Sebab Iran Tidak Haji Tahun Ini Bukan krn Ditolak oleh Arab Saudi

Sebab Iran tidak haji tahun ini ternyata bukan krn ditolak oleh Arab Saudi…Lagi pula gimana visa mau dicetak di Iran, sementara kantor kedutaan Arab Saudi (tempat mencetak visa ke saudi) dibakar oleh Iran…!!Sebab Iran tidak haji tahun ini ternyata bukan krn ditolak oleh Arab Saudi…Lagi pula gimana visa mau dicetak di Iran, sementara kantor kedutaan Arab Saudi (tempat mencetak visa ke saudi) dibakar oleh Iran…!!Posted by Firanda Andirja on Saturday, September 17, 2016

Sebab Iran Tidak Haji Tahun Ini Bukan krn Ditolak oleh Arab Saudi

Sebab Iran tidak haji tahun ini ternyata bukan krn ditolak oleh Arab Saudi…Lagi pula gimana visa mau dicetak di Iran, sementara kantor kedutaan Arab Saudi (tempat mencetak visa ke saudi) dibakar oleh Iran…!!Sebab Iran tidak haji tahun ini ternyata bukan krn ditolak oleh Arab Saudi…Lagi pula gimana visa mau dicetak di Iran, sementara kantor kedutaan Arab Saudi (tempat mencetak visa ke saudi) dibakar oleh Iran…!!Posted by Firanda Andirja on Saturday, September 17, 2016
Sebab Iran tidak haji tahun ini ternyata bukan krn ditolak oleh Arab Saudi…Lagi pula gimana visa mau dicetak di Iran, sementara kantor kedutaan Arab Saudi (tempat mencetak visa ke saudi) dibakar oleh Iran…!!Sebab Iran tidak haji tahun ini ternyata bukan krn ditolak oleh Arab Saudi…Lagi pula gimana visa mau dicetak di Iran, sementara kantor kedutaan Arab Saudi (tempat mencetak visa ke saudi) dibakar oleh Iran…!!Posted by Firanda Andirja on Saturday, September 17, 2016


Sebab Iran tidak haji tahun ini ternyata bukan krn ditolak oleh Arab Saudi…Lagi pula gimana visa mau dicetak di Iran, sementara kantor kedutaan Arab Saudi (tempat mencetak visa ke saudi) dibakar oleh Iran…!!Sebab Iran tidak haji tahun ini ternyata bukan krn ditolak oleh Arab Saudi…Lagi pula gimana visa mau dicetak di Iran, sementara kantor kedutaan Arab Saudi (tempat mencetak visa ke saudi) dibakar oleh Iran…!!Posted by Firanda Andirja on Saturday, September 17, 2016

Penggunaan Jimat atau Rajah Tetap Syirik, Walau Berkeyakinan Sekedar Sebab (6)

3. Adanya Pengingkaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam Terhadap Pemakai Jimat Tanpa Bertanya Apakah Jimat Diyakini Hanya Sebagai Sebab Atau TidakKelompok dalil tentang larangan memakai jimat, jika ditinjau dari sisi model pengingkaran yang dilakukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka terbagi menjadi dua, yaitu pengingkaran dengan perbuatan dan pengingkaran dengan ucapan. Jika kita perhatikan hadis-hadis yang akan dibawakan di bawah ini, maka nampak jelas titik temu dari dua macam pengingkaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebut.Apakah Titik Temu Itu?Dalam hadis-hadis tersebut tidak ditemukan adanya pertanyaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apakah jimat diyakini oleh pemakainya hanya sebagai sebab atau tidak.  Yang ada adalah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya dengan pertanyaan pembuktian; apakah suatu benda itu dikenakan sebagai jimat atau tidak, hal ini sebagaimana salah satu tafsiran ulama tentang hadis Imran bin Husain radhiyallahu ‘anhu yang akan disebutkan setelah ini.Dari sini dapat disimpulkan bahwa bagaimanapun keyakinan pemakai jimat, maksudnya terserah apakah ia meyakini jimat itu sekedar sebab atau berpengaruh dengan sendirinya, selama ia memaksudkan benda tersebut sebagai jimat, maka tetaplah perbuatan tersebut divonis sebagai sebuah kesyirikan. Adapun besar kecilnya kesyirikan tersebut, barulah dikembalikan kepada keyakinan pemakainya. Namun, ia telah terbukti menjadikan benda tersebut sebagai jimat, maka wajib dingkari dan dilarang.Kapan Seseorang Dinilai Memaksudkan Suatu Benda Yang Dikenakan Itu Sebagai Jimat? Hal itu ditandai dengan ia menggantungkan, menempel, atau melakukan hal semisalnya pada suatu benda untuk mengusir atau menangkal mara bahaya maupun untuk mendapatkan manfaat, padahal benda itu tidak terbukti secara Syar’i ataupun Qodari sebagai sebab.1. Pengingkaran dengan UcapanImran bin Husain radhiyallahu ‘anhu menuturkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat seorang laki-laki memakai gelang yang terbuat dari kuningan, kemudian beliau bertanya,مَا هَذِهِ؟ قَالَ: مِنَ الوَاهِنَةِ، فَقَالَ: انْزعْهَا فَإِنَّهَا لاَ تَزِيْدُكَ إِلاَّ وَهْنًا، فَإِنَّكَ لَوْ متَّ وَهِيَ عَلَيْكَ مَا أَفْلَحْتَ أَبَدًا“Untuk apa (gelang) ini? Orang itu menjawab untuk menangkal penyakit lemah badan, lalu Nabi bersabda lepaskan gelang itu, karena sesungguhnya ia tidak akan menambah kecuali kelemahan pada dirimu, dan jika kamu mati sedangkan gelang ini masih ada pada tubuhmu, maka kamu tidak akan beruntung selama-lamanya” (HR. Ahmad dengan sanad yang bisa diterima). Hadis Imran bin Husain radhiyallahu ‘anhu (HR. Ahmad, Ibnu Majah dan Al-Hakim, dishohihkan beliau dan disetujui Adz-Dzahabi).Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingkari pemakai jimat itu, tanpa menanyakan apakah pemakainya berkeyakinan bahwa yang menentukan semuanya itu hanyalah Allah Ta’ala atau tidak, dan apakah suatu jimat diyakini hanya sebagai sebab atau tidak.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebatas bertanya tujuan pemakaian gelang tersebut, dengan bersabda untuk apa (gelang) ini. Jadi, dalam hadis di atas hakekatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sekedar menanyakan status gelang itu sebagai jimat atau tidak. Kemudian setelah jelas dan terbukti status gelang itu sebagai jimat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam langsung memerintahkan orang tersebut untuk melepasnya, dan tidak menanyakan apakah pemakainya berkeyakinan jimat itu sebagai sebab saja atau tidak.Apalagi jika hadis ini dibawakan kepada pendapat ulama yang kedua bahwa maksud sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah apa-apaan ini dengan maksud mengingkari. Namun orang yang diingkari memahami bahwa pertanyaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  itu tentang sebab pemakaian jimat, yaitu untuk apa (gelang) ini.Menurut pendapat ulama, pengingkaran dengan pertanyaa apa-apaan ini adalah pengingkaran langsung yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tidak bertanya tentang sebab pemakaian, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengetahui bahwa gelang itu memang dipakai untuk jimat.Alasan ini memang logis, karena dahulu di masa jahiliyyah, banyak orang yang memakai gelang kuningan sebagai jimat, untuk mendapatkan manfaat atau menolak bahaya. Jadi, jika makna hadis ini dibawakan kepada pendapat yang kedua, akan nampak lebih jelas kesalahan pendapat sebagian orang yang menyangka bahwa memakai jimat itu tidak terlarang alias boleh asalkan ia berkeyakinan bahwa jimat itu sekedar sebagai sebab, dengan alasan dalam hadis ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam langsung mengingkarinya, karena mengetahui bahwa gelang kuningan itu dipakai sebagai jimat, dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah menanyakan apakah pemakainya berkeyakinan jimat itu sebagai sebab saja atau tidak.[Bersambung]***Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id🔍 Cara Menguatkan Iman, Hukum Kawat Gigi Dalam Islam, Abu Hamid Muhammad Al-ghazali, Cara Agar Istri Patuh Pada Suami, Tawadhu Arti

Penggunaan Jimat atau Rajah Tetap Syirik, Walau Berkeyakinan Sekedar Sebab (6)

3. Adanya Pengingkaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam Terhadap Pemakai Jimat Tanpa Bertanya Apakah Jimat Diyakini Hanya Sebagai Sebab Atau TidakKelompok dalil tentang larangan memakai jimat, jika ditinjau dari sisi model pengingkaran yang dilakukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka terbagi menjadi dua, yaitu pengingkaran dengan perbuatan dan pengingkaran dengan ucapan. Jika kita perhatikan hadis-hadis yang akan dibawakan di bawah ini, maka nampak jelas titik temu dari dua macam pengingkaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebut.Apakah Titik Temu Itu?Dalam hadis-hadis tersebut tidak ditemukan adanya pertanyaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apakah jimat diyakini oleh pemakainya hanya sebagai sebab atau tidak.  Yang ada adalah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya dengan pertanyaan pembuktian; apakah suatu benda itu dikenakan sebagai jimat atau tidak, hal ini sebagaimana salah satu tafsiran ulama tentang hadis Imran bin Husain radhiyallahu ‘anhu yang akan disebutkan setelah ini.Dari sini dapat disimpulkan bahwa bagaimanapun keyakinan pemakai jimat, maksudnya terserah apakah ia meyakini jimat itu sekedar sebab atau berpengaruh dengan sendirinya, selama ia memaksudkan benda tersebut sebagai jimat, maka tetaplah perbuatan tersebut divonis sebagai sebuah kesyirikan. Adapun besar kecilnya kesyirikan tersebut, barulah dikembalikan kepada keyakinan pemakainya. Namun, ia telah terbukti menjadikan benda tersebut sebagai jimat, maka wajib dingkari dan dilarang.Kapan Seseorang Dinilai Memaksudkan Suatu Benda Yang Dikenakan Itu Sebagai Jimat? Hal itu ditandai dengan ia menggantungkan, menempel, atau melakukan hal semisalnya pada suatu benda untuk mengusir atau menangkal mara bahaya maupun untuk mendapatkan manfaat, padahal benda itu tidak terbukti secara Syar’i ataupun Qodari sebagai sebab.1. Pengingkaran dengan UcapanImran bin Husain radhiyallahu ‘anhu menuturkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat seorang laki-laki memakai gelang yang terbuat dari kuningan, kemudian beliau bertanya,مَا هَذِهِ؟ قَالَ: مِنَ الوَاهِنَةِ، فَقَالَ: انْزعْهَا فَإِنَّهَا لاَ تَزِيْدُكَ إِلاَّ وَهْنًا، فَإِنَّكَ لَوْ متَّ وَهِيَ عَلَيْكَ مَا أَفْلَحْتَ أَبَدًا“Untuk apa (gelang) ini? Orang itu menjawab untuk menangkal penyakit lemah badan, lalu Nabi bersabda lepaskan gelang itu, karena sesungguhnya ia tidak akan menambah kecuali kelemahan pada dirimu, dan jika kamu mati sedangkan gelang ini masih ada pada tubuhmu, maka kamu tidak akan beruntung selama-lamanya” (HR. Ahmad dengan sanad yang bisa diterima). Hadis Imran bin Husain radhiyallahu ‘anhu (HR. Ahmad, Ibnu Majah dan Al-Hakim, dishohihkan beliau dan disetujui Adz-Dzahabi).Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingkari pemakai jimat itu, tanpa menanyakan apakah pemakainya berkeyakinan bahwa yang menentukan semuanya itu hanyalah Allah Ta’ala atau tidak, dan apakah suatu jimat diyakini hanya sebagai sebab atau tidak.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebatas bertanya tujuan pemakaian gelang tersebut, dengan bersabda untuk apa (gelang) ini. Jadi, dalam hadis di atas hakekatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sekedar menanyakan status gelang itu sebagai jimat atau tidak. Kemudian setelah jelas dan terbukti status gelang itu sebagai jimat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam langsung memerintahkan orang tersebut untuk melepasnya, dan tidak menanyakan apakah pemakainya berkeyakinan jimat itu sebagai sebab saja atau tidak.Apalagi jika hadis ini dibawakan kepada pendapat ulama yang kedua bahwa maksud sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah apa-apaan ini dengan maksud mengingkari. Namun orang yang diingkari memahami bahwa pertanyaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  itu tentang sebab pemakaian jimat, yaitu untuk apa (gelang) ini.Menurut pendapat ulama, pengingkaran dengan pertanyaa apa-apaan ini adalah pengingkaran langsung yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tidak bertanya tentang sebab pemakaian, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengetahui bahwa gelang itu memang dipakai untuk jimat.Alasan ini memang logis, karena dahulu di masa jahiliyyah, banyak orang yang memakai gelang kuningan sebagai jimat, untuk mendapatkan manfaat atau menolak bahaya. Jadi, jika makna hadis ini dibawakan kepada pendapat yang kedua, akan nampak lebih jelas kesalahan pendapat sebagian orang yang menyangka bahwa memakai jimat itu tidak terlarang alias boleh asalkan ia berkeyakinan bahwa jimat itu sekedar sebagai sebab, dengan alasan dalam hadis ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam langsung mengingkarinya, karena mengetahui bahwa gelang kuningan itu dipakai sebagai jimat, dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah menanyakan apakah pemakainya berkeyakinan jimat itu sebagai sebab saja atau tidak.[Bersambung]***Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id🔍 Cara Menguatkan Iman, Hukum Kawat Gigi Dalam Islam, Abu Hamid Muhammad Al-ghazali, Cara Agar Istri Patuh Pada Suami, Tawadhu Arti
3. Adanya Pengingkaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam Terhadap Pemakai Jimat Tanpa Bertanya Apakah Jimat Diyakini Hanya Sebagai Sebab Atau TidakKelompok dalil tentang larangan memakai jimat, jika ditinjau dari sisi model pengingkaran yang dilakukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka terbagi menjadi dua, yaitu pengingkaran dengan perbuatan dan pengingkaran dengan ucapan. Jika kita perhatikan hadis-hadis yang akan dibawakan di bawah ini, maka nampak jelas titik temu dari dua macam pengingkaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebut.Apakah Titik Temu Itu?Dalam hadis-hadis tersebut tidak ditemukan adanya pertanyaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apakah jimat diyakini oleh pemakainya hanya sebagai sebab atau tidak.  Yang ada adalah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya dengan pertanyaan pembuktian; apakah suatu benda itu dikenakan sebagai jimat atau tidak, hal ini sebagaimana salah satu tafsiran ulama tentang hadis Imran bin Husain radhiyallahu ‘anhu yang akan disebutkan setelah ini.Dari sini dapat disimpulkan bahwa bagaimanapun keyakinan pemakai jimat, maksudnya terserah apakah ia meyakini jimat itu sekedar sebab atau berpengaruh dengan sendirinya, selama ia memaksudkan benda tersebut sebagai jimat, maka tetaplah perbuatan tersebut divonis sebagai sebuah kesyirikan. Adapun besar kecilnya kesyirikan tersebut, barulah dikembalikan kepada keyakinan pemakainya. Namun, ia telah terbukti menjadikan benda tersebut sebagai jimat, maka wajib dingkari dan dilarang.Kapan Seseorang Dinilai Memaksudkan Suatu Benda Yang Dikenakan Itu Sebagai Jimat? Hal itu ditandai dengan ia menggantungkan, menempel, atau melakukan hal semisalnya pada suatu benda untuk mengusir atau menangkal mara bahaya maupun untuk mendapatkan manfaat, padahal benda itu tidak terbukti secara Syar’i ataupun Qodari sebagai sebab.1. Pengingkaran dengan UcapanImran bin Husain radhiyallahu ‘anhu menuturkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat seorang laki-laki memakai gelang yang terbuat dari kuningan, kemudian beliau bertanya,مَا هَذِهِ؟ قَالَ: مِنَ الوَاهِنَةِ، فَقَالَ: انْزعْهَا فَإِنَّهَا لاَ تَزِيْدُكَ إِلاَّ وَهْنًا، فَإِنَّكَ لَوْ متَّ وَهِيَ عَلَيْكَ مَا أَفْلَحْتَ أَبَدًا“Untuk apa (gelang) ini? Orang itu menjawab untuk menangkal penyakit lemah badan, lalu Nabi bersabda lepaskan gelang itu, karena sesungguhnya ia tidak akan menambah kecuali kelemahan pada dirimu, dan jika kamu mati sedangkan gelang ini masih ada pada tubuhmu, maka kamu tidak akan beruntung selama-lamanya” (HR. Ahmad dengan sanad yang bisa diterima). Hadis Imran bin Husain radhiyallahu ‘anhu (HR. Ahmad, Ibnu Majah dan Al-Hakim, dishohihkan beliau dan disetujui Adz-Dzahabi).Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingkari pemakai jimat itu, tanpa menanyakan apakah pemakainya berkeyakinan bahwa yang menentukan semuanya itu hanyalah Allah Ta’ala atau tidak, dan apakah suatu jimat diyakini hanya sebagai sebab atau tidak.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebatas bertanya tujuan pemakaian gelang tersebut, dengan bersabda untuk apa (gelang) ini. Jadi, dalam hadis di atas hakekatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sekedar menanyakan status gelang itu sebagai jimat atau tidak. Kemudian setelah jelas dan terbukti status gelang itu sebagai jimat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam langsung memerintahkan orang tersebut untuk melepasnya, dan tidak menanyakan apakah pemakainya berkeyakinan jimat itu sebagai sebab saja atau tidak.Apalagi jika hadis ini dibawakan kepada pendapat ulama yang kedua bahwa maksud sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah apa-apaan ini dengan maksud mengingkari. Namun orang yang diingkari memahami bahwa pertanyaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  itu tentang sebab pemakaian jimat, yaitu untuk apa (gelang) ini.Menurut pendapat ulama, pengingkaran dengan pertanyaa apa-apaan ini adalah pengingkaran langsung yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tidak bertanya tentang sebab pemakaian, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengetahui bahwa gelang itu memang dipakai untuk jimat.Alasan ini memang logis, karena dahulu di masa jahiliyyah, banyak orang yang memakai gelang kuningan sebagai jimat, untuk mendapatkan manfaat atau menolak bahaya. Jadi, jika makna hadis ini dibawakan kepada pendapat yang kedua, akan nampak lebih jelas kesalahan pendapat sebagian orang yang menyangka bahwa memakai jimat itu tidak terlarang alias boleh asalkan ia berkeyakinan bahwa jimat itu sekedar sebagai sebab, dengan alasan dalam hadis ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam langsung mengingkarinya, karena mengetahui bahwa gelang kuningan itu dipakai sebagai jimat, dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah menanyakan apakah pemakainya berkeyakinan jimat itu sebagai sebab saja atau tidak.[Bersambung]***Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id🔍 Cara Menguatkan Iman, Hukum Kawat Gigi Dalam Islam, Abu Hamid Muhammad Al-ghazali, Cara Agar Istri Patuh Pada Suami, Tawadhu Arti


3. Adanya Pengingkaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam Terhadap Pemakai Jimat Tanpa Bertanya Apakah Jimat Diyakini Hanya Sebagai Sebab Atau TidakKelompok dalil tentang larangan memakai jimat, jika ditinjau dari sisi model pengingkaran yang dilakukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka terbagi menjadi dua, yaitu pengingkaran dengan perbuatan dan pengingkaran dengan ucapan. Jika kita perhatikan hadis-hadis yang akan dibawakan di bawah ini, maka nampak jelas titik temu dari dua macam pengingkaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebut.Apakah Titik Temu Itu?Dalam hadis-hadis tersebut tidak ditemukan adanya pertanyaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apakah jimat diyakini oleh pemakainya hanya sebagai sebab atau tidak.  Yang ada adalah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya dengan pertanyaan pembuktian; apakah suatu benda itu dikenakan sebagai jimat atau tidak, hal ini sebagaimana salah satu tafsiran ulama tentang hadis Imran bin Husain radhiyallahu ‘anhu yang akan disebutkan setelah ini.Dari sini dapat disimpulkan bahwa bagaimanapun keyakinan pemakai jimat, maksudnya terserah apakah ia meyakini jimat itu sekedar sebab atau berpengaruh dengan sendirinya, selama ia memaksudkan benda tersebut sebagai jimat, maka tetaplah perbuatan tersebut divonis sebagai sebuah kesyirikan. Adapun besar kecilnya kesyirikan tersebut, barulah dikembalikan kepada keyakinan pemakainya. Namun, ia telah terbukti menjadikan benda tersebut sebagai jimat, maka wajib dingkari dan dilarang.Kapan Seseorang Dinilai Memaksudkan Suatu Benda Yang Dikenakan Itu Sebagai Jimat? Hal itu ditandai dengan ia menggantungkan, menempel, atau melakukan hal semisalnya pada suatu benda untuk mengusir atau menangkal mara bahaya maupun untuk mendapatkan manfaat, padahal benda itu tidak terbukti secara Syar’i ataupun Qodari sebagai sebab.1. Pengingkaran dengan UcapanImran bin Husain radhiyallahu ‘anhu menuturkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat seorang laki-laki memakai gelang yang terbuat dari kuningan, kemudian beliau bertanya,مَا هَذِهِ؟ قَالَ: مِنَ الوَاهِنَةِ، فَقَالَ: انْزعْهَا فَإِنَّهَا لاَ تَزِيْدُكَ إِلاَّ وَهْنًا، فَإِنَّكَ لَوْ متَّ وَهِيَ عَلَيْكَ مَا أَفْلَحْتَ أَبَدًا“Untuk apa (gelang) ini? Orang itu menjawab untuk menangkal penyakit lemah badan, lalu Nabi bersabda lepaskan gelang itu, karena sesungguhnya ia tidak akan menambah kecuali kelemahan pada dirimu, dan jika kamu mati sedangkan gelang ini masih ada pada tubuhmu, maka kamu tidak akan beruntung selama-lamanya” (HR. Ahmad dengan sanad yang bisa diterima). Hadis Imran bin Husain radhiyallahu ‘anhu (HR. Ahmad, Ibnu Majah dan Al-Hakim, dishohihkan beliau dan disetujui Adz-Dzahabi).Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingkari pemakai jimat itu, tanpa menanyakan apakah pemakainya berkeyakinan bahwa yang menentukan semuanya itu hanyalah Allah Ta’ala atau tidak, dan apakah suatu jimat diyakini hanya sebagai sebab atau tidak.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebatas bertanya tujuan pemakaian gelang tersebut, dengan bersabda untuk apa (gelang) ini. Jadi, dalam hadis di atas hakekatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sekedar menanyakan status gelang itu sebagai jimat atau tidak. Kemudian setelah jelas dan terbukti status gelang itu sebagai jimat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam langsung memerintahkan orang tersebut untuk melepasnya, dan tidak menanyakan apakah pemakainya berkeyakinan jimat itu sebagai sebab saja atau tidak.Apalagi jika hadis ini dibawakan kepada pendapat ulama yang kedua bahwa maksud sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah apa-apaan ini dengan maksud mengingkari. Namun orang yang diingkari memahami bahwa pertanyaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  itu tentang sebab pemakaian jimat, yaitu untuk apa (gelang) ini.Menurut pendapat ulama, pengingkaran dengan pertanyaa apa-apaan ini adalah pengingkaran langsung yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tidak bertanya tentang sebab pemakaian, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengetahui bahwa gelang itu memang dipakai untuk jimat.Alasan ini memang logis, karena dahulu di masa jahiliyyah, banyak orang yang memakai gelang kuningan sebagai jimat, untuk mendapatkan manfaat atau menolak bahaya. Jadi, jika makna hadis ini dibawakan kepada pendapat yang kedua, akan nampak lebih jelas kesalahan pendapat sebagian orang yang menyangka bahwa memakai jimat itu tidak terlarang alias boleh asalkan ia berkeyakinan bahwa jimat itu sekedar sebagai sebab, dengan alasan dalam hadis ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam langsung mengingkarinya, karena mengetahui bahwa gelang kuningan itu dipakai sebagai jimat, dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah menanyakan apakah pemakainya berkeyakinan jimat itu sebagai sebab saja atau tidak.[Bersambung]***Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id🔍 Cara Menguatkan Iman, Hukum Kawat Gigi Dalam Islam, Abu Hamid Muhammad Al-ghazali, Cara Agar Istri Patuh Pada Suami, Tawadhu Arti

Siapakah yang Pembohong?

Pendusta itu …Yang bilang Tuhan punya anak…Pembohong itu …Yang bilang 1 + 1 + 1 = 1Penipu itu ….Yang bilang Tuhan capek pada hari ke 7Pendusta itu ….Yang bilang Tuhan tidak bisa menyelamatkan dirinya dari musuh-musuhnyaPembohong itu…Yang menyatakan Tuhan lapar dan ketakutanPenipu itu….Yang menyatakan Tuhan berdoa dan beribadah…Pembohong itu….yang bilang firman Tuhan berbohong…

Siapakah yang Pembohong?

Pendusta itu …Yang bilang Tuhan punya anak…Pembohong itu …Yang bilang 1 + 1 + 1 = 1Penipu itu ….Yang bilang Tuhan capek pada hari ke 7Pendusta itu ….Yang bilang Tuhan tidak bisa menyelamatkan dirinya dari musuh-musuhnyaPembohong itu…Yang menyatakan Tuhan lapar dan ketakutanPenipu itu….Yang menyatakan Tuhan berdoa dan beribadah…Pembohong itu….yang bilang firman Tuhan berbohong…
Pendusta itu …Yang bilang Tuhan punya anak…Pembohong itu …Yang bilang 1 + 1 + 1 = 1Penipu itu ….Yang bilang Tuhan capek pada hari ke 7Pendusta itu ….Yang bilang Tuhan tidak bisa menyelamatkan dirinya dari musuh-musuhnyaPembohong itu…Yang menyatakan Tuhan lapar dan ketakutanPenipu itu….Yang menyatakan Tuhan berdoa dan beribadah…Pembohong itu….yang bilang firman Tuhan berbohong…


Pendusta itu …Yang bilang Tuhan punya anak…Pembohong itu …Yang bilang 1 + 1 + 1 = 1Penipu itu ….Yang bilang Tuhan capek pada hari ke 7Pendusta itu ….Yang bilang Tuhan tidak bisa menyelamatkan dirinya dari musuh-musuhnyaPembohong itu…Yang menyatakan Tuhan lapar dan ketakutanPenipu itu….Yang menyatakan Tuhan berdoa dan beribadah…Pembohong itu….yang bilang firman Tuhan berbohong…

Dosa yg Berkaitan dengan Hak Allah dan hak Orang Lain

Sufyan ats-Tsaury berkata :إن لقيت الله تعالى بسبعين ذنبًا فيما بينك وبين الله تعالى؛ أهون عليك من أن تلقاه بذنب واحد فيما بينك وبين العباد“Jika engkau bertemu dengan Allah membawa 70 dosa antara engkau dan Allah, lebih ringan daripada engkau bertemu denganNya dengan satu dosa antara engkau dengan hamba-hambaNya” (Tanbihul Gofilin karya as-Samarqondi hal 380)

Dosa yg Berkaitan dengan Hak Allah dan hak Orang Lain

Sufyan ats-Tsaury berkata :إن لقيت الله تعالى بسبعين ذنبًا فيما بينك وبين الله تعالى؛ أهون عليك من أن تلقاه بذنب واحد فيما بينك وبين العباد“Jika engkau bertemu dengan Allah membawa 70 dosa antara engkau dan Allah, lebih ringan daripada engkau bertemu denganNya dengan satu dosa antara engkau dengan hamba-hambaNya” (Tanbihul Gofilin karya as-Samarqondi hal 380)
Sufyan ats-Tsaury berkata :إن لقيت الله تعالى بسبعين ذنبًا فيما بينك وبين الله تعالى؛ أهون عليك من أن تلقاه بذنب واحد فيما بينك وبين العباد“Jika engkau bertemu dengan Allah membawa 70 dosa antara engkau dan Allah, lebih ringan daripada engkau bertemu denganNya dengan satu dosa antara engkau dengan hamba-hambaNya” (Tanbihul Gofilin karya as-Samarqondi hal 380)


Sufyan ats-Tsaury berkata :إن لقيت الله تعالى بسبعين ذنبًا فيما بينك وبين الله تعالى؛ أهون عليك من أن تلقاه بذنب واحد فيما بينك وبين العباد“Jika engkau bertemu dengan Allah membawa 70 dosa antara engkau dan Allah, lebih ringan daripada engkau bertemu denganNya dengan satu dosa antara engkau dengan hamba-hambaNya” (Tanbihul Gofilin karya as-Samarqondi hal 380)

Ibnu Sirin dan Ta’bir Mimpi

‏Jika ada orang yang bertanya kepada Ibnu Sirin rahimahullah (yang beliau adalah ahli tafsir mimpi) tentang mimpinya maka Ibnu Sirin berkata kepadanya : ” ﺍﺗﻖ ﺍﻟﻠﻪ ﻓﻲ ﺍﻟﻴﻘﻈﺔ ﻻ ﻳﻀﺮﻙ ﻣﺎ ﺭﺃﻳﺖ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﻨﺎﻡ »“Bertakwalah engkau kepada Allah tatkala engkau sedang terjaga, maka apa yang kalu lihat dalam mimpimu tidak akan memberi kemudorotan kepadamu”(Lihat : Hilyatul Auliyaa 2/273)

Ibnu Sirin dan Ta’bir Mimpi

‏Jika ada orang yang bertanya kepada Ibnu Sirin rahimahullah (yang beliau adalah ahli tafsir mimpi) tentang mimpinya maka Ibnu Sirin berkata kepadanya : ” ﺍﺗﻖ ﺍﻟﻠﻪ ﻓﻲ ﺍﻟﻴﻘﻈﺔ ﻻ ﻳﻀﺮﻙ ﻣﺎ ﺭﺃﻳﺖ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﻨﺎﻡ »“Bertakwalah engkau kepada Allah tatkala engkau sedang terjaga, maka apa yang kalu lihat dalam mimpimu tidak akan memberi kemudorotan kepadamu”(Lihat : Hilyatul Auliyaa 2/273)
‏Jika ada orang yang bertanya kepada Ibnu Sirin rahimahullah (yang beliau adalah ahli tafsir mimpi) tentang mimpinya maka Ibnu Sirin berkata kepadanya : ” ﺍﺗﻖ ﺍﻟﻠﻪ ﻓﻲ ﺍﻟﻴﻘﻈﺔ ﻻ ﻳﻀﺮﻙ ﻣﺎ ﺭﺃﻳﺖ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﻨﺎﻡ »“Bertakwalah engkau kepada Allah tatkala engkau sedang terjaga, maka apa yang kalu lihat dalam mimpimu tidak akan memberi kemudorotan kepadamu”(Lihat : Hilyatul Auliyaa 2/273)


‏Jika ada orang yang bertanya kepada Ibnu Sirin rahimahullah (yang beliau adalah ahli tafsir mimpi) tentang mimpinya maka Ibnu Sirin berkata kepadanya : ” ﺍﺗﻖ ﺍﻟﻠﻪ ﻓﻲ ﺍﻟﻴﻘﻈﺔ ﻻ ﻳﻀﺮﻙ ﻣﺎ ﺭﺃﻳﺖ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﻨﺎﻡ »“Bertakwalah engkau kepada Allah tatkala engkau sedang terjaga, maka apa yang kalu lihat dalam mimpimu tidak akan memberi kemudorotan kepadamu”(Lihat : Hilyatul Auliyaa 2/273)

Kami Lebih Dekat Kepadanya Daripada Urat Lehernya

وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ“Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya…” (QS Qoof : 16)Ad-Daroni rahimahullah berkata :‏“ﺍﻟﺨﺎﺳﺮ ﻣﻦ ﺃﺑﺪﻯ ﻟﻠﻨﺎﺱ ﺻﺎﻟﺢ ﻋﻤﻠﻪ، ﻭﺑﺎﺭﺯ ﺑﺎﻟﻘﺒﻴﺢ ﻣﻦ ﻫﻮ ﺃﻗﺮﺏ ﺇﻟﻴﻪ ﻣﻦ ﺣﺒﻞ ﺍﻟﻮﺭﻳﺪ”Orang yang merugi adalah yang menampakan amal sholehnya kepada manusia, sementara ia menampakan amal buruknya kepada Yang lebih dekat daripada urat nadinya”

Kami Lebih Dekat Kepadanya Daripada Urat Lehernya

وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ“Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya…” (QS Qoof : 16)Ad-Daroni rahimahullah berkata :‏“ﺍﻟﺨﺎﺳﺮ ﻣﻦ ﺃﺑﺪﻯ ﻟﻠﻨﺎﺱ ﺻﺎﻟﺢ ﻋﻤﻠﻪ، ﻭﺑﺎﺭﺯ ﺑﺎﻟﻘﺒﻴﺢ ﻣﻦ ﻫﻮ ﺃﻗﺮﺏ ﺇﻟﻴﻪ ﻣﻦ ﺣﺒﻞ ﺍﻟﻮﺭﻳﺪ”Orang yang merugi adalah yang menampakan amal sholehnya kepada manusia, sementara ia menampakan amal buruknya kepada Yang lebih dekat daripada urat nadinya”
وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ“Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya…” (QS Qoof : 16)Ad-Daroni rahimahullah berkata :‏“ﺍﻟﺨﺎﺳﺮ ﻣﻦ ﺃﺑﺪﻯ ﻟﻠﻨﺎﺱ ﺻﺎﻟﺢ ﻋﻤﻠﻪ، ﻭﺑﺎﺭﺯ ﺑﺎﻟﻘﺒﻴﺢ ﻣﻦ ﻫﻮ ﺃﻗﺮﺏ ﺇﻟﻴﻪ ﻣﻦ ﺣﺒﻞ ﺍﻟﻮﺭﻳﺪ”Orang yang merugi adalah yang menampakan amal sholehnya kepada manusia, sementara ia menampakan amal buruknya kepada Yang lebih dekat daripada urat nadinya”


وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ“Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya…” (QS Qoof : 16)Ad-Daroni rahimahullah berkata :‏“ﺍﻟﺨﺎﺳﺮ ﻣﻦ ﺃﺑﺪﻯ ﻟﻠﻨﺎﺱ ﺻﺎﻟﺢ ﻋﻤﻠﻪ، ﻭﺑﺎﺭﺯ ﺑﺎﻟﻘﺒﻴﺢ ﻣﻦ ﻫﻮ ﺃﻗﺮﺏ ﺇﻟﻴﻪ ﻣﻦ ﺣﺒﻞ ﺍﻟﻮﺭﻳﺪ”Orang yang merugi adalah yang menampakan amal sholehnya kepada manusia, sementara ia menampakan amal buruknya kepada Yang lebih dekat daripada urat nadinya”

رسالة التذكير…

لا تعط أحدا فوق قدره…أقول :– نعم، لأن ذلك سبب الوقوع في اللغلو فيه– نعم، لأن ذلك سبب وقوعه في العجب والكبر حيث ظن أنه أعظم وأكبر مما هو عليه– نعم لأن المدح والثناء مما نتلفظ به، فهو داخل في قوله تعالى (مَّا يَلْفِظُ مِن قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ)، كما أن الذم والغيبة والنميمة لها تبعاتها يوم القيامة فكذلك المدح والثناء بغير الحق له تبعاته يوم القيامة، والله المستعانوكم رأينا من تلميذ عظَّم شيخه أو أستاذه فوق قدره فوقع ما وقع…فلربما هذا التلميذ تعمد ذلك حتى ترتقي منزلته أمام الناس بعلو منزلة شيخه، والله من وراء القصد…أخوكم : أبو عبد المحسن

رسالة التذكير…

لا تعط أحدا فوق قدره…أقول :– نعم، لأن ذلك سبب الوقوع في اللغلو فيه– نعم، لأن ذلك سبب وقوعه في العجب والكبر حيث ظن أنه أعظم وأكبر مما هو عليه– نعم لأن المدح والثناء مما نتلفظ به، فهو داخل في قوله تعالى (مَّا يَلْفِظُ مِن قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ)، كما أن الذم والغيبة والنميمة لها تبعاتها يوم القيامة فكذلك المدح والثناء بغير الحق له تبعاته يوم القيامة، والله المستعانوكم رأينا من تلميذ عظَّم شيخه أو أستاذه فوق قدره فوقع ما وقع…فلربما هذا التلميذ تعمد ذلك حتى ترتقي منزلته أمام الناس بعلو منزلة شيخه، والله من وراء القصد…أخوكم : أبو عبد المحسن
لا تعط أحدا فوق قدره…أقول :– نعم، لأن ذلك سبب الوقوع في اللغلو فيه– نعم، لأن ذلك سبب وقوعه في العجب والكبر حيث ظن أنه أعظم وأكبر مما هو عليه– نعم لأن المدح والثناء مما نتلفظ به، فهو داخل في قوله تعالى (مَّا يَلْفِظُ مِن قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ)، كما أن الذم والغيبة والنميمة لها تبعاتها يوم القيامة فكذلك المدح والثناء بغير الحق له تبعاته يوم القيامة، والله المستعانوكم رأينا من تلميذ عظَّم شيخه أو أستاذه فوق قدره فوقع ما وقع…فلربما هذا التلميذ تعمد ذلك حتى ترتقي منزلته أمام الناس بعلو منزلة شيخه، والله من وراء القصد…أخوكم : أبو عبد المحسن


لا تعط أحدا فوق قدره…أقول :– نعم، لأن ذلك سبب الوقوع في اللغلو فيه– نعم، لأن ذلك سبب وقوعه في العجب والكبر حيث ظن أنه أعظم وأكبر مما هو عليه– نعم لأن المدح والثناء مما نتلفظ به، فهو داخل في قوله تعالى (مَّا يَلْفِظُ مِن قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ)، كما أن الذم والغيبة والنميمة لها تبعاتها يوم القيامة فكذلك المدح والثناء بغير الحق له تبعاته يوم القيامة، والله المستعانوكم رأينا من تلميذ عظَّم شيخه أو أستاذه فوق قدره فوقع ما وقع…فلربما هذا التلميذ تعمد ذلك حتى ترتقي منزلته أمام الناس بعلو منزلة شيخه، والله من وراء القصد…أخوكم : أبو عبد المحسن

Jangan Keren Selalu…

قال صلى الله عليه وسلم ((الْبَذَاذَةُ مِنَ الْإِيمَانِ))قال الحفظ ابن حجر : وَهُوَ حَدِيثٌ صَحِيحٌ أَخْرَجَهُ أَبُو دَاوُدَ وَالْبَذَاذَةُ بِمُوَحَّدَةٍ وَمُعْجَمَتَيْنِ رَثَاثَةُ الْهَيْئَةِ وَالْمُرَادُ بِهَا هُنَا تَرْكُ التَّرَفُّهِ وَالتَّنَطُّعِ فِي اللِّبَاسِ وَالتَّوَاضُعُ فِيهِ مَعَ الْقُدْرَةِ لَا بِسَبَبِ جَحْدِ نِعْمَةِ اللَّهِ تَعَالَى اهمع أنه قد جاءت روايات كثيرة تحث على التزين والتجملوللعلماء -فيما وقفت عليه- توجيهان للحديث : الأول : أن المطلوب هو الاعتدال من التزين، قال الحافظ : وَأَخْرَجَ النَّسَائِيُّ مِنْ طَرِيقِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ بُرَيْدَةَ أَنَّ رَجُلًا مِنَ الصَّحَابَةِ يُقَالُ لَهُ عُبَيْدٌ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ينْهَى عَن كثير من الارفاه قَالَ بن بُرَيْدَةَ الْإِرْفَاهُ التَّرَجُّلُ قُلْتُ الْإِرْفَاهُ بِكَسْرِ الْهَمْزَةِ وَبِفَاءٍ وَآخِرُهُ هَاءٌ التَّنَعُّمُ وَالرَّاحَةُ وَمِنْهُ الرَّفَهُ بِفَتْحَتَيْنِ وَقَيَّدَهُ فِي الْحَدِيثِ بِالْكَثِيرِ إِشَارَةً إِلَى أَنَّ الْوَسَطَ الْمُعْتَدِلَ مِنْهُ لَا يُذَمُّ وَبِذَلِكَ يُجْمَعُ بَيْنَ الْأَخْبَارِ وَقَدْ أَخْرَجَ أَبُو دَاوُدَ بِسَنَدٍ حَسَنٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَفَعَهُ مَنْ كَانَ لَهُ شَعْرٌ فَلْيُكْرِمْهُ (الفتح ١٠/٣٦٨)الثاني : أنه يستحب ذلك (أي البذاذة) وترك التجمل في بعض الأوقات قال ابن بطال : والمراد بهذا الحديث – والله أعلم – بعض الأوقات ولم يأمر بلزوم البذاذة فى جميع الأحوال لتتفق الأحاديث، وقد أمر الله تعالى بأخذ الزينة عند كل مسجد، وأمر النبي (صلى الله عليه وسلم) باتخاذ الطيب، وحسن الهيئة واللباس فى الجمع وماشكل ذلك من المحافل. (شرح البخاري ٩/١٦٤)والقولان يتفقان على أن المراد بالحديث هو لزوم التواضع وترك التبختر، فإن اللباس الجميل قد يوقع المرء في الكبر، فما بال الجوالات والسيارات والمساكن الفاخرة؟!قال ابن عبد البر : ويدل على أن قوله عليها السَّلَامُ ((الْبَذَاذَةُ مِنَ الْإِيمَانِ)) أَرَادَ بِهِ اطِّرَاحَ الشَّهْوَةِ فِي الْمَلْبَسِ وَالْإِسْرَافَ فِيهِ الدَّاعِيَ إِلَى التَّبَخْتُرِ وَالْبَطَرِ لِيَصِحَّ مَعَانِي الْآثَارِ وَلَا تَتَضَادَّوَمِنْ مَعْنَى هَذَا الْحَدِيثِ حَدِيثُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مُغَفَّلٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنِ التَّرَجُّلِ إِلَّا غِبًّا يُرِيدُ عِنْدَ الْحَاجَةِ لِئَلَّا يَكُونَ ثَائِرَ الرَّأْسِ شَعِثَهُ كَأَنَّهُ شَيْطَانٌ كَمَا جَاءَ عَنْهُ عَلَيْهِ السَّلَامُ (الاستذكار ١/٣٣٠)قال المناوي : (البذاذة من الإيمان) أي من أخلاق أهل الإيمان إن قصد به تواضعا وزهدا وكفا للنفس عن الفخر والتكبر لا إن قصد إظهار الفقر وصيانة المال وإلا فليس من الإيمان من عرض النعمة للكفران وأعرض عن شكر المنعم المنان فالحسن والقبح في أشباه هذا بحسب قصد القائم بها إنما الأعمال بالنيات (فيض القدير ٣/٢١)والمطلوب ؛ ترك الكريين (keren) أحيانا وتعمد لبس اللباس التواضع الرخيص حفاظا على التواضع وابتعادا عن الكبر والترفع، فإن الكبر قد يدخل في قلب الإنسان من حيث لا يشعرهذا ما تيسر قيده أخوكم أبو عبد المحسن فيراندا، ومنكم نستفيد…

Jangan Keren Selalu…

قال صلى الله عليه وسلم ((الْبَذَاذَةُ مِنَ الْإِيمَانِ))قال الحفظ ابن حجر : وَهُوَ حَدِيثٌ صَحِيحٌ أَخْرَجَهُ أَبُو دَاوُدَ وَالْبَذَاذَةُ بِمُوَحَّدَةٍ وَمُعْجَمَتَيْنِ رَثَاثَةُ الْهَيْئَةِ وَالْمُرَادُ بِهَا هُنَا تَرْكُ التَّرَفُّهِ وَالتَّنَطُّعِ فِي اللِّبَاسِ وَالتَّوَاضُعُ فِيهِ مَعَ الْقُدْرَةِ لَا بِسَبَبِ جَحْدِ نِعْمَةِ اللَّهِ تَعَالَى اهمع أنه قد جاءت روايات كثيرة تحث على التزين والتجملوللعلماء -فيما وقفت عليه- توجيهان للحديث : الأول : أن المطلوب هو الاعتدال من التزين، قال الحافظ : وَأَخْرَجَ النَّسَائِيُّ مِنْ طَرِيقِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ بُرَيْدَةَ أَنَّ رَجُلًا مِنَ الصَّحَابَةِ يُقَالُ لَهُ عُبَيْدٌ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ينْهَى عَن كثير من الارفاه قَالَ بن بُرَيْدَةَ الْإِرْفَاهُ التَّرَجُّلُ قُلْتُ الْإِرْفَاهُ بِكَسْرِ الْهَمْزَةِ وَبِفَاءٍ وَآخِرُهُ هَاءٌ التَّنَعُّمُ وَالرَّاحَةُ وَمِنْهُ الرَّفَهُ بِفَتْحَتَيْنِ وَقَيَّدَهُ فِي الْحَدِيثِ بِالْكَثِيرِ إِشَارَةً إِلَى أَنَّ الْوَسَطَ الْمُعْتَدِلَ مِنْهُ لَا يُذَمُّ وَبِذَلِكَ يُجْمَعُ بَيْنَ الْأَخْبَارِ وَقَدْ أَخْرَجَ أَبُو دَاوُدَ بِسَنَدٍ حَسَنٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَفَعَهُ مَنْ كَانَ لَهُ شَعْرٌ فَلْيُكْرِمْهُ (الفتح ١٠/٣٦٨)الثاني : أنه يستحب ذلك (أي البذاذة) وترك التجمل في بعض الأوقات قال ابن بطال : والمراد بهذا الحديث – والله أعلم – بعض الأوقات ولم يأمر بلزوم البذاذة فى جميع الأحوال لتتفق الأحاديث، وقد أمر الله تعالى بأخذ الزينة عند كل مسجد، وأمر النبي (صلى الله عليه وسلم) باتخاذ الطيب، وحسن الهيئة واللباس فى الجمع وماشكل ذلك من المحافل. (شرح البخاري ٩/١٦٤)والقولان يتفقان على أن المراد بالحديث هو لزوم التواضع وترك التبختر، فإن اللباس الجميل قد يوقع المرء في الكبر، فما بال الجوالات والسيارات والمساكن الفاخرة؟!قال ابن عبد البر : ويدل على أن قوله عليها السَّلَامُ ((الْبَذَاذَةُ مِنَ الْإِيمَانِ)) أَرَادَ بِهِ اطِّرَاحَ الشَّهْوَةِ فِي الْمَلْبَسِ وَالْإِسْرَافَ فِيهِ الدَّاعِيَ إِلَى التَّبَخْتُرِ وَالْبَطَرِ لِيَصِحَّ مَعَانِي الْآثَارِ وَلَا تَتَضَادَّوَمِنْ مَعْنَى هَذَا الْحَدِيثِ حَدِيثُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مُغَفَّلٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنِ التَّرَجُّلِ إِلَّا غِبًّا يُرِيدُ عِنْدَ الْحَاجَةِ لِئَلَّا يَكُونَ ثَائِرَ الرَّأْسِ شَعِثَهُ كَأَنَّهُ شَيْطَانٌ كَمَا جَاءَ عَنْهُ عَلَيْهِ السَّلَامُ (الاستذكار ١/٣٣٠)قال المناوي : (البذاذة من الإيمان) أي من أخلاق أهل الإيمان إن قصد به تواضعا وزهدا وكفا للنفس عن الفخر والتكبر لا إن قصد إظهار الفقر وصيانة المال وإلا فليس من الإيمان من عرض النعمة للكفران وأعرض عن شكر المنعم المنان فالحسن والقبح في أشباه هذا بحسب قصد القائم بها إنما الأعمال بالنيات (فيض القدير ٣/٢١)والمطلوب ؛ ترك الكريين (keren) أحيانا وتعمد لبس اللباس التواضع الرخيص حفاظا على التواضع وابتعادا عن الكبر والترفع، فإن الكبر قد يدخل في قلب الإنسان من حيث لا يشعرهذا ما تيسر قيده أخوكم أبو عبد المحسن فيراندا، ومنكم نستفيد…
قال صلى الله عليه وسلم ((الْبَذَاذَةُ مِنَ الْإِيمَانِ))قال الحفظ ابن حجر : وَهُوَ حَدِيثٌ صَحِيحٌ أَخْرَجَهُ أَبُو دَاوُدَ وَالْبَذَاذَةُ بِمُوَحَّدَةٍ وَمُعْجَمَتَيْنِ رَثَاثَةُ الْهَيْئَةِ وَالْمُرَادُ بِهَا هُنَا تَرْكُ التَّرَفُّهِ وَالتَّنَطُّعِ فِي اللِّبَاسِ وَالتَّوَاضُعُ فِيهِ مَعَ الْقُدْرَةِ لَا بِسَبَبِ جَحْدِ نِعْمَةِ اللَّهِ تَعَالَى اهمع أنه قد جاءت روايات كثيرة تحث على التزين والتجملوللعلماء -فيما وقفت عليه- توجيهان للحديث : الأول : أن المطلوب هو الاعتدال من التزين، قال الحافظ : وَأَخْرَجَ النَّسَائِيُّ مِنْ طَرِيقِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ بُرَيْدَةَ أَنَّ رَجُلًا مِنَ الصَّحَابَةِ يُقَالُ لَهُ عُبَيْدٌ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ينْهَى عَن كثير من الارفاه قَالَ بن بُرَيْدَةَ الْإِرْفَاهُ التَّرَجُّلُ قُلْتُ الْإِرْفَاهُ بِكَسْرِ الْهَمْزَةِ وَبِفَاءٍ وَآخِرُهُ هَاءٌ التَّنَعُّمُ وَالرَّاحَةُ وَمِنْهُ الرَّفَهُ بِفَتْحَتَيْنِ وَقَيَّدَهُ فِي الْحَدِيثِ بِالْكَثِيرِ إِشَارَةً إِلَى أَنَّ الْوَسَطَ الْمُعْتَدِلَ مِنْهُ لَا يُذَمُّ وَبِذَلِكَ يُجْمَعُ بَيْنَ الْأَخْبَارِ وَقَدْ أَخْرَجَ أَبُو دَاوُدَ بِسَنَدٍ حَسَنٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَفَعَهُ مَنْ كَانَ لَهُ شَعْرٌ فَلْيُكْرِمْهُ (الفتح ١٠/٣٦٨)الثاني : أنه يستحب ذلك (أي البذاذة) وترك التجمل في بعض الأوقات قال ابن بطال : والمراد بهذا الحديث – والله أعلم – بعض الأوقات ولم يأمر بلزوم البذاذة فى جميع الأحوال لتتفق الأحاديث، وقد أمر الله تعالى بأخذ الزينة عند كل مسجد، وأمر النبي (صلى الله عليه وسلم) باتخاذ الطيب، وحسن الهيئة واللباس فى الجمع وماشكل ذلك من المحافل. (شرح البخاري ٩/١٦٤)والقولان يتفقان على أن المراد بالحديث هو لزوم التواضع وترك التبختر، فإن اللباس الجميل قد يوقع المرء في الكبر، فما بال الجوالات والسيارات والمساكن الفاخرة؟!قال ابن عبد البر : ويدل على أن قوله عليها السَّلَامُ ((الْبَذَاذَةُ مِنَ الْإِيمَانِ)) أَرَادَ بِهِ اطِّرَاحَ الشَّهْوَةِ فِي الْمَلْبَسِ وَالْإِسْرَافَ فِيهِ الدَّاعِيَ إِلَى التَّبَخْتُرِ وَالْبَطَرِ لِيَصِحَّ مَعَانِي الْآثَارِ وَلَا تَتَضَادَّوَمِنْ مَعْنَى هَذَا الْحَدِيثِ حَدِيثُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مُغَفَّلٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنِ التَّرَجُّلِ إِلَّا غِبًّا يُرِيدُ عِنْدَ الْحَاجَةِ لِئَلَّا يَكُونَ ثَائِرَ الرَّأْسِ شَعِثَهُ كَأَنَّهُ شَيْطَانٌ كَمَا جَاءَ عَنْهُ عَلَيْهِ السَّلَامُ (الاستذكار ١/٣٣٠)قال المناوي : (البذاذة من الإيمان) أي من أخلاق أهل الإيمان إن قصد به تواضعا وزهدا وكفا للنفس عن الفخر والتكبر لا إن قصد إظهار الفقر وصيانة المال وإلا فليس من الإيمان من عرض النعمة للكفران وأعرض عن شكر المنعم المنان فالحسن والقبح في أشباه هذا بحسب قصد القائم بها إنما الأعمال بالنيات (فيض القدير ٣/٢١)والمطلوب ؛ ترك الكريين (keren) أحيانا وتعمد لبس اللباس التواضع الرخيص حفاظا على التواضع وابتعادا عن الكبر والترفع، فإن الكبر قد يدخل في قلب الإنسان من حيث لا يشعرهذا ما تيسر قيده أخوكم أبو عبد المحسن فيراندا، ومنكم نستفيد…


قال صلى الله عليه وسلم ((الْبَذَاذَةُ مِنَ الْإِيمَانِ))قال الحفظ ابن حجر : وَهُوَ حَدِيثٌ صَحِيحٌ أَخْرَجَهُ أَبُو دَاوُدَ وَالْبَذَاذَةُ بِمُوَحَّدَةٍ وَمُعْجَمَتَيْنِ رَثَاثَةُ الْهَيْئَةِ وَالْمُرَادُ بِهَا هُنَا تَرْكُ التَّرَفُّهِ وَالتَّنَطُّعِ فِي اللِّبَاسِ وَالتَّوَاضُعُ فِيهِ مَعَ الْقُدْرَةِ لَا بِسَبَبِ جَحْدِ نِعْمَةِ اللَّهِ تَعَالَى اهمع أنه قد جاءت روايات كثيرة تحث على التزين والتجملوللعلماء -فيما وقفت عليه- توجيهان للحديث : الأول : أن المطلوب هو الاعتدال من التزين، قال الحافظ : وَأَخْرَجَ النَّسَائِيُّ مِنْ طَرِيقِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ بُرَيْدَةَ أَنَّ رَجُلًا مِنَ الصَّحَابَةِ يُقَالُ لَهُ عُبَيْدٌ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ينْهَى عَن كثير من الارفاه قَالَ بن بُرَيْدَةَ الْإِرْفَاهُ التَّرَجُّلُ قُلْتُ الْإِرْفَاهُ بِكَسْرِ الْهَمْزَةِ وَبِفَاءٍ وَآخِرُهُ هَاءٌ التَّنَعُّمُ وَالرَّاحَةُ وَمِنْهُ الرَّفَهُ بِفَتْحَتَيْنِ وَقَيَّدَهُ فِي الْحَدِيثِ بِالْكَثِيرِ إِشَارَةً إِلَى أَنَّ الْوَسَطَ الْمُعْتَدِلَ مِنْهُ لَا يُذَمُّ وَبِذَلِكَ يُجْمَعُ بَيْنَ الْأَخْبَارِ وَقَدْ أَخْرَجَ أَبُو دَاوُدَ بِسَنَدٍ حَسَنٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَفَعَهُ مَنْ كَانَ لَهُ شَعْرٌ فَلْيُكْرِمْهُ (الفتح ١٠/٣٦٨)الثاني : أنه يستحب ذلك (أي البذاذة) وترك التجمل في بعض الأوقات قال ابن بطال : والمراد بهذا الحديث – والله أعلم – بعض الأوقات ولم يأمر بلزوم البذاذة فى جميع الأحوال لتتفق الأحاديث، وقد أمر الله تعالى بأخذ الزينة عند كل مسجد، وأمر النبي (صلى الله عليه وسلم) باتخاذ الطيب، وحسن الهيئة واللباس فى الجمع وماشكل ذلك من المحافل. (شرح البخاري ٩/١٦٤)والقولان يتفقان على أن المراد بالحديث هو لزوم التواضع وترك التبختر، فإن اللباس الجميل قد يوقع المرء في الكبر، فما بال الجوالات والسيارات والمساكن الفاخرة؟!قال ابن عبد البر : ويدل على أن قوله عليها السَّلَامُ ((الْبَذَاذَةُ مِنَ الْإِيمَانِ)) أَرَادَ بِهِ اطِّرَاحَ الشَّهْوَةِ فِي الْمَلْبَسِ وَالْإِسْرَافَ فِيهِ الدَّاعِيَ إِلَى التَّبَخْتُرِ وَالْبَطَرِ لِيَصِحَّ مَعَانِي الْآثَارِ وَلَا تَتَضَادَّوَمِنْ مَعْنَى هَذَا الْحَدِيثِ حَدِيثُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مُغَفَّلٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنِ التَّرَجُّلِ إِلَّا غِبًّا يُرِيدُ عِنْدَ الْحَاجَةِ لِئَلَّا يَكُونَ ثَائِرَ الرَّأْسِ شَعِثَهُ كَأَنَّهُ شَيْطَانٌ كَمَا جَاءَ عَنْهُ عَلَيْهِ السَّلَامُ (الاستذكار ١/٣٣٠)قال المناوي : (البذاذة من الإيمان) أي من أخلاق أهل الإيمان إن قصد به تواضعا وزهدا وكفا للنفس عن الفخر والتكبر لا إن قصد إظهار الفقر وصيانة المال وإلا فليس من الإيمان من عرض النعمة للكفران وأعرض عن شكر المنعم المنان فالحسن والقبح في أشباه هذا بحسب قصد القائم بها إنما الأعمال بالنيات (فيض القدير ٣/٢١)والمطلوب ؛ ترك الكريين (keren) أحيانا وتعمد لبس اللباس التواضع الرخيص حفاظا على التواضع وابتعادا عن الكبر والترفع، فإن الكبر قد يدخل في قلب الإنسان من حيث لا يشعرهذا ما تيسر قيده أخوكم أبو عبد المحسن فيراندا، ومنكم نستفيد…
Prev     Next