Follow Tebar 3000 Jilbab untuk Muslimah Gunungkidul

Tinggal 2 Minggu Lagi akan Digelar Tebar 3000 Jilbab di Panggang Gunungkidul Sekitarnya Silakan kirim jilbab yang masih layak pakai, bisa juga disertai dengan gamis muslimah dan koko pria. Kirim ke alamat: Pesantren Darush Sholihin Binaan: Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal (Rumaysho.Com) Dusun Warak, Desa Girisekar, Panggang, Gunungkidul, 55872, HP: 085200171222(Mas Slamet)   Bisa kirim via Tiki, JNE atau POS Indonesia dan akan sampai ke tempat tujuan sesuai alamat di atas.  Insya Allah Ahad Sore, 1 November 2015 akan diadakan kajian “Tebar 3000 Jilbab” dengan Tema: Jilbabmu Wahai Wanita Muslimah (Kajian Berbahasa Jawa) dari Ustadz Sa’id (Itisham Wonosari). Jilbab dan pakaian yang terkumpul akan dibagi pada saat itu. Jadi diharapkan sebelum tanggal 1 November 2015, paket sudah sampai ke alamat. ~~~ Diberi kesempatan untuk yang ingin menyalurkan dalam bentuk uang, silakan kirim donasi jilbab via rekening: Bank Syariah Mandiri (BSM) a/n Yayasan Darush Sholihin Gunungkidul: 7068478612. Lalu konfirmasi ke 082313950500 dengan mengirim SMS: donasi jilbab# nama # alamat# rekening tujuan transfer# besar donasi# tanggal transfer. Contoh: donasi jilbab# Aisyah# Ambon# BSM# 1 juta rupiah#  17/10/2015. Moga jadi amal jariyah dan hidayah bagi kaum muslimin/ muslimah yang ada di Gunungkidul. Info CALL, SMS, WA: 0811 267791(Mas Jarot) Ada juga donasi lain yang dibutuhkan untuk pengembangan jalan dan pembangunan masjid: 1. Dibutuhkan 1,5 Milyar untuk pembangunan 3 masjid di Panggang, Gunungkidul, infonya: http://darushsholihin.com/2535-pembangunan-3-masjid-binaan-butuh-1-milyar-tahap-1.html 2. Perluasan jalan pesantren yang butuh diperluas karena banyaknya jamaah kajian guna parkir kendaraan di desa, infonya: https://rumaysho.com/11847-butuh-donasi-100-juta-untuk-pelebaran-jalan-sekitar-pesantren-darush-sholihin.html Mohon bantuan untuk turut menshare, moga dapat bagian dari pahala. Laporan donasi jilbab yang masuk silakan lihat di sini.   — Muhammad Abduh Tuasikal • Rumaysho.Com • Twitter @RumayshoCom • Instagram RumayshoCom • Pesantren DarushSholihin.Com Info Rumaysho.Com Tagstebar jilbab

Follow Tebar 3000 Jilbab untuk Muslimah Gunungkidul

Tinggal 2 Minggu Lagi akan Digelar Tebar 3000 Jilbab di Panggang Gunungkidul Sekitarnya Silakan kirim jilbab yang masih layak pakai, bisa juga disertai dengan gamis muslimah dan koko pria. Kirim ke alamat: Pesantren Darush Sholihin Binaan: Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal (Rumaysho.Com) Dusun Warak, Desa Girisekar, Panggang, Gunungkidul, 55872, HP: 085200171222(Mas Slamet)   Bisa kirim via Tiki, JNE atau POS Indonesia dan akan sampai ke tempat tujuan sesuai alamat di atas.  Insya Allah Ahad Sore, 1 November 2015 akan diadakan kajian “Tebar 3000 Jilbab” dengan Tema: Jilbabmu Wahai Wanita Muslimah (Kajian Berbahasa Jawa) dari Ustadz Sa’id (Itisham Wonosari). Jilbab dan pakaian yang terkumpul akan dibagi pada saat itu. Jadi diharapkan sebelum tanggal 1 November 2015, paket sudah sampai ke alamat. ~~~ Diberi kesempatan untuk yang ingin menyalurkan dalam bentuk uang, silakan kirim donasi jilbab via rekening: Bank Syariah Mandiri (BSM) a/n Yayasan Darush Sholihin Gunungkidul: 7068478612. Lalu konfirmasi ke 082313950500 dengan mengirim SMS: donasi jilbab# nama # alamat# rekening tujuan transfer# besar donasi# tanggal transfer. Contoh: donasi jilbab# Aisyah# Ambon# BSM# 1 juta rupiah#  17/10/2015. Moga jadi amal jariyah dan hidayah bagi kaum muslimin/ muslimah yang ada di Gunungkidul. Info CALL, SMS, WA: 0811 267791(Mas Jarot) Ada juga donasi lain yang dibutuhkan untuk pengembangan jalan dan pembangunan masjid: 1. Dibutuhkan 1,5 Milyar untuk pembangunan 3 masjid di Panggang, Gunungkidul, infonya: http://darushsholihin.com/2535-pembangunan-3-masjid-binaan-butuh-1-milyar-tahap-1.html 2. Perluasan jalan pesantren yang butuh diperluas karena banyaknya jamaah kajian guna parkir kendaraan di desa, infonya: https://rumaysho.com/11847-butuh-donasi-100-juta-untuk-pelebaran-jalan-sekitar-pesantren-darush-sholihin.html Mohon bantuan untuk turut menshare, moga dapat bagian dari pahala. Laporan donasi jilbab yang masuk silakan lihat di sini.   — Muhammad Abduh Tuasikal • Rumaysho.Com • Twitter @RumayshoCom • Instagram RumayshoCom • Pesantren DarushSholihin.Com Info Rumaysho.Com Tagstebar jilbab
Tinggal 2 Minggu Lagi akan Digelar Tebar 3000 Jilbab di Panggang Gunungkidul Sekitarnya Silakan kirim jilbab yang masih layak pakai, bisa juga disertai dengan gamis muslimah dan koko pria. Kirim ke alamat: Pesantren Darush Sholihin Binaan: Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal (Rumaysho.Com) Dusun Warak, Desa Girisekar, Panggang, Gunungkidul, 55872, HP: 085200171222(Mas Slamet)   Bisa kirim via Tiki, JNE atau POS Indonesia dan akan sampai ke tempat tujuan sesuai alamat di atas.  Insya Allah Ahad Sore, 1 November 2015 akan diadakan kajian “Tebar 3000 Jilbab” dengan Tema: Jilbabmu Wahai Wanita Muslimah (Kajian Berbahasa Jawa) dari Ustadz Sa’id (Itisham Wonosari). Jilbab dan pakaian yang terkumpul akan dibagi pada saat itu. Jadi diharapkan sebelum tanggal 1 November 2015, paket sudah sampai ke alamat. ~~~ Diberi kesempatan untuk yang ingin menyalurkan dalam bentuk uang, silakan kirim donasi jilbab via rekening: Bank Syariah Mandiri (BSM) a/n Yayasan Darush Sholihin Gunungkidul: 7068478612. Lalu konfirmasi ke 082313950500 dengan mengirim SMS: donasi jilbab# nama # alamat# rekening tujuan transfer# besar donasi# tanggal transfer. Contoh: donasi jilbab# Aisyah# Ambon# BSM# 1 juta rupiah#  17/10/2015. Moga jadi amal jariyah dan hidayah bagi kaum muslimin/ muslimah yang ada di Gunungkidul. Info CALL, SMS, WA: 0811 267791(Mas Jarot) Ada juga donasi lain yang dibutuhkan untuk pengembangan jalan dan pembangunan masjid: 1. Dibutuhkan 1,5 Milyar untuk pembangunan 3 masjid di Panggang, Gunungkidul, infonya: http://darushsholihin.com/2535-pembangunan-3-masjid-binaan-butuh-1-milyar-tahap-1.html 2. Perluasan jalan pesantren yang butuh diperluas karena banyaknya jamaah kajian guna parkir kendaraan di desa, infonya: https://rumaysho.com/11847-butuh-donasi-100-juta-untuk-pelebaran-jalan-sekitar-pesantren-darush-sholihin.html Mohon bantuan untuk turut menshare, moga dapat bagian dari pahala. Laporan donasi jilbab yang masuk silakan lihat di sini.   — Muhammad Abduh Tuasikal • Rumaysho.Com • Twitter @RumayshoCom • Instagram RumayshoCom • Pesantren DarushSholihin.Com Info Rumaysho.Com Tagstebar jilbab


Tinggal 2 Minggu Lagi akan Digelar Tebar 3000 Jilbab di Panggang Gunungkidul Sekitarnya Silakan kirim jilbab yang masih layak pakai, bisa juga disertai dengan gamis muslimah dan koko pria. Kirim ke alamat: Pesantren Darush Sholihin Binaan: Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal (Rumaysho.Com) Dusun Warak, Desa Girisekar, Panggang, Gunungkidul, 55872, HP: 085200171222(Mas Slamet)   Bisa kirim via Tiki, JNE atau POS Indonesia dan akan sampai ke tempat tujuan sesuai alamat di atas.  Insya Allah Ahad Sore, 1 November 2015 akan diadakan kajian “Tebar 3000 Jilbab” dengan Tema: Jilbabmu Wahai Wanita Muslimah (Kajian Berbahasa Jawa) dari Ustadz Sa’id (Itisham Wonosari). Jilbab dan pakaian yang terkumpul akan dibagi pada saat itu. Jadi diharapkan sebelum tanggal 1 November 2015, paket sudah sampai ke alamat. ~~~ Diberi kesempatan untuk yang ingin menyalurkan dalam bentuk uang, silakan kirim donasi jilbab via rekening: Bank Syariah Mandiri (BSM) a/n Yayasan Darush Sholihin Gunungkidul: 7068478612. Lalu konfirmasi ke 082313950500 dengan mengirim SMS: donasi jilbab# nama # alamat# rekening tujuan transfer# besar donasi# tanggal transfer. Contoh: donasi jilbab# Aisyah# Ambon# BSM# 1 juta rupiah#  17/10/2015. Moga jadi amal jariyah dan hidayah bagi kaum muslimin/ muslimah yang ada di Gunungkidul. Info CALL, SMS, WA: 0811 267791(Mas Jarot) Ada juga donasi lain yang dibutuhkan untuk pengembangan jalan dan pembangunan masjid: 1. Dibutuhkan 1,5 Milyar untuk pembangunan 3 masjid di Panggang, Gunungkidul, infonya: http://darushsholihin.com/2535-pembangunan-3-masjid-binaan-butuh-1-milyar-tahap-1.html 2. Perluasan jalan pesantren yang butuh diperluas karena banyaknya jamaah kajian guna parkir kendaraan di desa, infonya: https://rumaysho.com/11847-butuh-donasi-100-juta-untuk-pelebaran-jalan-sekitar-pesantren-darush-sholihin.html Mohon bantuan untuk turut menshare, moga dapat bagian dari pahala. Laporan donasi jilbab yang masuk silakan lihat di sini.   — Muhammad Abduh Tuasikal • Rumaysho.Com • Twitter @RumayshoCom • Instagram RumayshoCom • Pesantren DarushSholihin.Com Info Rumaysho.Com Tagstebar jilbab

Adab pada Guru (6)

Di antara adab pada guru dan itu merupakan tanda berkahnya ilmu, hendaklah ilmu tersebut disandarkan pada guru jika kita memperoleh suatu pelajaran atau faedah penting darinya. Abu ‘Ubaidah dalam Al-Ilma’ li Al-Qadhi ‘Iyadh, beliau berkata, “Di antara tanda mensyukuri nikmat ilmu adalah ketika ada sesuatu yang samar dan tak ada keterangan ilmu ketika itu lantas ada yang memberikan pencerahan, maka kita katakan bahwa kita telah mendapatkan faedah dari si fulan. Itulah tanda mensyukuri ilmu.” (Lihat Ma’alim fi Thariq Thalib Al-‘Ilmi, hlm. 210) Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Di antara bentuk berbuat baik yaitu menyandarkan suatu faedah ilmu pada orang yang pertama kali mengatakannya. Siapa yang melakukan seperti itu, maka berkahlah ilmu dan keadaannya. Siapa yang keadaannya sebaliknya, maka ilmu dan keadaannya tidaklah dikaruniai keberkahan. Kebiasaan para ulama, mereka selalu menyandarkan ilmu pada siapa yang mengatakannya. Moga Allah beri taufik pada kita untuk terus bisa menerapkannya.” (Bustan Al-‘Arifin, dinukil dari Ma’alim fi Thariq Thalib Al-‘Ilmi, hlm. 211) Ada yang pernah mengatakan pada Abu Bakr Al-Maruzi bahwa ilmu yang diperoleh ini telah disebarkan atas nama Abu Bakr Al-Maruzi. Abu Bakr lantas menangis. Ia mengatakan, لَيْسَ هَذَا العِلْمُ لِي وَإِنَّمَا هَذَا عِلْمُ أَحْمَدَ بْنِ حَنْبَلٍ “Ilmu tersebut bukan dariku. Ilmu tersebut hakikatnya dari Ahmad bin Hambal.” (Tarikh Baghdad, 4: 424) Ibnu Taimiyah pun mencontohkan demikian. Ia pernah berkata dalam kitab Ar-Radd ‘ala Al-Bakri (2: 590, Asy-Syamilah), وَهَذَا المعْنَى كَثِيْرًا مَا كُنْتُ أَذْكُرُهُ لِلنَّاسِ وَلَمْ أَعْلَمُ أَحَدًا قَالَهُ ثُمَّ وَجَدْتُهُ قَدْ ذَكَرَهُ بَعْضُ العُلَمَاءِ “Makna seperti ini banyak kutemui, aku mengatakan hal ini pada orang-orang namun aku tidak mengetahui siapa yang pertama kali menyebutkannya. Kemudian aku dapati bahwa hal itu disebutkan oleh sebagian ulama.” Jadi pandai-pandailah mensyukuri ilmu. Termasuk juga di sini adalah aturan dalam copas status di medsos, hendaklah sandarkan dari mana ilmu tersebut diperoleh. Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah.   Referensi: Ma’alim fi Thariq Thalib Al-‘Ilmi. Cetakan kelima, tahun 1431 H. Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Muhammad bin ‘Abdullah As-Sadhan. Penerbit Dar Al-Qabs. — Selesai disusun di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, pagi penuh berkah, 4 Muharram 1437 H Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsadab guru

Adab pada Guru (6)

Di antara adab pada guru dan itu merupakan tanda berkahnya ilmu, hendaklah ilmu tersebut disandarkan pada guru jika kita memperoleh suatu pelajaran atau faedah penting darinya. Abu ‘Ubaidah dalam Al-Ilma’ li Al-Qadhi ‘Iyadh, beliau berkata, “Di antara tanda mensyukuri nikmat ilmu adalah ketika ada sesuatu yang samar dan tak ada keterangan ilmu ketika itu lantas ada yang memberikan pencerahan, maka kita katakan bahwa kita telah mendapatkan faedah dari si fulan. Itulah tanda mensyukuri ilmu.” (Lihat Ma’alim fi Thariq Thalib Al-‘Ilmi, hlm. 210) Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Di antara bentuk berbuat baik yaitu menyandarkan suatu faedah ilmu pada orang yang pertama kali mengatakannya. Siapa yang melakukan seperti itu, maka berkahlah ilmu dan keadaannya. Siapa yang keadaannya sebaliknya, maka ilmu dan keadaannya tidaklah dikaruniai keberkahan. Kebiasaan para ulama, mereka selalu menyandarkan ilmu pada siapa yang mengatakannya. Moga Allah beri taufik pada kita untuk terus bisa menerapkannya.” (Bustan Al-‘Arifin, dinukil dari Ma’alim fi Thariq Thalib Al-‘Ilmi, hlm. 211) Ada yang pernah mengatakan pada Abu Bakr Al-Maruzi bahwa ilmu yang diperoleh ini telah disebarkan atas nama Abu Bakr Al-Maruzi. Abu Bakr lantas menangis. Ia mengatakan, لَيْسَ هَذَا العِلْمُ لِي وَإِنَّمَا هَذَا عِلْمُ أَحْمَدَ بْنِ حَنْبَلٍ “Ilmu tersebut bukan dariku. Ilmu tersebut hakikatnya dari Ahmad bin Hambal.” (Tarikh Baghdad, 4: 424) Ibnu Taimiyah pun mencontohkan demikian. Ia pernah berkata dalam kitab Ar-Radd ‘ala Al-Bakri (2: 590, Asy-Syamilah), وَهَذَا المعْنَى كَثِيْرًا مَا كُنْتُ أَذْكُرُهُ لِلنَّاسِ وَلَمْ أَعْلَمُ أَحَدًا قَالَهُ ثُمَّ وَجَدْتُهُ قَدْ ذَكَرَهُ بَعْضُ العُلَمَاءِ “Makna seperti ini banyak kutemui, aku mengatakan hal ini pada orang-orang namun aku tidak mengetahui siapa yang pertama kali menyebutkannya. Kemudian aku dapati bahwa hal itu disebutkan oleh sebagian ulama.” Jadi pandai-pandailah mensyukuri ilmu. Termasuk juga di sini adalah aturan dalam copas status di medsos, hendaklah sandarkan dari mana ilmu tersebut diperoleh. Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah.   Referensi: Ma’alim fi Thariq Thalib Al-‘Ilmi. Cetakan kelima, tahun 1431 H. Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Muhammad bin ‘Abdullah As-Sadhan. Penerbit Dar Al-Qabs. — Selesai disusun di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, pagi penuh berkah, 4 Muharram 1437 H Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsadab guru
Di antara adab pada guru dan itu merupakan tanda berkahnya ilmu, hendaklah ilmu tersebut disandarkan pada guru jika kita memperoleh suatu pelajaran atau faedah penting darinya. Abu ‘Ubaidah dalam Al-Ilma’ li Al-Qadhi ‘Iyadh, beliau berkata, “Di antara tanda mensyukuri nikmat ilmu adalah ketika ada sesuatu yang samar dan tak ada keterangan ilmu ketika itu lantas ada yang memberikan pencerahan, maka kita katakan bahwa kita telah mendapatkan faedah dari si fulan. Itulah tanda mensyukuri ilmu.” (Lihat Ma’alim fi Thariq Thalib Al-‘Ilmi, hlm. 210) Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Di antara bentuk berbuat baik yaitu menyandarkan suatu faedah ilmu pada orang yang pertama kali mengatakannya. Siapa yang melakukan seperti itu, maka berkahlah ilmu dan keadaannya. Siapa yang keadaannya sebaliknya, maka ilmu dan keadaannya tidaklah dikaruniai keberkahan. Kebiasaan para ulama, mereka selalu menyandarkan ilmu pada siapa yang mengatakannya. Moga Allah beri taufik pada kita untuk terus bisa menerapkannya.” (Bustan Al-‘Arifin, dinukil dari Ma’alim fi Thariq Thalib Al-‘Ilmi, hlm. 211) Ada yang pernah mengatakan pada Abu Bakr Al-Maruzi bahwa ilmu yang diperoleh ini telah disebarkan atas nama Abu Bakr Al-Maruzi. Abu Bakr lantas menangis. Ia mengatakan, لَيْسَ هَذَا العِلْمُ لِي وَإِنَّمَا هَذَا عِلْمُ أَحْمَدَ بْنِ حَنْبَلٍ “Ilmu tersebut bukan dariku. Ilmu tersebut hakikatnya dari Ahmad bin Hambal.” (Tarikh Baghdad, 4: 424) Ibnu Taimiyah pun mencontohkan demikian. Ia pernah berkata dalam kitab Ar-Radd ‘ala Al-Bakri (2: 590, Asy-Syamilah), وَهَذَا المعْنَى كَثِيْرًا مَا كُنْتُ أَذْكُرُهُ لِلنَّاسِ وَلَمْ أَعْلَمُ أَحَدًا قَالَهُ ثُمَّ وَجَدْتُهُ قَدْ ذَكَرَهُ بَعْضُ العُلَمَاءِ “Makna seperti ini banyak kutemui, aku mengatakan hal ini pada orang-orang namun aku tidak mengetahui siapa yang pertama kali menyebutkannya. Kemudian aku dapati bahwa hal itu disebutkan oleh sebagian ulama.” Jadi pandai-pandailah mensyukuri ilmu. Termasuk juga di sini adalah aturan dalam copas status di medsos, hendaklah sandarkan dari mana ilmu tersebut diperoleh. Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah.   Referensi: Ma’alim fi Thariq Thalib Al-‘Ilmi. Cetakan kelima, tahun 1431 H. Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Muhammad bin ‘Abdullah As-Sadhan. Penerbit Dar Al-Qabs. — Selesai disusun di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, pagi penuh berkah, 4 Muharram 1437 H Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsadab guru


Di antara adab pada guru dan itu merupakan tanda berkahnya ilmu, hendaklah ilmu tersebut disandarkan pada guru jika kita memperoleh suatu pelajaran atau faedah penting darinya. Abu ‘Ubaidah dalam Al-Ilma’ li Al-Qadhi ‘Iyadh, beliau berkata, “Di antara tanda mensyukuri nikmat ilmu adalah ketika ada sesuatu yang samar dan tak ada keterangan ilmu ketika itu lantas ada yang memberikan pencerahan, maka kita katakan bahwa kita telah mendapatkan faedah dari si fulan. Itulah tanda mensyukuri ilmu.” (Lihat Ma’alim fi Thariq Thalib Al-‘Ilmi, hlm. 210) Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Di antara bentuk berbuat baik yaitu menyandarkan suatu faedah ilmu pada orang yang pertama kali mengatakannya. Siapa yang melakukan seperti itu, maka berkahlah ilmu dan keadaannya. Siapa yang keadaannya sebaliknya, maka ilmu dan keadaannya tidaklah dikaruniai keberkahan. Kebiasaan para ulama, mereka selalu menyandarkan ilmu pada siapa yang mengatakannya. Moga Allah beri taufik pada kita untuk terus bisa menerapkannya.” (Bustan Al-‘Arifin, dinukil dari Ma’alim fi Thariq Thalib Al-‘Ilmi, hlm. 211) Ada yang pernah mengatakan pada Abu Bakr Al-Maruzi bahwa ilmu yang diperoleh ini telah disebarkan atas nama Abu Bakr Al-Maruzi. Abu Bakr lantas menangis. Ia mengatakan, لَيْسَ هَذَا العِلْمُ لِي وَإِنَّمَا هَذَا عِلْمُ أَحْمَدَ بْنِ حَنْبَلٍ “Ilmu tersebut bukan dariku. Ilmu tersebut hakikatnya dari Ahmad bin Hambal.” (Tarikh Baghdad, 4: 424) Ibnu Taimiyah pun mencontohkan demikian. Ia pernah berkata dalam kitab Ar-Radd ‘ala Al-Bakri (2: 590, Asy-Syamilah), وَهَذَا المعْنَى كَثِيْرًا مَا كُنْتُ أَذْكُرُهُ لِلنَّاسِ وَلَمْ أَعْلَمُ أَحَدًا قَالَهُ ثُمَّ وَجَدْتُهُ قَدْ ذَكَرَهُ بَعْضُ العُلَمَاءِ “Makna seperti ini banyak kutemui, aku mengatakan hal ini pada orang-orang namun aku tidak mengetahui siapa yang pertama kali menyebutkannya. Kemudian aku dapati bahwa hal itu disebutkan oleh sebagian ulama.” Jadi pandai-pandailah mensyukuri ilmu. Termasuk juga di sini adalah aturan dalam copas status di medsos, hendaklah sandarkan dari mana ilmu tersebut diperoleh. Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah.   Referensi: Ma’alim fi Thariq Thalib Al-‘Ilmi. Cetakan kelima, tahun 1431 H. Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Muhammad bin ‘Abdullah As-Sadhan. Penerbit Dar Al-Qabs. — Selesai disusun di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, pagi penuh berkah, 4 Muharram 1437 H Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsadab guru

Beri Sedekah pada Pengemis yang Pura-Pura Miskin, Bolehkah?

Bolehkah kita beri sedekah pada pengemis yang pura-pura miskin?   Hukumi Seseorang Sesuai Lahiriyah Ingatlah kita hanya punya tugas menghukumi seseorang sesuai lahiriyah yang kita lihat, karena tak bisa menerawang isi hatinya. Pelajaran ini bisa kita ambil dari kisah Usamah bin Zaid berikut ini. Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhu berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus kami ke daerah Huraqah dari suku Juhainah, kemudian kami serang mereka secara tiba-tiba pada pagi hari di tempat air mereka. Saya dan seseorang dari kaum Anshar bertemu dengan seorang lelakui dari golongan mereka. Setelah kami dekat dengannya, ia lalu mengucapkan laa ilaha illallah. Orang dari sahabat Anshar menahan diri dari membunuhnya, sedangkan aku menusuknya dengan tombakku hingga membuatnya terbunuh. Sesampainya di Madinah, peristiwa itu didengar oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian beliau bertanya padaku, « يَا أُسَامَةُ أَقَتَلْتَهُ بَعْدَ مَا قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ » قُلْتُ كَانَ مُتَعَوِّذًا . فَمَا زَالَ يُكَرِّرُهَا حَتَّى تَمَنَّيْتُ أَنِّى لَمْ أَكُنْ أَسْلَمْتُ قَبْلَ ذَلِكَ الْيَوْمِ “Hai Usamah, apakah kamu membunuhnya setelah ia mengucapkan laa ilaha illallah?” Saya berkata, “Wahai Rasulullah, sebenarnya orang itu hanya ingin mencari perlindungan diri saja, sedangkan hatinya tidak meyakini hal itu.” Beliau bersabda lagi, “Apakah engkau membunuhnya setelah ia mengucapkan laa ilaha illallah?” Ucapan itu terus menerus diulang oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hingga saya mengharapkan bahwa saya belum masuk Islam sebelum hari itu.” (HR. Bukhari no. 4269 dan Muslim no. 96) Dalam riwayat Muslim disebutkan, lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أَقَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَقَتَلْتَهُ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّمَا قَالَهَا خَوْفًا مِنَ السِّلاَحِ. قَالَ أَفَلاَ شَقَقْتَ عَنْ قَلْبِهِ حَتَّى تَعْلَمَ أَقَالَهَا أَمْ لاَ فَمَازَالَ يُكَرِّرُهَا عَلَىَّ حَتَّى تَمَنَّيْتُ أَنِّى أَسْلَمْتُ يَوْمَئِذٍ “Bukankah ia telah mengucapkan laa ilaha illallah, mengapa engkau membunuhnya?” Saya menjawab, “Wahai Rasulullah, ia mengucapkan itu semata-mata karena takut dari senjata.” Beliau bersabda, “Mengapa engkau tidak belah saja hatinya hingga engkau dapat mengetahui, apakah ia mengucapkannya karena takut saja atau tidak?” Beliau mengulang-ngulang ucapan tersebut hingga aku berharap seandainya aku masuk Islam hari itu saja.” Ketika menyebutkan hadits di atas, Imam Nawawi menjelaskan bahwa maksud dari kalimat “Mengapa engkau tidak belah saja hatinya hingga engkau dapat mengetahui, apakah ia mengucapkannya karena takut saja atau tidak?” adalah kita hanya dibebani dengan menyikapi seseorang dari lahiriyahnya dan sesuatu yang keluar dari lisannya. Sedangkan hati, itu bukan urusan kita. Kita tidak punya kemampuan menilai isi hati. Cukup nilailah seseorang dari lisannya saja (lahiriyah saja). Jangan tuntut lainnya. Lihat Syarh Shahih Muslim, 2: 90-91.   Setiap Orang Akan Diganjar Sesuai yang Ia Niatkan Coba ambil pelajaran dari hadits berikut. Dari Abu Yazid Ma’an bin Yazid bin Al-Akhnas radhiyallahu ‘anhum, -ia, ayah dan kakeknya termasuk sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam-, di mana Ma’an berkata bahwa ayahnya yaitu Yazid pernah mengeluarkan beberapa dinar untuk niatan sedekah. Ayahnya meletakkan uang tersebut di sisi seseorang yang ada di masjid (maksudnya: ayahnya mewakilkan sedekah tadi para orang yang ada di masjid, -pen). Lantas Ma’an pun mengambil uang tadi, lalu ia menemui ayahnya dengan membawa uang dinar tersebut. Kemudian ayah Ma’an (Yazid) berkata, “Sedekah itu sebenarnya bukan kutujukan padamu.” Ma’an pun mengadukan masalah tersebut kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لَكَ مَا نَوَيْتَ يَا يَزِيدُ ، وَلَكَ مَا أَخَذْتَ يَا مَعْنُ “Engkau dapati apa yang engkau niatkan wahai Yazid. Sedangkan, wahai Ma’an, engkau boleh mengambil apa yang engkau dapati.” (HR. Bukhari no. 1422) Dari hadits ini, Ibnu Hajar Al-Asqalani berkata, “Orang yang bersedekah akan dicatat pahala sesuai yang ia niatkan baik yang ia beri sedekah secara lahiriyah pantas menerimanya ataukah tidak.” (Fath Al-Bari, 3: 292) Hal di atas sesuai pula dengan hadits Umar, Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, وَإِنَّمَا لاِمْرِئٍ مَا نَوَى “Dan setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan.” (HR. Bukhari no. 1 dan Muslim no. 1907) Misal, ada pengemis yang mengetok pintu rumah kita, apakah kita memberinya sedekah ataukah tidak? Padahal nampak secara lahiriyah, dia miskin. Jawabannya, tetap diberi. Kalau pun kita keliru karena di balik itu, bisa jadi ia adalah orang yang kaya raya, tetap Allah catat niat kita untuk bersedekah. Sedangkan ia mendapatkan dosa karena memanfaatkan harta yang sebenarnya tak pantas ia terima. Begitu pula kalau ada yang menawarkan proposal pembangunan masjid. Secara lahiriyah atau zhahir yang nampak, kita tahu yang sodorkan proposal memang benar-benar butuh. Lalu kita berikan bantuan. Bagaimana kalau dana yang diserahkan disalahgunakan? Apakah kita tetap dapat pahala? Jawabannya, kita mendapatkan pahala sesuai niatan baik kita. Sedangkan yang menyalahgunakan, dialah yang mendapatkan dosa. Subhanallah … Mulia sekali syariat Islam ini.   Jangan Manjakan Pengemis dan Pengamen Jalanan Kami hanya nasehatkan jangan manjakan pengemis apalagi pengemis yang malas bekerja seperti yang berada di pinggiran jalan. Apalagi dengan mengamen, melantunkan nyanyian musik yang haram untuk didengar. Kebanyakan mereka malah tidak jelas agamanya, shalat juga tidak. Begitu pula sedikit yang mau perhatian pada puasa Ramadhan yang wajib. Carilah orang yang shalih yang lebih berhak untuk diberi, yaitu orang yang miskin yang sudah berusaha bekerja namun tidak mendapatkan penghasilan yang mencukupi kebutuhan keluarganya. Dari Abu Hurairah, ia berkata, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لَيْسَ الْمِسْكِينُ الَّذِى تَرُدُّهُ الأُكْلَةُ وَالأُكْلَتَانِ ، وَلَكِنِ الْمِسْكِينُ الَّذِى لَيْسَ لَهُ غِنًى وَيَسْتَحْيِى أَوْ لاَ يَسْأَلُ النَّاسَ إِلْحَافًا “Namanya miskin bukanlah orang yang tidak menolak satu atau dua suap makanan. Akan tetapi miskin adalah orang yang tidak punya kecukupan, lantas ia pun malu atau tidak meminta dengan cara mendesak.” (HR. Bukhari no. 1476) Wallahu waliyyut taufiq. Hanya Allah yang memberi taufik. — Selesai disusun di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 3 Muharram 1437 H Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsniat pengemis sedekah

Beri Sedekah pada Pengemis yang Pura-Pura Miskin, Bolehkah?

Bolehkah kita beri sedekah pada pengemis yang pura-pura miskin?   Hukumi Seseorang Sesuai Lahiriyah Ingatlah kita hanya punya tugas menghukumi seseorang sesuai lahiriyah yang kita lihat, karena tak bisa menerawang isi hatinya. Pelajaran ini bisa kita ambil dari kisah Usamah bin Zaid berikut ini. Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhu berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus kami ke daerah Huraqah dari suku Juhainah, kemudian kami serang mereka secara tiba-tiba pada pagi hari di tempat air mereka. Saya dan seseorang dari kaum Anshar bertemu dengan seorang lelakui dari golongan mereka. Setelah kami dekat dengannya, ia lalu mengucapkan laa ilaha illallah. Orang dari sahabat Anshar menahan diri dari membunuhnya, sedangkan aku menusuknya dengan tombakku hingga membuatnya terbunuh. Sesampainya di Madinah, peristiwa itu didengar oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian beliau bertanya padaku, « يَا أُسَامَةُ أَقَتَلْتَهُ بَعْدَ مَا قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ » قُلْتُ كَانَ مُتَعَوِّذًا . فَمَا زَالَ يُكَرِّرُهَا حَتَّى تَمَنَّيْتُ أَنِّى لَمْ أَكُنْ أَسْلَمْتُ قَبْلَ ذَلِكَ الْيَوْمِ “Hai Usamah, apakah kamu membunuhnya setelah ia mengucapkan laa ilaha illallah?” Saya berkata, “Wahai Rasulullah, sebenarnya orang itu hanya ingin mencari perlindungan diri saja, sedangkan hatinya tidak meyakini hal itu.” Beliau bersabda lagi, “Apakah engkau membunuhnya setelah ia mengucapkan laa ilaha illallah?” Ucapan itu terus menerus diulang oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hingga saya mengharapkan bahwa saya belum masuk Islam sebelum hari itu.” (HR. Bukhari no. 4269 dan Muslim no. 96) Dalam riwayat Muslim disebutkan, lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أَقَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَقَتَلْتَهُ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّمَا قَالَهَا خَوْفًا مِنَ السِّلاَحِ. قَالَ أَفَلاَ شَقَقْتَ عَنْ قَلْبِهِ حَتَّى تَعْلَمَ أَقَالَهَا أَمْ لاَ فَمَازَالَ يُكَرِّرُهَا عَلَىَّ حَتَّى تَمَنَّيْتُ أَنِّى أَسْلَمْتُ يَوْمَئِذٍ “Bukankah ia telah mengucapkan laa ilaha illallah, mengapa engkau membunuhnya?” Saya menjawab, “Wahai Rasulullah, ia mengucapkan itu semata-mata karena takut dari senjata.” Beliau bersabda, “Mengapa engkau tidak belah saja hatinya hingga engkau dapat mengetahui, apakah ia mengucapkannya karena takut saja atau tidak?” Beliau mengulang-ngulang ucapan tersebut hingga aku berharap seandainya aku masuk Islam hari itu saja.” Ketika menyebutkan hadits di atas, Imam Nawawi menjelaskan bahwa maksud dari kalimat “Mengapa engkau tidak belah saja hatinya hingga engkau dapat mengetahui, apakah ia mengucapkannya karena takut saja atau tidak?” adalah kita hanya dibebani dengan menyikapi seseorang dari lahiriyahnya dan sesuatu yang keluar dari lisannya. Sedangkan hati, itu bukan urusan kita. Kita tidak punya kemampuan menilai isi hati. Cukup nilailah seseorang dari lisannya saja (lahiriyah saja). Jangan tuntut lainnya. Lihat Syarh Shahih Muslim, 2: 90-91.   Setiap Orang Akan Diganjar Sesuai yang Ia Niatkan Coba ambil pelajaran dari hadits berikut. Dari Abu Yazid Ma’an bin Yazid bin Al-Akhnas radhiyallahu ‘anhum, -ia, ayah dan kakeknya termasuk sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam-, di mana Ma’an berkata bahwa ayahnya yaitu Yazid pernah mengeluarkan beberapa dinar untuk niatan sedekah. Ayahnya meletakkan uang tersebut di sisi seseorang yang ada di masjid (maksudnya: ayahnya mewakilkan sedekah tadi para orang yang ada di masjid, -pen). Lantas Ma’an pun mengambil uang tadi, lalu ia menemui ayahnya dengan membawa uang dinar tersebut. Kemudian ayah Ma’an (Yazid) berkata, “Sedekah itu sebenarnya bukan kutujukan padamu.” Ma’an pun mengadukan masalah tersebut kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لَكَ مَا نَوَيْتَ يَا يَزِيدُ ، وَلَكَ مَا أَخَذْتَ يَا مَعْنُ “Engkau dapati apa yang engkau niatkan wahai Yazid. Sedangkan, wahai Ma’an, engkau boleh mengambil apa yang engkau dapati.” (HR. Bukhari no. 1422) Dari hadits ini, Ibnu Hajar Al-Asqalani berkata, “Orang yang bersedekah akan dicatat pahala sesuai yang ia niatkan baik yang ia beri sedekah secara lahiriyah pantas menerimanya ataukah tidak.” (Fath Al-Bari, 3: 292) Hal di atas sesuai pula dengan hadits Umar, Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, وَإِنَّمَا لاِمْرِئٍ مَا نَوَى “Dan setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan.” (HR. Bukhari no. 1 dan Muslim no. 1907) Misal, ada pengemis yang mengetok pintu rumah kita, apakah kita memberinya sedekah ataukah tidak? Padahal nampak secara lahiriyah, dia miskin. Jawabannya, tetap diberi. Kalau pun kita keliru karena di balik itu, bisa jadi ia adalah orang yang kaya raya, tetap Allah catat niat kita untuk bersedekah. Sedangkan ia mendapatkan dosa karena memanfaatkan harta yang sebenarnya tak pantas ia terima. Begitu pula kalau ada yang menawarkan proposal pembangunan masjid. Secara lahiriyah atau zhahir yang nampak, kita tahu yang sodorkan proposal memang benar-benar butuh. Lalu kita berikan bantuan. Bagaimana kalau dana yang diserahkan disalahgunakan? Apakah kita tetap dapat pahala? Jawabannya, kita mendapatkan pahala sesuai niatan baik kita. Sedangkan yang menyalahgunakan, dialah yang mendapatkan dosa. Subhanallah … Mulia sekali syariat Islam ini.   Jangan Manjakan Pengemis dan Pengamen Jalanan Kami hanya nasehatkan jangan manjakan pengemis apalagi pengemis yang malas bekerja seperti yang berada di pinggiran jalan. Apalagi dengan mengamen, melantunkan nyanyian musik yang haram untuk didengar. Kebanyakan mereka malah tidak jelas agamanya, shalat juga tidak. Begitu pula sedikit yang mau perhatian pada puasa Ramadhan yang wajib. Carilah orang yang shalih yang lebih berhak untuk diberi, yaitu orang yang miskin yang sudah berusaha bekerja namun tidak mendapatkan penghasilan yang mencukupi kebutuhan keluarganya. Dari Abu Hurairah, ia berkata, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لَيْسَ الْمِسْكِينُ الَّذِى تَرُدُّهُ الأُكْلَةُ وَالأُكْلَتَانِ ، وَلَكِنِ الْمِسْكِينُ الَّذِى لَيْسَ لَهُ غِنًى وَيَسْتَحْيِى أَوْ لاَ يَسْأَلُ النَّاسَ إِلْحَافًا “Namanya miskin bukanlah orang yang tidak menolak satu atau dua suap makanan. Akan tetapi miskin adalah orang yang tidak punya kecukupan, lantas ia pun malu atau tidak meminta dengan cara mendesak.” (HR. Bukhari no. 1476) Wallahu waliyyut taufiq. Hanya Allah yang memberi taufik. — Selesai disusun di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 3 Muharram 1437 H Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsniat pengemis sedekah
Bolehkah kita beri sedekah pada pengemis yang pura-pura miskin?   Hukumi Seseorang Sesuai Lahiriyah Ingatlah kita hanya punya tugas menghukumi seseorang sesuai lahiriyah yang kita lihat, karena tak bisa menerawang isi hatinya. Pelajaran ini bisa kita ambil dari kisah Usamah bin Zaid berikut ini. Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhu berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus kami ke daerah Huraqah dari suku Juhainah, kemudian kami serang mereka secara tiba-tiba pada pagi hari di tempat air mereka. Saya dan seseorang dari kaum Anshar bertemu dengan seorang lelakui dari golongan mereka. Setelah kami dekat dengannya, ia lalu mengucapkan laa ilaha illallah. Orang dari sahabat Anshar menahan diri dari membunuhnya, sedangkan aku menusuknya dengan tombakku hingga membuatnya terbunuh. Sesampainya di Madinah, peristiwa itu didengar oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian beliau bertanya padaku, « يَا أُسَامَةُ أَقَتَلْتَهُ بَعْدَ مَا قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ » قُلْتُ كَانَ مُتَعَوِّذًا . فَمَا زَالَ يُكَرِّرُهَا حَتَّى تَمَنَّيْتُ أَنِّى لَمْ أَكُنْ أَسْلَمْتُ قَبْلَ ذَلِكَ الْيَوْمِ “Hai Usamah, apakah kamu membunuhnya setelah ia mengucapkan laa ilaha illallah?” Saya berkata, “Wahai Rasulullah, sebenarnya orang itu hanya ingin mencari perlindungan diri saja, sedangkan hatinya tidak meyakini hal itu.” Beliau bersabda lagi, “Apakah engkau membunuhnya setelah ia mengucapkan laa ilaha illallah?” Ucapan itu terus menerus diulang oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hingga saya mengharapkan bahwa saya belum masuk Islam sebelum hari itu.” (HR. Bukhari no. 4269 dan Muslim no. 96) Dalam riwayat Muslim disebutkan, lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أَقَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَقَتَلْتَهُ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّمَا قَالَهَا خَوْفًا مِنَ السِّلاَحِ. قَالَ أَفَلاَ شَقَقْتَ عَنْ قَلْبِهِ حَتَّى تَعْلَمَ أَقَالَهَا أَمْ لاَ فَمَازَالَ يُكَرِّرُهَا عَلَىَّ حَتَّى تَمَنَّيْتُ أَنِّى أَسْلَمْتُ يَوْمَئِذٍ “Bukankah ia telah mengucapkan laa ilaha illallah, mengapa engkau membunuhnya?” Saya menjawab, “Wahai Rasulullah, ia mengucapkan itu semata-mata karena takut dari senjata.” Beliau bersabda, “Mengapa engkau tidak belah saja hatinya hingga engkau dapat mengetahui, apakah ia mengucapkannya karena takut saja atau tidak?” Beliau mengulang-ngulang ucapan tersebut hingga aku berharap seandainya aku masuk Islam hari itu saja.” Ketika menyebutkan hadits di atas, Imam Nawawi menjelaskan bahwa maksud dari kalimat “Mengapa engkau tidak belah saja hatinya hingga engkau dapat mengetahui, apakah ia mengucapkannya karena takut saja atau tidak?” adalah kita hanya dibebani dengan menyikapi seseorang dari lahiriyahnya dan sesuatu yang keluar dari lisannya. Sedangkan hati, itu bukan urusan kita. Kita tidak punya kemampuan menilai isi hati. Cukup nilailah seseorang dari lisannya saja (lahiriyah saja). Jangan tuntut lainnya. Lihat Syarh Shahih Muslim, 2: 90-91.   Setiap Orang Akan Diganjar Sesuai yang Ia Niatkan Coba ambil pelajaran dari hadits berikut. Dari Abu Yazid Ma’an bin Yazid bin Al-Akhnas radhiyallahu ‘anhum, -ia, ayah dan kakeknya termasuk sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam-, di mana Ma’an berkata bahwa ayahnya yaitu Yazid pernah mengeluarkan beberapa dinar untuk niatan sedekah. Ayahnya meletakkan uang tersebut di sisi seseorang yang ada di masjid (maksudnya: ayahnya mewakilkan sedekah tadi para orang yang ada di masjid, -pen). Lantas Ma’an pun mengambil uang tadi, lalu ia menemui ayahnya dengan membawa uang dinar tersebut. Kemudian ayah Ma’an (Yazid) berkata, “Sedekah itu sebenarnya bukan kutujukan padamu.” Ma’an pun mengadukan masalah tersebut kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لَكَ مَا نَوَيْتَ يَا يَزِيدُ ، وَلَكَ مَا أَخَذْتَ يَا مَعْنُ “Engkau dapati apa yang engkau niatkan wahai Yazid. Sedangkan, wahai Ma’an, engkau boleh mengambil apa yang engkau dapati.” (HR. Bukhari no. 1422) Dari hadits ini, Ibnu Hajar Al-Asqalani berkata, “Orang yang bersedekah akan dicatat pahala sesuai yang ia niatkan baik yang ia beri sedekah secara lahiriyah pantas menerimanya ataukah tidak.” (Fath Al-Bari, 3: 292) Hal di atas sesuai pula dengan hadits Umar, Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, وَإِنَّمَا لاِمْرِئٍ مَا نَوَى “Dan setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan.” (HR. Bukhari no. 1 dan Muslim no. 1907) Misal, ada pengemis yang mengetok pintu rumah kita, apakah kita memberinya sedekah ataukah tidak? Padahal nampak secara lahiriyah, dia miskin. Jawabannya, tetap diberi. Kalau pun kita keliru karena di balik itu, bisa jadi ia adalah orang yang kaya raya, tetap Allah catat niat kita untuk bersedekah. Sedangkan ia mendapatkan dosa karena memanfaatkan harta yang sebenarnya tak pantas ia terima. Begitu pula kalau ada yang menawarkan proposal pembangunan masjid. Secara lahiriyah atau zhahir yang nampak, kita tahu yang sodorkan proposal memang benar-benar butuh. Lalu kita berikan bantuan. Bagaimana kalau dana yang diserahkan disalahgunakan? Apakah kita tetap dapat pahala? Jawabannya, kita mendapatkan pahala sesuai niatan baik kita. Sedangkan yang menyalahgunakan, dialah yang mendapatkan dosa. Subhanallah … Mulia sekali syariat Islam ini.   Jangan Manjakan Pengemis dan Pengamen Jalanan Kami hanya nasehatkan jangan manjakan pengemis apalagi pengemis yang malas bekerja seperti yang berada di pinggiran jalan. Apalagi dengan mengamen, melantunkan nyanyian musik yang haram untuk didengar. Kebanyakan mereka malah tidak jelas agamanya, shalat juga tidak. Begitu pula sedikit yang mau perhatian pada puasa Ramadhan yang wajib. Carilah orang yang shalih yang lebih berhak untuk diberi, yaitu orang yang miskin yang sudah berusaha bekerja namun tidak mendapatkan penghasilan yang mencukupi kebutuhan keluarganya. Dari Abu Hurairah, ia berkata, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لَيْسَ الْمِسْكِينُ الَّذِى تَرُدُّهُ الأُكْلَةُ وَالأُكْلَتَانِ ، وَلَكِنِ الْمِسْكِينُ الَّذِى لَيْسَ لَهُ غِنًى وَيَسْتَحْيِى أَوْ لاَ يَسْأَلُ النَّاسَ إِلْحَافًا “Namanya miskin bukanlah orang yang tidak menolak satu atau dua suap makanan. Akan tetapi miskin adalah orang yang tidak punya kecukupan, lantas ia pun malu atau tidak meminta dengan cara mendesak.” (HR. Bukhari no. 1476) Wallahu waliyyut taufiq. Hanya Allah yang memberi taufik. — Selesai disusun di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 3 Muharram 1437 H Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsniat pengemis sedekah


Bolehkah kita beri sedekah pada pengemis yang pura-pura miskin?   Hukumi Seseorang Sesuai Lahiriyah Ingatlah kita hanya punya tugas menghukumi seseorang sesuai lahiriyah yang kita lihat, karena tak bisa menerawang isi hatinya. Pelajaran ini bisa kita ambil dari kisah Usamah bin Zaid berikut ini. Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhu berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus kami ke daerah Huraqah dari suku Juhainah, kemudian kami serang mereka secara tiba-tiba pada pagi hari di tempat air mereka. Saya dan seseorang dari kaum Anshar bertemu dengan seorang lelakui dari golongan mereka. Setelah kami dekat dengannya, ia lalu mengucapkan laa ilaha illallah. Orang dari sahabat Anshar menahan diri dari membunuhnya, sedangkan aku menusuknya dengan tombakku hingga membuatnya terbunuh. Sesampainya di Madinah, peristiwa itu didengar oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian beliau bertanya padaku, « يَا أُسَامَةُ أَقَتَلْتَهُ بَعْدَ مَا قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ » قُلْتُ كَانَ مُتَعَوِّذًا . فَمَا زَالَ يُكَرِّرُهَا حَتَّى تَمَنَّيْتُ أَنِّى لَمْ أَكُنْ أَسْلَمْتُ قَبْلَ ذَلِكَ الْيَوْمِ “Hai Usamah, apakah kamu membunuhnya setelah ia mengucapkan laa ilaha illallah?” Saya berkata, “Wahai Rasulullah, sebenarnya orang itu hanya ingin mencari perlindungan diri saja, sedangkan hatinya tidak meyakini hal itu.” Beliau bersabda lagi, “Apakah engkau membunuhnya setelah ia mengucapkan laa ilaha illallah?” Ucapan itu terus menerus diulang oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hingga saya mengharapkan bahwa saya belum masuk Islam sebelum hari itu.” (HR. Bukhari no. 4269 dan Muslim no. 96) Dalam riwayat Muslim disebutkan, lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أَقَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَقَتَلْتَهُ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّمَا قَالَهَا خَوْفًا مِنَ السِّلاَحِ. قَالَ أَفَلاَ شَقَقْتَ عَنْ قَلْبِهِ حَتَّى تَعْلَمَ أَقَالَهَا أَمْ لاَ فَمَازَالَ يُكَرِّرُهَا عَلَىَّ حَتَّى تَمَنَّيْتُ أَنِّى أَسْلَمْتُ يَوْمَئِذٍ “Bukankah ia telah mengucapkan laa ilaha illallah, mengapa engkau membunuhnya?” Saya menjawab, “Wahai Rasulullah, ia mengucapkan itu semata-mata karena takut dari senjata.” Beliau bersabda, “Mengapa engkau tidak belah saja hatinya hingga engkau dapat mengetahui, apakah ia mengucapkannya karena takut saja atau tidak?” Beliau mengulang-ngulang ucapan tersebut hingga aku berharap seandainya aku masuk Islam hari itu saja.” Ketika menyebutkan hadits di atas, Imam Nawawi menjelaskan bahwa maksud dari kalimat “Mengapa engkau tidak belah saja hatinya hingga engkau dapat mengetahui, apakah ia mengucapkannya karena takut saja atau tidak?” adalah kita hanya dibebani dengan menyikapi seseorang dari lahiriyahnya dan sesuatu yang keluar dari lisannya. Sedangkan hati, itu bukan urusan kita. Kita tidak punya kemampuan menilai isi hati. Cukup nilailah seseorang dari lisannya saja (lahiriyah saja). Jangan tuntut lainnya. Lihat Syarh Shahih Muslim, 2: 90-91.   Setiap Orang Akan Diganjar Sesuai yang Ia Niatkan Coba ambil pelajaran dari hadits berikut. Dari Abu Yazid Ma’an bin Yazid bin Al-Akhnas radhiyallahu ‘anhum, -ia, ayah dan kakeknya termasuk sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam-, di mana Ma’an berkata bahwa ayahnya yaitu Yazid pernah mengeluarkan beberapa dinar untuk niatan sedekah. Ayahnya meletakkan uang tersebut di sisi seseorang yang ada di masjid (maksudnya: ayahnya mewakilkan sedekah tadi para orang yang ada di masjid, -pen). Lantas Ma’an pun mengambil uang tadi, lalu ia menemui ayahnya dengan membawa uang dinar tersebut. Kemudian ayah Ma’an (Yazid) berkata, “Sedekah itu sebenarnya bukan kutujukan padamu.” Ma’an pun mengadukan masalah tersebut kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لَكَ مَا نَوَيْتَ يَا يَزِيدُ ، وَلَكَ مَا أَخَذْتَ يَا مَعْنُ “Engkau dapati apa yang engkau niatkan wahai Yazid. Sedangkan, wahai Ma’an, engkau boleh mengambil apa yang engkau dapati.” (HR. Bukhari no. 1422) Dari hadits ini, Ibnu Hajar Al-Asqalani berkata, “Orang yang bersedekah akan dicatat pahala sesuai yang ia niatkan baik yang ia beri sedekah secara lahiriyah pantas menerimanya ataukah tidak.” (Fath Al-Bari, 3: 292) Hal di atas sesuai pula dengan hadits Umar, Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, وَإِنَّمَا لاِمْرِئٍ مَا نَوَى “Dan setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan.” (HR. Bukhari no. 1 dan Muslim no. 1907) Misal, ada pengemis yang mengetok pintu rumah kita, apakah kita memberinya sedekah ataukah tidak? Padahal nampak secara lahiriyah, dia miskin. Jawabannya, tetap diberi. Kalau pun kita keliru karena di balik itu, bisa jadi ia adalah orang yang kaya raya, tetap Allah catat niat kita untuk bersedekah. Sedangkan ia mendapatkan dosa karena memanfaatkan harta yang sebenarnya tak pantas ia terima. Begitu pula kalau ada yang menawarkan proposal pembangunan masjid. Secara lahiriyah atau zhahir yang nampak, kita tahu yang sodorkan proposal memang benar-benar butuh. Lalu kita berikan bantuan. Bagaimana kalau dana yang diserahkan disalahgunakan? Apakah kita tetap dapat pahala? Jawabannya, kita mendapatkan pahala sesuai niatan baik kita. Sedangkan yang menyalahgunakan, dialah yang mendapatkan dosa. Subhanallah … Mulia sekali syariat Islam ini.   Jangan Manjakan Pengemis dan Pengamen Jalanan Kami hanya nasehatkan jangan manjakan pengemis apalagi pengemis yang malas bekerja seperti yang berada di pinggiran jalan. Apalagi dengan mengamen, melantunkan nyanyian musik yang haram untuk didengar. Kebanyakan mereka malah tidak jelas agamanya, shalat juga tidak. Begitu pula sedikit yang mau perhatian pada puasa Ramadhan yang wajib. Carilah orang yang shalih yang lebih berhak untuk diberi, yaitu orang yang miskin yang sudah berusaha bekerja namun tidak mendapatkan penghasilan yang mencukupi kebutuhan keluarganya. Dari Abu Hurairah, ia berkata, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لَيْسَ الْمِسْكِينُ الَّذِى تَرُدُّهُ الأُكْلَةُ وَالأُكْلَتَانِ ، وَلَكِنِ الْمِسْكِينُ الَّذِى لَيْسَ لَهُ غِنًى وَيَسْتَحْيِى أَوْ لاَ يَسْأَلُ النَّاسَ إِلْحَافًا “Namanya miskin bukanlah orang yang tidak menolak satu atau dua suap makanan. Akan tetapi miskin adalah orang yang tidak punya kecukupan, lantas ia pun malu atau tidak meminta dengan cara mendesak.” (HR. Bukhari no. 1476) Wallahu waliyyut taufiq. Hanya Allah yang memberi taufik. — Selesai disusun di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 3 Muharram 1437 H Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsniat pengemis sedekah

Tegar Di Atas Agama Di Zaman Fitnah

(Khutbah Mesjid Nabawi 3/1/1437 H – 16/10/2015 M)Oleh: Asy-Syaikh DR Abdul Muhsin Al-QosimKhutbah PertamaSegala puji bagi Allah, kita memujiNya, memohon pertolonganNya, memohon ampunanNya, dan kita berlindung kepadaNya dari kejahatan jiwa kita dan dari keburukan amalan kita. Siapa yang diberi petunjuk oleh Allah maka tiada yang bisa menyesatkannya, dan siapa yang disesatkan oleh Allah maka tiada yang memberi petunjuk kepadanya. Dan aku bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak disembah melainkan Allah semata tiada syarikat bagiNya. Dan aku bersaksi bahwasanya Muhammad adalah hamba dan utusanNya, semoga shalawat dan salam banyak tercurahkan kepada beliau, keluarga beliau, dan para sahabatnya.Amma ba’du, maka bertakwalah kepada Allah wahai hamba-hamba Allah dengan sebenar-benar takwa, dan berpeganglah dengan tali Islam yang kuat.          Kaum muslimin sekalian, sesungguhnya karunia yang termulia adalah mengikhlaskan peribadatan hanya kepada Allah dan mengarahnya hati kepada Allah. Seorang muslim hendaknya mempertahankan karunia ini dan menjaga hatinya dari perkara yang bisa mengotorinya, karena syaitan senantiasa mengawasi dari segala sisi agar menghilangkan karunia tersebut darinya. Allah SWT berfirman : ثُمَّ لَآتِيَنَّهُمْ مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَائِلِهِمْ وَلَا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ(Iblis berkata) : Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat) (QS Al-A’rof : 17)Mempertahankan karunia hidayah semakin ditekankan tatkala muncul fitnah. Tidak ada satu fitnahpun kecuali akan mendatangi setiap hati, sebagai bagaimana tali-tali tikar yang meliputi tikar. Dan fitnah sebagaimana dalam hal keburukan demikian juga fitnah dalam hal kebaikan seperti fitnah dengan harta, anak-anak, dan kesehatan. Allah SWT berfirman :وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَKami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan (QS Al-Anbiyaa’ : 35)Hati-hati para hamba berada diantara dua jemari Allah, Allah membolak-balikannya sebagaimana yang Ia kehendaki. Dan agama adalah perkara yang paling mulia dan paling bernilai yang dimiliki oleh seorang hamba, ia merupakan bekalnya di dunia dan akhirat, ia selalu membutuhkannya. Perkara yang paling ia butuhkan adalah berpegang teguh dengan agamanya dan tegar diatasnya. Allah telah memerintahkan nabiNya shallallahu ‘alaihi wasallam untuk beristiqomah dan tidak mengikuti hawa nafsu, Allah berfirman :وَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْDan tetaplah sebagai mana diperintahkan kepadamu dan janganlah mengikuti hawa nafsu mereka (QS As-Syuroo : 15)Dan Allah memerintahkan semua muslim untuk memohon hidayah kepada Robbnya 17 kali dan agar bisa tegar di atasnya, siapa yang tidak berdoa dengannya maka batal sholatnya.اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَTunjukilah kami jalan yang lurus (QS Al-Afatihah : 6)Syaikhul Islam rahimahullah berkata : “Doa ini adalah doa yang paling afdol dan yang paling wajib bagi makhluk, karena doa ini mengumpulkan kebaikan hamba di dunia dan akhirat”Dan diantara kebiasaan orang-orang sholeh adalah khawatir iman mereka berkurang atau hilang. Ibrahim ‘alaihis salama berdoa kepada Robbnya :وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ الْأَصْنَامَ“Dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala (QS Ibrahim : 35)Nabi kita shallallahu ‘alaihi wasallam membuka doanya dengan tauhid dan menutupnya juga dengan tauhid. Beliau sering berdoa :يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوْبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِيْنِكَ“Wahai pembolak-balik hati, kokohkanlah hatiku di atas agamaMu” (HR At-Tirmidzi)Beliau berlindung dari kesesatan setelah memperoleh petunjuk. Abdullah bin Sarjas radhiallahu ‘anhu berkata :اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ مِنْ وَعْثَاءِ السَّفَرِ، وَكَآبَةِ الْمُنْقَلَبِ، وَالْحَوْرِ بَعْدَ الْكَوْرِ، وَدَعْوَةِ الْمَظْلُومِ، وَسُوءِ الْمَنْظَرِ فِي الْأَهْلِ وَالْمَالِ“Jika Nabi bersafar beliau berkata : “Ya Allah aku berlindung kepadaMu dari kesulitan safar, dan kesedihan tatkala pulang dari safar, rusaknya urusan setelah sebelumnya baik, doanya orang yang terzolimi, dan jangan sampai ada orang jahat/zolim yang mengganggu harta dan keluarga” (HR Muslim)Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengecek para sahabatnya, jika beliau melihat ada salah seorang dari mereka yang kurang dalam beribadah maka beliau mengingatkannya. Beliau berkata kepada Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma :لاَ تَكُنْ مِثْلَ فُلاَنٍ، كَانَ يَقُوْمُ اللَّيْلَ فَتَرَكَ قِيَامَ اللَّيْلِ“Janganlah engkau seperti si fulan, ia dahulu sholat malam lalu ia tinggalkan sholat malamnya” (HR Al-Bukhari).Dan beliau bersabda,نِعْمَ الرَّجُلُ عَبْدُاللهِ لَوْ كَانَ يُصَلِّي مِنَ اللَّيْلِ“Sebaik-baik orang adalah Abdullah jika seandainya ia sholat malam” (HR Al-Bukhari dan Muslim)Dan keimanan menjadi lusuh sebagaimana baju yang lusuh, dan memperbaharuinya adalah dengan bertaubat dan beristighfar setiap saat dan waktu, dan bersegara melakukannya demi menjaga hati dan mencucinya dari kotoran-kotoran dosa. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :إِنَّ العَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ، فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ، وَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ، وَهُوَ الرَّانُ الَّذِي ذَكَرَ اللَّهُ» {كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ}“Sesungguhnya hamba jika melakukan sebah dosa maka tertulis pada hatinya titik hitam. Jika ia meninggalkan dosa tersebut dan beristighfar serta bertaubat maka bersihlah hatinya. Jika ia kembali maka ditambah titik-titik hitam tersebut hingga akhirnya menutupi hatinya, dan itulah kotoran hitam yang menutupi yang telah disebutkan oleh Allah (Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka)” (HR At-Tirmidzi)Bersihnya tauhid dan mengajarkannya adalah sebab terbesar untuk tegar di atas agama sebagaimana firman Allah SWT tentang ashabul kahfi :وَرَبَطْنَا عَلَى قُلُوبِهِمْ إِذْ قَامُوا فَقَالُوا رَبُّنَا رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ لَنْ نَدْعُوَ مِنْ دُونِهِ إِلَهًا لَقَدْ قُلْنَا إِذًا شَطَطًاDan Kami meneguhkan hati mereka diwaktu mereka berdiri, lalu mereka pun berkata, “Tuhan kami adalah Tuhan seluruh langit dan bumi; kami sekali-kali tidak menyeru Tuhan selain Dia, sesungguhnya kami kalau demikian telah mengucapkan perkataan yang amat jauh dari kebenaran” (QS Al-Kahfi : 14)Dan hidayah di tangan Allah semata, Dialah Pemberi hidayah maha suci Allah. Siapa yang disesatkan oleh Allah maka tidak ada pemberi petunjuk baginya, Allah berfirman dalam hadits qudsi :يَا عِبَادِي كُلُّكُمْ ضَالٌّ إِلاَّ مَنْ هَدَيْتُهُ“Wahai hamba-hambaKu, kalian seluruhnya tersesat kecuali yang Aku beri hidayah kepadanya” (HR Muslim)Dan tidak akan tegar kaki istiqomah kecuali dengan kebutuhan hati kepada Allah dan keyakinan bahwasanya tidak akan ada ketegaran kecuali jika Allah yang menegarkan. Allah berfirman ;وَلَوْلَا أَنْ ثَبَّتْنَاكَ لَقَدْ كِدْتَ تَرْكَنُ إِلَيْهِمْ شَيْئًا قَلِيلًاDan kalau Kami tidak memperkuat (hati)mu, niscaya kamu hampir-hampir condong sedikit kepada mereka (QS Al-Isra’ : 74)Doa memohon ketegaran merupakan bentuk iftiqor dan ibadah, dengannya maka akan terwujudkanlah istiqomah. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berdoa memohon ketegaran di atas hidayah dan beliau mengajarkan doa tersebut kepada para sahabatnya. Syaddad bin Aus radhiallahu ‘anhu berkata :Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan kami untuk berkata :اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الثَّبَاتَ فِي الأَمْرِ“Ya Allah aku memohon kepadaMu ketegaran dalam urusan” (Hr At-Tirmidzi)Dan diantara doa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam :اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِعِزَّتِكَ لاَ إِلَهَ أَنْتَ أَنْ تُضِلَّنِي“Ya Allah kau berlindung dengan kemuliaanMu, tidak ada sesembahan selain Engkau, agar Engkau tidak menyesatkan aku”.Dan orang-orang yang kokoh ilmu dan imannya berkata :رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia)” (QS Ali-Imron : 8)Jika angin fitnah telah berhembus dan gelombang ombak-ombak penyesatan saling bertabrakan, maka penyelamatnya adalah bersegera untuk beramal shalih. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :بَادِرُوا بِالأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ، يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِى كَافِرًا، أَوْ يُمْسِى مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا، يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرضٍ مِنَ الدُّنْيَا“Bersegeralah melakukan amal sebelum datangnya fitnah yang seperti potongan malam yang gulita, maka dipagi hari seseorang masih mukmin dan di sore hari telah kafir, seseorang di sore hari masih mukmin dan di pagi hari telah kafir, ia menjual agamanya dengan sepotong dunia” (HR Muslim).Menjalankan perintah Allah setelah mendengar nasehat merupakan jalan-jalan ketegaran iman. Allah berfirman :وَلَوْ أَنَّهُمْ فَعَلُوا مَا يُوعَظُونَ بِهِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ وَأَشَدَّ تَثْبِيتًاDan sesungguhnya kalau mereka melaksanakan pelajaran yang diberikan kepada mereka, tentulah hal yang demikian itu lebih baik bagi mereka dan lebih menguatkan (iman mereka) (QS An-Nisaa’ : 66)Sebagaimana meninggalkan amal setelah mengilmuinya dan setelah mendengar nasehat adalah sebab kehinaan dan kesesatan.          Ikhlas kepada Allah akan mengantarkan sampai kepada Allah, dan keselamatan dari segala yang mencegahnya menuju Allah.وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَDan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik (QS Al-Ankabuut : 69)Barang siapa yang buruk niatnya, dan menyimpang batinnya maka dampaknya akan  kelihatan pada agamanya dan perilakunya. Nabi ‘alaihis sholatu was salam bersabda ;إِنَّ الرَّجُلَ لَيَعْمَلُ عَمَلَ أَهْلِ الْجَنَّةِ فِيَما يَبْدُو لِلنَّاسِ وَهُوَ مِنْ أَهْلِ النَّارِ، وَإنَّ الرَّجُلَ لَيَعْمَلُ عَمَلَ أَهْلِ النَّارِ فِيمَا يَبْدُو لِلنَّاسِ وَهُوَ مِن أَهْلِ الْجَنَّةِ“Sesungguhnya seseorang benar-benar mengamalkan amalan penghuni surga menurut yang nampak di hadapan manusia, akan tetapi sesungguhnya ia adalah penghuni neraka, dan seseorang mengamalkan amalan penghuni neraka menurut yang nampak pada manusia, akan tetapi sungguh ia termasuk penghuni surga” (HR Al-Bukhari)Ibnu Rojab rahimahullah berkata, “Sabda Nabi “Menurut yang nampak di manusia” merupakan isyarat bahwa batinnya berbeda dengan yang terlihat, dan sesungguhnya suu’l khatimah (kematian yang buruk) disebabkan karena penyimpangan batil yang ada pada seorang hamba yang manusia tidak mengetahuinya”Dan mengikuti sunnah merupakan penjaga dan penyelamat. Allah berfirmanوَإِنْ تُطِيعُوهُ تَهْتَدُواDan jika kamu taat kepadanya, niscaya kamu mendapat petunjuk. (QS An-Nuur : 54)Syaikhul Islam rahimahullah berkata, “Semakin seseorang mengikuti sunnah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam maka semakin ia mentauhidkan Allah dan semakin ikhlas dalam memurnikan agama. Jika ia jauh dari meneladani Nabi maka akan berkurang agamanya sesuai kadar jauhnya”            Bersihnya hati dan selamatnya hati serta ikhlasnya hati merupakan penyebab datangnya ketegaran di atas iman, dan perkara yang terbesar Allah memalingkan hamba dari sebab kesesatan. Allah berfirman tentang Yusuf ‘alaihis salaam :كَذَلِكَ لِنَصْرِفَ عَنْهُ السُّوءَ وَالْفَحْشَاءَ إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُخْلَصِينَDemikianlah, agar Kami memalingkan dari padanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih (yang ikhlas) (Qs Yusuf : 24)Dan diantara tujuan diturunkannya al-Qur’an secara bertahap adalah untuk menegarkan hati kaum mukminin, pada Al-Qur’an ada cahaya, petunjuk, obat, dan rahmat. Allah berfirman kepada NabiNya shallallahu ‘alaihi wasallamكَذَلِكَ لِنُثَبِّتَ بِهِ فُؤَادَكَDemikianlah supaya Kami perkuat hatimu dengannya (Al-Furqon : 32)Dan Allah berfirman :قُلْ نَزَّلَهُ رُوحُ الْقُدُسِ مِنْ رَبِّكَ بِالْحَقِّ لِيُثَبِّتَ الَّذِينَ آمَنُوا وَهُدًى وَبُشْرَى لِلْمُسْلِمِينَKatakanlah: “Ruhul Qudus (Jibril) menurunkan Al Quran itu dari Tuhanmu dengan benar, untuk meneguhkan (hati) orang-orang yang telah beriman, dan menjadi petunjuk serta kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)” (QS An-Nahl : 102)Dan hal ini diraih dengan serius membacanya baik tilawahnya, atau menghafalnya, atau mentadaburinya dan menyimak dan mengamalkannya. Merenungkan kisah-kisah para nabi akan ketegaran mereka dalam menghadapi gangguan dan permusuhan kaumnya membantu jiwa untuk menempuh jalan mereka. Allah berfirman ;كَذَلِكَ نَقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ أَنْبَاءِ مَا قَدْ سَبَقَ وَقَدْ آتَيْنَاكَ مِنْ لَدُنَّا ذِكْرًاDemikianlah kami kisahkan kepadamu (Muhammad) sebagian kisah umat yang telah lalu, dan sesungguhnya telah Kami berikan kepadamu dari sisi Kami suatu peringatan (Al Quran) (QS Thaha : 99)          Dan sedekah merupakan bukti akan keimanan seorang hamba dan baiknya imannya. Dengan sedekah maka Allah menjaga bagi hamba tersebut dunia dan akhiratnya. Barangsiapa yang memperbanyak nawafil (perkara sunnah) maka Allah akan mencintainya dan menjaganya dari fitnah. Allah berfirman dalam hadits qudsi :وَمَا زَالَ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ“Dan hambaKu senantiasa mendekatkan dirinya kepadaKu dengan nawafil hingga Aku mencintainya” (HR Al-Bukhari)Dan berkesinambungan dalam beramal sholeh –meskipun sedikit- merupakan jalan menuju ketegaran di atasnya disertai tambahan. Nabi ‘alaihis sholatu wassalaam bersabda :أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ“Amalan yang paling dicintai Allah ta’aala adalah yang paling kontinyu meskipun sedikit” (Hr Al-Bukhari dan Muslim).An-Nawawi rahimahullah berkata, “Sedikit namun kontinyu membuahkan sehingga berlipat ganda melebihi yang banyak namun terputus”Dan berdzikir kepada Allah memperbaiki hati dan menjaganya dari syaitan. Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma berkata,الشَّيْطَانُ جَاثِمٌ عَلَى قَلْبِ ابْنِ آدَمَ، فَإِذَا سَهَا وَغَفَلَ وَسْوَسَ، وَإِذَا ذَكَرَ اللهَ خَنَسَ“Syaitan berjaga di hati anak Adam, maka jika ia lupa atau lalai syaitan pun membisikan godaan, dan jika ia mengingat Allah maka syaitanpun pergi”Dan yakin akan tersebarnya Islam disertai kesabaran merupakan penolong dalam menjalankan ketaatan dan tegar di atasnya. Nabi ‘alaihis sholatu wassalam bersabda :“Demi Allah, sungguh Allah akan menyempurnakan perkara ini hingga seorang pejalan berjalan antara kota Shon’a hingga Hadromaut maka ia tidak takut kecuali hanya kepada Allah da kepada serigala yang akan memangsa kambingnya, akan tetapi kajian tergesa-gesa” (HR Abu Dawud)Dan rido dengan apa yang telah ditakdirkan berupa musibah dan perkara yang melelahkan merupakan rukun agama. Dengannya hati menjadi tenang dan ceria. Seorang mukmin adalah manusia yang paling sabar dalam menghadapi ujian, paling tegar di atas agama dalam kondisi-kondisi genting, yang paling rido tatkala kondisi krisis. Barangsiapa yang merenungkan agungnya karunia hidayah dan terpilihnya ia mendapat hidayah maka ia akan semakin berpegang teguh dengan kebenaran, semakin tegar di atas kebenaran. Allah berfimanبَلِ اللَّهُ يَمُنُّ عَلَيْكُمْSebenarnya Allah, Dialah yang melimpahkan nikmat kepadamu” (Qs Al-Hujuroot : 17)Dan balasan sesuai dengan perbuatan, maka senantiasa merasa diawasi oleh Allah dan menjaga batasan-batasanya Allah dan menjauhi larangan-laranganNya merupakan sebab penjagaan Allah terhadap hambaNya. Nabi ‘alaihis sholatu wassalaam bersabda :اِحْفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ“Jagalah Allah maka Allah akan menjagamu” (HR At-Tirmidzi)Menghadiri majelis para ulama dan orang-orang sholih menghidupkan hati dan membantu melaksanakan ketaatan, Allah berfirmanوَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُDan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; (QS Al-Kahfi : 28)Qona’ah (nerimo) dengan rizki yang diberikan oleh Allah merupakan bentuk berbaik sangka kepada Allah. Akan membuahkan keterikatan kepada Allah dan berpegang teguh dengan agamaNya. Nabi ‘alaihis sholatu wassalaam bersabda ;كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ“Jadilah engkau di dunia seakan-akan seorang yang asing atau yang numpang lewat”.Dan Ibnu Umar berkata,إِذَا أَمْسَيْتَ فَلَا تَنْتَظِرِ الصَّبَاحَ وَإِذَا أَصْبَحْتَ فَلَا تَنْتَظِرِ الْمَسَاءَ وَخُذْ مِنْ صِحَّتِكَ لِمَرَضِكَ وَمِنْ حياتك لموتك“Jika telah sore maka janganlah engkau tunggu pagi, dan jika engkau di pagi hari maka janganlah menunggu sore. Gunakanlah waktu sehatmu sebelum sakitmu, kehidupanmu sebelum matimu” (HR Al-Bukhari)Seorang mukmin tidaklah terpedaya dengan kebatilan dan pengikutnya, ia berada di atas ilmu akan hakekat kebatilan tersebut, ia merasa mulia dengan agamanya, ia menyeru kepada agamanya, ia tidak terpalingkan dari hal tersebut hingga ia bertemu dengan Allah. Allah berfirman :لَا يَغُرَّنَّكَ تَقَلُّبُ الَّذِينَ كَفَرُوا فِي الْبِلَادِJanganlah sekali-kali kamu terperdaya oleh kebebasan orang-orang kafir bergerak di dalam negeri (QS Ali Imron : 196)Tidak panjang angan-angan dan menziarahi kuburan bagi lelaki dan memperbanyak mengingat kematian mengangkat jiwa kepada ketakwaan dan menggiringnya kepada ketaatan. Mengingat posisi-posisi di akhirat dan apa yang Allah siapkan bagi hamba-hambaNya yang shalih merupakan hiburan pendorong untuk tegar di atas agama. Nabi ‘alahis shalatau wassalaam bersabda :إِنَّكُمْ سَتَلقَوْنَ بَعْدِى أَثَرَةً، فَاصْبِرُوا حَتَّى تَلقَوْنِى عَلى الحَوْضِ“Sesungguhnya –sepeninggalku- kalian akan menemukan atsaroh, bersabarlah hingga kalian bertemu denganku di telaga” (HR Al-Bukhari dan Muslim” (Atsaroh yaitu para penguasa mendahulukan orang lain dari pada kalian –yang lebih berhak- dalam hal pemberian dan kedudukan)Kemudian kaum muslimin sekalian, sesungguhnya istiqomah di atas ketaatan dan tegar di atasnya merupakan sebab kebahagiaan di dunia dan akhirat. Allah ta’ala berfirman :إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَSesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah”, kemudian mereka tetap istiqamah maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita (QS Al-Ahqoof : 13)Dan ia merupakan sebab kebaikan-kebaikan, Allah berfirman :وَأَلَّوِ اسْتَقَامُوا عَلَى الطَّرِيقَةِ لَأَسْقَيْنَاهُمْ مَاءً غَدَقًاDan bahwasanya: jikalau mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu (agama Islam), benar-benar Kami akan memberi minum kepada mereka air yang segar (rezeki yang banyak) (QS Al-Jin : 16)Dan pahala ibadah tatkala di zaman fitnah lebih utama, Nabi ‘alahis sholatu wassalaam bersabda :الْعِبَادَة فِي الْهَرج كالهجرة إِلَيّ“Ibadah tatkala zaman pembunuhan dan fitnah seperti berhijrah kepadaku” (HR Al-Bukhari dan Muslim).Seorang muslim merasa mulia dengan agamanya, berpegang teguh dengannya, dan menyeru manusia kepadanya.Allah berfirman :وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَعْبُدُ اللَّهَ عَلَى حَرْفٍ فَإِنْ أَصَابَهُ خَيْرٌ اطْمَأَنَّ بِهِ وَإِنْ أَصَابَتْهُ فِتْنَةٌ انْقَلَبَ عَلَى وَجْهِهِ خَسِرَ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةَ ذَلِكَ هُوَ الْخُسْرَانُ الْمُبِينُDan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi; maka jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang. Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata (QS Al-Hajj : 11)Semoga Allah memberi keberkahan bagiku dan bagi kalian pada Al-Qur’an yang agung… Khutbah Kedua          Segala puji bagi Allah atas kebaikanNya, syukur hanya bagiNya atas bimbingan dan karuniaNya, dan aku bersaksi bahwasanya tidak ada yang berhak disembah kecuali Allah semata tiada syarikat bagiNya sebagai bentuk pengagunganNya, dan aku bersaksi bahwa Nabi kita Muhammad adalah hamba dan utusanNya, semoga shalawat dan salam yang banyak tercurahkan kepada beliau, keluarganya, dan para sahabatnya.Kaum muslimin sekalian, diantara sifat seorang yang berakal adalah ia tidak berspekulasi dengan imannya dengan menyangka bahwa ia tidak akan terpengaruh. Bisa jadi ini muncul karena penyakit ujub akan dirinya dan kondisinya. Maka iapun dihukum dengan ia dibiarkan antara dirinya dengan jiwanya sehingga akhirnya iapun binasa. Abu Bakar radhiallahu ‘anhu berkata :لَسْتُ تَارِكًا شَيْئًا كَانَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعْمَلُ بِهِ إِلا عَمِلْتُ بِهِ، إِنِّى أَخْشِى إِنْ تَرَكْتُ شَيْئًا مِنْ أَمْرِهِ أَنْ أَزِيغَ“Aku tidaklah meninggalkan sesuatupun yang dikerjakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kecuali aku mengamalkannya, karena aku kawatir jika ada sesuatu yang aku tinggalkan dari perintah Nabi maka aku akan menyimpang” (HR Al-Bukhari dan Muslim)Mendengarkan syubhat dan pemikiran-pemikiran yang menyimpang serta akidah akidah yang rusak merupakan sebab kesesatan, terlebih lagi dengan berkembangnya sarana-sarana komunikasi dan kemudahan untuk sampai kepadanya. Maka hendaknya seorang muslim menjauhkan dirinya dari hal tersebut. Dan Yusuf ‘alaihis salam lebih menyukai penjara dari pada fitnah, ia berkata :السِّجْنُ أَحَبُّ إِلَيَّ مِمَّا يَدْعُونَنِي إِلَيْهِ“Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku” (QS Yusuf : 33)Para salaf dahulu –meskipun luas ilmu mereka dan dalamnya keimanan mereka- mereka menjauhkan diri mereka dari hal seperti ini. Ma’mar rahimahullah berkata, “Aku berada di sisi Ibnu Tawus tatkala ada seseorang mendatanginya tentang permasalahan takdir, maka orang itupun berbicara sesuatu. Lalu Ibnu Thowuspun memasukan kedua jarinya di kedua telinganya, dan ia berkata kepada anaknya, “Masukan jari-jarimu ke kedua telingamu dan tutuplah dengan kuat, dan janganlah engkau mendengar sedikitpun perkataannya. Sesungguhnya hati ini lemah”Barangsiapa yang mengetuk pintu-pintu syubhat dan hawa nafsu maka ia akau terjatuh di dalamnya. Allah SWT berfirman :فَلَمَّا زَاغُوا أَزَاغَ اللَّهُ قُلُوبَهُمْMaka tatkala mereka berpaling (dari kebenaran), Allah memalingkan hati mereka (QS Al-Shaff : 5)Barangsiapa yang menghindari syubhat maka ia telah menyelamatkan agamanya dan harga dirinya. Dan diantara bentuk-bentuk kesesatan adalah memprotes nash-nash syari’at serta menolaknya dengan hawa nafsu dan persangkaan-persangkaan. Allah ta’ala berfirman :فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِMaka hendaklah hati-hati orang-orang yang menyalahi perintah Rasul (QS An-Nuur : 63).Syaikhul Islam rahimahullah berakta, “Barangsiapa yang terbiasa memprotes syari’at dengan pendapat maka tidak akan menetap iman dalam harinya”.Dan dosa-dosa yang dianggap sepele jika terkumpul pada pelakunya maka akan membinasakannya. Nabi bersabda :إيَّاكُمْ وَمُحَقِّرَاتِ الذُّنُوْبِ“Hati-hatilah kalian dengan dosa-dosa yang dianggap sepele” (HR Ahmad)Dan tergesa-gesa untuk melihat buah dari kebaikan menimbulkan sifat malas dan akhirnya berhenti beramal. Yang wajib adalah kontinyunya amal dan ikhlas kepada Allah dalam beramal.Penerjemah: Abu Abdil Muhsin Firandawww.firanda.com

Tegar Di Atas Agama Di Zaman Fitnah

(Khutbah Mesjid Nabawi 3/1/1437 H – 16/10/2015 M)Oleh: Asy-Syaikh DR Abdul Muhsin Al-QosimKhutbah PertamaSegala puji bagi Allah, kita memujiNya, memohon pertolonganNya, memohon ampunanNya, dan kita berlindung kepadaNya dari kejahatan jiwa kita dan dari keburukan amalan kita. Siapa yang diberi petunjuk oleh Allah maka tiada yang bisa menyesatkannya, dan siapa yang disesatkan oleh Allah maka tiada yang memberi petunjuk kepadanya. Dan aku bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak disembah melainkan Allah semata tiada syarikat bagiNya. Dan aku bersaksi bahwasanya Muhammad adalah hamba dan utusanNya, semoga shalawat dan salam banyak tercurahkan kepada beliau, keluarga beliau, dan para sahabatnya.Amma ba’du, maka bertakwalah kepada Allah wahai hamba-hamba Allah dengan sebenar-benar takwa, dan berpeganglah dengan tali Islam yang kuat.          Kaum muslimin sekalian, sesungguhnya karunia yang termulia adalah mengikhlaskan peribadatan hanya kepada Allah dan mengarahnya hati kepada Allah. Seorang muslim hendaknya mempertahankan karunia ini dan menjaga hatinya dari perkara yang bisa mengotorinya, karena syaitan senantiasa mengawasi dari segala sisi agar menghilangkan karunia tersebut darinya. Allah SWT berfirman : ثُمَّ لَآتِيَنَّهُمْ مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَائِلِهِمْ وَلَا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ(Iblis berkata) : Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat) (QS Al-A’rof : 17)Mempertahankan karunia hidayah semakin ditekankan tatkala muncul fitnah. Tidak ada satu fitnahpun kecuali akan mendatangi setiap hati, sebagai bagaimana tali-tali tikar yang meliputi tikar. Dan fitnah sebagaimana dalam hal keburukan demikian juga fitnah dalam hal kebaikan seperti fitnah dengan harta, anak-anak, dan kesehatan. Allah SWT berfirman :وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَKami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan (QS Al-Anbiyaa’ : 35)Hati-hati para hamba berada diantara dua jemari Allah, Allah membolak-balikannya sebagaimana yang Ia kehendaki. Dan agama adalah perkara yang paling mulia dan paling bernilai yang dimiliki oleh seorang hamba, ia merupakan bekalnya di dunia dan akhirat, ia selalu membutuhkannya. Perkara yang paling ia butuhkan adalah berpegang teguh dengan agamanya dan tegar diatasnya. Allah telah memerintahkan nabiNya shallallahu ‘alaihi wasallam untuk beristiqomah dan tidak mengikuti hawa nafsu, Allah berfirman :وَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْDan tetaplah sebagai mana diperintahkan kepadamu dan janganlah mengikuti hawa nafsu mereka (QS As-Syuroo : 15)Dan Allah memerintahkan semua muslim untuk memohon hidayah kepada Robbnya 17 kali dan agar bisa tegar di atasnya, siapa yang tidak berdoa dengannya maka batal sholatnya.اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَTunjukilah kami jalan yang lurus (QS Al-Afatihah : 6)Syaikhul Islam rahimahullah berkata : “Doa ini adalah doa yang paling afdol dan yang paling wajib bagi makhluk, karena doa ini mengumpulkan kebaikan hamba di dunia dan akhirat”Dan diantara kebiasaan orang-orang sholeh adalah khawatir iman mereka berkurang atau hilang. Ibrahim ‘alaihis salama berdoa kepada Robbnya :وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ الْأَصْنَامَ“Dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala (QS Ibrahim : 35)Nabi kita shallallahu ‘alaihi wasallam membuka doanya dengan tauhid dan menutupnya juga dengan tauhid. Beliau sering berdoa :يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوْبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِيْنِكَ“Wahai pembolak-balik hati, kokohkanlah hatiku di atas agamaMu” (HR At-Tirmidzi)Beliau berlindung dari kesesatan setelah memperoleh petunjuk. Abdullah bin Sarjas radhiallahu ‘anhu berkata :اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ مِنْ وَعْثَاءِ السَّفَرِ، وَكَآبَةِ الْمُنْقَلَبِ، وَالْحَوْرِ بَعْدَ الْكَوْرِ، وَدَعْوَةِ الْمَظْلُومِ، وَسُوءِ الْمَنْظَرِ فِي الْأَهْلِ وَالْمَالِ“Jika Nabi bersafar beliau berkata : “Ya Allah aku berlindung kepadaMu dari kesulitan safar, dan kesedihan tatkala pulang dari safar, rusaknya urusan setelah sebelumnya baik, doanya orang yang terzolimi, dan jangan sampai ada orang jahat/zolim yang mengganggu harta dan keluarga” (HR Muslim)Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengecek para sahabatnya, jika beliau melihat ada salah seorang dari mereka yang kurang dalam beribadah maka beliau mengingatkannya. Beliau berkata kepada Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma :لاَ تَكُنْ مِثْلَ فُلاَنٍ، كَانَ يَقُوْمُ اللَّيْلَ فَتَرَكَ قِيَامَ اللَّيْلِ“Janganlah engkau seperti si fulan, ia dahulu sholat malam lalu ia tinggalkan sholat malamnya” (HR Al-Bukhari).Dan beliau bersabda,نِعْمَ الرَّجُلُ عَبْدُاللهِ لَوْ كَانَ يُصَلِّي مِنَ اللَّيْلِ“Sebaik-baik orang adalah Abdullah jika seandainya ia sholat malam” (HR Al-Bukhari dan Muslim)Dan keimanan menjadi lusuh sebagaimana baju yang lusuh, dan memperbaharuinya adalah dengan bertaubat dan beristighfar setiap saat dan waktu, dan bersegara melakukannya demi menjaga hati dan mencucinya dari kotoran-kotoran dosa. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :إِنَّ العَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ، فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ، وَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ، وَهُوَ الرَّانُ الَّذِي ذَكَرَ اللَّهُ» {كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ}“Sesungguhnya hamba jika melakukan sebah dosa maka tertulis pada hatinya titik hitam. Jika ia meninggalkan dosa tersebut dan beristighfar serta bertaubat maka bersihlah hatinya. Jika ia kembali maka ditambah titik-titik hitam tersebut hingga akhirnya menutupi hatinya, dan itulah kotoran hitam yang menutupi yang telah disebutkan oleh Allah (Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka)” (HR At-Tirmidzi)Bersihnya tauhid dan mengajarkannya adalah sebab terbesar untuk tegar di atas agama sebagaimana firman Allah SWT tentang ashabul kahfi :وَرَبَطْنَا عَلَى قُلُوبِهِمْ إِذْ قَامُوا فَقَالُوا رَبُّنَا رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ لَنْ نَدْعُوَ مِنْ دُونِهِ إِلَهًا لَقَدْ قُلْنَا إِذًا شَطَطًاDan Kami meneguhkan hati mereka diwaktu mereka berdiri, lalu mereka pun berkata, “Tuhan kami adalah Tuhan seluruh langit dan bumi; kami sekali-kali tidak menyeru Tuhan selain Dia, sesungguhnya kami kalau demikian telah mengucapkan perkataan yang amat jauh dari kebenaran” (QS Al-Kahfi : 14)Dan hidayah di tangan Allah semata, Dialah Pemberi hidayah maha suci Allah. Siapa yang disesatkan oleh Allah maka tidak ada pemberi petunjuk baginya, Allah berfirman dalam hadits qudsi :يَا عِبَادِي كُلُّكُمْ ضَالٌّ إِلاَّ مَنْ هَدَيْتُهُ“Wahai hamba-hambaKu, kalian seluruhnya tersesat kecuali yang Aku beri hidayah kepadanya” (HR Muslim)Dan tidak akan tegar kaki istiqomah kecuali dengan kebutuhan hati kepada Allah dan keyakinan bahwasanya tidak akan ada ketegaran kecuali jika Allah yang menegarkan. Allah berfirman ;وَلَوْلَا أَنْ ثَبَّتْنَاكَ لَقَدْ كِدْتَ تَرْكَنُ إِلَيْهِمْ شَيْئًا قَلِيلًاDan kalau Kami tidak memperkuat (hati)mu, niscaya kamu hampir-hampir condong sedikit kepada mereka (QS Al-Isra’ : 74)Doa memohon ketegaran merupakan bentuk iftiqor dan ibadah, dengannya maka akan terwujudkanlah istiqomah. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berdoa memohon ketegaran di atas hidayah dan beliau mengajarkan doa tersebut kepada para sahabatnya. Syaddad bin Aus radhiallahu ‘anhu berkata :Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan kami untuk berkata :اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الثَّبَاتَ فِي الأَمْرِ“Ya Allah aku memohon kepadaMu ketegaran dalam urusan” (Hr At-Tirmidzi)Dan diantara doa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam :اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِعِزَّتِكَ لاَ إِلَهَ أَنْتَ أَنْ تُضِلَّنِي“Ya Allah kau berlindung dengan kemuliaanMu, tidak ada sesembahan selain Engkau, agar Engkau tidak menyesatkan aku”.Dan orang-orang yang kokoh ilmu dan imannya berkata :رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia)” (QS Ali-Imron : 8)Jika angin fitnah telah berhembus dan gelombang ombak-ombak penyesatan saling bertabrakan, maka penyelamatnya adalah bersegera untuk beramal shalih. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :بَادِرُوا بِالأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ، يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِى كَافِرًا، أَوْ يُمْسِى مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا، يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرضٍ مِنَ الدُّنْيَا“Bersegeralah melakukan amal sebelum datangnya fitnah yang seperti potongan malam yang gulita, maka dipagi hari seseorang masih mukmin dan di sore hari telah kafir, seseorang di sore hari masih mukmin dan di pagi hari telah kafir, ia menjual agamanya dengan sepotong dunia” (HR Muslim).Menjalankan perintah Allah setelah mendengar nasehat merupakan jalan-jalan ketegaran iman. Allah berfirman :وَلَوْ أَنَّهُمْ فَعَلُوا مَا يُوعَظُونَ بِهِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ وَأَشَدَّ تَثْبِيتًاDan sesungguhnya kalau mereka melaksanakan pelajaran yang diberikan kepada mereka, tentulah hal yang demikian itu lebih baik bagi mereka dan lebih menguatkan (iman mereka) (QS An-Nisaa’ : 66)Sebagaimana meninggalkan amal setelah mengilmuinya dan setelah mendengar nasehat adalah sebab kehinaan dan kesesatan.          Ikhlas kepada Allah akan mengantarkan sampai kepada Allah, dan keselamatan dari segala yang mencegahnya menuju Allah.وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَDan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik (QS Al-Ankabuut : 69)Barang siapa yang buruk niatnya, dan menyimpang batinnya maka dampaknya akan  kelihatan pada agamanya dan perilakunya. Nabi ‘alaihis sholatu was salam bersabda ;إِنَّ الرَّجُلَ لَيَعْمَلُ عَمَلَ أَهْلِ الْجَنَّةِ فِيَما يَبْدُو لِلنَّاسِ وَهُوَ مِنْ أَهْلِ النَّارِ، وَإنَّ الرَّجُلَ لَيَعْمَلُ عَمَلَ أَهْلِ النَّارِ فِيمَا يَبْدُو لِلنَّاسِ وَهُوَ مِن أَهْلِ الْجَنَّةِ“Sesungguhnya seseorang benar-benar mengamalkan amalan penghuni surga menurut yang nampak di hadapan manusia, akan tetapi sesungguhnya ia adalah penghuni neraka, dan seseorang mengamalkan amalan penghuni neraka menurut yang nampak pada manusia, akan tetapi sungguh ia termasuk penghuni surga” (HR Al-Bukhari)Ibnu Rojab rahimahullah berkata, “Sabda Nabi “Menurut yang nampak di manusia” merupakan isyarat bahwa batinnya berbeda dengan yang terlihat, dan sesungguhnya suu’l khatimah (kematian yang buruk) disebabkan karena penyimpangan batil yang ada pada seorang hamba yang manusia tidak mengetahuinya”Dan mengikuti sunnah merupakan penjaga dan penyelamat. Allah berfirmanوَإِنْ تُطِيعُوهُ تَهْتَدُواDan jika kamu taat kepadanya, niscaya kamu mendapat petunjuk. (QS An-Nuur : 54)Syaikhul Islam rahimahullah berkata, “Semakin seseorang mengikuti sunnah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam maka semakin ia mentauhidkan Allah dan semakin ikhlas dalam memurnikan agama. Jika ia jauh dari meneladani Nabi maka akan berkurang agamanya sesuai kadar jauhnya”            Bersihnya hati dan selamatnya hati serta ikhlasnya hati merupakan penyebab datangnya ketegaran di atas iman, dan perkara yang terbesar Allah memalingkan hamba dari sebab kesesatan. Allah berfirman tentang Yusuf ‘alaihis salaam :كَذَلِكَ لِنَصْرِفَ عَنْهُ السُّوءَ وَالْفَحْشَاءَ إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُخْلَصِينَDemikianlah, agar Kami memalingkan dari padanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih (yang ikhlas) (Qs Yusuf : 24)Dan diantara tujuan diturunkannya al-Qur’an secara bertahap adalah untuk menegarkan hati kaum mukminin, pada Al-Qur’an ada cahaya, petunjuk, obat, dan rahmat. Allah berfirman kepada NabiNya shallallahu ‘alaihi wasallamكَذَلِكَ لِنُثَبِّتَ بِهِ فُؤَادَكَDemikianlah supaya Kami perkuat hatimu dengannya (Al-Furqon : 32)Dan Allah berfirman :قُلْ نَزَّلَهُ رُوحُ الْقُدُسِ مِنْ رَبِّكَ بِالْحَقِّ لِيُثَبِّتَ الَّذِينَ آمَنُوا وَهُدًى وَبُشْرَى لِلْمُسْلِمِينَKatakanlah: “Ruhul Qudus (Jibril) menurunkan Al Quran itu dari Tuhanmu dengan benar, untuk meneguhkan (hati) orang-orang yang telah beriman, dan menjadi petunjuk serta kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)” (QS An-Nahl : 102)Dan hal ini diraih dengan serius membacanya baik tilawahnya, atau menghafalnya, atau mentadaburinya dan menyimak dan mengamalkannya. Merenungkan kisah-kisah para nabi akan ketegaran mereka dalam menghadapi gangguan dan permusuhan kaumnya membantu jiwa untuk menempuh jalan mereka. Allah berfirman ;كَذَلِكَ نَقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ أَنْبَاءِ مَا قَدْ سَبَقَ وَقَدْ آتَيْنَاكَ مِنْ لَدُنَّا ذِكْرًاDemikianlah kami kisahkan kepadamu (Muhammad) sebagian kisah umat yang telah lalu, dan sesungguhnya telah Kami berikan kepadamu dari sisi Kami suatu peringatan (Al Quran) (QS Thaha : 99)          Dan sedekah merupakan bukti akan keimanan seorang hamba dan baiknya imannya. Dengan sedekah maka Allah menjaga bagi hamba tersebut dunia dan akhiratnya. Barangsiapa yang memperbanyak nawafil (perkara sunnah) maka Allah akan mencintainya dan menjaganya dari fitnah. Allah berfirman dalam hadits qudsi :وَمَا زَالَ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ“Dan hambaKu senantiasa mendekatkan dirinya kepadaKu dengan nawafil hingga Aku mencintainya” (HR Al-Bukhari)Dan berkesinambungan dalam beramal sholeh –meskipun sedikit- merupakan jalan menuju ketegaran di atasnya disertai tambahan. Nabi ‘alaihis sholatu wassalaam bersabda :أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ“Amalan yang paling dicintai Allah ta’aala adalah yang paling kontinyu meskipun sedikit” (Hr Al-Bukhari dan Muslim).An-Nawawi rahimahullah berkata, “Sedikit namun kontinyu membuahkan sehingga berlipat ganda melebihi yang banyak namun terputus”Dan berdzikir kepada Allah memperbaiki hati dan menjaganya dari syaitan. Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma berkata,الشَّيْطَانُ جَاثِمٌ عَلَى قَلْبِ ابْنِ آدَمَ، فَإِذَا سَهَا وَغَفَلَ وَسْوَسَ، وَإِذَا ذَكَرَ اللهَ خَنَسَ“Syaitan berjaga di hati anak Adam, maka jika ia lupa atau lalai syaitan pun membisikan godaan, dan jika ia mengingat Allah maka syaitanpun pergi”Dan yakin akan tersebarnya Islam disertai kesabaran merupakan penolong dalam menjalankan ketaatan dan tegar di atasnya. Nabi ‘alaihis sholatu wassalam bersabda :“Demi Allah, sungguh Allah akan menyempurnakan perkara ini hingga seorang pejalan berjalan antara kota Shon’a hingga Hadromaut maka ia tidak takut kecuali hanya kepada Allah da kepada serigala yang akan memangsa kambingnya, akan tetapi kajian tergesa-gesa” (HR Abu Dawud)Dan rido dengan apa yang telah ditakdirkan berupa musibah dan perkara yang melelahkan merupakan rukun agama. Dengannya hati menjadi tenang dan ceria. Seorang mukmin adalah manusia yang paling sabar dalam menghadapi ujian, paling tegar di atas agama dalam kondisi-kondisi genting, yang paling rido tatkala kondisi krisis. Barangsiapa yang merenungkan agungnya karunia hidayah dan terpilihnya ia mendapat hidayah maka ia akan semakin berpegang teguh dengan kebenaran, semakin tegar di atas kebenaran. Allah berfimanبَلِ اللَّهُ يَمُنُّ عَلَيْكُمْSebenarnya Allah, Dialah yang melimpahkan nikmat kepadamu” (Qs Al-Hujuroot : 17)Dan balasan sesuai dengan perbuatan, maka senantiasa merasa diawasi oleh Allah dan menjaga batasan-batasanya Allah dan menjauhi larangan-laranganNya merupakan sebab penjagaan Allah terhadap hambaNya. Nabi ‘alaihis sholatu wassalaam bersabda :اِحْفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ“Jagalah Allah maka Allah akan menjagamu” (HR At-Tirmidzi)Menghadiri majelis para ulama dan orang-orang sholih menghidupkan hati dan membantu melaksanakan ketaatan, Allah berfirmanوَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُDan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; (QS Al-Kahfi : 28)Qona’ah (nerimo) dengan rizki yang diberikan oleh Allah merupakan bentuk berbaik sangka kepada Allah. Akan membuahkan keterikatan kepada Allah dan berpegang teguh dengan agamaNya. Nabi ‘alaihis sholatu wassalaam bersabda ;كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ“Jadilah engkau di dunia seakan-akan seorang yang asing atau yang numpang lewat”.Dan Ibnu Umar berkata,إِذَا أَمْسَيْتَ فَلَا تَنْتَظِرِ الصَّبَاحَ وَإِذَا أَصْبَحْتَ فَلَا تَنْتَظِرِ الْمَسَاءَ وَخُذْ مِنْ صِحَّتِكَ لِمَرَضِكَ وَمِنْ حياتك لموتك“Jika telah sore maka janganlah engkau tunggu pagi, dan jika engkau di pagi hari maka janganlah menunggu sore. Gunakanlah waktu sehatmu sebelum sakitmu, kehidupanmu sebelum matimu” (HR Al-Bukhari)Seorang mukmin tidaklah terpedaya dengan kebatilan dan pengikutnya, ia berada di atas ilmu akan hakekat kebatilan tersebut, ia merasa mulia dengan agamanya, ia menyeru kepada agamanya, ia tidak terpalingkan dari hal tersebut hingga ia bertemu dengan Allah. Allah berfirman :لَا يَغُرَّنَّكَ تَقَلُّبُ الَّذِينَ كَفَرُوا فِي الْبِلَادِJanganlah sekali-kali kamu terperdaya oleh kebebasan orang-orang kafir bergerak di dalam negeri (QS Ali Imron : 196)Tidak panjang angan-angan dan menziarahi kuburan bagi lelaki dan memperbanyak mengingat kematian mengangkat jiwa kepada ketakwaan dan menggiringnya kepada ketaatan. Mengingat posisi-posisi di akhirat dan apa yang Allah siapkan bagi hamba-hambaNya yang shalih merupakan hiburan pendorong untuk tegar di atas agama. Nabi ‘alahis shalatau wassalaam bersabda :إِنَّكُمْ سَتَلقَوْنَ بَعْدِى أَثَرَةً، فَاصْبِرُوا حَتَّى تَلقَوْنِى عَلى الحَوْضِ“Sesungguhnya –sepeninggalku- kalian akan menemukan atsaroh, bersabarlah hingga kalian bertemu denganku di telaga” (HR Al-Bukhari dan Muslim” (Atsaroh yaitu para penguasa mendahulukan orang lain dari pada kalian –yang lebih berhak- dalam hal pemberian dan kedudukan)Kemudian kaum muslimin sekalian, sesungguhnya istiqomah di atas ketaatan dan tegar di atasnya merupakan sebab kebahagiaan di dunia dan akhirat. Allah ta’ala berfirman :إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَSesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah”, kemudian mereka tetap istiqamah maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita (QS Al-Ahqoof : 13)Dan ia merupakan sebab kebaikan-kebaikan, Allah berfirman :وَأَلَّوِ اسْتَقَامُوا عَلَى الطَّرِيقَةِ لَأَسْقَيْنَاهُمْ مَاءً غَدَقًاDan bahwasanya: jikalau mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu (agama Islam), benar-benar Kami akan memberi minum kepada mereka air yang segar (rezeki yang banyak) (QS Al-Jin : 16)Dan pahala ibadah tatkala di zaman fitnah lebih utama, Nabi ‘alahis sholatu wassalaam bersabda :الْعِبَادَة فِي الْهَرج كالهجرة إِلَيّ“Ibadah tatkala zaman pembunuhan dan fitnah seperti berhijrah kepadaku” (HR Al-Bukhari dan Muslim).Seorang muslim merasa mulia dengan agamanya, berpegang teguh dengannya, dan menyeru manusia kepadanya.Allah berfirman :وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَعْبُدُ اللَّهَ عَلَى حَرْفٍ فَإِنْ أَصَابَهُ خَيْرٌ اطْمَأَنَّ بِهِ وَإِنْ أَصَابَتْهُ فِتْنَةٌ انْقَلَبَ عَلَى وَجْهِهِ خَسِرَ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةَ ذَلِكَ هُوَ الْخُسْرَانُ الْمُبِينُDan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi; maka jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang. Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata (QS Al-Hajj : 11)Semoga Allah memberi keberkahan bagiku dan bagi kalian pada Al-Qur’an yang agung… Khutbah Kedua          Segala puji bagi Allah atas kebaikanNya, syukur hanya bagiNya atas bimbingan dan karuniaNya, dan aku bersaksi bahwasanya tidak ada yang berhak disembah kecuali Allah semata tiada syarikat bagiNya sebagai bentuk pengagunganNya, dan aku bersaksi bahwa Nabi kita Muhammad adalah hamba dan utusanNya, semoga shalawat dan salam yang banyak tercurahkan kepada beliau, keluarganya, dan para sahabatnya.Kaum muslimin sekalian, diantara sifat seorang yang berakal adalah ia tidak berspekulasi dengan imannya dengan menyangka bahwa ia tidak akan terpengaruh. Bisa jadi ini muncul karena penyakit ujub akan dirinya dan kondisinya. Maka iapun dihukum dengan ia dibiarkan antara dirinya dengan jiwanya sehingga akhirnya iapun binasa. Abu Bakar radhiallahu ‘anhu berkata :لَسْتُ تَارِكًا شَيْئًا كَانَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعْمَلُ بِهِ إِلا عَمِلْتُ بِهِ، إِنِّى أَخْشِى إِنْ تَرَكْتُ شَيْئًا مِنْ أَمْرِهِ أَنْ أَزِيغَ“Aku tidaklah meninggalkan sesuatupun yang dikerjakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kecuali aku mengamalkannya, karena aku kawatir jika ada sesuatu yang aku tinggalkan dari perintah Nabi maka aku akan menyimpang” (HR Al-Bukhari dan Muslim)Mendengarkan syubhat dan pemikiran-pemikiran yang menyimpang serta akidah akidah yang rusak merupakan sebab kesesatan, terlebih lagi dengan berkembangnya sarana-sarana komunikasi dan kemudahan untuk sampai kepadanya. Maka hendaknya seorang muslim menjauhkan dirinya dari hal tersebut. Dan Yusuf ‘alaihis salam lebih menyukai penjara dari pada fitnah, ia berkata :السِّجْنُ أَحَبُّ إِلَيَّ مِمَّا يَدْعُونَنِي إِلَيْهِ“Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku” (QS Yusuf : 33)Para salaf dahulu –meskipun luas ilmu mereka dan dalamnya keimanan mereka- mereka menjauhkan diri mereka dari hal seperti ini. Ma’mar rahimahullah berkata, “Aku berada di sisi Ibnu Tawus tatkala ada seseorang mendatanginya tentang permasalahan takdir, maka orang itupun berbicara sesuatu. Lalu Ibnu Thowuspun memasukan kedua jarinya di kedua telinganya, dan ia berkata kepada anaknya, “Masukan jari-jarimu ke kedua telingamu dan tutuplah dengan kuat, dan janganlah engkau mendengar sedikitpun perkataannya. Sesungguhnya hati ini lemah”Barangsiapa yang mengetuk pintu-pintu syubhat dan hawa nafsu maka ia akau terjatuh di dalamnya. Allah SWT berfirman :فَلَمَّا زَاغُوا أَزَاغَ اللَّهُ قُلُوبَهُمْMaka tatkala mereka berpaling (dari kebenaran), Allah memalingkan hati mereka (QS Al-Shaff : 5)Barangsiapa yang menghindari syubhat maka ia telah menyelamatkan agamanya dan harga dirinya. Dan diantara bentuk-bentuk kesesatan adalah memprotes nash-nash syari’at serta menolaknya dengan hawa nafsu dan persangkaan-persangkaan. Allah ta’ala berfirman :فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِMaka hendaklah hati-hati orang-orang yang menyalahi perintah Rasul (QS An-Nuur : 63).Syaikhul Islam rahimahullah berakta, “Barangsiapa yang terbiasa memprotes syari’at dengan pendapat maka tidak akan menetap iman dalam harinya”.Dan dosa-dosa yang dianggap sepele jika terkumpul pada pelakunya maka akan membinasakannya. Nabi bersabda :إيَّاكُمْ وَمُحَقِّرَاتِ الذُّنُوْبِ“Hati-hatilah kalian dengan dosa-dosa yang dianggap sepele” (HR Ahmad)Dan tergesa-gesa untuk melihat buah dari kebaikan menimbulkan sifat malas dan akhirnya berhenti beramal. Yang wajib adalah kontinyunya amal dan ikhlas kepada Allah dalam beramal.Penerjemah: Abu Abdil Muhsin Firandawww.firanda.com
(Khutbah Mesjid Nabawi 3/1/1437 H – 16/10/2015 M)Oleh: Asy-Syaikh DR Abdul Muhsin Al-QosimKhutbah PertamaSegala puji bagi Allah, kita memujiNya, memohon pertolonganNya, memohon ampunanNya, dan kita berlindung kepadaNya dari kejahatan jiwa kita dan dari keburukan amalan kita. Siapa yang diberi petunjuk oleh Allah maka tiada yang bisa menyesatkannya, dan siapa yang disesatkan oleh Allah maka tiada yang memberi petunjuk kepadanya. Dan aku bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak disembah melainkan Allah semata tiada syarikat bagiNya. Dan aku bersaksi bahwasanya Muhammad adalah hamba dan utusanNya, semoga shalawat dan salam banyak tercurahkan kepada beliau, keluarga beliau, dan para sahabatnya.Amma ba’du, maka bertakwalah kepada Allah wahai hamba-hamba Allah dengan sebenar-benar takwa, dan berpeganglah dengan tali Islam yang kuat.          Kaum muslimin sekalian, sesungguhnya karunia yang termulia adalah mengikhlaskan peribadatan hanya kepada Allah dan mengarahnya hati kepada Allah. Seorang muslim hendaknya mempertahankan karunia ini dan menjaga hatinya dari perkara yang bisa mengotorinya, karena syaitan senantiasa mengawasi dari segala sisi agar menghilangkan karunia tersebut darinya. Allah SWT berfirman : ثُمَّ لَآتِيَنَّهُمْ مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَائِلِهِمْ وَلَا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ(Iblis berkata) : Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat) (QS Al-A’rof : 17)Mempertahankan karunia hidayah semakin ditekankan tatkala muncul fitnah. Tidak ada satu fitnahpun kecuali akan mendatangi setiap hati, sebagai bagaimana tali-tali tikar yang meliputi tikar. Dan fitnah sebagaimana dalam hal keburukan demikian juga fitnah dalam hal kebaikan seperti fitnah dengan harta, anak-anak, dan kesehatan. Allah SWT berfirman :وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَKami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan (QS Al-Anbiyaa’ : 35)Hati-hati para hamba berada diantara dua jemari Allah, Allah membolak-balikannya sebagaimana yang Ia kehendaki. Dan agama adalah perkara yang paling mulia dan paling bernilai yang dimiliki oleh seorang hamba, ia merupakan bekalnya di dunia dan akhirat, ia selalu membutuhkannya. Perkara yang paling ia butuhkan adalah berpegang teguh dengan agamanya dan tegar diatasnya. Allah telah memerintahkan nabiNya shallallahu ‘alaihi wasallam untuk beristiqomah dan tidak mengikuti hawa nafsu, Allah berfirman :وَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْDan tetaplah sebagai mana diperintahkan kepadamu dan janganlah mengikuti hawa nafsu mereka (QS As-Syuroo : 15)Dan Allah memerintahkan semua muslim untuk memohon hidayah kepada Robbnya 17 kali dan agar bisa tegar di atasnya, siapa yang tidak berdoa dengannya maka batal sholatnya.اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَTunjukilah kami jalan yang lurus (QS Al-Afatihah : 6)Syaikhul Islam rahimahullah berkata : “Doa ini adalah doa yang paling afdol dan yang paling wajib bagi makhluk, karena doa ini mengumpulkan kebaikan hamba di dunia dan akhirat”Dan diantara kebiasaan orang-orang sholeh adalah khawatir iman mereka berkurang atau hilang. Ibrahim ‘alaihis salama berdoa kepada Robbnya :وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ الْأَصْنَامَ“Dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala (QS Ibrahim : 35)Nabi kita shallallahu ‘alaihi wasallam membuka doanya dengan tauhid dan menutupnya juga dengan tauhid. Beliau sering berdoa :يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوْبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِيْنِكَ“Wahai pembolak-balik hati, kokohkanlah hatiku di atas agamaMu” (HR At-Tirmidzi)Beliau berlindung dari kesesatan setelah memperoleh petunjuk. Abdullah bin Sarjas radhiallahu ‘anhu berkata :اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ مِنْ وَعْثَاءِ السَّفَرِ، وَكَآبَةِ الْمُنْقَلَبِ، وَالْحَوْرِ بَعْدَ الْكَوْرِ، وَدَعْوَةِ الْمَظْلُومِ، وَسُوءِ الْمَنْظَرِ فِي الْأَهْلِ وَالْمَالِ“Jika Nabi bersafar beliau berkata : “Ya Allah aku berlindung kepadaMu dari kesulitan safar, dan kesedihan tatkala pulang dari safar, rusaknya urusan setelah sebelumnya baik, doanya orang yang terzolimi, dan jangan sampai ada orang jahat/zolim yang mengganggu harta dan keluarga” (HR Muslim)Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengecek para sahabatnya, jika beliau melihat ada salah seorang dari mereka yang kurang dalam beribadah maka beliau mengingatkannya. Beliau berkata kepada Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma :لاَ تَكُنْ مِثْلَ فُلاَنٍ، كَانَ يَقُوْمُ اللَّيْلَ فَتَرَكَ قِيَامَ اللَّيْلِ“Janganlah engkau seperti si fulan, ia dahulu sholat malam lalu ia tinggalkan sholat malamnya” (HR Al-Bukhari).Dan beliau bersabda,نِعْمَ الرَّجُلُ عَبْدُاللهِ لَوْ كَانَ يُصَلِّي مِنَ اللَّيْلِ“Sebaik-baik orang adalah Abdullah jika seandainya ia sholat malam” (HR Al-Bukhari dan Muslim)Dan keimanan menjadi lusuh sebagaimana baju yang lusuh, dan memperbaharuinya adalah dengan bertaubat dan beristighfar setiap saat dan waktu, dan bersegara melakukannya demi menjaga hati dan mencucinya dari kotoran-kotoran dosa. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :إِنَّ العَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ، فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ، وَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ، وَهُوَ الرَّانُ الَّذِي ذَكَرَ اللَّهُ» {كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ}“Sesungguhnya hamba jika melakukan sebah dosa maka tertulis pada hatinya titik hitam. Jika ia meninggalkan dosa tersebut dan beristighfar serta bertaubat maka bersihlah hatinya. Jika ia kembali maka ditambah titik-titik hitam tersebut hingga akhirnya menutupi hatinya, dan itulah kotoran hitam yang menutupi yang telah disebutkan oleh Allah (Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka)” (HR At-Tirmidzi)Bersihnya tauhid dan mengajarkannya adalah sebab terbesar untuk tegar di atas agama sebagaimana firman Allah SWT tentang ashabul kahfi :وَرَبَطْنَا عَلَى قُلُوبِهِمْ إِذْ قَامُوا فَقَالُوا رَبُّنَا رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ لَنْ نَدْعُوَ مِنْ دُونِهِ إِلَهًا لَقَدْ قُلْنَا إِذًا شَطَطًاDan Kami meneguhkan hati mereka diwaktu mereka berdiri, lalu mereka pun berkata, “Tuhan kami adalah Tuhan seluruh langit dan bumi; kami sekali-kali tidak menyeru Tuhan selain Dia, sesungguhnya kami kalau demikian telah mengucapkan perkataan yang amat jauh dari kebenaran” (QS Al-Kahfi : 14)Dan hidayah di tangan Allah semata, Dialah Pemberi hidayah maha suci Allah. Siapa yang disesatkan oleh Allah maka tidak ada pemberi petunjuk baginya, Allah berfirman dalam hadits qudsi :يَا عِبَادِي كُلُّكُمْ ضَالٌّ إِلاَّ مَنْ هَدَيْتُهُ“Wahai hamba-hambaKu, kalian seluruhnya tersesat kecuali yang Aku beri hidayah kepadanya” (HR Muslim)Dan tidak akan tegar kaki istiqomah kecuali dengan kebutuhan hati kepada Allah dan keyakinan bahwasanya tidak akan ada ketegaran kecuali jika Allah yang menegarkan. Allah berfirman ;وَلَوْلَا أَنْ ثَبَّتْنَاكَ لَقَدْ كِدْتَ تَرْكَنُ إِلَيْهِمْ شَيْئًا قَلِيلًاDan kalau Kami tidak memperkuat (hati)mu, niscaya kamu hampir-hampir condong sedikit kepada mereka (QS Al-Isra’ : 74)Doa memohon ketegaran merupakan bentuk iftiqor dan ibadah, dengannya maka akan terwujudkanlah istiqomah. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berdoa memohon ketegaran di atas hidayah dan beliau mengajarkan doa tersebut kepada para sahabatnya. Syaddad bin Aus radhiallahu ‘anhu berkata :Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan kami untuk berkata :اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الثَّبَاتَ فِي الأَمْرِ“Ya Allah aku memohon kepadaMu ketegaran dalam urusan” (Hr At-Tirmidzi)Dan diantara doa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam :اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِعِزَّتِكَ لاَ إِلَهَ أَنْتَ أَنْ تُضِلَّنِي“Ya Allah kau berlindung dengan kemuliaanMu, tidak ada sesembahan selain Engkau, agar Engkau tidak menyesatkan aku”.Dan orang-orang yang kokoh ilmu dan imannya berkata :رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia)” (QS Ali-Imron : 8)Jika angin fitnah telah berhembus dan gelombang ombak-ombak penyesatan saling bertabrakan, maka penyelamatnya adalah bersegera untuk beramal shalih. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :بَادِرُوا بِالأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ، يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِى كَافِرًا، أَوْ يُمْسِى مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا، يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرضٍ مِنَ الدُّنْيَا“Bersegeralah melakukan amal sebelum datangnya fitnah yang seperti potongan malam yang gulita, maka dipagi hari seseorang masih mukmin dan di sore hari telah kafir, seseorang di sore hari masih mukmin dan di pagi hari telah kafir, ia menjual agamanya dengan sepotong dunia” (HR Muslim).Menjalankan perintah Allah setelah mendengar nasehat merupakan jalan-jalan ketegaran iman. Allah berfirman :وَلَوْ أَنَّهُمْ فَعَلُوا مَا يُوعَظُونَ بِهِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ وَأَشَدَّ تَثْبِيتًاDan sesungguhnya kalau mereka melaksanakan pelajaran yang diberikan kepada mereka, tentulah hal yang demikian itu lebih baik bagi mereka dan lebih menguatkan (iman mereka) (QS An-Nisaa’ : 66)Sebagaimana meninggalkan amal setelah mengilmuinya dan setelah mendengar nasehat adalah sebab kehinaan dan kesesatan.          Ikhlas kepada Allah akan mengantarkan sampai kepada Allah, dan keselamatan dari segala yang mencegahnya menuju Allah.وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَDan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik (QS Al-Ankabuut : 69)Barang siapa yang buruk niatnya, dan menyimpang batinnya maka dampaknya akan  kelihatan pada agamanya dan perilakunya. Nabi ‘alaihis sholatu was salam bersabda ;إِنَّ الرَّجُلَ لَيَعْمَلُ عَمَلَ أَهْلِ الْجَنَّةِ فِيَما يَبْدُو لِلنَّاسِ وَهُوَ مِنْ أَهْلِ النَّارِ، وَإنَّ الرَّجُلَ لَيَعْمَلُ عَمَلَ أَهْلِ النَّارِ فِيمَا يَبْدُو لِلنَّاسِ وَهُوَ مِن أَهْلِ الْجَنَّةِ“Sesungguhnya seseorang benar-benar mengamalkan amalan penghuni surga menurut yang nampak di hadapan manusia, akan tetapi sesungguhnya ia adalah penghuni neraka, dan seseorang mengamalkan amalan penghuni neraka menurut yang nampak pada manusia, akan tetapi sungguh ia termasuk penghuni surga” (HR Al-Bukhari)Ibnu Rojab rahimahullah berkata, “Sabda Nabi “Menurut yang nampak di manusia” merupakan isyarat bahwa batinnya berbeda dengan yang terlihat, dan sesungguhnya suu’l khatimah (kematian yang buruk) disebabkan karena penyimpangan batil yang ada pada seorang hamba yang manusia tidak mengetahuinya”Dan mengikuti sunnah merupakan penjaga dan penyelamat. Allah berfirmanوَإِنْ تُطِيعُوهُ تَهْتَدُواDan jika kamu taat kepadanya, niscaya kamu mendapat petunjuk. (QS An-Nuur : 54)Syaikhul Islam rahimahullah berkata, “Semakin seseorang mengikuti sunnah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam maka semakin ia mentauhidkan Allah dan semakin ikhlas dalam memurnikan agama. Jika ia jauh dari meneladani Nabi maka akan berkurang agamanya sesuai kadar jauhnya”            Bersihnya hati dan selamatnya hati serta ikhlasnya hati merupakan penyebab datangnya ketegaran di atas iman, dan perkara yang terbesar Allah memalingkan hamba dari sebab kesesatan. Allah berfirman tentang Yusuf ‘alaihis salaam :كَذَلِكَ لِنَصْرِفَ عَنْهُ السُّوءَ وَالْفَحْشَاءَ إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُخْلَصِينَDemikianlah, agar Kami memalingkan dari padanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih (yang ikhlas) (Qs Yusuf : 24)Dan diantara tujuan diturunkannya al-Qur’an secara bertahap adalah untuk menegarkan hati kaum mukminin, pada Al-Qur’an ada cahaya, petunjuk, obat, dan rahmat. Allah berfirman kepada NabiNya shallallahu ‘alaihi wasallamكَذَلِكَ لِنُثَبِّتَ بِهِ فُؤَادَكَDemikianlah supaya Kami perkuat hatimu dengannya (Al-Furqon : 32)Dan Allah berfirman :قُلْ نَزَّلَهُ رُوحُ الْقُدُسِ مِنْ رَبِّكَ بِالْحَقِّ لِيُثَبِّتَ الَّذِينَ آمَنُوا وَهُدًى وَبُشْرَى لِلْمُسْلِمِينَKatakanlah: “Ruhul Qudus (Jibril) menurunkan Al Quran itu dari Tuhanmu dengan benar, untuk meneguhkan (hati) orang-orang yang telah beriman, dan menjadi petunjuk serta kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)” (QS An-Nahl : 102)Dan hal ini diraih dengan serius membacanya baik tilawahnya, atau menghafalnya, atau mentadaburinya dan menyimak dan mengamalkannya. Merenungkan kisah-kisah para nabi akan ketegaran mereka dalam menghadapi gangguan dan permusuhan kaumnya membantu jiwa untuk menempuh jalan mereka. Allah berfirman ;كَذَلِكَ نَقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ أَنْبَاءِ مَا قَدْ سَبَقَ وَقَدْ آتَيْنَاكَ مِنْ لَدُنَّا ذِكْرًاDemikianlah kami kisahkan kepadamu (Muhammad) sebagian kisah umat yang telah lalu, dan sesungguhnya telah Kami berikan kepadamu dari sisi Kami suatu peringatan (Al Quran) (QS Thaha : 99)          Dan sedekah merupakan bukti akan keimanan seorang hamba dan baiknya imannya. Dengan sedekah maka Allah menjaga bagi hamba tersebut dunia dan akhiratnya. Barangsiapa yang memperbanyak nawafil (perkara sunnah) maka Allah akan mencintainya dan menjaganya dari fitnah. Allah berfirman dalam hadits qudsi :وَمَا زَالَ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ“Dan hambaKu senantiasa mendekatkan dirinya kepadaKu dengan nawafil hingga Aku mencintainya” (HR Al-Bukhari)Dan berkesinambungan dalam beramal sholeh –meskipun sedikit- merupakan jalan menuju ketegaran di atasnya disertai tambahan. Nabi ‘alaihis sholatu wassalaam bersabda :أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ“Amalan yang paling dicintai Allah ta’aala adalah yang paling kontinyu meskipun sedikit” (Hr Al-Bukhari dan Muslim).An-Nawawi rahimahullah berkata, “Sedikit namun kontinyu membuahkan sehingga berlipat ganda melebihi yang banyak namun terputus”Dan berdzikir kepada Allah memperbaiki hati dan menjaganya dari syaitan. Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma berkata,الشَّيْطَانُ جَاثِمٌ عَلَى قَلْبِ ابْنِ آدَمَ، فَإِذَا سَهَا وَغَفَلَ وَسْوَسَ، وَإِذَا ذَكَرَ اللهَ خَنَسَ“Syaitan berjaga di hati anak Adam, maka jika ia lupa atau lalai syaitan pun membisikan godaan, dan jika ia mengingat Allah maka syaitanpun pergi”Dan yakin akan tersebarnya Islam disertai kesabaran merupakan penolong dalam menjalankan ketaatan dan tegar di atasnya. Nabi ‘alaihis sholatu wassalam bersabda :“Demi Allah, sungguh Allah akan menyempurnakan perkara ini hingga seorang pejalan berjalan antara kota Shon’a hingga Hadromaut maka ia tidak takut kecuali hanya kepada Allah da kepada serigala yang akan memangsa kambingnya, akan tetapi kajian tergesa-gesa” (HR Abu Dawud)Dan rido dengan apa yang telah ditakdirkan berupa musibah dan perkara yang melelahkan merupakan rukun agama. Dengannya hati menjadi tenang dan ceria. Seorang mukmin adalah manusia yang paling sabar dalam menghadapi ujian, paling tegar di atas agama dalam kondisi-kondisi genting, yang paling rido tatkala kondisi krisis. Barangsiapa yang merenungkan agungnya karunia hidayah dan terpilihnya ia mendapat hidayah maka ia akan semakin berpegang teguh dengan kebenaran, semakin tegar di atas kebenaran. Allah berfimanبَلِ اللَّهُ يَمُنُّ عَلَيْكُمْSebenarnya Allah, Dialah yang melimpahkan nikmat kepadamu” (Qs Al-Hujuroot : 17)Dan balasan sesuai dengan perbuatan, maka senantiasa merasa diawasi oleh Allah dan menjaga batasan-batasanya Allah dan menjauhi larangan-laranganNya merupakan sebab penjagaan Allah terhadap hambaNya. Nabi ‘alaihis sholatu wassalaam bersabda :اِحْفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ“Jagalah Allah maka Allah akan menjagamu” (HR At-Tirmidzi)Menghadiri majelis para ulama dan orang-orang sholih menghidupkan hati dan membantu melaksanakan ketaatan, Allah berfirmanوَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُDan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; (QS Al-Kahfi : 28)Qona’ah (nerimo) dengan rizki yang diberikan oleh Allah merupakan bentuk berbaik sangka kepada Allah. Akan membuahkan keterikatan kepada Allah dan berpegang teguh dengan agamaNya. Nabi ‘alaihis sholatu wassalaam bersabda ;كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ“Jadilah engkau di dunia seakan-akan seorang yang asing atau yang numpang lewat”.Dan Ibnu Umar berkata,إِذَا أَمْسَيْتَ فَلَا تَنْتَظِرِ الصَّبَاحَ وَإِذَا أَصْبَحْتَ فَلَا تَنْتَظِرِ الْمَسَاءَ وَخُذْ مِنْ صِحَّتِكَ لِمَرَضِكَ وَمِنْ حياتك لموتك“Jika telah sore maka janganlah engkau tunggu pagi, dan jika engkau di pagi hari maka janganlah menunggu sore. Gunakanlah waktu sehatmu sebelum sakitmu, kehidupanmu sebelum matimu” (HR Al-Bukhari)Seorang mukmin tidaklah terpedaya dengan kebatilan dan pengikutnya, ia berada di atas ilmu akan hakekat kebatilan tersebut, ia merasa mulia dengan agamanya, ia menyeru kepada agamanya, ia tidak terpalingkan dari hal tersebut hingga ia bertemu dengan Allah. Allah berfirman :لَا يَغُرَّنَّكَ تَقَلُّبُ الَّذِينَ كَفَرُوا فِي الْبِلَادِJanganlah sekali-kali kamu terperdaya oleh kebebasan orang-orang kafir bergerak di dalam negeri (QS Ali Imron : 196)Tidak panjang angan-angan dan menziarahi kuburan bagi lelaki dan memperbanyak mengingat kematian mengangkat jiwa kepada ketakwaan dan menggiringnya kepada ketaatan. Mengingat posisi-posisi di akhirat dan apa yang Allah siapkan bagi hamba-hambaNya yang shalih merupakan hiburan pendorong untuk tegar di atas agama. Nabi ‘alahis shalatau wassalaam bersabda :إِنَّكُمْ سَتَلقَوْنَ بَعْدِى أَثَرَةً، فَاصْبِرُوا حَتَّى تَلقَوْنِى عَلى الحَوْضِ“Sesungguhnya –sepeninggalku- kalian akan menemukan atsaroh, bersabarlah hingga kalian bertemu denganku di telaga” (HR Al-Bukhari dan Muslim” (Atsaroh yaitu para penguasa mendahulukan orang lain dari pada kalian –yang lebih berhak- dalam hal pemberian dan kedudukan)Kemudian kaum muslimin sekalian, sesungguhnya istiqomah di atas ketaatan dan tegar di atasnya merupakan sebab kebahagiaan di dunia dan akhirat. Allah ta’ala berfirman :إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَSesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah”, kemudian mereka tetap istiqamah maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita (QS Al-Ahqoof : 13)Dan ia merupakan sebab kebaikan-kebaikan, Allah berfirman :وَأَلَّوِ اسْتَقَامُوا عَلَى الطَّرِيقَةِ لَأَسْقَيْنَاهُمْ مَاءً غَدَقًاDan bahwasanya: jikalau mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu (agama Islam), benar-benar Kami akan memberi minum kepada mereka air yang segar (rezeki yang banyak) (QS Al-Jin : 16)Dan pahala ibadah tatkala di zaman fitnah lebih utama, Nabi ‘alahis sholatu wassalaam bersabda :الْعِبَادَة فِي الْهَرج كالهجرة إِلَيّ“Ibadah tatkala zaman pembunuhan dan fitnah seperti berhijrah kepadaku” (HR Al-Bukhari dan Muslim).Seorang muslim merasa mulia dengan agamanya, berpegang teguh dengannya, dan menyeru manusia kepadanya.Allah berfirman :وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَعْبُدُ اللَّهَ عَلَى حَرْفٍ فَإِنْ أَصَابَهُ خَيْرٌ اطْمَأَنَّ بِهِ وَإِنْ أَصَابَتْهُ فِتْنَةٌ انْقَلَبَ عَلَى وَجْهِهِ خَسِرَ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةَ ذَلِكَ هُوَ الْخُسْرَانُ الْمُبِينُDan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi; maka jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang. Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata (QS Al-Hajj : 11)Semoga Allah memberi keberkahan bagiku dan bagi kalian pada Al-Qur’an yang agung… Khutbah Kedua          Segala puji bagi Allah atas kebaikanNya, syukur hanya bagiNya atas bimbingan dan karuniaNya, dan aku bersaksi bahwasanya tidak ada yang berhak disembah kecuali Allah semata tiada syarikat bagiNya sebagai bentuk pengagunganNya, dan aku bersaksi bahwa Nabi kita Muhammad adalah hamba dan utusanNya, semoga shalawat dan salam yang banyak tercurahkan kepada beliau, keluarganya, dan para sahabatnya.Kaum muslimin sekalian, diantara sifat seorang yang berakal adalah ia tidak berspekulasi dengan imannya dengan menyangka bahwa ia tidak akan terpengaruh. Bisa jadi ini muncul karena penyakit ujub akan dirinya dan kondisinya. Maka iapun dihukum dengan ia dibiarkan antara dirinya dengan jiwanya sehingga akhirnya iapun binasa. Abu Bakar radhiallahu ‘anhu berkata :لَسْتُ تَارِكًا شَيْئًا كَانَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعْمَلُ بِهِ إِلا عَمِلْتُ بِهِ، إِنِّى أَخْشِى إِنْ تَرَكْتُ شَيْئًا مِنْ أَمْرِهِ أَنْ أَزِيغَ“Aku tidaklah meninggalkan sesuatupun yang dikerjakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kecuali aku mengamalkannya, karena aku kawatir jika ada sesuatu yang aku tinggalkan dari perintah Nabi maka aku akan menyimpang” (HR Al-Bukhari dan Muslim)Mendengarkan syubhat dan pemikiran-pemikiran yang menyimpang serta akidah akidah yang rusak merupakan sebab kesesatan, terlebih lagi dengan berkembangnya sarana-sarana komunikasi dan kemudahan untuk sampai kepadanya. Maka hendaknya seorang muslim menjauhkan dirinya dari hal tersebut. Dan Yusuf ‘alaihis salam lebih menyukai penjara dari pada fitnah, ia berkata :السِّجْنُ أَحَبُّ إِلَيَّ مِمَّا يَدْعُونَنِي إِلَيْهِ“Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku” (QS Yusuf : 33)Para salaf dahulu –meskipun luas ilmu mereka dan dalamnya keimanan mereka- mereka menjauhkan diri mereka dari hal seperti ini. Ma’mar rahimahullah berkata, “Aku berada di sisi Ibnu Tawus tatkala ada seseorang mendatanginya tentang permasalahan takdir, maka orang itupun berbicara sesuatu. Lalu Ibnu Thowuspun memasukan kedua jarinya di kedua telinganya, dan ia berkata kepada anaknya, “Masukan jari-jarimu ke kedua telingamu dan tutuplah dengan kuat, dan janganlah engkau mendengar sedikitpun perkataannya. Sesungguhnya hati ini lemah”Barangsiapa yang mengetuk pintu-pintu syubhat dan hawa nafsu maka ia akau terjatuh di dalamnya. Allah SWT berfirman :فَلَمَّا زَاغُوا أَزَاغَ اللَّهُ قُلُوبَهُمْMaka tatkala mereka berpaling (dari kebenaran), Allah memalingkan hati mereka (QS Al-Shaff : 5)Barangsiapa yang menghindari syubhat maka ia telah menyelamatkan agamanya dan harga dirinya. Dan diantara bentuk-bentuk kesesatan adalah memprotes nash-nash syari’at serta menolaknya dengan hawa nafsu dan persangkaan-persangkaan. Allah ta’ala berfirman :فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِMaka hendaklah hati-hati orang-orang yang menyalahi perintah Rasul (QS An-Nuur : 63).Syaikhul Islam rahimahullah berakta, “Barangsiapa yang terbiasa memprotes syari’at dengan pendapat maka tidak akan menetap iman dalam harinya”.Dan dosa-dosa yang dianggap sepele jika terkumpul pada pelakunya maka akan membinasakannya. Nabi bersabda :إيَّاكُمْ وَمُحَقِّرَاتِ الذُّنُوْبِ“Hati-hatilah kalian dengan dosa-dosa yang dianggap sepele” (HR Ahmad)Dan tergesa-gesa untuk melihat buah dari kebaikan menimbulkan sifat malas dan akhirnya berhenti beramal. Yang wajib adalah kontinyunya amal dan ikhlas kepada Allah dalam beramal.Penerjemah: Abu Abdil Muhsin Firandawww.firanda.com


(Khutbah Mesjid Nabawi 3/1/1437 H – 16/10/2015 M)Oleh: Asy-Syaikh DR Abdul Muhsin Al-QosimKhutbah PertamaSegala puji bagi Allah, kita memujiNya, memohon pertolonganNya, memohon ampunanNya, dan kita berlindung kepadaNya dari kejahatan jiwa kita dan dari keburukan amalan kita. Siapa yang diberi petunjuk oleh Allah maka tiada yang bisa menyesatkannya, dan siapa yang disesatkan oleh Allah maka tiada yang memberi petunjuk kepadanya. Dan aku bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak disembah melainkan Allah semata tiada syarikat bagiNya. Dan aku bersaksi bahwasanya Muhammad adalah hamba dan utusanNya, semoga shalawat dan salam banyak tercurahkan kepada beliau, keluarga beliau, dan para sahabatnya.Amma ba’du, maka bertakwalah kepada Allah wahai hamba-hamba Allah dengan sebenar-benar takwa, dan berpeganglah dengan tali Islam yang kuat.          Kaum muslimin sekalian, sesungguhnya karunia yang termulia adalah mengikhlaskan peribadatan hanya kepada Allah dan mengarahnya hati kepada Allah. Seorang muslim hendaknya mempertahankan karunia ini dan menjaga hatinya dari perkara yang bisa mengotorinya, karena syaitan senantiasa mengawasi dari segala sisi agar menghilangkan karunia tersebut darinya. Allah SWT berfirman : ثُمَّ لَآتِيَنَّهُمْ مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَائِلِهِمْ وَلَا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ(Iblis berkata) : Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat) (QS Al-A’rof : 17)Mempertahankan karunia hidayah semakin ditekankan tatkala muncul fitnah. Tidak ada satu fitnahpun kecuali akan mendatangi setiap hati, sebagai bagaimana tali-tali tikar yang meliputi tikar. Dan fitnah sebagaimana dalam hal keburukan demikian juga fitnah dalam hal kebaikan seperti fitnah dengan harta, anak-anak, dan kesehatan. Allah SWT berfirman :وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَKami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan (QS Al-Anbiyaa’ : 35)Hati-hati para hamba berada diantara dua jemari Allah, Allah membolak-balikannya sebagaimana yang Ia kehendaki. Dan agama adalah perkara yang paling mulia dan paling bernilai yang dimiliki oleh seorang hamba, ia merupakan bekalnya di dunia dan akhirat, ia selalu membutuhkannya. Perkara yang paling ia butuhkan adalah berpegang teguh dengan agamanya dan tegar diatasnya. Allah telah memerintahkan nabiNya shallallahu ‘alaihi wasallam untuk beristiqomah dan tidak mengikuti hawa nafsu, Allah berfirman :وَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْDan tetaplah sebagai mana diperintahkan kepadamu dan janganlah mengikuti hawa nafsu mereka (QS As-Syuroo : 15)Dan Allah memerintahkan semua muslim untuk memohon hidayah kepada Robbnya 17 kali dan agar bisa tegar di atasnya, siapa yang tidak berdoa dengannya maka batal sholatnya.اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَTunjukilah kami jalan yang lurus (QS Al-Afatihah : 6)Syaikhul Islam rahimahullah berkata : “Doa ini adalah doa yang paling afdol dan yang paling wajib bagi makhluk, karena doa ini mengumpulkan kebaikan hamba di dunia dan akhirat”Dan diantara kebiasaan orang-orang sholeh adalah khawatir iman mereka berkurang atau hilang. Ibrahim ‘alaihis salama berdoa kepada Robbnya :وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ الْأَصْنَامَ“Dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala (QS Ibrahim : 35)Nabi kita shallallahu ‘alaihi wasallam membuka doanya dengan tauhid dan menutupnya juga dengan tauhid. Beliau sering berdoa :يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوْبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِيْنِكَ“Wahai pembolak-balik hati, kokohkanlah hatiku di atas agamaMu” (HR At-Tirmidzi)Beliau berlindung dari kesesatan setelah memperoleh petunjuk. Abdullah bin Sarjas radhiallahu ‘anhu berkata :اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ مِنْ وَعْثَاءِ السَّفَرِ، وَكَآبَةِ الْمُنْقَلَبِ، وَالْحَوْرِ بَعْدَ الْكَوْرِ، وَدَعْوَةِ الْمَظْلُومِ، وَسُوءِ الْمَنْظَرِ فِي الْأَهْلِ وَالْمَالِ“Jika Nabi bersafar beliau berkata : “Ya Allah aku berlindung kepadaMu dari kesulitan safar, dan kesedihan tatkala pulang dari safar, rusaknya urusan setelah sebelumnya baik, doanya orang yang terzolimi, dan jangan sampai ada orang jahat/zolim yang mengganggu harta dan keluarga” (HR Muslim)Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengecek para sahabatnya, jika beliau melihat ada salah seorang dari mereka yang kurang dalam beribadah maka beliau mengingatkannya. Beliau berkata kepada Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma :لاَ تَكُنْ مِثْلَ فُلاَنٍ، كَانَ يَقُوْمُ اللَّيْلَ فَتَرَكَ قِيَامَ اللَّيْلِ“Janganlah engkau seperti si fulan, ia dahulu sholat malam lalu ia tinggalkan sholat malamnya” (HR Al-Bukhari).Dan beliau bersabda,نِعْمَ الرَّجُلُ عَبْدُاللهِ لَوْ كَانَ يُصَلِّي مِنَ اللَّيْلِ“Sebaik-baik orang adalah Abdullah jika seandainya ia sholat malam” (HR Al-Bukhari dan Muslim)Dan keimanan menjadi lusuh sebagaimana baju yang lusuh, dan memperbaharuinya adalah dengan bertaubat dan beristighfar setiap saat dan waktu, dan bersegara melakukannya demi menjaga hati dan mencucinya dari kotoran-kotoran dosa. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :إِنَّ العَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ، فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ، وَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ، وَهُوَ الرَّانُ الَّذِي ذَكَرَ اللَّهُ» {كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ}“Sesungguhnya hamba jika melakukan sebah dosa maka tertulis pada hatinya titik hitam. Jika ia meninggalkan dosa tersebut dan beristighfar serta bertaubat maka bersihlah hatinya. Jika ia kembali maka ditambah titik-titik hitam tersebut hingga akhirnya menutupi hatinya, dan itulah kotoran hitam yang menutupi yang telah disebutkan oleh Allah (Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka)” (HR At-Tirmidzi)Bersihnya tauhid dan mengajarkannya adalah sebab terbesar untuk tegar di atas agama sebagaimana firman Allah SWT tentang ashabul kahfi :وَرَبَطْنَا عَلَى قُلُوبِهِمْ إِذْ قَامُوا فَقَالُوا رَبُّنَا رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ لَنْ نَدْعُوَ مِنْ دُونِهِ إِلَهًا لَقَدْ قُلْنَا إِذًا شَطَطًاDan Kami meneguhkan hati mereka diwaktu mereka berdiri, lalu mereka pun berkata, “Tuhan kami adalah Tuhan seluruh langit dan bumi; kami sekali-kali tidak menyeru Tuhan selain Dia, sesungguhnya kami kalau demikian telah mengucapkan perkataan yang amat jauh dari kebenaran” (QS Al-Kahfi : 14)Dan hidayah di tangan Allah semata, Dialah Pemberi hidayah maha suci Allah. Siapa yang disesatkan oleh Allah maka tidak ada pemberi petunjuk baginya, Allah berfirman dalam hadits qudsi :يَا عِبَادِي كُلُّكُمْ ضَالٌّ إِلاَّ مَنْ هَدَيْتُهُ“Wahai hamba-hambaKu, kalian seluruhnya tersesat kecuali yang Aku beri hidayah kepadanya” (HR Muslim)Dan tidak akan tegar kaki istiqomah kecuali dengan kebutuhan hati kepada Allah dan keyakinan bahwasanya tidak akan ada ketegaran kecuali jika Allah yang menegarkan. Allah berfirman ;وَلَوْلَا أَنْ ثَبَّتْنَاكَ لَقَدْ كِدْتَ تَرْكَنُ إِلَيْهِمْ شَيْئًا قَلِيلًاDan kalau Kami tidak memperkuat (hati)mu, niscaya kamu hampir-hampir condong sedikit kepada mereka (QS Al-Isra’ : 74)Doa memohon ketegaran merupakan bentuk iftiqor dan ibadah, dengannya maka akan terwujudkanlah istiqomah. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berdoa memohon ketegaran di atas hidayah dan beliau mengajarkan doa tersebut kepada para sahabatnya. Syaddad bin Aus radhiallahu ‘anhu berkata :Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan kami untuk berkata :اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الثَّبَاتَ فِي الأَمْرِ“Ya Allah aku memohon kepadaMu ketegaran dalam urusan” (Hr At-Tirmidzi)Dan diantara doa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam :اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِعِزَّتِكَ لاَ إِلَهَ أَنْتَ أَنْ تُضِلَّنِي“Ya Allah kau berlindung dengan kemuliaanMu, tidak ada sesembahan selain Engkau, agar Engkau tidak menyesatkan aku”.Dan orang-orang yang kokoh ilmu dan imannya berkata :رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia)” (QS Ali-Imron : 8)Jika angin fitnah telah berhembus dan gelombang ombak-ombak penyesatan saling bertabrakan, maka penyelamatnya adalah bersegera untuk beramal shalih. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :بَادِرُوا بِالأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ، يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِى كَافِرًا، أَوْ يُمْسِى مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا، يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرضٍ مِنَ الدُّنْيَا“Bersegeralah melakukan amal sebelum datangnya fitnah yang seperti potongan malam yang gulita, maka dipagi hari seseorang masih mukmin dan di sore hari telah kafir, seseorang di sore hari masih mukmin dan di pagi hari telah kafir, ia menjual agamanya dengan sepotong dunia” (HR Muslim).Menjalankan perintah Allah setelah mendengar nasehat merupakan jalan-jalan ketegaran iman. Allah berfirman :وَلَوْ أَنَّهُمْ فَعَلُوا مَا يُوعَظُونَ بِهِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ وَأَشَدَّ تَثْبِيتًاDan sesungguhnya kalau mereka melaksanakan pelajaran yang diberikan kepada mereka, tentulah hal yang demikian itu lebih baik bagi mereka dan lebih menguatkan (iman mereka) (QS An-Nisaa’ : 66)Sebagaimana meninggalkan amal setelah mengilmuinya dan setelah mendengar nasehat adalah sebab kehinaan dan kesesatan.          Ikhlas kepada Allah akan mengantarkan sampai kepada Allah, dan keselamatan dari segala yang mencegahnya menuju Allah.وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَDan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik (QS Al-Ankabuut : 69)Barang siapa yang buruk niatnya, dan menyimpang batinnya maka dampaknya akan  kelihatan pada agamanya dan perilakunya. Nabi ‘alaihis sholatu was salam bersabda ;إِنَّ الرَّجُلَ لَيَعْمَلُ عَمَلَ أَهْلِ الْجَنَّةِ فِيَما يَبْدُو لِلنَّاسِ وَهُوَ مِنْ أَهْلِ النَّارِ، وَإنَّ الرَّجُلَ لَيَعْمَلُ عَمَلَ أَهْلِ النَّارِ فِيمَا يَبْدُو لِلنَّاسِ وَهُوَ مِن أَهْلِ الْجَنَّةِ“Sesungguhnya seseorang benar-benar mengamalkan amalan penghuni surga menurut yang nampak di hadapan manusia, akan tetapi sesungguhnya ia adalah penghuni neraka, dan seseorang mengamalkan amalan penghuni neraka menurut yang nampak pada manusia, akan tetapi sungguh ia termasuk penghuni surga” (HR Al-Bukhari)Ibnu Rojab rahimahullah berkata, “Sabda Nabi “Menurut yang nampak di manusia” merupakan isyarat bahwa batinnya berbeda dengan yang terlihat, dan sesungguhnya suu’l khatimah (kematian yang buruk) disebabkan karena penyimpangan batil yang ada pada seorang hamba yang manusia tidak mengetahuinya”Dan mengikuti sunnah merupakan penjaga dan penyelamat. Allah berfirmanوَإِنْ تُطِيعُوهُ تَهْتَدُواDan jika kamu taat kepadanya, niscaya kamu mendapat petunjuk. (QS An-Nuur : 54)Syaikhul Islam rahimahullah berkata, “Semakin seseorang mengikuti sunnah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam maka semakin ia mentauhidkan Allah dan semakin ikhlas dalam memurnikan agama. Jika ia jauh dari meneladani Nabi maka akan berkurang agamanya sesuai kadar jauhnya”            Bersihnya hati dan selamatnya hati serta ikhlasnya hati merupakan penyebab datangnya ketegaran di atas iman, dan perkara yang terbesar Allah memalingkan hamba dari sebab kesesatan. Allah berfirman tentang Yusuf ‘alaihis salaam :كَذَلِكَ لِنَصْرِفَ عَنْهُ السُّوءَ وَالْفَحْشَاءَ إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُخْلَصِينَDemikianlah, agar Kami memalingkan dari padanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih (yang ikhlas) (Qs Yusuf : 24)Dan diantara tujuan diturunkannya al-Qur’an secara bertahap adalah untuk menegarkan hati kaum mukminin, pada Al-Qur’an ada cahaya, petunjuk, obat, dan rahmat. Allah berfirman kepada NabiNya shallallahu ‘alaihi wasallamكَذَلِكَ لِنُثَبِّتَ بِهِ فُؤَادَكَDemikianlah supaya Kami perkuat hatimu dengannya (Al-Furqon : 32)Dan Allah berfirman :قُلْ نَزَّلَهُ رُوحُ الْقُدُسِ مِنْ رَبِّكَ بِالْحَقِّ لِيُثَبِّتَ الَّذِينَ آمَنُوا وَهُدًى وَبُشْرَى لِلْمُسْلِمِينَKatakanlah: “Ruhul Qudus (Jibril) menurunkan Al Quran itu dari Tuhanmu dengan benar, untuk meneguhkan (hati) orang-orang yang telah beriman, dan menjadi petunjuk serta kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)” (QS An-Nahl : 102)Dan hal ini diraih dengan serius membacanya baik tilawahnya, atau menghafalnya, atau mentadaburinya dan menyimak dan mengamalkannya. Merenungkan kisah-kisah para nabi akan ketegaran mereka dalam menghadapi gangguan dan permusuhan kaumnya membantu jiwa untuk menempuh jalan mereka. Allah berfirman ;كَذَلِكَ نَقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ أَنْبَاءِ مَا قَدْ سَبَقَ وَقَدْ آتَيْنَاكَ مِنْ لَدُنَّا ذِكْرًاDemikianlah kami kisahkan kepadamu (Muhammad) sebagian kisah umat yang telah lalu, dan sesungguhnya telah Kami berikan kepadamu dari sisi Kami suatu peringatan (Al Quran) (QS Thaha : 99)          Dan sedekah merupakan bukti akan keimanan seorang hamba dan baiknya imannya. Dengan sedekah maka Allah menjaga bagi hamba tersebut dunia dan akhiratnya. Barangsiapa yang memperbanyak nawafil (perkara sunnah) maka Allah akan mencintainya dan menjaganya dari fitnah. Allah berfirman dalam hadits qudsi :وَمَا زَالَ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ“Dan hambaKu senantiasa mendekatkan dirinya kepadaKu dengan nawafil hingga Aku mencintainya” (HR Al-Bukhari)Dan berkesinambungan dalam beramal sholeh –meskipun sedikit- merupakan jalan menuju ketegaran di atasnya disertai tambahan. Nabi ‘alaihis sholatu wassalaam bersabda :أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ“Amalan yang paling dicintai Allah ta’aala adalah yang paling kontinyu meskipun sedikit” (Hr Al-Bukhari dan Muslim).An-Nawawi rahimahullah berkata, “Sedikit namun kontinyu membuahkan sehingga berlipat ganda melebihi yang banyak namun terputus”Dan berdzikir kepada Allah memperbaiki hati dan menjaganya dari syaitan. Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma berkata,الشَّيْطَانُ جَاثِمٌ عَلَى قَلْبِ ابْنِ آدَمَ، فَإِذَا سَهَا وَغَفَلَ وَسْوَسَ، وَإِذَا ذَكَرَ اللهَ خَنَسَ“Syaitan berjaga di hati anak Adam, maka jika ia lupa atau lalai syaitan pun membisikan godaan, dan jika ia mengingat Allah maka syaitanpun pergi”Dan yakin akan tersebarnya Islam disertai kesabaran merupakan penolong dalam menjalankan ketaatan dan tegar di atasnya. Nabi ‘alaihis sholatu wassalam bersabda :“Demi Allah, sungguh Allah akan menyempurnakan perkara ini hingga seorang pejalan berjalan antara kota Shon’a hingga Hadromaut maka ia tidak takut kecuali hanya kepada Allah da kepada serigala yang akan memangsa kambingnya, akan tetapi kajian tergesa-gesa” (HR Abu Dawud)Dan rido dengan apa yang telah ditakdirkan berupa musibah dan perkara yang melelahkan merupakan rukun agama. Dengannya hati menjadi tenang dan ceria. Seorang mukmin adalah manusia yang paling sabar dalam menghadapi ujian, paling tegar di atas agama dalam kondisi-kondisi genting, yang paling rido tatkala kondisi krisis. Barangsiapa yang merenungkan agungnya karunia hidayah dan terpilihnya ia mendapat hidayah maka ia akan semakin berpegang teguh dengan kebenaran, semakin tegar di atas kebenaran. Allah berfimanبَلِ اللَّهُ يَمُنُّ عَلَيْكُمْSebenarnya Allah, Dialah yang melimpahkan nikmat kepadamu” (Qs Al-Hujuroot : 17)Dan balasan sesuai dengan perbuatan, maka senantiasa merasa diawasi oleh Allah dan menjaga batasan-batasanya Allah dan menjauhi larangan-laranganNya merupakan sebab penjagaan Allah terhadap hambaNya. Nabi ‘alaihis sholatu wassalaam bersabda :اِحْفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ“Jagalah Allah maka Allah akan menjagamu” (HR At-Tirmidzi)Menghadiri majelis para ulama dan orang-orang sholih menghidupkan hati dan membantu melaksanakan ketaatan, Allah berfirmanوَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُDan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; (QS Al-Kahfi : 28)Qona’ah (nerimo) dengan rizki yang diberikan oleh Allah merupakan bentuk berbaik sangka kepada Allah. Akan membuahkan keterikatan kepada Allah dan berpegang teguh dengan agamaNya. Nabi ‘alaihis sholatu wassalaam bersabda ;كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ“Jadilah engkau di dunia seakan-akan seorang yang asing atau yang numpang lewat”.Dan Ibnu Umar berkata,إِذَا أَمْسَيْتَ فَلَا تَنْتَظِرِ الصَّبَاحَ وَإِذَا أَصْبَحْتَ فَلَا تَنْتَظِرِ الْمَسَاءَ وَخُذْ مِنْ صِحَّتِكَ لِمَرَضِكَ وَمِنْ حياتك لموتك“Jika telah sore maka janganlah engkau tunggu pagi, dan jika engkau di pagi hari maka janganlah menunggu sore. Gunakanlah waktu sehatmu sebelum sakitmu, kehidupanmu sebelum matimu” (HR Al-Bukhari)Seorang mukmin tidaklah terpedaya dengan kebatilan dan pengikutnya, ia berada di atas ilmu akan hakekat kebatilan tersebut, ia merasa mulia dengan agamanya, ia menyeru kepada agamanya, ia tidak terpalingkan dari hal tersebut hingga ia bertemu dengan Allah. Allah berfirman :لَا يَغُرَّنَّكَ تَقَلُّبُ الَّذِينَ كَفَرُوا فِي الْبِلَادِJanganlah sekali-kali kamu terperdaya oleh kebebasan orang-orang kafir bergerak di dalam negeri (QS Ali Imron : 196)Tidak panjang angan-angan dan menziarahi kuburan bagi lelaki dan memperbanyak mengingat kematian mengangkat jiwa kepada ketakwaan dan menggiringnya kepada ketaatan. Mengingat posisi-posisi di akhirat dan apa yang Allah siapkan bagi hamba-hambaNya yang shalih merupakan hiburan pendorong untuk tegar di atas agama. Nabi ‘alahis shalatau wassalaam bersabda :إِنَّكُمْ سَتَلقَوْنَ بَعْدِى أَثَرَةً، فَاصْبِرُوا حَتَّى تَلقَوْنِى عَلى الحَوْضِ“Sesungguhnya –sepeninggalku- kalian akan menemukan atsaroh, bersabarlah hingga kalian bertemu denganku di telaga” (HR Al-Bukhari dan Muslim” (Atsaroh yaitu para penguasa mendahulukan orang lain dari pada kalian –yang lebih berhak- dalam hal pemberian dan kedudukan)Kemudian kaum muslimin sekalian, sesungguhnya istiqomah di atas ketaatan dan tegar di atasnya merupakan sebab kebahagiaan di dunia dan akhirat. Allah ta’ala berfirman :إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَSesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah”, kemudian mereka tetap istiqamah maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita (QS Al-Ahqoof : 13)Dan ia merupakan sebab kebaikan-kebaikan, Allah berfirman :وَأَلَّوِ اسْتَقَامُوا عَلَى الطَّرِيقَةِ لَأَسْقَيْنَاهُمْ مَاءً غَدَقًاDan bahwasanya: jikalau mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu (agama Islam), benar-benar Kami akan memberi minum kepada mereka air yang segar (rezeki yang banyak) (QS Al-Jin : 16)Dan pahala ibadah tatkala di zaman fitnah lebih utama, Nabi ‘alahis sholatu wassalaam bersabda :الْعِبَادَة فِي الْهَرج كالهجرة إِلَيّ“Ibadah tatkala zaman pembunuhan dan fitnah seperti berhijrah kepadaku” (HR Al-Bukhari dan Muslim).Seorang muslim merasa mulia dengan agamanya, berpegang teguh dengannya, dan menyeru manusia kepadanya.Allah berfirman :وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَعْبُدُ اللَّهَ عَلَى حَرْفٍ فَإِنْ أَصَابَهُ خَيْرٌ اطْمَأَنَّ بِهِ وَإِنْ أَصَابَتْهُ فِتْنَةٌ انْقَلَبَ عَلَى وَجْهِهِ خَسِرَ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةَ ذَلِكَ هُوَ الْخُسْرَانُ الْمُبِينُDan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi; maka jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang. Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata (QS Al-Hajj : 11)Semoga Allah memberi keberkahan bagiku dan bagi kalian pada Al-Qur’an yang agung… Khutbah Kedua          Segala puji bagi Allah atas kebaikanNya, syukur hanya bagiNya atas bimbingan dan karuniaNya, dan aku bersaksi bahwasanya tidak ada yang berhak disembah kecuali Allah semata tiada syarikat bagiNya sebagai bentuk pengagunganNya, dan aku bersaksi bahwa Nabi kita Muhammad adalah hamba dan utusanNya, semoga shalawat dan salam yang banyak tercurahkan kepada beliau, keluarganya, dan para sahabatnya.Kaum muslimin sekalian, diantara sifat seorang yang berakal adalah ia tidak berspekulasi dengan imannya dengan menyangka bahwa ia tidak akan terpengaruh. Bisa jadi ini muncul karena penyakit ujub akan dirinya dan kondisinya. Maka iapun dihukum dengan ia dibiarkan antara dirinya dengan jiwanya sehingga akhirnya iapun binasa. Abu Bakar radhiallahu ‘anhu berkata :لَسْتُ تَارِكًا شَيْئًا كَانَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعْمَلُ بِهِ إِلا عَمِلْتُ بِهِ، إِنِّى أَخْشِى إِنْ تَرَكْتُ شَيْئًا مِنْ أَمْرِهِ أَنْ أَزِيغَ“Aku tidaklah meninggalkan sesuatupun yang dikerjakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kecuali aku mengamalkannya, karena aku kawatir jika ada sesuatu yang aku tinggalkan dari perintah Nabi maka aku akan menyimpang” (HR Al-Bukhari dan Muslim)Mendengarkan syubhat dan pemikiran-pemikiran yang menyimpang serta akidah akidah yang rusak merupakan sebab kesesatan, terlebih lagi dengan berkembangnya sarana-sarana komunikasi dan kemudahan untuk sampai kepadanya. Maka hendaknya seorang muslim menjauhkan dirinya dari hal tersebut. Dan Yusuf ‘alaihis salam lebih menyukai penjara dari pada fitnah, ia berkata :السِّجْنُ أَحَبُّ إِلَيَّ مِمَّا يَدْعُونَنِي إِلَيْهِ“Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku” (QS Yusuf : 33)Para salaf dahulu –meskipun luas ilmu mereka dan dalamnya keimanan mereka- mereka menjauhkan diri mereka dari hal seperti ini. Ma’mar rahimahullah berkata, “Aku berada di sisi Ibnu Tawus tatkala ada seseorang mendatanginya tentang permasalahan takdir, maka orang itupun berbicara sesuatu. Lalu Ibnu Thowuspun memasukan kedua jarinya di kedua telinganya, dan ia berkata kepada anaknya, “Masukan jari-jarimu ke kedua telingamu dan tutuplah dengan kuat, dan janganlah engkau mendengar sedikitpun perkataannya. Sesungguhnya hati ini lemah”Barangsiapa yang mengetuk pintu-pintu syubhat dan hawa nafsu maka ia akau terjatuh di dalamnya. Allah SWT berfirman :فَلَمَّا زَاغُوا أَزَاغَ اللَّهُ قُلُوبَهُمْMaka tatkala mereka berpaling (dari kebenaran), Allah memalingkan hati mereka (QS Al-Shaff : 5)Barangsiapa yang menghindari syubhat maka ia telah menyelamatkan agamanya dan harga dirinya. Dan diantara bentuk-bentuk kesesatan adalah memprotes nash-nash syari’at serta menolaknya dengan hawa nafsu dan persangkaan-persangkaan. Allah ta’ala berfirman :فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِMaka hendaklah hati-hati orang-orang yang menyalahi perintah Rasul (QS An-Nuur : 63).Syaikhul Islam rahimahullah berakta, “Barangsiapa yang terbiasa memprotes syari’at dengan pendapat maka tidak akan menetap iman dalam harinya”.Dan dosa-dosa yang dianggap sepele jika terkumpul pada pelakunya maka akan membinasakannya. Nabi bersabda :إيَّاكُمْ وَمُحَقِّرَاتِ الذُّنُوْبِ“Hati-hatilah kalian dengan dosa-dosa yang dianggap sepele” (HR Ahmad)Dan tergesa-gesa untuk melihat buah dari kebaikan menimbulkan sifat malas dan akhirnya berhenti beramal. Yang wajib adalah kontinyunya amal dan ikhlas kepada Allah dalam beramal.Penerjemah: Abu Abdil Muhsin Firandawww.firanda.com

Kerinduan Orangtua…

Kita -sebagai orang tua-sering rindu kepada anak kita, ingin melihatnya, ingin memeluknya, ingin ngobrol dengannya. Betapa bahagianya kita tatkala melihat tawa anak kita. Begitu pula ibu dan ayah kita, bisa jadi di masa tua mereka rindu kepada kita, maka janganlah kita baru menjenguk mereka atau menelpon mereka jika kita yang rindu. Kerinduan mereka kepada kita tdk harus menunggu kerinduan kita kepada mereka. Apalagi kita sering sibuk sehingga kerinduan terhadap mereka terlupakan dan terabaikan.Terlebih lagi orang tua malu untuk menyatakan kerinduannya kpd kita…Kapan lagi? Mumpung mereka masih bisa melihat tawa kita…Waktu untuk kesibukan kita belum tentu sepanjang umur orang tua kita.

Kerinduan Orangtua…

Kita -sebagai orang tua-sering rindu kepada anak kita, ingin melihatnya, ingin memeluknya, ingin ngobrol dengannya. Betapa bahagianya kita tatkala melihat tawa anak kita. Begitu pula ibu dan ayah kita, bisa jadi di masa tua mereka rindu kepada kita, maka janganlah kita baru menjenguk mereka atau menelpon mereka jika kita yang rindu. Kerinduan mereka kepada kita tdk harus menunggu kerinduan kita kepada mereka. Apalagi kita sering sibuk sehingga kerinduan terhadap mereka terlupakan dan terabaikan.Terlebih lagi orang tua malu untuk menyatakan kerinduannya kpd kita…Kapan lagi? Mumpung mereka masih bisa melihat tawa kita…Waktu untuk kesibukan kita belum tentu sepanjang umur orang tua kita.
Kita -sebagai orang tua-sering rindu kepada anak kita, ingin melihatnya, ingin memeluknya, ingin ngobrol dengannya. Betapa bahagianya kita tatkala melihat tawa anak kita. Begitu pula ibu dan ayah kita, bisa jadi di masa tua mereka rindu kepada kita, maka janganlah kita baru menjenguk mereka atau menelpon mereka jika kita yang rindu. Kerinduan mereka kepada kita tdk harus menunggu kerinduan kita kepada mereka. Apalagi kita sering sibuk sehingga kerinduan terhadap mereka terlupakan dan terabaikan.Terlebih lagi orang tua malu untuk menyatakan kerinduannya kpd kita…Kapan lagi? Mumpung mereka masih bisa melihat tawa kita…Waktu untuk kesibukan kita belum tentu sepanjang umur orang tua kita.


Kita -sebagai orang tua-sering rindu kepada anak kita, ingin melihatnya, ingin memeluknya, ingin ngobrol dengannya. Betapa bahagianya kita tatkala melihat tawa anak kita. Begitu pula ibu dan ayah kita, bisa jadi di masa tua mereka rindu kepada kita, maka janganlah kita baru menjenguk mereka atau menelpon mereka jika kita yang rindu. Kerinduan mereka kepada kita tdk harus menunggu kerinduan kita kepada mereka. Apalagi kita sering sibuk sehingga kerinduan terhadap mereka terlupakan dan terabaikan.Terlebih lagi orang tua malu untuk menyatakan kerinduannya kpd kita…Kapan lagi? Mumpung mereka masih bisa melihat tawa kita…Waktu untuk kesibukan kita belum tentu sepanjang umur orang tua kita.

Hasil Ramalan Cupu Panjala Tahun Ini

Di suatu daerah ada ritual pembukaan cupu atau guci yang berisi ramalan dalam setahun. Ritual ini sudah jadi ritual tahunan. Bahkan ribuan orang turut hadir, termasuk dari luar daerah. Lewat tengah malam barulah cupu tersebut dibuka. Setiap kali dibuka, di atas kain-kain mori tersebut terdapat simbol-simbol atau barang yang menginterpretasikan ramalan dalam satu tahun ke depan. Setiap orang bisa menginterpretasi simbol dan gambar yang keluar tersebut sesuai yang ia mau. Sebelum kita mengetahui hasil ramalan cupu panjala, silakan renungkan tulisan berikut.   Ramalan Nasib Kita Hanya Allah yang Tahu Dalam Islam, ramalan nasib seseorang hanya Allah yang tahu. Allah Ta’ala berfirman, وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ “Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri.” (QS. Al-An’am: 59) Dalam ayat lain disebutkan, قُلْ لَا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ “Katakanlah: “Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah.” (QS. An-Naml: 65) Dalam ayat lain, Allah berfirman, إِنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنزلُ الْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الأرْحَامِ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ “Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dia-lah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Luqman: 34) Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata perkara ghaib yang disebutkan dalam surat Luqman ayat 34, Allah-lah yang mengetahui itu semua. Walaupun memang hanya lima perkara tersebut yang disebutkan, namun tetap Allah Maha Mengetahui segala hal. Allah Maha Mengetahui yang lahir maupun yang batin, yang nampak maupun yang tersembunyi. Nampak juga bagi Allah berbagai macam rahasia. Di antara hikmahnya, Allah menyembunyikan lima hal tadi dari setiap hamba. Tidak diketahuinya hal itu selain oleh Allah karena ada maslahat yang besar jika mau direnungkan. (Tafsir As-Sa’di, hlm. 691) Beranikah kita melangkahi hak Allah dalam mengetahui yang ghaib ini? Atau kita mengaku mendapatkan wahyu dari Allah? Atau cuma menebak-nebak saja? Kami yakin Anda bisa merenungkan hal ini.   Hukum Mempercayai Ramalan Nasib 1- Mendatangi dengan membenarkan tukang ramal dalam segala hal dengan keyakinan bahwa tukang ramal itu mengetahui dengan sendirinya, bukan setan yang mengabarkan, seperti ini dihukumi kafir (keluar dari Islam). Al-Munawi berkata, “Jika meyakini bahwa tukang ramal mengetahui perkara ghaib (dengan sendirinya), maka ia kafir. Jika keyakinannya bahwa jin yang menyampaikan berita padanya dari berita malaikat dan ilham yang diperoleh seperti itu, lantas dibenarkan, ini tidak sampai kafir.” 2- Mendatangi tukang ramal dengan keyakinan bahwa tukang ramal tersebut mendapatkan ramalan dari setan sehingga mengetahui ada barang yang hilang, terjatuh, maka seperti ini ada dua hukuman: a- Tidak diterima shalatnya selama empat puluh hari, sebagaimana disebutkan dalam hadits, مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَىْءٍ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلاَةٌ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً “Barangsiapa yang mendatangi tukang ramal, maka shalatnya selama 40 hari tidak diterima.” (HR. Muslim no. 2230, dari Shofiyah, dari beberapa istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam). Maksud tidak diterima shalatnya selama 40 hari dijelaskan oleh Imam Nawawi: “Adapun maksud tidak diterima shalatnya adalah orang tersebut tidak mendapatkan pahala. Namun shalat yang ia lakukan tetap dianggap dapat menggugurkan kewajiban shalatnya dan ia tidak butuh untuk mengulangi shalatnya.” (Syarh Shahih Muslim, 14: 227) b- Kufur terhadap apa yang telah diturunkan pada Muhammad, yang dimaksud adalah kufur ashgar. Disebutkan dalam hadits, مَنْ أَتَى كَاهِناً أَوْ عَرَّافاً فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ “Barangsiapa yang mendatangi dukun atau tukang ramal, lalu ia membenarkannya, maka ia berarti telah kufur pada Al-Qur’an yang telah diturunkan pada Muhammad.” (HR. Ahmad no. 9532. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini hasan) 3- Mendatangi tukang ramal, namun tidak membenarkan, cuma sekedar datang. Seperti ini dihukumi haram dengan alasan saddudz dzaro-i’, yaitu agar tidak terjerumus pada keharaman yang lebih parah. Dalil terlarangnya dari hadits Mu’awiyah bin Al-Hakam As-Sulamiy, ia berkata, وَإِنَّ مِنَّا رِجَالاً يَأْتُونَ الْكُهَّانَ. قَالَ فَلاَ تَأْتِهِمْ “Di antara kami ada yang mendatangi para tukang ramal”. Rasul -shallallahu ‘alaihi wa sallam- berkata, “Jangan datang tukang ramal tersebut.” (HR. Muslim no. 537). 4- Mendatangi tukang ramal untuk bertanya dengan maksud mengujinya dan ingin mengetahui ramalan yang ia lakukan, orang yang mendatangi ini bisa mengungkap kedustaannya. Seperti ini boleh karena ada maslahat yang besar dan tidak membahayakan akidah. (Al-Mukhtashor fi Al-‘Aqidah, Prof. Dr. Kholid bin ‘Ali Al Musyaiqih, hlm. 137-138). Jadi, bagi yang mendatangi pembukaan guci atau cupu ramalan, bisa ditimbang-timbang dengan hukum di atas. Apalagi kerugiaannya adalah mesti begadang sampai lewat tengah malam. Karena guci tersebut baru dibuka di tengah malam, rampungnya pun baru jam 3 dini hari. Ini berarti menghabiskan waktu tiada manfaat. Semoga Allah menyelematkan akidah setiap muslim dari kesyirikan, kekufuran dan penyimpangan. Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah. — Selesai disusun menjelang Ashar, 2 Muharram 1437 H di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsramalan nasib tradisi

Hasil Ramalan Cupu Panjala Tahun Ini

Di suatu daerah ada ritual pembukaan cupu atau guci yang berisi ramalan dalam setahun. Ritual ini sudah jadi ritual tahunan. Bahkan ribuan orang turut hadir, termasuk dari luar daerah. Lewat tengah malam barulah cupu tersebut dibuka. Setiap kali dibuka, di atas kain-kain mori tersebut terdapat simbol-simbol atau barang yang menginterpretasikan ramalan dalam satu tahun ke depan. Setiap orang bisa menginterpretasi simbol dan gambar yang keluar tersebut sesuai yang ia mau. Sebelum kita mengetahui hasil ramalan cupu panjala, silakan renungkan tulisan berikut.   Ramalan Nasib Kita Hanya Allah yang Tahu Dalam Islam, ramalan nasib seseorang hanya Allah yang tahu. Allah Ta’ala berfirman, وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ “Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri.” (QS. Al-An’am: 59) Dalam ayat lain disebutkan, قُلْ لَا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ “Katakanlah: “Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah.” (QS. An-Naml: 65) Dalam ayat lain, Allah berfirman, إِنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنزلُ الْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الأرْحَامِ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ “Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dia-lah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Luqman: 34) Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata perkara ghaib yang disebutkan dalam surat Luqman ayat 34, Allah-lah yang mengetahui itu semua. Walaupun memang hanya lima perkara tersebut yang disebutkan, namun tetap Allah Maha Mengetahui segala hal. Allah Maha Mengetahui yang lahir maupun yang batin, yang nampak maupun yang tersembunyi. Nampak juga bagi Allah berbagai macam rahasia. Di antara hikmahnya, Allah menyembunyikan lima hal tadi dari setiap hamba. Tidak diketahuinya hal itu selain oleh Allah karena ada maslahat yang besar jika mau direnungkan. (Tafsir As-Sa’di, hlm. 691) Beranikah kita melangkahi hak Allah dalam mengetahui yang ghaib ini? Atau kita mengaku mendapatkan wahyu dari Allah? Atau cuma menebak-nebak saja? Kami yakin Anda bisa merenungkan hal ini.   Hukum Mempercayai Ramalan Nasib 1- Mendatangi dengan membenarkan tukang ramal dalam segala hal dengan keyakinan bahwa tukang ramal itu mengetahui dengan sendirinya, bukan setan yang mengabarkan, seperti ini dihukumi kafir (keluar dari Islam). Al-Munawi berkata, “Jika meyakini bahwa tukang ramal mengetahui perkara ghaib (dengan sendirinya), maka ia kafir. Jika keyakinannya bahwa jin yang menyampaikan berita padanya dari berita malaikat dan ilham yang diperoleh seperti itu, lantas dibenarkan, ini tidak sampai kafir.” 2- Mendatangi tukang ramal dengan keyakinan bahwa tukang ramal tersebut mendapatkan ramalan dari setan sehingga mengetahui ada barang yang hilang, terjatuh, maka seperti ini ada dua hukuman: a- Tidak diterima shalatnya selama empat puluh hari, sebagaimana disebutkan dalam hadits, مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَىْءٍ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلاَةٌ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً “Barangsiapa yang mendatangi tukang ramal, maka shalatnya selama 40 hari tidak diterima.” (HR. Muslim no. 2230, dari Shofiyah, dari beberapa istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam). Maksud tidak diterima shalatnya selama 40 hari dijelaskan oleh Imam Nawawi: “Adapun maksud tidak diterima shalatnya adalah orang tersebut tidak mendapatkan pahala. Namun shalat yang ia lakukan tetap dianggap dapat menggugurkan kewajiban shalatnya dan ia tidak butuh untuk mengulangi shalatnya.” (Syarh Shahih Muslim, 14: 227) b- Kufur terhadap apa yang telah diturunkan pada Muhammad, yang dimaksud adalah kufur ashgar. Disebutkan dalam hadits, مَنْ أَتَى كَاهِناً أَوْ عَرَّافاً فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ “Barangsiapa yang mendatangi dukun atau tukang ramal, lalu ia membenarkannya, maka ia berarti telah kufur pada Al-Qur’an yang telah diturunkan pada Muhammad.” (HR. Ahmad no. 9532. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini hasan) 3- Mendatangi tukang ramal, namun tidak membenarkan, cuma sekedar datang. Seperti ini dihukumi haram dengan alasan saddudz dzaro-i’, yaitu agar tidak terjerumus pada keharaman yang lebih parah. Dalil terlarangnya dari hadits Mu’awiyah bin Al-Hakam As-Sulamiy, ia berkata, وَإِنَّ مِنَّا رِجَالاً يَأْتُونَ الْكُهَّانَ. قَالَ فَلاَ تَأْتِهِمْ “Di antara kami ada yang mendatangi para tukang ramal”. Rasul -shallallahu ‘alaihi wa sallam- berkata, “Jangan datang tukang ramal tersebut.” (HR. Muslim no. 537). 4- Mendatangi tukang ramal untuk bertanya dengan maksud mengujinya dan ingin mengetahui ramalan yang ia lakukan, orang yang mendatangi ini bisa mengungkap kedustaannya. Seperti ini boleh karena ada maslahat yang besar dan tidak membahayakan akidah. (Al-Mukhtashor fi Al-‘Aqidah, Prof. Dr. Kholid bin ‘Ali Al Musyaiqih, hlm. 137-138). Jadi, bagi yang mendatangi pembukaan guci atau cupu ramalan, bisa ditimbang-timbang dengan hukum di atas. Apalagi kerugiaannya adalah mesti begadang sampai lewat tengah malam. Karena guci tersebut baru dibuka di tengah malam, rampungnya pun baru jam 3 dini hari. Ini berarti menghabiskan waktu tiada manfaat. Semoga Allah menyelematkan akidah setiap muslim dari kesyirikan, kekufuran dan penyimpangan. Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah. — Selesai disusun menjelang Ashar, 2 Muharram 1437 H di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsramalan nasib tradisi
Di suatu daerah ada ritual pembukaan cupu atau guci yang berisi ramalan dalam setahun. Ritual ini sudah jadi ritual tahunan. Bahkan ribuan orang turut hadir, termasuk dari luar daerah. Lewat tengah malam barulah cupu tersebut dibuka. Setiap kali dibuka, di atas kain-kain mori tersebut terdapat simbol-simbol atau barang yang menginterpretasikan ramalan dalam satu tahun ke depan. Setiap orang bisa menginterpretasi simbol dan gambar yang keluar tersebut sesuai yang ia mau. Sebelum kita mengetahui hasil ramalan cupu panjala, silakan renungkan tulisan berikut.   Ramalan Nasib Kita Hanya Allah yang Tahu Dalam Islam, ramalan nasib seseorang hanya Allah yang tahu. Allah Ta’ala berfirman, وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ “Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri.” (QS. Al-An’am: 59) Dalam ayat lain disebutkan, قُلْ لَا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ “Katakanlah: “Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah.” (QS. An-Naml: 65) Dalam ayat lain, Allah berfirman, إِنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنزلُ الْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الأرْحَامِ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ “Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dia-lah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Luqman: 34) Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata perkara ghaib yang disebutkan dalam surat Luqman ayat 34, Allah-lah yang mengetahui itu semua. Walaupun memang hanya lima perkara tersebut yang disebutkan, namun tetap Allah Maha Mengetahui segala hal. Allah Maha Mengetahui yang lahir maupun yang batin, yang nampak maupun yang tersembunyi. Nampak juga bagi Allah berbagai macam rahasia. Di antara hikmahnya, Allah menyembunyikan lima hal tadi dari setiap hamba. Tidak diketahuinya hal itu selain oleh Allah karena ada maslahat yang besar jika mau direnungkan. (Tafsir As-Sa’di, hlm. 691) Beranikah kita melangkahi hak Allah dalam mengetahui yang ghaib ini? Atau kita mengaku mendapatkan wahyu dari Allah? Atau cuma menebak-nebak saja? Kami yakin Anda bisa merenungkan hal ini.   Hukum Mempercayai Ramalan Nasib 1- Mendatangi dengan membenarkan tukang ramal dalam segala hal dengan keyakinan bahwa tukang ramal itu mengetahui dengan sendirinya, bukan setan yang mengabarkan, seperti ini dihukumi kafir (keluar dari Islam). Al-Munawi berkata, “Jika meyakini bahwa tukang ramal mengetahui perkara ghaib (dengan sendirinya), maka ia kafir. Jika keyakinannya bahwa jin yang menyampaikan berita padanya dari berita malaikat dan ilham yang diperoleh seperti itu, lantas dibenarkan, ini tidak sampai kafir.” 2- Mendatangi tukang ramal dengan keyakinan bahwa tukang ramal tersebut mendapatkan ramalan dari setan sehingga mengetahui ada barang yang hilang, terjatuh, maka seperti ini ada dua hukuman: a- Tidak diterima shalatnya selama empat puluh hari, sebagaimana disebutkan dalam hadits, مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَىْءٍ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلاَةٌ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً “Barangsiapa yang mendatangi tukang ramal, maka shalatnya selama 40 hari tidak diterima.” (HR. Muslim no. 2230, dari Shofiyah, dari beberapa istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam). Maksud tidak diterima shalatnya selama 40 hari dijelaskan oleh Imam Nawawi: “Adapun maksud tidak diterima shalatnya adalah orang tersebut tidak mendapatkan pahala. Namun shalat yang ia lakukan tetap dianggap dapat menggugurkan kewajiban shalatnya dan ia tidak butuh untuk mengulangi shalatnya.” (Syarh Shahih Muslim, 14: 227) b- Kufur terhadap apa yang telah diturunkan pada Muhammad, yang dimaksud adalah kufur ashgar. Disebutkan dalam hadits, مَنْ أَتَى كَاهِناً أَوْ عَرَّافاً فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ “Barangsiapa yang mendatangi dukun atau tukang ramal, lalu ia membenarkannya, maka ia berarti telah kufur pada Al-Qur’an yang telah diturunkan pada Muhammad.” (HR. Ahmad no. 9532. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini hasan) 3- Mendatangi tukang ramal, namun tidak membenarkan, cuma sekedar datang. Seperti ini dihukumi haram dengan alasan saddudz dzaro-i’, yaitu agar tidak terjerumus pada keharaman yang lebih parah. Dalil terlarangnya dari hadits Mu’awiyah bin Al-Hakam As-Sulamiy, ia berkata, وَإِنَّ مِنَّا رِجَالاً يَأْتُونَ الْكُهَّانَ. قَالَ فَلاَ تَأْتِهِمْ “Di antara kami ada yang mendatangi para tukang ramal”. Rasul -shallallahu ‘alaihi wa sallam- berkata, “Jangan datang tukang ramal tersebut.” (HR. Muslim no. 537). 4- Mendatangi tukang ramal untuk bertanya dengan maksud mengujinya dan ingin mengetahui ramalan yang ia lakukan, orang yang mendatangi ini bisa mengungkap kedustaannya. Seperti ini boleh karena ada maslahat yang besar dan tidak membahayakan akidah. (Al-Mukhtashor fi Al-‘Aqidah, Prof. Dr. Kholid bin ‘Ali Al Musyaiqih, hlm. 137-138). Jadi, bagi yang mendatangi pembukaan guci atau cupu ramalan, bisa ditimbang-timbang dengan hukum di atas. Apalagi kerugiaannya adalah mesti begadang sampai lewat tengah malam. Karena guci tersebut baru dibuka di tengah malam, rampungnya pun baru jam 3 dini hari. Ini berarti menghabiskan waktu tiada manfaat. Semoga Allah menyelematkan akidah setiap muslim dari kesyirikan, kekufuran dan penyimpangan. Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah. — Selesai disusun menjelang Ashar, 2 Muharram 1437 H di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsramalan nasib tradisi


Di suatu daerah ada ritual pembukaan cupu atau guci yang berisi ramalan dalam setahun. Ritual ini sudah jadi ritual tahunan. Bahkan ribuan orang turut hadir, termasuk dari luar daerah. Lewat tengah malam barulah cupu tersebut dibuka. Setiap kali dibuka, di atas kain-kain mori tersebut terdapat simbol-simbol atau barang yang menginterpretasikan ramalan dalam satu tahun ke depan. Setiap orang bisa menginterpretasi simbol dan gambar yang keluar tersebut sesuai yang ia mau. Sebelum kita mengetahui hasil ramalan cupu panjala, silakan renungkan tulisan berikut.   Ramalan Nasib Kita Hanya Allah yang Tahu Dalam Islam, ramalan nasib seseorang hanya Allah yang tahu. Allah Ta’ala berfirman, وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ “Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri.” (QS. Al-An’am: 59) Dalam ayat lain disebutkan, قُلْ لَا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ “Katakanlah: “Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah.” (QS. An-Naml: 65) Dalam ayat lain, Allah berfirman, إِنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنزلُ الْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الأرْحَامِ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ “Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dia-lah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Luqman: 34) Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata perkara ghaib yang disebutkan dalam surat Luqman ayat 34, Allah-lah yang mengetahui itu semua. Walaupun memang hanya lima perkara tersebut yang disebutkan, namun tetap Allah Maha Mengetahui segala hal. Allah Maha Mengetahui yang lahir maupun yang batin, yang nampak maupun yang tersembunyi. Nampak juga bagi Allah berbagai macam rahasia. Di antara hikmahnya, Allah menyembunyikan lima hal tadi dari setiap hamba. Tidak diketahuinya hal itu selain oleh Allah karena ada maslahat yang besar jika mau direnungkan. (Tafsir As-Sa’di, hlm. 691) Beranikah kita melangkahi hak Allah dalam mengetahui yang ghaib ini? Atau kita mengaku mendapatkan wahyu dari Allah? Atau cuma menebak-nebak saja? Kami yakin Anda bisa merenungkan hal ini.   Hukum Mempercayai Ramalan Nasib 1- Mendatangi dengan membenarkan tukang ramal dalam segala hal dengan keyakinan bahwa tukang ramal itu mengetahui dengan sendirinya, bukan setan yang mengabarkan, seperti ini dihukumi kafir (keluar dari Islam). Al-Munawi berkata, “Jika meyakini bahwa tukang ramal mengetahui perkara ghaib (dengan sendirinya), maka ia kafir. Jika keyakinannya bahwa jin yang menyampaikan berita padanya dari berita malaikat dan ilham yang diperoleh seperti itu, lantas dibenarkan, ini tidak sampai kafir.” 2- Mendatangi tukang ramal dengan keyakinan bahwa tukang ramal tersebut mendapatkan ramalan dari setan sehingga mengetahui ada barang yang hilang, terjatuh, maka seperti ini ada dua hukuman: a- Tidak diterima shalatnya selama empat puluh hari, sebagaimana disebutkan dalam hadits, مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَىْءٍ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلاَةٌ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً “Barangsiapa yang mendatangi tukang ramal, maka shalatnya selama 40 hari tidak diterima.” (HR. Muslim no. 2230, dari Shofiyah, dari beberapa istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam). Maksud tidak diterima shalatnya selama 40 hari dijelaskan oleh Imam Nawawi: “Adapun maksud tidak diterima shalatnya adalah orang tersebut tidak mendapatkan pahala. Namun shalat yang ia lakukan tetap dianggap dapat menggugurkan kewajiban shalatnya dan ia tidak butuh untuk mengulangi shalatnya.” (Syarh Shahih Muslim, 14: 227) b- Kufur terhadap apa yang telah diturunkan pada Muhammad, yang dimaksud adalah kufur ashgar. Disebutkan dalam hadits, مَنْ أَتَى كَاهِناً أَوْ عَرَّافاً فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ “Barangsiapa yang mendatangi dukun atau tukang ramal, lalu ia membenarkannya, maka ia berarti telah kufur pada Al-Qur’an yang telah diturunkan pada Muhammad.” (HR. Ahmad no. 9532. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini hasan) 3- Mendatangi tukang ramal, namun tidak membenarkan, cuma sekedar datang. Seperti ini dihukumi haram dengan alasan saddudz dzaro-i’, yaitu agar tidak terjerumus pada keharaman yang lebih parah. Dalil terlarangnya dari hadits Mu’awiyah bin Al-Hakam As-Sulamiy, ia berkata, وَإِنَّ مِنَّا رِجَالاً يَأْتُونَ الْكُهَّانَ. قَالَ فَلاَ تَأْتِهِمْ “Di antara kami ada yang mendatangi para tukang ramal”. Rasul -shallallahu ‘alaihi wa sallam- berkata, “Jangan datang tukang ramal tersebut.” (HR. Muslim no. 537). 4- Mendatangi tukang ramal untuk bertanya dengan maksud mengujinya dan ingin mengetahui ramalan yang ia lakukan, orang yang mendatangi ini bisa mengungkap kedustaannya. Seperti ini boleh karena ada maslahat yang besar dan tidak membahayakan akidah. (Al-Mukhtashor fi Al-‘Aqidah, Prof. Dr. Kholid bin ‘Ali Al Musyaiqih, hlm. 137-138). Jadi, bagi yang mendatangi pembukaan guci atau cupu ramalan, bisa ditimbang-timbang dengan hukum di atas. Apalagi kerugiaannya adalah mesti begadang sampai lewat tengah malam. Karena guci tersebut baru dibuka di tengah malam, rampungnya pun baru jam 3 dini hari. Ini berarti menghabiskan waktu tiada manfaat. Semoga Allah menyelematkan akidah setiap muslim dari kesyirikan, kekufuran dan penyimpangan. Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah. — Selesai disusun menjelang Ashar, 2 Muharram 1437 H di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsramalan nasib tradisi

Tidak Jadi Mengadakan Hajatan Karena Bulan Suro

Jangan sampai ada yang mengurungkan niat melakukan hajatan cuma karena bertemu dengan bulan suro. Keyakinan seperti adalah keyakinan jahiliyyah yang bertentangan dengan syariat Islam yang dibawa oleh Nabi kita Muhammad.   Pemahaman Jahiliyyah Beranggapan sial atau thiyaroh termasuk akidah jahiliyah. Bahkan sudah ada di masa sebelum Islam. Lihatlah bagaimana Fir’aun beranggapan sial pada Musa ‘alaihis salam dan pengikutnya. Ketika datang bencana mereka katakan itu gara-gara Musa. Namun ketika datang berbagai kebaikan, mereka katakana itu karena usaha kami sendiri, tanpa menyebut kenikmatan tersebut berasal dari Allah. Allah Ta’ala berfirman, فَإِذَا جَاءَتْهُمُ الْحَسَنَةُ قَالُوا لَنَا هَذِهِ وَإِنْ تُصِبْهُمْ سَيِّئَةٌ يَطَّيَّرُوا بِمُوسَى وَمَنْ مَعَهُ أَلَا إِنَّمَا طَائِرُهُمْ عِنْدَ اللَّهِ وَلَكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لَا يَعْلَمُونَ “Kemudian apabila datang kepada mereka kemakmuran, mereka berkata: “Itu adalah karena (usaha) kami”. Dan jika mereka ditimpa kesusahan, mereka lemparkan sebab kesialan itu kepada Musa dan orang-orang yang besertanya. Ketahuilah, sesungguhnya kesialan mereka itu adalah ketetapan dari Allah, akan tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.” (QS. Al A’raf: 131). Kesialan yang dianggap sesungguhnya tidaklah benar. Yang shahih, Musa dan orang beriman sebagai pengikutnya adalah sebab datangnya kebaikan dan barokah. Karena para Rasul ‘alaihimush sholaatu was salaam membuat perbaikan di muka bumi dengan ketaatan yang mereka perbuat, sehingga turunlah barokah. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman, وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آَمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya” (QS. Al A’raf: 96). Dan sebenarnya sebab datangnya musibah adalah karena pembakangan ahli maksiat, orang musyrik dan kafir, bukan dari orang beriman. Kesialan dan bencana sebenarnya karena kekurang ajaran orang kafir itu sendiri.   Islam Melarang Thiyarah (Anggapan Sial) Beranggapan sial di sini masih ada pada sebagian orang yang menganggap bahwa kalau bertemu dengan waktu sial, jangan sampai lakukan hajatan-hajatan besar seperti bulan Suro menurut anggapan sebagian masyarakat kita yang masih awam. Padahal, keyakinan di atas telah diperingatkan dalam berbagai hadits. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ عَدْوَى ، وَلاَ طِيَرَةَ ، وَلاَ هَامَةَ ، وَلاَ صَفَرَ “Tidak dibenarkan menganggap penyakit menular dengan sendirinya (tanpa ketentuan Allah), tidak dibenarkan beranggapan sial, tidak dibenarkan pula beranggapan nasib malang karena tempat, juga tidak dibenarkan beranggapan sial di bulan Shafar” (HR. Bukhari no. 5757 dan Muslim no. 2220). Dalam hadits ini disebutkan tidak bolehnya beranggapan sial secara umum, juga pada tempat dan waktu tertentu seperti pada bulan Shafar. Di negeri kita yang terkenal adalah beranggapan sial dengan bulan Suro, maka itu pun sama terlarangnya. Bahkan hal itu termasuk syirik. Dari ‘Abdullah bin Mas’ud, ia menyebutkan hadits secara marfu’ –sampai kepada Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam-, « الطِّيَرَةُ شِرْكٌ الطِّيَرَةُ شِرْكٌ ». ثَلاَثًا « وَمَا مِنَّا إِلاَّ وَلَكِنَّ اللَّهَ يُذْهِبُهُ بِالتَّوَكُّلِ ». “Beranggapan sial adalah kesyirikan, beranggapan sial adalah kesyirikan”. Beliau menyebutnya sampai tiga kali. Kemudian Ibnu Mas’ud berkata, “Tidak ada yang bisa menghilangkan sangkaan jelek dalam hatinya. Namun Allah-lah yang menghilangkan anggapan sial tersebut dengan tawakkal.” (HR. Abu Daud no. 3910 dan Ibnu Majah no. 3538. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).   Hati-Hati Tidak Mendapatkan Keutamaan 70.000 Orang Berikut Ada 70.000 orang yang akan masuk surga tanpa hisab dan tanpa siksa. Mereka disifati oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, هُمْ الَّذِينَ لَا يَتَطَيَّرُونَ وَلَا يَسْتَرْقُونَ وَلَا يَكْتَوُونَ وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ “Mereka itu tidak melakukan thiyaroh (beranggapan sial), tidak meminta untuk diruqyah, dan tidak menggunakan kay (pengobatan dengan besi panas), dan hanya kepada Rabb merekalah, mereka bertawakkal.” (HR. Bukhari no. 5752). Baca kisah: 70.000 orang yang masuk surga tanpa siksa. Moga Allah beri taufik dan hidayah. — Diselesaikan di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 30 Dzulhijjah 1436 H Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsanggapan sial bulan suro

Tidak Jadi Mengadakan Hajatan Karena Bulan Suro

Jangan sampai ada yang mengurungkan niat melakukan hajatan cuma karena bertemu dengan bulan suro. Keyakinan seperti adalah keyakinan jahiliyyah yang bertentangan dengan syariat Islam yang dibawa oleh Nabi kita Muhammad.   Pemahaman Jahiliyyah Beranggapan sial atau thiyaroh termasuk akidah jahiliyah. Bahkan sudah ada di masa sebelum Islam. Lihatlah bagaimana Fir’aun beranggapan sial pada Musa ‘alaihis salam dan pengikutnya. Ketika datang bencana mereka katakan itu gara-gara Musa. Namun ketika datang berbagai kebaikan, mereka katakana itu karena usaha kami sendiri, tanpa menyebut kenikmatan tersebut berasal dari Allah. Allah Ta’ala berfirman, فَإِذَا جَاءَتْهُمُ الْحَسَنَةُ قَالُوا لَنَا هَذِهِ وَإِنْ تُصِبْهُمْ سَيِّئَةٌ يَطَّيَّرُوا بِمُوسَى وَمَنْ مَعَهُ أَلَا إِنَّمَا طَائِرُهُمْ عِنْدَ اللَّهِ وَلَكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لَا يَعْلَمُونَ “Kemudian apabila datang kepada mereka kemakmuran, mereka berkata: “Itu adalah karena (usaha) kami”. Dan jika mereka ditimpa kesusahan, mereka lemparkan sebab kesialan itu kepada Musa dan orang-orang yang besertanya. Ketahuilah, sesungguhnya kesialan mereka itu adalah ketetapan dari Allah, akan tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.” (QS. Al A’raf: 131). Kesialan yang dianggap sesungguhnya tidaklah benar. Yang shahih, Musa dan orang beriman sebagai pengikutnya adalah sebab datangnya kebaikan dan barokah. Karena para Rasul ‘alaihimush sholaatu was salaam membuat perbaikan di muka bumi dengan ketaatan yang mereka perbuat, sehingga turunlah barokah. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman, وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آَمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya” (QS. Al A’raf: 96). Dan sebenarnya sebab datangnya musibah adalah karena pembakangan ahli maksiat, orang musyrik dan kafir, bukan dari orang beriman. Kesialan dan bencana sebenarnya karena kekurang ajaran orang kafir itu sendiri.   Islam Melarang Thiyarah (Anggapan Sial) Beranggapan sial di sini masih ada pada sebagian orang yang menganggap bahwa kalau bertemu dengan waktu sial, jangan sampai lakukan hajatan-hajatan besar seperti bulan Suro menurut anggapan sebagian masyarakat kita yang masih awam. Padahal, keyakinan di atas telah diperingatkan dalam berbagai hadits. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ عَدْوَى ، وَلاَ طِيَرَةَ ، وَلاَ هَامَةَ ، وَلاَ صَفَرَ “Tidak dibenarkan menganggap penyakit menular dengan sendirinya (tanpa ketentuan Allah), tidak dibenarkan beranggapan sial, tidak dibenarkan pula beranggapan nasib malang karena tempat, juga tidak dibenarkan beranggapan sial di bulan Shafar” (HR. Bukhari no. 5757 dan Muslim no. 2220). Dalam hadits ini disebutkan tidak bolehnya beranggapan sial secara umum, juga pada tempat dan waktu tertentu seperti pada bulan Shafar. Di negeri kita yang terkenal adalah beranggapan sial dengan bulan Suro, maka itu pun sama terlarangnya. Bahkan hal itu termasuk syirik. Dari ‘Abdullah bin Mas’ud, ia menyebutkan hadits secara marfu’ –sampai kepada Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam-, « الطِّيَرَةُ شِرْكٌ الطِّيَرَةُ شِرْكٌ ». ثَلاَثًا « وَمَا مِنَّا إِلاَّ وَلَكِنَّ اللَّهَ يُذْهِبُهُ بِالتَّوَكُّلِ ». “Beranggapan sial adalah kesyirikan, beranggapan sial adalah kesyirikan”. Beliau menyebutnya sampai tiga kali. Kemudian Ibnu Mas’ud berkata, “Tidak ada yang bisa menghilangkan sangkaan jelek dalam hatinya. Namun Allah-lah yang menghilangkan anggapan sial tersebut dengan tawakkal.” (HR. Abu Daud no. 3910 dan Ibnu Majah no. 3538. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).   Hati-Hati Tidak Mendapatkan Keutamaan 70.000 Orang Berikut Ada 70.000 orang yang akan masuk surga tanpa hisab dan tanpa siksa. Mereka disifati oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, هُمْ الَّذِينَ لَا يَتَطَيَّرُونَ وَلَا يَسْتَرْقُونَ وَلَا يَكْتَوُونَ وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ “Mereka itu tidak melakukan thiyaroh (beranggapan sial), tidak meminta untuk diruqyah, dan tidak menggunakan kay (pengobatan dengan besi panas), dan hanya kepada Rabb merekalah, mereka bertawakkal.” (HR. Bukhari no. 5752). Baca kisah: 70.000 orang yang masuk surga tanpa siksa. Moga Allah beri taufik dan hidayah. — Diselesaikan di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 30 Dzulhijjah 1436 H Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsanggapan sial bulan suro
Jangan sampai ada yang mengurungkan niat melakukan hajatan cuma karena bertemu dengan bulan suro. Keyakinan seperti adalah keyakinan jahiliyyah yang bertentangan dengan syariat Islam yang dibawa oleh Nabi kita Muhammad.   Pemahaman Jahiliyyah Beranggapan sial atau thiyaroh termasuk akidah jahiliyah. Bahkan sudah ada di masa sebelum Islam. Lihatlah bagaimana Fir’aun beranggapan sial pada Musa ‘alaihis salam dan pengikutnya. Ketika datang bencana mereka katakan itu gara-gara Musa. Namun ketika datang berbagai kebaikan, mereka katakana itu karena usaha kami sendiri, tanpa menyebut kenikmatan tersebut berasal dari Allah. Allah Ta’ala berfirman, فَإِذَا جَاءَتْهُمُ الْحَسَنَةُ قَالُوا لَنَا هَذِهِ وَإِنْ تُصِبْهُمْ سَيِّئَةٌ يَطَّيَّرُوا بِمُوسَى وَمَنْ مَعَهُ أَلَا إِنَّمَا طَائِرُهُمْ عِنْدَ اللَّهِ وَلَكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لَا يَعْلَمُونَ “Kemudian apabila datang kepada mereka kemakmuran, mereka berkata: “Itu adalah karena (usaha) kami”. Dan jika mereka ditimpa kesusahan, mereka lemparkan sebab kesialan itu kepada Musa dan orang-orang yang besertanya. Ketahuilah, sesungguhnya kesialan mereka itu adalah ketetapan dari Allah, akan tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.” (QS. Al A’raf: 131). Kesialan yang dianggap sesungguhnya tidaklah benar. Yang shahih, Musa dan orang beriman sebagai pengikutnya adalah sebab datangnya kebaikan dan barokah. Karena para Rasul ‘alaihimush sholaatu was salaam membuat perbaikan di muka bumi dengan ketaatan yang mereka perbuat, sehingga turunlah barokah. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman, وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آَمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya” (QS. Al A’raf: 96). Dan sebenarnya sebab datangnya musibah adalah karena pembakangan ahli maksiat, orang musyrik dan kafir, bukan dari orang beriman. Kesialan dan bencana sebenarnya karena kekurang ajaran orang kafir itu sendiri.   Islam Melarang Thiyarah (Anggapan Sial) Beranggapan sial di sini masih ada pada sebagian orang yang menganggap bahwa kalau bertemu dengan waktu sial, jangan sampai lakukan hajatan-hajatan besar seperti bulan Suro menurut anggapan sebagian masyarakat kita yang masih awam. Padahal, keyakinan di atas telah diperingatkan dalam berbagai hadits. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ عَدْوَى ، وَلاَ طِيَرَةَ ، وَلاَ هَامَةَ ، وَلاَ صَفَرَ “Tidak dibenarkan menganggap penyakit menular dengan sendirinya (tanpa ketentuan Allah), tidak dibenarkan beranggapan sial, tidak dibenarkan pula beranggapan nasib malang karena tempat, juga tidak dibenarkan beranggapan sial di bulan Shafar” (HR. Bukhari no. 5757 dan Muslim no. 2220). Dalam hadits ini disebutkan tidak bolehnya beranggapan sial secara umum, juga pada tempat dan waktu tertentu seperti pada bulan Shafar. Di negeri kita yang terkenal adalah beranggapan sial dengan bulan Suro, maka itu pun sama terlarangnya. Bahkan hal itu termasuk syirik. Dari ‘Abdullah bin Mas’ud, ia menyebutkan hadits secara marfu’ –sampai kepada Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam-, « الطِّيَرَةُ شِرْكٌ الطِّيَرَةُ شِرْكٌ ». ثَلاَثًا « وَمَا مِنَّا إِلاَّ وَلَكِنَّ اللَّهَ يُذْهِبُهُ بِالتَّوَكُّلِ ». “Beranggapan sial adalah kesyirikan, beranggapan sial adalah kesyirikan”. Beliau menyebutnya sampai tiga kali. Kemudian Ibnu Mas’ud berkata, “Tidak ada yang bisa menghilangkan sangkaan jelek dalam hatinya. Namun Allah-lah yang menghilangkan anggapan sial tersebut dengan tawakkal.” (HR. Abu Daud no. 3910 dan Ibnu Majah no. 3538. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).   Hati-Hati Tidak Mendapatkan Keutamaan 70.000 Orang Berikut Ada 70.000 orang yang akan masuk surga tanpa hisab dan tanpa siksa. Mereka disifati oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, هُمْ الَّذِينَ لَا يَتَطَيَّرُونَ وَلَا يَسْتَرْقُونَ وَلَا يَكْتَوُونَ وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ “Mereka itu tidak melakukan thiyaroh (beranggapan sial), tidak meminta untuk diruqyah, dan tidak menggunakan kay (pengobatan dengan besi panas), dan hanya kepada Rabb merekalah, mereka bertawakkal.” (HR. Bukhari no. 5752). Baca kisah: 70.000 orang yang masuk surga tanpa siksa. Moga Allah beri taufik dan hidayah. — Diselesaikan di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 30 Dzulhijjah 1436 H Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsanggapan sial bulan suro


Jangan sampai ada yang mengurungkan niat melakukan hajatan cuma karena bertemu dengan bulan suro. Keyakinan seperti adalah keyakinan jahiliyyah yang bertentangan dengan syariat Islam yang dibawa oleh Nabi kita Muhammad.   Pemahaman Jahiliyyah Beranggapan sial atau thiyaroh termasuk akidah jahiliyah. Bahkan sudah ada di masa sebelum Islam. Lihatlah bagaimana Fir’aun beranggapan sial pada Musa ‘alaihis salam dan pengikutnya. Ketika datang bencana mereka katakan itu gara-gara Musa. Namun ketika datang berbagai kebaikan, mereka katakana itu karena usaha kami sendiri, tanpa menyebut kenikmatan tersebut berasal dari Allah. Allah Ta’ala berfirman, فَإِذَا جَاءَتْهُمُ الْحَسَنَةُ قَالُوا لَنَا هَذِهِ وَإِنْ تُصِبْهُمْ سَيِّئَةٌ يَطَّيَّرُوا بِمُوسَى وَمَنْ مَعَهُ أَلَا إِنَّمَا طَائِرُهُمْ عِنْدَ اللَّهِ وَلَكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لَا يَعْلَمُونَ “Kemudian apabila datang kepada mereka kemakmuran, mereka berkata: “Itu adalah karena (usaha) kami”. Dan jika mereka ditimpa kesusahan, mereka lemparkan sebab kesialan itu kepada Musa dan orang-orang yang besertanya. Ketahuilah, sesungguhnya kesialan mereka itu adalah ketetapan dari Allah, akan tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.” (QS. Al A’raf: 131). Kesialan yang dianggap sesungguhnya tidaklah benar. Yang shahih, Musa dan orang beriman sebagai pengikutnya adalah sebab datangnya kebaikan dan barokah. Karena para Rasul ‘alaihimush sholaatu was salaam membuat perbaikan di muka bumi dengan ketaatan yang mereka perbuat, sehingga turunlah barokah. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman, وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آَمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya” (QS. Al A’raf: 96). Dan sebenarnya sebab datangnya musibah adalah karena pembakangan ahli maksiat, orang musyrik dan kafir, bukan dari orang beriman. Kesialan dan bencana sebenarnya karena kekurang ajaran orang kafir itu sendiri.   Islam Melarang Thiyarah (Anggapan Sial) Beranggapan sial di sini masih ada pada sebagian orang yang menganggap bahwa kalau bertemu dengan waktu sial, jangan sampai lakukan hajatan-hajatan besar seperti bulan Suro menurut anggapan sebagian masyarakat kita yang masih awam. Padahal, keyakinan di atas telah diperingatkan dalam berbagai hadits. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ عَدْوَى ، وَلاَ طِيَرَةَ ، وَلاَ هَامَةَ ، وَلاَ صَفَرَ “Tidak dibenarkan menganggap penyakit menular dengan sendirinya (tanpa ketentuan Allah), tidak dibenarkan beranggapan sial, tidak dibenarkan pula beranggapan nasib malang karena tempat, juga tidak dibenarkan beranggapan sial di bulan Shafar” (HR. Bukhari no. 5757 dan Muslim no. 2220). Dalam hadits ini disebutkan tidak bolehnya beranggapan sial secara umum, juga pada tempat dan waktu tertentu seperti pada bulan Shafar. Di negeri kita yang terkenal adalah beranggapan sial dengan bulan Suro, maka itu pun sama terlarangnya. Bahkan hal itu termasuk syirik. Dari ‘Abdullah bin Mas’ud, ia menyebutkan hadits secara marfu’ –sampai kepada Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam-, « الطِّيَرَةُ شِرْكٌ الطِّيَرَةُ شِرْكٌ ». ثَلاَثًا « وَمَا مِنَّا إِلاَّ وَلَكِنَّ اللَّهَ يُذْهِبُهُ بِالتَّوَكُّلِ ». “Beranggapan sial adalah kesyirikan, beranggapan sial adalah kesyirikan”. Beliau menyebutnya sampai tiga kali. Kemudian Ibnu Mas’ud berkata, “Tidak ada yang bisa menghilangkan sangkaan jelek dalam hatinya. Namun Allah-lah yang menghilangkan anggapan sial tersebut dengan tawakkal.” (HR. Abu Daud no. 3910 dan Ibnu Majah no. 3538. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).   Hati-Hati Tidak Mendapatkan Keutamaan 70.000 Orang Berikut Ada 70.000 orang yang akan masuk surga tanpa hisab dan tanpa siksa. Mereka disifati oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, هُمْ الَّذِينَ لَا يَتَطَيَّرُونَ وَلَا يَسْتَرْقُونَ وَلَا يَكْتَوُونَ وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ “Mereka itu tidak melakukan thiyaroh (beranggapan sial), tidak meminta untuk diruqyah, dan tidak menggunakan kay (pengobatan dengan besi panas), dan hanya kepada Rabb merekalah, mereka bertawakkal.” (HR. Bukhari no. 5752). Baca kisah: 70.000 orang yang masuk surga tanpa siksa. Moga Allah beri taufik dan hidayah. — Diselesaikan di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 30 Dzulhijjah 1436 H Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsanggapan sial bulan suro

Adab pada Guru (5)

Salah satu adab lagi ketika berinteraksi dengan guru adalah menjaga adab dalam bertanya. Seorang murid yang hendak bertanya pada guru hendaklah memperhatikan adab-adab berikut ini.   1- Maksud bertanya bukan untuk mendebat guru Dari Ka’ab bin Malik, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ طَلَبَ الْعِلْمَ لِيُجَارِىَ بِهِ الْعُلَمَاءَ أَوْ لِيُمَارِىَ بِهِ السُّفَهَاءَ أَوْ يَصْرِفَ بِهِ وُجُوهَ النَّاسِ إِلَيْهِ أَدْخَلَهُ اللَّهُ النَّارَ “Barangsiapa yang menuntut ilmu dengan maksud untuk bisa mendebat ulama (untuk menampakkan keilmuannya di hadapan lainnya, pen.) atau untuk mendebat orang-orang bodoh (menanamkan keraguan pada orang bodoh, pen.) atau agar menarik perhatian yang lainnya (supaya orang banyak menerimanya, pen.), maka Allah akan memasukkannya dalam neraka.” (HR. Tirmidzi no. 2654. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini dha’if. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan. Lihat penjelasan hadits dalam Tuhfah Al-Ahwadzi 7: 456) Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ تَعَلَّمُوا الْعِلْمَ لِتُبَاهُوا بِهِ الْعُلَمَاءَ وَلاَ لِتُمَارُوا بِهِ السُّفَهَاءَ وَلاَ تَخَيَّرُوا بِهِ الْمَجَالِسَ فَمَنْ فَعَلَ ذَلِكَ فَالنَّارُ النَّارُ “Janganlah belajar ilmu agama untuk berbangga diri di hadapan para ulama, untuk menanamkan keraguan pada orang yang bodoh, dan jangan mengelilingi majelis untuk maksud seperti itu. Karena barangsiapa yang melakukan demikian, maka neraka lebih pantas baginya, neraka lebih pantas baginya.” (HR. Ibnu Majah no. 254. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini dha’if. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)   2- Bertanya pertanyaan yang nyata terjadi, bukan yang terjadi di dunia khayalan atau belum terjadi Ada yang menanyakan pertanyaan yang sia-sia, belum nyata terjadi. Misal, bagaimana cara shalat di bulan. Ada cerita dari Syabatun, nama aslinya Ziyad bin ‘Abdurrahman, seorang fakih dan menjadi mufti Andalus. ‘Abdul Malik bin Habib berkata, “Kami berada di sisi Ziyad (Syabatun). Kala itu ada surat dari sebagian raja. Surat tersebut berisi tulisan dan memiliki cap. Syabatun berkata pada kami bahwa isi surat bertanya tentang dua piringan neraca timbangan (pada hari kiamat), apakah terbuat dari emas ataukah perak. Syabatun lantas menulis hadits, مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيهِ “Di antara kebaikan islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat.” (HR. Tirmidzi no. 2317, Ibnu Majah no. 3976. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih). (Siyar A’lam An-Nubala, 9: 312) Sebagian salaf berkata, دَعْنَا عَنْ هَذَا حَتَّى يَقَعَ وَسَلْ عَمَّا وَقَعَ “Tak usah bertanya pada kami sampai hal itu terjadi. Bertanya lagi nantinya kalau sudah terjadi.” Kalau ada yang bertanya, “Bagaimana arah kiblat kalau shalat di bulan?” Jawabnya, suruh di bulan dulu. Kalau sudah di sana, nanti baru di-SMS ke kami, kami akan beri jawabannya.   3- Bertanya dengan memperhatikan waktu dan keadaan guru Ada pelajaran yang bisa kita ambil dari hadits berikut. عَنْ أَبِى مَسْعُودٍ الأَنْصَارِىِّ قَالَ كَانَ مِنَ الأَنْصَارِ رَجُلٌ يُقَالُ لَهُ أَبُو شُعَيْبٍ ، وَكَانَ لَهُ غُلاَمٌ لَحَّامٌ فَقَالَ اصْنَعْ لِى طَعَامًا أَدْعُو رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – خَامِسَ خَمْسَةٍ ، فَدَعَا رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – خَامِسَ خَمْسَةٍ ، فَتَبِعَهُمْ رَجُلٌ فَقَالَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – « إِنَّكَ دَعَوْتَنَا خَامِسَ خَمْسَةٍ وَهَذَا رَجُلٌ قَدْ تَبِعَنَا ، فَإِنْ شِئْتَ أَذِنْتَ لَهُ ، وَإِنْ شِئْتَ تَرَكْتَهُ » “Dari Abu Mas’ud Al-Anshari, ia berkata bahwa ada seseorang dari kalangan Anshar yang bernama Abu Syu’aib. Ia memiliki anak yang menjadi seorang penjual daging. Ia katakan padanya, “Buatkanlah untukku makanan dan aku ingin mengundang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk jatah lima orang. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas diundang dengan jatah untuk lima orang, namun ketika itu ada seseorang yang ikut bersama beliau. Kala itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Engkau telah mengundang kami untuk jatah lima orang, sedangkan orang ini mengikuti kami. Jika engkau mau, izinkan dia untuk ikut. Jika tidak, ia bisa pulang.” (HR. Bukhari no. 5434 dan Muslim no. 2036). Dari hadits di atas, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin berkata, “Harusnya seseorang tidak berat hati ketika ada tuan rumah mengatakan saat ditemui, “Maaf, aku sekarang sedang sibuk.” Karena sebagian yang lain malah kesal ketika dikatakan seperti itu. Kekesalan atau kekecewaan seperti itu justru keliru. Karena setiap orang punya hajat penting ketika berada di rumahnya. Atau ada yang punya urusan dengan orang lain yang lebih penting. Karenanya, kalau ada yang bertamu, kemudian tuan rumah katakan bahwa ia sedang ada aktivitas penting, maka janganlah merasa kecewa ketika dikatakan seperti itu. Karena dalam Islam ada diajarkan seperti itu.” (Syarh Riyadh Ash-Shalihin, 4: 208) Dari sini kita bisa ambil pelajaran, setiap penuntut ilmu hendaklah memperhatikan waktu sibuk gurunya. Setiap pertanyaan di luar majelis terutama belum tentu bisa dijawab. Setiap SMS atau telepon atau pesan WA, belum tentu bisa dijawab dan dibalas setiap waktu karena barangkali sedang ada kesibukan dengan keluarga atau kesibukan belajar.   4- Jangan sampai bertanya hanya untuk wawasan, tanpa mau diamalkan Para ulama salaf berkata, مَنْ عَمِلَ بِمَا عَلِمَ ، أَوْرَثَهُ اللهُ عِلْمَ مَا لَمْ يَعْلَمْ “Barangsiapa yang mengamalkan ilmu yang telah ia ketahui maka Allah akan mewariskan (mengajarkan) kepadanya ilmu yang belum ia ketahui” Ini sesuai dengan firman Allah Ta’ala, وَالَّذِينَ اهْتَدَوْا زَادَهُمْ هُدىً وَآتَاهُمْ تَقْوَاهُمْ “Dan orang-orang yang mau menerima petunjuk, Allah menambah petunjuk kepada mereka dan memberikan balasan ketaqwaannya.” (QS. Muhammad: 17) وَيَزِيدُ اللهُ الَّذِينَ اهْتَدَوْا هُدىً “Dan Allah akan menambah petunjuk kepada mereka yang telah mendapat petunjuk.” (QS. Maryam: 76) Lihatlah pula kata Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا لَمْ يَعْمَلْ بِهِ لَمْ يَزِدْهُ إِلاَّ كِبْرًا “Siapa yang belajar ilmu (agama) lantas ia tidak mengamalkannya, maka hanya kesombongan pada dirinya yang terus bertambah.” (Disebutkan oleh Imam Adz Dzahabi dalam Al Kabair, hlm. 75) Wahb bin Munabbih berkata, مَثَلُ مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا لاَ يَعْمَلْ بِهِ كَمَثَلِ طَبِيْبٍ مَعَهُ دَوَاءٌ لاَ يَتَدَاوَى بِهِ “Permisalan orang yang memiliki ilmu lantas tidak diamalkan adalah seperti seorang dokter yang memiliki obat namun ia tidak berobat dengannya.” (Hilyah Al-Auliya’, 4: 71). Sufyan bin ‘Uyainah berkata, مَا شَيْءٌ أَضَرُّ عَلَيْكُمْ مِنْ مُلُوْكِ السُّوْءِ وَعِلْمٍ لاَ يَعْمَلُ بِهِ “Tidak ada sesuatu yang lebih memudhorotkan kalian selain dari raja yang jelek dan ilmu yang tidak diamalkan.” (Hilyah Al-Auliya’, 7: 287). ‘Abdul Wahid bin Zaid berkata, مَنْ عَمِلَ بِمَا عَلِمَ فَتَحَ اللهُ لَهُ مَا لاَ يَعْلَمُ “Barangsiapa mengamalkan ilmu yang telah ia pelajari, maka Allah akan membuka untuknya hal yang sebelumnya ia tidak tahu.” (Hilyah Al-Auliya’, 6: 163). Ma’ruf Al Karkhi berkata, “Jika Allah menginginkan kebaikan pada seorang hamba, Dia akan membuka baginya pintu amal dan akan menutup darinya pintu jidal (suka berdebat atau bantah-bantahan). Jika Allah menginginkan kejelekan pada seorang hamba, Dia akan menutup baginya pintu amal dan akan membuka baginya pintu jidal (suka berdebat)” (Hilyah Al-Auliya’, 8: 361).   5- Jangan sampai bertanya hanya ingin cari simpati dan pujian Perhatikanlah niat dalam menuntut ilmu, jangan sampai yang diharap adalah dunia dan pujian manusia. Bertanya hanya ingin dipandang bahwa ilmunya itu banyak. Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا لِغَيْرِ اللَّهِ أَوْ أَرَادَ بِهِ غَيْرَ اللَّهِ فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ “Siapa yang belajar agama karena selain Allah -atau ia menginginkan dengan ilmu tersebut selain Allah-, maka hendaklah ia menempati tempatnya di neraka.” (HR. Tirmidzi no. 2655. Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan gharib, sedangkan Syaikh Al Albani mendha’ifkan hadits ini). Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ لاَ يَتَعَلَّمُهُ إِلاَّ لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِنَ الدُّنْيَا لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ “Barangsiapa menuntut ilmu yang seharusnya diharapkan dengannya wajah Allah ‘azza wa jalla, tetapi ia tidak menuntutnya kecuali untuk mendapatkan sedikit dari kenikmatan dunia maka ia tidak akan mencium bau surga pada hari kiamat.” (HR. Abu Daud no. 3664 dan Ibnu Majah no. 252. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan) Hanya Allah yang memberi taufik. Semoga kita bisa semakin beradab di depan guru-guru kita dan Allah pun memberkahi ilmu dan umur mereka. — Selesai disusun di Darush Sholihin Panggang Gunungkidul, 28 Dzulhijjah 1436 H Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsadab guru

Adab pada Guru (5)

Salah satu adab lagi ketika berinteraksi dengan guru adalah menjaga adab dalam bertanya. Seorang murid yang hendak bertanya pada guru hendaklah memperhatikan adab-adab berikut ini.   1- Maksud bertanya bukan untuk mendebat guru Dari Ka’ab bin Malik, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ طَلَبَ الْعِلْمَ لِيُجَارِىَ بِهِ الْعُلَمَاءَ أَوْ لِيُمَارِىَ بِهِ السُّفَهَاءَ أَوْ يَصْرِفَ بِهِ وُجُوهَ النَّاسِ إِلَيْهِ أَدْخَلَهُ اللَّهُ النَّارَ “Barangsiapa yang menuntut ilmu dengan maksud untuk bisa mendebat ulama (untuk menampakkan keilmuannya di hadapan lainnya, pen.) atau untuk mendebat orang-orang bodoh (menanamkan keraguan pada orang bodoh, pen.) atau agar menarik perhatian yang lainnya (supaya orang banyak menerimanya, pen.), maka Allah akan memasukkannya dalam neraka.” (HR. Tirmidzi no. 2654. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini dha’if. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan. Lihat penjelasan hadits dalam Tuhfah Al-Ahwadzi 7: 456) Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ تَعَلَّمُوا الْعِلْمَ لِتُبَاهُوا بِهِ الْعُلَمَاءَ وَلاَ لِتُمَارُوا بِهِ السُّفَهَاءَ وَلاَ تَخَيَّرُوا بِهِ الْمَجَالِسَ فَمَنْ فَعَلَ ذَلِكَ فَالنَّارُ النَّارُ “Janganlah belajar ilmu agama untuk berbangga diri di hadapan para ulama, untuk menanamkan keraguan pada orang yang bodoh, dan jangan mengelilingi majelis untuk maksud seperti itu. Karena barangsiapa yang melakukan demikian, maka neraka lebih pantas baginya, neraka lebih pantas baginya.” (HR. Ibnu Majah no. 254. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini dha’if. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)   2- Bertanya pertanyaan yang nyata terjadi, bukan yang terjadi di dunia khayalan atau belum terjadi Ada yang menanyakan pertanyaan yang sia-sia, belum nyata terjadi. Misal, bagaimana cara shalat di bulan. Ada cerita dari Syabatun, nama aslinya Ziyad bin ‘Abdurrahman, seorang fakih dan menjadi mufti Andalus. ‘Abdul Malik bin Habib berkata, “Kami berada di sisi Ziyad (Syabatun). Kala itu ada surat dari sebagian raja. Surat tersebut berisi tulisan dan memiliki cap. Syabatun berkata pada kami bahwa isi surat bertanya tentang dua piringan neraca timbangan (pada hari kiamat), apakah terbuat dari emas ataukah perak. Syabatun lantas menulis hadits, مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيهِ “Di antara kebaikan islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat.” (HR. Tirmidzi no. 2317, Ibnu Majah no. 3976. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih). (Siyar A’lam An-Nubala, 9: 312) Sebagian salaf berkata, دَعْنَا عَنْ هَذَا حَتَّى يَقَعَ وَسَلْ عَمَّا وَقَعَ “Tak usah bertanya pada kami sampai hal itu terjadi. Bertanya lagi nantinya kalau sudah terjadi.” Kalau ada yang bertanya, “Bagaimana arah kiblat kalau shalat di bulan?” Jawabnya, suruh di bulan dulu. Kalau sudah di sana, nanti baru di-SMS ke kami, kami akan beri jawabannya.   3- Bertanya dengan memperhatikan waktu dan keadaan guru Ada pelajaran yang bisa kita ambil dari hadits berikut. عَنْ أَبِى مَسْعُودٍ الأَنْصَارِىِّ قَالَ كَانَ مِنَ الأَنْصَارِ رَجُلٌ يُقَالُ لَهُ أَبُو شُعَيْبٍ ، وَكَانَ لَهُ غُلاَمٌ لَحَّامٌ فَقَالَ اصْنَعْ لِى طَعَامًا أَدْعُو رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – خَامِسَ خَمْسَةٍ ، فَدَعَا رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – خَامِسَ خَمْسَةٍ ، فَتَبِعَهُمْ رَجُلٌ فَقَالَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – « إِنَّكَ دَعَوْتَنَا خَامِسَ خَمْسَةٍ وَهَذَا رَجُلٌ قَدْ تَبِعَنَا ، فَإِنْ شِئْتَ أَذِنْتَ لَهُ ، وَإِنْ شِئْتَ تَرَكْتَهُ » “Dari Abu Mas’ud Al-Anshari, ia berkata bahwa ada seseorang dari kalangan Anshar yang bernama Abu Syu’aib. Ia memiliki anak yang menjadi seorang penjual daging. Ia katakan padanya, “Buatkanlah untukku makanan dan aku ingin mengundang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk jatah lima orang. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas diundang dengan jatah untuk lima orang, namun ketika itu ada seseorang yang ikut bersama beliau. Kala itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Engkau telah mengundang kami untuk jatah lima orang, sedangkan orang ini mengikuti kami. Jika engkau mau, izinkan dia untuk ikut. Jika tidak, ia bisa pulang.” (HR. Bukhari no. 5434 dan Muslim no. 2036). Dari hadits di atas, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin berkata, “Harusnya seseorang tidak berat hati ketika ada tuan rumah mengatakan saat ditemui, “Maaf, aku sekarang sedang sibuk.” Karena sebagian yang lain malah kesal ketika dikatakan seperti itu. Kekesalan atau kekecewaan seperti itu justru keliru. Karena setiap orang punya hajat penting ketika berada di rumahnya. Atau ada yang punya urusan dengan orang lain yang lebih penting. Karenanya, kalau ada yang bertamu, kemudian tuan rumah katakan bahwa ia sedang ada aktivitas penting, maka janganlah merasa kecewa ketika dikatakan seperti itu. Karena dalam Islam ada diajarkan seperti itu.” (Syarh Riyadh Ash-Shalihin, 4: 208) Dari sini kita bisa ambil pelajaran, setiap penuntut ilmu hendaklah memperhatikan waktu sibuk gurunya. Setiap pertanyaan di luar majelis terutama belum tentu bisa dijawab. Setiap SMS atau telepon atau pesan WA, belum tentu bisa dijawab dan dibalas setiap waktu karena barangkali sedang ada kesibukan dengan keluarga atau kesibukan belajar.   4- Jangan sampai bertanya hanya untuk wawasan, tanpa mau diamalkan Para ulama salaf berkata, مَنْ عَمِلَ بِمَا عَلِمَ ، أَوْرَثَهُ اللهُ عِلْمَ مَا لَمْ يَعْلَمْ “Barangsiapa yang mengamalkan ilmu yang telah ia ketahui maka Allah akan mewariskan (mengajarkan) kepadanya ilmu yang belum ia ketahui” Ini sesuai dengan firman Allah Ta’ala, وَالَّذِينَ اهْتَدَوْا زَادَهُمْ هُدىً وَآتَاهُمْ تَقْوَاهُمْ “Dan orang-orang yang mau menerima petunjuk, Allah menambah petunjuk kepada mereka dan memberikan balasan ketaqwaannya.” (QS. Muhammad: 17) وَيَزِيدُ اللهُ الَّذِينَ اهْتَدَوْا هُدىً “Dan Allah akan menambah petunjuk kepada mereka yang telah mendapat petunjuk.” (QS. Maryam: 76) Lihatlah pula kata Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا لَمْ يَعْمَلْ بِهِ لَمْ يَزِدْهُ إِلاَّ كِبْرًا “Siapa yang belajar ilmu (agama) lantas ia tidak mengamalkannya, maka hanya kesombongan pada dirinya yang terus bertambah.” (Disebutkan oleh Imam Adz Dzahabi dalam Al Kabair, hlm. 75) Wahb bin Munabbih berkata, مَثَلُ مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا لاَ يَعْمَلْ بِهِ كَمَثَلِ طَبِيْبٍ مَعَهُ دَوَاءٌ لاَ يَتَدَاوَى بِهِ “Permisalan orang yang memiliki ilmu lantas tidak diamalkan adalah seperti seorang dokter yang memiliki obat namun ia tidak berobat dengannya.” (Hilyah Al-Auliya’, 4: 71). Sufyan bin ‘Uyainah berkata, مَا شَيْءٌ أَضَرُّ عَلَيْكُمْ مِنْ مُلُوْكِ السُّوْءِ وَعِلْمٍ لاَ يَعْمَلُ بِهِ “Tidak ada sesuatu yang lebih memudhorotkan kalian selain dari raja yang jelek dan ilmu yang tidak diamalkan.” (Hilyah Al-Auliya’, 7: 287). ‘Abdul Wahid bin Zaid berkata, مَنْ عَمِلَ بِمَا عَلِمَ فَتَحَ اللهُ لَهُ مَا لاَ يَعْلَمُ “Barangsiapa mengamalkan ilmu yang telah ia pelajari, maka Allah akan membuka untuknya hal yang sebelumnya ia tidak tahu.” (Hilyah Al-Auliya’, 6: 163). Ma’ruf Al Karkhi berkata, “Jika Allah menginginkan kebaikan pada seorang hamba, Dia akan membuka baginya pintu amal dan akan menutup darinya pintu jidal (suka berdebat atau bantah-bantahan). Jika Allah menginginkan kejelekan pada seorang hamba, Dia akan menutup baginya pintu amal dan akan membuka baginya pintu jidal (suka berdebat)” (Hilyah Al-Auliya’, 8: 361).   5- Jangan sampai bertanya hanya ingin cari simpati dan pujian Perhatikanlah niat dalam menuntut ilmu, jangan sampai yang diharap adalah dunia dan pujian manusia. Bertanya hanya ingin dipandang bahwa ilmunya itu banyak. Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا لِغَيْرِ اللَّهِ أَوْ أَرَادَ بِهِ غَيْرَ اللَّهِ فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ “Siapa yang belajar agama karena selain Allah -atau ia menginginkan dengan ilmu tersebut selain Allah-, maka hendaklah ia menempati tempatnya di neraka.” (HR. Tirmidzi no. 2655. Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan gharib, sedangkan Syaikh Al Albani mendha’ifkan hadits ini). Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ لاَ يَتَعَلَّمُهُ إِلاَّ لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِنَ الدُّنْيَا لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ “Barangsiapa menuntut ilmu yang seharusnya diharapkan dengannya wajah Allah ‘azza wa jalla, tetapi ia tidak menuntutnya kecuali untuk mendapatkan sedikit dari kenikmatan dunia maka ia tidak akan mencium bau surga pada hari kiamat.” (HR. Abu Daud no. 3664 dan Ibnu Majah no. 252. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan) Hanya Allah yang memberi taufik. Semoga kita bisa semakin beradab di depan guru-guru kita dan Allah pun memberkahi ilmu dan umur mereka. — Selesai disusun di Darush Sholihin Panggang Gunungkidul, 28 Dzulhijjah 1436 H Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsadab guru
Salah satu adab lagi ketika berinteraksi dengan guru adalah menjaga adab dalam bertanya. Seorang murid yang hendak bertanya pada guru hendaklah memperhatikan adab-adab berikut ini.   1- Maksud bertanya bukan untuk mendebat guru Dari Ka’ab bin Malik, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ طَلَبَ الْعِلْمَ لِيُجَارِىَ بِهِ الْعُلَمَاءَ أَوْ لِيُمَارِىَ بِهِ السُّفَهَاءَ أَوْ يَصْرِفَ بِهِ وُجُوهَ النَّاسِ إِلَيْهِ أَدْخَلَهُ اللَّهُ النَّارَ “Barangsiapa yang menuntut ilmu dengan maksud untuk bisa mendebat ulama (untuk menampakkan keilmuannya di hadapan lainnya, pen.) atau untuk mendebat orang-orang bodoh (menanamkan keraguan pada orang bodoh, pen.) atau agar menarik perhatian yang lainnya (supaya orang banyak menerimanya, pen.), maka Allah akan memasukkannya dalam neraka.” (HR. Tirmidzi no. 2654. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini dha’if. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan. Lihat penjelasan hadits dalam Tuhfah Al-Ahwadzi 7: 456) Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ تَعَلَّمُوا الْعِلْمَ لِتُبَاهُوا بِهِ الْعُلَمَاءَ وَلاَ لِتُمَارُوا بِهِ السُّفَهَاءَ وَلاَ تَخَيَّرُوا بِهِ الْمَجَالِسَ فَمَنْ فَعَلَ ذَلِكَ فَالنَّارُ النَّارُ “Janganlah belajar ilmu agama untuk berbangga diri di hadapan para ulama, untuk menanamkan keraguan pada orang yang bodoh, dan jangan mengelilingi majelis untuk maksud seperti itu. Karena barangsiapa yang melakukan demikian, maka neraka lebih pantas baginya, neraka lebih pantas baginya.” (HR. Ibnu Majah no. 254. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini dha’if. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)   2- Bertanya pertanyaan yang nyata terjadi, bukan yang terjadi di dunia khayalan atau belum terjadi Ada yang menanyakan pertanyaan yang sia-sia, belum nyata terjadi. Misal, bagaimana cara shalat di bulan. Ada cerita dari Syabatun, nama aslinya Ziyad bin ‘Abdurrahman, seorang fakih dan menjadi mufti Andalus. ‘Abdul Malik bin Habib berkata, “Kami berada di sisi Ziyad (Syabatun). Kala itu ada surat dari sebagian raja. Surat tersebut berisi tulisan dan memiliki cap. Syabatun berkata pada kami bahwa isi surat bertanya tentang dua piringan neraca timbangan (pada hari kiamat), apakah terbuat dari emas ataukah perak. Syabatun lantas menulis hadits, مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيهِ “Di antara kebaikan islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat.” (HR. Tirmidzi no. 2317, Ibnu Majah no. 3976. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih). (Siyar A’lam An-Nubala, 9: 312) Sebagian salaf berkata, دَعْنَا عَنْ هَذَا حَتَّى يَقَعَ وَسَلْ عَمَّا وَقَعَ “Tak usah bertanya pada kami sampai hal itu terjadi. Bertanya lagi nantinya kalau sudah terjadi.” Kalau ada yang bertanya, “Bagaimana arah kiblat kalau shalat di bulan?” Jawabnya, suruh di bulan dulu. Kalau sudah di sana, nanti baru di-SMS ke kami, kami akan beri jawabannya.   3- Bertanya dengan memperhatikan waktu dan keadaan guru Ada pelajaran yang bisa kita ambil dari hadits berikut. عَنْ أَبِى مَسْعُودٍ الأَنْصَارِىِّ قَالَ كَانَ مِنَ الأَنْصَارِ رَجُلٌ يُقَالُ لَهُ أَبُو شُعَيْبٍ ، وَكَانَ لَهُ غُلاَمٌ لَحَّامٌ فَقَالَ اصْنَعْ لِى طَعَامًا أَدْعُو رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – خَامِسَ خَمْسَةٍ ، فَدَعَا رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – خَامِسَ خَمْسَةٍ ، فَتَبِعَهُمْ رَجُلٌ فَقَالَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – « إِنَّكَ دَعَوْتَنَا خَامِسَ خَمْسَةٍ وَهَذَا رَجُلٌ قَدْ تَبِعَنَا ، فَإِنْ شِئْتَ أَذِنْتَ لَهُ ، وَإِنْ شِئْتَ تَرَكْتَهُ » “Dari Abu Mas’ud Al-Anshari, ia berkata bahwa ada seseorang dari kalangan Anshar yang bernama Abu Syu’aib. Ia memiliki anak yang menjadi seorang penjual daging. Ia katakan padanya, “Buatkanlah untukku makanan dan aku ingin mengundang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk jatah lima orang. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas diundang dengan jatah untuk lima orang, namun ketika itu ada seseorang yang ikut bersama beliau. Kala itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Engkau telah mengundang kami untuk jatah lima orang, sedangkan orang ini mengikuti kami. Jika engkau mau, izinkan dia untuk ikut. Jika tidak, ia bisa pulang.” (HR. Bukhari no. 5434 dan Muslim no. 2036). Dari hadits di atas, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin berkata, “Harusnya seseorang tidak berat hati ketika ada tuan rumah mengatakan saat ditemui, “Maaf, aku sekarang sedang sibuk.” Karena sebagian yang lain malah kesal ketika dikatakan seperti itu. Kekesalan atau kekecewaan seperti itu justru keliru. Karena setiap orang punya hajat penting ketika berada di rumahnya. Atau ada yang punya urusan dengan orang lain yang lebih penting. Karenanya, kalau ada yang bertamu, kemudian tuan rumah katakan bahwa ia sedang ada aktivitas penting, maka janganlah merasa kecewa ketika dikatakan seperti itu. Karena dalam Islam ada diajarkan seperti itu.” (Syarh Riyadh Ash-Shalihin, 4: 208) Dari sini kita bisa ambil pelajaran, setiap penuntut ilmu hendaklah memperhatikan waktu sibuk gurunya. Setiap pertanyaan di luar majelis terutama belum tentu bisa dijawab. Setiap SMS atau telepon atau pesan WA, belum tentu bisa dijawab dan dibalas setiap waktu karena barangkali sedang ada kesibukan dengan keluarga atau kesibukan belajar.   4- Jangan sampai bertanya hanya untuk wawasan, tanpa mau diamalkan Para ulama salaf berkata, مَنْ عَمِلَ بِمَا عَلِمَ ، أَوْرَثَهُ اللهُ عِلْمَ مَا لَمْ يَعْلَمْ “Barangsiapa yang mengamalkan ilmu yang telah ia ketahui maka Allah akan mewariskan (mengajarkan) kepadanya ilmu yang belum ia ketahui” Ini sesuai dengan firman Allah Ta’ala, وَالَّذِينَ اهْتَدَوْا زَادَهُمْ هُدىً وَآتَاهُمْ تَقْوَاهُمْ “Dan orang-orang yang mau menerima petunjuk, Allah menambah petunjuk kepada mereka dan memberikan balasan ketaqwaannya.” (QS. Muhammad: 17) وَيَزِيدُ اللهُ الَّذِينَ اهْتَدَوْا هُدىً “Dan Allah akan menambah petunjuk kepada mereka yang telah mendapat petunjuk.” (QS. Maryam: 76) Lihatlah pula kata Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا لَمْ يَعْمَلْ بِهِ لَمْ يَزِدْهُ إِلاَّ كِبْرًا “Siapa yang belajar ilmu (agama) lantas ia tidak mengamalkannya, maka hanya kesombongan pada dirinya yang terus bertambah.” (Disebutkan oleh Imam Adz Dzahabi dalam Al Kabair, hlm. 75) Wahb bin Munabbih berkata, مَثَلُ مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا لاَ يَعْمَلْ بِهِ كَمَثَلِ طَبِيْبٍ مَعَهُ دَوَاءٌ لاَ يَتَدَاوَى بِهِ “Permisalan orang yang memiliki ilmu lantas tidak diamalkan adalah seperti seorang dokter yang memiliki obat namun ia tidak berobat dengannya.” (Hilyah Al-Auliya’, 4: 71). Sufyan bin ‘Uyainah berkata, مَا شَيْءٌ أَضَرُّ عَلَيْكُمْ مِنْ مُلُوْكِ السُّوْءِ وَعِلْمٍ لاَ يَعْمَلُ بِهِ “Tidak ada sesuatu yang lebih memudhorotkan kalian selain dari raja yang jelek dan ilmu yang tidak diamalkan.” (Hilyah Al-Auliya’, 7: 287). ‘Abdul Wahid bin Zaid berkata, مَنْ عَمِلَ بِمَا عَلِمَ فَتَحَ اللهُ لَهُ مَا لاَ يَعْلَمُ “Barangsiapa mengamalkan ilmu yang telah ia pelajari, maka Allah akan membuka untuknya hal yang sebelumnya ia tidak tahu.” (Hilyah Al-Auliya’, 6: 163). Ma’ruf Al Karkhi berkata, “Jika Allah menginginkan kebaikan pada seorang hamba, Dia akan membuka baginya pintu amal dan akan menutup darinya pintu jidal (suka berdebat atau bantah-bantahan). Jika Allah menginginkan kejelekan pada seorang hamba, Dia akan menutup baginya pintu amal dan akan membuka baginya pintu jidal (suka berdebat)” (Hilyah Al-Auliya’, 8: 361).   5- Jangan sampai bertanya hanya ingin cari simpati dan pujian Perhatikanlah niat dalam menuntut ilmu, jangan sampai yang diharap adalah dunia dan pujian manusia. Bertanya hanya ingin dipandang bahwa ilmunya itu banyak. Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا لِغَيْرِ اللَّهِ أَوْ أَرَادَ بِهِ غَيْرَ اللَّهِ فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ “Siapa yang belajar agama karena selain Allah -atau ia menginginkan dengan ilmu tersebut selain Allah-, maka hendaklah ia menempati tempatnya di neraka.” (HR. Tirmidzi no. 2655. Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan gharib, sedangkan Syaikh Al Albani mendha’ifkan hadits ini). Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ لاَ يَتَعَلَّمُهُ إِلاَّ لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِنَ الدُّنْيَا لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ “Barangsiapa menuntut ilmu yang seharusnya diharapkan dengannya wajah Allah ‘azza wa jalla, tetapi ia tidak menuntutnya kecuali untuk mendapatkan sedikit dari kenikmatan dunia maka ia tidak akan mencium bau surga pada hari kiamat.” (HR. Abu Daud no. 3664 dan Ibnu Majah no. 252. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan) Hanya Allah yang memberi taufik. Semoga kita bisa semakin beradab di depan guru-guru kita dan Allah pun memberkahi ilmu dan umur mereka. — Selesai disusun di Darush Sholihin Panggang Gunungkidul, 28 Dzulhijjah 1436 H Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsadab guru


Salah satu adab lagi ketika berinteraksi dengan guru adalah menjaga adab dalam bertanya. Seorang murid yang hendak bertanya pada guru hendaklah memperhatikan adab-adab berikut ini.   1- Maksud bertanya bukan untuk mendebat guru Dari Ka’ab bin Malik, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ طَلَبَ الْعِلْمَ لِيُجَارِىَ بِهِ الْعُلَمَاءَ أَوْ لِيُمَارِىَ بِهِ السُّفَهَاءَ أَوْ يَصْرِفَ بِهِ وُجُوهَ النَّاسِ إِلَيْهِ أَدْخَلَهُ اللَّهُ النَّارَ “Barangsiapa yang menuntut ilmu dengan maksud untuk bisa mendebat ulama (untuk menampakkan keilmuannya di hadapan lainnya, pen.) atau untuk mendebat orang-orang bodoh (menanamkan keraguan pada orang bodoh, pen.) atau agar menarik perhatian yang lainnya (supaya orang banyak menerimanya, pen.), maka Allah akan memasukkannya dalam neraka.” (HR. Tirmidzi no. 2654. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini dha’if. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan. Lihat penjelasan hadits dalam Tuhfah Al-Ahwadzi 7: 456) Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ تَعَلَّمُوا الْعِلْمَ لِتُبَاهُوا بِهِ الْعُلَمَاءَ وَلاَ لِتُمَارُوا بِهِ السُّفَهَاءَ وَلاَ تَخَيَّرُوا بِهِ الْمَجَالِسَ فَمَنْ فَعَلَ ذَلِكَ فَالنَّارُ النَّارُ “Janganlah belajar ilmu agama untuk berbangga diri di hadapan para ulama, untuk menanamkan keraguan pada orang yang bodoh, dan jangan mengelilingi majelis untuk maksud seperti itu. Karena barangsiapa yang melakukan demikian, maka neraka lebih pantas baginya, neraka lebih pantas baginya.” (HR. Ibnu Majah no. 254. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini dha’if. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)   2- Bertanya pertanyaan yang nyata terjadi, bukan yang terjadi di dunia khayalan atau belum terjadi Ada yang menanyakan pertanyaan yang sia-sia, belum nyata terjadi. Misal, bagaimana cara shalat di bulan. Ada cerita dari Syabatun, nama aslinya Ziyad bin ‘Abdurrahman, seorang fakih dan menjadi mufti Andalus. ‘Abdul Malik bin Habib berkata, “Kami berada di sisi Ziyad (Syabatun). Kala itu ada surat dari sebagian raja. Surat tersebut berisi tulisan dan memiliki cap. Syabatun berkata pada kami bahwa isi surat bertanya tentang dua piringan neraca timbangan (pada hari kiamat), apakah terbuat dari emas ataukah perak. Syabatun lantas menulis hadits, مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيهِ “Di antara kebaikan islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat.” (HR. Tirmidzi no. 2317, Ibnu Majah no. 3976. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih). (Siyar A’lam An-Nubala, 9: 312) Sebagian salaf berkata, دَعْنَا عَنْ هَذَا حَتَّى يَقَعَ وَسَلْ عَمَّا وَقَعَ “Tak usah bertanya pada kami sampai hal itu terjadi. Bertanya lagi nantinya kalau sudah terjadi.” Kalau ada yang bertanya, “Bagaimana arah kiblat kalau shalat di bulan?” Jawabnya, suruh di bulan dulu. Kalau sudah di sana, nanti baru di-SMS ke kami, kami akan beri jawabannya.   3- Bertanya dengan memperhatikan waktu dan keadaan guru Ada pelajaran yang bisa kita ambil dari hadits berikut. عَنْ أَبِى مَسْعُودٍ الأَنْصَارِىِّ قَالَ كَانَ مِنَ الأَنْصَارِ رَجُلٌ يُقَالُ لَهُ أَبُو شُعَيْبٍ ، وَكَانَ لَهُ غُلاَمٌ لَحَّامٌ فَقَالَ اصْنَعْ لِى طَعَامًا أَدْعُو رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – خَامِسَ خَمْسَةٍ ، فَدَعَا رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – خَامِسَ خَمْسَةٍ ، فَتَبِعَهُمْ رَجُلٌ فَقَالَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – « إِنَّكَ دَعَوْتَنَا خَامِسَ خَمْسَةٍ وَهَذَا رَجُلٌ قَدْ تَبِعَنَا ، فَإِنْ شِئْتَ أَذِنْتَ لَهُ ، وَإِنْ شِئْتَ تَرَكْتَهُ » “Dari Abu Mas’ud Al-Anshari, ia berkata bahwa ada seseorang dari kalangan Anshar yang bernama Abu Syu’aib. Ia memiliki anak yang menjadi seorang penjual daging. Ia katakan padanya, “Buatkanlah untukku makanan dan aku ingin mengundang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk jatah lima orang. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas diundang dengan jatah untuk lima orang, namun ketika itu ada seseorang yang ikut bersama beliau. Kala itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Engkau telah mengundang kami untuk jatah lima orang, sedangkan orang ini mengikuti kami. Jika engkau mau, izinkan dia untuk ikut. Jika tidak, ia bisa pulang.” (HR. Bukhari no. 5434 dan Muslim no. 2036). Dari hadits di atas, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin berkata, “Harusnya seseorang tidak berat hati ketika ada tuan rumah mengatakan saat ditemui, “Maaf, aku sekarang sedang sibuk.” Karena sebagian yang lain malah kesal ketika dikatakan seperti itu. Kekesalan atau kekecewaan seperti itu justru keliru. Karena setiap orang punya hajat penting ketika berada di rumahnya. Atau ada yang punya urusan dengan orang lain yang lebih penting. Karenanya, kalau ada yang bertamu, kemudian tuan rumah katakan bahwa ia sedang ada aktivitas penting, maka janganlah merasa kecewa ketika dikatakan seperti itu. Karena dalam Islam ada diajarkan seperti itu.” (Syarh Riyadh Ash-Shalihin, 4: 208) Dari sini kita bisa ambil pelajaran, setiap penuntut ilmu hendaklah memperhatikan waktu sibuk gurunya. Setiap pertanyaan di luar majelis terutama belum tentu bisa dijawab. Setiap SMS atau telepon atau pesan WA, belum tentu bisa dijawab dan dibalas setiap waktu karena barangkali sedang ada kesibukan dengan keluarga atau kesibukan belajar.   4- Jangan sampai bertanya hanya untuk wawasan, tanpa mau diamalkan Para ulama salaf berkata, مَنْ عَمِلَ بِمَا عَلِمَ ، أَوْرَثَهُ اللهُ عِلْمَ مَا لَمْ يَعْلَمْ “Barangsiapa yang mengamalkan ilmu yang telah ia ketahui maka Allah akan mewariskan (mengajarkan) kepadanya ilmu yang belum ia ketahui” Ini sesuai dengan firman Allah Ta’ala, وَالَّذِينَ اهْتَدَوْا زَادَهُمْ هُدىً وَآتَاهُمْ تَقْوَاهُمْ “Dan orang-orang yang mau menerima petunjuk, Allah menambah petunjuk kepada mereka dan memberikan balasan ketaqwaannya.” (QS. Muhammad: 17) وَيَزِيدُ اللهُ الَّذِينَ اهْتَدَوْا هُدىً “Dan Allah akan menambah petunjuk kepada mereka yang telah mendapat petunjuk.” (QS. Maryam: 76) Lihatlah pula kata Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا لَمْ يَعْمَلْ بِهِ لَمْ يَزِدْهُ إِلاَّ كِبْرًا “Siapa yang belajar ilmu (agama) lantas ia tidak mengamalkannya, maka hanya kesombongan pada dirinya yang terus bertambah.” (Disebutkan oleh Imam Adz Dzahabi dalam Al Kabair, hlm. 75) Wahb bin Munabbih berkata, مَثَلُ مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا لاَ يَعْمَلْ بِهِ كَمَثَلِ طَبِيْبٍ مَعَهُ دَوَاءٌ لاَ يَتَدَاوَى بِهِ “Permisalan orang yang memiliki ilmu lantas tidak diamalkan adalah seperti seorang dokter yang memiliki obat namun ia tidak berobat dengannya.” (Hilyah Al-Auliya’, 4: 71). Sufyan bin ‘Uyainah berkata, مَا شَيْءٌ أَضَرُّ عَلَيْكُمْ مِنْ مُلُوْكِ السُّوْءِ وَعِلْمٍ لاَ يَعْمَلُ بِهِ “Tidak ada sesuatu yang lebih memudhorotkan kalian selain dari raja yang jelek dan ilmu yang tidak diamalkan.” (Hilyah Al-Auliya’, 7: 287). ‘Abdul Wahid bin Zaid berkata, مَنْ عَمِلَ بِمَا عَلِمَ فَتَحَ اللهُ لَهُ مَا لاَ يَعْلَمُ “Barangsiapa mengamalkan ilmu yang telah ia pelajari, maka Allah akan membuka untuknya hal yang sebelumnya ia tidak tahu.” (Hilyah Al-Auliya’, 6: 163). Ma’ruf Al Karkhi berkata, “Jika Allah menginginkan kebaikan pada seorang hamba, Dia akan membuka baginya pintu amal dan akan menutup darinya pintu jidal (suka berdebat atau bantah-bantahan). Jika Allah menginginkan kejelekan pada seorang hamba, Dia akan menutup baginya pintu amal dan akan membuka baginya pintu jidal (suka berdebat)” (Hilyah Al-Auliya’, 8: 361).   5- Jangan sampai bertanya hanya ingin cari simpati dan pujian Perhatikanlah niat dalam menuntut ilmu, jangan sampai yang diharap adalah dunia dan pujian manusia. Bertanya hanya ingin dipandang bahwa ilmunya itu banyak. Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا لِغَيْرِ اللَّهِ أَوْ أَرَادَ بِهِ غَيْرَ اللَّهِ فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ “Siapa yang belajar agama karena selain Allah -atau ia menginginkan dengan ilmu tersebut selain Allah-, maka hendaklah ia menempati tempatnya di neraka.” (HR. Tirmidzi no. 2655. Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan gharib, sedangkan Syaikh Al Albani mendha’ifkan hadits ini). Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ لاَ يَتَعَلَّمُهُ إِلاَّ لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِنَ الدُّنْيَا لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ “Barangsiapa menuntut ilmu yang seharusnya diharapkan dengannya wajah Allah ‘azza wa jalla, tetapi ia tidak menuntutnya kecuali untuk mendapatkan sedikit dari kenikmatan dunia maka ia tidak akan mencium bau surga pada hari kiamat.” (HR. Abu Daud no. 3664 dan Ibnu Majah no. 252. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan) Hanya Allah yang memberi taufik. Semoga kita bisa semakin beradab di depan guru-guru kita dan Allah pun memberkahi ilmu dan umur mereka. — Selesai disusun di Darush Sholihin Panggang Gunungkidul, 28 Dzulhijjah 1436 H Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsadab guru

Cara Shalat di Planet Lain

Ada yang bisa jadi bertanya, bagaimana cara shalat di bulan atau di planet lain. Ada diskusi di masa silam yang seharusnya bisa dijadikan ibrah. Ada seorang ulama yang bernama Syabatun, nama aslinya Ziyad bin ‘Abdurrahman, seorang fakih dan menjadi mufti Andalus. ‘Abdul Malik bin Habib berkata, “Kami berada di sisi Ziyad (Syabatun). Kala itu ada surat dari sebagian raja. Surat tersebut berisi tulisan dan memiliki cap. Syabatun berkata pada kami bahwa isi surat bertanya tentang dua piringan neraca timbangan (pada hari kiamat), apakah terbuat dari emas ataukah perak. Syabatun lantas menulis hadits, مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيهِ “Di antara kebaikan islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat.” (HR. Tirmidzi no. 2317, Ibnu Majah no. 3976. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih). (Siyar A’lam An-Nubala, 9: 312) Kata para ulama pula bertanya pada sesuatu yang belum terjadi termasuk bagian dari banyak bertanya yang tidak manfaat. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, دَعُونِى مَا تَرَكْتُكُمْ ، إِنَّمَا هَلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ بِسُؤَالِهِمْ وَاخْتِلاَفِهِمْ عَلَى أَنْبِيَائِهِمْ ، فَإِذَا نَهَيْتُكُمْ عَنْ شَىْءٍ فَاجْتَنِبُوهُ ، وَإِذَا أَمَرْتُكُمْ بِأَمْرٍ فَأْتُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ “Biarkanlah apa yang aku tinggalkan bagi kalian. Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian telah binasa karena banyak bertanya dan menyelisihi nabi mereka. Jika aku melarang dari sesuatu, maka jauhilah. Dan jika aku memerintahkan pada sesuatu, maka lakukanlah semampu kalian.” (HR. Bukhari no. 7288 dan Muslim no. 1337). Di antara makna banyak bertanya adalah bertanya suatu masalah pada hal yang belum terjadi. Dulu para ulama tidak menyukai hal ini dan mereka menganggap hal itu termasuk menyusah-nyusahkan diri. (Al-Mufhim li Maa Asykala min Talkhis Kitab Muslim, 5: 164, dinukil dari Kunuz Riyadh Ash-Shalihin, 21: 132) Sebagian salaf berkata, دَعْنَا عَنْ هَذَا حَتَّى يَقَعَ وَسَلْ عَمَّا وَقَعَ “Tak usah bertanya pada kami sampai hal itu terjadi. Bertanya lagi nantinya kalau sudah terjadi.” (Ma’alim fi Thoriq Thalab Al-‘Ilmi, hlm. 63) Umar bin Khattab pernah keluar di tengah-tengah manusia kemudian berkata, أُحَرِّجُ عَلَيْكُمْ أَنْ تَسْأَلُوْنَا عَنْ مَا لَمْ يَكُنْ ، فَإِنَّ لَنَا فِيْمَا كَانَ شُغْلاً “Aku melarang kalian dari bertanya pada sesuatu yang belum terjadi karena sebenarnya kita punya kesibukan yang begitu banyak.” (Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 1: 245) Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, لاَ تَسْأَلُوْا عَمَّا لَمْ يَكُنْ ، فَإِنِّي سَمِعْتُ عُمَرَ لَعَنَ السَّائِلَ عَمَّا لَمْ يَكُنْ “Janganlah bertanya tentang apa yang belum terjadi. Sungguh dahulu aku pernah mendengar Umar melaknat yang bertanya tentang sesuatu yang belum terjadi.” (Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 1: 245) Zaid bin Tsabit pernah ditanya tentang suatu masalah, ia balik bertanya, “Apa yang ditanyakan itu sudah pernah terjadi?” Jawab yang bertanya, “Tidak.” Zaid menjawab, دَعُوْهُ حَتَّى يَكُوْن “Tinggalkan bertanya seperti itu sampai hal itu terjadi.”(Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 1: 245) Jadi, kalau ada yang bertanya, “Bagaimana cara shalat di planet lain?” Jawabnya, suruh dia benar berada di planet. Kalau benar sudah berada di sana, kirim SMS pada kami, baru kami akan beritahu jawabannya. Wallahu waliyyut taufiq. — Selesai disusun di Darush Sholihin Panggang Gunungkidul, ba’da Ashar, 28 Dzulhijjah 1436 H Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagscara shalat waktu

Cara Shalat di Planet Lain

Ada yang bisa jadi bertanya, bagaimana cara shalat di bulan atau di planet lain. Ada diskusi di masa silam yang seharusnya bisa dijadikan ibrah. Ada seorang ulama yang bernama Syabatun, nama aslinya Ziyad bin ‘Abdurrahman, seorang fakih dan menjadi mufti Andalus. ‘Abdul Malik bin Habib berkata, “Kami berada di sisi Ziyad (Syabatun). Kala itu ada surat dari sebagian raja. Surat tersebut berisi tulisan dan memiliki cap. Syabatun berkata pada kami bahwa isi surat bertanya tentang dua piringan neraca timbangan (pada hari kiamat), apakah terbuat dari emas ataukah perak. Syabatun lantas menulis hadits, مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيهِ “Di antara kebaikan islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat.” (HR. Tirmidzi no. 2317, Ibnu Majah no. 3976. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih). (Siyar A’lam An-Nubala, 9: 312) Kata para ulama pula bertanya pada sesuatu yang belum terjadi termasuk bagian dari banyak bertanya yang tidak manfaat. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, دَعُونِى مَا تَرَكْتُكُمْ ، إِنَّمَا هَلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ بِسُؤَالِهِمْ وَاخْتِلاَفِهِمْ عَلَى أَنْبِيَائِهِمْ ، فَإِذَا نَهَيْتُكُمْ عَنْ شَىْءٍ فَاجْتَنِبُوهُ ، وَإِذَا أَمَرْتُكُمْ بِأَمْرٍ فَأْتُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ “Biarkanlah apa yang aku tinggalkan bagi kalian. Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian telah binasa karena banyak bertanya dan menyelisihi nabi mereka. Jika aku melarang dari sesuatu, maka jauhilah. Dan jika aku memerintahkan pada sesuatu, maka lakukanlah semampu kalian.” (HR. Bukhari no. 7288 dan Muslim no. 1337). Di antara makna banyak bertanya adalah bertanya suatu masalah pada hal yang belum terjadi. Dulu para ulama tidak menyukai hal ini dan mereka menganggap hal itu termasuk menyusah-nyusahkan diri. (Al-Mufhim li Maa Asykala min Talkhis Kitab Muslim, 5: 164, dinukil dari Kunuz Riyadh Ash-Shalihin, 21: 132) Sebagian salaf berkata, دَعْنَا عَنْ هَذَا حَتَّى يَقَعَ وَسَلْ عَمَّا وَقَعَ “Tak usah bertanya pada kami sampai hal itu terjadi. Bertanya lagi nantinya kalau sudah terjadi.” (Ma’alim fi Thoriq Thalab Al-‘Ilmi, hlm. 63) Umar bin Khattab pernah keluar di tengah-tengah manusia kemudian berkata, أُحَرِّجُ عَلَيْكُمْ أَنْ تَسْأَلُوْنَا عَنْ مَا لَمْ يَكُنْ ، فَإِنَّ لَنَا فِيْمَا كَانَ شُغْلاً “Aku melarang kalian dari bertanya pada sesuatu yang belum terjadi karena sebenarnya kita punya kesibukan yang begitu banyak.” (Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 1: 245) Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, لاَ تَسْأَلُوْا عَمَّا لَمْ يَكُنْ ، فَإِنِّي سَمِعْتُ عُمَرَ لَعَنَ السَّائِلَ عَمَّا لَمْ يَكُنْ “Janganlah bertanya tentang apa yang belum terjadi. Sungguh dahulu aku pernah mendengar Umar melaknat yang bertanya tentang sesuatu yang belum terjadi.” (Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 1: 245) Zaid bin Tsabit pernah ditanya tentang suatu masalah, ia balik bertanya, “Apa yang ditanyakan itu sudah pernah terjadi?” Jawab yang bertanya, “Tidak.” Zaid menjawab, دَعُوْهُ حَتَّى يَكُوْن “Tinggalkan bertanya seperti itu sampai hal itu terjadi.”(Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 1: 245) Jadi, kalau ada yang bertanya, “Bagaimana cara shalat di planet lain?” Jawabnya, suruh dia benar berada di planet. Kalau benar sudah berada di sana, kirim SMS pada kami, baru kami akan beritahu jawabannya. Wallahu waliyyut taufiq. — Selesai disusun di Darush Sholihin Panggang Gunungkidul, ba’da Ashar, 28 Dzulhijjah 1436 H Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagscara shalat waktu
Ada yang bisa jadi bertanya, bagaimana cara shalat di bulan atau di planet lain. Ada diskusi di masa silam yang seharusnya bisa dijadikan ibrah. Ada seorang ulama yang bernama Syabatun, nama aslinya Ziyad bin ‘Abdurrahman, seorang fakih dan menjadi mufti Andalus. ‘Abdul Malik bin Habib berkata, “Kami berada di sisi Ziyad (Syabatun). Kala itu ada surat dari sebagian raja. Surat tersebut berisi tulisan dan memiliki cap. Syabatun berkata pada kami bahwa isi surat bertanya tentang dua piringan neraca timbangan (pada hari kiamat), apakah terbuat dari emas ataukah perak. Syabatun lantas menulis hadits, مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيهِ “Di antara kebaikan islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat.” (HR. Tirmidzi no. 2317, Ibnu Majah no. 3976. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih). (Siyar A’lam An-Nubala, 9: 312) Kata para ulama pula bertanya pada sesuatu yang belum terjadi termasuk bagian dari banyak bertanya yang tidak manfaat. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, دَعُونِى مَا تَرَكْتُكُمْ ، إِنَّمَا هَلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ بِسُؤَالِهِمْ وَاخْتِلاَفِهِمْ عَلَى أَنْبِيَائِهِمْ ، فَإِذَا نَهَيْتُكُمْ عَنْ شَىْءٍ فَاجْتَنِبُوهُ ، وَإِذَا أَمَرْتُكُمْ بِأَمْرٍ فَأْتُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ “Biarkanlah apa yang aku tinggalkan bagi kalian. Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian telah binasa karena banyak bertanya dan menyelisihi nabi mereka. Jika aku melarang dari sesuatu, maka jauhilah. Dan jika aku memerintahkan pada sesuatu, maka lakukanlah semampu kalian.” (HR. Bukhari no. 7288 dan Muslim no. 1337). Di antara makna banyak bertanya adalah bertanya suatu masalah pada hal yang belum terjadi. Dulu para ulama tidak menyukai hal ini dan mereka menganggap hal itu termasuk menyusah-nyusahkan diri. (Al-Mufhim li Maa Asykala min Talkhis Kitab Muslim, 5: 164, dinukil dari Kunuz Riyadh Ash-Shalihin, 21: 132) Sebagian salaf berkata, دَعْنَا عَنْ هَذَا حَتَّى يَقَعَ وَسَلْ عَمَّا وَقَعَ “Tak usah bertanya pada kami sampai hal itu terjadi. Bertanya lagi nantinya kalau sudah terjadi.” (Ma’alim fi Thoriq Thalab Al-‘Ilmi, hlm. 63) Umar bin Khattab pernah keluar di tengah-tengah manusia kemudian berkata, أُحَرِّجُ عَلَيْكُمْ أَنْ تَسْأَلُوْنَا عَنْ مَا لَمْ يَكُنْ ، فَإِنَّ لَنَا فِيْمَا كَانَ شُغْلاً “Aku melarang kalian dari bertanya pada sesuatu yang belum terjadi karena sebenarnya kita punya kesibukan yang begitu banyak.” (Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 1: 245) Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, لاَ تَسْأَلُوْا عَمَّا لَمْ يَكُنْ ، فَإِنِّي سَمِعْتُ عُمَرَ لَعَنَ السَّائِلَ عَمَّا لَمْ يَكُنْ “Janganlah bertanya tentang apa yang belum terjadi. Sungguh dahulu aku pernah mendengar Umar melaknat yang bertanya tentang sesuatu yang belum terjadi.” (Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 1: 245) Zaid bin Tsabit pernah ditanya tentang suatu masalah, ia balik bertanya, “Apa yang ditanyakan itu sudah pernah terjadi?” Jawab yang bertanya, “Tidak.” Zaid menjawab, دَعُوْهُ حَتَّى يَكُوْن “Tinggalkan bertanya seperti itu sampai hal itu terjadi.”(Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 1: 245) Jadi, kalau ada yang bertanya, “Bagaimana cara shalat di planet lain?” Jawabnya, suruh dia benar berada di planet. Kalau benar sudah berada di sana, kirim SMS pada kami, baru kami akan beritahu jawabannya. Wallahu waliyyut taufiq. — Selesai disusun di Darush Sholihin Panggang Gunungkidul, ba’da Ashar, 28 Dzulhijjah 1436 H Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagscara shalat waktu


Ada yang bisa jadi bertanya, bagaimana cara shalat di bulan atau di planet lain. Ada diskusi di masa silam yang seharusnya bisa dijadikan ibrah. Ada seorang ulama yang bernama Syabatun, nama aslinya Ziyad bin ‘Abdurrahman, seorang fakih dan menjadi mufti Andalus. ‘Abdul Malik bin Habib berkata, “Kami berada di sisi Ziyad (Syabatun). Kala itu ada surat dari sebagian raja. Surat tersebut berisi tulisan dan memiliki cap. Syabatun berkata pada kami bahwa isi surat bertanya tentang dua piringan neraca timbangan (pada hari kiamat), apakah terbuat dari emas ataukah perak. Syabatun lantas menulis hadits, مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيهِ “Di antara kebaikan islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat.” (HR. Tirmidzi no. 2317, Ibnu Majah no. 3976. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih). (Siyar A’lam An-Nubala, 9: 312) Kata para ulama pula bertanya pada sesuatu yang belum terjadi termasuk bagian dari banyak bertanya yang tidak manfaat. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, دَعُونِى مَا تَرَكْتُكُمْ ، إِنَّمَا هَلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ بِسُؤَالِهِمْ وَاخْتِلاَفِهِمْ عَلَى أَنْبِيَائِهِمْ ، فَإِذَا نَهَيْتُكُمْ عَنْ شَىْءٍ فَاجْتَنِبُوهُ ، وَإِذَا أَمَرْتُكُمْ بِأَمْرٍ فَأْتُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ “Biarkanlah apa yang aku tinggalkan bagi kalian. Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian telah binasa karena banyak bertanya dan menyelisihi nabi mereka. Jika aku melarang dari sesuatu, maka jauhilah. Dan jika aku memerintahkan pada sesuatu, maka lakukanlah semampu kalian.” (HR. Bukhari no. 7288 dan Muslim no. 1337). Di antara makna banyak bertanya adalah bertanya suatu masalah pada hal yang belum terjadi. Dulu para ulama tidak menyukai hal ini dan mereka menganggap hal itu termasuk menyusah-nyusahkan diri. (Al-Mufhim li Maa Asykala min Talkhis Kitab Muslim, 5: 164, dinukil dari Kunuz Riyadh Ash-Shalihin, 21: 132) Sebagian salaf berkata, دَعْنَا عَنْ هَذَا حَتَّى يَقَعَ وَسَلْ عَمَّا وَقَعَ “Tak usah bertanya pada kami sampai hal itu terjadi. Bertanya lagi nantinya kalau sudah terjadi.” (Ma’alim fi Thoriq Thalab Al-‘Ilmi, hlm. 63) Umar bin Khattab pernah keluar di tengah-tengah manusia kemudian berkata, أُحَرِّجُ عَلَيْكُمْ أَنْ تَسْأَلُوْنَا عَنْ مَا لَمْ يَكُنْ ، فَإِنَّ لَنَا فِيْمَا كَانَ شُغْلاً “Aku melarang kalian dari bertanya pada sesuatu yang belum terjadi karena sebenarnya kita punya kesibukan yang begitu banyak.” (Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 1: 245) Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, لاَ تَسْأَلُوْا عَمَّا لَمْ يَكُنْ ، فَإِنِّي سَمِعْتُ عُمَرَ لَعَنَ السَّائِلَ عَمَّا لَمْ يَكُنْ “Janganlah bertanya tentang apa yang belum terjadi. Sungguh dahulu aku pernah mendengar Umar melaknat yang bertanya tentang sesuatu yang belum terjadi.” (Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 1: 245) Zaid bin Tsabit pernah ditanya tentang suatu masalah, ia balik bertanya, “Apa yang ditanyakan itu sudah pernah terjadi?” Jawab yang bertanya, “Tidak.” Zaid menjawab, دَعُوْهُ حَتَّى يَكُوْن “Tinggalkan bertanya seperti itu sampai hal itu terjadi.”(Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 1: 245) Jadi, kalau ada yang bertanya, “Bagaimana cara shalat di planet lain?” Jawabnya, suruh dia benar berada di planet. Kalau benar sudah berada di sana, kirim SMS pada kami, baru kami akan beritahu jawabannya. Wallahu waliyyut taufiq. — Selesai disusun di Darush Sholihin Panggang Gunungkidul, ba’da Ashar, 28 Dzulhijjah 1436 H Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagscara shalat waktu

Semangat Meraih Ilmu Agama Dulu dan Kini

Kita tahu bagaimanakah keutamaan seseorang menuntut ilmu agama, sungguh begitu besar dan tidak ada tandingannya. Ada hadits shahih yang disebutkan dalam Sunan Abi Daud (no. 3641) dan haditsnya shahih, dari Katsir bin Qais, ia berkata, aku pernah duduk bersama Abu Darda’ di Masjid Damasqus, lalu datang seorang pria yang lantas berkata, “Wahai Abu Ad Darda’, aku sungguh mendatangi dari kota Rasul –shallallahu ‘alaihi wa sallam– (Madinah Nabawiyah) karena ada suatu hadits yang telah sampai padaku di mana engkau yang meriwayatkannya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Aku datang untuk maksud mendapatkan hadits tersebut. * Lihat hanya demi mendengar satu hadits, orang ini rela menempuh perjalanan dari Madinah menuju ke Damasqus di Syam. Ini bukan jarak yang dekat. Ini ditempuh dengan safar. Abu Darda’ lantas berkata, sesungguhnya aku pernah mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَطْلُبُ فِيهِ عِلْمًا سَلَكَ اللَّهُ بِهِ طَرِيقًا مِنْ طُرُقِ الْجَنَّةِ “Barangsiapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya di antara jalan menuju surga.” * Ini keutamaan pertama dari menuntut ilmu, bahwa dengan ilmu akan dimudahkan jalan menuju surga. Menempuh jalan untuk mencari ilmu ada dua makna, bisa jadi benar-benar ia ke majelis ilmu lewati jalan. Bisa jadi maknanya adalah hissi, yaitu ia lakukan cara apa pun untuk meraih ilmu, bisa dengan hadir, duduk, mendengar, menghafal, mencatat, sampai ia menguatkannya dengan banyak mengulang hingga menyebarkan ilmu tadi pada yang lain. Tentu saja ia mencari ilmu ini atas dasar ikhlas karena setiap ibadah yang didasari ikhlas, itulah yang mendapatkan balasan. Jika ilmu agama dicari hanya untuk meraih dunia, dapat kedudukan mulia, dapat gelar, dapat duit, maka tentu tidak mendapatkan balasan seperti disebut dalam hadits. Yang dimaksudkan akan dimudahkan jalan menuju surga adalah ia diberi taufik di dunia untuk beramal shalih sehingga dengan amalan itu masuk surga, atau ia dimudahkan jalan di akhirat untuk masuk surga. Demikian keterangan dari Al-Munawi dalam Faidhul Qadir. وَإِنَّ الْمَلاَئِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا رِضًا لِطَالِبِ الْعِلْمِ “Sesungguhnya malaikat meletakkan sayapnya sebagai tanda ridha pada penuntut ilmu.” * Maksudnya, para malaikat benar-benar menghormati para penuntut ilmu. Ketika itu juga malaikat mendengarkan ilmu. وَإِنَّ الْعَالِمَ لَيَسْتَغْفِرُ لَهُ مَنْ فِى السَّمَوَاتِ وَمَنْ فِى الأَرْضِ وَالْحِيتَانُ فِى جَوْفِ الْمَاءِ “Sesungguhnya orang yang berilmu dimintai ampun oleh setiap penduduk langit dan bumi, sampai pun ikan yang berada dalam air.” * Berarti dengan menuntut ilmu dan berada dalam majelis ilmu bisa menghapuskan dosa. وَإِنَّ فَضْلَ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ عَلَى سَائِرِ الْكَوَاكِبِ “Sesungguhnya keutamaan orang yang berilmu dibanding ahli ibadah adalah seperti perbandingan bulan di malam badar dari bintang-bintang lainnya.” * Orang yang berilmu bisa memberikan pengaruh ilmunya pada yang lain, pengaruhnya besar. Sedangkan ahli ibadah tidak bisa memberikan pengaruh pada yang lain seperti itu. Oleh karenanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam misalkan seperti cahaya bulan dan cahaya bintang untuk membandingkan ahli ilmu dan ahli ibadah. Seorang alim yang benar adalah ia menyibukkan diri dengan ilmu dan tidak melupakan amalan. Sedangkan seorang ahli ibadah adalah yang menyibukkan diri dengan ibadah tanpa mempedulikan dasar ilmu dari ibadah tersebut. وَإِنَّ الأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلاَ دِرْهَمًا وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ “Sesungguhnya ulama adalah pewaris para Nabi. Sesungguhnya Nabi tidaklah mewariskan dinar dan tidak pula dirham. Barangsiapa yang mewariskan ilmu, maka sungguh ia telah mendapatkan keberuntungan yang besar.” * Seorang hamba barulah dikatakan baik jika ia mengambil warisan ilmu dari Nabi. Bukan sekedar menjadi seorang teknokrat, psikiater, dokter, seorang master atau seorang professor. Karena warisan Nabi bukanlah dunia dan harta, bukan pula ilmu dunia. Warisan Nabi yang sebenarnya adalah pada ilmu agama. Karenanya jangan sampai meninggalkan ilmu agama karena sibuk dengan keduniaan atau sibuk mencari ilmu dunia. يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الْآَخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ “Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai.” (QS. Ar Ruum: 7) Karena seorang dokter dan teknokrat yang kenal agama, jauh berbeda dengan yang tidak kenal agama. هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” (QS. Az- Zumar: 9). Tentang ayat di atas, Syaikh ‘Abdurrahman As-Sa’di berkata, لاَ يَسْتَوِي هَؤُلاَءِ وَلاَ هَؤُلاَءِ، كَمَا لاَ يَسْتَوِي اللَّيْلُ وَالنَّهَار، وَالضِّيَاء والظِّلاَم، والماَء والنَّار “Tentu tidak sama antara mereka dan mereka (yang berilmu dan tidak berilmu). Sebagaimana tidak sama antara malam dan siang, tidak sama antara terang dan kegelapan, begitu pula tidak sama antara air dan api.” وَابْتَغِ فِيمَا آَتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآَخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi.” (QS. Al-Qashshash: 77). Ibnu Katsir berkata, “Gunakanlah yang telah Allah anugerahkan untukmu dari harta dan nikmat yang besar untuk taat pada Rabbmu dan membuat dirimu semakin dekat pada Allah dengan berbagai macam ketaatan. Dengan ini semua, engkau dapat menggapai pahala di kehidupan akhirat.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 6: 37). Para ulama membuktikan bahwa mereka punya semangat tinggi dalam meraih ilmu agama. Sampai waktunya habis untuk meraih hal itu. Al Khotib Al Baghdadi dalam kitab tarikhnya berkata, “Aku pernah mendengar ‘Ali bin ‘Ubaidillah bin ‘Abdul Ghoffar Al Lughowi (lebih terkenal dengan sebutan As Samsamani), ia menceritakan bahwa Muhammad bin Jarir Ath Thobari pernah menetap selama 40 tahun dan menulis setiap harinya 40 halaman. Dan telah sampai kisah kepadaku dari Abu Hamid Ahmad bin Abi Thohir Al Faqih Al Isfaroini, ia bekata, “Seandainya seseorang bersafar ke China lantas ia menemukan kitab tafsir karya Ibnu Jarir, maka ia akan temukan tidak begitu banyak (dari kenyataan, pen).” Atau beliau mengucapkan perkataan semakna dengan itu. Al Qodhi Abu ‘Abdillah Muhammad, ia berkata bahwa ‘Ali bin Ahmad Ash Shona’ Ubaidullah bin Ahmad As Samsar dan ayahku berkata bahwa Abu Ja’far Ath Thobari pernah berkata pada murid-muridnya, “Apakah kalian punya semangat untuk menulis tafsir Al Qur’an?” “Berapa lembar yang mau ditulis?”, tanya murid-muridnya. Jawab Ath Thobari, “Tiga puluh ribu (30.000) lembar.” Mereka malah menjawab, هَذَا مِمَّا تَفْنَى الاَعْمَار “Menulis seperti itu malah menghabiskan umur kami.” Akhirnya kitab tersebut selesai dan lebih diringkas yang akhirnya menjadi sekitar 3000 lembaran. Ath-Thabari berkata lagi pada murid-muridnya, “Apakah kalian punya semangat untuk menulis kitab tarikh (sejarah) alam semesta mulai dari Adam hinggga saat ini?” “Berapa lembar yang mau ditulis?”, tanya murid-muridnya. Ath Thobari menyebut sebagaimana kitab tafsir tadi, lalu mereka pun menjawab semisal itu. Lantas Ibnu Jarir Ath Thobari berkata, اِنَّا للهِ مَاتَتِ الهِمَم “Inna lillah … Semangat (ambisi) manusia saat ini telah mati.” (Tarikh Baghdad karya Al Khottib Al Baghdadi, 2: 163) Lihatlah bagaimana semangat ulama dalam meraih akhirat, raih ilmu yang Allah cinta, raih ilmu yang jadi warisan para Nabi. Bandingkan dengan semangat pemuda dan orang-orang saat ini. Wallahu waliyyut taufiq. — Disusun di TlogoMas, Malang, 25 Dzulhijjah 1436 H Naskah Khutbah Jumat di Masjid Qolbun Salim Malang, Jumat, 25 Dzulhijjah 1436 H Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsbelajar ilmu keutamaan ilmu

Semangat Meraih Ilmu Agama Dulu dan Kini

Kita tahu bagaimanakah keutamaan seseorang menuntut ilmu agama, sungguh begitu besar dan tidak ada tandingannya. Ada hadits shahih yang disebutkan dalam Sunan Abi Daud (no. 3641) dan haditsnya shahih, dari Katsir bin Qais, ia berkata, aku pernah duduk bersama Abu Darda’ di Masjid Damasqus, lalu datang seorang pria yang lantas berkata, “Wahai Abu Ad Darda’, aku sungguh mendatangi dari kota Rasul –shallallahu ‘alaihi wa sallam– (Madinah Nabawiyah) karena ada suatu hadits yang telah sampai padaku di mana engkau yang meriwayatkannya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Aku datang untuk maksud mendapatkan hadits tersebut. * Lihat hanya demi mendengar satu hadits, orang ini rela menempuh perjalanan dari Madinah menuju ke Damasqus di Syam. Ini bukan jarak yang dekat. Ini ditempuh dengan safar. Abu Darda’ lantas berkata, sesungguhnya aku pernah mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَطْلُبُ فِيهِ عِلْمًا سَلَكَ اللَّهُ بِهِ طَرِيقًا مِنْ طُرُقِ الْجَنَّةِ “Barangsiapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya di antara jalan menuju surga.” * Ini keutamaan pertama dari menuntut ilmu, bahwa dengan ilmu akan dimudahkan jalan menuju surga. Menempuh jalan untuk mencari ilmu ada dua makna, bisa jadi benar-benar ia ke majelis ilmu lewati jalan. Bisa jadi maknanya adalah hissi, yaitu ia lakukan cara apa pun untuk meraih ilmu, bisa dengan hadir, duduk, mendengar, menghafal, mencatat, sampai ia menguatkannya dengan banyak mengulang hingga menyebarkan ilmu tadi pada yang lain. Tentu saja ia mencari ilmu ini atas dasar ikhlas karena setiap ibadah yang didasari ikhlas, itulah yang mendapatkan balasan. Jika ilmu agama dicari hanya untuk meraih dunia, dapat kedudukan mulia, dapat gelar, dapat duit, maka tentu tidak mendapatkan balasan seperti disebut dalam hadits. Yang dimaksudkan akan dimudahkan jalan menuju surga adalah ia diberi taufik di dunia untuk beramal shalih sehingga dengan amalan itu masuk surga, atau ia dimudahkan jalan di akhirat untuk masuk surga. Demikian keterangan dari Al-Munawi dalam Faidhul Qadir. وَإِنَّ الْمَلاَئِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا رِضًا لِطَالِبِ الْعِلْمِ “Sesungguhnya malaikat meletakkan sayapnya sebagai tanda ridha pada penuntut ilmu.” * Maksudnya, para malaikat benar-benar menghormati para penuntut ilmu. Ketika itu juga malaikat mendengarkan ilmu. وَإِنَّ الْعَالِمَ لَيَسْتَغْفِرُ لَهُ مَنْ فِى السَّمَوَاتِ وَمَنْ فِى الأَرْضِ وَالْحِيتَانُ فِى جَوْفِ الْمَاءِ “Sesungguhnya orang yang berilmu dimintai ampun oleh setiap penduduk langit dan bumi, sampai pun ikan yang berada dalam air.” * Berarti dengan menuntut ilmu dan berada dalam majelis ilmu bisa menghapuskan dosa. وَإِنَّ فَضْلَ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ عَلَى سَائِرِ الْكَوَاكِبِ “Sesungguhnya keutamaan orang yang berilmu dibanding ahli ibadah adalah seperti perbandingan bulan di malam badar dari bintang-bintang lainnya.” * Orang yang berilmu bisa memberikan pengaruh ilmunya pada yang lain, pengaruhnya besar. Sedangkan ahli ibadah tidak bisa memberikan pengaruh pada yang lain seperti itu. Oleh karenanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam misalkan seperti cahaya bulan dan cahaya bintang untuk membandingkan ahli ilmu dan ahli ibadah. Seorang alim yang benar adalah ia menyibukkan diri dengan ilmu dan tidak melupakan amalan. Sedangkan seorang ahli ibadah adalah yang menyibukkan diri dengan ibadah tanpa mempedulikan dasar ilmu dari ibadah tersebut. وَإِنَّ الأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلاَ دِرْهَمًا وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ “Sesungguhnya ulama adalah pewaris para Nabi. Sesungguhnya Nabi tidaklah mewariskan dinar dan tidak pula dirham. Barangsiapa yang mewariskan ilmu, maka sungguh ia telah mendapatkan keberuntungan yang besar.” * Seorang hamba barulah dikatakan baik jika ia mengambil warisan ilmu dari Nabi. Bukan sekedar menjadi seorang teknokrat, psikiater, dokter, seorang master atau seorang professor. Karena warisan Nabi bukanlah dunia dan harta, bukan pula ilmu dunia. Warisan Nabi yang sebenarnya adalah pada ilmu agama. Karenanya jangan sampai meninggalkan ilmu agama karena sibuk dengan keduniaan atau sibuk mencari ilmu dunia. يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الْآَخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ “Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai.” (QS. Ar Ruum: 7) Karena seorang dokter dan teknokrat yang kenal agama, jauh berbeda dengan yang tidak kenal agama. هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” (QS. Az- Zumar: 9). Tentang ayat di atas, Syaikh ‘Abdurrahman As-Sa’di berkata, لاَ يَسْتَوِي هَؤُلاَءِ وَلاَ هَؤُلاَءِ، كَمَا لاَ يَسْتَوِي اللَّيْلُ وَالنَّهَار، وَالضِّيَاء والظِّلاَم، والماَء والنَّار “Tentu tidak sama antara mereka dan mereka (yang berilmu dan tidak berilmu). Sebagaimana tidak sama antara malam dan siang, tidak sama antara terang dan kegelapan, begitu pula tidak sama antara air dan api.” وَابْتَغِ فِيمَا آَتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآَخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi.” (QS. Al-Qashshash: 77). Ibnu Katsir berkata, “Gunakanlah yang telah Allah anugerahkan untukmu dari harta dan nikmat yang besar untuk taat pada Rabbmu dan membuat dirimu semakin dekat pada Allah dengan berbagai macam ketaatan. Dengan ini semua, engkau dapat menggapai pahala di kehidupan akhirat.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 6: 37). Para ulama membuktikan bahwa mereka punya semangat tinggi dalam meraih ilmu agama. Sampai waktunya habis untuk meraih hal itu. Al Khotib Al Baghdadi dalam kitab tarikhnya berkata, “Aku pernah mendengar ‘Ali bin ‘Ubaidillah bin ‘Abdul Ghoffar Al Lughowi (lebih terkenal dengan sebutan As Samsamani), ia menceritakan bahwa Muhammad bin Jarir Ath Thobari pernah menetap selama 40 tahun dan menulis setiap harinya 40 halaman. Dan telah sampai kisah kepadaku dari Abu Hamid Ahmad bin Abi Thohir Al Faqih Al Isfaroini, ia bekata, “Seandainya seseorang bersafar ke China lantas ia menemukan kitab tafsir karya Ibnu Jarir, maka ia akan temukan tidak begitu banyak (dari kenyataan, pen).” Atau beliau mengucapkan perkataan semakna dengan itu. Al Qodhi Abu ‘Abdillah Muhammad, ia berkata bahwa ‘Ali bin Ahmad Ash Shona’ Ubaidullah bin Ahmad As Samsar dan ayahku berkata bahwa Abu Ja’far Ath Thobari pernah berkata pada murid-muridnya, “Apakah kalian punya semangat untuk menulis tafsir Al Qur’an?” “Berapa lembar yang mau ditulis?”, tanya murid-muridnya. Jawab Ath Thobari, “Tiga puluh ribu (30.000) lembar.” Mereka malah menjawab, هَذَا مِمَّا تَفْنَى الاَعْمَار “Menulis seperti itu malah menghabiskan umur kami.” Akhirnya kitab tersebut selesai dan lebih diringkas yang akhirnya menjadi sekitar 3000 lembaran. Ath-Thabari berkata lagi pada murid-muridnya, “Apakah kalian punya semangat untuk menulis kitab tarikh (sejarah) alam semesta mulai dari Adam hinggga saat ini?” “Berapa lembar yang mau ditulis?”, tanya murid-muridnya. Ath Thobari menyebut sebagaimana kitab tafsir tadi, lalu mereka pun menjawab semisal itu. Lantas Ibnu Jarir Ath Thobari berkata, اِنَّا للهِ مَاتَتِ الهِمَم “Inna lillah … Semangat (ambisi) manusia saat ini telah mati.” (Tarikh Baghdad karya Al Khottib Al Baghdadi, 2: 163) Lihatlah bagaimana semangat ulama dalam meraih akhirat, raih ilmu yang Allah cinta, raih ilmu yang jadi warisan para Nabi. Bandingkan dengan semangat pemuda dan orang-orang saat ini. Wallahu waliyyut taufiq. — Disusun di TlogoMas, Malang, 25 Dzulhijjah 1436 H Naskah Khutbah Jumat di Masjid Qolbun Salim Malang, Jumat, 25 Dzulhijjah 1436 H Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsbelajar ilmu keutamaan ilmu
Kita tahu bagaimanakah keutamaan seseorang menuntut ilmu agama, sungguh begitu besar dan tidak ada tandingannya. Ada hadits shahih yang disebutkan dalam Sunan Abi Daud (no. 3641) dan haditsnya shahih, dari Katsir bin Qais, ia berkata, aku pernah duduk bersama Abu Darda’ di Masjid Damasqus, lalu datang seorang pria yang lantas berkata, “Wahai Abu Ad Darda’, aku sungguh mendatangi dari kota Rasul –shallallahu ‘alaihi wa sallam– (Madinah Nabawiyah) karena ada suatu hadits yang telah sampai padaku di mana engkau yang meriwayatkannya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Aku datang untuk maksud mendapatkan hadits tersebut. * Lihat hanya demi mendengar satu hadits, orang ini rela menempuh perjalanan dari Madinah menuju ke Damasqus di Syam. Ini bukan jarak yang dekat. Ini ditempuh dengan safar. Abu Darda’ lantas berkata, sesungguhnya aku pernah mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَطْلُبُ فِيهِ عِلْمًا سَلَكَ اللَّهُ بِهِ طَرِيقًا مِنْ طُرُقِ الْجَنَّةِ “Barangsiapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya di antara jalan menuju surga.” * Ini keutamaan pertama dari menuntut ilmu, bahwa dengan ilmu akan dimudahkan jalan menuju surga. Menempuh jalan untuk mencari ilmu ada dua makna, bisa jadi benar-benar ia ke majelis ilmu lewati jalan. Bisa jadi maknanya adalah hissi, yaitu ia lakukan cara apa pun untuk meraih ilmu, bisa dengan hadir, duduk, mendengar, menghafal, mencatat, sampai ia menguatkannya dengan banyak mengulang hingga menyebarkan ilmu tadi pada yang lain. Tentu saja ia mencari ilmu ini atas dasar ikhlas karena setiap ibadah yang didasari ikhlas, itulah yang mendapatkan balasan. Jika ilmu agama dicari hanya untuk meraih dunia, dapat kedudukan mulia, dapat gelar, dapat duit, maka tentu tidak mendapatkan balasan seperti disebut dalam hadits. Yang dimaksudkan akan dimudahkan jalan menuju surga adalah ia diberi taufik di dunia untuk beramal shalih sehingga dengan amalan itu masuk surga, atau ia dimudahkan jalan di akhirat untuk masuk surga. Demikian keterangan dari Al-Munawi dalam Faidhul Qadir. وَإِنَّ الْمَلاَئِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا رِضًا لِطَالِبِ الْعِلْمِ “Sesungguhnya malaikat meletakkan sayapnya sebagai tanda ridha pada penuntut ilmu.” * Maksudnya, para malaikat benar-benar menghormati para penuntut ilmu. Ketika itu juga malaikat mendengarkan ilmu. وَإِنَّ الْعَالِمَ لَيَسْتَغْفِرُ لَهُ مَنْ فِى السَّمَوَاتِ وَمَنْ فِى الأَرْضِ وَالْحِيتَانُ فِى جَوْفِ الْمَاءِ “Sesungguhnya orang yang berilmu dimintai ampun oleh setiap penduduk langit dan bumi, sampai pun ikan yang berada dalam air.” * Berarti dengan menuntut ilmu dan berada dalam majelis ilmu bisa menghapuskan dosa. وَإِنَّ فَضْلَ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ عَلَى سَائِرِ الْكَوَاكِبِ “Sesungguhnya keutamaan orang yang berilmu dibanding ahli ibadah adalah seperti perbandingan bulan di malam badar dari bintang-bintang lainnya.” * Orang yang berilmu bisa memberikan pengaruh ilmunya pada yang lain, pengaruhnya besar. Sedangkan ahli ibadah tidak bisa memberikan pengaruh pada yang lain seperti itu. Oleh karenanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam misalkan seperti cahaya bulan dan cahaya bintang untuk membandingkan ahli ilmu dan ahli ibadah. Seorang alim yang benar adalah ia menyibukkan diri dengan ilmu dan tidak melupakan amalan. Sedangkan seorang ahli ibadah adalah yang menyibukkan diri dengan ibadah tanpa mempedulikan dasar ilmu dari ibadah tersebut. وَإِنَّ الأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلاَ دِرْهَمًا وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ “Sesungguhnya ulama adalah pewaris para Nabi. Sesungguhnya Nabi tidaklah mewariskan dinar dan tidak pula dirham. Barangsiapa yang mewariskan ilmu, maka sungguh ia telah mendapatkan keberuntungan yang besar.” * Seorang hamba barulah dikatakan baik jika ia mengambil warisan ilmu dari Nabi. Bukan sekedar menjadi seorang teknokrat, psikiater, dokter, seorang master atau seorang professor. Karena warisan Nabi bukanlah dunia dan harta, bukan pula ilmu dunia. Warisan Nabi yang sebenarnya adalah pada ilmu agama. Karenanya jangan sampai meninggalkan ilmu agama karena sibuk dengan keduniaan atau sibuk mencari ilmu dunia. يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الْآَخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ “Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai.” (QS. Ar Ruum: 7) Karena seorang dokter dan teknokrat yang kenal agama, jauh berbeda dengan yang tidak kenal agama. هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” (QS. Az- Zumar: 9). Tentang ayat di atas, Syaikh ‘Abdurrahman As-Sa’di berkata, لاَ يَسْتَوِي هَؤُلاَءِ وَلاَ هَؤُلاَءِ، كَمَا لاَ يَسْتَوِي اللَّيْلُ وَالنَّهَار، وَالضِّيَاء والظِّلاَم، والماَء والنَّار “Tentu tidak sama antara mereka dan mereka (yang berilmu dan tidak berilmu). Sebagaimana tidak sama antara malam dan siang, tidak sama antara terang dan kegelapan, begitu pula tidak sama antara air dan api.” وَابْتَغِ فِيمَا آَتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآَخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi.” (QS. Al-Qashshash: 77). Ibnu Katsir berkata, “Gunakanlah yang telah Allah anugerahkan untukmu dari harta dan nikmat yang besar untuk taat pada Rabbmu dan membuat dirimu semakin dekat pada Allah dengan berbagai macam ketaatan. Dengan ini semua, engkau dapat menggapai pahala di kehidupan akhirat.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 6: 37). Para ulama membuktikan bahwa mereka punya semangat tinggi dalam meraih ilmu agama. Sampai waktunya habis untuk meraih hal itu. Al Khotib Al Baghdadi dalam kitab tarikhnya berkata, “Aku pernah mendengar ‘Ali bin ‘Ubaidillah bin ‘Abdul Ghoffar Al Lughowi (lebih terkenal dengan sebutan As Samsamani), ia menceritakan bahwa Muhammad bin Jarir Ath Thobari pernah menetap selama 40 tahun dan menulis setiap harinya 40 halaman. Dan telah sampai kisah kepadaku dari Abu Hamid Ahmad bin Abi Thohir Al Faqih Al Isfaroini, ia bekata, “Seandainya seseorang bersafar ke China lantas ia menemukan kitab tafsir karya Ibnu Jarir, maka ia akan temukan tidak begitu banyak (dari kenyataan, pen).” Atau beliau mengucapkan perkataan semakna dengan itu. Al Qodhi Abu ‘Abdillah Muhammad, ia berkata bahwa ‘Ali bin Ahmad Ash Shona’ Ubaidullah bin Ahmad As Samsar dan ayahku berkata bahwa Abu Ja’far Ath Thobari pernah berkata pada murid-muridnya, “Apakah kalian punya semangat untuk menulis tafsir Al Qur’an?” “Berapa lembar yang mau ditulis?”, tanya murid-muridnya. Jawab Ath Thobari, “Tiga puluh ribu (30.000) lembar.” Mereka malah menjawab, هَذَا مِمَّا تَفْنَى الاَعْمَار “Menulis seperti itu malah menghabiskan umur kami.” Akhirnya kitab tersebut selesai dan lebih diringkas yang akhirnya menjadi sekitar 3000 lembaran. Ath-Thabari berkata lagi pada murid-muridnya, “Apakah kalian punya semangat untuk menulis kitab tarikh (sejarah) alam semesta mulai dari Adam hinggga saat ini?” “Berapa lembar yang mau ditulis?”, tanya murid-muridnya. Ath Thobari menyebut sebagaimana kitab tafsir tadi, lalu mereka pun menjawab semisal itu. Lantas Ibnu Jarir Ath Thobari berkata, اِنَّا للهِ مَاتَتِ الهِمَم “Inna lillah … Semangat (ambisi) manusia saat ini telah mati.” (Tarikh Baghdad karya Al Khottib Al Baghdadi, 2: 163) Lihatlah bagaimana semangat ulama dalam meraih akhirat, raih ilmu yang Allah cinta, raih ilmu yang jadi warisan para Nabi. Bandingkan dengan semangat pemuda dan orang-orang saat ini. Wallahu waliyyut taufiq. — Disusun di TlogoMas, Malang, 25 Dzulhijjah 1436 H Naskah Khutbah Jumat di Masjid Qolbun Salim Malang, Jumat, 25 Dzulhijjah 1436 H Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsbelajar ilmu keutamaan ilmu


Kita tahu bagaimanakah keutamaan seseorang menuntut ilmu agama, sungguh begitu besar dan tidak ada tandingannya. Ada hadits shahih yang disebutkan dalam Sunan Abi Daud (no. 3641) dan haditsnya shahih, dari Katsir bin Qais, ia berkata, aku pernah duduk bersama Abu Darda’ di Masjid Damasqus, lalu datang seorang pria yang lantas berkata, “Wahai Abu Ad Darda’, aku sungguh mendatangi dari kota Rasul –shallallahu ‘alaihi wa sallam– (Madinah Nabawiyah) karena ada suatu hadits yang telah sampai padaku di mana engkau yang meriwayatkannya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Aku datang untuk maksud mendapatkan hadits tersebut. * Lihat hanya demi mendengar satu hadits, orang ini rela menempuh perjalanan dari Madinah menuju ke Damasqus di Syam. Ini bukan jarak yang dekat. Ini ditempuh dengan safar. Abu Darda’ lantas berkata, sesungguhnya aku pernah mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَطْلُبُ فِيهِ عِلْمًا سَلَكَ اللَّهُ بِهِ طَرِيقًا مِنْ طُرُقِ الْجَنَّةِ “Barangsiapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya di antara jalan menuju surga.” * Ini keutamaan pertama dari menuntut ilmu, bahwa dengan ilmu akan dimudahkan jalan menuju surga. Menempuh jalan untuk mencari ilmu ada dua makna, bisa jadi benar-benar ia ke majelis ilmu lewati jalan. Bisa jadi maknanya adalah hissi, yaitu ia lakukan cara apa pun untuk meraih ilmu, bisa dengan hadir, duduk, mendengar, menghafal, mencatat, sampai ia menguatkannya dengan banyak mengulang hingga menyebarkan ilmu tadi pada yang lain. Tentu saja ia mencari ilmu ini atas dasar ikhlas karena setiap ibadah yang didasari ikhlas, itulah yang mendapatkan balasan. Jika ilmu agama dicari hanya untuk meraih dunia, dapat kedudukan mulia, dapat gelar, dapat duit, maka tentu tidak mendapatkan balasan seperti disebut dalam hadits. Yang dimaksudkan akan dimudahkan jalan menuju surga adalah ia diberi taufik di dunia untuk beramal shalih sehingga dengan amalan itu masuk surga, atau ia dimudahkan jalan di akhirat untuk masuk surga. Demikian keterangan dari Al-Munawi dalam Faidhul Qadir. وَإِنَّ الْمَلاَئِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا رِضًا لِطَالِبِ الْعِلْمِ “Sesungguhnya malaikat meletakkan sayapnya sebagai tanda ridha pada penuntut ilmu.” * Maksudnya, para malaikat benar-benar menghormati para penuntut ilmu. Ketika itu juga malaikat mendengarkan ilmu. وَإِنَّ الْعَالِمَ لَيَسْتَغْفِرُ لَهُ مَنْ فِى السَّمَوَاتِ وَمَنْ فِى الأَرْضِ وَالْحِيتَانُ فِى جَوْفِ الْمَاءِ “Sesungguhnya orang yang berilmu dimintai ampun oleh setiap penduduk langit dan bumi, sampai pun ikan yang berada dalam air.” * Berarti dengan menuntut ilmu dan berada dalam majelis ilmu bisa menghapuskan dosa. وَإِنَّ فَضْلَ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ عَلَى سَائِرِ الْكَوَاكِبِ “Sesungguhnya keutamaan orang yang berilmu dibanding ahli ibadah adalah seperti perbandingan bulan di malam badar dari bintang-bintang lainnya.” * Orang yang berilmu bisa memberikan pengaruh ilmunya pada yang lain, pengaruhnya besar. Sedangkan ahli ibadah tidak bisa memberikan pengaruh pada yang lain seperti itu. Oleh karenanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam misalkan seperti cahaya bulan dan cahaya bintang untuk membandingkan ahli ilmu dan ahli ibadah. Seorang alim yang benar adalah ia menyibukkan diri dengan ilmu dan tidak melupakan amalan. Sedangkan seorang ahli ibadah adalah yang menyibukkan diri dengan ibadah tanpa mempedulikan dasar ilmu dari ibadah tersebut. وَإِنَّ الأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلاَ دِرْهَمًا وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ “Sesungguhnya ulama adalah pewaris para Nabi. Sesungguhnya Nabi tidaklah mewariskan dinar dan tidak pula dirham. Barangsiapa yang mewariskan ilmu, maka sungguh ia telah mendapatkan keberuntungan yang besar.” * Seorang hamba barulah dikatakan baik jika ia mengambil warisan ilmu dari Nabi. Bukan sekedar menjadi seorang teknokrat, psikiater, dokter, seorang master atau seorang professor. Karena warisan Nabi bukanlah dunia dan harta, bukan pula ilmu dunia. Warisan Nabi yang sebenarnya adalah pada ilmu agama. Karenanya jangan sampai meninggalkan ilmu agama karena sibuk dengan keduniaan atau sibuk mencari ilmu dunia. يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الْآَخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ “Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai.” (QS. Ar Ruum: 7) Karena seorang dokter dan teknokrat yang kenal agama, jauh berbeda dengan yang tidak kenal agama. هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” (QS. Az- Zumar: 9). Tentang ayat di atas, Syaikh ‘Abdurrahman As-Sa’di berkata, لاَ يَسْتَوِي هَؤُلاَءِ وَلاَ هَؤُلاَءِ، كَمَا لاَ يَسْتَوِي اللَّيْلُ وَالنَّهَار، وَالضِّيَاء والظِّلاَم، والماَء والنَّار “Tentu tidak sama antara mereka dan mereka (yang berilmu dan tidak berilmu). Sebagaimana tidak sama antara malam dan siang, tidak sama antara terang dan kegelapan, begitu pula tidak sama antara air dan api.” وَابْتَغِ فِيمَا آَتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآَخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi.” (QS. Al-Qashshash: 77). Ibnu Katsir berkata, “Gunakanlah yang telah Allah anugerahkan untukmu dari harta dan nikmat yang besar untuk taat pada Rabbmu dan membuat dirimu semakin dekat pada Allah dengan berbagai macam ketaatan. Dengan ini semua, engkau dapat menggapai pahala di kehidupan akhirat.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 6: 37). Para ulama membuktikan bahwa mereka punya semangat tinggi dalam meraih ilmu agama. Sampai waktunya habis untuk meraih hal itu. Al Khotib Al Baghdadi dalam kitab tarikhnya berkata, “Aku pernah mendengar ‘Ali bin ‘Ubaidillah bin ‘Abdul Ghoffar Al Lughowi (lebih terkenal dengan sebutan As Samsamani), ia menceritakan bahwa Muhammad bin Jarir Ath Thobari pernah menetap selama 40 tahun dan menulis setiap harinya 40 halaman. Dan telah sampai kisah kepadaku dari Abu Hamid Ahmad bin Abi Thohir Al Faqih Al Isfaroini, ia bekata, “Seandainya seseorang bersafar ke China lantas ia menemukan kitab tafsir karya Ibnu Jarir, maka ia akan temukan tidak begitu banyak (dari kenyataan, pen).” Atau beliau mengucapkan perkataan semakna dengan itu. Al Qodhi Abu ‘Abdillah Muhammad, ia berkata bahwa ‘Ali bin Ahmad Ash Shona’ Ubaidullah bin Ahmad As Samsar dan ayahku berkata bahwa Abu Ja’far Ath Thobari pernah berkata pada murid-muridnya, “Apakah kalian punya semangat untuk menulis tafsir Al Qur’an?” “Berapa lembar yang mau ditulis?”, tanya murid-muridnya. Jawab Ath Thobari, “Tiga puluh ribu (30.000) lembar.” Mereka malah menjawab, هَذَا مِمَّا تَفْنَى الاَعْمَار “Menulis seperti itu malah menghabiskan umur kami.” Akhirnya kitab tersebut selesai dan lebih diringkas yang akhirnya menjadi sekitar 3000 lembaran. Ath-Thabari berkata lagi pada murid-muridnya, “Apakah kalian punya semangat untuk menulis kitab tarikh (sejarah) alam semesta mulai dari Adam hinggga saat ini?” “Berapa lembar yang mau ditulis?”, tanya murid-muridnya. Ath Thobari menyebut sebagaimana kitab tafsir tadi, lalu mereka pun menjawab semisal itu. Lantas Ibnu Jarir Ath Thobari berkata, اِنَّا للهِ مَاتَتِ الهِمَم “Inna lillah … Semangat (ambisi) manusia saat ini telah mati.” (Tarikh Baghdad karya Al Khottib Al Baghdadi, 2: 163) Lihatlah bagaimana semangat ulama dalam meraih akhirat, raih ilmu yang Allah cinta, raih ilmu yang jadi warisan para Nabi. Bandingkan dengan semangat pemuda dan orang-orang saat ini. Wallahu waliyyut taufiq. — Disusun di TlogoMas, Malang, 25 Dzulhijjah 1436 H Naskah Khutbah Jumat di Masjid Qolbun Salim Malang, Jumat, 25 Dzulhijjah 1436 H Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsbelajar ilmu keutamaan ilmu

Ilmuwan yang Menjadi Ulama (7)

Ulama lainnya lagi yang memiliki basic ilmu dunia dan beralih menjadi ulama besar masa kini adalah Muhammad Sa’id Ahmad Ruslan, dengan nama kunyah Abu ‘Abdillah. Beliau lahir di negeri Sabak di Mesir, 23-11-1955. Beliau adalah di antara ulama yang dulunya menyelesaikan kuliah umum dalam ilmu bedah dari Universitas Al-Azhar. Di samping itu, beliau menyelesaikan kuliah bahasa Arab di jurusan Pendidikan Islam. Sedangkan jenjang master, beliau mengambil ilm hadits. Alhamdulillah lulus dengan predikat suma-cumlaude dengan judul thesis “Dhawabith Riwayat ‘inda Al-Muhadditsin”. Yang sama pula, beliau mengambil pendidikan Doktor dalam ilmu hadits dengan hasil suma-cumlaude dengan judul disertasi “Ar-Rawah Al-Mubadda’un min Rijal Al-Kutub As-Sittah”. Syaikh Muhammad Ruslan juga memiliki ijazah sanad dari 40 hadits yang dinamakan dengan ‘Al-Arba’in Al-Buldaniyyah”. Beliau sangat terpengaruh sekali dengan metode ilmiyyah Ibnu Taimiyah dan Ibnul Qayyim. Beliau biasa menyampaikan Khutbah Jumat dan pengajian di Masjid Asy-Syarqi di kota Sabak Al-Uhud. Di berbagai negeri pun, beliau biasa menyampaikan pengajian umum. Di antara karya ilmiah beliau adalah Fadhlul ‘Ilmi wa Adab Thalabatih, Hawla Hayat Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Dzammul Jahli wa Bayan Qabih Atsarihi, Qira’ah wa Ta’liq wa Takhrij li Risalah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah “Al-‘Ubudiyah”, , Qira’ah wa Ta’liq wa Takhrij li Risalah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah “Al-Amru bil Ma’ruf wa An-Nahyu ‘an Al-Munkar”, ‘Adawah Asy-Syaithon, Husnul Khuluq, Sya’nul Kalimah fi Al-Islam, Fadhl Al-‘Arabiyyah, Afaatul ‘Ilmi, Dhawabith At-Tabdi’, Silsilah: Waqafat ma’a Sayid Qutub, Hubbul Wathan Islami minal Iman, dan masih banyak karya lainnya. Pelajaran penting yang bisa kita petik dari Syaikh Ruslan, kecerdasan baiknya tidak dimanfaatkan untuk menguasai ilmu dunia saja. Kecerdasan juga sangat diperlukan untuk mencetak ulama-ulama besar. Kami yakin para ilmuwan akan semakin termotivasi mempelajari agama dengan mengetahui kisah ulama semacam ini. Semoga. Wallahu waliyyut taufiq.   Referensi: http://www.rslan.com/targma.php — Diselesaikan di Blimbing, Girisekar, 25 Dzulhijjah 1436 H saat safar ke Malang Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsilmuwan

Ilmuwan yang Menjadi Ulama (7)

Ulama lainnya lagi yang memiliki basic ilmu dunia dan beralih menjadi ulama besar masa kini adalah Muhammad Sa’id Ahmad Ruslan, dengan nama kunyah Abu ‘Abdillah. Beliau lahir di negeri Sabak di Mesir, 23-11-1955. Beliau adalah di antara ulama yang dulunya menyelesaikan kuliah umum dalam ilmu bedah dari Universitas Al-Azhar. Di samping itu, beliau menyelesaikan kuliah bahasa Arab di jurusan Pendidikan Islam. Sedangkan jenjang master, beliau mengambil ilm hadits. Alhamdulillah lulus dengan predikat suma-cumlaude dengan judul thesis “Dhawabith Riwayat ‘inda Al-Muhadditsin”. Yang sama pula, beliau mengambil pendidikan Doktor dalam ilmu hadits dengan hasil suma-cumlaude dengan judul disertasi “Ar-Rawah Al-Mubadda’un min Rijal Al-Kutub As-Sittah”. Syaikh Muhammad Ruslan juga memiliki ijazah sanad dari 40 hadits yang dinamakan dengan ‘Al-Arba’in Al-Buldaniyyah”. Beliau sangat terpengaruh sekali dengan metode ilmiyyah Ibnu Taimiyah dan Ibnul Qayyim. Beliau biasa menyampaikan Khutbah Jumat dan pengajian di Masjid Asy-Syarqi di kota Sabak Al-Uhud. Di berbagai negeri pun, beliau biasa menyampaikan pengajian umum. Di antara karya ilmiah beliau adalah Fadhlul ‘Ilmi wa Adab Thalabatih, Hawla Hayat Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Dzammul Jahli wa Bayan Qabih Atsarihi, Qira’ah wa Ta’liq wa Takhrij li Risalah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah “Al-‘Ubudiyah”, , Qira’ah wa Ta’liq wa Takhrij li Risalah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah “Al-Amru bil Ma’ruf wa An-Nahyu ‘an Al-Munkar”, ‘Adawah Asy-Syaithon, Husnul Khuluq, Sya’nul Kalimah fi Al-Islam, Fadhl Al-‘Arabiyyah, Afaatul ‘Ilmi, Dhawabith At-Tabdi’, Silsilah: Waqafat ma’a Sayid Qutub, Hubbul Wathan Islami minal Iman, dan masih banyak karya lainnya. Pelajaran penting yang bisa kita petik dari Syaikh Ruslan, kecerdasan baiknya tidak dimanfaatkan untuk menguasai ilmu dunia saja. Kecerdasan juga sangat diperlukan untuk mencetak ulama-ulama besar. Kami yakin para ilmuwan akan semakin termotivasi mempelajari agama dengan mengetahui kisah ulama semacam ini. Semoga. Wallahu waliyyut taufiq.   Referensi: http://www.rslan.com/targma.php — Diselesaikan di Blimbing, Girisekar, 25 Dzulhijjah 1436 H saat safar ke Malang Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsilmuwan
Ulama lainnya lagi yang memiliki basic ilmu dunia dan beralih menjadi ulama besar masa kini adalah Muhammad Sa’id Ahmad Ruslan, dengan nama kunyah Abu ‘Abdillah. Beliau lahir di negeri Sabak di Mesir, 23-11-1955. Beliau adalah di antara ulama yang dulunya menyelesaikan kuliah umum dalam ilmu bedah dari Universitas Al-Azhar. Di samping itu, beliau menyelesaikan kuliah bahasa Arab di jurusan Pendidikan Islam. Sedangkan jenjang master, beliau mengambil ilm hadits. Alhamdulillah lulus dengan predikat suma-cumlaude dengan judul thesis “Dhawabith Riwayat ‘inda Al-Muhadditsin”. Yang sama pula, beliau mengambil pendidikan Doktor dalam ilmu hadits dengan hasil suma-cumlaude dengan judul disertasi “Ar-Rawah Al-Mubadda’un min Rijal Al-Kutub As-Sittah”. Syaikh Muhammad Ruslan juga memiliki ijazah sanad dari 40 hadits yang dinamakan dengan ‘Al-Arba’in Al-Buldaniyyah”. Beliau sangat terpengaruh sekali dengan metode ilmiyyah Ibnu Taimiyah dan Ibnul Qayyim. Beliau biasa menyampaikan Khutbah Jumat dan pengajian di Masjid Asy-Syarqi di kota Sabak Al-Uhud. Di berbagai negeri pun, beliau biasa menyampaikan pengajian umum. Di antara karya ilmiah beliau adalah Fadhlul ‘Ilmi wa Adab Thalabatih, Hawla Hayat Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Dzammul Jahli wa Bayan Qabih Atsarihi, Qira’ah wa Ta’liq wa Takhrij li Risalah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah “Al-‘Ubudiyah”, , Qira’ah wa Ta’liq wa Takhrij li Risalah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah “Al-Amru bil Ma’ruf wa An-Nahyu ‘an Al-Munkar”, ‘Adawah Asy-Syaithon, Husnul Khuluq, Sya’nul Kalimah fi Al-Islam, Fadhl Al-‘Arabiyyah, Afaatul ‘Ilmi, Dhawabith At-Tabdi’, Silsilah: Waqafat ma’a Sayid Qutub, Hubbul Wathan Islami minal Iman, dan masih banyak karya lainnya. Pelajaran penting yang bisa kita petik dari Syaikh Ruslan, kecerdasan baiknya tidak dimanfaatkan untuk menguasai ilmu dunia saja. Kecerdasan juga sangat diperlukan untuk mencetak ulama-ulama besar. Kami yakin para ilmuwan akan semakin termotivasi mempelajari agama dengan mengetahui kisah ulama semacam ini. Semoga. Wallahu waliyyut taufiq.   Referensi: http://www.rslan.com/targma.php — Diselesaikan di Blimbing, Girisekar, 25 Dzulhijjah 1436 H saat safar ke Malang Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsilmuwan


Ulama lainnya lagi yang memiliki basic ilmu dunia dan beralih menjadi ulama besar masa kini adalah Muhammad Sa’id Ahmad Ruslan, dengan nama kunyah Abu ‘Abdillah. Beliau lahir di negeri Sabak di Mesir, 23-11-1955. Beliau adalah di antara ulama yang dulunya menyelesaikan kuliah umum dalam ilmu bedah dari Universitas Al-Azhar. Di samping itu, beliau menyelesaikan kuliah bahasa Arab di jurusan Pendidikan Islam. Sedangkan jenjang master, beliau mengambil ilm hadits. Alhamdulillah lulus dengan predikat suma-cumlaude dengan judul thesis “Dhawabith Riwayat ‘inda Al-Muhadditsin”. Yang sama pula, beliau mengambil pendidikan Doktor dalam ilmu hadits dengan hasil suma-cumlaude dengan judul disertasi “Ar-Rawah Al-Mubadda’un min Rijal Al-Kutub As-Sittah”. Syaikh Muhammad Ruslan juga memiliki ijazah sanad dari 40 hadits yang dinamakan dengan ‘Al-Arba’in Al-Buldaniyyah”. Beliau sangat terpengaruh sekali dengan metode ilmiyyah Ibnu Taimiyah dan Ibnul Qayyim. Beliau biasa menyampaikan Khutbah Jumat dan pengajian di Masjid Asy-Syarqi di kota Sabak Al-Uhud. Di berbagai negeri pun, beliau biasa menyampaikan pengajian umum. Di antara karya ilmiah beliau adalah Fadhlul ‘Ilmi wa Adab Thalabatih, Hawla Hayat Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Dzammul Jahli wa Bayan Qabih Atsarihi, Qira’ah wa Ta’liq wa Takhrij li Risalah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah “Al-‘Ubudiyah”, , Qira’ah wa Ta’liq wa Takhrij li Risalah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah “Al-Amru bil Ma’ruf wa An-Nahyu ‘an Al-Munkar”, ‘Adawah Asy-Syaithon, Husnul Khuluq, Sya’nul Kalimah fi Al-Islam, Fadhl Al-‘Arabiyyah, Afaatul ‘Ilmi, Dhawabith At-Tabdi’, Silsilah: Waqafat ma’a Sayid Qutub, Hubbul Wathan Islami minal Iman, dan masih banyak karya lainnya. Pelajaran penting yang bisa kita petik dari Syaikh Ruslan, kecerdasan baiknya tidak dimanfaatkan untuk menguasai ilmu dunia saja. Kecerdasan juga sangat diperlukan untuk mencetak ulama-ulama besar. Kami yakin para ilmuwan akan semakin termotivasi mempelajari agama dengan mengetahui kisah ulama semacam ini. Semoga. Wallahu waliyyut taufiq.   Referensi: http://www.rslan.com/targma.php — Diselesaikan di Blimbing, Girisekar, 25 Dzulhijjah 1436 H saat safar ke Malang Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsilmuwan
Prev     Next