Jagalah Allah !

Khutbah Jum’at Masjid Nabawi 4/8/1436 HOleh : Asy-Syaikh Husain Alu Asy-Syaikh hafizohullohKhutbah Pertama :Segala puji bagi Allah penolong orang-orang yang shalih, dan aku bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak disembah melainkan Allah Tuhan Yang Maha Benar dan Maha Menjelaskan. Dan aku bersaksi bahwasanya nabi kita dan pemimpin kita Muhammad adalah hambaNya dan RasulNya, pemimpin seluruh umat manusia. Ya Allah curahkanlah shalawat dan salam serta keberkahan kepadanya dan kepada keluarganya serta seluruh sahabatnya.Amma ba’du, wahai kaum muslimin sekalian, aku washiatkan kepada kalian dan kepada diriku untuk bertakwa kepada Allah, karena takwa adalah landasan kebaikan dan keberhasilan, serta asas kemenangan dan keberuntungan. Kaum muslimin sekalian, aum muslimin saat ini menghadapi berbagai macam tantangan dan fitnah-fitnah yang mencekam serta cobaan-cobaan yang berat. Para cendekia berusaha melihat ke depan mencari solusi yang bisa menyelamatkan umat dari kondisinya saat ini. Kaum terpelajar menyodorkan pandangan mereka, para pakar politik mengajukan solusi, serta para penulis yang mengajukan pandangan-pandangan mereka, berbagai macam analisa muncul karena berbagai sebab, serta beragam pandangan untuk mencari solusi dan jalan keluar.Telah tiba saatnya bagi umat seluruhnya baik masyarakat maupun individu, baik para penguasanya maupun rakyatnya untuk bangun dari tidur mereka dan kembali kepada sumber kekuatan mereka serta pondasi kebaikan dan kemenangan mereka, setelah mereka mencoba serangkaian eksperimen yang didasarkan kepada  rekayasa manusia serta produk-produk pemikiran asing yang tidak mendatangkan kecuali kehinaan, kerendahan, kelemahan, keterbelakangan, kehancuran, serta perpecahan dan tercerai berai.Sungguh telah tiba saatnya bagi kaum muslimin untuk kembali kepada sumber kemuliaan mereka dan landasan kejayaan mereka. Telah tiba saatnya bagi mereka untuk segera meraih solusi yang tepat untuk menghadapi problematika mereka, yang bertolak dari prinsip-prinsip agama mereka dan asas aqidah mereka.    Sesungguhnya umat ini tidak akan mendapatkan solusi yang tepat untuk penyakit-penyakit mereka, tidak akan meraih jalan keluar dari krisis dan problematika yang mereka hadapi kecuali dengan pemahaman yang benar dari Kitabullah dan sunnah Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.Saudara-saudaraku seiman, simaklah sebuah wasiat yang agung yang bersumber dari pengajar umat manusia dan pemimpin seluruh makhluk, yaitu Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau mengarahkan kepada umat ini sebuah piagam yang abadi, dengannya maka baiklah kehidupan umat ini, dengannya masyarakat menjadi bahagia, negeri menjadi berkembang dengan menerapkannya. Wasiat ini harus senantiasa di depan mata kita, dan hendaknya penerapannya merupakan penentu seluruh tindakan dan kegiatan kita, yang mengarahkan gerakan kita, dan meluruskan kehendak kita dan arahan kita. Sebuah wasiat yang tidak berpihak kepada kepentingan golongan, tidak bertolak dari fanatisme kesukuan atau pandangan sesaat. Akan tetapi ini adalah wasiat yang muncul dari orang yang tidak berucap dari hawa nafsu, dan tidak keluar kecuali dari wayhu yang diwahyukan kepadanya. Ini adalah piagam Nabi Muhammad, wasiat yang bercahaya yang akan membangkitkan umat kepada kehidupan yang berkembang yang membuahkan kebaikan, kejayaan, kekuatan, kemuliaan, kemajuan, persatuan, dan keselarasan.يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu (QS Al-Anfaal : 24)Kehidupan yang memberikan kehidupan yang universal, mencakup individu dan kelompok, jiwa dan harta benda. Sesungguhnya ia adalah kehidupan yang dibangun di atas kekuatan iman yang pasti dibutuhkan dalam menghadapi krisis dan problematika. Kehidupan yang membawa umat kepada kebangkitan dengan maknanya yang paling universal dan yang paling tepat, serta dalam bentuk yang paling spesial. Yang akan mewujudkan kebahagiaan dan penuh dengan keamanan, keselamatan, kebaikan, perkembangan, dan kemajuan dalam seluruh sisi kehidupan.    Kaum muslimin sekalian, sesungguhnya kejayaan telah terjamin dengan mewujudkan wasiat ini, kemuliaan di dunia dan akhirat terjamin dengan menerapkan poin-poin wasiat tersebut. Allah jalla wa ala berfirman :فَمَنِ اتَّقَى وَأَصْلَحَ فَلا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلا هُمْ يَحْزَنُونَ Maka Barangsiapa yang bertakwa dan Mengadakan perbaikan, tidaklah ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (QS Al-A’raf : 35)Individu-individu akan terjerumus dalam kerugian jika tidak menerapkan wasiat tersebut, demikian juga masyarakat yang jauh dari kandungan wasiat ini akan mengarah kepada kerusakan dan kehancuran. Ini adalah wasiat yang menghubungkan seorang muslim dengan landasan agamanya seiring dengan hubungannya dengan produk-produk masa kini. Sebuah piagam dari Muhammad SAW, yang mewujudkannya adalah penjamin satu-satunya dalam menghadapi tantangan-tantangan yang dihadapi oleh umat Islam, yang menargetkan kehancuran nilai-nilai luhurnya, potensinya, dan karakteristiknya. Umar Al-Faruq radhiallahu ‘anhu berkata :إِنَّمَا سَبَقْتُمُ النَّاسَ بِنُصْرَةِ هَذَا الدِّيْنِ“Sesungguhnya kalian mengungguli umat yang lain karena kalian menolong agama ini”Marilah kita bersama –semoga Allah menjaga kalian- mendengarkan wasiat yang agung dan piagam yang abadi, dengan pendengaran yang disertai ketundukkan, pelaksanaan, dan pengamalan terhadap wasiat tersebut dengan penuh ketulusan dan keikhlasan. Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma berkata ;“Aku di belakang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pada suatu hari, maka beliau berkata kepadaku, “Wahai sang pemuda, sungguh aku akan mengajarkan kepadamu beberapa kalimat. Jagalah Allah maka Allah akan menjagamu, jagalah Allah maka nisacaya engkau mendapatiNya di hadapanmu. Jika engkau memohon maka mohonlah kepada Allah, dan jika engkau meminta pertolongan maka mintalah kepada Allah. Ketahuilah seandainya umat manusia bersatu padu untuk memberi suatu kemanfaatan kepadamu maka mereka tidak akan bisa memberi kemanfaatan kepadamu kecuali yang telah ditetapkan oleh Allah bagimu. Dan jika mereka bersatu untuk memberi suatu kemudhorotan kepadamu maka mereka tidak akan memberi kemudhorotan kepadamu kecuali yang telah ditetapkan oleh Allah akan menimpamu. Pena-pena telah diangkat, dan lembaran-lembaran telah kering” (HR At-Tirmidzi, dan beliau berkata : Hasan shahih, dan hadits ini adalah shahih menurut para pakar hadits)Dalam riwayat yang lain : “Jagalah Allah maka engkau akan mendapati Allah di hadapanmu, kenalilah Allah tatkala engkau dalam kelapangan maka niscaya Allah akan mengenalmu tatkala engkau dalam kesulitan. Dan ketahuilah bahwasanya apa yang luput darimu tidak akan mengenaimu, dan apa yang menimpamu maka tidak akan terluput darimu. Ketahuilah bahwasanya kemenangan bersama kesabaran, dan jalan keluar bersama penderitaan, dan kemudahan bersama kesulitan”.Ulama berkata : Hadits ini mengandung wasiat-wasiat yang agung dan kaidah-kaidah tentang perkara terpenting dari agama ini, sampai-sampai sebagian ulama berkata : “Aku merenungkan hadits ini maka menakjubkan aku, hampir-hampir aku tidak sadar, maka sungguh sangat disesalkan akan kebodohan tentang hadits ini dan sedikitnya pemahaman tentang maknanya”Kaum muslimin sekalian, “menjaga Allah” adalah dengan menjaga aturan-aturan Allah, dan beriltizam melaksanakan hak-hakNya, serta berhenti pada perintahNya dengan menjalankannya, serta menjauhi laranganNya. Allah jalla wa alaa berfirman :هَذَا مَا تُوعَدُونَ لِكُلِّ أَوَّابٍ حَفِيظٍ (٣٢)مَنْ خَشِيَ الرَّحْمَنَ بِالْغَيْبِ وَجَاءَ بِقَلْبٍ مُنِيبٍ (٣٣)  Inilah yang dijanjikan kepadamu, (yaitu) kepada Setiap hamba yang selalu kembali (kepada Allah) lagi memelihara (semua peraturan-peraturan-Nya).  (yaitu) orang yang takut kepada Tuhan yang Maha Pemurah sedang Dia tidak kelihatan (olehnya) dan dia datang dengan hati yang bertaubat (QS : Qoof : 32-33)Suatu penjagaan yang mencegah anggota tubuh dari ketergelinciran, dan menjaga indera dari kesalahan. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :“Barangsiapa yang menjamin bagiku apa yang ada diantara dua tulang dagunya dan apa yang ada diantara dua kakinya maka aku menjamin baginya surga” (HR Al-Bukhari)Penjagaan yang mengendalikan syahwat sehingga tidak membawa masyarakat dan individu kepada kesesatan atau menjadikan mereka condong menjauh dari pondasi-pondasi nilai dan akhlak yang mulia. Allah jalla wa ‘ala berfirman :وَالْحَافِظِينَ فُرُوجَهُمْ وَالْحَافِظَاتِ وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا Dan laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar. (QS Al-Ahzaab : 35)Penjagaan yang mencakup sikap pemerintah dan yang diperintah dalam menegakkan apa yang Allah wajibkan terhadap mereka berupa memperhatikan hak-hak, menunaikan amanah, serta menunaikan janji. Suatu penjagaan yang mencakup penerapan orang-orang terhadap Islam dengan penerapan yang universal dalam segala bidang kehidupan tanpa disertai takwil atau hawa nafsu.Allah berfirman :يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan (QS Al-Baqoroh : 208)Maka barangsiapa yang merealisasikan “menjaga Allah” –dengan makna yang lalu- maka akan terwujudkan baginya penjagaan Allah kepadanya dan perhatianNya. Penjagaan dari Allah yang mencakup agama dan dunianya pada seluruh perkataannya dalam kehidupannya maupun setelah wafatnya. Penjagaan Allah yagn akan mewujudkan baginya berbagai macam kemaslahatannya dan menolak berbagai macam kemudhorotan darinya.Dan makna ini telah ditekankan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pada wasiat ini maka beliau berkata “Jagalah Allah maka niscaya engkau akan mendapatiNya di hadapanmu”.Maka barangsiapa yang menjaga aturan-aturan Allah dan memperhatikan hak-hakNya maka Allah akan meliputinya dengan penjagaanNya, Allah akan mengnugrahkan kepadanya taufiqNya dan petunjukNya, dan Allah akan menolongnya dan memperkuatnya, berlaku bagi individu maupun kelompok.إِنَّ اللَّهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَوْا وَالَّذِينَ هُمْ مُحْسِنُونَ (١٢٨)Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan. (QS An-Nahl : 128)Qotadah radhiallahu ‘anhu berkata :”Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah maka Allah akan bersamanya, dan barangsiapa yang Allah bersamanya maka ia telah bersama kelompok yang tidak akan terkalahkan, dan penjaga yang tidak akan tidur, serta pemberi petunjuk yang tidak akan tersesat”Sebagian salaf mengirim surat kepada saudaranya : “Amma ba’du, jika Allah bersamamu maka engkau takut kepada siapa?, dan jika Allah melawanmu maka siapa yang bisa kau harapkan?”Maka demikianlah hendaknya kondisi masyarakat, jika Allah bersama kita, maka siapakah yang kita takut?, dan jika Allah melawan kita maka siapakah yang bisa kita harapkan?. Dengan demikian wajib bagi kita untuk mentadaburi firman Allah فَفِرُّوا إِلَى اللَّهِMaka segeralah kembali kepada (mentaati) Allah (QS Adz-Dzariyat : 50)Maka segeralah lari menuju Allah dengan menjalankan ketataan kepadaNya dan melazimi sunnah nabiNya SAW.Kaum muslimin sekalian, sesungguhnya umat pada jajaran individu dan masyarakat dengan beragam kedudukan dan pertanggungjawabannya, jika menjaga syari’at Allah dan tunduk kepada perintahNya dalam segala urusan, bersih dari hawa nafsu dan syahwat hati, dan kondisi politiknya dan perekonomiannya serta sosial kemasyarakatannya dan yang lainnya dibangun diatas manhaj Allah dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, jika umat menjadikan Islam yang murni sebagai pedoman yang sempurna dalam seluruh kehidupannya, dalam segala perkembangannya dan tingkatan-tingkatannya, pada seluruh hubungan dan interaksinya dalam segala pergerakannya maupun diamnya, maka tatkala itu terealisasikan bagi umat penjagaan Allah dari segala keburukan dan kesulitan, dari segala krisis dan penderitaan yang dihadapinya. Dan akan terwujudkan tatkala itu keamanan, ketenteraman, kejayaan dan kemenangan. Bukankah Allah berfirman –dan janji Allah adalah pasti- :الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَئِكَ لَهُمُ الأمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ (٨٢)Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka Itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS Al-An’aam : 82)Sesungguhnya umat ini jika memimpin dirinya dengan syari’at Allah dan sunnah RasulNya shallallahu ‘alaihi wasallam, dan hal ini mengatur arahan dan tujuannya serta memimpin pergerakannya, maka akan terwujudkan bagi umat kemanan dengan seluruh pendukungnya dengan berbagai bentuknya, keamanan dalam politik, perekonomian, dan sosial kemasyarakatan.Akan tetapi manakah orang-orang yang merenungkan?, manakah mereka yang memikirkan?, manakah mereka yang membaca sejarah umat Muhammad pada masa-masa yang silam?Kaum muslimin sekalian, sesungguhnya umat ini, jika ditimpa dengan ujian dan berat dalam menghadapi cobaan, dan umat menjadi takut maka hilanglah keamanan, umat menjadi rendah maka hilanglah kejayaan, umat menjadi terbelakang maka hilanglah penguasaan dan ketenangan –sebagaimana kondisi umat saat ini-, maka umat tidak akan mendapatkan jalan keluar hingga umat menjalankan syarat Allah jalla wa ‘ala yaitu menjalankan ketaatan kepada Allah dan RasulNya shallallahu ‘alaihi wasallam serta keridhoan yang sempurna dengan syari’at Islam dan mewujudkan manhaj yang diridhoi, maka tatkala itu akan hilanglah dari umat ini kerusakan dan keterpurukan, dan akan sirna ketakutan dan kegelisahan serta kegoncangan. Dan tidak ada kekuatan apapun yang akan bisa menghadangi kekuatan umat ini. Lihatlah kembali kepada sejarah para khulafaur rasyidin dan juga sejarah kaum muslimin di masa semisal Umar bin Abdil Aziz radhiallahu ‘anhumAllah jalla wa ‘alaa berfirman kepada umat ini seluruhnya dari awalnya hingga akhirnya :فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلا يَضِلُّ وَلا يَشْقَى (١٢٣)وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى (١٢٤)Barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Dan Barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, Maka Sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam Keadaan buta”. (QS Toha : 123-124)Umat Islam di manapun berada, sesungguhnya janji Allah terus tegak meski zaman silih berganti dan perubahan-perubahan kondisi jika syarat yang disebutkan terpenuhi. Akan tetapi wajib bagi seluruh kaum muslimin, bagi individu sebelum masyarakat, bagi rakyat sebelum penguasa agar kembali instropeksi diri, untuk memeriksa kondisi mereka, untuk memandang kehidupan mereka, apakah mereka dalam kondisi yang sesuai dengan yang diharapkan dan diridhoi dari metode Allah dan manhaj RasulNya SAW?. Maka tatkala itu akan nampak hasilnya pada orang yang berakal dalam jawaban yang benar.Ibnu Katsir rahimahullah menyebutkan pada peristiwa tahun 463 Hijriyah, beliau berkata : “Datanglah raja Romawi dalam pasukan yang tidak terhingga jumlahnya seperti gunung-gunung, jumlah yang sangat banyak dan perkumpulan yang sangat besar, dan diantara tekadnya adalah hendak mencabut Islam dan pemeluknya dari akarnya. Maka merekapun bertemu dengan pasukan kaum muslimin yang jumlahnya sekitar 20 ribu, dan pasukan muslimin takut karena begitu banyaknya pasukan musyrikin. Maka sang Faqih Abu Nashr Muhammad bin Abdil Malik Al-Bukhari mengarahkan agar waktu pertempuran dilaksanakan pada hari jum’at setelah waktu zawal (dzuhur) tatkala para khothib berdoa bagi para mujahidin. Maka tatkala bertemu dua pasukan tersebu, turunlah pemimpin kaum muslimin dari kudanya, lalu sujud kepada Allah azza wajalla dan berdoa kepada Allah dan memohon kemenangan dariNya, maka Allahpun menurunkan pertolonganNya kepada kaum muslimin, dan Allah menganugerahkan kepada mereka pundak-pundak kaum musyrikin. Maka tatkala itu adalah kemenangan yang kuat dan besar”Namun jika umat dalam pertikaian, terkotak-kotak dan tercerai berai maka cukuplah menunjukan bahwa mereka jauh dari manhaj Allah, jauh dari penerapan al-Qur’an, jauh dari mengikuti jalan pemimpin para nabi dan rasul, lalu dari manakah pertolongan?, maka keberuntungan?, mana kemenangan?, mana keamanan?إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ (٧)Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. (QS Muhammad : 7)Semoga Allah memberkahi kita dalam al-Qur’an dan sunnah, aku menyampaikan perkataanku ini, dan aku memohon ampunan kepada Allah bagiku dan bagi kalian dari seluruh dosa, maka mohonlah ampunan dariNya sesungguhnya Ia adalah maha pengampun lagi maha penyayang.Khutbah Kedua :Aku memuji Robku dan aku bersyukur kepadaNya, aku bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan kecuali Allah semata tidak ada sekutu bagiNya. Dan aku bersaksi bahwasanya Nabi kita Muhammad adalah hambaNya dan rasulNya, ya Allah curahkanlah shalawat, salam, dan keberkahan kepadanya dan kepada keluarganya serta para sahabatnya.Kaum muslimin sekalian, sesungguhnya bulan Sya’ban adalah bulan yang terlalaikan di dalamnya beberapa ketaatan, maka hendaknya kita meneladani Rasul kita shallallahu ‘alaihi wasallam, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Usamah bin Zaid, beliau berkata :Aku berkata : “Wahai Rasulullah, aku tidak melihat engkau berpuasa pada bulan manapun sebagaimana engkau berpuasa di bulan Sya’ban”.Nabi berkata, ذلك شهر يغفل الناس عنه بين رجب ورمضان وهو شهر ترفع فيه الأعمال إلى رب العالمين فأحب أن يرفع عملي وأنا صائم“Itu adalah bulan yang orang-orang lalai darinya, bulan antara Rojab dan Ramadhan, ia adalah bulan yang diangkat amalan-amalan kepada Robbul ‘alamin, maka aku suka jika amalanku diangkat dan aku dalam kondisi berpuasa” (HR An-Nasaai dengan sanad yang hasan)Dan dari Aisyah semoga Allah meridloinya dan meridloi ayahnya beliau berkata : لم يكن النبي صلى الله عليه وسلم يصوم شهرا أكثر من شعبان فإنه كان يصوم شعبان كله“Tidaklah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berpuasa pada suatu bulanpun sebagaimana beliau berpuasa pada bulan Sya’ban, beliau berpuasa bulan Sya’ban sepenuhnya” (HR Al-Bukhari).Dalam riwayat Muslim : كان يصوم شعبان إلا قليا“Beliau berpuasa seluruh hari bulan Sya’ban, kecuali hanya sedikit” (HR Muslim)Para salaf dahulu memperbanyak tilawah Al-Qur’an pada bulan Sya’ban. Anas berkata : “Jika telah masuk bulan Sya’ban, maka kaum muslimin menuju kepada mushaf-mushaf”Salamah bin Kuhail berkata : كان يقال : شهر شعبان شهر القُرَّاء“Bulan Sya’ban disebut dengan bulan para qori’ (pembaca Al-Qur’an)”Jika telah masuk bulan Sya’ban, maka Habib bin Abi Tsabit berkata : “Ini adalah bulannya para pembaca al-Qur’an”. Jika masuk bulan Sya’ban maka ‘Amr bin Qois menutup kedainya lalu mengonsentrasikan waktu untuk membaca Al-Qur’an”    Adapun mengkhususkan tengah bulan Sya’ban dengan puasa dan sholat malam maka tidak valid dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sebagaimana disebutkan oleh para peneliti. Dan ketaatan yang tidak valid datangnya dari Nabi SAW maka mengamalkannya adalah bid’ah yang mungkar, tidak boleh bagi seorang muslim untuk menyembah Allah dengannya. Karena diantara hal yang memberikan kemudhorotan kepada umat Islam adalah tersebarnya bid’ah-bid’ah yang tidak ada dalilnya dari al-Qur’an maupun sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.Penerjemah: Abu Abdil Muhsin Firandawww.firanda.com

Jagalah Allah !

Khutbah Jum’at Masjid Nabawi 4/8/1436 HOleh : Asy-Syaikh Husain Alu Asy-Syaikh hafizohullohKhutbah Pertama :Segala puji bagi Allah penolong orang-orang yang shalih, dan aku bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak disembah melainkan Allah Tuhan Yang Maha Benar dan Maha Menjelaskan. Dan aku bersaksi bahwasanya nabi kita dan pemimpin kita Muhammad adalah hambaNya dan RasulNya, pemimpin seluruh umat manusia. Ya Allah curahkanlah shalawat dan salam serta keberkahan kepadanya dan kepada keluarganya serta seluruh sahabatnya.Amma ba’du, wahai kaum muslimin sekalian, aku washiatkan kepada kalian dan kepada diriku untuk bertakwa kepada Allah, karena takwa adalah landasan kebaikan dan keberhasilan, serta asas kemenangan dan keberuntungan. Kaum muslimin sekalian, aum muslimin saat ini menghadapi berbagai macam tantangan dan fitnah-fitnah yang mencekam serta cobaan-cobaan yang berat. Para cendekia berusaha melihat ke depan mencari solusi yang bisa menyelamatkan umat dari kondisinya saat ini. Kaum terpelajar menyodorkan pandangan mereka, para pakar politik mengajukan solusi, serta para penulis yang mengajukan pandangan-pandangan mereka, berbagai macam analisa muncul karena berbagai sebab, serta beragam pandangan untuk mencari solusi dan jalan keluar.Telah tiba saatnya bagi umat seluruhnya baik masyarakat maupun individu, baik para penguasanya maupun rakyatnya untuk bangun dari tidur mereka dan kembali kepada sumber kekuatan mereka serta pondasi kebaikan dan kemenangan mereka, setelah mereka mencoba serangkaian eksperimen yang didasarkan kepada  rekayasa manusia serta produk-produk pemikiran asing yang tidak mendatangkan kecuali kehinaan, kerendahan, kelemahan, keterbelakangan, kehancuran, serta perpecahan dan tercerai berai.Sungguh telah tiba saatnya bagi kaum muslimin untuk kembali kepada sumber kemuliaan mereka dan landasan kejayaan mereka. Telah tiba saatnya bagi mereka untuk segera meraih solusi yang tepat untuk menghadapi problematika mereka, yang bertolak dari prinsip-prinsip agama mereka dan asas aqidah mereka.    Sesungguhnya umat ini tidak akan mendapatkan solusi yang tepat untuk penyakit-penyakit mereka, tidak akan meraih jalan keluar dari krisis dan problematika yang mereka hadapi kecuali dengan pemahaman yang benar dari Kitabullah dan sunnah Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.Saudara-saudaraku seiman, simaklah sebuah wasiat yang agung yang bersumber dari pengajar umat manusia dan pemimpin seluruh makhluk, yaitu Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau mengarahkan kepada umat ini sebuah piagam yang abadi, dengannya maka baiklah kehidupan umat ini, dengannya masyarakat menjadi bahagia, negeri menjadi berkembang dengan menerapkannya. Wasiat ini harus senantiasa di depan mata kita, dan hendaknya penerapannya merupakan penentu seluruh tindakan dan kegiatan kita, yang mengarahkan gerakan kita, dan meluruskan kehendak kita dan arahan kita. Sebuah wasiat yang tidak berpihak kepada kepentingan golongan, tidak bertolak dari fanatisme kesukuan atau pandangan sesaat. Akan tetapi ini adalah wasiat yang muncul dari orang yang tidak berucap dari hawa nafsu, dan tidak keluar kecuali dari wayhu yang diwahyukan kepadanya. Ini adalah piagam Nabi Muhammad, wasiat yang bercahaya yang akan membangkitkan umat kepada kehidupan yang berkembang yang membuahkan kebaikan, kejayaan, kekuatan, kemuliaan, kemajuan, persatuan, dan keselarasan.يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu (QS Al-Anfaal : 24)Kehidupan yang memberikan kehidupan yang universal, mencakup individu dan kelompok, jiwa dan harta benda. Sesungguhnya ia adalah kehidupan yang dibangun di atas kekuatan iman yang pasti dibutuhkan dalam menghadapi krisis dan problematika. Kehidupan yang membawa umat kepada kebangkitan dengan maknanya yang paling universal dan yang paling tepat, serta dalam bentuk yang paling spesial. Yang akan mewujudkan kebahagiaan dan penuh dengan keamanan, keselamatan, kebaikan, perkembangan, dan kemajuan dalam seluruh sisi kehidupan.    Kaum muslimin sekalian, sesungguhnya kejayaan telah terjamin dengan mewujudkan wasiat ini, kemuliaan di dunia dan akhirat terjamin dengan menerapkan poin-poin wasiat tersebut. Allah jalla wa ala berfirman :فَمَنِ اتَّقَى وَأَصْلَحَ فَلا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلا هُمْ يَحْزَنُونَ Maka Barangsiapa yang bertakwa dan Mengadakan perbaikan, tidaklah ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (QS Al-A’raf : 35)Individu-individu akan terjerumus dalam kerugian jika tidak menerapkan wasiat tersebut, demikian juga masyarakat yang jauh dari kandungan wasiat ini akan mengarah kepada kerusakan dan kehancuran. Ini adalah wasiat yang menghubungkan seorang muslim dengan landasan agamanya seiring dengan hubungannya dengan produk-produk masa kini. Sebuah piagam dari Muhammad SAW, yang mewujudkannya adalah penjamin satu-satunya dalam menghadapi tantangan-tantangan yang dihadapi oleh umat Islam, yang menargetkan kehancuran nilai-nilai luhurnya, potensinya, dan karakteristiknya. Umar Al-Faruq radhiallahu ‘anhu berkata :إِنَّمَا سَبَقْتُمُ النَّاسَ بِنُصْرَةِ هَذَا الدِّيْنِ“Sesungguhnya kalian mengungguli umat yang lain karena kalian menolong agama ini”Marilah kita bersama –semoga Allah menjaga kalian- mendengarkan wasiat yang agung dan piagam yang abadi, dengan pendengaran yang disertai ketundukkan, pelaksanaan, dan pengamalan terhadap wasiat tersebut dengan penuh ketulusan dan keikhlasan. Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma berkata ;“Aku di belakang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pada suatu hari, maka beliau berkata kepadaku, “Wahai sang pemuda, sungguh aku akan mengajarkan kepadamu beberapa kalimat. Jagalah Allah maka Allah akan menjagamu, jagalah Allah maka nisacaya engkau mendapatiNya di hadapanmu. Jika engkau memohon maka mohonlah kepada Allah, dan jika engkau meminta pertolongan maka mintalah kepada Allah. Ketahuilah seandainya umat manusia bersatu padu untuk memberi suatu kemanfaatan kepadamu maka mereka tidak akan bisa memberi kemanfaatan kepadamu kecuali yang telah ditetapkan oleh Allah bagimu. Dan jika mereka bersatu untuk memberi suatu kemudhorotan kepadamu maka mereka tidak akan memberi kemudhorotan kepadamu kecuali yang telah ditetapkan oleh Allah akan menimpamu. Pena-pena telah diangkat, dan lembaran-lembaran telah kering” (HR At-Tirmidzi, dan beliau berkata : Hasan shahih, dan hadits ini adalah shahih menurut para pakar hadits)Dalam riwayat yang lain : “Jagalah Allah maka engkau akan mendapati Allah di hadapanmu, kenalilah Allah tatkala engkau dalam kelapangan maka niscaya Allah akan mengenalmu tatkala engkau dalam kesulitan. Dan ketahuilah bahwasanya apa yang luput darimu tidak akan mengenaimu, dan apa yang menimpamu maka tidak akan terluput darimu. Ketahuilah bahwasanya kemenangan bersama kesabaran, dan jalan keluar bersama penderitaan, dan kemudahan bersama kesulitan”.Ulama berkata : Hadits ini mengandung wasiat-wasiat yang agung dan kaidah-kaidah tentang perkara terpenting dari agama ini, sampai-sampai sebagian ulama berkata : “Aku merenungkan hadits ini maka menakjubkan aku, hampir-hampir aku tidak sadar, maka sungguh sangat disesalkan akan kebodohan tentang hadits ini dan sedikitnya pemahaman tentang maknanya”Kaum muslimin sekalian, “menjaga Allah” adalah dengan menjaga aturan-aturan Allah, dan beriltizam melaksanakan hak-hakNya, serta berhenti pada perintahNya dengan menjalankannya, serta menjauhi laranganNya. Allah jalla wa alaa berfirman :هَذَا مَا تُوعَدُونَ لِكُلِّ أَوَّابٍ حَفِيظٍ (٣٢)مَنْ خَشِيَ الرَّحْمَنَ بِالْغَيْبِ وَجَاءَ بِقَلْبٍ مُنِيبٍ (٣٣)  Inilah yang dijanjikan kepadamu, (yaitu) kepada Setiap hamba yang selalu kembali (kepada Allah) lagi memelihara (semua peraturan-peraturan-Nya).  (yaitu) orang yang takut kepada Tuhan yang Maha Pemurah sedang Dia tidak kelihatan (olehnya) dan dia datang dengan hati yang bertaubat (QS : Qoof : 32-33)Suatu penjagaan yang mencegah anggota tubuh dari ketergelinciran, dan menjaga indera dari kesalahan. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :“Barangsiapa yang menjamin bagiku apa yang ada diantara dua tulang dagunya dan apa yang ada diantara dua kakinya maka aku menjamin baginya surga” (HR Al-Bukhari)Penjagaan yang mengendalikan syahwat sehingga tidak membawa masyarakat dan individu kepada kesesatan atau menjadikan mereka condong menjauh dari pondasi-pondasi nilai dan akhlak yang mulia. Allah jalla wa ‘ala berfirman :وَالْحَافِظِينَ فُرُوجَهُمْ وَالْحَافِظَاتِ وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا Dan laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar. (QS Al-Ahzaab : 35)Penjagaan yang mencakup sikap pemerintah dan yang diperintah dalam menegakkan apa yang Allah wajibkan terhadap mereka berupa memperhatikan hak-hak, menunaikan amanah, serta menunaikan janji. Suatu penjagaan yang mencakup penerapan orang-orang terhadap Islam dengan penerapan yang universal dalam segala bidang kehidupan tanpa disertai takwil atau hawa nafsu.Allah berfirman :يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan (QS Al-Baqoroh : 208)Maka barangsiapa yang merealisasikan “menjaga Allah” –dengan makna yang lalu- maka akan terwujudkan baginya penjagaan Allah kepadanya dan perhatianNya. Penjagaan dari Allah yang mencakup agama dan dunianya pada seluruh perkataannya dalam kehidupannya maupun setelah wafatnya. Penjagaan Allah yagn akan mewujudkan baginya berbagai macam kemaslahatannya dan menolak berbagai macam kemudhorotan darinya.Dan makna ini telah ditekankan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pada wasiat ini maka beliau berkata “Jagalah Allah maka niscaya engkau akan mendapatiNya di hadapanmu”.Maka barangsiapa yang menjaga aturan-aturan Allah dan memperhatikan hak-hakNya maka Allah akan meliputinya dengan penjagaanNya, Allah akan mengnugrahkan kepadanya taufiqNya dan petunjukNya, dan Allah akan menolongnya dan memperkuatnya, berlaku bagi individu maupun kelompok.إِنَّ اللَّهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَوْا وَالَّذِينَ هُمْ مُحْسِنُونَ (١٢٨)Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan. (QS An-Nahl : 128)Qotadah radhiallahu ‘anhu berkata :”Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah maka Allah akan bersamanya, dan barangsiapa yang Allah bersamanya maka ia telah bersama kelompok yang tidak akan terkalahkan, dan penjaga yang tidak akan tidur, serta pemberi petunjuk yang tidak akan tersesat”Sebagian salaf mengirim surat kepada saudaranya : “Amma ba’du, jika Allah bersamamu maka engkau takut kepada siapa?, dan jika Allah melawanmu maka siapa yang bisa kau harapkan?”Maka demikianlah hendaknya kondisi masyarakat, jika Allah bersama kita, maka siapakah yang kita takut?, dan jika Allah melawan kita maka siapakah yang bisa kita harapkan?. Dengan demikian wajib bagi kita untuk mentadaburi firman Allah فَفِرُّوا إِلَى اللَّهِMaka segeralah kembali kepada (mentaati) Allah (QS Adz-Dzariyat : 50)Maka segeralah lari menuju Allah dengan menjalankan ketataan kepadaNya dan melazimi sunnah nabiNya SAW.Kaum muslimin sekalian, sesungguhnya umat pada jajaran individu dan masyarakat dengan beragam kedudukan dan pertanggungjawabannya, jika menjaga syari’at Allah dan tunduk kepada perintahNya dalam segala urusan, bersih dari hawa nafsu dan syahwat hati, dan kondisi politiknya dan perekonomiannya serta sosial kemasyarakatannya dan yang lainnya dibangun diatas manhaj Allah dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, jika umat menjadikan Islam yang murni sebagai pedoman yang sempurna dalam seluruh kehidupannya, dalam segala perkembangannya dan tingkatan-tingkatannya, pada seluruh hubungan dan interaksinya dalam segala pergerakannya maupun diamnya, maka tatkala itu terealisasikan bagi umat penjagaan Allah dari segala keburukan dan kesulitan, dari segala krisis dan penderitaan yang dihadapinya. Dan akan terwujudkan tatkala itu keamanan, ketenteraman, kejayaan dan kemenangan. Bukankah Allah berfirman –dan janji Allah adalah pasti- :الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَئِكَ لَهُمُ الأمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ (٨٢)Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka Itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS Al-An’aam : 82)Sesungguhnya umat ini jika memimpin dirinya dengan syari’at Allah dan sunnah RasulNya shallallahu ‘alaihi wasallam, dan hal ini mengatur arahan dan tujuannya serta memimpin pergerakannya, maka akan terwujudkan bagi umat kemanan dengan seluruh pendukungnya dengan berbagai bentuknya, keamanan dalam politik, perekonomian, dan sosial kemasyarakatan.Akan tetapi manakah orang-orang yang merenungkan?, manakah mereka yang memikirkan?, manakah mereka yang membaca sejarah umat Muhammad pada masa-masa yang silam?Kaum muslimin sekalian, sesungguhnya umat ini, jika ditimpa dengan ujian dan berat dalam menghadapi cobaan, dan umat menjadi takut maka hilanglah keamanan, umat menjadi rendah maka hilanglah kejayaan, umat menjadi terbelakang maka hilanglah penguasaan dan ketenangan –sebagaimana kondisi umat saat ini-, maka umat tidak akan mendapatkan jalan keluar hingga umat menjalankan syarat Allah jalla wa ‘ala yaitu menjalankan ketaatan kepada Allah dan RasulNya shallallahu ‘alaihi wasallam serta keridhoan yang sempurna dengan syari’at Islam dan mewujudkan manhaj yang diridhoi, maka tatkala itu akan hilanglah dari umat ini kerusakan dan keterpurukan, dan akan sirna ketakutan dan kegelisahan serta kegoncangan. Dan tidak ada kekuatan apapun yang akan bisa menghadangi kekuatan umat ini. Lihatlah kembali kepada sejarah para khulafaur rasyidin dan juga sejarah kaum muslimin di masa semisal Umar bin Abdil Aziz radhiallahu ‘anhumAllah jalla wa ‘alaa berfirman kepada umat ini seluruhnya dari awalnya hingga akhirnya :فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلا يَضِلُّ وَلا يَشْقَى (١٢٣)وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى (١٢٤)Barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Dan Barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, Maka Sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam Keadaan buta”. (QS Toha : 123-124)Umat Islam di manapun berada, sesungguhnya janji Allah terus tegak meski zaman silih berganti dan perubahan-perubahan kondisi jika syarat yang disebutkan terpenuhi. Akan tetapi wajib bagi seluruh kaum muslimin, bagi individu sebelum masyarakat, bagi rakyat sebelum penguasa agar kembali instropeksi diri, untuk memeriksa kondisi mereka, untuk memandang kehidupan mereka, apakah mereka dalam kondisi yang sesuai dengan yang diharapkan dan diridhoi dari metode Allah dan manhaj RasulNya SAW?. Maka tatkala itu akan nampak hasilnya pada orang yang berakal dalam jawaban yang benar.Ibnu Katsir rahimahullah menyebutkan pada peristiwa tahun 463 Hijriyah, beliau berkata : “Datanglah raja Romawi dalam pasukan yang tidak terhingga jumlahnya seperti gunung-gunung, jumlah yang sangat banyak dan perkumpulan yang sangat besar, dan diantara tekadnya adalah hendak mencabut Islam dan pemeluknya dari akarnya. Maka merekapun bertemu dengan pasukan kaum muslimin yang jumlahnya sekitar 20 ribu, dan pasukan muslimin takut karena begitu banyaknya pasukan musyrikin. Maka sang Faqih Abu Nashr Muhammad bin Abdil Malik Al-Bukhari mengarahkan agar waktu pertempuran dilaksanakan pada hari jum’at setelah waktu zawal (dzuhur) tatkala para khothib berdoa bagi para mujahidin. Maka tatkala bertemu dua pasukan tersebu, turunlah pemimpin kaum muslimin dari kudanya, lalu sujud kepada Allah azza wajalla dan berdoa kepada Allah dan memohon kemenangan dariNya, maka Allahpun menurunkan pertolonganNya kepada kaum muslimin, dan Allah menganugerahkan kepada mereka pundak-pundak kaum musyrikin. Maka tatkala itu adalah kemenangan yang kuat dan besar”Namun jika umat dalam pertikaian, terkotak-kotak dan tercerai berai maka cukuplah menunjukan bahwa mereka jauh dari manhaj Allah, jauh dari penerapan al-Qur’an, jauh dari mengikuti jalan pemimpin para nabi dan rasul, lalu dari manakah pertolongan?, maka keberuntungan?, mana kemenangan?, mana keamanan?إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ (٧)Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. (QS Muhammad : 7)Semoga Allah memberkahi kita dalam al-Qur’an dan sunnah, aku menyampaikan perkataanku ini, dan aku memohon ampunan kepada Allah bagiku dan bagi kalian dari seluruh dosa, maka mohonlah ampunan dariNya sesungguhnya Ia adalah maha pengampun lagi maha penyayang.Khutbah Kedua :Aku memuji Robku dan aku bersyukur kepadaNya, aku bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan kecuali Allah semata tidak ada sekutu bagiNya. Dan aku bersaksi bahwasanya Nabi kita Muhammad adalah hambaNya dan rasulNya, ya Allah curahkanlah shalawat, salam, dan keberkahan kepadanya dan kepada keluarganya serta para sahabatnya.Kaum muslimin sekalian, sesungguhnya bulan Sya’ban adalah bulan yang terlalaikan di dalamnya beberapa ketaatan, maka hendaknya kita meneladani Rasul kita shallallahu ‘alaihi wasallam, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Usamah bin Zaid, beliau berkata :Aku berkata : “Wahai Rasulullah, aku tidak melihat engkau berpuasa pada bulan manapun sebagaimana engkau berpuasa di bulan Sya’ban”.Nabi berkata, ذلك شهر يغفل الناس عنه بين رجب ورمضان وهو شهر ترفع فيه الأعمال إلى رب العالمين فأحب أن يرفع عملي وأنا صائم“Itu adalah bulan yang orang-orang lalai darinya, bulan antara Rojab dan Ramadhan, ia adalah bulan yang diangkat amalan-amalan kepada Robbul ‘alamin, maka aku suka jika amalanku diangkat dan aku dalam kondisi berpuasa” (HR An-Nasaai dengan sanad yang hasan)Dan dari Aisyah semoga Allah meridloinya dan meridloi ayahnya beliau berkata : لم يكن النبي صلى الله عليه وسلم يصوم شهرا أكثر من شعبان فإنه كان يصوم شعبان كله“Tidaklah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berpuasa pada suatu bulanpun sebagaimana beliau berpuasa pada bulan Sya’ban, beliau berpuasa bulan Sya’ban sepenuhnya” (HR Al-Bukhari).Dalam riwayat Muslim : كان يصوم شعبان إلا قليا“Beliau berpuasa seluruh hari bulan Sya’ban, kecuali hanya sedikit” (HR Muslim)Para salaf dahulu memperbanyak tilawah Al-Qur’an pada bulan Sya’ban. Anas berkata : “Jika telah masuk bulan Sya’ban, maka kaum muslimin menuju kepada mushaf-mushaf”Salamah bin Kuhail berkata : كان يقال : شهر شعبان شهر القُرَّاء“Bulan Sya’ban disebut dengan bulan para qori’ (pembaca Al-Qur’an)”Jika telah masuk bulan Sya’ban, maka Habib bin Abi Tsabit berkata : “Ini adalah bulannya para pembaca al-Qur’an”. Jika masuk bulan Sya’ban maka ‘Amr bin Qois menutup kedainya lalu mengonsentrasikan waktu untuk membaca Al-Qur’an”    Adapun mengkhususkan tengah bulan Sya’ban dengan puasa dan sholat malam maka tidak valid dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sebagaimana disebutkan oleh para peneliti. Dan ketaatan yang tidak valid datangnya dari Nabi SAW maka mengamalkannya adalah bid’ah yang mungkar, tidak boleh bagi seorang muslim untuk menyembah Allah dengannya. Karena diantara hal yang memberikan kemudhorotan kepada umat Islam adalah tersebarnya bid’ah-bid’ah yang tidak ada dalilnya dari al-Qur’an maupun sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.Penerjemah: Abu Abdil Muhsin Firandawww.firanda.com
Khutbah Jum’at Masjid Nabawi 4/8/1436 HOleh : Asy-Syaikh Husain Alu Asy-Syaikh hafizohullohKhutbah Pertama :Segala puji bagi Allah penolong orang-orang yang shalih, dan aku bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak disembah melainkan Allah Tuhan Yang Maha Benar dan Maha Menjelaskan. Dan aku bersaksi bahwasanya nabi kita dan pemimpin kita Muhammad adalah hambaNya dan RasulNya, pemimpin seluruh umat manusia. Ya Allah curahkanlah shalawat dan salam serta keberkahan kepadanya dan kepada keluarganya serta seluruh sahabatnya.Amma ba’du, wahai kaum muslimin sekalian, aku washiatkan kepada kalian dan kepada diriku untuk bertakwa kepada Allah, karena takwa adalah landasan kebaikan dan keberhasilan, serta asas kemenangan dan keberuntungan. Kaum muslimin sekalian, aum muslimin saat ini menghadapi berbagai macam tantangan dan fitnah-fitnah yang mencekam serta cobaan-cobaan yang berat. Para cendekia berusaha melihat ke depan mencari solusi yang bisa menyelamatkan umat dari kondisinya saat ini. Kaum terpelajar menyodorkan pandangan mereka, para pakar politik mengajukan solusi, serta para penulis yang mengajukan pandangan-pandangan mereka, berbagai macam analisa muncul karena berbagai sebab, serta beragam pandangan untuk mencari solusi dan jalan keluar.Telah tiba saatnya bagi umat seluruhnya baik masyarakat maupun individu, baik para penguasanya maupun rakyatnya untuk bangun dari tidur mereka dan kembali kepada sumber kekuatan mereka serta pondasi kebaikan dan kemenangan mereka, setelah mereka mencoba serangkaian eksperimen yang didasarkan kepada  rekayasa manusia serta produk-produk pemikiran asing yang tidak mendatangkan kecuali kehinaan, kerendahan, kelemahan, keterbelakangan, kehancuran, serta perpecahan dan tercerai berai.Sungguh telah tiba saatnya bagi kaum muslimin untuk kembali kepada sumber kemuliaan mereka dan landasan kejayaan mereka. Telah tiba saatnya bagi mereka untuk segera meraih solusi yang tepat untuk menghadapi problematika mereka, yang bertolak dari prinsip-prinsip agama mereka dan asas aqidah mereka.    Sesungguhnya umat ini tidak akan mendapatkan solusi yang tepat untuk penyakit-penyakit mereka, tidak akan meraih jalan keluar dari krisis dan problematika yang mereka hadapi kecuali dengan pemahaman yang benar dari Kitabullah dan sunnah Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.Saudara-saudaraku seiman, simaklah sebuah wasiat yang agung yang bersumber dari pengajar umat manusia dan pemimpin seluruh makhluk, yaitu Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau mengarahkan kepada umat ini sebuah piagam yang abadi, dengannya maka baiklah kehidupan umat ini, dengannya masyarakat menjadi bahagia, negeri menjadi berkembang dengan menerapkannya. Wasiat ini harus senantiasa di depan mata kita, dan hendaknya penerapannya merupakan penentu seluruh tindakan dan kegiatan kita, yang mengarahkan gerakan kita, dan meluruskan kehendak kita dan arahan kita. Sebuah wasiat yang tidak berpihak kepada kepentingan golongan, tidak bertolak dari fanatisme kesukuan atau pandangan sesaat. Akan tetapi ini adalah wasiat yang muncul dari orang yang tidak berucap dari hawa nafsu, dan tidak keluar kecuali dari wayhu yang diwahyukan kepadanya. Ini adalah piagam Nabi Muhammad, wasiat yang bercahaya yang akan membangkitkan umat kepada kehidupan yang berkembang yang membuahkan kebaikan, kejayaan, kekuatan, kemuliaan, kemajuan, persatuan, dan keselarasan.يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu (QS Al-Anfaal : 24)Kehidupan yang memberikan kehidupan yang universal, mencakup individu dan kelompok, jiwa dan harta benda. Sesungguhnya ia adalah kehidupan yang dibangun di atas kekuatan iman yang pasti dibutuhkan dalam menghadapi krisis dan problematika. Kehidupan yang membawa umat kepada kebangkitan dengan maknanya yang paling universal dan yang paling tepat, serta dalam bentuk yang paling spesial. Yang akan mewujudkan kebahagiaan dan penuh dengan keamanan, keselamatan, kebaikan, perkembangan, dan kemajuan dalam seluruh sisi kehidupan.    Kaum muslimin sekalian, sesungguhnya kejayaan telah terjamin dengan mewujudkan wasiat ini, kemuliaan di dunia dan akhirat terjamin dengan menerapkan poin-poin wasiat tersebut. Allah jalla wa ala berfirman :فَمَنِ اتَّقَى وَأَصْلَحَ فَلا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلا هُمْ يَحْزَنُونَ Maka Barangsiapa yang bertakwa dan Mengadakan perbaikan, tidaklah ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (QS Al-A’raf : 35)Individu-individu akan terjerumus dalam kerugian jika tidak menerapkan wasiat tersebut, demikian juga masyarakat yang jauh dari kandungan wasiat ini akan mengarah kepada kerusakan dan kehancuran. Ini adalah wasiat yang menghubungkan seorang muslim dengan landasan agamanya seiring dengan hubungannya dengan produk-produk masa kini. Sebuah piagam dari Muhammad SAW, yang mewujudkannya adalah penjamin satu-satunya dalam menghadapi tantangan-tantangan yang dihadapi oleh umat Islam, yang menargetkan kehancuran nilai-nilai luhurnya, potensinya, dan karakteristiknya. Umar Al-Faruq radhiallahu ‘anhu berkata :إِنَّمَا سَبَقْتُمُ النَّاسَ بِنُصْرَةِ هَذَا الدِّيْنِ“Sesungguhnya kalian mengungguli umat yang lain karena kalian menolong agama ini”Marilah kita bersama –semoga Allah menjaga kalian- mendengarkan wasiat yang agung dan piagam yang abadi, dengan pendengaran yang disertai ketundukkan, pelaksanaan, dan pengamalan terhadap wasiat tersebut dengan penuh ketulusan dan keikhlasan. Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma berkata ;“Aku di belakang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pada suatu hari, maka beliau berkata kepadaku, “Wahai sang pemuda, sungguh aku akan mengajarkan kepadamu beberapa kalimat. Jagalah Allah maka Allah akan menjagamu, jagalah Allah maka nisacaya engkau mendapatiNya di hadapanmu. Jika engkau memohon maka mohonlah kepada Allah, dan jika engkau meminta pertolongan maka mintalah kepada Allah. Ketahuilah seandainya umat manusia bersatu padu untuk memberi suatu kemanfaatan kepadamu maka mereka tidak akan bisa memberi kemanfaatan kepadamu kecuali yang telah ditetapkan oleh Allah bagimu. Dan jika mereka bersatu untuk memberi suatu kemudhorotan kepadamu maka mereka tidak akan memberi kemudhorotan kepadamu kecuali yang telah ditetapkan oleh Allah akan menimpamu. Pena-pena telah diangkat, dan lembaran-lembaran telah kering” (HR At-Tirmidzi, dan beliau berkata : Hasan shahih, dan hadits ini adalah shahih menurut para pakar hadits)Dalam riwayat yang lain : “Jagalah Allah maka engkau akan mendapati Allah di hadapanmu, kenalilah Allah tatkala engkau dalam kelapangan maka niscaya Allah akan mengenalmu tatkala engkau dalam kesulitan. Dan ketahuilah bahwasanya apa yang luput darimu tidak akan mengenaimu, dan apa yang menimpamu maka tidak akan terluput darimu. Ketahuilah bahwasanya kemenangan bersama kesabaran, dan jalan keluar bersama penderitaan, dan kemudahan bersama kesulitan”.Ulama berkata : Hadits ini mengandung wasiat-wasiat yang agung dan kaidah-kaidah tentang perkara terpenting dari agama ini, sampai-sampai sebagian ulama berkata : “Aku merenungkan hadits ini maka menakjubkan aku, hampir-hampir aku tidak sadar, maka sungguh sangat disesalkan akan kebodohan tentang hadits ini dan sedikitnya pemahaman tentang maknanya”Kaum muslimin sekalian, “menjaga Allah” adalah dengan menjaga aturan-aturan Allah, dan beriltizam melaksanakan hak-hakNya, serta berhenti pada perintahNya dengan menjalankannya, serta menjauhi laranganNya. Allah jalla wa alaa berfirman :هَذَا مَا تُوعَدُونَ لِكُلِّ أَوَّابٍ حَفِيظٍ (٣٢)مَنْ خَشِيَ الرَّحْمَنَ بِالْغَيْبِ وَجَاءَ بِقَلْبٍ مُنِيبٍ (٣٣)  Inilah yang dijanjikan kepadamu, (yaitu) kepada Setiap hamba yang selalu kembali (kepada Allah) lagi memelihara (semua peraturan-peraturan-Nya).  (yaitu) orang yang takut kepada Tuhan yang Maha Pemurah sedang Dia tidak kelihatan (olehnya) dan dia datang dengan hati yang bertaubat (QS : Qoof : 32-33)Suatu penjagaan yang mencegah anggota tubuh dari ketergelinciran, dan menjaga indera dari kesalahan. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :“Barangsiapa yang menjamin bagiku apa yang ada diantara dua tulang dagunya dan apa yang ada diantara dua kakinya maka aku menjamin baginya surga” (HR Al-Bukhari)Penjagaan yang mengendalikan syahwat sehingga tidak membawa masyarakat dan individu kepada kesesatan atau menjadikan mereka condong menjauh dari pondasi-pondasi nilai dan akhlak yang mulia. Allah jalla wa ‘ala berfirman :وَالْحَافِظِينَ فُرُوجَهُمْ وَالْحَافِظَاتِ وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا Dan laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar. (QS Al-Ahzaab : 35)Penjagaan yang mencakup sikap pemerintah dan yang diperintah dalam menegakkan apa yang Allah wajibkan terhadap mereka berupa memperhatikan hak-hak, menunaikan amanah, serta menunaikan janji. Suatu penjagaan yang mencakup penerapan orang-orang terhadap Islam dengan penerapan yang universal dalam segala bidang kehidupan tanpa disertai takwil atau hawa nafsu.Allah berfirman :يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan (QS Al-Baqoroh : 208)Maka barangsiapa yang merealisasikan “menjaga Allah” –dengan makna yang lalu- maka akan terwujudkan baginya penjagaan Allah kepadanya dan perhatianNya. Penjagaan dari Allah yang mencakup agama dan dunianya pada seluruh perkataannya dalam kehidupannya maupun setelah wafatnya. Penjagaan Allah yagn akan mewujudkan baginya berbagai macam kemaslahatannya dan menolak berbagai macam kemudhorotan darinya.Dan makna ini telah ditekankan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pada wasiat ini maka beliau berkata “Jagalah Allah maka niscaya engkau akan mendapatiNya di hadapanmu”.Maka barangsiapa yang menjaga aturan-aturan Allah dan memperhatikan hak-hakNya maka Allah akan meliputinya dengan penjagaanNya, Allah akan mengnugrahkan kepadanya taufiqNya dan petunjukNya, dan Allah akan menolongnya dan memperkuatnya, berlaku bagi individu maupun kelompok.إِنَّ اللَّهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَوْا وَالَّذِينَ هُمْ مُحْسِنُونَ (١٢٨)Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan. (QS An-Nahl : 128)Qotadah radhiallahu ‘anhu berkata :”Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah maka Allah akan bersamanya, dan barangsiapa yang Allah bersamanya maka ia telah bersama kelompok yang tidak akan terkalahkan, dan penjaga yang tidak akan tidur, serta pemberi petunjuk yang tidak akan tersesat”Sebagian salaf mengirim surat kepada saudaranya : “Amma ba’du, jika Allah bersamamu maka engkau takut kepada siapa?, dan jika Allah melawanmu maka siapa yang bisa kau harapkan?”Maka demikianlah hendaknya kondisi masyarakat, jika Allah bersama kita, maka siapakah yang kita takut?, dan jika Allah melawan kita maka siapakah yang bisa kita harapkan?. Dengan demikian wajib bagi kita untuk mentadaburi firman Allah فَفِرُّوا إِلَى اللَّهِMaka segeralah kembali kepada (mentaati) Allah (QS Adz-Dzariyat : 50)Maka segeralah lari menuju Allah dengan menjalankan ketataan kepadaNya dan melazimi sunnah nabiNya SAW.Kaum muslimin sekalian, sesungguhnya umat pada jajaran individu dan masyarakat dengan beragam kedudukan dan pertanggungjawabannya, jika menjaga syari’at Allah dan tunduk kepada perintahNya dalam segala urusan, bersih dari hawa nafsu dan syahwat hati, dan kondisi politiknya dan perekonomiannya serta sosial kemasyarakatannya dan yang lainnya dibangun diatas manhaj Allah dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, jika umat menjadikan Islam yang murni sebagai pedoman yang sempurna dalam seluruh kehidupannya, dalam segala perkembangannya dan tingkatan-tingkatannya, pada seluruh hubungan dan interaksinya dalam segala pergerakannya maupun diamnya, maka tatkala itu terealisasikan bagi umat penjagaan Allah dari segala keburukan dan kesulitan, dari segala krisis dan penderitaan yang dihadapinya. Dan akan terwujudkan tatkala itu keamanan, ketenteraman, kejayaan dan kemenangan. Bukankah Allah berfirman –dan janji Allah adalah pasti- :الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَئِكَ لَهُمُ الأمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ (٨٢)Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka Itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS Al-An’aam : 82)Sesungguhnya umat ini jika memimpin dirinya dengan syari’at Allah dan sunnah RasulNya shallallahu ‘alaihi wasallam, dan hal ini mengatur arahan dan tujuannya serta memimpin pergerakannya, maka akan terwujudkan bagi umat kemanan dengan seluruh pendukungnya dengan berbagai bentuknya, keamanan dalam politik, perekonomian, dan sosial kemasyarakatan.Akan tetapi manakah orang-orang yang merenungkan?, manakah mereka yang memikirkan?, manakah mereka yang membaca sejarah umat Muhammad pada masa-masa yang silam?Kaum muslimin sekalian, sesungguhnya umat ini, jika ditimpa dengan ujian dan berat dalam menghadapi cobaan, dan umat menjadi takut maka hilanglah keamanan, umat menjadi rendah maka hilanglah kejayaan, umat menjadi terbelakang maka hilanglah penguasaan dan ketenangan –sebagaimana kondisi umat saat ini-, maka umat tidak akan mendapatkan jalan keluar hingga umat menjalankan syarat Allah jalla wa ‘ala yaitu menjalankan ketaatan kepada Allah dan RasulNya shallallahu ‘alaihi wasallam serta keridhoan yang sempurna dengan syari’at Islam dan mewujudkan manhaj yang diridhoi, maka tatkala itu akan hilanglah dari umat ini kerusakan dan keterpurukan, dan akan sirna ketakutan dan kegelisahan serta kegoncangan. Dan tidak ada kekuatan apapun yang akan bisa menghadangi kekuatan umat ini. Lihatlah kembali kepada sejarah para khulafaur rasyidin dan juga sejarah kaum muslimin di masa semisal Umar bin Abdil Aziz radhiallahu ‘anhumAllah jalla wa ‘alaa berfirman kepada umat ini seluruhnya dari awalnya hingga akhirnya :فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلا يَضِلُّ وَلا يَشْقَى (١٢٣)وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى (١٢٤)Barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Dan Barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, Maka Sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam Keadaan buta”. (QS Toha : 123-124)Umat Islam di manapun berada, sesungguhnya janji Allah terus tegak meski zaman silih berganti dan perubahan-perubahan kondisi jika syarat yang disebutkan terpenuhi. Akan tetapi wajib bagi seluruh kaum muslimin, bagi individu sebelum masyarakat, bagi rakyat sebelum penguasa agar kembali instropeksi diri, untuk memeriksa kondisi mereka, untuk memandang kehidupan mereka, apakah mereka dalam kondisi yang sesuai dengan yang diharapkan dan diridhoi dari metode Allah dan manhaj RasulNya SAW?. Maka tatkala itu akan nampak hasilnya pada orang yang berakal dalam jawaban yang benar.Ibnu Katsir rahimahullah menyebutkan pada peristiwa tahun 463 Hijriyah, beliau berkata : “Datanglah raja Romawi dalam pasukan yang tidak terhingga jumlahnya seperti gunung-gunung, jumlah yang sangat banyak dan perkumpulan yang sangat besar, dan diantara tekadnya adalah hendak mencabut Islam dan pemeluknya dari akarnya. Maka merekapun bertemu dengan pasukan kaum muslimin yang jumlahnya sekitar 20 ribu, dan pasukan muslimin takut karena begitu banyaknya pasukan musyrikin. Maka sang Faqih Abu Nashr Muhammad bin Abdil Malik Al-Bukhari mengarahkan agar waktu pertempuran dilaksanakan pada hari jum’at setelah waktu zawal (dzuhur) tatkala para khothib berdoa bagi para mujahidin. Maka tatkala bertemu dua pasukan tersebu, turunlah pemimpin kaum muslimin dari kudanya, lalu sujud kepada Allah azza wajalla dan berdoa kepada Allah dan memohon kemenangan dariNya, maka Allahpun menurunkan pertolonganNya kepada kaum muslimin, dan Allah menganugerahkan kepada mereka pundak-pundak kaum musyrikin. Maka tatkala itu adalah kemenangan yang kuat dan besar”Namun jika umat dalam pertikaian, terkotak-kotak dan tercerai berai maka cukuplah menunjukan bahwa mereka jauh dari manhaj Allah, jauh dari penerapan al-Qur’an, jauh dari mengikuti jalan pemimpin para nabi dan rasul, lalu dari manakah pertolongan?, maka keberuntungan?, mana kemenangan?, mana keamanan?إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ (٧)Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. (QS Muhammad : 7)Semoga Allah memberkahi kita dalam al-Qur’an dan sunnah, aku menyampaikan perkataanku ini, dan aku memohon ampunan kepada Allah bagiku dan bagi kalian dari seluruh dosa, maka mohonlah ampunan dariNya sesungguhnya Ia adalah maha pengampun lagi maha penyayang.Khutbah Kedua :Aku memuji Robku dan aku bersyukur kepadaNya, aku bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan kecuali Allah semata tidak ada sekutu bagiNya. Dan aku bersaksi bahwasanya Nabi kita Muhammad adalah hambaNya dan rasulNya, ya Allah curahkanlah shalawat, salam, dan keberkahan kepadanya dan kepada keluarganya serta para sahabatnya.Kaum muslimin sekalian, sesungguhnya bulan Sya’ban adalah bulan yang terlalaikan di dalamnya beberapa ketaatan, maka hendaknya kita meneladani Rasul kita shallallahu ‘alaihi wasallam, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Usamah bin Zaid, beliau berkata :Aku berkata : “Wahai Rasulullah, aku tidak melihat engkau berpuasa pada bulan manapun sebagaimana engkau berpuasa di bulan Sya’ban”.Nabi berkata, ذلك شهر يغفل الناس عنه بين رجب ورمضان وهو شهر ترفع فيه الأعمال إلى رب العالمين فأحب أن يرفع عملي وأنا صائم“Itu adalah bulan yang orang-orang lalai darinya, bulan antara Rojab dan Ramadhan, ia adalah bulan yang diangkat amalan-amalan kepada Robbul ‘alamin, maka aku suka jika amalanku diangkat dan aku dalam kondisi berpuasa” (HR An-Nasaai dengan sanad yang hasan)Dan dari Aisyah semoga Allah meridloinya dan meridloi ayahnya beliau berkata : لم يكن النبي صلى الله عليه وسلم يصوم شهرا أكثر من شعبان فإنه كان يصوم شعبان كله“Tidaklah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berpuasa pada suatu bulanpun sebagaimana beliau berpuasa pada bulan Sya’ban, beliau berpuasa bulan Sya’ban sepenuhnya” (HR Al-Bukhari).Dalam riwayat Muslim : كان يصوم شعبان إلا قليا“Beliau berpuasa seluruh hari bulan Sya’ban, kecuali hanya sedikit” (HR Muslim)Para salaf dahulu memperbanyak tilawah Al-Qur’an pada bulan Sya’ban. Anas berkata : “Jika telah masuk bulan Sya’ban, maka kaum muslimin menuju kepada mushaf-mushaf”Salamah bin Kuhail berkata : كان يقال : شهر شعبان شهر القُرَّاء“Bulan Sya’ban disebut dengan bulan para qori’ (pembaca Al-Qur’an)”Jika telah masuk bulan Sya’ban, maka Habib bin Abi Tsabit berkata : “Ini adalah bulannya para pembaca al-Qur’an”. Jika masuk bulan Sya’ban maka ‘Amr bin Qois menutup kedainya lalu mengonsentrasikan waktu untuk membaca Al-Qur’an”    Adapun mengkhususkan tengah bulan Sya’ban dengan puasa dan sholat malam maka tidak valid dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sebagaimana disebutkan oleh para peneliti. Dan ketaatan yang tidak valid datangnya dari Nabi SAW maka mengamalkannya adalah bid’ah yang mungkar, tidak boleh bagi seorang muslim untuk menyembah Allah dengannya. Karena diantara hal yang memberikan kemudhorotan kepada umat Islam adalah tersebarnya bid’ah-bid’ah yang tidak ada dalilnya dari al-Qur’an maupun sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.Penerjemah: Abu Abdil Muhsin Firandawww.firanda.com


Khutbah Jum’at Masjid Nabawi 4/8/1436 HOleh : Asy-Syaikh Husain Alu Asy-Syaikh hafizohullohKhutbah Pertama :Segala puji bagi Allah penolong orang-orang yang shalih, dan aku bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak disembah melainkan Allah Tuhan Yang Maha Benar dan Maha Menjelaskan. Dan aku bersaksi bahwasanya nabi kita dan pemimpin kita Muhammad adalah hambaNya dan RasulNya, pemimpin seluruh umat manusia. Ya Allah curahkanlah shalawat dan salam serta keberkahan kepadanya dan kepada keluarganya serta seluruh sahabatnya.Amma ba’du, wahai kaum muslimin sekalian, aku washiatkan kepada kalian dan kepada diriku untuk bertakwa kepada Allah, karena takwa adalah landasan kebaikan dan keberhasilan, serta asas kemenangan dan keberuntungan. Kaum muslimin sekalian, aum muslimin saat ini menghadapi berbagai macam tantangan dan fitnah-fitnah yang mencekam serta cobaan-cobaan yang berat. Para cendekia berusaha melihat ke depan mencari solusi yang bisa menyelamatkan umat dari kondisinya saat ini. Kaum terpelajar menyodorkan pandangan mereka, para pakar politik mengajukan solusi, serta para penulis yang mengajukan pandangan-pandangan mereka, berbagai macam analisa muncul karena berbagai sebab, serta beragam pandangan untuk mencari solusi dan jalan keluar.Telah tiba saatnya bagi umat seluruhnya baik masyarakat maupun individu, baik para penguasanya maupun rakyatnya untuk bangun dari tidur mereka dan kembali kepada sumber kekuatan mereka serta pondasi kebaikan dan kemenangan mereka, setelah mereka mencoba serangkaian eksperimen yang didasarkan kepada  rekayasa manusia serta produk-produk pemikiran asing yang tidak mendatangkan kecuali kehinaan, kerendahan, kelemahan, keterbelakangan, kehancuran, serta perpecahan dan tercerai berai.Sungguh telah tiba saatnya bagi kaum muslimin untuk kembali kepada sumber kemuliaan mereka dan landasan kejayaan mereka. Telah tiba saatnya bagi mereka untuk segera meraih solusi yang tepat untuk menghadapi problematika mereka, yang bertolak dari prinsip-prinsip agama mereka dan asas aqidah mereka.    Sesungguhnya umat ini tidak akan mendapatkan solusi yang tepat untuk penyakit-penyakit mereka, tidak akan meraih jalan keluar dari krisis dan problematika yang mereka hadapi kecuali dengan pemahaman yang benar dari Kitabullah dan sunnah Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.Saudara-saudaraku seiman, simaklah sebuah wasiat yang agung yang bersumber dari pengajar umat manusia dan pemimpin seluruh makhluk, yaitu Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau mengarahkan kepada umat ini sebuah piagam yang abadi, dengannya maka baiklah kehidupan umat ini, dengannya masyarakat menjadi bahagia, negeri menjadi berkembang dengan menerapkannya. Wasiat ini harus senantiasa di depan mata kita, dan hendaknya penerapannya merupakan penentu seluruh tindakan dan kegiatan kita, yang mengarahkan gerakan kita, dan meluruskan kehendak kita dan arahan kita. Sebuah wasiat yang tidak berpihak kepada kepentingan golongan, tidak bertolak dari fanatisme kesukuan atau pandangan sesaat. Akan tetapi ini adalah wasiat yang muncul dari orang yang tidak berucap dari hawa nafsu, dan tidak keluar kecuali dari wayhu yang diwahyukan kepadanya. Ini adalah piagam Nabi Muhammad, wasiat yang bercahaya yang akan membangkitkan umat kepada kehidupan yang berkembang yang membuahkan kebaikan, kejayaan, kekuatan, kemuliaan, kemajuan, persatuan, dan keselarasan.يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu (QS Al-Anfaal : 24)Kehidupan yang memberikan kehidupan yang universal, mencakup individu dan kelompok, jiwa dan harta benda. Sesungguhnya ia adalah kehidupan yang dibangun di atas kekuatan iman yang pasti dibutuhkan dalam menghadapi krisis dan problematika. Kehidupan yang membawa umat kepada kebangkitan dengan maknanya yang paling universal dan yang paling tepat, serta dalam bentuk yang paling spesial. Yang akan mewujudkan kebahagiaan dan penuh dengan keamanan, keselamatan, kebaikan, perkembangan, dan kemajuan dalam seluruh sisi kehidupan.    Kaum muslimin sekalian, sesungguhnya kejayaan telah terjamin dengan mewujudkan wasiat ini, kemuliaan di dunia dan akhirat terjamin dengan menerapkan poin-poin wasiat tersebut. Allah jalla wa ala berfirman :فَمَنِ اتَّقَى وَأَصْلَحَ فَلا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلا هُمْ يَحْزَنُونَ Maka Barangsiapa yang bertakwa dan Mengadakan perbaikan, tidaklah ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (QS Al-A’raf : 35)Individu-individu akan terjerumus dalam kerugian jika tidak menerapkan wasiat tersebut, demikian juga masyarakat yang jauh dari kandungan wasiat ini akan mengarah kepada kerusakan dan kehancuran. Ini adalah wasiat yang menghubungkan seorang muslim dengan landasan agamanya seiring dengan hubungannya dengan produk-produk masa kini. Sebuah piagam dari Muhammad SAW, yang mewujudkannya adalah penjamin satu-satunya dalam menghadapi tantangan-tantangan yang dihadapi oleh umat Islam, yang menargetkan kehancuran nilai-nilai luhurnya, potensinya, dan karakteristiknya. Umar Al-Faruq radhiallahu ‘anhu berkata :إِنَّمَا سَبَقْتُمُ النَّاسَ بِنُصْرَةِ هَذَا الدِّيْنِ“Sesungguhnya kalian mengungguli umat yang lain karena kalian menolong agama ini”Marilah kita bersama –semoga Allah menjaga kalian- mendengarkan wasiat yang agung dan piagam yang abadi, dengan pendengaran yang disertai ketundukkan, pelaksanaan, dan pengamalan terhadap wasiat tersebut dengan penuh ketulusan dan keikhlasan. Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma berkata ;“Aku di belakang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pada suatu hari, maka beliau berkata kepadaku, “Wahai sang pemuda, sungguh aku akan mengajarkan kepadamu beberapa kalimat. Jagalah Allah maka Allah akan menjagamu, jagalah Allah maka nisacaya engkau mendapatiNya di hadapanmu. Jika engkau memohon maka mohonlah kepada Allah, dan jika engkau meminta pertolongan maka mintalah kepada Allah. Ketahuilah seandainya umat manusia bersatu padu untuk memberi suatu kemanfaatan kepadamu maka mereka tidak akan bisa memberi kemanfaatan kepadamu kecuali yang telah ditetapkan oleh Allah bagimu. Dan jika mereka bersatu untuk memberi suatu kemudhorotan kepadamu maka mereka tidak akan memberi kemudhorotan kepadamu kecuali yang telah ditetapkan oleh Allah akan menimpamu. Pena-pena telah diangkat, dan lembaran-lembaran telah kering” (HR At-Tirmidzi, dan beliau berkata : Hasan shahih, dan hadits ini adalah shahih menurut para pakar hadits)Dalam riwayat yang lain : “Jagalah Allah maka engkau akan mendapati Allah di hadapanmu, kenalilah Allah tatkala engkau dalam kelapangan maka niscaya Allah akan mengenalmu tatkala engkau dalam kesulitan. Dan ketahuilah bahwasanya apa yang luput darimu tidak akan mengenaimu, dan apa yang menimpamu maka tidak akan terluput darimu. Ketahuilah bahwasanya kemenangan bersama kesabaran, dan jalan keluar bersama penderitaan, dan kemudahan bersama kesulitan”.Ulama berkata : Hadits ini mengandung wasiat-wasiat yang agung dan kaidah-kaidah tentang perkara terpenting dari agama ini, sampai-sampai sebagian ulama berkata : “Aku merenungkan hadits ini maka menakjubkan aku, hampir-hampir aku tidak sadar, maka sungguh sangat disesalkan akan kebodohan tentang hadits ini dan sedikitnya pemahaman tentang maknanya”Kaum muslimin sekalian, “menjaga Allah” adalah dengan menjaga aturan-aturan Allah, dan beriltizam melaksanakan hak-hakNya, serta berhenti pada perintahNya dengan menjalankannya, serta menjauhi laranganNya. Allah jalla wa alaa berfirman :هَذَا مَا تُوعَدُونَ لِكُلِّ أَوَّابٍ حَفِيظٍ (٣٢)مَنْ خَشِيَ الرَّحْمَنَ بِالْغَيْبِ وَجَاءَ بِقَلْبٍ مُنِيبٍ (٣٣)  Inilah yang dijanjikan kepadamu, (yaitu) kepada Setiap hamba yang selalu kembali (kepada Allah) lagi memelihara (semua peraturan-peraturan-Nya).  (yaitu) orang yang takut kepada Tuhan yang Maha Pemurah sedang Dia tidak kelihatan (olehnya) dan dia datang dengan hati yang bertaubat (QS : Qoof : 32-33)Suatu penjagaan yang mencegah anggota tubuh dari ketergelinciran, dan menjaga indera dari kesalahan. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :“Barangsiapa yang menjamin bagiku apa yang ada diantara dua tulang dagunya dan apa yang ada diantara dua kakinya maka aku menjamin baginya surga” (HR Al-Bukhari)Penjagaan yang mengendalikan syahwat sehingga tidak membawa masyarakat dan individu kepada kesesatan atau menjadikan mereka condong menjauh dari pondasi-pondasi nilai dan akhlak yang mulia. Allah jalla wa ‘ala berfirman :وَالْحَافِظِينَ فُرُوجَهُمْ وَالْحَافِظَاتِ وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا Dan laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar. (QS Al-Ahzaab : 35)Penjagaan yang mencakup sikap pemerintah dan yang diperintah dalam menegakkan apa yang Allah wajibkan terhadap mereka berupa memperhatikan hak-hak, menunaikan amanah, serta menunaikan janji. Suatu penjagaan yang mencakup penerapan orang-orang terhadap Islam dengan penerapan yang universal dalam segala bidang kehidupan tanpa disertai takwil atau hawa nafsu.Allah berfirman :يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan (QS Al-Baqoroh : 208)Maka barangsiapa yang merealisasikan “menjaga Allah” –dengan makna yang lalu- maka akan terwujudkan baginya penjagaan Allah kepadanya dan perhatianNya. Penjagaan dari Allah yang mencakup agama dan dunianya pada seluruh perkataannya dalam kehidupannya maupun setelah wafatnya. Penjagaan Allah yagn akan mewujudkan baginya berbagai macam kemaslahatannya dan menolak berbagai macam kemudhorotan darinya.Dan makna ini telah ditekankan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pada wasiat ini maka beliau berkata “Jagalah Allah maka niscaya engkau akan mendapatiNya di hadapanmu”.Maka barangsiapa yang menjaga aturan-aturan Allah dan memperhatikan hak-hakNya maka Allah akan meliputinya dengan penjagaanNya, Allah akan mengnugrahkan kepadanya taufiqNya dan petunjukNya, dan Allah akan menolongnya dan memperkuatnya, berlaku bagi individu maupun kelompok.إِنَّ اللَّهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَوْا وَالَّذِينَ هُمْ مُحْسِنُونَ (١٢٨)Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan. (QS An-Nahl : 128)Qotadah radhiallahu ‘anhu berkata :”Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah maka Allah akan bersamanya, dan barangsiapa yang Allah bersamanya maka ia telah bersama kelompok yang tidak akan terkalahkan, dan penjaga yang tidak akan tidur, serta pemberi petunjuk yang tidak akan tersesat”Sebagian salaf mengirim surat kepada saudaranya : “Amma ba’du, jika Allah bersamamu maka engkau takut kepada siapa?, dan jika Allah melawanmu maka siapa yang bisa kau harapkan?”Maka demikianlah hendaknya kondisi masyarakat, jika Allah bersama kita, maka siapakah yang kita takut?, dan jika Allah melawan kita maka siapakah yang bisa kita harapkan?. Dengan demikian wajib bagi kita untuk mentadaburi firman Allah فَفِرُّوا إِلَى اللَّهِMaka segeralah kembali kepada (mentaati) Allah (QS Adz-Dzariyat : 50)Maka segeralah lari menuju Allah dengan menjalankan ketataan kepadaNya dan melazimi sunnah nabiNya SAW.Kaum muslimin sekalian, sesungguhnya umat pada jajaran individu dan masyarakat dengan beragam kedudukan dan pertanggungjawabannya, jika menjaga syari’at Allah dan tunduk kepada perintahNya dalam segala urusan, bersih dari hawa nafsu dan syahwat hati, dan kondisi politiknya dan perekonomiannya serta sosial kemasyarakatannya dan yang lainnya dibangun diatas manhaj Allah dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, jika umat menjadikan Islam yang murni sebagai pedoman yang sempurna dalam seluruh kehidupannya, dalam segala perkembangannya dan tingkatan-tingkatannya, pada seluruh hubungan dan interaksinya dalam segala pergerakannya maupun diamnya, maka tatkala itu terealisasikan bagi umat penjagaan Allah dari segala keburukan dan kesulitan, dari segala krisis dan penderitaan yang dihadapinya. Dan akan terwujudkan tatkala itu keamanan, ketenteraman, kejayaan dan kemenangan. Bukankah Allah berfirman –dan janji Allah adalah pasti- :الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَئِكَ لَهُمُ الأمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ (٨٢)Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka Itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS Al-An’aam : 82)Sesungguhnya umat ini jika memimpin dirinya dengan syari’at Allah dan sunnah RasulNya shallallahu ‘alaihi wasallam, dan hal ini mengatur arahan dan tujuannya serta memimpin pergerakannya, maka akan terwujudkan bagi umat kemanan dengan seluruh pendukungnya dengan berbagai bentuknya, keamanan dalam politik, perekonomian, dan sosial kemasyarakatan.Akan tetapi manakah orang-orang yang merenungkan?, manakah mereka yang memikirkan?, manakah mereka yang membaca sejarah umat Muhammad pada masa-masa yang silam?Kaum muslimin sekalian, sesungguhnya umat ini, jika ditimpa dengan ujian dan berat dalam menghadapi cobaan, dan umat menjadi takut maka hilanglah keamanan, umat menjadi rendah maka hilanglah kejayaan, umat menjadi terbelakang maka hilanglah penguasaan dan ketenangan –sebagaimana kondisi umat saat ini-, maka umat tidak akan mendapatkan jalan keluar hingga umat menjalankan syarat Allah jalla wa ‘ala yaitu menjalankan ketaatan kepada Allah dan RasulNya shallallahu ‘alaihi wasallam serta keridhoan yang sempurna dengan syari’at Islam dan mewujudkan manhaj yang diridhoi, maka tatkala itu akan hilanglah dari umat ini kerusakan dan keterpurukan, dan akan sirna ketakutan dan kegelisahan serta kegoncangan. Dan tidak ada kekuatan apapun yang akan bisa menghadangi kekuatan umat ini. Lihatlah kembali kepada sejarah para khulafaur rasyidin dan juga sejarah kaum muslimin di masa semisal Umar bin Abdil Aziz radhiallahu ‘anhumAllah jalla wa ‘alaa berfirman kepada umat ini seluruhnya dari awalnya hingga akhirnya :فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلا يَضِلُّ وَلا يَشْقَى (١٢٣)وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى (١٢٤)Barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Dan Barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, Maka Sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam Keadaan buta”. (QS Toha : 123-124)Umat Islam di manapun berada, sesungguhnya janji Allah terus tegak meski zaman silih berganti dan perubahan-perubahan kondisi jika syarat yang disebutkan terpenuhi. Akan tetapi wajib bagi seluruh kaum muslimin, bagi individu sebelum masyarakat, bagi rakyat sebelum penguasa agar kembali instropeksi diri, untuk memeriksa kondisi mereka, untuk memandang kehidupan mereka, apakah mereka dalam kondisi yang sesuai dengan yang diharapkan dan diridhoi dari metode Allah dan manhaj RasulNya SAW?. Maka tatkala itu akan nampak hasilnya pada orang yang berakal dalam jawaban yang benar.Ibnu Katsir rahimahullah menyebutkan pada peristiwa tahun 463 Hijriyah, beliau berkata : “Datanglah raja Romawi dalam pasukan yang tidak terhingga jumlahnya seperti gunung-gunung, jumlah yang sangat banyak dan perkumpulan yang sangat besar, dan diantara tekadnya adalah hendak mencabut Islam dan pemeluknya dari akarnya. Maka merekapun bertemu dengan pasukan kaum muslimin yang jumlahnya sekitar 20 ribu, dan pasukan muslimin takut karena begitu banyaknya pasukan musyrikin. Maka sang Faqih Abu Nashr Muhammad bin Abdil Malik Al-Bukhari mengarahkan agar waktu pertempuran dilaksanakan pada hari jum’at setelah waktu zawal (dzuhur) tatkala para khothib berdoa bagi para mujahidin. Maka tatkala bertemu dua pasukan tersebu, turunlah pemimpin kaum muslimin dari kudanya, lalu sujud kepada Allah azza wajalla dan berdoa kepada Allah dan memohon kemenangan dariNya, maka Allahpun menurunkan pertolonganNya kepada kaum muslimin, dan Allah menganugerahkan kepada mereka pundak-pundak kaum musyrikin. Maka tatkala itu adalah kemenangan yang kuat dan besar”Namun jika umat dalam pertikaian, terkotak-kotak dan tercerai berai maka cukuplah menunjukan bahwa mereka jauh dari manhaj Allah, jauh dari penerapan al-Qur’an, jauh dari mengikuti jalan pemimpin para nabi dan rasul, lalu dari manakah pertolongan?, maka keberuntungan?, mana kemenangan?, mana keamanan?إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ (٧)Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. (QS Muhammad : 7)Semoga Allah memberkahi kita dalam al-Qur’an dan sunnah, aku menyampaikan perkataanku ini, dan aku memohon ampunan kepada Allah bagiku dan bagi kalian dari seluruh dosa, maka mohonlah ampunan dariNya sesungguhnya Ia adalah maha pengampun lagi maha penyayang.Khutbah Kedua :Aku memuji Robku dan aku bersyukur kepadaNya, aku bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan kecuali Allah semata tidak ada sekutu bagiNya. Dan aku bersaksi bahwasanya Nabi kita Muhammad adalah hambaNya dan rasulNya, ya Allah curahkanlah shalawat, salam, dan keberkahan kepadanya dan kepada keluarganya serta para sahabatnya.Kaum muslimin sekalian, sesungguhnya bulan Sya’ban adalah bulan yang terlalaikan di dalamnya beberapa ketaatan, maka hendaknya kita meneladani Rasul kita shallallahu ‘alaihi wasallam, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Usamah bin Zaid, beliau berkata :Aku berkata : “Wahai Rasulullah, aku tidak melihat engkau berpuasa pada bulan manapun sebagaimana engkau berpuasa di bulan Sya’ban”.Nabi berkata, ذلك شهر يغفل الناس عنه بين رجب ورمضان وهو شهر ترفع فيه الأعمال إلى رب العالمين فأحب أن يرفع عملي وأنا صائم“Itu adalah bulan yang orang-orang lalai darinya, bulan antara Rojab dan Ramadhan, ia adalah bulan yang diangkat amalan-amalan kepada Robbul ‘alamin, maka aku suka jika amalanku diangkat dan aku dalam kondisi berpuasa” (HR An-Nasaai dengan sanad yang hasan)Dan dari Aisyah semoga Allah meridloinya dan meridloi ayahnya beliau berkata : لم يكن النبي صلى الله عليه وسلم يصوم شهرا أكثر من شعبان فإنه كان يصوم شعبان كله“Tidaklah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berpuasa pada suatu bulanpun sebagaimana beliau berpuasa pada bulan Sya’ban, beliau berpuasa bulan Sya’ban sepenuhnya” (HR Al-Bukhari).Dalam riwayat Muslim : كان يصوم شعبان إلا قليا“Beliau berpuasa seluruh hari bulan Sya’ban, kecuali hanya sedikit” (HR Muslim)Para salaf dahulu memperbanyak tilawah Al-Qur’an pada bulan Sya’ban. Anas berkata : “Jika telah masuk bulan Sya’ban, maka kaum muslimin menuju kepada mushaf-mushaf”Salamah bin Kuhail berkata : كان يقال : شهر شعبان شهر القُرَّاء“Bulan Sya’ban disebut dengan bulan para qori’ (pembaca Al-Qur’an)”Jika telah masuk bulan Sya’ban, maka Habib bin Abi Tsabit berkata : “Ini adalah bulannya para pembaca al-Qur’an”. Jika masuk bulan Sya’ban maka ‘Amr bin Qois menutup kedainya lalu mengonsentrasikan waktu untuk membaca Al-Qur’an”    Adapun mengkhususkan tengah bulan Sya’ban dengan puasa dan sholat malam maka tidak valid dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sebagaimana disebutkan oleh para peneliti. Dan ketaatan yang tidak valid datangnya dari Nabi SAW maka mengamalkannya adalah bid’ah yang mungkar, tidak boleh bagi seorang muslim untuk menyembah Allah dengannya. Karena diantara hal yang memberikan kemudhorotan kepada umat Islam adalah tersebarnya bid’ah-bid’ah yang tidak ada dalilnya dari al-Qur’an maupun sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.Penerjemah: Abu Abdil Muhsin Firandawww.firanda.com

Ikutilah Imam Shalat Tarawih 23 Rakaat Hingga Selesai

Kita tahu keutamaan mengikuti imam shalat malam (shalat tarawih) hingga imam selesai. Bagaimana jika imam melaksanakan hingga 23 raka’aat sedangkan kita lebih cenderung pada 11 raka’at? Dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengumpulkan keluarga dan para sahabatnya. Lalu beliau bersabda, إِنَّهُ مَنْ قَامَ مَعَ الإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةً “Siapa yang shalat bersama imam sampai ia selesai, maka ditulis untuknya pahala qiyam satu malam penuh.” (HR. An Nasai no. 1605, Tirmidzi no. 806, Ibnu Majah no. 1327, Ahmad dan Tirmidzi. Tirmidzi menshahihkan hadits ini. Syaikh Al Albani dalam Al Irwa’ no. 447 mengatakan bahwa hadits ini shahih). Dalam riwayat lain dalam Musnad Imam Ahmad, disebutkan dari Abu Dzar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ الرَّجُلَ إِذَا قَامَ مَعَ الإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ حُسِبَ لَهُ بَقِيَّةُ لَيْلَتِهِ “Sesungguhnya jika seseorang shalat bersama imam hingga imam selesai, maka ia dihitung mendapatkan pahala shalat di sisa malamnya.” (HR. Ahmad 5: 163. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth menyatakan bahwa sanad hadits ini shahih sesuai syarat Muslim) Pertanyaan yang diajukan di atas diajukan pada Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz sebagai berikut. Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah bin Baz rahimahullah –mufti Kerajaan Saudi Arabia di masa silam- pernah ditanya, “Jika seseorang shalat di bulan Ramadhan bersama orang yang melaksanakan shalat 23 raka’at dan ia mencukupkan diri dengan 11 raka’at, artinya tidak merampungkan shalat malam bersama imam hingga selesai. Apakah yang dilakukannya seperti itu sesuai dengan sunnah?” Syaikh rahimahullah menjawab, “Yang sesuai sunnah adalah mengerjakan shalat hingga imam selesai walau ketika itu imam mengerjakan hingga 23 raka’at. Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya siapa saja yang shalat (fardhu yaitu Isya’ dan Shubuh, pen.) bersama imam hingga imam itu selesai, maka ia dicatat telah mengerjakan shalat semalam suntuk (semalam penuh).” Dalam lafazh lain disebutkan, “Dicatatkan baginya pahala shalat malam yang tersisa.” Oleh karena itu, afdhalnya bagi makmum tetap mengikuti shalat imam hingga imam itu selesai, baik imam shalatnya 11 atau 13 atau 23 raka’at. Jadi lebih afdhal jika mengikuti imam hingga imam itu selesai.” (Majmu’ Fatawa Ibnu Baz, 11: 325. Dinukil dari Fatawa Al-Islam Sual wa Jawab no. 153247). Catatan: Shalat tarawih 23 raka’at yang dibahas adalah shalat yang tidak ngebut, tidak cepat-cepat, tetap masih ada thuma’ninah (tenang). Jika shalatnya ngebut. Silakan baca: Shalat Tarawih 23 Raka’at dengan Ngebut. Semoga bermanfaat. Hanya Allah yang memberi taufik. —   Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsimam shalat shalat tarawih

Ikutilah Imam Shalat Tarawih 23 Rakaat Hingga Selesai

Kita tahu keutamaan mengikuti imam shalat malam (shalat tarawih) hingga imam selesai. Bagaimana jika imam melaksanakan hingga 23 raka’aat sedangkan kita lebih cenderung pada 11 raka’at? Dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengumpulkan keluarga dan para sahabatnya. Lalu beliau bersabda, إِنَّهُ مَنْ قَامَ مَعَ الإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةً “Siapa yang shalat bersama imam sampai ia selesai, maka ditulis untuknya pahala qiyam satu malam penuh.” (HR. An Nasai no. 1605, Tirmidzi no. 806, Ibnu Majah no. 1327, Ahmad dan Tirmidzi. Tirmidzi menshahihkan hadits ini. Syaikh Al Albani dalam Al Irwa’ no. 447 mengatakan bahwa hadits ini shahih). Dalam riwayat lain dalam Musnad Imam Ahmad, disebutkan dari Abu Dzar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ الرَّجُلَ إِذَا قَامَ مَعَ الإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ حُسِبَ لَهُ بَقِيَّةُ لَيْلَتِهِ “Sesungguhnya jika seseorang shalat bersama imam hingga imam selesai, maka ia dihitung mendapatkan pahala shalat di sisa malamnya.” (HR. Ahmad 5: 163. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth menyatakan bahwa sanad hadits ini shahih sesuai syarat Muslim) Pertanyaan yang diajukan di atas diajukan pada Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz sebagai berikut. Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah bin Baz rahimahullah –mufti Kerajaan Saudi Arabia di masa silam- pernah ditanya, “Jika seseorang shalat di bulan Ramadhan bersama orang yang melaksanakan shalat 23 raka’at dan ia mencukupkan diri dengan 11 raka’at, artinya tidak merampungkan shalat malam bersama imam hingga selesai. Apakah yang dilakukannya seperti itu sesuai dengan sunnah?” Syaikh rahimahullah menjawab, “Yang sesuai sunnah adalah mengerjakan shalat hingga imam selesai walau ketika itu imam mengerjakan hingga 23 raka’at. Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya siapa saja yang shalat (fardhu yaitu Isya’ dan Shubuh, pen.) bersama imam hingga imam itu selesai, maka ia dicatat telah mengerjakan shalat semalam suntuk (semalam penuh).” Dalam lafazh lain disebutkan, “Dicatatkan baginya pahala shalat malam yang tersisa.” Oleh karena itu, afdhalnya bagi makmum tetap mengikuti shalat imam hingga imam itu selesai, baik imam shalatnya 11 atau 13 atau 23 raka’at. Jadi lebih afdhal jika mengikuti imam hingga imam itu selesai.” (Majmu’ Fatawa Ibnu Baz, 11: 325. Dinukil dari Fatawa Al-Islam Sual wa Jawab no. 153247). Catatan: Shalat tarawih 23 raka’at yang dibahas adalah shalat yang tidak ngebut, tidak cepat-cepat, tetap masih ada thuma’ninah (tenang). Jika shalatnya ngebut. Silakan baca: Shalat Tarawih 23 Raka’at dengan Ngebut. Semoga bermanfaat. Hanya Allah yang memberi taufik. —   Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsimam shalat shalat tarawih
Kita tahu keutamaan mengikuti imam shalat malam (shalat tarawih) hingga imam selesai. Bagaimana jika imam melaksanakan hingga 23 raka’aat sedangkan kita lebih cenderung pada 11 raka’at? Dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengumpulkan keluarga dan para sahabatnya. Lalu beliau bersabda, إِنَّهُ مَنْ قَامَ مَعَ الإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةً “Siapa yang shalat bersama imam sampai ia selesai, maka ditulis untuknya pahala qiyam satu malam penuh.” (HR. An Nasai no. 1605, Tirmidzi no. 806, Ibnu Majah no. 1327, Ahmad dan Tirmidzi. Tirmidzi menshahihkan hadits ini. Syaikh Al Albani dalam Al Irwa’ no. 447 mengatakan bahwa hadits ini shahih). Dalam riwayat lain dalam Musnad Imam Ahmad, disebutkan dari Abu Dzar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ الرَّجُلَ إِذَا قَامَ مَعَ الإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ حُسِبَ لَهُ بَقِيَّةُ لَيْلَتِهِ “Sesungguhnya jika seseorang shalat bersama imam hingga imam selesai, maka ia dihitung mendapatkan pahala shalat di sisa malamnya.” (HR. Ahmad 5: 163. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth menyatakan bahwa sanad hadits ini shahih sesuai syarat Muslim) Pertanyaan yang diajukan di atas diajukan pada Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz sebagai berikut. Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah bin Baz rahimahullah –mufti Kerajaan Saudi Arabia di masa silam- pernah ditanya, “Jika seseorang shalat di bulan Ramadhan bersama orang yang melaksanakan shalat 23 raka’at dan ia mencukupkan diri dengan 11 raka’at, artinya tidak merampungkan shalat malam bersama imam hingga selesai. Apakah yang dilakukannya seperti itu sesuai dengan sunnah?” Syaikh rahimahullah menjawab, “Yang sesuai sunnah adalah mengerjakan shalat hingga imam selesai walau ketika itu imam mengerjakan hingga 23 raka’at. Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya siapa saja yang shalat (fardhu yaitu Isya’ dan Shubuh, pen.) bersama imam hingga imam itu selesai, maka ia dicatat telah mengerjakan shalat semalam suntuk (semalam penuh).” Dalam lafazh lain disebutkan, “Dicatatkan baginya pahala shalat malam yang tersisa.” Oleh karena itu, afdhalnya bagi makmum tetap mengikuti shalat imam hingga imam itu selesai, baik imam shalatnya 11 atau 13 atau 23 raka’at. Jadi lebih afdhal jika mengikuti imam hingga imam itu selesai.” (Majmu’ Fatawa Ibnu Baz, 11: 325. Dinukil dari Fatawa Al-Islam Sual wa Jawab no. 153247). Catatan: Shalat tarawih 23 raka’at yang dibahas adalah shalat yang tidak ngebut, tidak cepat-cepat, tetap masih ada thuma’ninah (tenang). Jika shalatnya ngebut. Silakan baca: Shalat Tarawih 23 Raka’at dengan Ngebut. Semoga bermanfaat. Hanya Allah yang memberi taufik. —   Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsimam shalat shalat tarawih


Kita tahu keutamaan mengikuti imam shalat malam (shalat tarawih) hingga imam selesai. Bagaimana jika imam melaksanakan hingga 23 raka’aat sedangkan kita lebih cenderung pada 11 raka’at? Dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengumpulkan keluarga dan para sahabatnya. Lalu beliau bersabda, إِنَّهُ مَنْ قَامَ مَعَ الإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةً “Siapa yang shalat bersama imam sampai ia selesai, maka ditulis untuknya pahala qiyam satu malam penuh.” (HR. An Nasai no. 1605, Tirmidzi no. 806, Ibnu Majah no. 1327, Ahmad dan Tirmidzi. Tirmidzi menshahihkan hadits ini. Syaikh Al Albani dalam Al Irwa’ no. 447 mengatakan bahwa hadits ini shahih). Dalam riwayat lain dalam Musnad Imam Ahmad, disebutkan dari Abu Dzar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ الرَّجُلَ إِذَا قَامَ مَعَ الإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ حُسِبَ لَهُ بَقِيَّةُ لَيْلَتِهِ “Sesungguhnya jika seseorang shalat bersama imam hingga imam selesai, maka ia dihitung mendapatkan pahala shalat di sisa malamnya.” (HR. Ahmad 5: 163. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth menyatakan bahwa sanad hadits ini shahih sesuai syarat Muslim) Pertanyaan yang diajukan di atas diajukan pada Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz sebagai berikut. Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah bin Baz rahimahullah –mufti Kerajaan Saudi Arabia di masa silam- pernah ditanya, “Jika seseorang shalat di bulan Ramadhan bersama orang yang melaksanakan shalat 23 raka’at dan ia mencukupkan diri dengan 11 raka’at, artinya tidak merampungkan shalat malam bersama imam hingga selesai. Apakah yang dilakukannya seperti itu sesuai dengan sunnah?” Syaikh rahimahullah menjawab, “Yang sesuai sunnah adalah mengerjakan shalat hingga imam selesai walau ketika itu imam mengerjakan hingga 23 raka’at. Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya siapa saja yang shalat (fardhu yaitu Isya’ dan Shubuh, pen.) bersama imam hingga imam itu selesai, maka ia dicatat telah mengerjakan shalat semalam suntuk (semalam penuh).” Dalam lafazh lain disebutkan, “Dicatatkan baginya pahala shalat malam yang tersisa.” Oleh karena itu, afdhalnya bagi makmum tetap mengikuti shalat imam hingga imam itu selesai, baik imam shalatnya 11 atau 13 atau 23 raka’at. Jadi lebih afdhal jika mengikuti imam hingga imam itu selesai.” (Majmu’ Fatawa Ibnu Baz, 11: 325. Dinukil dari Fatawa Al-Islam Sual wa Jawab no. 153247). Catatan: Shalat tarawih 23 raka’at yang dibahas adalah shalat yang tidak ngebut, tidak cepat-cepat, tetap masih ada thuma’ninah (tenang). Jika shalatnya ngebut. Silakan baca: Shalat Tarawih 23 Raka’at dengan Ngebut. Semoga bermanfaat. Hanya Allah yang memberi taufik. —   Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsimam shalat shalat tarawih

Tiga Waktu Terkabulnya Doa di Bulan Ramadhan

Ada tiga waktu terkabulnya doa di bulan Ramadhan. Raihlah keutamaan tersebut dengan terus memperbanyak doa. Allah Ta’ala berfirman, وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS. Al-Baqarah: 186) Ibnu Katsir rahimahullah menerangkan bahwa masalah ini disebutkan di sela-sela penyebutan hukum puasa. Ini menunjukkan mengenai anjuran memperbanyak do’a ketika bulan itu sempurna, bahkan diperintahkan memperbanyak do’a tersebut di setiap kali berbuka puasa. (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 2: 66). Pernyataan yang dikatakan oleh Ibnu Katsir menunjukkan bahwa bulan Ramadhan adalah salah waktu terkabulnya do’a. Namun do’a itu mudah dikabulkan jika seseorang punya keimanan yang benar. Ibnu Taimiyah berkata, “Terkabulnya do’a itu dikarenakan benarnya i’tiqod, kesempurnaan ketaatan karena di akhir ayat disebutkan, ‘dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran’.” (Majmu’ah Al Fatawa, 14: 33-34). Perihal Ramadhan adalah bulan do’a dikuatkan lagi dengan hadits dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ لِلّهِ فِى كُلِّ يَوْمٍ عِتْقَاءَ مِنَ النَّارِ فِى شَهْرِ رَمَضَانَ ,وَإِنَّ لِكُلِّ مُسْلِمٍ دَعْوَةً يَدْعُوْ بِهَا فَيَسْتَجِيْبُ لَهُ ”Sesungguhnya Allah membebaskan beberapa orang dari api neraka pada setiap hari di bulan Ramadhan, dan setiap muslim apabila dia memanjatkan do’a, akan dikabulkan.” (HR. Al Bazaar. Al Haitsami dalam Majma’ Az-Zawaid, 10: 14 mengatakan bahwa perowinya tsiqoh -terpercaya-. Lihat Jami’ul Ahadits, 9: 224) Ada tiga waktu utama terkabulnya do’a di bulan Ramadhan: 1- Waktu sahur Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ يَقُولُ مَنْ يَدْعُونِى فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِى فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِى فَأَغْفِرَ لَهُ “Rabb kita tabaraka wa ta’ala turun ke langit dunia ketika tersisa sepertiga malam terakhir. Lantas Allah berfirman, “Siapa saja yang berdo’a kepada-Ku, maka akan Aku kabulkan. Siapa yang meminta kepada-Ku, maka Aku beri. Siapa yang meminta ampunan kepada-Ku, maka akan Aku ampuni.” (HR. Bukhari, no. 1145 dan Muslim, no. 758). Ibnu Hajar juga menjelaskan hadits di atas dengan berkata, “Do’a dan istighfar di waktu sahur mudah dikabulkan.” (Fath Al-Bari, 3: 32). 2- Saat berpuasa Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ثَلاَثَةٌ لاَ تُرَدُّ دَعْوَتُهُمُ الصَّائِمُ حَتَّى يُفْطِرَ وَالإِمَامُ الْعَادِلُ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ “Tiga orang yang do’anya tidak tertolak: orang yang berpuasa sampai ia berbuka, pemimpin yang adil, dan do’a orang yang dizalimi.” (HR. Ahmad 2: 305. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih dengan berbagai jalan dan penguatnya) Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Disunnahkan orang yang berpuasa untuk memperbanyak do’a demi urusan akhirat dan dunianya, juga ia boleh berdo’a untuk hajat yang ia inginkan, begitu pula jangan lupakan do’a kebaikan untuk kaum muslimin secara umum.” (Al-Majmu’, 6: 273) 3- Ketika berbuka puasa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ثَلاَثَةٌ لاَ تُرَدُّ دَعْوَتُهُمُ الإِمَامُ الْعَادِلُ وَالصَّائِمُ حِينَ يُفْطِرُ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ “Ada tiga orang yang do’anya tidak ditolak : (1) Pemimpin yang adil, (2) Orang yang berpuasa ketika dia berbuka, (3) Do’a orang yang terzalimi.” (HR. Tirmidzi no. 2526, 3598 dan Ibnu Majah no. 1752. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan). Dalam Tuhfah Al-Ahwadzi (7: 278) disebutkan bahwa kenapa do’a mudah dikabulkan ketika berbuka puasa yaitu karena saat itu, orang yang berpuasa telah menyelesaikan ibadahnya dalam keadaan tunduk dan merendahkan diri. Moga Allah memperkenankan setiap do’a kita di bulan Ramadhan. — @ Amaris Hotel Tebet, 20 Sya’ban 1436 H Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsadab doa doa sahur

Tiga Waktu Terkabulnya Doa di Bulan Ramadhan

Ada tiga waktu terkabulnya doa di bulan Ramadhan. Raihlah keutamaan tersebut dengan terus memperbanyak doa. Allah Ta’ala berfirman, وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS. Al-Baqarah: 186) Ibnu Katsir rahimahullah menerangkan bahwa masalah ini disebutkan di sela-sela penyebutan hukum puasa. Ini menunjukkan mengenai anjuran memperbanyak do’a ketika bulan itu sempurna, bahkan diperintahkan memperbanyak do’a tersebut di setiap kali berbuka puasa. (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 2: 66). Pernyataan yang dikatakan oleh Ibnu Katsir menunjukkan bahwa bulan Ramadhan adalah salah waktu terkabulnya do’a. Namun do’a itu mudah dikabulkan jika seseorang punya keimanan yang benar. Ibnu Taimiyah berkata, “Terkabulnya do’a itu dikarenakan benarnya i’tiqod, kesempurnaan ketaatan karena di akhir ayat disebutkan, ‘dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran’.” (Majmu’ah Al Fatawa, 14: 33-34). Perihal Ramadhan adalah bulan do’a dikuatkan lagi dengan hadits dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ لِلّهِ فِى كُلِّ يَوْمٍ عِتْقَاءَ مِنَ النَّارِ فِى شَهْرِ رَمَضَانَ ,وَإِنَّ لِكُلِّ مُسْلِمٍ دَعْوَةً يَدْعُوْ بِهَا فَيَسْتَجِيْبُ لَهُ ”Sesungguhnya Allah membebaskan beberapa orang dari api neraka pada setiap hari di bulan Ramadhan, dan setiap muslim apabila dia memanjatkan do’a, akan dikabulkan.” (HR. Al Bazaar. Al Haitsami dalam Majma’ Az-Zawaid, 10: 14 mengatakan bahwa perowinya tsiqoh -terpercaya-. Lihat Jami’ul Ahadits, 9: 224) Ada tiga waktu utama terkabulnya do’a di bulan Ramadhan: 1- Waktu sahur Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ يَقُولُ مَنْ يَدْعُونِى فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِى فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِى فَأَغْفِرَ لَهُ “Rabb kita tabaraka wa ta’ala turun ke langit dunia ketika tersisa sepertiga malam terakhir. Lantas Allah berfirman, “Siapa saja yang berdo’a kepada-Ku, maka akan Aku kabulkan. Siapa yang meminta kepada-Ku, maka Aku beri. Siapa yang meminta ampunan kepada-Ku, maka akan Aku ampuni.” (HR. Bukhari, no. 1145 dan Muslim, no. 758). Ibnu Hajar juga menjelaskan hadits di atas dengan berkata, “Do’a dan istighfar di waktu sahur mudah dikabulkan.” (Fath Al-Bari, 3: 32). 2- Saat berpuasa Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ثَلاَثَةٌ لاَ تُرَدُّ دَعْوَتُهُمُ الصَّائِمُ حَتَّى يُفْطِرَ وَالإِمَامُ الْعَادِلُ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ “Tiga orang yang do’anya tidak tertolak: orang yang berpuasa sampai ia berbuka, pemimpin yang adil, dan do’a orang yang dizalimi.” (HR. Ahmad 2: 305. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih dengan berbagai jalan dan penguatnya) Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Disunnahkan orang yang berpuasa untuk memperbanyak do’a demi urusan akhirat dan dunianya, juga ia boleh berdo’a untuk hajat yang ia inginkan, begitu pula jangan lupakan do’a kebaikan untuk kaum muslimin secara umum.” (Al-Majmu’, 6: 273) 3- Ketika berbuka puasa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ثَلاَثَةٌ لاَ تُرَدُّ دَعْوَتُهُمُ الإِمَامُ الْعَادِلُ وَالصَّائِمُ حِينَ يُفْطِرُ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ “Ada tiga orang yang do’anya tidak ditolak : (1) Pemimpin yang adil, (2) Orang yang berpuasa ketika dia berbuka, (3) Do’a orang yang terzalimi.” (HR. Tirmidzi no. 2526, 3598 dan Ibnu Majah no. 1752. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan). Dalam Tuhfah Al-Ahwadzi (7: 278) disebutkan bahwa kenapa do’a mudah dikabulkan ketika berbuka puasa yaitu karena saat itu, orang yang berpuasa telah menyelesaikan ibadahnya dalam keadaan tunduk dan merendahkan diri. Moga Allah memperkenankan setiap do’a kita di bulan Ramadhan. — @ Amaris Hotel Tebet, 20 Sya’ban 1436 H Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsadab doa doa sahur
Ada tiga waktu terkabulnya doa di bulan Ramadhan. Raihlah keutamaan tersebut dengan terus memperbanyak doa. Allah Ta’ala berfirman, وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS. Al-Baqarah: 186) Ibnu Katsir rahimahullah menerangkan bahwa masalah ini disebutkan di sela-sela penyebutan hukum puasa. Ini menunjukkan mengenai anjuran memperbanyak do’a ketika bulan itu sempurna, bahkan diperintahkan memperbanyak do’a tersebut di setiap kali berbuka puasa. (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 2: 66). Pernyataan yang dikatakan oleh Ibnu Katsir menunjukkan bahwa bulan Ramadhan adalah salah waktu terkabulnya do’a. Namun do’a itu mudah dikabulkan jika seseorang punya keimanan yang benar. Ibnu Taimiyah berkata, “Terkabulnya do’a itu dikarenakan benarnya i’tiqod, kesempurnaan ketaatan karena di akhir ayat disebutkan, ‘dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran’.” (Majmu’ah Al Fatawa, 14: 33-34). Perihal Ramadhan adalah bulan do’a dikuatkan lagi dengan hadits dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ لِلّهِ فِى كُلِّ يَوْمٍ عِتْقَاءَ مِنَ النَّارِ فِى شَهْرِ رَمَضَانَ ,وَإِنَّ لِكُلِّ مُسْلِمٍ دَعْوَةً يَدْعُوْ بِهَا فَيَسْتَجِيْبُ لَهُ ”Sesungguhnya Allah membebaskan beberapa orang dari api neraka pada setiap hari di bulan Ramadhan, dan setiap muslim apabila dia memanjatkan do’a, akan dikabulkan.” (HR. Al Bazaar. Al Haitsami dalam Majma’ Az-Zawaid, 10: 14 mengatakan bahwa perowinya tsiqoh -terpercaya-. Lihat Jami’ul Ahadits, 9: 224) Ada tiga waktu utama terkabulnya do’a di bulan Ramadhan: 1- Waktu sahur Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ يَقُولُ مَنْ يَدْعُونِى فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِى فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِى فَأَغْفِرَ لَهُ “Rabb kita tabaraka wa ta’ala turun ke langit dunia ketika tersisa sepertiga malam terakhir. Lantas Allah berfirman, “Siapa saja yang berdo’a kepada-Ku, maka akan Aku kabulkan. Siapa yang meminta kepada-Ku, maka Aku beri. Siapa yang meminta ampunan kepada-Ku, maka akan Aku ampuni.” (HR. Bukhari, no. 1145 dan Muslim, no. 758). Ibnu Hajar juga menjelaskan hadits di atas dengan berkata, “Do’a dan istighfar di waktu sahur mudah dikabulkan.” (Fath Al-Bari, 3: 32). 2- Saat berpuasa Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ثَلاَثَةٌ لاَ تُرَدُّ دَعْوَتُهُمُ الصَّائِمُ حَتَّى يُفْطِرَ وَالإِمَامُ الْعَادِلُ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ “Tiga orang yang do’anya tidak tertolak: orang yang berpuasa sampai ia berbuka, pemimpin yang adil, dan do’a orang yang dizalimi.” (HR. Ahmad 2: 305. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih dengan berbagai jalan dan penguatnya) Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Disunnahkan orang yang berpuasa untuk memperbanyak do’a demi urusan akhirat dan dunianya, juga ia boleh berdo’a untuk hajat yang ia inginkan, begitu pula jangan lupakan do’a kebaikan untuk kaum muslimin secara umum.” (Al-Majmu’, 6: 273) 3- Ketika berbuka puasa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ثَلاَثَةٌ لاَ تُرَدُّ دَعْوَتُهُمُ الإِمَامُ الْعَادِلُ وَالصَّائِمُ حِينَ يُفْطِرُ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ “Ada tiga orang yang do’anya tidak ditolak : (1) Pemimpin yang adil, (2) Orang yang berpuasa ketika dia berbuka, (3) Do’a orang yang terzalimi.” (HR. Tirmidzi no. 2526, 3598 dan Ibnu Majah no. 1752. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan). Dalam Tuhfah Al-Ahwadzi (7: 278) disebutkan bahwa kenapa do’a mudah dikabulkan ketika berbuka puasa yaitu karena saat itu, orang yang berpuasa telah menyelesaikan ibadahnya dalam keadaan tunduk dan merendahkan diri. Moga Allah memperkenankan setiap do’a kita di bulan Ramadhan. — @ Amaris Hotel Tebet, 20 Sya’ban 1436 H Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsadab doa doa sahur


Ada tiga waktu terkabulnya doa di bulan Ramadhan. Raihlah keutamaan tersebut dengan terus memperbanyak doa. Allah Ta’ala berfirman, وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS. Al-Baqarah: 186) Ibnu Katsir rahimahullah menerangkan bahwa masalah ini disebutkan di sela-sela penyebutan hukum puasa. Ini menunjukkan mengenai anjuran memperbanyak do’a ketika bulan itu sempurna, bahkan diperintahkan memperbanyak do’a tersebut di setiap kali berbuka puasa. (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 2: 66). Pernyataan yang dikatakan oleh Ibnu Katsir menunjukkan bahwa bulan Ramadhan adalah salah waktu terkabulnya do’a. Namun do’a itu mudah dikabulkan jika seseorang punya keimanan yang benar. Ibnu Taimiyah berkata, “Terkabulnya do’a itu dikarenakan benarnya i’tiqod, kesempurnaan ketaatan karena di akhir ayat disebutkan, ‘dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran’.” (Majmu’ah Al Fatawa, 14: 33-34). Perihal Ramadhan adalah bulan do’a dikuatkan lagi dengan hadits dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ لِلّهِ فِى كُلِّ يَوْمٍ عِتْقَاءَ مِنَ النَّارِ فِى شَهْرِ رَمَضَانَ ,وَإِنَّ لِكُلِّ مُسْلِمٍ دَعْوَةً يَدْعُوْ بِهَا فَيَسْتَجِيْبُ لَهُ ”Sesungguhnya Allah membebaskan beberapa orang dari api neraka pada setiap hari di bulan Ramadhan, dan setiap muslim apabila dia memanjatkan do’a, akan dikabulkan.” (HR. Al Bazaar. Al Haitsami dalam Majma’ Az-Zawaid, 10: 14 mengatakan bahwa perowinya tsiqoh -terpercaya-. Lihat Jami’ul Ahadits, 9: 224) Ada tiga waktu utama terkabulnya do’a di bulan Ramadhan: 1- Waktu sahur Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ يَقُولُ مَنْ يَدْعُونِى فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِى فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِى فَأَغْفِرَ لَهُ “Rabb kita tabaraka wa ta’ala turun ke langit dunia ketika tersisa sepertiga malam terakhir. Lantas Allah berfirman, “Siapa saja yang berdo’a kepada-Ku, maka akan Aku kabulkan. Siapa yang meminta kepada-Ku, maka Aku beri. Siapa yang meminta ampunan kepada-Ku, maka akan Aku ampuni.” (HR. Bukhari, no. 1145 dan Muslim, no. 758). Ibnu Hajar juga menjelaskan hadits di atas dengan berkata, “Do’a dan istighfar di waktu sahur mudah dikabulkan.” (Fath Al-Bari, 3: 32). 2- Saat berpuasa Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ثَلاَثَةٌ لاَ تُرَدُّ دَعْوَتُهُمُ الصَّائِمُ حَتَّى يُفْطِرَ وَالإِمَامُ الْعَادِلُ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ “Tiga orang yang do’anya tidak tertolak: orang yang berpuasa sampai ia berbuka, pemimpin yang adil, dan do’a orang yang dizalimi.” (HR. Ahmad 2: 305. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih dengan berbagai jalan dan penguatnya) Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Disunnahkan orang yang berpuasa untuk memperbanyak do’a demi urusan akhirat dan dunianya, juga ia boleh berdo’a untuk hajat yang ia inginkan, begitu pula jangan lupakan do’a kebaikan untuk kaum muslimin secara umum.” (Al-Majmu’, 6: 273) 3- Ketika berbuka puasa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ثَلاَثَةٌ لاَ تُرَدُّ دَعْوَتُهُمُ الإِمَامُ الْعَادِلُ وَالصَّائِمُ حِينَ يُفْطِرُ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ “Ada tiga orang yang do’anya tidak ditolak : (1) Pemimpin yang adil, (2) Orang yang berpuasa ketika dia berbuka, (3) Do’a orang yang terzalimi.” (HR. Tirmidzi no. 2526, 3598 dan Ibnu Majah no. 1752. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan). Dalam Tuhfah Al-Ahwadzi (7: 278) disebutkan bahwa kenapa do’a mudah dikabulkan ketika berbuka puasa yaitu karena saat itu, orang yang berpuasa telah menyelesaikan ibadahnya dalam keadaan tunduk dan merendahkan diri. Moga Allah memperkenankan setiap do’a kita di bulan Ramadhan. — @ Amaris Hotel Tebet, 20 Sya’ban 1436 H Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsadab doa doa sahur

Bedah Buku Panduan Ramadhan dan Bagi Buku Gratis di Jakarta 6 – 7 Juni 2015

Silakan hadir dalam kajian “Bedah Buku Panduan Ramadhan” karya Muhammad Abduh Tuasikal di 4 tempat di Jakarta, 19-20 Sya’ban 1436 H (6-7 Juni 2015). Pembicara: Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, M.Sc. (penulis buku, pengasuh Rumaysho.Com, pimpinan redaksi Muslim.Or.Id, pimpinan Pesantren Darush Sholihin Panggang Gunungkidul) Akan dibagi buku gratis dengan jumlah terbatas pada kajian bedah buku tersebut. Untuk mendapatkan buku versi e-book, silakan download di sini. Buku hasil download tersebut bisa diperbanyak dan disebar gratis (bukan komersial). Pertama: Kajian di Kampung Rambutan Sabtu, 6 Juni 2015, 09.00 – selesai Masjid Nurul Ikhlas, Jl. Tanah Merdeka (Samping Perumahan Gardenia), Kp. Rambutan, Ciracas, Jakarta Timur. CP: 08577 984 7486 Kedua: Kajian di Tebet Sabtu, 6 Juni 2015, 19.00 – selesai Masjid Al-Ittihad, Komplek Tebet Mas, Tebet, Jakarta Selatan CP: 0812 8389 1782 (Aldino) Ketiga: Kajian di Cikarang Ahad, 7 Juni 2015, 09.00 – selesai Masjid Syifa Budi Lippo Cikarang. CP: 0857 1637 3274 (Ibnu) Keempat: Kajian di Cikunir Bekasi Ahad, 7 Juni 2015, Maghrib – Isya’ Masjid Al-Muhajirin, Taman Permata Cikunir, Bekasi CP: 0816 830 531 (Muhammad Mawardi) — Info Rumaysho.Com Tagskajian islam

Bedah Buku Panduan Ramadhan dan Bagi Buku Gratis di Jakarta 6 – 7 Juni 2015

Silakan hadir dalam kajian “Bedah Buku Panduan Ramadhan” karya Muhammad Abduh Tuasikal di 4 tempat di Jakarta, 19-20 Sya’ban 1436 H (6-7 Juni 2015). Pembicara: Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, M.Sc. (penulis buku, pengasuh Rumaysho.Com, pimpinan redaksi Muslim.Or.Id, pimpinan Pesantren Darush Sholihin Panggang Gunungkidul) Akan dibagi buku gratis dengan jumlah terbatas pada kajian bedah buku tersebut. Untuk mendapatkan buku versi e-book, silakan download di sini. Buku hasil download tersebut bisa diperbanyak dan disebar gratis (bukan komersial). Pertama: Kajian di Kampung Rambutan Sabtu, 6 Juni 2015, 09.00 – selesai Masjid Nurul Ikhlas, Jl. Tanah Merdeka (Samping Perumahan Gardenia), Kp. Rambutan, Ciracas, Jakarta Timur. CP: 08577 984 7486 Kedua: Kajian di Tebet Sabtu, 6 Juni 2015, 19.00 – selesai Masjid Al-Ittihad, Komplek Tebet Mas, Tebet, Jakarta Selatan CP: 0812 8389 1782 (Aldino) Ketiga: Kajian di Cikarang Ahad, 7 Juni 2015, 09.00 – selesai Masjid Syifa Budi Lippo Cikarang. CP: 0857 1637 3274 (Ibnu) Keempat: Kajian di Cikunir Bekasi Ahad, 7 Juni 2015, Maghrib – Isya’ Masjid Al-Muhajirin, Taman Permata Cikunir, Bekasi CP: 0816 830 531 (Muhammad Mawardi) — Info Rumaysho.Com Tagskajian islam
Silakan hadir dalam kajian “Bedah Buku Panduan Ramadhan” karya Muhammad Abduh Tuasikal di 4 tempat di Jakarta, 19-20 Sya’ban 1436 H (6-7 Juni 2015). Pembicara: Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, M.Sc. (penulis buku, pengasuh Rumaysho.Com, pimpinan redaksi Muslim.Or.Id, pimpinan Pesantren Darush Sholihin Panggang Gunungkidul) Akan dibagi buku gratis dengan jumlah terbatas pada kajian bedah buku tersebut. Untuk mendapatkan buku versi e-book, silakan download di sini. Buku hasil download tersebut bisa diperbanyak dan disebar gratis (bukan komersial). Pertama: Kajian di Kampung Rambutan Sabtu, 6 Juni 2015, 09.00 – selesai Masjid Nurul Ikhlas, Jl. Tanah Merdeka (Samping Perumahan Gardenia), Kp. Rambutan, Ciracas, Jakarta Timur. CP: 08577 984 7486 Kedua: Kajian di Tebet Sabtu, 6 Juni 2015, 19.00 – selesai Masjid Al-Ittihad, Komplek Tebet Mas, Tebet, Jakarta Selatan CP: 0812 8389 1782 (Aldino) Ketiga: Kajian di Cikarang Ahad, 7 Juni 2015, 09.00 – selesai Masjid Syifa Budi Lippo Cikarang. CP: 0857 1637 3274 (Ibnu) Keempat: Kajian di Cikunir Bekasi Ahad, 7 Juni 2015, Maghrib – Isya’ Masjid Al-Muhajirin, Taman Permata Cikunir, Bekasi CP: 0816 830 531 (Muhammad Mawardi) — Info Rumaysho.Com Tagskajian islam


Silakan hadir dalam kajian “Bedah Buku Panduan Ramadhan” karya Muhammad Abduh Tuasikal di 4 tempat di Jakarta, 19-20 Sya’ban 1436 H (6-7 Juni 2015). Pembicara: Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, M.Sc. (penulis buku, pengasuh Rumaysho.Com, pimpinan redaksi Muslim.Or.Id, pimpinan Pesantren Darush Sholihin Panggang Gunungkidul) Akan dibagi buku gratis dengan jumlah terbatas pada kajian bedah buku tersebut. Untuk mendapatkan buku versi e-book, silakan download di sini. Buku hasil download tersebut bisa diperbanyak dan disebar gratis (bukan komersial). Pertama: Kajian di Kampung Rambutan Sabtu, 6 Juni 2015, 09.00 – selesai Masjid Nurul Ikhlas, Jl. Tanah Merdeka (Samping Perumahan Gardenia), Kp. Rambutan, Ciracas, Jakarta Timur. CP: 08577 984 7486 Kedua: Kajian di Tebet Sabtu, 6 Juni 2015, 19.00 – selesai Masjid Al-Ittihad, Komplek Tebet Mas, Tebet, Jakarta Selatan CP: 0812 8389 1782 (Aldino) Ketiga: Kajian di Cikarang Ahad, 7 Juni 2015, 09.00 – selesai Masjid Syifa Budi Lippo Cikarang. CP: 0857 1637 3274 (Ibnu) Keempat: Kajian di Cikunir Bekasi Ahad, 7 Juni 2015, Maghrib – Isya’ Masjid Al-Muhajirin, Taman Permata Cikunir, Bekasi CP: 0816 830 531 (Muhammad Mawardi) — Info Rumaysho.Com Tagskajian islam

Mau Shalat Semalam Suntuk di Bulan Ramadhan?

Apa kita bisa mendapatkan pahala shalat semalam suntuk (penuh) di bulan Ramadhan? Bagaimana caranya? Dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, صُمْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَلَمْ يُصَلِّ بِنَا حَتَّى بَقِىَ سَبْعٌ مِنَ الشَّهْرِ فَقَامَ بِنَا حَتَّى ذَهَبَ ثُلُثُ اللَّيْلِ ثُمَّ لَمْ يَقُمْ بِنَا فِى السَّادِسَةِ وَقَامَ بِنَا فِى الْخَامِسَةِ حَتَّى ذَهَبَ شَطْرُ اللَّيْلِ فَقُلْنَا لَهُ يَا رَسُولَ اللَّهِ لَوْ نَفَّلْتَنَا بَقِيَّةَ لَيْلَتِنَا هَذِهِ فَقَالَ « إِنَّهُ مَنْ قَامَ مَعَ الإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةٍ ». ثُمَّ لَمْ يُصَلِّ بِنَا حَتَّى بَقِىَ ثَلاَثٌ مِنَ الشَّهْرِ وَصَلَّى بِنَا فِى الثَّالِثَةِ وَدَعَا أَهْلَهُ وَنِسَاءَهُ فَقَامَ بِنَا حَتَّى تَخَوَّفْنَا الْفَلاَحَ. قُلْتُ لَهُ وَمَا الْفَلاَحُ قَالَ السُّحُورُ. قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ. “Kami pernah berpuasa bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau tidaklah pernah melaksanakan shalat malam bersama kami kecuali ketika tersisa tujuh hari bulan Ramadhan (malam ke-23 Ramadhan). Beliau lantas shalat bersama kami hingga berlalu sepertiga malam. Ketika tersisa enam hari (malam ke-24 Ramadhan), beliau tidak shalat bersama kami. Namun ketika tersisa lima hari (malam ke-25 Ramadhan), beliau shalat bersama kami hingga berlalu pertengahan malam. Kami katakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Bagaimana seandainya kami melakukan shalat sunnah lagi untuk malam yang tersisa ini?” Beliau bersabda, “Sesungguhnya siapa saja yang shalat bersama imam hingga imam itu selesai, maka ia dicatat telah mengerjakan shalat semalam suntuk (semalam penuh).” Beliau tatkala itu tidak shalat bersama kami kecuali ketika Ramadhan tersisa tiga hari (malam ke-27, 28, 29 Ramadhan). Beliau shalat bersama kami pada malam yang ketiga tadi (malam ke-29 Ramadhan). Ketika itu, beliau lantas mengerjakan shalat malam bersama keluarga dan istri-istrinya hingga kami khawatir dengan “falah”. Aku bertanya padanya, “Apa yang dimaksud falah?” Ia menjawab, “Yaitu waktu sahur.” (HR. Tirmidzi no. 806. Lihat Tuhfah Al-Ahwadzi, 3: 611. Abu Isa Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih) Dalam riwayat lain dalam Musnad Imam Ahmad, disebutkan dari Abu Dzar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ الرَّجُلَ إِذَا قَامَ مَعَ الإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ حُسِبَ لَهُ بَقِيَّةُ لَيْلَتِهِ “Sesungguhnya jika seseorang shalat bersama imam hingga imam selesai, maka ia dihitung mendapatkan pahala shalat di sisa malamnya.” (HR. Ahmad 5: 163. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth menyatakan bahwa sanad hadits ini shahih sesuai syarat Muslim) Pahala shalat semalam suntuk bisa jadi diperoleh dengan mengerjakan shalat Isya dan Shubuh secara berjama’ah. Inilah makna yang diisyaratkan oleh dalam Tuhfah Al-Ahwadzi (3: 612) oleh Muhammad Abdurrahman Al-Mubarakfuri. Pemahaman tersebut didukung dari dalil berikut. Dari ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ شَهِدَ الْعِشَاءَ فِى جَمَاعَةٍ كَانَ لَهُ قِيَامُ نِصْفِ لَيْلَةٍ وَمَنْ صَلَّى الْعِشَاءَ وَالْفَجْرَ فِى جَمَاعَةٍ كَانَ لَهُ كَقِيَامِ لَيْلَةٍ “Siapa yang menghadiri shalat ‘Isya berjamaah, maka baginya pahala shalat separuh malam. Siapa yang melaksanakan shalat ‘Isya dan Shubuh berjamaah, maka baginya pahala shalat semalam penuh.” (HR. Muslim no. 656 dan Tirmidzi no. 221). Dan memang dua shalat ini paling berat bagi orang munafik. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لَيْسَ صَلاَةٌ أثْقَلَ عَلَى المُنَافِقِينَ مِنْ صَلاَةِ الفَجْرِ وَالعِشَاءِ ، وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِيهِمَا لأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْواً “Tidak ada shalat yang lebih berat bagi orang munafik selain dari shalat Shubuh dan shalat ‘Isya’. Seandainya mereka tahu keutamaan yang ada pada kedua shalat tersebut, tentu mereka akan mendatanginya walau sambil merangkak.” (HR. Bukhari no. 657). Juga dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا في العَتَمَةِ وَالصُّبْحِ لأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوَاً “Seandainya mereka mengetahui keutamaan yang ada pada shala Isya’ dan shalat Shubuh, tentu mereka akan mendatanginya sambil merangkak.” (HR. Bukhari no. 615 dan Muslim no. 437) Bisa pula pahala shalat semalam suntuk (semalam penuh) didapati dengan melaksanakan shalat tarawih hingga imam selesai. Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah bin Baz rahimahullah ditanya, “Jika seseorang shalat di bulan Ramadhan bersama orang yang melaksanakan shalat 23 raka’at dan ia mencukupkan diri dengan 11 raka’at, artinya tidak merampungkan shalat malam bersama imam hingga selesai. Apakah yang dilakukannya seperti itu sesuai dengan sunnah?” Syaikh rahimahullah menjawab, “Yang sesuai sunnah adalah mengerjakan shalat hingga imam selesai walau ketika itu imam mengerjakan hingga 23 raka’at. Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya siapa saja yang shalat bersama imam hingga imam itu selesai, maka ia dicatat telah mengerjakan shalat semalam suntuk (semalam penuh).” Dalam lafazh lain disebutkan, “Dicatatkan baginya pahala shalat malam yang tersisa.” Oleh karena itu, afdhalnya bagi makmum tetap mengikuti shalat imam hingga imam itu selesai, baik imam shalatnya 11 atau 13 atau 23 raka’at. Jadi lebih afdhal jika mengikuti imam hingga imam itu selesai.” (Majmu’ Fatawa Ibnu Baz, 11: 325. Dinukil dari Fatawa Al-Islam Sual wa Jawab no. 153247). Mau shalat semalam suntuk? Jagalah shalat Shubuh dan Isya secara berjama’ah, juga rutinkan pula shalat tarawih dan ikuti imam hinggga imam selesai. Semoga kita bisa meraih pahala shalat semalam suntuk ini. Kalau ada kesempatan, jangan sampai disia-siakan. — Ba’da Zhuhur, 17 Sya’ban 1436 H di Pesantren DS Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsshalat tarawih

Mau Shalat Semalam Suntuk di Bulan Ramadhan?

Apa kita bisa mendapatkan pahala shalat semalam suntuk (penuh) di bulan Ramadhan? Bagaimana caranya? Dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, صُمْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَلَمْ يُصَلِّ بِنَا حَتَّى بَقِىَ سَبْعٌ مِنَ الشَّهْرِ فَقَامَ بِنَا حَتَّى ذَهَبَ ثُلُثُ اللَّيْلِ ثُمَّ لَمْ يَقُمْ بِنَا فِى السَّادِسَةِ وَقَامَ بِنَا فِى الْخَامِسَةِ حَتَّى ذَهَبَ شَطْرُ اللَّيْلِ فَقُلْنَا لَهُ يَا رَسُولَ اللَّهِ لَوْ نَفَّلْتَنَا بَقِيَّةَ لَيْلَتِنَا هَذِهِ فَقَالَ « إِنَّهُ مَنْ قَامَ مَعَ الإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةٍ ». ثُمَّ لَمْ يُصَلِّ بِنَا حَتَّى بَقِىَ ثَلاَثٌ مِنَ الشَّهْرِ وَصَلَّى بِنَا فِى الثَّالِثَةِ وَدَعَا أَهْلَهُ وَنِسَاءَهُ فَقَامَ بِنَا حَتَّى تَخَوَّفْنَا الْفَلاَحَ. قُلْتُ لَهُ وَمَا الْفَلاَحُ قَالَ السُّحُورُ. قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ. “Kami pernah berpuasa bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau tidaklah pernah melaksanakan shalat malam bersama kami kecuali ketika tersisa tujuh hari bulan Ramadhan (malam ke-23 Ramadhan). Beliau lantas shalat bersama kami hingga berlalu sepertiga malam. Ketika tersisa enam hari (malam ke-24 Ramadhan), beliau tidak shalat bersama kami. Namun ketika tersisa lima hari (malam ke-25 Ramadhan), beliau shalat bersama kami hingga berlalu pertengahan malam. Kami katakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Bagaimana seandainya kami melakukan shalat sunnah lagi untuk malam yang tersisa ini?” Beliau bersabda, “Sesungguhnya siapa saja yang shalat bersama imam hingga imam itu selesai, maka ia dicatat telah mengerjakan shalat semalam suntuk (semalam penuh).” Beliau tatkala itu tidak shalat bersama kami kecuali ketika Ramadhan tersisa tiga hari (malam ke-27, 28, 29 Ramadhan). Beliau shalat bersama kami pada malam yang ketiga tadi (malam ke-29 Ramadhan). Ketika itu, beliau lantas mengerjakan shalat malam bersama keluarga dan istri-istrinya hingga kami khawatir dengan “falah”. Aku bertanya padanya, “Apa yang dimaksud falah?” Ia menjawab, “Yaitu waktu sahur.” (HR. Tirmidzi no. 806. Lihat Tuhfah Al-Ahwadzi, 3: 611. Abu Isa Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih) Dalam riwayat lain dalam Musnad Imam Ahmad, disebutkan dari Abu Dzar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ الرَّجُلَ إِذَا قَامَ مَعَ الإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ حُسِبَ لَهُ بَقِيَّةُ لَيْلَتِهِ “Sesungguhnya jika seseorang shalat bersama imam hingga imam selesai, maka ia dihitung mendapatkan pahala shalat di sisa malamnya.” (HR. Ahmad 5: 163. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth menyatakan bahwa sanad hadits ini shahih sesuai syarat Muslim) Pahala shalat semalam suntuk bisa jadi diperoleh dengan mengerjakan shalat Isya dan Shubuh secara berjama’ah. Inilah makna yang diisyaratkan oleh dalam Tuhfah Al-Ahwadzi (3: 612) oleh Muhammad Abdurrahman Al-Mubarakfuri. Pemahaman tersebut didukung dari dalil berikut. Dari ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ شَهِدَ الْعِشَاءَ فِى جَمَاعَةٍ كَانَ لَهُ قِيَامُ نِصْفِ لَيْلَةٍ وَمَنْ صَلَّى الْعِشَاءَ وَالْفَجْرَ فِى جَمَاعَةٍ كَانَ لَهُ كَقِيَامِ لَيْلَةٍ “Siapa yang menghadiri shalat ‘Isya berjamaah, maka baginya pahala shalat separuh malam. Siapa yang melaksanakan shalat ‘Isya dan Shubuh berjamaah, maka baginya pahala shalat semalam penuh.” (HR. Muslim no. 656 dan Tirmidzi no. 221). Dan memang dua shalat ini paling berat bagi orang munafik. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لَيْسَ صَلاَةٌ أثْقَلَ عَلَى المُنَافِقِينَ مِنْ صَلاَةِ الفَجْرِ وَالعِشَاءِ ، وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِيهِمَا لأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْواً “Tidak ada shalat yang lebih berat bagi orang munafik selain dari shalat Shubuh dan shalat ‘Isya’. Seandainya mereka tahu keutamaan yang ada pada kedua shalat tersebut, tentu mereka akan mendatanginya walau sambil merangkak.” (HR. Bukhari no. 657). Juga dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا في العَتَمَةِ وَالصُّبْحِ لأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوَاً “Seandainya mereka mengetahui keutamaan yang ada pada shala Isya’ dan shalat Shubuh, tentu mereka akan mendatanginya sambil merangkak.” (HR. Bukhari no. 615 dan Muslim no. 437) Bisa pula pahala shalat semalam suntuk (semalam penuh) didapati dengan melaksanakan shalat tarawih hingga imam selesai. Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah bin Baz rahimahullah ditanya, “Jika seseorang shalat di bulan Ramadhan bersama orang yang melaksanakan shalat 23 raka’at dan ia mencukupkan diri dengan 11 raka’at, artinya tidak merampungkan shalat malam bersama imam hingga selesai. Apakah yang dilakukannya seperti itu sesuai dengan sunnah?” Syaikh rahimahullah menjawab, “Yang sesuai sunnah adalah mengerjakan shalat hingga imam selesai walau ketika itu imam mengerjakan hingga 23 raka’at. Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya siapa saja yang shalat bersama imam hingga imam itu selesai, maka ia dicatat telah mengerjakan shalat semalam suntuk (semalam penuh).” Dalam lafazh lain disebutkan, “Dicatatkan baginya pahala shalat malam yang tersisa.” Oleh karena itu, afdhalnya bagi makmum tetap mengikuti shalat imam hingga imam itu selesai, baik imam shalatnya 11 atau 13 atau 23 raka’at. Jadi lebih afdhal jika mengikuti imam hingga imam itu selesai.” (Majmu’ Fatawa Ibnu Baz, 11: 325. Dinukil dari Fatawa Al-Islam Sual wa Jawab no. 153247). Mau shalat semalam suntuk? Jagalah shalat Shubuh dan Isya secara berjama’ah, juga rutinkan pula shalat tarawih dan ikuti imam hinggga imam selesai. Semoga kita bisa meraih pahala shalat semalam suntuk ini. Kalau ada kesempatan, jangan sampai disia-siakan. — Ba’da Zhuhur, 17 Sya’ban 1436 H di Pesantren DS Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsshalat tarawih
Apa kita bisa mendapatkan pahala shalat semalam suntuk (penuh) di bulan Ramadhan? Bagaimana caranya? Dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, صُمْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَلَمْ يُصَلِّ بِنَا حَتَّى بَقِىَ سَبْعٌ مِنَ الشَّهْرِ فَقَامَ بِنَا حَتَّى ذَهَبَ ثُلُثُ اللَّيْلِ ثُمَّ لَمْ يَقُمْ بِنَا فِى السَّادِسَةِ وَقَامَ بِنَا فِى الْخَامِسَةِ حَتَّى ذَهَبَ شَطْرُ اللَّيْلِ فَقُلْنَا لَهُ يَا رَسُولَ اللَّهِ لَوْ نَفَّلْتَنَا بَقِيَّةَ لَيْلَتِنَا هَذِهِ فَقَالَ « إِنَّهُ مَنْ قَامَ مَعَ الإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةٍ ». ثُمَّ لَمْ يُصَلِّ بِنَا حَتَّى بَقِىَ ثَلاَثٌ مِنَ الشَّهْرِ وَصَلَّى بِنَا فِى الثَّالِثَةِ وَدَعَا أَهْلَهُ وَنِسَاءَهُ فَقَامَ بِنَا حَتَّى تَخَوَّفْنَا الْفَلاَحَ. قُلْتُ لَهُ وَمَا الْفَلاَحُ قَالَ السُّحُورُ. قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ. “Kami pernah berpuasa bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau tidaklah pernah melaksanakan shalat malam bersama kami kecuali ketika tersisa tujuh hari bulan Ramadhan (malam ke-23 Ramadhan). Beliau lantas shalat bersama kami hingga berlalu sepertiga malam. Ketika tersisa enam hari (malam ke-24 Ramadhan), beliau tidak shalat bersama kami. Namun ketika tersisa lima hari (malam ke-25 Ramadhan), beliau shalat bersama kami hingga berlalu pertengahan malam. Kami katakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Bagaimana seandainya kami melakukan shalat sunnah lagi untuk malam yang tersisa ini?” Beliau bersabda, “Sesungguhnya siapa saja yang shalat bersama imam hingga imam itu selesai, maka ia dicatat telah mengerjakan shalat semalam suntuk (semalam penuh).” Beliau tatkala itu tidak shalat bersama kami kecuali ketika Ramadhan tersisa tiga hari (malam ke-27, 28, 29 Ramadhan). Beliau shalat bersama kami pada malam yang ketiga tadi (malam ke-29 Ramadhan). Ketika itu, beliau lantas mengerjakan shalat malam bersama keluarga dan istri-istrinya hingga kami khawatir dengan “falah”. Aku bertanya padanya, “Apa yang dimaksud falah?” Ia menjawab, “Yaitu waktu sahur.” (HR. Tirmidzi no. 806. Lihat Tuhfah Al-Ahwadzi, 3: 611. Abu Isa Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih) Dalam riwayat lain dalam Musnad Imam Ahmad, disebutkan dari Abu Dzar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ الرَّجُلَ إِذَا قَامَ مَعَ الإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ حُسِبَ لَهُ بَقِيَّةُ لَيْلَتِهِ “Sesungguhnya jika seseorang shalat bersama imam hingga imam selesai, maka ia dihitung mendapatkan pahala shalat di sisa malamnya.” (HR. Ahmad 5: 163. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth menyatakan bahwa sanad hadits ini shahih sesuai syarat Muslim) Pahala shalat semalam suntuk bisa jadi diperoleh dengan mengerjakan shalat Isya dan Shubuh secara berjama’ah. Inilah makna yang diisyaratkan oleh dalam Tuhfah Al-Ahwadzi (3: 612) oleh Muhammad Abdurrahman Al-Mubarakfuri. Pemahaman tersebut didukung dari dalil berikut. Dari ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ شَهِدَ الْعِشَاءَ فِى جَمَاعَةٍ كَانَ لَهُ قِيَامُ نِصْفِ لَيْلَةٍ وَمَنْ صَلَّى الْعِشَاءَ وَالْفَجْرَ فِى جَمَاعَةٍ كَانَ لَهُ كَقِيَامِ لَيْلَةٍ “Siapa yang menghadiri shalat ‘Isya berjamaah, maka baginya pahala shalat separuh malam. Siapa yang melaksanakan shalat ‘Isya dan Shubuh berjamaah, maka baginya pahala shalat semalam penuh.” (HR. Muslim no. 656 dan Tirmidzi no. 221). Dan memang dua shalat ini paling berat bagi orang munafik. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لَيْسَ صَلاَةٌ أثْقَلَ عَلَى المُنَافِقِينَ مِنْ صَلاَةِ الفَجْرِ وَالعِشَاءِ ، وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِيهِمَا لأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْواً “Tidak ada shalat yang lebih berat bagi orang munafik selain dari shalat Shubuh dan shalat ‘Isya’. Seandainya mereka tahu keutamaan yang ada pada kedua shalat tersebut, tentu mereka akan mendatanginya walau sambil merangkak.” (HR. Bukhari no. 657). Juga dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا في العَتَمَةِ وَالصُّبْحِ لأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوَاً “Seandainya mereka mengetahui keutamaan yang ada pada shala Isya’ dan shalat Shubuh, tentu mereka akan mendatanginya sambil merangkak.” (HR. Bukhari no. 615 dan Muslim no. 437) Bisa pula pahala shalat semalam suntuk (semalam penuh) didapati dengan melaksanakan shalat tarawih hingga imam selesai. Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah bin Baz rahimahullah ditanya, “Jika seseorang shalat di bulan Ramadhan bersama orang yang melaksanakan shalat 23 raka’at dan ia mencukupkan diri dengan 11 raka’at, artinya tidak merampungkan shalat malam bersama imam hingga selesai. Apakah yang dilakukannya seperti itu sesuai dengan sunnah?” Syaikh rahimahullah menjawab, “Yang sesuai sunnah adalah mengerjakan shalat hingga imam selesai walau ketika itu imam mengerjakan hingga 23 raka’at. Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya siapa saja yang shalat bersama imam hingga imam itu selesai, maka ia dicatat telah mengerjakan shalat semalam suntuk (semalam penuh).” Dalam lafazh lain disebutkan, “Dicatatkan baginya pahala shalat malam yang tersisa.” Oleh karena itu, afdhalnya bagi makmum tetap mengikuti shalat imam hingga imam itu selesai, baik imam shalatnya 11 atau 13 atau 23 raka’at. Jadi lebih afdhal jika mengikuti imam hingga imam itu selesai.” (Majmu’ Fatawa Ibnu Baz, 11: 325. Dinukil dari Fatawa Al-Islam Sual wa Jawab no. 153247). Mau shalat semalam suntuk? Jagalah shalat Shubuh dan Isya secara berjama’ah, juga rutinkan pula shalat tarawih dan ikuti imam hinggga imam selesai. Semoga kita bisa meraih pahala shalat semalam suntuk ini. Kalau ada kesempatan, jangan sampai disia-siakan. — Ba’da Zhuhur, 17 Sya’ban 1436 H di Pesantren DS Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsshalat tarawih


Apa kita bisa mendapatkan pahala shalat semalam suntuk (penuh) di bulan Ramadhan? Bagaimana caranya? Dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, صُمْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَلَمْ يُصَلِّ بِنَا حَتَّى بَقِىَ سَبْعٌ مِنَ الشَّهْرِ فَقَامَ بِنَا حَتَّى ذَهَبَ ثُلُثُ اللَّيْلِ ثُمَّ لَمْ يَقُمْ بِنَا فِى السَّادِسَةِ وَقَامَ بِنَا فِى الْخَامِسَةِ حَتَّى ذَهَبَ شَطْرُ اللَّيْلِ فَقُلْنَا لَهُ يَا رَسُولَ اللَّهِ لَوْ نَفَّلْتَنَا بَقِيَّةَ لَيْلَتِنَا هَذِهِ فَقَالَ « إِنَّهُ مَنْ قَامَ مَعَ الإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةٍ ». ثُمَّ لَمْ يُصَلِّ بِنَا حَتَّى بَقِىَ ثَلاَثٌ مِنَ الشَّهْرِ وَصَلَّى بِنَا فِى الثَّالِثَةِ وَدَعَا أَهْلَهُ وَنِسَاءَهُ فَقَامَ بِنَا حَتَّى تَخَوَّفْنَا الْفَلاَحَ. قُلْتُ لَهُ وَمَا الْفَلاَحُ قَالَ السُّحُورُ. قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ. “Kami pernah berpuasa bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau tidaklah pernah melaksanakan shalat malam bersama kami kecuali ketika tersisa tujuh hari bulan Ramadhan (malam ke-23 Ramadhan). Beliau lantas shalat bersama kami hingga berlalu sepertiga malam. Ketika tersisa enam hari (malam ke-24 Ramadhan), beliau tidak shalat bersama kami. Namun ketika tersisa lima hari (malam ke-25 Ramadhan), beliau shalat bersama kami hingga berlalu pertengahan malam. Kami katakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Bagaimana seandainya kami melakukan shalat sunnah lagi untuk malam yang tersisa ini?” Beliau bersabda, “Sesungguhnya siapa saja yang shalat bersama imam hingga imam itu selesai, maka ia dicatat telah mengerjakan shalat semalam suntuk (semalam penuh).” Beliau tatkala itu tidak shalat bersama kami kecuali ketika Ramadhan tersisa tiga hari (malam ke-27, 28, 29 Ramadhan). Beliau shalat bersama kami pada malam yang ketiga tadi (malam ke-29 Ramadhan). Ketika itu, beliau lantas mengerjakan shalat malam bersama keluarga dan istri-istrinya hingga kami khawatir dengan “falah”. Aku bertanya padanya, “Apa yang dimaksud falah?” Ia menjawab, “Yaitu waktu sahur.” (HR. Tirmidzi no. 806. Lihat Tuhfah Al-Ahwadzi, 3: 611. Abu Isa Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih) Dalam riwayat lain dalam Musnad Imam Ahmad, disebutkan dari Abu Dzar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ الرَّجُلَ إِذَا قَامَ مَعَ الإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ حُسِبَ لَهُ بَقِيَّةُ لَيْلَتِهِ “Sesungguhnya jika seseorang shalat bersama imam hingga imam selesai, maka ia dihitung mendapatkan pahala shalat di sisa malamnya.” (HR. Ahmad 5: 163. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth menyatakan bahwa sanad hadits ini shahih sesuai syarat Muslim) Pahala shalat semalam suntuk bisa jadi diperoleh dengan mengerjakan shalat Isya dan Shubuh secara berjama’ah. Inilah makna yang diisyaratkan oleh dalam Tuhfah Al-Ahwadzi (3: 612) oleh Muhammad Abdurrahman Al-Mubarakfuri. Pemahaman tersebut didukung dari dalil berikut. Dari ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ شَهِدَ الْعِشَاءَ فِى جَمَاعَةٍ كَانَ لَهُ قِيَامُ نِصْفِ لَيْلَةٍ وَمَنْ صَلَّى الْعِشَاءَ وَالْفَجْرَ فِى جَمَاعَةٍ كَانَ لَهُ كَقِيَامِ لَيْلَةٍ “Siapa yang menghadiri shalat ‘Isya berjamaah, maka baginya pahala shalat separuh malam. Siapa yang melaksanakan shalat ‘Isya dan Shubuh berjamaah, maka baginya pahala shalat semalam penuh.” (HR. Muslim no. 656 dan Tirmidzi no. 221). Dan memang dua shalat ini paling berat bagi orang munafik. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لَيْسَ صَلاَةٌ أثْقَلَ عَلَى المُنَافِقِينَ مِنْ صَلاَةِ الفَجْرِ وَالعِشَاءِ ، وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِيهِمَا لأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْواً “Tidak ada shalat yang lebih berat bagi orang munafik selain dari shalat Shubuh dan shalat ‘Isya’. Seandainya mereka tahu keutamaan yang ada pada kedua shalat tersebut, tentu mereka akan mendatanginya walau sambil merangkak.” (HR. Bukhari no. 657). Juga dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا في العَتَمَةِ وَالصُّبْحِ لأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوَاً “Seandainya mereka mengetahui keutamaan yang ada pada shala Isya’ dan shalat Shubuh, tentu mereka akan mendatanginya sambil merangkak.” (HR. Bukhari no. 615 dan Muslim no. 437) Bisa pula pahala shalat semalam suntuk (semalam penuh) didapati dengan melaksanakan shalat tarawih hingga imam selesai. Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah bin Baz rahimahullah ditanya, “Jika seseorang shalat di bulan Ramadhan bersama orang yang melaksanakan shalat 23 raka’at dan ia mencukupkan diri dengan 11 raka’at, artinya tidak merampungkan shalat malam bersama imam hingga selesai. Apakah yang dilakukannya seperti itu sesuai dengan sunnah?” Syaikh rahimahullah menjawab, “Yang sesuai sunnah adalah mengerjakan shalat hingga imam selesai walau ketika itu imam mengerjakan hingga 23 raka’at. Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya siapa saja yang shalat bersama imam hingga imam itu selesai, maka ia dicatat telah mengerjakan shalat semalam suntuk (semalam penuh).” Dalam lafazh lain disebutkan, “Dicatatkan baginya pahala shalat malam yang tersisa.” Oleh karena itu, afdhalnya bagi makmum tetap mengikuti shalat imam hingga imam itu selesai, baik imam shalatnya 11 atau 13 atau 23 raka’at. Jadi lebih afdhal jika mengikuti imam hingga imam itu selesai.” (Majmu’ Fatawa Ibnu Baz, 11: 325. Dinukil dari Fatawa Al-Islam Sual wa Jawab no. 153247). Mau shalat semalam suntuk? Jagalah shalat Shubuh dan Isya secara berjama’ah, juga rutinkan pula shalat tarawih dan ikuti imam hinggga imam selesai. Semoga kita bisa meraih pahala shalat semalam suntuk ini. Kalau ada kesempatan, jangan sampai disia-siakan. — Ba’da Zhuhur, 17 Sya’ban 1436 H di Pesantren DS Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsshalat tarawih

Bohong Saat Puasa, Apakah Membatalkan Puasa?

Apakah bohong saat puasa bisa membatalkan puasa? Berbohong Saat Puasa Larangan berbohong saat berpuasa telah disebutkan dalam hadits berikut ini, مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِى أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ “Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta malah mengamalkannya, maka Allah tidak butuh dari rasa lapar dan haus yang dia tahan.” (HR. Bukhari no. 1903) Zuur yang dimaksud dalam hadits di atas adalah dusta. Berdusta dianggap jelek setiap waktu. Namun semakin teranggap jelek jika dilakukan di bulan Ramadhan. Hadits di atas menunjukkan tercelanya dusta. Seorang muslim tentu saja harus menjauhi hal itu. Jumhur (mayoritas) ulama berpendapat bahwa larangan yang dimaksud dalam hadits di atas adalah larangan haram, namun bukan termasuk pembatal puasa. Pembatal puasa hanyalah makan, minum dan jima’ (hubungan intim). Lihat Fath Al-Bari, 4: 117. Sebagaimana dikatakan oleh Ibnul ‘Arabi, مُقْتَضَى هَذَا الْحَدِيثِ أَنَّ مَنْ فَعَلَ مَا ذُكِرَ لَا يُثَابُ عَلَى صِيَامِهِ ، وَمَعْنَاهُ أَنَّ ثَوَاب الصِّيَام لَا يَقُومُ فِي الْمُوَازَنَةِ بِإِثْم الزُّور وَمَا ذُكِرَ مَعَهُ “Konsekuensi dari hadits tersebut, siapa saja yang melakukan dusta yang telah disebutkan, balasan puasanya tidak diberikan. Pahala puasa tidak ditimbang dalam timbangan karena telah bercampur dengan dusta dan yang disebutkan bersamanya.” (Fath Al-Bari, 4: 117) Al-Baidhawi menyatakan, لَيْسَ الْمَقْصُود مِنْ شَرْعِيَّةِ الصَّوْمِ نَفْس الْجُوعِ وَالْعَطَشِ ، بَلْ مَا يَتْبَعُهُ مِنْ كَسْرِ الشَّهَوَات وَتَطْوِيعِ النَّفْسِ الْأَمَّارَةِ لِلنَّفْسِ الْمُطْمَئِنَّةِ ، فَإِذَا لَمْ يَحْصُلْ ذَلِكَ لَا يَنْظُرُ اللَّه إِلَيْهِ نَظَر الْقَبُولِ “Bukanlah maksud syari’at puasa adalah menahan lapar dan dahaga saja. Dalam puasa haruslah bisa mengendalikan syahwat dan memenej jiwa agar memiliki hati yang tenang. Jika tidak bisa melakukan seperti itu, maka Allah tidaklah menerima puasa tersebut.” (Fath Al-Bari, 4: 117) Dampak Jelek Berbohong 1- Berbohong memang teramat bahaya yang dapat mengantarkan pada sifat-sifat jelek lainnya. Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِى إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِى إِلَى الْجَنَّةِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ صِدِّيقًا وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِى إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِى إِلَى النَّارِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا “Hendaklah kalian senantiasa berlaku jujur karena sesungguhnya kejujuran akan mengantarkan pada kebaikan dan sesungguhnya kebaikan akan mengantarkan pada surga. Jika seseorang senantiasa berlaku jujur dan berusaha untuk jujur, maka dia akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Hati-hatilah kalian dari berbuat dusta, karena sesungguhnya dusta akan mengantarkan kepada kejahatan dan kejahatan akan mengantarkan pada neraka. Jika seseorang sukanya berdusta dan berupaya untuk berdusta, maka ia akan dicatat di sisi Allah sebagai pendusta.” (HR. Muslim no. 2607) 2- Berbohong selalu menggelisahkan jiwa, berbedakan dengan sifat jujur yang selalu menenangkan. Dari Al-Hasan bin ‘Ali, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, دَعْ مَا يَرِيبُكَ إِلَى مَا لاَ يَرِيبُكَ فَإِنَّ الصِّدْقَ طُمَأْنِينَةٌ وَإِنَّ الْكَذِبَ رِيبَةٌ “Tinggalkanlah yang meragukanmu pada apa yang tidak meragukanmu. Sesungguhnya kejujuran lebih menenangkan jiwa, sedangkan dusta akan menggelisahkan jiwa.” (HR. Tirmidzi no. 2518 dan Ahmad 1: 200. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih). 3- Berbohong merupakan tanda kemunafikan. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلاَثٌ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ ، وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ “Ada tiga tanda munafik: jika berkata, ia dusta; jika berjanji, ia mengingkari; dan jika diberi amanat, ia khianat.” (HR. Bukhari no. 33) Asy-Sya’bi berkata, مَنْ كَذَبَ ، فَهُوَ مُنَافِقٌ “Siapa yang berdusta, maka ia adalah munafik.” (Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2: 493) Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata, الكَذِبُ جِمَاعُ النِّفَاقُ “Dusta dapat mengumpulkan sifat kemunafikan.” (Ramadhan Durusun wa ‘Ibarun, hal. 39). Mengajarkan Anak untuk Berbohong Ada perkataan dari Az-Zuhri, dari Abu Hurairah –walau sanad riwayat ini munqathi’ (terputus)-, ia berkata, “Siapa yang mengatakan pada seorang bocah, ‘Mari sini, ada kurma untukmu.’ Kemudian ia tidak memberinya sedikit kurma pun, maka ia telah berdusta.” (Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2; 485). Tidak sedikit dari orang tua yang membohongi anaknya seperti yang dinyatakan dari Abu Hurairah di sini. Syaikh Musthofa Al ‘Adawi hafizhahullah berkata, “Jika orang tua sudah mengingkari janji yang ia katakan pada anaknya, maka hilanglah kepercayaan dari anak pada orang tua. Bagaimana lagi jika orang tua sampai mengajarkan secara langsung untuk mengingkari janji? Tentu nantinya anak tidak lagi percaya pada orang tuanya sendiri. Begitu pula didikan yang keliru adalah jika ada seseorang yang datang mencari orang tua, lalu ia katakan pada anaknya, ‘Beritahu saja, bapak tidak ada di rumah.’ Ini termasuk dosa dan telah mendidik anak untuk berbohong tanpa orang tua sadari.” (Fiqh Tarbiyah Al-Abna’, hal. 243). Berbohong Saat Bercanda Tidak boleh berbohong pula dalam bercanda, bersandiwara atau hanya ingin membuat orang lain tertawa. Dari Bahz bin Hakim, ia berkata bahwa ayahnya, Hakim telah menceritakan bahwa ia pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, وَيْلٌ لِلَّذِى يُحَدِّثُ فَيَكْذِبُ لِيُضْحِكَ بِهِ الْقَوْمَ وَيْلٌ لَهُ وَيْلٌ لَهُ “Celakalah bagi yang berbicara lantas berdusta hanya karena ingin membuat suatu kaum tertawa. Celakalah dia, celakalah dia.” (HR. Abu Daud no. 4990 dan Tirmidzi no. 3315. Al-Hafizh Abu Thaohir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan) Di antara faktor yang mendorong seseorang biasa berbohong: jauh dari agama, tidak takut akan siksa atau hukuman dari Allah di akhirat, ingin mendapatkan kebaikan yang cepat diperoleh di dunia, sudah jadi kebiasaan, hasil didikan yang jelek. Marilah jadikan bulan Ramadhan sebagai ajang untuk memperbaiki diri menjadi lebih baik. — Sore hari @ Pesantren Darush Sholihin GK, 27 Sya’ban 1435 H Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsbohong pembatal puasa

Bohong Saat Puasa, Apakah Membatalkan Puasa?

Apakah bohong saat puasa bisa membatalkan puasa? Berbohong Saat Puasa Larangan berbohong saat berpuasa telah disebutkan dalam hadits berikut ini, مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِى أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ “Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta malah mengamalkannya, maka Allah tidak butuh dari rasa lapar dan haus yang dia tahan.” (HR. Bukhari no. 1903) Zuur yang dimaksud dalam hadits di atas adalah dusta. Berdusta dianggap jelek setiap waktu. Namun semakin teranggap jelek jika dilakukan di bulan Ramadhan. Hadits di atas menunjukkan tercelanya dusta. Seorang muslim tentu saja harus menjauhi hal itu. Jumhur (mayoritas) ulama berpendapat bahwa larangan yang dimaksud dalam hadits di atas adalah larangan haram, namun bukan termasuk pembatal puasa. Pembatal puasa hanyalah makan, minum dan jima’ (hubungan intim). Lihat Fath Al-Bari, 4: 117. Sebagaimana dikatakan oleh Ibnul ‘Arabi, مُقْتَضَى هَذَا الْحَدِيثِ أَنَّ مَنْ فَعَلَ مَا ذُكِرَ لَا يُثَابُ عَلَى صِيَامِهِ ، وَمَعْنَاهُ أَنَّ ثَوَاب الصِّيَام لَا يَقُومُ فِي الْمُوَازَنَةِ بِإِثْم الزُّور وَمَا ذُكِرَ مَعَهُ “Konsekuensi dari hadits tersebut, siapa saja yang melakukan dusta yang telah disebutkan, balasan puasanya tidak diberikan. Pahala puasa tidak ditimbang dalam timbangan karena telah bercampur dengan dusta dan yang disebutkan bersamanya.” (Fath Al-Bari, 4: 117) Al-Baidhawi menyatakan, لَيْسَ الْمَقْصُود مِنْ شَرْعِيَّةِ الصَّوْمِ نَفْس الْجُوعِ وَالْعَطَشِ ، بَلْ مَا يَتْبَعُهُ مِنْ كَسْرِ الشَّهَوَات وَتَطْوِيعِ النَّفْسِ الْأَمَّارَةِ لِلنَّفْسِ الْمُطْمَئِنَّةِ ، فَإِذَا لَمْ يَحْصُلْ ذَلِكَ لَا يَنْظُرُ اللَّه إِلَيْهِ نَظَر الْقَبُولِ “Bukanlah maksud syari’at puasa adalah menahan lapar dan dahaga saja. Dalam puasa haruslah bisa mengendalikan syahwat dan memenej jiwa agar memiliki hati yang tenang. Jika tidak bisa melakukan seperti itu, maka Allah tidaklah menerima puasa tersebut.” (Fath Al-Bari, 4: 117) Dampak Jelek Berbohong 1- Berbohong memang teramat bahaya yang dapat mengantarkan pada sifat-sifat jelek lainnya. Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِى إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِى إِلَى الْجَنَّةِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ صِدِّيقًا وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِى إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِى إِلَى النَّارِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا “Hendaklah kalian senantiasa berlaku jujur karena sesungguhnya kejujuran akan mengantarkan pada kebaikan dan sesungguhnya kebaikan akan mengantarkan pada surga. Jika seseorang senantiasa berlaku jujur dan berusaha untuk jujur, maka dia akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Hati-hatilah kalian dari berbuat dusta, karena sesungguhnya dusta akan mengantarkan kepada kejahatan dan kejahatan akan mengantarkan pada neraka. Jika seseorang sukanya berdusta dan berupaya untuk berdusta, maka ia akan dicatat di sisi Allah sebagai pendusta.” (HR. Muslim no. 2607) 2- Berbohong selalu menggelisahkan jiwa, berbedakan dengan sifat jujur yang selalu menenangkan. Dari Al-Hasan bin ‘Ali, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, دَعْ مَا يَرِيبُكَ إِلَى مَا لاَ يَرِيبُكَ فَإِنَّ الصِّدْقَ طُمَأْنِينَةٌ وَإِنَّ الْكَذِبَ رِيبَةٌ “Tinggalkanlah yang meragukanmu pada apa yang tidak meragukanmu. Sesungguhnya kejujuran lebih menenangkan jiwa, sedangkan dusta akan menggelisahkan jiwa.” (HR. Tirmidzi no. 2518 dan Ahmad 1: 200. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih). 3- Berbohong merupakan tanda kemunafikan. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلاَثٌ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ ، وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ “Ada tiga tanda munafik: jika berkata, ia dusta; jika berjanji, ia mengingkari; dan jika diberi amanat, ia khianat.” (HR. Bukhari no. 33) Asy-Sya’bi berkata, مَنْ كَذَبَ ، فَهُوَ مُنَافِقٌ “Siapa yang berdusta, maka ia adalah munafik.” (Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2: 493) Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata, الكَذِبُ جِمَاعُ النِّفَاقُ “Dusta dapat mengumpulkan sifat kemunafikan.” (Ramadhan Durusun wa ‘Ibarun, hal. 39). Mengajarkan Anak untuk Berbohong Ada perkataan dari Az-Zuhri, dari Abu Hurairah –walau sanad riwayat ini munqathi’ (terputus)-, ia berkata, “Siapa yang mengatakan pada seorang bocah, ‘Mari sini, ada kurma untukmu.’ Kemudian ia tidak memberinya sedikit kurma pun, maka ia telah berdusta.” (Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2; 485). Tidak sedikit dari orang tua yang membohongi anaknya seperti yang dinyatakan dari Abu Hurairah di sini. Syaikh Musthofa Al ‘Adawi hafizhahullah berkata, “Jika orang tua sudah mengingkari janji yang ia katakan pada anaknya, maka hilanglah kepercayaan dari anak pada orang tua. Bagaimana lagi jika orang tua sampai mengajarkan secara langsung untuk mengingkari janji? Tentu nantinya anak tidak lagi percaya pada orang tuanya sendiri. Begitu pula didikan yang keliru adalah jika ada seseorang yang datang mencari orang tua, lalu ia katakan pada anaknya, ‘Beritahu saja, bapak tidak ada di rumah.’ Ini termasuk dosa dan telah mendidik anak untuk berbohong tanpa orang tua sadari.” (Fiqh Tarbiyah Al-Abna’, hal. 243). Berbohong Saat Bercanda Tidak boleh berbohong pula dalam bercanda, bersandiwara atau hanya ingin membuat orang lain tertawa. Dari Bahz bin Hakim, ia berkata bahwa ayahnya, Hakim telah menceritakan bahwa ia pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, وَيْلٌ لِلَّذِى يُحَدِّثُ فَيَكْذِبُ لِيُضْحِكَ بِهِ الْقَوْمَ وَيْلٌ لَهُ وَيْلٌ لَهُ “Celakalah bagi yang berbicara lantas berdusta hanya karena ingin membuat suatu kaum tertawa. Celakalah dia, celakalah dia.” (HR. Abu Daud no. 4990 dan Tirmidzi no. 3315. Al-Hafizh Abu Thaohir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan) Di antara faktor yang mendorong seseorang biasa berbohong: jauh dari agama, tidak takut akan siksa atau hukuman dari Allah di akhirat, ingin mendapatkan kebaikan yang cepat diperoleh di dunia, sudah jadi kebiasaan, hasil didikan yang jelek. Marilah jadikan bulan Ramadhan sebagai ajang untuk memperbaiki diri menjadi lebih baik. — Sore hari @ Pesantren Darush Sholihin GK, 27 Sya’ban 1435 H Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsbohong pembatal puasa
Apakah bohong saat puasa bisa membatalkan puasa? Berbohong Saat Puasa Larangan berbohong saat berpuasa telah disebutkan dalam hadits berikut ini, مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِى أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ “Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta malah mengamalkannya, maka Allah tidak butuh dari rasa lapar dan haus yang dia tahan.” (HR. Bukhari no. 1903) Zuur yang dimaksud dalam hadits di atas adalah dusta. Berdusta dianggap jelek setiap waktu. Namun semakin teranggap jelek jika dilakukan di bulan Ramadhan. Hadits di atas menunjukkan tercelanya dusta. Seorang muslim tentu saja harus menjauhi hal itu. Jumhur (mayoritas) ulama berpendapat bahwa larangan yang dimaksud dalam hadits di atas adalah larangan haram, namun bukan termasuk pembatal puasa. Pembatal puasa hanyalah makan, minum dan jima’ (hubungan intim). Lihat Fath Al-Bari, 4: 117. Sebagaimana dikatakan oleh Ibnul ‘Arabi, مُقْتَضَى هَذَا الْحَدِيثِ أَنَّ مَنْ فَعَلَ مَا ذُكِرَ لَا يُثَابُ عَلَى صِيَامِهِ ، وَمَعْنَاهُ أَنَّ ثَوَاب الصِّيَام لَا يَقُومُ فِي الْمُوَازَنَةِ بِإِثْم الزُّور وَمَا ذُكِرَ مَعَهُ “Konsekuensi dari hadits tersebut, siapa saja yang melakukan dusta yang telah disebutkan, balasan puasanya tidak diberikan. Pahala puasa tidak ditimbang dalam timbangan karena telah bercampur dengan dusta dan yang disebutkan bersamanya.” (Fath Al-Bari, 4: 117) Al-Baidhawi menyatakan, لَيْسَ الْمَقْصُود مِنْ شَرْعِيَّةِ الصَّوْمِ نَفْس الْجُوعِ وَالْعَطَشِ ، بَلْ مَا يَتْبَعُهُ مِنْ كَسْرِ الشَّهَوَات وَتَطْوِيعِ النَّفْسِ الْأَمَّارَةِ لِلنَّفْسِ الْمُطْمَئِنَّةِ ، فَإِذَا لَمْ يَحْصُلْ ذَلِكَ لَا يَنْظُرُ اللَّه إِلَيْهِ نَظَر الْقَبُولِ “Bukanlah maksud syari’at puasa adalah menahan lapar dan dahaga saja. Dalam puasa haruslah bisa mengendalikan syahwat dan memenej jiwa agar memiliki hati yang tenang. Jika tidak bisa melakukan seperti itu, maka Allah tidaklah menerima puasa tersebut.” (Fath Al-Bari, 4: 117) Dampak Jelek Berbohong 1- Berbohong memang teramat bahaya yang dapat mengantarkan pada sifat-sifat jelek lainnya. Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِى إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِى إِلَى الْجَنَّةِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ صِدِّيقًا وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِى إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِى إِلَى النَّارِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا “Hendaklah kalian senantiasa berlaku jujur karena sesungguhnya kejujuran akan mengantarkan pada kebaikan dan sesungguhnya kebaikan akan mengantarkan pada surga. Jika seseorang senantiasa berlaku jujur dan berusaha untuk jujur, maka dia akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Hati-hatilah kalian dari berbuat dusta, karena sesungguhnya dusta akan mengantarkan kepada kejahatan dan kejahatan akan mengantarkan pada neraka. Jika seseorang sukanya berdusta dan berupaya untuk berdusta, maka ia akan dicatat di sisi Allah sebagai pendusta.” (HR. Muslim no. 2607) 2- Berbohong selalu menggelisahkan jiwa, berbedakan dengan sifat jujur yang selalu menenangkan. Dari Al-Hasan bin ‘Ali, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, دَعْ مَا يَرِيبُكَ إِلَى مَا لاَ يَرِيبُكَ فَإِنَّ الصِّدْقَ طُمَأْنِينَةٌ وَإِنَّ الْكَذِبَ رِيبَةٌ “Tinggalkanlah yang meragukanmu pada apa yang tidak meragukanmu. Sesungguhnya kejujuran lebih menenangkan jiwa, sedangkan dusta akan menggelisahkan jiwa.” (HR. Tirmidzi no. 2518 dan Ahmad 1: 200. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih). 3- Berbohong merupakan tanda kemunafikan. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلاَثٌ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ ، وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ “Ada tiga tanda munafik: jika berkata, ia dusta; jika berjanji, ia mengingkari; dan jika diberi amanat, ia khianat.” (HR. Bukhari no. 33) Asy-Sya’bi berkata, مَنْ كَذَبَ ، فَهُوَ مُنَافِقٌ “Siapa yang berdusta, maka ia adalah munafik.” (Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2: 493) Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata, الكَذِبُ جِمَاعُ النِّفَاقُ “Dusta dapat mengumpulkan sifat kemunafikan.” (Ramadhan Durusun wa ‘Ibarun, hal. 39). Mengajarkan Anak untuk Berbohong Ada perkataan dari Az-Zuhri, dari Abu Hurairah –walau sanad riwayat ini munqathi’ (terputus)-, ia berkata, “Siapa yang mengatakan pada seorang bocah, ‘Mari sini, ada kurma untukmu.’ Kemudian ia tidak memberinya sedikit kurma pun, maka ia telah berdusta.” (Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2; 485). Tidak sedikit dari orang tua yang membohongi anaknya seperti yang dinyatakan dari Abu Hurairah di sini. Syaikh Musthofa Al ‘Adawi hafizhahullah berkata, “Jika orang tua sudah mengingkari janji yang ia katakan pada anaknya, maka hilanglah kepercayaan dari anak pada orang tua. Bagaimana lagi jika orang tua sampai mengajarkan secara langsung untuk mengingkari janji? Tentu nantinya anak tidak lagi percaya pada orang tuanya sendiri. Begitu pula didikan yang keliru adalah jika ada seseorang yang datang mencari orang tua, lalu ia katakan pada anaknya, ‘Beritahu saja, bapak tidak ada di rumah.’ Ini termasuk dosa dan telah mendidik anak untuk berbohong tanpa orang tua sadari.” (Fiqh Tarbiyah Al-Abna’, hal. 243). Berbohong Saat Bercanda Tidak boleh berbohong pula dalam bercanda, bersandiwara atau hanya ingin membuat orang lain tertawa. Dari Bahz bin Hakim, ia berkata bahwa ayahnya, Hakim telah menceritakan bahwa ia pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, وَيْلٌ لِلَّذِى يُحَدِّثُ فَيَكْذِبُ لِيُضْحِكَ بِهِ الْقَوْمَ وَيْلٌ لَهُ وَيْلٌ لَهُ “Celakalah bagi yang berbicara lantas berdusta hanya karena ingin membuat suatu kaum tertawa. Celakalah dia, celakalah dia.” (HR. Abu Daud no. 4990 dan Tirmidzi no. 3315. Al-Hafizh Abu Thaohir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan) Di antara faktor yang mendorong seseorang biasa berbohong: jauh dari agama, tidak takut akan siksa atau hukuman dari Allah di akhirat, ingin mendapatkan kebaikan yang cepat diperoleh di dunia, sudah jadi kebiasaan, hasil didikan yang jelek. Marilah jadikan bulan Ramadhan sebagai ajang untuk memperbaiki diri menjadi lebih baik. — Sore hari @ Pesantren Darush Sholihin GK, 27 Sya’ban 1435 H Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsbohong pembatal puasa


Apakah bohong saat puasa bisa membatalkan puasa? Berbohong Saat Puasa Larangan berbohong saat berpuasa telah disebutkan dalam hadits berikut ini, مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِى أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ “Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta malah mengamalkannya, maka Allah tidak butuh dari rasa lapar dan haus yang dia tahan.” (HR. Bukhari no. 1903) Zuur yang dimaksud dalam hadits di atas adalah dusta. Berdusta dianggap jelek setiap waktu. Namun semakin teranggap jelek jika dilakukan di bulan Ramadhan. Hadits di atas menunjukkan tercelanya dusta. Seorang muslim tentu saja harus menjauhi hal itu. Jumhur (mayoritas) ulama berpendapat bahwa larangan yang dimaksud dalam hadits di atas adalah larangan haram, namun bukan termasuk pembatal puasa. Pembatal puasa hanyalah makan, minum dan jima’ (hubungan intim). Lihat Fath Al-Bari, 4: 117. Sebagaimana dikatakan oleh Ibnul ‘Arabi, مُقْتَضَى هَذَا الْحَدِيثِ أَنَّ مَنْ فَعَلَ مَا ذُكِرَ لَا يُثَابُ عَلَى صِيَامِهِ ، وَمَعْنَاهُ أَنَّ ثَوَاب الصِّيَام لَا يَقُومُ فِي الْمُوَازَنَةِ بِإِثْم الزُّور وَمَا ذُكِرَ مَعَهُ “Konsekuensi dari hadits tersebut, siapa saja yang melakukan dusta yang telah disebutkan, balasan puasanya tidak diberikan. Pahala puasa tidak ditimbang dalam timbangan karena telah bercampur dengan dusta dan yang disebutkan bersamanya.” (Fath Al-Bari, 4: 117) Al-Baidhawi menyatakan, لَيْسَ الْمَقْصُود مِنْ شَرْعِيَّةِ الصَّوْمِ نَفْس الْجُوعِ وَالْعَطَشِ ، بَلْ مَا يَتْبَعُهُ مِنْ كَسْرِ الشَّهَوَات وَتَطْوِيعِ النَّفْسِ الْأَمَّارَةِ لِلنَّفْسِ الْمُطْمَئِنَّةِ ، فَإِذَا لَمْ يَحْصُلْ ذَلِكَ لَا يَنْظُرُ اللَّه إِلَيْهِ نَظَر الْقَبُولِ “Bukanlah maksud syari’at puasa adalah menahan lapar dan dahaga saja. Dalam puasa haruslah bisa mengendalikan syahwat dan memenej jiwa agar memiliki hati yang tenang. Jika tidak bisa melakukan seperti itu, maka Allah tidaklah menerima puasa tersebut.” (Fath Al-Bari, 4: 117) Dampak Jelek Berbohong 1- Berbohong memang teramat bahaya yang dapat mengantarkan pada sifat-sifat jelek lainnya. Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِى إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِى إِلَى الْجَنَّةِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ صِدِّيقًا وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِى إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِى إِلَى النَّارِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا “Hendaklah kalian senantiasa berlaku jujur karena sesungguhnya kejujuran akan mengantarkan pada kebaikan dan sesungguhnya kebaikan akan mengantarkan pada surga. Jika seseorang senantiasa berlaku jujur dan berusaha untuk jujur, maka dia akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Hati-hatilah kalian dari berbuat dusta, karena sesungguhnya dusta akan mengantarkan kepada kejahatan dan kejahatan akan mengantarkan pada neraka. Jika seseorang sukanya berdusta dan berupaya untuk berdusta, maka ia akan dicatat di sisi Allah sebagai pendusta.” (HR. Muslim no. 2607) 2- Berbohong selalu menggelisahkan jiwa, berbedakan dengan sifat jujur yang selalu menenangkan. Dari Al-Hasan bin ‘Ali, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, دَعْ مَا يَرِيبُكَ إِلَى مَا لاَ يَرِيبُكَ فَإِنَّ الصِّدْقَ طُمَأْنِينَةٌ وَإِنَّ الْكَذِبَ رِيبَةٌ “Tinggalkanlah yang meragukanmu pada apa yang tidak meragukanmu. Sesungguhnya kejujuran lebih menenangkan jiwa, sedangkan dusta akan menggelisahkan jiwa.” (HR. Tirmidzi no. 2518 dan Ahmad 1: 200. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih). 3- Berbohong merupakan tanda kemunafikan. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلاَثٌ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ ، وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ “Ada tiga tanda munafik: jika berkata, ia dusta; jika berjanji, ia mengingkari; dan jika diberi amanat, ia khianat.” (HR. Bukhari no. 33) Asy-Sya’bi berkata, مَنْ كَذَبَ ، فَهُوَ مُنَافِقٌ “Siapa yang berdusta, maka ia adalah munafik.” (Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2: 493) Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata, الكَذِبُ جِمَاعُ النِّفَاقُ “Dusta dapat mengumpulkan sifat kemunafikan.” (Ramadhan Durusun wa ‘Ibarun, hal. 39). Mengajarkan Anak untuk Berbohong Ada perkataan dari Az-Zuhri, dari Abu Hurairah –walau sanad riwayat ini munqathi’ (terputus)-, ia berkata, “Siapa yang mengatakan pada seorang bocah, ‘Mari sini, ada kurma untukmu.’ Kemudian ia tidak memberinya sedikit kurma pun, maka ia telah berdusta.” (Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2; 485). Tidak sedikit dari orang tua yang membohongi anaknya seperti yang dinyatakan dari Abu Hurairah di sini. Syaikh Musthofa Al ‘Adawi hafizhahullah berkata, “Jika orang tua sudah mengingkari janji yang ia katakan pada anaknya, maka hilanglah kepercayaan dari anak pada orang tua. Bagaimana lagi jika orang tua sampai mengajarkan secara langsung untuk mengingkari janji? Tentu nantinya anak tidak lagi percaya pada orang tuanya sendiri. Begitu pula didikan yang keliru adalah jika ada seseorang yang datang mencari orang tua, lalu ia katakan pada anaknya, ‘Beritahu saja, bapak tidak ada di rumah.’ Ini termasuk dosa dan telah mendidik anak untuk berbohong tanpa orang tua sadari.” (Fiqh Tarbiyah Al-Abna’, hal. 243). Berbohong Saat Bercanda Tidak boleh berbohong pula dalam bercanda, bersandiwara atau hanya ingin membuat orang lain tertawa. Dari Bahz bin Hakim, ia berkata bahwa ayahnya, Hakim telah menceritakan bahwa ia pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, وَيْلٌ لِلَّذِى يُحَدِّثُ فَيَكْذِبُ لِيُضْحِكَ بِهِ الْقَوْمَ وَيْلٌ لَهُ وَيْلٌ لَهُ “Celakalah bagi yang berbicara lantas berdusta hanya karena ingin membuat suatu kaum tertawa. Celakalah dia, celakalah dia.” (HR. Abu Daud no. 4990 dan Tirmidzi no. 3315. Al-Hafizh Abu Thaohir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan) Di antara faktor yang mendorong seseorang biasa berbohong: jauh dari agama, tidak takut akan siksa atau hukuman dari Allah di akhirat, ingin mendapatkan kebaikan yang cepat diperoleh di dunia, sudah jadi kebiasaan, hasil didikan yang jelek. Marilah jadikan bulan Ramadhan sebagai ajang untuk memperbaiki diri menjadi lebih baik. — Sore hari @ Pesantren Darush Sholihin GK, 27 Sya’ban 1435 H Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsbohong pembatal puasa

Hukum Tidur Telanjang Tanpa Busana

Bolehkah tidur dalam keadaan telanjang tanpa busana? Coba renungkan ayat berikut, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لِيَسْتَأْذِنْكُمُ الَّذِينَ مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ وَالَّذِينَ لَمْ يَبْلُغُوا الْحُلُمَ مِنْكُمْ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ مِنْ قَبْلِ صَلَاةِ الْفَجْرِ وَحِينَ تَضَعُونَ ثِيَابَكُمْ مِنَ الظَّهِيرَةِ وَمِنْ بَعْدِ صَلَاةِ الْعِشَاءِ ثَلَاثُ عَوْرَاتٍ لَكُمْ لَيْسَ عَلَيْكُمْ وَلَا عَلَيْهِمْ جُنَاحٌ بَعْدَهُنَّ طَوَّافُونَ عَلَيْكُمْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَعْضٍ كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمُ الْآَيَاتِ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ “Hai orang-orang yang beriman, hendaklah budak-budak (lelaki dan wanita) yang kamu miliki, dan orang-orang yang belum baligh di antara kamu, meminta izin kepada kamu tiga kali (dalam satu hari) yaitu: sebelum shalat subuh, ketika kamu menanggalkan pakaian (luar)-mu di tengah hari dan sesudah shalat Isya’. (Itulah) tiga ‘aurat bagi kamu. Tidak ada dosa atasmu dan tidak (pula) atas mereka selain dari (tiga waktu) itu. Mereka melayani kamu, sebahagian kamu (ada keperluan) kepada sebahagian (yang lain). Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat bagi kamu. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. An-Nur: 58) Tiga keadaan yang disebutkan dalam ayat di atas adalah waktu untuk meminta izin bagi keluarga dekat ketika masuk ke dalam kamar kerabat lainnya. Kalau yang disebutkan dalam awal surat adalah permintaan izin bagi yang bukan mahram satu dan lainnya. Sedangkan ayat ini, Allah memerintahkan kepada orang-orang beriman supaya budak mereka dan anak-anak mereka yang belum baligh (dewasa) meminta izin dalam tiga keadaan: Sebelum shalat Shubuh karena ketika itu masih berada di ranjang. Di waktu qoilulah saat pakaian ditanggalkan karena sedang berduaan dengan pasangannya. Setelah shalat Isya yang merupakan waktu untuk tidur. Ayat tersebut menunjukkan bahwa hendaknya dalam tiga waktu tersebut seorang hamba sahaya atau pun anak kecil tidaklah masuk ke kamar tanpa izin. Demikian keterangan dari Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 5: 565. Lihat pada keterangan Ibnu Katsir di atas, beliau berkata, فِي وَقْتِ اْلقَيْلُوْلَةِ؛ لِأَنَّ الْإِنْسَانَ قَدْ يَضَعُ ثِيَابَهُ فِي تِلْكَ الحَالِ مَعَ أَهْلِهِ “Di waktu qoilulah (tidur di siang hari) biasa pakaian itu dilepas karena tidur dengan istrinya.” Dari sini, bisa disimpulkan bahwa seorang muslim boleh melepas pakaiannya dan tidur dalam keadaan telanjang jika ia berada dalam kamar tidurnya secara khusus. Selama tidak khawatir kalau auratnya terlihat oleh orang lain yang tidak dihalalkan melihat auratnya, maka dibolehkan dalam keadaan seperti itu. Yang jelas, tidak boleh melihat aurat kecuali pasangan suami istri. Sebagaimana disebutkan dalam hadits dari Bahz bin Hakim, dari bapaknya, dari kakeknya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, احْفَظْ عَوْرَتَكَ إِلاَّ مِنْ زَوْجَتِكَ أَوْ مَا مَلَكَتْ يَمِينُكَ “Jagalah auratmu kecuali pada istri atau pada hamba sahaya wanitamu.” (HR. Abu Daud no. 4017 dan Tirmidzi no. 2794. Al-Hafiz Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan). Bahkan dalam dalil lain disebutkan bahwa ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha melepas bajunya ketika tidur saat tidur di samping Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dalam Shahih Muslim, ‘Aisyah berkata, لَمَّا كَانَتْ لَيْلَتِىَ الَّتِى كَانَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- فِيهَا عِنْدِى انْقَلَبَ فَوَضَعَ رِدَاءَهُ وَخَلَعَ نَعْلَيْهِ فَوَضَعَهُمَا عِنْدَ رِجْلَيْهِ وَبَسَطَ طَرَفَ إِزَارِهِ عَلَى فِرَاشِهِ فَاضْطَجَعَ فَلَمْ يَلْبَثْ إِلاَّ رَيْثَمَا ظَنَّ أَنْ قَدْ رَقَدْتُ فَأَخَذَ رِدَاءَهُ رُوَيْدًا وَانْتَعَلَ رُوَيْدًا وَفَتَحَ الْبَابَ فَخَرَجَ ثُمَّ أَجَافَهُ رُوَيْدًا فَجَعَلْتُ دِرْعِى فِى رَأْسِى وَاخْتَمَرْتُ وَتَقَنَّعْتُ إِزَارِى ثُمَّ انْطَلَقْتُ عَلَى إِثْرِهِ حَتَّى جَاءَ الْبَقِيعَ “Suatu malam yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada malam itu di rumahku, beliau berbalik lalu beliau meletakkan rida’nya (pakaian bagian atasnya). Beliau juga melepaskan dua sandalnya lalu meletakkan keduanya di samping kedua kakinya. Kemudian beliau menggelar ujung sarungnya di atas kasurnya, lalu beliau berbaring. Beliau seperti itu karena mengira aku telah tertidur. Lalu beliau mengambil rida’nya (pakaian bagian atasnya) dengan pelan-pelan. Beliau juga memakai sandalnya dengan pelan-pelan, lalu membuka pintu dan keluar, lalu menutupnya juga dengan pelan-pelan. Maka aku pun meletakkan pakaianku di atas kepalaku dan aku berkerudung. Lalu aku memakai pakaianku kemudian aku membuntuti di belakang beliau, sehingga beliau sampai di pekuburan Baqi’.” (HR. Muslim no. 974) Yang dimaksud dengan, وَتَقَنَّعْتُ إِزَارِى adalah: “aku memakai pakaianku.” (Syarh Shahih Muslim, 7: 41). Kata para ulama, ini berarti ‘Aisyah ketika itu tidur dalam keadaan tidak berbusana atau berpakaian. Yang lebih baik ketika tidur adalah tidak sampai telanjang bulat. Apalagi jika ada anak kecil yang belum baligh yang tidur bersama orang tuanya, tentu hal tersebut patut dipertimbangkan. Semoga bermanfaat. Hanya Allah yang memberi taufik. — Selesai disusun di Panggang, Gunungkidul, 15 Sya’ban 1436 H Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsadab tidur telanjang

Hukum Tidur Telanjang Tanpa Busana

Bolehkah tidur dalam keadaan telanjang tanpa busana? Coba renungkan ayat berikut, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لِيَسْتَأْذِنْكُمُ الَّذِينَ مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ وَالَّذِينَ لَمْ يَبْلُغُوا الْحُلُمَ مِنْكُمْ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ مِنْ قَبْلِ صَلَاةِ الْفَجْرِ وَحِينَ تَضَعُونَ ثِيَابَكُمْ مِنَ الظَّهِيرَةِ وَمِنْ بَعْدِ صَلَاةِ الْعِشَاءِ ثَلَاثُ عَوْرَاتٍ لَكُمْ لَيْسَ عَلَيْكُمْ وَلَا عَلَيْهِمْ جُنَاحٌ بَعْدَهُنَّ طَوَّافُونَ عَلَيْكُمْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَعْضٍ كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمُ الْآَيَاتِ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ “Hai orang-orang yang beriman, hendaklah budak-budak (lelaki dan wanita) yang kamu miliki, dan orang-orang yang belum baligh di antara kamu, meminta izin kepada kamu tiga kali (dalam satu hari) yaitu: sebelum shalat subuh, ketika kamu menanggalkan pakaian (luar)-mu di tengah hari dan sesudah shalat Isya’. (Itulah) tiga ‘aurat bagi kamu. Tidak ada dosa atasmu dan tidak (pula) atas mereka selain dari (tiga waktu) itu. Mereka melayani kamu, sebahagian kamu (ada keperluan) kepada sebahagian (yang lain). Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat bagi kamu. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. An-Nur: 58) Tiga keadaan yang disebutkan dalam ayat di atas adalah waktu untuk meminta izin bagi keluarga dekat ketika masuk ke dalam kamar kerabat lainnya. Kalau yang disebutkan dalam awal surat adalah permintaan izin bagi yang bukan mahram satu dan lainnya. Sedangkan ayat ini, Allah memerintahkan kepada orang-orang beriman supaya budak mereka dan anak-anak mereka yang belum baligh (dewasa) meminta izin dalam tiga keadaan: Sebelum shalat Shubuh karena ketika itu masih berada di ranjang. Di waktu qoilulah saat pakaian ditanggalkan karena sedang berduaan dengan pasangannya. Setelah shalat Isya yang merupakan waktu untuk tidur. Ayat tersebut menunjukkan bahwa hendaknya dalam tiga waktu tersebut seorang hamba sahaya atau pun anak kecil tidaklah masuk ke kamar tanpa izin. Demikian keterangan dari Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 5: 565. Lihat pada keterangan Ibnu Katsir di atas, beliau berkata, فِي وَقْتِ اْلقَيْلُوْلَةِ؛ لِأَنَّ الْإِنْسَانَ قَدْ يَضَعُ ثِيَابَهُ فِي تِلْكَ الحَالِ مَعَ أَهْلِهِ “Di waktu qoilulah (tidur di siang hari) biasa pakaian itu dilepas karena tidur dengan istrinya.” Dari sini, bisa disimpulkan bahwa seorang muslim boleh melepas pakaiannya dan tidur dalam keadaan telanjang jika ia berada dalam kamar tidurnya secara khusus. Selama tidak khawatir kalau auratnya terlihat oleh orang lain yang tidak dihalalkan melihat auratnya, maka dibolehkan dalam keadaan seperti itu. Yang jelas, tidak boleh melihat aurat kecuali pasangan suami istri. Sebagaimana disebutkan dalam hadits dari Bahz bin Hakim, dari bapaknya, dari kakeknya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, احْفَظْ عَوْرَتَكَ إِلاَّ مِنْ زَوْجَتِكَ أَوْ مَا مَلَكَتْ يَمِينُكَ “Jagalah auratmu kecuali pada istri atau pada hamba sahaya wanitamu.” (HR. Abu Daud no. 4017 dan Tirmidzi no. 2794. Al-Hafiz Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan). Bahkan dalam dalil lain disebutkan bahwa ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha melepas bajunya ketika tidur saat tidur di samping Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dalam Shahih Muslim, ‘Aisyah berkata, لَمَّا كَانَتْ لَيْلَتِىَ الَّتِى كَانَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- فِيهَا عِنْدِى انْقَلَبَ فَوَضَعَ رِدَاءَهُ وَخَلَعَ نَعْلَيْهِ فَوَضَعَهُمَا عِنْدَ رِجْلَيْهِ وَبَسَطَ طَرَفَ إِزَارِهِ عَلَى فِرَاشِهِ فَاضْطَجَعَ فَلَمْ يَلْبَثْ إِلاَّ رَيْثَمَا ظَنَّ أَنْ قَدْ رَقَدْتُ فَأَخَذَ رِدَاءَهُ رُوَيْدًا وَانْتَعَلَ رُوَيْدًا وَفَتَحَ الْبَابَ فَخَرَجَ ثُمَّ أَجَافَهُ رُوَيْدًا فَجَعَلْتُ دِرْعِى فِى رَأْسِى وَاخْتَمَرْتُ وَتَقَنَّعْتُ إِزَارِى ثُمَّ انْطَلَقْتُ عَلَى إِثْرِهِ حَتَّى جَاءَ الْبَقِيعَ “Suatu malam yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada malam itu di rumahku, beliau berbalik lalu beliau meletakkan rida’nya (pakaian bagian atasnya). Beliau juga melepaskan dua sandalnya lalu meletakkan keduanya di samping kedua kakinya. Kemudian beliau menggelar ujung sarungnya di atas kasurnya, lalu beliau berbaring. Beliau seperti itu karena mengira aku telah tertidur. Lalu beliau mengambil rida’nya (pakaian bagian atasnya) dengan pelan-pelan. Beliau juga memakai sandalnya dengan pelan-pelan, lalu membuka pintu dan keluar, lalu menutupnya juga dengan pelan-pelan. Maka aku pun meletakkan pakaianku di atas kepalaku dan aku berkerudung. Lalu aku memakai pakaianku kemudian aku membuntuti di belakang beliau, sehingga beliau sampai di pekuburan Baqi’.” (HR. Muslim no. 974) Yang dimaksud dengan, وَتَقَنَّعْتُ إِزَارِى adalah: “aku memakai pakaianku.” (Syarh Shahih Muslim, 7: 41). Kata para ulama, ini berarti ‘Aisyah ketika itu tidur dalam keadaan tidak berbusana atau berpakaian. Yang lebih baik ketika tidur adalah tidak sampai telanjang bulat. Apalagi jika ada anak kecil yang belum baligh yang tidur bersama orang tuanya, tentu hal tersebut patut dipertimbangkan. Semoga bermanfaat. Hanya Allah yang memberi taufik. — Selesai disusun di Panggang, Gunungkidul, 15 Sya’ban 1436 H Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsadab tidur telanjang
Bolehkah tidur dalam keadaan telanjang tanpa busana? Coba renungkan ayat berikut, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لِيَسْتَأْذِنْكُمُ الَّذِينَ مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ وَالَّذِينَ لَمْ يَبْلُغُوا الْحُلُمَ مِنْكُمْ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ مِنْ قَبْلِ صَلَاةِ الْفَجْرِ وَحِينَ تَضَعُونَ ثِيَابَكُمْ مِنَ الظَّهِيرَةِ وَمِنْ بَعْدِ صَلَاةِ الْعِشَاءِ ثَلَاثُ عَوْرَاتٍ لَكُمْ لَيْسَ عَلَيْكُمْ وَلَا عَلَيْهِمْ جُنَاحٌ بَعْدَهُنَّ طَوَّافُونَ عَلَيْكُمْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَعْضٍ كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمُ الْآَيَاتِ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ “Hai orang-orang yang beriman, hendaklah budak-budak (lelaki dan wanita) yang kamu miliki, dan orang-orang yang belum baligh di antara kamu, meminta izin kepada kamu tiga kali (dalam satu hari) yaitu: sebelum shalat subuh, ketika kamu menanggalkan pakaian (luar)-mu di tengah hari dan sesudah shalat Isya’. (Itulah) tiga ‘aurat bagi kamu. Tidak ada dosa atasmu dan tidak (pula) atas mereka selain dari (tiga waktu) itu. Mereka melayani kamu, sebahagian kamu (ada keperluan) kepada sebahagian (yang lain). Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat bagi kamu. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. An-Nur: 58) Tiga keadaan yang disebutkan dalam ayat di atas adalah waktu untuk meminta izin bagi keluarga dekat ketika masuk ke dalam kamar kerabat lainnya. Kalau yang disebutkan dalam awal surat adalah permintaan izin bagi yang bukan mahram satu dan lainnya. Sedangkan ayat ini, Allah memerintahkan kepada orang-orang beriman supaya budak mereka dan anak-anak mereka yang belum baligh (dewasa) meminta izin dalam tiga keadaan: Sebelum shalat Shubuh karena ketika itu masih berada di ranjang. Di waktu qoilulah saat pakaian ditanggalkan karena sedang berduaan dengan pasangannya. Setelah shalat Isya yang merupakan waktu untuk tidur. Ayat tersebut menunjukkan bahwa hendaknya dalam tiga waktu tersebut seorang hamba sahaya atau pun anak kecil tidaklah masuk ke kamar tanpa izin. Demikian keterangan dari Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 5: 565. Lihat pada keterangan Ibnu Katsir di atas, beliau berkata, فِي وَقْتِ اْلقَيْلُوْلَةِ؛ لِأَنَّ الْإِنْسَانَ قَدْ يَضَعُ ثِيَابَهُ فِي تِلْكَ الحَالِ مَعَ أَهْلِهِ “Di waktu qoilulah (tidur di siang hari) biasa pakaian itu dilepas karena tidur dengan istrinya.” Dari sini, bisa disimpulkan bahwa seorang muslim boleh melepas pakaiannya dan tidur dalam keadaan telanjang jika ia berada dalam kamar tidurnya secara khusus. Selama tidak khawatir kalau auratnya terlihat oleh orang lain yang tidak dihalalkan melihat auratnya, maka dibolehkan dalam keadaan seperti itu. Yang jelas, tidak boleh melihat aurat kecuali pasangan suami istri. Sebagaimana disebutkan dalam hadits dari Bahz bin Hakim, dari bapaknya, dari kakeknya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, احْفَظْ عَوْرَتَكَ إِلاَّ مِنْ زَوْجَتِكَ أَوْ مَا مَلَكَتْ يَمِينُكَ “Jagalah auratmu kecuali pada istri atau pada hamba sahaya wanitamu.” (HR. Abu Daud no. 4017 dan Tirmidzi no. 2794. Al-Hafiz Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan). Bahkan dalam dalil lain disebutkan bahwa ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha melepas bajunya ketika tidur saat tidur di samping Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dalam Shahih Muslim, ‘Aisyah berkata, لَمَّا كَانَتْ لَيْلَتِىَ الَّتِى كَانَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- فِيهَا عِنْدِى انْقَلَبَ فَوَضَعَ رِدَاءَهُ وَخَلَعَ نَعْلَيْهِ فَوَضَعَهُمَا عِنْدَ رِجْلَيْهِ وَبَسَطَ طَرَفَ إِزَارِهِ عَلَى فِرَاشِهِ فَاضْطَجَعَ فَلَمْ يَلْبَثْ إِلاَّ رَيْثَمَا ظَنَّ أَنْ قَدْ رَقَدْتُ فَأَخَذَ رِدَاءَهُ رُوَيْدًا وَانْتَعَلَ رُوَيْدًا وَفَتَحَ الْبَابَ فَخَرَجَ ثُمَّ أَجَافَهُ رُوَيْدًا فَجَعَلْتُ دِرْعِى فِى رَأْسِى وَاخْتَمَرْتُ وَتَقَنَّعْتُ إِزَارِى ثُمَّ انْطَلَقْتُ عَلَى إِثْرِهِ حَتَّى جَاءَ الْبَقِيعَ “Suatu malam yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada malam itu di rumahku, beliau berbalik lalu beliau meletakkan rida’nya (pakaian bagian atasnya). Beliau juga melepaskan dua sandalnya lalu meletakkan keduanya di samping kedua kakinya. Kemudian beliau menggelar ujung sarungnya di atas kasurnya, lalu beliau berbaring. Beliau seperti itu karena mengira aku telah tertidur. Lalu beliau mengambil rida’nya (pakaian bagian atasnya) dengan pelan-pelan. Beliau juga memakai sandalnya dengan pelan-pelan, lalu membuka pintu dan keluar, lalu menutupnya juga dengan pelan-pelan. Maka aku pun meletakkan pakaianku di atas kepalaku dan aku berkerudung. Lalu aku memakai pakaianku kemudian aku membuntuti di belakang beliau, sehingga beliau sampai di pekuburan Baqi’.” (HR. Muslim no. 974) Yang dimaksud dengan, وَتَقَنَّعْتُ إِزَارِى adalah: “aku memakai pakaianku.” (Syarh Shahih Muslim, 7: 41). Kata para ulama, ini berarti ‘Aisyah ketika itu tidur dalam keadaan tidak berbusana atau berpakaian. Yang lebih baik ketika tidur adalah tidak sampai telanjang bulat. Apalagi jika ada anak kecil yang belum baligh yang tidur bersama orang tuanya, tentu hal tersebut patut dipertimbangkan. Semoga bermanfaat. Hanya Allah yang memberi taufik. — Selesai disusun di Panggang, Gunungkidul, 15 Sya’ban 1436 H Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsadab tidur telanjang


Bolehkah tidur dalam keadaan telanjang tanpa busana? Coba renungkan ayat berikut, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لِيَسْتَأْذِنْكُمُ الَّذِينَ مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ وَالَّذِينَ لَمْ يَبْلُغُوا الْحُلُمَ مِنْكُمْ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ مِنْ قَبْلِ صَلَاةِ الْفَجْرِ وَحِينَ تَضَعُونَ ثِيَابَكُمْ مِنَ الظَّهِيرَةِ وَمِنْ بَعْدِ صَلَاةِ الْعِشَاءِ ثَلَاثُ عَوْرَاتٍ لَكُمْ لَيْسَ عَلَيْكُمْ وَلَا عَلَيْهِمْ جُنَاحٌ بَعْدَهُنَّ طَوَّافُونَ عَلَيْكُمْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَعْضٍ كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمُ الْآَيَاتِ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ “Hai orang-orang yang beriman, hendaklah budak-budak (lelaki dan wanita) yang kamu miliki, dan orang-orang yang belum baligh di antara kamu, meminta izin kepada kamu tiga kali (dalam satu hari) yaitu: sebelum shalat subuh, ketika kamu menanggalkan pakaian (luar)-mu di tengah hari dan sesudah shalat Isya’. (Itulah) tiga ‘aurat bagi kamu. Tidak ada dosa atasmu dan tidak (pula) atas mereka selain dari (tiga waktu) itu. Mereka melayani kamu, sebahagian kamu (ada keperluan) kepada sebahagian (yang lain). Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat bagi kamu. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. An-Nur: 58) Tiga keadaan yang disebutkan dalam ayat di atas adalah waktu untuk meminta izin bagi keluarga dekat ketika masuk ke dalam kamar kerabat lainnya. Kalau yang disebutkan dalam awal surat adalah permintaan izin bagi yang bukan mahram satu dan lainnya. Sedangkan ayat ini, Allah memerintahkan kepada orang-orang beriman supaya budak mereka dan anak-anak mereka yang belum baligh (dewasa) meminta izin dalam tiga keadaan: Sebelum shalat Shubuh karena ketika itu masih berada di ranjang. Di waktu qoilulah saat pakaian ditanggalkan karena sedang berduaan dengan pasangannya. Setelah shalat Isya yang merupakan waktu untuk tidur. Ayat tersebut menunjukkan bahwa hendaknya dalam tiga waktu tersebut seorang hamba sahaya atau pun anak kecil tidaklah masuk ke kamar tanpa izin. Demikian keterangan dari Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 5: 565. Lihat pada keterangan Ibnu Katsir di atas, beliau berkata, فِي وَقْتِ اْلقَيْلُوْلَةِ؛ لِأَنَّ الْإِنْسَانَ قَدْ يَضَعُ ثِيَابَهُ فِي تِلْكَ الحَالِ مَعَ أَهْلِهِ “Di waktu qoilulah (tidur di siang hari) biasa pakaian itu dilepas karena tidur dengan istrinya.” Dari sini, bisa disimpulkan bahwa seorang muslim boleh melepas pakaiannya dan tidur dalam keadaan telanjang jika ia berada dalam kamar tidurnya secara khusus. Selama tidak khawatir kalau auratnya terlihat oleh orang lain yang tidak dihalalkan melihat auratnya, maka dibolehkan dalam keadaan seperti itu. Yang jelas, tidak boleh melihat aurat kecuali pasangan suami istri. Sebagaimana disebutkan dalam hadits dari Bahz bin Hakim, dari bapaknya, dari kakeknya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, احْفَظْ عَوْرَتَكَ إِلاَّ مِنْ زَوْجَتِكَ أَوْ مَا مَلَكَتْ يَمِينُكَ “Jagalah auratmu kecuali pada istri atau pada hamba sahaya wanitamu.” (HR. Abu Daud no. 4017 dan Tirmidzi no. 2794. Al-Hafiz Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan). Bahkan dalam dalil lain disebutkan bahwa ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha melepas bajunya ketika tidur saat tidur di samping Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dalam Shahih Muslim, ‘Aisyah berkata, لَمَّا كَانَتْ لَيْلَتِىَ الَّتِى كَانَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- فِيهَا عِنْدِى انْقَلَبَ فَوَضَعَ رِدَاءَهُ وَخَلَعَ نَعْلَيْهِ فَوَضَعَهُمَا عِنْدَ رِجْلَيْهِ وَبَسَطَ طَرَفَ إِزَارِهِ عَلَى فِرَاشِهِ فَاضْطَجَعَ فَلَمْ يَلْبَثْ إِلاَّ رَيْثَمَا ظَنَّ أَنْ قَدْ رَقَدْتُ فَأَخَذَ رِدَاءَهُ رُوَيْدًا وَانْتَعَلَ رُوَيْدًا وَفَتَحَ الْبَابَ فَخَرَجَ ثُمَّ أَجَافَهُ رُوَيْدًا فَجَعَلْتُ دِرْعِى فِى رَأْسِى وَاخْتَمَرْتُ وَتَقَنَّعْتُ إِزَارِى ثُمَّ انْطَلَقْتُ عَلَى إِثْرِهِ حَتَّى جَاءَ الْبَقِيعَ “Suatu malam yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada malam itu di rumahku, beliau berbalik lalu beliau meletakkan rida’nya (pakaian bagian atasnya). Beliau juga melepaskan dua sandalnya lalu meletakkan keduanya di samping kedua kakinya. Kemudian beliau menggelar ujung sarungnya di atas kasurnya, lalu beliau berbaring. Beliau seperti itu karena mengira aku telah tertidur. Lalu beliau mengambil rida’nya (pakaian bagian atasnya) dengan pelan-pelan. Beliau juga memakai sandalnya dengan pelan-pelan, lalu membuka pintu dan keluar, lalu menutupnya juga dengan pelan-pelan. Maka aku pun meletakkan pakaianku di atas kepalaku dan aku berkerudung. Lalu aku memakai pakaianku kemudian aku membuntuti di belakang beliau, sehingga beliau sampai di pekuburan Baqi’.” (HR. Muslim no. 974) Yang dimaksud dengan, وَتَقَنَّعْتُ إِزَارِى adalah: “aku memakai pakaianku.” (Syarh Shahih Muslim, 7: 41). Kata para ulama, ini berarti ‘Aisyah ketika itu tidur dalam keadaan tidak berbusana atau berpakaian. Yang lebih baik ketika tidur adalah tidak sampai telanjang bulat. Apalagi jika ada anak kecil yang belum baligh yang tidur bersama orang tuanya, tentu hal tersebut patut dipertimbangkan. Semoga bermanfaat. Hanya Allah yang memberi taufik. — Selesai disusun di Panggang, Gunungkidul, 15 Sya’ban 1436 H Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsadab tidur telanjang

Kenapa Maksiat Masih Terjadi, Padahal Setan Diikat di Bulan Ramadhan?

Ketika puasa itu tiba, maka kebaikan akan mudah dilakukan. Kejahatan dan maksiat akan semakin berkurang karena saat itu pintu surga dibuka dan pintu neraka ditutup, setan pun terbelenggu. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ “Apabila Ramadhan tiba, pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, dan setan dibelenggu.” (HR. Bukhari no. 1899 dan Muslim no. 1079). Dalam lafazh lain disebutkan, إِذَا كَانَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الرَّحْمَةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ جَهَنَّمَ وَسُلْسِلَتِ الشَّيَاطِينُ “Jika masuk bulan Ramadhan, pintu-pintu rahmat dibukan, pintu-pintu Jahannam ditutup dan setan-setan pun diikat dengan rantai.” (HR. Bukhari no. 3277 dan Muslim no. 1079). Al-Qadhi ‘Iyadh menyatakan bahwa yang dimaksud adalah makna secara tekstual dan hakiki. Terbukanya pintu surga, tertutupnya pintu neraka dan terikatnya setan adalah tanda masuknya bulan Ramadhan, mulianya bulan tersebut dan setan pun terhalang mengganggu orang beriman. Ini isyarat pula bahwa pahala dan pemaafan dari Allah begitu banyak pada bulan Ramadhan. Tingkah setan dalam menggoda manusia pun berkurang karena mereka bagaikan para tahanan ketika itu. (Fath Al-Bari, 4: 114 dan Syarh Shahih Muslim, 7: 167) Al Qodhi juga berkata, “Juga dapat bermakna terbukanya pintu surga karena Allah memudahkan berbagai ketaatan pada hamba-Nya di bulan Ramadhan seperti puasa dan shalat malam. Hal ini berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Di bulan Ramadhan, orang akan lebih sibuk melakukan kebaikan daripada melakukan maksiat. Inilah sebab mereka dapat memasuki surga dan pintunya. Sedangkan tertutupnya pintu neraka dan terbelenggunya setan, inilah yang mengakibatkan seseorang mudah menjauhi maksiat ketika itu.” (Lihat Syarh Shahih Muslim, 7: 167) Namun kenapa maksiat masih banyak terjadi di bulan Ramadhan walau setan itu diikat? Disebutkan oleh Abul ‘Abbas Al-Qurthubi: Setan diikat dari orang yang menjalankan puasa yang memperhatikan syarat dan adab saat berpuasa. Adapun yang tidak menjalankan puasa dengan benar, maka setan tidaklah terbelenggu darinya. Seandainya pun kita katakan bahwa setan tidak mengganggu orang yang berpuasa, tetap saja maksiat bisa terjadi dengan sebab lain yaitu dorongan hawa nafsu yang selalu mengajak pada kejelekan, adat kebiasaan dan gangguan dari setan manusia. Bisa juga maksudnya bahwa setan yang diikat adalah umumnya setan dan yang memiliki pasukan sedangkan yang tidak memiliki pasukan tidaklah dibelenggu. Intinya maksudnya adalah kejelekan itu berkurang di bulan Ramadhan. Ini nyata terjadi dibandingkan dengan bulan lainnya. (Al-Mufhim lima Asykala min Takhlis Kitab Muslim, 3: 136. Dinukil dari Fatwa Al-Islam Sual wa Jawab no. 221162) Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa pada bulan Ramadhan, jiwa lebih condong pada kebaikan dan amalan shalih, yang dengan kebaikan ini sebagai jalan terbukanya pintu surga. Begitu pula kejelekan pun berkurang ketika itu yang akibatnya pintu neraka itu tertutup. Sedangkan setan itu diikat berarti mereka tidaklah mampu melakukan maksiat sebagaimana ketika tidak berpuasa. Namun maksiat masih bisa terjadi karena syahwat. Ketika syahwat itu ditahan, maka setan-setan pun terbelenggu. (Majmu’ah Al-Fatawa, 14: 167). Karena terbuka lebarnya pintu kebaikan ini, pahala kebaikan akan dilipat gandakan. Guru-guru dari Abu Bakr bin Maryam rahimahumullah pernah mengatakan, “Jika tiba bulan Ramadhan, bersemangatlah untuk bersedekah. Karena bersedekah di bulan tersebut lebih berlipat pahalanya seperti seseorang sedekah di jalan Allah (fii sabilillah). Pahala bacaaan tasbih (berdzikir “subhanallah”) lebih afdhol dari seribu bacaan tasbih di bulan lainnya.” (Lihat Lathaif Al-Ma’arif, hal. 270) Ibrahim An-Nakho’i rahimahullah mengatakan, “Puasa sehari di bulan Ramadhan lebih afdhol dari puasa di seribu hari lainnya. Begitu pula satu bacaan tasbih (berdzikir “subhanallah”) di bulan Ramadhan lebih afdhol dari seribu bacaan tasbih di hari lainnya. Begitu juga pahala satu raka’at shalat di bulan Ramadhan lebih baik dari seribu raka’at di bulan lainnya.” (Lihat Lathaif Al-Ma’arif, hal. 270) Begitulah kemuliaan bulan Ramadhan. Orang yang sebelumnya malas ibadah, akan kembali sadar. Yang sudah semangat ibadah akan terus bertambah semangat. Yang lalai akan yang wajib, akan sadar di bulan Ramadhan. Yang lalai akan dzikir pun semangat untuk berdzikir. Begitu pula yang malas ke masjid akan rajin ke masjid. Namun tentu saja ibadah terbaik adalah ibadah yang kontinu, bukan hanya musiman, وَإِنَّ أَحَبَّ الْعَمَلِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهُ وَإِنْ قَلَّ “(Ketahuilah bahwa) amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah amalan yang kontinu (ajeg) walaupun sedikit.” (HR. Muslim no. 782) Semoga bermanfaat. — Direvisi 14 Sya’ban 1436 H (01 Juni 2015) di Pesantren DS Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsamalan ramadhan keutamaan puasa setan

Kenapa Maksiat Masih Terjadi, Padahal Setan Diikat di Bulan Ramadhan?

Ketika puasa itu tiba, maka kebaikan akan mudah dilakukan. Kejahatan dan maksiat akan semakin berkurang karena saat itu pintu surga dibuka dan pintu neraka ditutup, setan pun terbelenggu. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ “Apabila Ramadhan tiba, pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, dan setan dibelenggu.” (HR. Bukhari no. 1899 dan Muslim no. 1079). Dalam lafazh lain disebutkan, إِذَا كَانَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الرَّحْمَةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ جَهَنَّمَ وَسُلْسِلَتِ الشَّيَاطِينُ “Jika masuk bulan Ramadhan, pintu-pintu rahmat dibukan, pintu-pintu Jahannam ditutup dan setan-setan pun diikat dengan rantai.” (HR. Bukhari no. 3277 dan Muslim no. 1079). Al-Qadhi ‘Iyadh menyatakan bahwa yang dimaksud adalah makna secara tekstual dan hakiki. Terbukanya pintu surga, tertutupnya pintu neraka dan terikatnya setan adalah tanda masuknya bulan Ramadhan, mulianya bulan tersebut dan setan pun terhalang mengganggu orang beriman. Ini isyarat pula bahwa pahala dan pemaafan dari Allah begitu banyak pada bulan Ramadhan. Tingkah setan dalam menggoda manusia pun berkurang karena mereka bagaikan para tahanan ketika itu. (Fath Al-Bari, 4: 114 dan Syarh Shahih Muslim, 7: 167) Al Qodhi juga berkata, “Juga dapat bermakna terbukanya pintu surga karena Allah memudahkan berbagai ketaatan pada hamba-Nya di bulan Ramadhan seperti puasa dan shalat malam. Hal ini berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Di bulan Ramadhan, orang akan lebih sibuk melakukan kebaikan daripada melakukan maksiat. Inilah sebab mereka dapat memasuki surga dan pintunya. Sedangkan tertutupnya pintu neraka dan terbelenggunya setan, inilah yang mengakibatkan seseorang mudah menjauhi maksiat ketika itu.” (Lihat Syarh Shahih Muslim, 7: 167) Namun kenapa maksiat masih banyak terjadi di bulan Ramadhan walau setan itu diikat? Disebutkan oleh Abul ‘Abbas Al-Qurthubi: Setan diikat dari orang yang menjalankan puasa yang memperhatikan syarat dan adab saat berpuasa. Adapun yang tidak menjalankan puasa dengan benar, maka setan tidaklah terbelenggu darinya. Seandainya pun kita katakan bahwa setan tidak mengganggu orang yang berpuasa, tetap saja maksiat bisa terjadi dengan sebab lain yaitu dorongan hawa nafsu yang selalu mengajak pada kejelekan, adat kebiasaan dan gangguan dari setan manusia. Bisa juga maksudnya bahwa setan yang diikat adalah umumnya setan dan yang memiliki pasukan sedangkan yang tidak memiliki pasukan tidaklah dibelenggu. Intinya maksudnya adalah kejelekan itu berkurang di bulan Ramadhan. Ini nyata terjadi dibandingkan dengan bulan lainnya. (Al-Mufhim lima Asykala min Takhlis Kitab Muslim, 3: 136. Dinukil dari Fatwa Al-Islam Sual wa Jawab no. 221162) Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa pada bulan Ramadhan, jiwa lebih condong pada kebaikan dan amalan shalih, yang dengan kebaikan ini sebagai jalan terbukanya pintu surga. Begitu pula kejelekan pun berkurang ketika itu yang akibatnya pintu neraka itu tertutup. Sedangkan setan itu diikat berarti mereka tidaklah mampu melakukan maksiat sebagaimana ketika tidak berpuasa. Namun maksiat masih bisa terjadi karena syahwat. Ketika syahwat itu ditahan, maka setan-setan pun terbelenggu. (Majmu’ah Al-Fatawa, 14: 167). Karena terbuka lebarnya pintu kebaikan ini, pahala kebaikan akan dilipat gandakan. Guru-guru dari Abu Bakr bin Maryam rahimahumullah pernah mengatakan, “Jika tiba bulan Ramadhan, bersemangatlah untuk bersedekah. Karena bersedekah di bulan tersebut lebih berlipat pahalanya seperti seseorang sedekah di jalan Allah (fii sabilillah). Pahala bacaaan tasbih (berdzikir “subhanallah”) lebih afdhol dari seribu bacaan tasbih di bulan lainnya.” (Lihat Lathaif Al-Ma’arif, hal. 270) Ibrahim An-Nakho’i rahimahullah mengatakan, “Puasa sehari di bulan Ramadhan lebih afdhol dari puasa di seribu hari lainnya. Begitu pula satu bacaan tasbih (berdzikir “subhanallah”) di bulan Ramadhan lebih afdhol dari seribu bacaan tasbih di hari lainnya. Begitu juga pahala satu raka’at shalat di bulan Ramadhan lebih baik dari seribu raka’at di bulan lainnya.” (Lihat Lathaif Al-Ma’arif, hal. 270) Begitulah kemuliaan bulan Ramadhan. Orang yang sebelumnya malas ibadah, akan kembali sadar. Yang sudah semangat ibadah akan terus bertambah semangat. Yang lalai akan yang wajib, akan sadar di bulan Ramadhan. Yang lalai akan dzikir pun semangat untuk berdzikir. Begitu pula yang malas ke masjid akan rajin ke masjid. Namun tentu saja ibadah terbaik adalah ibadah yang kontinu, bukan hanya musiman, وَإِنَّ أَحَبَّ الْعَمَلِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهُ وَإِنْ قَلَّ “(Ketahuilah bahwa) amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah amalan yang kontinu (ajeg) walaupun sedikit.” (HR. Muslim no. 782) Semoga bermanfaat. — Direvisi 14 Sya’ban 1436 H (01 Juni 2015) di Pesantren DS Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsamalan ramadhan keutamaan puasa setan
Ketika puasa itu tiba, maka kebaikan akan mudah dilakukan. Kejahatan dan maksiat akan semakin berkurang karena saat itu pintu surga dibuka dan pintu neraka ditutup, setan pun terbelenggu. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ “Apabila Ramadhan tiba, pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, dan setan dibelenggu.” (HR. Bukhari no. 1899 dan Muslim no. 1079). Dalam lafazh lain disebutkan, إِذَا كَانَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الرَّحْمَةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ جَهَنَّمَ وَسُلْسِلَتِ الشَّيَاطِينُ “Jika masuk bulan Ramadhan, pintu-pintu rahmat dibukan, pintu-pintu Jahannam ditutup dan setan-setan pun diikat dengan rantai.” (HR. Bukhari no. 3277 dan Muslim no. 1079). Al-Qadhi ‘Iyadh menyatakan bahwa yang dimaksud adalah makna secara tekstual dan hakiki. Terbukanya pintu surga, tertutupnya pintu neraka dan terikatnya setan adalah tanda masuknya bulan Ramadhan, mulianya bulan tersebut dan setan pun terhalang mengganggu orang beriman. Ini isyarat pula bahwa pahala dan pemaafan dari Allah begitu banyak pada bulan Ramadhan. Tingkah setan dalam menggoda manusia pun berkurang karena mereka bagaikan para tahanan ketika itu. (Fath Al-Bari, 4: 114 dan Syarh Shahih Muslim, 7: 167) Al Qodhi juga berkata, “Juga dapat bermakna terbukanya pintu surga karena Allah memudahkan berbagai ketaatan pada hamba-Nya di bulan Ramadhan seperti puasa dan shalat malam. Hal ini berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Di bulan Ramadhan, orang akan lebih sibuk melakukan kebaikan daripada melakukan maksiat. Inilah sebab mereka dapat memasuki surga dan pintunya. Sedangkan tertutupnya pintu neraka dan terbelenggunya setan, inilah yang mengakibatkan seseorang mudah menjauhi maksiat ketika itu.” (Lihat Syarh Shahih Muslim, 7: 167) Namun kenapa maksiat masih banyak terjadi di bulan Ramadhan walau setan itu diikat? Disebutkan oleh Abul ‘Abbas Al-Qurthubi: Setan diikat dari orang yang menjalankan puasa yang memperhatikan syarat dan adab saat berpuasa. Adapun yang tidak menjalankan puasa dengan benar, maka setan tidaklah terbelenggu darinya. Seandainya pun kita katakan bahwa setan tidak mengganggu orang yang berpuasa, tetap saja maksiat bisa terjadi dengan sebab lain yaitu dorongan hawa nafsu yang selalu mengajak pada kejelekan, adat kebiasaan dan gangguan dari setan manusia. Bisa juga maksudnya bahwa setan yang diikat adalah umumnya setan dan yang memiliki pasukan sedangkan yang tidak memiliki pasukan tidaklah dibelenggu. Intinya maksudnya adalah kejelekan itu berkurang di bulan Ramadhan. Ini nyata terjadi dibandingkan dengan bulan lainnya. (Al-Mufhim lima Asykala min Takhlis Kitab Muslim, 3: 136. Dinukil dari Fatwa Al-Islam Sual wa Jawab no. 221162) Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa pada bulan Ramadhan, jiwa lebih condong pada kebaikan dan amalan shalih, yang dengan kebaikan ini sebagai jalan terbukanya pintu surga. Begitu pula kejelekan pun berkurang ketika itu yang akibatnya pintu neraka itu tertutup. Sedangkan setan itu diikat berarti mereka tidaklah mampu melakukan maksiat sebagaimana ketika tidak berpuasa. Namun maksiat masih bisa terjadi karena syahwat. Ketika syahwat itu ditahan, maka setan-setan pun terbelenggu. (Majmu’ah Al-Fatawa, 14: 167). Karena terbuka lebarnya pintu kebaikan ini, pahala kebaikan akan dilipat gandakan. Guru-guru dari Abu Bakr bin Maryam rahimahumullah pernah mengatakan, “Jika tiba bulan Ramadhan, bersemangatlah untuk bersedekah. Karena bersedekah di bulan tersebut lebih berlipat pahalanya seperti seseorang sedekah di jalan Allah (fii sabilillah). Pahala bacaaan tasbih (berdzikir “subhanallah”) lebih afdhol dari seribu bacaan tasbih di bulan lainnya.” (Lihat Lathaif Al-Ma’arif, hal. 270) Ibrahim An-Nakho’i rahimahullah mengatakan, “Puasa sehari di bulan Ramadhan lebih afdhol dari puasa di seribu hari lainnya. Begitu pula satu bacaan tasbih (berdzikir “subhanallah”) di bulan Ramadhan lebih afdhol dari seribu bacaan tasbih di hari lainnya. Begitu juga pahala satu raka’at shalat di bulan Ramadhan lebih baik dari seribu raka’at di bulan lainnya.” (Lihat Lathaif Al-Ma’arif, hal. 270) Begitulah kemuliaan bulan Ramadhan. Orang yang sebelumnya malas ibadah, akan kembali sadar. Yang sudah semangat ibadah akan terus bertambah semangat. Yang lalai akan yang wajib, akan sadar di bulan Ramadhan. Yang lalai akan dzikir pun semangat untuk berdzikir. Begitu pula yang malas ke masjid akan rajin ke masjid. Namun tentu saja ibadah terbaik adalah ibadah yang kontinu, bukan hanya musiman, وَإِنَّ أَحَبَّ الْعَمَلِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهُ وَإِنْ قَلَّ “(Ketahuilah bahwa) amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah amalan yang kontinu (ajeg) walaupun sedikit.” (HR. Muslim no. 782) Semoga bermanfaat. — Direvisi 14 Sya’ban 1436 H (01 Juni 2015) di Pesantren DS Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsamalan ramadhan keutamaan puasa setan


Ketika puasa itu tiba, maka kebaikan akan mudah dilakukan. Kejahatan dan maksiat akan semakin berkurang karena saat itu pintu surga dibuka dan pintu neraka ditutup, setan pun terbelenggu. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ “Apabila Ramadhan tiba, pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, dan setan dibelenggu.” (HR. Bukhari no. 1899 dan Muslim no. 1079). Dalam lafazh lain disebutkan, إِذَا كَانَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الرَّحْمَةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ جَهَنَّمَ وَسُلْسِلَتِ الشَّيَاطِينُ “Jika masuk bulan Ramadhan, pintu-pintu rahmat dibukan, pintu-pintu Jahannam ditutup dan setan-setan pun diikat dengan rantai.” (HR. Bukhari no. 3277 dan Muslim no. 1079). Al-Qadhi ‘Iyadh menyatakan bahwa yang dimaksud adalah makna secara tekstual dan hakiki. Terbukanya pintu surga, tertutupnya pintu neraka dan terikatnya setan adalah tanda masuknya bulan Ramadhan, mulianya bulan tersebut dan setan pun terhalang mengganggu orang beriman. Ini isyarat pula bahwa pahala dan pemaafan dari Allah begitu banyak pada bulan Ramadhan. Tingkah setan dalam menggoda manusia pun berkurang karena mereka bagaikan para tahanan ketika itu. (Fath Al-Bari, 4: 114 dan Syarh Shahih Muslim, 7: 167) Al Qodhi juga berkata, “Juga dapat bermakna terbukanya pintu surga karena Allah memudahkan berbagai ketaatan pada hamba-Nya di bulan Ramadhan seperti puasa dan shalat malam. Hal ini berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Di bulan Ramadhan, orang akan lebih sibuk melakukan kebaikan daripada melakukan maksiat. Inilah sebab mereka dapat memasuki surga dan pintunya. Sedangkan tertutupnya pintu neraka dan terbelenggunya setan, inilah yang mengakibatkan seseorang mudah menjauhi maksiat ketika itu.” (Lihat Syarh Shahih Muslim, 7: 167) Namun kenapa maksiat masih banyak terjadi di bulan Ramadhan walau setan itu diikat? Disebutkan oleh Abul ‘Abbas Al-Qurthubi: Setan diikat dari orang yang menjalankan puasa yang memperhatikan syarat dan adab saat berpuasa. Adapun yang tidak menjalankan puasa dengan benar, maka setan tidaklah terbelenggu darinya. Seandainya pun kita katakan bahwa setan tidak mengganggu orang yang berpuasa, tetap saja maksiat bisa terjadi dengan sebab lain yaitu dorongan hawa nafsu yang selalu mengajak pada kejelekan, adat kebiasaan dan gangguan dari setan manusia. Bisa juga maksudnya bahwa setan yang diikat adalah umumnya setan dan yang memiliki pasukan sedangkan yang tidak memiliki pasukan tidaklah dibelenggu. Intinya maksudnya adalah kejelekan itu berkurang di bulan Ramadhan. Ini nyata terjadi dibandingkan dengan bulan lainnya. (Al-Mufhim lima Asykala min Takhlis Kitab Muslim, 3: 136. Dinukil dari Fatwa Al-Islam Sual wa Jawab no. 221162) Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa pada bulan Ramadhan, jiwa lebih condong pada kebaikan dan amalan shalih, yang dengan kebaikan ini sebagai jalan terbukanya pintu surga. Begitu pula kejelekan pun berkurang ketika itu yang akibatnya pintu neraka itu tertutup. Sedangkan setan itu diikat berarti mereka tidaklah mampu melakukan maksiat sebagaimana ketika tidak berpuasa. Namun maksiat masih bisa terjadi karena syahwat. Ketika syahwat itu ditahan, maka setan-setan pun terbelenggu. (Majmu’ah Al-Fatawa, 14: 167). Karena terbuka lebarnya pintu kebaikan ini, pahala kebaikan akan dilipat gandakan. Guru-guru dari Abu Bakr bin Maryam rahimahumullah pernah mengatakan, “Jika tiba bulan Ramadhan, bersemangatlah untuk bersedekah. Karena bersedekah di bulan tersebut lebih berlipat pahalanya seperti seseorang sedekah di jalan Allah (fii sabilillah). Pahala bacaaan tasbih (berdzikir “subhanallah”) lebih afdhol dari seribu bacaan tasbih di bulan lainnya.” (Lihat Lathaif Al-Ma’arif, hal. 270) Ibrahim An-Nakho’i rahimahullah mengatakan, “Puasa sehari di bulan Ramadhan lebih afdhol dari puasa di seribu hari lainnya. Begitu pula satu bacaan tasbih (berdzikir “subhanallah”) di bulan Ramadhan lebih afdhol dari seribu bacaan tasbih di hari lainnya. Begitu juga pahala satu raka’at shalat di bulan Ramadhan lebih baik dari seribu raka’at di bulan lainnya.” (Lihat Lathaif Al-Ma’arif, hal. 270) Begitulah kemuliaan bulan Ramadhan. Orang yang sebelumnya malas ibadah, akan kembali sadar. Yang sudah semangat ibadah akan terus bertambah semangat. Yang lalai akan yang wajib, akan sadar di bulan Ramadhan. Yang lalai akan dzikir pun semangat untuk berdzikir. Begitu pula yang malas ke masjid akan rajin ke masjid. Namun tentu saja ibadah terbaik adalah ibadah yang kontinu, bukan hanya musiman, وَإِنَّ أَحَبَّ الْعَمَلِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهُ وَإِنْ قَلَّ “(Ketahuilah bahwa) amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah amalan yang kontinu (ajeg) walaupun sedikit.” (HR. Muslim no. 782) Semoga bermanfaat. — Direvisi 14 Sya’ban 1436 H (01 Juni 2015) di Pesantren DS Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsamalan ramadhan keutamaan puasa setan

Kisah Menakjubkan: Para Ulama Mengkhatamkan Al Quran dalam Sehari

Disunnahkan untuk memperbanyak membaca Al-Qur’an di bulan Ramadhan dan semangat untuk mengkhatamkannya. Walaupun hal ini tidaklah wajib. Artinya, jika tidak mengkhatamkan Al-Qur’an, maka tidak berdosa. Namun sayang, saat itu ia akan luput dari pahala yang besar. Apa dalil di bulan Ramadhan kita mesti perhatian pada Al-Qur’an. Lihatlah Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam berusaha untuk mengkhatamkan Al-Qur’an di hadapan Jibril ‘alaihis salam sebanyak sekali setiap tahunnya. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, كَانَ يَعْرِضُ عَلَى النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – الْقُرْآنَ كُلَّ عَامٍ مَرَّةً ، فَعَرَضَ عَلَيْهِ مَرَّتَيْنِ فِى الْعَامِ الَّذِى قُبِضَ ، وَكَانَ يَعْتَكِفُ كُلَّ عَامٍ عَشْرًا فَاعْتَكَفَ عِشْرِينَ فِى الْعَامِ الَّذِى قُبِضَ { فِيهِ } “Jibril itu (saling) belajar Al-Qur’an dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam setiap tahun sekali (khatam). Ketika di tahun beliau akan meninggal dunia dua kali khatam. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa pula beri’tikaf setiap tahunnya selama sepuluh hari. Namun di tahun saat beliau akan meninggal dunia, beliau beri’tikaf selama dua puluh hari.” (HR. Bukhari no. 4998). Ibnul Atsir menyatakan dalam Al-Jami’ fii Gharibil Hadits (4: 64) bahwa Jibril saling mengajarkan pada Nabi seluruh Al-Qur’an yang telah diturunkan. Dari situ, para ulama –semoga Allah meridhai mereka- begitu semangat mengkhatamkan Al-Qur’an di bulan Ramadhan karena mencontoh Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam. Beberapa contoh kami sebutkan di bawah ini. Contoh pertama dari seorang ulama yang bernama Al-Aswad bin Yazid –seorang ulama besar tabi’in yang meninggal dunia 74 atau 75 Hijriyah di Kufah- bisa mengkhatamkan Al-Qur’an di bulan Ramadhan setiap dua malam. Dari Ibrahim An-Nakha’i, ia berkata, كَانَ الأَسْوَدُ يَخْتِمُ القُرْآنَ فِي رَمَضَانَ فِي كُلِّ لَيْلَتَيْنِ “Al-Aswad biasa mengkhatamkan Al-Qur’an di bulan Ramadhan setiap dua malam.” (Siyar A’lam An-Nubala, 4: 51). Subhanallah … Yang ada, kita hanya jadi orang yang lalai dari Al-Qur’an di bulan Ramadhan. Disebutkan dalam kitab yang sama di luar bulan Ramadhan, Al-Aswad biasa mengkhatamkan Al-Qur’an dalam enam malam. Waktu istirahat beliau untuk tidur hanya antara Maghrib dan Isya. (Siyar A’lam An-Nubala, 4: 51) Ada seorang ulama di kalangan tabi’in yang bernama Qatadah bin Da’amah yang meninggal tahun 60 atau 61 Hijriyah dan salah seorang murid dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu. Beliau ini sampai dikatakan oleh Imam Ahmad bin Hambal sebagai ulama pakar tafsir dan paham akan perselisihan ulama dalam masalah tafsir. Sampai-sampai Sufyan Ats-Tsaury mengatakan bahwa tidak ada di muka bumi ini yang semisal Qatadah. Salam bin Abu Muthi’ pernah mengatakan tentang semangat Qatadah dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an, كَانَ قَتَادَة يَخْتِمُ القُرْآنَ فِي سَبْعٍ، وَإِذَا جَاءَ رَمَضَانُ خَتَمَ فِي كُلِّ ثَلاَثٍ، فَإِذَا جَاءَ العَشْرُ خَتَمَ كُلَّ لَيْلَةٍ “Qatadah biasanya mengkhatamkan Al-Qur’an dalam tujuh hari. Namun jika datang bulan Ramadhan ia mengkhatamkannya setiap tiga hari. Ketika datang sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan, ia mengkhatamkan setiap malamnya.” (Siyar A’lam An-Nubala’, 5: 276) Muhammad bin Idri Asy-Syafi’i yang kita kenal dengan Imam Syafi’i yang terkenal sebagai salah satu ulama madzhab sebagaimana disebutkan oleh muridnya Ar-Rabi’ bin Sulaiman, كَانَ الشَّافِعِيُّ يَخْتِمُ القُرْآنَ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ سِتِّيْنَ خَتْمَةً “Imam Syafi’i biasa mengkhatamkan Al-Qur’an di bulan Ramadhan sebanyak 60 kali.” Ditambahkan oleh Ibnu Abi Hatim bahwa khataman tersebut dilakukan dalam shalat. (Siyar A’lam An-Nubala’, 10: 36). Bayangkan, Imam Syafi’i berarti mengkhatamkan Al-Qur’an sehari dua kali. Subhanallah … Ibnu ‘Asakir adalah seorang ulama hadits dari negeri Syam, dengan nama kunyah Abul Qasim, beliau penulis kitab yang terkenal yaitu Tarikh Dimasyq. Anaknya yang bernama Al-Qasim mengatakan mengenai bapaknya, وكان مواظبا على صلاة الجماعة وتلاوة القرآن، يختم كل جمعة، ويختم في رمضان كل يوم، ويعتكف في المنارة الشرقية، وكان كثير النوافل والاذكار “Ibnu ‘Asakir adalah orang yang biasa merutinkan shalat jama’ah dan tilawah Al-Qur’an. Beliau biasa mengkhatamkan Al-Qur’an setiap pekannya. Lebih luar biasanya di bulan Ramadhan, beliau khatamkan Al-Qur’an setiap hari. Beliau biasa beri’tikaf di Al-Manarah Asy-Syaqiyyah. Beliau adalah orang yang sangat gemar melakukan amalan sunnah dan rajin berdzikir.” (Siyar A’lam An-Nubala’, 20: 562) Apakah Mengkhatamkan Al-Qur’an itu Wajib? Imam Nawawi rahimahullah menyebutkan bahwa seperti itu berbeda tergantung pada orang masing-masing. Orang yang sibuk pikirannya, maka berusaha sebisa mungkin sesuai kemampuan pemahamannya. Begitu pula orang yang sibuk dalam menyebarkan ilmu atau sibuk mengurus urusan agama lainnya atau urusan orang banyak, berusahalah pula untuk mengkhatamkannya sesuai kemampuan. Sedangkan selain mereka yang disebut tadi, hendaknya bisa memperbanyak membaca, jangan sampai jadi lalai. Lihat At-Tibyan, hal. 72. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah ditanya, “Apakah orang yang berpuasa wajib mengkhatamkan Al-Qur’an di bulan Ramadhan?” Jawab beliau rahimahullah bahwa mengkhatamkan Al-Qur’an di bulan Ramadhan bagi orang yang berpuasa tidaklah wajib. Akan tetapi sudah sepatutnya setiap muslim di bulan Ramadhan untuk memperbanyak membaca Al-Qur’an. Hal ini merupakan sunnah dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Setiap bulan Ramadhan, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa saling mengkaji Al-Qur’an bersama Jibril. (Majmu’ Fatawa Ibnu ‘Utsaimin 20: 516, Dinukil dari Fatawa Al-Islam Sual wa Jawab no. 65754) Padahal Ada Hadits yang Melarang Khatam Al-Qur’an Kurang dari Tiga Hari Dari ‘Abdullah bin ‘Amr, ia berkata, يَا رَسُولَ اللَّهِ فِى كَمْ أَقْرَأُ الْقُرْآنَ قَالَ « فِى شَهْرٍ ». قَالَ إِنِّى أَقْوَى مِنْ ذَلِكَ وَتَنَاقَصَهُ حَتَّى قَالَ « اقْرَأْهُ فِى سَبْعٍ ». قَالَ إِنِّى أَقْوَى مِنْ ذَلِكَ. قَالَ « لاَ يَفْقَهُ مَنْ قَرَأَهُ فِى أَقَلَّ مِنْ ثَلاَثٍ » “Wahai Rasulullah dalam berapa hari aku boleh mengkhatamkan Al-Qur’an. Beliau menjawab, “Dalam satu bulan.” ‘Abdullah menjawab, “Aku masih lebih kuat dari itu.” Lantas hal itu dikurangi hingga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan, “Khatamkanlah dalam waktu seminggu.” ‘Abdullah masih menjawab, “Aku masih lebih kuat dari itu.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bersabda, “Tidaklah bisa memahami jika ada yang mengkhatamkan Al-Qur’an kurang dari tiga hari.” (HR. Abu Daud no. 1390 dan Ahmad 2: 195. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini shahih). Al ‘Azhim Abadi menyatakan bahwa hadits di atas adalah dalil tegas yang menyatakan bahwa tidak boleh mengkhatamkan Al-Qur’an kurang dari tiga hari. (‘Aun Al-Ma’bud, 4: 212) Para ulama menjelaskan bahwa yang ternafikan dalam hadits adalah ketidakpahaman, bukan pahalanya. Artinya, hadits tersebut tidaklah menunjukkan tidak boleh mengkhatamkan Al-Qur’an kurang dari tiga hari. Yang dimaksudkan dalam hadits adalah jika mengkhatamkan kurang dari tiga hari sulit untuk memahami. Berarti kalau dilakukan oleh orang yang memahami Al-Qur’an seperti contoh para ulama yang penulis sebutkan di atas, maka tidaklah masalah. Dalam Lathaif Al-Ma’arif (hal. 306) disebutkan oleh Ibnu Rajab Al-Hambali, “Larangan mengkhatamkan Al-Qur’an kurang dari tiga hari itu ada jika dilakukan terus menerus. Sedangkan jika sesekali dilakukan apalagi di waktu utama seperti bulan Ramadhan lebih-lebih lagi pada malam yang dinanti yaitu Lailatul Qadar atau di tempat yang mulia seperti di Makkah bagi yang mendatanginya dan ia bukan penduduk Makkah, maka disunnahkan untuk memperbanyak tilawah untuk memanfaatkan pahala melimpah pada waktu dan zaman. Inilah pendapat dari Imam Ahmad dan Ishaq serta ulama besar lainnya. Inilah yang diamalkan oleh para ulama sebagaimana telah disebutkan.” Walhamdulillah. Wallahu waliyyut taufiq.   Referensi: At-Tibyan fi Adab Hamalah Al-Qur’an. Cetakan pertama tahun 1426 H. Yahya bin Syarf An-Nawawi. Penerbit Maktabah Ibnu ‘Abbas. ‘Aun Al-Ma’bud Syarh Sunan Abi Daud. Cetakan pertama tahun 1430 H. Muhammad Asyraf Ash-Shidiqiy Al-‘Azhim Abadi. Penerbit Darul Fayha’. Lathaif Al-Ma’arif. Cetakan pertama tahun 1428 H. Ibnu Rajab Al-Hambali. Penerbit Al-Maktab Al-Islami. Siyar A’lam An-Nubala’. Cetakan kedua tahun 1435 H. Muhammad bin Ahmad bin ‘Utsman Adz-Dzahabiy. Penerbit Muassasah Ar-Risalah. Fatawa Al-Islam Sual wa Jawab no. 65754. — Diselesaikan di pagi hari 12 Sya’ban 1436 H di Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagskhatam al quran

Kisah Menakjubkan: Para Ulama Mengkhatamkan Al Quran dalam Sehari

Disunnahkan untuk memperbanyak membaca Al-Qur’an di bulan Ramadhan dan semangat untuk mengkhatamkannya. Walaupun hal ini tidaklah wajib. Artinya, jika tidak mengkhatamkan Al-Qur’an, maka tidak berdosa. Namun sayang, saat itu ia akan luput dari pahala yang besar. Apa dalil di bulan Ramadhan kita mesti perhatian pada Al-Qur’an. Lihatlah Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam berusaha untuk mengkhatamkan Al-Qur’an di hadapan Jibril ‘alaihis salam sebanyak sekali setiap tahunnya. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, كَانَ يَعْرِضُ عَلَى النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – الْقُرْآنَ كُلَّ عَامٍ مَرَّةً ، فَعَرَضَ عَلَيْهِ مَرَّتَيْنِ فِى الْعَامِ الَّذِى قُبِضَ ، وَكَانَ يَعْتَكِفُ كُلَّ عَامٍ عَشْرًا فَاعْتَكَفَ عِشْرِينَ فِى الْعَامِ الَّذِى قُبِضَ { فِيهِ } “Jibril itu (saling) belajar Al-Qur’an dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam setiap tahun sekali (khatam). Ketika di tahun beliau akan meninggal dunia dua kali khatam. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa pula beri’tikaf setiap tahunnya selama sepuluh hari. Namun di tahun saat beliau akan meninggal dunia, beliau beri’tikaf selama dua puluh hari.” (HR. Bukhari no. 4998). Ibnul Atsir menyatakan dalam Al-Jami’ fii Gharibil Hadits (4: 64) bahwa Jibril saling mengajarkan pada Nabi seluruh Al-Qur’an yang telah diturunkan. Dari situ, para ulama –semoga Allah meridhai mereka- begitu semangat mengkhatamkan Al-Qur’an di bulan Ramadhan karena mencontoh Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam. Beberapa contoh kami sebutkan di bawah ini. Contoh pertama dari seorang ulama yang bernama Al-Aswad bin Yazid –seorang ulama besar tabi’in yang meninggal dunia 74 atau 75 Hijriyah di Kufah- bisa mengkhatamkan Al-Qur’an di bulan Ramadhan setiap dua malam. Dari Ibrahim An-Nakha’i, ia berkata, كَانَ الأَسْوَدُ يَخْتِمُ القُرْآنَ فِي رَمَضَانَ فِي كُلِّ لَيْلَتَيْنِ “Al-Aswad biasa mengkhatamkan Al-Qur’an di bulan Ramadhan setiap dua malam.” (Siyar A’lam An-Nubala, 4: 51). Subhanallah … Yang ada, kita hanya jadi orang yang lalai dari Al-Qur’an di bulan Ramadhan. Disebutkan dalam kitab yang sama di luar bulan Ramadhan, Al-Aswad biasa mengkhatamkan Al-Qur’an dalam enam malam. Waktu istirahat beliau untuk tidur hanya antara Maghrib dan Isya. (Siyar A’lam An-Nubala, 4: 51) Ada seorang ulama di kalangan tabi’in yang bernama Qatadah bin Da’amah yang meninggal tahun 60 atau 61 Hijriyah dan salah seorang murid dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu. Beliau ini sampai dikatakan oleh Imam Ahmad bin Hambal sebagai ulama pakar tafsir dan paham akan perselisihan ulama dalam masalah tafsir. Sampai-sampai Sufyan Ats-Tsaury mengatakan bahwa tidak ada di muka bumi ini yang semisal Qatadah. Salam bin Abu Muthi’ pernah mengatakan tentang semangat Qatadah dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an, كَانَ قَتَادَة يَخْتِمُ القُرْآنَ فِي سَبْعٍ، وَإِذَا جَاءَ رَمَضَانُ خَتَمَ فِي كُلِّ ثَلاَثٍ، فَإِذَا جَاءَ العَشْرُ خَتَمَ كُلَّ لَيْلَةٍ “Qatadah biasanya mengkhatamkan Al-Qur’an dalam tujuh hari. Namun jika datang bulan Ramadhan ia mengkhatamkannya setiap tiga hari. Ketika datang sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan, ia mengkhatamkan setiap malamnya.” (Siyar A’lam An-Nubala’, 5: 276) Muhammad bin Idri Asy-Syafi’i yang kita kenal dengan Imam Syafi’i yang terkenal sebagai salah satu ulama madzhab sebagaimana disebutkan oleh muridnya Ar-Rabi’ bin Sulaiman, كَانَ الشَّافِعِيُّ يَخْتِمُ القُرْآنَ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ سِتِّيْنَ خَتْمَةً “Imam Syafi’i biasa mengkhatamkan Al-Qur’an di bulan Ramadhan sebanyak 60 kali.” Ditambahkan oleh Ibnu Abi Hatim bahwa khataman tersebut dilakukan dalam shalat. (Siyar A’lam An-Nubala’, 10: 36). Bayangkan, Imam Syafi’i berarti mengkhatamkan Al-Qur’an sehari dua kali. Subhanallah … Ibnu ‘Asakir adalah seorang ulama hadits dari negeri Syam, dengan nama kunyah Abul Qasim, beliau penulis kitab yang terkenal yaitu Tarikh Dimasyq. Anaknya yang bernama Al-Qasim mengatakan mengenai bapaknya, وكان مواظبا على صلاة الجماعة وتلاوة القرآن، يختم كل جمعة، ويختم في رمضان كل يوم، ويعتكف في المنارة الشرقية، وكان كثير النوافل والاذكار “Ibnu ‘Asakir adalah orang yang biasa merutinkan shalat jama’ah dan tilawah Al-Qur’an. Beliau biasa mengkhatamkan Al-Qur’an setiap pekannya. Lebih luar biasanya di bulan Ramadhan, beliau khatamkan Al-Qur’an setiap hari. Beliau biasa beri’tikaf di Al-Manarah Asy-Syaqiyyah. Beliau adalah orang yang sangat gemar melakukan amalan sunnah dan rajin berdzikir.” (Siyar A’lam An-Nubala’, 20: 562) Apakah Mengkhatamkan Al-Qur’an itu Wajib? Imam Nawawi rahimahullah menyebutkan bahwa seperti itu berbeda tergantung pada orang masing-masing. Orang yang sibuk pikirannya, maka berusaha sebisa mungkin sesuai kemampuan pemahamannya. Begitu pula orang yang sibuk dalam menyebarkan ilmu atau sibuk mengurus urusan agama lainnya atau urusan orang banyak, berusahalah pula untuk mengkhatamkannya sesuai kemampuan. Sedangkan selain mereka yang disebut tadi, hendaknya bisa memperbanyak membaca, jangan sampai jadi lalai. Lihat At-Tibyan, hal. 72. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah ditanya, “Apakah orang yang berpuasa wajib mengkhatamkan Al-Qur’an di bulan Ramadhan?” Jawab beliau rahimahullah bahwa mengkhatamkan Al-Qur’an di bulan Ramadhan bagi orang yang berpuasa tidaklah wajib. Akan tetapi sudah sepatutnya setiap muslim di bulan Ramadhan untuk memperbanyak membaca Al-Qur’an. Hal ini merupakan sunnah dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Setiap bulan Ramadhan, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa saling mengkaji Al-Qur’an bersama Jibril. (Majmu’ Fatawa Ibnu ‘Utsaimin 20: 516, Dinukil dari Fatawa Al-Islam Sual wa Jawab no. 65754) Padahal Ada Hadits yang Melarang Khatam Al-Qur’an Kurang dari Tiga Hari Dari ‘Abdullah bin ‘Amr, ia berkata, يَا رَسُولَ اللَّهِ فِى كَمْ أَقْرَأُ الْقُرْآنَ قَالَ « فِى شَهْرٍ ». قَالَ إِنِّى أَقْوَى مِنْ ذَلِكَ وَتَنَاقَصَهُ حَتَّى قَالَ « اقْرَأْهُ فِى سَبْعٍ ». قَالَ إِنِّى أَقْوَى مِنْ ذَلِكَ. قَالَ « لاَ يَفْقَهُ مَنْ قَرَأَهُ فِى أَقَلَّ مِنْ ثَلاَثٍ » “Wahai Rasulullah dalam berapa hari aku boleh mengkhatamkan Al-Qur’an. Beliau menjawab, “Dalam satu bulan.” ‘Abdullah menjawab, “Aku masih lebih kuat dari itu.” Lantas hal itu dikurangi hingga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan, “Khatamkanlah dalam waktu seminggu.” ‘Abdullah masih menjawab, “Aku masih lebih kuat dari itu.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bersabda, “Tidaklah bisa memahami jika ada yang mengkhatamkan Al-Qur’an kurang dari tiga hari.” (HR. Abu Daud no. 1390 dan Ahmad 2: 195. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini shahih). Al ‘Azhim Abadi menyatakan bahwa hadits di atas adalah dalil tegas yang menyatakan bahwa tidak boleh mengkhatamkan Al-Qur’an kurang dari tiga hari. (‘Aun Al-Ma’bud, 4: 212) Para ulama menjelaskan bahwa yang ternafikan dalam hadits adalah ketidakpahaman, bukan pahalanya. Artinya, hadits tersebut tidaklah menunjukkan tidak boleh mengkhatamkan Al-Qur’an kurang dari tiga hari. Yang dimaksudkan dalam hadits adalah jika mengkhatamkan kurang dari tiga hari sulit untuk memahami. Berarti kalau dilakukan oleh orang yang memahami Al-Qur’an seperti contoh para ulama yang penulis sebutkan di atas, maka tidaklah masalah. Dalam Lathaif Al-Ma’arif (hal. 306) disebutkan oleh Ibnu Rajab Al-Hambali, “Larangan mengkhatamkan Al-Qur’an kurang dari tiga hari itu ada jika dilakukan terus menerus. Sedangkan jika sesekali dilakukan apalagi di waktu utama seperti bulan Ramadhan lebih-lebih lagi pada malam yang dinanti yaitu Lailatul Qadar atau di tempat yang mulia seperti di Makkah bagi yang mendatanginya dan ia bukan penduduk Makkah, maka disunnahkan untuk memperbanyak tilawah untuk memanfaatkan pahala melimpah pada waktu dan zaman. Inilah pendapat dari Imam Ahmad dan Ishaq serta ulama besar lainnya. Inilah yang diamalkan oleh para ulama sebagaimana telah disebutkan.” Walhamdulillah. Wallahu waliyyut taufiq.   Referensi: At-Tibyan fi Adab Hamalah Al-Qur’an. Cetakan pertama tahun 1426 H. Yahya bin Syarf An-Nawawi. Penerbit Maktabah Ibnu ‘Abbas. ‘Aun Al-Ma’bud Syarh Sunan Abi Daud. Cetakan pertama tahun 1430 H. Muhammad Asyraf Ash-Shidiqiy Al-‘Azhim Abadi. Penerbit Darul Fayha’. Lathaif Al-Ma’arif. Cetakan pertama tahun 1428 H. Ibnu Rajab Al-Hambali. Penerbit Al-Maktab Al-Islami. Siyar A’lam An-Nubala’. Cetakan kedua tahun 1435 H. Muhammad bin Ahmad bin ‘Utsman Adz-Dzahabiy. Penerbit Muassasah Ar-Risalah. Fatawa Al-Islam Sual wa Jawab no. 65754. — Diselesaikan di pagi hari 12 Sya’ban 1436 H di Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagskhatam al quran
Disunnahkan untuk memperbanyak membaca Al-Qur’an di bulan Ramadhan dan semangat untuk mengkhatamkannya. Walaupun hal ini tidaklah wajib. Artinya, jika tidak mengkhatamkan Al-Qur’an, maka tidak berdosa. Namun sayang, saat itu ia akan luput dari pahala yang besar. Apa dalil di bulan Ramadhan kita mesti perhatian pada Al-Qur’an. Lihatlah Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam berusaha untuk mengkhatamkan Al-Qur’an di hadapan Jibril ‘alaihis salam sebanyak sekali setiap tahunnya. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, كَانَ يَعْرِضُ عَلَى النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – الْقُرْآنَ كُلَّ عَامٍ مَرَّةً ، فَعَرَضَ عَلَيْهِ مَرَّتَيْنِ فِى الْعَامِ الَّذِى قُبِضَ ، وَكَانَ يَعْتَكِفُ كُلَّ عَامٍ عَشْرًا فَاعْتَكَفَ عِشْرِينَ فِى الْعَامِ الَّذِى قُبِضَ { فِيهِ } “Jibril itu (saling) belajar Al-Qur’an dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam setiap tahun sekali (khatam). Ketika di tahun beliau akan meninggal dunia dua kali khatam. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa pula beri’tikaf setiap tahunnya selama sepuluh hari. Namun di tahun saat beliau akan meninggal dunia, beliau beri’tikaf selama dua puluh hari.” (HR. Bukhari no. 4998). Ibnul Atsir menyatakan dalam Al-Jami’ fii Gharibil Hadits (4: 64) bahwa Jibril saling mengajarkan pada Nabi seluruh Al-Qur’an yang telah diturunkan. Dari situ, para ulama –semoga Allah meridhai mereka- begitu semangat mengkhatamkan Al-Qur’an di bulan Ramadhan karena mencontoh Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam. Beberapa contoh kami sebutkan di bawah ini. Contoh pertama dari seorang ulama yang bernama Al-Aswad bin Yazid –seorang ulama besar tabi’in yang meninggal dunia 74 atau 75 Hijriyah di Kufah- bisa mengkhatamkan Al-Qur’an di bulan Ramadhan setiap dua malam. Dari Ibrahim An-Nakha’i, ia berkata, كَانَ الأَسْوَدُ يَخْتِمُ القُرْآنَ فِي رَمَضَانَ فِي كُلِّ لَيْلَتَيْنِ “Al-Aswad biasa mengkhatamkan Al-Qur’an di bulan Ramadhan setiap dua malam.” (Siyar A’lam An-Nubala, 4: 51). Subhanallah … Yang ada, kita hanya jadi orang yang lalai dari Al-Qur’an di bulan Ramadhan. Disebutkan dalam kitab yang sama di luar bulan Ramadhan, Al-Aswad biasa mengkhatamkan Al-Qur’an dalam enam malam. Waktu istirahat beliau untuk tidur hanya antara Maghrib dan Isya. (Siyar A’lam An-Nubala, 4: 51) Ada seorang ulama di kalangan tabi’in yang bernama Qatadah bin Da’amah yang meninggal tahun 60 atau 61 Hijriyah dan salah seorang murid dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu. Beliau ini sampai dikatakan oleh Imam Ahmad bin Hambal sebagai ulama pakar tafsir dan paham akan perselisihan ulama dalam masalah tafsir. Sampai-sampai Sufyan Ats-Tsaury mengatakan bahwa tidak ada di muka bumi ini yang semisal Qatadah. Salam bin Abu Muthi’ pernah mengatakan tentang semangat Qatadah dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an, كَانَ قَتَادَة يَخْتِمُ القُرْآنَ فِي سَبْعٍ، وَإِذَا جَاءَ رَمَضَانُ خَتَمَ فِي كُلِّ ثَلاَثٍ، فَإِذَا جَاءَ العَشْرُ خَتَمَ كُلَّ لَيْلَةٍ “Qatadah biasanya mengkhatamkan Al-Qur’an dalam tujuh hari. Namun jika datang bulan Ramadhan ia mengkhatamkannya setiap tiga hari. Ketika datang sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan, ia mengkhatamkan setiap malamnya.” (Siyar A’lam An-Nubala’, 5: 276) Muhammad bin Idri Asy-Syafi’i yang kita kenal dengan Imam Syafi’i yang terkenal sebagai salah satu ulama madzhab sebagaimana disebutkan oleh muridnya Ar-Rabi’ bin Sulaiman, كَانَ الشَّافِعِيُّ يَخْتِمُ القُرْآنَ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ سِتِّيْنَ خَتْمَةً “Imam Syafi’i biasa mengkhatamkan Al-Qur’an di bulan Ramadhan sebanyak 60 kali.” Ditambahkan oleh Ibnu Abi Hatim bahwa khataman tersebut dilakukan dalam shalat. (Siyar A’lam An-Nubala’, 10: 36). Bayangkan, Imam Syafi’i berarti mengkhatamkan Al-Qur’an sehari dua kali. Subhanallah … Ibnu ‘Asakir adalah seorang ulama hadits dari negeri Syam, dengan nama kunyah Abul Qasim, beliau penulis kitab yang terkenal yaitu Tarikh Dimasyq. Anaknya yang bernama Al-Qasim mengatakan mengenai bapaknya, وكان مواظبا على صلاة الجماعة وتلاوة القرآن، يختم كل جمعة، ويختم في رمضان كل يوم، ويعتكف في المنارة الشرقية، وكان كثير النوافل والاذكار “Ibnu ‘Asakir adalah orang yang biasa merutinkan shalat jama’ah dan tilawah Al-Qur’an. Beliau biasa mengkhatamkan Al-Qur’an setiap pekannya. Lebih luar biasanya di bulan Ramadhan, beliau khatamkan Al-Qur’an setiap hari. Beliau biasa beri’tikaf di Al-Manarah Asy-Syaqiyyah. Beliau adalah orang yang sangat gemar melakukan amalan sunnah dan rajin berdzikir.” (Siyar A’lam An-Nubala’, 20: 562) Apakah Mengkhatamkan Al-Qur’an itu Wajib? Imam Nawawi rahimahullah menyebutkan bahwa seperti itu berbeda tergantung pada orang masing-masing. Orang yang sibuk pikirannya, maka berusaha sebisa mungkin sesuai kemampuan pemahamannya. Begitu pula orang yang sibuk dalam menyebarkan ilmu atau sibuk mengurus urusan agama lainnya atau urusan orang banyak, berusahalah pula untuk mengkhatamkannya sesuai kemampuan. Sedangkan selain mereka yang disebut tadi, hendaknya bisa memperbanyak membaca, jangan sampai jadi lalai. Lihat At-Tibyan, hal. 72. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah ditanya, “Apakah orang yang berpuasa wajib mengkhatamkan Al-Qur’an di bulan Ramadhan?” Jawab beliau rahimahullah bahwa mengkhatamkan Al-Qur’an di bulan Ramadhan bagi orang yang berpuasa tidaklah wajib. Akan tetapi sudah sepatutnya setiap muslim di bulan Ramadhan untuk memperbanyak membaca Al-Qur’an. Hal ini merupakan sunnah dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Setiap bulan Ramadhan, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa saling mengkaji Al-Qur’an bersama Jibril. (Majmu’ Fatawa Ibnu ‘Utsaimin 20: 516, Dinukil dari Fatawa Al-Islam Sual wa Jawab no. 65754) Padahal Ada Hadits yang Melarang Khatam Al-Qur’an Kurang dari Tiga Hari Dari ‘Abdullah bin ‘Amr, ia berkata, يَا رَسُولَ اللَّهِ فِى كَمْ أَقْرَأُ الْقُرْآنَ قَالَ « فِى شَهْرٍ ». قَالَ إِنِّى أَقْوَى مِنْ ذَلِكَ وَتَنَاقَصَهُ حَتَّى قَالَ « اقْرَأْهُ فِى سَبْعٍ ». قَالَ إِنِّى أَقْوَى مِنْ ذَلِكَ. قَالَ « لاَ يَفْقَهُ مَنْ قَرَأَهُ فِى أَقَلَّ مِنْ ثَلاَثٍ » “Wahai Rasulullah dalam berapa hari aku boleh mengkhatamkan Al-Qur’an. Beliau menjawab, “Dalam satu bulan.” ‘Abdullah menjawab, “Aku masih lebih kuat dari itu.” Lantas hal itu dikurangi hingga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan, “Khatamkanlah dalam waktu seminggu.” ‘Abdullah masih menjawab, “Aku masih lebih kuat dari itu.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bersabda, “Tidaklah bisa memahami jika ada yang mengkhatamkan Al-Qur’an kurang dari tiga hari.” (HR. Abu Daud no. 1390 dan Ahmad 2: 195. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini shahih). Al ‘Azhim Abadi menyatakan bahwa hadits di atas adalah dalil tegas yang menyatakan bahwa tidak boleh mengkhatamkan Al-Qur’an kurang dari tiga hari. (‘Aun Al-Ma’bud, 4: 212) Para ulama menjelaskan bahwa yang ternafikan dalam hadits adalah ketidakpahaman, bukan pahalanya. Artinya, hadits tersebut tidaklah menunjukkan tidak boleh mengkhatamkan Al-Qur’an kurang dari tiga hari. Yang dimaksudkan dalam hadits adalah jika mengkhatamkan kurang dari tiga hari sulit untuk memahami. Berarti kalau dilakukan oleh orang yang memahami Al-Qur’an seperti contoh para ulama yang penulis sebutkan di atas, maka tidaklah masalah. Dalam Lathaif Al-Ma’arif (hal. 306) disebutkan oleh Ibnu Rajab Al-Hambali, “Larangan mengkhatamkan Al-Qur’an kurang dari tiga hari itu ada jika dilakukan terus menerus. Sedangkan jika sesekali dilakukan apalagi di waktu utama seperti bulan Ramadhan lebih-lebih lagi pada malam yang dinanti yaitu Lailatul Qadar atau di tempat yang mulia seperti di Makkah bagi yang mendatanginya dan ia bukan penduduk Makkah, maka disunnahkan untuk memperbanyak tilawah untuk memanfaatkan pahala melimpah pada waktu dan zaman. Inilah pendapat dari Imam Ahmad dan Ishaq serta ulama besar lainnya. Inilah yang diamalkan oleh para ulama sebagaimana telah disebutkan.” Walhamdulillah. Wallahu waliyyut taufiq.   Referensi: At-Tibyan fi Adab Hamalah Al-Qur’an. Cetakan pertama tahun 1426 H. Yahya bin Syarf An-Nawawi. Penerbit Maktabah Ibnu ‘Abbas. ‘Aun Al-Ma’bud Syarh Sunan Abi Daud. Cetakan pertama tahun 1430 H. Muhammad Asyraf Ash-Shidiqiy Al-‘Azhim Abadi. Penerbit Darul Fayha’. Lathaif Al-Ma’arif. Cetakan pertama tahun 1428 H. Ibnu Rajab Al-Hambali. Penerbit Al-Maktab Al-Islami. Siyar A’lam An-Nubala’. Cetakan kedua tahun 1435 H. Muhammad bin Ahmad bin ‘Utsman Adz-Dzahabiy. Penerbit Muassasah Ar-Risalah. Fatawa Al-Islam Sual wa Jawab no. 65754. — Diselesaikan di pagi hari 12 Sya’ban 1436 H di Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagskhatam al quran


Disunnahkan untuk memperbanyak membaca Al-Qur’an di bulan Ramadhan dan semangat untuk mengkhatamkannya. Walaupun hal ini tidaklah wajib. Artinya, jika tidak mengkhatamkan Al-Qur’an, maka tidak berdosa. Namun sayang, saat itu ia akan luput dari pahala yang besar. Apa dalil di bulan Ramadhan kita mesti perhatian pada Al-Qur’an. Lihatlah Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam berusaha untuk mengkhatamkan Al-Qur’an di hadapan Jibril ‘alaihis salam sebanyak sekali setiap tahunnya. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, كَانَ يَعْرِضُ عَلَى النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – الْقُرْآنَ كُلَّ عَامٍ مَرَّةً ، فَعَرَضَ عَلَيْهِ مَرَّتَيْنِ فِى الْعَامِ الَّذِى قُبِضَ ، وَكَانَ يَعْتَكِفُ كُلَّ عَامٍ عَشْرًا فَاعْتَكَفَ عِشْرِينَ فِى الْعَامِ الَّذِى قُبِضَ { فِيهِ } “Jibril itu (saling) belajar Al-Qur’an dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam setiap tahun sekali (khatam). Ketika di tahun beliau akan meninggal dunia dua kali khatam. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa pula beri’tikaf setiap tahunnya selama sepuluh hari. Namun di tahun saat beliau akan meninggal dunia, beliau beri’tikaf selama dua puluh hari.” (HR. Bukhari no. 4998). Ibnul Atsir menyatakan dalam Al-Jami’ fii Gharibil Hadits (4: 64) bahwa Jibril saling mengajarkan pada Nabi seluruh Al-Qur’an yang telah diturunkan. Dari situ, para ulama –semoga Allah meridhai mereka- begitu semangat mengkhatamkan Al-Qur’an di bulan Ramadhan karena mencontoh Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam. Beberapa contoh kami sebutkan di bawah ini. Contoh pertama dari seorang ulama yang bernama Al-Aswad bin Yazid –seorang ulama besar tabi’in yang meninggal dunia 74 atau 75 Hijriyah di Kufah- bisa mengkhatamkan Al-Qur’an di bulan Ramadhan setiap dua malam. Dari Ibrahim An-Nakha’i, ia berkata, كَانَ الأَسْوَدُ يَخْتِمُ القُرْآنَ فِي رَمَضَانَ فِي كُلِّ لَيْلَتَيْنِ “Al-Aswad biasa mengkhatamkan Al-Qur’an di bulan Ramadhan setiap dua malam.” (Siyar A’lam An-Nubala, 4: 51). Subhanallah … Yang ada, kita hanya jadi orang yang lalai dari Al-Qur’an di bulan Ramadhan. Disebutkan dalam kitab yang sama di luar bulan Ramadhan, Al-Aswad biasa mengkhatamkan Al-Qur’an dalam enam malam. Waktu istirahat beliau untuk tidur hanya antara Maghrib dan Isya. (Siyar A’lam An-Nubala, 4: 51) Ada seorang ulama di kalangan tabi’in yang bernama Qatadah bin Da’amah yang meninggal tahun 60 atau 61 Hijriyah dan salah seorang murid dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu. Beliau ini sampai dikatakan oleh Imam Ahmad bin Hambal sebagai ulama pakar tafsir dan paham akan perselisihan ulama dalam masalah tafsir. Sampai-sampai Sufyan Ats-Tsaury mengatakan bahwa tidak ada di muka bumi ini yang semisal Qatadah. Salam bin Abu Muthi’ pernah mengatakan tentang semangat Qatadah dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an, كَانَ قَتَادَة يَخْتِمُ القُرْآنَ فِي سَبْعٍ، وَإِذَا جَاءَ رَمَضَانُ خَتَمَ فِي كُلِّ ثَلاَثٍ، فَإِذَا جَاءَ العَشْرُ خَتَمَ كُلَّ لَيْلَةٍ “Qatadah biasanya mengkhatamkan Al-Qur’an dalam tujuh hari. Namun jika datang bulan Ramadhan ia mengkhatamkannya setiap tiga hari. Ketika datang sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan, ia mengkhatamkan setiap malamnya.” (Siyar A’lam An-Nubala’, 5: 276) Muhammad bin Idri Asy-Syafi’i yang kita kenal dengan Imam Syafi’i yang terkenal sebagai salah satu ulama madzhab sebagaimana disebutkan oleh muridnya Ar-Rabi’ bin Sulaiman, كَانَ الشَّافِعِيُّ يَخْتِمُ القُرْآنَ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ سِتِّيْنَ خَتْمَةً “Imam Syafi’i biasa mengkhatamkan Al-Qur’an di bulan Ramadhan sebanyak 60 kali.” Ditambahkan oleh Ibnu Abi Hatim bahwa khataman tersebut dilakukan dalam shalat. (Siyar A’lam An-Nubala’, 10: 36). Bayangkan, Imam Syafi’i berarti mengkhatamkan Al-Qur’an sehari dua kali. Subhanallah … Ibnu ‘Asakir adalah seorang ulama hadits dari negeri Syam, dengan nama kunyah Abul Qasim, beliau penulis kitab yang terkenal yaitu Tarikh Dimasyq. Anaknya yang bernama Al-Qasim mengatakan mengenai bapaknya, وكان مواظبا على صلاة الجماعة وتلاوة القرآن، يختم كل جمعة، ويختم في رمضان كل يوم، ويعتكف في المنارة الشرقية، وكان كثير النوافل والاذكار “Ibnu ‘Asakir adalah orang yang biasa merutinkan shalat jama’ah dan tilawah Al-Qur’an. Beliau biasa mengkhatamkan Al-Qur’an setiap pekannya. Lebih luar biasanya di bulan Ramadhan, beliau khatamkan Al-Qur’an setiap hari. Beliau biasa beri’tikaf di Al-Manarah Asy-Syaqiyyah. Beliau adalah orang yang sangat gemar melakukan amalan sunnah dan rajin berdzikir.” (Siyar A’lam An-Nubala’, 20: 562) Apakah Mengkhatamkan Al-Qur’an itu Wajib? Imam Nawawi rahimahullah menyebutkan bahwa seperti itu berbeda tergantung pada orang masing-masing. Orang yang sibuk pikirannya, maka berusaha sebisa mungkin sesuai kemampuan pemahamannya. Begitu pula orang yang sibuk dalam menyebarkan ilmu atau sibuk mengurus urusan agama lainnya atau urusan orang banyak, berusahalah pula untuk mengkhatamkannya sesuai kemampuan. Sedangkan selain mereka yang disebut tadi, hendaknya bisa memperbanyak membaca, jangan sampai jadi lalai. Lihat At-Tibyan, hal. 72. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah ditanya, “Apakah orang yang berpuasa wajib mengkhatamkan Al-Qur’an di bulan Ramadhan?” Jawab beliau rahimahullah bahwa mengkhatamkan Al-Qur’an di bulan Ramadhan bagi orang yang berpuasa tidaklah wajib. Akan tetapi sudah sepatutnya setiap muslim di bulan Ramadhan untuk memperbanyak membaca Al-Qur’an. Hal ini merupakan sunnah dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Setiap bulan Ramadhan, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa saling mengkaji Al-Qur’an bersama Jibril. (Majmu’ Fatawa Ibnu ‘Utsaimin 20: 516, Dinukil dari Fatawa Al-Islam Sual wa Jawab no. 65754) Padahal Ada Hadits yang Melarang Khatam Al-Qur’an Kurang dari Tiga Hari Dari ‘Abdullah bin ‘Amr, ia berkata, يَا رَسُولَ اللَّهِ فِى كَمْ أَقْرَأُ الْقُرْآنَ قَالَ « فِى شَهْرٍ ». قَالَ إِنِّى أَقْوَى مِنْ ذَلِكَ وَتَنَاقَصَهُ حَتَّى قَالَ « اقْرَأْهُ فِى سَبْعٍ ». قَالَ إِنِّى أَقْوَى مِنْ ذَلِكَ. قَالَ « لاَ يَفْقَهُ مَنْ قَرَأَهُ فِى أَقَلَّ مِنْ ثَلاَثٍ » “Wahai Rasulullah dalam berapa hari aku boleh mengkhatamkan Al-Qur’an. Beliau menjawab, “Dalam satu bulan.” ‘Abdullah menjawab, “Aku masih lebih kuat dari itu.” Lantas hal itu dikurangi hingga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan, “Khatamkanlah dalam waktu seminggu.” ‘Abdullah masih menjawab, “Aku masih lebih kuat dari itu.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bersabda, “Tidaklah bisa memahami jika ada yang mengkhatamkan Al-Qur’an kurang dari tiga hari.” (HR. Abu Daud no. 1390 dan Ahmad 2: 195. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini shahih). Al ‘Azhim Abadi menyatakan bahwa hadits di atas adalah dalil tegas yang menyatakan bahwa tidak boleh mengkhatamkan Al-Qur’an kurang dari tiga hari. (‘Aun Al-Ma’bud, 4: 212) Para ulama menjelaskan bahwa yang ternafikan dalam hadits adalah ketidakpahaman, bukan pahalanya. Artinya, hadits tersebut tidaklah menunjukkan tidak boleh mengkhatamkan Al-Qur’an kurang dari tiga hari. Yang dimaksudkan dalam hadits adalah jika mengkhatamkan kurang dari tiga hari sulit untuk memahami. Berarti kalau dilakukan oleh orang yang memahami Al-Qur’an seperti contoh para ulama yang penulis sebutkan di atas, maka tidaklah masalah. Dalam Lathaif Al-Ma’arif (hal. 306) disebutkan oleh Ibnu Rajab Al-Hambali, “Larangan mengkhatamkan Al-Qur’an kurang dari tiga hari itu ada jika dilakukan terus menerus. Sedangkan jika sesekali dilakukan apalagi di waktu utama seperti bulan Ramadhan lebih-lebih lagi pada malam yang dinanti yaitu Lailatul Qadar atau di tempat yang mulia seperti di Makkah bagi yang mendatanginya dan ia bukan penduduk Makkah, maka disunnahkan untuk memperbanyak tilawah untuk memanfaatkan pahala melimpah pada waktu dan zaman. Inilah pendapat dari Imam Ahmad dan Ishaq serta ulama besar lainnya. Inilah yang diamalkan oleh para ulama sebagaimana telah disebutkan.” Walhamdulillah. Wallahu waliyyut taufiq.   Referensi: At-Tibyan fi Adab Hamalah Al-Qur’an. Cetakan pertama tahun 1426 H. Yahya bin Syarf An-Nawawi. Penerbit Maktabah Ibnu ‘Abbas. ‘Aun Al-Ma’bud Syarh Sunan Abi Daud. Cetakan pertama tahun 1430 H. Muhammad Asyraf Ash-Shidiqiy Al-‘Azhim Abadi. Penerbit Darul Fayha’. Lathaif Al-Ma’arif. Cetakan pertama tahun 1428 H. Ibnu Rajab Al-Hambali. Penerbit Al-Maktab Al-Islami. Siyar A’lam An-Nubala’. Cetakan kedua tahun 1435 H. Muhammad bin Ahmad bin ‘Utsman Adz-Dzahabiy. Penerbit Muassasah Ar-Risalah. Fatawa Al-Islam Sual wa Jawab no. 65754. — Diselesaikan di pagi hari 12 Sya’ban 1436 H di Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagskhatam al quran

Tolonglah Saudaramu, Jangan biarkan Ia Terzolimi !

Khutbah Jum’at Masjid Nabawi 26/7/1436 HOleh : Asy-Syaikh Abdul Baari Ats-Tsubaiti hafizohulloh Khutbah Pertama : Segala puji bagi Allah, segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepada kita berbagai kebaikan, yang menyeru kepada saling tolong menolong. Aku memujiNya subhaanahu dan aku bersyukur kepadanya di pagi dan petang. Dan aku bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah tiada sekutu bagiNya, Ia telah menciptakan kita, memberi rizki kepada kita dan menjadikan kita umat yang terbaik. Dan aku bersaksi bahwasanya pemimpin kita dan nabi kita Muhammad adalah hambaNya dan rasulNya, nabi yang termulia dan teladan yang terbaik. Semoga shalawat tercurahkan kepadanya dan kepada keluarganya serta seluruh sahabatnya yang merupakan teladan yang terbaik.  Amma ba’du, aku wasiatkan kepada kalian dan kepada diriku untuk bertakwa kepada Allah. Allah berfirman : يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ (١٨)Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah Setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS Al-Hasyr : 18) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda “Tolonglah saudaramu tatkala ia berbuat zolim atau tatkala dizolimi”. Maka ada seseorang berkata, “Wahai Rasulullah, aku menolongnya jika ia dizolimi, bagaimana menurutmu jika ia yang berbuat zolim, bagaimana cara menolongnya?”. Nabi berkata, “Engkau mencegahnya atau menahannya dari kezoliman, maka itu adalah bentuk menolongnya” (HR Al-Bukhari) Menolong saudara adalah tanda keimanan, alamat akan benarnya Islam seseorang. Dari Nu’man bin Basyir radhiallahu ‘anhu ia berkata : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :“Perumpamaan kaum mukminin dalam saling mencintai diantara mereka, saling menyayangi, saling mengasihi, seperti satu jasad, jika ada satu anggota tubuh yang sakit maka seluruh jasad yang lain akan menyeru ikut kesakitan dan tidak bisa tidur” (HR Muslim), dan Nabi juga bersabda “Seorang mukmin bagi mukmin yang lain ibarat sebuah bangunan yang saling menguatkan”, lalu Nabi menyela jari-jari tangan yang satu ke jari-jari tangan yang lain (HR Al-Bukhari dan Muslim) Dan jika sebuah umat menolong yang terzolimi, mengambil tangan pelaku kezoliman lalu mencegahnya dari kezoliman maka umat tersebut selamat dari hukuman Allah. Allah berfirman :وَاتَّقُوا فِتْنَةً لا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ (٢٥)Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. dan ketahuilah bahwa Allah Amat keras siksaan-Nya. (QS Al-Anfaal : 25)Barangsiapa yang menolong yang terzolimi maka Allah akan menolongnya, dan Allah akan meyiapkan baginya orang yang akan menolongnya di dunia dan akhirat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :مَنْ نَصَرَ أَخَاهُ بِظَهْرِ الْغَيْبِ نَصَرَهُ اللهُ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ“Barangsiapa yang menolong saudaranya –tanpa kehadiran saudaranya tersebut- maka Allah akan menolongnya di dunia dan akhirat’ (HR Al-Baihaqi dengan sanad yang shahih) Menolong adalah bentuk persekutuan Islami dan saling bahu-membahu yang imani, dan ia merupakan kekuatan bagi kaum muslimin serta kemuliaan bagi kaum mukminin. Membangungkan semangat dari tidurnya dan menyatukan kaum muslimin dalam satu saf dalam satu urusan dan satu tujuan disertai kemuliaan dan pengorbanan sehinggaتُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللَّهِ وَعَدُوَّكُمْ“Dengannya kalian menggentarkan musuh Allah dan musuh kalian” (Qs Al-Anfaal : 60) Menolong adalah kewajiban agama, serta kebutuhan urgen duniawi, sungguh kezoliman telah tertujukan kepada Islam, makar rencana jahat diarahkan kepada Islam, dan ini merupakan fenomena zaman ini dengan bentuknya yang banyak dan beragam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :« يُوشِكُ الأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا ». فَقَالَ قَائِلٌ وَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ قَالَ « بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ وَلَيَنْزِعَنَّ اللَّهُ مِنْ صُدُورِ عَدُوِّكُمُ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ وَلَيَقْذِفَنَّ اللَّهُ فِى قُلُوبِكُمُ الْوَهَنَ ». فَقَالَ قَائِلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا الْوَهَنُ قَالَ « حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ ».Dari Tsauban, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hampir saja para umat (yang kafir dan sesat, pen) mengerumuni kalian dari berbagai penjuru, sebagaimana mereka berkumpul menghadapi makanan dalam piring”. Kemudian seseorang bertanya,”Katakanlah wahai Rasulullah, apakah kami pada saat itu sedikit?” Rasulullah berkata,”Bahkan kalian pada saat itu banyak. Akan tetapi kalian bagai sampah yang dibawa oleh air hujan. Allah akan menghilangkan rasa takut pada hati musuh kalian dan akan menimpakan dalam hati kalian ’Wahn’. Kemudian seseorang bertanya,”Apa itu ’wahn’?” Rasulullah berkata,”Cinta dunia dan takut mati.” Jika sikap menolong melemah diantara kaum muslimin maka musuh akan menguasai, dan akan semakin keras hantaman musuh dan semakin belanjut kezoliman mereka serta menyiksa kaum muslimin, membinasakan orang-orang yang tenteram, menghinakan para ahli tauhid, merampas negeri, dan menjatuhkan harga diri.Sesungguhnya kerusakan yang besar dan fitnah yang menyala-nyala di negeri-negeri kaum musliimin asalnya adalah karena kurang dalam menerapkan sikap menolong. Allah berfirman : وَالَّذِينَ كَفَرُوا بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ إِلا تَفْعَلُوهُ تَكُنْ فِتْنَةٌ فِي الأرْضِ وَفَسَادٌ كَبِيرٌ (٧٣)Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. jika kamu (hai Para muslimin) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar. (QS Al-Anfaal : 73)           Telah datang larangan dari sikap meninggalkan seorang muslim yang membutuhkan bantuan dan sikap berlepas diri dari menolongnya dan mendukungnya. Rasul kita yang mulia shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :المُسْلِمُ أَخُو المُسْلِمِ لاَ يَظْلِمُهُ وَلاَ يَخْذُلُهُ“Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain, ia tidak menzoliminya dan tidak meninggalkannya (tatkala butuh bantuannya)”Nabi juga berkata :لَقَدْ شَهِدْتُ مع عمومتي حلف المطيبين فما أُحِبُّ أَنَّ لِي حُمْرَ النَّعَمِ وإني أنكثه“Sungguh aku bersama paman-pamanku telah menghadiri perjanjian muthoyyabin, dan aku tidak suka jika aku diberi onta merah sementara aku melanggarnya”Dalam hadits ini ada isyarat tentang persekutuan al-fudul dalam rangka menolong orang yang dizolimi.Barangsiapa yang malas dalam menjulurkan tangannya untuk segera menolong orang yang dizolimi maka ia akan terhinakan di dunia serta akan merugi di akhirat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :مَا مِنْ امْرِئٍ يَخْذُلُ امْرَأً مُسْلِمًا عِنْدَ مَوْطِنٍ تُنْتَهَكُ فِيهِ حُرْمَتُهُ وَيُنْتَقَصُ فِيهِ مِنْ عِرْضِهِ إِلَّا خَذَلَهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ فِي مَوْطِنٍ يُحِبُّ فِيهِ نُصْرَتَهُ. وَمَا مِنْ امْرِئٍ يَنْصُرُ مُسْلِمًا فِي مَوْطِنٍ يُنْتَقَصُ فِيهِ مِنْ عِرْضِهِ وَيُنْتَهَكُ فِيهِ مِنْ حُرْمَتِهِ إِلَّا نَصَرَهُ اللَّهُ فِي مَوْطِنٍ يُحِبُّ فِيهِ نُصْرَتَهُ“Dan tidaklah seseorang meninggalkan saudaranya sesama muslim pada kondisi kehormatannya sedang dilanggar dan direndahkan harga dirinya kecuali Allah akan meninggalkannya pada kondisi dimana ia ingin ditolong. Dan tidaklah seseorang menolong seorang muslim pada saat harga dirinya direndahkan dan kehormatannya dilanggar kecuali Allah akan menolongnya pada kondisi dimana ia ingin ditolong”Dan jika umat diuji dengan para lelaki yang tidak jelas yang bersekutu dengan musuh umatnya, dan menghunuskan pedang pengkhianatan terhadap saudara setanah airnya, menanam bibit fitnah, memudahkan terjadinya kudeta serta kekacauan karena rakus terhadap kekuasaan, untuk meraih medali kehinaan dan kerendahan, meskipun dengan mengorbankan tengkorak-tengkorak rakyat yang tidak berdosa, dan mayat-mayat anak-anak. Maka bagaimana masyarakat merasa aman dari tipu daya berasal dari suku mereka sendiri, yang telah telah berkhianat terhadap negerinya, dan meminta pertolongan dari para pembela kebatilan untuk menyerang kaumnya sendiri dan negeri tetangganya ?Dan pihak yang lain berusaha menggiris rakyatnya, membunuh dan menghancurkan penduduk negerinya dengan bom-bom yang membakar, dan bahan-bahan peledak, gas-gas beracun di pagar manusia yang sabar dan enggan.Dan sepotong tanah Ghaza yang menderita akibat pengepungan yang zolim dan makar yang kejam, dimana kezoliman telah mencapai puncaknya, dengan menghalangi seluruh sarana dan prasarana kehidupan baik makanan dan minuman serta obat-obatan.Peristiwa-peristiwa terjadi sebagai ujian bagi jiwa-jiwa, untuk memurnikan saf-saf, agar Allah mengetahui siapakah yang menolong yang dizolimi dan menolak pelaku kezoliman serta siapakah yang berpegang teguh dengan kebenaran dalam menghadapi kebatilan. Allah berfirman :وَلِيَعْلَمَ اللَّهُ مَنْ يَنْصُرُهُ وَرُسُلَهُ بِالْغَيْبِ إِنَّ اللَّهَ قَوِيٌّ عَزِيزٌDan supaya Allah mengetahui siapa yang menolong (agama)Nya dan rasul-rasul-Nya Padahal Allah tidak dilihatnya. Sesungguhnya Allah Maha kuat lagi Maha Perkasa. (QS Al-Hadid : 25)Membela orang-orang yang lemah harus ditegakan, menolong mereka adalah suatu kewajiban. Dan kaum muslimin di seluruh penjuru dunia mereka adalah bagian dari tubuh umat yang besar, dan dengan hukum persaudaraan sesama Islam maka mereka memiliki hak untuk ditolong dan dibantu.           Diantara bentuk pertolongan adalah perhatian terhadap kondisi mereka serta membantu mereka dengan segala bentuk unsur kekuatan dan sarana pertahanan, untuk memperkuat yang lemah dan menjaga agama, kehormatan, jiwa, dan negeri, serta menghibur mereka dengan bantuan harta dan materi, menolong jiwa yang teraniaya, dan mengembalikan harapan.Sang sahabat yang mulia Utsman bin Affaan radhiallahu ‘anhu merupakan contoh yang patut ditiru, teladan dalam menolong kaum muslimin dengan harta. Ia datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan membawa 1000 dinar lalu ia letakan di pangkuan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Ia menggali sumur Ruumah untuk kaum mukminin tatkala Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :مَنْ حَفَرَ بِئْرَ رُوْمَةَ فَلَهُ الْجَنَّةُ“Barangsiapa yang menggali sumur Ruumah maka baginya surga”Dan Utsman juga telah berinfak untuk mempersiapkan pasukan perang Tabuk.Dan istri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam Khodijah radhiallahu ‘anha sungguh telah menghibur dan menolong Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan seluruh hartanya.Dan diantara bentuk menolong adalah jangan sampai seorang muslim menjadi penolong bagi pelaku kezoliman yang menzolimi saudaranya sesama muslim. Allah berfirman :وَلا تَرْكَنُوا إِلَى الَّذِينَ ظَلَمُوا فَتَمَسَّكُمُ النَّارُDan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka (QS Huud : 113)Diantara bentuk pertolongan adalah memboikot barang-barang dagangan musuh dan orang yang membantu musuh dan membiayai mereka baik bantuan spiritual maupun pemikiran, serta bekerjasama dengan musuh. Pemboikotan merupakan senjata yang manjur dan berpengaruh, tentunya dijalankan dengan kaidah-kaidah pemboikotan yang syar’i, sehingga memberikan pelajaran bagi musuh, dan dengan hal ini umat akan tetap kokoh dihadapan orang yang menghendaki keburukan bagi mereka.           Adapun pertolongan terhadap akidah adalah dengan menjelaskan pokok-pokok akidah dan pemahamannya, serta membantah syubhat-syubhat, menjelaskan bahaya bid’ah dan manhajnya sekte-sekte yang menyimpang, yang dimana musuh menemukan pada firqoh-firqoh tersebut apa yang mereka cari. Maka musuhpun bersekutu dengan mereka, dan firqoh-firqoh tersebut dikembangkan oleh musuh di tengah-tengah umat Islam, musuh menyetirnya sesuka hati untuk menggoncang stabilitas keamanan dan mengobarkan kekacauan, merampas umat ini, merampas kepemilikan umat, dan mematikan kekuatannya, dan agar umat terpuruk di bagian belakang, disetir dan tidak menyetir, mengikuti dan bukan menjadi yang diikuti.           Hendaknya menolong juga melalui media, semua orang melihat dan mendengar bagaimana peran media yang dengki dalam menghapus fakta kebenaran dan mencemarkan agama serta mengingkari hak-hak kaum muslimin, sampai-sampai menuduh seluruh perilaku yang buruk kepada kaum muslimin. Media menggambarkan bahwa kaum muslimin adalah para pembunuh dan para penghisap darah, dan seorang yang membela negerinya dan kehormatannya dituduh sebagai teroris, media menjadikan para pembunuh dan para penjahat sebagai teman pembawa keselamatan, menjadikan penyerang dan penjajah sebagai kelompok yang membela dan mencegah.Pertolongan melalui media adalah dengan menjelaskan kezoliman pelaku kezoliman, mengumbar perbuatan-perbuatannya, dan menjelaskan hakekatnya, dan hiasan kebatilannya. Dengan mewujudkan kebenaran dan menghancurkan kebatilan. Dan dampak dari penjelasan dalam beberapa kondisi lebih kuat dan lebih menggigit dari pada sayatan pedang. Ceramah itu memiliki kekuatan tersendiri, dan gambar/clip memiliki dampak tersendiri, tulisan juga memilik panah yang kuat, dan sya’ir memiliki kekuatan tersendiri. Aisyah radhiallahu ‘anhaa berkata : “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada Hassaan –bin Tsabit- radhiallahu ‘anhu :إِنَّ رُوْحَ الْقُدُسِ لاَ يَزَالُ يُؤَيِّدُكَ مَا نَافَحْتَ عَنِ اللهِ وَرَسُوْلِهِ“Sesungguhnya Ruhul Qudus (malaikat Jibril) terus menguatkanmu selama engkau membela Allah dan RasulNya”Dan pertolongan juga hendaknya pada permasalahan-permasalahan umat dengan memberi pengarahan kepada mereka dan membela umat, serta membongkar racun yang dihembuskan oleh para gembong kejahatan, mengungkap rencana-rencana jahat mereka dan menjelaskan tentang manhaj mereka melalui seluruh sarana, setiap pertemuan dan kesempatan-kesempatan. Allah berfirman :وَكَذَلِكَ نُفَصِّلُ الآيَاتِ وَلِتَسْتَبِينَ سَبِيلُ الْمُجْرِمِينَ (٥٥)Dan demikianlah Kami terangkan ayat-ayat Al-Quran (supaya jelas jalan orang-orang yang saleh, dan supaya jelas (pula) jalan orang-orang yang berdosa. (QS Al-An’aam : 55)Dan menolong juga melalui doa, ia adalah senjata segala urusan dan obat dari kesulitan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menolong orang-orang yang terzolimi dengan doa dalam qunut beliau.Bersandar kepada Allah di tengah cobaan, menguatkan hubungan kepada Allah tatkala genting merupakan ciri seorang mukmin. Allah berfirman :كَذَّبَتْ قَبْلَهُمْ قَوْمُ نُوحٍ فَكَذَّبُوا عَبْدَنَا وَقَالُوا مَجْنُونٌ وَازْدُجِرَ (٩)فَدَعَا رَبَّهُ أَنِّي مَغْلُوبٌ فَانْتَصِرْ (١٠)فَفَتَحْنَا أَبْوَابَ السَّمَاءِ بِمَاءٍ مُنْهَمِرٍ (١١)وَفَجَّرْنَا الأرْضَ عُيُونًا فَالْتَقَى الْمَاءُ عَلَى أَمْرٍ قَدْ قُدِرَ (١٢)Sebelum mereka, telah mendustakan (pula) kamu Nuh, Maka mereka mendustakan hamba Kami (Nuh) dan mengatakan: “Dia seorang gila dan Dia sudah pernah diberi ancaman). Maka Dia mengadu kepada Tuhannya: “Bahwasanya aku ini adalah orang yang dikalahkan, oleh sebab itu menangkanlah (aku).” Maka Kami bukakan pintu-pintu langit dengan (menurunkan) air yang tercurah. dan Kami jadikan bumi memancarkan mata air-mata air, Maka bertemu- lah air-air itu untuk suatu urusan yang sungguh telah ditetapkan. (QS Al-Qomar : 9-12) Semoga Allah memberkahi aku dan kalian dalam al-Qur’an al-Azhim, dan semoga Allah menjadikan aku dan kalian bisa mengambil manfaat dari ayat-ayatnya dan adz-dzikr al-hakim. Aku menyampaikan perkataanku ini, dan aku memohon ampunan kepada Allah yang maha agung bagiku dan bagi kalian serta seluruh kaum muslimin dari segala dosa, maka mohonlah ampunan kepadaNya, sesungguhnya ia maha pengampun lagi maha penyayang. Khutbah Kedua :           Segala puji bagi Allah penguasa alam semesta, Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Yang menguasai hari pembalasan. Dan aku bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak disembah melainkan Allah semata tiada sekutu bagiNya, Tuhannya orang-orang terdahulu dan yang terakhir. Dan aku bersaksi bahwasanya pemimpin kita, nabi kita Muhammad adalah hambaNya dan rasulNya, pemimpin orang-orang yang bertakwa, semoga Allah mencurahkan shalawat kepada beliau, keluarga beliau dan seluruh sahabat beliau.Amma ba’du, aku washiatkan kepada kalian dan kepada diriku untuk bertakwa kepada Allah, Allah berfirmanيَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ (١١٩)Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar. (QS At-Taubah : 119)          Pertolongan yang bermanfaat yang dengannya terwujudkan dampak positifnya dan terhilangkan kesulitan, adalah pertolongan yang terus menerus dan berkesinambungan yang tidak terputus talinya dan tidak terhenti bantuannya, sehingga kita tidak terkena kekalahan karena semangat yang sementara dan kelemahan yang menghalangi tercapainya target. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّتْ“Amalan yang paing dicintai oleh Allah adalah yang paling berkesinambungan meskipun sedikit”Bisa jadi pelaku kebatilan berhasil untuk bersatu dalam satu kompi, akan tetapi ini hanyalah lahiriahnya saja, adapun hakikatnya maka ini adalah persatuan yang dibangun di atas kepentingan yang berbeda-beda, hati dan nafsu mereka tercerai berai, dan akan terungkap perseteruan dan perpecahan diantara mereka, tirai tipuan akan tersingkap, lalu leburlah kebatilan mereka dan terpecahkan perkumpulan mereka.بَأْسُهُمْ بَيْنَهُمْ شَدِيدٌ تَحْسَبُهُمْ جَمِيعًا وَقُلُوبُهُمْ شَتَّىPermusuhan antara sesama mereka adalah sangat hebat. kamu kira mereka itu bersatu, sedang hati mereka berpecah belah. (QS Al-Hasyr : 14)Di akhir zaman kaum muslimin akan ditolong oleh batu dan pohon, ia berkata ; “Wahai Muslim, wahai Abdullah, ini ada seorang yahudi di belakangku, kemarilah bunuhlah ia”. Dan perkataan batu dan pohon termasuk tanda-tanda hari kiamat.Allah berfirman :وَلَيَنْصُرَنَّ اللَّهُ مَنْ يَنْصُرُهُ إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌSesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha kuat lagi Maha perkasa (QS Al-Hajj : 40) Penerjemah: Abu Abdil Muhsin Firandawww.firanda.com

Tolonglah Saudaramu, Jangan biarkan Ia Terzolimi !

Khutbah Jum’at Masjid Nabawi 26/7/1436 HOleh : Asy-Syaikh Abdul Baari Ats-Tsubaiti hafizohulloh Khutbah Pertama : Segala puji bagi Allah, segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepada kita berbagai kebaikan, yang menyeru kepada saling tolong menolong. Aku memujiNya subhaanahu dan aku bersyukur kepadanya di pagi dan petang. Dan aku bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah tiada sekutu bagiNya, Ia telah menciptakan kita, memberi rizki kepada kita dan menjadikan kita umat yang terbaik. Dan aku bersaksi bahwasanya pemimpin kita dan nabi kita Muhammad adalah hambaNya dan rasulNya, nabi yang termulia dan teladan yang terbaik. Semoga shalawat tercurahkan kepadanya dan kepada keluarganya serta seluruh sahabatnya yang merupakan teladan yang terbaik.  Amma ba’du, aku wasiatkan kepada kalian dan kepada diriku untuk bertakwa kepada Allah. Allah berfirman : يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ (١٨)Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah Setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS Al-Hasyr : 18) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda “Tolonglah saudaramu tatkala ia berbuat zolim atau tatkala dizolimi”. Maka ada seseorang berkata, “Wahai Rasulullah, aku menolongnya jika ia dizolimi, bagaimana menurutmu jika ia yang berbuat zolim, bagaimana cara menolongnya?”. Nabi berkata, “Engkau mencegahnya atau menahannya dari kezoliman, maka itu adalah bentuk menolongnya” (HR Al-Bukhari) Menolong saudara adalah tanda keimanan, alamat akan benarnya Islam seseorang. Dari Nu’man bin Basyir radhiallahu ‘anhu ia berkata : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :“Perumpamaan kaum mukminin dalam saling mencintai diantara mereka, saling menyayangi, saling mengasihi, seperti satu jasad, jika ada satu anggota tubuh yang sakit maka seluruh jasad yang lain akan menyeru ikut kesakitan dan tidak bisa tidur” (HR Muslim), dan Nabi juga bersabda “Seorang mukmin bagi mukmin yang lain ibarat sebuah bangunan yang saling menguatkan”, lalu Nabi menyela jari-jari tangan yang satu ke jari-jari tangan yang lain (HR Al-Bukhari dan Muslim) Dan jika sebuah umat menolong yang terzolimi, mengambil tangan pelaku kezoliman lalu mencegahnya dari kezoliman maka umat tersebut selamat dari hukuman Allah. Allah berfirman :وَاتَّقُوا فِتْنَةً لا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ (٢٥)Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. dan ketahuilah bahwa Allah Amat keras siksaan-Nya. (QS Al-Anfaal : 25)Barangsiapa yang menolong yang terzolimi maka Allah akan menolongnya, dan Allah akan meyiapkan baginya orang yang akan menolongnya di dunia dan akhirat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :مَنْ نَصَرَ أَخَاهُ بِظَهْرِ الْغَيْبِ نَصَرَهُ اللهُ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ“Barangsiapa yang menolong saudaranya –tanpa kehadiran saudaranya tersebut- maka Allah akan menolongnya di dunia dan akhirat’ (HR Al-Baihaqi dengan sanad yang shahih) Menolong adalah bentuk persekutuan Islami dan saling bahu-membahu yang imani, dan ia merupakan kekuatan bagi kaum muslimin serta kemuliaan bagi kaum mukminin. Membangungkan semangat dari tidurnya dan menyatukan kaum muslimin dalam satu saf dalam satu urusan dan satu tujuan disertai kemuliaan dan pengorbanan sehinggaتُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللَّهِ وَعَدُوَّكُمْ“Dengannya kalian menggentarkan musuh Allah dan musuh kalian” (Qs Al-Anfaal : 60) Menolong adalah kewajiban agama, serta kebutuhan urgen duniawi, sungguh kezoliman telah tertujukan kepada Islam, makar rencana jahat diarahkan kepada Islam, dan ini merupakan fenomena zaman ini dengan bentuknya yang banyak dan beragam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :« يُوشِكُ الأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا ». فَقَالَ قَائِلٌ وَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ قَالَ « بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ وَلَيَنْزِعَنَّ اللَّهُ مِنْ صُدُورِ عَدُوِّكُمُ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ وَلَيَقْذِفَنَّ اللَّهُ فِى قُلُوبِكُمُ الْوَهَنَ ». فَقَالَ قَائِلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا الْوَهَنُ قَالَ « حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ ».Dari Tsauban, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hampir saja para umat (yang kafir dan sesat, pen) mengerumuni kalian dari berbagai penjuru, sebagaimana mereka berkumpul menghadapi makanan dalam piring”. Kemudian seseorang bertanya,”Katakanlah wahai Rasulullah, apakah kami pada saat itu sedikit?” Rasulullah berkata,”Bahkan kalian pada saat itu banyak. Akan tetapi kalian bagai sampah yang dibawa oleh air hujan. Allah akan menghilangkan rasa takut pada hati musuh kalian dan akan menimpakan dalam hati kalian ’Wahn’. Kemudian seseorang bertanya,”Apa itu ’wahn’?” Rasulullah berkata,”Cinta dunia dan takut mati.” Jika sikap menolong melemah diantara kaum muslimin maka musuh akan menguasai, dan akan semakin keras hantaman musuh dan semakin belanjut kezoliman mereka serta menyiksa kaum muslimin, membinasakan orang-orang yang tenteram, menghinakan para ahli tauhid, merampas negeri, dan menjatuhkan harga diri.Sesungguhnya kerusakan yang besar dan fitnah yang menyala-nyala di negeri-negeri kaum musliimin asalnya adalah karena kurang dalam menerapkan sikap menolong. Allah berfirman : وَالَّذِينَ كَفَرُوا بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ إِلا تَفْعَلُوهُ تَكُنْ فِتْنَةٌ فِي الأرْضِ وَفَسَادٌ كَبِيرٌ (٧٣)Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. jika kamu (hai Para muslimin) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar. (QS Al-Anfaal : 73)           Telah datang larangan dari sikap meninggalkan seorang muslim yang membutuhkan bantuan dan sikap berlepas diri dari menolongnya dan mendukungnya. Rasul kita yang mulia shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :المُسْلِمُ أَخُو المُسْلِمِ لاَ يَظْلِمُهُ وَلاَ يَخْذُلُهُ“Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain, ia tidak menzoliminya dan tidak meninggalkannya (tatkala butuh bantuannya)”Nabi juga berkata :لَقَدْ شَهِدْتُ مع عمومتي حلف المطيبين فما أُحِبُّ أَنَّ لِي حُمْرَ النَّعَمِ وإني أنكثه“Sungguh aku bersama paman-pamanku telah menghadiri perjanjian muthoyyabin, dan aku tidak suka jika aku diberi onta merah sementara aku melanggarnya”Dalam hadits ini ada isyarat tentang persekutuan al-fudul dalam rangka menolong orang yang dizolimi.Barangsiapa yang malas dalam menjulurkan tangannya untuk segera menolong orang yang dizolimi maka ia akan terhinakan di dunia serta akan merugi di akhirat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :مَا مِنْ امْرِئٍ يَخْذُلُ امْرَأً مُسْلِمًا عِنْدَ مَوْطِنٍ تُنْتَهَكُ فِيهِ حُرْمَتُهُ وَيُنْتَقَصُ فِيهِ مِنْ عِرْضِهِ إِلَّا خَذَلَهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ فِي مَوْطِنٍ يُحِبُّ فِيهِ نُصْرَتَهُ. وَمَا مِنْ امْرِئٍ يَنْصُرُ مُسْلِمًا فِي مَوْطِنٍ يُنْتَقَصُ فِيهِ مِنْ عِرْضِهِ وَيُنْتَهَكُ فِيهِ مِنْ حُرْمَتِهِ إِلَّا نَصَرَهُ اللَّهُ فِي مَوْطِنٍ يُحِبُّ فِيهِ نُصْرَتَهُ“Dan tidaklah seseorang meninggalkan saudaranya sesama muslim pada kondisi kehormatannya sedang dilanggar dan direndahkan harga dirinya kecuali Allah akan meninggalkannya pada kondisi dimana ia ingin ditolong. Dan tidaklah seseorang menolong seorang muslim pada saat harga dirinya direndahkan dan kehormatannya dilanggar kecuali Allah akan menolongnya pada kondisi dimana ia ingin ditolong”Dan jika umat diuji dengan para lelaki yang tidak jelas yang bersekutu dengan musuh umatnya, dan menghunuskan pedang pengkhianatan terhadap saudara setanah airnya, menanam bibit fitnah, memudahkan terjadinya kudeta serta kekacauan karena rakus terhadap kekuasaan, untuk meraih medali kehinaan dan kerendahan, meskipun dengan mengorbankan tengkorak-tengkorak rakyat yang tidak berdosa, dan mayat-mayat anak-anak. Maka bagaimana masyarakat merasa aman dari tipu daya berasal dari suku mereka sendiri, yang telah telah berkhianat terhadap negerinya, dan meminta pertolongan dari para pembela kebatilan untuk menyerang kaumnya sendiri dan negeri tetangganya ?Dan pihak yang lain berusaha menggiris rakyatnya, membunuh dan menghancurkan penduduk negerinya dengan bom-bom yang membakar, dan bahan-bahan peledak, gas-gas beracun di pagar manusia yang sabar dan enggan.Dan sepotong tanah Ghaza yang menderita akibat pengepungan yang zolim dan makar yang kejam, dimana kezoliman telah mencapai puncaknya, dengan menghalangi seluruh sarana dan prasarana kehidupan baik makanan dan minuman serta obat-obatan.Peristiwa-peristiwa terjadi sebagai ujian bagi jiwa-jiwa, untuk memurnikan saf-saf, agar Allah mengetahui siapakah yang menolong yang dizolimi dan menolak pelaku kezoliman serta siapakah yang berpegang teguh dengan kebenaran dalam menghadapi kebatilan. Allah berfirman :وَلِيَعْلَمَ اللَّهُ مَنْ يَنْصُرُهُ وَرُسُلَهُ بِالْغَيْبِ إِنَّ اللَّهَ قَوِيٌّ عَزِيزٌDan supaya Allah mengetahui siapa yang menolong (agama)Nya dan rasul-rasul-Nya Padahal Allah tidak dilihatnya. Sesungguhnya Allah Maha kuat lagi Maha Perkasa. (QS Al-Hadid : 25)Membela orang-orang yang lemah harus ditegakan, menolong mereka adalah suatu kewajiban. Dan kaum muslimin di seluruh penjuru dunia mereka adalah bagian dari tubuh umat yang besar, dan dengan hukum persaudaraan sesama Islam maka mereka memiliki hak untuk ditolong dan dibantu.           Diantara bentuk pertolongan adalah perhatian terhadap kondisi mereka serta membantu mereka dengan segala bentuk unsur kekuatan dan sarana pertahanan, untuk memperkuat yang lemah dan menjaga agama, kehormatan, jiwa, dan negeri, serta menghibur mereka dengan bantuan harta dan materi, menolong jiwa yang teraniaya, dan mengembalikan harapan.Sang sahabat yang mulia Utsman bin Affaan radhiallahu ‘anhu merupakan contoh yang patut ditiru, teladan dalam menolong kaum muslimin dengan harta. Ia datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan membawa 1000 dinar lalu ia letakan di pangkuan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Ia menggali sumur Ruumah untuk kaum mukminin tatkala Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :مَنْ حَفَرَ بِئْرَ رُوْمَةَ فَلَهُ الْجَنَّةُ“Barangsiapa yang menggali sumur Ruumah maka baginya surga”Dan Utsman juga telah berinfak untuk mempersiapkan pasukan perang Tabuk.Dan istri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam Khodijah radhiallahu ‘anha sungguh telah menghibur dan menolong Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan seluruh hartanya.Dan diantara bentuk menolong adalah jangan sampai seorang muslim menjadi penolong bagi pelaku kezoliman yang menzolimi saudaranya sesama muslim. Allah berfirman :وَلا تَرْكَنُوا إِلَى الَّذِينَ ظَلَمُوا فَتَمَسَّكُمُ النَّارُDan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka (QS Huud : 113)Diantara bentuk pertolongan adalah memboikot barang-barang dagangan musuh dan orang yang membantu musuh dan membiayai mereka baik bantuan spiritual maupun pemikiran, serta bekerjasama dengan musuh. Pemboikotan merupakan senjata yang manjur dan berpengaruh, tentunya dijalankan dengan kaidah-kaidah pemboikotan yang syar’i, sehingga memberikan pelajaran bagi musuh, dan dengan hal ini umat akan tetap kokoh dihadapan orang yang menghendaki keburukan bagi mereka.           Adapun pertolongan terhadap akidah adalah dengan menjelaskan pokok-pokok akidah dan pemahamannya, serta membantah syubhat-syubhat, menjelaskan bahaya bid’ah dan manhajnya sekte-sekte yang menyimpang, yang dimana musuh menemukan pada firqoh-firqoh tersebut apa yang mereka cari. Maka musuhpun bersekutu dengan mereka, dan firqoh-firqoh tersebut dikembangkan oleh musuh di tengah-tengah umat Islam, musuh menyetirnya sesuka hati untuk menggoncang stabilitas keamanan dan mengobarkan kekacauan, merampas umat ini, merampas kepemilikan umat, dan mematikan kekuatannya, dan agar umat terpuruk di bagian belakang, disetir dan tidak menyetir, mengikuti dan bukan menjadi yang diikuti.           Hendaknya menolong juga melalui media, semua orang melihat dan mendengar bagaimana peran media yang dengki dalam menghapus fakta kebenaran dan mencemarkan agama serta mengingkari hak-hak kaum muslimin, sampai-sampai menuduh seluruh perilaku yang buruk kepada kaum muslimin. Media menggambarkan bahwa kaum muslimin adalah para pembunuh dan para penghisap darah, dan seorang yang membela negerinya dan kehormatannya dituduh sebagai teroris, media menjadikan para pembunuh dan para penjahat sebagai teman pembawa keselamatan, menjadikan penyerang dan penjajah sebagai kelompok yang membela dan mencegah.Pertolongan melalui media adalah dengan menjelaskan kezoliman pelaku kezoliman, mengumbar perbuatan-perbuatannya, dan menjelaskan hakekatnya, dan hiasan kebatilannya. Dengan mewujudkan kebenaran dan menghancurkan kebatilan. Dan dampak dari penjelasan dalam beberapa kondisi lebih kuat dan lebih menggigit dari pada sayatan pedang. Ceramah itu memiliki kekuatan tersendiri, dan gambar/clip memiliki dampak tersendiri, tulisan juga memilik panah yang kuat, dan sya’ir memiliki kekuatan tersendiri. Aisyah radhiallahu ‘anhaa berkata : “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada Hassaan –bin Tsabit- radhiallahu ‘anhu :إِنَّ رُوْحَ الْقُدُسِ لاَ يَزَالُ يُؤَيِّدُكَ مَا نَافَحْتَ عَنِ اللهِ وَرَسُوْلِهِ“Sesungguhnya Ruhul Qudus (malaikat Jibril) terus menguatkanmu selama engkau membela Allah dan RasulNya”Dan pertolongan juga hendaknya pada permasalahan-permasalahan umat dengan memberi pengarahan kepada mereka dan membela umat, serta membongkar racun yang dihembuskan oleh para gembong kejahatan, mengungkap rencana-rencana jahat mereka dan menjelaskan tentang manhaj mereka melalui seluruh sarana, setiap pertemuan dan kesempatan-kesempatan. Allah berfirman :وَكَذَلِكَ نُفَصِّلُ الآيَاتِ وَلِتَسْتَبِينَ سَبِيلُ الْمُجْرِمِينَ (٥٥)Dan demikianlah Kami terangkan ayat-ayat Al-Quran (supaya jelas jalan orang-orang yang saleh, dan supaya jelas (pula) jalan orang-orang yang berdosa. (QS Al-An’aam : 55)Dan menolong juga melalui doa, ia adalah senjata segala urusan dan obat dari kesulitan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menolong orang-orang yang terzolimi dengan doa dalam qunut beliau.Bersandar kepada Allah di tengah cobaan, menguatkan hubungan kepada Allah tatkala genting merupakan ciri seorang mukmin. Allah berfirman :كَذَّبَتْ قَبْلَهُمْ قَوْمُ نُوحٍ فَكَذَّبُوا عَبْدَنَا وَقَالُوا مَجْنُونٌ وَازْدُجِرَ (٩)فَدَعَا رَبَّهُ أَنِّي مَغْلُوبٌ فَانْتَصِرْ (١٠)فَفَتَحْنَا أَبْوَابَ السَّمَاءِ بِمَاءٍ مُنْهَمِرٍ (١١)وَفَجَّرْنَا الأرْضَ عُيُونًا فَالْتَقَى الْمَاءُ عَلَى أَمْرٍ قَدْ قُدِرَ (١٢)Sebelum mereka, telah mendustakan (pula) kamu Nuh, Maka mereka mendustakan hamba Kami (Nuh) dan mengatakan: “Dia seorang gila dan Dia sudah pernah diberi ancaman). Maka Dia mengadu kepada Tuhannya: “Bahwasanya aku ini adalah orang yang dikalahkan, oleh sebab itu menangkanlah (aku).” Maka Kami bukakan pintu-pintu langit dengan (menurunkan) air yang tercurah. dan Kami jadikan bumi memancarkan mata air-mata air, Maka bertemu- lah air-air itu untuk suatu urusan yang sungguh telah ditetapkan. (QS Al-Qomar : 9-12) Semoga Allah memberkahi aku dan kalian dalam al-Qur’an al-Azhim, dan semoga Allah menjadikan aku dan kalian bisa mengambil manfaat dari ayat-ayatnya dan adz-dzikr al-hakim. Aku menyampaikan perkataanku ini, dan aku memohon ampunan kepada Allah yang maha agung bagiku dan bagi kalian serta seluruh kaum muslimin dari segala dosa, maka mohonlah ampunan kepadaNya, sesungguhnya ia maha pengampun lagi maha penyayang. Khutbah Kedua :           Segala puji bagi Allah penguasa alam semesta, Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Yang menguasai hari pembalasan. Dan aku bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak disembah melainkan Allah semata tiada sekutu bagiNya, Tuhannya orang-orang terdahulu dan yang terakhir. Dan aku bersaksi bahwasanya pemimpin kita, nabi kita Muhammad adalah hambaNya dan rasulNya, pemimpin orang-orang yang bertakwa, semoga Allah mencurahkan shalawat kepada beliau, keluarga beliau dan seluruh sahabat beliau.Amma ba’du, aku washiatkan kepada kalian dan kepada diriku untuk bertakwa kepada Allah, Allah berfirmanيَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ (١١٩)Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar. (QS At-Taubah : 119)          Pertolongan yang bermanfaat yang dengannya terwujudkan dampak positifnya dan terhilangkan kesulitan, adalah pertolongan yang terus menerus dan berkesinambungan yang tidak terputus talinya dan tidak terhenti bantuannya, sehingga kita tidak terkena kekalahan karena semangat yang sementara dan kelemahan yang menghalangi tercapainya target. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّتْ“Amalan yang paing dicintai oleh Allah adalah yang paling berkesinambungan meskipun sedikit”Bisa jadi pelaku kebatilan berhasil untuk bersatu dalam satu kompi, akan tetapi ini hanyalah lahiriahnya saja, adapun hakikatnya maka ini adalah persatuan yang dibangun di atas kepentingan yang berbeda-beda, hati dan nafsu mereka tercerai berai, dan akan terungkap perseteruan dan perpecahan diantara mereka, tirai tipuan akan tersingkap, lalu leburlah kebatilan mereka dan terpecahkan perkumpulan mereka.بَأْسُهُمْ بَيْنَهُمْ شَدِيدٌ تَحْسَبُهُمْ جَمِيعًا وَقُلُوبُهُمْ شَتَّىPermusuhan antara sesama mereka adalah sangat hebat. kamu kira mereka itu bersatu, sedang hati mereka berpecah belah. (QS Al-Hasyr : 14)Di akhir zaman kaum muslimin akan ditolong oleh batu dan pohon, ia berkata ; “Wahai Muslim, wahai Abdullah, ini ada seorang yahudi di belakangku, kemarilah bunuhlah ia”. Dan perkataan batu dan pohon termasuk tanda-tanda hari kiamat.Allah berfirman :وَلَيَنْصُرَنَّ اللَّهُ مَنْ يَنْصُرُهُ إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌSesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha kuat lagi Maha perkasa (QS Al-Hajj : 40) Penerjemah: Abu Abdil Muhsin Firandawww.firanda.com
Khutbah Jum’at Masjid Nabawi 26/7/1436 HOleh : Asy-Syaikh Abdul Baari Ats-Tsubaiti hafizohulloh Khutbah Pertama : Segala puji bagi Allah, segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepada kita berbagai kebaikan, yang menyeru kepada saling tolong menolong. Aku memujiNya subhaanahu dan aku bersyukur kepadanya di pagi dan petang. Dan aku bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah tiada sekutu bagiNya, Ia telah menciptakan kita, memberi rizki kepada kita dan menjadikan kita umat yang terbaik. Dan aku bersaksi bahwasanya pemimpin kita dan nabi kita Muhammad adalah hambaNya dan rasulNya, nabi yang termulia dan teladan yang terbaik. Semoga shalawat tercurahkan kepadanya dan kepada keluarganya serta seluruh sahabatnya yang merupakan teladan yang terbaik.  Amma ba’du, aku wasiatkan kepada kalian dan kepada diriku untuk bertakwa kepada Allah. Allah berfirman : يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ (١٨)Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah Setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS Al-Hasyr : 18) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda “Tolonglah saudaramu tatkala ia berbuat zolim atau tatkala dizolimi”. Maka ada seseorang berkata, “Wahai Rasulullah, aku menolongnya jika ia dizolimi, bagaimana menurutmu jika ia yang berbuat zolim, bagaimana cara menolongnya?”. Nabi berkata, “Engkau mencegahnya atau menahannya dari kezoliman, maka itu adalah bentuk menolongnya” (HR Al-Bukhari) Menolong saudara adalah tanda keimanan, alamat akan benarnya Islam seseorang. Dari Nu’man bin Basyir radhiallahu ‘anhu ia berkata : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :“Perumpamaan kaum mukminin dalam saling mencintai diantara mereka, saling menyayangi, saling mengasihi, seperti satu jasad, jika ada satu anggota tubuh yang sakit maka seluruh jasad yang lain akan menyeru ikut kesakitan dan tidak bisa tidur” (HR Muslim), dan Nabi juga bersabda “Seorang mukmin bagi mukmin yang lain ibarat sebuah bangunan yang saling menguatkan”, lalu Nabi menyela jari-jari tangan yang satu ke jari-jari tangan yang lain (HR Al-Bukhari dan Muslim) Dan jika sebuah umat menolong yang terzolimi, mengambil tangan pelaku kezoliman lalu mencegahnya dari kezoliman maka umat tersebut selamat dari hukuman Allah. Allah berfirman :وَاتَّقُوا فِتْنَةً لا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ (٢٥)Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. dan ketahuilah bahwa Allah Amat keras siksaan-Nya. (QS Al-Anfaal : 25)Barangsiapa yang menolong yang terzolimi maka Allah akan menolongnya, dan Allah akan meyiapkan baginya orang yang akan menolongnya di dunia dan akhirat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :مَنْ نَصَرَ أَخَاهُ بِظَهْرِ الْغَيْبِ نَصَرَهُ اللهُ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ“Barangsiapa yang menolong saudaranya –tanpa kehadiran saudaranya tersebut- maka Allah akan menolongnya di dunia dan akhirat’ (HR Al-Baihaqi dengan sanad yang shahih) Menolong adalah bentuk persekutuan Islami dan saling bahu-membahu yang imani, dan ia merupakan kekuatan bagi kaum muslimin serta kemuliaan bagi kaum mukminin. Membangungkan semangat dari tidurnya dan menyatukan kaum muslimin dalam satu saf dalam satu urusan dan satu tujuan disertai kemuliaan dan pengorbanan sehinggaتُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللَّهِ وَعَدُوَّكُمْ“Dengannya kalian menggentarkan musuh Allah dan musuh kalian” (Qs Al-Anfaal : 60) Menolong adalah kewajiban agama, serta kebutuhan urgen duniawi, sungguh kezoliman telah tertujukan kepada Islam, makar rencana jahat diarahkan kepada Islam, dan ini merupakan fenomena zaman ini dengan bentuknya yang banyak dan beragam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :« يُوشِكُ الأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا ». فَقَالَ قَائِلٌ وَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ قَالَ « بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ وَلَيَنْزِعَنَّ اللَّهُ مِنْ صُدُورِ عَدُوِّكُمُ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ وَلَيَقْذِفَنَّ اللَّهُ فِى قُلُوبِكُمُ الْوَهَنَ ». فَقَالَ قَائِلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا الْوَهَنُ قَالَ « حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ ».Dari Tsauban, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hampir saja para umat (yang kafir dan sesat, pen) mengerumuni kalian dari berbagai penjuru, sebagaimana mereka berkumpul menghadapi makanan dalam piring”. Kemudian seseorang bertanya,”Katakanlah wahai Rasulullah, apakah kami pada saat itu sedikit?” Rasulullah berkata,”Bahkan kalian pada saat itu banyak. Akan tetapi kalian bagai sampah yang dibawa oleh air hujan. Allah akan menghilangkan rasa takut pada hati musuh kalian dan akan menimpakan dalam hati kalian ’Wahn’. Kemudian seseorang bertanya,”Apa itu ’wahn’?” Rasulullah berkata,”Cinta dunia dan takut mati.” Jika sikap menolong melemah diantara kaum muslimin maka musuh akan menguasai, dan akan semakin keras hantaman musuh dan semakin belanjut kezoliman mereka serta menyiksa kaum muslimin, membinasakan orang-orang yang tenteram, menghinakan para ahli tauhid, merampas negeri, dan menjatuhkan harga diri.Sesungguhnya kerusakan yang besar dan fitnah yang menyala-nyala di negeri-negeri kaum musliimin asalnya adalah karena kurang dalam menerapkan sikap menolong. Allah berfirman : وَالَّذِينَ كَفَرُوا بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ إِلا تَفْعَلُوهُ تَكُنْ فِتْنَةٌ فِي الأرْضِ وَفَسَادٌ كَبِيرٌ (٧٣)Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. jika kamu (hai Para muslimin) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar. (QS Al-Anfaal : 73)           Telah datang larangan dari sikap meninggalkan seorang muslim yang membutuhkan bantuan dan sikap berlepas diri dari menolongnya dan mendukungnya. Rasul kita yang mulia shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :المُسْلِمُ أَخُو المُسْلِمِ لاَ يَظْلِمُهُ وَلاَ يَخْذُلُهُ“Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain, ia tidak menzoliminya dan tidak meninggalkannya (tatkala butuh bantuannya)”Nabi juga berkata :لَقَدْ شَهِدْتُ مع عمومتي حلف المطيبين فما أُحِبُّ أَنَّ لِي حُمْرَ النَّعَمِ وإني أنكثه“Sungguh aku bersama paman-pamanku telah menghadiri perjanjian muthoyyabin, dan aku tidak suka jika aku diberi onta merah sementara aku melanggarnya”Dalam hadits ini ada isyarat tentang persekutuan al-fudul dalam rangka menolong orang yang dizolimi.Barangsiapa yang malas dalam menjulurkan tangannya untuk segera menolong orang yang dizolimi maka ia akan terhinakan di dunia serta akan merugi di akhirat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :مَا مِنْ امْرِئٍ يَخْذُلُ امْرَأً مُسْلِمًا عِنْدَ مَوْطِنٍ تُنْتَهَكُ فِيهِ حُرْمَتُهُ وَيُنْتَقَصُ فِيهِ مِنْ عِرْضِهِ إِلَّا خَذَلَهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ فِي مَوْطِنٍ يُحِبُّ فِيهِ نُصْرَتَهُ. وَمَا مِنْ امْرِئٍ يَنْصُرُ مُسْلِمًا فِي مَوْطِنٍ يُنْتَقَصُ فِيهِ مِنْ عِرْضِهِ وَيُنْتَهَكُ فِيهِ مِنْ حُرْمَتِهِ إِلَّا نَصَرَهُ اللَّهُ فِي مَوْطِنٍ يُحِبُّ فِيهِ نُصْرَتَهُ“Dan tidaklah seseorang meninggalkan saudaranya sesama muslim pada kondisi kehormatannya sedang dilanggar dan direndahkan harga dirinya kecuali Allah akan meninggalkannya pada kondisi dimana ia ingin ditolong. Dan tidaklah seseorang menolong seorang muslim pada saat harga dirinya direndahkan dan kehormatannya dilanggar kecuali Allah akan menolongnya pada kondisi dimana ia ingin ditolong”Dan jika umat diuji dengan para lelaki yang tidak jelas yang bersekutu dengan musuh umatnya, dan menghunuskan pedang pengkhianatan terhadap saudara setanah airnya, menanam bibit fitnah, memudahkan terjadinya kudeta serta kekacauan karena rakus terhadap kekuasaan, untuk meraih medali kehinaan dan kerendahan, meskipun dengan mengorbankan tengkorak-tengkorak rakyat yang tidak berdosa, dan mayat-mayat anak-anak. Maka bagaimana masyarakat merasa aman dari tipu daya berasal dari suku mereka sendiri, yang telah telah berkhianat terhadap negerinya, dan meminta pertolongan dari para pembela kebatilan untuk menyerang kaumnya sendiri dan negeri tetangganya ?Dan pihak yang lain berusaha menggiris rakyatnya, membunuh dan menghancurkan penduduk negerinya dengan bom-bom yang membakar, dan bahan-bahan peledak, gas-gas beracun di pagar manusia yang sabar dan enggan.Dan sepotong tanah Ghaza yang menderita akibat pengepungan yang zolim dan makar yang kejam, dimana kezoliman telah mencapai puncaknya, dengan menghalangi seluruh sarana dan prasarana kehidupan baik makanan dan minuman serta obat-obatan.Peristiwa-peristiwa terjadi sebagai ujian bagi jiwa-jiwa, untuk memurnikan saf-saf, agar Allah mengetahui siapakah yang menolong yang dizolimi dan menolak pelaku kezoliman serta siapakah yang berpegang teguh dengan kebenaran dalam menghadapi kebatilan. Allah berfirman :وَلِيَعْلَمَ اللَّهُ مَنْ يَنْصُرُهُ وَرُسُلَهُ بِالْغَيْبِ إِنَّ اللَّهَ قَوِيٌّ عَزِيزٌDan supaya Allah mengetahui siapa yang menolong (agama)Nya dan rasul-rasul-Nya Padahal Allah tidak dilihatnya. Sesungguhnya Allah Maha kuat lagi Maha Perkasa. (QS Al-Hadid : 25)Membela orang-orang yang lemah harus ditegakan, menolong mereka adalah suatu kewajiban. Dan kaum muslimin di seluruh penjuru dunia mereka adalah bagian dari tubuh umat yang besar, dan dengan hukum persaudaraan sesama Islam maka mereka memiliki hak untuk ditolong dan dibantu.           Diantara bentuk pertolongan adalah perhatian terhadap kondisi mereka serta membantu mereka dengan segala bentuk unsur kekuatan dan sarana pertahanan, untuk memperkuat yang lemah dan menjaga agama, kehormatan, jiwa, dan negeri, serta menghibur mereka dengan bantuan harta dan materi, menolong jiwa yang teraniaya, dan mengembalikan harapan.Sang sahabat yang mulia Utsman bin Affaan radhiallahu ‘anhu merupakan contoh yang patut ditiru, teladan dalam menolong kaum muslimin dengan harta. Ia datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan membawa 1000 dinar lalu ia letakan di pangkuan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Ia menggali sumur Ruumah untuk kaum mukminin tatkala Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :مَنْ حَفَرَ بِئْرَ رُوْمَةَ فَلَهُ الْجَنَّةُ“Barangsiapa yang menggali sumur Ruumah maka baginya surga”Dan Utsman juga telah berinfak untuk mempersiapkan pasukan perang Tabuk.Dan istri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam Khodijah radhiallahu ‘anha sungguh telah menghibur dan menolong Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan seluruh hartanya.Dan diantara bentuk menolong adalah jangan sampai seorang muslim menjadi penolong bagi pelaku kezoliman yang menzolimi saudaranya sesama muslim. Allah berfirman :وَلا تَرْكَنُوا إِلَى الَّذِينَ ظَلَمُوا فَتَمَسَّكُمُ النَّارُDan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka (QS Huud : 113)Diantara bentuk pertolongan adalah memboikot barang-barang dagangan musuh dan orang yang membantu musuh dan membiayai mereka baik bantuan spiritual maupun pemikiran, serta bekerjasama dengan musuh. Pemboikotan merupakan senjata yang manjur dan berpengaruh, tentunya dijalankan dengan kaidah-kaidah pemboikotan yang syar’i, sehingga memberikan pelajaran bagi musuh, dan dengan hal ini umat akan tetap kokoh dihadapan orang yang menghendaki keburukan bagi mereka.           Adapun pertolongan terhadap akidah adalah dengan menjelaskan pokok-pokok akidah dan pemahamannya, serta membantah syubhat-syubhat, menjelaskan bahaya bid’ah dan manhajnya sekte-sekte yang menyimpang, yang dimana musuh menemukan pada firqoh-firqoh tersebut apa yang mereka cari. Maka musuhpun bersekutu dengan mereka, dan firqoh-firqoh tersebut dikembangkan oleh musuh di tengah-tengah umat Islam, musuh menyetirnya sesuka hati untuk menggoncang stabilitas keamanan dan mengobarkan kekacauan, merampas umat ini, merampas kepemilikan umat, dan mematikan kekuatannya, dan agar umat terpuruk di bagian belakang, disetir dan tidak menyetir, mengikuti dan bukan menjadi yang diikuti.           Hendaknya menolong juga melalui media, semua orang melihat dan mendengar bagaimana peran media yang dengki dalam menghapus fakta kebenaran dan mencemarkan agama serta mengingkari hak-hak kaum muslimin, sampai-sampai menuduh seluruh perilaku yang buruk kepada kaum muslimin. Media menggambarkan bahwa kaum muslimin adalah para pembunuh dan para penghisap darah, dan seorang yang membela negerinya dan kehormatannya dituduh sebagai teroris, media menjadikan para pembunuh dan para penjahat sebagai teman pembawa keselamatan, menjadikan penyerang dan penjajah sebagai kelompok yang membela dan mencegah.Pertolongan melalui media adalah dengan menjelaskan kezoliman pelaku kezoliman, mengumbar perbuatan-perbuatannya, dan menjelaskan hakekatnya, dan hiasan kebatilannya. Dengan mewujudkan kebenaran dan menghancurkan kebatilan. Dan dampak dari penjelasan dalam beberapa kondisi lebih kuat dan lebih menggigit dari pada sayatan pedang. Ceramah itu memiliki kekuatan tersendiri, dan gambar/clip memiliki dampak tersendiri, tulisan juga memilik panah yang kuat, dan sya’ir memiliki kekuatan tersendiri. Aisyah radhiallahu ‘anhaa berkata : “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada Hassaan –bin Tsabit- radhiallahu ‘anhu :إِنَّ رُوْحَ الْقُدُسِ لاَ يَزَالُ يُؤَيِّدُكَ مَا نَافَحْتَ عَنِ اللهِ وَرَسُوْلِهِ“Sesungguhnya Ruhul Qudus (malaikat Jibril) terus menguatkanmu selama engkau membela Allah dan RasulNya”Dan pertolongan juga hendaknya pada permasalahan-permasalahan umat dengan memberi pengarahan kepada mereka dan membela umat, serta membongkar racun yang dihembuskan oleh para gembong kejahatan, mengungkap rencana-rencana jahat mereka dan menjelaskan tentang manhaj mereka melalui seluruh sarana, setiap pertemuan dan kesempatan-kesempatan. Allah berfirman :وَكَذَلِكَ نُفَصِّلُ الآيَاتِ وَلِتَسْتَبِينَ سَبِيلُ الْمُجْرِمِينَ (٥٥)Dan demikianlah Kami terangkan ayat-ayat Al-Quran (supaya jelas jalan orang-orang yang saleh, dan supaya jelas (pula) jalan orang-orang yang berdosa. (QS Al-An’aam : 55)Dan menolong juga melalui doa, ia adalah senjata segala urusan dan obat dari kesulitan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menolong orang-orang yang terzolimi dengan doa dalam qunut beliau.Bersandar kepada Allah di tengah cobaan, menguatkan hubungan kepada Allah tatkala genting merupakan ciri seorang mukmin. Allah berfirman :كَذَّبَتْ قَبْلَهُمْ قَوْمُ نُوحٍ فَكَذَّبُوا عَبْدَنَا وَقَالُوا مَجْنُونٌ وَازْدُجِرَ (٩)فَدَعَا رَبَّهُ أَنِّي مَغْلُوبٌ فَانْتَصِرْ (١٠)فَفَتَحْنَا أَبْوَابَ السَّمَاءِ بِمَاءٍ مُنْهَمِرٍ (١١)وَفَجَّرْنَا الأرْضَ عُيُونًا فَالْتَقَى الْمَاءُ عَلَى أَمْرٍ قَدْ قُدِرَ (١٢)Sebelum mereka, telah mendustakan (pula) kamu Nuh, Maka mereka mendustakan hamba Kami (Nuh) dan mengatakan: “Dia seorang gila dan Dia sudah pernah diberi ancaman). Maka Dia mengadu kepada Tuhannya: “Bahwasanya aku ini adalah orang yang dikalahkan, oleh sebab itu menangkanlah (aku).” Maka Kami bukakan pintu-pintu langit dengan (menurunkan) air yang tercurah. dan Kami jadikan bumi memancarkan mata air-mata air, Maka bertemu- lah air-air itu untuk suatu urusan yang sungguh telah ditetapkan. (QS Al-Qomar : 9-12) Semoga Allah memberkahi aku dan kalian dalam al-Qur’an al-Azhim, dan semoga Allah menjadikan aku dan kalian bisa mengambil manfaat dari ayat-ayatnya dan adz-dzikr al-hakim. Aku menyampaikan perkataanku ini, dan aku memohon ampunan kepada Allah yang maha agung bagiku dan bagi kalian serta seluruh kaum muslimin dari segala dosa, maka mohonlah ampunan kepadaNya, sesungguhnya ia maha pengampun lagi maha penyayang. Khutbah Kedua :           Segala puji bagi Allah penguasa alam semesta, Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Yang menguasai hari pembalasan. Dan aku bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak disembah melainkan Allah semata tiada sekutu bagiNya, Tuhannya orang-orang terdahulu dan yang terakhir. Dan aku bersaksi bahwasanya pemimpin kita, nabi kita Muhammad adalah hambaNya dan rasulNya, pemimpin orang-orang yang bertakwa, semoga Allah mencurahkan shalawat kepada beliau, keluarga beliau dan seluruh sahabat beliau.Amma ba’du, aku washiatkan kepada kalian dan kepada diriku untuk bertakwa kepada Allah, Allah berfirmanيَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ (١١٩)Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar. (QS At-Taubah : 119)          Pertolongan yang bermanfaat yang dengannya terwujudkan dampak positifnya dan terhilangkan kesulitan, adalah pertolongan yang terus menerus dan berkesinambungan yang tidak terputus talinya dan tidak terhenti bantuannya, sehingga kita tidak terkena kekalahan karena semangat yang sementara dan kelemahan yang menghalangi tercapainya target. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّتْ“Amalan yang paing dicintai oleh Allah adalah yang paling berkesinambungan meskipun sedikit”Bisa jadi pelaku kebatilan berhasil untuk bersatu dalam satu kompi, akan tetapi ini hanyalah lahiriahnya saja, adapun hakikatnya maka ini adalah persatuan yang dibangun di atas kepentingan yang berbeda-beda, hati dan nafsu mereka tercerai berai, dan akan terungkap perseteruan dan perpecahan diantara mereka, tirai tipuan akan tersingkap, lalu leburlah kebatilan mereka dan terpecahkan perkumpulan mereka.بَأْسُهُمْ بَيْنَهُمْ شَدِيدٌ تَحْسَبُهُمْ جَمِيعًا وَقُلُوبُهُمْ شَتَّىPermusuhan antara sesama mereka adalah sangat hebat. kamu kira mereka itu bersatu, sedang hati mereka berpecah belah. (QS Al-Hasyr : 14)Di akhir zaman kaum muslimin akan ditolong oleh batu dan pohon, ia berkata ; “Wahai Muslim, wahai Abdullah, ini ada seorang yahudi di belakangku, kemarilah bunuhlah ia”. Dan perkataan batu dan pohon termasuk tanda-tanda hari kiamat.Allah berfirman :وَلَيَنْصُرَنَّ اللَّهُ مَنْ يَنْصُرُهُ إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌSesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha kuat lagi Maha perkasa (QS Al-Hajj : 40) Penerjemah: Abu Abdil Muhsin Firandawww.firanda.com


Khutbah Jum’at Masjid Nabawi 26/7/1436 HOleh : Asy-Syaikh Abdul Baari Ats-Tsubaiti hafizohulloh Khutbah Pertama : Segala puji bagi Allah, segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepada kita berbagai kebaikan, yang menyeru kepada saling tolong menolong. Aku memujiNya subhaanahu dan aku bersyukur kepadanya di pagi dan petang. Dan aku bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah tiada sekutu bagiNya, Ia telah menciptakan kita, memberi rizki kepada kita dan menjadikan kita umat yang terbaik. Dan aku bersaksi bahwasanya pemimpin kita dan nabi kita Muhammad adalah hambaNya dan rasulNya, nabi yang termulia dan teladan yang terbaik. Semoga shalawat tercurahkan kepadanya dan kepada keluarganya serta seluruh sahabatnya yang merupakan teladan yang terbaik.  Amma ba’du, aku wasiatkan kepada kalian dan kepada diriku untuk bertakwa kepada Allah. Allah berfirman : يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ (١٨)Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah Setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS Al-Hasyr : 18) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda “Tolonglah saudaramu tatkala ia berbuat zolim atau tatkala dizolimi”. Maka ada seseorang berkata, “Wahai Rasulullah, aku menolongnya jika ia dizolimi, bagaimana menurutmu jika ia yang berbuat zolim, bagaimana cara menolongnya?”. Nabi berkata, “Engkau mencegahnya atau menahannya dari kezoliman, maka itu adalah bentuk menolongnya” (HR Al-Bukhari) Menolong saudara adalah tanda keimanan, alamat akan benarnya Islam seseorang. Dari Nu’man bin Basyir radhiallahu ‘anhu ia berkata : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :“Perumpamaan kaum mukminin dalam saling mencintai diantara mereka, saling menyayangi, saling mengasihi, seperti satu jasad, jika ada satu anggota tubuh yang sakit maka seluruh jasad yang lain akan menyeru ikut kesakitan dan tidak bisa tidur” (HR Muslim), dan Nabi juga bersabda “Seorang mukmin bagi mukmin yang lain ibarat sebuah bangunan yang saling menguatkan”, lalu Nabi menyela jari-jari tangan yang satu ke jari-jari tangan yang lain (HR Al-Bukhari dan Muslim) Dan jika sebuah umat menolong yang terzolimi, mengambil tangan pelaku kezoliman lalu mencegahnya dari kezoliman maka umat tersebut selamat dari hukuman Allah. Allah berfirman :وَاتَّقُوا فِتْنَةً لا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ (٢٥)Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. dan ketahuilah bahwa Allah Amat keras siksaan-Nya. (QS Al-Anfaal : 25)Barangsiapa yang menolong yang terzolimi maka Allah akan menolongnya, dan Allah akan meyiapkan baginya orang yang akan menolongnya di dunia dan akhirat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :مَنْ نَصَرَ أَخَاهُ بِظَهْرِ الْغَيْبِ نَصَرَهُ اللهُ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ“Barangsiapa yang menolong saudaranya –tanpa kehadiran saudaranya tersebut- maka Allah akan menolongnya di dunia dan akhirat’ (HR Al-Baihaqi dengan sanad yang shahih) Menolong adalah bentuk persekutuan Islami dan saling bahu-membahu yang imani, dan ia merupakan kekuatan bagi kaum muslimin serta kemuliaan bagi kaum mukminin. Membangungkan semangat dari tidurnya dan menyatukan kaum muslimin dalam satu saf dalam satu urusan dan satu tujuan disertai kemuliaan dan pengorbanan sehinggaتُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللَّهِ وَعَدُوَّكُمْ“Dengannya kalian menggentarkan musuh Allah dan musuh kalian” (Qs Al-Anfaal : 60) Menolong adalah kewajiban agama, serta kebutuhan urgen duniawi, sungguh kezoliman telah tertujukan kepada Islam, makar rencana jahat diarahkan kepada Islam, dan ini merupakan fenomena zaman ini dengan bentuknya yang banyak dan beragam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :« يُوشِكُ الأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا ». فَقَالَ قَائِلٌ وَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ قَالَ « بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ وَلَيَنْزِعَنَّ اللَّهُ مِنْ صُدُورِ عَدُوِّكُمُ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ وَلَيَقْذِفَنَّ اللَّهُ فِى قُلُوبِكُمُ الْوَهَنَ ». فَقَالَ قَائِلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا الْوَهَنُ قَالَ « حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ ».Dari Tsauban, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hampir saja para umat (yang kafir dan sesat, pen) mengerumuni kalian dari berbagai penjuru, sebagaimana mereka berkumpul menghadapi makanan dalam piring”. Kemudian seseorang bertanya,”Katakanlah wahai Rasulullah, apakah kami pada saat itu sedikit?” Rasulullah berkata,”Bahkan kalian pada saat itu banyak. Akan tetapi kalian bagai sampah yang dibawa oleh air hujan. Allah akan menghilangkan rasa takut pada hati musuh kalian dan akan menimpakan dalam hati kalian ’Wahn’. Kemudian seseorang bertanya,”Apa itu ’wahn’?” Rasulullah berkata,”Cinta dunia dan takut mati.” Jika sikap menolong melemah diantara kaum muslimin maka musuh akan menguasai, dan akan semakin keras hantaman musuh dan semakin belanjut kezoliman mereka serta menyiksa kaum muslimin, membinasakan orang-orang yang tenteram, menghinakan para ahli tauhid, merampas negeri, dan menjatuhkan harga diri.Sesungguhnya kerusakan yang besar dan fitnah yang menyala-nyala di negeri-negeri kaum musliimin asalnya adalah karena kurang dalam menerapkan sikap menolong. Allah berfirman : وَالَّذِينَ كَفَرُوا بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ إِلا تَفْعَلُوهُ تَكُنْ فِتْنَةٌ فِي الأرْضِ وَفَسَادٌ كَبِيرٌ (٧٣)Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. jika kamu (hai Para muslimin) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar. (QS Al-Anfaal : 73)           Telah datang larangan dari sikap meninggalkan seorang muslim yang membutuhkan bantuan dan sikap berlepas diri dari menolongnya dan mendukungnya. Rasul kita yang mulia shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :المُسْلِمُ أَخُو المُسْلِمِ لاَ يَظْلِمُهُ وَلاَ يَخْذُلُهُ“Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain, ia tidak menzoliminya dan tidak meninggalkannya (tatkala butuh bantuannya)”Nabi juga berkata :لَقَدْ شَهِدْتُ مع عمومتي حلف المطيبين فما أُحِبُّ أَنَّ لِي حُمْرَ النَّعَمِ وإني أنكثه“Sungguh aku bersama paman-pamanku telah menghadiri perjanjian muthoyyabin, dan aku tidak suka jika aku diberi onta merah sementara aku melanggarnya”Dalam hadits ini ada isyarat tentang persekutuan al-fudul dalam rangka menolong orang yang dizolimi.Barangsiapa yang malas dalam menjulurkan tangannya untuk segera menolong orang yang dizolimi maka ia akan terhinakan di dunia serta akan merugi di akhirat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :مَا مِنْ امْرِئٍ يَخْذُلُ امْرَأً مُسْلِمًا عِنْدَ مَوْطِنٍ تُنْتَهَكُ فِيهِ حُرْمَتُهُ وَيُنْتَقَصُ فِيهِ مِنْ عِرْضِهِ إِلَّا خَذَلَهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ فِي مَوْطِنٍ يُحِبُّ فِيهِ نُصْرَتَهُ. وَمَا مِنْ امْرِئٍ يَنْصُرُ مُسْلِمًا فِي مَوْطِنٍ يُنْتَقَصُ فِيهِ مِنْ عِرْضِهِ وَيُنْتَهَكُ فِيهِ مِنْ حُرْمَتِهِ إِلَّا نَصَرَهُ اللَّهُ فِي مَوْطِنٍ يُحِبُّ فِيهِ نُصْرَتَهُ“Dan tidaklah seseorang meninggalkan saudaranya sesama muslim pada kondisi kehormatannya sedang dilanggar dan direndahkan harga dirinya kecuali Allah akan meninggalkannya pada kondisi dimana ia ingin ditolong. Dan tidaklah seseorang menolong seorang muslim pada saat harga dirinya direndahkan dan kehormatannya dilanggar kecuali Allah akan menolongnya pada kondisi dimana ia ingin ditolong”Dan jika umat diuji dengan para lelaki yang tidak jelas yang bersekutu dengan musuh umatnya, dan menghunuskan pedang pengkhianatan terhadap saudara setanah airnya, menanam bibit fitnah, memudahkan terjadinya kudeta serta kekacauan karena rakus terhadap kekuasaan, untuk meraih medali kehinaan dan kerendahan, meskipun dengan mengorbankan tengkorak-tengkorak rakyat yang tidak berdosa, dan mayat-mayat anak-anak. Maka bagaimana masyarakat merasa aman dari tipu daya berasal dari suku mereka sendiri, yang telah telah berkhianat terhadap negerinya, dan meminta pertolongan dari para pembela kebatilan untuk menyerang kaumnya sendiri dan negeri tetangganya ?Dan pihak yang lain berusaha menggiris rakyatnya, membunuh dan menghancurkan penduduk negerinya dengan bom-bom yang membakar, dan bahan-bahan peledak, gas-gas beracun di pagar manusia yang sabar dan enggan.Dan sepotong tanah Ghaza yang menderita akibat pengepungan yang zolim dan makar yang kejam, dimana kezoliman telah mencapai puncaknya, dengan menghalangi seluruh sarana dan prasarana kehidupan baik makanan dan minuman serta obat-obatan.Peristiwa-peristiwa terjadi sebagai ujian bagi jiwa-jiwa, untuk memurnikan saf-saf, agar Allah mengetahui siapakah yang menolong yang dizolimi dan menolak pelaku kezoliman serta siapakah yang berpegang teguh dengan kebenaran dalam menghadapi kebatilan. Allah berfirman :وَلِيَعْلَمَ اللَّهُ مَنْ يَنْصُرُهُ وَرُسُلَهُ بِالْغَيْبِ إِنَّ اللَّهَ قَوِيٌّ عَزِيزٌDan supaya Allah mengetahui siapa yang menolong (agama)Nya dan rasul-rasul-Nya Padahal Allah tidak dilihatnya. Sesungguhnya Allah Maha kuat lagi Maha Perkasa. (QS Al-Hadid : 25)Membela orang-orang yang lemah harus ditegakan, menolong mereka adalah suatu kewajiban. Dan kaum muslimin di seluruh penjuru dunia mereka adalah bagian dari tubuh umat yang besar, dan dengan hukum persaudaraan sesama Islam maka mereka memiliki hak untuk ditolong dan dibantu.           Diantara bentuk pertolongan adalah perhatian terhadap kondisi mereka serta membantu mereka dengan segala bentuk unsur kekuatan dan sarana pertahanan, untuk memperkuat yang lemah dan menjaga agama, kehormatan, jiwa, dan negeri, serta menghibur mereka dengan bantuan harta dan materi, menolong jiwa yang teraniaya, dan mengembalikan harapan.Sang sahabat yang mulia Utsman bin Affaan radhiallahu ‘anhu merupakan contoh yang patut ditiru, teladan dalam menolong kaum muslimin dengan harta. Ia datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan membawa 1000 dinar lalu ia letakan di pangkuan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Ia menggali sumur Ruumah untuk kaum mukminin tatkala Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :مَنْ حَفَرَ بِئْرَ رُوْمَةَ فَلَهُ الْجَنَّةُ“Barangsiapa yang menggali sumur Ruumah maka baginya surga”Dan Utsman juga telah berinfak untuk mempersiapkan pasukan perang Tabuk.Dan istri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam Khodijah radhiallahu ‘anha sungguh telah menghibur dan menolong Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan seluruh hartanya.Dan diantara bentuk menolong adalah jangan sampai seorang muslim menjadi penolong bagi pelaku kezoliman yang menzolimi saudaranya sesama muslim. Allah berfirman :وَلا تَرْكَنُوا إِلَى الَّذِينَ ظَلَمُوا فَتَمَسَّكُمُ النَّارُDan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka (QS Huud : 113)Diantara bentuk pertolongan adalah memboikot barang-barang dagangan musuh dan orang yang membantu musuh dan membiayai mereka baik bantuan spiritual maupun pemikiran, serta bekerjasama dengan musuh. Pemboikotan merupakan senjata yang manjur dan berpengaruh, tentunya dijalankan dengan kaidah-kaidah pemboikotan yang syar’i, sehingga memberikan pelajaran bagi musuh, dan dengan hal ini umat akan tetap kokoh dihadapan orang yang menghendaki keburukan bagi mereka.           Adapun pertolongan terhadap akidah adalah dengan menjelaskan pokok-pokok akidah dan pemahamannya, serta membantah syubhat-syubhat, menjelaskan bahaya bid’ah dan manhajnya sekte-sekte yang menyimpang, yang dimana musuh menemukan pada firqoh-firqoh tersebut apa yang mereka cari. Maka musuhpun bersekutu dengan mereka, dan firqoh-firqoh tersebut dikembangkan oleh musuh di tengah-tengah umat Islam, musuh menyetirnya sesuka hati untuk menggoncang stabilitas keamanan dan mengobarkan kekacauan, merampas umat ini, merampas kepemilikan umat, dan mematikan kekuatannya, dan agar umat terpuruk di bagian belakang, disetir dan tidak menyetir, mengikuti dan bukan menjadi yang diikuti.           Hendaknya menolong juga melalui media, semua orang melihat dan mendengar bagaimana peran media yang dengki dalam menghapus fakta kebenaran dan mencemarkan agama serta mengingkari hak-hak kaum muslimin, sampai-sampai menuduh seluruh perilaku yang buruk kepada kaum muslimin. Media menggambarkan bahwa kaum muslimin adalah para pembunuh dan para penghisap darah, dan seorang yang membela negerinya dan kehormatannya dituduh sebagai teroris, media menjadikan para pembunuh dan para penjahat sebagai teman pembawa keselamatan, menjadikan penyerang dan penjajah sebagai kelompok yang membela dan mencegah.Pertolongan melalui media adalah dengan menjelaskan kezoliman pelaku kezoliman, mengumbar perbuatan-perbuatannya, dan menjelaskan hakekatnya, dan hiasan kebatilannya. Dengan mewujudkan kebenaran dan menghancurkan kebatilan. Dan dampak dari penjelasan dalam beberapa kondisi lebih kuat dan lebih menggigit dari pada sayatan pedang. Ceramah itu memiliki kekuatan tersendiri, dan gambar/clip memiliki dampak tersendiri, tulisan juga memilik panah yang kuat, dan sya’ir memiliki kekuatan tersendiri. Aisyah radhiallahu ‘anhaa berkata : “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada Hassaan –bin Tsabit- radhiallahu ‘anhu :إِنَّ رُوْحَ الْقُدُسِ لاَ يَزَالُ يُؤَيِّدُكَ مَا نَافَحْتَ عَنِ اللهِ وَرَسُوْلِهِ“Sesungguhnya Ruhul Qudus (malaikat Jibril) terus menguatkanmu selama engkau membela Allah dan RasulNya”Dan pertolongan juga hendaknya pada permasalahan-permasalahan umat dengan memberi pengarahan kepada mereka dan membela umat, serta membongkar racun yang dihembuskan oleh para gembong kejahatan, mengungkap rencana-rencana jahat mereka dan menjelaskan tentang manhaj mereka melalui seluruh sarana, setiap pertemuan dan kesempatan-kesempatan. Allah berfirman :وَكَذَلِكَ نُفَصِّلُ الآيَاتِ وَلِتَسْتَبِينَ سَبِيلُ الْمُجْرِمِينَ (٥٥)Dan demikianlah Kami terangkan ayat-ayat Al-Quran (supaya jelas jalan orang-orang yang saleh, dan supaya jelas (pula) jalan orang-orang yang berdosa. (QS Al-An’aam : 55)Dan menolong juga melalui doa, ia adalah senjata segala urusan dan obat dari kesulitan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menolong orang-orang yang terzolimi dengan doa dalam qunut beliau.Bersandar kepada Allah di tengah cobaan, menguatkan hubungan kepada Allah tatkala genting merupakan ciri seorang mukmin. Allah berfirman :كَذَّبَتْ قَبْلَهُمْ قَوْمُ نُوحٍ فَكَذَّبُوا عَبْدَنَا وَقَالُوا مَجْنُونٌ وَازْدُجِرَ (٩)فَدَعَا رَبَّهُ أَنِّي مَغْلُوبٌ فَانْتَصِرْ (١٠)فَفَتَحْنَا أَبْوَابَ السَّمَاءِ بِمَاءٍ مُنْهَمِرٍ (١١)وَفَجَّرْنَا الأرْضَ عُيُونًا فَالْتَقَى الْمَاءُ عَلَى أَمْرٍ قَدْ قُدِرَ (١٢)Sebelum mereka, telah mendustakan (pula) kamu Nuh, Maka mereka mendustakan hamba Kami (Nuh) dan mengatakan: “Dia seorang gila dan Dia sudah pernah diberi ancaman). Maka Dia mengadu kepada Tuhannya: “Bahwasanya aku ini adalah orang yang dikalahkan, oleh sebab itu menangkanlah (aku).” Maka Kami bukakan pintu-pintu langit dengan (menurunkan) air yang tercurah. dan Kami jadikan bumi memancarkan mata air-mata air, Maka bertemu- lah air-air itu untuk suatu urusan yang sungguh telah ditetapkan. (QS Al-Qomar : 9-12) Semoga Allah memberkahi aku dan kalian dalam al-Qur’an al-Azhim, dan semoga Allah menjadikan aku dan kalian bisa mengambil manfaat dari ayat-ayatnya dan adz-dzikr al-hakim. Aku menyampaikan perkataanku ini, dan aku memohon ampunan kepada Allah yang maha agung bagiku dan bagi kalian serta seluruh kaum muslimin dari segala dosa, maka mohonlah ampunan kepadaNya, sesungguhnya ia maha pengampun lagi maha penyayang. Khutbah Kedua :           Segala puji bagi Allah penguasa alam semesta, Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Yang menguasai hari pembalasan. Dan aku bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak disembah melainkan Allah semata tiada sekutu bagiNya, Tuhannya orang-orang terdahulu dan yang terakhir. Dan aku bersaksi bahwasanya pemimpin kita, nabi kita Muhammad adalah hambaNya dan rasulNya, pemimpin orang-orang yang bertakwa, semoga Allah mencurahkan shalawat kepada beliau, keluarga beliau dan seluruh sahabat beliau.Amma ba’du, aku washiatkan kepada kalian dan kepada diriku untuk bertakwa kepada Allah, Allah berfirmanيَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ (١١٩)Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar. (QS At-Taubah : 119)          Pertolongan yang bermanfaat yang dengannya terwujudkan dampak positifnya dan terhilangkan kesulitan, adalah pertolongan yang terus menerus dan berkesinambungan yang tidak terputus talinya dan tidak terhenti bantuannya, sehingga kita tidak terkena kekalahan karena semangat yang sementara dan kelemahan yang menghalangi tercapainya target. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّتْ“Amalan yang paing dicintai oleh Allah adalah yang paling berkesinambungan meskipun sedikit”Bisa jadi pelaku kebatilan berhasil untuk bersatu dalam satu kompi, akan tetapi ini hanyalah lahiriahnya saja, adapun hakikatnya maka ini adalah persatuan yang dibangun di atas kepentingan yang berbeda-beda, hati dan nafsu mereka tercerai berai, dan akan terungkap perseteruan dan perpecahan diantara mereka, tirai tipuan akan tersingkap, lalu leburlah kebatilan mereka dan terpecahkan perkumpulan mereka.بَأْسُهُمْ بَيْنَهُمْ شَدِيدٌ تَحْسَبُهُمْ جَمِيعًا وَقُلُوبُهُمْ شَتَّىPermusuhan antara sesama mereka adalah sangat hebat. kamu kira mereka itu bersatu, sedang hati mereka berpecah belah. (QS Al-Hasyr : 14)Di akhir zaman kaum muslimin akan ditolong oleh batu dan pohon, ia berkata ; “Wahai Muslim, wahai Abdullah, ini ada seorang yahudi di belakangku, kemarilah bunuhlah ia”. Dan perkataan batu dan pohon termasuk tanda-tanda hari kiamat.Allah berfirman :وَلَيَنْصُرَنَّ اللَّهُ مَنْ يَنْصُرُهُ إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌSesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha kuat lagi Maha perkasa (QS Al-Hajj : 40) Penerjemah: Abu Abdil Muhsin Firandawww.firanda.com

Seandainya Masa Mudaku Kembali….!! (Sya’ir lantunan Abul ‘Ataahiyah)

بَكَيْتُ عَلَى الشَّبَابِ بِدَمْعِ عَيْنِي… فَلَمْ يُغْنِ البُكَاءُ وَلاَ النَّحِيْبُKutangisi masa mudaku dengan aliran air mataku….Akan tetapi tangisan dan ratapanku tiada guna… فَيا أسَفاً أسِفْتُ عَلىَ شَبَابٍ… نَعَاهُ الشَّيْبُ والرّأسُ الخَضِيْبُSungguh aku bersedih dan menyesal atas masa mudaku….Masa tua dan rambutku yang disemir (karena ubanan) telah berduka cita atas  masa mudaku…. عَرَيْتُ منَ الشّبابِ وَكُنْتُ غَضًّا…. كمَا يَعْرَى مِنَ الوَرَقِ القَضِيْبُMasa mudaku telah hilang…, padahal dahulu aku segar bugar…Sebagaimana batang pohon yang kering dengan gugurnya dedaunan…. فيَا لَيتَ الشّبابَ يَعُودُ يَوْماً…. فأُخبرَهُ بمَا فَعَلَ المَشيبُAduhai seandainya suatu hari masa mudaku bisa kembali…. Akan kukabarkan kepadanya tentang apa yang menimpa masa tuanya… Masa muda adalah masa keemasan, maka aktivitas dan produktivitas…Jika seseorang mengisinya dengan kebaikan maka masa tuanya akan penuh dengan kebahagiaan dan kebanggaan…Akan tetapi jika masa mudanya dihamburkan dalam kemaksiatan dan sia-sia, maka yang ada hanyalah penyesalan di masa tua tiada guna.Ya Allah jadikanlah hamba-hambamuMu ini menjadi hamba yang dipuji oleh NabiMu shallallahu ‘alaihi wasallam (Pada hari kiamat tatkala mata hari didekatkan oleh Allah sehingga berjarak satu mil, sehingga manusia bercucuran keringat mereka. Pada hari tersebut tiada naungan kecuali naungan Allah, dan ada 7 golongan yang akan dinaungi oleh naungan Allah, diantaranya 🙂وشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ اللهِ“Pemuda yang tumbuh dalam beribadah kepada Allah” (HR Muslim)Pemuda yang menyibukkan diri dalam ibadah merupakan pemuda yang hebat, karena masa muda adalah masa-masa bersenang-senang dan dipuncak-puncaknya ingin kebebasan dan menuruti hawa nafsu.Al-Munawi rahimahullah berkata :خَصَّهُ لِكَوْنِهِ مَظِنَّةُ غَلَبَةِ الشَّهْوَةِ وَقُوَّةِ البَّاعِثِ عَلَى مُتَابَعَةِ الْهَوَى وَمُلاَزَمَةُ الْعِبَادَةِ مَعَ ذَلِكَ أَشَقُّ وَأَدَلُّ عَلَى غَلَبَةِ التَّقْوَى“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengkhususkan penyebutan “masa muda” karena masa muda adalah masa biasanya terkuasai oleh syahwat dan kuatnya dorongan untuk mengikuti hawa nafsu. Dan melazimi dibadah dalam kondisi demikian lebih berat dan lebih menunjukkan atas dominasi ketakwaan” (Faidul Qodiir 4/88)Bahkan Ibnu Rojab rahimahullah mengibaratkan masa muda seperti masa kegilaan, karena begitu beratnya ujian di masa tersebut. Beliau berkata :فَإِنَّ الشَّبَابَ شُعْبَةٌ مِنَ الْجُنُوْنِ، وَهُوَ دَاعٍ لِلنَّفْسِ إِلَى اسْتِيْفَاءِ الْغَرضِ مِنْ شَهوَاتِ الدُّنْيَا وَلَذَّاتِهَا الْمَحْظُوْرَةِ، فَمَنْ سَلِمَ مِنْهُ فَقَدْ سَلِمَ“Sesungguhnya masa muda adalah cabang dari kegilaan, karena masa muda menyeru jiwa untuk memuaskan kehendaknya berupa syahwat dunia keledzatannya yang terlarang. Maka barangsiapa yang selamat dari masa mudanya maka sungguh ia telah selamat” (Fathul Baari 6/46-47)Pemuda yang menyibukkan diri dengan ibadah ditengah luasnya lautan syahwat dan gemerlapnya dunia, ia adalah pemuda yang yakin bahwa Allah akan meminta pertanggung jawabannya tentang masa mudanya.Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda :لاَ تَزُوْلُ قَدَما ابْنِ آدَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَن أربع“Tidak akan bergerser kedua kaki anak Adam pada hari kiamat hingga ia ditanya tentang 4 perkara…”Diantaranya kata Nabi shallallahu ‘alaihi wasallamوَعَنْ شَبَابِهِ فِيْمَا أَبْلاَهُ“Tentang masa mudanya, kemanakah ia habiskan?”Wahai para pemuda, kita semua akan diberhentikan oleh Allah untuk disidang, dan kedua kaki kita tidak akan bergeser kecuali setelah kita menjawab pertanyaan “Kemana kau habiskan masa mudamu”.Maka silahkanlah anda berbuat semaunya…silahkanlah anda memuaskan syahwat anda…silahkanlah anda berhubungan dengan wanita dan gadis yang tidak halal bagi anda sesukanya…silahkan anda membiarkan mata anda melihat hal-hal yang haram….silahkanlah jari-jari anda merangkai kata-kata manis untuk dipersembahkan kepada kekasih yang haram….Jika anda mampu menjawab pertanyaan di atas, maka silahkanlah berbuat sesuka hati….Kota Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, 13-07-1436 H / 02-05-2015 MAbu Abdil Muhsin Firandawww.firanda.com

Seandainya Masa Mudaku Kembali….!! (Sya’ir lantunan Abul ‘Ataahiyah)

بَكَيْتُ عَلَى الشَّبَابِ بِدَمْعِ عَيْنِي… فَلَمْ يُغْنِ البُكَاءُ وَلاَ النَّحِيْبُKutangisi masa mudaku dengan aliran air mataku….Akan tetapi tangisan dan ratapanku tiada guna… فَيا أسَفاً أسِفْتُ عَلىَ شَبَابٍ… نَعَاهُ الشَّيْبُ والرّأسُ الخَضِيْبُSungguh aku bersedih dan menyesal atas masa mudaku….Masa tua dan rambutku yang disemir (karena ubanan) telah berduka cita atas  masa mudaku…. عَرَيْتُ منَ الشّبابِ وَكُنْتُ غَضًّا…. كمَا يَعْرَى مِنَ الوَرَقِ القَضِيْبُMasa mudaku telah hilang…, padahal dahulu aku segar bugar…Sebagaimana batang pohon yang kering dengan gugurnya dedaunan…. فيَا لَيتَ الشّبابَ يَعُودُ يَوْماً…. فأُخبرَهُ بمَا فَعَلَ المَشيبُAduhai seandainya suatu hari masa mudaku bisa kembali…. Akan kukabarkan kepadanya tentang apa yang menimpa masa tuanya… Masa muda adalah masa keemasan, maka aktivitas dan produktivitas…Jika seseorang mengisinya dengan kebaikan maka masa tuanya akan penuh dengan kebahagiaan dan kebanggaan…Akan tetapi jika masa mudanya dihamburkan dalam kemaksiatan dan sia-sia, maka yang ada hanyalah penyesalan di masa tua tiada guna.Ya Allah jadikanlah hamba-hambamuMu ini menjadi hamba yang dipuji oleh NabiMu shallallahu ‘alaihi wasallam (Pada hari kiamat tatkala mata hari didekatkan oleh Allah sehingga berjarak satu mil, sehingga manusia bercucuran keringat mereka. Pada hari tersebut tiada naungan kecuali naungan Allah, dan ada 7 golongan yang akan dinaungi oleh naungan Allah, diantaranya 🙂وشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ اللهِ“Pemuda yang tumbuh dalam beribadah kepada Allah” (HR Muslim)Pemuda yang menyibukkan diri dalam ibadah merupakan pemuda yang hebat, karena masa muda adalah masa-masa bersenang-senang dan dipuncak-puncaknya ingin kebebasan dan menuruti hawa nafsu.Al-Munawi rahimahullah berkata :خَصَّهُ لِكَوْنِهِ مَظِنَّةُ غَلَبَةِ الشَّهْوَةِ وَقُوَّةِ البَّاعِثِ عَلَى مُتَابَعَةِ الْهَوَى وَمُلاَزَمَةُ الْعِبَادَةِ مَعَ ذَلِكَ أَشَقُّ وَأَدَلُّ عَلَى غَلَبَةِ التَّقْوَى“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengkhususkan penyebutan “masa muda” karena masa muda adalah masa biasanya terkuasai oleh syahwat dan kuatnya dorongan untuk mengikuti hawa nafsu. Dan melazimi dibadah dalam kondisi demikian lebih berat dan lebih menunjukkan atas dominasi ketakwaan” (Faidul Qodiir 4/88)Bahkan Ibnu Rojab rahimahullah mengibaratkan masa muda seperti masa kegilaan, karena begitu beratnya ujian di masa tersebut. Beliau berkata :فَإِنَّ الشَّبَابَ شُعْبَةٌ مِنَ الْجُنُوْنِ، وَهُوَ دَاعٍ لِلنَّفْسِ إِلَى اسْتِيْفَاءِ الْغَرضِ مِنْ شَهوَاتِ الدُّنْيَا وَلَذَّاتِهَا الْمَحْظُوْرَةِ، فَمَنْ سَلِمَ مِنْهُ فَقَدْ سَلِمَ“Sesungguhnya masa muda adalah cabang dari kegilaan, karena masa muda menyeru jiwa untuk memuaskan kehendaknya berupa syahwat dunia keledzatannya yang terlarang. Maka barangsiapa yang selamat dari masa mudanya maka sungguh ia telah selamat” (Fathul Baari 6/46-47)Pemuda yang menyibukkan diri dengan ibadah ditengah luasnya lautan syahwat dan gemerlapnya dunia, ia adalah pemuda yang yakin bahwa Allah akan meminta pertanggung jawabannya tentang masa mudanya.Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda :لاَ تَزُوْلُ قَدَما ابْنِ آدَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَن أربع“Tidak akan bergerser kedua kaki anak Adam pada hari kiamat hingga ia ditanya tentang 4 perkara…”Diantaranya kata Nabi shallallahu ‘alaihi wasallamوَعَنْ شَبَابِهِ فِيْمَا أَبْلاَهُ“Tentang masa mudanya, kemanakah ia habiskan?”Wahai para pemuda, kita semua akan diberhentikan oleh Allah untuk disidang, dan kedua kaki kita tidak akan bergeser kecuali setelah kita menjawab pertanyaan “Kemana kau habiskan masa mudamu”.Maka silahkanlah anda berbuat semaunya…silahkanlah anda memuaskan syahwat anda…silahkanlah anda berhubungan dengan wanita dan gadis yang tidak halal bagi anda sesukanya…silahkan anda membiarkan mata anda melihat hal-hal yang haram….silahkanlah jari-jari anda merangkai kata-kata manis untuk dipersembahkan kepada kekasih yang haram….Jika anda mampu menjawab pertanyaan di atas, maka silahkanlah berbuat sesuka hati….Kota Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, 13-07-1436 H / 02-05-2015 MAbu Abdil Muhsin Firandawww.firanda.com
بَكَيْتُ عَلَى الشَّبَابِ بِدَمْعِ عَيْنِي… فَلَمْ يُغْنِ البُكَاءُ وَلاَ النَّحِيْبُKutangisi masa mudaku dengan aliran air mataku….Akan tetapi tangisan dan ratapanku tiada guna… فَيا أسَفاً أسِفْتُ عَلىَ شَبَابٍ… نَعَاهُ الشَّيْبُ والرّأسُ الخَضِيْبُSungguh aku bersedih dan menyesal atas masa mudaku….Masa tua dan rambutku yang disemir (karena ubanan) telah berduka cita atas  masa mudaku…. عَرَيْتُ منَ الشّبابِ وَكُنْتُ غَضًّا…. كمَا يَعْرَى مِنَ الوَرَقِ القَضِيْبُMasa mudaku telah hilang…, padahal dahulu aku segar bugar…Sebagaimana batang pohon yang kering dengan gugurnya dedaunan…. فيَا لَيتَ الشّبابَ يَعُودُ يَوْماً…. فأُخبرَهُ بمَا فَعَلَ المَشيبُAduhai seandainya suatu hari masa mudaku bisa kembali…. Akan kukabarkan kepadanya tentang apa yang menimpa masa tuanya… Masa muda adalah masa keemasan, maka aktivitas dan produktivitas…Jika seseorang mengisinya dengan kebaikan maka masa tuanya akan penuh dengan kebahagiaan dan kebanggaan…Akan tetapi jika masa mudanya dihamburkan dalam kemaksiatan dan sia-sia, maka yang ada hanyalah penyesalan di masa tua tiada guna.Ya Allah jadikanlah hamba-hambamuMu ini menjadi hamba yang dipuji oleh NabiMu shallallahu ‘alaihi wasallam (Pada hari kiamat tatkala mata hari didekatkan oleh Allah sehingga berjarak satu mil, sehingga manusia bercucuran keringat mereka. Pada hari tersebut tiada naungan kecuali naungan Allah, dan ada 7 golongan yang akan dinaungi oleh naungan Allah, diantaranya 🙂وشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ اللهِ“Pemuda yang tumbuh dalam beribadah kepada Allah” (HR Muslim)Pemuda yang menyibukkan diri dalam ibadah merupakan pemuda yang hebat, karena masa muda adalah masa-masa bersenang-senang dan dipuncak-puncaknya ingin kebebasan dan menuruti hawa nafsu.Al-Munawi rahimahullah berkata :خَصَّهُ لِكَوْنِهِ مَظِنَّةُ غَلَبَةِ الشَّهْوَةِ وَقُوَّةِ البَّاعِثِ عَلَى مُتَابَعَةِ الْهَوَى وَمُلاَزَمَةُ الْعِبَادَةِ مَعَ ذَلِكَ أَشَقُّ وَأَدَلُّ عَلَى غَلَبَةِ التَّقْوَى“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengkhususkan penyebutan “masa muda” karena masa muda adalah masa biasanya terkuasai oleh syahwat dan kuatnya dorongan untuk mengikuti hawa nafsu. Dan melazimi dibadah dalam kondisi demikian lebih berat dan lebih menunjukkan atas dominasi ketakwaan” (Faidul Qodiir 4/88)Bahkan Ibnu Rojab rahimahullah mengibaratkan masa muda seperti masa kegilaan, karena begitu beratnya ujian di masa tersebut. Beliau berkata :فَإِنَّ الشَّبَابَ شُعْبَةٌ مِنَ الْجُنُوْنِ، وَهُوَ دَاعٍ لِلنَّفْسِ إِلَى اسْتِيْفَاءِ الْغَرضِ مِنْ شَهوَاتِ الدُّنْيَا وَلَذَّاتِهَا الْمَحْظُوْرَةِ، فَمَنْ سَلِمَ مِنْهُ فَقَدْ سَلِمَ“Sesungguhnya masa muda adalah cabang dari kegilaan, karena masa muda menyeru jiwa untuk memuaskan kehendaknya berupa syahwat dunia keledzatannya yang terlarang. Maka barangsiapa yang selamat dari masa mudanya maka sungguh ia telah selamat” (Fathul Baari 6/46-47)Pemuda yang menyibukkan diri dengan ibadah ditengah luasnya lautan syahwat dan gemerlapnya dunia, ia adalah pemuda yang yakin bahwa Allah akan meminta pertanggung jawabannya tentang masa mudanya.Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda :لاَ تَزُوْلُ قَدَما ابْنِ آدَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَن أربع“Tidak akan bergerser kedua kaki anak Adam pada hari kiamat hingga ia ditanya tentang 4 perkara…”Diantaranya kata Nabi shallallahu ‘alaihi wasallamوَعَنْ شَبَابِهِ فِيْمَا أَبْلاَهُ“Tentang masa mudanya, kemanakah ia habiskan?”Wahai para pemuda, kita semua akan diberhentikan oleh Allah untuk disidang, dan kedua kaki kita tidak akan bergeser kecuali setelah kita menjawab pertanyaan “Kemana kau habiskan masa mudamu”.Maka silahkanlah anda berbuat semaunya…silahkanlah anda memuaskan syahwat anda…silahkanlah anda berhubungan dengan wanita dan gadis yang tidak halal bagi anda sesukanya…silahkan anda membiarkan mata anda melihat hal-hal yang haram….silahkanlah jari-jari anda merangkai kata-kata manis untuk dipersembahkan kepada kekasih yang haram….Jika anda mampu menjawab pertanyaan di atas, maka silahkanlah berbuat sesuka hati….Kota Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, 13-07-1436 H / 02-05-2015 MAbu Abdil Muhsin Firandawww.firanda.com


بَكَيْتُ عَلَى الشَّبَابِ بِدَمْعِ عَيْنِي… فَلَمْ يُغْنِ البُكَاءُ وَلاَ النَّحِيْبُKutangisi masa mudaku dengan aliran air mataku….Akan tetapi tangisan dan ratapanku tiada guna… فَيا أسَفاً أسِفْتُ عَلىَ شَبَابٍ… نَعَاهُ الشَّيْبُ والرّأسُ الخَضِيْبُSungguh aku bersedih dan menyesal atas masa mudaku….Masa tua dan rambutku yang disemir (karena ubanan) telah berduka cita atas  masa mudaku…. عَرَيْتُ منَ الشّبابِ وَكُنْتُ غَضًّا…. كمَا يَعْرَى مِنَ الوَرَقِ القَضِيْبُMasa mudaku telah hilang…, padahal dahulu aku segar bugar…Sebagaimana batang pohon yang kering dengan gugurnya dedaunan…. فيَا لَيتَ الشّبابَ يَعُودُ يَوْماً…. فأُخبرَهُ بمَا فَعَلَ المَشيبُAduhai seandainya suatu hari masa mudaku bisa kembali…. Akan kukabarkan kepadanya tentang apa yang menimpa masa tuanya… Masa muda adalah masa keemasan, maka aktivitas dan produktivitas…Jika seseorang mengisinya dengan kebaikan maka masa tuanya akan penuh dengan kebahagiaan dan kebanggaan…Akan tetapi jika masa mudanya dihamburkan dalam kemaksiatan dan sia-sia, maka yang ada hanyalah penyesalan di masa tua tiada guna.Ya Allah jadikanlah hamba-hambamuMu ini menjadi hamba yang dipuji oleh NabiMu shallallahu ‘alaihi wasallam (Pada hari kiamat tatkala mata hari didekatkan oleh Allah sehingga berjarak satu mil, sehingga manusia bercucuran keringat mereka. Pada hari tersebut tiada naungan kecuali naungan Allah, dan ada 7 golongan yang akan dinaungi oleh naungan Allah, diantaranya 🙂وشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ اللهِ“Pemuda yang tumbuh dalam beribadah kepada Allah” (HR Muslim)Pemuda yang menyibukkan diri dalam ibadah merupakan pemuda yang hebat, karena masa muda adalah masa-masa bersenang-senang dan dipuncak-puncaknya ingin kebebasan dan menuruti hawa nafsu.Al-Munawi rahimahullah berkata :خَصَّهُ لِكَوْنِهِ مَظِنَّةُ غَلَبَةِ الشَّهْوَةِ وَقُوَّةِ البَّاعِثِ عَلَى مُتَابَعَةِ الْهَوَى وَمُلاَزَمَةُ الْعِبَادَةِ مَعَ ذَلِكَ أَشَقُّ وَأَدَلُّ عَلَى غَلَبَةِ التَّقْوَى“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengkhususkan penyebutan “masa muda” karena masa muda adalah masa biasanya terkuasai oleh syahwat dan kuatnya dorongan untuk mengikuti hawa nafsu. Dan melazimi dibadah dalam kondisi demikian lebih berat dan lebih menunjukkan atas dominasi ketakwaan” (Faidul Qodiir 4/88)Bahkan Ibnu Rojab rahimahullah mengibaratkan masa muda seperti masa kegilaan, karena begitu beratnya ujian di masa tersebut. Beliau berkata :فَإِنَّ الشَّبَابَ شُعْبَةٌ مِنَ الْجُنُوْنِ، وَهُوَ دَاعٍ لِلنَّفْسِ إِلَى اسْتِيْفَاءِ الْغَرضِ مِنْ شَهوَاتِ الدُّنْيَا وَلَذَّاتِهَا الْمَحْظُوْرَةِ، فَمَنْ سَلِمَ مِنْهُ فَقَدْ سَلِمَ“Sesungguhnya masa muda adalah cabang dari kegilaan, karena masa muda menyeru jiwa untuk memuaskan kehendaknya berupa syahwat dunia keledzatannya yang terlarang. Maka barangsiapa yang selamat dari masa mudanya maka sungguh ia telah selamat” (Fathul Baari 6/46-47)Pemuda yang menyibukkan diri dengan ibadah ditengah luasnya lautan syahwat dan gemerlapnya dunia, ia adalah pemuda yang yakin bahwa Allah akan meminta pertanggung jawabannya tentang masa mudanya.Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda :لاَ تَزُوْلُ قَدَما ابْنِ آدَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَن أربع“Tidak akan bergerser kedua kaki anak Adam pada hari kiamat hingga ia ditanya tentang 4 perkara…”Diantaranya kata Nabi shallallahu ‘alaihi wasallamوَعَنْ شَبَابِهِ فِيْمَا أَبْلاَهُ“Tentang masa mudanya, kemanakah ia habiskan?”Wahai para pemuda, kita semua akan diberhentikan oleh Allah untuk disidang, dan kedua kaki kita tidak akan bergeser kecuali setelah kita menjawab pertanyaan “Kemana kau habiskan masa mudamu”.Maka silahkanlah anda berbuat semaunya…silahkanlah anda memuaskan syahwat anda…silahkanlah anda berhubungan dengan wanita dan gadis yang tidak halal bagi anda sesukanya…silahkan anda membiarkan mata anda melihat hal-hal yang haram….silahkanlah jari-jari anda merangkai kata-kata manis untuk dipersembahkan kepada kekasih yang haram….Jika anda mampu menjawab pertanyaan di atas, maka silahkanlah berbuat sesuka hati….Kota Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, 13-07-1436 H / 02-05-2015 MAbu Abdil Muhsin Firandawww.firanda.com

Habib Husain Al-Atas (Pengasuh Radio RASIL), antara Syi’ah, Sunnah, atau Liberal ?!

Berikut ini beberapa kritikan terhadap ceramah Habib Husain Al-Atas –semoga Allah memberi petunjuk kepadanya-, yang disampaikan oleh beliau dalam kajian acara renungan dibawah naungan al quran dari surat Al Arof ayat 181-188 bersama ust Husin Alatas pada hari selasa tanggl 12 mei 2015 jam 08.00  dan disiarkan ulang jam 22.00 (silahkan download di https://goo.gl/k71wCL)Penulis merasa penting untuk menyampaikan kritikan ini mengingat isi ceramah beliau bertentangan dengan pokok akidah umat Islam.PERTAMA :Habib Husain meragukan keotentikan hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dari kitab-kitab hadits yang mashyur. Habib Husain berkata :((Kebenaran yang pasti, yang mutlak yang datang dari sisi Allah. Oleh karena itu tidak ada satu pun jaminan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala bagi buku-buku yang lain, bahwa buku-buku tersebut terjamin kebenarannya. Maka Allah berfirman:وَلَوْ كَانَ مِنْ عِندِ غَيْرِ اللّهِ لَوَجَدُواْ فِيهِ اخْتِلاَفاً“Kalau Al-Qur’an bukan dari Allah, niscaya mereka akan jumpai pertentangan yang amat banyak”Tidak ada nash Al-Quran maupun ucapan Nabi yang menjamin bahwa Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Abu Dawud, Ibnu Majah, Nasai, Ad-Darimi, begitu pula Musnad Ahmad bin Hanbal, Musnad Ibnu Abi Syaibah, musnad eee…al mush…al mush….al…mushannaf….mushannaf Ibn Abi Syaibah, Mushannaf Abdurrazaq, bahwa semua buku-buku ini terjamin kebenarannya??, sama sekali tidak ada!!. Ini dari versi ahlussnnahDari versi syiah, empat buku yang  menjadi rujukan mereka: al-kulaini al-kaafi, man laa yahduruhul faqih li As-Shaduq, kemudian at-tahdzib, yang keempat al-Istibshar yang ditulis oleh Ath-Thuusi, begitu pula buku-buku yang lain, tidak ada jaminan dari Allah maupun RasulNya bahwa buku-buku ini merupakan buku yang berisi kebenaran yang terjamin. Itu hanya klaim-klaim yang datang dari mereka-mereka yang fanatik kepada buku tersebut.Yang fanatik kepada Bukhari-nya, Muslimnya, At-Tirmidzi-nya, Abu Dawud-nya, Ibnu majahnya, begitu pula kepada Ath-thabraninya baik fis shaghir al-awsath maupun al-kabir.Begitu pula di kalangan syiah juga yang berfanatik kepada Al-Kaafi-nya, kepada ath-thuusinya, kepada ash-shaduuqnya, atau kepada al-majlisi, semua ini hadirin sekalian ucapan tanpa dasar kebenaran, tanpa dalil. Oleh karena itu jangan kita membesar-besarkan yang lain di hadapan kitab Allah.Karena buku-buku ini setelah 200 tahun baru dikenal, setelah wafatnya Nabi kita Muhammad shallallau ‘alaihi wa sallam tangan-tangan kotor, hati-hati yang munafik, yang berencana busuk terhadap Islam tidak mungkin dapat kita hindari.Kalau seandainya sebagian ulama mengatakan fulan tsiqah seorang yang jujur, fulan merupakan seorang yang cermat dan telilti, fulan merupakan seorang yang betul-betul menjaga kebersihan hidup ini, itu kan menurut penilaian manusia, bisa benar bisa salah, dan biasanya:وعَيْنُ الرِّضَا عَنْ كُلِّ عَيْبٍ كَلِيْلَةٍ، وَلَكِنَّ عَينَ السُّخْطِ تُبْدي الْمَسَاوِيَا“Pandangan mata kecintaan membuat yang buruk menjadi indah, sebaliknya pandangan kebencian akan membuat apa? Akan membuat yang indah menjadi buruk”)) Kritikan :Sangat jelas bahwa Habib Husain meragukan keotentikan hadits-hadits Nabi yang termaktub dalam kitab-kitab hadits baik dari kalangan ahlus sunnah maupun dari kalangan syi’ah. Adapun alasan yang disampaikan oleh beliau adalah :–         Karena hadits-hadits tersebut dikodifikasikan setelah 200 tahun wafatnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam–         Kitab-kitab hadits tersebut tidak luput dari ((tangan-tangan kotor, hati-hati yang munafik, yang berencana busuk terhadap Islam tidak mungkin dapat kita hindari))–         Karena keshahihan/keotentikan hadits dibangun diatas penilaian manusia yang menyatakan “si fulan tsiqoh/cermat dan terpercaya”, dan penilaian manusia bisa saja salah, sebagaiamana perkataan Habib : ((Kalau seandainya sebagian ulama mengatakan fulan tsiqah seorang yang jujur, fulan merupakan seorang yang cermat dan telilti, fulan merupakan seorang yang betul-betul menjaga kebersihan hidup ini, itu kan menurut penilaian manusia, bisa benar bisa salah)) Pernyataan Habib ini sangatlah berbahaya karena melazimkan perkara-perkara yang batil, diantaranya : Pertama : Hadits-hadits yang ada sekarang yang termaktub dalam kitab-kitab hadits –baik versi ahlus sunnah maupun versi syi’ah- tidak bisa dijadikan pedoman ataupun rujukan, karena tidak ada jaminan kebenarannya. Konsekwensi perkataannya bahwa dalil yang diterima terbatas hanya al-Qur’an.Dan inilah pemahaman sekte sesat yang dikenal oleh para ulama dengan Al-Qur’aniyun, yaitu mereka-mereka yang menolak Hadits nabi dan hanya mau berdalil dengan al-Qur’an, dikarenakan hadits-hadits yang dikodifikasikan sekarang diragukan keotentikannya dan diragukan kebenarannya.Dan munculnya sekte sesat ini telah disinyalir oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sabda beliau :أَلاَ إِنِّي أُوْتِيْتُ الْكِتَابَ وَمِثْلَهُ مَعَهُ أَلاَ يُوْشِكُ رَجُلٌ شَبْعَانُ عَلَى أَرِيْكَتِهِ يَقُوْلُ : عَلَيْكُمْ بِهَذَا الْقُرْآنِ فَمَا وَجَدْتُمْ فِيْهِ مِنْ حَلاَلٍ فَأَحِلُّوْهُ وَمَا وَجَدْتُمْ فِيْهِ مِنْ حَرَامٍ فَحَرِّمُوْهُKetahuilah sesungguhnya diturunkan kepadaku Al-Quran dan yang semisalnya bersamanya (yaitu hadits)”, ketahuilah akan datang seseorang yang kenyang duduk diatas pembaringannya berkata: “Berpegang teguhlah kepada Al- Quran ini saja, semua yang kalian dapati padanya kehalalan maka halalkan dan yang kalian dapati padanya satu keharoman maka haramkanlah. [HR Ahmad 4/131 dan Abu Daud 5/11] Kedua : Usaha para ulama dalam menilai kredibilitas para perawi hadits tidak ada nilainya. Pernyataan para ulama al-Jarw wa at-Ta’dil : “Si fulan tsiqoh (terpercaya dan cermat)” sehingga diambil periwayatan haditsnya atau “Si fulan Kadzdzab (pendusta)” sehingga ditolak periwayatan haditsnya, semuanya tidak bernilai di sisi Habib Husain, dengan dalih bahwasanya ini semua hanyalah penilaian manusia.Padahal tidak ada jalan lain di kalangan para ulama ahlus sunnah (baik Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’i maupun Imam Ahmad) untuk mengetahui suatu hadits bisa diterima atau ditolak kecuali dengan penilaian terhadap para perawinya. Nah kalau penilaian para ulama terhadap para perawi tidak dianggap oleh Habib Husain maka dengan cara apakah kita bisa mengetahui suatu hadits shahih atau lemah??Ataukah Habib Husain memiliki metode tersendiri dalam menilai keshahihan suatu hadits tanpat ilmu al-Jarh wa at-Ta’dil (penilaian para ulama terhadap kredibilitas para perawi)?Kesimpulan yang diambil Habib Husain bahwa hadits-hadits yang ada sekarang sudah tidak bisa terjamin kebenarannya, apalagi beliau menegaskan dengan pernyataan beliau kitab-kitab hadits yang ada tidak luput dari ((tangan-tangan kotor, hati-hati yang munafik, yang berencana busuk terhadap Islam tidak mungkin dapat kita hindari)) Ketiga : Beliau mencela kefanatikan Ahlus Sunnah terhadap kitab-kitab hadits yang ada Shahih Al-Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abu Dawud, dll. Ahlussunnah memang harus fanatik kepada kitab-kitab tersebut, karena pada kitab-kitab tersebutlah terdapat sabda-sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan Allah berfirman :وَمَآءَاتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَانَهَاكُمْ عَنْهُ فَانتَهُواApa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah. [Al-Hasyr/59:7)Lantas jika semua kitab hadits tidak terpercaya maka bagaimana kita melaksanakan perintah Allah ini. Bagaimana kita bisa mengenal dan mengetahui apa yang telah dibawa oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.Demikian juga bagaimana kita bisa mengamalkan perintah Allah :لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًاSesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah. (          QS Al-Ahzaab : 21)Adapun jika maksud Habib bahwasanya Ahlus Sunnah fanatik kepada kitab-kitab tersebut melazimkan bahwa semua isi kitab tersebut benar, maka ini adalah tuduhan yang dusta dan diada-adakan. Tidak ada seorangpun ahlus sunnah yang berakal sehat yang menyatakan bahwa semua isi buku tersebut adalah hadits yang shahih !!!. Karena para penulis kitab-kitab hadits yang disebutkan oleh Habib Husainpun tidak pernah menyatakan bahwa semua hadits yang mereka tulis dalam kitabnya adalah shahih, kecuali Al-Imam Al-Bukhari dan Al-Imam Muslim yang mempersyaratkan hanya menulis hadits-hadits yang shahih. Itupun ada sebagian ulama yang mengkritik segelintir kecil dari hadits-hadits mereka. Keempat : Hadits-hadits Nabi bukanlah wahyu dari Allah. Perkataan Habib ((Kebenaran yang pasti, yang mutlak yang datang dari sisi Allah. Oleh karena itu tidak ada satu pun jaminan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala bagi buku-buku yang lain, bahwa buku-buku tersebut terjamin kebenarannya. Maka Allah berfirman:وَلَوْ كَانَ مِنْ عِندِ غَيْرِ اللّهِ لَوَجَدُواْ فِيهِ اخْتِلاَفاً“Kalau Al-Qur’an bukan dari Allah, niscaya mereka akan jumpai pertentangan yang amat banyak”Tidak ada nash Al-Quran maupun ucapan Nabi yang menjamin bahwa Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Abu Dawud, Ibnu Majah, Nasai, Ad-Darimi, begitu pula Musnad Ahmad bin Hanbal, Musnad Ibnu Abi Syaibah, musnad eee…al mush…al mush….al…mushannaf….mushannaf Ibn Abi Syaibah, Mushannaf Abdurrazaq, bahwa semua buku-buku ini terjamin kebenarannya, sama sekali tidak ada)) Bantahan:Ini adalah kedustaan, bukankah Allah telah berfirman :وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى (٣)إِنْ هُوَ إِلا وَحْيٌ يُوحَى (٤)Dan Tiadalah yang diucapkan oleh Muhammad itu menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya). (QS An-Najm : 3-4)Dari Abdullah bin ‘Amr beliau berkata :كُنْتُ أَكْتُبُ كُلَّ شَيْءٍ أَسْمَعُهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُرِيدُ حِفْظَهُ، فَنَهَتْنِي قُرَيْشٌ، فَقَالُوا: إِنَّكَ تَكْتُبُ كُلَّ شَيْءٍ تَسْمَعُهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَشَرٌ يَتَكَلَّمُ فِي الْغَضَبِ وَالرِّضَا، فَأَمْسَكْتُ عَنِ الْكِتَابِ، فَذَكَرْتُ ذَلِكَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؟ فَقَالَ: «اكْتُبْ فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ مَا خَرَجَ مِنِّي إِلَّا حَقٌّ»“Aku menulis segala sesuatu yang aku dengar dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, aku ingin menghafalkannya. Maka kaum Quraisy melarangku, mereka berkata : “Sesungguhnya engkau menulis segala sesuatu yang kau dengar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah manusia, ia berkata dalam kondisi marah dan dalam kondisi senang”. Maka akupun berhenti menulis, lalu aku menceritakan hal ini kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka beliau berkata : “Tulislah, demi Dzat yang jiwaku berada di tanganNya, tidak ada yang keluar dariku kecuali kebenaran“ (HR Ahmad no 6510)Dan telah lalu sabda Nabiأَلاَ إِنِّي أُوْتِيْتُ الْكِتَابَ وَمِثْلَهُ مَعَهُ“Ketahuilah sesungguhnya diturunkan kepadaku Al-Quran dan yang semisalnya bersamanya (yaitu hadits)”Lantas apa fungsinya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dikatakan sebagai ma’shuum?, beliau tidak lain disifati demikian karena hadits-hadits beliau adalah kebenaran, wahyu dari Allah.Tentu jelas Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah menyatakan bahwa Shahih Al-Bukhari itu terjamin kebenarannya, akan tetapi Nabi telah menyatakan bahwa apa yang diucapkannya pasti benar. Nah apa yang telah diucapkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah termaktub dalam kitab-kitab hadits.Ini semua menunjukkan bahwa pendalilan Habib dengan ayat di atas untuk menolak kitab-kitab hadits adalah pendalilan yang tidak tepat, karena hadits-hadits juga berasal dari Allah. KEDUA :Pernyataan Habib Husain:((Maka dari sini para ikhwan akhwat yang dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala. kitab yang pasti kebenarannya hanya kitab Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan saya bersumpah atas nama Allah, inni usyhidullah wa usyhidukum jami’an anna hadza huwa al-kitab al-wahid aladzi yahtawi ‘alal haq. Saya persaksikan Allah, persaksikan kalian semua bahwa hanya ini kitab satu-satunya yang mencakup kebenaran yang tidak meragukan.ذَلِكَ الْكِتَابُ لاَ رَيْبَ فِيهِ هُدًىYang terang benderang, tidak terdapat kegelapan di dalamnya sedikit pun dan ia lah asy-syifa’u war rahmah, dialah al-huda maka selain dari kitab suci al-quran, yang mengaku sebagai ahlussunah yang mengaku syiah dari keluarga rasul, lastum ‘alasy syai, kalian tidak berarti apa-apa hingga kalian kembali kepada kitab Allah. Khurafat-khurafat, kebohongan-kebohongan, kepalsuan yang menyebar dalam buku-buku kalian bersih.)) Bantahan :          Pernyataan Habib Husain ini hanyalah untuk menekankan akan aqidah beliau bahwasanya kitab-kitab hadits yang ada tidak bisa dipercaya karena berisi khurofat dan kebohongan serta kepalsuan.Nah yang ingin kita tanyakan kepada Habib Husain, kalau beliau hendak sholat, hendak haji, hendak membayar zakat, maka bagaimanakah caranya jika hanya bersandar kepada Al-Qur’an?Karena tata cara sholat, kapan waktu-waktunya, berapa raka’atnya, tidak dijelaskan secara rinci dalam Al-Qur’an, dan hanya dijelaskan dalam hadits-hadits Nabi.Nah bagaimana cara Habib Husain sholat kalau tidak berpedoman kepada hadits-hadits Nabi?, karena seluruh kitab hadits yang ada tidak terjamin kebenarannya. Lantas apakah Habib Husain punya kitab hadits sendiri? Sanadnya shahih tanpa ada keraguan bersambung hingga Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam?Demikian juga permasalahannya yang berkaitan dengan haji dan zakat, tidak ada perinciannya di Al-Qur’an, perinciannya terdapat dalam hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. KETIGA :Apa Kriteria Hadits Shahih menurut Habib?Kenyataannya Habib Husain juga sering berdalil dengan hadits –meskipun ia meyakini bahwa semua kitab hadits yang ada tidak terjamin kebenarannya-. Bahkan dalam ceramah beliau ini, ternyata beliau juga menyebutkan sebuah hadits, Habib Husain berkata:((Oleh karena itu Nabi yg dikenal sebagai seorang yg berjiwa penuh dgn  rahmat, airmata berlinang linang ketika menyaksikan seorang yahudi yang mati yang digiring jenazahnya menuju pekuburannya, Nabi bercucuran aitmata mengatakan : “Satu orang lagi telah lolos masuk kedalam api neraka dan saya tdk berdaya untuk menyelamatkan dirinya”))Hadits yang disebutkan oleh Habib ini ngomong-ngomong dari kitab hadits yang mana? Apakah dari kitab-kitab hadits versi Ahlus Sunnah yang dinilai cacat oleh Habib, ataukah dari kitab-kitab hadits versi Syi’ah?. Lantas bagaimana kedudukan para perawi hadits ini?, bagaimana penilaian para ulama tentang para perawi tersebut.Ataukah sangat jelas bahwa ini adalah hadits palsu?, jika hadits ini hadits palsu kok bisa diniali shahih menurut Habib Husain sehingga dijadikan dalil?. Apa sih ilmu Habib Husain untuk mengetahui keshahihan suatu hadits?Maka sungguh aneh jika Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim ditolak oleh Habib, akan tetapi hadits palsu dijadikan dalil ??? KEEMPAT :Tafsir Al-Qur’an versi Habib HusainHabib Husain sepertinya berniat baik, ingin agar pertikaian diantara ahlus sunnah dan syi’ah selesai. Meskipun solusi yang beliau tawarkan adalah solusi aneh dan mustahil. Yaitu meninggalkan kitab-kitab hadits versi ahlus sunnah dan versi syi’ah, lalu kembali kepada Al-Qur’an saja yang jelas kebenarannya.Maka taruhlah kita setuju dengan solusi yang ditawarkan oleh Habib Husain, maka yang jadi pertanyaan : Jika kita kembali kepada Al-Qur’an lantas versi pemahaman dan tafsir al-Qur’an tersebut ikut versi yang mana?, apakah ikut versi ahlus sunnah?, ataukah versi Syi’ah?, ataukah Habib Husain akan membuat versi tafsir sendiri.Berikut ini contoh tafsir Habib Husain terhadap sebuah ayat dalam Al-Qur’an yang beliau sampaikan dalam ceramah di atas.((inilah nabi kita Muhammad shallallahu alaihi wasallam, dia tidak mengatakan kamu celaka, neraka, sesat, kafir…tapi datang kepada mereka, mengajak kembali kepada Allah, membacakan ayat ayat Allah ta’ala, bila ditolak dicaci dimaki dia bersabar dan besok akan mendatanginya lagi untuk kembali kpd Allah,.bukan tugas nabi untuk menghakimi mereka,..bukan tugas mereka pula untuk menghakimi nabi,مَا عَلَيْكَ مِنْ حِسَابِهِمْ مِنْ شَيْءٍ وَمَا مِنْ حِسَابِكَ عَلَيْهِمْ مِنْ شَيْءٍbukan tugas kamu untuk apa? Untuk menghisab mereka…وَمَا مِنْ حِسَابِكَ عَلَيْهِمْ مِنْ شَيْءٍbegitu pula bukan tugas mereka untuk menghisab kamu… (QS Al-An’aam : 52)saya seorang yang tidak lepas dari kesalahan,ketergelinciran,..yang tidak luput dari dosa,.dari hal hal yg busuk yang Allah tutupi,..tugas saya bukan mengadili manusia,..tugas saya hanya seorang  menyampaikan pesan pesan yang datang dr Allah,..dgn menyampaikan pesan ini))Lihatlah dalam pernyataan di atas, Habib Husain menafsirkan ayat diatas (QS Al-An’aam : 52) dengan larangan untuk menghukum orang lain. Sehingga beliau menyatakan bahwa Nabi tidak pernah memvonis celaka, neraka, sesat, dan kafir. Bukan tugas Nabi untuk menghukum dan memvonis mereka.)) Komentar:Ini sebenarnya tafsiran yang sangat aneh dan bertentangan dengan ayat-ayat yang lain dan juga hadits hadits yang shahih. Untuk lebih jelasnya berikut saya sampaikan terjemah ayat tersebut selengkapnya versi Depag :وَلا تَطْرُدِ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ مَا عَلَيْكَ مِنْ حِسَابِهِمْ مِنْ شَيْءٍ وَمَا مِنْ حِسَابِكَ عَلَيْهِمْ مِنْ شَيْءٍ فَتَطْرُدَهُمْ فَتَكُونَ مِنَ الظَّالِمِينَ (٥٢)Dan janganlah kamu mengusir orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan petang hari, sedang mereka menghendaki keridhaanNya. kamu tidak memikul tanggung jawab sedikitpun terhadap perbuatan mereka dan merekapun tidak memikul tanggung jawab sedikitpun terhadap perbuatanmu, yang menyebabkan kamu (berhak) mengusir mereka, (sehingga kamu Termasuk orang-orang yang zalim) (QS Al-An’aam : 52)“Ketika Rasulullah s.a.w. sedang duduk-duduk bersama orang mukmin yang dianggap rendah dan miskin oleh kaum Quraisy, datanglah beberapa pemuka Quraisy hendak bicara dengan Rasulullah, tetapi mereka enggan duduk bersama mukmin itu, dan mereka mengusulkan supaya orang-orang mukmin itu diusir saja, lalu turunlah ayat ini” (Lihat catatan kaki ayat ini pada terjemahan versi Depag)Karenanya sangat jelas bahwa yang dinafikan oleh Allah bukanlah menghukum atau memvonis akan tetapi yang dinafikan oleh Allah adalah hisab, yaitu penilaian mereka di akhirat, yaitu bahwasanya pertanggungjawaban hisab mereka adalah di tangan Allah.Ayat ini sama seperti firman Allah :قَالُوا أَنُؤْمِنُ لَكَ وَاتَّبَعَكَ الأرْذَلُونَ (١١١)قَالَ وَمَا عِلْمِي بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (١١٢)إِنْ حِسَابُهُمْ إِلا عَلَى رَبِّي لَوْ تَشْعُرُونَ (١١٣)وَمَا أَنَا بِطَارِدِ الْمُؤْمِنِينَ (١١٤)Mereka berkata: “Apakah Kami akan beriman kepadamu, Padahal yang mengikuti kamu ialah orang-orang yang hina?”. Nuh menjawab: “Bagaimana aku mengetahui apa yang telah mereka kerjakan? Perhitungan (amal perbuatan) mereka tidak lain hanyalah kepada Tuhanku, kalau kamu menyadari. Dan aku sekali-kali tidak akan mengusir orang-orang yang beriman. (QS Asy-Syu’aroo’ : 111-114)Adapun menafsirkan lafal “hisab” dengan “larangan memvonis/menghukum” maka jelas ini adalah penafsiran batil yang disebutkan oleh orang-orang yang berpemikiran Liberal, yang menyatakan bahwa semua agama adalah sama, tidak boleh umat Islam memvonis umat yang lain dengan kufur atau neraka.Padahal dalam al-Qur’an banyak sekali ayat yang memvonis kaum Nasrani dan Yahudi sebagai kuffaar dan di neraka jahannam.Seperti firman Allah :لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ وَقَالَ الْمَسِيحُ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ (٧٢)Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah ialah Al masih putera Maryam”, Padahal Al masih (sendiri) berkata: “Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu”. Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, Maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun. (QS Al-Maidah : 72)لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ ثَالِثُ ثَلاثَةٍ وَمَا مِنْ إِلَهٍ إِلا إِلَهٌ وَاحِدٌ وَإِنْ لَمْ يَنْتَهُوا عَمَّا يَقُولُونَ لَيَمَسَّنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ (٧٣)Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: “Bahwasanya Allah salah seorang dari yang tiga”, Padahal sekali-kali tidak ada Tuhan selain dari Tuhan yang Esa. jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir diantara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih. (QS AL-Maidah : 74)إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا أُولَئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ (٦)Sesungguhnya orang-orang yang kafir Yakni ahli kitab dan orang-orang yang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk. (QS Al-Bayyinah : 6)Lihatlah dalam ayat-ayat di atas Allah memvonis kaum musyrikin dan kaum ahlul kitab (Yahudi dan Nashoro) sebagai kaum kuffar dan tempat mereka di neraka jahannam.Dan bukankah setiap kali Habib Husain sholat selalu membaca firman Allahصِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّينَ (٧)(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. (QS Al-Fatihah : 7)Para mufassirin telah sepakat bahwa yang dimaksud dengan orang-orang yang dimurkai oleh Allah adalah kaum Yahudi, dan orang-orang yang sesat adalah kaum Nashoro. Perhatikanlah pada ayat ini Allah memvonis sesat dan dimurkai Allah.Apalagi kalau meilhat hadits-hadits Nabi tentang hal memvonis maka sungguh sangat banyak sekali. Baik pada hadits-hadits yang shahih maupun hadits-hadits yang palsu. Yang menakjubkan adalah Habib Husain melarang memvonis akan tetapi justru beliau menyebut hadits palsu tentang Nabi memvonis seorang Yahudi yang meninggal masuk neraka. Sebagaimana perkataan Habib :((Oleh karena itu nabi yg dikenal sebagai seorang yang berjiwa penuh dengan  rahmat, airmata berlinang linang ketika menyaksikan seorang yahudi yang mati yang digiring jenazahnya menuju pekuburannya, Nabi bercucuran aitmata mengatakan : “Satu orang lagi telah lolos masuk kedalam api neraka dan saya tdk berdaya untuk menyelamatkan dirinya“)) Komentar:Saya kawatir Habib Husain telah terkontaminasi dengan pemikiran-pemikiran Kaum JIL.          Nah jika Habib Husain dalam menerjemahkan dan menafsirkan ayat di atas telah keliru, terus bagaimana beliau mau mengajak umat ini untuk meninggalkan kitab-kitab hadits dan hanya bersandar kepada Al-Qur’an?. Maka pertanyaan yang sangat mendasar adalah Al-Qur’an terjemahan dan tafsir versi siapakah yang anda pilih wahai Habib Husain? Apakah versi anda yang keliru begini? Atau versi pafa mufassir ahlus sunnah ataukah versi para mufassir syi’ah, ataukah versi para mufassir JIL?? KELIMA :Habib Husain justru memvonis bahkan menuduh !! Habib Husain menyampaikan kata-kata indah bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam anti memvonis orang lain, baik vonis neraka, atau celaka, atau sesat, atau kafir. Dan Habib Husain mengaku mengikuti metode Nabi, dimana beliau anti memvonis. Habib Husain berkata:((saya seorang yang tidak lepas dari kesalahan, ketergelinciran,..yang tidak luput dari dosa,. dari hal hal yg busuk yang Allah tutupi,..tugas saya bukan mengadili manusia,..tugas saya hanya seorang  menyampaikan pesan pesan yang datang dr Allah,..dgn menyampaikan pesan ini)) Komentar.Ini pernyataan Habib Husain, akan tetapi kenyataannya beliau memvonis Salafy dengan vonis-vonis dan tuduhan yang sangat mengerikan. Berikut diantara vonis-vonis dan tuduhan beliau dalam ceramah diatas: Pertama : Salafy Wahabi lebih mengagungkan Syaikh Muhammad bin Sholeh Al-‘Utsaimin daripada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Habib Husain berkata:((Oleh karena itu yang lucu hadirin sekalian dari sebagian ulama-ulama salafi wahabi ini, kita jumpai bagaimana semua peninggalan rasul, peninggalan para sahabat dan keluarga rasulnya, di mekah di madinah dibersihkan disingkirkan dengan alasan dikhawatirkan akan menjerumuskan orang ke dalam syirik. Tapi yang mengherankan, mereka mendirikan museum bagi tokoh mereka yaitu Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin di Riyadh. Mendirikan museum yang besar, dalam museum tersebut disebutkan ini merupakan kacamata yang dipergunakan oleh Asy-Syaikh Muhammad Shalih Al-Utsaimin, ini merupakan pena terakhir yang digunakan oleh beliau, ini merupakan peninggalannya, ini merupakan peninggalannya dibuat museum diletakan di tempat yang betul-betul indah. Kita gak menentang hal ini, gak mengatakan bahwa hal ini merupakan perbuatan bidah. Yang mengherankan, kenapa terhadap rasul, terhadap keluarga para sahabatnya, mereka habisi semua situs sejarah dan peninggalan mereka. Siapa yang ingin lebih jelas lagi coba buka museum muhammad shalih al-utsaimin atau muthaf Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin.Bentuk yang indah yang menampung sekian banyak peninggalan Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin yang meninggal belum lama ini, beliau merupakan rekan dari Syaikh Abdul Aziz bin Baz. Para pengikutnya menjunjungnya mengangungkannya bahkan lebih daripada rasul. Kalau rasul, mereka sebutkan sekian banyak kekurangannya, cacatnya, bahkan mereka menisbatkan hal yang tidak pantas kepada rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam)) Kritikan :          Pernyataan terakhir Habib Husain yang saya garis bawahi melazimkan para salafy wahabi adalah orang-orang kafir dan munafik. Bagaimana tidak kafir, ternyata mereka lebih mengagungkan Syaikh Al-‘Utsaimin daripada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan sungguh ini adalah adalah tuduhan keji dan dusta. Apalagi menuduh salafy wahabi suka menyebutkan banyak kekurangan nabi, menyebutkan cacat nabi, dan menisbahkan yang tidak pantas kepada Nabi. Sungguh ini merupakan kekafiran yang nyata. Penyataan dan tuduhan Habib Husain ini melazimkan kekafiran salafy wahabi. Akan tetapi tuduhan ini harus ada buktinya !!! Saya mohon Habib Husain mau mendatangkan buktinya bukan hanya menyampaikan kedustaan !!.Diantara kedustaan Habib Husain, bahwasanya beliau menyatakan bahwa di kota Riyadh Ibu kota Arab Saudi dibangun Muthaf (Museum) Syaikh Al-Utsaimin rahimahullah. Ini jelas kedustaan. Karena tidak ada museum Syaikh Al-Utsaimin, apalagi dibangun di kota Riyadh ibu kota Arab Saudi. Yang benar adalah telah dibangun Yayasan Sosial Syaikh Al-Utsaimin, dan dibangun di kota kediaman beliau yaitu di Unaizah. Dan Yayasan sosial ini bukanlah museum sebagaimana tuduhan Habib, karenanya Yayasan ini bergerak dalam bidang-bidang kebaikan seperti–         Membangun mesjid–         Membantu faqir miskin, anak yatim, dan para janda–         Membantu yayasan-yayasan tahfidz al-Qur’an–         Memperhatikan para penuntut ilmu–         dll (silahkan lihat di http://www.ibnothaimeen.com/all/Charity.shtml)Dinamakan yayasan tersebut dengan nama Syaikh al-Utsaimin karena tujuan utama pembangunan yayasan ini adalah untuk menyebarkan karya-karya ilmiyah dari kitab-kitab syaikh al-Utsaimin, ceramah-ceramah beliau, dan fatwa-fatwa beliau.Adapun di dalam yayasan tersebut mungkin pena ada syaikh dan yang semisalnya maka jika itu benar maka itu merupakan kenang-kenangan yang mungkin disimpan oleh para ahli waris beliau, dan belum tentu diridoi oleh beliau. Dan barang kenangan tersebut bukan untuk dicari keberkahannya sama sekali, tetapi hanya dipajang untuk kenangan. Kalaupun ini merupakan kesalahan maka toh sudah ada yang mengingkari, dan bukanlah perkara yang dibesar-besarkan dan disebarkan agar orang-orang mengunjungi yayasan ini dalam rangka mencari berkah dari benda-benda tersebut.Jadi Habib Husain telah mengesankan bahwa kerajaan Arab Saudi yang membangun museum, padahal yang dibangun adalah yayasan sosial dan yang membangunnya adalah pihak swasta. Kedua : Habib Husain menuduh bahwa Salafy Wahabi dan Habib Tasawwuf membantah syi’ah karena uang bukan karena kebenaran. Habib Husain berkata:((Saya jumpai hadirin sekalian hal yang amat lucu,kalangan habaib dan kyai kyai yang condong kearah tasawuf yang antipati terhadap kelompok salafy wahabi,… bahkan dimata mereka salafy wahabi sesat, kemudian kelompok salafy wahabi juga menganggap habaib dan kyai kyai ini merupakan ahli bid’ah, sesat, musyrik, ini menurut mereka, buku buku mereka menjadi saksi, tapi yang heran mereka bisa bersatu bersama sama, bisa bersatu dalam satu wadah, bersama sama untuk berperang memusuhi syi’ah , ini mengherankan, apa? Uang yang menyatukan mereka, kepentingan yang menyatukan mereka,bukan kebenaran)) Kritikan;          Ini juga merupakan tuduhan yang keji, memvonis bahwasanya para habib dan juga salafy wahabi hanya mencari duit dalam membantah syi’ah. Tolong tunjukan bukti wahai Habib, bukan hanya sekedar menuduh !!. Kedudukan anda sebagai Habib jauh lebih tinggi dari perbuatan menuduh tanpa bukti !!Yang menjadi pertanyaan : Kenapa Habib Husain sewot dan risih jika salafy dan para habib bersatu membantah syi’ah?Apakah Habib Husain tidak suka Syi’ah dibantah dan diungkap kesesatannya? Ada apa gerangan wahai Habib Husain? Ketiga : Habib Husain memvonis Kerajaan Arab Saudi yang mengurus dua kota suci Mekah dan Madinah sebagai orang-orang yang telah menodai kehormatan Mekah, dan melakukan kerusakan di atas muka bumi. Habib Husain berkata:((oleh karena itu kita berharap, mudah mudahan kota suci Mekah dibersihkan disucikan dari orang orang yang menodai kehormatannya,orang orang yang melakukan kerusakan diatas muka bumi ini, kembali ketangan orang orang yang beriman yang bertaqwa)) Kritikan :          Ini adalah tuduhan yang sangat keji terhadap pemerintah Arab Saudi. Dan kita katakan kepada Habib sebuah syair yang disebutkan oleh Habib dalam ceramahnya, Habib Husain berkata  :وعَيْنُ الرِّضَا عَنْ كُلِّ عَيْبٍ كَلِيْلَةٌ، وَلَكِنَّ عَينَ السُّخْطِ تُبْدي الْمَسَاوِيَا“Pandangan mata kecintaan membuat yang buruk menjadi indah, sebaliknya pandangan kebencian akan membuat apa? Akan membuat yang indah menjadi buruk”Habib Husain hanya melihat dengan pandangan buruk sehingga semua kebaikan Arab Saudi terlupakan. Bahkan dengan berani memvonis Arab Saudi sebagai orang-orang yang telah menodai kehormatan Mekah dan telah melakukan kerusakan di atas muka bumi.Tidak seorang salafy pun bahkan tidak seorang yang berakalpun yang menyatakan bahwa Arab Saudi bebas dari kesalahan. Arab Saudi tentu memiliki kesalahan-kesalahan, akan tetapi kebaikan mereka terlalu jauh lebih banyak dari pada kesalahan yang ada. Minimal kebaikan mereka adalah Menjaga kesucian dua kota suci (bukan menodainya sebagaimana tuduhan Habib).Dan sungguh luar biasa harta yang telah dikeluarkan oleh Arab Saudi untuk mengadakan perluasan dua mesjid, yang semua itu adalah untuk kepentingan kaum muslimin di seluruh muka bumi agar lebih nyaman beribadah di Mekah dan Madinah.Adapun tuduhan Habib Husain:((Oleh karena itu yang lucu hadirin sekalian dari sebagian ulama-ulama salafi wahabi ini, kita jumpai bagaimana semua peninggalan rasul, peninggalan para sahabat dan keluarga rasulnya, di mekah di madinah dibersihkan disingkirkan))Saya harap Habib Husain kembali meninjau kembali tuduhan ini. Tentunya pemerintah Arab Saudi tatkala memperluas mesjid maka pasti ada areal rumah para sahabat, areal rumah istri-istri Nabi yang dihancurkan. Kalau seandainya rumah para sahabat dan keluarga Rasulullah di Madinah harus dibiarkan maka bagaimana cara perluasan mesjid Nabawi???Dan situs-situs sejarah masih banyak yang dijaga oleh Arab Saudi, seperti mesjid Quba’, mesjid Qiblatain, Mesjid Jum’at, Mesjid Ijabah, bahkan baru saja dibangun Mesjid Khondak, demikian juga sekarang sedang dibangun mesjid besar di uhud dekat Syuhada’ uhud.Demikian juga di Mekah, tempat kelahiran Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam masih dibangun perpustakaan.Lagi pula Nabi sendiri tatkala ke Mekah beliau tidak ingin singgah ke rumahnya yang dulu apalagi merebut kembali.عَنْ أُسَامَةَ بْنِ زَيْدِ أَنَّهُ قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَتَنْزِلُ فِى دَارِكَ بِمَكَّةَ فَقَالَ « وَهَلْ تَرَكَ لَنَا عَقِيلٌ مِنْ رِبَاعٍ أَوْ دُورٍ ». وَكَانَ عَقِيلٌ وَرِثَ أَبَا طَالِبٍ هُوَ وَطَالِبٌ وَلَمْ يَرِثْهُ جَعْفَرٌ وَلاَ عَلِىٌّ شَيْئًا لأَنَّهُمَا كَانَا مُسْلِمَيْنِ وَكَانَ عَقِيلٌ وَطَالِبٌ كَافِرَيْنِDari Usamah bin Zaid Radhiyallahu ‘anhuma, beliau bertanya, ‘Ya Rasulullah, apakah anda akan singgah di rumahmu di Mekah?’ Beliau bersabda, “Apakah Aqil masih meninggalkan rumah untuk kami.”Aqil yang menjadi ahli waris Abu Thalib bersama si Thalib. Sementara Ja’far dan Ali tidak mendapatkan warisan apapun, karena keduannya muslim. Aqil dan Thalib orang kafir. (HR. Bukhari 1588, Muslim 3360, dan Ibn Majah 2834).Ketika fathu Mekah, tanah negeri itu menjadi kekuasaan kaum muslimin. Kendati demikian, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sama sekali tidak mempedulikan rumah kelahiran atau tanah beliau. Beliau juga tidak mengupayakan pelestarian tempat-tempat bersejarah itu. Beliau tidak merawat rumah kelahiran beliau, atau merawat gua hira, atau gua tsur, sama sekali tidak.Ini menunjukkan bahwa dakwah beliau dan para sahabat, tidak memiliki kepentingan dengan tempat-tempat semacam ini.Karena itu, jika ada yang beranggapan, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat menyerang kota Mekah untuk merebut kembali tanah kelahiran mereka, ini berarti suudzan kepada beliau dan sahabat.(silahkan baca  http://www.konsultasisyariah.com/rumah-nabi-jadi-wc-umum/)Adapun kebaikan-kebaikan Arab Saudi bagi dunia Islam maka sungguh sangat banyak sekali, namun memang jarang terpublikasi. Diantaranya silahkan baca http://www.republika.co.id/berita/koran/opini-koran/15/03/28/nlwxib-wajah-humanis-saudi          Jika mata Habib Husain tidak bisa melihat kebaikan-kebaikan Arab Saudi negeri Salafy, maka tidak ada salahnya jika mata Habib Husain terbuka untuk mampu melihat jasa-jasa Negara Iran negerinya kaum Syi’ah. Diantara jasa-jasa Iran adalah :–         Menyebarkan narkoba di penjuru dunia diantaranya di tanah air Indonesia (silahkan lihat http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/news/2010/06/27/58074/Iran-Pemasok-Narkotika-Terbesar-ke-Indonesia, lihat juga http://www.konsultasisyariah.com/narkoba-iran/)–         Menyebarkan kedustaan tentang Arab Saudi di tanah air agar menanamkan kebencian terhadap umat Islam di Arab Saudi (silahkan lihat https://www.firanda.com/index.php/artikel/bantahan/340-koleksi-dusta-pemerintah-iran)–         Tersebarnya aids karena terlalu sering mut’ah/nikah kontrak gonta ganti pasangan. (Silahkan lihat http://www.merdeka.com/dunia/penderita-aids-di-iran-melonjak-tajam.html) Bersambung… insya Allah…Kota Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, 27-07-1436 H / 16-05-2015 MAbu Abdil Muhsin Firanda Andirjawww.firanda.com

Habib Husain Al-Atas (Pengasuh Radio RASIL), antara Syi’ah, Sunnah, atau Liberal ?!

Berikut ini beberapa kritikan terhadap ceramah Habib Husain Al-Atas –semoga Allah memberi petunjuk kepadanya-, yang disampaikan oleh beliau dalam kajian acara renungan dibawah naungan al quran dari surat Al Arof ayat 181-188 bersama ust Husin Alatas pada hari selasa tanggl 12 mei 2015 jam 08.00  dan disiarkan ulang jam 22.00 (silahkan download di https://goo.gl/k71wCL)Penulis merasa penting untuk menyampaikan kritikan ini mengingat isi ceramah beliau bertentangan dengan pokok akidah umat Islam.PERTAMA :Habib Husain meragukan keotentikan hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dari kitab-kitab hadits yang mashyur. Habib Husain berkata :((Kebenaran yang pasti, yang mutlak yang datang dari sisi Allah. Oleh karena itu tidak ada satu pun jaminan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala bagi buku-buku yang lain, bahwa buku-buku tersebut terjamin kebenarannya. Maka Allah berfirman:وَلَوْ كَانَ مِنْ عِندِ غَيْرِ اللّهِ لَوَجَدُواْ فِيهِ اخْتِلاَفاً“Kalau Al-Qur’an bukan dari Allah, niscaya mereka akan jumpai pertentangan yang amat banyak”Tidak ada nash Al-Quran maupun ucapan Nabi yang menjamin bahwa Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Abu Dawud, Ibnu Majah, Nasai, Ad-Darimi, begitu pula Musnad Ahmad bin Hanbal, Musnad Ibnu Abi Syaibah, musnad eee…al mush…al mush….al…mushannaf….mushannaf Ibn Abi Syaibah, Mushannaf Abdurrazaq, bahwa semua buku-buku ini terjamin kebenarannya??, sama sekali tidak ada!!. Ini dari versi ahlussnnahDari versi syiah, empat buku yang  menjadi rujukan mereka: al-kulaini al-kaafi, man laa yahduruhul faqih li As-Shaduq, kemudian at-tahdzib, yang keempat al-Istibshar yang ditulis oleh Ath-Thuusi, begitu pula buku-buku yang lain, tidak ada jaminan dari Allah maupun RasulNya bahwa buku-buku ini merupakan buku yang berisi kebenaran yang terjamin. Itu hanya klaim-klaim yang datang dari mereka-mereka yang fanatik kepada buku tersebut.Yang fanatik kepada Bukhari-nya, Muslimnya, At-Tirmidzi-nya, Abu Dawud-nya, Ibnu majahnya, begitu pula kepada Ath-thabraninya baik fis shaghir al-awsath maupun al-kabir.Begitu pula di kalangan syiah juga yang berfanatik kepada Al-Kaafi-nya, kepada ath-thuusinya, kepada ash-shaduuqnya, atau kepada al-majlisi, semua ini hadirin sekalian ucapan tanpa dasar kebenaran, tanpa dalil. Oleh karena itu jangan kita membesar-besarkan yang lain di hadapan kitab Allah.Karena buku-buku ini setelah 200 tahun baru dikenal, setelah wafatnya Nabi kita Muhammad shallallau ‘alaihi wa sallam tangan-tangan kotor, hati-hati yang munafik, yang berencana busuk terhadap Islam tidak mungkin dapat kita hindari.Kalau seandainya sebagian ulama mengatakan fulan tsiqah seorang yang jujur, fulan merupakan seorang yang cermat dan telilti, fulan merupakan seorang yang betul-betul menjaga kebersihan hidup ini, itu kan menurut penilaian manusia, bisa benar bisa salah, dan biasanya:وعَيْنُ الرِّضَا عَنْ كُلِّ عَيْبٍ كَلِيْلَةٍ، وَلَكِنَّ عَينَ السُّخْطِ تُبْدي الْمَسَاوِيَا“Pandangan mata kecintaan membuat yang buruk menjadi indah, sebaliknya pandangan kebencian akan membuat apa? Akan membuat yang indah menjadi buruk”)) Kritikan :Sangat jelas bahwa Habib Husain meragukan keotentikan hadits-hadits Nabi yang termaktub dalam kitab-kitab hadits baik dari kalangan ahlus sunnah maupun dari kalangan syi’ah. Adapun alasan yang disampaikan oleh beliau adalah :–         Karena hadits-hadits tersebut dikodifikasikan setelah 200 tahun wafatnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam–         Kitab-kitab hadits tersebut tidak luput dari ((tangan-tangan kotor, hati-hati yang munafik, yang berencana busuk terhadap Islam tidak mungkin dapat kita hindari))–         Karena keshahihan/keotentikan hadits dibangun diatas penilaian manusia yang menyatakan “si fulan tsiqoh/cermat dan terpercaya”, dan penilaian manusia bisa saja salah, sebagaiamana perkataan Habib : ((Kalau seandainya sebagian ulama mengatakan fulan tsiqah seorang yang jujur, fulan merupakan seorang yang cermat dan telilti, fulan merupakan seorang yang betul-betul menjaga kebersihan hidup ini, itu kan menurut penilaian manusia, bisa benar bisa salah)) Pernyataan Habib ini sangatlah berbahaya karena melazimkan perkara-perkara yang batil, diantaranya : Pertama : Hadits-hadits yang ada sekarang yang termaktub dalam kitab-kitab hadits –baik versi ahlus sunnah maupun versi syi’ah- tidak bisa dijadikan pedoman ataupun rujukan, karena tidak ada jaminan kebenarannya. Konsekwensi perkataannya bahwa dalil yang diterima terbatas hanya al-Qur’an.Dan inilah pemahaman sekte sesat yang dikenal oleh para ulama dengan Al-Qur’aniyun, yaitu mereka-mereka yang menolak Hadits nabi dan hanya mau berdalil dengan al-Qur’an, dikarenakan hadits-hadits yang dikodifikasikan sekarang diragukan keotentikannya dan diragukan kebenarannya.Dan munculnya sekte sesat ini telah disinyalir oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sabda beliau :أَلاَ إِنِّي أُوْتِيْتُ الْكِتَابَ وَمِثْلَهُ مَعَهُ أَلاَ يُوْشِكُ رَجُلٌ شَبْعَانُ عَلَى أَرِيْكَتِهِ يَقُوْلُ : عَلَيْكُمْ بِهَذَا الْقُرْآنِ فَمَا وَجَدْتُمْ فِيْهِ مِنْ حَلاَلٍ فَأَحِلُّوْهُ وَمَا وَجَدْتُمْ فِيْهِ مِنْ حَرَامٍ فَحَرِّمُوْهُKetahuilah sesungguhnya diturunkan kepadaku Al-Quran dan yang semisalnya bersamanya (yaitu hadits)”, ketahuilah akan datang seseorang yang kenyang duduk diatas pembaringannya berkata: “Berpegang teguhlah kepada Al- Quran ini saja, semua yang kalian dapati padanya kehalalan maka halalkan dan yang kalian dapati padanya satu keharoman maka haramkanlah. [HR Ahmad 4/131 dan Abu Daud 5/11] Kedua : Usaha para ulama dalam menilai kredibilitas para perawi hadits tidak ada nilainya. Pernyataan para ulama al-Jarw wa at-Ta’dil : “Si fulan tsiqoh (terpercaya dan cermat)” sehingga diambil periwayatan haditsnya atau “Si fulan Kadzdzab (pendusta)” sehingga ditolak periwayatan haditsnya, semuanya tidak bernilai di sisi Habib Husain, dengan dalih bahwasanya ini semua hanyalah penilaian manusia.Padahal tidak ada jalan lain di kalangan para ulama ahlus sunnah (baik Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’i maupun Imam Ahmad) untuk mengetahui suatu hadits bisa diterima atau ditolak kecuali dengan penilaian terhadap para perawinya. Nah kalau penilaian para ulama terhadap para perawi tidak dianggap oleh Habib Husain maka dengan cara apakah kita bisa mengetahui suatu hadits shahih atau lemah??Ataukah Habib Husain memiliki metode tersendiri dalam menilai keshahihan suatu hadits tanpat ilmu al-Jarh wa at-Ta’dil (penilaian para ulama terhadap kredibilitas para perawi)?Kesimpulan yang diambil Habib Husain bahwa hadits-hadits yang ada sekarang sudah tidak bisa terjamin kebenarannya, apalagi beliau menegaskan dengan pernyataan beliau kitab-kitab hadits yang ada tidak luput dari ((tangan-tangan kotor, hati-hati yang munafik, yang berencana busuk terhadap Islam tidak mungkin dapat kita hindari)) Ketiga : Beliau mencela kefanatikan Ahlus Sunnah terhadap kitab-kitab hadits yang ada Shahih Al-Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abu Dawud, dll. Ahlussunnah memang harus fanatik kepada kitab-kitab tersebut, karena pada kitab-kitab tersebutlah terdapat sabda-sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan Allah berfirman :وَمَآءَاتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَانَهَاكُمْ عَنْهُ فَانتَهُواApa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah. [Al-Hasyr/59:7)Lantas jika semua kitab hadits tidak terpercaya maka bagaimana kita melaksanakan perintah Allah ini. Bagaimana kita bisa mengenal dan mengetahui apa yang telah dibawa oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.Demikian juga bagaimana kita bisa mengamalkan perintah Allah :لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًاSesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah. (          QS Al-Ahzaab : 21)Adapun jika maksud Habib bahwasanya Ahlus Sunnah fanatik kepada kitab-kitab tersebut melazimkan bahwa semua isi kitab tersebut benar, maka ini adalah tuduhan yang dusta dan diada-adakan. Tidak ada seorangpun ahlus sunnah yang berakal sehat yang menyatakan bahwa semua isi buku tersebut adalah hadits yang shahih !!!. Karena para penulis kitab-kitab hadits yang disebutkan oleh Habib Husainpun tidak pernah menyatakan bahwa semua hadits yang mereka tulis dalam kitabnya adalah shahih, kecuali Al-Imam Al-Bukhari dan Al-Imam Muslim yang mempersyaratkan hanya menulis hadits-hadits yang shahih. Itupun ada sebagian ulama yang mengkritik segelintir kecil dari hadits-hadits mereka. Keempat : Hadits-hadits Nabi bukanlah wahyu dari Allah. Perkataan Habib ((Kebenaran yang pasti, yang mutlak yang datang dari sisi Allah. Oleh karena itu tidak ada satu pun jaminan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala bagi buku-buku yang lain, bahwa buku-buku tersebut terjamin kebenarannya. Maka Allah berfirman:وَلَوْ كَانَ مِنْ عِندِ غَيْرِ اللّهِ لَوَجَدُواْ فِيهِ اخْتِلاَفاً“Kalau Al-Qur’an bukan dari Allah, niscaya mereka akan jumpai pertentangan yang amat banyak”Tidak ada nash Al-Quran maupun ucapan Nabi yang menjamin bahwa Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Abu Dawud, Ibnu Majah, Nasai, Ad-Darimi, begitu pula Musnad Ahmad bin Hanbal, Musnad Ibnu Abi Syaibah, musnad eee…al mush…al mush….al…mushannaf….mushannaf Ibn Abi Syaibah, Mushannaf Abdurrazaq, bahwa semua buku-buku ini terjamin kebenarannya, sama sekali tidak ada)) Bantahan:Ini adalah kedustaan, bukankah Allah telah berfirman :وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى (٣)إِنْ هُوَ إِلا وَحْيٌ يُوحَى (٤)Dan Tiadalah yang diucapkan oleh Muhammad itu menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya). (QS An-Najm : 3-4)Dari Abdullah bin ‘Amr beliau berkata :كُنْتُ أَكْتُبُ كُلَّ شَيْءٍ أَسْمَعُهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُرِيدُ حِفْظَهُ، فَنَهَتْنِي قُرَيْشٌ، فَقَالُوا: إِنَّكَ تَكْتُبُ كُلَّ شَيْءٍ تَسْمَعُهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَشَرٌ يَتَكَلَّمُ فِي الْغَضَبِ وَالرِّضَا، فَأَمْسَكْتُ عَنِ الْكِتَابِ، فَذَكَرْتُ ذَلِكَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؟ فَقَالَ: «اكْتُبْ فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ مَا خَرَجَ مِنِّي إِلَّا حَقٌّ»“Aku menulis segala sesuatu yang aku dengar dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, aku ingin menghafalkannya. Maka kaum Quraisy melarangku, mereka berkata : “Sesungguhnya engkau menulis segala sesuatu yang kau dengar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah manusia, ia berkata dalam kondisi marah dan dalam kondisi senang”. Maka akupun berhenti menulis, lalu aku menceritakan hal ini kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka beliau berkata : “Tulislah, demi Dzat yang jiwaku berada di tanganNya, tidak ada yang keluar dariku kecuali kebenaran“ (HR Ahmad no 6510)Dan telah lalu sabda Nabiأَلاَ إِنِّي أُوْتِيْتُ الْكِتَابَ وَمِثْلَهُ مَعَهُ“Ketahuilah sesungguhnya diturunkan kepadaku Al-Quran dan yang semisalnya bersamanya (yaitu hadits)”Lantas apa fungsinya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dikatakan sebagai ma’shuum?, beliau tidak lain disifati demikian karena hadits-hadits beliau adalah kebenaran, wahyu dari Allah.Tentu jelas Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah menyatakan bahwa Shahih Al-Bukhari itu terjamin kebenarannya, akan tetapi Nabi telah menyatakan bahwa apa yang diucapkannya pasti benar. Nah apa yang telah diucapkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah termaktub dalam kitab-kitab hadits.Ini semua menunjukkan bahwa pendalilan Habib dengan ayat di atas untuk menolak kitab-kitab hadits adalah pendalilan yang tidak tepat, karena hadits-hadits juga berasal dari Allah. KEDUA :Pernyataan Habib Husain:((Maka dari sini para ikhwan akhwat yang dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala. kitab yang pasti kebenarannya hanya kitab Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan saya bersumpah atas nama Allah, inni usyhidullah wa usyhidukum jami’an anna hadza huwa al-kitab al-wahid aladzi yahtawi ‘alal haq. Saya persaksikan Allah, persaksikan kalian semua bahwa hanya ini kitab satu-satunya yang mencakup kebenaran yang tidak meragukan.ذَلِكَ الْكِتَابُ لاَ رَيْبَ فِيهِ هُدًىYang terang benderang, tidak terdapat kegelapan di dalamnya sedikit pun dan ia lah asy-syifa’u war rahmah, dialah al-huda maka selain dari kitab suci al-quran, yang mengaku sebagai ahlussunah yang mengaku syiah dari keluarga rasul, lastum ‘alasy syai, kalian tidak berarti apa-apa hingga kalian kembali kepada kitab Allah. Khurafat-khurafat, kebohongan-kebohongan, kepalsuan yang menyebar dalam buku-buku kalian bersih.)) Bantahan :          Pernyataan Habib Husain ini hanyalah untuk menekankan akan aqidah beliau bahwasanya kitab-kitab hadits yang ada tidak bisa dipercaya karena berisi khurofat dan kebohongan serta kepalsuan.Nah yang ingin kita tanyakan kepada Habib Husain, kalau beliau hendak sholat, hendak haji, hendak membayar zakat, maka bagaimanakah caranya jika hanya bersandar kepada Al-Qur’an?Karena tata cara sholat, kapan waktu-waktunya, berapa raka’atnya, tidak dijelaskan secara rinci dalam Al-Qur’an, dan hanya dijelaskan dalam hadits-hadits Nabi.Nah bagaimana cara Habib Husain sholat kalau tidak berpedoman kepada hadits-hadits Nabi?, karena seluruh kitab hadits yang ada tidak terjamin kebenarannya. Lantas apakah Habib Husain punya kitab hadits sendiri? Sanadnya shahih tanpa ada keraguan bersambung hingga Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam?Demikian juga permasalahannya yang berkaitan dengan haji dan zakat, tidak ada perinciannya di Al-Qur’an, perinciannya terdapat dalam hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. KETIGA :Apa Kriteria Hadits Shahih menurut Habib?Kenyataannya Habib Husain juga sering berdalil dengan hadits –meskipun ia meyakini bahwa semua kitab hadits yang ada tidak terjamin kebenarannya-. Bahkan dalam ceramah beliau ini, ternyata beliau juga menyebutkan sebuah hadits, Habib Husain berkata:((Oleh karena itu Nabi yg dikenal sebagai seorang yg berjiwa penuh dgn  rahmat, airmata berlinang linang ketika menyaksikan seorang yahudi yang mati yang digiring jenazahnya menuju pekuburannya, Nabi bercucuran aitmata mengatakan : “Satu orang lagi telah lolos masuk kedalam api neraka dan saya tdk berdaya untuk menyelamatkan dirinya”))Hadits yang disebutkan oleh Habib ini ngomong-ngomong dari kitab hadits yang mana? Apakah dari kitab-kitab hadits versi Ahlus Sunnah yang dinilai cacat oleh Habib, ataukah dari kitab-kitab hadits versi Syi’ah?. Lantas bagaimana kedudukan para perawi hadits ini?, bagaimana penilaian para ulama tentang para perawi tersebut.Ataukah sangat jelas bahwa ini adalah hadits palsu?, jika hadits ini hadits palsu kok bisa diniali shahih menurut Habib Husain sehingga dijadikan dalil?. Apa sih ilmu Habib Husain untuk mengetahui keshahihan suatu hadits?Maka sungguh aneh jika Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim ditolak oleh Habib, akan tetapi hadits palsu dijadikan dalil ??? KEEMPAT :Tafsir Al-Qur’an versi Habib HusainHabib Husain sepertinya berniat baik, ingin agar pertikaian diantara ahlus sunnah dan syi’ah selesai. Meskipun solusi yang beliau tawarkan adalah solusi aneh dan mustahil. Yaitu meninggalkan kitab-kitab hadits versi ahlus sunnah dan versi syi’ah, lalu kembali kepada Al-Qur’an saja yang jelas kebenarannya.Maka taruhlah kita setuju dengan solusi yang ditawarkan oleh Habib Husain, maka yang jadi pertanyaan : Jika kita kembali kepada Al-Qur’an lantas versi pemahaman dan tafsir al-Qur’an tersebut ikut versi yang mana?, apakah ikut versi ahlus sunnah?, ataukah versi Syi’ah?, ataukah Habib Husain akan membuat versi tafsir sendiri.Berikut ini contoh tafsir Habib Husain terhadap sebuah ayat dalam Al-Qur’an yang beliau sampaikan dalam ceramah di atas.((inilah nabi kita Muhammad shallallahu alaihi wasallam, dia tidak mengatakan kamu celaka, neraka, sesat, kafir…tapi datang kepada mereka, mengajak kembali kepada Allah, membacakan ayat ayat Allah ta’ala, bila ditolak dicaci dimaki dia bersabar dan besok akan mendatanginya lagi untuk kembali kpd Allah,.bukan tugas nabi untuk menghakimi mereka,..bukan tugas mereka pula untuk menghakimi nabi,مَا عَلَيْكَ مِنْ حِسَابِهِمْ مِنْ شَيْءٍ وَمَا مِنْ حِسَابِكَ عَلَيْهِمْ مِنْ شَيْءٍbukan tugas kamu untuk apa? Untuk menghisab mereka…وَمَا مِنْ حِسَابِكَ عَلَيْهِمْ مِنْ شَيْءٍbegitu pula bukan tugas mereka untuk menghisab kamu… (QS Al-An’aam : 52)saya seorang yang tidak lepas dari kesalahan,ketergelinciran,..yang tidak luput dari dosa,.dari hal hal yg busuk yang Allah tutupi,..tugas saya bukan mengadili manusia,..tugas saya hanya seorang  menyampaikan pesan pesan yang datang dr Allah,..dgn menyampaikan pesan ini))Lihatlah dalam pernyataan di atas, Habib Husain menafsirkan ayat diatas (QS Al-An’aam : 52) dengan larangan untuk menghukum orang lain. Sehingga beliau menyatakan bahwa Nabi tidak pernah memvonis celaka, neraka, sesat, dan kafir. Bukan tugas Nabi untuk menghukum dan memvonis mereka.)) Komentar:Ini sebenarnya tafsiran yang sangat aneh dan bertentangan dengan ayat-ayat yang lain dan juga hadits hadits yang shahih. Untuk lebih jelasnya berikut saya sampaikan terjemah ayat tersebut selengkapnya versi Depag :وَلا تَطْرُدِ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ مَا عَلَيْكَ مِنْ حِسَابِهِمْ مِنْ شَيْءٍ وَمَا مِنْ حِسَابِكَ عَلَيْهِمْ مِنْ شَيْءٍ فَتَطْرُدَهُمْ فَتَكُونَ مِنَ الظَّالِمِينَ (٥٢)Dan janganlah kamu mengusir orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan petang hari, sedang mereka menghendaki keridhaanNya. kamu tidak memikul tanggung jawab sedikitpun terhadap perbuatan mereka dan merekapun tidak memikul tanggung jawab sedikitpun terhadap perbuatanmu, yang menyebabkan kamu (berhak) mengusir mereka, (sehingga kamu Termasuk orang-orang yang zalim) (QS Al-An’aam : 52)“Ketika Rasulullah s.a.w. sedang duduk-duduk bersama orang mukmin yang dianggap rendah dan miskin oleh kaum Quraisy, datanglah beberapa pemuka Quraisy hendak bicara dengan Rasulullah, tetapi mereka enggan duduk bersama mukmin itu, dan mereka mengusulkan supaya orang-orang mukmin itu diusir saja, lalu turunlah ayat ini” (Lihat catatan kaki ayat ini pada terjemahan versi Depag)Karenanya sangat jelas bahwa yang dinafikan oleh Allah bukanlah menghukum atau memvonis akan tetapi yang dinafikan oleh Allah adalah hisab, yaitu penilaian mereka di akhirat, yaitu bahwasanya pertanggungjawaban hisab mereka adalah di tangan Allah.Ayat ini sama seperti firman Allah :قَالُوا أَنُؤْمِنُ لَكَ وَاتَّبَعَكَ الأرْذَلُونَ (١١١)قَالَ وَمَا عِلْمِي بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (١١٢)إِنْ حِسَابُهُمْ إِلا عَلَى رَبِّي لَوْ تَشْعُرُونَ (١١٣)وَمَا أَنَا بِطَارِدِ الْمُؤْمِنِينَ (١١٤)Mereka berkata: “Apakah Kami akan beriman kepadamu, Padahal yang mengikuti kamu ialah orang-orang yang hina?”. Nuh menjawab: “Bagaimana aku mengetahui apa yang telah mereka kerjakan? Perhitungan (amal perbuatan) mereka tidak lain hanyalah kepada Tuhanku, kalau kamu menyadari. Dan aku sekali-kali tidak akan mengusir orang-orang yang beriman. (QS Asy-Syu’aroo’ : 111-114)Adapun menafsirkan lafal “hisab” dengan “larangan memvonis/menghukum” maka jelas ini adalah penafsiran batil yang disebutkan oleh orang-orang yang berpemikiran Liberal, yang menyatakan bahwa semua agama adalah sama, tidak boleh umat Islam memvonis umat yang lain dengan kufur atau neraka.Padahal dalam al-Qur’an banyak sekali ayat yang memvonis kaum Nasrani dan Yahudi sebagai kuffaar dan di neraka jahannam.Seperti firman Allah :لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ وَقَالَ الْمَسِيحُ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ (٧٢)Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah ialah Al masih putera Maryam”, Padahal Al masih (sendiri) berkata: “Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu”. Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, Maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun. (QS Al-Maidah : 72)لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ ثَالِثُ ثَلاثَةٍ وَمَا مِنْ إِلَهٍ إِلا إِلَهٌ وَاحِدٌ وَإِنْ لَمْ يَنْتَهُوا عَمَّا يَقُولُونَ لَيَمَسَّنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ (٧٣)Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: “Bahwasanya Allah salah seorang dari yang tiga”, Padahal sekali-kali tidak ada Tuhan selain dari Tuhan yang Esa. jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir diantara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih. (QS AL-Maidah : 74)إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا أُولَئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ (٦)Sesungguhnya orang-orang yang kafir Yakni ahli kitab dan orang-orang yang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk. (QS Al-Bayyinah : 6)Lihatlah dalam ayat-ayat di atas Allah memvonis kaum musyrikin dan kaum ahlul kitab (Yahudi dan Nashoro) sebagai kaum kuffar dan tempat mereka di neraka jahannam.Dan bukankah setiap kali Habib Husain sholat selalu membaca firman Allahصِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّينَ (٧)(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. (QS Al-Fatihah : 7)Para mufassirin telah sepakat bahwa yang dimaksud dengan orang-orang yang dimurkai oleh Allah adalah kaum Yahudi, dan orang-orang yang sesat adalah kaum Nashoro. Perhatikanlah pada ayat ini Allah memvonis sesat dan dimurkai Allah.Apalagi kalau meilhat hadits-hadits Nabi tentang hal memvonis maka sungguh sangat banyak sekali. Baik pada hadits-hadits yang shahih maupun hadits-hadits yang palsu. Yang menakjubkan adalah Habib Husain melarang memvonis akan tetapi justru beliau menyebut hadits palsu tentang Nabi memvonis seorang Yahudi yang meninggal masuk neraka. Sebagaimana perkataan Habib :((Oleh karena itu nabi yg dikenal sebagai seorang yang berjiwa penuh dengan  rahmat, airmata berlinang linang ketika menyaksikan seorang yahudi yang mati yang digiring jenazahnya menuju pekuburannya, Nabi bercucuran aitmata mengatakan : “Satu orang lagi telah lolos masuk kedalam api neraka dan saya tdk berdaya untuk menyelamatkan dirinya“)) Komentar:Saya kawatir Habib Husain telah terkontaminasi dengan pemikiran-pemikiran Kaum JIL.          Nah jika Habib Husain dalam menerjemahkan dan menafsirkan ayat di atas telah keliru, terus bagaimana beliau mau mengajak umat ini untuk meninggalkan kitab-kitab hadits dan hanya bersandar kepada Al-Qur’an?. Maka pertanyaan yang sangat mendasar adalah Al-Qur’an terjemahan dan tafsir versi siapakah yang anda pilih wahai Habib Husain? Apakah versi anda yang keliru begini? Atau versi pafa mufassir ahlus sunnah ataukah versi para mufassir syi’ah, ataukah versi para mufassir JIL?? KELIMA :Habib Husain justru memvonis bahkan menuduh !! Habib Husain menyampaikan kata-kata indah bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam anti memvonis orang lain, baik vonis neraka, atau celaka, atau sesat, atau kafir. Dan Habib Husain mengaku mengikuti metode Nabi, dimana beliau anti memvonis. Habib Husain berkata:((saya seorang yang tidak lepas dari kesalahan, ketergelinciran,..yang tidak luput dari dosa,. dari hal hal yg busuk yang Allah tutupi,..tugas saya bukan mengadili manusia,..tugas saya hanya seorang  menyampaikan pesan pesan yang datang dr Allah,..dgn menyampaikan pesan ini)) Komentar.Ini pernyataan Habib Husain, akan tetapi kenyataannya beliau memvonis Salafy dengan vonis-vonis dan tuduhan yang sangat mengerikan. Berikut diantara vonis-vonis dan tuduhan beliau dalam ceramah diatas: Pertama : Salafy Wahabi lebih mengagungkan Syaikh Muhammad bin Sholeh Al-‘Utsaimin daripada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Habib Husain berkata:((Oleh karena itu yang lucu hadirin sekalian dari sebagian ulama-ulama salafi wahabi ini, kita jumpai bagaimana semua peninggalan rasul, peninggalan para sahabat dan keluarga rasulnya, di mekah di madinah dibersihkan disingkirkan dengan alasan dikhawatirkan akan menjerumuskan orang ke dalam syirik. Tapi yang mengherankan, mereka mendirikan museum bagi tokoh mereka yaitu Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin di Riyadh. Mendirikan museum yang besar, dalam museum tersebut disebutkan ini merupakan kacamata yang dipergunakan oleh Asy-Syaikh Muhammad Shalih Al-Utsaimin, ini merupakan pena terakhir yang digunakan oleh beliau, ini merupakan peninggalannya, ini merupakan peninggalannya dibuat museum diletakan di tempat yang betul-betul indah. Kita gak menentang hal ini, gak mengatakan bahwa hal ini merupakan perbuatan bidah. Yang mengherankan, kenapa terhadap rasul, terhadap keluarga para sahabatnya, mereka habisi semua situs sejarah dan peninggalan mereka. Siapa yang ingin lebih jelas lagi coba buka museum muhammad shalih al-utsaimin atau muthaf Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin.Bentuk yang indah yang menampung sekian banyak peninggalan Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin yang meninggal belum lama ini, beliau merupakan rekan dari Syaikh Abdul Aziz bin Baz. Para pengikutnya menjunjungnya mengangungkannya bahkan lebih daripada rasul. Kalau rasul, mereka sebutkan sekian banyak kekurangannya, cacatnya, bahkan mereka menisbatkan hal yang tidak pantas kepada rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam)) Kritikan :          Pernyataan terakhir Habib Husain yang saya garis bawahi melazimkan para salafy wahabi adalah orang-orang kafir dan munafik. Bagaimana tidak kafir, ternyata mereka lebih mengagungkan Syaikh Al-‘Utsaimin daripada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan sungguh ini adalah adalah tuduhan keji dan dusta. Apalagi menuduh salafy wahabi suka menyebutkan banyak kekurangan nabi, menyebutkan cacat nabi, dan menisbahkan yang tidak pantas kepada Nabi. Sungguh ini merupakan kekafiran yang nyata. Penyataan dan tuduhan Habib Husain ini melazimkan kekafiran salafy wahabi. Akan tetapi tuduhan ini harus ada buktinya !!! Saya mohon Habib Husain mau mendatangkan buktinya bukan hanya menyampaikan kedustaan !!.Diantara kedustaan Habib Husain, bahwasanya beliau menyatakan bahwa di kota Riyadh Ibu kota Arab Saudi dibangun Muthaf (Museum) Syaikh Al-Utsaimin rahimahullah. Ini jelas kedustaan. Karena tidak ada museum Syaikh Al-Utsaimin, apalagi dibangun di kota Riyadh ibu kota Arab Saudi. Yang benar adalah telah dibangun Yayasan Sosial Syaikh Al-Utsaimin, dan dibangun di kota kediaman beliau yaitu di Unaizah. Dan Yayasan sosial ini bukanlah museum sebagaimana tuduhan Habib, karenanya Yayasan ini bergerak dalam bidang-bidang kebaikan seperti–         Membangun mesjid–         Membantu faqir miskin, anak yatim, dan para janda–         Membantu yayasan-yayasan tahfidz al-Qur’an–         Memperhatikan para penuntut ilmu–         dll (silahkan lihat di http://www.ibnothaimeen.com/all/Charity.shtml)Dinamakan yayasan tersebut dengan nama Syaikh al-Utsaimin karena tujuan utama pembangunan yayasan ini adalah untuk menyebarkan karya-karya ilmiyah dari kitab-kitab syaikh al-Utsaimin, ceramah-ceramah beliau, dan fatwa-fatwa beliau.Adapun di dalam yayasan tersebut mungkin pena ada syaikh dan yang semisalnya maka jika itu benar maka itu merupakan kenang-kenangan yang mungkin disimpan oleh para ahli waris beliau, dan belum tentu diridoi oleh beliau. Dan barang kenangan tersebut bukan untuk dicari keberkahannya sama sekali, tetapi hanya dipajang untuk kenangan. Kalaupun ini merupakan kesalahan maka toh sudah ada yang mengingkari, dan bukanlah perkara yang dibesar-besarkan dan disebarkan agar orang-orang mengunjungi yayasan ini dalam rangka mencari berkah dari benda-benda tersebut.Jadi Habib Husain telah mengesankan bahwa kerajaan Arab Saudi yang membangun museum, padahal yang dibangun adalah yayasan sosial dan yang membangunnya adalah pihak swasta. Kedua : Habib Husain menuduh bahwa Salafy Wahabi dan Habib Tasawwuf membantah syi’ah karena uang bukan karena kebenaran. Habib Husain berkata:((Saya jumpai hadirin sekalian hal yang amat lucu,kalangan habaib dan kyai kyai yang condong kearah tasawuf yang antipati terhadap kelompok salafy wahabi,… bahkan dimata mereka salafy wahabi sesat, kemudian kelompok salafy wahabi juga menganggap habaib dan kyai kyai ini merupakan ahli bid’ah, sesat, musyrik, ini menurut mereka, buku buku mereka menjadi saksi, tapi yang heran mereka bisa bersatu bersama sama, bisa bersatu dalam satu wadah, bersama sama untuk berperang memusuhi syi’ah , ini mengherankan, apa? Uang yang menyatukan mereka, kepentingan yang menyatukan mereka,bukan kebenaran)) Kritikan;          Ini juga merupakan tuduhan yang keji, memvonis bahwasanya para habib dan juga salafy wahabi hanya mencari duit dalam membantah syi’ah. Tolong tunjukan bukti wahai Habib, bukan hanya sekedar menuduh !!. Kedudukan anda sebagai Habib jauh lebih tinggi dari perbuatan menuduh tanpa bukti !!Yang menjadi pertanyaan : Kenapa Habib Husain sewot dan risih jika salafy dan para habib bersatu membantah syi’ah?Apakah Habib Husain tidak suka Syi’ah dibantah dan diungkap kesesatannya? Ada apa gerangan wahai Habib Husain? Ketiga : Habib Husain memvonis Kerajaan Arab Saudi yang mengurus dua kota suci Mekah dan Madinah sebagai orang-orang yang telah menodai kehormatan Mekah, dan melakukan kerusakan di atas muka bumi. Habib Husain berkata:((oleh karena itu kita berharap, mudah mudahan kota suci Mekah dibersihkan disucikan dari orang orang yang menodai kehormatannya,orang orang yang melakukan kerusakan diatas muka bumi ini, kembali ketangan orang orang yang beriman yang bertaqwa)) Kritikan :          Ini adalah tuduhan yang sangat keji terhadap pemerintah Arab Saudi. Dan kita katakan kepada Habib sebuah syair yang disebutkan oleh Habib dalam ceramahnya, Habib Husain berkata  :وعَيْنُ الرِّضَا عَنْ كُلِّ عَيْبٍ كَلِيْلَةٌ، وَلَكِنَّ عَينَ السُّخْطِ تُبْدي الْمَسَاوِيَا“Pandangan mata kecintaan membuat yang buruk menjadi indah, sebaliknya pandangan kebencian akan membuat apa? Akan membuat yang indah menjadi buruk”Habib Husain hanya melihat dengan pandangan buruk sehingga semua kebaikan Arab Saudi terlupakan. Bahkan dengan berani memvonis Arab Saudi sebagai orang-orang yang telah menodai kehormatan Mekah dan telah melakukan kerusakan di atas muka bumi.Tidak seorang salafy pun bahkan tidak seorang yang berakalpun yang menyatakan bahwa Arab Saudi bebas dari kesalahan. Arab Saudi tentu memiliki kesalahan-kesalahan, akan tetapi kebaikan mereka terlalu jauh lebih banyak dari pada kesalahan yang ada. Minimal kebaikan mereka adalah Menjaga kesucian dua kota suci (bukan menodainya sebagaimana tuduhan Habib).Dan sungguh luar biasa harta yang telah dikeluarkan oleh Arab Saudi untuk mengadakan perluasan dua mesjid, yang semua itu adalah untuk kepentingan kaum muslimin di seluruh muka bumi agar lebih nyaman beribadah di Mekah dan Madinah.Adapun tuduhan Habib Husain:((Oleh karena itu yang lucu hadirin sekalian dari sebagian ulama-ulama salafi wahabi ini, kita jumpai bagaimana semua peninggalan rasul, peninggalan para sahabat dan keluarga rasulnya, di mekah di madinah dibersihkan disingkirkan))Saya harap Habib Husain kembali meninjau kembali tuduhan ini. Tentunya pemerintah Arab Saudi tatkala memperluas mesjid maka pasti ada areal rumah para sahabat, areal rumah istri-istri Nabi yang dihancurkan. Kalau seandainya rumah para sahabat dan keluarga Rasulullah di Madinah harus dibiarkan maka bagaimana cara perluasan mesjid Nabawi???Dan situs-situs sejarah masih banyak yang dijaga oleh Arab Saudi, seperti mesjid Quba’, mesjid Qiblatain, Mesjid Jum’at, Mesjid Ijabah, bahkan baru saja dibangun Mesjid Khondak, demikian juga sekarang sedang dibangun mesjid besar di uhud dekat Syuhada’ uhud.Demikian juga di Mekah, tempat kelahiran Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam masih dibangun perpustakaan.Lagi pula Nabi sendiri tatkala ke Mekah beliau tidak ingin singgah ke rumahnya yang dulu apalagi merebut kembali.عَنْ أُسَامَةَ بْنِ زَيْدِ أَنَّهُ قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَتَنْزِلُ فِى دَارِكَ بِمَكَّةَ فَقَالَ « وَهَلْ تَرَكَ لَنَا عَقِيلٌ مِنْ رِبَاعٍ أَوْ دُورٍ ». وَكَانَ عَقِيلٌ وَرِثَ أَبَا طَالِبٍ هُوَ وَطَالِبٌ وَلَمْ يَرِثْهُ جَعْفَرٌ وَلاَ عَلِىٌّ شَيْئًا لأَنَّهُمَا كَانَا مُسْلِمَيْنِ وَكَانَ عَقِيلٌ وَطَالِبٌ كَافِرَيْنِDari Usamah bin Zaid Radhiyallahu ‘anhuma, beliau bertanya, ‘Ya Rasulullah, apakah anda akan singgah di rumahmu di Mekah?’ Beliau bersabda, “Apakah Aqil masih meninggalkan rumah untuk kami.”Aqil yang menjadi ahli waris Abu Thalib bersama si Thalib. Sementara Ja’far dan Ali tidak mendapatkan warisan apapun, karena keduannya muslim. Aqil dan Thalib orang kafir. (HR. Bukhari 1588, Muslim 3360, dan Ibn Majah 2834).Ketika fathu Mekah, tanah negeri itu menjadi kekuasaan kaum muslimin. Kendati demikian, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sama sekali tidak mempedulikan rumah kelahiran atau tanah beliau. Beliau juga tidak mengupayakan pelestarian tempat-tempat bersejarah itu. Beliau tidak merawat rumah kelahiran beliau, atau merawat gua hira, atau gua tsur, sama sekali tidak.Ini menunjukkan bahwa dakwah beliau dan para sahabat, tidak memiliki kepentingan dengan tempat-tempat semacam ini.Karena itu, jika ada yang beranggapan, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat menyerang kota Mekah untuk merebut kembali tanah kelahiran mereka, ini berarti suudzan kepada beliau dan sahabat.(silahkan baca  http://www.konsultasisyariah.com/rumah-nabi-jadi-wc-umum/)Adapun kebaikan-kebaikan Arab Saudi bagi dunia Islam maka sungguh sangat banyak sekali, namun memang jarang terpublikasi. Diantaranya silahkan baca http://www.republika.co.id/berita/koran/opini-koran/15/03/28/nlwxib-wajah-humanis-saudi          Jika mata Habib Husain tidak bisa melihat kebaikan-kebaikan Arab Saudi negeri Salafy, maka tidak ada salahnya jika mata Habib Husain terbuka untuk mampu melihat jasa-jasa Negara Iran negerinya kaum Syi’ah. Diantara jasa-jasa Iran adalah :–         Menyebarkan narkoba di penjuru dunia diantaranya di tanah air Indonesia (silahkan lihat http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/news/2010/06/27/58074/Iran-Pemasok-Narkotika-Terbesar-ke-Indonesia, lihat juga http://www.konsultasisyariah.com/narkoba-iran/)–         Menyebarkan kedustaan tentang Arab Saudi di tanah air agar menanamkan kebencian terhadap umat Islam di Arab Saudi (silahkan lihat https://www.firanda.com/index.php/artikel/bantahan/340-koleksi-dusta-pemerintah-iran)–         Tersebarnya aids karena terlalu sering mut’ah/nikah kontrak gonta ganti pasangan. (Silahkan lihat http://www.merdeka.com/dunia/penderita-aids-di-iran-melonjak-tajam.html) Bersambung… insya Allah…Kota Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, 27-07-1436 H / 16-05-2015 MAbu Abdil Muhsin Firanda Andirjawww.firanda.com
Berikut ini beberapa kritikan terhadap ceramah Habib Husain Al-Atas –semoga Allah memberi petunjuk kepadanya-, yang disampaikan oleh beliau dalam kajian acara renungan dibawah naungan al quran dari surat Al Arof ayat 181-188 bersama ust Husin Alatas pada hari selasa tanggl 12 mei 2015 jam 08.00  dan disiarkan ulang jam 22.00 (silahkan download di https://goo.gl/k71wCL)Penulis merasa penting untuk menyampaikan kritikan ini mengingat isi ceramah beliau bertentangan dengan pokok akidah umat Islam.PERTAMA :Habib Husain meragukan keotentikan hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dari kitab-kitab hadits yang mashyur. Habib Husain berkata :((Kebenaran yang pasti, yang mutlak yang datang dari sisi Allah. Oleh karena itu tidak ada satu pun jaminan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala bagi buku-buku yang lain, bahwa buku-buku tersebut terjamin kebenarannya. Maka Allah berfirman:وَلَوْ كَانَ مِنْ عِندِ غَيْرِ اللّهِ لَوَجَدُواْ فِيهِ اخْتِلاَفاً“Kalau Al-Qur’an bukan dari Allah, niscaya mereka akan jumpai pertentangan yang amat banyak”Tidak ada nash Al-Quran maupun ucapan Nabi yang menjamin bahwa Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Abu Dawud, Ibnu Majah, Nasai, Ad-Darimi, begitu pula Musnad Ahmad bin Hanbal, Musnad Ibnu Abi Syaibah, musnad eee…al mush…al mush….al…mushannaf….mushannaf Ibn Abi Syaibah, Mushannaf Abdurrazaq, bahwa semua buku-buku ini terjamin kebenarannya??, sama sekali tidak ada!!. Ini dari versi ahlussnnahDari versi syiah, empat buku yang  menjadi rujukan mereka: al-kulaini al-kaafi, man laa yahduruhul faqih li As-Shaduq, kemudian at-tahdzib, yang keempat al-Istibshar yang ditulis oleh Ath-Thuusi, begitu pula buku-buku yang lain, tidak ada jaminan dari Allah maupun RasulNya bahwa buku-buku ini merupakan buku yang berisi kebenaran yang terjamin. Itu hanya klaim-klaim yang datang dari mereka-mereka yang fanatik kepada buku tersebut.Yang fanatik kepada Bukhari-nya, Muslimnya, At-Tirmidzi-nya, Abu Dawud-nya, Ibnu majahnya, begitu pula kepada Ath-thabraninya baik fis shaghir al-awsath maupun al-kabir.Begitu pula di kalangan syiah juga yang berfanatik kepada Al-Kaafi-nya, kepada ath-thuusinya, kepada ash-shaduuqnya, atau kepada al-majlisi, semua ini hadirin sekalian ucapan tanpa dasar kebenaran, tanpa dalil. Oleh karena itu jangan kita membesar-besarkan yang lain di hadapan kitab Allah.Karena buku-buku ini setelah 200 tahun baru dikenal, setelah wafatnya Nabi kita Muhammad shallallau ‘alaihi wa sallam tangan-tangan kotor, hati-hati yang munafik, yang berencana busuk terhadap Islam tidak mungkin dapat kita hindari.Kalau seandainya sebagian ulama mengatakan fulan tsiqah seorang yang jujur, fulan merupakan seorang yang cermat dan telilti, fulan merupakan seorang yang betul-betul menjaga kebersihan hidup ini, itu kan menurut penilaian manusia, bisa benar bisa salah, dan biasanya:وعَيْنُ الرِّضَا عَنْ كُلِّ عَيْبٍ كَلِيْلَةٍ، وَلَكِنَّ عَينَ السُّخْطِ تُبْدي الْمَسَاوِيَا“Pandangan mata kecintaan membuat yang buruk menjadi indah, sebaliknya pandangan kebencian akan membuat apa? Akan membuat yang indah menjadi buruk”)) Kritikan :Sangat jelas bahwa Habib Husain meragukan keotentikan hadits-hadits Nabi yang termaktub dalam kitab-kitab hadits baik dari kalangan ahlus sunnah maupun dari kalangan syi’ah. Adapun alasan yang disampaikan oleh beliau adalah :–         Karena hadits-hadits tersebut dikodifikasikan setelah 200 tahun wafatnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam–         Kitab-kitab hadits tersebut tidak luput dari ((tangan-tangan kotor, hati-hati yang munafik, yang berencana busuk terhadap Islam tidak mungkin dapat kita hindari))–         Karena keshahihan/keotentikan hadits dibangun diatas penilaian manusia yang menyatakan “si fulan tsiqoh/cermat dan terpercaya”, dan penilaian manusia bisa saja salah, sebagaiamana perkataan Habib : ((Kalau seandainya sebagian ulama mengatakan fulan tsiqah seorang yang jujur, fulan merupakan seorang yang cermat dan telilti, fulan merupakan seorang yang betul-betul menjaga kebersihan hidup ini, itu kan menurut penilaian manusia, bisa benar bisa salah)) Pernyataan Habib ini sangatlah berbahaya karena melazimkan perkara-perkara yang batil, diantaranya : Pertama : Hadits-hadits yang ada sekarang yang termaktub dalam kitab-kitab hadits –baik versi ahlus sunnah maupun versi syi’ah- tidak bisa dijadikan pedoman ataupun rujukan, karena tidak ada jaminan kebenarannya. Konsekwensi perkataannya bahwa dalil yang diterima terbatas hanya al-Qur’an.Dan inilah pemahaman sekte sesat yang dikenal oleh para ulama dengan Al-Qur’aniyun, yaitu mereka-mereka yang menolak Hadits nabi dan hanya mau berdalil dengan al-Qur’an, dikarenakan hadits-hadits yang dikodifikasikan sekarang diragukan keotentikannya dan diragukan kebenarannya.Dan munculnya sekte sesat ini telah disinyalir oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sabda beliau :أَلاَ إِنِّي أُوْتِيْتُ الْكِتَابَ وَمِثْلَهُ مَعَهُ أَلاَ يُوْشِكُ رَجُلٌ شَبْعَانُ عَلَى أَرِيْكَتِهِ يَقُوْلُ : عَلَيْكُمْ بِهَذَا الْقُرْآنِ فَمَا وَجَدْتُمْ فِيْهِ مِنْ حَلاَلٍ فَأَحِلُّوْهُ وَمَا وَجَدْتُمْ فِيْهِ مِنْ حَرَامٍ فَحَرِّمُوْهُKetahuilah sesungguhnya diturunkan kepadaku Al-Quran dan yang semisalnya bersamanya (yaitu hadits)”, ketahuilah akan datang seseorang yang kenyang duduk diatas pembaringannya berkata: “Berpegang teguhlah kepada Al- Quran ini saja, semua yang kalian dapati padanya kehalalan maka halalkan dan yang kalian dapati padanya satu keharoman maka haramkanlah. [HR Ahmad 4/131 dan Abu Daud 5/11] Kedua : Usaha para ulama dalam menilai kredibilitas para perawi hadits tidak ada nilainya. Pernyataan para ulama al-Jarw wa at-Ta’dil : “Si fulan tsiqoh (terpercaya dan cermat)” sehingga diambil periwayatan haditsnya atau “Si fulan Kadzdzab (pendusta)” sehingga ditolak periwayatan haditsnya, semuanya tidak bernilai di sisi Habib Husain, dengan dalih bahwasanya ini semua hanyalah penilaian manusia.Padahal tidak ada jalan lain di kalangan para ulama ahlus sunnah (baik Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’i maupun Imam Ahmad) untuk mengetahui suatu hadits bisa diterima atau ditolak kecuali dengan penilaian terhadap para perawinya. Nah kalau penilaian para ulama terhadap para perawi tidak dianggap oleh Habib Husain maka dengan cara apakah kita bisa mengetahui suatu hadits shahih atau lemah??Ataukah Habib Husain memiliki metode tersendiri dalam menilai keshahihan suatu hadits tanpat ilmu al-Jarh wa at-Ta’dil (penilaian para ulama terhadap kredibilitas para perawi)?Kesimpulan yang diambil Habib Husain bahwa hadits-hadits yang ada sekarang sudah tidak bisa terjamin kebenarannya, apalagi beliau menegaskan dengan pernyataan beliau kitab-kitab hadits yang ada tidak luput dari ((tangan-tangan kotor, hati-hati yang munafik, yang berencana busuk terhadap Islam tidak mungkin dapat kita hindari)) Ketiga : Beliau mencela kefanatikan Ahlus Sunnah terhadap kitab-kitab hadits yang ada Shahih Al-Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abu Dawud, dll. Ahlussunnah memang harus fanatik kepada kitab-kitab tersebut, karena pada kitab-kitab tersebutlah terdapat sabda-sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan Allah berfirman :وَمَآءَاتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَانَهَاكُمْ عَنْهُ فَانتَهُواApa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah. [Al-Hasyr/59:7)Lantas jika semua kitab hadits tidak terpercaya maka bagaimana kita melaksanakan perintah Allah ini. Bagaimana kita bisa mengenal dan mengetahui apa yang telah dibawa oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.Demikian juga bagaimana kita bisa mengamalkan perintah Allah :لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًاSesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah. (          QS Al-Ahzaab : 21)Adapun jika maksud Habib bahwasanya Ahlus Sunnah fanatik kepada kitab-kitab tersebut melazimkan bahwa semua isi kitab tersebut benar, maka ini adalah tuduhan yang dusta dan diada-adakan. Tidak ada seorangpun ahlus sunnah yang berakal sehat yang menyatakan bahwa semua isi buku tersebut adalah hadits yang shahih !!!. Karena para penulis kitab-kitab hadits yang disebutkan oleh Habib Husainpun tidak pernah menyatakan bahwa semua hadits yang mereka tulis dalam kitabnya adalah shahih, kecuali Al-Imam Al-Bukhari dan Al-Imam Muslim yang mempersyaratkan hanya menulis hadits-hadits yang shahih. Itupun ada sebagian ulama yang mengkritik segelintir kecil dari hadits-hadits mereka. Keempat : Hadits-hadits Nabi bukanlah wahyu dari Allah. Perkataan Habib ((Kebenaran yang pasti, yang mutlak yang datang dari sisi Allah. Oleh karena itu tidak ada satu pun jaminan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala bagi buku-buku yang lain, bahwa buku-buku tersebut terjamin kebenarannya. Maka Allah berfirman:وَلَوْ كَانَ مِنْ عِندِ غَيْرِ اللّهِ لَوَجَدُواْ فِيهِ اخْتِلاَفاً“Kalau Al-Qur’an bukan dari Allah, niscaya mereka akan jumpai pertentangan yang amat banyak”Tidak ada nash Al-Quran maupun ucapan Nabi yang menjamin bahwa Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Abu Dawud, Ibnu Majah, Nasai, Ad-Darimi, begitu pula Musnad Ahmad bin Hanbal, Musnad Ibnu Abi Syaibah, musnad eee…al mush…al mush….al…mushannaf….mushannaf Ibn Abi Syaibah, Mushannaf Abdurrazaq, bahwa semua buku-buku ini terjamin kebenarannya, sama sekali tidak ada)) Bantahan:Ini adalah kedustaan, bukankah Allah telah berfirman :وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى (٣)إِنْ هُوَ إِلا وَحْيٌ يُوحَى (٤)Dan Tiadalah yang diucapkan oleh Muhammad itu menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya). (QS An-Najm : 3-4)Dari Abdullah bin ‘Amr beliau berkata :كُنْتُ أَكْتُبُ كُلَّ شَيْءٍ أَسْمَعُهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُرِيدُ حِفْظَهُ، فَنَهَتْنِي قُرَيْشٌ، فَقَالُوا: إِنَّكَ تَكْتُبُ كُلَّ شَيْءٍ تَسْمَعُهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَشَرٌ يَتَكَلَّمُ فِي الْغَضَبِ وَالرِّضَا، فَأَمْسَكْتُ عَنِ الْكِتَابِ، فَذَكَرْتُ ذَلِكَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؟ فَقَالَ: «اكْتُبْ فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ مَا خَرَجَ مِنِّي إِلَّا حَقٌّ»“Aku menulis segala sesuatu yang aku dengar dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, aku ingin menghafalkannya. Maka kaum Quraisy melarangku, mereka berkata : “Sesungguhnya engkau menulis segala sesuatu yang kau dengar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah manusia, ia berkata dalam kondisi marah dan dalam kondisi senang”. Maka akupun berhenti menulis, lalu aku menceritakan hal ini kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka beliau berkata : “Tulislah, demi Dzat yang jiwaku berada di tanganNya, tidak ada yang keluar dariku kecuali kebenaran“ (HR Ahmad no 6510)Dan telah lalu sabda Nabiأَلاَ إِنِّي أُوْتِيْتُ الْكِتَابَ وَمِثْلَهُ مَعَهُ“Ketahuilah sesungguhnya diturunkan kepadaku Al-Quran dan yang semisalnya bersamanya (yaitu hadits)”Lantas apa fungsinya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dikatakan sebagai ma’shuum?, beliau tidak lain disifati demikian karena hadits-hadits beliau adalah kebenaran, wahyu dari Allah.Tentu jelas Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah menyatakan bahwa Shahih Al-Bukhari itu terjamin kebenarannya, akan tetapi Nabi telah menyatakan bahwa apa yang diucapkannya pasti benar. Nah apa yang telah diucapkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah termaktub dalam kitab-kitab hadits.Ini semua menunjukkan bahwa pendalilan Habib dengan ayat di atas untuk menolak kitab-kitab hadits adalah pendalilan yang tidak tepat, karena hadits-hadits juga berasal dari Allah. KEDUA :Pernyataan Habib Husain:((Maka dari sini para ikhwan akhwat yang dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala. kitab yang pasti kebenarannya hanya kitab Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan saya bersumpah atas nama Allah, inni usyhidullah wa usyhidukum jami’an anna hadza huwa al-kitab al-wahid aladzi yahtawi ‘alal haq. Saya persaksikan Allah, persaksikan kalian semua bahwa hanya ini kitab satu-satunya yang mencakup kebenaran yang tidak meragukan.ذَلِكَ الْكِتَابُ لاَ رَيْبَ فِيهِ هُدًىYang terang benderang, tidak terdapat kegelapan di dalamnya sedikit pun dan ia lah asy-syifa’u war rahmah, dialah al-huda maka selain dari kitab suci al-quran, yang mengaku sebagai ahlussunah yang mengaku syiah dari keluarga rasul, lastum ‘alasy syai, kalian tidak berarti apa-apa hingga kalian kembali kepada kitab Allah. Khurafat-khurafat, kebohongan-kebohongan, kepalsuan yang menyebar dalam buku-buku kalian bersih.)) Bantahan :          Pernyataan Habib Husain ini hanyalah untuk menekankan akan aqidah beliau bahwasanya kitab-kitab hadits yang ada tidak bisa dipercaya karena berisi khurofat dan kebohongan serta kepalsuan.Nah yang ingin kita tanyakan kepada Habib Husain, kalau beliau hendak sholat, hendak haji, hendak membayar zakat, maka bagaimanakah caranya jika hanya bersandar kepada Al-Qur’an?Karena tata cara sholat, kapan waktu-waktunya, berapa raka’atnya, tidak dijelaskan secara rinci dalam Al-Qur’an, dan hanya dijelaskan dalam hadits-hadits Nabi.Nah bagaimana cara Habib Husain sholat kalau tidak berpedoman kepada hadits-hadits Nabi?, karena seluruh kitab hadits yang ada tidak terjamin kebenarannya. Lantas apakah Habib Husain punya kitab hadits sendiri? Sanadnya shahih tanpa ada keraguan bersambung hingga Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam?Demikian juga permasalahannya yang berkaitan dengan haji dan zakat, tidak ada perinciannya di Al-Qur’an, perinciannya terdapat dalam hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. KETIGA :Apa Kriteria Hadits Shahih menurut Habib?Kenyataannya Habib Husain juga sering berdalil dengan hadits –meskipun ia meyakini bahwa semua kitab hadits yang ada tidak terjamin kebenarannya-. Bahkan dalam ceramah beliau ini, ternyata beliau juga menyebutkan sebuah hadits, Habib Husain berkata:((Oleh karena itu Nabi yg dikenal sebagai seorang yg berjiwa penuh dgn  rahmat, airmata berlinang linang ketika menyaksikan seorang yahudi yang mati yang digiring jenazahnya menuju pekuburannya, Nabi bercucuran aitmata mengatakan : “Satu orang lagi telah lolos masuk kedalam api neraka dan saya tdk berdaya untuk menyelamatkan dirinya”))Hadits yang disebutkan oleh Habib ini ngomong-ngomong dari kitab hadits yang mana? Apakah dari kitab-kitab hadits versi Ahlus Sunnah yang dinilai cacat oleh Habib, ataukah dari kitab-kitab hadits versi Syi’ah?. Lantas bagaimana kedudukan para perawi hadits ini?, bagaimana penilaian para ulama tentang para perawi tersebut.Ataukah sangat jelas bahwa ini adalah hadits palsu?, jika hadits ini hadits palsu kok bisa diniali shahih menurut Habib Husain sehingga dijadikan dalil?. Apa sih ilmu Habib Husain untuk mengetahui keshahihan suatu hadits?Maka sungguh aneh jika Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim ditolak oleh Habib, akan tetapi hadits palsu dijadikan dalil ??? KEEMPAT :Tafsir Al-Qur’an versi Habib HusainHabib Husain sepertinya berniat baik, ingin agar pertikaian diantara ahlus sunnah dan syi’ah selesai. Meskipun solusi yang beliau tawarkan adalah solusi aneh dan mustahil. Yaitu meninggalkan kitab-kitab hadits versi ahlus sunnah dan versi syi’ah, lalu kembali kepada Al-Qur’an saja yang jelas kebenarannya.Maka taruhlah kita setuju dengan solusi yang ditawarkan oleh Habib Husain, maka yang jadi pertanyaan : Jika kita kembali kepada Al-Qur’an lantas versi pemahaman dan tafsir al-Qur’an tersebut ikut versi yang mana?, apakah ikut versi ahlus sunnah?, ataukah versi Syi’ah?, ataukah Habib Husain akan membuat versi tafsir sendiri.Berikut ini contoh tafsir Habib Husain terhadap sebuah ayat dalam Al-Qur’an yang beliau sampaikan dalam ceramah di atas.((inilah nabi kita Muhammad shallallahu alaihi wasallam, dia tidak mengatakan kamu celaka, neraka, sesat, kafir…tapi datang kepada mereka, mengajak kembali kepada Allah, membacakan ayat ayat Allah ta’ala, bila ditolak dicaci dimaki dia bersabar dan besok akan mendatanginya lagi untuk kembali kpd Allah,.bukan tugas nabi untuk menghakimi mereka,..bukan tugas mereka pula untuk menghakimi nabi,مَا عَلَيْكَ مِنْ حِسَابِهِمْ مِنْ شَيْءٍ وَمَا مِنْ حِسَابِكَ عَلَيْهِمْ مِنْ شَيْءٍbukan tugas kamu untuk apa? Untuk menghisab mereka…وَمَا مِنْ حِسَابِكَ عَلَيْهِمْ مِنْ شَيْءٍbegitu pula bukan tugas mereka untuk menghisab kamu… (QS Al-An’aam : 52)saya seorang yang tidak lepas dari kesalahan,ketergelinciran,..yang tidak luput dari dosa,.dari hal hal yg busuk yang Allah tutupi,..tugas saya bukan mengadili manusia,..tugas saya hanya seorang  menyampaikan pesan pesan yang datang dr Allah,..dgn menyampaikan pesan ini))Lihatlah dalam pernyataan di atas, Habib Husain menafsirkan ayat diatas (QS Al-An’aam : 52) dengan larangan untuk menghukum orang lain. Sehingga beliau menyatakan bahwa Nabi tidak pernah memvonis celaka, neraka, sesat, dan kafir. Bukan tugas Nabi untuk menghukum dan memvonis mereka.)) Komentar:Ini sebenarnya tafsiran yang sangat aneh dan bertentangan dengan ayat-ayat yang lain dan juga hadits hadits yang shahih. Untuk lebih jelasnya berikut saya sampaikan terjemah ayat tersebut selengkapnya versi Depag :وَلا تَطْرُدِ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ مَا عَلَيْكَ مِنْ حِسَابِهِمْ مِنْ شَيْءٍ وَمَا مِنْ حِسَابِكَ عَلَيْهِمْ مِنْ شَيْءٍ فَتَطْرُدَهُمْ فَتَكُونَ مِنَ الظَّالِمِينَ (٥٢)Dan janganlah kamu mengusir orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan petang hari, sedang mereka menghendaki keridhaanNya. kamu tidak memikul tanggung jawab sedikitpun terhadap perbuatan mereka dan merekapun tidak memikul tanggung jawab sedikitpun terhadap perbuatanmu, yang menyebabkan kamu (berhak) mengusir mereka, (sehingga kamu Termasuk orang-orang yang zalim) (QS Al-An’aam : 52)“Ketika Rasulullah s.a.w. sedang duduk-duduk bersama orang mukmin yang dianggap rendah dan miskin oleh kaum Quraisy, datanglah beberapa pemuka Quraisy hendak bicara dengan Rasulullah, tetapi mereka enggan duduk bersama mukmin itu, dan mereka mengusulkan supaya orang-orang mukmin itu diusir saja, lalu turunlah ayat ini” (Lihat catatan kaki ayat ini pada terjemahan versi Depag)Karenanya sangat jelas bahwa yang dinafikan oleh Allah bukanlah menghukum atau memvonis akan tetapi yang dinafikan oleh Allah adalah hisab, yaitu penilaian mereka di akhirat, yaitu bahwasanya pertanggungjawaban hisab mereka adalah di tangan Allah.Ayat ini sama seperti firman Allah :قَالُوا أَنُؤْمِنُ لَكَ وَاتَّبَعَكَ الأرْذَلُونَ (١١١)قَالَ وَمَا عِلْمِي بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (١١٢)إِنْ حِسَابُهُمْ إِلا عَلَى رَبِّي لَوْ تَشْعُرُونَ (١١٣)وَمَا أَنَا بِطَارِدِ الْمُؤْمِنِينَ (١١٤)Mereka berkata: “Apakah Kami akan beriman kepadamu, Padahal yang mengikuti kamu ialah orang-orang yang hina?”. Nuh menjawab: “Bagaimana aku mengetahui apa yang telah mereka kerjakan? Perhitungan (amal perbuatan) mereka tidak lain hanyalah kepada Tuhanku, kalau kamu menyadari. Dan aku sekali-kali tidak akan mengusir orang-orang yang beriman. (QS Asy-Syu’aroo’ : 111-114)Adapun menafsirkan lafal “hisab” dengan “larangan memvonis/menghukum” maka jelas ini adalah penafsiran batil yang disebutkan oleh orang-orang yang berpemikiran Liberal, yang menyatakan bahwa semua agama adalah sama, tidak boleh umat Islam memvonis umat yang lain dengan kufur atau neraka.Padahal dalam al-Qur’an banyak sekali ayat yang memvonis kaum Nasrani dan Yahudi sebagai kuffaar dan di neraka jahannam.Seperti firman Allah :لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ وَقَالَ الْمَسِيحُ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ (٧٢)Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah ialah Al masih putera Maryam”, Padahal Al masih (sendiri) berkata: “Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu”. Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, Maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun. (QS Al-Maidah : 72)لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ ثَالِثُ ثَلاثَةٍ وَمَا مِنْ إِلَهٍ إِلا إِلَهٌ وَاحِدٌ وَإِنْ لَمْ يَنْتَهُوا عَمَّا يَقُولُونَ لَيَمَسَّنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ (٧٣)Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: “Bahwasanya Allah salah seorang dari yang tiga”, Padahal sekali-kali tidak ada Tuhan selain dari Tuhan yang Esa. jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir diantara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih. (QS AL-Maidah : 74)إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا أُولَئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ (٦)Sesungguhnya orang-orang yang kafir Yakni ahli kitab dan orang-orang yang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk. (QS Al-Bayyinah : 6)Lihatlah dalam ayat-ayat di atas Allah memvonis kaum musyrikin dan kaum ahlul kitab (Yahudi dan Nashoro) sebagai kaum kuffar dan tempat mereka di neraka jahannam.Dan bukankah setiap kali Habib Husain sholat selalu membaca firman Allahصِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّينَ (٧)(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. (QS Al-Fatihah : 7)Para mufassirin telah sepakat bahwa yang dimaksud dengan orang-orang yang dimurkai oleh Allah adalah kaum Yahudi, dan orang-orang yang sesat adalah kaum Nashoro. Perhatikanlah pada ayat ini Allah memvonis sesat dan dimurkai Allah.Apalagi kalau meilhat hadits-hadits Nabi tentang hal memvonis maka sungguh sangat banyak sekali. Baik pada hadits-hadits yang shahih maupun hadits-hadits yang palsu. Yang menakjubkan adalah Habib Husain melarang memvonis akan tetapi justru beliau menyebut hadits palsu tentang Nabi memvonis seorang Yahudi yang meninggal masuk neraka. Sebagaimana perkataan Habib :((Oleh karena itu nabi yg dikenal sebagai seorang yang berjiwa penuh dengan  rahmat, airmata berlinang linang ketika menyaksikan seorang yahudi yang mati yang digiring jenazahnya menuju pekuburannya, Nabi bercucuran aitmata mengatakan : “Satu orang lagi telah lolos masuk kedalam api neraka dan saya tdk berdaya untuk menyelamatkan dirinya“)) Komentar:Saya kawatir Habib Husain telah terkontaminasi dengan pemikiran-pemikiran Kaum JIL.          Nah jika Habib Husain dalam menerjemahkan dan menafsirkan ayat di atas telah keliru, terus bagaimana beliau mau mengajak umat ini untuk meninggalkan kitab-kitab hadits dan hanya bersandar kepada Al-Qur’an?. Maka pertanyaan yang sangat mendasar adalah Al-Qur’an terjemahan dan tafsir versi siapakah yang anda pilih wahai Habib Husain? Apakah versi anda yang keliru begini? Atau versi pafa mufassir ahlus sunnah ataukah versi para mufassir syi’ah, ataukah versi para mufassir JIL?? KELIMA :Habib Husain justru memvonis bahkan menuduh !! Habib Husain menyampaikan kata-kata indah bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam anti memvonis orang lain, baik vonis neraka, atau celaka, atau sesat, atau kafir. Dan Habib Husain mengaku mengikuti metode Nabi, dimana beliau anti memvonis. Habib Husain berkata:((saya seorang yang tidak lepas dari kesalahan, ketergelinciran,..yang tidak luput dari dosa,. dari hal hal yg busuk yang Allah tutupi,..tugas saya bukan mengadili manusia,..tugas saya hanya seorang  menyampaikan pesan pesan yang datang dr Allah,..dgn menyampaikan pesan ini)) Komentar.Ini pernyataan Habib Husain, akan tetapi kenyataannya beliau memvonis Salafy dengan vonis-vonis dan tuduhan yang sangat mengerikan. Berikut diantara vonis-vonis dan tuduhan beliau dalam ceramah diatas: Pertama : Salafy Wahabi lebih mengagungkan Syaikh Muhammad bin Sholeh Al-‘Utsaimin daripada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Habib Husain berkata:((Oleh karena itu yang lucu hadirin sekalian dari sebagian ulama-ulama salafi wahabi ini, kita jumpai bagaimana semua peninggalan rasul, peninggalan para sahabat dan keluarga rasulnya, di mekah di madinah dibersihkan disingkirkan dengan alasan dikhawatirkan akan menjerumuskan orang ke dalam syirik. Tapi yang mengherankan, mereka mendirikan museum bagi tokoh mereka yaitu Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin di Riyadh. Mendirikan museum yang besar, dalam museum tersebut disebutkan ini merupakan kacamata yang dipergunakan oleh Asy-Syaikh Muhammad Shalih Al-Utsaimin, ini merupakan pena terakhir yang digunakan oleh beliau, ini merupakan peninggalannya, ini merupakan peninggalannya dibuat museum diletakan di tempat yang betul-betul indah. Kita gak menentang hal ini, gak mengatakan bahwa hal ini merupakan perbuatan bidah. Yang mengherankan, kenapa terhadap rasul, terhadap keluarga para sahabatnya, mereka habisi semua situs sejarah dan peninggalan mereka. Siapa yang ingin lebih jelas lagi coba buka museum muhammad shalih al-utsaimin atau muthaf Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin.Bentuk yang indah yang menampung sekian banyak peninggalan Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin yang meninggal belum lama ini, beliau merupakan rekan dari Syaikh Abdul Aziz bin Baz. Para pengikutnya menjunjungnya mengangungkannya bahkan lebih daripada rasul. Kalau rasul, mereka sebutkan sekian banyak kekurangannya, cacatnya, bahkan mereka menisbatkan hal yang tidak pantas kepada rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam)) Kritikan :          Pernyataan terakhir Habib Husain yang saya garis bawahi melazimkan para salafy wahabi adalah orang-orang kafir dan munafik. Bagaimana tidak kafir, ternyata mereka lebih mengagungkan Syaikh Al-‘Utsaimin daripada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan sungguh ini adalah adalah tuduhan keji dan dusta. Apalagi menuduh salafy wahabi suka menyebutkan banyak kekurangan nabi, menyebutkan cacat nabi, dan menisbahkan yang tidak pantas kepada Nabi. Sungguh ini merupakan kekafiran yang nyata. Penyataan dan tuduhan Habib Husain ini melazimkan kekafiran salafy wahabi. Akan tetapi tuduhan ini harus ada buktinya !!! Saya mohon Habib Husain mau mendatangkan buktinya bukan hanya menyampaikan kedustaan !!.Diantara kedustaan Habib Husain, bahwasanya beliau menyatakan bahwa di kota Riyadh Ibu kota Arab Saudi dibangun Muthaf (Museum) Syaikh Al-Utsaimin rahimahullah. Ini jelas kedustaan. Karena tidak ada museum Syaikh Al-Utsaimin, apalagi dibangun di kota Riyadh ibu kota Arab Saudi. Yang benar adalah telah dibangun Yayasan Sosial Syaikh Al-Utsaimin, dan dibangun di kota kediaman beliau yaitu di Unaizah. Dan Yayasan sosial ini bukanlah museum sebagaimana tuduhan Habib, karenanya Yayasan ini bergerak dalam bidang-bidang kebaikan seperti–         Membangun mesjid–         Membantu faqir miskin, anak yatim, dan para janda–         Membantu yayasan-yayasan tahfidz al-Qur’an–         Memperhatikan para penuntut ilmu–         dll (silahkan lihat di http://www.ibnothaimeen.com/all/Charity.shtml)Dinamakan yayasan tersebut dengan nama Syaikh al-Utsaimin karena tujuan utama pembangunan yayasan ini adalah untuk menyebarkan karya-karya ilmiyah dari kitab-kitab syaikh al-Utsaimin, ceramah-ceramah beliau, dan fatwa-fatwa beliau.Adapun di dalam yayasan tersebut mungkin pena ada syaikh dan yang semisalnya maka jika itu benar maka itu merupakan kenang-kenangan yang mungkin disimpan oleh para ahli waris beliau, dan belum tentu diridoi oleh beliau. Dan barang kenangan tersebut bukan untuk dicari keberkahannya sama sekali, tetapi hanya dipajang untuk kenangan. Kalaupun ini merupakan kesalahan maka toh sudah ada yang mengingkari, dan bukanlah perkara yang dibesar-besarkan dan disebarkan agar orang-orang mengunjungi yayasan ini dalam rangka mencari berkah dari benda-benda tersebut.Jadi Habib Husain telah mengesankan bahwa kerajaan Arab Saudi yang membangun museum, padahal yang dibangun adalah yayasan sosial dan yang membangunnya adalah pihak swasta. Kedua : Habib Husain menuduh bahwa Salafy Wahabi dan Habib Tasawwuf membantah syi’ah karena uang bukan karena kebenaran. Habib Husain berkata:((Saya jumpai hadirin sekalian hal yang amat lucu,kalangan habaib dan kyai kyai yang condong kearah tasawuf yang antipati terhadap kelompok salafy wahabi,… bahkan dimata mereka salafy wahabi sesat, kemudian kelompok salafy wahabi juga menganggap habaib dan kyai kyai ini merupakan ahli bid’ah, sesat, musyrik, ini menurut mereka, buku buku mereka menjadi saksi, tapi yang heran mereka bisa bersatu bersama sama, bisa bersatu dalam satu wadah, bersama sama untuk berperang memusuhi syi’ah , ini mengherankan, apa? Uang yang menyatukan mereka, kepentingan yang menyatukan mereka,bukan kebenaran)) Kritikan;          Ini juga merupakan tuduhan yang keji, memvonis bahwasanya para habib dan juga salafy wahabi hanya mencari duit dalam membantah syi’ah. Tolong tunjukan bukti wahai Habib, bukan hanya sekedar menuduh !!. Kedudukan anda sebagai Habib jauh lebih tinggi dari perbuatan menuduh tanpa bukti !!Yang menjadi pertanyaan : Kenapa Habib Husain sewot dan risih jika salafy dan para habib bersatu membantah syi’ah?Apakah Habib Husain tidak suka Syi’ah dibantah dan diungkap kesesatannya? Ada apa gerangan wahai Habib Husain? Ketiga : Habib Husain memvonis Kerajaan Arab Saudi yang mengurus dua kota suci Mekah dan Madinah sebagai orang-orang yang telah menodai kehormatan Mekah, dan melakukan kerusakan di atas muka bumi. Habib Husain berkata:((oleh karena itu kita berharap, mudah mudahan kota suci Mekah dibersihkan disucikan dari orang orang yang menodai kehormatannya,orang orang yang melakukan kerusakan diatas muka bumi ini, kembali ketangan orang orang yang beriman yang bertaqwa)) Kritikan :          Ini adalah tuduhan yang sangat keji terhadap pemerintah Arab Saudi. Dan kita katakan kepada Habib sebuah syair yang disebutkan oleh Habib dalam ceramahnya, Habib Husain berkata  :وعَيْنُ الرِّضَا عَنْ كُلِّ عَيْبٍ كَلِيْلَةٌ، وَلَكِنَّ عَينَ السُّخْطِ تُبْدي الْمَسَاوِيَا“Pandangan mata kecintaan membuat yang buruk menjadi indah, sebaliknya pandangan kebencian akan membuat apa? Akan membuat yang indah menjadi buruk”Habib Husain hanya melihat dengan pandangan buruk sehingga semua kebaikan Arab Saudi terlupakan. Bahkan dengan berani memvonis Arab Saudi sebagai orang-orang yang telah menodai kehormatan Mekah dan telah melakukan kerusakan di atas muka bumi.Tidak seorang salafy pun bahkan tidak seorang yang berakalpun yang menyatakan bahwa Arab Saudi bebas dari kesalahan. Arab Saudi tentu memiliki kesalahan-kesalahan, akan tetapi kebaikan mereka terlalu jauh lebih banyak dari pada kesalahan yang ada. Minimal kebaikan mereka adalah Menjaga kesucian dua kota suci (bukan menodainya sebagaimana tuduhan Habib).Dan sungguh luar biasa harta yang telah dikeluarkan oleh Arab Saudi untuk mengadakan perluasan dua mesjid, yang semua itu adalah untuk kepentingan kaum muslimin di seluruh muka bumi agar lebih nyaman beribadah di Mekah dan Madinah.Adapun tuduhan Habib Husain:((Oleh karena itu yang lucu hadirin sekalian dari sebagian ulama-ulama salafi wahabi ini, kita jumpai bagaimana semua peninggalan rasul, peninggalan para sahabat dan keluarga rasulnya, di mekah di madinah dibersihkan disingkirkan))Saya harap Habib Husain kembali meninjau kembali tuduhan ini. Tentunya pemerintah Arab Saudi tatkala memperluas mesjid maka pasti ada areal rumah para sahabat, areal rumah istri-istri Nabi yang dihancurkan. Kalau seandainya rumah para sahabat dan keluarga Rasulullah di Madinah harus dibiarkan maka bagaimana cara perluasan mesjid Nabawi???Dan situs-situs sejarah masih banyak yang dijaga oleh Arab Saudi, seperti mesjid Quba’, mesjid Qiblatain, Mesjid Jum’at, Mesjid Ijabah, bahkan baru saja dibangun Mesjid Khondak, demikian juga sekarang sedang dibangun mesjid besar di uhud dekat Syuhada’ uhud.Demikian juga di Mekah, tempat kelahiran Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam masih dibangun perpustakaan.Lagi pula Nabi sendiri tatkala ke Mekah beliau tidak ingin singgah ke rumahnya yang dulu apalagi merebut kembali.عَنْ أُسَامَةَ بْنِ زَيْدِ أَنَّهُ قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَتَنْزِلُ فِى دَارِكَ بِمَكَّةَ فَقَالَ « وَهَلْ تَرَكَ لَنَا عَقِيلٌ مِنْ رِبَاعٍ أَوْ دُورٍ ». وَكَانَ عَقِيلٌ وَرِثَ أَبَا طَالِبٍ هُوَ وَطَالِبٌ وَلَمْ يَرِثْهُ جَعْفَرٌ وَلاَ عَلِىٌّ شَيْئًا لأَنَّهُمَا كَانَا مُسْلِمَيْنِ وَكَانَ عَقِيلٌ وَطَالِبٌ كَافِرَيْنِDari Usamah bin Zaid Radhiyallahu ‘anhuma, beliau bertanya, ‘Ya Rasulullah, apakah anda akan singgah di rumahmu di Mekah?’ Beliau bersabda, “Apakah Aqil masih meninggalkan rumah untuk kami.”Aqil yang menjadi ahli waris Abu Thalib bersama si Thalib. Sementara Ja’far dan Ali tidak mendapatkan warisan apapun, karena keduannya muslim. Aqil dan Thalib orang kafir. (HR. Bukhari 1588, Muslim 3360, dan Ibn Majah 2834).Ketika fathu Mekah, tanah negeri itu menjadi kekuasaan kaum muslimin. Kendati demikian, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sama sekali tidak mempedulikan rumah kelahiran atau tanah beliau. Beliau juga tidak mengupayakan pelestarian tempat-tempat bersejarah itu. Beliau tidak merawat rumah kelahiran beliau, atau merawat gua hira, atau gua tsur, sama sekali tidak.Ini menunjukkan bahwa dakwah beliau dan para sahabat, tidak memiliki kepentingan dengan tempat-tempat semacam ini.Karena itu, jika ada yang beranggapan, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat menyerang kota Mekah untuk merebut kembali tanah kelahiran mereka, ini berarti suudzan kepada beliau dan sahabat.(silahkan baca  http://www.konsultasisyariah.com/rumah-nabi-jadi-wc-umum/)Adapun kebaikan-kebaikan Arab Saudi bagi dunia Islam maka sungguh sangat banyak sekali, namun memang jarang terpublikasi. Diantaranya silahkan baca http://www.republika.co.id/berita/koran/opini-koran/15/03/28/nlwxib-wajah-humanis-saudi          Jika mata Habib Husain tidak bisa melihat kebaikan-kebaikan Arab Saudi negeri Salafy, maka tidak ada salahnya jika mata Habib Husain terbuka untuk mampu melihat jasa-jasa Negara Iran negerinya kaum Syi’ah. Diantara jasa-jasa Iran adalah :–         Menyebarkan narkoba di penjuru dunia diantaranya di tanah air Indonesia (silahkan lihat http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/news/2010/06/27/58074/Iran-Pemasok-Narkotika-Terbesar-ke-Indonesia, lihat juga http://www.konsultasisyariah.com/narkoba-iran/)–         Menyebarkan kedustaan tentang Arab Saudi di tanah air agar menanamkan kebencian terhadap umat Islam di Arab Saudi (silahkan lihat https://www.firanda.com/index.php/artikel/bantahan/340-koleksi-dusta-pemerintah-iran)–         Tersebarnya aids karena terlalu sering mut’ah/nikah kontrak gonta ganti pasangan. (Silahkan lihat http://www.merdeka.com/dunia/penderita-aids-di-iran-melonjak-tajam.html) Bersambung… insya Allah…Kota Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, 27-07-1436 H / 16-05-2015 MAbu Abdil Muhsin Firanda Andirjawww.firanda.com


Berikut ini beberapa kritikan terhadap ceramah Habib Husain Al-Atas –semoga Allah memberi petunjuk kepadanya-, yang disampaikan oleh beliau dalam kajian acara renungan dibawah naungan al quran dari surat Al Arof ayat 181-188 bersama ust Husin Alatas pada hari selasa tanggl 12 mei 2015 jam 08.00  dan disiarkan ulang jam 22.00 (silahkan download di https://goo.gl/k71wCL)Penulis merasa penting untuk menyampaikan kritikan ini mengingat isi ceramah beliau bertentangan dengan pokok akidah umat Islam.PERTAMA :Habib Husain meragukan keotentikan hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dari kitab-kitab hadits yang mashyur. Habib Husain berkata :((Kebenaran yang pasti, yang mutlak yang datang dari sisi Allah. Oleh karena itu tidak ada satu pun jaminan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala bagi buku-buku yang lain, bahwa buku-buku tersebut terjamin kebenarannya. Maka Allah berfirman:وَلَوْ كَانَ مِنْ عِندِ غَيْرِ اللّهِ لَوَجَدُواْ فِيهِ اخْتِلاَفاً“Kalau Al-Qur’an bukan dari Allah, niscaya mereka akan jumpai pertentangan yang amat banyak”Tidak ada nash Al-Quran maupun ucapan Nabi yang menjamin bahwa Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Abu Dawud, Ibnu Majah, Nasai, Ad-Darimi, begitu pula Musnad Ahmad bin Hanbal, Musnad Ibnu Abi Syaibah, musnad eee…al mush…al mush….al…mushannaf….mushannaf Ibn Abi Syaibah, Mushannaf Abdurrazaq, bahwa semua buku-buku ini terjamin kebenarannya??, sama sekali tidak ada!!. Ini dari versi ahlussnnahDari versi syiah, empat buku yang  menjadi rujukan mereka: al-kulaini al-kaafi, man laa yahduruhul faqih li As-Shaduq, kemudian at-tahdzib, yang keempat al-Istibshar yang ditulis oleh Ath-Thuusi, begitu pula buku-buku yang lain, tidak ada jaminan dari Allah maupun RasulNya bahwa buku-buku ini merupakan buku yang berisi kebenaran yang terjamin. Itu hanya klaim-klaim yang datang dari mereka-mereka yang fanatik kepada buku tersebut.Yang fanatik kepada Bukhari-nya, Muslimnya, At-Tirmidzi-nya, Abu Dawud-nya, Ibnu majahnya, begitu pula kepada Ath-thabraninya baik fis shaghir al-awsath maupun al-kabir.Begitu pula di kalangan syiah juga yang berfanatik kepada Al-Kaafi-nya, kepada ath-thuusinya, kepada ash-shaduuqnya, atau kepada al-majlisi, semua ini hadirin sekalian ucapan tanpa dasar kebenaran, tanpa dalil. Oleh karena itu jangan kita membesar-besarkan yang lain di hadapan kitab Allah.Karena buku-buku ini setelah 200 tahun baru dikenal, setelah wafatnya Nabi kita Muhammad shallallau ‘alaihi wa sallam tangan-tangan kotor, hati-hati yang munafik, yang berencana busuk terhadap Islam tidak mungkin dapat kita hindari.Kalau seandainya sebagian ulama mengatakan fulan tsiqah seorang yang jujur, fulan merupakan seorang yang cermat dan telilti, fulan merupakan seorang yang betul-betul menjaga kebersihan hidup ini, itu kan menurut penilaian manusia, bisa benar bisa salah, dan biasanya:وعَيْنُ الرِّضَا عَنْ كُلِّ عَيْبٍ كَلِيْلَةٍ، وَلَكِنَّ عَينَ السُّخْطِ تُبْدي الْمَسَاوِيَا“Pandangan mata kecintaan membuat yang buruk menjadi indah, sebaliknya pandangan kebencian akan membuat apa? Akan membuat yang indah menjadi buruk”)) Kritikan :Sangat jelas bahwa Habib Husain meragukan keotentikan hadits-hadits Nabi yang termaktub dalam kitab-kitab hadits baik dari kalangan ahlus sunnah maupun dari kalangan syi’ah. Adapun alasan yang disampaikan oleh beliau adalah :–         Karena hadits-hadits tersebut dikodifikasikan setelah 200 tahun wafatnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam–         Kitab-kitab hadits tersebut tidak luput dari ((tangan-tangan kotor, hati-hati yang munafik, yang berencana busuk terhadap Islam tidak mungkin dapat kita hindari))–         Karena keshahihan/keotentikan hadits dibangun diatas penilaian manusia yang menyatakan “si fulan tsiqoh/cermat dan terpercaya”, dan penilaian manusia bisa saja salah, sebagaiamana perkataan Habib : ((Kalau seandainya sebagian ulama mengatakan fulan tsiqah seorang yang jujur, fulan merupakan seorang yang cermat dan telilti, fulan merupakan seorang yang betul-betul menjaga kebersihan hidup ini, itu kan menurut penilaian manusia, bisa benar bisa salah)) Pernyataan Habib ini sangatlah berbahaya karena melazimkan perkara-perkara yang batil, diantaranya : Pertama : Hadits-hadits yang ada sekarang yang termaktub dalam kitab-kitab hadits –baik versi ahlus sunnah maupun versi syi’ah- tidak bisa dijadikan pedoman ataupun rujukan, karena tidak ada jaminan kebenarannya. Konsekwensi perkataannya bahwa dalil yang diterima terbatas hanya al-Qur’an.Dan inilah pemahaman sekte sesat yang dikenal oleh para ulama dengan Al-Qur’aniyun, yaitu mereka-mereka yang menolak Hadits nabi dan hanya mau berdalil dengan al-Qur’an, dikarenakan hadits-hadits yang dikodifikasikan sekarang diragukan keotentikannya dan diragukan kebenarannya.Dan munculnya sekte sesat ini telah disinyalir oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sabda beliau :أَلاَ إِنِّي أُوْتِيْتُ الْكِتَابَ وَمِثْلَهُ مَعَهُ أَلاَ يُوْشِكُ رَجُلٌ شَبْعَانُ عَلَى أَرِيْكَتِهِ يَقُوْلُ : عَلَيْكُمْ بِهَذَا الْقُرْآنِ فَمَا وَجَدْتُمْ فِيْهِ مِنْ حَلاَلٍ فَأَحِلُّوْهُ وَمَا وَجَدْتُمْ فِيْهِ مِنْ حَرَامٍ فَحَرِّمُوْهُKetahuilah sesungguhnya diturunkan kepadaku Al-Quran dan yang semisalnya bersamanya (yaitu hadits)”, ketahuilah akan datang seseorang yang kenyang duduk diatas pembaringannya berkata: “Berpegang teguhlah kepada Al- Quran ini saja, semua yang kalian dapati padanya kehalalan maka halalkan dan yang kalian dapati padanya satu keharoman maka haramkanlah. [HR Ahmad 4/131 dan Abu Daud 5/11] Kedua : Usaha para ulama dalam menilai kredibilitas para perawi hadits tidak ada nilainya. Pernyataan para ulama al-Jarw wa at-Ta’dil : “Si fulan tsiqoh (terpercaya dan cermat)” sehingga diambil periwayatan haditsnya atau “Si fulan Kadzdzab (pendusta)” sehingga ditolak periwayatan haditsnya, semuanya tidak bernilai di sisi Habib Husain, dengan dalih bahwasanya ini semua hanyalah penilaian manusia.Padahal tidak ada jalan lain di kalangan para ulama ahlus sunnah (baik Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’i maupun Imam Ahmad) untuk mengetahui suatu hadits bisa diterima atau ditolak kecuali dengan penilaian terhadap para perawinya. Nah kalau penilaian para ulama terhadap para perawi tidak dianggap oleh Habib Husain maka dengan cara apakah kita bisa mengetahui suatu hadits shahih atau lemah??Ataukah Habib Husain memiliki metode tersendiri dalam menilai keshahihan suatu hadits tanpat ilmu al-Jarh wa at-Ta’dil (penilaian para ulama terhadap kredibilitas para perawi)?Kesimpulan yang diambil Habib Husain bahwa hadits-hadits yang ada sekarang sudah tidak bisa terjamin kebenarannya, apalagi beliau menegaskan dengan pernyataan beliau kitab-kitab hadits yang ada tidak luput dari ((tangan-tangan kotor, hati-hati yang munafik, yang berencana busuk terhadap Islam tidak mungkin dapat kita hindari)) Ketiga : Beliau mencela kefanatikan Ahlus Sunnah terhadap kitab-kitab hadits yang ada Shahih Al-Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abu Dawud, dll. Ahlussunnah memang harus fanatik kepada kitab-kitab tersebut, karena pada kitab-kitab tersebutlah terdapat sabda-sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan Allah berfirman :وَمَآءَاتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَانَهَاكُمْ عَنْهُ فَانتَهُواApa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah. [Al-Hasyr/59:7)Lantas jika semua kitab hadits tidak terpercaya maka bagaimana kita melaksanakan perintah Allah ini. Bagaimana kita bisa mengenal dan mengetahui apa yang telah dibawa oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.Demikian juga bagaimana kita bisa mengamalkan perintah Allah :لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًاSesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah. (          QS Al-Ahzaab : 21)Adapun jika maksud Habib bahwasanya Ahlus Sunnah fanatik kepada kitab-kitab tersebut melazimkan bahwa semua isi kitab tersebut benar, maka ini adalah tuduhan yang dusta dan diada-adakan. Tidak ada seorangpun ahlus sunnah yang berakal sehat yang menyatakan bahwa semua isi buku tersebut adalah hadits yang shahih !!!. Karena para penulis kitab-kitab hadits yang disebutkan oleh Habib Husainpun tidak pernah menyatakan bahwa semua hadits yang mereka tulis dalam kitabnya adalah shahih, kecuali Al-Imam Al-Bukhari dan Al-Imam Muslim yang mempersyaratkan hanya menulis hadits-hadits yang shahih. Itupun ada sebagian ulama yang mengkritik segelintir kecil dari hadits-hadits mereka. Keempat : Hadits-hadits Nabi bukanlah wahyu dari Allah. Perkataan Habib ((Kebenaran yang pasti, yang mutlak yang datang dari sisi Allah. Oleh karena itu tidak ada satu pun jaminan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala bagi buku-buku yang lain, bahwa buku-buku tersebut terjamin kebenarannya. Maka Allah berfirman:وَلَوْ كَانَ مِنْ عِندِ غَيْرِ اللّهِ لَوَجَدُواْ فِيهِ اخْتِلاَفاً“Kalau Al-Qur’an bukan dari Allah, niscaya mereka akan jumpai pertentangan yang amat banyak”Tidak ada nash Al-Quran maupun ucapan Nabi yang menjamin bahwa Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Abu Dawud, Ibnu Majah, Nasai, Ad-Darimi, begitu pula Musnad Ahmad bin Hanbal, Musnad Ibnu Abi Syaibah, musnad eee…al mush…al mush….al…mushannaf….mushannaf Ibn Abi Syaibah, Mushannaf Abdurrazaq, bahwa semua buku-buku ini terjamin kebenarannya, sama sekali tidak ada)) Bantahan:Ini adalah kedustaan, bukankah Allah telah berfirman :وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى (٣)إِنْ هُوَ إِلا وَحْيٌ يُوحَى (٤)Dan Tiadalah yang diucapkan oleh Muhammad itu menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya). (QS An-Najm : 3-4)Dari Abdullah bin ‘Amr beliau berkata :كُنْتُ أَكْتُبُ كُلَّ شَيْءٍ أَسْمَعُهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُرِيدُ حِفْظَهُ، فَنَهَتْنِي قُرَيْشٌ، فَقَالُوا: إِنَّكَ تَكْتُبُ كُلَّ شَيْءٍ تَسْمَعُهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَشَرٌ يَتَكَلَّمُ فِي الْغَضَبِ وَالرِّضَا، فَأَمْسَكْتُ عَنِ الْكِتَابِ، فَذَكَرْتُ ذَلِكَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؟ فَقَالَ: «اكْتُبْ فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ مَا خَرَجَ مِنِّي إِلَّا حَقٌّ»“Aku menulis segala sesuatu yang aku dengar dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, aku ingin menghafalkannya. Maka kaum Quraisy melarangku, mereka berkata : “Sesungguhnya engkau menulis segala sesuatu yang kau dengar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah manusia, ia berkata dalam kondisi marah dan dalam kondisi senang”. Maka akupun berhenti menulis, lalu aku menceritakan hal ini kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka beliau berkata : “Tulislah, demi Dzat yang jiwaku berada di tanganNya, tidak ada yang keluar dariku kecuali kebenaran“ (HR Ahmad no 6510)Dan telah lalu sabda Nabiأَلاَ إِنِّي أُوْتِيْتُ الْكِتَابَ وَمِثْلَهُ مَعَهُ“Ketahuilah sesungguhnya diturunkan kepadaku Al-Quran dan yang semisalnya bersamanya (yaitu hadits)”Lantas apa fungsinya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dikatakan sebagai ma’shuum?, beliau tidak lain disifati demikian karena hadits-hadits beliau adalah kebenaran, wahyu dari Allah.Tentu jelas Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah menyatakan bahwa Shahih Al-Bukhari itu terjamin kebenarannya, akan tetapi Nabi telah menyatakan bahwa apa yang diucapkannya pasti benar. Nah apa yang telah diucapkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah termaktub dalam kitab-kitab hadits.Ini semua menunjukkan bahwa pendalilan Habib dengan ayat di atas untuk menolak kitab-kitab hadits adalah pendalilan yang tidak tepat, karena hadits-hadits juga berasal dari Allah. KEDUA :Pernyataan Habib Husain:((Maka dari sini para ikhwan akhwat yang dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala. kitab yang pasti kebenarannya hanya kitab Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan saya bersumpah atas nama Allah, inni usyhidullah wa usyhidukum jami’an anna hadza huwa al-kitab al-wahid aladzi yahtawi ‘alal haq. Saya persaksikan Allah, persaksikan kalian semua bahwa hanya ini kitab satu-satunya yang mencakup kebenaran yang tidak meragukan.ذَلِكَ الْكِتَابُ لاَ رَيْبَ فِيهِ هُدًىYang terang benderang, tidak terdapat kegelapan di dalamnya sedikit pun dan ia lah asy-syifa’u war rahmah, dialah al-huda maka selain dari kitab suci al-quran, yang mengaku sebagai ahlussunah yang mengaku syiah dari keluarga rasul, lastum ‘alasy syai, kalian tidak berarti apa-apa hingga kalian kembali kepada kitab Allah. Khurafat-khurafat, kebohongan-kebohongan, kepalsuan yang menyebar dalam buku-buku kalian bersih.)) Bantahan :          Pernyataan Habib Husain ini hanyalah untuk menekankan akan aqidah beliau bahwasanya kitab-kitab hadits yang ada tidak bisa dipercaya karena berisi khurofat dan kebohongan serta kepalsuan.Nah yang ingin kita tanyakan kepada Habib Husain, kalau beliau hendak sholat, hendak haji, hendak membayar zakat, maka bagaimanakah caranya jika hanya bersandar kepada Al-Qur’an?Karena tata cara sholat, kapan waktu-waktunya, berapa raka’atnya, tidak dijelaskan secara rinci dalam Al-Qur’an, dan hanya dijelaskan dalam hadits-hadits Nabi.Nah bagaimana cara Habib Husain sholat kalau tidak berpedoman kepada hadits-hadits Nabi?, karena seluruh kitab hadits yang ada tidak terjamin kebenarannya. Lantas apakah Habib Husain punya kitab hadits sendiri? Sanadnya shahih tanpa ada keraguan bersambung hingga Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam?Demikian juga permasalahannya yang berkaitan dengan haji dan zakat, tidak ada perinciannya di Al-Qur’an, perinciannya terdapat dalam hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. KETIGA :Apa Kriteria Hadits Shahih menurut Habib?Kenyataannya Habib Husain juga sering berdalil dengan hadits –meskipun ia meyakini bahwa semua kitab hadits yang ada tidak terjamin kebenarannya-. Bahkan dalam ceramah beliau ini, ternyata beliau juga menyebutkan sebuah hadits, Habib Husain berkata:((Oleh karena itu Nabi yg dikenal sebagai seorang yg berjiwa penuh dgn  rahmat, airmata berlinang linang ketika menyaksikan seorang yahudi yang mati yang digiring jenazahnya menuju pekuburannya, Nabi bercucuran aitmata mengatakan : “Satu orang lagi telah lolos masuk kedalam api neraka dan saya tdk berdaya untuk menyelamatkan dirinya”))Hadits yang disebutkan oleh Habib ini ngomong-ngomong dari kitab hadits yang mana? Apakah dari kitab-kitab hadits versi Ahlus Sunnah yang dinilai cacat oleh Habib, ataukah dari kitab-kitab hadits versi Syi’ah?. Lantas bagaimana kedudukan para perawi hadits ini?, bagaimana penilaian para ulama tentang para perawi tersebut.Ataukah sangat jelas bahwa ini adalah hadits palsu?, jika hadits ini hadits palsu kok bisa diniali shahih menurut Habib Husain sehingga dijadikan dalil?. Apa sih ilmu Habib Husain untuk mengetahui keshahihan suatu hadits?Maka sungguh aneh jika Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim ditolak oleh Habib, akan tetapi hadits palsu dijadikan dalil ??? KEEMPAT :Tafsir Al-Qur’an versi Habib HusainHabib Husain sepertinya berniat baik, ingin agar pertikaian diantara ahlus sunnah dan syi’ah selesai. Meskipun solusi yang beliau tawarkan adalah solusi aneh dan mustahil. Yaitu meninggalkan kitab-kitab hadits versi ahlus sunnah dan versi syi’ah, lalu kembali kepada Al-Qur’an saja yang jelas kebenarannya.Maka taruhlah kita setuju dengan solusi yang ditawarkan oleh Habib Husain, maka yang jadi pertanyaan : Jika kita kembali kepada Al-Qur’an lantas versi pemahaman dan tafsir al-Qur’an tersebut ikut versi yang mana?, apakah ikut versi ahlus sunnah?, ataukah versi Syi’ah?, ataukah Habib Husain akan membuat versi tafsir sendiri.Berikut ini contoh tafsir Habib Husain terhadap sebuah ayat dalam Al-Qur’an yang beliau sampaikan dalam ceramah di atas.((inilah nabi kita Muhammad shallallahu alaihi wasallam, dia tidak mengatakan kamu celaka, neraka, sesat, kafir…tapi datang kepada mereka, mengajak kembali kepada Allah, membacakan ayat ayat Allah ta’ala, bila ditolak dicaci dimaki dia bersabar dan besok akan mendatanginya lagi untuk kembali kpd Allah,.bukan tugas nabi untuk menghakimi mereka,..bukan tugas mereka pula untuk menghakimi nabi,مَا عَلَيْكَ مِنْ حِسَابِهِمْ مِنْ شَيْءٍ وَمَا مِنْ حِسَابِكَ عَلَيْهِمْ مِنْ شَيْءٍbukan tugas kamu untuk apa? Untuk menghisab mereka…وَمَا مِنْ حِسَابِكَ عَلَيْهِمْ مِنْ شَيْءٍbegitu pula bukan tugas mereka untuk menghisab kamu… (QS Al-An’aam : 52)saya seorang yang tidak lepas dari kesalahan,ketergelinciran,..yang tidak luput dari dosa,.dari hal hal yg busuk yang Allah tutupi,..tugas saya bukan mengadili manusia,..tugas saya hanya seorang  menyampaikan pesan pesan yang datang dr Allah,..dgn menyampaikan pesan ini))Lihatlah dalam pernyataan di atas, Habib Husain menafsirkan ayat diatas (QS Al-An’aam : 52) dengan larangan untuk menghukum orang lain. Sehingga beliau menyatakan bahwa Nabi tidak pernah memvonis celaka, neraka, sesat, dan kafir. Bukan tugas Nabi untuk menghukum dan memvonis mereka.)) Komentar:Ini sebenarnya tafsiran yang sangat aneh dan bertentangan dengan ayat-ayat yang lain dan juga hadits hadits yang shahih. Untuk lebih jelasnya berikut saya sampaikan terjemah ayat tersebut selengkapnya versi Depag :وَلا تَطْرُدِ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ مَا عَلَيْكَ مِنْ حِسَابِهِمْ مِنْ شَيْءٍ وَمَا مِنْ حِسَابِكَ عَلَيْهِمْ مِنْ شَيْءٍ فَتَطْرُدَهُمْ فَتَكُونَ مِنَ الظَّالِمِينَ (٥٢)Dan janganlah kamu mengusir orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan petang hari, sedang mereka menghendaki keridhaanNya. kamu tidak memikul tanggung jawab sedikitpun terhadap perbuatan mereka dan merekapun tidak memikul tanggung jawab sedikitpun terhadap perbuatanmu, yang menyebabkan kamu (berhak) mengusir mereka, (sehingga kamu Termasuk orang-orang yang zalim) (QS Al-An’aam : 52)“Ketika Rasulullah s.a.w. sedang duduk-duduk bersama orang mukmin yang dianggap rendah dan miskin oleh kaum Quraisy, datanglah beberapa pemuka Quraisy hendak bicara dengan Rasulullah, tetapi mereka enggan duduk bersama mukmin itu, dan mereka mengusulkan supaya orang-orang mukmin itu diusir saja, lalu turunlah ayat ini” (Lihat catatan kaki ayat ini pada terjemahan versi Depag)Karenanya sangat jelas bahwa yang dinafikan oleh Allah bukanlah menghukum atau memvonis akan tetapi yang dinafikan oleh Allah adalah hisab, yaitu penilaian mereka di akhirat, yaitu bahwasanya pertanggungjawaban hisab mereka adalah di tangan Allah.Ayat ini sama seperti firman Allah :قَالُوا أَنُؤْمِنُ لَكَ وَاتَّبَعَكَ الأرْذَلُونَ (١١١)قَالَ وَمَا عِلْمِي بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (١١٢)إِنْ حِسَابُهُمْ إِلا عَلَى رَبِّي لَوْ تَشْعُرُونَ (١١٣)وَمَا أَنَا بِطَارِدِ الْمُؤْمِنِينَ (١١٤)Mereka berkata: “Apakah Kami akan beriman kepadamu, Padahal yang mengikuti kamu ialah orang-orang yang hina?”. Nuh menjawab: “Bagaimana aku mengetahui apa yang telah mereka kerjakan? Perhitungan (amal perbuatan) mereka tidak lain hanyalah kepada Tuhanku, kalau kamu menyadari. Dan aku sekali-kali tidak akan mengusir orang-orang yang beriman. (QS Asy-Syu’aroo’ : 111-114)Adapun menafsirkan lafal “hisab” dengan “larangan memvonis/menghukum” maka jelas ini adalah penafsiran batil yang disebutkan oleh orang-orang yang berpemikiran Liberal, yang menyatakan bahwa semua agama adalah sama, tidak boleh umat Islam memvonis umat yang lain dengan kufur atau neraka.Padahal dalam al-Qur’an banyak sekali ayat yang memvonis kaum Nasrani dan Yahudi sebagai kuffaar dan di neraka jahannam.Seperti firman Allah :لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ وَقَالَ الْمَسِيحُ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ (٧٢)Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah ialah Al masih putera Maryam”, Padahal Al masih (sendiri) berkata: “Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu”. Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, Maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun. (QS Al-Maidah : 72)لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ ثَالِثُ ثَلاثَةٍ وَمَا مِنْ إِلَهٍ إِلا إِلَهٌ وَاحِدٌ وَإِنْ لَمْ يَنْتَهُوا عَمَّا يَقُولُونَ لَيَمَسَّنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ (٧٣)Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: “Bahwasanya Allah salah seorang dari yang tiga”, Padahal sekali-kali tidak ada Tuhan selain dari Tuhan yang Esa. jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir diantara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih. (QS AL-Maidah : 74)إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا أُولَئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ (٦)Sesungguhnya orang-orang yang kafir Yakni ahli kitab dan orang-orang yang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk. (QS Al-Bayyinah : 6)Lihatlah dalam ayat-ayat di atas Allah memvonis kaum musyrikin dan kaum ahlul kitab (Yahudi dan Nashoro) sebagai kaum kuffar dan tempat mereka di neraka jahannam.Dan bukankah setiap kali Habib Husain sholat selalu membaca firman Allahصِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّينَ (٧)(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. (QS Al-Fatihah : 7)Para mufassirin telah sepakat bahwa yang dimaksud dengan orang-orang yang dimurkai oleh Allah adalah kaum Yahudi, dan orang-orang yang sesat adalah kaum Nashoro. Perhatikanlah pada ayat ini Allah memvonis sesat dan dimurkai Allah.Apalagi kalau meilhat hadits-hadits Nabi tentang hal memvonis maka sungguh sangat banyak sekali. Baik pada hadits-hadits yang shahih maupun hadits-hadits yang palsu. Yang menakjubkan adalah Habib Husain melarang memvonis akan tetapi justru beliau menyebut hadits palsu tentang Nabi memvonis seorang Yahudi yang meninggal masuk neraka. Sebagaimana perkataan Habib :((Oleh karena itu nabi yg dikenal sebagai seorang yang berjiwa penuh dengan  rahmat, airmata berlinang linang ketika menyaksikan seorang yahudi yang mati yang digiring jenazahnya menuju pekuburannya, Nabi bercucuran aitmata mengatakan : “Satu orang lagi telah lolos masuk kedalam api neraka dan saya tdk berdaya untuk menyelamatkan dirinya“)) Komentar:Saya kawatir Habib Husain telah terkontaminasi dengan pemikiran-pemikiran Kaum JIL.          Nah jika Habib Husain dalam menerjemahkan dan menafsirkan ayat di atas telah keliru, terus bagaimana beliau mau mengajak umat ini untuk meninggalkan kitab-kitab hadits dan hanya bersandar kepada Al-Qur’an?. Maka pertanyaan yang sangat mendasar adalah Al-Qur’an terjemahan dan tafsir versi siapakah yang anda pilih wahai Habib Husain? Apakah versi anda yang keliru begini? Atau versi pafa mufassir ahlus sunnah ataukah versi para mufassir syi’ah, ataukah versi para mufassir JIL?? KELIMA :Habib Husain justru memvonis bahkan menuduh !! Habib Husain menyampaikan kata-kata indah bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam anti memvonis orang lain, baik vonis neraka, atau celaka, atau sesat, atau kafir. Dan Habib Husain mengaku mengikuti metode Nabi, dimana beliau anti memvonis. Habib Husain berkata:((saya seorang yang tidak lepas dari kesalahan, ketergelinciran,..yang tidak luput dari dosa,. dari hal hal yg busuk yang Allah tutupi,..tugas saya bukan mengadili manusia,..tugas saya hanya seorang  menyampaikan pesan pesan yang datang dr Allah,..dgn menyampaikan pesan ini)) Komentar.Ini pernyataan Habib Husain, akan tetapi kenyataannya beliau memvonis Salafy dengan vonis-vonis dan tuduhan yang sangat mengerikan. Berikut diantara vonis-vonis dan tuduhan beliau dalam ceramah diatas: Pertama : Salafy Wahabi lebih mengagungkan Syaikh Muhammad bin Sholeh Al-‘Utsaimin daripada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Habib Husain berkata:((Oleh karena itu yang lucu hadirin sekalian dari sebagian ulama-ulama salafi wahabi ini, kita jumpai bagaimana semua peninggalan rasul, peninggalan para sahabat dan keluarga rasulnya, di mekah di madinah dibersihkan disingkirkan dengan alasan dikhawatirkan akan menjerumuskan orang ke dalam syirik. Tapi yang mengherankan, mereka mendirikan museum bagi tokoh mereka yaitu Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin di Riyadh. Mendirikan museum yang besar, dalam museum tersebut disebutkan ini merupakan kacamata yang dipergunakan oleh Asy-Syaikh Muhammad Shalih Al-Utsaimin, ini merupakan pena terakhir yang digunakan oleh beliau, ini merupakan peninggalannya, ini merupakan peninggalannya dibuat museum diletakan di tempat yang betul-betul indah. Kita gak menentang hal ini, gak mengatakan bahwa hal ini merupakan perbuatan bidah. Yang mengherankan, kenapa terhadap rasul, terhadap keluarga para sahabatnya, mereka habisi semua situs sejarah dan peninggalan mereka. Siapa yang ingin lebih jelas lagi coba buka museum muhammad shalih al-utsaimin atau muthaf Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin.Bentuk yang indah yang menampung sekian banyak peninggalan Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin yang meninggal belum lama ini, beliau merupakan rekan dari Syaikh Abdul Aziz bin Baz. Para pengikutnya menjunjungnya mengangungkannya bahkan lebih daripada rasul. Kalau rasul, mereka sebutkan sekian banyak kekurangannya, cacatnya, bahkan mereka menisbatkan hal yang tidak pantas kepada rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam)) Kritikan :          Pernyataan terakhir Habib Husain yang saya garis bawahi melazimkan para salafy wahabi adalah orang-orang kafir dan munafik. Bagaimana tidak kafir, ternyata mereka lebih mengagungkan Syaikh Al-‘Utsaimin daripada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan sungguh ini adalah adalah tuduhan keji dan dusta. Apalagi menuduh salafy wahabi suka menyebutkan banyak kekurangan nabi, menyebutkan cacat nabi, dan menisbahkan yang tidak pantas kepada Nabi. Sungguh ini merupakan kekafiran yang nyata. Penyataan dan tuduhan Habib Husain ini melazimkan kekafiran salafy wahabi. Akan tetapi tuduhan ini harus ada buktinya !!! Saya mohon Habib Husain mau mendatangkan buktinya bukan hanya menyampaikan kedustaan !!.Diantara kedustaan Habib Husain, bahwasanya beliau menyatakan bahwa di kota Riyadh Ibu kota Arab Saudi dibangun Muthaf (Museum) Syaikh Al-Utsaimin rahimahullah. Ini jelas kedustaan. Karena tidak ada museum Syaikh Al-Utsaimin, apalagi dibangun di kota Riyadh ibu kota Arab Saudi. Yang benar adalah telah dibangun Yayasan Sosial Syaikh Al-Utsaimin, dan dibangun di kota kediaman beliau yaitu di Unaizah. Dan Yayasan sosial ini bukanlah museum sebagaimana tuduhan Habib, karenanya Yayasan ini bergerak dalam bidang-bidang kebaikan seperti–         Membangun mesjid–         Membantu faqir miskin, anak yatim, dan para janda–         Membantu yayasan-yayasan tahfidz al-Qur’an–         Memperhatikan para penuntut ilmu–         dll (silahkan lihat di http://www.ibnothaimeen.com/all/Charity.shtml)Dinamakan yayasan tersebut dengan nama Syaikh al-Utsaimin karena tujuan utama pembangunan yayasan ini adalah untuk menyebarkan karya-karya ilmiyah dari kitab-kitab syaikh al-Utsaimin, ceramah-ceramah beliau, dan fatwa-fatwa beliau.Adapun di dalam yayasan tersebut mungkin pena ada syaikh dan yang semisalnya maka jika itu benar maka itu merupakan kenang-kenangan yang mungkin disimpan oleh para ahli waris beliau, dan belum tentu diridoi oleh beliau. Dan barang kenangan tersebut bukan untuk dicari keberkahannya sama sekali, tetapi hanya dipajang untuk kenangan. Kalaupun ini merupakan kesalahan maka toh sudah ada yang mengingkari, dan bukanlah perkara yang dibesar-besarkan dan disebarkan agar orang-orang mengunjungi yayasan ini dalam rangka mencari berkah dari benda-benda tersebut.Jadi Habib Husain telah mengesankan bahwa kerajaan Arab Saudi yang membangun museum, padahal yang dibangun adalah yayasan sosial dan yang membangunnya adalah pihak swasta. Kedua : Habib Husain menuduh bahwa Salafy Wahabi dan Habib Tasawwuf membantah syi’ah karena uang bukan karena kebenaran. Habib Husain berkata:((Saya jumpai hadirin sekalian hal yang amat lucu,kalangan habaib dan kyai kyai yang condong kearah tasawuf yang antipati terhadap kelompok salafy wahabi,… bahkan dimata mereka salafy wahabi sesat, kemudian kelompok salafy wahabi juga menganggap habaib dan kyai kyai ini merupakan ahli bid’ah, sesat, musyrik, ini menurut mereka, buku buku mereka menjadi saksi, tapi yang heran mereka bisa bersatu bersama sama, bisa bersatu dalam satu wadah, bersama sama untuk berperang memusuhi syi’ah , ini mengherankan, apa? Uang yang menyatukan mereka, kepentingan yang menyatukan mereka,bukan kebenaran)) Kritikan;          Ini juga merupakan tuduhan yang keji, memvonis bahwasanya para habib dan juga salafy wahabi hanya mencari duit dalam membantah syi’ah. Tolong tunjukan bukti wahai Habib, bukan hanya sekedar menuduh !!. Kedudukan anda sebagai Habib jauh lebih tinggi dari perbuatan menuduh tanpa bukti !!Yang menjadi pertanyaan : Kenapa Habib Husain sewot dan risih jika salafy dan para habib bersatu membantah syi’ah?Apakah Habib Husain tidak suka Syi’ah dibantah dan diungkap kesesatannya? Ada apa gerangan wahai Habib Husain? Ketiga : Habib Husain memvonis Kerajaan Arab Saudi yang mengurus dua kota suci Mekah dan Madinah sebagai orang-orang yang telah menodai kehormatan Mekah, dan melakukan kerusakan di atas muka bumi. Habib Husain berkata:((oleh karena itu kita berharap, mudah mudahan kota suci Mekah dibersihkan disucikan dari orang orang yang menodai kehormatannya,orang orang yang melakukan kerusakan diatas muka bumi ini, kembali ketangan orang orang yang beriman yang bertaqwa)) Kritikan :          Ini adalah tuduhan yang sangat keji terhadap pemerintah Arab Saudi. Dan kita katakan kepada Habib sebuah syair yang disebutkan oleh Habib dalam ceramahnya, Habib Husain berkata  :وعَيْنُ الرِّضَا عَنْ كُلِّ عَيْبٍ كَلِيْلَةٌ، وَلَكِنَّ عَينَ السُّخْطِ تُبْدي الْمَسَاوِيَا“Pandangan mata kecintaan membuat yang buruk menjadi indah, sebaliknya pandangan kebencian akan membuat apa? Akan membuat yang indah menjadi buruk”Habib Husain hanya melihat dengan pandangan buruk sehingga semua kebaikan Arab Saudi terlupakan. Bahkan dengan berani memvonis Arab Saudi sebagai orang-orang yang telah menodai kehormatan Mekah dan telah melakukan kerusakan di atas muka bumi.Tidak seorang salafy pun bahkan tidak seorang yang berakalpun yang menyatakan bahwa Arab Saudi bebas dari kesalahan. Arab Saudi tentu memiliki kesalahan-kesalahan, akan tetapi kebaikan mereka terlalu jauh lebih banyak dari pada kesalahan yang ada. Minimal kebaikan mereka adalah Menjaga kesucian dua kota suci (bukan menodainya sebagaimana tuduhan Habib).Dan sungguh luar biasa harta yang telah dikeluarkan oleh Arab Saudi untuk mengadakan perluasan dua mesjid, yang semua itu adalah untuk kepentingan kaum muslimin di seluruh muka bumi agar lebih nyaman beribadah di Mekah dan Madinah.Adapun tuduhan Habib Husain:((Oleh karena itu yang lucu hadirin sekalian dari sebagian ulama-ulama salafi wahabi ini, kita jumpai bagaimana semua peninggalan rasul, peninggalan para sahabat dan keluarga rasulnya, di mekah di madinah dibersihkan disingkirkan))Saya harap Habib Husain kembali meninjau kembali tuduhan ini. Tentunya pemerintah Arab Saudi tatkala memperluas mesjid maka pasti ada areal rumah para sahabat, areal rumah istri-istri Nabi yang dihancurkan. Kalau seandainya rumah para sahabat dan keluarga Rasulullah di Madinah harus dibiarkan maka bagaimana cara perluasan mesjid Nabawi???Dan situs-situs sejarah masih banyak yang dijaga oleh Arab Saudi, seperti mesjid Quba’, mesjid Qiblatain, Mesjid Jum’at, Mesjid Ijabah, bahkan baru saja dibangun Mesjid Khondak, demikian juga sekarang sedang dibangun mesjid besar di uhud dekat Syuhada’ uhud.Demikian juga di Mekah, tempat kelahiran Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam masih dibangun perpustakaan.Lagi pula Nabi sendiri tatkala ke Mekah beliau tidak ingin singgah ke rumahnya yang dulu apalagi merebut kembali.عَنْ أُسَامَةَ بْنِ زَيْدِ أَنَّهُ قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَتَنْزِلُ فِى دَارِكَ بِمَكَّةَ فَقَالَ « وَهَلْ تَرَكَ لَنَا عَقِيلٌ مِنْ رِبَاعٍ أَوْ دُورٍ ». وَكَانَ عَقِيلٌ وَرِثَ أَبَا طَالِبٍ هُوَ وَطَالِبٌ وَلَمْ يَرِثْهُ جَعْفَرٌ وَلاَ عَلِىٌّ شَيْئًا لأَنَّهُمَا كَانَا مُسْلِمَيْنِ وَكَانَ عَقِيلٌ وَطَالِبٌ كَافِرَيْنِDari Usamah bin Zaid Radhiyallahu ‘anhuma, beliau bertanya, ‘Ya Rasulullah, apakah anda akan singgah di rumahmu di Mekah?’ Beliau bersabda, “Apakah Aqil masih meninggalkan rumah untuk kami.”Aqil yang menjadi ahli waris Abu Thalib bersama si Thalib. Sementara Ja’far dan Ali tidak mendapatkan warisan apapun, karena keduannya muslim. Aqil dan Thalib orang kafir. (HR. Bukhari 1588, Muslim 3360, dan Ibn Majah 2834).Ketika fathu Mekah, tanah negeri itu menjadi kekuasaan kaum muslimin. Kendati demikian, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sama sekali tidak mempedulikan rumah kelahiran atau tanah beliau. Beliau juga tidak mengupayakan pelestarian tempat-tempat bersejarah itu. Beliau tidak merawat rumah kelahiran beliau, atau merawat gua hira, atau gua tsur, sama sekali tidak.Ini menunjukkan bahwa dakwah beliau dan para sahabat, tidak memiliki kepentingan dengan tempat-tempat semacam ini.Karena itu, jika ada yang beranggapan, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat menyerang kota Mekah untuk merebut kembali tanah kelahiran mereka, ini berarti suudzan kepada beliau dan sahabat.(silahkan baca  http://www.konsultasisyariah.com/rumah-nabi-jadi-wc-umum/)Adapun kebaikan-kebaikan Arab Saudi bagi dunia Islam maka sungguh sangat banyak sekali, namun memang jarang terpublikasi. Diantaranya silahkan baca http://www.republika.co.id/berita/koran/opini-koran/15/03/28/nlwxib-wajah-humanis-saudi          Jika mata Habib Husain tidak bisa melihat kebaikan-kebaikan Arab Saudi negeri Salafy, maka tidak ada salahnya jika mata Habib Husain terbuka untuk mampu melihat jasa-jasa Negara Iran negerinya kaum Syi’ah. Diantara jasa-jasa Iran adalah :–         Menyebarkan narkoba di penjuru dunia diantaranya di tanah air Indonesia (silahkan lihat http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/news/2010/06/27/58074/Iran-Pemasok-Narkotika-Terbesar-ke-Indonesia, lihat juga http://www.konsultasisyariah.com/narkoba-iran/)–         Menyebarkan kedustaan tentang Arab Saudi di tanah air agar menanamkan kebencian terhadap umat Islam di Arab Saudi (silahkan lihat https://www.firanda.com/index.php/artikel/bantahan/340-koleksi-dusta-pemerintah-iran)–         Tersebarnya aids karena terlalu sering mut’ah/nikah kontrak gonta ganti pasangan. (Silahkan lihat http://www.merdeka.com/dunia/penderita-aids-di-iran-melonjak-tajam.html) Bersambung… insya Allah…Kota Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, 27-07-1436 H / 16-05-2015 MAbu Abdil Muhsin Firanda Andirjawww.firanda.com

Jangan Tunda Taubatmu !

Khutbah Mesjid Nabawi 12-7-1436 H / 2-5-2015 MOleh : Asy-Syaikh Sholah Al-Budair hafizohullohKhutbah Pertamaاَلْحَمْدُ لِلّهِ لاَ أَبْغِي بِهِ بَدَلاَ ….حَمْدًا يُبَلِّغُ مِنْ رِضْوَانِهِ الأَمَلاَSegala puji bagi Allah, aku tidak mencari pengganti selainNya…Pujian yang menyampaikan harapan untuk meraih keridhoanNya..وَبَعْدُ : إِنِّي بِالْيَقِينِ أَشْهَدُ … شَهَادَةَ الْإِخْلَاصِ أَنْ لَا يُعْبَدُAmma ba’du, sesungguhnya aku bersaksi dengan yakin…Persaksian penuh keikhlasan bahwasanya tidak ada yang disembah…بِالْحَقِّ مَأْلُوهٌ سِوَى الرَّحْمَنِ … مَنْ جَلَّ عَنْ عَيْبٍ وَعَنْ نُقْصَانِdengan benar sesembahanpun kecuali Ar-Rahman….Yang suci dari celaan dan kekurangan… وَأَنَّ خَيْرَ خَلْقِهِ مُحَمَّدَا … مَنْ جَاءَنَا بِالْبَيِّنَاتِ وَالْهُدَىDan bahwasanya manusia yang terbaik yaitu Muhammad adalah orang yang telah datang kepada kita dengan membawa hujjah dan petunjukصلَّى عَلَيْهِ رَبُّنَا وَمَجَّدَا….والآلِ والصَّحْبِ دَوَامًا سَرْمَدًاRob kita menjadikannya agung dan mencurahkan shalawat kepadanya….Kepada keluarga dan para sahabatnya selama-lamanya…يا رَبِّ فَاِجمَعنا مَعاً وَنَبِيَّنا ….في جَنَّةٍ تُثْنِي عُيونَ الحُسَّدِYa Robku, kumpulkanlah kami bersama dengan nabi kami…di surga sehingga menjauhkan mata-mata yang hasad…في جَنَّةِ الفِردَوسِ وَاكْتُبهَا لَنا …يا ذا الجَلالِ وَذا العُلا وَالسُؤدُدِDi surga Firdaus dan tetapkanlah bagi kami….wahai Dzat Yang Maha Mulia dan Maha Tinggi serta Maha Kuasa… Wahai kaum muslimin sekalian, bertakwalah kepada Rob kalian, karena sungguh menang orang bertakwa, dan merugilah seorang yang berlebihan dalam dosa dan celaka.وعلى التَّقِيِّ إذا ترسَّخَ في التُّقى… تاجان تاج سكينة ٍ وجلالِDan kepada orang yang ketakwaannya telah kokoh, diberikan kepadanya…dua mahkota, mahkota ketenangan dan mahkota kemuliaan…وإذا تَنَاسَبَتِ الرّجالُ، فما أرَى … نَسَباً يكون كصالِحِ الأعْمالِDan jika para lelaki telah berbangga dengan nasab yang terbaik….maka aku tidak melihat adanya nasab yang terbaik seperti layaknya amal sholeh…يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَHai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar. (QS At-Taubah : 119)Wahai hamba Allah…petiklah pelajaran dari orang-orang yang telah berlalu…, takutlah engkau kepada kematian yang datang tiba-tiba…, dan waspadalah dari api neraka yang menyala-nyala…وَابْكِ عَلَى ذَنْبٍ وَقَلْبٍ قَدْ قَسَا *** كَالصَّخْرِ مِنْ هَوَاهُ لَمْ يَسْتَفِقِTangisilah dosamu dan hatimu yang telah keras seperti batu…Tidak bisa sadar karena terkuasai hawa nafsu…وَكُنْ خَمِيْصَ الْبَطْنِ مِنْ زَادِ الرِّبَا … وَخَمْرَةَ التَّقْوَى اصطبح واغتبقِDan hendaknya perutmu kosong dari hasil riba….Akan tetapi dengan minuman ketakwaan hendaknya engkau teguk pagi dan sore…ولا تُنَقِّصْ أحَداً فَكُلُّنَا…. مِنْ رَجُلٍ وأصْلُنَا مِنْ عَلَقِJanganlah engkau merendahkan seorangpun….Karena kita seluruhnya berasal dari satu orang, dan asal kita adalah dari segumpal darah…والْخُلْدُ قَدْ مَزَّقَ أقوامَ سَبَا … وهَدَّ سَدّاً مُحْكَمَ التَّأَنُقِDan waktu yang lama berjalan telah menghancurkan kaum negeri Saba’…Merontohkan bendungan (mereka) yang kokoh dan kuat…يَا نفسُ تُوْبِي لَمْ تُخْلَقِي عَبَثَا… يَا نَفْسُ تُوْبِي قَبْلَ أنْWahai jiwa…bertaubatlah…, sesungghuhnya engkau tidaklah diciptakan begitu saja (tanpa hisab-pen)…Wahai jiwa…bertaubatlah sebelum engkau…تُطِيْلِي تَحْتَ الثَّرَى اللَّبَثَا…يَا نَفْسُ تُوْبِي قَبْلَ أَنْberdiam lama di bawah tanah….wahai jiwa bertaubatlah sebelum engkau…تَسْكُنِي رَاغِمَةً جَدَثَاtinggal di kuburan padahal engkau tidak menyukainya…أيا نفسُ بِالْمَأْثُوْرِ عَنْ خَيْرِ مُرْسَلٍ….وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ تَمَسَّكِيWahai jiwa, berpeganglah dengan hadits rasul yang termulia, serta atsar dari para sahabat dan tabi’in…وخافِي غداً يومَ الْحِسَابِ جَهَنَّمَا….إِذَا نَفَحَتْ نِيْرَانُهَا أَنْ تَمَسَّكِTakutlah engkau esok dengan neraka Jahannam pada hari pengadilan…Jika ia meniupkan apinya yang akan membakarmu… Wahai yang bermaksiat kepada Robnya….wahai yang hawa nafsunya telah membuatnya tuli dan membutakannya…, wahai yang telah mendahulukan dunianya daripada akhiratnya…, wahai yang telah bertumpuk dosa-dosanya…Wahai yang telah melalaikan sholat…wahai yang tidak menunaikan hak Allah dan tidak membayar zakat…Wahai orang yang mengumpulkan harta lalu menyimpannya dan menguncinya…Wahai yang hiburannya adalah berbuat kezoliman…, mengganggu dan menyakiti orang lain adalah tradisi dan sifatnya…Sampai kapan engkau tidak peduli tenggelam dalam kelalaianmu…Hingga kapan engkau tidak berhenti…sementara engkau akan pergi dari dunia ini dan meninggalkannya?Maka segeralah bertaubat, segeralah…!بَادِرْ عُمْراً دَارِسًا، وَمَوْتاً خَالِساً، وَمَرَضاً حَابِسًا، وَهَرَمًا لاَبِسًاBersegeralah (bertaubat) sebelum umurmu sirna…, sebelum maut menyambarmu…, sebelum sakit menghalangimu…, sebelum tua renta menempatimu…Wahai orang yang berkata, “Aku akan bertaubat besok…”, bagaimana engkau bertaubat esok hari, sementara esok hari bukanlah milikmu…?, bagaimana engkau baru bertaubat esok hari, sementara bisa jadi engkau tidak bertemu lagi dengan esok hari?قَدِّمْ لِنَفْسِكَ تَوْبَةً مَرْجُوَّةً *** قَبْلَ الْمَمَاتِ وَقَبْلَ حَبْسِ الأَلْسُنِPersembahkanlah untuk jiwamu taubat yang diharapkan…Sebelum kematian dan sebelum lisan terkekang.. بَادِرْ بِهَا غَلْقَ النُّفُوْسِ فَإِنَّهَا *** ذُخْرٌ وَغُنْمٌ لِلْمُنِيْبِ الْمُحْسِنِBersegeralah bertaubat sebelum jiwa tertutup, karena sesungguhnya taubat…Adalah simpanan dan keuntungan bagi orang yang kembali dan berbuat baik…يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًاHai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). (QS At-Tahriim : 8)Taubat yang menyelamatkan kalian dari kehinaan dan kerendahan, menghalangi kalian dari kesalahan dan dosa, taubat yang membawa kalian untuk melaksanakan fardu dan kewajiban, taubat yang mendorong kalian untuk memperbaiki dan mengganti kesalahan yang telah berlalu…Barangsiapa yang berbuat keburukan kepada seorang muslim atau menzoliminya atau menamparnya atau memakinya, atau memakan hartanya dan mengurangi haknya, atau mengikis haknya atau menahannya, maka hendaknya ia mendatanginya dan memohon maaf kepadanya, merendahkan dirinya dengan penuh penyesalan. Maka saudaranya itu akan memaafkannya atau ia meminta ganti rugi.Dari Abu Huroiroh radhiallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda :مَنْ كَانَتْ لَهُ مَظْلَمَةٌ لِأَخِيهِ مِنْ عِرْضِهِ أَوْ شَيْءٍ، فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهُ اليَوْمَ، قَبْلَ أَنْ لاَ يَكُونَ دِينَارٌ وَلاَ دِرْهَمٌ، إِنْ كَانَ لَهُ عَمَلٌ صَالِحٌ أُخِذَ مِنْهُ بِقَدْرِ مَظْلَمَتِهِ، وَإِنْ لَمْ تَكُنْ لَهُ حَسَنَاتٌ أُخِذَ مِنْ سَيِّئَاتِ صَاحِبِهِ فَحُمِلَ عَلَيْهِ“Barangsiapa yang berbuat zolim kepada saudaranya baik berkaitan dengan harga dirinya atau sesuatu apapun maka hendaknya ia meminta untuk dihalalkan pada hari ini sebalum tiba hari dimana tidak ada lagi dinar dan dirham. Jika ia memiliki amal sholeh maka akan diambil amal sholehnya sesuai kadar kezolimannya, dan jika ia tidak memiliki kebaikan maka diambillah keburukan saudaranya tersebut lalu dipikulkan kepadanya” (HR Al-Bukhari)Maka sungguh beruntung orang yang memperbaiki kesalahannya selagi masih memungkinkan untuk dilakukan, ia bersegera untuk bertaubat sebelum tiba ajalnya, dan beramal di dunia yang bermanfaat untuk akhiratnya.Dan iapun wafat di atas sembilan sifat yang indah dan perangai yang mulia yang disebutkan dalam sebuah ayat yang mulia dari surat At-Taubah yang agung.التَّائِبُونَ الْعَابِدُونَ الْحَامِدُونَ السَّائِحُونَ الرَّاكِعُونَ السَّاجِدُونَ الآمِرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّاهُونَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَالْحَافِظُونَ لِحُدُودِ اللَّهِ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ (١١٢)Mereka itu adalah orang-orang yang bertaubat, yang beribadat, yang memuji, yang melawat, yang ruku’, yang sujud, yang menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah berbuat Munkar dan yang memelihara hukum-hukum Allah. dan gembirakanlah orang-orang mukmin itu. (QS At-Taubah : 112)Semoga Allah menjadikanku dan kalian menjadi orang yang bertaubat dan kembali kepadaNya, menang dengan memperoleh ganjaran yang baik, serta dimasukkan ke surga tanpa hisab dan adzab, serta meraih kemenangan dengan taubat yang baik.Aku sampaikan apa yang kalian dengar, dan aku memohon ampunan kepada Allah, maka mohonlah ampunan dariNya, sesungguhnya Allah maha pengampun bagi orang-orang yang bertaubat. Khutbah Kedua :          Segala puji bagi Allah yang telah menghantarkan kepada kita kebaikan-kebaikan dan rizki, dan tidak menjadikan kita bertawakal kepada selainNya. Aku bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak disembah melainkan Allah tidak ada sekutu bagiNya, yang telah menyiapkan surga bagi orang-orang yang bertakwa, dan menyiapkan neraka bagi orang-orang yang melampaui batas sebagai balasan yang setimpal. Semoga shalawat dan salam senantiasa tercurahkan kepada Nabi dan keluarganya serta para sahabatnya yang bersegera dalam kebaikan dan berlomb-lomba.Amma ba’du, kaum muslimin sekalian, bertakwalah karena sesungguhnya takwa kepada Allah merupakan hasil yang terbaik, dan ketaatan kepadanya merupakan nasab yang tertinggi.يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ (١٠٢)Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam Keadaan beragama Islam. (QS Ali Imron : 102) Kaum Muslimin sekalian, sesungguhnya kalian hidup di negeri yang suci, dalam keamanan yang jelas, dengan rizki yang berlimpah, di bawah pemerintahan yang beriman, yang berhukum dengan al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Kalian berada dibawah Negara yang tegak diatas pondasi yang kuat berupa agama dan tauhid serta iman dan sunnah, demikian pula syari’at, persatuan, rahmat, hikmah, dan kekuatan.Maka pujilah Allah atas anugerah yang agung ini serta karunia yang dirasakan ini dengan melazimi ketaatan kepadaNya dan waspada dari bermaksiat kepadaNya.Jagalah negeri kalian, keamanan kalian, dan persatuan kalian dari orang-orang bodoh, para perusak dan khawarij yang keluar, serta gembong-gembong fitnah yang sesat yang selalu berusaha untuk menyebarkan kekacauan di negeri kalian, untuk menggoncang stabilitas keamanan dan ketentraman di negeri kalian.Dan kita menjulurkan tangan-tangan kita (untuk membai’at) kepada pemimpin kita dan imam kita serta waliyul amr kita yaitu Pelayan dua kota suci yang mulia Raja Salman bin Abdul Aziz, seorang lelaki yang tegas, kokoh, dan tegar. Dan kita berkata : bahwasanya kita di atas janji dan menunaikan janji serta loyalitas dan afiliasi, kita adalah kekuatan di waktu genting, kita siap berkorban demi keamanan negeri kita dan negara kita Kerajaan Arab Saudi, dan kami mengucapkan selamat berkah atas kesuksesan keamanan dalam mengejar kelompok pemberontak, dan kami mengucapkan selamat keberkahan atas keputusan-keputusan Raja yang bertujuan untuk memantapkan hukum dan pondasi-pondasinya serta mengokohkannya untuk menegakkan bangunannya. Dan kami membai’at kepada seri paduka pangeran Muhammad bin Nayif bin Abdil Aziz sebagai putra mahkota dan kami juga membai’at seri paduka pangeran Muhammad bin Salman bin Abdil Aziz sebagai wakil putra mahkota, hanya kepada Allah kami memohon untuk membantu mereka berdua dengan pertolonganNya dan taufiqNya.Wahai para pejuang yang hebat, tokoh tokoh pemberani, wahai para pasukan penjaga daerah perbatasan kerajaan Arab Saudi yang tercinta, kalian adalah kebanggaan kami, kemuliaan kami, serta benteng dan baju perang pelindung kami, sungguh selamat bagi kalian meraih kemuliaan dunia dan ganjaran akhirat.Dari Salman radhiallahu ‘anhu berliau berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :رِبَاطُ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ خَيْرٌ مِنْ صِيَامِ شَهْرٍ وَقِيَامِهِ، وَإِنْ مَاتَ جَرَى عَلَيْهِ عَمَلُهُ الَّذِي كَانَ يَعْمَلُهُ، وَأُجْرِيَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ، وَأَمِنَ الْفَتَّانَ“Berjaga di daerah perbatasan sehari semalam lebih baik daripada puasa dan sholat malam sebulan. Jika ia meninggal maka akan berjalan amalan yang biasa ia lakukan, dan akan diberikan kepadanya rizkinya dan diamankan dari fitnah kuburan” (HR Muslim)Dan dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhumaa ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :عَيْنَانِ لاَ تَمَسُّهُمَا النَّارُ، عَيْنٌ بَكَتْ مِنْ خَشْيَةِ اللهِ وَعَيْنٌ تَحْرُسُ فِي سَبِيْلِ اللهِ“Dua mata yang tidak akan disentuh oleh api neraka, mata yang menangis karena takut kepada Allah dan mata yang (tidak tidur) karena berjaga di jalan Allah” (HR At-Tirmidzi)Ya Allah jagalah keamanan bagi kami, persatuan kami, serta ketenteraman kami wahai Robbul ‘alamin. Ya Allah tentara kami yang berjaga di daerah perbatasan…, Ya Allah kuatkanlah semangat mereka, dan tepatkanlah tembakan mereka, dan hancurkanlah musuh-musuh mereka, tolonglah tentara kami mengalahkan kaum yang zolim. Ya Allah terimalah yang meninggal diantara mereka sebagai syuhadaa Uhud, sembuhkanlah orang-orang yang sakit diantara mereka, wahai Yang Maha mendengarkan doa.Penerjemah: Abu Abdil Muhsin Firandawww.firanda.com

Jangan Tunda Taubatmu !

Khutbah Mesjid Nabawi 12-7-1436 H / 2-5-2015 MOleh : Asy-Syaikh Sholah Al-Budair hafizohullohKhutbah Pertamaاَلْحَمْدُ لِلّهِ لاَ أَبْغِي بِهِ بَدَلاَ ….حَمْدًا يُبَلِّغُ مِنْ رِضْوَانِهِ الأَمَلاَSegala puji bagi Allah, aku tidak mencari pengganti selainNya…Pujian yang menyampaikan harapan untuk meraih keridhoanNya..وَبَعْدُ : إِنِّي بِالْيَقِينِ أَشْهَدُ … شَهَادَةَ الْإِخْلَاصِ أَنْ لَا يُعْبَدُAmma ba’du, sesungguhnya aku bersaksi dengan yakin…Persaksian penuh keikhlasan bahwasanya tidak ada yang disembah…بِالْحَقِّ مَأْلُوهٌ سِوَى الرَّحْمَنِ … مَنْ جَلَّ عَنْ عَيْبٍ وَعَنْ نُقْصَانِdengan benar sesembahanpun kecuali Ar-Rahman….Yang suci dari celaan dan kekurangan… وَأَنَّ خَيْرَ خَلْقِهِ مُحَمَّدَا … مَنْ جَاءَنَا بِالْبَيِّنَاتِ وَالْهُدَىDan bahwasanya manusia yang terbaik yaitu Muhammad adalah orang yang telah datang kepada kita dengan membawa hujjah dan petunjukصلَّى عَلَيْهِ رَبُّنَا وَمَجَّدَا….والآلِ والصَّحْبِ دَوَامًا سَرْمَدًاRob kita menjadikannya agung dan mencurahkan shalawat kepadanya….Kepada keluarga dan para sahabatnya selama-lamanya…يا رَبِّ فَاِجمَعنا مَعاً وَنَبِيَّنا ….في جَنَّةٍ تُثْنِي عُيونَ الحُسَّدِYa Robku, kumpulkanlah kami bersama dengan nabi kami…di surga sehingga menjauhkan mata-mata yang hasad…في جَنَّةِ الفِردَوسِ وَاكْتُبهَا لَنا …يا ذا الجَلالِ وَذا العُلا وَالسُؤدُدِDi surga Firdaus dan tetapkanlah bagi kami….wahai Dzat Yang Maha Mulia dan Maha Tinggi serta Maha Kuasa… Wahai kaum muslimin sekalian, bertakwalah kepada Rob kalian, karena sungguh menang orang bertakwa, dan merugilah seorang yang berlebihan dalam dosa dan celaka.وعلى التَّقِيِّ إذا ترسَّخَ في التُّقى… تاجان تاج سكينة ٍ وجلالِDan kepada orang yang ketakwaannya telah kokoh, diberikan kepadanya…dua mahkota, mahkota ketenangan dan mahkota kemuliaan…وإذا تَنَاسَبَتِ الرّجالُ، فما أرَى … نَسَباً يكون كصالِحِ الأعْمالِDan jika para lelaki telah berbangga dengan nasab yang terbaik….maka aku tidak melihat adanya nasab yang terbaik seperti layaknya amal sholeh…يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَHai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar. (QS At-Taubah : 119)Wahai hamba Allah…petiklah pelajaran dari orang-orang yang telah berlalu…, takutlah engkau kepada kematian yang datang tiba-tiba…, dan waspadalah dari api neraka yang menyala-nyala…وَابْكِ عَلَى ذَنْبٍ وَقَلْبٍ قَدْ قَسَا *** كَالصَّخْرِ مِنْ هَوَاهُ لَمْ يَسْتَفِقِTangisilah dosamu dan hatimu yang telah keras seperti batu…Tidak bisa sadar karena terkuasai hawa nafsu…وَكُنْ خَمِيْصَ الْبَطْنِ مِنْ زَادِ الرِّبَا … وَخَمْرَةَ التَّقْوَى اصطبح واغتبقِDan hendaknya perutmu kosong dari hasil riba….Akan tetapi dengan minuman ketakwaan hendaknya engkau teguk pagi dan sore…ولا تُنَقِّصْ أحَداً فَكُلُّنَا…. مِنْ رَجُلٍ وأصْلُنَا مِنْ عَلَقِJanganlah engkau merendahkan seorangpun….Karena kita seluruhnya berasal dari satu orang, dan asal kita adalah dari segumpal darah…والْخُلْدُ قَدْ مَزَّقَ أقوامَ سَبَا … وهَدَّ سَدّاً مُحْكَمَ التَّأَنُقِDan waktu yang lama berjalan telah menghancurkan kaum negeri Saba’…Merontohkan bendungan (mereka) yang kokoh dan kuat…يَا نفسُ تُوْبِي لَمْ تُخْلَقِي عَبَثَا… يَا نَفْسُ تُوْبِي قَبْلَ أنْWahai jiwa…bertaubatlah…, sesungghuhnya engkau tidaklah diciptakan begitu saja (tanpa hisab-pen)…Wahai jiwa…bertaubatlah sebelum engkau…تُطِيْلِي تَحْتَ الثَّرَى اللَّبَثَا…يَا نَفْسُ تُوْبِي قَبْلَ أَنْberdiam lama di bawah tanah….wahai jiwa bertaubatlah sebelum engkau…تَسْكُنِي رَاغِمَةً جَدَثَاtinggal di kuburan padahal engkau tidak menyukainya…أيا نفسُ بِالْمَأْثُوْرِ عَنْ خَيْرِ مُرْسَلٍ….وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ تَمَسَّكِيWahai jiwa, berpeganglah dengan hadits rasul yang termulia, serta atsar dari para sahabat dan tabi’in…وخافِي غداً يومَ الْحِسَابِ جَهَنَّمَا….إِذَا نَفَحَتْ نِيْرَانُهَا أَنْ تَمَسَّكِTakutlah engkau esok dengan neraka Jahannam pada hari pengadilan…Jika ia meniupkan apinya yang akan membakarmu… Wahai yang bermaksiat kepada Robnya….wahai yang hawa nafsunya telah membuatnya tuli dan membutakannya…, wahai yang telah mendahulukan dunianya daripada akhiratnya…, wahai yang telah bertumpuk dosa-dosanya…Wahai yang telah melalaikan sholat…wahai yang tidak menunaikan hak Allah dan tidak membayar zakat…Wahai orang yang mengumpulkan harta lalu menyimpannya dan menguncinya…Wahai yang hiburannya adalah berbuat kezoliman…, mengganggu dan menyakiti orang lain adalah tradisi dan sifatnya…Sampai kapan engkau tidak peduli tenggelam dalam kelalaianmu…Hingga kapan engkau tidak berhenti…sementara engkau akan pergi dari dunia ini dan meninggalkannya?Maka segeralah bertaubat, segeralah…!بَادِرْ عُمْراً دَارِسًا، وَمَوْتاً خَالِساً، وَمَرَضاً حَابِسًا، وَهَرَمًا لاَبِسًاBersegeralah (bertaubat) sebelum umurmu sirna…, sebelum maut menyambarmu…, sebelum sakit menghalangimu…, sebelum tua renta menempatimu…Wahai orang yang berkata, “Aku akan bertaubat besok…”, bagaimana engkau bertaubat esok hari, sementara esok hari bukanlah milikmu…?, bagaimana engkau baru bertaubat esok hari, sementara bisa jadi engkau tidak bertemu lagi dengan esok hari?قَدِّمْ لِنَفْسِكَ تَوْبَةً مَرْجُوَّةً *** قَبْلَ الْمَمَاتِ وَقَبْلَ حَبْسِ الأَلْسُنِPersembahkanlah untuk jiwamu taubat yang diharapkan…Sebelum kematian dan sebelum lisan terkekang.. بَادِرْ بِهَا غَلْقَ النُّفُوْسِ فَإِنَّهَا *** ذُخْرٌ وَغُنْمٌ لِلْمُنِيْبِ الْمُحْسِنِBersegeralah bertaubat sebelum jiwa tertutup, karena sesungguhnya taubat…Adalah simpanan dan keuntungan bagi orang yang kembali dan berbuat baik…يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًاHai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). (QS At-Tahriim : 8)Taubat yang menyelamatkan kalian dari kehinaan dan kerendahan, menghalangi kalian dari kesalahan dan dosa, taubat yang membawa kalian untuk melaksanakan fardu dan kewajiban, taubat yang mendorong kalian untuk memperbaiki dan mengganti kesalahan yang telah berlalu…Barangsiapa yang berbuat keburukan kepada seorang muslim atau menzoliminya atau menamparnya atau memakinya, atau memakan hartanya dan mengurangi haknya, atau mengikis haknya atau menahannya, maka hendaknya ia mendatanginya dan memohon maaf kepadanya, merendahkan dirinya dengan penuh penyesalan. Maka saudaranya itu akan memaafkannya atau ia meminta ganti rugi.Dari Abu Huroiroh radhiallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda :مَنْ كَانَتْ لَهُ مَظْلَمَةٌ لِأَخِيهِ مِنْ عِرْضِهِ أَوْ شَيْءٍ، فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهُ اليَوْمَ، قَبْلَ أَنْ لاَ يَكُونَ دِينَارٌ وَلاَ دِرْهَمٌ، إِنْ كَانَ لَهُ عَمَلٌ صَالِحٌ أُخِذَ مِنْهُ بِقَدْرِ مَظْلَمَتِهِ، وَإِنْ لَمْ تَكُنْ لَهُ حَسَنَاتٌ أُخِذَ مِنْ سَيِّئَاتِ صَاحِبِهِ فَحُمِلَ عَلَيْهِ“Barangsiapa yang berbuat zolim kepada saudaranya baik berkaitan dengan harga dirinya atau sesuatu apapun maka hendaknya ia meminta untuk dihalalkan pada hari ini sebalum tiba hari dimana tidak ada lagi dinar dan dirham. Jika ia memiliki amal sholeh maka akan diambil amal sholehnya sesuai kadar kezolimannya, dan jika ia tidak memiliki kebaikan maka diambillah keburukan saudaranya tersebut lalu dipikulkan kepadanya” (HR Al-Bukhari)Maka sungguh beruntung orang yang memperbaiki kesalahannya selagi masih memungkinkan untuk dilakukan, ia bersegera untuk bertaubat sebelum tiba ajalnya, dan beramal di dunia yang bermanfaat untuk akhiratnya.Dan iapun wafat di atas sembilan sifat yang indah dan perangai yang mulia yang disebutkan dalam sebuah ayat yang mulia dari surat At-Taubah yang agung.التَّائِبُونَ الْعَابِدُونَ الْحَامِدُونَ السَّائِحُونَ الرَّاكِعُونَ السَّاجِدُونَ الآمِرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّاهُونَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَالْحَافِظُونَ لِحُدُودِ اللَّهِ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ (١١٢)Mereka itu adalah orang-orang yang bertaubat, yang beribadat, yang memuji, yang melawat, yang ruku’, yang sujud, yang menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah berbuat Munkar dan yang memelihara hukum-hukum Allah. dan gembirakanlah orang-orang mukmin itu. (QS At-Taubah : 112)Semoga Allah menjadikanku dan kalian menjadi orang yang bertaubat dan kembali kepadaNya, menang dengan memperoleh ganjaran yang baik, serta dimasukkan ke surga tanpa hisab dan adzab, serta meraih kemenangan dengan taubat yang baik.Aku sampaikan apa yang kalian dengar, dan aku memohon ampunan kepada Allah, maka mohonlah ampunan dariNya, sesungguhnya Allah maha pengampun bagi orang-orang yang bertaubat. Khutbah Kedua :          Segala puji bagi Allah yang telah menghantarkan kepada kita kebaikan-kebaikan dan rizki, dan tidak menjadikan kita bertawakal kepada selainNya. Aku bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak disembah melainkan Allah tidak ada sekutu bagiNya, yang telah menyiapkan surga bagi orang-orang yang bertakwa, dan menyiapkan neraka bagi orang-orang yang melampaui batas sebagai balasan yang setimpal. Semoga shalawat dan salam senantiasa tercurahkan kepada Nabi dan keluarganya serta para sahabatnya yang bersegera dalam kebaikan dan berlomb-lomba.Amma ba’du, kaum muslimin sekalian, bertakwalah karena sesungguhnya takwa kepada Allah merupakan hasil yang terbaik, dan ketaatan kepadanya merupakan nasab yang tertinggi.يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ (١٠٢)Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam Keadaan beragama Islam. (QS Ali Imron : 102) Kaum Muslimin sekalian, sesungguhnya kalian hidup di negeri yang suci, dalam keamanan yang jelas, dengan rizki yang berlimpah, di bawah pemerintahan yang beriman, yang berhukum dengan al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Kalian berada dibawah Negara yang tegak diatas pondasi yang kuat berupa agama dan tauhid serta iman dan sunnah, demikian pula syari’at, persatuan, rahmat, hikmah, dan kekuatan.Maka pujilah Allah atas anugerah yang agung ini serta karunia yang dirasakan ini dengan melazimi ketaatan kepadaNya dan waspada dari bermaksiat kepadaNya.Jagalah negeri kalian, keamanan kalian, dan persatuan kalian dari orang-orang bodoh, para perusak dan khawarij yang keluar, serta gembong-gembong fitnah yang sesat yang selalu berusaha untuk menyebarkan kekacauan di negeri kalian, untuk menggoncang stabilitas keamanan dan ketentraman di negeri kalian.Dan kita menjulurkan tangan-tangan kita (untuk membai’at) kepada pemimpin kita dan imam kita serta waliyul amr kita yaitu Pelayan dua kota suci yang mulia Raja Salman bin Abdul Aziz, seorang lelaki yang tegas, kokoh, dan tegar. Dan kita berkata : bahwasanya kita di atas janji dan menunaikan janji serta loyalitas dan afiliasi, kita adalah kekuatan di waktu genting, kita siap berkorban demi keamanan negeri kita dan negara kita Kerajaan Arab Saudi, dan kami mengucapkan selamat berkah atas kesuksesan keamanan dalam mengejar kelompok pemberontak, dan kami mengucapkan selamat keberkahan atas keputusan-keputusan Raja yang bertujuan untuk memantapkan hukum dan pondasi-pondasinya serta mengokohkannya untuk menegakkan bangunannya. Dan kami membai’at kepada seri paduka pangeran Muhammad bin Nayif bin Abdil Aziz sebagai putra mahkota dan kami juga membai’at seri paduka pangeran Muhammad bin Salman bin Abdil Aziz sebagai wakil putra mahkota, hanya kepada Allah kami memohon untuk membantu mereka berdua dengan pertolonganNya dan taufiqNya.Wahai para pejuang yang hebat, tokoh tokoh pemberani, wahai para pasukan penjaga daerah perbatasan kerajaan Arab Saudi yang tercinta, kalian adalah kebanggaan kami, kemuliaan kami, serta benteng dan baju perang pelindung kami, sungguh selamat bagi kalian meraih kemuliaan dunia dan ganjaran akhirat.Dari Salman radhiallahu ‘anhu berliau berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :رِبَاطُ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ خَيْرٌ مِنْ صِيَامِ شَهْرٍ وَقِيَامِهِ، وَإِنْ مَاتَ جَرَى عَلَيْهِ عَمَلُهُ الَّذِي كَانَ يَعْمَلُهُ، وَأُجْرِيَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ، وَأَمِنَ الْفَتَّانَ“Berjaga di daerah perbatasan sehari semalam lebih baik daripada puasa dan sholat malam sebulan. Jika ia meninggal maka akan berjalan amalan yang biasa ia lakukan, dan akan diberikan kepadanya rizkinya dan diamankan dari fitnah kuburan” (HR Muslim)Dan dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhumaa ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :عَيْنَانِ لاَ تَمَسُّهُمَا النَّارُ، عَيْنٌ بَكَتْ مِنْ خَشْيَةِ اللهِ وَعَيْنٌ تَحْرُسُ فِي سَبِيْلِ اللهِ“Dua mata yang tidak akan disentuh oleh api neraka, mata yang menangis karena takut kepada Allah dan mata yang (tidak tidur) karena berjaga di jalan Allah” (HR At-Tirmidzi)Ya Allah jagalah keamanan bagi kami, persatuan kami, serta ketenteraman kami wahai Robbul ‘alamin. Ya Allah tentara kami yang berjaga di daerah perbatasan…, Ya Allah kuatkanlah semangat mereka, dan tepatkanlah tembakan mereka, dan hancurkanlah musuh-musuh mereka, tolonglah tentara kami mengalahkan kaum yang zolim. Ya Allah terimalah yang meninggal diantara mereka sebagai syuhadaa Uhud, sembuhkanlah orang-orang yang sakit diantara mereka, wahai Yang Maha mendengarkan doa.Penerjemah: Abu Abdil Muhsin Firandawww.firanda.com
Khutbah Mesjid Nabawi 12-7-1436 H / 2-5-2015 MOleh : Asy-Syaikh Sholah Al-Budair hafizohullohKhutbah Pertamaاَلْحَمْدُ لِلّهِ لاَ أَبْغِي بِهِ بَدَلاَ ….حَمْدًا يُبَلِّغُ مِنْ رِضْوَانِهِ الأَمَلاَSegala puji bagi Allah, aku tidak mencari pengganti selainNya…Pujian yang menyampaikan harapan untuk meraih keridhoanNya..وَبَعْدُ : إِنِّي بِالْيَقِينِ أَشْهَدُ … شَهَادَةَ الْإِخْلَاصِ أَنْ لَا يُعْبَدُAmma ba’du, sesungguhnya aku bersaksi dengan yakin…Persaksian penuh keikhlasan bahwasanya tidak ada yang disembah…بِالْحَقِّ مَأْلُوهٌ سِوَى الرَّحْمَنِ … مَنْ جَلَّ عَنْ عَيْبٍ وَعَنْ نُقْصَانِdengan benar sesembahanpun kecuali Ar-Rahman….Yang suci dari celaan dan kekurangan… وَأَنَّ خَيْرَ خَلْقِهِ مُحَمَّدَا … مَنْ جَاءَنَا بِالْبَيِّنَاتِ وَالْهُدَىDan bahwasanya manusia yang terbaik yaitu Muhammad adalah orang yang telah datang kepada kita dengan membawa hujjah dan petunjukصلَّى عَلَيْهِ رَبُّنَا وَمَجَّدَا….والآلِ والصَّحْبِ دَوَامًا سَرْمَدًاRob kita menjadikannya agung dan mencurahkan shalawat kepadanya….Kepada keluarga dan para sahabatnya selama-lamanya…يا رَبِّ فَاِجمَعنا مَعاً وَنَبِيَّنا ….في جَنَّةٍ تُثْنِي عُيونَ الحُسَّدِYa Robku, kumpulkanlah kami bersama dengan nabi kami…di surga sehingga menjauhkan mata-mata yang hasad…في جَنَّةِ الفِردَوسِ وَاكْتُبهَا لَنا …يا ذا الجَلالِ وَذا العُلا وَالسُؤدُدِDi surga Firdaus dan tetapkanlah bagi kami….wahai Dzat Yang Maha Mulia dan Maha Tinggi serta Maha Kuasa… Wahai kaum muslimin sekalian, bertakwalah kepada Rob kalian, karena sungguh menang orang bertakwa, dan merugilah seorang yang berlebihan dalam dosa dan celaka.وعلى التَّقِيِّ إذا ترسَّخَ في التُّقى… تاجان تاج سكينة ٍ وجلالِDan kepada orang yang ketakwaannya telah kokoh, diberikan kepadanya…dua mahkota, mahkota ketenangan dan mahkota kemuliaan…وإذا تَنَاسَبَتِ الرّجالُ، فما أرَى … نَسَباً يكون كصالِحِ الأعْمالِDan jika para lelaki telah berbangga dengan nasab yang terbaik….maka aku tidak melihat adanya nasab yang terbaik seperti layaknya amal sholeh…يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَHai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar. (QS At-Taubah : 119)Wahai hamba Allah…petiklah pelajaran dari orang-orang yang telah berlalu…, takutlah engkau kepada kematian yang datang tiba-tiba…, dan waspadalah dari api neraka yang menyala-nyala…وَابْكِ عَلَى ذَنْبٍ وَقَلْبٍ قَدْ قَسَا *** كَالصَّخْرِ مِنْ هَوَاهُ لَمْ يَسْتَفِقِTangisilah dosamu dan hatimu yang telah keras seperti batu…Tidak bisa sadar karena terkuasai hawa nafsu…وَكُنْ خَمِيْصَ الْبَطْنِ مِنْ زَادِ الرِّبَا … وَخَمْرَةَ التَّقْوَى اصطبح واغتبقِDan hendaknya perutmu kosong dari hasil riba….Akan tetapi dengan minuman ketakwaan hendaknya engkau teguk pagi dan sore…ولا تُنَقِّصْ أحَداً فَكُلُّنَا…. مِنْ رَجُلٍ وأصْلُنَا مِنْ عَلَقِJanganlah engkau merendahkan seorangpun….Karena kita seluruhnya berasal dari satu orang, dan asal kita adalah dari segumpal darah…والْخُلْدُ قَدْ مَزَّقَ أقوامَ سَبَا … وهَدَّ سَدّاً مُحْكَمَ التَّأَنُقِDan waktu yang lama berjalan telah menghancurkan kaum negeri Saba’…Merontohkan bendungan (mereka) yang kokoh dan kuat…يَا نفسُ تُوْبِي لَمْ تُخْلَقِي عَبَثَا… يَا نَفْسُ تُوْبِي قَبْلَ أنْWahai jiwa…bertaubatlah…, sesungghuhnya engkau tidaklah diciptakan begitu saja (tanpa hisab-pen)…Wahai jiwa…bertaubatlah sebelum engkau…تُطِيْلِي تَحْتَ الثَّرَى اللَّبَثَا…يَا نَفْسُ تُوْبِي قَبْلَ أَنْberdiam lama di bawah tanah….wahai jiwa bertaubatlah sebelum engkau…تَسْكُنِي رَاغِمَةً جَدَثَاtinggal di kuburan padahal engkau tidak menyukainya…أيا نفسُ بِالْمَأْثُوْرِ عَنْ خَيْرِ مُرْسَلٍ….وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ تَمَسَّكِيWahai jiwa, berpeganglah dengan hadits rasul yang termulia, serta atsar dari para sahabat dan tabi’in…وخافِي غداً يومَ الْحِسَابِ جَهَنَّمَا….إِذَا نَفَحَتْ نِيْرَانُهَا أَنْ تَمَسَّكِTakutlah engkau esok dengan neraka Jahannam pada hari pengadilan…Jika ia meniupkan apinya yang akan membakarmu… Wahai yang bermaksiat kepada Robnya….wahai yang hawa nafsunya telah membuatnya tuli dan membutakannya…, wahai yang telah mendahulukan dunianya daripada akhiratnya…, wahai yang telah bertumpuk dosa-dosanya…Wahai yang telah melalaikan sholat…wahai yang tidak menunaikan hak Allah dan tidak membayar zakat…Wahai orang yang mengumpulkan harta lalu menyimpannya dan menguncinya…Wahai yang hiburannya adalah berbuat kezoliman…, mengganggu dan menyakiti orang lain adalah tradisi dan sifatnya…Sampai kapan engkau tidak peduli tenggelam dalam kelalaianmu…Hingga kapan engkau tidak berhenti…sementara engkau akan pergi dari dunia ini dan meninggalkannya?Maka segeralah bertaubat, segeralah…!بَادِرْ عُمْراً دَارِسًا، وَمَوْتاً خَالِساً، وَمَرَضاً حَابِسًا، وَهَرَمًا لاَبِسًاBersegeralah (bertaubat) sebelum umurmu sirna…, sebelum maut menyambarmu…, sebelum sakit menghalangimu…, sebelum tua renta menempatimu…Wahai orang yang berkata, “Aku akan bertaubat besok…”, bagaimana engkau bertaubat esok hari, sementara esok hari bukanlah milikmu…?, bagaimana engkau baru bertaubat esok hari, sementara bisa jadi engkau tidak bertemu lagi dengan esok hari?قَدِّمْ لِنَفْسِكَ تَوْبَةً مَرْجُوَّةً *** قَبْلَ الْمَمَاتِ وَقَبْلَ حَبْسِ الأَلْسُنِPersembahkanlah untuk jiwamu taubat yang diharapkan…Sebelum kematian dan sebelum lisan terkekang.. بَادِرْ بِهَا غَلْقَ النُّفُوْسِ فَإِنَّهَا *** ذُخْرٌ وَغُنْمٌ لِلْمُنِيْبِ الْمُحْسِنِBersegeralah bertaubat sebelum jiwa tertutup, karena sesungguhnya taubat…Adalah simpanan dan keuntungan bagi orang yang kembali dan berbuat baik…يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًاHai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). (QS At-Tahriim : 8)Taubat yang menyelamatkan kalian dari kehinaan dan kerendahan, menghalangi kalian dari kesalahan dan dosa, taubat yang membawa kalian untuk melaksanakan fardu dan kewajiban, taubat yang mendorong kalian untuk memperbaiki dan mengganti kesalahan yang telah berlalu…Barangsiapa yang berbuat keburukan kepada seorang muslim atau menzoliminya atau menamparnya atau memakinya, atau memakan hartanya dan mengurangi haknya, atau mengikis haknya atau menahannya, maka hendaknya ia mendatanginya dan memohon maaf kepadanya, merendahkan dirinya dengan penuh penyesalan. Maka saudaranya itu akan memaafkannya atau ia meminta ganti rugi.Dari Abu Huroiroh radhiallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda :مَنْ كَانَتْ لَهُ مَظْلَمَةٌ لِأَخِيهِ مِنْ عِرْضِهِ أَوْ شَيْءٍ، فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهُ اليَوْمَ، قَبْلَ أَنْ لاَ يَكُونَ دِينَارٌ وَلاَ دِرْهَمٌ، إِنْ كَانَ لَهُ عَمَلٌ صَالِحٌ أُخِذَ مِنْهُ بِقَدْرِ مَظْلَمَتِهِ، وَإِنْ لَمْ تَكُنْ لَهُ حَسَنَاتٌ أُخِذَ مِنْ سَيِّئَاتِ صَاحِبِهِ فَحُمِلَ عَلَيْهِ“Barangsiapa yang berbuat zolim kepada saudaranya baik berkaitan dengan harga dirinya atau sesuatu apapun maka hendaknya ia meminta untuk dihalalkan pada hari ini sebalum tiba hari dimana tidak ada lagi dinar dan dirham. Jika ia memiliki amal sholeh maka akan diambil amal sholehnya sesuai kadar kezolimannya, dan jika ia tidak memiliki kebaikan maka diambillah keburukan saudaranya tersebut lalu dipikulkan kepadanya” (HR Al-Bukhari)Maka sungguh beruntung orang yang memperbaiki kesalahannya selagi masih memungkinkan untuk dilakukan, ia bersegera untuk bertaubat sebelum tiba ajalnya, dan beramal di dunia yang bermanfaat untuk akhiratnya.Dan iapun wafat di atas sembilan sifat yang indah dan perangai yang mulia yang disebutkan dalam sebuah ayat yang mulia dari surat At-Taubah yang agung.التَّائِبُونَ الْعَابِدُونَ الْحَامِدُونَ السَّائِحُونَ الرَّاكِعُونَ السَّاجِدُونَ الآمِرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّاهُونَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَالْحَافِظُونَ لِحُدُودِ اللَّهِ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ (١١٢)Mereka itu adalah orang-orang yang bertaubat, yang beribadat, yang memuji, yang melawat, yang ruku’, yang sujud, yang menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah berbuat Munkar dan yang memelihara hukum-hukum Allah. dan gembirakanlah orang-orang mukmin itu. (QS At-Taubah : 112)Semoga Allah menjadikanku dan kalian menjadi orang yang bertaubat dan kembali kepadaNya, menang dengan memperoleh ganjaran yang baik, serta dimasukkan ke surga tanpa hisab dan adzab, serta meraih kemenangan dengan taubat yang baik.Aku sampaikan apa yang kalian dengar, dan aku memohon ampunan kepada Allah, maka mohonlah ampunan dariNya, sesungguhnya Allah maha pengampun bagi orang-orang yang bertaubat. Khutbah Kedua :          Segala puji bagi Allah yang telah menghantarkan kepada kita kebaikan-kebaikan dan rizki, dan tidak menjadikan kita bertawakal kepada selainNya. Aku bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak disembah melainkan Allah tidak ada sekutu bagiNya, yang telah menyiapkan surga bagi orang-orang yang bertakwa, dan menyiapkan neraka bagi orang-orang yang melampaui batas sebagai balasan yang setimpal. Semoga shalawat dan salam senantiasa tercurahkan kepada Nabi dan keluarganya serta para sahabatnya yang bersegera dalam kebaikan dan berlomb-lomba.Amma ba’du, kaum muslimin sekalian, bertakwalah karena sesungguhnya takwa kepada Allah merupakan hasil yang terbaik, dan ketaatan kepadanya merupakan nasab yang tertinggi.يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ (١٠٢)Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam Keadaan beragama Islam. (QS Ali Imron : 102) Kaum Muslimin sekalian, sesungguhnya kalian hidup di negeri yang suci, dalam keamanan yang jelas, dengan rizki yang berlimpah, di bawah pemerintahan yang beriman, yang berhukum dengan al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Kalian berada dibawah Negara yang tegak diatas pondasi yang kuat berupa agama dan tauhid serta iman dan sunnah, demikian pula syari’at, persatuan, rahmat, hikmah, dan kekuatan.Maka pujilah Allah atas anugerah yang agung ini serta karunia yang dirasakan ini dengan melazimi ketaatan kepadaNya dan waspada dari bermaksiat kepadaNya.Jagalah negeri kalian, keamanan kalian, dan persatuan kalian dari orang-orang bodoh, para perusak dan khawarij yang keluar, serta gembong-gembong fitnah yang sesat yang selalu berusaha untuk menyebarkan kekacauan di negeri kalian, untuk menggoncang stabilitas keamanan dan ketentraman di negeri kalian.Dan kita menjulurkan tangan-tangan kita (untuk membai’at) kepada pemimpin kita dan imam kita serta waliyul amr kita yaitu Pelayan dua kota suci yang mulia Raja Salman bin Abdul Aziz, seorang lelaki yang tegas, kokoh, dan tegar. Dan kita berkata : bahwasanya kita di atas janji dan menunaikan janji serta loyalitas dan afiliasi, kita adalah kekuatan di waktu genting, kita siap berkorban demi keamanan negeri kita dan negara kita Kerajaan Arab Saudi, dan kami mengucapkan selamat berkah atas kesuksesan keamanan dalam mengejar kelompok pemberontak, dan kami mengucapkan selamat keberkahan atas keputusan-keputusan Raja yang bertujuan untuk memantapkan hukum dan pondasi-pondasinya serta mengokohkannya untuk menegakkan bangunannya. Dan kami membai’at kepada seri paduka pangeran Muhammad bin Nayif bin Abdil Aziz sebagai putra mahkota dan kami juga membai’at seri paduka pangeran Muhammad bin Salman bin Abdil Aziz sebagai wakil putra mahkota, hanya kepada Allah kami memohon untuk membantu mereka berdua dengan pertolonganNya dan taufiqNya.Wahai para pejuang yang hebat, tokoh tokoh pemberani, wahai para pasukan penjaga daerah perbatasan kerajaan Arab Saudi yang tercinta, kalian adalah kebanggaan kami, kemuliaan kami, serta benteng dan baju perang pelindung kami, sungguh selamat bagi kalian meraih kemuliaan dunia dan ganjaran akhirat.Dari Salman radhiallahu ‘anhu berliau berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :رِبَاطُ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ خَيْرٌ مِنْ صِيَامِ شَهْرٍ وَقِيَامِهِ، وَإِنْ مَاتَ جَرَى عَلَيْهِ عَمَلُهُ الَّذِي كَانَ يَعْمَلُهُ، وَأُجْرِيَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ، وَأَمِنَ الْفَتَّانَ“Berjaga di daerah perbatasan sehari semalam lebih baik daripada puasa dan sholat malam sebulan. Jika ia meninggal maka akan berjalan amalan yang biasa ia lakukan, dan akan diberikan kepadanya rizkinya dan diamankan dari fitnah kuburan” (HR Muslim)Dan dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhumaa ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :عَيْنَانِ لاَ تَمَسُّهُمَا النَّارُ، عَيْنٌ بَكَتْ مِنْ خَشْيَةِ اللهِ وَعَيْنٌ تَحْرُسُ فِي سَبِيْلِ اللهِ“Dua mata yang tidak akan disentuh oleh api neraka, mata yang menangis karena takut kepada Allah dan mata yang (tidak tidur) karena berjaga di jalan Allah” (HR At-Tirmidzi)Ya Allah jagalah keamanan bagi kami, persatuan kami, serta ketenteraman kami wahai Robbul ‘alamin. Ya Allah tentara kami yang berjaga di daerah perbatasan…, Ya Allah kuatkanlah semangat mereka, dan tepatkanlah tembakan mereka, dan hancurkanlah musuh-musuh mereka, tolonglah tentara kami mengalahkan kaum yang zolim. Ya Allah terimalah yang meninggal diantara mereka sebagai syuhadaa Uhud, sembuhkanlah orang-orang yang sakit diantara mereka, wahai Yang Maha mendengarkan doa.Penerjemah: Abu Abdil Muhsin Firandawww.firanda.com


Khutbah Mesjid Nabawi 12-7-1436 H / 2-5-2015 MOleh : Asy-Syaikh Sholah Al-Budair hafizohullohKhutbah Pertamaاَلْحَمْدُ لِلّهِ لاَ أَبْغِي بِهِ بَدَلاَ ….حَمْدًا يُبَلِّغُ مِنْ رِضْوَانِهِ الأَمَلاَSegala puji bagi Allah, aku tidak mencari pengganti selainNya…Pujian yang menyampaikan harapan untuk meraih keridhoanNya..وَبَعْدُ : إِنِّي بِالْيَقِينِ أَشْهَدُ … شَهَادَةَ الْإِخْلَاصِ أَنْ لَا يُعْبَدُAmma ba’du, sesungguhnya aku bersaksi dengan yakin…Persaksian penuh keikhlasan bahwasanya tidak ada yang disembah…بِالْحَقِّ مَأْلُوهٌ سِوَى الرَّحْمَنِ … مَنْ جَلَّ عَنْ عَيْبٍ وَعَنْ نُقْصَانِdengan benar sesembahanpun kecuali Ar-Rahman….Yang suci dari celaan dan kekurangan… وَأَنَّ خَيْرَ خَلْقِهِ مُحَمَّدَا … مَنْ جَاءَنَا بِالْبَيِّنَاتِ وَالْهُدَىDan bahwasanya manusia yang terbaik yaitu Muhammad adalah orang yang telah datang kepada kita dengan membawa hujjah dan petunjukصلَّى عَلَيْهِ رَبُّنَا وَمَجَّدَا….والآلِ والصَّحْبِ دَوَامًا سَرْمَدًاRob kita menjadikannya agung dan mencurahkan shalawat kepadanya….Kepada keluarga dan para sahabatnya selama-lamanya…يا رَبِّ فَاِجمَعنا مَعاً وَنَبِيَّنا ….في جَنَّةٍ تُثْنِي عُيونَ الحُسَّدِYa Robku, kumpulkanlah kami bersama dengan nabi kami…di surga sehingga menjauhkan mata-mata yang hasad…في جَنَّةِ الفِردَوسِ وَاكْتُبهَا لَنا …يا ذا الجَلالِ وَذا العُلا وَالسُؤدُدِDi surga Firdaus dan tetapkanlah bagi kami….wahai Dzat Yang Maha Mulia dan Maha Tinggi serta Maha Kuasa… Wahai kaum muslimin sekalian, bertakwalah kepada Rob kalian, karena sungguh menang orang bertakwa, dan merugilah seorang yang berlebihan dalam dosa dan celaka.وعلى التَّقِيِّ إذا ترسَّخَ في التُّقى… تاجان تاج سكينة ٍ وجلالِDan kepada orang yang ketakwaannya telah kokoh, diberikan kepadanya…dua mahkota, mahkota ketenangan dan mahkota kemuliaan…وإذا تَنَاسَبَتِ الرّجالُ، فما أرَى … نَسَباً يكون كصالِحِ الأعْمالِDan jika para lelaki telah berbangga dengan nasab yang terbaik….maka aku tidak melihat adanya nasab yang terbaik seperti layaknya amal sholeh…يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَHai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar. (QS At-Taubah : 119)Wahai hamba Allah…petiklah pelajaran dari orang-orang yang telah berlalu…, takutlah engkau kepada kematian yang datang tiba-tiba…, dan waspadalah dari api neraka yang menyala-nyala…وَابْكِ عَلَى ذَنْبٍ وَقَلْبٍ قَدْ قَسَا *** كَالصَّخْرِ مِنْ هَوَاهُ لَمْ يَسْتَفِقِTangisilah dosamu dan hatimu yang telah keras seperti batu…Tidak bisa sadar karena terkuasai hawa nafsu…وَكُنْ خَمِيْصَ الْبَطْنِ مِنْ زَادِ الرِّبَا … وَخَمْرَةَ التَّقْوَى اصطبح واغتبقِDan hendaknya perutmu kosong dari hasil riba….Akan tetapi dengan minuman ketakwaan hendaknya engkau teguk pagi dan sore…ولا تُنَقِّصْ أحَداً فَكُلُّنَا…. مِنْ رَجُلٍ وأصْلُنَا مِنْ عَلَقِJanganlah engkau merendahkan seorangpun….Karena kita seluruhnya berasal dari satu orang, dan asal kita adalah dari segumpal darah…والْخُلْدُ قَدْ مَزَّقَ أقوامَ سَبَا … وهَدَّ سَدّاً مُحْكَمَ التَّأَنُقِDan waktu yang lama berjalan telah menghancurkan kaum negeri Saba’…Merontohkan bendungan (mereka) yang kokoh dan kuat…يَا نفسُ تُوْبِي لَمْ تُخْلَقِي عَبَثَا… يَا نَفْسُ تُوْبِي قَبْلَ أنْWahai jiwa…bertaubatlah…, sesungghuhnya engkau tidaklah diciptakan begitu saja (tanpa hisab-pen)…Wahai jiwa…bertaubatlah sebelum engkau…تُطِيْلِي تَحْتَ الثَّرَى اللَّبَثَا…يَا نَفْسُ تُوْبِي قَبْلَ أَنْberdiam lama di bawah tanah….wahai jiwa bertaubatlah sebelum engkau…تَسْكُنِي رَاغِمَةً جَدَثَاtinggal di kuburan padahal engkau tidak menyukainya…أيا نفسُ بِالْمَأْثُوْرِ عَنْ خَيْرِ مُرْسَلٍ….وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ تَمَسَّكِيWahai jiwa, berpeganglah dengan hadits rasul yang termulia, serta atsar dari para sahabat dan tabi’in…وخافِي غداً يومَ الْحِسَابِ جَهَنَّمَا….إِذَا نَفَحَتْ نِيْرَانُهَا أَنْ تَمَسَّكِTakutlah engkau esok dengan neraka Jahannam pada hari pengadilan…Jika ia meniupkan apinya yang akan membakarmu… Wahai yang bermaksiat kepada Robnya….wahai yang hawa nafsunya telah membuatnya tuli dan membutakannya…, wahai yang telah mendahulukan dunianya daripada akhiratnya…, wahai yang telah bertumpuk dosa-dosanya…Wahai yang telah melalaikan sholat…wahai yang tidak menunaikan hak Allah dan tidak membayar zakat…Wahai orang yang mengumpulkan harta lalu menyimpannya dan menguncinya…Wahai yang hiburannya adalah berbuat kezoliman…, mengganggu dan menyakiti orang lain adalah tradisi dan sifatnya…Sampai kapan engkau tidak peduli tenggelam dalam kelalaianmu…Hingga kapan engkau tidak berhenti…sementara engkau akan pergi dari dunia ini dan meninggalkannya?Maka segeralah bertaubat, segeralah…!بَادِرْ عُمْراً دَارِسًا، وَمَوْتاً خَالِساً، وَمَرَضاً حَابِسًا، وَهَرَمًا لاَبِسًاBersegeralah (bertaubat) sebelum umurmu sirna…, sebelum maut menyambarmu…, sebelum sakit menghalangimu…, sebelum tua renta menempatimu…Wahai orang yang berkata, “Aku akan bertaubat besok…”, bagaimana engkau bertaubat esok hari, sementara esok hari bukanlah milikmu…?, bagaimana engkau baru bertaubat esok hari, sementara bisa jadi engkau tidak bertemu lagi dengan esok hari?قَدِّمْ لِنَفْسِكَ تَوْبَةً مَرْجُوَّةً *** قَبْلَ الْمَمَاتِ وَقَبْلَ حَبْسِ الأَلْسُنِPersembahkanlah untuk jiwamu taubat yang diharapkan…Sebelum kematian dan sebelum lisan terkekang.. بَادِرْ بِهَا غَلْقَ النُّفُوْسِ فَإِنَّهَا *** ذُخْرٌ وَغُنْمٌ لِلْمُنِيْبِ الْمُحْسِنِBersegeralah bertaubat sebelum jiwa tertutup, karena sesungguhnya taubat…Adalah simpanan dan keuntungan bagi orang yang kembali dan berbuat baik…يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًاHai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). (QS At-Tahriim : 8)Taubat yang menyelamatkan kalian dari kehinaan dan kerendahan, menghalangi kalian dari kesalahan dan dosa, taubat yang membawa kalian untuk melaksanakan fardu dan kewajiban, taubat yang mendorong kalian untuk memperbaiki dan mengganti kesalahan yang telah berlalu…Barangsiapa yang berbuat keburukan kepada seorang muslim atau menzoliminya atau menamparnya atau memakinya, atau memakan hartanya dan mengurangi haknya, atau mengikis haknya atau menahannya, maka hendaknya ia mendatanginya dan memohon maaf kepadanya, merendahkan dirinya dengan penuh penyesalan. Maka saudaranya itu akan memaafkannya atau ia meminta ganti rugi.Dari Abu Huroiroh radhiallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda :مَنْ كَانَتْ لَهُ مَظْلَمَةٌ لِأَخِيهِ مِنْ عِرْضِهِ أَوْ شَيْءٍ، فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهُ اليَوْمَ، قَبْلَ أَنْ لاَ يَكُونَ دِينَارٌ وَلاَ دِرْهَمٌ، إِنْ كَانَ لَهُ عَمَلٌ صَالِحٌ أُخِذَ مِنْهُ بِقَدْرِ مَظْلَمَتِهِ، وَإِنْ لَمْ تَكُنْ لَهُ حَسَنَاتٌ أُخِذَ مِنْ سَيِّئَاتِ صَاحِبِهِ فَحُمِلَ عَلَيْهِ“Barangsiapa yang berbuat zolim kepada saudaranya baik berkaitan dengan harga dirinya atau sesuatu apapun maka hendaknya ia meminta untuk dihalalkan pada hari ini sebalum tiba hari dimana tidak ada lagi dinar dan dirham. Jika ia memiliki amal sholeh maka akan diambil amal sholehnya sesuai kadar kezolimannya, dan jika ia tidak memiliki kebaikan maka diambillah keburukan saudaranya tersebut lalu dipikulkan kepadanya” (HR Al-Bukhari)Maka sungguh beruntung orang yang memperbaiki kesalahannya selagi masih memungkinkan untuk dilakukan, ia bersegera untuk bertaubat sebelum tiba ajalnya, dan beramal di dunia yang bermanfaat untuk akhiratnya.Dan iapun wafat di atas sembilan sifat yang indah dan perangai yang mulia yang disebutkan dalam sebuah ayat yang mulia dari surat At-Taubah yang agung.التَّائِبُونَ الْعَابِدُونَ الْحَامِدُونَ السَّائِحُونَ الرَّاكِعُونَ السَّاجِدُونَ الآمِرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّاهُونَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَالْحَافِظُونَ لِحُدُودِ اللَّهِ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ (١١٢)Mereka itu adalah orang-orang yang bertaubat, yang beribadat, yang memuji, yang melawat, yang ruku’, yang sujud, yang menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah berbuat Munkar dan yang memelihara hukum-hukum Allah. dan gembirakanlah orang-orang mukmin itu. (QS At-Taubah : 112)Semoga Allah menjadikanku dan kalian menjadi orang yang bertaubat dan kembali kepadaNya, menang dengan memperoleh ganjaran yang baik, serta dimasukkan ke surga tanpa hisab dan adzab, serta meraih kemenangan dengan taubat yang baik.Aku sampaikan apa yang kalian dengar, dan aku memohon ampunan kepada Allah, maka mohonlah ampunan dariNya, sesungguhnya Allah maha pengampun bagi orang-orang yang bertaubat. Khutbah Kedua :          Segala puji bagi Allah yang telah menghantarkan kepada kita kebaikan-kebaikan dan rizki, dan tidak menjadikan kita bertawakal kepada selainNya. Aku bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak disembah melainkan Allah tidak ada sekutu bagiNya, yang telah menyiapkan surga bagi orang-orang yang bertakwa, dan menyiapkan neraka bagi orang-orang yang melampaui batas sebagai balasan yang setimpal. Semoga shalawat dan salam senantiasa tercurahkan kepada Nabi dan keluarganya serta para sahabatnya yang bersegera dalam kebaikan dan berlomb-lomba.Amma ba’du, kaum muslimin sekalian, bertakwalah karena sesungguhnya takwa kepada Allah merupakan hasil yang terbaik, dan ketaatan kepadanya merupakan nasab yang tertinggi.يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ (١٠٢)Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam Keadaan beragama Islam. (QS Ali Imron : 102) Kaum Muslimin sekalian, sesungguhnya kalian hidup di negeri yang suci, dalam keamanan yang jelas, dengan rizki yang berlimpah, di bawah pemerintahan yang beriman, yang berhukum dengan al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Kalian berada dibawah Negara yang tegak diatas pondasi yang kuat berupa agama dan tauhid serta iman dan sunnah, demikian pula syari’at, persatuan, rahmat, hikmah, dan kekuatan.Maka pujilah Allah atas anugerah yang agung ini serta karunia yang dirasakan ini dengan melazimi ketaatan kepadaNya dan waspada dari bermaksiat kepadaNya.Jagalah negeri kalian, keamanan kalian, dan persatuan kalian dari orang-orang bodoh, para perusak dan khawarij yang keluar, serta gembong-gembong fitnah yang sesat yang selalu berusaha untuk menyebarkan kekacauan di negeri kalian, untuk menggoncang stabilitas keamanan dan ketentraman di negeri kalian.Dan kita menjulurkan tangan-tangan kita (untuk membai’at) kepada pemimpin kita dan imam kita serta waliyul amr kita yaitu Pelayan dua kota suci yang mulia Raja Salman bin Abdul Aziz, seorang lelaki yang tegas, kokoh, dan tegar. Dan kita berkata : bahwasanya kita di atas janji dan menunaikan janji serta loyalitas dan afiliasi, kita adalah kekuatan di waktu genting, kita siap berkorban demi keamanan negeri kita dan negara kita Kerajaan Arab Saudi, dan kami mengucapkan selamat berkah atas kesuksesan keamanan dalam mengejar kelompok pemberontak, dan kami mengucapkan selamat keberkahan atas keputusan-keputusan Raja yang bertujuan untuk memantapkan hukum dan pondasi-pondasinya serta mengokohkannya untuk menegakkan bangunannya. Dan kami membai’at kepada seri paduka pangeran Muhammad bin Nayif bin Abdil Aziz sebagai putra mahkota dan kami juga membai’at seri paduka pangeran Muhammad bin Salman bin Abdil Aziz sebagai wakil putra mahkota, hanya kepada Allah kami memohon untuk membantu mereka berdua dengan pertolonganNya dan taufiqNya.Wahai para pejuang yang hebat, tokoh tokoh pemberani, wahai para pasukan penjaga daerah perbatasan kerajaan Arab Saudi yang tercinta, kalian adalah kebanggaan kami, kemuliaan kami, serta benteng dan baju perang pelindung kami, sungguh selamat bagi kalian meraih kemuliaan dunia dan ganjaran akhirat.Dari Salman radhiallahu ‘anhu berliau berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :رِبَاطُ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ خَيْرٌ مِنْ صِيَامِ شَهْرٍ وَقِيَامِهِ، وَإِنْ مَاتَ جَرَى عَلَيْهِ عَمَلُهُ الَّذِي كَانَ يَعْمَلُهُ، وَأُجْرِيَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ، وَأَمِنَ الْفَتَّانَ“Berjaga di daerah perbatasan sehari semalam lebih baik daripada puasa dan sholat malam sebulan. Jika ia meninggal maka akan berjalan amalan yang biasa ia lakukan, dan akan diberikan kepadanya rizkinya dan diamankan dari fitnah kuburan” (HR Muslim)Dan dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhumaa ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :عَيْنَانِ لاَ تَمَسُّهُمَا النَّارُ، عَيْنٌ بَكَتْ مِنْ خَشْيَةِ اللهِ وَعَيْنٌ تَحْرُسُ فِي سَبِيْلِ اللهِ“Dua mata yang tidak akan disentuh oleh api neraka, mata yang menangis karena takut kepada Allah dan mata yang (tidak tidur) karena berjaga di jalan Allah” (HR At-Tirmidzi)Ya Allah jagalah keamanan bagi kami, persatuan kami, serta ketenteraman kami wahai Robbul ‘alamin. Ya Allah tentara kami yang berjaga di daerah perbatasan…, Ya Allah kuatkanlah semangat mereka, dan tepatkanlah tembakan mereka, dan hancurkanlah musuh-musuh mereka, tolonglah tentara kami mengalahkan kaum yang zolim. Ya Allah terimalah yang meninggal diantara mereka sebagai syuhadaa Uhud, sembuhkanlah orang-orang yang sakit diantara mereka, wahai Yang Maha mendengarkan doa.Penerjemah: Abu Abdil Muhsin Firandawww.firanda.com
Prev     Next