Rezeki itu Ujian

Rezeki itu memang suatu ujian. Buktinya adalah ayat berikut, فَأَمَّا الْإِنْسَانُ إِذَا مَا ابْتَلَاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ (15) وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلَاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ (16) “Adapun manusia apabila Rabbnya mengujinya lalu Dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, Maka Dia akan berkata: “Rabbku telah memuliakanku”. Adapun bila Rabbnya mengujinya lalu membatasi rezekinya Maka Dia berkata: “Rabbku menghinakanku“. (QS. Al-Fajr: 15-16) Imam Ibnu Jarir Ath-Thabari rahimahullah menjelaskan, “Adapun manusia ketika ia diuji oleh Rabbnya dengan diberi nikmat dan kekayaan, yaitu dimuliakan dengan harta dan kemuliaan serta diberi nikmat yang melimpah, ia pun katakan, “Allah benar-benar telah memuliakanku.” Ia pun bergembira dan senang, lantas ia katakan, “Rabbku telah memuliakanku dengan karunia ini.” (Tafsir Ath-Thabari, 30: 228) Kemudian Ath-Thabari rahimahullah menjelaskan, “Adapun manusia jika ia ditimpa musibah oleh Rabbnya dengan disempitkan rezeki, yaitu rezekinya tidak begitu banyak, maka ia pun katakan bahwa Rabbnya telah menghinakan atau merendahkannya. Sehingga ia pun tidak bersyukur atas karunia yang Allah berikan berupa keselamatan anggota badan dan rezeki berupa nikmat sehat pada jasadnya.” (Tafsir Ath-Thabari, 30: 228) Ibnu Katsir rahimahullah menafsirkan ayat di atas, “Dalam ayat tersebut, Allah Ta’ala mengingkari orang yang keliru dalam memahami maksud Allah meluaskan rezeki. Allah sebenarnya menjadikan hal itu sebagai ujian. Namun dia menyangka dengan luasnya rezeki tersebut, itu berarti Allah memuliakannya. Sungguh tidak demikian, sebenarnya itu hanyalah ujian. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman, أَيَحْسَبُونَ أَنَّمَا نُمِدُّهُمْ بِهِ مِنْ مَالٍ وَبَنِينَ نُسَارِعُ لَهُمْ فِي الْخَيْرَاتِ بَل لا يَشْعُرُونَ “Apakah mereka mengira bahwa harta dan anak-anak yang Kami berikan kepada mereka itu (berarti bahwa), Kami bersegera memberikan kebaikan-kebaikan kepada mereka? Tidak, sebenarnya mereka tidak sadar.” (QS. Al-Mu’minun: 55-56) Sebaliknya, jika Allah menyempitkan rezeki, ia merasa bahwa Allah menghinangkannya. Sebenarnya tidaklah sebagaimana yang ia sangka. Tidaklah seperti itu sama sekali. Allah memberi rezeki itu bisa jadi pada orang yang Dia cintai atau pada yang tidak Dia cintai. Begitu pula Allah menyempitkan rezeki pada pada orang yang Dia cintai atau pun tidak.  Sebenarnya yang jadi patokan ketika seseorang dilapangkan dan disempitkan rezeki adalah dilihat dari ketaatannya pada Allah dalam dua keadaan tersebut. Jika ia adalah seorang yang berkecukupan, lantas ia bersyukur pada Allah dengan nikmat tersebut, maka inilah yang benar. Begitu pula ketika ia serba kekurangan, ia pun bersabar.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 7: 562-563) — @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 15 Rajab 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsrezeki

Rezeki itu Ujian

Rezeki itu memang suatu ujian. Buktinya adalah ayat berikut, فَأَمَّا الْإِنْسَانُ إِذَا مَا ابْتَلَاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ (15) وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلَاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ (16) “Adapun manusia apabila Rabbnya mengujinya lalu Dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, Maka Dia akan berkata: “Rabbku telah memuliakanku”. Adapun bila Rabbnya mengujinya lalu membatasi rezekinya Maka Dia berkata: “Rabbku menghinakanku“. (QS. Al-Fajr: 15-16) Imam Ibnu Jarir Ath-Thabari rahimahullah menjelaskan, “Adapun manusia ketika ia diuji oleh Rabbnya dengan diberi nikmat dan kekayaan, yaitu dimuliakan dengan harta dan kemuliaan serta diberi nikmat yang melimpah, ia pun katakan, “Allah benar-benar telah memuliakanku.” Ia pun bergembira dan senang, lantas ia katakan, “Rabbku telah memuliakanku dengan karunia ini.” (Tafsir Ath-Thabari, 30: 228) Kemudian Ath-Thabari rahimahullah menjelaskan, “Adapun manusia jika ia ditimpa musibah oleh Rabbnya dengan disempitkan rezeki, yaitu rezekinya tidak begitu banyak, maka ia pun katakan bahwa Rabbnya telah menghinakan atau merendahkannya. Sehingga ia pun tidak bersyukur atas karunia yang Allah berikan berupa keselamatan anggota badan dan rezeki berupa nikmat sehat pada jasadnya.” (Tafsir Ath-Thabari, 30: 228) Ibnu Katsir rahimahullah menafsirkan ayat di atas, “Dalam ayat tersebut, Allah Ta’ala mengingkari orang yang keliru dalam memahami maksud Allah meluaskan rezeki. Allah sebenarnya menjadikan hal itu sebagai ujian. Namun dia menyangka dengan luasnya rezeki tersebut, itu berarti Allah memuliakannya. Sungguh tidak demikian, sebenarnya itu hanyalah ujian. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman, أَيَحْسَبُونَ أَنَّمَا نُمِدُّهُمْ بِهِ مِنْ مَالٍ وَبَنِينَ نُسَارِعُ لَهُمْ فِي الْخَيْرَاتِ بَل لا يَشْعُرُونَ “Apakah mereka mengira bahwa harta dan anak-anak yang Kami berikan kepada mereka itu (berarti bahwa), Kami bersegera memberikan kebaikan-kebaikan kepada mereka? Tidak, sebenarnya mereka tidak sadar.” (QS. Al-Mu’minun: 55-56) Sebaliknya, jika Allah menyempitkan rezeki, ia merasa bahwa Allah menghinangkannya. Sebenarnya tidaklah sebagaimana yang ia sangka. Tidaklah seperti itu sama sekali. Allah memberi rezeki itu bisa jadi pada orang yang Dia cintai atau pada yang tidak Dia cintai. Begitu pula Allah menyempitkan rezeki pada pada orang yang Dia cintai atau pun tidak.  Sebenarnya yang jadi patokan ketika seseorang dilapangkan dan disempitkan rezeki adalah dilihat dari ketaatannya pada Allah dalam dua keadaan tersebut. Jika ia adalah seorang yang berkecukupan, lantas ia bersyukur pada Allah dengan nikmat tersebut, maka inilah yang benar. Begitu pula ketika ia serba kekurangan, ia pun bersabar.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 7: 562-563) — @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 15 Rajab 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsrezeki
Rezeki itu memang suatu ujian. Buktinya adalah ayat berikut, فَأَمَّا الْإِنْسَانُ إِذَا مَا ابْتَلَاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ (15) وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلَاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ (16) “Adapun manusia apabila Rabbnya mengujinya lalu Dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, Maka Dia akan berkata: “Rabbku telah memuliakanku”. Adapun bila Rabbnya mengujinya lalu membatasi rezekinya Maka Dia berkata: “Rabbku menghinakanku“. (QS. Al-Fajr: 15-16) Imam Ibnu Jarir Ath-Thabari rahimahullah menjelaskan, “Adapun manusia ketika ia diuji oleh Rabbnya dengan diberi nikmat dan kekayaan, yaitu dimuliakan dengan harta dan kemuliaan serta diberi nikmat yang melimpah, ia pun katakan, “Allah benar-benar telah memuliakanku.” Ia pun bergembira dan senang, lantas ia katakan, “Rabbku telah memuliakanku dengan karunia ini.” (Tafsir Ath-Thabari, 30: 228) Kemudian Ath-Thabari rahimahullah menjelaskan, “Adapun manusia jika ia ditimpa musibah oleh Rabbnya dengan disempitkan rezeki, yaitu rezekinya tidak begitu banyak, maka ia pun katakan bahwa Rabbnya telah menghinakan atau merendahkannya. Sehingga ia pun tidak bersyukur atas karunia yang Allah berikan berupa keselamatan anggota badan dan rezeki berupa nikmat sehat pada jasadnya.” (Tafsir Ath-Thabari, 30: 228) Ibnu Katsir rahimahullah menafsirkan ayat di atas, “Dalam ayat tersebut, Allah Ta’ala mengingkari orang yang keliru dalam memahami maksud Allah meluaskan rezeki. Allah sebenarnya menjadikan hal itu sebagai ujian. Namun dia menyangka dengan luasnya rezeki tersebut, itu berarti Allah memuliakannya. Sungguh tidak demikian, sebenarnya itu hanyalah ujian. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman, أَيَحْسَبُونَ أَنَّمَا نُمِدُّهُمْ بِهِ مِنْ مَالٍ وَبَنِينَ نُسَارِعُ لَهُمْ فِي الْخَيْرَاتِ بَل لا يَشْعُرُونَ “Apakah mereka mengira bahwa harta dan anak-anak yang Kami berikan kepada mereka itu (berarti bahwa), Kami bersegera memberikan kebaikan-kebaikan kepada mereka? Tidak, sebenarnya mereka tidak sadar.” (QS. Al-Mu’minun: 55-56) Sebaliknya, jika Allah menyempitkan rezeki, ia merasa bahwa Allah menghinangkannya. Sebenarnya tidaklah sebagaimana yang ia sangka. Tidaklah seperti itu sama sekali. Allah memberi rezeki itu bisa jadi pada orang yang Dia cintai atau pada yang tidak Dia cintai. Begitu pula Allah menyempitkan rezeki pada pada orang yang Dia cintai atau pun tidak.  Sebenarnya yang jadi patokan ketika seseorang dilapangkan dan disempitkan rezeki adalah dilihat dari ketaatannya pada Allah dalam dua keadaan tersebut. Jika ia adalah seorang yang berkecukupan, lantas ia bersyukur pada Allah dengan nikmat tersebut, maka inilah yang benar. Begitu pula ketika ia serba kekurangan, ia pun bersabar.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 7: 562-563) — @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 15 Rajab 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsrezeki


Rezeki itu memang suatu ujian. Buktinya adalah ayat berikut, فَأَمَّا الْإِنْسَانُ إِذَا مَا ابْتَلَاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ (15) وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلَاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ (16) “Adapun manusia apabila Rabbnya mengujinya lalu Dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, Maka Dia akan berkata: “Rabbku telah memuliakanku”. Adapun bila Rabbnya mengujinya lalu membatasi rezekinya Maka Dia berkata: “Rabbku menghinakanku“. (QS. Al-Fajr: 15-16) Imam Ibnu Jarir Ath-Thabari rahimahullah menjelaskan, “Adapun manusia ketika ia diuji oleh Rabbnya dengan diberi nikmat dan kekayaan, yaitu dimuliakan dengan harta dan kemuliaan serta diberi nikmat yang melimpah, ia pun katakan, “Allah benar-benar telah memuliakanku.” Ia pun bergembira dan senang, lantas ia katakan, “Rabbku telah memuliakanku dengan karunia ini.” (Tafsir Ath-Thabari, 30: 228) Kemudian Ath-Thabari rahimahullah menjelaskan, “Adapun manusia jika ia ditimpa musibah oleh Rabbnya dengan disempitkan rezeki, yaitu rezekinya tidak begitu banyak, maka ia pun katakan bahwa Rabbnya telah menghinakan atau merendahkannya. Sehingga ia pun tidak bersyukur atas karunia yang Allah berikan berupa keselamatan anggota badan dan rezeki berupa nikmat sehat pada jasadnya.” (Tafsir Ath-Thabari, 30: 228) Ibnu Katsir rahimahullah menafsirkan ayat di atas, “Dalam ayat tersebut, Allah Ta’ala mengingkari orang yang keliru dalam memahami maksud Allah meluaskan rezeki. Allah sebenarnya menjadikan hal itu sebagai ujian. Namun dia menyangka dengan luasnya rezeki tersebut, itu berarti Allah memuliakannya. Sungguh tidak demikian, sebenarnya itu hanyalah ujian. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman, أَيَحْسَبُونَ أَنَّمَا نُمِدُّهُمْ بِهِ مِنْ مَالٍ وَبَنِينَ نُسَارِعُ لَهُمْ فِي الْخَيْرَاتِ بَل لا يَشْعُرُونَ “Apakah mereka mengira bahwa harta dan anak-anak yang Kami berikan kepada mereka itu (berarti bahwa), Kami bersegera memberikan kebaikan-kebaikan kepada mereka? Tidak, sebenarnya mereka tidak sadar.” (QS. Al-Mu’minun: 55-56) Sebaliknya, jika Allah menyempitkan rezeki, ia merasa bahwa Allah menghinangkannya. Sebenarnya tidaklah sebagaimana yang ia sangka. Tidaklah seperti itu sama sekali. Allah memberi rezeki itu bisa jadi pada orang yang Dia cintai atau pada yang tidak Dia cintai. Begitu pula Allah menyempitkan rezeki pada pada orang yang Dia cintai atau pun tidak.  Sebenarnya yang jadi patokan ketika seseorang dilapangkan dan disempitkan rezeki adalah dilihat dari ketaatannya pada Allah dalam dua keadaan tersebut. Jika ia adalah seorang yang berkecukupan, lantas ia bersyukur pada Allah dengan nikmat tersebut, maka inilah yang benar. Begitu pula ketika ia serba kekurangan, ia pun bersabar.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 7: 562-563) — @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 15 Rajab 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsrezeki

Mau Tahu Rezeki yang Paling Besar?

Sebagian kita menyangka bahwa rezeki hanyalah berputar pada harta dan makanan. Setiap meminta dalam do’a mungkin saja kita berpikiran seperti itu. Perlu kita ketahui bahwa rezeki yang paling besar yang Allah berikan pada hamba-Nya adalah surga (jannah). Inilah yang Allah janjikan pada hamba-hamba-Nya yang shalih. Surga adalah nikmat dan rezeki yang tidak pernah disaksikan oleh mata, tidak pernah didengar oleh telinga, dan tidak pernah tergambarkan dalam benak pikiran. Setiap rezeki yang Allah sebutkan bagi hamba-hamba-Nya, maka umumnya yang dimaksudkan adalah surga itu sendiri. Hal ini sebagaimana maksud dari firman Allah Ta’ala, لِيَجْزِيَ الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أُولَئِكَ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ “Supaya Allah memberi Balasan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh. mereka itu adalah orang-orang yang baginya ampunan dan rezeki yang mulia.” (QS. Saba’: 4) وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللهِ وَيَعْمَلْ صَالِحًا يُدْخِلْهُ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا قَدْ أَحْسَنَ اللهُ لَهُ رِزْقًا “Dan barangsiapa beriman kepada Allah dan mengerjakan amal yang saleh niscaya Allah akan memasukkannya ke dalam surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Sesungguhnya Allah memberikan rezeki yang baik kepadanya.” (QS. Ath-Thalaq: 11) Surga yang paling tinggi adalah surga Firdaus sebagaimana disebutkan dalam hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, فَإِذَا سَأَلْتُمُ اللَّهَ فَاسْأَلُوهُ الْفِرْدَوْسَ ، فَإِنَّهُ أَوْسَطُ الْجَنَّةِ وَأَعْلَى الْجَنَّةِ “Jika kalian meminta pada Allah, mintalah pada-Nya surga Firdaus. Surga tersebut adalah surga yang paling utama dan surga yang paling tinggi.” (HR. Bukhari, no. 2790) Bagaimana cara meraih surga Firdaus tersebut, lakukanlah enam hal berikut: Khusyu’ dalam shalat. Meninggalkan hal yang sia-sia. Menunaikan zakat. Menjaga kemaluan kecuali pada istri sebagai pasangan yang halal. Memegang amanat dan janji. Menjaga shalat. Perhatikan dalilnya berikut, قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ (1) الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ (2) وَالَّذِينَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ (3) وَالَّذِينَ هُمْ لِلزَّكَاةِ فَاعِلُونَ (4) وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ (5) إِلَّا عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ (6) فَمَنِ ابْتَغَى وَرَاءَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْعَادُونَ (7) وَالَّذِينَ هُمْ لِأَمَانَاتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُونَ (8) وَالَّذِينَ هُمْ عَلَى صَلَوَاتِهِمْ يُحَافِظُونَ (9) أُولَئِكَ هُمُ الْوَارِثُونَ (10) الَّذِينَ يَرِثُونَ الْفِرْدَوْسَ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ (11) Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna, dan orang-orang yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki[994]; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada terceIa. Barangsiapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya. dan orang-orang yang memelihara shalatnya. Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi, (yakni) yang akan mewarisi syurga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya. (QS. Al-Mu’minun: 1-11) Semoga Allah melapangkan kita rezeki di dunia dan di surga kelak. — @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 13 Rajab 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsrezeki surga

Mau Tahu Rezeki yang Paling Besar?

Sebagian kita menyangka bahwa rezeki hanyalah berputar pada harta dan makanan. Setiap meminta dalam do’a mungkin saja kita berpikiran seperti itu. Perlu kita ketahui bahwa rezeki yang paling besar yang Allah berikan pada hamba-Nya adalah surga (jannah). Inilah yang Allah janjikan pada hamba-hamba-Nya yang shalih. Surga adalah nikmat dan rezeki yang tidak pernah disaksikan oleh mata, tidak pernah didengar oleh telinga, dan tidak pernah tergambarkan dalam benak pikiran. Setiap rezeki yang Allah sebutkan bagi hamba-hamba-Nya, maka umumnya yang dimaksudkan adalah surga itu sendiri. Hal ini sebagaimana maksud dari firman Allah Ta’ala, لِيَجْزِيَ الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أُولَئِكَ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ “Supaya Allah memberi Balasan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh. mereka itu adalah orang-orang yang baginya ampunan dan rezeki yang mulia.” (QS. Saba’: 4) وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللهِ وَيَعْمَلْ صَالِحًا يُدْخِلْهُ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا قَدْ أَحْسَنَ اللهُ لَهُ رِزْقًا “Dan barangsiapa beriman kepada Allah dan mengerjakan amal yang saleh niscaya Allah akan memasukkannya ke dalam surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Sesungguhnya Allah memberikan rezeki yang baik kepadanya.” (QS. Ath-Thalaq: 11) Surga yang paling tinggi adalah surga Firdaus sebagaimana disebutkan dalam hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, فَإِذَا سَأَلْتُمُ اللَّهَ فَاسْأَلُوهُ الْفِرْدَوْسَ ، فَإِنَّهُ أَوْسَطُ الْجَنَّةِ وَأَعْلَى الْجَنَّةِ “Jika kalian meminta pada Allah, mintalah pada-Nya surga Firdaus. Surga tersebut adalah surga yang paling utama dan surga yang paling tinggi.” (HR. Bukhari, no. 2790) Bagaimana cara meraih surga Firdaus tersebut, lakukanlah enam hal berikut: Khusyu’ dalam shalat. Meninggalkan hal yang sia-sia. Menunaikan zakat. Menjaga kemaluan kecuali pada istri sebagai pasangan yang halal. Memegang amanat dan janji. Menjaga shalat. Perhatikan dalilnya berikut, قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ (1) الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ (2) وَالَّذِينَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ (3) وَالَّذِينَ هُمْ لِلزَّكَاةِ فَاعِلُونَ (4) وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ (5) إِلَّا عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ (6) فَمَنِ ابْتَغَى وَرَاءَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْعَادُونَ (7) وَالَّذِينَ هُمْ لِأَمَانَاتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُونَ (8) وَالَّذِينَ هُمْ عَلَى صَلَوَاتِهِمْ يُحَافِظُونَ (9) أُولَئِكَ هُمُ الْوَارِثُونَ (10) الَّذِينَ يَرِثُونَ الْفِرْدَوْسَ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ (11) Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna, dan orang-orang yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki[994]; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada terceIa. Barangsiapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya. dan orang-orang yang memelihara shalatnya. Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi, (yakni) yang akan mewarisi syurga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya. (QS. Al-Mu’minun: 1-11) Semoga Allah melapangkan kita rezeki di dunia dan di surga kelak. — @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 13 Rajab 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsrezeki surga
Sebagian kita menyangka bahwa rezeki hanyalah berputar pada harta dan makanan. Setiap meminta dalam do’a mungkin saja kita berpikiran seperti itu. Perlu kita ketahui bahwa rezeki yang paling besar yang Allah berikan pada hamba-Nya adalah surga (jannah). Inilah yang Allah janjikan pada hamba-hamba-Nya yang shalih. Surga adalah nikmat dan rezeki yang tidak pernah disaksikan oleh mata, tidak pernah didengar oleh telinga, dan tidak pernah tergambarkan dalam benak pikiran. Setiap rezeki yang Allah sebutkan bagi hamba-hamba-Nya, maka umumnya yang dimaksudkan adalah surga itu sendiri. Hal ini sebagaimana maksud dari firman Allah Ta’ala, لِيَجْزِيَ الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أُولَئِكَ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ “Supaya Allah memberi Balasan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh. mereka itu adalah orang-orang yang baginya ampunan dan rezeki yang mulia.” (QS. Saba’: 4) وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللهِ وَيَعْمَلْ صَالِحًا يُدْخِلْهُ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا قَدْ أَحْسَنَ اللهُ لَهُ رِزْقًا “Dan barangsiapa beriman kepada Allah dan mengerjakan amal yang saleh niscaya Allah akan memasukkannya ke dalam surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Sesungguhnya Allah memberikan rezeki yang baik kepadanya.” (QS. Ath-Thalaq: 11) Surga yang paling tinggi adalah surga Firdaus sebagaimana disebutkan dalam hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, فَإِذَا سَأَلْتُمُ اللَّهَ فَاسْأَلُوهُ الْفِرْدَوْسَ ، فَإِنَّهُ أَوْسَطُ الْجَنَّةِ وَأَعْلَى الْجَنَّةِ “Jika kalian meminta pada Allah, mintalah pada-Nya surga Firdaus. Surga tersebut adalah surga yang paling utama dan surga yang paling tinggi.” (HR. Bukhari, no. 2790) Bagaimana cara meraih surga Firdaus tersebut, lakukanlah enam hal berikut: Khusyu’ dalam shalat. Meninggalkan hal yang sia-sia. Menunaikan zakat. Menjaga kemaluan kecuali pada istri sebagai pasangan yang halal. Memegang amanat dan janji. Menjaga shalat. Perhatikan dalilnya berikut, قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ (1) الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ (2) وَالَّذِينَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ (3) وَالَّذِينَ هُمْ لِلزَّكَاةِ فَاعِلُونَ (4) وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ (5) إِلَّا عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ (6) فَمَنِ ابْتَغَى وَرَاءَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْعَادُونَ (7) وَالَّذِينَ هُمْ لِأَمَانَاتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُونَ (8) وَالَّذِينَ هُمْ عَلَى صَلَوَاتِهِمْ يُحَافِظُونَ (9) أُولَئِكَ هُمُ الْوَارِثُونَ (10) الَّذِينَ يَرِثُونَ الْفِرْدَوْسَ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ (11) Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna, dan orang-orang yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki[994]; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada terceIa. Barangsiapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya. dan orang-orang yang memelihara shalatnya. Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi, (yakni) yang akan mewarisi syurga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya. (QS. Al-Mu’minun: 1-11) Semoga Allah melapangkan kita rezeki di dunia dan di surga kelak. — @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 13 Rajab 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsrezeki surga


Sebagian kita menyangka bahwa rezeki hanyalah berputar pada harta dan makanan. Setiap meminta dalam do’a mungkin saja kita berpikiran seperti itu. Perlu kita ketahui bahwa rezeki yang paling besar yang Allah berikan pada hamba-Nya adalah surga (jannah). Inilah yang Allah janjikan pada hamba-hamba-Nya yang shalih. Surga adalah nikmat dan rezeki yang tidak pernah disaksikan oleh mata, tidak pernah didengar oleh telinga, dan tidak pernah tergambarkan dalam benak pikiran. Setiap rezeki yang Allah sebutkan bagi hamba-hamba-Nya, maka umumnya yang dimaksudkan adalah surga itu sendiri. Hal ini sebagaimana maksud dari firman Allah Ta’ala, لِيَجْزِيَ الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أُولَئِكَ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ “Supaya Allah memberi Balasan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh. mereka itu adalah orang-orang yang baginya ampunan dan rezeki yang mulia.” (QS. Saba’: 4) وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللهِ وَيَعْمَلْ صَالِحًا يُدْخِلْهُ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا قَدْ أَحْسَنَ اللهُ لَهُ رِزْقًا “Dan barangsiapa beriman kepada Allah dan mengerjakan amal yang saleh niscaya Allah akan memasukkannya ke dalam surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Sesungguhnya Allah memberikan rezeki yang baik kepadanya.” (QS. Ath-Thalaq: 11) Surga yang paling tinggi adalah surga Firdaus sebagaimana disebutkan dalam hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, فَإِذَا سَأَلْتُمُ اللَّهَ فَاسْأَلُوهُ الْفِرْدَوْسَ ، فَإِنَّهُ أَوْسَطُ الْجَنَّةِ وَأَعْلَى الْجَنَّةِ “Jika kalian meminta pada Allah, mintalah pada-Nya surga Firdaus. Surga tersebut adalah surga yang paling utama dan surga yang paling tinggi.” (HR. Bukhari, no. 2790) Bagaimana cara meraih surga Firdaus tersebut, lakukanlah enam hal berikut: Khusyu’ dalam shalat. Meninggalkan hal yang sia-sia. Menunaikan zakat. Menjaga kemaluan kecuali pada istri sebagai pasangan yang halal. Memegang amanat dan janji. Menjaga shalat. Perhatikan dalilnya berikut, قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ (1) الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ (2) وَالَّذِينَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ (3) وَالَّذِينَ هُمْ لِلزَّكَاةِ فَاعِلُونَ (4) وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ (5) إِلَّا عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ (6) فَمَنِ ابْتَغَى وَرَاءَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْعَادُونَ (7) وَالَّذِينَ هُمْ لِأَمَانَاتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُونَ (8) وَالَّذِينَ هُمْ عَلَى صَلَوَاتِهِمْ يُحَافِظُونَ (9) أُولَئِكَ هُمُ الْوَارِثُونَ (10) الَّذِينَ يَرِثُونَ الْفِرْدَوْسَ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ (11) Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna, dan orang-orang yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki[994]; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada terceIa. Barangsiapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya. dan orang-orang yang memelihara shalatnya. Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi, (yakni) yang akan mewarisi syurga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya. (QS. Al-Mu’minun: 1-11) Semoga Allah melapangkan kita rezeki di dunia dan di surga kelak. — @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 13 Rajab 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsrezeki surga

Nikah Membuka Pintu Rezeki

Apa benar menikah membuka pintu rezeki? Banyak yang sudah membuktikan bahwa dengan menikah akan terbuka pintu rezeki. Awalnya cuma hidup pas-pasan dengan gaji pas-pasan dan hidup di rumah kontrakan yang sempit serta makan yang pas-pasan. Ternyata Allah beri kelapangan setelah kesempitan. Karena Allah menolong setiap orang yang menikah yang ingin menjaga kesucian dirinya. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ثَلَاثَةٌ كُلُّهُمْ حَقٌّ عَلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ عَوْنُهُ الْمُجَاهِدُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالنَّاكِحُ الَّذِي يُرِيدُ الْعَفَافَ وَالْمُكَاتَبُ الَّذِي يُرِيدُ الْأَدَاءَ “Ada tiga orang yang akan mendapatkan pertolongan Allah: (1) orang yang berjihad di jalan Allah, (2) orang yang menikah demi menjaga kesucian dirinya, (3) budak mukatab yang ingin membebaskan dirinya.” (HR. An-Nasa’i, no. 3218; Tirmidzi, no. 1655; Ibnu Majah, no. 2518. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan). Apalagi rezekinya dijamin pula oleh Allah jika ia rajin menafkahi istri dan anaknya. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَا مِنْ يَوْمٍ يُصْبِحُ الْعِبَادُ فِيهِ إِلاَّ مَلَكَانِ يَنْزِلاَنِ فَيَقُولُ أَحَدُهُمَا اللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا ، وَيَقُولُ الآخَرُ اللَّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا “Ketika hamba berada di setiap pagi, ada dua malaikat yang turun dan berdoa, “Ya Allah berikanlah ganti pada yang gemar berinfak (rajin memberi nafkah pada keluarga).” Malaikat yang lain berdoa, “Ya Allah, berikanlah kebangkrutan bagi yang enggan bersedekah (memberi nafkah).” (HR. Bukhari, no. 1442; Muslim, no. 1010) Ibnu Batthol menyebutkan bahwa yang dimaksud adalah mengeluarkan infak yang wajib seperti nafkah untuk keluarga dan nafkah untuk menjalin hubungan kekerabatan (silaturahim). Berarti siapa yang beri nafkah pada keluarga, pada kerabat, dan rajin pula mengeluarkan sedekah sunnah, maka malaikat akan mendoakan supaya orang tersebut mendapatkan ganti. Hal ini serupa seperti yang disebutkan dalam ayat Al Qur’an, قُلْ إِنَّ رَبِّي يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَيَقْدِرُ لَهُ وَمَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ وَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ “Katakanlah: “Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan menyempitkan bagi (siapa yang dikehendaki-Nya).” Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia-lah Pemberi rezki yang sebaik-baiknya.” (QS. Saba’: 39). Maksud ayat, siapa saja yang mengeluarkan nafkah dalam ketaatan pada Allah, maka akan diberi ganti. Dalam hadits qudsi dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, قَالَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى يَا ابْنَ آدَمَ أَنْفِقْ أُنْفِقْ عَلَيْكَ “Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman: Wahai anak Adam, berinfaklah, Allah akan mengganti infakmu.” (HR. Bukhari, no. 4684; Muslim, no. 993) Sebagaimana disebutkan oleh Imam Nawawi rahimahullah ketika menjelaskan hadits doa malaikat di atas, “Para ulama menyatakan bahwa infak yang dimaksud adalah infak dalam ketaatan, infak untuk menunjukkan akhlak yang mulia, infak pada keluarga, infak pada orang-orang yang lemah, serta lainnya. Selama infak tersebut tidaklah berlebihan, alias boros.” (Syarh Shahih Muslim, 7: 87) Semoga Allah memberi keberkahan dalam pernikahan. — @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 12 Rajab 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsnafkah nikah rezeki

Nikah Membuka Pintu Rezeki

Apa benar menikah membuka pintu rezeki? Banyak yang sudah membuktikan bahwa dengan menikah akan terbuka pintu rezeki. Awalnya cuma hidup pas-pasan dengan gaji pas-pasan dan hidup di rumah kontrakan yang sempit serta makan yang pas-pasan. Ternyata Allah beri kelapangan setelah kesempitan. Karena Allah menolong setiap orang yang menikah yang ingin menjaga kesucian dirinya. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ثَلَاثَةٌ كُلُّهُمْ حَقٌّ عَلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ عَوْنُهُ الْمُجَاهِدُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالنَّاكِحُ الَّذِي يُرِيدُ الْعَفَافَ وَالْمُكَاتَبُ الَّذِي يُرِيدُ الْأَدَاءَ “Ada tiga orang yang akan mendapatkan pertolongan Allah: (1) orang yang berjihad di jalan Allah, (2) orang yang menikah demi menjaga kesucian dirinya, (3) budak mukatab yang ingin membebaskan dirinya.” (HR. An-Nasa’i, no. 3218; Tirmidzi, no. 1655; Ibnu Majah, no. 2518. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan). Apalagi rezekinya dijamin pula oleh Allah jika ia rajin menafkahi istri dan anaknya. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَا مِنْ يَوْمٍ يُصْبِحُ الْعِبَادُ فِيهِ إِلاَّ مَلَكَانِ يَنْزِلاَنِ فَيَقُولُ أَحَدُهُمَا اللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا ، وَيَقُولُ الآخَرُ اللَّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا “Ketika hamba berada di setiap pagi, ada dua malaikat yang turun dan berdoa, “Ya Allah berikanlah ganti pada yang gemar berinfak (rajin memberi nafkah pada keluarga).” Malaikat yang lain berdoa, “Ya Allah, berikanlah kebangkrutan bagi yang enggan bersedekah (memberi nafkah).” (HR. Bukhari, no. 1442; Muslim, no. 1010) Ibnu Batthol menyebutkan bahwa yang dimaksud adalah mengeluarkan infak yang wajib seperti nafkah untuk keluarga dan nafkah untuk menjalin hubungan kekerabatan (silaturahim). Berarti siapa yang beri nafkah pada keluarga, pada kerabat, dan rajin pula mengeluarkan sedekah sunnah, maka malaikat akan mendoakan supaya orang tersebut mendapatkan ganti. Hal ini serupa seperti yang disebutkan dalam ayat Al Qur’an, قُلْ إِنَّ رَبِّي يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَيَقْدِرُ لَهُ وَمَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ وَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ “Katakanlah: “Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan menyempitkan bagi (siapa yang dikehendaki-Nya).” Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia-lah Pemberi rezki yang sebaik-baiknya.” (QS. Saba’: 39). Maksud ayat, siapa saja yang mengeluarkan nafkah dalam ketaatan pada Allah, maka akan diberi ganti. Dalam hadits qudsi dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, قَالَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى يَا ابْنَ آدَمَ أَنْفِقْ أُنْفِقْ عَلَيْكَ “Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman: Wahai anak Adam, berinfaklah, Allah akan mengganti infakmu.” (HR. Bukhari, no. 4684; Muslim, no. 993) Sebagaimana disebutkan oleh Imam Nawawi rahimahullah ketika menjelaskan hadits doa malaikat di atas, “Para ulama menyatakan bahwa infak yang dimaksud adalah infak dalam ketaatan, infak untuk menunjukkan akhlak yang mulia, infak pada keluarga, infak pada orang-orang yang lemah, serta lainnya. Selama infak tersebut tidaklah berlebihan, alias boros.” (Syarh Shahih Muslim, 7: 87) Semoga Allah memberi keberkahan dalam pernikahan. — @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 12 Rajab 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsnafkah nikah rezeki
Apa benar menikah membuka pintu rezeki? Banyak yang sudah membuktikan bahwa dengan menikah akan terbuka pintu rezeki. Awalnya cuma hidup pas-pasan dengan gaji pas-pasan dan hidup di rumah kontrakan yang sempit serta makan yang pas-pasan. Ternyata Allah beri kelapangan setelah kesempitan. Karena Allah menolong setiap orang yang menikah yang ingin menjaga kesucian dirinya. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ثَلَاثَةٌ كُلُّهُمْ حَقٌّ عَلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ عَوْنُهُ الْمُجَاهِدُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالنَّاكِحُ الَّذِي يُرِيدُ الْعَفَافَ وَالْمُكَاتَبُ الَّذِي يُرِيدُ الْأَدَاءَ “Ada tiga orang yang akan mendapatkan pertolongan Allah: (1) orang yang berjihad di jalan Allah, (2) orang yang menikah demi menjaga kesucian dirinya, (3) budak mukatab yang ingin membebaskan dirinya.” (HR. An-Nasa’i, no. 3218; Tirmidzi, no. 1655; Ibnu Majah, no. 2518. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan). Apalagi rezekinya dijamin pula oleh Allah jika ia rajin menafkahi istri dan anaknya. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَا مِنْ يَوْمٍ يُصْبِحُ الْعِبَادُ فِيهِ إِلاَّ مَلَكَانِ يَنْزِلاَنِ فَيَقُولُ أَحَدُهُمَا اللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا ، وَيَقُولُ الآخَرُ اللَّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا “Ketika hamba berada di setiap pagi, ada dua malaikat yang turun dan berdoa, “Ya Allah berikanlah ganti pada yang gemar berinfak (rajin memberi nafkah pada keluarga).” Malaikat yang lain berdoa, “Ya Allah, berikanlah kebangkrutan bagi yang enggan bersedekah (memberi nafkah).” (HR. Bukhari, no. 1442; Muslim, no. 1010) Ibnu Batthol menyebutkan bahwa yang dimaksud adalah mengeluarkan infak yang wajib seperti nafkah untuk keluarga dan nafkah untuk menjalin hubungan kekerabatan (silaturahim). Berarti siapa yang beri nafkah pada keluarga, pada kerabat, dan rajin pula mengeluarkan sedekah sunnah, maka malaikat akan mendoakan supaya orang tersebut mendapatkan ganti. Hal ini serupa seperti yang disebutkan dalam ayat Al Qur’an, قُلْ إِنَّ رَبِّي يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَيَقْدِرُ لَهُ وَمَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ وَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ “Katakanlah: “Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan menyempitkan bagi (siapa yang dikehendaki-Nya).” Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia-lah Pemberi rezki yang sebaik-baiknya.” (QS. Saba’: 39). Maksud ayat, siapa saja yang mengeluarkan nafkah dalam ketaatan pada Allah, maka akan diberi ganti. Dalam hadits qudsi dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, قَالَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى يَا ابْنَ آدَمَ أَنْفِقْ أُنْفِقْ عَلَيْكَ “Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman: Wahai anak Adam, berinfaklah, Allah akan mengganti infakmu.” (HR. Bukhari, no. 4684; Muslim, no. 993) Sebagaimana disebutkan oleh Imam Nawawi rahimahullah ketika menjelaskan hadits doa malaikat di atas, “Para ulama menyatakan bahwa infak yang dimaksud adalah infak dalam ketaatan, infak untuk menunjukkan akhlak yang mulia, infak pada keluarga, infak pada orang-orang yang lemah, serta lainnya. Selama infak tersebut tidaklah berlebihan, alias boros.” (Syarh Shahih Muslim, 7: 87) Semoga Allah memberi keberkahan dalam pernikahan. — @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 12 Rajab 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsnafkah nikah rezeki


Apa benar menikah membuka pintu rezeki? Banyak yang sudah membuktikan bahwa dengan menikah akan terbuka pintu rezeki. Awalnya cuma hidup pas-pasan dengan gaji pas-pasan dan hidup di rumah kontrakan yang sempit serta makan yang pas-pasan. Ternyata Allah beri kelapangan setelah kesempitan. Karena Allah menolong setiap orang yang menikah yang ingin menjaga kesucian dirinya. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ثَلَاثَةٌ كُلُّهُمْ حَقٌّ عَلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ عَوْنُهُ الْمُجَاهِدُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالنَّاكِحُ الَّذِي يُرِيدُ الْعَفَافَ وَالْمُكَاتَبُ الَّذِي يُرِيدُ الْأَدَاءَ “Ada tiga orang yang akan mendapatkan pertolongan Allah: (1) orang yang berjihad di jalan Allah, (2) orang yang menikah demi menjaga kesucian dirinya, (3) budak mukatab yang ingin membebaskan dirinya.” (HR. An-Nasa’i, no. 3218; Tirmidzi, no. 1655; Ibnu Majah, no. 2518. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan). Apalagi rezekinya dijamin pula oleh Allah jika ia rajin menafkahi istri dan anaknya. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَا مِنْ يَوْمٍ يُصْبِحُ الْعِبَادُ فِيهِ إِلاَّ مَلَكَانِ يَنْزِلاَنِ فَيَقُولُ أَحَدُهُمَا اللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا ، وَيَقُولُ الآخَرُ اللَّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا “Ketika hamba berada di setiap pagi, ada dua malaikat yang turun dan berdoa, “Ya Allah berikanlah ganti pada yang gemar berinfak (rajin memberi nafkah pada keluarga).” Malaikat yang lain berdoa, “Ya Allah, berikanlah kebangkrutan bagi yang enggan bersedekah (memberi nafkah).” (HR. Bukhari, no. 1442; Muslim, no. 1010) Ibnu Batthol menyebutkan bahwa yang dimaksud adalah mengeluarkan infak yang wajib seperti nafkah untuk keluarga dan nafkah untuk menjalin hubungan kekerabatan (silaturahim). Berarti siapa yang beri nafkah pada keluarga, pada kerabat, dan rajin pula mengeluarkan sedekah sunnah, maka malaikat akan mendoakan supaya orang tersebut mendapatkan ganti. Hal ini serupa seperti yang disebutkan dalam ayat Al Qur’an, قُلْ إِنَّ رَبِّي يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَيَقْدِرُ لَهُ وَمَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ وَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ “Katakanlah: “Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan menyempitkan bagi (siapa yang dikehendaki-Nya).” Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia-lah Pemberi rezki yang sebaik-baiknya.” (QS. Saba’: 39). Maksud ayat, siapa saja yang mengeluarkan nafkah dalam ketaatan pada Allah, maka akan diberi ganti. Dalam hadits qudsi dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, قَالَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى يَا ابْنَ آدَمَ أَنْفِقْ أُنْفِقْ عَلَيْكَ “Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman: Wahai anak Adam, berinfaklah, Allah akan mengganti infakmu.” (HR. Bukhari, no. 4684; Muslim, no. 993) Sebagaimana disebutkan oleh Imam Nawawi rahimahullah ketika menjelaskan hadits doa malaikat di atas, “Para ulama menyatakan bahwa infak yang dimaksud adalah infak dalam ketaatan, infak untuk menunjukkan akhlak yang mulia, infak pada keluarga, infak pada orang-orang yang lemah, serta lainnya. Selama infak tersebut tidaklah berlebihan, alias boros.” (Syarh Shahih Muslim, 7: 87) Semoga Allah memberi keberkahan dalam pernikahan. — @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 12 Rajab 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsnafkah nikah rezeki

Sempit Rezeki, Tetapi Sehat

Walau miskin namun kita diberi kesehatan, itu sudah nikmat yang luar biasa. Kadang kita mengeluh dengan sempitnya rezeki, padahal Allah tidak menimpakan kita penyakit. Kita terus masih sehat bugar.   Coba renungkan ayat berikut, فَأَمَّا الْإِنْسَانُ إِذَا مَا ابْتَلَاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ (15) وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلَاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ (16) “Adapun manusia apabila Rabbnya mengujinya lalu Dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, Maka Dia akan berkata: “Rabbku telah memuliakanku”. Adapun bila Rabbnya mengujinya lalu membatasi rezekinya Maka Dia berkata: “Rabbku menghinakanku“. (QS. Al-Fajr: 15-16) Imam Ibnu Jarir Ath-Thabari rahimahullah menjelaskan, “Adapun manusia ketika ia diuji oleh Rabbnya dengan diberi nikmat dan kekayaan, yaitu dimuliakan dengan harta dan kemuliaan serta diberi nikmat yang melimpah, ia pun katakan, “Allah benar-benar telah memuliakanku.” Ia pun bergembira dan senang, lantas ia katakan, “Rabbku telah memuliakanku dengan karunia ini.” (Tafsir Ath-Thabari, 30: 228) Kemudian Ath-Thabari rahimahullah menjelaskan, “Adapun manusia jika ia ditimpa musibah oleh Rabbnya dengan disempitkan rezeki, yaitu rezekinya tidak begitu banyak, maka ia pun katakan bahwa Rabbnya telah menghinakan atau merendahkannya. Sehingga ia pun tidak bersyukur atas karunia yang Allah berikan berupa keselamatan anggota badan dan rezeki berupa nikmat sehat pada jasadnya.” (Tafsir Ath-Thabari, 30: 228) Dari Mu’adz bin ‘Abdullah bin Khubaib, dari bapaknya, dari pamannya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ بَأْسَ بِالْغِنَى لِمَنِ اتَّقَى وَالصِّحَّةُ لِمَنِ اتَّقَى خَيْرٌ مِنَ الْغِنَى وَطِيبُ النَّفْسِ مِنَ النِّعَمِ “Tidak mengapa seseorang itu kaya asalkan bertakwa. Sehat bagi orang yang bertakwa itu lebih baik dari kaya. Dan hati yang bahagia adalah bagian dari nikmat.” (HR. Ibnu Majah no. 2141 dan Ahmad, 5: 372. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih) Sehat ternyata lebih penting … Walhamdulillah, Allah masih tetap terus beri kita kesehatan. Semoga jadi renungan berharga di pagi yang cerah ini. — @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 11 Rajab 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsrezeki

Sempit Rezeki, Tetapi Sehat

Walau miskin namun kita diberi kesehatan, itu sudah nikmat yang luar biasa. Kadang kita mengeluh dengan sempitnya rezeki, padahal Allah tidak menimpakan kita penyakit. Kita terus masih sehat bugar.   Coba renungkan ayat berikut, فَأَمَّا الْإِنْسَانُ إِذَا مَا ابْتَلَاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ (15) وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلَاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ (16) “Adapun manusia apabila Rabbnya mengujinya lalu Dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, Maka Dia akan berkata: “Rabbku telah memuliakanku”. Adapun bila Rabbnya mengujinya lalu membatasi rezekinya Maka Dia berkata: “Rabbku menghinakanku“. (QS. Al-Fajr: 15-16) Imam Ibnu Jarir Ath-Thabari rahimahullah menjelaskan, “Adapun manusia ketika ia diuji oleh Rabbnya dengan diberi nikmat dan kekayaan, yaitu dimuliakan dengan harta dan kemuliaan serta diberi nikmat yang melimpah, ia pun katakan, “Allah benar-benar telah memuliakanku.” Ia pun bergembira dan senang, lantas ia katakan, “Rabbku telah memuliakanku dengan karunia ini.” (Tafsir Ath-Thabari, 30: 228) Kemudian Ath-Thabari rahimahullah menjelaskan, “Adapun manusia jika ia ditimpa musibah oleh Rabbnya dengan disempitkan rezeki, yaitu rezekinya tidak begitu banyak, maka ia pun katakan bahwa Rabbnya telah menghinakan atau merendahkannya. Sehingga ia pun tidak bersyukur atas karunia yang Allah berikan berupa keselamatan anggota badan dan rezeki berupa nikmat sehat pada jasadnya.” (Tafsir Ath-Thabari, 30: 228) Dari Mu’adz bin ‘Abdullah bin Khubaib, dari bapaknya, dari pamannya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ بَأْسَ بِالْغِنَى لِمَنِ اتَّقَى وَالصِّحَّةُ لِمَنِ اتَّقَى خَيْرٌ مِنَ الْغِنَى وَطِيبُ النَّفْسِ مِنَ النِّعَمِ “Tidak mengapa seseorang itu kaya asalkan bertakwa. Sehat bagi orang yang bertakwa itu lebih baik dari kaya. Dan hati yang bahagia adalah bagian dari nikmat.” (HR. Ibnu Majah no. 2141 dan Ahmad, 5: 372. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih) Sehat ternyata lebih penting … Walhamdulillah, Allah masih tetap terus beri kita kesehatan. Semoga jadi renungan berharga di pagi yang cerah ini. — @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 11 Rajab 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsrezeki
Walau miskin namun kita diberi kesehatan, itu sudah nikmat yang luar biasa. Kadang kita mengeluh dengan sempitnya rezeki, padahal Allah tidak menimpakan kita penyakit. Kita terus masih sehat bugar.   Coba renungkan ayat berikut, فَأَمَّا الْإِنْسَانُ إِذَا مَا ابْتَلَاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ (15) وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلَاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ (16) “Adapun manusia apabila Rabbnya mengujinya lalu Dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, Maka Dia akan berkata: “Rabbku telah memuliakanku”. Adapun bila Rabbnya mengujinya lalu membatasi rezekinya Maka Dia berkata: “Rabbku menghinakanku“. (QS. Al-Fajr: 15-16) Imam Ibnu Jarir Ath-Thabari rahimahullah menjelaskan, “Adapun manusia ketika ia diuji oleh Rabbnya dengan diberi nikmat dan kekayaan, yaitu dimuliakan dengan harta dan kemuliaan serta diberi nikmat yang melimpah, ia pun katakan, “Allah benar-benar telah memuliakanku.” Ia pun bergembira dan senang, lantas ia katakan, “Rabbku telah memuliakanku dengan karunia ini.” (Tafsir Ath-Thabari, 30: 228) Kemudian Ath-Thabari rahimahullah menjelaskan, “Adapun manusia jika ia ditimpa musibah oleh Rabbnya dengan disempitkan rezeki, yaitu rezekinya tidak begitu banyak, maka ia pun katakan bahwa Rabbnya telah menghinakan atau merendahkannya. Sehingga ia pun tidak bersyukur atas karunia yang Allah berikan berupa keselamatan anggota badan dan rezeki berupa nikmat sehat pada jasadnya.” (Tafsir Ath-Thabari, 30: 228) Dari Mu’adz bin ‘Abdullah bin Khubaib, dari bapaknya, dari pamannya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ بَأْسَ بِالْغِنَى لِمَنِ اتَّقَى وَالصِّحَّةُ لِمَنِ اتَّقَى خَيْرٌ مِنَ الْغِنَى وَطِيبُ النَّفْسِ مِنَ النِّعَمِ “Tidak mengapa seseorang itu kaya asalkan bertakwa. Sehat bagi orang yang bertakwa itu lebih baik dari kaya. Dan hati yang bahagia adalah bagian dari nikmat.” (HR. Ibnu Majah no. 2141 dan Ahmad, 5: 372. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih) Sehat ternyata lebih penting … Walhamdulillah, Allah masih tetap terus beri kita kesehatan. Semoga jadi renungan berharga di pagi yang cerah ini. — @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 11 Rajab 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsrezeki


Walau miskin namun kita diberi kesehatan, itu sudah nikmat yang luar biasa. Kadang kita mengeluh dengan sempitnya rezeki, padahal Allah tidak menimpakan kita penyakit. Kita terus masih sehat bugar.   Coba renungkan ayat berikut, فَأَمَّا الْإِنْسَانُ إِذَا مَا ابْتَلَاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ (15) وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلَاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ (16) “Adapun manusia apabila Rabbnya mengujinya lalu Dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, Maka Dia akan berkata: “Rabbku telah memuliakanku”. Adapun bila Rabbnya mengujinya lalu membatasi rezekinya Maka Dia berkata: “Rabbku menghinakanku“. (QS. Al-Fajr: 15-16) Imam Ibnu Jarir Ath-Thabari rahimahullah menjelaskan, “Adapun manusia ketika ia diuji oleh Rabbnya dengan diberi nikmat dan kekayaan, yaitu dimuliakan dengan harta dan kemuliaan serta diberi nikmat yang melimpah, ia pun katakan, “Allah benar-benar telah memuliakanku.” Ia pun bergembira dan senang, lantas ia katakan, “Rabbku telah memuliakanku dengan karunia ini.” (Tafsir Ath-Thabari, 30: 228) Kemudian Ath-Thabari rahimahullah menjelaskan, “Adapun manusia jika ia ditimpa musibah oleh Rabbnya dengan disempitkan rezeki, yaitu rezekinya tidak begitu banyak, maka ia pun katakan bahwa Rabbnya telah menghinakan atau merendahkannya. Sehingga ia pun tidak bersyukur atas karunia yang Allah berikan berupa keselamatan anggota badan dan rezeki berupa nikmat sehat pada jasadnya.” (Tafsir Ath-Thabari, 30: 228) Dari Mu’adz bin ‘Abdullah bin Khubaib, dari bapaknya, dari pamannya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ بَأْسَ بِالْغِنَى لِمَنِ اتَّقَى وَالصِّحَّةُ لِمَنِ اتَّقَى خَيْرٌ مِنَ الْغِنَى وَطِيبُ النَّفْسِ مِنَ النِّعَمِ “Tidak mengapa seseorang itu kaya asalkan bertakwa. Sehat bagi orang yang bertakwa itu lebih baik dari kaya. Dan hati yang bahagia adalah bagian dari nikmat.” (HR. Ibnu Majah no. 2141 dan Ahmad, 5: 372. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih) Sehat ternyata lebih penting … Walhamdulillah, Allah masih tetap terus beri kita kesehatan. Semoga jadi renungan berharga di pagi yang cerah ini. — @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 11 Rajab 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsrezeki

Allah Beri Rezeki Tanpa Kesulitan

Allah memberi rezeki tanpa ada kesulitan dan sama sekali tidak terbebani. Imam Ath-Thahawi rahimahullah dalam matan kitab aqidahnya berkata, “Allah itu Maha Pemberi Rezeki dan sama sekali tidak terbebani.” Seandainya semua makhluk meminta pada Allah, Allah akan memberikan pada mereka dan itu sama sekali tidak akan mengurangi kerajaan-Nya sedikit pun juga. Dalam hadits qudsi disebutkan, Allah Ta’ala berfirman, يَا عِبَادِى لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ قَامُوا فِى صَعِيدٍ وَاحِدٍ فَسَأَلُونِى فَأَعْطَيْتُ كُلَّ إِنْسَانٍ مَسْأَلَتَهُ مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِمَّا عِنْدِى إِلاَّ كَمَا يَنْقُصُ الْمِخْيَطُ إِذَا أُدْخِلَ الْبَحْرَ “Wahai hamba-Ku, seandainya orang-orang yang terdahulu dan orang-orang yang belakangan serta semua jin dan manusia berdiri di atas bukit untuk memohon kepada-Ku, kemudian masing-masing Aku penuh permintaannya, maka hal itu tidak akan mengurangi kekuasaan yang ada di sisi-Ku, melainkan hanya seperti benang yang menyerap air ketika dimasukkan ke dalam lautan.” (HR. Muslim no. 2577, dari Abu Dzar Al Ghifari). Mengenai hadits ini, Ibnu Rajab rahimahullah berkata, “Hadits ini memotivasi setiap makhluk untuk meminta pada Allah dan meminta segala kebutuhan pada-Nya.” (Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2: 48) Dalam hadits dikatakan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, « إِنَّ اللَّهَ قَالَ لِى أَنْفِقْ أُنْفِقْ عَلَيْكَ ». وَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « يَمِينُ اللَّهِ مَلأَى لاَ يَغِيضُهَا سَحَّاءُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ أَرَأَيْتُمْ مَا أَنْفَقَ مُذْ خَلَقَ السَّمَاءَ وَالأَرْضَ فَإِنَّهُ لَمْ يَغِضْ مَا فِى يَمِينِهِ » “Allah Ta’ala berfirman padaku, ‘Berinfaklah kamu, niscaya Aku akan berinfak (memberikan ganti) kepadamu.’ Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Pemberian Allah selalu cukup, dan tidak pernah berkurang walaupun mengalir siang dan malam. Adakah terpikir olehmu, sudah berapa banyakkah yang diberikan Allah sejak terciptanya langit dan bumi? Sesungguhnya apa yang ada di Tangan Allah, tidak pernah berkurang karenanya.” (HR. Bukhari, no. 4684; Muslim, no. 993) Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah berkata, “Allah sungguh Maha Kaya. Allah yang memegang setiap rezeki yang tak terhingga, yakni melebihi apa yang diketahui setiap makhluk-Nya.” (Fath Al-Bari, 13: 395) Semoga bermanfaat. — Diselesaikan ba’da Shubuh di Hotel Sentral Jl. Pramuka Jakarta, 9 Rajab 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsrezeki

Allah Beri Rezeki Tanpa Kesulitan

Allah memberi rezeki tanpa ada kesulitan dan sama sekali tidak terbebani. Imam Ath-Thahawi rahimahullah dalam matan kitab aqidahnya berkata, “Allah itu Maha Pemberi Rezeki dan sama sekali tidak terbebani.” Seandainya semua makhluk meminta pada Allah, Allah akan memberikan pada mereka dan itu sama sekali tidak akan mengurangi kerajaan-Nya sedikit pun juga. Dalam hadits qudsi disebutkan, Allah Ta’ala berfirman, يَا عِبَادِى لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ قَامُوا فِى صَعِيدٍ وَاحِدٍ فَسَأَلُونِى فَأَعْطَيْتُ كُلَّ إِنْسَانٍ مَسْأَلَتَهُ مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِمَّا عِنْدِى إِلاَّ كَمَا يَنْقُصُ الْمِخْيَطُ إِذَا أُدْخِلَ الْبَحْرَ “Wahai hamba-Ku, seandainya orang-orang yang terdahulu dan orang-orang yang belakangan serta semua jin dan manusia berdiri di atas bukit untuk memohon kepada-Ku, kemudian masing-masing Aku penuh permintaannya, maka hal itu tidak akan mengurangi kekuasaan yang ada di sisi-Ku, melainkan hanya seperti benang yang menyerap air ketika dimasukkan ke dalam lautan.” (HR. Muslim no. 2577, dari Abu Dzar Al Ghifari). Mengenai hadits ini, Ibnu Rajab rahimahullah berkata, “Hadits ini memotivasi setiap makhluk untuk meminta pada Allah dan meminta segala kebutuhan pada-Nya.” (Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2: 48) Dalam hadits dikatakan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, « إِنَّ اللَّهَ قَالَ لِى أَنْفِقْ أُنْفِقْ عَلَيْكَ ». وَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « يَمِينُ اللَّهِ مَلأَى لاَ يَغِيضُهَا سَحَّاءُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ أَرَأَيْتُمْ مَا أَنْفَقَ مُذْ خَلَقَ السَّمَاءَ وَالأَرْضَ فَإِنَّهُ لَمْ يَغِضْ مَا فِى يَمِينِهِ » “Allah Ta’ala berfirman padaku, ‘Berinfaklah kamu, niscaya Aku akan berinfak (memberikan ganti) kepadamu.’ Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Pemberian Allah selalu cukup, dan tidak pernah berkurang walaupun mengalir siang dan malam. Adakah terpikir olehmu, sudah berapa banyakkah yang diberikan Allah sejak terciptanya langit dan bumi? Sesungguhnya apa yang ada di Tangan Allah, tidak pernah berkurang karenanya.” (HR. Bukhari, no. 4684; Muslim, no. 993) Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah berkata, “Allah sungguh Maha Kaya. Allah yang memegang setiap rezeki yang tak terhingga, yakni melebihi apa yang diketahui setiap makhluk-Nya.” (Fath Al-Bari, 13: 395) Semoga bermanfaat. — Diselesaikan ba’da Shubuh di Hotel Sentral Jl. Pramuka Jakarta, 9 Rajab 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsrezeki
Allah memberi rezeki tanpa ada kesulitan dan sama sekali tidak terbebani. Imam Ath-Thahawi rahimahullah dalam matan kitab aqidahnya berkata, “Allah itu Maha Pemberi Rezeki dan sama sekali tidak terbebani.” Seandainya semua makhluk meminta pada Allah, Allah akan memberikan pada mereka dan itu sama sekali tidak akan mengurangi kerajaan-Nya sedikit pun juga. Dalam hadits qudsi disebutkan, Allah Ta’ala berfirman, يَا عِبَادِى لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ قَامُوا فِى صَعِيدٍ وَاحِدٍ فَسَأَلُونِى فَأَعْطَيْتُ كُلَّ إِنْسَانٍ مَسْأَلَتَهُ مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِمَّا عِنْدِى إِلاَّ كَمَا يَنْقُصُ الْمِخْيَطُ إِذَا أُدْخِلَ الْبَحْرَ “Wahai hamba-Ku, seandainya orang-orang yang terdahulu dan orang-orang yang belakangan serta semua jin dan manusia berdiri di atas bukit untuk memohon kepada-Ku, kemudian masing-masing Aku penuh permintaannya, maka hal itu tidak akan mengurangi kekuasaan yang ada di sisi-Ku, melainkan hanya seperti benang yang menyerap air ketika dimasukkan ke dalam lautan.” (HR. Muslim no. 2577, dari Abu Dzar Al Ghifari). Mengenai hadits ini, Ibnu Rajab rahimahullah berkata, “Hadits ini memotivasi setiap makhluk untuk meminta pada Allah dan meminta segala kebutuhan pada-Nya.” (Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2: 48) Dalam hadits dikatakan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, « إِنَّ اللَّهَ قَالَ لِى أَنْفِقْ أُنْفِقْ عَلَيْكَ ». وَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « يَمِينُ اللَّهِ مَلأَى لاَ يَغِيضُهَا سَحَّاءُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ أَرَأَيْتُمْ مَا أَنْفَقَ مُذْ خَلَقَ السَّمَاءَ وَالأَرْضَ فَإِنَّهُ لَمْ يَغِضْ مَا فِى يَمِينِهِ » “Allah Ta’ala berfirman padaku, ‘Berinfaklah kamu, niscaya Aku akan berinfak (memberikan ganti) kepadamu.’ Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Pemberian Allah selalu cukup, dan tidak pernah berkurang walaupun mengalir siang dan malam. Adakah terpikir olehmu, sudah berapa banyakkah yang diberikan Allah sejak terciptanya langit dan bumi? Sesungguhnya apa yang ada di Tangan Allah, tidak pernah berkurang karenanya.” (HR. Bukhari, no. 4684; Muslim, no. 993) Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah berkata, “Allah sungguh Maha Kaya. Allah yang memegang setiap rezeki yang tak terhingga, yakni melebihi apa yang diketahui setiap makhluk-Nya.” (Fath Al-Bari, 13: 395) Semoga bermanfaat. — Diselesaikan ba’da Shubuh di Hotel Sentral Jl. Pramuka Jakarta, 9 Rajab 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsrezeki


Allah memberi rezeki tanpa ada kesulitan dan sama sekali tidak terbebani. Imam Ath-Thahawi rahimahullah dalam matan kitab aqidahnya berkata, “Allah itu Maha Pemberi Rezeki dan sama sekali tidak terbebani.” Seandainya semua makhluk meminta pada Allah, Allah akan memberikan pada mereka dan itu sama sekali tidak akan mengurangi kerajaan-Nya sedikit pun juga. Dalam hadits qudsi disebutkan, Allah Ta’ala berfirman, يَا عِبَادِى لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ قَامُوا فِى صَعِيدٍ وَاحِدٍ فَسَأَلُونِى فَأَعْطَيْتُ كُلَّ إِنْسَانٍ مَسْأَلَتَهُ مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِمَّا عِنْدِى إِلاَّ كَمَا يَنْقُصُ الْمِخْيَطُ إِذَا أُدْخِلَ الْبَحْرَ “Wahai hamba-Ku, seandainya orang-orang yang terdahulu dan orang-orang yang belakangan serta semua jin dan manusia berdiri di atas bukit untuk memohon kepada-Ku, kemudian masing-masing Aku penuh permintaannya, maka hal itu tidak akan mengurangi kekuasaan yang ada di sisi-Ku, melainkan hanya seperti benang yang menyerap air ketika dimasukkan ke dalam lautan.” (HR. Muslim no. 2577, dari Abu Dzar Al Ghifari). Mengenai hadits ini, Ibnu Rajab rahimahullah berkata, “Hadits ini memotivasi setiap makhluk untuk meminta pada Allah dan meminta segala kebutuhan pada-Nya.” (Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2: 48) Dalam hadits dikatakan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, « إِنَّ اللَّهَ قَالَ لِى أَنْفِقْ أُنْفِقْ عَلَيْكَ ». وَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « يَمِينُ اللَّهِ مَلأَى لاَ يَغِيضُهَا سَحَّاءُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ أَرَأَيْتُمْ مَا أَنْفَقَ مُذْ خَلَقَ السَّمَاءَ وَالأَرْضَ فَإِنَّهُ لَمْ يَغِضْ مَا فِى يَمِينِهِ » “Allah Ta’ala berfirman padaku, ‘Berinfaklah kamu, niscaya Aku akan berinfak (memberikan ganti) kepadamu.’ Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Pemberian Allah selalu cukup, dan tidak pernah berkurang walaupun mengalir siang dan malam. Adakah terpikir olehmu, sudah berapa banyakkah yang diberikan Allah sejak terciptanya langit dan bumi? Sesungguhnya apa yang ada di Tangan Allah, tidak pernah berkurang karenanya.” (HR. Bukhari, no. 4684; Muslim, no. 993) Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah berkata, “Allah sungguh Maha Kaya. Allah yang memegang setiap rezeki yang tak terhingga, yakni melebihi apa yang diketahui setiap makhluk-Nya.” (Fath Al-Bari, 13: 395) Semoga bermanfaat. — Diselesaikan ba’da Shubuh di Hotel Sentral Jl. Pramuka Jakarta, 9 Rajab 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsrezeki

Kaitan Ikhlas dan Mudah Jawab Pertanyaan Kubur

Apa kaitan ikhlas dan mudah jawab pertanyaan kubur?   Amalan yang dilakukan ikhlas karena Allah itulah yang diperintahkan. Setiap amalan sangat tergantung pada niat. Dari ‘Umar bin Al-Khattab radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى “Sesungguhnya amal itu tergantung dari niatnya. Dan setiap orang akan memperoleh apa yang dia niatkan.” (HR. Bukhari, no. 1; Muslim, no. 1907) Dan niat itu sangat tergantung dengan keikhlasan pada Allah. Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala, وَمَا أُمِرُوا إِلا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan salat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (QS. Al-Bayyinah: 5) Dalam ayat lainnya, Allah memperingatkan dari bahaya riya’ –yang merupakan lawan dari ikhlas- dalam firman-Nya, لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ “Jika kamu mempersekutukan (Rabbmu), niscaya akan hapuslah amalmu.” (QS. Az-Zumar: 65) Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, قَالَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ مَنْ عَمِلَ عَمَلاً أَشْرَكَ فِيهِ مَعِى غَيْرِى تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ “Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman: Aku sama sekali tidak butuh pada sekutu dalam perbuatan syirik. Barangsiapa yang menyekutukan-Ku dengan selain-Ku, maka Aku akan meninggalkannya (maksudnya: tidak menerima amalannya, pen) dan perbuatan syiriknya.” (HR. Muslim, no. 2985) Imam Nawawi rahimahullah mengatakan, “Amalan seseorang yang berbuat riya’ (tidak ikhlas) adalah amalan batil yang tidak berpahala apa-apa, bahkan ia akan mendapatkan dosa.” (Syarh Shahih Muslim, 18: 96) Adapun buah dari keikhlasan akan membuat amalan itu langgeng, alias istiqamah. Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, وَمَا لاَ يَكُوْنُ لَهُ لاَ يَنْفَعُ وَلاَ يَدُوْمُ “Segala sesuatu yang tidak didasari ikhlas karena Allah, pasti tidak bermanfaat dan tidak akan kekal.”  (Dar’ At-Ta’arudh Al-‘Aql wa An-Naql, 2: 188). Para ulama juga memiliki istilah lain, مَا كَانَ للهِ يَبْقَى “Segala sesuatu yang didasari ikhlas karena Allah, pasti akan langgeng.” Ada juga perkataan dari Imam Malik di mana para ulama menyebutkan bahwa Imam Ibnu Abi Dzi’bi yang semasa dan senegeri dengan Imam Malik pernah menulis kitab yang lebih besar dari Muwatho’. Karena demikian, Imam Malik pernah ditanya, “Apa faedahnya engkau menulis kitab yang sama seperti itu?” Jawaban beliau, “Sesuatu yang ikhlas karena Allah, pasti akan lebih langgeng.” (Ar Risalah Al Mustathrofah, hal. 9. Dinukil dari Muwatho’ Imam Malik, 3: 521). Allah Ta’ala berfirman, يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الآخِرَةِ وَيُضِلُّ اللَّهُ الظَّالِمِينَ وَيَفْعَلُ اللَّهُ مَا يَشَاءُ “Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang lalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki.” (QS. Ibrahim: 27) Tafsiran ayat “Allah meneguhkan orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh …” dijelaskan dalam hadits berikut. عَنِ الْبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ « الْمُسْلِمُ إِذَا سُئِلَ فِى الْقَبْرِ يَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ ، فَذَلِكَ قَوْلُهُ ( يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِى الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِى الآخِرَةِ ) Dari Al-Bara’ bin ‘Azib, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika seorang muslim ditanya di dalam kubur, ia akan berikrar bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, maka inilah tafsir ayat: ‘Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat.’ ” (HR. Bukhari, no. 4699) Menurut salah satu penafsiran dalam ayat di atas, Allah akan meneguhkan orang beriman di dunia selama ia hidup dan di akhirat ketika ditanya di dalam kubur. Lihat Zaad Al-Masiir (4: 361) karya Ibnul Jauzi. Bukti di alam kubur, ahli ikhlas dan orang yang kuat imannya akan mudah menjawab pertanyaan kubur adalah riwayat berikut. Al-Mas’udi berkata, dari ‘Abdullah bin Mukhariq, dari bapaknya, dari ‘Abdullah, ia berkata,  “Sesungguhnya seorang mukmin jika meninggal dunia, ia akan didudukkan di kuburnya. Ia akan ditanya, ‘Siapa Rabbmu?’, ‘Apa agamamu?’, ‘Siapa nabimu?’. Allah akan menguatkan orang beriman itu untuk menjawab. Ia akan menjawab, ‘Rabbku Allah, agamaku Islam, nabiku Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.’ Lantas ‘Abdullah membacakan firman Allah surat Ibrahim ayat 27.” (Diriwayatkan oleh Ath-Thabari dan ‘Abdullah bin Imam Ahmad dalam As-Sunnah, no. 1429; Al-Baihaqi dalam ‘Adzab Al-Qabr, no. 9. Semuanya dari jalur Al-Mas’udi dengan sanad yang hasan. Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 4: 612) Semoga Allah menganugerahkan pada kita keikhlasan dan mudah menjawab pertanyaan kubur. — Diselesaikan di Darush Sholihin, 5 Rajab 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsikhlas iman kubur riya

Kaitan Ikhlas dan Mudah Jawab Pertanyaan Kubur

Apa kaitan ikhlas dan mudah jawab pertanyaan kubur?   Amalan yang dilakukan ikhlas karena Allah itulah yang diperintahkan. Setiap amalan sangat tergantung pada niat. Dari ‘Umar bin Al-Khattab radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى “Sesungguhnya amal itu tergantung dari niatnya. Dan setiap orang akan memperoleh apa yang dia niatkan.” (HR. Bukhari, no. 1; Muslim, no. 1907) Dan niat itu sangat tergantung dengan keikhlasan pada Allah. Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala, وَمَا أُمِرُوا إِلا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan salat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (QS. Al-Bayyinah: 5) Dalam ayat lainnya, Allah memperingatkan dari bahaya riya’ –yang merupakan lawan dari ikhlas- dalam firman-Nya, لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ “Jika kamu mempersekutukan (Rabbmu), niscaya akan hapuslah amalmu.” (QS. Az-Zumar: 65) Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, قَالَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ مَنْ عَمِلَ عَمَلاً أَشْرَكَ فِيهِ مَعِى غَيْرِى تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ “Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman: Aku sama sekali tidak butuh pada sekutu dalam perbuatan syirik. Barangsiapa yang menyekutukan-Ku dengan selain-Ku, maka Aku akan meninggalkannya (maksudnya: tidak menerima amalannya, pen) dan perbuatan syiriknya.” (HR. Muslim, no. 2985) Imam Nawawi rahimahullah mengatakan, “Amalan seseorang yang berbuat riya’ (tidak ikhlas) adalah amalan batil yang tidak berpahala apa-apa, bahkan ia akan mendapatkan dosa.” (Syarh Shahih Muslim, 18: 96) Adapun buah dari keikhlasan akan membuat amalan itu langgeng, alias istiqamah. Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, وَمَا لاَ يَكُوْنُ لَهُ لاَ يَنْفَعُ وَلاَ يَدُوْمُ “Segala sesuatu yang tidak didasari ikhlas karena Allah, pasti tidak bermanfaat dan tidak akan kekal.”  (Dar’ At-Ta’arudh Al-‘Aql wa An-Naql, 2: 188). Para ulama juga memiliki istilah lain, مَا كَانَ للهِ يَبْقَى “Segala sesuatu yang didasari ikhlas karena Allah, pasti akan langgeng.” Ada juga perkataan dari Imam Malik di mana para ulama menyebutkan bahwa Imam Ibnu Abi Dzi’bi yang semasa dan senegeri dengan Imam Malik pernah menulis kitab yang lebih besar dari Muwatho’. Karena demikian, Imam Malik pernah ditanya, “Apa faedahnya engkau menulis kitab yang sama seperti itu?” Jawaban beliau, “Sesuatu yang ikhlas karena Allah, pasti akan lebih langgeng.” (Ar Risalah Al Mustathrofah, hal. 9. Dinukil dari Muwatho’ Imam Malik, 3: 521). Allah Ta’ala berfirman, يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الآخِرَةِ وَيُضِلُّ اللَّهُ الظَّالِمِينَ وَيَفْعَلُ اللَّهُ مَا يَشَاءُ “Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang lalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki.” (QS. Ibrahim: 27) Tafsiran ayat “Allah meneguhkan orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh …” dijelaskan dalam hadits berikut. عَنِ الْبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ « الْمُسْلِمُ إِذَا سُئِلَ فِى الْقَبْرِ يَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ ، فَذَلِكَ قَوْلُهُ ( يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِى الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِى الآخِرَةِ ) Dari Al-Bara’ bin ‘Azib, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika seorang muslim ditanya di dalam kubur, ia akan berikrar bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, maka inilah tafsir ayat: ‘Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat.’ ” (HR. Bukhari, no. 4699) Menurut salah satu penafsiran dalam ayat di atas, Allah akan meneguhkan orang beriman di dunia selama ia hidup dan di akhirat ketika ditanya di dalam kubur. Lihat Zaad Al-Masiir (4: 361) karya Ibnul Jauzi. Bukti di alam kubur, ahli ikhlas dan orang yang kuat imannya akan mudah menjawab pertanyaan kubur adalah riwayat berikut. Al-Mas’udi berkata, dari ‘Abdullah bin Mukhariq, dari bapaknya, dari ‘Abdullah, ia berkata,  “Sesungguhnya seorang mukmin jika meninggal dunia, ia akan didudukkan di kuburnya. Ia akan ditanya, ‘Siapa Rabbmu?’, ‘Apa agamamu?’, ‘Siapa nabimu?’. Allah akan menguatkan orang beriman itu untuk menjawab. Ia akan menjawab, ‘Rabbku Allah, agamaku Islam, nabiku Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.’ Lantas ‘Abdullah membacakan firman Allah surat Ibrahim ayat 27.” (Diriwayatkan oleh Ath-Thabari dan ‘Abdullah bin Imam Ahmad dalam As-Sunnah, no. 1429; Al-Baihaqi dalam ‘Adzab Al-Qabr, no. 9. Semuanya dari jalur Al-Mas’udi dengan sanad yang hasan. Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 4: 612) Semoga Allah menganugerahkan pada kita keikhlasan dan mudah menjawab pertanyaan kubur. — Diselesaikan di Darush Sholihin, 5 Rajab 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsikhlas iman kubur riya
Apa kaitan ikhlas dan mudah jawab pertanyaan kubur?   Amalan yang dilakukan ikhlas karena Allah itulah yang diperintahkan. Setiap amalan sangat tergantung pada niat. Dari ‘Umar bin Al-Khattab radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى “Sesungguhnya amal itu tergantung dari niatnya. Dan setiap orang akan memperoleh apa yang dia niatkan.” (HR. Bukhari, no. 1; Muslim, no. 1907) Dan niat itu sangat tergantung dengan keikhlasan pada Allah. Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala, وَمَا أُمِرُوا إِلا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan salat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (QS. Al-Bayyinah: 5) Dalam ayat lainnya, Allah memperingatkan dari bahaya riya’ –yang merupakan lawan dari ikhlas- dalam firman-Nya, لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ “Jika kamu mempersekutukan (Rabbmu), niscaya akan hapuslah amalmu.” (QS. Az-Zumar: 65) Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, قَالَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ مَنْ عَمِلَ عَمَلاً أَشْرَكَ فِيهِ مَعِى غَيْرِى تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ “Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman: Aku sama sekali tidak butuh pada sekutu dalam perbuatan syirik. Barangsiapa yang menyekutukan-Ku dengan selain-Ku, maka Aku akan meninggalkannya (maksudnya: tidak menerima amalannya, pen) dan perbuatan syiriknya.” (HR. Muslim, no. 2985) Imam Nawawi rahimahullah mengatakan, “Amalan seseorang yang berbuat riya’ (tidak ikhlas) adalah amalan batil yang tidak berpahala apa-apa, bahkan ia akan mendapatkan dosa.” (Syarh Shahih Muslim, 18: 96) Adapun buah dari keikhlasan akan membuat amalan itu langgeng, alias istiqamah. Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, وَمَا لاَ يَكُوْنُ لَهُ لاَ يَنْفَعُ وَلاَ يَدُوْمُ “Segala sesuatu yang tidak didasari ikhlas karena Allah, pasti tidak bermanfaat dan tidak akan kekal.”  (Dar’ At-Ta’arudh Al-‘Aql wa An-Naql, 2: 188). Para ulama juga memiliki istilah lain, مَا كَانَ للهِ يَبْقَى “Segala sesuatu yang didasari ikhlas karena Allah, pasti akan langgeng.” Ada juga perkataan dari Imam Malik di mana para ulama menyebutkan bahwa Imam Ibnu Abi Dzi’bi yang semasa dan senegeri dengan Imam Malik pernah menulis kitab yang lebih besar dari Muwatho’. Karena demikian, Imam Malik pernah ditanya, “Apa faedahnya engkau menulis kitab yang sama seperti itu?” Jawaban beliau, “Sesuatu yang ikhlas karena Allah, pasti akan lebih langgeng.” (Ar Risalah Al Mustathrofah, hal. 9. Dinukil dari Muwatho’ Imam Malik, 3: 521). Allah Ta’ala berfirman, يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الآخِرَةِ وَيُضِلُّ اللَّهُ الظَّالِمِينَ وَيَفْعَلُ اللَّهُ مَا يَشَاءُ “Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang lalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki.” (QS. Ibrahim: 27) Tafsiran ayat “Allah meneguhkan orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh …” dijelaskan dalam hadits berikut. عَنِ الْبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ « الْمُسْلِمُ إِذَا سُئِلَ فِى الْقَبْرِ يَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ ، فَذَلِكَ قَوْلُهُ ( يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِى الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِى الآخِرَةِ ) Dari Al-Bara’ bin ‘Azib, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika seorang muslim ditanya di dalam kubur, ia akan berikrar bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, maka inilah tafsir ayat: ‘Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat.’ ” (HR. Bukhari, no. 4699) Menurut salah satu penafsiran dalam ayat di atas, Allah akan meneguhkan orang beriman di dunia selama ia hidup dan di akhirat ketika ditanya di dalam kubur. Lihat Zaad Al-Masiir (4: 361) karya Ibnul Jauzi. Bukti di alam kubur, ahli ikhlas dan orang yang kuat imannya akan mudah menjawab pertanyaan kubur adalah riwayat berikut. Al-Mas’udi berkata, dari ‘Abdullah bin Mukhariq, dari bapaknya, dari ‘Abdullah, ia berkata,  “Sesungguhnya seorang mukmin jika meninggal dunia, ia akan didudukkan di kuburnya. Ia akan ditanya, ‘Siapa Rabbmu?’, ‘Apa agamamu?’, ‘Siapa nabimu?’. Allah akan menguatkan orang beriman itu untuk menjawab. Ia akan menjawab, ‘Rabbku Allah, agamaku Islam, nabiku Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.’ Lantas ‘Abdullah membacakan firman Allah surat Ibrahim ayat 27.” (Diriwayatkan oleh Ath-Thabari dan ‘Abdullah bin Imam Ahmad dalam As-Sunnah, no. 1429; Al-Baihaqi dalam ‘Adzab Al-Qabr, no. 9. Semuanya dari jalur Al-Mas’udi dengan sanad yang hasan. Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 4: 612) Semoga Allah menganugerahkan pada kita keikhlasan dan mudah menjawab pertanyaan kubur. — Diselesaikan di Darush Sholihin, 5 Rajab 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsikhlas iman kubur riya


Apa kaitan ikhlas dan mudah jawab pertanyaan kubur?   Amalan yang dilakukan ikhlas karena Allah itulah yang diperintahkan. Setiap amalan sangat tergantung pada niat. Dari ‘Umar bin Al-Khattab radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى “Sesungguhnya amal itu tergantung dari niatnya. Dan setiap orang akan memperoleh apa yang dia niatkan.” (HR. Bukhari, no. 1; Muslim, no. 1907) Dan niat itu sangat tergantung dengan keikhlasan pada Allah. Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala, وَمَا أُمِرُوا إِلا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan salat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (QS. Al-Bayyinah: 5) Dalam ayat lainnya, Allah memperingatkan dari bahaya riya’ –yang merupakan lawan dari ikhlas- dalam firman-Nya, لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ “Jika kamu mempersekutukan (Rabbmu), niscaya akan hapuslah amalmu.” (QS. Az-Zumar: 65) Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, قَالَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ مَنْ عَمِلَ عَمَلاً أَشْرَكَ فِيهِ مَعِى غَيْرِى تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ “Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman: Aku sama sekali tidak butuh pada sekutu dalam perbuatan syirik. Barangsiapa yang menyekutukan-Ku dengan selain-Ku, maka Aku akan meninggalkannya (maksudnya: tidak menerima amalannya, pen) dan perbuatan syiriknya.” (HR. Muslim, no. 2985) Imam Nawawi rahimahullah mengatakan, “Amalan seseorang yang berbuat riya’ (tidak ikhlas) adalah amalan batil yang tidak berpahala apa-apa, bahkan ia akan mendapatkan dosa.” (Syarh Shahih Muslim, 18: 96) Adapun buah dari keikhlasan akan membuat amalan itu langgeng, alias istiqamah. Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, وَمَا لاَ يَكُوْنُ لَهُ لاَ يَنْفَعُ وَلاَ يَدُوْمُ “Segala sesuatu yang tidak didasari ikhlas karena Allah, pasti tidak bermanfaat dan tidak akan kekal.”  (Dar’ At-Ta’arudh Al-‘Aql wa An-Naql, 2: 188). Para ulama juga memiliki istilah lain, مَا كَانَ للهِ يَبْقَى “Segala sesuatu yang didasari ikhlas karena Allah, pasti akan langgeng.” Ada juga perkataan dari Imam Malik di mana para ulama menyebutkan bahwa Imam Ibnu Abi Dzi’bi yang semasa dan senegeri dengan Imam Malik pernah menulis kitab yang lebih besar dari Muwatho’. Karena demikian, Imam Malik pernah ditanya, “Apa faedahnya engkau menulis kitab yang sama seperti itu?” Jawaban beliau, “Sesuatu yang ikhlas karena Allah, pasti akan lebih langgeng.” (Ar Risalah Al Mustathrofah, hal. 9. Dinukil dari Muwatho’ Imam Malik, 3: 521). Allah Ta’ala berfirman, يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الآخِرَةِ وَيُضِلُّ اللَّهُ الظَّالِمِينَ وَيَفْعَلُ اللَّهُ مَا يَشَاءُ “Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang lalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki.” (QS. Ibrahim: 27) Tafsiran ayat “Allah meneguhkan orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh …” dijelaskan dalam hadits berikut. عَنِ الْبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ « الْمُسْلِمُ إِذَا سُئِلَ فِى الْقَبْرِ يَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ ، فَذَلِكَ قَوْلُهُ ( يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِى الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِى الآخِرَةِ ) Dari Al-Bara’ bin ‘Azib, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika seorang muslim ditanya di dalam kubur, ia akan berikrar bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, maka inilah tafsir ayat: ‘Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat.’ ” (HR. Bukhari, no. 4699) Menurut salah satu penafsiran dalam ayat di atas, Allah akan meneguhkan orang beriman di dunia selama ia hidup dan di akhirat ketika ditanya di dalam kubur. Lihat Zaad Al-Masiir (4: 361) karya Ibnul Jauzi. Bukti di alam kubur, ahli ikhlas dan orang yang kuat imannya akan mudah menjawab pertanyaan kubur adalah riwayat berikut. Al-Mas’udi berkata, dari ‘Abdullah bin Mukhariq, dari bapaknya, dari ‘Abdullah, ia berkata,  “Sesungguhnya seorang mukmin jika meninggal dunia, ia akan didudukkan di kuburnya. Ia akan ditanya, ‘Siapa Rabbmu?’, ‘Apa agamamu?’, ‘Siapa nabimu?’. Allah akan menguatkan orang beriman itu untuk menjawab. Ia akan menjawab, ‘Rabbku Allah, agamaku Islam, nabiku Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.’ Lantas ‘Abdullah membacakan firman Allah surat Ibrahim ayat 27.” (Diriwayatkan oleh Ath-Thabari dan ‘Abdullah bin Imam Ahmad dalam As-Sunnah, no. 1429; Al-Baihaqi dalam ‘Adzab Al-Qabr, no. 9. Semuanya dari jalur Al-Mas’udi dengan sanad yang hasan. Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 4: 612) Semoga Allah menganugerahkan pada kita keikhlasan dan mudah menjawab pertanyaan kubur. — Diselesaikan di Darush Sholihin, 5 Rajab 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsikhlas iman kubur riya

Manfaat Teman yang Baik

Allah dan Rasul-Nya memerintahkan kita memiliki teman yang baik. Apa saja manfaatnya?   Allah Ta’ala berfirman, وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ “Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap wajah-Nya.”  (QS. Al-Kahfi: 28) Diriwayatkan dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالْجَلِيسِ السَّوْءِ كَمَثَلِ صَاحِبِ الْمِسْكِ وَكِيرِ الْحَدَّادِ ، لاَ يَعْدَمُكَ مِنْ صَاحِبِ الْمِسْكِ إِمَّا تَشْتَرِيهِ أَوْ تَجِدُ رِيحَهُ ، وَكِيرُ الْحَدَّادِ يُحْرِقُ بَدَنَكَ أَوْ ثَوْبَكَ أَوْ تَجِدُ مِنْهُ رِيحًا خَبِيثَةً “Seseorang yang duduk (berteman) dengan orang shalih dan orang yang jelek bagaikan berteman dengan pemilik minyak wangi dan pandai besi. Pemilik minyak wangi tidak akan merugikanmu; engkau bisa membeli (minyak wangi) darinya atau minimal engkau mendapat baunya. Adapun berteman dengan pandai besi, jika engkau tidak mendapati badan atau pakaianmu hangus terbakar, minimal engkau mendapat baunya yang tidak enak.” (HR. Bukhari, no. 2101) Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi  wa sallam bersabda, الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ “Seseorang akan mencocoki kebiasaan teman karibnya. Oleh karenanya, perhatikanlah siapa yang akan menjadi teman karib kalian.” (HR. Abu Daud, no. 4833; Tirmidzi, no. 2378; dan Ahmad, 2:344. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih) Imam Al-Ghazali rahimahullah mengatakan, “Bersahabat dan bergaul dengan orang-orang yang pelit, akan mengakibatkan kita tertular pelitnya. Sedangkan bersahabat dengan orang yang zuhud, membuat kita juga ikut zuhud dalam masalah dunia. Karena memang asalnya seseorang akan mencontoh teman dekatnya.” (Tuhfah Al-Ahwadzi, 7: 94) Teman yang shalih punya pengaruh untuk menguatkan iman dan terus istiqamah karena kita akan terpengaruh dengan kelakuan baiknya hingga semangat untuk beramal. Sebagaimana kata pepatah Arab, الصَّاحِبُ سَاحِبٌ “Yang namanya sahabat bisa menarik (mempengaruhi).” Ahli hikmah juga menuturkan, يُظَنُّ بِالمرْءِ مَا يُظَنُّ بِقَرِيْنِهِ “Seseorang itu bisa dinilai dari orang yang jadi teman dekatnya.” Para ulama pun memiliki nasehat agar kita selalu dekat dengan orang shalih. Al-Fudhail bin ‘Iyadh berkata, نَظْرُ المُؤْمِنِ إِلَى المُؤْمِنِ يَجْلُو القَلْبَ “Pandangan seorang mukmin kepada mukmin yang lain akan mengilapkan hati.” (Siyar A’lam An- Nubala’, 8: 435) Maksud beliau adalah dengan hanya memandang orang shalih, hati seseorang bisa kembali tegar. Oleh karenanya, jika orang-orang shalih dahulu kurang semangat dan tidak tegar dalam ibadah, mereka pun mendatangi orang-orang shalih lainnya. ‘Abdullah bin Al-Mubarak mengatakan, “Jika kami memandang Fudhail bin ‘Iyadh, kami akan semakin sedih dan merasa diri penuh kekurangan.” Ja’far bin Sulaiman mengatakan, “Jika hati ini ternoda, maka kami segera pergi menuju Muhammad bin Waasi’.” (Ta’thir Al-Anfas min Hadits Al-Ikhlas, hlm. 466)   Manfaat Berteman dengan Orang Shalih   1- Dia akan mengingatkan kita untuk beramal shalih, juga saat terjatuh dalam kesalahan. Yang menjadi dalil teman shalih akan selalu mendukung kita dalam kebaikan dan mengingatkan kita dari kesalahan, lihat kisah persaudaraan Salman dan Abu Darda’ berikut. Dari Abu Juhaifah Wahb bin ‘Abdullah berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mempersaudarakan antara Salman dan Abu Darda’. Tatkala Salman bertandang (ziarah) ke rumah Abu Darda’, ia melihat Ummu Darda’ (istri Abu Darda’) dalam keadaan mengenakan pakaian yang serba kusut. Salman pun bertanya padanya, “Mengapa keadaan kamu seperti itu?” Wanita itu menjawab, “Saudaramu Abu Darda’ sudah tidak mempunyai hajat lagi pada keduniaan.” Kemudian Abu Darda’ datang dan ia membuatkan makanan untuk Salman. Setelah selesai Abu Darda’ berkata kepada Salman, “Makanlah, karena saya sedang berpuasa.” Salman menjawab, “Saya tidak akan makan sebelum engkau pun makan.” Maka Abu Darda’ pun makan. Pada malam harinya, Abu Darda’ bangun untuk mengerjakan shalat malam. Salman pun berkata padanya, “Tidurlah.” Abu Darda’ pun tidur kembali. Ketika Abu Darda’ bangun hendak mengerjakan shalat malam, Salman lagi berkata padanya, “Tidurlah!” Hingga pada akhir malam, Salman berkata, “Bangunlah.” Lalu mereka shalat bersama-sama. Setelah itu, Salman berkata kepadanya, إِنَّ لِرَبِّكَ عَلَيْكَ حَقًّا ، وَلِنَفْسِكَ عَلَيْكَ حَقًّا ، وَلأَهْلِكَ عَلَيْكَ حَقًّا ، فَأَعْطِ كُلَّ ذِى حَقٍّ حَقَّهُ “Sesungguhnya bagi Rabbmu ada hak, bagi dirimu ada hak, dan bagi keluargamu juga ada hak. Maka penuhilah masing-masing hak tersebut.“ Kemudian Abu Darda’ mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu menceritakan apa yang baru saja terjadi. Beliau lantas bersabda, “Salman itu benar.” (HR. Bukhari, no. 1968).   2- Dia akan mendoakan kita dalam kebaikan. Dari Shafwan bin ‘Abdillah bin Shafwan –istrinya adalah Ad Darda’ binti Abid Darda’-, beliau mengatakan, “Aku tiba di negeri Syam. Kemudian saya bertemu dengan Ummu Ad-Darda’ (ibu mertua Shafwan, pen) di rumah. Namun, saya tidak bertemu dengan Abu Ad-Darda’ (bapak mertua Shafwan, pen). Ummu Ad-Darda’ berkata, “Apakah engkau ingin berhaji tahun ini?” Aku (Shafwan) berkata, “Iya.” Ummu Darda’ pun mengatakan, “Kalau begitu do’akanlah kebaikan pada kami karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,” دَعْوَةُ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ لأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ كُلَّمَا دَعَا لأَخِيهِ بِخَيْرٍ قَالَ الْمَلَكُ الْمُوَكَّلُ بِهِ آمِينَ وَلَكَ بِمِثْلٍ “Sesungguhnya do’a seorang muslim kepada saudaranya di saat saudaranya tidak mengetahuinya adalah doa’a yang mustajab (terkabulkan). Di sisi orang yang akan mendo’akan saudaranya ini ada malaikat yang bertugas mengaminkan do’anya. Tatkala dia mendo’akan saudaranya dengan kebaikan, malaikat tersebut akan berkata: Aamiin. Engkau akan mendapatkan semisal dengan saudaramu tadi.” Shafwan pun mengatakan, “Aku pun bertemu Abu Darda’ di pasar, lalu Abu Darda’ mengatakan sebagaimana istrinya tadi. Abu Darda’ mengatakan bahwa dia menukilnya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Muslim, no. 2733) Saat kita tasyahud, kita seringkali membaca bacaan berikut, السَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ “Assalaamu ‘alainaa wa ‘ala ‘ibadillahish shalihiin (artinya: salam untuk kami dan juga untuk hamba Allah yang shalih).” Disebutkan dalam lanjutan hadits, فَإِنَّكُمْ إِذَا قُلْتُمُوهَا أَصَابَتْ كُلَّ عَبْدٍ لِلَّهِ صَالِحٍ فِى السَّمَاءِ وَالأَرْضِ “Jika kalian mengucapkan seperti itu, maka doa tadi akan tertuju pada setiap hamba Allah yang shalih di langit dan di bumi.” (HR. Bukhari, no. 831 dan Muslim, no. 402). Shalihin adalah bentuk plural dari shalih. Ibnu Hajar berkata, “Shalih sendiri berarti, الْقَائِم بِمَا يَجِب عَلَيْهِ مِنْ حُقُوق اللَّه وَحُقُوق عِبَاده وَتَتَفَاوَت دَرَجَاته “Orang yang menjalankan kewajiban terhadap Allah dan kewajiban terhadap sesama hamba Allah. Kedudukan shalih pun bertingkat-tingkat.” (Fath Al-Bari, 2: 314).   3- Teman dekat yang baik akan dibangkitkan bersama kita pada hari kiamat. Dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, قِيلَ لِلنَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – الرَّجُلُ يُحِبُّ الْقَوْمَ وَلَمَّا يَلْحَقْ بِهِمْ قَالَ « الْمَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ » “Ada yang berkata pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Ada seseorang yang mencintai suatu kaum, namun ia tak pernah berjumpa dengan mereka.’ Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bersabda, ‘Setiap orang akan dikumpulkan bersama orang yang ia cintai.’” (HR. Bukhari, no. 6170; Muslim, no. 2640) Semoga Allah memberikan kita teman yang shalih di dunia dan akhirat. — Khutbah Jum’at di Bibal, Panggang, Jumat, 15 April 2016 Diselesaikan menjelang ‘Ashar di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 8 Rajab 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagssahabat teman bergaul

Manfaat Teman yang Baik

Allah dan Rasul-Nya memerintahkan kita memiliki teman yang baik. Apa saja manfaatnya?   Allah Ta’ala berfirman, وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ “Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap wajah-Nya.”  (QS. Al-Kahfi: 28) Diriwayatkan dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالْجَلِيسِ السَّوْءِ كَمَثَلِ صَاحِبِ الْمِسْكِ وَكِيرِ الْحَدَّادِ ، لاَ يَعْدَمُكَ مِنْ صَاحِبِ الْمِسْكِ إِمَّا تَشْتَرِيهِ أَوْ تَجِدُ رِيحَهُ ، وَكِيرُ الْحَدَّادِ يُحْرِقُ بَدَنَكَ أَوْ ثَوْبَكَ أَوْ تَجِدُ مِنْهُ رِيحًا خَبِيثَةً “Seseorang yang duduk (berteman) dengan orang shalih dan orang yang jelek bagaikan berteman dengan pemilik minyak wangi dan pandai besi. Pemilik minyak wangi tidak akan merugikanmu; engkau bisa membeli (minyak wangi) darinya atau minimal engkau mendapat baunya. Adapun berteman dengan pandai besi, jika engkau tidak mendapati badan atau pakaianmu hangus terbakar, minimal engkau mendapat baunya yang tidak enak.” (HR. Bukhari, no. 2101) Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi  wa sallam bersabda, الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ “Seseorang akan mencocoki kebiasaan teman karibnya. Oleh karenanya, perhatikanlah siapa yang akan menjadi teman karib kalian.” (HR. Abu Daud, no. 4833; Tirmidzi, no. 2378; dan Ahmad, 2:344. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih) Imam Al-Ghazali rahimahullah mengatakan, “Bersahabat dan bergaul dengan orang-orang yang pelit, akan mengakibatkan kita tertular pelitnya. Sedangkan bersahabat dengan orang yang zuhud, membuat kita juga ikut zuhud dalam masalah dunia. Karena memang asalnya seseorang akan mencontoh teman dekatnya.” (Tuhfah Al-Ahwadzi, 7: 94) Teman yang shalih punya pengaruh untuk menguatkan iman dan terus istiqamah karena kita akan terpengaruh dengan kelakuan baiknya hingga semangat untuk beramal. Sebagaimana kata pepatah Arab, الصَّاحِبُ سَاحِبٌ “Yang namanya sahabat bisa menarik (mempengaruhi).” Ahli hikmah juga menuturkan, يُظَنُّ بِالمرْءِ مَا يُظَنُّ بِقَرِيْنِهِ “Seseorang itu bisa dinilai dari orang yang jadi teman dekatnya.” Para ulama pun memiliki nasehat agar kita selalu dekat dengan orang shalih. Al-Fudhail bin ‘Iyadh berkata, نَظْرُ المُؤْمِنِ إِلَى المُؤْمِنِ يَجْلُو القَلْبَ “Pandangan seorang mukmin kepada mukmin yang lain akan mengilapkan hati.” (Siyar A’lam An- Nubala’, 8: 435) Maksud beliau adalah dengan hanya memandang orang shalih, hati seseorang bisa kembali tegar. Oleh karenanya, jika orang-orang shalih dahulu kurang semangat dan tidak tegar dalam ibadah, mereka pun mendatangi orang-orang shalih lainnya. ‘Abdullah bin Al-Mubarak mengatakan, “Jika kami memandang Fudhail bin ‘Iyadh, kami akan semakin sedih dan merasa diri penuh kekurangan.” Ja’far bin Sulaiman mengatakan, “Jika hati ini ternoda, maka kami segera pergi menuju Muhammad bin Waasi’.” (Ta’thir Al-Anfas min Hadits Al-Ikhlas, hlm. 466)   Manfaat Berteman dengan Orang Shalih   1- Dia akan mengingatkan kita untuk beramal shalih, juga saat terjatuh dalam kesalahan. Yang menjadi dalil teman shalih akan selalu mendukung kita dalam kebaikan dan mengingatkan kita dari kesalahan, lihat kisah persaudaraan Salman dan Abu Darda’ berikut. Dari Abu Juhaifah Wahb bin ‘Abdullah berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mempersaudarakan antara Salman dan Abu Darda’. Tatkala Salman bertandang (ziarah) ke rumah Abu Darda’, ia melihat Ummu Darda’ (istri Abu Darda’) dalam keadaan mengenakan pakaian yang serba kusut. Salman pun bertanya padanya, “Mengapa keadaan kamu seperti itu?” Wanita itu menjawab, “Saudaramu Abu Darda’ sudah tidak mempunyai hajat lagi pada keduniaan.” Kemudian Abu Darda’ datang dan ia membuatkan makanan untuk Salman. Setelah selesai Abu Darda’ berkata kepada Salman, “Makanlah, karena saya sedang berpuasa.” Salman menjawab, “Saya tidak akan makan sebelum engkau pun makan.” Maka Abu Darda’ pun makan. Pada malam harinya, Abu Darda’ bangun untuk mengerjakan shalat malam. Salman pun berkata padanya, “Tidurlah.” Abu Darda’ pun tidur kembali. Ketika Abu Darda’ bangun hendak mengerjakan shalat malam, Salman lagi berkata padanya, “Tidurlah!” Hingga pada akhir malam, Salman berkata, “Bangunlah.” Lalu mereka shalat bersama-sama. Setelah itu, Salman berkata kepadanya, إِنَّ لِرَبِّكَ عَلَيْكَ حَقًّا ، وَلِنَفْسِكَ عَلَيْكَ حَقًّا ، وَلأَهْلِكَ عَلَيْكَ حَقًّا ، فَأَعْطِ كُلَّ ذِى حَقٍّ حَقَّهُ “Sesungguhnya bagi Rabbmu ada hak, bagi dirimu ada hak, dan bagi keluargamu juga ada hak. Maka penuhilah masing-masing hak tersebut.“ Kemudian Abu Darda’ mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu menceritakan apa yang baru saja terjadi. Beliau lantas bersabda, “Salman itu benar.” (HR. Bukhari, no. 1968).   2- Dia akan mendoakan kita dalam kebaikan. Dari Shafwan bin ‘Abdillah bin Shafwan –istrinya adalah Ad Darda’ binti Abid Darda’-, beliau mengatakan, “Aku tiba di negeri Syam. Kemudian saya bertemu dengan Ummu Ad-Darda’ (ibu mertua Shafwan, pen) di rumah. Namun, saya tidak bertemu dengan Abu Ad-Darda’ (bapak mertua Shafwan, pen). Ummu Ad-Darda’ berkata, “Apakah engkau ingin berhaji tahun ini?” Aku (Shafwan) berkata, “Iya.” Ummu Darda’ pun mengatakan, “Kalau begitu do’akanlah kebaikan pada kami karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,” دَعْوَةُ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ لأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ كُلَّمَا دَعَا لأَخِيهِ بِخَيْرٍ قَالَ الْمَلَكُ الْمُوَكَّلُ بِهِ آمِينَ وَلَكَ بِمِثْلٍ “Sesungguhnya do’a seorang muslim kepada saudaranya di saat saudaranya tidak mengetahuinya adalah doa’a yang mustajab (terkabulkan). Di sisi orang yang akan mendo’akan saudaranya ini ada malaikat yang bertugas mengaminkan do’anya. Tatkala dia mendo’akan saudaranya dengan kebaikan, malaikat tersebut akan berkata: Aamiin. Engkau akan mendapatkan semisal dengan saudaramu tadi.” Shafwan pun mengatakan, “Aku pun bertemu Abu Darda’ di pasar, lalu Abu Darda’ mengatakan sebagaimana istrinya tadi. Abu Darda’ mengatakan bahwa dia menukilnya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Muslim, no. 2733) Saat kita tasyahud, kita seringkali membaca bacaan berikut, السَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ “Assalaamu ‘alainaa wa ‘ala ‘ibadillahish shalihiin (artinya: salam untuk kami dan juga untuk hamba Allah yang shalih).” Disebutkan dalam lanjutan hadits, فَإِنَّكُمْ إِذَا قُلْتُمُوهَا أَصَابَتْ كُلَّ عَبْدٍ لِلَّهِ صَالِحٍ فِى السَّمَاءِ وَالأَرْضِ “Jika kalian mengucapkan seperti itu, maka doa tadi akan tertuju pada setiap hamba Allah yang shalih di langit dan di bumi.” (HR. Bukhari, no. 831 dan Muslim, no. 402). Shalihin adalah bentuk plural dari shalih. Ibnu Hajar berkata, “Shalih sendiri berarti, الْقَائِم بِمَا يَجِب عَلَيْهِ مِنْ حُقُوق اللَّه وَحُقُوق عِبَاده وَتَتَفَاوَت دَرَجَاته “Orang yang menjalankan kewajiban terhadap Allah dan kewajiban terhadap sesama hamba Allah. Kedudukan shalih pun bertingkat-tingkat.” (Fath Al-Bari, 2: 314).   3- Teman dekat yang baik akan dibangkitkan bersama kita pada hari kiamat. Dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, قِيلَ لِلنَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – الرَّجُلُ يُحِبُّ الْقَوْمَ وَلَمَّا يَلْحَقْ بِهِمْ قَالَ « الْمَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ » “Ada yang berkata pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Ada seseorang yang mencintai suatu kaum, namun ia tak pernah berjumpa dengan mereka.’ Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bersabda, ‘Setiap orang akan dikumpulkan bersama orang yang ia cintai.’” (HR. Bukhari, no. 6170; Muslim, no. 2640) Semoga Allah memberikan kita teman yang shalih di dunia dan akhirat. — Khutbah Jum’at di Bibal, Panggang, Jumat, 15 April 2016 Diselesaikan menjelang ‘Ashar di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 8 Rajab 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagssahabat teman bergaul
Allah dan Rasul-Nya memerintahkan kita memiliki teman yang baik. Apa saja manfaatnya?   Allah Ta’ala berfirman, وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ “Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap wajah-Nya.”  (QS. Al-Kahfi: 28) Diriwayatkan dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالْجَلِيسِ السَّوْءِ كَمَثَلِ صَاحِبِ الْمِسْكِ وَكِيرِ الْحَدَّادِ ، لاَ يَعْدَمُكَ مِنْ صَاحِبِ الْمِسْكِ إِمَّا تَشْتَرِيهِ أَوْ تَجِدُ رِيحَهُ ، وَكِيرُ الْحَدَّادِ يُحْرِقُ بَدَنَكَ أَوْ ثَوْبَكَ أَوْ تَجِدُ مِنْهُ رِيحًا خَبِيثَةً “Seseorang yang duduk (berteman) dengan orang shalih dan orang yang jelek bagaikan berteman dengan pemilik minyak wangi dan pandai besi. Pemilik minyak wangi tidak akan merugikanmu; engkau bisa membeli (minyak wangi) darinya atau minimal engkau mendapat baunya. Adapun berteman dengan pandai besi, jika engkau tidak mendapati badan atau pakaianmu hangus terbakar, minimal engkau mendapat baunya yang tidak enak.” (HR. Bukhari, no. 2101) Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi  wa sallam bersabda, الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ “Seseorang akan mencocoki kebiasaan teman karibnya. Oleh karenanya, perhatikanlah siapa yang akan menjadi teman karib kalian.” (HR. Abu Daud, no. 4833; Tirmidzi, no. 2378; dan Ahmad, 2:344. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih) Imam Al-Ghazali rahimahullah mengatakan, “Bersahabat dan bergaul dengan orang-orang yang pelit, akan mengakibatkan kita tertular pelitnya. Sedangkan bersahabat dengan orang yang zuhud, membuat kita juga ikut zuhud dalam masalah dunia. Karena memang asalnya seseorang akan mencontoh teman dekatnya.” (Tuhfah Al-Ahwadzi, 7: 94) Teman yang shalih punya pengaruh untuk menguatkan iman dan terus istiqamah karena kita akan terpengaruh dengan kelakuan baiknya hingga semangat untuk beramal. Sebagaimana kata pepatah Arab, الصَّاحِبُ سَاحِبٌ “Yang namanya sahabat bisa menarik (mempengaruhi).” Ahli hikmah juga menuturkan, يُظَنُّ بِالمرْءِ مَا يُظَنُّ بِقَرِيْنِهِ “Seseorang itu bisa dinilai dari orang yang jadi teman dekatnya.” Para ulama pun memiliki nasehat agar kita selalu dekat dengan orang shalih. Al-Fudhail bin ‘Iyadh berkata, نَظْرُ المُؤْمِنِ إِلَى المُؤْمِنِ يَجْلُو القَلْبَ “Pandangan seorang mukmin kepada mukmin yang lain akan mengilapkan hati.” (Siyar A’lam An- Nubala’, 8: 435) Maksud beliau adalah dengan hanya memandang orang shalih, hati seseorang bisa kembali tegar. Oleh karenanya, jika orang-orang shalih dahulu kurang semangat dan tidak tegar dalam ibadah, mereka pun mendatangi orang-orang shalih lainnya. ‘Abdullah bin Al-Mubarak mengatakan, “Jika kami memandang Fudhail bin ‘Iyadh, kami akan semakin sedih dan merasa diri penuh kekurangan.” Ja’far bin Sulaiman mengatakan, “Jika hati ini ternoda, maka kami segera pergi menuju Muhammad bin Waasi’.” (Ta’thir Al-Anfas min Hadits Al-Ikhlas, hlm. 466)   Manfaat Berteman dengan Orang Shalih   1- Dia akan mengingatkan kita untuk beramal shalih, juga saat terjatuh dalam kesalahan. Yang menjadi dalil teman shalih akan selalu mendukung kita dalam kebaikan dan mengingatkan kita dari kesalahan, lihat kisah persaudaraan Salman dan Abu Darda’ berikut. Dari Abu Juhaifah Wahb bin ‘Abdullah berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mempersaudarakan antara Salman dan Abu Darda’. Tatkala Salman bertandang (ziarah) ke rumah Abu Darda’, ia melihat Ummu Darda’ (istri Abu Darda’) dalam keadaan mengenakan pakaian yang serba kusut. Salman pun bertanya padanya, “Mengapa keadaan kamu seperti itu?” Wanita itu menjawab, “Saudaramu Abu Darda’ sudah tidak mempunyai hajat lagi pada keduniaan.” Kemudian Abu Darda’ datang dan ia membuatkan makanan untuk Salman. Setelah selesai Abu Darda’ berkata kepada Salman, “Makanlah, karena saya sedang berpuasa.” Salman menjawab, “Saya tidak akan makan sebelum engkau pun makan.” Maka Abu Darda’ pun makan. Pada malam harinya, Abu Darda’ bangun untuk mengerjakan shalat malam. Salman pun berkata padanya, “Tidurlah.” Abu Darda’ pun tidur kembali. Ketika Abu Darda’ bangun hendak mengerjakan shalat malam, Salman lagi berkata padanya, “Tidurlah!” Hingga pada akhir malam, Salman berkata, “Bangunlah.” Lalu mereka shalat bersama-sama. Setelah itu, Salman berkata kepadanya, إِنَّ لِرَبِّكَ عَلَيْكَ حَقًّا ، وَلِنَفْسِكَ عَلَيْكَ حَقًّا ، وَلأَهْلِكَ عَلَيْكَ حَقًّا ، فَأَعْطِ كُلَّ ذِى حَقٍّ حَقَّهُ “Sesungguhnya bagi Rabbmu ada hak, bagi dirimu ada hak, dan bagi keluargamu juga ada hak. Maka penuhilah masing-masing hak tersebut.“ Kemudian Abu Darda’ mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu menceritakan apa yang baru saja terjadi. Beliau lantas bersabda, “Salman itu benar.” (HR. Bukhari, no. 1968).   2- Dia akan mendoakan kita dalam kebaikan. Dari Shafwan bin ‘Abdillah bin Shafwan –istrinya adalah Ad Darda’ binti Abid Darda’-, beliau mengatakan, “Aku tiba di negeri Syam. Kemudian saya bertemu dengan Ummu Ad-Darda’ (ibu mertua Shafwan, pen) di rumah. Namun, saya tidak bertemu dengan Abu Ad-Darda’ (bapak mertua Shafwan, pen). Ummu Ad-Darda’ berkata, “Apakah engkau ingin berhaji tahun ini?” Aku (Shafwan) berkata, “Iya.” Ummu Darda’ pun mengatakan, “Kalau begitu do’akanlah kebaikan pada kami karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,” دَعْوَةُ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ لأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ كُلَّمَا دَعَا لأَخِيهِ بِخَيْرٍ قَالَ الْمَلَكُ الْمُوَكَّلُ بِهِ آمِينَ وَلَكَ بِمِثْلٍ “Sesungguhnya do’a seorang muslim kepada saudaranya di saat saudaranya tidak mengetahuinya adalah doa’a yang mustajab (terkabulkan). Di sisi orang yang akan mendo’akan saudaranya ini ada malaikat yang bertugas mengaminkan do’anya. Tatkala dia mendo’akan saudaranya dengan kebaikan, malaikat tersebut akan berkata: Aamiin. Engkau akan mendapatkan semisal dengan saudaramu tadi.” Shafwan pun mengatakan, “Aku pun bertemu Abu Darda’ di pasar, lalu Abu Darda’ mengatakan sebagaimana istrinya tadi. Abu Darda’ mengatakan bahwa dia menukilnya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Muslim, no. 2733) Saat kita tasyahud, kita seringkali membaca bacaan berikut, السَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ “Assalaamu ‘alainaa wa ‘ala ‘ibadillahish shalihiin (artinya: salam untuk kami dan juga untuk hamba Allah yang shalih).” Disebutkan dalam lanjutan hadits, فَإِنَّكُمْ إِذَا قُلْتُمُوهَا أَصَابَتْ كُلَّ عَبْدٍ لِلَّهِ صَالِحٍ فِى السَّمَاءِ وَالأَرْضِ “Jika kalian mengucapkan seperti itu, maka doa tadi akan tertuju pada setiap hamba Allah yang shalih di langit dan di bumi.” (HR. Bukhari, no. 831 dan Muslim, no. 402). Shalihin adalah bentuk plural dari shalih. Ibnu Hajar berkata, “Shalih sendiri berarti, الْقَائِم بِمَا يَجِب عَلَيْهِ مِنْ حُقُوق اللَّه وَحُقُوق عِبَاده وَتَتَفَاوَت دَرَجَاته “Orang yang menjalankan kewajiban terhadap Allah dan kewajiban terhadap sesama hamba Allah. Kedudukan shalih pun bertingkat-tingkat.” (Fath Al-Bari, 2: 314).   3- Teman dekat yang baik akan dibangkitkan bersama kita pada hari kiamat. Dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, قِيلَ لِلنَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – الرَّجُلُ يُحِبُّ الْقَوْمَ وَلَمَّا يَلْحَقْ بِهِمْ قَالَ « الْمَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ » “Ada yang berkata pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Ada seseorang yang mencintai suatu kaum, namun ia tak pernah berjumpa dengan mereka.’ Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bersabda, ‘Setiap orang akan dikumpulkan bersama orang yang ia cintai.’” (HR. Bukhari, no. 6170; Muslim, no. 2640) Semoga Allah memberikan kita teman yang shalih di dunia dan akhirat. — Khutbah Jum’at di Bibal, Panggang, Jumat, 15 April 2016 Diselesaikan menjelang ‘Ashar di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 8 Rajab 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagssahabat teman bergaul


Allah dan Rasul-Nya memerintahkan kita memiliki teman yang baik. Apa saja manfaatnya?   Allah Ta’ala berfirman, وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ “Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap wajah-Nya.”  (QS. Al-Kahfi: 28) Diriwayatkan dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالْجَلِيسِ السَّوْءِ كَمَثَلِ صَاحِبِ الْمِسْكِ وَكِيرِ الْحَدَّادِ ، لاَ يَعْدَمُكَ مِنْ صَاحِبِ الْمِسْكِ إِمَّا تَشْتَرِيهِ أَوْ تَجِدُ رِيحَهُ ، وَكِيرُ الْحَدَّادِ يُحْرِقُ بَدَنَكَ أَوْ ثَوْبَكَ أَوْ تَجِدُ مِنْهُ رِيحًا خَبِيثَةً “Seseorang yang duduk (berteman) dengan orang shalih dan orang yang jelek bagaikan berteman dengan pemilik minyak wangi dan pandai besi. Pemilik minyak wangi tidak akan merugikanmu; engkau bisa membeli (minyak wangi) darinya atau minimal engkau mendapat baunya. Adapun berteman dengan pandai besi, jika engkau tidak mendapati badan atau pakaianmu hangus terbakar, minimal engkau mendapat baunya yang tidak enak.” (HR. Bukhari, no. 2101) Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi  wa sallam bersabda, الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ “Seseorang akan mencocoki kebiasaan teman karibnya. Oleh karenanya, perhatikanlah siapa yang akan menjadi teman karib kalian.” (HR. Abu Daud, no. 4833; Tirmidzi, no. 2378; dan Ahmad, 2:344. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih) Imam Al-Ghazali rahimahullah mengatakan, “Bersahabat dan bergaul dengan orang-orang yang pelit, akan mengakibatkan kita tertular pelitnya. Sedangkan bersahabat dengan orang yang zuhud, membuat kita juga ikut zuhud dalam masalah dunia. Karena memang asalnya seseorang akan mencontoh teman dekatnya.” (Tuhfah Al-Ahwadzi, 7: 94) Teman yang shalih punya pengaruh untuk menguatkan iman dan terus istiqamah karena kita akan terpengaruh dengan kelakuan baiknya hingga semangat untuk beramal. Sebagaimana kata pepatah Arab, الصَّاحِبُ سَاحِبٌ “Yang namanya sahabat bisa menarik (mempengaruhi).” Ahli hikmah juga menuturkan, يُظَنُّ بِالمرْءِ مَا يُظَنُّ بِقَرِيْنِهِ “Seseorang itu bisa dinilai dari orang yang jadi teman dekatnya.” Para ulama pun memiliki nasehat agar kita selalu dekat dengan orang shalih. Al-Fudhail bin ‘Iyadh berkata, نَظْرُ المُؤْمِنِ إِلَى المُؤْمِنِ يَجْلُو القَلْبَ “Pandangan seorang mukmin kepada mukmin yang lain akan mengilapkan hati.” (Siyar A’lam An- Nubala’, 8: 435) Maksud beliau adalah dengan hanya memandang orang shalih, hati seseorang bisa kembali tegar. Oleh karenanya, jika orang-orang shalih dahulu kurang semangat dan tidak tegar dalam ibadah, mereka pun mendatangi orang-orang shalih lainnya. ‘Abdullah bin Al-Mubarak mengatakan, “Jika kami memandang Fudhail bin ‘Iyadh, kami akan semakin sedih dan merasa diri penuh kekurangan.” Ja’far bin Sulaiman mengatakan, “Jika hati ini ternoda, maka kami segera pergi menuju Muhammad bin Waasi’.” (Ta’thir Al-Anfas min Hadits Al-Ikhlas, hlm. 466)   Manfaat Berteman dengan Orang Shalih   1- Dia akan mengingatkan kita untuk beramal shalih, juga saat terjatuh dalam kesalahan. Yang menjadi dalil teman shalih akan selalu mendukung kita dalam kebaikan dan mengingatkan kita dari kesalahan, lihat kisah persaudaraan Salman dan Abu Darda’ berikut. Dari Abu Juhaifah Wahb bin ‘Abdullah berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mempersaudarakan antara Salman dan Abu Darda’. Tatkala Salman bertandang (ziarah) ke rumah Abu Darda’, ia melihat Ummu Darda’ (istri Abu Darda’) dalam keadaan mengenakan pakaian yang serba kusut. Salman pun bertanya padanya, “Mengapa keadaan kamu seperti itu?” Wanita itu menjawab, “Saudaramu Abu Darda’ sudah tidak mempunyai hajat lagi pada keduniaan.” Kemudian Abu Darda’ datang dan ia membuatkan makanan untuk Salman. Setelah selesai Abu Darda’ berkata kepada Salman, “Makanlah, karena saya sedang berpuasa.” Salman menjawab, “Saya tidak akan makan sebelum engkau pun makan.” Maka Abu Darda’ pun makan. Pada malam harinya, Abu Darda’ bangun untuk mengerjakan shalat malam. Salman pun berkata padanya, “Tidurlah.” Abu Darda’ pun tidur kembali. Ketika Abu Darda’ bangun hendak mengerjakan shalat malam, Salman lagi berkata padanya, “Tidurlah!” Hingga pada akhir malam, Salman berkata, “Bangunlah.” Lalu mereka shalat bersama-sama. Setelah itu, Salman berkata kepadanya, إِنَّ لِرَبِّكَ عَلَيْكَ حَقًّا ، وَلِنَفْسِكَ عَلَيْكَ حَقًّا ، وَلأَهْلِكَ عَلَيْكَ حَقًّا ، فَأَعْطِ كُلَّ ذِى حَقٍّ حَقَّهُ “Sesungguhnya bagi Rabbmu ada hak, bagi dirimu ada hak, dan bagi keluargamu juga ada hak. Maka penuhilah masing-masing hak tersebut.“ Kemudian Abu Darda’ mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu menceritakan apa yang baru saja terjadi. Beliau lantas bersabda, “Salman itu benar.” (HR. Bukhari, no. 1968).   2- Dia akan mendoakan kita dalam kebaikan. Dari Shafwan bin ‘Abdillah bin Shafwan –istrinya adalah Ad Darda’ binti Abid Darda’-, beliau mengatakan, “Aku tiba di negeri Syam. Kemudian saya bertemu dengan Ummu Ad-Darda’ (ibu mertua Shafwan, pen) di rumah. Namun, saya tidak bertemu dengan Abu Ad-Darda’ (bapak mertua Shafwan, pen). Ummu Ad-Darda’ berkata, “Apakah engkau ingin berhaji tahun ini?” Aku (Shafwan) berkata, “Iya.” Ummu Darda’ pun mengatakan, “Kalau begitu do’akanlah kebaikan pada kami karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,” دَعْوَةُ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ لأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ كُلَّمَا دَعَا لأَخِيهِ بِخَيْرٍ قَالَ الْمَلَكُ الْمُوَكَّلُ بِهِ آمِينَ وَلَكَ بِمِثْلٍ “Sesungguhnya do’a seorang muslim kepada saudaranya di saat saudaranya tidak mengetahuinya adalah doa’a yang mustajab (terkabulkan). Di sisi orang yang akan mendo’akan saudaranya ini ada malaikat yang bertugas mengaminkan do’anya. Tatkala dia mendo’akan saudaranya dengan kebaikan, malaikat tersebut akan berkata: Aamiin. Engkau akan mendapatkan semisal dengan saudaramu tadi.” Shafwan pun mengatakan, “Aku pun bertemu Abu Darda’ di pasar, lalu Abu Darda’ mengatakan sebagaimana istrinya tadi. Abu Darda’ mengatakan bahwa dia menukilnya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Muslim, no. 2733) Saat kita tasyahud, kita seringkali membaca bacaan berikut, السَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ “Assalaamu ‘alainaa wa ‘ala ‘ibadillahish shalihiin (artinya: salam untuk kami dan juga untuk hamba Allah yang shalih).” Disebutkan dalam lanjutan hadits, فَإِنَّكُمْ إِذَا قُلْتُمُوهَا أَصَابَتْ كُلَّ عَبْدٍ لِلَّهِ صَالِحٍ فِى السَّمَاءِ وَالأَرْضِ “Jika kalian mengucapkan seperti itu, maka doa tadi akan tertuju pada setiap hamba Allah yang shalih di langit dan di bumi.” (HR. Bukhari, no. 831 dan Muslim, no. 402). Shalihin adalah bentuk plural dari shalih. Ibnu Hajar berkata, “Shalih sendiri berarti, الْقَائِم بِمَا يَجِب عَلَيْهِ مِنْ حُقُوق اللَّه وَحُقُوق عِبَاده وَتَتَفَاوَت دَرَجَاته “Orang yang menjalankan kewajiban terhadap Allah dan kewajiban terhadap sesama hamba Allah. Kedudukan shalih pun bertingkat-tingkat.” (Fath Al-Bari, 2: 314).   3- Teman dekat yang baik akan dibangkitkan bersama kita pada hari kiamat. Dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, قِيلَ لِلنَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – الرَّجُلُ يُحِبُّ الْقَوْمَ وَلَمَّا يَلْحَقْ بِهِمْ قَالَ « الْمَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ » “Ada yang berkata pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Ada seseorang yang mencintai suatu kaum, namun ia tak pernah berjumpa dengan mereka.’ Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bersabda, ‘Setiap orang akan dikumpulkan bersama orang yang ia cintai.’” (HR. Bukhari, no. 6170; Muslim, no. 2640) Semoga Allah memberikan kita teman yang shalih di dunia dan akhirat. — Khutbah Jum’at di Bibal, Panggang, Jumat, 15 April 2016 Diselesaikan menjelang ‘Ashar di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 8 Rajab 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagssahabat teman bergaul

Awas Makan Harta Warisan Yang Haram !!

Khotbah Jumat, Masjid Nabawi, 8  Rajab 1437 HOleh : Syekh Shalah Al-BudairKhotbah PertamaKaum muslimin sekalian! Siapa yang dikuasai keserakahan, akan segera mendapat kemurkaan. Siapa yang pandangan matanya tertuju kepada sesuatu yang bukan miliknya, akan mempercepat tertimpa kekecewaan, dan terus menerus dirundung kesedihan.            Memakan harta orang lain secara tidak sah telah menjadi kendaraan kaum murahan dan tunggangan golongan manusia rendahan. Sementara itu, akhirat merupakan sesuatu yang lebih dicintai oleh kaum beriman dibanding apapun benda koleksi unik, lebih berharga dari pada nilai sesuatu yang dapat tergantikan, dan lebih hebat dari pada karya seni indah nan antik.            Siapa yang telah kehilangan kepercayaan, terungkap pengkhianatannya,  buruk isi hatinya, tampak jelas dan terbongkar tipu dayanya, terpampang kemunafikan dan akal bulusnya, pastilah akan mudah melanggar (etika) pembagian, mengkhianati mitra kerjanya, mengambil jatah dirinya dan masih rakus terhadap jatah orang lain. Tidak akan dia biarkan mitranya mendapatkan bagian walau hanya seujung jari, tidak juga sejengkal, dan ia tidak akan memberikan bagi mitranya tempat duduk, tempat naik, tempat bernaung, tempat untuk berjalan, kesempatan, terlebih lagi harta.            Jika urusannya didiskusikan, iapun dendam. Jika diaudit maka iapun kabur. Jika dicari maka menghilang, sehingga tak seorangpun meilhatnya. Semua urusannya adalah yang penting menguntungkannya, selalu menjengkelkan, penipuan dan siasat pengelabuan.وَإِنَّ كَثِيرٗا مِّنَ ٱلۡخُلَطَآءِ لَيَبۡغِي بَعۡضُهُمۡ عَلَىٰ بَعۡضٍ إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ وَقَلِيلٞ مَّا هُمۡۗ [ ص / 24]“Dan sesungguhnya kebanyakan dari orang-orang yang berserikat itu – yakni di antara para rekan, sahabat karib dan mitra kerja sama- sebagian mereka (memang) berbuat semena-mena terhadap sebagian yang lain, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh; (namun sayangnya) amat sedikit mereka ini.” Qs Shad : 24Seburuk-buruk tipe manusia adalah orang yang jika hatinya rakus, langsung mencuri. Jika sudah kenyang, berbuat dosa. Jika kurang puas, terus menggerogoti. Jika telah merasa tercukupi, bertindak tidak senonoh.Termasuk kesemena-menaan yang terlampau jauh adalah memakan harta warisan milik ahli waris lainnya. Allah –subhanahu wa ta’ala- berfirman :وَتَأۡكُلُونَ ٱلتُّرَاثَ أَكۡلٗا لَّمّٗا [ الفجر/19]“Dan kalian memakan harta warisan dengan cara mencampur adukkan (yang halal dan yang haram).” Qs Al-Fajr : 19Kata “At-Turats” di sini adalah harta warisan, sedangkan “Al-Lammu” adalah upaya pengumpulan harta warisan dengan melakukan pelanggaran, sehingga orang itu selain memakan bagiannya sendiri, juga bagian warisan milik orang lain. Padahal sistem pembagian harta peninggalan itu telah diatur dalam syariat Islam sebagai putusan hukum yang adil.Maka barangsiapa yang mengicu (mengakali) untuk menganulir (menggugurkan) putusan dan ketentuan yang ada, dengan mengubah bagian dan jatah (masing-masing ahli waris), melakukan keculasan dan kecurangan dalam pembagiannya, menghalangi salah seorang ahli waris dari haknya, menahan harta peninggalan, menyembunyikan aset-aset dan barang-barang peninggalan, lalu menyembunyikan berkas-berkas bukti harta warisan, berikut memonopoli pengelolaan dan pemanfaatannya untuk dirinya dengan memaksa ahli waris (yang berhak) untuk melepaskan bagiannya dan merasa puas dengan sebagian jatahnya, sungguh dia telah melanggar syariat Allah, ketetapan-ketetapan pembagian-Nya dan aturan-aturan hukum-Nya.Pada akhir ayat tentang harta warisan dalam Surah An-Nisa’ Allah berfirman :تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ يُدْخِلْهُ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ  وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَتَعَدَّ حُدُودَهُ يُدْخِلْهُ نَارًا خَالِدًا فِيهَا وَلَهُ عَذَابٌ مُهِينٌ [ النساء / 13-14]“Itulah ketentuan-ketentuan hukum Allah ( artinya ketentuan dan ukuran pembagian tersebut adalah keputusan dari Allah). Barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya,(artinya tidak menambah jatah warisan sebagian ahli waris dan tidak pula mengurangi jatah sebagian yang lain, dengan cara mengakali atau cara apapun, namun membiarkan masing-masing menerapkan hukum Allah dalam ketentuan pembagian warisan tersebut),niscaya Allah memasukkannya kedalam surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah keberuntungan yang besar. Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya serta melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, (artinya menentang Allah dalam ketentuan pembagian harta warisan tersebut), niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya; dan baginya siksa yang menghinakan.” Qs An-Nisa’ :13-14            Pengkhianat zalim yang kelewat batas selalu bersikap siaga untuk memangsa hak wanita dan anak yatim, meskipun Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- sang rasul pembawa petunjuk dalam doanya telah mewanti-wanti :اللَّهُمَّ إِنِّي أُحَرِّجُ حَقَّ الضَّعِيفَيْنِ الْيَتِيمِ وَالْمَرْأَةِ [ أخرجه ابن ماجه من حديث إبى هريرة ]“Ya Allah sesungguhnya aku akan menjadi penghalang ( bagi siapapun yang mencurangi ) hak dua golongan yang lemah, yaitu; anak yatim dan wanita.” HR. Ibnu Majah dari hadis Abu Hurairah.Wahai Anda yang mendapatkan harta warisan dengan begitu mudah! Merenunglah sejenak !Wahai Anda yang menguasai harta warisan milik para wanita karena tergoda oleh kondisi mereka yang labil, sikap pendiam dan rasa malu.Wahai Anda yang mendominasi harta warisan milik para wanita lajang dan anak-anak yatim karena tergoda oleh status mereka yang masih di bawah umur, atau ketidak berdayaan mereka dalam kesendirian dan hidup sebatang kara.Sungguh celaka kedua tangan Anda…, sungguh sia-sia usaha Anda…, karena kesengsaraan  akan terus menghantui Anda…Bagaimana jiwa Anda akan tenang, sementara Anda menganeksasi harta, tanah pemukiman dan lahan garapan.Anda telah menjerumuskan saudara-saudara Anda dan kerabat-kerabat Anda ke dalam kemiskinan dan keterlantaran…Mana mungkin jiwa Anda bisa tenang, sementara Anda raup sendiri keuntungan tanah, hasil buah-buahan, upah, dan hak milik bangunan… lantas Anda membalas saudara-saudara Anda dan kerabat Anda dengan sikap acuh tak acuh, pengabaian, pelecehan dan penistaan. ?Siapakah yang melegalkan Anda untuk melakukan ini semua dengan leluasa ?, melakukan dan membatalkan transaksi, mengesahkan dan menerbitkan surat-sertifikat…? Siapakah yang menyuruh Anda menahan atau melepas harta warisan?, melarang dan menggunakan sesukanya?Celakalah dan terkutuklah Anda… Anda bukanlah siapa-siapa melainkan salah satu di antara mereka yang punya andil memiliki harta warisan itu. Anda mempunyai hak dan kewajiban sama seperti mereka. Maka takutlah kepada Robb (Tuhan)-mu sebelum engkau tertimpa kehinaan dan kebinasaan. Hadapilah setiap persoalan menurut aturan dan ketentuan yang ada, dengan keseriusan dan ketegasan. Berikanlah hak kepada para pemiliknya dan yang berhak menerimanya. Janganlah malas, jangan menunda, jangan ragu, jangan memperlambat dan jangan bermain-main.Sesungguhnya bencana bisa saja datang, kendala bisa melintang, dan kematian mungkin datang tiba-tiba. Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda :اِقْسِمُوا الْمَالَ بَيْنَ أَهْلِ الْفَرَائِضِ عَلَى كِتَابِ اللهِ، فَمَا تَرَكَتِ الْفَرَائِضُ فَلِأَوْلَى رَجُلٍ ذَكَرٍ“Bagilah harta diantara ashaabul furud (yang berhak mendapat warisan berdasarkan bagian yang telah ditentukan) sesuai dengan kitabullah, dan jika masih tersisa maka berikanlah kepada lelaki yang paling dekat kekerabatannya Khotbah KeduaWahai Anda yang memonopoli harta wakaf beserta hasilnya.  Wahai Anda yang mengelola pembagian harta sedekah, harta zakat, harta warisan, dan harta-harta yang lain!Wahai Anda yang selama berbulan-bulan dan bertahun-tahun membiarkan harta tersebut tersimpan dalam lumbungnya, dalam genggaman dan tanggun jawabnya! Mengapakah Anda menahan harta itu dan membiarkannya tidak bergerak di tangan Anda?Distribusikanlah harta-harta tersebut hari ini langsung kepada pihak yang berhak menerimanya jika memang Anda termasuk orang-orang yang takut kepada Allah dan bertakwa kepadaNya. Jadikanlah sunnah sebagai landasan dan pedoman bagi Anda.Dari ‘Uqbah bin al-Haarits -radhiallahu ‘anhu- berkata,صَلَّيْتُ وَرَاءَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْمَدِينَةِ الْعَصْرَ فَسَلَّمَ ثُمَّ قَامَ مُسْرِعًا فَتَخَطَّى رِقَابَ النَّاسِ إِلَى بَعْضِ حُجَرِ نِسَائِهِ فَفَزِعَ النَّاسُ مِنْ سُرْعَتِهِ فَخَرَجَ عَلَيْهِمْ فَرَأَى أَنَّهُمْ عَجِبُوا مِنْ سُرْعَتِهِ فَقَالَ ذَكَرْتُ شَيْئًا مِنْ تِبْرٍ عِنْدَنَا فَكَرِهْتُ أَنْ يَحْبِسَنِي فَأَمَرْتُ بِقِسْمَتِهِ“Aku sholat ashar di belakang Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- di Madinah, lalu Nabi salam kemudian berdiri untuk segera pergi hingga melompati punggung orang banyak. Beliau menuju ke sebuah rumah milik salah seorang istri beliau. Orang-orang pun terkejut melihat sikap beliau yang terburu-buru itu.  Maka Nabi pun keluar menemui mereka dan memang beliau melihat keheranan pada mereka karena ketergesaan beliau itu, lalu beliau berkata, “Aku mengingat sepotong emas dari harta sedekah yang ada pada kami, aku tidak ingin emas tersebut mengahalangi aku ( untuk mengingat Allah). Itulah sebabnya, aku memerintahkan untuk segera dibagikan.” (HR Al-Bukhari)Dari ‘Aisyah – radhiallahu ‘anhaa – berkata :اشْتَدَّ وَجَعُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعِنْدَهُ سَبْعَةُ دَنَانِيرَ أَوْ تِسْعَةٌ، فقَالَ: «يَا عَائِشَةُ مَا فَعَلَتْ تِلْكَ الذَّهَبُ»؟ فَقُلْتُ: هِيَ عِنْدِي، قَالَ: «تَصَدَّقِي بِهَا»، قَالَتْ: فَشُغِلْتُ بِهِ، ثُمَّ، قَالَ: «يَا عَائِشَةُ مَا فَعَلَتْ تِلْكَ الذَّهَبُ»؟ فَقُلْتُ: هِيَ عِنْدِي، فقَالَ: «ائْتِنِي بِهَا»، قَالَتْ: فَجِئْتُ بِهَا، فَوَضَعَهَا فِي كَفِّهِ، ثُمَّ، قَالَ:  «مَا ظَنُّ مُحَمَّدٍ أَنْ لَوْ لَقِيَ اللَّهَ وَهَذِهِ عِنْدَهُ»“Sakit Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- semakin keras, sementara di sisi beliau ada tujuh atau sembilan keping dinar, maka beliau berkata, “Wahai ‘Aisyah, bagaimana dengan kepingan-kepingan emas (dinar) tersebut?”. Aku berkata, “Masih ada padaku”. Beliau berkata, “Sedekahkanlah !”. Aisyah berkata, “Akupun tersibukan (sehingga tidak sempat menyedekahkannya)”. Maka kemudian beliau bertanya lagi, “Wahai ‘Aisyah, bagaimana dengan kepingan-kepingan emas tersebut?”, Aku berkata, “Masih ada padaku”. Beliau berkata, “Berikanlah kepadaku emas tersebut”. Aisyah berkata, “Maka akupun membawa emas tersebut, lalu aku letakkan di telapak tangan beliau, kemudian beliau berkata, “Bagaimana persangkaan Muhammad, kalau seandainya ia bertemu dengan Allah sementara emas ini masih ada padanya?” (HR Ibnu Hibbaan)Dan dari Ummu Salamah -radhiallahu ‘anha- ia berkata,دَخَلَ عَلَيَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ سَاهِمُ الْوَجْهِ، حَسِبْتُ ذَلِكَ مِنْ وَجْعٍ، فَقُلْتُ: مَا لِي أَرَاكَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْكَ، سَاهِمَ الْوَجْهِ، قَالَ:  «مِنْ أَجْلِ الدَّنَانِيرِ السَّبْعَةِ الَّتِي أَتَتْنَا الْأَمْسِ فَلَمْ نَقْسِمْهَا»“Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- menemuiku dalam kondisi berubah raut wajahnya, aku menyangka hal itu karena sakit, maka aku berkata, “Mengapa aku melihat raut wajahmu berubah?”, beliau berkata, “Karena tujuh kepingan dinar yang datang kepada kita kemarin, dan belum kita bagikan” (HR Ibnu Hibban)Camkan, hanya gara-gara tujuh keping dinar saja yang belum terbagikan setelah berlalu sehari, begitu membuat raut wajah Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- berubah !!.Maka bertakwalah kepada Allah wahai kaum muslimin, dan lakukanlah apa yang dapat mempercepat Anda terbebas dari tanggung jawab, dan terhindar dari sikap suka menunda-nunda.Semoga Allah-subhanahu wa ta’ala- meridhai kita dan menghapus dosa-dosa kita.===  Doa ===Penerjemah : Usman Hatim & Firanda Andirjafiranda.com 

Awas Makan Harta Warisan Yang Haram !!

Khotbah Jumat, Masjid Nabawi, 8  Rajab 1437 HOleh : Syekh Shalah Al-BudairKhotbah PertamaKaum muslimin sekalian! Siapa yang dikuasai keserakahan, akan segera mendapat kemurkaan. Siapa yang pandangan matanya tertuju kepada sesuatu yang bukan miliknya, akan mempercepat tertimpa kekecewaan, dan terus menerus dirundung kesedihan.            Memakan harta orang lain secara tidak sah telah menjadi kendaraan kaum murahan dan tunggangan golongan manusia rendahan. Sementara itu, akhirat merupakan sesuatu yang lebih dicintai oleh kaum beriman dibanding apapun benda koleksi unik, lebih berharga dari pada nilai sesuatu yang dapat tergantikan, dan lebih hebat dari pada karya seni indah nan antik.            Siapa yang telah kehilangan kepercayaan, terungkap pengkhianatannya,  buruk isi hatinya, tampak jelas dan terbongkar tipu dayanya, terpampang kemunafikan dan akal bulusnya, pastilah akan mudah melanggar (etika) pembagian, mengkhianati mitra kerjanya, mengambil jatah dirinya dan masih rakus terhadap jatah orang lain. Tidak akan dia biarkan mitranya mendapatkan bagian walau hanya seujung jari, tidak juga sejengkal, dan ia tidak akan memberikan bagi mitranya tempat duduk, tempat naik, tempat bernaung, tempat untuk berjalan, kesempatan, terlebih lagi harta.            Jika urusannya didiskusikan, iapun dendam. Jika diaudit maka iapun kabur. Jika dicari maka menghilang, sehingga tak seorangpun meilhatnya. Semua urusannya adalah yang penting menguntungkannya, selalu menjengkelkan, penipuan dan siasat pengelabuan.وَإِنَّ كَثِيرٗا مِّنَ ٱلۡخُلَطَآءِ لَيَبۡغِي بَعۡضُهُمۡ عَلَىٰ بَعۡضٍ إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ وَقَلِيلٞ مَّا هُمۡۗ [ ص / 24]“Dan sesungguhnya kebanyakan dari orang-orang yang berserikat itu – yakni di antara para rekan, sahabat karib dan mitra kerja sama- sebagian mereka (memang) berbuat semena-mena terhadap sebagian yang lain, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh; (namun sayangnya) amat sedikit mereka ini.” Qs Shad : 24Seburuk-buruk tipe manusia adalah orang yang jika hatinya rakus, langsung mencuri. Jika sudah kenyang, berbuat dosa. Jika kurang puas, terus menggerogoti. Jika telah merasa tercukupi, bertindak tidak senonoh.Termasuk kesemena-menaan yang terlampau jauh adalah memakan harta warisan milik ahli waris lainnya. Allah –subhanahu wa ta’ala- berfirman :وَتَأۡكُلُونَ ٱلتُّرَاثَ أَكۡلٗا لَّمّٗا [ الفجر/19]“Dan kalian memakan harta warisan dengan cara mencampur adukkan (yang halal dan yang haram).” Qs Al-Fajr : 19Kata “At-Turats” di sini adalah harta warisan, sedangkan “Al-Lammu” adalah upaya pengumpulan harta warisan dengan melakukan pelanggaran, sehingga orang itu selain memakan bagiannya sendiri, juga bagian warisan milik orang lain. Padahal sistem pembagian harta peninggalan itu telah diatur dalam syariat Islam sebagai putusan hukum yang adil.Maka barangsiapa yang mengicu (mengakali) untuk menganulir (menggugurkan) putusan dan ketentuan yang ada, dengan mengubah bagian dan jatah (masing-masing ahli waris), melakukan keculasan dan kecurangan dalam pembagiannya, menghalangi salah seorang ahli waris dari haknya, menahan harta peninggalan, menyembunyikan aset-aset dan barang-barang peninggalan, lalu menyembunyikan berkas-berkas bukti harta warisan, berikut memonopoli pengelolaan dan pemanfaatannya untuk dirinya dengan memaksa ahli waris (yang berhak) untuk melepaskan bagiannya dan merasa puas dengan sebagian jatahnya, sungguh dia telah melanggar syariat Allah, ketetapan-ketetapan pembagian-Nya dan aturan-aturan hukum-Nya.Pada akhir ayat tentang harta warisan dalam Surah An-Nisa’ Allah berfirman :تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ يُدْخِلْهُ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ  وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَتَعَدَّ حُدُودَهُ يُدْخِلْهُ نَارًا خَالِدًا فِيهَا وَلَهُ عَذَابٌ مُهِينٌ [ النساء / 13-14]“Itulah ketentuan-ketentuan hukum Allah ( artinya ketentuan dan ukuran pembagian tersebut adalah keputusan dari Allah). Barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya,(artinya tidak menambah jatah warisan sebagian ahli waris dan tidak pula mengurangi jatah sebagian yang lain, dengan cara mengakali atau cara apapun, namun membiarkan masing-masing menerapkan hukum Allah dalam ketentuan pembagian warisan tersebut),niscaya Allah memasukkannya kedalam surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah keberuntungan yang besar. Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya serta melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, (artinya menentang Allah dalam ketentuan pembagian harta warisan tersebut), niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya; dan baginya siksa yang menghinakan.” Qs An-Nisa’ :13-14            Pengkhianat zalim yang kelewat batas selalu bersikap siaga untuk memangsa hak wanita dan anak yatim, meskipun Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- sang rasul pembawa petunjuk dalam doanya telah mewanti-wanti :اللَّهُمَّ إِنِّي أُحَرِّجُ حَقَّ الضَّعِيفَيْنِ الْيَتِيمِ وَالْمَرْأَةِ [ أخرجه ابن ماجه من حديث إبى هريرة ]“Ya Allah sesungguhnya aku akan menjadi penghalang ( bagi siapapun yang mencurangi ) hak dua golongan yang lemah, yaitu; anak yatim dan wanita.” HR. Ibnu Majah dari hadis Abu Hurairah.Wahai Anda yang mendapatkan harta warisan dengan begitu mudah! Merenunglah sejenak !Wahai Anda yang menguasai harta warisan milik para wanita karena tergoda oleh kondisi mereka yang labil, sikap pendiam dan rasa malu.Wahai Anda yang mendominasi harta warisan milik para wanita lajang dan anak-anak yatim karena tergoda oleh status mereka yang masih di bawah umur, atau ketidak berdayaan mereka dalam kesendirian dan hidup sebatang kara.Sungguh celaka kedua tangan Anda…, sungguh sia-sia usaha Anda…, karena kesengsaraan  akan terus menghantui Anda…Bagaimana jiwa Anda akan tenang, sementara Anda menganeksasi harta, tanah pemukiman dan lahan garapan.Anda telah menjerumuskan saudara-saudara Anda dan kerabat-kerabat Anda ke dalam kemiskinan dan keterlantaran…Mana mungkin jiwa Anda bisa tenang, sementara Anda raup sendiri keuntungan tanah, hasil buah-buahan, upah, dan hak milik bangunan… lantas Anda membalas saudara-saudara Anda dan kerabat Anda dengan sikap acuh tak acuh, pengabaian, pelecehan dan penistaan. ?Siapakah yang melegalkan Anda untuk melakukan ini semua dengan leluasa ?, melakukan dan membatalkan transaksi, mengesahkan dan menerbitkan surat-sertifikat…? Siapakah yang menyuruh Anda menahan atau melepas harta warisan?, melarang dan menggunakan sesukanya?Celakalah dan terkutuklah Anda… Anda bukanlah siapa-siapa melainkan salah satu di antara mereka yang punya andil memiliki harta warisan itu. Anda mempunyai hak dan kewajiban sama seperti mereka. Maka takutlah kepada Robb (Tuhan)-mu sebelum engkau tertimpa kehinaan dan kebinasaan. Hadapilah setiap persoalan menurut aturan dan ketentuan yang ada, dengan keseriusan dan ketegasan. Berikanlah hak kepada para pemiliknya dan yang berhak menerimanya. Janganlah malas, jangan menunda, jangan ragu, jangan memperlambat dan jangan bermain-main.Sesungguhnya bencana bisa saja datang, kendala bisa melintang, dan kematian mungkin datang tiba-tiba. Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda :اِقْسِمُوا الْمَالَ بَيْنَ أَهْلِ الْفَرَائِضِ عَلَى كِتَابِ اللهِ، فَمَا تَرَكَتِ الْفَرَائِضُ فَلِأَوْلَى رَجُلٍ ذَكَرٍ“Bagilah harta diantara ashaabul furud (yang berhak mendapat warisan berdasarkan bagian yang telah ditentukan) sesuai dengan kitabullah, dan jika masih tersisa maka berikanlah kepada lelaki yang paling dekat kekerabatannya Khotbah KeduaWahai Anda yang memonopoli harta wakaf beserta hasilnya.  Wahai Anda yang mengelola pembagian harta sedekah, harta zakat, harta warisan, dan harta-harta yang lain!Wahai Anda yang selama berbulan-bulan dan bertahun-tahun membiarkan harta tersebut tersimpan dalam lumbungnya, dalam genggaman dan tanggun jawabnya! Mengapakah Anda menahan harta itu dan membiarkannya tidak bergerak di tangan Anda?Distribusikanlah harta-harta tersebut hari ini langsung kepada pihak yang berhak menerimanya jika memang Anda termasuk orang-orang yang takut kepada Allah dan bertakwa kepadaNya. Jadikanlah sunnah sebagai landasan dan pedoman bagi Anda.Dari ‘Uqbah bin al-Haarits -radhiallahu ‘anhu- berkata,صَلَّيْتُ وَرَاءَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْمَدِينَةِ الْعَصْرَ فَسَلَّمَ ثُمَّ قَامَ مُسْرِعًا فَتَخَطَّى رِقَابَ النَّاسِ إِلَى بَعْضِ حُجَرِ نِسَائِهِ فَفَزِعَ النَّاسُ مِنْ سُرْعَتِهِ فَخَرَجَ عَلَيْهِمْ فَرَأَى أَنَّهُمْ عَجِبُوا مِنْ سُرْعَتِهِ فَقَالَ ذَكَرْتُ شَيْئًا مِنْ تِبْرٍ عِنْدَنَا فَكَرِهْتُ أَنْ يَحْبِسَنِي فَأَمَرْتُ بِقِسْمَتِهِ“Aku sholat ashar di belakang Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- di Madinah, lalu Nabi salam kemudian berdiri untuk segera pergi hingga melompati punggung orang banyak. Beliau menuju ke sebuah rumah milik salah seorang istri beliau. Orang-orang pun terkejut melihat sikap beliau yang terburu-buru itu.  Maka Nabi pun keluar menemui mereka dan memang beliau melihat keheranan pada mereka karena ketergesaan beliau itu, lalu beliau berkata, “Aku mengingat sepotong emas dari harta sedekah yang ada pada kami, aku tidak ingin emas tersebut mengahalangi aku ( untuk mengingat Allah). Itulah sebabnya, aku memerintahkan untuk segera dibagikan.” (HR Al-Bukhari)Dari ‘Aisyah – radhiallahu ‘anhaa – berkata :اشْتَدَّ وَجَعُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعِنْدَهُ سَبْعَةُ دَنَانِيرَ أَوْ تِسْعَةٌ، فقَالَ: «يَا عَائِشَةُ مَا فَعَلَتْ تِلْكَ الذَّهَبُ»؟ فَقُلْتُ: هِيَ عِنْدِي، قَالَ: «تَصَدَّقِي بِهَا»، قَالَتْ: فَشُغِلْتُ بِهِ، ثُمَّ، قَالَ: «يَا عَائِشَةُ مَا فَعَلَتْ تِلْكَ الذَّهَبُ»؟ فَقُلْتُ: هِيَ عِنْدِي، فقَالَ: «ائْتِنِي بِهَا»، قَالَتْ: فَجِئْتُ بِهَا، فَوَضَعَهَا فِي كَفِّهِ، ثُمَّ، قَالَ:  «مَا ظَنُّ مُحَمَّدٍ أَنْ لَوْ لَقِيَ اللَّهَ وَهَذِهِ عِنْدَهُ»“Sakit Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- semakin keras, sementara di sisi beliau ada tujuh atau sembilan keping dinar, maka beliau berkata, “Wahai ‘Aisyah, bagaimana dengan kepingan-kepingan emas (dinar) tersebut?”. Aku berkata, “Masih ada padaku”. Beliau berkata, “Sedekahkanlah !”. Aisyah berkata, “Akupun tersibukan (sehingga tidak sempat menyedekahkannya)”. Maka kemudian beliau bertanya lagi, “Wahai ‘Aisyah, bagaimana dengan kepingan-kepingan emas tersebut?”, Aku berkata, “Masih ada padaku”. Beliau berkata, “Berikanlah kepadaku emas tersebut”. Aisyah berkata, “Maka akupun membawa emas tersebut, lalu aku letakkan di telapak tangan beliau, kemudian beliau berkata, “Bagaimana persangkaan Muhammad, kalau seandainya ia bertemu dengan Allah sementara emas ini masih ada padanya?” (HR Ibnu Hibbaan)Dan dari Ummu Salamah -radhiallahu ‘anha- ia berkata,دَخَلَ عَلَيَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ سَاهِمُ الْوَجْهِ، حَسِبْتُ ذَلِكَ مِنْ وَجْعٍ، فَقُلْتُ: مَا لِي أَرَاكَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْكَ، سَاهِمَ الْوَجْهِ، قَالَ:  «مِنْ أَجْلِ الدَّنَانِيرِ السَّبْعَةِ الَّتِي أَتَتْنَا الْأَمْسِ فَلَمْ نَقْسِمْهَا»“Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- menemuiku dalam kondisi berubah raut wajahnya, aku menyangka hal itu karena sakit, maka aku berkata, “Mengapa aku melihat raut wajahmu berubah?”, beliau berkata, “Karena tujuh kepingan dinar yang datang kepada kita kemarin, dan belum kita bagikan” (HR Ibnu Hibban)Camkan, hanya gara-gara tujuh keping dinar saja yang belum terbagikan setelah berlalu sehari, begitu membuat raut wajah Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- berubah !!.Maka bertakwalah kepada Allah wahai kaum muslimin, dan lakukanlah apa yang dapat mempercepat Anda terbebas dari tanggung jawab, dan terhindar dari sikap suka menunda-nunda.Semoga Allah-subhanahu wa ta’ala- meridhai kita dan menghapus dosa-dosa kita.===  Doa ===Penerjemah : Usman Hatim & Firanda Andirjafiranda.com 
Khotbah Jumat, Masjid Nabawi, 8  Rajab 1437 HOleh : Syekh Shalah Al-BudairKhotbah PertamaKaum muslimin sekalian! Siapa yang dikuasai keserakahan, akan segera mendapat kemurkaan. Siapa yang pandangan matanya tertuju kepada sesuatu yang bukan miliknya, akan mempercepat tertimpa kekecewaan, dan terus menerus dirundung kesedihan.            Memakan harta orang lain secara tidak sah telah menjadi kendaraan kaum murahan dan tunggangan golongan manusia rendahan. Sementara itu, akhirat merupakan sesuatu yang lebih dicintai oleh kaum beriman dibanding apapun benda koleksi unik, lebih berharga dari pada nilai sesuatu yang dapat tergantikan, dan lebih hebat dari pada karya seni indah nan antik.            Siapa yang telah kehilangan kepercayaan, terungkap pengkhianatannya,  buruk isi hatinya, tampak jelas dan terbongkar tipu dayanya, terpampang kemunafikan dan akal bulusnya, pastilah akan mudah melanggar (etika) pembagian, mengkhianati mitra kerjanya, mengambil jatah dirinya dan masih rakus terhadap jatah orang lain. Tidak akan dia biarkan mitranya mendapatkan bagian walau hanya seujung jari, tidak juga sejengkal, dan ia tidak akan memberikan bagi mitranya tempat duduk, tempat naik, tempat bernaung, tempat untuk berjalan, kesempatan, terlebih lagi harta.            Jika urusannya didiskusikan, iapun dendam. Jika diaudit maka iapun kabur. Jika dicari maka menghilang, sehingga tak seorangpun meilhatnya. Semua urusannya adalah yang penting menguntungkannya, selalu menjengkelkan, penipuan dan siasat pengelabuan.وَإِنَّ كَثِيرٗا مِّنَ ٱلۡخُلَطَآءِ لَيَبۡغِي بَعۡضُهُمۡ عَلَىٰ بَعۡضٍ إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ وَقَلِيلٞ مَّا هُمۡۗ [ ص / 24]“Dan sesungguhnya kebanyakan dari orang-orang yang berserikat itu – yakni di antara para rekan, sahabat karib dan mitra kerja sama- sebagian mereka (memang) berbuat semena-mena terhadap sebagian yang lain, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh; (namun sayangnya) amat sedikit mereka ini.” Qs Shad : 24Seburuk-buruk tipe manusia adalah orang yang jika hatinya rakus, langsung mencuri. Jika sudah kenyang, berbuat dosa. Jika kurang puas, terus menggerogoti. Jika telah merasa tercukupi, bertindak tidak senonoh.Termasuk kesemena-menaan yang terlampau jauh adalah memakan harta warisan milik ahli waris lainnya. Allah –subhanahu wa ta’ala- berfirman :وَتَأۡكُلُونَ ٱلتُّرَاثَ أَكۡلٗا لَّمّٗا [ الفجر/19]“Dan kalian memakan harta warisan dengan cara mencampur adukkan (yang halal dan yang haram).” Qs Al-Fajr : 19Kata “At-Turats” di sini adalah harta warisan, sedangkan “Al-Lammu” adalah upaya pengumpulan harta warisan dengan melakukan pelanggaran, sehingga orang itu selain memakan bagiannya sendiri, juga bagian warisan milik orang lain. Padahal sistem pembagian harta peninggalan itu telah diatur dalam syariat Islam sebagai putusan hukum yang adil.Maka barangsiapa yang mengicu (mengakali) untuk menganulir (menggugurkan) putusan dan ketentuan yang ada, dengan mengubah bagian dan jatah (masing-masing ahli waris), melakukan keculasan dan kecurangan dalam pembagiannya, menghalangi salah seorang ahli waris dari haknya, menahan harta peninggalan, menyembunyikan aset-aset dan barang-barang peninggalan, lalu menyembunyikan berkas-berkas bukti harta warisan, berikut memonopoli pengelolaan dan pemanfaatannya untuk dirinya dengan memaksa ahli waris (yang berhak) untuk melepaskan bagiannya dan merasa puas dengan sebagian jatahnya, sungguh dia telah melanggar syariat Allah, ketetapan-ketetapan pembagian-Nya dan aturan-aturan hukum-Nya.Pada akhir ayat tentang harta warisan dalam Surah An-Nisa’ Allah berfirman :تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ يُدْخِلْهُ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ  وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَتَعَدَّ حُدُودَهُ يُدْخِلْهُ نَارًا خَالِدًا فِيهَا وَلَهُ عَذَابٌ مُهِينٌ [ النساء / 13-14]“Itulah ketentuan-ketentuan hukum Allah ( artinya ketentuan dan ukuran pembagian tersebut adalah keputusan dari Allah). Barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya,(artinya tidak menambah jatah warisan sebagian ahli waris dan tidak pula mengurangi jatah sebagian yang lain, dengan cara mengakali atau cara apapun, namun membiarkan masing-masing menerapkan hukum Allah dalam ketentuan pembagian warisan tersebut),niscaya Allah memasukkannya kedalam surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah keberuntungan yang besar. Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya serta melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, (artinya menentang Allah dalam ketentuan pembagian harta warisan tersebut), niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya; dan baginya siksa yang menghinakan.” Qs An-Nisa’ :13-14            Pengkhianat zalim yang kelewat batas selalu bersikap siaga untuk memangsa hak wanita dan anak yatim, meskipun Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- sang rasul pembawa petunjuk dalam doanya telah mewanti-wanti :اللَّهُمَّ إِنِّي أُحَرِّجُ حَقَّ الضَّعِيفَيْنِ الْيَتِيمِ وَالْمَرْأَةِ [ أخرجه ابن ماجه من حديث إبى هريرة ]“Ya Allah sesungguhnya aku akan menjadi penghalang ( bagi siapapun yang mencurangi ) hak dua golongan yang lemah, yaitu; anak yatim dan wanita.” HR. Ibnu Majah dari hadis Abu Hurairah.Wahai Anda yang mendapatkan harta warisan dengan begitu mudah! Merenunglah sejenak !Wahai Anda yang menguasai harta warisan milik para wanita karena tergoda oleh kondisi mereka yang labil, sikap pendiam dan rasa malu.Wahai Anda yang mendominasi harta warisan milik para wanita lajang dan anak-anak yatim karena tergoda oleh status mereka yang masih di bawah umur, atau ketidak berdayaan mereka dalam kesendirian dan hidup sebatang kara.Sungguh celaka kedua tangan Anda…, sungguh sia-sia usaha Anda…, karena kesengsaraan  akan terus menghantui Anda…Bagaimana jiwa Anda akan tenang, sementara Anda menganeksasi harta, tanah pemukiman dan lahan garapan.Anda telah menjerumuskan saudara-saudara Anda dan kerabat-kerabat Anda ke dalam kemiskinan dan keterlantaran…Mana mungkin jiwa Anda bisa tenang, sementara Anda raup sendiri keuntungan tanah, hasil buah-buahan, upah, dan hak milik bangunan… lantas Anda membalas saudara-saudara Anda dan kerabat Anda dengan sikap acuh tak acuh, pengabaian, pelecehan dan penistaan. ?Siapakah yang melegalkan Anda untuk melakukan ini semua dengan leluasa ?, melakukan dan membatalkan transaksi, mengesahkan dan menerbitkan surat-sertifikat…? Siapakah yang menyuruh Anda menahan atau melepas harta warisan?, melarang dan menggunakan sesukanya?Celakalah dan terkutuklah Anda… Anda bukanlah siapa-siapa melainkan salah satu di antara mereka yang punya andil memiliki harta warisan itu. Anda mempunyai hak dan kewajiban sama seperti mereka. Maka takutlah kepada Robb (Tuhan)-mu sebelum engkau tertimpa kehinaan dan kebinasaan. Hadapilah setiap persoalan menurut aturan dan ketentuan yang ada, dengan keseriusan dan ketegasan. Berikanlah hak kepada para pemiliknya dan yang berhak menerimanya. Janganlah malas, jangan menunda, jangan ragu, jangan memperlambat dan jangan bermain-main.Sesungguhnya bencana bisa saja datang, kendala bisa melintang, dan kematian mungkin datang tiba-tiba. Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda :اِقْسِمُوا الْمَالَ بَيْنَ أَهْلِ الْفَرَائِضِ عَلَى كِتَابِ اللهِ، فَمَا تَرَكَتِ الْفَرَائِضُ فَلِأَوْلَى رَجُلٍ ذَكَرٍ“Bagilah harta diantara ashaabul furud (yang berhak mendapat warisan berdasarkan bagian yang telah ditentukan) sesuai dengan kitabullah, dan jika masih tersisa maka berikanlah kepada lelaki yang paling dekat kekerabatannya Khotbah KeduaWahai Anda yang memonopoli harta wakaf beserta hasilnya.  Wahai Anda yang mengelola pembagian harta sedekah, harta zakat, harta warisan, dan harta-harta yang lain!Wahai Anda yang selama berbulan-bulan dan bertahun-tahun membiarkan harta tersebut tersimpan dalam lumbungnya, dalam genggaman dan tanggun jawabnya! Mengapakah Anda menahan harta itu dan membiarkannya tidak bergerak di tangan Anda?Distribusikanlah harta-harta tersebut hari ini langsung kepada pihak yang berhak menerimanya jika memang Anda termasuk orang-orang yang takut kepada Allah dan bertakwa kepadaNya. Jadikanlah sunnah sebagai landasan dan pedoman bagi Anda.Dari ‘Uqbah bin al-Haarits -radhiallahu ‘anhu- berkata,صَلَّيْتُ وَرَاءَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْمَدِينَةِ الْعَصْرَ فَسَلَّمَ ثُمَّ قَامَ مُسْرِعًا فَتَخَطَّى رِقَابَ النَّاسِ إِلَى بَعْضِ حُجَرِ نِسَائِهِ فَفَزِعَ النَّاسُ مِنْ سُرْعَتِهِ فَخَرَجَ عَلَيْهِمْ فَرَأَى أَنَّهُمْ عَجِبُوا مِنْ سُرْعَتِهِ فَقَالَ ذَكَرْتُ شَيْئًا مِنْ تِبْرٍ عِنْدَنَا فَكَرِهْتُ أَنْ يَحْبِسَنِي فَأَمَرْتُ بِقِسْمَتِهِ“Aku sholat ashar di belakang Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- di Madinah, lalu Nabi salam kemudian berdiri untuk segera pergi hingga melompati punggung orang banyak. Beliau menuju ke sebuah rumah milik salah seorang istri beliau. Orang-orang pun terkejut melihat sikap beliau yang terburu-buru itu.  Maka Nabi pun keluar menemui mereka dan memang beliau melihat keheranan pada mereka karena ketergesaan beliau itu, lalu beliau berkata, “Aku mengingat sepotong emas dari harta sedekah yang ada pada kami, aku tidak ingin emas tersebut mengahalangi aku ( untuk mengingat Allah). Itulah sebabnya, aku memerintahkan untuk segera dibagikan.” (HR Al-Bukhari)Dari ‘Aisyah – radhiallahu ‘anhaa – berkata :اشْتَدَّ وَجَعُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعِنْدَهُ سَبْعَةُ دَنَانِيرَ أَوْ تِسْعَةٌ، فقَالَ: «يَا عَائِشَةُ مَا فَعَلَتْ تِلْكَ الذَّهَبُ»؟ فَقُلْتُ: هِيَ عِنْدِي، قَالَ: «تَصَدَّقِي بِهَا»، قَالَتْ: فَشُغِلْتُ بِهِ، ثُمَّ، قَالَ: «يَا عَائِشَةُ مَا فَعَلَتْ تِلْكَ الذَّهَبُ»؟ فَقُلْتُ: هِيَ عِنْدِي، فقَالَ: «ائْتِنِي بِهَا»، قَالَتْ: فَجِئْتُ بِهَا، فَوَضَعَهَا فِي كَفِّهِ، ثُمَّ، قَالَ:  «مَا ظَنُّ مُحَمَّدٍ أَنْ لَوْ لَقِيَ اللَّهَ وَهَذِهِ عِنْدَهُ»“Sakit Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- semakin keras, sementara di sisi beliau ada tujuh atau sembilan keping dinar, maka beliau berkata, “Wahai ‘Aisyah, bagaimana dengan kepingan-kepingan emas (dinar) tersebut?”. Aku berkata, “Masih ada padaku”. Beliau berkata, “Sedekahkanlah !”. Aisyah berkata, “Akupun tersibukan (sehingga tidak sempat menyedekahkannya)”. Maka kemudian beliau bertanya lagi, “Wahai ‘Aisyah, bagaimana dengan kepingan-kepingan emas tersebut?”, Aku berkata, “Masih ada padaku”. Beliau berkata, “Berikanlah kepadaku emas tersebut”. Aisyah berkata, “Maka akupun membawa emas tersebut, lalu aku letakkan di telapak tangan beliau, kemudian beliau berkata, “Bagaimana persangkaan Muhammad, kalau seandainya ia bertemu dengan Allah sementara emas ini masih ada padanya?” (HR Ibnu Hibbaan)Dan dari Ummu Salamah -radhiallahu ‘anha- ia berkata,دَخَلَ عَلَيَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ سَاهِمُ الْوَجْهِ، حَسِبْتُ ذَلِكَ مِنْ وَجْعٍ، فَقُلْتُ: مَا لِي أَرَاكَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْكَ، سَاهِمَ الْوَجْهِ، قَالَ:  «مِنْ أَجْلِ الدَّنَانِيرِ السَّبْعَةِ الَّتِي أَتَتْنَا الْأَمْسِ فَلَمْ نَقْسِمْهَا»“Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- menemuiku dalam kondisi berubah raut wajahnya, aku menyangka hal itu karena sakit, maka aku berkata, “Mengapa aku melihat raut wajahmu berubah?”, beliau berkata, “Karena tujuh kepingan dinar yang datang kepada kita kemarin, dan belum kita bagikan” (HR Ibnu Hibban)Camkan, hanya gara-gara tujuh keping dinar saja yang belum terbagikan setelah berlalu sehari, begitu membuat raut wajah Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- berubah !!.Maka bertakwalah kepada Allah wahai kaum muslimin, dan lakukanlah apa yang dapat mempercepat Anda terbebas dari tanggung jawab, dan terhindar dari sikap suka menunda-nunda.Semoga Allah-subhanahu wa ta’ala- meridhai kita dan menghapus dosa-dosa kita.===  Doa ===Penerjemah : Usman Hatim & Firanda Andirjafiranda.com 


Khotbah Jumat, Masjid Nabawi, 8  Rajab 1437 HOleh : Syekh Shalah Al-BudairKhotbah PertamaKaum muslimin sekalian! Siapa yang dikuasai keserakahan, akan segera mendapat kemurkaan. Siapa yang pandangan matanya tertuju kepada sesuatu yang bukan miliknya, akan mempercepat tertimpa kekecewaan, dan terus menerus dirundung kesedihan.            Memakan harta orang lain secara tidak sah telah menjadi kendaraan kaum murahan dan tunggangan golongan manusia rendahan. Sementara itu, akhirat merupakan sesuatu yang lebih dicintai oleh kaum beriman dibanding apapun benda koleksi unik, lebih berharga dari pada nilai sesuatu yang dapat tergantikan, dan lebih hebat dari pada karya seni indah nan antik.            Siapa yang telah kehilangan kepercayaan, terungkap pengkhianatannya,  buruk isi hatinya, tampak jelas dan terbongkar tipu dayanya, terpampang kemunafikan dan akal bulusnya, pastilah akan mudah melanggar (etika) pembagian, mengkhianati mitra kerjanya, mengambil jatah dirinya dan masih rakus terhadap jatah orang lain. Tidak akan dia biarkan mitranya mendapatkan bagian walau hanya seujung jari, tidak juga sejengkal, dan ia tidak akan memberikan bagi mitranya tempat duduk, tempat naik, tempat bernaung, tempat untuk berjalan, kesempatan, terlebih lagi harta.            Jika urusannya didiskusikan, iapun dendam. Jika diaudit maka iapun kabur. Jika dicari maka menghilang, sehingga tak seorangpun meilhatnya. Semua urusannya adalah yang penting menguntungkannya, selalu menjengkelkan, penipuan dan siasat pengelabuan.وَإِنَّ كَثِيرٗا مِّنَ ٱلۡخُلَطَآءِ لَيَبۡغِي بَعۡضُهُمۡ عَلَىٰ بَعۡضٍ إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ وَقَلِيلٞ مَّا هُمۡۗ [ ص / 24]“Dan sesungguhnya kebanyakan dari orang-orang yang berserikat itu – yakni di antara para rekan, sahabat karib dan mitra kerja sama- sebagian mereka (memang) berbuat semena-mena terhadap sebagian yang lain, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh; (namun sayangnya) amat sedikit mereka ini.” Qs Shad : 24Seburuk-buruk tipe manusia adalah orang yang jika hatinya rakus, langsung mencuri. Jika sudah kenyang, berbuat dosa. Jika kurang puas, terus menggerogoti. Jika telah merasa tercukupi, bertindak tidak senonoh.Termasuk kesemena-menaan yang terlampau jauh adalah memakan harta warisan milik ahli waris lainnya. Allah –subhanahu wa ta’ala- berfirman :وَتَأۡكُلُونَ ٱلتُّرَاثَ أَكۡلٗا لَّمّٗا [ الفجر/19]“Dan kalian memakan harta warisan dengan cara mencampur adukkan (yang halal dan yang haram).” Qs Al-Fajr : 19Kata “At-Turats” di sini adalah harta warisan, sedangkan “Al-Lammu” adalah upaya pengumpulan harta warisan dengan melakukan pelanggaran, sehingga orang itu selain memakan bagiannya sendiri, juga bagian warisan milik orang lain. Padahal sistem pembagian harta peninggalan itu telah diatur dalam syariat Islam sebagai putusan hukum yang adil.Maka barangsiapa yang mengicu (mengakali) untuk menganulir (menggugurkan) putusan dan ketentuan yang ada, dengan mengubah bagian dan jatah (masing-masing ahli waris), melakukan keculasan dan kecurangan dalam pembagiannya, menghalangi salah seorang ahli waris dari haknya, menahan harta peninggalan, menyembunyikan aset-aset dan barang-barang peninggalan, lalu menyembunyikan berkas-berkas bukti harta warisan, berikut memonopoli pengelolaan dan pemanfaatannya untuk dirinya dengan memaksa ahli waris (yang berhak) untuk melepaskan bagiannya dan merasa puas dengan sebagian jatahnya, sungguh dia telah melanggar syariat Allah, ketetapan-ketetapan pembagian-Nya dan aturan-aturan hukum-Nya.Pada akhir ayat tentang harta warisan dalam Surah An-Nisa’ Allah berfirman :تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ يُدْخِلْهُ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ  وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَتَعَدَّ حُدُودَهُ يُدْخِلْهُ نَارًا خَالِدًا فِيهَا وَلَهُ عَذَابٌ مُهِينٌ [ النساء / 13-14]“Itulah ketentuan-ketentuan hukum Allah ( artinya ketentuan dan ukuran pembagian tersebut adalah keputusan dari Allah). Barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya,(artinya tidak menambah jatah warisan sebagian ahli waris dan tidak pula mengurangi jatah sebagian yang lain, dengan cara mengakali atau cara apapun, namun membiarkan masing-masing menerapkan hukum Allah dalam ketentuan pembagian warisan tersebut),niscaya Allah memasukkannya kedalam surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah keberuntungan yang besar. Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya serta melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, (artinya menentang Allah dalam ketentuan pembagian harta warisan tersebut), niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya; dan baginya siksa yang menghinakan.” Qs An-Nisa’ :13-14            Pengkhianat zalim yang kelewat batas selalu bersikap siaga untuk memangsa hak wanita dan anak yatim, meskipun Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- sang rasul pembawa petunjuk dalam doanya telah mewanti-wanti :اللَّهُمَّ إِنِّي أُحَرِّجُ حَقَّ الضَّعِيفَيْنِ الْيَتِيمِ وَالْمَرْأَةِ [ أخرجه ابن ماجه من حديث إبى هريرة ]“Ya Allah sesungguhnya aku akan menjadi penghalang ( bagi siapapun yang mencurangi ) hak dua golongan yang lemah, yaitu; anak yatim dan wanita.” HR. Ibnu Majah dari hadis Abu Hurairah.Wahai Anda yang mendapatkan harta warisan dengan begitu mudah! Merenunglah sejenak !Wahai Anda yang menguasai harta warisan milik para wanita karena tergoda oleh kondisi mereka yang labil, sikap pendiam dan rasa malu.Wahai Anda yang mendominasi harta warisan milik para wanita lajang dan anak-anak yatim karena tergoda oleh status mereka yang masih di bawah umur, atau ketidak berdayaan mereka dalam kesendirian dan hidup sebatang kara.Sungguh celaka kedua tangan Anda…, sungguh sia-sia usaha Anda…, karena kesengsaraan  akan terus menghantui Anda…Bagaimana jiwa Anda akan tenang, sementara Anda menganeksasi harta, tanah pemukiman dan lahan garapan.Anda telah menjerumuskan saudara-saudara Anda dan kerabat-kerabat Anda ke dalam kemiskinan dan keterlantaran…Mana mungkin jiwa Anda bisa tenang, sementara Anda raup sendiri keuntungan tanah, hasil buah-buahan, upah, dan hak milik bangunan… lantas Anda membalas saudara-saudara Anda dan kerabat Anda dengan sikap acuh tak acuh, pengabaian, pelecehan dan penistaan. ?Siapakah yang melegalkan Anda untuk melakukan ini semua dengan leluasa ?, melakukan dan membatalkan transaksi, mengesahkan dan menerbitkan surat-sertifikat…? Siapakah yang menyuruh Anda menahan atau melepas harta warisan?, melarang dan menggunakan sesukanya?Celakalah dan terkutuklah Anda… Anda bukanlah siapa-siapa melainkan salah satu di antara mereka yang punya andil memiliki harta warisan itu. Anda mempunyai hak dan kewajiban sama seperti mereka. Maka takutlah kepada Robb (Tuhan)-mu sebelum engkau tertimpa kehinaan dan kebinasaan. Hadapilah setiap persoalan menurut aturan dan ketentuan yang ada, dengan keseriusan dan ketegasan. Berikanlah hak kepada para pemiliknya dan yang berhak menerimanya. Janganlah malas, jangan menunda, jangan ragu, jangan memperlambat dan jangan bermain-main.Sesungguhnya bencana bisa saja datang, kendala bisa melintang, dan kematian mungkin datang tiba-tiba. Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda :اِقْسِمُوا الْمَالَ بَيْنَ أَهْلِ الْفَرَائِضِ عَلَى كِتَابِ اللهِ، فَمَا تَرَكَتِ الْفَرَائِضُ فَلِأَوْلَى رَجُلٍ ذَكَرٍ“Bagilah harta diantara ashaabul furud (yang berhak mendapat warisan berdasarkan bagian yang telah ditentukan) sesuai dengan kitabullah, dan jika masih tersisa maka berikanlah kepada lelaki yang paling dekat kekerabatannya Khotbah KeduaWahai Anda yang memonopoli harta wakaf beserta hasilnya.  Wahai Anda yang mengelola pembagian harta sedekah, harta zakat, harta warisan, dan harta-harta yang lain!Wahai Anda yang selama berbulan-bulan dan bertahun-tahun membiarkan harta tersebut tersimpan dalam lumbungnya, dalam genggaman dan tanggun jawabnya! Mengapakah Anda menahan harta itu dan membiarkannya tidak bergerak di tangan Anda?Distribusikanlah harta-harta tersebut hari ini langsung kepada pihak yang berhak menerimanya jika memang Anda termasuk orang-orang yang takut kepada Allah dan bertakwa kepadaNya. Jadikanlah sunnah sebagai landasan dan pedoman bagi Anda.Dari ‘Uqbah bin al-Haarits -radhiallahu ‘anhu- berkata,صَلَّيْتُ وَرَاءَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْمَدِينَةِ الْعَصْرَ فَسَلَّمَ ثُمَّ قَامَ مُسْرِعًا فَتَخَطَّى رِقَابَ النَّاسِ إِلَى بَعْضِ حُجَرِ نِسَائِهِ فَفَزِعَ النَّاسُ مِنْ سُرْعَتِهِ فَخَرَجَ عَلَيْهِمْ فَرَأَى أَنَّهُمْ عَجِبُوا مِنْ سُرْعَتِهِ فَقَالَ ذَكَرْتُ شَيْئًا مِنْ تِبْرٍ عِنْدَنَا فَكَرِهْتُ أَنْ يَحْبِسَنِي فَأَمَرْتُ بِقِسْمَتِهِ“Aku sholat ashar di belakang Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- di Madinah, lalu Nabi salam kemudian berdiri untuk segera pergi hingga melompati punggung orang banyak. Beliau menuju ke sebuah rumah milik salah seorang istri beliau. Orang-orang pun terkejut melihat sikap beliau yang terburu-buru itu.  Maka Nabi pun keluar menemui mereka dan memang beliau melihat keheranan pada mereka karena ketergesaan beliau itu, lalu beliau berkata, “Aku mengingat sepotong emas dari harta sedekah yang ada pada kami, aku tidak ingin emas tersebut mengahalangi aku ( untuk mengingat Allah). Itulah sebabnya, aku memerintahkan untuk segera dibagikan.” (HR Al-Bukhari)Dari ‘Aisyah – radhiallahu ‘anhaa – berkata :اشْتَدَّ وَجَعُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعِنْدَهُ سَبْعَةُ دَنَانِيرَ أَوْ تِسْعَةٌ، فقَالَ: «يَا عَائِشَةُ مَا فَعَلَتْ تِلْكَ الذَّهَبُ»؟ فَقُلْتُ: هِيَ عِنْدِي، قَالَ: «تَصَدَّقِي بِهَا»، قَالَتْ: فَشُغِلْتُ بِهِ، ثُمَّ، قَالَ: «يَا عَائِشَةُ مَا فَعَلَتْ تِلْكَ الذَّهَبُ»؟ فَقُلْتُ: هِيَ عِنْدِي، فقَالَ: «ائْتِنِي بِهَا»، قَالَتْ: فَجِئْتُ بِهَا، فَوَضَعَهَا فِي كَفِّهِ، ثُمَّ، قَالَ:  «مَا ظَنُّ مُحَمَّدٍ أَنْ لَوْ لَقِيَ اللَّهَ وَهَذِهِ عِنْدَهُ»“Sakit Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- semakin keras, sementara di sisi beliau ada tujuh atau sembilan keping dinar, maka beliau berkata, “Wahai ‘Aisyah, bagaimana dengan kepingan-kepingan emas (dinar) tersebut?”. Aku berkata, “Masih ada padaku”. Beliau berkata, “Sedekahkanlah !”. Aisyah berkata, “Akupun tersibukan (sehingga tidak sempat menyedekahkannya)”. Maka kemudian beliau bertanya lagi, “Wahai ‘Aisyah, bagaimana dengan kepingan-kepingan emas tersebut?”, Aku berkata, “Masih ada padaku”. Beliau berkata, “Berikanlah kepadaku emas tersebut”. Aisyah berkata, “Maka akupun membawa emas tersebut, lalu aku letakkan di telapak tangan beliau, kemudian beliau berkata, “Bagaimana persangkaan Muhammad, kalau seandainya ia bertemu dengan Allah sementara emas ini masih ada padanya?” (HR Ibnu Hibbaan)Dan dari Ummu Salamah -radhiallahu ‘anha- ia berkata,دَخَلَ عَلَيَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ سَاهِمُ الْوَجْهِ، حَسِبْتُ ذَلِكَ مِنْ وَجْعٍ، فَقُلْتُ: مَا لِي أَرَاكَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْكَ، سَاهِمَ الْوَجْهِ، قَالَ:  «مِنْ أَجْلِ الدَّنَانِيرِ السَّبْعَةِ الَّتِي أَتَتْنَا الْأَمْسِ فَلَمْ نَقْسِمْهَا»“Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- menemuiku dalam kondisi berubah raut wajahnya, aku menyangka hal itu karena sakit, maka aku berkata, “Mengapa aku melihat raut wajahmu berubah?”, beliau berkata, “Karena tujuh kepingan dinar yang datang kepada kita kemarin, dan belum kita bagikan” (HR Ibnu Hibban)Camkan, hanya gara-gara tujuh keping dinar saja yang belum terbagikan setelah berlalu sehari, begitu membuat raut wajah Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- berubah !!.Maka bertakwalah kepada Allah wahai kaum muslimin, dan lakukanlah apa yang dapat mempercepat Anda terbebas dari tanggung jawab, dan terhindar dari sikap suka menunda-nunda.Semoga Allah-subhanahu wa ta’ala- meridhai kita dan menghapus dosa-dosa kita.===  Doa ===Penerjemah : Usman Hatim & Firanda Andirjafiranda.com 

Meminta Traktir Teman, Apa Sama dengan Mengemis?

Apakah meminta traktir teman sama dengan mengemis yang tercela?   Meminta-minta dan Mengemis itu Terlarang Dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَسْأَلُ النَّاسَ حَتَّى يَأْتِىَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَيْسَ فِى وَجْهِهِ مُزْعَةُ لَحْمٍ “Jika seseorang meminta-minta (mengemis) pada manusia, ia akan datang pada hari kiamat tanpa memiliki sekerat daging di wajahnya.” (HR. Bukhari, no. 1474; Muslim, no. 1040) Dari Hubsyi bin Junadah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ سَأَلَ مِنْ غَيْرِ فَقْرٍ فَكَأَنَّمَا يَأْكُلُ الْجَمْرَ “Barangsiapa meminta-minta padahal dirinya tidaklah fakir, maka ia seakan-akan memakan bara api.” (HR. Ahmad 4: 165. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth berkata bahwa hadits ini shahih dilihat dari jalur lain) Dari Samuroh bin Jundub, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الْمَسْأَلَةُ كَدٌّ يَكُدُّ بِهَا الرَّجُلُ وَجْهَهُ إِلَّا أَنْ يَسْأَلَ الرَّجُلُ سُلْطَانًا أَوْ فِي أَمْرٍ لَا بُدَّ مِنْهُ “Meminta-minta adalah seperti seseorang mencakar wajahnya sendiri kecuali jika ia meminta-minta pada penguasa atau pada perkara yang benar-benar ia butuh.” (HR. An-Nasa’i, no. 2600; Tirmidzi, no. 681; Ahmad, 5: 19. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih) Hanya tiga orang yang diperkenankan boleh meminta-minta sebagaimana disebutkan dalam hadits Qobishoh, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, يَا قَبِيصَةُ إِنَّ الْمَسْأَلَةَ لاَ تَحِلُّ إِلاَّ لأَحَدِ ثَلاَثَةٍ رَجُلٍ تَحَمَّلَ حَمَالَةً فَحَلَّتْ لَهُ الْمَسْأَلَةُ حَتَّى يُصِيبَهَا ثُمَّ يُمْسِكُ وَرَجُلٍ أَصَابَتْهُ جَائِحَةٌ اجْتَاحَتْ مَالَهُ فَحَلَّتْ لَهُ الْمَسْأَلَةُ حَتَّى يُصِيبَ قِوَامًا مِنْ عَيْشٍ – أَوْ قَالَ سِدَادًا مِنْ عَيْشٍ – وَرَجُلٍ أَصَابَتْهُ فَاقَةٌ حَتَّى يَقُومَ ثَلاَثَةٌ مِنْ ذَوِى الْحِجَا مِنْ قَوْمِهِ لَقَدْ أَصَابَتْ فُلاَنًا فَاقَةٌ فَحَلَّتْ لَهُ الْمَسْأَلَةُ حَتَّى يُصِيبَ قِوَامًا مِنْ عَيْشٍ – أَوْ قَالَ سِدَادًا مِنْ عَيْشٍ – فَمَا سِوَاهُنَّ مِنَ الْمَسْأَلَةِ يَا قَبِيصَةُ سُحْتًا يَأْكُلُهَا صَاحِبُهَا سُحْتًا “Wahai Qobishoh, sesungguhnya meminta-minta itu tidak halal kecuali untuk tiga orang: (1) seseorang yang menanggung utang orang lain, ia boleh meminta-minta sampai ia melunasinya, (2) seseorang yang ditimpa musibah yang menghabiskan hartanya, ia boleh meminta-minta sampai ia mendapatkan sandaran hidup, dan (3) seseorang yang ditimpa kesengsaraan hidup sehingga ada tiga orang yang berakal dari kaumnya berkata, ‘Si fulan benar-benar telah tertimpa kesengsaraan’, maka boleh baginya meminta-minta sampai mendapatkan sandaran hidup. Meminta-minta selain ketiga hal itu, wahai Qobishoh adalah haram dan orang yang memakannya berarti memakan harta yang haram.” (HR. Muslim no. 1044)   Abu Hamid Al-Ghazali menyatakan dalam Ihya’ Al-‘Ulumuddin, “Meminta-minta itu haram, pada asalnya. Meminta-minta dibolehkan jika dalam keadaan darurat atau ada kebutuhan penting yang hampir darurat. Namun kalau tidak darurat atau tidak penting seperti itu, maka tetap haram.”   Disebut Meminta-minta yang Tercela Al-Munawi dalam Faidh Al-Qadir berkata, “Jika seseorang itu butuh, namun ia belum mampu bekerja dengan pekerjaan yang layak, maka dibolehkan dengan syarat ia tidak menghinakan dirinya, tidak meminta dengan terus mendesak, tidak pula menyakiti yang diminta. Jika syarat-syarat tadi tidak terpenuhi, maka haram menurut kesepakatan para ulama.” (Fatwa IslamWeb) Kalau kita perhatikan apa yang disampaikan oleh Al-Munawi disebutkan mengemis atau meminta-minta yang tercela jika terpenuhi syarat: Bukan dalam keadaan butuh. Belum mampu bekerja. Meminta dengan menghinakan diri. Meminta dengan terus mendesak. Menyakiti orang yang diminta.   Kesimpulan Hukum meminta traktir: Untuk memulai meminta: SEBAIKNYA JANGAN. Jika diberi: JANGAN DITOLAK.   Ingatlah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, فَإِنَّ الْيَدَ الْعُلْيَا أَفْضَلُ مِنَ الْيَدِ السُّفْلَى “Sesungguhnya tangan yang di atas itu lebih utama dibanding tangan yang di bawah.” (HR. Bukhari, no. 5355 dan Muslim, no. 1042) Wallahu waliyyut taufiq. — Referensi: Fatwa Islam Web, no. 150749   Diselesaikan menjelang Shubuh di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 5 Rajab 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsfikih meminta hukum minta salam tempel hukum minta thr hukum minta traktir hukum salam tempel hukum thr hukum thr anak kaya dan miskin meminta upah mengemis miskin

Meminta Traktir Teman, Apa Sama dengan Mengemis?

Apakah meminta traktir teman sama dengan mengemis yang tercela?   Meminta-minta dan Mengemis itu Terlarang Dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَسْأَلُ النَّاسَ حَتَّى يَأْتِىَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَيْسَ فِى وَجْهِهِ مُزْعَةُ لَحْمٍ “Jika seseorang meminta-minta (mengemis) pada manusia, ia akan datang pada hari kiamat tanpa memiliki sekerat daging di wajahnya.” (HR. Bukhari, no. 1474; Muslim, no. 1040) Dari Hubsyi bin Junadah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ سَأَلَ مِنْ غَيْرِ فَقْرٍ فَكَأَنَّمَا يَأْكُلُ الْجَمْرَ “Barangsiapa meminta-minta padahal dirinya tidaklah fakir, maka ia seakan-akan memakan bara api.” (HR. Ahmad 4: 165. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth berkata bahwa hadits ini shahih dilihat dari jalur lain) Dari Samuroh bin Jundub, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الْمَسْأَلَةُ كَدٌّ يَكُدُّ بِهَا الرَّجُلُ وَجْهَهُ إِلَّا أَنْ يَسْأَلَ الرَّجُلُ سُلْطَانًا أَوْ فِي أَمْرٍ لَا بُدَّ مِنْهُ “Meminta-minta adalah seperti seseorang mencakar wajahnya sendiri kecuali jika ia meminta-minta pada penguasa atau pada perkara yang benar-benar ia butuh.” (HR. An-Nasa’i, no. 2600; Tirmidzi, no. 681; Ahmad, 5: 19. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih) Hanya tiga orang yang diperkenankan boleh meminta-minta sebagaimana disebutkan dalam hadits Qobishoh, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, يَا قَبِيصَةُ إِنَّ الْمَسْأَلَةَ لاَ تَحِلُّ إِلاَّ لأَحَدِ ثَلاَثَةٍ رَجُلٍ تَحَمَّلَ حَمَالَةً فَحَلَّتْ لَهُ الْمَسْأَلَةُ حَتَّى يُصِيبَهَا ثُمَّ يُمْسِكُ وَرَجُلٍ أَصَابَتْهُ جَائِحَةٌ اجْتَاحَتْ مَالَهُ فَحَلَّتْ لَهُ الْمَسْأَلَةُ حَتَّى يُصِيبَ قِوَامًا مِنْ عَيْشٍ – أَوْ قَالَ سِدَادًا مِنْ عَيْشٍ – وَرَجُلٍ أَصَابَتْهُ فَاقَةٌ حَتَّى يَقُومَ ثَلاَثَةٌ مِنْ ذَوِى الْحِجَا مِنْ قَوْمِهِ لَقَدْ أَصَابَتْ فُلاَنًا فَاقَةٌ فَحَلَّتْ لَهُ الْمَسْأَلَةُ حَتَّى يُصِيبَ قِوَامًا مِنْ عَيْشٍ – أَوْ قَالَ سِدَادًا مِنْ عَيْشٍ – فَمَا سِوَاهُنَّ مِنَ الْمَسْأَلَةِ يَا قَبِيصَةُ سُحْتًا يَأْكُلُهَا صَاحِبُهَا سُحْتًا “Wahai Qobishoh, sesungguhnya meminta-minta itu tidak halal kecuali untuk tiga orang: (1) seseorang yang menanggung utang orang lain, ia boleh meminta-minta sampai ia melunasinya, (2) seseorang yang ditimpa musibah yang menghabiskan hartanya, ia boleh meminta-minta sampai ia mendapatkan sandaran hidup, dan (3) seseorang yang ditimpa kesengsaraan hidup sehingga ada tiga orang yang berakal dari kaumnya berkata, ‘Si fulan benar-benar telah tertimpa kesengsaraan’, maka boleh baginya meminta-minta sampai mendapatkan sandaran hidup. Meminta-minta selain ketiga hal itu, wahai Qobishoh adalah haram dan orang yang memakannya berarti memakan harta yang haram.” (HR. Muslim no. 1044)   Abu Hamid Al-Ghazali menyatakan dalam Ihya’ Al-‘Ulumuddin, “Meminta-minta itu haram, pada asalnya. Meminta-minta dibolehkan jika dalam keadaan darurat atau ada kebutuhan penting yang hampir darurat. Namun kalau tidak darurat atau tidak penting seperti itu, maka tetap haram.”   Disebut Meminta-minta yang Tercela Al-Munawi dalam Faidh Al-Qadir berkata, “Jika seseorang itu butuh, namun ia belum mampu bekerja dengan pekerjaan yang layak, maka dibolehkan dengan syarat ia tidak menghinakan dirinya, tidak meminta dengan terus mendesak, tidak pula menyakiti yang diminta. Jika syarat-syarat tadi tidak terpenuhi, maka haram menurut kesepakatan para ulama.” (Fatwa IslamWeb) Kalau kita perhatikan apa yang disampaikan oleh Al-Munawi disebutkan mengemis atau meminta-minta yang tercela jika terpenuhi syarat: Bukan dalam keadaan butuh. Belum mampu bekerja. Meminta dengan menghinakan diri. Meminta dengan terus mendesak. Menyakiti orang yang diminta.   Kesimpulan Hukum meminta traktir: Untuk memulai meminta: SEBAIKNYA JANGAN. Jika diberi: JANGAN DITOLAK.   Ingatlah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, فَإِنَّ الْيَدَ الْعُلْيَا أَفْضَلُ مِنَ الْيَدِ السُّفْلَى “Sesungguhnya tangan yang di atas itu lebih utama dibanding tangan yang di bawah.” (HR. Bukhari, no. 5355 dan Muslim, no. 1042) Wallahu waliyyut taufiq. — Referensi: Fatwa Islam Web, no. 150749   Diselesaikan menjelang Shubuh di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 5 Rajab 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsfikih meminta hukum minta salam tempel hukum minta thr hukum minta traktir hukum salam tempel hukum thr hukum thr anak kaya dan miskin meminta upah mengemis miskin
Apakah meminta traktir teman sama dengan mengemis yang tercela?   Meminta-minta dan Mengemis itu Terlarang Dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَسْأَلُ النَّاسَ حَتَّى يَأْتِىَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَيْسَ فِى وَجْهِهِ مُزْعَةُ لَحْمٍ “Jika seseorang meminta-minta (mengemis) pada manusia, ia akan datang pada hari kiamat tanpa memiliki sekerat daging di wajahnya.” (HR. Bukhari, no. 1474; Muslim, no. 1040) Dari Hubsyi bin Junadah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ سَأَلَ مِنْ غَيْرِ فَقْرٍ فَكَأَنَّمَا يَأْكُلُ الْجَمْرَ “Barangsiapa meminta-minta padahal dirinya tidaklah fakir, maka ia seakan-akan memakan bara api.” (HR. Ahmad 4: 165. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth berkata bahwa hadits ini shahih dilihat dari jalur lain) Dari Samuroh bin Jundub, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الْمَسْأَلَةُ كَدٌّ يَكُدُّ بِهَا الرَّجُلُ وَجْهَهُ إِلَّا أَنْ يَسْأَلَ الرَّجُلُ سُلْطَانًا أَوْ فِي أَمْرٍ لَا بُدَّ مِنْهُ “Meminta-minta adalah seperti seseorang mencakar wajahnya sendiri kecuali jika ia meminta-minta pada penguasa atau pada perkara yang benar-benar ia butuh.” (HR. An-Nasa’i, no. 2600; Tirmidzi, no. 681; Ahmad, 5: 19. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih) Hanya tiga orang yang diperkenankan boleh meminta-minta sebagaimana disebutkan dalam hadits Qobishoh, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, يَا قَبِيصَةُ إِنَّ الْمَسْأَلَةَ لاَ تَحِلُّ إِلاَّ لأَحَدِ ثَلاَثَةٍ رَجُلٍ تَحَمَّلَ حَمَالَةً فَحَلَّتْ لَهُ الْمَسْأَلَةُ حَتَّى يُصِيبَهَا ثُمَّ يُمْسِكُ وَرَجُلٍ أَصَابَتْهُ جَائِحَةٌ اجْتَاحَتْ مَالَهُ فَحَلَّتْ لَهُ الْمَسْأَلَةُ حَتَّى يُصِيبَ قِوَامًا مِنْ عَيْشٍ – أَوْ قَالَ سِدَادًا مِنْ عَيْشٍ – وَرَجُلٍ أَصَابَتْهُ فَاقَةٌ حَتَّى يَقُومَ ثَلاَثَةٌ مِنْ ذَوِى الْحِجَا مِنْ قَوْمِهِ لَقَدْ أَصَابَتْ فُلاَنًا فَاقَةٌ فَحَلَّتْ لَهُ الْمَسْأَلَةُ حَتَّى يُصِيبَ قِوَامًا مِنْ عَيْشٍ – أَوْ قَالَ سِدَادًا مِنْ عَيْشٍ – فَمَا سِوَاهُنَّ مِنَ الْمَسْأَلَةِ يَا قَبِيصَةُ سُحْتًا يَأْكُلُهَا صَاحِبُهَا سُحْتًا “Wahai Qobishoh, sesungguhnya meminta-minta itu tidak halal kecuali untuk tiga orang: (1) seseorang yang menanggung utang orang lain, ia boleh meminta-minta sampai ia melunasinya, (2) seseorang yang ditimpa musibah yang menghabiskan hartanya, ia boleh meminta-minta sampai ia mendapatkan sandaran hidup, dan (3) seseorang yang ditimpa kesengsaraan hidup sehingga ada tiga orang yang berakal dari kaumnya berkata, ‘Si fulan benar-benar telah tertimpa kesengsaraan’, maka boleh baginya meminta-minta sampai mendapatkan sandaran hidup. Meminta-minta selain ketiga hal itu, wahai Qobishoh adalah haram dan orang yang memakannya berarti memakan harta yang haram.” (HR. Muslim no. 1044)   Abu Hamid Al-Ghazali menyatakan dalam Ihya’ Al-‘Ulumuddin, “Meminta-minta itu haram, pada asalnya. Meminta-minta dibolehkan jika dalam keadaan darurat atau ada kebutuhan penting yang hampir darurat. Namun kalau tidak darurat atau tidak penting seperti itu, maka tetap haram.”   Disebut Meminta-minta yang Tercela Al-Munawi dalam Faidh Al-Qadir berkata, “Jika seseorang itu butuh, namun ia belum mampu bekerja dengan pekerjaan yang layak, maka dibolehkan dengan syarat ia tidak menghinakan dirinya, tidak meminta dengan terus mendesak, tidak pula menyakiti yang diminta. Jika syarat-syarat tadi tidak terpenuhi, maka haram menurut kesepakatan para ulama.” (Fatwa IslamWeb) Kalau kita perhatikan apa yang disampaikan oleh Al-Munawi disebutkan mengemis atau meminta-minta yang tercela jika terpenuhi syarat: Bukan dalam keadaan butuh. Belum mampu bekerja. Meminta dengan menghinakan diri. Meminta dengan terus mendesak. Menyakiti orang yang diminta.   Kesimpulan Hukum meminta traktir: Untuk memulai meminta: SEBAIKNYA JANGAN. Jika diberi: JANGAN DITOLAK.   Ingatlah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, فَإِنَّ الْيَدَ الْعُلْيَا أَفْضَلُ مِنَ الْيَدِ السُّفْلَى “Sesungguhnya tangan yang di atas itu lebih utama dibanding tangan yang di bawah.” (HR. Bukhari, no. 5355 dan Muslim, no. 1042) Wallahu waliyyut taufiq. — Referensi: Fatwa Islam Web, no. 150749   Diselesaikan menjelang Shubuh di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 5 Rajab 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsfikih meminta hukum minta salam tempel hukum minta thr hukum minta traktir hukum salam tempel hukum thr hukum thr anak kaya dan miskin meminta upah mengemis miskin


Apakah meminta traktir teman sama dengan mengemis yang tercela?   Meminta-minta dan Mengemis itu Terlarang Dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَسْأَلُ النَّاسَ حَتَّى يَأْتِىَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَيْسَ فِى وَجْهِهِ مُزْعَةُ لَحْمٍ “Jika seseorang meminta-minta (mengemis) pada manusia, ia akan datang pada hari kiamat tanpa memiliki sekerat daging di wajahnya.” (HR. Bukhari, no. 1474; Muslim, no. 1040) Dari Hubsyi bin Junadah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ سَأَلَ مِنْ غَيْرِ فَقْرٍ فَكَأَنَّمَا يَأْكُلُ الْجَمْرَ “Barangsiapa meminta-minta padahal dirinya tidaklah fakir, maka ia seakan-akan memakan bara api.” (HR. Ahmad 4: 165. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth berkata bahwa hadits ini shahih dilihat dari jalur lain) Dari Samuroh bin Jundub, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الْمَسْأَلَةُ كَدٌّ يَكُدُّ بِهَا الرَّجُلُ وَجْهَهُ إِلَّا أَنْ يَسْأَلَ الرَّجُلُ سُلْطَانًا أَوْ فِي أَمْرٍ لَا بُدَّ مِنْهُ “Meminta-minta adalah seperti seseorang mencakar wajahnya sendiri kecuali jika ia meminta-minta pada penguasa atau pada perkara yang benar-benar ia butuh.” (HR. An-Nasa’i, no. 2600; Tirmidzi, no. 681; Ahmad, 5: 19. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih) Hanya tiga orang yang diperkenankan boleh meminta-minta sebagaimana disebutkan dalam hadits Qobishoh, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, يَا قَبِيصَةُ إِنَّ الْمَسْأَلَةَ لاَ تَحِلُّ إِلاَّ لأَحَدِ ثَلاَثَةٍ رَجُلٍ تَحَمَّلَ حَمَالَةً فَحَلَّتْ لَهُ الْمَسْأَلَةُ حَتَّى يُصِيبَهَا ثُمَّ يُمْسِكُ وَرَجُلٍ أَصَابَتْهُ جَائِحَةٌ اجْتَاحَتْ مَالَهُ فَحَلَّتْ لَهُ الْمَسْأَلَةُ حَتَّى يُصِيبَ قِوَامًا مِنْ عَيْشٍ – أَوْ قَالَ سِدَادًا مِنْ عَيْشٍ – وَرَجُلٍ أَصَابَتْهُ فَاقَةٌ حَتَّى يَقُومَ ثَلاَثَةٌ مِنْ ذَوِى الْحِجَا مِنْ قَوْمِهِ لَقَدْ أَصَابَتْ فُلاَنًا فَاقَةٌ فَحَلَّتْ لَهُ الْمَسْأَلَةُ حَتَّى يُصِيبَ قِوَامًا مِنْ عَيْشٍ – أَوْ قَالَ سِدَادًا مِنْ عَيْشٍ – فَمَا سِوَاهُنَّ مِنَ الْمَسْأَلَةِ يَا قَبِيصَةُ سُحْتًا يَأْكُلُهَا صَاحِبُهَا سُحْتًا “Wahai Qobishoh, sesungguhnya meminta-minta itu tidak halal kecuali untuk tiga orang: (1) seseorang yang menanggung utang orang lain, ia boleh meminta-minta sampai ia melunasinya, (2) seseorang yang ditimpa musibah yang menghabiskan hartanya, ia boleh meminta-minta sampai ia mendapatkan sandaran hidup, dan (3) seseorang yang ditimpa kesengsaraan hidup sehingga ada tiga orang yang berakal dari kaumnya berkata, ‘Si fulan benar-benar telah tertimpa kesengsaraan’, maka boleh baginya meminta-minta sampai mendapatkan sandaran hidup. Meminta-minta selain ketiga hal itu, wahai Qobishoh adalah haram dan orang yang memakannya berarti memakan harta yang haram.” (HR. Muslim no. 1044)   Abu Hamid Al-Ghazali menyatakan dalam Ihya’ Al-‘Ulumuddin, “Meminta-minta itu haram, pada asalnya. Meminta-minta dibolehkan jika dalam keadaan darurat atau ada kebutuhan penting yang hampir darurat. Namun kalau tidak darurat atau tidak penting seperti itu, maka tetap haram.”   Disebut Meminta-minta yang Tercela Al-Munawi dalam Faidh Al-Qadir berkata, “Jika seseorang itu butuh, namun ia belum mampu bekerja dengan pekerjaan yang layak, maka dibolehkan dengan syarat ia tidak menghinakan dirinya, tidak meminta dengan terus mendesak, tidak pula menyakiti yang diminta. Jika syarat-syarat tadi tidak terpenuhi, maka haram menurut kesepakatan para ulama.” (Fatwa IslamWeb) Kalau kita perhatikan apa yang disampaikan oleh Al-Munawi disebutkan mengemis atau meminta-minta yang tercela jika terpenuhi syarat: Bukan dalam keadaan butuh. Belum mampu bekerja. Meminta dengan menghinakan diri. Meminta dengan terus mendesak. Menyakiti orang yang diminta.   Kesimpulan Hukum meminta traktir: Untuk memulai meminta: SEBAIKNYA JANGAN. Jika diberi: JANGAN DITOLAK.   Ingatlah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, فَإِنَّ الْيَدَ الْعُلْيَا أَفْضَلُ مِنَ الْيَدِ السُّفْلَى “Sesungguhnya tangan yang di atas itu lebih utama dibanding tangan yang di bawah.” (HR. Bukhari, no. 5355 dan Muslim, no. 1042) Wallahu waliyyut taufiq. — Referensi: Fatwa Islam Web, no. 150749   Diselesaikan menjelang Shubuh di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 5 Rajab 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsfikih meminta hukum minta salam tempel hukum minta thr hukum minta traktir hukum salam tempel hukum thr hukum thr anak kaya dan miskin meminta upah mengemis miskin

Ini Ceritanya, Kenapa Nabi Terus Berdoa Meminta Istiqamah

Ini ceritanya, kenapa sampai Nabi kita –shallallahu ‘alaihi wa sallam– terus berdoa agar diteguhkan hati dalam ketaatan. Ingatlah, kita butuh doa agar bisa istiqamah karena hati kita bisa saja berbolak-balik. Oleh karenanya, do’a yang paling sering Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam panjatkan adalah, يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِينِكَ “Ya muqollibal quluub tsabbit qolbi ‘alaa diinik (Wahai Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu).” Cerita lengkapnya bisa dilihat dalam hadits berikut ini. Syahr bin Hawsyab berkata bahwa ia berkata pada istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Ummu Salamah, يَا أُمَّ الْمُؤْمِنِينَ مَا كَانَ أَكْثَرُ دُعَاءِ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا كَانَ عِنْدَكِ “Wahai Ummul Mukminin, apa do’a yang sering dipanjatkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam jika berada di sisimu?” Ummu Salamah menjawab, كَانَ أَكْثَرُ دُعَائِهِ « يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِينِكَ ». “Yang sering dibaca oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah, ’Ya muqollibal quluub tsabbit qolbii ‘ala diinik (Wahai Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu)’.” Ummu Salamah pernah bertanya pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا لأَكْثَرِ دُعَائِكَ يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِينِكَ “Wahai Rasulullah kenapa engkau lebih sering berdo’a dengan do’a, ’Ya muqollibal quluub tsabbit qolbii ‘ala diinik (Wahai Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu)’. ”   Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya menjawab, يَا أُمَّ سَلَمَةَ إِنَّهُ لَيْسَ آدَمِىٌّ إِلاَّ وَقَلْبُهُ بَيْنَ أُصْبُعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ اللَّهِ فَمَنْ شَاءَ أَقَامَ وَمَنْ شَاءَ أَزَاغَ “Wahai Ummu Salamah, yang namanya hati manusia selalu berada di antara jari-jemari Allah. Siapa saja yang Allah kehendaki, maka Allah akan berikan keteguhan dalam iman. Namun siapa saja yang dikehendaki, Allah pun bisa menyesatkannya.” Setelah itu Mu’adz bin Mu’adz (yang meriwayatkan hadits ini) membacakan ayat, رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami.” (QS. Ali Imran: 8) (HR. Tirmidzi, no. 3522; Ahmad, 6: 315. Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan) Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah untuk terus berada di atas ketaatan. — @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 4 Rajab 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsdoa istiqamah

Ini Ceritanya, Kenapa Nabi Terus Berdoa Meminta Istiqamah

Ini ceritanya, kenapa sampai Nabi kita –shallallahu ‘alaihi wa sallam– terus berdoa agar diteguhkan hati dalam ketaatan. Ingatlah, kita butuh doa agar bisa istiqamah karena hati kita bisa saja berbolak-balik. Oleh karenanya, do’a yang paling sering Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam panjatkan adalah, يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِينِكَ “Ya muqollibal quluub tsabbit qolbi ‘alaa diinik (Wahai Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu).” Cerita lengkapnya bisa dilihat dalam hadits berikut ini. Syahr bin Hawsyab berkata bahwa ia berkata pada istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Ummu Salamah, يَا أُمَّ الْمُؤْمِنِينَ مَا كَانَ أَكْثَرُ دُعَاءِ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا كَانَ عِنْدَكِ “Wahai Ummul Mukminin, apa do’a yang sering dipanjatkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam jika berada di sisimu?” Ummu Salamah menjawab, كَانَ أَكْثَرُ دُعَائِهِ « يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِينِكَ ». “Yang sering dibaca oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah, ’Ya muqollibal quluub tsabbit qolbii ‘ala diinik (Wahai Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu)’.” Ummu Salamah pernah bertanya pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا لأَكْثَرِ دُعَائِكَ يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِينِكَ “Wahai Rasulullah kenapa engkau lebih sering berdo’a dengan do’a, ’Ya muqollibal quluub tsabbit qolbii ‘ala diinik (Wahai Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu)’. ”   Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya menjawab, يَا أُمَّ سَلَمَةَ إِنَّهُ لَيْسَ آدَمِىٌّ إِلاَّ وَقَلْبُهُ بَيْنَ أُصْبُعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ اللَّهِ فَمَنْ شَاءَ أَقَامَ وَمَنْ شَاءَ أَزَاغَ “Wahai Ummu Salamah, yang namanya hati manusia selalu berada di antara jari-jemari Allah. Siapa saja yang Allah kehendaki, maka Allah akan berikan keteguhan dalam iman. Namun siapa saja yang dikehendaki, Allah pun bisa menyesatkannya.” Setelah itu Mu’adz bin Mu’adz (yang meriwayatkan hadits ini) membacakan ayat, رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami.” (QS. Ali Imran: 8) (HR. Tirmidzi, no. 3522; Ahmad, 6: 315. Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan) Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah untuk terus berada di atas ketaatan. — @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 4 Rajab 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsdoa istiqamah
Ini ceritanya, kenapa sampai Nabi kita –shallallahu ‘alaihi wa sallam– terus berdoa agar diteguhkan hati dalam ketaatan. Ingatlah, kita butuh doa agar bisa istiqamah karena hati kita bisa saja berbolak-balik. Oleh karenanya, do’a yang paling sering Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam panjatkan adalah, يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِينِكَ “Ya muqollibal quluub tsabbit qolbi ‘alaa diinik (Wahai Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu).” Cerita lengkapnya bisa dilihat dalam hadits berikut ini. Syahr bin Hawsyab berkata bahwa ia berkata pada istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Ummu Salamah, يَا أُمَّ الْمُؤْمِنِينَ مَا كَانَ أَكْثَرُ دُعَاءِ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا كَانَ عِنْدَكِ “Wahai Ummul Mukminin, apa do’a yang sering dipanjatkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam jika berada di sisimu?” Ummu Salamah menjawab, كَانَ أَكْثَرُ دُعَائِهِ « يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِينِكَ ». “Yang sering dibaca oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah, ’Ya muqollibal quluub tsabbit qolbii ‘ala diinik (Wahai Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu)’.” Ummu Salamah pernah bertanya pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا لأَكْثَرِ دُعَائِكَ يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِينِكَ “Wahai Rasulullah kenapa engkau lebih sering berdo’a dengan do’a, ’Ya muqollibal quluub tsabbit qolbii ‘ala diinik (Wahai Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu)’. ”   Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya menjawab, يَا أُمَّ سَلَمَةَ إِنَّهُ لَيْسَ آدَمِىٌّ إِلاَّ وَقَلْبُهُ بَيْنَ أُصْبُعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ اللَّهِ فَمَنْ شَاءَ أَقَامَ وَمَنْ شَاءَ أَزَاغَ “Wahai Ummu Salamah, yang namanya hati manusia selalu berada di antara jari-jemari Allah. Siapa saja yang Allah kehendaki, maka Allah akan berikan keteguhan dalam iman. Namun siapa saja yang dikehendaki, Allah pun bisa menyesatkannya.” Setelah itu Mu’adz bin Mu’adz (yang meriwayatkan hadits ini) membacakan ayat, رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami.” (QS. Ali Imran: 8) (HR. Tirmidzi, no. 3522; Ahmad, 6: 315. Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan) Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah untuk terus berada di atas ketaatan. — @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 4 Rajab 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsdoa istiqamah


Ini ceritanya, kenapa sampai Nabi kita –shallallahu ‘alaihi wa sallam– terus berdoa agar diteguhkan hati dalam ketaatan. Ingatlah, kita butuh doa agar bisa istiqamah karena hati kita bisa saja berbolak-balik. Oleh karenanya, do’a yang paling sering Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam panjatkan adalah, يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِينِكَ “Ya muqollibal quluub tsabbit qolbi ‘alaa diinik (Wahai Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu).” Cerita lengkapnya bisa dilihat dalam hadits berikut ini. Syahr bin Hawsyab berkata bahwa ia berkata pada istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Ummu Salamah, يَا أُمَّ الْمُؤْمِنِينَ مَا كَانَ أَكْثَرُ دُعَاءِ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا كَانَ عِنْدَكِ “Wahai Ummul Mukminin, apa do’a yang sering dipanjatkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam jika berada di sisimu?” Ummu Salamah menjawab, كَانَ أَكْثَرُ دُعَائِهِ « يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِينِكَ ». “Yang sering dibaca oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah, ’Ya muqollibal quluub tsabbit qolbii ‘ala diinik (Wahai Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu)’.” Ummu Salamah pernah bertanya pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا لأَكْثَرِ دُعَائِكَ يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِينِكَ “Wahai Rasulullah kenapa engkau lebih sering berdo’a dengan do’a, ’Ya muqollibal quluub tsabbit qolbii ‘ala diinik (Wahai Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu)’. ”   Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya menjawab, يَا أُمَّ سَلَمَةَ إِنَّهُ لَيْسَ آدَمِىٌّ إِلاَّ وَقَلْبُهُ بَيْنَ أُصْبُعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ اللَّهِ فَمَنْ شَاءَ أَقَامَ وَمَنْ شَاءَ أَزَاغَ “Wahai Ummu Salamah, yang namanya hati manusia selalu berada di antara jari-jemari Allah. Siapa saja yang Allah kehendaki, maka Allah akan berikan keteguhan dalam iman. Namun siapa saja yang dikehendaki, Allah pun bisa menyesatkannya.” Setelah itu Mu’adz bin Mu’adz (yang meriwayatkan hadits ini) membacakan ayat, رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami.” (QS. Ali Imran: 8) (HR. Tirmidzi, no. 3522; Ahmad, 6: 315. Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan) Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah untuk terus berada di atas ketaatan. — @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 4 Rajab 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsdoa istiqamah

Shalat Dhuha Pembuka Pintu Rezeki

Apakah benar shalat Dhuha itu pembuka pintu rezeki? Dari Nu’aim bin Hammar Al-Ghathafaniy, beliau mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ يَا ابْنَ آدَمَ لاَ تَعْجِزْ عَنْ أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ مِنْ أَوَّلِ النَّهَارِ أَكْفِكَ آخِرَهُ “Allah Ta’ala berfirman: Wahai anak Adam, janganlah engkau tinggalkan empat raka’at shalat di awal siang (di waktu Dhuha). Maka itu akan mencukupimu di akhir siang.” (HR. Ahmad, 5: 286; Abu Daud, no. 1289; At Tirmidzi, no. 475; Ad Darimi, no. 1451 . Syaikh Al-Albani dan Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih) Dari Uqbah bin Amir Al-Juhani radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ‎shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَقُولُ يَا ابْنَ آدَمَ اكْفِنِى أَوَّلَ النَّهَارِ بِأَرْبَعِ رَكَعَاتٍ أَكْفِكَ بِهِنَّ آخِرَ يَوْمِكَ “Sesungguhnya Allah berfirman: “Wahai ‎anak adam, laksanakan untukKu 4 rakaat di awal siang, Aku akan cukupi ‎dirimu dengan shalat itu di akhir harimu.” (HR. Ahmad, 4: 153. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth berkata bahwa sanad hadits ini shahih. Perawinya tsiqah termasuk dalam jajaran perawi kitab shahih kecuali Nu’aim bin Himar termasuk dalam perawi Abu Daud dan An-Nasa’i).‎ Al-‘Azhim Abadi- menyebutkan, “Hadits ini bisa mengandung pengertian bahwa shalat Dhuha akan menyelematkan pelakunya dari berbagai hal yang membahayakan. Bisa juga dimaksudkan bahwa shalat Dhuha dapat menjaga dirinya dari terjerumus dalam dosa atau ia pun akan dimaafkan jika terjerumus di dalamnya. Atau maknanya bisa lebih luas dari itu.” (‘Aun Al-Ma’bud, 4: 118) At-Thibiy berkata, “Yaitu  engkau akan diberi kecukupan dalam kesibukan dan urusanmu, serta akan dihilangkan dari hal-hal yang tidak disukai setelah engkau shalat hingga akhir siang. Yang dimaksud, selesaikanlah urusanmu dengan beribadah pada Allah di awal siang (di waktu Dhuha), maka Allah akan mudahkan urusanmu di akhir siang.” (Tuhfah Al-Ahwadzi, 2: 478). Al-Munawi dalam Faidh Al-Qadir (4: 615) menjelaskan maksud kalimat, akan dicukupi di akhirnya adalah akan diselamatkan dari cobaan dan musibah di akhir siang. Empat raka’at yang dimaksud di atas menurut penjelasan para ulama, bisa jadi termasuk dalam shalat Dhuha empat raka’at, bisa jadi maksudnya adalah shalat qabliyah shubuh dua raka’at dan shalat Shubuh dua raka’at.   Kesimpulan Kalau kita lihat maksud hadits dari penjelasan para ulama bahwa Allah akan mencukupinya, tidak ditunjukkan bahwa shalat dhuha jadi pembuka pintu rezeki. Namun tetap setiap amalan shalih memang jadi pembuka pintu rezeki karena amalan shalih adalah bentuk takwa. Sebagaimana disebutkan dalam ayat, وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا , وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ “Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan Mengadakan baginya jalan keluar, dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (QS. Ath-Thalaq: 2-3) Akan tetapi, jika dimaksud dengan dilaksanakannya shalat Dhuha hanya semata-mata untuk menambah rezeki dunia, tanpa ingin pahala atau balasan di sisi Allah, maka akan terancam dengan ayat berikut, مَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الآخِرَةِ نزدْ لَهُ فِي حَرْثِهِ وَمَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الدُّنْيَا نُؤْتِهِ مِنْهَا وَمَا لَهُ فِي الآخِرَةِ مِنْ نَصِيبٍ “Barang siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah keuntungan itu baginya dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagian pun di akhirat.” (QS. Asy-Syuraa: 20) Silakan direnungkan, apakah niatan shalat Dhuha lillah (karena Allah), atau hanya ingin cari dunia. Wallahu waliyyut taufiq. — Selesai disusun di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 4 Rajab 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsrezeki shalat dhuha

Shalat Dhuha Pembuka Pintu Rezeki

Apakah benar shalat Dhuha itu pembuka pintu rezeki? Dari Nu’aim bin Hammar Al-Ghathafaniy, beliau mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ يَا ابْنَ آدَمَ لاَ تَعْجِزْ عَنْ أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ مِنْ أَوَّلِ النَّهَارِ أَكْفِكَ آخِرَهُ “Allah Ta’ala berfirman: Wahai anak Adam, janganlah engkau tinggalkan empat raka’at shalat di awal siang (di waktu Dhuha). Maka itu akan mencukupimu di akhir siang.” (HR. Ahmad, 5: 286; Abu Daud, no. 1289; At Tirmidzi, no. 475; Ad Darimi, no. 1451 . Syaikh Al-Albani dan Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih) Dari Uqbah bin Amir Al-Juhani radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ‎shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَقُولُ يَا ابْنَ آدَمَ اكْفِنِى أَوَّلَ النَّهَارِ بِأَرْبَعِ رَكَعَاتٍ أَكْفِكَ بِهِنَّ آخِرَ يَوْمِكَ “Sesungguhnya Allah berfirman: “Wahai ‎anak adam, laksanakan untukKu 4 rakaat di awal siang, Aku akan cukupi ‎dirimu dengan shalat itu di akhir harimu.” (HR. Ahmad, 4: 153. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth berkata bahwa sanad hadits ini shahih. Perawinya tsiqah termasuk dalam jajaran perawi kitab shahih kecuali Nu’aim bin Himar termasuk dalam perawi Abu Daud dan An-Nasa’i).‎ Al-‘Azhim Abadi- menyebutkan, “Hadits ini bisa mengandung pengertian bahwa shalat Dhuha akan menyelematkan pelakunya dari berbagai hal yang membahayakan. Bisa juga dimaksudkan bahwa shalat Dhuha dapat menjaga dirinya dari terjerumus dalam dosa atau ia pun akan dimaafkan jika terjerumus di dalamnya. Atau maknanya bisa lebih luas dari itu.” (‘Aun Al-Ma’bud, 4: 118) At-Thibiy berkata, “Yaitu  engkau akan diberi kecukupan dalam kesibukan dan urusanmu, serta akan dihilangkan dari hal-hal yang tidak disukai setelah engkau shalat hingga akhir siang. Yang dimaksud, selesaikanlah urusanmu dengan beribadah pada Allah di awal siang (di waktu Dhuha), maka Allah akan mudahkan urusanmu di akhir siang.” (Tuhfah Al-Ahwadzi, 2: 478). Al-Munawi dalam Faidh Al-Qadir (4: 615) menjelaskan maksud kalimat, akan dicukupi di akhirnya adalah akan diselamatkan dari cobaan dan musibah di akhir siang. Empat raka’at yang dimaksud di atas menurut penjelasan para ulama, bisa jadi termasuk dalam shalat Dhuha empat raka’at, bisa jadi maksudnya adalah shalat qabliyah shubuh dua raka’at dan shalat Shubuh dua raka’at.   Kesimpulan Kalau kita lihat maksud hadits dari penjelasan para ulama bahwa Allah akan mencukupinya, tidak ditunjukkan bahwa shalat dhuha jadi pembuka pintu rezeki. Namun tetap setiap amalan shalih memang jadi pembuka pintu rezeki karena amalan shalih adalah bentuk takwa. Sebagaimana disebutkan dalam ayat, وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا , وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ “Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan Mengadakan baginya jalan keluar, dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (QS. Ath-Thalaq: 2-3) Akan tetapi, jika dimaksud dengan dilaksanakannya shalat Dhuha hanya semata-mata untuk menambah rezeki dunia, tanpa ingin pahala atau balasan di sisi Allah, maka akan terancam dengan ayat berikut, مَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الآخِرَةِ نزدْ لَهُ فِي حَرْثِهِ وَمَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الدُّنْيَا نُؤْتِهِ مِنْهَا وَمَا لَهُ فِي الآخِرَةِ مِنْ نَصِيبٍ “Barang siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah keuntungan itu baginya dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagian pun di akhirat.” (QS. Asy-Syuraa: 20) Silakan direnungkan, apakah niatan shalat Dhuha lillah (karena Allah), atau hanya ingin cari dunia. Wallahu waliyyut taufiq. — Selesai disusun di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 4 Rajab 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsrezeki shalat dhuha
Apakah benar shalat Dhuha itu pembuka pintu rezeki? Dari Nu’aim bin Hammar Al-Ghathafaniy, beliau mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ يَا ابْنَ آدَمَ لاَ تَعْجِزْ عَنْ أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ مِنْ أَوَّلِ النَّهَارِ أَكْفِكَ آخِرَهُ “Allah Ta’ala berfirman: Wahai anak Adam, janganlah engkau tinggalkan empat raka’at shalat di awal siang (di waktu Dhuha). Maka itu akan mencukupimu di akhir siang.” (HR. Ahmad, 5: 286; Abu Daud, no. 1289; At Tirmidzi, no. 475; Ad Darimi, no. 1451 . Syaikh Al-Albani dan Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih) Dari Uqbah bin Amir Al-Juhani radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ‎shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَقُولُ يَا ابْنَ آدَمَ اكْفِنِى أَوَّلَ النَّهَارِ بِأَرْبَعِ رَكَعَاتٍ أَكْفِكَ بِهِنَّ آخِرَ يَوْمِكَ “Sesungguhnya Allah berfirman: “Wahai ‎anak adam, laksanakan untukKu 4 rakaat di awal siang, Aku akan cukupi ‎dirimu dengan shalat itu di akhir harimu.” (HR. Ahmad, 4: 153. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth berkata bahwa sanad hadits ini shahih. Perawinya tsiqah termasuk dalam jajaran perawi kitab shahih kecuali Nu’aim bin Himar termasuk dalam perawi Abu Daud dan An-Nasa’i).‎ Al-‘Azhim Abadi- menyebutkan, “Hadits ini bisa mengandung pengertian bahwa shalat Dhuha akan menyelematkan pelakunya dari berbagai hal yang membahayakan. Bisa juga dimaksudkan bahwa shalat Dhuha dapat menjaga dirinya dari terjerumus dalam dosa atau ia pun akan dimaafkan jika terjerumus di dalamnya. Atau maknanya bisa lebih luas dari itu.” (‘Aun Al-Ma’bud, 4: 118) At-Thibiy berkata, “Yaitu  engkau akan diberi kecukupan dalam kesibukan dan urusanmu, serta akan dihilangkan dari hal-hal yang tidak disukai setelah engkau shalat hingga akhir siang. Yang dimaksud, selesaikanlah urusanmu dengan beribadah pada Allah di awal siang (di waktu Dhuha), maka Allah akan mudahkan urusanmu di akhir siang.” (Tuhfah Al-Ahwadzi, 2: 478). Al-Munawi dalam Faidh Al-Qadir (4: 615) menjelaskan maksud kalimat, akan dicukupi di akhirnya adalah akan diselamatkan dari cobaan dan musibah di akhir siang. Empat raka’at yang dimaksud di atas menurut penjelasan para ulama, bisa jadi termasuk dalam shalat Dhuha empat raka’at, bisa jadi maksudnya adalah shalat qabliyah shubuh dua raka’at dan shalat Shubuh dua raka’at.   Kesimpulan Kalau kita lihat maksud hadits dari penjelasan para ulama bahwa Allah akan mencukupinya, tidak ditunjukkan bahwa shalat dhuha jadi pembuka pintu rezeki. Namun tetap setiap amalan shalih memang jadi pembuka pintu rezeki karena amalan shalih adalah bentuk takwa. Sebagaimana disebutkan dalam ayat, وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا , وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ “Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan Mengadakan baginya jalan keluar, dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (QS. Ath-Thalaq: 2-3) Akan tetapi, jika dimaksud dengan dilaksanakannya shalat Dhuha hanya semata-mata untuk menambah rezeki dunia, tanpa ingin pahala atau balasan di sisi Allah, maka akan terancam dengan ayat berikut, مَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الآخِرَةِ نزدْ لَهُ فِي حَرْثِهِ وَمَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الدُّنْيَا نُؤْتِهِ مِنْهَا وَمَا لَهُ فِي الآخِرَةِ مِنْ نَصِيبٍ “Barang siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah keuntungan itu baginya dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagian pun di akhirat.” (QS. Asy-Syuraa: 20) Silakan direnungkan, apakah niatan shalat Dhuha lillah (karena Allah), atau hanya ingin cari dunia. Wallahu waliyyut taufiq. — Selesai disusun di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 4 Rajab 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsrezeki shalat dhuha


Apakah benar shalat Dhuha itu pembuka pintu rezeki? Dari Nu’aim bin Hammar Al-Ghathafaniy, beliau mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ يَا ابْنَ آدَمَ لاَ تَعْجِزْ عَنْ أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ مِنْ أَوَّلِ النَّهَارِ أَكْفِكَ آخِرَهُ “Allah Ta’ala berfirman: Wahai anak Adam, janganlah engkau tinggalkan empat raka’at shalat di awal siang (di waktu Dhuha). Maka itu akan mencukupimu di akhir siang.” (HR. Ahmad, 5: 286; Abu Daud, no. 1289; At Tirmidzi, no. 475; Ad Darimi, no. 1451 . Syaikh Al-Albani dan Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih) Dari Uqbah bin Amir Al-Juhani radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ‎shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَقُولُ يَا ابْنَ آدَمَ اكْفِنِى أَوَّلَ النَّهَارِ بِأَرْبَعِ رَكَعَاتٍ أَكْفِكَ بِهِنَّ آخِرَ يَوْمِكَ “Sesungguhnya Allah berfirman: “Wahai ‎anak adam, laksanakan untukKu 4 rakaat di awal siang, Aku akan cukupi ‎dirimu dengan shalat itu di akhir harimu.” (HR. Ahmad, 4: 153. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth berkata bahwa sanad hadits ini shahih. Perawinya tsiqah termasuk dalam jajaran perawi kitab shahih kecuali Nu’aim bin Himar termasuk dalam perawi Abu Daud dan An-Nasa’i).‎ Al-‘Azhim Abadi- menyebutkan, “Hadits ini bisa mengandung pengertian bahwa shalat Dhuha akan menyelematkan pelakunya dari berbagai hal yang membahayakan. Bisa juga dimaksudkan bahwa shalat Dhuha dapat menjaga dirinya dari terjerumus dalam dosa atau ia pun akan dimaafkan jika terjerumus di dalamnya. Atau maknanya bisa lebih luas dari itu.” (‘Aun Al-Ma’bud, 4: 118) At-Thibiy berkata, “Yaitu  engkau akan diberi kecukupan dalam kesibukan dan urusanmu, serta akan dihilangkan dari hal-hal yang tidak disukai setelah engkau shalat hingga akhir siang. Yang dimaksud, selesaikanlah urusanmu dengan beribadah pada Allah di awal siang (di waktu Dhuha), maka Allah akan mudahkan urusanmu di akhir siang.” (Tuhfah Al-Ahwadzi, 2: 478). Al-Munawi dalam Faidh Al-Qadir (4: 615) menjelaskan maksud kalimat, akan dicukupi di akhirnya adalah akan diselamatkan dari cobaan dan musibah di akhir siang. Empat raka’at yang dimaksud di atas menurut penjelasan para ulama, bisa jadi termasuk dalam shalat Dhuha empat raka’at, bisa jadi maksudnya adalah shalat qabliyah shubuh dua raka’at dan shalat Shubuh dua raka’at.   Kesimpulan Kalau kita lihat maksud hadits dari penjelasan para ulama bahwa Allah akan mencukupinya, tidak ditunjukkan bahwa shalat dhuha jadi pembuka pintu rezeki. Namun tetap setiap amalan shalih memang jadi pembuka pintu rezeki karena amalan shalih adalah bentuk takwa. Sebagaimana disebutkan dalam ayat, وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا , وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ “Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan Mengadakan baginya jalan keluar, dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (QS. Ath-Thalaq: 2-3) Akan tetapi, jika dimaksud dengan dilaksanakannya shalat Dhuha hanya semata-mata untuk menambah rezeki dunia, tanpa ingin pahala atau balasan di sisi Allah, maka akan terancam dengan ayat berikut, مَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الآخِرَةِ نزدْ لَهُ فِي حَرْثِهِ وَمَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الدُّنْيَا نُؤْتِهِ مِنْهَا وَمَا لَهُ فِي الآخِرَةِ مِنْ نَصِيبٍ “Barang siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah keuntungan itu baginya dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagian pun di akhirat.” (QS. Asy-Syuraa: 20) Silakan direnungkan, apakah niatan shalat Dhuha lillah (karena Allah), atau hanya ingin cari dunia. Wallahu waliyyut taufiq. — Selesai disusun di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 4 Rajab 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsrezeki shalat dhuha

Istiqamahlah, Jika Tidak, Mendekatilah Ideal

Dalam istiqamah kita butuh menggapai derajat yang tinggi. Kalau tidak bisa digapai, maka mendetilah yang ideal.   Istiqamah berarti kita menempuh jalan yang lurus, tidak condong ke kanan atau ke kiri. Istiqamah ini sangat kita butuhkan. Tidak sedikit ada yang berada di atas iman, malah ia condong pada kekafiran.   Seorang mukmin sudah sepatutnya terus meminta pada Allah keistiqamahan. Itulah yang kita pinta dalam shalat minimal 17 kali dalam sehari lewat doa, اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ (6) “Tunjukkanlah kepada kami jalan yang lurus.” (QS. Al-Fatihah: 6) Ini pertanda kita butuh untuk terus istiqamah. Namun tentu saja dalam istiqamah ada saja kekurangan. Makanya Allah perintahkan untuk mengiringi istiqamah itu dengan istighfar, فَاسْتَقِيمُوا إِلَيْهِ وَاسْتَغْفِرُوهُ “Maka tetaplah pada jalan yang lurus menuju kepadaNya dan mohonlah ampun kepadaNya.” (QS. Fushshilat: 6). Ini menunjukkan bahwa dalam menempuh jalan yang lurus dan istiqamah di atasnya pasti ada kekurangan. Dari Abu Dzar dan Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, اتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ “Bertakwalah kepada Allah di mana saja engkau berada dan ikutilah setiap kejelekan dengan kebaikan, niscaya kejelekan tersebut akan terhapus dengan kebaikan yang dilakukan. Lalu berakhlaklah pada manusia dengan akhlak yang mulia.” (HR. Tirmidzi, no. 1987; Ahmad, 5: 153. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan). Hadits ini juga menunjukkan bahwa dalam istiqamah pasti ada kekurangan. Kalau tidak bisa ideal, baiknya tetap berusaha mendekati yang ideal. Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, سَدِّدُوا وَقَارِبُوا “Istiqamahlah (dalam perkataan, amalan dan niat, pen.). Kalau tidak mampu ideal, dekatilah yang ideal.” (HR. Bukhari, no. 6467; Muslim, no. 2818) Yang bisa dicapai oleh manusia adalah beristiqamahlah (yang ideal), kalau tidak mampu, maka mendekatilah. Jadi ada dua keadaan seperti itu yang bisa kita raih. Moga terus istiqamah. — @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 2 Rajab 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsistiqamah

Istiqamahlah, Jika Tidak, Mendekatilah Ideal

Dalam istiqamah kita butuh menggapai derajat yang tinggi. Kalau tidak bisa digapai, maka mendetilah yang ideal.   Istiqamah berarti kita menempuh jalan yang lurus, tidak condong ke kanan atau ke kiri. Istiqamah ini sangat kita butuhkan. Tidak sedikit ada yang berada di atas iman, malah ia condong pada kekafiran.   Seorang mukmin sudah sepatutnya terus meminta pada Allah keistiqamahan. Itulah yang kita pinta dalam shalat minimal 17 kali dalam sehari lewat doa, اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ (6) “Tunjukkanlah kepada kami jalan yang lurus.” (QS. Al-Fatihah: 6) Ini pertanda kita butuh untuk terus istiqamah. Namun tentu saja dalam istiqamah ada saja kekurangan. Makanya Allah perintahkan untuk mengiringi istiqamah itu dengan istighfar, فَاسْتَقِيمُوا إِلَيْهِ وَاسْتَغْفِرُوهُ “Maka tetaplah pada jalan yang lurus menuju kepadaNya dan mohonlah ampun kepadaNya.” (QS. Fushshilat: 6). Ini menunjukkan bahwa dalam menempuh jalan yang lurus dan istiqamah di atasnya pasti ada kekurangan. Dari Abu Dzar dan Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, اتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ “Bertakwalah kepada Allah di mana saja engkau berada dan ikutilah setiap kejelekan dengan kebaikan, niscaya kejelekan tersebut akan terhapus dengan kebaikan yang dilakukan. Lalu berakhlaklah pada manusia dengan akhlak yang mulia.” (HR. Tirmidzi, no. 1987; Ahmad, 5: 153. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan). Hadits ini juga menunjukkan bahwa dalam istiqamah pasti ada kekurangan. Kalau tidak bisa ideal, baiknya tetap berusaha mendekati yang ideal. Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, سَدِّدُوا وَقَارِبُوا “Istiqamahlah (dalam perkataan, amalan dan niat, pen.). Kalau tidak mampu ideal, dekatilah yang ideal.” (HR. Bukhari, no. 6467; Muslim, no. 2818) Yang bisa dicapai oleh manusia adalah beristiqamahlah (yang ideal), kalau tidak mampu, maka mendekatilah. Jadi ada dua keadaan seperti itu yang bisa kita raih. Moga terus istiqamah. — @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 2 Rajab 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsistiqamah
Dalam istiqamah kita butuh menggapai derajat yang tinggi. Kalau tidak bisa digapai, maka mendetilah yang ideal.   Istiqamah berarti kita menempuh jalan yang lurus, tidak condong ke kanan atau ke kiri. Istiqamah ini sangat kita butuhkan. Tidak sedikit ada yang berada di atas iman, malah ia condong pada kekafiran.   Seorang mukmin sudah sepatutnya terus meminta pada Allah keistiqamahan. Itulah yang kita pinta dalam shalat minimal 17 kali dalam sehari lewat doa, اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ (6) “Tunjukkanlah kepada kami jalan yang lurus.” (QS. Al-Fatihah: 6) Ini pertanda kita butuh untuk terus istiqamah. Namun tentu saja dalam istiqamah ada saja kekurangan. Makanya Allah perintahkan untuk mengiringi istiqamah itu dengan istighfar, فَاسْتَقِيمُوا إِلَيْهِ وَاسْتَغْفِرُوهُ “Maka tetaplah pada jalan yang lurus menuju kepadaNya dan mohonlah ampun kepadaNya.” (QS. Fushshilat: 6). Ini menunjukkan bahwa dalam menempuh jalan yang lurus dan istiqamah di atasnya pasti ada kekurangan. Dari Abu Dzar dan Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, اتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ “Bertakwalah kepada Allah di mana saja engkau berada dan ikutilah setiap kejelekan dengan kebaikan, niscaya kejelekan tersebut akan terhapus dengan kebaikan yang dilakukan. Lalu berakhlaklah pada manusia dengan akhlak yang mulia.” (HR. Tirmidzi, no. 1987; Ahmad, 5: 153. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan). Hadits ini juga menunjukkan bahwa dalam istiqamah pasti ada kekurangan. Kalau tidak bisa ideal, baiknya tetap berusaha mendekati yang ideal. Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, سَدِّدُوا وَقَارِبُوا “Istiqamahlah (dalam perkataan, amalan dan niat, pen.). Kalau tidak mampu ideal, dekatilah yang ideal.” (HR. Bukhari, no. 6467; Muslim, no. 2818) Yang bisa dicapai oleh manusia adalah beristiqamahlah (yang ideal), kalau tidak mampu, maka mendekatilah. Jadi ada dua keadaan seperti itu yang bisa kita raih. Moga terus istiqamah. — @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 2 Rajab 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsistiqamah


Dalam istiqamah kita butuh menggapai derajat yang tinggi. Kalau tidak bisa digapai, maka mendetilah yang ideal.   Istiqamah berarti kita menempuh jalan yang lurus, tidak condong ke kanan atau ke kiri. Istiqamah ini sangat kita butuhkan. Tidak sedikit ada yang berada di atas iman, malah ia condong pada kekafiran.   Seorang mukmin sudah sepatutnya terus meminta pada Allah keistiqamahan. Itulah yang kita pinta dalam shalat minimal 17 kali dalam sehari lewat doa, اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ (6) “Tunjukkanlah kepada kami jalan yang lurus.” (QS. Al-Fatihah: 6) Ini pertanda kita butuh untuk terus istiqamah. Namun tentu saja dalam istiqamah ada saja kekurangan. Makanya Allah perintahkan untuk mengiringi istiqamah itu dengan istighfar, فَاسْتَقِيمُوا إِلَيْهِ وَاسْتَغْفِرُوهُ “Maka tetaplah pada jalan yang lurus menuju kepadaNya dan mohonlah ampun kepadaNya.” (QS. Fushshilat: 6). Ini menunjukkan bahwa dalam menempuh jalan yang lurus dan istiqamah di atasnya pasti ada kekurangan. Dari Abu Dzar dan Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, اتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ “Bertakwalah kepada Allah di mana saja engkau berada dan ikutilah setiap kejelekan dengan kebaikan, niscaya kejelekan tersebut akan terhapus dengan kebaikan yang dilakukan. Lalu berakhlaklah pada manusia dengan akhlak yang mulia.” (HR. Tirmidzi, no. 1987; Ahmad, 5: 153. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan). Hadits ini juga menunjukkan bahwa dalam istiqamah pasti ada kekurangan. Kalau tidak bisa ideal, baiknya tetap berusaha mendekati yang ideal. Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, سَدِّدُوا وَقَارِبُوا “Istiqamahlah (dalam perkataan, amalan dan niat, pen.). Kalau tidak mampu ideal, dekatilah yang ideal.” (HR. Bukhari, no. 6467; Muslim, no. 2818) Yang bisa dicapai oleh manusia adalah beristiqamahlah (yang ideal), kalau tidak mampu, maka mendekatilah. Jadi ada dua keadaan seperti itu yang bisa kita raih. Moga terus istiqamah. — @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 2 Rajab 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsistiqamah

Masih Layak, Mending Disumbangkan

Punya pakaian layak pakai, punya jilbab dan gamis muslimah atau mungkin koko pria masih layak pakai, jangan dibuang, jangan disimpan di lemari saja. Yuk beri pada yang masih membutuhkan untuk menutup aurat.   Dibutuhkan untuk dua agenda besar: 1. 19 April 2016 di Pesantren Darush Sholihin Gunungkidul, ada program tebar 3000 jilbab dan gamis muslimah saat peresmian Pesantren Darush Sholihin oleh Bupati Gunungkidul. 2. 2-8 Juni 2016 di tiga pulau (Ambon, Haruku, dan Seram) tebar 5000 jilbab saat safari dakwah bersama Ustadz M. Abduh Tuasikal. Walau lewat jilbab bekas, tetap itu amat berharga sebagai jalan hidayah bagi saudara kita yang baru belajar berjilbab apalagi mereka mendapatkan kesulitan biaya untuk memilikinya.   CARA IKUT PROGRAM TEBAR JILBAB 1. Bisa mengirim paket jilbab gamis layak pakai ke: Alamat: Pesantren Darush Sholihin Binaan: Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal (Rumaysho.Com) Dusun Warak, Desa Girisekar, Panggang, Gunungkidul, 55872, HP: 085200171222(Mas Slamet) Disarankan mengirim via Tiki, JNE atau POS Indonesia dan akan sampai ke tempat tujuan sesuai alamat di atas. Jangan lupa sertakan nomor telepon pengirim, biar bisa dikonfirmasi jika sudah sampai. * Paket yang dikirim bisa berupa jilbab, gamis muslimah, koko pria yang layak pakai. 2. Atau jika ingin berdonasi Silakan transfer ke rekening: 1. BCA: 8610123881 (kode bank: 014). 2. BNI Syariah: 0194475165 (kode bank: 009). 3. BSM: 3107011155 (kode bank: 451). 4. BRI: 0029-01-101480-50-9 (kode bank: 002). (Semua a.n:Muhammad Abduh Tuasikal). Konfirmasi via SMS ke 082313950500 atau WA ke 0811267791 dengan format: Dana sosial Jilbab# Nama Donatur # Alamat # Bank Tujuan Transfer # Tgl Transfer # Besar Donasi. Contoh: Dana sosial Jilbab # Muslim # Godean Yogyakarta # BSM # 31 Maret 2016# 1.000.000. Info DarushSholihin.Com | Channel Telegram @DarushSholihin | Rumaysho[dot]Com Info donasi: 0811 26 7791 (CALL/WA), 0823 139 50500 (SMS) Laporan donasi: http://darushsholihin.com/tebar-jilbab — SHARE YUK PADA YANG KAUM MUSLIMIN YANG BERBAIK HATI. Tagsjilbab tebar jilbab

Masih Layak, Mending Disumbangkan

Punya pakaian layak pakai, punya jilbab dan gamis muslimah atau mungkin koko pria masih layak pakai, jangan dibuang, jangan disimpan di lemari saja. Yuk beri pada yang masih membutuhkan untuk menutup aurat.   Dibutuhkan untuk dua agenda besar: 1. 19 April 2016 di Pesantren Darush Sholihin Gunungkidul, ada program tebar 3000 jilbab dan gamis muslimah saat peresmian Pesantren Darush Sholihin oleh Bupati Gunungkidul. 2. 2-8 Juni 2016 di tiga pulau (Ambon, Haruku, dan Seram) tebar 5000 jilbab saat safari dakwah bersama Ustadz M. Abduh Tuasikal. Walau lewat jilbab bekas, tetap itu amat berharga sebagai jalan hidayah bagi saudara kita yang baru belajar berjilbab apalagi mereka mendapatkan kesulitan biaya untuk memilikinya.   CARA IKUT PROGRAM TEBAR JILBAB 1. Bisa mengirim paket jilbab gamis layak pakai ke: Alamat: Pesantren Darush Sholihin Binaan: Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal (Rumaysho.Com) Dusun Warak, Desa Girisekar, Panggang, Gunungkidul, 55872, HP: 085200171222(Mas Slamet) Disarankan mengirim via Tiki, JNE atau POS Indonesia dan akan sampai ke tempat tujuan sesuai alamat di atas. Jangan lupa sertakan nomor telepon pengirim, biar bisa dikonfirmasi jika sudah sampai. * Paket yang dikirim bisa berupa jilbab, gamis muslimah, koko pria yang layak pakai. 2. Atau jika ingin berdonasi Silakan transfer ke rekening: 1. BCA: 8610123881 (kode bank: 014). 2. BNI Syariah: 0194475165 (kode bank: 009). 3. BSM: 3107011155 (kode bank: 451). 4. BRI: 0029-01-101480-50-9 (kode bank: 002). (Semua a.n:Muhammad Abduh Tuasikal). Konfirmasi via SMS ke 082313950500 atau WA ke 0811267791 dengan format: Dana sosial Jilbab# Nama Donatur # Alamat # Bank Tujuan Transfer # Tgl Transfer # Besar Donasi. Contoh: Dana sosial Jilbab # Muslim # Godean Yogyakarta # BSM # 31 Maret 2016# 1.000.000. Info DarushSholihin.Com | Channel Telegram @DarushSholihin | Rumaysho[dot]Com Info donasi: 0811 26 7791 (CALL/WA), 0823 139 50500 (SMS) Laporan donasi: http://darushsholihin.com/tebar-jilbab — SHARE YUK PADA YANG KAUM MUSLIMIN YANG BERBAIK HATI. Tagsjilbab tebar jilbab
Punya pakaian layak pakai, punya jilbab dan gamis muslimah atau mungkin koko pria masih layak pakai, jangan dibuang, jangan disimpan di lemari saja. Yuk beri pada yang masih membutuhkan untuk menutup aurat.   Dibutuhkan untuk dua agenda besar: 1. 19 April 2016 di Pesantren Darush Sholihin Gunungkidul, ada program tebar 3000 jilbab dan gamis muslimah saat peresmian Pesantren Darush Sholihin oleh Bupati Gunungkidul. 2. 2-8 Juni 2016 di tiga pulau (Ambon, Haruku, dan Seram) tebar 5000 jilbab saat safari dakwah bersama Ustadz M. Abduh Tuasikal. Walau lewat jilbab bekas, tetap itu amat berharga sebagai jalan hidayah bagi saudara kita yang baru belajar berjilbab apalagi mereka mendapatkan kesulitan biaya untuk memilikinya.   CARA IKUT PROGRAM TEBAR JILBAB 1. Bisa mengirim paket jilbab gamis layak pakai ke: Alamat: Pesantren Darush Sholihin Binaan: Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal (Rumaysho.Com) Dusun Warak, Desa Girisekar, Panggang, Gunungkidul, 55872, HP: 085200171222(Mas Slamet) Disarankan mengirim via Tiki, JNE atau POS Indonesia dan akan sampai ke tempat tujuan sesuai alamat di atas. Jangan lupa sertakan nomor telepon pengirim, biar bisa dikonfirmasi jika sudah sampai. * Paket yang dikirim bisa berupa jilbab, gamis muslimah, koko pria yang layak pakai. 2. Atau jika ingin berdonasi Silakan transfer ke rekening: 1. BCA: 8610123881 (kode bank: 014). 2. BNI Syariah: 0194475165 (kode bank: 009). 3. BSM: 3107011155 (kode bank: 451). 4. BRI: 0029-01-101480-50-9 (kode bank: 002). (Semua a.n:Muhammad Abduh Tuasikal). Konfirmasi via SMS ke 082313950500 atau WA ke 0811267791 dengan format: Dana sosial Jilbab# Nama Donatur # Alamat # Bank Tujuan Transfer # Tgl Transfer # Besar Donasi. Contoh: Dana sosial Jilbab # Muslim # Godean Yogyakarta # BSM # 31 Maret 2016# 1.000.000. Info DarushSholihin.Com | Channel Telegram @DarushSholihin | Rumaysho[dot]Com Info donasi: 0811 26 7791 (CALL/WA), 0823 139 50500 (SMS) Laporan donasi: http://darushsholihin.com/tebar-jilbab — SHARE YUK PADA YANG KAUM MUSLIMIN YANG BERBAIK HATI. Tagsjilbab tebar jilbab


Punya pakaian layak pakai, punya jilbab dan gamis muslimah atau mungkin koko pria masih layak pakai, jangan dibuang, jangan disimpan di lemari saja. Yuk beri pada yang masih membutuhkan untuk menutup aurat.   Dibutuhkan untuk dua agenda besar: 1. 19 April 2016 di Pesantren Darush Sholihin Gunungkidul, ada program tebar 3000 jilbab dan gamis muslimah saat peresmian Pesantren Darush Sholihin oleh Bupati Gunungkidul. 2. 2-8 Juni 2016 di tiga pulau (Ambon, Haruku, dan Seram) tebar 5000 jilbab saat safari dakwah bersama Ustadz M. Abduh Tuasikal. Walau lewat jilbab bekas, tetap itu amat berharga sebagai jalan hidayah bagi saudara kita yang baru belajar berjilbab apalagi mereka mendapatkan kesulitan biaya untuk memilikinya.   CARA IKUT PROGRAM TEBAR JILBAB 1. Bisa mengirim paket jilbab gamis layak pakai ke: Alamat: Pesantren Darush Sholihin Binaan: Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal (Rumaysho.Com) Dusun Warak, Desa Girisekar, Panggang, Gunungkidul, 55872, HP: 085200171222(Mas Slamet) Disarankan mengirim via Tiki, JNE atau POS Indonesia dan akan sampai ke tempat tujuan sesuai alamat di atas. Jangan lupa sertakan nomor telepon pengirim, biar bisa dikonfirmasi jika sudah sampai. * Paket yang dikirim bisa berupa jilbab, gamis muslimah, koko pria yang layak pakai. 2. Atau jika ingin berdonasi Silakan transfer ke rekening: 1. BCA: 8610123881 (kode bank: 014). 2. BNI Syariah: 0194475165 (kode bank: 009). 3. BSM: 3107011155 (kode bank: 451). 4. BRI: 0029-01-101480-50-9 (kode bank: 002). (Semua a.n:Muhammad Abduh Tuasikal). Konfirmasi via SMS ke 082313950500 atau WA ke 0811267791 dengan format: Dana sosial Jilbab# Nama Donatur # Alamat # Bank Tujuan Transfer # Tgl Transfer # Besar Donasi. Contoh: Dana sosial Jilbab # Muslim # Godean Yogyakarta # BSM # 31 Maret 2016# 1.000.000. Info DarushSholihin.Com | Channel Telegram @DarushSholihin | Rumaysho[dot]Com Info donasi: 0811 26 7791 (CALL/WA), 0823 139 50500 (SMS) Laporan donasi: http://darushsholihin.com/tebar-jilbab — SHARE YUK PADA YANG KAUM MUSLIMIN YANG BERBAIK HATI. Tagsjilbab tebar jilbab

MENUTUP CELAH-CELAH KESYIRIKAN

Khotbah Jum’at di Masjid Nabawi, 23 Jumadal Akhir 1437 H.Oleh : Syekh Husen Bin Abdul Aziz Al As-SyekhKhotbah PertamaPrinsip dasar yang membuat seorang muslim bahagia dan eksistensinya membuatnya selamat, aman dan sentosa  adalah penghambaan (ubudiyah) secara totalitas kepada Tuhan semesta alam (Rabbul Alamin).  Atas dasar itulah manusia diciptakan dan diwujudkan.Firman Allah :وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِيَعۡبُدُونِ [ الذاريات / 56]“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku”Artinya mereka harus memurnikan ibadah (kepada Allah semata) sebagaimana pernyataan Ibnu Abas –radhiyallahu anhuma-, bahwa Tauhid (peng-esa-an ) Allah merupakan sarana segala kesuksesan; di mana pengangungan dan pemurnian ibadah kepadaNya adalah penyebab keberuntungan, bahkan faktor utama kebahagiaan dan keselamatan dunia akhirat. Landasan terkuat bagi keamanan dan kesentosaan adalah penegakan tauhid kepada Allah yang Maha Esa, Tuhan satu-satunya, Yang menjadi tumpuan harapan (bagi semua makhluk). Maka hendaklah seorang hamba memurnikan tujuan ibadah kepada Allah semata  , memurnikan kecintaan dan pengagungan kepada Allah semata, memurnikan perasaan takut, kekhawatiran, pengharapan dan permohonan kepada Allah semata, memurnikan aspek lahir dan batinnya dalam menentukan arah dan kehendak hanya kepada Allah semata.Firman Allah –subhanahu wa ta’ala- kepada NabiNya –shallallahu alaihi wa sallam- :Firman Allah  :قُلۡ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحۡيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ، لَا شَرِيكَ لَهُۥۖ وَبِذَٰلِكَ أُمِرۡتُ وَأَنَا۠ أَوَّلُ ٱلۡمُسۡلِمِينَ [ الأنعام /  162- 163]“Katakanlah: sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)”. Qs Al-An’am :162Firman Allah :فَإِلَٰهُكُمۡ إِلَٰهٞ وَٰحِدٞ فَلَهُۥٓ أَسۡلِمُواْۗ  [ الحج/34]“Maka Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa, karena itu berserah dirilah kamu kepada-Nya.” Qs Al-Haj : 34Firman Allah :وَأَنِيبُوٓاْ إِلَىٰ رَبِّكُمۡ وَأَسۡلِمُواْ لَهُۥ [ الزمر/ 54]“Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya.” Qs Al-Zumar : 54Saudara sesama muslim !Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam-  sangat antusias memantapkan pondasi yang agung ini dalam pengarahan-pengarahan, seruan-seruan dan rekam jejak beliau, bertolak dari keinginan dan kecintaan beliau akan keselamatan umat dan para pengikut beliau. Itulah sebabnya, maka beliau –shallallahu alaihi wa sallam- membuntu segenap jalan dan mencegah segala cara yang dapat mencemari kemurnian tauhid atau berpengaruh terhadap kesempurnaan tauhid, atau melukai esensi tauhid.Di antara pengarahan Nabi –shallallahu alaihi wa sallam-  terkait dengan upaya mewujudkan  maksud luhur dan tujuan agung ini ialah pesan beliau yang merupakan salah satu pondasi agama ini dan merupakan prinsip yang amat kuat untuk membentengi substansinya, yakni tauhid dan keimanan.Ibnu Abas –radhiyallahu anhuma- berkata, “Aku pernah berada di belakang Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- pada suatu hari, beliau berpesan : “ Wahai bocah, sungguh aku ajarkan kepadamu beberapa kalimat; Jagalah Allah, niscaya Allah menjagamu. Jagalah Allah, niscaya kamu dapatkan-Nya di hadapanmu. Jika kamu meminta, mintalah kepada Allah dan jika kamu memohon pertolongan mintalah kepada Allah. Ketahuilah bahwa seandainya umat manusia seluruhnya berkumpul (bersepakat) untuk memberikan manfaat kepadamu, tidaklah mereka dapat memberikan manfaat kepadamu sedikitpun kecuali karena Allah telah menetapkannya untukmu. (Demikian pula) seandainya seluruh umat manusia bersepakat menjatuhkan suatu bahaya atasmu, tidaklah mereka dapat membehayakanmu sedikitmun kecuali karena Allah telah menetapkannya atasmu. Pena telah diangkat dan lembaran telah kering”. HR Tirmizi, dikatakannya hadis Hasan Shahih.Benar, ini merupakan suatu pesan yang di dalamnya terkandung penanaman pengagungan kepada Allah dalam jiwa manusia, dan bahwa Allah yang di tanganNya terletak segala kunci berbagai urusan, di tanganNya pula terletak penyelesaian persoalan-persoalan yang rumit, di sisi-Nya keberadaan perbendaharaan alam semesta dan kunci segala sesuatu, hanya Dia-lah yang dapat memenuhi segala kebutuhan dan memperkenankan permohonan hamba-hambaNya. Semua membutuhkan Allah, sangat memerlukan kedermawanan-Nya, pemberian-Nya dan kemurahan-Nya. Firman Allah :أَمَّن يُجِيبُ ٱلۡمُضۡطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكۡشِفُ ٱلسُّوٓءَ [ النمل / 62]“Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan”.Qs An-Naml :62Firman Allah :وَإِن يَمۡسَسۡكَ ٱللَّهُ بِضُرّٖ فَلَا كَاشِفَ لَهُۥٓ إِلَّا هُوَۖ وَإِن يُرِدۡكَ بِخَيۡرٖ فَلَا رَآدَّ لِفَضۡلِهِۦۚ يُصِيبُ بِهِۦ مَن يَشَآءُ مِنۡ عِبَادِهِۦۚ وَهُوَ ٱلۡغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ [ يونس / 107]“ Jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak kurnia-Nya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayan.” Qs Yunus : 107Suatu pesan agung disampaikan oleh Pemimpin para nabi dan rasul –shallallahu alaihi wa sallam- yang ditujukan kepada setip muslim agar menjadikan Allah –subhanahu wa ta’ala- semata sebagai tujuan satu-satunya dalam memenuhi hajat hidup, menghilangkan keprihatinan dan kesulitannya. Firman Allah :إِيَّاكَ نَعۡبُدُ وَإِيَّاكَ نَسۡتَعِينُ [ الفاتحة / 5]“Hanya kepada Engkaulah kami menyembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan.” Qs Al-Fatihah :5Suatu pesan agung yang memperingatkan seorang muslim agar tidak terjatuh dalam hal-hal yang menyebabkan kehancuran secara permanen dan siksaan yang kekal abadi, suatu pesan yang mewanti-wanti manusia agar tidak berdoa dan meminta kepada selain Allah untuk menghilangkan krisis dan bencana, tidak pula mengarahkan permohonannya kepada selain Allah dalam mengangkat penderitaan atau  mendatangkan kesejahteraan. Firman Allah :إِنَّهُۥ مَن يُشۡرِكۡ بِٱللَّهِ فَقَدۡ حَرَّمَ ٱللَّهُ عَلَيۡهِ ٱلۡجَنَّةَ وَمَأۡوَىٰهُ ٱلنَّارُۖ [ المائدة / 72]“Sesungguhnya barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan surga baginya, dan tempatnya ialah neraka.”Qs Al-Maidah : 72Sabda Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- :” مَنْ لَقِيَ اللَّهَ لا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ لَقِيهُ يُشْرِكُ بِهِ دَخَلَ النَّارَ ” أخرجه مسلم“Barangsiapa yang berjumpa dengan Allah tanpa pernah menyekutukan sesuatu denganNya, maka ia akan masuk surga. Dan barangsiapa yang berjumpa dengan Allah sementara dirinya menyekutukan sesuatu denganNya, maka ia masuk neraka”. HR Muslim. Menurut hadis riwayat Ubnu Mas’ud –radhiyallahu anhu- : ” مَنْ مَاتَ وَهُوَ يَدْعُو مِنْ دُوْنِ اللهِ نِدًّا دَخَلَ النَّارَ ” أخرجه البخاري“Barangsiapa meninggal dunia sedangkan dia memohon kepada selain Allah sebagai tandingan, masuklah ia ke neraka”. HR Bukhari.Suatu pesan agung yang me-resume untuk Anda –wahai muslim- bimbingan Al-Qur’an serta maksud, arah dan tujuan Al-Qur’an terkait dengan perintah, larangan, berita-berita dan kisah-kisah di dalamnya bahwa orang yang menggantungkan segala sesuatu kepada Allah, menitipkan segala kebutuhan kepadaNya dan menyerahkan segenap urusan kepadaNya semata, niscaya Allah akan mencukupikan dirinya dalam segala urusan, memudahkan segala kesulitannya dan mendekatkan baginya segala yang jauh.Firman Allah :إِنَّ ٱللَّهَ يُدَٰفِعُ عَنِ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْۗ   [ الحج/38]“Sesungguhnya Allah membela orang-orang yang beriman.” Qs Al-Haj : 38Firman Allah :وَمَن يَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِ فَهُوَ حَسۡبُهُۥٓۚ [ الطلاق /3]“Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” Qs At-Thalaq : 3Bahwa sesungguhnya orang yang mengandalkan selain Allah dan merasa puas dengannya, Allah akan serahkan urusannya kepadanya sehingga ia menajadi rendah diri, lemah dan hina-dina serta terjatuh dalam keburukan dan berbagai bencana.عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي لَيْلَى، عَنْ عِيسَى، أَخِيهِ قَالَ: دَخَلْتُ عَلَى عَبْدِ اللهِ بْنِ عُكَيْمٍ أَعُودُهُ وَبِهِ حُمْرَةٌ، فَقُلْنَا: أَلاَ تُعَلِّقُ شَيْئًا؟ قَالَ: الْمَوْتُ أَقْرَبُ مِنْ ذَلِكَ، قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ تَعَلَّقَ شَيْئًا وُكِلَ إِلَيْهِDiriwayatkan dari Muhammad bin Abdurrahman bin Abu Lalila, dari Isa, saudaranya berkata: Aku pernah menemui ‘Abdullah bin ‘Ukaim untuk membesuknya, sehubungan dengan penyakit Humrah (bercak-bercak merah pada kulit) yang diidapnya.  Aku pun berkata: Tidakkah sewajarnya engkau menggantungkan (hati) kepada sesuatu (jimat)? ‘Abdullah bin ‘Ukaim menjawab: “Kematian lebih baik bagiku dari pada perbuatan itu. Sebab Nabi -sallallahu alaihi wa sallam-  bersabda: Siapapun yang menggantungkan (hati) pada sesuatu benda, maka urusannya akan diserahkan sepenuhnya kepadanya’.HR Ahmad dan TirmiziRasulullah –shallallahu alaihi wa sallam – bersabda :” مَنْ نَزَلَ  بِهِ حَاجَةٌ فَأَنْزَلَهَا بِالنَّاسِ، كَانَ قَمِنًا مِنْ أَنْ لَا تَسْهُلَ حَاجَتُهُ، وَمَنْ أَنْزَلَهَا بِاللهِ، أتَاهُ  اللهُ بِرِزْقٍ عَاجِلٍ، أَوْ بِمَوْتٍ آجِلٍ ” أخرجه أحمد“Barangsiapa yang mempunyai suatu keperluan, lalu menyerahkannya kepada manusia, maka dapat dipastikan tidak lancar keperluannya itu. Dan barangsiapa yang menyerahkan keperluannya itu kepada Allah, maka Allah akan mendatangkan kepadanya rezeki dengan segera atau menunda ajal kematiannya.”HR AhmadMaka peganglah –wahai saudara sesama muslim- pesan agung itu secara konsisten agar Anda tidak dipermainkan oleh hawa nafsu dan tidak terombang-ambing oleh pemikiran liar yang tidak dapat menghindar dari bahayanya kecuali dengan mengikuti arahan pesan cemerlang dari Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- yang telah berhasil mencetak para sahabat sehingga mereka mencapai klimaks kesempurnaan tauhid berkat mengaplikasikan pesan agung beliau, sebagaimana yang dituturkan oleh Auf bin Malik Al-Asyja’i, ia bercerita : “كُنَّا عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تِسْعَةً أَوْ ثَمَانِيَةً أَوْ سَبْعَةً فَقَالَ صلى الله عليه وسلم : لاَ تَسْأَلُوْا النَّاسَ شَيْئًا” فَلَقَدْ رَأَيْتُ بَعْضَ أُولَئِكَ النَّفَرِ يَسْقُطُ سَوْطُ أَحَدِهِمْ فَمَا يَسْأَلُ أَحَدًا يُنَاوِلُهُ إِيَّاهُ ” أخرجه مسلم“Kami di sisi Rasulullallah -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, kami sembilan atau delapan atau tujuh orang.  Maka Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam-, bersabda : “Janganlah kalian meminta apapun kepada manusia”. Sungguh aku telah melihat salah seorang di antara mereka ketika cemetinya terjatuh maka ia tidak meminta seorangpun untuk mengambilkannya dan memberikan kepadanya.” HR Muslim.Dari Tsauban, berkata : Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda : “مَنْ يَكْفُلُ لِي أَنْ لَا يَسْأَلَ النَّاسَ شَيْئًا وَأَتَكَفَّلُ لَهُ بِالْجَنَّةِ فَقُلتُ أنَا فَكَانَ لَا يَسْألُ أحَدًا شَيْئًا ” أخرجه أبو داود والنسائي“Adakah orang yang bisa menjamin untukku bahwa ia tidak meminta-minta suatu apapun kepada sehingga aku menjamin baginya surga. Aku (Tsauban) menjawab, ‘Aku Ya Rasulallah’. Sejak itulah ia (Tsauban) tidak pernah meminta sesuatu kepada siapapun.”. HR Abu Daud dan Nasa’i.Seorang keponakan Al-Akhnaf bin Qais mengeluhkan sakit gigi yang diderita, maka Akhnaf menasihatinya seraya berkata : “Aku kehilangan pengelihatanku semenjak 40 tahun yang lalu, namun begitu aku tidak pernah mengadu kepada siapapun.”Wahai saudara sesama muslim! Mengadulah kepada Allah –subhanahu wa ta’ala- ketika Anda dalam kondisi krisis dan kesulitan. Bergantunglah kepada-Nya semata, bukan kepada lain-Nya ketika Anda tertimpa malapetaka, kegentingan dan kemelut.Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :إذَا أصَابَ أحَدَكم هَمٌّ أوْ لَأوَاءٌ فَلْيَقلْ: اللّه، اللّه رَبّي لَا أشْرِكُ بِهِ شَيْئًا ”   أخرجه الطبرانى فى الأوسط “Jika salah seorang di antara kalian tertimpa kesedihan atau gangguan kesehatan, maka hendaklah ia menyebut, “Allah – Allah adalah Tuhanku, aku tidak menyekutukan-Nya dengan sesua-tu.” HR Tabrani dalam Al-Ausath.Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- ketika dalam kesulitan selalu berdoa :” لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ الْعَظِيمُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ رَبُّ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَرَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيْمِ” متفق عليه“Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah Yang Maha Agung. Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah Tuhan langit dan bumi dan Tuhan Arasy yang agung”. Muttafaq Alaih.Para Ulama telah bersepakat bahwa orang yang meminta pertolongan, bantuan dan perlindungan kepada sesama makhluk, yang telah meninggal, atau yang sedang raib atau bahkan yang masih hidup untuk mengatasi suatu persoalan yang sebenarnya hanya Allah sendiri yang mampu mengatasinya, maka sungguh ia telah berbuat kesyirikan yang menghanguskan amalnya.Wahai kaum muslimin!Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- benar-benar antusias menanamkan bibit-bibit ketauhidan dalam jiwa. Beliau bersungguh-sungguh mengajak memperhatikan pondasi ini. Beliau berupaya dengan serius melindungi esensi tauhid secara sempurna, jangan sampai ada kekurangan dalam perkataan, perbuatan, maksud dan kehendak terkait dengan tauhid ini.Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- pernah ditanya tentang seseorang yang berjumpa dengan sesamanya untuk memberi salam, apakah lalu ia membungkuk di hadapannya? Beliau menjawab, “Tidak boleh”. HR Ahmad dan Tirmizi. Status hadis ini adalah hasan.Semua itu tak lain hanyalah untuk mencegah sikap ketundukan apapun kecuali ketuntukan kepada Allah yang maha agung.Rasulullah yang penyayang telah memberi pengarahan kepada perkara yang bisa menolak godaan syaitan serta tipu daya dan makarnya. Anas meriwayatkan bahwasanya ada seseorang berkata :يَا مُحَمَّدُ، يَا سَيِّدَنَا، وَابْنَ سَيِّدِنَا وَابْنَ خَيْرِنَا“Wahai Muhammad, wahai pemimpin kami, putra pemimpin kami, putra lelaki terbaik kami”.Maka Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- berkata :أَيُّهَا النَّاسُ، عَلَيْكُمْ بِتَقْوَاكُمْ وَلاَ يَسْتَهْوِيَنَّكُمُ الشًّيْطَانُ، أَنَا مُحَمَّدٌ عَبْدُاللهِ وَرَسُوْلُهُ، مَا أُحِبُّ أَنْ تَرْفَعُوْنِي فَوْقَ مَنْزِلَتِي الَّتِي أَنْزَلَنِيَ اللهُ“Wahai manusia, hendaknya kalian tetap di atas ketakwaan kalian, jangan sampai syaitan menggelincirkan kalian. Aku adalah Muhammad, seorang hamba Allah dan rasulNya, aku tidak suka kalian mengangkatku lebih dari kedudukanku yang telah Allah tetapkan untukku” (HR An-Nasaai dan Ibnu Hibban)Dalam shahih Al-Bukhari, beliau –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :لاَ تُطْرُوْنِي كَمَا أَطْرَتِ النَّصَارَى عِيْسَى بْنَ مَرْيَمَ، فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدٌ، فَقُوْلُوا عَبْدُاللهِ وَرَسُوْلُهُ“Janganlah kalian berlebih-lebihan kepadaku sebagaimana kaum nashoro berlebihan kepada ‘Isa bin Maryam. Karena sesungguhnya aku hanyalah seorang hamba, maka katakanlah : (Muhammad itu) hamba Allah dan rasulNya.” HR Al-BukhariSaudara-saudaraku seiman!Diantara contoh semangat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam untuk menekankan tauhid dan besarnya perhatian beliau untuk memantapkan tauid, maka beliau menutup segala sarana yang bisa digunakan syaitan untuk menjerumuskan para hamba ke dalam lumpur kesyirikan dan khurofat jahiliyah. Karenanya telah datang pengarahan-pengarahan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam dalam rangka mengingatkan untuk tidak mengarahkan hati kepada para penghuni kubur, dan tidak bersandar kepada mereka atau merendahkan diri di hadapan pintu-pintu masuk kuburan mereka, atau beristighotsah kepada mereka tatkala dalam kondisi-kondisi sulit dan genting serta dalam kesulitan, yang hal ini semuanya selama-lamanya tidak pantas ditujukan kecuali hanya kepada pencipta bumi dan langit !!.Dari Abu Huroiroh radhiallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :اللَّهُمَّ لاَ تَجْعَلْ قَبْرِي وَثَنًا يُعْبَدُ، اِشْتَدَّ غَضَبُ اللهِ عَلَى قَوْمٍ اتَّخَذُوْا قُبُوْرَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ“Ya Allah, janganlah engkau menjadikan kuburanku adalah berhara yang disembah. Sungguh Allah sangat marah terhadap kaum yang menjadikan kuburan-kuburan nabi-nabi mereka sebagai mesjid-mesjid.” HR Ahmad dan Malik dalam Muwattha’ dengan periwayatan ‘Atha bin Yasar.Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- memberi perhatian yang sangat besar terhadap penjagaan tauhid, karenanya beliau memperingatkan akan bahaya sarana-sarana setan dan penyesatan syaitan yang memfitnah manusia dengan jimat-jimat dan kalung-kalung yang digantungkan (diikatkan) ke badan atau harta benda dengan alasan untuk menolak keburukan dan menghilangkan kemudorotan serta mendatangkan kebaikan.  Dalam Musnad Al-Imam Ahmad, Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda :مَنْ تَعَلَّقَ تَمِيْمَةً فَقَدْ أَشْرَكَ“Barangsiapa yang menggantungkan jimat maka sungguh ia telah berbuat kesyirikan”.  HR Al-HakimSebagaimana Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- memperingatkan agar tidak terpedaya oleh para dukun, pera peramal dan para pendusta. Beliau berkata ;مَنْ أَتَى كَاهِنًا أَوْ عَرَّافًا فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُوْلُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ“Barangsiapa yang mendatangi dukun atau para normal lalu membenarkan apa yang diucapkannya maka sungguh ia telah kefir kepada apa yang diturunkan kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.” HR Al-Arba’ah (Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasaai, dan Ibnu Maajah) dan Al-Haakim).Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- ditanya tentang An-Nusyroh, maka beliau menjawab :هِيَ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ“Itu termasuk perbuatan syaitan.” HR Ahmad, Abu Dawud, dan Al-BaihaqiAn-Nusyroh adalah berupaya menghilangkan sihir dengan menggunakan sihir yang serupa.Kaum muslimin sekalian!Tatkala kita berada pada kondisi yang mengajak jiwa untuk melakukan perkara yang tidak terpuji atau perkara yang tidak halal, yaitu tatkala kondisi berobat, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengingatkan umatnya dengan perkara tauhid dan wajibnya memberi perhatian yang besar kepada tauhid, sehingga tetap bergantung kepada Allah dan bersandar kepadaNya, serta bertawakkal kepadaNya dan tidak mengarahkan hati kecuali hanya kepadaNya. Maka beliau bersabda –sebagaiamana diriwayatkan oleh Aisyah- , bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam jika menjenguk orang sakit beliau berkata ;أَذْهِبِ الْبَأْسَ رَبَّ النَّاسِ، اِشْفِ أَنْتَ الشَّافِي لاَ شِفَاءَ إِلاَّ شِفَاؤُكَ شِفَاءٌ لاَ يُغَادِرُ سَقَمًا“Hilangkanlah penyakit wahai Tuhannya manusia, sembuhkanlah sesungguhnya Engkau adalah Maha Penyembuh, tidak ada kesembuhan kecuali dari kesembuhanMu, kesembuhan yang tidak menyisakan satu penyakitpun.”  HR Al-Bukhari dan Muslim.Nabi berkata kepada Utsman bin Abil ‘Aash Ats-Tsaqofi tatkala ia menyampaikan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam akan sakit yang beliau rasakan di tubuh beliau sejak beliau masuk Islam. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada beliau:“Letakanlah tanganmu di lokasi bagian tubuhmu yang sakit, lalu ucapkanlah “Bismillah” tiga kali, lalu ucapkanlah sebanyak tujuh kali:أَعُوْذُ بِاللهِ وَقُدْرَتِهِ مِنْ شَرِّ مَا أَجِدُ وَأُحَاذِرُ“Aku berlindung kepada Allah dan kekuasaanNya dari keburukan yang aku dapati dan keburukan yang aku khawatirkan.”  HR Muslim.Kaum muslimin sekalian!Pada bentuk-bentuk semangat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam menjaga kemurnian tauhid dan perhatian besar beliau maka datanglah pengarahan beliau yang mulia sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Abbas bahwasanya ada seseorang berkata kepada Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- : مَا شَاءَ اللهُ وَشِئْتَ“Atas kehenda Allah dan kehendakmu”Maka Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- berkata kepadanya :أَجَعَلْتَنِي للهِ عِدْلاً، بَلْ مَا شَاءَ اللهُ وَحْدَهُ“Apakah engkau menjadikan aku sama seperti Allah?, akan tetapi (katakanlah) “Atas kehendak Allah semata.”  HR Ahmad dan Ibnu Maajah.Dalam hadits riwayat Hudzaifah, Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :لاَ تَقُوْلُوا مَا شَاءَ اللهُ وَشَاءَ فُلاَنٌ، وَلَكِنْ قُوْلُوْا : مَا شَاءَ اللهُ ثُمَّ شَاءِ فُلاَنٌ“Janganlah kalian berkata, “Atas kehendak Allah dan kehendak si fulan”, akan tetapi katakanlah, “Atas kehendak Allah, kemudian kehendak si fulan.”  HR Ahmad, Abu Dawud, dan Ibnu Maajah.Di antara sisi semangat Nabi kita Muhammad -shallallahu ‘alaihi wasallam dalam membimbing umatnya agar waspada dari segala yang menyelisihi hakikat tauhid dan membatalkan pokok tauhid atau kewajibannya, maka beliau menyampaikan kepada umatnya pidato beliau yang agung sebagaimana yang diriwayatkan oleh Umar dari beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bahwasanya beliau bersabda :أَلآ إِنَّ اللهَ يَنْهَاكُمْ أَنْ تَحْلِفُوا بَآبَائِكُمْ، فَمَنْ كَانَ حَالِفًا فَلْيَحْلِفْ بِاللهِ وَإِلاَّ فَلْيَصْمُتْ“Ketahuilah bahwasanya Allah melarang kalian untuk bersumpah dengan nenek moyang kalian, maka barangsiapa yang bersumpah hendaknya ia bersumpah dengan nama Allah, jika tidak maka hendaknya ia diam”Umar berkata :فَوَاللهِ مَا حَلَفْتُ بِهَا مُنْذُ سَمِعْتُ النَّبِيَّ ذَاكِرًا وَلاَ آثِرًا“Demi Allah, aku tidak pernah bersumpah dengan nenek moyang semenjak aku mendengar Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam, apakah aku bersumpah dari diri sendiri atau hanya menceritakan sumpah orang lain.” HR Al-Bukhari dan Muslim.Dalam hadits Ibnu Umar bahwasanya Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda ;مَنْ حَلَفَ بِغَيْرِ اللهِ فَقَدْ كَفَرَ أَوْ أَشْرَكَ“Barangsiapa yang bersumpah dengan selain nama Allah maka sungguh ia telah kafir atau telah syirik.” HR Ahmad, Abu Dawud, dan At-Tirmidzi.Kaum muslimin sekalian!Jadikanlah tauhid (pengesaan Allah) selalu di hadapan kalian, dan jalanilah kehidupan ini untuk beribadah kepada sang Pencipta dan mengagungkanNya, serta bergantung kepadaNya dalam segala kondisi. Ikatlah jiwa dan hati kepada Penciptanya. Gunakanlah anggota tubuh untuk perkara-perkara yang mendatangkan keridoan Penciptanya, maka akan terwujudkan bagi kalian kebaikan dan kalian akan memperoleh ganjaran yang besar.إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ ، أُولَئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ خَالِدِينَ فِيهَا جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ [ الأحقاف / 13-14]“Sesungguhnya orang-orang yang berkata Rabb kami adalah Allah lalu mereka beristiqomah, maka tidak ada ketakutan atas mereka dan mereka tidaklah bersedih. Mereka itulah penghuni surga, kekal di dalamnya, sebagai ganjaran atas apa yang mereka amalkan. QS Al-AHqoof : 13-14Semoga Allah memberi keberkahan kepadaku dan kepada anda dalam al-Qur’an dan sunnah Nabi Muhammad pemimpin keturunan Adnan.=============== Khotbah KeduaDalam rangka penjagaan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam akan kemurnian tauhid dan pembentengan beliau yang agung terhadap sisi tauhid dari segala perkara yang hanya merupakan prasangka-prasangka yang batil dan dugaan-dugaan yang hanya merupakan khayalan semata, maka dalam hadits ‘Imron beliau bersabda ;لَيْسَ مِنَّا مَنْ تَطَيَّرَ أَوْ تُطُيِّرَ لَهُ أَوْ تَكَهَّنَ أَوْ تُكُهِّنَ لَهُ أَوْ سَحَرَ أَوْ سُحِرَ لَهُ“Bukan dari kami orang yang melakukan tathoyyur (yaitu mengkaitkan nasib sial dengan sesuatu yang dilihat atau didengar-pen) atau dilakukan tathoyyur untuknya, atau melakukan praktik perdukunan atau dilakukan praktik perdukunan untuknya, atau melakukan sihir atau dilakukan praktik sihir baginya.” HR Al-Bazzaar dan sanadnya hasan.Dalam hadits Mu’awiyah bin Al-Hakam As-Sulami, ia berkata :يَا رَسُوْلَ اللهِ أُمُوْرٌ كُنَّا نَصْنَعُهَا فِي الْجَاهِلِيَّةِ، كُنَّا نَأْتِي الْكُهَّانَ“Wahai Rasulullah, ada perkara-perkara yang dahulu kami melakukannya di masa jahiliyah. Kami dahulu mendatangi para dukun.  فَلاَ تَأْتُوا الْكُهَّانَ  “Maka janganlah kalian mendatangi para dukun”   Aku berkata,  كُنَّا نَتَطَيَّر  “Kami dahulu bertathoyyur (merasa mendapatkan nasib sial) !”  Beliau berkata,  ذَاكَ شَيْءٌ يَجِدُهُ أَحَدُكُمْ فِي نَفْسِهِ فَلاَ يَصُدَنَّكُمْ  “Itu adalah Sesuatu yang salah seorang dari kalian mendapatinya dalam dirinya maka jangan sampai menghalangi kalian (dari kegiatan kalian)” (HR Muslim)Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Dawud, dan At-Tirmidzi dari hadits Ibnu Mas’ud,  Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda :الطِّيَرَةُ شِرْكٌ“Tathoyyur (meyakini mendapat kesialan) adalah suatu kesyirikan”Dan yang terakhir, Yakinlah bahwasanya seluruh perkara adalah di tangan Allah -subhanahu wa ta’ala-, dan hanya terjadi karena takdirNya dan ketentuanNya. Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda :لاَ عَدْوَى وَلاَ طِيَرَةَ وَلاَ هَامَّةَ وَلاَ صَفَرَ“Tidak ada penyakit menular (yang menular dengan sendirinya), tidak ada tathoyyur (nasib sial), tidak ada haammah (burung hantu yang memberi kemudaratan tanpa seizin Allah) dan tidak ada (kesialan) di bulan Shafar.”  HR Al-Bukhari dan Muslim.Maka tempuhlah jalan Al-Qur’an dan jadikanlah kehidupan kalian selalu berada pada sunnah Nabi Muhammad -shallallahu ‘alaihi wasallam- pemimpin keturunan Adnan.======  Doa  ===== 

MENUTUP CELAH-CELAH KESYIRIKAN

Khotbah Jum’at di Masjid Nabawi, 23 Jumadal Akhir 1437 H.Oleh : Syekh Husen Bin Abdul Aziz Al As-SyekhKhotbah PertamaPrinsip dasar yang membuat seorang muslim bahagia dan eksistensinya membuatnya selamat, aman dan sentosa  adalah penghambaan (ubudiyah) secara totalitas kepada Tuhan semesta alam (Rabbul Alamin).  Atas dasar itulah manusia diciptakan dan diwujudkan.Firman Allah :وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِيَعۡبُدُونِ [ الذاريات / 56]“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku”Artinya mereka harus memurnikan ibadah (kepada Allah semata) sebagaimana pernyataan Ibnu Abas –radhiyallahu anhuma-, bahwa Tauhid (peng-esa-an ) Allah merupakan sarana segala kesuksesan; di mana pengangungan dan pemurnian ibadah kepadaNya adalah penyebab keberuntungan, bahkan faktor utama kebahagiaan dan keselamatan dunia akhirat. Landasan terkuat bagi keamanan dan kesentosaan adalah penegakan tauhid kepada Allah yang Maha Esa, Tuhan satu-satunya, Yang menjadi tumpuan harapan (bagi semua makhluk). Maka hendaklah seorang hamba memurnikan tujuan ibadah kepada Allah semata  , memurnikan kecintaan dan pengagungan kepada Allah semata, memurnikan perasaan takut, kekhawatiran, pengharapan dan permohonan kepada Allah semata, memurnikan aspek lahir dan batinnya dalam menentukan arah dan kehendak hanya kepada Allah semata.Firman Allah –subhanahu wa ta’ala- kepada NabiNya –shallallahu alaihi wa sallam- :Firman Allah  :قُلۡ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحۡيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ، لَا شَرِيكَ لَهُۥۖ وَبِذَٰلِكَ أُمِرۡتُ وَأَنَا۠ أَوَّلُ ٱلۡمُسۡلِمِينَ [ الأنعام /  162- 163]“Katakanlah: sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)”. Qs Al-An’am :162Firman Allah :فَإِلَٰهُكُمۡ إِلَٰهٞ وَٰحِدٞ فَلَهُۥٓ أَسۡلِمُواْۗ  [ الحج/34]“Maka Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa, karena itu berserah dirilah kamu kepada-Nya.” Qs Al-Haj : 34Firman Allah :وَأَنِيبُوٓاْ إِلَىٰ رَبِّكُمۡ وَأَسۡلِمُواْ لَهُۥ [ الزمر/ 54]“Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya.” Qs Al-Zumar : 54Saudara sesama muslim !Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam-  sangat antusias memantapkan pondasi yang agung ini dalam pengarahan-pengarahan, seruan-seruan dan rekam jejak beliau, bertolak dari keinginan dan kecintaan beliau akan keselamatan umat dan para pengikut beliau. Itulah sebabnya, maka beliau –shallallahu alaihi wa sallam- membuntu segenap jalan dan mencegah segala cara yang dapat mencemari kemurnian tauhid atau berpengaruh terhadap kesempurnaan tauhid, atau melukai esensi tauhid.Di antara pengarahan Nabi –shallallahu alaihi wa sallam-  terkait dengan upaya mewujudkan  maksud luhur dan tujuan agung ini ialah pesan beliau yang merupakan salah satu pondasi agama ini dan merupakan prinsip yang amat kuat untuk membentengi substansinya, yakni tauhid dan keimanan.Ibnu Abas –radhiyallahu anhuma- berkata, “Aku pernah berada di belakang Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- pada suatu hari, beliau berpesan : “ Wahai bocah, sungguh aku ajarkan kepadamu beberapa kalimat; Jagalah Allah, niscaya Allah menjagamu. Jagalah Allah, niscaya kamu dapatkan-Nya di hadapanmu. Jika kamu meminta, mintalah kepada Allah dan jika kamu memohon pertolongan mintalah kepada Allah. Ketahuilah bahwa seandainya umat manusia seluruhnya berkumpul (bersepakat) untuk memberikan manfaat kepadamu, tidaklah mereka dapat memberikan manfaat kepadamu sedikitpun kecuali karena Allah telah menetapkannya untukmu. (Demikian pula) seandainya seluruh umat manusia bersepakat menjatuhkan suatu bahaya atasmu, tidaklah mereka dapat membehayakanmu sedikitmun kecuali karena Allah telah menetapkannya atasmu. Pena telah diangkat dan lembaran telah kering”. HR Tirmizi, dikatakannya hadis Hasan Shahih.Benar, ini merupakan suatu pesan yang di dalamnya terkandung penanaman pengagungan kepada Allah dalam jiwa manusia, dan bahwa Allah yang di tanganNya terletak segala kunci berbagai urusan, di tanganNya pula terletak penyelesaian persoalan-persoalan yang rumit, di sisi-Nya keberadaan perbendaharaan alam semesta dan kunci segala sesuatu, hanya Dia-lah yang dapat memenuhi segala kebutuhan dan memperkenankan permohonan hamba-hambaNya. Semua membutuhkan Allah, sangat memerlukan kedermawanan-Nya, pemberian-Nya dan kemurahan-Nya. Firman Allah :أَمَّن يُجِيبُ ٱلۡمُضۡطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكۡشِفُ ٱلسُّوٓءَ [ النمل / 62]“Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan”.Qs An-Naml :62Firman Allah :وَإِن يَمۡسَسۡكَ ٱللَّهُ بِضُرّٖ فَلَا كَاشِفَ لَهُۥٓ إِلَّا هُوَۖ وَإِن يُرِدۡكَ بِخَيۡرٖ فَلَا رَآدَّ لِفَضۡلِهِۦۚ يُصِيبُ بِهِۦ مَن يَشَآءُ مِنۡ عِبَادِهِۦۚ وَهُوَ ٱلۡغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ [ يونس / 107]“ Jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak kurnia-Nya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayan.” Qs Yunus : 107Suatu pesan agung disampaikan oleh Pemimpin para nabi dan rasul –shallallahu alaihi wa sallam- yang ditujukan kepada setip muslim agar menjadikan Allah –subhanahu wa ta’ala- semata sebagai tujuan satu-satunya dalam memenuhi hajat hidup, menghilangkan keprihatinan dan kesulitannya. Firman Allah :إِيَّاكَ نَعۡبُدُ وَإِيَّاكَ نَسۡتَعِينُ [ الفاتحة / 5]“Hanya kepada Engkaulah kami menyembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan.” Qs Al-Fatihah :5Suatu pesan agung yang memperingatkan seorang muslim agar tidak terjatuh dalam hal-hal yang menyebabkan kehancuran secara permanen dan siksaan yang kekal abadi, suatu pesan yang mewanti-wanti manusia agar tidak berdoa dan meminta kepada selain Allah untuk menghilangkan krisis dan bencana, tidak pula mengarahkan permohonannya kepada selain Allah dalam mengangkat penderitaan atau  mendatangkan kesejahteraan. Firman Allah :إِنَّهُۥ مَن يُشۡرِكۡ بِٱللَّهِ فَقَدۡ حَرَّمَ ٱللَّهُ عَلَيۡهِ ٱلۡجَنَّةَ وَمَأۡوَىٰهُ ٱلنَّارُۖ [ المائدة / 72]“Sesungguhnya barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan surga baginya, dan tempatnya ialah neraka.”Qs Al-Maidah : 72Sabda Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- :” مَنْ لَقِيَ اللَّهَ لا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ لَقِيهُ يُشْرِكُ بِهِ دَخَلَ النَّارَ ” أخرجه مسلم“Barangsiapa yang berjumpa dengan Allah tanpa pernah menyekutukan sesuatu denganNya, maka ia akan masuk surga. Dan barangsiapa yang berjumpa dengan Allah sementara dirinya menyekutukan sesuatu denganNya, maka ia masuk neraka”. HR Muslim. Menurut hadis riwayat Ubnu Mas’ud –radhiyallahu anhu- : ” مَنْ مَاتَ وَهُوَ يَدْعُو مِنْ دُوْنِ اللهِ نِدًّا دَخَلَ النَّارَ ” أخرجه البخاري“Barangsiapa meninggal dunia sedangkan dia memohon kepada selain Allah sebagai tandingan, masuklah ia ke neraka”. HR Bukhari.Suatu pesan agung yang me-resume untuk Anda –wahai muslim- bimbingan Al-Qur’an serta maksud, arah dan tujuan Al-Qur’an terkait dengan perintah, larangan, berita-berita dan kisah-kisah di dalamnya bahwa orang yang menggantungkan segala sesuatu kepada Allah, menitipkan segala kebutuhan kepadaNya dan menyerahkan segenap urusan kepadaNya semata, niscaya Allah akan mencukupikan dirinya dalam segala urusan, memudahkan segala kesulitannya dan mendekatkan baginya segala yang jauh.Firman Allah :إِنَّ ٱللَّهَ يُدَٰفِعُ عَنِ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْۗ   [ الحج/38]“Sesungguhnya Allah membela orang-orang yang beriman.” Qs Al-Haj : 38Firman Allah :وَمَن يَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِ فَهُوَ حَسۡبُهُۥٓۚ [ الطلاق /3]“Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” Qs At-Thalaq : 3Bahwa sesungguhnya orang yang mengandalkan selain Allah dan merasa puas dengannya, Allah akan serahkan urusannya kepadanya sehingga ia menajadi rendah diri, lemah dan hina-dina serta terjatuh dalam keburukan dan berbagai bencana.عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي لَيْلَى، عَنْ عِيسَى، أَخِيهِ قَالَ: دَخَلْتُ عَلَى عَبْدِ اللهِ بْنِ عُكَيْمٍ أَعُودُهُ وَبِهِ حُمْرَةٌ، فَقُلْنَا: أَلاَ تُعَلِّقُ شَيْئًا؟ قَالَ: الْمَوْتُ أَقْرَبُ مِنْ ذَلِكَ، قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ تَعَلَّقَ شَيْئًا وُكِلَ إِلَيْهِDiriwayatkan dari Muhammad bin Abdurrahman bin Abu Lalila, dari Isa, saudaranya berkata: Aku pernah menemui ‘Abdullah bin ‘Ukaim untuk membesuknya, sehubungan dengan penyakit Humrah (bercak-bercak merah pada kulit) yang diidapnya.  Aku pun berkata: Tidakkah sewajarnya engkau menggantungkan (hati) kepada sesuatu (jimat)? ‘Abdullah bin ‘Ukaim menjawab: “Kematian lebih baik bagiku dari pada perbuatan itu. Sebab Nabi -sallallahu alaihi wa sallam-  bersabda: Siapapun yang menggantungkan (hati) pada sesuatu benda, maka urusannya akan diserahkan sepenuhnya kepadanya’.HR Ahmad dan TirmiziRasulullah –shallallahu alaihi wa sallam – bersabda :” مَنْ نَزَلَ  بِهِ حَاجَةٌ فَأَنْزَلَهَا بِالنَّاسِ، كَانَ قَمِنًا مِنْ أَنْ لَا تَسْهُلَ حَاجَتُهُ، وَمَنْ أَنْزَلَهَا بِاللهِ، أتَاهُ  اللهُ بِرِزْقٍ عَاجِلٍ، أَوْ بِمَوْتٍ آجِلٍ ” أخرجه أحمد“Barangsiapa yang mempunyai suatu keperluan, lalu menyerahkannya kepada manusia, maka dapat dipastikan tidak lancar keperluannya itu. Dan barangsiapa yang menyerahkan keperluannya itu kepada Allah, maka Allah akan mendatangkan kepadanya rezeki dengan segera atau menunda ajal kematiannya.”HR AhmadMaka peganglah –wahai saudara sesama muslim- pesan agung itu secara konsisten agar Anda tidak dipermainkan oleh hawa nafsu dan tidak terombang-ambing oleh pemikiran liar yang tidak dapat menghindar dari bahayanya kecuali dengan mengikuti arahan pesan cemerlang dari Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- yang telah berhasil mencetak para sahabat sehingga mereka mencapai klimaks kesempurnaan tauhid berkat mengaplikasikan pesan agung beliau, sebagaimana yang dituturkan oleh Auf bin Malik Al-Asyja’i, ia bercerita : “كُنَّا عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تِسْعَةً أَوْ ثَمَانِيَةً أَوْ سَبْعَةً فَقَالَ صلى الله عليه وسلم : لاَ تَسْأَلُوْا النَّاسَ شَيْئًا” فَلَقَدْ رَأَيْتُ بَعْضَ أُولَئِكَ النَّفَرِ يَسْقُطُ سَوْطُ أَحَدِهِمْ فَمَا يَسْأَلُ أَحَدًا يُنَاوِلُهُ إِيَّاهُ ” أخرجه مسلم“Kami di sisi Rasulullallah -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, kami sembilan atau delapan atau tujuh orang.  Maka Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam-, bersabda : “Janganlah kalian meminta apapun kepada manusia”. Sungguh aku telah melihat salah seorang di antara mereka ketika cemetinya terjatuh maka ia tidak meminta seorangpun untuk mengambilkannya dan memberikan kepadanya.” HR Muslim.Dari Tsauban, berkata : Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda : “مَنْ يَكْفُلُ لِي أَنْ لَا يَسْأَلَ النَّاسَ شَيْئًا وَأَتَكَفَّلُ لَهُ بِالْجَنَّةِ فَقُلتُ أنَا فَكَانَ لَا يَسْألُ أحَدًا شَيْئًا ” أخرجه أبو داود والنسائي“Adakah orang yang bisa menjamin untukku bahwa ia tidak meminta-minta suatu apapun kepada sehingga aku menjamin baginya surga. Aku (Tsauban) menjawab, ‘Aku Ya Rasulallah’. Sejak itulah ia (Tsauban) tidak pernah meminta sesuatu kepada siapapun.”. HR Abu Daud dan Nasa’i.Seorang keponakan Al-Akhnaf bin Qais mengeluhkan sakit gigi yang diderita, maka Akhnaf menasihatinya seraya berkata : “Aku kehilangan pengelihatanku semenjak 40 tahun yang lalu, namun begitu aku tidak pernah mengadu kepada siapapun.”Wahai saudara sesama muslim! Mengadulah kepada Allah –subhanahu wa ta’ala- ketika Anda dalam kondisi krisis dan kesulitan. Bergantunglah kepada-Nya semata, bukan kepada lain-Nya ketika Anda tertimpa malapetaka, kegentingan dan kemelut.Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :إذَا أصَابَ أحَدَكم هَمٌّ أوْ لَأوَاءٌ فَلْيَقلْ: اللّه، اللّه رَبّي لَا أشْرِكُ بِهِ شَيْئًا ”   أخرجه الطبرانى فى الأوسط “Jika salah seorang di antara kalian tertimpa kesedihan atau gangguan kesehatan, maka hendaklah ia menyebut, “Allah – Allah adalah Tuhanku, aku tidak menyekutukan-Nya dengan sesua-tu.” HR Tabrani dalam Al-Ausath.Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- ketika dalam kesulitan selalu berdoa :” لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ الْعَظِيمُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ رَبُّ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَرَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيْمِ” متفق عليه“Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah Yang Maha Agung. Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah Tuhan langit dan bumi dan Tuhan Arasy yang agung”. Muttafaq Alaih.Para Ulama telah bersepakat bahwa orang yang meminta pertolongan, bantuan dan perlindungan kepada sesama makhluk, yang telah meninggal, atau yang sedang raib atau bahkan yang masih hidup untuk mengatasi suatu persoalan yang sebenarnya hanya Allah sendiri yang mampu mengatasinya, maka sungguh ia telah berbuat kesyirikan yang menghanguskan amalnya.Wahai kaum muslimin!Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- benar-benar antusias menanamkan bibit-bibit ketauhidan dalam jiwa. Beliau bersungguh-sungguh mengajak memperhatikan pondasi ini. Beliau berupaya dengan serius melindungi esensi tauhid secara sempurna, jangan sampai ada kekurangan dalam perkataan, perbuatan, maksud dan kehendak terkait dengan tauhid ini.Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- pernah ditanya tentang seseorang yang berjumpa dengan sesamanya untuk memberi salam, apakah lalu ia membungkuk di hadapannya? Beliau menjawab, “Tidak boleh”. HR Ahmad dan Tirmizi. Status hadis ini adalah hasan.Semua itu tak lain hanyalah untuk mencegah sikap ketundukan apapun kecuali ketuntukan kepada Allah yang maha agung.Rasulullah yang penyayang telah memberi pengarahan kepada perkara yang bisa menolak godaan syaitan serta tipu daya dan makarnya. Anas meriwayatkan bahwasanya ada seseorang berkata :يَا مُحَمَّدُ، يَا سَيِّدَنَا، وَابْنَ سَيِّدِنَا وَابْنَ خَيْرِنَا“Wahai Muhammad, wahai pemimpin kami, putra pemimpin kami, putra lelaki terbaik kami”.Maka Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- berkata :أَيُّهَا النَّاسُ، عَلَيْكُمْ بِتَقْوَاكُمْ وَلاَ يَسْتَهْوِيَنَّكُمُ الشًّيْطَانُ، أَنَا مُحَمَّدٌ عَبْدُاللهِ وَرَسُوْلُهُ، مَا أُحِبُّ أَنْ تَرْفَعُوْنِي فَوْقَ مَنْزِلَتِي الَّتِي أَنْزَلَنِيَ اللهُ“Wahai manusia, hendaknya kalian tetap di atas ketakwaan kalian, jangan sampai syaitan menggelincirkan kalian. Aku adalah Muhammad, seorang hamba Allah dan rasulNya, aku tidak suka kalian mengangkatku lebih dari kedudukanku yang telah Allah tetapkan untukku” (HR An-Nasaai dan Ibnu Hibban)Dalam shahih Al-Bukhari, beliau –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :لاَ تُطْرُوْنِي كَمَا أَطْرَتِ النَّصَارَى عِيْسَى بْنَ مَرْيَمَ، فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدٌ، فَقُوْلُوا عَبْدُاللهِ وَرَسُوْلُهُ“Janganlah kalian berlebih-lebihan kepadaku sebagaimana kaum nashoro berlebihan kepada ‘Isa bin Maryam. Karena sesungguhnya aku hanyalah seorang hamba, maka katakanlah : (Muhammad itu) hamba Allah dan rasulNya.” HR Al-BukhariSaudara-saudaraku seiman!Diantara contoh semangat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam untuk menekankan tauhid dan besarnya perhatian beliau untuk memantapkan tauid, maka beliau menutup segala sarana yang bisa digunakan syaitan untuk menjerumuskan para hamba ke dalam lumpur kesyirikan dan khurofat jahiliyah. Karenanya telah datang pengarahan-pengarahan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam dalam rangka mengingatkan untuk tidak mengarahkan hati kepada para penghuni kubur, dan tidak bersandar kepada mereka atau merendahkan diri di hadapan pintu-pintu masuk kuburan mereka, atau beristighotsah kepada mereka tatkala dalam kondisi-kondisi sulit dan genting serta dalam kesulitan, yang hal ini semuanya selama-lamanya tidak pantas ditujukan kecuali hanya kepada pencipta bumi dan langit !!.Dari Abu Huroiroh radhiallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :اللَّهُمَّ لاَ تَجْعَلْ قَبْرِي وَثَنًا يُعْبَدُ، اِشْتَدَّ غَضَبُ اللهِ عَلَى قَوْمٍ اتَّخَذُوْا قُبُوْرَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ“Ya Allah, janganlah engkau menjadikan kuburanku adalah berhara yang disembah. Sungguh Allah sangat marah terhadap kaum yang menjadikan kuburan-kuburan nabi-nabi mereka sebagai mesjid-mesjid.” HR Ahmad dan Malik dalam Muwattha’ dengan periwayatan ‘Atha bin Yasar.Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- memberi perhatian yang sangat besar terhadap penjagaan tauhid, karenanya beliau memperingatkan akan bahaya sarana-sarana setan dan penyesatan syaitan yang memfitnah manusia dengan jimat-jimat dan kalung-kalung yang digantungkan (diikatkan) ke badan atau harta benda dengan alasan untuk menolak keburukan dan menghilangkan kemudorotan serta mendatangkan kebaikan.  Dalam Musnad Al-Imam Ahmad, Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda :مَنْ تَعَلَّقَ تَمِيْمَةً فَقَدْ أَشْرَكَ“Barangsiapa yang menggantungkan jimat maka sungguh ia telah berbuat kesyirikan”.  HR Al-HakimSebagaimana Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- memperingatkan agar tidak terpedaya oleh para dukun, pera peramal dan para pendusta. Beliau berkata ;مَنْ أَتَى كَاهِنًا أَوْ عَرَّافًا فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُوْلُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ“Barangsiapa yang mendatangi dukun atau para normal lalu membenarkan apa yang diucapkannya maka sungguh ia telah kefir kepada apa yang diturunkan kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.” HR Al-Arba’ah (Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasaai, dan Ibnu Maajah) dan Al-Haakim).Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- ditanya tentang An-Nusyroh, maka beliau menjawab :هِيَ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ“Itu termasuk perbuatan syaitan.” HR Ahmad, Abu Dawud, dan Al-BaihaqiAn-Nusyroh adalah berupaya menghilangkan sihir dengan menggunakan sihir yang serupa.Kaum muslimin sekalian!Tatkala kita berada pada kondisi yang mengajak jiwa untuk melakukan perkara yang tidak terpuji atau perkara yang tidak halal, yaitu tatkala kondisi berobat, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengingatkan umatnya dengan perkara tauhid dan wajibnya memberi perhatian yang besar kepada tauhid, sehingga tetap bergantung kepada Allah dan bersandar kepadaNya, serta bertawakkal kepadaNya dan tidak mengarahkan hati kecuali hanya kepadaNya. Maka beliau bersabda –sebagaiamana diriwayatkan oleh Aisyah- , bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam jika menjenguk orang sakit beliau berkata ;أَذْهِبِ الْبَأْسَ رَبَّ النَّاسِ، اِشْفِ أَنْتَ الشَّافِي لاَ شِفَاءَ إِلاَّ شِفَاؤُكَ شِفَاءٌ لاَ يُغَادِرُ سَقَمًا“Hilangkanlah penyakit wahai Tuhannya manusia, sembuhkanlah sesungguhnya Engkau adalah Maha Penyembuh, tidak ada kesembuhan kecuali dari kesembuhanMu, kesembuhan yang tidak menyisakan satu penyakitpun.”  HR Al-Bukhari dan Muslim.Nabi berkata kepada Utsman bin Abil ‘Aash Ats-Tsaqofi tatkala ia menyampaikan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam akan sakit yang beliau rasakan di tubuh beliau sejak beliau masuk Islam. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada beliau:“Letakanlah tanganmu di lokasi bagian tubuhmu yang sakit, lalu ucapkanlah “Bismillah” tiga kali, lalu ucapkanlah sebanyak tujuh kali:أَعُوْذُ بِاللهِ وَقُدْرَتِهِ مِنْ شَرِّ مَا أَجِدُ وَأُحَاذِرُ“Aku berlindung kepada Allah dan kekuasaanNya dari keburukan yang aku dapati dan keburukan yang aku khawatirkan.”  HR Muslim.Kaum muslimin sekalian!Pada bentuk-bentuk semangat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam menjaga kemurnian tauhid dan perhatian besar beliau maka datanglah pengarahan beliau yang mulia sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Abbas bahwasanya ada seseorang berkata kepada Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- : مَا شَاءَ اللهُ وَشِئْتَ“Atas kehenda Allah dan kehendakmu”Maka Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- berkata kepadanya :أَجَعَلْتَنِي للهِ عِدْلاً، بَلْ مَا شَاءَ اللهُ وَحْدَهُ“Apakah engkau menjadikan aku sama seperti Allah?, akan tetapi (katakanlah) “Atas kehendak Allah semata.”  HR Ahmad dan Ibnu Maajah.Dalam hadits riwayat Hudzaifah, Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :لاَ تَقُوْلُوا مَا شَاءَ اللهُ وَشَاءَ فُلاَنٌ، وَلَكِنْ قُوْلُوْا : مَا شَاءَ اللهُ ثُمَّ شَاءِ فُلاَنٌ“Janganlah kalian berkata, “Atas kehendak Allah dan kehendak si fulan”, akan tetapi katakanlah, “Atas kehendak Allah, kemudian kehendak si fulan.”  HR Ahmad, Abu Dawud, dan Ibnu Maajah.Di antara sisi semangat Nabi kita Muhammad -shallallahu ‘alaihi wasallam dalam membimbing umatnya agar waspada dari segala yang menyelisihi hakikat tauhid dan membatalkan pokok tauhid atau kewajibannya, maka beliau menyampaikan kepada umatnya pidato beliau yang agung sebagaimana yang diriwayatkan oleh Umar dari beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bahwasanya beliau bersabda :أَلآ إِنَّ اللهَ يَنْهَاكُمْ أَنْ تَحْلِفُوا بَآبَائِكُمْ، فَمَنْ كَانَ حَالِفًا فَلْيَحْلِفْ بِاللهِ وَإِلاَّ فَلْيَصْمُتْ“Ketahuilah bahwasanya Allah melarang kalian untuk bersumpah dengan nenek moyang kalian, maka barangsiapa yang bersumpah hendaknya ia bersumpah dengan nama Allah, jika tidak maka hendaknya ia diam”Umar berkata :فَوَاللهِ مَا حَلَفْتُ بِهَا مُنْذُ سَمِعْتُ النَّبِيَّ ذَاكِرًا وَلاَ آثِرًا“Demi Allah, aku tidak pernah bersumpah dengan nenek moyang semenjak aku mendengar Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam, apakah aku bersumpah dari diri sendiri atau hanya menceritakan sumpah orang lain.” HR Al-Bukhari dan Muslim.Dalam hadits Ibnu Umar bahwasanya Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda ;مَنْ حَلَفَ بِغَيْرِ اللهِ فَقَدْ كَفَرَ أَوْ أَشْرَكَ“Barangsiapa yang bersumpah dengan selain nama Allah maka sungguh ia telah kafir atau telah syirik.” HR Ahmad, Abu Dawud, dan At-Tirmidzi.Kaum muslimin sekalian!Jadikanlah tauhid (pengesaan Allah) selalu di hadapan kalian, dan jalanilah kehidupan ini untuk beribadah kepada sang Pencipta dan mengagungkanNya, serta bergantung kepadaNya dalam segala kondisi. Ikatlah jiwa dan hati kepada Penciptanya. Gunakanlah anggota tubuh untuk perkara-perkara yang mendatangkan keridoan Penciptanya, maka akan terwujudkan bagi kalian kebaikan dan kalian akan memperoleh ganjaran yang besar.إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ ، أُولَئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ خَالِدِينَ فِيهَا جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ [ الأحقاف / 13-14]“Sesungguhnya orang-orang yang berkata Rabb kami adalah Allah lalu mereka beristiqomah, maka tidak ada ketakutan atas mereka dan mereka tidaklah bersedih. Mereka itulah penghuni surga, kekal di dalamnya, sebagai ganjaran atas apa yang mereka amalkan. QS Al-AHqoof : 13-14Semoga Allah memberi keberkahan kepadaku dan kepada anda dalam al-Qur’an dan sunnah Nabi Muhammad pemimpin keturunan Adnan.=============== Khotbah KeduaDalam rangka penjagaan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam akan kemurnian tauhid dan pembentengan beliau yang agung terhadap sisi tauhid dari segala perkara yang hanya merupakan prasangka-prasangka yang batil dan dugaan-dugaan yang hanya merupakan khayalan semata, maka dalam hadits ‘Imron beliau bersabda ;لَيْسَ مِنَّا مَنْ تَطَيَّرَ أَوْ تُطُيِّرَ لَهُ أَوْ تَكَهَّنَ أَوْ تُكُهِّنَ لَهُ أَوْ سَحَرَ أَوْ سُحِرَ لَهُ“Bukan dari kami orang yang melakukan tathoyyur (yaitu mengkaitkan nasib sial dengan sesuatu yang dilihat atau didengar-pen) atau dilakukan tathoyyur untuknya, atau melakukan praktik perdukunan atau dilakukan praktik perdukunan untuknya, atau melakukan sihir atau dilakukan praktik sihir baginya.” HR Al-Bazzaar dan sanadnya hasan.Dalam hadits Mu’awiyah bin Al-Hakam As-Sulami, ia berkata :يَا رَسُوْلَ اللهِ أُمُوْرٌ كُنَّا نَصْنَعُهَا فِي الْجَاهِلِيَّةِ، كُنَّا نَأْتِي الْكُهَّانَ“Wahai Rasulullah, ada perkara-perkara yang dahulu kami melakukannya di masa jahiliyah. Kami dahulu mendatangi para dukun.  فَلاَ تَأْتُوا الْكُهَّانَ  “Maka janganlah kalian mendatangi para dukun”   Aku berkata,  كُنَّا نَتَطَيَّر  “Kami dahulu bertathoyyur (merasa mendapatkan nasib sial) !”  Beliau berkata,  ذَاكَ شَيْءٌ يَجِدُهُ أَحَدُكُمْ فِي نَفْسِهِ فَلاَ يَصُدَنَّكُمْ  “Itu adalah Sesuatu yang salah seorang dari kalian mendapatinya dalam dirinya maka jangan sampai menghalangi kalian (dari kegiatan kalian)” (HR Muslim)Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Dawud, dan At-Tirmidzi dari hadits Ibnu Mas’ud,  Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda :الطِّيَرَةُ شِرْكٌ“Tathoyyur (meyakini mendapat kesialan) adalah suatu kesyirikan”Dan yang terakhir, Yakinlah bahwasanya seluruh perkara adalah di tangan Allah -subhanahu wa ta’ala-, dan hanya terjadi karena takdirNya dan ketentuanNya. Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda :لاَ عَدْوَى وَلاَ طِيَرَةَ وَلاَ هَامَّةَ وَلاَ صَفَرَ“Tidak ada penyakit menular (yang menular dengan sendirinya), tidak ada tathoyyur (nasib sial), tidak ada haammah (burung hantu yang memberi kemudaratan tanpa seizin Allah) dan tidak ada (kesialan) di bulan Shafar.”  HR Al-Bukhari dan Muslim.Maka tempuhlah jalan Al-Qur’an dan jadikanlah kehidupan kalian selalu berada pada sunnah Nabi Muhammad -shallallahu ‘alaihi wasallam- pemimpin keturunan Adnan.======  Doa  ===== 
Khotbah Jum’at di Masjid Nabawi, 23 Jumadal Akhir 1437 H.Oleh : Syekh Husen Bin Abdul Aziz Al As-SyekhKhotbah PertamaPrinsip dasar yang membuat seorang muslim bahagia dan eksistensinya membuatnya selamat, aman dan sentosa  adalah penghambaan (ubudiyah) secara totalitas kepada Tuhan semesta alam (Rabbul Alamin).  Atas dasar itulah manusia diciptakan dan diwujudkan.Firman Allah :وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِيَعۡبُدُونِ [ الذاريات / 56]“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku”Artinya mereka harus memurnikan ibadah (kepada Allah semata) sebagaimana pernyataan Ibnu Abas –radhiyallahu anhuma-, bahwa Tauhid (peng-esa-an ) Allah merupakan sarana segala kesuksesan; di mana pengangungan dan pemurnian ibadah kepadaNya adalah penyebab keberuntungan, bahkan faktor utama kebahagiaan dan keselamatan dunia akhirat. Landasan terkuat bagi keamanan dan kesentosaan adalah penegakan tauhid kepada Allah yang Maha Esa, Tuhan satu-satunya, Yang menjadi tumpuan harapan (bagi semua makhluk). Maka hendaklah seorang hamba memurnikan tujuan ibadah kepada Allah semata  , memurnikan kecintaan dan pengagungan kepada Allah semata, memurnikan perasaan takut, kekhawatiran, pengharapan dan permohonan kepada Allah semata, memurnikan aspek lahir dan batinnya dalam menentukan arah dan kehendak hanya kepada Allah semata.Firman Allah –subhanahu wa ta’ala- kepada NabiNya –shallallahu alaihi wa sallam- :Firman Allah  :قُلۡ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحۡيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ، لَا شَرِيكَ لَهُۥۖ وَبِذَٰلِكَ أُمِرۡتُ وَأَنَا۠ أَوَّلُ ٱلۡمُسۡلِمِينَ [ الأنعام /  162- 163]“Katakanlah: sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)”. Qs Al-An’am :162Firman Allah :فَإِلَٰهُكُمۡ إِلَٰهٞ وَٰحِدٞ فَلَهُۥٓ أَسۡلِمُواْۗ  [ الحج/34]“Maka Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa, karena itu berserah dirilah kamu kepada-Nya.” Qs Al-Haj : 34Firman Allah :وَأَنِيبُوٓاْ إِلَىٰ رَبِّكُمۡ وَأَسۡلِمُواْ لَهُۥ [ الزمر/ 54]“Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya.” Qs Al-Zumar : 54Saudara sesama muslim !Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam-  sangat antusias memantapkan pondasi yang agung ini dalam pengarahan-pengarahan, seruan-seruan dan rekam jejak beliau, bertolak dari keinginan dan kecintaan beliau akan keselamatan umat dan para pengikut beliau. Itulah sebabnya, maka beliau –shallallahu alaihi wa sallam- membuntu segenap jalan dan mencegah segala cara yang dapat mencemari kemurnian tauhid atau berpengaruh terhadap kesempurnaan tauhid, atau melukai esensi tauhid.Di antara pengarahan Nabi –shallallahu alaihi wa sallam-  terkait dengan upaya mewujudkan  maksud luhur dan tujuan agung ini ialah pesan beliau yang merupakan salah satu pondasi agama ini dan merupakan prinsip yang amat kuat untuk membentengi substansinya, yakni tauhid dan keimanan.Ibnu Abas –radhiyallahu anhuma- berkata, “Aku pernah berada di belakang Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- pada suatu hari, beliau berpesan : “ Wahai bocah, sungguh aku ajarkan kepadamu beberapa kalimat; Jagalah Allah, niscaya Allah menjagamu. Jagalah Allah, niscaya kamu dapatkan-Nya di hadapanmu. Jika kamu meminta, mintalah kepada Allah dan jika kamu memohon pertolongan mintalah kepada Allah. Ketahuilah bahwa seandainya umat manusia seluruhnya berkumpul (bersepakat) untuk memberikan manfaat kepadamu, tidaklah mereka dapat memberikan manfaat kepadamu sedikitpun kecuali karena Allah telah menetapkannya untukmu. (Demikian pula) seandainya seluruh umat manusia bersepakat menjatuhkan suatu bahaya atasmu, tidaklah mereka dapat membehayakanmu sedikitmun kecuali karena Allah telah menetapkannya atasmu. Pena telah diangkat dan lembaran telah kering”. HR Tirmizi, dikatakannya hadis Hasan Shahih.Benar, ini merupakan suatu pesan yang di dalamnya terkandung penanaman pengagungan kepada Allah dalam jiwa manusia, dan bahwa Allah yang di tanganNya terletak segala kunci berbagai urusan, di tanganNya pula terletak penyelesaian persoalan-persoalan yang rumit, di sisi-Nya keberadaan perbendaharaan alam semesta dan kunci segala sesuatu, hanya Dia-lah yang dapat memenuhi segala kebutuhan dan memperkenankan permohonan hamba-hambaNya. Semua membutuhkan Allah, sangat memerlukan kedermawanan-Nya, pemberian-Nya dan kemurahan-Nya. Firman Allah :أَمَّن يُجِيبُ ٱلۡمُضۡطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكۡشِفُ ٱلسُّوٓءَ [ النمل / 62]“Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan”.Qs An-Naml :62Firman Allah :وَإِن يَمۡسَسۡكَ ٱللَّهُ بِضُرّٖ فَلَا كَاشِفَ لَهُۥٓ إِلَّا هُوَۖ وَإِن يُرِدۡكَ بِخَيۡرٖ فَلَا رَآدَّ لِفَضۡلِهِۦۚ يُصِيبُ بِهِۦ مَن يَشَآءُ مِنۡ عِبَادِهِۦۚ وَهُوَ ٱلۡغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ [ يونس / 107]“ Jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak kurnia-Nya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayan.” Qs Yunus : 107Suatu pesan agung disampaikan oleh Pemimpin para nabi dan rasul –shallallahu alaihi wa sallam- yang ditujukan kepada setip muslim agar menjadikan Allah –subhanahu wa ta’ala- semata sebagai tujuan satu-satunya dalam memenuhi hajat hidup, menghilangkan keprihatinan dan kesulitannya. Firman Allah :إِيَّاكَ نَعۡبُدُ وَإِيَّاكَ نَسۡتَعِينُ [ الفاتحة / 5]“Hanya kepada Engkaulah kami menyembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan.” Qs Al-Fatihah :5Suatu pesan agung yang memperingatkan seorang muslim agar tidak terjatuh dalam hal-hal yang menyebabkan kehancuran secara permanen dan siksaan yang kekal abadi, suatu pesan yang mewanti-wanti manusia agar tidak berdoa dan meminta kepada selain Allah untuk menghilangkan krisis dan bencana, tidak pula mengarahkan permohonannya kepada selain Allah dalam mengangkat penderitaan atau  mendatangkan kesejahteraan. Firman Allah :إِنَّهُۥ مَن يُشۡرِكۡ بِٱللَّهِ فَقَدۡ حَرَّمَ ٱللَّهُ عَلَيۡهِ ٱلۡجَنَّةَ وَمَأۡوَىٰهُ ٱلنَّارُۖ [ المائدة / 72]“Sesungguhnya barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan surga baginya, dan tempatnya ialah neraka.”Qs Al-Maidah : 72Sabda Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- :” مَنْ لَقِيَ اللَّهَ لا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ لَقِيهُ يُشْرِكُ بِهِ دَخَلَ النَّارَ ” أخرجه مسلم“Barangsiapa yang berjumpa dengan Allah tanpa pernah menyekutukan sesuatu denganNya, maka ia akan masuk surga. Dan barangsiapa yang berjumpa dengan Allah sementara dirinya menyekutukan sesuatu denganNya, maka ia masuk neraka”. HR Muslim. Menurut hadis riwayat Ubnu Mas’ud –radhiyallahu anhu- : ” مَنْ مَاتَ وَهُوَ يَدْعُو مِنْ دُوْنِ اللهِ نِدًّا دَخَلَ النَّارَ ” أخرجه البخاري“Barangsiapa meninggal dunia sedangkan dia memohon kepada selain Allah sebagai tandingan, masuklah ia ke neraka”. HR Bukhari.Suatu pesan agung yang me-resume untuk Anda –wahai muslim- bimbingan Al-Qur’an serta maksud, arah dan tujuan Al-Qur’an terkait dengan perintah, larangan, berita-berita dan kisah-kisah di dalamnya bahwa orang yang menggantungkan segala sesuatu kepada Allah, menitipkan segala kebutuhan kepadaNya dan menyerahkan segenap urusan kepadaNya semata, niscaya Allah akan mencukupikan dirinya dalam segala urusan, memudahkan segala kesulitannya dan mendekatkan baginya segala yang jauh.Firman Allah :إِنَّ ٱللَّهَ يُدَٰفِعُ عَنِ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْۗ   [ الحج/38]“Sesungguhnya Allah membela orang-orang yang beriman.” Qs Al-Haj : 38Firman Allah :وَمَن يَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِ فَهُوَ حَسۡبُهُۥٓۚ [ الطلاق /3]“Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” Qs At-Thalaq : 3Bahwa sesungguhnya orang yang mengandalkan selain Allah dan merasa puas dengannya, Allah akan serahkan urusannya kepadanya sehingga ia menajadi rendah diri, lemah dan hina-dina serta terjatuh dalam keburukan dan berbagai bencana.عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي لَيْلَى، عَنْ عِيسَى، أَخِيهِ قَالَ: دَخَلْتُ عَلَى عَبْدِ اللهِ بْنِ عُكَيْمٍ أَعُودُهُ وَبِهِ حُمْرَةٌ، فَقُلْنَا: أَلاَ تُعَلِّقُ شَيْئًا؟ قَالَ: الْمَوْتُ أَقْرَبُ مِنْ ذَلِكَ، قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ تَعَلَّقَ شَيْئًا وُكِلَ إِلَيْهِDiriwayatkan dari Muhammad bin Abdurrahman bin Abu Lalila, dari Isa, saudaranya berkata: Aku pernah menemui ‘Abdullah bin ‘Ukaim untuk membesuknya, sehubungan dengan penyakit Humrah (bercak-bercak merah pada kulit) yang diidapnya.  Aku pun berkata: Tidakkah sewajarnya engkau menggantungkan (hati) kepada sesuatu (jimat)? ‘Abdullah bin ‘Ukaim menjawab: “Kematian lebih baik bagiku dari pada perbuatan itu. Sebab Nabi -sallallahu alaihi wa sallam-  bersabda: Siapapun yang menggantungkan (hati) pada sesuatu benda, maka urusannya akan diserahkan sepenuhnya kepadanya’.HR Ahmad dan TirmiziRasulullah –shallallahu alaihi wa sallam – bersabda :” مَنْ نَزَلَ  بِهِ حَاجَةٌ فَأَنْزَلَهَا بِالنَّاسِ، كَانَ قَمِنًا مِنْ أَنْ لَا تَسْهُلَ حَاجَتُهُ، وَمَنْ أَنْزَلَهَا بِاللهِ، أتَاهُ  اللهُ بِرِزْقٍ عَاجِلٍ، أَوْ بِمَوْتٍ آجِلٍ ” أخرجه أحمد“Barangsiapa yang mempunyai suatu keperluan, lalu menyerahkannya kepada manusia, maka dapat dipastikan tidak lancar keperluannya itu. Dan barangsiapa yang menyerahkan keperluannya itu kepada Allah, maka Allah akan mendatangkan kepadanya rezeki dengan segera atau menunda ajal kematiannya.”HR AhmadMaka peganglah –wahai saudara sesama muslim- pesan agung itu secara konsisten agar Anda tidak dipermainkan oleh hawa nafsu dan tidak terombang-ambing oleh pemikiran liar yang tidak dapat menghindar dari bahayanya kecuali dengan mengikuti arahan pesan cemerlang dari Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- yang telah berhasil mencetak para sahabat sehingga mereka mencapai klimaks kesempurnaan tauhid berkat mengaplikasikan pesan agung beliau, sebagaimana yang dituturkan oleh Auf bin Malik Al-Asyja’i, ia bercerita : “كُنَّا عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تِسْعَةً أَوْ ثَمَانِيَةً أَوْ سَبْعَةً فَقَالَ صلى الله عليه وسلم : لاَ تَسْأَلُوْا النَّاسَ شَيْئًا” فَلَقَدْ رَأَيْتُ بَعْضَ أُولَئِكَ النَّفَرِ يَسْقُطُ سَوْطُ أَحَدِهِمْ فَمَا يَسْأَلُ أَحَدًا يُنَاوِلُهُ إِيَّاهُ ” أخرجه مسلم“Kami di sisi Rasulullallah -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, kami sembilan atau delapan atau tujuh orang.  Maka Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam-, bersabda : “Janganlah kalian meminta apapun kepada manusia”. Sungguh aku telah melihat salah seorang di antara mereka ketika cemetinya terjatuh maka ia tidak meminta seorangpun untuk mengambilkannya dan memberikan kepadanya.” HR Muslim.Dari Tsauban, berkata : Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda : “مَنْ يَكْفُلُ لِي أَنْ لَا يَسْأَلَ النَّاسَ شَيْئًا وَأَتَكَفَّلُ لَهُ بِالْجَنَّةِ فَقُلتُ أنَا فَكَانَ لَا يَسْألُ أحَدًا شَيْئًا ” أخرجه أبو داود والنسائي“Adakah orang yang bisa menjamin untukku bahwa ia tidak meminta-minta suatu apapun kepada sehingga aku menjamin baginya surga. Aku (Tsauban) menjawab, ‘Aku Ya Rasulallah’. Sejak itulah ia (Tsauban) tidak pernah meminta sesuatu kepada siapapun.”. HR Abu Daud dan Nasa’i.Seorang keponakan Al-Akhnaf bin Qais mengeluhkan sakit gigi yang diderita, maka Akhnaf menasihatinya seraya berkata : “Aku kehilangan pengelihatanku semenjak 40 tahun yang lalu, namun begitu aku tidak pernah mengadu kepada siapapun.”Wahai saudara sesama muslim! Mengadulah kepada Allah –subhanahu wa ta’ala- ketika Anda dalam kondisi krisis dan kesulitan. Bergantunglah kepada-Nya semata, bukan kepada lain-Nya ketika Anda tertimpa malapetaka, kegentingan dan kemelut.Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :إذَا أصَابَ أحَدَكم هَمٌّ أوْ لَأوَاءٌ فَلْيَقلْ: اللّه، اللّه رَبّي لَا أشْرِكُ بِهِ شَيْئًا ”   أخرجه الطبرانى فى الأوسط “Jika salah seorang di antara kalian tertimpa kesedihan atau gangguan kesehatan, maka hendaklah ia menyebut, “Allah – Allah adalah Tuhanku, aku tidak menyekutukan-Nya dengan sesua-tu.” HR Tabrani dalam Al-Ausath.Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- ketika dalam kesulitan selalu berdoa :” لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ الْعَظِيمُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ رَبُّ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَرَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيْمِ” متفق عليه“Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah Yang Maha Agung. Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah Tuhan langit dan bumi dan Tuhan Arasy yang agung”. Muttafaq Alaih.Para Ulama telah bersepakat bahwa orang yang meminta pertolongan, bantuan dan perlindungan kepada sesama makhluk, yang telah meninggal, atau yang sedang raib atau bahkan yang masih hidup untuk mengatasi suatu persoalan yang sebenarnya hanya Allah sendiri yang mampu mengatasinya, maka sungguh ia telah berbuat kesyirikan yang menghanguskan amalnya.Wahai kaum muslimin!Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- benar-benar antusias menanamkan bibit-bibit ketauhidan dalam jiwa. Beliau bersungguh-sungguh mengajak memperhatikan pondasi ini. Beliau berupaya dengan serius melindungi esensi tauhid secara sempurna, jangan sampai ada kekurangan dalam perkataan, perbuatan, maksud dan kehendak terkait dengan tauhid ini.Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- pernah ditanya tentang seseorang yang berjumpa dengan sesamanya untuk memberi salam, apakah lalu ia membungkuk di hadapannya? Beliau menjawab, “Tidak boleh”. HR Ahmad dan Tirmizi. Status hadis ini adalah hasan.Semua itu tak lain hanyalah untuk mencegah sikap ketundukan apapun kecuali ketuntukan kepada Allah yang maha agung.Rasulullah yang penyayang telah memberi pengarahan kepada perkara yang bisa menolak godaan syaitan serta tipu daya dan makarnya. Anas meriwayatkan bahwasanya ada seseorang berkata :يَا مُحَمَّدُ، يَا سَيِّدَنَا، وَابْنَ سَيِّدِنَا وَابْنَ خَيْرِنَا“Wahai Muhammad, wahai pemimpin kami, putra pemimpin kami, putra lelaki terbaik kami”.Maka Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- berkata :أَيُّهَا النَّاسُ، عَلَيْكُمْ بِتَقْوَاكُمْ وَلاَ يَسْتَهْوِيَنَّكُمُ الشًّيْطَانُ، أَنَا مُحَمَّدٌ عَبْدُاللهِ وَرَسُوْلُهُ، مَا أُحِبُّ أَنْ تَرْفَعُوْنِي فَوْقَ مَنْزِلَتِي الَّتِي أَنْزَلَنِيَ اللهُ“Wahai manusia, hendaknya kalian tetap di atas ketakwaan kalian, jangan sampai syaitan menggelincirkan kalian. Aku adalah Muhammad, seorang hamba Allah dan rasulNya, aku tidak suka kalian mengangkatku lebih dari kedudukanku yang telah Allah tetapkan untukku” (HR An-Nasaai dan Ibnu Hibban)Dalam shahih Al-Bukhari, beliau –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :لاَ تُطْرُوْنِي كَمَا أَطْرَتِ النَّصَارَى عِيْسَى بْنَ مَرْيَمَ، فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدٌ، فَقُوْلُوا عَبْدُاللهِ وَرَسُوْلُهُ“Janganlah kalian berlebih-lebihan kepadaku sebagaimana kaum nashoro berlebihan kepada ‘Isa bin Maryam. Karena sesungguhnya aku hanyalah seorang hamba, maka katakanlah : (Muhammad itu) hamba Allah dan rasulNya.” HR Al-BukhariSaudara-saudaraku seiman!Diantara contoh semangat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam untuk menekankan tauhid dan besarnya perhatian beliau untuk memantapkan tauid, maka beliau menutup segala sarana yang bisa digunakan syaitan untuk menjerumuskan para hamba ke dalam lumpur kesyirikan dan khurofat jahiliyah. Karenanya telah datang pengarahan-pengarahan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam dalam rangka mengingatkan untuk tidak mengarahkan hati kepada para penghuni kubur, dan tidak bersandar kepada mereka atau merendahkan diri di hadapan pintu-pintu masuk kuburan mereka, atau beristighotsah kepada mereka tatkala dalam kondisi-kondisi sulit dan genting serta dalam kesulitan, yang hal ini semuanya selama-lamanya tidak pantas ditujukan kecuali hanya kepada pencipta bumi dan langit !!.Dari Abu Huroiroh radhiallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :اللَّهُمَّ لاَ تَجْعَلْ قَبْرِي وَثَنًا يُعْبَدُ، اِشْتَدَّ غَضَبُ اللهِ عَلَى قَوْمٍ اتَّخَذُوْا قُبُوْرَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ“Ya Allah, janganlah engkau menjadikan kuburanku adalah berhara yang disembah. Sungguh Allah sangat marah terhadap kaum yang menjadikan kuburan-kuburan nabi-nabi mereka sebagai mesjid-mesjid.” HR Ahmad dan Malik dalam Muwattha’ dengan periwayatan ‘Atha bin Yasar.Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- memberi perhatian yang sangat besar terhadap penjagaan tauhid, karenanya beliau memperingatkan akan bahaya sarana-sarana setan dan penyesatan syaitan yang memfitnah manusia dengan jimat-jimat dan kalung-kalung yang digantungkan (diikatkan) ke badan atau harta benda dengan alasan untuk menolak keburukan dan menghilangkan kemudorotan serta mendatangkan kebaikan.  Dalam Musnad Al-Imam Ahmad, Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda :مَنْ تَعَلَّقَ تَمِيْمَةً فَقَدْ أَشْرَكَ“Barangsiapa yang menggantungkan jimat maka sungguh ia telah berbuat kesyirikan”.  HR Al-HakimSebagaimana Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- memperingatkan agar tidak terpedaya oleh para dukun, pera peramal dan para pendusta. Beliau berkata ;مَنْ أَتَى كَاهِنًا أَوْ عَرَّافًا فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُوْلُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ“Barangsiapa yang mendatangi dukun atau para normal lalu membenarkan apa yang diucapkannya maka sungguh ia telah kefir kepada apa yang diturunkan kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.” HR Al-Arba’ah (Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasaai, dan Ibnu Maajah) dan Al-Haakim).Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- ditanya tentang An-Nusyroh, maka beliau menjawab :هِيَ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ“Itu termasuk perbuatan syaitan.” HR Ahmad, Abu Dawud, dan Al-BaihaqiAn-Nusyroh adalah berupaya menghilangkan sihir dengan menggunakan sihir yang serupa.Kaum muslimin sekalian!Tatkala kita berada pada kondisi yang mengajak jiwa untuk melakukan perkara yang tidak terpuji atau perkara yang tidak halal, yaitu tatkala kondisi berobat, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengingatkan umatnya dengan perkara tauhid dan wajibnya memberi perhatian yang besar kepada tauhid, sehingga tetap bergantung kepada Allah dan bersandar kepadaNya, serta bertawakkal kepadaNya dan tidak mengarahkan hati kecuali hanya kepadaNya. Maka beliau bersabda –sebagaiamana diriwayatkan oleh Aisyah- , bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam jika menjenguk orang sakit beliau berkata ;أَذْهِبِ الْبَأْسَ رَبَّ النَّاسِ، اِشْفِ أَنْتَ الشَّافِي لاَ شِفَاءَ إِلاَّ شِفَاؤُكَ شِفَاءٌ لاَ يُغَادِرُ سَقَمًا“Hilangkanlah penyakit wahai Tuhannya manusia, sembuhkanlah sesungguhnya Engkau adalah Maha Penyembuh, tidak ada kesembuhan kecuali dari kesembuhanMu, kesembuhan yang tidak menyisakan satu penyakitpun.”  HR Al-Bukhari dan Muslim.Nabi berkata kepada Utsman bin Abil ‘Aash Ats-Tsaqofi tatkala ia menyampaikan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam akan sakit yang beliau rasakan di tubuh beliau sejak beliau masuk Islam. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada beliau:“Letakanlah tanganmu di lokasi bagian tubuhmu yang sakit, lalu ucapkanlah “Bismillah” tiga kali, lalu ucapkanlah sebanyak tujuh kali:أَعُوْذُ بِاللهِ وَقُدْرَتِهِ مِنْ شَرِّ مَا أَجِدُ وَأُحَاذِرُ“Aku berlindung kepada Allah dan kekuasaanNya dari keburukan yang aku dapati dan keburukan yang aku khawatirkan.”  HR Muslim.Kaum muslimin sekalian!Pada bentuk-bentuk semangat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam menjaga kemurnian tauhid dan perhatian besar beliau maka datanglah pengarahan beliau yang mulia sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Abbas bahwasanya ada seseorang berkata kepada Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- : مَا شَاءَ اللهُ وَشِئْتَ“Atas kehenda Allah dan kehendakmu”Maka Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- berkata kepadanya :أَجَعَلْتَنِي للهِ عِدْلاً، بَلْ مَا شَاءَ اللهُ وَحْدَهُ“Apakah engkau menjadikan aku sama seperti Allah?, akan tetapi (katakanlah) “Atas kehendak Allah semata.”  HR Ahmad dan Ibnu Maajah.Dalam hadits riwayat Hudzaifah, Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :لاَ تَقُوْلُوا مَا شَاءَ اللهُ وَشَاءَ فُلاَنٌ، وَلَكِنْ قُوْلُوْا : مَا شَاءَ اللهُ ثُمَّ شَاءِ فُلاَنٌ“Janganlah kalian berkata, “Atas kehendak Allah dan kehendak si fulan”, akan tetapi katakanlah, “Atas kehendak Allah, kemudian kehendak si fulan.”  HR Ahmad, Abu Dawud, dan Ibnu Maajah.Di antara sisi semangat Nabi kita Muhammad -shallallahu ‘alaihi wasallam dalam membimbing umatnya agar waspada dari segala yang menyelisihi hakikat tauhid dan membatalkan pokok tauhid atau kewajibannya, maka beliau menyampaikan kepada umatnya pidato beliau yang agung sebagaimana yang diriwayatkan oleh Umar dari beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bahwasanya beliau bersabda :أَلآ إِنَّ اللهَ يَنْهَاكُمْ أَنْ تَحْلِفُوا بَآبَائِكُمْ، فَمَنْ كَانَ حَالِفًا فَلْيَحْلِفْ بِاللهِ وَإِلاَّ فَلْيَصْمُتْ“Ketahuilah bahwasanya Allah melarang kalian untuk bersumpah dengan nenek moyang kalian, maka barangsiapa yang bersumpah hendaknya ia bersumpah dengan nama Allah, jika tidak maka hendaknya ia diam”Umar berkata :فَوَاللهِ مَا حَلَفْتُ بِهَا مُنْذُ سَمِعْتُ النَّبِيَّ ذَاكِرًا وَلاَ آثِرًا“Demi Allah, aku tidak pernah bersumpah dengan nenek moyang semenjak aku mendengar Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam, apakah aku bersumpah dari diri sendiri atau hanya menceritakan sumpah orang lain.” HR Al-Bukhari dan Muslim.Dalam hadits Ibnu Umar bahwasanya Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda ;مَنْ حَلَفَ بِغَيْرِ اللهِ فَقَدْ كَفَرَ أَوْ أَشْرَكَ“Barangsiapa yang bersumpah dengan selain nama Allah maka sungguh ia telah kafir atau telah syirik.” HR Ahmad, Abu Dawud, dan At-Tirmidzi.Kaum muslimin sekalian!Jadikanlah tauhid (pengesaan Allah) selalu di hadapan kalian, dan jalanilah kehidupan ini untuk beribadah kepada sang Pencipta dan mengagungkanNya, serta bergantung kepadaNya dalam segala kondisi. Ikatlah jiwa dan hati kepada Penciptanya. Gunakanlah anggota tubuh untuk perkara-perkara yang mendatangkan keridoan Penciptanya, maka akan terwujudkan bagi kalian kebaikan dan kalian akan memperoleh ganjaran yang besar.إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ ، أُولَئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ خَالِدِينَ فِيهَا جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ [ الأحقاف / 13-14]“Sesungguhnya orang-orang yang berkata Rabb kami adalah Allah lalu mereka beristiqomah, maka tidak ada ketakutan atas mereka dan mereka tidaklah bersedih. Mereka itulah penghuni surga, kekal di dalamnya, sebagai ganjaran atas apa yang mereka amalkan. QS Al-AHqoof : 13-14Semoga Allah memberi keberkahan kepadaku dan kepada anda dalam al-Qur’an dan sunnah Nabi Muhammad pemimpin keturunan Adnan.=============== Khotbah KeduaDalam rangka penjagaan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam akan kemurnian tauhid dan pembentengan beliau yang agung terhadap sisi tauhid dari segala perkara yang hanya merupakan prasangka-prasangka yang batil dan dugaan-dugaan yang hanya merupakan khayalan semata, maka dalam hadits ‘Imron beliau bersabda ;لَيْسَ مِنَّا مَنْ تَطَيَّرَ أَوْ تُطُيِّرَ لَهُ أَوْ تَكَهَّنَ أَوْ تُكُهِّنَ لَهُ أَوْ سَحَرَ أَوْ سُحِرَ لَهُ“Bukan dari kami orang yang melakukan tathoyyur (yaitu mengkaitkan nasib sial dengan sesuatu yang dilihat atau didengar-pen) atau dilakukan tathoyyur untuknya, atau melakukan praktik perdukunan atau dilakukan praktik perdukunan untuknya, atau melakukan sihir atau dilakukan praktik sihir baginya.” HR Al-Bazzaar dan sanadnya hasan.Dalam hadits Mu’awiyah bin Al-Hakam As-Sulami, ia berkata :يَا رَسُوْلَ اللهِ أُمُوْرٌ كُنَّا نَصْنَعُهَا فِي الْجَاهِلِيَّةِ، كُنَّا نَأْتِي الْكُهَّانَ“Wahai Rasulullah, ada perkara-perkara yang dahulu kami melakukannya di masa jahiliyah. Kami dahulu mendatangi para dukun.  فَلاَ تَأْتُوا الْكُهَّانَ  “Maka janganlah kalian mendatangi para dukun”   Aku berkata,  كُنَّا نَتَطَيَّر  “Kami dahulu bertathoyyur (merasa mendapatkan nasib sial) !”  Beliau berkata,  ذَاكَ شَيْءٌ يَجِدُهُ أَحَدُكُمْ فِي نَفْسِهِ فَلاَ يَصُدَنَّكُمْ  “Itu adalah Sesuatu yang salah seorang dari kalian mendapatinya dalam dirinya maka jangan sampai menghalangi kalian (dari kegiatan kalian)” (HR Muslim)Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Dawud, dan At-Tirmidzi dari hadits Ibnu Mas’ud,  Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda :الطِّيَرَةُ شِرْكٌ“Tathoyyur (meyakini mendapat kesialan) adalah suatu kesyirikan”Dan yang terakhir, Yakinlah bahwasanya seluruh perkara adalah di tangan Allah -subhanahu wa ta’ala-, dan hanya terjadi karena takdirNya dan ketentuanNya. Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda :لاَ عَدْوَى وَلاَ طِيَرَةَ وَلاَ هَامَّةَ وَلاَ صَفَرَ“Tidak ada penyakit menular (yang menular dengan sendirinya), tidak ada tathoyyur (nasib sial), tidak ada haammah (burung hantu yang memberi kemudaratan tanpa seizin Allah) dan tidak ada (kesialan) di bulan Shafar.”  HR Al-Bukhari dan Muslim.Maka tempuhlah jalan Al-Qur’an dan jadikanlah kehidupan kalian selalu berada pada sunnah Nabi Muhammad -shallallahu ‘alaihi wasallam- pemimpin keturunan Adnan.======  Doa  ===== 


Khotbah Jum’at di Masjid Nabawi, 23 Jumadal Akhir 1437 H.Oleh : Syekh Husen Bin Abdul Aziz Al As-SyekhKhotbah PertamaPrinsip dasar yang membuat seorang muslim bahagia dan eksistensinya membuatnya selamat, aman dan sentosa  adalah penghambaan (ubudiyah) secara totalitas kepada Tuhan semesta alam (Rabbul Alamin).  Atas dasar itulah manusia diciptakan dan diwujudkan.Firman Allah :وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِيَعۡبُدُونِ [ الذاريات / 56]“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku”Artinya mereka harus memurnikan ibadah (kepada Allah semata) sebagaimana pernyataan Ibnu Abas –radhiyallahu anhuma-, bahwa Tauhid (peng-esa-an ) Allah merupakan sarana segala kesuksesan; di mana pengangungan dan pemurnian ibadah kepadaNya adalah penyebab keberuntungan, bahkan faktor utama kebahagiaan dan keselamatan dunia akhirat. Landasan terkuat bagi keamanan dan kesentosaan adalah penegakan tauhid kepada Allah yang Maha Esa, Tuhan satu-satunya, Yang menjadi tumpuan harapan (bagi semua makhluk). Maka hendaklah seorang hamba memurnikan tujuan ibadah kepada Allah semata  , memurnikan kecintaan dan pengagungan kepada Allah semata, memurnikan perasaan takut, kekhawatiran, pengharapan dan permohonan kepada Allah semata, memurnikan aspek lahir dan batinnya dalam menentukan arah dan kehendak hanya kepada Allah semata.Firman Allah –subhanahu wa ta’ala- kepada NabiNya –shallallahu alaihi wa sallam- :Firman Allah  :قُلۡ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحۡيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ، لَا شَرِيكَ لَهُۥۖ وَبِذَٰلِكَ أُمِرۡتُ وَأَنَا۠ أَوَّلُ ٱلۡمُسۡلِمِينَ [ الأنعام /  162- 163]“Katakanlah: sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)”. Qs Al-An’am :162Firman Allah :فَإِلَٰهُكُمۡ إِلَٰهٞ وَٰحِدٞ فَلَهُۥٓ أَسۡلِمُواْۗ  [ الحج/34]“Maka Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa, karena itu berserah dirilah kamu kepada-Nya.” Qs Al-Haj : 34Firman Allah :وَأَنِيبُوٓاْ إِلَىٰ رَبِّكُمۡ وَأَسۡلِمُواْ لَهُۥ [ الزمر/ 54]“Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya.” Qs Al-Zumar : 54Saudara sesama muslim !Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam-  sangat antusias memantapkan pondasi yang agung ini dalam pengarahan-pengarahan, seruan-seruan dan rekam jejak beliau, bertolak dari keinginan dan kecintaan beliau akan keselamatan umat dan para pengikut beliau. Itulah sebabnya, maka beliau –shallallahu alaihi wa sallam- membuntu segenap jalan dan mencegah segala cara yang dapat mencemari kemurnian tauhid atau berpengaruh terhadap kesempurnaan tauhid, atau melukai esensi tauhid.Di antara pengarahan Nabi –shallallahu alaihi wa sallam-  terkait dengan upaya mewujudkan  maksud luhur dan tujuan agung ini ialah pesan beliau yang merupakan salah satu pondasi agama ini dan merupakan prinsip yang amat kuat untuk membentengi substansinya, yakni tauhid dan keimanan.Ibnu Abas –radhiyallahu anhuma- berkata, “Aku pernah berada di belakang Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- pada suatu hari, beliau berpesan : “ Wahai bocah, sungguh aku ajarkan kepadamu beberapa kalimat; Jagalah Allah, niscaya Allah menjagamu. Jagalah Allah, niscaya kamu dapatkan-Nya di hadapanmu. Jika kamu meminta, mintalah kepada Allah dan jika kamu memohon pertolongan mintalah kepada Allah. Ketahuilah bahwa seandainya umat manusia seluruhnya berkumpul (bersepakat) untuk memberikan manfaat kepadamu, tidaklah mereka dapat memberikan manfaat kepadamu sedikitpun kecuali karena Allah telah menetapkannya untukmu. (Demikian pula) seandainya seluruh umat manusia bersepakat menjatuhkan suatu bahaya atasmu, tidaklah mereka dapat membehayakanmu sedikitmun kecuali karena Allah telah menetapkannya atasmu. Pena telah diangkat dan lembaran telah kering”. HR Tirmizi, dikatakannya hadis Hasan Shahih.Benar, ini merupakan suatu pesan yang di dalamnya terkandung penanaman pengagungan kepada Allah dalam jiwa manusia, dan bahwa Allah yang di tanganNya terletak segala kunci berbagai urusan, di tanganNya pula terletak penyelesaian persoalan-persoalan yang rumit, di sisi-Nya keberadaan perbendaharaan alam semesta dan kunci segala sesuatu, hanya Dia-lah yang dapat memenuhi segala kebutuhan dan memperkenankan permohonan hamba-hambaNya. Semua membutuhkan Allah, sangat memerlukan kedermawanan-Nya, pemberian-Nya dan kemurahan-Nya. Firman Allah :أَمَّن يُجِيبُ ٱلۡمُضۡطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكۡشِفُ ٱلسُّوٓءَ [ النمل / 62]“Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan”.Qs An-Naml :62Firman Allah :وَإِن يَمۡسَسۡكَ ٱللَّهُ بِضُرّٖ فَلَا كَاشِفَ لَهُۥٓ إِلَّا هُوَۖ وَإِن يُرِدۡكَ بِخَيۡرٖ فَلَا رَآدَّ لِفَضۡلِهِۦۚ يُصِيبُ بِهِۦ مَن يَشَآءُ مِنۡ عِبَادِهِۦۚ وَهُوَ ٱلۡغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ [ يونس / 107]“ Jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak kurnia-Nya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayan.” Qs Yunus : 107Suatu pesan agung disampaikan oleh Pemimpin para nabi dan rasul –shallallahu alaihi wa sallam- yang ditujukan kepada setip muslim agar menjadikan Allah –subhanahu wa ta’ala- semata sebagai tujuan satu-satunya dalam memenuhi hajat hidup, menghilangkan keprihatinan dan kesulitannya. Firman Allah :إِيَّاكَ نَعۡبُدُ وَإِيَّاكَ نَسۡتَعِينُ [ الفاتحة / 5]“Hanya kepada Engkaulah kami menyembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan.” Qs Al-Fatihah :5Suatu pesan agung yang memperingatkan seorang muslim agar tidak terjatuh dalam hal-hal yang menyebabkan kehancuran secara permanen dan siksaan yang kekal abadi, suatu pesan yang mewanti-wanti manusia agar tidak berdoa dan meminta kepada selain Allah untuk menghilangkan krisis dan bencana, tidak pula mengarahkan permohonannya kepada selain Allah dalam mengangkat penderitaan atau  mendatangkan kesejahteraan. Firman Allah :إِنَّهُۥ مَن يُشۡرِكۡ بِٱللَّهِ فَقَدۡ حَرَّمَ ٱللَّهُ عَلَيۡهِ ٱلۡجَنَّةَ وَمَأۡوَىٰهُ ٱلنَّارُۖ [ المائدة / 72]“Sesungguhnya barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan surga baginya, dan tempatnya ialah neraka.”Qs Al-Maidah : 72Sabda Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- :” مَنْ لَقِيَ اللَّهَ لا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ لَقِيهُ يُشْرِكُ بِهِ دَخَلَ النَّارَ ” أخرجه مسلم“Barangsiapa yang berjumpa dengan Allah tanpa pernah menyekutukan sesuatu denganNya, maka ia akan masuk surga. Dan barangsiapa yang berjumpa dengan Allah sementara dirinya menyekutukan sesuatu denganNya, maka ia masuk neraka”. HR Muslim. Menurut hadis riwayat Ubnu Mas’ud –radhiyallahu anhu- : ” مَنْ مَاتَ وَهُوَ يَدْعُو مِنْ دُوْنِ اللهِ نِدًّا دَخَلَ النَّارَ ” أخرجه البخاري“Barangsiapa meninggal dunia sedangkan dia memohon kepada selain Allah sebagai tandingan, masuklah ia ke neraka”. HR Bukhari.Suatu pesan agung yang me-resume untuk Anda –wahai muslim- bimbingan Al-Qur’an serta maksud, arah dan tujuan Al-Qur’an terkait dengan perintah, larangan, berita-berita dan kisah-kisah di dalamnya bahwa orang yang menggantungkan segala sesuatu kepada Allah, menitipkan segala kebutuhan kepadaNya dan menyerahkan segenap urusan kepadaNya semata, niscaya Allah akan mencukupikan dirinya dalam segala urusan, memudahkan segala kesulitannya dan mendekatkan baginya segala yang jauh.Firman Allah :إِنَّ ٱللَّهَ يُدَٰفِعُ عَنِ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْۗ   [ الحج/38]“Sesungguhnya Allah membela orang-orang yang beriman.” Qs Al-Haj : 38Firman Allah :وَمَن يَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِ فَهُوَ حَسۡبُهُۥٓۚ [ الطلاق /3]“Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” Qs At-Thalaq : 3Bahwa sesungguhnya orang yang mengandalkan selain Allah dan merasa puas dengannya, Allah akan serahkan urusannya kepadanya sehingga ia menajadi rendah diri, lemah dan hina-dina serta terjatuh dalam keburukan dan berbagai bencana.عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي لَيْلَى، عَنْ عِيسَى، أَخِيهِ قَالَ: دَخَلْتُ عَلَى عَبْدِ اللهِ بْنِ عُكَيْمٍ أَعُودُهُ وَبِهِ حُمْرَةٌ، فَقُلْنَا: أَلاَ تُعَلِّقُ شَيْئًا؟ قَالَ: الْمَوْتُ أَقْرَبُ مِنْ ذَلِكَ، قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ تَعَلَّقَ شَيْئًا وُكِلَ إِلَيْهِDiriwayatkan dari Muhammad bin Abdurrahman bin Abu Lalila, dari Isa, saudaranya berkata: Aku pernah menemui ‘Abdullah bin ‘Ukaim untuk membesuknya, sehubungan dengan penyakit Humrah (bercak-bercak merah pada kulit) yang diidapnya.  Aku pun berkata: Tidakkah sewajarnya engkau menggantungkan (hati) kepada sesuatu (jimat)? ‘Abdullah bin ‘Ukaim menjawab: “Kematian lebih baik bagiku dari pada perbuatan itu. Sebab Nabi -sallallahu alaihi wa sallam-  bersabda: Siapapun yang menggantungkan (hati) pada sesuatu benda, maka urusannya akan diserahkan sepenuhnya kepadanya’.HR Ahmad dan TirmiziRasulullah –shallallahu alaihi wa sallam – bersabda :” مَنْ نَزَلَ  بِهِ حَاجَةٌ فَأَنْزَلَهَا بِالنَّاسِ، كَانَ قَمِنًا مِنْ أَنْ لَا تَسْهُلَ حَاجَتُهُ، وَمَنْ أَنْزَلَهَا بِاللهِ، أتَاهُ  اللهُ بِرِزْقٍ عَاجِلٍ، أَوْ بِمَوْتٍ آجِلٍ ” أخرجه أحمد“Barangsiapa yang mempunyai suatu keperluan, lalu menyerahkannya kepada manusia, maka dapat dipastikan tidak lancar keperluannya itu. Dan barangsiapa yang menyerahkan keperluannya itu kepada Allah, maka Allah akan mendatangkan kepadanya rezeki dengan segera atau menunda ajal kematiannya.”HR AhmadMaka peganglah –wahai saudara sesama muslim- pesan agung itu secara konsisten agar Anda tidak dipermainkan oleh hawa nafsu dan tidak terombang-ambing oleh pemikiran liar yang tidak dapat menghindar dari bahayanya kecuali dengan mengikuti arahan pesan cemerlang dari Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- yang telah berhasil mencetak para sahabat sehingga mereka mencapai klimaks kesempurnaan tauhid berkat mengaplikasikan pesan agung beliau, sebagaimana yang dituturkan oleh Auf bin Malik Al-Asyja’i, ia bercerita : “كُنَّا عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تِسْعَةً أَوْ ثَمَانِيَةً أَوْ سَبْعَةً فَقَالَ صلى الله عليه وسلم : لاَ تَسْأَلُوْا النَّاسَ شَيْئًا” فَلَقَدْ رَأَيْتُ بَعْضَ أُولَئِكَ النَّفَرِ يَسْقُطُ سَوْطُ أَحَدِهِمْ فَمَا يَسْأَلُ أَحَدًا يُنَاوِلُهُ إِيَّاهُ ” أخرجه مسلم“Kami di sisi Rasulullallah -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, kami sembilan atau delapan atau tujuh orang.  Maka Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam-, bersabda : “Janganlah kalian meminta apapun kepada manusia”. Sungguh aku telah melihat salah seorang di antara mereka ketika cemetinya terjatuh maka ia tidak meminta seorangpun untuk mengambilkannya dan memberikan kepadanya.” HR Muslim.Dari Tsauban, berkata : Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda : “مَنْ يَكْفُلُ لِي أَنْ لَا يَسْأَلَ النَّاسَ شَيْئًا وَأَتَكَفَّلُ لَهُ بِالْجَنَّةِ فَقُلتُ أنَا فَكَانَ لَا يَسْألُ أحَدًا شَيْئًا ” أخرجه أبو داود والنسائي“Adakah orang yang bisa menjamin untukku bahwa ia tidak meminta-minta suatu apapun kepada sehingga aku menjamin baginya surga. Aku (Tsauban) menjawab, ‘Aku Ya Rasulallah’. Sejak itulah ia (Tsauban) tidak pernah meminta sesuatu kepada siapapun.”. HR Abu Daud dan Nasa’i.Seorang keponakan Al-Akhnaf bin Qais mengeluhkan sakit gigi yang diderita, maka Akhnaf menasihatinya seraya berkata : “Aku kehilangan pengelihatanku semenjak 40 tahun yang lalu, namun begitu aku tidak pernah mengadu kepada siapapun.”Wahai saudara sesama muslim! Mengadulah kepada Allah –subhanahu wa ta’ala- ketika Anda dalam kondisi krisis dan kesulitan. Bergantunglah kepada-Nya semata, bukan kepada lain-Nya ketika Anda tertimpa malapetaka, kegentingan dan kemelut.Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :إذَا أصَابَ أحَدَكم هَمٌّ أوْ لَأوَاءٌ فَلْيَقلْ: اللّه، اللّه رَبّي لَا أشْرِكُ بِهِ شَيْئًا ”   أخرجه الطبرانى فى الأوسط “Jika salah seorang di antara kalian tertimpa kesedihan atau gangguan kesehatan, maka hendaklah ia menyebut, “Allah – Allah adalah Tuhanku, aku tidak menyekutukan-Nya dengan sesua-tu.” HR Tabrani dalam Al-Ausath.Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- ketika dalam kesulitan selalu berdoa :” لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ الْعَظِيمُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ رَبُّ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَرَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيْمِ” متفق عليه“Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah Yang Maha Agung. Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah Tuhan langit dan bumi dan Tuhan Arasy yang agung”. Muttafaq Alaih.Para Ulama telah bersepakat bahwa orang yang meminta pertolongan, bantuan dan perlindungan kepada sesama makhluk, yang telah meninggal, atau yang sedang raib atau bahkan yang masih hidup untuk mengatasi suatu persoalan yang sebenarnya hanya Allah sendiri yang mampu mengatasinya, maka sungguh ia telah berbuat kesyirikan yang menghanguskan amalnya.Wahai kaum muslimin!Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- benar-benar antusias menanamkan bibit-bibit ketauhidan dalam jiwa. Beliau bersungguh-sungguh mengajak memperhatikan pondasi ini. Beliau berupaya dengan serius melindungi esensi tauhid secara sempurna, jangan sampai ada kekurangan dalam perkataan, perbuatan, maksud dan kehendak terkait dengan tauhid ini.Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- pernah ditanya tentang seseorang yang berjumpa dengan sesamanya untuk memberi salam, apakah lalu ia membungkuk di hadapannya? Beliau menjawab, “Tidak boleh”. HR Ahmad dan Tirmizi. Status hadis ini adalah hasan.Semua itu tak lain hanyalah untuk mencegah sikap ketundukan apapun kecuali ketuntukan kepada Allah yang maha agung.Rasulullah yang penyayang telah memberi pengarahan kepada perkara yang bisa menolak godaan syaitan serta tipu daya dan makarnya. Anas meriwayatkan bahwasanya ada seseorang berkata :يَا مُحَمَّدُ، يَا سَيِّدَنَا، وَابْنَ سَيِّدِنَا وَابْنَ خَيْرِنَا“Wahai Muhammad, wahai pemimpin kami, putra pemimpin kami, putra lelaki terbaik kami”.Maka Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- berkata :أَيُّهَا النَّاسُ، عَلَيْكُمْ بِتَقْوَاكُمْ وَلاَ يَسْتَهْوِيَنَّكُمُ الشًّيْطَانُ، أَنَا مُحَمَّدٌ عَبْدُاللهِ وَرَسُوْلُهُ، مَا أُحِبُّ أَنْ تَرْفَعُوْنِي فَوْقَ مَنْزِلَتِي الَّتِي أَنْزَلَنِيَ اللهُ“Wahai manusia, hendaknya kalian tetap di atas ketakwaan kalian, jangan sampai syaitan menggelincirkan kalian. Aku adalah Muhammad, seorang hamba Allah dan rasulNya, aku tidak suka kalian mengangkatku lebih dari kedudukanku yang telah Allah tetapkan untukku” (HR An-Nasaai dan Ibnu Hibban)Dalam shahih Al-Bukhari, beliau –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :لاَ تُطْرُوْنِي كَمَا أَطْرَتِ النَّصَارَى عِيْسَى بْنَ مَرْيَمَ، فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدٌ، فَقُوْلُوا عَبْدُاللهِ وَرَسُوْلُهُ“Janganlah kalian berlebih-lebihan kepadaku sebagaimana kaum nashoro berlebihan kepada ‘Isa bin Maryam. Karena sesungguhnya aku hanyalah seorang hamba, maka katakanlah : (Muhammad itu) hamba Allah dan rasulNya.” HR Al-BukhariSaudara-saudaraku seiman!Diantara contoh semangat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam untuk menekankan tauhid dan besarnya perhatian beliau untuk memantapkan tauid, maka beliau menutup segala sarana yang bisa digunakan syaitan untuk menjerumuskan para hamba ke dalam lumpur kesyirikan dan khurofat jahiliyah. Karenanya telah datang pengarahan-pengarahan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam dalam rangka mengingatkan untuk tidak mengarahkan hati kepada para penghuni kubur, dan tidak bersandar kepada mereka atau merendahkan diri di hadapan pintu-pintu masuk kuburan mereka, atau beristighotsah kepada mereka tatkala dalam kondisi-kondisi sulit dan genting serta dalam kesulitan, yang hal ini semuanya selama-lamanya tidak pantas ditujukan kecuali hanya kepada pencipta bumi dan langit !!.Dari Abu Huroiroh radhiallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :اللَّهُمَّ لاَ تَجْعَلْ قَبْرِي وَثَنًا يُعْبَدُ، اِشْتَدَّ غَضَبُ اللهِ عَلَى قَوْمٍ اتَّخَذُوْا قُبُوْرَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ“Ya Allah, janganlah engkau menjadikan kuburanku adalah berhara yang disembah. Sungguh Allah sangat marah terhadap kaum yang menjadikan kuburan-kuburan nabi-nabi mereka sebagai mesjid-mesjid.” HR Ahmad dan Malik dalam Muwattha’ dengan periwayatan ‘Atha bin Yasar.Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- memberi perhatian yang sangat besar terhadap penjagaan tauhid, karenanya beliau memperingatkan akan bahaya sarana-sarana setan dan penyesatan syaitan yang memfitnah manusia dengan jimat-jimat dan kalung-kalung yang digantungkan (diikatkan) ke badan atau harta benda dengan alasan untuk menolak keburukan dan menghilangkan kemudorotan serta mendatangkan kebaikan.  Dalam Musnad Al-Imam Ahmad, Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda :مَنْ تَعَلَّقَ تَمِيْمَةً فَقَدْ أَشْرَكَ“Barangsiapa yang menggantungkan jimat maka sungguh ia telah berbuat kesyirikan”.  HR Al-HakimSebagaimana Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- memperingatkan agar tidak terpedaya oleh para dukun, pera peramal dan para pendusta. Beliau berkata ;مَنْ أَتَى كَاهِنًا أَوْ عَرَّافًا فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُوْلُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ“Barangsiapa yang mendatangi dukun atau para normal lalu membenarkan apa yang diucapkannya maka sungguh ia telah kefir kepada apa yang diturunkan kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.” HR Al-Arba’ah (Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasaai, dan Ibnu Maajah) dan Al-Haakim).Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- ditanya tentang An-Nusyroh, maka beliau menjawab :هِيَ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ“Itu termasuk perbuatan syaitan.” HR Ahmad, Abu Dawud, dan Al-BaihaqiAn-Nusyroh adalah berupaya menghilangkan sihir dengan menggunakan sihir yang serupa.Kaum muslimin sekalian!Tatkala kita berada pada kondisi yang mengajak jiwa untuk melakukan perkara yang tidak terpuji atau perkara yang tidak halal, yaitu tatkala kondisi berobat, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengingatkan umatnya dengan perkara tauhid dan wajibnya memberi perhatian yang besar kepada tauhid, sehingga tetap bergantung kepada Allah dan bersandar kepadaNya, serta bertawakkal kepadaNya dan tidak mengarahkan hati kecuali hanya kepadaNya. Maka beliau bersabda –sebagaiamana diriwayatkan oleh Aisyah- , bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam jika menjenguk orang sakit beliau berkata ;أَذْهِبِ الْبَأْسَ رَبَّ النَّاسِ، اِشْفِ أَنْتَ الشَّافِي لاَ شِفَاءَ إِلاَّ شِفَاؤُكَ شِفَاءٌ لاَ يُغَادِرُ سَقَمًا“Hilangkanlah penyakit wahai Tuhannya manusia, sembuhkanlah sesungguhnya Engkau adalah Maha Penyembuh, tidak ada kesembuhan kecuali dari kesembuhanMu, kesembuhan yang tidak menyisakan satu penyakitpun.”  HR Al-Bukhari dan Muslim.Nabi berkata kepada Utsman bin Abil ‘Aash Ats-Tsaqofi tatkala ia menyampaikan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam akan sakit yang beliau rasakan di tubuh beliau sejak beliau masuk Islam. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada beliau:“Letakanlah tanganmu di lokasi bagian tubuhmu yang sakit, lalu ucapkanlah “Bismillah” tiga kali, lalu ucapkanlah sebanyak tujuh kali:أَعُوْذُ بِاللهِ وَقُدْرَتِهِ مِنْ شَرِّ مَا أَجِدُ وَأُحَاذِرُ“Aku berlindung kepada Allah dan kekuasaanNya dari keburukan yang aku dapati dan keburukan yang aku khawatirkan.”  HR Muslim.Kaum muslimin sekalian!Pada bentuk-bentuk semangat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam menjaga kemurnian tauhid dan perhatian besar beliau maka datanglah pengarahan beliau yang mulia sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Abbas bahwasanya ada seseorang berkata kepada Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- : مَا شَاءَ اللهُ وَشِئْتَ“Atas kehenda Allah dan kehendakmu”Maka Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- berkata kepadanya :أَجَعَلْتَنِي للهِ عِدْلاً، بَلْ مَا شَاءَ اللهُ وَحْدَهُ“Apakah engkau menjadikan aku sama seperti Allah?, akan tetapi (katakanlah) “Atas kehendak Allah semata.”  HR Ahmad dan Ibnu Maajah.Dalam hadits riwayat Hudzaifah, Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :لاَ تَقُوْلُوا مَا شَاءَ اللهُ وَشَاءَ فُلاَنٌ، وَلَكِنْ قُوْلُوْا : مَا شَاءَ اللهُ ثُمَّ شَاءِ فُلاَنٌ“Janganlah kalian berkata, “Atas kehendak Allah dan kehendak si fulan”, akan tetapi katakanlah, “Atas kehendak Allah, kemudian kehendak si fulan.”  HR Ahmad, Abu Dawud, dan Ibnu Maajah.Di antara sisi semangat Nabi kita Muhammad -shallallahu ‘alaihi wasallam dalam membimbing umatnya agar waspada dari segala yang menyelisihi hakikat tauhid dan membatalkan pokok tauhid atau kewajibannya, maka beliau menyampaikan kepada umatnya pidato beliau yang agung sebagaimana yang diriwayatkan oleh Umar dari beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bahwasanya beliau bersabda :أَلآ إِنَّ اللهَ يَنْهَاكُمْ أَنْ تَحْلِفُوا بَآبَائِكُمْ، فَمَنْ كَانَ حَالِفًا فَلْيَحْلِفْ بِاللهِ وَإِلاَّ فَلْيَصْمُتْ“Ketahuilah bahwasanya Allah melarang kalian untuk bersumpah dengan nenek moyang kalian, maka barangsiapa yang bersumpah hendaknya ia bersumpah dengan nama Allah, jika tidak maka hendaknya ia diam”Umar berkata :فَوَاللهِ مَا حَلَفْتُ بِهَا مُنْذُ سَمِعْتُ النَّبِيَّ ذَاكِرًا وَلاَ آثِرًا“Demi Allah, aku tidak pernah bersumpah dengan nenek moyang semenjak aku mendengar Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam, apakah aku bersumpah dari diri sendiri atau hanya menceritakan sumpah orang lain.” HR Al-Bukhari dan Muslim.Dalam hadits Ibnu Umar bahwasanya Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda ;مَنْ حَلَفَ بِغَيْرِ اللهِ فَقَدْ كَفَرَ أَوْ أَشْرَكَ“Barangsiapa yang bersumpah dengan selain nama Allah maka sungguh ia telah kafir atau telah syirik.” HR Ahmad, Abu Dawud, dan At-Tirmidzi.Kaum muslimin sekalian!Jadikanlah tauhid (pengesaan Allah) selalu di hadapan kalian, dan jalanilah kehidupan ini untuk beribadah kepada sang Pencipta dan mengagungkanNya, serta bergantung kepadaNya dalam segala kondisi. Ikatlah jiwa dan hati kepada Penciptanya. Gunakanlah anggota tubuh untuk perkara-perkara yang mendatangkan keridoan Penciptanya, maka akan terwujudkan bagi kalian kebaikan dan kalian akan memperoleh ganjaran yang besar.إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ ، أُولَئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ خَالِدِينَ فِيهَا جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ [ الأحقاف / 13-14]“Sesungguhnya orang-orang yang berkata Rabb kami adalah Allah lalu mereka beristiqomah, maka tidak ada ketakutan atas mereka dan mereka tidaklah bersedih. Mereka itulah penghuni surga, kekal di dalamnya, sebagai ganjaran atas apa yang mereka amalkan. QS Al-AHqoof : 13-14Semoga Allah memberi keberkahan kepadaku dan kepada anda dalam al-Qur’an dan sunnah Nabi Muhammad pemimpin keturunan Adnan.=============== Khotbah KeduaDalam rangka penjagaan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam akan kemurnian tauhid dan pembentengan beliau yang agung terhadap sisi tauhid dari segala perkara yang hanya merupakan prasangka-prasangka yang batil dan dugaan-dugaan yang hanya merupakan khayalan semata, maka dalam hadits ‘Imron beliau bersabda ;لَيْسَ مِنَّا مَنْ تَطَيَّرَ أَوْ تُطُيِّرَ لَهُ أَوْ تَكَهَّنَ أَوْ تُكُهِّنَ لَهُ أَوْ سَحَرَ أَوْ سُحِرَ لَهُ“Bukan dari kami orang yang melakukan tathoyyur (yaitu mengkaitkan nasib sial dengan sesuatu yang dilihat atau didengar-pen) atau dilakukan tathoyyur untuknya, atau melakukan praktik perdukunan atau dilakukan praktik perdukunan untuknya, atau melakukan sihir atau dilakukan praktik sihir baginya.” HR Al-Bazzaar dan sanadnya hasan.Dalam hadits Mu’awiyah bin Al-Hakam As-Sulami, ia berkata :يَا رَسُوْلَ اللهِ أُمُوْرٌ كُنَّا نَصْنَعُهَا فِي الْجَاهِلِيَّةِ، كُنَّا نَأْتِي الْكُهَّانَ“Wahai Rasulullah, ada perkara-perkara yang dahulu kami melakukannya di masa jahiliyah. Kami dahulu mendatangi para dukun.  فَلاَ تَأْتُوا الْكُهَّانَ  “Maka janganlah kalian mendatangi para dukun”   Aku berkata,  كُنَّا نَتَطَيَّر  “Kami dahulu bertathoyyur (merasa mendapatkan nasib sial) !”  Beliau berkata,  ذَاكَ شَيْءٌ يَجِدُهُ أَحَدُكُمْ فِي نَفْسِهِ فَلاَ يَصُدَنَّكُمْ  “Itu adalah Sesuatu yang salah seorang dari kalian mendapatinya dalam dirinya maka jangan sampai menghalangi kalian (dari kegiatan kalian)” (HR Muslim)Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Dawud, dan At-Tirmidzi dari hadits Ibnu Mas’ud,  Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda :الطِّيَرَةُ شِرْكٌ“Tathoyyur (meyakini mendapat kesialan) adalah suatu kesyirikan”Dan yang terakhir, Yakinlah bahwasanya seluruh perkara adalah di tangan Allah -subhanahu wa ta’ala-, dan hanya terjadi karena takdirNya dan ketentuanNya. Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda :لاَ عَدْوَى وَلاَ طِيَرَةَ وَلاَ هَامَّةَ وَلاَ صَفَرَ“Tidak ada penyakit menular (yang menular dengan sendirinya), tidak ada tathoyyur (nasib sial), tidak ada haammah (burung hantu yang memberi kemudaratan tanpa seizin Allah) dan tidak ada (kesialan) di bulan Shafar.”  HR Al-Bukhari dan Muslim.Maka tempuhlah jalan Al-Qur’an dan jadikanlah kehidupan kalian selalu berada pada sunnah Nabi Muhammad -shallallahu ‘alaihi wasallam- pemimpin keturunan Adnan.======  Doa  ===== 
Prev     Next