Makin Sulit dalam Belajar Agama, Makin Besar Pahala

Makin sulit dalam belajar agama, makin besar pahala.   Dalam hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ “Siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim, no. 2699) Ibnu Rajab Al-Hambali berkata bahwa menempuh jalan dalam menuntut ilmu ada dua makna: Menempuh jalan secara hakiki yaitu dengan berjalan menuju majelis ilmu dari para ulama. Menempuh jalan secara maknawi yaitu dengan menempuh cara bisa diraihnya ilmu, seperti dengan menghafalkan, mempelajari, mudzakarah (saling mengingatkan), muthala’ah (mengkaji), menulis atau berusaha memahami ilmu. (Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2: 297) Ini menunjukkan bahwa siapa saja yang berjalan, bersepeda atau berkendaraan menuju majelis ilmu, sudah termasuk dalam balasan hadits di atas. Begitu pula yang begadang dalam menghafal, menulis atau menelaah, itu juga termasuk bagian dari pahala di atas. Bahkan semakin besar kesulitan yang diderita, semakin besar pula pahala yang diperoleh. Dalam kaedah yang dibawakan oleh As-Suyuthi dalam Al-Asybah wa An-Nazhair (hlm. 320) disebutkan, مَا كَانَ أَكْثَرُ فِعْلاً كَانَ أَكْثَرُ فَضْلاً “Amalan yang lebih banyak pengorbanan, lebih banyak keutamaan.” Dasar kaedah di atas disimpulkan dari hadits ‘Aisyah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, وَلَكِنَّهَا عَلَى قَدْرِ نَصَبِكِ “Akan tetapi, pahalanya tergantung pada usaha yang dikorbankan.” (HR. Muslim, no. 1211). Demikian dikatakan oleh As-Suyuthi ketika menyebutkan kaedah di atas dalam Al-Asybah wa An-Nazhair (hlm. 320). Imam Az-Zarkasi berkata dalam Al-Mantsur, العَمَلُ كُلَّمَا كَثُرَ وَشَقَّ كَانَ أَفْضَلُ مِمَّا لَيْسَ كَذَلِكَ “Amalan yang semakin banyak dan sulit, lebih afdhal daripada amalan yang tidak seperti itu.” Ingatlah semakin sulit dan berat dalam mempelajari agama, semakin besar pahala. Maka bersabarlah dalam belajar. Yakinlah pertolongan Allah! — Jum’at, 8 Safar 1437 H, 04: 36 PM, @ Darush Sholihin, Warak, Girisekar, Panggang Muhammad Abduh Tuasikal Join Channel Telegram, Twitter, Instagram: @RumayshoCom Tagsbelajar

Makin Sulit dalam Belajar Agama, Makin Besar Pahala

Makin sulit dalam belajar agama, makin besar pahala.   Dalam hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ “Siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim, no. 2699) Ibnu Rajab Al-Hambali berkata bahwa menempuh jalan dalam menuntut ilmu ada dua makna: Menempuh jalan secara hakiki yaitu dengan berjalan menuju majelis ilmu dari para ulama. Menempuh jalan secara maknawi yaitu dengan menempuh cara bisa diraihnya ilmu, seperti dengan menghafalkan, mempelajari, mudzakarah (saling mengingatkan), muthala’ah (mengkaji), menulis atau berusaha memahami ilmu. (Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2: 297) Ini menunjukkan bahwa siapa saja yang berjalan, bersepeda atau berkendaraan menuju majelis ilmu, sudah termasuk dalam balasan hadits di atas. Begitu pula yang begadang dalam menghafal, menulis atau menelaah, itu juga termasuk bagian dari pahala di atas. Bahkan semakin besar kesulitan yang diderita, semakin besar pula pahala yang diperoleh. Dalam kaedah yang dibawakan oleh As-Suyuthi dalam Al-Asybah wa An-Nazhair (hlm. 320) disebutkan, مَا كَانَ أَكْثَرُ فِعْلاً كَانَ أَكْثَرُ فَضْلاً “Amalan yang lebih banyak pengorbanan, lebih banyak keutamaan.” Dasar kaedah di atas disimpulkan dari hadits ‘Aisyah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, وَلَكِنَّهَا عَلَى قَدْرِ نَصَبِكِ “Akan tetapi, pahalanya tergantung pada usaha yang dikorbankan.” (HR. Muslim, no. 1211). Demikian dikatakan oleh As-Suyuthi ketika menyebutkan kaedah di atas dalam Al-Asybah wa An-Nazhair (hlm. 320). Imam Az-Zarkasi berkata dalam Al-Mantsur, العَمَلُ كُلَّمَا كَثُرَ وَشَقَّ كَانَ أَفْضَلُ مِمَّا لَيْسَ كَذَلِكَ “Amalan yang semakin banyak dan sulit, lebih afdhal daripada amalan yang tidak seperti itu.” Ingatlah semakin sulit dan berat dalam mempelajari agama, semakin besar pahala. Maka bersabarlah dalam belajar. Yakinlah pertolongan Allah! — Jum’at, 8 Safar 1437 H, 04: 36 PM, @ Darush Sholihin, Warak, Girisekar, Panggang Muhammad Abduh Tuasikal Join Channel Telegram, Twitter, Instagram: @RumayshoCom Tagsbelajar
Makin sulit dalam belajar agama, makin besar pahala.   Dalam hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ “Siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim, no. 2699) Ibnu Rajab Al-Hambali berkata bahwa menempuh jalan dalam menuntut ilmu ada dua makna: Menempuh jalan secara hakiki yaitu dengan berjalan menuju majelis ilmu dari para ulama. Menempuh jalan secara maknawi yaitu dengan menempuh cara bisa diraihnya ilmu, seperti dengan menghafalkan, mempelajari, mudzakarah (saling mengingatkan), muthala’ah (mengkaji), menulis atau berusaha memahami ilmu. (Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2: 297) Ini menunjukkan bahwa siapa saja yang berjalan, bersepeda atau berkendaraan menuju majelis ilmu, sudah termasuk dalam balasan hadits di atas. Begitu pula yang begadang dalam menghafal, menulis atau menelaah, itu juga termasuk bagian dari pahala di atas. Bahkan semakin besar kesulitan yang diderita, semakin besar pula pahala yang diperoleh. Dalam kaedah yang dibawakan oleh As-Suyuthi dalam Al-Asybah wa An-Nazhair (hlm. 320) disebutkan, مَا كَانَ أَكْثَرُ فِعْلاً كَانَ أَكْثَرُ فَضْلاً “Amalan yang lebih banyak pengorbanan, lebih banyak keutamaan.” Dasar kaedah di atas disimpulkan dari hadits ‘Aisyah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, وَلَكِنَّهَا عَلَى قَدْرِ نَصَبِكِ “Akan tetapi, pahalanya tergantung pada usaha yang dikorbankan.” (HR. Muslim, no. 1211). Demikian dikatakan oleh As-Suyuthi ketika menyebutkan kaedah di atas dalam Al-Asybah wa An-Nazhair (hlm. 320). Imam Az-Zarkasi berkata dalam Al-Mantsur, العَمَلُ كُلَّمَا كَثُرَ وَشَقَّ كَانَ أَفْضَلُ مِمَّا لَيْسَ كَذَلِكَ “Amalan yang semakin banyak dan sulit, lebih afdhal daripada amalan yang tidak seperti itu.” Ingatlah semakin sulit dan berat dalam mempelajari agama, semakin besar pahala. Maka bersabarlah dalam belajar. Yakinlah pertolongan Allah! — Jum’at, 8 Safar 1437 H, 04: 36 PM, @ Darush Sholihin, Warak, Girisekar, Panggang Muhammad Abduh Tuasikal Join Channel Telegram, Twitter, Instagram: @RumayshoCom Tagsbelajar


Makin sulit dalam belajar agama, makin besar pahala.   Dalam hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ “Siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim, no. 2699) Ibnu Rajab Al-Hambali berkata bahwa menempuh jalan dalam menuntut ilmu ada dua makna: Menempuh jalan secara hakiki yaitu dengan berjalan menuju majelis ilmu dari para ulama. Menempuh jalan secara maknawi yaitu dengan menempuh cara bisa diraihnya ilmu, seperti dengan menghafalkan, mempelajari, mudzakarah (saling mengingatkan), muthala’ah (mengkaji), menulis atau berusaha memahami ilmu. (Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2: 297) Ini menunjukkan bahwa siapa saja yang berjalan, bersepeda atau berkendaraan menuju majelis ilmu, sudah termasuk dalam balasan hadits di atas. Begitu pula yang begadang dalam menghafal, menulis atau menelaah, itu juga termasuk bagian dari pahala di atas. Bahkan semakin besar kesulitan yang diderita, semakin besar pula pahala yang diperoleh. Dalam kaedah yang dibawakan oleh As-Suyuthi dalam Al-Asybah wa An-Nazhair (hlm. 320) disebutkan, مَا كَانَ أَكْثَرُ فِعْلاً كَانَ أَكْثَرُ فَضْلاً “Amalan yang lebih banyak pengorbanan, lebih banyak keutamaan.” Dasar kaedah di atas disimpulkan dari hadits ‘Aisyah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, وَلَكِنَّهَا عَلَى قَدْرِ نَصَبِكِ “Akan tetapi, pahalanya tergantung pada usaha yang dikorbankan.” (HR. Muslim, no. 1211). Demikian dikatakan oleh As-Suyuthi ketika menyebutkan kaedah di atas dalam Al-Asybah wa An-Nazhair (hlm. 320). Imam Az-Zarkasi berkata dalam Al-Mantsur, العَمَلُ كُلَّمَا كَثُرَ وَشَقَّ كَانَ أَفْضَلُ مِمَّا لَيْسَ كَذَلِكَ “Amalan yang semakin banyak dan sulit, lebih afdhal daripada amalan yang tidak seperti itu.” Ingatlah semakin sulit dan berat dalam mempelajari agama, semakin besar pahala. Maka bersabarlah dalam belajar. Yakinlah pertolongan Allah! — Jum’at, 8 Safar 1437 H, 04: 36 PM, @ Darush Sholihin, Warak, Girisekar, Panggang Muhammad Abduh Tuasikal Join Channel Telegram, Twitter, Instagram: @RumayshoCom Tagsbelajar

Menuntut Ilmu, Jalan Paling Cepat Menuju Surga

Kalau kita ingin masuk surga dengan cara paling cepat, cobalah menuntut ilmu agama.   Kembali pada hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ “Siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim, no. 2699) Makna Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga, ada empat makna sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Rajab Al-Hambali: Pertama: Dengan menempuh jalan mencari ilmu, Allah akan memudahkannya masuk surga. Kedua: Menuntut ilmu adalah sebab seseorang mendapatkan hidayah. Hidayah inilah yang mengantarkan seseorang pada surga. Ketiga: Menuntut suatu ilmu akan mengantarkan pada ilmu lainnya yang dengan ilmu tersebut akan mengantarkan pada surga. Sebagaimana kata sebagian ulama kala suatu ilmu diamalkan, مَنْ عَمِلَ بِمَا عَلِمَ أَوْرَثَهُ اللهُ عِلْمَ مَا لَمْ يَعْلَمْ “Siapa yang mengamalkan suatu ilmu yang telah ia ilmui, maka Allah akan mewarisinya ilmu yang tidak ia ketahui.” Sebagaimana kata ulama lainnya, ثَوَابُ الحَسَنَةِ الحَسَنَةُ بَعْدَهَا “Balasan dari kebaikan adalah kebaikan selanjutnya.” Begitu juga dalam ayat disebutkan, وَيَزِيدُ اللَّهُ الَّذِينَ اهْتَدَوْا هُدًى “Dan Allah akan menambah petunjuk kepada mereka yang telah mendapat petunjuk.” (QS. Maryam: 76) Juga pada firman Allah, وَالَّذِينَ اهْتَدَوْا زَادَهُمْ هُدًى وَآَتَاهُمْ تَقْوَاهُمْ “Dan orang-orang yang mau menerima petunjuk, Allah menambah petunjuk kepada mereka dan memberikan balasan ketaqwaannya.” (QS. Muhammad: 17) Keempat: Dengan ilmu, Allah akan memudahkan jalan yang nyata menuju surga yaitu saat melewati shirath (sesuatu yang terbentang di atas neraka menuju surga. Sampai-sampai Ibnu Rajab simpulkan, menuntut ilmu adalah jalan paling ringkas menuju surga. (Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2: 297-298) Semoga dengan ilmu agama, kita dimudahkan untuk masuk surga.   Referensi: Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam. Cetakan kesepuluh, tahun 1432 H. Ibnu Rajab Al-Hambali. Penerbit Muassasah Ar-Risalah. — Jum’at, 8 Safar 1437 H, 05: 31 PM, @ Darush Sholihin, Warak, Girisekar, Panggang Muhammad Abduh Tuasikal Join Channel Telegram, Twitter, Instagram: @RumayshoCom Tagsbelajar

Menuntut Ilmu, Jalan Paling Cepat Menuju Surga

Kalau kita ingin masuk surga dengan cara paling cepat, cobalah menuntut ilmu agama.   Kembali pada hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ “Siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim, no. 2699) Makna Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga, ada empat makna sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Rajab Al-Hambali: Pertama: Dengan menempuh jalan mencari ilmu, Allah akan memudahkannya masuk surga. Kedua: Menuntut ilmu adalah sebab seseorang mendapatkan hidayah. Hidayah inilah yang mengantarkan seseorang pada surga. Ketiga: Menuntut suatu ilmu akan mengantarkan pada ilmu lainnya yang dengan ilmu tersebut akan mengantarkan pada surga. Sebagaimana kata sebagian ulama kala suatu ilmu diamalkan, مَنْ عَمِلَ بِمَا عَلِمَ أَوْرَثَهُ اللهُ عِلْمَ مَا لَمْ يَعْلَمْ “Siapa yang mengamalkan suatu ilmu yang telah ia ilmui, maka Allah akan mewarisinya ilmu yang tidak ia ketahui.” Sebagaimana kata ulama lainnya, ثَوَابُ الحَسَنَةِ الحَسَنَةُ بَعْدَهَا “Balasan dari kebaikan adalah kebaikan selanjutnya.” Begitu juga dalam ayat disebutkan, وَيَزِيدُ اللَّهُ الَّذِينَ اهْتَدَوْا هُدًى “Dan Allah akan menambah petunjuk kepada mereka yang telah mendapat petunjuk.” (QS. Maryam: 76) Juga pada firman Allah, وَالَّذِينَ اهْتَدَوْا زَادَهُمْ هُدًى وَآَتَاهُمْ تَقْوَاهُمْ “Dan orang-orang yang mau menerima petunjuk, Allah menambah petunjuk kepada mereka dan memberikan balasan ketaqwaannya.” (QS. Muhammad: 17) Keempat: Dengan ilmu, Allah akan memudahkan jalan yang nyata menuju surga yaitu saat melewati shirath (sesuatu yang terbentang di atas neraka menuju surga. Sampai-sampai Ibnu Rajab simpulkan, menuntut ilmu adalah jalan paling ringkas menuju surga. (Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2: 297-298) Semoga dengan ilmu agama, kita dimudahkan untuk masuk surga.   Referensi: Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam. Cetakan kesepuluh, tahun 1432 H. Ibnu Rajab Al-Hambali. Penerbit Muassasah Ar-Risalah. — Jum’at, 8 Safar 1437 H, 05: 31 PM, @ Darush Sholihin, Warak, Girisekar, Panggang Muhammad Abduh Tuasikal Join Channel Telegram, Twitter, Instagram: @RumayshoCom Tagsbelajar
Kalau kita ingin masuk surga dengan cara paling cepat, cobalah menuntut ilmu agama.   Kembali pada hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ “Siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim, no. 2699) Makna Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga, ada empat makna sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Rajab Al-Hambali: Pertama: Dengan menempuh jalan mencari ilmu, Allah akan memudahkannya masuk surga. Kedua: Menuntut ilmu adalah sebab seseorang mendapatkan hidayah. Hidayah inilah yang mengantarkan seseorang pada surga. Ketiga: Menuntut suatu ilmu akan mengantarkan pada ilmu lainnya yang dengan ilmu tersebut akan mengantarkan pada surga. Sebagaimana kata sebagian ulama kala suatu ilmu diamalkan, مَنْ عَمِلَ بِمَا عَلِمَ أَوْرَثَهُ اللهُ عِلْمَ مَا لَمْ يَعْلَمْ “Siapa yang mengamalkan suatu ilmu yang telah ia ilmui, maka Allah akan mewarisinya ilmu yang tidak ia ketahui.” Sebagaimana kata ulama lainnya, ثَوَابُ الحَسَنَةِ الحَسَنَةُ بَعْدَهَا “Balasan dari kebaikan adalah kebaikan selanjutnya.” Begitu juga dalam ayat disebutkan, وَيَزِيدُ اللَّهُ الَّذِينَ اهْتَدَوْا هُدًى “Dan Allah akan menambah petunjuk kepada mereka yang telah mendapat petunjuk.” (QS. Maryam: 76) Juga pada firman Allah, وَالَّذِينَ اهْتَدَوْا زَادَهُمْ هُدًى وَآَتَاهُمْ تَقْوَاهُمْ “Dan orang-orang yang mau menerima petunjuk, Allah menambah petunjuk kepada mereka dan memberikan balasan ketaqwaannya.” (QS. Muhammad: 17) Keempat: Dengan ilmu, Allah akan memudahkan jalan yang nyata menuju surga yaitu saat melewati shirath (sesuatu yang terbentang di atas neraka menuju surga. Sampai-sampai Ibnu Rajab simpulkan, menuntut ilmu adalah jalan paling ringkas menuju surga. (Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2: 297-298) Semoga dengan ilmu agama, kita dimudahkan untuk masuk surga.   Referensi: Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam. Cetakan kesepuluh, tahun 1432 H. Ibnu Rajab Al-Hambali. Penerbit Muassasah Ar-Risalah. — Jum’at, 8 Safar 1437 H, 05: 31 PM, @ Darush Sholihin, Warak, Girisekar, Panggang Muhammad Abduh Tuasikal Join Channel Telegram, Twitter, Instagram: @RumayshoCom Tagsbelajar


Kalau kita ingin masuk surga dengan cara paling cepat, cobalah menuntut ilmu agama.   Kembali pada hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ “Siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim, no. 2699) Makna Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga, ada empat makna sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Rajab Al-Hambali: Pertama: Dengan menempuh jalan mencari ilmu, Allah akan memudahkannya masuk surga. Kedua: Menuntut ilmu adalah sebab seseorang mendapatkan hidayah. Hidayah inilah yang mengantarkan seseorang pada surga. Ketiga: Menuntut suatu ilmu akan mengantarkan pada ilmu lainnya yang dengan ilmu tersebut akan mengantarkan pada surga. Sebagaimana kata sebagian ulama kala suatu ilmu diamalkan, مَنْ عَمِلَ بِمَا عَلِمَ أَوْرَثَهُ اللهُ عِلْمَ مَا لَمْ يَعْلَمْ “Siapa yang mengamalkan suatu ilmu yang telah ia ilmui, maka Allah akan mewarisinya ilmu yang tidak ia ketahui.” Sebagaimana kata ulama lainnya, ثَوَابُ الحَسَنَةِ الحَسَنَةُ بَعْدَهَا “Balasan dari kebaikan adalah kebaikan selanjutnya.” Begitu juga dalam ayat disebutkan, وَيَزِيدُ اللَّهُ الَّذِينَ اهْتَدَوْا هُدًى “Dan Allah akan menambah petunjuk kepada mereka yang telah mendapat petunjuk.” (QS. Maryam: 76) Juga pada firman Allah, وَالَّذِينَ اهْتَدَوْا زَادَهُمْ هُدًى وَآَتَاهُمْ تَقْوَاهُمْ “Dan orang-orang yang mau menerima petunjuk, Allah menambah petunjuk kepada mereka dan memberikan balasan ketaqwaannya.” (QS. Muhammad: 17) Keempat: Dengan ilmu, Allah akan memudahkan jalan yang nyata menuju surga yaitu saat melewati shirath (sesuatu yang terbentang di atas neraka menuju surga. Sampai-sampai Ibnu Rajab simpulkan, menuntut ilmu adalah jalan paling ringkas menuju surga. (Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2: 297-298) Semoga dengan ilmu agama, kita dimudahkan untuk masuk surga.   Referensi: Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam. Cetakan kesepuluh, tahun 1432 H. Ibnu Rajab Al-Hambali. Penerbit Muassasah Ar-Risalah. — Jum’at, 8 Safar 1437 H, 05: 31 PM, @ Darush Sholihin, Warak, Girisekar, Panggang Muhammad Abduh Tuasikal Join Channel Telegram, Twitter, Instagram: @RumayshoCom Tagsbelajar

Prinsip-Prinsip Dalam Menghadapi Fitnah

(Khutbah Jum’ah Masjid Nabawi 8 Shafar 1437 H)Oleh : Syekh Husen Bin Abdul Aziz Ali Syekh –hafizohullah-Khotbah PertamaKondisi kaum muslimin di banyak tempat saat ini sangat memprihatinkan dan menyedihkan, terutama setelah terjadinya berbagai fitnah yang membutakan dan beragam petaka sehingga menyeret kaum muslimin kepada kehancuran dan kerusakan, terkait urusan agama, jiwa, kehormatan, harta benda dan tanah air. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah Ta’ala.Camkanlah baik-baik bahwa faktor utama timbulnya segala malapetaka dan krisis yang membawa berbagai macam penderitaan dan kesengsaraan adalah disebabkan mereka menjauh dari sistem (aturan) Allah dan Sunnah Nabi-Nya di berbagai bidang kehidupan. Firman Allah :وَما أَصابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِما كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُوا عَنْ كَثِيرٍ [ شورى / 30 ]Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar [dari kesalahan-kesalahanmu]  (Qs As-Syura :30) Firman Allah :ظَهَرَ الْفَسادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِما كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ  [ الروم / 41 ]Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supay Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali ke jalan yang benar (Qs Ar-Rum : 41)Rasulullah saw bersabda  :وَمَا لَمْ تَعْمَلْ أَئِمَّتُهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللهُ فِي كِتَابِهِ إِلاَّ جَعَلَ بَأْسَهُمْ بَيْنَهُمْSelama para pemimpin mereka tidak menjalankan ketentuan hukum yang diturunkan oleh Allah dalam kitab suci-Nya, maka selama itu pula Allah munculkan saling permusuhan di antara mereka.Ali – Radhiyallahu Anhu – berkata :( مَا نَزَلَ بَلَاءٌ إلّا بِذَنْبٍ وَلَا رُفِعَ بَلَاءٌ إلّا بِتَوْبَةٍ )Tidak terjadi suatu bencana melainkan karena akibat dosa yang dilakukan, dan tidak akan diangkat suatu bencana melainkan dengan bertobat.Dosa kejahatan dan pelanggaran terhadap perintah Allah Tuhan langit dan bumi adalah penyebab hilangnya nikmat-nakmat yang ada sekarang dan pemutus nikmat-nikmat selanjutnya.Ibnul-Qayim – Rahimahullah – berkata :“Hal ini terdapat dalam Al-Qur’an, lebih dari seribu tempat. Itulah sebabnya setiap musibah berdarah yang menimpa kaum muslimin pastilah disebabkan oleh merajalelanya pelanggaran terhadap ketentuan Allah yang ada dalam dua wahyu (al-Qur’an dan As-Sunnah)Disebutkan dalam musnad Imam Ahmad bahwa Nabi saw bersabda :( إذَا ظَهَرَتِ الْمَعَاصِي فِى أمَّتِى عَمَّهُمُ اللهُ بِعِقَابٍ مِنْ عِنْدِهِ )Jika kemaksiatan telah menjadi fenomena di kalangan umatku, maka Allah akan menyebarkan azab yang meliputi mereka dari sisi-NyaJika telah jelas fakta tersebut yang telah dilupakan oleh kebanyakan orang yang jauh dari sistem hukum Al-Qur’an dan As-Sunnah, maka hendaknya kita mengetahui bahwa sebenarnya ada beberapa prinsip dan pilar agung yang bilamana dikukuhkan dan diaplikasikan dengan penuh antusias oleh kaum muslimin, niscaya mereka akan terselamatkan dari kejahatan dan dampak buruk dari bencana dan malapetaka.Prinsip pertama : Bertobat secara sungguh-sungguh kepada Allah Ta’ala, yaitu dengan kembali ke jalan Allah, konsisten dalam menjalankan syariat agama-Nya dan mengikuti perintah-perintahNya dan perintah Rasul-Nya saw. Maka dengan bertobat kepada Allah akan terwujud kesentosaan dan kemakmuran hidup, dan terlindung dari segala kejahatan, bencana, kemelut dan krisis. Allah berfirman  :وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعاً أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ  [ النور / 31 ]Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung (Qs An-Nur : 31)Allah berfirman perihal Nabi-Nya – Hud Alaihissalam – :وَيَا قَوْمِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا وَيَزِدْكُمْ قُوَّةً إِلَى قُوَّتِكُمْ وَلَا تَتَوَلَّوْا مُجْرِمِينَDan [Hud berkata]: “Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa (Qs Hud : 52)Kebaikan dengan segala ragamnya terletak pada pertobatan, demikian pula perbaikan kondisi dengan segala bentuknya sangat terkait dengan pertobatan. Firman Allah :فَإِنْ يَتُوبُوا يَكُ خَيْرًا لَهُمْ وَإِنْ يَتَوَلَّوْا يُعَذِّبْهُمُ اللَّهُ عَذَابًا أَلِيمًا فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَمَا لَهُمْ فِي الْأَرْضِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ [ التوبة / 74 ] 74.Maka jika mereka bertobat, itu adalah lebih baik bagi mereka, dan jika mereka berpaling, niscaya Allah akan mengazab mereka dengan azab yang pedih di dunia dan akhirat; dan mereka sekali-kali tidaklah mempunyai pelindung dan tidak (pula) penolong di muka bumi  (Qs At-Taubah : 74)Bertobat kepada Allah dengan memperbaiki ibadah yang rusak akibat meninggalkan kewajiban dan melanggar larangan merupakan penyebab terangkatnya bencana dan tertolaknya bala’. Firman Allah :وَما كانَ اللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنْتَ فِيهِمْ وَما كانَ اللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ  [ الأنفال / 33 ]( Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedang kamu berada di antara mereka. Dan tidaklah Allah akan mengazab mereka, sedang mereka meminta ampun ) Qs Al-Anfal : 33Bahkan tobat merupakan penyebab turunannya berbagai macam kebaikan dan datangnya aneka ragam nikmat yang menyenangkan. Firman Allah  :وَأَنِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُمَتِّعْكُمْ مَتاعاً حَسَناً إِلى أَجَلٍ مُسَمًّى وَيُؤْتِ كُلَّ ذِي فَضْلٍ فَضْلَهُ وَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنِّي أَخافُ عَلَيْكُمْ عَذابَ يَوْمٍ كَبِيرٍ  [ هود / 3 ](dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertobat kepada-Nya. [Jika kamu mengerjakan yang demikian], niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberikan kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya. Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa siksa hari kiamat) Qs Hud : 3Firman Allah melalui lisan Nabi Nuh a.s. :فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كانَ غَفَّاراً ،  يُرْسِلِ السَّماءَ عَلَيْكُمْ مِدْراراً ، وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهاراً  [ نوح / 10 – 12 ]Maka aku katakan kepada mereka: ´Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, -sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun-, Niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai (QS Nuh 10-12)Prinsip kedua  : Memperbanyak ibadah dengan segala amal yang mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala. Dengan ibadah, maka bencana tertolak dan kenikmatan tertarik. Firman Allah :وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجاً ،  وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لا يَحْتَسِبُ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ(Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan memberikan kecukupan kepadanya) Qs. At-Thalaq : 2-3 )Ibnul-Qayim berkata, “Orang yang dermawan dan suka bersedekah selalu memberdayakan prajurit dan tentara yang bertempur untuk membela dirinya meskipun ia sendiri sedang tidur di kasurnya. Barangsiapa yang tidak punya prajurit atau tentara, sementara dirinya harus menghadapi musuh, maka acapkali dirinya dikuasai oleh musuh, meskipun penguasaan musuhnya atas dirinya itu mengalami keterlambatan. Semoga Allah menjadi Penolong kita”.Orang-orang yang berpegang pada keimanan dan beramal ibadah kepada Allah serta menahan diri dari segala laranganNya, sesungguhnya mereka itu mendapatkan perhatian khusus dan perlindungan yang sempurna dari Allah Ta’ala.Firman Allah  :إِنَّ اللَّهَ يُدافِعُ عَنِ الَّذِينَ آمَنُوا  [ الحج / 38 ]( Sesungguhnya Allah membela orang-orang yang beriman ). Qs Al-Haj : 38 Prinsip ketiga  :  Ketika umat ini terkepung oleh berbagai fitnah sehingga bahtera yang ditumpanginya terombang-ambing, dalam kondisi demikian tentu kebutuhan akan meniti jalan keselamatan sangatlah mendesak agar bisa sampai  ke daratan keamanan dan pantai keselamatan. Namun tidak mungkin mereka menemukan jalan selagi tidak mengobati problem dan penyakit yang mereka hadapi melalui cahaya Al-Qur’an dan Sunnah Nabi yang mulia. Jikalau tragedi dan bencana telah menghantam wajah umat ini di semua lembah, maka tidak ada jalan lain yang memberikan harapan dan yang dapat menyelamatkan selain mencari solusi pada dua sumber wahyu.Allah Ta’ala berfirman :وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعاً وَلا تَفَرَّقُوا  [ آل عمران / 103 ]( Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali [agama] Allah, dan janganlah kamu bercerai berai ) Qs Ali Imran : 103لَقَدْ أَنْزَلْنَا إِلَيْكُمْ كِتَابًا فِيهِ ذِكْرُكُمْ أَفَلَا تَعْقِلُونَ [ الأنبياء / 10 ]( Sesungguhnya telah Kami turunkan kepada kamu sebuah kitab yang di dalamnya terdapat sebab-sebab kemuliaan bagimu. Maka apakah kamu tiada memahaminya) Qs Al-Anbiya : 10Artinya di dalam kitab Al-Qur’an itu terdapat kejayaan, kemuliaan dan kedaulatan bagi kalian.Imam Malik meriwayatkan dan kitab Muwatha’nya dari Nabi saw bahwa beliau bersabda :تَرَكْتُ فِيكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا: كِتَابَ اللهِ وَسُنَّةَ نَبِيِّهِ( Aku tinggalkan di tengah-tengah kalian dua perkara yang kalian tidak akan tersesat selama kalian berpegang-teguh kepada kedua-duanya; Kitab Allah dan Sunnah Nabi-Nya ).Imam Abu Dawud – Rahimahullah – meriwayatkan dalam kitab Sunan-nya dari hadis Al-Irbadh Bin Sariyah, dia berkata  :صَلّى لنا رسُوْلُ اللهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ ثمَّ أقبلَ عَلَيْنَا  فَوَعَظَنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلىَّ الله عليه وسلم مَوْعِظَةً وَجِلَتْ مِنْهَا الْقُلُوْبُ، وَذَرِفَتْ مِنْهَا الْعُيُوْنُ، فَقُلْنَا : يَا رَسُوْلَ اللهِ، كَأَنَّهَا مَوْعِظَةُ مُوَدِّعٍ، فَأَوْصِنَا، قَالَ : أُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ تَأَمَّرَ عَلَيْكُمْ عَبْدٌ، وَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ فَسَيَرَى اخْتِلاَفاً كًثِيْراً. فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّيْنَ عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ، وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ اْلأُمُوْرِ، فَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ .(Rasulullah telah memimpin shalat kami lalu beliau menghadapkan wajahnya kepada kami untuk memberi nasehat kepada kami dengan satu nasihat yang menggetarkan hati dan membuat airmata bercucuran”. kami bertanya ,”Wahai Rasulullah, nasihat itu seakan-akan nasihat orang yang akan berpisah selamanya, maka berilah kami wasiat” Rasulullah saw bersabda, “Aku beri wasiat kepadamu agar tetap bertaqwa kepada Allah, tetap mendengar dan ta’at walaupun yang memerintahmu seorang hamba budak. Sesungguhnya barangsiapa di antara kalian yang nantinya masih hidup, niscaya bakal menyaksikan banyak perselisihan. Karena itu berpegang teguhlah kepada sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin yang lurus, dan mendapatkan petunjuk, gigitlah sunnah-sunnah itu sekuat-kuatnya dengan gigi geraham. Dan jauhilah hal-hal baru yang diada-adakan, karena sesungguhnya semua bid’ah adalah sesat).Maka berpegang teguh kepada dua wahyu ( sebagai sumber hukum ) ketika menghadapi bencana, konflik dan perselisihan, serta menjadikan keduanya sebagai rujukan dalam menangani setiap perpecahan, konflik dan pertikaian adalah jalan satu-satunya untuk menangkis bahaya berbagai penyimpangan, kekacauan dan kekalutan yang tersebar di dunia islam saat ini.Prinsip keempat  : Keamanan dambaan setiap bangsa dan tujuan setiap negara. Rasulullah saw bersabda :مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ آمِنًا فِي سِرْبِهِ مُعَافًى فِي جَسَدِهِ عِنْدَهُ قُوْتُ يَوْمِهِ ، فَكَأَنَّمَا حِيْزَتْ لَهُ الدُّنْيَا بِحَذَافِيْرِهَا(Barang siapa diantara kalian yang di pagi hari merasa terjamin aman di tempatnya, sehat badannya, memiliki makanan untuk hari itu, maka seakan-akan dunia seluruhnya telah menjadi miliknya ) HR. Turmuzi dan Ibnu Majah dengan sanad hasan.Ingatlah ! Sendi keamanan adalah terwujudnya keimanan kepada Allah Ta’ala baik dalam aqidah, ucapan ataupun perbuatan. Pilar keamanan yang mendasar adalah mempraktekkan perintah-perintah Al-Qur’an dan arahan-arahan Nabi serta mengamalkan syariat islam dalam segala aspek kehidupan. Firman Allah :الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ [ الأنعام / 82 ]( Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman [syirik], mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk ). Qs Al-An’am : 82Negeri manapun yang menyimpang dari hukum syariat Allah dan mengikuti kemauan hawa nafsunya, para penguasanya orang-orang jahat, pastilah negeri itu kehilangan keamanan yang didambakan dan penduduknya diliputi rasa takut, cemas dan galau.Firman Allah :وَضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا قَرْيَةً كَانَتْ آمِنَةً مُطْمَئِنَّةً يَأْتِيهَا رِزْقُهَا رَغَدًا مِنْ كُلِّ مَكَانٍ فَكَفَرَتْ بِأَنْعُمِ اللَّهِ فَأَذَاقَهَا اللَّهُ لِبَاسَ الْجُوعِ وَالْخَوْفِ بِمَا كَانُوا يَصْنَعُونَ  [ النحل / 112 ](Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezekinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi [penduduk]nya mengingkari nikmat-nikmat Allah; karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat). Qs An-Nahl : 112Prinsip kelima  : Faktor kekuatan terpenting umat ini terdapat pada kerjasama [tolong-menolong] di antara mereka atas dasar amal kebajikan dan ketakwaan serta bersatu padu di dalam kebaikan dan petunjuk agama.Firman Allah :وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعاً وَلا تَفَرَّقُوا  [ آل عمران / 103 ]( Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali [agama] Allah, dan janganlah kamu bercerai berai ) Qs Ali Imran : 103Sementara musibah yang paling besar yang dihadapi umat islam, yang melemahkan kekuatan lengannya, menumbangkan panji-panji kejayaannya adalah perselisihan, pertikaian dan perebutan.Firman Allah :وَلا تَنازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ وَاصْبِرُوا إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ  [ الأنفال / 46 ]( Dan janganlah kamu saling berebut yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar ) Qs Al-Anfal : 46Rasulullah saw bersabda :( لَا تَبَاغَضُوا، وَلَا تَحَاسَدُوا، وَلَا تَدَابَرُوا، وَكُونُوا عِبَادَ اللهِ إِخْوَانًا، وَلَا يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يَهْجُرَ أَخَاهُ فَوْقَ ثَلَاثِ أيّامٍ ) رواه أحمد وأصله فى صحيح مسلم( Janganlah kalian saling membenci, saling mendengki, dan saling bermusuhan. Jadilah kalian hamba Allah yang besaudara. Tidak halal bagi seorang muslim memboikot saudaranya lebih dari tiga hari ). HR Ahmad, sandaran asalnya pada Shahih Muslim.Rasulullah saw bersabda :( أَيُّهَا النَّاسُ، عَلَيْكُمْ بِالْجَمَاعَةِ، وَإِيَّاكُمْ وَالْفُرْقَةَ (فقالها ثلاثا( Wahai manusia ! tetaplah kalian pada kelompok [ jama’ah kaum muslimin ], janganlah kalian bercerai-berai ), beliau mengulangi pesan ini hingga tiga kali. ( HR Ahmad )Dan peristiwa-peristiwa sejarah merupakan bukti terbesar yang menunjukkan bahwa perpecahan dan bentuk memisahkan diri adalah sebab kehancuran dan kerusakan.مِمَّا يُزَهِّدُنِي فِي أَرْضِ أَنْدَلُسٍ…. أَسْمَاءُ مُعْتَمِدٍ فِيْهَا وَمُعْتَضِدِأَلْقَابُ مَمْلَكَةٍ فِي غَيْرِ مَوْضِعِهَا… كَالْهِرِّ يَحْكِي انْتِفَاخًا صَوْلَةَ الأَسَدِ“Diantara hal yang menjadikan aku tidak respek dengan negeri Andalus….Adalah nama-nama (raja-raja kecil yang terpecah-pecah) yang muncul di Andalus, yaitu Mu’tamid dan Mu’tadid…Gelar-gelar untuk para raja yang diletakan tidak pada tempatnya…Seperti kucing yang menegakkan bulu kuduknya menampakan seakan-akan ia seperti singa…”Maka wajib bagi kaum muslimin untuk bertakwa kepada Allah dan janganlah mereka berpecah-pecah padahal dihadapan mereka ada Al-Qur’an sebagai hakim dan sebagai metode, demikian juga ada Sunnah Rasulullah sebagai pelita dan petunjuk mereka, serta ada perjalanan hidup para khulafaur Rosyidin sebagai teladan dan contoh yang baik bagi mereka.Dan kapan mereka menyimpang dari jalan/metode ini maka seakan-akan kondisi mereka tergambarkan seperti ucapan seseorang :كُلٌّ يَرَى رَأْيَا وَيَنْصُرُ قَوْلَهُ *** وَلَهُ يُعَادِي سَائِرَ الإِخْوَانِوَلَوْ أَنَّهُم عِنْدَ التَّنَازُعِ وُفِّقُوا *** لَتَحَاكَمُوا للهِ دُوْنَ تَوَانِولَأَصْبَحُوا بَعْدَ الْخِصَامِ أَحِبَّةً *** غَيْظَ العَدَا وَمَذَلَّةَ الشَّيْطَانِ“Masing-masing memiliki pendapat dan mempertahankan pendapatnya…Dan ia memusuhi seluruh saudaranya (yang menyelisihinya)…Seandainya tatkala mereka berselisih mereka mendapatkan bimbingan…Maka sungguh mereka akan berhukum kepada Allah dengan semangat tanpa lalai sama sekali…Dan sungguh setelah berselisih mereka akan tetap saling mencintai…Yang hal ini menyebabkan kemarahan musuh dan kehinaan syaitan…”Maka bagaimana menurutmu? Apakah dengan besarnya bencana yang menimpa kaum muslimin akankah mereka akan kembali kepada jalan kebenaran mereka? Lalu bersatu padu di bawah satu bendera, undang-undang mereka adalah Al-Qur’an dan As-Sunnah, dan hukum mereka adalah syari’atnya Allah?. Kita mohon kepada Allah agar hal ini segera terwujudkan dan tidak tertunda, sesungguhnya Allah maha mendengar dan mengabulkan doa.Dan prinsip yang terakhir yaitu tatkala terjadinya fitnah maka masyarakat hendaknya berpegang kepada jalan-jalan yang disyari’atkan, bimbingan-bimbingan al-Qur’an, serta sirah (petunjuk) Nabi. Allah berfirman :وَإِذَا جَآءَهُمۡ أَمۡرٞ مِّنَ ٱلۡأَمۡنِ أَوِ ٱلۡخَوۡفِ أَذَاعُواْ بِهِۦۖ وَلَوۡ رَدُّوهُ إِلَى ٱلرَّسُولِ وَإِلَىٰٓ أُوْلِي ٱلۡأَمۡرِ مِنۡهُمۡ لَعَلِمَهُ ٱلَّذِينَ يَسۡتَنۢبِطُونَهُۥ مِنۡهُمۡۗDan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil Amri). (QS An-Nisaa : 83)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :عِبَادَةٌ فِي الْهَرْجِ كَهِجْرَةٍ إِلَيَّ“Ibadah tatkala zaman fitnah seperti berhijrah kepadaku”Dan hendaknya mereka mengetahui bahwasanya perkara lisan dan pena adalah perkara yang sangat berbahaya dalam memprovokasi fitnah dan menyalakan kobaran apinya. Dan zaman fitnah adalah kondisi yang mudah menggelincirkan orang pada kesalahan. Allah berfirmanإِذۡ تَلَقَّوۡنَهُۥ بِأَلۡسِنَتِكُمۡ وَتَقُولُونَ بِأَفۡوَاهِكُم مَّا لَيۡسَ لَكُم بِهِۦ عِلۡمٞ وَتَحۡسَبُونَهُۥ هَيِّنٗا وَهُوَ عِندَ ٱللَّهِ عَظِيمٞ ١٥(Ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit juga, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal dia pada sisi Allah adalah besar (QS An-Nuur : 15)Sesungguhnya para ulama, para pakar politik, para intelektual, serta orang-orang media sangat wajib bagi mereka untuk memeriksa dan meneliti (kroscek) tatkala waktu terjadinya fitnah, dan agar mereka tidak terjun pada perkara-perkara yang memprovokasi fitnah dan menambah nyala kobaran apinya.Telah datang dalam hadits yang marfu’ :ستكونُ فِتنةٌ صمَّاءُ بكمْاءُ عَمياءُ، مَنْ أشرَفَ لها استشرفَتْ له، وإشرافُ اللسانِ فيها كوقوع السيفِ“Akan muncul fitnah yang menulikan, membisukan, dan membutakan. Siapa yang mendekatinya maka fitnah tersebut akan mengenainya. Dan nimbrungnya lisan dalam fitnah tersebut seperti pedang” (HR Abu Dawud). Dan makna dari hadits ini sesuai dengan pokok-pokok syari’at dan dalil-dalil yang umum maupun yang khusus.Ibnu Abbas telah berkata ;إِنَّمَا الْفِتْنَةُ بِاللِّسَانِ وَلَيْسَتِ الْفِتْنَةُ بِالْيَدِ“Sesungguhnya fitnah itu dengan lisan bukanlah fitnah dengan tangan”    Kebenaran akan hal ini dibuktikan dengan apa yang dilihat oleh kaum muslimin pada fitnah-fitnah yang terjadi pada zaman ini yang sangat besar keburukannya dan tersebar kemudhorotannya, hanyalah Allah tempat memohon pertolongan.Semoga Allah memberkahi kita pada al-Qur’an dan As-Sunnah, dan menjadikan kita mengambil manfaat dari keduanya. Khutbah Kedua          Sesungguhnya kita di negeri dua kota suci ini dalam kondisi makmur dengan kenikmatan-kenikmatan yang besar. Dan yang paling besar adalah menjadikan syari’at yang suci ini sebagai hukum, demikian juga bersatu padunya antara penguasa dan rakyat. Hal ini membuahkan ketenteraman dan keamanan, stabilitas dan kemakmuran. Maka wajib bagi penduduk negeri ini untuk mensyukuri karunia ini dan waspada dari kemurkaan Allah, serta berusaha untuk meraih keridhoanNya, dan semangat untuk mempererat antara penguasa dan rakyat dalam kebenaran dan petunjuk.Saudara-saudaraku se Islam, termasuk amalan yang terbaik dan tersuci adalah bersholawat kepada Nabi yang termulia, Ya Allah curahkanlah shalawat dan salam kepada beliau dan keluarganya serta para sahabatnya.Ya Allah perbaikilah keadaan kami dan keadaan kaum muslimin, Ya Allah hilangkanlah kesedihan… hilangkanlah penderitaan…, Ya Allah selamatkanlah hamba-hambaMu dari segala fitnah dan bencana…Ya Allah hancurkanlah musuh-musuhMu sesungguhnya mereka tidak akan melemahkanMu, wahai Yang Maha Agung, Ya Allah jagalah saudara-saudara kami di manapun mereka berada, Ya Allah jadilah Engkau sebagai penolong bagi mereka wahai Yang Maha Perkasa dan Maha Kuat, Ya Allah bimbinglah pelayan dua kota suci yang mulia kepada perkara yang Engkau cintai dan ridhoi, Ya Allah tolonglah agama ini dengannya, dan tinggikanlah kaum muslimin dengannya…. Ya Allah ampunilah kaum muslimin dan muslimat, baik yang hidup di antara mereka maupun yang telah meninggal, Ya Allah berikanlah kebaikan dunia kepada kami dan juga kebaikan akhirat serta jagalah kami dari adzab nerakaDiterjemahkan oleh Firanda Andirja dan Usman Hatimhttps://firanda.com/ 

Prinsip-Prinsip Dalam Menghadapi Fitnah

(Khutbah Jum’ah Masjid Nabawi 8 Shafar 1437 H)Oleh : Syekh Husen Bin Abdul Aziz Ali Syekh –hafizohullah-Khotbah PertamaKondisi kaum muslimin di banyak tempat saat ini sangat memprihatinkan dan menyedihkan, terutama setelah terjadinya berbagai fitnah yang membutakan dan beragam petaka sehingga menyeret kaum muslimin kepada kehancuran dan kerusakan, terkait urusan agama, jiwa, kehormatan, harta benda dan tanah air. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah Ta’ala.Camkanlah baik-baik bahwa faktor utama timbulnya segala malapetaka dan krisis yang membawa berbagai macam penderitaan dan kesengsaraan adalah disebabkan mereka menjauh dari sistem (aturan) Allah dan Sunnah Nabi-Nya di berbagai bidang kehidupan. Firman Allah :وَما أَصابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِما كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُوا عَنْ كَثِيرٍ [ شورى / 30 ]Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar [dari kesalahan-kesalahanmu]  (Qs As-Syura :30) Firman Allah :ظَهَرَ الْفَسادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِما كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ  [ الروم / 41 ]Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supay Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali ke jalan yang benar (Qs Ar-Rum : 41)Rasulullah saw bersabda  :وَمَا لَمْ تَعْمَلْ أَئِمَّتُهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللهُ فِي كِتَابِهِ إِلاَّ جَعَلَ بَأْسَهُمْ بَيْنَهُمْSelama para pemimpin mereka tidak menjalankan ketentuan hukum yang diturunkan oleh Allah dalam kitab suci-Nya, maka selama itu pula Allah munculkan saling permusuhan di antara mereka.Ali – Radhiyallahu Anhu – berkata :( مَا نَزَلَ بَلَاءٌ إلّا بِذَنْبٍ وَلَا رُفِعَ بَلَاءٌ إلّا بِتَوْبَةٍ )Tidak terjadi suatu bencana melainkan karena akibat dosa yang dilakukan, dan tidak akan diangkat suatu bencana melainkan dengan bertobat.Dosa kejahatan dan pelanggaran terhadap perintah Allah Tuhan langit dan bumi adalah penyebab hilangnya nikmat-nakmat yang ada sekarang dan pemutus nikmat-nikmat selanjutnya.Ibnul-Qayim – Rahimahullah – berkata :“Hal ini terdapat dalam Al-Qur’an, lebih dari seribu tempat. Itulah sebabnya setiap musibah berdarah yang menimpa kaum muslimin pastilah disebabkan oleh merajalelanya pelanggaran terhadap ketentuan Allah yang ada dalam dua wahyu (al-Qur’an dan As-Sunnah)Disebutkan dalam musnad Imam Ahmad bahwa Nabi saw bersabda :( إذَا ظَهَرَتِ الْمَعَاصِي فِى أمَّتِى عَمَّهُمُ اللهُ بِعِقَابٍ مِنْ عِنْدِهِ )Jika kemaksiatan telah menjadi fenomena di kalangan umatku, maka Allah akan menyebarkan azab yang meliputi mereka dari sisi-NyaJika telah jelas fakta tersebut yang telah dilupakan oleh kebanyakan orang yang jauh dari sistem hukum Al-Qur’an dan As-Sunnah, maka hendaknya kita mengetahui bahwa sebenarnya ada beberapa prinsip dan pilar agung yang bilamana dikukuhkan dan diaplikasikan dengan penuh antusias oleh kaum muslimin, niscaya mereka akan terselamatkan dari kejahatan dan dampak buruk dari bencana dan malapetaka.Prinsip pertama : Bertobat secara sungguh-sungguh kepada Allah Ta’ala, yaitu dengan kembali ke jalan Allah, konsisten dalam menjalankan syariat agama-Nya dan mengikuti perintah-perintahNya dan perintah Rasul-Nya saw. Maka dengan bertobat kepada Allah akan terwujud kesentosaan dan kemakmuran hidup, dan terlindung dari segala kejahatan, bencana, kemelut dan krisis. Allah berfirman  :وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعاً أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ  [ النور / 31 ]Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung (Qs An-Nur : 31)Allah berfirman perihal Nabi-Nya – Hud Alaihissalam – :وَيَا قَوْمِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا وَيَزِدْكُمْ قُوَّةً إِلَى قُوَّتِكُمْ وَلَا تَتَوَلَّوْا مُجْرِمِينَDan [Hud berkata]: “Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa (Qs Hud : 52)Kebaikan dengan segala ragamnya terletak pada pertobatan, demikian pula perbaikan kondisi dengan segala bentuknya sangat terkait dengan pertobatan. Firman Allah :فَإِنْ يَتُوبُوا يَكُ خَيْرًا لَهُمْ وَإِنْ يَتَوَلَّوْا يُعَذِّبْهُمُ اللَّهُ عَذَابًا أَلِيمًا فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَمَا لَهُمْ فِي الْأَرْضِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ [ التوبة / 74 ] 74.Maka jika mereka bertobat, itu adalah lebih baik bagi mereka, dan jika mereka berpaling, niscaya Allah akan mengazab mereka dengan azab yang pedih di dunia dan akhirat; dan mereka sekali-kali tidaklah mempunyai pelindung dan tidak (pula) penolong di muka bumi  (Qs At-Taubah : 74)Bertobat kepada Allah dengan memperbaiki ibadah yang rusak akibat meninggalkan kewajiban dan melanggar larangan merupakan penyebab terangkatnya bencana dan tertolaknya bala’. Firman Allah :وَما كانَ اللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنْتَ فِيهِمْ وَما كانَ اللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ  [ الأنفال / 33 ]( Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedang kamu berada di antara mereka. Dan tidaklah Allah akan mengazab mereka, sedang mereka meminta ampun ) Qs Al-Anfal : 33Bahkan tobat merupakan penyebab turunannya berbagai macam kebaikan dan datangnya aneka ragam nikmat yang menyenangkan. Firman Allah  :وَأَنِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُمَتِّعْكُمْ مَتاعاً حَسَناً إِلى أَجَلٍ مُسَمًّى وَيُؤْتِ كُلَّ ذِي فَضْلٍ فَضْلَهُ وَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنِّي أَخافُ عَلَيْكُمْ عَذابَ يَوْمٍ كَبِيرٍ  [ هود / 3 ](dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertobat kepada-Nya. [Jika kamu mengerjakan yang demikian], niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberikan kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya. Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa siksa hari kiamat) Qs Hud : 3Firman Allah melalui lisan Nabi Nuh a.s. :فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كانَ غَفَّاراً ،  يُرْسِلِ السَّماءَ عَلَيْكُمْ مِدْراراً ، وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهاراً  [ نوح / 10 – 12 ]Maka aku katakan kepada mereka: ´Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, -sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun-, Niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai (QS Nuh 10-12)Prinsip kedua  : Memperbanyak ibadah dengan segala amal yang mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala. Dengan ibadah, maka bencana tertolak dan kenikmatan tertarik. Firman Allah :وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجاً ،  وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لا يَحْتَسِبُ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ(Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan memberikan kecukupan kepadanya) Qs. At-Thalaq : 2-3 )Ibnul-Qayim berkata, “Orang yang dermawan dan suka bersedekah selalu memberdayakan prajurit dan tentara yang bertempur untuk membela dirinya meskipun ia sendiri sedang tidur di kasurnya. Barangsiapa yang tidak punya prajurit atau tentara, sementara dirinya harus menghadapi musuh, maka acapkali dirinya dikuasai oleh musuh, meskipun penguasaan musuhnya atas dirinya itu mengalami keterlambatan. Semoga Allah menjadi Penolong kita”.Orang-orang yang berpegang pada keimanan dan beramal ibadah kepada Allah serta menahan diri dari segala laranganNya, sesungguhnya mereka itu mendapatkan perhatian khusus dan perlindungan yang sempurna dari Allah Ta’ala.Firman Allah  :إِنَّ اللَّهَ يُدافِعُ عَنِ الَّذِينَ آمَنُوا  [ الحج / 38 ]( Sesungguhnya Allah membela orang-orang yang beriman ). Qs Al-Haj : 38 Prinsip ketiga  :  Ketika umat ini terkepung oleh berbagai fitnah sehingga bahtera yang ditumpanginya terombang-ambing, dalam kondisi demikian tentu kebutuhan akan meniti jalan keselamatan sangatlah mendesak agar bisa sampai  ke daratan keamanan dan pantai keselamatan. Namun tidak mungkin mereka menemukan jalan selagi tidak mengobati problem dan penyakit yang mereka hadapi melalui cahaya Al-Qur’an dan Sunnah Nabi yang mulia. Jikalau tragedi dan bencana telah menghantam wajah umat ini di semua lembah, maka tidak ada jalan lain yang memberikan harapan dan yang dapat menyelamatkan selain mencari solusi pada dua sumber wahyu.Allah Ta’ala berfirman :وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعاً وَلا تَفَرَّقُوا  [ آل عمران / 103 ]( Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali [agama] Allah, dan janganlah kamu bercerai berai ) Qs Ali Imran : 103لَقَدْ أَنْزَلْنَا إِلَيْكُمْ كِتَابًا فِيهِ ذِكْرُكُمْ أَفَلَا تَعْقِلُونَ [ الأنبياء / 10 ]( Sesungguhnya telah Kami turunkan kepada kamu sebuah kitab yang di dalamnya terdapat sebab-sebab kemuliaan bagimu. Maka apakah kamu tiada memahaminya) Qs Al-Anbiya : 10Artinya di dalam kitab Al-Qur’an itu terdapat kejayaan, kemuliaan dan kedaulatan bagi kalian.Imam Malik meriwayatkan dan kitab Muwatha’nya dari Nabi saw bahwa beliau bersabda :تَرَكْتُ فِيكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا: كِتَابَ اللهِ وَسُنَّةَ نَبِيِّهِ( Aku tinggalkan di tengah-tengah kalian dua perkara yang kalian tidak akan tersesat selama kalian berpegang-teguh kepada kedua-duanya; Kitab Allah dan Sunnah Nabi-Nya ).Imam Abu Dawud – Rahimahullah – meriwayatkan dalam kitab Sunan-nya dari hadis Al-Irbadh Bin Sariyah, dia berkata  :صَلّى لنا رسُوْلُ اللهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ ثمَّ أقبلَ عَلَيْنَا  فَوَعَظَنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلىَّ الله عليه وسلم مَوْعِظَةً وَجِلَتْ مِنْهَا الْقُلُوْبُ، وَذَرِفَتْ مِنْهَا الْعُيُوْنُ، فَقُلْنَا : يَا رَسُوْلَ اللهِ، كَأَنَّهَا مَوْعِظَةُ مُوَدِّعٍ، فَأَوْصِنَا، قَالَ : أُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ تَأَمَّرَ عَلَيْكُمْ عَبْدٌ، وَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ فَسَيَرَى اخْتِلاَفاً كًثِيْراً. فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّيْنَ عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ، وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ اْلأُمُوْرِ، فَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ .(Rasulullah telah memimpin shalat kami lalu beliau menghadapkan wajahnya kepada kami untuk memberi nasehat kepada kami dengan satu nasihat yang menggetarkan hati dan membuat airmata bercucuran”. kami bertanya ,”Wahai Rasulullah, nasihat itu seakan-akan nasihat orang yang akan berpisah selamanya, maka berilah kami wasiat” Rasulullah saw bersabda, “Aku beri wasiat kepadamu agar tetap bertaqwa kepada Allah, tetap mendengar dan ta’at walaupun yang memerintahmu seorang hamba budak. Sesungguhnya barangsiapa di antara kalian yang nantinya masih hidup, niscaya bakal menyaksikan banyak perselisihan. Karena itu berpegang teguhlah kepada sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin yang lurus, dan mendapatkan petunjuk, gigitlah sunnah-sunnah itu sekuat-kuatnya dengan gigi geraham. Dan jauhilah hal-hal baru yang diada-adakan, karena sesungguhnya semua bid’ah adalah sesat).Maka berpegang teguh kepada dua wahyu ( sebagai sumber hukum ) ketika menghadapi bencana, konflik dan perselisihan, serta menjadikan keduanya sebagai rujukan dalam menangani setiap perpecahan, konflik dan pertikaian adalah jalan satu-satunya untuk menangkis bahaya berbagai penyimpangan, kekacauan dan kekalutan yang tersebar di dunia islam saat ini.Prinsip keempat  : Keamanan dambaan setiap bangsa dan tujuan setiap negara. Rasulullah saw bersabda :مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ آمِنًا فِي سِرْبِهِ مُعَافًى فِي جَسَدِهِ عِنْدَهُ قُوْتُ يَوْمِهِ ، فَكَأَنَّمَا حِيْزَتْ لَهُ الدُّنْيَا بِحَذَافِيْرِهَا(Barang siapa diantara kalian yang di pagi hari merasa terjamin aman di tempatnya, sehat badannya, memiliki makanan untuk hari itu, maka seakan-akan dunia seluruhnya telah menjadi miliknya ) HR. Turmuzi dan Ibnu Majah dengan sanad hasan.Ingatlah ! Sendi keamanan adalah terwujudnya keimanan kepada Allah Ta’ala baik dalam aqidah, ucapan ataupun perbuatan. Pilar keamanan yang mendasar adalah mempraktekkan perintah-perintah Al-Qur’an dan arahan-arahan Nabi serta mengamalkan syariat islam dalam segala aspek kehidupan. Firman Allah :الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ [ الأنعام / 82 ]( Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman [syirik], mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk ). Qs Al-An’am : 82Negeri manapun yang menyimpang dari hukum syariat Allah dan mengikuti kemauan hawa nafsunya, para penguasanya orang-orang jahat, pastilah negeri itu kehilangan keamanan yang didambakan dan penduduknya diliputi rasa takut, cemas dan galau.Firman Allah :وَضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا قَرْيَةً كَانَتْ آمِنَةً مُطْمَئِنَّةً يَأْتِيهَا رِزْقُهَا رَغَدًا مِنْ كُلِّ مَكَانٍ فَكَفَرَتْ بِأَنْعُمِ اللَّهِ فَأَذَاقَهَا اللَّهُ لِبَاسَ الْجُوعِ وَالْخَوْفِ بِمَا كَانُوا يَصْنَعُونَ  [ النحل / 112 ](Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezekinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi [penduduk]nya mengingkari nikmat-nikmat Allah; karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat). Qs An-Nahl : 112Prinsip kelima  : Faktor kekuatan terpenting umat ini terdapat pada kerjasama [tolong-menolong] di antara mereka atas dasar amal kebajikan dan ketakwaan serta bersatu padu di dalam kebaikan dan petunjuk agama.Firman Allah :وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعاً وَلا تَفَرَّقُوا  [ آل عمران / 103 ]( Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali [agama] Allah, dan janganlah kamu bercerai berai ) Qs Ali Imran : 103Sementara musibah yang paling besar yang dihadapi umat islam, yang melemahkan kekuatan lengannya, menumbangkan panji-panji kejayaannya adalah perselisihan, pertikaian dan perebutan.Firman Allah :وَلا تَنازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ وَاصْبِرُوا إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ  [ الأنفال / 46 ]( Dan janganlah kamu saling berebut yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar ) Qs Al-Anfal : 46Rasulullah saw bersabda :( لَا تَبَاغَضُوا، وَلَا تَحَاسَدُوا، وَلَا تَدَابَرُوا، وَكُونُوا عِبَادَ اللهِ إِخْوَانًا، وَلَا يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يَهْجُرَ أَخَاهُ فَوْقَ ثَلَاثِ أيّامٍ ) رواه أحمد وأصله فى صحيح مسلم( Janganlah kalian saling membenci, saling mendengki, dan saling bermusuhan. Jadilah kalian hamba Allah yang besaudara. Tidak halal bagi seorang muslim memboikot saudaranya lebih dari tiga hari ). HR Ahmad, sandaran asalnya pada Shahih Muslim.Rasulullah saw bersabda :( أَيُّهَا النَّاسُ، عَلَيْكُمْ بِالْجَمَاعَةِ، وَإِيَّاكُمْ وَالْفُرْقَةَ (فقالها ثلاثا( Wahai manusia ! tetaplah kalian pada kelompok [ jama’ah kaum muslimin ], janganlah kalian bercerai-berai ), beliau mengulangi pesan ini hingga tiga kali. ( HR Ahmad )Dan peristiwa-peristiwa sejarah merupakan bukti terbesar yang menunjukkan bahwa perpecahan dan bentuk memisahkan diri adalah sebab kehancuran dan kerusakan.مِمَّا يُزَهِّدُنِي فِي أَرْضِ أَنْدَلُسٍ…. أَسْمَاءُ مُعْتَمِدٍ فِيْهَا وَمُعْتَضِدِأَلْقَابُ مَمْلَكَةٍ فِي غَيْرِ مَوْضِعِهَا… كَالْهِرِّ يَحْكِي انْتِفَاخًا صَوْلَةَ الأَسَدِ“Diantara hal yang menjadikan aku tidak respek dengan negeri Andalus….Adalah nama-nama (raja-raja kecil yang terpecah-pecah) yang muncul di Andalus, yaitu Mu’tamid dan Mu’tadid…Gelar-gelar untuk para raja yang diletakan tidak pada tempatnya…Seperti kucing yang menegakkan bulu kuduknya menampakan seakan-akan ia seperti singa…”Maka wajib bagi kaum muslimin untuk bertakwa kepada Allah dan janganlah mereka berpecah-pecah padahal dihadapan mereka ada Al-Qur’an sebagai hakim dan sebagai metode, demikian juga ada Sunnah Rasulullah sebagai pelita dan petunjuk mereka, serta ada perjalanan hidup para khulafaur Rosyidin sebagai teladan dan contoh yang baik bagi mereka.Dan kapan mereka menyimpang dari jalan/metode ini maka seakan-akan kondisi mereka tergambarkan seperti ucapan seseorang :كُلٌّ يَرَى رَأْيَا وَيَنْصُرُ قَوْلَهُ *** وَلَهُ يُعَادِي سَائِرَ الإِخْوَانِوَلَوْ أَنَّهُم عِنْدَ التَّنَازُعِ وُفِّقُوا *** لَتَحَاكَمُوا للهِ دُوْنَ تَوَانِولَأَصْبَحُوا بَعْدَ الْخِصَامِ أَحِبَّةً *** غَيْظَ العَدَا وَمَذَلَّةَ الشَّيْطَانِ“Masing-masing memiliki pendapat dan mempertahankan pendapatnya…Dan ia memusuhi seluruh saudaranya (yang menyelisihinya)…Seandainya tatkala mereka berselisih mereka mendapatkan bimbingan…Maka sungguh mereka akan berhukum kepada Allah dengan semangat tanpa lalai sama sekali…Dan sungguh setelah berselisih mereka akan tetap saling mencintai…Yang hal ini menyebabkan kemarahan musuh dan kehinaan syaitan…”Maka bagaimana menurutmu? Apakah dengan besarnya bencana yang menimpa kaum muslimin akankah mereka akan kembali kepada jalan kebenaran mereka? Lalu bersatu padu di bawah satu bendera, undang-undang mereka adalah Al-Qur’an dan As-Sunnah, dan hukum mereka adalah syari’atnya Allah?. Kita mohon kepada Allah agar hal ini segera terwujudkan dan tidak tertunda, sesungguhnya Allah maha mendengar dan mengabulkan doa.Dan prinsip yang terakhir yaitu tatkala terjadinya fitnah maka masyarakat hendaknya berpegang kepada jalan-jalan yang disyari’atkan, bimbingan-bimbingan al-Qur’an, serta sirah (petunjuk) Nabi. Allah berfirman :وَإِذَا جَآءَهُمۡ أَمۡرٞ مِّنَ ٱلۡأَمۡنِ أَوِ ٱلۡخَوۡفِ أَذَاعُواْ بِهِۦۖ وَلَوۡ رَدُّوهُ إِلَى ٱلرَّسُولِ وَإِلَىٰٓ أُوْلِي ٱلۡأَمۡرِ مِنۡهُمۡ لَعَلِمَهُ ٱلَّذِينَ يَسۡتَنۢبِطُونَهُۥ مِنۡهُمۡۗDan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil Amri). (QS An-Nisaa : 83)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :عِبَادَةٌ فِي الْهَرْجِ كَهِجْرَةٍ إِلَيَّ“Ibadah tatkala zaman fitnah seperti berhijrah kepadaku”Dan hendaknya mereka mengetahui bahwasanya perkara lisan dan pena adalah perkara yang sangat berbahaya dalam memprovokasi fitnah dan menyalakan kobaran apinya. Dan zaman fitnah adalah kondisi yang mudah menggelincirkan orang pada kesalahan. Allah berfirmanإِذۡ تَلَقَّوۡنَهُۥ بِأَلۡسِنَتِكُمۡ وَتَقُولُونَ بِأَفۡوَاهِكُم مَّا لَيۡسَ لَكُم بِهِۦ عِلۡمٞ وَتَحۡسَبُونَهُۥ هَيِّنٗا وَهُوَ عِندَ ٱللَّهِ عَظِيمٞ ١٥(Ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit juga, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal dia pada sisi Allah adalah besar (QS An-Nuur : 15)Sesungguhnya para ulama, para pakar politik, para intelektual, serta orang-orang media sangat wajib bagi mereka untuk memeriksa dan meneliti (kroscek) tatkala waktu terjadinya fitnah, dan agar mereka tidak terjun pada perkara-perkara yang memprovokasi fitnah dan menambah nyala kobaran apinya.Telah datang dalam hadits yang marfu’ :ستكونُ فِتنةٌ صمَّاءُ بكمْاءُ عَمياءُ، مَنْ أشرَفَ لها استشرفَتْ له، وإشرافُ اللسانِ فيها كوقوع السيفِ“Akan muncul fitnah yang menulikan, membisukan, dan membutakan. Siapa yang mendekatinya maka fitnah tersebut akan mengenainya. Dan nimbrungnya lisan dalam fitnah tersebut seperti pedang” (HR Abu Dawud). Dan makna dari hadits ini sesuai dengan pokok-pokok syari’at dan dalil-dalil yang umum maupun yang khusus.Ibnu Abbas telah berkata ;إِنَّمَا الْفِتْنَةُ بِاللِّسَانِ وَلَيْسَتِ الْفِتْنَةُ بِالْيَدِ“Sesungguhnya fitnah itu dengan lisan bukanlah fitnah dengan tangan”    Kebenaran akan hal ini dibuktikan dengan apa yang dilihat oleh kaum muslimin pada fitnah-fitnah yang terjadi pada zaman ini yang sangat besar keburukannya dan tersebar kemudhorotannya, hanyalah Allah tempat memohon pertolongan.Semoga Allah memberkahi kita pada al-Qur’an dan As-Sunnah, dan menjadikan kita mengambil manfaat dari keduanya. Khutbah Kedua          Sesungguhnya kita di negeri dua kota suci ini dalam kondisi makmur dengan kenikmatan-kenikmatan yang besar. Dan yang paling besar adalah menjadikan syari’at yang suci ini sebagai hukum, demikian juga bersatu padunya antara penguasa dan rakyat. Hal ini membuahkan ketenteraman dan keamanan, stabilitas dan kemakmuran. Maka wajib bagi penduduk negeri ini untuk mensyukuri karunia ini dan waspada dari kemurkaan Allah, serta berusaha untuk meraih keridhoanNya, dan semangat untuk mempererat antara penguasa dan rakyat dalam kebenaran dan petunjuk.Saudara-saudaraku se Islam, termasuk amalan yang terbaik dan tersuci adalah bersholawat kepada Nabi yang termulia, Ya Allah curahkanlah shalawat dan salam kepada beliau dan keluarganya serta para sahabatnya.Ya Allah perbaikilah keadaan kami dan keadaan kaum muslimin, Ya Allah hilangkanlah kesedihan… hilangkanlah penderitaan…, Ya Allah selamatkanlah hamba-hambaMu dari segala fitnah dan bencana…Ya Allah hancurkanlah musuh-musuhMu sesungguhnya mereka tidak akan melemahkanMu, wahai Yang Maha Agung, Ya Allah jagalah saudara-saudara kami di manapun mereka berada, Ya Allah jadilah Engkau sebagai penolong bagi mereka wahai Yang Maha Perkasa dan Maha Kuat, Ya Allah bimbinglah pelayan dua kota suci yang mulia kepada perkara yang Engkau cintai dan ridhoi, Ya Allah tolonglah agama ini dengannya, dan tinggikanlah kaum muslimin dengannya…. Ya Allah ampunilah kaum muslimin dan muslimat, baik yang hidup di antara mereka maupun yang telah meninggal, Ya Allah berikanlah kebaikan dunia kepada kami dan juga kebaikan akhirat serta jagalah kami dari adzab nerakaDiterjemahkan oleh Firanda Andirja dan Usman Hatimhttps://firanda.com/ 
(Khutbah Jum’ah Masjid Nabawi 8 Shafar 1437 H)Oleh : Syekh Husen Bin Abdul Aziz Ali Syekh –hafizohullah-Khotbah PertamaKondisi kaum muslimin di banyak tempat saat ini sangat memprihatinkan dan menyedihkan, terutama setelah terjadinya berbagai fitnah yang membutakan dan beragam petaka sehingga menyeret kaum muslimin kepada kehancuran dan kerusakan, terkait urusan agama, jiwa, kehormatan, harta benda dan tanah air. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah Ta’ala.Camkanlah baik-baik bahwa faktor utama timbulnya segala malapetaka dan krisis yang membawa berbagai macam penderitaan dan kesengsaraan adalah disebabkan mereka menjauh dari sistem (aturan) Allah dan Sunnah Nabi-Nya di berbagai bidang kehidupan. Firman Allah :وَما أَصابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِما كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُوا عَنْ كَثِيرٍ [ شورى / 30 ]Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar [dari kesalahan-kesalahanmu]  (Qs As-Syura :30) Firman Allah :ظَهَرَ الْفَسادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِما كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ  [ الروم / 41 ]Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supay Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali ke jalan yang benar (Qs Ar-Rum : 41)Rasulullah saw bersabda  :وَمَا لَمْ تَعْمَلْ أَئِمَّتُهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللهُ فِي كِتَابِهِ إِلاَّ جَعَلَ بَأْسَهُمْ بَيْنَهُمْSelama para pemimpin mereka tidak menjalankan ketentuan hukum yang diturunkan oleh Allah dalam kitab suci-Nya, maka selama itu pula Allah munculkan saling permusuhan di antara mereka.Ali – Radhiyallahu Anhu – berkata :( مَا نَزَلَ بَلَاءٌ إلّا بِذَنْبٍ وَلَا رُفِعَ بَلَاءٌ إلّا بِتَوْبَةٍ )Tidak terjadi suatu bencana melainkan karena akibat dosa yang dilakukan, dan tidak akan diangkat suatu bencana melainkan dengan bertobat.Dosa kejahatan dan pelanggaran terhadap perintah Allah Tuhan langit dan bumi adalah penyebab hilangnya nikmat-nakmat yang ada sekarang dan pemutus nikmat-nikmat selanjutnya.Ibnul-Qayim – Rahimahullah – berkata :“Hal ini terdapat dalam Al-Qur’an, lebih dari seribu tempat. Itulah sebabnya setiap musibah berdarah yang menimpa kaum muslimin pastilah disebabkan oleh merajalelanya pelanggaran terhadap ketentuan Allah yang ada dalam dua wahyu (al-Qur’an dan As-Sunnah)Disebutkan dalam musnad Imam Ahmad bahwa Nabi saw bersabda :( إذَا ظَهَرَتِ الْمَعَاصِي فِى أمَّتِى عَمَّهُمُ اللهُ بِعِقَابٍ مِنْ عِنْدِهِ )Jika kemaksiatan telah menjadi fenomena di kalangan umatku, maka Allah akan menyebarkan azab yang meliputi mereka dari sisi-NyaJika telah jelas fakta tersebut yang telah dilupakan oleh kebanyakan orang yang jauh dari sistem hukum Al-Qur’an dan As-Sunnah, maka hendaknya kita mengetahui bahwa sebenarnya ada beberapa prinsip dan pilar agung yang bilamana dikukuhkan dan diaplikasikan dengan penuh antusias oleh kaum muslimin, niscaya mereka akan terselamatkan dari kejahatan dan dampak buruk dari bencana dan malapetaka.Prinsip pertama : Bertobat secara sungguh-sungguh kepada Allah Ta’ala, yaitu dengan kembali ke jalan Allah, konsisten dalam menjalankan syariat agama-Nya dan mengikuti perintah-perintahNya dan perintah Rasul-Nya saw. Maka dengan bertobat kepada Allah akan terwujud kesentosaan dan kemakmuran hidup, dan terlindung dari segala kejahatan, bencana, kemelut dan krisis. Allah berfirman  :وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعاً أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ  [ النور / 31 ]Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung (Qs An-Nur : 31)Allah berfirman perihal Nabi-Nya – Hud Alaihissalam – :وَيَا قَوْمِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا وَيَزِدْكُمْ قُوَّةً إِلَى قُوَّتِكُمْ وَلَا تَتَوَلَّوْا مُجْرِمِينَDan [Hud berkata]: “Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa (Qs Hud : 52)Kebaikan dengan segala ragamnya terletak pada pertobatan, demikian pula perbaikan kondisi dengan segala bentuknya sangat terkait dengan pertobatan. Firman Allah :فَإِنْ يَتُوبُوا يَكُ خَيْرًا لَهُمْ وَإِنْ يَتَوَلَّوْا يُعَذِّبْهُمُ اللَّهُ عَذَابًا أَلِيمًا فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَمَا لَهُمْ فِي الْأَرْضِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ [ التوبة / 74 ] 74.Maka jika mereka bertobat, itu adalah lebih baik bagi mereka, dan jika mereka berpaling, niscaya Allah akan mengazab mereka dengan azab yang pedih di dunia dan akhirat; dan mereka sekali-kali tidaklah mempunyai pelindung dan tidak (pula) penolong di muka bumi  (Qs At-Taubah : 74)Bertobat kepada Allah dengan memperbaiki ibadah yang rusak akibat meninggalkan kewajiban dan melanggar larangan merupakan penyebab terangkatnya bencana dan tertolaknya bala’. Firman Allah :وَما كانَ اللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنْتَ فِيهِمْ وَما كانَ اللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ  [ الأنفال / 33 ]( Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedang kamu berada di antara mereka. Dan tidaklah Allah akan mengazab mereka, sedang mereka meminta ampun ) Qs Al-Anfal : 33Bahkan tobat merupakan penyebab turunannya berbagai macam kebaikan dan datangnya aneka ragam nikmat yang menyenangkan. Firman Allah  :وَأَنِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُمَتِّعْكُمْ مَتاعاً حَسَناً إِلى أَجَلٍ مُسَمًّى وَيُؤْتِ كُلَّ ذِي فَضْلٍ فَضْلَهُ وَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنِّي أَخافُ عَلَيْكُمْ عَذابَ يَوْمٍ كَبِيرٍ  [ هود / 3 ](dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertobat kepada-Nya. [Jika kamu mengerjakan yang demikian], niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberikan kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya. Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa siksa hari kiamat) Qs Hud : 3Firman Allah melalui lisan Nabi Nuh a.s. :فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كانَ غَفَّاراً ،  يُرْسِلِ السَّماءَ عَلَيْكُمْ مِدْراراً ، وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهاراً  [ نوح / 10 – 12 ]Maka aku katakan kepada mereka: ´Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, -sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun-, Niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai (QS Nuh 10-12)Prinsip kedua  : Memperbanyak ibadah dengan segala amal yang mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala. Dengan ibadah, maka bencana tertolak dan kenikmatan tertarik. Firman Allah :وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجاً ،  وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لا يَحْتَسِبُ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ(Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan memberikan kecukupan kepadanya) Qs. At-Thalaq : 2-3 )Ibnul-Qayim berkata, “Orang yang dermawan dan suka bersedekah selalu memberdayakan prajurit dan tentara yang bertempur untuk membela dirinya meskipun ia sendiri sedang tidur di kasurnya. Barangsiapa yang tidak punya prajurit atau tentara, sementara dirinya harus menghadapi musuh, maka acapkali dirinya dikuasai oleh musuh, meskipun penguasaan musuhnya atas dirinya itu mengalami keterlambatan. Semoga Allah menjadi Penolong kita”.Orang-orang yang berpegang pada keimanan dan beramal ibadah kepada Allah serta menahan diri dari segala laranganNya, sesungguhnya mereka itu mendapatkan perhatian khusus dan perlindungan yang sempurna dari Allah Ta’ala.Firman Allah  :إِنَّ اللَّهَ يُدافِعُ عَنِ الَّذِينَ آمَنُوا  [ الحج / 38 ]( Sesungguhnya Allah membela orang-orang yang beriman ). Qs Al-Haj : 38 Prinsip ketiga  :  Ketika umat ini terkepung oleh berbagai fitnah sehingga bahtera yang ditumpanginya terombang-ambing, dalam kondisi demikian tentu kebutuhan akan meniti jalan keselamatan sangatlah mendesak agar bisa sampai  ke daratan keamanan dan pantai keselamatan. Namun tidak mungkin mereka menemukan jalan selagi tidak mengobati problem dan penyakit yang mereka hadapi melalui cahaya Al-Qur’an dan Sunnah Nabi yang mulia. Jikalau tragedi dan bencana telah menghantam wajah umat ini di semua lembah, maka tidak ada jalan lain yang memberikan harapan dan yang dapat menyelamatkan selain mencari solusi pada dua sumber wahyu.Allah Ta’ala berfirman :وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعاً وَلا تَفَرَّقُوا  [ آل عمران / 103 ]( Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali [agama] Allah, dan janganlah kamu bercerai berai ) Qs Ali Imran : 103لَقَدْ أَنْزَلْنَا إِلَيْكُمْ كِتَابًا فِيهِ ذِكْرُكُمْ أَفَلَا تَعْقِلُونَ [ الأنبياء / 10 ]( Sesungguhnya telah Kami turunkan kepada kamu sebuah kitab yang di dalamnya terdapat sebab-sebab kemuliaan bagimu. Maka apakah kamu tiada memahaminya) Qs Al-Anbiya : 10Artinya di dalam kitab Al-Qur’an itu terdapat kejayaan, kemuliaan dan kedaulatan bagi kalian.Imam Malik meriwayatkan dan kitab Muwatha’nya dari Nabi saw bahwa beliau bersabda :تَرَكْتُ فِيكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا: كِتَابَ اللهِ وَسُنَّةَ نَبِيِّهِ( Aku tinggalkan di tengah-tengah kalian dua perkara yang kalian tidak akan tersesat selama kalian berpegang-teguh kepada kedua-duanya; Kitab Allah dan Sunnah Nabi-Nya ).Imam Abu Dawud – Rahimahullah – meriwayatkan dalam kitab Sunan-nya dari hadis Al-Irbadh Bin Sariyah, dia berkata  :صَلّى لنا رسُوْلُ اللهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ ثمَّ أقبلَ عَلَيْنَا  فَوَعَظَنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلىَّ الله عليه وسلم مَوْعِظَةً وَجِلَتْ مِنْهَا الْقُلُوْبُ، وَذَرِفَتْ مِنْهَا الْعُيُوْنُ، فَقُلْنَا : يَا رَسُوْلَ اللهِ، كَأَنَّهَا مَوْعِظَةُ مُوَدِّعٍ، فَأَوْصِنَا، قَالَ : أُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ تَأَمَّرَ عَلَيْكُمْ عَبْدٌ، وَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ فَسَيَرَى اخْتِلاَفاً كًثِيْراً. فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّيْنَ عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ، وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ اْلأُمُوْرِ، فَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ .(Rasulullah telah memimpin shalat kami lalu beliau menghadapkan wajahnya kepada kami untuk memberi nasehat kepada kami dengan satu nasihat yang menggetarkan hati dan membuat airmata bercucuran”. kami bertanya ,”Wahai Rasulullah, nasihat itu seakan-akan nasihat orang yang akan berpisah selamanya, maka berilah kami wasiat” Rasulullah saw bersabda, “Aku beri wasiat kepadamu agar tetap bertaqwa kepada Allah, tetap mendengar dan ta’at walaupun yang memerintahmu seorang hamba budak. Sesungguhnya barangsiapa di antara kalian yang nantinya masih hidup, niscaya bakal menyaksikan banyak perselisihan. Karena itu berpegang teguhlah kepada sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin yang lurus, dan mendapatkan petunjuk, gigitlah sunnah-sunnah itu sekuat-kuatnya dengan gigi geraham. Dan jauhilah hal-hal baru yang diada-adakan, karena sesungguhnya semua bid’ah adalah sesat).Maka berpegang teguh kepada dua wahyu ( sebagai sumber hukum ) ketika menghadapi bencana, konflik dan perselisihan, serta menjadikan keduanya sebagai rujukan dalam menangani setiap perpecahan, konflik dan pertikaian adalah jalan satu-satunya untuk menangkis bahaya berbagai penyimpangan, kekacauan dan kekalutan yang tersebar di dunia islam saat ini.Prinsip keempat  : Keamanan dambaan setiap bangsa dan tujuan setiap negara. Rasulullah saw bersabda :مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ آمِنًا فِي سِرْبِهِ مُعَافًى فِي جَسَدِهِ عِنْدَهُ قُوْتُ يَوْمِهِ ، فَكَأَنَّمَا حِيْزَتْ لَهُ الدُّنْيَا بِحَذَافِيْرِهَا(Barang siapa diantara kalian yang di pagi hari merasa terjamin aman di tempatnya, sehat badannya, memiliki makanan untuk hari itu, maka seakan-akan dunia seluruhnya telah menjadi miliknya ) HR. Turmuzi dan Ibnu Majah dengan sanad hasan.Ingatlah ! Sendi keamanan adalah terwujudnya keimanan kepada Allah Ta’ala baik dalam aqidah, ucapan ataupun perbuatan. Pilar keamanan yang mendasar adalah mempraktekkan perintah-perintah Al-Qur’an dan arahan-arahan Nabi serta mengamalkan syariat islam dalam segala aspek kehidupan. Firman Allah :الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ [ الأنعام / 82 ]( Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman [syirik], mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk ). Qs Al-An’am : 82Negeri manapun yang menyimpang dari hukum syariat Allah dan mengikuti kemauan hawa nafsunya, para penguasanya orang-orang jahat, pastilah negeri itu kehilangan keamanan yang didambakan dan penduduknya diliputi rasa takut, cemas dan galau.Firman Allah :وَضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا قَرْيَةً كَانَتْ آمِنَةً مُطْمَئِنَّةً يَأْتِيهَا رِزْقُهَا رَغَدًا مِنْ كُلِّ مَكَانٍ فَكَفَرَتْ بِأَنْعُمِ اللَّهِ فَأَذَاقَهَا اللَّهُ لِبَاسَ الْجُوعِ وَالْخَوْفِ بِمَا كَانُوا يَصْنَعُونَ  [ النحل / 112 ](Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezekinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi [penduduk]nya mengingkari nikmat-nikmat Allah; karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat). Qs An-Nahl : 112Prinsip kelima  : Faktor kekuatan terpenting umat ini terdapat pada kerjasama [tolong-menolong] di antara mereka atas dasar amal kebajikan dan ketakwaan serta bersatu padu di dalam kebaikan dan petunjuk agama.Firman Allah :وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعاً وَلا تَفَرَّقُوا  [ آل عمران / 103 ]( Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali [agama] Allah, dan janganlah kamu bercerai berai ) Qs Ali Imran : 103Sementara musibah yang paling besar yang dihadapi umat islam, yang melemahkan kekuatan lengannya, menumbangkan panji-panji kejayaannya adalah perselisihan, pertikaian dan perebutan.Firman Allah :وَلا تَنازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ وَاصْبِرُوا إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ  [ الأنفال / 46 ]( Dan janganlah kamu saling berebut yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar ) Qs Al-Anfal : 46Rasulullah saw bersabda :( لَا تَبَاغَضُوا، وَلَا تَحَاسَدُوا، وَلَا تَدَابَرُوا، وَكُونُوا عِبَادَ اللهِ إِخْوَانًا، وَلَا يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يَهْجُرَ أَخَاهُ فَوْقَ ثَلَاثِ أيّامٍ ) رواه أحمد وأصله فى صحيح مسلم( Janganlah kalian saling membenci, saling mendengki, dan saling bermusuhan. Jadilah kalian hamba Allah yang besaudara. Tidak halal bagi seorang muslim memboikot saudaranya lebih dari tiga hari ). HR Ahmad, sandaran asalnya pada Shahih Muslim.Rasulullah saw bersabda :( أَيُّهَا النَّاسُ، عَلَيْكُمْ بِالْجَمَاعَةِ، وَإِيَّاكُمْ وَالْفُرْقَةَ (فقالها ثلاثا( Wahai manusia ! tetaplah kalian pada kelompok [ jama’ah kaum muslimin ], janganlah kalian bercerai-berai ), beliau mengulangi pesan ini hingga tiga kali. ( HR Ahmad )Dan peristiwa-peristiwa sejarah merupakan bukti terbesar yang menunjukkan bahwa perpecahan dan bentuk memisahkan diri adalah sebab kehancuran dan kerusakan.مِمَّا يُزَهِّدُنِي فِي أَرْضِ أَنْدَلُسٍ…. أَسْمَاءُ مُعْتَمِدٍ فِيْهَا وَمُعْتَضِدِأَلْقَابُ مَمْلَكَةٍ فِي غَيْرِ مَوْضِعِهَا… كَالْهِرِّ يَحْكِي انْتِفَاخًا صَوْلَةَ الأَسَدِ“Diantara hal yang menjadikan aku tidak respek dengan negeri Andalus….Adalah nama-nama (raja-raja kecil yang terpecah-pecah) yang muncul di Andalus, yaitu Mu’tamid dan Mu’tadid…Gelar-gelar untuk para raja yang diletakan tidak pada tempatnya…Seperti kucing yang menegakkan bulu kuduknya menampakan seakan-akan ia seperti singa…”Maka wajib bagi kaum muslimin untuk bertakwa kepada Allah dan janganlah mereka berpecah-pecah padahal dihadapan mereka ada Al-Qur’an sebagai hakim dan sebagai metode, demikian juga ada Sunnah Rasulullah sebagai pelita dan petunjuk mereka, serta ada perjalanan hidup para khulafaur Rosyidin sebagai teladan dan contoh yang baik bagi mereka.Dan kapan mereka menyimpang dari jalan/metode ini maka seakan-akan kondisi mereka tergambarkan seperti ucapan seseorang :كُلٌّ يَرَى رَأْيَا وَيَنْصُرُ قَوْلَهُ *** وَلَهُ يُعَادِي سَائِرَ الإِخْوَانِوَلَوْ أَنَّهُم عِنْدَ التَّنَازُعِ وُفِّقُوا *** لَتَحَاكَمُوا للهِ دُوْنَ تَوَانِولَأَصْبَحُوا بَعْدَ الْخِصَامِ أَحِبَّةً *** غَيْظَ العَدَا وَمَذَلَّةَ الشَّيْطَانِ“Masing-masing memiliki pendapat dan mempertahankan pendapatnya…Dan ia memusuhi seluruh saudaranya (yang menyelisihinya)…Seandainya tatkala mereka berselisih mereka mendapatkan bimbingan…Maka sungguh mereka akan berhukum kepada Allah dengan semangat tanpa lalai sama sekali…Dan sungguh setelah berselisih mereka akan tetap saling mencintai…Yang hal ini menyebabkan kemarahan musuh dan kehinaan syaitan…”Maka bagaimana menurutmu? Apakah dengan besarnya bencana yang menimpa kaum muslimin akankah mereka akan kembali kepada jalan kebenaran mereka? Lalu bersatu padu di bawah satu bendera, undang-undang mereka adalah Al-Qur’an dan As-Sunnah, dan hukum mereka adalah syari’atnya Allah?. Kita mohon kepada Allah agar hal ini segera terwujudkan dan tidak tertunda, sesungguhnya Allah maha mendengar dan mengabulkan doa.Dan prinsip yang terakhir yaitu tatkala terjadinya fitnah maka masyarakat hendaknya berpegang kepada jalan-jalan yang disyari’atkan, bimbingan-bimbingan al-Qur’an, serta sirah (petunjuk) Nabi. Allah berfirman :وَإِذَا جَآءَهُمۡ أَمۡرٞ مِّنَ ٱلۡأَمۡنِ أَوِ ٱلۡخَوۡفِ أَذَاعُواْ بِهِۦۖ وَلَوۡ رَدُّوهُ إِلَى ٱلرَّسُولِ وَإِلَىٰٓ أُوْلِي ٱلۡأَمۡرِ مِنۡهُمۡ لَعَلِمَهُ ٱلَّذِينَ يَسۡتَنۢبِطُونَهُۥ مِنۡهُمۡۗDan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil Amri). (QS An-Nisaa : 83)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :عِبَادَةٌ فِي الْهَرْجِ كَهِجْرَةٍ إِلَيَّ“Ibadah tatkala zaman fitnah seperti berhijrah kepadaku”Dan hendaknya mereka mengetahui bahwasanya perkara lisan dan pena adalah perkara yang sangat berbahaya dalam memprovokasi fitnah dan menyalakan kobaran apinya. Dan zaman fitnah adalah kondisi yang mudah menggelincirkan orang pada kesalahan. Allah berfirmanإِذۡ تَلَقَّوۡنَهُۥ بِأَلۡسِنَتِكُمۡ وَتَقُولُونَ بِأَفۡوَاهِكُم مَّا لَيۡسَ لَكُم بِهِۦ عِلۡمٞ وَتَحۡسَبُونَهُۥ هَيِّنٗا وَهُوَ عِندَ ٱللَّهِ عَظِيمٞ ١٥(Ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit juga, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal dia pada sisi Allah adalah besar (QS An-Nuur : 15)Sesungguhnya para ulama, para pakar politik, para intelektual, serta orang-orang media sangat wajib bagi mereka untuk memeriksa dan meneliti (kroscek) tatkala waktu terjadinya fitnah, dan agar mereka tidak terjun pada perkara-perkara yang memprovokasi fitnah dan menambah nyala kobaran apinya.Telah datang dalam hadits yang marfu’ :ستكونُ فِتنةٌ صمَّاءُ بكمْاءُ عَمياءُ، مَنْ أشرَفَ لها استشرفَتْ له، وإشرافُ اللسانِ فيها كوقوع السيفِ“Akan muncul fitnah yang menulikan, membisukan, dan membutakan. Siapa yang mendekatinya maka fitnah tersebut akan mengenainya. Dan nimbrungnya lisan dalam fitnah tersebut seperti pedang” (HR Abu Dawud). Dan makna dari hadits ini sesuai dengan pokok-pokok syari’at dan dalil-dalil yang umum maupun yang khusus.Ibnu Abbas telah berkata ;إِنَّمَا الْفِتْنَةُ بِاللِّسَانِ وَلَيْسَتِ الْفِتْنَةُ بِالْيَدِ“Sesungguhnya fitnah itu dengan lisan bukanlah fitnah dengan tangan”    Kebenaran akan hal ini dibuktikan dengan apa yang dilihat oleh kaum muslimin pada fitnah-fitnah yang terjadi pada zaman ini yang sangat besar keburukannya dan tersebar kemudhorotannya, hanyalah Allah tempat memohon pertolongan.Semoga Allah memberkahi kita pada al-Qur’an dan As-Sunnah, dan menjadikan kita mengambil manfaat dari keduanya. Khutbah Kedua          Sesungguhnya kita di negeri dua kota suci ini dalam kondisi makmur dengan kenikmatan-kenikmatan yang besar. Dan yang paling besar adalah menjadikan syari’at yang suci ini sebagai hukum, demikian juga bersatu padunya antara penguasa dan rakyat. Hal ini membuahkan ketenteraman dan keamanan, stabilitas dan kemakmuran. Maka wajib bagi penduduk negeri ini untuk mensyukuri karunia ini dan waspada dari kemurkaan Allah, serta berusaha untuk meraih keridhoanNya, dan semangat untuk mempererat antara penguasa dan rakyat dalam kebenaran dan petunjuk.Saudara-saudaraku se Islam, termasuk amalan yang terbaik dan tersuci adalah bersholawat kepada Nabi yang termulia, Ya Allah curahkanlah shalawat dan salam kepada beliau dan keluarganya serta para sahabatnya.Ya Allah perbaikilah keadaan kami dan keadaan kaum muslimin, Ya Allah hilangkanlah kesedihan… hilangkanlah penderitaan…, Ya Allah selamatkanlah hamba-hambaMu dari segala fitnah dan bencana…Ya Allah hancurkanlah musuh-musuhMu sesungguhnya mereka tidak akan melemahkanMu, wahai Yang Maha Agung, Ya Allah jagalah saudara-saudara kami di manapun mereka berada, Ya Allah jadilah Engkau sebagai penolong bagi mereka wahai Yang Maha Perkasa dan Maha Kuat, Ya Allah bimbinglah pelayan dua kota suci yang mulia kepada perkara yang Engkau cintai dan ridhoi, Ya Allah tolonglah agama ini dengannya, dan tinggikanlah kaum muslimin dengannya…. Ya Allah ampunilah kaum muslimin dan muslimat, baik yang hidup di antara mereka maupun yang telah meninggal, Ya Allah berikanlah kebaikan dunia kepada kami dan juga kebaikan akhirat serta jagalah kami dari adzab nerakaDiterjemahkan oleh Firanda Andirja dan Usman Hatimhttps://firanda.com/ 


(Khutbah Jum’ah Masjid Nabawi 8 Shafar 1437 H)Oleh : Syekh Husen Bin Abdul Aziz Ali Syekh –hafizohullah-Khotbah PertamaKondisi kaum muslimin di banyak tempat saat ini sangat memprihatinkan dan menyedihkan, terutama setelah terjadinya berbagai fitnah yang membutakan dan beragam petaka sehingga menyeret kaum muslimin kepada kehancuran dan kerusakan, terkait urusan agama, jiwa, kehormatan, harta benda dan tanah air. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah Ta’ala.Camkanlah baik-baik bahwa faktor utama timbulnya segala malapetaka dan krisis yang membawa berbagai macam penderitaan dan kesengsaraan adalah disebabkan mereka menjauh dari sistem (aturan) Allah dan Sunnah Nabi-Nya di berbagai bidang kehidupan. Firman Allah :وَما أَصابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِما كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُوا عَنْ كَثِيرٍ [ شورى / 30 ]Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar [dari kesalahan-kesalahanmu]  (Qs As-Syura :30) Firman Allah :ظَهَرَ الْفَسادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِما كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ  [ الروم / 41 ]Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supay Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali ke jalan yang benar (Qs Ar-Rum : 41)Rasulullah saw bersabda  :وَمَا لَمْ تَعْمَلْ أَئِمَّتُهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللهُ فِي كِتَابِهِ إِلاَّ جَعَلَ بَأْسَهُمْ بَيْنَهُمْSelama para pemimpin mereka tidak menjalankan ketentuan hukum yang diturunkan oleh Allah dalam kitab suci-Nya, maka selama itu pula Allah munculkan saling permusuhan di antara mereka.Ali – Radhiyallahu Anhu – berkata :( مَا نَزَلَ بَلَاءٌ إلّا بِذَنْبٍ وَلَا رُفِعَ بَلَاءٌ إلّا بِتَوْبَةٍ )Tidak terjadi suatu bencana melainkan karena akibat dosa yang dilakukan, dan tidak akan diangkat suatu bencana melainkan dengan bertobat.Dosa kejahatan dan pelanggaran terhadap perintah Allah Tuhan langit dan bumi adalah penyebab hilangnya nikmat-nakmat yang ada sekarang dan pemutus nikmat-nikmat selanjutnya.Ibnul-Qayim – Rahimahullah – berkata :“Hal ini terdapat dalam Al-Qur’an, lebih dari seribu tempat. Itulah sebabnya setiap musibah berdarah yang menimpa kaum muslimin pastilah disebabkan oleh merajalelanya pelanggaran terhadap ketentuan Allah yang ada dalam dua wahyu (al-Qur’an dan As-Sunnah)Disebutkan dalam musnad Imam Ahmad bahwa Nabi saw bersabda :( إذَا ظَهَرَتِ الْمَعَاصِي فِى أمَّتِى عَمَّهُمُ اللهُ بِعِقَابٍ مِنْ عِنْدِهِ )Jika kemaksiatan telah menjadi fenomena di kalangan umatku, maka Allah akan menyebarkan azab yang meliputi mereka dari sisi-NyaJika telah jelas fakta tersebut yang telah dilupakan oleh kebanyakan orang yang jauh dari sistem hukum Al-Qur’an dan As-Sunnah, maka hendaknya kita mengetahui bahwa sebenarnya ada beberapa prinsip dan pilar agung yang bilamana dikukuhkan dan diaplikasikan dengan penuh antusias oleh kaum muslimin, niscaya mereka akan terselamatkan dari kejahatan dan dampak buruk dari bencana dan malapetaka.Prinsip pertama : Bertobat secara sungguh-sungguh kepada Allah Ta’ala, yaitu dengan kembali ke jalan Allah, konsisten dalam menjalankan syariat agama-Nya dan mengikuti perintah-perintahNya dan perintah Rasul-Nya saw. Maka dengan bertobat kepada Allah akan terwujud kesentosaan dan kemakmuran hidup, dan terlindung dari segala kejahatan, bencana, kemelut dan krisis. Allah berfirman  :وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعاً أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ  [ النور / 31 ]Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung (Qs An-Nur : 31)Allah berfirman perihal Nabi-Nya – Hud Alaihissalam – :وَيَا قَوْمِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا وَيَزِدْكُمْ قُوَّةً إِلَى قُوَّتِكُمْ وَلَا تَتَوَلَّوْا مُجْرِمِينَDan [Hud berkata]: “Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa (Qs Hud : 52)Kebaikan dengan segala ragamnya terletak pada pertobatan, demikian pula perbaikan kondisi dengan segala bentuknya sangat terkait dengan pertobatan. Firman Allah :فَإِنْ يَتُوبُوا يَكُ خَيْرًا لَهُمْ وَإِنْ يَتَوَلَّوْا يُعَذِّبْهُمُ اللَّهُ عَذَابًا أَلِيمًا فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَمَا لَهُمْ فِي الْأَرْضِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ [ التوبة / 74 ] 74.Maka jika mereka bertobat, itu adalah lebih baik bagi mereka, dan jika mereka berpaling, niscaya Allah akan mengazab mereka dengan azab yang pedih di dunia dan akhirat; dan mereka sekali-kali tidaklah mempunyai pelindung dan tidak (pula) penolong di muka bumi  (Qs At-Taubah : 74)Bertobat kepada Allah dengan memperbaiki ibadah yang rusak akibat meninggalkan kewajiban dan melanggar larangan merupakan penyebab terangkatnya bencana dan tertolaknya bala’. Firman Allah :وَما كانَ اللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنْتَ فِيهِمْ وَما كانَ اللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ  [ الأنفال / 33 ]( Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedang kamu berada di antara mereka. Dan tidaklah Allah akan mengazab mereka, sedang mereka meminta ampun ) Qs Al-Anfal : 33Bahkan tobat merupakan penyebab turunannya berbagai macam kebaikan dan datangnya aneka ragam nikmat yang menyenangkan. Firman Allah  :وَأَنِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُمَتِّعْكُمْ مَتاعاً حَسَناً إِلى أَجَلٍ مُسَمًّى وَيُؤْتِ كُلَّ ذِي فَضْلٍ فَضْلَهُ وَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنِّي أَخافُ عَلَيْكُمْ عَذابَ يَوْمٍ كَبِيرٍ  [ هود / 3 ](dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertobat kepada-Nya. [Jika kamu mengerjakan yang demikian], niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberikan kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya. Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa siksa hari kiamat) Qs Hud : 3Firman Allah melalui lisan Nabi Nuh a.s. :فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كانَ غَفَّاراً ،  يُرْسِلِ السَّماءَ عَلَيْكُمْ مِدْراراً ، وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهاراً  [ نوح / 10 – 12 ]Maka aku katakan kepada mereka: ´Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, -sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun-, Niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai (QS Nuh 10-12)Prinsip kedua  : Memperbanyak ibadah dengan segala amal yang mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala. Dengan ibadah, maka bencana tertolak dan kenikmatan tertarik. Firman Allah :وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجاً ،  وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لا يَحْتَسِبُ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ(Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan memberikan kecukupan kepadanya) Qs. At-Thalaq : 2-3 )Ibnul-Qayim berkata, “Orang yang dermawan dan suka bersedekah selalu memberdayakan prajurit dan tentara yang bertempur untuk membela dirinya meskipun ia sendiri sedang tidur di kasurnya. Barangsiapa yang tidak punya prajurit atau tentara, sementara dirinya harus menghadapi musuh, maka acapkali dirinya dikuasai oleh musuh, meskipun penguasaan musuhnya atas dirinya itu mengalami keterlambatan. Semoga Allah menjadi Penolong kita”.Orang-orang yang berpegang pada keimanan dan beramal ibadah kepada Allah serta menahan diri dari segala laranganNya, sesungguhnya mereka itu mendapatkan perhatian khusus dan perlindungan yang sempurna dari Allah Ta’ala.Firman Allah  :إِنَّ اللَّهَ يُدافِعُ عَنِ الَّذِينَ آمَنُوا  [ الحج / 38 ]( Sesungguhnya Allah membela orang-orang yang beriman ). Qs Al-Haj : 38 Prinsip ketiga  :  Ketika umat ini terkepung oleh berbagai fitnah sehingga bahtera yang ditumpanginya terombang-ambing, dalam kondisi demikian tentu kebutuhan akan meniti jalan keselamatan sangatlah mendesak agar bisa sampai  ke daratan keamanan dan pantai keselamatan. Namun tidak mungkin mereka menemukan jalan selagi tidak mengobati problem dan penyakit yang mereka hadapi melalui cahaya Al-Qur’an dan Sunnah Nabi yang mulia. Jikalau tragedi dan bencana telah menghantam wajah umat ini di semua lembah, maka tidak ada jalan lain yang memberikan harapan dan yang dapat menyelamatkan selain mencari solusi pada dua sumber wahyu.Allah Ta’ala berfirman :وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعاً وَلا تَفَرَّقُوا  [ آل عمران / 103 ]( Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali [agama] Allah, dan janganlah kamu bercerai berai ) Qs Ali Imran : 103لَقَدْ أَنْزَلْنَا إِلَيْكُمْ كِتَابًا فِيهِ ذِكْرُكُمْ أَفَلَا تَعْقِلُونَ [ الأنبياء / 10 ]( Sesungguhnya telah Kami turunkan kepada kamu sebuah kitab yang di dalamnya terdapat sebab-sebab kemuliaan bagimu. Maka apakah kamu tiada memahaminya) Qs Al-Anbiya : 10Artinya di dalam kitab Al-Qur’an itu terdapat kejayaan, kemuliaan dan kedaulatan bagi kalian.Imam Malik meriwayatkan dan kitab Muwatha’nya dari Nabi saw bahwa beliau bersabda :تَرَكْتُ فِيكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا: كِتَابَ اللهِ وَسُنَّةَ نَبِيِّهِ( Aku tinggalkan di tengah-tengah kalian dua perkara yang kalian tidak akan tersesat selama kalian berpegang-teguh kepada kedua-duanya; Kitab Allah dan Sunnah Nabi-Nya ).Imam Abu Dawud – Rahimahullah – meriwayatkan dalam kitab Sunan-nya dari hadis Al-Irbadh Bin Sariyah, dia berkata  :صَلّى لنا رسُوْلُ اللهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ ثمَّ أقبلَ عَلَيْنَا  فَوَعَظَنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلىَّ الله عليه وسلم مَوْعِظَةً وَجِلَتْ مِنْهَا الْقُلُوْبُ، وَذَرِفَتْ مِنْهَا الْعُيُوْنُ، فَقُلْنَا : يَا رَسُوْلَ اللهِ، كَأَنَّهَا مَوْعِظَةُ مُوَدِّعٍ، فَأَوْصِنَا، قَالَ : أُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ تَأَمَّرَ عَلَيْكُمْ عَبْدٌ، وَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ فَسَيَرَى اخْتِلاَفاً كًثِيْراً. فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّيْنَ عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ، وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ اْلأُمُوْرِ، فَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ .(Rasulullah telah memimpin shalat kami lalu beliau menghadapkan wajahnya kepada kami untuk memberi nasehat kepada kami dengan satu nasihat yang menggetarkan hati dan membuat airmata bercucuran”. kami bertanya ,”Wahai Rasulullah, nasihat itu seakan-akan nasihat orang yang akan berpisah selamanya, maka berilah kami wasiat” Rasulullah saw bersabda, “Aku beri wasiat kepadamu agar tetap bertaqwa kepada Allah, tetap mendengar dan ta’at walaupun yang memerintahmu seorang hamba budak. Sesungguhnya barangsiapa di antara kalian yang nantinya masih hidup, niscaya bakal menyaksikan banyak perselisihan. Karena itu berpegang teguhlah kepada sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin yang lurus, dan mendapatkan petunjuk, gigitlah sunnah-sunnah itu sekuat-kuatnya dengan gigi geraham. Dan jauhilah hal-hal baru yang diada-adakan, karena sesungguhnya semua bid’ah adalah sesat).Maka berpegang teguh kepada dua wahyu ( sebagai sumber hukum ) ketika menghadapi bencana, konflik dan perselisihan, serta menjadikan keduanya sebagai rujukan dalam menangani setiap perpecahan, konflik dan pertikaian adalah jalan satu-satunya untuk menangkis bahaya berbagai penyimpangan, kekacauan dan kekalutan yang tersebar di dunia islam saat ini.Prinsip keempat  : Keamanan dambaan setiap bangsa dan tujuan setiap negara. Rasulullah saw bersabda :مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ آمِنًا فِي سِرْبِهِ مُعَافًى فِي جَسَدِهِ عِنْدَهُ قُوْتُ يَوْمِهِ ، فَكَأَنَّمَا حِيْزَتْ لَهُ الدُّنْيَا بِحَذَافِيْرِهَا(Barang siapa diantara kalian yang di pagi hari merasa terjamin aman di tempatnya, sehat badannya, memiliki makanan untuk hari itu, maka seakan-akan dunia seluruhnya telah menjadi miliknya ) HR. Turmuzi dan Ibnu Majah dengan sanad hasan.Ingatlah ! Sendi keamanan adalah terwujudnya keimanan kepada Allah Ta’ala baik dalam aqidah, ucapan ataupun perbuatan. Pilar keamanan yang mendasar adalah mempraktekkan perintah-perintah Al-Qur’an dan arahan-arahan Nabi serta mengamalkan syariat islam dalam segala aspek kehidupan. Firman Allah :الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ [ الأنعام / 82 ]( Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman [syirik], mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk ). Qs Al-An’am : 82Negeri manapun yang menyimpang dari hukum syariat Allah dan mengikuti kemauan hawa nafsunya, para penguasanya orang-orang jahat, pastilah negeri itu kehilangan keamanan yang didambakan dan penduduknya diliputi rasa takut, cemas dan galau.Firman Allah :وَضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا قَرْيَةً كَانَتْ آمِنَةً مُطْمَئِنَّةً يَأْتِيهَا رِزْقُهَا رَغَدًا مِنْ كُلِّ مَكَانٍ فَكَفَرَتْ بِأَنْعُمِ اللَّهِ فَأَذَاقَهَا اللَّهُ لِبَاسَ الْجُوعِ وَالْخَوْفِ بِمَا كَانُوا يَصْنَعُونَ  [ النحل / 112 ](Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezekinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi [penduduk]nya mengingkari nikmat-nikmat Allah; karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat). Qs An-Nahl : 112Prinsip kelima  : Faktor kekuatan terpenting umat ini terdapat pada kerjasama [tolong-menolong] di antara mereka atas dasar amal kebajikan dan ketakwaan serta bersatu padu di dalam kebaikan dan petunjuk agama.Firman Allah :وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعاً وَلا تَفَرَّقُوا  [ آل عمران / 103 ]( Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali [agama] Allah, dan janganlah kamu bercerai berai ) Qs Ali Imran : 103Sementara musibah yang paling besar yang dihadapi umat islam, yang melemahkan kekuatan lengannya, menumbangkan panji-panji kejayaannya adalah perselisihan, pertikaian dan perebutan.Firman Allah :وَلا تَنازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ وَاصْبِرُوا إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ  [ الأنفال / 46 ]( Dan janganlah kamu saling berebut yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar ) Qs Al-Anfal : 46Rasulullah saw bersabda :( لَا تَبَاغَضُوا، وَلَا تَحَاسَدُوا، وَلَا تَدَابَرُوا، وَكُونُوا عِبَادَ اللهِ إِخْوَانًا، وَلَا يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يَهْجُرَ أَخَاهُ فَوْقَ ثَلَاثِ أيّامٍ ) رواه أحمد وأصله فى صحيح مسلم( Janganlah kalian saling membenci, saling mendengki, dan saling bermusuhan. Jadilah kalian hamba Allah yang besaudara. Tidak halal bagi seorang muslim memboikot saudaranya lebih dari tiga hari ). HR Ahmad, sandaran asalnya pada Shahih Muslim.Rasulullah saw bersabda :( أَيُّهَا النَّاسُ، عَلَيْكُمْ بِالْجَمَاعَةِ، وَإِيَّاكُمْ وَالْفُرْقَةَ (فقالها ثلاثا( Wahai manusia ! tetaplah kalian pada kelompok [ jama’ah kaum muslimin ], janganlah kalian bercerai-berai ), beliau mengulangi pesan ini hingga tiga kali. ( HR Ahmad )Dan peristiwa-peristiwa sejarah merupakan bukti terbesar yang menunjukkan bahwa perpecahan dan bentuk memisahkan diri adalah sebab kehancuran dan kerusakan.مِمَّا يُزَهِّدُنِي فِي أَرْضِ أَنْدَلُسٍ…. أَسْمَاءُ مُعْتَمِدٍ فِيْهَا وَمُعْتَضِدِأَلْقَابُ مَمْلَكَةٍ فِي غَيْرِ مَوْضِعِهَا… كَالْهِرِّ يَحْكِي انْتِفَاخًا صَوْلَةَ الأَسَدِ“Diantara hal yang menjadikan aku tidak respek dengan negeri Andalus….Adalah nama-nama (raja-raja kecil yang terpecah-pecah) yang muncul di Andalus, yaitu Mu’tamid dan Mu’tadid…Gelar-gelar untuk para raja yang diletakan tidak pada tempatnya…Seperti kucing yang menegakkan bulu kuduknya menampakan seakan-akan ia seperti singa…”Maka wajib bagi kaum muslimin untuk bertakwa kepada Allah dan janganlah mereka berpecah-pecah padahal dihadapan mereka ada Al-Qur’an sebagai hakim dan sebagai metode, demikian juga ada Sunnah Rasulullah sebagai pelita dan petunjuk mereka, serta ada perjalanan hidup para khulafaur Rosyidin sebagai teladan dan contoh yang baik bagi mereka.Dan kapan mereka menyimpang dari jalan/metode ini maka seakan-akan kondisi mereka tergambarkan seperti ucapan seseorang :كُلٌّ يَرَى رَأْيَا وَيَنْصُرُ قَوْلَهُ *** وَلَهُ يُعَادِي سَائِرَ الإِخْوَانِوَلَوْ أَنَّهُم عِنْدَ التَّنَازُعِ وُفِّقُوا *** لَتَحَاكَمُوا للهِ دُوْنَ تَوَانِولَأَصْبَحُوا بَعْدَ الْخِصَامِ أَحِبَّةً *** غَيْظَ العَدَا وَمَذَلَّةَ الشَّيْطَانِ“Masing-masing memiliki pendapat dan mempertahankan pendapatnya…Dan ia memusuhi seluruh saudaranya (yang menyelisihinya)…Seandainya tatkala mereka berselisih mereka mendapatkan bimbingan…Maka sungguh mereka akan berhukum kepada Allah dengan semangat tanpa lalai sama sekali…Dan sungguh setelah berselisih mereka akan tetap saling mencintai…Yang hal ini menyebabkan kemarahan musuh dan kehinaan syaitan…”Maka bagaimana menurutmu? Apakah dengan besarnya bencana yang menimpa kaum muslimin akankah mereka akan kembali kepada jalan kebenaran mereka? Lalu bersatu padu di bawah satu bendera, undang-undang mereka adalah Al-Qur’an dan As-Sunnah, dan hukum mereka adalah syari’atnya Allah?. Kita mohon kepada Allah agar hal ini segera terwujudkan dan tidak tertunda, sesungguhnya Allah maha mendengar dan mengabulkan doa.Dan prinsip yang terakhir yaitu tatkala terjadinya fitnah maka masyarakat hendaknya berpegang kepada jalan-jalan yang disyari’atkan, bimbingan-bimbingan al-Qur’an, serta sirah (petunjuk) Nabi. Allah berfirman :وَإِذَا جَآءَهُمۡ أَمۡرٞ مِّنَ ٱلۡأَمۡنِ أَوِ ٱلۡخَوۡفِ أَذَاعُواْ بِهِۦۖ وَلَوۡ رَدُّوهُ إِلَى ٱلرَّسُولِ وَإِلَىٰٓ أُوْلِي ٱلۡأَمۡرِ مِنۡهُمۡ لَعَلِمَهُ ٱلَّذِينَ يَسۡتَنۢبِطُونَهُۥ مِنۡهُمۡۗDan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil Amri). (QS An-Nisaa : 83)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :عِبَادَةٌ فِي الْهَرْجِ كَهِجْرَةٍ إِلَيَّ“Ibadah tatkala zaman fitnah seperti berhijrah kepadaku”Dan hendaknya mereka mengetahui bahwasanya perkara lisan dan pena adalah perkara yang sangat berbahaya dalam memprovokasi fitnah dan menyalakan kobaran apinya. Dan zaman fitnah adalah kondisi yang mudah menggelincirkan orang pada kesalahan. Allah berfirmanإِذۡ تَلَقَّوۡنَهُۥ بِأَلۡسِنَتِكُمۡ وَتَقُولُونَ بِأَفۡوَاهِكُم مَّا لَيۡسَ لَكُم بِهِۦ عِلۡمٞ وَتَحۡسَبُونَهُۥ هَيِّنٗا وَهُوَ عِندَ ٱللَّهِ عَظِيمٞ ١٥(Ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit juga, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal dia pada sisi Allah adalah besar (QS An-Nuur : 15)Sesungguhnya para ulama, para pakar politik, para intelektual, serta orang-orang media sangat wajib bagi mereka untuk memeriksa dan meneliti (kroscek) tatkala waktu terjadinya fitnah, dan agar mereka tidak terjun pada perkara-perkara yang memprovokasi fitnah dan menambah nyala kobaran apinya.Telah datang dalam hadits yang marfu’ :ستكونُ فِتنةٌ صمَّاءُ بكمْاءُ عَمياءُ، مَنْ أشرَفَ لها استشرفَتْ له، وإشرافُ اللسانِ فيها كوقوع السيفِ“Akan muncul fitnah yang menulikan, membisukan, dan membutakan. Siapa yang mendekatinya maka fitnah tersebut akan mengenainya. Dan nimbrungnya lisan dalam fitnah tersebut seperti pedang” (HR Abu Dawud). Dan makna dari hadits ini sesuai dengan pokok-pokok syari’at dan dalil-dalil yang umum maupun yang khusus.Ibnu Abbas telah berkata ;إِنَّمَا الْفِتْنَةُ بِاللِّسَانِ وَلَيْسَتِ الْفِتْنَةُ بِالْيَدِ“Sesungguhnya fitnah itu dengan lisan bukanlah fitnah dengan tangan”    Kebenaran akan hal ini dibuktikan dengan apa yang dilihat oleh kaum muslimin pada fitnah-fitnah yang terjadi pada zaman ini yang sangat besar keburukannya dan tersebar kemudhorotannya, hanyalah Allah tempat memohon pertolongan.Semoga Allah memberkahi kita pada al-Qur’an dan As-Sunnah, dan menjadikan kita mengambil manfaat dari keduanya. Khutbah Kedua          Sesungguhnya kita di negeri dua kota suci ini dalam kondisi makmur dengan kenikmatan-kenikmatan yang besar. Dan yang paling besar adalah menjadikan syari’at yang suci ini sebagai hukum, demikian juga bersatu padunya antara penguasa dan rakyat. Hal ini membuahkan ketenteraman dan keamanan, stabilitas dan kemakmuran. Maka wajib bagi penduduk negeri ini untuk mensyukuri karunia ini dan waspada dari kemurkaan Allah, serta berusaha untuk meraih keridhoanNya, dan semangat untuk mempererat antara penguasa dan rakyat dalam kebenaran dan petunjuk.Saudara-saudaraku se Islam, termasuk amalan yang terbaik dan tersuci adalah bersholawat kepada Nabi yang termulia, Ya Allah curahkanlah shalawat dan salam kepada beliau dan keluarganya serta para sahabatnya.Ya Allah perbaikilah keadaan kami dan keadaan kaum muslimin, Ya Allah hilangkanlah kesedihan… hilangkanlah penderitaan…, Ya Allah selamatkanlah hamba-hambaMu dari segala fitnah dan bencana…Ya Allah hancurkanlah musuh-musuhMu sesungguhnya mereka tidak akan melemahkanMu, wahai Yang Maha Agung, Ya Allah jagalah saudara-saudara kami di manapun mereka berada, Ya Allah jadilah Engkau sebagai penolong bagi mereka wahai Yang Maha Perkasa dan Maha Kuat, Ya Allah bimbinglah pelayan dua kota suci yang mulia kepada perkara yang Engkau cintai dan ridhoi, Ya Allah tolonglah agama ini dengannya, dan tinggikanlah kaum muslimin dengannya…. Ya Allah ampunilah kaum muslimin dan muslimat, baik yang hidup di antara mereka maupun yang telah meninggal, Ya Allah berikanlah kebaikan dunia kepada kami dan juga kebaikan akhirat serta jagalah kami dari adzab nerakaDiterjemahkan oleh Firanda Andirja dan Usman Hatimhttps://firanda.com/ 

Ngaji Kitab Berbuah Hujan Deras

Menjelang jam 8 malam Kamis ini, mulai berdatangan jamaah dari berbagai dusun dan desa di sekitar Pesantren Darush Sholihin. Pengajian seperti ini biasa diadakan di lapangan pesantren Darush Sholihin. Malam Kamis yang sudah berjalan beberapa minggu terus dihadiri hingga 2000-an jama’ah. Semua warga sudah duduk beralaskan kloso (tikar) di lapangan bahkan sampai menempati jalan-jalan dan kajian pun dimulai pukul 20.03 WIB. Bahasan malam ini adalah kitab Riyadh Ash-Shalihin, tema: Fadhilah Amal, dalam bab keutamaan surat dan ayat tertentu dalam Al-Qur’an. Disimpulkan dari bahasan tadi bahwa ada dua surat yang utama sampai disebut sebagai dua cahaya kebaikan dan kebahagiaan, yaitu surat Al-Fatihah dan ayat terakhir dari surat Al-Baqarah. Intinya yang khusus untuk dikaji saat kajian adalah surat Al-Fatihah karena belum pernah dibahas secara khusus sebelumnya. Setelah peserta dituntun membaca Al-Fatihah, sampai juga pada bahasan beberapa hukum yang berkaitan dengan Al-Fatihah yaitu disinggung hadits tidak ada shalat bagi orang yang tidak membaca Al-Fatihah. Lalu terlihat pada rekaman di handphone, kajian sudah berjalan 20 menit. Kemudian … Satu tetes air hujan terasa pada tangan dan kitab pegangan (Tafsir Ibnu Katsir). Di tengah bahasan dipotong oleh si pembicara, “Sepertinya mau gerimis, yah.” Jama’ah lantas menjawab serempak, “Iya.” Satu tetes lagi hujan terasa. Ternyata, makin deras … Makin deras … Akhirnya 2000-an jama’ah tumpah ruah mencari tempat berteduh di tepian rumah sampai di Masjid Jami’ Al-Adha (masjid pesantren) yang berjarak 50 meter dari lapangan. Bisa seperti itu karena kajian diadakan di lapangan terbuka, tanpa atap. Di tengah kajian, walhamdulillah turun hujan deras. Padahal warga yang hadir sudah merasakan kedinginan karena baju koko serta gamis muslimah yang basah kuyup. Tak ada komentar berupa keluhan, bahkan ketika hujan deras turun semuanya mengucapkan ‘alhamdulillah, Allahumma shoyyiban naafi’a (Ya Allah, turunkanlah hujan yang bermanfaat). Karena memang hujan seperti inilah yang dinanti. Di Kecamatan Panggang, khususnya Desa Girisekar, hujan memang baru terasa tiga kali dan itu pun tidak begitu deras. Warga begitu sumringah sekali sampai ada seorang kepala RT di dusun Warak berkata, “Alhamdulillah, besok kita bisa nandur (mulai tanam).” Karena memang mereka menanti hujan deras seperti ini untuk mulai menanam padi. Dusun Warak sekitar menggunakan sawah tadah hujan yang pengairannya hanya berharap pada turunnya hujan. Uniknya, hujan ini hanya turun di dusun tempat kajian berlangsung hingga merambat pula ke daerah di selatan pesantren. Namun daerah di utara hingga pusat kecamatan tak terasa hujan sama sekali pada jam tersebut, bahkan dikabarkan jalan-jalan pun masih kering. Sayang … kejadian di atas hanya bisa digambarkan lewat tulisan, tak ada rekaman video. Memang benar janji Allah, وَأَنْ لَوِ اسْتَقَامُوا عَلَى الطَّرِيقَةِ لَأَسْقَيْنَاهُمْ مَاءً غَدَقًا “Dan bahwasanya: jikalau mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu (agama Islam), benar-benar Kami akan memberi minum kepada mereka air yang segar (rezki yang banyak).” (QS. Al-Jin: 16). Lihat bahasan ayat ini selengkapnya di sini. Qatadah mengatakan tentang ayat tersebut, “Seandainya kalian beriman semuanya, maka Kami akan limpahkan kepada kalian dunia.” Mujahid mengatakan, “Jika kalian terus berpegang pada kebenaran.” Walhamdulillah, ngaji kitab ternyata berbuah anugerah hujan deras. Moga hujan yang turun adalah hujan penuh berkah dan membawa rahmat bagi warga, serta menyuburkan ladang-ladang mereka.   Persiapan lapangan di awal kajian.   Jamaah mulai berdatangan dan duduk di pinggiran jalan di bawah lapangan.   Jamaah membludak hingga 2000 lebih.   Jamaah yang duduk sampai di halaman rumah warga.   Peserta kajian ibu-ibu.   Nampak jamaah yang begitu banyak.   Hujan lebat turun, jamaah mencari tempat berteduh.   Jamaah berlindung di masjid lantai bawah.   Jamaah dengan truck mini pada bubar.   Keadaan di jalan pesantren yang basah ketika turun hujan, lalu lintas terlihat padat.   Bagi yang ingin berdonasi dalam pelebaran jalan pesantren: Rekening khusus dana sosial (bisa pula disalurkan dana riba atau dana syubhat): BCA KCP Wonosari 8950092905 atas nama Muhammad Abduh Tuasikal. Konfirmasi via sms ke 082313950500 dengan format: Dana Sosial # Nama Donatur # Alamat # Bank Tujuan Transfer # Tgl Transfer # Besar Donasi. Contoh: Dana Sosial # Rini # Jogja # BCA # 18 November 2015 # Rp.3.000.000. Info penyaluran dana sosial di sini. Info donasi via CALL/ WA/ SMS: 0811267791   — Kejadian malam Kamis di Darush Sholihin, Dusun Warak, Desa Girisekar, Panggang, Gunungkidul, malam 7 Safar 1437 H Muhammad Abduh Tuasikal Join Channel Telegram, Twitter, Instagram: @RumayshoCom Tagshujan

Ngaji Kitab Berbuah Hujan Deras

Menjelang jam 8 malam Kamis ini, mulai berdatangan jamaah dari berbagai dusun dan desa di sekitar Pesantren Darush Sholihin. Pengajian seperti ini biasa diadakan di lapangan pesantren Darush Sholihin. Malam Kamis yang sudah berjalan beberapa minggu terus dihadiri hingga 2000-an jama’ah. Semua warga sudah duduk beralaskan kloso (tikar) di lapangan bahkan sampai menempati jalan-jalan dan kajian pun dimulai pukul 20.03 WIB. Bahasan malam ini adalah kitab Riyadh Ash-Shalihin, tema: Fadhilah Amal, dalam bab keutamaan surat dan ayat tertentu dalam Al-Qur’an. Disimpulkan dari bahasan tadi bahwa ada dua surat yang utama sampai disebut sebagai dua cahaya kebaikan dan kebahagiaan, yaitu surat Al-Fatihah dan ayat terakhir dari surat Al-Baqarah. Intinya yang khusus untuk dikaji saat kajian adalah surat Al-Fatihah karena belum pernah dibahas secara khusus sebelumnya. Setelah peserta dituntun membaca Al-Fatihah, sampai juga pada bahasan beberapa hukum yang berkaitan dengan Al-Fatihah yaitu disinggung hadits tidak ada shalat bagi orang yang tidak membaca Al-Fatihah. Lalu terlihat pada rekaman di handphone, kajian sudah berjalan 20 menit. Kemudian … Satu tetes air hujan terasa pada tangan dan kitab pegangan (Tafsir Ibnu Katsir). Di tengah bahasan dipotong oleh si pembicara, “Sepertinya mau gerimis, yah.” Jama’ah lantas menjawab serempak, “Iya.” Satu tetes lagi hujan terasa. Ternyata, makin deras … Makin deras … Akhirnya 2000-an jama’ah tumpah ruah mencari tempat berteduh di tepian rumah sampai di Masjid Jami’ Al-Adha (masjid pesantren) yang berjarak 50 meter dari lapangan. Bisa seperti itu karena kajian diadakan di lapangan terbuka, tanpa atap. Di tengah kajian, walhamdulillah turun hujan deras. Padahal warga yang hadir sudah merasakan kedinginan karena baju koko serta gamis muslimah yang basah kuyup. Tak ada komentar berupa keluhan, bahkan ketika hujan deras turun semuanya mengucapkan ‘alhamdulillah, Allahumma shoyyiban naafi’a (Ya Allah, turunkanlah hujan yang bermanfaat). Karena memang hujan seperti inilah yang dinanti. Di Kecamatan Panggang, khususnya Desa Girisekar, hujan memang baru terasa tiga kali dan itu pun tidak begitu deras. Warga begitu sumringah sekali sampai ada seorang kepala RT di dusun Warak berkata, “Alhamdulillah, besok kita bisa nandur (mulai tanam).” Karena memang mereka menanti hujan deras seperti ini untuk mulai menanam padi. Dusun Warak sekitar menggunakan sawah tadah hujan yang pengairannya hanya berharap pada turunnya hujan. Uniknya, hujan ini hanya turun di dusun tempat kajian berlangsung hingga merambat pula ke daerah di selatan pesantren. Namun daerah di utara hingga pusat kecamatan tak terasa hujan sama sekali pada jam tersebut, bahkan dikabarkan jalan-jalan pun masih kering. Sayang … kejadian di atas hanya bisa digambarkan lewat tulisan, tak ada rekaman video. Memang benar janji Allah, وَأَنْ لَوِ اسْتَقَامُوا عَلَى الطَّرِيقَةِ لَأَسْقَيْنَاهُمْ مَاءً غَدَقًا “Dan bahwasanya: jikalau mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu (agama Islam), benar-benar Kami akan memberi minum kepada mereka air yang segar (rezki yang banyak).” (QS. Al-Jin: 16). Lihat bahasan ayat ini selengkapnya di sini. Qatadah mengatakan tentang ayat tersebut, “Seandainya kalian beriman semuanya, maka Kami akan limpahkan kepada kalian dunia.” Mujahid mengatakan, “Jika kalian terus berpegang pada kebenaran.” Walhamdulillah, ngaji kitab ternyata berbuah anugerah hujan deras. Moga hujan yang turun adalah hujan penuh berkah dan membawa rahmat bagi warga, serta menyuburkan ladang-ladang mereka.   Persiapan lapangan di awal kajian.   Jamaah mulai berdatangan dan duduk di pinggiran jalan di bawah lapangan.   Jamaah membludak hingga 2000 lebih.   Jamaah yang duduk sampai di halaman rumah warga.   Peserta kajian ibu-ibu.   Nampak jamaah yang begitu banyak.   Hujan lebat turun, jamaah mencari tempat berteduh.   Jamaah berlindung di masjid lantai bawah.   Jamaah dengan truck mini pada bubar.   Keadaan di jalan pesantren yang basah ketika turun hujan, lalu lintas terlihat padat.   Bagi yang ingin berdonasi dalam pelebaran jalan pesantren: Rekening khusus dana sosial (bisa pula disalurkan dana riba atau dana syubhat): BCA KCP Wonosari 8950092905 atas nama Muhammad Abduh Tuasikal. Konfirmasi via sms ke 082313950500 dengan format: Dana Sosial # Nama Donatur # Alamat # Bank Tujuan Transfer # Tgl Transfer # Besar Donasi. Contoh: Dana Sosial # Rini # Jogja # BCA # 18 November 2015 # Rp.3.000.000. Info penyaluran dana sosial di sini. Info donasi via CALL/ WA/ SMS: 0811267791   — Kejadian malam Kamis di Darush Sholihin, Dusun Warak, Desa Girisekar, Panggang, Gunungkidul, malam 7 Safar 1437 H Muhammad Abduh Tuasikal Join Channel Telegram, Twitter, Instagram: @RumayshoCom Tagshujan
Menjelang jam 8 malam Kamis ini, mulai berdatangan jamaah dari berbagai dusun dan desa di sekitar Pesantren Darush Sholihin. Pengajian seperti ini biasa diadakan di lapangan pesantren Darush Sholihin. Malam Kamis yang sudah berjalan beberapa minggu terus dihadiri hingga 2000-an jama’ah. Semua warga sudah duduk beralaskan kloso (tikar) di lapangan bahkan sampai menempati jalan-jalan dan kajian pun dimulai pukul 20.03 WIB. Bahasan malam ini adalah kitab Riyadh Ash-Shalihin, tema: Fadhilah Amal, dalam bab keutamaan surat dan ayat tertentu dalam Al-Qur’an. Disimpulkan dari bahasan tadi bahwa ada dua surat yang utama sampai disebut sebagai dua cahaya kebaikan dan kebahagiaan, yaitu surat Al-Fatihah dan ayat terakhir dari surat Al-Baqarah. Intinya yang khusus untuk dikaji saat kajian adalah surat Al-Fatihah karena belum pernah dibahas secara khusus sebelumnya. Setelah peserta dituntun membaca Al-Fatihah, sampai juga pada bahasan beberapa hukum yang berkaitan dengan Al-Fatihah yaitu disinggung hadits tidak ada shalat bagi orang yang tidak membaca Al-Fatihah. Lalu terlihat pada rekaman di handphone, kajian sudah berjalan 20 menit. Kemudian … Satu tetes air hujan terasa pada tangan dan kitab pegangan (Tafsir Ibnu Katsir). Di tengah bahasan dipotong oleh si pembicara, “Sepertinya mau gerimis, yah.” Jama’ah lantas menjawab serempak, “Iya.” Satu tetes lagi hujan terasa. Ternyata, makin deras … Makin deras … Akhirnya 2000-an jama’ah tumpah ruah mencari tempat berteduh di tepian rumah sampai di Masjid Jami’ Al-Adha (masjid pesantren) yang berjarak 50 meter dari lapangan. Bisa seperti itu karena kajian diadakan di lapangan terbuka, tanpa atap. Di tengah kajian, walhamdulillah turun hujan deras. Padahal warga yang hadir sudah merasakan kedinginan karena baju koko serta gamis muslimah yang basah kuyup. Tak ada komentar berupa keluhan, bahkan ketika hujan deras turun semuanya mengucapkan ‘alhamdulillah, Allahumma shoyyiban naafi’a (Ya Allah, turunkanlah hujan yang bermanfaat). Karena memang hujan seperti inilah yang dinanti. Di Kecamatan Panggang, khususnya Desa Girisekar, hujan memang baru terasa tiga kali dan itu pun tidak begitu deras. Warga begitu sumringah sekali sampai ada seorang kepala RT di dusun Warak berkata, “Alhamdulillah, besok kita bisa nandur (mulai tanam).” Karena memang mereka menanti hujan deras seperti ini untuk mulai menanam padi. Dusun Warak sekitar menggunakan sawah tadah hujan yang pengairannya hanya berharap pada turunnya hujan. Uniknya, hujan ini hanya turun di dusun tempat kajian berlangsung hingga merambat pula ke daerah di selatan pesantren. Namun daerah di utara hingga pusat kecamatan tak terasa hujan sama sekali pada jam tersebut, bahkan dikabarkan jalan-jalan pun masih kering. Sayang … kejadian di atas hanya bisa digambarkan lewat tulisan, tak ada rekaman video. Memang benar janji Allah, وَأَنْ لَوِ اسْتَقَامُوا عَلَى الطَّرِيقَةِ لَأَسْقَيْنَاهُمْ مَاءً غَدَقًا “Dan bahwasanya: jikalau mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu (agama Islam), benar-benar Kami akan memberi minum kepada mereka air yang segar (rezki yang banyak).” (QS. Al-Jin: 16). Lihat bahasan ayat ini selengkapnya di sini. Qatadah mengatakan tentang ayat tersebut, “Seandainya kalian beriman semuanya, maka Kami akan limpahkan kepada kalian dunia.” Mujahid mengatakan, “Jika kalian terus berpegang pada kebenaran.” Walhamdulillah, ngaji kitab ternyata berbuah anugerah hujan deras. Moga hujan yang turun adalah hujan penuh berkah dan membawa rahmat bagi warga, serta menyuburkan ladang-ladang mereka.   Persiapan lapangan di awal kajian.   Jamaah mulai berdatangan dan duduk di pinggiran jalan di bawah lapangan.   Jamaah membludak hingga 2000 lebih.   Jamaah yang duduk sampai di halaman rumah warga.   Peserta kajian ibu-ibu.   Nampak jamaah yang begitu banyak.   Hujan lebat turun, jamaah mencari tempat berteduh.   Jamaah berlindung di masjid lantai bawah.   Jamaah dengan truck mini pada bubar.   Keadaan di jalan pesantren yang basah ketika turun hujan, lalu lintas terlihat padat.   Bagi yang ingin berdonasi dalam pelebaran jalan pesantren: Rekening khusus dana sosial (bisa pula disalurkan dana riba atau dana syubhat): BCA KCP Wonosari 8950092905 atas nama Muhammad Abduh Tuasikal. Konfirmasi via sms ke 082313950500 dengan format: Dana Sosial # Nama Donatur # Alamat # Bank Tujuan Transfer # Tgl Transfer # Besar Donasi. Contoh: Dana Sosial # Rini # Jogja # BCA # 18 November 2015 # Rp.3.000.000. Info penyaluran dana sosial di sini. Info donasi via CALL/ WA/ SMS: 0811267791   — Kejadian malam Kamis di Darush Sholihin, Dusun Warak, Desa Girisekar, Panggang, Gunungkidul, malam 7 Safar 1437 H Muhammad Abduh Tuasikal Join Channel Telegram, Twitter, Instagram: @RumayshoCom Tagshujan


Menjelang jam 8 malam Kamis ini, mulai berdatangan jamaah dari berbagai dusun dan desa di sekitar Pesantren Darush Sholihin. Pengajian seperti ini biasa diadakan di lapangan pesantren Darush Sholihin. Malam Kamis yang sudah berjalan beberapa minggu terus dihadiri hingga 2000-an jama’ah. Semua warga sudah duduk beralaskan kloso (tikar) di lapangan bahkan sampai menempati jalan-jalan dan kajian pun dimulai pukul 20.03 WIB. Bahasan malam ini adalah kitab Riyadh Ash-Shalihin, tema: Fadhilah Amal, dalam bab keutamaan surat dan ayat tertentu dalam Al-Qur’an. Disimpulkan dari bahasan tadi bahwa ada dua surat yang utama sampai disebut sebagai dua cahaya kebaikan dan kebahagiaan, yaitu surat Al-Fatihah dan ayat terakhir dari surat Al-Baqarah. Intinya yang khusus untuk dikaji saat kajian adalah surat Al-Fatihah karena belum pernah dibahas secara khusus sebelumnya. Setelah peserta dituntun membaca Al-Fatihah, sampai juga pada bahasan beberapa hukum yang berkaitan dengan Al-Fatihah yaitu disinggung hadits tidak ada shalat bagi orang yang tidak membaca Al-Fatihah. Lalu terlihat pada rekaman di handphone, kajian sudah berjalan 20 menit. Kemudian … Satu tetes air hujan terasa pada tangan dan kitab pegangan (Tafsir Ibnu Katsir). Di tengah bahasan dipotong oleh si pembicara, “Sepertinya mau gerimis, yah.” Jama’ah lantas menjawab serempak, “Iya.” Satu tetes lagi hujan terasa. Ternyata, makin deras … Makin deras … Akhirnya 2000-an jama’ah tumpah ruah mencari tempat berteduh di tepian rumah sampai di Masjid Jami’ Al-Adha (masjid pesantren) yang berjarak 50 meter dari lapangan. Bisa seperti itu karena kajian diadakan di lapangan terbuka, tanpa atap. Di tengah kajian, walhamdulillah turun hujan deras. Padahal warga yang hadir sudah merasakan kedinginan karena baju koko serta gamis muslimah yang basah kuyup. Tak ada komentar berupa keluhan, bahkan ketika hujan deras turun semuanya mengucapkan ‘alhamdulillah, Allahumma shoyyiban naafi’a (Ya Allah, turunkanlah hujan yang bermanfaat). Karena memang hujan seperti inilah yang dinanti. Di Kecamatan Panggang, khususnya Desa Girisekar, hujan memang baru terasa tiga kali dan itu pun tidak begitu deras. Warga begitu sumringah sekali sampai ada seorang kepala RT di dusun Warak berkata, “Alhamdulillah, besok kita bisa nandur (mulai tanam).” Karena memang mereka menanti hujan deras seperti ini untuk mulai menanam padi. Dusun Warak sekitar menggunakan sawah tadah hujan yang pengairannya hanya berharap pada turunnya hujan. Uniknya, hujan ini hanya turun di dusun tempat kajian berlangsung hingga merambat pula ke daerah di selatan pesantren. Namun daerah di utara hingga pusat kecamatan tak terasa hujan sama sekali pada jam tersebut, bahkan dikabarkan jalan-jalan pun masih kering. Sayang … kejadian di atas hanya bisa digambarkan lewat tulisan, tak ada rekaman video. Memang benar janji Allah, وَأَنْ لَوِ اسْتَقَامُوا عَلَى الطَّرِيقَةِ لَأَسْقَيْنَاهُمْ مَاءً غَدَقًا “Dan bahwasanya: jikalau mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu (agama Islam), benar-benar Kami akan memberi minum kepada mereka air yang segar (rezki yang banyak).” (QS. Al-Jin: 16). Lihat bahasan ayat ini selengkapnya di sini. Qatadah mengatakan tentang ayat tersebut, “Seandainya kalian beriman semuanya, maka Kami akan limpahkan kepada kalian dunia.” Mujahid mengatakan, “Jika kalian terus berpegang pada kebenaran.” Walhamdulillah, ngaji kitab ternyata berbuah anugerah hujan deras. Moga hujan yang turun adalah hujan penuh berkah dan membawa rahmat bagi warga, serta menyuburkan ladang-ladang mereka.   Persiapan lapangan di awal kajian.   Jamaah mulai berdatangan dan duduk di pinggiran jalan di bawah lapangan.   Jamaah membludak hingga 2000 lebih.   Jamaah yang duduk sampai di halaman rumah warga.   Peserta kajian ibu-ibu.   Nampak jamaah yang begitu banyak.   Hujan lebat turun, jamaah mencari tempat berteduh.   Jamaah berlindung di masjid lantai bawah.   Jamaah dengan truck mini pada bubar.   Keadaan di jalan pesantren yang basah ketika turun hujan, lalu lintas terlihat padat.   Bagi yang ingin berdonasi dalam pelebaran jalan pesantren: Rekening khusus dana sosial (bisa pula disalurkan dana riba atau dana syubhat): BCA KCP Wonosari 8950092905 atas nama Muhammad Abduh Tuasikal. Konfirmasi via sms ke 082313950500 dengan format: Dana Sosial # Nama Donatur # Alamat # Bank Tujuan Transfer # Tgl Transfer # Besar Donasi. Contoh: Dana Sosial # Rini # Jogja # BCA # 18 November 2015 # Rp.3.000.000. Info penyaluran dana sosial di sini. Info donasi via CALL/ WA/ SMS: 0811267791   — Kejadian malam Kamis di Darush Sholihin, Dusun Warak, Desa Girisekar, Panggang, Gunungkidul, malam 7 Safar 1437 H Muhammad Abduh Tuasikal Join Channel Telegram, Twitter, Instagram: @RumayshoCom Tagshujan

Menangis Membatalkan Shalat

Apakah benar menangis membatalkan shalat? Bentuk menangis seperti apa yang membatalkan shalat? Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, ada beda pendapat di antara para ulama mengenai bentuk menangis yang membatalkan shalat. Mari kita lihat terlebih dahulu dalil-dalil yang berkaitan dengan masalah ini. Pujian Allah bagi orang-orang yang menangis dalam shalatnya. Ayat pertama, إِنَّ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ مِنْ قَبْلِهِ إِذَا يُتْلَى عَلَيْهِمْ يَخِرُّونَ لِلْأَذْقَانِ سُجَّدًا (107) وَيَقُولُونَ سُبْحَانَ رَبِّنَا إِنْ كَانَ وَعْدُ رَبِّنَا لَمَفْعُولًا (108) وَيَخِرُّونَ لِلْأَذْقَانِ يَبْكُونَ وَيَزِيدُهُمْ خُشُوعًا (109) “Sesungguhnya orang-orang yang diberi pengetahuan sebelumnya apabila Al Quran dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur atas muka mereka sambil bersujud, dan mereka berkata: “Maha Suci Tuhan kami, sesungguhnya janji Tuhan kami pasti dipenuhi.” Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu’.” (QS. Al-Isra’: 107-109) Dalam ayat lainnya disebutkan, وَمِمَّنْ هَدَيْنَا وَاجْتَبَيْنَا إِذَا تُتْلَى عَلَيْهِمْ آَيَاتُ الرَّحْمَنِ خَرُّوا سُجَّدًا وَبُكِيًّا “Dan dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis.” (QS. Maryam: 58) Dari ‘Abdullah bin Asy-Syikkhir, ia berkata, رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يُصَلِّى وَفِى صَدْرِهِ أَزِيزٌ كَأَزِيزِ الرَّحَى مِنَ الْبُكَاءِ -صلى الله عليه وسلم- “Aku pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat, ketika itu beliau menangis. Dari dada beliau keluar rintihan layaknya air yang mendidih.” (HR. Abu Daud no. 904 dan Tirmidzi dalam Asy-Syamail Al-Muhammadiyah no. 322. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih) Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata, “Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sakit keras, ada seseorang yang menanyakan imam shalat kemudian beliau bersabda, مُرُوا أَبَا بَكْرٍ فَلْيُصَلِّ بِالنَّاسِ “Perintahkan pada Abu Bakr agar ia mengimami shalat.” ‘Aisyah lantas berkata, إِنَّ أَبَا بَكْرٍ رَجُلٌ رَقِيقٌ ، إِذَا قَرَأَ غَلَبَهُ الْبُكَاءُ “Sesungguhnya Abu Bakr itu orang yang sangat lembut hatinya. Apabila ia membaca Al-Qur’an, ia tidak dapat menahan tangisnya.” Namun beliau bersabda, “Tetap perintahkan Abu Bakr untuk menjadi imam.” (Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari no. 713 dan Muslim no. 418) Dalam riwayat lain disebutkan, dari ‘Aisyah, ia berkata, “ إِنَّ أَبَا بَكْرٍ إِذَا قَامَ فِى مَقَامِكَ لَمْ يُسْمِعِ النَّاسَ مِنَ الْبُكَاءِ “Sesungguhnya Abu Bakr apabila menggantikanmu sebagai imam, orang-orang tidak mendengar bacaan shalatnya karena tangisannya.” Imam Nawawi membawakan dua hadits di atas dalam kitab Riyadh Ash-Shalihin dalam bab 54 “Keutamaan Menangis Karena Takut Kepada Allah Ta’ala dan Rindu pada-Nya.” Dalil-dalil di atas menunjukkan secara implisit bahwa orang yang menangis dalam shalat karena takut pada Allah, tidak membatalkan shalat. Juga telah ada bukti secara eksplisit bahwa Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dan sahabat Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu menangis dalam shalatnya. Lantas menangis seperti apa yang dibolehkan dan tidak dibolehkan? Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Menangis ketika membaa Al-Qur’an, saat sujud, begitu pula saat berdo’a adalah sifat orang-orang shalih. Bahkan orang seperti itu layak dipuji.” (Majmu’ Fatawa wa Rasail Ibnu ‘Utsaimin, 13: 238) Adapun jika menangis karena urusan duniawi dan tidak bisa dicegah, shalatnya tidaklah batal. Adapun jika mampu untuk dicegah dan menangisnya dengan suara, maka shalatnya batal menurut para imam dari empat madzhab. Namun Imam Syafi’i dan Imam Ahmad dalam hal ini menyatakan batal dengan syarat jika muncul dua huruf. (Lihat Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah, 8: 170) Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah menerangkan, “Menangis dalam shalat jika karena takut pada Allah dan mengingat perkara akhirat, begitu pula karena merenung ayat yang dibaca seperti saat melewati ayat-ayat yang menyebutkan janji dan ancaman, maka tidak membatalkan shalat. Adapun jika menangis tersebut karena musibah yang menimpa atau semacamnya, maka membatalkan shalat. Bisa membatalkan karena menangis tersebut berkaitan dengan perkara di luar shalat. Karenanya memikirkan perkara-perkara di luar shalat atau perkara lain mesti dihilangkan agar tidak membatalkan shalat. Intinya, memikiran berbagai macam hal yang tidak terkait dengan shalat berakibat kekurangan saja di dalam shalatnya.” (Fatawa Nur ‘ala Ad-Darb, 9: 141) Lihat bahasan sebelumnya: Pandangan Ulama, Menangis Membatalkan Shalat. Semoga bermanfaat. Hanya Allah yang memberi taufik.   Referensi: Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah. Penerbit Kementrian Agama Kuwait. Asy-Syamail Al-Muhammadiyah. Imam Tirmidzi. Penerbit Dar Ash-Shadiq. Fatawa Al-Islam Sual wa Jawab no. 145807. Kunuz Riyadh Ash-Shalihin. Penerbit Dar Kunuz Isybiliya. Riyadh Ash-Shalihin. Imam Nawawi. — Selesai disusun di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, Rabu pagi, 6 Safar 1437 H Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom, Telegram @RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsmenangis pembatal shalat

Menangis Membatalkan Shalat

Apakah benar menangis membatalkan shalat? Bentuk menangis seperti apa yang membatalkan shalat? Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, ada beda pendapat di antara para ulama mengenai bentuk menangis yang membatalkan shalat. Mari kita lihat terlebih dahulu dalil-dalil yang berkaitan dengan masalah ini. Pujian Allah bagi orang-orang yang menangis dalam shalatnya. Ayat pertama, إِنَّ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ مِنْ قَبْلِهِ إِذَا يُتْلَى عَلَيْهِمْ يَخِرُّونَ لِلْأَذْقَانِ سُجَّدًا (107) وَيَقُولُونَ سُبْحَانَ رَبِّنَا إِنْ كَانَ وَعْدُ رَبِّنَا لَمَفْعُولًا (108) وَيَخِرُّونَ لِلْأَذْقَانِ يَبْكُونَ وَيَزِيدُهُمْ خُشُوعًا (109) “Sesungguhnya orang-orang yang diberi pengetahuan sebelumnya apabila Al Quran dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur atas muka mereka sambil bersujud, dan mereka berkata: “Maha Suci Tuhan kami, sesungguhnya janji Tuhan kami pasti dipenuhi.” Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu’.” (QS. Al-Isra’: 107-109) Dalam ayat lainnya disebutkan, وَمِمَّنْ هَدَيْنَا وَاجْتَبَيْنَا إِذَا تُتْلَى عَلَيْهِمْ آَيَاتُ الرَّحْمَنِ خَرُّوا سُجَّدًا وَبُكِيًّا “Dan dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis.” (QS. Maryam: 58) Dari ‘Abdullah bin Asy-Syikkhir, ia berkata, رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يُصَلِّى وَفِى صَدْرِهِ أَزِيزٌ كَأَزِيزِ الرَّحَى مِنَ الْبُكَاءِ -صلى الله عليه وسلم- “Aku pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat, ketika itu beliau menangis. Dari dada beliau keluar rintihan layaknya air yang mendidih.” (HR. Abu Daud no. 904 dan Tirmidzi dalam Asy-Syamail Al-Muhammadiyah no. 322. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih) Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata, “Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sakit keras, ada seseorang yang menanyakan imam shalat kemudian beliau bersabda, مُرُوا أَبَا بَكْرٍ فَلْيُصَلِّ بِالنَّاسِ “Perintahkan pada Abu Bakr agar ia mengimami shalat.” ‘Aisyah lantas berkata, إِنَّ أَبَا بَكْرٍ رَجُلٌ رَقِيقٌ ، إِذَا قَرَأَ غَلَبَهُ الْبُكَاءُ “Sesungguhnya Abu Bakr itu orang yang sangat lembut hatinya. Apabila ia membaca Al-Qur’an, ia tidak dapat menahan tangisnya.” Namun beliau bersabda, “Tetap perintahkan Abu Bakr untuk menjadi imam.” (Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari no. 713 dan Muslim no. 418) Dalam riwayat lain disebutkan, dari ‘Aisyah, ia berkata, “ إِنَّ أَبَا بَكْرٍ إِذَا قَامَ فِى مَقَامِكَ لَمْ يُسْمِعِ النَّاسَ مِنَ الْبُكَاءِ “Sesungguhnya Abu Bakr apabila menggantikanmu sebagai imam, orang-orang tidak mendengar bacaan shalatnya karena tangisannya.” Imam Nawawi membawakan dua hadits di atas dalam kitab Riyadh Ash-Shalihin dalam bab 54 “Keutamaan Menangis Karena Takut Kepada Allah Ta’ala dan Rindu pada-Nya.” Dalil-dalil di atas menunjukkan secara implisit bahwa orang yang menangis dalam shalat karena takut pada Allah, tidak membatalkan shalat. Juga telah ada bukti secara eksplisit bahwa Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dan sahabat Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu menangis dalam shalatnya. Lantas menangis seperti apa yang dibolehkan dan tidak dibolehkan? Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Menangis ketika membaa Al-Qur’an, saat sujud, begitu pula saat berdo’a adalah sifat orang-orang shalih. Bahkan orang seperti itu layak dipuji.” (Majmu’ Fatawa wa Rasail Ibnu ‘Utsaimin, 13: 238) Adapun jika menangis karena urusan duniawi dan tidak bisa dicegah, shalatnya tidaklah batal. Adapun jika mampu untuk dicegah dan menangisnya dengan suara, maka shalatnya batal menurut para imam dari empat madzhab. Namun Imam Syafi’i dan Imam Ahmad dalam hal ini menyatakan batal dengan syarat jika muncul dua huruf. (Lihat Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah, 8: 170) Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah menerangkan, “Menangis dalam shalat jika karena takut pada Allah dan mengingat perkara akhirat, begitu pula karena merenung ayat yang dibaca seperti saat melewati ayat-ayat yang menyebutkan janji dan ancaman, maka tidak membatalkan shalat. Adapun jika menangis tersebut karena musibah yang menimpa atau semacamnya, maka membatalkan shalat. Bisa membatalkan karena menangis tersebut berkaitan dengan perkara di luar shalat. Karenanya memikirkan perkara-perkara di luar shalat atau perkara lain mesti dihilangkan agar tidak membatalkan shalat. Intinya, memikiran berbagai macam hal yang tidak terkait dengan shalat berakibat kekurangan saja di dalam shalatnya.” (Fatawa Nur ‘ala Ad-Darb, 9: 141) Lihat bahasan sebelumnya: Pandangan Ulama, Menangis Membatalkan Shalat. Semoga bermanfaat. Hanya Allah yang memberi taufik.   Referensi: Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah. Penerbit Kementrian Agama Kuwait. Asy-Syamail Al-Muhammadiyah. Imam Tirmidzi. Penerbit Dar Ash-Shadiq. Fatawa Al-Islam Sual wa Jawab no. 145807. Kunuz Riyadh Ash-Shalihin. Penerbit Dar Kunuz Isybiliya. Riyadh Ash-Shalihin. Imam Nawawi. — Selesai disusun di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, Rabu pagi, 6 Safar 1437 H Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom, Telegram @RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsmenangis pembatal shalat
Apakah benar menangis membatalkan shalat? Bentuk menangis seperti apa yang membatalkan shalat? Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, ada beda pendapat di antara para ulama mengenai bentuk menangis yang membatalkan shalat. Mari kita lihat terlebih dahulu dalil-dalil yang berkaitan dengan masalah ini. Pujian Allah bagi orang-orang yang menangis dalam shalatnya. Ayat pertama, إِنَّ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ مِنْ قَبْلِهِ إِذَا يُتْلَى عَلَيْهِمْ يَخِرُّونَ لِلْأَذْقَانِ سُجَّدًا (107) وَيَقُولُونَ سُبْحَانَ رَبِّنَا إِنْ كَانَ وَعْدُ رَبِّنَا لَمَفْعُولًا (108) وَيَخِرُّونَ لِلْأَذْقَانِ يَبْكُونَ وَيَزِيدُهُمْ خُشُوعًا (109) “Sesungguhnya orang-orang yang diberi pengetahuan sebelumnya apabila Al Quran dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur atas muka mereka sambil bersujud, dan mereka berkata: “Maha Suci Tuhan kami, sesungguhnya janji Tuhan kami pasti dipenuhi.” Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu’.” (QS. Al-Isra’: 107-109) Dalam ayat lainnya disebutkan, وَمِمَّنْ هَدَيْنَا وَاجْتَبَيْنَا إِذَا تُتْلَى عَلَيْهِمْ آَيَاتُ الرَّحْمَنِ خَرُّوا سُجَّدًا وَبُكِيًّا “Dan dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis.” (QS. Maryam: 58) Dari ‘Abdullah bin Asy-Syikkhir, ia berkata, رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يُصَلِّى وَفِى صَدْرِهِ أَزِيزٌ كَأَزِيزِ الرَّحَى مِنَ الْبُكَاءِ -صلى الله عليه وسلم- “Aku pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat, ketika itu beliau menangis. Dari dada beliau keluar rintihan layaknya air yang mendidih.” (HR. Abu Daud no. 904 dan Tirmidzi dalam Asy-Syamail Al-Muhammadiyah no. 322. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih) Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata, “Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sakit keras, ada seseorang yang menanyakan imam shalat kemudian beliau bersabda, مُرُوا أَبَا بَكْرٍ فَلْيُصَلِّ بِالنَّاسِ “Perintahkan pada Abu Bakr agar ia mengimami shalat.” ‘Aisyah lantas berkata, إِنَّ أَبَا بَكْرٍ رَجُلٌ رَقِيقٌ ، إِذَا قَرَأَ غَلَبَهُ الْبُكَاءُ “Sesungguhnya Abu Bakr itu orang yang sangat lembut hatinya. Apabila ia membaca Al-Qur’an, ia tidak dapat menahan tangisnya.” Namun beliau bersabda, “Tetap perintahkan Abu Bakr untuk menjadi imam.” (Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari no. 713 dan Muslim no. 418) Dalam riwayat lain disebutkan, dari ‘Aisyah, ia berkata, “ إِنَّ أَبَا بَكْرٍ إِذَا قَامَ فِى مَقَامِكَ لَمْ يُسْمِعِ النَّاسَ مِنَ الْبُكَاءِ “Sesungguhnya Abu Bakr apabila menggantikanmu sebagai imam, orang-orang tidak mendengar bacaan shalatnya karena tangisannya.” Imam Nawawi membawakan dua hadits di atas dalam kitab Riyadh Ash-Shalihin dalam bab 54 “Keutamaan Menangis Karena Takut Kepada Allah Ta’ala dan Rindu pada-Nya.” Dalil-dalil di atas menunjukkan secara implisit bahwa orang yang menangis dalam shalat karena takut pada Allah, tidak membatalkan shalat. Juga telah ada bukti secara eksplisit bahwa Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dan sahabat Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu menangis dalam shalatnya. Lantas menangis seperti apa yang dibolehkan dan tidak dibolehkan? Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Menangis ketika membaa Al-Qur’an, saat sujud, begitu pula saat berdo’a adalah sifat orang-orang shalih. Bahkan orang seperti itu layak dipuji.” (Majmu’ Fatawa wa Rasail Ibnu ‘Utsaimin, 13: 238) Adapun jika menangis karena urusan duniawi dan tidak bisa dicegah, shalatnya tidaklah batal. Adapun jika mampu untuk dicegah dan menangisnya dengan suara, maka shalatnya batal menurut para imam dari empat madzhab. Namun Imam Syafi’i dan Imam Ahmad dalam hal ini menyatakan batal dengan syarat jika muncul dua huruf. (Lihat Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah, 8: 170) Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah menerangkan, “Menangis dalam shalat jika karena takut pada Allah dan mengingat perkara akhirat, begitu pula karena merenung ayat yang dibaca seperti saat melewati ayat-ayat yang menyebutkan janji dan ancaman, maka tidak membatalkan shalat. Adapun jika menangis tersebut karena musibah yang menimpa atau semacamnya, maka membatalkan shalat. Bisa membatalkan karena menangis tersebut berkaitan dengan perkara di luar shalat. Karenanya memikirkan perkara-perkara di luar shalat atau perkara lain mesti dihilangkan agar tidak membatalkan shalat. Intinya, memikiran berbagai macam hal yang tidak terkait dengan shalat berakibat kekurangan saja di dalam shalatnya.” (Fatawa Nur ‘ala Ad-Darb, 9: 141) Lihat bahasan sebelumnya: Pandangan Ulama, Menangis Membatalkan Shalat. Semoga bermanfaat. Hanya Allah yang memberi taufik.   Referensi: Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah. Penerbit Kementrian Agama Kuwait. Asy-Syamail Al-Muhammadiyah. Imam Tirmidzi. Penerbit Dar Ash-Shadiq. Fatawa Al-Islam Sual wa Jawab no. 145807. Kunuz Riyadh Ash-Shalihin. Penerbit Dar Kunuz Isybiliya. Riyadh Ash-Shalihin. Imam Nawawi. — Selesai disusun di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, Rabu pagi, 6 Safar 1437 H Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom, Telegram @RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsmenangis pembatal shalat


Apakah benar menangis membatalkan shalat? Bentuk menangis seperti apa yang membatalkan shalat? Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, ada beda pendapat di antara para ulama mengenai bentuk menangis yang membatalkan shalat. Mari kita lihat terlebih dahulu dalil-dalil yang berkaitan dengan masalah ini. Pujian Allah bagi orang-orang yang menangis dalam shalatnya. Ayat pertama, إِنَّ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ مِنْ قَبْلِهِ إِذَا يُتْلَى عَلَيْهِمْ يَخِرُّونَ لِلْأَذْقَانِ سُجَّدًا (107) وَيَقُولُونَ سُبْحَانَ رَبِّنَا إِنْ كَانَ وَعْدُ رَبِّنَا لَمَفْعُولًا (108) وَيَخِرُّونَ لِلْأَذْقَانِ يَبْكُونَ وَيَزِيدُهُمْ خُشُوعًا (109) “Sesungguhnya orang-orang yang diberi pengetahuan sebelumnya apabila Al Quran dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur atas muka mereka sambil bersujud, dan mereka berkata: “Maha Suci Tuhan kami, sesungguhnya janji Tuhan kami pasti dipenuhi.” Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu’.” (QS. Al-Isra’: 107-109) Dalam ayat lainnya disebutkan, وَمِمَّنْ هَدَيْنَا وَاجْتَبَيْنَا إِذَا تُتْلَى عَلَيْهِمْ آَيَاتُ الرَّحْمَنِ خَرُّوا سُجَّدًا وَبُكِيًّا “Dan dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis.” (QS. Maryam: 58) Dari ‘Abdullah bin Asy-Syikkhir, ia berkata, رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يُصَلِّى وَفِى صَدْرِهِ أَزِيزٌ كَأَزِيزِ الرَّحَى مِنَ الْبُكَاءِ -صلى الله عليه وسلم- “Aku pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat, ketika itu beliau menangis. Dari dada beliau keluar rintihan layaknya air yang mendidih.” (HR. Abu Daud no. 904 dan Tirmidzi dalam Asy-Syamail Al-Muhammadiyah no. 322. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih) Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata, “Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sakit keras, ada seseorang yang menanyakan imam shalat kemudian beliau bersabda, مُرُوا أَبَا بَكْرٍ فَلْيُصَلِّ بِالنَّاسِ “Perintahkan pada Abu Bakr agar ia mengimami shalat.” ‘Aisyah lantas berkata, إِنَّ أَبَا بَكْرٍ رَجُلٌ رَقِيقٌ ، إِذَا قَرَأَ غَلَبَهُ الْبُكَاءُ “Sesungguhnya Abu Bakr itu orang yang sangat lembut hatinya. Apabila ia membaca Al-Qur’an, ia tidak dapat menahan tangisnya.” Namun beliau bersabda, “Tetap perintahkan Abu Bakr untuk menjadi imam.” (Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari no. 713 dan Muslim no. 418) Dalam riwayat lain disebutkan, dari ‘Aisyah, ia berkata, “ إِنَّ أَبَا بَكْرٍ إِذَا قَامَ فِى مَقَامِكَ لَمْ يُسْمِعِ النَّاسَ مِنَ الْبُكَاءِ “Sesungguhnya Abu Bakr apabila menggantikanmu sebagai imam, orang-orang tidak mendengar bacaan shalatnya karena tangisannya.” Imam Nawawi membawakan dua hadits di atas dalam kitab Riyadh Ash-Shalihin dalam bab 54 “Keutamaan Menangis Karena Takut Kepada Allah Ta’ala dan Rindu pada-Nya.” Dalil-dalil di atas menunjukkan secara implisit bahwa orang yang menangis dalam shalat karena takut pada Allah, tidak membatalkan shalat. Juga telah ada bukti secara eksplisit bahwa Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dan sahabat Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu menangis dalam shalatnya. Lantas menangis seperti apa yang dibolehkan dan tidak dibolehkan? Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Menangis ketika membaa Al-Qur’an, saat sujud, begitu pula saat berdo’a adalah sifat orang-orang shalih. Bahkan orang seperti itu layak dipuji.” (Majmu’ Fatawa wa Rasail Ibnu ‘Utsaimin, 13: 238) Adapun jika menangis karena urusan duniawi dan tidak bisa dicegah, shalatnya tidaklah batal. Adapun jika mampu untuk dicegah dan menangisnya dengan suara, maka shalatnya batal menurut para imam dari empat madzhab. Namun Imam Syafi’i dan Imam Ahmad dalam hal ini menyatakan batal dengan syarat jika muncul dua huruf. (Lihat Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah, 8: 170) Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah menerangkan, “Menangis dalam shalat jika karena takut pada Allah dan mengingat perkara akhirat, begitu pula karena merenung ayat yang dibaca seperti saat melewati ayat-ayat yang menyebutkan janji dan ancaman, maka tidak membatalkan shalat. Adapun jika menangis tersebut karena musibah yang menimpa atau semacamnya, maka membatalkan shalat. Bisa membatalkan karena menangis tersebut berkaitan dengan perkara di luar shalat. Karenanya memikirkan perkara-perkara di luar shalat atau perkara lain mesti dihilangkan agar tidak membatalkan shalat. Intinya, memikiran berbagai macam hal yang tidak terkait dengan shalat berakibat kekurangan saja di dalam shalatnya.” (Fatawa Nur ‘ala Ad-Darb, 9: 141) Lihat bahasan sebelumnya: Pandangan Ulama, Menangis Membatalkan Shalat. Semoga bermanfaat. Hanya Allah yang memberi taufik.   Referensi: Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah. Penerbit Kementrian Agama Kuwait. Asy-Syamail Al-Muhammadiyah. Imam Tirmidzi. Penerbit Dar Ash-Shadiq. Fatawa Al-Islam Sual wa Jawab no. 145807. Kunuz Riyadh Ash-Shalihin. Penerbit Dar Kunuz Isybiliya. Riyadh Ash-Shalihin. Imam Nawawi. — Selesai disusun di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, Rabu pagi, 6 Safar 1437 H Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom, Telegram @RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsmenangis pembatal shalat

Keadaan Hati Saat Membaca Al Quran

Bagaimana keadaan hati ketika membaca Al-Qur’an? 1. Patut direnungkan yang dibaca adalah Al-Quran, kalamullah. Sehingga yang dibaca benar-benar suatu yang agung dan mulia. 2. Patut dihayati bahwa yang dibaca bukan perkataan manusia. 3. Menghadirkan hati ketika membaca. 4. Merenungkan dan mentadabburi setiap ayat demi ayat yang dibaca, termasuk saat membaca nama dan sifat Allah. 5. Merasa bahwa setiap ayat yang dibaca ditujukan pada dirinya, bukan pada yang lainnya. 6. Berusaha mengambil faedah dan pengaruh dari ayat yang dibaca. 7. Menjauhkan diri dari berbagai gangguan yang sulit dalam memahami ayat. 8. Meyakini bahwa bukan karena kekuatan kita untuk mudah menghayati Al-Quran, namun semuanya adalah kemudahan dari Allah. Yang disebutkan di atas adalah berbagai adab yang berkenaan dengan hati. Inilah yang bisa dihimpun saat membaca Al-Qur’an. Moga kita bisa mempraktikannya. Share yuk, biar yang lain dapat manfaat.   Referensi: Kunuz Riyadh Ash-Shalihin. Penerbit Dar Kunuz Isybiliya. 7: 141. — 4 Safar 1437 H, disusun saat perjalanan Panggang – Jogja Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom, Telegram @RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsadab al quran

Keadaan Hati Saat Membaca Al Quran

Bagaimana keadaan hati ketika membaca Al-Qur’an? 1. Patut direnungkan yang dibaca adalah Al-Quran, kalamullah. Sehingga yang dibaca benar-benar suatu yang agung dan mulia. 2. Patut dihayati bahwa yang dibaca bukan perkataan manusia. 3. Menghadirkan hati ketika membaca. 4. Merenungkan dan mentadabburi setiap ayat demi ayat yang dibaca, termasuk saat membaca nama dan sifat Allah. 5. Merasa bahwa setiap ayat yang dibaca ditujukan pada dirinya, bukan pada yang lainnya. 6. Berusaha mengambil faedah dan pengaruh dari ayat yang dibaca. 7. Menjauhkan diri dari berbagai gangguan yang sulit dalam memahami ayat. 8. Meyakini bahwa bukan karena kekuatan kita untuk mudah menghayati Al-Quran, namun semuanya adalah kemudahan dari Allah. Yang disebutkan di atas adalah berbagai adab yang berkenaan dengan hati. Inilah yang bisa dihimpun saat membaca Al-Qur’an. Moga kita bisa mempraktikannya. Share yuk, biar yang lain dapat manfaat.   Referensi: Kunuz Riyadh Ash-Shalihin. Penerbit Dar Kunuz Isybiliya. 7: 141. — 4 Safar 1437 H, disusun saat perjalanan Panggang – Jogja Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom, Telegram @RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsadab al quran
Bagaimana keadaan hati ketika membaca Al-Qur’an? 1. Patut direnungkan yang dibaca adalah Al-Quran, kalamullah. Sehingga yang dibaca benar-benar suatu yang agung dan mulia. 2. Patut dihayati bahwa yang dibaca bukan perkataan manusia. 3. Menghadirkan hati ketika membaca. 4. Merenungkan dan mentadabburi setiap ayat demi ayat yang dibaca, termasuk saat membaca nama dan sifat Allah. 5. Merasa bahwa setiap ayat yang dibaca ditujukan pada dirinya, bukan pada yang lainnya. 6. Berusaha mengambil faedah dan pengaruh dari ayat yang dibaca. 7. Menjauhkan diri dari berbagai gangguan yang sulit dalam memahami ayat. 8. Meyakini bahwa bukan karena kekuatan kita untuk mudah menghayati Al-Quran, namun semuanya adalah kemudahan dari Allah. Yang disebutkan di atas adalah berbagai adab yang berkenaan dengan hati. Inilah yang bisa dihimpun saat membaca Al-Qur’an. Moga kita bisa mempraktikannya. Share yuk, biar yang lain dapat manfaat.   Referensi: Kunuz Riyadh Ash-Shalihin. Penerbit Dar Kunuz Isybiliya. 7: 141. — 4 Safar 1437 H, disusun saat perjalanan Panggang – Jogja Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom, Telegram @RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsadab al quran


Bagaimana keadaan hati ketika membaca Al-Qur’an? 1. Patut direnungkan yang dibaca adalah Al-Quran, kalamullah. Sehingga yang dibaca benar-benar suatu yang agung dan mulia. 2. Patut dihayati bahwa yang dibaca bukan perkataan manusia. 3. Menghadirkan hati ketika membaca. 4. Merenungkan dan mentadabburi setiap ayat demi ayat yang dibaca, termasuk saat membaca nama dan sifat Allah. 5. Merasa bahwa setiap ayat yang dibaca ditujukan pada dirinya, bukan pada yang lainnya. 6. Berusaha mengambil faedah dan pengaruh dari ayat yang dibaca. 7. Menjauhkan diri dari berbagai gangguan yang sulit dalam memahami ayat. 8. Meyakini bahwa bukan karena kekuatan kita untuk mudah menghayati Al-Quran, namun semuanya adalah kemudahan dari Allah. Yang disebutkan di atas adalah berbagai adab yang berkenaan dengan hati. Inilah yang bisa dihimpun saat membaca Al-Qur’an. Moga kita bisa mempraktikannya. Share yuk, biar yang lain dapat manfaat.   Referensi: Kunuz Riyadh Ash-Shalihin. Penerbit Dar Kunuz Isybiliya. 7: 141. — 4 Safar 1437 H, disusun saat perjalanan Panggang – Jogja Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom, Telegram @RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsadab al quran

Bagaimana Ulama Membagi Waktu?

Bagaimana ulama kita membagi waktu? Kami sengaja menyebutkan kali ini agar bisa menjadi contoh bagi kita saat ini yang benar-benar banyak melalaikan waktu. Bagi kita, detik demi detik terlewat begitu saja tanpa manfaat apa-apa. Diceritakan oleh Sa’id Al-Hariri, para salaf ketika berada di waktu siang sibuk memenuhi hajat mereka, dan memperbaiki penghidupannya. Sedangkan di sore hari (waktu malam), mereka dalam keadaan beribadah dan shalat. (Hilyah Al-Auliya’, 6: 200) Diceritakan oleh Shidqah, ia berkata, ‘Amr bin Dinar biasa membagi waktu malam menjadi tiga: sepertiga untuk tidur, sepertiga untuk berdiskusi, sepertiga untuk shalat malam. (Hilyah Al-Auliya’, 3: 348) Tentang Sulaiman At-Taimiy diceritakan oleh Hamad bin Salamah, ia berkata, “Kami tidaklah mendatangi Sulaiman At-Taimi melainkan ia berada dalam keadaan ibadah pada Allah. Di waktu shalat, kami melihatnya berada dalam keadaan shalat. Di selain waktu shalat, kami mendapati beliau entah sedang berwudhu, mengunjungi orang sakit, mengurus jenazah, atau duduk di masjid. Seakan-akan kami menganggap beliau tidak pernah bermaksiat sama sekali.” (Hilyah Al-Auliya’, 3: 28) Tentang Imam Syafi’i, Imam Adz Dzahabi dalam Siyar A’lam An-Nubala’ (10: 35) menyebutkan, Muhammad bin Bisyr Al-‘Akri dan selainnya berkata, telah bercerita pada kami Ar-Rabi’ bin Sulaiman, ia berkata, “Imam Syafi’i membagi waktu malamnya menjadi tiga: sepertiga malam pertama untuk menulis, sepertiga malam kedua untuk shalat (malam) dan sepertiga malam terakhir untuk tidur.” Imam Adz-Dzahabi menyebutkan, “Tiga aktivitas beliau ini diniatkan untuk ibadah.” Memang …. Waktu begitu penting untuk dijaga. Al-Auza’i berkata, setiap detik yang terlewat di dunia akan ditampakkan pada hamba pada hari kiamat. Hari demi hari, waktu demi waktu, demikian. Jika satu detik tidak diisi dengan mengingat Allah, yang ada hanya kerugian belaka. Bagaimana lagi jika terlewat satu jam, satu hari, atau satu malam tanpa dzikrullah. (Hilyah Al-Auliya’, 6: 142) Semoga contoh salaf di atas bisa menjadi tauladan terbaik. Wallahu waliyyut taufiq. — Selesai disusun di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 4 Safar 1437 H, 02: 27 PM Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom, Telegram @RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsmanajemen waktu

Bagaimana Ulama Membagi Waktu?

Bagaimana ulama kita membagi waktu? Kami sengaja menyebutkan kali ini agar bisa menjadi contoh bagi kita saat ini yang benar-benar banyak melalaikan waktu. Bagi kita, detik demi detik terlewat begitu saja tanpa manfaat apa-apa. Diceritakan oleh Sa’id Al-Hariri, para salaf ketika berada di waktu siang sibuk memenuhi hajat mereka, dan memperbaiki penghidupannya. Sedangkan di sore hari (waktu malam), mereka dalam keadaan beribadah dan shalat. (Hilyah Al-Auliya’, 6: 200) Diceritakan oleh Shidqah, ia berkata, ‘Amr bin Dinar biasa membagi waktu malam menjadi tiga: sepertiga untuk tidur, sepertiga untuk berdiskusi, sepertiga untuk shalat malam. (Hilyah Al-Auliya’, 3: 348) Tentang Sulaiman At-Taimiy diceritakan oleh Hamad bin Salamah, ia berkata, “Kami tidaklah mendatangi Sulaiman At-Taimi melainkan ia berada dalam keadaan ibadah pada Allah. Di waktu shalat, kami melihatnya berada dalam keadaan shalat. Di selain waktu shalat, kami mendapati beliau entah sedang berwudhu, mengunjungi orang sakit, mengurus jenazah, atau duduk di masjid. Seakan-akan kami menganggap beliau tidak pernah bermaksiat sama sekali.” (Hilyah Al-Auliya’, 3: 28) Tentang Imam Syafi’i, Imam Adz Dzahabi dalam Siyar A’lam An-Nubala’ (10: 35) menyebutkan, Muhammad bin Bisyr Al-‘Akri dan selainnya berkata, telah bercerita pada kami Ar-Rabi’ bin Sulaiman, ia berkata, “Imam Syafi’i membagi waktu malamnya menjadi tiga: sepertiga malam pertama untuk menulis, sepertiga malam kedua untuk shalat (malam) dan sepertiga malam terakhir untuk tidur.” Imam Adz-Dzahabi menyebutkan, “Tiga aktivitas beliau ini diniatkan untuk ibadah.” Memang …. Waktu begitu penting untuk dijaga. Al-Auza’i berkata, setiap detik yang terlewat di dunia akan ditampakkan pada hamba pada hari kiamat. Hari demi hari, waktu demi waktu, demikian. Jika satu detik tidak diisi dengan mengingat Allah, yang ada hanya kerugian belaka. Bagaimana lagi jika terlewat satu jam, satu hari, atau satu malam tanpa dzikrullah. (Hilyah Al-Auliya’, 6: 142) Semoga contoh salaf di atas bisa menjadi tauladan terbaik. Wallahu waliyyut taufiq. — Selesai disusun di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 4 Safar 1437 H, 02: 27 PM Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom, Telegram @RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsmanajemen waktu
Bagaimana ulama kita membagi waktu? Kami sengaja menyebutkan kali ini agar bisa menjadi contoh bagi kita saat ini yang benar-benar banyak melalaikan waktu. Bagi kita, detik demi detik terlewat begitu saja tanpa manfaat apa-apa. Diceritakan oleh Sa’id Al-Hariri, para salaf ketika berada di waktu siang sibuk memenuhi hajat mereka, dan memperbaiki penghidupannya. Sedangkan di sore hari (waktu malam), mereka dalam keadaan beribadah dan shalat. (Hilyah Al-Auliya’, 6: 200) Diceritakan oleh Shidqah, ia berkata, ‘Amr bin Dinar biasa membagi waktu malam menjadi tiga: sepertiga untuk tidur, sepertiga untuk berdiskusi, sepertiga untuk shalat malam. (Hilyah Al-Auliya’, 3: 348) Tentang Sulaiman At-Taimiy diceritakan oleh Hamad bin Salamah, ia berkata, “Kami tidaklah mendatangi Sulaiman At-Taimi melainkan ia berada dalam keadaan ibadah pada Allah. Di waktu shalat, kami melihatnya berada dalam keadaan shalat. Di selain waktu shalat, kami mendapati beliau entah sedang berwudhu, mengunjungi orang sakit, mengurus jenazah, atau duduk di masjid. Seakan-akan kami menganggap beliau tidak pernah bermaksiat sama sekali.” (Hilyah Al-Auliya’, 3: 28) Tentang Imam Syafi’i, Imam Adz Dzahabi dalam Siyar A’lam An-Nubala’ (10: 35) menyebutkan, Muhammad bin Bisyr Al-‘Akri dan selainnya berkata, telah bercerita pada kami Ar-Rabi’ bin Sulaiman, ia berkata, “Imam Syafi’i membagi waktu malamnya menjadi tiga: sepertiga malam pertama untuk menulis, sepertiga malam kedua untuk shalat (malam) dan sepertiga malam terakhir untuk tidur.” Imam Adz-Dzahabi menyebutkan, “Tiga aktivitas beliau ini diniatkan untuk ibadah.” Memang …. Waktu begitu penting untuk dijaga. Al-Auza’i berkata, setiap detik yang terlewat di dunia akan ditampakkan pada hamba pada hari kiamat. Hari demi hari, waktu demi waktu, demikian. Jika satu detik tidak diisi dengan mengingat Allah, yang ada hanya kerugian belaka. Bagaimana lagi jika terlewat satu jam, satu hari, atau satu malam tanpa dzikrullah. (Hilyah Al-Auliya’, 6: 142) Semoga contoh salaf di atas bisa menjadi tauladan terbaik. Wallahu waliyyut taufiq. — Selesai disusun di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 4 Safar 1437 H, 02: 27 PM Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom, Telegram @RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsmanajemen waktu


Bagaimana ulama kita membagi waktu? Kami sengaja menyebutkan kali ini agar bisa menjadi contoh bagi kita saat ini yang benar-benar banyak melalaikan waktu. Bagi kita, detik demi detik terlewat begitu saja tanpa manfaat apa-apa. Diceritakan oleh Sa’id Al-Hariri, para salaf ketika berada di waktu siang sibuk memenuhi hajat mereka, dan memperbaiki penghidupannya. Sedangkan di sore hari (waktu malam), mereka dalam keadaan beribadah dan shalat. (Hilyah Al-Auliya’, 6: 200) Diceritakan oleh Shidqah, ia berkata, ‘Amr bin Dinar biasa membagi waktu malam menjadi tiga: sepertiga untuk tidur, sepertiga untuk berdiskusi, sepertiga untuk shalat malam. (Hilyah Al-Auliya’, 3: 348) Tentang Sulaiman At-Taimiy diceritakan oleh Hamad bin Salamah, ia berkata, “Kami tidaklah mendatangi Sulaiman At-Taimi melainkan ia berada dalam keadaan ibadah pada Allah. Di waktu shalat, kami melihatnya berada dalam keadaan shalat. Di selain waktu shalat, kami mendapati beliau entah sedang berwudhu, mengunjungi orang sakit, mengurus jenazah, atau duduk di masjid. Seakan-akan kami menganggap beliau tidak pernah bermaksiat sama sekali.” (Hilyah Al-Auliya’, 3: 28) Tentang Imam Syafi’i, Imam Adz Dzahabi dalam Siyar A’lam An-Nubala’ (10: 35) menyebutkan, Muhammad bin Bisyr Al-‘Akri dan selainnya berkata, telah bercerita pada kami Ar-Rabi’ bin Sulaiman, ia berkata, “Imam Syafi’i membagi waktu malamnya menjadi tiga: sepertiga malam pertama untuk menulis, sepertiga malam kedua untuk shalat (malam) dan sepertiga malam terakhir untuk tidur.” Imam Adz-Dzahabi menyebutkan, “Tiga aktivitas beliau ini diniatkan untuk ibadah.” Memang …. Waktu begitu penting untuk dijaga. Al-Auza’i berkata, setiap detik yang terlewat di dunia akan ditampakkan pada hamba pada hari kiamat. Hari demi hari, waktu demi waktu, demikian. Jika satu detik tidak diisi dengan mengingat Allah, yang ada hanya kerugian belaka. Bagaimana lagi jika terlewat satu jam, satu hari, atau satu malam tanpa dzikrullah. (Hilyah Al-Auliya’, 6: 142) Semoga contoh salaf di atas bisa menjadi tauladan terbaik. Wallahu waliyyut taufiq. — Selesai disusun di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 4 Safar 1437 H, 02: 27 PM Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom, Telegram @RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsmanajemen waktu

Amal Jariyah Tebar Buku Islam dan Quran (1000 Paket)

Ayo turut serta dalam amal jariyah Mushaf Al-Quran dan Buku Islam. Target akan disebar 1000 paket. Masjid binaan pesantren DS kali ini telah mencapai 70 lebih masjid. Sedangkan santri TPA anak-anak Pesantren DS telah mencapai hingga 600-an santri, ditambah ada santri dewasa dan sepuh yang masih belajar iqra dan Al- Quran. Kebutuhan mushaf Al-Quran untuk para santri dan jamaah masjid sangat diperlukan sekali. Ditambah lagi buku Islam untuk para dai, penuntut ilmu diin dan santri sangat diperlukan. Di antara buku yang akan dibagi gratis adalah buku karya Muhammad Abduh Tuasikal serta buku terjemahan ulama lainnya. Daerah penyebaran buku Al-Qur’an dan buku Islam bukan hanya di Gunungkidul, akan tersebar hingga Flores, Maluku dan Papua. Siapa yang berminat berdonasi jariyah untuk maksud ini, bisa disalurkan via rekening berikut: • BCA: 8610123881. • BNI Syariah: 0194475165. Semua a.n: Muhammad Abduh Tuasikal Kirim konfirmasi via sms ke 082313950500. Contoh konfirmasi: Donasi Quran Buku# Nama# Alamat# Bank Tujuan Transfer# Besar Transfer# Tanggal Transfer. Mushaf Al-Quran bisa pula disalurkan ke alamat pesantren: Pesantren Darush Sholihin, Warak, Girisekar, Panggang, Gunungkidul, 55872, HP: 085200171222 (Slamet) * Dibutuhkan mushaf untuk Lansia (ukuran besar), ukuran sedang, ukuran kecil. Bisa disertakan dengan terjemahan. Semoga menjadi amal jariyah bagi yang menyumbang. — Info Rumaysho.Com Tagsamal jariyah wakaf

Amal Jariyah Tebar Buku Islam dan Quran (1000 Paket)

Ayo turut serta dalam amal jariyah Mushaf Al-Quran dan Buku Islam. Target akan disebar 1000 paket. Masjid binaan pesantren DS kali ini telah mencapai 70 lebih masjid. Sedangkan santri TPA anak-anak Pesantren DS telah mencapai hingga 600-an santri, ditambah ada santri dewasa dan sepuh yang masih belajar iqra dan Al- Quran. Kebutuhan mushaf Al-Quran untuk para santri dan jamaah masjid sangat diperlukan sekali. Ditambah lagi buku Islam untuk para dai, penuntut ilmu diin dan santri sangat diperlukan. Di antara buku yang akan dibagi gratis adalah buku karya Muhammad Abduh Tuasikal serta buku terjemahan ulama lainnya. Daerah penyebaran buku Al-Qur’an dan buku Islam bukan hanya di Gunungkidul, akan tersebar hingga Flores, Maluku dan Papua. Siapa yang berminat berdonasi jariyah untuk maksud ini, bisa disalurkan via rekening berikut: • BCA: 8610123881. • BNI Syariah: 0194475165. Semua a.n: Muhammad Abduh Tuasikal Kirim konfirmasi via sms ke 082313950500. Contoh konfirmasi: Donasi Quran Buku# Nama# Alamat# Bank Tujuan Transfer# Besar Transfer# Tanggal Transfer. Mushaf Al-Quran bisa pula disalurkan ke alamat pesantren: Pesantren Darush Sholihin, Warak, Girisekar, Panggang, Gunungkidul, 55872, HP: 085200171222 (Slamet) * Dibutuhkan mushaf untuk Lansia (ukuran besar), ukuran sedang, ukuran kecil. Bisa disertakan dengan terjemahan. Semoga menjadi amal jariyah bagi yang menyumbang. — Info Rumaysho.Com Tagsamal jariyah wakaf
Ayo turut serta dalam amal jariyah Mushaf Al-Quran dan Buku Islam. Target akan disebar 1000 paket. Masjid binaan pesantren DS kali ini telah mencapai 70 lebih masjid. Sedangkan santri TPA anak-anak Pesantren DS telah mencapai hingga 600-an santri, ditambah ada santri dewasa dan sepuh yang masih belajar iqra dan Al- Quran. Kebutuhan mushaf Al-Quran untuk para santri dan jamaah masjid sangat diperlukan sekali. Ditambah lagi buku Islam untuk para dai, penuntut ilmu diin dan santri sangat diperlukan. Di antara buku yang akan dibagi gratis adalah buku karya Muhammad Abduh Tuasikal serta buku terjemahan ulama lainnya. Daerah penyebaran buku Al-Qur’an dan buku Islam bukan hanya di Gunungkidul, akan tersebar hingga Flores, Maluku dan Papua. Siapa yang berminat berdonasi jariyah untuk maksud ini, bisa disalurkan via rekening berikut: • BCA: 8610123881. • BNI Syariah: 0194475165. Semua a.n: Muhammad Abduh Tuasikal Kirim konfirmasi via sms ke 082313950500. Contoh konfirmasi: Donasi Quran Buku# Nama# Alamat# Bank Tujuan Transfer# Besar Transfer# Tanggal Transfer. Mushaf Al-Quran bisa pula disalurkan ke alamat pesantren: Pesantren Darush Sholihin, Warak, Girisekar, Panggang, Gunungkidul, 55872, HP: 085200171222 (Slamet) * Dibutuhkan mushaf untuk Lansia (ukuran besar), ukuran sedang, ukuran kecil. Bisa disertakan dengan terjemahan. Semoga menjadi amal jariyah bagi yang menyumbang. — Info Rumaysho.Com Tagsamal jariyah wakaf


Ayo turut serta dalam amal jariyah Mushaf Al-Quran dan Buku Islam. Target akan disebar 1000 paket. Masjid binaan pesantren DS kali ini telah mencapai 70 lebih masjid. Sedangkan santri TPA anak-anak Pesantren DS telah mencapai hingga 600-an santri, ditambah ada santri dewasa dan sepuh yang masih belajar iqra dan Al- Quran. Kebutuhan mushaf Al-Quran untuk para santri dan jamaah masjid sangat diperlukan sekali. Ditambah lagi buku Islam untuk para dai, penuntut ilmu diin dan santri sangat diperlukan. Di antara buku yang akan dibagi gratis adalah buku karya Muhammad Abduh Tuasikal serta buku terjemahan ulama lainnya. Daerah penyebaran buku Al-Qur’an dan buku Islam bukan hanya di Gunungkidul, akan tersebar hingga Flores, Maluku dan Papua. Siapa yang berminat berdonasi jariyah untuk maksud ini, bisa disalurkan via rekening berikut: • BCA: 8610123881. • BNI Syariah: 0194475165. Semua a.n: Muhammad Abduh Tuasikal Kirim konfirmasi via sms ke 082313950500. Contoh konfirmasi: Donasi Quran Buku# Nama# Alamat# Bank Tujuan Transfer# Besar Transfer# Tanggal Transfer. Mushaf Al-Quran bisa pula disalurkan ke alamat pesantren: Pesantren Darush Sholihin, Warak, Girisekar, Panggang, Gunungkidul, 55872, HP: 085200171222 (Slamet) * Dibutuhkan mushaf untuk Lansia (ukuran besar), ukuran sedang, ukuran kecil. Bisa disertakan dengan terjemahan. Semoga menjadi amal jariyah bagi yang menyumbang. — Info Rumaysho.Com Tagsamal jariyah wakaf

Video: Sharing Strategi Dakwah

Barangkali ada yang mau mempelajari strategi dakwah di Pesantren Darush Sholihin, binaan kami? Bisa dengar cerita dalam video ini. Semoga bisa tertular pada desa atau tempat lainnya di tanah air. Pesantren Darush Sholihin adalah Pesantren Masyarakat (Tanpa Pondokan) yang saat ini telah membina 600-an santri TPA. Setiap malam Kamis saat ini dihadiri oleh 2000 jama’ah dari berbagai dusun dari empat kecamatan. Sedangkan pada kajian Akbar dihadiri hingga 4000 jama’ah. Semuanya adalah berkat nikmat Allah dan taufik-Nya sehingga strategi dakwah yang ada dengan mudah membuka pintu hidayah bagi orang banyak. Anda ingin berdonasi untuk pesantren ini, silakan kunjungi: http://darushsholihin.com/donasi-pesantren/ Setiap bulannya pesantren ini membutuhkan donasi untuk membiayai pegawai, pengajar dan pengajian rutin sebesar 60 juta rupiah. Semoga bermanfaat.   [youtube url=”https://www.youtube.com/watch?v=rCugZzh1ITE&list=PLhpkpy-1OEGA1TjT8pt3omYWmx40AgNla” width=”560″ height=”315″]   — Muhammad Abduh Tuasikal Malam 5 Safar 1437 H, Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul Join Twitter, Instagram, Channel Telegram: @RumayshoCom. Info amal jariyah pesantren: Channel Telegram @DarushSholihin Tagsdakwah

Video: Sharing Strategi Dakwah

Barangkali ada yang mau mempelajari strategi dakwah di Pesantren Darush Sholihin, binaan kami? Bisa dengar cerita dalam video ini. Semoga bisa tertular pada desa atau tempat lainnya di tanah air. Pesantren Darush Sholihin adalah Pesantren Masyarakat (Tanpa Pondokan) yang saat ini telah membina 600-an santri TPA. Setiap malam Kamis saat ini dihadiri oleh 2000 jama’ah dari berbagai dusun dari empat kecamatan. Sedangkan pada kajian Akbar dihadiri hingga 4000 jama’ah. Semuanya adalah berkat nikmat Allah dan taufik-Nya sehingga strategi dakwah yang ada dengan mudah membuka pintu hidayah bagi orang banyak. Anda ingin berdonasi untuk pesantren ini, silakan kunjungi: http://darushsholihin.com/donasi-pesantren/ Setiap bulannya pesantren ini membutuhkan donasi untuk membiayai pegawai, pengajar dan pengajian rutin sebesar 60 juta rupiah. Semoga bermanfaat.   [youtube url=”https://www.youtube.com/watch?v=rCugZzh1ITE&list=PLhpkpy-1OEGA1TjT8pt3omYWmx40AgNla” width=”560″ height=”315″]   — Muhammad Abduh Tuasikal Malam 5 Safar 1437 H, Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul Join Twitter, Instagram, Channel Telegram: @RumayshoCom. Info amal jariyah pesantren: Channel Telegram @DarushSholihin Tagsdakwah
Barangkali ada yang mau mempelajari strategi dakwah di Pesantren Darush Sholihin, binaan kami? Bisa dengar cerita dalam video ini. Semoga bisa tertular pada desa atau tempat lainnya di tanah air. Pesantren Darush Sholihin adalah Pesantren Masyarakat (Tanpa Pondokan) yang saat ini telah membina 600-an santri TPA. Setiap malam Kamis saat ini dihadiri oleh 2000 jama’ah dari berbagai dusun dari empat kecamatan. Sedangkan pada kajian Akbar dihadiri hingga 4000 jama’ah. Semuanya adalah berkat nikmat Allah dan taufik-Nya sehingga strategi dakwah yang ada dengan mudah membuka pintu hidayah bagi orang banyak. Anda ingin berdonasi untuk pesantren ini, silakan kunjungi: http://darushsholihin.com/donasi-pesantren/ Setiap bulannya pesantren ini membutuhkan donasi untuk membiayai pegawai, pengajar dan pengajian rutin sebesar 60 juta rupiah. Semoga bermanfaat.   [youtube url=”https://www.youtube.com/watch?v=rCugZzh1ITE&list=PLhpkpy-1OEGA1TjT8pt3omYWmx40AgNla” width=”560″ height=”315″]   — Muhammad Abduh Tuasikal Malam 5 Safar 1437 H, Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul Join Twitter, Instagram, Channel Telegram: @RumayshoCom. Info amal jariyah pesantren: Channel Telegram @DarushSholihin Tagsdakwah


Barangkali ada yang mau mempelajari strategi dakwah di Pesantren Darush Sholihin, binaan kami? Bisa dengar cerita dalam video ini. Semoga bisa tertular pada desa atau tempat lainnya di tanah air. Pesantren Darush Sholihin adalah Pesantren Masyarakat (Tanpa Pondokan) yang saat ini telah membina 600-an santri TPA. Setiap malam Kamis saat ini dihadiri oleh 2000 jama’ah dari berbagai dusun dari empat kecamatan. Sedangkan pada kajian Akbar dihadiri hingga 4000 jama’ah. Semuanya adalah berkat nikmat Allah dan taufik-Nya sehingga strategi dakwah yang ada dengan mudah membuka pintu hidayah bagi orang banyak. Anda ingin berdonasi untuk pesantren ini, silakan kunjungi: http://darushsholihin.com/donasi-pesantren/ Setiap bulannya pesantren ini membutuhkan donasi untuk membiayai pegawai, pengajar dan pengajian rutin sebesar 60 juta rupiah. Semoga bermanfaat.   [youtube url=”https://www.youtube.com/watch?v=rCugZzh1ITE&list=PLhpkpy-1OEGA1TjT8pt3omYWmx40AgNla” width=”560″ height=”315″]   — Muhammad Abduh Tuasikal Malam 5 Safar 1437 H, Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul Join Twitter, Instagram, Channel Telegram: @RumayshoCom. Info amal jariyah pesantren: Channel Telegram @DarushSholihin Tagsdakwah

Pandangan Ulama: Menangis Membatalkan Shalat

Apakah menangis bisa membatalkan shalat? Kali ini kita lihat pandangan para ulama madzhab dalam masalah ini. Ulama Hanafiyah berpandangan bahwa jika menangis dalam shalat dikarenakan sedih pada musibah, maka itu membatalkan shalat. Karena seperti itu dianggap sebagai kalam manusia (perkara di luar shalat, pen.). Namun jika karena mengingat surga dan takut pada neraka, shalatnya tidaklah batal. Seperti itu menunjukkan bertambahnya khusyu’. Sedangkan khusyu’ adalah ruh dari shalat. Ulama Malikiyah berpandangan bahwa menangis dalam bisa jadi dengan suara atau tanpa suara. Jika menangis tanpa suara, shalatnya tidak batal. Jika dengan suara, shalatnya batal. Sedangkan jika menangisnya dengan suara dan itu atas dasar pilihannya, shalatnya batal. Jika bukan atas pilihannya dan didasari karena sangat khusu’nya, shalatnya tidak batal walaupun banyak. Namun kalau bukan karena khusyu’nya, shalatnya batal. Ulama Syafi’iyah berpendapat bahwa jika menangisnya keluar dua huruf, maka membatalkan shalat karena seperti itu meniadakan shalat. Meskipun ketika itu menangisnya karena takut akhirat. Ini pendapat yang paling kuat dalam madzhab Syafi’i, walau dalam madzhab sendiri ada yang menyelisihi pendapat tersebut. Ulama Hambali berpendapat bahwa jika menangisnya terdiri dari dua huruf, itu muncul karena khasyah (rasa takut yang besar), atau bahkan sambil tersedu-sedu, tidaklah membatalkan shalat. Karena seperti karena terhanyut dalam dzikir. Begitu juga kalau seseorang tidak khusyu’ lalu menangis dalam shalat, shalatnya batal. Demikian pandangan para ulama. Bahasan ini akan berlanjut lagi dengan melihat manakah pendapat yang paling kuat dalam masalah ini dengan menimbang berbagai dalil. Semoga bermanfaat.   Referensi: Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah. Penerbit Kementrian Agama Kuwait. 8: 170-171. — Selesai disusun di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 2 Safar 1437 H Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom, Telegram @RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsmenangis pembatal shalat

Pandangan Ulama: Menangis Membatalkan Shalat

Apakah menangis bisa membatalkan shalat? Kali ini kita lihat pandangan para ulama madzhab dalam masalah ini. Ulama Hanafiyah berpandangan bahwa jika menangis dalam shalat dikarenakan sedih pada musibah, maka itu membatalkan shalat. Karena seperti itu dianggap sebagai kalam manusia (perkara di luar shalat, pen.). Namun jika karena mengingat surga dan takut pada neraka, shalatnya tidaklah batal. Seperti itu menunjukkan bertambahnya khusyu’. Sedangkan khusyu’ adalah ruh dari shalat. Ulama Malikiyah berpandangan bahwa menangis dalam bisa jadi dengan suara atau tanpa suara. Jika menangis tanpa suara, shalatnya tidak batal. Jika dengan suara, shalatnya batal. Sedangkan jika menangisnya dengan suara dan itu atas dasar pilihannya, shalatnya batal. Jika bukan atas pilihannya dan didasari karena sangat khusu’nya, shalatnya tidak batal walaupun banyak. Namun kalau bukan karena khusyu’nya, shalatnya batal. Ulama Syafi’iyah berpendapat bahwa jika menangisnya keluar dua huruf, maka membatalkan shalat karena seperti itu meniadakan shalat. Meskipun ketika itu menangisnya karena takut akhirat. Ini pendapat yang paling kuat dalam madzhab Syafi’i, walau dalam madzhab sendiri ada yang menyelisihi pendapat tersebut. Ulama Hambali berpendapat bahwa jika menangisnya terdiri dari dua huruf, itu muncul karena khasyah (rasa takut yang besar), atau bahkan sambil tersedu-sedu, tidaklah membatalkan shalat. Karena seperti karena terhanyut dalam dzikir. Begitu juga kalau seseorang tidak khusyu’ lalu menangis dalam shalat, shalatnya batal. Demikian pandangan para ulama. Bahasan ini akan berlanjut lagi dengan melihat manakah pendapat yang paling kuat dalam masalah ini dengan menimbang berbagai dalil. Semoga bermanfaat.   Referensi: Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah. Penerbit Kementrian Agama Kuwait. 8: 170-171. — Selesai disusun di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 2 Safar 1437 H Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom, Telegram @RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsmenangis pembatal shalat
Apakah menangis bisa membatalkan shalat? Kali ini kita lihat pandangan para ulama madzhab dalam masalah ini. Ulama Hanafiyah berpandangan bahwa jika menangis dalam shalat dikarenakan sedih pada musibah, maka itu membatalkan shalat. Karena seperti itu dianggap sebagai kalam manusia (perkara di luar shalat, pen.). Namun jika karena mengingat surga dan takut pada neraka, shalatnya tidaklah batal. Seperti itu menunjukkan bertambahnya khusyu’. Sedangkan khusyu’ adalah ruh dari shalat. Ulama Malikiyah berpandangan bahwa menangis dalam bisa jadi dengan suara atau tanpa suara. Jika menangis tanpa suara, shalatnya tidak batal. Jika dengan suara, shalatnya batal. Sedangkan jika menangisnya dengan suara dan itu atas dasar pilihannya, shalatnya batal. Jika bukan atas pilihannya dan didasari karena sangat khusu’nya, shalatnya tidak batal walaupun banyak. Namun kalau bukan karena khusyu’nya, shalatnya batal. Ulama Syafi’iyah berpendapat bahwa jika menangisnya keluar dua huruf, maka membatalkan shalat karena seperti itu meniadakan shalat. Meskipun ketika itu menangisnya karena takut akhirat. Ini pendapat yang paling kuat dalam madzhab Syafi’i, walau dalam madzhab sendiri ada yang menyelisihi pendapat tersebut. Ulama Hambali berpendapat bahwa jika menangisnya terdiri dari dua huruf, itu muncul karena khasyah (rasa takut yang besar), atau bahkan sambil tersedu-sedu, tidaklah membatalkan shalat. Karena seperti karena terhanyut dalam dzikir. Begitu juga kalau seseorang tidak khusyu’ lalu menangis dalam shalat, shalatnya batal. Demikian pandangan para ulama. Bahasan ini akan berlanjut lagi dengan melihat manakah pendapat yang paling kuat dalam masalah ini dengan menimbang berbagai dalil. Semoga bermanfaat.   Referensi: Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah. Penerbit Kementrian Agama Kuwait. 8: 170-171. — Selesai disusun di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 2 Safar 1437 H Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom, Telegram @RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsmenangis pembatal shalat


Apakah menangis bisa membatalkan shalat? Kali ini kita lihat pandangan para ulama madzhab dalam masalah ini. Ulama Hanafiyah berpandangan bahwa jika menangis dalam shalat dikarenakan sedih pada musibah, maka itu membatalkan shalat. Karena seperti itu dianggap sebagai kalam manusia (perkara di luar shalat, pen.). Namun jika karena mengingat surga dan takut pada neraka, shalatnya tidaklah batal. Seperti itu menunjukkan bertambahnya khusyu’. Sedangkan khusyu’ adalah ruh dari shalat. Ulama Malikiyah berpandangan bahwa menangis dalam bisa jadi dengan suara atau tanpa suara. Jika menangis tanpa suara, shalatnya tidak batal. Jika dengan suara, shalatnya batal. Sedangkan jika menangisnya dengan suara dan itu atas dasar pilihannya, shalatnya batal. Jika bukan atas pilihannya dan didasari karena sangat khusu’nya, shalatnya tidak batal walaupun banyak. Namun kalau bukan karena khusyu’nya, shalatnya batal. Ulama Syafi’iyah berpendapat bahwa jika menangisnya keluar dua huruf, maka membatalkan shalat karena seperti itu meniadakan shalat. Meskipun ketika itu menangisnya karena takut akhirat. Ini pendapat yang paling kuat dalam madzhab Syafi’i, walau dalam madzhab sendiri ada yang menyelisihi pendapat tersebut. Ulama Hambali berpendapat bahwa jika menangisnya terdiri dari dua huruf, itu muncul karena khasyah (rasa takut yang besar), atau bahkan sambil tersedu-sedu, tidaklah membatalkan shalat. Karena seperti karena terhanyut dalam dzikir. Begitu juga kalau seseorang tidak khusyu’ lalu menangis dalam shalat, shalatnya batal. Demikian pandangan para ulama. Bahasan ini akan berlanjut lagi dengan melihat manakah pendapat yang paling kuat dalam masalah ini dengan menimbang berbagai dalil. Semoga bermanfaat.   Referensi: Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah. Penerbit Kementrian Agama Kuwait. 8: 170-171. — Selesai disusun di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 2 Safar 1437 H Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom, Telegram @RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsmenangis pembatal shalat

Menangis Karena Kaya

Ada yang menangis karena kaya, yaitu ‘Abdurrahman bin ‘Auf. Cuma karena kekayaannya yang dimiliki, ia menangis. Kenapa bisa?   Menangis Karena Kaya Dari Ibrahim bin ‘Abdurrahman bin ‘Auf, ia bercerita, أَنَّ عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ عَوْفٍ – رضى الله عنه – أُتِىَ بِطَعَامٍ وَكَانَ صَائِمًا فَقَالَ قُتِلَ مُصْعَبُ بْنُ عُمَيْرٍ وَهُوَ خَيْرٌ مِنِّى ، كُفِّنَ فِى بُرْدَةٍ ، إِنْ غُطِّىَ رَأْسُهُ بَدَتْ رِجْلاَهُ ، وَإِنْ غُطِّىَ رِجْلاَهُ بَدَا رَأْسُهُ – وَأُرَاهُ قَالَ – وَقُتِلَ حَمْزَةُ وَهُوَ خَيْرٌ مِنِّى ، ثُمَّ بُسِطَ لَنَا مِنَ الدُّنْيَا مَا بُسِطَ – أَوْ قَالَ أُعْطِينَا مِنَ الدُّنْيَا مَا أُعْطِينَا – وَقَدْ خَشِينَا أَنْ تَكُونَ حَسَنَاتُنَا عُجِّلَتْ لَنَا ، ثُمَّ جَعَلَ يَبْكِى حَتَّى تَرَكَ الطَّعَامَ “Suatu saat pernah dihidangkan makanan kepada ‘Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallahu ‘anhu. Tetapi waktu itu ia sedang berpuasa. ‘Abdurrahman ketika itu berkata, “Mush’ab bin ‘Umair adalah orang yang lebih baik dariku. Ia meninggal dunia dalam keadaan mengenakan selimut yang terbuat dari bulu. Apabila kepalanya ditutup, maka terbukalah kakinya. Jika kakinya ditutup lebih baik dariku. Ketika ia terbunuh di dalam peperangan, kain yang mengafaninya hanyalah sepotong, maka tampaklah kepalanya. Begitu pula Hamzah demikian adanya, ia pun lebih baik dariku. Sedangkan kami diberi kekayaan dunia yang banyak.” Atau ia berkata, “Kami telah diberi kekayaan dunia yang sebanyak-banyaknya. Kami khawatir, jikalau kebaikan kami telas dibalas dengan kekayaan ini.” Kemudian ia terus menangis dan meninggalkan makanan itu.” (HR. Bukhari, no. 1275) Hadits di atas disebutkan dalam Riyadh Ash-Shalihin no. 454 pada judul Bab “Keutamaan Menangis Karena Takut pada Allah Ta’ala dan Rindu pada-Nya”.   Kisah ‘Abdurrahman bin ‘Auf dengan Kekayaannya ‘Abdurrahman bin ‘Auf adalah di antara sepuluh sahabat yang diberi kabar gembira dengan surga. Beliau juga termasuk di antara enam sahabat yang dijadikan oleh Umar untuk khilafah. ‘Abdurrahman juga adalah di antara sahabat yang mengikuti perang Badar yang dikatakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, اعْمَلُوا مَا شِئْتُمْ ، فَقَدْ غَفَرْتُ لَكُمْ “Lakukanlah apa yang kalian mau, Allah benar-benar telah mengampuni kalian.” (HR. Bukhari, no. 3007 dan Muslim, no. 2494) ‘Abdurrahman juga termasuk sahabat yang mengikuti Baiatur Ridwan yang disebutkan oleh Allah, لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ “Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon.” (QS. Al-Fath: 18) Beberapa peperangan bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah pula diikuti oleh ‘Abdurrahman bin ‘Auf. ‘Abdurrahman termasuk orang yang kaya yang rajin bersyukur. Kekayaannya begitu banyak sampai ia tinggalkan ketika meninggal dunia adalah 1000 unta, 3000 kambing, dan 100 kuda. Semuanya digembalangkan di Baqi’, daerah pekuburan saat ini dekat Masjid Nabawi. Beliau memiliki lahan pertanian di Al-Jurf dan ada 20 hewan yang menyiramkan air di lahan tersebut. Artinya, begitu luasnya lahan pertanian yang dimiliki oleh ‘Abdurrahman.   Pelajaran dari Tangisan ‘Abdurrahman bin ‘Auf Apa yang disebutkan dalam hadits menunjukkan bahwa hendaknya kita menghiasi diri kita dengan sifat tawadhu’. ‘Abdurrahman bin ‘Auf menganggap lainnya lebih baik darinya. Ia menganggap Mush’ab bin ‘Umair dan Hamzah itu lebih baik. Itu tanda bahwa beliau adalah orang yang tawadhu’ atau rendah hati. Keadaan dua orang sahabat tersebut menunjukkan bahwa mereka adalah orang yang tidak rakus dan begitu zuhud pada dunia. Lihat saja keadaan ketika mereka meninggal dunia, kain kafan pun kurang. Tidak seperti kita-kita yang begitu rakus dan tak pernah letih mengejar dunia. Padahal kekayaan tidak dibawa mati. Yang menemani kita saat di alam kubur justru adalah amalan kita. Lalu apa yang disedihkan oleh ‘Abdurrahman bin ‘Auf? Ia sedih jika saja balasan untuk amalan shalihnya disegerakan di dunia dengan kekayaan yang ia peroleh saat itu. Itulah yang beliau takutkan. Sedangkan kita saat ini, begitu sombong dengan dunia yang kita miliki dan senang untuk memamerkan. Kita malah tak mungkin menangis seperti ‘Abdurrahman bin ‘Auf karena kekayaan yang kita peroleh. Ibnu Hajar menyatakan, “Hadits ini mengandung pelajaran tentang keutamaan hidup zuhud. Juga ada anjuran bahwa orang yang bagus agamanya hendaknya tidak berlomba-lomba dalam memperbanyak harta karena hal itu akan membuat kebaikannya berkurang. Itulah yang diisyaratkan oleh ‘Abdurrahman bin ‘Auf bahwa beliau khawatir karena kekayaan melimpah yang ia miliki, itulah yang menyebabkan Allah segerakan baginya kebaikan di dunia (sedang di akhirat tidak mendapat apa-apa, pen.).” (Fath Al-Bari, 7: 410) Ada nasihat dari Ibnu Hubairah, “Jika Allah memberikan karunia limpahan harta pada seorang mukmin, dianjurkan baginya untuk mengingat susahnya hidup orang-orang mukmin sebelum dia.” (Al-Ifshah ‘an Ma’ani Ash-Shahah, 1: 301, dinukil dari Kunuz Riyadh Ash-Shalihin, 7: 180).   Referensi: Kunuz Ar-Riyadh Ash-Shalihin. Cetakan pertama, tahun 1430 H. Rais Al-Fariq Al-‘Ilmi: Prof. Dr. Hamad bin Nashir bin ‘Abdurrahman Al-‘Ammar. Penerbit Dar Kunuz Isybiliya. — Selesai disusun di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, Jumat pagi, 1 Safar 1437 H Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom, Telegram @RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsmenangis rezeki

Menangis Karena Kaya

Ada yang menangis karena kaya, yaitu ‘Abdurrahman bin ‘Auf. Cuma karena kekayaannya yang dimiliki, ia menangis. Kenapa bisa?   Menangis Karena Kaya Dari Ibrahim bin ‘Abdurrahman bin ‘Auf, ia bercerita, أَنَّ عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ عَوْفٍ – رضى الله عنه – أُتِىَ بِطَعَامٍ وَكَانَ صَائِمًا فَقَالَ قُتِلَ مُصْعَبُ بْنُ عُمَيْرٍ وَهُوَ خَيْرٌ مِنِّى ، كُفِّنَ فِى بُرْدَةٍ ، إِنْ غُطِّىَ رَأْسُهُ بَدَتْ رِجْلاَهُ ، وَإِنْ غُطِّىَ رِجْلاَهُ بَدَا رَأْسُهُ – وَأُرَاهُ قَالَ – وَقُتِلَ حَمْزَةُ وَهُوَ خَيْرٌ مِنِّى ، ثُمَّ بُسِطَ لَنَا مِنَ الدُّنْيَا مَا بُسِطَ – أَوْ قَالَ أُعْطِينَا مِنَ الدُّنْيَا مَا أُعْطِينَا – وَقَدْ خَشِينَا أَنْ تَكُونَ حَسَنَاتُنَا عُجِّلَتْ لَنَا ، ثُمَّ جَعَلَ يَبْكِى حَتَّى تَرَكَ الطَّعَامَ “Suatu saat pernah dihidangkan makanan kepada ‘Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallahu ‘anhu. Tetapi waktu itu ia sedang berpuasa. ‘Abdurrahman ketika itu berkata, “Mush’ab bin ‘Umair adalah orang yang lebih baik dariku. Ia meninggal dunia dalam keadaan mengenakan selimut yang terbuat dari bulu. Apabila kepalanya ditutup, maka terbukalah kakinya. Jika kakinya ditutup lebih baik dariku. Ketika ia terbunuh di dalam peperangan, kain yang mengafaninya hanyalah sepotong, maka tampaklah kepalanya. Begitu pula Hamzah demikian adanya, ia pun lebih baik dariku. Sedangkan kami diberi kekayaan dunia yang banyak.” Atau ia berkata, “Kami telah diberi kekayaan dunia yang sebanyak-banyaknya. Kami khawatir, jikalau kebaikan kami telas dibalas dengan kekayaan ini.” Kemudian ia terus menangis dan meninggalkan makanan itu.” (HR. Bukhari, no. 1275) Hadits di atas disebutkan dalam Riyadh Ash-Shalihin no. 454 pada judul Bab “Keutamaan Menangis Karena Takut pada Allah Ta’ala dan Rindu pada-Nya”.   Kisah ‘Abdurrahman bin ‘Auf dengan Kekayaannya ‘Abdurrahman bin ‘Auf adalah di antara sepuluh sahabat yang diberi kabar gembira dengan surga. Beliau juga termasuk di antara enam sahabat yang dijadikan oleh Umar untuk khilafah. ‘Abdurrahman juga adalah di antara sahabat yang mengikuti perang Badar yang dikatakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, اعْمَلُوا مَا شِئْتُمْ ، فَقَدْ غَفَرْتُ لَكُمْ “Lakukanlah apa yang kalian mau, Allah benar-benar telah mengampuni kalian.” (HR. Bukhari, no. 3007 dan Muslim, no. 2494) ‘Abdurrahman juga termasuk sahabat yang mengikuti Baiatur Ridwan yang disebutkan oleh Allah, لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ “Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon.” (QS. Al-Fath: 18) Beberapa peperangan bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah pula diikuti oleh ‘Abdurrahman bin ‘Auf. ‘Abdurrahman termasuk orang yang kaya yang rajin bersyukur. Kekayaannya begitu banyak sampai ia tinggalkan ketika meninggal dunia adalah 1000 unta, 3000 kambing, dan 100 kuda. Semuanya digembalangkan di Baqi’, daerah pekuburan saat ini dekat Masjid Nabawi. Beliau memiliki lahan pertanian di Al-Jurf dan ada 20 hewan yang menyiramkan air di lahan tersebut. Artinya, begitu luasnya lahan pertanian yang dimiliki oleh ‘Abdurrahman.   Pelajaran dari Tangisan ‘Abdurrahman bin ‘Auf Apa yang disebutkan dalam hadits menunjukkan bahwa hendaknya kita menghiasi diri kita dengan sifat tawadhu’. ‘Abdurrahman bin ‘Auf menganggap lainnya lebih baik darinya. Ia menganggap Mush’ab bin ‘Umair dan Hamzah itu lebih baik. Itu tanda bahwa beliau adalah orang yang tawadhu’ atau rendah hati. Keadaan dua orang sahabat tersebut menunjukkan bahwa mereka adalah orang yang tidak rakus dan begitu zuhud pada dunia. Lihat saja keadaan ketika mereka meninggal dunia, kain kafan pun kurang. Tidak seperti kita-kita yang begitu rakus dan tak pernah letih mengejar dunia. Padahal kekayaan tidak dibawa mati. Yang menemani kita saat di alam kubur justru adalah amalan kita. Lalu apa yang disedihkan oleh ‘Abdurrahman bin ‘Auf? Ia sedih jika saja balasan untuk amalan shalihnya disegerakan di dunia dengan kekayaan yang ia peroleh saat itu. Itulah yang beliau takutkan. Sedangkan kita saat ini, begitu sombong dengan dunia yang kita miliki dan senang untuk memamerkan. Kita malah tak mungkin menangis seperti ‘Abdurrahman bin ‘Auf karena kekayaan yang kita peroleh. Ibnu Hajar menyatakan, “Hadits ini mengandung pelajaran tentang keutamaan hidup zuhud. Juga ada anjuran bahwa orang yang bagus agamanya hendaknya tidak berlomba-lomba dalam memperbanyak harta karena hal itu akan membuat kebaikannya berkurang. Itulah yang diisyaratkan oleh ‘Abdurrahman bin ‘Auf bahwa beliau khawatir karena kekayaan melimpah yang ia miliki, itulah yang menyebabkan Allah segerakan baginya kebaikan di dunia (sedang di akhirat tidak mendapat apa-apa, pen.).” (Fath Al-Bari, 7: 410) Ada nasihat dari Ibnu Hubairah, “Jika Allah memberikan karunia limpahan harta pada seorang mukmin, dianjurkan baginya untuk mengingat susahnya hidup orang-orang mukmin sebelum dia.” (Al-Ifshah ‘an Ma’ani Ash-Shahah, 1: 301, dinukil dari Kunuz Riyadh Ash-Shalihin, 7: 180).   Referensi: Kunuz Ar-Riyadh Ash-Shalihin. Cetakan pertama, tahun 1430 H. Rais Al-Fariq Al-‘Ilmi: Prof. Dr. Hamad bin Nashir bin ‘Abdurrahman Al-‘Ammar. Penerbit Dar Kunuz Isybiliya. — Selesai disusun di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, Jumat pagi, 1 Safar 1437 H Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom, Telegram @RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsmenangis rezeki
Ada yang menangis karena kaya, yaitu ‘Abdurrahman bin ‘Auf. Cuma karena kekayaannya yang dimiliki, ia menangis. Kenapa bisa?   Menangis Karena Kaya Dari Ibrahim bin ‘Abdurrahman bin ‘Auf, ia bercerita, أَنَّ عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ عَوْفٍ – رضى الله عنه – أُتِىَ بِطَعَامٍ وَكَانَ صَائِمًا فَقَالَ قُتِلَ مُصْعَبُ بْنُ عُمَيْرٍ وَهُوَ خَيْرٌ مِنِّى ، كُفِّنَ فِى بُرْدَةٍ ، إِنْ غُطِّىَ رَأْسُهُ بَدَتْ رِجْلاَهُ ، وَإِنْ غُطِّىَ رِجْلاَهُ بَدَا رَأْسُهُ – وَأُرَاهُ قَالَ – وَقُتِلَ حَمْزَةُ وَهُوَ خَيْرٌ مِنِّى ، ثُمَّ بُسِطَ لَنَا مِنَ الدُّنْيَا مَا بُسِطَ – أَوْ قَالَ أُعْطِينَا مِنَ الدُّنْيَا مَا أُعْطِينَا – وَقَدْ خَشِينَا أَنْ تَكُونَ حَسَنَاتُنَا عُجِّلَتْ لَنَا ، ثُمَّ جَعَلَ يَبْكِى حَتَّى تَرَكَ الطَّعَامَ “Suatu saat pernah dihidangkan makanan kepada ‘Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallahu ‘anhu. Tetapi waktu itu ia sedang berpuasa. ‘Abdurrahman ketika itu berkata, “Mush’ab bin ‘Umair adalah orang yang lebih baik dariku. Ia meninggal dunia dalam keadaan mengenakan selimut yang terbuat dari bulu. Apabila kepalanya ditutup, maka terbukalah kakinya. Jika kakinya ditutup lebih baik dariku. Ketika ia terbunuh di dalam peperangan, kain yang mengafaninya hanyalah sepotong, maka tampaklah kepalanya. Begitu pula Hamzah demikian adanya, ia pun lebih baik dariku. Sedangkan kami diberi kekayaan dunia yang banyak.” Atau ia berkata, “Kami telah diberi kekayaan dunia yang sebanyak-banyaknya. Kami khawatir, jikalau kebaikan kami telas dibalas dengan kekayaan ini.” Kemudian ia terus menangis dan meninggalkan makanan itu.” (HR. Bukhari, no. 1275) Hadits di atas disebutkan dalam Riyadh Ash-Shalihin no. 454 pada judul Bab “Keutamaan Menangis Karena Takut pada Allah Ta’ala dan Rindu pada-Nya”.   Kisah ‘Abdurrahman bin ‘Auf dengan Kekayaannya ‘Abdurrahman bin ‘Auf adalah di antara sepuluh sahabat yang diberi kabar gembira dengan surga. Beliau juga termasuk di antara enam sahabat yang dijadikan oleh Umar untuk khilafah. ‘Abdurrahman juga adalah di antara sahabat yang mengikuti perang Badar yang dikatakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, اعْمَلُوا مَا شِئْتُمْ ، فَقَدْ غَفَرْتُ لَكُمْ “Lakukanlah apa yang kalian mau, Allah benar-benar telah mengampuni kalian.” (HR. Bukhari, no. 3007 dan Muslim, no. 2494) ‘Abdurrahman juga termasuk sahabat yang mengikuti Baiatur Ridwan yang disebutkan oleh Allah, لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ “Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon.” (QS. Al-Fath: 18) Beberapa peperangan bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah pula diikuti oleh ‘Abdurrahman bin ‘Auf. ‘Abdurrahman termasuk orang yang kaya yang rajin bersyukur. Kekayaannya begitu banyak sampai ia tinggalkan ketika meninggal dunia adalah 1000 unta, 3000 kambing, dan 100 kuda. Semuanya digembalangkan di Baqi’, daerah pekuburan saat ini dekat Masjid Nabawi. Beliau memiliki lahan pertanian di Al-Jurf dan ada 20 hewan yang menyiramkan air di lahan tersebut. Artinya, begitu luasnya lahan pertanian yang dimiliki oleh ‘Abdurrahman.   Pelajaran dari Tangisan ‘Abdurrahman bin ‘Auf Apa yang disebutkan dalam hadits menunjukkan bahwa hendaknya kita menghiasi diri kita dengan sifat tawadhu’. ‘Abdurrahman bin ‘Auf menganggap lainnya lebih baik darinya. Ia menganggap Mush’ab bin ‘Umair dan Hamzah itu lebih baik. Itu tanda bahwa beliau adalah orang yang tawadhu’ atau rendah hati. Keadaan dua orang sahabat tersebut menunjukkan bahwa mereka adalah orang yang tidak rakus dan begitu zuhud pada dunia. Lihat saja keadaan ketika mereka meninggal dunia, kain kafan pun kurang. Tidak seperti kita-kita yang begitu rakus dan tak pernah letih mengejar dunia. Padahal kekayaan tidak dibawa mati. Yang menemani kita saat di alam kubur justru adalah amalan kita. Lalu apa yang disedihkan oleh ‘Abdurrahman bin ‘Auf? Ia sedih jika saja balasan untuk amalan shalihnya disegerakan di dunia dengan kekayaan yang ia peroleh saat itu. Itulah yang beliau takutkan. Sedangkan kita saat ini, begitu sombong dengan dunia yang kita miliki dan senang untuk memamerkan. Kita malah tak mungkin menangis seperti ‘Abdurrahman bin ‘Auf karena kekayaan yang kita peroleh. Ibnu Hajar menyatakan, “Hadits ini mengandung pelajaran tentang keutamaan hidup zuhud. Juga ada anjuran bahwa orang yang bagus agamanya hendaknya tidak berlomba-lomba dalam memperbanyak harta karena hal itu akan membuat kebaikannya berkurang. Itulah yang diisyaratkan oleh ‘Abdurrahman bin ‘Auf bahwa beliau khawatir karena kekayaan melimpah yang ia miliki, itulah yang menyebabkan Allah segerakan baginya kebaikan di dunia (sedang di akhirat tidak mendapat apa-apa, pen.).” (Fath Al-Bari, 7: 410) Ada nasihat dari Ibnu Hubairah, “Jika Allah memberikan karunia limpahan harta pada seorang mukmin, dianjurkan baginya untuk mengingat susahnya hidup orang-orang mukmin sebelum dia.” (Al-Ifshah ‘an Ma’ani Ash-Shahah, 1: 301, dinukil dari Kunuz Riyadh Ash-Shalihin, 7: 180).   Referensi: Kunuz Ar-Riyadh Ash-Shalihin. Cetakan pertama, tahun 1430 H. Rais Al-Fariq Al-‘Ilmi: Prof. Dr. Hamad bin Nashir bin ‘Abdurrahman Al-‘Ammar. Penerbit Dar Kunuz Isybiliya. — Selesai disusun di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, Jumat pagi, 1 Safar 1437 H Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom, Telegram @RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsmenangis rezeki


Ada yang menangis karena kaya, yaitu ‘Abdurrahman bin ‘Auf. Cuma karena kekayaannya yang dimiliki, ia menangis. Kenapa bisa?   Menangis Karena Kaya Dari Ibrahim bin ‘Abdurrahman bin ‘Auf, ia bercerita, أَنَّ عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ عَوْفٍ – رضى الله عنه – أُتِىَ بِطَعَامٍ وَكَانَ صَائِمًا فَقَالَ قُتِلَ مُصْعَبُ بْنُ عُمَيْرٍ وَهُوَ خَيْرٌ مِنِّى ، كُفِّنَ فِى بُرْدَةٍ ، إِنْ غُطِّىَ رَأْسُهُ بَدَتْ رِجْلاَهُ ، وَإِنْ غُطِّىَ رِجْلاَهُ بَدَا رَأْسُهُ – وَأُرَاهُ قَالَ – وَقُتِلَ حَمْزَةُ وَهُوَ خَيْرٌ مِنِّى ، ثُمَّ بُسِطَ لَنَا مِنَ الدُّنْيَا مَا بُسِطَ – أَوْ قَالَ أُعْطِينَا مِنَ الدُّنْيَا مَا أُعْطِينَا – وَقَدْ خَشِينَا أَنْ تَكُونَ حَسَنَاتُنَا عُجِّلَتْ لَنَا ، ثُمَّ جَعَلَ يَبْكِى حَتَّى تَرَكَ الطَّعَامَ “Suatu saat pernah dihidangkan makanan kepada ‘Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallahu ‘anhu. Tetapi waktu itu ia sedang berpuasa. ‘Abdurrahman ketika itu berkata, “Mush’ab bin ‘Umair adalah orang yang lebih baik dariku. Ia meninggal dunia dalam keadaan mengenakan selimut yang terbuat dari bulu. Apabila kepalanya ditutup, maka terbukalah kakinya. Jika kakinya ditutup lebih baik dariku. Ketika ia terbunuh di dalam peperangan, kain yang mengafaninya hanyalah sepotong, maka tampaklah kepalanya. Begitu pula Hamzah demikian adanya, ia pun lebih baik dariku. Sedangkan kami diberi kekayaan dunia yang banyak.” Atau ia berkata, “Kami telah diberi kekayaan dunia yang sebanyak-banyaknya. Kami khawatir, jikalau kebaikan kami telas dibalas dengan kekayaan ini.” Kemudian ia terus menangis dan meninggalkan makanan itu.” (HR. Bukhari, no. 1275) Hadits di atas disebutkan dalam Riyadh Ash-Shalihin no. 454 pada judul Bab “Keutamaan Menangis Karena Takut pada Allah Ta’ala dan Rindu pada-Nya”.   Kisah ‘Abdurrahman bin ‘Auf dengan Kekayaannya ‘Abdurrahman bin ‘Auf adalah di antara sepuluh sahabat yang diberi kabar gembira dengan surga. Beliau juga termasuk di antara enam sahabat yang dijadikan oleh Umar untuk khilafah. ‘Abdurrahman juga adalah di antara sahabat yang mengikuti perang Badar yang dikatakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, اعْمَلُوا مَا شِئْتُمْ ، فَقَدْ غَفَرْتُ لَكُمْ “Lakukanlah apa yang kalian mau, Allah benar-benar telah mengampuni kalian.” (HR. Bukhari, no. 3007 dan Muslim, no. 2494) ‘Abdurrahman juga termasuk sahabat yang mengikuti Baiatur Ridwan yang disebutkan oleh Allah, لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ “Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon.” (QS. Al-Fath: 18) Beberapa peperangan bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah pula diikuti oleh ‘Abdurrahman bin ‘Auf. ‘Abdurrahman termasuk orang yang kaya yang rajin bersyukur. Kekayaannya begitu banyak sampai ia tinggalkan ketika meninggal dunia adalah 1000 unta, 3000 kambing, dan 100 kuda. Semuanya digembalangkan di Baqi’, daerah pekuburan saat ini dekat Masjid Nabawi. Beliau memiliki lahan pertanian di Al-Jurf dan ada 20 hewan yang menyiramkan air di lahan tersebut. Artinya, begitu luasnya lahan pertanian yang dimiliki oleh ‘Abdurrahman.   Pelajaran dari Tangisan ‘Abdurrahman bin ‘Auf Apa yang disebutkan dalam hadits menunjukkan bahwa hendaknya kita menghiasi diri kita dengan sifat tawadhu’. ‘Abdurrahman bin ‘Auf menganggap lainnya lebih baik darinya. Ia menganggap Mush’ab bin ‘Umair dan Hamzah itu lebih baik. Itu tanda bahwa beliau adalah orang yang tawadhu’ atau rendah hati. Keadaan dua orang sahabat tersebut menunjukkan bahwa mereka adalah orang yang tidak rakus dan begitu zuhud pada dunia. Lihat saja keadaan ketika mereka meninggal dunia, kain kafan pun kurang. Tidak seperti kita-kita yang begitu rakus dan tak pernah letih mengejar dunia. Padahal kekayaan tidak dibawa mati. Yang menemani kita saat di alam kubur justru adalah amalan kita. Lalu apa yang disedihkan oleh ‘Abdurrahman bin ‘Auf? Ia sedih jika saja balasan untuk amalan shalihnya disegerakan di dunia dengan kekayaan yang ia peroleh saat itu. Itulah yang beliau takutkan. Sedangkan kita saat ini, begitu sombong dengan dunia yang kita miliki dan senang untuk memamerkan. Kita malah tak mungkin menangis seperti ‘Abdurrahman bin ‘Auf karena kekayaan yang kita peroleh. Ibnu Hajar menyatakan, “Hadits ini mengandung pelajaran tentang keutamaan hidup zuhud. Juga ada anjuran bahwa orang yang bagus agamanya hendaknya tidak berlomba-lomba dalam memperbanyak harta karena hal itu akan membuat kebaikannya berkurang. Itulah yang diisyaratkan oleh ‘Abdurrahman bin ‘Auf bahwa beliau khawatir karena kekayaan melimpah yang ia miliki, itulah yang menyebabkan Allah segerakan baginya kebaikan di dunia (sedang di akhirat tidak mendapat apa-apa, pen.).” (Fath Al-Bari, 7: 410) Ada nasihat dari Ibnu Hubairah, “Jika Allah memberikan karunia limpahan harta pada seorang mukmin, dianjurkan baginya untuk mengingat susahnya hidup orang-orang mukmin sebelum dia.” (Al-Ifshah ‘an Ma’ani Ash-Shahah, 1: 301, dinukil dari Kunuz Riyadh Ash-Shalihin, 7: 180).   Referensi: Kunuz Ar-Riyadh Ash-Shalihin. Cetakan pertama, tahun 1430 H. Rais Al-Fariq Al-‘Ilmi: Prof. Dr. Hamad bin Nashir bin ‘Abdurrahman Al-‘Ammar. Penerbit Dar Kunuz Isybiliya. — Selesai disusun di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, Jumat pagi, 1 Safar 1437 H Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom, Telegram @RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsmenangis rezeki

Al-Isti’aadzah (Memohon perlindungan kepada Allah)

(Kutbah Jum’at Mesjid Nabawi 1/2/1437 H – 13/11/2015)Oleh : Asy-Syekh Abdul Muhsin Muhamad Al-QasimKhutbah PertamaSegala puji bagi Allah. Kami memujiNya, memohon pertolonganNya dan memohon ampunanNya. Kami berlindung kepada Allah dari kejahatan diri kami dan keburukan amal perbuatan kami. Barangsiapa yang Allah berikan petunjuk, tidak akan ada yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa yang Allah biarkan sesat, tidak ada orang yang mampu memberinya petunjuk.Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah semata, tiada sekutu bagiNya. Dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah hambaNya dan utusanNya. Shalawat dan salam semoga tercurah sebanyak-banyaknya kepada beliau, beserta seluruh keluarga dan sahabatnya. Selanjutnya. Bertakwalah kepada Allah – Wahai hamba Allah ! – sebaik-baik takwa, berpegang teguhlah dengan agama Allah sekuat-kuatnya. Kaum muslimin  !Allah Ta’ala mensifati diri-Nya dengan sifat-sifat keagungan, keindahan dan kesempurnaan. Nama-namaNya sungguh indah dan sifat-sifatNya tinggi dan mulia; Dia menciptakan dan hebat dalam menciptakan, begitu kokoh dan akurat ciptaanNya. Sebagai bukti kesempurnaan hikmah dan  kekuasaanNya adalah Dia ciptakan segala sesuatu berpasang-pasang; diciptakanNya sesuatu dengan lawan jodohnya, siang dengan malam, pria dengan wanita, kebaikan dengan keburukan.Seorang hamba tidak akan terlepas dari penghambaan kepadaNya dalam kondisi apapun, ia memohon kepadaNya kebaikan dan berlindung kepadaNya dari kejahatan. Firman Allah  :يا أَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَراءُ إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ  [ فاطر / 15 ]( Hai manusia, kamulah yang berkehendak kepada Allah; dan Allah Dialah Yang Maha Kaya [tidak memerlukan sesuatu] lagi Maha Terpuji ) Qs Fathir : 15Dialah Allah Yang dimohon pertolonganNya dalam kesulitan dan ketika bencana melanda. Firman Allah  :أَمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذا دَعاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ  [ النمل / 62 ]( Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan  ) Qs An-Naml : 62Dia-lah yang menimpakan kesengsaraan, dan Dia pula yang menghilangkannya. Firman Allah :وَإِنْ يَمْسَسْكَ اللَّهُ بِضُرٍّ فَلا كاشِفَ لَهُ إِلاَّ هُوَ [ الأنعام / 17 ]( Dan jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang menghilangkannya melainkan Dia sendiri ) Qs Al-An’am : 17Allah memerintahkan para hambaNya menyampaikan permohonan hanya kepadaNya, dan berjanji mengabulkan permohonan mereka. Ini merupakan hak prerogatif Allah yang tidak ada hak bagi siapapun untuk menyampuriNya. Salah satu permohonan/doa kepada Allah adalah berlindung kepadaNya dari apapun yang engkau takuti. Itu merupakan ibadah diantara ibadah-ibadah yang paling agung, karena di dalamnya terkandung pengagungan kepada Allah dan keterikatan hati denganNya serta memurnikanNya dalam berdoa dan pengakuan atas kemiskinan diri kepadaNya. Maka terukur dengan kesungguhan seorang hamba dalam mendekatkan diri kepada Allah, datangnya solusi yang ia butuhkan. Firman Allah dalam Hadis Qudsi :( مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالحَرْبِ، وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ، وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ: كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ، وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ، وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا، وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا، وَإِنْ سَأَلَنِي لَأُعْطِيَنَّهُ، وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِي لَأُعِيذَنَّهُ ) رواه البخاريBarangsiapa yang memusuhi wali-Ku maka Aku umumkan perang kepadanya. Tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai dari pada yang telah Aku wajibkan kepadanya. Dan terus menerus hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan yang sunnah hingga Aku mencintai dia. Jika Aku sudah mencintainya, maka Akulah pendengarannya yang dia mendengar dengannya, dan pandangannya yang dia memandang dengannya, dan tangannya yang dia menyentuh dengannya, dan kakinya yang dia berjalan dengannya. Jikalau dia meminta kepada-Ku niscaya akan Kuberi, dan jika dia meminta perlindungan kepada-Ku niscaya akan Kulindungi.( HR Bukhari)Barangsiapa yang tingkat penghambaannya kepada Allah lebih besar, maka lebih kuat pula permohonannya akan perlindungan Allah dan penyandaraannya kepadaNya. Para Rasul, mereka berlindung kepada Allah dalam kondisi krisis dan kseluitan dan untuk menolak bala’ dan malapetaka. Allah Ta’ala melarang Nabi Nuh a.s. mendoakan untuk anaknya yang kafir kepada Allah. Firman Allah :رَبِّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أَسْأَلَكَ مَا لَيْسَ لِي بِهِ عِلْمٌ [ هود / 47 ]( Nuh berkata: Ya Tuhanku, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari memohon kepada Engkau sesuatu yang aku tiada mengetahui [hakekat]nya. ) Qs Hud : 47Nabi Yusuf a.s. berlindung kepada Allah dari fitnah (pencemaran namanya).  Firman Allah :قالَ مَعاذَ اللَّهِ إِنَّهُ رَبِّي أَحْسَنَ مَثْوايَ  [ يوسف / 23 ]( Yusuf berkata: “Aku berlindung kepada Allah, sungguh tuanku telah memperlakukan aku dengan baik ). Qs Yusuf : 23 Saudara-saudara Nabi Yusuf mengajaknya melakukan penyimpangan dengan menahan salah seorang di antara mereka sebagai pengganti dari saudara Yusuf. Maka ia-pun berdoa :قالَ مَعاذَ اللَّهِ أَنْ نَأْخُذَ إِلاَّ مَنْ وَجَدْنا مَتاعَنا عِنْدَهُ إِنَّا إِذاً لَظالِمُونَ  [ يوسف / 79 ]( Berkata Yusuf: “Aku mohon perlindungan kepada Allah daripada menahan seorang, kecuali orang yang kami ketemukan harta benda kami padanya, jika kami berbuat demikian, maka benar-benarlah kami orang-orang yang zalim). Qs Yusuf : 79Nabi Musa a.s. ketika dituduh oleh kaumnya melakukan pelecehan terhadap mereka dengan modus perintah dan larangan, memohon perlindungan kepada Allah :قَالَ أَعُوذُ بِاللَّهِ أَنْ أَكُونَ مِنَ الْجَاهِلِينَ  [ البقرة / 67 ]) Musa menjawab: “Aku berlindung kepada Allah agar tidak menjadi salah seorang dari orang-orang yang jahil  ) . Qs Al-Baqarah : 67Fir’aun dan kroni-kroninya bersikap arogan terhadap ajakan Musa a.s., maka Musa-pun berdoa :إِنِّي عُذْتُ بِرَبِّي وَرَبِّكُمْ مِنْ كُلِّ مُتَكَبِّرٍ لا يُؤْمِنُ بِيَوْمِ الْحِسابِ [ غافر / 27 ](“Sesungguhnya aku berlindung kepada Tuhanku dan Tuhanmu dari setiap orang yang menyombongkan diri yang tidak beriman kepada hari berhisab”) Qs Ghafir : 27Musa berlindung dari kejahatan Fir’aun dan pasukannya seraya berkata :وَإِنِّي عُذْتُ بِرَبِّي وَرَبِّكُمْ أَنْ تَرْجُمُونِ  [ الدخان / 20 ]( Dan sesungguhnya aku berlindung kepada Tuhanku dan Tuhanmu, dari keinginanmu merajamku ) : Qs Ad-Dukhan : 20Istri Imran ketika melahirkan kandungannya, berdoa :وَإِنِّي أُعِيذُها بِكَ وَذُرِّيَّتَها مِنَ الشَّيْطانِ الرَّجِيمِ  [ آل عمران / 36 ]( Dan aku memohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepada Engkau dari gangguan syaitan yang terkutuk ). Qs Ali Imran : 36Ibnu Jarir – Rahimahullah – berkata : “Maka, Allah Ta’ala mengabulkan permohonan Istri Imran itu dengan melindunginya dan anak cucunya dari godaan setan yang terkutuk sehingga tidak ada jalan bagi setan untuk menggodanya”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :( مَا مِنْ مَوْلُودٍ يُولَدُ إِلَّا نَخَسَهُ الشَّيْطَانُ، فَيَسْتَهِلُّ صَارِخًا مِنْ نَخْسَةِ الشَّيْطَانِ، إِلَّا ابْنَ مَرْيَمَ وَأُمَّه )(Tidak ada bayi yang dilahirkan kecuali setan pasti menyentuhnya [ketika dia lahir], maka bayi tersebut menjerit karena sentuhan setan, kecuali Maryam dan putranya).Maryam a.s. ketika kedatangan malaikat untuk meniupkan roh padanya, ia mengira malaikat itu sosok manusia yang punya maksud jahat terhadap dirinya, maka iapun berlindung kepada Allah :إِنِّي أَعُوذُ بِالرَّحْمَنِ مِنْكَ إِنْ كُنْتَ تَقِيّاً  [ مريم / 18 ]( Maryam berkata: “Sesungguhnya aku berlindung dari padamu kepada Tuhan Yang Maha pemurah, jika kamu seorang yang bertakwa ) Qs Maryam : 18Ketika rahim ( ikatan kekerabatan ) Allah ciptakan, ia pun berlindung kepada Allah dari pemutusan ikatannya seraya berkata :هَذَا مَقَامُ العَائِذِ بِكَ مِنَ القَطِيعَةِ( Di sinilah posisi orang yang berlindung kepadaMu dari pemutusan tali kekerabatan ). Artinya, alasanku memohon perlindungan kepadamu adalah kakhawatiranku dari perbuatan seseorang yang memutuskan aku sehingga dia terkena murkaMu dan kemarahanMu.Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri selalu berlindung kepada Tuhannya sepenuh hati dalam segala situasi; beliau berlindung kepada Allah di waktu pagi dan di waktu petang hari, ketika dalam perjalanan atau sedang di rumah, dalam situasi perang ataupun damai, ketika hendak berbaring tidur atau bangun dari tidur, ketika masuk kamar kecil, dan dalam shalat beliau perbanyak baca doa perlindungan, dalam sholat malam beliau ketika baca ayat tentang azab neraka beliau mohon perlindungan, ketika sedang bersujud dan duduk beliau berlindung, ketika melihat sesuatu yang tidak menyenangkan beliau bersandar dan berlindung kepada Allah, beliau tidak biarkan ada kejahatan apapun kecuali beliau berlindung kepada Allah Ta’ala dari keburukannya.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berlindung kepada Allah Ta’ala dari hal-hal yang bertentangan dengan keimanan dan yang dapat menguranginya. Doa beliau :وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الْفَقْرِ وَالْكُفْرِ، وَالشِّرْكِ وَالنِّفَاقِ، وَالسُّمْعَةِ وَالرِّيَاءِ( Aku berlindung kepadaMu dari kemiskinan dan kekafiran, dari kemusyrikan dan kemunafikan, dari rasa ingin didengar orang dan memamerkan diri ) HR Ibnu Hibban.Doa perlindungan itu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ajarkan kepada sahabat-sahabatnya dan mendorong mereka memohon perlindungan. Beliau membacakan doa memohon perlindungan untuk anak-anak kecil seperti Hasan dan Husen r.a. seraya berkata :إِنَّ أَبَاكُمَا كَانَ يُعَوِّذُ بِهَا إِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ: أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّةِ، مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ، وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لاَمَّةٍ(Sesungguhnya Leluhur kalian (yaitu Ibrahim a.s) mendoakan perlindungan untuk Ismail dan Ishak dengan doa ini;  Aku berlindung dengan kalimat Allah yang sempurna, dari kejahatan setan dan ular/hewan beracun, serta dari kejahatan mata yang membawa musibah). HR BukhariBeliau shallallahu ‘alaihi wasallam menanamkan di dalam jiwa pentingnya doa perlindungan kepada Allah Ta’ala, beliau katakan :مَنِ اسْتَعَاذَ بِاللَّهِ فَأَعِيذُوهُ( Barangsiapa yang berlindung kepada Allah, maka lindungilah dia ) HR Abu DawudKebijakan Allah telah menentukan bahwa setiap muslim itu ada musuhnya dari setan-setan dalam sosok manusia dan jin :وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الْإِنْسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًا [ الأنعام / 112 ](Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan [dari jenis] manusia dan [dan jenis] jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu.). Qs Al-An’am : 112Setan adalah musuh yang nyata bagi manusia, syaitan merupakan asas dari segala kejahatan dan malapetaka. Setan berusaha dengan segala cara untuk mencelakakan dan menyengsarakan manusia. Tidak ada keselamatan dari kejahatan syaitan dan para prajuritnya kecuali dengan mohon perlindungan kepada Allah Ta’ala. Barangsiapa yang berpegang teguh kepada Allah dan memurnikan niat karenaNya serta bertawakal kepadaNya, maka setan tidak akan mampu menggelincirkan dan menyesatkannya. Firman Allah :إِنَّهُ لَيْسَ لَهُ سُلْطانٌ عَلَى الَّذِينَ آمَنُوا وَعَلى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ  [ النحل / 99 ]( Sesungguhnya syaitan itu tidak ada kekuasaannya atas orang-orang yang beriman dan bertawakkal kepada Tuhannya ) Qs An-Nahl : 99Seorang muslim diperintahkan selalu memohon perlindungan dari bisikan-bisikan setan. Allah berfirman :وَقُلْ رَبِّ أَعُوذُ بِكَ مِنْ هَمَزاتِ الشَّياطِينِ  [ المؤمنون / 97 ]( Dan katakanlah: “Ya Tuhanku aku berlindung kepada Engkau dari bisikan-bisikan setan ) Qs Al-Mukminun : 97Allah perintahkan manusia berpegang pada prinsip-prinsip keindahan agama dan memikat hati manusia kepada islam dengan cara memaafkan kesalahan, mengajak kepada yang makruf dan berpaling dari kebodohan, sementara setan berupaya menghalanginya, dan tidak ada jalan keluar kecuali dengan memohon perlindungan dari godaan setan. Firman Allah :خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ , وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ   ، وَإِمَّا يَنْزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ إِنَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ  [ الأعراف / 199 ](Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma´ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh, Dan jika kamu ditimpa sesuatu godaan setan maka berlindunglah kepada Allah. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar dan Maha Mengetahui ). Qs Al-A’raf : 199Setan merintagi antara hamba dan ketaatannya kepada Tuhannya. Semakin besar nilai amal ibadah bagi seorang hamba dan semakin dicintai oleh Allah, maka semakin dahsyat pula rintangan setan kepadanya. Maka ketika seseorang sedang shalat, setan mengganggunya. Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam :ذَاكَ شَيْطَانٌ يُقَالُ لَهُ خَنْزَبٌ، فَإِذَا أَحْسَسْتَهُ فَتَعَوَّذْ بِاللهِ مِنْهُ، وَاتْفِلْ عَلَى يَسَارِكَ ثَلَاثًا( Itu adalah setan yang bernama Khonzab, jika kamu merasakan gangguannya maka berlindunglah kepada Allah dari gangguannya dan meludahlah ke samping kiri tiga kali ) HR MuslimKetika hendak membaca Al-Qur’an, seseorang diperintahkan berlindung kepada Allah dari gangguan setan :فَإِذا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطانِ الرَّجِيمِ   [ النحل / 98 ]( Apabila kamu membaca Al Quran hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk ) Qs An-Nahl : 98Tempat-tempat buang hajat banyak setan berkeliaran di dalamnya, maka untuk menghindarkan diri dari gangguan mereka adalah dengan memohon perlindungan kepada Allah. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan :اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْخُبْثِ وَالْخَبَائِثِ( Ya Allah ! sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari segala kejahatan dan para syaitan ) Muttafaq Alaihi.Di waktu pagi dan petang, kitapun memohon perlindungan kepada Allah dari gangguan setan.Abu Bakar r.a. berkata :يَا رَسُولَ اللَّهِ مُرْنِي  بِكَلِمَاتٍ أَقُولُهُنَّ إِذَا أَصْبَحْت، وَإِذَا أَمْسَيْت، قَالَ: ” قُلْ: اللَّهُمَّ فَاطِرَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ، عَالِمَ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ، رَبَّ كُلِّ شَيْءٍ وَمَلِيكَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ نَفْسِي، وَشَرِّ الشَّيْطَانِ وَشِرْكِهِ «قَالَ» قُلْهَا إِذَا أَصْبَحْتَ، وَإِذَا أَمْسَيْتَ، وَإِذَا أَخَذْتَ مَضْجَعَكَ“Ya Rasulullah, perintahkan kepadaku untuk mengucapkan kalimat-kalimat yang akan aku ucapkan setiap pagi dan petang hari”. Rasulullah bersabda: “Katakanlah”: (“Ya, Allah Pencipta langit dan bumi, Yang Maha Mengetahui yang ghaib dan yang tampak, Pemelihara segala sesuatu dan Rajanya, aku bersaksi tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Engkau, aku berlindung dari keburukan diriku dan kejahatan setan bersama sekutunya. Beliau berkata : “Ucapkanlah [do’a ini] ketika pagi dan sore hari, dan ketika engkau hendak tidur”). HR Abu DawudSetan mengganggu manusia sampai-pun dalam tidurnya. Maka barangsiapa yang bermimpi buruk dalam tidurnya, hendaklah ia berlindung kepada Allah dari godaan setan. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :( إِذَا رَأَى أَحَدُكُمُ الرُّؤْيَا يَكْرَهُهَا، فَلْيَبْصُقْ عَنْ يَسَارِهِ ثَلَاثًا وَلْيَسْتَعِذْ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ ثَلَاثًا، وَلْيَتَحَوَّلْ عَنْ جَنْبِهِ الَّذِي كَانَ عَلَيْهِ  ) رواه مسلم(Jika salah seorang di antara kalian mengalami mimpi buruk, hendaklah meludah kesebelah kiri tiga kali, dan memohon perlindungan kepada Allah dari godaan setan tiga kali, kemudian mengubah posisi tidurnya dari posisi semula ) HR. MuslimKemarahan adalah kendaraan setan, ia merupakan bara api dalam hati yang mendorong seseorang berbuat maksiat dan dosa. Untuk meredam kemarahan, seseorang berlindung kepada Allah.Sulaiman Bin Shurod berkata :كُنْتُ جَالِسًا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَرَجُلاَنِ يَسْتَبَّانِ، فَأَحَدُهُمَا احْمَرَّ وَجْهُهُ، وَانْتَفَخَتْ أَوْدَاجُهُ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” إِنِّي لَأَعْلَمُ كَلِمَةً لَوْ قَالَهَا ذَهَبَ عَنْهُ مَا يَجِدُ، لَوْ قَالَ: أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ، ذَهَبَ عَنْهُ مَا يَجِدُ “(Pada suatu hari aku duduk bersama-sama Nabi SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM sedang dua orang lelaki sedang bermaki-makian di antara satu sama lain. Salah seorang daripadanya telah merah mukanya dan tegang pula urat lehernya. Lalu Rasulullah SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM bersabda”, “Sesungguhnya aku tahu satu perkataan sekiranya dibaca tentu hilang rasa marahnya. Jika sekiranya dia baca “Auzubillahi minas-Syaitanirrajim” niscaya hilang kemarahan yang dialaminya”) HR BukhariSetan tidak henti-hentinya menjerumuskan anak Adam, sejak pertama kali seorang suami menggauli istrinya. Maka dengan permohonan perlindungan kepada Allah, bahayanya dapat ditangkis.Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :لَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا أَتَى أَهْلَهُ قَالَ: “بِاسْمِ اللَّهِ، اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ، وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا”، فَإِنَّهُ إِنْ يُقَدَّرْ بَيْنَهُمَا وَلَدٌ فِي ذَلِكَ لَمْ يَضُرَّهُ شَيْطَانٌ أَبَدًا( Apabila seseorang hendak menggauli istrinya lalu berdoa : Dengan nama Allah, jauhkanlah kami dari setan dan jauhkanlah dari setan apa yang akan engkau rezekikan kepada kami, sesungguhnya jikalau hubungan mereka ditakdirkan membuahkan anak, tidak akan terkena bahaya setan selamanya).Muttafaq Alaih.Sampai binatang himar (keledai) pun bersuara meringkik ketika melihat setan. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :( إِذَا سَمِعْتُمْ نَهِيقَ الحِمَارِ فَتَعَوَّذُوا بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ، فَإِنَّهُ رَأَى شَيْطَانًا ) متفق عليه(Apabila kamu mendengar keledai meringkik, mohonlah perlindungan kepada Allah, sesungguhnya ia sedang melihat setan) . Muttafaq AlaihTujuan utama setan adalah menjerumuskan dan menyesatkan anak cucu Adam. Firman Allah :قالَ فَبِعِزَّتِكَ لَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ    [ ص / 82 ]( Iblis berkata: “Demi kekuasaan Engkau aku akan menyesatkan mereka semuanya ) Qs Shad : 82Setan akan tetap menggoda manusia dalam masalah pokok-pokok keimanan. Tidak ada keselamatan dari godaannya kecuali atas pertolongan Allah. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :( يَأْتِي الشَّيْطَانُ أَحَدَكُمْ فَيَقُولُ: مَنْ خَلَقَ كَذَا، مَنْ خَلَقَ كَذَا، حَتَّى يَقُولَ: مَنْ خَلَقَ رَبَّكَ؟ فَإِذَا بَلَغَهُ فَلْيَسْتَعِذْ بِاللَّهِ وَلْيَنْتَهِ )  رواه البخاري( Setan mendatangi salah seorang dari kalian, lalu bertanya,’Siapakah yang menciptakan ini? Siapakah yang menciptakan itu?’ hingga dia bertanya,’Siapakah yang menciptakan Rabb-mu?’ Oleh karena itu, jika telah sampai di situ, maka hendaklah dia berlindung kepada Allah dan hendaklah dia menghentikan was-was situ). HR BukhariMenyekutukan Allah merupakan puncak kesesatan. Para Imam tauhid khawatir atas diri mereka terhadap kemusyrikan ini. Nabi Ibrahim a.s. berdoa :وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ الْأَصْنامَ  [إبراهيم / 35 ]( Dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala ) Qs Ibrahim : 35Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :اللهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْكُفْرِ، وَالْفَقْرِ، وَعَذَابِ الْقَبْرِ( Ya Allah ! Aku berlindung kepadaMu dari kekafiran, dari kemiskinan dan dari siksa kubur ) HR Ahmad.Hati para hamba berada di antara dua jari dari pada jari-jari Allah Yang Maha Pemurah, Dia membolak-balikkan sebagaimana kehendakNya, maka Allah beri petunjuk seseorang setelah tersesat, dan menyesatkannya setelah berada dalam petunjuk. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :أَعُوذُ بِعِزَّتِكَ، لَا إِلَهَ إِلا أَنْتَ، أَنْ تُضِلَّنِي( Aku berlindung kepada kemuliaanMu, tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau, dari kesesatan yang Engkau timpakan kepadaku ) HR MuslimDan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam juga berlindung dari perpindahan dari sebelumnya beribadah menjadi bermaksiat.Kehidupan manusia diliputi kejahatan. Jalan yang ideal untuk memagari diri dari bahayanya adalah memohon perlindungan kepada Allah. Sebab, Allah adalah pencipta makhluk, maka hanya Dia-lah yang dapat menolak kejahatan mereka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika hendak membaringkan tubuhnya di tempat tidur selalu berdoa :أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ كُلِّ شَيْءٍ أَنْتَ آخِذٌ بِنَاصِيَتِهِ( Aku berlindung kepada Allah dari kejahatan segala sesuatu yang mana Engkaulah yang memegang ubun-ubunnya ) HR MuslimNafsu manusia sangatlah mendorong kepada keburukan, karena memang berwatak keburukan. Orang yang beruntung ialah orang yang mengarahkan nafsunya kepada ketaatan dan selalu berlindung dari kejahatannya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berdoa :اللهُمَّ أَسْتَهْدِيكَ لِأَرْشَدِ أَمْرِي، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ نَفْسِي( Ya Allah, aku memohon petunjuk kepadaMu untuk selurus-lurus urusanku, dan aku berlindung kepadaMu dari kejahatan nafsuku ). HR AhmadIbnul-Qayim – Rahimahullah – berkata :“ Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memohon perlindungan kepada Allah dari kejahatan nafsu secara umum dan dari kejahatan perbuatan yang dihasilkannya serta dampak perkara yang buruk dan tercela  yang ditimbulkannya”.Maka, merupakan sunnah adalah berlindung dari kejahatan nafsu setiap memulai pidato,وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا“Kami berlindung kepada Allah dari kejahatan diri kami dan keburukan amal perbuatan kami”. HR TurmuziPermohonan ini mencakup perlindungan dari akar kejahatan, cabang-cabangnya, sasarannya dan konsekuensi logisnya.Kemiskinan dan kekayaan adalah kendaraan kebaikan atau keburukan. Kebahagiaan seseorang terletak pada konsistensi dalam ketakwaannya meskipun kendaraannya berbeda. Maka barangsiapa yang memohon perlindungan kepada Allah dari keburukan keduanya, akan dicukupi dan dilindungi oleh Allah.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam doanya :اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ النَّارِ، وَعَذَابِ النَّارِ، وَمِنْ شَرِّ الْغِنَى وَالْفَقْرِ( Ya Allah, aku berlindung kepadaMu dari fitnah neraka, dari siksa neraka dan dari kejahatan kekayaan dan kemiskinan ). HR Abu Dawud Organ-organ tubuh manusia itu diliputi nafsu syahwat, maka yang terbaik adalah memfungsikannya untuk ketaatan dan menghindarkannya dari keburukan, dengan disertai terus menerus memohon perlindungan kepada Allah dari dampaknya yang membahayakan.Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan kepada salah seorang sahabat suatu doa :اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ سَمْعِي، وَمِنْ شَرِّ بَصَرِي، وَمِنْ شَرِّ لِسَانِي، وَمِنْ شَرِّ قَلْبِي، وَمِنْ شَرِّ مَنِيِّي يَعْنِي فَرْجَهُ( Ya Allah, aku berlindung kepadaMu dari kejahatan pendengaranku, kejahatan pengelihatanku, kejahatan lidahku, kejahatan hatiku dan kejahatan fajiku ). HR TurmuziAmal kebajikan semua positif, sedangkan perbuatan maksiat semua negatif. Maka hendaklah Anda selalu melakukan ketaatan dan memohon kepada Allah terkabulnya amal Anda dan tetap konsisten melakukannya. Jauhilah maksiat dan mohonlah perlindungan kepada Allah dari bahaya maksiat.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam selalu memohon perlindungan :أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ( Aku berlindung kepadaMu dari kejahatan apa yang aku perbuat ). Muttafaq Alaih.Barangsiapa yang menempati sebuah tempat tinggal lalu memohon perlindungan dalam doanya :أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ، فَإِنَّهُ لَا يَضُرُّهُ شَيْءٌ حَتَّى يَرْتَحِلَ مِنْهُ( Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan apa yang Dia ciptakan, maka tidak akan membahayakan suatu apapun hingga ia meninggalkan tempat itu ). HR MuslimDan al-Mu’awwidzataani (yaitu surat al-Falaq dan An-Naas) termasuk permohonan perlindungan yang paling kompleks dan paling bermanfaat. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada ‘Uqbah bin ‘Amir r.a.أَلاَ أُخْبِرُكَ بِأَفْضَلِ مَا تَعَوَّذَ بِهِ الْمُتَعَوِّذُوْنَ؟“Maukah aku kabarkan kepadamu tentang permohonan perlindungan yang terbaik yang dimohon oleh para pemohon perlindungan?”قُلْ أَعُوْذُ بِرَبِّ الْفَلَكِ“Katakanlah : Aku berlindung kepada Tuhan Yang menguasai subuh” (QS Al-Falak : 1)قُلْ أَعُوْذُ بِرَبِّ النَّاسِ“Katakanlah ; Aku berlindung kepada Tuhan Penguasa manusia” (QS An-Naas : 1) (HR Ahmad)Dan kebutuhan hamba kepada isti’aadzah (memohon perlindungan kepada Allah) dengan kedua surat ini lebih besar daripada kebutuhannya kepada nafas, makanan, dan minuman. Dan dua surat ini ampuh untuk menolak sihir dan al-‘ain serta seluruh keburukan, demikian juga menghilangkannya jika telah terlanjur terkena.Terkadang keburukan menimpa sang hamba dari arah yang tidak ia sangka. Ada angin yang mendatangkan rahmat, dan ada angin yang merupakan adzab, dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, jika bertiup angin kencang maka beliau berdoa :«اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ خَيْرَهَا، وَخَيْرَ مَا فِيْهَا، وَخَيْرَ مَا أُرْسِلَتْ بِهِ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا، وَشَرِّ مَا فِيْهَا، وَشَرِّ مَا أُرْسِلَتْ بِهِ»“Ya Allah aku memohon kepadaMu kebaikan angin ini, dan kebaikan yang ada padanya serta kebaikan yang dikirimkan dengannya. Dan aku berlindung kepadaMu dari keburukannya, dan keburukan yang ada padanya serta keburukan yang dikirim dengannya” (HR Muslim)Dan Allah telah mengadzab beberapa kaum dengan awan, dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam jika melihat awan datang beliau berdoa:اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا أُرْسِلَ بِهِ“Ya Allah kami berlindung kepadaMu dari keburukan yang dikirim dengan awan ini” (HR Muslim)          Barang siapa yang memiliki baju baru maka hendaknya ia memuji Allah dan memohon kepada Allah kebaikan dari baju tersebut dan berlindung dari keburukannya. Beliau berdoa ;اللَّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ كَسَوْتَنِيْهِ، أَسْأَلُكَ خَيْرَهُ وَخَيْرَ مَا صُنِعَ لَهُ وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّهِ وَشَرِّ مَا صُنِعَ لَهُ“Ya Allah segala puji hanya bagiMu, Engkau telah memakaikan aku baju ini, aku memohon kepadaMu kebaikannya, dan kebaikanya yang dibuat padanya, dan aku berlindung kepadaMu dari keburukannya dan keburukan yang dibuat padanya” (HR At-Tirmidzi)          Dan kehidupan tidak tetap pada satu kondisi, dan barangsiapa yang melihat ada perubahan dalam kehidupan dengan hilangnya kenikmatan maka hendaknya ia memohon perlindungan kepada Allah dari hal tersebut. Dan diantara doa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam :اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ“Ya Allah aku memohon kepadaMu dari hilangnya karuniaMu” (HR Muslim)Dan Allah lah yang melindungi dari sulitnya kehidupan, terkena kesengsaraan, dan takdir yang buruk.Dan jika tubuh terkena penyakit maka kesembuhannya ada di sisi Allah, maka hendaknya memohon perlindungan kepadanya dari keburukannya, maka dari Allahlah kebaikan dan kesembuhan.Utsman bin Abi al-‘Aash r.a mengeluhkan sakitnya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, yaitu rasa sakit yang ia derita di tubuhnya. Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepadanya :“Letakkanlah tanganmu ke bagian yang sakit dari tubuhmu, dan ucapkanlah “Bismillah” sebanyak 3 kali, dan ucapkanlah sebanyak 7 kali :أَعُوذُ بِاللهِ وَقُدْرَتِهِ مِنْ شَرِّ مَا أَجِدُ وَأُحَاذِرُ“Aku berlindung kepada Allah dan kekusaanNya dari keburukan yang aku dapati sekarang, dan keburukan yang aku khawatirkan datang kemudian”  (HR Muslim)Dan kondisi-kondisi yang berat akan menjadi ringan dengan mengikatkan hati kepada Allah. Dan safar merupakan salah satu potongan adzab (kesulitan), maka hendaknya seorang musafir  berlindung kepada Allah dari وَعْثَاءِ السَّفَرِ (kesulitan dan beratnya safar) dan كَآبَةِ الْمَنْظَرِ (pemandangan yang mendatangkan kesedihan) dan سُوْءِ الْمُنْقَلَبِ فِي الْمَالِ وَالأَهْلِ (buruknya kondisi harta dan keluarga yang ditinggalkan) (HR Muslim).Rasa aman dari bahaya musuh dan ejekan mereka diperoleh dengan berlindung kepada Allah dari mereka. Berjidalnya orang-orang kafir yang sombong terhadap ayat-ayat Allah menimbulkan makar mereka dan rencana jahat mereka, dan keselamatan dari ini semua adalah dengan berlindung kepada Allah.إِنَّ الَّذِينَ يُجَادِلُونَ فِي آيَاتِ اللَّهِ بِغَيْرِ سُلْطَانٍ أَتَاهُمْ إِنْ فِي صُدُورِهِمْ إِلَّا كِبْرٌ مَا هُمْ بِبَالِغِيهِ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُSesungguhnya orang-orang yang memperdebatkan tentang ayat-ayat Allah tanpa alasan yang sampai kepada mereka tidak ada dalam dada mereka melainkan hanyalah (keinginan akan) kebesaran yang mereka sekali-kali tiada akan mencapainya, maka mintalah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat (QS Ghofir : 56)Allah menyukai akhlak yang terbaik dan amal yang terbaik, dan membenci amal dan akhlak yang buruk. Dan seorang muslim melakukan yang baik dan menjauhkan dirinya dari yang buruk serta berlindung kepada Allah dari keburukan akhlak dan amal. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam berdoa :اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوْذُ بِكَ مِنْ مُنْكَرَاتِ الأَخْلاَقِ وَالأَعْمَالِ وَالأَهْوَاءِ“Ya Allah sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari akhlak yang munkar (buruk) dan amal yang buruk serta hafwa nafsu” (HR At-Tirmidzi)Dan beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam berlindung kepada Allahمِنْ عِلْمٍ لا يَنْفَعُ، وَمِنْ قَلْبٍ لا يَخْشَعُ، وَمِنْ نَفْسٍ لا تَشْبَعُ، وَمِنْ دَعْوَةٍ لا يُسْتَجَابُ لَهَا“dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyu’, dan jiwa yang tidak pernah puas, dan dari doa yang tidak dikabulkan” (HR Muslim)          Seorang mengetahui rahasia-rahasia tetangganya, dan sebaik-baik tetangga adalah yang menutupi rahasia tetangganya. Tetangga yang buruk adalah yang membongkar aib dan membuka sitar. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :تعوذوا بِاللَّه من جَار السوء فِي دَار الْمقَام فَإِن الْجَار البادي يتَحَوَّل عَنْكَ“Berlindunglah kalian kepada Allah dari tetangga yang buruk di kota tempat tinggal, karena tetangga badui berpindah meninggalkanmu (ke daerah lain)” (HR An-Nasaai).          Islam adalah agama senang dan gembira dan melarang dari kesedihan dan gundah gulana karena hal itu akan melemahkan seorang hamba dari meraih kebaikan agamanya dan dari membangun kehidupannya. Diantara doa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam:اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ“Ya Allah sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari gundah gulana (kekawatiran) dan kesedihan” (HR Al-Bukhari dan Muslim)Dan fitnah menerpa hati sebagaimana tenunan tikar, tenunan demi tenunan dan tidak ada keselamatan kecuali dengan berlindung kepada Allah darinya. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada para sahabat :تَعَوَّذُوا بِاللهِ مِنَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ“Berlindunglah kalian kepada Allah dari fitnah, yang nampak maupun yang tersembunyi” (HR Muslim)Ibnu Hajar rahimahullah berkata : “Pada hadits ini ada dalil akan dianjurkannya berlindung kepada Allah dari fitnah meskipun seseorang memandang bahwa dirinya berpegang teguh dengan kebenaran dalam menghadapi fitnah, karena fitnah tersebut bisa saja menyebabkan terjadinya perkara yang ia tidak menyangka akan terjadinya”Dan fitnah itu banyak dengan berbagai macam model dan bentuknya. Diantara fitnah yang terbesar adalah fitnah kehidupan dan fitnah kematian serta fitnah Dajjal. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam berlindung dari fitnah ini semua sebelum beliau salam dari sholatnya. Beliau juga berlindung :مِنْ فِتْنَةِ الْغِنَى وَفِتْنَةِ الْفَقْرِ“dari fitnah kekayaan dan fitnah kemiskinan” (HR Al-Bukhari dan Muslim)          Dunia adalah fitnah, tidak ada yang bisa menyelamatkan dari fitnahnya kecuali Allah. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam berdoa :وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الدُّنْيَا“Dan aku berlindung dari fitnah dunia” (HR Al-Bukhari)Dan kezoliman merupakan sebab kebinasaan, dan doanya orang yang terzolimi tidak tertolak. Dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam telah berlindung dari buruknya doa orang yang terzolimi. Jika beliau bersafar beliau berlindung dari doanya orang yang terzolimi (HR Muslim).          Barangsiapa yang mengenal Allah maka ia akan mencintaiNya dan takut akan siksaanNya. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam berdoa dalam sujudnya :اللَّهُمَّ، أَعُوذُ بِرِضَاكَ مِنْ سَخَطِكَ، وَبِمُعَافَاتِكَ مِنْ عُقوبَتِكَ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْكَ، لا أُحْصِى ثَنَاءً عَلَيْكَ، أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ“Ya Allah aku berlindung dengan keridoanMu dari kemarahanMu, dengan penyelamatanMu dari hukumanMu, dan aku berlindung denganMu dariMu, aku tidak mampu untuk menyanjungMu, sesungguhnya hakikatMu adalah sebagaimana Engkau memuji diriMu” (HR Muslim).Seorang mukmin berjalan menuju Allah dengan khouf (rasa takut), rojaa’ (penuh berharap), dan mahabbah (kecintaan). Diantara tanda orang-orang yang takut kepada Allah adalah ia sering berlindung dari adzab Allah, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :إِذَا تَشَهَّدَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْتَعِذْ بِاللهِ مِنْ أَرْبَعٍ، يَقُولُ: اللهُمَّ، إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ، وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ، وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ“Jika salah seorang dari kalian bertasyahhud maka hendaklah ia memohon perlindungan dari 4 perkara, ia berkata ; Ya Allah aku berlindung kepadaMu dari adzab neraka Jahannam, dari adzab kubur, dari fitnah kehidupan dan kematian, dan keburukan fitnahnya Dajjal” (HR Muslim)‘Auf bin Malik r.a berkata :قُمْت مَعَ رسول الله فَاسْتَفْتَحَ من الْبَقَرَةَ لَا يَمُرُّ بِآيَةِ رَحْمَةٍ إلَّا وَقَفَ فوسَأَلَ، وَلَا يَمُرُّ بِآيَةِ عَذَابٍ إلَّا وَقَفَ وتَعَوَّذَ“Aku sholat bersama Rasulullah, maka beliau memulai sholatnya dengan membaca dari surat al-Baqoroh, tidaklah beliau melewati ayat rahmat kecuali beliau berhenti dan memohon, dan tidaklah beliau melewati ayat adzab kecuali beliau berhenti dan berlindung kepada Allah” (HR An-Nasaai)Beliau berlindung dari kondisi penghuni neraka, beliau berdoa :تَعَوَّذُوا بِاللهِ مِنْ عَذَابِ النَّارِ“Berlindunglah kalian kepada Allah dari adzab neraka” (HR Muslim).Barangsiapa yang meminta perlindungan kepada Allah dari neraka sebanyak 7 kali maka Allah akan melindunginya dari neraka.          Dan selanjutnya kaum muslimin sekalian, sesungguhnya tempat memohon perlindungan hanyalah Allah semata, tiada Pencipta selainNya, tiada yang disembah selainNya, tiada temapat bersandar, dan tiada tempat keselamatan dariNya kecuali kepadaNya. Barangsiapa yang bergantung kepada Allah dan mecurahkan hajatnya kepada Allah maka Allah akan mencukupkannya dan menjaganya, dan Allah akan mendekatkan baginya seluruh yang jauh dan memudahkan baginya seluruh yang sulit. Maka hendaknya seorang muslim menggantungkan hatinya kepada Allah dan berlindung kepadaNya, dan janganlah ia bosan dari memperbanyak memohon perlindungan, dengan isti’adzah (memohon perlindungan kepada Allah) maka ia telah beribadah kepada Rabnya dan menjaga dirinya, dan dengannya ia meraih kebahagiaan dan kemuliaannya.Aku berlindung kepada Allah dari syaitan yang terkutukفَفِرُّوا إِلَى اللَّهِ إِنِّي لَكُمْ مِنْهُ نَذِيرٌ مُبِينٌ (50) وَلَا تَجْعَلُوا مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ إِنِّي لَكُمْ مِنْهُ نَذِيرٌ مُبِينٌMaka segeralah kembali kepada (mentaati) Allah. Sesungguhnya aku seorang pemberi peringatan yang nyata dari Allah untukmu.  Dan janganlah kamu mengadakan tuhan yang lain disamping Allah. Sesungguhnya aku seorang pemberi peringatan yang nyata dari Allah untukmu (QS Adz-Dzaariyaat : 50-51)Semoga Allah memberikan keberkahan kepadaku dan kepada kalian dalam al-Qur’an yang agung… Khutbah KeduaSegala puji bagi Allah atas kebaikanNya, dan syukur terpanjatkan kepadaNya atas bimbingan dan karuniaNya, dan aku bersaksi bahwasanya tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah semata tiada sekutu bagiNya sebagai bentuk pengagungannya terhadap kedudukanNya, dan aku bersaksi bahwasanya Nabi kita Muhammad adalah hamba dan rasulNya, semoga shalawat dan salam yang banyak tercurahkan kepadanya  dan kepada para sahabatnya. Kaum muslimin sekalian, barangsiapa yang bergantung kepada selain Allah dan memohon perlindungan kepadanya, bersandar kepadanya, maka Allah akan menyerahkan dirinya kepada tempat ia bergantung, dan ia akan ditinggalkan (tidak ditolong) dari arah yang ia bergantung kepadanya, serta ia akan gagal mencapi tujuannya yang ia harapkan dari Allah, karena ia bergantung kepada selain Allah dan mencari selain Allah. Maka ia gagal mencapai apa yang ia cari dari Allah, dan apa yang ia harapkan dari tempat ia bergantung juga gagal. Allah berfirman :وَاتَّخَذُوا مِنْ دُونِ اللَّهِ آلِهَةً لَعَلَّهُمْ يُنْصَرُونَ (74) لَا يَسْتَطِيعُونَ نَصْرَهُمْ وَهُمْ لَهُمْ جُنْدٌ مُحْضَرُونَMereka mengambil sembahan-sembahan selain Allah, agar mereka mendapat pertolongan. Berhala-berhala itu tiada dapat menolong mereka; padahal berhala-berhala itu menjadi tentara yang disiapkan untuk menjaga mereka (QS Yaasiin : 74-75)Allah berfirman :وَاتَّخَذُوا مِنْ دُونِ اللَّهِ آلِهَةً لِيَكُونُوا لَهُمْ عِزًّا (81) كَلَّا سَيَكْفُرُونَ بِعِبَادَتِهِمْ وَيَكُونُونَ عَلَيْهِمْ ضِدًّاDan mereka telah mengambil sembahan-sembahan selain Allah, agar sembahan-sembahan itu menjadi pelindung bagi mereka. Sekali-kali tidak. Kelak mereka (sembahan-sembahan) itu akan mengingkari penyembahan (pengikut-pengikutnya) terhadapnya, dan mereka (sembahan-sembahan) itu akan menjadi musuh bagi mereka (QS Maryam : 81-82)Barangsiapa yang berlindung kepada jin dan meminta pertolongan para penyihir maka ia tidak akan mewujudkan dari mereka tujuannya. Dan mereka tidak akan menambah baginya melainkan keburukan, ketakutan, kekawatiran, kepanikan, dan kebingungan. Allah Ta’ala berfirman :وَأَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِنَ الْإِنْسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِنَ الْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقًاDan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan (QS Al-Jinn : 6)Orang yang bahagia adalah orang yang mencurahkan hajatnya kepada Allah yang Maha agung, Yang menghilangkan penderitaan, dan melenyapkan duka cita.Kemudian ketahuilah bahwasanya Allah telah memerintahkan untuk bersholawat kepada NabiNya… Penerjemah : Firanda Andirja & Utsman Hatimhttps://firanda.com/

Al-Isti’aadzah (Memohon perlindungan kepada Allah)

(Kutbah Jum’at Mesjid Nabawi 1/2/1437 H – 13/11/2015)Oleh : Asy-Syekh Abdul Muhsin Muhamad Al-QasimKhutbah PertamaSegala puji bagi Allah. Kami memujiNya, memohon pertolonganNya dan memohon ampunanNya. Kami berlindung kepada Allah dari kejahatan diri kami dan keburukan amal perbuatan kami. Barangsiapa yang Allah berikan petunjuk, tidak akan ada yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa yang Allah biarkan sesat, tidak ada orang yang mampu memberinya petunjuk.Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah semata, tiada sekutu bagiNya. Dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah hambaNya dan utusanNya. Shalawat dan salam semoga tercurah sebanyak-banyaknya kepada beliau, beserta seluruh keluarga dan sahabatnya. Selanjutnya. Bertakwalah kepada Allah – Wahai hamba Allah ! – sebaik-baik takwa, berpegang teguhlah dengan agama Allah sekuat-kuatnya. Kaum muslimin  !Allah Ta’ala mensifati diri-Nya dengan sifat-sifat keagungan, keindahan dan kesempurnaan. Nama-namaNya sungguh indah dan sifat-sifatNya tinggi dan mulia; Dia menciptakan dan hebat dalam menciptakan, begitu kokoh dan akurat ciptaanNya. Sebagai bukti kesempurnaan hikmah dan  kekuasaanNya adalah Dia ciptakan segala sesuatu berpasang-pasang; diciptakanNya sesuatu dengan lawan jodohnya, siang dengan malam, pria dengan wanita, kebaikan dengan keburukan.Seorang hamba tidak akan terlepas dari penghambaan kepadaNya dalam kondisi apapun, ia memohon kepadaNya kebaikan dan berlindung kepadaNya dari kejahatan. Firman Allah  :يا أَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَراءُ إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ  [ فاطر / 15 ]( Hai manusia, kamulah yang berkehendak kepada Allah; dan Allah Dialah Yang Maha Kaya [tidak memerlukan sesuatu] lagi Maha Terpuji ) Qs Fathir : 15Dialah Allah Yang dimohon pertolonganNya dalam kesulitan dan ketika bencana melanda. Firman Allah  :أَمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذا دَعاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ  [ النمل / 62 ]( Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan  ) Qs An-Naml : 62Dia-lah yang menimpakan kesengsaraan, dan Dia pula yang menghilangkannya. Firman Allah :وَإِنْ يَمْسَسْكَ اللَّهُ بِضُرٍّ فَلا كاشِفَ لَهُ إِلاَّ هُوَ [ الأنعام / 17 ]( Dan jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang menghilangkannya melainkan Dia sendiri ) Qs Al-An’am : 17Allah memerintahkan para hambaNya menyampaikan permohonan hanya kepadaNya, dan berjanji mengabulkan permohonan mereka. Ini merupakan hak prerogatif Allah yang tidak ada hak bagi siapapun untuk menyampuriNya. Salah satu permohonan/doa kepada Allah adalah berlindung kepadaNya dari apapun yang engkau takuti. Itu merupakan ibadah diantara ibadah-ibadah yang paling agung, karena di dalamnya terkandung pengagungan kepada Allah dan keterikatan hati denganNya serta memurnikanNya dalam berdoa dan pengakuan atas kemiskinan diri kepadaNya. Maka terukur dengan kesungguhan seorang hamba dalam mendekatkan diri kepada Allah, datangnya solusi yang ia butuhkan. Firman Allah dalam Hadis Qudsi :( مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالحَرْبِ، وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ، وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ: كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ، وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ، وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا، وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا، وَإِنْ سَأَلَنِي لَأُعْطِيَنَّهُ، وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِي لَأُعِيذَنَّهُ ) رواه البخاريBarangsiapa yang memusuhi wali-Ku maka Aku umumkan perang kepadanya. Tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai dari pada yang telah Aku wajibkan kepadanya. Dan terus menerus hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan yang sunnah hingga Aku mencintai dia. Jika Aku sudah mencintainya, maka Akulah pendengarannya yang dia mendengar dengannya, dan pandangannya yang dia memandang dengannya, dan tangannya yang dia menyentuh dengannya, dan kakinya yang dia berjalan dengannya. Jikalau dia meminta kepada-Ku niscaya akan Kuberi, dan jika dia meminta perlindungan kepada-Ku niscaya akan Kulindungi.( HR Bukhari)Barangsiapa yang tingkat penghambaannya kepada Allah lebih besar, maka lebih kuat pula permohonannya akan perlindungan Allah dan penyandaraannya kepadaNya. Para Rasul, mereka berlindung kepada Allah dalam kondisi krisis dan kseluitan dan untuk menolak bala’ dan malapetaka. Allah Ta’ala melarang Nabi Nuh a.s. mendoakan untuk anaknya yang kafir kepada Allah. Firman Allah :رَبِّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أَسْأَلَكَ مَا لَيْسَ لِي بِهِ عِلْمٌ [ هود / 47 ]( Nuh berkata: Ya Tuhanku, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari memohon kepada Engkau sesuatu yang aku tiada mengetahui [hakekat]nya. ) Qs Hud : 47Nabi Yusuf a.s. berlindung kepada Allah dari fitnah (pencemaran namanya).  Firman Allah :قالَ مَعاذَ اللَّهِ إِنَّهُ رَبِّي أَحْسَنَ مَثْوايَ  [ يوسف / 23 ]( Yusuf berkata: “Aku berlindung kepada Allah, sungguh tuanku telah memperlakukan aku dengan baik ). Qs Yusuf : 23 Saudara-saudara Nabi Yusuf mengajaknya melakukan penyimpangan dengan menahan salah seorang di antara mereka sebagai pengganti dari saudara Yusuf. Maka ia-pun berdoa :قالَ مَعاذَ اللَّهِ أَنْ نَأْخُذَ إِلاَّ مَنْ وَجَدْنا مَتاعَنا عِنْدَهُ إِنَّا إِذاً لَظالِمُونَ  [ يوسف / 79 ]( Berkata Yusuf: “Aku mohon perlindungan kepada Allah daripada menahan seorang, kecuali orang yang kami ketemukan harta benda kami padanya, jika kami berbuat demikian, maka benar-benarlah kami orang-orang yang zalim). Qs Yusuf : 79Nabi Musa a.s. ketika dituduh oleh kaumnya melakukan pelecehan terhadap mereka dengan modus perintah dan larangan, memohon perlindungan kepada Allah :قَالَ أَعُوذُ بِاللَّهِ أَنْ أَكُونَ مِنَ الْجَاهِلِينَ  [ البقرة / 67 ]) Musa menjawab: “Aku berlindung kepada Allah agar tidak menjadi salah seorang dari orang-orang yang jahil  ) . Qs Al-Baqarah : 67Fir’aun dan kroni-kroninya bersikap arogan terhadap ajakan Musa a.s., maka Musa-pun berdoa :إِنِّي عُذْتُ بِرَبِّي وَرَبِّكُمْ مِنْ كُلِّ مُتَكَبِّرٍ لا يُؤْمِنُ بِيَوْمِ الْحِسابِ [ غافر / 27 ](“Sesungguhnya aku berlindung kepada Tuhanku dan Tuhanmu dari setiap orang yang menyombongkan diri yang tidak beriman kepada hari berhisab”) Qs Ghafir : 27Musa berlindung dari kejahatan Fir’aun dan pasukannya seraya berkata :وَإِنِّي عُذْتُ بِرَبِّي وَرَبِّكُمْ أَنْ تَرْجُمُونِ  [ الدخان / 20 ]( Dan sesungguhnya aku berlindung kepada Tuhanku dan Tuhanmu, dari keinginanmu merajamku ) : Qs Ad-Dukhan : 20Istri Imran ketika melahirkan kandungannya, berdoa :وَإِنِّي أُعِيذُها بِكَ وَذُرِّيَّتَها مِنَ الشَّيْطانِ الرَّجِيمِ  [ آل عمران / 36 ]( Dan aku memohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepada Engkau dari gangguan syaitan yang terkutuk ). Qs Ali Imran : 36Ibnu Jarir – Rahimahullah – berkata : “Maka, Allah Ta’ala mengabulkan permohonan Istri Imran itu dengan melindunginya dan anak cucunya dari godaan setan yang terkutuk sehingga tidak ada jalan bagi setan untuk menggodanya”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :( مَا مِنْ مَوْلُودٍ يُولَدُ إِلَّا نَخَسَهُ الشَّيْطَانُ، فَيَسْتَهِلُّ صَارِخًا مِنْ نَخْسَةِ الشَّيْطَانِ، إِلَّا ابْنَ مَرْيَمَ وَأُمَّه )(Tidak ada bayi yang dilahirkan kecuali setan pasti menyentuhnya [ketika dia lahir], maka bayi tersebut menjerit karena sentuhan setan, kecuali Maryam dan putranya).Maryam a.s. ketika kedatangan malaikat untuk meniupkan roh padanya, ia mengira malaikat itu sosok manusia yang punya maksud jahat terhadap dirinya, maka iapun berlindung kepada Allah :إِنِّي أَعُوذُ بِالرَّحْمَنِ مِنْكَ إِنْ كُنْتَ تَقِيّاً  [ مريم / 18 ]( Maryam berkata: “Sesungguhnya aku berlindung dari padamu kepada Tuhan Yang Maha pemurah, jika kamu seorang yang bertakwa ) Qs Maryam : 18Ketika rahim ( ikatan kekerabatan ) Allah ciptakan, ia pun berlindung kepada Allah dari pemutusan ikatannya seraya berkata :هَذَا مَقَامُ العَائِذِ بِكَ مِنَ القَطِيعَةِ( Di sinilah posisi orang yang berlindung kepadaMu dari pemutusan tali kekerabatan ). Artinya, alasanku memohon perlindungan kepadamu adalah kakhawatiranku dari perbuatan seseorang yang memutuskan aku sehingga dia terkena murkaMu dan kemarahanMu.Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri selalu berlindung kepada Tuhannya sepenuh hati dalam segala situasi; beliau berlindung kepada Allah di waktu pagi dan di waktu petang hari, ketika dalam perjalanan atau sedang di rumah, dalam situasi perang ataupun damai, ketika hendak berbaring tidur atau bangun dari tidur, ketika masuk kamar kecil, dan dalam shalat beliau perbanyak baca doa perlindungan, dalam sholat malam beliau ketika baca ayat tentang azab neraka beliau mohon perlindungan, ketika sedang bersujud dan duduk beliau berlindung, ketika melihat sesuatu yang tidak menyenangkan beliau bersandar dan berlindung kepada Allah, beliau tidak biarkan ada kejahatan apapun kecuali beliau berlindung kepada Allah Ta’ala dari keburukannya.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berlindung kepada Allah Ta’ala dari hal-hal yang bertentangan dengan keimanan dan yang dapat menguranginya. Doa beliau :وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الْفَقْرِ وَالْكُفْرِ، وَالشِّرْكِ وَالنِّفَاقِ، وَالسُّمْعَةِ وَالرِّيَاءِ( Aku berlindung kepadaMu dari kemiskinan dan kekafiran, dari kemusyrikan dan kemunafikan, dari rasa ingin didengar orang dan memamerkan diri ) HR Ibnu Hibban.Doa perlindungan itu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ajarkan kepada sahabat-sahabatnya dan mendorong mereka memohon perlindungan. Beliau membacakan doa memohon perlindungan untuk anak-anak kecil seperti Hasan dan Husen r.a. seraya berkata :إِنَّ أَبَاكُمَا كَانَ يُعَوِّذُ بِهَا إِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ: أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّةِ، مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ، وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لاَمَّةٍ(Sesungguhnya Leluhur kalian (yaitu Ibrahim a.s) mendoakan perlindungan untuk Ismail dan Ishak dengan doa ini;  Aku berlindung dengan kalimat Allah yang sempurna, dari kejahatan setan dan ular/hewan beracun, serta dari kejahatan mata yang membawa musibah). HR BukhariBeliau shallallahu ‘alaihi wasallam menanamkan di dalam jiwa pentingnya doa perlindungan kepada Allah Ta’ala, beliau katakan :مَنِ اسْتَعَاذَ بِاللَّهِ فَأَعِيذُوهُ( Barangsiapa yang berlindung kepada Allah, maka lindungilah dia ) HR Abu DawudKebijakan Allah telah menentukan bahwa setiap muslim itu ada musuhnya dari setan-setan dalam sosok manusia dan jin :وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الْإِنْسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًا [ الأنعام / 112 ](Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan [dari jenis] manusia dan [dan jenis] jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu.). Qs Al-An’am : 112Setan adalah musuh yang nyata bagi manusia, syaitan merupakan asas dari segala kejahatan dan malapetaka. Setan berusaha dengan segala cara untuk mencelakakan dan menyengsarakan manusia. Tidak ada keselamatan dari kejahatan syaitan dan para prajuritnya kecuali dengan mohon perlindungan kepada Allah Ta’ala. Barangsiapa yang berpegang teguh kepada Allah dan memurnikan niat karenaNya serta bertawakal kepadaNya, maka setan tidak akan mampu menggelincirkan dan menyesatkannya. Firman Allah :إِنَّهُ لَيْسَ لَهُ سُلْطانٌ عَلَى الَّذِينَ آمَنُوا وَعَلى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ  [ النحل / 99 ]( Sesungguhnya syaitan itu tidak ada kekuasaannya atas orang-orang yang beriman dan bertawakkal kepada Tuhannya ) Qs An-Nahl : 99Seorang muslim diperintahkan selalu memohon perlindungan dari bisikan-bisikan setan. Allah berfirman :وَقُلْ رَبِّ أَعُوذُ بِكَ مِنْ هَمَزاتِ الشَّياطِينِ  [ المؤمنون / 97 ]( Dan katakanlah: “Ya Tuhanku aku berlindung kepada Engkau dari bisikan-bisikan setan ) Qs Al-Mukminun : 97Allah perintahkan manusia berpegang pada prinsip-prinsip keindahan agama dan memikat hati manusia kepada islam dengan cara memaafkan kesalahan, mengajak kepada yang makruf dan berpaling dari kebodohan, sementara setan berupaya menghalanginya, dan tidak ada jalan keluar kecuali dengan memohon perlindungan dari godaan setan. Firman Allah :خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ , وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ   ، وَإِمَّا يَنْزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ إِنَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ  [ الأعراف / 199 ](Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma´ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh, Dan jika kamu ditimpa sesuatu godaan setan maka berlindunglah kepada Allah. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar dan Maha Mengetahui ). Qs Al-A’raf : 199Setan merintagi antara hamba dan ketaatannya kepada Tuhannya. Semakin besar nilai amal ibadah bagi seorang hamba dan semakin dicintai oleh Allah, maka semakin dahsyat pula rintangan setan kepadanya. Maka ketika seseorang sedang shalat, setan mengganggunya. Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam :ذَاكَ شَيْطَانٌ يُقَالُ لَهُ خَنْزَبٌ، فَإِذَا أَحْسَسْتَهُ فَتَعَوَّذْ بِاللهِ مِنْهُ، وَاتْفِلْ عَلَى يَسَارِكَ ثَلَاثًا( Itu adalah setan yang bernama Khonzab, jika kamu merasakan gangguannya maka berlindunglah kepada Allah dari gangguannya dan meludahlah ke samping kiri tiga kali ) HR MuslimKetika hendak membaca Al-Qur’an, seseorang diperintahkan berlindung kepada Allah dari gangguan setan :فَإِذا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطانِ الرَّجِيمِ   [ النحل / 98 ]( Apabila kamu membaca Al Quran hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk ) Qs An-Nahl : 98Tempat-tempat buang hajat banyak setan berkeliaran di dalamnya, maka untuk menghindarkan diri dari gangguan mereka adalah dengan memohon perlindungan kepada Allah. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan :اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْخُبْثِ وَالْخَبَائِثِ( Ya Allah ! sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari segala kejahatan dan para syaitan ) Muttafaq Alaihi.Di waktu pagi dan petang, kitapun memohon perlindungan kepada Allah dari gangguan setan.Abu Bakar r.a. berkata :يَا رَسُولَ اللَّهِ مُرْنِي  بِكَلِمَاتٍ أَقُولُهُنَّ إِذَا أَصْبَحْت، وَإِذَا أَمْسَيْت، قَالَ: ” قُلْ: اللَّهُمَّ فَاطِرَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ، عَالِمَ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ، رَبَّ كُلِّ شَيْءٍ وَمَلِيكَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ نَفْسِي، وَشَرِّ الشَّيْطَانِ وَشِرْكِهِ «قَالَ» قُلْهَا إِذَا أَصْبَحْتَ، وَإِذَا أَمْسَيْتَ، وَإِذَا أَخَذْتَ مَضْجَعَكَ“Ya Rasulullah, perintahkan kepadaku untuk mengucapkan kalimat-kalimat yang akan aku ucapkan setiap pagi dan petang hari”. Rasulullah bersabda: “Katakanlah”: (“Ya, Allah Pencipta langit dan bumi, Yang Maha Mengetahui yang ghaib dan yang tampak, Pemelihara segala sesuatu dan Rajanya, aku bersaksi tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Engkau, aku berlindung dari keburukan diriku dan kejahatan setan bersama sekutunya. Beliau berkata : “Ucapkanlah [do’a ini] ketika pagi dan sore hari, dan ketika engkau hendak tidur”). HR Abu DawudSetan mengganggu manusia sampai-pun dalam tidurnya. Maka barangsiapa yang bermimpi buruk dalam tidurnya, hendaklah ia berlindung kepada Allah dari godaan setan. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :( إِذَا رَأَى أَحَدُكُمُ الرُّؤْيَا يَكْرَهُهَا، فَلْيَبْصُقْ عَنْ يَسَارِهِ ثَلَاثًا وَلْيَسْتَعِذْ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ ثَلَاثًا، وَلْيَتَحَوَّلْ عَنْ جَنْبِهِ الَّذِي كَانَ عَلَيْهِ  ) رواه مسلم(Jika salah seorang di antara kalian mengalami mimpi buruk, hendaklah meludah kesebelah kiri tiga kali, dan memohon perlindungan kepada Allah dari godaan setan tiga kali, kemudian mengubah posisi tidurnya dari posisi semula ) HR. MuslimKemarahan adalah kendaraan setan, ia merupakan bara api dalam hati yang mendorong seseorang berbuat maksiat dan dosa. Untuk meredam kemarahan, seseorang berlindung kepada Allah.Sulaiman Bin Shurod berkata :كُنْتُ جَالِسًا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَرَجُلاَنِ يَسْتَبَّانِ، فَأَحَدُهُمَا احْمَرَّ وَجْهُهُ، وَانْتَفَخَتْ أَوْدَاجُهُ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” إِنِّي لَأَعْلَمُ كَلِمَةً لَوْ قَالَهَا ذَهَبَ عَنْهُ مَا يَجِدُ، لَوْ قَالَ: أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ، ذَهَبَ عَنْهُ مَا يَجِدُ “(Pada suatu hari aku duduk bersama-sama Nabi SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM sedang dua orang lelaki sedang bermaki-makian di antara satu sama lain. Salah seorang daripadanya telah merah mukanya dan tegang pula urat lehernya. Lalu Rasulullah SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM bersabda”, “Sesungguhnya aku tahu satu perkataan sekiranya dibaca tentu hilang rasa marahnya. Jika sekiranya dia baca “Auzubillahi minas-Syaitanirrajim” niscaya hilang kemarahan yang dialaminya”) HR BukhariSetan tidak henti-hentinya menjerumuskan anak Adam, sejak pertama kali seorang suami menggauli istrinya. Maka dengan permohonan perlindungan kepada Allah, bahayanya dapat ditangkis.Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :لَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا أَتَى أَهْلَهُ قَالَ: “بِاسْمِ اللَّهِ، اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ، وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا”، فَإِنَّهُ إِنْ يُقَدَّرْ بَيْنَهُمَا وَلَدٌ فِي ذَلِكَ لَمْ يَضُرَّهُ شَيْطَانٌ أَبَدًا( Apabila seseorang hendak menggauli istrinya lalu berdoa : Dengan nama Allah, jauhkanlah kami dari setan dan jauhkanlah dari setan apa yang akan engkau rezekikan kepada kami, sesungguhnya jikalau hubungan mereka ditakdirkan membuahkan anak, tidak akan terkena bahaya setan selamanya).Muttafaq Alaih.Sampai binatang himar (keledai) pun bersuara meringkik ketika melihat setan. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :( إِذَا سَمِعْتُمْ نَهِيقَ الحِمَارِ فَتَعَوَّذُوا بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ، فَإِنَّهُ رَأَى شَيْطَانًا ) متفق عليه(Apabila kamu mendengar keledai meringkik, mohonlah perlindungan kepada Allah, sesungguhnya ia sedang melihat setan) . Muttafaq AlaihTujuan utama setan adalah menjerumuskan dan menyesatkan anak cucu Adam. Firman Allah :قالَ فَبِعِزَّتِكَ لَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ    [ ص / 82 ]( Iblis berkata: “Demi kekuasaan Engkau aku akan menyesatkan mereka semuanya ) Qs Shad : 82Setan akan tetap menggoda manusia dalam masalah pokok-pokok keimanan. Tidak ada keselamatan dari godaannya kecuali atas pertolongan Allah. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :( يَأْتِي الشَّيْطَانُ أَحَدَكُمْ فَيَقُولُ: مَنْ خَلَقَ كَذَا، مَنْ خَلَقَ كَذَا، حَتَّى يَقُولَ: مَنْ خَلَقَ رَبَّكَ؟ فَإِذَا بَلَغَهُ فَلْيَسْتَعِذْ بِاللَّهِ وَلْيَنْتَهِ )  رواه البخاري( Setan mendatangi salah seorang dari kalian, lalu bertanya,’Siapakah yang menciptakan ini? Siapakah yang menciptakan itu?’ hingga dia bertanya,’Siapakah yang menciptakan Rabb-mu?’ Oleh karena itu, jika telah sampai di situ, maka hendaklah dia berlindung kepada Allah dan hendaklah dia menghentikan was-was situ). HR BukhariMenyekutukan Allah merupakan puncak kesesatan. Para Imam tauhid khawatir atas diri mereka terhadap kemusyrikan ini. Nabi Ibrahim a.s. berdoa :وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ الْأَصْنامَ  [إبراهيم / 35 ]( Dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala ) Qs Ibrahim : 35Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :اللهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْكُفْرِ، وَالْفَقْرِ، وَعَذَابِ الْقَبْرِ( Ya Allah ! Aku berlindung kepadaMu dari kekafiran, dari kemiskinan dan dari siksa kubur ) HR Ahmad.Hati para hamba berada di antara dua jari dari pada jari-jari Allah Yang Maha Pemurah, Dia membolak-balikkan sebagaimana kehendakNya, maka Allah beri petunjuk seseorang setelah tersesat, dan menyesatkannya setelah berada dalam petunjuk. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :أَعُوذُ بِعِزَّتِكَ، لَا إِلَهَ إِلا أَنْتَ، أَنْ تُضِلَّنِي( Aku berlindung kepada kemuliaanMu, tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau, dari kesesatan yang Engkau timpakan kepadaku ) HR MuslimDan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam juga berlindung dari perpindahan dari sebelumnya beribadah menjadi bermaksiat.Kehidupan manusia diliputi kejahatan. Jalan yang ideal untuk memagari diri dari bahayanya adalah memohon perlindungan kepada Allah. Sebab, Allah adalah pencipta makhluk, maka hanya Dia-lah yang dapat menolak kejahatan mereka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika hendak membaringkan tubuhnya di tempat tidur selalu berdoa :أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ كُلِّ شَيْءٍ أَنْتَ آخِذٌ بِنَاصِيَتِهِ( Aku berlindung kepada Allah dari kejahatan segala sesuatu yang mana Engkaulah yang memegang ubun-ubunnya ) HR MuslimNafsu manusia sangatlah mendorong kepada keburukan, karena memang berwatak keburukan. Orang yang beruntung ialah orang yang mengarahkan nafsunya kepada ketaatan dan selalu berlindung dari kejahatannya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berdoa :اللهُمَّ أَسْتَهْدِيكَ لِأَرْشَدِ أَمْرِي، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ نَفْسِي( Ya Allah, aku memohon petunjuk kepadaMu untuk selurus-lurus urusanku, dan aku berlindung kepadaMu dari kejahatan nafsuku ). HR AhmadIbnul-Qayim – Rahimahullah – berkata :“ Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memohon perlindungan kepada Allah dari kejahatan nafsu secara umum dan dari kejahatan perbuatan yang dihasilkannya serta dampak perkara yang buruk dan tercela  yang ditimbulkannya”.Maka, merupakan sunnah adalah berlindung dari kejahatan nafsu setiap memulai pidato,وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا“Kami berlindung kepada Allah dari kejahatan diri kami dan keburukan amal perbuatan kami”. HR TurmuziPermohonan ini mencakup perlindungan dari akar kejahatan, cabang-cabangnya, sasarannya dan konsekuensi logisnya.Kemiskinan dan kekayaan adalah kendaraan kebaikan atau keburukan. Kebahagiaan seseorang terletak pada konsistensi dalam ketakwaannya meskipun kendaraannya berbeda. Maka barangsiapa yang memohon perlindungan kepada Allah dari keburukan keduanya, akan dicukupi dan dilindungi oleh Allah.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam doanya :اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ النَّارِ، وَعَذَابِ النَّارِ، وَمِنْ شَرِّ الْغِنَى وَالْفَقْرِ( Ya Allah, aku berlindung kepadaMu dari fitnah neraka, dari siksa neraka dan dari kejahatan kekayaan dan kemiskinan ). HR Abu Dawud Organ-organ tubuh manusia itu diliputi nafsu syahwat, maka yang terbaik adalah memfungsikannya untuk ketaatan dan menghindarkannya dari keburukan, dengan disertai terus menerus memohon perlindungan kepada Allah dari dampaknya yang membahayakan.Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan kepada salah seorang sahabat suatu doa :اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ سَمْعِي، وَمِنْ شَرِّ بَصَرِي، وَمِنْ شَرِّ لِسَانِي، وَمِنْ شَرِّ قَلْبِي، وَمِنْ شَرِّ مَنِيِّي يَعْنِي فَرْجَهُ( Ya Allah, aku berlindung kepadaMu dari kejahatan pendengaranku, kejahatan pengelihatanku, kejahatan lidahku, kejahatan hatiku dan kejahatan fajiku ). HR TurmuziAmal kebajikan semua positif, sedangkan perbuatan maksiat semua negatif. Maka hendaklah Anda selalu melakukan ketaatan dan memohon kepada Allah terkabulnya amal Anda dan tetap konsisten melakukannya. Jauhilah maksiat dan mohonlah perlindungan kepada Allah dari bahaya maksiat.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam selalu memohon perlindungan :أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ( Aku berlindung kepadaMu dari kejahatan apa yang aku perbuat ). Muttafaq Alaih.Barangsiapa yang menempati sebuah tempat tinggal lalu memohon perlindungan dalam doanya :أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ، فَإِنَّهُ لَا يَضُرُّهُ شَيْءٌ حَتَّى يَرْتَحِلَ مِنْهُ( Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan apa yang Dia ciptakan, maka tidak akan membahayakan suatu apapun hingga ia meninggalkan tempat itu ). HR MuslimDan al-Mu’awwidzataani (yaitu surat al-Falaq dan An-Naas) termasuk permohonan perlindungan yang paling kompleks dan paling bermanfaat. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada ‘Uqbah bin ‘Amir r.a.أَلاَ أُخْبِرُكَ بِأَفْضَلِ مَا تَعَوَّذَ بِهِ الْمُتَعَوِّذُوْنَ؟“Maukah aku kabarkan kepadamu tentang permohonan perlindungan yang terbaik yang dimohon oleh para pemohon perlindungan?”قُلْ أَعُوْذُ بِرَبِّ الْفَلَكِ“Katakanlah : Aku berlindung kepada Tuhan Yang menguasai subuh” (QS Al-Falak : 1)قُلْ أَعُوْذُ بِرَبِّ النَّاسِ“Katakanlah ; Aku berlindung kepada Tuhan Penguasa manusia” (QS An-Naas : 1) (HR Ahmad)Dan kebutuhan hamba kepada isti’aadzah (memohon perlindungan kepada Allah) dengan kedua surat ini lebih besar daripada kebutuhannya kepada nafas, makanan, dan minuman. Dan dua surat ini ampuh untuk menolak sihir dan al-‘ain serta seluruh keburukan, demikian juga menghilangkannya jika telah terlanjur terkena.Terkadang keburukan menimpa sang hamba dari arah yang tidak ia sangka. Ada angin yang mendatangkan rahmat, dan ada angin yang merupakan adzab, dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, jika bertiup angin kencang maka beliau berdoa :«اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ خَيْرَهَا، وَخَيْرَ مَا فِيْهَا، وَخَيْرَ مَا أُرْسِلَتْ بِهِ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا، وَشَرِّ مَا فِيْهَا، وَشَرِّ مَا أُرْسِلَتْ بِهِ»“Ya Allah aku memohon kepadaMu kebaikan angin ini, dan kebaikan yang ada padanya serta kebaikan yang dikirimkan dengannya. Dan aku berlindung kepadaMu dari keburukannya, dan keburukan yang ada padanya serta keburukan yang dikirim dengannya” (HR Muslim)Dan Allah telah mengadzab beberapa kaum dengan awan, dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam jika melihat awan datang beliau berdoa:اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا أُرْسِلَ بِهِ“Ya Allah kami berlindung kepadaMu dari keburukan yang dikirim dengan awan ini” (HR Muslim)          Barang siapa yang memiliki baju baru maka hendaknya ia memuji Allah dan memohon kepada Allah kebaikan dari baju tersebut dan berlindung dari keburukannya. Beliau berdoa ;اللَّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ كَسَوْتَنِيْهِ، أَسْأَلُكَ خَيْرَهُ وَخَيْرَ مَا صُنِعَ لَهُ وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّهِ وَشَرِّ مَا صُنِعَ لَهُ“Ya Allah segala puji hanya bagiMu, Engkau telah memakaikan aku baju ini, aku memohon kepadaMu kebaikannya, dan kebaikanya yang dibuat padanya, dan aku berlindung kepadaMu dari keburukannya dan keburukan yang dibuat padanya” (HR At-Tirmidzi)          Dan kehidupan tidak tetap pada satu kondisi, dan barangsiapa yang melihat ada perubahan dalam kehidupan dengan hilangnya kenikmatan maka hendaknya ia memohon perlindungan kepada Allah dari hal tersebut. Dan diantara doa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam :اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ“Ya Allah aku memohon kepadaMu dari hilangnya karuniaMu” (HR Muslim)Dan Allah lah yang melindungi dari sulitnya kehidupan, terkena kesengsaraan, dan takdir yang buruk.Dan jika tubuh terkena penyakit maka kesembuhannya ada di sisi Allah, maka hendaknya memohon perlindungan kepadanya dari keburukannya, maka dari Allahlah kebaikan dan kesembuhan.Utsman bin Abi al-‘Aash r.a mengeluhkan sakitnya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, yaitu rasa sakit yang ia derita di tubuhnya. Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepadanya :“Letakkanlah tanganmu ke bagian yang sakit dari tubuhmu, dan ucapkanlah “Bismillah” sebanyak 3 kali, dan ucapkanlah sebanyak 7 kali :أَعُوذُ بِاللهِ وَقُدْرَتِهِ مِنْ شَرِّ مَا أَجِدُ وَأُحَاذِرُ“Aku berlindung kepada Allah dan kekusaanNya dari keburukan yang aku dapati sekarang, dan keburukan yang aku khawatirkan datang kemudian”  (HR Muslim)Dan kondisi-kondisi yang berat akan menjadi ringan dengan mengikatkan hati kepada Allah. Dan safar merupakan salah satu potongan adzab (kesulitan), maka hendaknya seorang musafir  berlindung kepada Allah dari وَعْثَاءِ السَّفَرِ (kesulitan dan beratnya safar) dan كَآبَةِ الْمَنْظَرِ (pemandangan yang mendatangkan kesedihan) dan سُوْءِ الْمُنْقَلَبِ فِي الْمَالِ وَالأَهْلِ (buruknya kondisi harta dan keluarga yang ditinggalkan) (HR Muslim).Rasa aman dari bahaya musuh dan ejekan mereka diperoleh dengan berlindung kepada Allah dari mereka. Berjidalnya orang-orang kafir yang sombong terhadap ayat-ayat Allah menimbulkan makar mereka dan rencana jahat mereka, dan keselamatan dari ini semua adalah dengan berlindung kepada Allah.إِنَّ الَّذِينَ يُجَادِلُونَ فِي آيَاتِ اللَّهِ بِغَيْرِ سُلْطَانٍ أَتَاهُمْ إِنْ فِي صُدُورِهِمْ إِلَّا كِبْرٌ مَا هُمْ بِبَالِغِيهِ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُSesungguhnya orang-orang yang memperdebatkan tentang ayat-ayat Allah tanpa alasan yang sampai kepada mereka tidak ada dalam dada mereka melainkan hanyalah (keinginan akan) kebesaran yang mereka sekali-kali tiada akan mencapainya, maka mintalah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat (QS Ghofir : 56)Allah menyukai akhlak yang terbaik dan amal yang terbaik, dan membenci amal dan akhlak yang buruk. Dan seorang muslim melakukan yang baik dan menjauhkan dirinya dari yang buruk serta berlindung kepada Allah dari keburukan akhlak dan amal. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam berdoa :اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوْذُ بِكَ مِنْ مُنْكَرَاتِ الأَخْلاَقِ وَالأَعْمَالِ وَالأَهْوَاءِ“Ya Allah sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari akhlak yang munkar (buruk) dan amal yang buruk serta hafwa nafsu” (HR At-Tirmidzi)Dan beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam berlindung kepada Allahمِنْ عِلْمٍ لا يَنْفَعُ، وَمِنْ قَلْبٍ لا يَخْشَعُ، وَمِنْ نَفْسٍ لا تَشْبَعُ، وَمِنْ دَعْوَةٍ لا يُسْتَجَابُ لَهَا“dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyu’, dan jiwa yang tidak pernah puas, dan dari doa yang tidak dikabulkan” (HR Muslim)          Seorang mengetahui rahasia-rahasia tetangganya, dan sebaik-baik tetangga adalah yang menutupi rahasia tetangganya. Tetangga yang buruk adalah yang membongkar aib dan membuka sitar. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :تعوذوا بِاللَّه من جَار السوء فِي دَار الْمقَام فَإِن الْجَار البادي يتَحَوَّل عَنْكَ“Berlindunglah kalian kepada Allah dari tetangga yang buruk di kota tempat tinggal, karena tetangga badui berpindah meninggalkanmu (ke daerah lain)” (HR An-Nasaai).          Islam adalah agama senang dan gembira dan melarang dari kesedihan dan gundah gulana karena hal itu akan melemahkan seorang hamba dari meraih kebaikan agamanya dan dari membangun kehidupannya. Diantara doa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam:اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ“Ya Allah sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari gundah gulana (kekawatiran) dan kesedihan” (HR Al-Bukhari dan Muslim)Dan fitnah menerpa hati sebagaimana tenunan tikar, tenunan demi tenunan dan tidak ada keselamatan kecuali dengan berlindung kepada Allah darinya. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada para sahabat :تَعَوَّذُوا بِاللهِ مِنَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ“Berlindunglah kalian kepada Allah dari fitnah, yang nampak maupun yang tersembunyi” (HR Muslim)Ibnu Hajar rahimahullah berkata : “Pada hadits ini ada dalil akan dianjurkannya berlindung kepada Allah dari fitnah meskipun seseorang memandang bahwa dirinya berpegang teguh dengan kebenaran dalam menghadapi fitnah, karena fitnah tersebut bisa saja menyebabkan terjadinya perkara yang ia tidak menyangka akan terjadinya”Dan fitnah itu banyak dengan berbagai macam model dan bentuknya. Diantara fitnah yang terbesar adalah fitnah kehidupan dan fitnah kematian serta fitnah Dajjal. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam berlindung dari fitnah ini semua sebelum beliau salam dari sholatnya. Beliau juga berlindung :مِنْ فِتْنَةِ الْغِنَى وَفِتْنَةِ الْفَقْرِ“dari fitnah kekayaan dan fitnah kemiskinan” (HR Al-Bukhari dan Muslim)          Dunia adalah fitnah, tidak ada yang bisa menyelamatkan dari fitnahnya kecuali Allah. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam berdoa :وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الدُّنْيَا“Dan aku berlindung dari fitnah dunia” (HR Al-Bukhari)Dan kezoliman merupakan sebab kebinasaan, dan doanya orang yang terzolimi tidak tertolak. Dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam telah berlindung dari buruknya doa orang yang terzolimi. Jika beliau bersafar beliau berlindung dari doanya orang yang terzolimi (HR Muslim).          Barangsiapa yang mengenal Allah maka ia akan mencintaiNya dan takut akan siksaanNya. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam berdoa dalam sujudnya :اللَّهُمَّ، أَعُوذُ بِرِضَاكَ مِنْ سَخَطِكَ، وَبِمُعَافَاتِكَ مِنْ عُقوبَتِكَ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْكَ، لا أُحْصِى ثَنَاءً عَلَيْكَ، أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ“Ya Allah aku berlindung dengan keridoanMu dari kemarahanMu, dengan penyelamatanMu dari hukumanMu, dan aku berlindung denganMu dariMu, aku tidak mampu untuk menyanjungMu, sesungguhnya hakikatMu adalah sebagaimana Engkau memuji diriMu” (HR Muslim).Seorang mukmin berjalan menuju Allah dengan khouf (rasa takut), rojaa’ (penuh berharap), dan mahabbah (kecintaan). Diantara tanda orang-orang yang takut kepada Allah adalah ia sering berlindung dari adzab Allah, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :إِذَا تَشَهَّدَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْتَعِذْ بِاللهِ مِنْ أَرْبَعٍ، يَقُولُ: اللهُمَّ، إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ، وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ، وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ“Jika salah seorang dari kalian bertasyahhud maka hendaklah ia memohon perlindungan dari 4 perkara, ia berkata ; Ya Allah aku berlindung kepadaMu dari adzab neraka Jahannam, dari adzab kubur, dari fitnah kehidupan dan kematian, dan keburukan fitnahnya Dajjal” (HR Muslim)‘Auf bin Malik r.a berkata :قُمْت مَعَ رسول الله فَاسْتَفْتَحَ من الْبَقَرَةَ لَا يَمُرُّ بِآيَةِ رَحْمَةٍ إلَّا وَقَفَ فوسَأَلَ، وَلَا يَمُرُّ بِآيَةِ عَذَابٍ إلَّا وَقَفَ وتَعَوَّذَ“Aku sholat bersama Rasulullah, maka beliau memulai sholatnya dengan membaca dari surat al-Baqoroh, tidaklah beliau melewati ayat rahmat kecuali beliau berhenti dan memohon, dan tidaklah beliau melewati ayat adzab kecuali beliau berhenti dan berlindung kepada Allah” (HR An-Nasaai)Beliau berlindung dari kondisi penghuni neraka, beliau berdoa :تَعَوَّذُوا بِاللهِ مِنْ عَذَابِ النَّارِ“Berlindunglah kalian kepada Allah dari adzab neraka” (HR Muslim).Barangsiapa yang meminta perlindungan kepada Allah dari neraka sebanyak 7 kali maka Allah akan melindunginya dari neraka.          Dan selanjutnya kaum muslimin sekalian, sesungguhnya tempat memohon perlindungan hanyalah Allah semata, tiada Pencipta selainNya, tiada yang disembah selainNya, tiada temapat bersandar, dan tiada tempat keselamatan dariNya kecuali kepadaNya. Barangsiapa yang bergantung kepada Allah dan mecurahkan hajatnya kepada Allah maka Allah akan mencukupkannya dan menjaganya, dan Allah akan mendekatkan baginya seluruh yang jauh dan memudahkan baginya seluruh yang sulit. Maka hendaknya seorang muslim menggantungkan hatinya kepada Allah dan berlindung kepadaNya, dan janganlah ia bosan dari memperbanyak memohon perlindungan, dengan isti’adzah (memohon perlindungan kepada Allah) maka ia telah beribadah kepada Rabnya dan menjaga dirinya, dan dengannya ia meraih kebahagiaan dan kemuliaannya.Aku berlindung kepada Allah dari syaitan yang terkutukفَفِرُّوا إِلَى اللَّهِ إِنِّي لَكُمْ مِنْهُ نَذِيرٌ مُبِينٌ (50) وَلَا تَجْعَلُوا مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ إِنِّي لَكُمْ مِنْهُ نَذِيرٌ مُبِينٌMaka segeralah kembali kepada (mentaati) Allah. Sesungguhnya aku seorang pemberi peringatan yang nyata dari Allah untukmu.  Dan janganlah kamu mengadakan tuhan yang lain disamping Allah. Sesungguhnya aku seorang pemberi peringatan yang nyata dari Allah untukmu (QS Adz-Dzaariyaat : 50-51)Semoga Allah memberikan keberkahan kepadaku dan kepada kalian dalam al-Qur’an yang agung… Khutbah KeduaSegala puji bagi Allah atas kebaikanNya, dan syukur terpanjatkan kepadaNya atas bimbingan dan karuniaNya, dan aku bersaksi bahwasanya tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah semata tiada sekutu bagiNya sebagai bentuk pengagungannya terhadap kedudukanNya, dan aku bersaksi bahwasanya Nabi kita Muhammad adalah hamba dan rasulNya, semoga shalawat dan salam yang banyak tercurahkan kepadanya  dan kepada para sahabatnya. Kaum muslimin sekalian, barangsiapa yang bergantung kepada selain Allah dan memohon perlindungan kepadanya, bersandar kepadanya, maka Allah akan menyerahkan dirinya kepada tempat ia bergantung, dan ia akan ditinggalkan (tidak ditolong) dari arah yang ia bergantung kepadanya, serta ia akan gagal mencapi tujuannya yang ia harapkan dari Allah, karena ia bergantung kepada selain Allah dan mencari selain Allah. Maka ia gagal mencapai apa yang ia cari dari Allah, dan apa yang ia harapkan dari tempat ia bergantung juga gagal. Allah berfirman :وَاتَّخَذُوا مِنْ دُونِ اللَّهِ آلِهَةً لَعَلَّهُمْ يُنْصَرُونَ (74) لَا يَسْتَطِيعُونَ نَصْرَهُمْ وَهُمْ لَهُمْ جُنْدٌ مُحْضَرُونَMereka mengambil sembahan-sembahan selain Allah, agar mereka mendapat pertolongan. Berhala-berhala itu tiada dapat menolong mereka; padahal berhala-berhala itu menjadi tentara yang disiapkan untuk menjaga mereka (QS Yaasiin : 74-75)Allah berfirman :وَاتَّخَذُوا مِنْ دُونِ اللَّهِ آلِهَةً لِيَكُونُوا لَهُمْ عِزًّا (81) كَلَّا سَيَكْفُرُونَ بِعِبَادَتِهِمْ وَيَكُونُونَ عَلَيْهِمْ ضِدًّاDan mereka telah mengambil sembahan-sembahan selain Allah, agar sembahan-sembahan itu menjadi pelindung bagi mereka. Sekali-kali tidak. Kelak mereka (sembahan-sembahan) itu akan mengingkari penyembahan (pengikut-pengikutnya) terhadapnya, dan mereka (sembahan-sembahan) itu akan menjadi musuh bagi mereka (QS Maryam : 81-82)Barangsiapa yang berlindung kepada jin dan meminta pertolongan para penyihir maka ia tidak akan mewujudkan dari mereka tujuannya. Dan mereka tidak akan menambah baginya melainkan keburukan, ketakutan, kekawatiran, kepanikan, dan kebingungan. Allah Ta’ala berfirman :وَأَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِنَ الْإِنْسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِنَ الْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقًاDan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan (QS Al-Jinn : 6)Orang yang bahagia adalah orang yang mencurahkan hajatnya kepada Allah yang Maha agung, Yang menghilangkan penderitaan, dan melenyapkan duka cita.Kemudian ketahuilah bahwasanya Allah telah memerintahkan untuk bersholawat kepada NabiNya… Penerjemah : Firanda Andirja & Utsman Hatimhttps://firanda.com/
(Kutbah Jum’at Mesjid Nabawi 1/2/1437 H – 13/11/2015)Oleh : Asy-Syekh Abdul Muhsin Muhamad Al-QasimKhutbah PertamaSegala puji bagi Allah. Kami memujiNya, memohon pertolonganNya dan memohon ampunanNya. Kami berlindung kepada Allah dari kejahatan diri kami dan keburukan amal perbuatan kami. Barangsiapa yang Allah berikan petunjuk, tidak akan ada yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa yang Allah biarkan sesat, tidak ada orang yang mampu memberinya petunjuk.Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah semata, tiada sekutu bagiNya. Dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah hambaNya dan utusanNya. Shalawat dan salam semoga tercurah sebanyak-banyaknya kepada beliau, beserta seluruh keluarga dan sahabatnya. Selanjutnya. Bertakwalah kepada Allah – Wahai hamba Allah ! – sebaik-baik takwa, berpegang teguhlah dengan agama Allah sekuat-kuatnya. Kaum muslimin  !Allah Ta’ala mensifati diri-Nya dengan sifat-sifat keagungan, keindahan dan kesempurnaan. Nama-namaNya sungguh indah dan sifat-sifatNya tinggi dan mulia; Dia menciptakan dan hebat dalam menciptakan, begitu kokoh dan akurat ciptaanNya. Sebagai bukti kesempurnaan hikmah dan  kekuasaanNya adalah Dia ciptakan segala sesuatu berpasang-pasang; diciptakanNya sesuatu dengan lawan jodohnya, siang dengan malam, pria dengan wanita, kebaikan dengan keburukan.Seorang hamba tidak akan terlepas dari penghambaan kepadaNya dalam kondisi apapun, ia memohon kepadaNya kebaikan dan berlindung kepadaNya dari kejahatan. Firman Allah  :يا أَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَراءُ إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ  [ فاطر / 15 ]( Hai manusia, kamulah yang berkehendak kepada Allah; dan Allah Dialah Yang Maha Kaya [tidak memerlukan sesuatu] lagi Maha Terpuji ) Qs Fathir : 15Dialah Allah Yang dimohon pertolonganNya dalam kesulitan dan ketika bencana melanda. Firman Allah  :أَمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذا دَعاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ  [ النمل / 62 ]( Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan  ) Qs An-Naml : 62Dia-lah yang menimpakan kesengsaraan, dan Dia pula yang menghilangkannya. Firman Allah :وَإِنْ يَمْسَسْكَ اللَّهُ بِضُرٍّ فَلا كاشِفَ لَهُ إِلاَّ هُوَ [ الأنعام / 17 ]( Dan jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang menghilangkannya melainkan Dia sendiri ) Qs Al-An’am : 17Allah memerintahkan para hambaNya menyampaikan permohonan hanya kepadaNya, dan berjanji mengabulkan permohonan mereka. Ini merupakan hak prerogatif Allah yang tidak ada hak bagi siapapun untuk menyampuriNya. Salah satu permohonan/doa kepada Allah adalah berlindung kepadaNya dari apapun yang engkau takuti. Itu merupakan ibadah diantara ibadah-ibadah yang paling agung, karena di dalamnya terkandung pengagungan kepada Allah dan keterikatan hati denganNya serta memurnikanNya dalam berdoa dan pengakuan atas kemiskinan diri kepadaNya. Maka terukur dengan kesungguhan seorang hamba dalam mendekatkan diri kepada Allah, datangnya solusi yang ia butuhkan. Firman Allah dalam Hadis Qudsi :( مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالحَرْبِ، وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ، وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ: كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ، وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ، وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا، وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا، وَإِنْ سَأَلَنِي لَأُعْطِيَنَّهُ، وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِي لَأُعِيذَنَّهُ ) رواه البخاريBarangsiapa yang memusuhi wali-Ku maka Aku umumkan perang kepadanya. Tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai dari pada yang telah Aku wajibkan kepadanya. Dan terus menerus hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan yang sunnah hingga Aku mencintai dia. Jika Aku sudah mencintainya, maka Akulah pendengarannya yang dia mendengar dengannya, dan pandangannya yang dia memandang dengannya, dan tangannya yang dia menyentuh dengannya, dan kakinya yang dia berjalan dengannya. Jikalau dia meminta kepada-Ku niscaya akan Kuberi, dan jika dia meminta perlindungan kepada-Ku niscaya akan Kulindungi.( HR Bukhari)Barangsiapa yang tingkat penghambaannya kepada Allah lebih besar, maka lebih kuat pula permohonannya akan perlindungan Allah dan penyandaraannya kepadaNya. Para Rasul, mereka berlindung kepada Allah dalam kondisi krisis dan kseluitan dan untuk menolak bala’ dan malapetaka. Allah Ta’ala melarang Nabi Nuh a.s. mendoakan untuk anaknya yang kafir kepada Allah. Firman Allah :رَبِّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أَسْأَلَكَ مَا لَيْسَ لِي بِهِ عِلْمٌ [ هود / 47 ]( Nuh berkata: Ya Tuhanku, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari memohon kepada Engkau sesuatu yang aku tiada mengetahui [hakekat]nya. ) Qs Hud : 47Nabi Yusuf a.s. berlindung kepada Allah dari fitnah (pencemaran namanya).  Firman Allah :قالَ مَعاذَ اللَّهِ إِنَّهُ رَبِّي أَحْسَنَ مَثْوايَ  [ يوسف / 23 ]( Yusuf berkata: “Aku berlindung kepada Allah, sungguh tuanku telah memperlakukan aku dengan baik ). Qs Yusuf : 23 Saudara-saudara Nabi Yusuf mengajaknya melakukan penyimpangan dengan menahan salah seorang di antara mereka sebagai pengganti dari saudara Yusuf. Maka ia-pun berdoa :قالَ مَعاذَ اللَّهِ أَنْ نَأْخُذَ إِلاَّ مَنْ وَجَدْنا مَتاعَنا عِنْدَهُ إِنَّا إِذاً لَظالِمُونَ  [ يوسف / 79 ]( Berkata Yusuf: “Aku mohon perlindungan kepada Allah daripada menahan seorang, kecuali orang yang kami ketemukan harta benda kami padanya, jika kami berbuat demikian, maka benar-benarlah kami orang-orang yang zalim). Qs Yusuf : 79Nabi Musa a.s. ketika dituduh oleh kaumnya melakukan pelecehan terhadap mereka dengan modus perintah dan larangan, memohon perlindungan kepada Allah :قَالَ أَعُوذُ بِاللَّهِ أَنْ أَكُونَ مِنَ الْجَاهِلِينَ  [ البقرة / 67 ]) Musa menjawab: “Aku berlindung kepada Allah agar tidak menjadi salah seorang dari orang-orang yang jahil  ) . Qs Al-Baqarah : 67Fir’aun dan kroni-kroninya bersikap arogan terhadap ajakan Musa a.s., maka Musa-pun berdoa :إِنِّي عُذْتُ بِرَبِّي وَرَبِّكُمْ مِنْ كُلِّ مُتَكَبِّرٍ لا يُؤْمِنُ بِيَوْمِ الْحِسابِ [ غافر / 27 ](“Sesungguhnya aku berlindung kepada Tuhanku dan Tuhanmu dari setiap orang yang menyombongkan diri yang tidak beriman kepada hari berhisab”) Qs Ghafir : 27Musa berlindung dari kejahatan Fir’aun dan pasukannya seraya berkata :وَإِنِّي عُذْتُ بِرَبِّي وَرَبِّكُمْ أَنْ تَرْجُمُونِ  [ الدخان / 20 ]( Dan sesungguhnya aku berlindung kepada Tuhanku dan Tuhanmu, dari keinginanmu merajamku ) : Qs Ad-Dukhan : 20Istri Imran ketika melahirkan kandungannya, berdoa :وَإِنِّي أُعِيذُها بِكَ وَذُرِّيَّتَها مِنَ الشَّيْطانِ الرَّجِيمِ  [ آل عمران / 36 ]( Dan aku memohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepada Engkau dari gangguan syaitan yang terkutuk ). Qs Ali Imran : 36Ibnu Jarir – Rahimahullah – berkata : “Maka, Allah Ta’ala mengabulkan permohonan Istri Imran itu dengan melindunginya dan anak cucunya dari godaan setan yang terkutuk sehingga tidak ada jalan bagi setan untuk menggodanya”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :( مَا مِنْ مَوْلُودٍ يُولَدُ إِلَّا نَخَسَهُ الشَّيْطَانُ، فَيَسْتَهِلُّ صَارِخًا مِنْ نَخْسَةِ الشَّيْطَانِ، إِلَّا ابْنَ مَرْيَمَ وَأُمَّه )(Tidak ada bayi yang dilahirkan kecuali setan pasti menyentuhnya [ketika dia lahir], maka bayi tersebut menjerit karena sentuhan setan, kecuali Maryam dan putranya).Maryam a.s. ketika kedatangan malaikat untuk meniupkan roh padanya, ia mengira malaikat itu sosok manusia yang punya maksud jahat terhadap dirinya, maka iapun berlindung kepada Allah :إِنِّي أَعُوذُ بِالرَّحْمَنِ مِنْكَ إِنْ كُنْتَ تَقِيّاً  [ مريم / 18 ]( Maryam berkata: “Sesungguhnya aku berlindung dari padamu kepada Tuhan Yang Maha pemurah, jika kamu seorang yang bertakwa ) Qs Maryam : 18Ketika rahim ( ikatan kekerabatan ) Allah ciptakan, ia pun berlindung kepada Allah dari pemutusan ikatannya seraya berkata :هَذَا مَقَامُ العَائِذِ بِكَ مِنَ القَطِيعَةِ( Di sinilah posisi orang yang berlindung kepadaMu dari pemutusan tali kekerabatan ). Artinya, alasanku memohon perlindungan kepadamu adalah kakhawatiranku dari perbuatan seseorang yang memutuskan aku sehingga dia terkena murkaMu dan kemarahanMu.Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri selalu berlindung kepada Tuhannya sepenuh hati dalam segala situasi; beliau berlindung kepada Allah di waktu pagi dan di waktu petang hari, ketika dalam perjalanan atau sedang di rumah, dalam situasi perang ataupun damai, ketika hendak berbaring tidur atau bangun dari tidur, ketika masuk kamar kecil, dan dalam shalat beliau perbanyak baca doa perlindungan, dalam sholat malam beliau ketika baca ayat tentang azab neraka beliau mohon perlindungan, ketika sedang bersujud dan duduk beliau berlindung, ketika melihat sesuatu yang tidak menyenangkan beliau bersandar dan berlindung kepada Allah, beliau tidak biarkan ada kejahatan apapun kecuali beliau berlindung kepada Allah Ta’ala dari keburukannya.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berlindung kepada Allah Ta’ala dari hal-hal yang bertentangan dengan keimanan dan yang dapat menguranginya. Doa beliau :وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الْفَقْرِ وَالْكُفْرِ، وَالشِّرْكِ وَالنِّفَاقِ، وَالسُّمْعَةِ وَالرِّيَاءِ( Aku berlindung kepadaMu dari kemiskinan dan kekafiran, dari kemusyrikan dan kemunafikan, dari rasa ingin didengar orang dan memamerkan diri ) HR Ibnu Hibban.Doa perlindungan itu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ajarkan kepada sahabat-sahabatnya dan mendorong mereka memohon perlindungan. Beliau membacakan doa memohon perlindungan untuk anak-anak kecil seperti Hasan dan Husen r.a. seraya berkata :إِنَّ أَبَاكُمَا كَانَ يُعَوِّذُ بِهَا إِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ: أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّةِ، مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ، وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لاَمَّةٍ(Sesungguhnya Leluhur kalian (yaitu Ibrahim a.s) mendoakan perlindungan untuk Ismail dan Ishak dengan doa ini;  Aku berlindung dengan kalimat Allah yang sempurna, dari kejahatan setan dan ular/hewan beracun, serta dari kejahatan mata yang membawa musibah). HR BukhariBeliau shallallahu ‘alaihi wasallam menanamkan di dalam jiwa pentingnya doa perlindungan kepada Allah Ta’ala, beliau katakan :مَنِ اسْتَعَاذَ بِاللَّهِ فَأَعِيذُوهُ( Barangsiapa yang berlindung kepada Allah, maka lindungilah dia ) HR Abu DawudKebijakan Allah telah menentukan bahwa setiap muslim itu ada musuhnya dari setan-setan dalam sosok manusia dan jin :وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الْإِنْسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًا [ الأنعام / 112 ](Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan [dari jenis] manusia dan [dan jenis] jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu.). Qs Al-An’am : 112Setan adalah musuh yang nyata bagi manusia, syaitan merupakan asas dari segala kejahatan dan malapetaka. Setan berusaha dengan segala cara untuk mencelakakan dan menyengsarakan manusia. Tidak ada keselamatan dari kejahatan syaitan dan para prajuritnya kecuali dengan mohon perlindungan kepada Allah Ta’ala. Barangsiapa yang berpegang teguh kepada Allah dan memurnikan niat karenaNya serta bertawakal kepadaNya, maka setan tidak akan mampu menggelincirkan dan menyesatkannya. Firman Allah :إِنَّهُ لَيْسَ لَهُ سُلْطانٌ عَلَى الَّذِينَ آمَنُوا وَعَلى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ  [ النحل / 99 ]( Sesungguhnya syaitan itu tidak ada kekuasaannya atas orang-orang yang beriman dan bertawakkal kepada Tuhannya ) Qs An-Nahl : 99Seorang muslim diperintahkan selalu memohon perlindungan dari bisikan-bisikan setan. Allah berfirman :وَقُلْ رَبِّ أَعُوذُ بِكَ مِنْ هَمَزاتِ الشَّياطِينِ  [ المؤمنون / 97 ]( Dan katakanlah: “Ya Tuhanku aku berlindung kepada Engkau dari bisikan-bisikan setan ) Qs Al-Mukminun : 97Allah perintahkan manusia berpegang pada prinsip-prinsip keindahan agama dan memikat hati manusia kepada islam dengan cara memaafkan kesalahan, mengajak kepada yang makruf dan berpaling dari kebodohan, sementara setan berupaya menghalanginya, dan tidak ada jalan keluar kecuali dengan memohon perlindungan dari godaan setan. Firman Allah :خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ , وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ   ، وَإِمَّا يَنْزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ إِنَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ  [ الأعراف / 199 ](Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma´ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh, Dan jika kamu ditimpa sesuatu godaan setan maka berlindunglah kepada Allah. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar dan Maha Mengetahui ). Qs Al-A’raf : 199Setan merintagi antara hamba dan ketaatannya kepada Tuhannya. Semakin besar nilai amal ibadah bagi seorang hamba dan semakin dicintai oleh Allah, maka semakin dahsyat pula rintangan setan kepadanya. Maka ketika seseorang sedang shalat, setan mengganggunya. Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam :ذَاكَ شَيْطَانٌ يُقَالُ لَهُ خَنْزَبٌ، فَإِذَا أَحْسَسْتَهُ فَتَعَوَّذْ بِاللهِ مِنْهُ، وَاتْفِلْ عَلَى يَسَارِكَ ثَلَاثًا( Itu adalah setan yang bernama Khonzab, jika kamu merasakan gangguannya maka berlindunglah kepada Allah dari gangguannya dan meludahlah ke samping kiri tiga kali ) HR MuslimKetika hendak membaca Al-Qur’an, seseorang diperintahkan berlindung kepada Allah dari gangguan setan :فَإِذا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطانِ الرَّجِيمِ   [ النحل / 98 ]( Apabila kamu membaca Al Quran hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk ) Qs An-Nahl : 98Tempat-tempat buang hajat banyak setan berkeliaran di dalamnya, maka untuk menghindarkan diri dari gangguan mereka adalah dengan memohon perlindungan kepada Allah. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan :اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْخُبْثِ وَالْخَبَائِثِ( Ya Allah ! sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari segala kejahatan dan para syaitan ) Muttafaq Alaihi.Di waktu pagi dan petang, kitapun memohon perlindungan kepada Allah dari gangguan setan.Abu Bakar r.a. berkata :يَا رَسُولَ اللَّهِ مُرْنِي  بِكَلِمَاتٍ أَقُولُهُنَّ إِذَا أَصْبَحْت، وَإِذَا أَمْسَيْت، قَالَ: ” قُلْ: اللَّهُمَّ فَاطِرَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ، عَالِمَ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ، رَبَّ كُلِّ شَيْءٍ وَمَلِيكَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ نَفْسِي، وَشَرِّ الشَّيْطَانِ وَشِرْكِهِ «قَالَ» قُلْهَا إِذَا أَصْبَحْتَ، وَإِذَا أَمْسَيْتَ، وَإِذَا أَخَذْتَ مَضْجَعَكَ“Ya Rasulullah, perintahkan kepadaku untuk mengucapkan kalimat-kalimat yang akan aku ucapkan setiap pagi dan petang hari”. Rasulullah bersabda: “Katakanlah”: (“Ya, Allah Pencipta langit dan bumi, Yang Maha Mengetahui yang ghaib dan yang tampak, Pemelihara segala sesuatu dan Rajanya, aku bersaksi tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Engkau, aku berlindung dari keburukan diriku dan kejahatan setan bersama sekutunya. Beliau berkata : “Ucapkanlah [do’a ini] ketika pagi dan sore hari, dan ketika engkau hendak tidur”). HR Abu DawudSetan mengganggu manusia sampai-pun dalam tidurnya. Maka barangsiapa yang bermimpi buruk dalam tidurnya, hendaklah ia berlindung kepada Allah dari godaan setan. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :( إِذَا رَأَى أَحَدُكُمُ الرُّؤْيَا يَكْرَهُهَا، فَلْيَبْصُقْ عَنْ يَسَارِهِ ثَلَاثًا وَلْيَسْتَعِذْ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ ثَلَاثًا، وَلْيَتَحَوَّلْ عَنْ جَنْبِهِ الَّذِي كَانَ عَلَيْهِ  ) رواه مسلم(Jika salah seorang di antara kalian mengalami mimpi buruk, hendaklah meludah kesebelah kiri tiga kali, dan memohon perlindungan kepada Allah dari godaan setan tiga kali, kemudian mengubah posisi tidurnya dari posisi semula ) HR. MuslimKemarahan adalah kendaraan setan, ia merupakan bara api dalam hati yang mendorong seseorang berbuat maksiat dan dosa. Untuk meredam kemarahan, seseorang berlindung kepada Allah.Sulaiman Bin Shurod berkata :كُنْتُ جَالِسًا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَرَجُلاَنِ يَسْتَبَّانِ، فَأَحَدُهُمَا احْمَرَّ وَجْهُهُ، وَانْتَفَخَتْ أَوْدَاجُهُ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” إِنِّي لَأَعْلَمُ كَلِمَةً لَوْ قَالَهَا ذَهَبَ عَنْهُ مَا يَجِدُ، لَوْ قَالَ: أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ، ذَهَبَ عَنْهُ مَا يَجِدُ “(Pada suatu hari aku duduk bersama-sama Nabi SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM sedang dua orang lelaki sedang bermaki-makian di antara satu sama lain. Salah seorang daripadanya telah merah mukanya dan tegang pula urat lehernya. Lalu Rasulullah SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM bersabda”, “Sesungguhnya aku tahu satu perkataan sekiranya dibaca tentu hilang rasa marahnya. Jika sekiranya dia baca “Auzubillahi minas-Syaitanirrajim” niscaya hilang kemarahan yang dialaminya”) HR BukhariSetan tidak henti-hentinya menjerumuskan anak Adam, sejak pertama kali seorang suami menggauli istrinya. Maka dengan permohonan perlindungan kepada Allah, bahayanya dapat ditangkis.Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :لَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا أَتَى أَهْلَهُ قَالَ: “بِاسْمِ اللَّهِ، اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ، وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا”، فَإِنَّهُ إِنْ يُقَدَّرْ بَيْنَهُمَا وَلَدٌ فِي ذَلِكَ لَمْ يَضُرَّهُ شَيْطَانٌ أَبَدًا( Apabila seseorang hendak menggauli istrinya lalu berdoa : Dengan nama Allah, jauhkanlah kami dari setan dan jauhkanlah dari setan apa yang akan engkau rezekikan kepada kami, sesungguhnya jikalau hubungan mereka ditakdirkan membuahkan anak, tidak akan terkena bahaya setan selamanya).Muttafaq Alaih.Sampai binatang himar (keledai) pun bersuara meringkik ketika melihat setan. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :( إِذَا سَمِعْتُمْ نَهِيقَ الحِمَارِ فَتَعَوَّذُوا بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ، فَإِنَّهُ رَأَى شَيْطَانًا ) متفق عليه(Apabila kamu mendengar keledai meringkik, mohonlah perlindungan kepada Allah, sesungguhnya ia sedang melihat setan) . Muttafaq AlaihTujuan utama setan adalah menjerumuskan dan menyesatkan anak cucu Adam. Firman Allah :قالَ فَبِعِزَّتِكَ لَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ    [ ص / 82 ]( Iblis berkata: “Demi kekuasaan Engkau aku akan menyesatkan mereka semuanya ) Qs Shad : 82Setan akan tetap menggoda manusia dalam masalah pokok-pokok keimanan. Tidak ada keselamatan dari godaannya kecuali atas pertolongan Allah. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :( يَأْتِي الشَّيْطَانُ أَحَدَكُمْ فَيَقُولُ: مَنْ خَلَقَ كَذَا، مَنْ خَلَقَ كَذَا، حَتَّى يَقُولَ: مَنْ خَلَقَ رَبَّكَ؟ فَإِذَا بَلَغَهُ فَلْيَسْتَعِذْ بِاللَّهِ وَلْيَنْتَهِ )  رواه البخاري( Setan mendatangi salah seorang dari kalian, lalu bertanya,’Siapakah yang menciptakan ini? Siapakah yang menciptakan itu?’ hingga dia bertanya,’Siapakah yang menciptakan Rabb-mu?’ Oleh karena itu, jika telah sampai di situ, maka hendaklah dia berlindung kepada Allah dan hendaklah dia menghentikan was-was situ). HR BukhariMenyekutukan Allah merupakan puncak kesesatan. Para Imam tauhid khawatir atas diri mereka terhadap kemusyrikan ini. Nabi Ibrahim a.s. berdoa :وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ الْأَصْنامَ  [إبراهيم / 35 ]( Dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala ) Qs Ibrahim : 35Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :اللهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْكُفْرِ، وَالْفَقْرِ، وَعَذَابِ الْقَبْرِ( Ya Allah ! Aku berlindung kepadaMu dari kekafiran, dari kemiskinan dan dari siksa kubur ) HR Ahmad.Hati para hamba berada di antara dua jari dari pada jari-jari Allah Yang Maha Pemurah, Dia membolak-balikkan sebagaimana kehendakNya, maka Allah beri petunjuk seseorang setelah tersesat, dan menyesatkannya setelah berada dalam petunjuk. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :أَعُوذُ بِعِزَّتِكَ، لَا إِلَهَ إِلا أَنْتَ، أَنْ تُضِلَّنِي( Aku berlindung kepada kemuliaanMu, tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau, dari kesesatan yang Engkau timpakan kepadaku ) HR MuslimDan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam juga berlindung dari perpindahan dari sebelumnya beribadah menjadi bermaksiat.Kehidupan manusia diliputi kejahatan. Jalan yang ideal untuk memagari diri dari bahayanya adalah memohon perlindungan kepada Allah. Sebab, Allah adalah pencipta makhluk, maka hanya Dia-lah yang dapat menolak kejahatan mereka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika hendak membaringkan tubuhnya di tempat tidur selalu berdoa :أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ كُلِّ شَيْءٍ أَنْتَ آخِذٌ بِنَاصِيَتِهِ( Aku berlindung kepada Allah dari kejahatan segala sesuatu yang mana Engkaulah yang memegang ubun-ubunnya ) HR MuslimNafsu manusia sangatlah mendorong kepada keburukan, karena memang berwatak keburukan. Orang yang beruntung ialah orang yang mengarahkan nafsunya kepada ketaatan dan selalu berlindung dari kejahatannya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berdoa :اللهُمَّ أَسْتَهْدِيكَ لِأَرْشَدِ أَمْرِي، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ نَفْسِي( Ya Allah, aku memohon petunjuk kepadaMu untuk selurus-lurus urusanku, dan aku berlindung kepadaMu dari kejahatan nafsuku ). HR AhmadIbnul-Qayim – Rahimahullah – berkata :“ Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memohon perlindungan kepada Allah dari kejahatan nafsu secara umum dan dari kejahatan perbuatan yang dihasilkannya serta dampak perkara yang buruk dan tercela  yang ditimbulkannya”.Maka, merupakan sunnah adalah berlindung dari kejahatan nafsu setiap memulai pidato,وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا“Kami berlindung kepada Allah dari kejahatan diri kami dan keburukan amal perbuatan kami”. HR TurmuziPermohonan ini mencakup perlindungan dari akar kejahatan, cabang-cabangnya, sasarannya dan konsekuensi logisnya.Kemiskinan dan kekayaan adalah kendaraan kebaikan atau keburukan. Kebahagiaan seseorang terletak pada konsistensi dalam ketakwaannya meskipun kendaraannya berbeda. Maka barangsiapa yang memohon perlindungan kepada Allah dari keburukan keduanya, akan dicukupi dan dilindungi oleh Allah.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam doanya :اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ النَّارِ، وَعَذَابِ النَّارِ، وَمِنْ شَرِّ الْغِنَى وَالْفَقْرِ( Ya Allah, aku berlindung kepadaMu dari fitnah neraka, dari siksa neraka dan dari kejahatan kekayaan dan kemiskinan ). HR Abu Dawud Organ-organ tubuh manusia itu diliputi nafsu syahwat, maka yang terbaik adalah memfungsikannya untuk ketaatan dan menghindarkannya dari keburukan, dengan disertai terus menerus memohon perlindungan kepada Allah dari dampaknya yang membahayakan.Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan kepada salah seorang sahabat suatu doa :اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ سَمْعِي، وَمِنْ شَرِّ بَصَرِي، وَمِنْ شَرِّ لِسَانِي، وَمِنْ شَرِّ قَلْبِي، وَمِنْ شَرِّ مَنِيِّي يَعْنِي فَرْجَهُ( Ya Allah, aku berlindung kepadaMu dari kejahatan pendengaranku, kejahatan pengelihatanku, kejahatan lidahku, kejahatan hatiku dan kejahatan fajiku ). HR TurmuziAmal kebajikan semua positif, sedangkan perbuatan maksiat semua negatif. Maka hendaklah Anda selalu melakukan ketaatan dan memohon kepada Allah terkabulnya amal Anda dan tetap konsisten melakukannya. Jauhilah maksiat dan mohonlah perlindungan kepada Allah dari bahaya maksiat.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam selalu memohon perlindungan :أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ( Aku berlindung kepadaMu dari kejahatan apa yang aku perbuat ). Muttafaq Alaih.Barangsiapa yang menempati sebuah tempat tinggal lalu memohon perlindungan dalam doanya :أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ، فَإِنَّهُ لَا يَضُرُّهُ شَيْءٌ حَتَّى يَرْتَحِلَ مِنْهُ( Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan apa yang Dia ciptakan, maka tidak akan membahayakan suatu apapun hingga ia meninggalkan tempat itu ). HR MuslimDan al-Mu’awwidzataani (yaitu surat al-Falaq dan An-Naas) termasuk permohonan perlindungan yang paling kompleks dan paling bermanfaat. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada ‘Uqbah bin ‘Amir r.a.أَلاَ أُخْبِرُكَ بِأَفْضَلِ مَا تَعَوَّذَ بِهِ الْمُتَعَوِّذُوْنَ؟“Maukah aku kabarkan kepadamu tentang permohonan perlindungan yang terbaik yang dimohon oleh para pemohon perlindungan?”قُلْ أَعُوْذُ بِرَبِّ الْفَلَكِ“Katakanlah : Aku berlindung kepada Tuhan Yang menguasai subuh” (QS Al-Falak : 1)قُلْ أَعُوْذُ بِرَبِّ النَّاسِ“Katakanlah ; Aku berlindung kepada Tuhan Penguasa manusia” (QS An-Naas : 1) (HR Ahmad)Dan kebutuhan hamba kepada isti’aadzah (memohon perlindungan kepada Allah) dengan kedua surat ini lebih besar daripada kebutuhannya kepada nafas, makanan, dan minuman. Dan dua surat ini ampuh untuk menolak sihir dan al-‘ain serta seluruh keburukan, demikian juga menghilangkannya jika telah terlanjur terkena.Terkadang keburukan menimpa sang hamba dari arah yang tidak ia sangka. Ada angin yang mendatangkan rahmat, dan ada angin yang merupakan adzab, dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, jika bertiup angin kencang maka beliau berdoa :«اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ خَيْرَهَا، وَخَيْرَ مَا فِيْهَا، وَخَيْرَ مَا أُرْسِلَتْ بِهِ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا، وَشَرِّ مَا فِيْهَا، وَشَرِّ مَا أُرْسِلَتْ بِهِ»“Ya Allah aku memohon kepadaMu kebaikan angin ini, dan kebaikan yang ada padanya serta kebaikan yang dikirimkan dengannya. Dan aku berlindung kepadaMu dari keburukannya, dan keburukan yang ada padanya serta keburukan yang dikirim dengannya” (HR Muslim)Dan Allah telah mengadzab beberapa kaum dengan awan, dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam jika melihat awan datang beliau berdoa:اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا أُرْسِلَ بِهِ“Ya Allah kami berlindung kepadaMu dari keburukan yang dikirim dengan awan ini” (HR Muslim)          Barang siapa yang memiliki baju baru maka hendaknya ia memuji Allah dan memohon kepada Allah kebaikan dari baju tersebut dan berlindung dari keburukannya. Beliau berdoa ;اللَّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ كَسَوْتَنِيْهِ، أَسْأَلُكَ خَيْرَهُ وَخَيْرَ مَا صُنِعَ لَهُ وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّهِ وَشَرِّ مَا صُنِعَ لَهُ“Ya Allah segala puji hanya bagiMu, Engkau telah memakaikan aku baju ini, aku memohon kepadaMu kebaikannya, dan kebaikanya yang dibuat padanya, dan aku berlindung kepadaMu dari keburukannya dan keburukan yang dibuat padanya” (HR At-Tirmidzi)          Dan kehidupan tidak tetap pada satu kondisi, dan barangsiapa yang melihat ada perubahan dalam kehidupan dengan hilangnya kenikmatan maka hendaknya ia memohon perlindungan kepada Allah dari hal tersebut. Dan diantara doa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam :اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ“Ya Allah aku memohon kepadaMu dari hilangnya karuniaMu” (HR Muslim)Dan Allah lah yang melindungi dari sulitnya kehidupan, terkena kesengsaraan, dan takdir yang buruk.Dan jika tubuh terkena penyakit maka kesembuhannya ada di sisi Allah, maka hendaknya memohon perlindungan kepadanya dari keburukannya, maka dari Allahlah kebaikan dan kesembuhan.Utsman bin Abi al-‘Aash r.a mengeluhkan sakitnya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, yaitu rasa sakit yang ia derita di tubuhnya. Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepadanya :“Letakkanlah tanganmu ke bagian yang sakit dari tubuhmu, dan ucapkanlah “Bismillah” sebanyak 3 kali, dan ucapkanlah sebanyak 7 kali :أَعُوذُ بِاللهِ وَقُدْرَتِهِ مِنْ شَرِّ مَا أَجِدُ وَأُحَاذِرُ“Aku berlindung kepada Allah dan kekusaanNya dari keburukan yang aku dapati sekarang, dan keburukan yang aku khawatirkan datang kemudian”  (HR Muslim)Dan kondisi-kondisi yang berat akan menjadi ringan dengan mengikatkan hati kepada Allah. Dan safar merupakan salah satu potongan adzab (kesulitan), maka hendaknya seorang musafir  berlindung kepada Allah dari وَعْثَاءِ السَّفَرِ (kesulitan dan beratnya safar) dan كَآبَةِ الْمَنْظَرِ (pemandangan yang mendatangkan kesedihan) dan سُوْءِ الْمُنْقَلَبِ فِي الْمَالِ وَالأَهْلِ (buruknya kondisi harta dan keluarga yang ditinggalkan) (HR Muslim).Rasa aman dari bahaya musuh dan ejekan mereka diperoleh dengan berlindung kepada Allah dari mereka. Berjidalnya orang-orang kafir yang sombong terhadap ayat-ayat Allah menimbulkan makar mereka dan rencana jahat mereka, dan keselamatan dari ini semua adalah dengan berlindung kepada Allah.إِنَّ الَّذِينَ يُجَادِلُونَ فِي آيَاتِ اللَّهِ بِغَيْرِ سُلْطَانٍ أَتَاهُمْ إِنْ فِي صُدُورِهِمْ إِلَّا كِبْرٌ مَا هُمْ بِبَالِغِيهِ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُSesungguhnya orang-orang yang memperdebatkan tentang ayat-ayat Allah tanpa alasan yang sampai kepada mereka tidak ada dalam dada mereka melainkan hanyalah (keinginan akan) kebesaran yang mereka sekali-kali tiada akan mencapainya, maka mintalah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat (QS Ghofir : 56)Allah menyukai akhlak yang terbaik dan amal yang terbaik, dan membenci amal dan akhlak yang buruk. Dan seorang muslim melakukan yang baik dan menjauhkan dirinya dari yang buruk serta berlindung kepada Allah dari keburukan akhlak dan amal. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam berdoa :اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوْذُ بِكَ مِنْ مُنْكَرَاتِ الأَخْلاَقِ وَالأَعْمَالِ وَالأَهْوَاءِ“Ya Allah sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari akhlak yang munkar (buruk) dan amal yang buruk serta hafwa nafsu” (HR At-Tirmidzi)Dan beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam berlindung kepada Allahمِنْ عِلْمٍ لا يَنْفَعُ، وَمِنْ قَلْبٍ لا يَخْشَعُ، وَمِنْ نَفْسٍ لا تَشْبَعُ، وَمِنْ دَعْوَةٍ لا يُسْتَجَابُ لَهَا“dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyu’, dan jiwa yang tidak pernah puas, dan dari doa yang tidak dikabulkan” (HR Muslim)          Seorang mengetahui rahasia-rahasia tetangganya, dan sebaik-baik tetangga adalah yang menutupi rahasia tetangganya. Tetangga yang buruk adalah yang membongkar aib dan membuka sitar. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :تعوذوا بِاللَّه من جَار السوء فِي دَار الْمقَام فَإِن الْجَار البادي يتَحَوَّل عَنْكَ“Berlindunglah kalian kepada Allah dari tetangga yang buruk di kota tempat tinggal, karena tetangga badui berpindah meninggalkanmu (ke daerah lain)” (HR An-Nasaai).          Islam adalah agama senang dan gembira dan melarang dari kesedihan dan gundah gulana karena hal itu akan melemahkan seorang hamba dari meraih kebaikan agamanya dan dari membangun kehidupannya. Diantara doa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam:اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ“Ya Allah sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari gundah gulana (kekawatiran) dan kesedihan” (HR Al-Bukhari dan Muslim)Dan fitnah menerpa hati sebagaimana tenunan tikar, tenunan demi tenunan dan tidak ada keselamatan kecuali dengan berlindung kepada Allah darinya. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada para sahabat :تَعَوَّذُوا بِاللهِ مِنَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ“Berlindunglah kalian kepada Allah dari fitnah, yang nampak maupun yang tersembunyi” (HR Muslim)Ibnu Hajar rahimahullah berkata : “Pada hadits ini ada dalil akan dianjurkannya berlindung kepada Allah dari fitnah meskipun seseorang memandang bahwa dirinya berpegang teguh dengan kebenaran dalam menghadapi fitnah, karena fitnah tersebut bisa saja menyebabkan terjadinya perkara yang ia tidak menyangka akan terjadinya”Dan fitnah itu banyak dengan berbagai macam model dan bentuknya. Diantara fitnah yang terbesar adalah fitnah kehidupan dan fitnah kematian serta fitnah Dajjal. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam berlindung dari fitnah ini semua sebelum beliau salam dari sholatnya. Beliau juga berlindung :مِنْ فِتْنَةِ الْغِنَى وَفِتْنَةِ الْفَقْرِ“dari fitnah kekayaan dan fitnah kemiskinan” (HR Al-Bukhari dan Muslim)          Dunia adalah fitnah, tidak ada yang bisa menyelamatkan dari fitnahnya kecuali Allah. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam berdoa :وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الدُّنْيَا“Dan aku berlindung dari fitnah dunia” (HR Al-Bukhari)Dan kezoliman merupakan sebab kebinasaan, dan doanya orang yang terzolimi tidak tertolak. Dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam telah berlindung dari buruknya doa orang yang terzolimi. Jika beliau bersafar beliau berlindung dari doanya orang yang terzolimi (HR Muslim).          Barangsiapa yang mengenal Allah maka ia akan mencintaiNya dan takut akan siksaanNya. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam berdoa dalam sujudnya :اللَّهُمَّ، أَعُوذُ بِرِضَاكَ مِنْ سَخَطِكَ، وَبِمُعَافَاتِكَ مِنْ عُقوبَتِكَ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْكَ، لا أُحْصِى ثَنَاءً عَلَيْكَ، أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ“Ya Allah aku berlindung dengan keridoanMu dari kemarahanMu, dengan penyelamatanMu dari hukumanMu, dan aku berlindung denganMu dariMu, aku tidak mampu untuk menyanjungMu, sesungguhnya hakikatMu adalah sebagaimana Engkau memuji diriMu” (HR Muslim).Seorang mukmin berjalan menuju Allah dengan khouf (rasa takut), rojaa’ (penuh berharap), dan mahabbah (kecintaan). Diantara tanda orang-orang yang takut kepada Allah adalah ia sering berlindung dari adzab Allah, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :إِذَا تَشَهَّدَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْتَعِذْ بِاللهِ مِنْ أَرْبَعٍ، يَقُولُ: اللهُمَّ، إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ، وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ، وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ“Jika salah seorang dari kalian bertasyahhud maka hendaklah ia memohon perlindungan dari 4 perkara, ia berkata ; Ya Allah aku berlindung kepadaMu dari adzab neraka Jahannam, dari adzab kubur, dari fitnah kehidupan dan kematian, dan keburukan fitnahnya Dajjal” (HR Muslim)‘Auf bin Malik r.a berkata :قُمْت مَعَ رسول الله فَاسْتَفْتَحَ من الْبَقَرَةَ لَا يَمُرُّ بِآيَةِ رَحْمَةٍ إلَّا وَقَفَ فوسَأَلَ، وَلَا يَمُرُّ بِآيَةِ عَذَابٍ إلَّا وَقَفَ وتَعَوَّذَ“Aku sholat bersama Rasulullah, maka beliau memulai sholatnya dengan membaca dari surat al-Baqoroh, tidaklah beliau melewati ayat rahmat kecuali beliau berhenti dan memohon, dan tidaklah beliau melewati ayat adzab kecuali beliau berhenti dan berlindung kepada Allah” (HR An-Nasaai)Beliau berlindung dari kondisi penghuni neraka, beliau berdoa :تَعَوَّذُوا بِاللهِ مِنْ عَذَابِ النَّارِ“Berlindunglah kalian kepada Allah dari adzab neraka” (HR Muslim).Barangsiapa yang meminta perlindungan kepada Allah dari neraka sebanyak 7 kali maka Allah akan melindunginya dari neraka.          Dan selanjutnya kaum muslimin sekalian, sesungguhnya tempat memohon perlindungan hanyalah Allah semata, tiada Pencipta selainNya, tiada yang disembah selainNya, tiada temapat bersandar, dan tiada tempat keselamatan dariNya kecuali kepadaNya. Barangsiapa yang bergantung kepada Allah dan mecurahkan hajatnya kepada Allah maka Allah akan mencukupkannya dan menjaganya, dan Allah akan mendekatkan baginya seluruh yang jauh dan memudahkan baginya seluruh yang sulit. Maka hendaknya seorang muslim menggantungkan hatinya kepada Allah dan berlindung kepadaNya, dan janganlah ia bosan dari memperbanyak memohon perlindungan, dengan isti’adzah (memohon perlindungan kepada Allah) maka ia telah beribadah kepada Rabnya dan menjaga dirinya, dan dengannya ia meraih kebahagiaan dan kemuliaannya.Aku berlindung kepada Allah dari syaitan yang terkutukفَفِرُّوا إِلَى اللَّهِ إِنِّي لَكُمْ مِنْهُ نَذِيرٌ مُبِينٌ (50) وَلَا تَجْعَلُوا مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ إِنِّي لَكُمْ مِنْهُ نَذِيرٌ مُبِينٌMaka segeralah kembali kepada (mentaati) Allah. Sesungguhnya aku seorang pemberi peringatan yang nyata dari Allah untukmu.  Dan janganlah kamu mengadakan tuhan yang lain disamping Allah. Sesungguhnya aku seorang pemberi peringatan yang nyata dari Allah untukmu (QS Adz-Dzaariyaat : 50-51)Semoga Allah memberikan keberkahan kepadaku dan kepada kalian dalam al-Qur’an yang agung… Khutbah KeduaSegala puji bagi Allah atas kebaikanNya, dan syukur terpanjatkan kepadaNya atas bimbingan dan karuniaNya, dan aku bersaksi bahwasanya tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah semata tiada sekutu bagiNya sebagai bentuk pengagungannya terhadap kedudukanNya, dan aku bersaksi bahwasanya Nabi kita Muhammad adalah hamba dan rasulNya, semoga shalawat dan salam yang banyak tercurahkan kepadanya  dan kepada para sahabatnya. Kaum muslimin sekalian, barangsiapa yang bergantung kepada selain Allah dan memohon perlindungan kepadanya, bersandar kepadanya, maka Allah akan menyerahkan dirinya kepada tempat ia bergantung, dan ia akan ditinggalkan (tidak ditolong) dari arah yang ia bergantung kepadanya, serta ia akan gagal mencapi tujuannya yang ia harapkan dari Allah, karena ia bergantung kepada selain Allah dan mencari selain Allah. Maka ia gagal mencapai apa yang ia cari dari Allah, dan apa yang ia harapkan dari tempat ia bergantung juga gagal. Allah berfirman :وَاتَّخَذُوا مِنْ دُونِ اللَّهِ آلِهَةً لَعَلَّهُمْ يُنْصَرُونَ (74) لَا يَسْتَطِيعُونَ نَصْرَهُمْ وَهُمْ لَهُمْ جُنْدٌ مُحْضَرُونَMereka mengambil sembahan-sembahan selain Allah, agar mereka mendapat pertolongan. Berhala-berhala itu tiada dapat menolong mereka; padahal berhala-berhala itu menjadi tentara yang disiapkan untuk menjaga mereka (QS Yaasiin : 74-75)Allah berfirman :وَاتَّخَذُوا مِنْ دُونِ اللَّهِ آلِهَةً لِيَكُونُوا لَهُمْ عِزًّا (81) كَلَّا سَيَكْفُرُونَ بِعِبَادَتِهِمْ وَيَكُونُونَ عَلَيْهِمْ ضِدًّاDan mereka telah mengambil sembahan-sembahan selain Allah, agar sembahan-sembahan itu menjadi pelindung bagi mereka. Sekali-kali tidak. Kelak mereka (sembahan-sembahan) itu akan mengingkari penyembahan (pengikut-pengikutnya) terhadapnya, dan mereka (sembahan-sembahan) itu akan menjadi musuh bagi mereka (QS Maryam : 81-82)Barangsiapa yang berlindung kepada jin dan meminta pertolongan para penyihir maka ia tidak akan mewujudkan dari mereka tujuannya. Dan mereka tidak akan menambah baginya melainkan keburukan, ketakutan, kekawatiran, kepanikan, dan kebingungan. Allah Ta’ala berfirman :وَأَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِنَ الْإِنْسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِنَ الْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقًاDan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan (QS Al-Jinn : 6)Orang yang bahagia adalah orang yang mencurahkan hajatnya kepada Allah yang Maha agung, Yang menghilangkan penderitaan, dan melenyapkan duka cita.Kemudian ketahuilah bahwasanya Allah telah memerintahkan untuk bersholawat kepada NabiNya… Penerjemah : Firanda Andirja & Utsman Hatimhttps://firanda.com/


(Kutbah Jum’at Mesjid Nabawi 1/2/1437 H – 13/11/2015)Oleh : Asy-Syekh Abdul Muhsin Muhamad Al-QasimKhutbah PertamaSegala puji bagi Allah. Kami memujiNya, memohon pertolonganNya dan memohon ampunanNya. Kami berlindung kepada Allah dari kejahatan diri kami dan keburukan amal perbuatan kami. Barangsiapa yang Allah berikan petunjuk, tidak akan ada yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa yang Allah biarkan sesat, tidak ada orang yang mampu memberinya petunjuk.Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah semata, tiada sekutu bagiNya. Dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah hambaNya dan utusanNya. Shalawat dan salam semoga tercurah sebanyak-banyaknya kepada beliau, beserta seluruh keluarga dan sahabatnya. Selanjutnya. Bertakwalah kepada Allah – Wahai hamba Allah ! – sebaik-baik takwa, berpegang teguhlah dengan agama Allah sekuat-kuatnya. Kaum muslimin  !Allah Ta’ala mensifati diri-Nya dengan sifat-sifat keagungan, keindahan dan kesempurnaan. Nama-namaNya sungguh indah dan sifat-sifatNya tinggi dan mulia; Dia menciptakan dan hebat dalam menciptakan, begitu kokoh dan akurat ciptaanNya. Sebagai bukti kesempurnaan hikmah dan  kekuasaanNya adalah Dia ciptakan segala sesuatu berpasang-pasang; diciptakanNya sesuatu dengan lawan jodohnya, siang dengan malam, pria dengan wanita, kebaikan dengan keburukan.Seorang hamba tidak akan terlepas dari penghambaan kepadaNya dalam kondisi apapun, ia memohon kepadaNya kebaikan dan berlindung kepadaNya dari kejahatan. Firman Allah  :يا أَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَراءُ إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ  [ فاطر / 15 ]( Hai manusia, kamulah yang berkehendak kepada Allah; dan Allah Dialah Yang Maha Kaya [tidak memerlukan sesuatu] lagi Maha Terpuji ) Qs Fathir : 15Dialah Allah Yang dimohon pertolonganNya dalam kesulitan dan ketika bencana melanda. Firman Allah  :أَمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذا دَعاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ  [ النمل / 62 ]( Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan  ) Qs An-Naml : 62Dia-lah yang menimpakan kesengsaraan, dan Dia pula yang menghilangkannya. Firman Allah :وَإِنْ يَمْسَسْكَ اللَّهُ بِضُرٍّ فَلا كاشِفَ لَهُ إِلاَّ هُوَ [ الأنعام / 17 ]( Dan jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang menghilangkannya melainkan Dia sendiri ) Qs Al-An’am : 17Allah memerintahkan para hambaNya menyampaikan permohonan hanya kepadaNya, dan berjanji mengabulkan permohonan mereka. Ini merupakan hak prerogatif Allah yang tidak ada hak bagi siapapun untuk menyampuriNya. Salah satu permohonan/doa kepada Allah adalah berlindung kepadaNya dari apapun yang engkau takuti. Itu merupakan ibadah diantara ibadah-ibadah yang paling agung, karena di dalamnya terkandung pengagungan kepada Allah dan keterikatan hati denganNya serta memurnikanNya dalam berdoa dan pengakuan atas kemiskinan diri kepadaNya. Maka terukur dengan kesungguhan seorang hamba dalam mendekatkan diri kepada Allah, datangnya solusi yang ia butuhkan. Firman Allah dalam Hadis Qudsi :( مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالحَرْبِ، وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ، وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ: كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ، وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ، وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا، وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا، وَإِنْ سَأَلَنِي لَأُعْطِيَنَّهُ، وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِي لَأُعِيذَنَّهُ ) رواه البخاريBarangsiapa yang memusuhi wali-Ku maka Aku umumkan perang kepadanya. Tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai dari pada yang telah Aku wajibkan kepadanya. Dan terus menerus hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan yang sunnah hingga Aku mencintai dia. Jika Aku sudah mencintainya, maka Akulah pendengarannya yang dia mendengar dengannya, dan pandangannya yang dia memandang dengannya, dan tangannya yang dia menyentuh dengannya, dan kakinya yang dia berjalan dengannya. Jikalau dia meminta kepada-Ku niscaya akan Kuberi, dan jika dia meminta perlindungan kepada-Ku niscaya akan Kulindungi.( HR Bukhari)Barangsiapa yang tingkat penghambaannya kepada Allah lebih besar, maka lebih kuat pula permohonannya akan perlindungan Allah dan penyandaraannya kepadaNya. Para Rasul, mereka berlindung kepada Allah dalam kondisi krisis dan kseluitan dan untuk menolak bala’ dan malapetaka. Allah Ta’ala melarang Nabi Nuh a.s. mendoakan untuk anaknya yang kafir kepada Allah. Firman Allah :رَبِّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أَسْأَلَكَ مَا لَيْسَ لِي بِهِ عِلْمٌ [ هود / 47 ]( Nuh berkata: Ya Tuhanku, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari memohon kepada Engkau sesuatu yang aku tiada mengetahui [hakekat]nya. ) Qs Hud : 47Nabi Yusuf a.s. berlindung kepada Allah dari fitnah (pencemaran namanya).  Firman Allah :قالَ مَعاذَ اللَّهِ إِنَّهُ رَبِّي أَحْسَنَ مَثْوايَ  [ يوسف / 23 ]( Yusuf berkata: “Aku berlindung kepada Allah, sungguh tuanku telah memperlakukan aku dengan baik ). Qs Yusuf : 23 Saudara-saudara Nabi Yusuf mengajaknya melakukan penyimpangan dengan menahan salah seorang di antara mereka sebagai pengganti dari saudara Yusuf. Maka ia-pun berdoa :قالَ مَعاذَ اللَّهِ أَنْ نَأْخُذَ إِلاَّ مَنْ وَجَدْنا مَتاعَنا عِنْدَهُ إِنَّا إِذاً لَظالِمُونَ  [ يوسف / 79 ]( Berkata Yusuf: “Aku mohon perlindungan kepada Allah daripada menahan seorang, kecuali orang yang kami ketemukan harta benda kami padanya, jika kami berbuat demikian, maka benar-benarlah kami orang-orang yang zalim). Qs Yusuf : 79Nabi Musa a.s. ketika dituduh oleh kaumnya melakukan pelecehan terhadap mereka dengan modus perintah dan larangan, memohon perlindungan kepada Allah :قَالَ أَعُوذُ بِاللَّهِ أَنْ أَكُونَ مِنَ الْجَاهِلِينَ  [ البقرة / 67 ]) Musa menjawab: “Aku berlindung kepada Allah agar tidak menjadi salah seorang dari orang-orang yang jahil  ) . Qs Al-Baqarah : 67Fir’aun dan kroni-kroninya bersikap arogan terhadap ajakan Musa a.s., maka Musa-pun berdoa :إِنِّي عُذْتُ بِرَبِّي وَرَبِّكُمْ مِنْ كُلِّ مُتَكَبِّرٍ لا يُؤْمِنُ بِيَوْمِ الْحِسابِ [ غافر / 27 ](“Sesungguhnya aku berlindung kepada Tuhanku dan Tuhanmu dari setiap orang yang menyombongkan diri yang tidak beriman kepada hari berhisab”) Qs Ghafir : 27Musa berlindung dari kejahatan Fir’aun dan pasukannya seraya berkata :وَإِنِّي عُذْتُ بِرَبِّي وَرَبِّكُمْ أَنْ تَرْجُمُونِ  [ الدخان / 20 ]( Dan sesungguhnya aku berlindung kepada Tuhanku dan Tuhanmu, dari keinginanmu merajamku ) : Qs Ad-Dukhan : 20Istri Imran ketika melahirkan kandungannya, berdoa :وَإِنِّي أُعِيذُها بِكَ وَذُرِّيَّتَها مِنَ الشَّيْطانِ الرَّجِيمِ  [ آل عمران / 36 ]( Dan aku memohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepada Engkau dari gangguan syaitan yang terkutuk ). Qs Ali Imran : 36Ibnu Jarir – Rahimahullah – berkata : “Maka, Allah Ta’ala mengabulkan permohonan Istri Imran itu dengan melindunginya dan anak cucunya dari godaan setan yang terkutuk sehingga tidak ada jalan bagi setan untuk menggodanya”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :( مَا مِنْ مَوْلُودٍ يُولَدُ إِلَّا نَخَسَهُ الشَّيْطَانُ، فَيَسْتَهِلُّ صَارِخًا مِنْ نَخْسَةِ الشَّيْطَانِ، إِلَّا ابْنَ مَرْيَمَ وَأُمَّه )(Tidak ada bayi yang dilahirkan kecuali setan pasti menyentuhnya [ketika dia lahir], maka bayi tersebut menjerit karena sentuhan setan, kecuali Maryam dan putranya).Maryam a.s. ketika kedatangan malaikat untuk meniupkan roh padanya, ia mengira malaikat itu sosok manusia yang punya maksud jahat terhadap dirinya, maka iapun berlindung kepada Allah :إِنِّي أَعُوذُ بِالرَّحْمَنِ مِنْكَ إِنْ كُنْتَ تَقِيّاً  [ مريم / 18 ]( Maryam berkata: “Sesungguhnya aku berlindung dari padamu kepada Tuhan Yang Maha pemurah, jika kamu seorang yang bertakwa ) Qs Maryam : 18Ketika rahim ( ikatan kekerabatan ) Allah ciptakan, ia pun berlindung kepada Allah dari pemutusan ikatannya seraya berkata :هَذَا مَقَامُ العَائِذِ بِكَ مِنَ القَطِيعَةِ( Di sinilah posisi orang yang berlindung kepadaMu dari pemutusan tali kekerabatan ). Artinya, alasanku memohon perlindungan kepadamu adalah kakhawatiranku dari perbuatan seseorang yang memutuskan aku sehingga dia terkena murkaMu dan kemarahanMu.Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri selalu berlindung kepada Tuhannya sepenuh hati dalam segala situasi; beliau berlindung kepada Allah di waktu pagi dan di waktu petang hari, ketika dalam perjalanan atau sedang di rumah, dalam situasi perang ataupun damai, ketika hendak berbaring tidur atau bangun dari tidur, ketika masuk kamar kecil, dan dalam shalat beliau perbanyak baca doa perlindungan, dalam sholat malam beliau ketika baca ayat tentang azab neraka beliau mohon perlindungan, ketika sedang bersujud dan duduk beliau berlindung, ketika melihat sesuatu yang tidak menyenangkan beliau bersandar dan berlindung kepada Allah, beliau tidak biarkan ada kejahatan apapun kecuali beliau berlindung kepada Allah Ta’ala dari keburukannya.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berlindung kepada Allah Ta’ala dari hal-hal yang bertentangan dengan keimanan dan yang dapat menguranginya. Doa beliau :وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الْفَقْرِ وَالْكُفْرِ، وَالشِّرْكِ وَالنِّفَاقِ، وَالسُّمْعَةِ وَالرِّيَاءِ( Aku berlindung kepadaMu dari kemiskinan dan kekafiran, dari kemusyrikan dan kemunafikan, dari rasa ingin didengar orang dan memamerkan diri ) HR Ibnu Hibban.Doa perlindungan itu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ajarkan kepada sahabat-sahabatnya dan mendorong mereka memohon perlindungan. Beliau membacakan doa memohon perlindungan untuk anak-anak kecil seperti Hasan dan Husen r.a. seraya berkata :إِنَّ أَبَاكُمَا كَانَ يُعَوِّذُ بِهَا إِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ: أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّةِ، مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ، وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لاَمَّةٍ(Sesungguhnya Leluhur kalian (yaitu Ibrahim a.s) mendoakan perlindungan untuk Ismail dan Ishak dengan doa ini;  Aku berlindung dengan kalimat Allah yang sempurna, dari kejahatan setan dan ular/hewan beracun, serta dari kejahatan mata yang membawa musibah). HR BukhariBeliau shallallahu ‘alaihi wasallam menanamkan di dalam jiwa pentingnya doa perlindungan kepada Allah Ta’ala, beliau katakan :مَنِ اسْتَعَاذَ بِاللَّهِ فَأَعِيذُوهُ( Barangsiapa yang berlindung kepada Allah, maka lindungilah dia ) HR Abu DawudKebijakan Allah telah menentukan bahwa setiap muslim itu ada musuhnya dari setan-setan dalam sosok manusia dan jin :وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الْإِنْسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًا [ الأنعام / 112 ](Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan [dari jenis] manusia dan [dan jenis] jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu.). Qs Al-An’am : 112Setan adalah musuh yang nyata bagi manusia, syaitan merupakan asas dari segala kejahatan dan malapetaka. Setan berusaha dengan segala cara untuk mencelakakan dan menyengsarakan manusia. Tidak ada keselamatan dari kejahatan syaitan dan para prajuritnya kecuali dengan mohon perlindungan kepada Allah Ta’ala. Barangsiapa yang berpegang teguh kepada Allah dan memurnikan niat karenaNya serta bertawakal kepadaNya, maka setan tidak akan mampu menggelincirkan dan menyesatkannya. Firman Allah :إِنَّهُ لَيْسَ لَهُ سُلْطانٌ عَلَى الَّذِينَ آمَنُوا وَعَلى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ  [ النحل / 99 ]( Sesungguhnya syaitan itu tidak ada kekuasaannya atas orang-orang yang beriman dan bertawakkal kepada Tuhannya ) Qs An-Nahl : 99Seorang muslim diperintahkan selalu memohon perlindungan dari bisikan-bisikan setan. Allah berfirman :وَقُلْ رَبِّ أَعُوذُ بِكَ مِنْ هَمَزاتِ الشَّياطِينِ  [ المؤمنون / 97 ]( Dan katakanlah: “Ya Tuhanku aku berlindung kepada Engkau dari bisikan-bisikan setan ) Qs Al-Mukminun : 97Allah perintahkan manusia berpegang pada prinsip-prinsip keindahan agama dan memikat hati manusia kepada islam dengan cara memaafkan kesalahan, mengajak kepada yang makruf dan berpaling dari kebodohan, sementara setan berupaya menghalanginya, dan tidak ada jalan keluar kecuali dengan memohon perlindungan dari godaan setan. Firman Allah :خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ , وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ   ، وَإِمَّا يَنْزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ إِنَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ  [ الأعراف / 199 ](Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma´ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh, Dan jika kamu ditimpa sesuatu godaan setan maka berlindunglah kepada Allah. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar dan Maha Mengetahui ). Qs Al-A’raf : 199Setan merintagi antara hamba dan ketaatannya kepada Tuhannya. Semakin besar nilai amal ibadah bagi seorang hamba dan semakin dicintai oleh Allah, maka semakin dahsyat pula rintangan setan kepadanya. Maka ketika seseorang sedang shalat, setan mengganggunya. Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam :ذَاكَ شَيْطَانٌ يُقَالُ لَهُ خَنْزَبٌ، فَإِذَا أَحْسَسْتَهُ فَتَعَوَّذْ بِاللهِ مِنْهُ، وَاتْفِلْ عَلَى يَسَارِكَ ثَلَاثًا( Itu adalah setan yang bernama Khonzab, jika kamu merasakan gangguannya maka berlindunglah kepada Allah dari gangguannya dan meludahlah ke samping kiri tiga kali ) HR MuslimKetika hendak membaca Al-Qur’an, seseorang diperintahkan berlindung kepada Allah dari gangguan setan :فَإِذا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطانِ الرَّجِيمِ   [ النحل / 98 ]( Apabila kamu membaca Al Quran hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk ) Qs An-Nahl : 98Tempat-tempat buang hajat banyak setan berkeliaran di dalamnya, maka untuk menghindarkan diri dari gangguan mereka adalah dengan memohon perlindungan kepada Allah. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan :اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْخُبْثِ وَالْخَبَائِثِ( Ya Allah ! sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari segala kejahatan dan para syaitan ) Muttafaq Alaihi.Di waktu pagi dan petang, kitapun memohon perlindungan kepada Allah dari gangguan setan.Abu Bakar r.a. berkata :يَا رَسُولَ اللَّهِ مُرْنِي  بِكَلِمَاتٍ أَقُولُهُنَّ إِذَا أَصْبَحْت، وَإِذَا أَمْسَيْت، قَالَ: ” قُلْ: اللَّهُمَّ فَاطِرَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ، عَالِمَ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ، رَبَّ كُلِّ شَيْءٍ وَمَلِيكَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ نَفْسِي، وَشَرِّ الشَّيْطَانِ وَشِرْكِهِ «قَالَ» قُلْهَا إِذَا أَصْبَحْتَ، وَإِذَا أَمْسَيْتَ، وَإِذَا أَخَذْتَ مَضْجَعَكَ“Ya Rasulullah, perintahkan kepadaku untuk mengucapkan kalimat-kalimat yang akan aku ucapkan setiap pagi dan petang hari”. Rasulullah bersabda: “Katakanlah”: (“Ya, Allah Pencipta langit dan bumi, Yang Maha Mengetahui yang ghaib dan yang tampak, Pemelihara segala sesuatu dan Rajanya, aku bersaksi tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Engkau, aku berlindung dari keburukan diriku dan kejahatan setan bersama sekutunya. Beliau berkata : “Ucapkanlah [do’a ini] ketika pagi dan sore hari, dan ketika engkau hendak tidur”). HR Abu DawudSetan mengganggu manusia sampai-pun dalam tidurnya. Maka barangsiapa yang bermimpi buruk dalam tidurnya, hendaklah ia berlindung kepada Allah dari godaan setan. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :( إِذَا رَأَى أَحَدُكُمُ الرُّؤْيَا يَكْرَهُهَا، فَلْيَبْصُقْ عَنْ يَسَارِهِ ثَلَاثًا وَلْيَسْتَعِذْ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ ثَلَاثًا، وَلْيَتَحَوَّلْ عَنْ جَنْبِهِ الَّذِي كَانَ عَلَيْهِ  ) رواه مسلم(Jika salah seorang di antara kalian mengalami mimpi buruk, hendaklah meludah kesebelah kiri tiga kali, dan memohon perlindungan kepada Allah dari godaan setan tiga kali, kemudian mengubah posisi tidurnya dari posisi semula ) HR. MuslimKemarahan adalah kendaraan setan, ia merupakan bara api dalam hati yang mendorong seseorang berbuat maksiat dan dosa. Untuk meredam kemarahan, seseorang berlindung kepada Allah.Sulaiman Bin Shurod berkata :كُنْتُ جَالِسًا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَرَجُلاَنِ يَسْتَبَّانِ، فَأَحَدُهُمَا احْمَرَّ وَجْهُهُ، وَانْتَفَخَتْ أَوْدَاجُهُ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” إِنِّي لَأَعْلَمُ كَلِمَةً لَوْ قَالَهَا ذَهَبَ عَنْهُ مَا يَجِدُ، لَوْ قَالَ: أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ، ذَهَبَ عَنْهُ مَا يَجِدُ “(Pada suatu hari aku duduk bersama-sama Nabi SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM sedang dua orang lelaki sedang bermaki-makian di antara satu sama lain. Salah seorang daripadanya telah merah mukanya dan tegang pula urat lehernya. Lalu Rasulullah SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM bersabda”, “Sesungguhnya aku tahu satu perkataan sekiranya dibaca tentu hilang rasa marahnya. Jika sekiranya dia baca “Auzubillahi minas-Syaitanirrajim” niscaya hilang kemarahan yang dialaminya”) HR BukhariSetan tidak henti-hentinya menjerumuskan anak Adam, sejak pertama kali seorang suami menggauli istrinya. Maka dengan permohonan perlindungan kepada Allah, bahayanya dapat ditangkis.Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :لَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا أَتَى أَهْلَهُ قَالَ: “بِاسْمِ اللَّهِ، اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ، وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا”، فَإِنَّهُ إِنْ يُقَدَّرْ بَيْنَهُمَا وَلَدٌ فِي ذَلِكَ لَمْ يَضُرَّهُ شَيْطَانٌ أَبَدًا( Apabila seseorang hendak menggauli istrinya lalu berdoa : Dengan nama Allah, jauhkanlah kami dari setan dan jauhkanlah dari setan apa yang akan engkau rezekikan kepada kami, sesungguhnya jikalau hubungan mereka ditakdirkan membuahkan anak, tidak akan terkena bahaya setan selamanya).Muttafaq Alaih.Sampai binatang himar (keledai) pun bersuara meringkik ketika melihat setan. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :( إِذَا سَمِعْتُمْ نَهِيقَ الحِمَارِ فَتَعَوَّذُوا بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ، فَإِنَّهُ رَأَى شَيْطَانًا ) متفق عليه(Apabila kamu mendengar keledai meringkik, mohonlah perlindungan kepada Allah, sesungguhnya ia sedang melihat setan) . Muttafaq AlaihTujuan utama setan adalah menjerumuskan dan menyesatkan anak cucu Adam. Firman Allah :قالَ فَبِعِزَّتِكَ لَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ    [ ص / 82 ]( Iblis berkata: “Demi kekuasaan Engkau aku akan menyesatkan mereka semuanya ) Qs Shad : 82Setan akan tetap menggoda manusia dalam masalah pokok-pokok keimanan. Tidak ada keselamatan dari godaannya kecuali atas pertolongan Allah. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :( يَأْتِي الشَّيْطَانُ أَحَدَكُمْ فَيَقُولُ: مَنْ خَلَقَ كَذَا، مَنْ خَلَقَ كَذَا، حَتَّى يَقُولَ: مَنْ خَلَقَ رَبَّكَ؟ فَإِذَا بَلَغَهُ فَلْيَسْتَعِذْ بِاللَّهِ وَلْيَنْتَهِ )  رواه البخاري( Setan mendatangi salah seorang dari kalian, lalu bertanya,’Siapakah yang menciptakan ini? Siapakah yang menciptakan itu?’ hingga dia bertanya,’Siapakah yang menciptakan Rabb-mu?’ Oleh karena itu, jika telah sampai di situ, maka hendaklah dia berlindung kepada Allah dan hendaklah dia menghentikan was-was situ). HR BukhariMenyekutukan Allah merupakan puncak kesesatan. Para Imam tauhid khawatir atas diri mereka terhadap kemusyrikan ini. Nabi Ibrahim a.s. berdoa :وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ الْأَصْنامَ  [إبراهيم / 35 ]( Dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala ) Qs Ibrahim : 35Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :اللهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْكُفْرِ، وَالْفَقْرِ، وَعَذَابِ الْقَبْرِ( Ya Allah ! Aku berlindung kepadaMu dari kekafiran, dari kemiskinan dan dari siksa kubur ) HR Ahmad.Hati para hamba berada di antara dua jari dari pada jari-jari Allah Yang Maha Pemurah, Dia membolak-balikkan sebagaimana kehendakNya, maka Allah beri petunjuk seseorang setelah tersesat, dan menyesatkannya setelah berada dalam petunjuk. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :أَعُوذُ بِعِزَّتِكَ، لَا إِلَهَ إِلا أَنْتَ، أَنْ تُضِلَّنِي( Aku berlindung kepada kemuliaanMu, tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau, dari kesesatan yang Engkau timpakan kepadaku ) HR MuslimDan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam juga berlindung dari perpindahan dari sebelumnya beribadah menjadi bermaksiat.Kehidupan manusia diliputi kejahatan. Jalan yang ideal untuk memagari diri dari bahayanya adalah memohon perlindungan kepada Allah. Sebab, Allah adalah pencipta makhluk, maka hanya Dia-lah yang dapat menolak kejahatan mereka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika hendak membaringkan tubuhnya di tempat tidur selalu berdoa :أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ كُلِّ شَيْءٍ أَنْتَ آخِذٌ بِنَاصِيَتِهِ( Aku berlindung kepada Allah dari kejahatan segala sesuatu yang mana Engkaulah yang memegang ubun-ubunnya ) HR MuslimNafsu manusia sangatlah mendorong kepada keburukan, karena memang berwatak keburukan. Orang yang beruntung ialah orang yang mengarahkan nafsunya kepada ketaatan dan selalu berlindung dari kejahatannya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berdoa :اللهُمَّ أَسْتَهْدِيكَ لِأَرْشَدِ أَمْرِي، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ نَفْسِي( Ya Allah, aku memohon petunjuk kepadaMu untuk selurus-lurus urusanku, dan aku berlindung kepadaMu dari kejahatan nafsuku ). HR AhmadIbnul-Qayim – Rahimahullah – berkata :“ Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memohon perlindungan kepada Allah dari kejahatan nafsu secara umum dan dari kejahatan perbuatan yang dihasilkannya serta dampak perkara yang buruk dan tercela  yang ditimbulkannya”.Maka, merupakan sunnah adalah berlindung dari kejahatan nafsu setiap memulai pidato,وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا“Kami berlindung kepada Allah dari kejahatan diri kami dan keburukan amal perbuatan kami”. HR TurmuziPermohonan ini mencakup perlindungan dari akar kejahatan, cabang-cabangnya, sasarannya dan konsekuensi logisnya.Kemiskinan dan kekayaan adalah kendaraan kebaikan atau keburukan. Kebahagiaan seseorang terletak pada konsistensi dalam ketakwaannya meskipun kendaraannya berbeda. Maka barangsiapa yang memohon perlindungan kepada Allah dari keburukan keduanya, akan dicukupi dan dilindungi oleh Allah.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam doanya :اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ النَّارِ، وَعَذَابِ النَّارِ، وَمِنْ شَرِّ الْغِنَى وَالْفَقْرِ( Ya Allah, aku berlindung kepadaMu dari fitnah neraka, dari siksa neraka dan dari kejahatan kekayaan dan kemiskinan ). HR Abu Dawud Organ-organ tubuh manusia itu diliputi nafsu syahwat, maka yang terbaik adalah memfungsikannya untuk ketaatan dan menghindarkannya dari keburukan, dengan disertai terus menerus memohon perlindungan kepada Allah dari dampaknya yang membahayakan.Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan kepada salah seorang sahabat suatu doa :اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ سَمْعِي، وَمِنْ شَرِّ بَصَرِي، وَمِنْ شَرِّ لِسَانِي، وَمِنْ شَرِّ قَلْبِي، وَمِنْ شَرِّ مَنِيِّي يَعْنِي فَرْجَهُ( Ya Allah, aku berlindung kepadaMu dari kejahatan pendengaranku, kejahatan pengelihatanku, kejahatan lidahku, kejahatan hatiku dan kejahatan fajiku ). HR TurmuziAmal kebajikan semua positif, sedangkan perbuatan maksiat semua negatif. Maka hendaklah Anda selalu melakukan ketaatan dan memohon kepada Allah terkabulnya amal Anda dan tetap konsisten melakukannya. Jauhilah maksiat dan mohonlah perlindungan kepada Allah dari bahaya maksiat.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam selalu memohon perlindungan :أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ( Aku berlindung kepadaMu dari kejahatan apa yang aku perbuat ). Muttafaq Alaih.Barangsiapa yang menempati sebuah tempat tinggal lalu memohon perlindungan dalam doanya :أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ، فَإِنَّهُ لَا يَضُرُّهُ شَيْءٌ حَتَّى يَرْتَحِلَ مِنْهُ( Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan apa yang Dia ciptakan, maka tidak akan membahayakan suatu apapun hingga ia meninggalkan tempat itu ). HR MuslimDan al-Mu’awwidzataani (yaitu surat al-Falaq dan An-Naas) termasuk permohonan perlindungan yang paling kompleks dan paling bermanfaat. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada ‘Uqbah bin ‘Amir r.a.أَلاَ أُخْبِرُكَ بِأَفْضَلِ مَا تَعَوَّذَ بِهِ الْمُتَعَوِّذُوْنَ؟“Maukah aku kabarkan kepadamu tentang permohonan perlindungan yang terbaik yang dimohon oleh para pemohon perlindungan?”قُلْ أَعُوْذُ بِرَبِّ الْفَلَكِ“Katakanlah : Aku berlindung kepada Tuhan Yang menguasai subuh” (QS Al-Falak : 1)قُلْ أَعُوْذُ بِرَبِّ النَّاسِ“Katakanlah ; Aku berlindung kepada Tuhan Penguasa manusia” (QS An-Naas : 1) (HR Ahmad)Dan kebutuhan hamba kepada isti’aadzah (memohon perlindungan kepada Allah) dengan kedua surat ini lebih besar daripada kebutuhannya kepada nafas, makanan, dan minuman. Dan dua surat ini ampuh untuk menolak sihir dan al-‘ain serta seluruh keburukan, demikian juga menghilangkannya jika telah terlanjur terkena.Terkadang keburukan menimpa sang hamba dari arah yang tidak ia sangka. Ada angin yang mendatangkan rahmat, dan ada angin yang merupakan adzab, dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, jika bertiup angin kencang maka beliau berdoa :«اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ خَيْرَهَا، وَخَيْرَ مَا فِيْهَا، وَخَيْرَ مَا أُرْسِلَتْ بِهِ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا، وَشَرِّ مَا فِيْهَا، وَشَرِّ مَا أُرْسِلَتْ بِهِ»“Ya Allah aku memohon kepadaMu kebaikan angin ini, dan kebaikan yang ada padanya serta kebaikan yang dikirimkan dengannya. Dan aku berlindung kepadaMu dari keburukannya, dan keburukan yang ada padanya serta keburukan yang dikirim dengannya” (HR Muslim)Dan Allah telah mengadzab beberapa kaum dengan awan, dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam jika melihat awan datang beliau berdoa:اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا أُرْسِلَ بِهِ“Ya Allah kami berlindung kepadaMu dari keburukan yang dikirim dengan awan ini” (HR Muslim)          Barang siapa yang memiliki baju baru maka hendaknya ia memuji Allah dan memohon kepada Allah kebaikan dari baju tersebut dan berlindung dari keburukannya. Beliau berdoa ;اللَّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ كَسَوْتَنِيْهِ، أَسْأَلُكَ خَيْرَهُ وَخَيْرَ مَا صُنِعَ لَهُ وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّهِ وَشَرِّ مَا صُنِعَ لَهُ“Ya Allah segala puji hanya bagiMu, Engkau telah memakaikan aku baju ini, aku memohon kepadaMu kebaikannya, dan kebaikanya yang dibuat padanya, dan aku berlindung kepadaMu dari keburukannya dan keburukan yang dibuat padanya” (HR At-Tirmidzi)          Dan kehidupan tidak tetap pada satu kondisi, dan barangsiapa yang melihat ada perubahan dalam kehidupan dengan hilangnya kenikmatan maka hendaknya ia memohon perlindungan kepada Allah dari hal tersebut. Dan diantara doa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam :اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ“Ya Allah aku memohon kepadaMu dari hilangnya karuniaMu” (HR Muslim)Dan Allah lah yang melindungi dari sulitnya kehidupan, terkena kesengsaraan, dan takdir yang buruk.Dan jika tubuh terkena penyakit maka kesembuhannya ada di sisi Allah, maka hendaknya memohon perlindungan kepadanya dari keburukannya, maka dari Allahlah kebaikan dan kesembuhan.Utsman bin Abi al-‘Aash r.a mengeluhkan sakitnya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, yaitu rasa sakit yang ia derita di tubuhnya. Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepadanya :“Letakkanlah tanganmu ke bagian yang sakit dari tubuhmu, dan ucapkanlah “Bismillah” sebanyak 3 kali, dan ucapkanlah sebanyak 7 kali :أَعُوذُ بِاللهِ وَقُدْرَتِهِ مِنْ شَرِّ مَا أَجِدُ وَأُحَاذِرُ“Aku berlindung kepada Allah dan kekusaanNya dari keburukan yang aku dapati sekarang, dan keburukan yang aku khawatirkan datang kemudian”  (HR Muslim)Dan kondisi-kondisi yang berat akan menjadi ringan dengan mengikatkan hati kepada Allah. Dan safar merupakan salah satu potongan adzab (kesulitan), maka hendaknya seorang musafir  berlindung kepada Allah dari وَعْثَاءِ السَّفَرِ (kesulitan dan beratnya safar) dan كَآبَةِ الْمَنْظَرِ (pemandangan yang mendatangkan kesedihan) dan سُوْءِ الْمُنْقَلَبِ فِي الْمَالِ وَالأَهْلِ (buruknya kondisi harta dan keluarga yang ditinggalkan) (HR Muslim).Rasa aman dari bahaya musuh dan ejekan mereka diperoleh dengan berlindung kepada Allah dari mereka. Berjidalnya orang-orang kafir yang sombong terhadap ayat-ayat Allah menimbulkan makar mereka dan rencana jahat mereka, dan keselamatan dari ini semua adalah dengan berlindung kepada Allah.إِنَّ الَّذِينَ يُجَادِلُونَ فِي آيَاتِ اللَّهِ بِغَيْرِ سُلْطَانٍ أَتَاهُمْ إِنْ فِي صُدُورِهِمْ إِلَّا كِبْرٌ مَا هُمْ بِبَالِغِيهِ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُSesungguhnya orang-orang yang memperdebatkan tentang ayat-ayat Allah tanpa alasan yang sampai kepada mereka tidak ada dalam dada mereka melainkan hanyalah (keinginan akan) kebesaran yang mereka sekali-kali tiada akan mencapainya, maka mintalah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat (QS Ghofir : 56)Allah menyukai akhlak yang terbaik dan amal yang terbaik, dan membenci amal dan akhlak yang buruk. Dan seorang muslim melakukan yang baik dan menjauhkan dirinya dari yang buruk serta berlindung kepada Allah dari keburukan akhlak dan amal. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam berdoa :اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوْذُ بِكَ مِنْ مُنْكَرَاتِ الأَخْلاَقِ وَالأَعْمَالِ وَالأَهْوَاءِ“Ya Allah sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari akhlak yang munkar (buruk) dan amal yang buruk serta hafwa nafsu” (HR At-Tirmidzi)Dan beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam berlindung kepada Allahمِنْ عِلْمٍ لا يَنْفَعُ، وَمِنْ قَلْبٍ لا يَخْشَعُ، وَمِنْ نَفْسٍ لا تَشْبَعُ، وَمِنْ دَعْوَةٍ لا يُسْتَجَابُ لَهَا“dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyu’, dan jiwa yang tidak pernah puas, dan dari doa yang tidak dikabulkan” (HR Muslim)          Seorang mengetahui rahasia-rahasia tetangganya, dan sebaik-baik tetangga adalah yang menutupi rahasia tetangganya. Tetangga yang buruk adalah yang membongkar aib dan membuka sitar. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :تعوذوا بِاللَّه من جَار السوء فِي دَار الْمقَام فَإِن الْجَار البادي يتَحَوَّل عَنْكَ“Berlindunglah kalian kepada Allah dari tetangga yang buruk di kota tempat tinggal, karena tetangga badui berpindah meninggalkanmu (ke daerah lain)” (HR An-Nasaai).          Islam adalah agama senang dan gembira dan melarang dari kesedihan dan gundah gulana karena hal itu akan melemahkan seorang hamba dari meraih kebaikan agamanya dan dari membangun kehidupannya. Diantara doa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam:اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ“Ya Allah sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari gundah gulana (kekawatiran) dan kesedihan” (HR Al-Bukhari dan Muslim)Dan fitnah menerpa hati sebagaimana tenunan tikar, tenunan demi tenunan dan tidak ada keselamatan kecuali dengan berlindung kepada Allah darinya. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada para sahabat :تَعَوَّذُوا بِاللهِ مِنَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ“Berlindunglah kalian kepada Allah dari fitnah, yang nampak maupun yang tersembunyi” (HR Muslim)Ibnu Hajar rahimahullah berkata : “Pada hadits ini ada dalil akan dianjurkannya berlindung kepada Allah dari fitnah meskipun seseorang memandang bahwa dirinya berpegang teguh dengan kebenaran dalam menghadapi fitnah, karena fitnah tersebut bisa saja menyebabkan terjadinya perkara yang ia tidak menyangka akan terjadinya”Dan fitnah itu banyak dengan berbagai macam model dan bentuknya. Diantara fitnah yang terbesar adalah fitnah kehidupan dan fitnah kematian serta fitnah Dajjal. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam berlindung dari fitnah ini semua sebelum beliau salam dari sholatnya. Beliau juga berlindung :مِنْ فِتْنَةِ الْغِنَى وَفِتْنَةِ الْفَقْرِ“dari fitnah kekayaan dan fitnah kemiskinan” (HR Al-Bukhari dan Muslim)          Dunia adalah fitnah, tidak ada yang bisa menyelamatkan dari fitnahnya kecuali Allah. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam berdoa :وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الدُّنْيَا“Dan aku berlindung dari fitnah dunia” (HR Al-Bukhari)Dan kezoliman merupakan sebab kebinasaan, dan doanya orang yang terzolimi tidak tertolak. Dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam telah berlindung dari buruknya doa orang yang terzolimi. Jika beliau bersafar beliau berlindung dari doanya orang yang terzolimi (HR Muslim).          Barangsiapa yang mengenal Allah maka ia akan mencintaiNya dan takut akan siksaanNya. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam berdoa dalam sujudnya :اللَّهُمَّ، أَعُوذُ بِرِضَاكَ مِنْ سَخَطِكَ، وَبِمُعَافَاتِكَ مِنْ عُقوبَتِكَ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْكَ، لا أُحْصِى ثَنَاءً عَلَيْكَ، أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ“Ya Allah aku berlindung dengan keridoanMu dari kemarahanMu, dengan penyelamatanMu dari hukumanMu, dan aku berlindung denganMu dariMu, aku tidak mampu untuk menyanjungMu, sesungguhnya hakikatMu adalah sebagaimana Engkau memuji diriMu” (HR Muslim).Seorang mukmin berjalan menuju Allah dengan khouf (rasa takut), rojaa’ (penuh berharap), dan mahabbah (kecintaan). Diantara tanda orang-orang yang takut kepada Allah adalah ia sering berlindung dari adzab Allah, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :إِذَا تَشَهَّدَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْتَعِذْ بِاللهِ مِنْ أَرْبَعٍ، يَقُولُ: اللهُمَّ، إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ، وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ، وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ“Jika salah seorang dari kalian bertasyahhud maka hendaklah ia memohon perlindungan dari 4 perkara, ia berkata ; Ya Allah aku berlindung kepadaMu dari adzab neraka Jahannam, dari adzab kubur, dari fitnah kehidupan dan kematian, dan keburukan fitnahnya Dajjal” (HR Muslim)‘Auf bin Malik r.a berkata :قُمْت مَعَ رسول الله فَاسْتَفْتَحَ من الْبَقَرَةَ لَا يَمُرُّ بِآيَةِ رَحْمَةٍ إلَّا وَقَفَ فوسَأَلَ، وَلَا يَمُرُّ بِآيَةِ عَذَابٍ إلَّا وَقَفَ وتَعَوَّذَ“Aku sholat bersama Rasulullah, maka beliau memulai sholatnya dengan membaca dari surat al-Baqoroh, tidaklah beliau melewati ayat rahmat kecuali beliau berhenti dan memohon, dan tidaklah beliau melewati ayat adzab kecuali beliau berhenti dan berlindung kepada Allah” (HR An-Nasaai)Beliau berlindung dari kondisi penghuni neraka, beliau berdoa :تَعَوَّذُوا بِاللهِ مِنْ عَذَابِ النَّارِ“Berlindunglah kalian kepada Allah dari adzab neraka” (HR Muslim).Barangsiapa yang meminta perlindungan kepada Allah dari neraka sebanyak 7 kali maka Allah akan melindunginya dari neraka.          Dan selanjutnya kaum muslimin sekalian, sesungguhnya tempat memohon perlindungan hanyalah Allah semata, tiada Pencipta selainNya, tiada yang disembah selainNya, tiada temapat bersandar, dan tiada tempat keselamatan dariNya kecuali kepadaNya. Barangsiapa yang bergantung kepada Allah dan mecurahkan hajatnya kepada Allah maka Allah akan mencukupkannya dan menjaganya, dan Allah akan mendekatkan baginya seluruh yang jauh dan memudahkan baginya seluruh yang sulit. Maka hendaknya seorang muslim menggantungkan hatinya kepada Allah dan berlindung kepadaNya, dan janganlah ia bosan dari memperbanyak memohon perlindungan, dengan isti’adzah (memohon perlindungan kepada Allah) maka ia telah beribadah kepada Rabnya dan menjaga dirinya, dan dengannya ia meraih kebahagiaan dan kemuliaannya.Aku berlindung kepada Allah dari syaitan yang terkutukفَفِرُّوا إِلَى اللَّهِ إِنِّي لَكُمْ مِنْهُ نَذِيرٌ مُبِينٌ (50) وَلَا تَجْعَلُوا مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ إِنِّي لَكُمْ مِنْهُ نَذِيرٌ مُبِينٌMaka segeralah kembali kepada (mentaati) Allah. Sesungguhnya aku seorang pemberi peringatan yang nyata dari Allah untukmu.  Dan janganlah kamu mengadakan tuhan yang lain disamping Allah. Sesungguhnya aku seorang pemberi peringatan yang nyata dari Allah untukmu (QS Adz-Dzaariyaat : 50-51)Semoga Allah memberikan keberkahan kepadaku dan kepada kalian dalam al-Qur’an yang agung… Khutbah KeduaSegala puji bagi Allah atas kebaikanNya, dan syukur terpanjatkan kepadaNya atas bimbingan dan karuniaNya, dan aku bersaksi bahwasanya tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah semata tiada sekutu bagiNya sebagai bentuk pengagungannya terhadap kedudukanNya, dan aku bersaksi bahwasanya Nabi kita Muhammad adalah hamba dan rasulNya, semoga shalawat dan salam yang banyak tercurahkan kepadanya  dan kepada para sahabatnya. Kaum muslimin sekalian, barangsiapa yang bergantung kepada selain Allah dan memohon perlindungan kepadanya, bersandar kepadanya, maka Allah akan menyerahkan dirinya kepada tempat ia bergantung, dan ia akan ditinggalkan (tidak ditolong) dari arah yang ia bergantung kepadanya, serta ia akan gagal mencapi tujuannya yang ia harapkan dari Allah, karena ia bergantung kepada selain Allah dan mencari selain Allah. Maka ia gagal mencapai apa yang ia cari dari Allah, dan apa yang ia harapkan dari tempat ia bergantung juga gagal. Allah berfirman :وَاتَّخَذُوا مِنْ دُونِ اللَّهِ آلِهَةً لَعَلَّهُمْ يُنْصَرُونَ (74) لَا يَسْتَطِيعُونَ نَصْرَهُمْ وَهُمْ لَهُمْ جُنْدٌ مُحْضَرُونَMereka mengambil sembahan-sembahan selain Allah, agar mereka mendapat pertolongan. Berhala-berhala itu tiada dapat menolong mereka; padahal berhala-berhala itu menjadi tentara yang disiapkan untuk menjaga mereka (QS Yaasiin : 74-75)Allah berfirman :وَاتَّخَذُوا مِنْ دُونِ اللَّهِ آلِهَةً لِيَكُونُوا لَهُمْ عِزًّا (81) كَلَّا سَيَكْفُرُونَ بِعِبَادَتِهِمْ وَيَكُونُونَ عَلَيْهِمْ ضِدًّاDan mereka telah mengambil sembahan-sembahan selain Allah, agar sembahan-sembahan itu menjadi pelindung bagi mereka. Sekali-kali tidak. Kelak mereka (sembahan-sembahan) itu akan mengingkari penyembahan (pengikut-pengikutnya) terhadapnya, dan mereka (sembahan-sembahan) itu akan menjadi musuh bagi mereka (QS Maryam : 81-82)Barangsiapa yang berlindung kepada jin dan meminta pertolongan para penyihir maka ia tidak akan mewujudkan dari mereka tujuannya. Dan mereka tidak akan menambah baginya melainkan keburukan, ketakutan, kekawatiran, kepanikan, dan kebingungan. Allah Ta’ala berfirman :وَأَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِنَ الْإِنْسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِنَ الْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقًاDan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan (QS Al-Jinn : 6)Orang yang bahagia adalah orang yang mencurahkan hajatnya kepada Allah yang Maha agung, Yang menghilangkan penderitaan, dan melenyapkan duka cita.Kemudian ketahuilah bahwasanya Allah telah memerintahkan untuk bersholawat kepada NabiNya… Penerjemah : Firanda Andirja & Utsman Hatimhttps://firanda.com/
Prev     Next