Jangan sedih, Allah bersama kita ! (Menyikapi Penyerangan Koalisi Syi’ah & Komunis)

(Khutbah Jum’at Mesjid Nabawi 26/12/1436 H – 8/10/2015 M)Asy-Syaikh Doktor Abdul Baari Ats-Tsubaiti hafizohullahKhutbah Pertama:          Alhamdulillah segala puji bagi Allah semata, sholawat dan salam semoga tercurahkan peda nabi yang terakhir, dan kepada keluarganya dan para sahabatnya. Amma ba’du.Allah ta’aala telah menciptakan nenek moyang kita Adam ‘alaihis salam, lalu setan pun memusuhinya dan berbuat makar kepadanya untuk menyesatkannya. Para rasul telah menghadapi berbagai macam makar dan tipu daya, diadakan konspirasi untuk mencelakakan para rasul. Yusuf ‘alaihis salam saudara-saudaranya telah berbuat makar kepadanya, maka iapun bersabar atas gangguan mereka. Maka Allah berfirman tentang Yusuf :إِنَّهُ مَنْ يَتَّقِ وَيَصْبِرْ فَإِنَّ اللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَSesungguhnya barang siapa yang bertakwa dan bersabar, maka sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik (QS Yusuf : 90) Nabi Ibrahim ‘alaihis salam dikumpulkan kayu bakar dan dinyalakan api baginya, lalu beliau dilemparkan ke dalam api tersebut, maka jadilah api dingin dan keselamatan, dan hancurlah makar mereka sebagaimana firman Allah:وَأَرَادُوا بِهِ كَيْدًا فَجَعَلْنَاهُمُ الْأَخْسَرِينَMereka hendak berbuat makar terhadap Ibrahim, maka Kami menjadikan mereka itu orang-orang yang paling merugi (QS Al-Anbiyaa’ : 70)Nabi Isa ‘alaihis salam, kaumnya berbuat makar dan tipu daya kepadanya untuk membunuhnya dan menyalibnya, maka Allah pun menyelamatkan beliau dari kejahatan mereka. Mereka berbuat makar kepada Nabi Musa ‘alaihis salam, maka Allah berfirman :إِنَّمَا صَنَعُوا كَيْدُ سَاحِرٍ وَلَا يُفْلِحُ السَّاحِرُ حَيْثُ أَتَى“Sesungguhnya apa yang mereka perbuat itu adalah tipu daya tukang sihir (belaka). Dan tidak akan menang tukang sihir itu, dari mana saja ia datang” (QS Thoha : 69)Dan pasukan Abrahah berbuat makar untuk menghancurkan Ka’bah maka Allah hancurkan makar mereka: أَلَمْ يَجْعَلْ كَيْدَهُمْ فِي تَضْلِيلٍ (2) وَأَرْسَلَ عَلَيْهِمْ طَيْرًا أَبَابِيلَ (3) تَرْمِيهِمْ بِحِجَارَةٍ مِنْ سِجِّيلٍ (4) فَجَعَلَهُمْ كَعَصْفٍ مَأْكُولٍ (5)Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka (untuk menghancurkan Ka´bah) itu sia-sia. Dan Dia mengirimkan kepada mereka burung yang berbondong-bondong, yang melempari mereka dengan batu (berasal) dari tanah yang terbakar. Lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat) (QS Al-Fiil : 2-5)Para musuh berekutu dan mereka berbuat makar kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, akan tetapi makar mereka hanyalah menuju kegagalan. Allah berfirmanوَيَمْكُرُونَ وَيَمْكُرُ اللَّهُ وَاللَّهُ خَيْرُ الْمَاكِرِينَMereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik Pembalas tipu daya (QS Al-Anfaal : 30)Diantara sifat-sifat para pembuat makar adalah berkhianat dan melanggar janji. Pada peristiwa Bi’ir Ma’uunah telah terbunuh 70 orang dari sahabat terpilih, Allah berfirman :يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَخُونُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُونُوا أَمَانَاتِكُمْ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَHai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui (QS Al-Anfaal : 27)Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berlindung kepada Allah dari sifat khianat, beliau berkata :وَأَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْخِيَانَةِ فَإِنَّهَا بِئْسَتِ الْبِطَانَةُ“Dan aku berlindung kepadaMu dari sifat khinat, karena ia adalah seburuk-buruk teman”Orang-orang munafik dahulu adalah sumber utama makar yang dihadapi oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam karena sikap-sikap mereka yang membunglon dan berubah-rubah kondisi mereka. Allah berfirman :وَإِذَا لَقُوا الَّذِينَ آمَنُوا قَالُوا آمَنَّا وَإِذَا خَلَوْا إِلَى شَيَاطِينِهِمْ قَالُوا إِنَّا مَعَكُمْ إِنَّمَا نَحْنُ مُسْتَهْزِئُونَDan bila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan: “Kami telah beriman”. Dan bila mereka kembali kepada syaitan-syaitan mereka, mereka mengatakan: “Sesungguhnya kami sependirian dengan kamu, kami hanyalah berolok-olok” (QS Al-Baqoroh : 14)Allah berfirman tentang kaum munafiqinأَوَلَا يَعْلَمُونَ أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا يُسِرُّونَ وَمَا يُعْلِنُونَTidakkah mereka mengetahui bahwa Allah mengetahui segala yang mereka sembunyikan dan segala yang mereka nyatakan (QS Al-Baqoroh : 77)Yaitu : Apakah mereka tidak tahu bahwasanya Allah mengetahui apa yang mereka sembunyikan berupa makar dan kekufuran dan apa yang mereka tampakan berupa keimanan dan sikap mencintai kaum muslimin?Diantara sifat pelaku makar  adalah muncul pada saat-saat ujian berat dan peristiwa-peristiwa genting, dan gembira dengan musibah yang menimpa kaum muslimin. Jika kaum muslimin memperoleh kemenangan dan kejayaan maka merekapun marah dan sedih. Jika kaum muslimin ditimpa bencana dan ujian maka para musuhpun mabuk saking gembira dan sombongnya.إِنْ تَمْسَسْكُمْ حَسَنَةٌ تَسُؤْهُمْ وَإِنْ تُصِبْكُمْ سَيِّئَةٌ يَفْرَحُوا بِهَاJika kamu memperoleh kebaikan, niscaya mereka bersedih hati, tetapi Jika kamu mendapat bencana, mereka bergembira karenanya. (QS Ali Imron : 120)Diantara sifat para pembuat makar adalah memperbesar permasalahan dan mencari-cari kesalahan dan ketergelinciran, lalu menyebarkannya, dan pura-pura tidak mengetahui prestasi-prestasi dan sisi-sisi positif. Dan inilah kebiasaan mereka yang tukang dengki dan hasad.Diantara bentuk makar adalah menjadikan para pemuda sebagai target untuk disesatkan melalui perkataan, foto/video, dan pengaruh pemikiran melalui media-media sosial dan sarana komunikasi modern, dan ini lebih berbahaya daripada para pasukan yang menyikat dan senjata yang mematikan. Yaitu dengan menyebarkan pemikiran ekstrem dan menyimpang untuk mewujudkan tujuan-tujuan yang berbahaya, menguasai otak-otak para pemuda dan untuk menjauhkan mereka dari para ulama sehingga mudah untuk dijerat dan mempengaruhi mereka. Yang hal ini disebarkan oleh orang-orang yang tidak dikenal dengan ilmu dan amal.Diantara kegiatan para pendengki dan penghasad adalah menanamkan organisasi-organisasi teroris di negeri-negeri kaum muslimin, agar menjadi bahan bakar untuk membakar para pemuda, dan menghancurkan masa depan mereka dan negeri mereka.          Diantara metode makar adalah menggambarkan agama ini seakan-akan adalah agama yang terbelakang dan penuh kekacauan, amburadul dan mengerikan, yaitu dengan menampilkan klip-klip berdarah dan pelaksanaan penculikan yang dilakukan oleh orang-orang (sesat) yang menyelip di barisan kaum muslimin dan berpenampilan dengan penampilannya agama.Diantara bentuk makar adalah membuat-buat berita dusta dan menyebarkan isu-isu yang bertujuan buruk. Dan telah datang ayat-ayat yang jelas yang memperingatkan agar tidak ikut menjadi penyebar berita dusta tersebut, dan arahan untuk benar dalam perkataan dan tidak menyampaikan semua berita secara sembarangan tanpa pertimbangan terlebih dahulu dan tanpa hikmah dan penjelasan.يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًاHai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar (QS Al-Ahzaab : 70)Al-Qur’an membimbing untuk meluruskan perkataan, dan hati-hati dalam berucap, serta mempelajari tujuan ucapan dan arahannya sebelum mengikuti orang-orang munafik dan pembuat onar.Al-Qur’an membimbing untuk mengucapkan perkataan yang baik yang mengantarkan kepada amal shalih.Diantara bentuk makar adalah menyebarkan keraguan di kaum muslimin terhadap pemimpin mereka dan pemerintah mereka dengan memalsukan hakekat yang sebenarnya. Dan diantara bentuk konspirasi adalah mengeluarkan fatwa-fatwa syubhat dan fitnah, hal ini mengantarkan pada tersebarnya kebatilan serta menghiasinya dengan pakaian kebatilan. Yang sungguh menakjubkan adalah fatwa-fatwa asing malah tersebar di zaman kita, sehingga menimbulkan kerancuan bagi masyarakat, dan orang-orang yang suka dengan pendapat-pendapat yang aneh segera berlomba-lomba dalam menyebarkannya. Hal ini menimbulkan dampak negatif dan kemudhorotan yang besar pada umat ini.Diantara metode konspirasi (keburukan) adalah menghalangi kebenaran, yaitu dengan mengobarkan syahwat dan nafsu serta menenggelamkan para pemuda dalam lautan narkoba.Diantara kegiatan para tukang makar adalah mengobarkan kekacauan, ketidakstabilan, dan fitnah, memecahkan barisan kaum muslimin, menimbulkan kondisi krisis agar menghentikan gerakan pembangunan, pengembangan, dan produksi di negeri-negeri kaum muslimin, sehingga kaum muslimin akhirnya terfokus kepada cara mencari solusi menghadapi fitnah dan usaha untu memadamkan api fitnahnya.Diantara bentuk makar para pembuat makar adalah membentuk kegaduhan dengan menyebarkan rasa pesimis dan kerendahan serta jiwa yang jatuh dan kalah. Allah berfirman :الَّذِينَ قَالَ لَهُمُ النَّاسُ إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيمَانًا وَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ(Yaitu) orang-orang (yang mentaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan: “Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka”, maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: “Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung” (QS Ali ‘Imron : 173((Hasbunallah wa nikmal wakiil)…ini adalah benteng perlindungan yang kokoh sebagai tempat berlindung kaum mukminin tatkala diliputi oleh berbagai musibah dan ujian. Bagaimanapun berat perkaranya maka hal ini tidaklah menambah bagi kaum mukminin kecuali semakin kokoh, semakin beriman, dan semakin pasrah kepada Allah.Sejarah mulia dari umat ini mendorong nilai optimis, dan ia adalah sejarah kejayaan dan kepemimpinan, penuh kepercayaan bahwasanya Allah akan membalas mereka yang berbuat zolim dan melampaui batas. Allah berfirmanإِنَّ بَطْشَ رَبِّكَ لَشَدِيدٌ (12) إِنَّهُ هُوَ يُبْدِئُ وَيُعِيدُ (13)Sesungguhnya azab Tuhanmu benar-benar keras. Sesungguhnya Dialah Yang menciptakan (makhluk) dari permulaan dan menghidupkannya (kembali) (QS Al-Buruuj : 12-13)Kita berhusnudzon (berprasangka baik) kepara Robb kita, kita meyakini akan keadilaNya, sesungguhnya Allah penolong wali-waliNya, menghancurkan musuh-musuhNya. Allah berfirman :وَلَمَّا رَأَى الْمُؤْمِنُونَ الْأَحْزَابَ قَالُوا هَذَا مَا وَعَدَنَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَصَدَقَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَمَا زَادَهُمْ إِلَّا إِيمَانًا وَتَسْلِيمًاDan tatkala orang-orang mukmin melihat golongan-golongan yang bersekutu itu, mereka berkata: “Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita”. Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya. Dan yang demikian itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali iman dan ketundukan (QS Al-Ahzaab : 22) Khutbah Kedua ;          Diantara penjagaan Allah kepada kebenaran dan pembela kebenaran adalah hancur leburnya seluruh model makar dan tipu daya di atas batu ketegaran umat ini yang memikul warisan kenabian. Meskipun umat ini lemah pada suatu zaman akan tetapi dominasi dan kemenangan adalah milik umat ini, kejayaan dan kekuasaan adalah kesudahan umat ini. Allah berfirman ;إِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوقًاSesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap (QS Al-Israa’ : 81)وَكَانَ حَقًّا عَلَيْنَا نَصْرُ الْمُؤْمِنِينَDan Kami selalu berkewajiban menolong orang-orang yang beriman (QS Ar-Ruum : 47)Kaum mukimin telah mengalami luka dari makar para pembuat makar, gangguan dari para pelaku tipu daya, hal ini demikian agar Allah menguji kaum mukminin, dan mengungkap kaum munafiqin, dan menguji ketegaran kaum muslimin. Dan bagaimanapun puncak makar dan tipu daya maka ia tergantung dengan takdir Allah, terliput oleh kehendak Allah. Dan makar/rencana yang jahat tidak lain kecuali akan kembali kepada pelakunya. Allah berfirman :وَلَا يَحِيقُ الْمَكْرُ السَّيِّئُ إِلَّا بِأَهْلِهِRencana yang jahat itu tidak akan menimpa selain orang yang merencanakannya sendiri. (QS Fathir : 43)Sesungguhnya satu kata, satu barisan dan satu hati merupakan jalan menuju kemenangan dan kemuliaan, serta pondasi dari kejayaan. Allah berfirman :وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْDan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu (QS Al-Anfaal : 46)Dan umat Islam menggabungkan antara berikhtiyar berusaha melakukan sebab dan bertawakkal kepada Allah SWT. Siapa yang menyerahkan urusannya kepada Allah dan memasrahkannya maka Allah cukup baginya, Allah akan menjaganya. Allah berfirman :وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًاDan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu (QS At-Tholaq : 3)لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا“Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita”. (QS At-Taubah : 40)Sebuah kalimat yang diucapkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sementara beliau berada di dalam goa bersama sahabatnya, dan orang-orang kafir telah mengepung mereka. Maka Allah pun menyelamatkan mereka dan menjaga mereka serta menolong mereka. Perkataan (“Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita”) menumbuhkan ketenangan dan ketentraman, serta hilangnya rasa putus asa.Jendela-jendela makar ditutup dengan ketegaran di atas kebenaran dan berpegang teguh dengan Al-Kitab dan as-Sunnah serta kembali kepada para ulama pada lokasi-lokasi fitnah, dan hendaknya perkara dikembalikan kepada pemerintah dalam urusan hukum dan keamanan.Menghias diri dengan ketakwaan dan kesabaran akan melemahkan tipu daya mereka dan akan menghilangkan kemudhorotan. Allah berfirmanذَلِكُمْ وَأَنَّ اللَّهَ مُوهِنُ كَيْدِ الْكَافِرِينَItulah (karunia Allah yang dilimpahkan kepadamu), dan sesungguhnya Allah melemahkan tipu daya orang-orang yang kafir (QS Al-Anfaal : 18)Dan sesungguhnya keamanan negeri ini –negeri dua kota suci- merupakan landasan keamanan umat Islam, negeri ini adalah jantung umat ini yang berdenyut, dan mengganggu negeri ini berarti mengganggu keamanan umat ini. Dan jasad umat ini senantiasa baik selama darah jantung masih berdenyut, dan kebaikan umat ini tersebar, dan kegiatan sosialnya tidak pernah berhenti, menjaga negeri ini dari gangguan makar para pembuat makar dan dari tipu daya para pelakunya adalah perkara yang dituntut dalam syari’at dan kewajiban agama bagi setiap muslim. Dan para penduduk negeri ini yang berakal mengerti akan hal ini dan mereka ikut berpartisipasi dengan kesadaran mereka dalam menggagalkan konspirasi orang-orang yang menanti-nanti jatuhnya negeri ini. Barangsiapa yang berusaha untuk mengganggu keamanan negeri ini maka ia telah melayani musuh-musuh agama. Dan negeri ini terjaga dengan penjagaan Allah, tegak dan tegar. Allah berfirman وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا لَا يَضُرُّكُمْ كَيْدُهُمْ شَيْئًاJika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikitpun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu. (QS Ali Imron : 120) Penerjemah: Abu Abdil Muhsin Firandawww.firanda.com

Jangan sedih, Allah bersama kita ! (Menyikapi Penyerangan Koalisi Syi’ah & Komunis)

(Khutbah Jum’at Mesjid Nabawi 26/12/1436 H – 8/10/2015 M)Asy-Syaikh Doktor Abdul Baari Ats-Tsubaiti hafizohullahKhutbah Pertama:          Alhamdulillah segala puji bagi Allah semata, sholawat dan salam semoga tercurahkan peda nabi yang terakhir, dan kepada keluarganya dan para sahabatnya. Amma ba’du.Allah ta’aala telah menciptakan nenek moyang kita Adam ‘alaihis salam, lalu setan pun memusuhinya dan berbuat makar kepadanya untuk menyesatkannya. Para rasul telah menghadapi berbagai macam makar dan tipu daya, diadakan konspirasi untuk mencelakakan para rasul. Yusuf ‘alaihis salam saudara-saudaranya telah berbuat makar kepadanya, maka iapun bersabar atas gangguan mereka. Maka Allah berfirman tentang Yusuf :إِنَّهُ مَنْ يَتَّقِ وَيَصْبِرْ فَإِنَّ اللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَSesungguhnya barang siapa yang bertakwa dan bersabar, maka sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik (QS Yusuf : 90) Nabi Ibrahim ‘alaihis salam dikumpulkan kayu bakar dan dinyalakan api baginya, lalu beliau dilemparkan ke dalam api tersebut, maka jadilah api dingin dan keselamatan, dan hancurlah makar mereka sebagaimana firman Allah:وَأَرَادُوا بِهِ كَيْدًا فَجَعَلْنَاهُمُ الْأَخْسَرِينَMereka hendak berbuat makar terhadap Ibrahim, maka Kami menjadikan mereka itu orang-orang yang paling merugi (QS Al-Anbiyaa’ : 70)Nabi Isa ‘alaihis salam, kaumnya berbuat makar dan tipu daya kepadanya untuk membunuhnya dan menyalibnya, maka Allah pun menyelamatkan beliau dari kejahatan mereka. Mereka berbuat makar kepada Nabi Musa ‘alaihis salam, maka Allah berfirman :إِنَّمَا صَنَعُوا كَيْدُ سَاحِرٍ وَلَا يُفْلِحُ السَّاحِرُ حَيْثُ أَتَى“Sesungguhnya apa yang mereka perbuat itu adalah tipu daya tukang sihir (belaka). Dan tidak akan menang tukang sihir itu, dari mana saja ia datang” (QS Thoha : 69)Dan pasukan Abrahah berbuat makar untuk menghancurkan Ka’bah maka Allah hancurkan makar mereka: أَلَمْ يَجْعَلْ كَيْدَهُمْ فِي تَضْلِيلٍ (2) وَأَرْسَلَ عَلَيْهِمْ طَيْرًا أَبَابِيلَ (3) تَرْمِيهِمْ بِحِجَارَةٍ مِنْ سِجِّيلٍ (4) فَجَعَلَهُمْ كَعَصْفٍ مَأْكُولٍ (5)Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka (untuk menghancurkan Ka´bah) itu sia-sia. Dan Dia mengirimkan kepada mereka burung yang berbondong-bondong, yang melempari mereka dengan batu (berasal) dari tanah yang terbakar. Lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat) (QS Al-Fiil : 2-5)Para musuh berekutu dan mereka berbuat makar kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, akan tetapi makar mereka hanyalah menuju kegagalan. Allah berfirmanوَيَمْكُرُونَ وَيَمْكُرُ اللَّهُ وَاللَّهُ خَيْرُ الْمَاكِرِينَMereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik Pembalas tipu daya (QS Al-Anfaal : 30)Diantara sifat-sifat para pembuat makar adalah berkhianat dan melanggar janji. Pada peristiwa Bi’ir Ma’uunah telah terbunuh 70 orang dari sahabat terpilih, Allah berfirman :يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَخُونُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُونُوا أَمَانَاتِكُمْ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَHai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui (QS Al-Anfaal : 27)Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berlindung kepada Allah dari sifat khianat, beliau berkata :وَأَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْخِيَانَةِ فَإِنَّهَا بِئْسَتِ الْبِطَانَةُ“Dan aku berlindung kepadaMu dari sifat khinat, karena ia adalah seburuk-buruk teman”Orang-orang munafik dahulu adalah sumber utama makar yang dihadapi oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam karena sikap-sikap mereka yang membunglon dan berubah-rubah kondisi mereka. Allah berfirman :وَإِذَا لَقُوا الَّذِينَ آمَنُوا قَالُوا آمَنَّا وَإِذَا خَلَوْا إِلَى شَيَاطِينِهِمْ قَالُوا إِنَّا مَعَكُمْ إِنَّمَا نَحْنُ مُسْتَهْزِئُونَDan bila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan: “Kami telah beriman”. Dan bila mereka kembali kepada syaitan-syaitan mereka, mereka mengatakan: “Sesungguhnya kami sependirian dengan kamu, kami hanyalah berolok-olok” (QS Al-Baqoroh : 14)Allah berfirman tentang kaum munafiqinأَوَلَا يَعْلَمُونَ أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا يُسِرُّونَ وَمَا يُعْلِنُونَTidakkah mereka mengetahui bahwa Allah mengetahui segala yang mereka sembunyikan dan segala yang mereka nyatakan (QS Al-Baqoroh : 77)Yaitu : Apakah mereka tidak tahu bahwasanya Allah mengetahui apa yang mereka sembunyikan berupa makar dan kekufuran dan apa yang mereka tampakan berupa keimanan dan sikap mencintai kaum muslimin?Diantara sifat pelaku makar  adalah muncul pada saat-saat ujian berat dan peristiwa-peristiwa genting, dan gembira dengan musibah yang menimpa kaum muslimin. Jika kaum muslimin memperoleh kemenangan dan kejayaan maka merekapun marah dan sedih. Jika kaum muslimin ditimpa bencana dan ujian maka para musuhpun mabuk saking gembira dan sombongnya.إِنْ تَمْسَسْكُمْ حَسَنَةٌ تَسُؤْهُمْ وَإِنْ تُصِبْكُمْ سَيِّئَةٌ يَفْرَحُوا بِهَاJika kamu memperoleh kebaikan, niscaya mereka bersedih hati, tetapi Jika kamu mendapat bencana, mereka bergembira karenanya. (QS Ali Imron : 120)Diantara sifat para pembuat makar adalah memperbesar permasalahan dan mencari-cari kesalahan dan ketergelinciran, lalu menyebarkannya, dan pura-pura tidak mengetahui prestasi-prestasi dan sisi-sisi positif. Dan inilah kebiasaan mereka yang tukang dengki dan hasad.Diantara bentuk makar adalah menjadikan para pemuda sebagai target untuk disesatkan melalui perkataan, foto/video, dan pengaruh pemikiran melalui media-media sosial dan sarana komunikasi modern, dan ini lebih berbahaya daripada para pasukan yang menyikat dan senjata yang mematikan. Yaitu dengan menyebarkan pemikiran ekstrem dan menyimpang untuk mewujudkan tujuan-tujuan yang berbahaya, menguasai otak-otak para pemuda dan untuk menjauhkan mereka dari para ulama sehingga mudah untuk dijerat dan mempengaruhi mereka. Yang hal ini disebarkan oleh orang-orang yang tidak dikenal dengan ilmu dan amal.Diantara kegiatan para pendengki dan penghasad adalah menanamkan organisasi-organisasi teroris di negeri-negeri kaum muslimin, agar menjadi bahan bakar untuk membakar para pemuda, dan menghancurkan masa depan mereka dan negeri mereka.          Diantara metode makar adalah menggambarkan agama ini seakan-akan adalah agama yang terbelakang dan penuh kekacauan, amburadul dan mengerikan, yaitu dengan menampilkan klip-klip berdarah dan pelaksanaan penculikan yang dilakukan oleh orang-orang (sesat) yang menyelip di barisan kaum muslimin dan berpenampilan dengan penampilannya agama.Diantara bentuk makar adalah membuat-buat berita dusta dan menyebarkan isu-isu yang bertujuan buruk. Dan telah datang ayat-ayat yang jelas yang memperingatkan agar tidak ikut menjadi penyebar berita dusta tersebut, dan arahan untuk benar dalam perkataan dan tidak menyampaikan semua berita secara sembarangan tanpa pertimbangan terlebih dahulu dan tanpa hikmah dan penjelasan.يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًاHai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar (QS Al-Ahzaab : 70)Al-Qur’an membimbing untuk meluruskan perkataan, dan hati-hati dalam berucap, serta mempelajari tujuan ucapan dan arahannya sebelum mengikuti orang-orang munafik dan pembuat onar.Al-Qur’an membimbing untuk mengucapkan perkataan yang baik yang mengantarkan kepada amal shalih.Diantara bentuk makar adalah menyebarkan keraguan di kaum muslimin terhadap pemimpin mereka dan pemerintah mereka dengan memalsukan hakekat yang sebenarnya. Dan diantara bentuk konspirasi adalah mengeluarkan fatwa-fatwa syubhat dan fitnah, hal ini mengantarkan pada tersebarnya kebatilan serta menghiasinya dengan pakaian kebatilan. Yang sungguh menakjubkan adalah fatwa-fatwa asing malah tersebar di zaman kita, sehingga menimbulkan kerancuan bagi masyarakat, dan orang-orang yang suka dengan pendapat-pendapat yang aneh segera berlomba-lomba dalam menyebarkannya. Hal ini menimbulkan dampak negatif dan kemudhorotan yang besar pada umat ini.Diantara metode konspirasi (keburukan) adalah menghalangi kebenaran, yaitu dengan mengobarkan syahwat dan nafsu serta menenggelamkan para pemuda dalam lautan narkoba.Diantara kegiatan para tukang makar adalah mengobarkan kekacauan, ketidakstabilan, dan fitnah, memecahkan barisan kaum muslimin, menimbulkan kondisi krisis agar menghentikan gerakan pembangunan, pengembangan, dan produksi di negeri-negeri kaum muslimin, sehingga kaum muslimin akhirnya terfokus kepada cara mencari solusi menghadapi fitnah dan usaha untu memadamkan api fitnahnya.Diantara bentuk makar para pembuat makar adalah membentuk kegaduhan dengan menyebarkan rasa pesimis dan kerendahan serta jiwa yang jatuh dan kalah. Allah berfirman :الَّذِينَ قَالَ لَهُمُ النَّاسُ إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيمَانًا وَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ(Yaitu) orang-orang (yang mentaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan: “Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka”, maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: “Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung” (QS Ali ‘Imron : 173((Hasbunallah wa nikmal wakiil)…ini adalah benteng perlindungan yang kokoh sebagai tempat berlindung kaum mukminin tatkala diliputi oleh berbagai musibah dan ujian. Bagaimanapun berat perkaranya maka hal ini tidaklah menambah bagi kaum mukminin kecuali semakin kokoh, semakin beriman, dan semakin pasrah kepada Allah.Sejarah mulia dari umat ini mendorong nilai optimis, dan ia adalah sejarah kejayaan dan kepemimpinan, penuh kepercayaan bahwasanya Allah akan membalas mereka yang berbuat zolim dan melampaui batas. Allah berfirmanإِنَّ بَطْشَ رَبِّكَ لَشَدِيدٌ (12) إِنَّهُ هُوَ يُبْدِئُ وَيُعِيدُ (13)Sesungguhnya azab Tuhanmu benar-benar keras. Sesungguhnya Dialah Yang menciptakan (makhluk) dari permulaan dan menghidupkannya (kembali) (QS Al-Buruuj : 12-13)Kita berhusnudzon (berprasangka baik) kepara Robb kita, kita meyakini akan keadilaNya, sesungguhnya Allah penolong wali-waliNya, menghancurkan musuh-musuhNya. Allah berfirman :وَلَمَّا رَأَى الْمُؤْمِنُونَ الْأَحْزَابَ قَالُوا هَذَا مَا وَعَدَنَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَصَدَقَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَمَا زَادَهُمْ إِلَّا إِيمَانًا وَتَسْلِيمًاDan tatkala orang-orang mukmin melihat golongan-golongan yang bersekutu itu, mereka berkata: “Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita”. Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya. Dan yang demikian itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali iman dan ketundukan (QS Al-Ahzaab : 22) Khutbah Kedua ;          Diantara penjagaan Allah kepada kebenaran dan pembela kebenaran adalah hancur leburnya seluruh model makar dan tipu daya di atas batu ketegaran umat ini yang memikul warisan kenabian. Meskipun umat ini lemah pada suatu zaman akan tetapi dominasi dan kemenangan adalah milik umat ini, kejayaan dan kekuasaan adalah kesudahan umat ini. Allah berfirman ;إِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوقًاSesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap (QS Al-Israa’ : 81)وَكَانَ حَقًّا عَلَيْنَا نَصْرُ الْمُؤْمِنِينَDan Kami selalu berkewajiban menolong orang-orang yang beriman (QS Ar-Ruum : 47)Kaum mukimin telah mengalami luka dari makar para pembuat makar, gangguan dari para pelaku tipu daya, hal ini demikian agar Allah menguji kaum mukminin, dan mengungkap kaum munafiqin, dan menguji ketegaran kaum muslimin. Dan bagaimanapun puncak makar dan tipu daya maka ia tergantung dengan takdir Allah, terliput oleh kehendak Allah. Dan makar/rencana yang jahat tidak lain kecuali akan kembali kepada pelakunya. Allah berfirman :وَلَا يَحِيقُ الْمَكْرُ السَّيِّئُ إِلَّا بِأَهْلِهِRencana yang jahat itu tidak akan menimpa selain orang yang merencanakannya sendiri. (QS Fathir : 43)Sesungguhnya satu kata, satu barisan dan satu hati merupakan jalan menuju kemenangan dan kemuliaan, serta pondasi dari kejayaan. Allah berfirman :وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْDan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu (QS Al-Anfaal : 46)Dan umat Islam menggabungkan antara berikhtiyar berusaha melakukan sebab dan bertawakkal kepada Allah SWT. Siapa yang menyerahkan urusannya kepada Allah dan memasrahkannya maka Allah cukup baginya, Allah akan menjaganya. Allah berfirman :وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًاDan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu (QS At-Tholaq : 3)لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا“Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita”. (QS At-Taubah : 40)Sebuah kalimat yang diucapkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sementara beliau berada di dalam goa bersama sahabatnya, dan orang-orang kafir telah mengepung mereka. Maka Allah pun menyelamatkan mereka dan menjaga mereka serta menolong mereka. Perkataan (“Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita”) menumbuhkan ketenangan dan ketentraman, serta hilangnya rasa putus asa.Jendela-jendela makar ditutup dengan ketegaran di atas kebenaran dan berpegang teguh dengan Al-Kitab dan as-Sunnah serta kembali kepada para ulama pada lokasi-lokasi fitnah, dan hendaknya perkara dikembalikan kepada pemerintah dalam urusan hukum dan keamanan.Menghias diri dengan ketakwaan dan kesabaran akan melemahkan tipu daya mereka dan akan menghilangkan kemudhorotan. Allah berfirmanذَلِكُمْ وَأَنَّ اللَّهَ مُوهِنُ كَيْدِ الْكَافِرِينَItulah (karunia Allah yang dilimpahkan kepadamu), dan sesungguhnya Allah melemahkan tipu daya orang-orang yang kafir (QS Al-Anfaal : 18)Dan sesungguhnya keamanan negeri ini –negeri dua kota suci- merupakan landasan keamanan umat Islam, negeri ini adalah jantung umat ini yang berdenyut, dan mengganggu negeri ini berarti mengganggu keamanan umat ini. Dan jasad umat ini senantiasa baik selama darah jantung masih berdenyut, dan kebaikan umat ini tersebar, dan kegiatan sosialnya tidak pernah berhenti, menjaga negeri ini dari gangguan makar para pembuat makar dan dari tipu daya para pelakunya adalah perkara yang dituntut dalam syari’at dan kewajiban agama bagi setiap muslim. Dan para penduduk negeri ini yang berakal mengerti akan hal ini dan mereka ikut berpartisipasi dengan kesadaran mereka dalam menggagalkan konspirasi orang-orang yang menanti-nanti jatuhnya negeri ini. Barangsiapa yang berusaha untuk mengganggu keamanan negeri ini maka ia telah melayani musuh-musuh agama. Dan negeri ini terjaga dengan penjagaan Allah, tegak dan tegar. Allah berfirman وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا لَا يَضُرُّكُمْ كَيْدُهُمْ شَيْئًاJika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikitpun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu. (QS Ali Imron : 120) Penerjemah: Abu Abdil Muhsin Firandawww.firanda.com
(Khutbah Jum’at Mesjid Nabawi 26/12/1436 H – 8/10/2015 M)Asy-Syaikh Doktor Abdul Baari Ats-Tsubaiti hafizohullahKhutbah Pertama:          Alhamdulillah segala puji bagi Allah semata, sholawat dan salam semoga tercurahkan peda nabi yang terakhir, dan kepada keluarganya dan para sahabatnya. Amma ba’du.Allah ta’aala telah menciptakan nenek moyang kita Adam ‘alaihis salam, lalu setan pun memusuhinya dan berbuat makar kepadanya untuk menyesatkannya. Para rasul telah menghadapi berbagai macam makar dan tipu daya, diadakan konspirasi untuk mencelakakan para rasul. Yusuf ‘alaihis salam saudara-saudaranya telah berbuat makar kepadanya, maka iapun bersabar atas gangguan mereka. Maka Allah berfirman tentang Yusuf :إِنَّهُ مَنْ يَتَّقِ وَيَصْبِرْ فَإِنَّ اللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَSesungguhnya barang siapa yang bertakwa dan bersabar, maka sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik (QS Yusuf : 90) Nabi Ibrahim ‘alaihis salam dikumpulkan kayu bakar dan dinyalakan api baginya, lalu beliau dilemparkan ke dalam api tersebut, maka jadilah api dingin dan keselamatan, dan hancurlah makar mereka sebagaimana firman Allah:وَأَرَادُوا بِهِ كَيْدًا فَجَعَلْنَاهُمُ الْأَخْسَرِينَMereka hendak berbuat makar terhadap Ibrahim, maka Kami menjadikan mereka itu orang-orang yang paling merugi (QS Al-Anbiyaa’ : 70)Nabi Isa ‘alaihis salam, kaumnya berbuat makar dan tipu daya kepadanya untuk membunuhnya dan menyalibnya, maka Allah pun menyelamatkan beliau dari kejahatan mereka. Mereka berbuat makar kepada Nabi Musa ‘alaihis salam, maka Allah berfirman :إِنَّمَا صَنَعُوا كَيْدُ سَاحِرٍ وَلَا يُفْلِحُ السَّاحِرُ حَيْثُ أَتَى“Sesungguhnya apa yang mereka perbuat itu adalah tipu daya tukang sihir (belaka). Dan tidak akan menang tukang sihir itu, dari mana saja ia datang” (QS Thoha : 69)Dan pasukan Abrahah berbuat makar untuk menghancurkan Ka’bah maka Allah hancurkan makar mereka: أَلَمْ يَجْعَلْ كَيْدَهُمْ فِي تَضْلِيلٍ (2) وَأَرْسَلَ عَلَيْهِمْ طَيْرًا أَبَابِيلَ (3) تَرْمِيهِمْ بِحِجَارَةٍ مِنْ سِجِّيلٍ (4) فَجَعَلَهُمْ كَعَصْفٍ مَأْكُولٍ (5)Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka (untuk menghancurkan Ka´bah) itu sia-sia. Dan Dia mengirimkan kepada mereka burung yang berbondong-bondong, yang melempari mereka dengan batu (berasal) dari tanah yang terbakar. Lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat) (QS Al-Fiil : 2-5)Para musuh berekutu dan mereka berbuat makar kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, akan tetapi makar mereka hanyalah menuju kegagalan. Allah berfirmanوَيَمْكُرُونَ وَيَمْكُرُ اللَّهُ وَاللَّهُ خَيْرُ الْمَاكِرِينَMereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik Pembalas tipu daya (QS Al-Anfaal : 30)Diantara sifat-sifat para pembuat makar adalah berkhianat dan melanggar janji. Pada peristiwa Bi’ir Ma’uunah telah terbunuh 70 orang dari sahabat terpilih, Allah berfirman :يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَخُونُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُونُوا أَمَانَاتِكُمْ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَHai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui (QS Al-Anfaal : 27)Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berlindung kepada Allah dari sifat khianat, beliau berkata :وَأَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْخِيَانَةِ فَإِنَّهَا بِئْسَتِ الْبِطَانَةُ“Dan aku berlindung kepadaMu dari sifat khinat, karena ia adalah seburuk-buruk teman”Orang-orang munafik dahulu adalah sumber utama makar yang dihadapi oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam karena sikap-sikap mereka yang membunglon dan berubah-rubah kondisi mereka. Allah berfirman :وَإِذَا لَقُوا الَّذِينَ آمَنُوا قَالُوا آمَنَّا وَإِذَا خَلَوْا إِلَى شَيَاطِينِهِمْ قَالُوا إِنَّا مَعَكُمْ إِنَّمَا نَحْنُ مُسْتَهْزِئُونَDan bila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan: “Kami telah beriman”. Dan bila mereka kembali kepada syaitan-syaitan mereka, mereka mengatakan: “Sesungguhnya kami sependirian dengan kamu, kami hanyalah berolok-olok” (QS Al-Baqoroh : 14)Allah berfirman tentang kaum munafiqinأَوَلَا يَعْلَمُونَ أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا يُسِرُّونَ وَمَا يُعْلِنُونَTidakkah mereka mengetahui bahwa Allah mengetahui segala yang mereka sembunyikan dan segala yang mereka nyatakan (QS Al-Baqoroh : 77)Yaitu : Apakah mereka tidak tahu bahwasanya Allah mengetahui apa yang mereka sembunyikan berupa makar dan kekufuran dan apa yang mereka tampakan berupa keimanan dan sikap mencintai kaum muslimin?Diantara sifat pelaku makar  adalah muncul pada saat-saat ujian berat dan peristiwa-peristiwa genting, dan gembira dengan musibah yang menimpa kaum muslimin. Jika kaum muslimin memperoleh kemenangan dan kejayaan maka merekapun marah dan sedih. Jika kaum muslimin ditimpa bencana dan ujian maka para musuhpun mabuk saking gembira dan sombongnya.إِنْ تَمْسَسْكُمْ حَسَنَةٌ تَسُؤْهُمْ وَإِنْ تُصِبْكُمْ سَيِّئَةٌ يَفْرَحُوا بِهَاJika kamu memperoleh kebaikan, niscaya mereka bersedih hati, tetapi Jika kamu mendapat bencana, mereka bergembira karenanya. (QS Ali Imron : 120)Diantara sifat para pembuat makar adalah memperbesar permasalahan dan mencari-cari kesalahan dan ketergelinciran, lalu menyebarkannya, dan pura-pura tidak mengetahui prestasi-prestasi dan sisi-sisi positif. Dan inilah kebiasaan mereka yang tukang dengki dan hasad.Diantara bentuk makar adalah menjadikan para pemuda sebagai target untuk disesatkan melalui perkataan, foto/video, dan pengaruh pemikiran melalui media-media sosial dan sarana komunikasi modern, dan ini lebih berbahaya daripada para pasukan yang menyikat dan senjata yang mematikan. Yaitu dengan menyebarkan pemikiran ekstrem dan menyimpang untuk mewujudkan tujuan-tujuan yang berbahaya, menguasai otak-otak para pemuda dan untuk menjauhkan mereka dari para ulama sehingga mudah untuk dijerat dan mempengaruhi mereka. Yang hal ini disebarkan oleh orang-orang yang tidak dikenal dengan ilmu dan amal.Diantara kegiatan para pendengki dan penghasad adalah menanamkan organisasi-organisasi teroris di negeri-negeri kaum muslimin, agar menjadi bahan bakar untuk membakar para pemuda, dan menghancurkan masa depan mereka dan negeri mereka.          Diantara metode makar adalah menggambarkan agama ini seakan-akan adalah agama yang terbelakang dan penuh kekacauan, amburadul dan mengerikan, yaitu dengan menampilkan klip-klip berdarah dan pelaksanaan penculikan yang dilakukan oleh orang-orang (sesat) yang menyelip di barisan kaum muslimin dan berpenampilan dengan penampilannya agama.Diantara bentuk makar adalah membuat-buat berita dusta dan menyebarkan isu-isu yang bertujuan buruk. Dan telah datang ayat-ayat yang jelas yang memperingatkan agar tidak ikut menjadi penyebar berita dusta tersebut, dan arahan untuk benar dalam perkataan dan tidak menyampaikan semua berita secara sembarangan tanpa pertimbangan terlebih dahulu dan tanpa hikmah dan penjelasan.يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًاHai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar (QS Al-Ahzaab : 70)Al-Qur’an membimbing untuk meluruskan perkataan, dan hati-hati dalam berucap, serta mempelajari tujuan ucapan dan arahannya sebelum mengikuti orang-orang munafik dan pembuat onar.Al-Qur’an membimbing untuk mengucapkan perkataan yang baik yang mengantarkan kepada amal shalih.Diantara bentuk makar adalah menyebarkan keraguan di kaum muslimin terhadap pemimpin mereka dan pemerintah mereka dengan memalsukan hakekat yang sebenarnya. Dan diantara bentuk konspirasi adalah mengeluarkan fatwa-fatwa syubhat dan fitnah, hal ini mengantarkan pada tersebarnya kebatilan serta menghiasinya dengan pakaian kebatilan. Yang sungguh menakjubkan adalah fatwa-fatwa asing malah tersebar di zaman kita, sehingga menimbulkan kerancuan bagi masyarakat, dan orang-orang yang suka dengan pendapat-pendapat yang aneh segera berlomba-lomba dalam menyebarkannya. Hal ini menimbulkan dampak negatif dan kemudhorotan yang besar pada umat ini.Diantara metode konspirasi (keburukan) adalah menghalangi kebenaran, yaitu dengan mengobarkan syahwat dan nafsu serta menenggelamkan para pemuda dalam lautan narkoba.Diantara kegiatan para tukang makar adalah mengobarkan kekacauan, ketidakstabilan, dan fitnah, memecahkan barisan kaum muslimin, menimbulkan kondisi krisis agar menghentikan gerakan pembangunan, pengembangan, dan produksi di negeri-negeri kaum muslimin, sehingga kaum muslimin akhirnya terfokus kepada cara mencari solusi menghadapi fitnah dan usaha untu memadamkan api fitnahnya.Diantara bentuk makar para pembuat makar adalah membentuk kegaduhan dengan menyebarkan rasa pesimis dan kerendahan serta jiwa yang jatuh dan kalah. Allah berfirman :الَّذِينَ قَالَ لَهُمُ النَّاسُ إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيمَانًا وَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ(Yaitu) orang-orang (yang mentaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan: “Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka”, maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: “Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung” (QS Ali ‘Imron : 173((Hasbunallah wa nikmal wakiil)…ini adalah benteng perlindungan yang kokoh sebagai tempat berlindung kaum mukminin tatkala diliputi oleh berbagai musibah dan ujian. Bagaimanapun berat perkaranya maka hal ini tidaklah menambah bagi kaum mukminin kecuali semakin kokoh, semakin beriman, dan semakin pasrah kepada Allah.Sejarah mulia dari umat ini mendorong nilai optimis, dan ia adalah sejarah kejayaan dan kepemimpinan, penuh kepercayaan bahwasanya Allah akan membalas mereka yang berbuat zolim dan melampaui batas. Allah berfirmanإِنَّ بَطْشَ رَبِّكَ لَشَدِيدٌ (12) إِنَّهُ هُوَ يُبْدِئُ وَيُعِيدُ (13)Sesungguhnya azab Tuhanmu benar-benar keras. Sesungguhnya Dialah Yang menciptakan (makhluk) dari permulaan dan menghidupkannya (kembali) (QS Al-Buruuj : 12-13)Kita berhusnudzon (berprasangka baik) kepara Robb kita, kita meyakini akan keadilaNya, sesungguhnya Allah penolong wali-waliNya, menghancurkan musuh-musuhNya. Allah berfirman :وَلَمَّا رَأَى الْمُؤْمِنُونَ الْأَحْزَابَ قَالُوا هَذَا مَا وَعَدَنَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَصَدَقَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَمَا زَادَهُمْ إِلَّا إِيمَانًا وَتَسْلِيمًاDan tatkala orang-orang mukmin melihat golongan-golongan yang bersekutu itu, mereka berkata: “Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita”. Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya. Dan yang demikian itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali iman dan ketundukan (QS Al-Ahzaab : 22) Khutbah Kedua ;          Diantara penjagaan Allah kepada kebenaran dan pembela kebenaran adalah hancur leburnya seluruh model makar dan tipu daya di atas batu ketegaran umat ini yang memikul warisan kenabian. Meskipun umat ini lemah pada suatu zaman akan tetapi dominasi dan kemenangan adalah milik umat ini, kejayaan dan kekuasaan adalah kesudahan umat ini. Allah berfirman ;إِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوقًاSesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap (QS Al-Israa’ : 81)وَكَانَ حَقًّا عَلَيْنَا نَصْرُ الْمُؤْمِنِينَDan Kami selalu berkewajiban menolong orang-orang yang beriman (QS Ar-Ruum : 47)Kaum mukimin telah mengalami luka dari makar para pembuat makar, gangguan dari para pelaku tipu daya, hal ini demikian agar Allah menguji kaum mukminin, dan mengungkap kaum munafiqin, dan menguji ketegaran kaum muslimin. Dan bagaimanapun puncak makar dan tipu daya maka ia tergantung dengan takdir Allah, terliput oleh kehendak Allah. Dan makar/rencana yang jahat tidak lain kecuali akan kembali kepada pelakunya. Allah berfirman :وَلَا يَحِيقُ الْمَكْرُ السَّيِّئُ إِلَّا بِأَهْلِهِRencana yang jahat itu tidak akan menimpa selain orang yang merencanakannya sendiri. (QS Fathir : 43)Sesungguhnya satu kata, satu barisan dan satu hati merupakan jalan menuju kemenangan dan kemuliaan, serta pondasi dari kejayaan. Allah berfirman :وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْDan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu (QS Al-Anfaal : 46)Dan umat Islam menggabungkan antara berikhtiyar berusaha melakukan sebab dan bertawakkal kepada Allah SWT. Siapa yang menyerahkan urusannya kepada Allah dan memasrahkannya maka Allah cukup baginya, Allah akan menjaganya. Allah berfirman :وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًاDan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu (QS At-Tholaq : 3)لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا“Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita”. (QS At-Taubah : 40)Sebuah kalimat yang diucapkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sementara beliau berada di dalam goa bersama sahabatnya, dan orang-orang kafir telah mengepung mereka. Maka Allah pun menyelamatkan mereka dan menjaga mereka serta menolong mereka. Perkataan (“Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita”) menumbuhkan ketenangan dan ketentraman, serta hilangnya rasa putus asa.Jendela-jendela makar ditutup dengan ketegaran di atas kebenaran dan berpegang teguh dengan Al-Kitab dan as-Sunnah serta kembali kepada para ulama pada lokasi-lokasi fitnah, dan hendaknya perkara dikembalikan kepada pemerintah dalam urusan hukum dan keamanan.Menghias diri dengan ketakwaan dan kesabaran akan melemahkan tipu daya mereka dan akan menghilangkan kemudhorotan. Allah berfirmanذَلِكُمْ وَأَنَّ اللَّهَ مُوهِنُ كَيْدِ الْكَافِرِينَItulah (karunia Allah yang dilimpahkan kepadamu), dan sesungguhnya Allah melemahkan tipu daya orang-orang yang kafir (QS Al-Anfaal : 18)Dan sesungguhnya keamanan negeri ini –negeri dua kota suci- merupakan landasan keamanan umat Islam, negeri ini adalah jantung umat ini yang berdenyut, dan mengganggu negeri ini berarti mengganggu keamanan umat ini. Dan jasad umat ini senantiasa baik selama darah jantung masih berdenyut, dan kebaikan umat ini tersebar, dan kegiatan sosialnya tidak pernah berhenti, menjaga negeri ini dari gangguan makar para pembuat makar dan dari tipu daya para pelakunya adalah perkara yang dituntut dalam syari’at dan kewajiban agama bagi setiap muslim. Dan para penduduk negeri ini yang berakal mengerti akan hal ini dan mereka ikut berpartisipasi dengan kesadaran mereka dalam menggagalkan konspirasi orang-orang yang menanti-nanti jatuhnya negeri ini. Barangsiapa yang berusaha untuk mengganggu keamanan negeri ini maka ia telah melayani musuh-musuh agama. Dan negeri ini terjaga dengan penjagaan Allah, tegak dan tegar. Allah berfirman وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا لَا يَضُرُّكُمْ كَيْدُهُمْ شَيْئًاJika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikitpun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu. (QS Ali Imron : 120) Penerjemah: Abu Abdil Muhsin Firandawww.firanda.com


(Khutbah Jum’at Mesjid Nabawi 26/12/1436 H – 8/10/2015 M)Asy-Syaikh Doktor Abdul Baari Ats-Tsubaiti hafizohullahKhutbah Pertama:          Alhamdulillah segala puji bagi Allah semata, sholawat dan salam semoga tercurahkan peda nabi yang terakhir, dan kepada keluarganya dan para sahabatnya. Amma ba’du.Allah ta’aala telah menciptakan nenek moyang kita Adam ‘alaihis salam, lalu setan pun memusuhinya dan berbuat makar kepadanya untuk menyesatkannya. Para rasul telah menghadapi berbagai macam makar dan tipu daya, diadakan konspirasi untuk mencelakakan para rasul. Yusuf ‘alaihis salam saudara-saudaranya telah berbuat makar kepadanya, maka iapun bersabar atas gangguan mereka. Maka Allah berfirman tentang Yusuf :إِنَّهُ مَنْ يَتَّقِ وَيَصْبِرْ فَإِنَّ اللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَSesungguhnya barang siapa yang bertakwa dan bersabar, maka sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik (QS Yusuf : 90) Nabi Ibrahim ‘alaihis salam dikumpulkan kayu bakar dan dinyalakan api baginya, lalu beliau dilemparkan ke dalam api tersebut, maka jadilah api dingin dan keselamatan, dan hancurlah makar mereka sebagaimana firman Allah:وَأَرَادُوا بِهِ كَيْدًا فَجَعَلْنَاهُمُ الْأَخْسَرِينَMereka hendak berbuat makar terhadap Ibrahim, maka Kami menjadikan mereka itu orang-orang yang paling merugi (QS Al-Anbiyaa’ : 70)Nabi Isa ‘alaihis salam, kaumnya berbuat makar dan tipu daya kepadanya untuk membunuhnya dan menyalibnya, maka Allah pun menyelamatkan beliau dari kejahatan mereka. Mereka berbuat makar kepada Nabi Musa ‘alaihis salam, maka Allah berfirman :إِنَّمَا صَنَعُوا كَيْدُ سَاحِرٍ وَلَا يُفْلِحُ السَّاحِرُ حَيْثُ أَتَى“Sesungguhnya apa yang mereka perbuat itu adalah tipu daya tukang sihir (belaka). Dan tidak akan menang tukang sihir itu, dari mana saja ia datang” (QS Thoha : 69)Dan pasukan Abrahah berbuat makar untuk menghancurkan Ka’bah maka Allah hancurkan makar mereka: أَلَمْ يَجْعَلْ كَيْدَهُمْ فِي تَضْلِيلٍ (2) وَأَرْسَلَ عَلَيْهِمْ طَيْرًا أَبَابِيلَ (3) تَرْمِيهِمْ بِحِجَارَةٍ مِنْ سِجِّيلٍ (4) فَجَعَلَهُمْ كَعَصْفٍ مَأْكُولٍ (5)Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka (untuk menghancurkan Ka´bah) itu sia-sia. Dan Dia mengirimkan kepada mereka burung yang berbondong-bondong, yang melempari mereka dengan batu (berasal) dari tanah yang terbakar. Lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat) (QS Al-Fiil : 2-5)Para musuh berekutu dan mereka berbuat makar kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, akan tetapi makar mereka hanyalah menuju kegagalan. Allah berfirmanوَيَمْكُرُونَ وَيَمْكُرُ اللَّهُ وَاللَّهُ خَيْرُ الْمَاكِرِينَMereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik Pembalas tipu daya (QS Al-Anfaal : 30)Diantara sifat-sifat para pembuat makar adalah berkhianat dan melanggar janji. Pada peristiwa Bi’ir Ma’uunah telah terbunuh 70 orang dari sahabat terpilih, Allah berfirman :يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَخُونُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُونُوا أَمَانَاتِكُمْ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَHai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui (QS Al-Anfaal : 27)Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berlindung kepada Allah dari sifat khianat, beliau berkata :وَأَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْخِيَانَةِ فَإِنَّهَا بِئْسَتِ الْبِطَانَةُ“Dan aku berlindung kepadaMu dari sifat khinat, karena ia adalah seburuk-buruk teman”Orang-orang munafik dahulu adalah sumber utama makar yang dihadapi oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam karena sikap-sikap mereka yang membunglon dan berubah-rubah kondisi mereka. Allah berfirman :وَإِذَا لَقُوا الَّذِينَ آمَنُوا قَالُوا آمَنَّا وَإِذَا خَلَوْا إِلَى شَيَاطِينِهِمْ قَالُوا إِنَّا مَعَكُمْ إِنَّمَا نَحْنُ مُسْتَهْزِئُونَDan bila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan: “Kami telah beriman”. Dan bila mereka kembali kepada syaitan-syaitan mereka, mereka mengatakan: “Sesungguhnya kami sependirian dengan kamu, kami hanyalah berolok-olok” (QS Al-Baqoroh : 14)Allah berfirman tentang kaum munafiqinأَوَلَا يَعْلَمُونَ أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا يُسِرُّونَ وَمَا يُعْلِنُونَTidakkah mereka mengetahui bahwa Allah mengetahui segala yang mereka sembunyikan dan segala yang mereka nyatakan (QS Al-Baqoroh : 77)Yaitu : Apakah mereka tidak tahu bahwasanya Allah mengetahui apa yang mereka sembunyikan berupa makar dan kekufuran dan apa yang mereka tampakan berupa keimanan dan sikap mencintai kaum muslimin?Diantara sifat pelaku makar  adalah muncul pada saat-saat ujian berat dan peristiwa-peristiwa genting, dan gembira dengan musibah yang menimpa kaum muslimin. Jika kaum muslimin memperoleh kemenangan dan kejayaan maka merekapun marah dan sedih. Jika kaum muslimin ditimpa bencana dan ujian maka para musuhpun mabuk saking gembira dan sombongnya.إِنْ تَمْسَسْكُمْ حَسَنَةٌ تَسُؤْهُمْ وَإِنْ تُصِبْكُمْ سَيِّئَةٌ يَفْرَحُوا بِهَاJika kamu memperoleh kebaikan, niscaya mereka bersedih hati, tetapi Jika kamu mendapat bencana, mereka bergembira karenanya. (QS Ali Imron : 120)Diantara sifat para pembuat makar adalah memperbesar permasalahan dan mencari-cari kesalahan dan ketergelinciran, lalu menyebarkannya, dan pura-pura tidak mengetahui prestasi-prestasi dan sisi-sisi positif. Dan inilah kebiasaan mereka yang tukang dengki dan hasad.Diantara bentuk makar adalah menjadikan para pemuda sebagai target untuk disesatkan melalui perkataan, foto/video, dan pengaruh pemikiran melalui media-media sosial dan sarana komunikasi modern, dan ini lebih berbahaya daripada para pasukan yang menyikat dan senjata yang mematikan. Yaitu dengan menyebarkan pemikiran ekstrem dan menyimpang untuk mewujudkan tujuan-tujuan yang berbahaya, menguasai otak-otak para pemuda dan untuk menjauhkan mereka dari para ulama sehingga mudah untuk dijerat dan mempengaruhi mereka. Yang hal ini disebarkan oleh orang-orang yang tidak dikenal dengan ilmu dan amal.Diantara kegiatan para pendengki dan penghasad adalah menanamkan organisasi-organisasi teroris di negeri-negeri kaum muslimin, agar menjadi bahan bakar untuk membakar para pemuda, dan menghancurkan masa depan mereka dan negeri mereka.          Diantara metode makar adalah menggambarkan agama ini seakan-akan adalah agama yang terbelakang dan penuh kekacauan, amburadul dan mengerikan, yaitu dengan menampilkan klip-klip berdarah dan pelaksanaan penculikan yang dilakukan oleh orang-orang (sesat) yang menyelip di barisan kaum muslimin dan berpenampilan dengan penampilannya agama.Diantara bentuk makar adalah membuat-buat berita dusta dan menyebarkan isu-isu yang bertujuan buruk. Dan telah datang ayat-ayat yang jelas yang memperingatkan agar tidak ikut menjadi penyebar berita dusta tersebut, dan arahan untuk benar dalam perkataan dan tidak menyampaikan semua berita secara sembarangan tanpa pertimbangan terlebih dahulu dan tanpa hikmah dan penjelasan.يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًاHai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar (QS Al-Ahzaab : 70)Al-Qur’an membimbing untuk meluruskan perkataan, dan hati-hati dalam berucap, serta mempelajari tujuan ucapan dan arahannya sebelum mengikuti orang-orang munafik dan pembuat onar.Al-Qur’an membimbing untuk mengucapkan perkataan yang baik yang mengantarkan kepada amal shalih.Diantara bentuk makar adalah menyebarkan keraguan di kaum muslimin terhadap pemimpin mereka dan pemerintah mereka dengan memalsukan hakekat yang sebenarnya. Dan diantara bentuk konspirasi adalah mengeluarkan fatwa-fatwa syubhat dan fitnah, hal ini mengantarkan pada tersebarnya kebatilan serta menghiasinya dengan pakaian kebatilan. Yang sungguh menakjubkan adalah fatwa-fatwa asing malah tersebar di zaman kita, sehingga menimbulkan kerancuan bagi masyarakat, dan orang-orang yang suka dengan pendapat-pendapat yang aneh segera berlomba-lomba dalam menyebarkannya. Hal ini menimbulkan dampak negatif dan kemudhorotan yang besar pada umat ini.Diantara metode konspirasi (keburukan) adalah menghalangi kebenaran, yaitu dengan mengobarkan syahwat dan nafsu serta menenggelamkan para pemuda dalam lautan narkoba.Diantara kegiatan para tukang makar adalah mengobarkan kekacauan, ketidakstabilan, dan fitnah, memecahkan barisan kaum muslimin, menimbulkan kondisi krisis agar menghentikan gerakan pembangunan, pengembangan, dan produksi di negeri-negeri kaum muslimin, sehingga kaum muslimin akhirnya terfokus kepada cara mencari solusi menghadapi fitnah dan usaha untu memadamkan api fitnahnya.Diantara bentuk makar para pembuat makar adalah membentuk kegaduhan dengan menyebarkan rasa pesimis dan kerendahan serta jiwa yang jatuh dan kalah. Allah berfirman :الَّذِينَ قَالَ لَهُمُ النَّاسُ إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيمَانًا وَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ(Yaitu) orang-orang (yang mentaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan: “Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka”, maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: “Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung” (QS Ali ‘Imron : 173((Hasbunallah wa nikmal wakiil)…ini adalah benteng perlindungan yang kokoh sebagai tempat berlindung kaum mukminin tatkala diliputi oleh berbagai musibah dan ujian. Bagaimanapun berat perkaranya maka hal ini tidaklah menambah bagi kaum mukminin kecuali semakin kokoh, semakin beriman, dan semakin pasrah kepada Allah.Sejarah mulia dari umat ini mendorong nilai optimis, dan ia adalah sejarah kejayaan dan kepemimpinan, penuh kepercayaan bahwasanya Allah akan membalas mereka yang berbuat zolim dan melampaui batas. Allah berfirmanإِنَّ بَطْشَ رَبِّكَ لَشَدِيدٌ (12) إِنَّهُ هُوَ يُبْدِئُ وَيُعِيدُ (13)Sesungguhnya azab Tuhanmu benar-benar keras. Sesungguhnya Dialah Yang menciptakan (makhluk) dari permulaan dan menghidupkannya (kembali) (QS Al-Buruuj : 12-13)Kita berhusnudzon (berprasangka baik) kepara Robb kita, kita meyakini akan keadilaNya, sesungguhnya Allah penolong wali-waliNya, menghancurkan musuh-musuhNya. Allah berfirman :وَلَمَّا رَأَى الْمُؤْمِنُونَ الْأَحْزَابَ قَالُوا هَذَا مَا وَعَدَنَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَصَدَقَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَمَا زَادَهُمْ إِلَّا إِيمَانًا وَتَسْلِيمًاDan tatkala orang-orang mukmin melihat golongan-golongan yang bersekutu itu, mereka berkata: “Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita”. Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya. Dan yang demikian itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali iman dan ketundukan (QS Al-Ahzaab : 22) Khutbah Kedua ;          Diantara penjagaan Allah kepada kebenaran dan pembela kebenaran adalah hancur leburnya seluruh model makar dan tipu daya di atas batu ketegaran umat ini yang memikul warisan kenabian. Meskipun umat ini lemah pada suatu zaman akan tetapi dominasi dan kemenangan adalah milik umat ini, kejayaan dan kekuasaan adalah kesudahan umat ini. Allah berfirman ;إِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوقًاSesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap (QS Al-Israa’ : 81)وَكَانَ حَقًّا عَلَيْنَا نَصْرُ الْمُؤْمِنِينَDan Kami selalu berkewajiban menolong orang-orang yang beriman (QS Ar-Ruum : 47)Kaum mukimin telah mengalami luka dari makar para pembuat makar, gangguan dari para pelaku tipu daya, hal ini demikian agar Allah menguji kaum mukminin, dan mengungkap kaum munafiqin, dan menguji ketegaran kaum muslimin. Dan bagaimanapun puncak makar dan tipu daya maka ia tergantung dengan takdir Allah, terliput oleh kehendak Allah. Dan makar/rencana yang jahat tidak lain kecuali akan kembali kepada pelakunya. Allah berfirman :وَلَا يَحِيقُ الْمَكْرُ السَّيِّئُ إِلَّا بِأَهْلِهِRencana yang jahat itu tidak akan menimpa selain orang yang merencanakannya sendiri. (QS Fathir : 43)Sesungguhnya satu kata, satu barisan dan satu hati merupakan jalan menuju kemenangan dan kemuliaan, serta pondasi dari kejayaan. Allah berfirman :وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْDan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu (QS Al-Anfaal : 46)Dan umat Islam menggabungkan antara berikhtiyar berusaha melakukan sebab dan bertawakkal kepada Allah SWT. Siapa yang menyerahkan urusannya kepada Allah dan memasrahkannya maka Allah cukup baginya, Allah akan menjaganya. Allah berfirman :وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًاDan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu (QS At-Tholaq : 3)لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا“Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita”. (QS At-Taubah : 40)Sebuah kalimat yang diucapkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sementara beliau berada di dalam goa bersama sahabatnya, dan orang-orang kafir telah mengepung mereka. Maka Allah pun menyelamatkan mereka dan menjaga mereka serta menolong mereka. Perkataan (“Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita”) menumbuhkan ketenangan dan ketentraman, serta hilangnya rasa putus asa.Jendela-jendela makar ditutup dengan ketegaran di atas kebenaran dan berpegang teguh dengan Al-Kitab dan as-Sunnah serta kembali kepada para ulama pada lokasi-lokasi fitnah, dan hendaknya perkara dikembalikan kepada pemerintah dalam urusan hukum dan keamanan.Menghias diri dengan ketakwaan dan kesabaran akan melemahkan tipu daya mereka dan akan menghilangkan kemudhorotan. Allah berfirmanذَلِكُمْ وَأَنَّ اللَّهَ مُوهِنُ كَيْدِ الْكَافِرِينَItulah (karunia Allah yang dilimpahkan kepadamu), dan sesungguhnya Allah melemahkan tipu daya orang-orang yang kafir (QS Al-Anfaal : 18)Dan sesungguhnya keamanan negeri ini –negeri dua kota suci- merupakan landasan keamanan umat Islam, negeri ini adalah jantung umat ini yang berdenyut, dan mengganggu negeri ini berarti mengganggu keamanan umat ini. Dan jasad umat ini senantiasa baik selama darah jantung masih berdenyut, dan kebaikan umat ini tersebar, dan kegiatan sosialnya tidak pernah berhenti, menjaga negeri ini dari gangguan makar para pembuat makar dan dari tipu daya para pelakunya adalah perkara yang dituntut dalam syari’at dan kewajiban agama bagi setiap muslim. Dan para penduduk negeri ini yang berakal mengerti akan hal ini dan mereka ikut berpartisipasi dengan kesadaran mereka dalam menggagalkan konspirasi orang-orang yang menanti-nanti jatuhnya negeri ini. Barangsiapa yang berusaha untuk mengganggu keamanan negeri ini maka ia telah melayani musuh-musuh agama. Dan negeri ini terjaga dengan penjagaan Allah, tegak dan tegar. Allah berfirman وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا لَا يَضُرُّكُمْ كَيْدُهُمْ شَيْئًاJika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikitpun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu. (QS Ali Imron : 120) Penerjemah: Abu Abdil Muhsin Firandawww.firanda.com

Antara Do’a dalam Sujud dan Do’a di FB, Twtr, & WA

Semoga doa antum dalam sujud untuk pejuang Suria lebih banyak daripada sekedar doa di FB, Twtr, & WABantuan dana buat para pejuang sangat penting, yg lebih penting lagi doa antum dalam sujud tatkala sholat malam. Hanya Allah yg bisa menolong mereka, sungguh SYIAH & KOMUNIS telah bersekutu untuk membumi hanguskan mereka.Doa di media sosial baik, tapi berdoa dalam sujud di waktu sepertiga malam yang terakhir tatkala sholat malam tentu lebih baik. Semoga di hari hari ini kita bisa menyempatkan waktu untuk sholat malam mendoakan mereka.Jika kita masih agak pelit dalam menyumbangkan harta maka janganlah pelit untuk menyumbangkan doa bagi pejuang suria.

Antara Do’a dalam Sujud dan Do’a di FB, Twtr, & WA

Semoga doa antum dalam sujud untuk pejuang Suria lebih banyak daripada sekedar doa di FB, Twtr, & WABantuan dana buat para pejuang sangat penting, yg lebih penting lagi doa antum dalam sujud tatkala sholat malam. Hanya Allah yg bisa menolong mereka, sungguh SYIAH & KOMUNIS telah bersekutu untuk membumi hanguskan mereka.Doa di media sosial baik, tapi berdoa dalam sujud di waktu sepertiga malam yang terakhir tatkala sholat malam tentu lebih baik. Semoga di hari hari ini kita bisa menyempatkan waktu untuk sholat malam mendoakan mereka.Jika kita masih agak pelit dalam menyumbangkan harta maka janganlah pelit untuk menyumbangkan doa bagi pejuang suria.
Semoga doa antum dalam sujud untuk pejuang Suria lebih banyak daripada sekedar doa di FB, Twtr, & WABantuan dana buat para pejuang sangat penting, yg lebih penting lagi doa antum dalam sujud tatkala sholat malam. Hanya Allah yg bisa menolong mereka, sungguh SYIAH & KOMUNIS telah bersekutu untuk membumi hanguskan mereka.Doa di media sosial baik, tapi berdoa dalam sujud di waktu sepertiga malam yang terakhir tatkala sholat malam tentu lebih baik. Semoga di hari hari ini kita bisa menyempatkan waktu untuk sholat malam mendoakan mereka.Jika kita masih agak pelit dalam menyumbangkan harta maka janganlah pelit untuk menyumbangkan doa bagi pejuang suria.


Semoga doa antum dalam sujud untuk pejuang Suria lebih banyak daripada sekedar doa di FB, Twtr, & WABantuan dana buat para pejuang sangat penting, yg lebih penting lagi doa antum dalam sujud tatkala sholat malam. Hanya Allah yg bisa menolong mereka, sungguh SYIAH & KOMUNIS telah bersekutu untuk membumi hanguskan mereka.Doa di media sosial baik, tapi berdoa dalam sujud di waktu sepertiga malam yang terakhir tatkala sholat malam tentu lebih baik. Semoga di hari hari ini kita bisa menyempatkan waktu untuk sholat malam mendoakan mereka.Jika kita masih agak pelit dalam menyumbangkan harta maka janganlah pelit untuk menyumbangkan doa bagi pejuang suria.

TAMU ALLAH

Nabi bersabda :الحُجَّاجُ وَالعُمَّارُ وَفْدُ اللهِ، دَعَاهُمْ فَأَجَابُوْهُ، سَأَلُوْهُ فَأَعْطَاهُم“Jamaah haji dan umroh adalah tamu-tamu Allah, Allah mengundang mereka lalu mereka memenuhi undangan, mereka memohon kepada Allah maka Allah mengabulkan permohonan mereka” Dalam riwayat yg lain :وَإِن اسْتَغْفَرُوْهُ غَفَرَ لَهُمْ “Jika mereka memohon ampunan kepadaNya maka Allah mengampuni mereka”(Dihasankan oleh Al-Albani di As-Shahihah no 1820)Maka beradablah dengan adab tamu yang baik, niscaya Tuan rumah akan memberikan jamuan yang terbaik

TAMU ALLAH

Nabi bersabda :الحُجَّاجُ وَالعُمَّارُ وَفْدُ اللهِ، دَعَاهُمْ فَأَجَابُوْهُ، سَأَلُوْهُ فَأَعْطَاهُم“Jamaah haji dan umroh adalah tamu-tamu Allah, Allah mengundang mereka lalu mereka memenuhi undangan, mereka memohon kepada Allah maka Allah mengabulkan permohonan mereka” Dalam riwayat yg lain :وَإِن اسْتَغْفَرُوْهُ غَفَرَ لَهُمْ “Jika mereka memohon ampunan kepadaNya maka Allah mengampuni mereka”(Dihasankan oleh Al-Albani di As-Shahihah no 1820)Maka beradablah dengan adab tamu yang baik, niscaya Tuan rumah akan memberikan jamuan yang terbaik
Nabi bersabda :الحُجَّاجُ وَالعُمَّارُ وَفْدُ اللهِ، دَعَاهُمْ فَأَجَابُوْهُ، سَأَلُوْهُ فَأَعْطَاهُم“Jamaah haji dan umroh adalah tamu-tamu Allah, Allah mengundang mereka lalu mereka memenuhi undangan, mereka memohon kepada Allah maka Allah mengabulkan permohonan mereka” Dalam riwayat yg lain :وَإِن اسْتَغْفَرُوْهُ غَفَرَ لَهُمْ “Jika mereka memohon ampunan kepadaNya maka Allah mengampuni mereka”(Dihasankan oleh Al-Albani di As-Shahihah no 1820)Maka beradablah dengan adab tamu yang baik, niscaya Tuan rumah akan memberikan jamuan yang terbaik


Nabi bersabda :الحُجَّاجُ وَالعُمَّارُ وَفْدُ اللهِ، دَعَاهُمْ فَأَجَابُوْهُ، سَأَلُوْهُ فَأَعْطَاهُم“Jamaah haji dan umroh adalah tamu-tamu Allah, Allah mengundang mereka lalu mereka memenuhi undangan, mereka memohon kepada Allah maka Allah mengabulkan permohonan mereka” Dalam riwayat yg lain :وَإِن اسْتَغْفَرُوْهُ غَفَرَ لَهُمْ “Jika mereka memohon ampunan kepadaNya maka Allah mengampuni mereka”(Dihasankan oleh Al-Albani di As-Shahihah no 1820)Maka beradablah dengan adab tamu yang baik, niscaya Tuan rumah akan memberikan jamuan yang terbaik

Syukurilah Kelebihan Kita

Allah memberikan kelebihan kepada kita adalah untuk disyukuri krn Allah akan memintai pertanggungjawabannya, bukan untuk mengejek orang lain yg tdk memiliki kelebihan tersebut, krn itu adalah kufur nikmat.Kelebihan yg kita miliki seharusnya menjadikan kita semakin tawadu’ krn kita sadar itu semua semata-mata karunia dari Allah, dan Allah bisa mencabutnya sewaktu waktu, serta menjadikan kita semakin rahmat (kasih sayang) kepada orang lain yg tdk diberi kelebihan tersebut. Bukan malah menjadikan kita angkuh dan merendahkan orang lain.

Syukurilah Kelebihan Kita

Allah memberikan kelebihan kepada kita adalah untuk disyukuri krn Allah akan memintai pertanggungjawabannya, bukan untuk mengejek orang lain yg tdk memiliki kelebihan tersebut, krn itu adalah kufur nikmat.Kelebihan yg kita miliki seharusnya menjadikan kita semakin tawadu’ krn kita sadar itu semua semata-mata karunia dari Allah, dan Allah bisa mencabutnya sewaktu waktu, serta menjadikan kita semakin rahmat (kasih sayang) kepada orang lain yg tdk diberi kelebihan tersebut. Bukan malah menjadikan kita angkuh dan merendahkan orang lain.
Allah memberikan kelebihan kepada kita adalah untuk disyukuri krn Allah akan memintai pertanggungjawabannya, bukan untuk mengejek orang lain yg tdk memiliki kelebihan tersebut, krn itu adalah kufur nikmat.Kelebihan yg kita miliki seharusnya menjadikan kita semakin tawadu’ krn kita sadar itu semua semata-mata karunia dari Allah, dan Allah bisa mencabutnya sewaktu waktu, serta menjadikan kita semakin rahmat (kasih sayang) kepada orang lain yg tdk diberi kelebihan tersebut. Bukan malah menjadikan kita angkuh dan merendahkan orang lain.


Allah memberikan kelebihan kepada kita adalah untuk disyukuri krn Allah akan memintai pertanggungjawabannya, bukan untuk mengejek orang lain yg tdk memiliki kelebihan tersebut, krn itu adalah kufur nikmat.Kelebihan yg kita miliki seharusnya menjadikan kita semakin tawadu’ krn kita sadar itu semua semata-mata karunia dari Allah, dan Allah bisa mencabutnya sewaktu waktu, serta menjadikan kita semakin rahmat (kasih sayang) kepada orang lain yg tdk diberi kelebihan tersebut. Bukan malah menjadikan kita angkuh dan merendahkan orang lain.

Air Mata Buaya Iran

(Bantahan Syaikh Sholeh Alu Tholib, imam masjidil haram -hafizohullah- terhadap Iran pada khutbah jumat hari ini)من السخرية المريرة أن يصطنع النواحة من له تاريخ إجرامي في الحرم بقتل وتفجير فيه “Merupakan banyolan yang pahit, mereka yang memiliki sejarah kriminal pembunuhan dan peledakan di tanah haram, namun berlagak menampakan raungan kesedihan (atas wafatnya jamaah haji)”من عجائب متصنعي البكاء على المسلمين أنهم هم من يبعثون الميليشيات في العراق و اليمن و سوريا.“Diantara keanehan mereka yang berlagak menangisi wafatnya (jamaah haji) kaum muslimin, ternyata merekalah yang telah mengirim pasukan milisi ke Iraq, Yaman, dan Suria (untuk membumi hanguskan kaum muslimin-pen)ما زادتكم الأيام إلا فضحا ولا الحوادث إلا قرحا وأبشروا بما يسر المسلمين ويسؤوكم ويكشف الغمة عن المسلمين.“Tidaklah bertambah hari-hari kecuali semakin membongkar kedok kalian, tidaklah terjadi peristiwa-peristiwa kecuali semakin menambah luka kalian, nantikanlah hal yang menggembirakan kaum muslimkan dan menyedihkan kalian dan hilangnya kasedihan dari kaum muslimin”

Air Mata Buaya Iran

(Bantahan Syaikh Sholeh Alu Tholib, imam masjidil haram -hafizohullah- terhadap Iran pada khutbah jumat hari ini)من السخرية المريرة أن يصطنع النواحة من له تاريخ إجرامي في الحرم بقتل وتفجير فيه “Merupakan banyolan yang pahit, mereka yang memiliki sejarah kriminal pembunuhan dan peledakan di tanah haram, namun berlagak menampakan raungan kesedihan (atas wafatnya jamaah haji)”من عجائب متصنعي البكاء على المسلمين أنهم هم من يبعثون الميليشيات في العراق و اليمن و سوريا.“Diantara keanehan mereka yang berlagak menangisi wafatnya (jamaah haji) kaum muslimin, ternyata merekalah yang telah mengirim pasukan milisi ke Iraq, Yaman, dan Suria (untuk membumi hanguskan kaum muslimin-pen)ما زادتكم الأيام إلا فضحا ولا الحوادث إلا قرحا وأبشروا بما يسر المسلمين ويسؤوكم ويكشف الغمة عن المسلمين.“Tidaklah bertambah hari-hari kecuali semakin membongkar kedok kalian, tidaklah terjadi peristiwa-peristiwa kecuali semakin menambah luka kalian, nantikanlah hal yang menggembirakan kaum muslimkan dan menyedihkan kalian dan hilangnya kasedihan dari kaum muslimin”
(Bantahan Syaikh Sholeh Alu Tholib, imam masjidil haram -hafizohullah- terhadap Iran pada khutbah jumat hari ini)من السخرية المريرة أن يصطنع النواحة من له تاريخ إجرامي في الحرم بقتل وتفجير فيه “Merupakan banyolan yang pahit, mereka yang memiliki sejarah kriminal pembunuhan dan peledakan di tanah haram, namun berlagak menampakan raungan kesedihan (atas wafatnya jamaah haji)”من عجائب متصنعي البكاء على المسلمين أنهم هم من يبعثون الميليشيات في العراق و اليمن و سوريا.“Diantara keanehan mereka yang berlagak menangisi wafatnya (jamaah haji) kaum muslimin, ternyata merekalah yang telah mengirim pasukan milisi ke Iraq, Yaman, dan Suria (untuk membumi hanguskan kaum muslimin-pen)ما زادتكم الأيام إلا فضحا ولا الحوادث إلا قرحا وأبشروا بما يسر المسلمين ويسؤوكم ويكشف الغمة عن المسلمين.“Tidaklah bertambah hari-hari kecuali semakin membongkar kedok kalian, tidaklah terjadi peristiwa-peristiwa kecuali semakin menambah luka kalian, nantikanlah hal yang menggembirakan kaum muslimkan dan menyedihkan kalian dan hilangnya kasedihan dari kaum muslimin”


(Bantahan Syaikh Sholeh Alu Tholib, imam masjidil haram -hafizohullah- terhadap Iran pada khutbah jumat hari ini)من السخرية المريرة أن يصطنع النواحة من له تاريخ إجرامي في الحرم بقتل وتفجير فيه “Merupakan banyolan yang pahit, mereka yang memiliki sejarah kriminal pembunuhan dan peledakan di tanah haram, namun berlagak menampakan raungan kesedihan (atas wafatnya jamaah haji)”من عجائب متصنعي البكاء على المسلمين أنهم هم من يبعثون الميليشيات في العراق و اليمن و سوريا.“Diantara keanehan mereka yang berlagak menangisi wafatnya (jamaah haji) kaum muslimin, ternyata merekalah yang telah mengirim pasukan milisi ke Iraq, Yaman, dan Suria (untuk membumi hanguskan kaum muslimin-pen)ما زادتكم الأيام إلا فضحا ولا الحوادث إلا قرحا وأبشروا بما يسر المسلمين ويسؤوكم ويكشف الغمة عن المسلمين.“Tidaklah bertambah hari-hari kecuali semakin membongkar kedok kalian, tidaklah terjadi peristiwa-peristiwa kecuali semakin menambah luka kalian, nantikanlah hal yang menggembirakan kaum muslimkan dan menyedihkan kalian dan hilangnya kasedihan dari kaum muslimin”

Antara Syiah dan Arab Saudi

Syiah mencela dan mengkafirkan para sahabat Nabi yang telah berkorban jiwa dan harta demi tersebar dan jayanya Islam, lantas jasanya syiah apa? Membunuhi kaum muslimin, orang tua dan anak anak di Suria, Iran, dan Iraq?Syiah mencela Arab saudi yang jasanya besar bagi kaum muslimin di seantero dunia, lantas syiah jasanya apa? Menyebarkan mut’ah, syirik, taqiyyah di seantero dunia?Kalau Arab saudi menyebarkan mesjid di Indonesia dan bantuan dana di Aceh, kalau Iran menyebarkan narkoba di IndonesiaKalau Arab Saudi membantah paham Liberal, kalau Tokoh Syiah Indonesia bekerja sama dengan para tokoh JIL.

Antara Syiah dan Arab Saudi

Syiah mencela dan mengkafirkan para sahabat Nabi yang telah berkorban jiwa dan harta demi tersebar dan jayanya Islam, lantas jasanya syiah apa? Membunuhi kaum muslimin, orang tua dan anak anak di Suria, Iran, dan Iraq?Syiah mencela Arab saudi yang jasanya besar bagi kaum muslimin di seantero dunia, lantas syiah jasanya apa? Menyebarkan mut’ah, syirik, taqiyyah di seantero dunia?Kalau Arab saudi menyebarkan mesjid di Indonesia dan bantuan dana di Aceh, kalau Iran menyebarkan narkoba di IndonesiaKalau Arab Saudi membantah paham Liberal, kalau Tokoh Syiah Indonesia bekerja sama dengan para tokoh JIL.
Syiah mencela dan mengkafirkan para sahabat Nabi yang telah berkorban jiwa dan harta demi tersebar dan jayanya Islam, lantas jasanya syiah apa? Membunuhi kaum muslimin, orang tua dan anak anak di Suria, Iran, dan Iraq?Syiah mencela Arab saudi yang jasanya besar bagi kaum muslimin di seantero dunia, lantas syiah jasanya apa? Menyebarkan mut’ah, syirik, taqiyyah di seantero dunia?Kalau Arab saudi menyebarkan mesjid di Indonesia dan bantuan dana di Aceh, kalau Iran menyebarkan narkoba di IndonesiaKalau Arab Saudi membantah paham Liberal, kalau Tokoh Syiah Indonesia bekerja sama dengan para tokoh JIL.


Syiah mencela dan mengkafirkan para sahabat Nabi yang telah berkorban jiwa dan harta demi tersebar dan jayanya Islam, lantas jasanya syiah apa? Membunuhi kaum muslimin, orang tua dan anak anak di Suria, Iran, dan Iraq?Syiah mencela Arab saudi yang jasanya besar bagi kaum muslimin di seantero dunia, lantas syiah jasanya apa? Menyebarkan mut’ah, syirik, taqiyyah di seantero dunia?Kalau Arab saudi menyebarkan mesjid di Indonesia dan bantuan dana di Aceh, kalau Iran menyebarkan narkoba di IndonesiaKalau Arab Saudi membantah paham Liberal, kalau Tokoh Syiah Indonesia bekerja sama dengan para tokoh JIL.

Masih juga angkuh?

Seorang pembesar berkata kepada Muthorrif bin Abdillah ;قَالَ: أَوَ مَا تَعْرِفُنِي؟“Tidakkah engkau tahu siapa saya?”قَالَ: بَلَى، أَوَّلُكَ نُطْفَةٌ مَذِرَةٌ، وَآخِرُكَ جِيْفَةٌ قَذِرَةٌ، وَأَنْتَ بَيْنَ ذَلِكَ تَحْمِلُ العَذِرَةَ Muthorrif berkata, “Tentu saya tahu, engkau yang awalnya adalah setetes mani yang kotor, dan akhirmu adalah bangkai yang busuk, dan antara kedua kondisi tersebut engkau membawa feses/kotoran” (Siyar A’laam An-Nubalaa 4/505)

Masih juga angkuh?

Seorang pembesar berkata kepada Muthorrif bin Abdillah ;قَالَ: أَوَ مَا تَعْرِفُنِي؟“Tidakkah engkau tahu siapa saya?”قَالَ: بَلَى، أَوَّلُكَ نُطْفَةٌ مَذِرَةٌ، وَآخِرُكَ جِيْفَةٌ قَذِرَةٌ، وَأَنْتَ بَيْنَ ذَلِكَ تَحْمِلُ العَذِرَةَ Muthorrif berkata, “Tentu saya tahu, engkau yang awalnya adalah setetes mani yang kotor, dan akhirmu adalah bangkai yang busuk, dan antara kedua kondisi tersebut engkau membawa feses/kotoran” (Siyar A’laam An-Nubalaa 4/505)
Seorang pembesar berkata kepada Muthorrif bin Abdillah ;قَالَ: أَوَ مَا تَعْرِفُنِي؟“Tidakkah engkau tahu siapa saya?”قَالَ: بَلَى، أَوَّلُكَ نُطْفَةٌ مَذِرَةٌ، وَآخِرُكَ جِيْفَةٌ قَذِرَةٌ، وَأَنْتَ بَيْنَ ذَلِكَ تَحْمِلُ العَذِرَةَ Muthorrif berkata, “Tentu saya tahu, engkau yang awalnya adalah setetes mani yang kotor, dan akhirmu adalah bangkai yang busuk, dan antara kedua kondisi tersebut engkau membawa feses/kotoran” (Siyar A’laam An-Nubalaa 4/505)


Seorang pembesar berkata kepada Muthorrif bin Abdillah ;قَالَ: أَوَ مَا تَعْرِفُنِي؟“Tidakkah engkau tahu siapa saya?”قَالَ: بَلَى، أَوَّلُكَ نُطْفَةٌ مَذِرَةٌ، وَآخِرُكَ جِيْفَةٌ قَذِرَةٌ، وَأَنْتَ بَيْنَ ذَلِكَ تَحْمِلُ العَذِرَةَ Muthorrif berkata, “Tentu saya tahu, engkau yang awalnya adalah setetes mani yang kotor, dan akhirmu adalah bangkai yang busuk, dan antara kedua kondisi tersebut engkau membawa feses/kotoran” (Siyar A’laam An-Nubalaa 4/505)

Ilmuwan yang Menjadi Ulama (6)

Ulama lainnya yang jadi ulama besar di abad ini yang dulunya memiliki basic kuliah umum S-1 Bahasa Spanyol, yaitu Syaikh Abu Ishaq Al-Huwaini Al-Atsari Al-Mishri. Beliau dikenal bersama sebagai ulama pakar hadits terkemuka saat ini sepeninggal Syaikh Al-Albani. Nama asli beliau adalah Hijazi bin Muhammad bin Yusuf bin Syarif. Orang tuanya menamainya Hijaz setelah kepulangan dari haji dari Hijaz, maksudnya Saudi Arabia saat ini. Awalnya beliau memiliki nama kunyah Abu Al-Fadhl, sama seperti nama kunyah dari Ibnu Hajar. Lalu beliau banyak mempelajari kitab Abu Ishaq Asy-Syatibi, ia pun suka akan kunyahnya. Nama kunyah tersebut juga adalah nama kunyah dari Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu. Hingga saat ini beliau terkenal dengan nama Abu Ishaq Al-Huwaini. Beliau menisbahkan diri pada nama Al-Atsari karena beliau menyibukkan diri dengan atsar atau ilmu hadits. Beliau mengikuti ulama hadits dalam hal akidah dan manhaj. Beliau sudah makruf disebut dengan Al-Atsari, demikian di awal karya tulis beliau tercantum penyebutan itu. Namun beliau meninggalkan gelar tersebut dalam penyebutan nama demi meringkas dan juga khawatir disangka terlalu berbangga diri atau menyucikan diri. Akan tetapi, jika maksud menyebut Al-Atsari cuma pengabaran semata, maka tidaklah masalah. Beliau lahir pada hari Ahad, pada bulan Dzulqa’dah tahun 1375 H (bertepatan dengan 10 Juni 1956). Beliau lahir di daerah yang bernama Huwain. Syaikh Al-Huwaini tumbuh di keluarga yang shalih dan keluarga yang dimuliakan yang memiliki fitrah yang selamat. Orang tuanya sangat cinta pada agamanya dan sangat mengagungkan syariat Islam. Ayahnya menikahi tiga wanita dan memiliki 8 anak laki-laki dan 7 anak perempuan. Syaikh Abu Ishaq adalah anak dari istri ayahnya yang ketiga. Jenjang beliau dalam menuntut ilmu: Pendidikan Madrasah Ibtidaiyah di Wazariyah. Pendidikan I’dadiyah Al-Qadimah. Pendidikan Ats-Tsanawiyah di Madrasah Asy-Syahid ‘Abdul Mun’im Riyadh. Kuliah di Jami’ah ‘Ain Syams, Fakultas Adab, Jurusan Bahasa Spanyol di Mesir. Diutus ke Spanyol karena kecerdasannya saat di bangku kuliah namun beliau hanya bertahan dua bulan di sana karena banyak terjadi pertentangan yang menyelisihi agamanya. Syaikh Al-Huwaini mulai mempelajari hadits ketika awalnya ia dinilai memiliki qira’ah yang bagus yang ia peroleh dari Syaikh ‘Abdul Hayyi Zayyan. Sebelumnya beliau mengambil kuliah syari’at namun hanya sebentar. Dilanjutkan dengan mengambil kuliah hadits. Sejak itulah beliau mulai menebarkan sunnah di lingkungannya yang notabene terpengaruh ajaran sufi. Akhirnya, beliau sendiri dituduh membawa ajaran baru. Petualangan beliau dalam mempelajari hadits berlanjut hingga bertemu dengan Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah. Kisah beliau dengan Syaikh Al-Albani mulai dari pembahasan kitab Sifat Shalat Nabi min At-Takbir ila At-Taslim dan kitab karya Syaikh Al-Albani lainnya. Di antara guru Syaikh Abu Ishaq adalah Syaikh ‘Abdul Hamid Kasyk, Syaikh Muhammad Jamil Ghazi, Syaikh ‘Abdurrahman ‘Abdul Khaliq, Syaikh Dr. ‘Abdul Fatah Al-Halwu, Syaikh Ahmad Muqir dan Syaikh Sayid Sabiq yang terkenal dengan Fiqh Sunnahnya. Walaupun dalam beberapa masalah Syaikh Abu Ishaq menyelisihi guru-gurunya. Namun Syaikh Abu Ishaq teta menaruh hormat pada mereka. Begitu pula Syaikh Al-Albani adalah di antara guru beliau. Bahkan ada pujian khusus yang disematkan oleh Syaikh Al-Albani pada Syaikh Abu Ishaq ketika Syaikh Abu Ishaq mendhaifkan hadits tersebut sedangkan Syaikh Al-Albani menshahihkannya, “Syaikh Abu Ishaq sangat mumpuni sekali dalam ilmu hadits dan paham akan perawi-perawi dalam sanad. Ia bisa menjelaskan sebaik-baiknya. Semoga Allah membalas amalannya. Akan tetapi, moga ia bisa mengikuti penjelasanku bahwa hadits yang dimaksud sebenarnya shahih berdasarkan tiga jalur periwayatan. Agar tidak dipahami bahwa hadits tersebut dha’if secara mutlak dilihat dari sisi sanad dan matan.” (As-Silsilah Ash-Shahihah, 7: 1677) Pujian lainnya pada Syaikh Abu Ishaq, Syaikh Al-Albani berkata, صَحَّ لك ما لم يصحَّ لغيرك “Ada hadits yang shahih bagimu namun selainmu tidak menganggapnya shahih.” Di antara ulama besar yang pernah beliau ambil ilmu dalam muhadarahnya: Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin, Syaikh ‘Abdullah bin Qa’ud, Syaikh ‘Abdullah bin Jibrin. Karya-karya Syaikh Abu Ishaq Al-Huwaini begitu banyak terutama dalam ilmu hadits dalam hal tahqiq dan takhrij hadits, ada yang sudah dicetak dan ada yang belum. Ternyata dengan ilmu dunia, Syaikh Abu Ishaq merasa belum cukup. Ia ingin mendalami ilmu agama terutama ilmu hadits. Moga bisa jadi contoh bagi para ilmuwan saat ini.   Referensi: http://alheweny.me/pages/page/about — Diselesaikan 10: 20 AM, 25 Dzulhijjah 1436 H di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsilmuwan

Ilmuwan yang Menjadi Ulama (6)

Ulama lainnya yang jadi ulama besar di abad ini yang dulunya memiliki basic kuliah umum S-1 Bahasa Spanyol, yaitu Syaikh Abu Ishaq Al-Huwaini Al-Atsari Al-Mishri. Beliau dikenal bersama sebagai ulama pakar hadits terkemuka saat ini sepeninggal Syaikh Al-Albani. Nama asli beliau adalah Hijazi bin Muhammad bin Yusuf bin Syarif. Orang tuanya menamainya Hijaz setelah kepulangan dari haji dari Hijaz, maksudnya Saudi Arabia saat ini. Awalnya beliau memiliki nama kunyah Abu Al-Fadhl, sama seperti nama kunyah dari Ibnu Hajar. Lalu beliau banyak mempelajari kitab Abu Ishaq Asy-Syatibi, ia pun suka akan kunyahnya. Nama kunyah tersebut juga adalah nama kunyah dari Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu. Hingga saat ini beliau terkenal dengan nama Abu Ishaq Al-Huwaini. Beliau menisbahkan diri pada nama Al-Atsari karena beliau menyibukkan diri dengan atsar atau ilmu hadits. Beliau mengikuti ulama hadits dalam hal akidah dan manhaj. Beliau sudah makruf disebut dengan Al-Atsari, demikian di awal karya tulis beliau tercantum penyebutan itu. Namun beliau meninggalkan gelar tersebut dalam penyebutan nama demi meringkas dan juga khawatir disangka terlalu berbangga diri atau menyucikan diri. Akan tetapi, jika maksud menyebut Al-Atsari cuma pengabaran semata, maka tidaklah masalah. Beliau lahir pada hari Ahad, pada bulan Dzulqa’dah tahun 1375 H (bertepatan dengan 10 Juni 1956). Beliau lahir di daerah yang bernama Huwain. Syaikh Al-Huwaini tumbuh di keluarga yang shalih dan keluarga yang dimuliakan yang memiliki fitrah yang selamat. Orang tuanya sangat cinta pada agamanya dan sangat mengagungkan syariat Islam. Ayahnya menikahi tiga wanita dan memiliki 8 anak laki-laki dan 7 anak perempuan. Syaikh Abu Ishaq adalah anak dari istri ayahnya yang ketiga. Jenjang beliau dalam menuntut ilmu: Pendidikan Madrasah Ibtidaiyah di Wazariyah. Pendidikan I’dadiyah Al-Qadimah. Pendidikan Ats-Tsanawiyah di Madrasah Asy-Syahid ‘Abdul Mun’im Riyadh. Kuliah di Jami’ah ‘Ain Syams, Fakultas Adab, Jurusan Bahasa Spanyol di Mesir. Diutus ke Spanyol karena kecerdasannya saat di bangku kuliah namun beliau hanya bertahan dua bulan di sana karena banyak terjadi pertentangan yang menyelisihi agamanya. Syaikh Al-Huwaini mulai mempelajari hadits ketika awalnya ia dinilai memiliki qira’ah yang bagus yang ia peroleh dari Syaikh ‘Abdul Hayyi Zayyan. Sebelumnya beliau mengambil kuliah syari’at namun hanya sebentar. Dilanjutkan dengan mengambil kuliah hadits. Sejak itulah beliau mulai menebarkan sunnah di lingkungannya yang notabene terpengaruh ajaran sufi. Akhirnya, beliau sendiri dituduh membawa ajaran baru. Petualangan beliau dalam mempelajari hadits berlanjut hingga bertemu dengan Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah. Kisah beliau dengan Syaikh Al-Albani mulai dari pembahasan kitab Sifat Shalat Nabi min At-Takbir ila At-Taslim dan kitab karya Syaikh Al-Albani lainnya. Di antara guru Syaikh Abu Ishaq adalah Syaikh ‘Abdul Hamid Kasyk, Syaikh Muhammad Jamil Ghazi, Syaikh ‘Abdurrahman ‘Abdul Khaliq, Syaikh Dr. ‘Abdul Fatah Al-Halwu, Syaikh Ahmad Muqir dan Syaikh Sayid Sabiq yang terkenal dengan Fiqh Sunnahnya. Walaupun dalam beberapa masalah Syaikh Abu Ishaq menyelisihi guru-gurunya. Namun Syaikh Abu Ishaq teta menaruh hormat pada mereka. Begitu pula Syaikh Al-Albani adalah di antara guru beliau. Bahkan ada pujian khusus yang disematkan oleh Syaikh Al-Albani pada Syaikh Abu Ishaq ketika Syaikh Abu Ishaq mendhaifkan hadits tersebut sedangkan Syaikh Al-Albani menshahihkannya, “Syaikh Abu Ishaq sangat mumpuni sekali dalam ilmu hadits dan paham akan perawi-perawi dalam sanad. Ia bisa menjelaskan sebaik-baiknya. Semoga Allah membalas amalannya. Akan tetapi, moga ia bisa mengikuti penjelasanku bahwa hadits yang dimaksud sebenarnya shahih berdasarkan tiga jalur periwayatan. Agar tidak dipahami bahwa hadits tersebut dha’if secara mutlak dilihat dari sisi sanad dan matan.” (As-Silsilah Ash-Shahihah, 7: 1677) Pujian lainnya pada Syaikh Abu Ishaq, Syaikh Al-Albani berkata, صَحَّ لك ما لم يصحَّ لغيرك “Ada hadits yang shahih bagimu namun selainmu tidak menganggapnya shahih.” Di antara ulama besar yang pernah beliau ambil ilmu dalam muhadarahnya: Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin, Syaikh ‘Abdullah bin Qa’ud, Syaikh ‘Abdullah bin Jibrin. Karya-karya Syaikh Abu Ishaq Al-Huwaini begitu banyak terutama dalam ilmu hadits dalam hal tahqiq dan takhrij hadits, ada yang sudah dicetak dan ada yang belum. Ternyata dengan ilmu dunia, Syaikh Abu Ishaq merasa belum cukup. Ia ingin mendalami ilmu agama terutama ilmu hadits. Moga bisa jadi contoh bagi para ilmuwan saat ini.   Referensi: http://alheweny.me/pages/page/about — Diselesaikan 10: 20 AM, 25 Dzulhijjah 1436 H di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsilmuwan
Ulama lainnya yang jadi ulama besar di abad ini yang dulunya memiliki basic kuliah umum S-1 Bahasa Spanyol, yaitu Syaikh Abu Ishaq Al-Huwaini Al-Atsari Al-Mishri. Beliau dikenal bersama sebagai ulama pakar hadits terkemuka saat ini sepeninggal Syaikh Al-Albani. Nama asli beliau adalah Hijazi bin Muhammad bin Yusuf bin Syarif. Orang tuanya menamainya Hijaz setelah kepulangan dari haji dari Hijaz, maksudnya Saudi Arabia saat ini. Awalnya beliau memiliki nama kunyah Abu Al-Fadhl, sama seperti nama kunyah dari Ibnu Hajar. Lalu beliau banyak mempelajari kitab Abu Ishaq Asy-Syatibi, ia pun suka akan kunyahnya. Nama kunyah tersebut juga adalah nama kunyah dari Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu. Hingga saat ini beliau terkenal dengan nama Abu Ishaq Al-Huwaini. Beliau menisbahkan diri pada nama Al-Atsari karena beliau menyibukkan diri dengan atsar atau ilmu hadits. Beliau mengikuti ulama hadits dalam hal akidah dan manhaj. Beliau sudah makruf disebut dengan Al-Atsari, demikian di awal karya tulis beliau tercantum penyebutan itu. Namun beliau meninggalkan gelar tersebut dalam penyebutan nama demi meringkas dan juga khawatir disangka terlalu berbangga diri atau menyucikan diri. Akan tetapi, jika maksud menyebut Al-Atsari cuma pengabaran semata, maka tidaklah masalah. Beliau lahir pada hari Ahad, pada bulan Dzulqa’dah tahun 1375 H (bertepatan dengan 10 Juni 1956). Beliau lahir di daerah yang bernama Huwain. Syaikh Al-Huwaini tumbuh di keluarga yang shalih dan keluarga yang dimuliakan yang memiliki fitrah yang selamat. Orang tuanya sangat cinta pada agamanya dan sangat mengagungkan syariat Islam. Ayahnya menikahi tiga wanita dan memiliki 8 anak laki-laki dan 7 anak perempuan. Syaikh Abu Ishaq adalah anak dari istri ayahnya yang ketiga. Jenjang beliau dalam menuntut ilmu: Pendidikan Madrasah Ibtidaiyah di Wazariyah. Pendidikan I’dadiyah Al-Qadimah. Pendidikan Ats-Tsanawiyah di Madrasah Asy-Syahid ‘Abdul Mun’im Riyadh. Kuliah di Jami’ah ‘Ain Syams, Fakultas Adab, Jurusan Bahasa Spanyol di Mesir. Diutus ke Spanyol karena kecerdasannya saat di bangku kuliah namun beliau hanya bertahan dua bulan di sana karena banyak terjadi pertentangan yang menyelisihi agamanya. Syaikh Al-Huwaini mulai mempelajari hadits ketika awalnya ia dinilai memiliki qira’ah yang bagus yang ia peroleh dari Syaikh ‘Abdul Hayyi Zayyan. Sebelumnya beliau mengambil kuliah syari’at namun hanya sebentar. Dilanjutkan dengan mengambil kuliah hadits. Sejak itulah beliau mulai menebarkan sunnah di lingkungannya yang notabene terpengaruh ajaran sufi. Akhirnya, beliau sendiri dituduh membawa ajaran baru. Petualangan beliau dalam mempelajari hadits berlanjut hingga bertemu dengan Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah. Kisah beliau dengan Syaikh Al-Albani mulai dari pembahasan kitab Sifat Shalat Nabi min At-Takbir ila At-Taslim dan kitab karya Syaikh Al-Albani lainnya. Di antara guru Syaikh Abu Ishaq adalah Syaikh ‘Abdul Hamid Kasyk, Syaikh Muhammad Jamil Ghazi, Syaikh ‘Abdurrahman ‘Abdul Khaliq, Syaikh Dr. ‘Abdul Fatah Al-Halwu, Syaikh Ahmad Muqir dan Syaikh Sayid Sabiq yang terkenal dengan Fiqh Sunnahnya. Walaupun dalam beberapa masalah Syaikh Abu Ishaq menyelisihi guru-gurunya. Namun Syaikh Abu Ishaq teta menaruh hormat pada mereka. Begitu pula Syaikh Al-Albani adalah di antara guru beliau. Bahkan ada pujian khusus yang disematkan oleh Syaikh Al-Albani pada Syaikh Abu Ishaq ketika Syaikh Abu Ishaq mendhaifkan hadits tersebut sedangkan Syaikh Al-Albani menshahihkannya, “Syaikh Abu Ishaq sangat mumpuni sekali dalam ilmu hadits dan paham akan perawi-perawi dalam sanad. Ia bisa menjelaskan sebaik-baiknya. Semoga Allah membalas amalannya. Akan tetapi, moga ia bisa mengikuti penjelasanku bahwa hadits yang dimaksud sebenarnya shahih berdasarkan tiga jalur periwayatan. Agar tidak dipahami bahwa hadits tersebut dha’if secara mutlak dilihat dari sisi sanad dan matan.” (As-Silsilah Ash-Shahihah, 7: 1677) Pujian lainnya pada Syaikh Abu Ishaq, Syaikh Al-Albani berkata, صَحَّ لك ما لم يصحَّ لغيرك “Ada hadits yang shahih bagimu namun selainmu tidak menganggapnya shahih.” Di antara ulama besar yang pernah beliau ambil ilmu dalam muhadarahnya: Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin, Syaikh ‘Abdullah bin Qa’ud, Syaikh ‘Abdullah bin Jibrin. Karya-karya Syaikh Abu Ishaq Al-Huwaini begitu banyak terutama dalam ilmu hadits dalam hal tahqiq dan takhrij hadits, ada yang sudah dicetak dan ada yang belum. Ternyata dengan ilmu dunia, Syaikh Abu Ishaq merasa belum cukup. Ia ingin mendalami ilmu agama terutama ilmu hadits. Moga bisa jadi contoh bagi para ilmuwan saat ini.   Referensi: http://alheweny.me/pages/page/about — Diselesaikan 10: 20 AM, 25 Dzulhijjah 1436 H di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsilmuwan


Ulama lainnya yang jadi ulama besar di abad ini yang dulunya memiliki basic kuliah umum S-1 Bahasa Spanyol, yaitu Syaikh Abu Ishaq Al-Huwaini Al-Atsari Al-Mishri. Beliau dikenal bersama sebagai ulama pakar hadits terkemuka saat ini sepeninggal Syaikh Al-Albani. Nama asli beliau adalah Hijazi bin Muhammad bin Yusuf bin Syarif. Orang tuanya menamainya Hijaz setelah kepulangan dari haji dari Hijaz, maksudnya Saudi Arabia saat ini. Awalnya beliau memiliki nama kunyah Abu Al-Fadhl, sama seperti nama kunyah dari Ibnu Hajar. Lalu beliau banyak mempelajari kitab Abu Ishaq Asy-Syatibi, ia pun suka akan kunyahnya. Nama kunyah tersebut juga adalah nama kunyah dari Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu. Hingga saat ini beliau terkenal dengan nama Abu Ishaq Al-Huwaini. Beliau menisbahkan diri pada nama Al-Atsari karena beliau menyibukkan diri dengan atsar atau ilmu hadits. Beliau mengikuti ulama hadits dalam hal akidah dan manhaj. Beliau sudah makruf disebut dengan Al-Atsari, demikian di awal karya tulis beliau tercantum penyebutan itu. Namun beliau meninggalkan gelar tersebut dalam penyebutan nama demi meringkas dan juga khawatir disangka terlalu berbangga diri atau menyucikan diri. Akan tetapi, jika maksud menyebut Al-Atsari cuma pengabaran semata, maka tidaklah masalah. Beliau lahir pada hari Ahad, pada bulan Dzulqa’dah tahun 1375 H (bertepatan dengan 10 Juni 1956). Beliau lahir di daerah yang bernama Huwain. Syaikh Al-Huwaini tumbuh di keluarga yang shalih dan keluarga yang dimuliakan yang memiliki fitrah yang selamat. Orang tuanya sangat cinta pada agamanya dan sangat mengagungkan syariat Islam. Ayahnya menikahi tiga wanita dan memiliki 8 anak laki-laki dan 7 anak perempuan. Syaikh Abu Ishaq adalah anak dari istri ayahnya yang ketiga. Jenjang beliau dalam menuntut ilmu: Pendidikan Madrasah Ibtidaiyah di Wazariyah. Pendidikan I’dadiyah Al-Qadimah. Pendidikan Ats-Tsanawiyah di Madrasah Asy-Syahid ‘Abdul Mun’im Riyadh. Kuliah di Jami’ah ‘Ain Syams, Fakultas Adab, Jurusan Bahasa Spanyol di Mesir. Diutus ke Spanyol karena kecerdasannya saat di bangku kuliah namun beliau hanya bertahan dua bulan di sana karena banyak terjadi pertentangan yang menyelisihi agamanya. Syaikh Al-Huwaini mulai mempelajari hadits ketika awalnya ia dinilai memiliki qira’ah yang bagus yang ia peroleh dari Syaikh ‘Abdul Hayyi Zayyan. Sebelumnya beliau mengambil kuliah syari’at namun hanya sebentar. Dilanjutkan dengan mengambil kuliah hadits. Sejak itulah beliau mulai menebarkan sunnah di lingkungannya yang notabene terpengaruh ajaran sufi. Akhirnya, beliau sendiri dituduh membawa ajaran baru. Petualangan beliau dalam mempelajari hadits berlanjut hingga bertemu dengan Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah. Kisah beliau dengan Syaikh Al-Albani mulai dari pembahasan kitab Sifat Shalat Nabi min At-Takbir ila At-Taslim dan kitab karya Syaikh Al-Albani lainnya. Di antara guru Syaikh Abu Ishaq adalah Syaikh ‘Abdul Hamid Kasyk, Syaikh Muhammad Jamil Ghazi, Syaikh ‘Abdurrahman ‘Abdul Khaliq, Syaikh Dr. ‘Abdul Fatah Al-Halwu, Syaikh Ahmad Muqir dan Syaikh Sayid Sabiq yang terkenal dengan Fiqh Sunnahnya. Walaupun dalam beberapa masalah Syaikh Abu Ishaq menyelisihi guru-gurunya. Namun Syaikh Abu Ishaq teta menaruh hormat pada mereka. Begitu pula Syaikh Al-Albani adalah di antara guru beliau. Bahkan ada pujian khusus yang disematkan oleh Syaikh Al-Albani pada Syaikh Abu Ishaq ketika Syaikh Abu Ishaq mendhaifkan hadits tersebut sedangkan Syaikh Al-Albani menshahihkannya, “Syaikh Abu Ishaq sangat mumpuni sekali dalam ilmu hadits dan paham akan perawi-perawi dalam sanad. Ia bisa menjelaskan sebaik-baiknya. Semoga Allah membalas amalannya. Akan tetapi, moga ia bisa mengikuti penjelasanku bahwa hadits yang dimaksud sebenarnya shahih berdasarkan tiga jalur periwayatan. Agar tidak dipahami bahwa hadits tersebut dha’if secara mutlak dilihat dari sisi sanad dan matan.” (As-Silsilah Ash-Shahihah, 7: 1677) Pujian lainnya pada Syaikh Abu Ishaq, Syaikh Al-Albani berkata, صَحَّ لك ما لم يصحَّ لغيرك “Ada hadits yang shahih bagimu namun selainmu tidak menganggapnya shahih.” Di antara ulama besar yang pernah beliau ambil ilmu dalam muhadarahnya: Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin, Syaikh ‘Abdullah bin Qa’ud, Syaikh ‘Abdullah bin Jibrin. Karya-karya Syaikh Abu Ishaq Al-Huwaini begitu banyak terutama dalam ilmu hadits dalam hal tahqiq dan takhrij hadits, ada yang sudah dicetak dan ada yang belum. Ternyata dengan ilmu dunia, Syaikh Abu Ishaq merasa belum cukup. Ia ingin mendalami ilmu agama terutama ilmu hadits. Moga bisa jadi contoh bagi para ilmuwan saat ini.   Referensi: http://alheweny.me/pages/page/about — Diselesaikan 10: 20 AM, 25 Dzulhijjah 1436 H di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsilmuwan

Adab pada Guru (4)

Di antara adab pada guru adalah rajin hadir dalam majelis ilmu, berusaha terus hadir kecuali ada udzur syar’i. Kita lihat sebagian halaqah ilmu yang khusus membahas materi rutin, bukan tematik, misal membahas salah satu kitab ulama, akan nampak beda antara awal dan akhir. Keadaan awal pasti akan lebih banyak dibandingkan dengan pertemuan akhir. Keadaan awal lebih banyak, keadaan akhir akan semakin berkurang bahkan bisa jadi tersisa satu atau dua orang. Jarang sekali majelis yang kita lihat terus istiqamah kecuali yang Allah beri taufik padanya. Lihat contoh dari para salaf di masa silam bagaimanakah semangatnya mereka dalam merutinkan menghadiri majelis ilmu pada guru-guru mereka. Abul Hasan Al-Karkhi berkata, “Aku punya kebiasaan menghadiri majelis Abu Khazim setiap Jumat. Keesokan harinya di hari Jumat ternyata kosong, namun aku tetap menghadirinya agar tidak mengurangi kebiasaanku untuk menghadiri majelis tersebut.” (Al-Hattsu ‘ala Thalib Al-‘Ilmi karya Al-‘Askari, hlm. 78). Wahb bin Jarir dari bapaknya, ia berkata, “Aku sudah pernah duduk di majelis Al-Hasan Al-Bashri selama tujuh tahun. Aku tidak pernah absen walau satu hari pun. Aku punya kebiasaan puasa, lalu aku mendatangi majelis beliau.” (Siyar A’lam An-Nubala’, 6: 362) Qatadah bin Da’amah As-Sadusi, ulama di kalangan tabi’in yang lahir dalam keadaan buta. Ia adalah di antara murid Anas bin Malik. Para ulama yang ada ketika itu biasa mengambil ilmu dari Anas pada pagi dan petang hari. Ada yang menghadiri majelis di pagi hari lantas pergi. Yang datang di pagi hari memberitahukan ilmu pada orang-orang yang hanya bisa hadir di petang hari. Suatu saat Anas telat hadir pada majelis sore. Lantas Qatadah membawakan pelajaran pada orang-orang yang hadir di sore hari mengenai hadits yang ia peroleh di pagi hari. Ketika Anas menyimak apa yang disampaikan oleh Qatadah, ia melihat bagaimana bagusnya hafalan Qatadah dan ia pun begitu takjub dengan kecerdasannya. Lantas ia pun menepuk tangan Qatadah lantas berkata, “Berdiri, wahai Qatadah (dipanggil dengan panggilan ‘Ya Akmah’, artinya ‘wahai si buta’, pen.), aku baru saja mengambil ilmuku sendiri darimu.” (Ma’alim fi Thariq Thalab Al-‘Ilmi, hlm. 52-53) Ini tanda orang yang semangat hadiri majelis ilmu, maka kelak ia akan menuai hasil kerja kerasnya. Dari Abu Ad-Darda’, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّمَا الْعِلْمُ بِالتَّعَلُّمِ، وَإِنَّمَا الْحِلْمُ بِالتَّحَلُّمِ، مَنْ يَتَحَرَّى الْخَيْرَ يُعْطَهُ، وَمَنْ يَتَّقِ الشَّرَّ يُوقَهُ “Sesungguhnya ilmu didapatkan dengan belajar dan sesungguhnya hilm (kesabaran dan ketenangan) didapat dengan terus melatih diri. Barangsiapa berusaha untuk mendapat kebaikan, maka Allah akan memberikannya. Barangsiapa yang berusaha untuk menghindari keburukan, niscaya akan terhindar darinya.” (HR. Ad-Daruquthni dalam Al-Afrad). Hanya Allah yang memberi taufik. Moga Allah beri keistiqamahan meraih ilmu dari guru-guru kita.   Referensi: Ma’alim fi Thariq Thalib Al-‘Ilmi. Cetakan kelima, tahun 1431 H. Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Muhammad bin ‘Abdullah As-Sadhan. Penerbit Dar Al-Qabs. — Selesai disusun di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 24 Dzulhijjah 1436 H Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsadab guru

Adab pada Guru (4)

Di antara adab pada guru adalah rajin hadir dalam majelis ilmu, berusaha terus hadir kecuali ada udzur syar’i. Kita lihat sebagian halaqah ilmu yang khusus membahas materi rutin, bukan tematik, misal membahas salah satu kitab ulama, akan nampak beda antara awal dan akhir. Keadaan awal pasti akan lebih banyak dibandingkan dengan pertemuan akhir. Keadaan awal lebih banyak, keadaan akhir akan semakin berkurang bahkan bisa jadi tersisa satu atau dua orang. Jarang sekali majelis yang kita lihat terus istiqamah kecuali yang Allah beri taufik padanya. Lihat contoh dari para salaf di masa silam bagaimanakah semangatnya mereka dalam merutinkan menghadiri majelis ilmu pada guru-guru mereka. Abul Hasan Al-Karkhi berkata, “Aku punya kebiasaan menghadiri majelis Abu Khazim setiap Jumat. Keesokan harinya di hari Jumat ternyata kosong, namun aku tetap menghadirinya agar tidak mengurangi kebiasaanku untuk menghadiri majelis tersebut.” (Al-Hattsu ‘ala Thalib Al-‘Ilmi karya Al-‘Askari, hlm. 78). Wahb bin Jarir dari bapaknya, ia berkata, “Aku sudah pernah duduk di majelis Al-Hasan Al-Bashri selama tujuh tahun. Aku tidak pernah absen walau satu hari pun. Aku punya kebiasaan puasa, lalu aku mendatangi majelis beliau.” (Siyar A’lam An-Nubala’, 6: 362) Qatadah bin Da’amah As-Sadusi, ulama di kalangan tabi’in yang lahir dalam keadaan buta. Ia adalah di antara murid Anas bin Malik. Para ulama yang ada ketika itu biasa mengambil ilmu dari Anas pada pagi dan petang hari. Ada yang menghadiri majelis di pagi hari lantas pergi. Yang datang di pagi hari memberitahukan ilmu pada orang-orang yang hanya bisa hadir di petang hari. Suatu saat Anas telat hadir pada majelis sore. Lantas Qatadah membawakan pelajaran pada orang-orang yang hadir di sore hari mengenai hadits yang ia peroleh di pagi hari. Ketika Anas menyimak apa yang disampaikan oleh Qatadah, ia melihat bagaimana bagusnya hafalan Qatadah dan ia pun begitu takjub dengan kecerdasannya. Lantas ia pun menepuk tangan Qatadah lantas berkata, “Berdiri, wahai Qatadah (dipanggil dengan panggilan ‘Ya Akmah’, artinya ‘wahai si buta’, pen.), aku baru saja mengambil ilmuku sendiri darimu.” (Ma’alim fi Thariq Thalab Al-‘Ilmi, hlm. 52-53) Ini tanda orang yang semangat hadiri majelis ilmu, maka kelak ia akan menuai hasil kerja kerasnya. Dari Abu Ad-Darda’, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّمَا الْعِلْمُ بِالتَّعَلُّمِ، وَإِنَّمَا الْحِلْمُ بِالتَّحَلُّمِ، مَنْ يَتَحَرَّى الْخَيْرَ يُعْطَهُ، وَمَنْ يَتَّقِ الشَّرَّ يُوقَهُ “Sesungguhnya ilmu didapatkan dengan belajar dan sesungguhnya hilm (kesabaran dan ketenangan) didapat dengan terus melatih diri. Barangsiapa berusaha untuk mendapat kebaikan, maka Allah akan memberikannya. Barangsiapa yang berusaha untuk menghindari keburukan, niscaya akan terhindar darinya.” (HR. Ad-Daruquthni dalam Al-Afrad). Hanya Allah yang memberi taufik. Moga Allah beri keistiqamahan meraih ilmu dari guru-guru kita.   Referensi: Ma’alim fi Thariq Thalib Al-‘Ilmi. Cetakan kelima, tahun 1431 H. Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Muhammad bin ‘Abdullah As-Sadhan. Penerbit Dar Al-Qabs. — Selesai disusun di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 24 Dzulhijjah 1436 H Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsadab guru
Di antara adab pada guru adalah rajin hadir dalam majelis ilmu, berusaha terus hadir kecuali ada udzur syar’i. Kita lihat sebagian halaqah ilmu yang khusus membahas materi rutin, bukan tematik, misal membahas salah satu kitab ulama, akan nampak beda antara awal dan akhir. Keadaan awal pasti akan lebih banyak dibandingkan dengan pertemuan akhir. Keadaan awal lebih banyak, keadaan akhir akan semakin berkurang bahkan bisa jadi tersisa satu atau dua orang. Jarang sekali majelis yang kita lihat terus istiqamah kecuali yang Allah beri taufik padanya. Lihat contoh dari para salaf di masa silam bagaimanakah semangatnya mereka dalam merutinkan menghadiri majelis ilmu pada guru-guru mereka. Abul Hasan Al-Karkhi berkata, “Aku punya kebiasaan menghadiri majelis Abu Khazim setiap Jumat. Keesokan harinya di hari Jumat ternyata kosong, namun aku tetap menghadirinya agar tidak mengurangi kebiasaanku untuk menghadiri majelis tersebut.” (Al-Hattsu ‘ala Thalib Al-‘Ilmi karya Al-‘Askari, hlm. 78). Wahb bin Jarir dari bapaknya, ia berkata, “Aku sudah pernah duduk di majelis Al-Hasan Al-Bashri selama tujuh tahun. Aku tidak pernah absen walau satu hari pun. Aku punya kebiasaan puasa, lalu aku mendatangi majelis beliau.” (Siyar A’lam An-Nubala’, 6: 362) Qatadah bin Da’amah As-Sadusi, ulama di kalangan tabi’in yang lahir dalam keadaan buta. Ia adalah di antara murid Anas bin Malik. Para ulama yang ada ketika itu biasa mengambil ilmu dari Anas pada pagi dan petang hari. Ada yang menghadiri majelis di pagi hari lantas pergi. Yang datang di pagi hari memberitahukan ilmu pada orang-orang yang hanya bisa hadir di petang hari. Suatu saat Anas telat hadir pada majelis sore. Lantas Qatadah membawakan pelajaran pada orang-orang yang hadir di sore hari mengenai hadits yang ia peroleh di pagi hari. Ketika Anas menyimak apa yang disampaikan oleh Qatadah, ia melihat bagaimana bagusnya hafalan Qatadah dan ia pun begitu takjub dengan kecerdasannya. Lantas ia pun menepuk tangan Qatadah lantas berkata, “Berdiri, wahai Qatadah (dipanggil dengan panggilan ‘Ya Akmah’, artinya ‘wahai si buta’, pen.), aku baru saja mengambil ilmuku sendiri darimu.” (Ma’alim fi Thariq Thalab Al-‘Ilmi, hlm. 52-53) Ini tanda orang yang semangat hadiri majelis ilmu, maka kelak ia akan menuai hasil kerja kerasnya. Dari Abu Ad-Darda’, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّمَا الْعِلْمُ بِالتَّعَلُّمِ، وَإِنَّمَا الْحِلْمُ بِالتَّحَلُّمِ، مَنْ يَتَحَرَّى الْخَيْرَ يُعْطَهُ، وَمَنْ يَتَّقِ الشَّرَّ يُوقَهُ “Sesungguhnya ilmu didapatkan dengan belajar dan sesungguhnya hilm (kesabaran dan ketenangan) didapat dengan terus melatih diri. Barangsiapa berusaha untuk mendapat kebaikan, maka Allah akan memberikannya. Barangsiapa yang berusaha untuk menghindari keburukan, niscaya akan terhindar darinya.” (HR. Ad-Daruquthni dalam Al-Afrad). Hanya Allah yang memberi taufik. Moga Allah beri keistiqamahan meraih ilmu dari guru-guru kita.   Referensi: Ma’alim fi Thariq Thalib Al-‘Ilmi. Cetakan kelima, tahun 1431 H. Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Muhammad bin ‘Abdullah As-Sadhan. Penerbit Dar Al-Qabs. — Selesai disusun di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 24 Dzulhijjah 1436 H Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsadab guru


Di antara adab pada guru adalah rajin hadir dalam majelis ilmu, berusaha terus hadir kecuali ada udzur syar’i. Kita lihat sebagian halaqah ilmu yang khusus membahas materi rutin, bukan tematik, misal membahas salah satu kitab ulama, akan nampak beda antara awal dan akhir. Keadaan awal pasti akan lebih banyak dibandingkan dengan pertemuan akhir. Keadaan awal lebih banyak, keadaan akhir akan semakin berkurang bahkan bisa jadi tersisa satu atau dua orang. Jarang sekali majelis yang kita lihat terus istiqamah kecuali yang Allah beri taufik padanya. Lihat contoh dari para salaf di masa silam bagaimanakah semangatnya mereka dalam merutinkan menghadiri majelis ilmu pada guru-guru mereka. Abul Hasan Al-Karkhi berkata, “Aku punya kebiasaan menghadiri majelis Abu Khazim setiap Jumat. Keesokan harinya di hari Jumat ternyata kosong, namun aku tetap menghadirinya agar tidak mengurangi kebiasaanku untuk menghadiri majelis tersebut.” (Al-Hattsu ‘ala Thalib Al-‘Ilmi karya Al-‘Askari, hlm. 78). Wahb bin Jarir dari bapaknya, ia berkata, “Aku sudah pernah duduk di majelis Al-Hasan Al-Bashri selama tujuh tahun. Aku tidak pernah absen walau satu hari pun. Aku punya kebiasaan puasa, lalu aku mendatangi majelis beliau.” (Siyar A’lam An-Nubala’, 6: 362) Qatadah bin Da’amah As-Sadusi, ulama di kalangan tabi’in yang lahir dalam keadaan buta. Ia adalah di antara murid Anas bin Malik. Para ulama yang ada ketika itu biasa mengambil ilmu dari Anas pada pagi dan petang hari. Ada yang menghadiri majelis di pagi hari lantas pergi. Yang datang di pagi hari memberitahukan ilmu pada orang-orang yang hanya bisa hadir di petang hari. Suatu saat Anas telat hadir pada majelis sore. Lantas Qatadah membawakan pelajaran pada orang-orang yang hadir di sore hari mengenai hadits yang ia peroleh di pagi hari. Ketika Anas menyimak apa yang disampaikan oleh Qatadah, ia melihat bagaimana bagusnya hafalan Qatadah dan ia pun begitu takjub dengan kecerdasannya. Lantas ia pun menepuk tangan Qatadah lantas berkata, “Berdiri, wahai Qatadah (dipanggil dengan panggilan ‘Ya Akmah’, artinya ‘wahai si buta’, pen.), aku baru saja mengambil ilmuku sendiri darimu.” (Ma’alim fi Thariq Thalab Al-‘Ilmi, hlm. 52-53) Ini tanda orang yang semangat hadiri majelis ilmu, maka kelak ia akan menuai hasil kerja kerasnya. Dari Abu Ad-Darda’, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّمَا الْعِلْمُ بِالتَّعَلُّمِ، وَإِنَّمَا الْحِلْمُ بِالتَّحَلُّمِ، مَنْ يَتَحَرَّى الْخَيْرَ يُعْطَهُ، وَمَنْ يَتَّقِ الشَّرَّ يُوقَهُ “Sesungguhnya ilmu didapatkan dengan belajar dan sesungguhnya hilm (kesabaran dan ketenangan) didapat dengan terus melatih diri. Barangsiapa berusaha untuk mendapat kebaikan, maka Allah akan memberikannya. Barangsiapa yang berusaha untuk menghindari keburukan, niscaya akan terhindar darinya.” (HR. Ad-Daruquthni dalam Al-Afrad). Hanya Allah yang memberi taufik. Moga Allah beri keistiqamahan meraih ilmu dari guru-guru kita.   Referensi: Ma’alim fi Thariq Thalib Al-‘Ilmi. Cetakan kelima, tahun 1431 H. Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Muhammad bin ‘Abdullah As-Sadhan. Penerbit Dar Al-Qabs. — Selesai disusun di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 24 Dzulhijjah 1436 H Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsadab guru

Syarat Menasihati Orang Lain Harus Bersih dari Dosa (Maksum)

Benarkah demikian syarat menasihati orang lain atau syarat amar makruf nahi mungkar adalah harus bersih dari dosa alias maksum?   Ibnu Rajab Al-Hambali berkata, فلا بد للإنسان من الأمر بالمعروف و النهي عن المنكر و الوعظ و التذكير و لو لم يعظ إلا معصوم من الزلل لم يعظ الناس بعد رسول الله صلى الله عليه و سلم أحد لأنه لا عصمة لأحد بعده “Tetap bagi setiap orang untuk mengajak yang lain pada kebaikan dan melarang dari kemungkaran. Tetap ada saling menasihati dan saling mengingatkan. Seandainya yang mengingatkan hanyalah orang yang maksum (yang bersih dari dosa, pen.), tentu tidak ada lagi yang bisa memberi nasihat sepeninggal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena sepeninggal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak ada lagi yang maksum.” Dalam bait sya’ir disebutkan, لئن لم يعظ العاصين من هو مذنب … فمن يعظ العاصين بعد محمد “Jika orang yang berbuat dosa tidak boleh memberi nasihat pada yang berbuat maksiat, maka siapa tah lagi yang boleh memberikan nasihat setelah (Nabi) Muhammad (wafat)?” Ibnu Abi Ad-Dunya meriwayatkan dengan sanad yang dha’if, dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, مروا بالمعروف و إن لم تعملوا به كله و انهوا عن المنكر و إن لم تتناهوا عنه كله “Perintahkanlah pada yang makruf (kebaikan), walau engkau tidak mengamalkan semuanya. Laranglah dari kemungkaran walau engkau tidak bisa jauhi semua larangan yang ada.” Ada yang berkata pada Al-Hasan Al-Bashri, إن فلانا لا يعظ و يقول : أخاف أن أقول مالا أفعل فقال الحسن : و أينا يفعل ما يقول ود الشيطان أنه ظفر بهذا فلم يأمر أحد بمعروف و لم ينه عن منكر “Sesungguhnya ada seseorang yang enggan memberi nasihat dan ia mengatakan, “Aku takut berkata sedangkan aku tidak mengamalkannya.” Al-Hasan Al-Bashri berkata, “Apa ada yang mengamalkan setiap yang ia ucapkan?” Sesungguhnya setan itu suka manusia jadi seperti itu. Akhirnya, mereka enggan mengajak yang lain dalam perkara yang makruf (kebaikan) dan melarang dari kemungkaran. Malik berkata dari Rabi’ah bahwasanya Sa’id bin Jubair berkata, لو كان المرء لا يأمر بالمعروف و لا ينهى عن المنكر حتى لا يكون فيه شيء ما أمر أحد بمعروف و لا نهى عن منكر قال مالك : و صدق و من ذا الذي ليس فيه شيء “Seandainya seseorang tidak boleh beramar makruf nahi mungkar (saling mengingatkan pada kebaikan dan melarang dari kemungkaran, pen.) kecuali setelah bersih dari dosa, tentu ada yang pantas untuk amar makruf nahi mungkar.” Malik lantas berkata, “Iya betul. Siapa yang mengaku bersih dari dosa?” Dalam bait sya’ir disebutkan, من ذا الذي ما ساء قط … و من له الحسنى فقط “Siapa yang berani mengaku telah bersih dari dosa sama sekali. Siapa yang mengaku dalam dirinya terdapat kebaikan saja (tanpa ada dosa, pen.)?” ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz pernah berkhutbah pada suatu hari. Ia menasihati, إني لأقول هذه المقالة و ما أعلم عند أحد من الذنوب أكثر مما أعلم عندي فاستغفر الله و أتوب إليه “Sungguh aku berkata dan aku lebih tahu bahwa tidak ada seorang pun yang memiliki dosa lebih banyak dari yang aku tahu ada pada diriku. Karenanya aku memohon ampun pada Allah dan bertaubat pada-Nya.” ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz juga pernah menuliskan surat berisi nasihat pada beberapa wakilnya yang ada di berbagai kota: “Aku beri nasihat seperti ini. Padahal aku sendiri telah melampaui batas terhadap diriku dan pernah berbuat salah. Seandainya seseorang tidak boleh menasihati saudaranya sampai dirinya bersih dari kesalahan, maka tentu semua akan merasa dirinya telah baik (karena tak ada yang menasihati, pen.). Jika disyaratkan harus bersih dari kesalahan, berarti hilanglah amar makruf nahi mungkar. Jadinya, yang haram dihalalkan. Sehingga berkuranglah orang yang memberi nasihat di muka bumi. Setan pun akhirnya senang jika tidak ada yang beramar makruf nahi mungkar sama sekali. Sebaliknya jika ada yang saling menasihati dalam kebaikan dan melarang dari kemungkaran, setan akan menyalahkannya. Setan menggodanya dengan berkata, kenapa engkau memberi nasihat pada orang lain, padahal dirimu sendiri belum baik.” Demikian penjelasan menarik dari Ibnu Rajab dalam Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 42-43. Penjelasan di atas bukan berarti kita boleh tetap terus dalam maksiat. Maksiat tetaplah ditinggalkan. Pemaparan Ibnu Rajab hanya ingin menekankan bahwa jangan sampai patah semangat dalam menasihati orang lain walau diri kita belum baik atau belum sempurna. Yang penting kita mau terus memperbaiki diri. Tetap saja yang lebih baik adalah ilmu itu diamalkan, baru didakwahi. Allah Ta’ala berfirman, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ (2) كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ (3) “Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS. Ash- Shaff: 2-3). Pokoknya jangan sampai melupakan diri sendiri. Ingatlah kembali ayat, أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنْسَوْنَ أَنْفُسَكُمْ وَأَنْتُمْ تَتْلُونَ الْكِتَابَ أَفَلَا تَعْقِلُونَ “Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab (Taurat)? Maka tidaklah kamu berpikir?” (QS. Al-Baqarah: 44). Baca artikel menarik di Rumaysho.Com sebagai pelengkap materi di atas: Mengajak Orang Lain untuk Baik Namun Lupa Akan Diri Sendiri. Ancaman Tidak Mengamalkan Ilmu. Wallahu waliyyut taufiq. Semoga Allah memudahkan kita dalam meraih ilmu, mengamalkannya dan dimudahkan pula dalam mendakwahi orang-orang terdekat kita dan masyarakat secara umum.   Referensi: Lathaif Al-Ma’arif fima Al-Mawasim Al-‘Aam mi Al-Wazhaif. Cetakan pertama, tahun 1428 H. Ibnu Rajab Al-Hambali. Penerbit Al-Maktab Al-Islami. — Selesai disusun saat dini hari di Darush Sholihin Panggang, Gunungkidul, 23 Dzulhijjah 1436 H Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsdakwah

Syarat Menasihati Orang Lain Harus Bersih dari Dosa (Maksum)

Benarkah demikian syarat menasihati orang lain atau syarat amar makruf nahi mungkar adalah harus bersih dari dosa alias maksum?   Ibnu Rajab Al-Hambali berkata, فلا بد للإنسان من الأمر بالمعروف و النهي عن المنكر و الوعظ و التذكير و لو لم يعظ إلا معصوم من الزلل لم يعظ الناس بعد رسول الله صلى الله عليه و سلم أحد لأنه لا عصمة لأحد بعده “Tetap bagi setiap orang untuk mengajak yang lain pada kebaikan dan melarang dari kemungkaran. Tetap ada saling menasihati dan saling mengingatkan. Seandainya yang mengingatkan hanyalah orang yang maksum (yang bersih dari dosa, pen.), tentu tidak ada lagi yang bisa memberi nasihat sepeninggal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena sepeninggal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak ada lagi yang maksum.” Dalam bait sya’ir disebutkan, لئن لم يعظ العاصين من هو مذنب … فمن يعظ العاصين بعد محمد “Jika orang yang berbuat dosa tidak boleh memberi nasihat pada yang berbuat maksiat, maka siapa tah lagi yang boleh memberikan nasihat setelah (Nabi) Muhammad (wafat)?” Ibnu Abi Ad-Dunya meriwayatkan dengan sanad yang dha’if, dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, مروا بالمعروف و إن لم تعملوا به كله و انهوا عن المنكر و إن لم تتناهوا عنه كله “Perintahkanlah pada yang makruf (kebaikan), walau engkau tidak mengamalkan semuanya. Laranglah dari kemungkaran walau engkau tidak bisa jauhi semua larangan yang ada.” Ada yang berkata pada Al-Hasan Al-Bashri, إن فلانا لا يعظ و يقول : أخاف أن أقول مالا أفعل فقال الحسن : و أينا يفعل ما يقول ود الشيطان أنه ظفر بهذا فلم يأمر أحد بمعروف و لم ينه عن منكر “Sesungguhnya ada seseorang yang enggan memberi nasihat dan ia mengatakan, “Aku takut berkata sedangkan aku tidak mengamalkannya.” Al-Hasan Al-Bashri berkata, “Apa ada yang mengamalkan setiap yang ia ucapkan?” Sesungguhnya setan itu suka manusia jadi seperti itu. Akhirnya, mereka enggan mengajak yang lain dalam perkara yang makruf (kebaikan) dan melarang dari kemungkaran. Malik berkata dari Rabi’ah bahwasanya Sa’id bin Jubair berkata, لو كان المرء لا يأمر بالمعروف و لا ينهى عن المنكر حتى لا يكون فيه شيء ما أمر أحد بمعروف و لا نهى عن منكر قال مالك : و صدق و من ذا الذي ليس فيه شيء “Seandainya seseorang tidak boleh beramar makruf nahi mungkar (saling mengingatkan pada kebaikan dan melarang dari kemungkaran, pen.) kecuali setelah bersih dari dosa, tentu ada yang pantas untuk amar makruf nahi mungkar.” Malik lantas berkata, “Iya betul. Siapa yang mengaku bersih dari dosa?” Dalam bait sya’ir disebutkan, من ذا الذي ما ساء قط … و من له الحسنى فقط “Siapa yang berani mengaku telah bersih dari dosa sama sekali. Siapa yang mengaku dalam dirinya terdapat kebaikan saja (tanpa ada dosa, pen.)?” ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz pernah berkhutbah pada suatu hari. Ia menasihati, إني لأقول هذه المقالة و ما أعلم عند أحد من الذنوب أكثر مما أعلم عندي فاستغفر الله و أتوب إليه “Sungguh aku berkata dan aku lebih tahu bahwa tidak ada seorang pun yang memiliki dosa lebih banyak dari yang aku tahu ada pada diriku. Karenanya aku memohon ampun pada Allah dan bertaubat pada-Nya.” ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz juga pernah menuliskan surat berisi nasihat pada beberapa wakilnya yang ada di berbagai kota: “Aku beri nasihat seperti ini. Padahal aku sendiri telah melampaui batas terhadap diriku dan pernah berbuat salah. Seandainya seseorang tidak boleh menasihati saudaranya sampai dirinya bersih dari kesalahan, maka tentu semua akan merasa dirinya telah baik (karena tak ada yang menasihati, pen.). Jika disyaratkan harus bersih dari kesalahan, berarti hilanglah amar makruf nahi mungkar. Jadinya, yang haram dihalalkan. Sehingga berkuranglah orang yang memberi nasihat di muka bumi. Setan pun akhirnya senang jika tidak ada yang beramar makruf nahi mungkar sama sekali. Sebaliknya jika ada yang saling menasihati dalam kebaikan dan melarang dari kemungkaran, setan akan menyalahkannya. Setan menggodanya dengan berkata, kenapa engkau memberi nasihat pada orang lain, padahal dirimu sendiri belum baik.” Demikian penjelasan menarik dari Ibnu Rajab dalam Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 42-43. Penjelasan di atas bukan berarti kita boleh tetap terus dalam maksiat. Maksiat tetaplah ditinggalkan. Pemaparan Ibnu Rajab hanya ingin menekankan bahwa jangan sampai patah semangat dalam menasihati orang lain walau diri kita belum baik atau belum sempurna. Yang penting kita mau terus memperbaiki diri. Tetap saja yang lebih baik adalah ilmu itu diamalkan, baru didakwahi. Allah Ta’ala berfirman, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ (2) كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ (3) “Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS. Ash- Shaff: 2-3). Pokoknya jangan sampai melupakan diri sendiri. Ingatlah kembali ayat, أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنْسَوْنَ أَنْفُسَكُمْ وَأَنْتُمْ تَتْلُونَ الْكِتَابَ أَفَلَا تَعْقِلُونَ “Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab (Taurat)? Maka tidaklah kamu berpikir?” (QS. Al-Baqarah: 44). Baca artikel menarik di Rumaysho.Com sebagai pelengkap materi di atas: Mengajak Orang Lain untuk Baik Namun Lupa Akan Diri Sendiri. Ancaman Tidak Mengamalkan Ilmu. Wallahu waliyyut taufiq. Semoga Allah memudahkan kita dalam meraih ilmu, mengamalkannya dan dimudahkan pula dalam mendakwahi orang-orang terdekat kita dan masyarakat secara umum.   Referensi: Lathaif Al-Ma’arif fima Al-Mawasim Al-‘Aam mi Al-Wazhaif. Cetakan pertama, tahun 1428 H. Ibnu Rajab Al-Hambali. Penerbit Al-Maktab Al-Islami. — Selesai disusun saat dini hari di Darush Sholihin Panggang, Gunungkidul, 23 Dzulhijjah 1436 H Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsdakwah
Benarkah demikian syarat menasihati orang lain atau syarat amar makruf nahi mungkar adalah harus bersih dari dosa alias maksum?   Ibnu Rajab Al-Hambali berkata, فلا بد للإنسان من الأمر بالمعروف و النهي عن المنكر و الوعظ و التذكير و لو لم يعظ إلا معصوم من الزلل لم يعظ الناس بعد رسول الله صلى الله عليه و سلم أحد لأنه لا عصمة لأحد بعده “Tetap bagi setiap orang untuk mengajak yang lain pada kebaikan dan melarang dari kemungkaran. Tetap ada saling menasihati dan saling mengingatkan. Seandainya yang mengingatkan hanyalah orang yang maksum (yang bersih dari dosa, pen.), tentu tidak ada lagi yang bisa memberi nasihat sepeninggal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena sepeninggal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak ada lagi yang maksum.” Dalam bait sya’ir disebutkan, لئن لم يعظ العاصين من هو مذنب … فمن يعظ العاصين بعد محمد “Jika orang yang berbuat dosa tidak boleh memberi nasihat pada yang berbuat maksiat, maka siapa tah lagi yang boleh memberikan nasihat setelah (Nabi) Muhammad (wafat)?” Ibnu Abi Ad-Dunya meriwayatkan dengan sanad yang dha’if, dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, مروا بالمعروف و إن لم تعملوا به كله و انهوا عن المنكر و إن لم تتناهوا عنه كله “Perintahkanlah pada yang makruf (kebaikan), walau engkau tidak mengamalkan semuanya. Laranglah dari kemungkaran walau engkau tidak bisa jauhi semua larangan yang ada.” Ada yang berkata pada Al-Hasan Al-Bashri, إن فلانا لا يعظ و يقول : أخاف أن أقول مالا أفعل فقال الحسن : و أينا يفعل ما يقول ود الشيطان أنه ظفر بهذا فلم يأمر أحد بمعروف و لم ينه عن منكر “Sesungguhnya ada seseorang yang enggan memberi nasihat dan ia mengatakan, “Aku takut berkata sedangkan aku tidak mengamalkannya.” Al-Hasan Al-Bashri berkata, “Apa ada yang mengamalkan setiap yang ia ucapkan?” Sesungguhnya setan itu suka manusia jadi seperti itu. Akhirnya, mereka enggan mengajak yang lain dalam perkara yang makruf (kebaikan) dan melarang dari kemungkaran. Malik berkata dari Rabi’ah bahwasanya Sa’id bin Jubair berkata, لو كان المرء لا يأمر بالمعروف و لا ينهى عن المنكر حتى لا يكون فيه شيء ما أمر أحد بمعروف و لا نهى عن منكر قال مالك : و صدق و من ذا الذي ليس فيه شيء “Seandainya seseorang tidak boleh beramar makruf nahi mungkar (saling mengingatkan pada kebaikan dan melarang dari kemungkaran, pen.) kecuali setelah bersih dari dosa, tentu ada yang pantas untuk amar makruf nahi mungkar.” Malik lantas berkata, “Iya betul. Siapa yang mengaku bersih dari dosa?” Dalam bait sya’ir disebutkan, من ذا الذي ما ساء قط … و من له الحسنى فقط “Siapa yang berani mengaku telah bersih dari dosa sama sekali. Siapa yang mengaku dalam dirinya terdapat kebaikan saja (tanpa ada dosa, pen.)?” ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz pernah berkhutbah pada suatu hari. Ia menasihati, إني لأقول هذه المقالة و ما أعلم عند أحد من الذنوب أكثر مما أعلم عندي فاستغفر الله و أتوب إليه “Sungguh aku berkata dan aku lebih tahu bahwa tidak ada seorang pun yang memiliki dosa lebih banyak dari yang aku tahu ada pada diriku. Karenanya aku memohon ampun pada Allah dan bertaubat pada-Nya.” ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz juga pernah menuliskan surat berisi nasihat pada beberapa wakilnya yang ada di berbagai kota: “Aku beri nasihat seperti ini. Padahal aku sendiri telah melampaui batas terhadap diriku dan pernah berbuat salah. Seandainya seseorang tidak boleh menasihati saudaranya sampai dirinya bersih dari kesalahan, maka tentu semua akan merasa dirinya telah baik (karena tak ada yang menasihati, pen.). Jika disyaratkan harus bersih dari kesalahan, berarti hilanglah amar makruf nahi mungkar. Jadinya, yang haram dihalalkan. Sehingga berkuranglah orang yang memberi nasihat di muka bumi. Setan pun akhirnya senang jika tidak ada yang beramar makruf nahi mungkar sama sekali. Sebaliknya jika ada yang saling menasihati dalam kebaikan dan melarang dari kemungkaran, setan akan menyalahkannya. Setan menggodanya dengan berkata, kenapa engkau memberi nasihat pada orang lain, padahal dirimu sendiri belum baik.” Demikian penjelasan menarik dari Ibnu Rajab dalam Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 42-43. Penjelasan di atas bukan berarti kita boleh tetap terus dalam maksiat. Maksiat tetaplah ditinggalkan. Pemaparan Ibnu Rajab hanya ingin menekankan bahwa jangan sampai patah semangat dalam menasihati orang lain walau diri kita belum baik atau belum sempurna. Yang penting kita mau terus memperbaiki diri. Tetap saja yang lebih baik adalah ilmu itu diamalkan, baru didakwahi. Allah Ta’ala berfirman, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ (2) كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ (3) “Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS. Ash- Shaff: 2-3). Pokoknya jangan sampai melupakan diri sendiri. Ingatlah kembali ayat, أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنْسَوْنَ أَنْفُسَكُمْ وَأَنْتُمْ تَتْلُونَ الْكِتَابَ أَفَلَا تَعْقِلُونَ “Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab (Taurat)? Maka tidaklah kamu berpikir?” (QS. Al-Baqarah: 44). Baca artikel menarik di Rumaysho.Com sebagai pelengkap materi di atas: Mengajak Orang Lain untuk Baik Namun Lupa Akan Diri Sendiri. Ancaman Tidak Mengamalkan Ilmu. Wallahu waliyyut taufiq. Semoga Allah memudahkan kita dalam meraih ilmu, mengamalkannya dan dimudahkan pula dalam mendakwahi orang-orang terdekat kita dan masyarakat secara umum.   Referensi: Lathaif Al-Ma’arif fima Al-Mawasim Al-‘Aam mi Al-Wazhaif. Cetakan pertama, tahun 1428 H. Ibnu Rajab Al-Hambali. Penerbit Al-Maktab Al-Islami. — Selesai disusun saat dini hari di Darush Sholihin Panggang, Gunungkidul, 23 Dzulhijjah 1436 H Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsdakwah


Benarkah demikian syarat menasihati orang lain atau syarat amar makruf nahi mungkar adalah harus bersih dari dosa alias maksum?   Ibnu Rajab Al-Hambali berkata, فلا بد للإنسان من الأمر بالمعروف و النهي عن المنكر و الوعظ و التذكير و لو لم يعظ إلا معصوم من الزلل لم يعظ الناس بعد رسول الله صلى الله عليه و سلم أحد لأنه لا عصمة لأحد بعده “Tetap bagi setiap orang untuk mengajak yang lain pada kebaikan dan melarang dari kemungkaran. Tetap ada saling menasihati dan saling mengingatkan. Seandainya yang mengingatkan hanyalah orang yang maksum (yang bersih dari dosa, pen.), tentu tidak ada lagi yang bisa memberi nasihat sepeninggal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena sepeninggal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak ada lagi yang maksum.” Dalam bait sya’ir disebutkan, لئن لم يعظ العاصين من هو مذنب … فمن يعظ العاصين بعد محمد “Jika orang yang berbuat dosa tidak boleh memberi nasihat pada yang berbuat maksiat, maka siapa tah lagi yang boleh memberikan nasihat setelah (Nabi) Muhammad (wafat)?” Ibnu Abi Ad-Dunya meriwayatkan dengan sanad yang dha’if, dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, مروا بالمعروف و إن لم تعملوا به كله و انهوا عن المنكر و إن لم تتناهوا عنه كله “Perintahkanlah pada yang makruf (kebaikan), walau engkau tidak mengamalkan semuanya. Laranglah dari kemungkaran walau engkau tidak bisa jauhi semua larangan yang ada.” Ada yang berkata pada Al-Hasan Al-Bashri, إن فلانا لا يعظ و يقول : أخاف أن أقول مالا أفعل فقال الحسن : و أينا يفعل ما يقول ود الشيطان أنه ظفر بهذا فلم يأمر أحد بمعروف و لم ينه عن منكر “Sesungguhnya ada seseorang yang enggan memberi nasihat dan ia mengatakan, “Aku takut berkata sedangkan aku tidak mengamalkannya.” Al-Hasan Al-Bashri berkata, “Apa ada yang mengamalkan setiap yang ia ucapkan?” Sesungguhnya setan itu suka manusia jadi seperti itu. Akhirnya, mereka enggan mengajak yang lain dalam perkara yang makruf (kebaikan) dan melarang dari kemungkaran. Malik berkata dari Rabi’ah bahwasanya Sa’id bin Jubair berkata, لو كان المرء لا يأمر بالمعروف و لا ينهى عن المنكر حتى لا يكون فيه شيء ما أمر أحد بمعروف و لا نهى عن منكر قال مالك : و صدق و من ذا الذي ليس فيه شيء “Seandainya seseorang tidak boleh beramar makruf nahi mungkar (saling mengingatkan pada kebaikan dan melarang dari kemungkaran, pen.) kecuali setelah bersih dari dosa, tentu ada yang pantas untuk amar makruf nahi mungkar.” Malik lantas berkata, “Iya betul. Siapa yang mengaku bersih dari dosa?” Dalam bait sya’ir disebutkan, من ذا الذي ما ساء قط … و من له الحسنى فقط “Siapa yang berani mengaku telah bersih dari dosa sama sekali. Siapa yang mengaku dalam dirinya terdapat kebaikan saja (tanpa ada dosa, pen.)?” ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz pernah berkhutbah pada suatu hari. Ia menasihati, إني لأقول هذه المقالة و ما أعلم عند أحد من الذنوب أكثر مما أعلم عندي فاستغفر الله و أتوب إليه “Sungguh aku berkata dan aku lebih tahu bahwa tidak ada seorang pun yang memiliki dosa lebih banyak dari yang aku tahu ada pada diriku. Karenanya aku memohon ampun pada Allah dan bertaubat pada-Nya.” ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz juga pernah menuliskan surat berisi nasihat pada beberapa wakilnya yang ada di berbagai kota: “Aku beri nasihat seperti ini. Padahal aku sendiri telah melampaui batas terhadap diriku dan pernah berbuat salah. Seandainya seseorang tidak boleh menasihati saudaranya sampai dirinya bersih dari kesalahan, maka tentu semua akan merasa dirinya telah baik (karena tak ada yang menasihati, pen.). Jika disyaratkan harus bersih dari kesalahan, berarti hilanglah amar makruf nahi mungkar. Jadinya, yang haram dihalalkan. Sehingga berkuranglah orang yang memberi nasihat di muka bumi. Setan pun akhirnya senang jika tidak ada yang beramar makruf nahi mungkar sama sekali. Sebaliknya jika ada yang saling menasihati dalam kebaikan dan melarang dari kemungkaran, setan akan menyalahkannya. Setan menggodanya dengan berkata, kenapa engkau memberi nasihat pada orang lain, padahal dirimu sendiri belum baik.” Demikian penjelasan menarik dari Ibnu Rajab dalam Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 42-43. Penjelasan di atas bukan berarti kita boleh tetap terus dalam maksiat. Maksiat tetaplah ditinggalkan. Pemaparan Ibnu Rajab hanya ingin menekankan bahwa jangan sampai patah semangat dalam menasihati orang lain walau diri kita belum baik atau belum sempurna. Yang penting kita mau terus memperbaiki diri. Tetap saja yang lebih baik adalah ilmu itu diamalkan, baru didakwahi. Allah Ta’ala berfirman, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ (2) كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ (3) “Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS. Ash- Shaff: 2-3). Pokoknya jangan sampai melupakan diri sendiri. Ingatlah kembali ayat, أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنْسَوْنَ أَنْفُسَكُمْ وَأَنْتُمْ تَتْلُونَ الْكِتَابَ أَفَلَا تَعْقِلُونَ “Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab (Taurat)? Maka tidaklah kamu berpikir?” (QS. Al-Baqarah: 44). Baca artikel menarik di Rumaysho.Com sebagai pelengkap materi di atas: Mengajak Orang Lain untuk Baik Namun Lupa Akan Diri Sendiri. Ancaman Tidak Mengamalkan Ilmu. Wallahu waliyyut taufiq. Semoga Allah memudahkan kita dalam meraih ilmu, mengamalkannya dan dimudahkan pula dalam mendakwahi orang-orang terdekat kita dan masyarakat secara umum.   Referensi: Lathaif Al-Ma’arif fima Al-Mawasim Al-‘Aam mi Al-Wazhaif. Cetakan pertama, tahun 1428 H. Ibnu Rajab Al-Hambali. Penerbit Al-Maktab Al-Islami. — Selesai disusun saat dini hari di Darush Sholihin Panggang, Gunungkidul, 23 Dzulhijjah 1436 H Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsdakwah

Ilmuwan yang Menjadi Ulama (5)

Ini adalah seorang dokter yang sudah masyhur sebagai ulama besar di Iskandariyah dan Mesir, yaitu Syaikh Muhammad bin Ahmad bin Ismail bin Musthafa Al-Muqaddam. Nama kunyah beliau adalah Abul Faraj. Beliau lahir di Iskandariyah pada bulan Dzulqa’dah tahun 1371 H (bertepatan dengan 26 Juli 1952). Beliau dahulu mempelajari ilmu kedokteran di Universitas Iskandariyah di tahun 70-an. Di kampus itulah beliau pertama kali bertemu dengan Syaikh Ahmad Farid. Syaikh Al-Muqaddam bersama dengan Syaikh Ahmad Farid menulis risalah sederhana tentang Islam dan disebarkan pada mahasiswa di kampus tersebut. Sejak kuliah berarti beliau sudah semangat untuk berdakwah. Pendidikan yang pernah beliau tempuh adalah Sarjana (S-1) Kedokteran di Universitas Iskandariyah, Diploma Ilmu Kesehatan Mental (Psikiatris) di Pasca Sarjana Ilmu Kesehatan di Universitas Iskandariyah dan Pasca Sarjana di Ilmu Penyakit Neurologis dan Psikiatris. Walau punya background kuliah umum, beliau juga mengambil ijazah pada Kuliah Syari’ah di Universitas Al-Azhar Kairo Mesir. Di antara guru beliau dalam ilmu Al-Qur’an yaitu Syaikh Muhammad ‘Abdul Hamid ‘Abdullah, Syaikh Farid An-Nu’man, Syaikh Usamah ‘Abdul Wahhab. Beliau juga mendapatkan ijazah ilmu dari Syaikh Al-Muhaddits Abu Muhammad Badi’uddin Syah Ar-Rasyidi As-Sanadi Al-Muhammadi, Syaikh Muhammad Al-Hasan Ad-Dadu Asy-Syinqithi, Syaikh ‘Abdullah bin Shalih bin Muhammad Al-‘Ubaid. Ada juga guru-guru beliau dari ulama Anshar As-Sunnah Al-Muhammadiyah yaitu Syaikh Muhammad Sahnun, Syaikh Syahin Kasyif Abu Ra’s, Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Rasyid An-Najdi, Syaikh ‘Abdul ‘Aziz Al-Barmawi, Syaikh Muhammad Fathi Mahmud, Syaikh Muhammad ‘Ali ‘Abdurrahim, Prof. ‘Ukasyah ‘Abduh, Prof. Dr. Muhammad Syauqi, Prof. Al-Bukhari ‘Abduh. Begitu pula ada guru beliau dari ulama Al-Azhar yaitu Syaikh Isma’il Hamdi, Syaikh Mahmud ‘Ied, Syaikh Ahmad Al-Mahlawi, Syaikh Sayid Ash-Shawi, Syaikh Shubhi Al-Khasyab. Di samping itu ada beberapa murabbi beliau yang lain, juga ada ulama-ulama yang beliau pernah hadiri majelisnya. Adapun karya-karya beliau seperti Tamamul Minnah bi Ar-Rad ‘ala A’dai As-Sunnah, An-Nashihah fi Al-Adzkar wa Al-Ad’iyyah Ash-Shahihah, ‘Uluwwul Himmah, Hurmah Ahli Al-‘Ilmi, Fiqh Asyrah Asy-Sya’ah, Al-Mahdi, Al-Adab Adh-Dhai’, Bid’ah Taqsim Ad-Diin ila Qasyr wa Lubab, Al-Lihyah Limadza, Al-Hijab Limadza, Limadza Nushalli, Hawaituna aw Al-Hawiyah, Al-Haya’ Khalqul Islam, Mukhtashar An-Nashihah fi Al-Adzkar wa Al-Ad’iyyah Ash-Shahihah, Al-Ijhaaz ‘ala At-Tilfaz, Adzkar wa Adab Ash-Shabah wa Al-Masa’, ‘Audatul Hijab, Adzkar Ash-Shalah wa Maa Hawlaha, At-Tadzkirah bi Ad’iyah Al-Hajj wa Al-‘Umrah, Shahihah Tahdzir wa Sharkhah Nadzir, Bayna Yaday Ramadhan, ‘Udu ila Khairil Hadyi, Hawar Ma’a Majlatil Hijrah, Ad’iyyah Al-Qur’an wa As-Sunnah Ash-Shahihah, dan Fiqh Asyrath Asy-Sya’ah. Ini salah satu contoh ulama besar saat ini yang meraih Doktor dalam bidang kedokteran dan tak ketinggalan juga mempelajari ilmu syari’ah. Jadi mungkin saja kita belajar ilmu agama dan meraih ilmu dunia pula. Hanya Allah yang memberi taufik.   Referensi: Ar.Wikipedia — Selesai disusun di pagi hari penuh berkah @ Darush Sholihin Panggang, 23 Dzulhijjah 1436 H Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsilmuwan

Ilmuwan yang Menjadi Ulama (5)

Ini adalah seorang dokter yang sudah masyhur sebagai ulama besar di Iskandariyah dan Mesir, yaitu Syaikh Muhammad bin Ahmad bin Ismail bin Musthafa Al-Muqaddam. Nama kunyah beliau adalah Abul Faraj. Beliau lahir di Iskandariyah pada bulan Dzulqa’dah tahun 1371 H (bertepatan dengan 26 Juli 1952). Beliau dahulu mempelajari ilmu kedokteran di Universitas Iskandariyah di tahun 70-an. Di kampus itulah beliau pertama kali bertemu dengan Syaikh Ahmad Farid. Syaikh Al-Muqaddam bersama dengan Syaikh Ahmad Farid menulis risalah sederhana tentang Islam dan disebarkan pada mahasiswa di kampus tersebut. Sejak kuliah berarti beliau sudah semangat untuk berdakwah. Pendidikan yang pernah beliau tempuh adalah Sarjana (S-1) Kedokteran di Universitas Iskandariyah, Diploma Ilmu Kesehatan Mental (Psikiatris) di Pasca Sarjana Ilmu Kesehatan di Universitas Iskandariyah dan Pasca Sarjana di Ilmu Penyakit Neurologis dan Psikiatris. Walau punya background kuliah umum, beliau juga mengambil ijazah pada Kuliah Syari’ah di Universitas Al-Azhar Kairo Mesir. Di antara guru beliau dalam ilmu Al-Qur’an yaitu Syaikh Muhammad ‘Abdul Hamid ‘Abdullah, Syaikh Farid An-Nu’man, Syaikh Usamah ‘Abdul Wahhab. Beliau juga mendapatkan ijazah ilmu dari Syaikh Al-Muhaddits Abu Muhammad Badi’uddin Syah Ar-Rasyidi As-Sanadi Al-Muhammadi, Syaikh Muhammad Al-Hasan Ad-Dadu Asy-Syinqithi, Syaikh ‘Abdullah bin Shalih bin Muhammad Al-‘Ubaid. Ada juga guru-guru beliau dari ulama Anshar As-Sunnah Al-Muhammadiyah yaitu Syaikh Muhammad Sahnun, Syaikh Syahin Kasyif Abu Ra’s, Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Rasyid An-Najdi, Syaikh ‘Abdul ‘Aziz Al-Barmawi, Syaikh Muhammad Fathi Mahmud, Syaikh Muhammad ‘Ali ‘Abdurrahim, Prof. ‘Ukasyah ‘Abduh, Prof. Dr. Muhammad Syauqi, Prof. Al-Bukhari ‘Abduh. Begitu pula ada guru beliau dari ulama Al-Azhar yaitu Syaikh Isma’il Hamdi, Syaikh Mahmud ‘Ied, Syaikh Ahmad Al-Mahlawi, Syaikh Sayid Ash-Shawi, Syaikh Shubhi Al-Khasyab. Di samping itu ada beberapa murabbi beliau yang lain, juga ada ulama-ulama yang beliau pernah hadiri majelisnya. Adapun karya-karya beliau seperti Tamamul Minnah bi Ar-Rad ‘ala A’dai As-Sunnah, An-Nashihah fi Al-Adzkar wa Al-Ad’iyyah Ash-Shahihah, ‘Uluwwul Himmah, Hurmah Ahli Al-‘Ilmi, Fiqh Asyrah Asy-Sya’ah, Al-Mahdi, Al-Adab Adh-Dhai’, Bid’ah Taqsim Ad-Diin ila Qasyr wa Lubab, Al-Lihyah Limadza, Al-Hijab Limadza, Limadza Nushalli, Hawaituna aw Al-Hawiyah, Al-Haya’ Khalqul Islam, Mukhtashar An-Nashihah fi Al-Adzkar wa Al-Ad’iyyah Ash-Shahihah, Al-Ijhaaz ‘ala At-Tilfaz, Adzkar wa Adab Ash-Shabah wa Al-Masa’, ‘Audatul Hijab, Adzkar Ash-Shalah wa Maa Hawlaha, At-Tadzkirah bi Ad’iyah Al-Hajj wa Al-‘Umrah, Shahihah Tahdzir wa Sharkhah Nadzir, Bayna Yaday Ramadhan, ‘Udu ila Khairil Hadyi, Hawar Ma’a Majlatil Hijrah, Ad’iyyah Al-Qur’an wa As-Sunnah Ash-Shahihah, dan Fiqh Asyrath Asy-Sya’ah. Ini salah satu contoh ulama besar saat ini yang meraih Doktor dalam bidang kedokteran dan tak ketinggalan juga mempelajari ilmu syari’ah. Jadi mungkin saja kita belajar ilmu agama dan meraih ilmu dunia pula. Hanya Allah yang memberi taufik.   Referensi: Ar.Wikipedia — Selesai disusun di pagi hari penuh berkah @ Darush Sholihin Panggang, 23 Dzulhijjah 1436 H Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsilmuwan
Ini adalah seorang dokter yang sudah masyhur sebagai ulama besar di Iskandariyah dan Mesir, yaitu Syaikh Muhammad bin Ahmad bin Ismail bin Musthafa Al-Muqaddam. Nama kunyah beliau adalah Abul Faraj. Beliau lahir di Iskandariyah pada bulan Dzulqa’dah tahun 1371 H (bertepatan dengan 26 Juli 1952). Beliau dahulu mempelajari ilmu kedokteran di Universitas Iskandariyah di tahun 70-an. Di kampus itulah beliau pertama kali bertemu dengan Syaikh Ahmad Farid. Syaikh Al-Muqaddam bersama dengan Syaikh Ahmad Farid menulis risalah sederhana tentang Islam dan disebarkan pada mahasiswa di kampus tersebut. Sejak kuliah berarti beliau sudah semangat untuk berdakwah. Pendidikan yang pernah beliau tempuh adalah Sarjana (S-1) Kedokteran di Universitas Iskandariyah, Diploma Ilmu Kesehatan Mental (Psikiatris) di Pasca Sarjana Ilmu Kesehatan di Universitas Iskandariyah dan Pasca Sarjana di Ilmu Penyakit Neurologis dan Psikiatris. Walau punya background kuliah umum, beliau juga mengambil ijazah pada Kuliah Syari’ah di Universitas Al-Azhar Kairo Mesir. Di antara guru beliau dalam ilmu Al-Qur’an yaitu Syaikh Muhammad ‘Abdul Hamid ‘Abdullah, Syaikh Farid An-Nu’man, Syaikh Usamah ‘Abdul Wahhab. Beliau juga mendapatkan ijazah ilmu dari Syaikh Al-Muhaddits Abu Muhammad Badi’uddin Syah Ar-Rasyidi As-Sanadi Al-Muhammadi, Syaikh Muhammad Al-Hasan Ad-Dadu Asy-Syinqithi, Syaikh ‘Abdullah bin Shalih bin Muhammad Al-‘Ubaid. Ada juga guru-guru beliau dari ulama Anshar As-Sunnah Al-Muhammadiyah yaitu Syaikh Muhammad Sahnun, Syaikh Syahin Kasyif Abu Ra’s, Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Rasyid An-Najdi, Syaikh ‘Abdul ‘Aziz Al-Barmawi, Syaikh Muhammad Fathi Mahmud, Syaikh Muhammad ‘Ali ‘Abdurrahim, Prof. ‘Ukasyah ‘Abduh, Prof. Dr. Muhammad Syauqi, Prof. Al-Bukhari ‘Abduh. Begitu pula ada guru beliau dari ulama Al-Azhar yaitu Syaikh Isma’il Hamdi, Syaikh Mahmud ‘Ied, Syaikh Ahmad Al-Mahlawi, Syaikh Sayid Ash-Shawi, Syaikh Shubhi Al-Khasyab. Di samping itu ada beberapa murabbi beliau yang lain, juga ada ulama-ulama yang beliau pernah hadiri majelisnya. Adapun karya-karya beliau seperti Tamamul Minnah bi Ar-Rad ‘ala A’dai As-Sunnah, An-Nashihah fi Al-Adzkar wa Al-Ad’iyyah Ash-Shahihah, ‘Uluwwul Himmah, Hurmah Ahli Al-‘Ilmi, Fiqh Asyrah Asy-Sya’ah, Al-Mahdi, Al-Adab Adh-Dhai’, Bid’ah Taqsim Ad-Diin ila Qasyr wa Lubab, Al-Lihyah Limadza, Al-Hijab Limadza, Limadza Nushalli, Hawaituna aw Al-Hawiyah, Al-Haya’ Khalqul Islam, Mukhtashar An-Nashihah fi Al-Adzkar wa Al-Ad’iyyah Ash-Shahihah, Al-Ijhaaz ‘ala At-Tilfaz, Adzkar wa Adab Ash-Shabah wa Al-Masa’, ‘Audatul Hijab, Adzkar Ash-Shalah wa Maa Hawlaha, At-Tadzkirah bi Ad’iyah Al-Hajj wa Al-‘Umrah, Shahihah Tahdzir wa Sharkhah Nadzir, Bayna Yaday Ramadhan, ‘Udu ila Khairil Hadyi, Hawar Ma’a Majlatil Hijrah, Ad’iyyah Al-Qur’an wa As-Sunnah Ash-Shahihah, dan Fiqh Asyrath Asy-Sya’ah. Ini salah satu contoh ulama besar saat ini yang meraih Doktor dalam bidang kedokteran dan tak ketinggalan juga mempelajari ilmu syari’ah. Jadi mungkin saja kita belajar ilmu agama dan meraih ilmu dunia pula. Hanya Allah yang memberi taufik.   Referensi: Ar.Wikipedia — Selesai disusun di pagi hari penuh berkah @ Darush Sholihin Panggang, 23 Dzulhijjah 1436 H Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsilmuwan


Ini adalah seorang dokter yang sudah masyhur sebagai ulama besar di Iskandariyah dan Mesir, yaitu Syaikh Muhammad bin Ahmad bin Ismail bin Musthafa Al-Muqaddam. Nama kunyah beliau adalah Abul Faraj. Beliau lahir di Iskandariyah pada bulan Dzulqa’dah tahun 1371 H (bertepatan dengan 26 Juli 1952). Beliau dahulu mempelajari ilmu kedokteran di Universitas Iskandariyah di tahun 70-an. Di kampus itulah beliau pertama kali bertemu dengan Syaikh Ahmad Farid. Syaikh Al-Muqaddam bersama dengan Syaikh Ahmad Farid menulis risalah sederhana tentang Islam dan disebarkan pada mahasiswa di kampus tersebut. Sejak kuliah berarti beliau sudah semangat untuk berdakwah. Pendidikan yang pernah beliau tempuh adalah Sarjana (S-1) Kedokteran di Universitas Iskandariyah, Diploma Ilmu Kesehatan Mental (Psikiatris) di Pasca Sarjana Ilmu Kesehatan di Universitas Iskandariyah dan Pasca Sarjana di Ilmu Penyakit Neurologis dan Psikiatris. Walau punya background kuliah umum, beliau juga mengambil ijazah pada Kuliah Syari’ah di Universitas Al-Azhar Kairo Mesir. Di antara guru beliau dalam ilmu Al-Qur’an yaitu Syaikh Muhammad ‘Abdul Hamid ‘Abdullah, Syaikh Farid An-Nu’man, Syaikh Usamah ‘Abdul Wahhab. Beliau juga mendapatkan ijazah ilmu dari Syaikh Al-Muhaddits Abu Muhammad Badi’uddin Syah Ar-Rasyidi As-Sanadi Al-Muhammadi, Syaikh Muhammad Al-Hasan Ad-Dadu Asy-Syinqithi, Syaikh ‘Abdullah bin Shalih bin Muhammad Al-‘Ubaid. Ada juga guru-guru beliau dari ulama Anshar As-Sunnah Al-Muhammadiyah yaitu Syaikh Muhammad Sahnun, Syaikh Syahin Kasyif Abu Ra’s, Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Rasyid An-Najdi, Syaikh ‘Abdul ‘Aziz Al-Barmawi, Syaikh Muhammad Fathi Mahmud, Syaikh Muhammad ‘Ali ‘Abdurrahim, Prof. ‘Ukasyah ‘Abduh, Prof. Dr. Muhammad Syauqi, Prof. Al-Bukhari ‘Abduh. Begitu pula ada guru beliau dari ulama Al-Azhar yaitu Syaikh Isma’il Hamdi, Syaikh Mahmud ‘Ied, Syaikh Ahmad Al-Mahlawi, Syaikh Sayid Ash-Shawi, Syaikh Shubhi Al-Khasyab. Di samping itu ada beberapa murabbi beliau yang lain, juga ada ulama-ulama yang beliau pernah hadiri majelisnya. Adapun karya-karya beliau seperti Tamamul Minnah bi Ar-Rad ‘ala A’dai As-Sunnah, An-Nashihah fi Al-Adzkar wa Al-Ad’iyyah Ash-Shahihah, ‘Uluwwul Himmah, Hurmah Ahli Al-‘Ilmi, Fiqh Asyrah Asy-Sya’ah, Al-Mahdi, Al-Adab Adh-Dhai’, Bid’ah Taqsim Ad-Diin ila Qasyr wa Lubab, Al-Lihyah Limadza, Al-Hijab Limadza, Limadza Nushalli, Hawaituna aw Al-Hawiyah, Al-Haya’ Khalqul Islam, Mukhtashar An-Nashihah fi Al-Adzkar wa Al-Ad’iyyah Ash-Shahihah, Al-Ijhaaz ‘ala At-Tilfaz, Adzkar wa Adab Ash-Shabah wa Al-Masa’, ‘Audatul Hijab, Adzkar Ash-Shalah wa Maa Hawlaha, At-Tadzkirah bi Ad’iyah Al-Hajj wa Al-‘Umrah, Shahihah Tahdzir wa Sharkhah Nadzir, Bayna Yaday Ramadhan, ‘Udu ila Khairil Hadyi, Hawar Ma’a Majlatil Hijrah, Ad’iyyah Al-Qur’an wa As-Sunnah Ash-Shahihah, dan Fiqh Asyrath Asy-Sya’ah. Ini salah satu contoh ulama besar saat ini yang meraih Doktor dalam bidang kedokteran dan tak ketinggalan juga mempelajari ilmu syari’ah. Jadi mungkin saja kita belajar ilmu agama dan meraih ilmu dunia pula. Hanya Allah yang memberi taufik.   Referensi: Ar.Wikipedia — Selesai disusun di pagi hari penuh berkah @ Darush Sholihin Panggang, 23 Dzulhijjah 1436 H Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsilmuwan

Adab pada Guru (3)

Salah satu adab lagi di hadapan guru, jika tahu guru tersebut berbuat salah, tetaplah diingatkan. Namun tentu mesti memperhatikan adab. Adab ketiga: Menasihati Guru Yang jelas, kesalahan guru jika tahu, mesti diluruskan dan itu bagian dari nasihat. Karena tidak ada manusia yang terlepas dari kesalahan. Bisa jadi guru kita juga salah berucap. Intinya mesti ada nasihat dan pelurusan. Dari Abu Ruqayyah Tamim bin Aus Ad Daari radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, (( الدِّينُ النَّصِيحةُ )) قلنا : لِمَنْ ؟ قَالَ : (( لِلهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُولِهِ وَلأئِمَّةِ المُسْلِمِينَ وَعَامَّتِهِمْ “Agama adalah nasihat.” Kami bertanya, “Untuk siapa?” Beliau menjawab, “Bagi Allah, bagi kitab-Nya, bagi rasul-Nya, bagi pemimpin-pemimpin kaum muslimin serta bagi umat Islam umumnya.” (HR. Muslim no. 55). Al-Hasan Al-Bashri berkata, إنَّ أحبَّ عبادِ الله إلى الله الذين يُحببون الله إلى عباده ويُحببون عباد الله إلى الله ، ويسعون في الأرض بالنصيحة “Sesungguhnya hamba yang dicintai di sisi Allah adalah yang mencintai Allah lewat hamba-Nya dan mencintai hamba Allah karena Allah. Di muka bumi, ia pun memberi nasehat pada orang lain.” (Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 1: 224). Nasihat ini adalah tanda cinta pada saudara kita. Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, لا يُؤمِنُ أحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيهِ مَا يُحبُّ لِنَفْسِهِ “Tidaklah sempurna iman seseorang di antara kalian sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari no. 13 dan Muslim no. 45). Dalam menasihati itu baiknya dilakukan secara diam-diam kecuali ada maslahat dengan terang-terangan. Karena asal nasihat adalah ingin yang lain menjadi baik, bukan ingin menjelek-jelekkan. Al-Khattabi berkata, النصيحةُ كلمةٌ يُعبر بها عن جملة هي إرادةُ الخيرِ للمنصوح له “Nasihat adalah kalimat ungkapan yang bermakna memberikan kebaikan kepada yang dinasihati” (Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 1: 219). Al Fudhail bin ‘Iyadh mengatakan, المؤمن يَسْتُرُ ويَنْصَحُ ، والفاجرُ يهتك ويُعيِّرُ “Seorang mukmin itu biasa menutupi aib saudaranya dan menasehatinya. Sedangkan orang fajir (pelaku dosa) biasa membuka aib dan menjelek-jelekkan saudaranya.” (Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 1: 225). Nasihat pada guru ini tetap ada karena tidak ada manusia yang sempurna dan tidak disyaratkan yang menasihati pula harus bersih dari dosa. Ibnu Rajab Al-Hambali pernah menyampaikan, فلا بد للإنسان من الأمر بالمعروف و النهي عن المنكر و الوعظ و التذكير و لو لم يعظ إلا معصوم من الزلل لم يعظ الناس بعد رسول الله صلى الله عليه و سلم أحد لأنه لا عصمة لأحد بعده “Tetap bagi setiap orang untuk mengajak yang lain pada kebaikan dan melarang dari kemungkaran. Tetap ada saling menasihati dan saling mengingatkan. Seandainya yang mengingatkan hanyalah orang yang maksum (yang bersih dari dosa, pen.), tentu tidak ada lagi yang bisa memberi nasihat sepeninggal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena sepeninggal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak ada lagi yang maksum.” (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 42) Syaikh Bakr Abu Zaid berkata, “JIka guru berbuat salah atau ada suatu kerancuan pada dirinya, janganlah martabatnya jadi jatuh di pandanganmu. Karena engkau bisa meraih kemuliaan karena ilmu darinya. Karena siapa yang berani mengaku bahwa ia bisa selamat dari kesalahan?” Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin menerangkan perkataan Syaikh Bakr Abu Zaid di atas, “Akan tetapi jika guru kita berbuat salah, apakah kita mesti diam atau tetap mengingatkannya? Kalau ingin mengingatkan apakah mengingatkan di majelis ilmu atau di tempat lain? Tentu saja, ada adab yang mesti diperhatikan dalam hal ini. Kami katakan, jangan sampai kesalahan tersebut didiamkan. Karena kesalahan tersebut menjadi masalah untuk dirimu sendiri, juga untuk gurumu. Jika kesalahan tersebut diingatkan, tentu akan jadi lurus. Begitu pula jika ada kerancuan, karena bisa jadi ada salah kata-kata ketika berucap sehingga perlu sekali dibetulkan. Akan tetapi, apakah kesalahan tersebut diingatkan di dalam majelis ataukah di luar majelis? Bisa jadi diingatkan saat itu juga di dalam majelis. Karena kalau tidak diingatkan, ilmu tersebut barangkali direkam, akhirnya nantinya tersebar padahal ada kekeliruan di dalamnya. Tentu saja kesalahan tersebut perlu diingatkan di dalam majelis. Bisa juga kesalahan tersebut diingatkan di luar. Engkau jalan bersamanya (empat mata), lalu bisa berkata, “Wahai Syaikh, kami tadi mendengar engkau berkata seperti ini dan seperti itu, kami tidak mengerti atau kami sedikit rancu. Mungkin kami yang salah dengar atau barangkali ada yang keliru.” (Syarh Hilyah Thalab Al-‘Ilmi, hlm. 84)   Kita dapat simpulkan bagaimanakah cara menasihati guru yang keliru: Nasihat didasari karena menginginkan kebaikan pada guru. Nasihat adalah tanda cinta pada guru agar tidak terjatuh pada kesalahan. Nasihat pada guru baiknya dilakukan sembunyi-sembunyi. Nasihat bisa dilakukan di dalam majelis jika memang ada maslahat. Tetap santun dalam menasihati. Semoga Allah menganugerahi kita sekalian ilmu yang bermanfaat. Moga Allah senantiasa menjaga guru kita, memberkahi ilmu dan waktu mereka. Referensi: Lathaif Al-Ma’arif fima Al-Mawasim Al-‘Aam mi Al-Wazhaif. Cetakan pertama, tahun 1428 H. Ibnu Rajab Al-Hambali. Penerbit Al-Maktab Al-Islami. Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan pertama, tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Syarh Hilyah Thalib Al-‘Ilmi li Syaikh Bakr Abu Zaid. Cetakan pertama, tahun 1423 H. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Penerbit Dar Ibnu Al-Haitsam.   — Selesai disusun di Darush Sholihin Panggang, Gunungkidul, 22 Dzulhijjah 1436 H Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsadab guru

Adab pada Guru (3)

Salah satu adab lagi di hadapan guru, jika tahu guru tersebut berbuat salah, tetaplah diingatkan. Namun tentu mesti memperhatikan adab. Adab ketiga: Menasihati Guru Yang jelas, kesalahan guru jika tahu, mesti diluruskan dan itu bagian dari nasihat. Karena tidak ada manusia yang terlepas dari kesalahan. Bisa jadi guru kita juga salah berucap. Intinya mesti ada nasihat dan pelurusan. Dari Abu Ruqayyah Tamim bin Aus Ad Daari radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, (( الدِّينُ النَّصِيحةُ )) قلنا : لِمَنْ ؟ قَالَ : (( لِلهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُولِهِ وَلأئِمَّةِ المُسْلِمِينَ وَعَامَّتِهِمْ “Agama adalah nasihat.” Kami bertanya, “Untuk siapa?” Beliau menjawab, “Bagi Allah, bagi kitab-Nya, bagi rasul-Nya, bagi pemimpin-pemimpin kaum muslimin serta bagi umat Islam umumnya.” (HR. Muslim no. 55). Al-Hasan Al-Bashri berkata, إنَّ أحبَّ عبادِ الله إلى الله الذين يُحببون الله إلى عباده ويُحببون عباد الله إلى الله ، ويسعون في الأرض بالنصيحة “Sesungguhnya hamba yang dicintai di sisi Allah adalah yang mencintai Allah lewat hamba-Nya dan mencintai hamba Allah karena Allah. Di muka bumi, ia pun memberi nasehat pada orang lain.” (Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 1: 224). Nasihat ini adalah tanda cinta pada saudara kita. Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, لا يُؤمِنُ أحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيهِ مَا يُحبُّ لِنَفْسِهِ “Tidaklah sempurna iman seseorang di antara kalian sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari no. 13 dan Muslim no. 45). Dalam menasihati itu baiknya dilakukan secara diam-diam kecuali ada maslahat dengan terang-terangan. Karena asal nasihat adalah ingin yang lain menjadi baik, bukan ingin menjelek-jelekkan. Al-Khattabi berkata, النصيحةُ كلمةٌ يُعبر بها عن جملة هي إرادةُ الخيرِ للمنصوح له “Nasihat adalah kalimat ungkapan yang bermakna memberikan kebaikan kepada yang dinasihati” (Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 1: 219). Al Fudhail bin ‘Iyadh mengatakan, المؤمن يَسْتُرُ ويَنْصَحُ ، والفاجرُ يهتك ويُعيِّرُ “Seorang mukmin itu biasa menutupi aib saudaranya dan menasehatinya. Sedangkan orang fajir (pelaku dosa) biasa membuka aib dan menjelek-jelekkan saudaranya.” (Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 1: 225). Nasihat pada guru ini tetap ada karena tidak ada manusia yang sempurna dan tidak disyaratkan yang menasihati pula harus bersih dari dosa. Ibnu Rajab Al-Hambali pernah menyampaikan, فلا بد للإنسان من الأمر بالمعروف و النهي عن المنكر و الوعظ و التذكير و لو لم يعظ إلا معصوم من الزلل لم يعظ الناس بعد رسول الله صلى الله عليه و سلم أحد لأنه لا عصمة لأحد بعده “Tetap bagi setiap orang untuk mengajak yang lain pada kebaikan dan melarang dari kemungkaran. Tetap ada saling menasihati dan saling mengingatkan. Seandainya yang mengingatkan hanyalah orang yang maksum (yang bersih dari dosa, pen.), tentu tidak ada lagi yang bisa memberi nasihat sepeninggal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena sepeninggal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak ada lagi yang maksum.” (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 42) Syaikh Bakr Abu Zaid berkata, “JIka guru berbuat salah atau ada suatu kerancuan pada dirinya, janganlah martabatnya jadi jatuh di pandanganmu. Karena engkau bisa meraih kemuliaan karena ilmu darinya. Karena siapa yang berani mengaku bahwa ia bisa selamat dari kesalahan?” Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin menerangkan perkataan Syaikh Bakr Abu Zaid di atas, “Akan tetapi jika guru kita berbuat salah, apakah kita mesti diam atau tetap mengingatkannya? Kalau ingin mengingatkan apakah mengingatkan di majelis ilmu atau di tempat lain? Tentu saja, ada adab yang mesti diperhatikan dalam hal ini. Kami katakan, jangan sampai kesalahan tersebut didiamkan. Karena kesalahan tersebut menjadi masalah untuk dirimu sendiri, juga untuk gurumu. Jika kesalahan tersebut diingatkan, tentu akan jadi lurus. Begitu pula jika ada kerancuan, karena bisa jadi ada salah kata-kata ketika berucap sehingga perlu sekali dibetulkan. Akan tetapi, apakah kesalahan tersebut diingatkan di dalam majelis ataukah di luar majelis? Bisa jadi diingatkan saat itu juga di dalam majelis. Karena kalau tidak diingatkan, ilmu tersebut barangkali direkam, akhirnya nantinya tersebar padahal ada kekeliruan di dalamnya. Tentu saja kesalahan tersebut perlu diingatkan di dalam majelis. Bisa juga kesalahan tersebut diingatkan di luar. Engkau jalan bersamanya (empat mata), lalu bisa berkata, “Wahai Syaikh, kami tadi mendengar engkau berkata seperti ini dan seperti itu, kami tidak mengerti atau kami sedikit rancu. Mungkin kami yang salah dengar atau barangkali ada yang keliru.” (Syarh Hilyah Thalab Al-‘Ilmi, hlm. 84)   Kita dapat simpulkan bagaimanakah cara menasihati guru yang keliru: Nasihat didasari karena menginginkan kebaikan pada guru. Nasihat adalah tanda cinta pada guru agar tidak terjatuh pada kesalahan. Nasihat pada guru baiknya dilakukan sembunyi-sembunyi. Nasihat bisa dilakukan di dalam majelis jika memang ada maslahat. Tetap santun dalam menasihati. Semoga Allah menganugerahi kita sekalian ilmu yang bermanfaat. Moga Allah senantiasa menjaga guru kita, memberkahi ilmu dan waktu mereka. Referensi: Lathaif Al-Ma’arif fima Al-Mawasim Al-‘Aam mi Al-Wazhaif. Cetakan pertama, tahun 1428 H. Ibnu Rajab Al-Hambali. Penerbit Al-Maktab Al-Islami. Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan pertama, tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Syarh Hilyah Thalib Al-‘Ilmi li Syaikh Bakr Abu Zaid. Cetakan pertama, tahun 1423 H. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Penerbit Dar Ibnu Al-Haitsam.   — Selesai disusun di Darush Sholihin Panggang, Gunungkidul, 22 Dzulhijjah 1436 H Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsadab guru
Salah satu adab lagi di hadapan guru, jika tahu guru tersebut berbuat salah, tetaplah diingatkan. Namun tentu mesti memperhatikan adab. Adab ketiga: Menasihati Guru Yang jelas, kesalahan guru jika tahu, mesti diluruskan dan itu bagian dari nasihat. Karena tidak ada manusia yang terlepas dari kesalahan. Bisa jadi guru kita juga salah berucap. Intinya mesti ada nasihat dan pelurusan. Dari Abu Ruqayyah Tamim bin Aus Ad Daari radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, (( الدِّينُ النَّصِيحةُ )) قلنا : لِمَنْ ؟ قَالَ : (( لِلهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُولِهِ وَلأئِمَّةِ المُسْلِمِينَ وَعَامَّتِهِمْ “Agama adalah nasihat.” Kami bertanya, “Untuk siapa?” Beliau menjawab, “Bagi Allah, bagi kitab-Nya, bagi rasul-Nya, bagi pemimpin-pemimpin kaum muslimin serta bagi umat Islam umumnya.” (HR. Muslim no. 55). Al-Hasan Al-Bashri berkata, إنَّ أحبَّ عبادِ الله إلى الله الذين يُحببون الله إلى عباده ويُحببون عباد الله إلى الله ، ويسعون في الأرض بالنصيحة “Sesungguhnya hamba yang dicintai di sisi Allah adalah yang mencintai Allah lewat hamba-Nya dan mencintai hamba Allah karena Allah. Di muka bumi, ia pun memberi nasehat pada orang lain.” (Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 1: 224). Nasihat ini adalah tanda cinta pada saudara kita. Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, لا يُؤمِنُ أحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيهِ مَا يُحبُّ لِنَفْسِهِ “Tidaklah sempurna iman seseorang di antara kalian sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari no. 13 dan Muslim no. 45). Dalam menasihati itu baiknya dilakukan secara diam-diam kecuali ada maslahat dengan terang-terangan. Karena asal nasihat adalah ingin yang lain menjadi baik, bukan ingin menjelek-jelekkan. Al-Khattabi berkata, النصيحةُ كلمةٌ يُعبر بها عن جملة هي إرادةُ الخيرِ للمنصوح له “Nasihat adalah kalimat ungkapan yang bermakna memberikan kebaikan kepada yang dinasihati” (Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 1: 219). Al Fudhail bin ‘Iyadh mengatakan, المؤمن يَسْتُرُ ويَنْصَحُ ، والفاجرُ يهتك ويُعيِّرُ “Seorang mukmin itu biasa menutupi aib saudaranya dan menasehatinya. Sedangkan orang fajir (pelaku dosa) biasa membuka aib dan menjelek-jelekkan saudaranya.” (Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 1: 225). Nasihat pada guru ini tetap ada karena tidak ada manusia yang sempurna dan tidak disyaratkan yang menasihati pula harus bersih dari dosa. Ibnu Rajab Al-Hambali pernah menyampaikan, فلا بد للإنسان من الأمر بالمعروف و النهي عن المنكر و الوعظ و التذكير و لو لم يعظ إلا معصوم من الزلل لم يعظ الناس بعد رسول الله صلى الله عليه و سلم أحد لأنه لا عصمة لأحد بعده “Tetap bagi setiap orang untuk mengajak yang lain pada kebaikan dan melarang dari kemungkaran. Tetap ada saling menasihati dan saling mengingatkan. Seandainya yang mengingatkan hanyalah orang yang maksum (yang bersih dari dosa, pen.), tentu tidak ada lagi yang bisa memberi nasihat sepeninggal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena sepeninggal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak ada lagi yang maksum.” (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 42) Syaikh Bakr Abu Zaid berkata, “JIka guru berbuat salah atau ada suatu kerancuan pada dirinya, janganlah martabatnya jadi jatuh di pandanganmu. Karena engkau bisa meraih kemuliaan karena ilmu darinya. Karena siapa yang berani mengaku bahwa ia bisa selamat dari kesalahan?” Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin menerangkan perkataan Syaikh Bakr Abu Zaid di atas, “Akan tetapi jika guru kita berbuat salah, apakah kita mesti diam atau tetap mengingatkannya? Kalau ingin mengingatkan apakah mengingatkan di majelis ilmu atau di tempat lain? Tentu saja, ada adab yang mesti diperhatikan dalam hal ini. Kami katakan, jangan sampai kesalahan tersebut didiamkan. Karena kesalahan tersebut menjadi masalah untuk dirimu sendiri, juga untuk gurumu. Jika kesalahan tersebut diingatkan, tentu akan jadi lurus. Begitu pula jika ada kerancuan, karena bisa jadi ada salah kata-kata ketika berucap sehingga perlu sekali dibetulkan. Akan tetapi, apakah kesalahan tersebut diingatkan di dalam majelis ataukah di luar majelis? Bisa jadi diingatkan saat itu juga di dalam majelis. Karena kalau tidak diingatkan, ilmu tersebut barangkali direkam, akhirnya nantinya tersebar padahal ada kekeliruan di dalamnya. Tentu saja kesalahan tersebut perlu diingatkan di dalam majelis. Bisa juga kesalahan tersebut diingatkan di luar. Engkau jalan bersamanya (empat mata), lalu bisa berkata, “Wahai Syaikh, kami tadi mendengar engkau berkata seperti ini dan seperti itu, kami tidak mengerti atau kami sedikit rancu. Mungkin kami yang salah dengar atau barangkali ada yang keliru.” (Syarh Hilyah Thalab Al-‘Ilmi, hlm. 84)   Kita dapat simpulkan bagaimanakah cara menasihati guru yang keliru: Nasihat didasari karena menginginkan kebaikan pada guru. Nasihat adalah tanda cinta pada guru agar tidak terjatuh pada kesalahan. Nasihat pada guru baiknya dilakukan sembunyi-sembunyi. Nasihat bisa dilakukan di dalam majelis jika memang ada maslahat. Tetap santun dalam menasihati. Semoga Allah menganugerahi kita sekalian ilmu yang bermanfaat. Moga Allah senantiasa menjaga guru kita, memberkahi ilmu dan waktu mereka. Referensi: Lathaif Al-Ma’arif fima Al-Mawasim Al-‘Aam mi Al-Wazhaif. Cetakan pertama, tahun 1428 H. Ibnu Rajab Al-Hambali. Penerbit Al-Maktab Al-Islami. Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan pertama, tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Syarh Hilyah Thalib Al-‘Ilmi li Syaikh Bakr Abu Zaid. Cetakan pertama, tahun 1423 H. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Penerbit Dar Ibnu Al-Haitsam.   — Selesai disusun di Darush Sholihin Panggang, Gunungkidul, 22 Dzulhijjah 1436 H Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsadab guru


Salah satu adab lagi di hadapan guru, jika tahu guru tersebut berbuat salah, tetaplah diingatkan. Namun tentu mesti memperhatikan adab. Adab ketiga: Menasihati Guru Yang jelas, kesalahan guru jika tahu, mesti diluruskan dan itu bagian dari nasihat. Karena tidak ada manusia yang terlepas dari kesalahan. Bisa jadi guru kita juga salah berucap. Intinya mesti ada nasihat dan pelurusan. Dari Abu Ruqayyah Tamim bin Aus Ad Daari radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, (( الدِّينُ النَّصِيحةُ )) قلنا : لِمَنْ ؟ قَالَ : (( لِلهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُولِهِ وَلأئِمَّةِ المُسْلِمِينَ وَعَامَّتِهِمْ “Agama adalah nasihat.” Kami bertanya, “Untuk siapa?” Beliau menjawab, “Bagi Allah, bagi kitab-Nya, bagi rasul-Nya, bagi pemimpin-pemimpin kaum muslimin serta bagi umat Islam umumnya.” (HR. Muslim no. 55). Al-Hasan Al-Bashri berkata, إنَّ أحبَّ عبادِ الله إلى الله الذين يُحببون الله إلى عباده ويُحببون عباد الله إلى الله ، ويسعون في الأرض بالنصيحة “Sesungguhnya hamba yang dicintai di sisi Allah adalah yang mencintai Allah lewat hamba-Nya dan mencintai hamba Allah karena Allah. Di muka bumi, ia pun memberi nasehat pada orang lain.” (Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 1: 224). Nasihat ini adalah tanda cinta pada saudara kita. Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, لا يُؤمِنُ أحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيهِ مَا يُحبُّ لِنَفْسِهِ “Tidaklah sempurna iman seseorang di antara kalian sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari no. 13 dan Muslim no. 45). Dalam menasihati itu baiknya dilakukan secara diam-diam kecuali ada maslahat dengan terang-terangan. Karena asal nasihat adalah ingin yang lain menjadi baik, bukan ingin menjelek-jelekkan. Al-Khattabi berkata, النصيحةُ كلمةٌ يُعبر بها عن جملة هي إرادةُ الخيرِ للمنصوح له “Nasihat adalah kalimat ungkapan yang bermakna memberikan kebaikan kepada yang dinasihati” (Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 1: 219). Al Fudhail bin ‘Iyadh mengatakan, المؤمن يَسْتُرُ ويَنْصَحُ ، والفاجرُ يهتك ويُعيِّرُ “Seorang mukmin itu biasa menutupi aib saudaranya dan menasehatinya. Sedangkan orang fajir (pelaku dosa) biasa membuka aib dan menjelek-jelekkan saudaranya.” (Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 1: 225). Nasihat pada guru ini tetap ada karena tidak ada manusia yang sempurna dan tidak disyaratkan yang menasihati pula harus bersih dari dosa. Ibnu Rajab Al-Hambali pernah menyampaikan, فلا بد للإنسان من الأمر بالمعروف و النهي عن المنكر و الوعظ و التذكير و لو لم يعظ إلا معصوم من الزلل لم يعظ الناس بعد رسول الله صلى الله عليه و سلم أحد لأنه لا عصمة لأحد بعده “Tetap bagi setiap orang untuk mengajak yang lain pada kebaikan dan melarang dari kemungkaran. Tetap ada saling menasihati dan saling mengingatkan. Seandainya yang mengingatkan hanyalah orang yang maksum (yang bersih dari dosa, pen.), tentu tidak ada lagi yang bisa memberi nasihat sepeninggal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena sepeninggal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak ada lagi yang maksum.” (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 42) Syaikh Bakr Abu Zaid berkata, “JIka guru berbuat salah atau ada suatu kerancuan pada dirinya, janganlah martabatnya jadi jatuh di pandanganmu. Karena engkau bisa meraih kemuliaan karena ilmu darinya. Karena siapa yang berani mengaku bahwa ia bisa selamat dari kesalahan?” Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin menerangkan perkataan Syaikh Bakr Abu Zaid di atas, “Akan tetapi jika guru kita berbuat salah, apakah kita mesti diam atau tetap mengingatkannya? Kalau ingin mengingatkan apakah mengingatkan di majelis ilmu atau di tempat lain? Tentu saja, ada adab yang mesti diperhatikan dalam hal ini. Kami katakan, jangan sampai kesalahan tersebut didiamkan. Karena kesalahan tersebut menjadi masalah untuk dirimu sendiri, juga untuk gurumu. Jika kesalahan tersebut diingatkan, tentu akan jadi lurus. Begitu pula jika ada kerancuan, karena bisa jadi ada salah kata-kata ketika berucap sehingga perlu sekali dibetulkan. Akan tetapi, apakah kesalahan tersebut diingatkan di dalam majelis ataukah di luar majelis? Bisa jadi diingatkan saat itu juga di dalam majelis. Karena kalau tidak diingatkan, ilmu tersebut barangkali direkam, akhirnya nantinya tersebar padahal ada kekeliruan di dalamnya. Tentu saja kesalahan tersebut perlu diingatkan di dalam majelis. Bisa juga kesalahan tersebut diingatkan di luar. Engkau jalan bersamanya (empat mata), lalu bisa berkata, “Wahai Syaikh, kami tadi mendengar engkau berkata seperti ini dan seperti itu, kami tidak mengerti atau kami sedikit rancu. Mungkin kami yang salah dengar atau barangkali ada yang keliru.” (Syarh Hilyah Thalab Al-‘Ilmi, hlm. 84)   Kita dapat simpulkan bagaimanakah cara menasihati guru yang keliru: Nasihat didasari karena menginginkan kebaikan pada guru. Nasihat adalah tanda cinta pada guru agar tidak terjatuh pada kesalahan. Nasihat pada guru baiknya dilakukan sembunyi-sembunyi. Nasihat bisa dilakukan di dalam majelis jika memang ada maslahat. Tetap santun dalam menasihati. Semoga Allah menganugerahi kita sekalian ilmu yang bermanfaat. Moga Allah senantiasa menjaga guru kita, memberkahi ilmu dan waktu mereka. Referensi: Lathaif Al-Ma’arif fima Al-Mawasim Al-‘Aam mi Al-Wazhaif. Cetakan pertama, tahun 1428 H. Ibnu Rajab Al-Hambali. Penerbit Al-Maktab Al-Islami. Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan pertama, tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Syarh Hilyah Thalib Al-‘Ilmi li Syaikh Bakr Abu Zaid. Cetakan pertama, tahun 1423 H. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Penerbit Dar Ibnu Al-Haitsam.   — Selesai disusun di Darush Sholihin Panggang, Gunungkidul, 22 Dzulhijjah 1436 H Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsadab guru

Adab pada Guru (2)

Di antara adab pada guru adalah menghormatinya. Di antara bentuk menghormatinya adalah memanggilnya dengan panggilan yang santun. Misal yang jadi adat atau kebiasaan di negeri kita, memanggil guru tersebut dengan sebutan Pak Guru atau Ustadz. Panggilan ini adalah bentuk panggilan santun pada guru kita. Hal di atas adalah pengamalan dari hadits dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَرْحَمْ صَغِيرَنَا وَيُوَقِّرْ كَبِيرَنَا “Tidak termasuk golongan kami siapa yang tidak menyayangi yang kecil di antara kita dan tidak menghormati yang lebih tua di antara kita.” (HR. Tirmidzi no. 1919. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan) Juga sebagai penerapan dari ayat Al-Qur’an, لَا تَجْعَلُوا دُعَاءَ الرَّسُولِ بَيْنَكُمْ كَدُعَاءِ بَعْضِكُمْ بَعْضًا “Janganlah kamu jadikan panggilan Rasul diantara kamu seperti panggilan sebahagian kamu kepada sebahagian (yang lain).” (QS. An-Nur: 63). Syaikh Bakr Abu Zaid dalam Hilyah Thalib Al-‘Ilmi berkata, “Inilah yang ditunjukkan oleh Allah kepada yang mengajarkan kebaikan pada manusia yaitu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Imam Nawawi rahimahullah menerangkan: Disunnahkan bagi anak, murid, atau seorang pemuda ketika menyebut ayahnya, guru dan tuannya agar tidak dengan menyebut nama saja. Diriwayatkan dalam Kitab Ibnu As-Sunni, dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jangan jalan di depannya, jangan membantahnya, jangan duduk sebelum ia duduk, jangan memanggilnya cuma dengan namanya saja.” Yang dimaksud jangan membantah adalah membantah orang tua ketika orang tua mengingatkan keras atau mengajari adab pada kita. Dari ‘Abdullah bin Zahr, ia berkata, “Termasuk durhaka pada orang tua adalah engkau memanggil orang tua dengan namanya saja dan engkau berjalan di depannya.” (Al-Majmu’, 8: 257) Syaikh Bakr Abu Zaid dalam kitab Hilyah Thalib Al-‘Ilmi, “Jangan memanggil guru dengan nama atau laqabnya saja. Seperti jika engkau berkata, “Wahai Syaikh Fulan.” Baiknya panggillah dengan “Wahai Syaikhku atau Syaikhuna (Syaikh kami).” Baiknya tidak sebut namanya. Ini lebih beradab. Jangan pula memanggilnya dengan ‘kamu’ atau ‘anta’. Jangan pula memanggil guru tersebut dari jejauhan kecuali kalau darurat.” Namun kalau mengabarkan kalau gurunya berkata seperti ini dan seperti itu, maka boleh menyebut namanya. Misal, guruku, Syaikh Shalih berkata demikian. Ketika itu menyebut namanya karena bukan dalam keadaan memanggilnya namun cuma pengabaran suatu berita saja. Lihat Syarh Hilyah Thalib Al-‘Ilmi, hlm. 82. Semoga Allah mengaruniakan kita dengan akhlak yang mulia dalam memuliakan guru-guru kita. Semoga Allah juga selalu menjaga guru-guru kita, diberkahi umur dan ilmu mereka.   Referensi: Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab li Asy-Syairazy. Cetakan kedua, tahun 1427 H. Yahya bin Syarf An-Nawawi. Penerbit Dar ‘Alam Al-Kutub. Syarh Hilyah Thalib Al-‘Ilmi li Syaikh Bakr Abu Zaid. Cetakan pertama, tahun 1423 H. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Penerbit Dar Ibnu Al-Haitsam. — Selesai disusun di Bale Ayu Jogja, 21 Dzulhijjah 1436 H Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsadab guru

Adab pada Guru (2)

Di antara adab pada guru adalah menghormatinya. Di antara bentuk menghormatinya adalah memanggilnya dengan panggilan yang santun. Misal yang jadi adat atau kebiasaan di negeri kita, memanggil guru tersebut dengan sebutan Pak Guru atau Ustadz. Panggilan ini adalah bentuk panggilan santun pada guru kita. Hal di atas adalah pengamalan dari hadits dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَرْحَمْ صَغِيرَنَا وَيُوَقِّرْ كَبِيرَنَا “Tidak termasuk golongan kami siapa yang tidak menyayangi yang kecil di antara kita dan tidak menghormati yang lebih tua di antara kita.” (HR. Tirmidzi no. 1919. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan) Juga sebagai penerapan dari ayat Al-Qur’an, لَا تَجْعَلُوا دُعَاءَ الرَّسُولِ بَيْنَكُمْ كَدُعَاءِ بَعْضِكُمْ بَعْضًا “Janganlah kamu jadikan panggilan Rasul diantara kamu seperti panggilan sebahagian kamu kepada sebahagian (yang lain).” (QS. An-Nur: 63). Syaikh Bakr Abu Zaid dalam Hilyah Thalib Al-‘Ilmi berkata, “Inilah yang ditunjukkan oleh Allah kepada yang mengajarkan kebaikan pada manusia yaitu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Imam Nawawi rahimahullah menerangkan: Disunnahkan bagi anak, murid, atau seorang pemuda ketika menyebut ayahnya, guru dan tuannya agar tidak dengan menyebut nama saja. Diriwayatkan dalam Kitab Ibnu As-Sunni, dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jangan jalan di depannya, jangan membantahnya, jangan duduk sebelum ia duduk, jangan memanggilnya cuma dengan namanya saja.” Yang dimaksud jangan membantah adalah membantah orang tua ketika orang tua mengingatkan keras atau mengajari adab pada kita. Dari ‘Abdullah bin Zahr, ia berkata, “Termasuk durhaka pada orang tua adalah engkau memanggil orang tua dengan namanya saja dan engkau berjalan di depannya.” (Al-Majmu’, 8: 257) Syaikh Bakr Abu Zaid dalam kitab Hilyah Thalib Al-‘Ilmi, “Jangan memanggil guru dengan nama atau laqabnya saja. Seperti jika engkau berkata, “Wahai Syaikh Fulan.” Baiknya panggillah dengan “Wahai Syaikhku atau Syaikhuna (Syaikh kami).” Baiknya tidak sebut namanya. Ini lebih beradab. Jangan pula memanggilnya dengan ‘kamu’ atau ‘anta’. Jangan pula memanggil guru tersebut dari jejauhan kecuali kalau darurat.” Namun kalau mengabarkan kalau gurunya berkata seperti ini dan seperti itu, maka boleh menyebut namanya. Misal, guruku, Syaikh Shalih berkata demikian. Ketika itu menyebut namanya karena bukan dalam keadaan memanggilnya namun cuma pengabaran suatu berita saja. Lihat Syarh Hilyah Thalib Al-‘Ilmi, hlm. 82. Semoga Allah mengaruniakan kita dengan akhlak yang mulia dalam memuliakan guru-guru kita. Semoga Allah juga selalu menjaga guru-guru kita, diberkahi umur dan ilmu mereka.   Referensi: Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab li Asy-Syairazy. Cetakan kedua, tahun 1427 H. Yahya bin Syarf An-Nawawi. Penerbit Dar ‘Alam Al-Kutub. Syarh Hilyah Thalib Al-‘Ilmi li Syaikh Bakr Abu Zaid. Cetakan pertama, tahun 1423 H. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Penerbit Dar Ibnu Al-Haitsam. — Selesai disusun di Bale Ayu Jogja, 21 Dzulhijjah 1436 H Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsadab guru
Di antara adab pada guru adalah menghormatinya. Di antara bentuk menghormatinya adalah memanggilnya dengan panggilan yang santun. Misal yang jadi adat atau kebiasaan di negeri kita, memanggil guru tersebut dengan sebutan Pak Guru atau Ustadz. Panggilan ini adalah bentuk panggilan santun pada guru kita. Hal di atas adalah pengamalan dari hadits dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَرْحَمْ صَغِيرَنَا وَيُوَقِّرْ كَبِيرَنَا “Tidak termasuk golongan kami siapa yang tidak menyayangi yang kecil di antara kita dan tidak menghormati yang lebih tua di antara kita.” (HR. Tirmidzi no. 1919. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan) Juga sebagai penerapan dari ayat Al-Qur’an, لَا تَجْعَلُوا دُعَاءَ الرَّسُولِ بَيْنَكُمْ كَدُعَاءِ بَعْضِكُمْ بَعْضًا “Janganlah kamu jadikan panggilan Rasul diantara kamu seperti panggilan sebahagian kamu kepada sebahagian (yang lain).” (QS. An-Nur: 63). Syaikh Bakr Abu Zaid dalam Hilyah Thalib Al-‘Ilmi berkata, “Inilah yang ditunjukkan oleh Allah kepada yang mengajarkan kebaikan pada manusia yaitu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Imam Nawawi rahimahullah menerangkan: Disunnahkan bagi anak, murid, atau seorang pemuda ketika menyebut ayahnya, guru dan tuannya agar tidak dengan menyebut nama saja. Diriwayatkan dalam Kitab Ibnu As-Sunni, dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jangan jalan di depannya, jangan membantahnya, jangan duduk sebelum ia duduk, jangan memanggilnya cuma dengan namanya saja.” Yang dimaksud jangan membantah adalah membantah orang tua ketika orang tua mengingatkan keras atau mengajari adab pada kita. Dari ‘Abdullah bin Zahr, ia berkata, “Termasuk durhaka pada orang tua adalah engkau memanggil orang tua dengan namanya saja dan engkau berjalan di depannya.” (Al-Majmu’, 8: 257) Syaikh Bakr Abu Zaid dalam kitab Hilyah Thalib Al-‘Ilmi, “Jangan memanggil guru dengan nama atau laqabnya saja. Seperti jika engkau berkata, “Wahai Syaikh Fulan.” Baiknya panggillah dengan “Wahai Syaikhku atau Syaikhuna (Syaikh kami).” Baiknya tidak sebut namanya. Ini lebih beradab. Jangan pula memanggilnya dengan ‘kamu’ atau ‘anta’. Jangan pula memanggil guru tersebut dari jejauhan kecuali kalau darurat.” Namun kalau mengabarkan kalau gurunya berkata seperti ini dan seperti itu, maka boleh menyebut namanya. Misal, guruku, Syaikh Shalih berkata demikian. Ketika itu menyebut namanya karena bukan dalam keadaan memanggilnya namun cuma pengabaran suatu berita saja. Lihat Syarh Hilyah Thalib Al-‘Ilmi, hlm. 82. Semoga Allah mengaruniakan kita dengan akhlak yang mulia dalam memuliakan guru-guru kita. Semoga Allah juga selalu menjaga guru-guru kita, diberkahi umur dan ilmu mereka.   Referensi: Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab li Asy-Syairazy. Cetakan kedua, tahun 1427 H. Yahya bin Syarf An-Nawawi. Penerbit Dar ‘Alam Al-Kutub. Syarh Hilyah Thalib Al-‘Ilmi li Syaikh Bakr Abu Zaid. Cetakan pertama, tahun 1423 H. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Penerbit Dar Ibnu Al-Haitsam. — Selesai disusun di Bale Ayu Jogja, 21 Dzulhijjah 1436 H Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsadab guru


Di antara adab pada guru adalah menghormatinya. Di antara bentuk menghormatinya adalah memanggilnya dengan panggilan yang santun. Misal yang jadi adat atau kebiasaan di negeri kita, memanggil guru tersebut dengan sebutan Pak Guru atau Ustadz. Panggilan ini adalah bentuk panggilan santun pada guru kita. Hal di atas adalah pengamalan dari hadits dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَرْحَمْ صَغِيرَنَا وَيُوَقِّرْ كَبِيرَنَا “Tidak termasuk golongan kami siapa yang tidak menyayangi yang kecil di antara kita dan tidak menghormati yang lebih tua di antara kita.” (HR. Tirmidzi no. 1919. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan) Juga sebagai penerapan dari ayat Al-Qur’an, لَا تَجْعَلُوا دُعَاءَ الرَّسُولِ بَيْنَكُمْ كَدُعَاءِ بَعْضِكُمْ بَعْضًا “Janganlah kamu jadikan panggilan Rasul diantara kamu seperti panggilan sebahagian kamu kepada sebahagian (yang lain).” (QS. An-Nur: 63). Syaikh Bakr Abu Zaid dalam Hilyah Thalib Al-‘Ilmi berkata, “Inilah yang ditunjukkan oleh Allah kepada yang mengajarkan kebaikan pada manusia yaitu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Imam Nawawi rahimahullah menerangkan: Disunnahkan bagi anak, murid, atau seorang pemuda ketika menyebut ayahnya, guru dan tuannya agar tidak dengan menyebut nama saja. Diriwayatkan dalam Kitab Ibnu As-Sunni, dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jangan jalan di depannya, jangan membantahnya, jangan duduk sebelum ia duduk, jangan memanggilnya cuma dengan namanya saja.” Yang dimaksud jangan membantah adalah membantah orang tua ketika orang tua mengingatkan keras atau mengajari adab pada kita. Dari ‘Abdullah bin Zahr, ia berkata, “Termasuk durhaka pada orang tua adalah engkau memanggil orang tua dengan namanya saja dan engkau berjalan di depannya.” (Al-Majmu’, 8: 257) Syaikh Bakr Abu Zaid dalam kitab Hilyah Thalib Al-‘Ilmi, “Jangan memanggil guru dengan nama atau laqabnya saja. Seperti jika engkau berkata, “Wahai Syaikh Fulan.” Baiknya panggillah dengan “Wahai Syaikhku atau Syaikhuna (Syaikh kami).” Baiknya tidak sebut namanya. Ini lebih beradab. Jangan pula memanggilnya dengan ‘kamu’ atau ‘anta’. Jangan pula memanggil guru tersebut dari jejauhan kecuali kalau darurat.” Namun kalau mengabarkan kalau gurunya berkata seperti ini dan seperti itu, maka boleh menyebut namanya. Misal, guruku, Syaikh Shalih berkata demikian. Ketika itu menyebut namanya karena bukan dalam keadaan memanggilnya namun cuma pengabaran suatu berita saja. Lihat Syarh Hilyah Thalib Al-‘Ilmi, hlm. 82. Semoga Allah mengaruniakan kita dengan akhlak yang mulia dalam memuliakan guru-guru kita. Semoga Allah juga selalu menjaga guru-guru kita, diberkahi umur dan ilmu mereka.   Referensi: Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab li Asy-Syairazy. Cetakan kedua, tahun 1427 H. Yahya bin Syarf An-Nawawi. Penerbit Dar ‘Alam Al-Kutub. Syarh Hilyah Thalib Al-‘Ilmi li Syaikh Bakr Abu Zaid. Cetakan pertama, tahun 1423 H. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Penerbit Dar Ibnu Al-Haitsam. — Selesai disusun di Bale Ayu Jogja, 21 Dzulhijjah 1436 H Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsadab guru
Prev     Next