Meraih Ilmu Lewat Buku dan Belajar dari Ulama

Cara meraih ilmu bisa dengan dua cara, yaitu lewat belajar dari buku atau dari ulama secara langsung. Bagaimana cara meraih ilmu? Cara meraih ilmu ada dua cara:   1- Mempelajari dari buku terpercaya Yaitu yang ditulis oleh ulama yang telah dikenal ilmu, amanat, selamat akidahnya dan selamat dari bid’ah dan khurafat. Namun mengambil ilmu otodidak akan menimbulkan dua problema: Butuh waktu yang lama. Ilmunya lemah dan bisa ditemukan banyak salahnya karena ia tidak memiliki dasar dan kaedah yang kuat.   2- Belajar dari ulama atau seorang ustadz yang pakar secara langsung Cara kedua ini membuat ilmu menancap dengan cepat. Kalau cara pertama dengan belajar otodidak dari buku, bisa jadi membuat penuntut ilmu salah jalan. Entah itu karena pemahaman yang jelek, kedangkalan ilmunya, atau sebab lainnya. Sedangkan cara kedua, bisa terjadi diskusi antara guru dan murid. Di situ akan terbuka pemahaman ilmu yang baik serta bisa diraih kesimpulan manakah pendapat terkuat serta pendapat yang lemah. Jika dua cara di atas digabungkan, maka itu lebih sempurna dan lebih baik. Namun tentu saja mempelajari ilmu tersebut tahap demi tahap. Yang penjelasan ini akan diulas pada bahasan lainnya. Demikian ringkasan dari penjelasan Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin dari Kitab Al-‘Ilmi, hlm. 68-69. Wallahu waliyyut taufiq.   Referensi: Kitab Al-‘Ilmi. Cetakan pertama, tahun 1423 H. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Penerbit Dar Tsaraya. — Selesai disusun pagi hari, 14 Muharram 1437 H (27/10/2015) di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsbelajar

Meraih Ilmu Lewat Buku dan Belajar dari Ulama

Cara meraih ilmu bisa dengan dua cara, yaitu lewat belajar dari buku atau dari ulama secara langsung. Bagaimana cara meraih ilmu? Cara meraih ilmu ada dua cara:   1- Mempelajari dari buku terpercaya Yaitu yang ditulis oleh ulama yang telah dikenal ilmu, amanat, selamat akidahnya dan selamat dari bid’ah dan khurafat. Namun mengambil ilmu otodidak akan menimbulkan dua problema: Butuh waktu yang lama. Ilmunya lemah dan bisa ditemukan banyak salahnya karena ia tidak memiliki dasar dan kaedah yang kuat.   2- Belajar dari ulama atau seorang ustadz yang pakar secara langsung Cara kedua ini membuat ilmu menancap dengan cepat. Kalau cara pertama dengan belajar otodidak dari buku, bisa jadi membuat penuntut ilmu salah jalan. Entah itu karena pemahaman yang jelek, kedangkalan ilmunya, atau sebab lainnya. Sedangkan cara kedua, bisa terjadi diskusi antara guru dan murid. Di situ akan terbuka pemahaman ilmu yang baik serta bisa diraih kesimpulan manakah pendapat terkuat serta pendapat yang lemah. Jika dua cara di atas digabungkan, maka itu lebih sempurna dan lebih baik. Namun tentu saja mempelajari ilmu tersebut tahap demi tahap. Yang penjelasan ini akan diulas pada bahasan lainnya. Demikian ringkasan dari penjelasan Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin dari Kitab Al-‘Ilmi, hlm. 68-69. Wallahu waliyyut taufiq.   Referensi: Kitab Al-‘Ilmi. Cetakan pertama, tahun 1423 H. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Penerbit Dar Tsaraya. — Selesai disusun pagi hari, 14 Muharram 1437 H (27/10/2015) di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsbelajar
Cara meraih ilmu bisa dengan dua cara, yaitu lewat belajar dari buku atau dari ulama secara langsung. Bagaimana cara meraih ilmu? Cara meraih ilmu ada dua cara:   1- Mempelajari dari buku terpercaya Yaitu yang ditulis oleh ulama yang telah dikenal ilmu, amanat, selamat akidahnya dan selamat dari bid’ah dan khurafat. Namun mengambil ilmu otodidak akan menimbulkan dua problema: Butuh waktu yang lama. Ilmunya lemah dan bisa ditemukan banyak salahnya karena ia tidak memiliki dasar dan kaedah yang kuat.   2- Belajar dari ulama atau seorang ustadz yang pakar secara langsung Cara kedua ini membuat ilmu menancap dengan cepat. Kalau cara pertama dengan belajar otodidak dari buku, bisa jadi membuat penuntut ilmu salah jalan. Entah itu karena pemahaman yang jelek, kedangkalan ilmunya, atau sebab lainnya. Sedangkan cara kedua, bisa terjadi diskusi antara guru dan murid. Di situ akan terbuka pemahaman ilmu yang baik serta bisa diraih kesimpulan manakah pendapat terkuat serta pendapat yang lemah. Jika dua cara di atas digabungkan, maka itu lebih sempurna dan lebih baik. Namun tentu saja mempelajari ilmu tersebut tahap demi tahap. Yang penjelasan ini akan diulas pada bahasan lainnya. Demikian ringkasan dari penjelasan Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin dari Kitab Al-‘Ilmi, hlm. 68-69. Wallahu waliyyut taufiq.   Referensi: Kitab Al-‘Ilmi. Cetakan pertama, tahun 1423 H. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Penerbit Dar Tsaraya. — Selesai disusun pagi hari, 14 Muharram 1437 H (27/10/2015) di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsbelajar


Cara meraih ilmu bisa dengan dua cara, yaitu lewat belajar dari buku atau dari ulama secara langsung. Bagaimana cara meraih ilmu? Cara meraih ilmu ada dua cara:   1- Mempelajari dari buku terpercaya Yaitu yang ditulis oleh ulama yang telah dikenal ilmu, amanat, selamat akidahnya dan selamat dari bid’ah dan khurafat. Namun mengambil ilmu otodidak akan menimbulkan dua problema: Butuh waktu yang lama. Ilmunya lemah dan bisa ditemukan banyak salahnya karena ia tidak memiliki dasar dan kaedah yang kuat.   2- Belajar dari ulama atau seorang ustadz yang pakar secara langsung Cara kedua ini membuat ilmu menancap dengan cepat. Kalau cara pertama dengan belajar otodidak dari buku, bisa jadi membuat penuntut ilmu salah jalan. Entah itu karena pemahaman yang jelek, kedangkalan ilmunya, atau sebab lainnya. Sedangkan cara kedua, bisa terjadi diskusi antara guru dan murid. Di situ akan terbuka pemahaman ilmu yang baik serta bisa diraih kesimpulan manakah pendapat terkuat serta pendapat yang lemah. Jika dua cara di atas digabungkan, maka itu lebih sempurna dan lebih baik. Namun tentu saja mempelajari ilmu tersebut tahap demi tahap. Yang penjelasan ini akan diulas pada bahasan lainnya. Demikian ringkasan dari penjelasan Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin dari Kitab Al-‘Ilmi, hlm. 68-69. Wallahu waliyyut taufiq.   Referensi: Kitab Al-‘Ilmi. Cetakan pertama, tahun 1423 H. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Penerbit Dar Tsaraya. — Selesai disusun pagi hari, 14 Muharram 1437 H (27/10/2015) di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsbelajar

Kembali pada Al Quran dan Hadits, Bukan Berarti Melupakan Ulama

Ingat, ketika kita mengajak kembali pada Al-Qur’an dan Al-Hadits, bukan berarti kita meninggalkan perkataan para ulama atau meninggalkan pendapat madzhab. Bahkan boleh kita mengikuti pendapat ulama selama tidak keluar dari ajaran Al-Qur’an dan As-Sunnah. Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Siapa yang mencintai para ulama, boleh baginya mengikuti pendapatnya selama pendapat tersebut sesuai dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Seperti itu disebut muhsin (orang yang baik). Bahkan keadaan ini lebih baik daripada yang lainnya.” (Majmu’ah Al-Fatawa, 22: 249)   Rambu Ketika Bermadzhab Bermadzhab itu boleh asalkan kita mau mengikuti rambu-rambut berikut ini. Rambu pertama: Harus diyakini bahwa bermadzhab bukan dijadikan standar kawan dan musuh yang akhirnya memecah belah persatuan kaum muslimin. Yang tepat, yang jadi prinsip Ahlus Sunnah wal Jama’ah, yang dijadikan standar kawan adalah jika mengikuti Al Qur’an dan petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta ijma’ (konsensus) para ulama kaum muslimin. Menyelisihi ketiga hal tadi, berarti dijadikan standar untuk bara’ atau berlepas diri. Rambu kedua: Tidak boleh seseorang meyakini bahwa setiap muslim wajib mengikuti imam tertentu, tidak boleh mengikuti imam lainnya. Mengikuti satu imam inilah sebagai standar kebenaran, tidak pada lainnya. Ibnu Taimiyah berkata, “Yang bisa kita katakan pada orang awam, hendaklah ia taklid (ikut saja pendapat) dari satu orang, tanpa kita tentukan harus ikut Zaid atau ‘Amr. Sedangkan jika kita katakana, “Wajib bagi orang awam untuk taklid pada si A atau si B (dengan menunjuk orang tertentu, lalu dilarang ikuti yang lain), seperti itu bukanlah prinsip orang muslim yang sebenarnya.” (Majmu’ah Al-Fatawa, 22: 249) Rambu ketiga: Imam yang diikuti madzhabnya tersebut harus diyakini bahwa ia hanya diaati karena ia menyampaikan maksud dari agama dan syari’at Allah. Sedangkan yang mutlak ditaati adalah Allah dan Rasul-Nya. Rambut keempat: Menjaga diri agar tidak terjatuh pada hal-hal yang terlarang sebagaimana yang dialami para pengikut madzhab di antaranya: Fanatik buta dan ingin berpecah belah. Berpaling dari Al Qur’an dan As-Sunnah karena yang diagungkan adalah perkataan imam madzhab. Membela madzhab secara overdosis bahkan sampai menggunakan hadits-hadits dhaif agar orang lain mengikuti madzhabnya. Mendudukkan imam madzhab sebagai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. (Ma’alim Ushul Al-Fiqh, hlm. 496-497) Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, أَمَّا وُجُوبُ اتِّبَاعِ الْقَائِلِ فِي كُلِّ مَا يَقُولُهُ مِنْ غَيْرِ ذِكْرِ دَلِيلٍ يَدُلُّ عَلَى صِحَّةِ مَا يَقُولُ فَلَيْسَ بِصَحِيحِ ؛ بَلْ هَذِهِ الْمَرْتَبَةُ هِيَ ” مَرْتَبَةُ الرَّسُولِ ” الَّتِي لَا تَصْلُحُ إلَّا لَهُ “Adapun menyatakan bahwa wajib mengikuti seseorang dalam setiap perkataannya tanpa menyebutkan dalil mengenai benarnya apa yang ia ucapkan, maka ini adalah sesuatu yang tidak tepat. Menyikapi seseorang seperti ini sama halnya dengan menyikapi rasul semata yang selainnya tidak boleh diperlakukan seperti itu.” (Majmu’ah Al-Fatawa, 35: 121) Allah Ta’ala berfirman, فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا “Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS. An- Nisa’: 65)   Bermadzhab dan Ikuti Ulama itu Boleh, Asalkan … Dijadikan sebagai wasilah (perantara untuk belajar), bukan tujuan. Untuk menghilangkan mafsadat (kerusakan) lebih besar. (Lihat Ma’alim Ushul Al-Fiqh, 495)   Prinsip Taat Ulama Wajib mentaati ulama ketika selaras dengan perintah Allah dan Rasul-Nya. Namun ketaatan pada ulama bukan berdiri sendiri, artinya jika tidak bersesuaian dengan perintah Allah dan Rasul-Nya, maka wajib ditinggalkan. Kita diperintahkan untuk mentaati ulama. Namun kalau ada perselisihan kembali pada Allah dan Rasul-Nya sebagaimana dalam ayat, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS. An-Nisa’: 59) Wallahu waliyyut taufiq.   Referensi: Ma’alim Ushul Al-Fiqh ‘inda Ahli As-Sunnah wa Al-Jama’ah. Cetakan kesembilan, tahun 1431 H. Muhammad bin Husain bin Hasan Al-Jizaniy. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Majmu’ah Al-Fatawa. Cetakan keempat, tahun 1432 H. Ahmad bin Taimiyyah Al-Harrani. Penerbit Darul Wafa’. — Selesai disusun dini hari, 14 Muharram 1437 H (27/10/2015) di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsbelajar

Kembali pada Al Quran dan Hadits, Bukan Berarti Melupakan Ulama

Ingat, ketika kita mengajak kembali pada Al-Qur’an dan Al-Hadits, bukan berarti kita meninggalkan perkataan para ulama atau meninggalkan pendapat madzhab. Bahkan boleh kita mengikuti pendapat ulama selama tidak keluar dari ajaran Al-Qur’an dan As-Sunnah. Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Siapa yang mencintai para ulama, boleh baginya mengikuti pendapatnya selama pendapat tersebut sesuai dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Seperti itu disebut muhsin (orang yang baik). Bahkan keadaan ini lebih baik daripada yang lainnya.” (Majmu’ah Al-Fatawa, 22: 249)   Rambu Ketika Bermadzhab Bermadzhab itu boleh asalkan kita mau mengikuti rambu-rambut berikut ini. Rambu pertama: Harus diyakini bahwa bermadzhab bukan dijadikan standar kawan dan musuh yang akhirnya memecah belah persatuan kaum muslimin. Yang tepat, yang jadi prinsip Ahlus Sunnah wal Jama’ah, yang dijadikan standar kawan adalah jika mengikuti Al Qur’an dan petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta ijma’ (konsensus) para ulama kaum muslimin. Menyelisihi ketiga hal tadi, berarti dijadikan standar untuk bara’ atau berlepas diri. Rambu kedua: Tidak boleh seseorang meyakini bahwa setiap muslim wajib mengikuti imam tertentu, tidak boleh mengikuti imam lainnya. Mengikuti satu imam inilah sebagai standar kebenaran, tidak pada lainnya. Ibnu Taimiyah berkata, “Yang bisa kita katakan pada orang awam, hendaklah ia taklid (ikut saja pendapat) dari satu orang, tanpa kita tentukan harus ikut Zaid atau ‘Amr. Sedangkan jika kita katakana, “Wajib bagi orang awam untuk taklid pada si A atau si B (dengan menunjuk orang tertentu, lalu dilarang ikuti yang lain), seperti itu bukanlah prinsip orang muslim yang sebenarnya.” (Majmu’ah Al-Fatawa, 22: 249) Rambu ketiga: Imam yang diikuti madzhabnya tersebut harus diyakini bahwa ia hanya diaati karena ia menyampaikan maksud dari agama dan syari’at Allah. Sedangkan yang mutlak ditaati adalah Allah dan Rasul-Nya. Rambut keempat: Menjaga diri agar tidak terjatuh pada hal-hal yang terlarang sebagaimana yang dialami para pengikut madzhab di antaranya: Fanatik buta dan ingin berpecah belah. Berpaling dari Al Qur’an dan As-Sunnah karena yang diagungkan adalah perkataan imam madzhab. Membela madzhab secara overdosis bahkan sampai menggunakan hadits-hadits dhaif agar orang lain mengikuti madzhabnya. Mendudukkan imam madzhab sebagai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. (Ma’alim Ushul Al-Fiqh, hlm. 496-497) Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, أَمَّا وُجُوبُ اتِّبَاعِ الْقَائِلِ فِي كُلِّ مَا يَقُولُهُ مِنْ غَيْرِ ذِكْرِ دَلِيلٍ يَدُلُّ عَلَى صِحَّةِ مَا يَقُولُ فَلَيْسَ بِصَحِيحِ ؛ بَلْ هَذِهِ الْمَرْتَبَةُ هِيَ ” مَرْتَبَةُ الرَّسُولِ ” الَّتِي لَا تَصْلُحُ إلَّا لَهُ “Adapun menyatakan bahwa wajib mengikuti seseorang dalam setiap perkataannya tanpa menyebutkan dalil mengenai benarnya apa yang ia ucapkan, maka ini adalah sesuatu yang tidak tepat. Menyikapi seseorang seperti ini sama halnya dengan menyikapi rasul semata yang selainnya tidak boleh diperlakukan seperti itu.” (Majmu’ah Al-Fatawa, 35: 121) Allah Ta’ala berfirman, فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا “Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS. An- Nisa’: 65)   Bermadzhab dan Ikuti Ulama itu Boleh, Asalkan … Dijadikan sebagai wasilah (perantara untuk belajar), bukan tujuan. Untuk menghilangkan mafsadat (kerusakan) lebih besar. (Lihat Ma’alim Ushul Al-Fiqh, 495)   Prinsip Taat Ulama Wajib mentaati ulama ketika selaras dengan perintah Allah dan Rasul-Nya. Namun ketaatan pada ulama bukan berdiri sendiri, artinya jika tidak bersesuaian dengan perintah Allah dan Rasul-Nya, maka wajib ditinggalkan. Kita diperintahkan untuk mentaati ulama. Namun kalau ada perselisihan kembali pada Allah dan Rasul-Nya sebagaimana dalam ayat, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS. An-Nisa’: 59) Wallahu waliyyut taufiq.   Referensi: Ma’alim Ushul Al-Fiqh ‘inda Ahli As-Sunnah wa Al-Jama’ah. Cetakan kesembilan, tahun 1431 H. Muhammad bin Husain bin Hasan Al-Jizaniy. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Majmu’ah Al-Fatawa. Cetakan keempat, tahun 1432 H. Ahmad bin Taimiyyah Al-Harrani. Penerbit Darul Wafa’. — Selesai disusun dini hari, 14 Muharram 1437 H (27/10/2015) di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsbelajar
Ingat, ketika kita mengajak kembali pada Al-Qur’an dan Al-Hadits, bukan berarti kita meninggalkan perkataan para ulama atau meninggalkan pendapat madzhab. Bahkan boleh kita mengikuti pendapat ulama selama tidak keluar dari ajaran Al-Qur’an dan As-Sunnah. Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Siapa yang mencintai para ulama, boleh baginya mengikuti pendapatnya selama pendapat tersebut sesuai dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Seperti itu disebut muhsin (orang yang baik). Bahkan keadaan ini lebih baik daripada yang lainnya.” (Majmu’ah Al-Fatawa, 22: 249)   Rambu Ketika Bermadzhab Bermadzhab itu boleh asalkan kita mau mengikuti rambu-rambut berikut ini. Rambu pertama: Harus diyakini bahwa bermadzhab bukan dijadikan standar kawan dan musuh yang akhirnya memecah belah persatuan kaum muslimin. Yang tepat, yang jadi prinsip Ahlus Sunnah wal Jama’ah, yang dijadikan standar kawan adalah jika mengikuti Al Qur’an dan petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta ijma’ (konsensus) para ulama kaum muslimin. Menyelisihi ketiga hal tadi, berarti dijadikan standar untuk bara’ atau berlepas diri. Rambu kedua: Tidak boleh seseorang meyakini bahwa setiap muslim wajib mengikuti imam tertentu, tidak boleh mengikuti imam lainnya. Mengikuti satu imam inilah sebagai standar kebenaran, tidak pada lainnya. Ibnu Taimiyah berkata, “Yang bisa kita katakan pada orang awam, hendaklah ia taklid (ikut saja pendapat) dari satu orang, tanpa kita tentukan harus ikut Zaid atau ‘Amr. Sedangkan jika kita katakana, “Wajib bagi orang awam untuk taklid pada si A atau si B (dengan menunjuk orang tertentu, lalu dilarang ikuti yang lain), seperti itu bukanlah prinsip orang muslim yang sebenarnya.” (Majmu’ah Al-Fatawa, 22: 249) Rambu ketiga: Imam yang diikuti madzhabnya tersebut harus diyakini bahwa ia hanya diaati karena ia menyampaikan maksud dari agama dan syari’at Allah. Sedangkan yang mutlak ditaati adalah Allah dan Rasul-Nya. Rambut keempat: Menjaga diri agar tidak terjatuh pada hal-hal yang terlarang sebagaimana yang dialami para pengikut madzhab di antaranya: Fanatik buta dan ingin berpecah belah. Berpaling dari Al Qur’an dan As-Sunnah karena yang diagungkan adalah perkataan imam madzhab. Membela madzhab secara overdosis bahkan sampai menggunakan hadits-hadits dhaif agar orang lain mengikuti madzhabnya. Mendudukkan imam madzhab sebagai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. (Ma’alim Ushul Al-Fiqh, hlm. 496-497) Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, أَمَّا وُجُوبُ اتِّبَاعِ الْقَائِلِ فِي كُلِّ مَا يَقُولُهُ مِنْ غَيْرِ ذِكْرِ دَلِيلٍ يَدُلُّ عَلَى صِحَّةِ مَا يَقُولُ فَلَيْسَ بِصَحِيحِ ؛ بَلْ هَذِهِ الْمَرْتَبَةُ هِيَ ” مَرْتَبَةُ الرَّسُولِ ” الَّتِي لَا تَصْلُحُ إلَّا لَهُ “Adapun menyatakan bahwa wajib mengikuti seseorang dalam setiap perkataannya tanpa menyebutkan dalil mengenai benarnya apa yang ia ucapkan, maka ini adalah sesuatu yang tidak tepat. Menyikapi seseorang seperti ini sama halnya dengan menyikapi rasul semata yang selainnya tidak boleh diperlakukan seperti itu.” (Majmu’ah Al-Fatawa, 35: 121) Allah Ta’ala berfirman, فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا “Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS. An- Nisa’: 65)   Bermadzhab dan Ikuti Ulama itu Boleh, Asalkan … Dijadikan sebagai wasilah (perantara untuk belajar), bukan tujuan. Untuk menghilangkan mafsadat (kerusakan) lebih besar. (Lihat Ma’alim Ushul Al-Fiqh, 495)   Prinsip Taat Ulama Wajib mentaati ulama ketika selaras dengan perintah Allah dan Rasul-Nya. Namun ketaatan pada ulama bukan berdiri sendiri, artinya jika tidak bersesuaian dengan perintah Allah dan Rasul-Nya, maka wajib ditinggalkan. Kita diperintahkan untuk mentaati ulama. Namun kalau ada perselisihan kembali pada Allah dan Rasul-Nya sebagaimana dalam ayat, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS. An-Nisa’: 59) Wallahu waliyyut taufiq.   Referensi: Ma’alim Ushul Al-Fiqh ‘inda Ahli As-Sunnah wa Al-Jama’ah. Cetakan kesembilan, tahun 1431 H. Muhammad bin Husain bin Hasan Al-Jizaniy. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Majmu’ah Al-Fatawa. Cetakan keempat, tahun 1432 H. Ahmad bin Taimiyyah Al-Harrani. Penerbit Darul Wafa’. — Selesai disusun dini hari, 14 Muharram 1437 H (27/10/2015) di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsbelajar


Ingat, ketika kita mengajak kembali pada Al-Qur’an dan Al-Hadits, bukan berarti kita meninggalkan perkataan para ulama atau meninggalkan pendapat madzhab. Bahkan boleh kita mengikuti pendapat ulama selama tidak keluar dari ajaran Al-Qur’an dan As-Sunnah. Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Siapa yang mencintai para ulama, boleh baginya mengikuti pendapatnya selama pendapat tersebut sesuai dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Seperti itu disebut muhsin (orang yang baik). Bahkan keadaan ini lebih baik daripada yang lainnya.” (Majmu’ah Al-Fatawa, 22: 249)   Rambu Ketika Bermadzhab Bermadzhab itu boleh asalkan kita mau mengikuti rambu-rambut berikut ini. Rambu pertama: Harus diyakini bahwa bermadzhab bukan dijadikan standar kawan dan musuh yang akhirnya memecah belah persatuan kaum muslimin. Yang tepat, yang jadi prinsip Ahlus Sunnah wal Jama’ah, yang dijadikan standar kawan adalah jika mengikuti Al Qur’an dan petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta ijma’ (konsensus) para ulama kaum muslimin. Menyelisihi ketiga hal tadi, berarti dijadikan standar untuk bara’ atau berlepas diri. Rambu kedua: Tidak boleh seseorang meyakini bahwa setiap muslim wajib mengikuti imam tertentu, tidak boleh mengikuti imam lainnya. Mengikuti satu imam inilah sebagai standar kebenaran, tidak pada lainnya. Ibnu Taimiyah berkata, “Yang bisa kita katakan pada orang awam, hendaklah ia taklid (ikut saja pendapat) dari satu orang, tanpa kita tentukan harus ikut Zaid atau ‘Amr. Sedangkan jika kita katakana, “Wajib bagi orang awam untuk taklid pada si A atau si B (dengan menunjuk orang tertentu, lalu dilarang ikuti yang lain), seperti itu bukanlah prinsip orang muslim yang sebenarnya.” (Majmu’ah Al-Fatawa, 22: 249) Rambu ketiga: Imam yang diikuti madzhabnya tersebut harus diyakini bahwa ia hanya diaati karena ia menyampaikan maksud dari agama dan syari’at Allah. Sedangkan yang mutlak ditaati adalah Allah dan Rasul-Nya. Rambut keempat: Menjaga diri agar tidak terjatuh pada hal-hal yang terlarang sebagaimana yang dialami para pengikut madzhab di antaranya: Fanatik buta dan ingin berpecah belah. Berpaling dari Al Qur’an dan As-Sunnah karena yang diagungkan adalah perkataan imam madzhab. Membela madzhab secara overdosis bahkan sampai menggunakan hadits-hadits dhaif agar orang lain mengikuti madzhabnya. Mendudukkan imam madzhab sebagai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. (Ma’alim Ushul Al-Fiqh, hlm. 496-497) Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, أَمَّا وُجُوبُ اتِّبَاعِ الْقَائِلِ فِي كُلِّ مَا يَقُولُهُ مِنْ غَيْرِ ذِكْرِ دَلِيلٍ يَدُلُّ عَلَى صِحَّةِ مَا يَقُولُ فَلَيْسَ بِصَحِيحِ ؛ بَلْ هَذِهِ الْمَرْتَبَةُ هِيَ ” مَرْتَبَةُ الرَّسُولِ ” الَّتِي لَا تَصْلُحُ إلَّا لَهُ “Adapun menyatakan bahwa wajib mengikuti seseorang dalam setiap perkataannya tanpa menyebutkan dalil mengenai benarnya apa yang ia ucapkan, maka ini adalah sesuatu yang tidak tepat. Menyikapi seseorang seperti ini sama halnya dengan menyikapi rasul semata yang selainnya tidak boleh diperlakukan seperti itu.” (Majmu’ah Al-Fatawa, 35: 121) Allah Ta’ala berfirman, فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا “Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS. An- Nisa’: 65)   Bermadzhab dan Ikuti Ulama itu Boleh, Asalkan … Dijadikan sebagai wasilah (perantara untuk belajar), bukan tujuan. Untuk menghilangkan mafsadat (kerusakan) lebih besar. (Lihat Ma’alim Ushul Al-Fiqh, 495)   Prinsip Taat Ulama Wajib mentaati ulama ketika selaras dengan perintah Allah dan Rasul-Nya. Namun ketaatan pada ulama bukan berdiri sendiri, artinya jika tidak bersesuaian dengan perintah Allah dan Rasul-Nya, maka wajib ditinggalkan. Kita diperintahkan untuk mentaati ulama. Namun kalau ada perselisihan kembali pada Allah dan Rasul-Nya sebagaimana dalam ayat, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS. An-Nisa’: 59) Wallahu waliyyut taufiq.   Referensi: Ma’alim Ushul Al-Fiqh ‘inda Ahli As-Sunnah wa Al-Jama’ah. Cetakan kesembilan, tahun 1431 H. Muhammad bin Husain bin Hasan Al-Jizaniy. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Majmu’ah Al-Fatawa. Cetakan keempat, tahun 1432 H. Ahmad bin Taimiyyah Al-Harrani. Penerbit Darul Wafa’. — Selesai disusun dini hari, 14 Muharram 1437 H (27/10/2015) di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsbelajar

Digigit Ular di Lubang yang Sama Dua Kali

Seorang mukmin yang cerdas tak mungkin digigit ular di lubang yang sama dua kali. Maksudnya apa? Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ يُلْدَغُ الْمُؤْمِنُ مِنْ جُحْرٍ وَاحِدٍ مَرَّتَيْنِ “Tidak selayaknya seorang mukmin dipatuk ular dari lubang yang sama sebanyak dua kali.” (HR. Bukhari no. 6133 dan Muslim no. 2998) Imam Nawawi menyatakan bahwa Al-Qadhi Iyadh berkata, cara baca “yuldagu” ada dua cara: Pertama: Yuldagu dengan ghainnya didhammah. Kalimatnya menjadi kalimat berita. Maksudnya, seorang mukmin itu terpuji ketika ia cerdas, mantap dalam pekerjaannya, tidak lalai dalam urusannya, juga tidak terjatuh di lain waktu di lubang yang sama. Ada juga ulama yang berpendapat bahwa ia tergelincir dalam urusan agama (akhirat). Kedua: Yuldagi dengan ghainnya dikasrah. Kalimatnya menjadi kalimat larangan. Maksudnya, janganlah sampai lalai dalam suatu perkara. (Syarh Shahih Muslim, 12: 104) Ibnu Hajar berkata, “Seorang muslim harus terus waspada, jangan sampai lalai, baik dalam urusan agama maupun urusan dunianya.” (Fath Al-Bari, 10: 530) Kesimpulannya, muslim yang cerdas tak mungkin berbuat dosa yang sama dua kali. Ketika ia sudah berbuat kesalahan, ia terus hati-hati jangan digigit lagi di lubang yang sama. Semoga kita demikian. Wallahu waliyyut taufiq.   Referensi: Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim. Cetakan pertama, tahun 1433 H. Yahya bin Syarf An-Nawawi. Penerbit Dar Ibnu Hazm. Fath Al-Bari bi Syarh Shahih Al-Bukhari. Cetekan keempat, tahun 1432 H. Ibnu Hajar Al-Asqalani. Penerbit Dar Thiybah. — Selesai disusun di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 14 Muharram 1437 H Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom, Telegram @RumayshoCom , Line Rumaysho Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsmaksiat

Digigit Ular di Lubang yang Sama Dua Kali

Seorang mukmin yang cerdas tak mungkin digigit ular di lubang yang sama dua kali. Maksudnya apa? Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ يُلْدَغُ الْمُؤْمِنُ مِنْ جُحْرٍ وَاحِدٍ مَرَّتَيْنِ “Tidak selayaknya seorang mukmin dipatuk ular dari lubang yang sama sebanyak dua kali.” (HR. Bukhari no. 6133 dan Muslim no. 2998) Imam Nawawi menyatakan bahwa Al-Qadhi Iyadh berkata, cara baca “yuldagu” ada dua cara: Pertama: Yuldagu dengan ghainnya didhammah. Kalimatnya menjadi kalimat berita. Maksudnya, seorang mukmin itu terpuji ketika ia cerdas, mantap dalam pekerjaannya, tidak lalai dalam urusannya, juga tidak terjatuh di lain waktu di lubang yang sama. Ada juga ulama yang berpendapat bahwa ia tergelincir dalam urusan agama (akhirat). Kedua: Yuldagi dengan ghainnya dikasrah. Kalimatnya menjadi kalimat larangan. Maksudnya, janganlah sampai lalai dalam suatu perkara. (Syarh Shahih Muslim, 12: 104) Ibnu Hajar berkata, “Seorang muslim harus terus waspada, jangan sampai lalai, baik dalam urusan agama maupun urusan dunianya.” (Fath Al-Bari, 10: 530) Kesimpulannya, muslim yang cerdas tak mungkin berbuat dosa yang sama dua kali. Ketika ia sudah berbuat kesalahan, ia terus hati-hati jangan digigit lagi di lubang yang sama. Semoga kita demikian. Wallahu waliyyut taufiq.   Referensi: Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim. Cetakan pertama, tahun 1433 H. Yahya bin Syarf An-Nawawi. Penerbit Dar Ibnu Hazm. Fath Al-Bari bi Syarh Shahih Al-Bukhari. Cetekan keempat, tahun 1432 H. Ibnu Hajar Al-Asqalani. Penerbit Dar Thiybah. — Selesai disusun di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 14 Muharram 1437 H Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom, Telegram @RumayshoCom , Line Rumaysho Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsmaksiat
Seorang mukmin yang cerdas tak mungkin digigit ular di lubang yang sama dua kali. Maksudnya apa? Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ يُلْدَغُ الْمُؤْمِنُ مِنْ جُحْرٍ وَاحِدٍ مَرَّتَيْنِ “Tidak selayaknya seorang mukmin dipatuk ular dari lubang yang sama sebanyak dua kali.” (HR. Bukhari no. 6133 dan Muslim no. 2998) Imam Nawawi menyatakan bahwa Al-Qadhi Iyadh berkata, cara baca “yuldagu” ada dua cara: Pertama: Yuldagu dengan ghainnya didhammah. Kalimatnya menjadi kalimat berita. Maksudnya, seorang mukmin itu terpuji ketika ia cerdas, mantap dalam pekerjaannya, tidak lalai dalam urusannya, juga tidak terjatuh di lain waktu di lubang yang sama. Ada juga ulama yang berpendapat bahwa ia tergelincir dalam urusan agama (akhirat). Kedua: Yuldagi dengan ghainnya dikasrah. Kalimatnya menjadi kalimat larangan. Maksudnya, janganlah sampai lalai dalam suatu perkara. (Syarh Shahih Muslim, 12: 104) Ibnu Hajar berkata, “Seorang muslim harus terus waspada, jangan sampai lalai, baik dalam urusan agama maupun urusan dunianya.” (Fath Al-Bari, 10: 530) Kesimpulannya, muslim yang cerdas tak mungkin berbuat dosa yang sama dua kali. Ketika ia sudah berbuat kesalahan, ia terus hati-hati jangan digigit lagi di lubang yang sama. Semoga kita demikian. Wallahu waliyyut taufiq.   Referensi: Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim. Cetakan pertama, tahun 1433 H. Yahya bin Syarf An-Nawawi. Penerbit Dar Ibnu Hazm. Fath Al-Bari bi Syarh Shahih Al-Bukhari. Cetekan keempat, tahun 1432 H. Ibnu Hajar Al-Asqalani. Penerbit Dar Thiybah. — Selesai disusun di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 14 Muharram 1437 H Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom, Telegram @RumayshoCom , Line Rumaysho Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsmaksiat


Seorang mukmin yang cerdas tak mungkin digigit ular di lubang yang sama dua kali. Maksudnya apa? Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ يُلْدَغُ الْمُؤْمِنُ مِنْ جُحْرٍ وَاحِدٍ مَرَّتَيْنِ “Tidak selayaknya seorang mukmin dipatuk ular dari lubang yang sama sebanyak dua kali.” (HR. Bukhari no. 6133 dan Muslim no. 2998) Imam Nawawi menyatakan bahwa Al-Qadhi Iyadh berkata, cara baca “yuldagu” ada dua cara: Pertama: Yuldagu dengan ghainnya didhammah. Kalimatnya menjadi kalimat berita. Maksudnya, seorang mukmin itu terpuji ketika ia cerdas, mantap dalam pekerjaannya, tidak lalai dalam urusannya, juga tidak terjatuh di lain waktu di lubang yang sama. Ada juga ulama yang berpendapat bahwa ia tergelincir dalam urusan agama (akhirat). Kedua: Yuldagi dengan ghainnya dikasrah. Kalimatnya menjadi kalimat larangan. Maksudnya, janganlah sampai lalai dalam suatu perkara. (Syarh Shahih Muslim, 12: 104) Ibnu Hajar berkata, “Seorang muslim harus terus waspada, jangan sampai lalai, baik dalam urusan agama maupun urusan dunianya.” (Fath Al-Bari, 10: 530) Kesimpulannya, muslim yang cerdas tak mungkin berbuat dosa yang sama dua kali. Ketika ia sudah berbuat kesalahan, ia terus hati-hati jangan digigit lagi di lubang yang sama. Semoga kita demikian. Wallahu waliyyut taufiq.   Referensi: Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim. Cetakan pertama, tahun 1433 H. Yahya bin Syarf An-Nawawi. Penerbit Dar Ibnu Hazm. Fath Al-Bari bi Syarh Shahih Al-Bukhari. Cetekan keempat, tahun 1432 H. Ibnu Hajar Al-Asqalani. Penerbit Dar Thiybah. — Selesai disusun di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 14 Muharram 1437 H Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom, Telegram @RumayshoCom , Line Rumaysho Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsmaksiat

Strategi Dakwah (1)

Dakwah butuh strategi, bukan sekedar asal-asalan dalam berdakwah. Strategi ini bisa dipraktikkan dalam ruang lingkup kecil di tengah-tengah keluarga, kerabat, hingga masyarakat secara umum. Dakwah yang pertama adalah dakwah tauhid dan pembinaan akidah. Prioritaskan materi dakwah yang lebih penting: dakwah pada tauhid, baru dakwah pada amalan yang lebih penting, dan tidak mesti langsung pada perkara parsial (juz’iyyat). Dakwah mesti dengan cara yang tepat dengan memperhatikan kondisi masyarakat. Dakwah pada dalil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah, jangan sampai dakwah tanpa dalil, tanpa mengikuti tuntunan. Dakwah itu mengajak orang melakukan perintah dan menjauhi larangan (amar makruf nahi mungkar). Berdakwah sesuai kemampuan. Kemungkaran yang nampak wajib diingkari. Mengingkari dalam hati lalu lisan didahulukan daripada mengingkari dengan tangan. Mengingkari kemungkaran hanya boleh dengan hujjah (dalil) yang jelas. Tidak boleh mengingkari kemungkaran dengan hal yang lebih mungkar. Siapa yang menghadiri suatu acara kemungkaran dengan pilihan hatinya, maka ia dihukumi seperti melakukan kemungkaran tersebut. Melarang sesuatu kemungkaran hendaklah mengarahkan juga pada hal yang manfaat lainnya, bukan sekedar melarang. Hendaklah yang berdakwah menyelamatkan bahaya dirinya sebelum bahaya pada orang lain. Itu kaedah atau strategi umum yang kami himpun dari bahasan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Semoga bisa berlanjut perinciannya di kesempatan lainnya.   Referensi: Qawa’id wa Dhawabith Fiqh Ad-Da’wah ‘inda Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Cetakan kedua, tahun 1430 H. ‘Abid bin Muhammad As-Sufyani. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. — Selesai disusun di Panggang, Gunungkidul, @ Darush Sholihin, Senin sore, 13 Muharram 1437 H Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsdakwah

Strategi Dakwah (1)

Dakwah butuh strategi, bukan sekedar asal-asalan dalam berdakwah. Strategi ini bisa dipraktikkan dalam ruang lingkup kecil di tengah-tengah keluarga, kerabat, hingga masyarakat secara umum. Dakwah yang pertama adalah dakwah tauhid dan pembinaan akidah. Prioritaskan materi dakwah yang lebih penting: dakwah pada tauhid, baru dakwah pada amalan yang lebih penting, dan tidak mesti langsung pada perkara parsial (juz’iyyat). Dakwah mesti dengan cara yang tepat dengan memperhatikan kondisi masyarakat. Dakwah pada dalil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah, jangan sampai dakwah tanpa dalil, tanpa mengikuti tuntunan. Dakwah itu mengajak orang melakukan perintah dan menjauhi larangan (amar makruf nahi mungkar). Berdakwah sesuai kemampuan. Kemungkaran yang nampak wajib diingkari. Mengingkari dalam hati lalu lisan didahulukan daripada mengingkari dengan tangan. Mengingkari kemungkaran hanya boleh dengan hujjah (dalil) yang jelas. Tidak boleh mengingkari kemungkaran dengan hal yang lebih mungkar. Siapa yang menghadiri suatu acara kemungkaran dengan pilihan hatinya, maka ia dihukumi seperti melakukan kemungkaran tersebut. Melarang sesuatu kemungkaran hendaklah mengarahkan juga pada hal yang manfaat lainnya, bukan sekedar melarang. Hendaklah yang berdakwah menyelamatkan bahaya dirinya sebelum bahaya pada orang lain. Itu kaedah atau strategi umum yang kami himpun dari bahasan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Semoga bisa berlanjut perinciannya di kesempatan lainnya.   Referensi: Qawa’id wa Dhawabith Fiqh Ad-Da’wah ‘inda Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Cetakan kedua, tahun 1430 H. ‘Abid bin Muhammad As-Sufyani. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. — Selesai disusun di Panggang, Gunungkidul, @ Darush Sholihin, Senin sore, 13 Muharram 1437 H Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsdakwah
Dakwah butuh strategi, bukan sekedar asal-asalan dalam berdakwah. Strategi ini bisa dipraktikkan dalam ruang lingkup kecil di tengah-tengah keluarga, kerabat, hingga masyarakat secara umum. Dakwah yang pertama adalah dakwah tauhid dan pembinaan akidah. Prioritaskan materi dakwah yang lebih penting: dakwah pada tauhid, baru dakwah pada amalan yang lebih penting, dan tidak mesti langsung pada perkara parsial (juz’iyyat). Dakwah mesti dengan cara yang tepat dengan memperhatikan kondisi masyarakat. Dakwah pada dalil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah, jangan sampai dakwah tanpa dalil, tanpa mengikuti tuntunan. Dakwah itu mengajak orang melakukan perintah dan menjauhi larangan (amar makruf nahi mungkar). Berdakwah sesuai kemampuan. Kemungkaran yang nampak wajib diingkari. Mengingkari dalam hati lalu lisan didahulukan daripada mengingkari dengan tangan. Mengingkari kemungkaran hanya boleh dengan hujjah (dalil) yang jelas. Tidak boleh mengingkari kemungkaran dengan hal yang lebih mungkar. Siapa yang menghadiri suatu acara kemungkaran dengan pilihan hatinya, maka ia dihukumi seperti melakukan kemungkaran tersebut. Melarang sesuatu kemungkaran hendaklah mengarahkan juga pada hal yang manfaat lainnya, bukan sekedar melarang. Hendaklah yang berdakwah menyelamatkan bahaya dirinya sebelum bahaya pada orang lain. Itu kaedah atau strategi umum yang kami himpun dari bahasan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Semoga bisa berlanjut perinciannya di kesempatan lainnya.   Referensi: Qawa’id wa Dhawabith Fiqh Ad-Da’wah ‘inda Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Cetakan kedua, tahun 1430 H. ‘Abid bin Muhammad As-Sufyani. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. — Selesai disusun di Panggang, Gunungkidul, @ Darush Sholihin, Senin sore, 13 Muharram 1437 H Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsdakwah


Dakwah butuh strategi, bukan sekedar asal-asalan dalam berdakwah. Strategi ini bisa dipraktikkan dalam ruang lingkup kecil di tengah-tengah keluarga, kerabat, hingga masyarakat secara umum. Dakwah yang pertama adalah dakwah tauhid dan pembinaan akidah. Prioritaskan materi dakwah yang lebih penting: dakwah pada tauhid, baru dakwah pada amalan yang lebih penting, dan tidak mesti langsung pada perkara parsial (juz’iyyat). Dakwah mesti dengan cara yang tepat dengan memperhatikan kondisi masyarakat. Dakwah pada dalil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah, jangan sampai dakwah tanpa dalil, tanpa mengikuti tuntunan. Dakwah itu mengajak orang melakukan perintah dan menjauhi larangan (amar makruf nahi mungkar). Berdakwah sesuai kemampuan. Kemungkaran yang nampak wajib diingkari. Mengingkari dalam hati lalu lisan didahulukan daripada mengingkari dengan tangan. Mengingkari kemungkaran hanya boleh dengan hujjah (dalil) yang jelas. Tidak boleh mengingkari kemungkaran dengan hal yang lebih mungkar. Siapa yang menghadiri suatu acara kemungkaran dengan pilihan hatinya, maka ia dihukumi seperti melakukan kemungkaran tersebut. Melarang sesuatu kemungkaran hendaklah mengarahkan juga pada hal yang manfaat lainnya, bukan sekedar melarang. Hendaklah yang berdakwah menyelamatkan bahaya dirinya sebelum bahaya pada orang lain. Itu kaedah atau strategi umum yang kami himpun dari bahasan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Semoga bisa berlanjut perinciannya di kesempatan lainnya.   Referensi: Qawa’id wa Dhawabith Fiqh Ad-Da’wah ‘inda Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Cetakan kedua, tahun 1430 H. ‘Abid bin Muhammad As-Sufyani. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. — Selesai disusun di Panggang, Gunungkidul, @ Darush Sholihin, Senin sore, 13 Muharram 1437 H Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsdakwah

Kenapa Pohon Kurma itu Bisa Menangis?

Kenapa pohon kurma itu bisa menangis? Berikut kisahnya … Jabir radhiyallahu ‘anhu berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berdiri di atas sebatang pohon kurma ketika berkhutbah. Setelah dibuatkan mimbar, kami mendengar sesuatu pada batang pohon kurma tersebut seperti suara teriakan unta yang bunting. Sehingga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam turun, lalu meletakkan tangannya pada batang kurma tersebut. Setelah itu, batang pohon itu pun diam.” Dalam riwayat lain disebutkan, “Ketika hari Jum’at, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam duduk di atas mimbar. Lalu batang kurma yang biasa beliau berkhutbah di sana itu berteriak, hampir-hampir batang kurma itu terbelah.” Dalam riwayat lain disebutkan, “Lalu batang kurma itu berteriak seperti teriakan anak kecil. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam turun lalu memegangnya dan memeluknya. Setelah itu, mulailah batang pohon itu mengerang seperti erangan anak kecil yang sedang diredakan tangisannya sampai ia terdiam. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu bersabda, بَكَتْ عَلَى مَا كَانَتْ تَسْمَعُ مِنَ الذِّكْرِ “Ia menangis karena dzikir yang dulu biasa ia dengar.” (HR. Bukhari no. 2095. Disebutkan dalam Riyadh Ash-Shalihin karya Imam Nawawi pada hadits no. 1831)   Tangisan Pohon Kurma, Tanda Mukjizat Nabi Kisah tangisan pohon kurma merupakan kisah yang benar-benar nyata yang diketahui dari khalaf (yang belakangan) dari salaf (yang sebelumnya ada). Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah berkata bahwa ini merupakan tanda kalau benda seperti batang kurma yang tidak bergerak memiliki perasaan seperti hewan, bahkan lebih unggul dari beberapa hewan yang lebih cerdas. Hal ini sesuai dengan firman Allah Ta’ala di mana sebagian ulama maknakan secara tekstual, تُسَبِّحُ لَهُ السَّمَوَاتُ السَّبْعُ وَالْأَرْضُ وَمَنْ فِيهِنَّ وَإِنْ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهِ وَلَكِنْ لَا تَفْقَهُونَ تَسْبِيحَهُمْ إِنَّهُ كَانَ حَلِيمًا غَفُورًا “Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.” (QS. Al-Isra’: 44) Ibnu Abi Hatim telah menukilkan dari Manaqib Asy-Syafi’i, dari bapaknya, dari ‘Amr bin Sawad, dari Imam Asy-Syafi’i, ia berkata, مَا أَعْطَى اللَّه نَبِيًّا مَا أَعْطَى مُحَمَّدًا “Allah tidaklah pernah memberikan sesuatu kepada seorang Nabi seperti yang diberikan pada Nabi Muhammad.” Aku (Ibnu Abi Hatim) berkata, “Nabi ’Isa diberi mukjizat bisa menghidupkan yang mati.” Imam Syafi’i berkata, “Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam diberi mukjizat bisa mendengar suara rintihan batang kurma yang menangis (karena ia tidak mendengar lagi dzikir yang dibaca Nabi ketika Nabi beralih menggunakan mimbar, pen). Mukjizat ini lebih luar biasa dari mukjizat yang diberikan pada Nabi Isa.” (Fath Al-Bari, 6: 603)   Rintihan Pohon Kurma Karena Ditinggal Nabi Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin berkata, ketika seorang wanita Anshar membuatkan mimbar lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhutbah di atasnya, maka batang pohon kurma yang biasa dipakai oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk berkhutbah pun menangis. Pohon tersebut kadang berteriak seperti keadaan unta yang sedang bunting, kadang pula seperti rintihan anak kecil yang menangis. Pohon tersebut menangis karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak lagi berkhutbah di sisinya. Allahu akbar … Benda yang diam seperti itu merintih dan menangis karena ditinggal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sekarang ajaran-ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditinggalkan, tak ada satu pun yang merintih. Semoga Allah menolong kita sekalian untuk senantiasa berdzikir, bersyukur, dan terus memperbagus ibadah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun turun, lantas pohon kurma tersebut terdiam. Nabi mendiamkannya seperti seorang ibu mendiamkan anaknya padahal itu hanyalah sebuah batang yang tidak bergerak. Dari sini menunjukkan bahwa ada dua mukjizat Nabi: (1) rintihan pohon kurma setelah ditinggalkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam karena tidak dipakai lagi untuk tempat berkhutbah, (2) dengan turunnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas memeluk batang kurma tersebut akhirnya menjadi diam dari tangisan atau teriakannya. (Syarh Riyadh Ash-Shalihin, 6: 641)   Pohon Kurma Menangis Karena Cinta dan Rindu pada Nabinya, Bagaimana dengan Kita Manusia? Perlu diketahui, mukjizat itu ada dua macam: Mukjizat yang masih taraf kemampuan manusia, namun tidak bisa dilakukan lalu Allah wujudkan tanda akan benarnya Nabi tersebut. Contoh, Zakariya yang baru memiliki keturunan di masa tua. Mukjizat yang di luar kemampuan manusia dan tidak bisa dilakukan yang semisalnya. Contoh, rintihan pohon kurma yang cinta pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan begitu merindukan ketika berpisah dengan beliau. (Kunuz Riyadh Ash-Shalihin, 21: 465) Ada perkataan yang bagus dari Al-Hasan Al-Bashri ketika ia menyebutkan hadits rintihan pohon kurma ini, ia berkata, يَا مَعْشَر الْمُسْلِمِينَ الْخَشَبَة تَحِنّ إِلَى رَسُول اللَّه صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَوْقًا إِلَى لِقَائِهِ فَأَنْتُمْ أَحَقّ أَنْ تَشْتَاقُوا إِلَيْهِ “Wahai kaum muslimin, batang kurma saja bisa merintih karena rindu bertemu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kalian harusnya lebih berhak rindu pada beliau.” (Fath Al-Bari, 6: 697) Bukankah kita telah diperintahkan untuk mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, قُلْ إِنْ كَانَ آَبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ “Katakanlah: “Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya”. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” (QS. At Taubah: 24) Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Jika semua hal-hal tadi lebih dicintai daripada Allah dan Rasul-Nya, serta berjihad di jalan Allah, maka tunggulah musibah dan malapetaka yang akan menimpa kalian.” Ancaman keras inilah yang menunjukkan bahwa mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari makhluk lainnya adalah wajib. Ingatlah tanda cinta Allah adalah dengan mengikuti tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah Ta’ala berfirman, قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ “Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”.” (QS. Ali Imran: 31) Ibnu Katsir berkata mengenai ayat di atas, هذه الآية الكريمة حاكمة على كل من ادعى محبة الله، وليس هو على الطريقة المحمدية فإنه كاذب في دعواه في نفس الأمر “Ayat yang muliau ini menghakimi setiap yang mengakui mencintai Allah sedangkan ia tidak mau mengikuti petunjuk Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka ia berarti telah berdusta dengan pengakuannya sendiri.” Al-Hasan Al-Bashri dan sebagian ulama salaf lainnya, زعم قوم أنهم يحبون الله فابتلاهم الله بهذه الآية “Suatu kaum mengakui cinta pada Allah, maka Allah menguji mereka dengan ayat di atas.” Semoga Allah beri tambahan ilmu yang bermanfaat dan semakin melembutkan hati. — Naskah Khutbah Jumat  11 Muharram 1437 H, di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagscinta nabi kurma

Kenapa Pohon Kurma itu Bisa Menangis?

Kenapa pohon kurma itu bisa menangis? Berikut kisahnya … Jabir radhiyallahu ‘anhu berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berdiri di atas sebatang pohon kurma ketika berkhutbah. Setelah dibuatkan mimbar, kami mendengar sesuatu pada batang pohon kurma tersebut seperti suara teriakan unta yang bunting. Sehingga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam turun, lalu meletakkan tangannya pada batang kurma tersebut. Setelah itu, batang pohon itu pun diam.” Dalam riwayat lain disebutkan, “Ketika hari Jum’at, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam duduk di atas mimbar. Lalu batang kurma yang biasa beliau berkhutbah di sana itu berteriak, hampir-hampir batang kurma itu terbelah.” Dalam riwayat lain disebutkan, “Lalu batang kurma itu berteriak seperti teriakan anak kecil. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam turun lalu memegangnya dan memeluknya. Setelah itu, mulailah batang pohon itu mengerang seperti erangan anak kecil yang sedang diredakan tangisannya sampai ia terdiam. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu bersabda, بَكَتْ عَلَى مَا كَانَتْ تَسْمَعُ مِنَ الذِّكْرِ “Ia menangis karena dzikir yang dulu biasa ia dengar.” (HR. Bukhari no. 2095. Disebutkan dalam Riyadh Ash-Shalihin karya Imam Nawawi pada hadits no. 1831)   Tangisan Pohon Kurma, Tanda Mukjizat Nabi Kisah tangisan pohon kurma merupakan kisah yang benar-benar nyata yang diketahui dari khalaf (yang belakangan) dari salaf (yang sebelumnya ada). Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah berkata bahwa ini merupakan tanda kalau benda seperti batang kurma yang tidak bergerak memiliki perasaan seperti hewan, bahkan lebih unggul dari beberapa hewan yang lebih cerdas. Hal ini sesuai dengan firman Allah Ta’ala di mana sebagian ulama maknakan secara tekstual, تُسَبِّحُ لَهُ السَّمَوَاتُ السَّبْعُ وَالْأَرْضُ وَمَنْ فِيهِنَّ وَإِنْ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهِ وَلَكِنْ لَا تَفْقَهُونَ تَسْبِيحَهُمْ إِنَّهُ كَانَ حَلِيمًا غَفُورًا “Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.” (QS. Al-Isra’: 44) Ibnu Abi Hatim telah menukilkan dari Manaqib Asy-Syafi’i, dari bapaknya, dari ‘Amr bin Sawad, dari Imam Asy-Syafi’i, ia berkata, مَا أَعْطَى اللَّه نَبِيًّا مَا أَعْطَى مُحَمَّدًا “Allah tidaklah pernah memberikan sesuatu kepada seorang Nabi seperti yang diberikan pada Nabi Muhammad.” Aku (Ibnu Abi Hatim) berkata, “Nabi ’Isa diberi mukjizat bisa menghidupkan yang mati.” Imam Syafi’i berkata, “Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam diberi mukjizat bisa mendengar suara rintihan batang kurma yang menangis (karena ia tidak mendengar lagi dzikir yang dibaca Nabi ketika Nabi beralih menggunakan mimbar, pen). Mukjizat ini lebih luar biasa dari mukjizat yang diberikan pada Nabi Isa.” (Fath Al-Bari, 6: 603)   Rintihan Pohon Kurma Karena Ditinggal Nabi Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin berkata, ketika seorang wanita Anshar membuatkan mimbar lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhutbah di atasnya, maka batang pohon kurma yang biasa dipakai oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk berkhutbah pun menangis. Pohon tersebut kadang berteriak seperti keadaan unta yang sedang bunting, kadang pula seperti rintihan anak kecil yang menangis. Pohon tersebut menangis karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak lagi berkhutbah di sisinya. Allahu akbar … Benda yang diam seperti itu merintih dan menangis karena ditinggal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sekarang ajaran-ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditinggalkan, tak ada satu pun yang merintih. Semoga Allah menolong kita sekalian untuk senantiasa berdzikir, bersyukur, dan terus memperbagus ibadah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun turun, lantas pohon kurma tersebut terdiam. Nabi mendiamkannya seperti seorang ibu mendiamkan anaknya padahal itu hanyalah sebuah batang yang tidak bergerak. Dari sini menunjukkan bahwa ada dua mukjizat Nabi: (1) rintihan pohon kurma setelah ditinggalkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam karena tidak dipakai lagi untuk tempat berkhutbah, (2) dengan turunnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas memeluk batang kurma tersebut akhirnya menjadi diam dari tangisan atau teriakannya. (Syarh Riyadh Ash-Shalihin, 6: 641)   Pohon Kurma Menangis Karena Cinta dan Rindu pada Nabinya, Bagaimana dengan Kita Manusia? Perlu diketahui, mukjizat itu ada dua macam: Mukjizat yang masih taraf kemampuan manusia, namun tidak bisa dilakukan lalu Allah wujudkan tanda akan benarnya Nabi tersebut. Contoh, Zakariya yang baru memiliki keturunan di masa tua. Mukjizat yang di luar kemampuan manusia dan tidak bisa dilakukan yang semisalnya. Contoh, rintihan pohon kurma yang cinta pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan begitu merindukan ketika berpisah dengan beliau. (Kunuz Riyadh Ash-Shalihin, 21: 465) Ada perkataan yang bagus dari Al-Hasan Al-Bashri ketika ia menyebutkan hadits rintihan pohon kurma ini, ia berkata, يَا مَعْشَر الْمُسْلِمِينَ الْخَشَبَة تَحِنّ إِلَى رَسُول اللَّه صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَوْقًا إِلَى لِقَائِهِ فَأَنْتُمْ أَحَقّ أَنْ تَشْتَاقُوا إِلَيْهِ “Wahai kaum muslimin, batang kurma saja bisa merintih karena rindu bertemu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kalian harusnya lebih berhak rindu pada beliau.” (Fath Al-Bari, 6: 697) Bukankah kita telah diperintahkan untuk mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, قُلْ إِنْ كَانَ آَبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ “Katakanlah: “Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya”. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” (QS. At Taubah: 24) Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Jika semua hal-hal tadi lebih dicintai daripada Allah dan Rasul-Nya, serta berjihad di jalan Allah, maka tunggulah musibah dan malapetaka yang akan menimpa kalian.” Ancaman keras inilah yang menunjukkan bahwa mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari makhluk lainnya adalah wajib. Ingatlah tanda cinta Allah adalah dengan mengikuti tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah Ta’ala berfirman, قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ “Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”.” (QS. Ali Imran: 31) Ibnu Katsir berkata mengenai ayat di atas, هذه الآية الكريمة حاكمة على كل من ادعى محبة الله، وليس هو على الطريقة المحمدية فإنه كاذب في دعواه في نفس الأمر “Ayat yang muliau ini menghakimi setiap yang mengakui mencintai Allah sedangkan ia tidak mau mengikuti petunjuk Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka ia berarti telah berdusta dengan pengakuannya sendiri.” Al-Hasan Al-Bashri dan sebagian ulama salaf lainnya, زعم قوم أنهم يحبون الله فابتلاهم الله بهذه الآية “Suatu kaum mengakui cinta pada Allah, maka Allah menguji mereka dengan ayat di atas.” Semoga Allah beri tambahan ilmu yang bermanfaat dan semakin melembutkan hati. — Naskah Khutbah Jumat  11 Muharram 1437 H, di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagscinta nabi kurma
Kenapa pohon kurma itu bisa menangis? Berikut kisahnya … Jabir radhiyallahu ‘anhu berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berdiri di atas sebatang pohon kurma ketika berkhutbah. Setelah dibuatkan mimbar, kami mendengar sesuatu pada batang pohon kurma tersebut seperti suara teriakan unta yang bunting. Sehingga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam turun, lalu meletakkan tangannya pada batang kurma tersebut. Setelah itu, batang pohon itu pun diam.” Dalam riwayat lain disebutkan, “Ketika hari Jum’at, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam duduk di atas mimbar. Lalu batang kurma yang biasa beliau berkhutbah di sana itu berteriak, hampir-hampir batang kurma itu terbelah.” Dalam riwayat lain disebutkan, “Lalu batang kurma itu berteriak seperti teriakan anak kecil. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam turun lalu memegangnya dan memeluknya. Setelah itu, mulailah batang pohon itu mengerang seperti erangan anak kecil yang sedang diredakan tangisannya sampai ia terdiam. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu bersabda, بَكَتْ عَلَى مَا كَانَتْ تَسْمَعُ مِنَ الذِّكْرِ “Ia menangis karena dzikir yang dulu biasa ia dengar.” (HR. Bukhari no. 2095. Disebutkan dalam Riyadh Ash-Shalihin karya Imam Nawawi pada hadits no. 1831)   Tangisan Pohon Kurma, Tanda Mukjizat Nabi Kisah tangisan pohon kurma merupakan kisah yang benar-benar nyata yang diketahui dari khalaf (yang belakangan) dari salaf (yang sebelumnya ada). Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah berkata bahwa ini merupakan tanda kalau benda seperti batang kurma yang tidak bergerak memiliki perasaan seperti hewan, bahkan lebih unggul dari beberapa hewan yang lebih cerdas. Hal ini sesuai dengan firman Allah Ta’ala di mana sebagian ulama maknakan secara tekstual, تُسَبِّحُ لَهُ السَّمَوَاتُ السَّبْعُ وَالْأَرْضُ وَمَنْ فِيهِنَّ وَإِنْ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهِ وَلَكِنْ لَا تَفْقَهُونَ تَسْبِيحَهُمْ إِنَّهُ كَانَ حَلِيمًا غَفُورًا “Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.” (QS. Al-Isra’: 44) Ibnu Abi Hatim telah menukilkan dari Manaqib Asy-Syafi’i, dari bapaknya, dari ‘Amr bin Sawad, dari Imam Asy-Syafi’i, ia berkata, مَا أَعْطَى اللَّه نَبِيًّا مَا أَعْطَى مُحَمَّدًا “Allah tidaklah pernah memberikan sesuatu kepada seorang Nabi seperti yang diberikan pada Nabi Muhammad.” Aku (Ibnu Abi Hatim) berkata, “Nabi ’Isa diberi mukjizat bisa menghidupkan yang mati.” Imam Syafi’i berkata, “Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam diberi mukjizat bisa mendengar suara rintihan batang kurma yang menangis (karena ia tidak mendengar lagi dzikir yang dibaca Nabi ketika Nabi beralih menggunakan mimbar, pen). Mukjizat ini lebih luar biasa dari mukjizat yang diberikan pada Nabi Isa.” (Fath Al-Bari, 6: 603)   Rintihan Pohon Kurma Karena Ditinggal Nabi Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin berkata, ketika seorang wanita Anshar membuatkan mimbar lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhutbah di atasnya, maka batang pohon kurma yang biasa dipakai oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk berkhutbah pun menangis. Pohon tersebut kadang berteriak seperti keadaan unta yang sedang bunting, kadang pula seperti rintihan anak kecil yang menangis. Pohon tersebut menangis karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak lagi berkhutbah di sisinya. Allahu akbar … Benda yang diam seperti itu merintih dan menangis karena ditinggal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sekarang ajaran-ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditinggalkan, tak ada satu pun yang merintih. Semoga Allah menolong kita sekalian untuk senantiasa berdzikir, bersyukur, dan terus memperbagus ibadah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun turun, lantas pohon kurma tersebut terdiam. Nabi mendiamkannya seperti seorang ibu mendiamkan anaknya padahal itu hanyalah sebuah batang yang tidak bergerak. Dari sini menunjukkan bahwa ada dua mukjizat Nabi: (1) rintihan pohon kurma setelah ditinggalkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam karena tidak dipakai lagi untuk tempat berkhutbah, (2) dengan turunnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas memeluk batang kurma tersebut akhirnya menjadi diam dari tangisan atau teriakannya. (Syarh Riyadh Ash-Shalihin, 6: 641)   Pohon Kurma Menangis Karena Cinta dan Rindu pada Nabinya, Bagaimana dengan Kita Manusia? Perlu diketahui, mukjizat itu ada dua macam: Mukjizat yang masih taraf kemampuan manusia, namun tidak bisa dilakukan lalu Allah wujudkan tanda akan benarnya Nabi tersebut. Contoh, Zakariya yang baru memiliki keturunan di masa tua. Mukjizat yang di luar kemampuan manusia dan tidak bisa dilakukan yang semisalnya. Contoh, rintihan pohon kurma yang cinta pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan begitu merindukan ketika berpisah dengan beliau. (Kunuz Riyadh Ash-Shalihin, 21: 465) Ada perkataan yang bagus dari Al-Hasan Al-Bashri ketika ia menyebutkan hadits rintihan pohon kurma ini, ia berkata, يَا مَعْشَر الْمُسْلِمِينَ الْخَشَبَة تَحِنّ إِلَى رَسُول اللَّه صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَوْقًا إِلَى لِقَائِهِ فَأَنْتُمْ أَحَقّ أَنْ تَشْتَاقُوا إِلَيْهِ “Wahai kaum muslimin, batang kurma saja bisa merintih karena rindu bertemu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kalian harusnya lebih berhak rindu pada beliau.” (Fath Al-Bari, 6: 697) Bukankah kita telah diperintahkan untuk mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, قُلْ إِنْ كَانَ آَبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ “Katakanlah: “Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya”. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” (QS. At Taubah: 24) Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Jika semua hal-hal tadi lebih dicintai daripada Allah dan Rasul-Nya, serta berjihad di jalan Allah, maka tunggulah musibah dan malapetaka yang akan menimpa kalian.” Ancaman keras inilah yang menunjukkan bahwa mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari makhluk lainnya adalah wajib. Ingatlah tanda cinta Allah adalah dengan mengikuti tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah Ta’ala berfirman, قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ “Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”.” (QS. Ali Imran: 31) Ibnu Katsir berkata mengenai ayat di atas, هذه الآية الكريمة حاكمة على كل من ادعى محبة الله، وليس هو على الطريقة المحمدية فإنه كاذب في دعواه في نفس الأمر “Ayat yang muliau ini menghakimi setiap yang mengakui mencintai Allah sedangkan ia tidak mau mengikuti petunjuk Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka ia berarti telah berdusta dengan pengakuannya sendiri.” Al-Hasan Al-Bashri dan sebagian ulama salaf lainnya, زعم قوم أنهم يحبون الله فابتلاهم الله بهذه الآية “Suatu kaum mengakui cinta pada Allah, maka Allah menguji mereka dengan ayat di atas.” Semoga Allah beri tambahan ilmu yang bermanfaat dan semakin melembutkan hati. — Naskah Khutbah Jumat  11 Muharram 1437 H, di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagscinta nabi kurma


Kenapa pohon kurma itu bisa menangis? Berikut kisahnya … Jabir radhiyallahu ‘anhu berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berdiri di atas sebatang pohon kurma ketika berkhutbah. Setelah dibuatkan mimbar, kami mendengar sesuatu pada batang pohon kurma tersebut seperti suara teriakan unta yang bunting. Sehingga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam turun, lalu meletakkan tangannya pada batang kurma tersebut. Setelah itu, batang pohon itu pun diam.” Dalam riwayat lain disebutkan, “Ketika hari Jum’at, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam duduk di atas mimbar. Lalu batang kurma yang biasa beliau berkhutbah di sana itu berteriak, hampir-hampir batang kurma itu terbelah.” Dalam riwayat lain disebutkan, “Lalu batang kurma itu berteriak seperti teriakan anak kecil. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam turun lalu memegangnya dan memeluknya. Setelah itu, mulailah batang pohon itu mengerang seperti erangan anak kecil yang sedang diredakan tangisannya sampai ia terdiam. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu bersabda, بَكَتْ عَلَى مَا كَانَتْ تَسْمَعُ مِنَ الذِّكْرِ “Ia menangis karena dzikir yang dulu biasa ia dengar.” (HR. Bukhari no. 2095. Disebutkan dalam Riyadh Ash-Shalihin karya Imam Nawawi pada hadits no. 1831)   Tangisan Pohon Kurma, Tanda Mukjizat Nabi Kisah tangisan pohon kurma merupakan kisah yang benar-benar nyata yang diketahui dari khalaf (yang belakangan) dari salaf (yang sebelumnya ada). Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah berkata bahwa ini merupakan tanda kalau benda seperti batang kurma yang tidak bergerak memiliki perasaan seperti hewan, bahkan lebih unggul dari beberapa hewan yang lebih cerdas. Hal ini sesuai dengan firman Allah Ta’ala di mana sebagian ulama maknakan secara tekstual, تُسَبِّحُ لَهُ السَّمَوَاتُ السَّبْعُ وَالْأَرْضُ وَمَنْ فِيهِنَّ وَإِنْ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهِ وَلَكِنْ لَا تَفْقَهُونَ تَسْبِيحَهُمْ إِنَّهُ كَانَ حَلِيمًا غَفُورًا “Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.” (QS. Al-Isra’: 44) Ibnu Abi Hatim telah menukilkan dari Manaqib Asy-Syafi’i, dari bapaknya, dari ‘Amr bin Sawad, dari Imam Asy-Syafi’i, ia berkata, مَا أَعْطَى اللَّه نَبِيًّا مَا أَعْطَى مُحَمَّدًا “Allah tidaklah pernah memberikan sesuatu kepada seorang Nabi seperti yang diberikan pada Nabi Muhammad.” Aku (Ibnu Abi Hatim) berkata, “Nabi ’Isa diberi mukjizat bisa menghidupkan yang mati.” Imam Syafi’i berkata, “Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam diberi mukjizat bisa mendengar suara rintihan batang kurma yang menangis (karena ia tidak mendengar lagi dzikir yang dibaca Nabi ketika Nabi beralih menggunakan mimbar, pen). Mukjizat ini lebih luar biasa dari mukjizat yang diberikan pada Nabi Isa.” (Fath Al-Bari, 6: 603)   Rintihan Pohon Kurma Karena Ditinggal Nabi Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin berkata, ketika seorang wanita Anshar membuatkan mimbar lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhutbah di atasnya, maka batang pohon kurma yang biasa dipakai oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk berkhutbah pun menangis. Pohon tersebut kadang berteriak seperti keadaan unta yang sedang bunting, kadang pula seperti rintihan anak kecil yang menangis. Pohon tersebut menangis karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak lagi berkhutbah di sisinya. Allahu akbar … Benda yang diam seperti itu merintih dan menangis karena ditinggal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sekarang ajaran-ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditinggalkan, tak ada satu pun yang merintih. Semoga Allah menolong kita sekalian untuk senantiasa berdzikir, bersyukur, dan terus memperbagus ibadah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun turun, lantas pohon kurma tersebut terdiam. Nabi mendiamkannya seperti seorang ibu mendiamkan anaknya padahal itu hanyalah sebuah batang yang tidak bergerak. Dari sini menunjukkan bahwa ada dua mukjizat Nabi: (1) rintihan pohon kurma setelah ditinggalkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam karena tidak dipakai lagi untuk tempat berkhutbah, (2) dengan turunnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas memeluk batang kurma tersebut akhirnya menjadi diam dari tangisan atau teriakannya. (Syarh Riyadh Ash-Shalihin, 6: 641)   Pohon Kurma Menangis Karena Cinta dan Rindu pada Nabinya, Bagaimana dengan Kita Manusia? Perlu diketahui, mukjizat itu ada dua macam: Mukjizat yang masih taraf kemampuan manusia, namun tidak bisa dilakukan lalu Allah wujudkan tanda akan benarnya Nabi tersebut. Contoh, Zakariya yang baru memiliki keturunan di masa tua. Mukjizat yang di luar kemampuan manusia dan tidak bisa dilakukan yang semisalnya. Contoh, rintihan pohon kurma yang cinta pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan begitu merindukan ketika berpisah dengan beliau. (Kunuz Riyadh Ash-Shalihin, 21: 465) Ada perkataan yang bagus dari Al-Hasan Al-Bashri ketika ia menyebutkan hadits rintihan pohon kurma ini, ia berkata, يَا مَعْشَر الْمُسْلِمِينَ الْخَشَبَة تَحِنّ إِلَى رَسُول اللَّه صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَوْقًا إِلَى لِقَائِهِ فَأَنْتُمْ أَحَقّ أَنْ تَشْتَاقُوا إِلَيْهِ “Wahai kaum muslimin, batang kurma saja bisa merintih karena rindu bertemu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kalian harusnya lebih berhak rindu pada beliau.” (Fath Al-Bari, 6: 697) Bukankah kita telah diperintahkan untuk mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, قُلْ إِنْ كَانَ آَبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ “Katakanlah: “Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya”. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” (QS. At Taubah: 24) Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Jika semua hal-hal tadi lebih dicintai daripada Allah dan Rasul-Nya, serta berjihad di jalan Allah, maka tunggulah musibah dan malapetaka yang akan menimpa kalian.” Ancaman keras inilah yang menunjukkan bahwa mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari makhluk lainnya adalah wajib. Ingatlah tanda cinta Allah adalah dengan mengikuti tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah Ta’ala berfirman, قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ “Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”.” (QS. Ali Imran: 31) Ibnu Katsir berkata mengenai ayat di atas, هذه الآية الكريمة حاكمة على كل من ادعى محبة الله، وليس هو على الطريقة المحمدية فإنه كاذب في دعواه في نفس الأمر “Ayat yang muliau ini menghakimi setiap yang mengakui mencintai Allah sedangkan ia tidak mau mengikuti petunjuk Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka ia berarti telah berdusta dengan pengakuannya sendiri.” Al-Hasan Al-Bashri dan sebagian ulama salaf lainnya, زعم قوم أنهم يحبون الله فابتلاهم الله بهذه الآية “Suatu kaum mengakui cinta pada Allah, maka Allah menguji mereka dengan ayat di atas.” Semoga Allah beri tambahan ilmu yang bermanfaat dan semakin melembutkan hati. — Naskah Khutbah Jumat  11 Muharram 1437 H, di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagscinta nabi kurma

DAHSYATNYA ISTIGHFAR

(Khutbah Jum’at 9/1/1437 H – 23/10/2015)Oleh Asy-Syaikh Ali Al-HudzaifiKhutbah PertamaSegala puji bagi Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, yang Maha mengetahui lagi maha bijaksana, pemberi karunia yang besar. Aku memuji Robbku dan aku bersyukur kepadaNya dan aku bertaubat kepadaNya dan beristighfar kepadaNya. Dan aku bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak disembah melainkan Allah semata tiada sekutu bagiNya –Pemilik ‘Arsy yang mulia-. Dan aku bersaksi bahwasanya Nabi kita dan pemimpin kita Muhammad adalah hamba dan RasulNya, pemilik akhlak yang agung. Ya Allah curahkanlah shalawat dan salam kepada hambaMu dan rasulMu Muhammad, dan kepada keluarganya serta para sahabatnya yang merupakan para da’i yang mendapatkan petunjuk menujuk kepada jalan yang lurus.Amma ba’du, maka bertakwalah kepada Allah dengan menjalankan apa yang diridoi oleh Allah dan meninggalkan apa yang diharamkanNya agar kalian meraih keridoanNya dan kenikmatan surgaNya, serta kalian selamat dari kemurkaanNya dan siksaanNya. Kaum muslimin sekalian, sesungguhnya Robb kita yang Maha mulia telah memperbanyak pintu-pintu kebaikan dan jalan-jalan untuk beramal sholeh sebagai bentuk karunia, kasih sayang, kedermawanan, dan kebaikan Allah yang maha perkasa dan mulia. Agar seorang muslim masuk ke pintu kebaikan mana saja dan menempuh jalan ketaatan mana saja sehingga Allah memperbaiki kehidupan dunianya, dan mengangkat derajatnya di akhirat. Maka Allah akan memuliakannya dengan kehidupan yang baik dan penuh kebahagiaan, dan meraih kenikmatan yang abadi serta keridhoan Robbnya setelah kematiannya. Allah berfirman :فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ أَيْنَ مَا تَكُونُوا يَأْتِ بِكُمُ اللَّهُ جَمِيعًا إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌMaka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu (QS Al-Baqoroh : 148)Dan Allah berfirman tentang para Nabi –’alaihis salam- yang merupakan teladan bagi manusiaإِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَSesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu´ kepada Kami (QS Al-Anbiyaa : 90)Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada Mu’adz radhiallahu ‘anhu :“Maukah aku tunjukan kepadamu pintu-pintu kebaikan?, puasa adalah perisai, dan sedekah memadamkan kesalahan sebagaimana air memadamkan api,  dan sholatnya seseorang di tengah malam, lalu Nabi membacakan firman Allah :تَتَجَافَى جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَطَمَعًا وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ (16) فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَا أُخْفِيَ لَهُمْ مِنْ قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَLambung mereka jauh dari tempat tidurnya dan mereka selalu berdoa kepada Rabbnya dengan penuh rasa takut dan harap, serta mereka menafkahkan apa apa rezeki yang Kami berikan. Tak seorangpun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang indah dipandang sebagai balasan bagi mereka, atas apa yang mereka kerjakan (QS As-Sajdah 16-17)Kemudian Nabi berkata ; “Maukah aku kabarkan kepadamu tentang kepala agama ini dan tiangnya serta puncaknya?”Aku (Muadz) berkata : “Tentu wahai Rasulullah”Nabi berkata, “Kepala agama adalah Islam, dan tiangnya adalah sholat, dan puncaknya adalah jihad di jalan Allah” (HR At-Tirmidzi dan dishahihkan olehnya)Diantara pintu-pintu kebaikan dan jalan-jalan ketaatan serta sebab-sebab penghapus dosa-dosa adalah beristighfar. Dan istighfar adalah sunnahnya para nabi dan rasul ‘alaihimus salam. Allah berfirman tentang dua nenek moyang manusia :قَالَا رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَKeduanya berkata: “Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi (QS Al-A’rof : 23)Dan Allah berfirman tentang Nuh ‘alaihis salam :رَبِّ اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِمَنْ دَخَلَ بَيْتِيَ مُؤْمِنًا وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِYa Tuhanku! Ampunilah aku, ibu bapakku, orang yang masuk ke rumahku dengan beriman dan semua orang yang beriman laki-laki dan perempuan. (Qs Nuuh : 28)Allah azza wa jalla berfirman tentang Al-Kholil (Ibrahim a.s) :رَبَّنَا اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُYa Tuhan kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapaku dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari kiamat)” (Qs Ibrahim : 41)Allah berfirman tentang Musa a.s :قَالَ رَبِّ اغْفِرْ لِي وَلِأَخِي وَأَدْخِلْنَا فِي رَحْمَتِكَ وَأَنْتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَMusa berdoa: “Ya Tuhanku, ampunilah aku dan saudaraku dan masukkanlah kami ke dalam rahmat Engkau, dan Engkau adalah Maha Penyayang di antara para penyayang” (QS Al-A’raf : 151)Dan Allah berfirman :وَظَنَّ دَاوُودُ أَنَّمَا فَتَنَّاهُ فَاسْتَغْفَرَ رَبَّهُ وَخَرَّ رَاكِعًا وَأَنَابَDan Daud mengetahui bahwa Kami mengujinya; maka ia meminta ampun kepada Tuhannya lalu menyungkur sujud dan bertaubat (QS Shaad : 24)Allah berfirman seraya memerintahkan NabiNya shallallahu ‘alaihi wasallam:فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِMaka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan, tuhan) selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. (Qs Muhammad : 19)Diantara petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah banyak beristighfar padahal Allah telah mengampuni bagi beliau dosa beliau yang telah lalu maupun yang akan datang. Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma ia berkata :كُنَّا نَعُدُّ لِرَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْمَجْلِسِ الْوَاحِدِ مِائَةَ مَرَّةٍ “رَبِّ اغْفِرْ لِي وَتُبْ عَلَيَّ إِنَّكَ أَنْتَ تَوَّابُ رَحِيْمٌ”“Kami menghitung dalam satu majelis seratus kali Rasulullah berucap : “Ya Allah ampuni aku dan terimalah taubatku, sesungguhnya Engkau Maha penerima taubat dan maha penyayang” (HR Abu Dawud dan At-Thirmidzi, dan ia berkata : Hadits hasan shahih).Dan dari Aisyah r.a ia berkata :“Rasulullah sebelum meninggalnya banyak mengucapkan :سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ أَسْتَغِفِرُ اللهَ وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ(Aku mensucikan Allah dan memujiNya, Aku beristighfar kepadaNya dan bertaubat kepadaNya) (HR Al-Bukhari dan Muslim).Dan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu ia berkata : Aku tidak pernah melihat seorangpun yang lebih banyak dari pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam mengucapkan :أَسْتَغِفِرُ اللهَ وَأَتُوْبُ إِلَيْهِAku beristighfar kepadaNya dan bertaubat kepadaNya (HR An-Nasaai).Dan Nabi shallalahu ‘alaihi wasallam setelah salam dari sholat beliau berkata “Astaghfirullah” (Aku memohon ampunan Allah) sebanyak tiga kali” (HR Muslim dari Tsauban r.a), lalu setelah itu Nabi mengucapkan dzikir yang disyari’atkan setelah sholat.Istighfar merupakan kebiasaan orang-orang shalih dan amal orang-orang baik yang bertakwa, serta merupakan syi’ar kaum mukminin. Allah berfirman tentang mereka :الَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا إِنَّنَا آمَنَّا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ (16) الصَّابِرِينَ وَالصَّادِقِينَ وَالْقَانِتِينَ وَالْمُنْفِقِينَ وَالْمُسْتَغْفِرِينَ بِالْأَسْحَارِ(Yaitu) orang-orang yang berdoa: Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah beriman, maka ampunilah segala dosa kami dan peliharalah kami dari siksa neraka,  (yaitu) orang-orang yang sabar, yang benar, yang tetap taat, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah), dan yang memohon ampun di waktu sahur (Qs Ali-‘Imron : 16-17)Dan Allah berfirman :وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَDan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui (QS Ali-Imron : 135)Ibnu Rojab rahimahullah berkata, “Adapun beristighfar dari dosa-dosa adalah adalah memohon ampunan, dan seorang hamba sangat membutuhkan ampunan Allah, karena ia berdosa siang dan malam, dan telah berulang-ulang dalam Al-Qur’an penyebutan taubat dan istighfar dan perintah untuk melakukan keduanya serta motivasi untuk melakukannya”Dan memohon ampunan kepada Rabb jalla wa ‘ala maka Allah menjanjikan untuk mengabulkan dan memberi ampunan.          Dan disyari’atkan seorang hamba memohon ampunan untuk dosa tertentu berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam :إِنَّ عَبْدًا أَذْنَبَ ذَنْبًا فَقَالَ : يَا رَبِّ إِنِّي عَمِلْتُ ذَنْبًا فَاغْفِرْ لِي، فَقَالَ اللهُ : عَلِمَ عَبْدِي أَنَّ لَهُ ربّاً يَغْفِرُ الذَّنْبَ وَيَأْخُذُ بِهِ قَدْ غَفَرْتُ لِعَبْدِي“Sesungguhnya seorang hamba berbuat suatu dosa, maka ia berkata : Ya Rabbku sesungguhnya aku melakukan suatu dosa maka ampunilah aku. Maka Allah berkata, “HambaKu tahu bahwasanya ia memiliki Robb yang mengampuni dosa dan menghukum karena dosa, maka sungguh aku telah mengampuni hambaKu” (HR Al-Bukhari dan Muslim dari hadits Abu Hurairah r.a)Sebagaimana juga disyari’atkan agar seorang hamba memohon ampunan (maghfiroh) secara mutlak yaitu dengan berkataرَبِّ اغْفِرْ لِي وَارْحَمْنِي“Ya Allah ampuni aku dan rahmatilah aku”Allah berfirman :وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِينَDan katakanlah: “Ya Tuhanku berilah ampun dan berilah rahmat, dan Engkau adalah Pemberi rahmat Yang Paling baik” (QS Al-Mukminun : 118)Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan kepada seseorang jika ia masuk Islam agar ia berdoa dengan doa berikut :اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي وَارْحَمْنِي وَاهْدِنِي وَعَافِنِي وَارْزُقْنِي“Ya Allah ampuni aku, rahmatilah aku, berilah petunjuk kepadaku, sehatkanlah tubuhku, dan berilah rizki kepadaku” (HR Muslim dari hadits Thariq bin Usyaim r.a.)Sebagaiman disyari’atkan bagi seorang hamba untuk memohon dari Robnya ampunan bagi seluruh dosa-dosanya apa yang ia ketahui dana yang ia tidak ketahui dari dosa-dosanya tersebut. Karena banyak dari dosa yang ia tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah sementara hamba dihukum karenanya.Dari Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallalahu ‘alaihi wasallam bahwasanya beliau berdoa dengan doa berikut ini :«اللهُمَّ اغْفِرْ لِي خَطِيئَتِي وَجَهْلِي، وَإِسْرَافِي فِي أَمْرِي، وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّي، اللهُمَّ اغْفِرْ لِي جِدِّي وَهَزْلِي، وَخَطَئِي وَعَمْدِي، وَكُلُّ ذَلِكَ عِنْدِي، اللهُمَّ اغْفِرْ لِي مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ، وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ، وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّي، أَنْتَ الْمُقَدِّمُ وَأَنْتَ الْمُؤَخِّرُ، وَأَنْتَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ»“Ya Allah ampunilah bagiku dosa karena kesalahanku, dosa karena kebodohanku, sikap berlebihanku dalam urusanku, dan dosa yang Engkau lebih mengetahuinya daripada aku, Ya Allah ampunilah bagiku dosa yang karena yang kulakukan dengan sungguh-sungguh, dosa karena candaku, dosa karena ketidak sengajaanku, dosa karena kesengajaanku, dan itu semua ada pada diriku. Ya Allah ampunilah dosa-dosakua yang telah lalu dan yang akan datang, dosa yang kulakukan dengan sembunyi-sembunyi dan yang aku lakukan terang-terangan, dan dosa yang Engkau lebih mengetahuinya dari pada aku. Engkau adalah yang menentukan maju atau mundurnya, dan Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu” (HR Al-Bukhari dan Muslim)Dan berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihin wasallam :الشِّرْكُ فِي هَذِهِ الأُمَّةِ أَخْفَى مِنْ دَبِيْبِ النَّمْلِ“Kesyirikan pada umat ini lebih samar daripada rayapan semut”. Maka Abu Bakar radhiallahu ‘anhu berkata,فَكَيْفَ الْخَلاَصُ مِنْهُ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟“Bagaimana cara selamat darinya wahai Rasulullah?”.Nabi berkata, “Hendaknya engkau berdoa :اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ شَيْئًا وَأَنَا أَعْلَمُهُ وَأَسْتَغْفِرُكَ مِنَ الذَّنْبِ الَّذِي لاَ أَعْلَمُ“Ya Allah aku berlindung kepadaMu dari berbuat syirik apapun kepadaMu yang aku  mengetahuinya dan aku memohon ampunan kepadaMu dari dosa yang aku tidak mengetahuinya” (HR Ibnu Hibban dari hadits Abu Bakar, dan Ahmad dari hadits Abu Musa).Dan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwasanya beliau berdoa :اللهُمَّ اغْفِرْ لِي ذَنْبِي كُلَّهُ دِقَّهُ، وَجِلَّهُ، خَطَأَهُ وَعَمْدَهُ وَسِرَّهُ وَعَلَانِيَتَهُ وَأَوَّلَهُ وَآخِرَهُ“Ya Allah ampunilah dosaku seluruhnya, yang kecil dan yang besar, yang tanpa sengaja maupun yang disengaja, yang tersembunyi maupun yang tampak, yang awal dan yang terakhir” (HR Muslim dan Abu Dawud)Jika seorang hamba memohon kepada Robbnya ampunan dosa-dosanya dengan doa yang ikhlas dan penuh permohonan serta permintaan penuh ketundukan dan kehinaan maka mencakup taubat dari dosa-dosa.Dan memohon taubat serta bimbingan untuk taubat mencakup istighfar, maka istighfar dan taubat jika disebutkan masing-masing sendirian maka mencakup yang lainnya. Dan jika disebutkan keduanya (secara bersamaan) dalam nash-nash maka makna istighfar adalah memohon dihapuskannya dosa-dosa dan dihilangkannya sisa dan dampaknya serta memohon perlindungan dari buruknya dosa-dosa yang telah lalu serta agar ditutup. Dan taubat maknanya adalah kembali kepada Allah dengan meninggalkan dosa-dosa dan memohon perlindungan dari apa yang dikhawatirkan di kemudian hari dari keburukan-keburukan amalannya serta tekad untuk tidak kembali melakukannya lagi.Dan telah dikumpulkan antara istighfar dan taubat dalam firman Allah :وَأَنِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُمَتِّعْكُمْ مَتَاعًا حَسَنًا إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى وَيُؤْتِ كُلَّ ذِي فَضْلٍ فَضْلَهُ وَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ كَبِيرٍDan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepada-Nya. (Jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberikan kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya. Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa siksa hari kiamat (QS Huud :3) dan ayat-ayat lainnya.Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :يَا أَيُّهَا النَّاسُ ! تُوْبُوا إِلَى رَبِّكُمْ وَاسْتَغْفِرُوْهُ، فَإِنِّي أَتُوْبُ إِلى اللهِ وَأَسْتَغْفِرُهُ كُلَّ يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ“Wahai manusia ! bertobatlah kalian kepada Tuhan kalian dan mintalah ampun kepadaNya. Sesungguhnya aku sendiri bertobat kepada Allah dan memohon ampunanNya setiap hari Seratus kali “. HR An-Nasai dari hadis Al-Muzani radhiyallahu ‘anhuSeorang hamba seharusnya selalu sangat butuh untuk memohon ampun kepada Allah, terutama di zaman seperti sekarang ini karena bermacam-macam cobaan lantaran banyaknya dosa dan fitnah, sehingga Allah membimbingnya dalam kehidupannya dan setelah matinya serta memperbaiki urusannya. Sesungguhnya istighfar merupakan pintu masuk segala kebaikan dan benteng dari segala keburukan berikut  hukumannya. Maka umat ini sangat perlu beristighfar secara terus menerus agar Allah mengangkat bencana yang menimpa umat ini, dan menghapuskan sanksi hukuman yang akan dijatuhkan. Tidak ada yang enggan beristighfar kecuali orang yang tidak memahami manfaatnya dan keberkahannya. Al-Qur’an dan As-Sunnah telah banyak menjelaskan tentang keutamaan istighfar.Allah subhanahu wa ta’ala berfirman tentang Nabi Salih a.s. :قَالَ يَاقَوْمِ لِمَ تَسْتَعْجِلُونَ بِالسَّيِّئَةِ قَبْلَ الْحَسَنَةِ لَوْلَا تَسْتَغْفِرُونَ اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ“ Dia [Shalih] berkata, “ Hai kaumku ! Mengapa kalian meminta disegerakan suatu keburukan sebelum kebaikan, mengapakah kalian tidak memohon ampun kepada Allah supaya kalian mendapatkan rahmat “.(QS An-Naml : 46)Maka dengan Istighfar, turunlah rahmat Allah kepada umat ini.Allah subhanahu wa ta’ala berfirman tentang Nuh a.s. :فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا (10) يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا (11) وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا “Mintalah ampun kepada Tuhan kalian, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun. Supaya Dia menurunkan kepada kalian hujan deras dari langit. Dan mengirim bantuan kepada kalian [berupa] harta benda dan [keturunan] anak-anak lelaki serta menjadikan untuk kalian kebun-kebun dan sungai-sungai. (QS Nuuh : 10-12)Allah subhanahu wa ta’ala berfirman tentang Nabi Hud, a.s. :وَيَاقَوْمِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا وَيَزِدْكُمْ قُوَّةً إِلَى قُوَّتِكُمْ وَلَا تَتَوَلَّوْا مُجْرِمِينَ“Wahai kaumku ! mohonlah ampun kepada Tuhan kalian kemudian bertobatlah kalian kepadaNya, niscaya Dia akan mengirimkan hujan deras kepada kalian dan menambah kekuatan lebih dari kekuatan yang ada pada kalian, dan janganlah kalian berpaling sebagai orang-orang yang berdosa”. (QS Huud : 52)Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنْتَ فِيهِمْ وَمَا كَانَ اللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ “Tidaklah mungkin Allah menghukum mereka sementara engkau berada di tengah-tengah mereka, dan tidak mungkin pula Allah menghukum mereka sementara mereka sedang beristighfar “ (QS Al-Anfaal : 33)Abu Musa berkata  : “Kalian dahulu mendapatkan dua jaminan keamanan; Adapun Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam maka telah wafat, namun istighfar tetap ada pada kalian hingga hari Kiamat.Seringnya istighfar yang dilakukan umat ini dapat mengangkat bencana yang telah terjadi dan menolak bencana yang akan terjadi. Tiada suatu bencana yang melanda kecuali disebabkan suatu dosa manusia, dan tidak ada cara lain menghilangkan bencana kecuali bertobat dan beristighfar”.Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :مَنْ لَزِمَ الِاسْتِغْفَارَ جَعَلَ اللَّهُ لَهُ مِنْ كُلِّ ضِيقٍ مَخْرَجًا وَمِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ“ Barangsiapa yang selalu beristighfar, maka Allah menjadikan baginya pada setiap kesempitan suatu solusi, dan setiap keprihatinan suatu jalan keluar, dan Allah memberinya rezeki dari jalan yang tak terduga”). HR Abu Dawud.Telah datang dari Nabi Saw. sabda-sabda beliau yang terjaga yang penuh berkah tentang Istighfar, dimana istighfar mendatangkan pahala yang besar. Antara lain sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam :مَنْ قَالَ: أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيَّ الْقَيُّومَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ غُفِرَ لَهُ وَإِنْ كَانَ قَدْ فَرَّ مِنَ الزَّحْفِ“Barangsiapa mengucapkan kalimat : Aku memohon ampun kepada Allah Yang tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Dia Yang Maha Hidup dan Yang Mengayomi. Aku bertobat kepadaNya, maka diampuni dosa-dosanya meskipun ia pernah lari dari barisan perang”. HR Abu Dawud  dan At-Turmuzi dan Al-Hakim. Dikatakannya, sebagai hadis Shahih sesuai syarat Bukhari dan Muslim.Dari Abi Said Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :مَنْ قَالَ حِينَ يَأْوِي إِلَى فِرَاشِهِ: أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الَّذِي لَا إِله إِلا هوَ الحيَّ القيومَ وأتوبُ إِليهِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ غَفَرَ اللَّهُ لَهُ ذُنُوبُهُ وَإِنْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ الْبَحْرِ أَوْ عَدَدَ رَمْلِ عَالَجٍ أَوْ عَدَدَ وَرَقِ الشَّجَرِ أَوْ عَدَدَ أَيَّامِ الدُّنْيَا“Barangsiapa berucap ketika hendak  menuju tempat tidurnya, “Aku memohon ampun kepada Allah Yang tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Dia Yang Maha Hidup dan Yang Mengayomi. Aku bertobat kepadaNya tiga kali, maka Allah ampuni dosa-dosanya meskipun sebanyak buih di laut ). HR At-Turmuzi.Dari Ubadah Bin As-Shamit radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :مَنْ تَعَارَّ مِنَ اللَّيْلِ فَقَالَ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ ثُمَّ قَالَ: رَبِّ اغْفِرْ لِي أَوْ قَالَ: ثمَّ دَعَا استيجيب لَهُ فَإِنْ تَوَضَّأَ وَصَلَّى قُبِلَتْ صَلَاتُهُ“Barangsiapa yang terjaga di malam hari lalu mengucapkan zikir, “ Tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tiada sekutu bagiNya. Hanya milikNya kerajaan dan hanya milikNya pula segala pujian. Dia atas segala sesuatu Maha Kuasa. Maha Suci Allah, segala puji bagi Allah. Tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, Allah Maha Besar. Ya Allah ampunilah aku. Lalu berdo’a, niscaya dikabulkan do’anya. Jika dia shalat, niscaya diterima shalatnya”. (HR Bukhari).Disebutkan dalam hadis pula :من قال صبيحة يوم الجمعة قبل صلاة الغداة: أستغفر الله الذي لا إله إلا هو الحي القيوم وأتوب إليه ثلاث مرات غفر الله تعالى ذنوبه ولو كانت مثل زبد البحر“Barangsiapa yang berzikir sebelum terbitnya fajar hari Jum’at, “Aku memohon ampun kepada Allah Yang tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Dia Yang Maha Hidup dan Yang Mengayomi. Aku bertobat kepadaNya Tiga kali, maka diampuni dosa-dosanya meskipun sebanyak buih di laut”.Diriwayatkan dari Syaddad Bin Aus  radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :Penghulu Istighfar adalah ucapan seorang hamba :سَيِّدُ الِاسْتِغْفَارِ أَنْ تَقُولَ: اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعَتُ أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ وَأَبُوءُ بِذَنْبِي فَاغْفِرْ لِي فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ “. قَالَ: «وَمَنْ قَالَهَا مِنَ النَّهَارِ مُوقِنًا بِهَا فَمَاتَ مِنْ يَوْمِهِ قَبْلَ أَنْ يُمْسِيَ فَهُوَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ وَمَنْ قَالَهَا مِنَ اللَّيْلِ وَهُوَ مُوقِنٌ بِهَا فَمَاتَ قَبْلَ أَنْ يُصْبِحَ فَهُوَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ»“Ya Allah, Engkau Tuhanku, tiada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau. Engkau telah ciptakan diriku, dan aku hambaMu, aku tetap setia memegang janjiMu dengan segala kemampuanku, aku berlindung kepadaMu dari kejahatan perbuatanku, aku mengakui besarnya nikmatMu kepadaku dan aku mengakui dosaku, maka ampunilah aku, sesungguhnya tidak ada yang dapat mengampuni dosa-dosa kecuali Engkau. Barangsiapa yang mengucapkannya di siang hari dengan penuh keyakinan lalu meninggal pada hari itu sebelum menjelang sore, maka masuklah ia ke dalam surga. Dan barangsiapa yang mengucapkannya di malam hari dengan penuh keyakinan lalu meninggal sebelum menjelang pagi, maka diapun termasuk penghuni surga”. (HR Bukhari)Dari Anas radhiyallahu ‘anhu berkata, aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :يَا ابنَ آدمَ إِنَّك لَوْ بَلَغَتْ ذُنُوبُكَ عَنَانَ السَّمَاءِ ثُمَّ اسْتَغْفَرْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ وَلَا أُبَالِي“Wahai anak Adam, Andaikata dosa-dosamu telah mencapai setinggi langit lalu maku meminta ampun kepadaKu, Akupun mengampunimu tanpa mempedulikan”  (HR Turmuzi. Dikatakannya sebagai hadis hasan).Sebagaimana pula seseorang diperintahkan beristighfar ketika sedang melaksanakan ibadah dan ketika selesai beribadah untuk menutup kekurangan yang terjadi, serta menghindari rasa ujub (bangga diri) dan riya’.  Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :ثُمَّ أَفِيضُوا مِنْ حَيْثُ أَفَاضَ النَّاسُ وَاسْتَغْفِرُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌKemudian bertolaklah kalian dari tempat di mana orang-orang lainnya bertolak dan mintalah ampun kalian kepada Allah, sesungguhnya ALLAH Maha Pengampun dan Maha Pemurah. (QS Al-Baqoroh : 199)Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَأَقْرِضُوا اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا وَمَا تُقَدِّمُوا لِأَنْفُسِكُمْ مِنْ خَيْرٍ تَجِدُوهُ عِنْدَ اللَّهِ هُوَ خَيْرًا وَأَعْظَمَ أَجْرًا وَاسْتَغْفِرُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌDirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan berikanlah pinjaman kepada Allah dengan suatu pinjaman yang baik. Apapun kebaikan yang kalian lakukan untuk diri kalian, niscaya akan kalian dapatkannya di sisi Allah suatu balasan yang lebih baik dan pahala yang lebih besar. Dan mintalah ampun kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Pengampun dan Maha Pemurah (QS Al-Muzammil ; 20)Sebagaimana disyariatkan juga seorang muslim memintakan ampun untuk kaum mukminin dan mukminat, muslimin dan muslimat, baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal, sebagai suatu persembahan amal baik dan rasa cinta yang tulus kepada mereka yang seagama dan sebagai syafaat bagi mereka di sisi Allah.Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌDan orang-orang yang datang sesudah mereka berdoa, “Ya Tuhan kami ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah mendahului kami dalam iman, janganlah Engkau jadikan dalam hati kami rasa dendam terhadap orang-orang yang beriman, Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyayang dan Pemurah (QS Al-Hasyr : 10)Dari Ubadah Bin Shamit radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda :مَنِ اسْتَغْفَرَ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَلِلْمُؤْمِنَاتِ كَتَبَ اللهُ لَهُ بِكُلِّ مُؤْمِنٍ وَمُؤْمِنَةٍ حَسَنَةًBarangsiapa yang memintakan ampun untuk orang-orang yang beriman lelaki dan perempuan, maka Allah subhanahu wa ta’ala mencatat baginya suatu kebaikan sebanyak  orang mukmin lelaki dan perempuan (Al-Haitsami berkata : Isnad hadis ini adalah Jayyid ( bagus ),Istighfar yang dimaksud seperti ketika mendoakan mereka dalam shalat Jenazah dan memintakan ampun untuk mereka  yang ada di alam kubur ketika berziarah kuburDan memohonkan ampunan bagi kaum mukminin adalah untuk meneladani para Malaikat pembawa Arasy dan Malaikat Muqarrabin.Allah subhanahu wa ta’ala berfirman  :الَّذِينَ يَحْمِلُونَ الْعَرْشَ وَمَنْ حَوْلَهُ يُسَبِّحُونَ بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَيُؤْمِنُونَ بِهِ وَيَسْتَغْفِرُونَ لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا وَسِعْتَ كُلَّ شَيْءٍ رَحْمَةً وَعِلْمًا فَاغْفِرْ لِلَّذِينَ تَابُوا وَاتَّبَعُوا سَبِيلَكَ وَقِهِمْ عَذَابَ الْجَحِيمِ“Mereka [malaikat] pemikul Arasy di sekelilingnya bertasbih dengan memuji Tuhan mereka, dan beriman kepadaNya serta memintakan ampun bagi orang-orang yang beriman, “ Ya Tuhan kami, Engkau meliputi segala sesuatu dengan rahmat dan pengetahuan, maka ampunilah orang-orang bertobat dan mengikuti jalanMu, lindunginlah mereka dari siksa neraka Jahim” (QS Ghofir : 7)Dan ini merupakan bentuk berbuat baik yang besar untuk kaum mukminin. Wahai hamba-hamba Allah. Laksanakanlah perintah TuhanMu. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam hadis Qudsi :يَا عِبَادِي إِنَّكُمْ تُخْطِئُونَ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَأَنَا أَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا فَاسْتَغْفِرُونِي أَغْفِرْ لَكُمْ“Wahai hamba-hambaKu, sesungguhnya kalian semua berbuat salah di malam dan siang hari, sedangkan Aku mengampuni segala dosa, maka mohonlah ampun kepadaKu, niscaya Aku mengampuni kalian semua “ (HR Muslim dari hadis Abi Zar).Maka, bersungguh-sungguhlah kalian beristighfar kepada Allah, niscaya akan kalian rasakan kemurahan dan keberkahan Allah Swt, akan kalian rasakan pula pengaruhnya pada penghapusan dosa dan terangkatnya derajat kalian.Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ لَمْ تُذْنِبُوا لَذَهَبَ اللَّهُ بِكُمْ وَلَجَاءَ بِقَوْمٍ يُذْنِبُونَ فَيَسْتَغْفِرُونَ اللَّهَ فَيَغْفِرُ لَهُمْ“Demi Allah yang jiwaku ada pada genggamanNya, seandainya kalian tidak berbuat dosa niscaya Allah akan melenyapkan kalian dan mendatangkan kaum lain yang berbuat dosa lalu mereka memohon ampun kepada Allah subhanahu wa ta’ala lalu Allah mengampuni mereka”. (HR Muslim)Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala Maha luas ampunanNya, Maha Pemurah dan Maha Mulia.Firman Allah  :وَمَنْ يَعْمَلْ سُوءًا أَوْ يَظْلِمْ نَفْسَهُ ثُمَّ يَسْتَغْفِرِ اللَّهَ يَجِدِ اللَّهَ غَفُورًا رَحِيمًاBarangsiapa yang melakukan suatu kejahatan atau berbuat aniaya terhadap dirinya sendiri lalu memohon ampun kepada Allah, niscaya ia dapatkan Allah Maha Pengampun dan Maha Pemurah (QS An-Nisaa : 110).Semoga Allah mencurahkan keberkahan atas kita semua berkat Al-Qur’an yang agung.==================Khotbah KeduaSegala puji bagi Allah, Maha Pengampun dosa, Maha Penerima tobat, Yang Maha keras siksaNya, Yang mempunya karunia, tiada Tuhan yang berhak disembah kesuali Dia. Kepadanya segalanya akan kembali. Aku memuji Tuhanku dan bersyukur kepadaNya atas anugerahNya yang agung. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan Selain Allah semata, tiada sekutu bagiNya, Yang Maha Mengetahui dan Maha Kuasa. Aku bersaksi bahwa Nabi kita dan junjungan kita Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam adalah Hamba Allah dan Rasul-Nya, sebagai Pemberi kabar gembira dan peringatan bagaikan pelita yang menerangi. Ya Allah curahkanlah shalawat, salam dan keberkahan kepada HambaMu dan RasulMu, Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam beserta seluruh keluarga dan sahabatnya.Selanjutnya, Bertakwalah kepada Tuhan kalian dan murnikanlah ibadah kalian hanya untuk Allah. Takutlah akan hukumanNya dan siksaNya.Kaum muslimin !  waspadalah terhadap fitnah (bencana ) yang sangat membahayakan agama dan urusan dunia, membinasakan hamba di akhirat dan merusak penghidupannya di dunia ini. Maka orang yang selamat adalah orang yang menghindarkan dirinya dari fitnah.  Dan fitnah (bencana) yang paling besar adalah ketika seseorang rancu kepadanya kebenaran yang telah bercampur baur dengan kebatilan, petunjuk dengan kesesatan, amal kebajikan dengan kemungkaran, yang halal dengan yang haram. Nah kini fitnah itu telah mengacaukan negeri  dan penduduknya sehingga sebagian anak-anak muda kaum muslimin keluar dari tempat naungan dan lingkungan mereka yang aman dan kokoh, dari komunitas masyarakat yang santun beralih ke jalan pemikiran yang menyimpang dan sesat karena mengikuti dan loyal kepada kelompok khawarij masa kini yang menyeret mereka untuk mengkafirkan kaum muslimin dan menumpahkan darah tak berdosa, bahkan menfatwakan untuk meledakkan bom bunih diri – Naudzu billah-. Apakah mereka yang meledakkan dirinya itu mengira bahwa dengan perbuatannya itu akan masuk surga.?.  Apakah mereka tidak tahu bahwa orang yang bunuh diri itu tempatnya di neraka ?Tidakkah mereka mendengar atau membaca firman Allah  :وَلَا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا (29) وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ عُدْوَانًا وَظُلْمًا فَسَوْفَ نُصْلِيهِ نَارًا وَكَانَ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرًا (30)Janganlah kalian membunuh diri kalian, sesungguhnya Allah Maha Pengasih terhadap kalian. Barangsiapa yang melakukan perbuatan itu karena melampaui batas dan aniaya, maka Kami akan masukkan dia ke dalam neraka. Dan yang demikian itu bagi Allah sangat mudah (QS An-Nisaa : 29-30)Apakah orang yang membunuh orang islam itu mengira bahwa perbuatannya itu menjadi penyebab dirinya masuk surga ?. Apakah dia tidak tahu bahwa membunuh seorang muslim itu menyebabkan dirinya kekal di neraka ? Apakah dia tidak mendengar atau membaca firman Allah subhanahu wa ta’ala :وَمَنْ يَقْتُلْ مُؤْمِنًا مُتَعَمِّدًا فَجَزَاؤُهُ جَهَنَّمُ خَالِدًا فِيهَا وَغَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَلَعَنَهُ وَأَعَدَّ لَهُ عَذَابًا عَظِيمًاBarangsiapa yang membunuh orang yang beriman dengan sengaja, maka balasannya neraka Jahannam, kekal di dalamnya dan Allah murka kepadanya serta mengutuknya dan menyedikan baginya siksa yang besar (QS An-Nisaa : 93).Apakah tidak sampai kepadanya peringatan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam :مَنْ قَتَلَ مُعَاهَدًا لَمْ يَرَحْ رَائِحَةَ الْجَنَّةِBarangsiapa yang membunuh seorang kafir Mu’ahad ( yang terikat perjanjian damai ), maka ia tidak akan mencium aroma surga .Apakah mereka tidak mengambil pelajaran dari rekan-rekannya sebelumnya di mana mereka melanggar ketentuan-ketentuan Allah lalu akhirnya mereka menyesali perbuatan mereka pada saat penyesalan tidak lagi berguna dan orang-orang yang memperdayakan pun tidak mampu menyelamatkan mereka.  Katakan kepada orang yang menyuruh Anda meledakkan diri, supaya mereka meledakkan dirinya sendiri terlebih dahulu, dan ia tidak mungkin berani melakukannya sendiri, karena ia ingin mencampakkan diri Anda ke neraka. Ia ingin memerangi kaum muslimin melalui tangan Anda, mengacaukan keamanan dengan bantuan Anda, menciptakan huru hara melalui perbuatan Anda. Demikian pula kerusakan perusakan dan pertumpahan darah jiwa tak berdosa, mereka jadikan Anda sebagai alat dan mengeluarkan Anda dari masyarakat muslim dan pemimpin umat islam. Padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah berpesan :عَلَيْكُمْ بِالْجَمَاعَةِ وَمَنْ شَذَّ شَذَّ فِي النَّارِHendaklah kalian tetap bersama jemaah kaum muslimin, barangsiapa yang menyendiri akan menyendiri pula di neraka ).Hamba Allah ! Sesungguhnya Allah dan malaikatNya bershalawat kepada Nabi, wahai orang-orang yag beriman bershalawatlah kalian kepadanya dan sampaikan do’a keselamatan kepadanya.===========  Do’a   ===========Penerjemah: Abu Abdil Muhsin Firandawww.firanda.com

DAHSYATNYA ISTIGHFAR

(Khutbah Jum’at 9/1/1437 H – 23/10/2015)Oleh Asy-Syaikh Ali Al-HudzaifiKhutbah PertamaSegala puji bagi Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, yang Maha mengetahui lagi maha bijaksana, pemberi karunia yang besar. Aku memuji Robbku dan aku bersyukur kepadaNya dan aku bertaubat kepadaNya dan beristighfar kepadaNya. Dan aku bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak disembah melainkan Allah semata tiada sekutu bagiNya –Pemilik ‘Arsy yang mulia-. Dan aku bersaksi bahwasanya Nabi kita dan pemimpin kita Muhammad adalah hamba dan RasulNya, pemilik akhlak yang agung. Ya Allah curahkanlah shalawat dan salam kepada hambaMu dan rasulMu Muhammad, dan kepada keluarganya serta para sahabatnya yang merupakan para da’i yang mendapatkan petunjuk menujuk kepada jalan yang lurus.Amma ba’du, maka bertakwalah kepada Allah dengan menjalankan apa yang diridoi oleh Allah dan meninggalkan apa yang diharamkanNya agar kalian meraih keridoanNya dan kenikmatan surgaNya, serta kalian selamat dari kemurkaanNya dan siksaanNya. Kaum muslimin sekalian, sesungguhnya Robb kita yang Maha mulia telah memperbanyak pintu-pintu kebaikan dan jalan-jalan untuk beramal sholeh sebagai bentuk karunia, kasih sayang, kedermawanan, dan kebaikan Allah yang maha perkasa dan mulia. Agar seorang muslim masuk ke pintu kebaikan mana saja dan menempuh jalan ketaatan mana saja sehingga Allah memperbaiki kehidupan dunianya, dan mengangkat derajatnya di akhirat. Maka Allah akan memuliakannya dengan kehidupan yang baik dan penuh kebahagiaan, dan meraih kenikmatan yang abadi serta keridhoan Robbnya setelah kematiannya. Allah berfirman :فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ أَيْنَ مَا تَكُونُوا يَأْتِ بِكُمُ اللَّهُ جَمِيعًا إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌMaka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu (QS Al-Baqoroh : 148)Dan Allah berfirman tentang para Nabi –’alaihis salam- yang merupakan teladan bagi manusiaإِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَSesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu´ kepada Kami (QS Al-Anbiyaa : 90)Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada Mu’adz radhiallahu ‘anhu :“Maukah aku tunjukan kepadamu pintu-pintu kebaikan?, puasa adalah perisai, dan sedekah memadamkan kesalahan sebagaimana air memadamkan api,  dan sholatnya seseorang di tengah malam, lalu Nabi membacakan firman Allah :تَتَجَافَى جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَطَمَعًا وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ (16) فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَا أُخْفِيَ لَهُمْ مِنْ قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَLambung mereka jauh dari tempat tidurnya dan mereka selalu berdoa kepada Rabbnya dengan penuh rasa takut dan harap, serta mereka menafkahkan apa apa rezeki yang Kami berikan. Tak seorangpun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang indah dipandang sebagai balasan bagi mereka, atas apa yang mereka kerjakan (QS As-Sajdah 16-17)Kemudian Nabi berkata ; “Maukah aku kabarkan kepadamu tentang kepala agama ini dan tiangnya serta puncaknya?”Aku (Muadz) berkata : “Tentu wahai Rasulullah”Nabi berkata, “Kepala agama adalah Islam, dan tiangnya adalah sholat, dan puncaknya adalah jihad di jalan Allah” (HR At-Tirmidzi dan dishahihkan olehnya)Diantara pintu-pintu kebaikan dan jalan-jalan ketaatan serta sebab-sebab penghapus dosa-dosa adalah beristighfar. Dan istighfar adalah sunnahnya para nabi dan rasul ‘alaihimus salam. Allah berfirman tentang dua nenek moyang manusia :قَالَا رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَKeduanya berkata: “Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi (QS Al-A’rof : 23)Dan Allah berfirman tentang Nuh ‘alaihis salam :رَبِّ اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِمَنْ دَخَلَ بَيْتِيَ مُؤْمِنًا وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِYa Tuhanku! Ampunilah aku, ibu bapakku, orang yang masuk ke rumahku dengan beriman dan semua orang yang beriman laki-laki dan perempuan. (Qs Nuuh : 28)Allah azza wa jalla berfirman tentang Al-Kholil (Ibrahim a.s) :رَبَّنَا اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُYa Tuhan kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapaku dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari kiamat)” (Qs Ibrahim : 41)Allah berfirman tentang Musa a.s :قَالَ رَبِّ اغْفِرْ لِي وَلِأَخِي وَأَدْخِلْنَا فِي رَحْمَتِكَ وَأَنْتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَMusa berdoa: “Ya Tuhanku, ampunilah aku dan saudaraku dan masukkanlah kami ke dalam rahmat Engkau, dan Engkau adalah Maha Penyayang di antara para penyayang” (QS Al-A’raf : 151)Dan Allah berfirman :وَظَنَّ دَاوُودُ أَنَّمَا فَتَنَّاهُ فَاسْتَغْفَرَ رَبَّهُ وَخَرَّ رَاكِعًا وَأَنَابَDan Daud mengetahui bahwa Kami mengujinya; maka ia meminta ampun kepada Tuhannya lalu menyungkur sujud dan bertaubat (QS Shaad : 24)Allah berfirman seraya memerintahkan NabiNya shallallahu ‘alaihi wasallam:فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِMaka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan, tuhan) selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. (Qs Muhammad : 19)Diantara petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah banyak beristighfar padahal Allah telah mengampuni bagi beliau dosa beliau yang telah lalu maupun yang akan datang. Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma ia berkata :كُنَّا نَعُدُّ لِرَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْمَجْلِسِ الْوَاحِدِ مِائَةَ مَرَّةٍ “رَبِّ اغْفِرْ لِي وَتُبْ عَلَيَّ إِنَّكَ أَنْتَ تَوَّابُ رَحِيْمٌ”“Kami menghitung dalam satu majelis seratus kali Rasulullah berucap : “Ya Allah ampuni aku dan terimalah taubatku, sesungguhnya Engkau Maha penerima taubat dan maha penyayang” (HR Abu Dawud dan At-Thirmidzi, dan ia berkata : Hadits hasan shahih).Dan dari Aisyah r.a ia berkata :“Rasulullah sebelum meninggalnya banyak mengucapkan :سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ أَسْتَغِفِرُ اللهَ وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ(Aku mensucikan Allah dan memujiNya, Aku beristighfar kepadaNya dan bertaubat kepadaNya) (HR Al-Bukhari dan Muslim).Dan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu ia berkata : Aku tidak pernah melihat seorangpun yang lebih banyak dari pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam mengucapkan :أَسْتَغِفِرُ اللهَ وَأَتُوْبُ إِلَيْهِAku beristighfar kepadaNya dan bertaubat kepadaNya (HR An-Nasaai).Dan Nabi shallalahu ‘alaihi wasallam setelah salam dari sholat beliau berkata “Astaghfirullah” (Aku memohon ampunan Allah) sebanyak tiga kali” (HR Muslim dari Tsauban r.a), lalu setelah itu Nabi mengucapkan dzikir yang disyari’atkan setelah sholat.Istighfar merupakan kebiasaan orang-orang shalih dan amal orang-orang baik yang bertakwa, serta merupakan syi’ar kaum mukminin. Allah berfirman tentang mereka :الَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا إِنَّنَا آمَنَّا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ (16) الصَّابِرِينَ وَالصَّادِقِينَ وَالْقَانِتِينَ وَالْمُنْفِقِينَ وَالْمُسْتَغْفِرِينَ بِالْأَسْحَارِ(Yaitu) orang-orang yang berdoa: Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah beriman, maka ampunilah segala dosa kami dan peliharalah kami dari siksa neraka,  (yaitu) orang-orang yang sabar, yang benar, yang tetap taat, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah), dan yang memohon ampun di waktu sahur (Qs Ali-‘Imron : 16-17)Dan Allah berfirman :وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَDan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui (QS Ali-Imron : 135)Ibnu Rojab rahimahullah berkata, “Adapun beristighfar dari dosa-dosa adalah adalah memohon ampunan, dan seorang hamba sangat membutuhkan ampunan Allah, karena ia berdosa siang dan malam, dan telah berulang-ulang dalam Al-Qur’an penyebutan taubat dan istighfar dan perintah untuk melakukan keduanya serta motivasi untuk melakukannya”Dan memohon ampunan kepada Rabb jalla wa ‘ala maka Allah menjanjikan untuk mengabulkan dan memberi ampunan.          Dan disyari’atkan seorang hamba memohon ampunan untuk dosa tertentu berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam :إِنَّ عَبْدًا أَذْنَبَ ذَنْبًا فَقَالَ : يَا رَبِّ إِنِّي عَمِلْتُ ذَنْبًا فَاغْفِرْ لِي، فَقَالَ اللهُ : عَلِمَ عَبْدِي أَنَّ لَهُ ربّاً يَغْفِرُ الذَّنْبَ وَيَأْخُذُ بِهِ قَدْ غَفَرْتُ لِعَبْدِي“Sesungguhnya seorang hamba berbuat suatu dosa, maka ia berkata : Ya Rabbku sesungguhnya aku melakukan suatu dosa maka ampunilah aku. Maka Allah berkata, “HambaKu tahu bahwasanya ia memiliki Robb yang mengampuni dosa dan menghukum karena dosa, maka sungguh aku telah mengampuni hambaKu” (HR Al-Bukhari dan Muslim dari hadits Abu Hurairah r.a)Sebagaimana juga disyari’atkan agar seorang hamba memohon ampunan (maghfiroh) secara mutlak yaitu dengan berkataرَبِّ اغْفِرْ لِي وَارْحَمْنِي“Ya Allah ampuni aku dan rahmatilah aku”Allah berfirman :وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِينَDan katakanlah: “Ya Tuhanku berilah ampun dan berilah rahmat, dan Engkau adalah Pemberi rahmat Yang Paling baik” (QS Al-Mukminun : 118)Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan kepada seseorang jika ia masuk Islam agar ia berdoa dengan doa berikut :اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي وَارْحَمْنِي وَاهْدِنِي وَعَافِنِي وَارْزُقْنِي“Ya Allah ampuni aku, rahmatilah aku, berilah petunjuk kepadaku, sehatkanlah tubuhku, dan berilah rizki kepadaku” (HR Muslim dari hadits Thariq bin Usyaim r.a.)Sebagaiman disyari’atkan bagi seorang hamba untuk memohon dari Robnya ampunan bagi seluruh dosa-dosanya apa yang ia ketahui dana yang ia tidak ketahui dari dosa-dosanya tersebut. Karena banyak dari dosa yang ia tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah sementara hamba dihukum karenanya.Dari Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallalahu ‘alaihi wasallam bahwasanya beliau berdoa dengan doa berikut ini :«اللهُمَّ اغْفِرْ لِي خَطِيئَتِي وَجَهْلِي، وَإِسْرَافِي فِي أَمْرِي، وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّي، اللهُمَّ اغْفِرْ لِي جِدِّي وَهَزْلِي، وَخَطَئِي وَعَمْدِي، وَكُلُّ ذَلِكَ عِنْدِي، اللهُمَّ اغْفِرْ لِي مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ، وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ، وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّي، أَنْتَ الْمُقَدِّمُ وَأَنْتَ الْمُؤَخِّرُ، وَأَنْتَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ»“Ya Allah ampunilah bagiku dosa karena kesalahanku, dosa karena kebodohanku, sikap berlebihanku dalam urusanku, dan dosa yang Engkau lebih mengetahuinya daripada aku, Ya Allah ampunilah bagiku dosa yang karena yang kulakukan dengan sungguh-sungguh, dosa karena candaku, dosa karena ketidak sengajaanku, dosa karena kesengajaanku, dan itu semua ada pada diriku. Ya Allah ampunilah dosa-dosakua yang telah lalu dan yang akan datang, dosa yang kulakukan dengan sembunyi-sembunyi dan yang aku lakukan terang-terangan, dan dosa yang Engkau lebih mengetahuinya dari pada aku. Engkau adalah yang menentukan maju atau mundurnya, dan Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu” (HR Al-Bukhari dan Muslim)Dan berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihin wasallam :الشِّرْكُ فِي هَذِهِ الأُمَّةِ أَخْفَى مِنْ دَبِيْبِ النَّمْلِ“Kesyirikan pada umat ini lebih samar daripada rayapan semut”. Maka Abu Bakar radhiallahu ‘anhu berkata,فَكَيْفَ الْخَلاَصُ مِنْهُ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟“Bagaimana cara selamat darinya wahai Rasulullah?”.Nabi berkata, “Hendaknya engkau berdoa :اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ شَيْئًا وَأَنَا أَعْلَمُهُ وَأَسْتَغْفِرُكَ مِنَ الذَّنْبِ الَّذِي لاَ أَعْلَمُ“Ya Allah aku berlindung kepadaMu dari berbuat syirik apapun kepadaMu yang aku  mengetahuinya dan aku memohon ampunan kepadaMu dari dosa yang aku tidak mengetahuinya” (HR Ibnu Hibban dari hadits Abu Bakar, dan Ahmad dari hadits Abu Musa).Dan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwasanya beliau berdoa :اللهُمَّ اغْفِرْ لِي ذَنْبِي كُلَّهُ دِقَّهُ، وَجِلَّهُ، خَطَأَهُ وَعَمْدَهُ وَسِرَّهُ وَعَلَانِيَتَهُ وَأَوَّلَهُ وَآخِرَهُ“Ya Allah ampunilah dosaku seluruhnya, yang kecil dan yang besar, yang tanpa sengaja maupun yang disengaja, yang tersembunyi maupun yang tampak, yang awal dan yang terakhir” (HR Muslim dan Abu Dawud)Jika seorang hamba memohon kepada Robbnya ampunan dosa-dosanya dengan doa yang ikhlas dan penuh permohonan serta permintaan penuh ketundukan dan kehinaan maka mencakup taubat dari dosa-dosa.Dan memohon taubat serta bimbingan untuk taubat mencakup istighfar, maka istighfar dan taubat jika disebutkan masing-masing sendirian maka mencakup yang lainnya. Dan jika disebutkan keduanya (secara bersamaan) dalam nash-nash maka makna istighfar adalah memohon dihapuskannya dosa-dosa dan dihilangkannya sisa dan dampaknya serta memohon perlindungan dari buruknya dosa-dosa yang telah lalu serta agar ditutup. Dan taubat maknanya adalah kembali kepada Allah dengan meninggalkan dosa-dosa dan memohon perlindungan dari apa yang dikhawatirkan di kemudian hari dari keburukan-keburukan amalannya serta tekad untuk tidak kembali melakukannya lagi.Dan telah dikumpulkan antara istighfar dan taubat dalam firman Allah :وَأَنِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُمَتِّعْكُمْ مَتَاعًا حَسَنًا إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى وَيُؤْتِ كُلَّ ذِي فَضْلٍ فَضْلَهُ وَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ كَبِيرٍDan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepada-Nya. (Jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberikan kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya. Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa siksa hari kiamat (QS Huud :3) dan ayat-ayat lainnya.Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :يَا أَيُّهَا النَّاسُ ! تُوْبُوا إِلَى رَبِّكُمْ وَاسْتَغْفِرُوْهُ، فَإِنِّي أَتُوْبُ إِلى اللهِ وَأَسْتَغْفِرُهُ كُلَّ يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ“Wahai manusia ! bertobatlah kalian kepada Tuhan kalian dan mintalah ampun kepadaNya. Sesungguhnya aku sendiri bertobat kepada Allah dan memohon ampunanNya setiap hari Seratus kali “. HR An-Nasai dari hadis Al-Muzani radhiyallahu ‘anhuSeorang hamba seharusnya selalu sangat butuh untuk memohon ampun kepada Allah, terutama di zaman seperti sekarang ini karena bermacam-macam cobaan lantaran banyaknya dosa dan fitnah, sehingga Allah membimbingnya dalam kehidupannya dan setelah matinya serta memperbaiki urusannya. Sesungguhnya istighfar merupakan pintu masuk segala kebaikan dan benteng dari segala keburukan berikut  hukumannya. Maka umat ini sangat perlu beristighfar secara terus menerus agar Allah mengangkat bencana yang menimpa umat ini, dan menghapuskan sanksi hukuman yang akan dijatuhkan. Tidak ada yang enggan beristighfar kecuali orang yang tidak memahami manfaatnya dan keberkahannya. Al-Qur’an dan As-Sunnah telah banyak menjelaskan tentang keutamaan istighfar.Allah subhanahu wa ta’ala berfirman tentang Nabi Salih a.s. :قَالَ يَاقَوْمِ لِمَ تَسْتَعْجِلُونَ بِالسَّيِّئَةِ قَبْلَ الْحَسَنَةِ لَوْلَا تَسْتَغْفِرُونَ اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ“ Dia [Shalih] berkata, “ Hai kaumku ! Mengapa kalian meminta disegerakan suatu keburukan sebelum kebaikan, mengapakah kalian tidak memohon ampun kepada Allah supaya kalian mendapatkan rahmat “.(QS An-Naml : 46)Maka dengan Istighfar, turunlah rahmat Allah kepada umat ini.Allah subhanahu wa ta’ala berfirman tentang Nuh a.s. :فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا (10) يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا (11) وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا “Mintalah ampun kepada Tuhan kalian, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun. Supaya Dia menurunkan kepada kalian hujan deras dari langit. Dan mengirim bantuan kepada kalian [berupa] harta benda dan [keturunan] anak-anak lelaki serta menjadikan untuk kalian kebun-kebun dan sungai-sungai. (QS Nuuh : 10-12)Allah subhanahu wa ta’ala berfirman tentang Nabi Hud, a.s. :وَيَاقَوْمِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا وَيَزِدْكُمْ قُوَّةً إِلَى قُوَّتِكُمْ وَلَا تَتَوَلَّوْا مُجْرِمِينَ“Wahai kaumku ! mohonlah ampun kepada Tuhan kalian kemudian bertobatlah kalian kepadaNya, niscaya Dia akan mengirimkan hujan deras kepada kalian dan menambah kekuatan lebih dari kekuatan yang ada pada kalian, dan janganlah kalian berpaling sebagai orang-orang yang berdosa”. (QS Huud : 52)Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنْتَ فِيهِمْ وَمَا كَانَ اللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ “Tidaklah mungkin Allah menghukum mereka sementara engkau berada di tengah-tengah mereka, dan tidak mungkin pula Allah menghukum mereka sementara mereka sedang beristighfar “ (QS Al-Anfaal : 33)Abu Musa berkata  : “Kalian dahulu mendapatkan dua jaminan keamanan; Adapun Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam maka telah wafat, namun istighfar tetap ada pada kalian hingga hari Kiamat.Seringnya istighfar yang dilakukan umat ini dapat mengangkat bencana yang telah terjadi dan menolak bencana yang akan terjadi. Tiada suatu bencana yang melanda kecuali disebabkan suatu dosa manusia, dan tidak ada cara lain menghilangkan bencana kecuali bertobat dan beristighfar”.Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :مَنْ لَزِمَ الِاسْتِغْفَارَ جَعَلَ اللَّهُ لَهُ مِنْ كُلِّ ضِيقٍ مَخْرَجًا وَمِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ“ Barangsiapa yang selalu beristighfar, maka Allah menjadikan baginya pada setiap kesempitan suatu solusi, dan setiap keprihatinan suatu jalan keluar, dan Allah memberinya rezeki dari jalan yang tak terduga”). HR Abu Dawud.Telah datang dari Nabi Saw. sabda-sabda beliau yang terjaga yang penuh berkah tentang Istighfar, dimana istighfar mendatangkan pahala yang besar. Antara lain sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam :مَنْ قَالَ: أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيَّ الْقَيُّومَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ غُفِرَ لَهُ وَإِنْ كَانَ قَدْ فَرَّ مِنَ الزَّحْفِ“Barangsiapa mengucapkan kalimat : Aku memohon ampun kepada Allah Yang tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Dia Yang Maha Hidup dan Yang Mengayomi. Aku bertobat kepadaNya, maka diampuni dosa-dosanya meskipun ia pernah lari dari barisan perang”. HR Abu Dawud  dan At-Turmuzi dan Al-Hakim. Dikatakannya, sebagai hadis Shahih sesuai syarat Bukhari dan Muslim.Dari Abi Said Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :مَنْ قَالَ حِينَ يَأْوِي إِلَى فِرَاشِهِ: أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الَّذِي لَا إِله إِلا هوَ الحيَّ القيومَ وأتوبُ إِليهِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ غَفَرَ اللَّهُ لَهُ ذُنُوبُهُ وَإِنْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ الْبَحْرِ أَوْ عَدَدَ رَمْلِ عَالَجٍ أَوْ عَدَدَ وَرَقِ الشَّجَرِ أَوْ عَدَدَ أَيَّامِ الدُّنْيَا“Barangsiapa berucap ketika hendak  menuju tempat tidurnya, “Aku memohon ampun kepada Allah Yang tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Dia Yang Maha Hidup dan Yang Mengayomi. Aku bertobat kepadaNya tiga kali, maka Allah ampuni dosa-dosanya meskipun sebanyak buih di laut ). HR At-Turmuzi.Dari Ubadah Bin As-Shamit radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :مَنْ تَعَارَّ مِنَ اللَّيْلِ فَقَالَ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ ثُمَّ قَالَ: رَبِّ اغْفِرْ لِي أَوْ قَالَ: ثمَّ دَعَا استيجيب لَهُ فَإِنْ تَوَضَّأَ وَصَلَّى قُبِلَتْ صَلَاتُهُ“Barangsiapa yang terjaga di malam hari lalu mengucapkan zikir, “ Tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tiada sekutu bagiNya. Hanya milikNya kerajaan dan hanya milikNya pula segala pujian. Dia atas segala sesuatu Maha Kuasa. Maha Suci Allah, segala puji bagi Allah. Tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, Allah Maha Besar. Ya Allah ampunilah aku. Lalu berdo’a, niscaya dikabulkan do’anya. Jika dia shalat, niscaya diterima shalatnya”. (HR Bukhari).Disebutkan dalam hadis pula :من قال صبيحة يوم الجمعة قبل صلاة الغداة: أستغفر الله الذي لا إله إلا هو الحي القيوم وأتوب إليه ثلاث مرات غفر الله تعالى ذنوبه ولو كانت مثل زبد البحر“Barangsiapa yang berzikir sebelum terbitnya fajar hari Jum’at, “Aku memohon ampun kepada Allah Yang tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Dia Yang Maha Hidup dan Yang Mengayomi. Aku bertobat kepadaNya Tiga kali, maka diampuni dosa-dosanya meskipun sebanyak buih di laut”.Diriwayatkan dari Syaddad Bin Aus  radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :Penghulu Istighfar adalah ucapan seorang hamba :سَيِّدُ الِاسْتِغْفَارِ أَنْ تَقُولَ: اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعَتُ أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ وَأَبُوءُ بِذَنْبِي فَاغْفِرْ لِي فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ “. قَالَ: «وَمَنْ قَالَهَا مِنَ النَّهَارِ مُوقِنًا بِهَا فَمَاتَ مِنْ يَوْمِهِ قَبْلَ أَنْ يُمْسِيَ فَهُوَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ وَمَنْ قَالَهَا مِنَ اللَّيْلِ وَهُوَ مُوقِنٌ بِهَا فَمَاتَ قَبْلَ أَنْ يُصْبِحَ فَهُوَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ»“Ya Allah, Engkau Tuhanku, tiada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau. Engkau telah ciptakan diriku, dan aku hambaMu, aku tetap setia memegang janjiMu dengan segala kemampuanku, aku berlindung kepadaMu dari kejahatan perbuatanku, aku mengakui besarnya nikmatMu kepadaku dan aku mengakui dosaku, maka ampunilah aku, sesungguhnya tidak ada yang dapat mengampuni dosa-dosa kecuali Engkau. Barangsiapa yang mengucapkannya di siang hari dengan penuh keyakinan lalu meninggal pada hari itu sebelum menjelang sore, maka masuklah ia ke dalam surga. Dan barangsiapa yang mengucapkannya di malam hari dengan penuh keyakinan lalu meninggal sebelum menjelang pagi, maka diapun termasuk penghuni surga”. (HR Bukhari)Dari Anas radhiyallahu ‘anhu berkata, aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :يَا ابنَ آدمَ إِنَّك لَوْ بَلَغَتْ ذُنُوبُكَ عَنَانَ السَّمَاءِ ثُمَّ اسْتَغْفَرْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ وَلَا أُبَالِي“Wahai anak Adam, Andaikata dosa-dosamu telah mencapai setinggi langit lalu maku meminta ampun kepadaKu, Akupun mengampunimu tanpa mempedulikan”  (HR Turmuzi. Dikatakannya sebagai hadis hasan).Sebagaimana pula seseorang diperintahkan beristighfar ketika sedang melaksanakan ibadah dan ketika selesai beribadah untuk menutup kekurangan yang terjadi, serta menghindari rasa ujub (bangga diri) dan riya’.  Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :ثُمَّ أَفِيضُوا مِنْ حَيْثُ أَفَاضَ النَّاسُ وَاسْتَغْفِرُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌKemudian bertolaklah kalian dari tempat di mana orang-orang lainnya bertolak dan mintalah ampun kalian kepada Allah, sesungguhnya ALLAH Maha Pengampun dan Maha Pemurah. (QS Al-Baqoroh : 199)Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَأَقْرِضُوا اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا وَمَا تُقَدِّمُوا لِأَنْفُسِكُمْ مِنْ خَيْرٍ تَجِدُوهُ عِنْدَ اللَّهِ هُوَ خَيْرًا وَأَعْظَمَ أَجْرًا وَاسْتَغْفِرُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌDirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan berikanlah pinjaman kepada Allah dengan suatu pinjaman yang baik. Apapun kebaikan yang kalian lakukan untuk diri kalian, niscaya akan kalian dapatkannya di sisi Allah suatu balasan yang lebih baik dan pahala yang lebih besar. Dan mintalah ampun kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Pengampun dan Maha Pemurah (QS Al-Muzammil ; 20)Sebagaimana disyariatkan juga seorang muslim memintakan ampun untuk kaum mukminin dan mukminat, muslimin dan muslimat, baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal, sebagai suatu persembahan amal baik dan rasa cinta yang tulus kepada mereka yang seagama dan sebagai syafaat bagi mereka di sisi Allah.Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌDan orang-orang yang datang sesudah mereka berdoa, “Ya Tuhan kami ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah mendahului kami dalam iman, janganlah Engkau jadikan dalam hati kami rasa dendam terhadap orang-orang yang beriman, Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyayang dan Pemurah (QS Al-Hasyr : 10)Dari Ubadah Bin Shamit radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda :مَنِ اسْتَغْفَرَ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَلِلْمُؤْمِنَاتِ كَتَبَ اللهُ لَهُ بِكُلِّ مُؤْمِنٍ وَمُؤْمِنَةٍ حَسَنَةًBarangsiapa yang memintakan ampun untuk orang-orang yang beriman lelaki dan perempuan, maka Allah subhanahu wa ta’ala mencatat baginya suatu kebaikan sebanyak  orang mukmin lelaki dan perempuan (Al-Haitsami berkata : Isnad hadis ini adalah Jayyid ( bagus ),Istighfar yang dimaksud seperti ketika mendoakan mereka dalam shalat Jenazah dan memintakan ampun untuk mereka  yang ada di alam kubur ketika berziarah kuburDan memohonkan ampunan bagi kaum mukminin adalah untuk meneladani para Malaikat pembawa Arasy dan Malaikat Muqarrabin.Allah subhanahu wa ta’ala berfirman  :الَّذِينَ يَحْمِلُونَ الْعَرْشَ وَمَنْ حَوْلَهُ يُسَبِّحُونَ بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَيُؤْمِنُونَ بِهِ وَيَسْتَغْفِرُونَ لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا وَسِعْتَ كُلَّ شَيْءٍ رَحْمَةً وَعِلْمًا فَاغْفِرْ لِلَّذِينَ تَابُوا وَاتَّبَعُوا سَبِيلَكَ وَقِهِمْ عَذَابَ الْجَحِيمِ“Mereka [malaikat] pemikul Arasy di sekelilingnya bertasbih dengan memuji Tuhan mereka, dan beriman kepadaNya serta memintakan ampun bagi orang-orang yang beriman, “ Ya Tuhan kami, Engkau meliputi segala sesuatu dengan rahmat dan pengetahuan, maka ampunilah orang-orang bertobat dan mengikuti jalanMu, lindunginlah mereka dari siksa neraka Jahim” (QS Ghofir : 7)Dan ini merupakan bentuk berbuat baik yang besar untuk kaum mukminin. Wahai hamba-hamba Allah. Laksanakanlah perintah TuhanMu. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam hadis Qudsi :يَا عِبَادِي إِنَّكُمْ تُخْطِئُونَ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَأَنَا أَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا فَاسْتَغْفِرُونِي أَغْفِرْ لَكُمْ“Wahai hamba-hambaKu, sesungguhnya kalian semua berbuat salah di malam dan siang hari, sedangkan Aku mengampuni segala dosa, maka mohonlah ampun kepadaKu, niscaya Aku mengampuni kalian semua “ (HR Muslim dari hadis Abi Zar).Maka, bersungguh-sungguhlah kalian beristighfar kepada Allah, niscaya akan kalian rasakan kemurahan dan keberkahan Allah Swt, akan kalian rasakan pula pengaruhnya pada penghapusan dosa dan terangkatnya derajat kalian.Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ لَمْ تُذْنِبُوا لَذَهَبَ اللَّهُ بِكُمْ وَلَجَاءَ بِقَوْمٍ يُذْنِبُونَ فَيَسْتَغْفِرُونَ اللَّهَ فَيَغْفِرُ لَهُمْ“Demi Allah yang jiwaku ada pada genggamanNya, seandainya kalian tidak berbuat dosa niscaya Allah akan melenyapkan kalian dan mendatangkan kaum lain yang berbuat dosa lalu mereka memohon ampun kepada Allah subhanahu wa ta’ala lalu Allah mengampuni mereka”. (HR Muslim)Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala Maha luas ampunanNya, Maha Pemurah dan Maha Mulia.Firman Allah  :وَمَنْ يَعْمَلْ سُوءًا أَوْ يَظْلِمْ نَفْسَهُ ثُمَّ يَسْتَغْفِرِ اللَّهَ يَجِدِ اللَّهَ غَفُورًا رَحِيمًاBarangsiapa yang melakukan suatu kejahatan atau berbuat aniaya terhadap dirinya sendiri lalu memohon ampun kepada Allah, niscaya ia dapatkan Allah Maha Pengampun dan Maha Pemurah (QS An-Nisaa : 110).Semoga Allah mencurahkan keberkahan atas kita semua berkat Al-Qur’an yang agung.==================Khotbah KeduaSegala puji bagi Allah, Maha Pengampun dosa, Maha Penerima tobat, Yang Maha keras siksaNya, Yang mempunya karunia, tiada Tuhan yang berhak disembah kesuali Dia. Kepadanya segalanya akan kembali. Aku memuji Tuhanku dan bersyukur kepadaNya atas anugerahNya yang agung. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan Selain Allah semata, tiada sekutu bagiNya, Yang Maha Mengetahui dan Maha Kuasa. Aku bersaksi bahwa Nabi kita dan junjungan kita Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam adalah Hamba Allah dan Rasul-Nya, sebagai Pemberi kabar gembira dan peringatan bagaikan pelita yang menerangi. Ya Allah curahkanlah shalawat, salam dan keberkahan kepada HambaMu dan RasulMu, Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam beserta seluruh keluarga dan sahabatnya.Selanjutnya, Bertakwalah kepada Tuhan kalian dan murnikanlah ibadah kalian hanya untuk Allah. Takutlah akan hukumanNya dan siksaNya.Kaum muslimin !  waspadalah terhadap fitnah (bencana ) yang sangat membahayakan agama dan urusan dunia, membinasakan hamba di akhirat dan merusak penghidupannya di dunia ini. Maka orang yang selamat adalah orang yang menghindarkan dirinya dari fitnah.  Dan fitnah (bencana) yang paling besar adalah ketika seseorang rancu kepadanya kebenaran yang telah bercampur baur dengan kebatilan, petunjuk dengan kesesatan, amal kebajikan dengan kemungkaran, yang halal dengan yang haram. Nah kini fitnah itu telah mengacaukan negeri  dan penduduknya sehingga sebagian anak-anak muda kaum muslimin keluar dari tempat naungan dan lingkungan mereka yang aman dan kokoh, dari komunitas masyarakat yang santun beralih ke jalan pemikiran yang menyimpang dan sesat karena mengikuti dan loyal kepada kelompok khawarij masa kini yang menyeret mereka untuk mengkafirkan kaum muslimin dan menumpahkan darah tak berdosa, bahkan menfatwakan untuk meledakkan bom bunih diri – Naudzu billah-. Apakah mereka yang meledakkan dirinya itu mengira bahwa dengan perbuatannya itu akan masuk surga.?.  Apakah mereka tidak tahu bahwa orang yang bunuh diri itu tempatnya di neraka ?Tidakkah mereka mendengar atau membaca firman Allah  :وَلَا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا (29) وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ عُدْوَانًا وَظُلْمًا فَسَوْفَ نُصْلِيهِ نَارًا وَكَانَ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرًا (30)Janganlah kalian membunuh diri kalian, sesungguhnya Allah Maha Pengasih terhadap kalian. Barangsiapa yang melakukan perbuatan itu karena melampaui batas dan aniaya, maka Kami akan masukkan dia ke dalam neraka. Dan yang demikian itu bagi Allah sangat mudah (QS An-Nisaa : 29-30)Apakah orang yang membunuh orang islam itu mengira bahwa perbuatannya itu menjadi penyebab dirinya masuk surga ?. Apakah dia tidak tahu bahwa membunuh seorang muslim itu menyebabkan dirinya kekal di neraka ? Apakah dia tidak mendengar atau membaca firman Allah subhanahu wa ta’ala :وَمَنْ يَقْتُلْ مُؤْمِنًا مُتَعَمِّدًا فَجَزَاؤُهُ جَهَنَّمُ خَالِدًا فِيهَا وَغَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَلَعَنَهُ وَأَعَدَّ لَهُ عَذَابًا عَظِيمًاBarangsiapa yang membunuh orang yang beriman dengan sengaja, maka balasannya neraka Jahannam, kekal di dalamnya dan Allah murka kepadanya serta mengutuknya dan menyedikan baginya siksa yang besar (QS An-Nisaa : 93).Apakah tidak sampai kepadanya peringatan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam :مَنْ قَتَلَ مُعَاهَدًا لَمْ يَرَحْ رَائِحَةَ الْجَنَّةِBarangsiapa yang membunuh seorang kafir Mu’ahad ( yang terikat perjanjian damai ), maka ia tidak akan mencium aroma surga .Apakah mereka tidak mengambil pelajaran dari rekan-rekannya sebelumnya di mana mereka melanggar ketentuan-ketentuan Allah lalu akhirnya mereka menyesali perbuatan mereka pada saat penyesalan tidak lagi berguna dan orang-orang yang memperdayakan pun tidak mampu menyelamatkan mereka.  Katakan kepada orang yang menyuruh Anda meledakkan diri, supaya mereka meledakkan dirinya sendiri terlebih dahulu, dan ia tidak mungkin berani melakukannya sendiri, karena ia ingin mencampakkan diri Anda ke neraka. Ia ingin memerangi kaum muslimin melalui tangan Anda, mengacaukan keamanan dengan bantuan Anda, menciptakan huru hara melalui perbuatan Anda. Demikian pula kerusakan perusakan dan pertumpahan darah jiwa tak berdosa, mereka jadikan Anda sebagai alat dan mengeluarkan Anda dari masyarakat muslim dan pemimpin umat islam. Padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah berpesan :عَلَيْكُمْ بِالْجَمَاعَةِ وَمَنْ شَذَّ شَذَّ فِي النَّارِHendaklah kalian tetap bersama jemaah kaum muslimin, barangsiapa yang menyendiri akan menyendiri pula di neraka ).Hamba Allah ! Sesungguhnya Allah dan malaikatNya bershalawat kepada Nabi, wahai orang-orang yag beriman bershalawatlah kalian kepadanya dan sampaikan do’a keselamatan kepadanya.===========  Do’a   ===========Penerjemah: Abu Abdil Muhsin Firandawww.firanda.com
(Khutbah Jum’at 9/1/1437 H – 23/10/2015)Oleh Asy-Syaikh Ali Al-HudzaifiKhutbah PertamaSegala puji bagi Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, yang Maha mengetahui lagi maha bijaksana, pemberi karunia yang besar. Aku memuji Robbku dan aku bersyukur kepadaNya dan aku bertaubat kepadaNya dan beristighfar kepadaNya. Dan aku bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak disembah melainkan Allah semata tiada sekutu bagiNya –Pemilik ‘Arsy yang mulia-. Dan aku bersaksi bahwasanya Nabi kita dan pemimpin kita Muhammad adalah hamba dan RasulNya, pemilik akhlak yang agung. Ya Allah curahkanlah shalawat dan salam kepada hambaMu dan rasulMu Muhammad, dan kepada keluarganya serta para sahabatnya yang merupakan para da’i yang mendapatkan petunjuk menujuk kepada jalan yang lurus.Amma ba’du, maka bertakwalah kepada Allah dengan menjalankan apa yang diridoi oleh Allah dan meninggalkan apa yang diharamkanNya agar kalian meraih keridoanNya dan kenikmatan surgaNya, serta kalian selamat dari kemurkaanNya dan siksaanNya. Kaum muslimin sekalian, sesungguhnya Robb kita yang Maha mulia telah memperbanyak pintu-pintu kebaikan dan jalan-jalan untuk beramal sholeh sebagai bentuk karunia, kasih sayang, kedermawanan, dan kebaikan Allah yang maha perkasa dan mulia. Agar seorang muslim masuk ke pintu kebaikan mana saja dan menempuh jalan ketaatan mana saja sehingga Allah memperbaiki kehidupan dunianya, dan mengangkat derajatnya di akhirat. Maka Allah akan memuliakannya dengan kehidupan yang baik dan penuh kebahagiaan, dan meraih kenikmatan yang abadi serta keridhoan Robbnya setelah kematiannya. Allah berfirman :فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ أَيْنَ مَا تَكُونُوا يَأْتِ بِكُمُ اللَّهُ جَمِيعًا إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌMaka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu (QS Al-Baqoroh : 148)Dan Allah berfirman tentang para Nabi –’alaihis salam- yang merupakan teladan bagi manusiaإِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَSesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu´ kepada Kami (QS Al-Anbiyaa : 90)Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada Mu’adz radhiallahu ‘anhu :“Maukah aku tunjukan kepadamu pintu-pintu kebaikan?, puasa adalah perisai, dan sedekah memadamkan kesalahan sebagaimana air memadamkan api,  dan sholatnya seseorang di tengah malam, lalu Nabi membacakan firman Allah :تَتَجَافَى جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَطَمَعًا وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ (16) فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَا أُخْفِيَ لَهُمْ مِنْ قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَLambung mereka jauh dari tempat tidurnya dan mereka selalu berdoa kepada Rabbnya dengan penuh rasa takut dan harap, serta mereka menafkahkan apa apa rezeki yang Kami berikan. Tak seorangpun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang indah dipandang sebagai balasan bagi mereka, atas apa yang mereka kerjakan (QS As-Sajdah 16-17)Kemudian Nabi berkata ; “Maukah aku kabarkan kepadamu tentang kepala agama ini dan tiangnya serta puncaknya?”Aku (Muadz) berkata : “Tentu wahai Rasulullah”Nabi berkata, “Kepala agama adalah Islam, dan tiangnya adalah sholat, dan puncaknya adalah jihad di jalan Allah” (HR At-Tirmidzi dan dishahihkan olehnya)Diantara pintu-pintu kebaikan dan jalan-jalan ketaatan serta sebab-sebab penghapus dosa-dosa adalah beristighfar. Dan istighfar adalah sunnahnya para nabi dan rasul ‘alaihimus salam. Allah berfirman tentang dua nenek moyang manusia :قَالَا رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَKeduanya berkata: “Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi (QS Al-A’rof : 23)Dan Allah berfirman tentang Nuh ‘alaihis salam :رَبِّ اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِمَنْ دَخَلَ بَيْتِيَ مُؤْمِنًا وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِYa Tuhanku! Ampunilah aku, ibu bapakku, orang yang masuk ke rumahku dengan beriman dan semua orang yang beriman laki-laki dan perempuan. (Qs Nuuh : 28)Allah azza wa jalla berfirman tentang Al-Kholil (Ibrahim a.s) :رَبَّنَا اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُYa Tuhan kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapaku dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari kiamat)” (Qs Ibrahim : 41)Allah berfirman tentang Musa a.s :قَالَ رَبِّ اغْفِرْ لِي وَلِأَخِي وَأَدْخِلْنَا فِي رَحْمَتِكَ وَأَنْتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَMusa berdoa: “Ya Tuhanku, ampunilah aku dan saudaraku dan masukkanlah kami ke dalam rahmat Engkau, dan Engkau adalah Maha Penyayang di antara para penyayang” (QS Al-A’raf : 151)Dan Allah berfirman :وَظَنَّ دَاوُودُ أَنَّمَا فَتَنَّاهُ فَاسْتَغْفَرَ رَبَّهُ وَخَرَّ رَاكِعًا وَأَنَابَDan Daud mengetahui bahwa Kami mengujinya; maka ia meminta ampun kepada Tuhannya lalu menyungkur sujud dan bertaubat (QS Shaad : 24)Allah berfirman seraya memerintahkan NabiNya shallallahu ‘alaihi wasallam:فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِMaka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan, tuhan) selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. (Qs Muhammad : 19)Diantara petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah banyak beristighfar padahal Allah telah mengampuni bagi beliau dosa beliau yang telah lalu maupun yang akan datang. Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma ia berkata :كُنَّا نَعُدُّ لِرَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْمَجْلِسِ الْوَاحِدِ مِائَةَ مَرَّةٍ “رَبِّ اغْفِرْ لِي وَتُبْ عَلَيَّ إِنَّكَ أَنْتَ تَوَّابُ رَحِيْمٌ”“Kami menghitung dalam satu majelis seratus kali Rasulullah berucap : “Ya Allah ampuni aku dan terimalah taubatku, sesungguhnya Engkau Maha penerima taubat dan maha penyayang” (HR Abu Dawud dan At-Thirmidzi, dan ia berkata : Hadits hasan shahih).Dan dari Aisyah r.a ia berkata :“Rasulullah sebelum meninggalnya banyak mengucapkan :سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ أَسْتَغِفِرُ اللهَ وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ(Aku mensucikan Allah dan memujiNya, Aku beristighfar kepadaNya dan bertaubat kepadaNya) (HR Al-Bukhari dan Muslim).Dan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu ia berkata : Aku tidak pernah melihat seorangpun yang lebih banyak dari pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam mengucapkan :أَسْتَغِفِرُ اللهَ وَأَتُوْبُ إِلَيْهِAku beristighfar kepadaNya dan bertaubat kepadaNya (HR An-Nasaai).Dan Nabi shallalahu ‘alaihi wasallam setelah salam dari sholat beliau berkata “Astaghfirullah” (Aku memohon ampunan Allah) sebanyak tiga kali” (HR Muslim dari Tsauban r.a), lalu setelah itu Nabi mengucapkan dzikir yang disyari’atkan setelah sholat.Istighfar merupakan kebiasaan orang-orang shalih dan amal orang-orang baik yang bertakwa, serta merupakan syi’ar kaum mukminin. Allah berfirman tentang mereka :الَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا إِنَّنَا آمَنَّا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ (16) الصَّابِرِينَ وَالصَّادِقِينَ وَالْقَانِتِينَ وَالْمُنْفِقِينَ وَالْمُسْتَغْفِرِينَ بِالْأَسْحَارِ(Yaitu) orang-orang yang berdoa: Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah beriman, maka ampunilah segala dosa kami dan peliharalah kami dari siksa neraka,  (yaitu) orang-orang yang sabar, yang benar, yang tetap taat, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah), dan yang memohon ampun di waktu sahur (Qs Ali-‘Imron : 16-17)Dan Allah berfirman :وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَDan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui (QS Ali-Imron : 135)Ibnu Rojab rahimahullah berkata, “Adapun beristighfar dari dosa-dosa adalah adalah memohon ampunan, dan seorang hamba sangat membutuhkan ampunan Allah, karena ia berdosa siang dan malam, dan telah berulang-ulang dalam Al-Qur’an penyebutan taubat dan istighfar dan perintah untuk melakukan keduanya serta motivasi untuk melakukannya”Dan memohon ampunan kepada Rabb jalla wa ‘ala maka Allah menjanjikan untuk mengabulkan dan memberi ampunan.          Dan disyari’atkan seorang hamba memohon ampunan untuk dosa tertentu berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam :إِنَّ عَبْدًا أَذْنَبَ ذَنْبًا فَقَالَ : يَا رَبِّ إِنِّي عَمِلْتُ ذَنْبًا فَاغْفِرْ لِي، فَقَالَ اللهُ : عَلِمَ عَبْدِي أَنَّ لَهُ ربّاً يَغْفِرُ الذَّنْبَ وَيَأْخُذُ بِهِ قَدْ غَفَرْتُ لِعَبْدِي“Sesungguhnya seorang hamba berbuat suatu dosa, maka ia berkata : Ya Rabbku sesungguhnya aku melakukan suatu dosa maka ampunilah aku. Maka Allah berkata, “HambaKu tahu bahwasanya ia memiliki Robb yang mengampuni dosa dan menghukum karena dosa, maka sungguh aku telah mengampuni hambaKu” (HR Al-Bukhari dan Muslim dari hadits Abu Hurairah r.a)Sebagaimana juga disyari’atkan agar seorang hamba memohon ampunan (maghfiroh) secara mutlak yaitu dengan berkataرَبِّ اغْفِرْ لِي وَارْحَمْنِي“Ya Allah ampuni aku dan rahmatilah aku”Allah berfirman :وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِينَDan katakanlah: “Ya Tuhanku berilah ampun dan berilah rahmat, dan Engkau adalah Pemberi rahmat Yang Paling baik” (QS Al-Mukminun : 118)Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan kepada seseorang jika ia masuk Islam agar ia berdoa dengan doa berikut :اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي وَارْحَمْنِي وَاهْدِنِي وَعَافِنِي وَارْزُقْنِي“Ya Allah ampuni aku, rahmatilah aku, berilah petunjuk kepadaku, sehatkanlah tubuhku, dan berilah rizki kepadaku” (HR Muslim dari hadits Thariq bin Usyaim r.a.)Sebagaiman disyari’atkan bagi seorang hamba untuk memohon dari Robnya ampunan bagi seluruh dosa-dosanya apa yang ia ketahui dana yang ia tidak ketahui dari dosa-dosanya tersebut. Karena banyak dari dosa yang ia tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah sementara hamba dihukum karenanya.Dari Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallalahu ‘alaihi wasallam bahwasanya beliau berdoa dengan doa berikut ini :«اللهُمَّ اغْفِرْ لِي خَطِيئَتِي وَجَهْلِي، وَإِسْرَافِي فِي أَمْرِي، وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّي، اللهُمَّ اغْفِرْ لِي جِدِّي وَهَزْلِي، وَخَطَئِي وَعَمْدِي، وَكُلُّ ذَلِكَ عِنْدِي، اللهُمَّ اغْفِرْ لِي مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ، وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ، وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّي، أَنْتَ الْمُقَدِّمُ وَأَنْتَ الْمُؤَخِّرُ، وَأَنْتَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ»“Ya Allah ampunilah bagiku dosa karena kesalahanku, dosa karena kebodohanku, sikap berlebihanku dalam urusanku, dan dosa yang Engkau lebih mengetahuinya daripada aku, Ya Allah ampunilah bagiku dosa yang karena yang kulakukan dengan sungguh-sungguh, dosa karena candaku, dosa karena ketidak sengajaanku, dosa karena kesengajaanku, dan itu semua ada pada diriku. Ya Allah ampunilah dosa-dosakua yang telah lalu dan yang akan datang, dosa yang kulakukan dengan sembunyi-sembunyi dan yang aku lakukan terang-terangan, dan dosa yang Engkau lebih mengetahuinya dari pada aku. Engkau adalah yang menentukan maju atau mundurnya, dan Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu” (HR Al-Bukhari dan Muslim)Dan berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihin wasallam :الشِّرْكُ فِي هَذِهِ الأُمَّةِ أَخْفَى مِنْ دَبِيْبِ النَّمْلِ“Kesyirikan pada umat ini lebih samar daripada rayapan semut”. Maka Abu Bakar radhiallahu ‘anhu berkata,فَكَيْفَ الْخَلاَصُ مِنْهُ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟“Bagaimana cara selamat darinya wahai Rasulullah?”.Nabi berkata, “Hendaknya engkau berdoa :اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ شَيْئًا وَأَنَا أَعْلَمُهُ وَأَسْتَغْفِرُكَ مِنَ الذَّنْبِ الَّذِي لاَ أَعْلَمُ“Ya Allah aku berlindung kepadaMu dari berbuat syirik apapun kepadaMu yang aku  mengetahuinya dan aku memohon ampunan kepadaMu dari dosa yang aku tidak mengetahuinya” (HR Ibnu Hibban dari hadits Abu Bakar, dan Ahmad dari hadits Abu Musa).Dan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwasanya beliau berdoa :اللهُمَّ اغْفِرْ لِي ذَنْبِي كُلَّهُ دِقَّهُ، وَجِلَّهُ، خَطَأَهُ وَعَمْدَهُ وَسِرَّهُ وَعَلَانِيَتَهُ وَأَوَّلَهُ وَآخِرَهُ“Ya Allah ampunilah dosaku seluruhnya, yang kecil dan yang besar, yang tanpa sengaja maupun yang disengaja, yang tersembunyi maupun yang tampak, yang awal dan yang terakhir” (HR Muslim dan Abu Dawud)Jika seorang hamba memohon kepada Robbnya ampunan dosa-dosanya dengan doa yang ikhlas dan penuh permohonan serta permintaan penuh ketundukan dan kehinaan maka mencakup taubat dari dosa-dosa.Dan memohon taubat serta bimbingan untuk taubat mencakup istighfar, maka istighfar dan taubat jika disebutkan masing-masing sendirian maka mencakup yang lainnya. Dan jika disebutkan keduanya (secara bersamaan) dalam nash-nash maka makna istighfar adalah memohon dihapuskannya dosa-dosa dan dihilangkannya sisa dan dampaknya serta memohon perlindungan dari buruknya dosa-dosa yang telah lalu serta agar ditutup. Dan taubat maknanya adalah kembali kepada Allah dengan meninggalkan dosa-dosa dan memohon perlindungan dari apa yang dikhawatirkan di kemudian hari dari keburukan-keburukan amalannya serta tekad untuk tidak kembali melakukannya lagi.Dan telah dikumpulkan antara istighfar dan taubat dalam firman Allah :وَأَنِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُمَتِّعْكُمْ مَتَاعًا حَسَنًا إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى وَيُؤْتِ كُلَّ ذِي فَضْلٍ فَضْلَهُ وَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ كَبِيرٍDan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepada-Nya. (Jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberikan kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya. Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa siksa hari kiamat (QS Huud :3) dan ayat-ayat lainnya.Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :يَا أَيُّهَا النَّاسُ ! تُوْبُوا إِلَى رَبِّكُمْ وَاسْتَغْفِرُوْهُ، فَإِنِّي أَتُوْبُ إِلى اللهِ وَأَسْتَغْفِرُهُ كُلَّ يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ“Wahai manusia ! bertobatlah kalian kepada Tuhan kalian dan mintalah ampun kepadaNya. Sesungguhnya aku sendiri bertobat kepada Allah dan memohon ampunanNya setiap hari Seratus kali “. HR An-Nasai dari hadis Al-Muzani radhiyallahu ‘anhuSeorang hamba seharusnya selalu sangat butuh untuk memohon ampun kepada Allah, terutama di zaman seperti sekarang ini karena bermacam-macam cobaan lantaran banyaknya dosa dan fitnah, sehingga Allah membimbingnya dalam kehidupannya dan setelah matinya serta memperbaiki urusannya. Sesungguhnya istighfar merupakan pintu masuk segala kebaikan dan benteng dari segala keburukan berikut  hukumannya. Maka umat ini sangat perlu beristighfar secara terus menerus agar Allah mengangkat bencana yang menimpa umat ini, dan menghapuskan sanksi hukuman yang akan dijatuhkan. Tidak ada yang enggan beristighfar kecuali orang yang tidak memahami manfaatnya dan keberkahannya. Al-Qur’an dan As-Sunnah telah banyak menjelaskan tentang keutamaan istighfar.Allah subhanahu wa ta’ala berfirman tentang Nabi Salih a.s. :قَالَ يَاقَوْمِ لِمَ تَسْتَعْجِلُونَ بِالسَّيِّئَةِ قَبْلَ الْحَسَنَةِ لَوْلَا تَسْتَغْفِرُونَ اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ“ Dia [Shalih] berkata, “ Hai kaumku ! Mengapa kalian meminta disegerakan suatu keburukan sebelum kebaikan, mengapakah kalian tidak memohon ampun kepada Allah supaya kalian mendapatkan rahmat “.(QS An-Naml : 46)Maka dengan Istighfar, turunlah rahmat Allah kepada umat ini.Allah subhanahu wa ta’ala berfirman tentang Nuh a.s. :فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا (10) يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا (11) وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا “Mintalah ampun kepada Tuhan kalian, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun. Supaya Dia menurunkan kepada kalian hujan deras dari langit. Dan mengirim bantuan kepada kalian [berupa] harta benda dan [keturunan] anak-anak lelaki serta menjadikan untuk kalian kebun-kebun dan sungai-sungai. (QS Nuuh : 10-12)Allah subhanahu wa ta’ala berfirman tentang Nabi Hud, a.s. :وَيَاقَوْمِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا وَيَزِدْكُمْ قُوَّةً إِلَى قُوَّتِكُمْ وَلَا تَتَوَلَّوْا مُجْرِمِينَ“Wahai kaumku ! mohonlah ampun kepada Tuhan kalian kemudian bertobatlah kalian kepadaNya, niscaya Dia akan mengirimkan hujan deras kepada kalian dan menambah kekuatan lebih dari kekuatan yang ada pada kalian, dan janganlah kalian berpaling sebagai orang-orang yang berdosa”. (QS Huud : 52)Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنْتَ فِيهِمْ وَمَا كَانَ اللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ “Tidaklah mungkin Allah menghukum mereka sementara engkau berada di tengah-tengah mereka, dan tidak mungkin pula Allah menghukum mereka sementara mereka sedang beristighfar “ (QS Al-Anfaal : 33)Abu Musa berkata  : “Kalian dahulu mendapatkan dua jaminan keamanan; Adapun Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam maka telah wafat, namun istighfar tetap ada pada kalian hingga hari Kiamat.Seringnya istighfar yang dilakukan umat ini dapat mengangkat bencana yang telah terjadi dan menolak bencana yang akan terjadi. Tiada suatu bencana yang melanda kecuali disebabkan suatu dosa manusia, dan tidak ada cara lain menghilangkan bencana kecuali bertobat dan beristighfar”.Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :مَنْ لَزِمَ الِاسْتِغْفَارَ جَعَلَ اللَّهُ لَهُ مِنْ كُلِّ ضِيقٍ مَخْرَجًا وَمِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ“ Barangsiapa yang selalu beristighfar, maka Allah menjadikan baginya pada setiap kesempitan suatu solusi, dan setiap keprihatinan suatu jalan keluar, dan Allah memberinya rezeki dari jalan yang tak terduga”). HR Abu Dawud.Telah datang dari Nabi Saw. sabda-sabda beliau yang terjaga yang penuh berkah tentang Istighfar, dimana istighfar mendatangkan pahala yang besar. Antara lain sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam :مَنْ قَالَ: أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيَّ الْقَيُّومَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ غُفِرَ لَهُ وَإِنْ كَانَ قَدْ فَرَّ مِنَ الزَّحْفِ“Barangsiapa mengucapkan kalimat : Aku memohon ampun kepada Allah Yang tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Dia Yang Maha Hidup dan Yang Mengayomi. Aku bertobat kepadaNya, maka diampuni dosa-dosanya meskipun ia pernah lari dari barisan perang”. HR Abu Dawud  dan At-Turmuzi dan Al-Hakim. Dikatakannya, sebagai hadis Shahih sesuai syarat Bukhari dan Muslim.Dari Abi Said Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :مَنْ قَالَ حِينَ يَأْوِي إِلَى فِرَاشِهِ: أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الَّذِي لَا إِله إِلا هوَ الحيَّ القيومَ وأتوبُ إِليهِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ غَفَرَ اللَّهُ لَهُ ذُنُوبُهُ وَإِنْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ الْبَحْرِ أَوْ عَدَدَ رَمْلِ عَالَجٍ أَوْ عَدَدَ وَرَقِ الشَّجَرِ أَوْ عَدَدَ أَيَّامِ الدُّنْيَا“Barangsiapa berucap ketika hendak  menuju tempat tidurnya, “Aku memohon ampun kepada Allah Yang tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Dia Yang Maha Hidup dan Yang Mengayomi. Aku bertobat kepadaNya tiga kali, maka Allah ampuni dosa-dosanya meskipun sebanyak buih di laut ). HR At-Turmuzi.Dari Ubadah Bin As-Shamit radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :مَنْ تَعَارَّ مِنَ اللَّيْلِ فَقَالَ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ ثُمَّ قَالَ: رَبِّ اغْفِرْ لِي أَوْ قَالَ: ثمَّ دَعَا استيجيب لَهُ فَإِنْ تَوَضَّأَ وَصَلَّى قُبِلَتْ صَلَاتُهُ“Barangsiapa yang terjaga di malam hari lalu mengucapkan zikir, “ Tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tiada sekutu bagiNya. Hanya milikNya kerajaan dan hanya milikNya pula segala pujian. Dia atas segala sesuatu Maha Kuasa. Maha Suci Allah, segala puji bagi Allah. Tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, Allah Maha Besar. Ya Allah ampunilah aku. Lalu berdo’a, niscaya dikabulkan do’anya. Jika dia shalat, niscaya diterima shalatnya”. (HR Bukhari).Disebutkan dalam hadis pula :من قال صبيحة يوم الجمعة قبل صلاة الغداة: أستغفر الله الذي لا إله إلا هو الحي القيوم وأتوب إليه ثلاث مرات غفر الله تعالى ذنوبه ولو كانت مثل زبد البحر“Barangsiapa yang berzikir sebelum terbitnya fajar hari Jum’at, “Aku memohon ampun kepada Allah Yang tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Dia Yang Maha Hidup dan Yang Mengayomi. Aku bertobat kepadaNya Tiga kali, maka diampuni dosa-dosanya meskipun sebanyak buih di laut”.Diriwayatkan dari Syaddad Bin Aus  radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :Penghulu Istighfar adalah ucapan seorang hamba :سَيِّدُ الِاسْتِغْفَارِ أَنْ تَقُولَ: اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعَتُ أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ وَأَبُوءُ بِذَنْبِي فَاغْفِرْ لِي فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ “. قَالَ: «وَمَنْ قَالَهَا مِنَ النَّهَارِ مُوقِنًا بِهَا فَمَاتَ مِنْ يَوْمِهِ قَبْلَ أَنْ يُمْسِيَ فَهُوَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ وَمَنْ قَالَهَا مِنَ اللَّيْلِ وَهُوَ مُوقِنٌ بِهَا فَمَاتَ قَبْلَ أَنْ يُصْبِحَ فَهُوَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ»“Ya Allah, Engkau Tuhanku, tiada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau. Engkau telah ciptakan diriku, dan aku hambaMu, aku tetap setia memegang janjiMu dengan segala kemampuanku, aku berlindung kepadaMu dari kejahatan perbuatanku, aku mengakui besarnya nikmatMu kepadaku dan aku mengakui dosaku, maka ampunilah aku, sesungguhnya tidak ada yang dapat mengampuni dosa-dosa kecuali Engkau. Barangsiapa yang mengucapkannya di siang hari dengan penuh keyakinan lalu meninggal pada hari itu sebelum menjelang sore, maka masuklah ia ke dalam surga. Dan barangsiapa yang mengucapkannya di malam hari dengan penuh keyakinan lalu meninggal sebelum menjelang pagi, maka diapun termasuk penghuni surga”. (HR Bukhari)Dari Anas radhiyallahu ‘anhu berkata, aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :يَا ابنَ آدمَ إِنَّك لَوْ بَلَغَتْ ذُنُوبُكَ عَنَانَ السَّمَاءِ ثُمَّ اسْتَغْفَرْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ وَلَا أُبَالِي“Wahai anak Adam, Andaikata dosa-dosamu telah mencapai setinggi langit lalu maku meminta ampun kepadaKu, Akupun mengampunimu tanpa mempedulikan”  (HR Turmuzi. Dikatakannya sebagai hadis hasan).Sebagaimana pula seseorang diperintahkan beristighfar ketika sedang melaksanakan ibadah dan ketika selesai beribadah untuk menutup kekurangan yang terjadi, serta menghindari rasa ujub (bangga diri) dan riya’.  Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :ثُمَّ أَفِيضُوا مِنْ حَيْثُ أَفَاضَ النَّاسُ وَاسْتَغْفِرُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌKemudian bertolaklah kalian dari tempat di mana orang-orang lainnya bertolak dan mintalah ampun kalian kepada Allah, sesungguhnya ALLAH Maha Pengampun dan Maha Pemurah. (QS Al-Baqoroh : 199)Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَأَقْرِضُوا اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا وَمَا تُقَدِّمُوا لِأَنْفُسِكُمْ مِنْ خَيْرٍ تَجِدُوهُ عِنْدَ اللَّهِ هُوَ خَيْرًا وَأَعْظَمَ أَجْرًا وَاسْتَغْفِرُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌDirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan berikanlah pinjaman kepada Allah dengan suatu pinjaman yang baik. Apapun kebaikan yang kalian lakukan untuk diri kalian, niscaya akan kalian dapatkannya di sisi Allah suatu balasan yang lebih baik dan pahala yang lebih besar. Dan mintalah ampun kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Pengampun dan Maha Pemurah (QS Al-Muzammil ; 20)Sebagaimana disyariatkan juga seorang muslim memintakan ampun untuk kaum mukminin dan mukminat, muslimin dan muslimat, baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal, sebagai suatu persembahan amal baik dan rasa cinta yang tulus kepada mereka yang seagama dan sebagai syafaat bagi mereka di sisi Allah.Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌDan orang-orang yang datang sesudah mereka berdoa, “Ya Tuhan kami ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah mendahului kami dalam iman, janganlah Engkau jadikan dalam hati kami rasa dendam terhadap orang-orang yang beriman, Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyayang dan Pemurah (QS Al-Hasyr : 10)Dari Ubadah Bin Shamit radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda :مَنِ اسْتَغْفَرَ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَلِلْمُؤْمِنَاتِ كَتَبَ اللهُ لَهُ بِكُلِّ مُؤْمِنٍ وَمُؤْمِنَةٍ حَسَنَةًBarangsiapa yang memintakan ampun untuk orang-orang yang beriman lelaki dan perempuan, maka Allah subhanahu wa ta’ala mencatat baginya suatu kebaikan sebanyak  orang mukmin lelaki dan perempuan (Al-Haitsami berkata : Isnad hadis ini adalah Jayyid ( bagus ),Istighfar yang dimaksud seperti ketika mendoakan mereka dalam shalat Jenazah dan memintakan ampun untuk mereka  yang ada di alam kubur ketika berziarah kuburDan memohonkan ampunan bagi kaum mukminin adalah untuk meneladani para Malaikat pembawa Arasy dan Malaikat Muqarrabin.Allah subhanahu wa ta’ala berfirman  :الَّذِينَ يَحْمِلُونَ الْعَرْشَ وَمَنْ حَوْلَهُ يُسَبِّحُونَ بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَيُؤْمِنُونَ بِهِ وَيَسْتَغْفِرُونَ لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا وَسِعْتَ كُلَّ شَيْءٍ رَحْمَةً وَعِلْمًا فَاغْفِرْ لِلَّذِينَ تَابُوا وَاتَّبَعُوا سَبِيلَكَ وَقِهِمْ عَذَابَ الْجَحِيمِ“Mereka [malaikat] pemikul Arasy di sekelilingnya bertasbih dengan memuji Tuhan mereka, dan beriman kepadaNya serta memintakan ampun bagi orang-orang yang beriman, “ Ya Tuhan kami, Engkau meliputi segala sesuatu dengan rahmat dan pengetahuan, maka ampunilah orang-orang bertobat dan mengikuti jalanMu, lindunginlah mereka dari siksa neraka Jahim” (QS Ghofir : 7)Dan ini merupakan bentuk berbuat baik yang besar untuk kaum mukminin. Wahai hamba-hamba Allah. Laksanakanlah perintah TuhanMu. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam hadis Qudsi :يَا عِبَادِي إِنَّكُمْ تُخْطِئُونَ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَأَنَا أَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا فَاسْتَغْفِرُونِي أَغْفِرْ لَكُمْ“Wahai hamba-hambaKu, sesungguhnya kalian semua berbuat salah di malam dan siang hari, sedangkan Aku mengampuni segala dosa, maka mohonlah ampun kepadaKu, niscaya Aku mengampuni kalian semua “ (HR Muslim dari hadis Abi Zar).Maka, bersungguh-sungguhlah kalian beristighfar kepada Allah, niscaya akan kalian rasakan kemurahan dan keberkahan Allah Swt, akan kalian rasakan pula pengaruhnya pada penghapusan dosa dan terangkatnya derajat kalian.Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ لَمْ تُذْنِبُوا لَذَهَبَ اللَّهُ بِكُمْ وَلَجَاءَ بِقَوْمٍ يُذْنِبُونَ فَيَسْتَغْفِرُونَ اللَّهَ فَيَغْفِرُ لَهُمْ“Demi Allah yang jiwaku ada pada genggamanNya, seandainya kalian tidak berbuat dosa niscaya Allah akan melenyapkan kalian dan mendatangkan kaum lain yang berbuat dosa lalu mereka memohon ampun kepada Allah subhanahu wa ta’ala lalu Allah mengampuni mereka”. (HR Muslim)Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala Maha luas ampunanNya, Maha Pemurah dan Maha Mulia.Firman Allah  :وَمَنْ يَعْمَلْ سُوءًا أَوْ يَظْلِمْ نَفْسَهُ ثُمَّ يَسْتَغْفِرِ اللَّهَ يَجِدِ اللَّهَ غَفُورًا رَحِيمًاBarangsiapa yang melakukan suatu kejahatan atau berbuat aniaya terhadap dirinya sendiri lalu memohon ampun kepada Allah, niscaya ia dapatkan Allah Maha Pengampun dan Maha Pemurah (QS An-Nisaa : 110).Semoga Allah mencurahkan keberkahan atas kita semua berkat Al-Qur’an yang agung.==================Khotbah KeduaSegala puji bagi Allah, Maha Pengampun dosa, Maha Penerima tobat, Yang Maha keras siksaNya, Yang mempunya karunia, tiada Tuhan yang berhak disembah kesuali Dia. Kepadanya segalanya akan kembali. Aku memuji Tuhanku dan bersyukur kepadaNya atas anugerahNya yang agung. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan Selain Allah semata, tiada sekutu bagiNya, Yang Maha Mengetahui dan Maha Kuasa. Aku bersaksi bahwa Nabi kita dan junjungan kita Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam adalah Hamba Allah dan Rasul-Nya, sebagai Pemberi kabar gembira dan peringatan bagaikan pelita yang menerangi. Ya Allah curahkanlah shalawat, salam dan keberkahan kepada HambaMu dan RasulMu, Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam beserta seluruh keluarga dan sahabatnya.Selanjutnya, Bertakwalah kepada Tuhan kalian dan murnikanlah ibadah kalian hanya untuk Allah. Takutlah akan hukumanNya dan siksaNya.Kaum muslimin !  waspadalah terhadap fitnah (bencana ) yang sangat membahayakan agama dan urusan dunia, membinasakan hamba di akhirat dan merusak penghidupannya di dunia ini. Maka orang yang selamat adalah orang yang menghindarkan dirinya dari fitnah.  Dan fitnah (bencana) yang paling besar adalah ketika seseorang rancu kepadanya kebenaran yang telah bercampur baur dengan kebatilan, petunjuk dengan kesesatan, amal kebajikan dengan kemungkaran, yang halal dengan yang haram. Nah kini fitnah itu telah mengacaukan negeri  dan penduduknya sehingga sebagian anak-anak muda kaum muslimin keluar dari tempat naungan dan lingkungan mereka yang aman dan kokoh, dari komunitas masyarakat yang santun beralih ke jalan pemikiran yang menyimpang dan sesat karena mengikuti dan loyal kepada kelompok khawarij masa kini yang menyeret mereka untuk mengkafirkan kaum muslimin dan menumpahkan darah tak berdosa, bahkan menfatwakan untuk meledakkan bom bunih diri – Naudzu billah-. Apakah mereka yang meledakkan dirinya itu mengira bahwa dengan perbuatannya itu akan masuk surga.?.  Apakah mereka tidak tahu bahwa orang yang bunuh diri itu tempatnya di neraka ?Tidakkah mereka mendengar atau membaca firman Allah  :وَلَا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا (29) وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ عُدْوَانًا وَظُلْمًا فَسَوْفَ نُصْلِيهِ نَارًا وَكَانَ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرًا (30)Janganlah kalian membunuh diri kalian, sesungguhnya Allah Maha Pengasih terhadap kalian. Barangsiapa yang melakukan perbuatan itu karena melampaui batas dan aniaya, maka Kami akan masukkan dia ke dalam neraka. Dan yang demikian itu bagi Allah sangat mudah (QS An-Nisaa : 29-30)Apakah orang yang membunuh orang islam itu mengira bahwa perbuatannya itu menjadi penyebab dirinya masuk surga ?. Apakah dia tidak tahu bahwa membunuh seorang muslim itu menyebabkan dirinya kekal di neraka ? Apakah dia tidak mendengar atau membaca firman Allah subhanahu wa ta’ala :وَمَنْ يَقْتُلْ مُؤْمِنًا مُتَعَمِّدًا فَجَزَاؤُهُ جَهَنَّمُ خَالِدًا فِيهَا وَغَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَلَعَنَهُ وَأَعَدَّ لَهُ عَذَابًا عَظِيمًاBarangsiapa yang membunuh orang yang beriman dengan sengaja, maka balasannya neraka Jahannam, kekal di dalamnya dan Allah murka kepadanya serta mengutuknya dan menyedikan baginya siksa yang besar (QS An-Nisaa : 93).Apakah tidak sampai kepadanya peringatan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam :مَنْ قَتَلَ مُعَاهَدًا لَمْ يَرَحْ رَائِحَةَ الْجَنَّةِBarangsiapa yang membunuh seorang kafir Mu’ahad ( yang terikat perjanjian damai ), maka ia tidak akan mencium aroma surga .Apakah mereka tidak mengambil pelajaran dari rekan-rekannya sebelumnya di mana mereka melanggar ketentuan-ketentuan Allah lalu akhirnya mereka menyesali perbuatan mereka pada saat penyesalan tidak lagi berguna dan orang-orang yang memperdayakan pun tidak mampu menyelamatkan mereka.  Katakan kepada orang yang menyuruh Anda meledakkan diri, supaya mereka meledakkan dirinya sendiri terlebih dahulu, dan ia tidak mungkin berani melakukannya sendiri, karena ia ingin mencampakkan diri Anda ke neraka. Ia ingin memerangi kaum muslimin melalui tangan Anda, mengacaukan keamanan dengan bantuan Anda, menciptakan huru hara melalui perbuatan Anda. Demikian pula kerusakan perusakan dan pertumpahan darah jiwa tak berdosa, mereka jadikan Anda sebagai alat dan mengeluarkan Anda dari masyarakat muslim dan pemimpin umat islam. Padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah berpesan :عَلَيْكُمْ بِالْجَمَاعَةِ وَمَنْ شَذَّ شَذَّ فِي النَّارِHendaklah kalian tetap bersama jemaah kaum muslimin, barangsiapa yang menyendiri akan menyendiri pula di neraka ).Hamba Allah ! Sesungguhnya Allah dan malaikatNya bershalawat kepada Nabi, wahai orang-orang yag beriman bershalawatlah kalian kepadanya dan sampaikan do’a keselamatan kepadanya.===========  Do’a   ===========Penerjemah: Abu Abdil Muhsin Firandawww.firanda.com


(Khutbah Jum’at 9/1/1437 H – 23/10/2015)Oleh Asy-Syaikh Ali Al-HudzaifiKhutbah PertamaSegala puji bagi Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, yang Maha mengetahui lagi maha bijaksana, pemberi karunia yang besar. Aku memuji Robbku dan aku bersyukur kepadaNya dan aku bertaubat kepadaNya dan beristighfar kepadaNya. Dan aku bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak disembah melainkan Allah semata tiada sekutu bagiNya –Pemilik ‘Arsy yang mulia-. Dan aku bersaksi bahwasanya Nabi kita dan pemimpin kita Muhammad adalah hamba dan RasulNya, pemilik akhlak yang agung. Ya Allah curahkanlah shalawat dan salam kepada hambaMu dan rasulMu Muhammad, dan kepada keluarganya serta para sahabatnya yang merupakan para da’i yang mendapatkan petunjuk menujuk kepada jalan yang lurus.Amma ba’du, maka bertakwalah kepada Allah dengan menjalankan apa yang diridoi oleh Allah dan meninggalkan apa yang diharamkanNya agar kalian meraih keridoanNya dan kenikmatan surgaNya, serta kalian selamat dari kemurkaanNya dan siksaanNya. Kaum muslimin sekalian, sesungguhnya Robb kita yang Maha mulia telah memperbanyak pintu-pintu kebaikan dan jalan-jalan untuk beramal sholeh sebagai bentuk karunia, kasih sayang, kedermawanan, dan kebaikan Allah yang maha perkasa dan mulia. Agar seorang muslim masuk ke pintu kebaikan mana saja dan menempuh jalan ketaatan mana saja sehingga Allah memperbaiki kehidupan dunianya, dan mengangkat derajatnya di akhirat. Maka Allah akan memuliakannya dengan kehidupan yang baik dan penuh kebahagiaan, dan meraih kenikmatan yang abadi serta keridhoan Robbnya setelah kematiannya. Allah berfirman :فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ أَيْنَ مَا تَكُونُوا يَأْتِ بِكُمُ اللَّهُ جَمِيعًا إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌMaka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu (QS Al-Baqoroh : 148)Dan Allah berfirman tentang para Nabi –’alaihis salam- yang merupakan teladan bagi manusiaإِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَSesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu´ kepada Kami (QS Al-Anbiyaa : 90)Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada Mu’adz radhiallahu ‘anhu :“Maukah aku tunjukan kepadamu pintu-pintu kebaikan?, puasa adalah perisai, dan sedekah memadamkan kesalahan sebagaimana air memadamkan api,  dan sholatnya seseorang di tengah malam, lalu Nabi membacakan firman Allah :تَتَجَافَى جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَطَمَعًا وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ (16) فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَا أُخْفِيَ لَهُمْ مِنْ قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَLambung mereka jauh dari tempat tidurnya dan mereka selalu berdoa kepada Rabbnya dengan penuh rasa takut dan harap, serta mereka menafkahkan apa apa rezeki yang Kami berikan. Tak seorangpun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang indah dipandang sebagai balasan bagi mereka, atas apa yang mereka kerjakan (QS As-Sajdah 16-17)Kemudian Nabi berkata ; “Maukah aku kabarkan kepadamu tentang kepala agama ini dan tiangnya serta puncaknya?”Aku (Muadz) berkata : “Tentu wahai Rasulullah”Nabi berkata, “Kepala agama adalah Islam, dan tiangnya adalah sholat, dan puncaknya adalah jihad di jalan Allah” (HR At-Tirmidzi dan dishahihkan olehnya)Diantara pintu-pintu kebaikan dan jalan-jalan ketaatan serta sebab-sebab penghapus dosa-dosa adalah beristighfar. Dan istighfar adalah sunnahnya para nabi dan rasul ‘alaihimus salam. Allah berfirman tentang dua nenek moyang manusia :قَالَا رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَKeduanya berkata: “Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi (QS Al-A’rof : 23)Dan Allah berfirman tentang Nuh ‘alaihis salam :رَبِّ اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِمَنْ دَخَلَ بَيْتِيَ مُؤْمِنًا وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِYa Tuhanku! Ampunilah aku, ibu bapakku, orang yang masuk ke rumahku dengan beriman dan semua orang yang beriman laki-laki dan perempuan. (Qs Nuuh : 28)Allah azza wa jalla berfirman tentang Al-Kholil (Ibrahim a.s) :رَبَّنَا اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُYa Tuhan kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapaku dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari kiamat)” (Qs Ibrahim : 41)Allah berfirman tentang Musa a.s :قَالَ رَبِّ اغْفِرْ لِي وَلِأَخِي وَأَدْخِلْنَا فِي رَحْمَتِكَ وَأَنْتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَMusa berdoa: “Ya Tuhanku, ampunilah aku dan saudaraku dan masukkanlah kami ke dalam rahmat Engkau, dan Engkau adalah Maha Penyayang di antara para penyayang” (QS Al-A’raf : 151)Dan Allah berfirman :وَظَنَّ دَاوُودُ أَنَّمَا فَتَنَّاهُ فَاسْتَغْفَرَ رَبَّهُ وَخَرَّ رَاكِعًا وَأَنَابَDan Daud mengetahui bahwa Kami mengujinya; maka ia meminta ampun kepada Tuhannya lalu menyungkur sujud dan bertaubat (QS Shaad : 24)Allah berfirman seraya memerintahkan NabiNya shallallahu ‘alaihi wasallam:فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِMaka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan, tuhan) selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. (Qs Muhammad : 19)Diantara petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah banyak beristighfar padahal Allah telah mengampuni bagi beliau dosa beliau yang telah lalu maupun yang akan datang. Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma ia berkata :كُنَّا نَعُدُّ لِرَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْمَجْلِسِ الْوَاحِدِ مِائَةَ مَرَّةٍ “رَبِّ اغْفِرْ لِي وَتُبْ عَلَيَّ إِنَّكَ أَنْتَ تَوَّابُ رَحِيْمٌ”“Kami menghitung dalam satu majelis seratus kali Rasulullah berucap : “Ya Allah ampuni aku dan terimalah taubatku, sesungguhnya Engkau Maha penerima taubat dan maha penyayang” (HR Abu Dawud dan At-Thirmidzi, dan ia berkata : Hadits hasan shahih).Dan dari Aisyah r.a ia berkata :“Rasulullah sebelum meninggalnya banyak mengucapkan :سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ أَسْتَغِفِرُ اللهَ وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ(Aku mensucikan Allah dan memujiNya, Aku beristighfar kepadaNya dan bertaubat kepadaNya) (HR Al-Bukhari dan Muslim).Dan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu ia berkata : Aku tidak pernah melihat seorangpun yang lebih banyak dari pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam mengucapkan :أَسْتَغِفِرُ اللهَ وَأَتُوْبُ إِلَيْهِAku beristighfar kepadaNya dan bertaubat kepadaNya (HR An-Nasaai).Dan Nabi shallalahu ‘alaihi wasallam setelah salam dari sholat beliau berkata “Astaghfirullah” (Aku memohon ampunan Allah) sebanyak tiga kali” (HR Muslim dari Tsauban r.a), lalu setelah itu Nabi mengucapkan dzikir yang disyari’atkan setelah sholat.Istighfar merupakan kebiasaan orang-orang shalih dan amal orang-orang baik yang bertakwa, serta merupakan syi’ar kaum mukminin. Allah berfirman tentang mereka :الَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا إِنَّنَا آمَنَّا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ (16) الصَّابِرِينَ وَالصَّادِقِينَ وَالْقَانِتِينَ وَالْمُنْفِقِينَ وَالْمُسْتَغْفِرِينَ بِالْأَسْحَارِ(Yaitu) orang-orang yang berdoa: Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah beriman, maka ampunilah segala dosa kami dan peliharalah kami dari siksa neraka,  (yaitu) orang-orang yang sabar, yang benar, yang tetap taat, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah), dan yang memohon ampun di waktu sahur (Qs Ali-‘Imron : 16-17)Dan Allah berfirman :وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَDan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui (QS Ali-Imron : 135)Ibnu Rojab rahimahullah berkata, “Adapun beristighfar dari dosa-dosa adalah adalah memohon ampunan, dan seorang hamba sangat membutuhkan ampunan Allah, karena ia berdosa siang dan malam, dan telah berulang-ulang dalam Al-Qur’an penyebutan taubat dan istighfar dan perintah untuk melakukan keduanya serta motivasi untuk melakukannya”Dan memohon ampunan kepada Rabb jalla wa ‘ala maka Allah menjanjikan untuk mengabulkan dan memberi ampunan.          Dan disyari’atkan seorang hamba memohon ampunan untuk dosa tertentu berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam :إِنَّ عَبْدًا أَذْنَبَ ذَنْبًا فَقَالَ : يَا رَبِّ إِنِّي عَمِلْتُ ذَنْبًا فَاغْفِرْ لِي، فَقَالَ اللهُ : عَلِمَ عَبْدِي أَنَّ لَهُ ربّاً يَغْفِرُ الذَّنْبَ وَيَأْخُذُ بِهِ قَدْ غَفَرْتُ لِعَبْدِي“Sesungguhnya seorang hamba berbuat suatu dosa, maka ia berkata : Ya Rabbku sesungguhnya aku melakukan suatu dosa maka ampunilah aku. Maka Allah berkata, “HambaKu tahu bahwasanya ia memiliki Robb yang mengampuni dosa dan menghukum karena dosa, maka sungguh aku telah mengampuni hambaKu” (HR Al-Bukhari dan Muslim dari hadits Abu Hurairah r.a)Sebagaimana juga disyari’atkan agar seorang hamba memohon ampunan (maghfiroh) secara mutlak yaitu dengan berkataرَبِّ اغْفِرْ لِي وَارْحَمْنِي“Ya Allah ampuni aku dan rahmatilah aku”Allah berfirman :وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِينَDan katakanlah: “Ya Tuhanku berilah ampun dan berilah rahmat, dan Engkau adalah Pemberi rahmat Yang Paling baik” (QS Al-Mukminun : 118)Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan kepada seseorang jika ia masuk Islam agar ia berdoa dengan doa berikut :اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي وَارْحَمْنِي وَاهْدِنِي وَعَافِنِي وَارْزُقْنِي“Ya Allah ampuni aku, rahmatilah aku, berilah petunjuk kepadaku, sehatkanlah tubuhku, dan berilah rizki kepadaku” (HR Muslim dari hadits Thariq bin Usyaim r.a.)Sebagaiman disyari’atkan bagi seorang hamba untuk memohon dari Robnya ampunan bagi seluruh dosa-dosanya apa yang ia ketahui dana yang ia tidak ketahui dari dosa-dosanya tersebut. Karena banyak dari dosa yang ia tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah sementara hamba dihukum karenanya.Dari Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallalahu ‘alaihi wasallam bahwasanya beliau berdoa dengan doa berikut ini :«اللهُمَّ اغْفِرْ لِي خَطِيئَتِي وَجَهْلِي، وَإِسْرَافِي فِي أَمْرِي، وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّي، اللهُمَّ اغْفِرْ لِي جِدِّي وَهَزْلِي، وَخَطَئِي وَعَمْدِي، وَكُلُّ ذَلِكَ عِنْدِي، اللهُمَّ اغْفِرْ لِي مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ، وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ، وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّي، أَنْتَ الْمُقَدِّمُ وَأَنْتَ الْمُؤَخِّرُ، وَأَنْتَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ»“Ya Allah ampunilah bagiku dosa karena kesalahanku, dosa karena kebodohanku, sikap berlebihanku dalam urusanku, dan dosa yang Engkau lebih mengetahuinya daripada aku, Ya Allah ampunilah bagiku dosa yang karena yang kulakukan dengan sungguh-sungguh, dosa karena candaku, dosa karena ketidak sengajaanku, dosa karena kesengajaanku, dan itu semua ada pada diriku. Ya Allah ampunilah dosa-dosakua yang telah lalu dan yang akan datang, dosa yang kulakukan dengan sembunyi-sembunyi dan yang aku lakukan terang-terangan, dan dosa yang Engkau lebih mengetahuinya dari pada aku. Engkau adalah yang menentukan maju atau mundurnya, dan Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu” (HR Al-Bukhari dan Muslim)Dan berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihin wasallam :الشِّرْكُ فِي هَذِهِ الأُمَّةِ أَخْفَى مِنْ دَبِيْبِ النَّمْلِ“Kesyirikan pada umat ini lebih samar daripada rayapan semut”. Maka Abu Bakar radhiallahu ‘anhu berkata,فَكَيْفَ الْخَلاَصُ مِنْهُ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟“Bagaimana cara selamat darinya wahai Rasulullah?”.Nabi berkata, “Hendaknya engkau berdoa :اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ شَيْئًا وَأَنَا أَعْلَمُهُ وَأَسْتَغْفِرُكَ مِنَ الذَّنْبِ الَّذِي لاَ أَعْلَمُ“Ya Allah aku berlindung kepadaMu dari berbuat syirik apapun kepadaMu yang aku  mengetahuinya dan aku memohon ampunan kepadaMu dari dosa yang aku tidak mengetahuinya” (HR Ibnu Hibban dari hadits Abu Bakar, dan Ahmad dari hadits Abu Musa).Dan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwasanya beliau berdoa :اللهُمَّ اغْفِرْ لِي ذَنْبِي كُلَّهُ دِقَّهُ، وَجِلَّهُ، خَطَأَهُ وَعَمْدَهُ وَسِرَّهُ وَعَلَانِيَتَهُ وَأَوَّلَهُ وَآخِرَهُ“Ya Allah ampunilah dosaku seluruhnya, yang kecil dan yang besar, yang tanpa sengaja maupun yang disengaja, yang tersembunyi maupun yang tampak, yang awal dan yang terakhir” (HR Muslim dan Abu Dawud)Jika seorang hamba memohon kepada Robbnya ampunan dosa-dosanya dengan doa yang ikhlas dan penuh permohonan serta permintaan penuh ketundukan dan kehinaan maka mencakup taubat dari dosa-dosa.Dan memohon taubat serta bimbingan untuk taubat mencakup istighfar, maka istighfar dan taubat jika disebutkan masing-masing sendirian maka mencakup yang lainnya. Dan jika disebutkan keduanya (secara bersamaan) dalam nash-nash maka makna istighfar adalah memohon dihapuskannya dosa-dosa dan dihilangkannya sisa dan dampaknya serta memohon perlindungan dari buruknya dosa-dosa yang telah lalu serta agar ditutup. Dan taubat maknanya adalah kembali kepada Allah dengan meninggalkan dosa-dosa dan memohon perlindungan dari apa yang dikhawatirkan di kemudian hari dari keburukan-keburukan amalannya serta tekad untuk tidak kembali melakukannya lagi.Dan telah dikumpulkan antara istighfar dan taubat dalam firman Allah :وَأَنِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُمَتِّعْكُمْ مَتَاعًا حَسَنًا إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى وَيُؤْتِ كُلَّ ذِي فَضْلٍ فَضْلَهُ وَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ كَبِيرٍDan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepada-Nya. (Jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberikan kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya. Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa siksa hari kiamat (QS Huud :3) dan ayat-ayat lainnya.Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :يَا أَيُّهَا النَّاسُ ! تُوْبُوا إِلَى رَبِّكُمْ وَاسْتَغْفِرُوْهُ، فَإِنِّي أَتُوْبُ إِلى اللهِ وَأَسْتَغْفِرُهُ كُلَّ يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ“Wahai manusia ! bertobatlah kalian kepada Tuhan kalian dan mintalah ampun kepadaNya. Sesungguhnya aku sendiri bertobat kepada Allah dan memohon ampunanNya setiap hari Seratus kali “. HR An-Nasai dari hadis Al-Muzani radhiyallahu ‘anhuSeorang hamba seharusnya selalu sangat butuh untuk memohon ampun kepada Allah, terutama di zaman seperti sekarang ini karena bermacam-macam cobaan lantaran banyaknya dosa dan fitnah, sehingga Allah membimbingnya dalam kehidupannya dan setelah matinya serta memperbaiki urusannya. Sesungguhnya istighfar merupakan pintu masuk segala kebaikan dan benteng dari segala keburukan berikut  hukumannya. Maka umat ini sangat perlu beristighfar secara terus menerus agar Allah mengangkat bencana yang menimpa umat ini, dan menghapuskan sanksi hukuman yang akan dijatuhkan. Tidak ada yang enggan beristighfar kecuali orang yang tidak memahami manfaatnya dan keberkahannya. Al-Qur’an dan As-Sunnah telah banyak menjelaskan tentang keutamaan istighfar.Allah subhanahu wa ta’ala berfirman tentang Nabi Salih a.s. :قَالَ يَاقَوْمِ لِمَ تَسْتَعْجِلُونَ بِالسَّيِّئَةِ قَبْلَ الْحَسَنَةِ لَوْلَا تَسْتَغْفِرُونَ اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ“ Dia [Shalih] berkata, “ Hai kaumku ! Mengapa kalian meminta disegerakan suatu keburukan sebelum kebaikan, mengapakah kalian tidak memohon ampun kepada Allah supaya kalian mendapatkan rahmat “.(QS An-Naml : 46)Maka dengan Istighfar, turunlah rahmat Allah kepada umat ini.Allah subhanahu wa ta’ala berfirman tentang Nuh a.s. :فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا (10) يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا (11) وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا “Mintalah ampun kepada Tuhan kalian, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun. Supaya Dia menurunkan kepada kalian hujan deras dari langit. Dan mengirim bantuan kepada kalian [berupa] harta benda dan [keturunan] anak-anak lelaki serta menjadikan untuk kalian kebun-kebun dan sungai-sungai. (QS Nuuh : 10-12)Allah subhanahu wa ta’ala berfirman tentang Nabi Hud, a.s. :وَيَاقَوْمِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا وَيَزِدْكُمْ قُوَّةً إِلَى قُوَّتِكُمْ وَلَا تَتَوَلَّوْا مُجْرِمِينَ“Wahai kaumku ! mohonlah ampun kepada Tuhan kalian kemudian bertobatlah kalian kepadaNya, niscaya Dia akan mengirimkan hujan deras kepada kalian dan menambah kekuatan lebih dari kekuatan yang ada pada kalian, dan janganlah kalian berpaling sebagai orang-orang yang berdosa”. (QS Huud : 52)Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنْتَ فِيهِمْ وَمَا كَانَ اللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ “Tidaklah mungkin Allah menghukum mereka sementara engkau berada di tengah-tengah mereka, dan tidak mungkin pula Allah menghukum mereka sementara mereka sedang beristighfar “ (QS Al-Anfaal : 33)Abu Musa berkata  : “Kalian dahulu mendapatkan dua jaminan keamanan; Adapun Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam maka telah wafat, namun istighfar tetap ada pada kalian hingga hari Kiamat.Seringnya istighfar yang dilakukan umat ini dapat mengangkat bencana yang telah terjadi dan menolak bencana yang akan terjadi. Tiada suatu bencana yang melanda kecuali disebabkan suatu dosa manusia, dan tidak ada cara lain menghilangkan bencana kecuali bertobat dan beristighfar”.Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :مَنْ لَزِمَ الِاسْتِغْفَارَ جَعَلَ اللَّهُ لَهُ مِنْ كُلِّ ضِيقٍ مَخْرَجًا وَمِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ“ Barangsiapa yang selalu beristighfar, maka Allah menjadikan baginya pada setiap kesempitan suatu solusi, dan setiap keprihatinan suatu jalan keluar, dan Allah memberinya rezeki dari jalan yang tak terduga”). HR Abu Dawud.Telah datang dari Nabi Saw. sabda-sabda beliau yang terjaga yang penuh berkah tentang Istighfar, dimana istighfar mendatangkan pahala yang besar. Antara lain sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam :مَنْ قَالَ: أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيَّ الْقَيُّومَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ غُفِرَ لَهُ وَإِنْ كَانَ قَدْ فَرَّ مِنَ الزَّحْفِ“Barangsiapa mengucapkan kalimat : Aku memohon ampun kepada Allah Yang tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Dia Yang Maha Hidup dan Yang Mengayomi. Aku bertobat kepadaNya, maka diampuni dosa-dosanya meskipun ia pernah lari dari barisan perang”. HR Abu Dawud  dan At-Turmuzi dan Al-Hakim. Dikatakannya, sebagai hadis Shahih sesuai syarat Bukhari dan Muslim.Dari Abi Said Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :مَنْ قَالَ حِينَ يَأْوِي إِلَى فِرَاشِهِ: أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الَّذِي لَا إِله إِلا هوَ الحيَّ القيومَ وأتوبُ إِليهِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ غَفَرَ اللَّهُ لَهُ ذُنُوبُهُ وَإِنْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ الْبَحْرِ أَوْ عَدَدَ رَمْلِ عَالَجٍ أَوْ عَدَدَ وَرَقِ الشَّجَرِ أَوْ عَدَدَ أَيَّامِ الدُّنْيَا“Barangsiapa berucap ketika hendak  menuju tempat tidurnya, “Aku memohon ampun kepada Allah Yang tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Dia Yang Maha Hidup dan Yang Mengayomi. Aku bertobat kepadaNya tiga kali, maka Allah ampuni dosa-dosanya meskipun sebanyak buih di laut ). HR At-Turmuzi.Dari Ubadah Bin As-Shamit radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :مَنْ تَعَارَّ مِنَ اللَّيْلِ فَقَالَ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ ثُمَّ قَالَ: رَبِّ اغْفِرْ لِي أَوْ قَالَ: ثمَّ دَعَا استيجيب لَهُ فَإِنْ تَوَضَّأَ وَصَلَّى قُبِلَتْ صَلَاتُهُ“Barangsiapa yang terjaga di malam hari lalu mengucapkan zikir, “ Tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tiada sekutu bagiNya. Hanya milikNya kerajaan dan hanya milikNya pula segala pujian. Dia atas segala sesuatu Maha Kuasa. Maha Suci Allah, segala puji bagi Allah. Tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, Allah Maha Besar. Ya Allah ampunilah aku. Lalu berdo’a, niscaya dikabulkan do’anya. Jika dia shalat, niscaya diterima shalatnya”. (HR Bukhari).Disebutkan dalam hadis pula :من قال صبيحة يوم الجمعة قبل صلاة الغداة: أستغفر الله الذي لا إله إلا هو الحي القيوم وأتوب إليه ثلاث مرات غفر الله تعالى ذنوبه ولو كانت مثل زبد البحر“Barangsiapa yang berzikir sebelum terbitnya fajar hari Jum’at, “Aku memohon ampun kepada Allah Yang tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Dia Yang Maha Hidup dan Yang Mengayomi. Aku bertobat kepadaNya Tiga kali, maka diampuni dosa-dosanya meskipun sebanyak buih di laut”.Diriwayatkan dari Syaddad Bin Aus  radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :Penghulu Istighfar adalah ucapan seorang hamba :سَيِّدُ الِاسْتِغْفَارِ أَنْ تَقُولَ: اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعَتُ أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ وَأَبُوءُ بِذَنْبِي فَاغْفِرْ لِي فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ “. قَالَ: «وَمَنْ قَالَهَا مِنَ النَّهَارِ مُوقِنًا بِهَا فَمَاتَ مِنْ يَوْمِهِ قَبْلَ أَنْ يُمْسِيَ فَهُوَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ وَمَنْ قَالَهَا مِنَ اللَّيْلِ وَهُوَ مُوقِنٌ بِهَا فَمَاتَ قَبْلَ أَنْ يُصْبِحَ فَهُوَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ»“Ya Allah, Engkau Tuhanku, tiada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau. Engkau telah ciptakan diriku, dan aku hambaMu, aku tetap setia memegang janjiMu dengan segala kemampuanku, aku berlindung kepadaMu dari kejahatan perbuatanku, aku mengakui besarnya nikmatMu kepadaku dan aku mengakui dosaku, maka ampunilah aku, sesungguhnya tidak ada yang dapat mengampuni dosa-dosa kecuali Engkau. Barangsiapa yang mengucapkannya di siang hari dengan penuh keyakinan lalu meninggal pada hari itu sebelum menjelang sore, maka masuklah ia ke dalam surga. Dan barangsiapa yang mengucapkannya di malam hari dengan penuh keyakinan lalu meninggal sebelum menjelang pagi, maka diapun termasuk penghuni surga”. (HR Bukhari)Dari Anas radhiyallahu ‘anhu berkata, aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :يَا ابنَ آدمَ إِنَّك لَوْ بَلَغَتْ ذُنُوبُكَ عَنَانَ السَّمَاءِ ثُمَّ اسْتَغْفَرْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ وَلَا أُبَالِي“Wahai anak Adam, Andaikata dosa-dosamu telah mencapai setinggi langit lalu maku meminta ampun kepadaKu, Akupun mengampunimu tanpa mempedulikan”  (HR Turmuzi. Dikatakannya sebagai hadis hasan).Sebagaimana pula seseorang diperintahkan beristighfar ketika sedang melaksanakan ibadah dan ketika selesai beribadah untuk menutup kekurangan yang terjadi, serta menghindari rasa ujub (bangga diri) dan riya’.  Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :ثُمَّ أَفِيضُوا مِنْ حَيْثُ أَفَاضَ النَّاسُ وَاسْتَغْفِرُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌKemudian bertolaklah kalian dari tempat di mana orang-orang lainnya bertolak dan mintalah ampun kalian kepada Allah, sesungguhnya ALLAH Maha Pengampun dan Maha Pemurah. (QS Al-Baqoroh : 199)Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَأَقْرِضُوا اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا وَمَا تُقَدِّمُوا لِأَنْفُسِكُمْ مِنْ خَيْرٍ تَجِدُوهُ عِنْدَ اللَّهِ هُوَ خَيْرًا وَأَعْظَمَ أَجْرًا وَاسْتَغْفِرُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌDirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan berikanlah pinjaman kepada Allah dengan suatu pinjaman yang baik. Apapun kebaikan yang kalian lakukan untuk diri kalian, niscaya akan kalian dapatkannya di sisi Allah suatu balasan yang lebih baik dan pahala yang lebih besar. Dan mintalah ampun kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Pengampun dan Maha Pemurah (QS Al-Muzammil ; 20)Sebagaimana disyariatkan juga seorang muslim memintakan ampun untuk kaum mukminin dan mukminat, muslimin dan muslimat, baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal, sebagai suatu persembahan amal baik dan rasa cinta yang tulus kepada mereka yang seagama dan sebagai syafaat bagi mereka di sisi Allah.Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌDan orang-orang yang datang sesudah mereka berdoa, “Ya Tuhan kami ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah mendahului kami dalam iman, janganlah Engkau jadikan dalam hati kami rasa dendam terhadap orang-orang yang beriman, Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyayang dan Pemurah (QS Al-Hasyr : 10)Dari Ubadah Bin Shamit radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda :مَنِ اسْتَغْفَرَ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَلِلْمُؤْمِنَاتِ كَتَبَ اللهُ لَهُ بِكُلِّ مُؤْمِنٍ وَمُؤْمِنَةٍ حَسَنَةًBarangsiapa yang memintakan ampun untuk orang-orang yang beriman lelaki dan perempuan, maka Allah subhanahu wa ta’ala mencatat baginya suatu kebaikan sebanyak  orang mukmin lelaki dan perempuan (Al-Haitsami berkata : Isnad hadis ini adalah Jayyid ( bagus ),Istighfar yang dimaksud seperti ketika mendoakan mereka dalam shalat Jenazah dan memintakan ampun untuk mereka  yang ada di alam kubur ketika berziarah kuburDan memohonkan ampunan bagi kaum mukminin adalah untuk meneladani para Malaikat pembawa Arasy dan Malaikat Muqarrabin.Allah subhanahu wa ta’ala berfirman  :الَّذِينَ يَحْمِلُونَ الْعَرْشَ وَمَنْ حَوْلَهُ يُسَبِّحُونَ بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَيُؤْمِنُونَ بِهِ وَيَسْتَغْفِرُونَ لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا وَسِعْتَ كُلَّ شَيْءٍ رَحْمَةً وَعِلْمًا فَاغْفِرْ لِلَّذِينَ تَابُوا وَاتَّبَعُوا سَبِيلَكَ وَقِهِمْ عَذَابَ الْجَحِيمِ“Mereka [malaikat] pemikul Arasy di sekelilingnya bertasbih dengan memuji Tuhan mereka, dan beriman kepadaNya serta memintakan ampun bagi orang-orang yang beriman, “ Ya Tuhan kami, Engkau meliputi segala sesuatu dengan rahmat dan pengetahuan, maka ampunilah orang-orang bertobat dan mengikuti jalanMu, lindunginlah mereka dari siksa neraka Jahim” (QS Ghofir : 7)Dan ini merupakan bentuk berbuat baik yang besar untuk kaum mukminin. Wahai hamba-hamba Allah. Laksanakanlah perintah TuhanMu. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam hadis Qudsi :يَا عِبَادِي إِنَّكُمْ تُخْطِئُونَ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَأَنَا أَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا فَاسْتَغْفِرُونِي أَغْفِرْ لَكُمْ“Wahai hamba-hambaKu, sesungguhnya kalian semua berbuat salah di malam dan siang hari, sedangkan Aku mengampuni segala dosa, maka mohonlah ampun kepadaKu, niscaya Aku mengampuni kalian semua “ (HR Muslim dari hadis Abi Zar).Maka, bersungguh-sungguhlah kalian beristighfar kepada Allah, niscaya akan kalian rasakan kemurahan dan keberkahan Allah Swt, akan kalian rasakan pula pengaruhnya pada penghapusan dosa dan terangkatnya derajat kalian.Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ لَمْ تُذْنِبُوا لَذَهَبَ اللَّهُ بِكُمْ وَلَجَاءَ بِقَوْمٍ يُذْنِبُونَ فَيَسْتَغْفِرُونَ اللَّهَ فَيَغْفِرُ لَهُمْ“Demi Allah yang jiwaku ada pada genggamanNya, seandainya kalian tidak berbuat dosa niscaya Allah akan melenyapkan kalian dan mendatangkan kaum lain yang berbuat dosa lalu mereka memohon ampun kepada Allah subhanahu wa ta’ala lalu Allah mengampuni mereka”. (HR Muslim)Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala Maha luas ampunanNya, Maha Pemurah dan Maha Mulia.Firman Allah  :وَمَنْ يَعْمَلْ سُوءًا أَوْ يَظْلِمْ نَفْسَهُ ثُمَّ يَسْتَغْفِرِ اللَّهَ يَجِدِ اللَّهَ غَفُورًا رَحِيمًاBarangsiapa yang melakukan suatu kejahatan atau berbuat aniaya terhadap dirinya sendiri lalu memohon ampun kepada Allah, niscaya ia dapatkan Allah Maha Pengampun dan Maha Pemurah (QS An-Nisaa : 110).Semoga Allah mencurahkan keberkahan atas kita semua berkat Al-Qur’an yang agung.==================Khotbah KeduaSegala puji bagi Allah, Maha Pengampun dosa, Maha Penerima tobat, Yang Maha keras siksaNya, Yang mempunya karunia, tiada Tuhan yang berhak disembah kesuali Dia. Kepadanya segalanya akan kembali. Aku memuji Tuhanku dan bersyukur kepadaNya atas anugerahNya yang agung. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan Selain Allah semata, tiada sekutu bagiNya, Yang Maha Mengetahui dan Maha Kuasa. Aku bersaksi bahwa Nabi kita dan junjungan kita Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam adalah Hamba Allah dan Rasul-Nya, sebagai Pemberi kabar gembira dan peringatan bagaikan pelita yang menerangi. Ya Allah curahkanlah shalawat, salam dan keberkahan kepada HambaMu dan RasulMu, Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam beserta seluruh keluarga dan sahabatnya.Selanjutnya, Bertakwalah kepada Tuhan kalian dan murnikanlah ibadah kalian hanya untuk Allah. Takutlah akan hukumanNya dan siksaNya.Kaum muslimin !  waspadalah terhadap fitnah (bencana ) yang sangat membahayakan agama dan urusan dunia, membinasakan hamba di akhirat dan merusak penghidupannya di dunia ini. Maka orang yang selamat adalah orang yang menghindarkan dirinya dari fitnah.  Dan fitnah (bencana) yang paling besar adalah ketika seseorang rancu kepadanya kebenaran yang telah bercampur baur dengan kebatilan, petunjuk dengan kesesatan, amal kebajikan dengan kemungkaran, yang halal dengan yang haram. Nah kini fitnah itu telah mengacaukan negeri  dan penduduknya sehingga sebagian anak-anak muda kaum muslimin keluar dari tempat naungan dan lingkungan mereka yang aman dan kokoh, dari komunitas masyarakat yang santun beralih ke jalan pemikiran yang menyimpang dan sesat karena mengikuti dan loyal kepada kelompok khawarij masa kini yang menyeret mereka untuk mengkafirkan kaum muslimin dan menumpahkan darah tak berdosa, bahkan menfatwakan untuk meledakkan bom bunih diri – Naudzu billah-. Apakah mereka yang meledakkan dirinya itu mengira bahwa dengan perbuatannya itu akan masuk surga.?.  Apakah mereka tidak tahu bahwa orang yang bunuh diri itu tempatnya di neraka ?Tidakkah mereka mendengar atau membaca firman Allah  :وَلَا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا (29) وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ عُدْوَانًا وَظُلْمًا فَسَوْفَ نُصْلِيهِ نَارًا وَكَانَ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرًا (30)Janganlah kalian membunuh diri kalian, sesungguhnya Allah Maha Pengasih terhadap kalian. Barangsiapa yang melakukan perbuatan itu karena melampaui batas dan aniaya, maka Kami akan masukkan dia ke dalam neraka. Dan yang demikian itu bagi Allah sangat mudah (QS An-Nisaa : 29-30)Apakah orang yang membunuh orang islam itu mengira bahwa perbuatannya itu menjadi penyebab dirinya masuk surga ?. Apakah dia tidak tahu bahwa membunuh seorang muslim itu menyebabkan dirinya kekal di neraka ? Apakah dia tidak mendengar atau membaca firman Allah subhanahu wa ta’ala :وَمَنْ يَقْتُلْ مُؤْمِنًا مُتَعَمِّدًا فَجَزَاؤُهُ جَهَنَّمُ خَالِدًا فِيهَا وَغَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَلَعَنَهُ وَأَعَدَّ لَهُ عَذَابًا عَظِيمًاBarangsiapa yang membunuh orang yang beriman dengan sengaja, maka balasannya neraka Jahannam, kekal di dalamnya dan Allah murka kepadanya serta mengutuknya dan menyedikan baginya siksa yang besar (QS An-Nisaa : 93).Apakah tidak sampai kepadanya peringatan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam :مَنْ قَتَلَ مُعَاهَدًا لَمْ يَرَحْ رَائِحَةَ الْجَنَّةِBarangsiapa yang membunuh seorang kafir Mu’ahad ( yang terikat perjanjian damai ), maka ia tidak akan mencium aroma surga .Apakah mereka tidak mengambil pelajaran dari rekan-rekannya sebelumnya di mana mereka melanggar ketentuan-ketentuan Allah lalu akhirnya mereka menyesali perbuatan mereka pada saat penyesalan tidak lagi berguna dan orang-orang yang memperdayakan pun tidak mampu menyelamatkan mereka.  Katakan kepada orang yang menyuruh Anda meledakkan diri, supaya mereka meledakkan dirinya sendiri terlebih dahulu, dan ia tidak mungkin berani melakukannya sendiri, karena ia ingin mencampakkan diri Anda ke neraka. Ia ingin memerangi kaum muslimin melalui tangan Anda, mengacaukan keamanan dengan bantuan Anda, menciptakan huru hara melalui perbuatan Anda. Demikian pula kerusakan perusakan dan pertumpahan darah jiwa tak berdosa, mereka jadikan Anda sebagai alat dan mengeluarkan Anda dari masyarakat muslim dan pemimpin umat islam. Padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah berpesan :عَلَيْكُمْ بِالْجَمَاعَةِ وَمَنْ شَذَّ شَذَّ فِي النَّارِHendaklah kalian tetap bersama jemaah kaum muslimin, barangsiapa yang menyendiri akan menyendiri pula di neraka ).Hamba Allah ! Sesungguhnya Allah dan malaikatNya bershalawat kepada Nabi, wahai orang-orang yag beriman bershalawatlah kalian kepadanya dan sampaikan do’a keselamatan kepadanya.===========  Do’a   ===========Penerjemah: Abu Abdil Muhsin Firandawww.firanda.com

Jika Ingin Tahu Ilmu Agama yang Benar

Jika ingin tahu ilmu agama yang benar, ilmu tersebut bersumber pada Al-Qur’an dan As-Sunnah atau hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Guru kami, Syaikh Shalih Al-‘Ushaimi –semoga Allah terus menjaga beliau dalam kebaikan– berkata bahwa semua ilmu yang bermanfaat kembali pada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Ilmu yang lain bisa jadi adalah turunan dari Al-Qur’an dan As-Sunnah. Atau ada ilmu di luar dari dua sumber tadi, namun bukan suatu darurat jika tidak dipelajari. (Ta’zhim Al-‘Ilmi, hlm. 46) Jadi seluruh ilmu dalam agama kita ini kembali pada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Demikianlah Rasul diperintahkan untuk berpegang pada keduanya, فَاسْتَمْسِكْ بِالَّذِي أُوحِيَ إِلَيْكَ إِنَّكَ عَلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ “Maka berpegang teguhlah kamu kepada agama yang telah diwahyukan kepadamu. Sesungguhnya kamu berada di atas jalan yang lurus.” (QS. Az-Zukhruf: 43). Apakah ada selain Al-Qur’an dan As-Sunnah yang diturunkan pada Rasul? Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata, مَنْ أَرَادَ العِلْمَ فَلْيُوَرِّثِ القُرْآنَ فَإِنَّ فِيْهِ عِلْمَ الأَوَّلِيْنَ وَالآخِرِيْنَ “Siapa yang menginginkan ilmu, maka wariskanlah (ambillah) ilmu dari Al-Qur’an karena di dalam Al-Qur’an terdapat ilmu orang yang terdahulu dan orang yang belakangan.” Masruq rahimahullah berkata, مَا نَسْأَلُ أَصْحَابَ مُحَمَّدٍ عَنْ شَيْءٍ إِلاَّ أَنَّ عِلْمَنَا يَقْصُرُ عَنْهُ “Kami tidaklah bertanya pada sahabat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai sesuatu melainkan dengan Al-Qur’an sudah menjawabnya.” (Disebutkan dalam Ta’zhim Al-‘Ilmi, hlm. 46) Namun ilmu pada Al-Qur’an tentu saja mesti dipahami, barulah bermanfaat. Sebagaimana kata Ibnu Mas’ud, إِنَّ أَقْوَامًا يَقْرَؤُنَ القُرْآنَ لاَ يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ وَلَكِنْ إِذَا وَقَعَ فِي القَلْبِ فَرَسَخَ نَفَعَ “Sesungguhnya ada kaum yang membaca Al-Qur’an, namun Al-Qur’an tersebut tidak melebihi lehernya (tulang selangkanya). Al-Qur’an tersebut barulah bermanfaat jika menancap dalam hati.” (Fadhl ‘Ilmi As-Salaf ‘ala ‘Ilmi Al-Khalaf, hlm. 103) Semoga bermanfaat.   Referensi: Fadhl ‘Ilmi As-Salaf ‘ala ‘Ilmi Al-Khalaf. Cetakan kedua, tahun 1432 H. Ibnu Rajab Al-Hambali. Penerbit Dar Al-Qabs. Ta’zhim Al-‘Ilmi. Syaikh Shalih bin ‘Abdullah bin Hamad Al-‘Ushaimi. Muqarrarat Barnamij Muhimmat Al-‘Ilmi. — Selesai disusun menjelang Jumatan, 10 Muharram 1437 H di hari Asyura @ Darush Sholihin Panggang, Gunungkidul Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsbelajar

Jika Ingin Tahu Ilmu Agama yang Benar

Jika ingin tahu ilmu agama yang benar, ilmu tersebut bersumber pada Al-Qur’an dan As-Sunnah atau hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Guru kami, Syaikh Shalih Al-‘Ushaimi –semoga Allah terus menjaga beliau dalam kebaikan– berkata bahwa semua ilmu yang bermanfaat kembali pada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Ilmu yang lain bisa jadi adalah turunan dari Al-Qur’an dan As-Sunnah. Atau ada ilmu di luar dari dua sumber tadi, namun bukan suatu darurat jika tidak dipelajari. (Ta’zhim Al-‘Ilmi, hlm. 46) Jadi seluruh ilmu dalam agama kita ini kembali pada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Demikianlah Rasul diperintahkan untuk berpegang pada keduanya, فَاسْتَمْسِكْ بِالَّذِي أُوحِيَ إِلَيْكَ إِنَّكَ عَلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ “Maka berpegang teguhlah kamu kepada agama yang telah diwahyukan kepadamu. Sesungguhnya kamu berada di atas jalan yang lurus.” (QS. Az-Zukhruf: 43). Apakah ada selain Al-Qur’an dan As-Sunnah yang diturunkan pada Rasul? Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata, مَنْ أَرَادَ العِلْمَ فَلْيُوَرِّثِ القُرْآنَ فَإِنَّ فِيْهِ عِلْمَ الأَوَّلِيْنَ وَالآخِرِيْنَ “Siapa yang menginginkan ilmu, maka wariskanlah (ambillah) ilmu dari Al-Qur’an karena di dalam Al-Qur’an terdapat ilmu orang yang terdahulu dan orang yang belakangan.” Masruq rahimahullah berkata, مَا نَسْأَلُ أَصْحَابَ مُحَمَّدٍ عَنْ شَيْءٍ إِلاَّ أَنَّ عِلْمَنَا يَقْصُرُ عَنْهُ “Kami tidaklah bertanya pada sahabat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai sesuatu melainkan dengan Al-Qur’an sudah menjawabnya.” (Disebutkan dalam Ta’zhim Al-‘Ilmi, hlm. 46) Namun ilmu pada Al-Qur’an tentu saja mesti dipahami, barulah bermanfaat. Sebagaimana kata Ibnu Mas’ud, إِنَّ أَقْوَامًا يَقْرَؤُنَ القُرْآنَ لاَ يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ وَلَكِنْ إِذَا وَقَعَ فِي القَلْبِ فَرَسَخَ نَفَعَ “Sesungguhnya ada kaum yang membaca Al-Qur’an, namun Al-Qur’an tersebut tidak melebihi lehernya (tulang selangkanya). Al-Qur’an tersebut barulah bermanfaat jika menancap dalam hati.” (Fadhl ‘Ilmi As-Salaf ‘ala ‘Ilmi Al-Khalaf, hlm. 103) Semoga bermanfaat.   Referensi: Fadhl ‘Ilmi As-Salaf ‘ala ‘Ilmi Al-Khalaf. Cetakan kedua, tahun 1432 H. Ibnu Rajab Al-Hambali. Penerbit Dar Al-Qabs. Ta’zhim Al-‘Ilmi. Syaikh Shalih bin ‘Abdullah bin Hamad Al-‘Ushaimi. Muqarrarat Barnamij Muhimmat Al-‘Ilmi. — Selesai disusun menjelang Jumatan, 10 Muharram 1437 H di hari Asyura @ Darush Sholihin Panggang, Gunungkidul Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsbelajar
Jika ingin tahu ilmu agama yang benar, ilmu tersebut bersumber pada Al-Qur’an dan As-Sunnah atau hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Guru kami, Syaikh Shalih Al-‘Ushaimi –semoga Allah terus menjaga beliau dalam kebaikan– berkata bahwa semua ilmu yang bermanfaat kembali pada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Ilmu yang lain bisa jadi adalah turunan dari Al-Qur’an dan As-Sunnah. Atau ada ilmu di luar dari dua sumber tadi, namun bukan suatu darurat jika tidak dipelajari. (Ta’zhim Al-‘Ilmi, hlm. 46) Jadi seluruh ilmu dalam agama kita ini kembali pada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Demikianlah Rasul diperintahkan untuk berpegang pada keduanya, فَاسْتَمْسِكْ بِالَّذِي أُوحِيَ إِلَيْكَ إِنَّكَ عَلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ “Maka berpegang teguhlah kamu kepada agama yang telah diwahyukan kepadamu. Sesungguhnya kamu berada di atas jalan yang lurus.” (QS. Az-Zukhruf: 43). Apakah ada selain Al-Qur’an dan As-Sunnah yang diturunkan pada Rasul? Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata, مَنْ أَرَادَ العِلْمَ فَلْيُوَرِّثِ القُرْآنَ فَإِنَّ فِيْهِ عِلْمَ الأَوَّلِيْنَ وَالآخِرِيْنَ “Siapa yang menginginkan ilmu, maka wariskanlah (ambillah) ilmu dari Al-Qur’an karena di dalam Al-Qur’an terdapat ilmu orang yang terdahulu dan orang yang belakangan.” Masruq rahimahullah berkata, مَا نَسْأَلُ أَصْحَابَ مُحَمَّدٍ عَنْ شَيْءٍ إِلاَّ أَنَّ عِلْمَنَا يَقْصُرُ عَنْهُ “Kami tidaklah bertanya pada sahabat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai sesuatu melainkan dengan Al-Qur’an sudah menjawabnya.” (Disebutkan dalam Ta’zhim Al-‘Ilmi, hlm. 46) Namun ilmu pada Al-Qur’an tentu saja mesti dipahami, barulah bermanfaat. Sebagaimana kata Ibnu Mas’ud, إِنَّ أَقْوَامًا يَقْرَؤُنَ القُرْآنَ لاَ يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ وَلَكِنْ إِذَا وَقَعَ فِي القَلْبِ فَرَسَخَ نَفَعَ “Sesungguhnya ada kaum yang membaca Al-Qur’an, namun Al-Qur’an tersebut tidak melebihi lehernya (tulang selangkanya). Al-Qur’an tersebut barulah bermanfaat jika menancap dalam hati.” (Fadhl ‘Ilmi As-Salaf ‘ala ‘Ilmi Al-Khalaf, hlm. 103) Semoga bermanfaat.   Referensi: Fadhl ‘Ilmi As-Salaf ‘ala ‘Ilmi Al-Khalaf. Cetakan kedua, tahun 1432 H. Ibnu Rajab Al-Hambali. Penerbit Dar Al-Qabs. Ta’zhim Al-‘Ilmi. Syaikh Shalih bin ‘Abdullah bin Hamad Al-‘Ushaimi. Muqarrarat Barnamij Muhimmat Al-‘Ilmi. — Selesai disusun menjelang Jumatan, 10 Muharram 1437 H di hari Asyura @ Darush Sholihin Panggang, Gunungkidul Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsbelajar


Jika ingin tahu ilmu agama yang benar, ilmu tersebut bersumber pada Al-Qur’an dan As-Sunnah atau hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Guru kami, Syaikh Shalih Al-‘Ushaimi –semoga Allah terus menjaga beliau dalam kebaikan– berkata bahwa semua ilmu yang bermanfaat kembali pada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Ilmu yang lain bisa jadi adalah turunan dari Al-Qur’an dan As-Sunnah. Atau ada ilmu di luar dari dua sumber tadi, namun bukan suatu darurat jika tidak dipelajari. (Ta’zhim Al-‘Ilmi, hlm. 46) Jadi seluruh ilmu dalam agama kita ini kembali pada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Demikianlah Rasul diperintahkan untuk berpegang pada keduanya, فَاسْتَمْسِكْ بِالَّذِي أُوحِيَ إِلَيْكَ إِنَّكَ عَلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ “Maka berpegang teguhlah kamu kepada agama yang telah diwahyukan kepadamu. Sesungguhnya kamu berada di atas jalan yang lurus.” (QS. Az-Zukhruf: 43). Apakah ada selain Al-Qur’an dan As-Sunnah yang diturunkan pada Rasul? Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata, مَنْ أَرَادَ العِلْمَ فَلْيُوَرِّثِ القُرْآنَ فَإِنَّ فِيْهِ عِلْمَ الأَوَّلِيْنَ وَالآخِرِيْنَ “Siapa yang menginginkan ilmu, maka wariskanlah (ambillah) ilmu dari Al-Qur’an karena di dalam Al-Qur’an terdapat ilmu orang yang terdahulu dan orang yang belakangan.” Masruq rahimahullah berkata, مَا نَسْأَلُ أَصْحَابَ مُحَمَّدٍ عَنْ شَيْءٍ إِلاَّ أَنَّ عِلْمَنَا يَقْصُرُ عَنْهُ “Kami tidaklah bertanya pada sahabat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai sesuatu melainkan dengan Al-Qur’an sudah menjawabnya.” (Disebutkan dalam Ta’zhim Al-‘Ilmi, hlm. 46) Namun ilmu pada Al-Qur’an tentu saja mesti dipahami, barulah bermanfaat. Sebagaimana kata Ibnu Mas’ud, إِنَّ أَقْوَامًا يَقْرَؤُنَ القُرْآنَ لاَ يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ وَلَكِنْ إِذَا وَقَعَ فِي القَلْبِ فَرَسَخَ نَفَعَ “Sesungguhnya ada kaum yang membaca Al-Qur’an, namun Al-Qur’an tersebut tidak melebihi lehernya (tulang selangkanya). Al-Qur’an tersebut barulah bermanfaat jika menancap dalam hati.” (Fadhl ‘Ilmi As-Salaf ‘ala ‘Ilmi Al-Khalaf, hlm. 103) Semoga bermanfaat.   Referensi: Fadhl ‘Ilmi As-Salaf ‘ala ‘Ilmi Al-Khalaf. Cetakan kedua, tahun 1432 H. Ibnu Rajab Al-Hambali. Penerbit Dar Al-Qabs. Ta’zhim Al-‘Ilmi. Syaikh Shalih bin ‘Abdullah bin Hamad Al-‘Ushaimi. Muqarrarat Barnamij Muhimmat Al-‘Ilmi. — Selesai disusun menjelang Jumatan, 10 Muharram 1437 H di hari Asyura @ Darush Sholihin Panggang, Gunungkidul Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsbelajar

Donasi Buka Puasa Asyura 1437 H

Siapa tahu yang punya kelebihan rezeki mau berbagi untuk buka puasa di Pesantren Darush Sholihin, Warak, Girisekar, Panggang, Gunungkidul. Follow Berbagi Buka puasa Tasu’ah dan Asyura (9 dan 10 Muharram) untuk 400 paket dalam dua hari, Kamis dan Jumat. Puasa Asyura (10 Muharram) menghapuskan dosa setahun dan tanggal 9-nya untuk menyelisihi orang Yahudi. Dan kita tahu bahwa siapa yang beri makan pada orang yang berbuka puasa, maka ia akan mendapatkan pahala semisal orang yang berpuasa. Apalagi jika ia menjalankan puasa sunnah tersebut pula, ia dapat pahala berlipat-lipat. Yang diberi buka puasa adalah orang miskin yang baru mengenal sunnah puasa semacam ini. Kita tahu bersama bahwa doa orang miskin sangat mudah diijabahi. Ditambah lagi mereka berdoa saat berbuka puasa.   Mau follow program ini? Silakan transfer ke rekening Yayasan Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul: Bank Syariah Mandiri (BSM) a/n Yayasan Darush Sholihin Gunungkidul 7068478612. Lalu konfirmasi via SMS 082313950500. Format konfirmasi: Buka puasa Asyura# nama# alamat# BSM Yayasan# Besar Donasi# Tanggal Transfer. Contoh: Buka Puasa Asyura# Aisyah Tuasikal# Sleman Jogja# BSM Yayasan# 1 juta# 21/10/2015 Info CALL, WA, SMS: 0811267791 (Mas Jarot) Laporan donasi buka puasa Asyura akan dimuat di sini.   Muhammad Abduh Tuasikal • Rumaysho.Com • Twitter @RumayshoCom • Instagram RumayshoCom • Pesantren DarushSholihin.Com Tagsasyura

Donasi Buka Puasa Asyura 1437 H

Siapa tahu yang punya kelebihan rezeki mau berbagi untuk buka puasa di Pesantren Darush Sholihin, Warak, Girisekar, Panggang, Gunungkidul. Follow Berbagi Buka puasa Tasu’ah dan Asyura (9 dan 10 Muharram) untuk 400 paket dalam dua hari, Kamis dan Jumat. Puasa Asyura (10 Muharram) menghapuskan dosa setahun dan tanggal 9-nya untuk menyelisihi orang Yahudi. Dan kita tahu bahwa siapa yang beri makan pada orang yang berbuka puasa, maka ia akan mendapatkan pahala semisal orang yang berpuasa. Apalagi jika ia menjalankan puasa sunnah tersebut pula, ia dapat pahala berlipat-lipat. Yang diberi buka puasa adalah orang miskin yang baru mengenal sunnah puasa semacam ini. Kita tahu bersama bahwa doa orang miskin sangat mudah diijabahi. Ditambah lagi mereka berdoa saat berbuka puasa.   Mau follow program ini? Silakan transfer ke rekening Yayasan Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul: Bank Syariah Mandiri (BSM) a/n Yayasan Darush Sholihin Gunungkidul 7068478612. Lalu konfirmasi via SMS 082313950500. Format konfirmasi: Buka puasa Asyura# nama# alamat# BSM Yayasan# Besar Donasi# Tanggal Transfer. Contoh: Buka Puasa Asyura# Aisyah Tuasikal# Sleman Jogja# BSM Yayasan# 1 juta# 21/10/2015 Info CALL, WA, SMS: 0811267791 (Mas Jarot) Laporan donasi buka puasa Asyura akan dimuat di sini.   Muhammad Abduh Tuasikal • Rumaysho.Com • Twitter @RumayshoCom • Instagram RumayshoCom • Pesantren DarushSholihin.Com Tagsasyura
Siapa tahu yang punya kelebihan rezeki mau berbagi untuk buka puasa di Pesantren Darush Sholihin, Warak, Girisekar, Panggang, Gunungkidul. Follow Berbagi Buka puasa Tasu’ah dan Asyura (9 dan 10 Muharram) untuk 400 paket dalam dua hari, Kamis dan Jumat. Puasa Asyura (10 Muharram) menghapuskan dosa setahun dan tanggal 9-nya untuk menyelisihi orang Yahudi. Dan kita tahu bahwa siapa yang beri makan pada orang yang berbuka puasa, maka ia akan mendapatkan pahala semisal orang yang berpuasa. Apalagi jika ia menjalankan puasa sunnah tersebut pula, ia dapat pahala berlipat-lipat. Yang diberi buka puasa adalah orang miskin yang baru mengenal sunnah puasa semacam ini. Kita tahu bersama bahwa doa orang miskin sangat mudah diijabahi. Ditambah lagi mereka berdoa saat berbuka puasa.   Mau follow program ini? Silakan transfer ke rekening Yayasan Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul: Bank Syariah Mandiri (BSM) a/n Yayasan Darush Sholihin Gunungkidul 7068478612. Lalu konfirmasi via SMS 082313950500. Format konfirmasi: Buka puasa Asyura# nama# alamat# BSM Yayasan# Besar Donasi# Tanggal Transfer. Contoh: Buka Puasa Asyura# Aisyah Tuasikal# Sleman Jogja# BSM Yayasan# 1 juta# 21/10/2015 Info CALL, WA, SMS: 0811267791 (Mas Jarot) Laporan donasi buka puasa Asyura akan dimuat di sini.   Muhammad Abduh Tuasikal • Rumaysho.Com • Twitter @RumayshoCom • Instagram RumayshoCom • Pesantren DarushSholihin.Com Tagsasyura


Siapa tahu yang punya kelebihan rezeki mau berbagi untuk buka puasa di Pesantren Darush Sholihin, Warak, Girisekar, Panggang, Gunungkidul. Follow Berbagi Buka puasa Tasu’ah dan Asyura (9 dan 10 Muharram) untuk 400 paket dalam dua hari, Kamis dan Jumat. Puasa Asyura (10 Muharram) menghapuskan dosa setahun dan tanggal 9-nya untuk menyelisihi orang Yahudi. Dan kita tahu bahwa siapa yang beri makan pada orang yang berbuka puasa, maka ia akan mendapatkan pahala semisal orang yang berpuasa. Apalagi jika ia menjalankan puasa sunnah tersebut pula, ia dapat pahala berlipat-lipat. Yang diberi buka puasa adalah orang miskin yang baru mengenal sunnah puasa semacam ini. Kita tahu bersama bahwa doa orang miskin sangat mudah diijabahi. Ditambah lagi mereka berdoa saat berbuka puasa.   Mau follow program ini? Silakan transfer ke rekening Yayasan Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul: Bank Syariah Mandiri (BSM) a/n Yayasan Darush Sholihin Gunungkidul 7068478612. Lalu konfirmasi via SMS 082313950500. Format konfirmasi: Buka puasa Asyura# nama# alamat# BSM Yayasan# Besar Donasi# Tanggal Transfer. Contoh: Buka Puasa Asyura# Aisyah Tuasikal# Sleman Jogja# BSM Yayasan# 1 juta# 21/10/2015 Info CALL, WA, SMS: 0811267791 (Mas Jarot) Laporan donasi buka puasa Asyura akan dimuat di sini.   Muhammad Abduh Tuasikal • Rumaysho.Com • Twitter @RumayshoCom • Instagram RumayshoCom • Pesantren DarushSholihin.Com Tagsasyura

Adab pada Guru (7)

Di antara adab pada guru adalah terus mendo’akan guru atas ilmu yang diberikan. Contohilah para ulama yang selalu mendoakan orang yang telah berjasa baik padanya dalam hal ilmu. Al-Harits bin Suraij berkata, aku mendengar Al-Qatthan berkata, أَنَا أَدْعُو اللهَ لِلشَّافِعِي، أَخُصُّهُ بِهِ “Aku senatiasa berdo’a pada Allah untuk Imam Syafi’i, aku khususkan do’a untuknya.” Abu Bakar bin Khalad berkata, أَنَا أَدْعُو اللهَ فِي دُبُرِ صَلاَتِي لِلشَّافِعِي “Aku selalu berdo’a pada Allah di akhir shalatku untuk Syafi’i.” (Disebutkan oleh Imam Adz Dzahabi dalam Siyar A’lam An-Nubala’, 10: 20). Setiap kebaikan hendaklah dibalas. Apalagi kebaikan ilmu yang diberikan. Sulit memang membalasnya karena ilmu adalah jasa yang tiada tara. Kalaulah itu sulit, maka balaslah kebaikan tersebut dengan terus mendo’akan orang yang memberikan ilmu. Do’a itu tak henti dipanjatkan sampai kita merasa telah membalasnya. Termasuk pula kita hendaknya selalu mendo’akan para ulama yang punya jasa besar pada Islam. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ يَشْكُرُ اللَّهَ مَنْ لاَ يَشْكُرُ النَّاسَ “Seorang belum merealisasikan rasa syukur kepada Allah jika ia tidak mampu bersyukur (berterimakasih) atas kebaikan orang lain terhadap dirinya.” (HR. Abu Daud no. 4811 dan Tirmidzi no. 1954. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih). Dari Jabir bin ‘Abdillah Al Anshari, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ صُنِعَ إِلَيْهِ مَعْرْوُفٌ فَلْيُجْزِئْهُ، فَإِنْ لَمْ يُجْزِئْهُ فَلْيُثْنِ عَلَيْهِ؛ فَإِنَّهُ إِذَا أَثْنَى عَلَيْهِ فَقَدْ شَكَرَهُ، وَإِنْ كَتَمَهُ فَقَدْ كَفَرَهُ، وَمَنْ تَحَلَّى بَمَا لَمْ يُعْطَ، فَكَأَنَّمَا لَبِسَ ثَوْبَيْ زُوْرٍ “Siapa yang memperoleh kebaikan dari orang lain, hendaknya dia membalasnya. Jika tidak menemukan sesuatu untuk membalasnya, hendaklah dia memuji orang tersebut, karena jika dia memujinya maka dia telah mensyukurinya. Jika dia menyembunyikannya, berarti dia telah mengingkari kebaikannya. Seorang yang berhias terhadap suatu (kebaikan) yang tidak dia kerjakan atau miliki, seakan-akan ia memakai dua helai pakaian kepalsuan.” (HR. Al-Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad no. 215. Hadits ini shahih sebagaimana kata Syaikh Al-Albani). Bentuknya bisa dengan mendoakan rahmat dan kebaikan ketika nama guru kita disebut. Ibnu Jama’ah Al-Kanani rahimahullah menyebutkan, “Sebagian ulama terkadang membacakan hadits dengan sanadnya. Mereka lalu mendoakan setiap perawi dalam sanad tersebut. Itulah bentuk kekhususan karena telah diberikan anugerah ilmu yang luar biasa.” (Tadzkir As-Sami’ wa Al-Mutakallim, hlm. 64, Ma’alim fi Thariq Thalab Al-‘Ilmi, hlm. 208)   Referensi: Ma’alim fi Thariq Thalib Al-‘Ilmi. Cetakan kelima, tahun 1431 H. Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Muhammad bin ‘Abdullah As-Sadhan. Penerbit Dar Al-Qabs. Siyar A’lam An-Nubala’, Cetakan kedua, tahun 1435 H. Al-Imam Syamsuddin Muhammad bin Ahmad bin ‘Utsman Adz-Dzahabiy. Penerbit Muassasah Ar-Risalah. Syarh Shahih Al-Adab Al-Mufrad li Al-Imam Al-Bukhari. Cetakan kedua, tahun 1425 H. Syaikh Husain bin ‘Awdah Al-‘Awaysyah. Penerbit Al-Maktabah Al-Islamiyyah. — Selesai disusun di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, sore hari ba’da ‘Ashar, 7 Muharram 1437 H Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsadab guru

Adab pada Guru (7)

Di antara adab pada guru adalah terus mendo’akan guru atas ilmu yang diberikan. Contohilah para ulama yang selalu mendoakan orang yang telah berjasa baik padanya dalam hal ilmu. Al-Harits bin Suraij berkata, aku mendengar Al-Qatthan berkata, أَنَا أَدْعُو اللهَ لِلشَّافِعِي، أَخُصُّهُ بِهِ “Aku senatiasa berdo’a pada Allah untuk Imam Syafi’i, aku khususkan do’a untuknya.” Abu Bakar bin Khalad berkata, أَنَا أَدْعُو اللهَ فِي دُبُرِ صَلاَتِي لِلشَّافِعِي “Aku selalu berdo’a pada Allah di akhir shalatku untuk Syafi’i.” (Disebutkan oleh Imam Adz Dzahabi dalam Siyar A’lam An-Nubala’, 10: 20). Setiap kebaikan hendaklah dibalas. Apalagi kebaikan ilmu yang diberikan. Sulit memang membalasnya karena ilmu adalah jasa yang tiada tara. Kalaulah itu sulit, maka balaslah kebaikan tersebut dengan terus mendo’akan orang yang memberikan ilmu. Do’a itu tak henti dipanjatkan sampai kita merasa telah membalasnya. Termasuk pula kita hendaknya selalu mendo’akan para ulama yang punya jasa besar pada Islam. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ يَشْكُرُ اللَّهَ مَنْ لاَ يَشْكُرُ النَّاسَ “Seorang belum merealisasikan rasa syukur kepada Allah jika ia tidak mampu bersyukur (berterimakasih) atas kebaikan orang lain terhadap dirinya.” (HR. Abu Daud no. 4811 dan Tirmidzi no. 1954. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih). Dari Jabir bin ‘Abdillah Al Anshari, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ صُنِعَ إِلَيْهِ مَعْرْوُفٌ فَلْيُجْزِئْهُ، فَإِنْ لَمْ يُجْزِئْهُ فَلْيُثْنِ عَلَيْهِ؛ فَإِنَّهُ إِذَا أَثْنَى عَلَيْهِ فَقَدْ شَكَرَهُ، وَإِنْ كَتَمَهُ فَقَدْ كَفَرَهُ، وَمَنْ تَحَلَّى بَمَا لَمْ يُعْطَ، فَكَأَنَّمَا لَبِسَ ثَوْبَيْ زُوْرٍ “Siapa yang memperoleh kebaikan dari orang lain, hendaknya dia membalasnya. Jika tidak menemukan sesuatu untuk membalasnya, hendaklah dia memuji orang tersebut, karena jika dia memujinya maka dia telah mensyukurinya. Jika dia menyembunyikannya, berarti dia telah mengingkari kebaikannya. Seorang yang berhias terhadap suatu (kebaikan) yang tidak dia kerjakan atau miliki, seakan-akan ia memakai dua helai pakaian kepalsuan.” (HR. Al-Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad no. 215. Hadits ini shahih sebagaimana kata Syaikh Al-Albani). Bentuknya bisa dengan mendoakan rahmat dan kebaikan ketika nama guru kita disebut. Ibnu Jama’ah Al-Kanani rahimahullah menyebutkan, “Sebagian ulama terkadang membacakan hadits dengan sanadnya. Mereka lalu mendoakan setiap perawi dalam sanad tersebut. Itulah bentuk kekhususan karena telah diberikan anugerah ilmu yang luar biasa.” (Tadzkir As-Sami’ wa Al-Mutakallim, hlm. 64, Ma’alim fi Thariq Thalab Al-‘Ilmi, hlm. 208)   Referensi: Ma’alim fi Thariq Thalib Al-‘Ilmi. Cetakan kelima, tahun 1431 H. Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Muhammad bin ‘Abdullah As-Sadhan. Penerbit Dar Al-Qabs. Siyar A’lam An-Nubala’, Cetakan kedua, tahun 1435 H. Al-Imam Syamsuddin Muhammad bin Ahmad bin ‘Utsman Adz-Dzahabiy. Penerbit Muassasah Ar-Risalah. Syarh Shahih Al-Adab Al-Mufrad li Al-Imam Al-Bukhari. Cetakan kedua, tahun 1425 H. Syaikh Husain bin ‘Awdah Al-‘Awaysyah. Penerbit Al-Maktabah Al-Islamiyyah. — Selesai disusun di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, sore hari ba’da ‘Ashar, 7 Muharram 1437 H Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsadab guru
Di antara adab pada guru adalah terus mendo’akan guru atas ilmu yang diberikan. Contohilah para ulama yang selalu mendoakan orang yang telah berjasa baik padanya dalam hal ilmu. Al-Harits bin Suraij berkata, aku mendengar Al-Qatthan berkata, أَنَا أَدْعُو اللهَ لِلشَّافِعِي، أَخُصُّهُ بِهِ “Aku senatiasa berdo’a pada Allah untuk Imam Syafi’i, aku khususkan do’a untuknya.” Abu Bakar bin Khalad berkata, أَنَا أَدْعُو اللهَ فِي دُبُرِ صَلاَتِي لِلشَّافِعِي “Aku selalu berdo’a pada Allah di akhir shalatku untuk Syafi’i.” (Disebutkan oleh Imam Adz Dzahabi dalam Siyar A’lam An-Nubala’, 10: 20). Setiap kebaikan hendaklah dibalas. Apalagi kebaikan ilmu yang diberikan. Sulit memang membalasnya karena ilmu adalah jasa yang tiada tara. Kalaulah itu sulit, maka balaslah kebaikan tersebut dengan terus mendo’akan orang yang memberikan ilmu. Do’a itu tak henti dipanjatkan sampai kita merasa telah membalasnya. Termasuk pula kita hendaknya selalu mendo’akan para ulama yang punya jasa besar pada Islam. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ يَشْكُرُ اللَّهَ مَنْ لاَ يَشْكُرُ النَّاسَ “Seorang belum merealisasikan rasa syukur kepada Allah jika ia tidak mampu bersyukur (berterimakasih) atas kebaikan orang lain terhadap dirinya.” (HR. Abu Daud no. 4811 dan Tirmidzi no. 1954. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih). Dari Jabir bin ‘Abdillah Al Anshari, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ صُنِعَ إِلَيْهِ مَعْرْوُفٌ فَلْيُجْزِئْهُ، فَإِنْ لَمْ يُجْزِئْهُ فَلْيُثْنِ عَلَيْهِ؛ فَإِنَّهُ إِذَا أَثْنَى عَلَيْهِ فَقَدْ شَكَرَهُ، وَإِنْ كَتَمَهُ فَقَدْ كَفَرَهُ، وَمَنْ تَحَلَّى بَمَا لَمْ يُعْطَ، فَكَأَنَّمَا لَبِسَ ثَوْبَيْ زُوْرٍ “Siapa yang memperoleh kebaikan dari orang lain, hendaknya dia membalasnya. Jika tidak menemukan sesuatu untuk membalasnya, hendaklah dia memuji orang tersebut, karena jika dia memujinya maka dia telah mensyukurinya. Jika dia menyembunyikannya, berarti dia telah mengingkari kebaikannya. Seorang yang berhias terhadap suatu (kebaikan) yang tidak dia kerjakan atau miliki, seakan-akan ia memakai dua helai pakaian kepalsuan.” (HR. Al-Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad no. 215. Hadits ini shahih sebagaimana kata Syaikh Al-Albani). Bentuknya bisa dengan mendoakan rahmat dan kebaikan ketika nama guru kita disebut. Ibnu Jama’ah Al-Kanani rahimahullah menyebutkan, “Sebagian ulama terkadang membacakan hadits dengan sanadnya. Mereka lalu mendoakan setiap perawi dalam sanad tersebut. Itulah bentuk kekhususan karena telah diberikan anugerah ilmu yang luar biasa.” (Tadzkir As-Sami’ wa Al-Mutakallim, hlm. 64, Ma’alim fi Thariq Thalab Al-‘Ilmi, hlm. 208)   Referensi: Ma’alim fi Thariq Thalib Al-‘Ilmi. Cetakan kelima, tahun 1431 H. Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Muhammad bin ‘Abdullah As-Sadhan. Penerbit Dar Al-Qabs. Siyar A’lam An-Nubala’, Cetakan kedua, tahun 1435 H. Al-Imam Syamsuddin Muhammad bin Ahmad bin ‘Utsman Adz-Dzahabiy. Penerbit Muassasah Ar-Risalah. Syarh Shahih Al-Adab Al-Mufrad li Al-Imam Al-Bukhari. Cetakan kedua, tahun 1425 H. Syaikh Husain bin ‘Awdah Al-‘Awaysyah. Penerbit Al-Maktabah Al-Islamiyyah. — Selesai disusun di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, sore hari ba’da ‘Ashar, 7 Muharram 1437 H Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsadab guru


Di antara adab pada guru adalah terus mendo’akan guru atas ilmu yang diberikan. Contohilah para ulama yang selalu mendoakan orang yang telah berjasa baik padanya dalam hal ilmu. Al-Harits bin Suraij berkata, aku mendengar Al-Qatthan berkata, أَنَا أَدْعُو اللهَ لِلشَّافِعِي، أَخُصُّهُ بِهِ “Aku senatiasa berdo’a pada Allah untuk Imam Syafi’i, aku khususkan do’a untuknya.” Abu Bakar bin Khalad berkata, أَنَا أَدْعُو اللهَ فِي دُبُرِ صَلاَتِي لِلشَّافِعِي “Aku selalu berdo’a pada Allah di akhir shalatku untuk Syafi’i.” (Disebutkan oleh Imam Adz Dzahabi dalam Siyar A’lam An-Nubala’, 10: 20). Setiap kebaikan hendaklah dibalas. Apalagi kebaikan ilmu yang diberikan. Sulit memang membalasnya karena ilmu adalah jasa yang tiada tara. Kalaulah itu sulit, maka balaslah kebaikan tersebut dengan terus mendo’akan orang yang memberikan ilmu. Do’a itu tak henti dipanjatkan sampai kita merasa telah membalasnya. Termasuk pula kita hendaknya selalu mendo’akan para ulama yang punya jasa besar pada Islam. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ يَشْكُرُ اللَّهَ مَنْ لاَ يَشْكُرُ النَّاسَ “Seorang belum merealisasikan rasa syukur kepada Allah jika ia tidak mampu bersyukur (berterimakasih) atas kebaikan orang lain terhadap dirinya.” (HR. Abu Daud no. 4811 dan Tirmidzi no. 1954. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih). Dari Jabir bin ‘Abdillah Al Anshari, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ صُنِعَ إِلَيْهِ مَعْرْوُفٌ فَلْيُجْزِئْهُ، فَإِنْ لَمْ يُجْزِئْهُ فَلْيُثْنِ عَلَيْهِ؛ فَإِنَّهُ إِذَا أَثْنَى عَلَيْهِ فَقَدْ شَكَرَهُ، وَإِنْ كَتَمَهُ فَقَدْ كَفَرَهُ، وَمَنْ تَحَلَّى بَمَا لَمْ يُعْطَ، فَكَأَنَّمَا لَبِسَ ثَوْبَيْ زُوْرٍ “Siapa yang memperoleh kebaikan dari orang lain, hendaknya dia membalasnya. Jika tidak menemukan sesuatu untuk membalasnya, hendaklah dia memuji orang tersebut, karena jika dia memujinya maka dia telah mensyukurinya. Jika dia menyembunyikannya, berarti dia telah mengingkari kebaikannya. Seorang yang berhias terhadap suatu (kebaikan) yang tidak dia kerjakan atau miliki, seakan-akan ia memakai dua helai pakaian kepalsuan.” (HR. Al-Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad no. 215. Hadits ini shahih sebagaimana kata Syaikh Al-Albani). Bentuknya bisa dengan mendoakan rahmat dan kebaikan ketika nama guru kita disebut. Ibnu Jama’ah Al-Kanani rahimahullah menyebutkan, “Sebagian ulama terkadang membacakan hadits dengan sanadnya. Mereka lalu mendoakan setiap perawi dalam sanad tersebut. Itulah bentuk kekhususan karena telah diberikan anugerah ilmu yang luar biasa.” (Tadzkir As-Sami’ wa Al-Mutakallim, hlm. 64, Ma’alim fi Thariq Thalab Al-‘Ilmi, hlm. 208)   Referensi: Ma’alim fi Thariq Thalib Al-‘Ilmi. Cetakan kelima, tahun 1431 H. Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Muhammad bin ‘Abdullah As-Sadhan. Penerbit Dar Al-Qabs. Siyar A’lam An-Nubala’, Cetakan kedua, tahun 1435 H. Al-Imam Syamsuddin Muhammad bin Ahmad bin ‘Utsman Adz-Dzahabiy. Penerbit Muassasah Ar-Risalah. Syarh Shahih Al-Adab Al-Mufrad li Al-Imam Al-Bukhari. Cetakan kedua, tahun 1425 H. Syaikh Husain bin ‘Awdah Al-‘Awaysyah. Penerbit Al-Maktabah Al-Islamiyyah. — Selesai disusun di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, sore hari ba’da ‘Ashar, 7 Muharram 1437 H Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsadab guru

Waktu dan Tempat untuk Bershalawat (7)

Di antara lagi tempat untuk bershalawat adalah di pasar, saat menghadiri undangan dan ketika bangun tidur malam.   13- Bershalawat ketika keluar ke pasar atau menghadiri undangan atau semacamnya. Ibnu Abi Hatim berkata, telah menceritakan kepada kami Abu Sa’id bin Yahya bin Sa’id Al-Qatthan, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basyr, telah menceritakan kepada kami Mas’ar, telah menceritakan kepada kami ‘Amir bin Syaqiq, dari Abu Wail, ia berkata, “Aku melihat ‘Abdullah duduk-duduk di perjamuan (pesta), menghadiri jenazah, atau selainnya, ia tidaklah berdiri hingga ia memuji dan menyanjung Allah, juga bershalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu ia berdoa dengan beberapa doa. Ketika ia pergi ke pasar, ia menghampiri suatu tempat di sana, lantas ia pun duduk, memuji Allah, bershalawat pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta berdoa dengan beberapa doa.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim, Ibnu Abi Syaibah 6: 103, dan An-Namiri. As-Sakhawi berkata dalam Al-Qaul Al-Badi’ hlm. 218 bahwa sanad riwayat ini jayyid. Lihat Jala’ Al-Afham, hlm. 353)   14- Bershalawat ketika bangun dari tidur malam. An-Nasa’i dalam Sunan Al-Kabir, ia berkata, telah menceritakan padaku ‘Ali bin Muhammad bin ‘Ali, telah menceritakan pada kami Khalaf yaitu Ibnu Tamim, telah menceritakan pada kami Abul Ahwash, telah menceritakan pada kami Syarik, dari Abu Ishaq, dari Abu ‘Ubaidah, dari ‘Abdullah bin Mas’ud, ia berkata, “Allah itu menertawai dua orang. Orang pertama adalah orang yang bertemu musuh. Ia terus berada di atas kudanya kala teman-temannya terpukul mundur. Ia tetap terus kokoh. Jika ia terbunuh, ia mati syahid. Jika ia tetap hidup, itulah yang Allah menertawainya. Orang kedua adalah orang yang bangun di tengah malam, tidak ada seorang pun yang mengetahuinya. Ia menyempurnakan wudhu, kemudian ia memuji dan menyanjung Allah serta mengagungkan-Nya, lalu bershalawat pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian ia membuka Al-Qur’an. Itulah yang Allah menertawainya. Allah berfirman, “Lihatlah pada hamba-Ku yang berdiri shalat malam tanpa dilihat oleh seorang pun selain Aku.” Dikeluarkan pula oleh ‘Abdur Razaq (11/ no. 8798), telah menceritakan pada kami Ma’mar, dari Abu Ishaq, dari Abu ‘Ubaidah, dari ‘Abdullah bin Mas’ud, ia berkata seperti kalimat di atas. (Lihat Jala’ Al-Afham, hlm. 354) Semoga manfaat. Hanya Allah yang memberi taufik.   Referensi: Jalaa-ul Afham fii Fadhli Ash Shalah was Salaam ‘ala Muhammad Khoiril Anam, Ibnu Qayyim Al Jauziyah, terbitan Dar Ibni Katsir, cetakan kedua, tahun 1432 H. Jalaa-ul Afham fii Fadhli Ash Shalah was Salaam ‘ala Muhammad Khoiril Anam, Ibnu Qayyim Al Jauziyah, terbitan Dar ‘Alamil Fawaid, cetakan ketiga, tahun 1433 H. — Selesai disusun menjelang ‘Ashar, 7 Muharram 1437 H di Darush Sholihin Panggang, Gunungkidul Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsshalawat

Waktu dan Tempat untuk Bershalawat (7)

Di antara lagi tempat untuk bershalawat adalah di pasar, saat menghadiri undangan dan ketika bangun tidur malam.   13- Bershalawat ketika keluar ke pasar atau menghadiri undangan atau semacamnya. Ibnu Abi Hatim berkata, telah menceritakan kepada kami Abu Sa’id bin Yahya bin Sa’id Al-Qatthan, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basyr, telah menceritakan kepada kami Mas’ar, telah menceritakan kepada kami ‘Amir bin Syaqiq, dari Abu Wail, ia berkata, “Aku melihat ‘Abdullah duduk-duduk di perjamuan (pesta), menghadiri jenazah, atau selainnya, ia tidaklah berdiri hingga ia memuji dan menyanjung Allah, juga bershalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu ia berdoa dengan beberapa doa. Ketika ia pergi ke pasar, ia menghampiri suatu tempat di sana, lantas ia pun duduk, memuji Allah, bershalawat pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta berdoa dengan beberapa doa.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim, Ibnu Abi Syaibah 6: 103, dan An-Namiri. As-Sakhawi berkata dalam Al-Qaul Al-Badi’ hlm. 218 bahwa sanad riwayat ini jayyid. Lihat Jala’ Al-Afham, hlm. 353)   14- Bershalawat ketika bangun dari tidur malam. An-Nasa’i dalam Sunan Al-Kabir, ia berkata, telah menceritakan padaku ‘Ali bin Muhammad bin ‘Ali, telah menceritakan pada kami Khalaf yaitu Ibnu Tamim, telah menceritakan pada kami Abul Ahwash, telah menceritakan pada kami Syarik, dari Abu Ishaq, dari Abu ‘Ubaidah, dari ‘Abdullah bin Mas’ud, ia berkata, “Allah itu menertawai dua orang. Orang pertama adalah orang yang bertemu musuh. Ia terus berada di atas kudanya kala teman-temannya terpukul mundur. Ia tetap terus kokoh. Jika ia terbunuh, ia mati syahid. Jika ia tetap hidup, itulah yang Allah menertawainya. Orang kedua adalah orang yang bangun di tengah malam, tidak ada seorang pun yang mengetahuinya. Ia menyempurnakan wudhu, kemudian ia memuji dan menyanjung Allah serta mengagungkan-Nya, lalu bershalawat pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian ia membuka Al-Qur’an. Itulah yang Allah menertawainya. Allah berfirman, “Lihatlah pada hamba-Ku yang berdiri shalat malam tanpa dilihat oleh seorang pun selain Aku.” Dikeluarkan pula oleh ‘Abdur Razaq (11/ no. 8798), telah menceritakan pada kami Ma’mar, dari Abu Ishaq, dari Abu ‘Ubaidah, dari ‘Abdullah bin Mas’ud, ia berkata seperti kalimat di atas. (Lihat Jala’ Al-Afham, hlm. 354) Semoga manfaat. Hanya Allah yang memberi taufik.   Referensi: Jalaa-ul Afham fii Fadhli Ash Shalah was Salaam ‘ala Muhammad Khoiril Anam, Ibnu Qayyim Al Jauziyah, terbitan Dar Ibni Katsir, cetakan kedua, tahun 1432 H. Jalaa-ul Afham fii Fadhli Ash Shalah was Salaam ‘ala Muhammad Khoiril Anam, Ibnu Qayyim Al Jauziyah, terbitan Dar ‘Alamil Fawaid, cetakan ketiga, tahun 1433 H. — Selesai disusun menjelang ‘Ashar, 7 Muharram 1437 H di Darush Sholihin Panggang, Gunungkidul Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsshalawat
Di antara lagi tempat untuk bershalawat adalah di pasar, saat menghadiri undangan dan ketika bangun tidur malam.   13- Bershalawat ketika keluar ke pasar atau menghadiri undangan atau semacamnya. Ibnu Abi Hatim berkata, telah menceritakan kepada kami Abu Sa’id bin Yahya bin Sa’id Al-Qatthan, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basyr, telah menceritakan kepada kami Mas’ar, telah menceritakan kepada kami ‘Amir bin Syaqiq, dari Abu Wail, ia berkata, “Aku melihat ‘Abdullah duduk-duduk di perjamuan (pesta), menghadiri jenazah, atau selainnya, ia tidaklah berdiri hingga ia memuji dan menyanjung Allah, juga bershalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu ia berdoa dengan beberapa doa. Ketika ia pergi ke pasar, ia menghampiri suatu tempat di sana, lantas ia pun duduk, memuji Allah, bershalawat pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta berdoa dengan beberapa doa.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim, Ibnu Abi Syaibah 6: 103, dan An-Namiri. As-Sakhawi berkata dalam Al-Qaul Al-Badi’ hlm. 218 bahwa sanad riwayat ini jayyid. Lihat Jala’ Al-Afham, hlm. 353)   14- Bershalawat ketika bangun dari tidur malam. An-Nasa’i dalam Sunan Al-Kabir, ia berkata, telah menceritakan padaku ‘Ali bin Muhammad bin ‘Ali, telah menceritakan pada kami Khalaf yaitu Ibnu Tamim, telah menceritakan pada kami Abul Ahwash, telah menceritakan pada kami Syarik, dari Abu Ishaq, dari Abu ‘Ubaidah, dari ‘Abdullah bin Mas’ud, ia berkata, “Allah itu menertawai dua orang. Orang pertama adalah orang yang bertemu musuh. Ia terus berada di atas kudanya kala teman-temannya terpukul mundur. Ia tetap terus kokoh. Jika ia terbunuh, ia mati syahid. Jika ia tetap hidup, itulah yang Allah menertawainya. Orang kedua adalah orang yang bangun di tengah malam, tidak ada seorang pun yang mengetahuinya. Ia menyempurnakan wudhu, kemudian ia memuji dan menyanjung Allah serta mengagungkan-Nya, lalu bershalawat pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian ia membuka Al-Qur’an. Itulah yang Allah menertawainya. Allah berfirman, “Lihatlah pada hamba-Ku yang berdiri shalat malam tanpa dilihat oleh seorang pun selain Aku.” Dikeluarkan pula oleh ‘Abdur Razaq (11/ no. 8798), telah menceritakan pada kami Ma’mar, dari Abu Ishaq, dari Abu ‘Ubaidah, dari ‘Abdullah bin Mas’ud, ia berkata seperti kalimat di atas. (Lihat Jala’ Al-Afham, hlm. 354) Semoga manfaat. Hanya Allah yang memberi taufik.   Referensi: Jalaa-ul Afham fii Fadhli Ash Shalah was Salaam ‘ala Muhammad Khoiril Anam, Ibnu Qayyim Al Jauziyah, terbitan Dar Ibni Katsir, cetakan kedua, tahun 1432 H. Jalaa-ul Afham fii Fadhli Ash Shalah was Salaam ‘ala Muhammad Khoiril Anam, Ibnu Qayyim Al Jauziyah, terbitan Dar ‘Alamil Fawaid, cetakan ketiga, tahun 1433 H. — Selesai disusun menjelang ‘Ashar, 7 Muharram 1437 H di Darush Sholihin Panggang, Gunungkidul Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsshalawat


Di antara lagi tempat untuk bershalawat adalah di pasar, saat menghadiri undangan dan ketika bangun tidur malam.   13- Bershalawat ketika keluar ke pasar atau menghadiri undangan atau semacamnya. Ibnu Abi Hatim berkata, telah menceritakan kepada kami Abu Sa’id bin Yahya bin Sa’id Al-Qatthan, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basyr, telah menceritakan kepada kami Mas’ar, telah menceritakan kepada kami ‘Amir bin Syaqiq, dari Abu Wail, ia berkata, “Aku melihat ‘Abdullah duduk-duduk di perjamuan (pesta), menghadiri jenazah, atau selainnya, ia tidaklah berdiri hingga ia memuji dan menyanjung Allah, juga bershalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu ia berdoa dengan beberapa doa. Ketika ia pergi ke pasar, ia menghampiri suatu tempat di sana, lantas ia pun duduk, memuji Allah, bershalawat pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta berdoa dengan beberapa doa.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim, Ibnu Abi Syaibah 6: 103, dan An-Namiri. As-Sakhawi berkata dalam Al-Qaul Al-Badi’ hlm. 218 bahwa sanad riwayat ini jayyid. Lihat Jala’ Al-Afham, hlm. 353)   14- Bershalawat ketika bangun dari tidur malam. An-Nasa’i dalam Sunan Al-Kabir, ia berkata, telah menceritakan padaku ‘Ali bin Muhammad bin ‘Ali, telah menceritakan pada kami Khalaf yaitu Ibnu Tamim, telah menceritakan pada kami Abul Ahwash, telah menceritakan pada kami Syarik, dari Abu Ishaq, dari Abu ‘Ubaidah, dari ‘Abdullah bin Mas’ud, ia berkata, “Allah itu menertawai dua orang. Orang pertama adalah orang yang bertemu musuh. Ia terus berada di atas kudanya kala teman-temannya terpukul mundur. Ia tetap terus kokoh. Jika ia terbunuh, ia mati syahid. Jika ia tetap hidup, itulah yang Allah menertawainya. Orang kedua adalah orang yang bangun di tengah malam, tidak ada seorang pun yang mengetahuinya. Ia menyempurnakan wudhu, kemudian ia memuji dan menyanjung Allah serta mengagungkan-Nya, lalu bershalawat pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian ia membuka Al-Qur’an. Itulah yang Allah menertawainya. Allah berfirman, “Lihatlah pada hamba-Ku yang berdiri shalat malam tanpa dilihat oleh seorang pun selain Aku.” Dikeluarkan pula oleh ‘Abdur Razaq (11/ no. 8798), telah menceritakan pada kami Ma’mar, dari Abu Ishaq, dari Abu ‘Ubaidah, dari ‘Abdullah bin Mas’ud, ia berkata seperti kalimat di atas. (Lihat Jala’ Al-Afham, hlm. 354) Semoga manfaat. Hanya Allah yang memberi taufik.   Referensi: Jalaa-ul Afham fii Fadhli Ash Shalah was Salaam ‘ala Muhammad Khoiril Anam, Ibnu Qayyim Al Jauziyah, terbitan Dar Ibni Katsir, cetakan kedua, tahun 1432 H. Jalaa-ul Afham fii Fadhli Ash Shalah was Salaam ‘ala Muhammad Khoiril Anam, Ibnu Qayyim Al Jauziyah, terbitan Dar ‘Alamil Fawaid, cetakan ketiga, tahun 1433 H. — Selesai disusun menjelang ‘Ashar, 7 Muharram 1437 H di Darush Sholihin Panggang, Gunungkidul Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsshalawat

Hadits Wakaf (01): Wakaf Termasuk Amal Jariyah

Hadits-hadits berikut dibawakan oleh Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Bulugh Al-Marram ketika mengangkat bahasan wakaf. Kita lihat hadits pertama yang menerangkan tentang wakaf itu termasuk amal jariyah. Wakaf sendiri berarti menahan bentuk pokok dan menjadikannya untuk fii sabilillah sebagai bentuk qurbah (pendekatan diri pada Allah). (Lihat Minhah Al-‘Allam, 7: 5) Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ “Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang shalih” (HR. Muslim no. 1631) Yang dimaksud sedekah jariyah adalah amalan yang terus bersambung manfaatnya. Seperti wakaf aktiva tetap (contoh: tanah), kitab, dan mushaf Al-Qur’an. Inilah alasannya kenapa Ibnu Hajar Al-Asqalani memasukkan hadits ini dalam bahasan wakaf dalam Bulughul Maram. Karena para ulama menafsirkan sedekah jariyah dengan wakaf. Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan berkata, “Hadits ini jadi dalil akan sahnya wakaf dan pahalanya yang besar di sisi Allah. Di mana wakaf tersebut tetap manfaatnya dan langgeng pahalanya. Contoh, wakaf aktiva tanah seperti tanah, kitab, dan mushaf yang terus bisa dimanfaatkan. Selama benda-benda tadi ada, lalu dimanfaatkan, maka akan terus mengalir pahalanya pada seorang hamba.” (Minhah Al-‘Allam, 7: 11) Imam Ash-Shan’ani menyebutkan, “Para ulama menafsirkan sedekah jariyah dengan wakaf. Perlu diketahui bahwa wakaf pertama dalam Islam adalah wakaf dari ‘Umar bin Al-Khattab sebagaimana nanti akan disebutkan haditsnya yang dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah. Kaum Muhajirun berkata, “Wakaf pertama dalam Islam adalah wakaf dari Umar.” (Subul As-Salam, 5: 226) Semoga manfaat. Insya Allah akan terus berlanjut dalam bahasan wakaf lainnya.   Referensi: Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Marram. Cetakan ketiga, tahun 1432 H. ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Subul As-Salam Al-Muwshilah ila Bulugh Al-Maram. Cetakan kedua, tahun 1432 H. Muhammad bin Isma’il Al-Amir Ash-Shan’ani. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. — Selesai disusun di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 6 Muharram 1436 H Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagswakaf

Hadits Wakaf (01): Wakaf Termasuk Amal Jariyah

Hadits-hadits berikut dibawakan oleh Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Bulugh Al-Marram ketika mengangkat bahasan wakaf. Kita lihat hadits pertama yang menerangkan tentang wakaf itu termasuk amal jariyah. Wakaf sendiri berarti menahan bentuk pokok dan menjadikannya untuk fii sabilillah sebagai bentuk qurbah (pendekatan diri pada Allah). (Lihat Minhah Al-‘Allam, 7: 5) Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ “Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang shalih” (HR. Muslim no. 1631) Yang dimaksud sedekah jariyah adalah amalan yang terus bersambung manfaatnya. Seperti wakaf aktiva tetap (contoh: tanah), kitab, dan mushaf Al-Qur’an. Inilah alasannya kenapa Ibnu Hajar Al-Asqalani memasukkan hadits ini dalam bahasan wakaf dalam Bulughul Maram. Karena para ulama menafsirkan sedekah jariyah dengan wakaf. Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan berkata, “Hadits ini jadi dalil akan sahnya wakaf dan pahalanya yang besar di sisi Allah. Di mana wakaf tersebut tetap manfaatnya dan langgeng pahalanya. Contoh, wakaf aktiva tanah seperti tanah, kitab, dan mushaf yang terus bisa dimanfaatkan. Selama benda-benda tadi ada, lalu dimanfaatkan, maka akan terus mengalir pahalanya pada seorang hamba.” (Minhah Al-‘Allam, 7: 11) Imam Ash-Shan’ani menyebutkan, “Para ulama menafsirkan sedekah jariyah dengan wakaf. Perlu diketahui bahwa wakaf pertama dalam Islam adalah wakaf dari ‘Umar bin Al-Khattab sebagaimana nanti akan disebutkan haditsnya yang dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah. Kaum Muhajirun berkata, “Wakaf pertama dalam Islam adalah wakaf dari Umar.” (Subul As-Salam, 5: 226) Semoga manfaat. Insya Allah akan terus berlanjut dalam bahasan wakaf lainnya.   Referensi: Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Marram. Cetakan ketiga, tahun 1432 H. ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Subul As-Salam Al-Muwshilah ila Bulugh Al-Maram. Cetakan kedua, tahun 1432 H. Muhammad bin Isma’il Al-Amir Ash-Shan’ani. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. — Selesai disusun di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 6 Muharram 1436 H Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagswakaf
Hadits-hadits berikut dibawakan oleh Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Bulugh Al-Marram ketika mengangkat bahasan wakaf. Kita lihat hadits pertama yang menerangkan tentang wakaf itu termasuk amal jariyah. Wakaf sendiri berarti menahan bentuk pokok dan menjadikannya untuk fii sabilillah sebagai bentuk qurbah (pendekatan diri pada Allah). (Lihat Minhah Al-‘Allam, 7: 5) Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ “Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang shalih” (HR. Muslim no. 1631) Yang dimaksud sedekah jariyah adalah amalan yang terus bersambung manfaatnya. Seperti wakaf aktiva tetap (contoh: tanah), kitab, dan mushaf Al-Qur’an. Inilah alasannya kenapa Ibnu Hajar Al-Asqalani memasukkan hadits ini dalam bahasan wakaf dalam Bulughul Maram. Karena para ulama menafsirkan sedekah jariyah dengan wakaf. Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan berkata, “Hadits ini jadi dalil akan sahnya wakaf dan pahalanya yang besar di sisi Allah. Di mana wakaf tersebut tetap manfaatnya dan langgeng pahalanya. Contoh, wakaf aktiva tanah seperti tanah, kitab, dan mushaf yang terus bisa dimanfaatkan. Selama benda-benda tadi ada, lalu dimanfaatkan, maka akan terus mengalir pahalanya pada seorang hamba.” (Minhah Al-‘Allam, 7: 11) Imam Ash-Shan’ani menyebutkan, “Para ulama menafsirkan sedekah jariyah dengan wakaf. Perlu diketahui bahwa wakaf pertama dalam Islam adalah wakaf dari ‘Umar bin Al-Khattab sebagaimana nanti akan disebutkan haditsnya yang dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah. Kaum Muhajirun berkata, “Wakaf pertama dalam Islam adalah wakaf dari Umar.” (Subul As-Salam, 5: 226) Semoga manfaat. Insya Allah akan terus berlanjut dalam bahasan wakaf lainnya.   Referensi: Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Marram. Cetakan ketiga, tahun 1432 H. ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Subul As-Salam Al-Muwshilah ila Bulugh Al-Maram. Cetakan kedua, tahun 1432 H. Muhammad bin Isma’il Al-Amir Ash-Shan’ani. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. — Selesai disusun di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 6 Muharram 1436 H Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagswakaf


Hadits-hadits berikut dibawakan oleh Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Bulugh Al-Marram ketika mengangkat bahasan wakaf. Kita lihat hadits pertama yang menerangkan tentang wakaf itu termasuk amal jariyah. Wakaf sendiri berarti menahan bentuk pokok dan menjadikannya untuk fii sabilillah sebagai bentuk qurbah (pendekatan diri pada Allah). (Lihat Minhah Al-‘Allam, 7: 5) Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ “Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang shalih” (HR. Muslim no. 1631) Yang dimaksud sedekah jariyah adalah amalan yang terus bersambung manfaatnya. Seperti wakaf aktiva tetap (contoh: tanah), kitab, dan mushaf Al-Qur’an. Inilah alasannya kenapa Ibnu Hajar Al-Asqalani memasukkan hadits ini dalam bahasan wakaf dalam Bulughul Maram. Karena para ulama menafsirkan sedekah jariyah dengan wakaf. Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan berkata, “Hadits ini jadi dalil akan sahnya wakaf dan pahalanya yang besar di sisi Allah. Di mana wakaf tersebut tetap manfaatnya dan langgeng pahalanya. Contoh, wakaf aktiva tanah seperti tanah, kitab, dan mushaf yang terus bisa dimanfaatkan. Selama benda-benda tadi ada, lalu dimanfaatkan, maka akan terus mengalir pahalanya pada seorang hamba.” (Minhah Al-‘Allam, 7: 11) Imam Ash-Shan’ani menyebutkan, “Para ulama menafsirkan sedekah jariyah dengan wakaf. Perlu diketahui bahwa wakaf pertama dalam Islam adalah wakaf dari ‘Umar bin Al-Khattab sebagaimana nanti akan disebutkan haditsnya yang dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah. Kaum Muhajirun berkata, “Wakaf pertama dalam Islam adalah wakaf dari Umar.” (Subul As-Salam, 5: 226) Semoga manfaat. Insya Allah akan terus berlanjut dalam bahasan wakaf lainnya.   Referensi: Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Marram. Cetakan ketiga, tahun 1432 H. ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Subul As-Salam Al-Muwshilah ila Bulugh Al-Maram. Cetakan kedua, tahun 1432 H. Muhammad bin Isma’il Al-Amir Ash-Shan’ani. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. — Selesai disusun di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 6 Muharram 1436 H Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagswakaf

Ceramah Cukup Ringkas Namun Berisi

Ini sifat ceramah atau khutbah yang baik, ringkas namun berisi. Ini salah satu kiat bagi para da’i ketika menyampaikan nasihat di masyarakat yang notabene awam. Nasihat yang singkat namun berisi itu lebih manfaat daripada nasihat yang panjang dan bertele-tele. Dari Jabir bin Samuroh As-Suwaiy, beliau berkata, كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- لاَ يُطِيلُ الْمَوْعِظَةَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ إِنَّمَا هُنَّ كَلِمَاتٌ يَسِيرَاتٌ “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa memberi nasehat ketika hari Jum’at tidak begitu panjang. Kalimat yang beliau sampaikan adalah kalimat yang singkat.” (HR. Abu Daud no. 1107. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan). Lihatlah pula contoh sahabat yang mengikuti petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Abu Wa’il berkata, خَطَبَنَا عَمَّارٌ فَأَبْلَغَ وَأَوْجَزَ فَلَمَّا نَزَلَ قُلْنَا يَا أَبَا الْيَقْظَانِ لَقَدْ أَبْلَغْتَ وَأَوْجَزْتَ فَلَوْ كُنْتَ تَنَفَّسْتَ ‘Ammar pernah berkhutbah di hadapan kami lalu dia menyampaikan (isi khutbahnya) dengan singkat. Tatkala beliau turun (dari mimbar), kami mengatakan, “Wahai Abul Yaqzhon, sungguh engkau telah berkhutbah begitu singkat. Coba kalau engkau sedikit memperlama.” Kemudian Ammar berkata, إِنَّ طُولَ صَلاَةِ الرَّجُلِ وَقِصَرَ خُطْبَتِهِ مَئِنَّةٌ مِنْ فِقْهِهِ فَأَطِيلُوا الصَّلاَةَ وَأَقْصِرُوا الْخُطْبَةَ فَإِنَّ مِنَ الْبَيَانِ سِحْراً “Sesungguhnya panjangnya shalat seseorang dan singkatnya khotbah merupakan tanda kefaqihan dirinya (paham akan agama). Maka perlamalah shalat dan buat singkatlah khutbah. Karena penjelasan itu bisa mensihir.” (HR. Muslim no. 869 dan Ahmad 4: 263. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih). Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan menjelaskan bahwa ringkasnya khutbah dan mengarah langsung pada isi, itu dalil akan kecerdasan dan pemahaman yang baik dari seorang khatib. Karena ia bisa menghimpun khutbah yang sebenarnya panjang namun dengan kata-kata yang ringkas. Imam Syafi’i menyebutkan dalam kitab Al-Umm, وَأَحَبُّ أَنْ يَكُوْنَ كَلاَمُهُ قَصْدًا بَلِيْغًا جَامِعًا “Yang paling disukai adalah jika kalimat dalam ceramah atau khutbah itu bersifat pertengahan, jelas dan ringkas namun berisi.” (Al-Umm, 1: 230) Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan menerangkan kembali bahwa panjangnya khutbah menunjukkan akan kurang pandainya khatib, kurang mengilmui dan kurang bisa memberikan penerangan. Karena ceramah yang baik adalah yang bisa memperhatikan kondisi dan keadaan orang yang diajak bicara. (Minhah Al-‘Allam fii Syarh Bulugh Al-Maram, 4: 34) Semoga manfaat dan bisa dicontoh oleh para da’i. — Diselesaikan di malam hari, 6 Muharram 1436 H di Darush Sholihin, Girisekar, Panggang, Gunungkidul Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagskhutbah jumat

Ceramah Cukup Ringkas Namun Berisi

Ini sifat ceramah atau khutbah yang baik, ringkas namun berisi. Ini salah satu kiat bagi para da’i ketika menyampaikan nasihat di masyarakat yang notabene awam. Nasihat yang singkat namun berisi itu lebih manfaat daripada nasihat yang panjang dan bertele-tele. Dari Jabir bin Samuroh As-Suwaiy, beliau berkata, كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- لاَ يُطِيلُ الْمَوْعِظَةَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ إِنَّمَا هُنَّ كَلِمَاتٌ يَسِيرَاتٌ “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa memberi nasehat ketika hari Jum’at tidak begitu panjang. Kalimat yang beliau sampaikan adalah kalimat yang singkat.” (HR. Abu Daud no. 1107. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan). Lihatlah pula contoh sahabat yang mengikuti petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Abu Wa’il berkata, خَطَبَنَا عَمَّارٌ فَأَبْلَغَ وَأَوْجَزَ فَلَمَّا نَزَلَ قُلْنَا يَا أَبَا الْيَقْظَانِ لَقَدْ أَبْلَغْتَ وَأَوْجَزْتَ فَلَوْ كُنْتَ تَنَفَّسْتَ ‘Ammar pernah berkhutbah di hadapan kami lalu dia menyampaikan (isi khutbahnya) dengan singkat. Tatkala beliau turun (dari mimbar), kami mengatakan, “Wahai Abul Yaqzhon, sungguh engkau telah berkhutbah begitu singkat. Coba kalau engkau sedikit memperlama.” Kemudian Ammar berkata, إِنَّ طُولَ صَلاَةِ الرَّجُلِ وَقِصَرَ خُطْبَتِهِ مَئِنَّةٌ مِنْ فِقْهِهِ فَأَطِيلُوا الصَّلاَةَ وَأَقْصِرُوا الْخُطْبَةَ فَإِنَّ مِنَ الْبَيَانِ سِحْراً “Sesungguhnya panjangnya shalat seseorang dan singkatnya khotbah merupakan tanda kefaqihan dirinya (paham akan agama). Maka perlamalah shalat dan buat singkatlah khutbah. Karena penjelasan itu bisa mensihir.” (HR. Muslim no. 869 dan Ahmad 4: 263. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih). Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan menjelaskan bahwa ringkasnya khutbah dan mengarah langsung pada isi, itu dalil akan kecerdasan dan pemahaman yang baik dari seorang khatib. Karena ia bisa menghimpun khutbah yang sebenarnya panjang namun dengan kata-kata yang ringkas. Imam Syafi’i menyebutkan dalam kitab Al-Umm, وَأَحَبُّ أَنْ يَكُوْنَ كَلاَمُهُ قَصْدًا بَلِيْغًا جَامِعًا “Yang paling disukai adalah jika kalimat dalam ceramah atau khutbah itu bersifat pertengahan, jelas dan ringkas namun berisi.” (Al-Umm, 1: 230) Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan menerangkan kembali bahwa panjangnya khutbah menunjukkan akan kurang pandainya khatib, kurang mengilmui dan kurang bisa memberikan penerangan. Karena ceramah yang baik adalah yang bisa memperhatikan kondisi dan keadaan orang yang diajak bicara. (Minhah Al-‘Allam fii Syarh Bulugh Al-Maram, 4: 34) Semoga manfaat dan bisa dicontoh oleh para da’i. — Diselesaikan di malam hari, 6 Muharram 1436 H di Darush Sholihin, Girisekar, Panggang, Gunungkidul Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagskhutbah jumat
Ini sifat ceramah atau khutbah yang baik, ringkas namun berisi. Ini salah satu kiat bagi para da’i ketika menyampaikan nasihat di masyarakat yang notabene awam. Nasihat yang singkat namun berisi itu lebih manfaat daripada nasihat yang panjang dan bertele-tele. Dari Jabir bin Samuroh As-Suwaiy, beliau berkata, كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- لاَ يُطِيلُ الْمَوْعِظَةَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ إِنَّمَا هُنَّ كَلِمَاتٌ يَسِيرَاتٌ “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa memberi nasehat ketika hari Jum’at tidak begitu panjang. Kalimat yang beliau sampaikan adalah kalimat yang singkat.” (HR. Abu Daud no. 1107. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan). Lihatlah pula contoh sahabat yang mengikuti petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Abu Wa’il berkata, خَطَبَنَا عَمَّارٌ فَأَبْلَغَ وَأَوْجَزَ فَلَمَّا نَزَلَ قُلْنَا يَا أَبَا الْيَقْظَانِ لَقَدْ أَبْلَغْتَ وَأَوْجَزْتَ فَلَوْ كُنْتَ تَنَفَّسْتَ ‘Ammar pernah berkhutbah di hadapan kami lalu dia menyampaikan (isi khutbahnya) dengan singkat. Tatkala beliau turun (dari mimbar), kami mengatakan, “Wahai Abul Yaqzhon, sungguh engkau telah berkhutbah begitu singkat. Coba kalau engkau sedikit memperlama.” Kemudian Ammar berkata, إِنَّ طُولَ صَلاَةِ الرَّجُلِ وَقِصَرَ خُطْبَتِهِ مَئِنَّةٌ مِنْ فِقْهِهِ فَأَطِيلُوا الصَّلاَةَ وَأَقْصِرُوا الْخُطْبَةَ فَإِنَّ مِنَ الْبَيَانِ سِحْراً “Sesungguhnya panjangnya shalat seseorang dan singkatnya khotbah merupakan tanda kefaqihan dirinya (paham akan agama). Maka perlamalah shalat dan buat singkatlah khutbah. Karena penjelasan itu bisa mensihir.” (HR. Muslim no. 869 dan Ahmad 4: 263. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih). Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan menjelaskan bahwa ringkasnya khutbah dan mengarah langsung pada isi, itu dalil akan kecerdasan dan pemahaman yang baik dari seorang khatib. Karena ia bisa menghimpun khutbah yang sebenarnya panjang namun dengan kata-kata yang ringkas. Imam Syafi’i menyebutkan dalam kitab Al-Umm, وَأَحَبُّ أَنْ يَكُوْنَ كَلاَمُهُ قَصْدًا بَلِيْغًا جَامِعًا “Yang paling disukai adalah jika kalimat dalam ceramah atau khutbah itu bersifat pertengahan, jelas dan ringkas namun berisi.” (Al-Umm, 1: 230) Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan menerangkan kembali bahwa panjangnya khutbah menunjukkan akan kurang pandainya khatib, kurang mengilmui dan kurang bisa memberikan penerangan. Karena ceramah yang baik adalah yang bisa memperhatikan kondisi dan keadaan orang yang diajak bicara. (Minhah Al-‘Allam fii Syarh Bulugh Al-Maram, 4: 34) Semoga manfaat dan bisa dicontoh oleh para da’i. — Diselesaikan di malam hari, 6 Muharram 1436 H di Darush Sholihin, Girisekar, Panggang, Gunungkidul Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagskhutbah jumat


Ini sifat ceramah atau khutbah yang baik, ringkas namun berisi. Ini salah satu kiat bagi para da’i ketika menyampaikan nasihat di masyarakat yang notabene awam. Nasihat yang singkat namun berisi itu lebih manfaat daripada nasihat yang panjang dan bertele-tele. Dari Jabir bin Samuroh As-Suwaiy, beliau berkata, كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- لاَ يُطِيلُ الْمَوْعِظَةَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ إِنَّمَا هُنَّ كَلِمَاتٌ يَسِيرَاتٌ “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa memberi nasehat ketika hari Jum’at tidak begitu panjang. Kalimat yang beliau sampaikan adalah kalimat yang singkat.” (HR. Abu Daud no. 1107. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan). Lihatlah pula contoh sahabat yang mengikuti petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Abu Wa’il berkata, خَطَبَنَا عَمَّارٌ فَأَبْلَغَ وَأَوْجَزَ فَلَمَّا نَزَلَ قُلْنَا يَا أَبَا الْيَقْظَانِ لَقَدْ أَبْلَغْتَ وَأَوْجَزْتَ فَلَوْ كُنْتَ تَنَفَّسْتَ ‘Ammar pernah berkhutbah di hadapan kami lalu dia menyampaikan (isi khutbahnya) dengan singkat. Tatkala beliau turun (dari mimbar), kami mengatakan, “Wahai Abul Yaqzhon, sungguh engkau telah berkhutbah begitu singkat. Coba kalau engkau sedikit memperlama.” Kemudian Ammar berkata, إِنَّ طُولَ صَلاَةِ الرَّجُلِ وَقِصَرَ خُطْبَتِهِ مَئِنَّةٌ مِنْ فِقْهِهِ فَأَطِيلُوا الصَّلاَةَ وَأَقْصِرُوا الْخُطْبَةَ فَإِنَّ مِنَ الْبَيَانِ سِحْراً “Sesungguhnya panjangnya shalat seseorang dan singkatnya khotbah merupakan tanda kefaqihan dirinya (paham akan agama). Maka perlamalah shalat dan buat singkatlah khutbah. Karena penjelasan itu bisa mensihir.” (HR. Muslim no. 869 dan Ahmad 4: 263. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih). Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan menjelaskan bahwa ringkasnya khutbah dan mengarah langsung pada isi, itu dalil akan kecerdasan dan pemahaman yang baik dari seorang khatib. Karena ia bisa menghimpun khutbah yang sebenarnya panjang namun dengan kata-kata yang ringkas. Imam Syafi’i menyebutkan dalam kitab Al-Umm, وَأَحَبُّ أَنْ يَكُوْنَ كَلاَمُهُ قَصْدًا بَلِيْغًا جَامِعًا “Yang paling disukai adalah jika kalimat dalam ceramah atau khutbah itu bersifat pertengahan, jelas dan ringkas namun berisi.” (Al-Umm, 1: 230) Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan menerangkan kembali bahwa panjangnya khutbah menunjukkan akan kurang pandainya khatib, kurang mengilmui dan kurang bisa memberikan penerangan. Karena ceramah yang baik adalah yang bisa memperhatikan kondisi dan keadaan orang yang diajak bicara. (Minhah Al-‘Allam fii Syarh Bulugh Al-Maram, 4: 34) Semoga manfaat dan bisa dicontoh oleh para da’i. — Diselesaikan di malam hari, 6 Muharram 1436 H di Darush Sholihin, Girisekar, Panggang, Gunungkidul Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagskhutbah jumat

Butuh Donasi 200 Juta untuk Pelebaran Jalan Sekitar Pesantren Darush Sholihin

Bagi yang punya kelebihan rezeki, barangkali bisa menyalurkan untuk donasi ini. Jalan ini mesti dilebarkan untuk mengatasi membludaknya jamaah pengajian rutin Malam Kamis dan pengajian Akbar di Pesantren Darush Sholihin, Warak, Girisekar, Panggang, Gunungkidul. Jamaah pengajian rutin saja bisa mencapai 1200 jama’ah. Sedangkan jamaah kajian akbar bisa mencapai 4000 jama’ah. Sehingga tentu saja kendaraan berupa truck dan mobil akan banyak yang datang dan sangat butuh sekali tempat parkir. Tempat parkir yang ada adalah di pinggir jalan. Kajian Akbar terakhir oleh Ustadz Badrusalam, Lc, tempat parkir yang dibutuhkan hampir satu kilometer panjangnya di pinggir jalan. Adapun dana yang selama ini digunakan untuk pelebaran jalan sebelumnya adalah dari dana riba atau dari dana syubhat. Bagi pembaca tulisan ini yang memiliki dana semacam itu, kami siap salurkan, di samping disalurkan untuk kegiatan sosial lainnya. Namun masih tetap diterima dari donasi umum, yang bukan dari dana riba atau lainnya. Kebutuhan dana diperkirakan meningkat menjadi 200 juta rupiah. Peningkatan terjadi karena adanya penambahan perluasan jalan dan mesti pula menaikkan talut hingga lima meter.   Rincian Anggaran 1- Pelebaran jalan Dusun Warak, panjang 500 meter. Biaya: 100.000.000 Material: Rp.50.000.000 Tenaga kerja: Rp.50.000.000 2- Pelebaran jalan Dusun Sawah, panjang 500 meter. Biaya: 100.000.000 Material: Rp.50.000.000 Tenaga kerja: Rp.50.000.000 Total anggaran yang dibutuhkan: Rp.100.000.000   Cara Berdonasi # Bagi yang berminat menyalurkan untuk dana sosial ini, silakan mentransfer via rekening:BCA: 8950092905 atas nama Muhammad Abduh Tuasikal. Lalu konfirmasi via sms ke 0823 139 50 500. Contoh sms konfirmasi: Dana Sosial # Rini # Jogja# Rp.3.000.000 # BCA # 10 September 2015.   Kajian Ustadz Badru 4000 jamaah Info penyaluran dana riba di sini. Info donasi, silakan CALL, SMS, atau WA ke nomor: 0811 267791 (Mas Jarot) Baca artikel: Bagaimana Penyaluran Harta Riba? Mohon bisa bantu share info ini pada yang lain. Moga rezekinya tambah berkah. — Muhammad Abduh Tuasikal • Rumaysho.Com • Twitter @RumayshoCom • Instagram RumayshoCom • Pesantren DarushSholihin.Com Tagspelebaran jalan riba

Butuh Donasi 200 Juta untuk Pelebaran Jalan Sekitar Pesantren Darush Sholihin

Bagi yang punya kelebihan rezeki, barangkali bisa menyalurkan untuk donasi ini. Jalan ini mesti dilebarkan untuk mengatasi membludaknya jamaah pengajian rutin Malam Kamis dan pengajian Akbar di Pesantren Darush Sholihin, Warak, Girisekar, Panggang, Gunungkidul. Jamaah pengajian rutin saja bisa mencapai 1200 jama’ah. Sedangkan jamaah kajian akbar bisa mencapai 4000 jama’ah. Sehingga tentu saja kendaraan berupa truck dan mobil akan banyak yang datang dan sangat butuh sekali tempat parkir. Tempat parkir yang ada adalah di pinggir jalan. Kajian Akbar terakhir oleh Ustadz Badrusalam, Lc, tempat parkir yang dibutuhkan hampir satu kilometer panjangnya di pinggir jalan. Adapun dana yang selama ini digunakan untuk pelebaran jalan sebelumnya adalah dari dana riba atau dari dana syubhat. Bagi pembaca tulisan ini yang memiliki dana semacam itu, kami siap salurkan, di samping disalurkan untuk kegiatan sosial lainnya. Namun masih tetap diterima dari donasi umum, yang bukan dari dana riba atau lainnya. Kebutuhan dana diperkirakan meningkat menjadi 200 juta rupiah. Peningkatan terjadi karena adanya penambahan perluasan jalan dan mesti pula menaikkan talut hingga lima meter.   Rincian Anggaran 1- Pelebaran jalan Dusun Warak, panjang 500 meter. Biaya: 100.000.000 Material: Rp.50.000.000 Tenaga kerja: Rp.50.000.000 2- Pelebaran jalan Dusun Sawah, panjang 500 meter. Biaya: 100.000.000 Material: Rp.50.000.000 Tenaga kerja: Rp.50.000.000 Total anggaran yang dibutuhkan: Rp.100.000.000   Cara Berdonasi # Bagi yang berminat menyalurkan untuk dana sosial ini, silakan mentransfer via rekening:BCA: 8950092905 atas nama Muhammad Abduh Tuasikal. Lalu konfirmasi via sms ke 0823 139 50 500. Contoh sms konfirmasi: Dana Sosial # Rini # Jogja# Rp.3.000.000 # BCA # 10 September 2015.   Kajian Ustadz Badru 4000 jamaah Info penyaluran dana riba di sini. Info donasi, silakan CALL, SMS, atau WA ke nomor: 0811 267791 (Mas Jarot) Baca artikel: Bagaimana Penyaluran Harta Riba? Mohon bisa bantu share info ini pada yang lain. Moga rezekinya tambah berkah. — Muhammad Abduh Tuasikal • Rumaysho.Com • Twitter @RumayshoCom • Instagram RumayshoCom • Pesantren DarushSholihin.Com Tagspelebaran jalan riba
Bagi yang punya kelebihan rezeki, barangkali bisa menyalurkan untuk donasi ini. Jalan ini mesti dilebarkan untuk mengatasi membludaknya jamaah pengajian rutin Malam Kamis dan pengajian Akbar di Pesantren Darush Sholihin, Warak, Girisekar, Panggang, Gunungkidul. Jamaah pengajian rutin saja bisa mencapai 1200 jama’ah. Sedangkan jamaah kajian akbar bisa mencapai 4000 jama’ah. Sehingga tentu saja kendaraan berupa truck dan mobil akan banyak yang datang dan sangat butuh sekali tempat parkir. Tempat parkir yang ada adalah di pinggir jalan. Kajian Akbar terakhir oleh Ustadz Badrusalam, Lc, tempat parkir yang dibutuhkan hampir satu kilometer panjangnya di pinggir jalan. Adapun dana yang selama ini digunakan untuk pelebaran jalan sebelumnya adalah dari dana riba atau dari dana syubhat. Bagi pembaca tulisan ini yang memiliki dana semacam itu, kami siap salurkan, di samping disalurkan untuk kegiatan sosial lainnya. Namun masih tetap diterima dari donasi umum, yang bukan dari dana riba atau lainnya. Kebutuhan dana diperkirakan meningkat menjadi 200 juta rupiah. Peningkatan terjadi karena adanya penambahan perluasan jalan dan mesti pula menaikkan talut hingga lima meter.   Rincian Anggaran 1- Pelebaran jalan Dusun Warak, panjang 500 meter. Biaya: 100.000.000 Material: Rp.50.000.000 Tenaga kerja: Rp.50.000.000 2- Pelebaran jalan Dusun Sawah, panjang 500 meter. Biaya: 100.000.000 Material: Rp.50.000.000 Tenaga kerja: Rp.50.000.000 Total anggaran yang dibutuhkan: Rp.100.000.000   Cara Berdonasi # Bagi yang berminat menyalurkan untuk dana sosial ini, silakan mentransfer via rekening:BCA: 8950092905 atas nama Muhammad Abduh Tuasikal. Lalu konfirmasi via sms ke 0823 139 50 500. Contoh sms konfirmasi: Dana Sosial # Rini # Jogja# Rp.3.000.000 # BCA # 10 September 2015.   Kajian Ustadz Badru 4000 jamaah Info penyaluran dana riba di sini. Info donasi, silakan CALL, SMS, atau WA ke nomor: 0811 267791 (Mas Jarot) Baca artikel: Bagaimana Penyaluran Harta Riba? Mohon bisa bantu share info ini pada yang lain. Moga rezekinya tambah berkah. — Muhammad Abduh Tuasikal • Rumaysho.Com • Twitter @RumayshoCom • Instagram RumayshoCom • Pesantren DarushSholihin.Com Tagspelebaran jalan riba


Bagi yang punya kelebihan rezeki, barangkali bisa menyalurkan untuk donasi ini. Jalan ini mesti dilebarkan untuk mengatasi membludaknya jamaah pengajian rutin Malam Kamis dan pengajian Akbar di Pesantren Darush Sholihin, Warak, Girisekar, Panggang, Gunungkidul. Jamaah pengajian rutin saja bisa mencapai 1200 jama’ah. Sedangkan jamaah kajian akbar bisa mencapai 4000 jama’ah. Sehingga tentu saja kendaraan berupa truck dan mobil akan banyak yang datang dan sangat butuh sekali tempat parkir. Tempat parkir yang ada adalah di pinggir jalan. Kajian Akbar terakhir oleh Ustadz Badrusalam, Lc, tempat parkir yang dibutuhkan hampir satu kilometer panjangnya di pinggir jalan. Adapun dana yang selama ini digunakan untuk pelebaran jalan sebelumnya adalah dari dana riba atau dari dana syubhat. Bagi pembaca tulisan ini yang memiliki dana semacam itu, kami siap salurkan, di samping disalurkan untuk kegiatan sosial lainnya. Namun masih tetap diterima dari donasi umum, yang bukan dari dana riba atau lainnya. Kebutuhan dana diperkirakan meningkat menjadi 200 juta rupiah. Peningkatan terjadi karena adanya penambahan perluasan jalan dan mesti pula menaikkan talut hingga lima meter.   Rincian Anggaran 1- Pelebaran jalan Dusun Warak, panjang 500 meter. Biaya: 100.000.000 Material: Rp.50.000.000 Tenaga kerja: Rp.50.000.000 2- Pelebaran jalan Dusun Sawah, panjang 500 meter. Biaya: 100.000.000 Material: Rp.50.000.000 Tenaga kerja: Rp.50.000.000 Total anggaran yang dibutuhkan: Rp.100.000.000   Cara Berdonasi # Bagi yang berminat menyalurkan untuk dana sosial ini, silakan mentransfer via rekening:BCA: 8950092905 atas nama Muhammad Abduh Tuasikal. Lalu konfirmasi via sms ke 0823 139 50 500. Contoh sms konfirmasi: Dana Sosial # Rini # Jogja# Rp.3.000.000 # BCA # 10 September 2015.   Kajian Ustadz Badru 4000 jamaah Info penyaluran dana riba di sini. Info donasi, silakan CALL, SMS, atau WA ke nomor: 0811 267791 (Mas Jarot) Baca artikel: Bagaimana Penyaluran Harta Riba? Mohon bisa bantu share info ini pada yang lain. Moga rezekinya tambah berkah. — Muhammad Abduh Tuasikal • Rumaysho.Com • Twitter @RumayshoCom • Instagram RumayshoCom • Pesantren DarushSholihin.Com Tagspelebaran jalan riba
Prev     Next