Puasa di Islandia (Matahari Tidak Terbenam Lebih dari 24 Jam)

Tahu negara Islandia? Islandia (Iceland) adalah negeri es yang terletak di daerah kutub utara. Jumlah penduduknya hanya 330 ribuan. Negara tersebut hanya berupa pulau kecil yang luasnya 103.000 kilometer persegi. Karena letak geografisnya di kutub utara, saat musim panas tiba (seperti saat ini), penduduk yang ada di sana tidak menemukan waktu malam (artinya matahari tidak tenggelam), bahkan bisa berlangsung siang lebih dari 24 jam. Begitu juga ketika musim dingin tiba, mereka di sana tidak pernah melihat matahari sama sekali. Walau mayoritas beragama Nashrani, ternyata ada 0,3% yang beragama Islam di Islandia. Bagaimana cara mereka melakukan puasa? Untuk permasalahan yang terjadi di Islandia sudah dijelaskan oleh para ulama. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah menyatakan bahwa yang masalah bukan hanya puasa, namun juga shalat mereka. Namun jika di suatu negara masih mendapatkan siang dan malam, maka waktu siang dan malam tersebut tetap dijadikan patokan untuk hal ibadah, baik ketika siang begitu lama atau begitu singkat. Namun jika tidak mendapati malam atau siang sama sekali seperti di daerah kutub karena ada yang mengalami siang hingga enam bulan lamanya atau mengalami malam enam bulan lamanya, maka ketika itu baru mereka memperkirakan kapan waktu shalat mereka. (Lihat Majmu’ Fatawa wa Rasail Ibni ‘Utsaimin, 19: 321) Dalam Fatwa Al-Islam Sual wa Jawab jika ditanyakan hal yang sama tentang kaum muslimin yang hidup di kutub utara, satu kondisi mengalami siang yang hanya 4,5 jam, apa yang mesti dilakukan ketika ingin menjalankan puasa Ramadhan? Dijawab oleh Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid hafizhahullah bahwa jika memang ada waktu malam dan waktu siang, maka hendaklah berpuasa Ramadhan mulai dari terbit fajar hingga tenggelamnya matahari, baik siang tersebut itu panjang atau begitu singkat. Dalam web Saaid.Net, bisa disimpulkan beberapa hal berikut. Bagi yang masih mendapati waktu siang di musim panas, maka hendaklah menjadikan waktu shalat dan puasa dengan ketetapan yang telah Allah perintahkan (dengan melihat keadaan matahari, pen.). Inilah asalnya sebagaimana ditunjukkan dalam berbagai dalil syar’i. Untuk daerah yang tidak terbit matahari dalam waktu yang lama hingga sampai enam bulan lamanya atau matahari nampak sampai beberapa hari berturut-turut (tidak pernah tenggelam), maka penentuan waktu shalat dan puasa dengan melihat negara yang paling dekat yang masih nampak terbit dan tenggelam matahari dalam 24 jam, walaupun waktunya nanti berbeda. Bagi yang mendapati waktu siang yang terlalu panjang sehingga sulit untuk mengerjakan shalat atau dirasakan berat juga untuk berpuasa, maka boleh baginya makan dan minum dengan kadar yang cukup lalu menahan diri dari sisa hari yang ada. Lantas di waktu lain dari setahun, puasa tersebut tetap diqadha’. Jika memungkinkan kaum muslimin yang berada di negara semacam itu berpindah sesuai kemampuannya ke negara yang siangnya tidak begitu panjang di bulan Ramadhan, lebih-lebih lagi kalau dapat pindah ke negeri muslim, itu lebih baik. Jika ada kaum muslimin yang secara darurat mesti tinggal di negeri semacam itu, maka hendaklah bersabar dan mengharap pahala yang berlipat dari Allah. Namun ia tetap juga berusaha bisa berpindah ke negeri yang keadaan malam dan siangnya itu berimbang. Karena asalnya tinggal di negeri non-muslim semacam itu hanya untuk keadaan darurat saja, bukan bersifat permanen (terus menerus). Kalau sifat darurat sudah hilang, maka hilanglah hukum untuk tinggal di sana. Baca juga penjelasan dari Komisi Fatwa Kerajaan Saudi Arabia: https://rumaysho.com/2559-shalat-dan-puasa-di-daerah-yang-waktu-siang-sangat-lama.html Semoga bermanfaat. — Disusun @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 4 Ramadhan 1437 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagspuasa kontemporer

Puasa di Islandia (Matahari Tidak Terbenam Lebih dari 24 Jam)

Tahu negara Islandia? Islandia (Iceland) adalah negeri es yang terletak di daerah kutub utara. Jumlah penduduknya hanya 330 ribuan. Negara tersebut hanya berupa pulau kecil yang luasnya 103.000 kilometer persegi. Karena letak geografisnya di kutub utara, saat musim panas tiba (seperti saat ini), penduduk yang ada di sana tidak menemukan waktu malam (artinya matahari tidak tenggelam), bahkan bisa berlangsung siang lebih dari 24 jam. Begitu juga ketika musim dingin tiba, mereka di sana tidak pernah melihat matahari sama sekali. Walau mayoritas beragama Nashrani, ternyata ada 0,3% yang beragama Islam di Islandia. Bagaimana cara mereka melakukan puasa? Untuk permasalahan yang terjadi di Islandia sudah dijelaskan oleh para ulama. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah menyatakan bahwa yang masalah bukan hanya puasa, namun juga shalat mereka. Namun jika di suatu negara masih mendapatkan siang dan malam, maka waktu siang dan malam tersebut tetap dijadikan patokan untuk hal ibadah, baik ketika siang begitu lama atau begitu singkat. Namun jika tidak mendapati malam atau siang sama sekali seperti di daerah kutub karena ada yang mengalami siang hingga enam bulan lamanya atau mengalami malam enam bulan lamanya, maka ketika itu baru mereka memperkirakan kapan waktu shalat mereka. (Lihat Majmu’ Fatawa wa Rasail Ibni ‘Utsaimin, 19: 321) Dalam Fatwa Al-Islam Sual wa Jawab jika ditanyakan hal yang sama tentang kaum muslimin yang hidup di kutub utara, satu kondisi mengalami siang yang hanya 4,5 jam, apa yang mesti dilakukan ketika ingin menjalankan puasa Ramadhan? Dijawab oleh Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid hafizhahullah bahwa jika memang ada waktu malam dan waktu siang, maka hendaklah berpuasa Ramadhan mulai dari terbit fajar hingga tenggelamnya matahari, baik siang tersebut itu panjang atau begitu singkat. Dalam web Saaid.Net, bisa disimpulkan beberapa hal berikut. Bagi yang masih mendapati waktu siang di musim panas, maka hendaklah menjadikan waktu shalat dan puasa dengan ketetapan yang telah Allah perintahkan (dengan melihat keadaan matahari, pen.). Inilah asalnya sebagaimana ditunjukkan dalam berbagai dalil syar’i. Untuk daerah yang tidak terbit matahari dalam waktu yang lama hingga sampai enam bulan lamanya atau matahari nampak sampai beberapa hari berturut-turut (tidak pernah tenggelam), maka penentuan waktu shalat dan puasa dengan melihat negara yang paling dekat yang masih nampak terbit dan tenggelam matahari dalam 24 jam, walaupun waktunya nanti berbeda. Bagi yang mendapati waktu siang yang terlalu panjang sehingga sulit untuk mengerjakan shalat atau dirasakan berat juga untuk berpuasa, maka boleh baginya makan dan minum dengan kadar yang cukup lalu menahan diri dari sisa hari yang ada. Lantas di waktu lain dari setahun, puasa tersebut tetap diqadha’. Jika memungkinkan kaum muslimin yang berada di negara semacam itu berpindah sesuai kemampuannya ke negara yang siangnya tidak begitu panjang di bulan Ramadhan, lebih-lebih lagi kalau dapat pindah ke negeri muslim, itu lebih baik. Jika ada kaum muslimin yang secara darurat mesti tinggal di negeri semacam itu, maka hendaklah bersabar dan mengharap pahala yang berlipat dari Allah. Namun ia tetap juga berusaha bisa berpindah ke negeri yang keadaan malam dan siangnya itu berimbang. Karena asalnya tinggal di negeri non-muslim semacam itu hanya untuk keadaan darurat saja, bukan bersifat permanen (terus menerus). Kalau sifat darurat sudah hilang, maka hilanglah hukum untuk tinggal di sana. Baca juga penjelasan dari Komisi Fatwa Kerajaan Saudi Arabia: https://rumaysho.com/2559-shalat-dan-puasa-di-daerah-yang-waktu-siang-sangat-lama.html Semoga bermanfaat. — Disusun @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 4 Ramadhan 1437 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagspuasa kontemporer
Tahu negara Islandia? Islandia (Iceland) adalah negeri es yang terletak di daerah kutub utara. Jumlah penduduknya hanya 330 ribuan. Negara tersebut hanya berupa pulau kecil yang luasnya 103.000 kilometer persegi. Karena letak geografisnya di kutub utara, saat musim panas tiba (seperti saat ini), penduduk yang ada di sana tidak menemukan waktu malam (artinya matahari tidak tenggelam), bahkan bisa berlangsung siang lebih dari 24 jam. Begitu juga ketika musim dingin tiba, mereka di sana tidak pernah melihat matahari sama sekali. Walau mayoritas beragama Nashrani, ternyata ada 0,3% yang beragama Islam di Islandia. Bagaimana cara mereka melakukan puasa? Untuk permasalahan yang terjadi di Islandia sudah dijelaskan oleh para ulama. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah menyatakan bahwa yang masalah bukan hanya puasa, namun juga shalat mereka. Namun jika di suatu negara masih mendapatkan siang dan malam, maka waktu siang dan malam tersebut tetap dijadikan patokan untuk hal ibadah, baik ketika siang begitu lama atau begitu singkat. Namun jika tidak mendapati malam atau siang sama sekali seperti di daerah kutub karena ada yang mengalami siang hingga enam bulan lamanya atau mengalami malam enam bulan lamanya, maka ketika itu baru mereka memperkirakan kapan waktu shalat mereka. (Lihat Majmu’ Fatawa wa Rasail Ibni ‘Utsaimin, 19: 321) Dalam Fatwa Al-Islam Sual wa Jawab jika ditanyakan hal yang sama tentang kaum muslimin yang hidup di kutub utara, satu kondisi mengalami siang yang hanya 4,5 jam, apa yang mesti dilakukan ketika ingin menjalankan puasa Ramadhan? Dijawab oleh Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid hafizhahullah bahwa jika memang ada waktu malam dan waktu siang, maka hendaklah berpuasa Ramadhan mulai dari terbit fajar hingga tenggelamnya matahari, baik siang tersebut itu panjang atau begitu singkat. Dalam web Saaid.Net, bisa disimpulkan beberapa hal berikut. Bagi yang masih mendapati waktu siang di musim panas, maka hendaklah menjadikan waktu shalat dan puasa dengan ketetapan yang telah Allah perintahkan (dengan melihat keadaan matahari, pen.). Inilah asalnya sebagaimana ditunjukkan dalam berbagai dalil syar’i. Untuk daerah yang tidak terbit matahari dalam waktu yang lama hingga sampai enam bulan lamanya atau matahari nampak sampai beberapa hari berturut-turut (tidak pernah tenggelam), maka penentuan waktu shalat dan puasa dengan melihat negara yang paling dekat yang masih nampak terbit dan tenggelam matahari dalam 24 jam, walaupun waktunya nanti berbeda. Bagi yang mendapati waktu siang yang terlalu panjang sehingga sulit untuk mengerjakan shalat atau dirasakan berat juga untuk berpuasa, maka boleh baginya makan dan minum dengan kadar yang cukup lalu menahan diri dari sisa hari yang ada. Lantas di waktu lain dari setahun, puasa tersebut tetap diqadha’. Jika memungkinkan kaum muslimin yang berada di negara semacam itu berpindah sesuai kemampuannya ke negara yang siangnya tidak begitu panjang di bulan Ramadhan, lebih-lebih lagi kalau dapat pindah ke negeri muslim, itu lebih baik. Jika ada kaum muslimin yang secara darurat mesti tinggal di negeri semacam itu, maka hendaklah bersabar dan mengharap pahala yang berlipat dari Allah. Namun ia tetap juga berusaha bisa berpindah ke negeri yang keadaan malam dan siangnya itu berimbang. Karena asalnya tinggal di negeri non-muslim semacam itu hanya untuk keadaan darurat saja, bukan bersifat permanen (terus menerus). Kalau sifat darurat sudah hilang, maka hilanglah hukum untuk tinggal di sana. Baca juga penjelasan dari Komisi Fatwa Kerajaan Saudi Arabia: https://rumaysho.com/2559-shalat-dan-puasa-di-daerah-yang-waktu-siang-sangat-lama.html Semoga bermanfaat. — Disusun @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 4 Ramadhan 1437 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagspuasa kontemporer


Tahu negara Islandia? Islandia (Iceland) adalah negeri es yang terletak di daerah kutub utara. Jumlah penduduknya hanya 330 ribuan. Negara tersebut hanya berupa pulau kecil yang luasnya 103.000 kilometer persegi. Karena letak geografisnya di kutub utara, saat musim panas tiba (seperti saat ini), penduduk yang ada di sana tidak menemukan waktu malam (artinya matahari tidak tenggelam), bahkan bisa berlangsung siang lebih dari 24 jam. Begitu juga ketika musim dingin tiba, mereka di sana tidak pernah melihat matahari sama sekali. Walau mayoritas beragama Nashrani, ternyata ada 0,3% yang beragama Islam di Islandia. Bagaimana cara mereka melakukan puasa? Untuk permasalahan yang terjadi di Islandia sudah dijelaskan oleh para ulama. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah menyatakan bahwa yang masalah bukan hanya puasa, namun juga shalat mereka. Namun jika di suatu negara masih mendapatkan siang dan malam, maka waktu siang dan malam tersebut tetap dijadikan patokan untuk hal ibadah, baik ketika siang begitu lama atau begitu singkat. Namun jika tidak mendapati malam atau siang sama sekali seperti di daerah kutub karena ada yang mengalami siang hingga enam bulan lamanya atau mengalami malam enam bulan lamanya, maka ketika itu baru mereka memperkirakan kapan waktu shalat mereka. (Lihat Majmu’ Fatawa wa Rasail Ibni ‘Utsaimin, 19: 321) Dalam Fatwa Al-Islam Sual wa Jawab jika ditanyakan hal yang sama tentang kaum muslimin yang hidup di kutub utara, satu kondisi mengalami siang yang hanya 4,5 jam, apa yang mesti dilakukan ketika ingin menjalankan puasa Ramadhan? Dijawab oleh Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid hafizhahullah bahwa jika memang ada waktu malam dan waktu siang, maka hendaklah berpuasa Ramadhan mulai dari terbit fajar hingga tenggelamnya matahari, baik siang tersebut itu panjang atau begitu singkat. Dalam web Saaid.Net, bisa disimpulkan beberapa hal berikut. Bagi yang masih mendapati waktu siang di musim panas, maka hendaklah menjadikan waktu shalat dan puasa dengan ketetapan yang telah Allah perintahkan (dengan melihat keadaan matahari, pen.). Inilah asalnya sebagaimana ditunjukkan dalam berbagai dalil syar’i. Untuk daerah yang tidak terbit matahari dalam waktu yang lama hingga sampai enam bulan lamanya atau matahari nampak sampai beberapa hari berturut-turut (tidak pernah tenggelam), maka penentuan waktu shalat dan puasa dengan melihat negara yang paling dekat yang masih nampak terbit dan tenggelam matahari dalam 24 jam, walaupun waktunya nanti berbeda. Bagi yang mendapati waktu siang yang terlalu panjang sehingga sulit untuk mengerjakan shalat atau dirasakan berat juga untuk berpuasa, maka boleh baginya makan dan minum dengan kadar yang cukup lalu menahan diri dari sisa hari yang ada. Lantas di waktu lain dari setahun, puasa tersebut tetap diqadha’. Jika memungkinkan kaum muslimin yang berada di negara semacam itu berpindah sesuai kemampuannya ke negara yang siangnya tidak begitu panjang di bulan Ramadhan, lebih-lebih lagi kalau dapat pindah ke negeri muslim, itu lebih baik. Jika ada kaum muslimin yang secara darurat mesti tinggal di negeri semacam itu, maka hendaklah bersabar dan mengharap pahala yang berlipat dari Allah. Namun ia tetap juga berusaha bisa berpindah ke negeri yang keadaan malam dan siangnya itu berimbang. Karena asalnya tinggal di negeri non-muslim semacam itu hanya untuk keadaan darurat saja, bukan bersifat permanen (terus menerus). Kalau sifat darurat sudah hilang, maka hilanglah hukum untuk tinggal di sana. Baca juga penjelasan dari Komisi Fatwa Kerajaan Saudi Arabia: https://rumaysho.com/2559-shalat-dan-puasa-di-daerah-yang-waktu-siang-sangat-lama.html Semoga bermanfaat. — Disusun @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 4 Ramadhan 1437 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagspuasa kontemporer

Fidyah dan Buka Puasa 31.315 Paket untuk Gunungkidul (1437 H)

Tahun lalu Pesantren Darush Sholihin (binaan Rumaysho.Com) sudah menyalurkan buka puasa pada 63 masjid sesuai jadwal, totalnya lebih dari 70 masjid karena ada yang di luar jadwal DS. Tahun 1437 H ini, penyaluran buka puasa akan disalurkan untuk jama’ah DS di Gunungkidul sebanyak 31.315 paket ke 109 masjid di Panggang-Purwosari sekitarnya. Harga per paket buka puasa ini dianggarkan Rp.10.000,-. Diterima juga untuk penyaluran fidyah berupa makanan seharga Rp.10.000,- per paket. Paket fidyah ini akan disalurkan pada fakir miskin di Gunungkidul.   Turut Berdonasi atau Ikut Serta dalam Fidyah Silakan transfer ke salah satu dari empat rekening berikut: BCA: 8610123881 (kode bank: 014). BNI Syariah: 0194475165 (kode bank: 009). BSM: 3107011155 (kode bank: 451). BRI: 0029-01-101480-50-9 (kode bank: 002). (Semua a.n:Muhammad Abduh Tuasikal).   Kirim konfirmasi via sms ke 082313950500. Info donasi: 0811267791. Donasi buka puasa yang dibutuhkan: 313,3 juta   Update laporan kegiatan Ramadhan DS bisa dilihat di DarushSholihin[dot]Com: http://darushsholihin.com/3192-dukung-ramadhan-di-barat-gunungkidul-yuk.html   YUK BERSEDEKAH DI BULAN RAMADHAN. Ingat, siapa yang memberi makan orang yang berbuka berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa. مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لاَ يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا “Siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun juga.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad; hasan shahih) Al Munawi rahimahullah menjelaskan bahwa memberi makan buka puasa di sini boleh jadi dengan makan malam, atau dengan kurma. Jika tidak bisa dengan itu, maka bisa pula dengan seteguk air. Laporan donasi buka puasa dan kegiatan Ramadhan DS ada di sini: http://darushsholihin.com/3192-dukung-ramadhan-di-barat-gunungkidul-yuk.html — Info Rumaysho.Com Tagsdonasi ramadhan

Fidyah dan Buka Puasa 31.315 Paket untuk Gunungkidul (1437 H)

Tahun lalu Pesantren Darush Sholihin (binaan Rumaysho.Com) sudah menyalurkan buka puasa pada 63 masjid sesuai jadwal, totalnya lebih dari 70 masjid karena ada yang di luar jadwal DS. Tahun 1437 H ini, penyaluran buka puasa akan disalurkan untuk jama’ah DS di Gunungkidul sebanyak 31.315 paket ke 109 masjid di Panggang-Purwosari sekitarnya. Harga per paket buka puasa ini dianggarkan Rp.10.000,-. Diterima juga untuk penyaluran fidyah berupa makanan seharga Rp.10.000,- per paket. Paket fidyah ini akan disalurkan pada fakir miskin di Gunungkidul.   Turut Berdonasi atau Ikut Serta dalam Fidyah Silakan transfer ke salah satu dari empat rekening berikut: BCA: 8610123881 (kode bank: 014). BNI Syariah: 0194475165 (kode bank: 009). BSM: 3107011155 (kode bank: 451). BRI: 0029-01-101480-50-9 (kode bank: 002). (Semua a.n:Muhammad Abduh Tuasikal).   Kirim konfirmasi via sms ke 082313950500. Info donasi: 0811267791. Donasi buka puasa yang dibutuhkan: 313,3 juta   Update laporan kegiatan Ramadhan DS bisa dilihat di DarushSholihin[dot]Com: http://darushsholihin.com/3192-dukung-ramadhan-di-barat-gunungkidul-yuk.html   YUK BERSEDEKAH DI BULAN RAMADHAN. Ingat, siapa yang memberi makan orang yang berbuka berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa. مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لاَ يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا “Siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun juga.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad; hasan shahih) Al Munawi rahimahullah menjelaskan bahwa memberi makan buka puasa di sini boleh jadi dengan makan malam, atau dengan kurma. Jika tidak bisa dengan itu, maka bisa pula dengan seteguk air. Laporan donasi buka puasa dan kegiatan Ramadhan DS ada di sini: http://darushsholihin.com/3192-dukung-ramadhan-di-barat-gunungkidul-yuk.html — Info Rumaysho.Com Tagsdonasi ramadhan
Tahun lalu Pesantren Darush Sholihin (binaan Rumaysho.Com) sudah menyalurkan buka puasa pada 63 masjid sesuai jadwal, totalnya lebih dari 70 masjid karena ada yang di luar jadwal DS. Tahun 1437 H ini, penyaluran buka puasa akan disalurkan untuk jama’ah DS di Gunungkidul sebanyak 31.315 paket ke 109 masjid di Panggang-Purwosari sekitarnya. Harga per paket buka puasa ini dianggarkan Rp.10.000,-. Diterima juga untuk penyaluran fidyah berupa makanan seharga Rp.10.000,- per paket. Paket fidyah ini akan disalurkan pada fakir miskin di Gunungkidul.   Turut Berdonasi atau Ikut Serta dalam Fidyah Silakan transfer ke salah satu dari empat rekening berikut: BCA: 8610123881 (kode bank: 014). BNI Syariah: 0194475165 (kode bank: 009). BSM: 3107011155 (kode bank: 451). BRI: 0029-01-101480-50-9 (kode bank: 002). (Semua a.n:Muhammad Abduh Tuasikal).   Kirim konfirmasi via sms ke 082313950500. Info donasi: 0811267791. Donasi buka puasa yang dibutuhkan: 313,3 juta   Update laporan kegiatan Ramadhan DS bisa dilihat di DarushSholihin[dot]Com: http://darushsholihin.com/3192-dukung-ramadhan-di-barat-gunungkidul-yuk.html   YUK BERSEDEKAH DI BULAN RAMADHAN. Ingat, siapa yang memberi makan orang yang berbuka berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa. مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لاَ يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا “Siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun juga.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad; hasan shahih) Al Munawi rahimahullah menjelaskan bahwa memberi makan buka puasa di sini boleh jadi dengan makan malam, atau dengan kurma. Jika tidak bisa dengan itu, maka bisa pula dengan seteguk air. Laporan donasi buka puasa dan kegiatan Ramadhan DS ada di sini: http://darushsholihin.com/3192-dukung-ramadhan-di-barat-gunungkidul-yuk.html — Info Rumaysho.Com Tagsdonasi ramadhan


Tahun lalu Pesantren Darush Sholihin (binaan Rumaysho.Com) sudah menyalurkan buka puasa pada 63 masjid sesuai jadwal, totalnya lebih dari 70 masjid karena ada yang di luar jadwal DS. Tahun 1437 H ini, penyaluran buka puasa akan disalurkan untuk jama’ah DS di Gunungkidul sebanyak 31.315 paket ke 109 masjid di Panggang-Purwosari sekitarnya. Harga per paket buka puasa ini dianggarkan Rp.10.000,-. Diterima juga untuk penyaluran fidyah berupa makanan seharga Rp.10.000,- per paket. Paket fidyah ini akan disalurkan pada fakir miskin di Gunungkidul.   Turut Berdonasi atau Ikut Serta dalam Fidyah Silakan transfer ke salah satu dari empat rekening berikut: BCA: 8610123881 (kode bank: 014). BNI Syariah: 0194475165 (kode bank: 009). BSM: 3107011155 (kode bank: 451). BRI: 0029-01-101480-50-9 (kode bank: 002). (Semua a.n:Muhammad Abduh Tuasikal).   Kirim konfirmasi via sms ke 082313950500. Info donasi: 0811267791. Donasi buka puasa yang dibutuhkan: 313,3 juta   Update laporan kegiatan Ramadhan DS bisa dilihat di DarushSholihin[dot]Com: http://darushsholihin.com/3192-dukung-ramadhan-di-barat-gunungkidul-yuk.html   YUK BERSEDEKAH DI BULAN RAMADHAN. Ingat, siapa yang memberi makan orang yang berbuka berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa. مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لاَ يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا “Siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun juga.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad; hasan shahih) Al Munawi rahimahullah menjelaskan bahwa memberi makan buka puasa di sini boleh jadi dengan makan malam, atau dengan kurma. Jika tidak bisa dengan itu, maka bisa pula dengan seteguk air. Laporan donasi buka puasa dan kegiatan Ramadhan DS ada di sini: http://darushsholihin.com/3192-dukung-ramadhan-di-barat-gunungkidul-yuk.html — Info Rumaysho.Com Tagsdonasi ramadhan

Renungan #04, Riba Sama dengan Jual Beli?

Ternyata ada ayat yang secara khusus memperingatkan tentang masalah riba. Bahkan masalah ini dibicarakan sekaligus dengan masalah utang di akhir-akhir surat Al-Baqarah, kalau dilihat ada pada dua halaman dalam mushaf Al-Qur’an. Ini menunjukkan riba benar-benar bahaya. Coba renungkan ayat berikut ini, الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لَا يَقُومُونَ إِلَّا كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبَا وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا فَمَنْ جَاءَهُ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّهِ فَانْتَهَى فَلَهُ مَا سَلَفَ وَأَمْرُهُ إِلَى اللَّهِ وَمَنْ عَادَ فَأُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ (275) يَمْحَقُ اللَّهُ الرِّبَا وَيُرْبِي الصَّدَقَاتِ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ كَفَّارٍ أَثِيمٍ (276) “Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa.” (QS. Al-Baqarah: 275-276)   Keadaan Pemakan Riba Ketika Keluar Dari Alam Kubur Awalnya diingatkan, الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لَا يَقُومُونَ إِلَّا كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ “Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) gila.” (QS. Al-Baqarah: 275) Apa yang dimaksud dengan ayat di atas? Ayat di atas dimaksudkan ketika dibangkitkan dari alam kubur. Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Orang yang memakan (mengambil) riba akan bangkit dari kubur mereka pada hari kiamat seperti orang yang terkena ayan (epilepsi) saat berdiri, di mana ia bertindak serampangan karena kerasukan setan. Saat itu ia berdiri sangat sulit.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 2: 278). Ibnu ‘Abbas berkata, “Pemakan riba akan bangkit pada hari kiamat dalam keadaan gila dan mencekik dirinya sendiri.” (Idem) Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menyatakan, “Itulah keadaan yang buruk bagi orang yang memakan riba. Orang yang memakan riba tidak dapat berdiri dari kuburnya pada hari berbangkit melainkan seperti orang yang kerasukan yang nampak gila.” (Taisir Al-Karim Ar-Rahman, hlm. 117). Imam Asy-Syaukani membahas lebih luas, tercatat bahwa ancaman riba yang dimaksud dalam ayat bukan hanya untuk pemakan riba. Yang disebut dalam ayat untuk pemakan riba hanya untuk menunjukkan jeleknya pelaku tersebut. Namun setiap orang yang bermuamalah dengan riba terkena ancaman ayat di atas, baik yang memakan riba (rentenir) maupun yang menyetor riba (yang meminjam uang atau nasabah). Imam Asy Syaukani juga berpendapat bahwa keadaan dia seperti orang gila yang kerasukan setan itu bukan hanya saat dibangkitkan dari kubur, namun berlaku untuk keadaannya di dunia. Orang yang mengumpulkan harta dengan menempuh jalan riba, maka ia akan berdiri seperti orang majnun (orang gila) yaitu karena sifatnya yang rakus dan tamak. Gerakannya saat itulah seperti orang gila. Seperti jika kita melihat ada orang yang tergesa-gesa saat berjalan, maka kita sebut ia dengan orang gila. (Lihat Fath Al-Qadir karya Asy-Syaukani, 1: 499).   Jual Beli dan Riba Jelas Berbeda Dalam ayat yang sama dilanjutkan, ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبَا وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا “Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.” (QS. Al-Baqarah: 275) Lihatlah dalam ayat di atas, Allah membedakan antara riba dan jual beli. Sedangkan mereka menyatakan jual beli dan riba itu sama karena sama-sama menarik keuntungan di dalamnya. Padahal keduanya berbeda. Jual beli jelas dihalalkan karena ada keuntungan dan manfaat di dalamnya, baik yang bersifat umum maupun khusus. Sedangkan riba diharamkan karena di dalamnya ada kezaliman dan memakan harta orang lain dengan cara yang batil, ini bukan seperti keuntungan yang ada dalam jual beli yang sifatnya mutualisme (saling menguntungkan antara penjual dan pembeli). (Lihat Al-Mukhtashor fi At-Tafsir, hlm. 47)   Jika Sudah Bertaubat dari Riba Kelanjutan dari ayat yang sama, فَمَنْ جَاءَهُ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّهِ فَانْتَهَى فَلَهُ مَا سَلَفَ وَأَمْرُهُ إِلَى اللَّهِ وَمَنْ عَادَ فَأُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ “Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Rabbnya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al-Baqarah: 275) Siapa saja yang telah sampai padanya peringatan dan larangan dari Allah, lantas ia bertaubat, maka riba yang sudah terlanjur diambil tidak ada dosa untuknya. Sedangkan yang mengulangi mengambil riba padahal sudah diberi peringatan, maka ia pantas mendapatkan siksa neraka dan kekal di dalamnya. Yang dimaksud kekal di dalamnya di sini adalah ia akan tinggal dalam waktu yang lama di neraka. Karena kalau kekal selamanya dalam neraka hanya diperuntukkan pada orang kafir saja. Sedangkan ahli tauhid tidaklah kekal selamanya di dalam neraka. (Lihat Al-Mukhtashor fi At-Tafsir, hlm. 47)   Sedekah dan Riba itu Berbeda di Akhirnya Setelah itu Allah bedakan antara berkahnya sedekah dan hancurnya riba, يَمْحَقُ اللَّهُ الرِّبَا وَيُرْبِي الصَّدَقَاتِ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ كَفَّارٍ أَثِيمٍ “Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa.” (QS. Al-Baqarah: 276) Lihatlah disebutkan bahwa harta riba itu akan sirna, bisa jadi secara kasatmata memang musnah atau secara maknawi berkah harta itu akan hilang. Adapun sedekah akan berbuah pahala yang berlipat-lipat, di mana satu kebaikan minimal dibalas dengan sepuluh yang semisal, bahkan bisa dilipatgandakan lebih daripada itu. Di samping itu, harta dari orang yang bersedakah itu akan diberkahi. Lalu diingatkan bahwa Allah tidak menyukai orang kafir lagi penentang, menghalalkan yang haram dan terus menerus berada dalam maksiat dan dosa.   Kesimpulan dari ayat yang kita kaji di atas, yang menunjukkan riba itu diingatkan dengan keras dari sisi: Pemakan riba akan keluar dari kuburnya seperti orang yang terkena ayan karena kesurupan setan. Riba itu menarik untung dalam hal utang piutang dan ini sangat berbeda dengan jual beli karena dalam riba terdapat ketidakadilan. Riba terdapat kezaliman dan memakan harta orang lain dengan cara yang batil. Diperintahkan untuk bertaubat dari riba dengan tidak mengulangi untuk memakan riba lagi. Pemakan riba diancam neraka dengan berada dalam waktu yang lama di dalamnya. Riba berujung hancurnya harta dan hilangnya keberkahan harta. Berbeda halnya dengan sedekah yang akan mengembangkan harta secara kasatmata atau menambah berkahnya. Semoga Allah memberkahi harta kita dengan sedekah dan jual beli yang halal, dan menjauhkan kita dari riba dan debu-debunya. — Disusun @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, hari Ramadhan keempat 1437 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsrenungan ayat renungan quran riba

Renungan #04, Riba Sama dengan Jual Beli?

Ternyata ada ayat yang secara khusus memperingatkan tentang masalah riba. Bahkan masalah ini dibicarakan sekaligus dengan masalah utang di akhir-akhir surat Al-Baqarah, kalau dilihat ada pada dua halaman dalam mushaf Al-Qur’an. Ini menunjukkan riba benar-benar bahaya. Coba renungkan ayat berikut ini, الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لَا يَقُومُونَ إِلَّا كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبَا وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا فَمَنْ جَاءَهُ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّهِ فَانْتَهَى فَلَهُ مَا سَلَفَ وَأَمْرُهُ إِلَى اللَّهِ وَمَنْ عَادَ فَأُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ (275) يَمْحَقُ اللَّهُ الرِّبَا وَيُرْبِي الصَّدَقَاتِ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ كَفَّارٍ أَثِيمٍ (276) “Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa.” (QS. Al-Baqarah: 275-276)   Keadaan Pemakan Riba Ketika Keluar Dari Alam Kubur Awalnya diingatkan, الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لَا يَقُومُونَ إِلَّا كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ “Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) gila.” (QS. Al-Baqarah: 275) Apa yang dimaksud dengan ayat di atas? Ayat di atas dimaksudkan ketika dibangkitkan dari alam kubur. Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Orang yang memakan (mengambil) riba akan bangkit dari kubur mereka pada hari kiamat seperti orang yang terkena ayan (epilepsi) saat berdiri, di mana ia bertindak serampangan karena kerasukan setan. Saat itu ia berdiri sangat sulit.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 2: 278). Ibnu ‘Abbas berkata, “Pemakan riba akan bangkit pada hari kiamat dalam keadaan gila dan mencekik dirinya sendiri.” (Idem) Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menyatakan, “Itulah keadaan yang buruk bagi orang yang memakan riba. Orang yang memakan riba tidak dapat berdiri dari kuburnya pada hari berbangkit melainkan seperti orang yang kerasukan yang nampak gila.” (Taisir Al-Karim Ar-Rahman, hlm. 117). Imam Asy-Syaukani membahas lebih luas, tercatat bahwa ancaman riba yang dimaksud dalam ayat bukan hanya untuk pemakan riba. Yang disebut dalam ayat untuk pemakan riba hanya untuk menunjukkan jeleknya pelaku tersebut. Namun setiap orang yang bermuamalah dengan riba terkena ancaman ayat di atas, baik yang memakan riba (rentenir) maupun yang menyetor riba (yang meminjam uang atau nasabah). Imam Asy Syaukani juga berpendapat bahwa keadaan dia seperti orang gila yang kerasukan setan itu bukan hanya saat dibangkitkan dari kubur, namun berlaku untuk keadaannya di dunia. Orang yang mengumpulkan harta dengan menempuh jalan riba, maka ia akan berdiri seperti orang majnun (orang gila) yaitu karena sifatnya yang rakus dan tamak. Gerakannya saat itulah seperti orang gila. Seperti jika kita melihat ada orang yang tergesa-gesa saat berjalan, maka kita sebut ia dengan orang gila. (Lihat Fath Al-Qadir karya Asy-Syaukani, 1: 499).   Jual Beli dan Riba Jelas Berbeda Dalam ayat yang sama dilanjutkan, ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبَا وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا “Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.” (QS. Al-Baqarah: 275) Lihatlah dalam ayat di atas, Allah membedakan antara riba dan jual beli. Sedangkan mereka menyatakan jual beli dan riba itu sama karena sama-sama menarik keuntungan di dalamnya. Padahal keduanya berbeda. Jual beli jelas dihalalkan karena ada keuntungan dan manfaat di dalamnya, baik yang bersifat umum maupun khusus. Sedangkan riba diharamkan karena di dalamnya ada kezaliman dan memakan harta orang lain dengan cara yang batil, ini bukan seperti keuntungan yang ada dalam jual beli yang sifatnya mutualisme (saling menguntungkan antara penjual dan pembeli). (Lihat Al-Mukhtashor fi At-Tafsir, hlm. 47)   Jika Sudah Bertaubat dari Riba Kelanjutan dari ayat yang sama, فَمَنْ جَاءَهُ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّهِ فَانْتَهَى فَلَهُ مَا سَلَفَ وَأَمْرُهُ إِلَى اللَّهِ وَمَنْ عَادَ فَأُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ “Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Rabbnya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al-Baqarah: 275) Siapa saja yang telah sampai padanya peringatan dan larangan dari Allah, lantas ia bertaubat, maka riba yang sudah terlanjur diambil tidak ada dosa untuknya. Sedangkan yang mengulangi mengambil riba padahal sudah diberi peringatan, maka ia pantas mendapatkan siksa neraka dan kekal di dalamnya. Yang dimaksud kekal di dalamnya di sini adalah ia akan tinggal dalam waktu yang lama di neraka. Karena kalau kekal selamanya dalam neraka hanya diperuntukkan pada orang kafir saja. Sedangkan ahli tauhid tidaklah kekal selamanya di dalam neraka. (Lihat Al-Mukhtashor fi At-Tafsir, hlm. 47)   Sedekah dan Riba itu Berbeda di Akhirnya Setelah itu Allah bedakan antara berkahnya sedekah dan hancurnya riba, يَمْحَقُ اللَّهُ الرِّبَا وَيُرْبِي الصَّدَقَاتِ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ كَفَّارٍ أَثِيمٍ “Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa.” (QS. Al-Baqarah: 276) Lihatlah disebutkan bahwa harta riba itu akan sirna, bisa jadi secara kasatmata memang musnah atau secara maknawi berkah harta itu akan hilang. Adapun sedekah akan berbuah pahala yang berlipat-lipat, di mana satu kebaikan minimal dibalas dengan sepuluh yang semisal, bahkan bisa dilipatgandakan lebih daripada itu. Di samping itu, harta dari orang yang bersedakah itu akan diberkahi. Lalu diingatkan bahwa Allah tidak menyukai orang kafir lagi penentang, menghalalkan yang haram dan terus menerus berada dalam maksiat dan dosa.   Kesimpulan dari ayat yang kita kaji di atas, yang menunjukkan riba itu diingatkan dengan keras dari sisi: Pemakan riba akan keluar dari kuburnya seperti orang yang terkena ayan karena kesurupan setan. Riba itu menarik untung dalam hal utang piutang dan ini sangat berbeda dengan jual beli karena dalam riba terdapat ketidakadilan. Riba terdapat kezaliman dan memakan harta orang lain dengan cara yang batil. Diperintahkan untuk bertaubat dari riba dengan tidak mengulangi untuk memakan riba lagi. Pemakan riba diancam neraka dengan berada dalam waktu yang lama di dalamnya. Riba berujung hancurnya harta dan hilangnya keberkahan harta. Berbeda halnya dengan sedekah yang akan mengembangkan harta secara kasatmata atau menambah berkahnya. Semoga Allah memberkahi harta kita dengan sedekah dan jual beli yang halal, dan menjauhkan kita dari riba dan debu-debunya. — Disusun @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, hari Ramadhan keempat 1437 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsrenungan ayat renungan quran riba
Ternyata ada ayat yang secara khusus memperingatkan tentang masalah riba. Bahkan masalah ini dibicarakan sekaligus dengan masalah utang di akhir-akhir surat Al-Baqarah, kalau dilihat ada pada dua halaman dalam mushaf Al-Qur’an. Ini menunjukkan riba benar-benar bahaya. Coba renungkan ayat berikut ini, الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لَا يَقُومُونَ إِلَّا كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبَا وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا فَمَنْ جَاءَهُ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّهِ فَانْتَهَى فَلَهُ مَا سَلَفَ وَأَمْرُهُ إِلَى اللَّهِ وَمَنْ عَادَ فَأُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ (275) يَمْحَقُ اللَّهُ الرِّبَا وَيُرْبِي الصَّدَقَاتِ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ كَفَّارٍ أَثِيمٍ (276) “Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa.” (QS. Al-Baqarah: 275-276)   Keadaan Pemakan Riba Ketika Keluar Dari Alam Kubur Awalnya diingatkan, الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لَا يَقُومُونَ إِلَّا كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ “Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) gila.” (QS. Al-Baqarah: 275) Apa yang dimaksud dengan ayat di atas? Ayat di atas dimaksudkan ketika dibangkitkan dari alam kubur. Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Orang yang memakan (mengambil) riba akan bangkit dari kubur mereka pada hari kiamat seperti orang yang terkena ayan (epilepsi) saat berdiri, di mana ia bertindak serampangan karena kerasukan setan. Saat itu ia berdiri sangat sulit.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 2: 278). Ibnu ‘Abbas berkata, “Pemakan riba akan bangkit pada hari kiamat dalam keadaan gila dan mencekik dirinya sendiri.” (Idem) Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menyatakan, “Itulah keadaan yang buruk bagi orang yang memakan riba. Orang yang memakan riba tidak dapat berdiri dari kuburnya pada hari berbangkit melainkan seperti orang yang kerasukan yang nampak gila.” (Taisir Al-Karim Ar-Rahman, hlm. 117). Imam Asy-Syaukani membahas lebih luas, tercatat bahwa ancaman riba yang dimaksud dalam ayat bukan hanya untuk pemakan riba. Yang disebut dalam ayat untuk pemakan riba hanya untuk menunjukkan jeleknya pelaku tersebut. Namun setiap orang yang bermuamalah dengan riba terkena ancaman ayat di atas, baik yang memakan riba (rentenir) maupun yang menyetor riba (yang meminjam uang atau nasabah). Imam Asy Syaukani juga berpendapat bahwa keadaan dia seperti orang gila yang kerasukan setan itu bukan hanya saat dibangkitkan dari kubur, namun berlaku untuk keadaannya di dunia. Orang yang mengumpulkan harta dengan menempuh jalan riba, maka ia akan berdiri seperti orang majnun (orang gila) yaitu karena sifatnya yang rakus dan tamak. Gerakannya saat itulah seperti orang gila. Seperti jika kita melihat ada orang yang tergesa-gesa saat berjalan, maka kita sebut ia dengan orang gila. (Lihat Fath Al-Qadir karya Asy-Syaukani, 1: 499).   Jual Beli dan Riba Jelas Berbeda Dalam ayat yang sama dilanjutkan, ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبَا وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا “Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.” (QS. Al-Baqarah: 275) Lihatlah dalam ayat di atas, Allah membedakan antara riba dan jual beli. Sedangkan mereka menyatakan jual beli dan riba itu sama karena sama-sama menarik keuntungan di dalamnya. Padahal keduanya berbeda. Jual beli jelas dihalalkan karena ada keuntungan dan manfaat di dalamnya, baik yang bersifat umum maupun khusus. Sedangkan riba diharamkan karena di dalamnya ada kezaliman dan memakan harta orang lain dengan cara yang batil, ini bukan seperti keuntungan yang ada dalam jual beli yang sifatnya mutualisme (saling menguntungkan antara penjual dan pembeli). (Lihat Al-Mukhtashor fi At-Tafsir, hlm. 47)   Jika Sudah Bertaubat dari Riba Kelanjutan dari ayat yang sama, فَمَنْ جَاءَهُ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّهِ فَانْتَهَى فَلَهُ مَا سَلَفَ وَأَمْرُهُ إِلَى اللَّهِ وَمَنْ عَادَ فَأُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ “Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Rabbnya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al-Baqarah: 275) Siapa saja yang telah sampai padanya peringatan dan larangan dari Allah, lantas ia bertaubat, maka riba yang sudah terlanjur diambil tidak ada dosa untuknya. Sedangkan yang mengulangi mengambil riba padahal sudah diberi peringatan, maka ia pantas mendapatkan siksa neraka dan kekal di dalamnya. Yang dimaksud kekal di dalamnya di sini adalah ia akan tinggal dalam waktu yang lama di neraka. Karena kalau kekal selamanya dalam neraka hanya diperuntukkan pada orang kafir saja. Sedangkan ahli tauhid tidaklah kekal selamanya di dalam neraka. (Lihat Al-Mukhtashor fi At-Tafsir, hlm. 47)   Sedekah dan Riba itu Berbeda di Akhirnya Setelah itu Allah bedakan antara berkahnya sedekah dan hancurnya riba, يَمْحَقُ اللَّهُ الرِّبَا وَيُرْبِي الصَّدَقَاتِ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ كَفَّارٍ أَثِيمٍ “Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa.” (QS. Al-Baqarah: 276) Lihatlah disebutkan bahwa harta riba itu akan sirna, bisa jadi secara kasatmata memang musnah atau secara maknawi berkah harta itu akan hilang. Adapun sedekah akan berbuah pahala yang berlipat-lipat, di mana satu kebaikan minimal dibalas dengan sepuluh yang semisal, bahkan bisa dilipatgandakan lebih daripada itu. Di samping itu, harta dari orang yang bersedakah itu akan diberkahi. Lalu diingatkan bahwa Allah tidak menyukai orang kafir lagi penentang, menghalalkan yang haram dan terus menerus berada dalam maksiat dan dosa.   Kesimpulan dari ayat yang kita kaji di atas, yang menunjukkan riba itu diingatkan dengan keras dari sisi: Pemakan riba akan keluar dari kuburnya seperti orang yang terkena ayan karena kesurupan setan. Riba itu menarik untung dalam hal utang piutang dan ini sangat berbeda dengan jual beli karena dalam riba terdapat ketidakadilan. Riba terdapat kezaliman dan memakan harta orang lain dengan cara yang batil. Diperintahkan untuk bertaubat dari riba dengan tidak mengulangi untuk memakan riba lagi. Pemakan riba diancam neraka dengan berada dalam waktu yang lama di dalamnya. Riba berujung hancurnya harta dan hilangnya keberkahan harta. Berbeda halnya dengan sedekah yang akan mengembangkan harta secara kasatmata atau menambah berkahnya. Semoga Allah memberkahi harta kita dengan sedekah dan jual beli yang halal, dan menjauhkan kita dari riba dan debu-debunya. — Disusun @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, hari Ramadhan keempat 1437 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsrenungan ayat renungan quran riba


Ternyata ada ayat yang secara khusus memperingatkan tentang masalah riba. Bahkan masalah ini dibicarakan sekaligus dengan masalah utang di akhir-akhir surat Al-Baqarah, kalau dilihat ada pada dua halaman dalam mushaf Al-Qur’an. Ini menunjukkan riba benar-benar bahaya. Coba renungkan ayat berikut ini, الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لَا يَقُومُونَ إِلَّا كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبَا وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا فَمَنْ جَاءَهُ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّهِ فَانْتَهَى فَلَهُ مَا سَلَفَ وَأَمْرُهُ إِلَى اللَّهِ وَمَنْ عَادَ فَأُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ (275) يَمْحَقُ اللَّهُ الرِّبَا وَيُرْبِي الصَّدَقَاتِ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ كَفَّارٍ أَثِيمٍ (276) “Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa.” (QS. Al-Baqarah: 275-276)   Keadaan Pemakan Riba Ketika Keluar Dari Alam Kubur Awalnya diingatkan, الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لَا يَقُومُونَ إِلَّا كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ “Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) gila.” (QS. Al-Baqarah: 275) Apa yang dimaksud dengan ayat di atas? Ayat di atas dimaksudkan ketika dibangkitkan dari alam kubur. Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Orang yang memakan (mengambil) riba akan bangkit dari kubur mereka pada hari kiamat seperti orang yang terkena ayan (epilepsi) saat berdiri, di mana ia bertindak serampangan karena kerasukan setan. Saat itu ia berdiri sangat sulit.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 2: 278). Ibnu ‘Abbas berkata, “Pemakan riba akan bangkit pada hari kiamat dalam keadaan gila dan mencekik dirinya sendiri.” (Idem) Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menyatakan, “Itulah keadaan yang buruk bagi orang yang memakan riba. Orang yang memakan riba tidak dapat berdiri dari kuburnya pada hari berbangkit melainkan seperti orang yang kerasukan yang nampak gila.” (Taisir Al-Karim Ar-Rahman, hlm. 117). Imam Asy-Syaukani membahas lebih luas, tercatat bahwa ancaman riba yang dimaksud dalam ayat bukan hanya untuk pemakan riba. Yang disebut dalam ayat untuk pemakan riba hanya untuk menunjukkan jeleknya pelaku tersebut. Namun setiap orang yang bermuamalah dengan riba terkena ancaman ayat di atas, baik yang memakan riba (rentenir) maupun yang menyetor riba (yang meminjam uang atau nasabah). Imam Asy Syaukani juga berpendapat bahwa keadaan dia seperti orang gila yang kerasukan setan itu bukan hanya saat dibangkitkan dari kubur, namun berlaku untuk keadaannya di dunia. Orang yang mengumpulkan harta dengan menempuh jalan riba, maka ia akan berdiri seperti orang majnun (orang gila) yaitu karena sifatnya yang rakus dan tamak. Gerakannya saat itulah seperti orang gila. Seperti jika kita melihat ada orang yang tergesa-gesa saat berjalan, maka kita sebut ia dengan orang gila. (Lihat Fath Al-Qadir karya Asy-Syaukani, 1: 499).   Jual Beli dan Riba Jelas Berbeda Dalam ayat yang sama dilanjutkan, ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبَا وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا “Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.” (QS. Al-Baqarah: 275) Lihatlah dalam ayat di atas, Allah membedakan antara riba dan jual beli. Sedangkan mereka menyatakan jual beli dan riba itu sama karena sama-sama menarik keuntungan di dalamnya. Padahal keduanya berbeda. Jual beli jelas dihalalkan karena ada keuntungan dan manfaat di dalamnya, baik yang bersifat umum maupun khusus. Sedangkan riba diharamkan karena di dalamnya ada kezaliman dan memakan harta orang lain dengan cara yang batil, ini bukan seperti keuntungan yang ada dalam jual beli yang sifatnya mutualisme (saling menguntungkan antara penjual dan pembeli). (Lihat Al-Mukhtashor fi At-Tafsir, hlm. 47)   Jika Sudah Bertaubat dari Riba Kelanjutan dari ayat yang sama, فَمَنْ جَاءَهُ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّهِ فَانْتَهَى فَلَهُ مَا سَلَفَ وَأَمْرُهُ إِلَى اللَّهِ وَمَنْ عَادَ فَأُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ “Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Rabbnya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al-Baqarah: 275) Siapa saja yang telah sampai padanya peringatan dan larangan dari Allah, lantas ia bertaubat, maka riba yang sudah terlanjur diambil tidak ada dosa untuknya. Sedangkan yang mengulangi mengambil riba padahal sudah diberi peringatan, maka ia pantas mendapatkan siksa neraka dan kekal di dalamnya. Yang dimaksud kekal di dalamnya di sini adalah ia akan tinggal dalam waktu yang lama di neraka. Karena kalau kekal selamanya dalam neraka hanya diperuntukkan pada orang kafir saja. Sedangkan ahli tauhid tidaklah kekal selamanya di dalam neraka. (Lihat Al-Mukhtashor fi At-Tafsir, hlm. 47)   Sedekah dan Riba itu Berbeda di Akhirnya Setelah itu Allah bedakan antara berkahnya sedekah dan hancurnya riba, يَمْحَقُ اللَّهُ الرِّبَا وَيُرْبِي الصَّدَقَاتِ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ كَفَّارٍ أَثِيمٍ “Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa.” (QS. Al-Baqarah: 276) Lihatlah disebutkan bahwa harta riba itu akan sirna, bisa jadi secara kasatmata memang musnah atau secara maknawi berkah harta itu akan hilang. Adapun sedekah akan berbuah pahala yang berlipat-lipat, di mana satu kebaikan minimal dibalas dengan sepuluh yang semisal, bahkan bisa dilipatgandakan lebih daripada itu. Di samping itu, harta dari orang yang bersedakah itu akan diberkahi. Lalu diingatkan bahwa Allah tidak menyukai orang kafir lagi penentang, menghalalkan yang haram dan terus menerus berada dalam maksiat dan dosa.   Kesimpulan dari ayat yang kita kaji di atas, yang menunjukkan riba itu diingatkan dengan keras dari sisi: Pemakan riba akan keluar dari kuburnya seperti orang yang terkena ayan karena kesurupan setan. Riba itu menarik untung dalam hal utang piutang dan ini sangat berbeda dengan jual beli karena dalam riba terdapat ketidakadilan. Riba terdapat kezaliman dan memakan harta orang lain dengan cara yang batil. Diperintahkan untuk bertaubat dari riba dengan tidak mengulangi untuk memakan riba lagi. Pemakan riba diancam neraka dengan berada dalam waktu yang lama di dalamnya. Riba berujung hancurnya harta dan hilangnya keberkahan harta. Berbeda halnya dengan sedekah yang akan mengembangkan harta secara kasatmata atau menambah berkahnya. Semoga Allah memberkahi harta kita dengan sedekah dan jual beli yang halal, dan menjauhkan kita dari riba dan debu-debunya. — Disusun @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, hari Ramadhan keempat 1437 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsrenungan ayat renungan quran riba

Renungan #03, Benci Padahal Sebenarnya itu Baik

Renungan yang sangat berharga untuk kali ini, كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ “Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216) Syaikh As-Sa’di rahimahullah menerangkan dalam tafsirnya sebagai berikut. Ayat ini memerintahkan untuk berperang di jalan Allah. Padahal karena kelemahan manusia, mereka enggan untuk berperang. Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berhijrah ke Madinah dan ketika kaum muslimin semakin banyak, Allah membebani untuk berperang dan dikabarkan pula bahwa memang hal itu juga berat bagi jiwa karena ada rasa capek dan kesulitan. Namun di balik perang itu ada pahala yang besar. Orang yang menjalaninya akan selamat dari siksa yang pedih. Kalau menang pun akan mendapatkan ghanimah yang besar. Itulah makanya disebutkan, وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu.” Sedangkan orang yang enggan berjihad, hanya ingin rehat saja, maka itu sebenarnya jelek walau jiwa kita sukai. Kalau kita enggan berjihad yang ada musuh akan menguasai kita, akan turun kehinaan, dan luput dari pahala jihad yang begitu besar. Makanya Allah sebut, وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ “Dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu.” Untuk perkara kebaikan akhirat, umumnya tidak disukai oleh jiwa karena ada keberatan dalam kebaikan tersebut. Sedangkan perkara kejelekan sangat disukai karena begitu lezat ketika menikmatinya tanpa diragukan lagi. Adapun perkara dunia, maka Allah memberikan sebab supaya kita bisa menyukainya dan akhirnya memperolehnya. Perkara di atas seharusnya membuat kita mensyukurinya. Karena kita tahu bahwa Allah begitu menyayangi diri kita daripada kita menyayangi diri kita sendiri. Allah juga yang menentukan maslahat bagi hamba-Nya. Makanya dinyatakan, وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ “Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” Maka setiap takdir Allah itu diterima baik takdir yang kita rasakan senang di dalamnya atau yang kita rasakan susah di dalamnya. Demikian penjelasan dalam Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Ibnu Katsir menyatakan, “Hal di atas “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu”; itu berlaku untuk semua perkara. Boleh jadi manusia menyukai sesuatu, padahal tidak ada kebaikan dan maslahat sama sekali di dalamnya. ” Ibnu Katsir menyatakan lagi dalam kitab tafsirnya, “Allah yang mengetahui akhir sesuatu dari perkara kita. Allah yang mengabarkan nantinya mana yang maslahat untuk dunia dan akhirat kita. Maka lakukan dan patuhlah pada perintah-Nya, niscaya kita akan mendapatkan petunjuk.” Hanya Allah yang memberi taufik. — Disusun @ Kota Ambon, Malam Ramadhan ketiga 1437 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsrenungan ayat renungan quran

Renungan #03, Benci Padahal Sebenarnya itu Baik

Renungan yang sangat berharga untuk kali ini, كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ “Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216) Syaikh As-Sa’di rahimahullah menerangkan dalam tafsirnya sebagai berikut. Ayat ini memerintahkan untuk berperang di jalan Allah. Padahal karena kelemahan manusia, mereka enggan untuk berperang. Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berhijrah ke Madinah dan ketika kaum muslimin semakin banyak, Allah membebani untuk berperang dan dikabarkan pula bahwa memang hal itu juga berat bagi jiwa karena ada rasa capek dan kesulitan. Namun di balik perang itu ada pahala yang besar. Orang yang menjalaninya akan selamat dari siksa yang pedih. Kalau menang pun akan mendapatkan ghanimah yang besar. Itulah makanya disebutkan, وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu.” Sedangkan orang yang enggan berjihad, hanya ingin rehat saja, maka itu sebenarnya jelek walau jiwa kita sukai. Kalau kita enggan berjihad yang ada musuh akan menguasai kita, akan turun kehinaan, dan luput dari pahala jihad yang begitu besar. Makanya Allah sebut, وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ “Dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu.” Untuk perkara kebaikan akhirat, umumnya tidak disukai oleh jiwa karena ada keberatan dalam kebaikan tersebut. Sedangkan perkara kejelekan sangat disukai karena begitu lezat ketika menikmatinya tanpa diragukan lagi. Adapun perkara dunia, maka Allah memberikan sebab supaya kita bisa menyukainya dan akhirnya memperolehnya. Perkara di atas seharusnya membuat kita mensyukurinya. Karena kita tahu bahwa Allah begitu menyayangi diri kita daripada kita menyayangi diri kita sendiri. Allah juga yang menentukan maslahat bagi hamba-Nya. Makanya dinyatakan, وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ “Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” Maka setiap takdir Allah itu diterima baik takdir yang kita rasakan senang di dalamnya atau yang kita rasakan susah di dalamnya. Demikian penjelasan dalam Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Ibnu Katsir menyatakan, “Hal di atas “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu”; itu berlaku untuk semua perkara. Boleh jadi manusia menyukai sesuatu, padahal tidak ada kebaikan dan maslahat sama sekali di dalamnya. ” Ibnu Katsir menyatakan lagi dalam kitab tafsirnya, “Allah yang mengetahui akhir sesuatu dari perkara kita. Allah yang mengabarkan nantinya mana yang maslahat untuk dunia dan akhirat kita. Maka lakukan dan patuhlah pada perintah-Nya, niscaya kita akan mendapatkan petunjuk.” Hanya Allah yang memberi taufik. — Disusun @ Kota Ambon, Malam Ramadhan ketiga 1437 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsrenungan ayat renungan quran
Renungan yang sangat berharga untuk kali ini, كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ “Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216) Syaikh As-Sa’di rahimahullah menerangkan dalam tafsirnya sebagai berikut. Ayat ini memerintahkan untuk berperang di jalan Allah. Padahal karena kelemahan manusia, mereka enggan untuk berperang. Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berhijrah ke Madinah dan ketika kaum muslimin semakin banyak, Allah membebani untuk berperang dan dikabarkan pula bahwa memang hal itu juga berat bagi jiwa karena ada rasa capek dan kesulitan. Namun di balik perang itu ada pahala yang besar. Orang yang menjalaninya akan selamat dari siksa yang pedih. Kalau menang pun akan mendapatkan ghanimah yang besar. Itulah makanya disebutkan, وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu.” Sedangkan orang yang enggan berjihad, hanya ingin rehat saja, maka itu sebenarnya jelek walau jiwa kita sukai. Kalau kita enggan berjihad yang ada musuh akan menguasai kita, akan turun kehinaan, dan luput dari pahala jihad yang begitu besar. Makanya Allah sebut, وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ “Dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu.” Untuk perkara kebaikan akhirat, umumnya tidak disukai oleh jiwa karena ada keberatan dalam kebaikan tersebut. Sedangkan perkara kejelekan sangat disukai karena begitu lezat ketika menikmatinya tanpa diragukan lagi. Adapun perkara dunia, maka Allah memberikan sebab supaya kita bisa menyukainya dan akhirnya memperolehnya. Perkara di atas seharusnya membuat kita mensyukurinya. Karena kita tahu bahwa Allah begitu menyayangi diri kita daripada kita menyayangi diri kita sendiri. Allah juga yang menentukan maslahat bagi hamba-Nya. Makanya dinyatakan, وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ “Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” Maka setiap takdir Allah itu diterima baik takdir yang kita rasakan senang di dalamnya atau yang kita rasakan susah di dalamnya. Demikian penjelasan dalam Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Ibnu Katsir menyatakan, “Hal di atas “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu”; itu berlaku untuk semua perkara. Boleh jadi manusia menyukai sesuatu, padahal tidak ada kebaikan dan maslahat sama sekali di dalamnya. ” Ibnu Katsir menyatakan lagi dalam kitab tafsirnya, “Allah yang mengetahui akhir sesuatu dari perkara kita. Allah yang mengabarkan nantinya mana yang maslahat untuk dunia dan akhirat kita. Maka lakukan dan patuhlah pada perintah-Nya, niscaya kita akan mendapatkan petunjuk.” Hanya Allah yang memberi taufik. — Disusun @ Kota Ambon, Malam Ramadhan ketiga 1437 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsrenungan ayat renungan quran


Renungan yang sangat berharga untuk kali ini, كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ “Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216) Syaikh As-Sa’di rahimahullah menerangkan dalam tafsirnya sebagai berikut. Ayat ini memerintahkan untuk berperang di jalan Allah. Padahal karena kelemahan manusia, mereka enggan untuk berperang. Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berhijrah ke Madinah dan ketika kaum muslimin semakin banyak, Allah membebani untuk berperang dan dikabarkan pula bahwa memang hal itu juga berat bagi jiwa karena ada rasa capek dan kesulitan. Namun di balik perang itu ada pahala yang besar. Orang yang menjalaninya akan selamat dari siksa yang pedih. Kalau menang pun akan mendapatkan ghanimah yang besar. Itulah makanya disebutkan, وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu.” Sedangkan orang yang enggan berjihad, hanya ingin rehat saja, maka itu sebenarnya jelek walau jiwa kita sukai. Kalau kita enggan berjihad yang ada musuh akan menguasai kita, akan turun kehinaan, dan luput dari pahala jihad yang begitu besar. Makanya Allah sebut, وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ “Dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu.” Untuk perkara kebaikan akhirat, umumnya tidak disukai oleh jiwa karena ada keberatan dalam kebaikan tersebut. Sedangkan perkara kejelekan sangat disukai karena begitu lezat ketika menikmatinya tanpa diragukan lagi. Adapun perkara dunia, maka Allah memberikan sebab supaya kita bisa menyukainya dan akhirnya memperolehnya. Perkara di atas seharusnya membuat kita mensyukurinya. Karena kita tahu bahwa Allah begitu menyayangi diri kita daripada kita menyayangi diri kita sendiri. Allah juga yang menentukan maslahat bagi hamba-Nya. Makanya dinyatakan, وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ “Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” Maka setiap takdir Allah itu diterima baik takdir yang kita rasakan senang di dalamnya atau yang kita rasakan susah di dalamnya. Demikian penjelasan dalam Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Ibnu Katsir menyatakan, “Hal di atas “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu”; itu berlaku untuk semua perkara. Boleh jadi manusia menyukai sesuatu, padahal tidak ada kebaikan dan maslahat sama sekali di dalamnya. ” Ibnu Katsir menyatakan lagi dalam kitab tafsirnya, “Allah yang mengetahui akhir sesuatu dari perkara kita. Allah yang mengabarkan nantinya mana yang maslahat untuk dunia dan akhirat kita. Maka lakukan dan patuhlah pada perintah-Nya, niscaya kita akan mendapatkan petunjuk.” Hanya Allah yang memberi taufik. — Disusun @ Kota Ambon, Malam Ramadhan ketiga 1437 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsrenungan ayat renungan quran

Renungan #02, Asal Ikut Tradisi

Renungan ayat di Ramadhan kedua ini ada di juz kedua, وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا أَلْفَيْنَا عَلَيْهِ آَبَاءَنَا أَوَلَوْ كَانَ آَبَاؤُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ شَيْئًا وَلَا يَهْتَدُونَ “Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,” mereka menjawab: “(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami”. “(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?” (QS. Al-Baqarah: 170) Allah Ta’ala mengabarkan tentang keadaan orang musyrik. Jika mereka diperintah untuk mengikuti wahyu Allah dan sabda Rasul-nya, mereka malah tetap ingin mengikuti (taklid) pada nenek moyang mereka. Mereka tidak mau beriman kepada para nabi. Padahal nenek moyang mereka tidak berada di atas ilmu dan tidak berada di atas petunjuk. Intinya, mereka cuma beralasan saja tidak mau menerima kebenaran. Kalau memang kebenaran yang mereka cari, tentu kebenaran yang akan jadi tujuan dan kebenaran itu akan ditampakkan lalu diikuti. Demikian yang dipaparkan oleh Syaikh As-Sa’di dalam kitab tafsirnya. Dalam Tafsir Al-Jalalain disebutkan bahwa yang diajak untuk diikuti adalah untuk bertauhid dan menghalalkan yang thayyib (yang halal). Dalam Tafsir Ibnu Katsir disebutkan, ikutilah apa yang diwahyukan oleh Allah pada Rasul-Nya dan tinggalkanlah kesesatan dan kejahilan (tidak punya ilmu). Namun mereka menjawab bahwa mereka tetap mengikuti ajaran nenek moyang mereka untuk menyembah berhala. Allah pun membantah mereka bahwa nenek moyang yang mereka ikuti sebenarnya tidak berada di atas petunjuk. Dua faedah penting disampaikan oleh Syaikh Abu Bakr Al-Jazairy dalam Aysar At-Tafasir, Diharamkan untuk mengikuti orang yang tidak berada di atas ilmu dan tidak punya pandangan dalam agama. Dibolehkan mengikuti (taklid pada) orang berilmu dan mengambil pendapat mereka yang bersumber dari wahyu ilahi yaitu Al-Kitab dan As-Sunnah. Semoga bermanfaat kajian renungan ayat di hari ini. — Disusun di kota Ambon, 2 Ramadhan 1437 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagskebenaran renungan ayat renungan quran tradisi

Renungan #02, Asal Ikut Tradisi

Renungan ayat di Ramadhan kedua ini ada di juz kedua, وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا أَلْفَيْنَا عَلَيْهِ آَبَاءَنَا أَوَلَوْ كَانَ آَبَاؤُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ شَيْئًا وَلَا يَهْتَدُونَ “Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,” mereka menjawab: “(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami”. “(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?” (QS. Al-Baqarah: 170) Allah Ta’ala mengabarkan tentang keadaan orang musyrik. Jika mereka diperintah untuk mengikuti wahyu Allah dan sabda Rasul-nya, mereka malah tetap ingin mengikuti (taklid) pada nenek moyang mereka. Mereka tidak mau beriman kepada para nabi. Padahal nenek moyang mereka tidak berada di atas ilmu dan tidak berada di atas petunjuk. Intinya, mereka cuma beralasan saja tidak mau menerima kebenaran. Kalau memang kebenaran yang mereka cari, tentu kebenaran yang akan jadi tujuan dan kebenaran itu akan ditampakkan lalu diikuti. Demikian yang dipaparkan oleh Syaikh As-Sa’di dalam kitab tafsirnya. Dalam Tafsir Al-Jalalain disebutkan bahwa yang diajak untuk diikuti adalah untuk bertauhid dan menghalalkan yang thayyib (yang halal). Dalam Tafsir Ibnu Katsir disebutkan, ikutilah apa yang diwahyukan oleh Allah pada Rasul-Nya dan tinggalkanlah kesesatan dan kejahilan (tidak punya ilmu). Namun mereka menjawab bahwa mereka tetap mengikuti ajaran nenek moyang mereka untuk menyembah berhala. Allah pun membantah mereka bahwa nenek moyang yang mereka ikuti sebenarnya tidak berada di atas petunjuk. Dua faedah penting disampaikan oleh Syaikh Abu Bakr Al-Jazairy dalam Aysar At-Tafasir, Diharamkan untuk mengikuti orang yang tidak berada di atas ilmu dan tidak punya pandangan dalam agama. Dibolehkan mengikuti (taklid pada) orang berilmu dan mengambil pendapat mereka yang bersumber dari wahyu ilahi yaitu Al-Kitab dan As-Sunnah. Semoga bermanfaat kajian renungan ayat di hari ini. — Disusun di kota Ambon, 2 Ramadhan 1437 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagskebenaran renungan ayat renungan quran tradisi
Renungan ayat di Ramadhan kedua ini ada di juz kedua, وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا أَلْفَيْنَا عَلَيْهِ آَبَاءَنَا أَوَلَوْ كَانَ آَبَاؤُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ شَيْئًا وَلَا يَهْتَدُونَ “Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,” mereka menjawab: “(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami”. “(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?” (QS. Al-Baqarah: 170) Allah Ta’ala mengabarkan tentang keadaan orang musyrik. Jika mereka diperintah untuk mengikuti wahyu Allah dan sabda Rasul-nya, mereka malah tetap ingin mengikuti (taklid) pada nenek moyang mereka. Mereka tidak mau beriman kepada para nabi. Padahal nenek moyang mereka tidak berada di atas ilmu dan tidak berada di atas petunjuk. Intinya, mereka cuma beralasan saja tidak mau menerima kebenaran. Kalau memang kebenaran yang mereka cari, tentu kebenaran yang akan jadi tujuan dan kebenaran itu akan ditampakkan lalu diikuti. Demikian yang dipaparkan oleh Syaikh As-Sa’di dalam kitab tafsirnya. Dalam Tafsir Al-Jalalain disebutkan bahwa yang diajak untuk diikuti adalah untuk bertauhid dan menghalalkan yang thayyib (yang halal). Dalam Tafsir Ibnu Katsir disebutkan, ikutilah apa yang diwahyukan oleh Allah pada Rasul-Nya dan tinggalkanlah kesesatan dan kejahilan (tidak punya ilmu). Namun mereka menjawab bahwa mereka tetap mengikuti ajaran nenek moyang mereka untuk menyembah berhala. Allah pun membantah mereka bahwa nenek moyang yang mereka ikuti sebenarnya tidak berada di atas petunjuk. Dua faedah penting disampaikan oleh Syaikh Abu Bakr Al-Jazairy dalam Aysar At-Tafasir, Diharamkan untuk mengikuti orang yang tidak berada di atas ilmu dan tidak punya pandangan dalam agama. Dibolehkan mengikuti (taklid pada) orang berilmu dan mengambil pendapat mereka yang bersumber dari wahyu ilahi yaitu Al-Kitab dan As-Sunnah. Semoga bermanfaat kajian renungan ayat di hari ini. — Disusun di kota Ambon, 2 Ramadhan 1437 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagskebenaran renungan ayat renungan quran tradisi


Renungan ayat di Ramadhan kedua ini ada di juz kedua, وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا أَلْفَيْنَا عَلَيْهِ آَبَاءَنَا أَوَلَوْ كَانَ آَبَاؤُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ شَيْئًا وَلَا يَهْتَدُونَ “Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,” mereka menjawab: “(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami”. “(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?” (QS. Al-Baqarah: 170) Allah Ta’ala mengabarkan tentang keadaan orang musyrik. Jika mereka diperintah untuk mengikuti wahyu Allah dan sabda Rasul-nya, mereka malah tetap ingin mengikuti (taklid) pada nenek moyang mereka. Mereka tidak mau beriman kepada para nabi. Padahal nenek moyang mereka tidak berada di atas ilmu dan tidak berada di atas petunjuk. Intinya, mereka cuma beralasan saja tidak mau menerima kebenaran. Kalau memang kebenaran yang mereka cari, tentu kebenaran yang akan jadi tujuan dan kebenaran itu akan ditampakkan lalu diikuti. Demikian yang dipaparkan oleh Syaikh As-Sa’di dalam kitab tafsirnya. Dalam Tafsir Al-Jalalain disebutkan bahwa yang diajak untuk diikuti adalah untuk bertauhid dan menghalalkan yang thayyib (yang halal). Dalam Tafsir Ibnu Katsir disebutkan, ikutilah apa yang diwahyukan oleh Allah pada Rasul-Nya dan tinggalkanlah kesesatan dan kejahilan (tidak punya ilmu). Namun mereka menjawab bahwa mereka tetap mengikuti ajaran nenek moyang mereka untuk menyembah berhala. Allah pun membantah mereka bahwa nenek moyang yang mereka ikuti sebenarnya tidak berada di atas petunjuk. Dua faedah penting disampaikan oleh Syaikh Abu Bakr Al-Jazairy dalam Aysar At-Tafasir, Diharamkan untuk mengikuti orang yang tidak berada di atas ilmu dan tidak punya pandangan dalam agama. Dibolehkan mengikuti (taklid pada) orang berilmu dan mengambil pendapat mereka yang bersumber dari wahyu ilahi yaitu Al-Kitab dan As-Sunnah. Semoga bermanfaat kajian renungan ayat di hari ini. — Disusun di kota Ambon, 2 Ramadhan 1437 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagskebenaran renungan ayat renungan quran tradisi

Ramadhan Telah Tiba

Khotbah Jum’at, Masjid Nabawi, 27 Sya’ban 1437 HKhatib : Syekh Ali Bin Abdurrahman Al-HudzaifiKhotbah PertamaSegala puji bagi Allah yang Maha Perkasa dan Maha Pengampun. Mencipta apa yang dikehendakiNya dan dipilihNya serta mengatur pergantian siang dan malam. Sesungguhnya yang demikian itu merupakan pelajaran bagi orang-orang yang berpandangan tajam. Aku memuji Tuhanku, bersyukur, bertobat dan memohon ampun kepadaNya. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah semata yang Maha Esa lagi Perkasa, tidak ada sekutu bagiNya. Aku pun bersaksi bahwa nabi dan penghulu kita Muhammad –shallallahu alaihi wa sallam- adalah hamba dan rasul pilihan-Nya.Ya Allah, curahkanlah shalawat dan salam serta keberkahan kepada hamba-Mu dan rasul-Mu Muhammad –shallallahu alaihi wa sallam- beserta seluruh keluarganya dan sahabatnya yang setia.Selanjutnya.      Bertakwalah dan taatlah kepada Allah. Tidak ada orang yang celaka lantaran taat kepada Allah, dan tidak ada orang yang selamat karena kemaksiatan kepadaNya.Wahai hamba Allah!     Percayalah akan janji Allah atas amal kebajikan kalian, dan bersungguh-sungguhlah meraih kesudahan dan final yang gemilang. Sesungguhnya Allah adalah “Syakur” (Maha menghargai dan merima apapun amal baik seseorang), Maha mengetahui, Maha Kaya dan Maha Mulia. Dia mengajak kalian untuk mendekatkan diri kepadaNya dengan amal-amal yang dicintaiNya, meskipun sesungguhnya Dia tidak memerlukan ketaatan kalian. Allah memperingatkan kalian dari kemaksiatan, meskipun Dia tidak terpengaruh oleh perbuatan durjana yang dilakukan seseorang. Firman Allah :مَنْ عَمِلَ صَالِحًا فَلِنَفْسِهِ وَمَنْ أَسَاءَ فَعَلَيْهَا وَمَا رَبُّكَ بِظَلامٍ لِلْعَبِيدِ [ فصلت/46]“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan Barangsiapa mengerjakan perbuatan durjana, maka (dosanya) untuk dirinya sendiri; dan sekali-kali tidaklah Tuhan-mu menganiaya hamba-hambaNya.”Qs Fushilat : 46Firman Allah:وَمَنْ يَنْقَلِبْ عَلَى عَقِبَيْهِ فَلَنْ يَضُرَّ اللَّهَ شَيْئًا وَسَيَجْزِي اللَّهُ الشَّاكِرِينَ [آل عمران/144]“Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan kemudharatan sedikitpun bagi Allah, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.”Qs Ali Imran : 144Waspadalah selalu –wahai hamba Allah- terhadap ancamana Allah. Tidaklah ancamanNya mengena seseorang melainkan menghinakannya dan tidaklah ancamannya mengepung seseorang yang berpaling dan lalai melainkan menyiksanya dan menyengsarakannya. Firman Allah:وَمَنْ يَحْلِلْ عَلَيْهِ غَضَبِي فَقَدْ هَوَى [طه/81]“Barangsiapa ditimpa oleh kemurkaan-Ku, maka sungguh binasalah ia.” Qs Thaha : 81      Sangat mengherankan, urusan orang yang bekerja hanya untuk dunia saja dengan melupakan akhiratnya, padahal urusan dunia dapat diperoleh dengan bekerja atau tanpa bekerja bagi orang yang dirinya tidak mampu bekerja. Sedangkan akhirat dan kenikmatan ukhrawi tidaklah didapat kecuali dengan bekerja untuk itu. Firman Allah:وَتِلْكَ الْجَنَّةُ الَّتِي أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ [الزخرف/72]“Dan Itulah surga yang diwariskan kepada kamu disebabkan amal-amal yang dahulu kamu kerjakan.” Qs Az-Zukhruf:72Kaum muslimin!     Kini telah tiba di tengah-tengah kita suatu momen yang agung, bulan mulia yang penuh kebaikan dan keberkahan, yang di dalamnya kesalahan-kesalahan dihapuskan, yaitu bulan Ramadhan yang Allah istimewakan.Diriwayatkan dari Abi Saed Al-Hudhri dari Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :” سيد الشهور شهر رمضان وأعظمها حرمة ذو الحجة” رواه البزار “Penghulu bulan adalah bulan Ramadhan dan yang paling agung kesuciannya adalah Dzulhijah.” HR Al-BazzarFirman Allah :شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ [البقرة/185]“Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil).”Qs Albaqarah : 185Semua waktu dalam bulan Ramadhan penuh keberkahan. Allah menggabungkan di dalamnya ibadah puasa dengan ibadah shalat, zakat bagi mereka yang berkewajiban, sedekah, haji kecil (umrah), memperbanyak baca Al-Qur’an, berbagai macam zikir, beramar makruf dan nahi anil munkar serta aneka ragam bentuk ketaatan dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah –subhanahu wa ta’ala-.     Sangat banyak dan terlihat cukup jelas lahan amal kebajikan di dalam bulan Ramadhan, sementara lahan keburukan di dalamnya dipersempit sedemikian rupa, sebab antara setan dan kemauan jahatnya untuk merusak, menyesatkan dan merintangi seorang muslim yang ingin beribadah telah dihambat dan dihalangi sedemikian rupa.Dari Abu Hurairah –radhiyallahu anhu- dari Nabi –shallallahu alaihi wa sallam – bersabda :“إذا دخل رمضان فتحت أبواب الجنة ، وأغلقت أبواب جهنم ، وسلسلت الشياطين ” رواه البخاري ومسلم“Jika datang bulan Ramadhan, pintu surga dibuka, pintu neraka Jahanam ditutup dan setan-setan dibelenggu.” HR. Bukhari dan Muslim.     Aneka macam pahala dan kenikmatan surgawi adalah cerminan dari aneka macam ibadah dan ketaatan di dunia ini. Maka setiap bentuk ketaatan pasti ada balasan pahalanya dan kenikmatan tertentu baginya. Firman Allah:كُلُوا وَاشْرَبُوا هَنِيئًا بِمَا أَسْلَفْتُمْ فِي الأيَّامِ الْخَالِيَةِ [ الحاقة/24]“Makanlah dan minumlah dengan sedap disebabkan amal yang telah kalian kerjakan pada hari-hari yang telah lalu”.Qs Alhaaqah : 24Dari Sahal Bin Sa’ad –radhiyallahu anhu- dari Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :“إنَّ فِي الْجَنَّةِ بَابًا يُدْعى لَهُ الرَّيَّانُ يَدْعى لَهُ الصَّائِمُونَ فمَنْ كَانَ مِنَ الصَّائِميْنَ دَخلَهُ ومَنْ دَخَلَهُ لَا يَظْمَعُ أَبَدًا” رواه البخاري ومسلم “Sesungguhnya di surga itu ada pintu yang dinamakan Ar-Rayyan. Orang-orang yang berpuasa dipanggil melalui pintu itu. Barangsiapa yang termasuk orang-orang yang berpuasa, akan memasukinya. Dan barangsiapa yang telah memasukinya tidaklah akan haus selama-lamanya.” HR Bukhari dan Muslim.      Penghormatan paling besar bagi orang yang masuk surga adalah karunia bisa memandang wajah Allah yang Maha Mulia. Ini merupakan balasan terbaik atas ibadah yang dilakukan seorang muslim sehingga ia dapat melihat Allah –subhanahu wa ta’ala-. Firman Allah :لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَى وَزِيَادَةٌ [ يونس / 26 ]“bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahan[kenikmatan melihat Allah].”Qs Yunus : 26Demikianlah Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- menafsirkan kata “Ziyadah” dalam ayat tersebut sebagai nikmat melihat wajah Allah yang Maha Mulia sebagaimana hadis Salman –radhiyallahu anhu- yang riwayatkan oleh Imam Muslim. Sebab, suatu balasan kebaikan yang diterima seseorang adalah cerminan dari jenis amal kebaikan yang dilakukannya. Demikian pula berbagai macam sanksi kejahatan seseorang identik dengan berbagai macam jenis pelanggaran yang pernah dilakukannya.Itulah sebabnya mengapa makanan zaqum dan minuman air yang sangat panas mendidih menjadi jenis balasan bagi orang yang memakan harta riba, uang haram, meminum minuman yang memabukkan dan mengonsumsi narkoba. Demikian pula penuangan air mendidih yang sangat panas ke atas kepala seseorang merupakan pembalasan atas sikap sombong dan arogan terhadap syariat Allah. Firman Allah :إِنَّ شَجَرَةَ الزَّقُّومِ ، طَعَامُ الأثِيم ، كَالْمُهْلِ يَغْلِي فِي الْبُطُونِ ، كَغَلْيِ الْحَمِيمِ ، خُذُوهُ فَاعْتِلُوهُ إِلَى سَوَاءِ الْجَحِيمِ ، ثُمَّ صُبُّوا فَوْقَ رَأْسِهِ مِنْ عَذَابِ الْحَمِيمِ ، ذُقْ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْكَرِيمُ [ الدخان/ 43-49]“Sesungguhnya pohon zaqqum, makanan orang yang banyak berdosa sebagai kotoran minyak yang mendidih di dalam perut, seperti mendidihnya air yang amat panas. Tangkaplah dia kemudian seretlah ke tengah-tengah neraka. Kemudian tuangkanlah di atas kepalanya siksaan (dari) air yang amat panas. Rasakanlah, sesungguhnya kamu orang yang perkasa lagi mulia.” Qs Al-Dukhan: 43-49Jelaslah bahwa pembalasan di akhirat adalah identik dengan jenis amal perbuatan itu sendiri di dunia.Maka berbesar hatilah kalian –wahai kaum muslimin- dengan kabar gembira yang pernah disampaikan oleh Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- kepada para sahabatnya berupa kehadiran bulan Ramadhan. Beliau mengabarkannya kepada mereka di akhir bulan Sya’ban, maka mereka pun bersiap-siap menyambut bulan yang agung ini sebaik-baiknya serta menyongsongnya dengan penuh keikhlasan kepada Allah –subhanahu wa ta’ala untuk mencari ridha-Nya. Mereka menyambutnya dengan senang hati, lantaran Allah telah mengantarkan mereka kepada bulan yang agung ini. Firman Allah :قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ [يونس/58]“Katakanlah: “Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. karunia Allah dan rahmat-Nya lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.” Qs Yunus : 58Penyambutan mereka dalam bentuk pertobatan atas segala dosa agar Allah –subhanahu wa ta’ala- menghapuskan dosa-dosa yang telah lampau. Mereka menyambutnya dengan mengembalikan hak-hak sesama kepada pemiliknya agar Allah menjaga keutuhan amal kebaikan mereka dan menghapus kesalahan-kesalahan mereka.Ingatlah pasti datang suatu saat dimana Anda tidak lagi dapat mengenyam ramadhan, maka bersiap-siaplah menghadapi kematian dengan segala petakan yang menyertaiya. Jagalah puasa Anda dari perbuatan yang sia-sia, mengumpat,adu domba, omong kosong, kemaksiatan dan melepaskan pandangan mata kepada obyek yang terlarang. Jagalah batin Anda dari suara-suara hati yang berakibat buruk. Diriwayatkan dari Ibnu Umar –radhiyallahu anhuma- dari Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :“رب صائم حظه من صيامه الجوع والعطش ورب قائم حظه من قيامه السهر” رواه الطبراني فى الكبير“Betapa banyak orang yang berpuasa hanya mendapatkan rasa lapar dan dahaga saja. Betapa banyak pula orang yang melakukan shalat malam, hanya begadang di malam hari.”HR. At-Tabrani.Menurut Al-Munziri,sanad hadis ini cukup dapat diterima.Dari Abu Hurairah –radhiyallahu anhu- dari Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :” من لم يدع قول الزور والعمل به فليس لله حاجة في أن يدع طعامه وشرابه ” رواه البخاري و أبو داود والترمذي“Barangsiapa yang tidak meninggalkan ucapan dusta dan tidak berhenti melakukannya, maka Allah tidak butuh kepadanya untuk meninggalkan makanannya dan minumannya“.HR. Bukhari, Abu Dawud dan Tirmizi.     Dari Abi Ubaidah –radhiyallahu anhu- dari Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :“الصَّوْمُ جُنَّةٌ مَا لَمْ يَخْرِقْهَا ” رواه النسائي والطبراني فى الأوسط“Puasa itu adalah perisai (bagi seseorang) selama ia tidak melubanginya.” HR. Nasa’i dan Tabrani dalam Al-Ausath. Melubanginya adalah merusaknya dengan ucapan dusta dan umpatan.     Seorang muslim seharusnya merawat pahala puasanya dengan memperbanyak ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah –subhanahu wa ta’ala- di bulan Ramadhan, memperbanyak baca Al-Qur’an, berdzikir, beristighfar, bershalawat kepada Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- bersedekah, memberi hadiah secara ikhlas karena Allah dan melakukan berbagai bentuk amal sosial seperti mengajarkan ilmu, meyerukan untuk berbuat kebaikan, mendorong orang lain untuk melakukannya, mencegahnya dari keburukan dan memperingatkannya dari bahayanya.     Bervariasi dalam melakukan ketaatan selain puasa dapat menambah pahala ibadah puasa itu sendiri. Oleh karena itu, barangsiapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala setara dengan pahala orang yang berbuasa itu tanpa berkurang sedikit pun. Janganlah Anda lewatkan shalat terawih –wahai saudara sesama muslim- dan shalat-shalat malam lainnya. Berusahalah dengan penuh antusias untuk meraih karunia “Lailatul-Qadr” pada sepuluh malam akhir Ramadhan.     Puasa dapat menghapuskan dosa-dosa, sebagaimana hadis dari Abu Hurairah –radhiyallahu anhu- yang menyatakan, Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda:من صام رمضان إيمانا واحتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه [رواه البخارى]“Barangsiapa yang berpuasa (di bulan) Ramadhan karena iman dan mengharapkan ridha Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu”. HR Bukhari      Abu Hurairah –radhiyallahu anhu- berkata, Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :من قام رمضان إيمانا واحتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه[ رواه البخاري ومسلم]“Barangsiapa yang melakukan qiyamul-lail dengan penuh keimanan dan mengharap pahala (dari Allah), maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah berlalu.” HR Bukhari dan Muslim.     Dari Ubadah Bin Shamit –radhiyallahu anhu- dari Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda terkait Lailatul-Qadr:الْتَمِسُوهَا فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ   فَمَنْ قَامَهَا إيْمَاناً وَاحْتِسَابًا ثُمَّ وُفِّقَتْ لَهُ غُفِرَ لَه مَا تَقدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَا تَأخّرَ ” رواه أحمد والطبرانى فى الكبير . ”Carilah malam lailatul qadar pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Barangsiapa yang mengidupkan (shalat malam) pada malam (lailatul Qodar) dilandasi keimanan dan mengharap ridha Allah, lalu bertepatan dengan (turunnya), niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu maupun yang kemudian.”HR Ahmad, dan Tabrani dalam kitab Alkabir.     Lakukanlah –wahai saudara sesama muslim- shalat secara berjamaah pada malam Lailatul Qadar tersebut, niscaya Allah melindungi Anda, menolong urusan Anda, dan meluruskan hal ihwal Anda tepat pada sasaran.     Barangsiapa yang melalaikan shalat, lenyaplah dunianya dan akhiratnya. Meski di dunia bisa menikmati kehidupan seperti halnya binatang, namun di hari kiamat kelak akan dikatakan kepadanya, “masuklah Engkau ke dalam neraka bersama para penghuninya”. Dalam sebuah hadis disebutkan :” من صلى العشاء في جماعة فكأنما قام نصف الليل، ومن صلى الفجر في جماعة فكأنما قام الليل كله” رواه مسلم “Barangsiapa yang melakukan shalat isya’ berjama’ah maka seakan-akan ia melakukan shalat sunnah separuh malam, dan barangsiapa yang melakukan shalat shubuh berjama’ah maka seakan-akan ia melakukan shalat sunnah semalam penuh.” HR. Muslim dari hadis Utsman –radhiyallahu anhu-.     Salah satu kerugian yang teramat besar dan keterhalangan dari pahala adalah berpuasa namun tidak melakukan shalat, atau meninggalkan sebagian shalat. Termasuk membuang-buang umur dan waktu adalah menghabiskan waktu malam sampai larut malam dengan permainan dan senda gurau, atau mencari situs-situs yang merusak moral dan menonton sinetron yang membahayakan dan menyebabkan kemerosotan akhlak.     Ketertinggalan (dari kebaikan) yang membawa kerugian teramat besar adalah ketika waktu seseorang tersita untuk aktivitas tersebut sepanjang bulan Ramadhan sehingga tidak sempat mendekatkan diri kepada Allah. Firman Allah :وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالأرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ ،الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ [ آل عمران/ 133-1 34]“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.”Qs Ali Imran : 133-134     Semoga Allah mencurahkan keberkahan kepada kita semua lantaran pengamalan Al-Qur’an yang mulia.======= Khotbah Kedua     Segala puji bagi Allah, yang Maha Pemberi petunjuk ke jalan yang lurus, Pemilik karunia agung, menganugerahkan karunianya kepada siapa yang dikehendaki-Nya karena kebaikan-Nya dan menahan (pemberian)-Nya dari siapa saja yang dikehendaki-Nya karena keadilan-Nya. Dia-lah yang Maha Mulia dan Maha Bijaksana. Aku memuji Tuhanku, bersyukur, bertobat dan memohon ampun kepada-Nya. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya yang Maha Kuasa dan Maha mengetahui. Aku pun bersaksi bahwa nabi dan pemimpin kami Muhammad –shallallahu alaihi wa sallam- adalah hamba Allah dan rasul-Nya, sebagai nabi pembawa syariat yang gemilang dan petunjuk yang lurus.Ya Allah, curahkanlah shalawat, salam dan keberkahan kepada hamba-Mu dan rasul-Mu, Muhammad –shallallahu alaihi wa sallam- beserta seluruh keluarga dan sahabatnya yang memiliki karakter tangguh cerminan dari akhlak mereka yang mulia.Selanjutnya. Bertakwalah kepada Allah dengan sesungguhnya. Berpegang-teguhlah dengan ikatan Islam yang demikian kokoh.Para hamba Allah!     Bertobatlah dari setiap dosa. Sungguh beruntung orang-orang yang bertobat dan celakalah orang-orang yang terus menerus berdosa. Firman Allah:وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ [ النور/31]“Dan bertobatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” Qs An-Nur : 31     Bulan Ramadhan adalah waktu bertobat. Termasuk perbuatan yang besar dosanya dan harus dilakukan pertobatan adalah merokok. Maka harumkanlah mulutmu –wahai saudaraku sesama muslim- dengan tidak merokok, bersihkanlah lidahmu dari noda-noda rokok untuk berdzikir kepada Allah –subhanahu wa ta’ala- dan membaca Al-Qur’an. Sedapkanlah aroma mulutmu untuk duduk berdampingan dengan orang-orang saleh dan para malaikat terhormat yang mencatat amalmu.     Merokok sama dengan mendekatkan diri kepada setan, dapat merusak darah, mendatangkan berbagai penyakit yang ganas, memperpendek umur, dan karenanya dasar-dasar syariat Islam mengharamkan-nya.Ketahuilah –saudaraku seiman- bahwa dalam puasa Ramadhan seseorang wajib menempatkan niat puasanya di malam hari sesuai hadis dari Hafshah –radhiyallahu anha- dari Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :من لم يجمع الصيام قبل الفجر فلا صيام له [ رواه أبو داود والترمذى والنسائي وابن ماجه]“Barangsiapa yang tidak berniat puasa sebelum terbitnya fajar, maka tidak ada puasa baginya.” HR Abu Dawud, Tirmizi, Nasa’i dan Ibnu Majah.Disebutkan dalam hadis :” من أفطر يوما من رمضان من غير عذر لم يقضه صوم الدهر وإن صامه” “Barangsiapa yang berbuka sehari bulan Ramadhan tanpa ada alasan ( yang dibenarkan menurut syara’),tidak akan diterima qadha’nya walaupun dia berpuasa penuh selama setahun”.Para hamba Allah!إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا.“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah dan sampaikanlah salam dengan sesungguhnya kepadanya.” === Doa ===Penerjemah Usman Hatimhttps://firanda.com/

Ramadhan Telah Tiba

Khotbah Jum’at, Masjid Nabawi, 27 Sya’ban 1437 HKhatib : Syekh Ali Bin Abdurrahman Al-HudzaifiKhotbah PertamaSegala puji bagi Allah yang Maha Perkasa dan Maha Pengampun. Mencipta apa yang dikehendakiNya dan dipilihNya serta mengatur pergantian siang dan malam. Sesungguhnya yang demikian itu merupakan pelajaran bagi orang-orang yang berpandangan tajam. Aku memuji Tuhanku, bersyukur, bertobat dan memohon ampun kepadaNya. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah semata yang Maha Esa lagi Perkasa, tidak ada sekutu bagiNya. Aku pun bersaksi bahwa nabi dan penghulu kita Muhammad –shallallahu alaihi wa sallam- adalah hamba dan rasul pilihan-Nya.Ya Allah, curahkanlah shalawat dan salam serta keberkahan kepada hamba-Mu dan rasul-Mu Muhammad –shallallahu alaihi wa sallam- beserta seluruh keluarganya dan sahabatnya yang setia.Selanjutnya.      Bertakwalah dan taatlah kepada Allah. Tidak ada orang yang celaka lantaran taat kepada Allah, dan tidak ada orang yang selamat karena kemaksiatan kepadaNya.Wahai hamba Allah!     Percayalah akan janji Allah atas amal kebajikan kalian, dan bersungguh-sungguhlah meraih kesudahan dan final yang gemilang. Sesungguhnya Allah adalah “Syakur” (Maha menghargai dan merima apapun amal baik seseorang), Maha mengetahui, Maha Kaya dan Maha Mulia. Dia mengajak kalian untuk mendekatkan diri kepadaNya dengan amal-amal yang dicintaiNya, meskipun sesungguhnya Dia tidak memerlukan ketaatan kalian. Allah memperingatkan kalian dari kemaksiatan, meskipun Dia tidak terpengaruh oleh perbuatan durjana yang dilakukan seseorang. Firman Allah :مَنْ عَمِلَ صَالِحًا فَلِنَفْسِهِ وَمَنْ أَسَاءَ فَعَلَيْهَا وَمَا رَبُّكَ بِظَلامٍ لِلْعَبِيدِ [ فصلت/46]“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan Barangsiapa mengerjakan perbuatan durjana, maka (dosanya) untuk dirinya sendiri; dan sekali-kali tidaklah Tuhan-mu menganiaya hamba-hambaNya.”Qs Fushilat : 46Firman Allah:وَمَنْ يَنْقَلِبْ عَلَى عَقِبَيْهِ فَلَنْ يَضُرَّ اللَّهَ شَيْئًا وَسَيَجْزِي اللَّهُ الشَّاكِرِينَ [آل عمران/144]“Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan kemudharatan sedikitpun bagi Allah, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.”Qs Ali Imran : 144Waspadalah selalu –wahai hamba Allah- terhadap ancamana Allah. Tidaklah ancamanNya mengena seseorang melainkan menghinakannya dan tidaklah ancamannya mengepung seseorang yang berpaling dan lalai melainkan menyiksanya dan menyengsarakannya. Firman Allah:وَمَنْ يَحْلِلْ عَلَيْهِ غَضَبِي فَقَدْ هَوَى [طه/81]“Barangsiapa ditimpa oleh kemurkaan-Ku, maka sungguh binasalah ia.” Qs Thaha : 81      Sangat mengherankan, urusan orang yang bekerja hanya untuk dunia saja dengan melupakan akhiratnya, padahal urusan dunia dapat diperoleh dengan bekerja atau tanpa bekerja bagi orang yang dirinya tidak mampu bekerja. Sedangkan akhirat dan kenikmatan ukhrawi tidaklah didapat kecuali dengan bekerja untuk itu. Firman Allah:وَتِلْكَ الْجَنَّةُ الَّتِي أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ [الزخرف/72]“Dan Itulah surga yang diwariskan kepada kamu disebabkan amal-amal yang dahulu kamu kerjakan.” Qs Az-Zukhruf:72Kaum muslimin!     Kini telah tiba di tengah-tengah kita suatu momen yang agung, bulan mulia yang penuh kebaikan dan keberkahan, yang di dalamnya kesalahan-kesalahan dihapuskan, yaitu bulan Ramadhan yang Allah istimewakan.Diriwayatkan dari Abi Saed Al-Hudhri dari Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :” سيد الشهور شهر رمضان وأعظمها حرمة ذو الحجة” رواه البزار “Penghulu bulan adalah bulan Ramadhan dan yang paling agung kesuciannya adalah Dzulhijah.” HR Al-BazzarFirman Allah :شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ [البقرة/185]“Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil).”Qs Albaqarah : 185Semua waktu dalam bulan Ramadhan penuh keberkahan. Allah menggabungkan di dalamnya ibadah puasa dengan ibadah shalat, zakat bagi mereka yang berkewajiban, sedekah, haji kecil (umrah), memperbanyak baca Al-Qur’an, berbagai macam zikir, beramar makruf dan nahi anil munkar serta aneka ragam bentuk ketaatan dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah –subhanahu wa ta’ala-.     Sangat banyak dan terlihat cukup jelas lahan amal kebajikan di dalam bulan Ramadhan, sementara lahan keburukan di dalamnya dipersempit sedemikian rupa, sebab antara setan dan kemauan jahatnya untuk merusak, menyesatkan dan merintangi seorang muslim yang ingin beribadah telah dihambat dan dihalangi sedemikian rupa.Dari Abu Hurairah –radhiyallahu anhu- dari Nabi –shallallahu alaihi wa sallam – bersabda :“إذا دخل رمضان فتحت أبواب الجنة ، وأغلقت أبواب جهنم ، وسلسلت الشياطين ” رواه البخاري ومسلم“Jika datang bulan Ramadhan, pintu surga dibuka, pintu neraka Jahanam ditutup dan setan-setan dibelenggu.” HR. Bukhari dan Muslim.     Aneka macam pahala dan kenikmatan surgawi adalah cerminan dari aneka macam ibadah dan ketaatan di dunia ini. Maka setiap bentuk ketaatan pasti ada balasan pahalanya dan kenikmatan tertentu baginya. Firman Allah:كُلُوا وَاشْرَبُوا هَنِيئًا بِمَا أَسْلَفْتُمْ فِي الأيَّامِ الْخَالِيَةِ [ الحاقة/24]“Makanlah dan minumlah dengan sedap disebabkan amal yang telah kalian kerjakan pada hari-hari yang telah lalu”.Qs Alhaaqah : 24Dari Sahal Bin Sa’ad –radhiyallahu anhu- dari Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :“إنَّ فِي الْجَنَّةِ بَابًا يُدْعى لَهُ الرَّيَّانُ يَدْعى لَهُ الصَّائِمُونَ فمَنْ كَانَ مِنَ الصَّائِميْنَ دَخلَهُ ومَنْ دَخَلَهُ لَا يَظْمَعُ أَبَدًا” رواه البخاري ومسلم “Sesungguhnya di surga itu ada pintu yang dinamakan Ar-Rayyan. Orang-orang yang berpuasa dipanggil melalui pintu itu. Barangsiapa yang termasuk orang-orang yang berpuasa, akan memasukinya. Dan barangsiapa yang telah memasukinya tidaklah akan haus selama-lamanya.” HR Bukhari dan Muslim.      Penghormatan paling besar bagi orang yang masuk surga adalah karunia bisa memandang wajah Allah yang Maha Mulia. Ini merupakan balasan terbaik atas ibadah yang dilakukan seorang muslim sehingga ia dapat melihat Allah –subhanahu wa ta’ala-. Firman Allah :لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَى وَزِيَادَةٌ [ يونس / 26 ]“bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahan[kenikmatan melihat Allah].”Qs Yunus : 26Demikianlah Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- menafsirkan kata “Ziyadah” dalam ayat tersebut sebagai nikmat melihat wajah Allah yang Maha Mulia sebagaimana hadis Salman –radhiyallahu anhu- yang riwayatkan oleh Imam Muslim. Sebab, suatu balasan kebaikan yang diterima seseorang adalah cerminan dari jenis amal kebaikan yang dilakukannya. Demikian pula berbagai macam sanksi kejahatan seseorang identik dengan berbagai macam jenis pelanggaran yang pernah dilakukannya.Itulah sebabnya mengapa makanan zaqum dan minuman air yang sangat panas mendidih menjadi jenis balasan bagi orang yang memakan harta riba, uang haram, meminum minuman yang memabukkan dan mengonsumsi narkoba. Demikian pula penuangan air mendidih yang sangat panas ke atas kepala seseorang merupakan pembalasan atas sikap sombong dan arogan terhadap syariat Allah. Firman Allah :إِنَّ شَجَرَةَ الزَّقُّومِ ، طَعَامُ الأثِيم ، كَالْمُهْلِ يَغْلِي فِي الْبُطُونِ ، كَغَلْيِ الْحَمِيمِ ، خُذُوهُ فَاعْتِلُوهُ إِلَى سَوَاءِ الْجَحِيمِ ، ثُمَّ صُبُّوا فَوْقَ رَأْسِهِ مِنْ عَذَابِ الْحَمِيمِ ، ذُقْ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْكَرِيمُ [ الدخان/ 43-49]“Sesungguhnya pohon zaqqum, makanan orang yang banyak berdosa sebagai kotoran minyak yang mendidih di dalam perut, seperti mendidihnya air yang amat panas. Tangkaplah dia kemudian seretlah ke tengah-tengah neraka. Kemudian tuangkanlah di atas kepalanya siksaan (dari) air yang amat panas. Rasakanlah, sesungguhnya kamu orang yang perkasa lagi mulia.” Qs Al-Dukhan: 43-49Jelaslah bahwa pembalasan di akhirat adalah identik dengan jenis amal perbuatan itu sendiri di dunia.Maka berbesar hatilah kalian –wahai kaum muslimin- dengan kabar gembira yang pernah disampaikan oleh Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- kepada para sahabatnya berupa kehadiran bulan Ramadhan. Beliau mengabarkannya kepada mereka di akhir bulan Sya’ban, maka mereka pun bersiap-siap menyambut bulan yang agung ini sebaik-baiknya serta menyongsongnya dengan penuh keikhlasan kepada Allah –subhanahu wa ta’ala untuk mencari ridha-Nya. Mereka menyambutnya dengan senang hati, lantaran Allah telah mengantarkan mereka kepada bulan yang agung ini. Firman Allah :قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ [يونس/58]“Katakanlah: “Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. karunia Allah dan rahmat-Nya lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.” Qs Yunus : 58Penyambutan mereka dalam bentuk pertobatan atas segala dosa agar Allah –subhanahu wa ta’ala- menghapuskan dosa-dosa yang telah lampau. Mereka menyambutnya dengan mengembalikan hak-hak sesama kepada pemiliknya agar Allah menjaga keutuhan amal kebaikan mereka dan menghapus kesalahan-kesalahan mereka.Ingatlah pasti datang suatu saat dimana Anda tidak lagi dapat mengenyam ramadhan, maka bersiap-siaplah menghadapi kematian dengan segala petakan yang menyertaiya. Jagalah puasa Anda dari perbuatan yang sia-sia, mengumpat,adu domba, omong kosong, kemaksiatan dan melepaskan pandangan mata kepada obyek yang terlarang. Jagalah batin Anda dari suara-suara hati yang berakibat buruk. Diriwayatkan dari Ibnu Umar –radhiyallahu anhuma- dari Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :“رب صائم حظه من صيامه الجوع والعطش ورب قائم حظه من قيامه السهر” رواه الطبراني فى الكبير“Betapa banyak orang yang berpuasa hanya mendapatkan rasa lapar dan dahaga saja. Betapa banyak pula orang yang melakukan shalat malam, hanya begadang di malam hari.”HR. At-Tabrani.Menurut Al-Munziri,sanad hadis ini cukup dapat diterima.Dari Abu Hurairah –radhiyallahu anhu- dari Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :” من لم يدع قول الزور والعمل به فليس لله حاجة في أن يدع طعامه وشرابه ” رواه البخاري و أبو داود والترمذي“Barangsiapa yang tidak meninggalkan ucapan dusta dan tidak berhenti melakukannya, maka Allah tidak butuh kepadanya untuk meninggalkan makanannya dan minumannya“.HR. Bukhari, Abu Dawud dan Tirmizi.     Dari Abi Ubaidah –radhiyallahu anhu- dari Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :“الصَّوْمُ جُنَّةٌ مَا لَمْ يَخْرِقْهَا ” رواه النسائي والطبراني فى الأوسط“Puasa itu adalah perisai (bagi seseorang) selama ia tidak melubanginya.” HR. Nasa’i dan Tabrani dalam Al-Ausath. Melubanginya adalah merusaknya dengan ucapan dusta dan umpatan.     Seorang muslim seharusnya merawat pahala puasanya dengan memperbanyak ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah –subhanahu wa ta’ala- di bulan Ramadhan, memperbanyak baca Al-Qur’an, berdzikir, beristighfar, bershalawat kepada Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- bersedekah, memberi hadiah secara ikhlas karena Allah dan melakukan berbagai bentuk amal sosial seperti mengajarkan ilmu, meyerukan untuk berbuat kebaikan, mendorong orang lain untuk melakukannya, mencegahnya dari keburukan dan memperingatkannya dari bahayanya.     Bervariasi dalam melakukan ketaatan selain puasa dapat menambah pahala ibadah puasa itu sendiri. Oleh karena itu, barangsiapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala setara dengan pahala orang yang berbuasa itu tanpa berkurang sedikit pun. Janganlah Anda lewatkan shalat terawih –wahai saudara sesama muslim- dan shalat-shalat malam lainnya. Berusahalah dengan penuh antusias untuk meraih karunia “Lailatul-Qadr” pada sepuluh malam akhir Ramadhan.     Puasa dapat menghapuskan dosa-dosa, sebagaimana hadis dari Abu Hurairah –radhiyallahu anhu- yang menyatakan, Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda:من صام رمضان إيمانا واحتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه [رواه البخارى]“Barangsiapa yang berpuasa (di bulan) Ramadhan karena iman dan mengharapkan ridha Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu”. HR Bukhari      Abu Hurairah –radhiyallahu anhu- berkata, Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :من قام رمضان إيمانا واحتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه[ رواه البخاري ومسلم]“Barangsiapa yang melakukan qiyamul-lail dengan penuh keimanan dan mengharap pahala (dari Allah), maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah berlalu.” HR Bukhari dan Muslim.     Dari Ubadah Bin Shamit –radhiyallahu anhu- dari Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda terkait Lailatul-Qadr:الْتَمِسُوهَا فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ   فَمَنْ قَامَهَا إيْمَاناً وَاحْتِسَابًا ثُمَّ وُفِّقَتْ لَهُ غُفِرَ لَه مَا تَقدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَا تَأخّرَ ” رواه أحمد والطبرانى فى الكبير . ”Carilah malam lailatul qadar pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Barangsiapa yang mengidupkan (shalat malam) pada malam (lailatul Qodar) dilandasi keimanan dan mengharap ridha Allah, lalu bertepatan dengan (turunnya), niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu maupun yang kemudian.”HR Ahmad, dan Tabrani dalam kitab Alkabir.     Lakukanlah –wahai saudara sesama muslim- shalat secara berjamaah pada malam Lailatul Qadar tersebut, niscaya Allah melindungi Anda, menolong urusan Anda, dan meluruskan hal ihwal Anda tepat pada sasaran.     Barangsiapa yang melalaikan shalat, lenyaplah dunianya dan akhiratnya. Meski di dunia bisa menikmati kehidupan seperti halnya binatang, namun di hari kiamat kelak akan dikatakan kepadanya, “masuklah Engkau ke dalam neraka bersama para penghuninya”. Dalam sebuah hadis disebutkan :” من صلى العشاء في جماعة فكأنما قام نصف الليل، ومن صلى الفجر في جماعة فكأنما قام الليل كله” رواه مسلم “Barangsiapa yang melakukan shalat isya’ berjama’ah maka seakan-akan ia melakukan shalat sunnah separuh malam, dan barangsiapa yang melakukan shalat shubuh berjama’ah maka seakan-akan ia melakukan shalat sunnah semalam penuh.” HR. Muslim dari hadis Utsman –radhiyallahu anhu-.     Salah satu kerugian yang teramat besar dan keterhalangan dari pahala adalah berpuasa namun tidak melakukan shalat, atau meninggalkan sebagian shalat. Termasuk membuang-buang umur dan waktu adalah menghabiskan waktu malam sampai larut malam dengan permainan dan senda gurau, atau mencari situs-situs yang merusak moral dan menonton sinetron yang membahayakan dan menyebabkan kemerosotan akhlak.     Ketertinggalan (dari kebaikan) yang membawa kerugian teramat besar adalah ketika waktu seseorang tersita untuk aktivitas tersebut sepanjang bulan Ramadhan sehingga tidak sempat mendekatkan diri kepada Allah. Firman Allah :وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالأرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ ،الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ [ آل عمران/ 133-1 34]“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.”Qs Ali Imran : 133-134     Semoga Allah mencurahkan keberkahan kepada kita semua lantaran pengamalan Al-Qur’an yang mulia.======= Khotbah Kedua     Segala puji bagi Allah, yang Maha Pemberi petunjuk ke jalan yang lurus, Pemilik karunia agung, menganugerahkan karunianya kepada siapa yang dikehendaki-Nya karena kebaikan-Nya dan menahan (pemberian)-Nya dari siapa saja yang dikehendaki-Nya karena keadilan-Nya. Dia-lah yang Maha Mulia dan Maha Bijaksana. Aku memuji Tuhanku, bersyukur, bertobat dan memohon ampun kepada-Nya. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya yang Maha Kuasa dan Maha mengetahui. Aku pun bersaksi bahwa nabi dan pemimpin kami Muhammad –shallallahu alaihi wa sallam- adalah hamba Allah dan rasul-Nya, sebagai nabi pembawa syariat yang gemilang dan petunjuk yang lurus.Ya Allah, curahkanlah shalawat, salam dan keberkahan kepada hamba-Mu dan rasul-Mu, Muhammad –shallallahu alaihi wa sallam- beserta seluruh keluarga dan sahabatnya yang memiliki karakter tangguh cerminan dari akhlak mereka yang mulia.Selanjutnya. Bertakwalah kepada Allah dengan sesungguhnya. Berpegang-teguhlah dengan ikatan Islam yang demikian kokoh.Para hamba Allah!     Bertobatlah dari setiap dosa. Sungguh beruntung orang-orang yang bertobat dan celakalah orang-orang yang terus menerus berdosa. Firman Allah:وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ [ النور/31]“Dan bertobatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” Qs An-Nur : 31     Bulan Ramadhan adalah waktu bertobat. Termasuk perbuatan yang besar dosanya dan harus dilakukan pertobatan adalah merokok. Maka harumkanlah mulutmu –wahai saudaraku sesama muslim- dengan tidak merokok, bersihkanlah lidahmu dari noda-noda rokok untuk berdzikir kepada Allah –subhanahu wa ta’ala- dan membaca Al-Qur’an. Sedapkanlah aroma mulutmu untuk duduk berdampingan dengan orang-orang saleh dan para malaikat terhormat yang mencatat amalmu.     Merokok sama dengan mendekatkan diri kepada setan, dapat merusak darah, mendatangkan berbagai penyakit yang ganas, memperpendek umur, dan karenanya dasar-dasar syariat Islam mengharamkan-nya.Ketahuilah –saudaraku seiman- bahwa dalam puasa Ramadhan seseorang wajib menempatkan niat puasanya di malam hari sesuai hadis dari Hafshah –radhiyallahu anha- dari Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :من لم يجمع الصيام قبل الفجر فلا صيام له [ رواه أبو داود والترمذى والنسائي وابن ماجه]“Barangsiapa yang tidak berniat puasa sebelum terbitnya fajar, maka tidak ada puasa baginya.” HR Abu Dawud, Tirmizi, Nasa’i dan Ibnu Majah.Disebutkan dalam hadis :” من أفطر يوما من رمضان من غير عذر لم يقضه صوم الدهر وإن صامه” “Barangsiapa yang berbuka sehari bulan Ramadhan tanpa ada alasan ( yang dibenarkan menurut syara’),tidak akan diterima qadha’nya walaupun dia berpuasa penuh selama setahun”.Para hamba Allah!إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا.“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah dan sampaikanlah salam dengan sesungguhnya kepadanya.” === Doa ===Penerjemah Usman Hatimhttps://firanda.com/
Khotbah Jum’at, Masjid Nabawi, 27 Sya’ban 1437 HKhatib : Syekh Ali Bin Abdurrahman Al-HudzaifiKhotbah PertamaSegala puji bagi Allah yang Maha Perkasa dan Maha Pengampun. Mencipta apa yang dikehendakiNya dan dipilihNya serta mengatur pergantian siang dan malam. Sesungguhnya yang demikian itu merupakan pelajaran bagi orang-orang yang berpandangan tajam. Aku memuji Tuhanku, bersyukur, bertobat dan memohon ampun kepadaNya. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah semata yang Maha Esa lagi Perkasa, tidak ada sekutu bagiNya. Aku pun bersaksi bahwa nabi dan penghulu kita Muhammad –shallallahu alaihi wa sallam- adalah hamba dan rasul pilihan-Nya.Ya Allah, curahkanlah shalawat dan salam serta keberkahan kepada hamba-Mu dan rasul-Mu Muhammad –shallallahu alaihi wa sallam- beserta seluruh keluarganya dan sahabatnya yang setia.Selanjutnya.      Bertakwalah dan taatlah kepada Allah. Tidak ada orang yang celaka lantaran taat kepada Allah, dan tidak ada orang yang selamat karena kemaksiatan kepadaNya.Wahai hamba Allah!     Percayalah akan janji Allah atas amal kebajikan kalian, dan bersungguh-sungguhlah meraih kesudahan dan final yang gemilang. Sesungguhnya Allah adalah “Syakur” (Maha menghargai dan merima apapun amal baik seseorang), Maha mengetahui, Maha Kaya dan Maha Mulia. Dia mengajak kalian untuk mendekatkan diri kepadaNya dengan amal-amal yang dicintaiNya, meskipun sesungguhnya Dia tidak memerlukan ketaatan kalian. Allah memperingatkan kalian dari kemaksiatan, meskipun Dia tidak terpengaruh oleh perbuatan durjana yang dilakukan seseorang. Firman Allah :مَنْ عَمِلَ صَالِحًا فَلِنَفْسِهِ وَمَنْ أَسَاءَ فَعَلَيْهَا وَمَا رَبُّكَ بِظَلامٍ لِلْعَبِيدِ [ فصلت/46]“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan Barangsiapa mengerjakan perbuatan durjana, maka (dosanya) untuk dirinya sendiri; dan sekali-kali tidaklah Tuhan-mu menganiaya hamba-hambaNya.”Qs Fushilat : 46Firman Allah:وَمَنْ يَنْقَلِبْ عَلَى عَقِبَيْهِ فَلَنْ يَضُرَّ اللَّهَ شَيْئًا وَسَيَجْزِي اللَّهُ الشَّاكِرِينَ [آل عمران/144]“Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan kemudharatan sedikitpun bagi Allah, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.”Qs Ali Imran : 144Waspadalah selalu –wahai hamba Allah- terhadap ancamana Allah. Tidaklah ancamanNya mengena seseorang melainkan menghinakannya dan tidaklah ancamannya mengepung seseorang yang berpaling dan lalai melainkan menyiksanya dan menyengsarakannya. Firman Allah:وَمَنْ يَحْلِلْ عَلَيْهِ غَضَبِي فَقَدْ هَوَى [طه/81]“Barangsiapa ditimpa oleh kemurkaan-Ku, maka sungguh binasalah ia.” Qs Thaha : 81      Sangat mengherankan, urusan orang yang bekerja hanya untuk dunia saja dengan melupakan akhiratnya, padahal urusan dunia dapat diperoleh dengan bekerja atau tanpa bekerja bagi orang yang dirinya tidak mampu bekerja. Sedangkan akhirat dan kenikmatan ukhrawi tidaklah didapat kecuali dengan bekerja untuk itu. Firman Allah:وَتِلْكَ الْجَنَّةُ الَّتِي أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ [الزخرف/72]“Dan Itulah surga yang diwariskan kepada kamu disebabkan amal-amal yang dahulu kamu kerjakan.” Qs Az-Zukhruf:72Kaum muslimin!     Kini telah tiba di tengah-tengah kita suatu momen yang agung, bulan mulia yang penuh kebaikan dan keberkahan, yang di dalamnya kesalahan-kesalahan dihapuskan, yaitu bulan Ramadhan yang Allah istimewakan.Diriwayatkan dari Abi Saed Al-Hudhri dari Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :” سيد الشهور شهر رمضان وأعظمها حرمة ذو الحجة” رواه البزار “Penghulu bulan adalah bulan Ramadhan dan yang paling agung kesuciannya adalah Dzulhijah.” HR Al-BazzarFirman Allah :شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ [البقرة/185]“Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil).”Qs Albaqarah : 185Semua waktu dalam bulan Ramadhan penuh keberkahan. Allah menggabungkan di dalamnya ibadah puasa dengan ibadah shalat, zakat bagi mereka yang berkewajiban, sedekah, haji kecil (umrah), memperbanyak baca Al-Qur’an, berbagai macam zikir, beramar makruf dan nahi anil munkar serta aneka ragam bentuk ketaatan dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah –subhanahu wa ta’ala-.     Sangat banyak dan terlihat cukup jelas lahan amal kebajikan di dalam bulan Ramadhan, sementara lahan keburukan di dalamnya dipersempit sedemikian rupa, sebab antara setan dan kemauan jahatnya untuk merusak, menyesatkan dan merintangi seorang muslim yang ingin beribadah telah dihambat dan dihalangi sedemikian rupa.Dari Abu Hurairah –radhiyallahu anhu- dari Nabi –shallallahu alaihi wa sallam – bersabda :“إذا دخل رمضان فتحت أبواب الجنة ، وأغلقت أبواب جهنم ، وسلسلت الشياطين ” رواه البخاري ومسلم“Jika datang bulan Ramadhan, pintu surga dibuka, pintu neraka Jahanam ditutup dan setan-setan dibelenggu.” HR. Bukhari dan Muslim.     Aneka macam pahala dan kenikmatan surgawi adalah cerminan dari aneka macam ibadah dan ketaatan di dunia ini. Maka setiap bentuk ketaatan pasti ada balasan pahalanya dan kenikmatan tertentu baginya. Firman Allah:كُلُوا وَاشْرَبُوا هَنِيئًا بِمَا أَسْلَفْتُمْ فِي الأيَّامِ الْخَالِيَةِ [ الحاقة/24]“Makanlah dan minumlah dengan sedap disebabkan amal yang telah kalian kerjakan pada hari-hari yang telah lalu”.Qs Alhaaqah : 24Dari Sahal Bin Sa’ad –radhiyallahu anhu- dari Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :“إنَّ فِي الْجَنَّةِ بَابًا يُدْعى لَهُ الرَّيَّانُ يَدْعى لَهُ الصَّائِمُونَ فمَنْ كَانَ مِنَ الصَّائِميْنَ دَخلَهُ ومَنْ دَخَلَهُ لَا يَظْمَعُ أَبَدًا” رواه البخاري ومسلم “Sesungguhnya di surga itu ada pintu yang dinamakan Ar-Rayyan. Orang-orang yang berpuasa dipanggil melalui pintu itu. Barangsiapa yang termasuk orang-orang yang berpuasa, akan memasukinya. Dan barangsiapa yang telah memasukinya tidaklah akan haus selama-lamanya.” HR Bukhari dan Muslim.      Penghormatan paling besar bagi orang yang masuk surga adalah karunia bisa memandang wajah Allah yang Maha Mulia. Ini merupakan balasan terbaik atas ibadah yang dilakukan seorang muslim sehingga ia dapat melihat Allah –subhanahu wa ta’ala-. Firman Allah :لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَى وَزِيَادَةٌ [ يونس / 26 ]“bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahan[kenikmatan melihat Allah].”Qs Yunus : 26Demikianlah Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- menafsirkan kata “Ziyadah” dalam ayat tersebut sebagai nikmat melihat wajah Allah yang Maha Mulia sebagaimana hadis Salman –radhiyallahu anhu- yang riwayatkan oleh Imam Muslim. Sebab, suatu balasan kebaikan yang diterima seseorang adalah cerminan dari jenis amal kebaikan yang dilakukannya. Demikian pula berbagai macam sanksi kejahatan seseorang identik dengan berbagai macam jenis pelanggaran yang pernah dilakukannya.Itulah sebabnya mengapa makanan zaqum dan minuman air yang sangat panas mendidih menjadi jenis balasan bagi orang yang memakan harta riba, uang haram, meminum minuman yang memabukkan dan mengonsumsi narkoba. Demikian pula penuangan air mendidih yang sangat panas ke atas kepala seseorang merupakan pembalasan atas sikap sombong dan arogan terhadap syariat Allah. Firman Allah :إِنَّ شَجَرَةَ الزَّقُّومِ ، طَعَامُ الأثِيم ، كَالْمُهْلِ يَغْلِي فِي الْبُطُونِ ، كَغَلْيِ الْحَمِيمِ ، خُذُوهُ فَاعْتِلُوهُ إِلَى سَوَاءِ الْجَحِيمِ ، ثُمَّ صُبُّوا فَوْقَ رَأْسِهِ مِنْ عَذَابِ الْحَمِيمِ ، ذُقْ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْكَرِيمُ [ الدخان/ 43-49]“Sesungguhnya pohon zaqqum, makanan orang yang banyak berdosa sebagai kotoran minyak yang mendidih di dalam perut, seperti mendidihnya air yang amat panas. Tangkaplah dia kemudian seretlah ke tengah-tengah neraka. Kemudian tuangkanlah di atas kepalanya siksaan (dari) air yang amat panas. Rasakanlah, sesungguhnya kamu orang yang perkasa lagi mulia.” Qs Al-Dukhan: 43-49Jelaslah bahwa pembalasan di akhirat adalah identik dengan jenis amal perbuatan itu sendiri di dunia.Maka berbesar hatilah kalian –wahai kaum muslimin- dengan kabar gembira yang pernah disampaikan oleh Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- kepada para sahabatnya berupa kehadiran bulan Ramadhan. Beliau mengabarkannya kepada mereka di akhir bulan Sya’ban, maka mereka pun bersiap-siap menyambut bulan yang agung ini sebaik-baiknya serta menyongsongnya dengan penuh keikhlasan kepada Allah –subhanahu wa ta’ala untuk mencari ridha-Nya. Mereka menyambutnya dengan senang hati, lantaran Allah telah mengantarkan mereka kepada bulan yang agung ini. Firman Allah :قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ [يونس/58]“Katakanlah: “Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. karunia Allah dan rahmat-Nya lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.” Qs Yunus : 58Penyambutan mereka dalam bentuk pertobatan atas segala dosa agar Allah –subhanahu wa ta’ala- menghapuskan dosa-dosa yang telah lampau. Mereka menyambutnya dengan mengembalikan hak-hak sesama kepada pemiliknya agar Allah menjaga keutuhan amal kebaikan mereka dan menghapus kesalahan-kesalahan mereka.Ingatlah pasti datang suatu saat dimana Anda tidak lagi dapat mengenyam ramadhan, maka bersiap-siaplah menghadapi kematian dengan segala petakan yang menyertaiya. Jagalah puasa Anda dari perbuatan yang sia-sia, mengumpat,adu domba, omong kosong, kemaksiatan dan melepaskan pandangan mata kepada obyek yang terlarang. Jagalah batin Anda dari suara-suara hati yang berakibat buruk. Diriwayatkan dari Ibnu Umar –radhiyallahu anhuma- dari Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :“رب صائم حظه من صيامه الجوع والعطش ورب قائم حظه من قيامه السهر” رواه الطبراني فى الكبير“Betapa banyak orang yang berpuasa hanya mendapatkan rasa lapar dan dahaga saja. Betapa banyak pula orang yang melakukan shalat malam, hanya begadang di malam hari.”HR. At-Tabrani.Menurut Al-Munziri,sanad hadis ini cukup dapat diterima.Dari Abu Hurairah –radhiyallahu anhu- dari Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :” من لم يدع قول الزور والعمل به فليس لله حاجة في أن يدع طعامه وشرابه ” رواه البخاري و أبو داود والترمذي“Barangsiapa yang tidak meninggalkan ucapan dusta dan tidak berhenti melakukannya, maka Allah tidak butuh kepadanya untuk meninggalkan makanannya dan minumannya“.HR. Bukhari, Abu Dawud dan Tirmizi.     Dari Abi Ubaidah –radhiyallahu anhu- dari Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :“الصَّوْمُ جُنَّةٌ مَا لَمْ يَخْرِقْهَا ” رواه النسائي والطبراني فى الأوسط“Puasa itu adalah perisai (bagi seseorang) selama ia tidak melubanginya.” HR. Nasa’i dan Tabrani dalam Al-Ausath. Melubanginya adalah merusaknya dengan ucapan dusta dan umpatan.     Seorang muslim seharusnya merawat pahala puasanya dengan memperbanyak ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah –subhanahu wa ta’ala- di bulan Ramadhan, memperbanyak baca Al-Qur’an, berdzikir, beristighfar, bershalawat kepada Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- bersedekah, memberi hadiah secara ikhlas karena Allah dan melakukan berbagai bentuk amal sosial seperti mengajarkan ilmu, meyerukan untuk berbuat kebaikan, mendorong orang lain untuk melakukannya, mencegahnya dari keburukan dan memperingatkannya dari bahayanya.     Bervariasi dalam melakukan ketaatan selain puasa dapat menambah pahala ibadah puasa itu sendiri. Oleh karena itu, barangsiapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala setara dengan pahala orang yang berbuasa itu tanpa berkurang sedikit pun. Janganlah Anda lewatkan shalat terawih –wahai saudara sesama muslim- dan shalat-shalat malam lainnya. Berusahalah dengan penuh antusias untuk meraih karunia “Lailatul-Qadr” pada sepuluh malam akhir Ramadhan.     Puasa dapat menghapuskan dosa-dosa, sebagaimana hadis dari Abu Hurairah –radhiyallahu anhu- yang menyatakan, Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda:من صام رمضان إيمانا واحتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه [رواه البخارى]“Barangsiapa yang berpuasa (di bulan) Ramadhan karena iman dan mengharapkan ridha Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu”. HR Bukhari      Abu Hurairah –radhiyallahu anhu- berkata, Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :من قام رمضان إيمانا واحتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه[ رواه البخاري ومسلم]“Barangsiapa yang melakukan qiyamul-lail dengan penuh keimanan dan mengharap pahala (dari Allah), maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah berlalu.” HR Bukhari dan Muslim.     Dari Ubadah Bin Shamit –radhiyallahu anhu- dari Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda terkait Lailatul-Qadr:الْتَمِسُوهَا فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ   فَمَنْ قَامَهَا إيْمَاناً وَاحْتِسَابًا ثُمَّ وُفِّقَتْ لَهُ غُفِرَ لَه مَا تَقدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَا تَأخّرَ ” رواه أحمد والطبرانى فى الكبير . ”Carilah malam lailatul qadar pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Barangsiapa yang mengidupkan (shalat malam) pada malam (lailatul Qodar) dilandasi keimanan dan mengharap ridha Allah, lalu bertepatan dengan (turunnya), niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu maupun yang kemudian.”HR Ahmad, dan Tabrani dalam kitab Alkabir.     Lakukanlah –wahai saudara sesama muslim- shalat secara berjamaah pada malam Lailatul Qadar tersebut, niscaya Allah melindungi Anda, menolong urusan Anda, dan meluruskan hal ihwal Anda tepat pada sasaran.     Barangsiapa yang melalaikan shalat, lenyaplah dunianya dan akhiratnya. Meski di dunia bisa menikmati kehidupan seperti halnya binatang, namun di hari kiamat kelak akan dikatakan kepadanya, “masuklah Engkau ke dalam neraka bersama para penghuninya”. Dalam sebuah hadis disebutkan :” من صلى العشاء في جماعة فكأنما قام نصف الليل، ومن صلى الفجر في جماعة فكأنما قام الليل كله” رواه مسلم “Barangsiapa yang melakukan shalat isya’ berjama’ah maka seakan-akan ia melakukan shalat sunnah separuh malam, dan barangsiapa yang melakukan shalat shubuh berjama’ah maka seakan-akan ia melakukan shalat sunnah semalam penuh.” HR. Muslim dari hadis Utsman –radhiyallahu anhu-.     Salah satu kerugian yang teramat besar dan keterhalangan dari pahala adalah berpuasa namun tidak melakukan shalat, atau meninggalkan sebagian shalat. Termasuk membuang-buang umur dan waktu adalah menghabiskan waktu malam sampai larut malam dengan permainan dan senda gurau, atau mencari situs-situs yang merusak moral dan menonton sinetron yang membahayakan dan menyebabkan kemerosotan akhlak.     Ketertinggalan (dari kebaikan) yang membawa kerugian teramat besar adalah ketika waktu seseorang tersita untuk aktivitas tersebut sepanjang bulan Ramadhan sehingga tidak sempat mendekatkan diri kepada Allah. Firman Allah :وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالأرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ ،الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ [ آل عمران/ 133-1 34]“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.”Qs Ali Imran : 133-134     Semoga Allah mencurahkan keberkahan kepada kita semua lantaran pengamalan Al-Qur’an yang mulia.======= Khotbah Kedua     Segala puji bagi Allah, yang Maha Pemberi petunjuk ke jalan yang lurus, Pemilik karunia agung, menganugerahkan karunianya kepada siapa yang dikehendaki-Nya karena kebaikan-Nya dan menahan (pemberian)-Nya dari siapa saja yang dikehendaki-Nya karena keadilan-Nya. Dia-lah yang Maha Mulia dan Maha Bijaksana. Aku memuji Tuhanku, bersyukur, bertobat dan memohon ampun kepada-Nya. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya yang Maha Kuasa dan Maha mengetahui. Aku pun bersaksi bahwa nabi dan pemimpin kami Muhammad –shallallahu alaihi wa sallam- adalah hamba Allah dan rasul-Nya, sebagai nabi pembawa syariat yang gemilang dan petunjuk yang lurus.Ya Allah, curahkanlah shalawat, salam dan keberkahan kepada hamba-Mu dan rasul-Mu, Muhammad –shallallahu alaihi wa sallam- beserta seluruh keluarga dan sahabatnya yang memiliki karakter tangguh cerminan dari akhlak mereka yang mulia.Selanjutnya. Bertakwalah kepada Allah dengan sesungguhnya. Berpegang-teguhlah dengan ikatan Islam yang demikian kokoh.Para hamba Allah!     Bertobatlah dari setiap dosa. Sungguh beruntung orang-orang yang bertobat dan celakalah orang-orang yang terus menerus berdosa. Firman Allah:وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ [ النور/31]“Dan bertobatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” Qs An-Nur : 31     Bulan Ramadhan adalah waktu bertobat. Termasuk perbuatan yang besar dosanya dan harus dilakukan pertobatan adalah merokok. Maka harumkanlah mulutmu –wahai saudaraku sesama muslim- dengan tidak merokok, bersihkanlah lidahmu dari noda-noda rokok untuk berdzikir kepada Allah –subhanahu wa ta’ala- dan membaca Al-Qur’an. Sedapkanlah aroma mulutmu untuk duduk berdampingan dengan orang-orang saleh dan para malaikat terhormat yang mencatat amalmu.     Merokok sama dengan mendekatkan diri kepada setan, dapat merusak darah, mendatangkan berbagai penyakit yang ganas, memperpendek umur, dan karenanya dasar-dasar syariat Islam mengharamkan-nya.Ketahuilah –saudaraku seiman- bahwa dalam puasa Ramadhan seseorang wajib menempatkan niat puasanya di malam hari sesuai hadis dari Hafshah –radhiyallahu anha- dari Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :من لم يجمع الصيام قبل الفجر فلا صيام له [ رواه أبو داود والترمذى والنسائي وابن ماجه]“Barangsiapa yang tidak berniat puasa sebelum terbitnya fajar, maka tidak ada puasa baginya.” HR Abu Dawud, Tirmizi, Nasa’i dan Ibnu Majah.Disebutkan dalam hadis :” من أفطر يوما من رمضان من غير عذر لم يقضه صوم الدهر وإن صامه” “Barangsiapa yang berbuka sehari bulan Ramadhan tanpa ada alasan ( yang dibenarkan menurut syara’),tidak akan diterima qadha’nya walaupun dia berpuasa penuh selama setahun”.Para hamba Allah!إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا.“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah dan sampaikanlah salam dengan sesungguhnya kepadanya.” === Doa ===Penerjemah Usman Hatimhttps://firanda.com/


Khotbah Jum’at, Masjid Nabawi, 27 Sya’ban 1437 HKhatib : Syekh Ali Bin Abdurrahman Al-HudzaifiKhotbah PertamaSegala puji bagi Allah yang Maha Perkasa dan Maha Pengampun. Mencipta apa yang dikehendakiNya dan dipilihNya serta mengatur pergantian siang dan malam. Sesungguhnya yang demikian itu merupakan pelajaran bagi orang-orang yang berpandangan tajam. Aku memuji Tuhanku, bersyukur, bertobat dan memohon ampun kepadaNya. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah semata yang Maha Esa lagi Perkasa, tidak ada sekutu bagiNya. Aku pun bersaksi bahwa nabi dan penghulu kita Muhammad –shallallahu alaihi wa sallam- adalah hamba dan rasul pilihan-Nya.Ya Allah, curahkanlah shalawat dan salam serta keberkahan kepada hamba-Mu dan rasul-Mu Muhammad –shallallahu alaihi wa sallam- beserta seluruh keluarganya dan sahabatnya yang setia.Selanjutnya.      Bertakwalah dan taatlah kepada Allah. Tidak ada orang yang celaka lantaran taat kepada Allah, dan tidak ada orang yang selamat karena kemaksiatan kepadaNya.Wahai hamba Allah!     Percayalah akan janji Allah atas amal kebajikan kalian, dan bersungguh-sungguhlah meraih kesudahan dan final yang gemilang. Sesungguhnya Allah adalah “Syakur” (Maha menghargai dan merima apapun amal baik seseorang), Maha mengetahui, Maha Kaya dan Maha Mulia. Dia mengajak kalian untuk mendekatkan diri kepadaNya dengan amal-amal yang dicintaiNya, meskipun sesungguhnya Dia tidak memerlukan ketaatan kalian. Allah memperingatkan kalian dari kemaksiatan, meskipun Dia tidak terpengaruh oleh perbuatan durjana yang dilakukan seseorang. Firman Allah :مَنْ عَمِلَ صَالِحًا فَلِنَفْسِهِ وَمَنْ أَسَاءَ فَعَلَيْهَا وَمَا رَبُّكَ بِظَلامٍ لِلْعَبِيدِ [ فصلت/46]“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan Barangsiapa mengerjakan perbuatan durjana, maka (dosanya) untuk dirinya sendiri; dan sekali-kali tidaklah Tuhan-mu menganiaya hamba-hambaNya.”Qs Fushilat : 46Firman Allah:وَمَنْ يَنْقَلِبْ عَلَى عَقِبَيْهِ فَلَنْ يَضُرَّ اللَّهَ شَيْئًا وَسَيَجْزِي اللَّهُ الشَّاكِرِينَ [آل عمران/144]“Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan kemudharatan sedikitpun bagi Allah, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.”Qs Ali Imran : 144Waspadalah selalu –wahai hamba Allah- terhadap ancamana Allah. Tidaklah ancamanNya mengena seseorang melainkan menghinakannya dan tidaklah ancamannya mengepung seseorang yang berpaling dan lalai melainkan menyiksanya dan menyengsarakannya. Firman Allah:وَمَنْ يَحْلِلْ عَلَيْهِ غَضَبِي فَقَدْ هَوَى [طه/81]“Barangsiapa ditimpa oleh kemurkaan-Ku, maka sungguh binasalah ia.” Qs Thaha : 81      Sangat mengherankan, urusan orang yang bekerja hanya untuk dunia saja dengan melupakan akhiratnya, padahal urusan dunia dapat diperoleh dengan bekerja atau tanpa bekerja bagi orang yang dirinya tidak mampu bekerja. Sedangkan akhirat dan kenikmatan ukhrawi tidaklah didapat kecuali dengan bekerja untuk itu. Firman Allah:وَتِلْكَ الْجَنَّةُ الَّتِي أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ [الزخرف/72]“Dan Itulah surga yang diwariskan kepada kamu disebabkan amal-amal yang dahulu kamu kerjakan.” Qs Az-Zukhruf:72Kaum muslimin!     Kini telah tiba di tengah-tengah kita suatu momen yang agung, bulan mulia yang penuh kebaikan dan keberkahan, yang di dalamnya kesalahan-kesalahan dihapuskan, yaitu bulan Ramadhan yang Allah istimewakan.Diriwayatkan dari Abi Saed Al-Hudhri dari Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :” سيد الشهور شهر رمضان وأعظمها حرمة ذو الحجة” رواه البزار “Penghulu bulan adalah bulan Ramadhan dan yang paling agung kesuciannya adalah Dzulhijah.” HR Al-BazzarFirman Allah :شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ [البقرة/185]“Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil).”Qs Albaqarah : 185Semua waktu dalam bulan Ramadhan penuh keberkahan. Allah menggabungkan di dalamnya ibadah puasa dengan ibadah shalat, zakat bagi mereka yang berkewajiban, sedekah, haji kecil (umrah), memperbanyak baca Al-Qur’an, berbagai macam zikir, beramar makruf dan nahi anil munkar serta aneka ragam bentuk ketaatan dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah –subhanahu wa ta’ala-.     Sangat banyak dan terlihat cukup jelas lahan amal kebajikan di dalam bulan Ramadhan, sementara lahan keburukan di dalamnya dipersempit sedemikian rupa, sebab antara setan dan kemauan jahatnya untuk merusak, menyesatkan dan merintangi seorang muslim yang ingin beribadah telah dihambat dan dihalangi sedemikian rupa.Dari Abu Hurairah –radhiyallahu anhu- dari Nabi –shallallahu alaihi wa sallam – bersabda :“إذا دخل رمضان فتحت أبواب الجنة ، وأغلقت أبواب جهنم ، وسلسلت الشياطين ” رواه البخاري ومسلم“Jika datang bulan Ramadhan, pintu surga dibuka, pintu neraka Jahanam ditutup dan setan-setan dibelenggu.” HR. Bukhari dan Muslim.     Aneka macam pahala dan kenikmatan surgawi adalah cerminan dari aneka macam ibadah dan ketaatan di dunia ini. Maka setiap bentuk ketaatan pasti ada balasan pahalanya dan kenikmatan tertentu baginya. Firman Allah:كُلُوا وَاشْرَبُوا هَنِيئًا بِمَا أَسْلَفْتُمْ فِي الأيَّامِ الْخَالِيَةِ [ الحاقة/24]“Makanlah dan minumlah dengan sedap disebabkan amal yang telah kalian kerjakan pada hari-hari yang telah lalu”.Qs Alhaaqah : 24Dari Sahal Bin Sa’ad –radhiyallahu anhu- dari Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :“إنَّ فِي الْجَنَّةِ بَابًا يُدْعى لَهُ الرَّيَّانُ يَدْعى لَهُ الصَّائِمُونَ فمَنْ كَانَ مِنَ الصَّائِميْنَ دَخلَهُ ومَنْ دَخَلَهُ لَا يَظْمَعُ أَبَدًا” رواه البخاري ومسلم “Sesungguhnya di surga itu ada pintu yang dinamakan Ar-Rayyan. Orang-orang yang berpuasa dipanggil melalui pintu itu. Barangsiapa yang termasuk orang-orang yang berpuasa, akan memasukinya. Dan barangsiapa yang telah memasukinya tidaklah akan haus selama-lamanya.” HR Bukhari dan Muslim.      Penghormatan paling besar bagi orang yang masuk surga adalah karunia bisa memandang wajah Allah yang Maha Mulia. Ini merupakan balasan terbaik atas ibadah yang dilakukan seorang muslim sehingga ia dapat melihat Allah –subhanahu wa ta’ala-. Firman Allah :لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَى وَزِيَادَةٌ [ يونس / 26 ]“bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahan[kenikmatan melihat Allah].”Qs Yunus : 26Demikianlah Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- menafsirkan kata “Ziyadah” dalam ayat tersebut sebagai nikmat melihat wajah Allah yang Maha Mulia sebagaimana hadis Salman –radhiyallahu anhu- yang riwayatkan oleh Imam Muslim. Sebab, suatu balasan kebaikan yang diterima seseorang adalah cerminan dari jenis amal kebaikan yang dilakukannya. Demikian pula berbagai macam sanksi kejahatan seseorang identik dengan berbagai macam jenis pelanggaran yang pernah dilakukannya.Itulah sebabnya mengapa makanan zaqum dan minuman air yang sangat panas mendidih menjadi jenis balasan bagi orang yang memakan harta riba, uang haram, meminum minuman yang memabukkan dan mengonsumsi narkoba. Demikian pula penuangan air mendidih yang sangat panas ke atas kepala seseorang merupakan pembalasan atas sikap sombong dan arogan terhadap syariat Allah. Firman Allah :إِنَّ شَجَرَةَ الزَّقُّومِ ، طَعَامُ الأثِيم ، كَالْمُهْلِ يَغْلِي فِي الْبُطُونِ ، كَغَلْيِ الْحَمِيمِ ، خُذُوهُ فَاعْتِلُوهُ إِلَى سَوَاءِ الْجَحِيمِ ، ثُمَّ صُبُّوا فَوْقَ رَأْسِهِ مِنْ عَذَابِ الْحَمِيمِ ، ذُقْ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْكَرِيمُ [ الدخان/ 43-49]“Sesungguhnya pohon zaqqum, makanan orang yang banyak berdosa sebagai kotoran minyak yang mendidih di dalam perut, seperti mendidihnya air yang amat panas. Tangkaplah dia kemudian seretlah ke tengah-tengah neraka. Kemudian tuangkanlah di atas kepalanya siksaan (dari) air yang amat panas. Rasakanlah, sesungguhnya kamu orang yang perkasa lagi mulia.” Qs Al-Dukhan: 43-49Jelaslah bahwa pembalasan di akhirat adalah identik dengan jenis amal perbuatan itu sendiri di dunia.Maka berbesar hatilah kalian –wahai kaum muslimin- dengan kabar gembira yang pernah disampaikan oleh Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- kepada para sahabatnya berupa kehadiran bulan Ramadhan. Beliau mengabarkannya kepada mereka di akhir bulan Sya’ban, maka mereka pun bersiap-siap menyambut bulan yang agung ini sebaik-baiknya serta menyongsongnya dengan penuh keikhlasan kepada Allah –subhanahu wa ta’ala untuk mencari ridha-Nya. Mereka menyambutnya dengan senang hati, lantaran Allah telah mengantarkan mereka kepada bulan yang agung ini. Firman Allah :قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ [يونس/58]“Katakanlah: “Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. karunia Allah dan rahmat-Nya lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.” Qs Yunus : 58Penyambutan mereka dalam bentuk pertobatan atas segala dosa agar Allah –subhanahu wa ta’ala- menghapuskan dosa-dosa yang telah lampau. Mereka menyambutnya dengan mengembalikan hak-hak sesama kepada pemiliknya agar Allah menjaga keutuhan amal kebaikan mereka dan menghapus kesalahan-kesalahan mereka.Ingatlah pasti datang suatu saat dimana Anda tidak lagi dapat mengenyam ramadhan, maka bersiap-siaplah menghadapi kematian dengan segala petakan yang menyertaiya. Jagalah puasa Anda dari perbuatan yang sia-sia, mengumpat,adu domba, omong kosong, kemaksiatan dan melepaskan pandangan mata kepada obyek yang terlarang. Jagalah batin Anda dari suara-suara hati yang berakibat buruk. Diriwayatkan dari Ibnu Umar –radhiyallahu anhuma- dari Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :“رب صائم حظه من صيامه الجوع والعطش ورب قائم حظه من قيامه السهر” رواه الطبراني فى الكبير“Betapa banyak orang yang berpuasa hanya mendapatkan rasa lapar dan dahaga saja. Betapa banyak pula orang yang melakukan shalat malam, hanya begadang di malam hari.”HR. At-Tabrani.Menurut Al-Munziri,sanad hadis ini cukup dapat diterima.Dari Abu Hurairah –radhiyallahu anhu- dari Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :” من لم يدع قول الزور والعمل به فليس لله حاجة في أن يدع طعامه وشرابه ” رواه البخاري و أبو داود والترمذي“Barangsiapa yang tidak meninggalkan ucapan dusta dan tidak berhenti melakukannya, maka Allah tidak butuh kepadanya untuk meninggalkan makanannya dan minumannya“.HR. Bukhari, Abu Dawud dan Tirmizi.     Dari Abi Ubaidah –radhiyallahu anhu- dari Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :“الصَّوْمُ جُنَّةٌ مَا لَمْ يَخْرِقْهَا ” رواه النسائي والطبراني فى الأوسط“Puasa itu adalah perisai (bagi seseorang) selama ia tidak melubanginya.” HR. Nasa’i dan Tabrani dalam Al-Ausath. Melubanginya adalah merusaknya dengan ucapan dusta dan umpatan.     Seorang muslim seharusnya merawat pahala puasanya dengan memperbanyak ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah –subhanahu wa ta’ala- di bulan Ramadhan, memperbanyak baca Al-Qur’an, berdzikir, beristighfar, bershalawat kepada Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- bersedekah, memberi hadiah secara ikhlas karena Allah dan melakukan berbagai bentuk amal sosial seperti mengajarkan ilmu, meyerukan untuk berbuat kebaikan, mendorong orang lain untuk melakukannya, mencegahnya dari keburukan dan memperingatkannya dari bahayanya.     Bervariasi dalam melakukan ketaatan selain puasa dapat menambah pahala ibadah puasa itu sendiri. Oleh karena itu, barangsiapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala setara dengan pahala orang yang berbuasa itu tanpa berkurang sedikit pun. Janganlah Anda lewatkan shalat terawih –wahai saudara sesama muslim- dan shalat-shalat malam lainnya. Berusahalah dengan penuh antusias untuk meraih karunia “Lailatul-Qadr” pada sepuluh malam akhir Ramadhan.     Puasa dapat menghapuskan dosa-dosa, sebagaimana hadis dari Abu Hurairah –radhiyallahu anhu- yang menyatakan, Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda:من صام رمضان إيمانا واحتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه [رواه البخارى]“Barangsiapa yang berpuasa (di bulan) Ramadhan karena iman dan mengharapkan ridha Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu”. HR Bukhari      Abu Hurairah –radhiyallahu anhu- berkata, Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :من قام رمضان إيمانا واحتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه[ رواه البخاري ومسلم]“Barangsiapa yang melakukan qiyamul-lail dengan penuh keimanan dan mengharap pahala (dari Allah), maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah berlalu.” HR Bukhari dan Muslim.     Dari Ubadah Bin Shamit –radhiyallahu anhu- dari Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda terkait Lailatul-Qadr:الْتَمِسُوهَا فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ   فَمَنْ قَامَهَا إيْمَاناً وَاحْتِسَابًا ثُمَّ وُفِّقَتْ لَهُ غُفِرَ لَه مَا تَقدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَا تَأخّرَ ” رواه أحمد والطبرانى فى الكبير . ”Carilah malam lailatul qadar pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Barangsiapa yang mengidupkan (shalat malam) pada malam (lailatul Qodar) dilandasi keimanan dan mengharap ridha Allah, lalu bertepatan dengan (turunnya), niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu maupun yang kemudian.”HR Ahmad, dan Tabrani dalam kitab Alkabir.     Lakukanlah –wahai saudara sesama muslim- shalat secara berjamaah pada malam Lailatul Qadar tersebut, niscaya Allah melindungi Anda, menolong urusan Anda, dan meluruskan hal ihwal Anda tepat pada sasaran.     Barangsiapa yang melalaikan shalat, lenyaplah dunianya dan akhiratnya. Meski di dunia bisa menikmati kehidupan seperti halnya binatang, namun di hari kiamat kelak akan dikatakan kepadanya, “masuklah Engkau ke dalam neraka bersama para penghuninya”. Dalam sebuah hadis disebutkan :” من صلى العشاء في جماعة فكأنما قام نصف الليل، ومن صلى الفجر في جماعة فكأنما قام الليل كله” رواه مسلم “Barangsiapa yang melakukan shalat isya’ berjama’ah maka seakan-akan ia melakukan shalat sunnah separuh malam, dan barangsiapa yang melakukan shalat shubuh berjama’ah maka seakan-akan ia melakukan shalat sunnah semalam penuh.” HR. Muslim dari hadis Utsman –radhiyallahu anhu-.     Salah satu kerugian yang teramat besar dan keterhalangan dari pahala adalah berpuasa namun tidak melakukan shalat, atau meninggalkan sebagian shalat. Termasuk membuang-buang umur dan waktu adalah menghabiskan waktu malam sampai larut malam dengan permainan dan senda gurau, atau mencari situs-situs yang merusak moral dan menonton sinetron yang membahayakan dan menyebabkan kemerosotan akhlak.     Ketertinggalan (dari kebaikan) yang membawa kerugian teramat besar adalah ketika waktu seseorang tersita untuk aktivitas tersebut sepanjang bulan Ramadhan sehingga tidak sempat mendekatkan diri kepada Allah. Firman Allah :وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالأرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ ،الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ [ آل عمران/ 133-1 34]“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.”Qs Ali Imran : 133-134     Semoga Allah mencurahkan keberkahan kepada kita semua lantaran pengamalan Al-Qur’an yang mulia.======= Khotbah Kedua     Segala puji bagi Allah, yang Maha Pemberi petunjuk ke jalan yang lurus, Pemilik karunia agung, menganugerahkan karunianya kepada siapa yang dikehendaki-Nya karena kebaikan-Nya dan menahan (pemberian)-Nya dari siapa saja yang dikehendaki-Nya karena keadilan-Nya. Dia-lah yang Maha Mulia dan Maha Bijaksana. Aku memuji Tuhanku, bersyukur, bertobat dan memohon ampun kepada-Nya. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya yang Maha Kuasa dan Maha mengetahui. Aku pun bersaksi bahwa nabi dan pemimpin kami Muhammad –shallallahu alaihi wa sallam- adalah hamba Allah dan rasul-Nya, sebagai nabi pembawa syariat yang gemilang dan petunjuk yang lurus.Ya Allah, curahkanlah shalawat, salam dan keberkahan kepada hamba-Mu dan rasul-Mu, Muhammad –shallallahu alaihi wa sallam- beserta seluruh keluarga dan sahabatnya yang memiliki karakter tangguh cerminan dari akhlak mereka yang mulia.Selanjutnya. Bertakwalah kepada Allah dengan sesungguhnya. Berpegang-teguhlah dengan ikatan Islam yang demikian kokoh.Para hamba Allah!     Bertobatlah dari setiap dosa. Sungguh beruntung orang-orang yang bertobat dan celakalah orang-orang yang terus menerus berdosa. Firman Allah:وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ [ النور/31]“Dan bertobatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” Qs An-Nur : 31     Bulan Ramadhan adalah waktu bertobat. Termasuk perbuatan yang besar dosanya dan harus dilakukan pertobatan adalah merokok. Maka harumkanlah mulutmu –wahai saudaraku sesama muslim- dengan tidak merokok, bersihkanlah lidahmu dari noda-noda rokok untuk berdzikir kepada Allah –subhanahu wa ta’ala- dan membaca Al-Qur’an. Sedapkanlah aroma mulutmu untuk duduk berdampingan dengan orang-orang saleh dan para malaikat terhormat yang mencatat amalmu.     Merokok sama dengan mendekatkan diri kepada setan, dapat merusak darah, mendatangkan berbagai penyakit yang ganas, memperpendek umur, dan karenanya dasar-dasar syariat Islam mengharamkan-nya.Ketahuilah –saudaraku seiman- bahwa dalam puasa Ramadhan seseorang wajib menempatkan niat puasanya di malam hari sesuai hadis dari Hafshah –radhiyallahu anha- dari Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :من لم يجمع الصيام قبل الفجر فلا صيام له [ رواه أبو داود والترمذى والنسائي وابن ماجه]“Barangsiapa yang tidak berniat puasa sebelum terbitnya fajar, maka tidak ada puasa baginya.” HR Abu Dawud, Tirmizi, Nasa’i dan Ibnu Majah.Disebutkan dalam hadis :” من أفطر يوما من رمضان من غير عذر لم يقضه صوم الدهر وإن صامه” “Barangsiapa yang berbuka sehari bulan Ramadhan tanpa ada alasan ( yang dibenarkan menurut syara’),tidak akan diterima qadha’nya walaupun dia berpuasa penuh selama setahun”.Para hamba Allah!إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا.“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah dan sampaikanlah salam dengan sesungguhnya kepadanya.” === Doa ===Penerjemah Usman Hatimhttps://firanda.com/

Video Post Format

06JunVideo Post FormatJune 6, 2016Post Format Far far away, behind the word mountains, far from the countries Vokalia and Consonantia, there live the blind texts. Separated they live in Bookmarksgrove right at the coast of the Semantics, a large language ocean. A small river named Duden flows by their place and supplies it with the necessary regelialia. It is a paradisematic country, in which roasted parts of sentences fly into your mouth. Even the all-powerful Pointing has no control about the blind texts it is an almost unorthographic life One day however a small line of blind text by the name of Lorem Ipsum decided to leave for the far World of Grammar. The Big Oxmox advised her not to do so, because there were thousands of bad Commas, wild Question Marks and devious Semikoli, but the Little Blind Text didn’t listen. She packed her seven versalia, put her initial into the belt and made herself on the way. When she reached the first hills of the Italic Mountains, she had a last view back on the skyline of her hometown Bookmarksgrove, the headline of Alphabet Village and the subline of her own road, the Line Lane. Pityful a rethoric question ran over her cheek, then she continued her way. On her way she met a copy. The copy warned the Little Blind Text, that where it came from it would have been rewritten a thousand times and everything that was left from its origin would be the word “and” and the Little Blind Text should turn around and return to its own, safe country. But nothing the copy said could convince her and so it didn’t take long until a few insidious Copy Writers ambushed her. PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022

Video Post Format

06JunVideo Post FormatJune 6, 2016Post Format Far far away, behind the word mountains, far from the countries Vokalia and Consonantia, there live the blind texts. Separated they live in Bookmarksgrove right at the coast of the Semantics, a large language ocean. A small river named Duden flows by their place and supplies it with the necessary regelialia. It is a paradisematic country, in which roasted parts of sentences fly into your mouth. Even the all-powerful Pointing has no control about the blind texts it is an almost unorthographic life One day however a small line of blind text by the name of Lorem Ipsum decided to leave for the far World of Grammar. The Big Oxmox advised her not to do so, because there were thousands of bad Commas, wild Question Marks and devious Semikoli, but the Little Blind Text didn’t listen. She packed her seven versalia, put her initial into the belt and made herself on the way. When she reached the first hills of the Italic Mountains, she had a last view back on the skyline of her hometown Bookmarksgrove, the headline of Alphabet Village and the subline of her own road, the Line Lane. Pityful a rethoric question ran over her cheek, then she continued her way. On her way she met a copy. The copy warned the Little Blind Text, that where it came from it would have been rewritten a thousand times and everything that was left from its origin would be the word “and” and the Little Blind Text should turn around and return to its own, safe country. But nothing the copy said could convince her and so it didn’t take long until a few insidious Copy Writers ambushed her. PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022
06JunVideo Post FormatJune 6, 2016Post Format Far far away, behind the word mountains, far from the countries Vokalia and Consonantia, there live the blind texts. Separated they live in Bookmarksgrove right at the coast of the Semantics, a large language ocean. A small river named Duden flows by their place and supplies it with the necessary regelialia. It is a paradisematic country, in which roasted parts of sentences fly into your mouth. Even the all-powerful Pointing has no control about the blind texts it is an almost unorthographic life One day however a small line of blind text by the name of Lorem Ipsum decided to leave for the far World of Grammar. The Big Oxmox advised her not to do so, because there were thousands of bad Commas, wild Question Marks and devious Semikoli, but the Little Blind Text didn’t listen. She packed her seven versalia, put her initial into the belt and made herself on the way. When she reached the first hills of the Italic Mountains, she had a last view back on the skyline of her hometown Bookmarksgrove, the headline of Alphabet Village and the subline of her own road, the Line Lane. Pityful a rethoric question ran over her cheek, then she continued her way. On her way she met a copy. The copy warned the Little Blind Text, that where it came from it would have been rewritten a thousand times and everything that was left from its origin would be the word “and” and the Little Blind Text should turn around and return to its own, safe country. But nothing the copy said could convince her and so it didn’t take long until a few insidious Copy Writers ambushed her. PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022


06JunVideo Post FormatJune 6, 2016Post Format Far far away, behind the word mountains, far from the countries Vokalia and Consonantia, there live the blind texts. Separated they live in Bookmarksgrove right at the coast of the Semantics, a large language ocean. A small river named Duden flows by their place and supplies it with the necessary regelialia. It is a paradisematic country, in which roasted parts of sentences fly into your mouth. Even the all-powerful Pointing has no control about the blind texts it is an almost unorthographic life One day however a small line of blind text by the name of Lorem Ipsum decided to leave for the far World of Grammar. The Big Oxmox advised her not to do so, because there were thousands of bad Commas, wild Question Marks and devious Semikoli, but the Little Blind Text didn’t listen. She packed her seven versalia, put her initial into the belt and made herself on the way. When she reached the first hills of the Italic Mountains, she had a last view back on the skyline of her hometown Bookmarksgrove, the headline of Alphabet Village and the subline of her own road, the Line Lane. Pityful a rethoric question ran over her cheek, then she continued her way. On her way she met a copy. The copy warned the Little Blind Text, that where it came from it would have been rewritten a thousand times and everything that was left from its origin would be the word “and” and the Little Blind Text should turn around and return to its own, safe country. But nothing the copy said could convince her and so it didn’t take long until a few insidious Copy Writers ambushed her. PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022

Image Post Format

06JunImage Post FormatJune 6, 2016Post Format Far far away, behind the word mountains, far from the countries Vokalia and Consonantia, there live the blind texts. Separated they live in Bookmarksgrove right at the coast of the Semantics, a large language ocean. A small river named Duden flows by their place and supplies it with the necessary regelialia. It is a paradisematic country, in which roasted parts of sentences fly into your mouth. Even the all-powerful Pointing has no control about the blind texts it is an almost unorthographic life One day however a small line of blind text by the name of Lorem Ipsum decided to leave for the far World of Grammar. The Big Oxmox advised her not to do so, because there were thousands of bad Commas, wild Question Marks and devious Semikoli, but the Little Blind Text didn’t listen. She packed her seven versalia, put her initial into the belt and made herself on the way. When she reached the first hills of the Italic Mountains, she had a last view back on the skyline of her hometown Bookmarksgrove, the headline of Alphabet Village and the subline of her own road, the Line Lane. Pityful a rethoric question ran over her cheek, then she continued her way. On her way she met a copy. The copy warned the Little Blind Text, that where it came from it would have been rewritten a thousand times and everything that was left from its origin would be the word “and” and the Little Blind Text should turn around and return to its own, safe country. But nothing the copy said could convince her and so it didn’t take long until a few insidious Copy Writers ambushed her. PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022

Image Post Format

06JunImage Post FormatJune 6, 2016Post Format Far far away, behind the word mountains, far from the countries Vokalia and Consonantia, there live the blind texts. Separated they live in Bookmarksgrove right at the coast of the Semantics, a large language ocean. A small river named Duden flows by their place and supplies it with the necessary regelialia. It is a paradisematic country, in which roasted parts of sentences fly into your mouth. Even the all-powerful Pointing has no control about the blind texts it is an almost unorthographic life One day however a small line of blind text by the name of Lorem Ipsum decided to leave for the far World of Grammar. The Big Oxmox advised her not to do so, because there were thousands of bad Commas, wild Question Marks and devious Semikoli, but the Little Blind Text didn’t listen. She packed her seven versalia, put her initial into the belt and made herself on the way. When she reached the first hills of the Italic Mountains, she had a last view back on the skyline of her hometown Bookmarksgrove, the headline of Alphabet Village and the subline of her own road, the Line Lane. Pityful a rethoric question ran over her cheek, then she continued her way. On her way she met a copy. The copy warned the Little Blind Text, that where it came from it would have been rewritten a thousand times and everything that was left from its origin would be the word “and” and the Little Blind Text should turn around and return to its own, safe country. But nothing the copy said could convince her and so it didn’t take long until a few insidious Copy Writers ambushed her. PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022
06JunImage Post FormatJune 6, 2016Post Format Far far away, behind the word mountains, far from the countries Vokalia and Consonantia, there live the blind texts. Separated they live in Bookmarksgrove right at the coast of the Semantics, a large language ocean. A small river named Duden flows by their place and supplies it with the necessary regelialia. It is a paradisematic country, in which roasted parts of sentences fly into your mouth. Even the all-powerful Pointing has no control about the blind texts it is an almost unorthographic life One day however a small line of blind text by the name of Lorem Ipsum decided to leave for the far World of Grammar. The Big Oxmox advised her not to do so, because there were thousands of bad Commas, wild Question Marks and devious Semikoli, but the Little Blind Text didn’t listen. She packed her seven versalia, put her initial into the belt and made herself on the way. When she reached the first hills of the Italic Mountains, she had a last view back on the skyline of her hometown Bookmarksgrove, the headline of Alphabet Village and the subline of her own road, the Line Lane. Pityful a rethoric question ran over her cheek, then she continued her way. On her way she met a copy. The copy warned the Little Blind Text, that where it came from it would have been rewritten a thousand times and everything that was left from its origin would be the word “and” and the Little Blind Text should turn around and return to its own, safe country. But nothing the copy said could convince her and so it didn’t take long until a few insidious Copy Writers ambushed her. PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022


06JunImage Post FormatJune 6, 2016Post Format Far far away, behind the word mountains, far from the countries Vokalia and Consonantia, there live the blind texts. Separated they live in Bookmarksgrove right at the coast of the Semantics, a large language ocean. A small river named Duden flows by their place and supplies it with the necessary regelialia. It is a paradisematic country, in which roasted parts of sentences fly into your mouth. Even the all-powerful Pointing has no control about the blind texts it is an almost unorthographic life One day however a small line of blind text by the name of Lorem Ipsum decided to leave for the far World of Grammar. The Big Oxmox advised her not to do so, because there were thousands of bad Commas, wild Question Marks and devious Semikoli, but the Little Blind Text didn’t listen. She packed her seven versalia, put her initial into the belt and made herself on the way. When she reached the first hills of the Italic Mountains, she had a last view back on the skyline of her hometown Bookmarksgrove, the headline of Alphabet Village and the subline of her own road, the Line Lane. Pityful a rethoric question ran over her cheek, then she continued her way. On her way she met a copy. The copy warned the Little Blind Text, that where it came from it would have been rewritten a thousand times and everything that was left from its origin would be the word “and” and the Little Blind Text should turn around and return to its own, safe country. But nothing the copy said could convince her and so it didn’t take long until a few insidious Copy Writers ambushed her. PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022

Gallery Post Format

06JunGallery Post FormatJune 6, 2016Post Format ts. Separated they live in Bookmarksgrove right at the coast of the Semantics, a large language ocean. A small river named Duden flows by their place and supplies it with the necessary regelialia. It is a paradisematic country, in which roasted parts of sentences fly into your mouth. Even the all-powerful Pointing has no control about the blind texts it is an almost unorthographic life One day however a small line of blind text by the name of Lorem Ipsum decided to leave for the far World of Grammar. The Big Oxmox advised her not to do so, because there were thousands of bad Commas, wild Question Marks and devious Semikoli, but the Little Blind Text didn’t listen. She packed her seven versalia, put her initial into the belt and made herself on the way. When she reached the first hills of the Italic Mountains, she had a last view back on the skyline of her hometown Bookmarksgrove, the headline of Alphabet Village and the subline of her own road, the Line Lane. Pityful a rethoric question ran over her cheek, then she continued her way. On her way she met a copy. The copy warned the Little Blind Text, that where it came from it would have been rewritten a thousand times and everything that was left from its origin would be the word “and” and the Little Blind Text should turn around and return to its own, safe country. But nothing the copy said could convince her and so it didn’t take long until a few insidious Copy Writers ambushed her. PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment.

Gallery Post Format

06JunGallery Post FormatJune 6, 2016Post Format ts. Separated they live in Bookmarksgrove right at the coast of the Semantics, a large language ocean. A small river named Duden flows by their place and supplies it with the necessary regelialia. It is a paradisematic country, in which roasted parts of sentences fly into your mouth. Even the all-powerful Pointing has no control about the blind texts it is an almost unorthographic life One day however a small line of blind text by the name of Lorem Ipsum decided to leave for the far World of Grammar. The Big Oxmox advised her not to do so, because there were thousands of bad Commas, wild Question Marks and devious Semikoli, but the Little Blind Text didn’t listen. She packed her seven versalia, put her initial into the belt and made herself on the way. When she reached the first hills of the Italic Mountains, she had a last view back on the skyline of her hometown Bookmarksgrove, the headline of Alphabet Village and the subline of her own road, the Line Lane. Pityful a rethoric question ran over her cheek, then she continued her way. On her way she met a copy. The copy warned the Little Blind Text, that where it came from it would have been rewritten a thousand times and everything that was left from its origin would be the word “and” and the Little Blind Text should turn around and return to its own, safe country. But nothing the copy said could convince her and so it didn’t take long until a few insidious Copy Writers ambushed her. PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment.
06JunGallery Post FormatJune 6, 2016Post Format ts. Separated they live in Bookmarksgrove right at the coast of the Semantics, a large language ocean. A small river named Duden flows by their place and supplies it with the necessary regelialia. It is a paradisematic country, in which roasted parts of sentences fly into your mouth. Even the all-powerful Pointing has no control about the blind texts it is an almost unorthographic life One day however a small line of blind text by the name of Lorem Ipsum decided to leave for the far World of Grammar. The Big Oxmox advised her not to do so, because there were thousands of bad Commas, wild Question Marks and devious Semikoli, but the Little Blind Text didn’t listen. She packed her seven versalia, put her initial into the belt and made herself on the way. When she reached the first hills of the Italic Mountains, she had a last view back on the skyline of her hometown Bookmarksgrove, the headline of Alphabet Village and the subline of her own road, the Line Lane. Pityful a rethoric question ran over her cheek, then she continued her way. On her way she met a copy. The copy warned the Little Blind Text, that where it came from it would have been rewritten a thousand times and everything that was left from its origin would be the word “and” and the Little Blind Text should turn around and return to its own, safe country. But nothing the copy said could convince her and so it didn’t take long until a few insidious Copy Writers ambushed her. PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment.


06JunGallery Post FormatJune 6, 2016Post Format ts. Separated they live in Bookmarksgrove right at the coast of the Semantics, a large language ocean. A small river named Duden flows by their place and supplies it with the necessary regelialia. It is a paradisematic country, in which roasted parts of sentences fly into your mouth. Even the all-powerful Pointing has no control about the blind texts it is an almost unorthographic life One day however a small line of blind text by the name of Lorem Ipsum decided to leave for the far World of Grammar. The Big Oxmox advised her not to do so, because there were thousands of bad Commas, wild Question Marks and devious Semikoli, but the Little Blind Text didn’t listen. She packed her seven versalia, put her initial into the belt and made herself on the way. When she reached the first hills of the Italic Mountains, she had a last view back on the skyline of her hometown Bookmarksgrove, the headline of Alphabet Village and the subline of her own road, the Line Lane. Pityful a rethoric question ran over her cheek, then she continued her way. On her way she met a copy. The copy warned the Little Blind Text, that where it came from it would have been rewritten a thousand times and everything that was left from its origin would be the word “and” and the Little Blind Text should turn around and return to its own, safe country. But nothing the copy said could convince her and so it didn’t take long until a few insidious Copy Writers ambushed her. PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment.

Standard Post Type

06JunStandard Post TypeJune 6, 2016Blog, Post Format A wonderful serenity has taken possession of my entire soul, like these sweet mornings of spring which I enjoy with my whole heart. I am alone, and feel the charm of existence in this spot, which was created for the bliss of souls like mine. I am so happy, my dear friend, so absorbed in the exquisite sense of mere tranquil existence, that I neglect my talents. I should be incapable of drawing a single stroke at the present moment; and yet I feel that I never was a greater artist than now. When, while the lovely valley teems with vapour around me, and the meridian sun strikes the upper surface of the impenetrable foliage of my trees, and but a few stray gleams steal into the inner sanctuary, I throw myself down among the tall grass by the trickling stream; and, as I lie close to the earth, a thousand unknown plants are noticed by me: when I hear the buzz of the little world among the stalks, and grow familiar with the countless indescribable forms of the insects and flies, then I feel the presence of the Almighty, who formed us in his own image, and the breath of that universal love which bears and sustains us, as it floats around us in an eternity of blist. I sink under the weight of the splendour of these visions!A wonderful serenity has taken possession of my entire soul, like these sweet mornings of spring which I sink under the weight of the splendour of these visions!A wonderful serenity has taken possession of my entire soul, like these sweet mornings of spring which I enjoy with my whole heart. I am alone, and feel the charm of existence in this spot, which was created for the bliss of souls like mine. I am so happy, my dear friend, so absorbed in the exquis I throw myself down among the tall grass I should be incapable of drawing a single stroke at the present moment; and yet I feel that I never was a greater artist than now. When, while the lovely valley teems with vapour around me, and the meridian sun strikes the upper surface of the impenetrable foliage of my trees, and but a few stray gleams steal into the inner sanctuary, I throw myself down among the tall grass by the trickling stream; and, as I lie close to the earth, a thousand unknown plants are noticed by me: when I hear the buzz of the little world among the stalks, and grow familiar with the countless indescribable forms of the insects and Text, that where it came from it Far far away, behind the word mountains, far from the countries Vokalia and Consonantia, there live the blind texts. Separated they live in Bookmarksgrove right at the coast of the Semantics, a large language ocean. A small river named Duden flows by their place and supplies it with the necessary regelialia. It is a paradisematic country, in which roasted parts of sentences fly into your mouth. Even the all-powerful Pointing has no control about the blind texts it is an almost unorthographic life One day however a small line of blind text by the name of Lorem Ipsum decided to leave for the far World of Grammar. The Big Oxmox advised her not to do so, because there were thousands of bad Commas, wild Question Marks and devious Semikoli, but the Littl Far far away, behind the word mountain When she reached the first hills A small river named Duden flows A small river named Duden flows by their plat. Far far away, behind the word mountain Copy Writers ambushed her, made her drunk with Longe and Parole and dragged her into their agency, where they abused her for their projects again and again. And if she hasn’t been rewritten, then they are still using her.Far far away, behind the word mountains, far from the countries Vokalia and Consonantia, there live the blind texts. Separated they live in Bookmarksgrove right at the coast of the Semantics, a large language ocean. A small river named Duden flows by their plate. PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022

Standard Post Type

06JunStandard Post TypeJune 6, 2016Blog, Post Format A wonderful serenity has taken possession of my entire soul, like these sweet mornings of spring which I enjoy with my whole heart. I am alone, and feel the charm of existence in this spot, which was created for the bliss of souls like mine. I am so happy, my dear friend, so absorbed in the exquisite sense of mere tranquil existence, that I neglect my talents. I should be incapable of drawing a single stroke at the present moment; and yet I feel that I never was a greater artist than now. When, while the lovely valley teems with vapour around me, and the meridian sun strikes the upper surface of the impenetrable foliage of my trees, and but a few stray gleams steal into the inner sanctuary, I throw myself down among the tall grass by the trickling stream; and, as I lie close to the earth, a thousand unknown plants are noticed by me: when I hear the buzz of the little world among the stalks, and grow familiar with the countless indescribable forms of the insects and flies, then I feel the presence of the Almighty, who formed us in his own image, and the breath of that universal love which bears and sustains us, as it floats around us in an eternity of blist. I sink under the weight of the splendour of these visions!A wonderful serenity has taken possession of my entire soul, like these sweet mornings of spring which I sink under the weight of the splendour of these visions!A wonderful serenity has taken possession of my entire soul, like these sweet mornings of spring which I enjoy with my whole heart. I am alone, and feel the charm of existence in this spot, which was created for the bliss of souls like mine. I am so happy, my dear friend, so absorbed in the exquis I throw myself down among the tall grass I should be incapable of drawing a single stroke at the present moment; and yet I feel that I never was a greater artist than now. When, while the lovely valley teems with vapour around me, and the meridian sun strikes the upper surface of the impenetrable foliage of my trees, and but a few stray gleams steal into the inner sanctuary, I throw myself down among the tall grass by the trickling stream; and, as I lie close to the earth, a thousand unknown plants are noticed by me: when I hear the buzz of the little world among the stalks, and grow familiar with the countless indescribable forms of the insects and Text, that where it came from it Far far away, behind the word mountains, far from the countries Vokalia and Consonantia, there live the blind texts. Separated they live in Bookmarksgrove right at the coast of the Semantics, a large language ocean. A small river named Duden flows by their place and supplies it with the necessary regelialia. It is a paradisematic country, in which roasted parts of sentences fly into your mouth. Even the all-powerful Pointing has no control about the blind texts it is an almost unorthographic life One day however a small line of blind text by the name of Lorem Ipsum decided to leave for the far World of Grammar. The Big Oxmox advised her not to do so, because there were thousands of bad Commas, wild Question Marks and devious Semikoli, but the Littl Far far away, behind the word mountain When she reached the first hills A small river named Duden flows A small river named Duden flows by their plat. Far far away, behind the word mountain Copy Writers ambushed her, made her drunk with Longe and Parole and dragged her into their agency, where they abused her for their projects again and again. And if she hasn’t been rewritten, then they are still using her.Far far away, behind the word mountains, far from the countries Vokalia and Consonantia, there live the blind texts. Separated they live in Bookmarksgrove right at the coast of the Semantics, a large language ocean. A small river named Duden flows by their plate. PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022
06JunStandard Post TypeJune 6, 2016Blog, Post Format A wonderful serenity has taken possession of my entire soul, like these sweet mornings of spring which I enjoy with my whole heart. I am alone, and feel the charm of existence in this spot, which was created for the bliss of souls like mine. I am so happy, my dear friend, so absorbed in the exquisite sense of mere tranquil existence, that I neglect my talents. I should be incapable of drawing a single stroke at the present moment; and yet I feel that I never was a greater artist than now. When, while the lovely valley teems with vapour around me, and the meridian sun strikes the upper surface of the impenetrable foliage of my trees, and but a few stray gleams steal into the inner sanctuary, I throw myself down among the tall grass by the trickling stream; and, as I lie close to the earth, a thousand unknown plants are noticed by me: when I hear the buzz of the little world among the stalks, and grow familiar with the countless indescribable forms of the insects and flies, then I feel the presence of the Almighty, who formed us in his own image, and the breath of that universal love which bears and sustains us, as it floats around us in an eternity of blist. I sink under the weight of the splendour of these visions!A wonderful serenity has taken possession of my entire soul, like these sweet mornings of spring which I sink under the weight of the splendour of these visions!A wonderful serenity has taken possession of my entire soul, like these sweet mornings of spring which I enjoy with my whole heart. I am alone, and feel the charm of existence in this spot, which was created for the bliss of souls like mine. I am so happy, my dear friend, so absorbed in the exquis I throw myself down among the tall grass I should be incapable of drawing a single stroke at the present moment; and yet I feel that I never was a greater artist than now. When, while the lovely valley teems with vapour around me, and the meridian sun strikes the upper surface of the impenetrable foliage of my trees, and but a few stray gleams steal into the inner sanctuary, I throw myself down among the tall grass by the trickling stream; and, as I lie close to the earth, a thousand unknown plants are noticed by me: when I hear the buzz of the little world among the stalks, and grow familiar with the countless indescribable forms of the insects and Text, that where it came from it Far far away, behind the word mountains, far from the countries Vokalia and Consonantia, there live the blind texts. Separated they live in Bookmarksgrove right at the coast of the Semantics, a large language ocean. A small river named Duden flows by their place and supplies it with the necessary regelialia. It is a paradisematic country, in which roasted parts of sentences fly into your mouth. Even the all-powerful Pointing has no control about the blind texts it is an almost unorthographic life One day however a small line of blind text by the name of Lorem Ipsum decided to leave for the far World of Grammar. The Big Oxmox advised her not to do so, because there were thousands of bad Commas, wild Question Marks and devious Semikoli, but the Littl Far far away, behind the word mountain When she reached the first hills A small river named Duden flows A small river named Duden flows by their plat. Far far away, behind the word mountain Copy Writers ambushed her, made her drunk with Longe and Parole and dragged her into their agency, where they abused her for their projects again and again. And if she hasn’t been rewritten, then they are still using her.Far far away, behind the word mountains, far from the countries Vokalia and Consonantia, there live the blind texts. Separated they live in Bookmarksgrove right at the coast of the Semantics, a large language ocean. A small river named Duden flows by their plate. PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022


06JunStandard Post TypeJune 6, 2016Blog, Post Format A wonderful serenity has taken possession of my entire soul, like these sweet mornings of spring which I enjoy with my whole heart. I am alone, and feel the charm of existence in this spot, which was created for the bliss of souls like mine. I am so happy, my dear friend, so absorbed in the exquisite sense of mere tranquil existence, that I neglect my talents. I should be incapable of drawing a single stroke at the present moment; and yet I feel that I never was a greater artist than now. When, while the lovely valley teems with vapour around me, and the meridian sun strikes the upper surface of the impenetrable foliage of my trees, and but a few stray gleams steal into the inner sanctuary, I throw myself down among the tall grass by the trickling stream; and, as I lie close to the earth, a thousand unknown plants are noticed by me: when I hear the buzz of the little world among the stalks, and grow familiar with the countless indescribable forms of the insects and flies, then I feel the presence of the Almighty, who formed us in his own image, and the breath of that universal love which bears and sustains us, as it floats around us in an eternity of blist. I sink under the weight of the splendour of these visions!A wonderful serenity has taken possession of my entire soul, like these sweet mornings of spring which I sink under the weight of the splendour of these visions!A wonderful serenity has taken possession of my entire soul, like these sweet mornings of spring which I enjoy with my whole heart. I am alone, and feel the charm of existence in this spot, which was created for the bliss of souls like mine. I am so happy, my dear friend, so absorbed in the exquis I throw myself down among the tall grass I should be incapable of drawing a single stroke at the present moment; and yet I feel that I never was a greater artist than now. When, while the lovely valley teems with vapour around me, and the meridian sun strikes the upper surface of the impenetrable foliage of my trees, and but a few stray gleams steal into the inner sanctuary, I throw myself down among the tall grass by the trickling stream; and, as I lie close to the earth, a thousand unknown plants are noticed by me: when I hear the buzz of the little world among the stalks, and grow familiar with the countless indescribable forms of the insects and Text, that where it came from it Far far away, behind the word mountains, far from the countries Vokalia and Consonantia, there live the blind texts. Separated they live in Bookmarksgrove right at the coast of the Semantics, a large language ocean. A small river named Duden flows by their place and supplies it with the necessary regelialia. It is a paradisematic country, in which roasted parts of sentences fly into your mouth. Even the all-powerful Pointing has no control about the blind texts it is an almost unorthographic life One day however a small line of blind text by the name of Lorem Ipsum decided to leave for the far World of Grammar. The Big Oxmox advised her not to do so, because there were thousands of bad Commas, wild Question Marks and devious Semikoli, but the Littl Far far away, behind the word mountain When she reached the first hills A small river named Duden flows A small river named Duden flows by their plat. Far far away, behind the word mountain Copy Writers ambushed her, made her drunk with Longe and Parole and dragged her into their agency, where they abused her for their projects again and again. And if she hasn’t been rewritten, then they are still using her.Far far away, behind the word mountains, far from the countries Vokalia and Consonantia, there live the blind texts. Separated they live in Bookmarksgrove right at the coast of the Semantics, a large language ocean. A small river named Duden flows by their plate. PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022

Audio Post Format

06JunAudio Post FormatJune 6, 2016Post Format https://demo.goodlayers.com/ztudiox/wp-content/uploads/2016/06/wm_far_away.mp3Far far away, behind the word mountains, far from the countries Vokalia and Consonantia, there live the blind texts. Separated they live in Bookmarksgrove right at the coast of the Semantics, a large language ocean. A small river named Duden flows by their place and supplies it with the necessary regelialia. It is a paradisematic country, in which roasted parts of sentences fly into your mouth. Even the all-powerful Pointing has no control about the blind texts it is an almost unorthographic life One day however a small line of blind text by the name of Lorem Ipsum decided to leave for the far World of Grammar. The Big Oxmox advised her not to do so, because there were thousands of bad Commas, wild Question Marks and devious Semikoli, but the Little Blind Text didn’t listen. She packed her seven versalia, put her initial into the belt and made herself on the way. When she reached the first hills of the Italic Mountains, she had a last view back on the skyline of her hometown Bookmarksgrove, the headline of Alphabet Village and the subline of her own road, the Line Lane. Pityful a rethoric question ran over her cheek, then she continued her way. On her way she met a copy. The copy warned the Little Blind Text, that where it came from it would have been rewritten a thousand times and everything that was left from its origin would be the word “and” and the Little Blind Text should turn around and return to its own, safe country. But nothing the copy said could convince her and so it didn’t take long until a few insidious Copy Writers ambushed her. PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022

Audio Post Format

06JunAudio Post FormatJune 6, 2016Post Format https://demo.goodlayers.com/ztudiox/wp-content/uploads/2016/06/wm_far_away.mp3Far far away, behind the word mountains, far from the countries Vokalia and Consonantia, there live the blind texts. Separated they live in Bookmarksgrove right at the coast of the Semantics, a large language ocean. A small river named Duden flows by their place and supplies it with the necessary regelialia. It is a paradisematic country, in which roasted parts of sentences fly into your mouth. Even the all-powerful Pointing has no control about the blind texts it is an almost unorthographic life One day however a small line of blind text by the name of Lorem Ipsum decided to leave for the far World of Grammar. The Big Oxmox advised her not to do so, because there were thousands of bad Commas, wild Question Marks and devious Semikoli, but the Little Blind Text didn’t listen. She packed her seven versalia, put her initial into the belt and made herself on the way. When she reached the first hills of the Italic Mountains, she had a last view back on the skyline of her hometown Bookmarksgrove, the headline of Alphabet Village and the subline of her own road, the Line Lane. Pityful a rethoric question ran over her cheek, then she continued her way. On her way she met a copy. The copy warned the Little Blind Text, that where it came from it would have been rewritten a thousand times and everything that was left from its origin would be the word “and” and the Little Blind Text should turn around and return to its own, safe country. But nothing the copy said could convince her and so it didn’t take long until a few insidious Copy Writers ambushed her. PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022
06JunAudio Post FormatJune 6, 2016Post Format https://demo.goodlayers.com/ztudiox/wp-content/uploads/2016/06/wm_far_away.mp3Far far away, behind the word mountains, far from the countries Vokalia and Consonantia, there live the blind texts. Separated they live in Bookmarksgrove right at the coast of the Semantics, a large language ocean. A small river named Duden flows by their place and supplies it with the necessary regelialia. It is a paradisematic country, in which roasted parts of sentences fly into your mouth. Even the all-powerful Pointing has no control about the blind texts it is an almost unorthographic life One day however a small line of blind text by the name of Lorem Ipsum decided to leave for the far World of Grammar. The Big Oxmox advised her not to do so, because there were thousands of bad Commas, wild Question Marks and devious Semikoli, but the Little Blind Text didn’t listen. She packed her seven versalia, put her initial into the belt and made herself on the way. When she reached the first hills of the Italic Mountains, she had a last view back on the skyline of her hometown Bookmarksgrove, the headline of Alphabet Village and the subline of her own road, the Line Lane. Pityful a rethoric question ran over her cheek, then she continued her way. On her way she met a copy. The copy warned the Little Blind Text, that where it came from it would have been rewritten a thousand times and everything that was left from its origin would be the word “and” and the Little Blind Text should turn around and return to its own, safe country. But nothing the copy said could convince her and so it didn’t take long until a few insidious Copy Writers ambushed her. PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022


06JunAudio Post FormatJune 6, 2016Post Format https://demo.goodlayers.com/ztudiox/wp-content/uploads/2016/06/wm_far_away.mp3Far far away, behind the word mountains, far from the countries Vokalia and Consonantia, there live the blind texts. Separated they live in Bookmarksgrove right at the coast of the Semantics, a large language ocean. A small river named Duden flows by their place and supplies it with the necessary regelialia. It is a paradisematic country, in which roasted parts of sentences fly into your mouth. Even the all-powerful Pointing has no control about the blind texts it is an almost unorthographic life One day however a small line of blind text by the name of Lorem Ipsum decided to leave for the far World of Grammar. The Big Oxmox advised her not to do so, because there were thousands of bad Commas, wild Question Marks and devious Semikoli, but the Little Blind Text didn’t listen. She packed her seven versalia, put her initial into the belt and made herself on the way. When she reached the first hills of the Italic Mountains, she had a last view back on the skyline of her hometown Bookmarksgrove, the headline of Alphabet Village and the subline of her own road, the Line Lane. Pityful a rethoric question ran over her cheek, then she continued her way. On her way she met a copy. The copy warned the Little Blind Text, that where it came from it would have been rewritten a thousand times and everything that was left from its origin would be the word “and” and the Little Blind Text should turn around and return to its own, safe country. But nothing the copy said could convince her and so it didn’t take long until a few insidious Copy Writers ambushed her. PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022

Shalat Imam Tidak Memakai Doa Iftitah, Sahkah?

Kita lihat sebagian imam shalat saat shalat tarawih –misalnya- langsung membaca surat Al-Fatihah tanpa mendahului dengan membaca do’a istiftah (disebut sebagian ulama dengan doa iftitah). Para ulama menganggap bahwa membaca do’a iftitah dihukumi sunnah, tidak sampai tingkatan wajib. Inilah pendapat jumhur (mayoritas ulama). Salah satu contoh doa istiftah yang dibaca adalah, سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ وَتَبَارَكَ اسْمُكَ وَتَعَالَى جَدُّكَ وَلاَ إِلَهَ غَيْرُكَ “Subhaanakallahumma wa bi hamdika wa tabaarokasmuka wa ta’aalaa jadduka wa laa ilaha ghoiruk (artinya: Maha suci Engkau ya Allah, aku memuji-Mu, Maha berkah Nama-Mu. Maha tinggi kekayaan dan kebesaran-Mu, tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar selain Engkau).” (HR. Muslim, no. 399; Abu Daud, no. 775; Tirmidzi, no. 242; Ibnu Majah no. 804). Doa iftitah ini disunnahkan untuk dibaca pada setiap shalat dan setiap keadaan. Imam Nawawi mengatakan bahwa do’a iftitah disunnahkan dibaca untuk setiap orang yang shalat, untuk imam, makmum, munfarid, wanita, anak-anak, musafir, orang yang shalat wajib, orang yang shalat sunnah, orang yang shalat sambil duduk, orang yang shalat sambil berbaring, dan selainnya. Termasuk juga di dalamnya orang yang melaksanakan shalat sunnah rawatib, shalat sunnah mutlak, shalat ‘ied, shalat gerhana (shalat kusuf) dan shalat minta hujan (shalat istisqa’). Yang dikecualikan di sini adalah shalat jenazah, shalat ‘ied dan shalat lail (shalat malam), ada pembicaraan tersendiri mengenai do’a iftitah dalam shalat tersebut. Adapun meninggalkan membaca do’a iftitah mungkin bisa dilihat dari pendapat berikut ini. Ulama Hanabilah berpandangan bahwa shalat sunnah jika lebih dari sekali salam seperti pada shalat tarawih, dhuha, sunnah rawatib, maka di setiap dua raka’at (memulai shalat) disunnahkan membaca doa iftitah. Karena setiap dua raka’at itu berdiri sendiri. Namun menurut pendapat yang lain, cukup di awal shalat saja membaca iftitah. Berarti ada ulama yang berpandangan bolehnya meninggalkan doa iftitah untuk shalat yang salamnya lebih dari sekali seperti dalam shalat tarawih. Bagaimana kalau imam tidak membaca do’a iftitah (langsung membaca surat), apakah makmum tetap membacanya? Jawabannya, tetap membacanya. Lihat nukilan berikut, قال الشّافعيّة : يسنّ للمأموم أن يستفتح ، ولو كان الإمام يجهر والمأموم يسمع قراءته. “Ulama Syafi’iyah menyatakan bahwa disunnahkan bagi makmum untuk membaca doa iftitah walau imam sudah mengeraskan bacaan suratnya dan makmum mendengarkannya.” Semoga bermanfaat.   Referensi: Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah. Penerbit Kementrian Agama Kuwait. — Disusun di kota Ambon, 1 Ramadhan 1437 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsdoa iftitah iftitah imam shalat shalat tarawih

Shalat Imam Tidak Memakai Doa Iftitah, Sahkah?

Kita lihat sebagian imam shalat saat shalat tarawih –misalnya- langsung membaca surat Al-Fatihah tanpa mendahului dengan membaca do’a istiftah (disebut sebagian ulama dengan doa iftitah). Para ulama menganggap bahwa membaca do’a iftitah dihukumi sunnah, tidak sampai tingkatan wajib. Inilah pendapat jumhur (mayoritas ulama). Salah satu contoh doa istiftah yang dibaca adalah, سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ وَتَبَارَكَ اسْمُكَ وَتَعَالَى جَدُّكَ وَلاَ إِلَهَ غَيْرُكَ “Subhaanakallahumma wa bi hamdika wa tabaarokasmuka wa ta’aalaa jadduka wa laa ilaha ghoiruk (artinya: Maha suci Engkau ya Allah, aku memuji-Mu, Maha berkah Nama-Mu. Maha tinggi kekayaan dan kebesaran-Mu, tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar selain Engkau).” (HR. Muslim, no. 399; Abu Daud, no. 775; Tirmidzi, no. 242; Ibnu Majah no. 804). Doa iftitah ini disunnahkan untuk dibaca pada setiap shalat dan setiap keadaan. Imam Nawawi mengatakan bahwa do’a iftitah disunnahkan dibaca untuk setiap orang yang shalat, untuk imam, makmum, munfarid, wanita, anak-anak, musafir, orang yang shalat wajib, orang yang shalat sunnah, orang yang shalat sambil duduk, orang yang shalat sambil berbaring, dan selainnya. Termasuk juga di dalamnya orang yang melaksanakan shalat sunnah rawatib, shalat sunnah mutlak, shalat ‘ied, shalat gerhana (shalat kusuf) dan shalat minta hujan (shalat istisqa’). Yang dikecualikan di sini adalah shalat jenazah, shalat ‘ied dan shalat lail (shalat malam), ada pembicaraan tersendiri mengenai do’a iftitah dalam shalat tersebut. Adapun meninggalkan membaca do’a iftitah mungkin bisa dilihat dari pendapat berikut ini. Ulama Hanabilah berpandangan bahwa shalat sunnah jika lebih dari sekali salam seperti pada shalat tarawih, dhuha, sunnah rawatib, maka di setiap dua raka’at (memulai shalat) disunnahkan membaca doa iftitah. Karena setiap dua raka’at itu berdiri sendiri. Namun menurut pendapat yang lain, cukup di awal shalat saja membaca iftitah. Berarti ada ulama yang berpandangan bolehnya meninggalkan doa iftitah untuk shalat yang salamnya lebih dari sekali seperti dalam shalat tarawih. Bagaimana kalau imam tidak membaca do’a iftitah (langsung membaca surat), apakah makmum tetap membacanya? Jawabannya, tetap membacanya. Lihat nukilan berikut, قال الشّافعيّة : يسنّ للمأموم أن يستفتح ، ولو كان الإمام يجهر والمأموم يسمع قراءته. “Ulama Syafi’iyah menyatakan bahwa disunnahkan bagi makmum untuk membaca doa iftitah walau imam sudah mengeraskan bacaan suratnya dan makmum mendengarkannya.” Semoga bermanfaat.   Referensi: Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah. Penerbit Kementrian Agama Kuwait. — Disusun di kota Ambon, 1 Ramadhan 1437 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsdoa iftitah iftitah imam shalat shalat tarawih
Kita lihat sebagian imam shalat saat shalat tarawih –misalnya- langsung membaca surat Al-Fatihah tanpa mendahului dengan membaca do’a istiftah (disebut sebagian ulama dengan doa iftitah). Para ulama menganggap bahwa membaca do’a iftitah dihukumi sunnah, tidak sampai tingkatan wajib. Inilah pendapat jumhur (mayoritas ulama). Salah satu contoh doa istiftah yang dibaca adalah, سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ وَتَبَارَكَ اسْمُكَ وَتَعَالَى جَدُّكَ وَلاَ إِلَهَ غَيْرُكَ “Subhaanakallahumma wa bi hamdika wa tabaarokasmuka wa ta’aalaa jadduka wa laa ilaha ghoiruk (artinya: Maha suci Engkau ya Allah, aku memuji-Mu, Maha berkah Nama-Mu. Maha tinggi kekayaan dan kebesaran-Mu, tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar selain Engkau).” (HR. Muslim, no. 399; Abu Daud, no. 775; Tirmidzi, no. 242; Ibnu Majah no. 804). Doa iftitah ini disunnahkan untuk dibaca pada setiap shalat dan setiap keadaan. Imam Nawawi mengatakan bahwa do’a iftitah disunnahkan dibaca untuk setiap orang yang shalat, untuk imam, makmum, munfarid, wanita, anak-anak, musafir, orang yang shalat wajib, orang yang shalat sunnah, orang yang shalat sambil duduk, orang yang shalat sambil berbaring, dan selainnya. Termasuk juga di dalamnya orang yang melaksanakan shalat sunnah rawatib, shalat sunnah mutlak, shalat ‘ied, shalat gerhana (shalat kusuf) dan shalat minta hujan (shalat istisqa’). Yang dikecualikan di sini adalah shalat jenazah, shalat ‘ied dan shalat lail (shalat malam), ada pembicaraan tersendiri mengenai do’a iftitah dalam shalat tersebut. Adapun meninggalkan membaca do’a iftitah mungkin bisa dilihat dari pendapat berikut ini. Ulama Hanabilah berpandangan bahwa shalat sunnah jika lebih dari sekali salam seperti pada shalat tarawih, dhuha, sunnah rawatib, maka di setiap dua raka’at (memulai shalat) disunnahkan membaca doa iftitah. Karena setiap dua raka’at itu berdiri sendiri. Namun menurut pendapat yang lain, cukup di awal shalat saja membaca iftitah. Berarti ada ulama yang berpandangan bolehnya meninggalkan doa iftitah untuk shalat yang salamnya lebih dari sekali seperti dalam shalat tarawih. Bagaimana kalau imam tidak membaca do’a iftitah (langsung membaca surat), apakah makmum tetap membacanya? Jawabannya, tetap membacanya. Lihat nukilan berikut, قال الشّافعيّة : يسنّ للمأموم أن يستفتح ، ولو كان الإمام يجهر والمأموم يسمع قراءته. “Ulama Syafi’iyah menyatakan bahwa disunnahkan bagi makmum untuk membaca doa iftitah walau imam sudah mengeraskan bacaan suratnya dan makmum mendengarkannya.” Semoga bermanfaat.   Referensi: Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah. Penerbit Kementrian Agama Kuwait. — Disusun di kota Ambon, 1 Ramadhan 1437 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsdoa iftitah iftitah imam shalat shalat tarawih


Kita lihat sebagian imam shalat saat shalat tarawih –misalnya- langsung membaca surat Al-Fatihah tanpa mendahului dengan membaca do’a istiftah (disebut sebagian ulama dengan doa iftitah). Para ulama menganggap bahwa membaca do’a iftitah dihukumi sunnah, tidak sampai tingkatan wajib. Inilah pendapat jumhur (mayoritas ulama). Salah satu contoh doa istiftah yang dibaca adalah, سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ وَتَبَارَكَ اسْمُكَ وَتَعَالَى جَدُّكَ وَلاَ إِلَهَ غَيْرُكَ “Subhaanakallahumma wa bi hamdika wa tabaarokasmuka wa ta’aalaa jadduka wa laa ilaha ghoiruk (artinya: Maha suci Engkau ya Allah, aku memuji-Mu, Maha berkah Nama-Mu. Maha tinggi kekayaan dan kebesaran-Mu, tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar selain Engkau).” (HR. Muslim, no. 399; Abu Daud, no. 775; Tirmidzi, no. 242; Ibnu Majah no. 804). Doa iftitah ini disunnahkan untuk dibaca pada setiap shalat dan setiap keadaan. Imam Nawawi mengatakan bahwa do’a iftitah disunnahkan dibaca untuk setiap orang yang shalat, untuk imam, makmum, munfarid, wanita, anak-anak, musafir, orang yang shalat wajib, orang yang shalat sunnah, orang yang shalat sambil duduk, orang yang shalat sambil berbaring, dan selainnya. Termasuk juga di dalamnya orang yang melaksanakan shalat sunnah rawatib, shalat sunnah mutlak, shalat ‘ied, shalat gerhana (shalat kusuf) dan shalat minta hujan (shalat istisqa’). Yang dikecualikan di sini adalah shalat jenazah, shalat ‘ied dan shalat lail (shalat malam), ada pembicaraan tersendiri mengenai do’a iftitah dalam shalat tersebut. Adapun meninggalkan membaca do’a iftitah mungkin bisa dilihat dari pendapat berikut ini. Ulama Hanabilah berpandangan bahwa shalat sunnah jika lebih dari sekali salam seperti pada shalat tarawih, dhuha, sunnah rawatib, maka di setiap dua raka’at (memulai shalat) disunnahkan membaca doa iftitah. Karena setiap dua raka’at itu berdiri sendiri. Namun menurut pendapat yang lain, cukup di awal shalat saja membaca iftitah. Berarti ada ulama yang berpandangan bolehnya meninggalkan doa iftitah untuk shalat yang salamnya lebih dari sekali seperti dalam shalat tarawih. Bagaimana kalau imam tidak membaca do’a iftitah (langsung membaca surat), apakah makmum tetap membacanya? Jawabannya, tetap membacanya. Lihat nukilan berikut, قال الشّافعيّة : يسنّ للمأموم أن يستفتح ، ولو كان الإمام يجهر والمأموم يسمع قراءته. “Ulama Syafi’iyah menyatakan bahwa disunnahkan bagi makmum untuk membaca doa iftitah walau imam sudah mengeraskan bacaan suratnya dan makmum mendengarkannya.” Semoga bermanfaat.   Referensi: Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah. Penerbit Kementrian Agama Kuwait. — Disusun di kota Ambon, 1 Ramadhan 1437 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsdoa iftitah iftitah imam shalat shalat tarawih

Renungan #01, Dikira Golongannya Saja yang Masuk Surga

Renungan ayat di Ramadhan pertama ini ada di juz pertama, وَقَالُوا لَنْ يَدْخُلَ الْجَنَّةَ إِلَّا مَنْ كَانَ هُودًا أَوْ نَصَارَى تِلْكَ أَمَانِيُّهُمْ قُلْ هَاتُوا بُرْهَانَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ (111) بَلَى مَنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَلَهُ أَجْرُهُ عِنْدَ رَبِّهِ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ (112) “Dan mereka (Yahudi dan Nasrani) berkata: “Sekali-kali tidak akan masuk surga kecuali orang-orang (yang beragama) Yahudi atau Nasrani.” Demikian itu (hanya) angan-angan mereka yang kosong belaka. Katakanlah: “Tunjukkanlah bukti kebenaranmu jika kamu adalah orang yang benar.” (Tidak demikian) bahkan barangsiapa yang menyerahkan diri kepada Allah, sedang ia berbuat kebajikan, maka baginya pahala pada sisi Tuhannya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS. Al-Baqarah: 111-112) Lihatlah apa yang dikatakan oleh orang Yahudi dan Nashrani. Orang Yahudi berkata bahwa hanya merekalah yang masuk surga. Orang Nashrani juga menyatakan hanyalah mereka yang masuk surga. Mereka menghukumi diri mereka sendiri yang akan masuk surga. Ini hanyalah angan-angan yang tidak bisa diterima kecuali ada bukti yang jelas. Jika memang itu benar, silakan buktikan. Namun yang masuk surga adalah orang yang mengikhlaskan ibadahnya karena mengharap wajah Allah, ia berbuat ihsan (berbuat baik) dalam ibadahnya dengan mengikuti petunjuk Rasul. Inilah yang masuk surga, dari golongan mana pun. Sifat ini didapat ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam datang yaitu dengan berislam mengikuti ajaran beliau terlebih dahulu. Intinya, kata Syaikh Abu Bakr Al-Jazairi berkata, الإِسلام الصحيح القائم على أسسه الثلاثة الإِيمان والإِسلام والإِحسان هو سبيل النجاة من النار والفوز بالجنة “Islam yang benar kalau dibangun di atas tiga hal: (1) iman, (2) islam, (3) ihsan. Inilah jalan keselamatan dari neraka dan jalan untuk masuk surga.” Disebutkan dalam Aysar At-Tafasir. Lihatlah tidak perlu asal mengklaim, kami saja yang masuk surga. Namun cukup dibuktikan dengan iman, islam dan ihsan. Semoga kita bisa memenuhinya. — Disusun di kota Ambon, 1 Ramadhan 1437 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsrenungan ayat renungan quran

Renungan #01, Dikira Golongannya Saja yang Masuk Surga

Renungan ayat di Ramadhan pertama ini ada di juz pertama, وَقَالُوا لَنْ يَدْخُلَ الْجَنَّةَ إِلَّا مَنْ كَانَ هُودًا أَوْ نَصَارَى تِلْكَ أَمَانِيُّهُمْ قُلْ هَاتُوا بُرْهَانَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ (111) بَلَى مَنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَلَهُ أَجْرُهُ عِنْدَ رَبِّهِ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ (112) “Dan mereka (Yahudi dan Nasrani) berkata: “Sekali-kali tidak akan masuk surga kecuali orang-orang (yang beragama) Yahudi atau Nasrani.” Demikian itu (hanya) angan-angan mereka yang kosong belaka. Katakanlah: “Tunjukkanlah bukti kebenaranmu jika kamu adalah orang yang benar.” (Tidak demikian) bahkan barangsiapa yang menyerahkan diri kepada Allah, sedang ia berbuat kebajikan, maka baginya pahala pada sisi Tuhannya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS. Al-Baqarah: 111-112) Lihatlah apa yang dikatakan oleh orang Yahudi dan Nashrani. Orang Yahudi berkata bahwa hanya merekalah yang masuk surga. Orang Nashrani juga menyatakan hanyalah mereka yang masuk surga. Mereka menghukumi diri mereka sendiri yang akan masuk surga. Ini hanyalah angan-angan yang tidak bisa diterima kecuali ada bukti yang jelas. Jika memang itu benar, silakan buktikan. Namun yang masuk surga adalah orang yang mengikhlaskan ibadahnya karena mengharap wajah Allah, ia berbuat ihsan (berbuat baik) dalam ibadahnya dengan mengikuti petunjuk Rasul. Inilah yang masuk surga, dari golongan mana pun. Sifat ini didapat ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam datang yaitu dengan berislam mengikuti ajaran beliau terlebih dahulu. Intinya, kata Syaikh Abu Bakr Al-Jazairi berkata, الإِسلام الصحيح القائم على أسسه الثلاثة الإِيمان والإِسلام والإِحسان هو سبيل النجاة من النار والفوز بالجنة “Islam yang benar kalau dibangun di atas tiga hal: (1) iman, (2) islam, (3) ihsan. Inilah jalan keselamatan dari neraka dan jalan untuk masuk surga.” Disebutkan dalam Aysar At-Tafasir. Lihatlah tidak perlu asal mengklaim, kami saja yang masuk surga. Namun cukup dibuktikan dengan iman, islam dan ihsan. Semoga kita bisa memenuhinya. — Disusun di kota Ambon, 1 Ramadhan 1437 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsrenungan ayat renungan quran
Renungan ayat di Ramadhan pertama ini ada di juz pertama, وَقَالُوا لَنْ يَدْخُلَ الْجَنَّةَ إِلَّا مَنْ كَانَ هُودًا أَوْ نَصَارَى تِلْكَ أَمَانِيُّهُمْ قُلْ هَاتُوا بُرْهَانَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ (111) بَلَى مَنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَلَهُ أَجْرُهُ عِنْدَ رَبِّهِ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ (112) “Dan mereka (Yahudi dan Nasrani) berkata: “Sekali-kali tidak akan masuk surga kecuali orang-orang (yang beragama) Yahudi atau Nasrani.” Demikian itu (hanya) angan-angan mereka yang kosong belaka. Katakanlah: “Tunjukkanlah bukti kebenaranmu jika kamu adalah orang yang benar.” (Tidak demikian) bahkan barangsiapa yang menyerahkan diri kepada Allah, sedang ia berbuat kebajikan, maka baginya pahala pada sisi Tuhannya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS. Al-Baqarah: 111-112) Lihatlah apa yang dikatakan oleh orang Yahudi dan Nashrani. Orang Yahudi berkata bahwa hanya merekalah yang masuk surga. Orang Nashrani juga menyatakan hanyalah mereka yang masuk surga. Mereka menghukumi diri mereka sendiri yang akan masuk surga. Ini hanyalah angan-angan yang tidak bisa diterima kecuali ada bukti yang jelas. Jika memang itu benar, silakan buktikan. Namun yang masuk surga adalah orang yang mengikhlaskan ibadahnya karena mengharap wajah Allah, ia berbuat ihsan (berbuat baik) dalam ibadahnya dengan mengikuti petunjuk Rasul. Inilah yang masuk surga, dari golongan mana pun. Sifat ini didapat ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam datang yaitu dengan berislam mengikuti ajaran beliau terlebih dahulu. Intinya, kata Syaikh Abu Bakr Al-Jazairi berkata, الإِسلام الصحيح القائم على أسسه الثلاثة الإِيمان والإِسلام والإِحسان هو سبيل النجاة من النار والفوز بالجنة “Islam yang benar kalau dibangun di atas tiga hal: (1) iman, (2) islam, (3) ihsan. Inilah jalan keselamatan dari neraka dan jalan untuk masuk surga.” Disebutkan dalam Aysar At-Tafasir. Lihatlah tidak perlu asal mengklaim, kami saja yang masuk surga. Namun cukup dibuktikan dengan iman, islam dan ihsan. Semoga kita bisa memenuhinya. — Disusun di kota Ambon, 1 Ramadhan 1437 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsrenungan ayat renungan quran


Renungan ayat di Ramadhan pertama ini ada di juz pertama, وَقَالُوا لَنْ يَدْخُلَ الْجَنَّةَ إِلَّا مَنْ كَانَ هُودًا أَوْ نَصَارَى تِلْكَ أَمَانِيُّهُمْ قُلْ هَاتُوا بُرْهَانَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ (111) بَلَى مَنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَلَهُ أَجْرُهُ عِنْدَ رَبِّهِ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ (112) “Dan mereka (Yahudi dan Nasrani) berkata: “Sekali-kali tidak akan masuk surga kecuali orang-orang (yang beragama) Yahudi atau Nasrani.” Demikian itu (hanya) angan-angan mereka yang kosong belaka. Katakanlah: “Tunjukkanlah bukti kebenaranmu jika kamu adalah orang yang benar.” (Tidak demikian) bahkan barangsiapa yang menyerahkan diri kepada Allah, sedang ia berbuat kebajikan, maka baginya pahala pada sisi Tuhannya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS. Al-Baqarah: 111-112) Lihatlah apa yang dikatakan oleh orang Yahudi dan Nashrani. Orang Yahudi berkata bahwa hanya merekalah yang masuk surga. Orang Nashrani juga menyatakan hanyalah mereka yang masuk surga. Mereka menghukumi diri mereka sendiri yang akan masuk surga. Ini hanyalah angan-angan yang tidak bisa diterima kecuali ada bukti yang jelas. Jika memang itu benar, silakan buktikan. Namun yang masuk surga adalah orang yang mengikhlaskan ibadahnya karena mengharap wajah Allah, ia berbuat ihsan (berbuat baik) dalam ibadahnya dengan mengikuti petunjuk Rasul. Inilah yang masuk surga, dari golongan mana pun. Sifat ini didapat ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam datang yaitu dengan berislam mengikuti ajaran beliau terlebih dahulu. Intinya, kata Syaikh Abu Bakr Al-Jazairi berkata, الإِسلام الصحيح القائم على أسسه الثلاثة الإِيمان والإِسلام والإِحسان هو سبيل النجاة من النار والفوز بالجنة “Islam yang benar kalau dibangun di atas tiga hal: (1) iman, (2) islam, (3) ihsan. Inilah jalan keselamatan dari neraka dan jalan untuk masuk surga.” Disebutkan dalam Aysar At-Tafasir. Lihatlah tidak perlu asal mengklaim, kami saja yang masuk surga. Namun cukup dibuktikan dengan iman, islam dan ihsan. Semoga kita bisa memenuhinya. — Disusun di kota Ambon, 1 Ramadhan 1437 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsrenungan ayat renungan quran

Wanita Mendapatkan Flek Saat Puasa

Kalau wanita mendapatkan haidh saat puasa, puasanya batal. Bagaimana jika mendapati flek saja? Dari Abu Sa’id Al Khudri radhiyallahu ‘anhu ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya mengenai sebab kekurangan agama wanita, beliau berkata, أَلَيْسَ إِذَا حَاضَتْ لَمْ تُصَلِّ وَلَمْ تَصُمْ “Bukankah wanita jika haidh tidak shalat dan tidak puasa?” (HR. Bukhari, no. 304; Muslim, no. 79). Bagi wanita yang berhalangan untuk puasa karena haidh tersebut, ia punya kewajiban untuk mengqadha’ puasa di hari lain. Dari Mu’adzah dia berkata, “Saya bertanya kepada Aisyah seraya berkata, ‘Kenapa gerangan wanita yang haid mengqadha’ puasa dan tidak mengqadha’ shalat?’ Maka Aisyah menjawab, ‘Apakah kamu dari golongan Haruriyah? ‘ Aku menjawab, ‘Aku bukan Haruriyah, akan tetapi aku hanya bertanya.’ Aisyah menjawab, كَانَ يُصِيبُنَا ذَلِكَ فَنُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّوْمِ وَلاَ نُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّلاَةِ “Kami dahulu juga mengalami haid, maka kami diperintahkan untuk mengqadha’ puasa dan tidak diperintahkan untuk mengqadha’ shalat.” (HR. Muslim, no. 335) Namun bagaimana jika mendapati hanya flek saat puasa, apakah puasanya batal? Ada kaedah dari Syaikh As-Sa’di dalam kitabnya Manhajus Salikin yang bisa menjawab hal ini. Akhir kesimpulannya seperti yang dirinci berikut ini. Flek yang keluar di masa kebiasaan haidh sebelum darah haidh keluar, ditambah jika terasa nyeri, maka terhitung sebagai DARAH HAIDH. Flek yang keluar di luar masa kebiasaan haidh, maka dianggap BUKAN DARAH HAIDH. Flek yang keluar setelah darah haidh dan masih bersambung, maka dianggap DARAH HAIDH. Flek yang keluar setelah suci (setelah darah haidh berhenti total), namun setelah beberapa hari keluar flek lagi, maka dianggap BUKAN DARAH HAIDH. Kalau dianggap HAIDH, maka tidak boleh shalat dan tidak boleh puasa. Kalau dianggap bukan darah HAIDH, maka tetap diperintahkan shalat dan puasa. Wallahu a’lam. Semoga bermanfaat. — @ Bula, Seram Bagian Timur, 29 Sya’ban 1437 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsdarah haid darah haidh

Wanita Mendapatkan Flek Saat Puasa

Kalau wanita mendapatkan haidh saat puasa, puasanya batal. Bagaimana jika mendapati flek saja? Dari Abu Sa’id Al Khudri radhiyallahu ‘anhu ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya mengenai sebab kekurangan agama wanita, beliau berkata, أَلَيْسَ إِذَا حَاضَتْ لَمْ تُصَلِّ وَلَمْ تَصُمْ “Bukankah wanita jika haidh tidak shalat dan tidak puasa?” (HR. Bukhari, no. 304; Muslim, no. 79). Bagi wanita yang berhalangan untuk puasa karena haidh tersebut, ia punya kewajiban untuk mengqadha’ puasa di hari lain. Dari Mu’adzah dia berkata, “Saya bertanya kepada Aisyah seraya berkata, ‘Kenapa gerangan wanita yang haid mengqadha’ puasa dan tidak mengqadha’ shalat?’ Maka Aisyah menjawab, ‘Apakah kamu dari golongan Haruriyah? ‘ Aku menjawab, ‘Aku bukan Haruriyah, akan tetapi aku hanya bertanya.’ Aisyah menjawab, كَانَ يُصِيبُنَا ذَلِكَ فَنُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّوْمِ وَلاَ نُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّلاَةِ “Kami dahulu juga mengalami haid, maka kami diperintahkan untuk mengqadha’ puasa dan tidak diperintahkan untuk mengqadha’ shalat.” (HR. Muslim, no. 335) Namun bagaimana jika mendapati hanya flek saat puasa, apakah puasanya batal? Ada kaedah dari Syaikh As-Sa’di dalam kitabnya Manhajus Salikin yang bisa menjawab hal ini. Akhir kesimpulannya seperti yang dirinci berikut ini. Flek yang keluar di masa kebiasaan haidh sebelum darah haidh keluar, ditambah jika terasa nyeri, maka terhitung sebagai DARAH HAIDH. Flek yang keluar di luar masa kebiasaan haidh, maka dianggap BUKAN DARAH HAIDH. Flek yang keluar setelah darah haidh dan masih bersambung, maka dianggap DARAH HAIDH. Flek yang keluar setelah suci (setelah darah haidh berhenti total), namun setelah beberapa hari keluar flek lagi, maka dianggap BUKAN DARAH HAIDH. Kalau dianggap HAIDH, maka tidak boleh shalat dan tidak boleh puasa. Kalau dianggap bukan darah HAIDH, maka tetap diperintahkan shalat dan puasa. Wallahu a’lam. Semoga bermanfaat. — @ Bula, Seram Bagian Timur, 29 Sya’ban 1437 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsdarah haid darah haidh
Kalau wanita mendapatkan haidh saat puasa, puasanya batal. Bagaimana jika mendapati flek saja? Dari Abu Sa’id Al Khudri radhiyallahu ‘anhu ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya mengenai sebab kekurangan agama wanita, beliau berkata, أَلَيْسَ إِذَا حَاضَتْ لَمْ تُصَلِّ وَلَمْ تَصُمْ “Bukankah wanita jika haidh tidak shalat dan tidak puasa?” (HR. Bukhari, no. 304; Muslim, no. 79). Bagi wanita yang berhalangan untuk puasa karena haidh tersebut, ia punya kewajiban untuk mengqadha’ puasa di hari lain. Dari Mu’adzah dia berkata, “Saya bertanya kepada Aisyah seraya berkata, ‘Kenapa gerangan wanita yang haid mengqadha’ puasa dan tidak mengqadha’ shalat?’ Maka Aisyah menjawab, ‘Apakah kamu dari golongan Haruriyah? ‘ Aku menjawab, ‘Aku bukan Haruriyah, akan tetapi aku hanya bertanya.’ Aisyah menjawab, كَانَ يُصِيبُنَا ذَلِكَ فَنُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّوْمِ وَلاَ نُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّلاَةِ “Kami dahulu juga mengalami haid, maka kami diperintahkan untuk mengqadha’ puasa dan tidak diperintahkan untuk mengqadha’ shalat.” (HR. Muslim, no. 335) Namun bagaimana jika mendapati hanya flek saat puasa, apakah puasanya batal? Ada kaedah dari Syaikh As-Sa’di dalam kitabnya Manhajus Salikin yang bisa menjawab hal ini. Akhir kesimpulannya seperti yang dirinci berikut ini. Flek yang keluar di masa kebiasaan haidh sebelum darah haidh keluar, ditambah jika terasa nyeri, maka terhitung sebagai DARAH HAIDH. Flek yang keluar di luar masa kebiasaan haidh, maka dianggap BUKAN DARAH HAIDH. Flek yang keluar setelah darah haidh dan masih bersambung, maka dianggap DARAH HAIDH. Flek yang keluar setelah suci (setelah darah haidh berhenti total), namun setelah beberapa hari keluar flek lagi, maka dianggap BUKAN DARAH HAIDH. Kalau dianggap HAIDH, maka tidak boleh shalat dan tidak boleh puasa. Kalau dianggap bukan darah HAIDH, maka tetap diperintahkan shalat dan puasa. Wallahu a’lam. Semoga bermanfaat. — @ Bula, Seram Bagian Timur, 29 Sya’ban 1437 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsdarah haid darah haidh


Kalau wanita mendapatkan haidh saat puasa, puasanya batal. Bagaimana jika mendapati flek saja? Dari Abu Sa’id Al Khudri radhiyallahu ‘anhu ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya mengenai sebab kekurangan agama wanita, beliau berkata, أَلَيْسَ إِذَا حَاضَتْ لَمْ تُصَلِّ وَلَمْ تَصُمْ “Bukankah wanita jika haidh tidak shalat dan tidak puasa?” (HR. Bukhari, no. 304; Muslim, no. 79). Bagi wanita yang berhalangan untuk puasa karena haidh tersebut, ia punya kewajiban untuk mengqadha’ puasa di hari lain. Dari Mu’adzah dia berkata, “Saya bertanya kepada Aisyah seraya berkata, ‘Kenapa gerangan wanita yang haid mengqadha’ puasa dan tidak mengqadha’ shalat?’ Maka Aisyah menjawab, ‘Apakah kamu dari golongan Haruriyah? ‘ Aku menjawab, ‘Aku bukan Haruriyah, akan tetapi aku hanya bertanya.’ Aisyah menjawab, كَانَ يُصِيبُنَا ذَلِكَ فَنُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّوْمِ وَلاَ نُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّلاَةِ “Kami dahulu juga mengalami haid, maka kami diperintahkan untuk mengqadha’ puasa dan tidak diperintahkan untuk mengqadha’ shalat.” (HR. Muslim, no. 335) Namun bagaimana jika mendapati hanya flek saat puasa, apakah puasanya batal? Ada kaedah dari Syaikh As-Sa’di dalam kitabnya Manhajus Salikin yang bisa menjawab hal ini. Akhir kesimpulannya seperti yang dirinci berikut ini. Flek yang keluar di masa kebiasaan haidh sebelum darah haidh keluar, ditambah jika terasa nyeri, maka terhitung sebagai DARAH HAIDH. Flek yang keluar di luar masa kebiasaan haidh, maka dianggap BUKAN DARAH HAIDH. Flek yang keluar setelah darah haidh dan masih bersambung, maka dianggap DARAH HAIDH. Flek yang keluar setelah suci (setelah darah haidh berhenti total), namun setelah beberapa hari keluar flek lagi, maka dianggap BUKAN DARAH HAIDH. Kalau dianggap HAIDH, maka tidak boleh shalat dan tidak boleh puasa. Kalau dianggap bukan darah HAIDH, maka tetap diperintahkan shalat dan puasa. Wallahu a’lam. Semoga bermanfaat. — @ Bula, Seram Bagian Timur, 29 Sya’ban 1437 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsdarah haid darah haidh
Prev     Next