Kenapa Bisa Selingkuh?

Lihat berbagai kasus selingkuh di masyarakat, bahkan ada yang ketangkap basah sampai diekspos pula ke media, apa sih sebab seseorang bisa selingkuh padahal sudah punya pasangan yang sah?   Ini beberapa penilaian kami: Istri tidak menjaga diri ketika keluar rumah, lebih-lebih ketika bekerja di kantoran. Beberapa kasus, selingkuh terjadi dengan atasan, ada juga dengan rekan kerja. Mungkin karena sering bertemu, akhirnya fall in love. Suami merasa kurang puas dengan pelayanan istri di rumah. Ingin mendapatkan kesenangan sementara dan sesaat, tak mau berpikir panjang. Lingkungan masyarakat yang tidak mendukung, termasuk juga lingkungan kerja. Ingin sekedar menghambur-hamburkan uang dengan berfoya-foya melampiaskan syahwat dengan mencari teman selingkuhan. Bergaul bebas dengan lawan jenis baik di dunia nyata maupun di dunia maya termasuk lewat handphone tanpa sepengetahuan pasangan. CLBK = Cinta Lama Bersemi Kembali. Ingat akan mantan pacar, akhirnya berzina dengannya. Itulah akibat dari maksiat bisa berbuah maksiat selanjutnya. Kurang menundukkan pandangan. Wanita yang berpenampilan menor dan menggoda saat keluar rumah. Memenangkan hawa nafsu dari akal sehat. Karena ingatlah bahwa manusia memiliki akal dan hawa nafsu, sedangkan binatang hanya memiliki hawa nafsu saja. Jika manusia memenangkan hawa nafsu dari akal, maka sifat binatang yang dimenangkan.   Sebab Utama Perselingkuhan   Jauh dari agama. Ilmu agama tentu saja akan lebih membentengi dan mengantarkan pada kebaikan. Dengan ilmu akan selalu menjaga seseorang dari maksiat dan seseorang akan selalu merasa diawasi oleh Allah sehingga muncullah rasa takut. Allah Ta’ala berfirman, إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama” (QS. Fathir: 28). Seseorang juga akan mudah meraih kebaikan dengan ilmu termasuk selamat dari zina. Dari Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِى الدِّينِ “Barangsiapa yang Allah kehendaki mendapatkan seluruh kebaikan, maka Allah akan memahamkan dia tentang agama.” (HR. Bukhari no. 71 dan Muslim no. 1037). Coba bandingkan dengan orang yang tidak paham agama, peluang untuk berselingkuh lebih besar.   Kurang menjaga kehormatan diri dan tidak menutup aurat ketika keluar rumah (bagi wanita). Padahal Allah Ta’ala memerintahkan, وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى “Dan tinggallah kalian di dalam rumah-rumah kalian dan janganlah kalian berdandan sebagaimana dandan ala jahiliah terdahulu” (QS Al-Ahzab: 33). Dari Abu Musa Al Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أَيُّمَا امْرَأَةٍ اسْتَعْطَرَتْ ثُمَّ مَرَّتْ عَلَى الْقَوْمِ لِيَجِدُوا رِيحَهَا فَهِىَ زَانِيَةٌ “Apabila seorang wanita memakai wewangian, lalu keluar menjumpai orang-orang hingga mereka mencium wanginya, maka wanita itu adalah wanita pezina.” (HR. Ahmad, 4: 413. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini jayyid) Dari Abul Ahwash, dari ‘Abdullah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الْمَرْأَةُ عَوْرَةٌ فَإِذَا خَرَجَتِ اسْتَشْرَفَهَا الشَّيْطَانُ “Wanita itu adalah aurat. Jika dia keluar maka setan akan memperindahnya di mata laki-laki.” (HR. Tirmidzi, no. 1173. Syaikh Al-Albani menyatakan bahwa hadits ini shahih)   Tidak bisa menahan pandangan karena awalnya zina adalah dari memandang. Dari Abu Sa’id Al Khudriy radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, « إِيَّاكُمْ وَالْجُلُوسَ عَلَى الطُّرُقَاتِ » . فَقَالُوا مَا لَنَا بُدٌّ ، إِنَّمَا هِىَ مَجَالِسُنَا نَتَحَدَّثُ فِيهَا . قَالَ فَإِذَا أَبَيْتُمْ إِلاَّ الْمَجَالِسَ فَأَعْطُوا الطَّرِيقَ حَقَّهَا » قَالُوا وَمَا حَقُّ الطَّرِيقِ قَالَ غَضُّ الْبَصَرِ ، وَكَفُّ الأَذَى ، وَرَدُّ السَّلاَمِ ، وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ ، وَنَهْىٌ عَنِ الْمُنْكَرِ “Janganlah kalian duduk-duduk di pinggir jalan”. Mereka bertanya, “Itu kebiasaan kami yang sudah biasa kami lakukan karena itu menjadi majelis tempat kami bercengkrama”. Beliau bersabda, “Jika kalian tidak mau meninggalkan majelis seperti itu maka tunaikanlah hak jalan tersebut”. Mereka bertanya, “Apa hak jalan itu?” Beliau menjawab, “Menundukkan pandangan, menyingkirkan gangguan di jalan, menjawab salam dan amar ma’ruf nahi munkar”. (HR. Bukhari no. 2465) Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, كُتِبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ نَصِيبُهُ مِنَ الزِّنَى مُدْرِكٌ ذَلِكَ لاَ مَحَالَةَ فَالْعَيْنَانِ زِنَاهُمَا النَّظَرُ وَالأُذُنَانِ زِنَاهُمَا الاِسْتِمَاعُ وَاللِّسَانُ زِنَاهُ الْكَلاَمُ وَالْيَدُ زِنَاهَا الْبَطْشُ وَالرِّجْلُ زِنَاهَا الْخُطَا وَالْقَلْبُ يَهْوَى وَيَتَمَنَّى وَيُصَدِّقُ ذَلِكَ الْفَرْجُ وَيُكَذِّبُهُ “Setiap anak Adam telah ditakdirkan bagian untuk berzina dan ini suatu yang pasti terjadi, tidak bisa tidak. Zina kedua mata adalah dengan melihat. Zina kedua telinga dengan mendengar. Zina lisan adalah dengan berbicara. Zina tangan adalah dengan meraba (menyentuh). Zina kaki adalah dengan melangkah. Zina hati adalah dengan menginginkan dan berangan-angan. Lalu kemaluanlah yang nanti akan membenarkan atau mengingkari yang demikian.” (HR. Muslim no. 6925)   Kurang menjaga diri dari hal-hal yang dapat mengantarkan pada zina. Seperti berdua-duaan dengan lawan jenis yang bukan mahram atau bentuknya bermesraan lewat telepon genggam. Dalam ayat disebutkan, وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al-Isra’: 32) Dari ‘Abdullah bin ‘Amir, yaitu Ibnu Rabi’ah, dari bapaknya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أَلاَ لاَ يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ لاَ تَحِلُّ لَهُ ، فَإِنَّ ثَالِثَهُمَا الشَّيْطَانُ ، إِلاَّ مَحْرَمٍ “Janganlah seorang laki-laki berduaan dengan seorang wanita yang tidak halal baginya karena sesungguhnya syaithan adalah orang ketiga di antara mereka berdua kecuali apabila bersama mahramnya. (HR. Ahmad no. 15734. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan hadits ini shahih lighairihi)   Wanita bekerja di luar rumah. Dari Abdullah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ الْمَرْأَةَ عَوْرَةٌ، وَإِنَّهَا إِذَا خَرَجَتْ مِنْ بَيْتِهَا اسْتَشْرَفَهَا الشَّيْطَانُ فَتَقُولُ: مَا رَآنِي أَحَدٌ إِلا أَعْجَبْتُهُ، وَأَقْرَبُ مَا تَكُونُ إِلَى اللَّهِ إِذَا كَانَتْ فِي قَعْرِ بَيْتِهَا” “Sesungguhnya perempuan itu aurat. Jika dia keluar rumah maka setan menyambutnya. Keadaan perempuan yang paling dekat dengan wajah Allah adalah ketika dia berada di dalam rumahnya.” (HR. Ibnu Khuzaimah no. 1685. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih) Semoga Allah menjauhkan kita dan keluarga kita dari perbuatan zina. — Selesai disusun menjelang Maghrib, 15 Safar 1437 H, @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Join Channel Telegram, Twitter, Instagram: @RumayshoCom Tagszina

Kenapa Bisa Selingkuh?

Lihat berbagai kasus selingkuh di masyarakat, bahkan ada yang ketangkap basah sampai diekspos pula ke media, apa sih sebab seseorang bisa selingkuh padahal sudah punya pasangan yang sah?   Ini beberapa penilaian kami: Istri tidak menjaga diri ketika keluar rumah, lebih-lebih ketika bekerja di kantoran. Beberapa kasus, selingkuh terjadi dengan atasan, ada juga dengan rekan kerja. Mungkin karena sering bertemu, akhirnya fall in love. Suami merasa kurang puas dengan pelayanan istri di rumah. Ingin mendapatkan kesenangan sementara dan sesaat, tak mau berpikir panjang. Lingkungan masyarakat yang tidak mendukung, termasuk juga lingkungan kerja. Ingin sekedar menghambur-hamburkan uang dengan berfoya-foya melampiaskan syahwat dengan mencari teman selingkuhan. Bergaul bebas dengan lawan jenis baik di dunia nyata maupun di dunia maya termasuk lewat handphone tanpa sepengetahuan pasangan. CLBK = Cinta Lama Bersemi Kembali. Ingat akan mantan pacar, akhirnya berzina dengannya. Itulah akibat dari maksiat bisa berbuah maksiat selanjutnya. Kurang menundukkan pandangan. Wanita yang berpenampilan menor dan menggoda saat keluar rumah. Memenangkan hawa nafsu dari akal sehat. Karena ingatlah bahwa manusia memiliki akal dan hawa nafsu, sedangkan binatang hanya memiliki hawa nafsu saja. Jika manusia memenangkan hawa nafsu dari akal, maka sifat binatang yang dimenangkan.   Sebab Utama Perselingkuhan   Jauh dari agama. Ilmu agama tentu saja akan lebih membentengi dan mengantarkan pada kebaikan. Dengan ilmu akan selalu menjaga seseorang dari maksiat dan seseorang akan selalu merasa diawasi oleh Allah sehingga muncullah rasa takut. Allah Ta’ala berfirman, إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama” (QS. Fathir: 28). Seseorang juga akan mudah meraih kebaikan dengan ilmu termasuk selamat dari zina. Dari Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِى الدِّينِ “Barangsiapa yang Allah kehendaki mendapatkan seluruh kebaikan, maka Allah akan memahamkan dia tentang agama.” (HR. Bukhari no. 71 dan Muslim no. 1037). Coba bandingkan dengan orang yang tidak paham agama, peluang untuk berselingkuh lebih besar.   Kurang menjaga kehormatan diri dan tidak menutup aurat ketika keluar rumah (bagi wanita). Padahal Allah Ta’ala memerintahkan, وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى “Dan tinggallah kalian di dalam rumah-rumah kalian dan janganlah kalian berdandan sebagaimana dandan ala jahiliah terdahulu” (QS Al-Ahzab: 33). Dari Abu Musa Al Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أَيُّمَا امْرَأَةٍ اسْتَعْطَرَتْ ثُمَّ مَرَّتْ عَلَى الْقَوْمِ لِيَجِدُوا رِيحَهَا فَهِىَ زَانِيَةٌ “Apabila seorang wanita memakai wewangian, lalu keluar menjumpai orang-orang hingga mereka mencium wanginya, maka wanita itu adalah wanita pezina.” (HR. Ahmad, 4: 413. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini jayyid) Dari Abul Ahwash, dari ‘Abdullah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الْمَرْأَةُ عَوْرَةٌ فَإِذَا خَرَجَتِ اسْتَشْرَفَهَا الشَّيْطَانُ “Wanita itu adalah aurat. Jika dia keluar maka setan akan memperindahnya di mata laki-laki.” (HR. Tirmidzi, no. 1173. Syaikh Al-Albani menyatakan bahwa hadits ini shahih)   Tidak bisa menahan pandangan karena awalnya zina adalah dari memandang. Dari Abu Sa’id Al Khudriy radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, « إِيَّاكُمْ وَالْجُلُوسَ عَلَى الطُّرُقَاتِ » . فَقَالُوا مَا لَنَا بُدٌّ ، إِنَّمَا هِىَ مَجَالِسُنَا نَتَحَدَّثُ فِيهَا . قَالَ فَإِذَا أَبَيْتُمْ إِلاَّ الْمَجَالِسَ فَأَعْطُوا الطَّرِيقَ حَقَّهَا » قَالُوا وَمَا حَقُّ الطَّرِيقِ قَالَ غَضُّ الْبَصَرِ ، وَكَفُّ الأَذَى ، وَرَدُّ السَّلاَمِ ، وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ ، وَنَهْىٌ عَنِ الْمُنْكَرِ “Janganlah kalian duduk-duduk di pinggir jalan”. Mereka bertanya, “Itu kebiasaan kami yang sudah biasa kami lakukan karena itu menjadi majelis tempat kami bercengkrama”. Beliau bersabda, “Jika kalian tidak mau meninggalkan majelis seperti itu maka tunaikanlah hak jalan tersebut”. Mereka bertanya, “Apa hak jalan itu?” Beliau menjawab, “Menundukkan pandangan, menyingkirkan gangguan di jalan, menjawab salam dan amar ma’ruf nahi munkar”. (HR. Bukhari no. 2465) Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, كُتِبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ نَصِيبُهُ مِنَ الزِّنَى مُدْرِكٌ ذَلِكَ لاَ مَحَالَةَ فَالْعَيْنَانِ زِنَاهُمَا النَّظَرُ وَالأُذُنَانِ زِنَاهُمَا الاِسْتِمَاعُ وَاللِّسَانُ زِنَاهُ الْكَلاَمُ وَالْيَدُ زِنَاهَا الْبَطْشُ وَالرِّجْلُ زِنَاهَا الْخُطَا وَالْقَلْبُ يَهْوَى وَيَتَمَنَّى وَيُصَدِّقُ ذَلِكَ الْفَرْجُ وَيُكَذِّبُهُ “Setiap anak Adam telah ditakdirkan bagian untuk berzina dan ini suatu yang pasti terjadi, tidak bisa tidak. Zina kedua mata adalah dengan melihat. Zina kedua telinga dengan mendengar. Zina lisan adalah dengan berbicara. Zina tangan adalah dengan meraba (menyentuh). Zina kaki adalah dengan melangkah. Zina hati adalah dengan menginginkan dan berangan-angan. Lalu kemaluanlah yang nanti akan membenarkan atau mengingkari yang demikian.” (HR. Muslim no. 6925)   Kurang menjaga diri dari hal-hal yang dapat mengantarkan pada zina. Seperti berdua-duaan dengan lawan jenis yang bukan mahram atau bentuknya bermesraan lewat telepon genggam. Dalam ayat disebutkan, وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al-Isra’: 32) Dari ‘Abdullah bin ‘Amir, yaitu Ibnu Rabi’ah, dari bapaknya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أَلاَ لاَ يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ لاَ تَحِلُّ لَهُ ، فَإِنَّ ثَالِثَهُمَا الشَّيْطَانُ ، إِلاَّ مَحْرَمٍ “Janganlah seorang laki-laki berduaan dengan seorang wanita yang tidak halal baginya karena sesungguhnya syaithan adalah orang ketiga di antara mereka berdua kecuali apabila bersama mahramnya. (HR. Ahmad no. 15734. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan hadits ini shahih lighairihi)   Wanita bekerja di luar rumah. Dari Abdullah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ الْمَرْأَةَ عَوْرَةٌ، وَإِنَّهَا إِذَا خَرَجَتْ مِنْ بَيْتِهَا اسْتَشْرَفَهَا الشَّيْطَانُ فَتَقُولُ: مَا رَآنِي أَحَدٌ إِلا أَعْجَبْتُهُ، وَأَقْرَبُ مَا تَكُونُ إِلَى اللَّهِ إِذَا كَانَتْ فِي قَعْرِ بَيْتِهَا” “Sesungguhnya perempuan itu aurat. Jika dia keluar rumah maka setan menyambutnya. Keadaan perempuan yang paling dekat dengan wajah Allah adalah ketika dia berada di dalam rumahnya.” (HR. Ibnu Khuzaimah no. 1685. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih) Semoga Allah menjauhkan kita dan keluarga kita dari perbuatan zina. — Selesai disusun menjelang Maghrib, 15 Safar 1437 H, @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Join Channel Telegram, Twitter, Instagram: @RumayshoCom Tagszina
Lihat berbagai kasus selingkuh di masyarakat, bahkan ada yang ketangkap basah sampai diekspos pula ke media, apa sih sebab seseorang bisa selingkuh padahal sudah punya pasangan yang sah?   Ini beberapa penilaian kami: Istri tidak menjaga diri ketika keluar rumah, lebih-lebih ketika bekerja di kantoran. Beberapa kasus, selingkuh terjadi dengan atasan, ada juga dengan rekan kerja. Mungkin karena sering bertemu, akhirnya fall in love. Suami merasa kurang puas dengan pelayanan istri di rumah. Ingin mendapatkan kesenangan sementara dan sesaat, tak mau berpikir panjang. Lingkungan masyarakat yang tidak mendukung, termasuk juga lingkungan kerja. Ingin sekedar menghambur-hamburkan uang dengan berfoya-foya melampiaskan syahwat dengan mencari teman selingkuhan. Bergaul bebas dengan lawan jenis baik di dunia nyata maupun di dunia maya termasuk lewat handphone tanpa sepengetahuan pasangan. CLBK = Cinta Lama Bersemi Kembali. Ingat akan mantan pacar, akhirnya berzina dengannya. Itulah akibat dari maksiat bisa berbuah maksiat selanjutnya. Kurang menundukkan pandangan. Wanita yang berpenampilan menor dan menggoda saat keluar rumah. Memenangkan hawa nafsu dari akal sehat. Karena ingatlah bahwa manusia memiliki akal dan hawa nafsu, sedangkan binatang hanya memiliki hawa nafsu saja. Jika manusia memenangkan hawa nafsu dari akal, maka sifat binatang yang dimenangkan.   Sebab Utama Perselingkuhan   Jauh dari agama. Ilmu agama tentu saja akan lebih membentengi dan mengantarkan pada kebaikan. Dengan ilmu akan selalu menjaga seseorang dari maksiat dan seseorang akan selalu merasa diawasi oleh Allah sehingga muncullah rasa takut. Allah Ta’ala berfirman, إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama” (QS. Fathir: 28). Seseorang juga akan mudah meraih kebaikan dengan ilmu termasuk selamat dari zina. Dari Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِى الدِّينِ “Barangsiapa yang Allah kehendaki mendapatkan seluruh kebaikan, maka Allah akan memahamkan dia tentang agama.” (HR. Bukhari no. 71 dan Muslim no. 1037). Coba bandingkan dengan orang yang tidak paham agama, peluang untuk berselingkuh lebih besar.   Kurang menjaga kehormatan diri dan tidak menutup aurat ketika keluar rumah (bagi wanita). Padahal Allah Ta’ala memerintahkan, وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى “Dan tinggallah kalian di dalam rumah-rumah kalian dan janganlah kalian berdandan sebagaimana dandan ala jahiliah terdahulu” (QS Al-Ahzab: 33). Dari Abu Musa Al Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أَيُّمَا امْرَأَةٍ اسْتَعْطَرَتْ ثُمَّ مَرَّتْ عَلَى الْقَوْمِ لِيَجِدُوا رِيحَهَا فَهِىَ زَانِيَةٌ “Apabila seorang wanita memakai wewangian, lalu keluar menjumpai orang-orang hingga mereka mencium wanginya, maka wanita itu adalah wanita pezina.” (HR. Ahmad, 4: 413. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini jayyid) Dari Abul Ahwash, dari ‘Abdullah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الْمَرْأَةُ عَوْرَةٌ فَإِذَا خَرَجَتِ اسْتَشْرَفَهَا الشَّيْطَانُ “Wanita itu adalah aurat. Jika dia keluar maka setan akan memperindahnya di mata laki-laki.” (HR. Tirmidzi, no. 1173. Syaikh Al-Albani menyatakan bahwa hadits ini shahih)   Tidak bisa menahan pandangan karena awalnya zina adalah dari memandang. Dari Abu Sa’id Al Khudriy radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, « إِيَّاكُمْ وَالْجُلُوسَ عَلَى الطُّرُقَاتِ » . فَقَالُوا مَا لَنَا بُدٌّ ، إِنَّمَا هِىَ مَجَالِسُنَا نَتَحَدَّثُ فِيهَا . قَالَ فَإِذَا أَبَيْتُمْ إِلاَّ الْمَجَالِسَ فَأَعْطُوا الطَّرِيقَ حَقَّهَا » قَالُوا وَمَا حَقُّ الطَّرِيقِ قَالَ غَضُّ الْبَصَرِ ، وَكَفُّ الأَذَى ، وَرَدُّ السَّلاَمِ ، وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ ، وَنَهْىٌ عَنِ الْمُنْكَرِ “Janganlah kalian duduk-duduk di pinggir jalan”. Mereka bertanya, “Itu kebiasaan kami yang sudah biasa kami lakukan karena itu menjadi majelis tempat kami bercengkrama”. Beliau bersabda, “Jika kalian tidak mau meninggalkan majelis seperti itu maka tunaikanlah hak jalan tersebut”. Mereka bertanya, “Apa hak jalan itu?” Beliau menjawab, “Menundukkan pandangan, menyingkirkan gangguan di jalan, menjawab salam dan amar ma’ruf nahi munkar”. (HR. Bukhari no. 2465) Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, كُتِبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ نَصِيبُهُ مِنَ الزِّنَى مُدْرِكٌ ذَلِكَ لاَ مَحَالَةَ فَالْعَيْنَانِ زِنَاهُمَا النَّظَرُ وَالأُذُنَانِ زِنَاهُمَا الاِسْتِمَاعُ وَاللِّسَانُ زِنَاهُ الْكَلاَمُ وَالْيَدُ زِنَاهَا الْبَطْشُ وَالرِّجْلُ زِنَاهَا الْخُطَا وَالْقَلْبُ يَهْوَى وَيَتَمَنَّى وَيُصَدِّقُ ذَلِكَ الْفَرْجُ وَيُكَذِّبُهُ “Setiap anak Adam telah ditakdirkan bagian untuk berzina dan ini suatu yang pasti terjadi, tidak bisa tidak. Zina kedua mata adalah dengan melihat. Zina kedua telinga dengan mendengar. Zina lisan adalah dengan berbicara. Zina tangan adalah dengan meraba (menyentuh). Zina kaki adalah dengan melangkah. Zina hati adalah dengan menginginkan dan berangan-angan. Lalu kemaluanlah yang nanti akan membenarkan atau mengingkari yang demikian.” (HR. Muslim no. 6925)   Kurang menjaga diri dari hal-hal yang dapat mengantarkan pada zina. Seperti berdua-duaan dengan lawan jenis yang bukan mahram atau bentuknya bermesraan lewat telepon genggam. Dalam ayat disebutkan, وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al-Isra’: 32) Dari ‘Abdullah bin ‘Amir, yaitu Ibnu Rabi’ah, dari bapaknya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أَلاَ لاَ يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ لاَ تَحِلُّ لَهُ ، فَإِنَّ ثَالِثَهُمَا الشَّيْطَانُ ، إِلاَّ مَحْرَمٍ “Janganlah seorang laki-laki berduaan dengan seorang wanita yang tidak halal baginya karena sesungguhnya syaithan adalah orang ketiga di antara mereka berdua kecuali apabila bersama mahramnya. (HR. Ahmad no. 15734. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan hadits ini shahih lighairihi)   Wanita bekerja di luar rumah. Dari Abdullah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ الْمَرْأَةَ عَوْرَةٌ، وَإِنَّهَا إِذَا خَرَجَتْ مِنْ بَيْتِهَا اسْتَشْرَفَهَا الشَّيْطَانُ فَتَقُولُ: مَا رَآنِي أَحَدٌ إِلا أَعْجَبْتُهُ، وَأَقْرَبُ مَا تَكُونُ إِلَى اللَّهِ إِذَا كَانَتْ فِي قَعْرِ بَيْتِهَا” “Sesungguhnya perempuan itu aurat. Jika dia keluar rumah maka setan menyambutnya. Keadaan perempuan yang paling dekat dengan wajah Allah adalah ketika dia berada di dalam rumahnya.” (HR. Ibnu Khuzaimah no. 1685. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih) Semoga Allah menjauhkan kita dan keluarga kita dari perbuatan zina. — Selesai disusun menjelang Maghrib, 15 Safar 1437 H, @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Join Channel Telegram, Twitter, Instagram: @RumayshoCom Tagszina


Lihat berbagai kasus selingkuh di masyarakat, bahkan ada yang ketangkap basah sampai diekspos pula ke media, apa sih sebab seseorang bisa selingkuh padahal sudah punya pasangan yang sah?   Ini beberapa penilaian kami: Istri tidak menjaga diri ketika keluar rumah, lebih-lebih ketika bekerja di kantoran. Beberapa kasus, selingkuh terjadi dengan atasan, ada juga dengan rekan kerja. Mungkin karena sering bertemu, akhirnya fall in love. Suami merasa kurang puas dengan pelayanan istri di rumah. Ingin mendapatkan kesenangan sementara dan sesaat, tak mau berpikir panjang. Lingkungan masyarakat yang tidak mendukung, termasuk juga lingkungan kerja. Ingin sekedar menghambur-hamburkan uang dengan berfoya-foya melampiaskan syahwat dengan mencari teman selingkuhan. Bergaul bebas dengan lawan jenis baik di dunia nyata maupun di dunia maya termasuk lewat handphone tanpa sepengetahuan pasangan. CLBK = Cinta Lama Bersemi Kembali. Ingat akan mantan pacar, akhirnya berzina dengannya. Itulah akibat dari maksiat bisa berbuah maksiat selanjutnya. Kurang menundukkan pandangan. Wanita yang berpenampilan menor dan menggoda saat keluar rumah. Memenangkan hawa nafsu dari akal sehat. Karena ingatlah bahwa manusia memiliki akal dan hawa nafsu, sedangkan binatang hanya memiliki hawa nafsu saja. Jika manusia memenangkan hawa nafsu dari akal, maka sifat binatang yang dimenangkan.   Sebab Utama Perselingkuhan   Jauh dari agama. Ilmu agama tentu saja akan lebih membentengi dan mengantarkan pada kebaikan. Dengan ilmu akan selalu menjaga seseorang dari maksiat dan seseorang akan selalu merasa diawasi oleh Allah sehingga muncullah rasa takut. Allah Ta’ala berfirman, إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama” (QS. Fathir: 28). Seseorang juga akan mudah meraih kebaikan dengan ilmu termasuk selamat dari zina. Dari Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِى الدِّينِ “Barangsiapa yang Allah kehendaki mendapatkan seluruh kebaikan, maka Allah akan memahamkan dia tentang agama.” (HR. Bukhari no. 71 dan Muslim no. 1037). Coba bandingkan dengan orang yang tidak paham agama, peluang untuk berselingkuh lebih besar.   Kurang menjaga kehormatan diri dan tidak menutup aurat ketika keluar rumah (bagi wanita). Padahal Allah Ta’ala memerintahkan, وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى “Dan tinggallah kalian di dalam rumah-rumah kalian dan janganlah kalian berdandan sebagaimana dandan ala jahiliah terdahulu” (QS Al-Ahzab: 33). Dari Abu Musa Al Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أَيُّمَا امْرَأَةٍ اسْتَعْطَرَتْ ثُمَّ مَرَّتْ عَلَى الْقَوْمِ لِيَجِدُوا رِيحَهَا فَهِىَ زَانِيَةٌ “Apabila seorang wanita memakai wewangian, lalu keluar menjumpai orang-orang hingga mereka mencium wanginya, maka wanita itu adalah wanita pezina.” (HR. Ahmad, 4: 413. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini jayyid) Dari Abul Ahwash, dari ‘Abdullah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الْمَرْأَةُ عَوْرَةٌ فَإِذَا خَرَجَتِ اسْتَشْرَفَهَا الشَّيْطَانُ “Wanita itu adalah aurat. Jika dia keluar maka setan akan memperindahnya di mata laki-laki.” (HR. Tirmidzi, no. 1173. Syaikh Al-Albani menyatakan bahwa hadits ini shahih)   Tidak bisa menahan pandangan karena awalnya zina adalah dari memandang. Dari Abu Sa’id Al Khudriy radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, « إِيَّاكُمْ وَالْجُلُوسَ عَلَى الطُّرُقَاتِ » . فَقَالُوا مَا لَنَا بُدٌّ ، إِنَّمَا هِىَ مَجَالِسُنَا نَتَحَدَّثُ فِيهَا . قَالَ فَإِذَا أَبَيْتُمْ إِلاَّ الْمَجَالِسَ فَأَعْطُوا الطَّرِيقَ حَقَّهَا » قَالُوا وَمَا حَقُّ الطَّرِيقِ قَالَ غَضُّ الْبَصَرِ ، وَكَفُّ الأَذَى ، وَرَدُّ السَّلاَمِ ، وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ ، وَنَهْىٌ عَنِ الْمُنْكَرِ “Janganlah kalian duduk-duduk di pinggir jalan”. Mereka bertanya, “Itu kebiasaan kami yang sudah biasa kami lakukan karena itu menjadi majelis tempat kami bercengkrama”. Beliau bersabda, “Jika kalian tidak mau meninggalkan majelis seperti itu maka tunaikanlah hak jalan tersebut”. Mereka bertanya, “Apa hak jalan itu?” Beliau menjawab, “Menundukkan pandangan, menyingkirkan gangguan di jalan, menjawab salam dan amar ma’ruf nahi munkar”. (HR. Bukhari no. 2465) Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, كُتِبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ نَصِيبُهُ مِنَ الزِّنَى مُدْرِكٌ ذَلِكَ لاَ مَحَالَةَ فَالْعَيْنَانِ زِنَاهُمَا النَّظَرُ وَالأُذُنَانِ زِنَاهُمَا الاِسْتِمَاعُ وَاللِّسَانُ زِنَاهُ الْكَلاَمُ وَالْيَدُ زِنَاهَا الْبَطْشُ وَالرِّجْلُ زِنَاهَا الْخُطَا وَالْقَلْبُ يَهْوَى وَيَتَمَنَّى وَيُصَدِّقُ ذَلِكَ الْفَرْجُ وَيُكَذِّبُهُ “Setiap anak Adam telah ditakdirkan bagian untuk berzina dan ini suatu yang pasti terjadi, tidak bisa tidak. Zina kedua mata adalah dengan melihat. Zina kedua telinga dengan mendengar. Zina lisan adalah dengan berbicara. Zina tangan adalah dengan meraba (menyentuh). Zina kaki adalah dengan melangkah. Zina hati adalah dengan menginginkan dan berangan-angan. Lalu kemaluanlah yang nanti akan membenarkan atau mengingkari yang demikian.” (HR. Muslim no. 6925)   Kurang menjaga diri dari hal-hal yang dapat mengantarkan pada zina. Seperti berdua-duaan dengan lawan jenis yang bukan mahram atau bentuknya bermesraan lewat telepon genggam. Dalam ayat disebutkan, وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al-Isra’: 32) Dari ‘Abdullah bin ‘Amir, yaitu Ibnu Rabi’ah, dari bapaknya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أَلاَ لاَ يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ لاَ تَحِلُّ لَهُ ، فَإِنَّ ثَالِثَهُمَا الشَّيْطَانُ ، إِلاَّ مَحْرَمٍ “Janganlah seorang laki-laki berduaan dengan seorang wanita yang tidak halal baginya karena sesungguhnya syaithan adalah orang ketiga di antara mereka berdua kecuali apabila bersama mahramnya. (HR. Ahmad no. 15734. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan hadits ini shahih lighairihi)   Wanita bekerja di luar rumah. Dari Abdullah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ الْمَرْأَةَ عَوْرَةٌ، وَإِنَّهَا إِذَا خَرَجَتْ مِنْ بَيْتِهَا اسْتَشْرَفَهَا الشَّيْطَانُ فَتَقُولُ: مَا رَآنِي أَحَدٌ إِلا أَعْجَبْتُهُ، وَأَقْرَبُ مَا تَكُونُ إِلَى اللَّهِ إِذَا كَانَتْ فِي قَعْرِ بَيْتِهَا” “Sesungguhnya perempuan itu aurat. Jika dia keluar rumah maka setan menyambutnya. Keadaan perempuan yang paling dekat dengan wajah Allah adalah ketika dia berada di dalam rumahnya.” (HR. Ibnu Khuzaimah no. 1685. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih) Semoga Allah menjauhkan kita dan keluarga kita dari perbuatan zina. — Selesai disusun menjelang Maghrib, 15 Safar 1437 H, @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Join Channel Telegram, Twitter, Instagram: @RumayshoCom Tagszina

Ilmu Makin Hilang Hingga Datang Kiamat

Bagaimana ilmu bisa semakin hilang? Iya, di akhir zaman, ilmu akan hilang hingga datang kiamat.   Ibnu Rajab Al-Hambali menerangkan sebagai berikut. Suatu saat ilmu itu akan hilang sebagaimana diutarakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ada yang bertanya, “Bagaimana ilmu itu bisa hilang padahal saat ini Al-Quran gemar kita baca, para wanita dan anak-anak kita pun demikian?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan, “Lihat saja Taurat dan Injil di tangan Yahudi dan Nashrani, apa manfaat untuk mereka?” ‘Ubadah bin Ash-Shamit ditanya tentang hadits di atas lantas ia berkata, “Seandainya mau kuberitahu tentang ilmu yang pertama kali diangkat yaitu khusyu’.”   Karena memang ilmu itu ada dua:   Pertama: Ilmu yang berbuah di hati manusia. Yaitu ilmu tentang Allah, ilmu tentang nama dan sifat-Nya serta perbuatan-Nya. Ilmu semacam ini akan membuahkan rasa takut, pengagungan, ketundukan, kecintaan, harapan, doa, tawakkal dan lainnya. Itulah yang disebut ilmu yang bermanfaat. Ibnu Mas’ud berkata, “Suatu kaum ada yang membaca Al-Qur’an yang tidak melewati kerongkongan mereka. Jika saja ilmu itu tertanam dalam hati, tentu akan bermanfaat.” Al-Hasan Al-Bashri berkata, “Ilmu itu ada dua macam. Ada ilmu pada lisan (omongan belaka). Jika ilmu hanya di lisan, maka ilmu itu yang malah akan menjatuhkan kita pada hari kiamat. Ilmu yang menancap dalam hati, itulah ilmu yang bermanfaat.”   Kedua: Ilmu yang hanya sekedar hiasan di bibir. Ilmu semacam inilah yang nanti akan melemahkan manusia itu sendiri sebagaimana disebutkan dalam hadits, وَالْقُرْآنُ حُجَّةٌ لَكَ أَوْ عَلَيْكَ “Al-Qur’an bisa menjadi argumen untuk membelamu atau menjatuhkanmu.” (HR. Muslim, no. 223) Jadi ilmu yang akan terangkat pertama kali adalah ilmu naafi’ (ilmu yang bermanfaat) yaitu ilmu yang menancap dalam batin, bersemayam dalam hati dan ilmu yang memperbaiki hati. Ilmu yang ada nantinya adalah ilmu yang jadi hiasan bibir. Ilmu itu malah nantinya dihinakan. Tak ada lagi yang tahu praktik dari ilmu tersebut. Tidak ada pula ulama yang memikul ilmu itu lagi, tidaklah aku dan tidak pula mereka. Lambat laun ilmu tersebut hilang bersama dengan hilangnya para guru yang mengajarkan ilmu (ulama). Yang ada nantinya cuma goresan tulisan di mushaf. Tak ada lagi yang tahu maknanya. Tak ada lagi yang paham akan batasan dan hukumnya. Sampai nanti di akhir zaman sama sekali tak ada lagi ilmu di mushaf-mushaf dan di hati manusia. Setelah itu terjadilah kiamat. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ إِلاَّ عَلَى شِرَارِ النَّاسِ “Hari Kiamat tidak akan terjadi kecuali pada manusia yang paling jelek.” (HR. Muslim, no. 2949) Juga dalam hadits lainnya disebutkan, لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ عَلَى أَحَدٍ يَقُولُ اللَّهُ اللَّهُ “Hari kiamat tidaklah akan terjadi ketika ada seseorang yang mengucapkan: Allah, Allah.” (HR. Muslim, no. 148) (Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2: 299-300) Apakah saat ini kita sudah masuk pada waktu ilmu itu hanya sekedar jadi hiasan bibir? Semoga jadi renungan bersama yang membuat kita semakin memperbaiki diri.   Referensi: Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam. Cetakan kesepuluh, tahun 1432 H. Ibnu Rajab Al-Hambali. Penerbit Muassasah Ar-Risalah. — Selesai disusun saat hujan mengguyur Darush Sholihin, Girisekar, Panggang, Gunungkidul, Jumat, 15 Safar 1437 H Muhammad Abduh Tuasikal Join Channel Telegram, Twitter, Instagram: @RumayshoCom Tagsbelajar

Ilmu Makin Hilang Hingga Datang Kiamat

Bagaimana ilmu bisa semakin hilang? Iya, di akhir zaman, ilmu akan hilang hingga datang kiamat.   Ibnu Rajab Al-Hambali menerangkan sebagai berikut. Suatu saat ilmu itu akan hilang sebagaimana diutarakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ada yang bertanya, “Bagaimana ilmu itu bisa hilang padahal saat ini Al-Quran gemar kita baca, para wanita dan anak-anak kita pun demikian?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan, “Lihat saja Taurat dan Injil di tangan Yahudi dan Nashrani, apa manfaat untuk mereka?” ‘Ubadah bin Ash-Shamit ditanya tentang hadits di atas lantas ia berkata, “Seandainya mau kuberitahu tentang ilmu yang pertama kali diangkat yaitu khusyu’.”   Karena memang ilmu itu ada dua:   Pertama: Ilmu yang berbuah di hati manusia. Yaitu ilmu tentang Allah, ilmu tentang nama dan sifat-Nya serta perbuatan-Nya. Ilmu semacam ini akan membuahkan rasa takut, pengagungan, ketundukan, kecintaan, harapan, doa, tawakkal dan lainnya. Itulah yang disebut ilmu yang bermanfaat. Ibnu Mas’ud berkata, “Suatu kaum ada yang membaca Al-Qur’an yang tidak melewati kerongkongan mereka. Jika saja ilmu itu tertanam dalam hati, tentu akan bermanfaat.” Al-Hasan Al-Bashri berkata, “Ilmu itu ada dua macam. Ada ilmu pada lisan (omongan belaka). Jika ilmu hanya di lisan, maka ilmu itu yang malah akan menjatuhkan kita pada hari kiamat. Ilmu yang menancap dalam hati, itulah ilmu yang bermanfaat.”   Kedua: Ilmu yang hanya sekedar hiasan di bibir. Ilmu semacam inilah yang nanti akan melemahkan manusia itu sendiri sebagaimana disebutkan dalam hadits, وَالْقُرْآنُ حُجَّةٌ لَكَ أَوْ عَلَيْكَ “Al-Qur’an bisa menjadi argumen untuk membelamu atau menjatuhkanmu.” (HR. Muslim, no. 223) Jadi ilmu yang akan terangkat pertama kali adalah ilmu naafi’ (ilmu yang bermanfaat) yaitu ilmu yang menancap dalam batin, bersemayam dalam hati dan ilmu yang memperbaiki hati. Ilmu yang ada nantinya adalah ilmu yang jadi hiasan bibir. Ilmu itu malah nantinya dihinakan. Tak ada lagi yang tahu praktik dari ilmu tersebut. Tidak ada pula ulama yang memikul ilmu itu lagi, tidaklah aku dan tidak pula mereka. Lambat laun ilmu tersebut hilang bersama dengan hilangnya para guru yang mengajarkan ilmu (ulama). Yang ada nantinya cuma goresan tulisan di mushaf. Tak ada lagi yang tahu maknanya. Tak ada lagi yang paham akan batasan dan hukumnya. Sampai nanti di akhir zaman sama sekali tak ada lagi ilmu di mushaf-mushaf dan di hati manusia. Setelah itu terjadilah kiamat. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ إِلاَّ عَلَى شِرَارِ النَّاسِ “Hari Kiamat tidak akan terjadi kecuali pada manusia yang paling jelek.” (HR. Muslim, no. 2949) Juga dalam hadits lainnya disebutkan, لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ عَلَى أَحَدٍ يَقُولُ اللَّهُ اللَّهُ “Hari kiamat tidaklah akan terjadi ketika ada seseorang yang mengucapkan: Allah, Allah.” (HR. Muslim, no. 148) (Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2: 299-300) Apakah saat ini kita sudah masuk pada waktu ilmu itu hanya sekedar jadi hiasan bibir? Semoga jadi renungan bersama yang membuat kita semakin memperbaiki diri.   Referensi: Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam. Cetakan kesepuluh, tahun 1432 H. Ibnu Rajab Al-Hambali. Penerbit Muassasah Ar-Risalah. — Selesai disusun saat hujan mengguyur Darush Sholihin, Girisekar, Panggang, Gunungkidul, Jumat, 15 Safar 1437 H Muhammad Abduh Tuasikal Join Channel Telegram, Twitter, Instagram: @RumayshoCom Tagsbelajar
Bagaimana ilmu bisa semakin hilang? Iya, di akhir zaman, ilmu akan hilang hingga datang kiamat.   Ibnu Rajab Al-Hambali menerangkan sebagai berikut. Suatu saat ilmu itu akan hilang sebagaimana diutarakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ada yang bertanya, “Bagaimana ilmu itu bisa hilang padahal saat ini Al-Quran gemar kita baca, para wanita dan anak-anak kita pun demikian?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan, “Lihat saja Taurat dan Injil di tangan Yahudi dan Nashrani, apa manfaat untuk mereka?” ‘Ubadah bin Ash-Shamit ditanya tentang hadits di atas lantas ia berkata, “Seandainya mau kuberitahu tentang ilmu yang pertama kali diangkat yaitu khusyu’.”   Karena memang ilmu itu ada dua:   Pertama: Ilmu yang berbuah di hati manusia. Yaitu ilmu tentang Allah, ilmu tentang nama dan sifat-Nya serta perbuatan-Nya. Ilmu semacam ini akan membuahkan rasa takut, pengagungan, ketundukan, kecintaan, harapan, doa, tawakkal dan lainnya. Itulah yang disebut ilmu yang bermanfaat. Ibnu Mas’ud berkata, “Suatu kaum ada yang membaca Al-Qur’an yang tidak melewati kerongkongan mereka. Jika saja ilmu itu tertanam dalam hati, tentu akan bermanfaat.” Al-Hasan Al-Bashri berkata, “Ilmu itu ada dua macam. Ada ilmu pada lisan (omongan belaka). Jika ilmu hanya di lisan, maka ilmu itu yang malah akan menjatuhkan kita pada hari kiamat. Ilmu yang menancap dalam hati, itulah ilmu yang bermanfaat.”   Kedua: Ilmu yang hanya sekedar hiasan di bibir. Ilmu semacam inilah yang nanti akan melemahkan manusia itu sendiri sebagaimana disebutkan dalam hadits, وَالْقُرْآنُ حُجَّةٌ لَكَ أَوْ عَلَيْكَ “Al-Qur’an bisa menjadi argumen untuk membelamu atau menjatuhkanmu.” (HR. Muslim, no. 223) Jadi ilmu yang akan terangkat pertama kali adalah ilmu naafi’ (ilmu yang bermanfaat) yaitu ilmu yang menancap dalam batin, bersemayam dalam hati dan ilmu yang memperbaiki hati. Ilmu yang ada nantinya adalah ilmu yang jadi hiasan bibir. Ilmu itu malah nantinya dihinakan. Tak ada lagi yang tahu praktik dari ilmu tersebut. Tidak ada pula ulama yang memikul ilmu itu lagi, tidaklah aku dan tidak pula mereka. Lambat laun ilmu tersebut hilang bersama dengan hilangnya para guru yang mengajarkan ilmu (ulama). Yang ada nantinya cuma goresan tulisan di mushaf. Tak ada lagi yang tahu maknanya. Tak ada lagi yang paham akan batasan dan hukumnya. Sampai nanti di akhir zaman sama sekali tak ada lagi ilmu di mushaf-mushaf dan di hati manusia. Setelah itu terjadilah kiamat. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ إِلاَّ عَلَى شِرَارِ النَّاسِ “Hari Kiamat tidak akan terjadi kecuali pada manusia yang paling jelek.” (HR. Muslim, no. 2949) Juga dalam hadits lainnya disebutkan, لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ عَلَى أَحَدٍ يَقُولُ اللَّهُ اللَّهُ “Hari kiamat tidaklah akan terjadi ketika ada seseorang yang mengucapkan: Allah, Allah.” (HR. Muslim, no. 148) (Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2: 299-300) Apakah saat ini kita sudah masuk pada waktu ilmu itu hanya sekedar jadi hiasan bibir? Semoga jadi renungan bersama yang membuat kita semakin memperbaiki diri.   Referensi: Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam. Cetakan kesepuluh, tahun 1432 H. Ibnu Rajab Al-Hambali. Penerbit Muassasah Ar-Risalah. — Selesai disusun saat hujan mengguyur Darush Sholihin, Girisekar, Panggang, Gunungkidul, Jumat, 15 Safar 1437 H Muhammad Abduh Tuasikal Join Channel Telegram, Twitter, Instagram: @RumayshoCom Tagsbelajar


Bagaimana ilmu bisa semakin hilang? Iya, di akhir zaman, ilmu akan hilang hingga datang kiamat.   Ibnu Rajab Al-Hambali menerangkan sebagai berikut. Suatu saat ilmu itu akan hilang sebagaimana diutarakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ada yang bertanya, “Bagaimana ilmu itu bisa hilang padahal saat ini Al-Quran gemar kita baca, para wanita dan anak-anak kita pun demikian?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan, “Lihat saja Taurat dan Injil di tangan Yahudi dan Nashrani, apa manfaat untuk mereka?” ‘Ubadah bin Ash-Shamit ditanya tentang hadits di atas lantas ia berkata, “Seandainya mau kuberitahu tentang ilmu yang pertama kali diangkat yaitu khusyu’.”   Karena memang ilmu itu ada dua:   Pertama: Ilmu yang berbuah di hati manusia. Yaitu ilmu tentang Allah, ilmu tentang nama dan sifat-Nya serta perbuatan-Nya. Ilmu semacam ini akan membuahkan rasa takut, pengagungan, ketundukan, kecintaan, harapan, doa, tawakkal dan lainnya. Itulah yang disebut ilmu yang bermanfaat. Ibnu Mas’ud berkata, “Suatu kaum ada yang membaca Al-Qur’an yang tidak melewati kerongkongan mereka. Jika saja ilmu itu tertanam dalam hati, tentu akan bermanfaat.” Al-Hasan Al-Bashri berkata, “Ilmu itu ada dua macam. Ada ilmu pada lisan (omongan belaka). Jika ilmu hanya di lisan, maka ilmu itu yang malah akan menjatuhkan kita pada hari kiamat. Ilmu yang menancap dalam hati, itulah ilmu yang bermanfaat.”   Kedua: Ilmu yang hanya sekedar hiasan di bibir. Ilmu semacam inilah yang nanti akan melemahkan manusia itu sendiri sebagaimana disebutkan dalam hadits, وَالْقُرْآنُ حُجَّةٌ لَكَ أَوْ عَلَيْكَ “Al-Qur’an bisa menjadi argumen untuk membelamu atau menjatuhkanmu.” (HR. Muslim, no. 223) Jadi ilmu yang akan terangkat pertama kali adalah ilmu naafi’ (ilmu yang bermanfaat) yaitu ilmu yang menancap dalam batin, bersemayam dalam hati dan ilmu yang memperbaiki hati. Ilmu yang ada nantinya adalah ilmu yang jadi hiasan bibir. Ilmu itu malah nantinya dihinakan. Tak ada lagi yang tahu praktik dari ilmu tersebut. Tidak ada pula ulama yang memikul ilmu itu lagi, tidaklah aku dan tidak pula mereka. Lambat laun ilmu tersebut hilang bersama dengan hilangnya para guru yang mengajarkan ilmu (ulama). Yang ada nantinya cuma goresan tulisan di mushaf. Tak ada lagi yang tahu maknanya. Tak ada lagi yang paham akan batasan dan hukumnya. Sampai nanti di akhir zaman sama sekali tak ada lagi ilmu di mushaf-mushaf dan di hati manusia. Setelah itu terjadilah kiamat. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ إِلاَّ عَلَى شِرَارِ النَّاسِ “Hari Kiamat tidak akan terjadi kecuali pada manusia yang paling jelek.” (HR. Muslim, no. 2949) Juga dalam hadits lainnya disebutkan, لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ عَلَى أَحَدٍ يَقُولُ اللَّهُ اللَّهُ “Hari kiamat tidaklah akan terjadi ketika ada seseorang yang mengucapkan: Allah, Allah.” (HR. Muslim, no. 148) (Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2: 299-300) Apakah saat ini kita sudah masuk pada waktu ilmu itu hanya sekedar jadi hiasan bibir? Semoga jadi renungan bersama yang membuat kita semakin memperbaiki diri.   Referensi: Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam. Cetakan kesepuluh, tahun 1432 H. Ibnu Rajab Al-Hambali. Penerbit Muassasah Ar-Risalah. — Selesai disusun saat hujan mengguyur Darush Sholihin, Girisekar, Panggang, Gunungkidul, Jumat, 15 Safar 1437 H Muhammad Abduh Tuasikal Join Channel Telegram, Twitter, Instagram: @RumayshoCom Tagsbelajar

Hati Yang Bersih

(Khotbah Jum’ah Masjid Nabawi 15 Shafar 1437 H)Oleh: Asy-Syaikh Al-Hudzaifi hafizohullahSegala puji bagi Allah Tuhan semesta alam, Pelindung orang-orang shalih, Dia memberikan bimbingan taufiq kepada siapa saja yang dikehendakiNya atas anugerahNya dan rahmatNya sehingga jadilah orang tersebut beruntung. Dia biarkan orang yang dikehendakiNya mengurus dirinya sendiri atas keadilanNya dan kebijaksanaanNya sehingga orang tersebut menempuh selain jalur orang-orang yang beriman. Aku memuji Tuhanku, berterima kasih dan bertobat kepadaNya serta memohon ampunanNya. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagiNya, Tuhan Yang Maha Benar dan Nyata. Aku bersaksi bahwa junjungan kita dan Nabi kita Muhammad adalah hambaNya dan RasulNya, yang senantasa benar janjinya dan terpercaya amanatnya. Ya Allah ! curahkanlah rahmat kasih sayang dan doa keselamatan serta keberkahan kepada hambaMu dan RasulMu Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam beserta seluruh pengikutnya !Selanjutnya..Bertakwalah kepada Allah, niscaya Allah memasukkan kalian ke dalam rahmatNya dan menyelamatkan kalian dari murkaNya dan sanksi hukumanNya. Sungguh beruntung orang yang bertakwa dan merugi orang yang berdusta dan melampaui batas.Para hamba Allah ! setiap orang berusaha untuk meraih kebahagiaan abadi dan kehidupan yang memuaskan hati. Ada di antara manusia yang memang mendapatkan bimbingan Tuhan untuk menempuh jalanNya sehingga Allah memberinya kebahagiaan yang abadi dan kehidupan duniawi yang memuaskan hati. Tetapi ada pula orang yang yang segala perhatiannya hanya tertuju kepada dunia dan melupakan akhiratnya sehingga Allah memberinya jatahnya dari dunia yang memang telah Allah tetapkan untuknya, namun di akhirat kelak ia tidak mendapatkan bagian apa-apa. Sedangkan jatah duniawi yang diperolehnya tidaklah jernih tanpa kekeruhan, kekalutan, gangguan dan keburukan. Firman Allah Swt :مَنْ كانَ يُرِيدُ الْعاجِلَةَ عَجَّلْنا لَهُ فِيها مَا نَشاءُ لِمَنْ نُرِيدُ ثُمَّ جَعَلْنا لَهُ جَهَنَّمَ يَصْلاها مَذْمُوماً مَدْحُوراً[ الإسراء / 18 ](Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang [duniawi], maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang kami kehendaki bagi orang yang kami kehendaki dan Kami tentukan baginya neraka jahannam; ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir ) Qs Al-Isra : 18Firman Allah :وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكاً وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيامَةِ أَعْمى ، قالَ رَبِّ لِمَ حَشَرْتَنِي أَعْمى وَقَدْ كُنْتُ بَصِيراً،  قالَ كَذلِكَ أَتَتْكَ آياتُنا فَنَسِيتَها وَكَذلِكَ الْيَوْمَ تُنْسى ، [ طه / 124-126 ]( Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta” Berkatalah ia: “Ya Tuhanku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat? Allah berfirman: “Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamupun dilupakan” ) Qs Thaha : 124-126Jika faktanya memang demikian, yaitu masing-masing orang berusaha meraih kebahagiaan duniawi dan berkerja keras meraih kebahagiaan ukhrawi yang kekal abadi sebagai kehidupan yang terbaik dan kenikmatan yang paling prima, maka perlu diketahui bahwa kebahagiaan dunia yang menyenangkan dan kebahagiaan akhirat yang kekal abadi itu tidak akan mungkin diraih kecuali dengan jiwa yang tulus dan hati yang bersih. Firman Allah :يَوْمَ لا يَنْفَعُ مالٌ وَلا بَنُونَ ،  إِلاَّ مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ  ، وَأُزْلِفَتِ الْجَنَّةُ لِلْمُتَّقِينَ ،  وَبُرِّزَتِ الْجَحِيمُ لِلْغاوِينَ ، [ الشعراء / 88 – 91 ]( pada hari, harta dan anak-anak lelaki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih, pada hari itu, surga didekatkan kepada orang-orang yang bertakwa, dan neraka Jahim diperlihatkan dengan jelas kepada orang-orang yang sesat ) Qs As-Syu’ara : 88-91Firman Allah  :مَنْ عَمِلَ صالِحاً مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَياةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ ما كانُوا يَعْمَلُونَ  [ النحل / 97 ](Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan) Qs An-Nahl : 97Amal shalih tidak mungkin terlaksana kecuali oleh orang yang berhati ikhlas dan tulus. Firman Allah :لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَنْزَلَ السَّكِينَةَ عَلَيْهِمْ وَأَثابَهُمْ فَتْحاً قَرِيباً  [ الفتح / 18 ]( Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat waktunya) Qs Al-Fath : 18Artinya Allah mengetahui kemurnian iman, kesungguhan niat dan kesucian batin yang ada dalam hati mereka, yang aman dari sifat kemunafikan dan cabang-cabangnya. ( عَن عبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ قِيلَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ النَّاسِ أَفْضَلُ قَالَ كُلُّ مَخْمُومِ الْقَلْبِ صَدُوقِ اللِّسَانِ قَالُوا صَدُوقُ اللِّسَانِ نَعْرِفُهُ فَمَا مَخْمُومُ الْقَلْبِ قَالَ هُوَ التَّقِيُّ النَّقِيُّ لَا إِثْمَ فِيهِ وَلَا بَغْيَ وَلَا غِلَّ وَلَا حَسَدَ    ) حديث صحيح رواه ابن ماجهAbdullah bin ‘Amru berkata; Ditanyakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ; “Manusia bagaimanakah yang paling mulia?” Beliau menjawab: “Semua orang yang hatinya makhmum (disapu/dibersihkan) dan tutur katanya benar.” Mereka berkata; “Tutur kata yang benar telah kami sudah mengerti, tetapi apakah maksud dari hati yang makhmum?” Beliau bersabda: “Yaitu hati yang bertakwa dan bersih, tidak ada dosa, kezoliman, kedengkian dan hasad di dalamnya.” (Hadis shahih riwayat Ibn Majah).Dari Abdullah Bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :( حُرِمَ عَلَى النَّارِ كُلِّ هَيِنٍ لَيِّن قَرِيبٍ مِنَ الّناسِ ) رواه أحمد والترمذى(Diharamkan (terlindung dari neraka) setiap orang yang suka memudahkan, lemah lembut, dan akrab dengan sesama manusia ).” HR. Ahmad dan TirmiziPerhatikan wahai saudaraku sesama muslim bagaimana hati yang tulus ikhlas dan bersih itu dapat mengangkat seseorang kepada derajat yang demikian tinggi di surga, dan dapat menyelamatkannya dari neraka dan akibat yang membinasakannya.Hati yang bersih dekat dari segala kebaikan, jauh dari segala keburukan. Hati yang bersih dapat menampung semua perilaku yang baik sebagaimana tanah yang landai dapat menampung air. Hati yang baik akan mampu menolak semua perilaku kerendahan sebagaimana tempa besi dapat menghilangkan karat pada emas dan perak. Hati yang bersih dapat manaungi pemiliknya dengan rahmat Allah, perlindunganNya, penjagaanNya dan bimbinganNya.Firman Allah  :وَبَشِّرِ الْمُخْبِتِينَ ، الَّذِينَ إِذا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَالصَّابِرِينَ عَلى ما أَصابَهُمْ وَالْمُقِيمِي الصَّلاةِ وَمِمَّا رَزَقْناهُمْ يُنْفِقُونَ  [ الحج / 34 – 35 ]) Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh kepada Allah, [yaitu] orang-orang yang apabila disebut nama Allah bergetarlah hati mereka, orang-orang yang sabar terhadap apa yang menimpa mereka, orang-orang yang mendirikan shalat dan orang-orang yang menafkahkan sebagian dari apa yang telah Kami rezekikan kepada mereka) Qs Al-Haj : 34-35Firman Allah  :إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَأَخْبَتُوا إِلَى رَبِّهِمْ أُولَئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ  [ هود / 23 ]( Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh dan merendahkan diri kepada Tuhan mereka, mereka itu adalah penghuni-penghuni surga; mereka kekal di dalamnya ) Qs Hud : 23Sikap merendakan diri kepada Allah Swt merupakan sifat yang melekat pada hati yang bersih. Ada yang menafsirkannya sebagai sikap tawadhu’ ( dalam arti patuh dan taat ) kepada Allah Swt serta merasa tenteram dalam menjalankan syariatNya dan firmanNya, pun pula merasa nyaman mengerjakan amal kebajikan dan puas dengannya. Firman Allah  :الَّذِينَ تَتَوَفَّاهُمُ الْمَلائِكَةُ طَيِّبِينَ يَقُولُونَ سَلامٌ عَلَيْكُمْ ادْخُلُوا الْجَنَّةَ بِما كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ [ النحل / 32 ]( orang-orang yang diwafatkan dalam keadaan baik oleh para malaikat dengan mengatakan [kepada mereka]: “Salaamun´alaikum”, masuklah kamu ke dalam surga itu disebabkan apa yang telah kamu kerjakan ) Qs An-Nahl : 32Yang dimaksud dengan “mereka wafat dalam keadaan baik” di sini adalah “hati yang bersih dalam keimanan”.Diriwayatkan dari Iyadh Bin Himmar radhiyallahu ‘anhu berkata, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :( أَهْلُ الْجَنَّةِ ثَلَاثَةٌ: ذُو سُلْطَانٍ مُقْسِطٌ مُتَصَدِّقٌ مُوَفَّقٌ، وَرَجُلٌ رَحِيمٌ رَقِيقُ الْقَلْبِ لِكُلِّ ذِي قُرْبَى، وَمُسْلِمٍ، وَرَجُلٌ فَقِيرٌ عَفِيْفٌ مُتَصَدِّقٌ ) رواه ابن حبان ( Ahli surga itu ada tiga :Pertama : orang yang punya kekuasaan dan berlaku adil serta mau bersedekah atas pertolongan Allah.Kedua ; orang yang di dalam hatinya terdapat rasa belas kasihan kepada sanak saudara dan sesama muslim.Ketiga  : orang miskin yang mampu menjaga harga dirinya [dari meminta-minta], dan ia-pun masih mau bersedekah ) HR Ibnu Hibban.Hati yang bersih punya sifat dan ciri khas tertentu, yang paling menonjol dan terpenting ialah terbebasnya hati seseorang dari kemusyrikan besar ( syirik akbar ) dan kecil ( syirik asghar ) beserta cabang-cabangnya, juga terhindarnya dosa-dosa besar dan kecil, terjauhkan dari sifat-sifat tercela dan perilaku nista, seperti kikir, terlampau pelit, iri hati, dengki, sombong, menipu, curang, khianat, tipu muslihat, dusta dan sifat-sifat hati tak terpuji lainnya. Di samping itu, hati yang bersih pemiliknya selalu menjalankan kewajiban dan memperbanyak ibadah sunah serta menghindari hal-hal yang makruh.Adapun sebaik-baik karakter dan sifat hati yang bersih dan yang paling tinggi tingkat kesuciannya ialah sebagaimana yang sifat-sifat hati bersih yang disandang oleh para Nabi –alaihimussalam- .Firman Allah mengkisahkan rasul kekasihNya, Ibrahim a.s.  :وَإِنَّ مِنْ شِيعَتِهِ لَإِبْراهِيمَ ، إِذْ جاءَ رَبَّهُ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ  [ الصافات / 83-84 ](Dan sesungguhnya benar-benar termasuk golongannya [Nuh] adalah Ibrahim. ketika ia datang kepada Tuhannya dengan hati yang suci) Qs Ash-Shafat: 83-84Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :( لَا يُبَلِّغُنِي أَحَدٌ مِنْ أَصْحَابِي عَنْ أَحَدٍ شَيْئًا، فَإِنِّي أُحِبُّ أَنْ أَخْرُجَ إِلَيْكُمْ وَأَنَا سَلِيمُ الصَّدْرِ   ) رواه أبو داود والترمذى( Tidaklah seseorang di antara sahabat-sahabatku yang menyampaikan sesuatu kepadaku dari seseorang, [melainkan] aku sungguh senang jika aku keluar menemui kalian sementara aku dalam keadaan hati yang bersih) HR Abu Dawud dan Tirmizi.Dari Syaddad Bin Aus radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan kepada kami doa ini :( اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الثَّبَاتَ فِي الأَمْرِ، وَالعَزِيمَةَ على الرُّشْدِ، وَأَسْأَلُكَ شُكْرَ نِعْمَتِكَ، وَحُسْنَ عِبَادَتِكَ، وَأَسْأَلُكَ لِسَانًا صَادِقًا، وَقَلْبًا سَلِيمًا، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا تَعْلَمُ، وَأَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِ مَا تَعْلَمُ، وَأَسْتَغْفِرُكَ مِمَّا تَعْلَمُ إِنَّكَ أَنْتَ عَلاَّمُ الغُيُوبِ )رواه أحمد والترمذى والنسائي(Ya Allah, aku mohon kepadaMu ketetapan hati dalam segala urusan dan keteguhan kehendak menuju kebenaran. Dan aku memohon agar aku dapat mensyukuri nikmatMu dan beribadah kepadaMu dengan sebaik-baiknya. Ya Allah, aku memohon kepadaMu tutur kata yang benar, hati yang bersih, dan aku berlindung kepadaMu dari keburukan apa yang Engkau ketahui, aku memohon kepadaMu kebaikan dari apa yang Engkau ketahui, aku memohon ampun kepadaMu dari apapun yang Engkau ketahui, sesungguhnya hanya Engkau jualah yang Maha Mengetahui yang ghaib). HR Ahmad, Tirmizi dan Nasai.Sebaik-baik kondisi hati, yang paling sempurna dan paling tinggi derajatnya adalah bersihnya hati dan baiknya hati. Dan kesempurnaan bersihnya hati bertingkat-tingkat. Maka barangsiapa yang bersungguh-sungguh dalam meneladani para nabi –’alaihimus salam- maka ia akan meraih kebersihan hati sesuai kadar keteladanannya. Barangsiapa yang mengikuti petunjuk Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan berpegang teguh dengan sunnahnya yang mulia maka ia telah dibimbing kepada petunjuk yang terbaik, amal dan keyakinan yang terbaik. Dan Allah akan menganugerahkan kepadanya hati yang bersih sebagaimana Allah menganugerahkan hati yang bersih kepada para sahabat yang meneladani petunjuk Nabi mereka Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan berpegang teguh dengannya. Allah berfiman :وَٱلَّذِينَ تَبَوَّءُو ٱلدَّارَ وَٱلۡإِيمَٰنَ مِن قَبۡلِهِمۡ يُحِبُّونَ مَنۡ هَاجَرَ إِلَيۡهِمۡ وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمۡ حَاجَةٗ مِّمَّآ أُوتُواْ وَيُؤۡثِرُونَ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ وَلَوۡ كَانَ بِهِمۡ خَصَاصَةٞۚ وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفۡسِهِۦ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ ٩Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshor) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshor) ´mencintai´ orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka (Anshor) tiada hasad dalam dada mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada kaum muhajirin; dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung (QS Al-Hasyr : 9)Dan orang-orang kemudian yang mengikuti para sahabat dengan baik mereka diberikan hati yang bersih juga. Allah berfirmanوَٱلَّذِينَ جَآءُو مِنۢ بَعۡدِهِمۡ يَقُولُونَ رَبَّنَا ٱغۡفِرۡ لَنَا وَلِإِخۡوَٰنِنَا ٱلَّذِينَ سَبَقُونَا بِٱلۡإِيمَٰنِ وَلَا تَجۡعَلۡ فِي قُلُوبِنَا غِلّٗا لِّلَّذِينَ ءَامَنُواْ رَبَّنَآ إِنَّكَ رَءُوفٞ رَّحِيمٌ ١٠Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa: “Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang” (QS Al-Hasyr : 10)          Hati yang bersih ganjarannya adalah surga (di akhirat) dan tubuh yang sehat di dunia. Dari Anas r.a ia berkata :كُنَّا جُلُوسًا مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: ” يَطْلُعُ عَلَيْكُمُ الْآنَ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ ” فَطَلَعَ رَجُلٌ مِنَ الْأَنْصَارِ، تَنْطِفُ لِحْيَتُهُ مِنْ وُضُوئِهِ، قَدْ تَعَلَّقَ نَعْلَيْهِ فِي يَدِهِ الشِّمَالِ، فَلَمَّا كَانَ الْغَدُ، قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، مِثْلَ ذَلِكَ، فَطَلَعَ ذَلِكَ الرَّجُلُ مِثْلَ الْمَرَّةِ الْأُولَى . فَلَمَّا كَانَ الْيَوْمُ الثَّالِثُ، قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، مِثْلَ مَقَالَتِهِ أَيْضًا، فَطَلَعَ ذَلِكَ الرَّجُلُ عَلَى مِثْلِ حَالِهِ الْأُولَى، فَلَمَّا قَامَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَبِعَهُ عَبْدُ اللهِ بْنُ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ فَقَالَ: إِنِّي لَاحَيْتُ أَبِي فَأَقْسَمْتُ أَنْ لَا أَدْخُلَ عَلَيْهِ ثَلَاثًا، فَإِنْ رَأَيْتَ أَنْ تُؤْوِيَنِي إِلَيْكَ حَتَّى تَمْضِيَ فَعَلْتَ ؟ قَالَ: نَعَمْ“Kami sedang duduk bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka beliaupun berkata : “Akan muncul kepada kalian sekarang seorang penduduk surga”. Maka munculah seseorang dari kaum Anshoor, jenggotnya masih basah terkena air wudhu, sambil menggantungkan kedua sendalnya di tangan kirinya. Tatkala keesokan hari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan perkataan yang sama, dan munculah orang itu lagi dengan kondisi yang sama seperti kemarin. Tatkala keesokan harinya lagi (hari yang ketiga) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengucapkan perkataan yang sama dan muncul juga orang tersebut dengan kondisi yang sama pula. Tatkala Nabi berdiri (pergi) maka Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Aash mengikuti orang tersebut lalu berkata kepadanya : “Aku bermasalah dengan ayahku dan aku bersumpah untuk tidak masuk ke rumahnya selama tiga hari. Jika menurutmu aku boleh menginap di rumahmu hingga berlalu tiga hari?. Maka orang tersebut berkata, “Silahkan”.Anas bin Malik melanjutkan tuturan kisahnya :وَكَانَ عَبْدُ اللهِ يُحَدِّثُ أَنَّهُ بَاتَ مَعَهُ تِلْكَ اللَّيَالِي الثَّلَاثَ، فَلَمْ يَرَهُ يَقُومُ مِنَ اللَّيْلِ شَيْئًا، غَيْرَ أَنَّهُ إِذَا تَعَارَّ وَتَقَلَّبَ عَلَى فِرَاشِهِ ذَكَرَ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ وَكَبَّرَ، حَتَّى يَقُومَ لِصَلَاةِ الْفَجْرِ . قَالَ عَبْدُ اللهِ: غَيْرَ أَنِّي لَمْ أَسْمَعْهُ يَقُولُ إِلَّا خَيْرًا، فَلَمَّا مَضَتِ الثَّلَاثُ لَيَالٍ وَكِدْتُ أَنْ أَحْقِرَ عَمَلَهُ، قُلْتُ: يَا عَبْدَ اللهِ إِنِّي لَمْ يَكُنْ بَيْنِي وَبَيْنَ أَبِي غَضَبٌ وَلَا هَجْرٌ ثَمَّ، وَلَكِنْ سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَكَ ثَلَاثَ مِرَارٍ: ” يَطْلُعُ عَلَيْكُمُ الْآنَ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ ” فَطَلَعْتَ أَنْتَ الثَّلَاثَ مِرَارٍ، فَأَرَدْتُ أَنْ آوِيَ إِلَيْكَ لِأَنْظُرَ مَا عَمَلُكَ، فَأَقْتَدِيَ بِهِ، فَلَمْ أَرَكَ تَعْمَلُ كَثِيرَ عَمَلٍ، فَمَا الَّذِي بَلَغَ بِكَ مَا قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: مَا هُوَ إِلَّا مَا رَأَيْتَ . قَالَ: فَلَمَّا وَلَّيْتُ دَعَانِي، فَقَالَ: مَا هُوَ إِلَّا مَا رَأَيْتَ، غَيْرَ أَنِّي لَا أَجِدُ فِي نَفْسِي لِأَحَدٍ مِنَ الْمُسْلِمِينَ غِشًّا، وَلَا أَحْسُدُ أَحَدًا عَلَى خَيْرٍ أَعْطَاهُ اللهُ إِيَّاهُ . فَقَالَ عَبْدُ اللهِ هَذِهِ الَّتِي بَلَغَتْ بِكَ، وَهِيَ الَّتِي لَا نُطِيقُ“Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Aaash bercerita bahwasanya iapun menginap bersama orang tersebut selama tiga malam. Namun ia sama sekali tidak melihat orang tersebut mengerjakan sholat malam, hanya saja jika ia terjaga di malam hari dan berbolak-balik di tempat tidur maka iapun berdzikir kepada Allah dan bertakbir, hingga akhirnya ia bangun untuk sholat subuh. Abdullah bertutur : “Hanya saja aku tidak pernah mendengarnya berucap kecuali kebaikan. Dan tatkala berlalu tiga hari –dan hampir saja aku meremehkan amalannya- maka akupun berkata kepadanya : Wahai hamba Allah (fulan), sesungguhnya tidak ada permasalahan antara aku dan ayahku, apalagi boikot. Akan tetapi aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata sebanyak tiga kali : Akan muncul sekarang kepada kalian seorang penduduk surga”, lantas engkaulah yang muncul, maka akupun ingin menginap bersamamu untuk melihat apa sih amalanmu untuk aku contohi, namun aku tidak melihatmu banyak beramal. Maka apakah yang telah menyampaikan engkau sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam?”. Orang itu berkata : “Tidak ada kecuali amalanku yang kau lihat”. Abdullah bertutur : “Tatkala aku berpaling pergi maka iapun memanggilku dan berkata : Amalanku hanyalah yang engkau lihat, hanya saja aku tidak menemukan perasaan dengki (jengkel) dalam hatiku kepada seorang muslim pun dan aku tidak pernah hasad kepada seorangpun atas kebaikan yang Allah berikan kepadanya”. Abdullah berkata, “Inilah amalan yang mengantarkan engkau (menjadi penduduk surga-pen), dan inilah yang tidak kami mampui” (HR Ahmad, Ibnu Katsir berkata : Ini sanadnya shahih)Jika seorang muslim bersungguh-sungguh untuk meraih dan melakukan sebab-sebab bersihnya hati dan akhirnya ia meraih kedudukan yang tinggi ini maka sungguh dia telah menang dan beruntung dan ia akan menjalani hidup di dunia dengan sehat (selamat) dan Allah akan menjamin baginya derajat yang tinggi di akhirat. Ia akan dibimbing oleh Allah untuk menasehati dan ia terlepas dari penipuan, maka iapun melakukan yang terbaik kepada Allah, kepada kitabNya, RasulNya, para pemimpin kaum muslimin, dan kepada keumuman kaum muslimin. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :“Agama adalah nasehat (sebanyak 3 kali). Para sahabat bertanya, “Nasehat untuk siapa”, Nabi berkata, “Untuk Allah, kitabNya, RasulNya, para pemimpin kaum muslimin dan keumuman kaum muslimin” (HR Muslim dari sahabat Tamim Ad-Dary).Dan bentuk nasehat kepada Allah adalah beribadah kepadanya dengan ikhlas, dan nasehat kepada kitabNya adalah mempelajarinya dan mengajarkannya serta mengamalkannya. Nasahat kepada RasulNya adalah dengan mengikuti sunnahnya dan berdakwah kepada sunnahnya. Nasehat kepada para pemimpin (penguasa) adalah dengan tidak memberontak kepada mereka serta membantu mereka dalam menjalankan beban amanah yang dipikul oleh mereka. Nasehat bagi kaum muslimin adalah dengan menunaikan hak-hak mereka, menjaganya, dan memberi pelajaran bagi mereka serta menyumbangkan kebaikan bagi mereka dan menahan diri dari berbuat keburukan terhadap mereka. Barangsiapa yang sempurna bersihnya hatinya maka ia menyukai bagi kaum muslimin apa yang ia sukai untuk dirinya sendiri, dan ia akan diselamatkan dari sifat pelit sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam :لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ“Tidaklah salah seorang dari kalian beriman hingga ia menyukai bagi saudaranya apa yang ia sukai untuk dirinya” (HR Al-Bukhari dan Muslim dari Anas)Ibnu Rojab berkata tentang hadits ini : “Hadits ini menunjukkan bahwa seorang mukmin membahagiakannya apa yang membahagiakan saudaranya seiman, dan ia ingin untuk saudaranya tersebut kebaikan yang ia inginkan untuk dirinya. Ini semuanya timbul dari sempurnanya bersihnya hati dari dengki, jahat, dan hasad. Karena hasad melazimkan orang yang hasad benci seorangpun mengunggulinya atau menyamainya dalam perkara kebaikan, karena ia maunya menjadi spesial di hadapan manusia dengan keutamaan-keutamaan yang dimilikinya dan ia ingin menjadi sendirian yang istimewa diantara mereka. Dan keimanan melazimkan lawan dari yang demikian ini, yaitu dia ingin kaum mukminin seluruhnya ikut merasakan kebaikan yang Allah anugrahkan kepadanya tanpa mengurangi kebaikan tersebut darinya.”Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu berkata :إِنِّي لَأَمُرُّ بِالآيَةِ فَأَعْلَمُ مِنْهَا مَا أَعْلَمُ فَأَتَمَنَّى أَنَّ كُلَّ مُسْلِمٍ يَعْلَمُ مِنْهَا مَا عَلِمْتُSesungguhnya aku membaca sebuah ayat lalu mengetahui ilmu dari ayat tersebut maka akupun berangan-angan agar semua muslim mengetahui ilmu tentang ayat tersebut”Al-Imam Asy-Syafi’i berkata :وَدِدْتُ أَنَّ النَّاسَ تَعَلَّمُوا هَذَا الْعِلْمَ وَلَمْ يُنْسَبْ إِلَيَّ مِنْهُ شَيْئٌ“Aku ingin orang-orang mempelajari ilmu (ku) ini lalu tidak dinisbahkan kepadaku sedikitpun dari ilmu tersebut”Dan Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu menginfakkan seluruh hartanya demi kemaslahatan kaum muslimin, dan Umar radhiyallahu ‘anhu menginfakkan setengah hartanya.Dan diantara dampak dari hati yang bersih adalah sikap memaafkan, mengalah, sabar, dan lemah lembut terhadap kaum muslimin. Dan Nabi shallallahu ‘alihi wasallam telah memuji Abu Dhomdhom karena hal tersebut. Jika beliau di pagi hari beliau berkata :اللَّهُمَّ لاَ مَالَ لِي لِأَتَصَدَّقَ بِهِ عَلَى النَّاسِ، وَقَدْ تَصَدَّقْتُ عَلَيْهِمْ بِشَتْمِ عِرْضِي، فَمَنْ شَتَمَنِي أَوْ قَذَفَنِي فَهُوَ حِلٌّ“Ya Allah sesungguhnya aku tidak memiliki harta untuk bersedekah dengannya kepada orang-orang, dan aku telah bersedekah kepada mereka dengan cacian terhadap harga diriku, maka barangsiapa yang mencaci maki aku atau menuduhku (dengan tuduhan tidak benar) maka ia telah aku halalkan”. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:مَنْ يَسْتَطِيْعُ مِنْكُمْ أَنْ يَكُوْنَ كَأَبِي ضَمْضَمَ؟“Siapa diantara kalian yang mampu seperti Abu Dhomdhom?” (HR Al-Hakim, Ibnu Abdilbar, dan Al-Bazzar, dan hadits ini hasan”Dan lawan dari hati yang bersih adalah hati yang sakit dengan berbagai macam penyakit yang dibenci dan tercela. Diantara penyakit hati yang  paling parah adalah pelit. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah memperingatkan umatnya dari penyakit ini, beliau berkata :اتَّقُوا الظُّلْمَ؛ فَإِنَّ الظُّلْمَ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَاتَّقُوا الشُّحَّ؛ فَإِنَّ الشُّحَّ أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ، وَحَمَلَهُمْ عَلَى أَنْ سَفَكُوا دِمَاءَهُمْ، وَاسْتَحَلُّوا مَحَارِمَهُمْ“Waspadalah kalian dari perbuatan menzolimi karena kezoliman adalah kegelapan yang bertumpuk-tumpuk pada hari qiamat, dan jauhilah kalian dari pelit, karena sikap pelit telah membinasakan orang-orang sebelum kalian, sikap pelit ini mengantarkan mereka untuk menumpahkan darah mereka dan menghalalkan perkara-perkara yang haram’ (HR Muslim dari hadits Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu)Jika seorang yang berakal mengamati fitnah yang meluas dan yang khusus di dunia ini, maka ia akan mendapat bahwasanya diantara sebab utamanya adalah sikap pelit dan tamak (rakus). Dari Abu Hurairoh radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda :«يَتَقَارَبُ الزَّمَانُ وَيَنْقُصُ الْعَمَلُ وَتَظْهَرُ الْفِتَنُ وَيُلْقَى الشُّحُّ وَيَكْثُرُ الْهَرْجُ» قَالُوا: وَمَا الْهَرْجُ؟ قَالَ: «الْقَتْلُ الْقَتْلُ»“Zaman semakin mendekat, dan amal semakin sedikit, dan muncullah fitnah-fitnah, dan dilemparkanlah sifat Asy-Syuh (pelit disertai semangat mengejar dunia) di hati dan banyaklah al-Harju”. Mereka bertanya, “Apakah itu al-Harju?”, Nabi berkata, “Pembunuhan, pembunuhan” (HR Al-Bukhari)Maka sikap Asy-Syuh (pelit kelas kakap) adalah semangat untuk mengejar dunia, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berakta,مَا الفَقْرَ أخْشَى عَلَيْكُمْ، وَلَكِنِّى أخْشَى عَلَيْكُمْ أنْ تُبْسَطَ الدُّنْيَا عَلَيْكُمْ كَمَا بُسِطَتْ عَلَى مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ، فَتَنَافَسُوهَا كَمَا تَنَافَسُوهَا، وَتُهْلِكَكُم كَمَا أهْلَكَتْهُمْ“Bukanlah kemiskinan yang aku khawatirkan menimpa kalian, akan tetapi dibentangkannya dunia pada kalian lalu kalian berlomba untuk memperebutkannya sebagaimana orang-orang sebelum kalian berlomba memperebutkannya, maka dunia tersebut membinasakan kalian sebagaimana dunia telah membinasakan mereka’Dan jika engkau telah mengetahui makna dari “pelit” maka engkau berusaha untuk menghindarinya. Dan engkau telah mengetahui bahwa fitnahnya penyakit ini yang telah menjadikan hati menjadi mati adalah sikap Asy-Syuh (pelit) yaitu tamak (rakus) dan semangat untuk meraih apa yang ada di tangan orang lain, dan berusaha dengan berbagai macam cara ditempuh untuk memilikinya di tanganmu, demikian hak-hak orang lain yang wajib yang ada ditanganmu kau tahan dan tidak kau tunaikan kepada mereka. Dan ini merupakan sifat yang paling buruk, maka Asy-Syuh lebih parah daripada hanya sekedar “kikir/pelit”, dan Asy-Syuh merupakan sebab terputusnya silaturahmi, melanggar hak-hak orang lain, dan menumpahkan darah orang lain, dan menahan hak-hak orang lain yang wajib untuk ditunaikan kepada mereka yang berhak menerimanya.Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam“Waspadalah kalian dari penyakit Asy-Syuh, karena ia telah membinasakan orang-orang sebelum kalian. Asy-Syuh telah memerintahkan mereka untuk berbuat dzolim maka merekapun menzolimi, memerintahkan mereka untuk berbuat fajir (maksiat) maka merekapun berbuat fajir, memerintahkan mereka untuk memutuskan silaturahmi maka merekapun memutuskan silaturahmi” (HR Ahmad dan Abu Dawud dari hadits Abdullah bin ‘Amr).Allah berfirmanفَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ مَا ٱسۡتَطَعۡتُمۡ وَٱسۡمَعُواْ وَأَطِيعُواْ وَأَنفِقُواْ خَيۡرٗا لِّأَنفُسِكُمۡۗ وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفۡسِهِۦ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ ١٦Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah dan nafkahkanlah nafkah yang baik untuk dirimu. Dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung (QS At-Tagobun : 16)Semoga Allah memberkahi aku dan kalian dalam Al-Qur’an.Khutbah KeduaSegala puji bagi Allah yang maha perkasa, maha pengampun, yang mengetahui apa yang ada di dada manusia. Aku memuji Robku dan aku bersyukur kepadaNya serta aku bertaubat kepadaNya dan memohon ampunanNya. Dan aku bersaksi bahwasanya tiada sesembahan yang berhak disembah melainkan Allah Yang Maha Penyantun dan Maha membalas kebaikan. Dan aku bersaksi bahwasanya Nabi kita dan pemimpin kita Muhammad adalah hamba dan utusanNya, Allah mengutusnya dengan petunjuk dan cahaya. Ya Allah curahkanlah shalawat dan salam serta keberkahan kepada hambaMu dan rasulMu Muhammad, juga kepada keluarganya dan para sahabatnya, serta orang-orang yang meneladani mereka dengan baik hingga hari kebangkitan.Selanjutnya, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa, berpeganglah tali Islam dengan kuat. Hamba-hamba Allah sekalin, ketahuilah bahwasanya sehatnya hati dan bersihnya hati adalah dengan kesabaran dan keyakinan. Yaitu sabar untuk meninggalkan perkara-perkara yang haram, sabar dalam menunaikan kewajiban-kewajiban, dan memperbanyak menjalankan perkara-perkara yang mustahab, dan juga bersabar dalam menghadapi bencana-bencana dan perkara-perkara yang sudah ditakdirkan.Dan keyakinan akan memperkuat hati dan menolak syubhat-syubhat serta berbegai bentuk kemunafikan dan syahwat. Barangsiapa yang hatinya telah dikuasai oleh syubhat  atau syahwat hingga mati maka ia telah celaka dengan kecelakaan yang sangat besar. Allah berfirmanوَمَن يُرِدِ ٱللَّهُ فِتۡنَتَهُۥ فَلَن تَمۡلِكَ لَهُۥ مِنَ ٱللَّهِ شَيۡ‍ًٔاۚ أُوْلَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ لَمۡ يُرِدِ ٱللَّهُ أَن يُطَهِّرَ قُلُوبَهُمۡۚ لَهُمۡ فِي ٱلدُّنۡيَا خِزۡيٞۖ وَلَهُمۡ فِي ٱلۡأٓخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيمٞ ٤١Barangsiapa yang Allah menghendaki kesesatannya, maka sekali-kali kamu tidak akan mampu menolak sesuatupun (yang datang) daripada Allah. Mereka itu adalah orang-orang yang Allah tidak hendak mensucikan hati mereka. Mereka beroleh kehinaan di dunia dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar (QS Al-Maidah : 41)Mengerjakan apa saja yang diperintahkan oleh Allah adalah membersihkan dan mensucikan hati. Dan seluruh apa yang dilarang oleh Allah adalah dalam rangka untuk menjaga hati dari penyakit-penyakit.Maka wahai seorang muslim, carilah kebersihan hatimu dan sehatnya hatimu dengan menjalankan perintah-perintah Allah dan meninggalkan penyakit-penyakit hati yang tercela dan mematikan hati atau membuatnya sakit. Kalau hal ini tidak mampu untuk dikerjakan oleh seorang hamba maka tentu Allah tidak akan membebaninya dengan hal ini, dan Allah tidak akan membebani suatu jiwapun kecuali dengan apa yang mampu untuk ia lakukan. Dalam hadits Nabi bersabda :لاَ تَحَاسَدُوا وَلاَ تَدَابَرُوا وَلاَ تَبَاغَضُوا“Janganlah kalian saling hasad, dan jangan saling memboikot, dan jangan saling bermusuhan” (HR Muslim dari Abu Huroiroh)Hamba-hamba Allah, sesungguhnya Allah dan para malaikat bersolawat kepada Nabi.Diterjemahkan oleh Firanda Andirja dan Usman Hatimhttps://firanda.com/

Hati Yang Bersih

(Khotbah Jum’ah Masjid Nabawi 15 Shafar 1437 H)Oleh: Asy-Syaikh Al-Hudzaifi hafizohullahSegala puji bagi Allah Tuhan semesta alam, Pelindung orang-orang shalih, Dia memberikan bimbingan taufiq kepada siapa saja yang dikehendakiNya atas anugerahNya dan rahmatNya sehingga jadilah orang tersebut beruntung. Dia biarkan orang yang dikehendakiNya mengurus dirinya sendiri atas keadilanNya dan kebijaksanaanNya sehingga orang tersebut menempuh selain jalur orang-orang yang beriman. Aku memuji Tuhanku, berterima kasih dan bertobat kepadaNya serta memohon ampunanNya. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagiNya, Tuhan Yang Maha Benar dan Nyata. Aku bersaksi bahwa junjungan kita dan Nabi kita Muhammad adalah hambaNya dan RasulNya, yang senantasa benar janjinya dan terpercaya amanatnya. Ya Allah ! curahkanlah rahmat kasih sayang dan doa keselamatan serta keberkahan kepada hambaMu dan RasulMu Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam beserta seluruh pengikutnya !Selanjutnya..Bertakwalah kepada Allah, niscaya Allah memasukkan kalian ke dalam rahmatNya dan menyelamatkan kalian dari murkaNya dan sanksi hukumanNya. Sungguh beruntung orang yang bertakwa dan merugi orang yang berdusta dan melampaui batas.Para hamba Allah ! setiap orang berusaha untuk meraih kebahagiaan abadi dan kehidupan yang memuaskan hati. Ada di antara manusia yang memang mendapatkan bimbingan Tuhan untuk menempuh jalanNya sehingga Allah memberinya kebahagiaan yang abadi dan kehidupan duniawi yang memuaskan hati. Tetapi ada pula orang yang yang segala perhatiannya hanya tertuju kepada dunia dan melupakan akhiratnya sehingga Allah memberinya jatahnya dari dunia yang memang telah Allah tetapkan untuknya, namun di akhirat kelak ia tidak mendapatkan bagian apa-apa. Sedangkan jatah duniawi yang diperolehnya tidaklah jernih tanpa kekeruhan, kekalutan, gangguan dan keburukan. Firman Allah Swt :مَنْ كانَ يُرِيدُ الْعاجِلَةَ عَجَّلْنا لَهُ فِيها مَا نَشاءُ لِمَنْ نُرِيدُ ثُمَّ جَعَلْنا لَهُ جَهَنَّمَ يَصْلاها مَذْمُوماً مَدْحُوراً[ الإسراء / 18 ](Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang [duniawi], maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang kami kehendaki bagi orang yang kami kehendaki dan Kami tentukan baginya neraka jahannam; ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir ) Qs Al-Isra : 18Firman Allah :وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكاً وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيامَةِ أَعْمى ، قالَ رَبِّ لِمَ حَشَرْتَنِي أَعْمى وَقَدْ كُنْتُ بَصِيراً،  قالَ كَذلِكَ أَتَتْكَ آياتُنا فَنَسِيتَها وَكَذلِكَ الْيَوْمَ تُنْسى ، [ طه / 124-126 ]( Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta” Berkatalah ia: “Ya Tuhanku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat? Allah berfirman: “Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamupun dilupakan” ) Qs Thaha : 124-126Jika faktanya memang demikian, yaitu masing-masing orang berusaha meraih kebahagiaan duniawi dan berkerja keras meraih kebahagiaan ukhrawi yang kekal abadi sebagai kehidupan yang terbaik dan kenikmatan yang paling prima, maka perlu diketahui bahwa kebahagiaan dunia yang menyenangkan dan kebahagiaan akhirat yang kekal abadi itu tidak akan mungkin diraih kecuali dengan jiwa yang tulus dan hati yang bersih. Firman Allah :يَوْمَ لا يَنْفَعُ مالٌ وَلا بَنُونَ ،  إِلاَّ مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ  ، وَأُزْلِفَتِ الْجَنَّةُ لِلْمُتَّقِينَ ،  وَبُرِّزَتِ الْجَحِيمُ لِلْغاوِينَ ، [ الشعراء / 88 – 91 ]( pada hari, harta dan anak-anak lelaki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih, pada hari itu, surga didekatkan kepada orang-orang yang bertakwa, dan neraka Jahim diperlihatkan dengan jelas kepada orang-orang yang sesat ) Qs As-Syu’ara : 88-91Firman Allah  :مَنْ عَمِلَ صالِحاً مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَياةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ ما كانُوا يَعْمَلُونَ  [ النحل / 97 ](Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan) Qs An-Nahl : 97Amal shalih tidak mungkin terlaksana kecuali oleh orang yang berhati ikhlas dan tulus. Firman Allah :لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَنْزَلَ السَّكِينَةَ عَلَيْهِمْ وَأَثابَهُمْ فَتْحاً قَرِيباً  [ الفتح / 18 ]( Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat waktunya) Qs Al-Fath : 18Artinya Allah mengetahui kemurnian iman, kesungguhan niat dan kesucian batin yang ada dalam hati mereka, yang aman dari sifat kemunafikan dan cabang-cabangnya. ( عَن عبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ قِيلَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ النَّاسِ أَفْضَلُ قَالَ كُلُّ مَخْمُومِ الْقَلْبِ صَدُوقِ اللِّسَانِ قَالُوا صَدُوقُ اللِّسَانِ نَعْرِفُهُ فَمَا مَخْمُومُ الْقَلْبِ قَالَ هُوَ التَّقِيُّ النَّقِيُّ لَا إِثْمَ فِيهِ وَلَا بَغْيَ وَلَا غِلَّ وَلَا حَسَدَ    ) حديث صحيح رواه ابن ماجهAbdullah bin ‘Amru berkata; Ditanyakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ; “Manusia bagaimanakah yang paling mulia?” Beliau menjawab: “Semua orang yang hatinya makhmum (disapu/dibersihkan) dan tutur katanya benar.” Mereka berkata; “Tutur kata yang benar telah kami sudah mengerti, tetapi apakah maksud dari hati yang makhmum?” Beliau bersabda: “Yaitu hati yang bertakwa dan bersih, tidak ada dosa, kezoliman, kedengkian dan hasad di dalamnya.” (Hadis shahih riwayat Ibn Majah).Dari Abdullah Bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :( حُرِمَ عَلَى النَّارِ كُلِّ هَيِنٍ لَيِّن قَرِيبٍ مِنَ الّناسِ ) رواه أحمد والترمذى(Diharamkan (terlindung dari neraka) setiap orang yang suka memudahkan, lemah lembut, dan akrab dengan sesama manusia ).” HR. Ahmad dan TirmiziPerhatikan wahai saudaraku sesama muslim bagaimana hati yang tulus ikhlas dan bersih itu dapat mengangkat seseorang kepada derajat yang demikian tinggi di surga, dan dapat menyelamatkannya dari neraka dan akibat yang membinasakannya.Hati yang bersih dekat dari segala kebaikan, jauh dari segala keburukan. Hati yang bersih dapat menampung semua perilaku yang baik sebagaimana tanah yang landai dapat menampung air. Hati yang baik akan mampu menolak semua perilaku kerendahan sebagaimana tempa besi dapat menghilangkan karat pada emas dan perak. Hati yang bersih dapat manaungi pemiliknya dengan rahmat Allah, perlindunganNya, penjagaanNya dan bimbinganNya.Firman Allah  :وَبَشِّرِ الْمُخْبِتِينَ ، الَّذِينَ إِذا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَالصَّابِرِينَ عَلى ما أَصابَهُمْ وَالْمُقِيمِي الصَّلاةِ وَمِمَّا رَزَقْناهُمْ يُنْفِقُونَ  [ الحج / 34 – 35 ]) Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh kepada Allah, [yaitu] orang-orang yang apabila disebut nama Allah bergetarlah hati mereka, orang-orang yang sabar terhadap apa yang menimpa mereka, orang-orang yang mendirikan shalat dan orang-orang yang menafkahkan sebagian dari apa yang telah Kami rezekikan kepada mereka) Qs Al-Haj : 34-35Firman Allah  :إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَأَخْبَتُوا إِلَى رَبِّهِمْ أُولَئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ  [ هود / 23 ]( Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh dan merendahkan diri kepada Tuhan mereka, mereka itu adalah penghuni-penghuni surga; mereka kekal di dalamnya ) Qs Hud : 23Sikap merendakan diri kepada Allah Swt merupakan sifat yang melekat pada hati yang bersih. Ada yang menafsirkannya sebagai sikap tawadhu’ ( dalam arti patuh dan taat ) kepada Allah Swt serta merasa tenteram dalam menjalankan syariatNya dan firmanNya, pun pula merasa nyaman mengerjakan amal kebajikan dan puas dengannya. Firman Allah  :الَّذِينَ تَتَوَفَّاهُمُ الْمَلائِكَةُ طَيِّبِينَ يَقُولُونَ سَلامٌ عَلَيْكُمْ ادْخُلُوا الْجَنَّةَ بِما كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ [ النحل / 32 ]( orang-orang yang diwafatkan dalam keadaan baik oleh para malaikat dengan mengatakan [kepada mereka]: “Salaamun´alaikum”, masuklah kamu ke dalam surga itu disebabkan apa yang telah kamu kerjakan ) Qs An-Nahl : 32Yang dimaksud dengan “mereka wafat dalam keadaan baik” di sini adalah “hati yang bersih dalam keimanan”.Diriwayatkan dari Iyadh Bin Himmar radhiyallahu ‘anhu berkata, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :( أَهْلُ الْجَنَّةِ ثَلَاثَةٌ: ذُو سُلْطَانٍ مُقْسِطٌ مُتَصَدِّقٌ مُوَفَّقٌ، وَرَجُلٌ رَحِيمٌ رَقِيقُ الْقَلْبِ لِكُلِّ ذِي قُرْبَى، وَمُسْلِمٍ، وَرَجُلٌ فَقِيرٌ عَفِيْفٌ مُتَصَدِّقٌ ) رواه ابن حبان ( Ahli surga itu ada tiga :Pertama : orang yang punya kekuasaan dan berlaku adil serta mau bersedekah atas pertolongan Allah.Kedua ; orang yang di dalam hatinya terdapat rasa belas kasihan kepada sanak saudara dan sesama muslim.Ketiga  : orang miskin yang mampu menjaga harga dirinya [dari meminta-minta], dan ia-pun masih mau bersedekah ) HR Ibnu Hibban.Hati yang bersih punya sifat dan ciri khas tertentu, yang paling menonjol dan terpenting ialah terbebasnya hati seseorang dari kemusyrikan besar ( syirik akbar ) dan kecil ( syirik asghar ) beserta cabang-cabangnya, juga terhindarnya dosa-dosa besar dan kecil, terjauhkan dari sifat-sifat tercela dan perilaku nista, seperti kikir, terlampau pelit, iri hati, dengki, sombong, menipu, curang, khianat, tipu muslihat, dusta dan sifat-sifat hati tak terpuji lainnya. Di samping itu, hati yang bersih pemiliknya selalu menjalankan kewajiban dan memperbanyak ibadah sunah serta menghindari hal-hal yang makruh.Adapun sebaik-baik karakter dan sifat hati yang bersih dan yang paling tinggi tingkat kesuciannya ialah sebagaimana yang sifat-sifat hati bersih yang disandang oleh para Nabi –alaihimussalam- .Firman Allah mengkisahkan rasul kekasihNya, Ibrahim a.s.  :وَإِنَّ مِنْ شِيعَتِهِ لَإِبْراهِيمَ ، إِذْ جاءَ رَبَّهُ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ  [ الصافات / 83-84 ](Dan sesungguhnya benar-benar termasuk golongannya [Nuh] adalah Ibrahim. ketika ia datang kepada Tuhannya dengan hati yang suci) Qs Ash-Shafat: 83-84Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :( لَا يُبَلِّغُنِي أَحَدٌ مِنْ أَصْحَابِي عَنْ أَحَدٍ شَيْئًا، فَإِنِّي أُحِبُّ أَنْ أَخْرُجَ إِلَيْكُمْ وَأَنَا سَلِيمُ الصَّدْرِ   ) رواه أبو داود والترمذى( Tidaklah seseorang di antara sahabat-sahabatku yang menyampaikan sesuatu kepadaku dari seseorang, [melainkan] aku sungguh senang jika aku keluar menemui kalian sementara aku dalam keadaan hati yang bersih) HR Abu Dawud dan Tirmizi.Dari Syaddad Bin Aus radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan kepada kami doa ini :( اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الثَّبَاتَ فِي الأَمْرِ، وَالعَزِيمَةَ على الرُّشْدِ، وَأَسْأَلُكَ شُكْرَ نِعْمَتِكَ، وَحُسْنَ عِبَادَتِكَ، وَأَسْأَلُكَ لِسَانًا صَادِقًا، وَقَلْبًا سَلِيمًا، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا تَعْلَمُ، وَأَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِ مَا تَعْلَمُ، وَأَسْتَغْفِرُكَ مِمَّا تَعْلَمُ إِنَّكَ أَنْتَ عَلاَّمُ الغُيُوبِ )رواه أحمد والترمذى والنسائي(Ya Allah, aku mohon kepadaMu ketetapan hati dalam segala urusan dan keteguhan kehendak menuju kebenaran. Dan aku memohon agar aku dapat mensyukuri nikmatMu dan beribadah kepadaMu dengan sebaik-baiknya. Ya Allah, aku memohon kepadaMu tutur kata yang benar, hati yang bersih, dan aku berlindung kepadaMu dari keburukan apa yang Engkau ketahui, aku memohon kepadaMu kebaikan dari apa yang Engkau ketahui, aku memohon ampun kepadaMu dari apapun yang Engkau ketahui, sesungguhnya hanya Engkau jualah yang Maha Mengetahui yang ghaib). HR Ahmad, Tirmizi dan Nasai.Sebaik-baik kondisi hati, yang paling sempurna dan paling tinggi derajatnya adalah bersihnya hati dan baiknya hati. Dan kesempurnaan bersihnya hati bertingkat-tingkat. Maka barangsiapa yang bersungguh-sungguh dalam meneladani para nabi –’alaihimus salam- maka ia akan meraih kebersihan hati sesuai kadar keteladanannya. Barangsiapa yang mengikuti petunjuk Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan berpegang teguh dengan sunnahnya yang mulia maka ia telah dibimbing kepada petunjuk yang terbaik, amal dan keyakinan yang terbaik. Dan Allah akan menganugerahkan kepadanya hati yang bersih sebagaimana Allah menganugerahkan hati yang bersih kepada para sahabat yang meneladani petunjuk Nabi mereka Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan berpegang teguh dengannya. Allah berfiman :وَٱلَّذِينَ تَبَوَّءُو ٱلدَّارَ وَٱلۡإِيمَٰنَ مِن قَبۡلِهِمۡ يُحِبُّونَ مَنۡ هَاجَرَ إِلَيۡهِمۡ وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمۡ حَاجَةٗ مِّمَّآ أُوتُواْ وَيُؤۡثِرُونَ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ وَلَوۡ كَانَ بِهِمۡ خَصَاصَةٞۚ وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفۡسِهِۦ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ ٩Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshor) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshor) ´mencintai´ orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka (Anshor) tiada hasad dalam dada mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada kaum muhajirin; dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung (QS Al-Hasyr : 9)Dan orang-orang kemudian yang mengikuti para sahabat dengan baik mereka diberikan hati yang bersih juga. Allah berfirmanوَٱلَّذِينَ جَآءُو مِنۢ بَعۡدِهِمۡ يَقُولُونَ رَبَّنَا ٱغۡفِرۡ لَنَا وَلِإِخۡوَٰنِنَا ٱلَّذِينَ سَبَقُونَا بِٱلۡإِيمَٰنِ وَلَا تَجۡعَلۡ فِي قُلُوبِنَا غِلّٗا لِّلَّذِينَ ءَامَنُواْ رَبَّنَآ إِنَّكَ رَءُوفٞ رَّحِيمٌ ١٠Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa: “Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang” (QS Al-Hasyr : 10)          Hati yang bersih ganjarannya adalah surga (di akhirat) dan tubuh yang sehat di dunia. Dari Anas r.a ia berkata :كُنَّا جُلُوسًا مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: ” يَطْلُعُ عَلَيْكُمُ الْآنَ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ ” فَطَلَعَ رَجُلٌ مِنَ الْأَنْصَارِ، تَنْطِفُ لِحْيَتُهُ مِنْ وُضُوئِهِ، قَدْ تَعَلَّقَ نَعْلَيْهِ فِي يَدِهِ الشِّمَالِ، فَلَمَّا كَانَ الْغَدُ، قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، مِثْلَ ذَلِكَ، فَطَلَعَ ذَلِكَ الرَّجُلُ مِثْلَ الْمَرَّةِ الْأُولَى . فَلَمَّا كَانَ الْيَوْمُ الثَّالِثُ، قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، مِثْلَ مَقَالَتِهِ أَيْضًا، فَطَلَعَ ذَلِكَ الرَّجُلُ عَلَى مِثْلِ حَالِهِ الْأُولَى، فَلَمَّا قَامَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَبِعَهُ عَبْدُ اللهِ بْنُ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ فَقَالَ: إِنِّي لَاحَيْتُ أَبِي فَأَقْسَمْتُ أَنْ لَا أَدْخُلَ عَلَيْهِ ثَلَاثًا، فَإِنْ رَأَيْتَ أَنْ تُؤْوِيَنِي إِلَيْكَ حَتَّى تَمْضِيَ فَعَلْتَ ؟ قَالَ: نَعَمْ“Kami sedang duduk bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka beliaupun berkata : “Akan muncul kepada kalian sekarang seorang penduduk surga”. Maka munculah seseorang dari kaum Anshoor, jenggotnya masih basah terkena air wudhu, sambil menggantungkan kedua sendalnya di tangan kirinya. Tatkala keesokan hari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan perkataan yang sama, dan munculah orang itu lagi dengan kondisi yang sama seperti kemarin. Tatkala keesokan harinya lagi (hari yang ketiga) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengucapkan perkataan yang sama dan muncul juga orang tersebut dengan kondisi yang sama pula. Tatkala Nabi berdiri (pergi) maka Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Aash mengikuti orang tersebut lalu berkata kepadanya : “Aku bermasalah dengan ayahku dan aku bersumpah untuk tidak masuk ke rumahnya selama tiga hari. Jika menurutmu aku boleh menginap di rumahmu hingga berlalu tiga hari?. Maka orang tersebut berkata, “Silahkan”.Anas bin Malik melanjutkan tuturan kisahnya :وَكَانَ عَبْدُ اللهِ يُحَدِّثُ أَنَّهُ بَاتَ مَعَهُ تِلْكَ اللَّيَالِي الثَّلَاثَ، فَلَمْ يَرَهُ يَقُومُ مِنَ اللَّيْلِ شَيْئًا، غَيْرَ أَنَّهُ إِذَا تَعَارَّ وَتَقَلَّبَ عَلَى فِرَاشِهِ ذَكَرَ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ وَكَبَّرَ، حَتَّى يَقُومَ لِصَلَاةِ الْفَجْرِ . قَالَ عَبْدُ اللهِ: غَيْرَ أَنِّي لَمْ أَسْمَعْهُ يَقُولُ إِلَّا خَيْرًا، فَلَمَّا مَضَتِ الثَّلَاثُ لَيَالٍ وَكِدْتُ أَنْ أَحْقِرَ عَمَلَهُ، قُلْتُ: يَا عَبْدَ اللهِ إِنِّي لَمْ يَكُنْ بَيْنِي وَبَيْنَ أَبِي غَضَبٌ وَلَا هَجْرٌ ثَمَّ، وَلَكِنْ سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَكَ ثَلَاثَ مِرَارٍ: ” يَطْلُعُ عَلَيْكُمُ الْآنَ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ ” فَطَلَعْتَ أَنْتَ الثَّلَاثَ مِرَارٍ، فَأَرَدْتُ أَنْ آوِيَ إِلَيْكَ لِأَنْظُرَ مَا عَمَلُكَ، فَأَقْتَدِيَ بِهِ، فَلَمْ أَرَكَ تَعْمَلُ كَثِيرَ عَمَلٍ، فَمَا الَّذِي بَلَغَ بِكَ مَا قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: مَا هُوَ إِلَّا مَا رَأَيْتَ . قَالَ: فَلَمَّا وَلَّيْتُ دَعَانِي، فَقَالَ: مَا هُوَ إِلَّا مَا رَأَيْتَ، غَيْرَ أَنِّي لَا أَجِدُ فِي نَفْسِي لِأَحَدٍ مِنَ الْمُسْلِمِينَ غِشًّا، وَلَا أَحْسُدُ أَحَدًا عَلَى خَيْرٍ أَعْطَاهُ اللهُ إِيَّاهُ . فَقَالَ عَبْدُ اللهِ هَذِهِ الَّتِي بَلَغَتْ بِكَ، وَهِيَ الَّتِي لَا نُطِيقُ“Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Aaash bercerita bahwasanya iapun menginap bersama orang tersebut selama tiga malam. Namun ia sama sekali tidak melihat orang tersebut mengerjakan sholat malam, hanya saja jika ia terjaga di malam hari dan berbolak-balik di tempat tidur maka iapun berdzikir kepada Allah dan bertakbir, hingga akhirnya ia bangun untuk sholat subuh. Abdullah bertutur : “Hanya saja aku tidak pernah mendengarnya berucap kecuali kebaikan. Dan tatkala berlalu tiga hari –dan hampir saja aku meremehkan amalannya- maka akupun berkata kepadanya : Wahai hamba Allah (fulan), sesungguhnya tidak ada permasalahan antara aku dan ayahku, apalagi boikot. Akan tetapi aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata sebanyak tiga kali : Akan muncul sekarang kepada kalian seorang penduduk surga”, lantas engkaulah yang muncul, maka akupun ingin menginap bersamamu untuk melihat apa sih amalanmu untuk aku contohi, namun aku tidak melihatmu banyak beramal. Maka apakah yang telah menyampaikan engkau sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam?”. Orang itu berkata : “Tidak ada kecuali amalanku yang kau lihat”. Abdullah bertutur : “Tatkala aku berpaling pergi maka iapun memanggilku dan berkata : Amalanku hanyalah yang engkau lihat, hanya saja aku tidak menemukan perasaan dengki (jengkel) dalam hatiku kepada seorang muslim pun dan aku tidak pernah hasad kepada seorangpun atas kebaikan yang Allah berikan kepadanya”. Abdullah berkata, “Inilah amalan yang mengantarkan engkau (menjadi penduduk surga-pen), dan inilah yang tidak kami mampui” (HR Ahmad, Ibnu Katsir berkata : Ini sanadnya shahih)Jika seorang muslim bersungguh-sungguh untuk meraih dan melakukan sebab-sebab bersihnya hati dan akhirnya ia meraih kedudukan yang tinggi ini maka sungguh dia telah menang dan beruntung dan ia akan menjalani hidup di dunia dengan sehat (selamat) dan Allah akan menjamin baginya derajat yang tinggi di akhirat. Ia akan dibimbing oleh Allah untuk menasehati dan ia terlepas dari penipuan, maka iapun melakukan yang terbaik kepada Allah, kepada kitabNya, RasulNya, para pemimpin kaum muslimin, dan kepada keumuman kaum muslimin. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :“Agama adalah nasehat (sebanyak 3 kali). Para sahabat bertanya, “Nasehat untuk siapa”, Nabi berkata, “Untuk Allah, kitabNya, RasulNya, para pemimpin kaum muslimin dan keumuman kaum muslimin” (HR Muslim dari sahabat Tamim Ad-Dary).Dan bentuk nasehat kepada Allah adalah beribadah kepadanya dengan ikhlas, dan nasehat kepada kitabNya adalah mempelajarinya dan mengajarkannya serta mengamalkannya. Nasahat kepada RasulNya adalah dengan mengikuti sunnahnya dan berdakwah kepada sunnahnya. Nasehat kepada para pemimpin (penguasa) adalah dengan tidak memberontak kepada mereka serta membantu mereka dalam menjalankan beban amanah yang dipikul oleh mereka. Nasehat bagi kaum muslimin adalah dengan menunaikan hak-hak mereka, menjaganya, dan memberi pelajaran bagi mereka serta menyumbangkan kebaikan bagi mereka dan menahan diri dari berbuat keburukan terhadap mereka. Barangsiapa yang sempurna bersihnya hatinya maka ia menyukai bagi kaum muslimin apa yang ia sukai untuk dirinya sendiri, dan ia akan diselamatkan dari sifat pelit sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam :لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ“Tidaklah salah seorang dari kalian beriman hingga ia menyukai bagi saudaranya apa yang ia sukai untuk dirinya” (HR Al-Bukhari dan Muslim dari Anas)Ibnu Rojab berkata tentang hadits ini : “Hadits ini menunjukkan bahwa seorang mukmin membahagiakannya apa yang membahagiakan saudaranya seiman, dan ia ingin untuk saudaranya tersebut kebaikan yang ia inginkan untuk dirinya. Ini semuanya timbul dari sempurnanya bersihnya hati dari dengki, jahat, dan hasad. Karena hasad melazimkan orang yang hasad benci seorangpun mengunggulinya atau menyamainya dalam perkara kebaikan, karena ia maunya menjadi spesial di hadapan manusia dengan keutamaan-keutamaan yang dimilikinya dan ia ingin menjadi sendirian yang istimewa diantara mereka. Dan keimanan melazimkan lawan dari yang demikian ini, yaitu dia ingin kaum mukminin seluruhnya ikut merasakan kebaikan yang Allah anugrahkan kepadanya tanpa mengurangi kebaikan tersebut darinya.”Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu berkata :إِنِّي لَأَمُرُّ بِالآيَةِ فَأَعْلَمُ مِنْهَا مَا أَعْلَمُ فَأَتَمَنَّى أَنَّ كُلَّ مُسْلِمٍ يَعْلَمُ مِنْهَا مَا عَلِمْتُSesungguhnya aku membaca sebuah ayat lalu mengetahui ilmu dari ayat tersebut maka akupun berangan-angan agar semua muslim mengetahui ilmu tentang ayat tersebut”Al-Imam Asy-Syafi’i berkata :وَدِدْتُ أَنَّ النَّاسَ تَعَلَّمُوا هَذَا الْعِلْمَ وَلَمْ يُنْسَبْ إِلَيَّ مِنْهُ شَيْئٌ“Aku ingin orang-orang mempelajari ilmu (ku) ini lalu tidak dinisbahkan kepadaku sedikitpun dari ilmu tersebut”Dan Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu menginfakkan seluruh hartanya demi kemaslahatan kaum muslimin, dan Umar radhiyallahu ‘anhu menginfakkan setengah hartanya.Dan diantara dampak dari hati yang bersih adalah sikap memaafkan, mengalah, sabar, dan lemah lembut terhadap kaum muslimin. Dan Nabi shallallahu ‘alihi wasallam telah memuji Abu Dhomdhom karena hal tersebut. Jika beliau di pagi hari beliau berkata :اللَّهُمَّ لاَ مَالَ لِي لِأَتَصَدَّقَ بِهِ عَلَى النَّاسِ، وَقَدْ تَصَدَّقْتُ عَلَيْهِمْ بِشَتْمِ عِرْضِي، فَمَنْ شَتَمَنِي أَوْ قَذَفَنِي فَهُوَ حِلٌّ“Ya Allah sesungguhnya aku tidak memiliki harta untuk bersedekah dengannya kepada orang-orang, dan aku telah bersedekah kepada mereka dengan cacian terhadap harga diriku, maka barangsiapa yang mencaci maki aku atau menuduhku (dengan tuduhan tidak benar) maka ia telah aku halalkan”. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:مَنْ يَسْتَطِيْعُ مِنْكُمْ أَنْ يَكُوْنَ كَأَبِي ضَمْضَمَ؟“Siapa diantara kalian yang mampu seperti Abu Dhomdhom?” (HR Al-Hakim, Ibnu Abdilbar, dan Al-Bazzar, dan hadits ini hasan”Dan lawan dari hati yang bersih adalah hati yang sakit dengan berbagai macam penyakit yang dibenci dan tercela. Diantara penyakit hati yang  paling parah adalah pelit. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah memperingatkan umatnya dari penyakit ini, beliau berkata :اتَّقُوا الظُّلْمَ؛ فَإِنَّ الظُّلْمَ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَاتَّقُوا الشُّحَّ؛ فَإِنَّ الشُّحَّ أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ، وَحَمَلَهُمْ عَلَى أَنْ سَفَكُوا دِمَاءَهُمْ، وَاسْتَحَلُّوا مَحَارِمَهُمْ“Waspadalah kalian dari perbuatan menzolimi karena kezoliman adalah kegelapan yang bertumpuk-tumpuk pada hari qiamat, dan jauhilah kalian dari pelit, karena sikap pelit telah membinasakan orang-orang sebelum kalian, sikap pelit ini mengantarkan mereka untuk menumpahkan darah mereka dan menghalalkan perkara-perkara yang haram’ (HR Muslim dari hadits Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu)Jika seorang yang berakal mengamati fitnah yang meluas dan yang khusus di dunia ini, maka ia akan mendapat bahwasanya diantara sebab utamanya adalah sikap pelit dan tamak (rakus). Dari Abu Hurairoh radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda :«يَتَقَارَبُ الزَّمَانُ وَيَنْقُصُ الْعَمَلُ وَتَظْهَرُ الْفِتَنُ وَيُلْقَى الشُّحُّ وَيَكْثُرُ الْهَرْجُ» قَالُوا: وَمَا الْهَرْجُ؟ قَالَ: «الْقَتْلُ الْقَتْلُ»“Zaman semakin mendekat, dan amal semakin sedikit, dan muncullah fitnah-fitnah, dan dilemparkanlah sifat Asy-Syuh (pelit disertai semangat mengejar dunia) di hati dan banyaklah al-Harju”. Mereka bertanya, “Apakah itu al-Harju?”, Nabi berkata, “Pembunuhan, pembunuhan” (HR Al-Bukhari)Maka sikap Asy-Syuh (pelit kelas kakap) adalah semangat untuk mengejar dunia, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berakta,مَا الفَقْرَ أخْشَى عَلَيْكُمْ، وَلَكِنِّى أخْشَى عَلَيْكُمْ أنْ تُبْسَطَ الدُّنْيَا عَلَيْكُمْ كَمَا بُسِطَتْ عَلَى مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ، فَتَنَافَسُوهَا كَمَا تَنَافَسُوهَا، وَتُهْلِكَكُم كَمَا أهْلَكَتْهُمْ“Bukanlah kemiskinan yang aku khawatirkan menimpa kalian, akan tetapi dibentangkannya dunia pada kalian lalu kalian berlomba untuk memperebutkannya sebagaimana orang-orang sebelum kalian berlomba memperebutkannya, maka dunia tersebut membinasakan kalian sebagaimana dunia telah membinasakan mereka’Dan jika engkau telah mengetahui makna dari “pelit” maka engkau berusaha untuk menghindarinya. Dan engkau telah mengetahui bahwa fitnahnya penyakit ini yang telah menjadikan hati menjadi mati adalah sikap Asy-Syuh (pelit) yaitu tamak (rakus) dan semangat untuk meraih apa yang ada di tangan orang lain, dan berusaha dengan berbagai macam cara ditempuh untuk memilikinya di tanganmu, demikian hak-hak orang lain yang wajib yang ada ditanganmu kau tahan dan tidak kau tunaikan kepada mereka. Dan ini merupakan sifat yang paling buruk, maka Asy-Syuh lebih parah daripada hanya sekedar “kikir/pelit”, dan Asy-Syuh merupakan sebab terputusnya silaturahmi, melanggar hak-hak orang lain, dan menumpahkan darah orang lain, dan menahan hak-hak orang lain yang wajib untuk ditunaikan kepada mereka yang berhak menerimanya.Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam“Waspadalah kalian dari penyakit Asy-Syuh, karena ia telah membinasakan orang-orang sebelum kalian. Asy-Syuh telah memerintahkan mereka untuk berbuat dzolim maka merekapun menzolimi, memerintahkan mereka untuk berbuat fajir (maksiat) maka merekapun berbuat fajir, memerintahkan mereka untuk memutuskan silaturahmi maka merekapun memutuskan silaturahmi” (HR Ahmad dan Abu Dawud dari hadits Abdullah bin ‘Amr).Allah berfirmanفَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ مَا ٱسۡتَطَعۡتُمۡ وَٱسۡمَعُواْ وَأَطِيعُواْ وَأَنفِقُواْ خَيۡرٗا لِّأَنفُسِكُمۡۗ وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفۡسِهِۦ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ ١٦Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah dan nafkahkanlah nafkah yang baik untuk dirimu. Dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung (QS At-Tagobun : 16)Semoga Allah memberkahi aku dan kalian dalam Al-Qur’an.Khutbah KeduaSegala puji bagi Allah yang maha perkasa, maha pengampun, yang mengetahui apa yang ada di dada manusia. Aku memuji Robku dan aku bersyukur kepadaNya serta aku bertaubat kepadaNya dan memohon ampunanNya. Dan aku bersaksi bahwasanya tiada sesembahan yang berhak disembah melainkan Allah Yang Maha Penyantun dan Maha membalas kebaikan. Dan aku bersaksi bahwasanya Nabi kita dan pemimpin kita Muhammad adalah hamba dan utusanNya, Allah mengutusnya dengan petunjuk dan cahaya. Ya Allah curahkanlah shalawat dan salam serta keberkahan kepada hambaMu dan rasulMu Muhammad, juga kepada keluarganya dan para sahabatnya, serta orang-orang yang meneladani mereka dengan baik hingga hari kebangkitan.Selanjutnya, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa, berpeganglah tali Islam dengan kuat. Hamba-hamba Allah sekalin, ketahuilah bahwasanya sehatnya hati dan bersihnya hati adalah dengan kesabaran dan keyakinan. Yaitu sabar untuk meninggalkan perkara-perkara yang haram, sabar dalam menunaikan kewajiban-kewajiban, dan memperbanyak menjalankan perkara-perkara yang mustahab, dan juga bersabar dalam menghadapi bencana-bencana dan perkara-perkara yang sudah ditakdirkan.Dan keyakinan akan memperkuat hati dan menolak syubhat-syubhat serta berbegai bentuk kemunafikan dan syahwat. Barangsiapa yang hatinya telah dikuasai oleh syubhat  atau syahwat hingga mati maka ia telah celaka dengan kecelakaan yang sangat besar. Allah berfirmanوَمَن يُرِدِ ٱللَّهُ فِتۡنَتَهُۥ فَلَن تَمۡلِكَ لَهُۥ مِنَ ٱللَّهِ شَيۡ‍ًٔاۚ أُوْلَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ لَمۡ يُرِدِ ٱللَّهُ أَن يُطَهِّرَ قُلُوبَهُمۡۚ لَهُمۡ فِي ٱلدُّنۡيَا خِزۡيٞۖ وَلَهُمۡ فِي ٱلۡأٓخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيمٞ ٤١Barangsiapa yang Allah menghendaki kesesatannya, maka sekali-kali kamu tidak akan mampu menolak sesuatupun (yang datang) daripada Allah. Mereka itu adalah orang-orang yang Allah tidak hendak mensucikan hati mereka. Mereka beroleh kehinaan di dunia dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar (QS Al-Maidah : 41)Mengerjakan apa saja yang diperintahkan oleh Allah adalah membersihkan dan mensucikan hati. Dan seluruh apa yang dilarang oleh Allah adalah dalam rangka untuk menjaga hati dari penyakit-penyakit.Maka wahai seorang muslim, carilah kebersihan hatimu dan sehatnya hatimu dengan menjalankan perintah-perintah Allah dan meninggalkan penyakit-penyakit hati yang tercela dan mematikan hati atau membuatnya sakit. Kalau hal ini tidak mampu untuk dikerjakan oleh seorang hamba maka tentu Allah tidak akan membebaninya dengan hal ini, dan Allah tidak akan membebani suatu jiwapun kecuali dengan apa yang mampu untuk ia lakukan. Dalam hadits Nabi bersabda :لاَ تَحَاسَدُوا وَلاَ تَدَابَرُوا وَلاَ تَبَاغَضُوا“Janganlah kalian saling hasad, dan jangan saling memboikot, dan jangan saling bermusuhan” (HR Muslim dari Abu Huroiroh)Hamba-hamba Allah, sesungguhnya Allah dan para malaikat bersolawat kepada Nabi.Diterjemahkan oleh Firanda Andirja dan Usman Hatimhttps://firanda.com/
(Khotbah Jum’ah Masjid Nabawi 15 Shafar 1437 H)Oleh: Asy-Syaikh Al-Hudzaifi hafizohullahSegala puji bagi Allah Tuhan semesta alam, Pelindung orang-orang shalih, Dia memberikan bimbingan taufiq kepada siapa saja yang dikehendakiNya atas anugerahNya dan rahmatNya sehingga jadilah orang tersebut beruntung. Dia biarkan orang yang dikehendakiNya mengurus dirinya sendiri atas keadilanNya dan kebijaksanaanNya sehingga orang tersebut menempuh selain jalur orang-orang yang beriman. Aku memuji Tuhanku, berterima kasih dan bertobat kepadaNya serta memohon ampunanNya. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagiNya, Tuhan Yang Maha Benar dan Nyata. Aku bersaksi bahwa junjungan kita dan Nabi kita Muhammad adalah hambaNya dan RasulNya, yang senantasa benar janjinya dan terpercaya amanatnya. Ya Allah ! curahkanlah rahmat kasih sayang dan doa keselamatan serta keberkahan kepada hambaMu dan RasulMu Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam beserta seluruh pengikutnya !Selanjutnya..Bertakwalah kepada Allah, niscaya Allah memasukkan kalian ke dalam rahmatNya dan menyelamatkan kalian dari murkaNya dan sanksi hukumanNya. Sungguh beruntung orang yang bertakwa dan merugi orang yang berdusta dan melampaui batas.Para hamba Allah ! setiap orang berusaha untuk meraih kebahagiaan abadi dan kehidupan yang memuaskan hati. Ada di antara manusia yang memang mendapatkan bimbingan Tuhan untuk menempuh jalanNya sehingga Allah memberinya kebahagiaan yang abadi dan kehidupan duniawi yang memuaskan hati. Tetapi ada pula orang yang yang segala perhatiannya hanya tertuju kepada dunia dan melupakan akhiratnya sehingga Allah memberinya jatahnya dari dunia yang memang telah Allah tetapkan untuknya, namun di akhirat kelak ia tidak mendapatkan bagian apa-apa. Sedangkan jatah duniawi yang diperolehnya tidaklah jernih tanpa kekeruhan, kekalutan, gangguan dan keburukan. Firman Allah Swt :مَنْ كانَ يُرِيدُ الْعاجِلَةَ عَجَّلْنا لَهُ فِيها مَا نَشاءُ لِمَنْ نُرِيدُ ثُمَّ جَعَلْنا لَهُ جَهَنَّمَ يَصْلاها مَذْمُوماً مَدْحُوراً[ الإسراء / 18 ](Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang [duniawi], maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang kami kehendaki bagi orang yang kami kehendaki dan Kami tentukan baginya neraka jahannam; ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir ) Qs Al-Isra : 18Firman Allah :وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكاً وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيامَةِ أَعْمى ، قالَ رَبِّ لِمَ حَشَرْتَنِي أَعْمى وَقَدْ كُنْتُ بَصِيراً،  قالَ كَذلِكَ أَتَتْكَ آياتُنا فَنَسِيتَها وَكَذلِكَ الْيَوْمَ تُنْسى ، [ طه / 124-126 ]( Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta” Berkatalah ia: “Ya Tuhanku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat? Allah berfirman: “Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamupun dilupakan” ) Qs Thaha : 124-126Jika faktanya memang demikian, yaitu masing-masing orang berusaha meraih kebahagiaan duniawi dan berkerja keras meraih kebahagiaan ukhrawi yang kekal abadi sebagai kehidupan yang terbaik dan kenikmatan yang paling prima, maka perlu diketahui bahwa kebahagiaan dunia yang menyenangkan dan kebahagiaan akhirat yang kekal abadi itu tidak akan mungkin diraih kecuali dengan jiwa yang tulus dan hati yang bersih. Firman Allah :يَوْمَ لا يَنْفَعُ مالٌ وَلا بَنُونَ ،  إِلاَّ مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ  ، وَأُزْلِفَتِ الْجَنَّةُ لِلْمُتَّقِينَ ،  وَبُرِّزَتِ الْجَحِيمُ لِلْغاوِينَ ، [ الشعراء / 88 – 91 ]( pada hari, harta dan anak-anak lelaki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih, pada hari itu, surga didekatkan kepada orang-orang yang bertakwa, dan neraka Jahim diperlihatkan dengan jelas kepada orang-orang yang sesat ) Qs As-Syu’ara : 88-91Firman Allah  :مَنْ عَمِلَ صالِحاً مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَياةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ ما كانُوا يَعْمَلُونَ  [ النحل / 97 ](Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan) Qs An-Nahl : 97Amal shalih tidak mungkin terlaksana kecuali oleh orang yang berhati ikhlas dan tulus. Firman Allah :لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَنْزَلَ السَّكِينَةَ عَلَيْهِمْ وَأَثابَهُمْ فَتْحاً قَرِيباً  [ الفتح / 18 ]( Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat waktunya) Qs Al-Fath : 18Artinya Allah mengetahui kemurnian iman, kesungguhan niat dan kesucian batin yang ada dalam hati mereka, yang aman dari sifat kemunafikan dan cabang-cabangnya. ( عَن عبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ قِيلَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ النَّاسِ أَفْضَلُ قَالَ كُلُّ مَخْمُومِ الْقَلْبِ صَدُوقِ اللِّسَانِ قَالُوا صَدُوقُ اللِّسَانِ نَعْرِفُهُ فَمَا مَخْمُومُ الْقَلْبِ قَالَ هُوَ التَّقِيُّ النَّقِيُّ لَا إِثْمَ فِيهِ وَلَا بَغْيَ وَلَا غِلَّ وَلَا حَسَدَ    ) حديث صحيح رواه ابن ماجهAbdullah bin ‘Amru berkata; Ditanyakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ; “Manusia bagaimanakah yang paling mulia?” Beliau menjawab: “Semua orang yang hatinya makhmum (disapu/dibersihkan) dan tutur katanya benar.” Mereka berkata; “Tutur kata yang benar telah kami sudah mengerti, tetapi apakah maksud dari hati yang makhmum?” Beliau bersabda: “Yaitu hati yang bertakwa dan bersih, tidak ada dosa, kezoliman, kedengkian dan hasad di dalamnya.” (Hadis shahih riwayat Ibn Majah).Dari Abdullah Bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :( حُرِمَ عَلَى النَّارِ كُلِّ هَيِنٍ لَيِّن قَرِيبٍ مِنَ الّناسِ ) رواه أحمد والترمذى(Diharamkan (terlindung dari neraka) setiap orang yang suka memudahkan, lemah lembut, dan akrab dengan sesama manusia ).” HR. Ahmad dan TirmiziPerhatikan wahai saudaraku sesama muslim bagaimana hati yang tulus ikhlas dan bersih itu dapat mengangkat seseorang kepada derajat yang demikian tinggi di surga, dan dapat menyelamatkannya dari neraka dan akibat yang membinasakannya.Hati yang bersih dekat dari segala kebaikan, jauh dari segala keburukan. Hati yang bersih dapat menampung semua perilaku yang baik sebagaimana tanah yang landai dapat menampung air. Hati yang baik akan mampu menolak semua perilaku kerendahan sebagaimana tempa besi dapat menghilangkan karat pada emas dan perak. Hati yang bersih dapat manaungi pemiliknya dengan rahmat Allah, perlindunganNya, penjagaanNya dan bimbinganNya.Firman Allah  :وَبَشِّرِ الْمُخْبِتِينَ ، الَّذِينَ إِذا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَالصَّابِرِينَ عَلى ما أَصابَهُمْ وَالْمُقِيمِي الصَّلاةِ وَمِمَّا رَزَقْناهُمْ يُنْفِقُونَ  [ الحج / 34 – 35 ]) Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh kepada Allah, [yaitu] orang-orang yang apabila disebut nama Allah bergetarlah hati mereka, orang-orang yang sabar terhadap apa yang menimpa mereka, orang-orang yang mendirikan shalat dan orang-orang yang menafkahkan sebagian dari apa yang telah Kami rezekikan kepada mereka) Qs Al-Haj : 34-35Firman Allah  :إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَأَخْبَتُوا إِلَى رَبِّهِمْ أُولَئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ  [ هود / 23 ]( Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh dan merendahkan diri kepada Tuhan mereka, mereka itu adalah penghuni-penghuni surga; mereka kekal di dalamnya ) Qs Hud : 23Sikap merendakan diri kepada Allah Swt merupakan sifat yang melekat pada hati yang bersih. Ada yang menafsirkannya sebagai sikap tawadhu’ ( dalam arti patuh dan taat ) kepada Allah Swt serta merasa tenteram dalam menjalankan syariatNya dan firmanNya, pun pula merasa nyaman mengerjakan amal kebajikan dan puas dengannya. Firman Allah  :الَّذِينَ تَتَوَفَّاهُمُ الْمَلائِكَةُ طَيِّبِينَ يَقُولُونَ سَلامٌ عَلَيْكُمْ ادْخُلُوا الْجَنَّةَ بِما كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ [ النحل / 32 ]( orang-orang yang diwafatkan dalam keadaan baik oleh para malaikat dengan mengatakan [kepada mereka]: “Salaamun´alaikum”, masuklah kamu ke dalam surga itu disebabkan apa yang telah kamu kerjakan ) Qs An-Nahl : 32Yang dimaksud dengan “mereka wafat dalam keadaan baik” di sini adalah “hati yang bersih dalam keimanan”.Diriwayatkan dari Iyadh Bin Himmar radhiyallahu ‘anhu berkata, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :( أَهْلُ الْجَنَّةِ ثَلَاثَةٌ: ذُو سُلْطَانٍ مُقْسِطٌ مُتَصَدِّقٌ مُوَفَّقٌ، وَرَجُلٌ رَحِيمٌ رَقِيقُ الْقَلْبِ لِكُلِّ ذِي قُرْبَى، وَمُسْلِمٍ، وَرَجُلٌ فَقِيرٌ عَفِيْفٌ مُتَصَدِّقٌ ) رواه ابن حبان ( Ahli surga itu ada tiga :Pertama : orang yang punya kekuasaan dan berlaku adil serta mau bersedekah atas pertolongan Allah.Kedua ; orang yang di dalam hatinya terdapat rasa belas kasihan kepada sanak saudara dan sesama muslim.Ketiga  : orang miskin yang mampu menjaga harga dirinya [dari meminta-minta], dan ia-pun masih mau bersedekah ) HR Ibnu Hibban.Hati yang bersih punya sifat dan ciri khas tertentu, yang paling menonjol dan terpenting ialah terbebasnya hati seseorang dari kemusyrikan besar ( syirik akbar ) dan kecil ( syirik asghar ) beserta cabang-cabangnya, juga terhindarnya dosa-dosa besar dan kecil, terjauhkan dari sifat-sifat tercela dan perilaku nista, seperti kikir, terlampau pelit, iri hati, dengki, sombong, menipu, curang, khianat, tipu muslihat, dusta dan sifat-sifat hati tak terpuji lainnya. Di samping itu, hati yang bersih pemiliknya selalu menjalankan kewajiban dan memperbanyak ibadah sunah serta menghindari hal-hal yang makruh.Adapun sebaik-baik karakter dan sifat hati yang bersih dan yang paling tinggi tingkat kesuciannya ialah sebagaimana yang sifat-sifat hati bersih yang disandang oleh para Nabi –alaihimussalam- .Firman Allah mengkisahkan rasul kekasihNya, Ibrahim a.s.  :وَإِنَّ مِنْ شِيعَتِهِ لَإِبْراهِيمَ ، إِذْ جاءَ رَبَّهُ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ  [ الصافات / 83-84 ](Dan sesungguhnya benar-benar termasuk golongannya [Nuh] adalah Ibrahim. ketika ia datang kepada Tuhannya dengan hati yang suci) Qs Ash-Shafat: 83-84Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :( لَا يُبَلِّغُنِي أَحَدٌ مِنْ أَصْحَابِي عَنْ أَحَدٍ شَيْئًا، فَإِنِّي أُحِبُّ أَنْ أَخْرُجَ إِلَيْكُمْ وَأَنَا سَلِيمُ الصَّدْرِ   ) رواه أبو داود والترمذى( Tidaklah seseorang di antara sahabat-sahabatku yang menyampaikan sesuatu kepadaku dari seseorang, [melainkan] aku sungguh senang jika aku keluar menemui kalian sementara aku dalam keadaan hati yang bersih) HR Abu Dawud dan Tirmizi.Dari Syaddad Bin Aus radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan kepada kami doa ini :( اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الثَّبَاتَ فِي الأَمْرِ، وَالعَزِيمَةَ على الرُّشْدِ، وَأَسْأَلُكَ شُكْرَ نِعْمَتِكَ، وَحُسْنَ عِبَادَتِكَ، وَأَسْأَلُكَ لِسَانًا صَادِقًا، وَقَلْبًا سَلِيمًا، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا تَعْلَمُ، وَأَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِ مَا تَعْلَمُ، وَأَسْتَغْفِرُكَ مِمَّا تَعْلَمُ إِنَّكَ أَنْتَ عَلاَّمُ الغُيُوبِ )رواه أحمد والترمذى والنسائي(Ya Allah, aku mohon kepadaMu ketetapan hati dalam segala urusan dan keteguhan kehendak menuju kebenaran. Dan aku memohon agar aku dapat mensyukuri nikmatMu dan beribadah kepadaMu dengan sebaik-baiknya. Ya Allah, aku memohon kepadaMu tutur kata yang benar, hati yang bersih, dan aku berlindung kepadaMu dari keburukan apa yang Engkau ketahui, aku memohon kepadaMu kebaikan dari apa yang Engkau ketahui, aku memohon ampun kepadaMu dari apapun yang Engkau ketahui, sesungguhnya hanya Engkau jualah yang Maha Mengetahui yang ghaib). HR Ahmad, Tirmizi dan Nasai.Sebaik-baik kondisi hati, yang paling sempurna dan paling tinggi derajatnya adalah bersihnya hati dan baiknya hati. Dan kesempurnaan bersihnya hati bertingkat-tingkat. Maka barangsiapa yang bersungguh-sungguh dalam meneladani para nabi –’alaihimus salam- maka ia akan meraih kebersihan hati sesuai kadar keteladanannya. Barangsiapa yang mengikuti petunjuk Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan berpegang teguh dengan sunnahnya yang mulia maka ia telah dibimbing kepada petunjuk yang terbaik, amal dan keyakinan yang terbaik. Dan Allah akan menganugerahkan kepadanya hati yang bersih sebagaimana Allah menganugerahkan hati yang bersih kepada para sahabat yang meneladani petunjuk Nabi mereka Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan berpegang teguh dengannya. Allah berfiman :وَٱلَّذِينَ تَبَوَّءُو ٱلدَّارَ وَٱلۡإِيمَٰنَ مِن قَبۡلِهِمۡ يُحِبُّونَ مَنۡ هَاجَرَ إِلَيۡهِمۡ وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمۡ حَاجَةٗ مِّمَّآ أُوتُواْ وَيُؤۡثِرُونَ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ وَلَوۡ كَانَ بِهِمۡ خَصَاصَةٞۚ وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفۡسِهِۦ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ ٩Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshor) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshor) ´mencintai´ orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka (Anshor) tiada hasad dalam dada mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada kaum muhajirin; dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung (QS Al-Hasyr : 9)Dan orang-orang kemudian yang mengikuti para sahabat dengan baik mereka diberikan hati yang bersih juga. Allah berfirmanوَٱلَّذِينَ جَآءُو مِنۢ بَعۡدِهِمۡ يَقُولُونَ رَبَّنَا ٱغۡفِرۡ لَنَا وَلِإِخۡوَٰنِنَا ٱلَّذِينَ سَبَقُونَا بِٱلۡإِيمَٰنِ وَلَا تَجۡعَلۡ فِي قُلُوبِنَا غِلّٗا لِّلَّذِينَ ءَامَنُواْ رَبَّنَآ إِنَّكَ رَءُوفٞ رَّحِيمٌ ١٠Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa: “Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang” (QS Al-Hasyr : 10)          Hati yang bersih ganjarannya adalah surga (di akhirat) dan tubuh yang sehat di dunia. Dari Anas r.a ia berkata :كُنَّا جُلُوسًا مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: ” يَطْلُعُ عَلَيْكُمُ الْآنَ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ ” فَطَلَعَ رَجُلٌ مِنَ الْأَنْصَارِ، تَنْطِفُ لِحْيَتُهُ مِنْ وُضُوئِهِ، قَدْ تَعَلَّقَ نَعْلَيْهِ فِي يَدِهِ الشِّمَالِ، فَلَمَّا كَانَ الْغَدُ، قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، مِثْلَ ذَلِكَ، فَطَلَعَ ذَلِكَ الرَّجُلُ مِثْلَ الْمَرَّةِ الْأُولَى . فَلَمَّا كَانَ الْيَوْمُ الثَّالِثُ، قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، مِثْلَ مَقَالَتِهِ أَيْضًا، فَطَلَعَ ذَلِكَ الرَّجُلُ عَلَى مِثْلِ حَالِهِ الْأُولَى، فَلَمَّا قَامَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَبِعَهُ عَبْدُ اللهِ بْنُ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ فَقَالَ: إِنِّي لَاحَيْتُ أَبِي فَأَقْسَمْتُ أَنْ لَا أَدْخُلَ عَلَيْهِ ثَلَاثًا، فَإِنْ رَأَيْتَ أَنْ تُؤْوِيَنِي إِلَيْكَ حَتَّى تَمْضِيَ فَعَلْتَ ؟ قَالَ: نَعَمْ“Kami sedang duduk bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka beliaupun berkata : “Akan muncul kepada kalian sekarang seorang penduduk surga”. Maka munculah seseorang dari kaum Anshoor, jenggotnya masih basah terkena air wudhu, sambil menggantungkan kedua sendalnya di tangan kirinya. Tatkala keesokan hari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan perkataan yang sama, dan munculah orang itu lagi dengan kondisi yang sama seperti kemarin. Tatkala keesokan harinya lagi (hari yang ketiga) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengucapkan perkataan yang sama dan muncul juga orang tersebut dengan kondisi yang sama pula. Tatkala Nabi berdiri (pergi) maka Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Aash mengikuti orang tersebut lalu berkata kepadanya : “Aku bermasalah dengan ayahku dan aku bersumpah untuk tidak masuk ke rumahnya selama tiga hari. Jika menurutmu aku boleh menginap di rumahmu hingga berlalu tiga hari?. Maka orang tersebut berkata, “Silahkan”.Anas bin Malik melanjutkan tuturan kisahnya :وَكَانَ عَبْدُ اللهِ يُحَدِّثُ أَنَّهُ بَاتَ مَعَهُ تِلْكَ اللَّيَالِي الثَّلَاثَ، فَلَمْ يَرَهُ يَقُومُ مِنَ اللَّيْلِ شَيْئًا، غَيْرَ أَنَّهُ إِذَا تَعَارَّ وَتَقَلَّبَ عَلَى فِرَاشِهِ ذَكَرَ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ وَكَبَّرَ، حَتَّى يَقُومَ لِصَلَاةِ الْفَجْرِ . قَالَ عَبْدُ اللهِ: غَيْرَ أَنِّي لَمْ أَسْمَعْهُ يَقُولُ إِلَّا خَيْرًا، فَلَمَّا مَضَتِ الثَّلَاثُ لَيَالٍ وَكِدْتُ أَنْ أَحْقِرَ عَمَلَهُ، قُلْتُ: يَا عَبْدَ اللهِ إِنِّي لَمْ يَكُنْ بَيْنِي وَبَيْنَ أَبِي غَضَبٌ وَلَا هَجْرٌ ثَمَّ، وَلَكِنْ سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَكَ ثَلَاثَ مِرَارٍ: ” يَطْلُعُ عَلَيْكُمُ الْآنَ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ ” فَطَلَعْتَ أَنْتَ الثَّلَاثَ مِرَارٍ، فَأَرَدْتُ أَنْ آوِيَ إِلَيْكَ لِأَنْظُرَ مَا عَمَلُكَ، فَأَقْتَدِيَ بِهِ، فَلَمْ أَرَكَ تَعْمَلُ كَثِيرَ عَمَلٍ، فَمَا الَّذِي بَلَغَ بِكَ مَا قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: مَا هُوَ إِلَّا مَا رَأَيْتَ . قَالَ: فَلَمَّا وَلَّيْتُ دَعَانِي، فَقَالَ: مَا هُوَ إِلَّا مَا رَأَيْتَ، غَيْرَ أَنِّي لَا أَجِدُ فِي نَفْسِي لِأَحَدٍ مِنَ الْمُسْلِمِينَ غِشًّا، وَلَا أَحْسُدُ أَحَدًا عَلَى خَيْرٍ أَعْطَاهُ اللهُ إِيَّاهُ . فَقَالَ عَبْدُ اللهِ هَذِهِ الَّتِي بَلَغَتْ بِكَ، وَهِيَ الَّتِي لَا نُطِيقُ“Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Aaash bercerita bahwasanya iapun menginap bersama orang tersebut selama tiga malam. Namun ia sama sekali tidak melihat orang tersebut mengerjakan sholat malam, hanya saja jika ia terjaga di malam hari dan berbolak-balik di tempat tidur maka iapun berdzikir kepada Allah dan bertakbir, hingga akhirnya ia bangun untuk sholat subuh. Abdullah bertutur : “Hanya saja aku tidak pernah mendengarnya berucap kecuali kebaikan. Dan tatkala berlalu tiga hari –dan hampir saja aku meremehkan amalannya- maka akupun berkata kepadanya : Wahai hamba Allah (fulan), sesungguhnya tidak ada permasalahan antara aku dan ayahku, apalagi boikot. Akan tetapi aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata sebanyak tiga kali : Akan muncul sekarang kepada kalian seorang penduduk surga”, lantas engkaulah yang muncul, maka akupun ingin menginap bersamamu untuk melihat apa sih amalanmu untuk aku contohi, namun aku tidak melihatmu banyak beramal. Maka apakah yang telah menyampaikan engkau sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam?”. Orang itu berkata : “Tidak ada kecuali amalanku yang kau lihat”. Abdullah bertutur : “Tatkala aku berpaling pergi maka iapun memanggilku dan berkata : Amalanku hanyalah yang engkau lihat, hanya saja aku tidak menemukan perasaan dengki (jengkel) dalam hatiku kepada seorang muslim pun dan aku tidak pernah hasad kepada seorangpun atas kebaikan yang Allah berikan kepadanya”. Abdullah berkata, “Inilah amalan yang mengantarkan engkau (menjadi penduduk surga-pen), dan inilah yang tidak kami mampui” (HR Ahmad, Ibnu Katsir berkata : Ini sanadnya shahih)Jika seorang muslim bersungguh-sungguh untuk meraih dan melakukan sebab-sebab bersihnya hati dan akhirnya ia meraih kedudukan yang tinggi ini maka sungguh dia telah menang dan beruntung dan ia akan menjalani hidup di dunia dengan sehat (selamat) dan Allah akan menjamin baginya derajat yang tinggi di akhirat. Ia akan dibimbing oleh Allah untuk menasehati dan ia terlepas dari penipuan, maka iapun melakukan yang terbaik kepada Allah, kepada kitabNya, RasulNya, para pemimpin kaum muslimin, dan kepada keumuman kaum muslimin. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :“Agama adalah nasehat (sebanyak 3 kali). Para sahabat bertanya, “Nasehat untuk siapa”, Nabi berkata, “Untuk Allah, kitabNya, RasulNya, para pemimpin kaum muslimin dan keumuman kaum muslimin” (HR Muslim dari sahabat Tamim Ad-Dary).Dan bentuk nasehat kepada Allah adalah beribadah kepadanya dengan ikhlas, dan nasehat kepada kitabNya adalah mempelajarinya dan mengajarkannya serta mengamalkannya. Nasahat kepada RasulNya adalah dengan mengikuti sunnahnya dan berdakwah kepada sunnahnya. Nasehat kepada para pemimpin (penguasa) adalah dengan tidak memberontak kepada mereka serta membantu mereka dalam menjalankan beban amanah yang dipikul oleh mereka. Nasehat bagi kaum muslimin adalah dengan menunaikan hak-hak mereka, menjaganya, dan memberi pelajaran bagi mereka serta menyumbangkan kebaikan bagi mereka dan menahan diri dari berbuat keburukan terhadap mereka. Barangsiapa yang sempurna bersihnya hatinya maka ia menyukai bagi kaum muslimin apa yang ia sukai untuk dirinya sendiri, dan ia akan diselamatkan dari sifat pelit sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam :لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ“Tidaklah salah seorang dari kalian beriman hingga ia menyukai bagi saudaranya apa yang ia sukai untuk dirinya” (HR Al-Bukhari dan Muslim dari Anas)Ibnu Rojab berkata tentang hadits ini : “Hadits ini menunjukkan bahwa seorang mukmin membahagiakannya apa yang membahagiakan saudaranya seiman, dan ia ingin untuk saudaranya tersebut kebaikan yang ia inginkan untuk dirinya. Ini semuanya timbul dari sempurnanya bersihnya hati dari dengki, jahat, dan hasad. Karena hasad melazimkan orang yang hasad benci seorangpun mengunggulinya atau menyamainya dalam perkara kebaikan, karena ia maunya menjadi spesial di hadapan manusia dengan keutamaan-keutamaan yang dimilikinya dan ia ingin menjadi sendirian yang istimewa diantara mereka. Dan keimanan melazimkan lawan dari yang demikian ini, yaitu dia ingin kaum mukminin seluruhnya ikut merasakan kebaikan yang Allah anugrahkan kepadanya tanpa mengurangi kebaikan tersebut darinya.”Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu berkata :إِنِّي لَأَمُرُّ بِالآيَةِ فَأَعْلَمُ مِنْهَا مَا أَعْلَمُ فَأَتَمَنَّى أَنَّ كُلَّ مُسْلِمٍ يَعْلَمُ مِنْهَا مَا عَلِمْتُSesungguhnya aku membaca sebuah ayat lalu mengetahui ilmu dari ayat tersebut maka akupun berangan-angan agar semua muslim mengetahui ilmu tentang ayat tersebut”Al-Imam Asy-Syafi’i berkata :وَدِدْتُ أَنَّ النَّاسَ تَعَلَّمُوا هَذَا الْعِلْمَ وَلَمْ يُنْسَبْ إِلَيَّ مِنْهُ شَيْئٌ“Aku ingin orang-orang mempelajari ilmu (ku) ini lalu tidak dinisbahkan kepadaku sedikitpun dari ilmu tersebut”Dan Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu menginfakkan seluruh hartanya demi kemaslahatan kaum muslimin, dan Umar radhiyallahu ‘anhu menginfakkan setengah hartanya.Dan diantara dampak dari hati yang bersih adalah sikap memaafkan, mengalah, sabar, dan lemah lembut terhadap kaum muslimin. Dan Nabi shallallahu ‘alihi wasallam telah memuji Abu Dhomdhom karena hal tersebut. Jika beliau di pagi hari beliau berkata :اللَّهُمَّ لاَ مَالَ لِي لِأَتَصَدَّقَ بِهِ عَلَى النَّاسِ، وَقَدْ تَصَدَّقْتُ عَلَيْهِمْ بِشَتْمِ عِرْضِي، فَمَنْ شَتَمَنِي أَوْ قَذَفَنِي فَهُوَ حِلٌّ“Ya Allah sesungguhnya aku tidak memiliki harta untuk bersedekah dengannya kepada orang-orang, dan aku telah bersedekah kepada mereka dengan cacian terhadap harga diriku, maka barangsiapa yang mencaci maki aku atau menuduhku (dengan tuduhan tidak benar) maka ia telah aku halalkan”. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:مَنْ يَسْتَطِيْعُ مِنْكُمْ أَنْ يَكُوْنَ كَأَبِي ضَمْضَمَ؟“Siapa diantara kalian yang mampu seperti Abu Dhomdhom?” (HR Al-Hakim, Ibnu Abdilbar, dan Al-Bazzar, dan hadits ini hasan”Dan lawan dari hati yang bersih adalah hati yang sakit dengan berbagai macam penyakit yang dibenci dan tercela. Diantara penyakit hati yang  paling parah adalah pelit. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah memperingatkan umatnya dari penyakit ini, beliau berkata :اتَّقُوا الظُّلْمَ؛ فَإِنَّ الظُّلْمَ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَاتَّقُوا الشُّحَّ؛ فَإِنَّ الشُّحَّ أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ، وَحَمَلَهُمْ عَلَى أَنْ سَفَكُوا دِمَاءَهُمْ، وَاسْتَحَلُّوا مَحَارِمَهُمْ“Waspadalah kalian dari perbuatan menzolimi karena kezoliman adalah kegelapan yang bertumpuk-tumpuk pada hari qiamat, dan jauhilah kalian dari pelit, karena sikap pelit telah membinasakan orang-orang sebelum kalian, sikap pelit ini mengantarkan mereka untuk menumpahkan darah mereka dan menghalalkan perkara-perkara yang haram’ (HR Muslim dari hadits Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu)Jika seorang yang berakal mengamati fitnah yang meluas dan yang khusus di dunia ini, maka ia akan mendapat bahwasanya diantara sebab utamanya adalah sikap pelit dan tamak (rakus). Dari Abu Hurairoh radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda :«يَتَقَارَبُ الزَّمَانُ وَيَنْقُصُ الْعَمَلُ وَتَظْهَرُ الْفِتَنُ وَيُلْقَى الشُّحُّ وَيَكْثُرُ الْهَرْجُ» قَالُوا: وَمَا الْهَرْجُ؟ قَالَ: «الْقَتْلُ الْقَتْلُ»“Zaman semakin mendekat, dan amal semakin sedikit, dan muncullah fitnah-fitnah, dan dilemparkanlah sifat Asy-Syuh (pelit disertai semangat mengejar dunia) di hati dan banyaklah al-Harju”. Mereka bertanya, “Apakah itu al-Harju?”, Nabi berkata, “Pembunuhan, pembunuhan” (HR Al-Bukhari)Maka sikap Asy-Syuh (pelit kelas kakap) adalah semangat untuk mengejar dunia, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berakta,مَا الفَقْرَ أخْشَى عَلَيْكُمْ، وَلَكِنِّى أخْشَى عَلَيْكُمْ أنْ تُبْسَطَ الدُّنْيَا عَلَيْكُمْ كَمَا بُسِطَتْ عَلَى مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ، فَتَنَافَسُوهَا كَمَا تَنَافَسُوهَا، وَتُهْلِكَكُم كَمَا أهْلَكَتْهُمْ“Bukanlah kemiskinan yang aku khawatirkan menimpa kalian, akan tetapi dibentangkannya dunia pada kalian lalu kalian berlomba untuk memperebutkannya sebagaimana orang-orang sebelum kalian berlomba memperebutkannya, maka dunia tersebut membinasakan kalian sebagaimana dunia telah membinasakan mereka’Dan jika engkau telah mengetahui makna dari “pelit” maka engkau berusaha untuk menghindarinya. Dan engkau telah mengetahui bahwa fitnahnya penyakit ini yang telah menjadikan hati menjadi mati adalah sikap Asy-Syuh (pelit) yaitu tamak (rakus) dan semangat untuk meraih apa yang ada di tangan orang lain, dan berusaha dengan berbagai macam cara ditempuh untuk memilikinya di tanganmu, demikian hak-hak orang lain yang wajib yang ada ditanganmu kau tahan dan tidak kau tunaikan kepada mereka. Dan ini merupakan sifat yang paling buruk, maka Asy-Syuh lebih parah daripada hanya sekedar “kikir/pelit”, dan Asy-Syuh merupakan sebab terputusnya silaturahmi, melanggar hak-hak orang lain, dan menumpahkan darah orang lain, dan menahan hak-hak orang lain yang wajib untuk ditunaikan kepada mereka yang berhak menerimanya.Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam“Waspadalah kalian dari penyakit Asy-Syuh, karena ia telah membinasakan orang-orang sebelum kalian. Asy-Syuh telah memerintahkan mereka untuk berbuat dzolim maka merekapun menzolimi, memerintahkan mereka untuk berbuat fajir (maksiat) maka merekapun berbuat fajir, memerintahkan mereka untuk memutuskan silaturahmi maka merekapun memutuskan silaturahmi” (HR Ahmad dan Abu Dawud dari hadits Abdullah bin ‘Amr).Allah berfirmanفَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ مَا ٱسۡتَطَعۡتُمۡ وَٱسۡمَعُواْ وَأَطِيعُواْ وَأَنفِقُواْ خَيۡرٗا لِّأَنفُسِكُمۡۗ وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفۡسِهِۦ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ ١٦Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah dan nafkahkanlah nafkah yang baik untuk dirimu. Dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung (QS At-Tagobun : 16)Semoga Allah memberkahi aku dan kalian dalam Al-Qur’an.Khutbah KeduaSegala puji bagi Allah yang maha perkasa, maha pengampun, yang mengetahui apa yang ada di dada manusia. Aku memuji Robku dan aku bersyukur kepadaNya serta aku bertaubat kepadaNya dan memohon ampunanNya. Dan aku bersaksi bahwasanya tiada sesembahan yang berhak disembah melainkan Allah Yang Maha Penyantun dan Maha membalas kebaikan. Dan aku bersaksi bahwasanya Nabi kita dan pemimpin kita Muhammad adalah hamba dan utusanNya, Allah mengutusnya dengan petunjuk dan cahaya. Ya Allah curahkanlah shalawat dan salam serta keberkahan kepada hambaMu dan rasulMu Muhammad, juga kepada keluarganya dan para sahabatnya, serta orang-orang yang meneladani mereka dengan baik hingga hari kebangkitan.Selanjutnya, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa, berpeganglah tali Islam dengan kuat. Hamba-hamba Allah sekalin, ketahuilah bahwasanya sehatnya hati dan bersihnya hati adalah dengan kesabaran dan keyakinan. Yaitu sabar untuk meninggalkan perkara-perkara yang haram, sabar dalam menunaikan kewajiban-kewajiban, dan memperbanyak menjalankan perkara-perkara yang mustahab, dan juga bersabar dalam menghadapi bencana-bencana dan perkara-perkara yang sudah ditakdirkan.Dan keyakinan akan memperkuat hati dan menolak syubhat-syubhat serta berbegai bentuk kemunafikan dan syahwat. Barangsiapa yang hatinya telah dikuasai oleh syubhat  atau syahwat hingga mati maka ia telah celaka dengan kecelakaan yang sangat besar. Allah berfirmanوَمَن يُرِدِ ٱللَّهُ فِتۡنَتَهُۥ فَلَن تَمۡلِكَ لَهُۥ مِنَ ٱللَّهِ شَيۡ‍ًٔاۚ أُوْلَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ لَمۡ يُرِدِ ٱللَّهُ أَن يُطَهِّرَ قُلُوبَهُمۡۚ لَهُمۡ فِي ٱلدُّنۡيَا خِزۡيٞۖ وَلَهُمۡ فِي ٱلۡأٓخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيمٞ ٤١Barangsiapa yang Allah menghendaki kesesatannya, maka sekali-kali kamu tidak akan mampu menolak sesuatupun (yang datang) daripada Allah. Mereka itu adalah orang-orang yang Allah tidak hendak mensucikan hati mereka. Mereka beroleh kehinaan di dunia dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar (QS Al-Maidah : 41)Mengerjakan apa saja yang diperintahkan oleh Allah adalah membersihkan dan mensucikan hati. Dan seluruh apa yang dilarang oleh Allah adalah dalam rangka untuk menjaga hati dari penyakit-penyakit.Maka wahai seorang muslim, carilah kebersihan hatimu dan sehatnya hatimu dengan menjalankan perintah-perintah Allah dan meninggalkan penyakit-penyakit hati yang tercela dan mematikan hati atau membuatnya sakit. Kalau hal ini tidak mampu untuk dikerjakan oleh seorang hamba maka tentu Allah tidak akan membebaninya dengan hal ini, dan Allah tidak akan membebani suatu jiwapun kecuali dengan apa yang mampu untuk ia lakukan. Dalam hadits Nabi bersabda :لاَ تَحَاسَدُوا وَلاَ تَدَابَرُوا وَلاَ تَبَاغَضُوا“Janganlah kalian saling hasad, dan jangan saling memboikot, dan jangan saling bermusuhan” (HR Muslim dari Abu Huroiroh)Hamba-hamba Allah, sesungguhnya Allah dan para malaikat bersolawat kepada Nabi.Diterjemahkan oleh Firanda Andirja dan Usman Hatimhttps://firanda.com/


(Khotbah Jum’ah Masjid Nabawi 15 Shafar 1437 H)Oleh: Asy-Syaikh Al-Hudzaifi hafizohullahSegala puji bagi Allah Tuhan semesta alam, Pelindung orang-orang shalih, Dia memberikan bimbingan taufiq kepada siapa saja yang dikehendakiNya atas anugerahNya dan rahmatNya sehingga jadilah orang tersebut beruntung. Dia biarkan orang yang dikehendakiNya mengurus dirinya sendiri atas keadilanNya dan kebijaksanaanNya sehingga orang tersebut menempuh selain jalur orang-orang yang beriman. Aku memuji Tuhanku, berterima kasih dan bertobat kepadaNya serta memohon ampunanNya. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagiNya, Tuhan Yang Maha Benar dan Nyata. Aku bersaksi bahwa junjungan kita dan Nabi kita Muhammad adalah hambaNya dan RasulNya, yang senantasa benar janjinya dan terpercaya amanatnya. Ya Allah ! curahkanlah rahmat kasih sayang dan doa keselamatan serta keberkahan kepada hambaMu dan RasulMu Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam beserta seluruh pengikutnya !Selanjutnya..Bertakwalah kepada Allah, niscaya Allah memasukkan kalian ke dalam rahmatNya dan menyelamatkan kalian dari murkaNya dan sanksi hukumanNya. Sungguh beruntung orang yang bertakwa dan merugi orang yang berdusta dan melampaui batas.Para hamba Allah ! setiap orang berusaha untuk meraih kebahagiaan abadi dan kehidupan yang memuaskan hati. Ada di antara manusia yang memang mendapatkan bimbingan Tuhan untuk menempuh jalanNya sehingga Allah memberinya kebahagiaan yang abadi dan kehidupan duniawi yang memuaskan hati. Tetapi ada pula orang yang yang segala perhatiannya hanya tertuju kepada dunia dan melupakan akhiratnya sehingga Allah memberinya jatahnya dari dunia yang memang telah Allah tetapkan untuknya, namun di akhirat kelak ia tidak mendapatkan bagian apa-apa. Sedangkan jatah duniawi yang diperolehnya tidaklah jernih tanpa kekeruhan, kekalutan, gangguan dan keburukan. Firman Allah Swt :مَنْ كانَ يُرِيدُ الْعاجِلَةَ عَجَّلْنا لَهُ فِيها مَا نَشاءُ لِمَنْ نُرِيدُ ثُمَّ جَعَلْنا لَهُ جَهَنَّمَ يَصْلاها مَذْمُوماً مَدْحُوراً[ الإسراء / 18 ](Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang [duniawi], maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang kami kehendaki bagi orang yang kami kehendaki dan Kami tentukan baginya neraka jahannam; ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir ) Qs Al-Isra : 18Firman Allah :وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكاً وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيامَةِ أَعْمى ، قالَ رَبِّ لِمَ حَشَرْتَنِي أَعْمى وَقَدْ كُنْتُ بَصِيراً،  قالَ كَذلِكَ أَتَتْكَ آياتُنا فَنَسِيتَها وَكَذلِكَ الْيَوْمَ تُنْسى ، [ طه / 124-126 ]( Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta” Berkatalah ia: “Ya Tuhanku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat? Allah berfirman: “Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamupun dilupakan” ) Qs Thaha : 124-126Jika faktanya memang demikian, yaitu masing-masing orang berusaha meraih kebahagiaan duniawi dan berkerja keras meraih kebahagiaan ukhrawi yang kekal abadi sebagai kehidupan yang terbaik dan kenikmatan yang paling prima, maka perlu diketahui bahwa kebahagiaan dunia yang menyenangkan dan kebahagiaan akhirat yang kekal abadi itu tidak akan mungkin diraih kecuali dengan jiwa yang tulus dan hati yang bersih. Firman Allah :يَوْمَ لا يَنْفَعُ مالٌ وَلا بَنُونَ ،  إِلاَّ مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ  ، وَأُزْلِفَتِ الْجَنَّةُ لِلْمُتَّقِينَ ،  وَبُرِّزَتِ الْجَحِيمُ لِلْغاوِينَ ، [ الشعراء / 88 – 91 ]( pada hari, harta dan anak-anak lelaki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih, pada hari itu, surga didekatkan kepada orang-orang yang bertakwa, dan neraka Jahim diperlihatkan dengan jelas kepada orang-orang yang sesat ) Qs As-Syu’ara : 88-91Firman Allah  :مَنْ عَمِلَ صالِحاً مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَياةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ ما كانُوا يَعْمَلُونَ  [ النحل / 97 ](Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan) Qs An-Nahl : 97Amal shalih tidak mungkin terlaksana kecuali oleh orang yang berhati ikhlas dan tulus. Firman Allah :لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَنْزَلَ السَّكِينَةَ عَلَيْهِمْ وَأَثابَهُمْ فَتْحاً قَرِيباً  [ الفتح / 18 ]( Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat waktunya) Qs Al-Fath : 18Artinya Allah mengetahui kemurnian iman, kesungguhan niat dan kesucian batin yang ada dalam hati mereka, yang aman dari sifat kemunafikan dan cabang-cabangnya. ( عَن عبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ قِيلَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ النَّاسِ أَفْضَلُ قَالَ كُلُّ مَخْمُومِ الْقَلْبِ صَدُوقِ اللِّسَانِ قَالُوا صَدُوقُ اللِّسَانِ نَعْرِفُهُ فَمَا مَخْمُومُ الْقَلْبِ قَالَ هُوَ التَّقِيُّ النَّقِيُّ لَا إِثْمَ فِيهِ وَلَا بَغْيَ وَلَا غِلَّ وَلَا حَسَدَ    ) حديث صحيح رواه ابن ماجهAbdullah bin ‘Amru berkata; Ditanyakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ; “Manusia bagaimanakah yang paling mulia?” Beliau menjawab: “Semua orang yang hatinya makhmum (disapu/dibersihkan) dan tutur katanya benar.” Mereka berkata; “Tutur kata yang benar telah kami sudah mengerti, tetapi apakah maksud dari hati yang makhmum?” Beliau bersabda: “Yaitu hati yang bertakwa dan bersih, tidak ada dosa, kezoliman, kedengkian dan hasad di dalamnya.” (Hadis shahih riwayat Ibn Majah).Dari Abdullah Bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :( حُرِمَ عَلَى النَّارِ كُلِّ هَيِنٍ لَيِّن قَرِيبٍ مِنَ الّناسِ ) رواه أحمد والترمذى(Diharamkan (terlindung dari neraka) setiap orang yang suka memudahkan, lemah lembut, dan akrab dengan sesama manusia ).” HR. Ahmad dan TirmiziPerhatikan wahai saudaraku sesama muslim bagaimana hati yang tulus ikhlas dan bersih itu dapat mengangkat seseorang kepada derajat yang demikian tinggi di surga, dan dapat menyelamatkannya dari neraka dan akibat yang membinasakannya.Hati yang bersih dekat dari segala kebaikan, jauh dari segala keburukan. Hati yang bersih dapat menampung semua perilaku yang baik sebagaimana tanah yang landai dapat menampung air. Hati yang baik akan mampu menolak semua perilaku kerendahan sebagaimana tempa besi dapat menghilangkan karat pada emas dan perak. Hati yang bersih dapat manaungi pemiliknya dengan rahmat Allah, perlindunganNya, penjagaanNya dan bimbinganNya.Firman Allah  :وَبَشِّرِ الْمُخْبِتِينَ ، الَّذِينَ إِذا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَالصَّابِرِينَ عَلى ما أَصابَهُمْ وَالْمُقِيمِي الصَّلاةِ وَمِمَّا رَزَقْناهُمْ يُنْفِقُونَ  [ الحج / 34 – 35 ]) Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh kepada Allah, [yaitu] orang-orang yang apabila disebut nama Allah bergetarlah hati mereka, orang-orang yang sabar terhadap apa yang menimpa mereka, orang-orang yang mendirikan shalat dan orang-orang yang menafkahkan sebagian dari apa yang telah Kami rezekikan kepada mereka) Qs Al-Haj : 34-35Firman Allah  :إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَأَخْبَتُوا إِلَى رَبِّهِمْ أُولَئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ  [ هود / 23 ]( Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh dan merendahkan diri kepada Tuhan mereka, mereka itu adalah penghuni-penghuni surga; mereka kekal di dalamnya ) Qs Hud : 23Sikap merendakan diri kepada Allah Swt merupakan sifat yang melekat pada hati yang bersih. Ada yang menafsirkannya sebagai sikap tawadhu’ ( dalam arti patuh dan taat ) kepada Allah Swt serta merasa tenteram dalam menjalankan syariatNya dan firmanNya, pun pula merasa nyaman mengerjakan amal kebajikan dan puas dengannya. Firman Allah  :الَّذِينَ تَتَوَفَّاهُمُ الْمَلائِكَةُ طَيِّبِينَ يَقُولُونَ سَلامٌ عَلَيْكُمْ ادْخُلُوا الْجَنَّةَ بِما كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ [ النحل / 32 ]( orang-orang yang diwafatkan dalam keadaan baik oleh para malaikat dengan mengatakan [kepada mereka]: “Salaamun´alaikum”, masuklah kamu ke dalam surga itu disebabkan apa yang telah kamu kerjakan ) Qs An-Nahl : 32Yang dimaksud dengan “mereka wafat dalam keadaan baik” di sini adalah “hati yang bersih dalam keimanan”.Diriwayatkan dari Iyadh Bin Himmar radhiyallahu ‘anhu berkata, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :( أَهْلُ الْجَنَّةِ ثَلَاثَةٌ: ذُو سُلْطَانٍ مُقْسِطٌ مُتَصَدِّقٌ مُوَفَّقٌ، وَرَجُلٌ رَحِيمٌ رَقِيقُ الْقَلْبِ لِكُلِّ ذِي قُرْبَى، وَمُسْلِمٍ، وَرَجُلٌ فَقِيرٌ عَفِيْفٌ مُتَصَدِّقٌ ) رواه ابن حبان ( Ahli surga itu ada tiga :Pertama : orang yang punya kekuasaan dan berlaku adil serta mau bersedekah atas pertolongan Allah.Kedua ; orang yang di dalam hatinya terdapat rasa belas kasihan kepada sanak saudara dan sesama muslim.Ketiga  : orang miskin yang mampu menjaga harga dirinya [dari meminta-minta], dan ia-pun masih mau bersedekah ) HR Ibnu Hibban.Hati yang bersih punya sifat dan ciri khas tertentu, yang paling menonjol dan terpenting ialah terbebasnya hati seseorang dari kemusyrikan besar ( syirik akbar ) dan kecil ( syirik asghar ) beserta cabang-cabangnya, juga terhindarnya dosa-dosa besar dan kecil, terjauhkan dari sifat-sifat tercela dan perilaku nista, seperti kikir, terlampau pelit, iri hati, dengki, sombong, menipu, curang, khianat, tipu muslihat, dusta dan sifat-sifat hati tak terpuji lainnya. Di samping itu, hati yang bersih pemiliknya selalu menjalankan kewajiban dan memperbanyak ibadah sunah serta menghindari hal-hal yang makruh.Adapun sebaik-baik karakter dan sifat hati yang bersih dan yang paling tinggi tingkat kesuciannya ialah sebagaimana yang sifat-sifat hati bersih yang disandang oleh para Nabi –alaihimussalam- .Firman Allah mengkisahkan rasul kekasihNya, Ibrahim a.s.  :وَإِنَّ مِنْ شِيعَتِهِ لَإِبْراهِيمَ ، إِذْ جاءَ رَبَّهُ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ  [ الصافات / 83-84 ](Dan sesungguhnya benar-benar termasuk golongannya [Nuh] adalah Ibrahim. ketika ia datang kepada Tuhannya dengan hati yang suci) Qs Ash-Shafat: 83-84Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :( لَا يُبَلِّغُنِي أَحَدٌ مِنْ أَصْحَابِي عَنْ أَحَدٍ شَيْئًا، فَإِنِّي أُحِبُّ أَنْ أَخْرُجَ إِلَيْكُمْ وَأَنَا سَلِيمُ الصَّدْرِ   ) رواه أبو داود والترمذى( Tidaklah seseorang di antara sahabat-sahabatku yang menyampaikan sesuatu kepadaku dari seseorang, [melainkan] aku sungguh senang jika aku keluar menemui kalian sementara aku dalam keadaan hati yang bersih) HR Abu Dawud dan Tirmizi.Dari Syaddad Bin Aus radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan kepada kami doa ini :( اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الثَّبَاتَ فِي الأَمْرِ، وَالعَزِيمَةَ على الرُّشْدِ، وَأَسْأَلُكَ شُكْرَ نِعْمَتِكَ، وَحُسْنَ عِبَادَتِكَ، وَأَسْأَلُكَ لِسَانًا صَادِقًا، وَقَلْبًا سَلِيمًا، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا تَعْلَمُ، وَأَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِ مَا تَعْلَمُ، وَأَسْتَغْفِرُكَ مِمَّا تَعْلَمُ إِنَّكَ أَنْتَ عَلاَّمُ الغُيُوبِ )رواه أحمد والترمذى والنسائي(Ya Allah, aku mohon kepadaMu ketetapan hati dalam segala urusan dan keteguhan kehendak menuju kebenaran. Dan aku memohon agar aku dapat mensyukuri nikmatMu dan beribadah kepadaMu dengan sebaik-baiknya. Ya Allah, aku memohon kepadaMu tutur kata yang benar, hati yang bersih, dan aku berlindung kepadaMu dari keburukan apa yang Engkau ketahui, aku memohon kepadaMu kebaikan dari apa yang Engkau ketahui, aku memohon ampun kepadaMu dari apapun yang Engkau ketahui, sesungguhnya hanya Engkau jualah yang Maha Mengetahui yang ghaib). HR Ahmad, Tirmizi dan Nasai.Sebaik-baik kondisi hati, yang paling sempurna dan paling tinggi derajatnya adalah bersihnya hati dan baiknya hati. Dan kesempurnaan bersihnya hati bertingkat-tingkat. Maka barangsiapa yang bersungguh-sungguh dalam meneladani para nabi –’alaihimus salam- maka ia akan meraih kebersihan hati sesuai kadar keteladanannya. Barangsiapa yang mengikuti petunjuk Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan berpegang teguh dengan sunnahnya yang mulia maka ia telah dibimbing kepada petunjuk yang terbaik, amal dan keyakinan yang terbaik. Dan Allah akan menganugerahkan kepadanya hati yang bersih sebagaimana Allah menganugerahkan hati yang bersih kepada para sahabat yang meneladani petunjuk Nabi mereka Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan berpegang teguh dengannya. Allah berfiman :وَٱلَّذِينَ تَبَوَّءُو ٱلدَّارَ وَٱلۡإِيمَٰنَ مِن قَبۡلِهِمۡ يُحِبُّونَ مَنۡ هَاجَرَ إِلَيۡهِمۡ وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمۡ حَاجَةٗ مِّمَّآ أُوتُواْ وَيُؤۡثِرُونَ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ وَلَوۡ كَانَ بِهِمۡ خَصَاصَةٞۚ وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفۡسِهِۦ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ ٩Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshor) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshor) ´mencintai´ orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka (Anshor) tiada hasad dalam dada mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada kaum muhajirin; dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung (QS Al-Hasyr : 9)Dan orang-orang kemudian yang mengikuti para sahabat dengan baik mereka diberikan hati yang bersih juga. Allah berfirmanوَٱلَّذِينَ جَآءُو مِنۢ بَعۡدِهِمۡ يَقُولُونَ رَبَّنَا ٱغۡفِرۡ لَنَا وَلِإِخۡوَٰنِنَا ٱلَّذِينَ سَبَقُونَا بِٱلۡإِيمَٰنِ وَلَا تَجۡعَلۡ فِي قُلُوبِنَا غِلّٗا لِّلَّذِينَ ءَامَنُواْ رَبَّنَآ إِنَّكَ رَءُوفٞ رَّحِيمٌ ١٠Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa: “Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang” (QS Al-Hasyr : 10)          Hati yang bersih ganjarannya adalah surga (di akhirat) dan tubuh yang sehat di dunia. Dari Anas r.a ia berkata :كُنَّا جُلُوسًا مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: ” يَطْلُعُ عَلَيْكُمُ الْآنَ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ ” فَطَلَعَ رَجُلٌ مِنَ الْأَنْصَارِ، تَنْطِفُ لِحْيَتُهُ مِنْ وُضُوئِهِ، قَدْ تَعَلَّقَ نَعْلَيْهِ فِي يَدِهِ الشِّمَالِ، فَلَمَّا كَانَ الْغَدُ، قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، مِثْلَ ذَلِكَ، فَطَلَعَ ذَلِكَ الرَّجُلُ مِثْلَ الْمَرَّةِ الْأُولَى . فَلَمَّا كَانَ الْيَوْمُ الثَّالِثُ، قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، مِثْلَ مَقَالَتِهِ أَيْضًا، فَطَلَعَ ذَلِكَ الرَّجُلُ عَلَى مِثْلِ حَالِهِ الْأُولَى، فَلَمَّا قَامَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَبِعَهُ عَبْدُ اللهِ بْنُ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ فَقَالَ: إِنِّي لَاحَيْتُ أَبِي فَأَقْسَمْتُ أَنْ لَا أَدْخُلَ عَلَيْهِ ثَلَاثًا، فَإِنْ رَأَيْتَ أَنْ تُؤْوِيَنِي إِلَيْكَ حَتَّى تَمْضِيَ فَعَلْتَ ؟ قَالَ: نَعَمْ“Kami sedang duduk bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka beliaupun berkata : “Akan muncul kepada kalian sekarang seorang penduduk surga”. Maka munculah seseorang dari kaum Anshoor, jenggotnya masih basah terkena air wudhu, sambil menggantungkan kedua sendalnya di tangan kirinya. Tatkala keesokan hari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan perkataan yang sama, dan munculah orang itu lagi dengan kondisi yang sama seperti kemarin. Tatkala keesokan harinya lagi (hari yang ketiga) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengucapkan perkataan yang sama dan muncul juga orang tersebut dengan kondisi yang sama pula. Tatkala Nabi berdiri (pergi) maka Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Aash mengikuti orang tersebut lalu berkata kepadanya : “Aku bermasalah dengan ayahku dan aku bersumpah untuk tidak masuk ke rumahnya selama tiga hari. Jika menurutmu aku boleh menginap di rumahmu hingga berlalu tiga hari?. Maka orang tersebut berkata, “Silahkan”.Anas bin Malik melanjutkan tuturan kisahnya :وَكَانَ عَبْدُ اللهِ يُحَدِّثُ أَنَّهُ بَاتَ مَعَهُ تِلْكَ اللَّيَالِي الثَّلَاثَ، فَلَمْ يَرَهُ يَقُومُ مِنَ اللَّيْلِ شَيْئًا، غَيْرَ أَنَّهُ إِذَا تَعَارَّ وَتَقَلَّبَ عَلَى فِرَاشِهِ ذَكَرَ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ وَكَبَّرَ، حَتَّى يَقُومَ لِصَلَاةِ الْفَجْرِ . قَالَ عَبْدُ اللهِ: غَيْرَ أَنِّي لَمْ أَسْمَعْهُ يَقُولُ إِلَّا خَيْرًا، فَلَمَّا مَضَتِ الثَّلَاثُ لَيَالٍ وَكِدْتُ أَنْ أَحْقِرَ عَمَلَهُ، قُلْتُ: يَا عَبْدَ اللهِ إِنِّي لَمْ يَكُنْ بَيْنِي وَبَيْنَ أَبِي غَضَبٌ وَلَا هَجْرٌ ثَمَّ، وَلَكِنْ سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَكَ ثَلَاثَ مِرَارٍ: ” يَطْلُعُ عَلَيْكُمُ الْآنَ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ ” فَطَلَعْتَ أَنْتَ الثَّلَاثَ مِرَارٍ، فَأَرَدْتُ أَنْ آوِيَ إِلَيْكَ لِأَنْظُرَ مَا عَمَلُكَ، فَأَقْتَدِيَ بِهِ، فَلَمْ أَرَكَ تَعْمَلُ كَثِيرَ عَمَلٍ، فَمَا الَّذِي بَلَغَ بِكَ مَا قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: مَا هُوَ إِلَّا مَا رَأَيْتَ . قَالَ: فَلَمَّا وَلَّيْتُ دَعَانِي، فَقَالَ: مَا هُوَ إِلَّا مَا رَأَيْتَ، غَيْرَ أَنِّي لَا أَجِدُ فِي نَفْسِي لِأَحَدٍ مِنَ الْمُسْلِمِينَ غِشًّا، وَلَا أَحْسُدُ أَحَدًا عَلَى خَيْرٍ أَعْطَاهُ اللهُ إِيَّاهُ . فَقَالَ عَبْدُ اللهِ هَذِهِ الَّتِي بَلَغَتْ بِكَ، وَهِيَ الَّتِي لَا نُطِيقُ“Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Aaash bercerita bahwasanya iapun menginap bersama orang tersebut selama tiga malam. Namun ia sama sekali tidak melihat orang tersebut mengerjakan sholat malam, hanya saja jika ia terjaga di malam hari dan berbolak-balik di tempat tidur maka iapun berdzikir kepada Allah dan bertakbir, hingga akhirnya ia bangun untuk sholat subuh. Abdullah bertutur : “Hanya saja aku tidak pernah mendengarnya berucap kecuali kebaikan. Dan tatkala berlalu tiga hari –dan hampir saja aku meremehkan amalannya- maka akupun berkata kepadanya : Wahai hamba Allah (fulan), sesungguhnya tidak ada permasalahan antara aku dan ayahku, apalagi boikot. Akan tetapi aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata sebanyak tiga kali : Akan muncul sekarang kepada kalian seorang penduduk surga”, lantas engkaulah yang muncul, maka akupun ingin menginap bersamamu untuk melihat apa sih amalanmu untuk aku contohi, namun aku tidak melihatmu banyak beramal. Maka apakah yang telah menyampaikan engkau sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam?”. Orang itu berkata : “Tidak ada kecuali amalanku yang kau lihat”. Abdullah bertutur : “Tatkala aku berpaling pergi maka iapun memanggilku dan berkata : Amalanku hanyalah yang engkau lihat, hanya saja aku tidak menemukan perasaan dengki (jengkel) dalam hatiku kepada seorang muslim pun dan aku tidak pernah hasad kepada seorangpun atas kebaikan yang Allah berikan kepadanya”. Abdullah berkata, “Inilah amalan yang mengantarkan engkau (menjadi penduduk surga-pen), dan inilah yang tidak kami mampui” (HR Ahmad, Ibnu Katsir berkata : Ini sanadnya shahih)Jika seorang muslim bersungguh-sungguh untuk meraih dan melakukan sebab-sebab bersihnya hati dan akhirnya ia meraih kedudukan yang tinggi ini maka sungguh dia telah menang dan beruntung dan ia akan menjalani hidup di dunia dengan sehat (selamat) dan Allah akan menjamin baginya derajat yang tinggi di akhirat. Ia akan dibimbing oleh Allah untuk menasehati dan ia terlepas dari penipuan, maka iapun melakukan yang terbaik kepada Allah, kepada kitabNya, RasulNya, para pemimpin kaum muslimin, dan kepada keumuman kaum muslimin. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :“Agama adalah nasehat (sebanyak 3 kali). Para sahabat bertanya, “Nasehat untuk siapa”, Nabi berkata, “Untuk Allah, kitabNya, RasulNya, para pemimpin kaum muslimin dan keumuman kaum muslimin” (HR Muslim dari sahabat Tamim Ad-Dary).Dan bentuk nasehat kepada Allah adalah beribadah kepadanya dengan ikhlas, dan nasehat kepada kitabNya adalah mempelajarinya dan mengajarkannya serta mengamalkannya. Nasahat kepada RasulNya adalah dengan mengikuti sunnahnya dan berdakwah kepada sunnahnya. Nasehat kepada para pemimpin (penguasa) adalah dengan tidak memberontak kepada mereka serta membantu mereka dalam menjalankan beban amanah yang dipikul oleh mereka. Nasehat bagi kaum muslimin adalah dengan menunaikan hak-hak mereka, menjaganya, dan memberi pelajaran bagi mereka serta menyumbangkan kebaikan bagi mereka dan menahan diri dari berbuat keburukan terhadap mereka. Barangsiapa yang sempurna bersihnya hatinya maka ia menyukai bagi kaum muslimin apa yang ia sukai untuk dirinya sendiri, dan ia akan diselamatkan dari sifat pelit sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam :لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ“Tidaklah salah seorang dari kalian beriman hingga ia menyukai bagi saudaranya apa yang ia sukai untuk dirinya” (HR Al-Bukhari dan Muslim dari Anas)Ibnu Rojab berkata tentang hadits ini : “Hadits ini menunjukkan bahwa seorang mukmin membahagiakannya apa yang membahagiakan saudaranya seiman, dan ia ingin untuk saudaranya tersebut kebaikan yang ia inginkan untuk dirinya. Ini semuanya timbul dari sempurnanya bersihnya hati dari dengki, jahat, dan hasad. Karena hasad melazimkan orang yang hasad benci seorangpun mengunggulinya atau menyamainya dalam perkara kebaikan, karena ia maunya menjadi spesial di hadapan manusia dengan keutamaan-keutamaan yang dimilikinya dan ia ingin menjadi sendirian yang istimewa diantara mereka. Dan keimanan melazimkan lawan dari yang demikian ini, yaitu dia ingin kaum mukminin seluruhnya ikut merasakan kebaikan yang Allah anugrahkan kepadanya tanpa mengurangi kebaikan tersebut darinya.”Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu berkata :إِنِّي لَأَمُرُّ بِالآيَةِ فَأَعْلَمُ مِنْهَا مَا أَعْلَمُ فَأَتَمَنَّى أَنَّ كُلَّ مُسْلِمٍ يَعْلَمُ مِنْهَا مَا عَلِمْتُSesungguhnya aku membaca sebuah ayat lalu mengetahui ilmu dari ayat tersebut maka akupun berangan-angan agar semua muslim mengetahui ilmu tentang ayat tersebut”Al-Imam Asy-Syafi’i berkata :وَدِدْتُ أَنَّ النَّاسَ تَعَلَّمُوا هَذَا الْعِلْمَ وَلَمْ يُنْسَبْ إِلَيَّ مِنْهُ شَيْئٌ“Aku ingin orang-orang mempelajari ilmu (ku) ini lalu tidak dinisbahkan kepadaku sedikitpun dari ilmu tersebut”Dan Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu menginfakkan seluruh hartanya demi kemaslahatan kaum muslimin, dan Umar radhiyallahu ‘anhu menginfakkan setengah hartanya.Dan diantara dampak dari hati yang bersih adalah sikap memaafkan, mengalah, sabar, dan lemah lembut terhadap kaum muslimin. Dan Nabi shallallahu ‘alihi wasallam telah memuji Abu Dhomdhom karena hal tersebut. Jika beliau di pagi hari beliau berkata :اللَّهُمَّ لاَ مَالَ لِي لِأَتَصَدَّقَ بِهِ عَلَى النَّاسِ، وَقَدْ تَصَدَّقْتُ عَلَيْهِمْ بِشَتْمِ عِرْضِي، فَمَنْ شَتَمَنِي أَوْ قَذَفَنِي فَهُوَ حِلٌّ“Ya Allah sesungguhnya aku tidak memiliki harta untuk bersedekah dengannya kepada orang-orang, dan aku telah bersedekah kepada mereka dengan cacian terhadap harga diriku, maka barangsiapa yang mencaci maki aku atau menuduhku (dengan tuduhan tidak benar) maka ia telah aku halalkan”. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:مَنْ يَسْتَطِيْعُ مِنْكُمْ أَنْ يَكُوْنَ كَأَبِي ضَمْضَمَ؟“Siapa diantara kalian yang mampu seperti Abu Dhomdhom?” (HR Al-Hakim, Ibnu Abdilbar, dan Al-Bazzar, dan hadits ini hasan”Dan lawan dari hati yang bersih adalah hati yang sakit dengan berbagai macam penyakit yang dibenci dan tercela. Diantara penyakit hati yang  paling parah adalah pelit. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah memperingatkan umatnya dari penyakit ini, beliau berkata :اتَّقُوا الظُّلْمَ؛ فَإِنَّ الظُّلْمَ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَاتَّقُوا الشُّحَّ؛ فَإِنَّ الشُّحَّ أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ، وَحَمَلَهُمْ عَلَى أَنْ سَفَكُوا دِمَاءَهُمْ، وَاسْتَحَلُّوا مَحَارِمَهُمْ“Waspadalah kalian dari perbuatan menzolimi karena kezoliman adalah kegelapan yang bertumpuk-tumpuk pada hari qiamat, dan jauhilah kalian dari pelit, karena sikap pelit telah membinasakan orang-orang sebelum kalian, sikap pelit ini mengantarkan mereka untuk menumpahkan darah mereka dan menghalalkan perkara-perkara yang haram’ (HR Muslim dari hadits Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu)Jika seorang yang berakal mengamati fitnah yang meluas dan yang khusus di dunia ini, maka ia akan mendapat bahwasanya diantara sebab utamanya adalah sikap pelit dan tamak (rakus). Dari Abu Hurairoh radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda :«يَتَقَارَبُ الزَّمَانُ وَيَنْقُصُ الْعَمَلُ وَتَظْهَرُ الْفِتَنُ وَيُلْقَى الشُّحُّ وَيَكْثُرُ الْهَرْجُ» قَالُوا: وَمَا الْهَرْجُ؟ قَالَ: «الْقَتْلُ الْقَتْلُ»“Zaman semakin mendekat, dan amal semakin sedikit, dan muncullah fitnah-fitnah, dan dilemparkanlah sifat Asy-Syuh (pelit disertai semangat mengejar dunia) di hati dan banyaklah al-Harju”. Mereka bertanya, “Apakah itu al-Harju?”, Nabi berkata, “Pembunuhan, pembunuhan” (HR Al-Bukhari)Maka sikap Asy-Syuh (pelit kelas kakap) adalah semangat untuk mengejar dunia, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berakta,مَا الفَقْرَ أخْشَى عَلَيْكُمْ، وَلَكِنِّى أخْشَى عَلَيْكُمْ أنْ تُبْسَطَ الدُّنْيَا عَلَيْكُمْ كَمَا بُسِطَتْ عَلَى مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ، فَتَنَافَسُوهَا كَمَا تَنَافَسُوهَا، وَتُهْلِكَكُم كَمَا أهْلَكَتْهُمْ“Bukanlah kemiskinan yang aku khawatirkan menimpa kalian, akan tetapi dibentangkannya dunia pada kalian lalu kalian berlomba untuk memperebutkannya sebagaimana orang-orang sebelum kalian berlomba memperebutkannya, maka dunia tersebut membinasakan kalian sebagaimana dunia telah membinasakan mereka’Dan jika engkau telah mengetahui makna dari “pelit” maka engkau berusaha untuk menghindarinya. Dan engkau telah mengetahui bahwa fitnahnya penyakit ini yang telah menjadikan hati menjadi mati adalah sikap Asy-Syuh (pelit) yaitu tamak (rakus) dan semangat untuk meraih apa yang ada di tangan orang lain, dan berusaha dengan berbagai macam cara ditempuh untuk memilikinya di tanganmu, demikian hak-hak orang lain yang wajib yang ada ditanganmu kau tahan dan tidak kau tunaikan kepada mereka. Dan ini merupakan sifat yang paling buruk, maka Asy-Syuh lebih parah daripada hanya sekedar “kikir/pelit”, dan Asy-Syuh merupakan sebab terputusnya silaturahmi, melanggar hak-hak orang lain, dan menumpahkan darah orang lain, dan menahan hak-hak orang lain yang wajib untuk ditunaikan kepada mereka yang berhak menerimanya.Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam“Waspadalah kalian dari penyakit Asy-Syuh, karena ia telah membinasakan orang-orang sebelum kalian. Asy-Syuh telah memerintahkan mereka untuk berbuat dzolim maka merekapun menzolimi, memerintahkan mereka untuk berbuat fajir (maksiat) maka merekapun berbuat fajir, memerintahkan mereka untuk memutuskan silaturahmi maka merekapun memutuskan silaturahmi” (HR Ahmad dan Abu Dawud dari hadits Abdullah bin ‘Amr).Allah berfirmanفَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ مَا ٱسۡتَطَعۡتُمۡ وَٱسۡمَعُواْ وَأَطِيعُواْ وَأَنفِقُواْ خَيۡرٗا لِّأَنفُسِكُمۡۗ وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفۡسِهِۦ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ ١٦Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah dan nafkahkanlah nafkah yang baik untuk dirimu. Dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung (QS At-Tagobun : 16)Semoga Allah memberkahi aku dan kalian dalam Al-Qur’an.Khutbah KeduaSegala puji bagi Allah yang maha perkasa, maha pengampun, yang mengetahui apa yang ada di dada manusia. Aku memuji Robku dan aku bersyukur kepadaNya serta aku bertaubat kepadaNya dan memohon ampunanNya. Dan aku bersaksi bahwasanya tiada sesembahan yang berhak disembah melainkan Allah Yang Maha Penyantun dan Maha membalas kebaikan. Dan aku bersaksi bahwasanya Nabi kita dan pemimpin kita Muhammad adalah hamba dan utusanNya, Allah mengutusnya dengan petunjuk dan cahaya. Ya Allah curahkanlah shalawat dan salam serta keberkahan kepada hambaMu dan rasulMu Muhammad, juga kepada keluarganya dan para sahabatnya, serta orang-orang yang meneladani mereka dengan baik hingga hari kebangkitan.Selanjutnya, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa, berpeganglah tali Islam dengan kuat. Hamba-hamba Allah sekalin, ketahuilah bahwasanya sehatnya hati dan bersihnya hati adalah dengan kesabaran dan keyakinan. Yaitu sabar untuk meninggalkan perkara-perkara yang haram, sabar dalam menunaikan kewajiban-kewajiban, dan memperbanyak menjalankan perkara-perkara yang mustahab, dan juga bersabar dalam menghadapi bencana-bencana dan perkara-perkara yang sudah ditakdirkan.Dan keyakinan akan memperkuat hati dan menolak syubhat-syubhat serta berbegai bentuk kemunafikan dan syahwat. Barangsiapa yang hatinya telah dikuasai oleh syubhat  atau syahwat hingga mati maka ia telah celaka dengan kecelakaan yang sangat besar. Allah berfirmanوَمَن يُرِدِ ٱللَّهُ فِتۡنَتَهُۥ فَلَن تَمۡلِكَ لَهُۥ مِنَ ٱللَّهِ شَيۡ‍ًٔاۚ أُوْلَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ لَمۡ يُرِدِ ٱللَّهُ أَن يُطَهِّرَ قُلُوبَهُمۡۚ لَهُمۡ فِي ٱلدُّنۡيَا خِزۡيٞۖ وَلَهُمۡ فِي ٱلۡأٓخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيمٞ ٤١Barangsiapa yang Allah menghendaki kesesatannya, maka sekali-kali kamu tidak akan mampu menolak sesuatupun (yang datang) daripada Allah. Mereka itu adalah orang-orang yang Allah tidak hendak mensucikan hati mereka. Mereka beroleh kehinaan di dunia dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar (QS Al-Maidah : 41)Mengerjakan apa saja yang diperintahkan oleh Allah adalah membersihkan dan mensucikan hati. Dan seluruh apa yang dilarang oleh Allah adalah dalam rangka untuk menjaga hati dari penyakit-penyakit.Maka wahai seorang muslim, carilah kebersihan hatimu dan sehatnya hatimu dengan menjalankan perintah-perintah Allah dan meninggalkan penyakit-penyakit hati yang tercela dan mematikan hati atau membuatnya sakit. Kalau hal ini tidak mampu untuk dikerjakan oleh seorang hamba maka tentu Allah tidak akan membebaninya dengan hal ini, dan Allah tidak akan membebani suatu jiwapun kecuali dengan apa yang mampu untuk ia lakukan. Dalam hadits Nabi bersabda :لاَ تَحَاسَدُوا وَلاَ تَدَابَرُوا وَلاَ تَبَاغَضُوا“Janganlah kalian saling hasad, dan jangan saling memboikot, dan jangan saling bermusuhan” (HR Muslim dari Abu Huroiroh)Hamba-hamba Allah, sesungguhnya Allah dan para malaikat bersolawat kepada Nabi.Diterjemahkan oleh Firanda Andirja dan Usman Hatimhttps://firanda.com/

Mengalah Sama Istri…Mengalah Sama Suami

Nabi bersabdaأَنَا زَعِيْمٌ بِبَيْتٍ فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ المِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا“Aku menjamin istana di pinggiran surga bagi orang yang meninggalkan perdebatan meskipun dia yang benar”Apalagi mengalah sama orang terdekat…Apalagi mengalah sama istri…Apalagi mengalah sama suami…Namun mengalah bukan berarti tdk menasehati, silahkan menasehati tapi dengan pikiran yang tenang setelah hilang kemarahan dan kepenatan disertai senyuman…

Mengalah Sama Istri…Mengalah Sama Suami

Nabi bersabdaأَنَا زَعِيْمٌ بِبَيْتٍ فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ المِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا“Aku menjamin istana di pinggiran surga bagi orang yang meninggalkan perdebatan meskipun dia yang benar”Apalagi mengalah sama orang terdekat…Apalagi mengalah sama istri…Apalagi mengalah sama suami…Namun mengalah bukan berarti tdk menasehati, silahkan menasehati tapi dengan pikiran yang tenang setelah hilang kemarahan dan kepenatan disertai senyuman…
Nabi bersabdaأَنَا زَعِيْمٌ بِبَيْتٍ فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ المِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا“Aku menjamin istana di pinggiran surga bagi orang yang meninggalkan perdebatan meskipun dia yang benar”Apalagi mengalah sama orang terdekat…Apalagi mengalah sama istri…Apalagi mengalah sama suami…Namun mengalah bukan berarti tdk menasehati, silahkan menasehati tapi dengan pikiran yang tenang setelah hilang kemarahan dan kepenatan disertai senyuman…


Nabi bersabdaأَنَا زَعِيْمٌ بِبَيْتٍ فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ المِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا“Aku menjamin istana di pinggiran surga bagi orang yang meninggalkan perdebatan meskipun dia yang benar”Apalagi mengalah sama orang terdekat…Apalagi mengalah sama istri…Apalagi mengalah sama suami…Namun mengalah bukan berarti tdk menasehati, silahkan menasehati tapi dengan pikiran yang tenang setelah hilang kemarahan dan kepenatan disertai senyuman…

Buku Referensi Belajar Islam dari Dasar

Di antara kiat mendalami agama adalah belajar ilmu secara bertahap. Dalam postingan kali ini, Rumaysho.Com akan menyebutkan beberapa buku rujukan dari kitab Arab dalam belajar Islam dari dasar. Kitab Arab tersebut sudah banyak terjemahannya dari berbagai penerbit terpercaya di negeri kita. Mempelajari ilmu secara bertahap tetap dengan belajar langsung dari guru. Namun kita butuh belajar dengan memakai rujukan kitab secara berjenjang. Sehingga ketika belajar dari guru pun demikian, carilah guru yang mengajarkan ilmu dari dasar, setelah itu beranjak pada kitab yang lebih advance (lanjut). Kami berikan contoh kitab-kitab apa yang baiknya kita pelajari. Urutan nomor yang kami sebutkan adalah tingkatan dari dasar hingga lanjutan.   Kitab Masalah Tauhid: Tsalatsah Al-Ushul (Tiga Landasan Utama): Syaikh Muhammad At-Tamimi. Qawa’id Al-Arba’ (Empat Kaedah Memahami Tauhid dan Syirik): Syaikh Muhammad At-Tamimi. Kitab At-Tauhid: Syaikh Muhammad At-Tamimi. Kasyfu Asy-Syubuhaat (Menyanggah Syubhat Seputar Syirik): Syaikh Muhammad At-Tamimi.   Kitab Akidah: Ushul As-Sittah: Syaikh Muhammad At-Tamimi. Lum’atul I’tiqad: Ibnu Qudamah. Ushul As-Sunnah: Imam Ahmad bin Hambal. Al-Irsyad ila Shahih Al-I’tiqad: Syaikh Shalih bin Fauzan bin ‘Abdullah Al-Fauzan. Al-‘Aqidah Al-Wasithiyyah: Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Al-‘Aqidah Ath-Thahawiyyah: Ath-Thahawi, Syarh: Ibnu Abil ‘Izz. Untuk rujukan syarh atau penjelasan dari kitab-kitab akidah dan tauhid di atas bisa memakai berbagai kitab penjelasan dari Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin, guru kami Syaikh Shalih bin Fauzan bin ‘Abdullah Al-Fauzan, Syaikh Shalih Alu Syaikh dan Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan.   Kitab Tafsir: Tafsir Al-Jalalain: Jalaluddin As-Suyuthi dan Jalaluddin Al-Mahalli, dengan catatan (ta’liq): Syaikh Shafiyurrahman Al-Mubarakfuri terutama koreksian terhadap Akidah Asma’ wa Sifat. Al-Mukhtashar fi At-Tafsir, terbitan Muassasah ‘Abdullah bin Zaid Al-Ghanim Al-Khairiyyah. Tafsir Juz ‘Amma dan Tafsir Beberapa Surat dari Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Tafsir As-Sa’di (Taisir Al-Karim Ar-Rahman): Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. Aysar At-Tafasir: Syaikh Abu Bakr Jabir Al-Jazairi. Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim: Ibnu Katsir. Tafsir Ath-Thabari: Ibnu Jarir Ath-Thabari.   Kitab Fikih merujuk pada Fikih Madzhab Syafi’i: Safinah An-Najah: Salim bin ‘Abdullah Ibnu Sumair Al-Hadrami Asy-Syafi’i. Matan Al-Ghayah wa At-Taqrib: Al-Qadhi Abi Syuja’ dengan berbagai kitab penjelasan: Fathul Qarib, At-Tadzhib, Al-Iqna’, Kifayatul Akhyar. Al-Fiqhu Al-Manhaji: Musthafa Al-Bugha, dkk. Minhaj Ath-Thalibin: Imam Nawawi. Al-Majmu’ Syarh Al-Muhaddzab li Asy-Syairazi: Imam Nawawi.   Kitab Fikih dari Ulama Belakangan: Minhaj As-Salikin: Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. Al-Wajiz fi Fiqh As-Sunnah wa Al-Kitab Al-‘Aziz: Syaikh ‘Abdul ‘Azhim Badawi. Fiqh As-Sunnah: Sayyid Sabiq. Shahih Fiqh As-Sunnah: Abu Malik Kamal bin As-Sayyid Salim. Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah Al-Muyassarah: Syaikh Husain bin ‘Audah Al-‘Awaysyah. Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah, terbitan Kementrian Agama Kuwait.   Kitab Hadits: Hadits Al-Arba’in An-Nawawiyyah: Imam Nawawi. Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam: Ibnu Rajab Al-Hambali. Bulugh Al-Maram: Ibnu Hajar Al-Asqalani, Syarh: Subulus Salam, Ash-Shan’ani; Minhatul ‘Allam, Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. ‘Umdah Al-Ahkam: Syaikh Abdul Ghani Al-Maqdisi, Syarh terbaik dari Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. Al-Muntaqa Al-Akhbar: Majduddin Abul Barakat ‘Abdussalam Ibnu Taimiyyah Al-Harrani (Jadd Ibnu Taimiyah), Syarh: Nail Al-Authar, Imam Asy-Syaukani. Kutub As-Sab’ah: Shahih Al-Bukhari, Shahih Muslim, Jami’ At-Tirmidzi, Sunan Ibnu Majah, Sunan Abu Daud, Sunan An-Nasai, Musnad Al-Imam Ahmad.   Kitab Sirah Nabawiyah: Ar-Rahiq Al-Makhtum: Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri. Zaad Al-Ma’ad: Ibnu Qayyim Al-Jauziyah. Asy-Syamail Al-Muhammadiyyah: Imam At-Tirmidzi.   Kitab Tazkiyatun Nufus dan Adab: Riyadh Ash-Shalihin, Imam Nawawi. Syarh (penjelasan) terbaik dari Kitab Riyadh Ash-Shalihin: Nuzhatul Muttaqin: Musthafa Al-Bugha dkk. Bahjatun Nazhirin: Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali. Syarh Riyadh Ash-Shalihin: Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Kunuz Riyadh Ash-Shalihin (terlengkap 22 jilid).   Kitab Akhlak: Adab Al-Mufrad, Imam Bukhari. Syarh terbaik dari Adab Al-Mufrad: Syarh Shahih Al-Adab Al-Mufrad: Syaikh Husain bin ‘Audah Al-‘Awaysyah. Rassyul Barad Syarh Al-Adab Al-Mufrad: Syaikh Muhammad Luqman As-Salafi.   Kitab Amalan: Lathaif Al-Ma’arif: Ibnu Rajab Al-Hambali. Al-Adzkar: Imam Nawawi.   Kitab Dosa Besar: Al-Kabair, Imam Adz-Dzahabi.   Kitab Sejarah Para Ulama: Siyar A’lam An-Nubala, Imam Adz-Dzahabi.   Kitab Bahasa Arab (Nahwu dan Sharaf): Al-Muyassar fi ‘Ilmi An-Nahwi: Aceng Zakariya. Al-Muqaddimah Al-Ajurromiyyah: Muhammad bin Muhammad bin Aajurroma Ash-Shinhaji. Mukhtarat Qawai’id Al-Lughah Al-‘Arabiyyah: Ustadz Aunur Rofiq Ghufran. Mulakhash Qawa’id Al-Lughah Al-‘Arabiyyah: Fuad Ni’mah.   Ada pula berbagai kitab dalam bidang tafsir, keadah tafsir, ilmu mutshalah hadits, ilmu ushul fikih, ilmu qawa’idul fikih yang merupakan ilmu alat yang bisa membantu dalam menguasai ilmu pokok. Semoga bermanfaat. Silakan cari buku tersebut dan belajarlah langsung dari seorang guru, itu cara terbaik. — Selesai disusun saat Allah menurunkan hujan di Darush Sholihin Panggang, GK, 14 Safar 1437 H Muhammad Abduh Tuasikal Join Channel Telegram, Twitter, Instagram: @RumayshoCom Tagsbelajar

Buku Referensi Belajar Islam dari Dasar

Di antara kiat mendalami agama adalah belajar ilmu secara bertahap. Dalam postingan kali ini, Rumaysho.Com akan menyebutkan beberapa buku rujukan dari kitab Arab dalam belajar Islam dari dasar. Kitab Arab tersebut sudah banyak terjemahannya dari berbagai penerbit terpercaya di negeri kita. Mempelajari ilmu secara bertahap tetap dengan belajar langsung dari guru. Namun kita butuh belajar dengan memakai rujukan kitab secara berjenjang. Sehingga ketika belajar dari guru pun demikian, carilah guru yang mengajarkan ilmu dari dasar, setelah itu beranjak pada kitab yang lebih advance (lanjut). Kami berikan contoh kitab-kitab apa yang baiknya kita pelajari. Urutan nomor yang kami sebutkan adalah tingkatan dari dasar hingga lanjutan.   Kitab Masalah Tauhid: Tsalatsah Al-Ushul (Tiga Landasan Utama): Syaikh Muhammad At-Tamimi. Qawa’id Al-Arba’ (Empat Kaedah Memahami Tauhid dan Syirik): Syaikh Muhammad At-Tamimi. Kitab At-Tauhid: Syaikh Muhammad At-Tamimi. Kasyfu Asy-Syubuhaat (Menyanggah Syubhat Seputar Syirik): Syaikh Muhammad At-Tamimi.   Kitab Akidah: Ushul As-Sittah: Syaikh Muhammad At-Tamimi. Lum’atul I’tiqad: Ibnu Qudamah. Ushul As-Sunnah: Imam Ahmad bin Hambal. Al-Irsyad ila Shahih Al-I’tiqad: Syaikh Shalih bin Fauzan bin ‘Abdullah Al-Fauzan. Al-‘Aqidah Al-Wasithiyyah: Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Al-‘Aqidah Ath-Thahawiyyah: Ath-Thahawi, Syarh: Ibnu Abil ‘Izz. Untuk rujukan syarh atau penjelasan dari kitab-kitab akidah dan tauhid di atas bisa memakai berbagai kitab penjelasan dari Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin, guru kami Syaikh Shalih bin Fauzan bin ‘Abdullah Al-Fauzan, Syaikh Shalih Alu Syaikh dan Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan.   Kitab Tafsir: Tafsir Al-Jalalain: Jalaluddin As-Suyuthi dan Jalaluddin Al-Mahalli, dengan catatan (ta’liq): Syaikh Shafiyurrahman Al-Mubarakfuri terutama koreksian terhadap Akidah Asma’ wa Sifat. Al-Mukhtashar fi At-Tafsir, terbitan Muassasah ‘Abdullah bin Zaid Al-Ghanim Al-Khairiyyah. Tafsir Juz ‘Amma dan Tafsir Beberapa Surat dari Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Tafsir As-Sa’di (Taisir Al-Karim Ar-Rahman): Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. Aysar At-Tafasir: Syaikh Abu Bakr Jabir Al-Jazairi. Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim: Ibnu Katsir. Tafsir Ath-Thabari: Ibnu Jarir Ath-Thabari.   Kitab Fikih merujuk pada Fikih Madzhab Syafi’i: Safinah An-Najah: Salim bin ‘Abdullah Ibnu Sumair Al-Hadrami Asy-Syafi’i. Matan Al-Ghayah wa At-Taqrib: Al-Qadhi Abi Syuja’ dengan berbagai kitab penjelasan: Fathul Qarib, At-Tadzhib, Al-Iqna’, Kifayatul Akhyar. Al-Fiqhu Al-Manhaji: Musthafa Al-Bugha, dkk. Minhaj Ath-Thalibin: Imam Nawawi. Al-Majmu’ Syarh Al-Muhaddzab li Asy-Syairazi: Imam Nawawi.   Kitab Fikih dari Ulama Belakangan: Minhaj As-Salikin: Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. Al-Wajiz fi Fiqh As-Sunnah wa Al-Kitab Al-‘Aziz: Syaikh ‘Abdul ‘Azhim Badawi. Fiqh As-Sunnah: Sayyid Sabiq. Shahih Fiqh As-Sunnah: Abu Malik Kamal bin As-Sayyid Salim. Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah Al-Muyassarah: Syaikh Husain bin ‘Audah Al-‘Awaysyah. Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah, terbitan Kementrian Agama Kuwait.   Kitab Hadits: Hadits Al-Arba’in An-Nawawiyyah: Imam Nawawi. Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam: Ibnu Rajab Al-Hambali. Bulugh Al-Maram: Ibnu Hajar Al-Asqalani, Syarh: Subulus Salam, Ash-Shan’ani; Minhatul ‘Allam, Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. ‘Umdah Al-Ahkam: Syaikh Abdul Ghani Al-Maqdisi, Syarh terbaik dari Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. Al-Muntaqa Al-Akhbar: Majduddin Abul Barakat ‘Abdussalam Ibnu Taimiyyah Al-Harrani (Jadd Ibnu Taimiyah), Syarh: Nail Al-Authar, Imam Asy-Syaukani. Kutub As-Sab’ah: Shahih Al-Bukhari, Shahih Muslim, Jami’ At-Tirmidzi, Sunan Ibnu Majah, Sunan Abu Daud, Sunan An-Nasai, Musnad Al-Imam Ahmad.   Kitab Sirah Nabawiyah: Ar-Rahiq Al-Makhtum: Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri. Zaad Al-Ma’ad: Ibnu Qayyim Al-Jauziyah. Asy-Syamail Al-Muhammadiyyah: Imam At-Tirmidzi.   Kitab Tazkiyatun Nufus dan Adab: Riyadh Ash-Shalihin, Imam Nawawi. Syarh (penjelasan) terbaik dari Kitab Riyadh Ash-Shalihin: Nuzhatul Muttaqin: Musthafa Al-Bugha dkk. Bahjatun Nazhirin: Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali. Syarh Riyadh Ash-Shalihin: Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Kunuz Riyadh Ash-Shalihin (terlengkap 22 jilid).   Kitab Akhlak: Adab Al-Mufrad, Imam Bukhari. Syarh terbaik dari Adab Al-Mufrad: Syarh Shahih Al-Adab Al-Mufrad: Syaikh Husain bin ‘Audah Al-‘Awaysyah. Rassyul Barad Syarh Al-Adab Al-Mufrad: Syaikh Muhammad Luqman As-Salafi.   Kitab Amalan: Lathaif Al-Ma’arif: Ibnu Rajab Al-Hambali. Al-Adzkar: Imam Nawawi.   Kitab Dosa Besar: Al-Kabair, Imam Adz-Dzahabi.   Kitab Sejarah Para Ulama: Siyar A’lam An-Nubala, Imam Adz-Dzahabi.   Kitab Bahasa Arab (Nahwu dan Sharaf): Al-Muyassar fi ‘Ilmi An-Nahwi: Aceng Zakariya. Al-Muqaddimah Al-Ajurromiyyah: Muhammad bin Muhammad bin Aajurroma Ash-Shinhaji. Mukhtarat Qawai’id Al-Lughah Al-‘Arabiyyah: Ustadz Aunur Rofiq Ghufran. Mulakhash Qawa’id Al-Lughah Al-‘Arabiyyah: Fuad Ni’mah.   Ada pula berbagai kitab dalam bidang tafsir, keadah tafsir, ilmu mutshalah hadits, ilmu ushul fikih, ilmu qawa’idul fikih yang merupakan ilmu alat yang bisa membantu dalam menguasai ilmu pokok. Semoga bermanfaat. Silakan cari buku tersebut dan belajarlah langsung dari seorang guru, itu cara terbaik. — Selesai disusun saat Allah menurunkan hujan di Darush Sholihin Panggang, GK, 14 Safar 1437 H Muhammad Abduh Tuasikal Join Channel Telegram, Twitter, Instagram: @RumayshoCom Tagsbelajar
Di antara kiat mendalami agama adalah belajar ilmu secara bertahap. Dalam postingan kali ini, Rumaysho.Com akan menyebutkan beberapa buku rujukan dari kitab Arab dalam belajar Islam dari dasar. Kitab Arab tersebut sudah banyak terjemahannya dari berbagai penerbit terpercaya di negeri kita. Mempelajari ilmu secara bertahap tetap dengan belajar langsung dari guru. Namun kita butuh belajar dengan memakai rujukan kitab secara berjenjang. Sehingga ketika belajar dari guru pun demikian, carilah guru yang mengajarkan ilmu dari dasar, setelah itu beranjak pada kitab yang lebih advance (lanjut). Kami berikan contoh kitab-kitab apa yang baiknya kita pelajari. Urutan nomor yang kami sebutkan adalah tingkatan dari dasar hingga lanjutan.   Kitab Masalah Tauhid: Tsalatsah Al-Ushul (Tiga Landasan Utama): Syaikh Muhammad At-Tamimi. Qawa’id Al-Arba’ (Empat Kaedah Memahami Tauhid dan Syirik): Syaikh Muhammad At-Tamimi. Kitab At-Tauhid: Syaikh Muhammad At-Tamimi. Kasyfu Asy-Syubuhaat (Menyanggah Syubhat Seputar Syirik): Syaikh Muhammad At-Tamimi.   Kitab Akidah: Ushul As-Sittah: Syaikh Muhammad At-Tamimi. Lum’atul I’tiqad: Ibnu Qudamah. Ushul As-Sunnah: Imam Ahmad bin Hambal. Al-Irsyad ila Shahih Al-I’tiqad: Syaikh Shalih bin Fauzan bin ‘Abdullah Al-Fauzan. Al-‘Aqidah Al-Wasithiyyah: Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Al-‘Aqidah Ath-Thahawiyyah: Ath-Thahawi, Syarh: Ibnu Abil ‘Izz. Untuk rujukan syarh atau penjelasan dari kitab-kitab akidah dan tauhid di atas bisa memakai berbagai kitab penjelasan dari Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin, guru kami Syaikh Shalih bin Fauzan bin ‘Abdullah Al-Fauzan, Syaikh Shalih Alu Syaikh dan Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan.   Kitab Tafsir: Tafsir Al-Jalalain: Jalaluddin As-Suyuthi dan Jalaluddin Al-Mahalli, dengan catatan (ta’liq): Syaikh Shafiyurrahman Al-Mubarakfuri terutama koreksian terhadap Akidah Asma’ wa Sifat. Al-Mukhtashar fi At-Tafsir, terbitan Muassasah ‘Abdullah bin Zaid Al-Ghanim Al-Khairiyyah. Tafsir Juz ‘Amma dan Tafsir Beberapa Surat dari Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Tafsir As-Sa’di (Taisir Al-Karim Ar-Rahman): Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. Aysar At-Tafasir: Syaikh Abu Bakr Jabir Al-Jazairi. Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim: Ibnu Katsir. Tafsir Ath-Thabari: Ibnu Jarir Ath-Thabari.   Kitab Fikih merujuk pada Fikih Madzhab Syafi’i: Safinah An-Najah: Salim bin ‘Abdullah Ibnu Sumair Al-Hadrami Asy-Syafi’i. Matan Al-Ghayah wa At-Taqrib: Al-Qadhi Abi Syuja’ dengan berbagai kitab penjelasan: Fathul Qarib, At-Tadzhib, Al-Iqna’, Kifayatul Akhyar. Al-Fiqhu Al-Manhaji: Musthafa Al-Bugha, dkk. Minhaj Ath-Thalibin: Imam Nawawi. Al-Majmu’ Syarh Al-Muhaddzab li Asy-Syairazi: Imam Nawawi.   Kitab Fikih dari Ulama Belakangan: Minhaj As-Salikin: Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. Al-Wajiz fi Fiqh As-Sunnah wa Al-Kitab Al-‘Aziz: Syaikh ‘Abdul ‘Azhim Badawi. Fiqh As-Sunnah: Sayyid Sabiq. Shahih Fiqh As-Sunnah: Abu Malik Kamal bin As-Sayyid Salim. Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah Al-Muyassarah: Syaikh Husain bin ‘Audah Al-‘Awaysyah. Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah, terbitan Kementrian Agama Kuwait.   Kitab Hadits: Hadits Al-Arba’in An-Nawawiyyah: Imam Nawawi. Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam: Ibnu Rajab Al-Hambali. Bulugh Al-Maram: Ibnu Hajar Al-Asqalani, Syarh: Subulus Salam, Ash-Shan’ani; Minhatul ‘Allam, Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. ‘Umdah Al-Ahkam: Syaikh Abdul Ghani Al-Maqdisi, Syarh terbaik dari Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. Al-Muntaqa Al-Akhbar: Majduddin Abul Barakat ‘Abdussalam Ibnu Taimiyyah Al-Harrani (Jadd Ibnu Taimiyah), Syarh: Nail Al-Authar, Imam Asy-Syaukani. Kutub As-Sab’ah: Shahih Al-Bukhari, Shahih Muslim, Jami’ At-Tirmidzi, Sunan Ibnu Majah, Sunan Abu Daud, Sunan An-Nasai, Musnad Al-Imam Ahmad.   Kitab Sirah Nabawiyah: Ar-Rahiq Al-Makhtum: Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri. Zaad Al-Ma’ad: Ibnu Qayyim Al-Jauziyah. Asy-Syamail Al-Muhammadiyyah: Imam At-Tirmidzi.   Kitab Tazkiyatun Nufus dan Adab: Riyadh Ash-Shalihin, Imam Nawawi. Syarh (penjelasan) terbaik dari Kitab Riyadh Ash-Shalihin: Nuzhatul Muttaqin: Musthafa Al-Bugha dkk. Bahjatun Nazhirin: Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali. Syarh Riyadh Ash-Shalihin: Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Kunuz Riyadh Ash-Shalihin (terlengkap 22 jilid).   Kitab Akhlak: Adab Al-Mufrad, Imam Bukhari. Syarh terbaik dari Adab Al-Mufrad: Syarh Shahih Al-Adab Al-Mufrad: Syaikh Husain bin ‘Audah Al-‘Awaysyah. Rassyul Barad Syarh Al-Adab Al-Mufrad: Syaikh Muhammad Luqman As-Salafi.   Kitab Amalan: Lathaif Al-Ma’arif: Ibnu Rajab Al-Hambali. Al-Adzkar: Imam Nawawi.   Kitab Dosa Besar: Al-Kabair, Imam Adz-Dzahabi.   Kitab Sejarah Para Ulama: Siyar A’lam An-Nubala, Imam Adz-Dzahabi.   Kitab Bahasa Arab (Nahwu dan Sharaf): Al-Muyassar fi ‘Ilmi An-Nahwi: Aceng Zakariya. Al-Muqaddimah Al-Ajurromiyyah: Muhammad bin Muhammad bin Aajurroma Ash-Shinhaji. Mukhtarat Qawai’id Al-Lughah Al-‘Arabiyyah: Ustadz Aunur Rofiq Ghufran. Mulakhash Qawa’id Al-Lughah Al-‘Arabiyyah: Fuad Ni’mah.   Ada pula berbagai kitab dalam bidang tafsir, keadah tafsir, ilmu mutshalah hadits, ilmu ushul fikih, ilmu qawa’idul fikih yang merupakan ilmu alat yang bisa membantu dalam menguasai ilmu pokok. Semoga bermanfaat. Silakan cari buku tersebut dan belajarlah langsung dari seorang guru, itu cara terbaik. — Selesai disusun saat Allah menurunkan hujan di Darush Sholihin Panggang, GK, 14 Safar 1437 H Muhammad Abduh Tuasikal Join Channel Telegram, Twitter, Instagram: @RumayshoCom Tagsbelajar


Di antara kiat mendalami agama adalah belajar ilmu secara bertahap. Dalam postingan kali ini, Rumaysho.Com akan menyebutkan beberapa buku rujukan dari kitab Arab dalam belajar Islam dari dasar. Kitab Arab tersebut sudah banyak terjemahannya dari berbagai penerbit terpercaya di negeri kita. Mempelajari ilmu secara bertahap tetap dengan belajar langsung dari guru. Namun kita butuh belajar dengan memakai rujukan kitab secara berjenjang. Sehingga ketika belajar dari guru pun demikian, carilah guru yang mengajarkan ilmu dari dasar, setelah itu beranjak pada kitab yang lebih advance (lanjut). Kami berikan contoh kitab-kitab apa yang baiknya kita pelajari. Urutan nomor yang kami sebutkan adalah tingkatan dari dasar hingga lanjutan.   Kitab Masalah Tauhid: Tsalatsah Al-Ushul (Tiga Landasan Utama): Syaikh Muhammad At-Tamimi. Qawa’id Al-Arba’ (Empat Kaedah Memahami Tauhid dan Syirik): Syaikh Muhammad At-Tamimi. Kitab At-Tauhid: Syaikh Muhammad At-Tamimi. Kasyfu Asy-Syubuhaat (Menyanggah Syubhat Seputar Syirik): Syaikh Muhammad At-Tamimi.   Kitab Akidah: Ushul As-Sittah: Syaikh Muhammad At-Tamimi. Lum’atul I’tiqad: Ibnu Qudamah. Ushul As-Sunnah: Imam Ahmad bin Hambal. Al-Irsyad ila Shahih Al-I’tiqad: Syaikh Shalih bin Fauzan bin ‘Abdullah Al-Fauzan. Al-‘Aqidah Al-Wasithiyyah: Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Al-‘Aqidah Ath-Thahawiyyah: Ath-Thahawi, Syarh: Ibnu Abil ‘Izz. Untuk rujukan syarh atau penjelasan dari kitab-kitab akidah dan tauhid di atas bisa memakai berbagai kitab penjelasan dari Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin, guru kami Syaikh Shalih bin Fauzan bin ‘Abdullah Al-Fauzan, Syaikh Shalih Alu Syaikh dan Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan.   Kitab Tafsir: Tafsir Al-Jalalain: Jalaluddin As-Suyuthi dan Jalaluddin Al-Mahalli, dengan catatan (ta’liq): Syaikh Shafiyurrahman Al-Mubarakfuri terutama koreksian terhadap Akidah Asma’ wa Sifat. Al-Mukhtashar fi At-Tafsir, terbitan Muassasah ‘Abdullah bin Zaid Al-Ghanim Al-Khairiyyah. Tafsir Juz ‘Amma dan Tafsir Beberapa Surat dari Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Tafsir As-Sa’di (Taisir Al-Karim Ar-Rahman): Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. Aysar At-Tafasir: Syaikh Abu Bakr Jabir Al-Jazairi. Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim: Ibnu Katsir. Tafsir Ath-Thabari: Ibnu Jarir Ath-Thabari.   Kitab Fikih merujuk pada Fikih Madzhab Syafi’i: Safinah An-Najah: Salim bin ‘Abdullah Ibnu Sumair Al-Hadrami Asy-Syafi’i. Matan Al-Ghayah wa At-Taqrib: Al-Qadhi Abi Syuja’ dengan berbagai kitab penjelasan: Fathul Qarib, At-Tadzhib, Al-Iqna’, Kifayatul Akhyar. Al-Fiqhu Al-Manhaji: Musthafa Al-Bugha, dkk. Minhaj Ath-Thalibin: Imam Nawawi. Al-Majmu’ Syarh Al-Muhaddzab li Asy-Syairazi: Imam Nawawi.   Kitab Fikih dari Ulama Belakangan: Minhaj As-Salikin: Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. Al-Wajiz fi Fiqh As-Sunnah wa Al-Kitab Al-‘Aziz: Syaikh ‘Abdul ‘Azhim Badawi. Fiqh As-Sunnah: Sayyid Sabiq. Shahih Fiqh As-Sunnah: Abu Malik Kamal bin As-Sayyid Salim. Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah Al-Muyassarah: Syaikh Husain bin ‘Audah Al-‘Awaysyah. Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah, terbitan Kementrian Agama Kuwait.   Kitab Hadits: Hadits Al-Arba’in An-Nawawiyyah: Imam Nawawi. Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam: Ibnu Rajab Al-Hambali. Bulugh Al-Maram: Ibnu Hajar Al-Asqalani, Syarh: Subulus Salam, Ash-Shan’ani; Minhatul ‘Allam, Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. ‘Umdah Al-Ahkam: Syaikh Abdul Ghani Al-Maqdisi, Syarh terbaik dari Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. Al-Muntaqa Al-Akhbar: Majduddin Abul Barakat ‘Abdussalam Ibnu Taimiyyah Al-Harrani (Jadd Ibnu Taimiyah), Syarh: Nail Al-Authar, Imam Asy-Syaukani. Kutub As-Sab’ah: Shahih Al-Bukhari, Shahih Muslim, Jami’ At-Tirmidzi, Sunan Ibnu Majah, Sunan Abu Daud, Sunan An-Nasai, Musnad Al-Imam Ahmad.   Kitab Sirah Nabawiyah: Ar-Rahiq Al-Makhtum: Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri. Zaad Al-Ma’ad: Ibnu Qayyim Al-Jauziyah. Asy-Syamail Al-Muhammadiyyah: Imam At-Tirmidzi.   Kitab Tazkiyatun Nufus dan Adab: Riyadh Ash-Shalihin, Imam Nawawi. Syarh (penjelasan) terbaik dari Kitab Riyadh Ash-Shalihin: Nuzhatul Muttaqin: Musthafa Al-Bugha dkk. Bahjatun Nazhirin: Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali. Syarh Riyadh Ash-Shalihin: Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Kunuz Riyadh Ash-Shalihin (terlengkap 22 jilid).   Kitab Akhlak: Adab Al-Mufrad, Imam Bukhari. Syarh terbaik dari Adab Al-Mufrad: Syarh Shahih Al-Adab Al-Mufrad: Syaikh Husain bin ‘Audah Al-‘Awaysyah. Rassyul Barad Syarh Al-Adab Al-Mufrad: Syaikh Muhammad Luqman As-Salafi.   Kitab Amalan: Lathaif Al-Ma’arif: Ibnu Rajab Al-Hambali. Al-Adzkar: Imam Nawawi.   Kitab Dosa Besar: Al-Kabair, Imam Adz-Dzahabi.   Kitab Sejarah Para Ulama: Siyar A’lam An-Nubala, Imam Adz-Dzahabi.   Kitab Bahasa Arab (Nahwu dan Sharaf): Al-Muyassar fi ‘Ilmi An-Nahwi: Aceng Zakariya. Al-Muqaddimah Al-Ajurromiyyah: Muhammad bin Muhammad bin Aajurroma Ash-Shinhaji. Mukhtarat Qawai’id Al-Lughah Al-‘Arabiyyah: Ustadz Aunur Rofiq Ghufran. Mulakhash Qawa’id Al-Lughah Al-‘Arabiyyah: Fuad Ni’mah.   Ada pula berbagai kitab dalam bidang tafsir, keadah tafsir, ilmu mutshalah hadits, ilmu ushul fikih, ilmu qawa’idul fikih yang merupakan ilmu alat yang bisa membantu dalam menguasai ilmu pokok. Semoga bermanfaat. Silakan cari buku tersebut dan belajarlah langsung dari seorang guru, itu cara terbaik. — Selesai disusun saat Allah menurunkan hujan di Darush Sholihin Panggang, GK, 14 Safar 1437 H Muhammad Abduh Tuasikal Join Channel Telegram, Twitter, Instagram: @RumayshoCom Tagsbelajar

Yuk Donasi 6 Hari untuk Radio dan TV DS, Kebutuhan 373 Juta Rupiah

Yuk berdonasi untuk Radio dan TV DS, kebutuhan 373 juta rupiah. Dan kali ini dibuka donasi tahap 1 hingga 1 Desember 2015 (6 hari). Pesantren Darush Sholihin adalah pesantren masyarakat yang terletak di Dusun Warak, Desa Girisekar, Panggang, Gunungkidul. Dakwahnya saat ini sudah berkembang semakin luas karena yang dibina oleh pesantren bukan hanya anak-anak namun sampai pada kalangan remaja, ibu-ibu muda, bapak-bapak, hingga para sesepuh di desa. Perkembangannya, santri TPA telah mencapai 600-an anak. Sedangkan untuk pengajian Malam Kamis dihadiri 2000 jama’ah dari empat kecamatan yang berbeda. Adapun pengajian akbar yang lebih besar dengan mendatangkan da’i luar daerah, hal biasa dihadiri 4000 jama’ah. Saat ini, Pesantren Darush Sholihin sedang mengembangkan dakwah lebih luas lagi lewat udara dan layar TV. Radio DS dan DS TV sedang dalam proses pembangunan saat ini, mulai dari pembangunan gedung pemancar, pemasangan tower berbahan galvanis, hingga pada proses perizinan di Balmon (Balai Monitoring Frekuensi Radio di Yogyakarta) dan KPID (Komisi Penyiaran Indonesia Daerah Yogyakarta). Perkembangan lainnya, radio DS dan DS TV sudah merancang desain logo untuk dua media tersebut yang rencana awal siarannya hanya tersebar local untuk satu kecamatan Panggang. Namun DS punya harapan untuk mengembangkan ke radio komersil nantinya. Untuk tujuan itulah dibutuhkan dana yang tidak sedikit yaitu mencapai Rp.373.500.000,- (tiga ratus tujuh puluh tiga juta lima ratus ribu rupiah). Anggaran pengeluaran: Pemancar radio dakwah FM: Rp.57.000.000,- Pemancar TV dakwah: Rp.163.500.000,- Perlengkapan ruang studio: Rp.11.000.000,- Perlengkapan TV: Rp.42.000.000,- Pembangunan bangunan studio dan pemancar: Rp.100.000.000,- Untuk rincian anggaran no. 1 sampai dengan 4 bisa didownload di sini. Dana yang dibutuhkan: Rp.373.500.000,- Kas donasi saat ini: – Rp.258.110.000,- (minus), memakai anggaran dari pos lain di pesantren. Rekening khusus Donasi Radio: BSM KCP Wonosari 3107011155 dan BRI 0029-01-101480-50-9 atas nama Muhammad Abduh Tuasikal. Konfirmasi via sms ke 082313950500 dengan format: Radio TV DS # Nama Donatur # Alamat # Bank Tujuan Transfer # Tgl Transfer # Besar Donasi. Contoh: Radio TV DS # Muslim # Godean Yogyakarta # BSM # 23 November 2015 # 1.000.000. Donasi tahap #1 ini kami berlakukan hingga 1 Desember 2015. Semoga menjadi amal jariyah bagi Anda sekalian yang membaca pesan ini. Moga mendapatkan pahala setelah menshare pada lainnya. Mohon doanya agar radio dan TV Darush Sholihin cepat mengudara. Pembangunan jalan menuju pemancar.   Stick tower yang akan dipasang.   Pemancar di puncak gunung. — Info Rumaysho.Com dan DarushSholihin.Com Join Channel Telegram: @DarushSholihin, @RumayshoCom   Tagsradio

Yuk Donasi 6 Hari untuk Radio dan TV DS, Kebutuhan 373 Juta Rupiah

Yuk berdonasi untuk Radio dan TV DS, kebutuhan 373 juta rupiah. Dan kali ini dibuka donasi tahap 1 hingga 1 Desember 2015 (6 hari). Pesantren Darush Sholihin adalah pesantren masyarakat yang terletak di Dusun Warak, Desa Girisekar, Panggang, Gunungkidul. Dakwahnya saat ini sudah berkembang semakin luas karena yang dibina oleh pesantren bukan hanya anak-anak namun sampai pada kalangan remaja, ibu-ibu muda, bapak-bapak, hingga para sesepuh di desa. Perkembangannya, santri TPA telah mencapai 600-an anak. Sedangkan untuk pengajian Malam Kamis dihadiri 2000 jama’ah dari empat kecamatan yang berbeda. Adapun pengajian akbar yang lebih besar dengan mendatangkan da’i luar daerah, hal biasa dihadiri 4000 jama’ah. Saat ini, Pesantren Darush Sholihin sedang mengembangkan dakwah lebih luas lagi lewat udara dan layar TV. Radio DS dan DS TV sedang dalam proses pembangunan saat ini, mulai dari pembangunan gedung pemancar, pemasangan tower berbahan galvanis, hingga pada proses perizinan di Balmon (Balai Monitoring Frekuensi Radio di Yogyakarta) dan KPID (Komisi Penyiaran Indonesia Daerah Yogyakarta). Perkembangan lainnya, radio DS dan DS TV sudah merancang desain logo untuk dua media tersebut yang rencana awal siarannya hanya tersebar local untuk satu kecamatan Panggang. Namun DS punya harapan untuk mengembangkan ke radio komersil nantinya. Untuk tujuan itulah dibutuhkan dana yang tidak sedikit yaitu mencapai Rp.373.500.000,- (tiga ratus tujuh puluh tiga juta lima ratus ribu rupiah). Anggaran pengeluaran: Pemancar radio dakwah FM: Rp.57.000.000,- Pemancar TV dakwah: Rp.163.500.000,- Perlengkapan ruang studio: Rp.11.000.000,- Perlengkapan TV: Rp.42.000.000,- Pembangunan bangunan studio dan pemancar: Rp.100.000.000,- Untuk rincian anggaran no. 1 sampai dengan 4 bisa didownload di sini. Dana yang dibutuhkan: Rp.373.500.000,- Kas donasi saat ini: – Rp.258.110.000,- (minus), memakai anggaran dari pos lain di pesantren. Rekening khusus Donasi Radio: BSM KCP Wonosari 3107011155 dan BRI 0029-01-101480-50-9 atas nama Muhammad Abduh Tuasikal. Konfirmasi via sms ke 082313950500 dengan format: Radio TV DS # Nama Donatur # Alamat # Bank Tujuan Transfer # Tgl Transfer # Besar Donasi. Contoh: Radio TV DS # Muslim # Godean Yogyakarta # BSM # 23 November 2015 # 1.000.000. Donasi tahap #1 ini kami berlakukan hingga 1 Desember 2015. Semoga menjadi amal jariyah bagi Anda sekalian yang membaca pesan ini. Moga mendapatkan pahala setelah menshare pada lainnya. Mohon doanya agar radio dan TV Darush Sholihin cepat mengudara. Pembangunan jalan menuju pemancar.   Stick tower yang akan dipasang.   Pemancar di puncak gunung. — Info Rumaysho.Com dan DarushSholihin.Com Join Channel Telegram: @DarushSholihin, @RumayshoCom   Tagsradio
Yuk berdonasi untuk Radio dan TV DS, kebutuhan 373 juta rupiah. Dan kali ini dibuka donasi tahap 1 hingga 1 Desember 2015 (6 hari). Pesantren Darush Sholihin adalah pesantren masyarakat yang terletak di Dusun Warak, Desa Girisekar, Panggang, Gunungkidul. Dakwahnya saat ini sudah berkembang semakin luas karena yang dibina oleh pesantren bukan hanya anak-anak namun sampai pada kalangan remaja, ibu-ibu muda, bapak-bapak, hingga para sesepuh di desa. Perkembangannya, santri TPA telah mencapai 600-an anak. Sedangkan untuk pengajian Malam Kamis dihadiri 2000 jama’ah dari empat kecamatan yang berbeda. Adapun pengajian akbar yang lebih besar dengan mendatangkan da’i luar daerah, hal biasa dihadiri 4000 jama’ah. Saat ini, Pesantren Darush Sholihin sedang mengembangkan dakwah lebih luas lagi lewat udara dan layar TV. Radio DS dan DS TV sedang dalam proses pembangunan saat ini, mulai dari pembangunan gedung pemancar, pemasangan tower berbahan galvanis, hingga pada proses perizinan di Balmon (Balai Monitoring Frekuensi Radio di Yogyakarta) dan KPID (Komisi Penyiaran Indonesia Daerah Yogyakarta). Perkembangan lainnya, radio DS dan DS TV sudah merancang desain logo untuk dua media tersebut yang rencana awal siarannya hanya tersebar local untuk satu kecamatan Panggang. Namun DS punya harapan untuk mengembangkan ke radio komersil nantinya. Untuk tujuan itulah dibutuhkan dana yang tidak sedikit yaitu mencapai Rp.373.500.000,- (tiga ratus tujuh puluh tiga juta lima ratus ribu rupiah). Anggaran pengeluaran: Pemancar radio dakwah FM: Rp.57.000.000,- Pemancar TV dakwah: Rp.163.500.000,- Perlengkapan ruang studio: Rp.11.000.000,- Perlengkapan TV: Rp.42.000.000,- Pembangunan bangunan studio dan pemancar: Rp.100.000.000,- Untuk rincian anggaran no. 1 sampai dengan 4 bisa didownload di sini. Dana yang dibutuhkan: Rp.373.500.000,- Kas donasi saat ini: – Rp.258.110.000,- (minus), memakai anggaran dari pos lain di pesantren. Rekening khusus Donasi Radio: BSM KCP Wonosari 3107011155 dan BRI 0029-01-101480-50-9 atas nama Muhammad Abduh Tuasikal. Konfirmasi via sms ke 082313950500 dengan format: Radio TV DS # Nama Donatur # Alamat # Bank Tujuan Transfer # Tgl Transfer # Besar Donasi. Contoh: Radio TV DS # Muslim # Godean Yogyakarta # BSM # 23 November 2015 # 1.000.000. Donasi tahap #1 ini kami berlakukan hingga 1 Desember 2015. Semoga menjadi amal jariyah bagi Anda sekalian yang membaca pesan ini. Moga mendapatkan pahala setelah menshare pada lainnya. Mohon doanya agar radio dan TV Darush Sholihin cepat mengudara. Pembangunan jalan menuju pemancar.   Stick tower yang akan dipasang.   Pemancar di puncak gunung. — Info Rumaysho.Com dan DarushSholihin.Com Join Channel Telegram: @DarushSholihin, @RumayshoCom   Tagsradio


Yuk berdonasi untuk Radio dan TV DS, kebutuhan 373 juta rupiah. Dan kali ini dibuka donasi tahap 1 hingga 1 Desember 2015 (6 hari). Pesantren Darush Sholihin adalah pesantren masyarakat yang terletak di Dusun Warak, Desa Girisekar, Panggang, Gunungkidul. Dakwahnya saat ini sudah berkembang semakin luas karena yang dibina oleh pesantren bukan hanya anak-anak namun sampai pada kalangan remaja, ibu-ibu muda, bapak-bapak, hingga para sesepuh di desa. Perkembangannya, santri TPA telah mencapai 600-an anak. Sedangkan untuk pengajian Malam Kamis dihadiri 2000 jama’ah dari empat kecamatan yang berbeda. Adapun pengajian akbar yang lebih besar dengan mendatangkan da’i luar daerah, hal biasa dihadiri 4000 jama’ah. Saat ini, Pesantren Darush Sholihin sedang mengembangkan dakwah lebih luas lagi lewat udara dan layar TV. Radio DS dan DS TV sedang dalam proses pembangunan saat ini, mulai dari pembangunan gedung pemancar, pemasangan tower berbahan galvanis, hingga pada proses perizinan di Balmon (Balai Monitoring Frekuensi Radio di Yogyakarta) dan KPID (Komisi Penyiaran Indonesia Daerah Yogyakarta). Perkembangan lainnya, radio DS dan DS TV sudah merancang desain logo untuk dua media tersebut yang rencana awal siarannya hanya tersebar local untuk satu kecamatan Panggang. Namun DS punya harapan untuk mengembangkan ke radio komersil nantinya. Untuk tujuan itulah dibutuhkan dana yang tidak sedikit yaitu mencapai Rp.373.500.000,- (tiga ratus tujuh puluh tiga juta lima ratus ribu rupiah). Anggaran pengeluaran: Pemancar radio dakwah FM: Rp.57.000.000,- Pemancar TV dakwah: Rp.163.500.000,- Perlengkapan ruang studio: Rp.11.000.000,- Perlengkapan TV: Rp.42.000.000,- Pembangunan bangunan studio dan pemancar: Rp.100.000.000,- Untuk rincian anggaran no. 1 sampai dengan 4 bisa didownload di sini. Dana yang dibutuhkan: Rp.373.500.000,- Kas donasi saat ini: – Rp.258.110.000,- (minus), memakai anggaran dari pos lain di pesantren. Rekening khusus Donasi Radio: BSM KCP Wonosari 3107011155 dan BRI 0029-01-101480-50-9 atas nama Muhammad Abduh Tuasikal. Konfirmasi via sms ke 082313950500 dengan format: Radio TV DS # Nama Donatur # Alamat # Bank Tujuan Transfer # Tgl Transfer # Besar Donasi. Contoh: Radio TV DS # Muslim # Godean Yogyakarta # BSM # 23 November 2015 # 1.000.000. Donasi tahap #1 ini kami berlakukan hingga 1 Desember 2015. Semoga menjadi amal jariyah bagi Anda sekalian yang membaca pesan ini. Moga mendapatkan pahala setelah menshare pada lainnya. Mohon doanya agar radio dan TV Darush Sholihin cepat mengudara. Pembangunan jalan menuju pemancar.   Stick tower yang akan dipasang.   Pemancar di puncak gunung. — Info Rumaysho.Com dan DarushSholihin.Com Join Channel Telegram: @DarushSholihin, @RumayshoCom   Tagsradio

Para Guru, Merekalah Bintang di Muka Bumi

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memisalkan ulama atau guru yang alim seperti bintang yang menjadi petunjuk arah saat di kegelapan. Dalam Musnad Al-Imam Ahmad, dari Anas, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Permisalan ulama di muka bumi seperti bintang yang ada di langit. Bintang dapat memberi petunjuk pada orang yang berada di gelap malam di daratan maupun di lautan. Jika bintang tak muncul, manusia tak mendapatkan petunjuk.” Selama ilmu ada, manusia akan terus berada dalam petunjuk. Ilmu tetap terus ada selama ulama ada. Jika ulama dan penggantinya sudah tiada, jadilah manusia tersesat. Sebagaimana disebut dalam Shahihain, dari ‘Abdullah bin ‘Amr, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia berkata, إِنَّ اللَّهَ لاَ يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا ، يَنْتَزِعُهُ مِنَ الْعِبَادِ ، وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ ، حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا ، اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالاً فَسُئِلُوا ، فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ ، فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا “Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu begitu saja, dicabut dari para hamba. Ketahuilah ilmu itu mudah dicabut dengan diwafatkannya para ulama sampai tidak tersisa seorang alim pun. Akhirnya, manusia menjadikan orang-orang bodoh sebagai tempat rujukan. Jadinya, ketika ditanya, ia pun berfatwa tanpa ilmu. Ia sesat dan orang-orang pun ikut tersesat.” (HR. Bukhari, no. 100 dan Muslim, no. 2673) (Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, karya Ibnu Rajab Al-Hambali, 2: 298) Sungguh jasa guru dan ulama kita begitu besar. Bayangkan jika nelayan yang berada di kegelapan malam lantas tak memiliki petunjuk jalan dari bintang-bintang di langit. Sesatkah jadinya? Wallahu waliyyut taufiq. — 14 Safar 1437 H di Darush Sholihin, Warak, Girisekar, Panggang, GK Muhammad Abduh Tuasikal Join Channel Telegram, Twitter, Instagram: @RumayshoCom Tagsadab guru belajar

Para Guru, Merekalah Bintang di Muka Bumi

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memisalkan ulama atau guru yang alim seperti bintang yang menjadi petunjuk arah saat di kegelapan. Dalam Musnad Al-Imam Ahmad, dari Anas, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Permisalan ulama di muka bumi seperti bintang yang ada di langit. Bintang dapat memberi petunjuk pada orang yang berada di gelap malam di daratan maupun di lautan. Jika bintang tak muncul, manusia tak mendapatkan petunjuk.” Selama ilmu ada, manusia akan terus berada dalam petunjuk. Ilmu tetap terus ada selama ulama ada. Jika ulama dan penggantinya sudah tiada, jadilah manusia tersesat. Sebagaimana disebut dalam Shahihain, dari ‘Abdullah bin ‘Amr, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia berkata, إِنَّ اللَّهَ لاَ يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا ، يَنْتَزِعُهُ مِنَ الْعِبَادِ ، وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ ، حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا ، اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالاً فَسُئِلُوا ، فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ ، فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا “Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu begitu saja, dicabut dari para hamba. Ketahuilah ilmu itu mudah dicabut dengan diwafatkannya para ulama sampai tidak tersisa seorang alim pun. Akhirnya, manusia menjadikan orang-orang bodoh sebagai tempat rujukan. Jadinya, ketika ditanya, ia pun berfatwa tanpa ilmu. Ia sesat dan orang-orang pun ikut tersesat.” (HR. Bukhari, no. 100 dan Muslim, no. 2673) (Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, karya Ibnu Rajab Al-Hambali, 2: 298) Sungguh jasa guru dan ulama kita begitu besar. Bayangkan jika nelayan yang berada di kegelapan malam lantas tak memiliki petunjuk jalan dari bintang-bintang di langit. Sesatkah jadinya? Wallahu waliyyut taufiq. — 14 Safar 1437 H di Darush Sholihin, Warak, Girisekar, Panggang, GK Muhammad Abduh Tuasikal Join Channel Telegram, Twitter, Instagram: @RumayshoCom Tagsadab guru belajar
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memisalkan ulama atau guru yang alim seperti bintang yang menjadi petunjuk arah saat di kegelapan. Dalam Musnad Al-Imam Ahmad, dari Anas, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Permisalan ulama di muka bumi seperti bintang yang ada di langit. Bintang dapat memberi petunjuk pada orang yang berada di gelap malam di daratan maupun di lautan. Jika bintang tak muncul, manusia tak mendapatkan petunjuk.” Selama ilmu ada, manusia akan terus berada dalam petunjuk. Ilmu tetap terus ada selama ulama ada. Jika ulama dan penggantinya sudah tiada, jadilah manusia tersesat. Sebagaimana disebut dalam Shahihain, dari ‘Abdullah bin ‘Amr, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia berkata, إِنَّ اللَّهَ لاَ يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا ، يَنْتَزِعُهُ مِنَ الْعِبَادِ ، وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ ، حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا ، اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالاً فَسُئِلُوا ، فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ ، فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا “Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu begitu saja, dicabut dari para hamba. Ketahuilah ilmu itu mudah dicabut dengan diwafatkannya para ulama sampai tidak tersisa seorang alim pun. Akhirnya, manusia menjadikan orang-orang bodoh sebagai tempat rujukan. Jadinya, ketika ditanya, ia pun berfatwa tanpa ilmu. Ia sesat dan orang-orang pun ikut tersesat.” (HR. Bukhari, no. 100 dan Muslim, no. 2673) (Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, karya Ibnu Rajab Al-Hambali, 2: 298) Sungguh jasa guru dan ulama kita begitu besar. Bayangkan jika nelayan yang berada di kegelapan malam lantas tak memiliki petunjuk jalan dari bintang-bintang di langit. Sesatkah jadinya? Wallahu waliyyut taufiq. — 14 Safar 1437 H di Darush Sholihin, Warak, Girisekar, Panggang, GK Muhammad Abduh Tuasikal Join Channel Telegram, Twitter, Instagram: @RumayshoCom Tagsadab guru belajar


Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memisalkan ulama atau guru yang alim seperti bintang yang menjadi petunjuk arah saat di kegelapan. Dalam Musnad Al-Imam Ahmad, dari Anas, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Permisalan ulama di muka bumi seperti bintang yang ada di langit. Bintang dapat memberi petunjuk pada orang yang berada di gelap malam di daratan maupun di lautan. Jika bintang tak muncul, manusia tak mendapatkan petunjuk.” Selama ilmu ada, manusia akan terus berada dalam petunjuk. Ilmu tetap terus ada selama ulama ada. Jika ulama dan penggantinya sudah tiada, jadilah manusia tersesat. Sebagaimana disebut dalam Shahihain, dari ‘Abdullah bin ‘Amr, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia berkata, إِنَّ اللَّهَ لاَ يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا ، يَنْتَزِعُهُ مِنَ الْعِبَادِ ، وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ ، حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا ، اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالاً فَسُئِلُوا ، فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ ، فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا “Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu begitu saja, dicabut dari para hamba. Ketahuilah ilmu itu mudah dicabut dengan diwafatkannya para ulama sampai tidak tersisa seorang alim pun. Akhirnya, manusia menjadikan orang-orang bodoh sebagai tempat rujukan. Jadinya, ketika ditanya, ia pun berfatwa tanpa ilmu. Ia sesat dan orang-orang pun ikut tersesat.” (HR. Bukhari, no. 100 dan Muslim, no. 2673) (Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, karya Ibnu Rajab Al-Hambali, 2: 298) Sungguh jasa guru dan ulama kita begitu besar. Bayangkan jika nelayan yang berada di kegelapan malam lantas tak memiliki petunjuk jalan dari bintang-bintang di langit. Sesatkah jadinya? Wallahu waliyyut taufiq. — 14 Safar 1437 H di Darush Sholihin, Warak, Girisekar, Panggang, GK Muhammad Abduh Tuasikal Join Channel Telegram, Twitter, Instagram: @RumayshoCom Tagsadab guru belajar

Wajib Lebih Utama daripada Sunnah

Perlu dipahami bahwa ibadah wajib lebih utama daripada ibadah sunnah. Ini berlaku dalam shalat dan puasa. Namun ada pengecualian dalam beberapa perkara. Adapun dalil dalam masalah ini adalah merujuk pada  hadits Abu Hurairah berikut ini tentang keutamaan wali Allah. Di dalamnya Allah mendahulukan amalan wajib dari amalan sunnah, juga amalan wajib lebih Allah cintai. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ اللَّهَ قَالَ مَنْ عَادَى لِى وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ ، وَمَا تَقَرَّبَ إِلَىَّ عَبْدِى بِشَىْءٍ أَحَبَّ إِلَىَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ ، وَمَا يَزَالُ عَبْدِى يَتَقَرَّبُ إِلَىَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِى يَسْمَعُ بِهِ ، وَبَصَرَهُ الَّذِى يُبْصِرُ بِهِ ، وَيَدَهُ الَّتِى يَبْطُشُ بِهَا وَرِجْلَهُ الَّتِى يَمْشِى بِهَا ، وَإِنْ سَأَلَنِى لأُعْطِيَنَّهُ ، وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِى لأُعِيذَنَّهُ “Allah Ta’ala berfirman: Barangsiapa memerangi wali (kekasih)-Ku, maka Aku akan memeranginya. Hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri pada-Ku dengan amalan wajib yang Kucintai. Hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri pada-Ku dengan amalan-amalan sunnah sehingga Aku mencintainya. Jika Aku telah mencintainya, maka Aku akan memberi petunjuk pada pendengaran yang ia gunakan untuk mendengar, memberi petunjuk pada penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, memberi petunjuk pada tangannya yang ia gunakan untuk memegang, memberi petunjuk pada kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Jika ia memohon sesuatu kepada-Ku, pasti Aku mengabulkannya dan jika ia memohon perlindungan, pasti Aku akan melindunginya.” (HR. Bukhari, no. 2506) Imam Al-Haramain berkata bahwa para ulama berkata, Allah mengkhususkan Nabinya shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan mewajibkan sesuatu menunjukkan besarnya pahalanya. Pahala amalan wajib tentu lebih besar daripada pahala amalan sunnah. (Al-Asybah wa An-Nazhair, hlm. 324) Imam Suyuthi membawakan kaedah dalam masalah ini, الفَرْضُ أَفْضَلُ مِنَ النَّفْلِ “Amalan wajib lebih utama daripada amalan sunnah.”   Pengecualian dari Kaedah Memutihkan utang itu sunnah, sedangkan memberikan tenggang waktu bagi yang sulit itu wajib. Namun memutihkan lebih afdhal daripada memberikan tenggang waktu. Memulai mengucapkan salam dihukumi sunnah. Menjawab salam dihukumi wajib. Namun memulai mengucapkan salam dinilai lebih utama. Satu shalat sunnah lebih afhal daripada satu shalat wajib yang ditinggalkan walaupun hanya sekali saja. Mengumandangkan azan dihukumi sunnah menurut sebagian ulama seperti yang dikuatkan oleh Imam Nawawi. Sedangkan menjadi imam adalah fardhu kifayah. Namun mengumandangkan azan menurut sebagian ulama dinilai lebih utama daripada menjadi imam. Berwudhu sebelum waktu shalat itu sunnah. Sedangkan jika shalat ingin dilaksanakan, berwudhu menjadi wajib. Namun yang pertama lebih utama daripada yang kedua. (Al-Asybah wa An-Nazhair, hlm. 325-327)   Kembali pada keadah di awal, ada hal yang menarik yang dinyatakan oleh Ibnu Hajar, مَنْ شَغَلَهُ الْفَرْضُ عَنْ النَّفْلِ فَهُوَ مَعْذُورٌ وَمَنْ شَغَلَهُ النَّفْلُ عَنْ الْفَرْضِ فَهُوَ مَغْرُورٌ “Siapa yang tersibukkan dengan yang wajib dari yang sunnah dialah orang yang patut diberi udzur. Sedangkan siapa yang tersibukkan dengan yang sunnah sehingga melalaikan yang wajib, maka dialah orang yang benar-benar tertipu.” (Fath Al-Bari, 11: 343) Semoga bermanfaat. Wallahu waliyyut taufiq.   Referensi utama: Al-Asybah wa An-Nazair. Jalaluddin ‘Abdurrahman As-Suyuthi. Penerbit Dar As-Salam. Fath Al-Bari bi Syarh Shahih Al-Bukhari. Cetakan Keempat, Tahun 1432 H. Ibnu Hajar Al Asqalani, Penerbit Dar Thiybah. — Selesai disusun ba’da ‘Ashar, 12 Safar 1437 H @ Darush Sholihin, Panggang, GK Muhammad Abduh Tuasikal Join Channel Telegram, Twitter, Instagram: @RumayshoCom Tagskaedah fikih puasa sunnah shalat sunnah

Wajib Lebih Utama daripada Sunnah

Perlu dipahami bahwa ibadah wajib lebih utama daripada ibadah sunnah. Ini berlaku dalam shalat dan puasa. Namun ada pengecualian dalam beberapa perkara. Adapun dalil dalam masalah ini adalah merujuk pada  hadits Abu Hurairah berikut ini tentang keutamaan wali Allah. Di dalamnya Allah mendahulukan amalan wajib dari amalan sunnah, juga amalan wajib lebih Allah cintai. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ اللَّهَ قَالَ مَنْ عَادَى لِى وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ ، وَمَا تَقَرَّبَ إِلَىَّ عَبْدِى بِشَىْءٍ أَحَبَّ إِلَىَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ ، وَمَا يَزَالُ عَبْدِى يَتَقَرَّبُ إِلَىَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِى يَسْمَعُ بِهِ ، وَبَصَرَهُ الَّذِى يُبْصِرُ بِهِ ، وَيَدَهُ الَّتِى يَبْطُشُ بِهَا وَرِجْلَهُ الَّتِى يَمْشِى بِهَا ، وَإِنْ سَأَلَنِى لأُعْطِيَنَّهُ ، وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِى لأُعِيذَنَّهُ “Allah Ta’ala berfirman: Barangsiapa memerangi wali (kekasih)-Ku, maka Aku akan memeranginya. Hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri pada-Ku dengan amalan wajib yang Kucintai. Hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri pada-Ku dengan amalan-amalan sunnah sehingga Aku mencintainya. Jika Aku telah mencintainya, maka Aku akan memberi petunjuk pada pendengaran yang ia gunakan untuk mendengar, memberi petunjuk pada penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, memberi petunjuk pada tangannya yang ia gunakan untuk memegang, memberi petunjuk pada kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Jika ia memohon sesuatu kepada-Ku, pasti Aku mengabulkannya dan jika ia memohon perlindungan, pasti Aku akan melindunginya.” (HR. Bukhari, no. 2506) Imam Al-Haramain berkata bahwa para ulama berkata, Allah mengkhususkan Nabinya shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan mewajibkan sesuatu menunjukkan besarnya pahalanya. Pahala amalan wajib tentu lebih besar daripada pahala amalan sunnah. (Al-Asybah wa An-Nazhair, hlm. 324) Imam Suyuthi membawakan kaedah dalam masalah ini, الفَرْضُ أَفْضَلُ مِنَ النَّفْلِ “Amalan wajib lebih utama daripada amalan sunnah.”   Pengecualian dari Kaedah Memutihkan utang itu sunnah, sedangkan memberikan tenggang waktu bagi yang sulit itu wajib. Namun memutihkan lebih afdhal daripada memberikan tenggang waktu. Memulai mengucapkan salam dihukumi sunnah. Menjawab salam dihukumi wajib. Namun memulai mengucapkan salam dinilai lebih utama. Satu shalat sunnah lebih afhal daripada satu shalat wajib yang ditinggalkan walaupun hanya sekali saja. Mengumandangkan azan dihukumi sunnah menurut sebagian ulama seperti yang dikuatkan oleh Imam Nawawi. Sedangkan menjadi imam adalah fardhu kifayah. Namun mengumandangkan azan menurut sebagian ulama dinilai lebih utama daripada menjadi imam. Berwudhu sebelum waktu shalat itu sunnah. Sedangkan jika shalat ingin dilaksanakan, berwudhu menjadi wajib. Namun yang pertama lebih utama daripada yang kedua. (Al-Asybah wa An-Nazhair, hlm. 325-327)   Kembali pada keadah di awal, ada hal yang menarik yang dinyatakan oleh Ibnu Hajar, مَنْ شَغَلَهُ الْفَرْضُ عَنْ النَّفْلِ فَهُوَ مَعْذُورٌ وَمَنْ شَغَلَهُ النَّفْلُ عَنْ الْفَرْضِ فَهُوَ مَغْرُورٌ “Siapa yang tersibukkan dengan yang wajib dari yang sunnah dialah orang yang patut diberi udzur. Sedangkan siapa yang tersibukkan dengan yang sunnah sehingga melalaikan yang wajib, maka dialah orang yang benar-benar tertipu.” (Fath Al-Bari, 11: 343) Semoga bermanfaat. Wallahu waliyyut taufiq.   Referensi utama: Al-Asybah wa An-Nazair. Jalaluddin ‘Abdurrahman As-Suyuthi. Penerbit Dar As-Salam. Fath Al-Bari bi Syarh Shahih Al-Bukhari. Cetakan Keempat, Tahun 1432 H. Ibnu Hajar Al Asqalani, Penerbit Dar Thiybah. — Selesai disusun ba’da ‘Ashar, 12 Safar 1437 H @ Darush Sholihin, Panggang, GK Muhammad Abduh Tuasikal Join Channel Telegram, Twitter, Instagram: @RumayshoCom Tagskaedah fikih puasa sunnah shalat sunnah
Perlu dipahami bahwa ibadah wajib lebih utama daripada ibadah sunnah. Ini berlaku dalam shalat dan puasa. Namun ada pengecualian dalam beberapa perkara. Adapun dalil dalam masalah ini adalah merujuk pada  hadits Abu Hurairah berikut ini tentang keutamaan wali Allah. Di dalamnya Allah mendahulukan amalan wajib dari amalan sunnah, juga amalan wajib lebih Allah cintai. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ اللَّهَ قَالَ مَنْ عَادَى لِى وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ ، وَمَا تَقَرَّبَ إِلَىَّ عَبْدِى بِشَىْءٍ أَحَبَّ إِلَىَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ ، وَمَا يَزَالُ عَبْدِى يَتَقَرَّبُ إِلَىَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِى يَسْمَعُ بِهِ ، وَبَصَرَهُ الَّذِى يُبْصِرُ بِهِ ، وَيَدَهُ الَّتِى يَبْطُشُ بِهَا وَرِجْلَهُ الَّتِى يَمْشِى بِهَا ، وَإِنْ سَأَلَنِى لأُعْطِيَنَّهُ ، وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِى لأُعِيذَنَّهُ “Allah Ta’ala berfirman: Barangsiapa memerangi wali (kekasih)-Ku, maka Aku akan memeranginya. Hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri pada-Ku dengan amalan wajib yang Kucintai. Hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri pada-Ku dengan amalan-amalan sunnah sehingga Aku mencintainya. Jika Aku telah mencintainya, maka Aku akan memberi petunjuk pada pendengaran yang ia gunakan untuk mendengar, memberi petunjuk pada penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, memberi petunjuk pada tangannya yang ia gunakan untuk memegang, memberi petunjuk pada kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Jika ia memohon sesuatu kepada-Ku, pasti Aku mengabulkannya dan jika ia memohon perlindungan, pasti Aku akan melindunginya.” (HR. Bukhari, no. 2506) Imam Al-Haramain berkata bahwa para ulama berkata, Allah mengkhususkan Nabinya shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan mewajibkan sesuatu menunjukkan besarnya pahalanya. Pahala amalan wajib tentu lebih besar daripada pahala amalan sunnah. (Al-Asybah wa An-Nazhair, hlm. 324) Imam Suyuthi membawakan kaedah dalam masalah ini, الفَرْضُ أَفْضَلُ مِنَ النَّفْلِ “Amalan wajib lebih utama daripada amalan sunnah.”   Pengecualian dari Kaedah Memutihkan utang itu sunnah, sedangkan memberikan tenggang waktu bagi yang sulit itu wajib. Namun memutihkan lebih afdhal daripada memberikan tenggang waktu. Memulai mengucapkan salam dihukumi sunnah. Menjawab salam dihukumi wajib. Namun memulai mengucapkan salam dinilai lebih utama. Satu shalat sunnah lebih afhal daripada satu shalat wajib yang ditinggalkan walaupun hanya sekali saja. Mengumandangkan azan dihukumi sunnah menurut sebagian ulama seperti yang dikuatkan oleh Imam Nawawi. Sedangkan menjadi imam adalah fardhu kifayah. Namun mengumandangkan azan menurut sebagian ulama dinilai lebih utama daripada menjadi imam. Berwudhu sebelum waktu shalat itu sunnah. Sedangkan jika shalat ingin dilaksanakan, berwudhu menjadi wajib. Namun yang pertama lebih utama daripada yang kedua. (Al-Asybah wa An-Nazhair, hlm. 325-327)   Kembali pada keadah di awal, ada hal yang menarik yang dinyatakan oleh Ibnu Hajar, مَنْ شَغَلَهُ الْفَرْضُ عَنْ النَّفْلِ فَهُوَ مَعْذُورٌ وَمَنْ شَغَلَهُ النَّفْلُ عَنْ الْفَرْضِ فَهُوَ مَغْرُورٌ “Siapa yang tersibukkan dengan yang wajib dari yang sunnah dialah orang yang patut diberi udzur. Sedangkan siapa yang tersibukkan dengan yang sunnah sehingga melalaikan yang wajib, maka dialah orang yang benar-benar tertipu.” (Fath Al-Bari, 11: 343) Semoga bermanfaat. Wallahu waliyyut taufiq.   Referensi utama: Al-Asybah wa An-Nazair. Jalaluddin ‘Abdurrahman As-Suyuthi. Penerbit Dar As-Salam. Fath Al-Bari bi Syarh Shahih Al-Bukhari. Cetakan Keempat, Tahun 1432 H. Ibnu Hajar Al Asqalani, Penerbit Dar Thiybah. — Selesai disusun ba’da ‘Ashar, 12 Safar 1437 H @ Darush Sholihin, Panggang, GK Muhammad Abduh Tuasikal Join Channel Telegram, Twitter, Instagram: @RumayshoCom Tagskaedah fikih puasa sunnah shalat sunnah


Perlu dipahami bahwa ibadah wajib lebih utama daripada ibadah sunnah. Ini berlaku dalam shalat dan puasa. Namun ada pengecualian dalam beberapa perkara. Adapun dalil dalam masalah ini adalah merujuk pada  hadits Abu Hurairah berikut ini tentang keutamaan wali Allah. Di dalamnya Allah mendahulukan amalan wajib dari amalan sunnah, juga amalan wajib lebih Allah cintai. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ اللَّهَ قَالَ مَنْ عَادَى لِى وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ ، وَمَا تَقَرَّبَ إِلَىَّ عَبْدِى بِشَىْءٍ أَحَبَّ إِلَىَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ ، وَمَا يَزَالُ عَبْدِى يَتَقَرَّبُ إِلَىَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِى يَسْمَعُ بِهِ ، وَبَصَرَهُ الَّذِى يُبْصِرُ بِهِ ، وَيَدَهُ الَّتِى يَبْطُشُ بِهَا وَرِجْلَهُ الَّتِى يَمْشِى بِهَا ، وَإِنْ سَأَلَنِى لأُعْطِيَنَّهُ ، وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِى لأُعِيذَنَّهُ “Allah Ta’ala berfirman: Barangsiapa memerangi wali (kekasih)-Ku, maka Aku akan memeranginya. Hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri pada-Ku dengan amalan wajib yang Kucintai. Hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri pada-Ku dengan amalan-amalan sunnah sehingga Aku mencintainya. Jika Aku telah mencintainya, maka Aku akan memberi petunjuk pada pendengaran yang ia gunakan untuk mendengar, memberi petunjuk pada penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, memberi petunjuk pada tangannya yang ia gunakan untuk memegang, memberi petunjuk pada kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Jika ia memohon sesuatu kepada-Ku, pasti Aku mengabulkannya dan jika ia memohon perlindungan, pasti Aku akan melindunginya.” (HR. Bukhari, no. 2506) Imam Al-Haramain berkata bahwa para ulama berkata, Allah mengkhususkan Nabinya shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan mewajibkan sesuatu menunjukkan besarnya pahalanya. Pahala amalan wajib tentu lebih besar daripada pahala amalan sunnah. (Al-Asybah wa An-Nazhair, hlm. 324) Imam Suyuthi membawakan kaedah dalam masalah ini, الفَرْضُ أَفْضَلُ مِنَ النَّفْلِ “Amalan wajib lebih utama daripada amalan sunnah.”   Pengecualian dari Kaedah Memutihkan utang itu sunnah, sedangkan memberikan tenggang waktu bagi yang sulit itu wajib. Namun memutihkan lebih afdhal daripada memberikan tenggang waktu. Memulai mengucapkan salam dihukumi sunnah. Menjawab salam dihukumi wajib. Namun memulai mengucapkan salam dinilai lebih utama. Satu shalat sunnah lebih afhal daripada satu shalat wajib yang ditinggalkan walaupun hanya sekali saja. Mengumandangkan azan dihukumi sunnah menurut sebagian ulama seperti yang dikuatkan oleh Imam Nawawi. Sedangkan menjadi imam adalah fardhu kifayah. Namun mengumandangkan azan menurut sebagian ulama dinilai lebih utama daripada menjadi imam. Berwudhu sebelum waktu shalat itu sunnah. Sedangkan jika shalat ingin dilaksanakan, berwudhu menjadi wajib. Namun yang pertama lebih utama daripada yang kedua. (Al-Asybah wa An-Nazhair, hlm. 325-327)   Kembali pada keadah di awal, ada hal yang menarik yang dinyatakan oleh Ibnu Hajar, مَنْ شَغَلَهُ الْفَرْضُ عَنْ النَّفْلِ فَهُوَ مَعْذُورٌ وَمَنْ شَغَلَهُ النَّفْلُ عَنْ الْفَرْضِ فَهُوَ مَغْرُورٌ “Siapa yang tersibukkan dengan yang wajib dari yang sunnah dialah orang yang patut diberi udzur. Sedangkan siapa yang tersibukkan dengan yang sunnah sehingga melalaikan yang wajib, maka dialah orang yang benar-benar tertipu.” (Fath Al-Bari, 11: 343) Semoga bermanfaat. Wallahu waliyyut taufiq.   Referensi utama: Al-Asybah wa An-Nazair. Jalaluddin ‘Abdurrahman As-Suyuthi. Penerbit Dar As-Salam. Fath Al-Bari bi Syarh Shahih Al-Bukhari. Cetakan Keempat, Tahun 1432 H. Ibnu Hajar Al Asqalani, Penerbit Dar Thiybah. — Selesai disusun ba’da ‘Ashar, 12 Safar 1437 H @ Darush Sholihin, Panggang, GK Muhammad Abduh Tuasikal Join Channel Telegram, Twitter, Instagram: @RumayshoCom Tagskaedah fikih puasa sunnah shalat sunnah

Hak Tetangga Menurut Imam Al Ghazali

Di antara hak tetangga disebutkan oleh Imam Al-Ghazali dalam keterangan berikut ini. Menurut beliau, hak tetangga bukan hanya tidak mengganggu tetangga saja, namun hendaklah menghilangkan gangguan dari mereka. Karena tetangga juga demikian berusaha untuk tidak mengganggu tetangga yang lain. Jadi ini bukan sekedar menunaikan hak. Tidak cukup pula menghilangkan gangguan, namun juga berusaha bersikap lemah lembut dengan tetangga, serta menebar kebaikan dan melakukan perbuatan ma’ruf. Contohnya: Memulai mengucapkan salam pada tetangga. Menjenguk tetangga yang sakit. Melayat (ta’ziyah) ketika tetangga mendapatkan musibah. Mengucapkan selamat pada tetangga jika mereka mendapati kebahagiaan. Berserikat dengan mereka dalam kebahagiaan dan saat mendapatkan nikmat. Meminta maaf jika berbuat salah. Berusaha menundukkan pandangan untuk tidak memandangi istri tetangga yang bukan mahram. Menjaga rumah tetangga jika ia pergi. Berusaha bersikap baik dan lemah lembut pada anak tetangga. Berusaha mengajarkan perkara agama atau dunia yang tetangga tidak ketahui. Selain sepuluh hal tadi, ada juga hak-hak sesama muslim secara umum yang ditunaikan. Disebutkan dalam Al-Ihya’, 2: 213, dinukil dari Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah, 16: 219 saat membahas perintah menunaikan hak pada sesama tetangga. Semoga bermanfaat dan Allah menganugerahi kita akhlak yang mulia.   Referensi: Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah. Penerbit Kementrian Agama Kuwait.   Menjelang Shubuh, 10 Safar 1437 H @ Darush Sholihin, Pesantren Masyarakat Panggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Join Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin. Follow Twitter dan Instagram @RumayshoCom. Follow Status Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Follow Fans Page (3,6 juta) Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat. Tagstetangga

Hak Tetangga Menurut Imam Al Ghazali

Di antara hak tetangga disebutkan oleh Imam Al-Ghazali dalam keterangan berikut ini. Menurut beliau, hak tetangga bukan hanya tidak mengganggu tetangga saja, namun hendaklah menghilangkan gangguan dari mereka. Karena tetangga juga demikian berusaha untuk tidak mengganggu tetangga yang lain. Jadi ini bukan sekedar menunaikan hak. Tidak cukup pula menghilangkan gangguan, namun juga berusaha bersikap lemah lembut dengan tetangga, serta menebar kebaikan dan melakukan perbuatan ma’ruf. Contohnya: Memulai mengucapkan salam pada tetangga. Menjenguk tetangga yang sakit. Melayat (ta’ziyah) ketika tetangga mendapatkan musibah. Mengucapkan selamat pada tetangga jika mereka mendapati kebahagiaan. Berserikat dengan mereka dalam kebahagiaan dan saat mendapatkan nikmat. Meminta maaf jika berbuat salah. Berusaha menundukkan pandangan untuk tidak memandangi istri tetangga yang bukan mahram. Menjaga rumah tetangga jika ia pergi. Berusaha bersikap baik dan lemah lembut pada anak tetangga. Berusaha mengajarkan perkara agama atau dunia yang tetangga tidak ketahui. Selain sepuluh hal tadi, ada juga hak-hak sesama muslim secara umum yang ditunaikan. Disebutkan dalam Al-Ihya’, 2: 213, dinukil dari Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah, 16: 219 saat membahas perintah menunaikan hak pada sesama tetangga. Semoga bermanfaat dan Allah menganugerahi kita akhlak yang mulia.   Referensi: Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah. Penerbit Kementrian Agama Kuwait.   Menjelang Shubuh, 10 Safar 1437 H @ Darush Sholihin, Pesantren Masyarakat Panggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Join Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin. Follow Twitter dan Instagram @RumayshoCom. Follow Status Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Follow Fans Page (3,6 juta) Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat. Tagstetangga
Di antara hak tetangga disebutkan oleh Imam Al-Ghazali dalam keterangan berikut ini. Menurut beliau, hak tetangga bukan hanya tidak mengganggu tetangga saja, namun hendaklah menghilangkan gangguan dari mereka. Karena tetangga juga demikian berusaha untuk tidak mengganggu tetangga yang lain. Jadi ini bukan sekedar menunaikan hak. Tidak cukup pula menghilangkan gangguan, namun juga berusaha bersikap lemah lembut dengan tetangga, serta menebar kebaikan dan melakukan perbuatan ma’ruf. Contohnya: Memulai mengucapkan salam pada tetangga. Menjenguk tetangga yang sakit. Melayat (ta’ziyah) ketika tetangga mendapatkan musibah. Mengucapkan selamat pada tetangga jika mereka mendapati kebahagiaan. Berserikat dengan mereka dalam kebahagiaan dan saat mendapatkan nikmat. Meminta maaf jika berbuat salah. Berusaha menundukkan pandangan untuk tidak memandangi istri tetangga yang bukan mahram. Menjaga rumah tetangga jika ia pergi. Berusaha bersikap baik dan lemah lembut pada anak tetangga. Berusaha mengajarkan perkara agama atau dunia yang tetangga tidak ketahui. Selain sepuluh hal tadi, ada juga hak-hak sesama muslim secara umum yang ditunaikan. Disebutkan dalam Al-Ihya’, 2: 213, dinukil dari Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah, 16: 219 saat membahas perintah menunaikan hak pada sesama tetangga. Semoga bermanfaat dan Allah menganugerahi kita akhlak yang mulia.   Referensi: Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah. Penerbit Kementrian Agama Kuwait.   Menjelang Shubuh, 10 Safar 1437 H @ Darush Sholihin, Pesantren Masyarakat Panggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Join Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin. Follow Twitter dan Instagram @RumayshoCom. Follow Status Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Follow Fans Page (3,6 juta) Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat. Tagstetangga


Di antara hak tetangga disebutkan oleh Imam Al-Ghazali dalam keterangan berikut ini. Menurut beliau, hak tetangga bukan hanya tidak mengganggu tetangga saja, namun hendaklah menghilangkan gangguan dari mereka. Karena tetangga juga demikian berusaha untuk tidak mengganggu tetangga yang lain. Jadi ini bukan sekedar menunaikan hak. Tidak cukup pula menghilangkan gangguan, namun juga berusaha bersikap lemah lembut dengan tetangga, serta menebar kebaikan dan melakukan perbuatan ma’ruf. Contohnya: Memulai mengucapkan salam pada tetangga. Menjenguk tetangga yang sakit. Melayat (ta’ziyah) ketika tetangga mendapatkan musibah. Mengucapkan selamat pada tetangga jika mereka mendapati kebahagiaan. Berserikat dengan mereka dalam kebahagiaan dan saat mendapatkan nikmat. Meminta maaf jika berbuat salah. Berusaha menundukkan pandangan untuk tidak memandangi istri tetangga yang bukan mahram. Menjaga rumah tetangga jika ia pergi. Berusaha bersikap baik dan lemah lembut pada anak tetangga. Berusaha mengajarkan perkara agama atau dunia yang tetangga tidak ketahui. Selain sepuluh hal tadi, ada juga hak-hak sesama muslim secara umum yang ditunaikan. Disebutkan dalam Al-Ihya’, 2: 213, dinukil dari Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah, 16: 219 saat membahas perintah menunaikan hak pada sesama tetangga. Semoga bermanfaat dan Allah menganugerahi kita akhlak yang mulia.   Referensi: Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah. Penerbit Kementrian Agama Kuwait.   Menjelang Shubuh, 10 Safar 1437 H @ Darush Sholihin, Pesantren Masyarakat Panggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Join Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin. Follow Twitter dan Instagram @RumayshoCom. Follow Status Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Follow Fans Page (3,6 juta) Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat. Tagstetangga

Masih Terbuka Tebar Jilbab, Gamis dan Koko

Bagi yang ingin mengirimkan paket jilbab dan gamis muslimah yang masih layak pakai termasuk pula koko atau sarung, silakan dikirim ke alamat berikut, kami masih menerima sepanjang waktu. Pesantren Darush Sholihin (binaan: Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, M.Sc.), Warak, Girisekar, Panggang, Gunungkidul, 55872, HP: 085200171222 (Slamet) Paket tersebut paling mudah dikirim via POS Indonesia, Tiki, atau JNE. Dan paket tersebut akan langsung sampai di alamat di atas. * Kriteria jilbab: besar sampai pusar, tidak bercorak. * Kriteria: jubah, bukan jersey, tidak ketat, tidak transparan. Silakan lihat laporan tebar 3000 jilbab yang sukses berlangsung di sini. Diberi kesempatan untuk yang ingin menyalurkan dalam bentuk uang, silakan kirim donasi jilbab via rekening: Bank Syariah Mandiri (BSM) a/n Yayasan Darush Sholihin Gunungkidul: 7068478612. Lalu konfirmasi ke 082313950500 dengan mengirim SMS: donasi jilbab# nama # alamat# rekening tujuan transfer# besar donasi# tanggal transfer. Contoh: donasi jilbab# Aisyah# Ambon# BSM# 1 juta rupiah#  17/10/2015. Moga jadi amal jariyah dan hidayah bagi kaum muslimin/ muslimah yang ada di Gunungkidul.   Info CALL, SMS, WA: 0811 267791(Mas Jarot) —– Info DarushSholihin.Com Twitter, Instagram dan Channel Telegram @ RumayshoCom Join Channel Telegram @DarushSholihin Tagstebar jilbab

Masih Terbuka Tebar Jilbab, Gamis dan Koko

Bagi yang ingin mengirimkan paket jilbab dan gamis muslimah yang masih layak pakai termasuk pula koko atau sarung, silakan dikirim ke alamat berikut, kami masih menerima sepanjang waktu. Pesantren Darush Sholihin (binaan: Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, M.Sc.), Warak, Girisekar, Panggang, Gunungkidul, 55872, HP: 085200171222 (Slamet) Paket tersebut paling mudah dikirim via POS Indonesia, Tiki, atau JNE. Dan paket tersebut akan langsung sampai di alamat di atas. * Kriteria jilbab: besar sampai pusar, tidak bercorak. * Kriteria: jubah, bukan jersey, tidak ketat, tidak transparan. Silakan lihat laporan tebar 3000 jilbab yang sukses berlangsung di sini. Diberi kesempatan untuk yang ingin menyalurkan dalam bentuk uang, silakan kirim donasi jilbab via rekening: Bank Syariah Mandiri (BSM) a/n Yayasan Darush Sholihin Gunungkidul: 7068478612. Lalu konfirmasi ke 082313950500 dengan mengirim SMS: donasi jilbab# nama # alamat# rekening tujuan transfer# besar donasi# tanggal transfer. Contoh: donasi jilbab# Aisyah# Ambon# BSM# 1 juta rupiah#  17/10/2015. Moga jadi amal jariyah dan hidayah bagi kaum muslimin/ muslimah yang ada di Gunungkidul.   Info CALL, SMS, WA: 0811 267791(Mas Jarot) —– Info DarushSholihin.Com Twitter, Instagram dan Channel Telegram @ RumayshoCom Join Channel Telegram @DarushSholihin Tagstebar jilbab
Bagi yang ingin mengirimkan paket jilbab dan gamis muslimah yang masih layak pakai termasuk pula koko atau sarung, silakan dikirim ke alamat berikut, kami masih menerima sepanjang waktu. Pesantren Darush Sholihin (binaan: Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, M.Sc.), Warak, Girisekar, Panggang, Gunungkidul, 55872, HP: 085200171222 (Slamet) Paket tersebut paling mudah dikirim via POS Indonesia, Tiki, atau JNE. Dan paket tersebut akan langsung sampai di alamat di atas. * Kriteria jilbab: besar sampai pusar, tidak bercorak. * Kriteria: jubah, bukan jersey, tidak ketat, tidak transparan. Silakan lihat laporan tebar 3000 jilbab yang sukses berlangsung di sini. Diberi kesempatan untuk yang ingin menyalurkan dalam bentuk uang, silakan kirim donasi jilbab via rekening: Bank Syariah Mandiri (BSM) a/n Yayasan Darush Sholihin Gunungkidul: 7068478612. Lalu konfirmasi ke 082313950500 dengan mengirim SMS: donasi jilbab# nama # alamat# rekening tujuan transfer# besar donasi# tanggal transfer. Contoh: donasi jilbab# Aisyah# Ambon# BSM# 1 juta rupiah#  17/10/2015. Moga jadi amal jariyah dan hidayah bagi kaum muslimin/ muslimah yang ada di Gunungkidul.   Info CALL, SMS, WA: 0811 267791(Mas Jarot) —– Info DarushSholihin.Com Twitter, Instagram dan Channel Telegram @ RumayshoCom Join Channel Telegram @DarushSholihin Tagstebar jilbab


Bagi yang ingin mengirimkan paket jilbab dan gamis muslimah yang masih layak pakai termasuk pula koko atau sarung, silakan dikirim ke alamat berikut, kami masih menerima sepanjang waktu. Pesantren Darush Sholihin (binaan: Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, M.Sc.), Warak, Girisekar, Panggang, Gunungkidul, 55872, HP: 085200171222 (Slamet) Paket tersebut paling mudah dikirim via POS Indonesia, Tiki, atau JNE. Dan paket tersebut akan langsung sampai di alamat di atas. * Kriteria jilbab: besar sampai pusar, tidak bercorak. * Kriteria: jubah, bukan jersey, tidak ketat, tidak transparan. Silakan lihat laporan tebar 3000 jilbab yang sukses berlangsung di sini. Diberi kesempatan untuk yang ingin menyalurkan dalam bentuk uang, silakan kirim donasi jilbab via rekening: Bank Syariah Mandiri (BSM) a/n Yayasan Darush Sholihin Gunungkidul: 7068478612. Lalu konfirmasi ke 082313950500 dengan mengirim SMS: donasi jilbab# nama # alamat# rekening tujuan transfer# besar donasi# tanggal transfer. Contoh: donasi jilbab# Aisyah# Ambon# BSM# 1 juta rupiah#  17/10/2015. Moga jadi amal jariyah dan hidayah bagi kaum muslimin/ muslimah yang ada di Gunungkidul.   Info CALL, SMS, WA: 0811 267791(Mas Jarot) —– Info DarushSholihin.Com Twitter, Instagram dan Channel Telegram @ RumayshoCom Join Channel Telegram @DarushSholihin Tagstebar jilbab

Hak Tetangga

Kita diperintahkan berbuat baik pada tetangga dan ada hak-hak yang mesti kita jalankan. Berikut adalah hadits-hadits yang disebutkan dalam kitab Adab Al-Mufrad karya Imam Al-Bukhari.   46- Bab Wasiat Terhadap Tetangga -55   [74/101] Dari Aisyah radliallahu ‘anha dari nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda, ماَ زَالَ جِبْرِيْلُ يُوْصِيْنِي بِالْجَارِ حَتى    َّ ظَنَنْتُ أَنَّهُ سَيُوَرِّثه “Jibril senantiasa berwasiat kepadaku agar berbuat baik kepada tetangga sampai saya mengira bahwa dia (Jibril) hendak memberikan warisan kepadanya.” (Shahih) Lihat Ar Irwa’ (891): [Bukhari: 78-Kitab Al Adab, 28-Bab Al Washoh bil Jaar. Muslim: 45-Kitab Al Birr wash Shilah wal Adab, hal. 140]   [75/102] Dari Abu   Syuraih   Al   Khuza’i dari nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda, مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيُحْسِنْ إِلَى جَارِهِ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْراً أَوْ لِيَصْمُتْ “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir hendaknya dia berbuat baik   pada tetangganya, barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaknya dia menghormati tamunya, dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaknya dia berbicara yang baik atau diam.” (Shahih) Lihat Al Irwa’ (2525): [Bukhari: 78-Kitab Al Adab, 32-Bab Man Kaana Yu’minu Billahi wa Yaumil Akhir Falaa Yu’dzi Jaarohu. Muslim: 31-Kitab Al Luqotoh, hal. 14]   47- Bab Hak Tetangga -56   [76/103] Dari Al Miqdad Al Aswad, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya pada para sahabatnya mengenai zina, mereka semua menjawab, حَرَامٌ ؛ حَرَّمَهُ اللهُ وَرَسُوْلُهُ ’Itu adalah perbuatan yang diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, َلأَنْ يَزْنِيَ الرَّجُلُ بِعَشْرِ نِسْوَةٍ، أَيْسَرُ عَلَيْهِ مِنْ أَنْ يَزْنِيَ بِامْرَأَةِ جَارِهِ “Dosa seorang yang berzina dengan sepuluh wanita lebih ringan daripada dosa seorang yang berzina dengan istri tetangganya.” Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada mereka mengenai pencurian. Maka mereka menjawab, حَرَامٌ ؛ حَرَّمَهُ اللهُ وَرَسُوْلُهُ ’Itu adalah perbuatan yang diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallambersabda, َلأَنْ يَسْرِقَ مِنْ عَشْرَةِ أَهْلِ أَبْيَاتٍ، أَيْسَرُ عَلَيْهِ مِنْ أَنْ يَسْرِقَ مِنْ بَيْتِ جَارِهِ ”Dosa seorang yang mencuri dari sepuluh rumah orang lain lebih ringan daripada dosa seorang yang mencuri dari salah satu rumah tetangganya.” (Shahih) Lihat Ash Shahihah (65) Semoga bermanfaat. Moga kita diberi taufik untuk menunaikan hak-hak tetangga yang disebut di atas.   — Ahad dini hari, 10 Safar 1437 H di Darush Sholihin, Warak, Girisekar, Panggang, GK Muhammad Abduh Tuasikal Join Channel Telegram, Twitter, Instagram: @RumayshoCom Tagstetangga

Hak Tetangga

Kita diperintahkan berbuat baik pada tetangga dan ada hak-hak yang mesti kita jalankan. Berikut adalah hadits-hadits yang disebutkan dalam kitab Adab Al-Mufrad karya Imam Al-Bukhari.   46- Bab Wasiat Terhadap Tetangga -55   [74/101] Dari Aisyah radliallahu ‘anha dari nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda, ماَ زَالَ جِبْرِيْلُ يُوْصِيْنِي بِالْجَارِ حَتى    َّ ظَنَنْتُ أَنَّهُ سَيُوَرِّثه “Jibril senantiasa berwasiat kepadaku agar berbuat baik kepada tetangga sampai saya mengira bahwa dia (Jibril) hendak memberikan warisan kepadanya.” (Shahih) Lihat Ar Irwa’ (891): [Bukhari: 78-Kitab Al Adab, 28-Bab Al Washoh bil Jaar. Muslim: 45-Kitab Al Birr wash Shilah wal Adab, hal. 140]   [75/102] Dari Abu   Syuraih   Al   Khuza’i dari nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda, مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيُحْسِنْ إِلَى جَارِهِ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْراً أَوْ لِيَصْمُتْ “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir hendaknya dia berbuat baik   pada tetangganya, barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaknya dia menghormati tamunya, dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaknya dia berbicara yang baik atau diam.” (Shahih) Lihat Al Irwa’ (2525): [Bukhari: 78-Kitab Al Adab, 32-Bab Man Kaana Yu’minu Billahi wa Yaumil Akhir Falaa Yu’dzi Jaarohu. Muslim: 31-Kitab Al Luqotoh, hal. 14]   47- Bab Hak Tetangga -56   [76/103] Dari Al Miqdad Al Aswad, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya pada para sahabatnya mengenai zina, mereka semua menjawab, حَرَامٌ ؛ حَرَّمَهُ اللهُ وَرَسُوْلُهُ ’Itu adalah perbuatan yang diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, َلأَنْ يَزْنِيَ الرَّجُلُ بِعَشْرِ نِسْوَةٍ، أَيْسَرُ عَلَيْهِ مِنْ أَنْ يَزْنِيَ بِامْرَأَةِ جَارِهِ “Dosa seorang yang berzina dengan sepuluh wanita lebih ringan daripada dosa seorang yang berzina dengan istri tetangganya.” Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada mereka mengenai pencurian. Maka mereka menjawab, حَرَامٌ ؛ حَرَّمَهُ اللهُ وَرَسُوْلُهُ ’Itu adalah perbuatan yang diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallambersabda, َلأَنْ يَسْرِقَ مِنْ عَشْرَةِ أَهْلِ أَبْيَاتٍ، أَيْسَرُ عَلَيْهِ مِنْ أَنْ يَسْرِقَ مِنْ بَيْتِ جَارِهِ ”Dosa seorang yang mencuri dari sepuluh rumah orang lain lebih ringan daripada dosa seorang yang mencuri dari salah satu rumah tetangganya.” (Shahih) Lihat Ash Shahihah (65) Semoga bermanfaat. Moga kita diberi taufik untuk menunaikan hak-hak tetangga yang disebut di atas.   — Ahad dini hari, 10 Safar 1437 H di Darush Sholihin, Warak, Girisekar, Panggang, GK Muhammad Abduh Tuasikal Join Channel Telegram, Twitter, Instagram: @RumayshoCom Tagstetangga
Kita diperintahkan berbuat baik pada tetangga dan ada hak-hak yang mesti kita jalankan. Berikut adalah hadits-hadits yang disebutkan dalam kitab Adab Al-Mufrad karya Imam Al-Bukhari.   46- Bab Wasiat Terhadap Tetangga -55   [74/101] Dari Aisyah radliallahu ‘anha dari nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda, ماَ زَالَ جِبْرِيْلُ يُوْصِيْنِي بِالْجَارِ حَتى    َّ ظَنَنْتُ أَنَّهُ سَيُوَرِّثه “Jibril senantiasa berwasiat kepadaku agar berbuat baik kepada tetangga sampai saya mengira bahwa dia (Jibril) hendak memberikan warisan kepadanya.” (Shahih) Lihat Ar Irwa’ (891): [Bukhari: 78-Kitab Al Adab, 28-Bab Al Washoh bil Jaar. Muslim: 45-Kitab Al Birr wash Shilah wal Adab, hal. 140]   [75/102] Dari Abu   Syuraih   Al   Khuza’i dari nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda, مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيُحْسِنْ إِلَى جَارِهِ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْراً أَوْ لِيَصْمُتْ “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir hendaknya dia berbuat baik   pada tetangganya, barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaknya dia menghormati tamunya, dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaknya dia berbicara yang baik atau diam.” (Shahih) Lihat Al Irwa’ (2525): [Bukhari: 78-Kitab Al Adab, 32-Bab Man Kaana Yu’minu Billahi wa Yaumil Akhir Falaa Yu’dzi Jaarohu. Muslim: 31-Kitab Al Luqotoh, hal. 14]   47- Bab Hak Tetangga -56   [76/103] Dari Al Miqdad Al Aswad, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya pada para sahabatnya mengenai zina, mereka semua menjawab, حَرَامٌ ؛ حَرَّمَهُ اللهُ وَرَسُوْلُهُ ’Itu adalah perbuatan yang diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, َلأَنْ يَزْنِيَ الرَّجُلُ بِعَشْرِ نِسْوَةٍ، أَيْسَرُ عَلَيْهِ مِنْ أَنْ يَزْنِيَ بِامْرَأَةِ جَارِهِ “Dosa seorang yang berzina dengan sepuluh wanita lebih ringan daripada dosa seorang yang berzina dengan istri tetangganya.” Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada mereka mengenai pencurian. Maka mereka menjawab, حَرَامٌ ؛ حَرَّمَهُ اللهُ وَرَسُوْلُهُ ’Itu adalah perbuatan yang diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallambersabda, َلأَنْ يَسْرِقَ مِنْ عَشْرَةِ أَهْلِ أَبْيَاتٍ، أَيْسَرُ عَلَيْهِ مِنْ أَنْ يَسْرِقَ مِنْ بَيْتِ جَارِهِ ”Dosa seorang yang mencuri dari sepuluh rumah orang lain lebih ringan daripada dosa seorang yang mencuri dari salah satu rumah tetangganya.” (Shahih) Lihat Ash Shahihah (65) Semoga bermanfaat. Moga kita diberi taufik untuk menunaikan hak-hak tetangga yang disebut di atas.   — Ahad dini hari, 10 Safar 1437 H di Darush Sholihin, Warak, Girisekar, Panggang, GK Muhammad Abduh Tuasikal Join Channel Telegram, Twitter, Instagram: @RumayshoCom Tagstetangga


Kita diperintahkan berbuat baik pada tetangga dan ada hak-hak yang mesti kita jalankan. Berikut adalah hadits-hadits yang disebutkan dalam kitab Adab Al-Mufrad karya Imam Al-Bukhari.   46- Bab Wasiat Terhadap Tetangga -55   [74/101] Dari Aisyah radliallahu ‘anha dari nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda, ماَ زَالَ جِبْرِيْلُ يُوْصِيْنِي بِالْجَارِ حَتى    َّ ظَنَنْتُ أَنَّهُ سَيُوَرِّثه “Jibril senantiasa berwasiat kepadaku agar berbuat baik kepada tetangga sampai saya mengira bahwa dia (Jibril) hendak memberikan warisan kepadanya.” (Shahih) Lihat Ar Irwa’ (891): [Bukhari: 78-Kitab Al Adab, 28-Bab Al Washoh bil Jaar. Muslim: 45-Kitab Al Birr wash Shilah wal Adab, hal. 140]   [75/102] Dari Abu   Syuraih   Al   Khuza’i dari nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda, مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيُحْسِنْ إِلَى جَارِهِ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْراً أَوْ لِيَصْمُتْ “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir hendaknya dia berbuat baik   pada tetangganya, barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaknya dia menghormati tamunya, dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaknya dia berbicara yang baik atau diam.” (Shahih) Lihat Al Irwa’ (2525): [Bukhari: 78-Kitab Al Adab, 32-Bab Man Kaana Yu’minu Billahi wa Yaumil Akhir Falaa Yu’dzi Jaarohu. Muslim: 31-Kitab Al Luqotoh, hal. 14]   47- Bab Hak Tetangga -56   [76/103] Dari Al Miqdad Al Aswad, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya pada para sahabatnya mengenai zina, mereka semua menjawab, حَرَامٌ ؛ حَرَّمَهُ اللهُ وَرَسُوْلُهُ ’Itu adalah perbuatan yang diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, َلأَنْ يَزْنِيَ الرَّجُلُ بِعَشْرِ نِسْوَةٍ، أَيْسَرُ عَلَيْهِ مِنْ أَنْ يَزْنِيَ بِامْرَأَةِ جَارِهِ “Dosa seorang yang berzina dengan sepuluh wanita lebih ringan daripada dosa seorang yang berzina dengan istri tetangganya.” Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada mereka mengenai pencurian. Maka mereka menjawab, حَرَامٌ ؛ حَرَّمَهُ اللهُ وَرَسُوْلُهُ ’Itu adalah perbuatan yang diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallambersabda, َلأَنْ يَسْرِقَ مِنْ عَشْرَةِ أَهْلِ أَبْيَاتٍ، أَيْسَرُ عَلَيْهِ مِنْ أَنْ يَسْرِقَ مِنْ بَيْتِ جَارِهِ ”Dosa seorang yang mencuri dari sepuluh rumah orang lain lebih ringan daripada dosa seorang yang mencuri dari salah satu rumah tetangganya.” (Shahih) Lihat Ash Shahihah (65) Semoga bermanfaat. Moga kita diberi taufik untuk menunaikan hak-hak tetangga yang disebut di atas.   — Ahad dini hari, 10 Safar 1437 H di Darush Sholihin, Warak, Girisekar, Panggang, GK Muhammad Abduh Tuasikal Join Channel Telegram, Twitter, Instagram: @RumayshoCom Tagstetangga

Siapakah Tetangga Kita?

Siapakah tetangga kita? Menurut etimologi (secara asal-usul kata), tetangga adalah siapa saja yang rumahnya dekat dengan kita. Imam Syafi’i menyatakan bahwa tetangga adalah siapa saja yang badannya dekat dengan lainnya. Menurut terminologi, definisinya tak jauh beda dengan pengertian bahasa, yaitu tetangga adalah siapa saja yang rumahnya berdampingan dan dekat dengan kita. Namun ada perbedaan batasan tetangga yang disebutkan oleh para ulama madzhab. Ulama Syafi’iyah dan Hambali berpendapat bahwa yang menjadi tetangga adalah 40 rumah dari segala arah (depan, belakang, kanan dan kiri). Mereka berdalil dengan hadits, “Hak tetangga adalah 40 rumah seperti ini dan seperti itu.” Namun hadits ini dha’if. Ulama Malikiyah berpendapat bahwa disebut tetangga jika berdempatan dilihat dari berbagai penjuru atau antar rumah itu hanya dipisah jalan sempit, bukan dipisah pasar besar atau sungai lebar yang melintang. Begitu pula disebut tetangga kalau dikumpulkan oleh satu masjid atau berada di antara dua masjid yang berdekatan. Bisa jadi pula disebut tetangga dengan patokan ‘urf (anggapan masyarakat) walau tidak memakai batasan tadi. Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa disebut tetangga jika berdampingan atau menempel. Sedangkan ulama Hanafiyah lainnya yaitu Abu Yusuf dan Muhammad berpendapat bahwa tetangga itu yang berdampingan dan yang disatukan oleh masjid. Definisi terakhir ini adalah definisi syar’i dan definisi menurut penilaian masyarakat (‘urf). (Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah, 16: 216-217) Ringkasnya, tetangga adalah siapa saja yang berdampingan dan dekat dengan rumah kita. Mereka ini berhak dapat hak hidup bertetangga. Di antara haknya adalah tidak mengganggu mereka. Dari Abu Hurairah, ia berkata, “Ada seseorang bertanya pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ياَ رَسُوْلَ اللهِ ! إِنَّ فُلاَنَةَ تَقُوْمُ اللَّيْلَ وَتَصُوْمُ النَّهَارَ، وَتَفْعَلُ، وَتَصَدَّقُ، وَتُؤْذِيْ جِيْرَانَهَا بِلِسَانِهَا؟ “Wahai Rasulullah, si fulanah sering melaksanakan shalat di tengah malam dan berpuasa sunnah di siang hari. Dia juga berbuat baik dan bersedekah, tetapi lidahnya sering mengganggu tetangganya.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, لاَ خَيْرَ فِيْهَا، هِيَ مِنْ أَهْلِ النَّارِ “Tidak ada kebaikan di dalam dirinya dan dia adalah penduduk neraka.” Para sahabat lalu berkata, وَفُلاَنَةُ تُصَلِّي الْمَكْتُوْبَةَ، وَتُصْدِقُ بِأَثْوَارٍ ، وَلاَ تُؤْذِي أَحَداً؟ “Terdapat wanita lain. Dia (hanya) melakukan shalat fardhu dan bersedekah dengan gandum, namun ia tidak mengganggu tetangganya.” Beliau bersabda, هِيَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ “Dia adalah dari penduduk surga.” (Shahih) Lihat Ash Shahihah (190) Sangat beruntung jika kita memiliki tetangga yang baik. Dari Nafi’ ibnu ’Abdil Harits berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مِنْ سعَاَدَةِ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ: الْمَسْكَنُ الْوَاسِعُ، وَالْجَارُ الصَّالِحُ، وَالْمَرْكَبُ الْهَنِيْءُ “Di antara kesenangan bagi seorang muslim adalah tempat tinggal yang luas, tetangga yang shalih dan kendaraan yang tenang.” (Shahih Lighairihi, yakni shahih dilihat dari jalur lainnya) Lihat Ash Shahihah (282) Moga manfaat.   Referensi: Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah. Penerbit Kementrian Agama Kuwait. — Ahad dini hari, 10 Safar 1437 H di Darush Sholihin, Warak, Girisekar, Panggang, GK Muhammad Abduh Tuasikal Join Channel Telegram, Twitter, Instagram: @RumayshoCom Tagstetangga

Siapakah Tetangga Kita?

Siapakah tetangga kita? Menurut etimologi (secara asal-usul kata), tetangga adalah siapa saja yang rumahnya dekat dengan kita. Imam Syafi’i menyatakan bahwa tetangga adalah siapa saja yang badannya dekat dengan lainnya. Menurut terminologi, definisinya tak jauh beda dengan pengertian bahasa, yaitu tetangga adalah siapa saja yang rumahnya berdampingan dan dekat dengan kita. Namun ada perbedaan batasan tetangga yang disebutkan oleh para ulama madzhab. Ulama Syafi’iyah dan Hambali berpendapat bahwa yang menjadi tetangga adalah 40 rumah dari segala arah (depan, belakang, kanan dan kiri). Mereka berdalil dengan hadits, “Hak tetangga adalah 40 rumah seperti ini dan seperti itu.” Namun hadits ini dha’if. Ulama Malikiyah berpendapat bahwa disebut tetangga jika berdempatan dilihat dari berbagai penjuru atau antar rumah itu hanya dipisah jalan sempit, bukan dipisah pasar besar atau sungai lebar yang melintang. Begitu pula disebut tetangga kalau dikumpulkan oleh satu masjid atau berada di antara dua masjid yang berdekatan. Bisa jadi pula disebut tetangga dengan patokan ‘urf (anggapan masyarakat) walau tidak memakai batasan tadi. Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa disebut tetangga jika berdampingan atau menempel. Sedangkan ulama Hanafiyah lainnya yaitu Abu Yusuf dan Muhammad berpendapat bahwa tetangga itu yang berdampingan dan yang disatukan oleh masjid. Definisi terakhir ini adalah definisi syar’i dan definisi menurut penilaian masyarakat (‘urf). (Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah, 16: 216-217) Ringkasnya, tetangga adalah siapa saja yang berdampingan dan dekat dengan rumah kita. Mereka ini berhak dapat hak hidup bertetangga. Di antara haknya adalah tidak mengganggu mereka. Dari Abu Hurairah, ia berkata, “Ada seseorang bertanya pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ياَ رَسُوْلَ اللهِ ! إِنَّ فُلاَنَةَ تَقُوْمُ اللَّيْلَ وَتَصُوْمُ النَّهَارَ، وَتَفْعَلُ، وَتَصَدَّقُ، وَتُؤْذِيْ جِيْرَانَهَا بِلِسَانِهَا؟ “Wahai Rasulullah, si fulanah sering melaksanakan shalat di tengah malam dan berpuasa sunnah di siang hari. Dia juga berbuat baik dan bersedekah, tetapi lidahnya sering mengganggu tetangganya.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, لاَ خَيْرَ فِيْهَا، هِيَ مِنْ أَهْلِ النَّارِ “Tidak ada kebaikan di dalam dirinya dan dia adalah penduduk neraka.” Para sahabat lalu berkata, وَفُلاَنَةُ تُصَلِّي الْمَكْتُوْبَةَ، وَتُصْدِقُ بِأَثْوَارٍ ، وَلاَ تُؤْذِي أَحَداً؟ “Terdapat wanita lain. Dia (hanya) melakukan shalat fardhu dan bersedekah dengan gandum, namun ia tidak mengganggu tetangganya.” Beliau bersabda, هِيَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ “Dia adalah dari penduduk surga.” (Shahih) Lihat Ash Shahihah (190) Sangat beruntung jika kita memiliki tetangga yang baik. Dari Nafi’ ibnu ’Abdil Harits berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مِنْ سعَاَدَةِ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ: الْمَسْكَنُ الْوَاسِعُ، وَالْجَارُ الصَّالِحُ، وَالْمَرْكَبُ الْهَنِيْءُ “Di antara kesenangan bagi seorang muslim adalah tempat tinggal yang luas, tetangga yang shalih dan kendaraan yang tenang.” (Shahih Lighairihi, yakni shahih dilihat dari jalur lainnya) Lihat Ash Shahihah (282) Moga manfaat.   Referensi: Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah. Penerbit Kementrian Agama Kuwait. — Ahad dini hari, 10 Safar 1437 H di Darush Sholihin, Warak, Girisekar, Panggang, GK Muhammad Abduh Tuasikal Join Channel Telegram, Twitter, Instagram: @RumayshoCom Tagstetangga
Siapakah tetangga kita? Menurut etimologi (secara asal-usul kata), tetangga adalah siapa saja yang rumahnya dekat dengan kita. Imam Syafi’i menyatakan bahwa tetangga adalah siapa saja yang badannya dekat dengan lainnya. Menurut terminologi, definisinya tak jauh beda dengan pengertian bahasa, yaitu tetangga adalah siapa saja yang rumahnya berdampingan dan dekat dengan kita. Namun ada perbedaan batasan tetangga yang disebutkan oleh para ulama madzhab. Ulama Syafi’iyah dan Hambali berpendapat bahwa yang menjadi tetangga adalah 40 rumah dari segala arah (depan, belakang, kanan dan kiri). Mereka berdalil dengan hadits, “Hak tetangga adalah 40 rumah seperti ini dan seperti itu.” Namun hadits ini dha’if. Ulama Malikiyah berpendapat bahwa disebut tetangga jika berdempatan dilihat dari berbagai penjuru atau antar rumah itu hanya dipisah jalan sempit, bukan dipisah pasar besar atau sungai lebar yang melintang. Begitu pula disebut tetangga kalau dikumpulkan oleh satu masjid atau berada di antara dua masjid yang berdekatan. Bisa jadi pula disebut tetangga dengan patokan ‘urf (anggapan masyarakat) walau tidak memakai batasan tadi. Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa disebut tetangga jika berdampingan atau menempel. Sedangkan ulama Hanafiyah lainnya yaitu Abu Yusuf dan Muhammad berpendapat bahwa tetangga itu yang berdampingan dan yang disatukan oleh masjid. Definisi terakhir ini adalah definisi syar’i dan definisi menurut penilaian masyarakat (‘urf). (Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah, 16: 216-217) Ringkasnya, tetangga adalah siapa saja yang berdampingan dan dekat dengan rumah kita. Mereka ini berhak dapat hak hidup bertetangga. Di antara haknya adalah tidak mengganggu mereka. Dari Abu Hurairah, ia berkata, “Ada seseorang bertanya pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ياَ رَسُوْلَ اللهِ ! إِنَّ فُلاَنَةَ تَقُوْمُ اللَّيْلَ وَتَصُوْمُ النَّهَارَ، وَتَفْعَلُ، وَتَصَدَّقُ، وَتُؤْذِيْ جِيْرَانَهَا بِلِسَانِهَا؟ “Wahai Rasulullah, si fulanah sering melaksanakan shalat di tengah malam dan berpuasa sunnah di siang hari. Dia juga berbuat baik dan bersedekah, tetapi lidahnya sering mengganggu tetangganya.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, لاَ خَيْرَ فِيْهَا، هِيَ مِنْ أَهْلِ النَّارِ “Tidak ada kebaikan di dalam dirinya dan dia adalah penduduk neraka.” Para sahabat lalu berkata, وَفُلاَنَةُ تُصَلِّي الْمَكْتُوْبَةَ، وَتُصْدِقُ بِأَثْوَارٍ ، وَلاَ تُؤْذِي أَحَداً؟ “Terdapat wanita lain. Dia (hanya) melakukan shalat fardhu dan bersedekah dengan gandum, namun ia tidak mengganggu tetangganya.” Beliau bersabda, هِيَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ “Dia adalah dari penduduk surga.” (Shahih) Lihat Ash Shahihah (190) Sangat beruntung jika kita memiliki tetangga yang baik. Dari Nafi’ ibnu ’Abdil Harits berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مِنْ سعَاَدَةِ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ: الْمَسْكَنُ الْوَاسِعُ، وَالْجَارُ الصَّالِحُ، وَالْمَرْكَبُ الْهَنِيْءُ “Di antara kesenangan bagi seorang muslim adalah tempat tinggal yang luas, tetangga yang shalih dan kendaraan yang tenang.” (Shahih Lighairihi, yakni shahih dilihat dari jalur lainnya) Lihat Ash Shahihah (282) Moga manfaat.   Referensi: Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah. Penerbit Kementrian Agama Kuwait. — Ahad dini hari, 10 Safar 1437 H di Darush Sholihin, Warak, Girisekar, Panggang, GK Muhammad Abduh Tuasikal Join Channel Telegram, Twitter, Instagram: @RumayshoCom Tagstetangga


Siapakah tetangga kita? Menurut etimologi (secara asal-usul kata), tetangga adalah siapa saja yang rumahnya dekat dengan kita. Imam Syafi’i menyatakan bahwa tetangga adalah siapa saja yang badannya dekat dengan lainnya. Menurut terminologi, definisinya tak jauh beda dengan pengertian bahasa, yaitu tetangga adalah siapa saja yang rumahnya berdampingan dan dekat dengan kita. Namun ada perbedaan batasan tetangga yang disebutkan oleh para ulama madzhab. Ulama Syafi’iyah dan Hambali berpendapat bahwa yang menjadi tetangga adalah 40 rumah dari segala arah (depan, belakang, kanan dan kiri). Mereka berdalil dengan hadits, “Hak tetangga adalah 40 rumah seperti ini dan seperti itu.” Namun hadits ini dha’if. Ulama Malikiyah berpendapat bahwa disebut tetangga jika berdempatan dilihat dari berbagai penjuru atau antar rumah itu hanya dipisah jalan sempit, bukan dipisah pasar besar atau sungai lebar yang melintang. Begitu pula disebut tetangga kalau dikumpulkan oleh satu masjid atau berada di antara dua masjid yang berdekatan. Bisa jadi pula disebut tetangga dengan patokan ‘urf (anggapan masyarakat) walau tidak memakai batasan tadi. Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa disebut tetangga jika berdampingan atau menempel. Sedangkan ulama Hanafiyah lainnya yaitu Abu Yusuf dan Muhammad berpendapat bahwa tetangga itu yang berdampingan dan yang disatukan oleh masjid. Definisi terakhir ini adalah definisi syar’i dan definisi menurut penilaian masyarakat (‘urf). (Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah, 16: 216-217) Ringkasnya, tetangga adalah siapa saja yang berdampingan dan dekat dengan rumah kita. Mereka ini berhak dapat hak hidup bertetangga. Di antara haknya adalah tidak mengganggu mereka. Dari Abu Hurairah, ia berkata, “Ada seseorang bertanya pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ياَ رَسُوْلَ اللهِ ! إِنَّ فُلاَنَةَ تَقُوْمُ اللَّيْلَ وَتَصُوْمُ النَّهَارَ، وَتَفْعَلُ، وَتَصَدَّقُ، وَتُؤْذِيْ جِيْرَانَهَا بِلِسَانِهَا؟ “Wahai Rasulullah, si fulanah sering melaksanakan shalat di tengah malam dan berpuasa sunnah di siang hari. Dia juga berbuat baik dan bersedekah, tetapi lidahnya sering mengganggu tetangganya.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, لاَ خَيْرَ فِيْهَا، هِيَ مِنْ أَهْلِ النَّارِ “Tidak ada kebaikan di dalam dirinya dan dia adalah penduduk neraka.” Para sahabat lalu berkata, وَفُلاَنَةُ تُصَلِّي الْمَكْتُوْبَةَ، وَتُصْدِقُ بِأَثْوَارٍ ، وَلاَ تُؤْذِي أَحَداً؟ “Terdapat wanita lain. Dia (hanya) melakukan shalat fardhu dan bersedekah dengan gandum, namun ia tidak mengganggu tetangganya.” Beliau bersabda, هِيَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ “Dia adalah dari penduduk surga.” (Shahih) Lihat Ash Shahihah (190) Sangat beruntung jika kita memiliki tetangga yang baik. Dari Nafi’ ibnu ’Abdil Harits berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مِنْ سعَاَدَةِ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ: الْمَسْكَنُ الْوَاسِعُ، وَالْجَارُ الصَّالِحُ، وَالْمَرْكَبُ الْهَنِيْءُ “Di antara kesenangan bagi seorang muslim adalah tempat tinggal yang luas, tetangga yang shalih dan kendaraan yang tenang.” (Shahih Lighairihi, yakni shahih dilihat dari jalur lainnya) Lihat Ash Shahihah (282) Moga manfaat.   Referensi: Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah. Penerbit Kementrian Agama Kuwait. — Ahad dini hari, 10 Safar 1437 H di Darush Sholihin, Warak, Girisekar, Panggang, GK Muhammad Abduh Tuasikal Join Channel Telegram, Twitter, Instagram: @RumayshoCom Tagstetangga

Ibnu Rajab: Menuntut Ilmu Agama, Jalan Singkat Menuju Surga

Ibnu Rajab pernah menyimpulkan, menuntut ilmu agama adalah jalan menuju surga. Bagaimana bisa demikian? Ketika membahas hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ “Siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim, no. 2699). Saat membahas hadits ini, Ibnu Rajab Al-Hambali mengatakan seperti di atas. Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah berkata, “Seharusnya setiap penuntut ilmu berusaha untuk meraih manfaat dari ilmu diin. Karena ilmu itu akan mengantarkan pada Allah dan mempelajari ilmu adalah jalan yang paling singkat menghadap-Nya. Siapa yang menempuh jalan dalam menuntut ilmu dan tidak berhenti dalam mencari ilmu, maka ia akan dihantarkan pada Allah dan dimudahkan masuk surga. Menuntut ilmulah jalan paling ringkas untuk masuk surga. Menuntut ilmu juga adalah jalan yang paling mudah untuk masuk surga. Ilmu ini akan menuntun pada berbagai jalan di dunia dan di akhirat untuk bisa masuk dalam surga. Ingatlah, tidak ada jalan untuk mengenal Allah, untuk menggapai ridha-Nya, untuk makin dekat dengan-Nya, melainkan melalui ilmu bermanfaat yang dengan sebab ilmu itu para rasul diutus oleh Allah, dam sebab Allah menurunkan kitab. Ilmu itulah penuntun dan pemberi petunjuk ketika seseorang berada dalam gelap kebodohan, syubhat (pemikiran sesat) dan keragu-raguan. Oleh karena itu, Al-Qur’an disebut cahaya karena dapat menerangi jalan di saat gelap. Sebagaimana disebutkan dalam firman Allah Ta’ala, يَا أَهْلَ الْكِتَابِ قَدْ جَاءَكُمْ رَسُولُنَا يُبَيِّنُ لَكُمْ كَثِيرًا مِمَّا كُنْتُمْ تُخْفُونَ مِنَ الْكِتَابِ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ قَدْ جَاءَكُمْ مِنَ اللَّهِ نُورٌ وَكِتَابٌ مُبِينٌ (15) يَهْدِي بِهِ اللَّهُ مَنِ اتَّبَعَ رِضْوَانَهُ سُبُلَ السَّلَامِ وَيُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِهِ وَيَهْدِيهِمْ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ (16) “Hai Ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepadamu Rasul Kami, menjelaskan kepadamu banyak dari isi Al-Kitab yang kamu sembunyikan, dan banyak (pula yang) dibiarkannya. Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan Kitab yang menerangkan. Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus.” (QS. Al-Maidah: 15-16) (Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2: 297-298) Wallahu waliyyut taufiq. Moga kita terus semangat meraih ilmu karena ilmulah jalan tercepat menuju surga. Terus semangat yuk belajar Islam lebih dekat …   Referensi: Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam. Cetakan kesepuluh, tahun 1432 H. Ibnu Rajab Al-Hambali. Penerbit Muassasah Ar-Risalah. — Malam Sabtu, 10 Safar 1437 H, 11: 00 PM, @ Darush Sholihin, Warak, Girisekar, Panggang Muhammad Abduh Tuasikal Join Channel Telegram, Twitter, Instagram: @RumayshoCom Tagsbelajar

Ibnu Rajab: Menuntut Ilmu Agama, Jalan Singkat Menuju Surga

Ibnu Rajab pernah menyimpulkan, menuntut ilmu agama adalah jalan menuju surga. Bagaimana bisa demikian? Ketika membahas hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ “Siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim, no. 2699). Saat membahas hadits ini, Ibnu Rajab Al-Hambali mengatakan seperti di atas. Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah berkata, “Seharusnya setiap penuntut ilmu berusaha untuk meraih manfaat dari ilmu diin. Karena ilmu itu akan mengantarkan pada Allah dan mempelajari ilmu adalah jalan yang paling singkat menghadap-Nya. Siapa yang menempuh jalan dalam menuntut ilmu dan tidak berhenti dalam mencari ilmu, maka ia akan dihantarkan pada Allah dan dimudahkan masuk surga. Menuntut ilmulah jalan paling ringkas untuk masuk surga. Menuntut ilmu juga adalah jalan yang paling mudah untuk masuk surga. Ilmu ini akan menuntun pada berbagai jalan di dunia dan di akhirat untuk bisa masuk dalam surga. Ingatlah, tidak ada jalan untuk mengenal Allah, untuk menggapai ridha-Nya, untuk makin dekat dengan-Nya, melainkan melalui ilmu bermanfaat yang dengan sebab ilmu itu para rasul diutus oleh Allah, dam sebab Allah menurunkan kitab. Ilmu itulah penuntun dan pemberi petunjuk ketika seseorang berada dalam gelap kebodohan, syubhat (pemikiran sesat) dan keragu-raguan. Oleh karena itu, Al-Qur’an disebut cahaya karena dapat menerangi jalan di saat gelap. Sebagaimana disebutkan dalam firman Allah Ta’ala, يَا أَهْلَ الْكِتَابِ قَدْ جَاءَكُمْ رَسُولُنَا يُبَيِّنُ لَكُمْ كَثِيرًا مِمَّا كُنْتُمْ تُخْفُونَ مِنَ الْكِتَابِ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ قَدْ جَاءَكُمْ مِنَ اللَّهِ نُورٌ وَكِتَابٌ مُبِينٌ (15) يَهْدِي بِهِ اللَّهُ مَنِ اتَّبَعَ رِضْوَانَهُ سُبُلَ السَّلَامِ وَيُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِهِ وَيَهْدِيهِمْ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ (16) “Hai Ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepadamu Rasul Kami, menjelaskan kepadamu banyak dari isi Al-Kitab yang kamu sembunyikan, dan banyak (pula yang) dibiarkannya. Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan Kitab yang menerangkan. Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus.” (QS. Al-Maidah: 15-16) (Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2: 297-298) Wallahu waliyyut taufiq. Moga kita terus semangat meraih ilmu karena ilmulah jalan tercepat menuju surga. Terus semangat yuk belajar Islam lebih dekat …   Referensi: Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam. Cetakan kesepuluh, tahun 1432 H. Ibnu Rajab Al-Hambali. Penerbit Muassasah Ar-Risalah. — Malam Sabtu, 10 Safar 1437 H, 11: 00 PM, @ Darush Sholihin, Warak, Girisekar, Panggang Muhammad Abduh Tuasikal Join Channel Telegram, Twitter, Instagram: @RumayshoCom Tagsbelajar
Ibnu Rajab pernah menyimpulkan, menuntut ilmu agama adalah jalan menuju surga. Bagaimana bisa demikian? Ketika membahas hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ “Siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim, no. 2699). Saat membahas hadits ini, Ibnu Rajab Al-Hambali mengatakan seperti di atas. Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah berkata, “Seharusnya setiap penuntut ilmu berusaha untuk meraih manfaat dari ilmu diin. Karena ilmu itu akan mengantarkan pada Allah dan mempelajari ilmu adalah jalan yang paling singkat menghadap-Nya. Siapa yang menempuh jalan dalam menuntut ilmu dan tidak berhenti dalam mencari ilmu, maka ia akan dihantarkan pada Allah dan dimudahkan masuk surga. Menuntut ilmulah jalan paling ringkas untuk masuk surga. Menuntut ilmu juga adalah jalan yang paling mudah untuk masuk surga. Ilmu ini akan menuntun pada berbagai jalan di dunia dan di akhirat untuk bisa masuk dalam surga. Ingatlah, tidak ada jalan untuk mengenal Allah, untuk menggapai ridha-Nya, untuk makin dekat dengan-Nya, melainkan melalui ilmu bermanfaat yang dengan sebab ilmu itu para rasul diutus oleh Allah, dam sebab Allah menurunkan kitab. Ilmu itulah penuntun dan pemberi petunjuk ketika seseorang berada dalam gelap kebodohan, syubhat (pemikiran sesat) dan keragu-raguan. Oleh karena itu, Al-Qur’an disebut cahaya karena dapat menerangi jalan di saat gelap. Sebagaimana disebutkan dalam firman Allah Ta’ala, يَا أَهْلَ الْكِتَابِ قَدْ جَاءَكُمْ رَسُولُنَا يُبَيِّنُ لَكُمْ كَثِيرًا مِمَّا كُنْتُمْ تُخْفُونَ مِنَ الْكِتَابِ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ قَدْ جَاءَكُمْ مِنَ اللَّهِ نُورٌ وَكِتَابٌ مُبِينٌ (15) يَهْدِي بِهِ اللَّهُ مَنِ اتَّبَعَ رِضْوَانَهُ سُبُلَ السَّلَامِ وَيُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِهِ وَيَهْدِيهِمْ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ (16) “Hai Ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepadamu Rasul Kami, menjelaskan kepadamu banyak dari isi Al-Kitab yang kamu sembunyikan, dan banyak (pula yang) dibiarkannya. Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan Kitab yang menerangkan. Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus.” (QS. Al-Maidah: 15-16) (Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2: 297-298) Wallahu waliyyut taufiq. Moga kita terus semangat meraih ilmu karena ilmulah jalan tercepat menuju surga. Terus semangat yuk belajar Islam lebih dekat …   Referensi: Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam. Cetakan kesepuluh, tahun 1432 H. Ibnu Rajab Al-Hambali. Penerbit Muassasah Ar-Risalah. — Malam Sabtu, 10 Safar 1437 H, 11: 00 PM, @ Darush Sholihin, Warak, Girisekar, Panggang Muhammad Abduh Tuasikal Join Channel Telegram, Twitter, Instagram: @RumayshoCom Tagsbelajar


Ibnu Rajab pernah menyimpulkan, menuntut ilmu agama adalah jalan menuju surga. Bagaimana bisa demikian? Ketika membahas hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ “Siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim, no. 2699). Saat membahas hadits ini, Ibnu Rajab Al-Hambali mengatakan seperti di atas. Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah berkata, “Seharusnya setiap penuntut ilmu berusaha untuk meraih manfaat dari ilmu diin. Karena ilmu itu akan mengantarkan pada Allah dan mempelajari ilmu adalah jalan yang paling singkat menghadap-Nya. Siapa yang menempuh jalan dalam menuntut ilmu dan tidak berhenti dalam mencari ilmu, maka ia akan dihantarkan pada Allah dan dimudahkan masuk surga. Menuntut ilmulah jalan paling ringkas untuk masuk surga. Menuntut ilmu juga adalah jalan yang paling mudah untuk masuk surga. Ilmu ini akan menuntun pada berbagai jalan di dunia dan di akhirat untuk bisa masuk dalam surga. Ingatlah, tidak ada jalan untuk mengenal Allah, untuk menggapai ridha-Nya, untuk makin dekat dengan-Nya, melainkan melalui ilmu bermanfaat yang dengan sebab ilmu itu para rasul diutus oleh Allah, dam sebab Allah menurunkan kitab. Ilmu itulah penuntun dan pemberi petunjuk ketika seseorang berada dalam gelap kebodohan, syubhat (pemikiran sesat) dan keragu-raguan. Oleh karena itu, Al-Qur’an disebut cahaya karena dapat menerangi jalan di saat gelap. Sebagaimana disebutkan dalam firman Allah Ta’ala, يَا أَهْلَ الْكِتَابِ قَدْ جَاءَكُمْ رَسُولُنَا يُبَيِّنُ لَكُمْ كَثِيرًا مِمَّا كُنْتُمْ تُخْفُونَ مِنَ الْكِتَابِ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ قَدْ جَاءَكُمْ مِنَ اللَّهِ نُورٌ وَكِتَابٌ مُبِينٌ (15) يَهْدِي بِهِ اللَّهُ مَنِ اتَّبَعَ رِضْوَانَهُ سُبُلَ السَّلَامِ وَيُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِهِ وَيَهْدِيهِمْ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ (16) “Hai Ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepadamu Rasul Kami, menjelaskan kepadamu banyak dari isi Al-Kitab yang kamu sembunyikan, dan banyak (pula yang) dibiarkannya. Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan Kitab yang menerangkan. Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus.” (QS. Al-Maidah: 15-16) (Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2: 297-298) Wallahu waliyyut taufiq. Moga kita terus semangat meraih ilmu karena ilmulah jalan tercepat menuju surga. Terus semangat yuk belajar Islam lebih dekat …   Referensi: Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam. Cetakan kesepuluh, tahun 1432 H. Ibnu Rajab Al-Hambali. Penerbit Muassasah Ar-Risalah. — Malam Sabtu, 10 Safar 1437 H, 11: 00 PM, @ Darush Sholihin, Warak, Girisekar, Panggang Muhammad Abduh Tuasikal Join Channel Telegram, Twitter, Instagram: @RumayshoCom Tagsbelajar

Kaedah Fikih: Semakin Sulit dan Banyak, Semakin Besar Pahala

“Amalannya semakin sulit dan banyak, semakin besar pahala.” Kaedah fikih di atas sangat bermanfaat bagi yang ingin mengetahui keutamaan amalan yang satu dibanding lainnya. Dalam kaedah yang dibawakan oleh As-Suyuthi dalam Al-Asybah wa An-Nazhair (hlm. 320) disebutkan, مَا كَانَ أَكْثَرُ فِعْلاً كَانَ أَكْثَرُ فَضْلاً “Amalan yang lebih banyak pengorbanan, lebih banyak keutamaan.” Imam Az-Zarkasi berkata dalam Al-Mantsur, العَمَلُ كُلَّمَا كَثُرَ وَشَقَّ كَانَ أَفْضَلُ مِمَّا لَيْسَ كَذَلِكَ “Amalan yang semakin banyak dan sulit, lebih afdhal daripada amalan yang tidak seperti itu.” Dasar kaedah di atas disimpulkan dari hadits ‘Aisyah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, وَلَكِنَّهَا عَلَى قَدْرِ نَصَبِكِ “Akan tetapi, pahalanya tergantung pada usaha yang dikorbankan.” (HR. Muslim, no. 1211). Demikian dikatakan oleh As-Suyuthi ketika menyebutkan kaedah di atas dalam Al-Asybah wa An-Nazhair (hlm. 320).   Contoh Kaedah Kalau seseorang mengerjakan shalat witir dengan memisahkan dua raka’at lalu satu raka’at, itu lebih utama daripada menyambungkannya. Karena saat itu niatnya bertambah, takbirnya bertambah, dan salamnya juga bertambah. Shalat dalam keadaan berdiri lebih utama daripada duduk. Shalat dalam keadaan duduk lebih utama daripada berbaring. Haji dan umrah dengan manasik sendiri-sendiri (ifrad) lebih utama daripada menggabungkannya dalam manasik qiran.   Yang Keluar dari Kaedah Qashar shalat pada saat safar lebih utama daripada mengerjakan secara tamam (sempurna). Shalat Dhuha dengan delapan raka’at lebih utama dari dua belas raka’at menurut sebagian ulama karena delapan raka’at lebih mencontoh perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Witir dengan tiga raka’at lebih afdhal daripada dengan lima, tujuh, atau sembilan raka’at menurut sebagian ulama. Membaca surat yang pendek (secara utuh) lebih utama daripada membaca sebagian surat walau panjang. Shalat sekali berjama’ah lebih utama daripada shalat sendirian walau shalat sendirian itu dilakukan hingga dua puluh lima kali. Shalat shubuh lebih utama daripada shalat lima waktu lainnya walaupun jumlah rakaatnya lebih sedikit. Shalat sunnah fajar (qabliyah shubuh) dengan ringkas lebih utama daripada shalat tersebut yang lama. Shalat ‘ied lebih utama daripada shalat kusuf (gerhana) walaupun shalat gerhana lebih berat dan lebih banyak amalannya. Menggabungkan antara berkumur-kumur dan memasukkan air dalam hidung dengan tiga kali cidukan tangan lebih afdhal daripada memisah keduanya hingga terbuang enam kali cidukan. Memakan sedikit dari hasil qurban lalu disedekahkan yang tersisa lebih utama daripada menyedekahkan semuanya. Contoh-contoh di atas diringkas dari bahasan As-Suyuthi dalam Al-Asybah wa An-Nazhair, hlm. 320-322. Dan contoh tersebut berarti kembali pada pemahaman As-Suyuthi yang bermadzhab Syafi’i. Semoga bermanfaat.   Referensi: Al-Asybah wa An-Nazhair min Qawa’id wa Furu’ Asy-Syafi’iyyah. Cetakan kelima, tahun 1432 H. Al-Imam Jalal Ad-Din ‘Abdurrahman As-Suyuthi. Penerbit Dar As-Salam. — Jum’at, 8 Safar 1437 H, 10: 57 AM, @ Darush Sholihin, Warak, Girisekar, Panggang Muhammad Abduh Tuasikal Join Channel Telegram, Twitter, Instagram: @RumayshoCom Tagskaedah fikih

Kaedah Fikih: Semakin Sulit dan Banyak, Semakin Besar Pahala

“Amalannya semakin sulit dan banyak, semakin besar pahala.” Kaedah fikih di atas sangat bermanfaat bagi yang ingin mengetahui keutamaan amalan yang satu dibanding lainnya. Dalam kaedah yang dibawakan oleh As-Suyuthi dalam Al-Asybah wa An-Nazhair (hlm. 320) disebutkan, مَا كَانَ أَكْثَرُ فِعْلاً كَانَ أَكْثَرُ فَضْلاً “Amalan yang lebih banyak pengorbanan, lebih banyak keutamaan.” Imam Az-Zarkasi berkata dalam Al-Mantsur, العَمَلُ كُلَّمَا كَثُرَ وَشَقَّ كَانَ أَفْضَلُ مِمَّا لَيْسَ كَذَلِكَ “Amalan yang semakin banyak dan sulit, lebih afdhal daripada amalan yang tidak seperti itu.” Dasar kaedah di atas disimpulkan dari hadits ‘Aisyah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, وَلَكِنَّهَا عَلَى قَدْرِ نَصَبِكِ “Akan tetapi, pahalanya tergantung pada usaha yang dikorbankan.” (HR. Muslim, no. 1211). Demikian dikatakan oleh As-Suyuthi ketika menyebutkan kaedah di atas dalam Al-Asybah wa An-Nazhair (hlm. 320).   Contoh Kaedah Kalau seseorang mengerjakan shalat witir dengan memisahkan dua raka’at lalu satu raka’at, itu lebih utama daripada menyambungkannya. Karena saat itu niatnya bertambah, takbirnya bertambah, dan salamnya juga bertambah. Shalat dalam keadaan berdiri lebih utama daripada duduk. Shalat dalam keadaan duduk lebih utama daripada berbaring. Haji dan umrah dengan manasik sendiri-sendiri (ifrad) lebih utama daripada menggabungkannya dalam manasik qiran.   Yang Keluar dari Kaedah Qashar shalat pada saat safar lebih utama daripada mengerjakan secara tamam (sempurna). Shalat Dhuha dengan delapan raka’at lebih utama dari dua belas raka’at menurut sebagian ulama karena delapan raka’at lebih mencontoh perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Witir dengan tiga raka’at lebih afdhal daripada dengan lima, tujuh, atau sembilan raka’at menurut sebagian ulama. Membaca surat yang pendek (secara utuh) lebih utama daripada membaca sebagian surat walau panjang. Shalat sekali berjama’ah lebih utama daripada shalat sendirian walau shalat sendirian itu dilakukan hingga dua puluh lima kali. Shalat shubuh lebih utama daripada shalat lima waktu lainnya walaupun jumlah rakaatnya lebih sedikit. Shalat sunnah fajar (qabliyah shubuh) dengan ringkas lebih utama daripada shalat tersebut yang lama. Shalat ‘ied lebih utama daripada shalat kusuf (gerhana) walaupun shalat gerhana lebih berat dan lebih banyak amalannya. Menggabungkan antara berkumur-kumur dan memasukkan air dalam hidung dengan tiga kali cidukan tangan lebih afdhal daripada memisah keduanya hingga terbuang enam kali cidukan. Memakan sedikit dari hasil qurban lalu disedekahkan yang tersisa lebih utama daripada menyedekahkan semuanya. Contoh-contoh di atas diringkas dari bahasan As-Suyuthi dalam Al-Asybah wa An-Nazhair, hlm. 320-322. Dan contoh tersebut berarti kembali pada pemahaman As-Suyuthi yang bermadzhab Syafi’i. Semoga bermanfaat.   Referensi: Al-Asybah wa An-Nazhair min Qawa’id wa Furu’ Asy-Syafi’iyyah. Cetakan kelima, tahun 1432 H. Al-Imam Jalal Ad-Din ‘Abdurrahman As-Suyuthi. Penerbit Dar As-Salam. — Jum’at, 8 Safar 1437 H, 10: 57 AM, @ Darush Sholihin, Warak, Girisekar, Panggang Muhammad Abduh Tuasikal Join Channel Telegram, Twitter, Instagram: @RumayshoCom Tagskaedah fikih
“Amalannya semakin sulit dan banyak, semakin besar pahala.” Kaedah fikih di atas sangat bermanfaat bagi yang ingin mengetahui keutamaan amalan yang satu dibanding lainnya. Dalam kaedah yang dibawakan oleh As-Suyuthi dalam Al-Asybah wa An-Nazhair (hlm. 320) disebutkan, مَا كَانَ أَكْثَرُ فِعْلاً كَانَ أَكْثَرُ فَضْلاً “Amalan yang lebih banyak pengorbanan, lebih banyak keutamaan.” Imam Az-Zarkasi berkata dalam Al-Mantsur, العَمَلُ كُلَّمَا كَثُرَ وَشَقَّ كَانَ أَفْضَلُ مِمَّا لَيْسَ كَذَلِكَ “Amalan yang semakin banyak dan sulit, lebih afdhal daripada amalan yang tidak seperti itu.” Dasar kaedah di atas disimpulkan dari hadits ‘Aisyah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, وَلَكِنَّهَا عَلَى قَدْرِ نَصَبِكِ “Akan tetapi, pahalanya tergantung pada usaha yang dikorbankan.” (HR. Muslim, no. 1211). Demikian dikatakan oleh As-Suyuthi ketika menyebutkan kaedah di atas dalam Al-Asybah wa An-Nazhair (hlm. 320).   Contoh Kaedah Kalau seseorang mengerjakan shalat witir dengan memisahkan dua raka’at lalu satu raka’at, itu lebih utama daripada menyambungkannya. Karena saat itu niatnya bertambah, takbirnya bertambah, dan salamnya juga bertambah. Shalat dalam keadaan berdiri lebih utama daripada duduk. Shalat dalam keadaan duduk lebih utama daripada berbaring. Haji dan umrah dengan manasik sendiri-sendiri (ifrad) lebih utama daripada menggabungkannya dalam manasik qiran.   Yang Keluar dari Kaedah Qashar shalat pada saat safar lebih utama daripada mengerjakan secara tamam (sempurna). Shalat Dhuha dengan delapan raka’at lebih utama dari dua belas raka’at menurut sebagian ulama karena delapan raka’at lebih mencontoh perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Witir dengan tiga raka’at lebih afdhal daripada dengan lima, tujuh, atau sembilan raka’at menurut sebagian ulama. Membaca surat yang pendek (secara utuh) lebih utama daripada membaca sebagian surat walau panjang. Shalat sekali berjama’ah lebih utama daripada shalat sendirian walau shalat sendirian itu dilakukan hingga dua puluh lima kali. Shalat shubuh lebih utama daripada shalat lima waktu lainnya walaupun jumlah rakaatnya lebih sedikit. Shalat sunnah fajar (qabliyah shubuh) dengan ringkas lebih utama daripada shalat tersebut yang lama. Shalat ‘ied lebih utama daripada shalat kusuf (gerhana) walaupun shalat gerhana lebih berat dan lebih banyak amalannya. Menggabungkan antara berkumur-kumur dan memasukkan air dalam hidung dengan tiga kali cidukan tangan lebih afdhal daripada memisah keduanya hingga terbuang enam kali cidukan. Memakan sedikit dari hasil qurban lalu disedekahkan yang tersisa lebih utama daripada menyedekahkan semuanya. Contoh-contoh di atas diringkas dari bahasan As-Suyuthi dalam Al-Asybah wa An-Nazhair, hlm. 320-322. Dan contoh tersebut berarti kembali pada pemahaman As-Suyuthi yang bermadzhab Syafi’i. Semoga bermanfaat.   Referensi: Al-Asybah wa An-Nazhair min Qawa’id wa Furu’ Asy-Syafi’iyyah. Cetakan kelima, tahun 1432 H. Al-Imam Jalal Ad-Din ‘Abdurrahman As-Suyuthi. Penerbit Dar As-Salam. — Jum’at, 8 Safar 1437 H, 10: 57 AM, @ Darush Sholihin, Warak, Girisekar, Panggang Muhammad Abduh Tuasikal Join Channel Telegram, Twitter, Instagram: @RumayshoCom Tagskaedah fikih


“Amalannya semakin sulit dan banyak, semakin besar pahala.” Kaedah fikih di atas sangat bermanfaat bagi yang ingin mengetahui keutamaan amalan yang satu dibanding lainnya. Dalam kaedah yang dibawakan oleh As-Suyuthi dalam Al-Asybah wa An-Nazhair (hlm. 320) disebutkan, مَا كَانَ أَكْثَرُ فِعْلاً كَانَ أَكْثَرُ فَضْلاً “Amalan yang lebih banyak pengorbanan, lebih banyak keutamaan.” Imam Az-Zarkasi berkata dalam Al-Mantsur, العَمَلُ كُلَّمَا كَثُرَ وَشَقَّ كَانَ أَفْضَلُ مِمَّا لَيْسَ كَذَلِكَ “Amalan yang semakin banyak dan sulit, lebih afdhal daripada amalan yang tidak seperti itu.” Dasar kaedah di atas disimpulkan dari hadits ‘Aisyah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, وَلَكِنَّهَا عَلَى قَدْرِ نَصَبِكِ “Akan tetapi, pahalanya tergantung pada usaha yang dikorbankan.” (HR. Muslim, no. 1211). Demikian dikatakan oleh As-Suyuthi ketika menyebutkan kaedah di atas dalam Al-Asybah wa An-Nazhair (hlm. 320).   Contoh Kaedah Kalau seseorang mengerjakan shalat witir dengan memisahkan dua raka’at lalu satu raka’at, itu lebih utama daripada menyambungkannya. Karena saat itu niatnya bertambah, takbirnya bertambah, dan salamnya juga bertambah. Shalat dalam keadaan berdiri lebih utama daripada duduk. Shalat dalam keadaan duduk lebih utama daripada berbaring. Haji dan umrah dengan manasik sendiri-sendiri (ifrad) lebih utama daripada menggabungkannya dalam manasik qiran.   Yang Keluar dari Kaedah Qashar shalat pada saat safar lebih utama daripada mengerjakan secara tamam (sempurna). Shalat Dhuha dengan delapan raka’at lebih utama dari dua belas raka’at menurut sebagian ulama karena delapan raka’at lebih mencontoh perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Witir dengan tiga raka’at lebih afdhal daripada dengan lima, tujuh, atau sembilan raka’at menurut sebagian ulama. Membaca surat yang pendek (secara utuh) lebih utama daripada membaca sebagian surat walau panjang. Shalat sekali berjama’ah lebih utama daripada shalat sendirian walau shalat sendirian itu dilakukan hingga dua puluh lima kali. Shalat shubuh lebih utama daripada shalat lima waktu lainnya walaupun jumlah rakaatnya lebih sedikit. Shalat sunnah fajar (qabliyah shubuh) dengan ringkas lebih utama daripada shalat tersebut yang lama. Shalat ‘ied lebih utama daripada shalat kusuf (gerhana) walaupun shalat gerhana lebih berat dan lebih banyak amalannya. Menggabungkan antara berkumur-kumur dan memasukkan air dalam hidung dengan tiga kali cidukan tangan lebih afdhal daripada memisah keduanya hingga terbuang enam kali cidukan. Memakan sedikit dari hasil qurban lalu disedekahkan yang tersisa lebih utama daripada menyedekahkan semuanya. Contoh-contoh di atas diringkas dari bahasan As-Suyuthi dalam Al-Asybah wa An-Nazhair, hlm. 320-322. Dan contoh tersebut berarti kembali pada pemahaman As-Suyuthi yang bermadzhab Syafi’i. Semoga bermanfaat.   Referensi: Al-Asybah wa An-Nazhair min Qawa’id wa Furu’ Asy-Syafi’iyyah. Cetakan kelima, tahun 1432 H. Al-Imam Jalal Ad-Din ‘Abdurrahman As-Suyuthi. Penerbit Dar As-Salam. — Jum’at, 8 Safar 1437 H, 10: 57 AM, @ Darush Sholihin, Warak, Girisekar, Panggang Muhammad Abduh Tuasikal Join Channel Telegram, Twitter, Instagram: @RumayshoCom Tagskaedah fikih
Prev     Next