telah keluar dari ketaatan kepada Allah.”Maka, tugas kita adalah mewujudkan sebab janji Allah ﷻ, yaitu menjadi masyarakat yang beriman dan beramal saleh. Energi yang kita gunakan untuk sibuk mencela pemimpin kita lebih baik kita alihkan kepada upaya memperbaiki diri dan mendidik umat. Biarlah tugas memberikan nasihat tersebut dikerjakan oleh para ahli, justru kebanyakan kita adalah orang yang mendapatkan tugas untuk bersabar dan berdoa kepada Allah ﷻ.بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمKhotbah keduaالحمد لله على إحسانه، والشكر له على توفيقه وامتنانه، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له تعظيما لشأنه، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله الداعي إلى رضوانه، اللهم صلى على محمد وعلى آله وأصحابه وأخوانهJadilah rakyat terbaik untuk melahirkan pemimpin terbaikOleh karena itu, jadilah kita rakyat terbaik agar dapat melahirkan pemimpin yang terbaik. Bagaimana cara menjadi rakyat terbaik? Perhatikanlah wasiat dalam Shahih Muslim (no. 3447) dari ‘Auf bin Malik yang beliau dengar dari Rasulullah ﷺ, beliau bersabda,خِيَارُ أَئِمَّتِكُمْ الَّذِينَ تُحِبُّونَهُمْ وَيُحِبُّونَكُمْ وَيُصَلُّونَ عَلَيْكُمْ وَتُصَلُّونَ عَلَيْهِمْ“Sebaik-baik pemimpin kalian adalah mereka mencintai kalian dan kalian mencintai mereka, mereka mendoakan kalian dan kalian mendoakan mereka.”Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun melanjutkan,وَشِرَارُ أَئِمَّتِكُمْ الَّذِينَ تُبْغِضُونَهُمْ وَيُبْغِضُونَكُمْ وَتَلْعَنُونَهُمْ وَيَلْعَنُونَكُمْ“Dan sejelek-jelek pemimpin kalian adalah mereka yang membenci kalian dan kalian membenci mereka, mereka mengutuk kalian dan kalian mengutuk mereka.”Selanjutnya beliau ditanya,يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفَلَا نُنَابِذُهُمْ بِالسَّيْفِ“Wahai Rasulullah, tidakkah kita memerangi mereka?”فَقَالَ: لَا, مَا أَقَامُوا فِيكُمْ الصَّلَاةَ. وَإِذَا رَأَيْتُمْ مِنْ وُلَاتِكُمْ شَيْئًا تَكْرَهُونَهُ, فَاكْرَهُوا عَمَلَهُ, وَلَا تَنْزِعُوا يَدًا مِنْ طَاعَةٍMaka beliau bersabda, “Tidak, selagi mereka mendirikan salat bersama kalian. Jika kalian melihat dari pemimpin kalian sesuatu yang tidak baik, maka bencilah tindakannya, dan janganlah kalian melepas dari ketaatan kepada mereka.”Dari hadis tersebut, kita dapatkan dua pelajaran besar:Pertama, cara menjadi rakyat terbaik agar dapat melahirkan pemimpin terbaik ada 3, yaitu:1) Mencintai mereka;2) Mendoakan mereka;3) Menjaga ketaatan kepada mereka dalam hal kebaikan.Kedua, jika kita ditakdirkan Allah ﷻ mendapatkan pemimpin yang buruk, maka lakukanlah hal ini:1) Sadarilah bahwa itu disebabkan keburukan yang kita lakukan;2) Bencilah perbuatannya, jangan benci orangnya;3) Jagalah ketaatan selagi mereka menegakkan salat; dan4) Berdoa.Maka berdoalah dengan doa terbaik, termasuk doa Rasulullah yang paling sering dibaca dalam banyak majelisnya yaitu,اللَّهُمَّ لَا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا بِذُنُوْبِنَا مَنْ لَا يَخَافُكَ فِيْنَا وَلَا يَرْحَمُنَا“Ya Allah! Janganlah Engkau jadikan pemimpin kami disebabkan dosa-dosa kami, orang-orang yang tidak takut kepada-Mu dan tidak mempunyai belas kasihan kepada kami.” (HR. Tirmidzi no. 3502, dinilai sahih)إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًااللهم اغفر للمؤمنين والمؤمنات والمسلمين والمسلمات الأحياء منهم والأمواتاللَّهُمَّ لَا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا بِذُنُوْبِنَا مَنْ لَا يَخَافُكَ فِيْنَا وَلَا يَرْحَمُنَاربنا لا تزغ قلوبنا بعد إذ هديتنا وهب لنا من لدنك رحمة إنك أنت الوهاباللهم ارنا الحق حقا وارزقنا اتباعه وارنا الباطل باطل وارزقنا اجتنابهرَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ  اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَ الْمُسلِمِيناللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَاننَاَ الْمُسلِمِين وَ المُجَاهِدِينَ فِي فِلِسْطِيناللَّهُمَّ ثَبِّتْ إِيمَانَهُمْ وَ أَنْزِلِ السَّكِينَةَ عَلَى قُلُوبِهِم وَ وَحِّدْ صُفُوفَهُمْاللَّهُمَّ أَهْلِكِ الكُفّار وَالمُشْرِكِينَرَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَقِنَا عَذَابَ النَّارِWa shallallahu ‘ala sayyidina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajmain. Akhirud da’wa ‘anilhamdu lillahi rabbil ‘alamin.***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id Referensi:Tafsir Al-MuyassarTafsir Al-Madinah Al-Munawwarah versi tafsirweb.comCatatan kaki:[1] Sebagian menyandarkan kepada Imam At-Thurtusi, serta Al-Alusi dalam tafsirnya. Dibawakan pula oleh ulama kontemporer seperti Imam Ibnu Utsaimin dan Ibnu Baz.

Tauhid: Kewajiban Pertama Bagi Seorang Hamba

Kewajiban pertama bagi seorang yang baru masuk Islam atau orang yang baru serius beragama adalah mengucapkan dua kalimat syahadat dan mempelajari kandungannya. Dengan kata lain, kewajiban pertamanya adalah mempelajari tauhid.Allah Ta’ala berfirman,فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ“Ilmuilah bahwa tidak ada sesembahan yang haq kecuali Allah, dan mintalah ampunan untuk dosamu, dan mintalah ampunan untuk kaum Mukminin dan Mukminat.” (QS. Muhammad: 19)Demikian juga dalam hadis dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ’anhuma, ia berkata,لَمَّا بَعَثَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – مُعَاذًا نَحْوَ الْيَمَنِ قَالَ لَهُ  إِنَّكَ تَقْدَمُ عَلَى قَوْمٍ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ فَلْيَكُنْ أَوَّلَ مَا تَدْعُوهُمْ إِلَى أَنْ يُوَحِّدُوا اللَّهَ تَعَالَى فَإِذَا عَرَفُوا ذَلِكَ فَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ اللَّهَ فَرَضَ عَلَيْهِمْ خَمْسَ صَلَوَاتٍ فِى يَوْمِهِمْ وَلَيْلَتِهِمْ ، فَإِذَا صَلُّوا فَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ اللَّهَ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ زَكَاةً فِى أَمْوَالِهِمْ تُؤْخَذُ مِنْ غَنِيِّهِمْ فَتُرَدُّ عَلَى فَقِيرِهِمْ ، فَإِذَا أَقَرُّوا بِذَلِكَ فَخُذْ مِنْهُمْ وَتَوَقَّ كَرَائِمَ أَمْوَالِ النَّاسِ“Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus Mu’adz ke Yaman, Rasulullah bersabda kepadanya, “Sesungguhnya engkau akan mendatangi sebuah kaum Ahlul Kitab. Hendaknya yang engkau dakwahkan pertama kali adalah agar mereka mentauhidkan Allah Ta’ala. Jika mereka telah memahami hal tersebut, maka kabarkanlah kepada mereka bahwa Allah mewajibkan mereka salat lima waktu dalam sehari semalam. Jika mereka mengerjakan itu (salat), maka kabarkanlah kepada mereka bahwa Allah juga telah mewajibkan bagi mereka untuk membayar zakat dari harta mereka, diambil dari orang-orang kaya di antara mereka dan diberikan kepada orang-orang fakir. Jika mereka menyetujui hal itu (zakat), maka ambillah zakat dari harta mereka, namun jauhilah dari harta berharga yang mereka miliki.” (HR. Bukhari no. 7372 dan Muslim no. 19)Dalil-dalil di atas tegas menunjukkan bahwa kewajiban pertama bagi seorang hamba adalah tauhid. Syekhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan,وقد علم بالاضطرار من دين الرسول صلي الله عليه وسلم، واتفقت عليه الأمة أن أصل الإسلام وأول ما يؤمر به الخلق: شهادة أن لا إله إلا الله، وأن محمدا رسول الله“Telah diketahui secara pasti dan gamblang dari agama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan ulama umat Islam pun telah bersepakat, bahwa pokok Islam dan perkara pertama yang diperintahkan kepada manusia adalah syahadat ‘Laa ilaaha illallah’ dan ‘anna Muhammadan Rasulullah’.” (Dinukil dari Fathul Majid Syarah Kitab Tauhid, hal. 84)Al-‘Allamah Ibnu Abil ‘Izz rahimahullah berkata dalam Syarah Ath-Thahawiyah (1: 59) mengatakan,اعلَمْ أنَّ التَّوحيدَ أوَّلُ دَعوةِ الرُّسُلِ، وأوَّلُ مَنازِلِ الطَّريقِ، وأوَّلُ مَقامٍ يقومُ به السَّالكُ إلى اللهِ عزَّ وجلَّ … ولهذا كان الصَّحيحُ أنَّ أوَّلَ واجبٍ يجبُ على المُكلَّفِ شهادةُ أنْ لا إلهَ إلَّا اللهُ، لا النَّظرُ، ولا القَصدُ إلى النَّظرِ، ولا الشَّكُّ، كما هي أقوالٌ لأربابِ الكلامِ المذمومِ“Ketahuilah bahwa tauhid adalah yang pertama didakwahkan oleh para Rasul, dan langkah pertama dalam perjalanan menuju Allah, dan perkara pertama yang ditempuh oleh seorang hamba yang berjalan menuju Allah ‘Azza wa Jalla … Oleh karena itu, pendapat yang benar adalah bahwa kewajiban pertama yang wajib atas seorang mukallaf adalah syahadat ‘Laa ilaha illallah’, bukan nazhor, al-qashdu ilan nazhor, dan bukan asy-syakk, sebagaimana perkataan ahlul kalam yang tercela.”Adapun ahlul kalam, mereka mengatakan bahwa kewajiban pertama bagi seorang hamba adalah nazhor atau syakk. Sebagaimana keterangan dari Ibnu Abil ‘Izz rahimahullah di atas.Syekh Ibnu Jibrin rahimahullah menjelaskan konsep nazhor dan syakk ini,وذهبت الصوفية وبعض المتكلمين إلى أن أول واجب عليه النظر، والنظر أن يبدأ بالنظر فيما بين يديه وفيما خلفه من المخلوقات، أن ينظر بنفسه وينظر في الذي بين يديه من السماء والأرض ونحو ذلك، ثم بعد ذلك يظهر بنتيجة من هذا النظر، وهذا قول باطل، بل أول واجب العلم مع العمل“Orang-orang sufi dan sebagian ahlul kalam mengatakan bahwa kewajiban pertama atas seorang hamba adalah melakukan an-nazhor (melakukan penalaran). Yang dimaksud dengan an-nazhor adalah memulai beragama dengan merenungkan apa yang ada di hadapannya dan di belakangnya berupa makhluk-makhluk ciptaan Allah, merenungkan dirinya sendiri, merenungkan langit dan bumi yang ada di hadapannya, dan semisalnya. Kemudian setelah itu, ia sampai kepada suatu kesimpulan dari hasil pengamatan tersebut (berupa iman). Pendapat ini adalah pendapat yang batil. Bahkan kewajiban pertama adalah ilmu yang disertai dengan amal.وذهب بعضهم إلى أن أول واجب القصد إلى النظر، والقصد بمعنى نية النظر، أي: أن ينوي أن ينظر وينوي أنه سوف ينظر في هذه المخلوقات وفي دلالتها، وهذا أيضاً باطل، فالقصد يعني نية النظر، وليس بواجب، بل الواجب القبول والتقبل والعملSebagian mereka berpendapat bahwa kewajiban pertama seorang hamba adalah al-qashd ilan nazhor (berniat untuk nazhor). Yang dimaksud dengan al-qashd adalah niat untuk melakukan penalaran, yaitu seseorang berniat untuk memperhatikan makhluk-makhluk ciptaan Allah dan merenungkan petunjuk yang terkandung di dalamnya. Pendapat ini juga batil. Sebab al-qashd hanyalah berniat untuk melakukan penalaran, dan itu bukanlah suatu kewajiban. Akan tetapi, yang wajib adalah menerima kebenaran dari dalil-dalil, menyambutnya dengan lapang dada, dan mengamalkannya.وذهب آخرون إلى أن أول واجب الشك، فإذا عقل وكلف وتم عقله يشك، ثم بعد ذلك يتحير في أمره، ثم بعد ذلك يطلب ما يزيل به ذلك الشك، فيقول: أنا أشك وأنا في حيرة من أمري، ولكن بأي وسيلة أدفع هذا الشك؟ فيسأل وينظر ويستدل إلى أن يتبدل الشك باليقين، وهذه مقامات ومقالات صوفية لا يلتفت إليها، بل أول واجب هو ما ذكره من العلم والعملSebagian ahlul kalam yang lain berpendapat bahwa kewajiban pertama adalah asy-syakk (meragukan). Maksudnya, ketika seseorang telah berakal, dibebani syariat, dan sempurna akalnya, maka ia harus meragukan semua ajaran agama terlebih dahulu. Kemudian setelah itu, ia menjadi bingung terhadap agamanya. Setelah itu, ia berusaha mencari sesuatu yang dapat menghilangkan keraguan tersebut. Ia berkata, “Aku ragu dan bingung terhadap urusan agamaku, tetapi dengan cara apa aku dapat menghilangkan keraguan ini?” Maka ia pun bertanya, meneliti, dan mencari dalil hingga keraguan itu berubah menjadi keyakinan.Ini adalah tahapan dan pendapat-pendapat kaum sufi yang tidak perlu dilirik sama sekali. Yang benar, kewajiban pertama bagi seorang hamba adalah sebagaimana yang telah disebutkan, yaitu ilmu dan amal.” (Syarah al-Aqidah ath-Thahawiyah karya Syekh Ibnu Jibrin, 11: 47)Kesimpulannya, kewajiban pertama seorang hamba yang baru masuk Islam dan baru serius beragama adalah mempelajari tauhid dari dasar dan bertahap, serta menerima semua dalil dari Al-Qur’an dan As-Sunah dengan lapang dada, dan mengamalkannya. Tidak perlu melirik konsep-konsep ahlul kalam yang aneh, nyeleneh, membingungkan, dan tidak ada asalnya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan para salaf.Wallahu a’lam. Semoga Allah Ta’ala memberi taufik.Baca juga: Inilah 7 Syarat “Laa ilaaha illallah”***Penulis: Yulian PurnamaArtikel Muslim.or.id

Tauhid: Kewajiban Pertama Bagi Seorang Hamba

Kewajiban pertama bagi seorang yang baru masuk Islam atau orang yang baru serius beragama adalah mengucapkan dua kalimat syahadat dan mempelajari kandungannya. Dengan kata lain, kewajiban pertamanya adalah mempelajari tauhid.Allah Ta’ala berfirman,فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ“Ilmuilah bahwa tidak ada sesembahan yang haq kecuali Allah, dan mintalah ampunan untuk dosamu, dan mintalah ampunan untuk kaum Mukminin dan Mukminat.” (QS. Muhammad: 19)Demikian juga dalam hadis dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ’anhuma, ia berkata,لَمَّا بَعَثَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – مُعَاذًا نَحْوَ الْيَمَنِ قَالَ لَهُ  إِنَّكَ تَقْدَمُ عَلَى قَوْمٍ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ فَلْيَكُنْ أَوَّلَ مَا تَدْعُوهُمْ إِلَى أَنْ يُوَحِّدُوا اللَّهَ تَعَالَى فَإِذَا عَرَفُوا ذَلِكَ فَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ اللَّهَ فَرَضَ عَلَيْهِمْ خَمْسَ صَلَوَاتٍ فِى يَوْمِهِمْ وَلَيْلَتِهِمْ ، فَإِذَا صَلُّوا فَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ اللَّهَ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ زَكَاةً فِى أَمْوَالِهِمْ تُؤْخَذُ مِنْ غَنِيِّهِمْ فَتُرَدُّ عَلَى فَقِيرِهِمْ ، فَإِذَا أَقَرُّوا بِذَلِكَ فَخُذْ مِنْهُمْ وَتَوَقَّ كَرَائِمَ أَمْوَالِ النَّاسِ“Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus Mu’adz ke Yaman, Rasulullah bersabda kepadanya, “Sesungguhnya engkau akan mendatangi sebuah kaum Ahlul Kitab. Hendaknya yang engkau dakwahkan pertama kali adalah agar mereka mentauhidkan Allah Ta’ala. Jika mereka telah memahami hal tersebut, maka kabarkanlah kepada mereka bahwa Allah mewajibkan mereka salat lima waktu dalam sehari semalam. Jika mereka mengerjakan itu (salat), maka kabarkanlah kepada mereka bahwa Allah juga telah mewajibkan bagi mereka untuk membayar zakat dari harta mereka, diambil dari orang-orang kaya di antara mereka dan diberikan kepada orang-orang fakir. Jika mereka menyetujui hal itu (zakat), maka ambillah zakat dari harta mereka, namun jauhilah dari harta berharga yang mereka miliki.” (HR. Bukhari no. 7372 dan Muslim no. 19)Dalil-dalil di atas tegas menunjukkan bahwa kewajiban pertama bagi seorang hamba adalah tauhid. Syekhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan,وقد علم بالاضطرار من دين الرسول صلي الله عليه وسلم، واتفقت عليه الأمة أن أصل الإسلام وأول ما يؤمر به الخلق: شهادة أن لا إله إلا الله، وأن محمدا رسول الله“Telah diketahui secara pasti dan gamblang dari agama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan ulama umat Islam pun telah bersepakat, bahwa pokok Islam dan perkara pertama yang diperintahkan kepada manusia adalah syahadat ‘Laa ilaaha illallah’ dan ‘anna Muhammadan Rasulullah’.” (Dinukil dari Fathul Majid Syarah Kitab Tauhid, hal. 84)Al-‘Allamah Ibnu Abil ‘Izz rahimahullah berkata dalam Syarah Ath-Thahawiyah (1: 59) mengatakan,اعلَمْ أنَّ التَّوحيدَ أوَّلُ دَعوةِ الرُّسُلِ، وأوَّلُ مَنازِلِ الطَّريقِ، وأوَّلُ مَقامٍ يقومُ به السَّالكُ إلى اللهِ عزَّ وجلَّ … ولهذا كان الصَّحيحُ أنَّ أوَّلَ واجبٍ يجبُ على المُكلَّفِ شهادةُ أنْ لا إلهَ إلَّا اللهُ، لا النَّظرُ، ولا القَصدُ إلى النَّظرِ، ولا الشَّكُّ، كما هي أقوالٌ لأربابِ الكلامِ المذمومِ“Ketahuilah bahwa tauhid adalah yang pertama didakwahkan oleh para Rasul, dan langkah pertama dalam perjalanan menuju Allah, dan perkara pertama yang ditempuh oleh seorang hamba yang berjalan menuju Allah ‘Azza wa Jalla … Oleh karena itu, pendapat yang benar adalah bahwa kewajiban pertama yang wajib atas seorang mukallaf adalah syahadat ‘Laa ilaha illallah’, bukan nazhor, al-qashdu ilan nazhor, dan bukan asy-syakk, sebagaimana perkataan ahlul kalam yang tercela.”Adapun ahlul kalam, mereka mengatakan bahwa kewajiban pertama bagi seorang hamba adalah nazhor atau syakk. Sebagaimana keterangan dari Ibnu Abil ‘Izz rahimahullah di atas.Syekh Ibnu Jibrin rahimahullah menjelaskan konsep nazhor dan syakk ini,وذهبت الصوفية وبعض المتكلمين إلى أن أول واجب عليه النظر، والنظر أن يبدأ بالنظر فيما بين يديه وفيما خلفه من المخلوقات، أن ينظر بنفسه وينظر في الذي بين يديه من السماء والأرض ونحو ذلك، ثم بعد ذلك يظهر بنتيجة من هذا النظر، وهذا قول باطل، بل أول واجب العلم مع العمل“Orang-orang sufi dan sebagian ahlul kalam mengatakan bahwa kewajiban pertama atas seorang hamba adalah melakukan an-nazhor (melakukan penalaran). Yang dimaksud dengan an-nazhor adalah memulai beragama dengan merenungkan apa yang ada di hadapannya dan di belakangnya berupa makhluk-makhluk ciptaan Allah, merenungkan dirinya sendiri, merenungkan langit dan bumi yang ada di hadapannya, dan semisalnya. Kemudian setelah itu, ia sampai kepada suatu kesimpulan dari hasil pengamatan tersebut (berupa iman). Pendapat ini adalah pendapat yang batil. Bahkan kewajiban pertama adalah ilmu yang disertai dengan amal.وذهب بعضهم إلى أن أول واجب القصد إلى النظر، والقصد بمعنى نية النظر، أي: أن ينوي أن ينظر وينوي أنه سوف ينظر في هذه المخلوقات وفي دلالتها، وهذا أيضاً باطل، فالقصد يعني نية النظر، وليس بواجب، بل الواجب القبول والتقبل والعملSebagian mereka berpendapat bahwa kewajiban pertama seorang hamba adalah al-qashd ilan nazhor (berniat untuk nazhor). Yang dimaksud dengan al-qashd adalah niat untuk melakukan penalaran, yaitu seseorang berniat untuk memperhatikan makhluk-makhluk ciptaan Allah dan merenungkan petunjuk yang terkandung di dalamnya. Pendapat ini juga batil. Sebab al-qashd hanyalah berniat untuk melakukan penalaran, dan itu bukanlah suatu kewajiban. Akan tetapi, yang wajib adalah menerima kebenaran dari dalil-dalil, menyambutnya dengan lapang dada, dan mengamalkannya.وذهب آخرون إلى أن أول واجب الشك، فإذا عقل وكلف وتم عقله يشك، ثم بعد ذلك يتحير في أمره، ثم بعد ذلك يطلب ما يزيل به ذلك الشك، فيقول: أنا أشك وأنا في حيرة من أمري، ولكن بأي وسيلة أدفع هذا الشك؟ فيسأل وينظر ويستدل إلى أن يتبدل الشك باليقين، وهذه مقامات ومقالات صوفية لا يلتفت إليها، بل أول واجب هو ما ذكره من العلم والعملSebagian ahlul kalam yang lain berpendapat bahwa kewajiban pertama adalah asy-syakk (meragukan). Maksudnya, ketika seseorang telah berakal, dibebani syariat, dan sempurna akalnya, maka ia harus meragukan semua ajaran agama terlebih dahulu. Kemudian setelah itu, ia menjadi bingung terhadap agamanya. Setelah itu, ia berusaha mencari sesuatu yang dapat menghilangkan keraguan tersebut. Ia berkata, “Aku ragu dan bingung terhadap urusan agamaku, tetapi dengan cara apa aku dapat menghilangkan keraguan ini?” Maka ia pun bertanya, meneliti, dan mencari dalil hingga keraguan itu berubah menjadi keyakinan.Ini adalah tahapan dan pendapat-pendapat kaum sufi yang tidak perlu dilirik sama sekali. Yang benar, kewajiban pertama bagi seorang hamba adalah sebagaimana yang telah disebutkan, yaitu ilmu dan amal.” (Syarah al-Aqidah ath-Thahawiyah karya Syekh Ibnu Jibrin, 11: 47)Kesimpulannya, kewajiban pertama seorang hamba yang baru masuk Islam dan baru serius beragama adalah mempelajari tauhid dari dasar dan bertahap, serta menerima semua dalil dari Al-Qur’an dan As-Sunah dengan lapang dada, dan mengamalkannya. Tidak perlu melirik konsep-konsep ahlul kalam yang aneh, nyeleneh, membingungkan, dan tidak ada asalnya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan para salaf.Wallahu a’lam. Semoga Allah Ta’ala memberi taufik.Baca juga: Inilah 7 Syarat “Laa ilaaha illallah”***Penulis: Yulian PurnamaArtikel Muslim.or.id
Kewajiban pertama bagi seorang yang baru masuk Islam atau orang yang baru serius beragama adalah mengucapkan dua kalimat syahadat dan mempelajari kandungannya. Dengan kata lain, kewajiban pertamanya adalah mempelajari tauhid.Allah Ta’ala berfirman,فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ“Ilmuilah bahwa tidak ada sesembahan yang haq kecuali Allah, dan mintalah ampunan untuk dosamu, dan mintalah ampunan untuk kaum Mukminin dan Mukminat.” (QS. Muhammad: 19)Demikian juga dalam hadis dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ’anhuma, ia berkata,لَمَّا بَعَثَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – مُعَاذًا نَحْوَ الْيَمَنِ قَالَ لَهُ  إِنَّكَ تَقْدَمُ عَلَى قَوْمٍ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ فَلْيَكُنْ أَوَّلَ مَا تَدْعُوهُمْ إِلَى أَنْ يُوَحِّدُوا اللَّهَ تَعَالَى فَإِذَا عَرَفُوا ذَلِكَ فَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ اللَّهَ فَرَضَ عَلَيْهِمْ خَمْسَ صَلَوَاتٍ فِى يَوْمِهِمْ وَلَيْلَتِهِمْ ، فَإِذَا صَلُّوا فَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ اللَّهَ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ زَكَاةً فِى أَمْوَالِهِمْ تُؤْخَذُ مِنْ غَنِيِّهِمْ فَتُرَدُّ عَلَى فَقِيرِهِمْ ، فَإِذَا أَقَرُّوا بِذَلِكَ فَخُذْ مِنْهُمْ وَتَوَقَّ كَرَائِمَ أَمْوَالِ النَّاسِ“Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus Mu’adz ke Yaman, Rasulullah bersabda kepadanya, “Sesungguhnya engkau akan mendatangi sebuah kaum Ahlul Kitab. Hendaknya yang engkau dakwahkan pertama kali adalah agar mereka mentauhidkan Allah Ta’ala. Jika mereka telah memahami hal tersebut, maka kabarkanlah kepada mereka bahwa Allah mewajibkan mereka salat lima waktu dalam sehari semalam. Jika mereka mengerjakan itu (salat), maka kabarkanlah kepada mereka bahwa Allah juga telah mewajibkan bagi mereka untuk membayar zakat dari harta mereka, diambil dari orang-orang kaya di antara mereka dan diberikan kepada orang-orang fakir. Jika mereka menyetujui hal itu (zakat), maka ambillah zakat dari harta mereka, namun jauhilah dari harta berharga yang mereka miliki.” (HR. Bukhari no. 7372 dan Muslim no. 19)Dalil-dalil di atas tegas menunjukkan bahwa kewajiban pertama bagi seorang hamba adalah tauhid. Syekhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan,وقد علم بالاضطرار من دين الرسول صلي الله عليه وسلم، واتفقت عليه الأمة أن أصل الإسلام وأول ما يؤمر به الخلق: شهادة أن لا إله إلا الله، وأن محمدا رسول الله“Telah diketahui secara pasti dan gamblang dari agama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan ulama umat Islam pun telah bersepakat, bahwa pokok Islam dan perkara pertama yang diperintahkan kepada manusia adalah syahadat ‘Laa ilaaha illallah’ dan ‘anna Muhammadan Rasulullah’.” (Dinukil dari Fathul Majid Syarah Kitab Tauhid, hal. 84)Al-‘Allamah Ibnu Abil ‘Izz rahimahullah berkata dalam Syarah Ath-Thahawiyah (1: 59) mengatakan,اعلَمْ أنَّ التَّوحيدَ أوَّلُ دَعوةِ الرُّسُلِ، وأوَّلُ مَنازِلِ الطَّريقِ، وأوَّلُ مَقامٍ يقومُ به السَّالكُ إلى اللهِ عزَّ وجلَّ … ولهذا كان الصَّحيحُ أنَّ أوَّلَ واجبٍ يجبُ على المُكلَّفِ شهادةُ أنْ لا إلهَ إلَّا اللهُ، لا النَّظرُ، ولا القَصدُ إلى النَّظرِ، ولا الشَّكُّ، كما هي أقوالٌ لأربابِ الكلامِ المذمومِ“Ketahuilah bahwa tauhid adalah yang pertama didakwahkan oleh para Rasul, dan langkah pertama dalam perjalanan menuju Allah, dan perkara pertama yang ditempuh oleh seorang hamba yang berjalan menuju Allah ‘Azza wa Jalla … Oleh karena itu, pendapat yang benar adalah bahwa kewajiban pertama yang wajib atas seorang mukallaf adalah syahadat ‘Laa ilaha illallah’, bukan nazhor, al-qashdu ilan nazhor, dan bukan asy-syakk, sebagaimana perkataan ahlul kalam yang tercela.”Adapun ahlul kalam, mereka mengatakan bahwa kewajiban pertama bagi seorang hamba adalah nazhor atau syakk. Sebagaimana keterangan dari Ibnu Abil ‘Izz rahimahullah di atas.Syekh Ibnu Jibrin rahimahullah menjelaskan konsep nazhor dan syakk ini,وذهبت الصوفية وبعض المتكلمين إلى أن أول واجب عليه النظر، والنظر أن يبدأ بالنظر فيما بين يديه وفيما خلفه من المخلوقات، أن ينظر بنفسه وينظر في الذي بين يديه من السماء والأرض ونحو ذلك، ثم بعد ذلك يظهر بنتيجة من هذا النظر، وهذا قول باطل، بل أول واجب العلم مع العمل“Orang-orang sufi dan sebagian ahlul kalam mengatakan bahwa kewajiban pertama atas seorang hamba adalah melakukan an-nazhor (melakukan penalaran). Yang dimaksud dengan an-nazhor adalah memulai beragama dengan merenungkan apa yang ada di hadapannya dan di belakangnya berupa makhluk-makhluk ciptaan Allah, merenungkan dirinya sendiri, merenungkan langit dan bumi yang ada di hadapannya, dan semisalnya. Kemudian setelah itu, ia sampai kepada suatu kesimpulan dari hasil pengamatan tersebut (berupa iman). Pendapat ini adalah pendapat yang batil. Bahkan kewajiban pertama adalah ilmu yang disertai dengan amal.وذهب بعضهم إلى أن أول واجب القصد إلى النظر، والقصد بمعنى نية النظر، أي: أن ينوي أن ينظر وينوي أنه سوف ينظر في هذه المخلوقات وفي دلالتها، وهذا أيضاً باطل، فالقصد يعني نية النظر، وليس بواجب، بل الواجب القبول والتقبل والعملSebagian mereka berpendapat bahwa kewajiban pertama seorang hamba adalah al-qashd ilan nazhor (berniat untuk nazhor). Yang dimaksud dengan al-qashd adalah niat untuk melakukan penalaran, yaitu seseorang berniat untuk memperhatikan makhluk-makhluk ciptaan Allah dan merenungkan petunjuk yang terkandung di dalamnya. Pendapat ini juga batil. Sebab al-qashd hanyalah berniat untuk melakukan penalaran, dan itu bukanlah suatu kewajiban. Akan tetapi, yang wajib adalah menerima kebenaran dari dalil-dalil, menyambutnya dengan lapang dada, dan mengamalkannya.وذهب آخرون إلى أن أول واجب الشك، فإذا عقل وكلف وتم عقله يشك، ثم بعد ذلك يتحير في أمره، ثم بعد ذلك يطلب ما يزيل به ذلك الشك، فيقول: أنا أشك وأنا في حيرة من أمري، ولكن بأي وسيلة أدفع هذا الشك؟ فيسأل وينظر ويستدل إلى أن يتبدل الشك باليقين، وهذه مقامات ومقالات صوفية لا يلتفت إليها، بل أول واجب هو ما ذكره من العلم والعملSebagian ahlul kalam yang lain berpendapat bahwa kewajiban pertama adalah asy-syakk (meragukan). Maksudnya, ketika seseorang telah berakal, dibebani syariat, dan sempurna akalnya, maka ia harus meragukan semua ajaran agama terlebih dahulu. Kemudian setelah itu, ia menjadi bingung terhadap agamanya. Setelah itu, ia berusaha mencari sesuatu yang dapat menghilangkan keraguan tersebut. Ia berkata, “Aku ragu dan bingung terhadap urusan agamaku, tetapi dengan cara apa aku dapat menghilangkan keraguan ini?” Maka ia pun bertanya, meneliti, dan mencari dalil hingga keraguan itu berubah menjadi keyakinan.Ini adalah tahapan dan pendapat-pendapat kaum sufi yang tidak perlu dilirik sama sekali. Yang benar, kewajiban pertama bagi seorang hamba adalah sebagaimana yang telah disebutkan, yaitu ilmu dan amal.” (Syarah al-Aqidah ath-Thahawiyah karya Syekh Ibnu Jibrin, 11: 47)Kesimpulannya, kewajiban pertama seorang hamba yang baru masuk Islam dan baru serius beragama adalah mempelajari tauhid dari dasar dan bertahap, serta menerima semua dalil dari Al-Qur’an dan As-Sunah dengan lapang dada, dan mengamalkannya. Tidak perlu melirik konsep-konsep ahlul kalam yang aneh, nyeleneh, membingungkan, dan tidak ada asalnya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan para salaf.Wallahu a’lam. Semoga Allah Ta’ala memberi taufik.Baca juga: Inilah 7 Syarat “Laa ilaaha illallah”***Penulis: Yulian PurnamaArtikel Muslim.or.id


Kewajiban pertama bagi seorang yang baru masuk Islam atau orang yang baru serius beragama adalah mengucapkan dua kalimat syahadat dan mempelajari kandungannya. Dengan kata lain, kewajiban pertamanya adalah mempelajari tauhid.Allah Ta’ala berfirman,فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ“Ilmuilah bahwa tidak ada sesembahan yang haq kecuali Allah, dan mintalah ampunan untuk dosamu, dan mintalah ampunan untuk kaum Mukminin dan Mukminat.” (QS. Muhammad: 19)Demikian juga dalam hadis dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ’anhuma, ia berkata,لَمَّا بَعَثَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – مُعَاذًا نَحْوَ الْيَمَنِ قَالَ لَهُ  إِنَّكَ تَقْدَمُ عَلَى قَوْمٍ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ فَلْيَكُنْ أَوَّلَ مَا تَدْعُوهُمْ إِلَى أَنْ يُوَحِّدُوا اللَّهَ تَعَالَى فَإِذَا عَرَفُوا ذَلِكَ فَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ اللَّهَ فَرَضَ عَلَيْهِمْ خَمْسَ صَلَوَاتٍ فِى يَوْمِهِمْ وَلَيْلَتِهِمْ ، فَإِذَا صَلُّوا فَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ اللَّهَ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ زَكَاةً فِى أَمْوَالِهِمْ تُؤْخَذُ مِنْ غَنِيِّهِمْ فَتُرَدُّ عَلَى فَقِيرِهِمْ ، فَإِذَا أَقَرُّوا بِذَلِكَ فَخُذْ مِنْهُمْ وَتَوَقَّ كَرَائِمَ أَمْوَالِ النَّاسِ“Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus Mu’adz ke Yaman, Rasulullah bersabda kepadanya, “Sesungguhnya engkau akan mendatangi sebuah kaum Ahlul Kitab. Hendaknya yang engkau dakwahkan pertama kali adalah agar mereka mentauhidkan Allah Ta’ala. Jika mereka telah memahami hal tersebut, maka kabarkanlah kepada mereka bahwa Allah mewajibkan mereka salat lima waktu dalam sehari semalam. Jika mereka mengerjakan itu (salat), maka kabarkanlah kepada mereka bahwa Allah juga telah mewajibkan bagi mereka untuk membayar zakat dari harta mereka, diambil dari orang-orang kaya di antara mereka dan diberikan kepada orang-orang fakir. Jika mereka menyetujui hal itu (zakat), maka ambillah zakat dari harta mereka, namun jauhilah dari harta berharga yang mereka miliki.” (HR. Bukhari no. 7372 dan Muslim no. 19)Dalil-dalil di atas tegas menunjukkan bahwa kewajiban pertama bagi seorang hamba adalah tauhid. Syekhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan,وقد علم بالاضطرار من دين الرسول صلي الله عليه وسلم، واتفقت عليه الأمة أن أصل الإسلام وأول ما يؤمر به الخلق: شهادة أن لا إله إلا الله، وأن محمدا رسول الله“Telah diketahui secara pasti dan gamblang dari agama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan ulama umat Islam pun telah bersepakat, bahwa pokok Islam dan perkara pertama yang diperintahkan kepada manusia adalah syahadat ‘Laa ilaaha illallah’ dan ‘anna Muhammadan Rasulullah’.” (Dinukil dari Fathul Majid Syarah Kitab Tauhid, hal. 84)Al-‘Allamah Ibnu Abil ‘Izz rahimahullah berkata dalam Syarah Ath-Thahawiyah (1: 59) mengatakan,اعلَمْ أنَّ التَّوحيدَ أوَّلُ دَعوةِ الرُّسُلِ، وأوَّلُ مَنازِلِ الطَّريقِ، وأوَّلُ مَقامٍ يقومُ به السَّالكُ إلى اللهِ عزَّ وجلَّ … ولهذا كان الصَّحيحُ أنَّ أوَّلَ واجبٍ يجبُ على المُكلَّفِ شهادةُ أنْ لا إلهَ إلَّا اللهُ، لا النَّظرُ، ولا القَصدُ إلى النَّظرِ، ولا الشَّكُّ، كما هي أقوالٌ لأربابِ الكلامِ المذمومِ“Ketahuilah bahwa tauhid adalah yang pertama didakwahkan oleh para Rasul, dan langkah pertama dalam perjalanan menuju Allah, dan perkara pertama yang ditempuh oleh seorang hamba yang berjalan menuju Allah ‘Azza wa Jalla … Oleh karena itu, pendapat yang benar adalah bahwa kewajiban pertama yang wajib atas seorang mukallaf adalah syahadat ‘Laa ilaha illallah’, bukan nazhor, al-qashdu ilan nazhor, dan bukan asy-syakk, sebagaimana perkataan ahlul kalam yang tercela.”Adapun ahlul kalam, mereka mengatakan bahwa kewajiban pertama bagi seorang hamba adalah nazhor atau syakk. Sebagaimana keterangan dari Ibnu Abil ‘Izz rahimahullah di atas.Syekh Ibnu Jibrin rahimahullah menjelaskan konsep nazhor dan syakk ini,وذهبت الصوفية وبعض المتكلمين إلى أن أول واجب عليه النظر، والنظر أن يبدأ بالنظر فيما بين يديه وفيما خلفه من المخلوقات، أن ينظر بنفسه وينظر في الذي بين يديه من السماء والأرض ونحو ذلك، ثم بعد ذلك يظهر بنتيجة من هذا النظر، وهذا قول باطل، بل أول واجب العلم مع العمل“Orang-orang sufi dan sebagian ahlul kalam mengatakan bahwa kewajiban pertama atas seorang hamba adalah melakukan an-nazhor (melakukan penalaran). Yang dimaksud dengan an-nazhor adalah memulai beragama dengan merenungkan apa yang ada di hadapannya dan di belakangnya berupa makhluk-makhluk ciptaan Allah, merenungkan dirinya sendiri, merenungkan langit dan bumi yang ada di hadapannya, dan semisalnya. Kemudian setelah itu, ia sampai kepada suatu kesimpulan dari hasil pengamatan tersebut (berupa iman). Pendapat ini adalah pendapat yang batil. Bahkan kewajiban pertama adalah ilmu yang disertai dengan amal.وذهب بعضهم إلى أن أول واجب القصد إلى النظر، والقصد بمعنى نية النظر، أي: أن ينوي أن ينظر وينوي أنه سوف ينظر في هذه المخلوقات وفي دلالتها، وهذا أيضاً باطل، فالقصد يعني نية النظر، وليس بواجب، بل الواجب القبول والتقبل والعملSebagian mereka berpendapat bahwa kewajiban pertama seorang hamba adalah al-qashd ilan nazhor (berniat untuk nazhor). Yang dimaksud dengan al-qashd adalah niat untuk melakukan penalaran, yaitu seseorang berniat untuk memperhatikan makhluk-makhluk ciptaan Allah dan merenungkan petunjuk yang terkandung di dalamnya. Pendapat ini juga batil. Sebab al-qashd hanyalah berniat untuk melakukan penalaran, dan itu bukanlah suatu kewajiban. Akan tetapi, yang wajib adalah menerima kebenaran dari dalil-dalil, menyambutnya dengan lapang dada, dan mengamalkannya.وذهب آخرون إلى أن أول واجب الشك، فإذا عقل وكلف وتم عقله يشك، ثم بعد ذلك يتحير في أمره، ثم بعد ذلك يطلب ما يزيل به ذلك الشك، فيقول: أنا أشك وأنا في حيرة من أمري، ولكن بأي وسيلة أدفع هذا الشك؟ فيسأل وينظر ويستدل إلى أن يتبدل الشك باليقين، وهذه مقامات ومقالات صوفية لا يلتفت إليها، بل أول واجب هو ما ذكره من العلم والعملSebagian ahlul kalam yang lain berpendapat bahwa kewajiban pertama adalah asy-syakk (meragukan). Maksudnya, ketika seseorang telah berakal, dibebani syariat, dan sempurna akalnya, maka ia harus meragukan semua ajaran agama terlebih dahulu. Kemudian setelah itu, ia menjadi bingung terhadap agamanya. Setelah itu, ia berusaha mencari sesuatu yang dapat menghilangkan keraguan tersebut. Ia berkata, “Aku ragu dan bingung terhadap urusan agamaku, tetapi dengan cara apa aku dapat menghilangkan keraguan ini?” Maka ia pun bertanya, meneliti, dan mencari dalil hingga keraguan itu berubah menjadi keyakinan.Ini adalah tahapan dan pendapat-pendapat kaum sufi yang tidak perlu dilirik sama sekali. Yang benar, kewajiban pertama bagi seorang hamba adalah sebagaimana yang telah disebutkan, yaitu ilmu dan amal.” (Syarah al-Aqidah ath-Thahawiyah karya Syekh Ibnu Jibrin, 11: 47)Kesimpulannya, kewajiban pertama seorang hamba yang baru masuk Islam dan baru serius beragama adalah mempelajari tauhid dari dasar dan bertahap, serta menerima semua dalil dari Al-Qur’an dan As-Sunah dengan lapang dada, dan mengamalkannya. Tidak perlu melirik konsep-konsep ahlul kalam yang aneh, nyeleneh, membingungkan, dan tidak ada asalnya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan para salaf.Wallahu a’lam. Semoga Allah Ta’ala memberi taufik.Baca juga: Inilah 7 Syarat “Laa ilaaha illallah”***Penulis: Yulian PurnamaArtikel Muslim.or.id

Sebab-Sebab Lemahnya Iman

Keimanan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala merupakan bekal utama seorang hamba, asas keselamatannya, dan perkara paling berharga baginya. Menurut Ahlussunnah, keimanan terwujud dalam ucapan dan perbuatan, dapat bertambah dan berkurang, bertambah dengan ketaatan, dan berkurang dengan kemaksiatan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: لِيَزْدَادُوا إِيمَانًا مَّعَ إِيمَانِهِمْ “Supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan yang telah ada.” (QS. Al-Fath: 4). Oleh sebab itu, hati orang beriman dapat bertambah sebagaimana juga dapat berkurang. Bertambah dan berkurangnya itu tergantung dengan kadar faktor-faktor yang mempengaruhi pertambahan dan pengurangannya. Imam Al-Hakim Rahimahullah meriwayatkan dalam kitabnya Al-Mustadrak dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘anhuma dari Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam bahwa beliau bersabda: إنَّ الإِيْمَانَ لَيَخْلَقُ فِيْ جَوْفِ أَحَدِكُمْ كَمَا يَخْلَقُ الثَّوْبُ، فَاسْأَلُوا اللهَ أَنْ يُجَدِّدَ الإِيْمَانَ فِيْ قُلُوْبِكُمْ “Sesungguhnya iman itu bisa menjadi usang (pudar) di dalam hati salah seorang dari kalian sebagaimana usangnya sebuah pakaian. Maka memohonlah kepada Allah agar Dia memperbarui iman di dalam hati kalian.” (HR. Al-Hakim).  Berkurangnya iman merupakan salah satu penyakit yang paling berbahaya yang dapat mengidap hati yang beriman, karena itu dapat menimbulkan hal-hal yang mempengaruhi keagamaan dan amalan seorang hamba. Dengan melemahnya iman, keyakinan juga akan berkurang, rasa tawakal ikut surut, rasa diawasi Allah Subhanahu wa Ta’ala semakin pudar, dada terasa sempit, dan hati menjadi keras. Ketika hati sudah keras, maka gejolak hati mudah berubah, sulit tersentuh oleh Al-Qur’an atau bahkan tidak sama sekali, lalu insan itu akan mulai menempuh jalan kelalaian, dan sedikit demi sedikit mulai mengabaikan sunnah-sunnah dan amalan-amalan yang dianjurkan, kemudian meremehkan pelaksanaan amalan-amalan wajib, kemudian terjerumus ke dalam kemaksiatan dan kemungkaran, dan begitu seterusnya. Semua hal-hal buruk ini akan terus merasuki hati seiring dengan semakin melemahnya keimanan di dalamnya. Siklus ini tidak akan berhenti kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala memberinya pertolongan dan membangunkannya dari kelalaian tersebut serta menyadarkannya tentang betapa bahaya jalan yang sedang ia tempuh. Hal ini dapat diraih dengan berhenti dari setiap faktor pelemah iman dan mengamalkan faktor-faktor penguatnya. Sebab-sebab melemahnya iman Ada beberapa faktor yang membuat iman menjadi lemah atau bahkan luntur dari hati, di antaranya adalah: 1. Jauh dari lingkungan keimanan Ini merupakan awal jalan menuju ketergelinciran dan permulaan langkah menuju lemahnya iman. Konsekuensi pertama dari menjauhi lingkungan keimanan adalah berhenti menjalankan faktor-faktor penguat dan penambah iman. Ini adalah titik awal kemerosotan dan pelemahan iman, sehingga seseorang akan mulai berhenti mendengarkan nasihat-nasihat dan hal lain yang melembutkan hati. Tidak ada lagi Al-Qur’an yang membasahi gersangnya hati dan tidak pula ada nasihat yang menyiraminya agar tumbuh benih-benih keinsafan, ketundukan, kecintaan, dan keridhaan kepada Sang Kuasa. Energi keimanan dalam hatinya semakin melemah sedikit demi sedikit, hingga tidak mampu menggerakkan pemiliknya menuju ketaatan dan melewati jurang-jurang fitnah dan kemaksiatan yang mematikan. Oleh sebab itu, dulu para salaf saling berpesan, “Marilah kita merenung sejenak!” agar pokok keimanan tetap menyala dalam hati mereka, sehingga semak-semak hawa nafsu dan syahwat lenyap terbakar olehnya. 2. Pertemanan yang buruk Teman dapat menjerumuskan, perilaku dapat menular, dan tabiat dapat ditiru. Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam mengumpamakan teman yang buruk dengan seorang pandai besi yang hanya membawa keburukan bagimu, ia itu “antara ia membakar bajumu, atau memberimu bau yang menyengat.” Berinteraksi dan berteman dengan para pelaku kefasikan dan kemaksiatan tidak membawa manfaat dan kemaslahatan apa pun. Justru mereka menjadi musibah di dunia dan bencana di akhirat, sehingga orang yang menemani mereka akan mendapat penyesalan berat. وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلَىٰ يَدَيْهِ يَقُولُ يَا لَيْتَنِي اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُولِ سَبِيلًا يَا وَيْلَتَىٰ لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلًا لَّقَدْ أَضَلَّنِي عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَاءَنِي ۗ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِلْإِنسَانِ خَذُولًا  “Dan (ingatlah) pada hari (ketika) orang yang zalim menggigit kedua tangannya, seraya berkata: ‘Aduhai kiranya (dahulu) aku mengambil jalan bersama Rasul. Kecelakaan besarlah bagiku, kiranya aku (dahulu) tidak menjadikan si fulan itu teman akrab(ku). Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al-Qur’an ketika Al-Qur’an itu telah datang kepadaku. Dan adalah setan itu tidak mau menolong manusia.’” (QS. Al-Furqan: 27-29). 3. Terlalu sibuk dengan dunia Hati yang terlalu fokus dengan fatamorgana dunia, selalu terpaut dengan syahwat-syahwat dan kenikmatannya, dan begitu sibuk dalam meraup dan mengumpulkannya, hingga dunia membuatnya lupa terhadap akhirat. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mencela sikap seperti ini dalam Kitab-Nya: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَن ذِكْرِ اللَّهِ ۚ وَمَن يَفْعَلْ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah harta bendamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Dan barangsiapa berbuat demikian, maka mereka itulah orang-orang yang rugi.” (QS. Al-Munafiqun: 9). Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam juga mencela pelakunya dalam sabda beliau: مَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ، فَرَّقَ اللهُ عَلَيْهِ أَمْرَهُ، وَجَعَلَ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ، وَلَمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلَّا مَا كُتِبَ لَهُ. “Barangsiapa yang menjadikan dunia sebagai tujuan utamanya, maka Allah akan mencerai-beraikan urusannya, menjadikan kemiskinan selalu membayang di depan matanya, dan dunia tidak akan datang kepadanya kecuali apa yang telah ditetapkan baginya.” (HR. At-Tirmidzi). Bahkan terkadang ada orang yang semakin terpaut dengan dunia dan kenikmatannya yang fana, hingga ia tidak melihat kepada selainnya dan menjadi budaknya, seperti yang disebutkan dalam hadis: تَعِسَ عَبْدُ الدِّينَارِ، وَعَبْدُ الدِّرْهَمِ، وَعَبْدُ الخَمِيصَةِ، إِنْ أُعْطِيَ رَضِيَ، وَإِنْ لَمْ يُعْطَ سَخِطَ، تَعِسَ وَانْتَكَسَ، وَإِذَا شِيكَ فَلَا انْتَقَشَ. “Celakalah hamba dinar, hamba dirham, dan hamba pakaian mewah, jika diberi ia ridha, dan jika tidak diberi ia marah. Celakalah dan tersungkurlah ia! Apabila tertusuk duri maka semoga ia tidak mampu mengeluarkannya.” (HR. Al-Bukhari). 4. Lalai dan panjang angan Yang dimaksud dengan panjang angan yakni terus menerus tamak dan fokus terhadap dunia, dibarengi dengan banyaknya berpaling dari akhirat. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ حَتَّىٰ زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ “Bermegah-megahan telah melalaikan kamu sampai kamu masuk ke dalam kubur.” (QS. At-Takatsur: 1-2). Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman: اقْتَرَبَ لِلنَّاسِ حِسَابُهُمْ وَهُمْ فِي غَفْلَةٍ مُّعْرِضُونَ مَا يَأْتِيهِم مِّن ذِكْرٍ مِّن رَّبِّهِم مُّحْدَثٍ إِلَّا اسْتَمَعُوهُ وَهُمْ يَلْعَبُونَ لَاهِيَةً قُلُوبُهُمْ “Telah dekat kepada manusia hari menghisab amal mereka, sedang mereka berada dalam kelalaian lagi berpaling (daripadanya). Tidak datang kepada mereka suatu ayat pun yang baru diturunkan dari Tuhan mereka, melainkan mereka mendengarnya, sedang mereka bermain-main, (lagi) hati mereka dalam keadaan lalai.” (QS. Al-Anbiya: 1-2). Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman: ذَرْهُمْ يَأْكُلُوا وَيَتَمَتَّعُوا وَيُلْهِهِمُ الْأَمَلُ ۖ فَسَوْفَ يَعْلَمُونَ “Biarkanlah mereka (di dunia ini) makan dan bersenang-senang dan dilalaikan oleh angan-angan (kosong), maka kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatan mereka).” (QS. Al-Hijr: 3). Panjang angan dapat mendorong kepada kemaksiatan dan menjauhkan dari ketaatan. Ia merupakan salah satu sebab seseorang berani melanggar hal-hal yang haram, menzalimi orang lain, dan merampas hak mereka. Oleh sebab itu, janganlah kamu terbuai oleh umur panjang, kebugaran masa muda, atau kekuatan badan.  Dulu Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam senantiasa memperingatkan hal ini dalam hadits-haditsnya, seperti sabda beliau kepada Ibnu Umar: كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ. “Jadilah engkau di dunia ini seakan-akan orang asing atau musafir (yang sekedar lewat saja).” (HR. Al-Bukhari). Diriwayatkan bahwa Ali Radhiyallahu ‘anhu pernah berkata: “Sungguh hal yang paling saya takutkan pada kalian adalah menuruti hawa nafsu dan panjang angan. Adapun menuruti hawa nafsu, itu dapat menghalangi kalian dari kebenaran, sedangkan panjang angan, itu dapat melalaikan kalian terhadap akhirat.” Umar bin Abdul Aziz pernah berujar dalam khutbahnya: “Janganlah masa kelalaian kalian berlanjut lama, sehingga hati kalian menjadi keras dan akhirnya kalian tunduk kepada musuh kalian.” 5. Hilangnya figur teladan yang baik Figur yang menjadi teladan yang baik telah lama hilang dari hati dan pandangan manusia, atau memang sengaja dihilangkan. Lalu dijunjung bagi mereka sosok-sosok panutan yang tidak punya bobot dalam timbangan keberanian, adab, kehormatan, akhlak, dan kepahlawanan hakiki meski hanya seberat sehelai rambut atau seekor semut. Orang-orang remeh, bodoh, pelaku kemaksiatan dan kefasikan disuguhkan ke hadapan generasi muda dan masyarakat umum di televisi-televisi, para manusia yang sangat jauh dari agama, ilmu, akhlak, dan ilmu pengetahuan, sehingga orang-orang meniru mereka, sehingga ikut terjerembab ke titik terendah dalam segala aspek kehidupan. 6. Terjerumus dalam kemaksiatan Ini merupakan tanda keimanan telah melemah, dan salah satu hasil dari lemahnya iman serta pada waktu yang sama menjadi penyebabnya. Apabila agama seorang hamba sudah rapuh dan keimanannya telah lemah, mudah baginya untuk terjerumus ke dalam kemaksiatan dan dosa-dosa. Apabila ia telah terjerumus ke dalamnya, itu kemudian menjadi sebab keimanannya semakin lemah dan hatinya berpenyakit.  Ibnu Abbas mengatakan: “Sungguh perbuatan dosa itu dapat memberi aura hitam di raut wajah, kegelapan dalam hati, kelemahan badan, berkurangnya rezeki, dan kebencian dalam hati orang lain terhadapnya.”  Setiap dosa akan menimbulkan titik hitam dalam hati. Apabila seseorang tidak bertobat dari dosa itu, hatinya akan semakin hitam, hingga menutupi semuanya, lalu mencekiknya atau mematikannya. “Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu telah menutupi hati mereka.” (QS. Al-Mutaffifin: 14). Demikianlah beberapa faktor yang dapat melemahkan hati. Dengan menghindari faktor-faktor itu dan menjalankan hal-hal yang menyelisihinya, keimanan seorang muslim akan menjadi kuat. Sumber: https://www.islamweb.net/ar/article/246133/أسباب-ضعف-الإيمان Sumber artikel PDF 🔍 Berdoa Saat Haid, Bacaan Niat Puasa Mulud, Surat Yang Pertama Kali Diturunkan, Pendeta Kalah Debat Masuk Islam, Doa Diberikan Jodoh Visited 539 times, 1 visit(s) today Post Views: 65

Sebab-Sebab Lemahnya Iman

Keimanan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala merupakan bekal utama seorang hamba, asas keselamatannya, dan perkara paling berharga baginya. Menurut Ahlussunnah, keimanan terwujud dalam ucapan dan perbuatan, dapat bertambah dan berkurang, bertambah dengan ketaatan, dan berkurang dengan kemaksiatan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: لِيَزْدَادُوا إِيمَانًا مَّعَ إِيمَانِهِمْ “Supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan yang telah ada.” (QS. Al-Fath: 4). Oleh sebab itu, hati orang beriman dapat bertambah sebagaimana juga dapat berkurang. Bertambah dan berkurangnya itu tergantung dengan kadar faktor-faktor yang mempengaruhi pertambahan dan pengurangannya. Imam Al-Hakim Rahimahullah meriwayatkan dalam kitabnya Al-Mustadrak dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘anhuma dari Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam bahwa beliau bersabda: إنَّ الإِيْمَانَ لَيَخْلَقُ فِيْ جَوْفِ أَحَدِكُمْ كَمَا يَخْلَقُ الثَّوْبُ، فَاسْأَلُوا اللهَ أَنْ يُجَدِّدَ الإِيْمَانَ فِيْ قُلُوْبِكُمْ “Sesungguhnya iman itu bisa menjadi usang (pudar) di dalam hati salah seorang dari kalian sebagaimana usangnya sebuah pakaian. Maka memohonlah kepada Allah agar Dia memperbarui iman di dalam hati kalian.” (HR. Al-Hakim).  Berkurangnya iman merupakan salah satu penyakit yang paling berbahaya yang dapat mengidap hati yang beriman, karena itu dapat menimbulkan hal-hal yang mempengaruhi keagamaan dan amalan seorang hamba. Dengan melemahnya iman, keyakinan juga akan berkurang, rasa tawakal ikut surut, rasa diawasi Allah Subhanahu wa Ta’ala semakin pudar, dada terasa sempit, dan hati menjadi keras. Ketika hati sudah keras, maka gejolak hati mudah berubah, sulit tersentuh oleh Al-Qur’an atau bahkan tidak sama sekali, lalu insan itu akan mulai menempuh jalan kelalaian, dan sedikit demi sedikit mulai mengabaikan sunnah-sunnah dan amalan-amalan yang dianjurkan, kemudian meremehkan pelaksanaan amalan-amalan wajib, kemudian terjerumus ke dalam kemaksiatan dan kemungkaran, dan begitu seterusnya. Semua hal-hal buruk ini akan terus merasuki hati seiring dengan semakin melemahnya keimanan di dalamnya. Siklus ini tidak akan berhenti kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala memberinya pertolongan dan membangunkannya dari kelalaian tersebut serta menyadarkannya tentang betapa bahaya jalan yang sedang ia tempuh. Hal ini dapat diraih dengan berhenti dari setiap faktor pelemah iman dan mengamalkan faktor-faktor penguatnya. Sebab-sebab melemahnya iman Ada beberapa faktor yang membuat iman menjadi lemah atau bahkan luntur dari hati, di antaranya adalah: 1. Jauh dari lingkungan keimanan Ini merupakan awal jalan menuju ketergelinciran dan permulaan langkah menuju lemahnya iman. Konsekuensi pertama dari menjauhi lingkungan keimanan adalah berhenti menjalankan faktor-faktor penguat dan penambah iman. Ini adalah titik awal kemerosotan dan pelemahan iman, sehingga seseorang akan mulai berhenti mendengarkan nasihat-nasihat dan hal lain yang melembutkan hati. Tidak ada lagi Al-Qur’an yang membasahi gersangnya hati dan tidak pula ada nasihat yang menyiraminya agar tumbuh benih-benih keinsafan, ketundukan, kecintaan, dan keridhaan kepada Sang Kuasa. Energi keimanan dalam hatinya semakin melemah sedikit demi sedikit, hingga tidak mampu menggerakkan pemiliknya menuju ketaatan dan melewati jurang-jurang fitnah dan kemaksiatan yang mematikan. Oleh sebab itu, dulu para salaf saling berpesan, “Marilah kita merenung sejenak!” agar pokok keimanan tetap menyala dalam hati mereka, sehingga semak-semak hawa nafsu dan syahwat lenyap terbakar olehnya. 2. Pertemanan yang buruk Teman dapat menjerumuskan, perilaku dapat menular, dan tabiat dapat ditiru. Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam mengumpamakan teman yang buruk dengan seorang pandai besi yang hanya membawa keburukan bagimu, ia itu “antara ia membakar bajumu, atau memberimu bau yang menyengat.” Berinteraksi dan berteman dengan para pelaku kefasikan dan kemaksiatan tidak membawa manfaat dan kemaslahatan apa pun. Justru mereka menjadi musibah di dunia dan bencana di akhirat, sehingga orang yang menemani mereka akan mendapat penyesalan berat. وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلَىٰ يَدَيْهِ يَقُولُ يَا لَيْتَنِي اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُولِ سَبِيلًا يَا وَيْلَتَىٰ لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلًا لَّقَدْ أَضَلَّنِي عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَاءَنِي ۗ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِلْإِنسَانِ خَذُولًا  “Dan (ingatlah) pada hari (ketika) orang yang zalim menggigit kedua tangannya, seraya berkata: ‘Aduhai kiranya (dahulu) aku mengambil jalan bersama Rasul. Kecelakaan besarlah bagiku, kiranya aku (dahulu) tidak menjadikan si fulan itu teman akrab(ku). Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al-Qur’an ketika Al-Qur’an itu telah datang kepadaku. Dan adalah setan itu tidak mau menolong manusia.’” (QS. Al-Furqan: 27-29). 3. Terlalu sibuk dengan dunia Hati yang terlalu fokus dengan fatamorgana dunia, selalu terpaut dengan syahwat-syahwat dan kenikmatannya, dan begitu sibuk dalam meraup dan mengumpulkannya, hingga dunia membuatnya lupa terhadap akhirat. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mencela sikap seperti ini dalam Kitab-Nya: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَن ذِكْرِ اللَّهِ ۚ وَمَن يَفْعَلْ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah harta bendamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Dan barangsiapa berbuat demikian, maka mereka itulah orang-orang yang rugi.” (QS. Al-Munafiqun: 9). Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam juga mencela pelakunya dalam sabda beliau: مَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ، فَرَّقَ اللهُ عَلَيْهِ أَمْرَهُ، وَجَعَلَ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ، وَلَمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلَّا مَا كُتِبَ لَهُ. “Barangsiapa yang menjadikan dunia sebagai tujuan utamanya, maka Allah akan mencerai-beraikan urusannya, menjadikan kemiskinan selalu membayang di depan matanya, dan dunia tidak akan datang kepadanya kecuali apa yang telah ditetapkan baginya.” (HR. At-Tirmidzi). Bahkan terkadang ada orang yang semakin terpaut dengan dunia dan kenikmatannya yang fana, hingga ia tidak melihat kepada selainnya dan menjadi budaknya, seperti yang disebutkan dalam hadis: تَعِسَ عَبْدُ الدِّينَارِ، وَعَبْدُ الدِّرْهَمِ، وَعَبْدُ الخَمِيصَةِ، إِنْ أُعْطِيَ رَضِيَ، وَإِنْ لَمْ يُعْطَ سَخِطَ، تَعِسَ وَانْتَكَسَ، وَإِذَا شِيكَ فَلَا انْتَقَشَ. “Celakalah hamba dinar, hamba dirham, dan hamba pakaian mewah, jika diberi ia ridha, dan jika tidak diberi ia marah. Celakalah dan tersungkurlah ia! Apabila tertusuk duri maka semoga ia tidak mampu mengeluarkannya.” (HR. Al-Bukhari). 4. Lalai dan panjang angan Yang dimaksud dengan panjang angan yakni terus menerus tamak dan fokus terhadap dunia, dibarengi dengan banyaknya berpaling dari akhirat. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ حَتَّىٰ زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ “Bermegah-megahan telah melalaikan kamu sampai kamu masuk ke dalam kubur.” (QS. At-Takatsur: 1-2). Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman: اقْتَرَبَ لِلنَّاسِ حِسَابُهُمْ وَهُمْ فِي غَفْلَةٍ مُّعْرِضُونَ مَا يَأْتِيهِم مِّن ذِكْرٍ مِّن رَّبِّهِم مُّحْدَثٍ إِلَّا اسْتَمَعُوهُ وَهُمْ يَلْعَبُونَ لَاهِيَةً قُلُوبُهُمْ “Telah dekat kepada manusia hari menghisab amal mereka, sedang mereka berada dalam kelalaian lagi berpaling (daripadanya). Tidak datang kepada mereka suatu ayat pun yang baru diturunkan dari Tuhan mereka, melainkan mereka mendengarnya, sedang mereka bermain-main, (lagi) hati mereka dalam keadaan lalai.” (QS. Al-Anbiya: 1-2). Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman: ذَرْهُمْ يَأْكُلُوا وَيَتَمَتَّعُوا وَيُلْهِهِمُ الْأَمَلُ ۖ فَسَوْفَ يَعْلَمُونَ “Biarkanlah mereka (di dunia ini) makan dan bersenang-senang dan dilalaikan oleh angan-angan (kosong), maka kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatan mereka).” (QS. Al-Hijr: 3). Panjang angan dapat mendorong kepada kemaksiatan dan menjauhkan dari ketaatan. Ia merupakan salah satu sebab seseorang berani melanggar hal-hal yang haram, menzalimi orang lain, dan merampas hak mereka. Oleh sebab itu, janganlah kamu terbuai oleh umur panjang, kebugaran masa muda, atau kekuatan badan.  Dulu Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam senantiasa memperingatkan hal ini dalam hadits-haditsnya, seperti sabda beliau kepada Ibnu Umar: كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ. “Jadilah engkau di dunia ini seakan-akan orang asing atau musafir (yang sekedar lewat saja).” (HR. Al-Bukhari). Diriwayatkan bahwa Ali Radhiyallahu ‘anhu pernah berkata: “Sungguh hal yang paling saya takutkan pada kalian adalah menuruti hawa nafsu dan panjang angan. Adapun menuruti hawa nafsu, itu dapat menghalangi kalian dari kebenaran, sedangkan panjang angan, itu dapat melalaikan kalian terhadap akhirat.” Umar bin Abdul Aziz pernah berujar dalam khutbahnya: “Janganlah masa kelalaian kalian berlanjut lama, sehingga hati kalian menjadi keras dan akhirnya kalian tunduk kepada musuh kalian.” 5. Hilangnya figur teladan yang baik Figur yang menjadi teladan yang baik telah lama hilang dari hati dan pandangan manusia, atau memang sengaja dihilangkan. Lalu dijunjung bagi mereka sosok-sosok panutan yang tidak punya bobot dalam timbangan keberanian, adab, kehormatan, akhlak, dan kepahlawanan hakiki meski hanya seberat sehelai rambut atau seekor semut. Orang-orang remeh, bodoh, pelaku kemaksiatan dan kefasikan disuguhkan ke hadapan generasi muda dan masyarakat umum di televisi-televisi, para manusia yang sangat jauh dari agama, ilmu, akhlak, dan ilmu pengetahuan, sehingga orang-orang meniru mereka, sehingga ikut terjerembab ke titik terendah dalam segala aspek kehidupan. 6. Terjerumus dalam kemaksiatan Ini merupakan tanda keimanan telah melemah, dan salah satu hasil dari lemahnya iman serta pada waktu yang sama menjadi penyebabnya. Apabila agama seorang hamba sudah rapuh dan keimanannya telah lemah, mudah baginya untuk terjerumus ke dalam kemaksiatan dan dosa-dosa. Apabila ia telah terjerumus ke dalamnya, itu kemudian menjadi sebab keimanannya semakin lemah dan hatinya berpenyakit.  Ibnu Abbas mengatakan: “Sungguh perbuatan dosa itu dapat memberi aura hitam di raut wajah, kegelapan dalam hati, kelemahan badan, berkurangnya rezeki, dan kebencian dalam hati orang lain terhadapnya.”  Setiap dosa akan menimbulkan titik hitam dalam hati. Apabila seseorang tidak bertobat dari dosa itu, hatinya akan semakin hitam, hingga menutupi semuanya, lalu mencekiknya atau mematikannya. “Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu telah menutupi hati mereka.” (QS. Al-Mutaffifin: 14). Demikianlah beberapa faktor yang dapat melemahkan hati. Dengan menghindari faktor-faktor itu dan menjalankan hal-hal yang menyelisihinya, keimanan seorang muslim akan menjadi kuat. Sumber: https://www.islamweb.net/ar/article/246133/أسباب-ضعف-الإيمان Sumber artikel PDF 🔍 Berdoa Saat Haid, Bacaan Niat Puasa Mulud, Surat Yang Pertama Kali Diturunkan, Pendeta Kalah Debat Masuk Islam, Doa Diberikan Jodoh Visited 539 times, 1 visit(s) today Post Views: 65
Keimanan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala merupakan bekal utama seorang hamba, asas keselamatannya, dan perkara paling berharga baginya. Menurut Ahlussunnah, keimanan terwujud dalam ucapan dan perbuatan, dapat bertambah dan berkurang, bertambah dengan ketaatan, dan berkurang dengan kemaksiatan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: لِيَزْدَادُوا إِيمَانًا مَّعَ إِيمَانِهِمْ “Supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan yang telah ada.” (QS. Al-Fath: 4). Oleh sebab itu, hati orang beriman dapat bertambah sebagaimana juga dapat berkurang. Bertambah dan berkurangnya itu tergantung dengan kadar faktor-faktor yang mempengaruhi pertambahan dan pengurangannya. Imam Al-Hakim Rahimahullah meriwayatkan dalam kitabnya Al-Mustadrak dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘anhuma dari Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam bahwa beliau bersabda: إنَّ الإِيْمَانَ لَيَخْلَقُ فِيْ جَوْفِ أَحَدِكُمْ كَمَا يَخْلَقُ الثَّوْبُ، فَاسْأَلُوا اللهَ أَنْ يُجَدِّدَ الإِيْمَانَ فِيْ قُلُوْبِكُمْ “Sesungguhnya iman itu bisa menjadi usang (pudar) di dalam hati salah seorang dari kalian sebagaimana usangnya sebuah pakaian. Maka memohonlah kepada Allah agar Dia memperbarui iman di dalam hati kalian.” (HR. Al-Hakim).  Berkurangnya iman merupakan salah satu penyakit yang paling berbahaya yang dapat mengidap hati yang beriman, karena itu dapat menimbulkan hal-hal yang mempengaruhi keagamaan dan amalan seorang hamba. Dengan melemahnya iman, keyakinan juga akan berkurang, rasa tawakal ikut surut, rasa diawasi Allah Subhanahu wa Ta’ala semakin pudar, dada terasa sempit, dan hati menjadi keras. Ketika hati sudah keras, maka gejolak hati mudah berubah, sulit tersentuh oleh Al-Qur’an atau bahkan tidak sama sekali, lalu insan itu akan mulai menempuh jalan kelalaian, dan sedikit demi sedikit mulai mengabaikan sunnah-sunnah dan amalan-amalan yang dianjurkan, kemudian meremehkan pelaksanaan amalan-amalan wajib, kemudian terjerumus ke dalam kemaksiatan dan kemungkaran, dan begitu seterusnya. Semua hal-hal buruk ini akan terus merasuki hati seiring dengan semakin melemahnya keimanan di dalamnya. Siklus ini tidak akan berhenti kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala memberinya pertolongan dan membangunkannya dari kelalaian tersebut serta menyadarkannya tentang betapa bahaya jalan yang sedang ia tempuh. Hal ini dapat diraih dengan berhenti dari setiap faktor pelemah iman dan mengamalkan faktor-faktor penguatnya. Sebab-sebab melemahnya iman Ada beberapa faktor yang membuat iman menjadi lemah atau bahkan luntur dari hati, di antaranya adalah: 1. Jauh dari lingkungan keimanan Ini merupakan awal jalan menuju ketergelinciran dan permulaan langkah menuju lemahnya iman. Konsekuensi pertama dari menjauhi lingkungan keimanan adalah berhenti menjalankan faktor-faktor penguat dan penambah iman. Ini adalah titik awal kemerosotan dan pelemahan iman, sehingga seseorang akan mulai berhenti mendengarkan nasihat-nasihat dan hal lain yang melembutkan hati. Tidak ada lagi Al-Qur’an yang membasahi gersangnya hati dan tidak pula ada nasihat yang menyiraminya agar tumbuh benih-benih keinsafan, ketundukan, kecintaan, dan keridhaan kepada Sang Kuasa. Energi keimanan dalam hatinya semakin melemah sedikit demi sedikit, hingga tidak mampu menggerakkan pemiliknya menuju ketaatan dan melewati jurang-jurang fitnah dan kemaksiatan yang mematikan. Oleh sebab itu, dulu para salaf saling berpesan, “Marilah kita merenung sejenak!” agar pokok keimanan tetap menyala dalam hati mereka, sehingga semak-semak hawa nafsu dan syahwat lenyap terbakar olehnya. 2. Pertemanan yang buruk Teman dapat menjerumuskan, perilaku dapat menular, dan tabiat dapat ditiru. Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam mengumpamakan teman yang buruk dengan seorang pandai besi yang hanya membawa keburukan bagimu, ia itu “antara ia membakar bajumu, atau memberimu bau yang menyengat.” Berinteraksi dan berteman dengan para pelaku kefasikan dan kemaksiatan tidak membawa manfaat dan kemaslahatan apa pun. Justru mereka menjadi musibah di dunia dan bencana di akhirat, sehingga orang yang menemani mereka akan mendapat penyesalan berat. وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلَىٰ يَدَيْهِ يَقُولُ يَا لَيْتَنِي اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُولِ سَبِيلًا يَا وَيْلَتَىٰ لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلًا لَّقَدْ أَضَلَّنِي عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَاءَنِي ۗ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِلْإِنسَانِ خَذُولًا  “Dan (ingatlah) pada hari (ketika) orang yang zalim menggigit kedua tangannya, seraya berkata: ‘Aduhai kiranya (dahulu) aku mengambil jalan bersama Rasul. Kecelakaan besarlah bagiku, kiranya aku (dahulu) tidak menjadikan si fulan itu teman akrab(ku). Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al-Qur’an ketika Al-Qur’an itu telah datang kepadaku. Dan adalah setan itu tidak mau menolong manusia.’” (QS. Al-Furqan: 27-29). 3. Terlalu sibuk dengan dunia Hati yang terlalu fokus dengan fatamorgana dunia, selalu terpaut dengan syahwat-syahwat dan kenikmatannya, dan begitu sibuk dalam meraup dan mengumpulkannya, hingga dunia membuatnya lupa terhadap akhirat. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mencela sikap seperti ini dalam Kitab-Nya: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَن ذِكْرِ اللَّهِ ۚ وَمَن يَفْعَلْ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah harta bendamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Dan barangsiapa berbuat demikian, maka mereka itulah orang-orang yang rugi.” (QS. Al-Munafiqun: 9). Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam juga mencela pelakunya dalam sabda beliau: مَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ، فَرَّقَ اللهُ عَلَيْهِ أَمْرَهُ، وَجَعَلَ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ، وَلَمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلَّا مَا كُتِبَ لَهُ. “Barangsiapa yang menjadikan dunia sebagai tujuan utamanya, maka Allah akan mencerai-beraikan urusannya, menjadikan kemiskinan selalu membayang di depan matanya, dan dunia tidak akan datang kepadanya kecuali apa yang telah ditetapkan baginya.” (HR. At-Tirmidzi). Bahkan terkadang ada orang yang semakin terpaut dengan dunia dan kenikmatannya yang fana, hingga ia tidak melihat kepada selainnya dan menjadi budaknya, seperti yang disebutkan dalam hadis: تَعِسَ عَبْدُ الدِّينَارِ، وَعَبْدُ الدِّرْهَمِ، وَعَبْدُ الخَمِيصَةِ، إِنْ أُعْطِيَ رَضِيَ، وَإِنْ لَمْ يُعْطَ سَخِطَ، تَعِسَ وَانْتَكَسَ، وَإِذَا شِيكَ فَلَا انْتَقَشَ. “Celakalah hamba dinar, hamba dirham, dan hamba pakaian mewah, jika diberi ia ridha, dan jika tidak diberi ia marah. Celakalah dan tersungkurlah ia! Apabila tertusuk duri maka semoga ia tidak mampu mengeluarkannya.” (HR. Al-Bukhari). 4. Lalai dan panjang angan Yang dimaksud dengan panjang angan yakni terus menerus tamak dan fokus terhadap dunia, dibarengi dengan banyaknya berpaling dari akhirat. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ حَتَّىٰ زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ “Bermegah-megahan telah melalaikan kamu sampai kamu masuk ke dalam kubur.” (QS. At-Takatsur: 1-2). Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman: اقْتَرَبَ لِلنَّاسِ حِسَابُهُمْ وَهُمْ فِي غَفْلَةٍ مُّعْرِضُونَ مَا يَأْتِيهِم مِّن ذِكْرٍ مِّن رَّبِّهِم مُّحْدَثٍ إِلَّا اسْتَمَعُوهُ وَهُمْ يَلْعَبُونَ لَاهِيَةً قُلُوبُهُمْ “Telah dekat kepada manusia hari menghisab amal mereka, sedang mereka berada dalam kelalaian lagi berpaling (daripadanya). Tidak datang kepada mereka suatu ayat pun yang baru diturunkan dari Tuhan mereka, melainkan mereka mendengarnya, sedang mereka bermain-main, (lagi) hati mereka dalam keadaan lalai.” (QS. Al-Anbiya: 1-2). Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman: ذَرْهُمْ يَأْكُلُوا وَيَتَمَتَّعُوا وَيُلْهِهِمُ الْأَمَلُ ۖ فَسَوْفَ يَعْلَمُونَ “Biarkanlah mereka (di dunia ini) makan dan bersenang-senang dan dilalaikan oleh angan-angan (kosong), maka kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatan mereka).” (QS. Al-Hijr: 3). Panjang angan dapat mendorong kepada kemaksiatan dan menjauhkan dari ketaatan. Ia merupakan salah satu sebab seseorang berani melanggar hal-hal yang haram, menzalimi orang lain, dan merampas hak mereka. Oleh sebab itu, janganlah kamu terbuai oleh umur panjang, kebugaran masa muda, atau kekuatan badan.  Dulu Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam senantiasa memperingatkan hal ini dalam hadits-haditsnya, seperti sabda beliau kepada Ibnu Umar: كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ. “Jadilah engkau di dunia ini seakan-akan orang asing atau musafir (yang sekedar lewat saja).” (HR. Al-Bukhari). Diriwayatkan bahwa Ali Radhiyallahu ‘anhu pernah berkata: “Sungguh hal yang paling saya takutkan pada kalian adalah menuruti hawa nafsu dan panjang angan. Adapun menuruti hawa nafsu, itu dapat menghalangi kalian dari kebenaran, sedangkan panjang angan, itu dapat melalaikan kalian terhadap akhirat.” Umar bin Abdul Aziz pernah berujar dalam khutbahnya: “Janganlah masa kelalaian kalian berlanjut lama, sehingga hati kalian menjadi keras dan akhirnya kalian tunduk kepada musuh kalian.” 5. Hilangnya figur teladan yang baik Figur yang menjadi teladan yang baik telah lama hilang dari hati dan pandangan manusia, atau memang sengaja dihilangkan. Lalu dijunjung bagi mereka sosok-sosok panutan yang tidak punya bobot dalam timbangan keberanian, adab, kehormatan, akhlak, dan kepahlawanan hakiki meski hanya seberat sehelai rambut atau seekor semut. Orang-orang remeh, bodoh, pelaku kemaksiatan dan kefasikan disuguhkan ke hadapan generasi muda dan masyarakat umum di televisi-televisi, para manusia yang sangat jauh dari agama, ilmu, akhlak, dan ilmu pengetahuan, sehingga orang-orang meniru mereka, sehingga ikut terjerembab ke titik terendah dalam segala aspek kehidupan. 6. Terjerumus dalam kemaksiatan Ini merupakan tanda keimanan telah melemah, dan salah satu hasil dari lemahnya iman serta pada waktu yang sama menjadi penyebabnya. Apabila agama seorang hamba sudah rapuh dan keimanannya telah lemah, mudah baginya untuk terjerumus ke dalam kemaksiatan dan dosa-dosa. Apabila ia telah terjerumus ke dalamnya, itu kemudian menjadi sebab keimanannya semakin lemah dan hatinya berpenyakit.  Ibnu Abbas mengatakan: “Sungguh perbuatan dosa itu dapat memberi aura hitam di raut wajah, kegelapan dalam hati, kelemahan badan, berkurangnya rezeki, dan kebencian dalam hati orang lain terhadapnya.”  Setiap dosa akan menimbulkan titik hitam dalam hati. Apabila seseorang tidak bertobat dari dosa itu, hatinya akan semakin hitam, hingga menutupi semuanya, lalu mencekiknya atau mematikannya. “Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu telah menutupi hati mereka.” (QS. Al-Mutaffifin: 14). Demikianlah beberapa faktor yang dapat melemahkan hati. Dengan menghindari faktor-faktor itu dan menjalankan hal-hal yang menyelisihinya, keimanan seorang muslim akan menjadi kuat. Sumber: https://www.islamweb.net/ar/article/246133/أسباب-ضعف-الإيمان Sumber artikel PDF 🔍 Berdoa Saat Haid, Bacaan Niat Puasa Mulud, Surat Yang Pertama Kali Diturunkan, Pendeta Kalah Debat Masuk Islam, Doa Diberikan Jodoh Visited 539 times, 1 visit(s) today Post Views: 65


Keimanan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala merupakan bekal utama seorang hamba, asas keselamatannya, dan perkara paling berharga baginya. Menurut Ahlussunnah, keimanan terwujud dalam ucapan dan perbuatan, dapat bertambah dan berkurang, bertambah dengan ketaatan, dan berkurang dengan kemaksiatan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: لِيَزْدَادُوا إِيمَانًا مَّعَ إِيمَانِهِمْ “Supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan yang telah ada.” (QS. Al-Fath: 4). Oleh sebab itu, hati orang beriman dapat bertambah sebagaimana juga dapat berkurang. Bertambah dan berkurangnya itu tergantung dengan kadar faktor-faktor yang mempengaruhi pertambahan dan pengurangannya. Imam Al-Hakim Rahimahullah meriwayatkan dalam kitabnya Al-Mustadrak dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘anhuma dari Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam bahwa beliau bersabda: إنَّ الإِيْمَانَ لَيَخْلَقُ فِيْ جَوْفِ أَحَدِكُمْ كَمَا يَخْلَقُ الثَّوْبُ، فَاسْأَلُوا اللهَ أَنْ يُجَدِّدَ الإِيْمَانَ فِيْ قُلُوْبِكُمْ “Sesungguhnya iman itu bisa menjadi usang (pudar) di dalam hati salah seorang dari kalian sebagaimana usangnya sebuah pakaian. Maka memohonlah kepada Allah agar Dia memperbarui iman di dalam hati kalian.” (HR. Al-Hakim).  Berkurangnya iman merupakan salah satu penyakit yang paling berbahaya yang dapat mengidap hati yang beriman, karena itu dapat menimbulkan hal-hal yang mempengaruhi keagamaan dan amalan seorang hamba. Dengan melemahnya iman, keyakinan juga akan berkurang, rasa tawakal ikut surut, rasa diawasi Allah Subhanahu wa Ta’ala semakin pudar, dada terasa sempit, dan hati menjadi keras. Ketika hati sudah keras, maka gejolak hati mudah berubah, sulit tersentuh oleh Al-Qur’an atau bahkan tidak sama sekali, lalu insan itu akan mulai menempuh jalan kelalaian, dan sedikit demi sedikit mulai mengabaikan sunnah-sunnah dan amalan-amalan yang dianjurkan, kemudian meremehkan pelaksanaan amalan-amalan wajib, kemudian terjerumus ke dalam kemaksiatan dan kemungkaran, dan begitu seterusnya. Semua hal-hal buruk ini akan terus merasuki hati seiring dengan semakin melemahnya keimanan di dalamnya. Siklus ini tidak akan berhenti kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala memberinya pertolongan dan membangunkannya dari kelalaian tersebut serta menyadarkannya tentang betapa bahaya jalan yang sedang ia tempuh. Hal ini dapat diraih dengan berhenti dari setiap faktor pelemah iman dan mengamalkan faktor-faktor penguatnya. Sebab-sebab melemahnya iman Ada beberapa faktor yang membuat iman menjadi lemah atau bahkan luntur dari hati, di antaranya adalah: 1. Jauh dari lingkungan keimanan Ini merupakan awal jalan menuju ketergelinciran dan permulaan langkah menuju lemahnya iman. Konsekuensi pertama dari menjauhi lingkungan keimanan adalah berhenti menjalankan faktor-faktor penguat dan penambah iman. Ini adalah titik awal kemerosotan dan pelemahan iman, sehingga seseorang akan mulai berhenti mendengarkan nasihat-nasihat dan hal lain yang melembutkan hati. Tidak ada lagi Al-Qur’an yang membasahi gersangnya hati dan tidak pula ada nasihat yang menyiraminya agar tumbuh benih-benih keinsafan, ketundukan, kecintaan, dan keridhaan kepada Sang Kuasa. Energi keimanan dalam hatinya semakin melemah sedikit demi sedikit, hingga tidak mampu menggerakkan pemiliknya menuju ketaatan dan melewati jurang-jurang fitnah dan kemaksiatan yang mematikan. Oleh sebab itu, dulu para salaf saling berpesan, “Marilah kita merenung sejenak!” agar pokok keimanan tetap menyala dalam hati mereka, sehingga semak-semak hawa nafsu dan syahwat lenyap terbakar olehnya. 2. Pertemanan yang buruk Teman dapat menjerumuskan, perilaku dapat menular, dan tabiat dapat ditiru. Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam mengumpamakan teman yang buruk dengan seorang pandai besi yang hanya membawa keburukan bagimu, ia itu “antara ia membakar bajumu, atau memberimu bau yang menyengat.” Berinteraksi dan berteman dengan para pelaku kefasikan dan kemaksiatan tidak membawa manfaat dan kemaslahatan apa pun. Justru mereka menjadi musibah di dunia dan bencana di akhirat, sehingga orang yang menemani mereka akan mendapat penyesalan berat. وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلَىٰ يَدَيْهِ يَقُولُ يَا لَيْتَنِي اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُولِ سَبِيلًا يَا وَيْلَتَىٰ لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلًا لَّقَدْ أَضَلَّنِي عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَاءَنِي ۗ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِلْإِنسَانِ خَذُولًا  “Dan (ingatlah) pada hari (ketika) orang yang zalim menggigit kedua tangannya, seraya berkata: ‘Aduhai kiranya (dahulu) aku mengambil jalan bersama Rasul. Kecelakaan besarlah bagiku, kiranya aku (dahulu) tidak menjadikan si fulan itu teman akrab(ku). Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al-Qur’an ketika Al-Qur’an itu telah datang kepadaku. Dan adalah setan itu tidak mau menolong manusia.’” (QS. Al-Furqan: 27-29). 3. Terlalu sibuk dengan dunia Hati yang terlalu fokus dengan fatamorgana dunia, selalu terpaut dengan syahwat-syahwat dan kenikmatannya, dan begitu sibuk dalam meraup dan mengumpulkannya, hingga dunia membuatnya lupa terhadap akhirat. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mencela sikap seperti ini dalam Kitab-Nya: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَن ذِكْرِ اللَّهِ ۚ وَمَن يَفْعَلْ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah harta bendamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Dan barangsiapa berbuat demikian, maka mereka itulah orang-orang yang rugi.” (QS. Al-Munafiqun: 9). Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam juga mencela pelakunya dalam sabda beliau: مَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ، فَرَّقَ اللهُ عَلَيْهِ أَمْرَهُ، وَجَعَلَ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ، وَلَمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلَّا مَا كُتِبَ لَهُ. “Barangsiapa yang menjadikan dunia sebagai tujuan utamanya, maka Allah akan mencerai-beraikan urusannya, menjadikan kemiskinan selalu membayang di depan matanya, dan dunia tidak akan datang kepadanya kecuali apa yang telah ditetapkan baginya.” (HR. At-Tirmidzi). Bahkan terkadang ada orang yang semakin terpaut dengan dunia dan kenikmatannya yang fana, hingga ia tidak melihat kepada selainnya dan menjadi budaknya, seperti yang disebutkan dalam hadis: تَعِسَ عَبْدُ الدِّينَارِ، وَعَبْدُ الدِّرْهَمِ، وَعَبْدُ الخَمِيصَةِ، إِنْ أُعْطِيَ رَضِيَ، وَإِنْ لَمْ يُعْطَ سَخِطَ، تَعِسَ وَانْتَكَسَ، وَإِذَا شِيكَ فَلَا انْتَقَشَ. “Celakalah hamba dinar, hamba dirham, dan hamba pakaian mewah, jika diberi ia ridha, dan jika tidak diberi ia marah. Celakalah dan tersungkurlah ia! Apabila tertusuk duri maka semoga ia tidak mampu mengeluarkannya.” (HR. Al-Bukhari). 4. Lalai dan panjang angan Yang dimaksud dengan panjang angan yakni terus menerus tamak dan fokus terhadap dunia, dibarengi dengan banyaknya berpaling dari akhirat. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ حَتَّىٰ زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ “Bermegah-megahan telah melalaikan kamu sampai kamu masuk ke dalam kubur.” (QS. At-Takatsur: 1-2). Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman: اقْتَرَبَ لِلنَّاسِ حِسَابُهُمْ وَهُمْ فِي غَفْلَةٍ مُّعْرِضُونَ مَا يَأْتِيهِم مِّن ذِكْرٍ مِّن رَّبِّهِم مُّحْدَثٍ إِلَّا اسْتَمَعُوهُ وَهُمْ يَلْعَبُونَ لَاهِيَةً قُلُوبُهُمْ “Telah dekat kepada manusia hari menghisab amal mereka, sedang mereka berada dalam kelalaian lagi berpaling (daripadanya). Tidak datang kepada mereka suatu ayat pun yang baru diturunkan dari Tuhan mereka, melainkan mereka mendengarnya, sedang mereka bermain-main, (lagi) hati mereka dalam keadaan lalai.” (QS. Al-Anbiya: 1-2). Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman: ذَرْهُمْ يَأْكُلُوا وَيَتَمَتَّعُوا وَيُلْهِهِمُ الْأَمَلُ ۖ فَسَوْفَ يَعْلَمُونَ “Biarkanlah mereka (di dunia ini) makan dan bersenang-senang dan dilalaikan oleh angan-angan (kosong), maka kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatan mereka).” (QS. Al-Hijr: 3). Panjang angan dapat mendorong kepada kemaksiatan dan menjauhkan dari ketaatan. Ia merupakan salah satu sebab seseorang berani melanggar hal-hal yang haram, menzalimi orang lain, dan merampas hak mereka. Oleh sebab itu, janganlah kamu terbuai oleh umur panjang, kebugaran masa muda, atau kekuatan badan.  Dulu Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam senantiasa memperingatkan hal ini dalam hadits-haditsnya, seperti sabda beliau kepada Ibnu Umar: كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ. “Jadilah engkau di dunia ini seakan-akan orang asing atau musafir (yang sekedar lewat saja).” (HR. Al-Bukhari). Diriwayatkan bahwa Ali Radhiyallahu ‘anhu pernah berkata: “Sungguh hal yang paling saya takutkan pada kalian adalah menuruti hawa nafsu dan panjang angan. Adapun menuruti hawa nafsu, itu dapat menghalangi kalian dari kebenaran, sedangkan panjang angan, itu dapat melalaikan kalian terhadap akhirat.” Umar bin Abdul Aziz pernah berujar dalam khutbahnya: “Janganlah masa kelalaian kalian berlanjut lama, sehingga hati kalian menjadi keras dan akhirnya kalian tunduk kepada musuh kalian.” 5. Hilangnya figur teladan yang baik Figur yang menjadi teladan yang baik telah lama hilang dari hati dan pandangan manusia, atau memang sengaja dihilangkan. Lalu dijunjung bagi mereka sosok-sosok panutan yang tidak punya bobot dalam timbangan keberanian, adab, kehormatan, akhlak, dan kepahlawanan hakiki meski hanya seberat sehelai rambut atau seekor semut. Orang-orang remeh, bodoh, pelaku kemaksiatan dan kefasikan disuguhkan ke hadapan generasi muda dan masyarakat umum di televisi-televisi, para manusia yang sangat jauh dari agama, ilmu, akhlak, dan ilmu pengetahuan, sehingga orang-orang meniru mereka, sehingga ikut terjerembab ke titik terendah dalam segala aspek kehidupan. 6. Terjerumus dalam kemaksiatan Ini merupakan tanda keimanan telah melemah, dan salah satu hasil dari lemahnya iman serta pada waktu yang sama menjadi penyebabnya. Apabila agama seorang hamba sudah rapuh dan keimanannya telah lemah, mudah baginya untuk terjerumus ke dalam kemaksiatan dan dosa-dosa. Apabila ia telah terjerumus ke dalamnya, itu kemudian menjadi sebab keimanannya semakin lemah dan hatinya berpenyakit.  Ibnu Abbas mengatakan: “Sungguh perbuatan dosa itu dapat memberi aura hitam di raut wajah, kegelapan dalam hati, kelemahan badan, berkurangnya rezeki, dan kebencian dalam hati orang lain terhadapnya.”  Setiap dosa akan menimbulkan titik hitam dalam hati. Apabila seseorang tidak bertobat dari dosa itu, hatinya akan semakin hitam, hingga menutupi semuanya, lalu mencekiknya atau mematikannya. “Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu telah menutupi hati mereka.” (QS. Al-Mutaffifin: 14). Demikianlah beberapa faktor yang dapat melemahkan hati. Dengan menghindari faktor-faktor itu dan menjalankan hal-hal yang menyelisihinya, keimanan seorang muslim akan menjadi kuat. Sumber: https://www.islamweb.net/ar/article/246133/أسباب-ضعف-الإيمان Sumber artikel PDF 🔍 Berdoa Saat Haid, Bacaan Niat Puasa Mulud, Surat Yang Pertama Kali Diturunkan, Pendeta Kalah Debat Masuk Islam, Doa Diberikan Jodoh Visited 539 times, 1 visit(s) today Post Views: 65

5 Cara Mengangkat Tangan Ketika Berdoa – Syaikh Abdussalam Asy-Syuwai’ir #NasehatUlama

Engkau berdiri sambil menengadahkan kedua tangan ke langit, berdoa kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Para ulama menyebutkan bahwa tata cara berdoa dengan menengadahkan tangan itu ada lima bentuk. Bentuk pertama dari kelima cara ini: menjadikan bagian dalam kedua telapak tangan mengarah ke wajahmu dan ke langit.Posisi kedua tanganmu seperti ini. Bagian dalam kedua telapak tangan menghadap wajahmu, karena pandanganmu tertuju ke bagian dalam kedua telapak tangan saat berdoa, sementara kedua telapak tangan itu menghadap ke langit.Para ulama berkata, hikmahnya adalah sebagai bentuk pengharapan baik bahwa jawaban doa dan rahmat Allah akan turun di antara kedua telapak tanganmu. Bentuk kedua: menjadikan bagian dalam kedua telapak tangan menghadap wajahmu, sedangkan ujung jari-jemari menghadap ke langit, engkau posisikan keduanya di depan wajahmu seperti ini. Lalu engkau berdoa kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Cara ini dibolehkan. Bentuk ketiga: menjadikan bagian dalam kedua telapak tanganmu menghadap ke langit, sedangkan punggung telapak tangan mengarah ke wajahmu. Bagian dalam kedua telapak tangan menghadap langit, punggungnya ke arah wajahmu, dan posisinya seperti ini. Jadi, kedua tangan berada di atas kepalamu. Bagian dalamnya mengarah ke wajahmu, karena engkau berdoa sambil melihat kedua telapak tanganmu. Ibnu Rajab menyebutkan bahwa sebagian ulama fikih memahami bahwa seseorang berdoa dengan cara seperti ini, yakni menjadikan punggung telapak tangan menghadap wajah, sekaligus menghadap langit. Namun Ibnu Rajab mengingkari pemahaman ini dan berkata, “Cara ini tidak dapat dijadikan pegangan.” Ini hanyalah pendapat sebagian ulama belakangan, dan pendapat ini tidak benar. Adapun berdoa dengan punggung telapak tangan, caranya akan saya jelaskan sebentar lagi. Bentuk keempat: menjadikan punggung kedua telapak tangan menghadap ke langit, sedangkan bagian dalam telapak tangan menghadap ke wajahnya, yakni dengan cara seperti ini. Alih-alih menjadikan bagian dalam ke arah langit dan punggung searah wajahnya, punggungnya dihadapkan ke langit dan bagian dalamnya menghadap wajah, seperti ini. Cara ini diriwayatkan dari sejumlah ulama salaf, ada pula riwayat tentangnya, tapi tidak sahih. Bahwa doa meminta sesuatu yang diharapkan dilakukan dengan menengadahkan bagian dalam telapak tangan. Jadi, bentuk pertama, kedua, dan ketiga digunakan untuk berdoa memohon sesuatu yang diharapkan. Apabila engkau memohon surga kepada Allah ‘Azza wa Jalla, rezeki, amalan yang baik, keturunan yang saleh, dan semisalnya. Apa pun yang engkau harapkan dari Allah, maka doanya dilakukan dengan bagian dalam telapak tangan menghadap ke atas. Sedangkan doa memohon perlindungan — ketika engkau takut musuh atau khawatir terhadap sesuatu — maka engkau berdoa dengan menengadahkan punggung telapak tangan, seperti ini. Inilah cara berdoa saat memohon perlindungan. Para ulama mengatakan hikmahnya — dan ilmu yang pasti hanya milik Allah ‘Azza wa Jalla — adalah sebagai ungkapan harapan agar Allah mengangkat apa yang engkau takuti dan menjauhkan keburukan itu darimu. Maka diharapkan demikianlah yang terwujud. Hal ini diriwayatkan dari sejumlah ulama salaf, di antaranya Ja’far Ash-Shadiq dan yang lainnya, semoga Allah merahmati mereka semua. Pendapat Ja’far ini dinukil oleh As-Sarkhasi dalam Al-Mabsuth, dan para ulama lain pun menyandarkannya kepada beliau. Jadi, itulah empat bentuk cara menengadahkan tangan dalam berdoa. Ada bentuk kelima: cara ini dipakai terutama saat berdesakan, seperti ketika engkau hendak naik kereta api atau mobil, tanpa perlu menengadahkan tangan, cukup dengan mengisyaratkan jari (telunjuk). Diriwayatkan oleh Abu Dawud dari hadis Ibnu Abbas bahwa beliau berisyarat dengan jari (telunjuk) saat berdoa. Saat berdoa kepada Allah ‘Azza wa Jalla, angkatlah jari (telunjuk)mu: “Ya Allah, ampunilah aku.” “Ya Allah, rahmatilah aku.” “Ya Allah, maafkanlah kesalahanku.” Mengisyaratkan jari saat berdoa di luar salat merupakan sebab terkabulnya doa. Namun dilarang berisyarat dengan dua jari. Cukup satu jari saja. Esakan Allah, esakan Allah! Engkau berisyarat dengan satu jari sebagai simbol keesaan Allah Subhanahu wa Ta’ala. ===== وَتَكُونُ وَاقِفًا مَادًّا يَدَيْكَ إِلَى السَّمَاءِ تَدْعُو اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ وَقَدْ ذَكَرَ الْعُلَمَاءُ صِفَةَ الدُّعَاءِ بِمَدِّ الْيَدَيْنِ أَنَّ لَهَا خَمْسَ صِيَغٍ أَوَّلُ هَذِهِ الصِّيَغِ الْخَمْسِ أَنْ تَجْعَلَ بَاطِنَ كَفَّيْكَ لِوَجْهِكَ وَلِلسَّمَاءِ فَتَكُونُ هَكَذَا جَاعِلًا لَهُمَا فَيَدَاكَ بَطْنُهُمَا لِوَجْهِكَ لِأَنَّكَ تَجْعَلُ بَصَرَكَ إِلَى بَاطِنِ كَفَّيْكَ فِي الدُّعَاءِ وَهُمَا إِلَى السَّمَاءِ قَالَ أَهْلُ الْعِلْمِ مِنْ بَابِ الْحِكْمَةِ وَهَذَا تَفَاؤُلًا بِنُزُولِ الْإِجَابَةِ وَالرَّحْمَةِ بَيْنَ كَفَّيْكَ وَالصُّورَةُ الثَّانِيَةُ أَنْ تَجْعَلَ بَاطِنَ الْكَفَّيْنِ إِلَى وَجْهِكَ وَأَطْرَافَهُمَا إِلَى السَّمَاءِ فَتَجْعَلُهُمَا قِبَلَ وَجْهِكَ بِهَذِهِ الصِّفَةِ فَتَدْعُو اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ وَهَذَا جَائِزٌ وَالصُّورَةُ الثَّالِثَةُ أَنْ تَجْعَلَ بَاطِنَ كَفَّيْكَ إِلَى السَّمَاءِ وَظُهُورُهُمَا إِلَى وَجْهِكَ فَتَجْعَلُ بَاطِنَهُمَا إِلَى السَّمَاءِ وَظُهُورَهُمَا إِلَى وَجْهِكَ وَهَذَا صِفَتُهُ عَلَى هَذِهِ الصُّورَةِ فَتَكُونُ الْيَدَانِ فَوْقَ رَأْسِكَ وَالْبَاطِنُ جِهَةَ الْوَجْهِ لِأَنَّكَ تَدْعُو وَتَنْظُرُ إِلَى كَفَّيْكَ وَقَدْ ذَكَرَ ابْنُ رَجَبٍ أَنَّ بَعْضًا مِنَ الْفُقَهَاءِ فَهِمَ أَنَّهُ يَدْعُو بِهَذِهِ الصِّفَةِ فَيَجْعَلُ ظَاهِرَ الْكَفَّيْنِ قِبَلَ وَجْهِهِ وَقِبَلَ السَّمَاءِ وَأَنْكَرَهَا ابْنُ رَجَبٍ وَقَالَ هَذَا غَيْرُ مُعْتَبَرٍ وَإِنَّمَا هَذَا مِنْ كَلَامِ بَعْضِ الْمُتَأَخِّرِينَ وَهُوَ غَيْرُ صَحِيحٍ وَإِنَّمَا الدُّعَاءُ بِظُهُورِ الْأَكُفِّ الصِّفَةُ الَّتِي سَأَذْكُرُهَا لَكَ بَعْدَ قَلِيلٍ الصُّورَةُ الرَّابِعَةُ هُوَ أَنْ يَجْعَلَ ظُهُورَ كَفَّيْهِ إِلَى السَّمَاءِ وَبَاطِنُهُمَا إِلَى وَجْهِهِ وَهِيَ بِهَذِهِ الصُّورَةِ فَبَدَلًا مِنْ أَنْ يَجْعَلَ بَاطِنَهُمَا إِلَى السَّمَاءِ وَظُهُورَهُمَا إِلَى وَجْهِهِ يَجْعَلُ ظَاهِرَهُمَا إِلَى السَّمَاءِ وَبَاطِنَهُمَا إِلَى وَجْهِهِ هَكَذَا وَقَدْ جَاءَ عَنْ جَمَاعَةٍ مِنَ السَّلَفِ وَرُوِيَ فِيهِ خَبَرٌ لَكِنْ لَا يَثْبُتُ أَنَّ الدُّعَاءَ لِلرَّغْبَةِ بِبُطُونِ الْأَكُفِّ فَالصُّورَةُ الْأُولَى وَالثَّانِيَةُ وَالثَّالِثَةُ لِلرَّغْبَةِ إِذَا رَجَوْتَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ الْجَنَّةَ وَرَجَوْتَهُ الرِّزْقَ وَصَلَاحَ الْعَمَلِ وَصَلَاحَ الذُّرِّيَّةِ وَنَحْوَ ذَلِكَ أَيُّ شَيْءٍ تَرْغَبُهُ مِنَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فَيَكُونُ بِظُهُورِ الْأَكُفِّ وَأَمَّا دُعَاءُ الرَّهْبَةِ إِذَا خِفْتَ عَدُوًّا وَخَشِيتَ شَيْئًا فَتَدْعُو بِظُهُورِ الْأَكُفِّ فَتَدْعُو هَكَذَا هَذَا عِنْدَ الرَّهْبَةِ يَقُولُونَ تَفَاؤُلٌ هَكَذَا قَالُوا حِكْمَةٌ الْعِلْمُ عِنْدَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ حِكْمَةً أَنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَرْفَعُ عَنْكَ مَا خِفْتَهُ وَيَدْفَعُ عَنْكَ هَذَا الشَّرَّ فَيَكُونُ كَذَلِكَ وَقَدْ رُوِيَ ذَلِكَ عَنْ جَمَاعَةٍ مِنَ السَّلَفِ مِنْهُمْ جَعْفَرٌ الصَّادِقُ وَغَيْرُهُ مِنَ السَّلَفِ رَحِمَهُمُ اللَّهُ تَعَالَى وَنَقَلَ قَوْلَ جَعْفَرٍ السَّرْخَسِيُّ فِي الْمَبْسُوطِ وَغَيْرُهُ أَسْنَدَ ذَلِكَ هَذِهِ إِذًا دُعَاءٌ لَهُ صِيَغٌ أَرْبَعٌ هُنَاكَ صِيغَةٌ خَامِسَةٌ تُسْتَعْمَلُ خَاصَّةً فِي وَقْتِ الزِّحَامِ عِنْدَمَا تَكُونُ تُرِيدُ أَنْ تَرْكَبَ الْقِطَارَ أَوْ تُرِيدُ أَنْ تَرْكَبَ السَّيَّارَةَ مِنْ غَيْرِ أَنْ تَمُدَّ يَدَيْكَ وَهُوَ أَنْ تُشِيرَ بِأُصْبُعِكَ وَقَدْ جَاءَ عِنْدَ أَبِي دَاوُدَ مِنْ حَدِيثِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّهُ يُشَارُ بِالْأُصْبُعِ بِالدُّعَاءِ فَيَدْعُو بِهِ فَإِذَا دَعَوْتَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ فَأَشِرْ بِأُصْبُعِكَ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي اللَّهُمَّ ارْحَمْنِي اللَّهُمَّ تَجَاوَزْ عَنِّي فَإِنَّ إِشَارَتَكَ فِي دُعَائِكَ خَارِجَ الصَّلَاةِ هَذَا سَبَبٌ لِإِجَابَتِهِ أَنْ تُشِيرَ بِالْأُصْبُعِ وَنُهِيَ أَنْ نُشِيرَ بِأُصْبُعَيْنِ وَإِنَّمَا تُشِيرُ بِأُصْبُعٍ وَاحِدٍ وَحِّدْ وَحِّدْ وَتُشِيرُ بِأُصْبُعٍ وَاحِدٍ إِشَارَةً لِلْوَحْدَانِيَّةِ لِلَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى

5 Cara Mengangkat Tangan Ketika Berdoa – Syaikh Abdussalam Asy-Syuwai’ir #NasehatUlama

Engkau berdiri sambil menengadahkan kedua tangan ke langit, berdoa kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Para ulama menyebutkan bahwa tata cara berdoa dengan menengadahkan tangan itu ada lima bentuk. Bentuk pertama dari kelima cara ini: menjadikan bagian dalam kedua telapak tangan mengarah ke wajahmu dan ke langit.Posisi kedua tanganmu seperti ini. Bagian dalam kedua telapak tangan menghadap wajahmu, karena pandanganmu tertuju ke bagian dalam kedua telapak tangan saat berdoa, sementara kedua telapak tangan itu menghadap ke langit.Para ulama berkata, hikmahnya adalah sebagai bentuk pengharapan baik bahwa jawaban doa dan rahmat Allah akan turun di antara kedua telapak tanganmu. Bentuk kedua: menjadikan bagian dalam kedua telapak tangan menghadap wajahmu, sedangkan ujung jari-jemari menghadap ke langit, engkau posisikan keduanya di depan wajahmu seperti ini. Lalu engkau berdoa kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Cara ini dibolehkan. Bentuk ketiga: menjadikan bagian dalam kedua telapak tanganmu menghadap ke langit, sedangkan punggung telapak tangan mengarah ke wajahmu. Bagian dalam kedua telapak tangan menghadap langit, punggungnya ke arah wajahmu, dan posisinya seperti ini. Jadi, kedua tangan berada di atas kepalamu. Bagian dalamnya mengarah ke wajahmu, karena engkau berdoa sambil melihat kedua telapak tanganmu. Ibnu Rajab menyebutkan bahwa sebagian ulama fikih memahami bahwa seseorang berdoa dengan cara seperti ini, yakni menjadikan punggung telapak tangan menghadap wajah, sekaligus menghadap langit. Namun Ibnu Rajab mengingkari pemahaman ini dan berkata, “Cara ini tidak dapat dijadikan pegangan.” Ini hanyalah pendapat sebagian ulama belakangan, dan pendapat ini tidak benar. Adapun berdoa dengan punggung telapak tangan, caranya akan saya jelaskan sebentar lagi. Bentuk keempat: menjadikan punggung kedua telapak tangan menghadap ke langit, sedangkan bagian dalam telapak tangan menghadap ke wajahnya, yakni dengan cara seperti ini. Alih-alih menjadikan bagian dalam ke arah langit dan punggung searah wajahnya, punggungnya dihadapkan ke langit dan bagian dalamnya menghadap wajah, seperti ini. Cara ini diriwayatkan dari sejumlah ulama salaf, ada pula riwayat tentangnya, tapi tidak sahih. Bahwa doa meminta sesuatu yang diharapkan dilakukan dengan menengadahkan bagian dalam telapak tangan. Jadi, bentuk pertama, kedua, dan ketiga digunakan untuk berdoa memohon sesuatu yang diharapkan. Apabila engkau memohon surga kepada Allah ‘Azza wa Jalla, rezeki, amalan yang baik, keturunan yang saleh, dan semisalnya. Apa pun yang engkau harapkan dari Allah, maka doanya dilakukan dengan bagian dalam telapak tangan menghadap ke atas. Sedangkan doa memohon perlindungan — ketika engkau takut musuh atau khawatir terhadap sesuatu — maka engkau berdoa dengan menengadahkan punggung telapak tangan, seperti ini. Inilah cara berdoa saat memohon perlindungan. Para ulama mengatakan hikmahnya — dan ilmu yang pasti hanya milik Allah ‘Azza wa Jalla — adalah sebagai ungkapan harapan agar Allah mengangkat apa yang engkau takuti dan menjauhkan keburukan itu darimu. Maka diharapkan demikianlah yang terwujud. Hal ini diriwayatkan dari sejumlah ulama salaf, di antaranya Ja’far Ash-Shadiq dan yang lainnya, semoga Allah merahmati mereka semua. Pendapat Ja’far ini dinukil oleh As-Sarkhasi dalam Al-Mabsuth, dan para ulama lain pun menyandarkannya kepada beliau. Jadi, itulah empat bentuk cara menengadahkan tangan dalam berdoa. Ada bentuk kelima: cara ini dipakai terutama saat berdesakan, seperti ketika engkau hendak naik kereta api atau mobil, tanpa perlu menengadahkan tangan, cukup dengan mengisyaratkan jari (telunjuk). Diriwayatkan oleh Abu Dawud dari hadis Ibnu Abbas bahwa beliau berisyarat dengan jari (telunjuk) saat berdoa. Saat berdoa kepada Allah ‘Azza wa Jalla, angkatlah jari (telunjuk)mu: “Ya Allah, ampunilah aku.” “Ya Allah, rahmatilah aku.” “Ya Allah, maafkanlah kesalahanku.” Mengisyaratkan jari saat berdoa di luar salat merupakan sebab terkabulnya doa. Namun dilarang berisyarat dengan dua jari. Cukup satu jari saja. Esakan Allah, esakan Allah! Engkau berisyarat dengan satu jari sebagai simbol keesaan Allah Subhanahu wa Ta’ala. ===== وَتَكُونُ وَاقِفًا مَادًّا يَدَيْكَ إِلَى السَّمَاءِ تَدْعُو اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ وَقَدْ ذَكَرَ الْعُلَمَاءُ صِفَةَ الدُّعَاءِ بِمَدِّ الْيَدَيْنِ أَنَّ لَهَا خَمْسَ صِيَغٍ أَوَّلُ هَذِهِ الصِّيَغِ الْخَمْسِ أَنْ تَجْعَلَ بَاطِنَ كَفَّيْكَ لِوَجْهِكَ وَلِلسَّمَاءِ فَتَكُونُ هَكَذَا جَاعِلًا لَهُمَا فَيَدَاكَ بَطْنُهُمَا لِوَجْهِكَ لِأَنَّكَ تَجْعَلُ بَصَرَكَ إِلَى بَاطِنِ كَفَّيْكَ فِي الدُّعَاءِ وَهُمَا إِلَى السَّمَاءِ قَالَ أَهْلُ الْعِلْمِ مِنْ بَابِ الْحِكْمَةِ وَهَذَا تَفَاؤُلًا بِنُزُولِ الْإِجَابَةِ وَالرَّحْمَةِ بَيْنَ كَفَّيْكَ وَالصُّورَةُ الثَّانِيَةُ أَنْ تَجْعَلَ بَاطِنَ الْكَفَّيْنِ إِلَى وَجْهِكَ وَأَطْرَافَهُمَا إِلَى السَّمَاءِ فَتَجْعَلُهُمَا قِبَلَ وَجْهِكَ بِهَذِهِ الصِّفَةِ فَتَدْعُو اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ وَهَذَا جَائِزٌ وَالصُّورَةُ الثَّالِثَةُ أَنْ تَجْعَلَ بَاطِنَ كَفَّيْكَ إِلَى السَّمَاءِ وَظُهُورُهُمَا إِلَى وَجْهِكَ فَتَجْعَلُ بَاطِنَهُمَا إِلَى السَّمَاءِ وَظُهُورَهُمَا إِلَى وَجْهِكَ وَهَذَا صِفَتُهُ عَلَى هَذِهِ الصُّورَةِ فَتَكُونُ الْيَدَانِ فَوْقَ رَأْسِكَ وَالْبَاطِنُ جِهَةَ الْوَجْهِ لِأَنَّكَ تَدْعُو وَتَنْظُرُ إِلَى كَفَّيْكَ وَقَدْ ذَكَرَ ابْنُ رَجَبٍ أَنَّ بَعْضًا مِنَ الْفُقَهَاءِ فَهِمَ أَنَّهُ يَدْعُو بِهَذِهِ الصِّفَةِ فَيَجْعَلُ ظَاهِرَ الْكَفَّيْنِ قِبَلَ وَجْهِهِ وَقِبَلَ السَّمَاءِ وَأَنْكَرَهَا ابْنُ رَجَبٍ وَقَالَ هَذَا غَيْرُ مُعْتَبَرٍ وَإِنَّمَا هَذَا مِنْ كَلَامِ بَعْضِ الْمُتَأَخِّرِينَ وَهُوَ غَيْرُ صَحِيحٍ وَإِنَّمَا الدُّعَاءُ بِظُهُورِ الْأَكُفِّ الصِّفَةُ الَّتِي سَأَذْكُرُهَا لَكَ بَعْدَ قَلِيلٍ الصُّورَةُ الرَّابِعَةُ هُوَ أَنْ يَجْعَلَ ظُهُورَ كَفَّيْهِ إِلَى السَّمَاءِ وَبَاطِنُهُمَا إِلَى وَجْهِهِ وَهِيَ بِهَذِهِ الصُّورَةِ فَبَدَلًا مِنْ أَنْ يَجْعَلَ بَاطِنَهُمَا إِلَى السَّمَاءِ وَظُهُورَهُمَا إِلَى وَجْهِهِ يَجْعَلُ ظَاهِرَهُمَا إِلَى السَّمَاءِ وَبَاطِنَهُمَا إِلَى وَجْهِهِ هَكَذَا وَقَدْ جَاءَ عَنْ جَمَاعَةٍ مِنَ السَّلَفِ وَرُوِيَ فِيهِ خَبَرٌ لَكِنْ لَا يَثْبُتُ أَنَّ الدُّعَاءَ لِلرَّغْبَةِ بِبُطُونِ الْأَكُفِّ فَالصُّورَةُ الْأُولَى وَالثَّانِيَةُ وَالثَّالِثَةُ لِلرَّغْبَةِ إِذَا رَجَوْتَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ الْجَنَّةَ وَرَجَوْتَهُ الرِّزْقَ وَصَلَاحَ الْعَمَلِ وَصَلَاحَ الذُّرِّيَّةِ وَنَحْوَ ذَلِكَ أَيُّ شَيْءٍ تَرْغَبُهُ مِنَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فَيَكُونُ بِظُهُورِ الْأَكُفِّ وَأَمَّا دُعَاءُ الرَّهْبَةِ إِذَا خِفْتَ عَدُوًّا وَخَشِيتَ شَيْئًا فَتَدْعُو بِظُهُورِ الْأَكُفِّ فَتَدْعُو هَكَذَا هَذَا عِنْدَ الرَّهْبَةِ يَقُولُونَ تَفَاؤُلٌ هَكَذَا قَالُوا حِكْمَةٌ الْعِلْمُ عِنْدَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ حِكْمَةً أَنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَرْفَعُ عَنْكَ مَا خِفْتَهُ وَيَدْفَعُ عَنْكَ هَذَا الشَّرَّ فَيَكُونُ كَذَلِكَ وَقَدْ رُوِيَ ذَلِكَ عَنْ جَمَاعَةٍ مِنَ السَّلَفِ مِنْهُمْ جَعْفَرٌ الصَّادِقُ وَغَيْرُهُ مِنَ السَّلَفِ رَحِمَهُمُ اللَّهُ تَعَالَى وَنَقَلَ قَوْلَ جَعْفَرٍ السَّرْخَسِيُّ فِي الْمَبْسُوطِ وَغَيْرُهُ أَسْنَدَ ذَلِكَ هَذِهِ إِذًا دُعَاءٌ لَهُ صِيَغٌ أَرْبَعٌ هُنَاكَ صِيغَةٌ خَامِسَةٌ تُسْتَعْمَلُ خَاصَّةً فِي وَقْتِ الزِّحَامِ عِنْدَمَا تَكُونُ تُرِيدُ أَنْ تَرْكَبَ الْقِطَارَ أَوْ تُرِيدُ أَنْ تَرْكَبَ السَّيَّارَةَ مِنْ غَيْرِ أَنْ تَمُدَّ يَدَيْكَ وَهُوَ أَنْ تُشِيرَ بِأُصْبُعِكَ وَقَدْ جَاءَ عِنْدَ أَبِي دَاوُدَ مِنْ حَدِيثِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّهُ يُشَارُ بِالْأُصْبُعِ بِالدُّعَاءِ فَيَدْعُو بِهِ فَإِذَا دَعَوْتَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ فَأَشِرْ بِأُصْبُعِكَ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي اللَّهُمَّ ارْحَمْنِي اللَّهُمَّ تَجَاوَزْ عَنِّي فَإِنَّ إِشَارَتَكَ فِي دُعَائِكَ خَارِجَ الصَّلَاةِ هَذَا سَبَبٌ لِإِجَابَتِهِ أَنْ تُشِيرَ بِالْأُصْبُعِ وَنُهِيَ أَنْ نُشِيرَ بِأُصْبُعَيْنِ وَإِنَّمَا تُشِيرُ بِأُصْبُعٍ وَاحِدٍ وَحِّدْ وَحِّدْ وَتُشِيرُ بِأُصْبُعٍ وَاحِدٍ إِشَارَةً لِلْوَحْدَانِيَّةِ لِلَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى
Engkau berdiri sambil menengadahkan kedua tangan ke langit, berdoa kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Para ulama menyebutkan bahwa tata cara berdoa dengan menengadahkan tangan itu ada lima bentuk. Bentuk pertama dari kelima cara ini: menjadikan bagian dalam kedua telapak tangan mengarah ke wajahmu dan ke langit.Posisi kedua tanganmu seperti ini. Bagian dalam kedua telapak tangan menghadap wajahmu, karena pandanganmu tertuju ke bagian dalam kedua telapak tangan saat berdoa, sementara kedua telapak tangan itu menghadap ke langit.Para ulama berkata, hikmahnya adalah sebagai bentuk pengharapan baik bahwa jawaban doa dan rahmat Allah akan turun di antara kedua telapak tanganmu. Bentuk kedua: menjadikan bagian dalam kedua telapak tangan menghadap wajahmu, sedangkan ujung jari-jemari menghadap ke langit, engkau posisikan keduanya di depan wajahmu seperti ini. Lalu engkau berdoa kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Cara ini dibolehkan. Bentuk ketiga: menjadikan bagian dalam kedua telapak tanganmu menghadap ke langit, sedangkan punggung telapak tangan mengarah ke wajahmu. Bagian dalam kedua telapak tangan menghadap langit, punggungnya ke arah wajahmu, dan posisinya seperti ini. Jadi, kedua tangan berada di atas kepalamu. Bagian dalamnya mengarah ke wajahmu, karena engkau berdoa sambil melihat kedua telapak tanganmu. Ibnu Rajab menyebutkan bahwa sebagian ulama fikih memahami bahwa seseorang berdoa dengan cara seperti ini, yakni menjadikan punggung telapak tangan menghadap wajah, sekaligus menghadap langit. Namun Ibnu Rajab mengingkari pemahaman ini dan berkata, “Cara ini tidak dapat dijadikan pegangan.” Ini hanyalah pendapat sebagian ulama belakangan, dan pendapat ini tidak benar. Adapun berdoa dengan punggung telapak tangan, caranya akan saya jelaskan sebentar lagi. Bentuk keempat: menjadikan punggung kedua telapak tangan menghadap ke langit, sedangkan bagian dalam telapak tangan menghadap ke wajahnya, yakni dengan cara seperti ini. Alih-alih menjadikan bagian dalam ke arah langit dan punggung searah wajahnya, punggungnya dihadapkan ke langit dan bagian dalamnya menghadap wajah, seperti ini. Cara ini diriwayatkan dari sejumlah ulama salaf, ada pula riwayat tentangnya, tapi tidak sahih. Bahwa doa meminta sesuatu yang diharapkan dilakukan dengan menengadahkan bagian dalam telapak tangan. Jadi, bentuk pertama, kedua, dan ketiga digunakan untuk berdoa memohon sesuatu yang diharapkan. Apabila engkau memohon surga kepada Allah ‘Azza wa Jalla, rezeki, amalan yang baik, keturunan yang saleh, dan semisalnya. Apa pun yang engkau harapkan dari Allah, maka doanya dilakukan dengan bagian dalam telapak tangan menghadap ke atas. Sedangkan doa memohon perlindungan — ketika engkau takut musuh atau khawatir terhadap sesuatu — maka engkau berdoa dengan menengadahkan punggung telapak tangan, seperti ini. Inilah cara berdoa saat memohon perlindungan. Para ulama mengatakan hikmahnya — dan ilmu yang pasti hanya milik Allah ‘Azza wa Jalla — adalah sebagai ungkapan harapan agar Allah mengangkat apa yang engkau takuti dan menjauhkan keburukan itu darimu. Maka diharapkan demikianlah yang terwujud. Hal ini diriwayatkan dari sejumlah ulama salaf, di antaranya Ja’far Ash-Shadiq dan yang lainnya, semoga Allah merahmati mereka semua. Pendapat Ja’far ini dinukil oleh As-Sarkhasi dalam Al-Mabsuth, dan para ulama lain pun menyandarkannya kepada beliau. Jadi, itulah empat bentuk cara menengadahkan tangan dalam berdoa. Ada bentuk kelima: cara ini dipakai terutama saat berdesakan, seperti ketika engkau hendak naik kereta api atau mobil, tanpa perlu menengadahkan tangan, cukup dengan mengisyaratkan jari (telunjuk). Diriwayatkan oleh Abu Dawud dari hadis Ibnu Abbas bahwa beliau berisyarat dengan jari (telunjuk) saat berdoa. Saat berdoa kepada Allah ‘Azza wa Jalla, angkatlah jari (telunjuk)mu: “Ya Allah, ampunilah aku.” “Ya Allah, rahmatilah aku.” “Ya Allah, maafkanlah kesalahanku.” Mengisyaratkan jari saat berdoa di luar salat merupakan sebab terkabulnya doa. Namun dilarang berisyarat dengan dua jari. Cukup satu jari saja. Esakan Allah, esakan Allah! Engkau berisyarat dengan satu jari sebagai simbol keesaan Allah Subhanahu wa Ta’ala. ===== وَتَكُونُ وَاقِفًا مَادًّا يَدَيْكَ إِلَى السَّمَاءِ تَدْعُو اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ وَقَدْ ذَكَرَ الْعُلَمَاءُ صِفَةَ الدُّعَاءِ بِمَدِّ الْيَدَيْنِ أَنَّ لَهَا خَمْسَ صِيَغٍ أَوَّلُ هَذِهِ الصِّيَغِ الْخَمْسِ أَنْ تَجْعَلَ بَاطِنَ كَفَّيْكَ لِوَجْهِكَ وَلِلسَّمَاءِ فَتَكُونُ هَكَذَا جَاعِلًا لَهُمَا فَيَدَاكَ بَطْنُهُمَا لِوَجْهِكَ لِأَنَّكَ تَجْعَلُ بَصَرَكَ إِلَى بَاطِنِ كَفَّيْكَ فِي الدُّعَاءِ وَهُمَا إِلَى السَّمَاءِ قَالَ أَهْلُ الْعِلْمِ مِنْ بَابِ الْحِكْمَةِ وَهَذَا تَفَاؤُلًا بِنُزُولِ الْإِجَابَةِ وَالرَّحْمَةِ بَيْنَ كَفَّيْكَ وَالصُّورَةُ الثَّانِيَةُ أَنْ تَجْعَلَ بَاطِنَ الْكَفَّيْنِ إِلَى وَجْهِكَ وَأَطْرَافَهُمَا إِلَى السَّمَاءِ فَتَجْعَلُهُمَا قِبَلَ وَجْهِكَ بِهَذِهِ الصِّفَةِ فَتَدْعُو اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ وَهَذَا جَائِزٌ وَالصُّورَةُ الثَّالِثَةُ أَنْ تَجْعَلَ بَاطِنَ كَفَّيْكَ إِلَى السَّمَاءِ وَظُهُورُهُمَا إِلَى وَجْهِكَ فَتَجْعَلُ بَاطِنَهُمَا إِلَى السَّمَاءِ وَظُهُورَهُمَا إِلَى وَجْهِكَ وَهَذَا صِفَتُهُ عَلَى هَذِهِ الصُّورَةِ فَتَكُونُ الْيَدَانِ فَوْقَ رَأْسِكَ وَالْبَاطِنُ جِهَةَ الْوَجْهِ لِأَنَّكَ تَدْعُو وَتَنْظُرُ إِلَى كَفَّيْكَ وَقَدْ ذَكَرَ ابْنُ رَجَبٍ أَنَّ بَعْضًا مِنَ الْفُقَهَاءِ فَهِمَ أَنَّهُ يَدْعُو بِهَذِهِ الصِّفَةِ فَيَجْعَلُ ظَاهِرَ الْكَفَّيْنِ قِبَلَ وَجْهِهِ وَقِبَلَ السَّمَاءِ وَأَنْكَرَهَا ابْنُ رَجَبٍ وَقَالَ هَذَا غَيْرُ مُعْتَبَرٍ وَإِنَّمَا هَذَا مِنْ كَلَامِ بَعْضِ الْمُتَأَخِّرِينَ وَهُوَ غَيْرُ صَحِيحٍ وَإِنَّمَا الدُّعَاءُ بِظُهُورِ الْأَكُفِّ الصِّفَةُ الَّتِي سَأَذْكُرُهَا لَكَ بَعْدَ قَلِيلٍ الصُّورَةُ الرَّابِعَةُ هُوَ أَنْ يَجْعَلَ ظُهُورَ كَفَّيْهِ إِلَى السَّمَاءِ وَبَاطِنُهُمَا إِلَى وَجْهِهِ وَهِيَ بِهَذِهِ الصُّورَةِ فَبَدَلًا مِنْ أَنْ يَجْعَلَ بَاطِنَهُمَا إِلَى السَّمَاءِ وَظُهُورَهُمَا إِلَى وَجْهِهِ يَجْعَلُ ظَاهِرَهُمَا إِلَى السَّمَاءِ وَبَاطِنَهُمَا إِلَى وَجْهِهِ هَكَذَا وَقَدْ جَاءَ عَنْ جَمَاعَةٍ مِنَ السَّلَفِ وَرُوِيَ فِيهِ خَبَرٌ لَكِنْ لَا يَثْبُتُ أَنَّ الدُّعَاءَ لِلرَّغْبَةِ بِبُطُونِ الْأَكُفِّ فَالصُّورَةُ الْأُولَى وَالثَّانِيَةُ وَالثَّالِثَةُ لِلرَّغْبَةِ إِذَا رَجَوْتَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ الْجَنَّةَ وَرَجَوْتَهُ الرِّزْقَ وَصَلَاحَ الْعَمَلِ وَصَلَاحَ الذُّرِّيَّةِ وَنَحْوَ ذَلِكَ أَيُّ شَيْءٍ تَرْغَبُهُ مِنَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فَيَكُونُ بِظُهُورِ الْأَكُفِّ وَأَمَّا دُعَاءُ الرَّهْبَةِ إِذَا خِفْتَ عَدُوًّا وَخَشِيتَ شَيْئًا فَتَدْعُو بِظُهُورِ الْأَكُفِّ فَتَدْعُو هَكَذَا هَذَا عِنْدَ الرَّهْبَةِ يَقُولُونَ تَفَاؤُلٌ هَكَذَا قَالُوا حِكْمَةٌ الْعِلْمُ عِنْدَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ حِكْمَةً أَنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَرْفَعُ عَنْكَ مَا خِفْتَهُ وَيَدْفَعُ عَنْكَ هَذَا الشَّرَّ فَيَكُونُ كَذَلِكَ وَقَدْ رُوِيَ ذَلِكَ عَنْ جَمَاعَةٍ مِنَ السَّلَفِ مِنْهُمْ جَعْفَرٌ الصَّادِقُ وَغَيْرُهُ مِنَ السَّلَفِ رَحِمَهُمُ اللَّهُ تَعَالَى وَنَقَلَ قَوْلَ جَعْفَرٍ السَّرْخَسِيُّ فِي الْمَبْسُوطِ وَغَيْرُهُ أَسْنَدَ ذَلِكَ هَذِهِ إِذًا دُعَاءٌ لَهُ صِيَغٌ أَرْبَعٌ هُنَاكَ صِيغَةٌ خَامِسَةٌ تُسْتَعْمَلُ خَاصَّةً فِي وَقْتِ الزِّحَامِ عِنْدَمَا تَكُونُ تُرِيدُ أَنْ تَرْكَبَ الْقِطَارَ أَوْ تُرِيدُ أَنْ تَرْكَبَ السَّيَّارَةَ مِنْ غَيْرِ أَنْ تَمُدَّ يَدَيْكَ وَهُوَ أَنْ تُشِيرَ بِأُصْبُعِكَ وَقَدْ جَاءَ عِنْدَ أَبِي دَاوُدَ مِنْ حَدِيثِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّهُ يُشَارُ بِالْأُصْبُعِ بِالدُّعَاءِ فَيَدْعُو بِهِ فَإِذَا دَعَوْتَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ فَأَشِرْ بِأُصْبُعِكَ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي اللَّهُمَّ ارْحَمْنِي اللَّهُمَّ تَجَاوَزْ عَنِّي فَإِنَّ إِشَارَتَكَ فِي دُعَائِكَ خَارِجَ الصَّلَاةِ هَذَا سَبَبٌ لِإِجَابَتِهِ أَنْ تُشِيرَ بِالْأُصْبُعِ وَنُهِيَ أَنْ نُشِيرَ بِأُصْبُعَيْنِ وَإِنَّمَا تُشِيرُ بِأُصْبُعٍ وَاحِدٍ وَحِّدْ وَحِّدْ وَتُشِيرُ بِأُصْبُعٍ وَاحِدٍ إِشَارَةً لِلْوَحْدَانِيَّةِ لِلَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى


Engkau berdiri sambil menengadahkan kedua tangan ke langit, berdoa kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Para ulama menyebutkan bahwa tata cara berdoa dengan menengadahkan tangan itu ada lima bentuk. Bentuk pertama dari kelima cara ini: menjadikan bagian dalam kedua telapak tangan mengarah ke wajahmu dan ke langit.Posisi kedua tanganmu seperti ini. Bagian dalam kedua telapak tangan menghadap wajahmu, karena pandanganmu tertuju ke bagian dalam kedua telapak tangan saat berdoa, sementara kedua telapak tangan itu menghadap ke langit.Para ulama berkata, hikmahnya adalah sebagai bentuk pengharapan baik bahwa jawaban doa dan rahmat Allah akan turun di antara kedua telapak tanganmu. Bentuk kedua: menjadikan bagian dalam kedua telapak tangan menghadap wajahmu, sedangkan ujung jari-jemari menghadap ke langit, engkau posisikan keduanya di depan wajahmu seperti ini. Lalu engkau berdoa kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Cara ini dibolehkan. Bentuk ketiga: menjadikan bagian dalam kedua telapak tanganmu menghadap ke langit, sedangkan punggung telapak tangan mengarah ke wajahmu. Bagian dalam kedua telapak tangan menghadap langit, punggungnya ke arah wajahmu, dan posisinya seperti ini. Jadi, kedua tangan berada di atas kepalamu. Bagian dalamnya mengarah ke wajahmu, karena engkau berdoa sambil melihat kedua telapak tanganmu. Ibnu Rajab menyebutkan bahwa sebagian ulama fikih memahami bahwa seseorang berdoa dengan cara seperti ini, yakni menjadikan punggung telapak tangan menghadap wajah, sekaligus menghadap langit. Namun Ibnu Rajab mengingkari pemahaman ini dan berkata, “Cara ini tidak dapat dijadikan pegangan.” Ini hanyalah pendapat sebagian ulama belakangan, dan pendapat ini tidak benar. Adapun berdoa dengan punggung telapak tangan, caranya akan saya jelaskan sebentar lagi. Bentuk keempat: menjadikan punggung kedua telapak tangan menghadap ke langit, sedangkan bagian dalam telapak tangan menghadap ke wajahnya, yakni dengan cara seperti ini. Alih-alih menjadikan bagian dalam ke arah langit dan punggung searah wajahnya, punggungnya dihadapkan ke langit dan bagian dalamnya menghadap wajah, seperti ini. Cara ini diriwayatkan dari sejumlah ulama salaf, ada pula riwayat tentangnya, tapi tidak sahih. Bahwa doa meminta sesuatu yang diharapkan dilakukan dengan menengadahkan bagian dalam telapak tangan. Jadi, bentuk pertama, kedua, dan ketiga digunakan untuk berdoa memohon sesuatu yang diharapkan. Apabila engkau memohon surga kepada Allah ‘Azza wa Jalla, rezeki, amalan yang baik, keturunan yang saleh, dan semisalnya. Apa pun yang engkau harapkan dari Allah, maka doanya dilakukan dengan bagian dalam telapak tangan menghadap ke atas. Sedangkan doa memohon perlindungan — ketika engkau takut musuh atau khawatir terhadap sesuatu — maka engkau berdoa dengan menengadahkan punggung telapak tangan, seperti ini. Inilah cara berdoa saat memohon perlindungan. Para ulama mengatakan hikmahnya — dan ilmu yang pasti hanya milik Allah ‘Azza wa Jalla — adalah sebagai ungkapan harapan agar Allah mengangkat apa yang engkau takuti dan menjauhkan keburukan itu darimu. Maka diharapkan demikianlah yang terwujud. Hal ini diriwayatkan dari sejumlah ulama salaf, di antaranya Ja’far Ash-Shadiq dan yang lainnya, semoga Allah merahmati mereka semua. Pendapat Ja’far ini dinukil oleh As-Sarkhasi dalam Al-Mabsuth, dan para ulama lain pun menyandarkannya kepada beliau. Jadi, itulah empat bentuk cara menengadahkan tangan dalam berdoa. Ada bentuk kelima: cara ini dipakai terutama saat berdesakan, seperti ketika engkau hendak naik kereta api atau mobil, tanpa perlu menengadahkan tangan, cukup dengan mengisyaratkan jari (telunjuk). Diriwayatkan oleh Abu Dawud dari hadis Ibnu Abbas bahwa beliau berisyarat dengan jari (telunjuk) saat berdoa. Saat berdoa kepada Allah ‘Azza wa Jalla, angkatlah jari (telunjuk)mu: “Ya Allah, ampunilah aku.” “Ya Allah, rahmatilah aku.” “Ya Allah, maafkanlah kesalahanku.” Mengisyaratkan jari saat berdoa di luar salat merupakan sebab terkabulnya doa. Namun dilarang berisyarat dengan dua jari. Cukup satu jari saja. Esakan Allah, esakan Allah! Engkau berisyarat dengan satu jari sebagai simbol keesaan Allah Subhanahu wa Ta’ala. ===== وَتَكُونُ وَاقِفًا مَادًّا يَدَيْكَ إِلَى السَّمَاءِ تَدْعُو اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ وَقَدْ ذَكَرَ الْعُلَمَاءُ صِفَةَ الدُّعَاءِ بِمَدِّ الْيَدَيْنِ أَنَّ لَهَا خَمْسَ صِيَغٍ أَوَّلُ هَذِهِ الصِّيَغِ الْخَمْسِ أَنْ تَجْعَلَ بَاطِنَ كَفَّيْكَ لِوَجْهِكَ وَلِلسَّمَاءِ فَتَكُونُ هَكَذَا جَاعِلًا لَهُمَا فَيَدَاكَ بَطْنُهُمَا لِوَجْهِكَ لِأَنَّكَ تَجْعَلُ بَصَرَكَ إِلَى بَاطِنِ كَفَّيْكَ فِي الدُّعَاءِ وَهُمَا إِلَى السَّمَاءِ قَالَ أَهْلُ الْعِلْمِ مِنْ بَابِ الْحِكْمَةِ وَهَذَا تَفَاؤُلًا بِنُزُولِ الْإِجَابَةِ وَالرَّحْمَةِ بَيْنَ كَفَّيْكَ وَالصُّورَةُ الثَّانِيَةُ أَنْ تَجْعَلَ بَاطِنَ الْكَفَّيْنِ إِلَى وَجْهِكَ وَأَطْرَافَهُمَا إِلَى السَّمَاءِ فَتَجْعَلُهُمَا قِبَلَ وَجْهِكَ بِهَذِهِ الصِّفَةِ فَتَدْعُو اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ وَهَذَا جَائِزٌ وَالصُّورَةُ الثَّالِثَةُ أَنْ تَجْعَلَ بَاطِنَ كَفَّيْكَ إِلَى السَّمَاءِ وَظُهُورُهُمَا إِلَى وَجْهِكَ فَتَجْعَلُ بَاطِنَهُمَا إِلَى السَّمَاءِ وَظُهُورَهُمَا إِلَى وَجْهِكَ وَهَذَا صِفَتُهُ عَلَى هَذِهِ الصُّورَةِ فَتَكُونُ الْيَدَانِ فَوْقَ رَأْسِكَ وَالْبَاطِنُ جِهَةَ الْوَجْهِ لِأَنَّكَ تَدْعُو وَتَنْظُرُ إِلَى كَفَّيْكَ وَقَدْ ذَكَرَ ابْنُ رَجَبٍ أَنَّ بَعْضًا مِنَ الْفُقَهَاءِ فَهِمَ أَنَّهُ يَدْعُو بِهَذِهِ الصِّفَةِ فَيَجْعَلُ ظَاهِرَ الْكَفَّيْنِ قِبَلَ وَجْهِهِ وَقِبَلَ السَّمَاءِ وَأَنْكَرَهَا ابْنُ رَجَبٍ وَقَالَ هَذَا غَيْرُ مُعْتَبَرٍ وَإِنَّمَا هَذَا مِنْ كَلَامِ بَعْضِ الْمُتَأَخِّرِينَ وَهُوَ غَيْرُ صَحِيحٍ وَإِنَّمَا الدُّعَاءُ بِظُهُورِ الْأَكُفِّ الصِّفَةُ الَّتِي سَأَذْكُرُهَا لَكَ بَعْدَ قَلِيلٍ الصُّورَةُ الرَّابِعَةُ هُوَ أَنْ يَجْعَلَ ظُهُورَ كَفَّيْهِ إِلَى السَّمَاءِ وَبَاطِنُهُمَا إِلَى وَجْهِهِ وَهِيَ بِهَذِهِ الصُّورَةِ فَبَدَلًا مِنْ أَنْ يَجْعَلَ بَاطِنَهُمَا إِلَى السَّمَاءِ وَظُهُورَهُمَا إِلَى وَجْهِهِ يَجْعَلُ ظَاهِرَهُمَا إِلَى السَّمَاءِ وَبَاطِنَهُمَا إِلَى وَجْهِهِ هَكَذَا وَقَدْ جَاءَ عَنْ جَمَاعَةٍ مِنَ السَّلَفِ وَرُوِيَ فِيهِ خَبَرٌ لَكِنْ لَا يَثْبُتُ أَنَّ الدُّعَاءَ لِلرَّغْبَةِ بِبُطُونِ الْأَكُفِّ فَالصُّورَةُ الْأُولَى وَالثَّانِيَةُ وَالثَّالِثَةُ لِلرَّغْبَةِ إِذَا رَجَوْتَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ الْجَنَّةَ وَرَجَوْتَهُ الرِّزْقَ وَصَلَاحَ الْعَمَلِ وَصَلَاحَ الذُّرِّيَّةِ وَنَحْوَ ذَلِكَ أَيُّ شَيْءٍ تَرْغَبُهُ مِنَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فَيَكُونُ بِظُهُورِ الْأَكُفِّ وَأَمَّا دُعَاءُ الرَّهْبَةِ إِذَا خِفْتَ عَدُوًّا وَخَشِيتَ شَيْئًا فَتَدْعُو بِظُهُورِ الْأَكُفِّ فَتَدْعُو هَكَذَا هَذَا عِنْدَ الرَّهْبَةِ يَقُولُونَ تَفَاؤُلٌ هَكَذَا قَالُوا حِكْمَةٌ الْعِلْمُ عِنْدَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ حِكْمَةً أَنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَرْفَعُ عَنْكَ مَا خِفْتَهُ وَيَدْفَعُ عَنْكَ هَذَا الشَّرَّ فَيَكُونُ كَذَلِكَ وَقَدْ رُوِيَ ذَلِكَ عَنْ جَمَاعَةٍ مِنَ السَّلَفِ مِنْهُمْ جَعْفَرٌ الصَّادِقُ وَغَيْرُهُ مِنَ السَّلَفِ رَحِمَهُمُ اللَّهُ تَعَالَى وَنَقَلَ قَوْلَ جَعْفَرٍ السَّرْخَسِيُّ فِي الْمَبْسُوطِ وَغَيْرُهُ أَسْنَدَ ذَلِكَ هَذِهِ إِذًا دُعَاءٌ لَهُ صِيَغٌ أَرْبَعٌ هُنَاكَ صِيغَةٌ خَامِسَةٌ تُسْتَعْمَلُ خَاصَّةً فِي وَقْتِ الزِّحَامِ عِنْدَمَا تَكُونُ تُرِيدُ أَنْ تَرْكَبَ الْقِطَارَ أَوْ تُرِيدُ أَنْ تَرْكَبَ السَّيَّارَةَ مِنْ غَيْرِ أَنْ تَمُدَّ يَدَيْكَ وَهُوَ أَنْ تُشِيرَ بِأُصْبُعِكَ وَقَدْ جَاءَ عِنْدَ أَبِي دَاوُدَ مِنْ حَدِيثِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّهُ يُشَارُ بِالْأُصْبُعِ بِالدُّعَاءِ فَيَدْعُو بِهِ فَإِذَا دَعَوْتَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ فَأَشِرْ بِأُصْبُعِكَ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي اللَّهُمَّ ارْحَمْنِي اللَّهُمَّ تَجَاوَزْ عَنِّي فَإِنَّ إِشَارَتَكَ فِي دُعَائِكَ خَارِجَ الصَّلَاةِ هَذَا سَبَبٌ لِإِجَابَتِهِ أَنْ تُشِيرَ بِالْأُصْبُعِ وَنُهِيَ أَنْ نُشِيرَ بِأُصْبُعَيْنِ وَإِنَّمَا تُشِيرُ بِأُصْبُعٍ وَاحِدٍ وَحِّدْ وَحِّدْ وَتُشِيرُ بِأُصْبُعٍ وَاحِدٍ إِشَارَةً لِلْوَحْدَانِيَّةِ لِلَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى

Ketika Rupiah Melemah dan Krisis Ekonomi Melanda

Daftar Isi ToggleKetika harga naik, ingatlah siapa pengatur rezekiUjian yang sudah Allah kabarkanJangan sampai krisis ekonomi menjadi krisis imanSikap seorang Muslim ketika menghadapi kesulitan ekonomiMengendalikan pengeluaranMemperkuat tawakalBersikap bijak dan proporsional dalam menyikapi keadaanMendoakan pemimpin dan tidak menambah keruh keadaanMuhasabah sebelum menyalahkan orang lainSaatnya menghidupkan solidaritasBelajar dari peristiwa Tahun Abu (عام الرمادة)Langkah-langkah Umar mengatasi krisisMembentuk tim penanganan krisisMemberikan makanan yang tersediaMeminta bantuan dari daerah lainMenerapkan solidaritas sosialMenunda penarikan zakatMendirikan gudang panganMemberantas penimbunan barangMelaksanakan salat istisqa’Belakangan ini, masyarakat kembali dihadapkan dengan berbagai kesulitan ekonomi. Nilai rupiah melemah, harga kebutuhan pokok meningkat, biaya hidup terasa semakin berat, sementara penghasilan banyak orang tidak bertambah bahkan ada yang terdampak PHK. Dampaknya bukan hanya terlihat pada angka-angka ekonomi atau laporan pasar keuangan, tetapi benar-benar terasa di meja makan keluarga.Harga beras naik, minyak goreng belum juga stabil, biaya pendidikan dan kebutuhan sehari-hari semakin membebani. Sebagian orang mulai cemas, sebagian lainnya marah, dan tidak sedikit yang kehilangan harapan.Namun sebagai seorang Muslim, kita diajarkan untuk melihat setiap peristiwa tidak hanya dengan kacamata ekonomi, tetapi juga dengan kacamata iman. Karena di balik setiap kesulitan, terdapat hikmah; dan di balik setiap ujian, terdapat kesempatan untuk mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.Ketika harga naik, ingatlah siapa pengatur rezekiKenaikan harga bukanlah fenomena baru dalam sejarah umat manusia. Bahkan, hal serupa pernah terjadi pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.Ketika harga barang di Madinah melonjak, para sahabat datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan meminta beliau menetapkan harga pasar. Namun, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,إنَّ اللهَ هو المُسَعِّر القابضُ الباسطُ الرازقُ، وإني لأرجو أن ألقى اللهَ وليس أحدٌ منكم يُطالِبُني بمظلمةٍ في دمٍ ولا مالٍ“Sesungguhnya Allah-lah yang menetapkan harga, Yang Maha Menyempitkan (rezeki), Yang Maha Melapangkan (rezeki), dan Yang Maha Memberi rezeki. Sungguh aku berharap dapat bertemu Allah dalam keadaan tidak ada seorang pun di antara kalian yang menuntutku karena suatu kezaliman dalam urusan darah (jiwa) maupun harta.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad)Hadis ini mengajarkan satu pelajaran penting: di balik seluruh mekanisme ekonomi, tetap ada kekuasaan Allah yang mengatur segala sesuatu. Bukan berarti manusia tidak perlu berikhtiar memperbaiki keadaan, tetapi hati seorang mukmin tidak boleh bergantung kepada pasar, kurs mata uang, atau kebijakan ekonomi semata. Hatinya tetap bergantung kepada Allah Ta’ala, Sang Pemberi Rezeki.Ujian yang sudah Allah kabarkanKesulitan ekonomi bukan tanda bahwa Allah membenci hamba-Nya. Justru sering kali ia merupakan bagian dari ujian kehidupan yang telah Allah kabarkan jauh sebelumnya. Allah Ta‘ala berfirman,وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155)Perhatikan bahwa Allah tidak mengatakan “jika” kalian diuji, tetapi “Kami pasti menguji kalian.” Artinya, ujian ekonomi adalah bagian dari sunnatullah dalam kehidupan manusia. Yang membedakan satu orang dengan yang lain bukanlah ada atau tidak adanya ujian, tetapi bagaimana ia menyikapi ujian tersebut.Jangan sampai krisis ekonomi menjadi krisis imanMelemahnya rupiah memang dapat mengurangi daya beli. Namun, yang lebih berbahaya adalah ketika krisis ekonomi berubah menjadi krisis iman. Hal ini karena ketika diuji dengan kesulitan hidup, sebagian orang mulai mempertanyakan keadilan Allah. Sebagian lain meninggalkan ibadah karena terlalu sibuk mengejar penghasilan tambahan. Ada pula yang menempuh jalan haram demi mempertahankan gaya hidupnya.Padahal, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengingatkan,وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا ۝ وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan jalan keluar baginya dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (QS. Ath-Thalaq: 2–3)Ayat ini tidak menjanjikan bahwa hidup orang bertakwa akan selalu mudah. Namun, Allah menjanjikan sesuatu yang lebih besar: jalan keluar dan pertolongan-Nya.Baca juga: Mengenal Nama Allah “Ar-Razzaaq” dan “Ar-Raaziq”Sikap seorang Muslim ketika menghadapi kesulitan ekonomiMengendalikan pengeluaranSaat kondisi ekonomi sulit, seorang Muslim harus lebih bijak dalam mengatur keuangan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang sikap berlebih-lebihan. Banyak kebutuhan yang sebenarnya hanyalah keinginan yang dibungkus sebagai kebutuhan.Momentum sulit seperti ini mengajarkan kita untuk membedakan mana yang benar-benar diperlukan dan mana yang hanya mengikuti gengsi atau tren.Memperkuat tawakalNilai tukar mata uang bisa naik dan turun. Pasar bisa berubah sewaktu-waktu. Namun rezeki yang telah Allah tetapkan tidak akan pernah tertukar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَوْ أَنَّكُمْ تَتَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرُزِقْتُمْ كَمَا يُرْزَقُ الطَّيْرُ“Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakal, niscaya kalian akan diberi rezeki sebagaimana burung diberi rezeki.” (HR. Tirmidzi)Burung tetap keluar dari sarangnya setiap pagi. Ia berusaha, tetapi hatinya tidak bergantung pada usahanya. Inilah hakikat tawakal.Bersikap bijak dan proporsional dalam menyikapi keadaanDalam menghadapi berbagai persoalan ekonomi, seorang Muslim juga dituntut untuk bersikap adil, tenang, dan berbicara berdasarkan ilmu. Tidak setiap peristiwa yang terjadi dapat kita pahami secara menyeluruh. Terlebih persoalan ekonomi makro, nilai tukar mata uang, perdagangan internasional, kebijakan fiskal, maupun dinamika pasar global merupakan bidang yang memiliki pembahasan dan rincian yang sangat luas.Sebagai penuntut ilmu syar’i, khususnya thullab al-hadits, kita perlu menyadari batas kemampuan dan ilmu yang kita miliki. Tidak semua persoalan harus kita komentari seolah-olah kita memahami seluruh sebab dan akibatnya. Allah Ta’ala berfirman,وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ“Dan janganlah engkau mengikuti sesuatu yang tidak engkau miliki ilmu tentangnya.” (QS. Al-Isra’: 36)Ketika terjadi kenaikan harga di Madinah, para sahabat meminta Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menetapkan harga barang. Namun beliau bersabda,إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمُسَعِّرُ الْقَابِضُ الْبَاسِطُ الرَّازِقُ“Sesungguhnya Allah-lah Yang menetapkan harga, Yang Maha Menyempitkan, Yang Maha Melapangkan, dan Yang Maha Memberi Rezeki.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, dan Ahmad)Hadis ini mengajarkan kepada kita bahwa di balik berbagai sebab yang tampak, tetap ada kekuasaan Allah yang mengatur segala sesuatu. Oleh karena itu, seorang Muslim hendaknya tidak mudah larut dalam kepanikan, prasangka buruk, atau tuduhan yang tidak didasari ilmu.Bukan berarti kita menutup mata terhadap realitas yang ada atau menolak berbagai kajian ekonomi yang dilakukan para ahlinya. Namun kita juga tidak boleh berbicara melebihi kadar ilmu yang kita miliki. Jika para ahli ekonomi membahas sebab-sebab teknis terjadinya pelemahan mata uang, maka tugas kita sebagai seorang Muslim adalah mengambil pelajaran syar’i darinya, memperbaiki diri, dan menjaga keimanan.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)Mendoakan pemimpin dan tidak menambah keruh keadaanDi antara sikap yang sering terlupakan ketika terjadi kesulitan adalah mendoakan para pemimpin kaum Muslimin. Para ulama salaf memberikan perhatian besar terhadap masalah ini. Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah pernah berkata,لَوْ كَانَتْ لِي دَعْوَةٌ مُسْتَجَابَةٌ مَا جَعَلْتُهَا إِلَّا فِي السُّلْطَانِ“Seandainya aku memiliki satu doa yang pasti dikabulkan, niscaya akan aku khususkan untuk pemimpin.”[1]Ketika ditanya mengapa demikian, beliau menjelaskan bahwa apabila pemimpin menjadi baik, maka kebaikannya akan dirasakan oleh seluruh rakyat. Oleh karena itu, daripada menghabiskan waktu untuk mencela, menghina, atau menyebarkan kemarahan yang tidak produktif, lebih baik seorang Muslim memperbanyak doa agar Allah memberikan petunjuk, taufik, dan kebijaksanaan kepada para pemimpinnya.Sebab perbaikan sebuah negeri tidak hanya lahir dari kritik, tetapi juga dari doa, nasihat yang baik, dan kontribusi nyata dari masyarakatnya.Muhasabah sebelum menyalahkan orang lainDi samping itu, seorang Muslim hendaknya tidak hanya sibuk mencari kesalahan pihak lain, tetapi juga melakukan muhasabah terhadap dirinya sendiri. Allah Ta’ala berfirman,وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ“Musibah apa pun yang menimpa kalian adalah disebabkan oleh perbuatan tangan kalian sendiri, dan Allah memaafkan banyak (kesalahan).” (QS. Asy-Syura: 30)Para ulama menjelaskan bahwa berbagai musibah yang menimpa suatu masyarakat bisa menjadi sebab agar mereka kembali kepada Allah, meninggalkan maksiat, dan memperbaiki keadaan mereka.Termasuk perkara yang perlu diwaspadai adalah kebiasaan meremehkan kehormatan kaum Muslimin, mencela, menggibah, menyebarkan kebencian, dan menebarkan permusuhan. Dosa-dosa semacam ini sering dianggap ringan, padahal dampaknya sangat besar di sisi Allah.Bukan berarti kita memastikan bahwa setiap kesulitan ekonomi yang terjadi pasti disebabkan oleh dosa tertentu. Tidak ada seorang pun yang dapat memastikan hal itu tanpa dalil. Namun secara umum, syariat mengajarkan bahwa dosa dapat menjadi sebab dicabutnya keberkahan dan datangnya berbagai kesulitan.Oleh karena itu, ketika menghadapi keadaan yang berat, hendaknya kita memperbanyak istigfar, bertobat, memperbaiki lisan, menjaga adab terhadap sesama Muslim, serta menjauhkan diri dari gibah dan celaan yang tidak bermanfaat.Saatnya menghidupkan solidaritasKrisis ekonomi juga menjadi ujian bagi kepedulian sosial kita. Mungkin ada tetangga yang mulai kesulitan membeli beras. Mungkin ada kerabat yang kehilangan pekerjaan. Mungkin ada janda tua yang tidak sanggup membeli kebutuhan pokok.Allah Ta‘ala berfirman,وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى“Dan tolong-menolonglah kalian dalam kebajikan dan ketakwaan.” (QS. Al-Ma’idah: 2)Bisa jadi satu kantong beras yang kita berikan lebih berharga di sisi Allah daripada banyak komentar yang kita tulis di media sosial. Dalam masa sulit, umat Islam seharusnya semakin kuat ikatan persaudaraannya. Yang mampu membantu yang lemah. Yang berkecukupan memperhatikan yang kekurangan. Yang lapang menghibur yang sempit.Baca juga: Keutamaan Menolong Sesama MuslimBelajar dari peristiwa Tahun Abu (عام الرمادة)Pada tahun 18 H, wilayah Hijaz dilanda kekeringan yang sangat parah selama sembilan bulan. Tahun itu dikenal dengan nama ‘Ām ar-Ramādah (Tahun Abu). Disebut demikian karena angin yang berhembus membawa debu seperti abu, atau karena tanah menjadi hitam seperti abu akibat kekeringan yang hebat.Negeri-negeri mengalami gagal panen, ternak banyak yang mati, dan manusia dilanda kelaparan. Kondisinya sangat berat hingga sebagian orang memakan tulang-belulang yang telah hancur dan mencari hewan-hewan kecil seperti tikus gurun untuk dimakan.Musibah besar ini sangat mempengaruhi Khalifah Umar bin Khattab رضي الله عنه. Mantan budaknya, Aslam, berkata,لو لم يرفع الله المحل عام الرمادة لظننا أن عمر يموت هما بأمر المسلمين“Seandainya Allah tidak mengangkat musibah Tahun Ramadah itu, kami mengira Umar akan meninggal karena terlalu memikirkan urusan kaum muslimin.”Umar رضي الله عنه menetapkan program yang sangat ketat bagi dirinya. Beliau ikut merasakan penderitaan rakyatnya agar tidak melupakan keadaan mereka walau sesaat. Sebagai pemimpin, beliau merasa bertanggung jawab penuh atas musibah yang menimpa rakyatnya.Bahkan ketegasan itu juga diterapkan kepada keluarganya. Diceritakan bahwa putranya, Ubaidullah, memiliki seekor hewan kecil yang kemudian disembelih dan dipanggang. Ketika Umar mencium aromanya, beliau curiga bahwa keluarganya menikmati makanan yang tidak dinikmati rakyat. Setelah diselidiki, ternyata benar. Maka Umar melarang keluarganya memakan daging tersebut dan memerintahkan agar diberikan kepada kaum muslimin.Hal ini lahir dari kejujuran dan tanggung jawab beliau terhadap umat. Menurut Umar, keluarganya harus ikut merasakan kesulitan yang dirasakan rakyat, bukan menikmati keistimewaan di atas penderitaan mereka.Langkah-langkah Umar mengatasi krisisMembentuk tim penanganan krisisUmar membentuk sebuah tim yang terdiri dari orang-orang yang ahli dan terpercaya. Beliau membagi tugas kepada mereka dan setiap malam mereka melaporkan perkembangan keadaan kepada beliau. Ini menunjukkan keluasan pandangan Umar. Beliau memahami bahwa krisis besar tidak dapat diselesaikan oleh satu orang saja, meskipun orang itu seorang khalifah.Memberikan makanan yang tersediaBeliau segera mengumpulkan makanan dari pasar-pasar yang ada di Madinah dan daerah sekitarnya untuk dibagikan kepada masyarakat, terutama kaum Badui yang datang ke pinggiran Madinah mencari pertolongan.Meminta bantuan dari daerah lainUmar mengirim surat kepada para gubernurnya di berbagai wilayah Islam. Kepada Amr bin Al-Ash رضي الله عنه di Mesir, beliau menulis,بسم الله الرحمن الرحيم، من عبد الله عمر أمير المؤمنين …، سـلام عليك، أما بعد، أفتراني هـالكا ومن قبلي، وتعيش أنت ومن قبلك، فيا غوثاه، ثلاثا“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dari hamba Allah, Umar Amirul Mukminin, kepada … . Semoga keselamatan atasmu. Amma ba‘du.Apakah engkau membiarkan aku dan rakyat yang bersamaku binasa, sementara engkau dan rakyat yang bersamamu hidup berkecukupan?Tolonglah kami! Tolonglah kami! Tolonglah kami!”Amr bin Al-Ash segera mengirim bantuan besar berupa kafilah-kafilah makanan yang panjangnya disebut sampai dari Madinah hingga Mesir.Surat serupa juga dikirim kepada wilayah-wilayah Islam lainnya.Menerapkan solidaritas sosialUmar memerintahkan agar setiap keluarga di Madinah menanggung keluarga Badui yang membutuhkan. Dengan demikian, seluruh masyarakat berbagi kesulitan dan hidup sederhana hingga Allah mengangkat musibah tersebut.Beliau berkata,فإنهم لن يهلكوا على أنصاف بطونهم“Sesungguhnya mereka tidak akan binasa jika hidup dengan setengah kenyang.”Menunda penarikan zakatKarena kondisi masyarakat yang sangat sulit, Umar menunda pengambilan zakat pada tahun tersebut. Ketika tahun berikutnya keadaan sudah membaik, beliau memerintahkan petugas zakat mengambil zakat dua tahun sekaligus. Sebagiannya dibagikan kepada masyarakat dan sebagiannya lagi disimpan sebagai cadangan untuk menghadapi keadaan darurat di masa depan.Mendirikan gudang panganUmar mendirikan tempat penyimpanan bahan makanan seperti tepung, kurma, gandum, dan makanan lain yang dapat disimpan lama. Gudang ini digunakan untuk membantu musafir, orang-orang yang terputus bekalnya, dan masyarakat yang membutuhkan.Memberantas penimbunan barangSebagian pedagang mencoba memanfaatkan krisis dengan menaikkan harga dan menimbun barang demi keuntungan pribadi. Umar menentang tindakan tersebut dan berkata,لا حكرة في سوقنا“Tidak boleh ada penimbunan di pasar kami.”Beliau melarang para pemilik modal menguasai barang-barang kebutuhan pokok lalu memainkan harga di pasar. Namun pada saat yang sama, beliau tetap mendorong perdagangan yang sehat dan memberi kebebasan kepada para pedagang yang membawa barang dari luar daerah untuk menjualnya secara wajar.Melaksanakan salat istisqa’Di samping berbagai langkah ekonomi dan sosial, Umar tidak melupakan solusi yang paling utama, yaitu memohon pertolongan kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Beliau keluar bersama para sahabat dan Al-Abbas رضي الله عنه untuk melaksanakan salat istisqa’ (salat meminta hujan). Setelah berkhotbah dan salat, Umar berlutut seraya berdoa,اللهم إياك نعبد، وإياك نستعين، اللهم أغفر لنا وارحمنا وارض عنا“Ya Allah, hanya kepada-Mu kami beribadah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan. Ya Allah, ampunilah kami, rahmatilah kami, dan ridailah kami.”Belum lama kembali ke rumah-rumah mereka, hujan pun turun hingga air menggenang di berbagai tempat. [2]Pada akhirnya, setiap orang memiliki ruang ikhtiar yang berbeda-beda. Tidak semua orang memiliki kemampuan mengubah kebijakan ekonomi atau mempengaruhi kondisi pasar dunia. Namun, setiap Muslim mampu memperbaiki dirinya sendiri.Kita bisa memperbaiki salat kita. Kita bisa memperbanyak doa. Kita bisa mengatur pengeluaran dengan lebih bijak. Kita bisa membantu tetangga yang kesulitan. Kita bisa menahan lisan dari gibah dan cacian. Dan kita bisa terus ber-husnuzan (berbaik sangka) kepada Allah sebagai Ar-Razzaq, Zat Yang Maha Memberi Rezeki.Karena sesungguhnya roda ekonomi dunia bisa berputar naik dan turun, tetapi rezeki yang telah Allah tetapkan tidak akan pernah tertukar. Allah Ta’ala berfirman,وَفِي السَّمَاءِ رِزْقُكُمْ وَمَا تُوعَدُونَ“Dan di langit terdapat rezekimu dan apa yang dijanjikan kepadamu.” (QS. Adz-Dzariyat: 22)Ketika rupiah melemah, harga kebutuhan meningkat, dan kehidupan terasa semakin berat, jangan sampai iman ikut melemah. Sebab nilai mata uang memang bisa turun, tetapi keyakinan kepada Allah tidak boleh ikut jatuh.Mari hadapi keadaan ini dengan kesabaran, tawakal, ikhtiar yang halal, serta kepedulian kepada sesama. Perbaiki hubungan dengan Allah, karena keberkahan hidup tidak hanya diukur dari banyaknya harta, tetapi dari ketenangan hati dan pertolongan Allah yang menyertainya.Semoga Allah Subhanahu wa Ta‘ala menjaga negeri ini, melapangkan rezeki kaum Muslimin, mengangkat berbagai kesulitan yang menimpa mereka, dan menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang tetap teguh imannya di tengah berbagai ujian kehidupan.Wallahu Ta‘ala a‘lam bish-shawab.***Jember, 4 Juni 2026Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id  Referensi:[1] Syarah Kitab Syarhi As-Sunnah lil Barbahary, karya Abdul Aziz bin Abdillah Ar-Rajihiy, 6: 14 (melalui Maktabah Syamilah)[2] https://www.islamweb.net/ar

Ketika Rupiah Melemah dan Krisis Ekonomi Melanda

Daftar Isi ToggleKetika harga naik, ingatlah siapa pengatur rezekiUjian yang sudah Allah kabarkanJangan sampai krisis ekonomi menjadi krisis imanSikap seorang Muslim ketika menghadapi kesulitan ekonomiMengendalikan pengeluaranMemperkuat tawakalBersikap bijak dan proporsional dalam menyikapi keadaanMendoakan pemimpin dan tidak menambah keruh keadaanMuhasabah sebelum menyalahkan orang lainSaatnya menghidupkan solidaritasBelajar dari peristiwa Tahun Abu (عام الرمادة)Langkah-langkah Umar mengatasi krisisMembentuk tim penanganan krisisMemberikan makanan yang tersediaMeminta bantuan dari daerah lainMenerapkan solidaritas sosialMenunda penarikan zakatMendirikan gudang panganMemberantas penimbunan barangMelaksanakan salat istisqa’Belakangan ini, masyarakat kembali dihadapkan dengan berbagai kesulitan ekonomi. Nilai rupiah melemah, harga kebutuhan pokok meningkat, biaya hidup terasa semakin berat, sementara penghasilan banyak orang tidak bertambah bahkan ada yang terdampak PHK. Dampaknya bukan hanya terlihat pada angka-angka ekonomi atau laporan pasar keuangan, tetapi benar-benar terasa di meja makan keluarga.Harga beras naik, minyak goreng belum juga stabil, biaya pendidikan dan kebutuhan sehari-hari semakin membebani. Sebagian orang mulai cemas, sebagian lainnya marah, dan tidak sedikit yang kehilangan harapan.Namun sebagai seorang Muslim, kita diajarkan untuk melihat setiap peristiwa tidak hanya dengan kacamata ekonomi, tetapi juga dengan kacamata iman. Karena di balik setiap kesulitan, terdapat hikmah; dan di balik setiap ujian, terdapat kesempatan untuk mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.Ketika harga naik, ingatlah siapa pengatur rezekiKenaikan harga bukanlah fenomena baru dalam sejarah umat manusia. Bahkan, hal serupa pernah terjadi pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.Ketika harga barang di Madinah melonjak, para sahabat datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan meminta beliau menetapkan harga pasar. Namun, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,إنَّ اللهَ هو المُسَعِّر القابضُ الباسطُ الرازقُ، وإني لأرجو أن ألقى اللهَ وليس أحدٌ منكم يُطالِبُني بمظلمةٍ في دمٍ ولا مالٍ“Sesungguhnya Allah-lah yang menetapkan harga, Yang Maha Menyempitkan (rezeki), Yang Maha Melapangkan (rezeki), dan Yang Maha Memberi rezeki. Sungguh aku berharap dapat bertemu Allah dalam keadaan tidak ada seorang pun di antara kalian yang menuntutku karena suatu kezaliman dalam urusan darah (jiwa) maupun harta.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad)Hadis ini mengajarkan satu pelajaran penting: di balik seluruh mekanisme ekonomi, tetap ada kekuasaan Allah yang mengatur segala sesuatu. Bukan berarti manusia tidak perlu berikhtiar memperbaiki keadaan, tetapi hati seorang mukmin tidak boleh bergantung kepada pasar, kurs mata uang, atau kebijakan ekonomi semata. Hatinya tetap bergantung kepada Allah Ta’ala, Sang Pemberi Rezeki.Ujian yang sudah Allah kabarkanKesulitan ekonomi bukan tanda bahwa Allah membenci hamba-Nya. Justru sering kali ia merupakan bagian dari ujian kehidupan yang telah Allah kabarkan jauh sebelumnya. Allah Ta‘ala berfirman,وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155)Perhatikan bahwa Allah tidak mengatakan “jika” kalian diuji, tetapi “Kami pasti menguji kalian.” Artinya, ujian ekonomi adalah bagian dari sunnatullah dalam kehidupan manusia. Yang membedakan satu orang dengan yang lain bukanlah ada atau tidak adanya ujian, tetapi bagaimana ia menyikapi ujian tersebut.Jangan sampai krisis ekonomi menjadi krisis imanMelemahnya rupiah memang dapat mengurangi daya beli. Namun, yang lebih berbahaya adalah ketika krisis ekonomi berubah menjadi krisis iman. Hal ini karena ketika diuji dengan kesulitan hidup, sebagian orang mulai mempertanyakan keadilan Allah. Sebagian lain meninggalkan ibadah karena terlalu sibuk mengejar penghasilan tambahan. Ada pula yang menempuh jalan haram demi mempertahankan gaya hidupnya.Padahal, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengingatkan,وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا ۝ وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan jalan keluar baginya dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (QS. Ath-Thalaq: 2–3)Ayat ini tidak menjanjikan bahwa hidup orang bertakwa akan selalu mudah. Namun, Allah menjanjikan sesuatu yang lebih besar: jalan keluar dan pertolongan-Nya.Baca juga: Mengenal Nama Allah “Ar-Razzaaq” dan “Ar-Raaziq”Sikap seorang Muslim ketika menghadapi kesulitan ekonomiMengendalikan pengeluaranSaat kondisi ekonomi sulit, seorang Muslim harus lebih bijak dalam mengatur keuangan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang sikap berlebih-lebihan. Banyak kebutuhan yang sebenarnya hanyalah keinginan yang dibungkus sebagai kebutuhan.Momentum sulit seperti ini mengajarkan kita untuk membedakan mana yang benar-benar diperlukan dan mana yang hanya mengikuti gengsi atau tren.Memperkuat tawakalNilai tukar mata uang bisa naik dan turun. Pasar bisa berubah sewaktu-waktu. Namun rezeki yang telah Allah tetapkan tidak akan pernah tertukar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَوْ أَنَّكُمْ تَتَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرُزِقْتُمْ كَمَا يُرْزَقُ الطَّيْرُ“Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakal, niscaya kalian akan diberi rezeki sebagaimana burung diberi rezeki.” (HR. Tirmidzi)Burung tetap keluar dari sarangnya setiap pagi. Ia berusaha, tetapi hatinya tidak bergantung pada usahanya. Inilah hakikat tawakal.Bersikap bijak dan proporsional dalam menyikapi keadaanDalam menghadapi berbagai persoalan ekonomi, seorang Muslim juga dituntut untuk bersikap adil, tenang, dan berbicara berdasarkan ilmu. Tidak setiap peristiwa yang terjadi dapat kita pahami secara menyeluruh. Terlebih persoalan ekonomi makro, nilai tukar mata uang, perdagangan internasional, kebijakan fiskal, maupun dinamika pasar global merupakan bidang yang memiliki pembahasan dan rincian yang sangat luas.Sebagai penuntut ilmu syar’i, khususnya thullab al-hadits, kita perlu menyadari batas kemampuan dan ilmu yang kita miliki. Tidak semua persoalan harus kita komentari seolah-olah kita memahami seluruh sebab dan akibatnya. Allah Ta’ala berfirman,وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ“Dan janganlah engkau mengikuti sesuatu yang tidak engkau miliki ilmu tentangnya.” (QS. Al-Isra’: 36)Ketika terjadi kenaikan harga di Madinah, para sahabat meminta Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menetapkan harga barang. Namun beliau bersabda,إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمُسَعِّرُ الْقَابِضُ الْبَاسِطُ الرَّازِقُ“Sesungguhnya Allah-lah Yang menetapkan harga, Yang Maha Menyempitkan, Yang Maha Melapangkan, dan Yang Maha Memberi Rezeki.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, dan Ahmad)Hadis ini mengajarkan kepada kita bahwa di balik berbagai sebab yang tampak, tetap ada kekuasaan Allah yang mengatur segala sesuatu. Oleh karena itu, seorang Muslim hendaknya tidak mudah larut dalam kepanikan, prasangka buruk, atau tuduhan yang tidak didasari ilmu.Bukan berarti kita menutup mata terhadap realitas yang ada atau menolak berbagai kajian ekonomi yang dilakukan para ahlinya. Namun kita juga tidak boleh berbicara melebihi kadar ilmu yang kita miliki. Jika para ahli ekonomi membahas sebab-sebab teknis terjadinya pelemahan mata uang, maka tugas kita sebagai seorang Muslim adalah mengambil pelajaran syar’i darinya, memperbaiki diri, dan menjaga keimanan.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)Mendoakan pemimpin dan tidak menambah keruh keadaanDi antara sikap yang sering terlupakan ketika terjadi kesulitan adalah mendoakan para pemimpin kaum Muslimin. Para ulama salaf memberikan perhatian besar terhadap masalah ini. Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah pernah berkata,لَوْ كَانَتْ لِي دَعْوَةٌ مُسْتَجَابَةٌ مَا جَعَلْتُهَا إِلَّا فِي السُّلْطَانِ“Seandainya aku memiliki satu doa yang pasti dikabulkan, niscaya akan aku khususkan untuk pemimpin.”[1]Ketika ditanya mengapa demikian, beliau menjelaskan bahwa apabila pemimpin menjadi baik, maka kebaikannya akan dirasakan oleh seluruh rakyat. Oleh karena itu, daripada menghabiskan waktu untuk mencela, menghina, atau menyebarkan kemarahan yang tidak produktif, lebih baik seorang Muslim memperbanyak doa agar Allah memberikan petunjuk, taufik, dan kebijaksanaan kepada para pemimpinnya.Sebab perbaikan sebuah negeri tidak hanya lahir dari kritik, tetapi juga dari doa, nasihat yang baik, dan kontribusi nyata dari masyarakatnya.Muhasabah sebelum menyalahkan orang lainDi samping itu, seorang Muslim hendaknya tidak hanya sibuk mencari kesalahan pihak lain, tetapi juga melakukan muhasabah terhadap dirinya sendiri. Allah Ta’ala berfirman,وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ“Musibah apa pun yang menimpa kalian adalah disebabkan oleh perbuatan tangan kalian sendiri, dan Allah memaafkan banyak (kesalahan).” (QS. Asy-Syura: 30)Para ulama menjelaskan bahwa berbagai musibah yang menimpa suatu masyarakat bisa menjadi sebab agar mereka kembali kepada Allah, meninggalkan maksiat, dan memperbaiki keadaan mereka.Termasuk perkara yang perlu diwaspadai adalah kebiasaan meremehkan kehormatan kaum Muslimin, mencela, menggibah, menyebarkan kebencian, dan menebarkan permusuhan. Dosa-dosa semacam ini sering dianggap ringan, padahal dampaknya sangat besar di sisi Allah.Bukan berarti kita memastikan bahwa setiap kesulitan ekonomi yang terjadi pasti disebabkan oleh dosa tertentu. Tidak ada seorang pun yang dapat memastikan hal itu tanpa dalil. Namun secara umum, syariat mengajarkan bahwa dosa dapat menjadi sebab dicabutnya keberkahan dan datangnya berbagai kesulitan.Oleh karena itu, ketika menghadapi keadaan yang berat, hendaknya kita memperbanyak istigfar, bertobat, memperbaiki lisan, menjaga adab terhadap sesama Muslim, serta menjauhkan diri dari gibah dan celaan yang tidak bermanfaat.Saatnya menghidupkan solidaritasKrisis ekonomi juga menjadi ujian bagi kepedulian sosial kita. Mungkin ada tetangga yang mulai kesulitan membeli beras. Mungkin ada kerabat yang kehilangan pekerjaan. Mungkin ada janda tua yang tidak sanggup membeli kebutuhan pokok.Allah Ta‘ala berfirman,وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى“Dan tolong-menolonglah kalian dalam kebajikan dan ketakwaan.” (QS. Al-Ma’idah: 2)Bisa jadi satu kantong beras yang kita berikan lebih berharga di sisi Allah daripada banyak komentar yang kita tulis di media sosial. Dalam masa sulit, umat Islam seharusnya semakin kuat ikatan persaudaraannya. Yang mampu membantu yang lemah. Yang berkecukupan memperhatikan yang kekurangan. Yang lapang menghibur yang sempit.Baca juga: Keutamaan Menolong Sesama MuslimBelajar dari peristiwa Tahun Abu (عام الرمادة)Pada tahun 18 H, wilayah Hijaz dilanda kekeringan yang sangat parah selama sembilan bulan. Tahun itu dikenal dengan nama ‘Ām ar-Ramādah (Tahun Abu). Disebut demikian karena angin yang berhembus membawa debu seperti abu, atau karena tanah menjadi hitam seperti abu akibat kekeringan yang hebat.Negeri-negeri mengalami gagal panen, ternak banyak yang mati, dan manusia dilanda kelaparan. Kondisinya sangat berat hingga sebagian orang memakan tulang-belulang yang telah hancur dan mencari hewan-hewan kecil seperti tikus gurun untuk dimakan.Musibah besar ini sangat mempengaruhi Khalifah Umar bin Khattab رضي الله عنه. Mantan budaknya, Aslam, berkata,لو لم يرفع الله المحل عام الرمادة لظننا أن عمر يموت هما بأمر المسلمين“Seandainya Allah tidak mengangkat musibah Tahun Ramadah itu, kami mengira Umar akan meninggal karena terlalu memikirkan urusan kaum muslimin.”Umar رضي الله عنه menetapkan program yang sangat ketat bagi dirinya. Beliau ikut merasakan penderitaan rakyatnya agar tidak melupakan keadaan mereka walau sesaat. Sebagai pemimpin, beliau merasa bertanggung jawab penuh atas musibah yang menimpa rakyatnya.Bahkan ketegasan itu juga diterapkan kepada keluarganya. Diceritakan bahwa putranya, Ubaidullah, memiliki seekor hewan kecil yang kemudian disembelih dan dipanggang. Ketika Umar mencium aromanya, beliau curiga bahwa keluarganya menikmati makanan yang tidak dinikmati rakyat. Setelah diselidiki, ternyata benar. Maka Umar melarang keluarganya memakan daging tersebut dan memerintahkan agar diberikan kepada kaum muslimin.Hal ini lahir dari kejujuran dan tanggung jawab beliau terhadap umat. Menurut Umar, keluarganya harus ikut merasakan kesulitan yang dirasakan rakyat, bukan menikmati keistimewaan di atas penderitaan mereka.Langkah-langkah Umar mengatasi krisisMembentuk tim penanganan krisisUmar membentuk sebuah tim yang terdiri dari orang-orang yang ahli dan terpercaya. Beliau membagi tugas kepada mereka dan setiap malam mereka melaporkan perkembangan keadaan kepada beliau. Ini menunjukkan keluasan pandangan Umar. Beliau memahami bahwa krisis besar tidak dapat diselesaikan oleh satu orang saja, meskipun orang itu seorang khalifah.Memberikan makanan yang tersediaBeliau segera mengumpulkan makanan dari pasar-pasar yang ada di Madinah dan daerah sekitarnya untuk dibagikan kepada masyarakat, terutama kaum Badui yang datang ke pinggiran Madinah mencari pertolongan.Meminta bantuan dari daerah lainUmar mengirim surat kepada para gubernurnya di berbagai wilayah Islam. Kepada Amr bin Al-Ash رضي الله عنه di Mesir, beliau menulis,بسم الله الرحمن الرحيم، من عبد الله عمر أمير المؤمنين …، سـلام عليك، أما بعد، أفتراني هـالكا ومن قبلي، وتعيش أنت ومن قبلك، فيا غوثاه، ثلاثا“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dari hamba Allah, Umar Amirul Mukminin, kepada … . Semoga keselamatan atasmu. Amma ba‘du.Apakah engkau membiarkan aku dan rakyat yang bersamaku binasa, sementara engkau dan rakyat yang bersamamu hidup berkecukupan?Tolonglah kami! Tolonglah kami! Tolonglah kami!”Amr bin Al-Ash segera mengirim bantuan besar berupa kafilah-kafilah makanan yang panjangnya disebut sampai dari Madinah hingga Mesir.Surat serupa juga dikirim kepada wilayah-wilayah Islam lainnya.Menerapkan solidaritas sosialUmar memerintahkan agar setiap keluarga di Madinah menanggung keluarga Badui yang membutuhkan. Dengan demikian, seluruh masyarakat berbagi kesulitan dan hidup sederhana hingga Allah mengangkat musibah tersebut.Beliau berkata,فإنهم لن يهلكوا على أنصاف بطونهم“Sesungguhnya mereka tidak akan binasa jika hidup dengan setengah kenyang.”Menunda penarikan zakatKarena kondisi masyarakat yang sangat sulit, Umar menunda pengambilan zakat pada tahun tersebut. Ketika tahun berikutnya keadaan sudah membaik, beliau memerintahkan petugas zakat mengambil zakat dua tahun sekaligus. Sebagiannya dibagikan kepada masyarakat dan sebagiannya lagi disimpan sebagai cadangan untuk menghadapi keadaan darurat di masa depan.Mendirikan gudang panganUmar mendirikan tempat penyimpanan bahan makanan seperti tepung, kurma, gandum, dan makanan lain yang dapat disimpan lama. Gudang ini digunakan untuk membantu musafir, orang-orang yang terputus bekalnya, dan masyarakat yang membutuhkan.Memberantas penimbunan barangSebagian pedagang mencoba memanfaatkan krisis dengan menaikkan harga dan menimbun barang demi keuntungan pribadi. Umar menentang tindakan tersebut dan berkata,لا حكرة في سوقنا“Tidak boleh ada penimbunan di pasar kami.”Beliau melarang para pemilik modal menguasai barang-barang kebutuhan pokok lalu memainkan harga di pasar. Namun pada saat yang sama, beliau tetap mendorong perdagangan yang sehat dan memberi kebebasan kepada para pedagang yang membawa barang dari luar daerah untuk menjualnya secara wajar.Melaksanakan salat istisqa’Di samping berbagai langkah ekonomi dan sosial, Umar tidak melupakan solusi yang paling utama, yaitu memohon pertolongan kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Beliau keluar bersama para sahabat dan Al-Abbas رضي الله عنه untuk melaksanakan salat istisqa’ (salat meminta hujan). Setelah berkhotbah dan salat, Umar berlutut seraya berdoa,اللهم إياك نعبد، وإياك نستعين، اللهم أغفر لنا وارحمنا وارض عنا“Ya Allah, hanya kepada-Mu kami beribadah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan. Ya Allah, ampunilah kami, rahmatilah kami, dan ridailah kami.”Belum lama kembali ke rumah-rumah mereka, hujan pun turun hingga air menggenang di berbagai tempat. [2]Pada akhirnya, setiap orang memiliki ruang ikhtiar yang berbeda-beda. Tidak semua orang memiliki kemampuan mengubah kebijakan ekonomi atau mempengaruhi kondisi pasar dunia. Namun, setiap Muslim mampu memperbaiki dirinya sendiri.Kita bisa memperbaiki salat kita. Kita bisa memperbanyak doa. Kita bisa mengatur pengeluaran dengan lebih bijak. Kita bisa membantu tetangga yang kesulitan. Kita bisa menahan lisan dari gibah dan cacian. Dan kita bisa terus ber-husnuzan (berbaik sangka) kepada Allah sebagai Ar-Razzaq, Zat Yang Maha Memberi Rezeki.Karena sesungguhnya roda ekonomi dunia bisa berputar naik dan turun, tetapi rezeki yang telah Allah tetapkan tidak akan pernah tertukar. Allah Ta’ala berfirman,وَفِي السَّمَاءِ رِزْقُكُمْ وَمَا تُوعَدُونَ“Dan di langit terdapat rezekimu dan apa yang dijanjikan kepadamu.” (QS. Adz-Dzariyat: 22)Ketika rupiah melemah, harga kebutuhan meningkat, dan kehidupan terasa semakin berat, jangan sampai iman ikut melemah. Sebab nilai mata uang memang bisa turun, tetapi keyakinan kepada Allah tidak boleh ikut jatuh.Mari hadapi keadaan ini dengan kesabaran, tawakal, ikhtiar yang halal, serta kepedulian kepada sesama. Perbaiki hubungan dengan Allah, karena keberkahan hidup tidak hanya diukur dari banyaknya harta, tetapi dari ketenangan hati dan pertolongan Allah yang menyertainya.Semoga Allah Subhanahu wa Ta‘ala menjaga negeri ini, melapangkan rezeki kaum Muslimin, mengangkat berbagai kesulitan yang menimpa mereka, dan menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang tetap teguh imannya di tengah berbagai ujian kehidupan.Wallahu Ta‘ala a‘lam bish-shawab.***Jember, 4 Juni 2026Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id  Referensi:[1] Syarah Kitab Syarhi As-Sunnah lil Barbahary, karya Abdul Aziz bin Abdillah Ar-Rajihiy, 6: 14 (melalui Maktabah Syamilah)[2] https://www.islamweb.net/ar
Daftar Isi ToggleKetika harga naik, ingatlah siapa pengatur rezekiUjian yang sudah Allah kabarkanJangan sampai krisis ekonomi menjadi krisis imanSikap seorang Muslim ketika menghadapi kesulitan ekonomiMengendalikan pengeluaranMemperkuat tawakalBersikap bijak dan proporsional dalam menyikapi keadaanMendoakan pemimpin dan tidak menambah keruh keadaanMuhasabah sebelum menyalahkan orang lainSaatnya menghidupkan solidaritasBelajar dari peristiwa Tahun Abu (عام الرمادة)Langkah-langkah Umar mengatasi krisisMembentuk tim penanganan krisisMemberikan makanan yang tersediaMeminta bantuan dari daerah lainMenerapkan solidaritas sosialMenunda penarikan zakatMendirikan gudang panganMemberantas penimbunan barangMelaksanakan salat istisqa’Belakangan ini, masyarakat kembali dihadapkan dengan berbagai kesulitan ekonomi. Nilai rupiah melemah, harga kebutuhan pokok meningkat, biaya hidup terasa semakin berat, sementara penghasilan banyak orang tidak bertambah bahkan ada yang terdampak PHK. Dampaknya bukan hanya terlihat pada angka-angka ekonomi atau laporan pasar keuangan, tetapi benar-benar terasa di meja makan keluarga.Harga beras naik, minyak goreng belum juga stabil, biaya pendidikan dan kebutuhan sehari-hari semakin membebani. Sebagian orang mulai cemas, sebagian lainnya marah, dan tidak sedikit yang kehilangan harapan.Namun sebagai seorang Muslim, kita diajarkan untuk melihat setiap peristiwa tidak hanya dengan kacamata ekonomi, tetapi juga dengan kacamata iman. Karena di balik setiap kesulitan, terdapat hikmah; dan di balik setiap ujian, terdapat kesempatan untuk mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.Ketika harga naik, ingatlah siapa pengatur rezekiKenaikan harga bukanlah fenomena baru dalam sejarah umat manusia. Bahkan, hal serupa pernah terjadi pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.Ketika harga barang di Madinah melonjak, para sahabat datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan meminta beliau menetapkan harga pasar. Namun, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,إنَّ اللهَ هو المُسَعِّر القابضُ الباسطُ الرازقُ، وإني لأرجو أن ألقى اللهَ وليس أحدٌ منكم يُطالِبُني بمظلمةٍ في دمٍ ولا مالٍ“Sesungguhnya Allah-lah yang menetapkan harga, Yang Maha Menyempitkan (rezeki), Yang Maha Melapangkan (rezeki), dan Yang Maha Memberi rezeki. Sungguh aku berharap dapat bertemu Allah dalam keadaan tidak ada seorang pun di antara kalian yang menuntutku karena suatu kezaliman dalam urusan darah (jiwa) maupun harta.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad)Hadis ini mengajarkan satu pelajaran penting: di balik seluruh mekanisme ekonomi, tetap ada kekuasaan Allah yang mengatur segala sesuatu. Bukan berarti manusia tidak perlu berikhtiar memperbaiki keadaan, tetapi hati seorang mukmin tidak boleh bergantung kepada pasar, kurs mata uang, atau kebijakan ekonomi semata. Hatinya tetap bergantung kepada Allah Ta’ala, Sang Pemberi Rezeki.Ujian yang sudah Allah kabarkanKesulitan ekonomi bukan tanda bahwa Allah membenci hamba-Nya. Justru sering kali ia merupakan bagian dari ujian kehidupan yang telah Allah kabarkan jauh sebelumnya. Allah Ta‘ala berfirman,وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155)Perhatikan bahwa Allah tidak mengatakan “jika” kalian diuji, tetapi “Kami pasti menguji kalian.” Artinya, ujian ekonomi adalah bagian dari sunnatullah dalam kehidupan manusia. Yang membedakan satu orang dengan yang lain bukanlah ada atau tidak adanya ujian, tetapi bagaimana ia menyikapi ujian tersebut.Jangan sampai krisis ekonomi menjadi krisis imanMelemahnya rupiah memang dapat mengurangi daya beli. Namun, yang lebih berbahaya adalah ketika krisis ekonomi berubah menjadi krisis iman. Hal ini karena ketika diuji dengan kesulitan hidup, sebagian orang mulai mempertanyakan keadilan Allah. Sebagian lain meninggalkan ibadah karena terlalu sibuk mengejar penghasilan tambahan. Ada pula yang menempuh jalan haram demi mempertahankan gaya hidupnya.Padahal, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengingatkan,وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا ۝ وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan jalan keluar baginya dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (QS. Ath-Thalaq: 2–3)Ayat ini tidak menjanjikan bahwa hidup orang bertakwa akan selalu mudah. Namun, Allah menjanjikan sesuatu yang lebih besar: jalan keluar dan pertolongan-Nya.Baca juga: Mengenal Nama Allah “Ar-Razzaaq” dan “Ar-Raaziq”Sikap seorang Muslim ketika menghadapi kesulitan ekonomiMengendalikan pengeluaranSaat kondisi ekonomi sulit, seorang Muslim harus lebih bijak dalam mengatur keuangan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang sikap berlebih-lebihan. Banyak kebutuhan yang sebenarnya hanyalah keinginan yang dibungkus sebagai kebutuhan.Momentum sulit seperti ini mengajarkan kita untuk membedakan mana yang benar-benar diperlukan dan mana yang hanya mengikuti gengsi atau tren.Memperkuat tawakalNilai tukar mata uang bisa naik dan turun. Pasar bisa berubah sewaktu-waktu. Namun rezeki yang telah Allah tetapkan tidak akan pernah tertukar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَوْ أَنَّكُمْ تَتَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرُزِقْتُمْ كَمَا يُرْزَقُ الطَّيْرُ“Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakal, niscaya kalian akan diberi rezeki sebagaimana burung diberi rezeki.” (HR. Tirmidzi)Burung tetap keluar dari sarangnya setiap pagi. Ia berusaha, tetapi hatinya tidak bergantung pada usahanya. Inilah hakikat tawakal.Bersikap bijak dan proporsional dalam menyikapi keadaanDalam menghadapi berbagai persoalan ekonomi, seorang Muslim juga dituntut untuk bersikap adil, tenang, dan berbicara berdasarkan ilmu. Tidak setiap peristiwa yang terjadi dapat kita pahami secara menyeluruh. Terlebih persoalan ekonomi makro, nilai tukar mata uang, perdagangan internasional, kebijakan fiskal, maupun dinamika pasar global merupakan bidang yang memiliki pembahasan dan rincian yang sangat luas.Sebagai penuntut ilmu syar’i, khususnya thullab al-hadits, kita perlu menyadari batas kemampuan dan ilmu yang kita miliki. Tidak semua persoalan harus kita komentari seolah-olah kita memahami seluruh sebab dan akibatnya. Allah Ta’ala berfirman,وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ“Dan janganlah engkau mengikuti sesuatu yang tidak engkau miliki ilmu tentangnya.” (QS. Al-Isra’: 36)Ketika terjadi kenaikan harga di Madinah, para sahabat meminta Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menetapkan harga barang. Namun beliau bersabda,إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمُسَعِّرُ الْقَابِضُ الْبَاسِطُ الرَّازِقُ“Sesungguhnya Allah-lah Yang menetapkan harga, Yang Maha Menyempitkan, Yang Maha Melapangkan, dan Yang Maha Memberi Rezeki.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, dan Ahmad)Hadis ini mengajarkan kepada kita bahwa di balik berbagai sebab yang tampak, tetap ada kekuasaan Allah yang mengatur segala sesuatu. Oleh karena itu, seorang Muslim hendaknya tidak mudah larut dalam kepanikan, prasangka buruk, atau tuduhan yang tidak didasari ilmu.Bukan berarti kita menutup mata terhadap realitas yang ada atau menolak berbagai kajian ekonomi yang dilakukan para ahlinya. Namun kita juga tidak boleh berbicara melebihi kadar ilmu yang kita miliki. Jika para ahli ekonomi membahas sebab-sebab teknis terjadinya pelemahan mata uang, maka tugas kita sebagai seorang Muslim adalah mengambil pelajaran syar’i darinya, memperbaiki diri, dan menjaga keimanan.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)Mendoakan pemimpin dan tidak menambah keruh keadaanDi antara sikap yang sering terlupakan ketika terjadi kesulitan adalah mendoakan para pemimpin kaum Muslimin. Para ulama salaf memberikan perhatian besar terhadap masalah ini. Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah pernah berkata,لَوْ كَانَتْ لِي دَعْوَةٌ مُسْتَجَابَةٌ مَا جَعَلْتُهَا إِلَّا فِي السُّلْطَانِ“Seandainya aku memiliki satu doa yang pasti dikabulkan, niscaya akan aku khususkan untuk pemimpin.”[1]Ketika ditanya mengapa demikian, beliau menjelaskan bahwa apabila pemimpin menjadi baik, maka kebaikannya akan dirasakan oleh seluruh rakyat. Oleh karena itu, daripada menghabiskan waktu untuk mencela, menghina, atau menyebarkan kemarahan yang tidak produktif, lebih baik seorang Muslim memperbanyak doa agar Allah memberikan petunjuk, taufik, dan kebijaksanaan kepada para pemimpinnya.Sebab perbaikan sebuah negeri tidak hanya lahir dari kritik, tetapi juga dari doa, nasihat yang baik, dan kontribusi nyata dari masyarakatnya.Muhasabah sebelum menyalahkan orang lainDi samping itu, seorang Muslim hendaknya tidak hanya sibuk mencari kesalahan pihak lain, tetapi juga melakukan muhasabah terhadap dirinya sendiri. Allah Ta’ala berfirman,وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ“Musibah apa pun yang menimpa kalian adalah disebabkan oleh perbuatan tangan kalian sendiri, dan Allah memaafkan banyak (kesalahan).” (QS. Asy-Syura: 30)Para ulama menjelaskan bahwa berbagai musibah yang menimpa suatu masyarakat bisa menjadi sebab agar mereka kembali kepada Allah, meninggalkan maksiat, dan memperbaiki keadaan mereka.Termasuk perkara yang perlu diwaspadai adalah kebiasaan meremehkan kehormatan kaum Muslimin, mencela, menggibah, menyebarkan kebencian, dan menebarkan permusuhan. Dosa-dosa semacam ini sering dianggap ringan, padahal dampaknya sangat besar di sisi Allah.Bukan berarti kita memastikan bahwa setiap kesulitan ekonomi yang terjadi pasti disebabkan oleh dosa tertentu. Tidak ada seorang pun yang dapat memastikan hal itu tanpa dalil. Namun secara umum, syariat mengajarkan bahwa dosa dapat menjadi sebab dicabutnya keberkahan dan datangnya berbagai kesulitan.Oleh karena itu, ketika menghadapi keadaan yang berat, hendaknya kita memperbanyak istigfar, bertobat, memperbaiki lisan, menjaga adab terhadap sesama Muslim, serta menjauhkan diri dari gibah dan celaan yang tidak bermanfaat.Saatnya menghidupkan solidaritasKrisis ekonomi juga menjadi ujian bagi kepedulian sosial kita. Mungkin ada tetangga yang mulai kesulitan membeli beras. Mungkin ada kerabat yang kehilangan pekerjaan. Mungkin ada janda tua yang tidak sanggup membeli kebutuhan pokok.Allah Ta‘ala berfirman,وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى“Dan tolong-menolonglah kalian dalam kebajikan dan ketakwaan.” (QS. Al-Ma’idah: 2)Bisa jadi satu kantong beras yang kita berikan lebih berharga di sisi Allah daripada banyak komentar yang kita tulis di media sosial. Dalam masa sulit, umat Islam seharusnya semakin kuat ikatan persaudaraannya. Yang mampu membantu yang lemah. Yang berkecukupan memperhatikan yang kekurangan. Yang lapang menghibur yang sempit.Baca juga: Keutamaan Menolong Sesama MuslimBelajar dari peristiwa Tahun Abu (عام الرمادة)Pada tahun 18 H, wilayah Hijaz dilanda kekeringan yang sangat parah selama sembilan bulan. Tahun itu dikenal dengan nama ‘Ām ar-Ramādah (Tahun Abu). Disebut demikian karena angin yang berhembus membawa debu seperti abu, atau karena tanah menjadi hitam seperti abu akibat kekeringan yang hebat.Negeri-negeri mengalami gagal panen, ternak banyak yang mati, dan manusia dilanda kelaparan. Kondisinya sangat berat hingga sebagian orang memakan tulang-belulang yang telah hancur dan mencari hewan-hewan kecil seperti tikus gurun untuk dimakan.Musibah besar ini sangat mempengaruhi Khalifah Umar bin Khattab رضي الله عنه. Mantan budaknya, Aslam, berkata,لو لم يرفع الله المحل عام الرمادة لظننا أن عمر يموت هما بأمر المسلمين“Seandainya Allah tidak mengangkat musibah Tahun Ramadah itu, kami mengira Umar akan meninggal karena terlalu memikirkan urusan kaum muslimin.”Umar رضي الله عنه menetapkan program yang sangat ketat bagi dirinya. Beliau ikut merasakan penderitaan rakyatnya agar tidak melupakan keadaan mereka walau sesaat. Sebagai pemimpin, beliau merasa bertanggung jawab penuh atas musibah yang menimpa rakyatnya.Bahkan ketegasan itu juga diterapkan kepada keluarganya. Diceritakan bahwa putranya, Ubaidullah, memiliki seekor hewan kecil yang kemudian disembelih dan dipanggang. Ketika Umar mencium aromanya, beliau curiga bahwa keluarganya menikmati makanan yang tidak dinikmati rakyat. Setelah diselidiki, ternyata benar. Maka Umar melarang keluarganya memakan daging tersebut dan memerintahkan agar diberikan kepada kaum muslimin.Hal ini lahir dari kejujuran dan tanggung jawab beliau terhadap umat. Menurut Umar, keluarganya harus ikut merasakan kesulitan yang dirasakan rakyat, bukan menikmati keistimewaan di atas penderitaan mereka.Langkah-langkah Umar mengatasi krisisMembentuk tim penanganan krisisUmar membentuk sebuah tim yang terdiri dari orang-orang yang ahli dan terpercaya. Beliau membagi tugas kepada mereka dan setiap malam mereka melaporkan perkembangan keadaan kepada beliau. Ini menunjukkan keluasan pandangan Umar. Beliau memahami bahwa krisis besar tidak dapat diselesaikan oleh satu orang saja, meskipun orang itu seorang khalifah.Memberikan makanan yang tersediaBeliau segera mengumpulkan makanan dari pasar-pasar yang ada di Madinah dan daerah sekitarnya untuk dibagikan kepada masyarakat, terutama kaum Badui yang datang ke pinggiran Madinah mencari pertolongan.Meminta bantuan dari daerah lainUmar mengirim surat kepada para gubernurnya di berbagai wilayah Islam. Kepada Amr bin Al-Ash رضي الله عنه di Mesir, beliau menulis,بسم الله الرحمن الرحيم، من عبد الله عمر أمير المؤمنين …، سـلام عليك، أما بعد، أفتراني هـالكا ومن قبلي، وتعيش أنت ومن قبلك، فيا غوثاه، ثلاثا“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dari hamba Allah, Umar Amirul Mukminin, kepada … . Semoga keselamatan atasmu. Amma ba‘du.Apakah engkau membiarkan aku dan rakyat yang bersamaku binasa, sementara engkau dan rakyat yang bersamamu hidup berkecukupan?Tolonglah kami! Tolonglah kami! Tolonglah kami!”Amr bin Al-Ash segera mengirim bantuan besar berupa kafilah-kafilah makanan yang panjangnya disebut sampai dari Madinah hingga Mesir.Surat serupa juga dikirim kepada wilayah-wilayah Islam lainnya.Menerapkan solidaritas sosialUmar memerintahkan agar setiap keluarga di Madinah menanggung keluarga Badui yang membutuhkan. Dengan demikian, seluruh masyarakat berbagi kesulitan dan hidup sederhana hingga Allah mengangkat musibah tersebut.Beliau berkata,فإنهم لن يهلكوا على أنصاف بطونهم“Sesungguhnya mereka tidak akan binasa jika hidup dengan setengah kenyang.”Menunda penarikan zakatKarena kondisi masyarakat yang sangat sulit, Umar menunda pengambilan zakat pada tahun tersebut. Ketika tahun berikutnya keadaan sudah membaik, beliau memerintahkan petugas zakat mengambil zakat dua tahun sekaligus. Sebagiannya dibagikan kepada masyarakat dan sebagiannya lagi disimpan sebagai cadangan untuk menghadapi keadaan darurat di masa depan.Mendirikan gudang panganUmar mendirikan tempat penyimpanan bahan makanan seperti tepung, kurma, gandum, dan makanan lain yang dapat disimpan lama. Gudang ini digunakan untuk membantu musafir, orang-orang yang terputus bekalnya, dan masyarakat yang membutuhkan.Memberantas penimbunan barangSebagian pedagang mencoba memanfaatkan krisis dengan menaikkan harga dan menimbun barang demi keuntungan pribadi. Umar menentang tindakan tersebut dan berkata,لا حكرة في سوقنا“Tidak boleh ada penimbunan di pasar kami.”Beliau melarang para pemilik modal menguasai barang-barang kebutuhan pokok lalu memainkan harga di pasar. Namun pada saat yang sama, beliau tetap mendorong perdagangan yang sehat dan memberi kebebasan kepada para pedagang yang membawa barang dari luar daerah untuk menjualnya secara wajar.Melaksanakan salat istisqa’Di samping berbagai langkah ekonomi dan sosial, Umar tidak melupakan solusi yang paling utama, yaitu memohon pertolongan kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Beliau keluar bersama para sahabat dan Al-Abbas رضي الله عنه untuk melaksanakan salat istisqa’ (salat meminta hujan). Setelah berkhotbah dan salat, Umar berlutut seraya berdoa,اللهم إياك نعبد، وإياك نستعين، اللهم أغفر لنا وارحمنا وارض عنا“Ya Allah, hanya kepada-Mu kami beribadah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan. Ya Allah, ampunilah kami, rahmatilah kami, dan ridailah kami.”Belum lama kembali ke rumah-rumah mereka, hujan pun turun hingga air menggenang di berbagai tempat. [2]Pada akhirnya, setiap orang memiliki ruang ikhtiar yang berbeda-beda. Tidak semua orang memiliki kemampuan mengubah kebijakan ekonomi atau mempengaruhi kondisi pasar dunia. Namun, setiap Muslim mampu memperbaiki dirinya sendiri.Kita bisa memperbaiki salat kita. Kita bisa memperbanyak doa. Kita bisa mengatur pengeluaran dengan lebih bijak. Kita bisa membantu tetangga yang kesulitan. Kita bisa menahan lisan dari gibah dan cacian. Dan kita bisa terus ber-husnuzan (berbaik sangka) kepada Allah sebagai Ar-Razzaq, Zat Yang Maha Memberi Rezeki.Karena sesungguhnya roda ekonomi dunia bisa berputar naik dan turun, tetapi rezeki yang telah Allah tetapkan tidak akan pernah tertukar. Allah Ta’ala berfirman,وَفِي السَّمَاءِ رِزْقُكُمْ وَمَا تُوعَدُونَ“Dan di langit terdapat rezekimu dan apa yang dijanjikan kepadamu.” (QS. Adz-Dzariyat: 22)Ketika rupiah melemah, harga kebutuhan meningkat, dan kehidupan terasa semakin berat, jangan sampai iman ikut melemah. Sebab nilai mata uang memang bisa turun, tetapi keyakinan kepada Allah tidak boleh ikut jatuh.Mari hadapi keadaan ini dengan kesabaran, tawakal, ikhtiar yang halal, serta kepedulian kepada sesama. Perbaiki hubungan dengan Allah, karena keberkahan hidup tidak hanya diukur dari banyaknya harta, tetapi dari ketenangan hati dan pertolongan Allah yang menyertainya.Semoga Allah Subhanahu wa Ta‘ala menjaga negeri ini, melapangkan rezeki kaum Muslimin, mengangkat berbagai kesulitan yang menimpa mereka, dan menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang tetap teguh imannya di tengah berbagai ujian kehidupan.Wallahu Ta‘ala a‘lam bish-shawab.***Jember, 4 Juni 2026Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id  Referensi:[1] Syarah Kitab Syarhi As-Sunnah lil Barbahary, karya Abdul Aziz bin Abdillah Ar-Rajihiy, 6: 14 (melalui Maktabah Syamilah)[2] https://www.islamweb.net/ar


Daftar Isi ToggleKetika harga naik, ingatlah siapa pengatur rezekiUjian yang sudah Allah kabarkanJangan sampai krisis ekonomi menjadi krisis imanSikap seorang Muslim ketika menghadapi kesulitan ekonomiMengendalikan pengeluaranMemperkuat tawakalBersikap bijak dan proporsional dalam menyikapi keadaanMendoakan pemimpin dan tidak menambah keruh keadaanMuhasabah sebelum menyalahkan orang lainSaatnya menghidupkan solidaritasBelajar dari peristiwa Tahun Abu (عام الرمادة)Langkah-langkah Umar mengatasi krisisMembentuk tim penanganan krisisMemberikan makanan yang tersediaMeminta bantuan dari daerah lainMenerapkan solidaritas sosialMenunda penarikan zakatMendirikan gudang panganMemberantas penimbunan barangMelaksanakan salat istisqa’Belakangan ini, masyarakat kembali dihadapkan dengan berbagai kesulitan ekonomi. Nilai rupiah melemah, harga kebutuhan pokok meningkat, biaya hidup terasa semakin berat, sementara penghasilan banyak orang tidak bertambah bahkan ada yang terdampak PHK. Dampaknya bukan hanya terlihat pada angka-angka ekonomi atau laporan pasar keuangan, tetapi benar-benar terasa di meja makan keluarga.Harga beras naik, minyak goreng belum juga stabil, biaya pendidikan dan kebutuhan sehari-hari semakin membebani. Sebagian orang mulai cemas, sebagian lainnya marah, dan tidak sedikit yang kehilangan harapan.Namun sebagai seorang Muslim, kita diajarkan untuk melihat setiap peristiwa tidak hanya dengan kacamata ekonomi, tetapi juga dengan kacamata iman. Karena di balik setiap kesulitan, terdapat hikmah; dan di balik setiap ujian, terdapat kesempatan untuk mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.Ketika harga naik, ingatlah siapa pengatur rezekiKenaikan harga bukanlah fenomena baru dalam sejarah umat manusia. Bahkan, hal serupa pernah terjadi pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.Ketika harga barang di Madinah melonjak, para sahabat datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan meminta beliau menetapkan harga pasar. Namun, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,إنَّ اللهَ هو المُسَعِّر القابضُ الباسطُ الرازقُ، وإني لأرجو أن ألقى اللهَ وليس أحدٌ منكم يُطالِبُني بمظلمةٍ في دمٍ ولا مالٍ“Sesungguhnya Allah-lah yang menetapkan harga, Yang Maha Menyempitkan (rezeki), Yang Maha Melapangkan (rezeki), dan Yang Maha Memberi rezeki. Sungguh aku berharap dapat bertemu Allah dalam keadaan tidak ada seorang pun di antara kalian yang menuntutku karena suatu kezaliman dalam urusan darah (jiwa) maupun harta.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad)Hadis ini mengajarkan satu pelajaran penting: di balik seluruh mekanisme ekonomi, tetap ada kekuasaan Allah yang mengatur segala sesuatu. Bukan berarti manusia tidak perlu berikhtiar memperbaiki keadaan, tetapi hati seorang mukmin tidak boleh bergantung kepada pasar, kurs mata uang, atau kebijakan ekonomi semata. Hatinya tetap bergantung kepada Allah Ta’ala, Sang Pemberi Rezeki.Ujian yang sudah Allah kabarkanKesulitan ekonomi bukan tanda bahwa Allah membenci hamba-Nya. Justru sering kali ia merupakan bagian dari ujian kehidupan yang telah Allah kabarkan jauh sebelumnya. Allah Ta‘ala berfirman,وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155)Perhatikan bahwa Allah tidak mengatakan “jika” kalian diuji, tetapi “Kami pasti menguji kalian.” Artinya, ujian ekonomi adalah bagian dari sunnatullah dalam kehidupan manusia. Yang membedakan satu orang dengan yang lain bukanlah ada atau tidak adanya ujian, tetapi bagaimana ia menyikapi ujian tersebut.Jangan sampai krisis ekonomi menjadi krisis imanMelemahnya rupiah memang dapat mengurangi daya beli. Namun, yang lebih berbahaya adalah ketika krisis ekonomi berubah menjadi krisis iman. Hal ini karena ketika diuji dengan kesulitan hidup, sebagian orang mulai mempertanyakan keadilan Allah. Sebagian lain meninggalkan ibadah karena terlalu sibuk mengejar penghasilan tambahan. Ada pula yang menempuh jalan haram demi mempertahankan gaya hidupnya.Padahal, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengingatkan,وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا ۝ وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan jalan keluar baginya dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (QS. Ath-Thalaq: 2–3)Ayat ini tidak menjanjikan bahwa hidup orang bertakwa akan selalu mudah. Namun, Allah menjanjikan sesuatu yang lebih besar: jalan keluar dan pertolongan-Nya.Baca juga: Mengenal Nama Allah “Ar-Razzaaq” dan “Ar-Raaziq”Sikap seorang Muslim ketika menghadapi kesulitan ekonomiMengendalikan pengeluaranSaat kondisi ekonomi sulit, seorang Muslim harus lebih bijak dalam mengatur keuangan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang sikap berlebih-lebihan. Banyak kebutuhan yang sebenarnya hanyalah keinginan yang dibungkus sebagai kebutuhan.Momentum sulit seperti ini mengajarkan kita untuk membedakan mana yang benar-benar diperlukan dan mana yang hanya mengikuti gengsi atau tren.Memperkuat tawakalNilai tukar mata uang bisa naik dan turun. Pasar bisa berubah sewaktu-waktu. Namun rezeki yang telah Allah tetapkan tidak akan pernah tertukar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَوْ أَنَّكُمْ تَتَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرُزِقْتُمْ كَمَا يُرْزَقُ الطَّيْرُ“Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakal, niscaya kalian akan diberi rezeki sebagaimana burung diberi rezeki.” (HR. Tirmidzi)Burung tetap keluar dari sarangnya setiap pagi. Ia berusaha, tetapi hatinya tidak bergantung pada usahanya. Inilah hakikat tawakal.Bersikap bijak dan proporsional dalam menyikapi keadaanDalam menghadapi berbagai persoalan ekonomi, seorang Muslim juga dituntut untuk bersikap adil, tenang, dan berbicara berdasarkan ilmu. Tidak setiap peristiwa yang terjadi dapat kita pahami secara menyeluruh. Terlebih persoalan ekonomi makro, nilai tukar mata uang, perdagangan internasional, kebijakan fiskal, maupun dinamika pasar global merupakan bidang yang memiliki pembahasan dan rincian yang sangat luas.Sebagai penuntut ilmu syar’i, khususnya thullab al-hadits, kita perlu menyadari batas kemampuan dan ilmu yang kita miliki. Tidak semua persoalan harus kita komentari seolah-olah kita memahami seluruh sebab dan akibatnya. Allah Ta’ala berfirman,وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ“Dan janganlah engkau mengikuti sesuatu yang tidak engkau miliki ilmu tentangnya.” (QS. Al-Isra’: 36)Ketika terjadi kenaikan harga di Madinah, para sahabat meminta Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menetapkan harga barang. Namun beliau bersabda,إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمُسَعِّرُ الْقَابِضُ الْبَاسِطُ الرَّازِقُ“Sesungguhnya Allah-lah Yang menetapkan harga, Yang Maha Menyempitkan, Yang Maha Melapangkan, dan Yang Maha Memberi Rezeki.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, dan Ahmad)Hadis ini mengajarkan kepada kita bahwa di balik berbagai sebab yang tampak, tetap ada kekuasaan Allah yang mengatur segala sesuatu. Oleh karena itu, seorang Muslim hendaknya tidak mudah larut dalam kepanikan, prasangka buruk, atau tuduhan yang tidak didasari ilmu.Bukan berarti kita menutup mata terhadap realitas yang ada atau menolak berbagai kajian ekonomi yang dilakukan para ahlinya. Namun kita juga tidak boleh berbicara melebihi kadar ilmu yang kita miliki. Jika para ahli ekonomi membahas sebab-sebab teknis terjadinya pelemahan mata uang, maka tugas kita sebagai seorang Muslim adalah mengambil pelajaran syar’i darinya, memperbaiki diri, dan menjaga keimanan.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)Mendoakan pemimpin dan tidak menambah keruh keadaanDi antara sikap yang sering terlupakan ketika terjadi kesulitan adalah mendoakan para pemimpin kaum Muslimin. Para ulama salaf memberikan perhatian besar terhadap masalah ini. Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah pernah berkata,لَوْ كَانَتْ لِي دَعْوَةٌ مُسْتَجَابَةٌ مَا جَعَلْتُهَا إِلَّا فِي السُّلْطَانِ“Seandainya aku memiliki satu doa yang pasti dikabulkan, niscaya akan aku khususkan untuk pemimpin.”[1]Ketika ditanya mengapa demikian, beliau menjelaskan bahwa apabila pemimpin menjadi baik, maka kebaikannya akan dirasakan oleh seluruh rakyat. Oleh karena itu, daripada menghabiskan waktu untuk mencela, menghina, atau menyebarkan kemarahan yang tidak produktif, lebih baik seorang Muslim memperbanyak doa agar Allah memberikan petunjuk, taufik, dan kebijaksanaan kepada para pemimpinnya.Sebab perbaikan sebuah negeri tidak hanya lahir dari kritik, tetapi juga dari doa, nasihat yang baik, dan kontribusi nyata dari masyarakatnya.Muhasabah sebelum menyalahkan orang lainDi samping itu, seorang Muslim hendaknya tidak hanya sibuk mencari kesalahan pihak lain, tetapi juga melakukan muhasabah terhadap dirinya sendiri. Allah Ta’ala berfirman,وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ“Musibah apa pun yang menimpa kalian adalah disebabkan oleh perbuatan tangan kalian sendiri, dan Allah memaafkan banyak (kesalahan).” (QS. Asy-Syura: 30)Para ulama menjelaskan bahwa berbagai musibah yang menimpa suatu masyarakat bisa menjadi sebab agar mereka kembali kepada Allah, meninggalkan maksiat, dan memperbaiki keadaan mereka.Termasuk perkara yang perlu diwaspadai adalah kebiasaan meremehkan kehormatan kaum Muslimin, mencela, menggibah, menyebarkan kebencian, dan menebarkan permusuhan. Dosa-dosa semacam ini sering dianggap ringan, padahal dampaknya sangat besar di sisi Allah.Bukan berarti kita memastikan bahwa setiap kesulitan ekonomi yang terjadi pasti disebabkan oleh dosa tertentu. Tidak ada seorang pun yang dapat memastikan hal itu tanpa dalil. Namun secara umum, syariat mengajarkan bahwa dosa dapat menjadi sebab dicabutnya keberkahan dan datangnya berbagai kesulitan.Oleh karena itu, ketika menghadapi keadaan yang berat, hendaknya kita memperbanyak istigfar, bertobat, memperbaiki lisan, menjaga adab terhadap sesama Muslim, serta menjauhkan diri dari gibah dan celaan yang tidak bermanfaat.Saatnya menghidupkan solidaritasKrisis ekonomi juga menjadi ujian bagi kepedulian sosial kita. Mungkin ada tetangga yang mulai kesulitan membeli beras. Mungkin ada kerabat yang kehilangan pekerjaan. Mungkin ada janda tua yang tidak sanggup membeli kebutuhan pokok.Allah Ta‘ala berfirman,وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى“Dan tolong-menolonglah kalian dalam kebajikan dan ketakwaan.” (QS. Al-Ma’idah: 2)Bisa jadi satu kantong beras yang kita berikan lebih berharga di sisi Allah daripada banyak komentar yang kita tulis di media sosial. Dalam masa sulit, umat Islam seharusnya semakin kuat ikatan persaudaraannya. Yang mampu membantu yang lemah. Yang berkecukupan memperhatikan yang kekurangan. Yang lapang menghibur yang sempit.Baca juga: Keutamaan Menolong Sesama MuslimBelajar dari peristiwa Tahun Abu (عام الرمادة)Pada tahun 18 H, wilayah Hijaz dilanda kekeringan yang sangat parah selama sembilan bulan. Tahun itu dikenal dengan nama ‘Ām ar-Ramādah (Tahun Abu). Disebut demikian karena angin yang berhembus membawa debu seperti abu, atau karena tanah menjadi hitam seperti abu akibat kekeringan yang hebat.Negeri-negeri mengalami gagal panen, ternak banyak yang mati, dan manusia dilanda kelaparan. Kondisinya sangat berat hingga sebagian orang memakan tulang-belulang yang telah hancur dan mencari hewan-hewan kecil seperti tikus gurun untuk dimakan.Musibah besar ini sangat mempengaruhi Khalifah Umar bin Khattab رضي الله عنه. Mantan budaknya, Aslam, berkata,لو لم يرفع الله المحل عام الرمادة لظننا أن عمر يموت هما بأمر المسلمين“Seandainya Allah tidak mengangkat musibah Tahun Ramadah itu, kami mengira Umar akan meninggal karena terlalu memikirkan urusan kaum muslimin.”Umar رضي الله عنه menetapkan program yang sangat ketat bagi dirinya. Beliau ikut merasakan penderitaan rakyatnya agar tidak melupakan keadaan mereka walau sesaat. Sebagai pemimpin, beliau merasa bertanggung jawab penuh atas musibah yang menimpa rakyatnya.Bahkan ketegasan itu juga diterapkan kepada keluarganya. Diceritakan bahwa putranya, Ubaidullah, memiliki seekor hewan kecil yang kemudian disembelih dan dipanggang. Ketika Umar mencium aromanya, beliau curiga bahwa keluarganya menikmati makanan yang tidak dinikmati rakyat. Setelah diselidiki, ternyata benar. Maka Umar melarang keluarganya memakan daging tersebut dan memerintahkan agar diberikan kepada kaum muslimin.Hal ini lahir dari kejujuran dan tanggung jawab beliau terhadap umat. Menurut Umar, keluarganya harus ikut merasakan kesulitan yang dirasakan rakyat, bukan menikmati keistimewaan di atas penderitaan mereka.Langkah-langkah Umar mengatasi krisisMembentuk tim penanganan krisisUmar membentuk sebuah tim yang terdiri dari orang-orang yang ahli dan terpercaya. Beliau membagi tugas kepada mereka dan setiap malam mereka melaporkan perkembangan keadaan kepada beliau. Ini menunjukkan keluasan pandangan Umar. Beliau memahami bahwa krisis besar tidak dapat diselesaikan oleh satu orang saja, meskipun orang itu seorang khalifah.Memberikan makanan yang tersediaBeliau segera mengumpulkan makanan dari pasar-pasar yang ada di Madinah dan daerah sekitarnya untuk dibagikan kepada masyarakat, terutama kaum Badui yang datang ke pinggiran Madinah mencari pertolongan.Meminta bantuan dari daerah lainUmar mengirim surat kepada para gubernurnya di berbagai wilayah Islam. Kepada Amr bin Al-Ash رضي الله عنه di Mesir, beliau menulis,بسم الله الرحمن الرحيم، من عبد الله عمر أمير المؤمنين …، سـلام عليك، أما بعد، أفتراني هـالكا ومن قبلي، وتعيش أنت ومن قبلك، فيا غوثاه، ثلاثا“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dari hamba Allah, Umar Amirul Mukminin, kepada … . Semoga keselamatan atasmu. Amma ba‘du.Apakah engkau membiarkan aku dan rakyat yang bersamaku binasa, sementara engkau dan rakyat yang bersamamu hidup berkecukupan?Tolonglah kami! Tolonglah kami! Tolonglah kami!”Amr bin Al-Ash segera mengirim bantuan besar berupa kafilah-kafilah makanan yang panjangnya disebut sampai dari Madinah hingga Mesir.Surat serupa juga dikirim kepada wilayah-wilayah Islam lainnya.Menerapkan solidaritas sosialUmar memerintahkan agar setiap keluarga di Madinah menanggung keluarga Badui yang membutuhkan. Dengan demikian, seluruh masyarakat berbagi kesulitan dan hidup sederhana hingga Allah mengangkat musibah tersebut.Beliau berkata,فإنهم لن يهلكوا على أنصاف بطونهم“Sesungguhnya mereka tidak akan binasa jika hidup dengan setengah kenyang.”Menunda penarikan zakatKarena kondisi masyarakat yang sangat sulit, Umar menunda pengambilan zakat pada tahun tersebut. Ketika tahun berikutnya keadaan sudah membaik, beliau memerintahkan petugas zakat mengambil zakat dua tahun sekaligus. Sebagiannya dibagikan kepada masyarakat dan sebagiannya lagi disimpan sebagai cadangan untuk menghadapi keadaan darurat di masa depan.Mendirikan gudang panganUmar mendirikan tempat penyimpanan bahan makanan seperti tepung, kurma, gandum, dan makanan lain yang dapat disimpan lama. Gudang ini digunakan untuk membantu musafir, orang-orang yang terputus bekalnya, dan masyarakat yang membutuhkan.Memberantas penimbunan barangSebagian pedagang mencoba memanfaatkan krisis dengan menaikkan harga dan menimbun barang demi keuntungan pribadi. Umar menentang tindakan tersebut dan berkata,لا حكرة في سوقنا“Tidak boleh ada penimbunan di pasar kami.”Beliau melarang para pemilik modal menguasai barang-barang kebutuhan pokok lalu memainkan harga di pasar. Namun pada saat yang sama, beliau tetap mendorong perdagangan yang sehat dan memberi kebebasan kepada para pedagang yang membawa barang dari luar daerah untuk menjualnya secara wajar.Melaksanakan salat istisqa’Di samping berbagai langkah ekonomi dan sosial, Umar tidak melupakan solusi yang paling utama, yaitu memohon pertolongan kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Beliau keluar bersama para sahabat dan Al-Abbas رضي الله عنه untuk melaksanakan salat istisqa’ (salat meminta hujan). Setelah berkhotbah dan salat, Umar berlutut seraya berdoa,اللهم إياك نعبد، وإياك نستعين، اللهم أغفر لنا وارحمنا وارض عنا“Ya Allah, hanya kepada-Mu kami beribadah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan. Ya Allah, ampunilah kami, rahmatilah kami, dan ridailah kami.”Belum lama kembali ke rumah-rumah mereka, hujan pun turun hingga air menggenang di berbagai tempat. [2]Pada akhirnya, setiap orang memiliki ruang ikhtiar yang berbeda-beda. Tidak semua orang memiliki kemampuan mengubah kebijakan ekonomi atau mempengaruhi kondisi pasar dunia. Namun, setiap Muslim mampu memperbaiki dirinya sendiri.Kita bisa memperbaiki salat kita. Kita bisa memperbanyak doa. Kita bisa mengatur pengeluaran dengan lebih bijak. Kita bisa membantu tetangga yang kesulitan. Kita bisa menahan lisan dari gibah dan cacian. Dan kita bisa terus ber-husnuzan (berbaik sangka) kepada Allah sebagai Ar-Razzaq, Zat Yang Maha Memberi Rezeki.Karena sesungguhnya roda ekonomi dunia bisa berputar naik dan turun, tetapi rezeki yang telah Allah tetapkan tidak akan pernah tertukar. Allah Ta’ala berfirman,وَفِي السَّمَاءِ رِزْقُكُمْ وَمَا تُوعَدُونَ“Dan di langit terdapat rezekimu dan apa yang dijanjikan kepadamu.” (QS. Adz-Dzariyat: 22)Ketika rupiah melemah, harga kebutuhan meningkat, dan kehidupan terasa semakin berat, jangan sampai iman ikut melemah. Sebab nilai mata uang memang bisa turun, tetapi keyakinan kepada Allah tidak boleh ikut jatuh.Mari hadapi keadaan ini dengan kesabaran, tawakal, ikhtiar yang halal, serta kepedulian kepada sesama. Perbaiki hubungan dengan Allah, karena keberkahan hidup tidak hanya diukur dari banyaknya harta, tetapi dari ketenangan hati dan pertolongan Allah yang menyertainya.Semoga Allah Subhanahu wa Ta‘ala menjaga negeri ini, melapangkan rezeki kaum Muslimin, mengangkat berbagai kesulitan yang menimpa mereka, dan menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang tetap teguh imannya di tengah berbagai ujian kehidupan.Wallahu Ta‘ala a‘lam bish-shawab.***Jember, 4 Juni 2026Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id  Referensi:[1] Syarah Kitab Syarhi As-Sunnah lil Barbahary, karya Abdul Aziz bin Abdillah Ar-Rajihiy, 6: 14 (melalui Maktabah Syamilah)[2] https://www.islamweb.net/ar

Kamu Orang Kaya, Hartamu Halal, tapi Kenapa Keluargamu Tak Bahagia? Syaikh Abdussalam Asy-Syuwai’ir

Mereka mengira bahwa dengan tidak mau membayar zakat, mereka dapat menambah harta, membuat hartanya berlimpah, dan mereka pun bisa menikmatinya di dunia.Namun, hakikatnya justru: “Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka.” (QS. Ali Imran: 180) Adapun keburukannya di akhirat, itu sudah jelas. Sedangkan keburukannya di dunia adalah: barang siapa yang tidak mau membayar zakat hartanya, ia akan kehilangan keberkahan harta itu. Telah disebutkan dalam satu hadis yang diriwayatkan oleh Al-Humaidi dalam Al-Musnad dan Asy-Syafi’i dalam kitab-kitabnya, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:“Tidaklah zakat bercampur dengan suatu harta, melainkan akan merusaknya.” Sebagian perawi hadis ini — sebagaimana dinukil Al-Humaidi dalam Al-Musnad —menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan “bercampurnya zakat dengan harta” adalah menunda pembayaran zakat setelah tiba waktu wajibnya ditunaikan. Jadi, menunda pembayaran zakat setelah wajib ditunaikan akan merusak harta tersebut. Lalu bagaimana menurutmu dengan orang yang tidak membayar zakat hartanya sepanjang satu tahun penuh, bahkan enggan menunaikannya selama bertahun-tahun?Tentu hal itu akan merusak hartanya. Lalu apabila ia merusak harta, maka juga akan merusak badan dan anak keturunan. Betapa banyak orang yang menengadahkan kedua tangannya ke langit, berdoa kepada Allah ‘Azza wa Jalla, padahal makanannya haram, minumannya haram, dan ia hidup dari yang haram, maka bagaimana mungkin doanya akan dikabulkan?! Orang yang enggan membayar zakat ini, hartanya rusak, sehingga makanannya pun menjadi haram, maka bagaimana mungkin doanya akan dikabulkan?! Hal yang sama juga berlaku pada kesalehan anak-anaknya, pada kebaikan jasadnya,keberkahan waktunya, dan seterusnya. “Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka.” (QS. Ali Imran: 180). “Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di leher mereka, di hari kiamat.” (QS. Ali Imran: 180). Ketika seseorang berhias dengan hartanya dan menjadikannya kalung di lehernya,memakai perhiasan emas dan perak sebagai kalung di lehernya, maka pada hari Kiamat ia dibalas dengan kebalikan dari apa yang ia inginkan: dikalungkan kepadanya seekor ular yang mengerikan rupanya, sementara semua orang menatapnya dan tahu bahwa ia dahulu enggan membayar zakat di dunia. Ular itu terasa amat berat dan menyiksa setiap gerak dan langkahnya di hari Kiamat. Balasan itu setimpal dengan amalannya, belum lagi azab akhirat yang menantinya. “Dan kepunyaan Allah-lah segala warisan yang ada di langit dan di bumi…” (QS. Ali Imran: 180). Makna “warisan” di sini — sebagaimana dijelaskan para ahli bahasa, di antaranya Ibnu Al-Anbari — adalah bahwa hanya Allah ‘Azza wa Jalla semata yang memiliki langit dan bumi. Maka harta-harta ini, pada hakikatnya, adalah milik Allah ‘Azza wa Jalla. Kita hanyalah pihak yang dititipi untuk menjaganya, sebagai khalifah di muka bumi. Kita hanyalah para penerus, sebagian kita mewarisi dari sebagian yang lain dalam mengemban harta-harta ini. Sebagian kita pun mewarisi dari sebagian yang lain dalam mengemban tanah-tanah ini. Tanah yang engkau tinggali dan kau dirikan rumah di atasnya, dahulu dimiliki oleh banyak kaum yang hanya Allah yang mengetahui mereka, kemudian barulah beralih ke tanganmu. Lalu setelahmu, ia akan beralih lagi ke tangan orang-orang lain. Manusia hanyalah para penerus di muka bumi, sebagian menggantikan sebagian yang lain, sementara mereka hanyalah pihak yang diserahi amanah atas harta milik Allah ‘Azza wa Jalla. Dan kewajiban terbesar yang harus ditunaikan seseorang dari harta itu adalah membayar zakatnya. Dalam beberapa menit yang tersisa ini, jika masih memungkinkan, kita akan membahas — dengan izin Allah ‘Azza wa Jalla — sebagian hukum-hukum zakat. Sebab kewajiban pertama berkaitan dengan zakat adalah seseorang harus mengetahui bahwa zakat itu wajib, kemudian mempelajari hukum-hukumnya. Dan saya akan menyebutkan sebagian hukum zakat yang paling penting secara singkat dan padat. ===== يَظُنُّونَ أَنَّ مَنْعَهُمُ الزَّكَاةَ يَزِيدُ مَالَهُمْ وَيُوَفِّرُهُ وَيُمْكِنُهُمْ أَنْ يَتَمَتَّعُوا بِهِ فِي الدُّنْيَا لَكِنَّ الْحَقِيقَةَ بَلْ هُوَ شَرٌّ لَهُمْ أَمَّا كَوْنُهُ شَرًّا فِي الْآخِرَةِ فَوَاضِحٌ وَأَمَّا كَوْنُهُ شَرًّا فِي الدُّنْيَا فَإِنَّ مَنْ مَنَعَ زَكَاةَ مَالِهِ فَقَدَ بَرَكَةَ الْمَالِ وَقَدْ جَاءَ فِي الْخَبَرِالَّذِي رَوَاهُ الْحُمَيْدِيُّ فِي الْمُسْنَدِ وَالشَّافِعِيُّ فِي كُتُبِهِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا خَالَطَتِ الزَّكَاةُ مَالًا قَطُّ إِلَّا أَفْسَدَتْهُ جَاءَ عَنْ بَعْضِ رُوَاةِ الْحَدِيثِ كَمَا نَقَلَهُ الْحُمَيْدِيُّ فِي مُسْنَدِهِ قَالَ إِنَّ مُخَالَطَةَ الزَّكَاةِ لِلْمَالِ بِأَنْ يُؤَخِّرَ الزَّكَاةَ عَنْ وَقْتِ وُجُوبِهَا فَإِنَّ تَأْخِيرَ الزَّكَاةِ عَنْ وَقْتِ وُجُوبِهَا يُفْسِدُ الْمَالَ فَمَا ظَنُّكَ بِمَنْ مَنَعَ زَكَاةَ مَالِهِ سَنَتَهُ كُلَّهَا وَامْتَنَعَ مِنْ أَدَائِهَا أَعْوَامًا مُتَعَدِّدَةً إِذًا تُفْسِدُ الْمَالَ وَإِذَا أَفْسَدَتِ الْمَالَ أَفْسَدَتِ الْبَدَنَ وَالْأَبْنَاءَ رُبَّ رَجُلٍ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ يَدْعُو اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ وَغُذِيَ بِحَرَامٍ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ هَذَا الَّذِي يَمْنَعُ الزَّكَاةَ يَفْسُدُ مَالُهُ فَيَكُونُ مَطْعَمُهُ حَرَامًا فَكَيْفَ يُسْتَجَابُ دُعَاؤُهُ وَمِثْلُهُ يُقَالُ أَيْضًا فِي صَلَاحِ أَبْنَائِهِ وَمِثْلُهُ يُقَالُ أَيْضًا فِي صَلَاحِ جَسَدِهِ وَبَرَكَةِ وَقْتِهِ وَغَيْرِ ذَلِكَ بَلْ هُوَ شَرٌّ لَهُمْ سَيُطَوَّقُونَ مَا بَخِلُوا بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَمَّا كَانَ الْمَرْءُ يَتَجَمَّلُ بِالْمَالِ وَيَجْعَلُهُ طَوْقًا فِي عُنُقِهِ فَيَجْعَلُ الْحُلِيَّ ذَهَبًا وَفِضَّةً طَوْقًا فِي عُنُقِهِ عُوقِبَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِضِدِّ قَصْدِهِ فَيُطَوَّقُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَيَّةً تَكُونُ سَيِّئَةَ الشَّكْلِ فَيَنْظُرُ النَّاسُ إِلَيْهِ وَقَدْ عَرَفُوا أَنَّهُ قَدْ مَنَعَ زَكَاةَ مَالِهِ فِي الدُّنْيَا وَتَكُونُ ثَقِيلَةً عَلَيْهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مُؤْذِيَةً لَهُ فِي حَرَكَتِهِ وَمَشْيِهِ فَالْجَزَاءُ مِنْ جِنْسِ الْعَمَلِ نَاهِيكَ عَنْ عَذَابِ يَوْمِ الْآخِرَةِ وَلِلَّهِ مِيرَاثُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ مَعْنَى الْمِيرَاثِ كَمَا قَالَ أَهْلُ اللُّغَةِ وَمِنْهُمُ ابْنُ الْأَنْبَارِيِّ أَيْ أَنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ هُوَ الْمُنْفَرِدُ بِمِلْكِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ فَهَذِهِ الْأَمْوَالُ مُلْكُهَا لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى الْحَقِيقَةِ وَإِنَّمَا نَحْنُ مُسْتَحْفَظُونَ فِيهَا وَنَحْنُ خَلَائِفُ عَلَى الْأَرْضِ فَنَحْنُ خَلَائِفُ بَعْضُنَا يَخْلُفُ بَعْضًا فِي هَذِهِ الْأَمْوَالِ وَبَعْضُنَا يَخْلُفُ بَعْضًا فِي هَذِهِ الْأَرْضِينَ فَهَذِهِ الْأَرْضُ الَّتِي تَسْكُنُهَا وَتَبْنِي بَيْتَكَ عَلَيْهَا كَانَتْ قَبْلَكَ لِأَقْوَامٍ وَفِئَامٍ اللَّهُ أَعْلَمُ بِهِمْ ثُمَّ صَارَتْ إِلَيْكَ ثُمَّ بَعْدَكَ سَتَصِيرُ إِلَى أُنَاسٍ آخَرِينَ فَالْبَشَرُ خَلَائِفُ فِي الْأَرْضِ يَخْلُفُ بَعْضُهُمْ بَعْضًا وَهُمْ مُسْتَخْلَفُونَ فِي مَالِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَأَعْظَمُ مَا يَجِبُ أَنْ يُخْرِجَ الْمَرْءُ زَكَاةَ مَالِهِ وَفِي هَذِهِ الدَّقَائِقِ الْبَاقِيَةِ إِنْ أَمْكَنَ سَنَتَحَدَّثُ بِإِذْنِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ عَنْ بَعْضِ أَحْكَامِ الزَّكَاةِ لِأَنَّ أَوَّلَ مَا يَجِبُ فِي الزَّكَاةِ أَنْ يَعْرِفَ الْمَرْءُ وُجُوبَ حُكْمِهَا ثُمَّ أَنْ يَتَعَلَّمَ أَحْكَامَهَا وَسَأَذْكُرُ بَعْضًا مِنْ أَهَمِّ أَحْكَامِ الزَّكَاةِ عَلَى سَبِيلِ السُّرْعَةِ وَالْإِيجَازِ

Kamu Orang Kaya, Hartamu Halal, tapi Kenapa Keluargamu Tak Bahagia? Syaikh Abdussalam Asy-Syuwai’ir

Mereka mengira bahwa dengan tidak mau membayar zakat, mereka dapat menambah harta, membuat hartanya berlimpah, dan mereka pun bisa menikmatinya di dunia.Namun, hakikatnya justru: “Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka.” (QS. Ali Imran: 180) Adapun keburukannya di akhirat, itu sudah jelas. Sedangkan keburukannya di dunia adalah: barang siapa yang tidak mau membayar zakat hartanya, ia akan kehilangan keberkahan harta itu. Telah disebutkan dalam satu hadis yang diriwayatkan oleh Al-Humaidi dalam Al-Musnad dan Asy-Syafi’i dalam kitab-kitabnya, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:“Tidaklah zakat bercampur dengan suatu harta, melainkan akan merusaknya.” Sebagian perawi hadis ini — sebagaimana dinukil Al-Humaidi dalam Al-Musnad —menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan “bercampurnya zakat dengan harta” adalah menunda pembayaran zakat setelah tiba waktu wajibnya ditunaikan. Jadi, menunda pembayaran zakat setelah wajib ditunaikan akan merusak harta tersebut. Lalu bagaimana menurutmu dengan orang yang tidak membayar zakat hartanya sepanjang satu tahun penuh, bahkan enggan menunaikannya selama bertahun-tahun?Tentu hal itu akan merusak hartanya. Lalu apabila ia merusak harta, maka juga akan merusak badan dan anak keturunan. Betapa banyak orang yang menengadahkan kedua tangannya ke langit, berdoa kepada Allah ‘Azza wa Jalla, padahal makanannya haram, minumannya haram, dan ia hidup dari yang haram, maka bagaimana mungkin doanya akan dikabulkan?! Orang yang enggan membayar zakat ini, hartanya rusak, sehingga makanannya pun menjadi haram, maka bagaimana mungkin doanya akan dikabulkan?! Hal yang sama juga berlaku pada kesalehan anak-anaknya, pada kebaikan jasadnya,keberkahan waktunya, dan seterusnya. “Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka.” (QS. Ali Imran: 180). “Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di leher mereka, di hari kiamat.” (QS. Ali Imran: 180). Ketika seseorang berhias dengan hartanya dan menjadikannya kalung di lehernya,memakai perhiasan emas dan perak sebagai kalung di lehernya, maka pada hari Kiamat ia dibalas dengan kebalikan dari apa yang ia inginkan: dikalungkan kepadanya seekor ular yang mengerikan rupanya, sementara semua orang menatapnya dan tahu bahwa ia dahulu enggan membayar zakat di dunia. Ular itu terasa amat berat dan menyiksa setiap gerak dan langkahnya di hari Kiamat. Balasan itu setimpal dengan amalannya, belum lagi azab akhirat yang menantinya. “Dan kepunyaan Allah-lah segala warisan yang ada di langit dan di bumi…” (QS. Ali Imran: 180). Makna “warisan” di sini — sebagaimana dijelaskan para ahli bahasa, di antaranya Ibnu Al-Anbari — adalah bahwa hanya Allah ‘Azza wa Jalla semata yang memiliki langit dan bumi. Maka harta-harta ini, pada hakikatnya, adalah milik Allah ‘Azza wa Jalla. Kita hanyalah pihak yang dititipi untuk menjaganya, sebagai khalifah di muka bumi. Kita hanyalah para penerus, sebagian kita mewarisi dari sebagian yang lain dalam mengemban harta-harta ini. Sebagian kita pun mewarisi dari sebagian yang lain dalam mengemban tanah-tanah ini. Tanah yang engkau tinggali dan kau dirikan rumah di atasnya, dahulu dimiliki oleh banyak kaum yang hanya Allah yang mengetahui mereka, kemudian barulah beralih ke tanganmu. Lalu setelahmu, ia akan beralih lagi ke tangan orang-orang lain. Manusia hanyalah para penerus di muka bumi, sebagian menggantikan sebagian yang lain, sementara mereka hanyalah pihak yang diserahi amanah atas harta milik Allah ‘Azza wa Jalla. Dan kewajiban terbesar yang harus ditunaikan seseorang dari harta itu adalah membayar zakatnya. Dalam beberapa menit yang tersisa ini, jika masih memungkinkan, kita akan membahas — dengan izin Allah ‘Azza wa Jalla — sebagian hukum-hukum zakat. Sebab kewajiban pertama berkaitan dengan zakat adalah seseorang harus mengetahui bahwa zakat itu wajib, kemudian mempelajari hukum-hukumnya. Dan saya akan menyebutkan sebagian hukum zakat yang paling penting secara singkat dan padat. ===== يَظُنُّونَ أَنَّ مَنْعَهُمُ الزَّكَاةَ يَزِيدُ مَالَهُمْ وَيُوَفِّرُهُ وَيُمْكِنُهُمْ أَنْ يَتَمَتَّعُوا بِهِ فِي الدُّنْيَا لَكِنَّ الْحَقِيقَةَ بَلْ هُوَ شَرٌّ لَهُمْ أَمَّا كَوْنُهُ شَرًّا فِي الْآخِرَةِ فَوَاضِحٌ وَأَمَّا كَوْنُهُ شَرًّا فِي الدُّنْيَا فَإِنَّ مَنْ مَنَعَ زَكَاةَ مَالِهِ فَقَدَ بَرَكَةَ الْمَالِ وَقَدْ جَاءَ فِي الْخَبَرِالَّذِي رَوَاهُ الْحُمَيْدِيُّ فِي الْمُسْنَدِ وَالشَّافِعِيُّ فِي كُتُبِهِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا خَالَطَتِ الزَّكَاةُ مَالًا قَطُّ إِلَّا أَفْسَدَتْهُ جَاءَ عَنْ بَعْضِ رُوَاةِ الْحَدِيثِ كَمَا نَقَلَهُ الْحُمَيْدِيُّ فِي مُسْنَدِهِ قَالَ إِنَّ مُخَالَطَةَ الزَّكَاةِ لِلْمَالِ بِأَنْ يُؤَخِّرَ الزَّكَاةَ عَنْ وَقْتِ وُجُوبِهَا فَإِنَّ تَأْخِيرَ الزَّكَاةِ عَنْ وَقْتِ وُجُوبِهَا يُفْسِدُ الْمَالَ فَمَا ظَنُّكَ بِمَنْ مَنَعَ زَكَاةَ مَالِهِ سَنَتَهُ كُلَّهَا وَامْتَنَعَ مِنْ أَدَائِهَا أَعْوَامًا مُتَعَدِّدَةً إِذًا تُفْسِدُ الْمَالَ وَإِذَا أَفْسَدَتِ الْمَالَ أَفْسَدَتِ الْبَدَنَ وَالْأَبْنَاءَ رُبَّ رَجُلٍ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ يَدْعُو اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ وَغُذِيَ بِحَرَامٍ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ هَذَا الَّذِي يَمْنَعُ الزَّكَاةَ يَفْسُدُ مَالُهُ فَيَكُونُ مَطْعَمُهُ حَرَامًا فَكَيْفَ يُسْتَجَابُ دُعَاؤُهُ وَمِثْلُهُ يُقَالُ أَيْضًا فِي صَلَاحِ أَبْنَائِهِ وَمِثْلُهُ يُقَالُ أَيْضًا فِي صَلَاحِ جَسَدِهِ وَبَرَكَةِ وَقْتِهِ وَغَيْرِ ذَلِكَ بَلْ هُوَ شَرٌّ لَهُمْ سَيُطَوَّقُونَ مَا بَخِلُوا بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَمَّا كَانَ الْمَرْءُ يَتَجَمَّلُ بِالْمَالِ وَيَجْعَلُهُ طَوْقًا فِي عُنُقِهِ فَيَجْعَلُ الْحُلِيَّ ذَهَبًا وَفِضَّةً طَوْقًا فِي عُنُقِهِ عُوقِبَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِضِدِّ قَصْدِهِ فَيُطَوَّقُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَيَّةً تَكُونُ سَيِّئَةَ الشَّكْلِ فَيَنْظُرُ النَّاسُ إِلَيْهِ وَقَدْ عَرَفُوا أَنَّهُ قَدْ مَنَعَ زَكَاةَ مَالِهِ فِي الدُّنْيَا وَتَكُونُ ثَقِيلَةً عَلَيْهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مُؤْذِيَةً لَهُ فِي حَرَكَتِهِ وَمَشْيِهِ فَالْجَزَاءُ مِنْ جِنْسِ الْعَمَلِ نَاهِيكَ عَنْ عَذَابِ يَوْمِ الْآخِرَةِ وَلِلَّهِ مِيرَاثُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ مَعْنَى الْمِيرَاثِ كَمَا قَالَ أَهْلُ اللُّغَةِ وَمِنْهُمُ ابْنُ الْأَنْبَارِيِّ أَيْ أَنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ هُوَ الْمُنْفَرِدُ بِمِلْكِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ فَهَذِهِ الْأَمْوَالُ مُلْكُهَا لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى الْحَقِيقَةِ وَإِنَّمَا نَحْنُ مُسْتَحْفَظُونَ فِيهَا وَنَحْنُ خَلَائِفُ عَلَى الْأَرْضِ فَنَحْنُ خَلَائِفُ بَعْضُنَا يَخْلُفُ بَعْضًا فِي هَذِهِ الْأَمْوَالِ وَبَعْضُنَا يَخْلُفُ بَعْضًا فِي هَذِهِ الْأَرْضِينَ فَهَذِهِ الْأَرْضُ الَّتِي تَسْكُنُهَا وَتَبْنِي بَيْتَكَ عَلَيْهَا كَانَتْ قَبْلَكَ لِأَقْوَامٍ وَفِئَامٍ اللَّهُ أَعْلَمُ بِهِمْ ثُمَّ صَارَتْ إِلَيْكَ ثُمَّ بَعْدَكَ سَتَصِيرُ إِلَى أُنَاسٍ آخَرِينَ فَالْبَشَرُ خَلَائِفُ فِي الْأَرْضِ يَخْلُفُ بَعْضُهُمْ بَعْضًا وَهُمْ مُسْتَخْلَفُونَ فِي مَالِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَأَعْظَمُ مَا يَجِبُ أَنْ يُخْرِجَ الْمَرْءُ زَكَاةَ مَالِهِ وَفِي هَذِهِ الدَّقَائِقِ الْبَاقِيَةِ إِنْ أَمْكَنَ سَنَتَحَدَّثُ بِإِذْنِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ عَنْ بَعْضِ أَحْكَامِ الزَّكَاةِ لِأَنَّ أَوَّلَ مَا يَجِبُ فِي الزَّكَاةِ أَنْ يَعْرِفَ الْمَرْءُ وُجُوبَ حُكْمِهَا ثُمَّ أَنْ يَتَعَلَّمَ أَحْكَامَهَا وَسَأَذْكُرُ بَعْضًا مِنْ أَهَمِّ أَحْكَامِ الزَّكَاةِ عَلَى سَبِيلِ السُّرْعَةِ وَالْإِيجَازِ
Mereka mengira bahwa dengan tidak mau membayar zakat, mereka dapat menambah harta, membuat hartanya berlimpah, dan mereka pun bisa menikmatinya di dunia.Namun, hakikatnya justru: “Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka.” (QS. Ali Imran: 180) Adapun keburukannya di akhirat, itu sudah jelas. Sedangkan keburukannya di dunia adalah: barang siapa yang tidak mau membayar zakat hartanya, ia akan kehilangan keberkahan harta itu. Telah disebutkan dalam satu hadis yang diriwayatkan oleh Al-Humaidi dalam Al-Musnad dan Asy-Syafi’i dalam kitab-kitabnya, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:“Tidaklah zakat bercampur dengan suatu harta, melainkan akan merusaknya.” Sebagian perawi hadis ini — sebagaimana dinukil Al-Humaidi dalam Al-Musnad —menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan “bercampurnya zakat dengan harta” adalah menunda pembayaran zakat setelah tiba waktu wajibnya ditunaikan. Jadi, menunda pembayaran zakat setelah wajib ditunaikan akan merusak harta tersebut. Lalu bagaimana menurutmu dengan orang yang tidak membayar zakat hartanya sepanjang satu tahun penuh, bahkan enggan menunaikannya selama bertahun-tahun?Tentu hal itu akan merusak hartanya. Lalu apabila ia merusak harta, maka juga akan merusak badan dan anak keturunan. Betapa banyak orang yang menengadahkan kedua tangannya ke langit, berdoa kepada Allah ‘Azza wa Jalla, padahal makanannya haram, minumannya haram, dan ia hidup dari yang haram, maka bagaimana mungkin doanya akan dikabulkan?! Orang yang enggan membayar zakat ini, hartanya rusak, sehingga makanannya pun menjadi haram, maka bagaimana mungkin doanya akan dikabulkan?! Hal yang sama juga berlaku pada kesalehan anak-anaknya, pada kebaikan jasadnya,keberkahan waktunya, dan seterusnya. “Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka.” (QS. Ali Imran: 180). “Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di leher mereka, di hari kiamat.” (QS. Ali Imran: 180). Ketika seseorang berhias dengan hartanya dan menjadikannya kalung di lehernya,memakai perhiasan emas dan perak sebagai kalung di lehernya, maka pada hari Kiamat ia dibalas dengan kebalikan dari apa yang ia inginkan: dikalungkan kepadanya seekor ular yang mengerikan rupanya, sementara semua orang menatapnya dan tahu bahwa ia dahulu enggan membayar zakat di dunia. Ular itu terasa amat berat dan menyiksa setiap gerak dan langkahnya di hari Kiamat. Balasan itu setimpal dengan amalannya, belum lagi azab akhirat yang menantinya. “Dan kepunyaan Allah-lah segala warisan yang ada di langit dan di bumi…” (QS. Ali Imran: 180). Makna “warisan” di sini — sebagaimana dijelaskan para ahli bahasa, di antaranya Ibnu Al-Anbari — adalah bahwa hanya Allah ‘Azza wa Jalla semata yang memiliki langit dan bumi. Maka harta-harta ini, pada hakikatnya, adalah milik Allah ‘Azza wa Jalla. Kita hanyalah pihak yang dititipi untuk menjaganya, sebagai khalifah di muka bumi. Kita hanyalah para penerus, sebagian kita mewarisi dari sebagian yang lain dalam mengemban harta-harta ini. Sebagian kita pun mewarisi dari sebagian yang lain dalam mengemban tanah-tanah ini. Tanah yang engkau tinggali dan kau dirikan rumah di atasnya, dahulu dimiliki oleh banyak kaum yang hanya Allah yang mengetahui mereka, kemudian barulah beralih ke tanganmu. Lalu setelahmu, ia akan beralih lagi ke tangan orang-orang lain. Manusia hanyalah para penerus di muka bumi, sebagian menggantikan sebagian yang lain, sementara mereka hanyalah pihak yang diserahi amanah atas harta milik Allah ‘Azza wa Jalla. Dan kewajiban terbesar yang harus ditunaikan seseorang dari harta itu adalah membayar zakatnya. Dalam beberapa menit yang tersisa ini, jika masih memungkinkan, kita akan membahas — dengan izin Allah ‘Azza wa Jalla — sebagian hukum-hukum zakat. Sebab kewajiban pertama berkaitan dengan zakat adalah seseorang harus mengetahui bahwa zakat itu wajib, kemudian mempelajari hukum-hukumnya. Dan saya akan menyebutkan sebagian hukum zakat yang paling penting secara singkat dan padat. ===== يَظُنُّونَ أَنَّ مَنْعَهُمُ الزَّكَاةَ يَزِيدُ مَالَهُمْ وَيُوَفِّرُهُ وَيُمْكِنُهُمْ أَنْ يَتَمَتَّعُوا بِهِ فِي الدُّنْيَا لَكِنَّ الْحَقِيقَةَ بَلْ هُوَ شَرٌّ لَهُمْ أَمَّا كَوْنُهُ شَرًّا فِي الْآخِرَةِ فَوَاضِحٌ وَأَمَّا كَوْنُهُ شَرًّا فِي الدُّنْيَا فَإِنَّ مَنْ مَنَعَ زَكَاةَ مَالِهِ فَقَدَ بَرَكَةَ الْمَالِ وَقَدْ جَاءَ فِي الْخَبَرِالَّذِي رَوَاهُ الْحُمَيْدِيُّ فِي الْمُسْنَدِ وَالشَّافِعِيُّ فِي كُتُبِهِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا خَالَطَتِ الزَّكَاةُ مَالًا قَطُّ إِلَّا أَفْسَدَتْهُ جَاءَ عَنْ بَعْضِ رُوَاةِ الْحَدِيثِ كَمَا نَقَلَهُ الْحُمَيْدِيُّ فِي مُسْنَدِهِ قَالَ إِنَّ مُخَالَطَةَ الزَّكَاةِ لِلْمَالِ بِأَنْ يُؤَخِّرَ الزَّكَاةَ عَنْ وَقْتِ وُجُوبِهَا فَإِنَّ تَأْخِيرَ الزَّكَاةِ عَنْ وَقْتِ وُجُوبِهَا يُفْسِدُ الْمَالَ فَمَا ظَنُّكَ بِمَنْ مَنَعَ زَكَاةَ مَالِهِ سَنَتَهُ كُلَّهَا وَامْتَنَعَ مِنْ أَدَائِهَا أَعْوَامًا مُتَعَدِّدَةً إِذًا تُفْسِدُ الْمَالَ وَإِذَا أَفْسَدَتِ الْمَالَ أَفْسَدَتِ الْبَدَنَ وَالْأَبْنَاءَ رُبَّ رَجُلٍ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ يَدْعُو اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ وَغُذِيَ بِحَرَامٍ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ هَذَا الَّذِي يَمْنَعُ الزَّكَاةَ يَفْسُدُ مَالُهُ فَيَكُونُ مَطْعَمُهُ حَرَامًا فَكَيْفَ يُسْتَجَابُ دُعَاؤُهُ وَمِثْلُهُ يُقَالُ أَيْضًا فِي صَلَاحِ أَبْنَائِهِ وَمِثْلُهُ يُقَالُ أَيْضًا فِي صَلَاحِ جَسَدِهِ وَبَرَكَةِ وَقْتِهِ وَغَيْرِ ذَلِكَ بَلْ هُوَ شَرٌّ لَهُمْ سَيُطَوَّقُونَ مَا بَخِلُوا بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَمَّا كَانَ الْمَرْءُ يَتَجَمَّلُ بِالْمَالِ وَيَجْعَلُهُ طَوْقًا فِي عُنُقِهِ فَيَجْعَلُ الْحُلِيَّ ذَهَبًا وَفِضَّةً طَوْقًا فِي عُنُقِهِ عُوقِبَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِضِدِّ قَصْدِهِ فَيُطَوَّقُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَيَّةً تَكُونُ سَيِّئَةَ الشَّكْلِ فَيَنْظُرُ النَّاسُ إِلَيْهِ وَقَدْ عَرَفُوا أَنَّهُ قَدْ مَنَعَ زَكَاةَ مَالِهِ فِي الدُّنْيَا وَتَكُونُ ثَقِيلَةً عَلَيْهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مُؤْذِيَةً لَهُ فِي حَرَكَتِهِ وَمَشْيِهِ فَالْجَزَاءُ مِنْ جِنْسِ الْعَمَلِ نَاهِيكَ عَنْ عَذَابِ يَوْمِ الْآخِرَةِ وَلِلَّهِ مِيرَاثُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ مَعْنَى الْمِيرَاثِ كَمَا قَالَ أَهْلُ اللُّغَةِ وَمِنْهُمُ ابْنُ الْأَنْبَارِيِّ أَيْ أَنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ هُوَ الْمُنْفَرِدُ بِمِلْكِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ فَهَذِهِ الْأَمْوَالُ مُلْكُهَا لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى الْحَقِيقَةِ وَإِنَّمَا نَحْنُ مُسْتَحْفَظُونَ فِيهَا وَنَحْنُ خَلَائِفُ عَلَى الْأَرْضِ فَنَحْنُ خَلَائِفُ بَعْضُنَا يَخْلُفُ بَعْضًا فِي هَذِهِ الْأَمْوَالِ وَبَعْضُنَا يَخْلُفُ بَعْضًا فِي هَذِهِ الْأَرْضِينَ فَهَذِهِ الْأَرْضُ الَّتِي تَسْكُنُهَا وَتَبْنِي بَيْتَكَ عَلَيْهَا كَانَتْ قَبْلَكَ لِأَقْوَامٍ وَفِئَامٍ اللَّهُ أَعْلَمُ بِهِمْ ثُمَّ صَارَتْ إِلَيْكَ ثُمَّ بَعْدَكَ سَتَصِيرُ إِلَى أُنَاسٍ آخَرِينَ فَالْبَشَرُ خَلَائِفُ فِي الْأَرْضِ يَخْلُفُ بَعْضُهُمْ بَعْضًا وَهُمْ مُسْتَخْلَفُونَ فِي مَالِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَأَعْظَمُ مَا يَجِبُ أَنْ يُخْرِجَ الْمَرْءُ زَكَاةَ مَالِهِ وَفِي هَذِهِ الدَّقَائِقِ الْبَاقِيَةِ إِنْ أَمْكَنَ سَنَتَحَدَّثُ بِإِذْنِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ عَنْ بَعْضِ أَحْكَامِ الزَّكَاةِ لِأَنَّ أَوَّلَ مَا يَجِبُ فِي الزَّكَاةِ أَنْ يَعْرِفَ الْمَرْءُ وُجُوبَ حُكْمِهَا ثُمَّ أَنْ يَتَعَلَّمَ أَحْكَامَهَا وَسَأَذْكُرُ بَعْضًا مِنْ أَهَمِّ أَحْكَامِ الزَّكَاةِ عَلَى سَبِيلِ السُّرْعَةِ وَالْإِيجَازِ


Mereka mengira bahwa dengan tidak mau membayar zakat, mereka dapat menambah harta, membuat hartanya berlimpah, dan mereka pun bisa menikmatinya di dunia.Namun, hakikatnya justru: “Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka.” (QS. Ali Imran: 180) Adapun keburukannya di akhirat, itu sudah jelas. Sedangkan keburukannya di dunia adalah: barang siapa yang tidak mau membayar zakat hartanya, ia akan kehilangan keberkahan harta itu. Telah disebutkan dalam satu hadis yang diriwayatkan oleh Al-Humaidi dalam Al-Musnad dan Asy-Syafi’i dalam kitab-kitabnya, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:“Tidaklah zakat bercampur dengan suatu harta, melainkan akan merusaknya.” Sebagian perawi hadis ini — sebagaimana dinukil Al-Humaidi dalam Al-Musnad —menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan “bercampurnya zakat dengan harta” adalah menunda pembayaran zakat setelah tiba waktu wajibnya ditunaikan. Jadi, menunda pembayaran zakat setelah wajib ditunaikan akan merusak harta tersebut. Lalu bagaimana menurutmu dengan orang yang tidak membayar zakat hartanya sepanjang satu tahun penuh, bahkan enggan menunaikannya selama bertahun-tahun?Tentu hal itu akan merusak hartanya. Lalu apabila ia merusak harta, maka juga akan merusak badan dan anak keturunan. Betapa banyak orang yang menengadahkan kedua tangannya ke langit, berdoa kepada Allah ‘Azza wa Jalla, padahal makanannya haram, minumannya haram, dan ia hidup dari yang haram, maka bagaimana mungkin doanya akan dikabulkan?! Orang yang enggan membayar zakat ini, hartanya rusak, sehingga makanannya pun menjadi haram, maka bagaimana mungkin doanya akan dikabulkan?! Hal yang sama juga berlaku pada kesalehan anak-anaknya, pada kebaikan jasadnya,keberkahan waktunya, dan seterusnya. “Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka.” (QS. Ali Imran: 180). “Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di leher mereka, di hari kiamat.” (QS. Ali Imran: 180). Ketika seseorang berhias dengan hartanya dan menjadikannya kalung di lehernya,memakai perhiasan emas dan perak sebagai kalung di lehernya, maka pada hari Kiamat ia dibalas dengan kebalikan dari apa yang ia inginkan: dikalungkan kepadanya seekor ular yang mengerikan rupanya, sementara semua orang menatapnya dan tahu bahwa ia dahulu enggan membayar zakat di dunia. Ular itu terasa amat berat dan menyiksa setiap gerak dan langkahnya di hari Kiamat. Balasan itu setimpal dengan amalannya, belum lagi azab akhirat yang menantinya. “Dan kepunyaan Allah-lah segala warisan yang ada di langit dan di bumi…” (QS. Ali Imran: 180). Makna “warisan” di sini — sebagaimana dijelaskan para ahli bahasa, di antaranya Ibnu Al-Anbari — adalah bahwa hanya Allah ‘Azza wa Jalla semata yang memiliki langit dan bumi. Maka harta-harta ini, pada hakikatnya, adalah milik Allah ‘Azza wa Jalla. Kita hanyalah pihak yang dititipi untuk menjaganya, sebagai khalifah di muka bumi. Kita hanyalah para penerus, sebagian kita mewarisi dari sebagian yang lain dalam mengemban harta-harta ini. Sebagian kita pun mewarisi dari sebagian yang lain dalam mengemban tanah-tanah ini. Tanah yang engkau tinggali dan kau dirikan rumah di atasnya, dahulu dimiliki oleh banyak kaum yang hanya Allah yang mengetahui mereka, kemudian barulah beralih ke tanganmu. Lalu setelahmu, ia akan beralih lagi ke tangan orang-orang lain. Manusia hanyalah para penerus di muka bumi, sebagian menggantikan sebagian yang lain, sementara mereka hanyalah pihak yang diserahi amanah atas harta milik Allah ‘Azza wa Jalla. Dan kewajiban terbesar yang harus ditunaikan seseorang dari harta itu adalah membayar zakatnya. Dalam beberapa menit yang tersisa ini, jika masih memungkinkan, kita akan membahas — dengan izin Allah ‘Azza wa Jalla — sebagian hukum-hukum zakat. Sebab kewajiban pertama berkaitan dengan zakat adalah seseorang harus mengetahui bahwa zakat itu wajib, kemudian mempelajari hukum-hukumnya. Dan saya akan menyebutkan sebagian hukum zakat yang paling penting secara singkat dan padat. ===== يَظُنُّونَ أَنَّ مَنْعَهُمُ الزَّكَاةَ يَزِيدُ مَالَهُمْ وَيُوَفِّرُهُ وَيُمْكِنُهُمْ أَنْ يَتَمَتَّعُوا بِهِ فِي الدُّنْيَا لَكِنَّ الْحَقِيقَةَ بَلْ هُوَ شَرٌّ لَهُمْ أَمَّا كَوْنُهُ شَرًّا فِي الْآخِرَةِ فَوَاضِحٌ وَأَمَّا كَوْنُهُ شَرًّا فِي الدُّنْيَا فَإِنَّ مَنْ مَنَعَ زَكَاةَ مَالِهِ فَقَدَ بَرَكَةَ الْمَالِ وَقَدْ جَاءَ فِي الْخَبَرِالَّذِي رَوَاهُ الْحُمَيْدِيُّ فِي الْمُسْنَدِ وَالشَّافِعِيُّ فِي كُتُبِهِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا خَالَطَتِ الزَّكَاةُ مَالًا قَطُّ إِلَّا أَفْسَدَتْهُ جَاءَ عَنْ بَعْضِ رُوَاةِ الْحَدِيثِ كَمَا نَقَلَهُ الْحُمَيْدِيُّ فِي مُسْنَدِهِ قَالَ إِنَّ مُخَالَطَةَ الزَّكَاةِ لِلْمَالِ بِأَنْ يُؤَخِّرَ الزَّكَاةَ عَنْ وَقْتِ وُجُوبِهَا فَإِنَّ تَأْخِيرَ الزَّكَاةِ عَنْ وَقْتِ وُجُوبِهَا يُفْسِدُ الْمَالَ فَمَا ظَنُّكَ بِمَنْ مَنَعَ زَكَاةَ مَالِهِ سَنَتَهُ كُلَّهَا وَامْتَنَعَ مِنْ أَدَائِهَا أَعْوَامًا مُتَعَدِّدَةً إِذًا تُفْسِدُ الْمَالَ وَإِذَا أَفْسَدَتِ الْمَالَ أَفْسَدَتِ الْبَدَنَ وَالْأَبْنَاءَ رُبَّ رَجُلٍ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ يَدْعُو اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ وَغُذِيَ بِحَرَامٍ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ هَذَا الَّذِي يَمْنَعُ الزَّكَاةَ يَفْسُدُ مَالُهُ فَيَكُونُ مَطْعَمُهُ حَرَامًا فَكَيْفَ يُسْتَجَابُ دُعَاؤُهُ وَمِثْلُهُ يُقَالُ أَيْضًا فِي صَلَاحِ أَبْنَائِهِ وَمِثْلُهُ يُقَالُ أَيْضًا فِي صَلَاحِ جَسَدِهِ وَبَرَكَةِ وَقْتِهِ وَغَيْرِ ذَلِكَ بَلْ هُوَ شَرٌّ لَهُمْ سَيُطَوَّقُونَ مَا بَخِلُوا بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَمَّا كَانَ الْمَرْءُ يَتَجَمَّلُ بِالْمَالِ وَيَجْعَلُهُ طَوْقًا فِي عُنُقِهِ فَيَجْعَلُ الْحُلِيَّ ذَهَبًا وَفِضَّةً طَوْقًا فِي عُنُقِهِ عُوقِبَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِضِدِّ قَصْدِهِ فَيُطَوَّقُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَيَّةً تَكُونُ سَيِّئَةَ الشَّكْلِ فَيَنْظُرُ النَّاسُ إِلَيْهِ وَقَدْ عَرَفُوا أَنَّهُ قَدْ مَنَعَ زَكَاةَ مَالِهِ فِي الدُّنْيَا وَتَكُونُ ثَقِيلَةً عَلَيْهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مُؤْذِيَةً لَهُ فِي حَرَكَتِهِ وَمَشْيِهِ فَالْجَزَاءُ مِنْ جِنْسِ الْعَمَلِ نَاهِيكَ عَنْ عَذَابِ يَوْمِ الْآخِرَةِ وَلِلَّهِ مِيرَاثُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ مَعْنَى الْمِيرَاثِ كَمَا قَالَ أَهْلُ اللُّغَةِ وَمِنْهُمُ ابْنُ الْأَنْبَارِيِّ أَيْ أَنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ هُوَ الْمُنْفَرِدُ بِمِلْكِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ فَهَذِهِ الْأَمْوَالُ مُلْكُهَا لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى الْحَقِيقَةِ وَإِنَّمَا نَحْنُ مُسْتَحْفَظُونَ فِيهَا وَنَحْنُ خَلَائِفُ عَلَى الْأَرْضِ فَنَحْنُ خَلَائِفُ بَعْضُنَا يَخْلُفُ بَعْضًا فِي هَذِهِ الْأَمْوَالِ وَبَعْضُنَا يَخْلُفُ بَعْضًا فِي هَذِهِ الْأَرْضِينَ فَهَذِهِ الْأَرْضُ الَّتِي تَسْكُنُهَا وَتَبْنِي بَيْتَكَ عَلَيْهَا كَانَتْ قَبْلَكَ لِأَقْوَامٍ وَفِئَامٍ اللَّهُ أَعْلَمُ بِهِمْ ثُمَّ صَارَتْ إِلَيْكَ ثُمَّ بَعْدَكَ سَتَصِيرُ إِلَى أُنَاسٍ آخَرِينَ فَالْبَشَرُ خَلَائِفُ فِي الْأَرْضِ يَخْلُفُ بَعْضُهُمْ بَعْضًا وَهُمْ مُسْتَخْلَفُونَ فِي مَالِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَأَعْظَمُ مَا يَجِبُ أَنْ يُخْرِجَ الْمَرْءُ زَكَاةَ مَالِهِ وَفِي هَذِهِ الدَّقَائِقِ الْبَاقِيَةِ إِنْ أَمْكَنَ سَنَتَحَدَّثُ بِإِذْنِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ عَنْ بَعْضِ أَحْكَامِ الزَّكَاةِ لِأَنَّ أَوَّلَ مَا يَجِبُ فِي الزَّكَاةِ أَنْ يَعْرِفَ الْمَرْءُ وُجُوبَ حُكْمِهَا ثُمَّ أَنْ يَتَعَلَّمَ أَحْكَامَهَا وَسَأَذْكُرُ بَعْضًا مِنْ أَهَمِّ أَحْكَامِ الزَّكَاةِ عَلَى سَبِيلِ السُّرْعَةِ وَالْإِيجَازِ

Tafsir Surah An-Nazi’at (Bag. 4): Kokohnya Langit dan Bumi Sebagai Tanda Adanya Kiamat

Pada perenungan ayat-ayat dalam surah An-Naziat sebelumnya, Allah menceritakan kisah Nabi Musa dan Fir’aun serta bagaimana hasil akhir dari perbuatan buruk Fir’aun. Hal ini sebagai hiburan bagi baginda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa nantipun kaumnya yang memusuhi Nabi dan tidak bertobat, mereka akan mendapatkan kesudahan yang sama seperti Fir’aun.Kemudian pada ayat setelahnya, Allah kembali memberikan peringatan bagi kaum musyrikin Quraisy yang menentang Nabi, bahwa Allah mampu mendatangkan kiamat, dengan bukti-bukti Allah mampu menciptakan berbagai hal luar biasa di alam semesta ini.Hamka menyebutkan sebuah munasabah (keterkaitan antara ayat) menarik antara ayat ini dan sebelumnya, “Disebutkan tentang cerita Nabi Musa menghadapi Fir’aun serta bagaimana akhir hayat Fir’aun yang tenggelam di lautan Qulzum. Lalu di penutup dikatakan bahwa kejadian itu adalah suatu ibarat untuk perbandingan bagi manusia. Seberapa tinggipun pangkat, kekayaan, luasnya kekuasaan, dan kerajaan, manusia tetaplah manusia yang tidak ada artinya dibanding kebesaran alam ini. Manusia hidup singkat, di bawah 100 tahun lalu mati, adapun alam semesta tetap dalam kebesarannya, dan hanya Allah yang menciptakan itu semua.” (Tafsir Hamka, hal. 7879)Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,ءَاَنْتُمْ اَشَدُّ خَلْقًا اَمِ السَّمَاۤءُ بَنٰىهَاۗ“Apakah penciptaan kamu yang lebih hebat ataukah langit yang telah dibangun-Nya?” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 27)Dalam ayat ini, Allah menggunakan kalimat tanya, bukan untuk bertanya, namun untuk taqri’ (mencela) dan taubikh (mengecam) kaum musyrikin. Dengan nada mengancam, dapat kita rasakan betapa mengerikannya ayat ini, “Wahai sekalian Quraisy, apakah kalian lebih sulit untuk Allah ciptakan dibandingkan dengan langit yang begitu luas dan agung ini?”Langit yang begitu luas ini mudah Allah ciptakan, apalagi sekedar menciptakan kalian kembali setelah mematikan kalian, hal itu tentu jauh lebih mudah, maka mengapa kalian masih mengingkari hari kiamat?Perlu diingatkan kembali, jika kita menggunakan logika perbandingan dasar manusia, melihat langit yang sangat luas dengan berbagai isinya, dibandingkan dengan manusia yang sangat kecil dan lemah, tentu akan kita katakan bahwa menciptakan langit tentu lebih “sulit”. Tentu ini hanya perbandingan dasar karena Allah menggunakan “‘adatul basyariyah” atau pernyataan yang biasa dipakai dan dapat dimengerti manusia, untuk mendekatkan pemahaman. Namun di samping itu semua, secara hakikat, segala penciptaan makhluk adalah mudah bagi Allah, tanpa ada kesulitan apapun.Lafadz “banaha” dalam ayat dibaca dengan saktah, yaitu dibaca terpisah dengan cara berhenti dulu sejenak tanpa mengambil nafas. Karena potongan ayat ini dimaknai isti’naf, yaitu kalimat baru yang dimulai dari awal, tujuannya untuk menjelaskan agungnya bangunan langit yang Allah ciptakan dengan kekuatannya.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,رَفَعَ سَمْكَهَا فَسَوّٰىهَاۙ“Dia telah meninggikan bangunannya, lalu menyempurnakannya.” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 28)Allah mengangkat langit serta benda-benda yang berada di sana, meninggikan atap langit bagi kita, serta menjadikannya sempurna dari semua sisi tanpa ada kekurangan dari sisi manapun.Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan bahwa “Allah tinggikan bangunan langit, meluaskan penjurunya, menyamakan antar penjuru-penjurunya, serta memberi hiasan dengan gugusan bintang-bintang di malam hari yang gelap.”Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَاَغْطَشَ لَيْلَهَا وَاَخْرَجَ ضُحٰىهَاۖ“Dia menjadikan malamnya (gelap gulita) dan menjadikan siangnya (terang benderang).” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 29)Allah menjadikan malam hari gelap gulita dan siang hari terang benderang.Hamka menjelaskan bahwa bumi berputar dengan putaran yang tetap mengelilingi matahari dalam garis edar yang stabil. Oleh karena itu, muncul siang dan juga malam dengan keteraturan yang indah selama jutaan tahun.Dengan keteraturan ini pula, kita menjadi mudah untuk melakukan ibadah salat. Waktu berjalan perlahan dengan teratur mulai dari terbit fajar untuk melakukan salat Subuh, lalu naik perlahan untuk salat Dhuha, kemudian sampai tengah langit sehingga kita bisa melakukan salat Zuhur, dan seterusnya. Allah buat stabil dan perlahan agar kita bisa beribadah. Tidak terbayang betapa sulitnya ibadah jika perjalanan waktu sangatlah cepat dan tidak teratur bagi manusia.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَالْاَرْضَ بَعْدَ ذٰلِكَ دَحٰىهَاۗ“Setelah itu, bumi Dia hamparkan (untuk dihuni).” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 30)Setelah menciptakan langit, Allah menciptakan bumi serta membuatnya terhampar agar manusia dapat hidup dan memiliki penghidupan yang mudah di atasnya.Meskipun disebutkan hamparan, namun ini tidak menafikan hasil-hasil penelitian dan pengamatan yang memperlihatkan bumi berbentuk bola atau bulat. Oleh karena itu, disebutkan dalam Tafsir Al-Kabir bahwa pada awalnya, bumi adalah suatu bola yang terkungkung, kemudian Allah lebarkan dan hamparkan bumi tersebut. Serta makna dari “Dahahaa” atau “hamparkan” bukanlah semata-mata terhampar (seperti karpet datar yang homogen), akan tetapi suatu hamparan (tidak homogen) yang mampu untuk menumbuhkan berbagai tumbuhan dan pepohonan, di sana terdapat bukit dan lembah, lautan dan daratan, serta selainnya.Pendapat lain mengatakan bahwa bumi diciptakan sebelum langit, akan tetapi dibuat kosong pada awalnya. Kemudian setelah langit tercipta, baru Allah keluarkan air dan kehidupan di muka bumi.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,اَخْرَجَ مِنْهَا مَاۤءَهَا وَمَرْعٰىهَاۖ“Darinya (bumi) Dia mengeluarkan air dan (menyediakan) tempat penggembalaan.” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 31)Allah keluarkan mata air yang segar dari dalam bumi, kemudian menjadikannya sungai yang mengalir, setelah itu menumbuhkan dengan aliran sungai tersebut sebagai tumbuhan dan padang gembalaan untuk pakan hewan-hewan ternak.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَالْجِبَالَ اَرْسٰىهَاۙ“Gunung-gunung Dia pancangkan dengan kokoh.” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 32)Gunung-gunung menjulang di atas permukaan bumi, dijadikan sebagai pasak agar bumi tidak bergetar hebat dan membuat bumi nyaman ditinggali oleh manusia dan hewan-hewan.Selain itu, gunung juga menjadi pagar alami yang berfungsi sebagai pemecah angin, menjaga manusia dari angin yang terlalu besar yang dapat menerbangkan mereka dan tempat tinggalnya.Penyebutan gunung-gunung setelah penyebutan tentang air menjelaskan kepada kita bahwa ada hubungan erat antara keduanya. Ketika air dari lautan menguap karena panas, kemudian berkumpul menjadi awan hitam lalu hujan, pepohonan yang berada di pegunungan menahan air agar tidak langsung tumpah ruah seperti banjir bandang yang dapat menghancurkan manusia. Akan tetapi, Allah buat air menyerap perlahan ke muka bumi, terserap oleh akar-akar pohon raksasa dan lapisan tanah yang banyak jumlahnya, kemudian mengeluarkannya perlahan-lahan pada sungai-sungai yang mengalir teratur dari pegunungan menuju lautan. Semua hal ini adalah untuk kemasalahatan manusia.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,مَتَاعًا لَّكُمْ وَلِاَنْعَامِكُمْۗ“(Semua itu disediakan) untuk kesenanganmu dan hewan ternakmu.” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 33)Allah lakukan semua yang telah disebutkan dalam ayat sebelumnya untuk manfaat dan masalat manusia serta hewan-hewan.Renungilah, semua yang keluar dari muka bumi adalah untuk manfaat manusia dan hewan ternak mereka. Mulai dari pepohonan, biji-bijian yang menjadi makanan pokok, buah-buahan sebagai pelengkap, katun dan wol sebagai pakaian yang menjaga tubuh, hingga garam yang berasal dari air laut, serta api yang bahan bakarnya adalah pepohonan, baik yang hidup atau yang sudah lama mati.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 3 LANJUT KE BAGIAN 5***Penulis: Dany Indra PermanaArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Catatan mayoritas cetakan dan halaman referensi adalah dari app turath https://app.turath.io/

Tafsir Surah An-Nazi’at (Bag. 4): Kokohnya Langit dan Bumi Sebagai Tanda Adanya Kiamat

Pada perenungan ayat-ayat dalam surah An-Naziat sebelumnya, Allah menceritakan kisah Nabi Musa dan Fir’aun serta bagaimana hasil akhir dari perbuatan buruk Fir’aun. Hal ini sebagai hiburan bagi baginda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa nantipun kaumnya yang memusuhi Nabi dan tidak bertobat, mereka akan mendapatkan kesudahan yang sama seperti Fir’aun.Kemudian pada ayat setelahnya, Allah kembali memberikan peringatan bagi kaum musyrikin Quraisy yang menentang Nabi, bahwa Allah mampu mendatangkan kiamat, dengan bukti-bukti Allah mampu menciptakan berbagai hal luar biasa di alam semesta ini.Hamka menyebutkan sebuah munasabah (keterkaitan antara ayat) menarik antara ayat ini dan sebelumnya, “Disebutkan tentang cerita Nabi Musa menghadapi Fir’aun serta bagaimana akhir hayat Fir’aun yang tenggelam di lautan Qulzum. Lalu di penutup dikatakan bahwa kejadian itu adalah suatu ibarat untuk perbandingan bagi manusia. Seberapa tinggipun pangkat, kekayaan, luasnya kekuasaan, dan kerajaan, manusia tetaplah manusia yang tidak ada artinya dibanding kebesaran alam ini. Manusia hidup singkat, di bawah 100 tahun lalu mati, adapun alam semesta tetap dalam kebesarannya, dan hanya Allah yang menciptakan itu semua.” (Tafsir Hamka, hal. 7879)Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,ءَاَنْتُمْ اَشَدُّ خَلْقًا اَمِ السَّمَاۤءُ بَنٰىهَاۗ“Apakah penciptaan kamu yang lebih hebat ataukah langit yang telah dibangun-Nya?” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 27)Dalam ayat ini, Allah menggunakan kalimat tanya, bukan untuk bertanya, namun untuk taqri’ (mencela) dan taubikh (mengecam) kaum musyrikin. Dengan nada mengancam, dapat kita rasakan betapa mengerikannya ayat ini, “Wahai sekalian Quraisy, apakah kalian lebih sulit untuk Allah ciptakan dibandingkan dengan langit yang begitu luas dan agung ini?”Langit yang begitu luas ini mudah Allah ciptakan, apalagi sekedar menciptakan kalian kembali setelah mematikan kalian, hal itu tentu jauh lebih mudah, maka mengapa kalian masih mengingkari hari kiamat?Perlu diingatkan kembali, jika kita menggunakan logika perbandingan dasar manusia, melihat langit yang sangat luas dengan berbagai isinya, dibandingkan dengan manusia yang sangat kecil dan lemah, tentu akan kita katakan bahwa menciptakan langit tentu lebih “sulit”. Tentu ini hanya perbandingan dasar karena Allah menggunakan “‘adatul basyariyah” atau pernyataan yang biasa dipakai dan dapat dimengerti manusia, untuk mendekatkan pemahaman. Namun di samping itu semua, secara hakikat, segala penciptaan makhluk adalah mudah bagi Allah, tanpa ada kesulitan apapun.Lafadz “banaha” dalam ayat dibaca dengan saktah, yaitu dibaca terpisah dengan cara berhenti dulu sejenak tanpa mengambil nafas. Karena potongan ayat ini dimaknai isti’naf, yaitu kalimat baru yang dimulai dari awal, tujuannya untuk menjelaskan agungnya bangunan langit yang Allah ciptakan dengan kekuatannya.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,رَفَعَ سَمْكَهَا فَسَوّٰىهَاۙ“Dia telah meninggikan bangunannya, lalu menyempurnakannya.” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 28)Allah mengangkat langit serta benda-benda yang berada di sana, meninggikan atap langit bagi kita, serta menjadikannya sempurna dari semua sisi tanpa ada kekurangan dari sisi manapun.Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan bahwa “Allah tinggikan bangunan langit, meluaskan penjurunya, menyamakan antar penjuru-penjurunya, serta memberi hiasan dengan gugusan bintang-bintang di malam hari yang gelap.”Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَاَغْطَشَ لَيْلَهَا وَاَخْرَجَ ضُحٰىهَاۖ“Dia menjadikan malamnya (gelap gulita) dan menjadikan siangnya (terang benderang).” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 29)Allah menjadikan malam hari gelap gulita dan siang hari terang benderang.Hamka menjelaskan bahwa bumi berputar dengan putaran yang tetap mengelilingi matahari dalam garis edar yang stabil. Oleh karena itu, muncul siang dan juga malam dengan keteraturan yang indah selama jutaan tahun.Dengan keteraturan ini pula, kita menjadi mudah untuk melakukan ibadah salat. Waktu berjalan perlahan dengan teratur mulai dari terbit fajar untuk melakukan salat Subuh, lalu naik perlahan untuk salat Dhuha, kemudian sampai tengah langit sehingga kita bisa melakukan salat Zuhur, dan seterusnya. Allah buat stabil dan perlahan agar kita bisa beribadah. Tidak terbayang betapa sulitnya ibadah jika perjalanan waktu sangatlah cepat dan tidak teratur bagi manusia.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَالْاَرْضَ بَعْدَ ذٰلِكَ دَحٰىهَاۗ“Setelah itu, bumi Dia hamparkan (untuk dihuni).” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 30)Setelah menciptakan langit, Allah menciptakan bumi serta membuatnya terhampar agar manusia dapat hidup dan memiliki penghidupan yang mudah di atasnya.Meskipun disebutkan hamparan, namun ini tidak menafikan hasil-hasil penelitian dan pengamatan yang memperlihatkan bumi berbentuk bola atau bulat. Oleh karena itu, disebutkan dalam Tafsir Al-Kabir bahwa pada awalnya, bumi adalah suatu bola yang terkungkung, kemudian Allah lebarkan dan hamparkan bumi tersebut. Serta makna dari “Dahahaa” atau “hamparkan” bukanlah semata-mata terhampar (seperti karpet datar yang homogen), akan tetapi suatu hamparan (tidak homogen) yang mampu untuk menumbuhkan berbagai tumbuhan dan pepohonan, di sana terdapat bukit dan lembah, lautan dan daratan, serta selainnya.Pendapat lain mengatakan bahwa bumi diciptakan sebelum langit, akan tetapi dibuat kosong pada awalnya. Kemudian setelah langit tercipta, baru Allah keluarkan air dan kehidupan di muka bumi.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,اَخْرَجَ مِنْهَا مَاۤءَهَا وَمَرْعٰىهَاۖ“Darinya (bumi) Dia mengeluarkan air dan (menyediakan) tempat penggembalaan.” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 31)Allah keluarkan mata air yang segar dari dalam bumi, kemudian menjadikannya sungai yang mengalir, setelah itu menumbuhkan dengan aliran sungai tersebut sebagai tumbuhan dan padang gembalaan untuk pakan hewan-hewan ternak.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَالْجِبَالَ اَرْسٰىهَاۙ“Gunung-gunung Dia pancangkan dengan kokoh.” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 32)Gunung-gunung menjulang di atas permukaan bumi, dijadikan sebagai pasak agar bumi tidak bergetar hebat dan membuat bumi nyaman ditinggali oleh manusia dan hewan-hewan.Selain itu, gunung juga menjadi pagar alami yang berfungsi sebagai pemecah angin, menjaga manusia dari angin yang terlalu besar yang dapat menerbangkan mereka dan tempat tinggalnya.Penyebutan gunung-gunung setelah penyebutan tentang air menjelaskan kepada kita bahwa ada hubungan erat antara keduanya. Ketika air dari lautan menguap karena panas, kemudian berkumpul menjadi awan hitam lalu hujan, pepohonan yang berada di pegunungan menahan air agar tidak langsung tumpah ruah seperti banjir bandang yang dapat menghancurkan manusia. Akan tetapi, Allah buat air menyerap perlahan ke muka bumi, terserap oleh akar-akar pohon raksasa dan lapisan tanah yang banyak jumlahnya, kemudian mengeluarkannya perlahan-lahan pada sungai-sungai yang mengalir teratur dari pegunungan menuju lautan. Semua hal ini adalah untuk kemasalahatan manusia.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,مَتَاعًا لَّكُمْ وَلِاَنْعَامِكُمْۗ“(Semua itu disediakan) untuk kesenanganmu dan hewan ternakmu.” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 33)Allah lakukan semua yang telah disebutkan dalam ayat sebelumnya untuk manfaat dan masalat manusia serta hewan-hewan.Renungilah, semua yang keluar dari muka bumi adalah untuk manfaat manusia dan hewan ternak mereka. Mulai dari pepohonan, biji-bijian yang menjadi makanan pokok, buah-buahan sebagai pelengkap, katun dan wol sebagai pakaian yang menjaga tubuh, hingga garam yang berasal dari air laut, serta api yang bahan bakarnya adalah pepohonan, baik yang hidup atau yang sudah lama mati.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 3 LANJUT KE BAGIAN 5***Penulis: Dany Indra PermanaArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Catatan mayoritas cetakan dan halaman referensi adalah dari app turath https://app.turath.io/
Pada perenungan ayat-ayat dalam surah An-Naziat sebelumnya, Allah menceritakan kisah Nabi Musa dan Fir’aun serta bagaimana hasil akhir dari perbuatan buruk Fir’aun. Hal ini sebagai hiburan bagi baginda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa nantipun kaumnya yang memusuhi Nabi dan tidak bertobat, mereka akan mendapatkan kesudahan yang sama seperti Fir’aun.Kemudian pada ayat setelahnya, Allah kembali memberikan peringatan bagi kaum musyrikin Quraisy yang menentang Nabi, bahwa Allah mampu mendatangkan kiamat, dengan bukti-bukti Allah mampu menciptakan berbagai hal luar biasa di alam semesta ini.Hamka menyebutkan sebuah munasabah (keterkaitan antara ayat) menarik antara ayat ini dan sebelumnya, “Disebutkan tentang cerita Nabi Musa menghadapi Fir’aun serta bagaimana akhir hayat Fir’aun yang tenggelam di lautan Qulzum. Lalu di penutup dikatakan bahwa kejadian itu adalah suatu ibarat untuk perbandingan bagi manusia. Seberapa tinggipun pangkat, kekayaan, luasnya kekuasaan, dan kerajaan, manusia tetaplah manusia yang tidak ada artinya dibanding kebesaran alam ini. Manusia hidup singkat, di bawah 100 tahun lalu mati, adapun alam semesta tetap dalam kebesarannya, dan hanya Allah yang menciptakan itu semua.” (Tafsir Hamka, hal. 7879)Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,ءَاَنْتُمْ اَشَدُّ خَلْقًا اَمِ السَّمَاۤءُ بَنٰىهَاۗ“Apakah penciptaan kamu yang lebih hebat ataukah langit yang telah dibangun-Nya?” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 27)Dalam ayat ini, Allah menggunakan kalimat tanya, bukan untuk bertanya, namun untuk taqri’ (mencela) dan taubikh (mengecam) kaum musyrikin. Dengan nada mengancam, dapat kita rasakan betapa mengerikannya ayat ini, “Wahai sekalian Quraisy, apakah kalian lebih sulit untuk Allah ciptakan dibandingkan dengan langit yang begitu luas dan agung ini?”Langit yang begitu luas ini mudah Allah ciptakan, apalagi sekedar menciptakan kalian kembali setelah mematikan kalian, hal itu tentu jauh lebih mudah, maka mengapa kalian masih mengingkari hari kiamat?Perlu diingatkan kembali, jika kita menggunakan logika perbandingan dasar manusia, melihat langit yang sangat luas dengan berbagai isinya, dibandingkan dengan manusia yang sangat kecil dan lemah, tentu akan kita katakan bahwa menciptakan langit tentu lebih “sulit”. Tentu ini hanya perbandingan dasar karena Allah menggunakan “‘adatul basyariyah” atau pernyataan yang biasa dipakai dan dapat dimengerti manusia, untuk mendekatkan pemahaman. Namun di samping itu semua, secara hakikat, segala penciptaan makhluk adalah mudah bagi Allah, tanpa ada kesulitan apapun.Lafadz “banaha” dalam ayat dibaca dengan saktah, yaitu dibaca terpisah dengan cara berhenti dulu sejenak tanpa mengambil nafas. Karena potongan ayat ini dimaknai isti’naf, yaitu kalimat baru yang dimulai dari awal, tujuannya untuk menjelaskan agungnya bangunan langit yang Allah ciptakan dengan kekuatannya.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,رَفَعَ سَمْكَهَا فَسَوّٰىهَاۙ“Dia telah meninggikan bangunannya, lalu menyempurnakannya.” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 28)Allah mengangkat langit serta benda-benda yang berada di sana, meninggikan atap langit bagi kita, serta menjadikannya sempurna dari semua sisi tanpa ada kekurangan dari sisi manapun.Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan bahwa “Allah tinggikan bangunan langit, meluaskan penjurunya, menyamakan antar penjuru-penjurunya, serta memberi hiasan dengan gugusan bintang-bintang di malam hari yang gelap.”Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَاَغْطَشَ لَيْلَهَا وَاَخْرَجَ ضُحٰىهَاۖ“Dia menjadikan malamnya (gelap gulita) dan menjadikan siangnya (terang benderang).” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 29)Allah menjadikan malam hari gelap gulita dan siang hari terang benderang.Hamka menjelaskan bahwa bumi berputar dengan putaran yang tetap mengelilingi matahari dalam garis edar yang stabil. Oleh karena itu, muncul siang dan juga malam dengan keteraturan yang indah selama jutaan tahun.Dengan keteraturan ini pula, kita menjadi mudah untuk melakukan ibadah salat. Waktu berjalan perlahan dengan teratur mulai dari terbit fajar untuk melakukan salat Subuh, lalu naik perlahan untuk salat Dhuha, kemudian sampai tengah langit sehingga kita bisa melakukan salat Zuhur, dan seterusnya. Allah buat stabil dan perlahan agar kita bisa beribadah. Tidak terbayang betapa sulitnya ibadah jika perjalanan waktu sangatlah cepat dan tidak teratur bagi manusia.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَالْاَرْضَ بَعْدَ ذٰلِكَ دَحٰىهَاۗ“Setelah itu, bumi Dia hamparkan (untuk dihuni).” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 30)Setelah menciptakan langit, Allah menciptakan bumi serta membuatnya terhampar agar manusia dapat hidup dan memiliki penghidupan yang mudah di atasnya.Meskipun disebutkan hamparan, namun ini tidak menafikan hasil-hasil penelitian dan pengamatan yang memperlihatkan bumi berbentuk bola atau bulat. Oleh karena itu, disebutkan dalam Tafsir Al-Kabir bahwa pada awalnya, bumi adalah suatu bola yang terkungkung, kemudian Allah lebarkan dan hamparkan bumi tersebut. Serta makna dari “Dahahaa” atau “hamparkan” bukanlah semata-mata terhampar (seperti karpet datar yang homogen), akan tetapi suatu hamparan (tidak homogen) yang mampu untuk menumbuhkan berbagai tumbuhan dan pepohonan, di sana terdapat bukit dan lembah, lautan dan daratan, serta selainnya.Pendapat lain mengatakan bahwa bumi diciptakan sebelum langit, akan tetapi dibuat kosong pada awalnya. Kemudian setelah langit tercipta, baru Allah keluarkan air dan kehidupan di muka bumi.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,اَخْرَجَ مِنْهَا مَاۤءَهَا وَمَرْعٰىهَاۖ“Darinya (bumi) Dia mengeluarkan air dan (menyediakan) tempat penggembalaan.” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 31)Allah keluarkan mata air yang segar dari dalam bumi, kemudian menjadikannya sungai yang mengalir, setelah itu menumbuhkan dengan aliran sungai tersebut sebagai tumbuhan dan padang gembalaan untuk pakan hewan-hewan ternak.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَالْجِبَالَ اَرْسٰىهَاۙ“Gunung-gunung Dia pancangkan dengan kokoh.” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 32)Gunung-gunung menjulang di atas permukaan bumi, dijadikan sebagai pasak agar bumi tidak bergetar hebat dan membuat bumi nyaman ditinggali oleh manusia dan hewan-hewan.Selain itu, gunung juga menjadi pagar alami yang berfungsi sebagai pemecah angin, menjaga manusia dari angin yang terlalu besar yang dapat menerbangkan mereka dan tempat tinggalnya.Penyebutan gunung-gunung setelah penyebutan tentang air menjelaskan kepada kita bahwa ada hubungan erat antara keduanya. Ketika air dari lautan menguap karena panas, kemudian berkumpul menjadi awan hitam lalu hujan, pepohonan yang berada di pegunungan menahan air agar tidak langsung tumpah ruah seperti banjir bandang yang dapat menghancurkan manusia. Akan tetapi, Allah buat air menyerap perlahan ke muka bumi, terserap oleh akar-akar pohon raksasa dan lapisan tanah yang banyak jumlahnya, kemudian mengeluarkannya perlahan-lahan pada sungai-sungai yang mengalir teratur dari pegunungan menuju lautan. Semua hal ini adalah untuk kemasalahatan manusia.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,مَتَاعًا لَّكُمْ وَلِاَنْعَامِكُمْۗ“(Semua itu disediakan) untuk kesenanganmu dan hewan ternakmu.” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 33)Allah lakukan semua yang telah disebutkan dalam ayat sebelumnya untuk manfaat dan masalat manusia serta hewan-hewan.Renungilah, semua yang keluar dari muka bumi adalah untuk manfaat manusia dan hewan ternak mereka. Mulai dari pepohonan, biji-bijian yang menjadi makanan pokok, buah-buahan sebagai pelengkap, katun dan wol sebagai pakaian yang menjaga tubuh, hingga garam yang berasal dari air laut, serta api yang bahan bakarnya adalah pepohonan, baik yang hidup atau yang sudah lama mati.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 3 LANJUT KE BAGIAN 5***Penulis: Dany Indra PermanaArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Catatan mayoritas cetakan dan halaman referensi adalah dari app turath https://app.turath.io/


Pada perenungan ayat-ayat dalam surah An-Naziat sebelumnya, Allah menceritakan kisah Nabi Musa dan Fir’aun serta bagaimana hasil akhir dari perbuatan buruk Fir’aun. Hal ini sebagai hiburan bagi baginda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa nantipun kaumnya yang memusuhi Nabi dan tidak bertobat, mereka akan mendapatkan kesudahan yang sama seperti Fir’aun.Kemudian pada ayat setelahnya, Allah kembali memberikan peringatan bagi kaum musyrikin Quraisy yang menentang Nabi, bahwa Allah mampu mendatangkan kiamat, dengan bukti-bukti Allah mampu menciptakan berbagai hal luar biasa di alam semesta ini.Hamka menyebutkan sebuah munasabah (keterkaitan antara ayat) menarik antara ayat ini dan sebelumnya, “Disebutkan tentang cerita Nabi Musa menghadapi Fir’aun serta bagaimana akhir hayat Fir’aun yang tenggelam di lautan Qulzum. Lalu di penutup dikatakan bahwa kejadian itu adalah suatu ibarat untuk perbandingan bagi manusia. Seberapa tinggipun pangkat, kekayaan, luasnya kekuasaan, dan kerajaan, manusia tetaplah manusia yang tidak ada artinya dibanding kebesaran alam ini. Manusia hidup singkat, di bawah 100 tahun lalu mati, adapun alam semesta tetap dalam kebesarannya, dan hanya Allah yang menciptakan itu semua.” (Tafsir Hamka, hal. 7879)Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,ءَاَنْتُمْ اَشَدُّ خَلْقًا اَمِ السَّمَاۤءُ بَنٰىهَاۗ“Apakah penciptaan kamu yang lebih hebat ataukah langit yang telah dibangun-Nya?” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 27)Dalam ayat ini, Allah menggunakan kalimat tanya, bukan untuk bertanya, namun untuk taqri’ (mencela) dan taubikh (mengecam) kaum musyrikin. Dengan nada mengancam, dapat kita rasakan betapa mengerikannya ayat ini, “Wahai sekalian Quraisy, apakah kalian lebih sulit untuk Allah ciptakan dibandingkan dengan langit yang begitu luas dan agung ini?”Langit yang begitu luas ini mudah Allah ciptakan, apalagi sekedar menciptakan kalian kembali setelah mematikan kalian, hal itu tentu jauh lebih mudah, maka mengapa kalian masih mengingkari hari kiamat?Perlu diingatkan kembali, jika kita menggunakan logika perbandingan dasar manusia, melihat langit yang sangat luas dengan berbagai isinya, dibandingkan dengan manusia yang sangat kecil dan lemah, tentu akan kita katakan bahwa menciptakan langit tentu lebih “sulit”. Tentu ini hanya perbandingan dasar karena Allah menggunakan “‘adatul basyariyah” atau pernyataan yang biasa dipakai dan dapat dimengerti manusia, untuk mendekatkan pemahaman. Namun di samping itu semua, secara hakikat, segala penciptaan makhluk adalah mudah bagi Allah, tanpa ada kesulitan apapun.Lafadz “banaha” dalam ayat dibaca dengan saktah, yaitu dibaca terpisah dengan cara berhenti dulu sejenak tanpa mengambil nafas. Karena potongan ayat ini dimaknai isti’naf, yaitu kalimat baru yang dimulai dari awal, tujuannya untuk menjelaskan agungnya bangunan langit yang Allah ciptakan dengan kekuatannya.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,رَفَعَ سَمْكَهَا فَسَوّٰىهَاۙ“Dia telah meninggikan bangunannya, lalu menyempurnakannya.” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 28)Allah mengangkat langit serta benda-benda yang berada di sana, meninggikan atap langit bagi kita, serta menjadikannya sempurna dari semua sisi tanpa ada kekurangan dari sisi manapun.Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan bahwa “Allah tinggikan bangunan langit, meluaskan penjurunya, menyamakan antar penjuru-penjurunya, serta memberi hiasan dengan gugusan bintang-bintang di malam hari yang gelap.”Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَاَغْطَشَ لَيْلَهَا وَاَخْرَجَ ضُحٰىهَاۖ“Dia menjadikan malamnya (gelap gulita) dan menjadikan siangnya (terang benderang).” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 29)Allah menjadikan malam hari gelap gulita dan siang hari terang benderang.Hamka menjelaskan bahwa bumi berputar dengan putaran yang tetap mengelilingi matahari dalam garis edar yang stabil. Oleh karena itu, muncul siang dan juga malam dengan keteraturan yang indah selama jutaan tahun.Dengan keteraturan ini pula, kita menjadi mudah untuk melakukan ibadah salat. Waktu berjalan perlahan dengan teratur mulai dari terbit fajar untuk melakukan salat Subuh, lalu naik perlahan untuk salat Dhuha, kemudian sampai tengah langit sehingga kita bisa melakukan salat Zuhur, dan seterusnya. Allah buat stabil dan perlahan agar kita bisa beribadah. Tidak terbayang betapa sulitnya ibadah jika perjalanan waktu sangatlah cepat dan tidak teratur bagi manusia.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَالْاَرْضَ بَعْدَ ذٰلِكَ دَحٰىهَاۗ“Setelah itu, bumi Dia hamparkan (untuk dihuni).” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 30)Setelah menciptakan langit, Allah menciptakan bumi serta membuatnya terhampar agar manusia dapat hidup dan memiliki penghidupan yang mudah di atasnya.Meskipun disebutkan hamparan, namun ini tidak menafikan hasil-hasil penelitian dan pengamatan yang memperlihatkan bumi berbentuk bola atau bulat. Oleh karena itu, disebutkan dalam Tafsir Al-Kabir bahwa pada awalnya, bumi adalah suatu bola yang terkungkung, kemudian Allah lebarkan dan hamparkan bumi tersebut. Serta makna dari “Dahahaa” atau “hamparkan” bukanlah semata-mata terhampar (seperti karpet datar yang homogen), akan tetapi suatu hamparan (tidak homogen) yang mampu untuk menumbuhkan berbagai tumbuhan dan pepohonan, di sana terdapat bukit dan lembah, lautan dan daratan, serta selainnya.Pendapat lain mengatakan bahwa bumi diciptakan sebelum langit, akan tetapi dibuat kosong pada awalnya. Kemudian setelah langit tercipta, baru Allah keluarkan air dan kehidupan di muka bumi.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,اَخْرَجَ مِنْهَا مَاۤءَهَا وَمَرْعٰىهَاۖ“Darinya (bumi) Dia mengeluarkan air dan (menyediakan) tempat penggembalaan.” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 31)Allah keluarkan mata air yang segar dari dalam bumi, kemudian menjadikannya sungai yang mengalir, setelah itu menumbuhkan dengan aliran sungai tersebut sebagai tumbuhan dan padang gembalaan untuk pakan hewan-hewan ternak.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَالْجِبَالَ اَرْسٰىهَاۙ“Gunung-gunung Dia pancangkan dengan kokoh.” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 32)Gunung-gunung menjulang di atas permukaan bumi, dijadikan sebagai pasak agar bumi tidak bergetar hebat dan membuat bumi nyaman ditinggali oleh manusia dan hewan-hewan.Selain itu, gunung juga menjadi pagar alami yang berfungsi sebagai pemecah angin, menjaga manusia dari angin yang terlalu besar yang dapat menerbangkan mereka dan tempat tinggalnya.Penyebutan gunung-gunung setelah penyebutan tentang air menjelaskan kepada kita bahwa ada hubungan erat antara keduanya. Ketika air dari lautan menguap karena panas, kemudian berkumpul menjadi awan hitam lalu hujan, pepohonan yang berada di pegunungan menahan air agar tidak langsung tumpah ruah seperti banjir bandang yang dapat menghancurkan manusia. Akan tetapi, Allah buat air menyerap perlahan ke muka bumi, terserap oleh akar-akar pohon raksasa dan lapisan tanah yang banyak jumlahnya, kemudian mengeluarkannya perlahan-lahan pada sungai-sungai yang mengalir teratur dari pegunungan menuju lautan. Semua hal ini adalah untuk kemasalahatan manusia.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,مَتَاعًا لَّكُمْ وَلِاَنْعَامِكُمْۗ“(Semua itu disediakan) untuk kesenanganmu dan hewan ternakmu.” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 33)Allah lakukan semua yang telah disebutkan dalam ayat sebelumnya untuk manfaat dan masalat manusia serta hewan-hewan.Renungilah, semua yang keluar dari muka bumi adalah untuk manfaat manusia dan hewan ternak mereka. Mulai dari pepohonan, biji-bijian yang menjadi makanan pokok, buah-buahan sebagai pelengkap, katun dan wol sebagai pakaian yang menjaga tubuh, hingga garam yang berasal dari air laut, serta api yang bahan bakarnya adalah pepohonan, baik yang hidup atau yang sudah lama mati.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 3 LANJUT KE BAGIAN 5***Penulis: Dany Indra PermanaArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Catatan mayoritas cetakan dan halaman referensi adalah dari app turath https://app.turath.io/
Prev     Next