Merasa Harus Tampil

Banyak hasad dan pertikaian yang timbul diantara orang-orang yang sholeh yang giat dalam berdakwah dikarenakan “Merasa Harus Tampil“.Biarkanlah saudaramu yang tampil, tapi dukunglah ia dengan doa yang tulus di balik panggung, karena saudaramu sedang diuji dengan “tampil” tersebut.Bukan malah menikamnya dari belakang dengan ghibah dll.Kalau bisa beramal sholeh tanpa harus tampil kenapa tidak?, bukankah kita berusaha menempuh jalan yang paling selamat yang paling kurang beresiko?

Merasa Harus Tampil

Banyak hasad dan pertikaian yang timbul diantara orang-orang yang sholeh yang giat dalam berdakwah dikarenakan “Merasa Harus Tampil“.Biarkanlah saudaramu yang tampil, tapi dukunglah ia dengan doa yang tulus di balik panggung, karena saudaramu sedang diuji dengan “tampil” tersebut.Bukan malah menikamnya dari belakang dengan ghibah dll.Kalau bisa beramal sholeh tanpa harus tampil kenapa tidak?, bukankah kita berusaha menempuh jalan yang paling selamat yang paling kurang beresiko?
Banyak hasad dan pertikaian yang timbul diantara orang-orang yang sholeh yang giat dalam berdakwah dikarenakan “Merasa Harus Tampil“.Biarkanlah saudaramu yang tampil, tapi dukunglah ia dengan doa yang tulus di balik panggung, karena saudaramu sedang diuji dengan “tampil” tersebut.Bukan malah menikamnya dari belakang dengan ghibah dll.Kalau bisa beramal sholeh tanpa harus tampil kenapa tidak?, bukankah kita berusaha menempuh jalan yang paling selamat yang paling kurang beresiko?


Banyak hasad dan pertikaian yang timbul diantara orang-orang yang sholeh yang giat dalam berdakwah dikarenakan “Merasa Harus Tampil“.Biarkanlah saudaramu yang tampil, tapi dukunglah ia dengan doa yang tulus di balik panggung, karena saudaramu sedang diuji dengan “tampil” tersebut.Bukan malah menikamnya dari belakang dengan ghibah dll.Kalau bisa beramal sholeh tanpa harus tampil kenapa tidak?, bukankah kita berusaha menempuh jalan yang paling selamat yang paling kurang beresiko?

Tak Terkenaldi Bumi Namun Terkenal di Langit

Sungguh beruntung orang yang tidak terkenal dikalangan penghuni bumi akan tetapi ia masyhur di kalangan penghuni langit (malaikat).Tersohor di penduduk bumi :– Rentan menimbulkan riya’– menjadikan seseorang berusaha berbuat sesuai selera masyarakat dan perlu media demi menjaga ketenarannya– Kalau sampai bersalah maka aib pun ikut-ikutan tersohor Adapun tersohor diantara para penghuni langit maka :  – Akan selalu didoakan oleh mereka– Tidak perlu media untuk menyiarkan amalan sholeh, karena otomatis tercatat meskipun amalan dikerjakan di tengah malam gelap gulita di tengah terlelapnya penghuni bumi – kalau melakukan kesalahan maka tidak disebarkan bahkan dimohonkan ampunan oleh mereka kepada Allah (Lihat QS 40 :7-9)

Tak Terkenaldi Bumi Namun Terkenal di Langit

Sungguh beruntung orang yang tidak terkenal dikalangan penghuni bumi akan tetapi ia masyhur di kalangan penghuni langit (malaikat).Tersohor di penduduk bumi :– Rentan menimbulkan riya’– menjadikan seseorang berusaha berbuat sesuai selera masyarakat dan perlu media demi menjaga ketenarannya– Kalau sampai bersalah maka aib pun ikut-ikutan tersohor Adapun tersohor diantara para penghuni langit maka :  – Akan selalu didoakan oleh mereka– Tidak perlu media untuk menyiarkan amalan sholeh, karena otomatis tercatat meskipun amalan dikerjakan di tengah malam gelap gulita di tengah terlelapnya penghuni bumi – kalau melakukan kesalahan maka tidak disebarkan bahkan dimohonkan ampunan oleh mereka kepada Allah (Lihat QS 40 :7-9)
Sungguh beruntung orang yang tidak terkenal dikalangan penghuni bumi akan tetapi ia masyhur di kalangan penghuni langit (malaikat).Tersohor di penduduk bumi :– Rentan menimbulkan riya’– menjadikan seseorang berusaha berbuat sesuai selera masyarakat dan perlu media demi menjaga ketenarannya– Kalau sampai bersalah maka aib pun ikut-ikutan tersohor Adapun tersohor diantara para penghuni langit maka :  – Akan selalu didoakan oleh mereka– Tidak perlu media untuk menyiarkan amalan sholeh, karena otomatis tercatat meskipun amalan dikerjakan di tengah malam gelap gulita di tengah terlelapnya penghuni bumi – kalau melakukan kesalahan maka tidak disebarkan bahkan dimohonkan ampunan oleh mereka kepada Allah (Lihat QS 40 :7-9)


Sungguh beruntung orang yang tidak terkenal dikalangan penghuni bumi akan tetapi ia masyhur di kalangan penghuni langit (malaikat).Tersohor di penduduk bumi :– Rentan menimbulkan riya’– menjadikan seseorang berusaha berbuat sesuai selera masyarakat dan perlu media demi menjaga ketenarannya– Kalau sampai bersalah maka aib pun ikut-ikutan tersohor Adapun tersohor diantara para penghuni langit maka :  – Akan selalu didoakan oleh mereka– Tidak perlu media untuk menyiarkan amalan sholeh, karena otomatis tercatat meskipun amalan dikerjakan di tengah malam gelap gulita di tengah terlelapnya penghuni bumi – kalau melakukan kesalahan maka tidak disebarkan bahkan dimohonkan ampunan oleh mereka kepada Allah (Lihat QS 40 :7-9)

Faidah Fiqhiyah (Jual Beli) bag.1

Kaidah-kaidah tentang mudorobah syar’iyah– Modal/harta yang dijalankan oleh pekerja adalah harta amanah, karenanya jika timbul kerugian, maka si pekerja tidak menanggung kerugian tersebut. Jika sang pemodal rugi hartanya, maka si pekerja juga telah rugi kerjaannya dan keletihannya dalam mengolah modal. – Karena modal adalah harta amanah di tangan si pekerja, maka jika si pekerja tidak amanah dan teledor dalam menjalankan usaha dan mengolah modal maka iapun ikut menanggung kerugian. – Keuntungan dalam mudorobah tidak bisa ditentukan jumlahnya, akan tetapi bisa ditentukan dengan cara persenan dari hasil keuntungan dan dibagi persenan tersebut antara pemilik modal dengan si pekerja (dan persenan masing-masing terserah berapa saja tergantung kesepakatan kedua belah pihak).– Jaminan keuntungan (berapapun juga) dari pengolahan modal tidak boleh dibebankan kepada si pekerja. Karena jika dibebankan harus untung dari pekerja maka pada hakekatnya ini bukanlah mudorobah tapi “HUTANG BERBUNGA” ! (Dan inilah mudorobah ribawiyah yang sering diberi stempel syariah)– Boleh bagi si pekerja memperkirakan keuntungan, akan tetapi hanya sekedar perkiraan tanpa ada jaminan pasti untung, karena bisa jadi setelah menjalankan modal bisa saja untung dan bisa saja rugi, atau untungnya tidak sesuai dengan perkiraan

Faidah Fiqhiyah (Jual Beli) bag.1

Kaidah-kaidah tentang mudorobah syar’iyah– Modal/harta yang dijalankan oleh pekerja adalah harta amanah, karenanya jika timbul kerugian, maka si pekerja tidak menanggung kerugian tersebut. Jika sang pemodal rugi hartanya, maka si pekerja juga telah rugi kerjaannya dan keletihannya dalam mengolah modal. – Karena modal adalah harta amanah di tangan si pekerja, maka jika si pekerja tidak amanah dan teledor dalam menjalankan usaha dan mengolah modal maka iapun ikut menanggung kerugian. – Keuntungan dalam mudorobah tidak bisa ditentukan jumlahnya, akan tetapi bisa ditentukan dengan cara persenan dari hasil keuntungan dan dibagi persenan tersebut antara pemilik modal dengan si pekerja (dan persenan masing-masing terserah berapa saja tergantung kesepakatan kedua belah pihak).– Jaminan keuntungan (berapapun juga) dari pengolahan modal tidak boleh dibebankan kepada si pekerja. Karena jika dibebankan harus untung dari pekerja maka pada hakekatnya ini bukanlah mudorobah tapi “HUTANG BERBUNGA” ! (Dan inilah mudorobah ribawiyah yang sering diberi stempel syariah)– Boleh bagi si pekerja memperkirakan keuntungan, akan tetapi hanya sekedar perkiraan tanpa ada jaminan pasti untung, karena bisa jadi setelah menjalankan modal bisa saja untung dan bisa saja rugi, atau untungnya tidak sesuai dengan perkiraan
Kaidah-kaidah tentang mudorobah syar’iyah– Modal/harta yang dijalankan oleh pekerja adalah harta amanah, karenanya jika timbul kerugian, maka si pekerja tidak menanggung kerugian tersebut. Jika sang pemodal rugi hartanya, maka si pekerja juga telah rugi kerjaannya dan keletihannya dalam mengolah modal. – Karena modal adalah harta amanah di tangan si pekerja, maka jika si pekerja tidak amanah dan teledor dalam menjalankan usaha dan mengolah modal maka iapun ikut menanggung kerugian. – Keuntungan dalam mudorobah tidak bisa ditentukan jumlahnya, akan tetapi bisa ditentukan dengan cara persenan dari hasil keuntungan dan dibagi persenan tersebut antara pemilik modal dengan si pekerja (dan persenan masing-masing terserah berapa saja tergantung kesepakatan kedua belah pihak).– Jaminan keuntungan (berapapun juga) dari pengolahan modal tidak boleh dibebankan kepada si pekerja. Karena jika dibebankan harus untung dari pekerja maka pada hakekatnya ini bukanlah mudorobah tapi “HUTANG BERBUNGA” ! (Dan inilah mudorobah ribawiyah yang sering diberi stempel syariah)– Boleh bagi si pekerja memperkirakan keuntungan, akan tetapi hanya sekedar perkiraan tanpa ada jaminan pasti untung, karena bisa jadi setelah menjalankan modal bisa saja untung dan bisa saja rugi, atau untungnya tidak sesuai dengan perkiraan


Kaidah-kaidah tentang mudorobah syar’iyah– Modal/harta yang dijalankan oleh pekerja adalah harta amanah, karenanya jika timbul kerugian, maka si pekerja tidak menanggung kerugian tersebut. Jika sang pemodal rugi hartanya, maka si pekerja juga telah rugi kerjaannya dan keletihannya dalam mengolah modal. – Karena modal adalah harta amanah di tangan si pekerja, maka jika si pekerja tidak amanah dan teledor dalam menjalankan usaha dan mengolah modal maka iapun ikut menanggung kerugian. – Keuntungan dalam mudorobah tidak bisa ditentukan jumlahnya, akan tetapi bisa ditentukan dengan cara persenan dari hasil keuntungan dan dibagi persenan tersebut antara pemilik modal dengan si pekerja (dan persenan masing-masing terserah berapa saja tergantung kesepakatan kedua belah pihak).– Jaminan keuntungan (berapapun juga) dari pengolahan modal tidak boleh dibebankan kepada si pekerja. Karena jika dibebankan harus untung dari pekerja maka pada hakekatnya ini bukanlah mudorobah tapi “HUTANG BERBUNGA” ! (Dan inilah mudorobah ribawiyah yang sering diberi stempel syariah)– Boleh bagi si pekerja memperkirakan keuntungan, akan tetapi hanya sekedar perkiraan tanpa ada jaminan pasti untung, karena bisa jadi setelah menjalankan modal bisa saja untung dan bisa saja rugi, atau untungnya tidak sesuai dengan perkiraan

5 Amalan Pelebur Dosa di Bulan Ramadhan

Bulan Ramadhan adalah bulan yang penuh ampunan. Sampai-sampai dikatakan oleh para ulama, kalau tidak di bulan Ramadhan mendapatkan ampunan lantas di bulan mana lagi? Berikut disebutkan beberapa amalan yang bisa melebur dosa di bulan Ramadhan. 1- Shalat lima waktu, bertemu dengan hari Jumat dan bertemu dengan Ramadhan Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ وَالْجُمُعَةُ إِلَى الْجُمُعَةِ وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ مُكَفِّرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتَنَبَ الْكَبَائِرَ “Antara shalat yang lima waktu, antara jum’at yang satu dan jum’at berikutnya, antara Ramadhan yang satu dan Ramadhan berikutnya, di antara amalan-amalan tersebut akan diampuni dosa-dosa selama seseorang menjauhi dosa-dosa besar.” (HR. Muslim no. 233) 2- Amalan puasa Ramadhan Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ “Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah maka dosanya di masa lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari no. 38 dan Muslim no. 760) Dari Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, فِتْنَةُ الرَّجُلِ فِي أَهْلِهِ وَمَالِهِ وَوَلَدِهِ تُكَفِّرُهَا الصَّلَاةُ وَالصِّيَامُ وَالصَّدَقَةُ وَالْأَمْرُ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّهْيُ عَنْ الْمُنْكَرِ “Keluarga, harta, dan anak dapat menjerumuskan seseorang dalam maksiat (fitnah). Namun fitnah itu akan terhapus dengan shalat, shaum, shadaqah, amar ma’ruf (mengajak pada kebaikan) dan nahi mungkar (melarang dari kemungkaran).” (HR. Bukhari no. 3586 dan Muslim no. 144) 3- Qiyam Ramadhan (shalat Tarawih) Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ “Barangsiapa melakukan qiyam Ramadhan (shalat tarawih) karena iman dan mencari pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari no. 37 dan Muslim no. 759) 4- Menghidupkan shalat malam pada Lailatul Qadar Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ “Barangsiapa melaksanakan shalat pada lailatul qadar karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari no. 1901) Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah menerangkan bahwa pengampunan dosa pada lailatul qadar adalah apabila seseorang mendapatkan malam tersebut, sedangkan pengampunan dosa pada puasa Ramadhan dan qiyam Ramadhan (shalat tarawih) adalah apabila bulan Ramadhan telah usai. (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 365-366) 5- Zakat fitrah Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ مَنْ أَدَّاهَا قَبْلَ الصَّلاَةِ فَهِىَ زَكَاةٌ مَقْبُولَةٌ وَمَنْ أَدَّاهَا بَعْدَ الصَّلاَةِ فَهِىَ صَدَقَةٌ مِنَ الصَّدَقَاتِ. “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fitrah untuk menyucikan orang yang berpuasa dari kata-kata yang sia-sia dan kata-kata keji, dan juga untuk memberi makan pada orang miskin. Barangsiapa yang menunaikannya sebelum shalat maka zakatnya diterima dan barangsiapa yang menunaikannya setelah shalat maka itu hanya dianggap sebagai sedekah di antara berbagai sedekah.” (HR. Abu Daud no. 1609 dan Ibnu Majah no. 1827. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan) Zakat fitrah di penghujung Ramadhan, itu juga adalah sebab mendapatkan ampunan Allah. Karena zakat fitrah akan menutupi kesalahan berupa kata-kata kotor dan sia-sia. Ulama-ulama terdahulu mengatakan bahwa zakat fitrah adalah bagaikan sujud sahwi (sujud yang dilakukan ketika lupa, pen.) dalam shalat, yaitu untuk menutupi kekurangan yang ada. (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 377) Kalau banyak ampunan seperti itu di bulan Ramadhan, seharusnya setiap yang keluar dari bulan Ramadhan keadaannya sebagaimana disebutkan oleh Muwarriq Al-‘Ijliy, يَرْجِعُ هَذَا اليَوْمَ قَوْمٌ كَمَا وَلدَتْهُمْ أُمَّهَاتُهُمْ “Hari ini kembali suatu kaum sebagaimana mereka baru dilahirkan oleh ibu-ibu mereka.” (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 366). Artinya, mereka kembali bersih dari dosa. Sungguh sangat disayangkan jika keluar dari bulan Ramadhan tidak membawa ampunan apa-apa. Qatadah rahimahullah mengatakan, مَنْ لَمْ يُغْفَرْ لَهُ فِي رَمَضَانَ فَلَنْ يُغْفَرَ لَهُ فِيْمَا سِوَاهُ “Siapa saja yang tidak diampuni di bulan Ramadhan, maka sungguh di hari lain (di luar Ramadhan), ia pun akan sulit diampuni.” (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 371) Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah mengatakan, فَلَمَّا كَثُرَتْ أَسْبَابُ المغْفِرَةِ فِي رَمَضَانَ كَانَ الَّذِي تَفُوْتُهُ المغْفِرَةُ فِيْهِ مَحْرُوْمًا غَايَةَ الحِرْمَانِ “Tatkala semakin banyak sebab mendapatkan pengampunan dosa di bulan Ramadhan, maka siapa saja yang tidak mendapatkan pengampunan tersebut, sungguh dia benar-benar telah bernasib buruk.” (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 371) Semoga bermanfaat sebelum mengawali bulan Ramadhan. Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah. — Selesai disusun @ Darush Sholihin Panggang, Gunungkidul, menjelang Isya, 26 Sya’ban 1436 H Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsamalan ramadhan dosa besar

5 Amalan Pelebur Dosa di Bulan Ramadhan

Bulan Ramadhan adalah bulan yang penuh ampunan. Sampai-sampai dikatakan oleh para ulama, kalau tidak di bulan Ramadhan mendapatkan ampunan lantas di bulan mana lagi? Berikut disebutkan beberapa amalan yang bisa melebur dosa di bulan Ramadhan. 1- Shalat lima waktu, bertemu dengan hari Jumat dan bertemu dengan Ramadhan Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ وَالْجُمُعَةُ إِلَى الْجُمُعَةِ وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ مُكَفِّرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتَنَبَ الْكَبَائِرَ “Antara shalat yang lima waktu, antara jum’at yang satu dan jum’at berikutnya, antara Ramadhan yang satu dan Ramadhan berikutnya, di antara amalan-amalan tersebut akan diampuni dosa-dosa selama seseorang menjauhi dosa-dosa besar.” (HR. Muslim no. 233) 2- Amalan puasa Ramadhan Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ “Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah maka dosanya di masa lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari no. 38 dan Muslim no. 760) Dari Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, فِتْنَةُ الرَّجُلِ فِي أَهْلِهِ وَمَالِهِ وَوَلَدِهِ تُكَفِّرُهَا الصَّلَاةُ وَالصِّيَامُ وَالصَّدَقَةُ وَالْأَمْرُ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّهْيُ عَنْ الْمُنْكَرِ “Keluarga, harta, dan anak dapat menjerumuskan seseorang dalam maksiat (fitnah). Namun fitnah itu akan terhapus dengan shalat, shaum, shadaqah, amar ma’ruf (mengajak pada kebaikan) dan nahi mungkar (melarang dari kemungkaran).” (HR. Bukhari no. 3586 dan Muslim no. 144) 3- Qiyam Ramadhan (shalat Tarawih) Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ “Barangsiapa melakukan qiyam Ramadhan (shalat tarawih) karena iman dan mencari pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari no. 37 dan Muslim no. 759) 4- Menghidupkan shalat malam pada Lailatul Qadar Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ “Barangsiapa melaksanakan shalat pada lailatul qadar karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari no. 1901) Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah menerangkan bahwa pengampunan dosa pada lailatul qadar adalah apabila seseorang mendapatkan malam tersebut, sedangkan pengampunan dosa pada puasa Ramadhan dan qiyam Ramadhan (shalat tarawih) adalah apabila bulan Ramadhan telah usai. (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 365-366) 5- Zakat fitrah Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ مَنْ أَدَّاهَا قَبْلَ الصَّلاَةِ فَهِىَ زَكَاةٌ مَقْبُولَةٌ وَمَنْ أَدَّاهَا بَعْدَ الصَّلاَةِ فَهِىَ صَدَقَةٌ مِنَ الصَّدَقَاتِ. “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fitrah untuk menyucikan orang yang berpuasa dari kata-kata yang sia-sia dan kata-kata keji, dan juga untuk memberi makan pada orang miskin. Barangsiapa yang menunaikannya sebelum shalat maka zakatnya diterima dan barangsiapa yang menunaikannya setelah shalat maka itu hanya dianggap sebagai sedekah di antara berbagai sedekah.” (HR. Abu Daud no. 1609 dan Ibnu Majah no. 1827. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan) Zakat fitrah di penghujung Ramadhan, itu juga adalah sebab mendapatkan ampunan Allah. Karena zakat fitrah akan menutupi kesalahan berupa kata-kata kotor dan sia-sia. Ulama-ulama terdahulu mengatakan bahwa zakat fitrah adalah bagaikan sujud sahwi (sujud yang dilakukan ketika lupa, pen.) dalam shalat, yaitu untuk menutupi kekurangan yang ada. (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 377) Kalau banyak ampunan seperti itu di bulan Ramadhan, seharusnya setiap yang keluar dari bulan Ramadhan keadaannya sebagaimana disebutkan oleh Muwarriq Al-‘Ijliy, يَرْجِعُ هَذَا اليَوْمَ قَوْمٌ كَمَا وَلدَتْهُمْ أُمَّهَاتُهُمْ “Hari ini kembali suatu kaum sebagaimana mereka baru dilahirkan oleh ibu-ibu mereka.” (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 366). Artinya, mereka kembali bersih dari dosa. Sungguh sangat disayangkan jika keluar dari bulan Ramadhan tidak membawa ampunan apa-apa. Qatadah rahimahullah mengatakan, مَنْ لَمْ يُغْفَرْ لَهُ فِي رَمَضَانَ فَلَنْ يُغْفَرَ لَهُ فِيْمَا سِوَاهُ “Siapa saja yang tidak diampuni di bulan Ramadhan, maka sungguh di hari lain (di luar Ramadhan), ia pun akan sulit diampuni.” (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 371) Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah mengatakan, فَلَمَّا كَثُرَتْ أَسْبَابُ المغْفِرَةِ فِي رَمَضَانَ كَانَ الَّذِي تَفُوْتُهُ المغْفِرَةُ فِيْهِ مَحْرُوْمًا غَايَةَ الحِرْمَانِ “Tatkala semakin banyak sebab mendapatkan pengampunan dosa di bulan Ramadhan, maka siapa saja yang tidak mendapatkan pengampunan tersebut, sungguh dia benar-benar telah bernasib buruk.” (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 371) Semoga bermanfaat sebelum mengawali bulan Ramadhan. Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah. — Selesai disusun @ Darush Sholihin Panggang, Gunungkidul, menjelang Isya, 26 Sya’ban 1436 H Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsamalan ramadhan dosa besar
Bulan Ramadhan adalah bulan yang penuh ampunan. Sampai-sampai dikatakan oleh para ulama, kalau tidak di bulan Ramadhan mendapatkan ampunan lantas di bulan mana lagi? Berikut disebutkan beberapa amalan yang bisa melebur dosa di bulan Ramadhan. 1- Shalat lima waktu, bertemu dengan hari Jumat dan bertemu dengan Ramadhan Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ وَالْجُمُعَةُ إِلَى الْجُمُعَةِ وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ مُكَفِّرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتَنَبَ الْكَبَائِرَ “Antara shalat yang lima waktu, antara jum’at yang satu dan jum’at berikutnya, antara Ramadhan yang satu dan Ramadhan berikutnya, di antara amalan-amalan tersebut akan diampuni dosa-dosa selama seseorang menjauhi dosa-dosa besar.” (HR. Muslim no. 233) 2- Amalan puasa Ramadhan Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ “Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah maka dosanya di masa lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari no. 38 dan Muslim no. 760) Dari Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, فِتْنَةُ الرَّجُلِ فِي أَهْلِهِ وَمَالِهِ وَوَلَدِهِ تُكَفِّرُهَا الصَّلَاةُ وَالصِّيَامُ وَالصَّدَقَةُ وَالْأَمْرُ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّهْيُ عَنْ الْمُنْكَرِ “Keluarga, harta, dan anak dapat menjerumuskan seseorang dalam maksiat (fitnah). Namun fitnah itu akan terhapus dengan shalat, shaum, shadaqah, amar ma’ruf (mengajak pada kebaikan) dan nahi mungkar (melarang dari kemungkaran).” (HR. Bukhari no. 3586 dan Muslim no. 144) 3- Qiyam Ramadhan (shalat Tarawih) Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ “Barangsiapa melakukan qiyam Ramadhan (shalat tarawih) karena iman dan mencari pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari no. 37 dan Muslim no. 759) 4- Menghidupkan shalat malam pada Lailatul Qadar Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ “Barangsiapa melaksanakan shalat pada lailatul qadar karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari no. 1901) Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah menerangkan bahwa pengampunan dosa pada lailatul qadar adalah apabila seseorang mendapatkan malam tersebut, sedangkan pengampunan dosa pada puasa Ramadhan dan qiyam Ramadhan (shalat tarawih) adalah apabila bulan Ramadhan telah usai. (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 365-366) 5- Zakat fitrah Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ مَنْ أَدَّاهَا قَبْلَ الصَّلاَةِ فَهِىَ زَكَاةٌ مَقْبُولَةٌ وَمَنْ أَدَّاهَا بَعْدَ الصَّلاَةِ فَهِىَ صَدَقَةٌ مِنَ الصَّدَقَاتِ. “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fitrah untuk menyucikan orang yang berpuasa dari kata-kata yang sia-sia dan kata-kata keji, dan juga untuk memberi makan pada orang miskin. Barangsiapa yang menunaikannya sebelum shalat maka zakatnya diterima dan barangsiapa yang menunaikannya setelah shalat maka itu hanya dianggap sebagai sedekah di antara berbagai sedekah.” (HR. Abu Daud no. 1609 dan Ibnu Majah no. 1827. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan) Zakat fitrah di penghujung Ramadhan, itu juga adalah sebab mendapatkan ampunan Allah. Karena zakat fitrah akan menutupi kesalahan berupa kata-kata kotor dan sia-sia. Ulama-ulama terdahulu mengatakan bahwa zakat fitrah adalah bagaikan sujud sahwi (sujud yang dilakukan ketika lupa, pen.) dalam shalat, yaitu untuk menutupi kekurangan yang ada. (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 377) Kalau banyak ampunan seperti itu di bulan Ramadhan, seharusnya setiap yang keluar dari bulan Ramadhan keadaannya sebagaimana disebutkan oleh Muwarriq Al-‘Ijliy, يَرْجِعُ هَذَا اليَوْمَ قَوْمٌ كَمَا وَلدَتْهُمْ أُمَّهَاتُهُمْ “Hari ini kembali suatu kaum sebagaimana mereka baru dilahirkan oleh ibu-ibu mereka.” (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 366). Artinya, mereka kembali bersih dari dosa. Sungguh sangat disayangkan jika keluar dari bulan Ramadhan tidak membawa ampunan apa-apa. Qatadah rahimahullah mengatakan, مَنْ لَمْ يُغْفَرْ لَهُ فِي رَمَضَانَ فَلَنْ يُغْفَرَ لَهُ فِيْمَا سِوَاهُ “Siapa saja yang tidak diampuni di bulan Ramadhan, maka sungguh di hari lain (di luar Ramadhan), ia pun akan sulit diampuni.” (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 371) Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah mengatakan, فَلَمَّا كَثُرَتْ أَسْبَابُ المغْفِرَةِ فِي رَمَضَانَ كَانَ الَّذِي تَفُوْتُهُ المغْفِرَةُ فِيْهِ مَحْرُوْمًا غَايَةَ الحِرْمَانِ “Tatkala semakin banyak sebab mendapatkan pengampunan dosa di bulan Ramadhan, maka siapa saja yang tidak mendapatkan pengampunan tersebut, sungguh dia benar-benar telah bernasib buruk.” (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 371) Semoga bermanfaat sebelum mengawali bulan Ramadhan. Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah. — Selesai disusun @ Darush Sholihin Panggang, Gunungkidul, menjelang Isya, 26 Sya’ban 1436 H Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsamalan ramadhan dosa besar


Bulan Ramadhan adalah bulan yang penuh ampunan. Sampai-sampai dikatakan oleh para ulama, kalau tidak di bulan Ramadhan mendapatkan ampunan lantas di bulan mana lagi? Berikut disebutkan beberapa amalan yang bisa melebur dosa di bulan Ramadhan. 1- Shalat lima waktu, bertemu dengan hari Jumat dan bertemu dengan Ramadhan Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ وَالْجُمُعَةُ إِلَى الْجُمُعَةِ وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ مُكَفِّرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتَنَبَ الْكَبَائِرَ “Antara shalat yang lima waktu, antara jum’at yang satu dan jum’at berikutnya, antara Ramadhan yang satu dan Ramadhan berikutnya, di antara amalan-amalan tersebut akan diampuni dosa-dosa selama seseorang menjauhi dosa-dosa besar.” (HR. Muslim no. 233) 2- Amalan puasa Ramadhan Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ “Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah maka dosanya di masa lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari no. 38 dan Muslim no. 760) Dari Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, فِتْنَةُ الرَّجُلِ فِي أَهْلِهِ وَمَالِهِ وَوَلَدِهِ تُكَفِّرُهَا الصَّلَاةُ وَالصِّيَامُ وَالصَّدَقَةُ وَالْأَمْرُ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّهْيُ عَنْ الْمُنْكَرِ “Keluarga, harta, dan anak dapat menjerumuskan seseorang dalam maksiat (fitnah). Namun fitnah itu akan terhapus dengan shalat, shaum, shadaqah, amar ma’ruf (mengajak pada kebaikan) dan nahi mungkar (melarang dari kemungkaran).” (HR. Bukhari no. 3586 dan Muslim no. 144) 3- Qiyam Ramadhan (shalat Tarawih) Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ “Barangsiapa melakukan qiyam Ramadhan (shalat tarawih) karena iman dan mencari pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari no. 37 dan Muslim no. 759) 4- Menghidupkan shalat malam pada Lailatul Qadar Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ “Barangsiapa melaksanakan shalat pada lailatul qadar karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari no. 1901) Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah menerangkan bahwa pengampunan dosa pada lailatul qadar adalah apabila seseorang mendapatkan malam tersebut, sedangkan pengampunan dosa pada puasa Ramadhan dan qiyam Ramadhan (shalat tarawih) adalah apabila bulan Ramadhan telah usai. (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 365-366) 5- Zakat fitrah Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ مَنْ أَدَّاهَا قَبْلَ الصَّلاَةِ فَهِىَ زَكَاةٌ مَقْبُولَةٌ وَمَنْ أَدَّاهَا بَعْدَ الصَّلاَةِ فَهِىَ صَدَقَةٌ مِنَ الصَّدَقَاتِ. “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fitrah untuk menyucikan orang yang berpuasa dari kata-kata yang sia-sia dan kata-kata keji, dan juga untuk memberi makan pada orang miskin. Barangsiapa yang menunaikannya sebelum shalat maka zakatnya diterima dan barangsiapa yang menunaikannya setelah shalat maka itu hanya dianggap sebagai sedekah di antara berbagai sedekah.” (HR. Abu Daud no. 1609 dan Ibnu Majah no. 1827. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan) Zakat fitrah di penghujung Ramadhan, itu juga adalah sebab mendapatkan ampunan Allah. Karena zakat fitrah akan menutupi kesalahan berupa kata-kata kotor dan sia-sia. Ulama-ulama terdahulu mengatakan bahwa zakat fitrah adalah bagaikan sujud sahwi (sujud yang dilakukan ketika lupa, pen.) dalam shalat, yaitu untuk menutupi kekurangan yang ada. (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 377) Kalau banyak ampunan seperti itu di bulan Ramadhan, seharusnya setiap yang keluar dari bulan Ramadhan keadaannya sebagaimana disebutkan oleh Muwarriq Al-‘Ijliy, يَرْجِعُ هَذَا اليَوْمَ قَوْمٌ كَمَا وَلدَتْهُمْ أُمَّهَاتُهُمْ “Hari ini kembali suatu kaum sebagaimana mereka baru dilahirkan oleh ibu-ibu mereka.” (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 366). Artinya, mereka kembali bersih dari dosa. Sungguh sangat disayangkan jika keluar dari bulan Ramadhan tidak membawa ampunan apa-apa. Qatadah rahimahullah mengatakan, مَنْ لَمْ يُغْفَرْ لَهُ فِي رَمَضَانَ فَلَنْ يُغْفَرَ لَهُ فِيْمَا سِوَاهُ “Siapa saja yang tidak diampuni di bulan Ramadhan, maka sungguh di hari lain (di luar Ramadhan), ia pun akan sulit diampuni.” (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 371) Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah mengatakan, فَلَمَّا كَثُرَتْ أَسْبَابُ المغْفِرَةِ فِي رَمَضَانَ كَانَ الَّذِي تَفُوْتُهُ المغْفِرَةُ فِيْهِ مَحْرُوْمًا غَايَةَ الحِرْمَانِ “Tatkala semakin banyak sebab mendapatkan pengampunan dosa di bulan Ramadhan, maka siapa saja yang tidak mendapatkan pengampunan tersebut, sungguh dia benar-benar telah bernasib buruk.” (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 371) Semoga bermanfaat sebelum mengawali bulan Ramadhan. Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah. — Selesai disusun @ Darush Sholihin Panggang, Gunungkidul, menjelang Isya, 26 Sya’ban 1436 H Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsamalan ramadhan dosa besar

Menjadi Yang Terbaik

Khutbah Jum’at Mesjid Nabawi 25/8/1436H – 13/6/2015MOleh : Asy-Syaikh Abdul Baari Ats-Tsubaiti hafizohullohKhutbah PertamaAl-Khoir (kebaikan) adalah sebuah kata yang mencakup segala yang dimanfaatkan oleh manusia, dan kebaikan berada di tangan Allah Yang menguasai Kerajaan. Allah berfirman :قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاءُ بِيَدِكَ الْخَيْرُ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ (٢٦)Katakanlah: “Wahai Tuhan yang mempunyai Kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut Kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS Ali Imron : 26)Seluruh kebaikan yang diperoleh dari sisi para hamba kalau bukan karena Allah yang memberikan mereka kemampuan untuk meraihnya dan membimbing mereka maka mereka tidak akan mampu meraihnya. Mengerjakan kebajikan adalah tugas para nabi dan merupakan ciri orang-orang yang beruntung. Allah berfirman :وَجَعَلْنَاهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا وَأَوْحَيْنَا إِلَيْهِمْ فِعْلَ الْخَيْرَاتِ وَإِقَامَ الصَّلاةِ وَإِيتَاءَ الزَّكَاةِ وَكَانُوا لَنَا عَابِدِينَ (٧٣)Kami telah menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami dan telah Kami wahyukan kepada, mereka mengerjakan kebajikan, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan hanya kepada kamilah mereka selalu menyembah (QS Al-Anbiyaa : 73)Diantara doa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ فِعْلَ الْخَيِرَاتِ وَتَرْكَ المُنْكَرَاتِ“Ya Allah aku memohon kepadamu untuk mengerjakan kebajikan dan meninggalkan kemunkaran” (HR At-Thirmidzi)Dan perbuatan kebajikan mengantarkan kepada istiqomahnya kehidupan individu dan masyarakat. Allah berfirman :يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ارْكَعُوا وَاسْجُدُوا وَاعْبُدُوا رَبَّكُمْ وَافْعَلُوا الْخَيْرَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَHai orang-orang yang beriman, ruku’lah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan. (QS Al-Hajj : 77)Seorang mukmin janganlah meremehkan kebaikan sedikit dan sekecil apapun. Allah ta’ala berfirman :فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ (٧)Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya Dia akan melihat (balasan)nya. (QS Az-Zalzalah : 7)Dan sesungguhnya kita umat Islam –bagaimanapun kondisi kita- adalah umat yang terbaik yang dikeluarkan bagi manusia. Keterbaikan ini bukanlah bentuk fanatik kesukuan bukan pula karena untuk kebangsaan tertentu tanpa kebangsaan yang lainnya. Allah berfirman :كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِKamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. (QS Ali Imron : 110)Diantara tanda-tanda keterbaikan adalah amar ma’ruf dan nahi munkar. Kalau seandainya dilipat hamparannya, ditinggalkan ilmunya dan penerapannya, maka akan tersebar kesesatan, beredar kebodohan, negeri akan rusak, dan manusia akan binasa.Keterbaikan senantiasa menyertai seorang mukmin dalam segala kondisinya jika imannya sempurna. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Bersabda :“Sungguh menakjubkan perkara seorang mukmin, seluruh perkaranya adalah baik, dan hal ini tidak berlaku kecuali kepada seorang mukmin. Jika ia merasakan kesenangan maka ia bersyukur maka ini yang terbaik baginya, dan jika ia ditimpa kesulitan maka iapun bersabar, dan inilah yang terbaik baginya” (HR Muslim).Seorang mukmin akan meraih keterbaikan melalui mempelajari al-Qur’an da mengajarkannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :“Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari al-Qur’an dan mengajarkannya” (HR Al-Bukhari)Hal ini memotivasi seorang muslim untuk mendorong putra putrinya untuk mempelajari al-Qur’an di halaqoh-halaqoh Al-Qur’an, mendidik mereka untuk mencintai kitab Rabb mereka untuk menimba dari sumber airnya  yang tidak akan pernah kering. Maka seluruh kebaikan dan keterbaikan ada pada al-Qur’an, agar mereka bahagia di dunia sebelum di akhirat.          Seorang muslim meraih keterbaikan dengan menuntut ilmu syar’i dan mendalaminya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّيْنِ“Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya maka Allah memahamkannya agama”Ilmu merupakan perkara yang harus ada dalam kebangkitan umat dan pembangunan peradaban, serta pengembangan masyarakat dan memajukannya ke arah masa depan yang cemerlang.          Diantara keterbaikan adalah mengagungkan perkara-perkara yang terhormat di sisi Allah. Allah berfirman :ذَلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ حُرُمَاتِ اللَّهِ فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ عِنْدَ رَبِّهِDemikianlah (perintah Allah). dan Barangsiapa mengagungkan apa-apa yang terhormat di sisi Allah (QS Al-Hajj : 30)Dan perkara-perkara yang terhormat di sisi Allah adalah hak-hak Allah ta’ala. dan menjalankan hak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.Termasuk mengagungkan syiar-syiar Allah yang terkait dengan waktu ialah menghormati bulan Ramadhan. Termasuk mengagungkan hal-hal yang dimuliakan Allah ialah tidak menganggap remeh dosa-dosa kecil. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :((  إِيَّاكُمْ وَمُحَقَّرَاتِ الذُّنُوبِ فإنهن يحتمعن على الرجل حتى يهلكنه ))Janganlah kalian anggap remeh dosa-dosa kecil, sebab dosa-dosa kecil tersebut terkumpul pada diri seseorang, hingga membinasakannya  (HR. Ahmad)Keterbaikan juga ada pada seorang mukmin yang kuat fisiknya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :(( الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِى كلٍّ خيرٌ ))Orang mukmin yang berbadan kuat lebih baik dan lebih disenangi Allah dari pada orang mukmin yang lemah, namun demikian masing-masing mempunyai kebaikan.Maka seharusnya orang mukmin memiliki kekuatan fisik dan kekuatan dalam membela kebenaran.Termasuk keterbaikan ialah berhias diri dengan akhlak yang mulia. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :(( خِيَارَكُمْ أَحَسنُكُمْ أَخْلاَقًا المُوَطّئوْنَ أكتافًا ))( Orang-orang pilihan di antara kalian adalah yang terbaik akhlaknya serta yang membentangkan bahunya ). Artinya orang yang baik mudah bergaul, rendah hati sehingga orang lain merasa nyaman bersahabat dengannya dan tidak terganggu.Termasuk keterbaikan adalah membayar hutang dengan baik.   Dari Abu Hurairah r.a. berkata :(( كَانَ لِرَجُلٍ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سِنٌّ مِنَ الإِبِلِ، فَجَاءَهُ يَتَقَاضَاهُ، فَقَالَ: «أَعْطُوهُ»، فَطَلَبُوا سِنَّهُ، فَلَمْ يَجِدُوا لَهُ إِلَّا سِنًّا فَوْقَهَا، فَقَالَ: «أَعْطُوهُ»، فَقَالَ: أَوْفَيْتَنِي أَوْفَى اللَّهُ بِكَ، قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِنَّ خِيَارَكُمْ أَحْسَنُكُمْ قَضَاءً ))Ada seorang lelaki menghutangkan seekor unta dengan umur tertentu kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Lelaki itu datang kepada beliau untuk menagihnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata : “berikanlah hak orang ini “ maka para sahabat mencarikan unta yang seumur dengan unta yang beliau pinjam, hanya saja mereka tidak menemukannya kecuali unta yang umurnya di atasnya. Maka beliau shallallahu ‘alaihi wasallam berkata : “serahkanlah kepadanya”. Lelaki itu lalu berkata : “Engkau telah memenuhi hakku secara sempurna, semoga saja Allah memenuhi hakmu”. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “ Sesungguhnya orang terbaik di antara kalian adalah yang paling baik dalam membayar hutangnya).Di antara amal kebajikan ialah memberi manfaat kepada sesama dan melayani mereka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :((  خَيْرُ النّاسِ أنْفَعُهُمْ لِلنّاسِ ))( Sebaik-baik manusia ialah yang paling banyak memberi manfaat kepada orang lain ) HR Thabrani. Memberi manfaat kepada siapapun manusia; termasuk didalamnya menyenangkan hati sesama kaum muslimin, dengan berkunjung dan memberi hadiah, memuliakan anak-anaknya, memberikan makanan dan menghilangkan penderitaan kaum muslimin.Diantara keterbaikan orang-orang pilihan ialah diharapkan dari mereka kebaikan dan tidak dikhawatirkan ada gangguan dari mereka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :((  خَيْرُكُمْ مَنْ يُرْجَى خَيْرُهُ وَيُؤْمَنُ شَرُّهُ، وَشَرُّكُمْ مَنْ لاَ يُرْجَى خَيْرُهُ وَلاَ يُؤْمَنُ شَرُّهُ  )).( Sebaik-baik kalian ialah orang yang bisa diharapkan kebaikannya dan tidak dikawatirkan keburukannya. Sedangkan seburuk-buruk kalian ialah orang yang tidak bisa diharapkan kebaikannya dan dikawatirkan keburukannya ) HR Turmudzi.Salah satu ciri-ciri sifat keterbaikan adalah bersih hati dan jujur perkataan. Allah Ta’ala berfirman :فَإِذَا عَزَمَ الأمْرُ فَلَوْ صَدَقُوا اللَّهَ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ (٢١)Apabila telah tetap perintah perang (mereka tidak menyukainya). tetapi Jikalau mereka benar (imannya) terhadap Allah, niscaya yang demikian itu lebih baik bagi mereka. (QS Muhammad : 21)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah ditanya : Siapakah orang yang paling baik ? Beliau menjawab :ذُوْ الْقَلْبِ الْمَخْمُوْمِ وَاللِّسَانِ الصَّادِقِ“ Orang yang berhati bersih dan tutur kata yang benar “  HR Ibnu Majah.Tentu suatu pekerjaan yang memerlukan perjuangan kuat untuk membersihkan hati itu dari kecenderungan-kecenderungan berbuat zalim, dengki dan hasud. Alangkah banyak terkotornya hari dengan sifat-sifat buruk ini !Bersegera berbuat kebajikan, tidak merasa berat, bermalas-malas menjalankannya merupakan ciri khas orang-orang yang shalih. Allah Ta’ala berfirman :((  وَلِكُلٍّ وِجْهَةٌ هُوَ مُوَلِّيهَا فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ  ))( Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan ) Qs Al-Baqarah : 148Tanda kebajikan orang-orang pilihan ialah kearifan dan keseimbangan dalam berpikir. Allah Ta’ala berfirman :يُؤْتِي الْحِكْمَةَ مَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا كَثِيرًا وَمَا يَذَّكَّرُ إِلا أُولُو الألْبَابِ (٢٦٩)Allah menganugerahkan Al Hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Quran dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. dan Barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah). (QS Al-Baqoroh : 269)Hikmah ialah kemampuan dalam membedakan antara yang benar dan yang salah, antara kebajikan dengan keburukan serta kemampuan bekerja secara profesional.Nilai keterbaikan dapat diraih melalui cinta kepada kebajikan dengan kesungguhan niat dalam memperolehnya. Allah Ta’ala berfirman :((  إِنْ يَعْلَم اللهُ فِي قُلُوبكُمْ خَيْرًا يُؤْتكُمْ خَيْرًا ))( Jika sekiranya Allah mengetahui dihati kalian ada kebaikan, tentu Ia memberikan kepada kalian kebaikan )Maka, sesuai dengan kadar tulusnya niat akan diraih anugerah Allah.Keterbaikan dapat diraih pula dengan bertaubat. Firman Allah Ta’ala :(( فَإنْ يَتوْبُوْا يَكُ خَيْرًا لَهُمْ ))( Jikalau mereka bertaubat, maka yang demikian itu suatu kebaikan bagi mereka )Keterbaikan pun dapat diperoleh dengan cara menunjukkan tentang kebaikan dan medan-medan kebaikan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :(( مَنْ دَلّ عَلَى خيْرٍ فلَهُ مِثْل أجْر فَاعِلِه ))( Barang siapa yang menunjukkan ke arah kebajikan, maka dia mendapatkan pahalah seperti yang diraih pelakunya ). HR. MuslimKeterbaikan dapat pula diperoleh dengan berlaku adil terhadap manusia lain. Firman Allah :وَأَوْفُوا الْكَيْلَ إِذَا كِلْتُمْ وَزِنُوا بِالْقِسْطَاسِ الْمُسْتَقِيمِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلا (٣٥)Dan sempurnakanlah takaran apabila kamu menakar, dan timbanglah dengan neraca yang benar. Itulah yang lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (Qs Al-Isroo’ : 35)Keterbaikan dapat diperoleh pula dengan bersedekah. Firman Allah Ta’ala :وَأَنْ تَصَدَّقُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ (٢٨٠)Dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu, lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui. (QS Al-Baqoroh : 280)Termasuk tanda-tanda keterbaikan, usia panjang disertai amal perbuatan yang baik. Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. secara marfu’ :(( ألا أخبركم بخياركم ؟ قالوا بلى يا رسول الله ، قال ” أطولكم أعمارا وأحسنكم أخلاقا ))( Maukah kamu aku beritahu tentang orang-orang pilihan di antara kamu ? Mereka menjawab : Tentu Ya Rasulallah ! Beliau bersabda : “Orang yang paling panjang usianya di antara kamu dan yang paling baik akhlaknya” ) HR Al-Hakim dan Ibnu Hibban dalam shahihnya.Diantara tanda keterbaikan seorang lelaki adalah baiknya dia memperlakukan keluarganya. Dari Aisya r.a. berkata. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :(( خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي  ))(Sebaik-baik kamu adalah orang yang paling baik terhadap keluarganya, dan akupun yang terbaik di antara kamu terhadap keluargaku ) HR At-Turmudzi dan Ibnu Majah.Diantara tanda keterbaikan pada seorang wanita ialah kesungguhannya menjaga kehormatannya.Allah Ta’ala berfirman :وَأَنْ يَسْتَعْفِفْنَ خَيْرٌ لَهُنَّ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ (٦٠)( Dan bahwa mereka [ wanita-wanita ] itu menjaga diri mereka akan lebih baik bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui ) (QS An-Nuur : 60)Selendang kehormatan merupakan lambang terjaganya kesucian wanita bila dibarengi dengan upaya menjauhkan diri dari terbukanya aurat, bersolek,   sikap kebebasan dan penyimpangan.Tanda-tanda keterbaikan bagi para penguasa ialah kecintaan rakyat kepada mereka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :((خِيَارُ أَئِمَّتِكُمُ الَّذِينَ تُحِبُّونَهُمْ وَيُحِبُّونَكُمْ، وَيُصَلُّونَ عَلَيْكُمْ وَتُصَلُّونَ عَلَيْهِمْ، وَشِرَارُ أَئِمَّتِكُمُ الَّذِينَ تُبْغِضُونَهُمْ وَيُبْغِضُونَكُمْ، وَتَلْعَنُونَهُمْ وَيَلْعَنُونَكُمْ))( Orang-orang pilihan dari pemimpin kalian adalah mereka yang kalian cintai dan merekanpun mencitai kalian. Mereka mendoakan kalian dan kalianpun mendoakan mereka. Sedangkan orang-orang yang jahat dari pemimpin kalian ialah mereka yang kalian benci dan merekapun membenci kalian. Kalian mengutuk mereka dan merekapun mengutuk kalian ) HR MuslimTermasuk peluang emas untuk mengembangkan kebajikan yang banyak dalam jiwa dan kehidupan ialah bulan Ramadhan yang penuh berkah yang kilauan kilatannya dan pancaran bulan sabitnya sebentar lagi akan terlihat. Bulan yang dapat memulihkan kembali kejernihan hati setelah tercoreng oleh kotoran dunia, menormalkan kembali keindahan jiwa setelah berlumuran dengan berbagai kesibukan hidup, mensucikan kembali hati nurani setelah sempat tercemar oleh kotoran-kotoran fitnah. Inilah momentum untuk meraih kebajikan; di dalamnya ada Lailatul-Qadar yang nilainya lebih baik dari pada seribu bulan.تَنَزَّلُ الْمَلائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ (٤)سَلامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ (٥) ( Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar ) Qs Al-Qadr : 4-5Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :(( مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ  ))( Barangsiapa berpuasa Ramadhan karena iman dan mencari ridha Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu )((  مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ  ))( Barangsiapa yang beribadah malam bulan ramadhan karena iman dan mengharapkan ridha Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu ) HR Bukhari dan Muslim فَإِنَّ عُمْرَةً فِي رَمَضَانَ تَقْضِي حَجَّةً أَوْ حَجَّةً مَعِي( Sesungguhnya umrah pada bulan ramadhan setara pahala haji, atau seperti menunaikan haji bersamaku)((  كَانَ أَجْوَدَ بِالخَيْرِ مِنَ الرِّيحِ المُرْسَلَةِ  ))Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sangat dermawan tatkala Ramadhan, dan beliau dalam melakkan kebaikan lebih cepat dari pada angin yang meniup dengan lepas (HR Bukhari dan Muslim). Khutbah KeduaDiantara keterbaikan; adalah penjagaan para pahlawan para mujahidin di daerah perbatasan. Mereka menghadapi musuh dengan gigih dan menghalangi musuhi. Mereka punya tekat yang kuat dengan jiwa yang optimis akan kemenangan yang dekat.Bulan Ramadhan bulan kepahlawanan, mengandung nilai-nilai kejayaan dan kemenangan. Bulan ini dalam sejarah sarat dengan peristiwa yang telah merubah perjalanan kehidupan. Dalam bulan ramadhan terjadi perang Badar, penaklukan Mekah, perang Yarmuk dan Al-Qadisiyah, Hithin dan Ain Jalut dll.Para pejuang yang gagah berani berdiri tegak sebagai pembela agama dan tanah air dan harga diri di benteng-benteng perbatasan untuk menumpas para agresor dan menumbangkan orang-orang yang zalim serta menyerang markas-markas antek-antek asing yang berkhianat. Sejarah akan mengabadikan jasa-jasa mereka.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :رِبَاطُ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ خَيْرٌ مِنْ صِيَامِ شَهْرٍ وَقِيَامِهِ، وَإِنْ مَاتَ جَرَى عَلَيْهِ عَمَلُهُ الَّذِي كَانَ يَعْمَلُهُ، وَأُجْرِيَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ وَأَمِنَ الْفَتَّانَBerjaga di daerah perbatasan sehari semalam nilainya lebih baik dari pada puasa sebulan lengkap dengan qiyamu-lailnya. Jika dia gugur, maka pahala amal baiknya yang pernah dilakukan akan terus mengalir dan rezekinya pun tetap berjalan serta aman dari fitnah kubur(( كُلُّ مَيِّتٍ يُخْتَمُ عَلَى عَمَلِهِ إِلاَّ الَّذِي مَاتَ مُرَابِطًا فِي سَبِيلِ اللهِ فَإِنَّهُ يُنْمَى لَهُ عَمَلُهُ إِلَى يَوْمِ القِيَامَةِ، وَيَأْمَنُ مِنْ فِتْنَةِ القَبْرِ ))Setiap mayat telah tutup pahala amalnya kecuali seseorang yang mati karena menjaga daerah perbatasan di jalan Allah. Sesungguhnya amal baktinya terus dikembangkan hingga hari kiamat dan dia aman dari fitnah kubur (HR. At-Tirmidzi)Penerjemah: Abu Abdil Muhsin Firandawww.firanda.com

Menjadi Yang Terbaik

Khutbah Jum’at Mesjid Nabawi 25/8/1436H – 13/6/2015MOleh : Asy-Syaikh Abdul Baari Ats-Tsubaiti hafizohullohKhutbah PertamaAl-Khoir (kebaikan) adalah sebuah kata yang mencakup segala yang dimanfaatkan oleh manusia, dan kebaikan berada di tangan Allah Yang menguasai Kerajaan. Allah berfirman :قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاءُ بِيَدِكَ الْخَيْرُ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ (٢٦)Katakanlah: “Wahai Tuhan yang mempunyai Kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut Kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS Ali Imron : 26)Seluruh kebaikan yang diperoleh dari sisi para hamba kalau bukan karena Allah yang memberikan mereka kemampuan untuk meraihnya dan membimbing mereka maka mereka tidak akan mampu meraihnya. Mengerjakan kebajikan adalah tugas para nabi dan merupakan ciri orang-orang yang beruntung. Allah berfirman :وَجَعَلْنَاهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا وَأَوْحَيْنَا إِلَيْهِمْ فِعْلَ الْخَيْرَاتِ وَإِقَامَ الصَّلاةِ وَإِيتَاءَ الزَّكَاةِ وَكَانُوا لَنَا عَابِدِينَ (٧٣)Kami telah menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami dan telah Kami wahyukan kepada, mereka mengerjakan kebajikan, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan hanya kepada kamilah mereka selalu menyembah (QS Al-Anbiyaa : 73)Diantara doa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ فِعْلَ الْخَيِرَاتِ وَتَرْكَ المُنْكَرَاتِ“Ya Allah aku memohon kepadamu untuk mengerjakan kebajikan dan meninggalkan kemunkaran” (HR At-Thirmidzi)Dan perbuatan kebajikan mengantarkan kepada istiqomahnya kehidupan individu dan masyarakat. Allah berfirman :يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ارْكَعُوا وَاسْجُدُوا وَاعْبُدُوا رَبَّكُمْ وَافْعَلُوا الْخَيْرَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَHai orang-orang yang beriman, ruku’lah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan. (QS Al-Hajj : 77)Seorang mukmin janganlah meremehkan kebaikan sedikit dan sekecil apapun. Allah ta’ala berfirman :فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ (٧)Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya Dia akan melihat (balasan)nya. (QS Az-Zalzalah : 7)Dan sesungguhnya kita umat Islam –bagaimanapun kondisi kita- adalah umat yang terbaik yang dikeluarkan bagi manusia. Keterbaikan ini bukanlah bentuk fanatik kesukuan bukan pula karena untuk kebangsaan tertentu tanpa kebangsaan yang lainnya. Allah berfirman :كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِKamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. (QS Ali Imron : 110)Diantara tanda-tanda keterbaikan adalah amar ma’ruf dan nahi munkar. Kalau seandainya dilipat hamparannya, ditinggalkan ilmunya dan penerapannya, maka akan tersebar kesesatan, beredar kebodohan, negeri akan rusak, dan manusia akan binasa.Keterbaikan senantiasa menyertai seorang mukmin dalam segala kondisinya jika imannya sempurna. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Bersabda :“Sungguh menakjubkan perkara seorang mukmin, seluruh perkaranya adalah baik, dan hal ini tidak berlaku kecuali kepada seorang mukmin. Jika ia merasakan kesenangan maka ia bersyukur maka ini yang terbaik baginya, dan jika ia ditimpa kesulitan maka iapun bersabar, dan inilah yang terbaik baginya” (HR Muslim).Seorang mukmin akan meraih keterbaikan melalui mempelajari al-Qur’an da mengajarkannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :“Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari al-Qur’an dan mengajarkannya” (HR Al-Bukhari)Hal ini memotivasi seorang muslim untuk mendorong putra putrinya untuk mempelajari al-Qur’an di halaqoh-halaqoh Al-Qur’an, mendidik mereka untuk mencintai kitab Rabb mereka untuk menimba dari sumber airnya  yang tidak akan pernah kering. Maka seluruh kebaikan dan keterbaikan ada pada al-Qur’an, agar mereka bahagia di dunia sebelum di akhirat.          Seorang muslim meraih keterbaikan dengan menuntut ilmu syar’i dan mendalaminya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّيْنِ“Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya maka Allah memahamkannya agama”Ilmu merupakan perkara yang harus ada dalam kebangkitan umat dan pembangunan peradaban, serta pengembangan masyarakat dan memajukannya ke arah masa depan yang cemerlang.          Diantara keterbaikan adalah mengagungkan perkara-perkara yang terhormat di sisi Allah. Allah berfirman :ذَلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ حُرُمَاتِ اللَّهِ فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ عِنْدَ رَبِّهِDemikianlah (perintah Allah). dan Barangsiapa mengagungkan apa-apa yang terhormat di sisi Allah (QS Al-Hajj : 30)Dan perkara-perkara yang terhormat di sisi Allah adalah hak-hak Allah ta’ala. dan menjalankan hak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.Termasuk mengagungkan syiar-syiar Allah yang terkait dengan waktu ialah menghormati bulan Ramadhan. Termasuk mengagungkan hal-hal yang dimuliakan Allah ialah tidak menganggap remeh dosa-dosa kecil. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :((  إِيَّاكُمْ وَمُحَقَّرَاتِ الذُّنُوبِ فإنهن يحتمعن على الرجل حتى يهلكنه ))Janganlah kalian anggap remeh dosa-dosa kecil, sebab dosa-dosa kecil tersebut terkumpul pada diri seseorang, hingga membinasakannya  (HR. Ahmad)Keterbaikan juga ada pada seorang mukmin yang kuat fisiknya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :(( الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِى كلٍّ خيرٌ ))Orang mukmin yang berbadan kuat lebih baik dan lebih disenangi Allah dari pada orang mukmin yang lemah, namun demikian masing-masing mempunyai kebaikan.Maka seharusnya orang mukmin memiliki kekuatan fisik dan kekuatan dalam membela kebenaran.Termasuk keterbaikan ialah berhias diri dengan akhlak yang mulia. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :(( خِيَارَكُمْ أَحَسنُكُمْ أَخْلاَقًا المُوَطّئوْنَ أكتافًا ))( Orang-orang pilihan di antara kalian adalah yang terbaik akhlaknya serta yang membentangkan bahunya ). Artinya orang yang baik mudah bergaul, rendah hati sehingga orang lain merasa nyaman bersahabat dengannya dan tidak terganggu.Termasuk keterbaikan adalah membayar hutang dengan baik.   Dari Abu Hurairah r.a. berkata :(( كَانَ لِرَجُلٍ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سِنٌّ مِنَ الإِبِلِ، فَجَاءَهُ يَتَقَاضَاهُ، فَقَالَ: «أَعْطُوهُ»، فَطَلَبُوا سِنَّهُ، فَلَمْ يَجِدُوا لَهُ إِلَّا سِنًّا فَوْقَهَا، فَقَالَ: «أَعْطُوهُ»، فَقَالَ: أَوْفَيْتَنِي أَوْفَى اللَّهُ بِكَ، قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِنَّ خِيَارَكُمْ أَحْسَنُكُمْ قَضَاءً ))Ada seorang lelaki menghutangkan seekor unta dengan umur tertentu kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Lelaki itu datang kepada beliau untuk menagihnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata : “berikanlah hak orang ini “ maka para sahabat mencarikan unta yang seumur dengan unta yang beliau pinjam, hanya saja mereka tidak menemukannya kecuali unta yang umurnya di atasnya. Maka beliau shallallahu ‘alaihi wasallam berkata : “serahkanlah kepadanya”. Lelaki itu lalu berkata : “Engkau telah memenuhi hakku secara sempurna, semoga saja Allah memenuhi hakmu”. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “ Sesungguhnya orang terbaik di antara kalian adalah yang paling baik dalam membayar hutangnya).Di antara amal kebajikan ialah memberi manfaat kepada sesama dan melayani mereka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :((  خَيْرُ النّاسِ أنْفَعُهُمْ لِلنّاسِ ))( Sebaik-baik manusia ialah yang paling banyak memberi manfaat kepada orang lain ) HR Thabrani. Memberi manfaat kepada siapapun manusia; termasuk didalamnya menyenangkan hati sesama kaum muslimin, dengan berkunjung dan memberi hadiah, memuliakan anak-anaknya, memberikan makanan dan menghilangkan penderitaan kaum muslimin.Diantara keterbaikan orang-orang pilihan ialah diharapkan dari mereka kebaikan dan tidak dikhawatirkan ada gangguan dari mereka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :((  خَيْرُكُمْ مَنْ يُرْجَى خَيْرُهُ وَيُؤْمَنُ شَرُّهُ، وَشَرُّكُمْ مَنْ لاَ يُرْجَى خَيْرُهُ وَلاَ يُؤْمَنُ شَرُّهُ  )).( Sebaik-baik kalian ialah orang yang bisa diharapkan kebaikannya dan tidak dikawatirkan keburukannya. Sedangkan seburuk-buruk kalian ialah orang yang tidak bisa diharapkan kebaikannya dan dikawatirkan keburukannya ) HR Turmudzi.Salah satu ciri-ciri sifat keterbaikan adalah bersih hati dan jujur perkataan. Allah Ta’ala berfirman :فَإِذَا عَزَمَ الأمْرُ فَلَوْ صَدَقُوا اللَّهَ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ (٢١)Apabila telah tetap perintah perang (mereka tidak menyukainya). tetapi Jikalau mereka benar (imannya) terhadap Allah, niscaya yang demikian itu lebih baik bagi mereka. (QS Muhammad : 21)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah ditanya : Siapakah orang yang paling baik ? Beliau menjawab :ذُوْ الْقَلْبِ الْمَخْمُوْمِ وَاللِّسَانِ الصَّادِقِ“ Orang yang berhati bersih dan tutur kata yang benar “  HR Ibnu Majah.Tentu suatu pekerjaan yang memerlukan perjuangan kuat untuk membersihkan hati itu dari kecenderungan-kecenderungan berbuat zalim, dengki dan hasud. Alangkah banyak terkotornya hari dengan sifat-sifat buruk ini !Bersegera berbuat kebajikan, tidak merasa berat, bermalas-malas menjalankannya merupakan ciri khas orang-orang yang shalih. Allah Ta’ala berfirman :((  وَلِكُلٍّ وِجْهَةٌ هُوَ مُوَلِّيهَا فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ  ))( Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan ) Qs Al-Baqarah : 148Tanda kebajikan orang-orang pilihan ialah kearifan dan keseimbangan dalam berpikir. Allah Ta’ala berfirman :يُؤْتِي الْحِكْمَةَ مَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا كَثِيرًا وَمَا يَذَّكَّرُ إِلا أُولُو الألْبَابِ (٢٦٩)Allah menganugerahkan Al Hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Quran dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. dan Barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah). (QS Al-Baqoroh : 269)Hikmah ialah kemampuan dalam membedakan antara yang benar dan yang salah, antara kebajikan dengan keburukan serta kemampuan bekerja secara profesional.Nilai keterbaikan dapat diraih melalui cinta kepada kebajikan dengan kesungguhan niat dalam memperolehnya. Allah Ta’ala berfirman :((  إِنْ يَعْلَم اللهُ فِي قُلُوبكُمْ خَيْرًا يُؤْتكُمْ خَيْرًا ))( Jika sekiranya Allah mengetahui dihati kalian ada kebaikan, tentu Ia memberikan kepada kalian kebaikan )Maka, sesuai dengan kadar tulusnya niat akan diraih anugerah Allah.Keterbaikan dapat diraih pula dengan bertaubat. Firman Allah Ta’ala :(( فَإنْ يَتوْبُوْا يَكُ خَيْرًا لَهُمْ ))( Jikalau mereka bertaubat, maka yang demikian itu suatu kebaikan bagi mereka )Keterbaikan pun dapat diperoleh dengan cara menunjukkan tentang kebaikan dan medan-medan kebaikan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :(( مَنْ دَلّ عَلَى خيْرٍ فلَهُ مِثْل أجْر فَاعِلِه ))( Barang siapa yang menunjukkan ke arah kebajikan, maka dia mendapatkan pahalah seperti yang diraih pelakunya ). HR. MuslimKeterbaikan dapat pula diperoleh dengan berlaku adil terhadap manusia lain. Firman Allah :وَأَوْفُوا الْكَيْلَ إِذَا كِلْتُمْ وَزِنُوا بِالْقِسْطَاسِ الْمُسْتَقِيمِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلا (٣٥)Dan sempurnakanlah takaran apabila kamu menakar, dan timbanglah dengan neraca yang benar. Itulah yang lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (Qs Al-Isroo’ : 35)Keterbaikan dapat diperoleh pula dengan bersedekah. Firman Allah Ta’ala :وَأَنْ تَصَدَّقُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ (٢٨٠)Dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu, lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui. (QS Al-Baqoroh : 280)Termasuk tanda-tanda keterbaikan, usia panjang disertai amal perbuatan yang baik. Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. secara marfu’ :(( ألا أخبركم بخياركم ؟ قالوا بلى يا رسول الله ، قال ” أطولكم أعمارا وأحسنكم أخلاقا ))( Maukah kamu aku beritahu tentang orang-orang pilihan di antara kamu ? Mereka menjawab : Tentu Ya Rasulallah ! Beliau bersabda : “Orang yang paling panjang usianya di antara kamu dan yang paling baik akhlaknya” ) HR Al-Hakim dan Ibnu Hibban dalam shahihnya.Diantara tanda keterbaikan seorang lelaki adalah baiknya dia memperlakukan keluarganya. Dari Aisya r.a. berkata. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :(( خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي  ))(Sebaik-baik kamu adalah orang yang paling baik terhadap keluarganya, dan akupun yang terbaik di antara kamu terhadap keluargaku ) HR At-Turmudzi dan Ibnu Majah.Diantara tanda keterbaikan pada seorang wanita ialah kesungguhannya menjaga kehormatannya.Allah Ta’ala berfirman :وَأَنْ يَسْتَعْفِفْنَ خَيْرٌ لَهُنَّ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ (٦٠)( Dan bahwa mereka [ wanita-wanita ] itu menjaga diri mereka akan lebih baik bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui ) (QS An-Nuur : 60)Selendang kehormatan merupakan lambang terjaganya kesucian wanita bila dibarengi dengan upaya menjauhkan diri dari terbukanya aurat, bersolek,   sikap kebebasan dan penyimpangan.Tanda-tanda keterbaikan bagi para penguasa ialah kecintaan rakyat kepada mereka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :((خِيَارُ أَئِمَّتِكُمُ الَّذِينَ تُحِبُّونَهُمْ وَيُحِبُّونَكُمْ، وَيُصَلُّونَ عَلَيْكُمْ وَتُصَلُّونَ عَلَيْهِمْ، وَشِرَارُ أَئِمَّتِكُمُ الَّذِينَ تُبْغِضُونَهُمْ وَيُبْغِضُونَكُمْ، وَتَلْعَنُونَهُمْ وَيَلْعَنُونَكُمْ))( Orang-orang pilihan dari pemimpin kalian adalah mereka yang kalian cintai dan merekanpun mencitai kalian. Mereka mendoakan kalian dan kalianpun mendoakan mereka. Sedangkan orang-orang yang jahat dari pemimpin kalian ialah mereka yang kalian benci dan merekapun membenci kalian. Kalian mengutuk mereka dan merekapun mengutuk kalian ) HR MuslimTermasuk peluang emas untuk mengembangkan kebajikan yang banyak dalam jiwa dan kehidupan ialah bulan Ramadhan yang penuh berkah yang kilauan kilatannya dan pancaran bulan sabitnya sebentar lagi akan terlihat. Bulan yang dapat memulihkan kembali kejernihan hati setelah tercoreng oleh kotoran dunia, menormalkan kembali keindahan jiwa setelah berlumuran dengan berbagai kesibukan hidup, mensucikan kembali hati nurani setelah sempat tercemar oleh kotoran-kotoran fitnah. Inilah momentum untuk meraih kebajikan; di dalamnya ada Lailatul-Qadar yang nilainya lebih baik dari pada seribu bulan.تَنَزَّلُ الْمَلائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ (٤)سَلامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ (٥) ( Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar ) Qs Al-Qadr : 4-5Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :(( مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ  ))( Barangsiapa berpuasa Ramadhan karena iman dan mencari ridha Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu )((  مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ  ))( Barangsiapa yang beribadah malam bulan ramadhan karena iman dan mengharapkan ridha Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu ) HR Bukhari dan Muslim فَإِنَّ عُمْرَةً فِي رَمَضَانَ تَقْضِي حَجَّةً أَوْ حَجَّةً مَعِي( Sesungguhnya umrah pada bulan ramadhan setara pahala haji, atau seperti menunaikan haji bersamaku)((  كَانَ أَجْوَدَ بِالخَيْرِ مِنَ الرِّيحِ المُرْسَلَةِ  ))Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sangat dermawan tatkala Ramadhan, dan beliau dalam melakkan kebaikan lebih cepat dari pada angin yang meniup dengan lepas (HR Bukhari dan Muslim). Khutbah KeduaDiantara keterbaikan; adalah penjagaan para pahlawan para mujahidin di daerah perbatasan. Mereka menghadapi musuh dengan gigih dan menghalangi musuhi. Mereka punya tekat yang kuat dengan jiwa yang optimis akan kemenangan yang dekat.Bulan Ramadhan bulan kepahlawanan, mengandung nilai-nilai kejayaan dan kemenangan. Bulan ini dalam sejarah sarat dengan peristiwa yang telah merubah perjalanan kehidupan. Dalam bulan ramadhan terjadi perang Badar, penaklukan Mekah, perang Yarmuk dan Al-Qadisiyah, Hithin dan Ain Jalut dll.Para pejuang yang gagah berani berdiri tegak sebagai pembela agama dan tanah air dan harga diri di benteng-benteng perbatasan untuk menumpas para agresor dan menumbangkan orang-orang yang zalim serta menyerang markas-markas antek-antek asing yang berkhianat. Sejarah akan mengabadikan jasa-jasa mereka.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :رِبَاطُ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ خَيْرٌ مِنْ صِيَامِ شَهْرٍ وَقِيَامِهِ، وَإِنْ مَاتَ جَرَى عَلَيْهِ عَمَلُهُ الَّذِي كَانَ يَعْمَلُهُ، وَأُجْرِيَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ وَأَمِنَ الْفَتَّانَBerjaga di daerah perbatasan sehari semalam nilainya lebih baik dari pada puasa sebulan lengkap dengan qiyamu-lailnya. Jika dia gugur, maka pahala amal baiknya yang pernah dilakukan akan terus mengalir dan rezekinya pun tetap berjalan serta aman dari fitnah kubur(( كُلُّ مَيِّتٍ يُخْتَمُ عَلَى عَمَلِهِ إِلاَّ الَّذِي مَاتَ مُرَابِطًا فِي سَبِيلِ اللهِ فَإِنَّهُ يُنْمَى لَهُ عَمَلُهُ إِلَى يَوْمِ القِيَامَةِ، وَيَأْمَنُ مِنْ فِتْنَةِ القَبْرِ ))Setiap mayat telah tutup pahala amalnya kecuali seseorang yang mati karena menjaga daerah perbatasan di jalan Allah. Sesungguhnya amal baktinya terus dikembangkan hingga hari kiamat dan dia aman dari fitnah kubur (HR. At-Tirmidzi)Penerjemah: Abu Abdil Muhsin Firandawww.firanda.com
Khutbah Jum’at Mesjid Nabawi 25/8/1436H – 13/6/2015MOleh : Asy-Syaikh Abdul Baari Ats-Tsubaiti hafizohullohKhutbah PertamaAl-Khoir (kebaikan) adalah sebuah kata yang mencakup segala yang dimanfaatkan oleh manusia, dan kebaikan berada di tangan Allah Yang menguasai Kerajaan. Allah berfirman :قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاءُ بِيَدِكَ الْخَيْرُ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ (٢٦)Katakanlah: “Wahai Tuhan yang mempunyai Kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut Kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS Ali Imron : 26)Seluruh kebaikan yang diperoleh dari sisi para hamba kalau bukan karena Allah yang memberikan mereka kemampuan untuk meraihnya dan membimbing mereka maka mereka tidak akan mampu meraihnya. Mengerjakan kebajikan adalah tugas para nabi dan merupakan ciri orang-orang yang beruntung. Allah berfirman :وَجَعَلْنَاهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا وَأَوْحَيْنَا إِلَيْهِمْ فِعْلَ الْخَيْرَاتِ وَإِقَامَ الصَّلاةِ وَإِيتَاءَ الزَّكَاةِ وَكَانُوا لَنَا عَابِدِينَ (٧٣)Kami telah menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami dan telah Kami wahyukan kepada, mereka mengerjakan kebajikan, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan hanya kepada kamilah mereka selalu menyembah (QS Al-Anbiyaa : 73)Diantara doa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ فِعْلَ الْخَيِرَاتِ وَتَرْكَ المُنْكَرَاتِ“Ya Allah aku memohon kepadamu untuk mengerjakan kebajikan dan meninggalkan kemunkaran” (HR At-Thirmidzi)Dan perbuatan kebajikan mengantarkan kepada istiqomahnya kehidupan individu dan masyarakat. Allah berfirman :يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ارْكَعُوا وَاسْجُدُوا وَاعْبُدُوا رَبَّكُمْ وَافْعَلُوا الْخَيْرَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَHai orang-orang yang beriman, ruku’lah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan. (QS Al-Hajj : 77)Seorang mukmin janganlah meremehkan kebaikan sedikit dan sekecil apapun. Allah ta’ala berfirman :فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ (٧)Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya Dia akan melihat (balasan)nya. (QS Az-Zalzalah : 7)Dan sesungguhnya kita umat Islam –bagaimanapun kondisi kita- adalah umat yang terbaik yang dikeluarkan bagi manusia. Keterbaikan ini bukanlah bentuk fanatik kesukuan bukan pula karena untuk kebangsaan tertentu tanpa kebangsaan yang lainnya. Allah berfirman :كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِKamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. (QS Ali Imron : 110)Diantara tanda-tanda keterbaikan adalah amar ma’ruf dan nahi munkar. Kalau seandainya dilipat hamparannya, ditinggalkan ilmunya dan penerapannya, maka akan tersebar kesesatan, beredar kebodohan, negeri akan rusak, dan manusia akan binasa.Keterbaikan senantiasa menyertai seorang mukmin dalam segala kondisinya jika imannya sempurna. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Bersabda :“Sungguh menakjubkan perkara seorang mukmin, seluruh perkaranya adalah baik, dan hal ini tidak berlaku kecuali kepada seorang mukmin. Jika ia merasakan kesenangan maka ia bersyukur maka ini yang terbaik baginya, dan jika ia ditimpa kesulitan maka iapun bersabar, dan inilah yang terbaik baginya” (HR Muslim).Seorang mukmin akan meraih keterbaikan melalui mempelajari al-Qur’an da mengajarkannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :“Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari al-Qur’an dan mengajarkannya” (HR Al-Bukhari)Hal ini memotivasi seorang muslim untuk mendorong putra putrinya untuk mempelajari al-Qur’an di halaqoh-halaqoh Al-Qur’an, mendidik mereka untuk mencintai kitab Rabb mereka untuk menimba dari sumber airnya  yang tidak akan pernah kering. Maka seluruh kebaikan dan keterbaikan ada pada al-Qur’an, agar mereka bahagia di dunia sebelum di akhirat.          Seorang muslim meraih keterbaikan dengan menuntut ilmu syar’i dan mendalaminya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّيْنِ“Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya maka Allah memahamkannya agama”Ilmu merupakan perkara yang harus ada dalam kebangkitan umat dan pembangunan peradaban, serta pengembangan masyarakat dan memajukannya ke arah masa depan yang cemerlang.          Diantara keterbaikan adalah mengagungkan perkara-perkara yang terhormat di sisi Allah. Allah berfirman :ذَلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ حُرُمَاتِ اللَّهِ فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ عِنْدَ رَبِّهِDemikianlah (perintah Allah). dan Barangsiapa mengagungkan apa-apa yang terhormat di sisi Allah (QS Al-Hajj : 30)Dan perkara-perkara yang terhormat di sisi Allah adalah hak-hak Allah ta’ala. dan menjalankan hak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.Termasuk mengagungkan syiar-syiar Allah yang terkait dengan waktu ialah menghormati bulan Ramadhan. Termasuk mengagungkan hal-hal yang dimuliakan Allah ialah tidak menganggap remeh dosa-dosa kecil. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :((  إِيَّاكُمْ وَمُحَقَّرَاتِ الذُّنُوبِ فإنهن يحتمعن على الرجل حتى يهلكنه ))Janganlah kalian anggap remeh dosa-dosa kecil, sebab dosa-dosa kecil tersebut terkumpul pada diri seseorang, hingga membinasakannya  (HR. Ahmad)Keterbaikan juga ada pada seorang mukmin yang kuat fisiknya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :(( الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِى كلٍّ خيرٌ ))Orang mukmin yang berbadan kuat lebih baik dan lebih disenangi Allah dari pada orang mukmin yang lemah, namun demikian masing-masing mempunyai kebaikan.Maka seharusnya orang mukmin memiliki kekuatan fisik dan kekuatan dalam membela kebenaran.Termasuk keterbaikan ialah berhias diri dengan akhlak yang mulia. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :(( خِيَارَكُمْ أَحَسنُكُمْ أَخْلاَقًا المُوَطّئوْنَ أكتافًا ))( Orang-orang pilihan di antara kalian adalah yang terbaik akhlaknya serta yang membentangkan bahunya ). Artinya orang yang baik mudah bergaul, rendah hati sehingga orang lain merasa nyaman bersahabat dengannya dan tidak terganggu.Termasuk keterbaikan adalah membayar hutang dengan baik.   Dari Abu Hurairah r.a. berkata :(( كَانَ لِرَجُلٍ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سِنٌّ مِنَ الإِبِلِ، فَجَاءَهُ يَتَقَاضَاهُ، فَقَالَ: «أَعْطُوهُ»، فَطَلَبُوا سِنَّهُ، فَلَمْ يَجِدُوا لَهُ إِلَّا سِنًّا فَوْقَهَا، فَقَالَ: «أَعْطُوهُ»، فَقَالَ: أَوْفَيْتَنِي أَوْفَى اللَّهُ بِكَ، قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِنَّ خِيَارَكُمْ أَحْسَنُكُمْ قَضَاءً ))Ada seorang lelaki menghutangkan seekor unta dengan umur tertentu kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Lelaki itu datang kepada beliau untuk menagihnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata : “berikanlah hak orang ini “ maka para sahabat mencarikan unta yang seumur dengan unta yang beliau pinjam, hanya saja mereka tidak menemukannya kecuali unta yang umurnya di atasnya. Maka beliau shallallahu ‘alaihi wasallam berkata : “serahkanlah kepadanya”. Lelaki itu lalu berkata : “Engkau telah memenuhi hakku secara sempurna, semoga saja Allah memenuhi hakmu”. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “ Sesungguhnya orang terbaik di antara kalian adalah yang paling baik dalam membayar hutangnya).Di antara amal kebajikan ialah memberi manfaat kepada sesama dan melayani mereka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :((  خَيْرُ النّاسِ أنْفَعُهُمْ لِلنّاسِ ))( Sebaik-baik manusia ialah yang paling banyak memberi manfaat kepada orang lain ) HR Thabrani. Memberi manfaat kepada siapapun manusia; termasuk didalamnya menyenangkan hati sesama kaum muslimin, dengan berkunjung dan memberi hadiah, memuliakan anak-anaknya, memberikan makanan dan menghilangkan penderitaan kaum muslimin.Diantara keterbaikan orang-orang pilihan ialah diharapkan dari mereka kebaikan dan tidak dikhawatirkan ada gangguan dari mereka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :((  خَيْرُكُمْ مَنْ يُرْجَى خَيْرُهُ وَيُؤْمَنُ شَرُّهُ، وَشَرُّكُمْ مَنْ لاَ يُرْجَى خَيْرُهُ وَلاَ يُؤْمَنُ شَرُّهُ  )).( Sebaik-baik kalian ialah orang yang bisa diharapkan kebaikannya dan tidak dikawatirkan keburukannya. Sedangkan seburuk-buruk kalian ialah orang yang tidak bisa diharapkan kebaikannya dan dikawatirkan keburukannya ) HR Turmudzi.Salah satu ciri-ciri sifat keterbaikan adalah bersih hati dan jujur perkataan. Allah Ta’ala berfirman :فَإِذَا عَزَمَ الأمْرُ فَلَوْ صَدَقُوا اللَّهَ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ (٢١)Apabila telah tetap perintah perang (mereka tidak menyukainya). tetapi Jikalau mereka benar (imannya) terhadap Allah, niscaya yang demikian itu lebih baik bagi mereka. (QS Muhammad : 21)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah ditanya : Siapakah orang yang paling baik ? Beliau menjawab :ذُوْ الْقَلْبِ الْمَخْمُوْمِ وَاللِّسَانِ الصَّادِقِ“ Orang yang berhati bersih dan tutur kata yang benar “  HR Ibnu Majah.Tentu suatu pekerjaan yang memerlukan perjuangan kuat untuk membersihkan hati itu dari kecenderungan-kecenderungan berbuat zalim, dengki dan hasud. Alangkah banyak terkotornya hari dengan sifat-sifat buruk ini !Bersegera berbuat kebajikan, tidak merasa berat, bermalas-malas menjalankannya merupakan ciri khas orang-orang yang shalih. Allah Ta’ala berfirman :((  وَلِكُلٍّ وِجْهَةٌ هُوَ مُوَلِّيهَا فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ  ))( Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan ) Qs Al-Baqarah : 148Tanda kebajikan orang-orang pilihan ialah kearifan dan keseimbangan dalam berpikir. Allah Ta’ala berfirman :يُؤْتِي الْحِكْمَةَ مَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا كَثِيرًا وَمَا يَذَّكَّرُ إِلا أُولُو الألْبَابِ (٢٦٩)Allah menganugerahkan Al Hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Quran dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. dan Barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah). (QS Al-Baqoroh : 269)Hikmah ialah kemampuan dalam membedakan antara yang benar dan yang salah, antara kebajikan dengan keburukan serta kemampuan bekerja secara profesional.Nilai keterbaikan dapat diraih melalui cinta kepada kebajikan dengan kesungguhan niat dalam memperolehnya. Allah Ta’ala berfirman :((  إِنْ يَعْلَم اللهُ فِي قُلُوبكُمْ خَيْرًا يُؤْتكُمْ خَيْرًا ))( Jika sekiranya Allah mengetahui dihati kalian ada kebaikan, tentu Ia memberikan kepada kalian kebaikan )Maka, sesuai dengan kadar tulusnya niat akan diraih anugerah Allah.Keterbaikan dapat diraih pula dengan bertaubat. Firman Allah Ta’ala :(( فَإنْ يَتوْبُوْا يَكُ خَيْرًا لَهُمْ ))( Jikalau mereka bertaubat, maka yang demikian itu suatu kebaikan bagi mereka )Keterbaikan pun dapat diperoleh dengan cara menunjukkan tentang kebaikan dan medan-medan kebaikan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :(( مَنْ دَلّ عَلَى خيْرٍ فلَهُ مِثْل أجْر فَاعِلِه ))( Barang siapa yang menunjukkan ke arah kebajikan, maka dia mendapatkan pahalah seperti yang diraih pelakunya ). HR. MuslimKeterbaikan dapat pula diperoleh dengan berlaku adil terhadap manusia lain. Firman Allah :وَأَوْفُوا الْكَيْلَ إِذَا كِلْتُمْ وَزِنُوا بِالْقِسْطَاسِ الْمُسْتَقِيمِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلا (٣٥)Dan sempurnakanlah takaran apabila kamu menakar, dan timbanglah dengan neraca yang benar. Itulah yang lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (Qs Al-Isroo’ : 35)Keterbaikan dapat diperoleh pula dengan bersedekah. Firman Allah Ta’ala :وَأَنْ تَصَدَّقُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ (٢٨٠)Dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu, lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui. (QS Al-Baqoroh : 280)Termasuk tanda-tanda keterbaikan, usia panjang disertai amal perbuatan yang baik. Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. secara marfu’ :(( ألا أخبركم بخياركم ؟ قالوا بلى يا رسول الله ، قال ” أطولكم أعمارا وأحسنكم أخلاقا ))( Maukah kamu aku beritahu tentang orang-orang pilihan di antara kamu ? Mereka menjawab : Tentu Ya Rasulallah ! Beliau bersabda : “Orang yang paling panjang usianya di antara kamu dan yang paling baik akhlaknya” ) HR Al-Hakim dan Ibnu Hibban dalam shahihnya.Diantara tanda keterbaikan seorang lelaki adalah baiknya dia memperlakukan keluarganya. Dari Aisya r.a. berkata. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :(( خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي  ))(Sebaik-baik kamu adalah orang yang paling baik terhadap keluarganya, dan akupun yang terbaik di antara kamu terhadap keluargaku ) HR At-Turmudzi dan Ibnu Majah.Diantara tanda keterbaikan pada seorang wanita ialah kesungguhannya menjaga kehormatannya.Allah Ta’ala berfirman :وَأَنْ يَسْتَعْفِفْنَ خَيْرٌ لَهُنَّ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ (٦٠)( Dan bahwa mereka [ wanita-wanita ] itu menjaga diri mereka akan lebih baik bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui ) (QS An-Nuur : 60)Selendang kehormatan merupakan lambang terjaganya kesucian wanita bila dibarengi dengan upaya menjauhkan diri dari terbukanya aurat, bersolek,   sikap kebebasan dan penyimpangan.Tanda-tanda keterbaikan bagi para penguasa ialah kecintaan rakyat kepada mereka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :((خِيَارُ أَئِمَّتِكُمُ الَّذِينَ تُحِبُّونَهُمْ وَيُحِبُّونَكُمْ، وَيُصَلُّونَ عَلَيْكُمْ وَتُصَلُّونَ عَلَيْهِمْ، وَشِرَارُ أَئِمَّتِكُمُ الَّذِينَ تُبْغِضُونَهُمْ وَيُبْغِضُونَكُمْ، وَتَلْعَنُونَهُمْ وَيَلْعَنُونَكُمْ))( Orang-orang pilihan dari pemimpin kalian adalah mereka yang kalian cintai dan merekanpun mencitai kalian. Mereka mendoakan kalian dan kalianpun mendoakan mereka. Sedangkan orang-orang yang jahat dari pemimpin kalian ialah mereka yang kalian benci dan merekapun membenci kalian. Kalian mengutuk mereka dan merekapun mengutuk kalian ) HR MuslimTermasuk peluang emas untuk mengembangkan kebajikan yang banyak dalam jiwa dan kehidupan ialah bulan Ramadhan yang penuh berkah yang kilauan kilatannya dan pancaran bulan sabitnya sebentar lagi akan terlihat. Bulan yang dapat memulihkan kembali kejernihan hati setelah tercoreng oleh kotoran dunia, menormalkan kembali keindahan jiwa setelah berlumuran dengan berbagai kesibukan hidup, mensucikan kembali hati nurani setelah sempat tercemar oleh kotoran-kotoran fitnah. Inilah momentum untuk meraih kebajikan; di dalamnya ada Lailatul-Qadar yang nilainya lebih baik dari pada seribu bulan.تَنَزَّلُ الْمَلائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ (٤)سَلامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ (٥) ( Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar ) Qs Al-Qadr : 4-5Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :(( مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ  ))( Barangsiapa berpuasa Ramadhan karena iman dan mencari ridha Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu )((  مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ  ))( Barangsiapa yang beribadah malam bulan ramadhan karena iman dan mengharapkan ridha Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu ) HR Bukhari dan Muslim فَإِنَّ عُمْرَةً فِي رَمَضَانَ تَقْضِي حَجَّةً أَوْ حَجَّةً مَعِي( Sesungguhnya umrah pada bulan ramadhan setara pahala haji, atau seperti menunaikan haji bersamaku)((  كَانَ أَجْوَدَ بِالخَيْرِ مِنَ الرِّيحِ المُرْسَلَةِ  ))Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sangat dermawan tatkala Ramadhan, dan beliau dalam melakkan kebaikan lebih cepat dari pada angin yang meniup dengan lepas (HR Bukhari dan Muslim). Khutbah KeduaDiantara keterbaikan; adalah penjagaan para pahlawan para mujahidin di daerah perbatasan. Mereka menghadapi musuh dengan gigih dan menghalangi musuhi. Mereka punya tekat yang kuat dengan jiwa yang optimis akan kemenangan yang dekat.Bulan Ramadhan bulan kepahlawanan, mengandung nilai-nilai kejayaan dan kemenangan. Bulan ini dalam sejarah sarat dengan peristiwa yang telah merubah perjalanan kehidupan. Dalam bulan ramadhan terjadi perang Badar, penaklukan Mekah, perang Yarmuk dan Al-Qadisiyah, Hithin dan Ain Jalut dll.Para pejuang yang gagah berani berdiri tegak sebagai pembela agama dan tanah air dan harga diri di benteng-benteng perbatasan untuk menumpas para agresor dan menumbangkan orang-orang yang zalim serta menyerang markas-markas antek-antek asing yang berkhianat. Sejarah akan mengabadikan jasa-jasa mereka.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :رِبَاطُ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ خَيْرٌ مِنْ صِيَامِ شَهْرٍ وَقِيَامِهِ، وَإِنْ مَاتَ جَرَى عَلَيْهِ عَمَلُهُ الَّذِي كَانَ يَعْمَلُهُ، وَأُجْرِيَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ وَأَمِنَ الْفَتَّانَBerjaga di daerah perbatasan sehari semalam nilainya lebih baik dari pada puasa sebulan lengkap dengan qiyamu-lailnya. Jika dia gugur, maka pahala amal baiknya yang pernah dilakukan akan terus mengalir dan rezekinya pun tetap berjalan serta aman dari fitnah kubur(( كُلُّ مَيِّتٍ يُخْتَمُ عَلَى عَمَلِهِ إِلاَّ الَّذِي مَاتَ مُرَابِطًا فِي سَبِيلِ اللهِ فَإِنَّهُ يُنْمَى لَهُ عَمَلُهُ إِلَى يَوْمِ القِيَامَةِ، وَيَأْمَنُ مِنْ فِتْنَةِ القَبْرِ ))Setiap mayat telah tutup pahala amalnya kecuali seseorang yang mati karena menjaga daerah perbatasan di jalan Allah. Sesungguhnya amal baktinya terus dikembangkan hingga hari kiamat dan dia aman dari fitnah kubur (HR. At-Tirmidzi)Penerjemah: Abu Abdil Muhsin Firandawww.firanda.com


Khutbah Jum’at Mesjid Nabawi 25/8/1436H – 13/6/2015MOleh : Asy-Syaikh Abdul Baari Ats-Tsubaiti hafizohullohKhutbah PertamaAl-Khoir (kebaikan) adalah sebuah kata yang mencakup segala yang dimanfaatkan oleh manusia, dan kebaikan berada di tangan Allah Yang menguasai Kerajaan. Allah berfirman :قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاءُ بِيَدِكَ الْخَيْرُ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ (٢٦)Katakanlah: “Wahai Tuhan yang mempunyai Kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut Kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS Ali Imron : 26)Seluruh kebaikan yang diperoleh dari sisi para hamba kalau bukan karena Allah yang memberikan mereka kemampuan untuk meraihnya dan membimbing mereka maka mereka tidak akan mampu meraihnya. Mengerjakan kebajikan adalah tugas para nabi dan merupakan ciri orang-orang yang beruntung. Allah berfirman :وَجَعَلْنَاهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا وَأَوْحَيْنَا إِلَيْهِمْ فِعْلَ الْخَيْرَاتِ وَإِقَامَ الصَّلاةِ وَإِيتَاءَ الزَّكَاةِ وَكَانُوا لَنَا عَابِدِينَ (٧٣)Kami telah menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami dan telah Kami wahyukan kepada, mereka mengerjakan kebajikan, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan hanya kepada kamilah mereka selalu menyembah (QS Al-Anbiyaa : 73)Diantara doa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ فِعْلَ الْخَيِرَاتِ وَتَرْكَ المُنْكَرَاتِ“Ya Allah aku memohon kepadamu untuk mengerjakan kebajikan dan meninggalkan kemunkaran” (HR At-Thirmidzi)Dan perbuatan kebajikan mengantarkan kepada istiqomahnya kehidupan individu dan masyarakat. Allah berfirman :يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ارْكَعُوا وَاسْجُدُوا وَاعْبُدُوا رَبَّكُمْ وَافْعَلُوا الْخَيْرَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَHai orang-orang yang beriman, ruku’lah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan. (QS Al-Hajj : 77)Seorang mukmin janganlah meremehkan kebaikan sedikit dan sekecil apapun. Allah ta’ala berfirman :فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ (٧)Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya Dia akan melihat (balasan)nya. (QS Az-Zalzalah : 7)Dan sesungguhnya kita umat Islam –bagaimanapun kondisi kita- adalah umat yang terbaik yang dikeluarkan bagi manusia. Keterbaikan ini bukanlah bentuk fanatik kesukuan bukan pula karena untuk kebangsaan tertentu tanpa kebangsaan yang lainnya. Allah berfirman :كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِKamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. (QS Ali Imron : 110)Diantara tanda-tanda keterbaikan adalah amar ma’ruf dan nahi munkar. Kalau seandainya dilipat hamparannya, ditinggalkan ilmunya dan penerapannya, maka akan tersebar kesesatan, beredar kebodohan, negeri akan rusak, dan manusia akan binasa.Keterbaikan senantiasa menyertai seorang mukmin dalam segala kondisinya jika imannya sempurna. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Bersabda :“Sungguh menakjubkan perkara seorang mukmin, seluruh perkaranya adalah baik, dan hal ini tidak berlaku kecuali kepada seorang mukmin. Jika ia merasakan kesenangan maka ia bersyukur maka ini yang terbaik baginya, dan jika ia ditimpa kesulitan maka iapun bersabar, dan inilah yang terbaik baginya” (HR Muslim).Seorang mukmin akan meraih keterbaikan melalui mempelajari al-Qur’an da mengajarkannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :“Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari al-Qur’an dan mengajarkannya” (HR Al-Bukhari)Hal ini memotivasi seorang muslim untuk mendorong putra putrinya untuk mempelajari al-Qur’an di halaqoh-halaqoh Al-Qur’an, mendidik mereka untuk mencintai kitab Rabb mereka untuk menimba dari sumber airnya  yang tidak akan pernah kering. Maka seluruh kebaikan dan keterbaikan ada pada al-Qur’an, agar mereka bahagia di dunia sebelum di akhirat.          Seorang muslim meraih keterbaikan dengan menuntut ilmu syar’i dan mendalaminya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّيْنِ“Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya maka Allah memahamkannya agama”Ilmu merupakan perkara yang harus ada dalam kebangkitan umat dan pembangunan peradaban, serta pengembangan masyarakat dan memajukannya ke arah masa depan yang cemerlang.          Diantara keterbaikan adalah mengagungkan perkara-perkara yang terhormat di sisi Allah. Allah berfirman :ذَلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ حُرُمَاتِ اللَّهِ فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ عِنْدَ رَبِّهِDemikianlah (perintah Allah). dan Barangsiapa mengagungkan apa-apa yang terhormat di sisi Allah (QS Al-Hajj : 30)Dan perkara-perkara yang terhormat di sisi Allah adalah hak-hak Allah ta’ala. dan menjalankan hak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.Termasuk mengagungkan syiar-syiar Allah yang terkait dengan waktu ialah menghormati bulan Ramadhan. Termasuk mengagungkan hal-hal yang dimuliakan Allah ialah tidak menganggap remeh dosa-dosa kecil. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :((  إِيَّاكُمْ وَمُحَقَّرَاتِ الذُّنُوبِ فإنهن يحتمعن على الرجل حتى يهلكنه ))Janganlah kalian anggap remeh dosa-dosa kecil, sebab dosa-dosa kecil tersebut terkumpul pada diri seseorang, hingga membinasakannya  (HR. Ahmad)Keterbaikan juga ada pada seorang mukmin yang kuat fisiknya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :(( الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِى كلٍّ خيرٌ ))Orang mukmin yang berbadan kuat lebih baik dan lebih disenangi Allah dari pada orang mukmin yang lemah, namun demikian masing-masing mempunyai kebaikan.Maka seharusnya orang mukmin memiliki kekuatan fisik dan kekuatan dalam membela kebenaran.Termasuk keterbaikan ialah berhias diri dengan akhlak yang mulia. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :(( خِيَارَكُمْ أَحَسنُكُمْ أَخْلاَقًا المُوَطّئوْنَ أكتافًا ))( Orang-orang pilihan di antara kalian adalah yang terbaik akhlaknya serta yang membentangkan bahunya ). Artinya orang yang baik mudah bergaul, rendah hati sehingga orang lain merasa nyaman bersahabat dengannya dan tidak terganggu.Termasuk keterbaikan adalah membayar hutang dengan baik.   Dari Abu Hurairah r.a. berkata :(( كَانَ لِرَجُلٍ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سِنٌّ مِنَ الإِبِلِ، فَجَاءَهُ يَتَقَاضَاهُ، فَقَالَ: «أَعْطُوهُ»، فَطَلَبُوا سِنَّهُ، فَلَمْ يَجِدُوا لَهُ إِلَّا سِنًّا فَوْقَهَا، فَقَالَ: «أَعْطُوهُ»، فَقَالَ: أَوْفَيْتَنِي أَوْفَى اللَّهُ بِكَ، قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِنَّ خِيَارَكُمْ أَحْسَنُكُمْ قَضَاءً ))Ada seorang lelaki menghutangkan seekor unta dengan umur tertentu kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Lelaki itu datang kepada beliau untuk menagihnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata : “berikanlah hak orang ini “ maka para sahabat mencarikan unta yang seumur dengan unta yang beliau pinjam, hanya saja mereka tidak menemukannya kecuali unta yang umurnya di atasnya. Maka beliau shallallahu ‘alaihi wasallam berkata : “serahkanlah kepadanya”. Lelaki itu lalu berkata : “Engkau telah memenuhi hakku secara sempurna, semoga saja Allah memenuhi hakmu”. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “ Sesungguhnya orang terbaik di antara kalian adalah yang paling baik dalam membayar hutangnya).Di antara amal kebajikan ialah memberi manfaat kepada sesama dan melayani mereka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :((  خَيْرُ النّاسِ أنْفَعُهُمْ لِلنّاسِ ))( Sebaik-baik manusia ialah yang paling banyak memberi manfaat kepada orang lain ) HR Thabrani. Memberi manfaat kepada siapapun manusia; termasuk didalamnya menyenangkan hati sesama kaum muslimin, dengan berkunjung dan memberi hadiah, memuliakan anak-anaknya, memberikan makanan dan menghilangkan penderitaan kaum muslimin.Diantara keterbaikan orang-orang pilihan ialah diharapkan dari mereka kebaikan dan tidak dikhawatirkan ada gangguan dari mereka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :((  خَيْرُكُمْ مَنْ يُرْجَى خَيْرُهُ وَيُؤْمَنُ شَرُّهُ، وَشَرُّكُمْ مَنْ لاَ يُرْجَى خَيْرُهُ وَلاَ يُؤْمَنُ شَرُّهُ  )).( Sebaik-baik kalian ialah orang yang bisa diharapkan kebaikannya dan tidak dikawatirkan keburukannya. Sedangkan seburuk-buruk kalian ialah orang yang tidak bisa diharapkan kebaikannya dan dikawatirkan keburukannya ) HR Turmudzi.Salah satu ciri-ciri sifat keterbaikan adalah bersih hati dan jujur perkataan. Allah Ta’ala berfirman :فَإِذَا عَزَمَ الأمْرُ فَلَوْ صَدَقُوا اللَّهَ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ (٢١)Apabila telah tetap perintah perang (mereka tidak menyukainya). tetapi Jikalau mereka benar (imannya) terhadap Allah, niscaya yang demikian itu lebih baik bagi mereka. (QS Muhammad : 21)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah ditanya : Siapakah orang yang paling baik ? Beliau menjawab :ذُوْ الْقَلْبِ الْمَخْمُوْمِ وَاللِّسَانِ الصَّادِقِ“ Orang yang berhati bersih dan tutur kata yang benar “  HR Ibnu Majah.Tentu suatu pekerjaan yang memerlukan perjuangan kuat untuk membersihkan hati itu dari kecenderungan-kecenderungan berbuat zalim, dengki dan hasud. Alangkah banyak terkotornya hari dengan sifat-sifat buruk ini !Bersegera berbuat kebajikan, tidak merasa berat, bermalas-malas menjalankannya merupakan ciri khas orang-orang yang shalih. Allah Ta’ala berfirman :((  وَلِكُلٍّ وِجْهَةٌ هُوَ مُوَلِّيهَا فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ  ))( Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan ) Qs Al-Baqarah : 148Tanda kebajikan orang-orang pilihan ialah kearifan dan keseimbangan dalam berpikir. Allah Ta’ala berfirman :يُؤْتِي الْحِكْمَةَ مَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا كَثِيرًا وَمَا يَذَّكَّرُ إِلا أُولُو الألْبَابِ (٢٦٩)Allah menganugerahkan Al Hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Quran dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. dan Barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah). (QS Al-Baqoroh : 269)Hikmah ialah kemampuan dalam membedakan antara yang benar dan yang salah, antara kebajikan dengan keburukan serta kemampuan bekerja secara profesional.Nilai keterbaikan dapat diraih melalui cinta kepada kebajikan dengan kesungguhan niat dalam memperolehnya. Allah Ta’ala berfirman :((  إِنْ يَعْلَم اللهُ فِي قُلُوبكُمْ خَيْرًا يُؤْتكُمْ خَيْرًا ))( Jika sekiranya Allah mengetahui dihati kalian ada kebaikan, tentu Ia memberikan kepada kalian kebaikan )Maka, sesuai dengan kadar tulusnya niat akan diraih anugerah Allah.Keterbaikan dapat diraih pula dengan bertaubat. Firman Allah Ta’ala :(( فَإنْ يَتوْبُوْا يَكُ خَيْرًا لَهُمْ ))( Jikalau mereka bertaubat, maka yang demikian itu suatu kebaikan bagi mereka )Keterbaikan pun dapat diperoleh dengan cara menunjukkan tentang kebaikan dan medan-medan kebaikan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :(( مَنْ دَلّ عَلَى خيْرٍ فلَهُ مِثْل أجْر فَاعِلِه ))( Barang siapa yang menunjukkan ke arah kebajikan, maka dia mendapatkan pahalah seperti yang diraih pelakunya ). HR. MuslimKeterbaikan dapat pula diperoleh dengan berlaku adil terhadap manusia lain. Firman Allah :وَأَوْفُوا الْكَيْلَ إِذَا كِلْتُمْ وَزِنُوا بِالْقِسْطَاسِ الْمُسْتَقِيمِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلا (٣٥)Dan sempurnakanlah takaran apabila kamu menakar, dan timbanglah dengan neraca yang benar. Itulah yang lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (Qs Al-Isroo’ : 35)Keterbaikan dapat diperoleh pula dengan bersedekah. Firman Allah Ta’ala :وَأَنْ تَصَدَّقُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ (٢٨٠)Dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu, lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui. (QS Al-Baqoroh : 280)Termasuk tanda-tanda keterbaikan, usia panjang disertai amal perbuatan yang baik. Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. secara marfu’ :(( ألا أخبركم بخياركم ؟ قالوا بلى يا رسول الله ، قال ” أطولكم أعمارا وأحسنكم أخلاقا ))( Maukah kamu aku beritahu tentang orang-orang pilihan di antara kamu ? Mereka menjawab : Tentu Ya Rasulallah ! Beliau bersabda : “Orang yang paling panjang usianya di antara kamu dan yang paling baik akhlaknya” ) HR Al-Hakim dan Ibnu Hibban dalam shahihnya.Diantara tanda keterbaikan seorang lelaki adalah baiknya dia memperlakukan keluarganya. Dari Aisya r.a. berkata. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :(( خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي  ))(Sebaik-baik kamu adalah orang yang paling baik terhadap keluarganya, dan akupun yang terbaik di antara kamu terhadap keluargaku ) HR At-Turmudzi dan Ibnu Majah.Diantara tanda keterbaikan pada seorang wanita ialah kesungguhannya menjaga kehormatannya.Allah Ta’ala berfirman :وَأَنْ يَسْتَعْفِفْنَ خَيْرٌ لَهُنَّ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ (٦٠)( Dan bahwa mereka [ wanita-wanita ] itu menjaga diri mereka akan lebih baik bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui ) (QS An-Nuur : 60)Selendang kehormatan merupakan lambang terjaganya kesucian wanita bila dibarengi dengan upaya menjauhkan diri dari terbukanya aurat, bersolek,   sikap kebebasan dan penyimpangan.Tanda-tanda keterbaikan bagi para penguasa ialah kecintaan rakyat kepada mereka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :((خِيَارُ أَئِمَّتِكُمُ الَّذِينَ تُحِبُّونَهُمْ وَيُحِبُّونَكُمْ، وَيُصَلُّونَ عَلَيْكُمْ وَتُصَلُّونَ عَلَيْهِمْ، وَشِرَارُ أَئِمَّتِكُمُ الَّذِينَ تُبْغِضُونَهُمْ وَيُبْغِضُونَكُمْ، وَتَلْعَنُونَهُمْ وَيَلْعَنُونَكُمْ))( Orang-orang pilihan dari pemimpin kalian adalah mereka yang kalian cintai dan merekanpun mencitai kalian. Mereka mendoakan kalian dan kalianpun mendoakan mereka. Sedangkan orang-orang yang jahat dari pemimpin kalian ialah mereka yang kalian benci dan merekapun membenci kalian. Kalian mengutuk mereka dan merekapun mengutuk kalian ) HR MuslimTermasuk peluang emas untuk mengembangkan kebajikan yang banyak dalam jiwa dan kehidupan ialah bulan Ramadhan yang penuh berkah yang kilauan kilatannya dan pancaran bulan sabitnya sebentar lagi akan terlihat. Bulan yang dapat memulihkan kembali kejernihan hati setelah tercoreng oleh kotoran dunia, menormalkan kembali keindahan jiwa setelah berlumuran dengan berbagai kesibukan hidup, mensucikan kembali hati nurani setelah sempat tercemar oleh kotoran-kotoran fitnah. Inilah momentum untuk meraih kebajikan; di dalamnya ada Lailatul-Qadar yang nilainya lebih baik dari pada seribu bulan.تَنَزَّلُ الْمَلائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ (٤)سَلامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ (٥) ( Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar ) Qs Al-Qadr : 4-5Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :(( مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ  ))( Barangsiapa berpuasa Ramadhan karena iman dan mencari ridha Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu )((  مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ  ))( Barangsiapa yang beribadah malam bulan ramadhan karena iman dan mengharapkan ridha Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu ) HR Bukhari dan Muslim فَإِنَّ عُمْرَةً فِي رَمَضَانَ تَقْضِي حَجَّةً أَوْ حَجَّةً مَعِي( Sesungguhnya umrah pada bulan ramadhan setara pahala haji, atau seperti menunaikan haji bersamaku)((  كَانَ أَجْوَدَ بِالخَيْرِ مِنَ الرِّيحِ المُرْسَلَةِ  ))Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sangat dermawan tatkala Ramadhan, dan beliau dalam melakkan kebaikan lebih cepat dari pada angin yang meniup dengan lepas (HR Bukhari dan Muslim). Khutbah KeduaDiantara keterbaikan; adalah penjagaan para pahlawan para mujahidin di daerah perbatasan. Mereka menghadapi musuh dengan gigih dan menghalangi musuhi. Mereka punya tekat yang kuat dengan jiwa yang optimis akan kemenangan yang dekat.Bulan Ramadhan bulan kepahlawanan, mengandung nilai-nilai kejayaan dan kemenangan. Bulan ini dalam sejarah sarat dengan peristiwa yang telah merubah perjalanan kehidupan. Dalam bulan ramadhan terjadi perang Badar, penaklukan Mekah, perang Yarmuk dan Al-Qadisiyah, Hithin dan Ain Jalut dll.Para pejuang yang gagah berani berdiri tegak sebagai pembela agama dan tanah air dan harga diri di benteng-benteng perbatasan untuk menumpas para agresor dan menumbangkan orang-orang yang zalim serta menyerang markas-markas antek-antek asing yang berkhianat. Sejarah akan mengabadikan jasa-jasa mereka.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :رِبَاطُ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ خَيْرٌ مِنْ صِيَامِ شَهْرٍ وَقِيَامِهِ، وَإِنْ مَاتَ جَرَى عَلَيْهِ عَمَلُهُ الَّذِي كَانَ يَعْمَلُهُ، وَأُجْرِيَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ وَأَمِنَ الْفَتَّانَBerjaga di daerah perbatasan sehari semalam nilainya lebih baik dari pada puasa sebulan lengkap dengan qiyamu-lailnya. Jika dia gugur, maka pahala amal baiknya yang pernah dilakukan akan terus mengalir dan rezekinya pun tetap berjalan serta aman dari fitnah kubur(( كُلُّ مَيِّتٍ يُخْتَمُ عَلَى عَمَلِهِ إِلاَّ الَّذِي مَاتَ مُرَابِطًا فِي سَبِيلِ اللهِ فَإِنَّهُ يُنْمَى لَهُ عَمَلُهُ إِلَى يَوْمِ القِيَامَةِ، وَيَأْمَنُ مِنْ فِتْنَةِ القَبْرِ ))Setiap mayat telah tutup pahala amalnya kecuali seseorang yang mati karena menjaga daerah perbatasan di jalan Allah. Sesungguhnya amal baktinya terus dikembangkan hingga hari kiamat dan dia aman dari fitnah kubur (HR. At-Tirmidzi)Penerjemah: Abu Abdil Muhsin Firandawww.firanda.com

Kajian Umum: Fiqih Perceraian

Selain mempelajari fiqih pernikahan, kita mempelajari fiqih perceraian, tentu bukan dimaksudkan menginginkan terjadinya perceraian. Namun justru untuk menjaga kita agar tidak sembarangan dalam melakukan perceraian.Dan jikalau memang karena maslahat terjadi perceraian, agar pihak yang satu tidak mendzalimi pihak yang lain.Bagaimana sebenarnya Fiqih Perceraian itu? Simak Kajian Umum, Fiqih Perceraian bersama Ustadz Firanda Andirja, MA.Semoga bermanfaat.Video http://yufid.tv (Klik link untuk melihat koleksi video lainnya)

Kajian Umum: Fiqih Perceraian

Selain mempelajari fiqih pernikahan, kita mempelajari fiqih perceraian, tentu bukan dimaksudkan menginginkan terjadinya perceraian. Namun justru untuk menjaga kita agar tidak sembarangan dalam melakukan perceraian.Dan jikalau memang karena maslahat terjadi perceraian, agar pihak yang satu tidak mendzalimi pihak yang lain.Bagaimana sebenarnya Fiqih Perceraian itu? Simak Kajian Umum, Fiqih Perceraian bersama Ustadz Firanda Andirja, MA.Semoga bermanfaat.Video http://yufid.tv (Klik link untuk melihat koleksi video lainnya)
Selain mempelajari fiqih pernikahan, kita mempelajari fiqih perceraian, tentu bukan dimaksudkan menginginkan terjadinya perceraian. Namun justru untuk menjaga kita agar tidak sembarangan dalam melakukan perceraian.Dan jikalau memang karena maslahat terjadi perceraian, agar pihak yang satu tidak mendzalimi pihak yang lain.Bagaimana sebenarnya Fiqih Perceraian itu? Simak Kajian Umum, Fiqih Perceraian bersama Ustadz Firanda Andirja, MA.Semoga bermanfaat.Video http://yufid.tv (Klik link untuk melihat koleksi video lainnya)


Selain mempelajari fiqih pernikahan, kita mempelajari fiqih perceraian, tentu bukan dimaksudkan menginginkan terjadinya perceraian. Namun justru untuk menjaga kita agar tidak sembarangan dalam melakukan perceraian.Dan jikalau memang karena maslahat terjadi perceraian, agar pihak yang satu tidak mendzalimi pihak yang lain.Bagaimana sebenarnya Fiqih Perceraian itu? Simak Kajian Umum, Fiqih Perceraian bersama Ustadz Firanda Andirja, MA.Semoga bermanfaat.Video http://yufid.tv (Klik link untuk melihat koleksi video lainnya)

Istri Tercipta dari Tulang Rusuk maka…

Jika istri tercipta dari tulang rusuk maka :1) janganlah menjadikannya sbg tulang punggung2) janganlah kau menghayal ia akan lurus, krn tulang rusuk hanya menjalankan fungsinya sbg tulang rusuk jika ia tetap bengkok, kalau lurus maka bukan tulang rusuk namanya, maka terimalah dan bersabarlah akan kebengkokannya 3) tulang rusuk harus dijaga karena rawan patah, ia tertutup dibalik dadamu yg kokoh4) tulang rusuk adalah pelengkap dirimu, maka ia adalah partner kehidupanmu, jangan kau menjauhkannya dari kehidupanmu5) jika tulang rusuk sakit dan terluka maka semestinya kaupun ikut merasakan penderitaan

Istri Tercipta dari Tulang Rusuk maka…

Jika istri tercipta dari tulang rusuk maka :1) janganlah menjadikannya sbg tulang punggung2) janganlah kau menghayal ia akan lurus, krn tulang rusuk hanya menjalankan fungsinya sbg tulang rusuk jika ia tetap bengkok, kalau lurus maka bukan tulang rusuk namanya, maka terimalah dan bersabarlah akan kebengkokannya 3) tulang rusuk harus dijaga karena rawan patah, ia tertutup dibalik dadamu yg kokoh4) tulang rusuk adalah pelengkap dirimu, maka ia adalah partner kehidupanmu, jangan kau menjauhkannya dari kehidupanmu5) jika tulang rusuk sakit dan terluka maka semestinya kaupun ikut merasakan penderitaan
Jika istri tercipta dari tulang rusuk maka :1) janganlah menjadikannya sbg tulang punggung2) janganlah kau menghayal ia akan lurus, krn tulang rusuk hanya menjalankan fungsinya sbg tulang rusuk jika ia tetap bengkok, kalau lurus maka bukan tulang rusuk namanya, maka terimalah dan bersabarlah akan kebengkokannya 3) tulang rusuk harus dijaga karena rawan patah, ia tertutup dibalik dadamu yg kokoh4) tulang rusuk adalah pelengkap dirimu, maka ia adalah partner kehidupanmu, jangan kau menjauhkannya dari kehidupanmu5) jika tulang rusuk sakit dan terluka maka semestinya kaupun ikut merasakan penderitaan


Jika istri tercipta dari tulang rusuk maka :1) janganlah menjadikannya sbg tulang punggung2) janganlah kau menghayal ia akan lurus, krn tulang rusuk hanya menjalankan fungsinya sbg tulang rusuk jika ia tetap bengkok, kalau lurus maka bukan tulang rusuk namanya, maka terimalah dan bersabarlah akan kebengkokannya 3) tulang rusuk harus dijaga karena rawan patah, ia tertutup dibalik dadamu yg kokoh4) tulang rusuk adalah pelengkap dirimu, maka ia adalah partner kehidupanmu, jangan kau menjauhkannya dari kehidupanmu5) jika tulang rusuk sakit dan terluka maka semestinya kaupun ikut merasakan penderitaan

Ternyata Syaikh –hafidzohulloh- Bisa Salah Vonis !!

          Sungguh menyedihkan tatkala para da’i sunnah dipermainkan oleh syaitan untuk saling bermusuhan dan saling menjatuhkan. Energi banyak yang tersita untuk saling mencari kesalahan dan mencari syaikh yang mendukung. Sementara ahlul batil bahkan ahlul kufr terus bergerak dan melancarkan serangan. Bantahan silih berganti, fatwa para syaikh silih berganti didatangkan, baik mendukung atau menentang…hingga kapankah kondisi seperti ini…??!! Seandainya perselisihan adalah dalam ranah syirik dan kufur maka wajar jika tercerai berai…akan tetapi kebanyakannya adalah permasalahan khilafiyah ijtihadiah, yang seakan-akan dianggap sebagai permasalahan qhot’iyaat (pasti) yang telah turun dalil al-Qur’an.  Padahal para da’i tersebut tahu bahwa banyak kitab-kitab klasik para ulama yang sarat dengan permasalahan-permasalahan khilafiyah yang timbul akibat perbedaan sudut pandang dan sisi pendalilan. Jika permasalahan yang ada dalilnya saja bisa terjadi perselisihan, apalagi permasalahan yang tidak ada nash nya, seperti permasalahan bersikap terhadap mukholifin.           Terbayangkan sungguh indah jika waktu dan perjuangan yang ditujukan untuk menjatuhkan para da’i yang lain, semuanya itu ditujukan dan diarahkan untuk membantah dan mengungkap kebatilan para ahlul batil dan ahlus syirk dan al-kufr ??! Yang lebih menyedihkan lagi, para da’i itu masih terus berselisih dengan perselisihan yang sengit sementara markaz ponpes yang selama ini mereka banggakan telah dirampas oleh musuh ahlus syirk wal kufr !!!.Sementara mereka diserang musuh mereka masih saja berkutat dan bergulat diantara mereka…, manakah fikih prioritas??! Bahkan sebagian mereka tidak membantu saudara mereka yang sedang di serang musuh –padahal sama sama mengaku dan menyeru kepada sunnah dan membantah ahlul bid’ah-? Jika hal ini terjadi antara sesama ahlus sunnah yang belajar dari negeri yang sama dan dari markaz yang sama, lantas bagaimana mau memikirkan dan membantu saudara-saudara sesama kaum muslimin yang sedang tertindas yang lain manhaj?? Mana sempat membantu mereka?, atau jangan-jangan sibuk membantu mereka juga dianggap merupakan kesalahan manhaj??!! Kalaupun saudara kita sesama da’i salah, maka apakah memang waktu harus banyak tersita untuk menasehatinya??, jika ia tidak mau sadar dari kesalahan –atau yang dianggap kesalahan, meskipun belum tentu merupakan kesalahan- maka apakah kita harus tetap berkutat menyerangnya, sementara prioritas dakwah yang lain masih terlalu banyak dan lebih penting?? Hal ini mengakibatkan seakan-akan kita menutup mata dari permasalahan kaum muslimin yang lebih besar yang sedang terjadi…, kalaupun kita membuka mata maka waktu kita hanya sedikit atau tidak ada untuk membantu dan memikirkan mereka…kenapa??, karena waktu telah tersita untuk mencari-cari kesalahan saudara, merendahkannya, menjatuhkannya, dan melaporkannya kepada syaikh yang kita harapkan…! Eh…ternyata bisa jadi kita malah lebih dahulu dilaporin sama dia…?! Perselisihan yang tiada kunjung selesai…belasan tahun berlalu, tiada putus-putus, bahkan selalu datang dalam baju yang baru, dalam permasalahan-permasalahan yang baru…. Telah datang berbagai syaikh untuk mendamaikan…namun syaitan terus menyalakan api perselisihan…, dan tidak jarang juga sebagian syaikh yang hendak mendamaikan akhirnya berpihak sebelah tangan…Wallahul musta’aan.  Alhamdulillah ada salah seorang da’i –hafizohullah- yang telah menulis sebuah tulisan –meskipun sebelumnya telah menulis sebuah pernyataan-, yang tulisan tersebut menyingkap beberapa kenyataan yang tidak bisa dipungkiri. Diantaranya : Ternyata Syaikh yang selama ini perkataannya dijadikan rujukan dan dalil (seakan-akan perkataannya adalah nash yang harus ditaati, jika tidak maka keluar dari manhaj yang benar) ternyata bisa juga keliru, aneh, dan berlebihan dalam memvonis. Syaikh yang selama ini ia bela dan tidak mau dikatakan memiliki sikap keras ternyata keras terhadapnya. Berikut pernyataan-pernyataan sang da’i –hafizohulloh- 1) Syaikh –hafizohulloh- tersebut hanya mendengar sepihak  Al-Ustadz Al-Fadil berkata : ((saya merasa aneh bahwa Fadhîlatusy Syaikh –sallamahullâh- menunggu kehadiran Al-Akh Lxxxxan dan kawan-kawannya guna membahas kritikan-kitikan terhadap saya, tetapi di sisi lain beliau tidak menunggu untuk mengeluarkan beberapa hukum terhadap saya sebelum beliau mendengar jawaban saya atas laporan orang-orang tersebut)) 2) Syaikh –hafizohulloh- tersebut bersikap yang menurut sang ustadz adalah sikap yang aneh. Bahkan al-Ustadz Al-Fadil mengungkapkan berulang-ulang akan anehnya dari sikap syaikh tersebut. Al-Ustadz al-Fadil berkata ((Sebagaimana juga, saya merasa aneh, ketika saya menyebutkan kepada beliau (kondisi) yang terjadi akibat tahdzîr Al-Akh Lxxxxn Bxxxxxh dan orang-orang yang bersamanya yang menimbulkan keributan, beliau berkata kepadaku, “Kalau kamu rujuk, mereka tidak akan men-tahdzîr-mu” Saya pun heran bahwa, bagaimana bisa beliau menuntut saya untuk rujuk, sedangkan beliau tidak menyebut kritikan apapun kepada saya, tidak pula terjadi pembahasan dalam hal itu?)) 3) Ternyata Syaikh tersebut tasarru’ (cepat) dalam memvonis bahkan dengan vonis keras padahal tidak sesuai dengan kenyataan. Sang ustadz dituduh oleh Syaikh yang selama ini ia bela mati-matian dengan tuduhan yang sangat mengerikan, sang ustadz dituduh mengakui kekufuran yaitu wihdatul adyaan dan kesyirikan. Bahkan divonis mencari duit/harta dibalik ini semua. Al-Ustadz Al-Fadil hafizohulloh berkata ((Oleh karena itu, saya bersegera bertemu dengan Fadhîlatusy Syaikh kami yang berbicara -sallamahullâh-, tetapi saya kaget mendapati bahwa beliau sangat marah kepadaku dan menyebutkan beberapa hal tentang kesyirikan, penyatuan agama, sekularisme, liberalisme, dan mengumpul-ngumpul harta di belakang (penyelenggaraan) sekolahan. Demikianlah, begitu cepat Fadhîlatusy Syaikh kami yang berbicara -sallamahullâh- memvonis hukum terhadap kami dengan (berlandaskan) sekadar laporan yang sampai dari pihak Al-Akh Lxxxxn))Saya jadi ingat hal ini sebagaimana kondisi sebagian saudara-saudara kita yang dituduh sebagai mata duitan hanya karena membangun pondok dengan bantuan sebuah yayasan sosial luar negeri.Sehingga Al-Ustadz Al-Fadil membela diri seraya berkata ((bahwa Fadhîlatusy Syaikh kami yang berbicara -sallamahullâh- menganggap bahwa saya mengakui di hadapan beliau tentang adanya wihdatul adyan di sekolah-sekolah teman-teman kami.Wallâhi, billâhi, dan tallâhi ‘demi Allah’, kapanpun, saya tidak pernah mengakui hal itu di sisi beliau, bahkan pokok perkara saya hanyalah diam karena beliau sangat marah kepadaku, dan saya tidak suka memotong ucapan beliau. Awalnya, saya mengira bahwa beliau akan memberi kesempatan kepadaku untuk duduk dan menjelaskan kepada beliau hakikat kejadian sebenarnya, tetapi beliau (ternyata) tidak memberi kesempatan kepadaku. Mungkin saja beliau memahami sikap diam saya sebagai bentuk pengakuan (akan adanya pemikiran wihdatul adyan), padahal hakikat perkara ini tidaklah seperti itu. Wallâhul Musta’ân))5) Syaikh tersebut padahal dulunya menerima dan membenarkan laporan sepihak dari sang ustadz, lantas sekaran kok berbalik menyerang sang ustadz?Al-ustadz al-Fadil berkata ((Dahulu, Syaikh kami yang berbicara menerima dari Dxxxxxxxn kritikan-kritikan detail atas kesesatan-kesesatan Al-Akh Jxxxx Uxxx Txxxx serta Al-Akh Lxxxxx Bxxxxx dan orang-orang yang bersamanya pada hari-hari jihad Ambon, maka bagaimana bisa disangkakan bahwa Dxxxxxxxn tidak mengetahui masalah-masalah yang terang terhadap kaum awam Salafy, seperti kekufuran pemikiran wihdatul adyan?!))Jika al-Ustadz merasa aneh dituduh membela wihdatul adyaan apalagi tuduhan tersebut dituduhkan kepada murid senior Ay-Syaikh Al-Albani rahimahullah??  Yang lebih menyedihkan ternyata al-Ustadz telah membela sang syaikh dan al-ustadz tidak ragu untuk memuji dirinya sendiri –meskipun bagaimanapun memuji diri sendiri itu kurang baik- akan tetapi mungkin ada kemaslahatan yang dilihat oleh sang ustadz. Ustadz Al-Fadil –hafizohulloh- berkata tentang dirinya bahwasanya ia : ((…. juga ikut berserikat dalam membantah (pendukung Al-Hxxxxy) seraya membuat mereka terdiam -segala puji bagi Allah- serta membela Syaikh Rxxx’ dengan hujjah-hujjah dan bukti-bukti yang jelas seraya meruntuhkan kedustaan dan kekeliruan pemahaman sakit mereka yang menuduh bahwa Syaikh Rabî’ hafizhahullâh berdusta terhadap para Salaf, bersikap keras, lagi ada pemikiran Khawarij, dan lain-lain)) Inilah pujian diri sendiri yang saya rasa kurang pantas, dengan menganggap hujjahnya kuat dan yang dibantah memiliki pemahaman yang sakit. Alangkah baiknya biarkanlah para pembaca yang menilai, apakah al-Ustadz memang hebat dalam berhujjah dan mematahkan lawan atau sebaliknya Apalagi memuji diri dengan mengejek kawan yang sudah ikut serta membantunya dalam membantah. Al-Ustadz Al-Fadil –hafizohulloh- berkata : ((…Lxxxxn ini tidaklah memiliki kekuatan ilmiah yang layak dalam membantah (pemikiran Al-xxxxxy) sehingga sebagian pengikut Al-Halaby -semoga Allah memperbaiki keadaan mereka- menulis bantahan terhadap Syaikh Rxxx’ hafizhahullâh bahwa (Syaikh Rxxx’) berdusta terhadap As-Salaf, punya sikap keras, lagi ada pemikiran Khawarij dan Murji’ah, serta kritikan-kritikan lain. Al-Akh Lxxxxn –ashlahahullâh- pun menulis bantahan yang membuat pengikut Al-Hxxxy dan selainnya tidak bergeming karena bantahan (Al-Akh Lxxxxn) yang “kurus dan lemah”. Sampai saat ini, Al-Akh Lxxxxn tidak bisa menjawab tuduhan-tuduhan tersebut))  Penutup : Karena sang ustadz mengajak para da’i yang berseteru kepadanya untuk kembali kepada para ulama al-Lajnah ad-Daimiah, maka usulan kepada sang ustadz agar permasalahan-permasalahan tahdzir mentahdzir yang ia dan para da’i yang semanhaj dengannya agar menulis pertanyaan dan ditanyakan kepada al-lajnah ad-Daimah. Akan tetapi hendaknya pertanyaan tersebut ditulis dengan jujur dan tidak mengada-ngada. Agar jelas apakah sikap mereka selama ini yang metahdzir dan memvonis saudara-saudara mereka benar atau tidak. Dengan adanya fatwa dari Al-Lajnah Ad-Daimah insya Allah akan meredam dan mengurangi perselisihan. Terutama tentang permasalahan yayasan sosial yang selama ini dijadikan alasan untuk mentahdzir, demikian juga tentang radiorxxxx yang dianggap sebagai radio menyesatkan. Akan tetapi pertanyaan harus dengan jujur bukan seperti pertanyaan yang menyudutkan dan “kurang lengkap dan hanya informasi sepihak yang menyudutkan” yang pernah ditanyakan kepada al-Ustadz kepada salah seorang ulama. Misalnya : Syaikh apa hukum mendengarkan sebuah radio yang menyeru kepada sunnah dan memperingatkan masyarakat dari syi’ah, dari kesyirikan, dan bid’ah-bid’ah. Hanya saja radio tersebut terkadang dikunjungi oleh Syaikh Al-Halabi dan Ibrahim Ar-Ruhaili. Akan tetapi juga dikunjungi oleh para ulama yang lain, seperti As-Syaikh Abdurrazaq Al-Badr, Asy-Syaikh Sa’ad Asy-Syatsry, Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaili, Asy-Syaikh Sholeh As-Suhaimy, Asy-Syaikh Abdussalam As-Suahimy, dll.Radio tersebut juga sering memperingatkan umat akan bahaya terorisme, sempai dai merekapun sering mengisi kajian di instansi-instansi pemerintah.(kalau ada kesalahan radio agar dicantumkan, agar menjadi nasehat bagi radio tersebut). Akhirnya semoga Allah mempersatukan barisan ahlus sunnah dalam menyuarakan tauhid dan sunnah. Tentu para da’i tidak luput dari kesalahan, akan tetapi tugas kita adalah saling menasehati dengan penuh kasih sayang, bukan saling menjatuhkan apalagi mencari-cari dan mengumpulkan kesalahan-kesalahan. Baarokallahu fiikum wa hafidhokumullah. Kota Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, 24-08-1436 H / 11-06-2015 MAbu Abdil Muhsin Firanda Andirjawww.firanda.com

Ternyata Syaikh –hafidzohulloh- Bisa Salah Vonis !!

          Sungguh menyedihkan tatkala para da’i sunnah dipermainkan oleh syaitan untuk saling bermusuhan dan saling menjatuhkan. Energi banyak yang tersita untuk saling mencari kesalahan dan mencari syaikh yang mendukung. Sementara ahlul batil bahkan ahlul kufr terus bergerak dan melancarkan serangan. Bantahan silih berganti, fatwa para syaikh silih berganti didatangkan, baik mendukung atau menentang…hingga kapankah kondisi seperti ini…??!! Seandainya perselisihan adalah dalam ranah syirik dan kufur maka wajar jika tercerai berai…akan tetapi kebanyakannya adalah permasalahan khilafiyah ijtihadiah, yang seakan-akan dianggap sebagai permasalahan qhot’iyaat (pasti) yang telah turun dalil al-Qur’an.  Padahal para da’i tersebut tahu bahwa banyak kitab-kitab klasik para ulama yang sarat dengan permasalahan-permasalahan khilafiyah yang timbul akibat perbedaan sudut pandang dan sisi pendalilan. Jika permasalahan yang ada dalilnya saja bisa terjadi perselisihan, apalagi permasalahan yang tidak ada nash nya, seperti permasalahan bersikap terhadap mukholifin.           Terbayangkan sungguh indah jika waktu dan perjuangan yang ditujukan untuk menjatuhkan para da’i yang lain, semuanya itu ditujukan dan diarahkan untuk membantah dan mengungkap kebatilan para ahlul batil dan ahlus syirk dan al-kufr ??! Yang lebih menyedihkan lagi, para da’i itu masih terus berselisih dengan perselisihan yang sengit sementara markaz ponpes yang selama ini mereka banggakan telah dirampas oleh musuh ahlus syirk wal kufr !!!.Sementara mereka diserang musuh mereka masih saja berkutat dan bergulat diantara mereka…, manakah fikih prioritas??! Bahkan sebagian mereka tidak membantu saudara mereka yang sedang di serang musuh –padahal sama sama mengaku dan menyeru kepada sunnah dan membantah ahlul bid’ah-? Jika hal ini terjadi antara sesama ahlus sunnah yang belajar dari negeri yang sama dan dari markaz yang sama, lantas bagaimana mau memikirkan dan membantu saudara-saudara sesama kaum muslimin yang sedang tertindas yang lain manhaj?? Mana sempat membantu mereka?, atau jangan-jangan sibuk membantu mereka juga dianggap merupakan kesalahan manhaj??!! Kalaupun saudara kita sesama da’i salah, maka apakah memang waktu harus banyak tersita untuk menasehatinya??, jika ia tidak mau sadar dari kesalahan –atau yang dianggap kesalahan, meskipun belum tentu merupakan kesalahan- maka apakah kita harus tetap berkutat menyerangnya, sementara prioritas dakwah yang lain masih terlalu banyak dan lebih penting?? Hal ini mengakibatkan seakan-akan kita menutup mata dari permasalahan kaum muslimin yang lebih besar yang sedang terjadi…, kalaupun kita membuka mata maka waktu kita hanya sedikit atau tidak ada untuk membantu dan memikirkan mereka…kenapa??, karena waktu telah tersita untuk mencari-cari kesalahan saudara, merendahkannya, menjatuhkannya, dan melaporkannya kepada syaikh yang kita harapkan…! Eh…ternyata bisa jadi kita malah lebih dahulu dilaporin sama dia…?! Perselisihan yang tiada kunjung selesai…belasan tahun berlalu, tiada putus-putus, bahkan selalu datang dalam baju yang baru, dalam permasalahan-permasalahan yang baru…. Telah datang berbagai syaikh untuk mendamaikan…namun syaitan terus menyalakan api perselisihan…, dan tidak jarang juga sebagian syaikh yang hendak mendamaikan akhirnya berpihak sebelah tangan…Wallahul musta’aan.  Alhamdulillah ada salah seorang da’i –hafizohullah- yang telah menulis sebuah tulisan –meskipun sebelumnya telah menulis sebuah pernyataan-, yang tulisan tersebut menyingkap beberapa kenyataan yang tidak bisa dipungkiri. Diantaranya : Ternyata Syaikh yang selama ini perkataannya dijadikan rujukan dan dalil (seakan-akan perkataannya adalah nash yang harus ditaati, jika tidak maka keluar dari manhaj yang benar) ternyata bisa juga keliru, aneh, dan berlebihan dalam memvonis. Syaikh yang selama ini ia bela dan tidak mau dikatakan memiliki sikap keras ternyata keras terhadapnya. Berikut pernyataan-pernyataan sang da’i –hafizohulloh- 1) Syaikh –hafizohulloh- tersebut hanya mendengar sepihak  Al-Ustadz Al-Fadil berkata : ((saya merasa aneh bahwa Fadhîlatusy Syaikh –sallamahullâh- menunggu kehadiran Al-Akh Lxxxxan dan kawan-kawannya guna membahas kritikan-kitikan terhadap saya, tetapi di sisi lain beliau tidak menunggu untuk mengeluarkan beberapa hukum terhadap saya sebelum beliau mendengar jawaban saya atas laporan orang-orang tersebut)) 2) Syaikh –hafizohulloh- tersebut bersikap yang menurut sang ustadz adalah sikap yang aneh. Bahkan al-Ustadz Al-Fadil mengungkapkan berulang-ulang akan anehnya dari sikap syaikh tersebut. Al-Ustadz al-Fadil berkata ((Sebagaimana juga, saya merasa aneh, ketika saya menyebutkan kepada beliau (kondisi) yang terjadi akibat tahdzîr Al-Akh Lxxxxn Bxxxxxh dan orang-orang yang bersamanya yang menimbulkan keributan, beliau berkata kepadaku, “Kalau kamu rujuk, mereka tidak akan men-tahdzîr-mu” Saya pun heran bahwa, bagaimana bisa beliau menuntut saya untuk rujuk, sedangkan beliau tidak menyebut kritikan apapun kepada saya, tidak pula terjadi pembahasan dalam hal itu?)) 3) Ternyata Syaikh tersebut tasarru’ (cepat) dalam memvonis bahkan dengan vonis keras padahal tidak sesuai dengan kenyataan. Sang ustadz dituduh oleh Syaikh yang selama ini ia bela mati-matian dengan tuduhan yang sangat mengerikan, sang ustadz dituduh mengakui kekufuran yaitu wihdatul adyaan dan kesyirikan. Bahkan divonis mencari duit/harta dibalik ini semua. Al-Ustadz Al-Fadil hafizohulloh berkata ((Oleh karena itu, saya bersegera bertemu dengan Fadhîlatusy Syaikh kami yang berbicara -sallamahullâh-, tetapi saya kaget mendapati bahwa beliau sangat marah kepadaku dan menyebutkan beberapa hal tentang kesyirikan, penyatuan agama, sekularisme, liberalisme, dan mengumpul-ngumpul harta di belakang (penyelenggaraan) sekolahan. Demikianlah, begitu cepat Fadhîlatusy Syaikh kami yang berbicara -sallamahullâh- memvonis hukum terhadap kami dengan (berlandaskan) sekadar laporan yang sampai dari pihak Al-Akh Lxxxxn))Saya jadi ingat hal ini sebagaimana kondisi sebagian saudara-saudara kita yang dituduh sebagai mata duitan hanya karena membangun pondok dengan bantuan sebuah yayasan sosial luar negeri.Sehingga Al-Ustadz Al-Fadil membela diri seraya berkata ((bahwa Fadhîlatusy Syaikh kami yang berbicara -sallamahullâh- menganggap bahwa saya mengakui di hadapan beliau tentang adanya wihdatul adyan di sekolah-sekolah teman-teman kami.Wallâhi, billâhi, dan tallâhi ‘demi Allah’, kapanpun, saya tidak pernah mengakui hal itu di sisi beliau, bahkan pokok perkara saya hanyalah diam karena beliau sangat marah kepadaku, dan saya tidak suka memotong ucapan beliau. Awalnya, saya mengira bahwa beliau akan memberi kesempatan kepadaku untuk duduk dan menjelaskan kepada beliau hakikat kejadian sebenarnya, tetapi beliau (ternyata) tidak memberi kesempatan kepadaku. Mungkin saja beliau memahami sikap diam saya sebagai bentuk pengakuan (akan adanya pemikiran wihdatul adyan), padahal hakikat perkara ini tidaklah seperti itu. Wallâhul Musta’ân))5) Syaikh tersebut padahal dulunya menerima dan membenarkan laporan sepihak dari sang ustadz, lantas sekaran kok berbalik menyerang sang ustadz?Al-ustadz al-Fadil berkata ((Dahulu, Syaikh kami yang berbicara menerima dari Dxxxxxxxn kritikan-kritikan detail atas kesesatan-kesesatan Al-Akh Jxxxx Uxxx Txxxx serta Al-Akh Lxxxxx Bxxxxx dan orang-orang yang bersamanya pada hari-hari jihad Ambon, maka bagaimana bisa disangkakan bahwa Dxxxxxxxn tidak mengetahui masalah-masalah yang terang terhadap kaum awam Salafy, seperti kekufuran pemikiran wihdatul adyan?!))Jika al-Ustadz merasa aneh dituduh membela wihdatul adyaan apalagi tuduhan tersebut dituduhkan kepada murid senior Ay-Syaikh Al-Albani rahimahullah??  Yang lebih menyedihkan ternyata al-Ustadz telah membela sang syaikh dan al-ustadz tidak ragu untuk memuji dirinya sendiri –meskipun bagaimanapun memuji diri sendiri itu kurang baik- akan tetapi mungkin ada kemaslahatan yang dilihat oleh sang ustadz. Ustadz Al-Fadil –hafizohulloh- berkata tentang dirinya bahwasanya ia : ((…. juga ikut berserikat dalam membantah (pendukung Al-Hxxxxy) seraya membuat mereka terdiam -segala puji bagi Allah- serta membela Syaikh Rxxx’ dengan hujjah-hujjah dan bukti-bukti yang jelas seraya meruntuhkan kedustaan dan kekeliruan pemahaman sakit mereka yang menuduh bahwa Syaikh Rabî’ hafizhahullâh berdusta terhadap para Salaf, bersikap keras, lagi ada pemikiran Khawarij, dan lain-lain)) Inilah pujian diri sendiri yang saya rasa kurang pantas, dengan menganggap hujjahnya kuat dan yang dibantah memiliki pemahaman yang sakit. Alangkah baiknya biarkanlah para pembaca yang menilai, apakah al-Ustadz memang hebat dalam berhujjah dan mematahkan lawan atau sebaliknya Apalagi memuji diri dengan mengejek kawan yang sudah ikut serta membantunya dalam membantah. Al-Ustadz Al-Fadil –hafizohulloh- berkata : ((…Lxxxxn ini tidaklah memiliki kekuatan ilmiah yang layak dalam membantah (pemikiran Al-xxxxxy) sehingga sebagian pengikut Al-Halaby -semoga Allah memperbaiki keadaan mereka- menulis bantahan terhadap Syaikh Rxxx’ hafizhahullâh bahwa (Syaikh Rxxx’) berdusta terhadap As-Salaf, punya sikap keras, lagi ada pemikiran Khawarij dan Murji’ah, serta kritikan-kritikan lain. Al-Akh Lxxxxn –ashlahahullâh- pun menulis bantahan yang membuat pengikut Al-Hxxxy dan selainnya tidak bergeming karena bantahan (Al-Akh Lxxxxn) yang “kurus dan lemah”. Sampai saat ini, Al-Akh Lxxxxn tidak bisa menjawab tuduhan-tuduhan tersebut))  Penutup : Karena sang ustadz mengajak para da’i yang berseteru kepadanya untuk kembali kepada para ulama al-Lajnah ad-Daimiah, maka usulan kepada sang ustadz agar permasalahan-permasalahan tahdzir mentahdzir yang ia dan para da’i yang semanhaj dengannya agar menulis pertanyaan dan ditanyakan kepada al-lajnah ad-Daimah. Akan tetapi hendaknya pertanyaan tersebut ditulis dengan jujur dan tidak mengada-ngada. Agar jelas apakah sikap mereka selama ini yang metahdzir dan memvonis saudara-saudara mereka benar atau tidak. Dengan adanya fatwa dari Al-Lajnah Ad-Daimah insya Allah akan meredam dan mengurangi perselisihan. Terutama tentang permasalahan yayasan sosial yang selama ini dijadikan alasan untuk mentahdzir, demikian juga tentang radiorxxxx yang dianggap sebagai radio menyesatkan. Akan tetapi pertanyaan harus dengan jujur bukan seperti pertanyaan yang menyudutkan dan “kurang lengkap dan hanya informasi sepihak yang menyudutkan” yang pernah ditanyakan kepada al-Ustadz kepada salah seorang ulama. Misalnya : Syaikh apa hukum mendengarkan sebuah radio yang menyeru kepada sunnah dan memperingatkan masyarakat dari syi’ah, dari kesyirikan, dan bid’ah-bid’ah. Hanya saja radio tersebut terkadang dikunjungi oleh Syaikh Al-Halabi dan Ibrahim Ar-Ruhaili. Akan tetapi juga dikunjungi oleh para ulama yang lain, seperti As-Syaikh Abdurrazaq Al-Badr, Asy-Syaikh Sa’ad Asy-Syatsry, Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaili, Asy-Syaikh Sholeh As-Suhaimy, Asy-Syaikh Abdussalam As-Suahimy, dll.Radio tersebut juga sering memperingatkan umat akan bahaya terorisme, sempai dai merekapun sering mengisi kajian di instansi-instansi pemerintah.(kalau ada kesalahan radio agar dicantumkan, agar menjadi nasehat bagi radio tersebut). Akhirnya semoga Allah mempersatukan barisan ahlus sunnah dalam menyuarakan tauhid dan sunnah. Tentu para da’i tidak luput dari kesalahan, akan tetapi tugas kita adalah saling menasehati dengan penuh kasih sayang, bukan saling menjatuhkan apalagi mencari-cari dan mengumpulkan kesalahan-kesalahan. Baarokallahu fiikum wa hafidhokumullah. Kota Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, 24-08-1436 H / 11-06-2015 MAbu Abdil Muhsin Firanda Andirjawww.firanda.com
          Sungguh menyedihkan tatkala para da’i sunnah dipermainkan oleh syaitan untuk saling bermusuhan dan saling menjatuhkan. Energi banyak yang tersita untuk saling mencari kesalahan dan mencari syaikh yang mendukung. Sementara ahlul batil bahkan ahlul kufr terus bergerak dan melancarkan serangan. Bantahan silih berganti, fatwa para syaikh silih berganti didatangkan, baik mendukung atau menentang…hingga kapankah kondisi seperti ini…??!! Seandainya perselisihan adalah dalam ranah syirik dan kufur maka wajar jika tercerai berai…akan tetapi kebanyakannya adalah permasalahan khilafiyah ijtihadiah, yang seakan-akan dianggap sebagai permasalahan qhot’iyaat (pasti) yang telah turun dalil al-Qur’an.  Padahal para da’i tersebut tahu bahwa banyak kitab-kitab klasik para ulama yang sarat dengan permasalahan-permasalahan khilafiyah yang timbul akibat perbedaan sudut pandang dan sisi pendalilan. Jika permasalahan yang ada dalilnya saja bisa terjadi perselisihan, apalagi permasalahan yang tidak ada nash nya, seperti permasalahan bersikap terhadap mukholifin.           Terbayangkan sungguh indah jika waktu dan perjuangan yang ditujukan untuk menjatuhkan para da’i yang lain, semuanya itu ditujukan dan diarahkan untuk membantah dan mengungkap kebatilan para ahlul batil dan ahlus syirk dan al-kufr ??! Yang lebih menyedihkan lagi, para da’i itu masih terus berselisih dengan perselisihan yang sengit sementara markaz ponpes yang selama ini mereka banggakan telah dirampas oleh musuh ahlus syirk wal kufr !!!.Sementara mereka diserang musuh mereka masih saja berkutat dan bergulat diantara mereka…, manakah fikih prioritas??! Bahkan sebagian mereka tidak membantu saudara mereka yang sedang di serang musuh –padahal sama sama mengaku dan menyeru kepada sunnah dan membantah ahlul bid’ah-? Jika hal ini terjadi antara sesama ahlus sunnah yang belajar dari negeri yang sama dan dari markaz yang sama, lantas bagaimana mau memikirkan dan membantu saudara-saudara sesama kaum muslimin yang sedang tertindas yang lain manhaj?? Mana sempat membantu mereka?, atau jangan-jangan sibuk membantu mereka juga dianggap merupakan kesalahan manhaj??!! Kalaupun saudara kita sesama da’i salah, maka apakah memang waktu harus banyak tersita untuk menasehatinya??, jika ia tidak mau sadar dari kesalahan –atau yang dianggap kesalahan, meskipun belum tentu merupakan kesalahan- maka apakah kita harus tetap berkutat menyerangnya, sementara prioritas dakwah yang lain masih terlalu banyak dan lebih penting?? Hal ini mengakibatkan seakan-akan kita menutup mata dari permasalahan kaum muslimin yang lebih besar yang sedang terjadi…, kalaupun kita membuka mata maka waktu kita hanya sedikit atau tidak ada untuk membantu dan memikirkan mereka…kenapa??, karena waktu telah tersita untuk mencari-cari kesalahan saudara, merendahkannya, menjatuhkannya, dan melaporkannya kepada syaikh yang kita harapkan…! Eh…ternyata bisa jadi kita malah lebih dahulu dilaporin sama dia…?! Perselisihan yang tiada kunjung selesai…belasan tahun berlalu, tiada putus-putus, bahkan selalu datang dalam baju yang baru, dalam permasalahan-permasalahan yang baru…. Telah datang berbagai syaikh untuk mendamaikan…namun syaitan terus menyalakan api perselisihan…, dan tidak jarang juga sebagian syaikh yang hendak mendamaikan akhirnya berpihak sebelah tangan…Wallahul musta’aan.  Alhamdulillah ada salah seorang da’i –hafizohullah- yang telah menulis sebuah tulisan –meskipun sebelumnya telah menulis sebuah pernyataan-, yang tulisan tersebut menyingkap beberapa kenyataan yang tidak bisa dipungkiri. Diantaranya : Ternyata Syaikh yang selama ini perkataannya dijadikan rujukan dan dalil (seakan-akan perkataannya adalah nash yang harus ditaati, jika tidak maka keluar dari manhaj yang benar) ternyata bisa juga keliru, aneh, dan berlebihan dalam memvonis. Syaikh yang selama ini ia bela dan tidak mau dikatakan memiliki sikap keras ternyata keras terhadapnya. Berikut pernyataan-pernyataan sang da’i –hafizohulloh- 1) Syaikh –hafizohulloh- tersebut hanya mendengar sepihak  Al-Ustadz Al-Fadil berkata : ((saya merasa aneh bahwa Fadhîlatusy Syaikh –sallamahullâh- menunggu kehadiran Al-Akh Lxxxxan dan kawan-kawannya guna membahas kritikan-kitikan terhadap saya, tetapi di sisi lain beliau tidak menunggu untuk mengeluarkan beberapa hukum terhadap saya sebelum beliau mendengar jawaban saya atas laporan orang-orang tersebut)) 2) Syaikh –hafizohulloh- tersebut bersikap yang menurut sang ustadz adalah sikap yang aneh. Bahkan al-Ustadz Al-Fadil mengungkapkan berulang-ulang akan anehnya dari sikap syaikh tersebut. Al-Ustadz al-Fadil berkata ((Sebagaimana juga, saya merasa aneh, ketika saya menyebutkan kepada beliau (kondisi) yang terjadi akibat tahdzîr Al-Akh Lxxxxn Bxxxxxh dan orang-orang yang bersamanya yang menimbulkan keributan, beliau berkata kepadaku, “Kalau kamu rujuk, mereka tidak akan men-tahdzîr-mu” Saya pun heran bahwa, bagaimana bisa beliau menuntut saya untuk rujuk, sedangkan beliau tidak menyebut kritikan apapun kepada saya, tidak pula terjadi pembahasan dalam hal itu?)) 3) Ternyata Syaikh tersebut tasarru’ (cepat) dalam memvonis bahkan dengan vonis keras padahal tidak sesuai dengan kenyataan. Sang ustadz dituduh oleh Syaikh yang selama ini ia bela mati-matian dengan tuduhan yang sangat mengerikan, sang ustadz dituduh mengakui kekufuran yaitu wihdatul adyaan dan kesyirikan. Bahkan divonis mencari duit/harta dibalik ini semua. Al-Ustadz Al-Fadil hafizohulloh berkata ((Oleh karena itu, saya bersegera bertemu dengan Fadhîlatusy Syaikh kami yang berbicara -sallamahullâh-, tetapi saya kaget mendapati bahwa beliau sangat marah kepadaku dan menyebutkan beberapa hal tentang kesyirikan, penyatuan agama, sekularisme, liberalisme, dan mengumpul-ngumpul harta di belakang (penyelenggaraan) sekolahan. Demikianlah, begitu cepat Fadhîlatusy Syaikh kami yang berbicara -sallamahullâh- memvonis hukum terhadap kami dengan (berlandaskan) sekadar laporan yang sampai dari pihak Al-Akh Lxxxxn))Saya jadi ingat hal ini sebagaimana kondisi sebagian saudara-saudara kita yang dituduh sebagai mata duitan hanya karena membangun pondok dengan bantuan sebuah yayasan sosial luar negeri.Sehingga Al-Ustadz Al-Fadil membela diri seraya berkata ((bahwa Fadhîlatusy Syaikh kami yang berbicara -sallamahullâh- menganggap bahwa saya mengakui di hadapan beliau tentang adanya wihdatul adyan di sekolah-sekolah teman-teman kami.Wallâhi, billâhi, dan tallâhi ‘demi Allah’, kapanpun, saya tidak pernah mengakui hal itu di sisi beliau, bahkan pokok perkara saya hanyalah diam karena beliau sangat marah kepadaku, dan saya tidak suka memotong ucapan beliau. Awalnya, saya mengira bahwa beliau akan memberi kesempatan kepadaku untuk duduk dan menjelaskan kepada beliau hakikat kejadian sebenarnya, tetapi beliau (ternyata) tidak memberi kesempatan kepadaku. Mungkin saja beliau memahami sikap diam saya sebagai bentuk pengakuan (akan adanya pemikiran wihdatul adyan), padahal hakikat perkara ini tidaklah seperti itu. Wallâhul Musta’ân))5) Syaikh tersebut padahal dulunya menerima dan membenarkan laporan sepihak dari sang ustadz, lantas sekaran kok berbalik menyerang sang ustadz?Al-ustadz al-Fadil berkata ((Dahulu, Syaikh kami yang berbicara menerima dari Dxxxxxxxn kritikan-kritikan detail atas kesesatan-kesesatan Al-Akh Jxxxx Uxxx Txxxx serta Al-Akh Lxxxxx Bxxxxx dan orang-orang yang bersamanya pada hari-hari jihad Ambon, maka bagaimana bisa disangkakan bahwa Dxxxxxxxn tidak mengetahui masalah-masalah yang terang terhadap kaum awam Salafy, seperti kekufuran pemikiran wihdatul adyan?!))Jika al-Ustadz merasa aneh dituduh membela wihdatul adyaan apalagi tuduhan tersebut dituduhkan kepada murid senior Ay-Syaikh Al-Albani rahimahullah??  Yang lebih menyedihkan ternyata al-Ustadz telah membela sang syaikh dan al-ustadz tidak ragu untuk memuji dirinya sendiri –meskipun bagaimanapun memuji diri sendiri itu kurang baik- akan tetapi mungkin ada kemaslahatan yang dilihat oleh sang ustadz. Ustadz Al-Fadil –hafizohulloh- berkata tentang dirinya bahwasanya ia : ((…. juga ikut berserikat dalam membantah (pendukung Al-Hxxxxy) seraya membuat mereka terdiam -segala puji bagi Allah- serta membela Syaikh Rxxx’ dengan hujjah-hujjah dan bukti-bukti yang jelas seraya meruntuhkan kedustaan dan kekeliruan pemahaman sakit mereka yang menuduh bahwa Syaikh Rabî’ hafizhahullâh berdusta terhadap para Salaf, bersikap keras, lagi ada pemikiran Khawarij, dan lain-lain)) Inilah pujian diri sendiri yang saya rasa kurang pantas, dengan menganggap hujjahnya kuat dan yang dibantah memiliki pemahaman yang sakit. Alangkah baiknya biarkanlah para pembaca yang menilai, apakah al-Ustadz memang hebat dalam berhujjah dan mematahkan lawan atau sebaliknya Apalagi memuji diri dengan mengejek kawan yang sudah ikut serta membantunya dalam membantah. Al-Ustadz Al-Fadil –hafizohulloh- berkata : ((…Lxxxxn ini tidaklah memiliki kekuatan ilmiah yang layak dalam membantah (pemikiran Al-xxxxxy) sehingga sebagian pengikut Al-Halaby -semoga Allah memperbaiki keadaan mereka- menulis bantahan terhadap Syaikh Rxxx’ hafizhahullâh bahwa (Syaikh Rxxx’) berdusta terhadap As-Salaf, punya sikap keras, lagi ada pemikiran Khawarij dan Murji’ah, serta kritikan-kritikan lain. Al-Akh Lxxxxn –ashlahahullâh- pun menulis bantahan yang membuat pengikut Al-Hxxxy dan selainnya tidak bergeming karena bantahan (Al-Akh Lxxxxn) yang “kurus dan lemah”. Sampai saat ini, Al-Akh Lxxxxn tidak bisa menjawab tuduhan-tuduhan tersebut))  Penutup : Karena sang ustadz mengajak para da’i yang berseteru kepadanya untuk kembali kepada para ulama al-Lajnah ad-Daimiah, maka usulan kepada sang ustadz agar permasalahan-permasalahan tahdzir mentahdzir yang ia dan para da’i yang semanhaj dengannya agar menulis pertanyaan dan ditanyakan kepada al-lajnah ad-Daimah. Akan tetapi hendaknya pertanyaan tersebut ditulis dengan jujur dan tidak mengada-ngada. Agar jelas apakah sikap mereka selama ini yang metahdzir dan memvonis saudara-saudara mereka benar atau tidak. Dengan adanya fatwa dari Al-Lajnah Ad-Daimah insya Allah akan meredam dan mengurangi perselisihan. Terutama tentang permasalahan yayasan sosial yang selama ini dijadikan alasan untuk mentahdzir, demikian juga tentang radiorxxxx yang dianggap sebagai radio menyesatkan. Akan tetapi pertanyaan harus dengan jujur bukan seperti pertanyaan yang menyudutkan dan “kurang lengkap dan hanya informasi sepihak yang menyudutkan” yang pernah ditanyakan kepada al-Ustadz kepada salah seorang ulama. Misalnya : Syaikh apa hukum mendengarkan sebuah radio yang menyeru kepada sunnah dan memperingatkan masyarakat dari syi’ah, dari kesyirikan, dan bid’ah-bid’ah. Hanya saja radio tersebut terkadang dikunjungi oleh Syaikh Al-Halabi dan Ibrahim Ar-Ruhaili. Akan tetapi juga dikunjungi oleh para ulama yang lain, seperti As-Syaikh Abdurrazaq Al-Badr, Asy-Syaikh Sa’ad Asy-Syatsry, Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaili, Asy-Syaikh Sholeh As-Suhaimy, Asy-Syaikh Abdussalam As-Suahimy, dll.Radio tersebut juga sering memperingatkan umat akan bahaya terorisme, sempai dai merekapun sering mengisi kajian di instansi-instansi pemerintah.(kalau ada kesalahan radio agar dicantumkan, agar menjadi nasehat bagi radio tersebut). Akhirnya semoga Allah mempersatukan barisan ahlus sunnah dalam menyuarakan tauhid dan sunnah. Tentu para da’i tidak luput dari kesalahan, akan tetapi tugas kita adalah saling menasehati dengan penuh kasih sayang, bukan saling menjatuhkan apalagi mencari-cari dan mengumpulkan kesalahan-kesalahan. Baarokallahu fiikum wa hafidhokumullah. Kota Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, 24-08-1436 H / 11-06-2015 MAbu Abdil Muhsin Firanda Andirjawww.firanda.com


          Sungguh menyedihkan tatkala para da’i sunnah dipermainkan oleh syaitan untuk saling bermusuhan dan saling menjatuhkan. Energi banyak yang tersita untuk saling mencari kesalahan dan mencari syaikh yang mendukung. Sementara ahlul batil bahkan ahlul kufr terus bergerak dan melancarkan serangan. Bantahan silih berganti, fatwa para syaikh silih berganti didatangkan, baik mendukung atau menentang…hingga kapankah kondisi seperti ini…??!! Seandainya perselisihan adalah dalam ranah syirik dan kufur maka wajar jika tercerai berai…akan tetapi kebanyakannya adalah permasalahan khilafiyah ijtihadiah, yang seakan-akan dianggap sebagai permasalahan qhot’iyaat (pasti) yang telah turun dalil al-Qur’an.  Padahal para da’i tersebut tahu bahwa banyak kitab-kitab klasik para ulama yang sarat dengan permasalahan-permasalahan khilafiyah yang timbul akibat perbedaan sudut pandang dan sisi pendalilan. Jika permasalahan yang ada dalilnya saja bisa terjadi perselisihan, apalagi permasalahan yang tidak ada nash nya, seperti permasalahan bersikap terhadap mukholifin.           Terbayangkan sungguh indah jika waktu dan perjuangan yang ditujukan untuk menjatuhkan para da’i yang lain, semuanya itu ditujukan dan diarahkan untuk membantah dan mengungkap kebatilan para ahlul batil dan ahlus syirk dan al-kufr ??! Yang lebih menyedihkan lagi, para da’i itu masih terus berselisih dengan perselisihan yang sengit sementara markaz ponpes yang selama ini mereka banggakan telah dirampas oleh musuh ahlus syirk wal kufr !!!.Sementara mereka diserang musuh mereka masih saja berkutat dan bergulat diantara mereka…, manakah fikih prioritas??! Bahkan sebagian mereka tidak membantu saudara mereka yang sedang di serang musuh –padahal sama sama mengaku dan menyeru kepada sunnah dan membantah ahlul bid’ah-? Jika hal ini terjadi antara sesama ahlus sunnah yang belajar dari negeri yang sama dan dari markaz yang sama, lantas bagaimana mau memikirkan dan membantu saudara-saudara sesama kaum muslimin yang sedang tertindas yang lain manhaj?? Mana sempat membantu mereka?, atau jangan-jangan sibuk membantu mereka juga dianggap merupakan kesalahan manhaj??!! Kalaupun saudara kita sesama da’i salah, maka apakah memang waktu harus banyak tersita untuk menasehatinya??, jika ia tidak mau sadar dari kesalahan –atau yang dianggap kesalahan, meskipun belum tentu merupakan kesalahan- maka apakah kita harus tetap berkutat menyerangnya, sementara prioritas dakwah yang lain masih terlalu banyak dan lebih penting?? Hal ini mengakibatkan seakan-akan kita menutup mata dari permasalahan kaum muslimin yang lebih besar yang sedang terjadi…, kalaupun kita membuka mata maka waktu kita hanya sedikit atau tidak ada untuk membantu dan memikirkan mereka…kenapa??, karena waktu telah tersita untuk mencari-cari kesalahan saudara, merendahkannya, menjatuhkannya, dan melaporkannya kepada syaikh yang kita harapkan…! Eh…ternyata bisa jadi kita malah lebih dahulu dilaporin sama dia…?! Perselisihan yang tiada kunjung selesai…belasan tahun berlalu, tiada putus-putus, bahkan selalu datang dalam baju yang baru, dalam permasalahan-permasalahan yang baru…. Telah datang berbagai syaikh untuk mendamaikan…namun syaitan terus menyalakan api perselisihan…, dan tidak jarang juga sebagian syaikh yang hendak mendamaikan akhirnya berpihak sebelah tangan…Wallahul musta’aan.  Alhamdulillah ada salah seorang da’i –hafizohullah- yang telah menulis sebuah tulisan –meskipun sebelumnya telah menulis sebuah pernyataan-, yang tulisan tersebut menyingkap beberapa kenyataan yang tidak bisa dipungkiri. Diantaranya : Ternyata Syaikh yang selama ini perkataannya dijadikan rujukan dan dalil (seakan-akan perkataannya adalah nash yang harus ditaati, jika tidak maka keluar dari manhaj yang benar) ternyata bisa juga keliru, aneh, dan berlebihan dalam memvonis. Syaikh yang selama ini ia bela dan tidak mau dikatakan memiliki sikap keras ternyata keras terhadapnya. Berikut pernyataan-pernyataan sang da’i –hafizohulloh- 1) Syaikh –hafizohulloh- tersebut hanya mendengar sepihak  Al-Ustadz Al-Fadil berkata : ((saya merasa aneh bahwa Fadhîlatusy Syaikh –sallamahullâh- menunggu kehadiran Al-Akh Lxxxxan dan kawan-kawannya guna membahas kritikan-kitikan terhadap saya, tetapi di sisi lain beliau tidak menunggu untuk mengeluarkan beberapa hukum terhadap saya sebelum beliau mendengar jawaban saya atas laporan orang-orang tersebut)) 2) Syaikh –hafizohulloh- tersebut bersikap yang menurut sang ustadz adalah sikap yang aneh. Bahkan al-Ustadz Al-Fadil mengungkapkan berulang-ulang akan anehnya dari sikap syaikh tersebut. Al-Ustadz al-Fadil berkata ((Sebagaimana juga, saya merasa aneh, ketika saya menyebutkan kepada beliau (kondisi) yang terjadi akibat tahdzîr Al-Akh Lxxxxn Bxxxxxh dan orang-orang yang bersamanya yang menimbulkan keributan, beliau berkata kepadaku, “Kalau kamu rujuk, mereka tidak akan men-tahdzîr-mu” Saya pun heran bahwa, bagaimana bisa beliau menuntut saya untuk rujuk, sedangkan beliau tidak menyebut kritikan apapun kepada saya, tidak pula terjadi pembahasan dalam hal itu?)) 3) Ternyata Syaikh tersebut tasarru’ (cepat) dalam memvonis bahkan dengan vonis keras padahal tidak sesuai dengan kenyataan. Sang ustadz dituduh oleh Syaikh yang selama ini ia bela mati-matian dengan tuduhan yang sangat mengerikan, sang ustadz dituduh mengakui kekufuran yaitu wihdatul adyaan dan kesyirikan. Bahkan divonis mencari duit/harta dibalik ini semua. Al-Ustadz Al-Fadil hafizohulloh berkata ((Oleh karena itu, saya bersegera bertemu dengan Fadhîlatusy Syaikh kami yang berbicara -sallamahullâh-, tetapi saya kaget mendapati bahwa beliau sangat marah kepadaku dan menyebutkan beberapa hal tentang kesyirikan, penyatuan agama, sekularisme, liberalisme, dan mengumpul-ngumpul harta di belakang (penyelenggaraan) sekolahan. Demikianlah, begitu cepat Fadhîlatusy Syaikh kami yang berbicara -sallamahullâh- memvonis hukum terhadap kami dengan (berlandaskan) sekadar laporan yang sampai dari pihak Al-Akh Lxxxxn))Saya jadi ingat hal ini sebagaimana kondisi sebagian saudara-saudara kita yang dituduh sebagai mata duitan hanya karena membangun pondok dengan bantuan sebuah yayasan sosial luar negeri.Sehingga Al-Ustadz Al-Fadil membela diri seraya berkata ((bahwa Fadhîlatusy Syaikh kami yang berbicara -sallamahullâh- menganggap bahwa saya mengakui di hadapan beliau tentang adanya wihdatul adyan di sekolah-sekolah teman-teman kami.Wallâhi, billâhi, dan tallâhi ‘demi Allah’, kapanpun, saya tidak pernah mengakui hal itu di sisi beliau, bahkan pokok perkara saya hanyalah diam karena beliau sangat marah kepadaku, dan saya tidak suka memotong ucapan beliau. Awalnya, saya mengira bahwa beliau akan memberi kesempatan kepadaku untuk duduk dan menjelaskan kepada beliau hakikat kejadian sebenarnya, tetapi beliau (ternyata) tidak memberi kesempatan kepadaku. Mungkin saja beliau memahami sikap diam saya sebagai bentuk pengakuan (akan adanya pemikiran wihdatul adyan), padahal hakikat perkara ini tidaklah seperti itu. Wallâhul Musta’ân))5) Syaikh tersebut padahal dulunya menerima dan membenarkan laporan sepihak dari sang ustadz, lantas sekaran kok berbalik menyerang sang ustadz?Al-ustadz al-Fadil berkata ((Dahulu, Syaikh kami yang berbicara menerima dari Dxxxxxxxn kritikan-kritikan detail atas kesesatan-kesesatan Al-Akh Jxxxx Uxxx Txxxx serta Al-Akh Lxxxxx Bxxxxx dan orang-orang yang bersamanya pada hari-hari jihad Ambon, maka bagaimana bisa disangkakan bahwa Dxxxxxxxn tidak mengetahui masalah-masalah yang terang terhadap kaum awam Salafy, seperti kekufuran pemikiran wihdatul adyan?!))Jika al-Ustadz merasa aneh dituduh membela wihdatul adyaan apalagi tuduhan tersebut dituduhkan kepada murid senior Ay-Syaikh Al-Albani rahimahullah??  Yang lebih menyedihkan ternyata al-Ustadz telah membela sang syaikh dan al-ustadz tidak ragu untuk memuji dirinya sendiri –meskipun bagaimanapun memuji diri sendiri itu kurang baik- akan tetapi mungkin ada kemaslahatan yang dilihat oleh sang ustadz. Ustadz Al-Fadil –hafizohulloh- berkata tentang dirinya bahwasanya ia : ((…. juga ikut berserikat dalam membantah (pendukung Al-Hxxxxy) seraya membuat mereka terdiam -segala puji bagi Allah- serta membela Syaikh Rxxx’ dengan hujjah-hujjah dan bukti-bukti yang jelas seraya meruntuhkan kedustaan dan kekeliruan pemahaman sakit mereka yang menuduh bahwa Syaikh Rabî’ hafizhahullâh berdusta terhadap para Salaf, bersikap keras, lagi ada pemikiran Khawarij, dan lain-lain)) Inilah pujian diri sendiri yang saya rasa kurang pantas, dengan menganggap hujjahnya kuat dan yang dibantah memiliki pemahaman yang sakit. Alangkah baiknya biarkanlah para pembaca yang menilai, apakah al-Ustadz memang hebat dalam berhujjah dan mematahkan lawan atau sebaliknya Apalagi memuji diri dengan mengejek kawan yang sudah ikut serta membantunya dalam membantah. Al-Ustadz Al-Fadil –hafizohulloh- berkata : ((…Lxxxxn ini tidaklah memiliki kekuatan ilmiah yang layak dalam membantah (pemikiran Al-xxxxxy) sehingga sebagian pengikut Al-Halaby -semoga Allah memperbaiki keadaan mereka- menulis bantahan terhadap Syaikh Rxxx’ hafizhahullâh bahwa (Syaikh Rxxx’) berdusta terhadap As-Salaf, punya sikap keras, lagi ada pemikiran Khawarij dan Murji’ah, serta kritikan-kritikan lain. Al-Akh Lxxxxn –ashlahahullâh- pun menulis bantahan yang membuat pengikut Al-Hxxxy dan selainnya tidak bergeming karena bantahan (Al-Akh Lxxxxn) yang “kurus dan lemah”. Sampai saat ini, Al-Akh Lxxxxn tidak bisa menjawab tuduhan-tuduhan tersebut))  Penutup : Karena sang ustadz mengajak para da’i yang berseteru kepadanya untuk kembali kepada para ulama al-Lajnah ad-Daimiah, maka usulan kepada sang ustadz agar permasalahan-permasalahan tahdzir mentahdzir yang ia dan para da’i yang semanhaj dengannya agar menulis pertanyaan dan ditanyakan kepada al-lajnah ad-Daimah. Akan tetapi hendaknya pertanyaan tersebut ditulis dengan jujur dan tidak mengada-ngada. Agar jelas apakah sikap mereka selama ini yang metahdzir dan memvonis saudara-saudara mereka benar atau tidak. Dengan adanya fatwa dari Al-Lajnah Ad-Daimah insya Allah akan meredam dan mengurangi perselisihan. Terutama tentang permasalahan yayasan sosial yang selama ini dijadikan alasan untuk mentahdzir, demikian juga tentang radiorxxxx yang dianggap sebagai radio menyesatkan. Akan tetapi pertanyaan harus dengan jujur bukan seperti pertanyaan yang menyudutkan dan “kurang lengkap dan hanya informasi sepihak yang menyudutkan” yang pernah ditanyakan kepada al-Ustadz kepada salah seorang ulama. Misalnya : Syaikh apa hukum mendengarkan sebuah radio yang menyeru kepada sunnah dan memperingatkan masyarakat dari syi’ah, dari kesyirikan, dan bid’ah-bid’ah. Hanya saja radio tersebut terkadang dikunjungi oleh Syaikh Al-Halabi dan Ibrahim Ar-Ruhaili. Akan tetapi juga dikunjungi oleh para ulama yang lain, seperti As-Syaikh Abdurrazaq Al-Badr, Asy-Syaikh Sa’ad Asy-Syatsry, Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaili, Asy-Syaikh Sholeh As-Suhaimy, Asy-Syaikh Abdussalam As-Suahimy, dll.Radio tersebut juga sering memperingatkan umat akan bahaya terorisme, sempai dai merekapun sering mengisi kajian di instansi-instansi pemerintah.(kalau ada kesalahan radio agar dicantumkan, agar menjadi nasehat bagi radio tersebut). Akhirnya semoga Allah mempersatukan barisan ahlus sunnah dalam menyuarakan tauhid dan sunnah. Tentu para da’i tidak luput dari kesalahan, akan tetapi tugas kita adalah saling menasehati dengan penuh kasih sayang, bukan saling menjatuhkan apalagi mencari-cari dan mengumpulkan kesalahan-kesalahan. Baarokallahu fiikum wa hafidhokumullah. Kota Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, 24-08-1436 H / 11-06-2015 MAbu Abdil Muhsin Firanda Andirjawww.firanda.com

PENDAFTARAN GRUP WHATSAPP BIMBINGAN ISLAM GELOMBANG 3

بسم اللّه الرحمن الرحيمالسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاتهPENDAFTARAN kelas whatsapp BIMBINGAN ISLAM Angkatan – IIIمن يرد الله يه خيرا يفقهه في الدين رواه البخاري” Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan pada dirinya, maka Allah akan fahamkan dalam urusan Agamanya” (HR. Bukhari)Tentang Grup Bimbingan Islam (BiAS)Grup Bimbingan Islam (BiAS) adalah wadah untuk belajar agama Islam melalui media aplikasi WhatsApp.Grup ini diasuh dan dibimbing oleh para asatidz alumni dari Universitas Islam Al-Madinah Kerajaan Saudi Arabia. – Ustadz Firanda Andirja, MA– Ustadz Abdullāh Roy, MA– Ustadz Fauzan, ST MA– Dan Asatidz Madinah lainnyaMateri yang disampaikan meliputi :– Adab dan Akhlaq Islam– Silsilah Belajar Tauhid– Fiqh Ibadah– Materi Tematik LainnyaDengan metode penyampaian yang ringkas, bahasa yang ringan dan mudah dipahami.Grup whatsapp Bimbingan Islam saat ini diikuti oleh puluhan ribu anggota dari berbagai kalangan dan wilayah, baik di dalam ataupun di luar negeri.Pendaftaran dilakukan melalui link berikut:www.BimbinganIslam.com/PendaftaranAnggotaWaktu Pendaftaran :11 Sya’ban 1436H / 30 Mei 2015Msampai dengan4 Syawwal 1436H / 20 Juli 2015MPEMBUKAAN GRUPAhad, 16 Syawwal 1436H / 1 Agustus 2015 MKAJIAN PERDANASenin, 18 Syawal 1436H / 3 Agustus 2015MCP / INFO PENDAFTARAN+62822-2621-5000PEMBUKAAN GRUPSabtu, 16 Syawal 1436H / 1 Agustus 2015M——————–Mohon bantu SEBARKAN

PENDAFTARAN GRUP WHATSAPP BIMBINGAN ISLAM GELOMBANG 3

بسم اللّه الرحمن الرحيمالسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاتهPENDAFTARAN kelas whatsapp BIMBINGAN ISLAM Angkatan – IIIمن يرد الله يه خيرا يفقهه في الدين رواه البخاري” Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan pada dirinya, maka Allah akan fahamkan dalam urusan Agamanya” (HR. Bukhari)Tentang Grup Bimbingan Islam (BiAS)Grup Bimbingan Islam (BiAS) adalah wadah untuk belajar agama Islam melalui media aplikasi WhatsApp.Grup ini diasuh dan dibimbing oleh para asatidz alumni dari Universitas Islam Al-Madinah Kerajaan Saudi Arabia. – Ustadz Firanda Andirja, MA– Ustadz Abdullāh Roy, MA– Ustadz Fauzan, ST MA– Dan Asatidz Madinah lainnyaMateri yang disampaikan meliputi :– Adab dan Akhlaq Islam– Silsilah Belajar Tauhid– Fiqh Ibadah– Materi Tematik LainnyaDengan metode penyampaian yang ringkas, bahasa yang ringan dan mudah dipahami.Grup whatsapp Bimbingan Islam saat ini diikuti oleh puluhan ribu anggota dari berbagai kalangan dan wilayah, baik di dalam ataupun di luar negeri.Pendaftaran dilakukan melalui link berikut:www.BimbinganIslam.com/PendaftaranAnggotaWaktu Pendaftaran :11 Sya’ban 1436H / 30 Mei 2015Msampai dengan4 Syawwal 1436H / 20 Juli 2015MPEMBUKAAN GRUPAhad, 16 Syawwal 1436H / 1 Agustus 2015 MKAJIAN PERDANASenin, 18 Syawal 1436H / 3 Agustus 2015MCP / INFO PENDAFTARAN+62822-2621-5000PEMBUKAAN GRUPSabtu, 16 Syawal 1436H / 1 Agustus 2015M——————–Mohon bantu SEBARKAN
بسم اللّه الرحمن الرحيمالسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاتهPENDAFTARAN kelas whatsapp BIMBINGAN ISLAM Angkatan – IIIمن يرد الله يه خيرا يفقهه في الدين رواه البخاري” Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan pada dirinya, maka Allah akan fahamkan dalam urusan Agamanya” (HR. Bukhari)Tentang Grup Bimbingan Islam (BiAS)Grup Bimbingan Islam (BiAS) adalah wadah untuk belajar agama Islam melalui media aplikasi WhatsApp.Grup ini diasuh dan dibimbing oleh para asatidz alumni dari Universitas Islam Al-Madinah Kerajaan Saudi Arabia. – Ustadz Firanda Andirja, MA– Ustadz Abdullāh Roy, MA– Ustadz Fauzan, ST MA– Dan Asatidz Madinah lainnyaMateri yang disampaikan meliputi :– Adab dan Akhlaq Islam– Silsilah Belajar Tauhid– Fiqh Ibadah– Materi Tematik LainnyaDengan metode penyampaian yang ringkas, bahasa yang ringan dan mudah dipahami.Grup whatsapp Bimbingan Islam saat ini diikuti oleh puluhan ribu anggota dari berbagai kalangan dan wilayah, baik di dalam ataupun di luar negeri.Pendaftaran dilakukan melalui link berikut:www.BimbinganIslam.com/PendaftaranAnggotaWaktu Pendaftaran :11 Sya’ban 1436H / 30 Mei 2015Msampai dengan4 Syawwal 1436H / 20 Juli 2015MPEMBUKAAN GRUPAhad, 16 Syawwal 1436H / 1 Agustus 2015 MKAJIAN PERDANASenin, 18 Syawal 1436H / 3 Agustus 2015MCP / INFO PENDAFTARAN+62822-2621-5000PEMBUKAAN GRUPSabtu, 16 Syawal 1436H / 1 Agustus 2015M——————–Mohon bantu SEBARKAN


بسم اللّه الرحمن الرحيمالسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاتهPENDAFTARAN kelas whatsapp BIMBINGAN ISLAM Angkatan – IIIمن يرد الله يه خيرا يفقهه في الدين رواه البخاري” Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan pada dirinya, maka Allah akan fahamkan dalam urusan Agamanya” (HR. Bukhari)Tentang Grup Bimbingan Islam (BiAS)Grup Bimbingan Islam (BiAS) adalah wadah untuk belajar agama Islam melalui media aplikasi WhatsApp.Grup ini diasuh dan dibimbing oleh para asatidz alumni dari Universitas Islam Al-Madinah Kerajaan Saudi Arabia. – Ustadz Firanda Andirja, MA– Ustadz Abdullāh Roy, MA– Ustadz Fauzan, ST MA– Dan Asatidz Madinah lainnyaMateri yang disampaikan meliputi :– Adab dan Akhlaq Islam– Silsilah Belajar Tauhid– Fiqh Ibadah– Materi Tematik LainnyaDengan metode penyampaian yang ringkas, bahasa yang ringan dan mudah dipahami.Grup whatsapp Bimbingan Islam saat ini diikuti oleh puluhan ribu anggota dari berbagai kalangan dan wilayah, baik di dalam ataupun di luar negeri.Pendaftaran dilakukan melalui link berikut:www.BimbinganIslam.com/PendaftaranAnggotaWaktu Pendaftaran :11 Sya’ban 1436H / 30 Mei 2015Msampai dengan4 Syawwal 1436H / 20 Juli 2015MPEMBUKAAN GRUPAhad, 16 Syawwal 1436H / 1 Agustus 2015 MKAJIAN PERDANASenin, 18 Syawal 1436H / 3 Agustus 2015MCP / INFO PENDAFTARAN+62822-2621-5000PEMBUKAAN GRUPSabtu, 16 Syawal 1436H / 1 Agustus 2015M——————–Mohon bantu SEBARKAN

Maaf, Istriku Bukan Jadi Konsumsi Umum

Baiknya istri kita tidak jadi konsumsi umum. Yang biasa terjadi adalah di media sosial seperti Facebook, dll. Ada istri foto selfie sendirian. Ada pula yang memamerkan kemesraan dengan suami di medsos. Yang terjadi pula istri suka berdandan untuk orang lain ketika keluar rumah. Sedangkan untuk suami? Dandannya pas-pasan, bahkan lebih senang memamerkan bau keringat daripada kecantikannya. Begini alasannya … Seorang suami ketika sudah melakukan akad nikah, berarti perwalian dari orang tua perempuan sudah berpindah padanya. Sehingga nafkah istri sepenuhnya jadi tanggung jawab suami. Nah … jika demikian berarti kecantikan istri secara mutlak milik suami dong. Jika demikian, apakah layak istri itu diobral, ditonton banyak orang? Setiap orang boleh menikmati kecantikannya? Kalau penulis sendiri lebih senang kecantikan dan keelokan istri jadi milik suami. Bukan diumbar di depan umum. Tidak pula dengan menyuruh istri berdandan ketika keluar rumah. Salah satu contoh istri teladan adalah Ummu Sulaim yang memiliki nama asli Rumaysho. Meskipun anaknya kala itu meninggal dunia, ia masih tetap berdandan cantik untuk suaminya. Dandanannya itu spesial untuk suaminya, bukan yang lainnya. Kisahnya sebagai berikut. عَنْ أَنَسٍ قَالَ مَاتَ ابْنٌ لأَبِى طَلْحَةَ مِنْ أُمِّ سُلَيْمٍ فَقَالَتْ لأَهْلِهَا لاَ تُحَدِّثُوا أَبَا طَلْحَةَ بِابْنِهِ حَتَّى أَكُونَ أَنَا أُحَدِّثُهُ – قَالَ – فَجَاءَ فَقَرَّبَتْ إِلَيْهِ عَشَاءً فَأَكَلَ وَشَرِبَ – فَقَالَ – ثُمَّ تَصَنَّعَتْ لَهُ أَحْسَنَ مَا كَانَ تَصَنَّعُ قَبْلَ ذَلِكَ فَوَقَعَ بِهَا فَلَمَّا رَأَتْ أَنَّهُ قَدْ شَبِعَ وَأَصَابَ مِنْهَا قَالَتْ يَا أَبَا طَلْحَةَ أَرَأَيْتَ لَوْ أَنَّ قَوْمًا أَعَارُوا عَارِيَتَهُمْ أَهْلَ بَيْتٍ فَطَلَبُوا عَارِيَتَهُمْ أَلَهُمْ أَنْ يَمْنَعُوهُمْ قَالَ لاَ. قَالَتْ فَاحْتَسِبِ ابْنَكَ. قَالَ فَغَضِبَ وَقَالَ تَرَكْتِنِى حَتَّى تَلَطَّخْتُ ثُمَّ أَخْبَرْتِنِى بِابْنِى. فَانْطَلَقَ حَتَّى أَتَى رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَأَخْبَرَهُ بِمَا كَانَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « بَارَكَ اللَّهُ لَكُمَا فِى غَابِرِ لَيْلَتِكُمَا ». قَالَ فَحَمَلَتْ Dari Anas, ia berkata mengenai putera dari Abu Thalhah dari istrinya Ummu Sulaim. Ummu Sulaim berkata pada keluarganya, “Jangan beritahu Abu Thalhah tentang anaknya sampai aku yang memberitahukan padanya.” Diceritakan bahwa ketika Abu Thalhah pulang, istrinya Ummu Sulaim kemudian menawarkan padanya makan malam. Suaminya pun menyantap dan meminumnya. Kemudian Ummu Sulaim berdandan cantik yang belum pernah ia berdandan secantik itu. Suaminya pun menyetubuhi Ummu Sulaim. Ketika Ummu Sulaim melihat suaminya telah puas dan telah menyetubuhi dirinya, ia pun berkata, “Bagaimana pendapatmu jika ada suatu kaum meminjamkan sesuatu kepada salah satu keluarga, lalu mereka meminta pinjaman mereka lagi, apakah tidak dibolehkan untuk diambil?” Abu Thalhah menjawab, “Tidak.” Ummu Sulaim, “Bersabarlah dan berusaha raih pahala karena kematian puteramu.” Abu Thalhah lalu marah kemudian berkata, “Engkau biarkan aku tidak mengetahui hal itu hinggga aku berlumuran janabah, lalu engkau kabari tentang kematian anakku?” Abu Thalhah pun bergegas ke tempat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengabarkan apa yang terjadi pada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mendo’akan, “Semoga Allah memberkahi kalian berdua dalam malam kalian itu.” Akhirnya, Ummu Sulaim pun hamil lagi. (HR. Muslim no. 2144) Kenapa dandanan istri hanya untuk suaminya, bukan jadi konsumsi umum? Lihatlah perintah Allah, وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى “Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyyah yang dahulu.” (QS. Al Ahzab: 33). Maqatil bin Hayan mengatakan bahwa yang dimaksud berhias diri adalah seseorang memakai khimar (kerudung) di kepalanya namun tidak menutupinya dengan sempurna. Dari sini terlihatlah kalung, anting dan lehernya. Inilah yang disebut tabarruj (berhias diri) ala jahiliyyah. Silakan kaji dari kitab Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim karya Ibnu Katsir, 6: 183 (terbitan Dar Ibnul Jauzi). Itu tanda wanita shalihah tidaklah suka dandan keluar rumah. Dandanan cantiknya spesial untuk suaminya saja. Jika Anda -para suami- mendapati istri yang disayangi, yang selalu menjaga kecantikannya hanya untuk suami saja, maka bersyukurlah. Karena itulah ciri-ciri wanita terbaik sebagaimana disebut dalam hadits berikut …. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, قِيلَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ النِّسَاءِ خَيْرٌ قَالَ الَّتِي تَسُرُّهُ إِذَا نَظَرَ وَتُطِيعُهُ إِذَا أَمَرَ وَلَا تُخَالِفُهُ فِي نَفْسِهَا وَمَالِهَا بِمَا يَكْرَهُ Pernah ditanyakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Siapakah wanita yang paling baik?” Jawab beliau, “Yaitu yang paling menyenangkan jika dilihat suaminya, mentaati suami jika diperintah, dan tidak menyelisihi suami pada diri dan hartanya sehingga membuat suami benci” (HR. An-Nasai no. 3231 dan Ahmad 2: 432. Al-Hafizh Abu Thahir menyatakan bahwa sanad hadits ini hasan) Bandingkan dengan wanita saat ini, bahkan yang sudah berhijab. Mereka lebih ingin jadi konsumsi umum daripada untuk suaminya sendiri. Itulah bedanya wanita muslimah dahulu yang shalihah dengan yang sekarang yang semakin rusak. Semoga Allah beri hidayah pada para istri untuk menjadi istri shalihah serta membahagiakan suami dan keluarga. Wallahu waliyyut taufiq was sadaad. — Selesai disusun di Darush Sholihin Panggang Gunungkidul, Rabu 04:44 PM, 23 Sya’ban 1436 H Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsdandan

Maaf, Istriku Bukan Jadi Konsumsi Umum

Baiknya istri kita tidak jadi konsumsi umum. Yang biasa terjadi adalah di media sosial seperti Facebook, dll. Ada istri foto selfie sendirian. Ada pula yang memamerkan kemesraan dengan suami di medsos. Yang terjadi pula istri suka berdandan untuk orang lain ketika keluar rumah. Sedangkan untuk suami? Dandannya pas-pasan, bahkan lebih senang memamerkan bau keringat daripada kecantikannya. Begini alasannya … Seorang suami ketika sudah melakukan akad nikah, berarti perwalian dari orang tua perempuan sudah berpindah padanya. Sehingga nafkah istri sepenuhnya jadi tanggung jawab suami. Nah … jika demikian berarti kecantikan istri secara mutlak milik suami dong. Jika demikian, apakah layak istri itu diobral, ditonton banyak orang? Setiap orang boleh menikmati kecantikannya? Kalau penulis sendiri lebih senang kecantikan dan keelokan istri jadi milik suami. Bukan diumbar di depan umum. Tidak pula dengan menyuruh istri berdandan ketika keluar rumah. Salah satu contoh istri teladan adalah Ummu Sulaim yang memiliki nama asli Rumaysho. Meskipun anaknya kala itu meninggal dunia, ia masih tetap berdandan cantik untuk suaminya. Dandanannya itu spesial untuk suaminya, bukan yang lainnya. Kisahnya sebagai berikut. عَنْ أَنَسٍ قَالَ مَاتَ ابْنٌ لأَبِى طَلْحَةَ مِنْ أُمِّ سُلَيْمٍ فَقَالَتْ لأَهْلِهَا لاَ تُحَدِّثُوا أَبَا طَلْحَةَ بِابْنِهِ حَتَّى أَكُونَ أَنَا أُحَدِّثُهُ – قَالَ – فَجَاءَ فَقَرَّبَتْ إِلَيْهِ عَشَاءً فَأَكَلَ وَشَرِبَ – فَقَالَ – ثُمَّ تَصَنَّعَتْ لَهُ أَحْسَنَ مَا كَانَ تَصَنَّعُ قَبْلَ ذَلِكَ فَوَقَعَ بِهَا فَلَمَّا رَأَتْ أَنَّهُ قَدْ شَبِعَ وَأَصَابَ مِنْهَا قَالَتْ يَا أَبَا طَلْحَةَ أَرَأَيْتَ لَوْ أَنَّ قَوْمًا أَعَارُوا عَارِيَتَهُمْ أَهْلَ بَيْتٍ فَطَلَبُوا عَارِيَتَهُمْ أَلَهُمْ أَنْ يَمْنَعُوهُمْ قَالَ لاَ. قَالَتْ فَاحْتَسِبِ ابْنَكَ. قَالَ فَغَضِبَ وَقَالَ تَرَكْتِنِى حَتَّى تَلَطَّخْتُ ثُمَّ أَخْبَرْتِنِى بِابْنِى. فَانْطَلَقَ حَتَّى أَتَى رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَأَخْبَرَهُ بِمَا كَانَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « بَارَكَ اللَّهُ لَكُمَا فِى غَابِرِ لَيْلَتِكُمَا ». قَالَ فَحَمَلَتْ Dari Anas, ia berkata mengenai putera dari Abu Thalhah dari istrinya Ummu Sulaim. Ummu Sulaim berkata pada keluarganya, “Jangan beritahu Abu Thalhah tentang anaknya sampai aku yang memberitahukan padanya.” Diceritakan bahwa ketika Abu Thalhah pulang, istrinya Ummu Sulaim kemudian menawarkan padanya makan malam. Suaminya pun menyantap dan meminumnya. Kemudian Ummu Sulaim berdandan cantik yang belum pernah ia berdandan secantik itu. Suaminya pun menyetubuhi Ummu Sulaim. Ketika Ummu Sulaim melihat suaminya telah puas dan telah menyetubuhi dirinya, ia pun berkata, “Bagaimana pendapatmu jika ada suatu kaum meminjamkan sesuatu kepada salah satu keluarga, lalu mereka meminta pinjaman mereka lagi, apakah tidak dibolehkan untuk diambil?” Abu Thalhah menjawab, “Tidak.” Ummu Sulaim, “Bersabarlah dan berusaha raih pahala karena kematian puteramu.” Abu Thalhah lalu marah kemudian berkata, “Engkau biarkan aku tidak mengetahui hal itu hinggga aku berlumuran janabah, lalu engkau kabari tentang kematian anakku?” Abu Thalhah pun bergegas ke tempat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengabarkan apa yang terjadi pada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mendo’akan, “Semoga Allah memberkahi kalian berdua dalam malam kalian itu.” Akhirnya, Ummu Sulaim pun hamil lagi. (HR. Muslim no. 2144) Kenapa dandanan istri hanya untuk suaminya, bukan jadi konsumsi umum? Lihatlah perintah Allah, وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى “Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyyah yang dahulu.” (QS. Al Ahzab: 33). Maqatil bin Hayan mengatakan bahwa yang dimaksud berhias diri adalah seseorang memakai khimar (kerudung) di kepalanya namun tidak menutupinya dengan sempurna. Dari sini terlihatlah kalung, anting dan lehernya. Inilah yang disebut tabarruj (berhias diri) ala jahiliyyah. Silakan kaji dari kitab Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim karya Ibnu Katsir, 6: 183 (terbitan Dar Ibnul Jauzi). Itu tanda wanita shalihah tidaklah suka dandan keluar rumah. Dandanan cantiknya spesial untuk suaminya saja. Jika Anda -para suami- mendapati istri yang disayangi, yang selalu menjaga kecantikannya hanya untuk suami saja, maka bersyukurlah. Karena itulah ciri-ciri wanita terbaik sebagaimana disebut dalam hadits berikut …. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, قِيلَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ النِّسَاءِ خَيْرٌ قَالَ الَّتِي تَسُرُّهُ إِذَا نَظَرَ وَتُطِيعُهُ إِذَا أَمَرَ وَلَا تُخَالِفُهُ فِي نَفْسِهَا وَمَالِهَا بِمَا يَكْرَهُ Pernah ditanyakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Siapakah wanita yang paling baik?” Jawab beliau, “Yaitu yang paling menyenangkan jika dilihat suaminya, mentaati suami jika diperintah, dan tidak menyelisihi suami pada diri dan hartanya sehingga membuat suami benci” (HR. An-Nasai no. 3231 dan Ahmad 2: 432. Al-Hafizh Abu Thahir menyatakan bahwa sanad hadits ini hasan) Bandingkan dengan wanita saat ini, bahkan yang sudah berhijab. Mereka lebih ingin jadi konsumsi umum daripada untuk suaminya sendiri. Itulah bedanya wanita muslimah dahulu yang shalihah dengan yang sekarang yang semakin rusak. Semoga Allah beri hidayah pada para istri untuk menjadi istri shalihah serta membahagiakan suami dan keluarga. Wallahu waliyyut taufiq was sadaad. — Selesai disusun di Darush Sholihin Panggang Gunungkidul, Rabu 04:44 PM, 23 Sya’ban 1436 H Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsdandan
Baiknya istri kita tidak jadi konsumsi umum. Yang biasa terjadi adalah di media sosial seperti Facebook, dll. Ada istri foto selfie sendirian. Ada pula yang memamerkan kemesraan dengan suami di medsos. Yang terjadi pula istri suka berdandan untuk orang lain ketika keluar rumah. Sedangkan untuk suami? Dandannya pas-pasan, bahkan lebih senang memamerkan bau keringat daripada kecantikannya. Begini alasannya … Seorang suami ketika sudah melakukan akad nikah, berarti perwalian dari orang tua perempuan sudah berpindah padanya. Sehingga nafkah istri sepenuhnya jadi tanggung jawab suami. Nah … jika demikian berarti kecantikan istri secara mutlak milik suami dong. Jika demikian, apakah layak istri itu diobral, ditonton banyak orang? Setiap orang boleh menikmati kecantikannya? Kalau penulis sendiri lebih senang kecantikan dan keelokan istri jadi milik suami. Bukan diumbar di depan umum. Tidak pula dengan menyuruh istri berdandan ketika keluar rumah. Salah satu contoh istri teladan adalah Ummu Sulaim yang memiliki nama asli Rumaysho. Meskipun anaknya kala itu meninggal dunia, ia masih tetap berdandan cantik untuk suaminya. Dandanannya itu spesial untuk suaminya, bukan yang lainnya. Kisahnya sebagai berikut. عَنْ أَنَسٍ قَالَ مَاتَ ابْنٌ لأَبِى طَلْحَةَ مِنْ أُمِّ سُلَيْمٍ فَقَالَتْ لأَهْلِهَا لاَ تُحَدِّثُوا أَبَا طَلْحَةَ بِابْنِهِ حَتَّى أَكُونَ أَنَا أُحَدِّثُهُ – قَالَ – فَجَاءَ فَقَرَّبَتْ إِلَيْهِ عَشَاءً فَأَكَلَ وَشَرِبَ – فَقَالَ – ثُمَّ تَصَنَّعَتْ لَهُ أَحْسَنَ مَا كَانَ تَصَنَّعُ قَبْلَ ذَلِكَ فَوَقَعَ بِهَا فَلَمَّا رَأَتْ أَنَّهُ قَدْ شَبِعَ وَأَصَابَ مِنْهَا قَالَتْ يَا أَبَا طَلْحَةَ أَرَأَيْتَ لَوْ أَنَّ قَوْمًا أَعَارُوا عَارِيَتَهُمْ أَهْلَ بَيْتٍ فَطَلَبُوا عَارِيَتَهُمْ أَلَهُمْ أَنْ يَمْنَعُوهُمْ قَالَ لاَ. قَالَتْ فَاحْتَسِبِ ابْنَكَ. قَالَ فَغَضِبَ وَقَالَ تَرَكْتِنِى حَتَّى تَلَطَّخْتُ ثُمَّ أَخْبَرْتِنِى بِابْنِى. فَانْطَلَقَ حَتَّى أَتَى رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَأَخْبَرَهُ بِمَا كَانَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « بَارَكَ اللَّهُ لَكُمَا فِى غَابِرِ لَيْلَتِكُمَا ». قَالَ فَحَمَلَتْ Dari Anas, ia berkata mengenai putera dari Abu Thalhah dari istrinya Ummu Sulaim. Ummu Sulaim berkata pada keluarganya, “Jangan beritahu Abu Thalhah tentang anaknya sampai aku yang memberitahukan padanya.” Diceritakan bahwa ketika Abu Thalhah pulang, istrinya Ummu Sulaim kemudian menawarkan padanya makan malam. Suaminya pun menyantap dan meminumnya. Kemudian Ummu Sulaim berdandan cantik yang belum pernah ia berdandan secantik itu. Suaminya pun menyetubuhi Ummu Sulaim. Ketika Ummu Sulaim melihat suaminya telah puas dan telah menyetubuhi dirinya, ia pun berkata, “Bagaimana pendapatmu jika ada suatu kaum meminjamkan sesuatu kepada salah satu keluarga, lalu mereka meminta pinjaman mereka lagi, apakah tidak dibolehkan untuk diambil?” Abu Thalhah menjawab, “Tidak.” Ummu Sulaim, “Bersabarlah dan berusaha raih pahala karena kematian puteramu.” Abu Thalhah lalu marah kemudian berkata, “Engkau biarkan aku tidak mengetahui hal itu hinggga aku berlumuran janabah, lalu engkau kabari tentang kematian anakku?” Abu Thalhah pun bergegas ke tempat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengabarkan apa yang terjadi pada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mendo’akan, “Semoga Allah memberkahi kalian berdua dalam malam kalian itu.” Akhirnya, Ummu Sulaim pun hamil lagi. (HR. Muslim no. 2144) Kenapa dandanan istri hanya untuk suaminya, bukan jadi konsumsi umum? Lihatlah perintah Allah, وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى “Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyyah yang dahulu.” (QS. Al Ahzab: 33). Maqatil bin Hayan mengatakan bahwa yang dimaksud berhias diri adalah seseorang memakai khimar (kerudung) di kepalanya namun tidak menutupinya dengan sempurna. Dari sini terlihatlah kalung, anting dan lehernya. Inilah yang disebut tabarruj (berhias diri) ala jahiliyyah. Silakan kaji dari kitab Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim karya Ibnu Katsir, 6: 183 (terbitan Dar Ibnul Jauzi). Itu tanda wanita shalihah tidaklah suka dandan keluar rumah. Dandanan cantiknya spesial untuk suaminya saja. Jika Anda -para suami- mendapati istri yang disayangi, yang selalu menjaga kecantikannya hanya untuk suami saja, maka bersyukurlah. Karena itulah ciri-ciri wanita terbaik sebagaimana disebut dalam hadits berikut …. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, قِيلَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ النِّسَاءِ خَيْرٌ قَالَ الَّتِي تَسُرُّهُ إِذَا نَظَرَ وَتُطِيعُهُ إِذَا أَمَرَ وَلَا تُخَالِفُهُ فِي نَفْسِهَا وَمَالِهَا بِمَا يَكْرَهُ Pernah ditanyakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Siapakah wanita yang paling baik?” Jawab beliau, “Yaitu yang paling menyenangkan jika dilihat suaminya, mentaati suami jika diperintah, dan tidak menyelisihi suami pada diri dan hartanya sehingga membuat suami benci” (HR. An-Nasai no. 3231 dan Ahmad 2: 432. Al-Hafizh Abu Thahir menyatakan bahwa sanad hadits ini hasan) Bandingkan dengan wanita saat ini, bahkan yang sudah berhijab. Mereka lebih ingin jadi konsumsi umum daripada untuk suaminya sendiri. Itulah bedanya wanita muslimah dahulu yang shalihah dengan yang sekarang yang semakin rusak. Semoga Allah beri hidayah pada para istri untuk menjadi istri shalihah serta membahagiakan suami dan keluarga. Wallahu waliyyut taufiq was sadaad. — Selesai disusun di Darush Sholihin Panggang Gunungkidul, Rabu 04:44 PM, 23 Sya’ban 1436 H Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsdandan


Baiknya istri kita tidak jadi konsumsi umum. Yang biasa terjadi adalah di media sosial seperti Facebook, dll. Ada istri foto selfie sendirian. Ada pula yang memamerkan kemesraan dengan suami di medsos. Yang terjadi pula istri suka berdandan untuk orang lain ketika keluar rumah. Sedangkan untuk suami? Dandannya pas-pasan, bahkan lebih senang memamerkan bau keringat daripada kecantikannya. Begini alasannya … Seorang suami ketika sudah melakukan akad nikah, berarti perwalian dari orang tua perempuan sudah berpindah padanya. Sehingga nafkah istri sepenuhnya jadi tanggung jawab suami. Nah … jika demikian berarti kecantikan istri secara mutlak milik suami dong. Jika demikian, apakah layak istri itu diobral, ditonton banyak orang? Setiap orang boleh menikmati kecantikannya? Kalau penulis sendiri lebih senang kecantikan dan keelokan istri jadi milik suami. Bukan diumbar di depan umum. Tidak pula dengan menyuruh istri berdandan ketika keluar rumah. Salah satu contoh istri teladan adalah Ummu Sulaim yang memiliki nama asli Rumaysho. Meskipun anaknya kala itu meninggal dunia, ia masih tetap berdandan cantik untuk suaminya. Dandanannya itu spesial untuk suaminya, bukan yang lainnya. Kisahnya sebagai berikut. عَنْ أَنَسٍ قَالَ مَاتَ ابْنٌ لأَبِى طَلْحَةَ مِنْ أُمِّ سُلَيْمٍ فَقَالَتْ لأَهْلِهَا لاَ تُحَدِّثُوا أَبَا طَلْحَةَ بِابْنِهِ حَتَّى أَكُونَ أَنَا أُحَدِّثُهُ – قَالَ – فَجَاءَ فَقَرَّبَتْ إِلَيْهِ عَشَاءً فَأَكَلَ وَشَرِبَ – فَقَالَ – ثُمَّ تَصَنَّعَتْ لَهُ أَحْسَنَ مَا كَانَ تَصَنَّعُ قَبْلَ ذَلِكَ فَوَقَعَ بِهَا فَلَمَّا رَأَتْ أَنَّهُ قَدْ شَبِعَ وَأَصَابَ مِنْهَا قَالَتْ يَا أَبَا طَلْحَةَ أَرَأَيْتَ لَوْ أَنَّ قَوْمًا أَعَارُوا عَارِيَتَهُمْ أَهْلَ بَيْتٍ فَطَلَبُوا عَارِيَتَهُمْ أَلَهُمْ أَنْ يَمْنَعُوهُمْ قَالَ لاَ. قَالَتْ فَاحْتَسِبِ ابْنَكَ. قَالَ فَغَضِبَ وَقَالَ تَرَكْتِنِى حَتَّى تَلَطَّخْتُ ثُمَّ أَخْبَرْتِنِى بِابْنِى. فَانْطَلَقَ حَتَّى أَتَى رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَأَخْبَرَهُ بِمَا كَانَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « بَارَكَ اللَّهُ لَكُمَا فِى غَابِرِ لَيْلَتِكُمَا ». قَالَ فَحَمَلَتْ Dari Anas, ia berkata mengenai putera dari Abu Thalhah dari istrinya Ummu Sulaim. Ummu Sulaim berkata pada keluarganya, “Jangan beritahu Abu Thalhah tentang anaknya sampai aku yang memberitahukan padanya.” Diceritakan bahwa ketika Abu Thalhah pulang, istrinya Ummu Sulaim kemudian menawarkan padanya makan malam. Suaminya pun menyantap dan meminumnya. Kemudian Ummu Sulaim berdandan cantik yang belum pernah ia berdandan secantik itu. Suaminya pun menyetubuhi Ummu Sulaim. Ketika Ummu Sulaim melihat suaminya telah puas dan telah menyetubuhi dirinya, ia pun berkata, “Bagaimana pendapatmu jika ada suatu kaum meminjamkan sesuatu kepada salah satu keluarga, lalu mereka meminta pinjaman mereka lagi, apakah tidak dibolehkan untuk diambil?” Abu Thalhah menjawab, “Tidak.” Ummu Sulaim, “Bersabarlah dan berusaha raih pahala karena kematian puteramu.” Abu Thalhah lalu marah kemudian berkata, “Engkau biarkan aku tidak mengetahui hal itu hinggga aku berlumuran janabah, lalu engkau kabari tentang kematian anakku?” Abu Thalhah pun bergegas ke tempat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengabarkan apa yang terjadi pada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mendo’akan, “Semoga Allah memberkahi kalian berdua dalam malam kalian itu.” Akhirnya, Ummu Sulaim pun hamil lagi. (HR. Muslim no. 2144) Kenapa dandanan istri hanya untuk suaminya, bukan jadi konsumsi umum? Lihatlah perintah Allah, وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى “Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyyah yang dahulu.” (QS. Al Ahzab: 33). Maqatil bin Hayan mengatakan bahwa yang dimaksud berhias diri adalah seseorang memakai khimar (kerudung) di kepalanya namun tidak menutupinya dengan sempurna. Dari sini terlihatlah kalung, anting dan lehernya. Inilah yang disebut tabarruj (berhias diri) ala jahiliyyah. Silakan kaji dari kitab Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim karya Ibnu Katsir, 6: 183 (terbitan Dar Ibnul Jauzi). Itu tanda wanita shalihah tidaklah suka dandan keluar rumah. Dandanan cantiknya spesial untuk suaminya saja. Jika Anda -para suami- mendapati istri yang disayangi, yang selalu menjaga kecantikannya hanya untuk suami saja, maka bersyukurlah. Karena itulah ciri-ciri wanita terbaik sebagaimana disebut dalam hadits berikut …. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, قِيلَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ النِّسَاءِ خَيْرٌ قَالَ الَّتِي تَسُرُّهُ إِذَا نَظَرَ وَتُطِيعُهُ إِذَا أَمَرَ وَلَا تُخَالِفُهُ فِي نَفْسِهَا وَمَالِهَا بِمَا يَكْرَهُ Pernah ditanyakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Siapakah wanita yang paling baik?” Jawab beliau, “Yaitu yang paling menyenangkan jika dilihat suaminya, mentaati suami jika diperintah, dan tidak menyelisihi suami pada diri dan hartanya sehingga membuat suami benci” (HR. An-Nasai no. 3231 dan Ahmad 2: 432. Al-Hafizh Abu Thahir menyatakan bahwa sanad hadits ini hasan) Bandingkan dengan wanita saat ini, bahkan yang sudah berhijab. Mereka lebih ingin jadi konsumsi umum daripada untuk suaminya sendiri. Itulah bedanya wanita muslimah dahulu yang shalihah dengan yang sekarang yang semakin rusak. Semoga Allah beri hidayah pada para istri untuk menjadi istri shalihah serta membahagiakan suami dan keluarga. Wallahu waliyyut taufiq was sadaad. — Selesai disusun di Darush Sholihin Panggang Gunungkidul, Rabu 04:44 PM, 23 Sya’ban 1436 H Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsdandan

7 Alasan Banyak Sedekah di Bulan Ramadhan

Ada 7 alasan kenapa kita diperintah banyak sedekah di bulan Ramadhan. Suri teladan kita, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mencontohkan kepada kita untuk banyak bersedekah dan berderma di bulan Ramadhan. Bahkan ada berbagai faedah jika seseorang bertambah semangat bersedekah ketika berpuasa di bulan penuh berkah tersebut. Dalam shahihain, dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – أَجْوَدَ النَّاسِ ، وَأَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِى رَمَضَانَ ، حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ ، وَكَانَ جِبْرِيلُ – عَلَيْهِ السَّلاَمُ – يَلْقَاهُ فِى كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ ، فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ فَلَرَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – أَجْوَدُ بِالْخَيْرِ مِنَ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling gemar bersedekah. Semangat beliau dalam bersedekah lebih membara lagi ketika bulan Ramadhan tatkala itu Jibril menemui beliau. Jibril menemui beliau setiap malamnya di bulan Ramadhan. Jibril mengajarkan Al-Qur’an kala itu. Dan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah yang paling semangat dalam melakukan kebaikan bagai angin yang bertiup.” (HR. Bukhari no. 3554 dan Muslim no. 2307) Ibnu Rajab rahimahullah berkata, “Al juud berarti rajin dan banyak memberi (berderma)” (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 291). Jadi maksud hadits adalah Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– rajin memberi sedekah pada orang lain di bulan Ramadhan. Ibnu Rajab juga menyebutkan, “Pada diri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terkumpul berbagai macam sifat dermawan. Beliau gemar berderma dengan ilmu dan harta beliau. Beliau juga mengorbankan jiwa untuk memperjuangkan agamanya. Beliau juga memberikan manfaat pada umat dengan menempuh berbagai macam cara. Bentuk kemanfaatan yang beliau berikan adalah dengan memberi makan pada orang yang lapar, menasihati orang yang bodoh, memenuhi hajat dan mengangkat kesulitan orang yang butuh.” (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 293). Di halaman lainnya dari kitab Lathaif Al-Ma’arif (hlm. 295), semangat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk berderma lebih besar lagi di bulan Ramadhan dibanding bulan-bulan lainnya. Apa yang mendorong beliau lebih bersemangat seperti itu? 1- Bulan Ramadhan adalah waktu yang mulia dan pahala berlipat ganda pada bulan tersebut. 2- Rajin berderma pada bulan Ramadhan berarti membantu orang yang berpuasa, orang yang melakukan shalat malam dan orang yang berdzikir supaya mereka mudah dalam beramal. Orang yang membantu di sini akan mendapatkan pahala seperti pahala mereka yang beramal. Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan keutamaan orang yang memberi makan buka puasa, مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لاَ يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا “Siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa tersebut sedikit pun juga.” (HR. Tirmidzi no. 807, Ibnu Majah no. 1746, dan Ahmad 5: 192, dari Zaid bin Khalid Al-Juhani. At-Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih). 3- Di bulan Ramadhan, Allah juga berderma dengan memberikan rahmat, ampunan dan pembebasan dari api neraka, lebih-lebih lagi di malam Lailatul Qadar. 4- Menggabungkan antara puasa dan sedekah adalah sebab seseorang dimudahkan masuk surga. Sebagaimana disebutkan dalam hadits berikut, عَنْ عَلِىٍّ قَالَ قَالَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- « إِنَّ فِى الْجَنَّةِ غُرَفًا تُرَى ظُهُورُهَا مِنْ بُطُونِهَا وَبُطُونُهَا مِنْ ظُهُورِهَا ». فَقَامَ أَعْرَابِىٌّ فَقَالَ لِمَنْ هِىَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ « لِمَنْ أَطَابَ الْكَلاَمَ وَأَطْعَمَ الطَّعَامَ وَأَدَامَ الصِّيَامَ وَصَلَّى لِلَّهِ بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ » Dari ‘Ali, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya di surga ada kamar yang luarnya bisa dilihat dari dalamnya dan dalamnya bisa dilihat dari luarnya.” Lantas orang Arab Badui ketika mendengar hal itu langsung berdiri dan berkata, “Untuk siapa keistimewaan-keistimewaan tersebut, wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “Itu disediakan bagi orang yang berkata yang baik, memberi makan (kepada orang yang butuh), rajin berpuasa, dan melakukan shalat di malam hari ketika manusia terlelap tidur.” (HR. Tirmidzi no. 1984 dan Ahmad 1: 155. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan) Kata Ibnu Rajab Al Hambali, sifat-sifat yang disebutkan di atas semuanya terkumpul di bulan Ramadhan. Karena orang beriman akan mengumpulkan pada dirinya amalan puasa, shalat malam, sedekah dan berkata yang baik di mana ketika berpuasa dilarang berkata kotor dan sia-sia. Lihat Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 298. 5- Menggabungkan antara sedekah dan puasa adalah sebab kemudahan meraih ampunan dosa dan selamat dari siksa neraka. Lebih-lebih jika kedua amalan tersebut ditambah dengan amalan shalat malam. Disebutkan bahwa puasa adalah tameng (pelindung) dari siksa neraka, الصِّيَامُ جُنَّةٌ مِنَ النَّارِ كَجُنَّةِ أَحَدِكُمْ مِنَ الْقِتَالِ “Puasa adalah pelindung dari neraka seperti tameng salah seorang dari kalian ketika ingin berlindung dari pembunuhan.” (HR. Ibnu Majah no. 1639 dan An Nasai no. 2232. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih). Mengenai sedekah dan shalat malam disebutkan dalam hadits, وَالصَّدَقَةُ تُطْفِئُ الْخَطِيئَةَ كَمَا يُطْفِئُ الْمَاءُ النَّارَ وَصَلاَةُ الرَّجُلِ مِنْ جَوْفِ اللَّيْلِ “Sedekah itu memadamkan dosa sebagaimana api dapat dipadamkan dengan air, begitu pula shalat seseorang selepas tengah malam.” (HR. Tirmidzi no. 2616 dan Ibnu Majah no. 3973. Abu Isa At-Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan). 6- Dalam puasa pasti ada cacat dan kekurangan, sedekah itulah yang menutupi kekurangan tersebut. Oleh karenanya di akhir Ramadhan, kaum muslimin disyari’atkan menunaikan zakat fitrah. Tujuannya adalah menyucikan orang yang berpuasa. Disebutkan dalam hadits, Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata, فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fitrah untuk menyucikan orang yang berpuasa dari kata-kata yang sia-sia dan dari kata-kata kotor, juga untuk memberi makan kepada orang miskin.” (HR. Abu Daud no. 1609 dan Ibnu Majah no. 1827. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan). 7- Disyari’atkan banyak berderma ketika puasa seperti saat memberi makan buka puasa adalah supaya orang kaya dapat merasakan orang yang biasa menderita lapar sehingga mereka pun dapat membantu orang yang sedang kelaparan. Oleh karenanya sebagian ulama teladan di masa silam ditanya, “Kenapa kita diperintahkan untuk berpuasa?” Jawab mereka, “Supaya yang kaya dapat merasakan penderitaan orang yang lapar. Itu supaya ia tidak melupakan deritanya orang yang lapar.” (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 300) Yang dicontohkan oleh para ulama di antaranya ‘Abdullah bin Al-Mubarak dan Al-Hasan Al-Bashri, mereka biasa memberi makan pada orang lain, padahal sedang berpuasa (sunnah). Demikian tujuh faedah yang disampaikan oleh Ibnu Rajab yang mendorong kita supaya rajin membantu, memberi dan berderma di bulan Ramadhan. Sehingga itulah mengapa bulan Ramadhan disebut bulan muwasaah, yaitu bulan yang diperintahkan banyak berderma. Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah berkata, “Siapa yang tidak bisa menggapai derajat itsar (mendahulukan orang lain dari diri sendiri, pen.), maka jangan sampai ia tidak mencapai derajat orang yang rajin membantu orang lain (muwasah).” (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 300) Imam Syafi’i rahimahullah berkata, “Aku sangat senang ketika melihat ada yang bertambah semangat mengulurkan tangan membantu orang lain di bulan Ramadhan karena meneladani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, juga karena manusia saat puasa sangat-sangat membutuhkan bantuan di mana mereka telah tersibukkan dengan puasa dan shalat sehingga sulit untuk mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan mereka. Contoh ulama yang seperti itu adalah Al-Qadhi Abu Ya’la dan ulama Hambali lainnya.” (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 301) Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah untuk rajin berbuat kebajikan di bulan Ramadhan.   Referensi: Lathaif Al-Ma’arif fii Maa Limawasim Al-‘Aam min Al-Wazhoif. Cetakan pertama tahun 1428 H. Ibnu Rajab Al Hambali. Penerbit Al-Maktab Al-Islami. — @ Darush Sholihin Panggang, Gunungkidul, 22 Sya’ban 1436 H di pagi hari Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsamalan ramadhan sedekah

7 Alasan Banyak Sedekah di Bulan Ramadhan

Ada 7 alasan kenapa kita diperintah banyak sedekah di bulan Ramadhan. Suri teladan kita, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mencontohkan kepada kita untuk banyak bersedekah dan berderma di bulan Ramadhan. Bahkan ada berbagai faedah jika seseorang bertambah semangat bersedekah ketika berpuasa di bulan penuh berkah tersebut. Dalam shahihain, dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – أَجْوَدَ النَّاسِ ، وَأَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِى رَمَضَانَ ، حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ ، وَكَانَ جِبْرِيلُ – عَلَيْهِ السَّلاَمُ – يَلْقَاهُ فِى كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ ، فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ فَلَرَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – أَجْوَدُ بِالْخَيْرِ مِنَ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling gemar bersedekah. Semangat beliau dalam bersedekah lebih membara lagi ketika bulan Ramadhan tatkala itu Jibril menemui beliau. Jibril menemui beliau setiap malamnya di bulan Ramadhan. Jibril mengajarkan Al-Qur’an kala itu. Dan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah yang paling semangat dalam melakukan kebaikan bagai angin yang bertiup.” (HR. Bukhari no. 3554 dan Muslim no. 2307) Ibnu Rajab rahimahullah berkata, “Al juud berarti rajin dan banyak memberi (berderma)” (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 291). Jadi maksud hadits adalah Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– rajin memberi sedekah pada orang lain di bulan Ramadhan. Ibnu Rajab juga menyebutkan, “Pada diri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terkumpul berbagai macam sifat dermawan. Beliau gemar berderma dengan ilmu dan harta beliau. Beliau juga mengorbankan jiwa untuk memperjuangkan agamanya. Beliau juga memberikan manfaat pada umat dengan menempuh berbagai macam cara. Bentuk kemanfaatan yang beliau berikan adalah dengan memberi makan pada orang yang lapar, menasihati orang yang bodoh, memenuhi hajat dan mengangkat kesulitan orang yang butuh.” (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 293). Di halaman lainnya dari kitab Lathaif Al-Ma’arif (hlm. 295), semangat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk berderma lebih besar lagi di bulan Ramadhan dibanding bulan-bulan lainnya. Apa yang mendorong beliau lebih bersemangat seperti itu? 1- Bulan Ramadhan adalah waktu yang mulia dan pahala berlipat ganda pada bulan tersebut. 2- Rajin berderma pada bulan Ramadhan berarti membantu orang yang berpuasa, orang yang melakukan shalat malam dan orang yang berdzikir supaya mereka mudah dalam beramal. Orang yang membantu di sini akan mendapatkan pahala seperti pahala mereka yang beramal. Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan keutamaan orang yang memberi makan buka puasa, مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لاَ يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا “Siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa tersebut sedikit pun juga.” (HR. Tirmidzi no. 807, Ibnu Majah no. 1746, dan Ahmad 5: 192, dari Zaid bin Khalid Al-Juhani. At-Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih). 3- Di bulan Ramadhan, Allah juga berderma dengan memberikan rahmat, ampunan dan pembebasan dari api neraka, lebih-lebih lagi di malam Lailatul Qadar. 4- Menggabungkan antara puasa dan sedekah adalah sebab seseorang dimudahkan masuk surga. Sebagaimana disebutkan dalam hadits berikut, عَنْ عَلِىٍّ قَالَ قَالَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- « إِنَّ فِى الْجَنَّةِ غُرَفًا تُرَى ظُهُورُهَا مِنْ بُطُونِهَا وَبُطُونُهَا مِنْ ظُهُورِهَا ». فَقَامَ أَعْرَابِىٌّ فَقَالَ لِمَنْ هِىَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ « لِمَنْ أَطَابَ الْكَلاَمَ وَأَطْعَمَ الطَّعَامَ وَأَدَامَ الصِّيَامَ وَصَلَّى لِلَّهِ بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ » Dari ‘Ali, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya di surga ada kamar yang luarnya bisa dilihat dari dalamnya dan dalamnya bisa dilihat dari luarnya.” Lantas orang Arab Badui ketika mendengar hal itu langsung berdiri dan berkata, “Untuk siapa keistimewaan-keistimewaan tersebut, wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “Itu disediakan bagi orang yang berkata yang baik, memberi makan (kepada orang yang butuh), rajin berpuasa, dan melakukan shalat di malam hari ketika manusia terlelap tidur.” (HR. Tirmidzi no. 1984 dan Ahmad 1: 155. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan) Kata Ibnu Rajab Al Hambali, sifat-sifat yang disebutkan di atas semuanya terkumpul di bulan Ramadhan. Karena orang beriman akan mengumpulkan pada dirinya amalan puasa, shalat malam, sedekah dan berkata yang baik di mana ketika berpuasa dilarang berkata kotor dan sia-sia. Lihat Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 298. 5- Menggabungkan antara sedekah dan puasa adalah sebab kemudahan meraih ampunan dosa dan selamat dari siksa neraka. Lebih-lebih jika kedua amalan tersebut ditambah dengan amalan shalat malam. Disebutkan bahwa puasa adalah tameng (pelindung) dari siksa neraka, الصِّيَامُ جُنَّةٌ مِنَ النَّارِ كَجُنَّةِ أَحَدِكُمْ مِنَ الْقِتَالِ “Puasa adalah pelindung dari neraka seperti tameng salah seorang dari kalian ketika ingin berlindung dari pembunuhan.” (HR. Ibnu Majah no. 1639 dan An Nasai no. 2232. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih). Mengenai sedekah dan shalat malam disebutkan dalam hadits, وَالصَّدَقَةُ تُطْفِئُ الْخَطِيئَةَ كَمَا يُطْفِئُ الْمَاءُ النَّارَ وَصَلاَةُ الرَّجُلِ مِنْ جَوْفِ اللَّيْلِ “Sedekah itu memadamkan dosa sebagaimana api dapat dipadamkan dengan air, begitu pula shalat seseorang selepas tengah malam.” (HR. Tirmidzi no. 2616 dan Ibnu Majah no. 3973. Abu Isa At-Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan). 6- Dalam puasa pasti ada cacat dan kekurangan, sedekah itulah yang menutupi kekurangan tersebut. Oleh karenanya di akhir Ramadhan, kaum muslimin disyari’atkan menunaikan zakat fitrah. Tujuannya adalah menyucikan orang yang berpuasa. Disebutkan dalam hadits, Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata, فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fitrah untuk menyucikan orang yang berpuasa dari kata-kata yang sia-sia dan dari kata-kata kotor, juga untuk memberi makan kepada orang miskin.” (HR. Abu Daud no. 1609 dan Ibnu Majah no. 1827. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan). 7- Disyari’atkan banyak berderma ketika puasa seperti saat memberi makan buka puasa adalah supaya orang kaya dapat merasakan orang yang biasa menderita lapar sehingga mereka pun dapat membantu orang yang sedang kelaparan. Oleh karenanya sebagian ulama teladan di masa silam ditanya, “Kenapa kita diperintahkan untuk berpuasa?” Jawab mereka, “Supaya yang kaya dapat merasakan penderitaan orang yang lapar. Itu supaya ia tidak melupakan deritanya orang yang lapar.” (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 300) Yang dicontohkan oleh para ulama di antaranya ‘Abdullah bin Al-Mubarak dan Al-Hasan Al-Bashri, mereka biasa memberi makan pada orang lain, padahal sedang berpuasa (sunnah). Demikian tujuh faedah yang disampaikan oleh Ibnu Rajab yang mendorong kita supaya rajin membantu, memberi dan berderma di bulan Ramadhan. Sehingga itulah mengapa bulan Ramadhan disebut bulan muwasaah, yaitu bulan yang diperintahkan banyak berderma. Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah berkata, “Siapa yang tidak bisa menggapai derajat itsar (mendahulukan orang lain dari diri sendiri, pen.), maka jangan sampai ia tidak mencapai derajat orang yang rajin membantu orang lain (muwasah).” (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 300) Imam Syafi’i rahimahullah berkata, “Aku sangat senang ketika melihat ada yang bertambah semangat mengulurkan tangan membantu orang lain di bulan Ramadhan karena meneladani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, juga karena manusia saat puasa sangat-sangat membutuhkan bantuan di mana mereka telah tersibukkan dengan puasa dan shalat sehingga sulit untuk mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan mereka. Contoh ulama yang seperti itu adalah Al-Qadhi Abu Ya’la dan ulama Hambali lainnya.” (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 301) Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah untuk rajin berbuat kebajikan di bulan Ramadhan.   Referensi: Lathaif Al-Ma’arif fii Maa Limawasim Al-‘Aam min Al-Wazhoif. Cetakan pertama tahun 1428 H. Ibnu Rajab Al Hambali. Penerbit Al-Maktab Al-Islami. — @ Darush Sholihin Panggang, Gunungkidul, 22 Sya’ban 1436 H di pagi hari Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsamalan ramadhan sedekah
Ada 7 alasan kenapa kita diperintah banyak sedekah di bulan Ramadhan. Suri teladan kita, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mencontohkan kepada kita untuk banyak bersedekah dan berderma di bulan Ramadhan. Bahkan ada berbagai faedah jika seseorang bertambah semangat bersedekah ketika berpuasa di bulan penuh berkah tersebut. Dalam shahihain, dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – أَجْوَدَ النَّاسِ ، وَأَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِى رَمَضَانَ ، حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ ، وَكَانَ جِبْرِيلُ – عَلَيْهِ السَّلاَمُ – يَلْقَاهُ فِى كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ ، فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ فَلَرَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – أَجْوَدُ بِالْخَيْرِ مِنَ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling gemar bersedekah. Semangat beliau dalam bersedekah lebih membara lagi ketika bulan Ramadhan tatkala itu Jibril menemui beliau. Jibril menemui beliau setiap malamnya di bulan Ramadhan. Jibril mengajarkan Al-Qur’an kala itu. Dan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah yang paling semangat dalam melakukan kebaikan bagai angin yang bertiup.” (HR. Bukhari no. 3554 dan Muslim no. 2307) Ibnu Rajab rahimahullah berkata, “Al juud berarti rajin dan banyak memberi (berderma)” (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 291). Jadi maksud hadits adalah Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– rajin memberi sedekah pada orang lain di bulan Ramadhan. Ibnu Rajab juga menyebutkan, “Pada diri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terkumpul berbagai macam sifat dermawan. Beliau gemar berderma dengan ilmu dan harta beliau. Beliau juga mengorbankan jiwa untuk memperjuangkan agamanya. Beliau juga memberikan manfaat pada umat dengan menempuh berbagai macam cara. Bentuk kemanfaatan yang beliau berikan adalah dengan memberi makan pada orang yang lapar, menasihati orang yang bodoh, memenuhi hajat dan mengangkat kesulitan orang yang butuh.” (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 293). Di halaman lainnya dari kitab Lathaif Al-Ma’arif (hlm. 295), semangat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk berderma lebih besar lagi di bulan Ramadhan dibanding bulan-bulan lainnya. Apa yang mendorong beliau lebih bersemangat seperti itu? 1- Bulan Ramadhan adalah waktu yang mulia dan pahala berlipat ganda pada bulan tersebut. 2- Rajin berderma pada bulan Ramadhan berarti membantu orang yang berpuasa, orang yang melakukan shalat malam dan orang yang berdzikir supaya mereka mudah dalam beramal. Orang yang membantu di sini akan mendapatkan pahala seperti pahala mereka yang beramal. Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan keutamaan orang yang memberi makan buka puasa, مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لاَ يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا “Siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa tersebut sedikit pun juga.” (HR. Tirmidzi no. 807, Ibnu Majah no. 1746, dan Ahmad 5: 192, dari Zaid bin Khalid Al-Juhani. At-Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih). 3- Di bulan Ramadhan, Allah juga berderma dengan memberikan rahmat, ampunan dan pembebasan dari api neraka, lebih-lebih lagi di malam Lailatul Qadar. 4- Menggabungkan antara puasa dan sedekah adalah sebab seseorang dimudahkan masuk surga. Sebagaimana disebutkan dalam hadits berikut, عَنْ عَلِىٍّ قَالَ قَالَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- « إِنَّ فِى الْجَنَّةِ غُرَفًا تُرَى ظُهُورُهَا مِنْ بُطُونِهَا وَبُطُونُهَا مِنْ ظُهُورِهَا ». فَقَامَ أَعْرَابِىٌّ فَقَالَ لِمَنْ هِىَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ « لِمَنْ أَطَابَ الْكَلاَمَ وَأَطْعَمَ الطَّعَامَ وَأَدَامَ الصِّيَامَ وَصَلَّى لِلَّهِ بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ » Dari ‘Ali, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya di surga ada kamar yang luarnya bisa dilihat dari dalamnya dan dalamnya bisa dilihat dari luarnya.” Lantas orang Arab Badui ketika mendengar hal itu langsung berdiri dan berkata, “Untuk siapa keistimewaan-keistimewaan tersebut, wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “Itu disediakan bagi orang yang berkata yang baik, memberi makan (kepada orang yang butuh), rajin berpuasa, dan melakukan shalat di malam hari ketika manusia terlelap tidur.” (HR. Tirmidzi no. 1984 dan Ahmad 1: 155. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan) Kata Ibnu Rajab Al Hambali, sifat-sifat yang disebutkan di atas semuanya terkumpul di bulan Ramadhan. Karena orang beriman akan mengumpulkan pada dirinya amalan puasa, shalat malam, sedekah dan berkata yang baik di mana ketika berpuasa dilarang berkata kotor dan sia-sia. Lihat Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 298. 5- Menggabungkan antara sedekah dan puasa adalah sebab kemudahan meraih ampunan dosa dan selamat dari siksa neraka. Lebih-lebih jika kedua amalan tersebut ditambah dengan amalan shalat malam. Disebutkan bahwa puasa adalah tameng (pelindung) dari siksa neraka, الصِّيَامُ جُنَّةٌ مِنَ النَّارِ كَجُنَّةِ أَحَدِكُمْ مِنَ الْقِتَالِ “Puasa adalah pelindung dari neraka seperti tameng salah seorang dari kalian ketika ingin berlindung dari pembunuhan.” (HR. Ibnu Majah no. 1639 dan An Nasai no. 2232. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih). Mengenai sedekah dan shalat malam disebutkan dalam hadits, وَالصَّدَقَةُ تُطْفِئُ الْخَطِيئَةَ كَمَا يُطْفِئُ الْمَاءُ النَّارَ وَصَلاَةُ الرَّجُلِ مِنْ جَوْفِ اللَّيْلِ “Sedekah itu memadamkan dosa sebagaimana api dapat dipadamkan dengan air, begitu pula shalat seseorang selepas tengah malam.” (HR. Tirmidzi no. 2616 dan Ibnu Majah no. 3973. Abu Isa At-Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan). 6- Dalam puasa pasti ada cacat dan kekurangan, sedekah itulah yang menutupi kekurangan tersebut. Oleh karenanya di akhir Ramadhan, kaum muslimin disyari’atkan menunaikan zakat fitrah. Tujuannya adalah menyucikan orang yang berpuasa. Disebutkan dalam hadits, Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata, فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fitrah untuk menyucikan orang yang berpuasa dari kata-kata yang sia-sia dan dari kata-kata kotor, juga untuk memberi makan kepada orang miskin.” (HR. Abu Daud no. 1609 dan Ibnu Majah no. 1827. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan). 7- Disyari’atkan banyak berderma ketika puasa seperti saat memberi makan buka puasa adalah supaya orang kaya dapat merasakan orang yang biasa menderita lapar sehingga mereka pun dapat membantu orang yang sedang kelaparan. Oleh karenanya sebagian ulama teladan di masa silam ditanya, “Kenapa kita diperintahkan untuk berpuasa?” Jawab mereka, “Supaya yang kaya dapat merasakan penderitaan orang yang lapar. Itu supaya ia tidak melupakan deritanya orang yang lapar.” (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 300) Yang dicontohkan oleh para ulama di antaranya ‘Abdullah bin Al-Mubarak dan Al-Hasan Al-Bashri, mereka biasa memberi makan pada orang lain, padahal sedang berpuasa (sunnah). Demikian tujuh faedah yang disampaikan oleh Ibnu Rajab yang mendorong kita supaya rajin membantu, memberi dan berderma di bulan Ramadhan. Sehingga itulah mengapa bulan Ramadhan disebut bulan muwasaah, yaitu bulan yang diperintahkan banyak berderma. Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah berkata, “Siapa yang tidak bisa menggapai derajat itsar (mendahulukan orang lain dari diri sendiri, pen.), maka jangan sampai ia tidak mencapai derajat orang yang rajin membantu orang lain (muwasah).” (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 300) Imam Syafi’i rahimahullah berkata, “Aku sangat senang ketika melihat ada yang bertambah semangat mengulurkan tangan membantu orang lain di bulan Ramadhan karena meneladani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, juga karena manusia saat puasa sangat-sangat membutuhkan bantuan di mana mereka telah tersibukkan dengan puasa dan shalat sehingga sulit untuk mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan mereka. Contoh ulama yang seperti itu adalah Al-Qadhi Abu Ya’la dan ulama Hambali lainnya.” (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 301) Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah untuk rajin berbuat kebajikan di bulan Ramadhan.   Referensi: Lathaif Al-Ma’arif fii Maa Limawasim Al-‘Aam min Al-Wazhoif. Cetakan pertama tahun 1428 H. Ibnu Rajab Al Hambali. Penerbit Al-Maktab Al-Islami. — @ Darush Sholihin Panggang, Gunungkidul, 22 Sya’ban 1436 H di pagi hari Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsamalan ramadhan sedekah


Ada 7 alasan kenapa kita diperintah banyak sedekah di bulan Ramadhan. Suri teladan kita, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mencontohkan kepada kita untuk banyak bersedekah dan berderma di bulan Ramadhan. Bahkan ada berbagai faedah jika seseorang bertambah semangat bersedekah ketika berpuasa di bulan penuh berkah tersebut. Dalam shahihain, dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – أَجْوَدَ النَّاسِ ، وَأَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِى رَمَضَانَ ، حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ ، وَكَانَ جِبْرِيلُ – عَلَيْهِ السَّلاَمُ – يَلْقَاهُ فِى كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ ، فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ فَلَرَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – أَجْوَدُ بِالْخَيْرِ مِنَ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling gemar bersedekah. Semangat beliau dalam bersedekah lebih membara lagi ketika bulan Ramadhan tatkala itu Jibril menemui beliau. Jibril menemui beliau setiap malamnya di bulan Ramadhan. Jibril mengajarkan Al-Qur’an kala itu. Dan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah yang paling semangat dalam melakukan kebaikan bagai angin yang bertiup.” (HR. Bukhari no. 3554 dan Muslim no. 2307) Ibnu Rajab rahimahullah berkata, “Al juud berarti rajin dan banyak memberi (berderma)” (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 291). Jadi maksud hadits adalah Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– rajin memberi sedekah pada orang lain di bulan Ramadhan. Ibnu Rajab juga menyebutkan, “Pada diri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terkumpul berbagai macam sifat dermawan. Beliau gemar berderma dengan ilmu dan harta beliau. Beliau juga mengorbankan jiwa untuk memperjuangkan agamanya. Beliau juga memberikan manfaat pada umat dengan menempuh berbagai macam cara. Bentuk kemanfaatan yang beliau berikan adalah dengan memberi makan pada orang yang lapar, menasihati orang yang bodoh, memenuhi hajat dan mengangkat kesulitan orang yang butuh.” (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 293). Di halaman lainnya dari kitab Lathaif Al-Ma’arif (hlm. 295), semangat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk berderma lebih besar lagi di bulan Ramadhan dibanding bulan-bulan lainnya. Apa yang mendorong beliau lebih bersemangat seperti itu? 1- Bulan Ramadhan adalah waktu yang mulia dan pahala berlipat ganda pada bulan tersebut. 2- Rajin berderma pada bulan Ramadhan berarti membantu orang yang berpuasa, orang yang melakukan shalat malam dan orang yang berdzikir supaya mereka mudah dalam beramal. Orang yang membantu di sini akan mendapatkan pahala seperti pahala mereka yang beramal. Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan keutamaan orang yang memberi makan buka puasa, مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لاَ يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا “Siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa tersebut sedikit pun juga.” (HR. Tirmidzi no. 807, Ibnu Majah no. 1746, dan Ahmad 5: 192, dari Zaid bin Khalid Al-Juhani. At-Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih). 3- Di bulan Ramadhan, Allah juga berderma dengan memberikan rahmat, ampunan dan pembebasan dari api neraka, lebih-lebih lagi di malam Lailatul Qadar. 4- Menggabungkan antara puasa dan sedekah adalah sebab seseorang dimudahkan masuk surga. Sebagaimana disebutkan dalam hadits berikut, عَنْ عَلِىٍّ قَالَ قَالَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- « إِنَّ فِى الْجَنَّةِ غُرَفًا تُرَى ظُهُورُهَا مِنْ بُطُونِهَا وَبُطُونُهَا مِنْ ظُهُورِهَا ». فَقَامَ أَعْرَابِىٌّ فَقَالَ لِمَنْ هِىَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ « لِمَنْ أَطَابَ الْكَلاَمَ وَأَطْعَمَ الطَّعَامَ وَأَدَامَ الصِّيَامَ وَصَلَّى لِلَّهِ بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ » Dari ‘Ali, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya di surga ada kamar yang luarnya bisa dilihat dari dalamnya dan dalamnya bisa dilihat dari luarnya.” Lantas orang Arab Badui ketika mendengar hal itu langsung berdiri dan berkata, “Untuk siapa keistimewaan-keistimewaan tersebut, wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “Itu disediakan bagi orang yang berkata yang baik, memberi makan (kepada orang yang butuh), rajin berpuasa, dan melakukan shalat di malam hari ketika manusia terlelap tidur.” (HR. Tirmidzi no. 1984 dan Ahmad 1: 155. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan) Kata Ibnu Rajab Al Hambali, sifat-sifat yang disebutkan di atas semuanya terkumpul di bulan Ramadhan. Karena orang beriman akan mengumpulkan pada dirinya amalan puasa, shalat malam, sedekah dan berkata yang baik di mana ketika berpuasa dilarang berkata kotor dan sia-sia. Lihat Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 298. 5- Menggabungkan antara sedekah dan puasa adalah sebab kemudahan meraih ampunan dosa dan selamat dari siksa neraka. Lebih-lebih jika kedua amalan tersebut ditambah dengan amalan shalat malam. Disebutkan bahwa puasa adalah tameng (pelindung) dari siksa neraka, الصِّيَامُ جُنَّةٌ مِنَ النَّارِ كَجُنَّةِ أَحَدِكُمْ مِنَ الْقِتَالِ “Puasa adalah pelindung dari neraka seperti tameng salah seorang dari kalian ketika ingin berlindung dari pembunuhan.” (HR. Ibnu Majah no. 1639 dan An Nasai no. 2232. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih). Mengenai sedekah dan shalat malam disebutkan dalam hadits, وَالصَّدَقَةُ تُطْفِئُ الْخَطِيئَةَ كَمَا يُطْفِئُ الْمَاءُ النَّارَ وَصَلاَةُ الرَّجُلِ مِنْ جَوْفِ اللَّيْلِ “Sedekah itu memadamkan dosa sebagaimana api dapat dipadamkan dengan air, begitu pula shalat seseorang selepas tengah malam.” (HR. Tirmidzi no. 2616 dan Ibnu Majah no. 3973. Abu Isa At-Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan). 6- Dalam puasa pasti ada cacat dan kekurangan, sedekah itulah yang menutupi kekurangan tersebut. Oleh karenanya di akhir Ramadhan, kaum muslimin disyari’atkan menunaikan zakat fitrah. Tujuannya adalah menyucikan orang yang berpuasa. Disebutkan dalam hadits, Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata, فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fitrah untuk menyucikan orang yang berpuasa dari kata-kata yang sia-sia dan dari kata-kata kotor, juga untuk memberi makan kepada orang miskin.” (HR. Abu Daud no. 1609 dan Ibnu Majah no. 1827. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan). 7- Disyari’atkan banyak berderma ketika puasa seperti saat memberi makan buka puasa adalah supaya orang kaya dapat merasakan orang yang biasa menderita lapar sehingga mereka pun dapat membantu orang yang sedang kelaparan. Oleh karenanya sebagian ulama teladan di masa silam ditanya, “Kenapa kita diperintahkan untuk berpuasa?” Jawab mereka, “Supaya yang kaya dapat merasakan penderitaan orang yang lapar. Itu supaya ia tidak melupakan deritanya orang yang lapar.” (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 300) Yang dicontohkan oleh para ulama di antaranya ‘Abdullah bin Al-Mubarak dan Al-Hasan Al-Bashri, mereka biasa memberi makan pada orang lain, padahal sedang berpuasa (sunnah). Demikian tujuh faedah yang disampaikan oleh Ibnu Rajab yang mendorong kita supaya rajin membantu, memberi dan berderma di bulan Ramadhan. Sehingga itulah mengapa bulan Ramadhan disebut bulan muwasaah, yaitu bulan yang diperintahkan banyak berderma. Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah berkata, “Siapa yang tidak bisa menggapai derajat itsar (mendahulukan orang lain dari diri sendiri, pen.), maka jangan sampai ia tidak mencapai derajat orang yang rajin membantu orang lain (muwasah).” (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 300) Imam Syafi’i rahimahullah berkata, “Aku sangat senang ketika melihat ada yang bertambah semangat mengulurkan tangan membantu orang lain di bulan Ramadhan karena meneladani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, juga karena manusia saat puasa sangat-sangat membutuhkan bantuan di mana mereka telah tersibukkan dengan puasa dan shalat sehingga sulit untuk mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan mereka. Contoh ulama yang seperti itu adalah Al-Qadhi Abu Ya’la dan ulama Hambali lainnya.” (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 301) Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah untuk rajin berbuat kebajikan di bulan Ramadhan.   Referensi: Lathaif Al-Ma’arif fii Maa Limawasim Al-‘Aam min Al-Wazhoif. Cetakan pertama tahun 1428 H. Ibnu Rajab Al Hambali. Penerbit Al-Maktab Al-Islami. — @ Darush Sholihin Panggang, Gunungkidul, 22 Sya’ban 1436 H di pagi hari Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsamalan ramadhan sedekah
Prev     Next