Tergabung Junub dan Haidh pada Wanita

Bagaimana jika ada wanita yang junub ketika haidh? Mungkinkah? Mungkin saja … Syaikh Shalih Al-Munajjid hafizahullah dalam fatawanya, no. 91793 (https://islamqa.info/ar/91793) berkata bahwa jika seorang wanita haidh mengalami junub atau ia haidh ketika junub, maka ia tetap diperintahkan mandi untuk keadaan junubnya. Ketika sudah mandi seperti itu, maka boleh bagi wanita haidh tadi membaca Al-Qur’an. Namun kalau masih ada junub, tidak boleh membaca Al-Qur’an. Cara mandinya adalah seperti cara mandi wajib lainnya, dimulai dengan berwudhu, lalu kepala disiram tiga kali, lalu menyiram anggota badan sebelah kanan kemudian sebelah kiri, lalu menyiram anggota badan lainnya sehingga seluruh badan terkena air. Ketika sudah mandi untuk junub, maka hadats junubnya terangkat, tersisa hadats haidh. Ibnu Qudamah rahimahullah berkata dalam Al-Mughni (1: 134), فإن اغتسلت للجنابة في زمن حيضها , صح غسلها , وزال حكم الجنابة . نص عليه أحمد , وقال : تزول الجنابة , والحيض لا يزول حتى ينقطع الدم . قال : ولا أعلم أحدا قال : لا تغتسل . إلا عطاء , وقد روي عنه أيضا أنها تغتسل “Jika seorang wanita mandi karena junubnya di waktu haidhnya, mandinya itu sah. Hadats junubnya hilang. Demikian pendapat dari Imam Ahmad. Imam Ahmad berkata bahwa junubnya hilang namun haidhnya tidaklah hilang sampai darahnya berhenti. Imam Ahmad juga berkata bahwa tidak ada yang kuketahui yang menyarankan untuk tidak mandi (karena junub, pen.) kecuali ada pendapat dari ‘Atho’. Namun ada riwayat dari beliau pula yang menyarankan untuk mandi.” Moga bermanfaat. — @ Juanda Airport Surabaya, 3 Rabi’ul Awwal 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagshaidh junub mandi junub

Tergabung Junub dan Haidh pada Wanita

Bagaimana jika ada wanita yang junub ketika haidh? Mungkinkah? Mungkin saja … Syaikh Shalih Al-Munajjid hafizahullah dalam fatawanya, no. 91793 (https://islamqa.info/ar/91793) berkata bahwa jika seorang wanita haidh mengalami junub atau ia haidh ketika junub, maka ia tetap diperintahkan mandi untuk keadaan junubnya. Ketika sudah mandi seperti itu, maka boleh bagi wanita haidh tadi membaca Al-Qur’an. Namun kalau masih ada junub, tidak boleh membaca Al-Qur’an. Cara mandinya adalah seperti cara mandi wajib lainnya, dimulai dengan berwudhu, lalu kepala disiram tiga kali, lalu menyiram anggota badan sebelah kanan kemudian sebelah kiri, lalu menyiram anggota badan lainnya sehingga seluruh badan terkena air. Ketika sudah mandi untuk junub, maka hadats junubnya terangkat, tersisa hadats haidh. Ibnu Qudamah rahimahullah berkata dalam Al-Mughni (1: 134), فإن اغتسلت للجنابة في زمن حيضها , صح غسلها , وزال حكم الجنابة . نص عليه أحمد , وقال : تزول الجنابة , والحيض لا يزول حتى ينقطع الدم . قال : ولا أعلم أحدا قال : لا تغتسل . إلا عطاء , وقد روي عنه أيضا أنها تغتسل “Jika seorang wanita mandi karena junubnya di waktu haidhnya, mandinya itu sah. Hadats junubnya hilang. Demikian pendapat dari Imam Ahmad. Imam Ahmad berkata bahwa junubnya hilang namun haidhnya tidaklah hilang sampai darahnya berhenti. Imam Ahmad juga berkata bahwa tidak ada yang kuketahui yang menyarankan untuk tidak mandi (karena junub, pen.) kecuali ada pendapat dari ‘Atho’. Namun ada riwayat dari beliau pula yang menyarankan untuk mandi.” Moga bermanfaat. — @ Juanda Airport Surabaya, 3 Rabi’ul Awwal 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagshaidh junub mandi junub
Bagaimana jika ada wanita yang junub ketika haidh? Mungkinkah? Mungkin saja … Syaikh Shalih Al-Munajjid hafizahullah dalam fatawanya, no. 91793 (https://islamqa.info/ar/91793) berkata bahwa jika seorang wanita haidh mengalami junub atau ia haidh ketika junub, maka ia tetap diperintahkan mandi untuk keadaan junubnya. Ketika sudah mandi seperti itu, maka boleh bagi wanita haidh tadi membaca Al-Qur’an. Namun kalau masih ada junub, tidak boleh membaca Al-Qur’an. Cara mandinya adalah seperti cara mandi wajib lainnya, dimulai dengan berwudhu, lalu kepala disiram tiga kali, lalu menyiram anggota badan sebelah kanan kemudian sebelah kiri, lalu menyiram anggota badan lainnya sehingga seluruh badan terkena air. Ketika sudah mandi untuk junub, maka hadats junubnya terangkat, tersisa hadats haidh. Ibnu Qudamah rahimahullah berkata dalam Al-Mughni (1: 134), فإن اغتسلت للجنابة في زمن حيضها , صح غسلها , وزال حكم الجنابة . نص عليه أحمد , وقال : تزول الجنابة , والحيض لا يزول حتى ينقطع الدم . قال : ولا أعلم أحدا قال : لا تغتسل . إلا عطاء , وقد روي عنه أيضا أنها تغتسل “Jika seorang wanita mandi karena junubnya di waktu haidhnya, mandinya itu sah. Hadats junubnya hilang. Demikian pendapat dari Imam Ahmad. Imam Ahmad berkata bahwa junubnya hilang namun haidhnya tidaklah hilang sampai darahnya berhenti. Imam Ahmad juga berkata bahwa tidak ada yang kuketahui yang menyarankan untuk tidak mandi (karena junub, pen.) kecuali ada pendapat dari ‘Atho’. Namun ada riwayat dari beliau pula yang menyarankan untuk mandi.” Moga bermanfaat. — @ Juanda Airport Surabaya, 3 Rabi’ul Awwal 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagshaidh junub mandi junub


Bagaimana jika ada wanita yang junub ketika haidh? Mungkinkah? Mungkin saja … Syaikh Shalih Al-Munajjid hafizahullah dalam fatawanya, no. 91793 (https://islamqa.info/ar/91793) berkata bahwa jika seorang wanita haidh mengalami junub atau ia haidh ketika junub, maka ia tetap diperintahkan mandi untuk keadaan junubnya. Ketika sudah mandi seperti itu, maka boleh bagi wanita haidh tadi membaca Al-Qur’an. Namun kalau masih ada junub, tidak boleh membaca Al-Qur’an. Cara mandinya adalah seperti cara mandi wajib lainnya, dimulai dengan berwudhu, lalu kepala disiram tiga kali, lalu menyiram anggota badan sebelah kanan kemudian sebelah kiri, lalu menyiram anggota badan lainnya sehingga seluruh badan terkena air. Ketika sudah mandi untuk junub, maka hadats junubnya terangkat, tersisa hadats haidh. Ibnu Qudamah rahimahullah berkata dalam Al-Mughni (1: 134), فإن اغتسلت للجنابة في زمن حيضها , صح غسلها , وزال حكم الجنابة . نص عليه أحمد , وقال : تزول الجنابة , والحيض لا يزول حتى ينقطع الدم . قال : ولا أعلم أحدا قال : لا تغتسل . إلا عطاء , وقد روي عنه أيضا أنها تغتسل “Jika seorang wanita mandi karena junubnya di waktu haidhnya, mandinya itu sah. Hadats junubnya hilang. Demikian pendapat dari Imam Ahmad. Imam Ahmad berkata bahwa junubnya hilang namun haidhnya tidaklah hilang sampai darahnya berhenti. Imam Ahmad juga berkata bahwa tidak ada yang kuketahui yang menyarankan untuk tidak mandi (karena junub, pen.) kecuali ada pendapat dari ‘Atho’. Namun ada riwayat dari beliau pula yang menyarankan untuk mandi.” Moga bermanfaat. — @ Juanda Airport Surabaya, 3 Rabi’ul Awwal 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagshaidh junub mandi junub

Inilah Manfaatnya Doa Untuk Pemimpin

Mendoakan kebaikan terhadap waliyyul amr mengandung faidah-faidah yang bayak sekali, di antaranya :Pertama : Seorang muslim beribadah dengan do’a ini, karena dia ketika mendengar dan taat kepada waliyyul amr adalah melaksanakan perintah Alloh, karena Allah berfirman (yang artinya): “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kalian“ (QS. An-Nisa’ : 59).Maka seorang muslim mendengar dan mentaati waliyyul amr sebagai suatu ibadah, dan termasuk mendengar dan taat kepada waliyyul amr adalah mendoakan mereka, Al-Imam Nashiruddin Ibnul Munayyir rahimahullah (wafat tahun 681 H) berkata :الدعاء للسلطان الواجب الطاعة ، مشروع بكل حال“Mendoakan seorang penguasa yang wajib ditaati adalah disyari’atkan dalam semua keadaan ” (Al-Intishaf di dalam Hasyiyah Al-Kaasyif 4/105-106).Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz berkata :الدعاء لولي الأمر من أعظم القربات ومن أفضل الطاعات“Mendoakan waliyyul amr termasuk qurbah yang paling agung dan termasuk ketaatan yang paling utama” (Risalah Nashihatul Ummah Fi Jawaabi ‘Asyarati As’ilatin Muhimmah dari Mausu’ah Fatawa Lajnah wa Imamain).Kedua : Mendoakan waliyyul amr adalah melepaskan tanggung jawab menjalankan kewajiban, karena do’a termasuk nasihat, dan nasihat wajib atas setiap muslim, Al-Imam Ahmad bin Hanbal berkata :إِني لأدعو له [أي السلطان ] بالتسديد والتوفيق – في الليل والنهار – والتأييد وأرى ذلك واجبا عليَّ“Sesungguhnya aku mendoakan dia (yaitu penguasa) dengan kelurusan dan taufiq – siang dan malam – serta dukungan dari Allah, dan saya memandang hal itu wajib atasku ” (As-Sunnah oleh Al-Khollal hal. 116).Ketiga : Mendoakan waliyyul amr adalah satu dari tanda-tanda Ahli Sunnah wal Jama’ah, maka orang yang mendoakan waliyyul amr menyandang salah satu sifat dari sifat-sifat Ahli Sunnah wal Jama’ah, Al-Imam Abu Muhammad Al-Barbahari berkata :وإِذا رأيت الرجل يدعو على السلطان فاعلم أنه صاحب هوى ، وإِذا رأيت الرجل يدعو للسلطان بالصلاح ، فاعلم أنه صاحب سنة إن شاء الله“Jika Engkau melihat seseorang mendoakan kejelekan kepada penguasa maka ketahuilah bahwa dia adalah ahli hawa, dan jika Engkau melihat seseorang mendoakan kebaikan kepada penguasa maka ketahuilah bahwa dia adalah ahli Sunnah Insya Allah” (Syarhus Sunnah, hal. 116).Keempat : Sesungguhnya mendoakan waliyyul amr akan kembali manfaatnya kepada para rakyat sendiri, karena jika waliyyul amr baik, maka akan baiklah rakyat dan sejahtera kehidupan mereka, Al-Imam Bukhari meriwayatkan di dalam Shahihnya dari Qais bin Abi Hazim bahwa seorang wanita bertanya kepada Abu Bakar Ash-Shiddiq : “Apakah yang membuat kami tetap di dalam perkara yang baik ini yang didatangkan Alloh setelah Jahiliyyah ?”, Abu Bakar menjawab :بقاؤكم عليه ما استقامت بكم أئمتكم“Tetapnya kalian di atasnya selama istiqamah para pemimpin kalian terhadap kalian” (Shahih Bukhari 3/51).Fudhail bin ‘Iyadh berkata :لو كانت لي دعوةٌ مستجابة ما جعلتها إِلا في السلطان“Seandainya aku memiliki do’a yang mustajab maka tidaklah aku jadikan kecuali pada penguasa”.Ketika ditanyakan tentang maksudnya maka Fudhail bin ‘Iyadh berkata :إذا جعلتُها في نفسي لم تَعْدُني.وإِذا جعلتها في السلطان صَلَح فصَلَح بصلاحه العبادُ والبلاد“Jika saya jadikan do’a itu pada diriku maka tidak akan melampauiku, sedangkan jika saya jadikan pada penguasa maka dengan kebaikannya akan baiklah para hamba dan negeri ” (Diriwayatkan oleh Barbahari di dalam Syarhu Sunnah hal. 116-117 dan Abu Nu’aim di dalam Al-Hilyah 8/91-92 dengan sanad yang shahih ).Kelima : Jika waliyyul amr mendengar bahwa rakyatnya mendoakan kebaikan padanya maka dia akan senang sekali dengan hal itu, yang membuatnya mencintai rakyatnya dan mengupayakan apa saja yang membahagiakan mereka.Ketika Al-Imam Ahmad menulis surat kepada Khalifah Al-Mutawakkil maka sebelum diserahkan kepadanya beliau memusyawarahkannya dengan Ibnu Khaaqan menteri Al-Mutawakkil, Ibnu Khaaqan berkata kepada beliau : “Seyogyanya surat ini ditambah dengan do’a kebaikan untuk khalifah karena dia senang dengannya”, maka Al-Imam Ahmad menambahnya dengan do’a kebaikan kepada khalifah (As-Sunnah oleh Abdullah bin Ahmad bin Hanbal 1/133-134).***Penulis: Ust. Arif Fathul UlumArtikel Muslim.or.id🔍 Allah Maha Pengasih, Doa Agar Dilindungi Dari Orang Jahat, Kehidupan Di Dunia, Hukum Suami Menyakiti Hati Istri Dalam Islam, Doa Untuk Palestina Dan Suriah

Inilah Manfaatnya Doa Untuk Pemimpin

Mendoakan kebaikan terhadap waliyyul amr mengandung faidah-faidah yang bayak sekali, di antaranya :Pertama : Seorang muslim beribadah dengan do’a ini, karena dia ketika mendengar dan taat kepada waliyyul amr adalah melaksanakan perintah Alloh, karena Allah berfirman (yang artinya): “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kalian“ (QS. An-Nisa’ : 59).Maka seorang muslim mendengar dan mentaati waliyyul amr sebagai suatu ibadah, dan termasuk mendengar dan taat kepada waliyyul amr adalah mendoakan mereka, Al-Imam Nashiruddin Ibnul Munayyir rahimahullah (wafat tahun 681 H) berkata :الدعاء للسلطان الواجب الطاعة ، مشروع بكل حال“Mendoakan seorang penguasa yang wajib ditaati adalah disyari’atkan dalam semua keadaan ” (Al-Intishaf di dalam Hasyiyah Al-Kaasyif 4/105-106).Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz berkata :الدعاء لولي الأمر من أعظم القربات ومن أفضل الطاعات“Mendoakan waliyyul amr termasuk qurbah yang paling agung dan termasuk ketaatan yang paling utama” (Risalah Nashihatul Ummah Fi Jawaabi ‘Asyarati As’ilatin Muhimmah dari Mausu’ah Fatawa Lajnah wa Imamain).Kedua : Mendoakan waliyyul amr adalah melepaskan tanggung jawab menjalankan kewajiban, karena do’a termasuk nasihat, dan nasihat wajib atas setiap muslim, Al-Imam Ahmad bin Hanbal berkata :إِني لأدعو له [أي السلطان ] بالتسديد والتوفيق – في الليل والنهار – والتأييد وأرى ذلك واجبا عليَّ“Sesungguhnya aku mendoakan dia (yaitu penguasa) dengan kelurusan dan taufiq – siang dan malam – serta dukungan dari Allah, dan saya memandang hal itu wajib atasku ” (As-Sunnah oleh Al-Khollal hal. 116).Ketiga : Mendoakan waliyyul amr adalah satu dari tanda-tanda Ahli Sunnah wal Jama’ah, maka orang yang mendoakan waliyyul amr menyandang salah satu sifat dari sifat-sifat Ahli Sunnah wal Jama’ah, Al-Imam Abu Muhammad Al-Barbahari berkata :وإِذا رأيت الرجل يدعو على السلطان فاعلم أنه صاحب هوى ، وإِذا رأيت الرجل يدعو للسلطان بالصلاح ، فاعلم أنه صاحب سنة إن شاء الله“Jika Engkau melihat seseorang mendoakan kejelekan kepada penguasa maka ketahuilah bahwa dia adalah ahli hawa, dan jika Engkau melihat seseorang mendoakan kebaikan kepada penguasa maka ketahuilah bahwa dia adalah ahli Sunnah Insya Allah” (Syarhus Sunnah, hal. 116).Keempat : Sesungguhnya mendoakan waliyyul amr akan kembali manfaatnya kepada para rakyat sendiri, karena jika waliyyul amr baik, maka akan baiklah rakyat dan sejahtera kehidupan mereka, Al-Imam Bukhari meriwayatkan di dalam Shahihnya dari Qais bin Abi Hazim bahwa seorang wanita bertanya kepada Abu Bakar Ash-Shiddiq : “Apakah yang membuat kami tetap di dalam perkara yang baik ini yang didatangkan Alloh setelah Jahiliyyah ?”, Abu Bakar menjawab :بقاؤكم عليه ما استقامت بكم أئمتكم“Tetapnya kalian di atasnya selama istiqamah para pemimpin kalian terhadap kalian” (Shahih Bukhari 3/51).Fudhail bin ‘Iyadh berkata :لو كانت لي دعوةٌ مستجابة ما جعلتها إِلا في السلطان“Seandainya aku memiliki do’a yang mustajab maka tidaklah aku jadikan kecuali pada penguasa”.Ketika ditanyakan tentang maksudnya maka Fudhail bin ‘Iyadh berkata :إذا جعلتُها في نفسي لم تَعْدُني.وإِذا جعلتها في السلطان صَلَح فصَلَح بصلاحه العبادُ والبلاد“Jika saya jadikan do’a itu pada diriku maka tidak akan melampauiku, sedangkan jika saya jadikan pada penguasa maka dengan kebaikannya akan baiklah para hamba dan negeri ” (Diriwayatkan oleh Barbahari di dalam Syarhu Sunnah hal. 116-117 dan Abu Nu’aim di dalam Al-Hilyah 8/91-92 dengan sanad yang shahih ).Kelima : Jika waliyyul amr mendengar bahwa rakyatnya mendoakan kebaikan padanya maka dia akan senang sekali dengan hal itu, yang membuatnya mencintai rakyatnya dan mengupayakan apa saja yang membahagiakan mereka.Ketika Al-Imam Ahmad menulis surat kepada Khalifah Al-Mutawakkil maka sebelum diserahkan kepadanya beliau memusyawarahkannya dengan Ibnu Khaaqan menteri Al-Mutawakkil, Ibnu Khaaqan berkata kepada beliau : “Seyogyanya surat ini ditambah dengan do’a kebaikan untuk khalifah karena dia senang dengannya”, maka Al-Imam Ahmad menambahnya dengan do’a kebaikan kepada khalifah (As-Sunnah oleh Abdullah bin Ahmad bin Hanbal 1/133-134).***Penulis: Ust. Arif Fathul UlumArtikel Muslim.or.id🔍 Allah Maha Pengasih, Doa Agar Dilindungi Dari Orang Jahat, Kehidupan Di Dunia, Hukum Suami Menyakiti Hati Istri Dalam Islam, Doa Untuk Palestina Dan Suriah
Mendoakan kebaikan terhadap waliyyul amr mengandung faidah-faidah yang bayak sekali, di antaranya :Pertama : Seorang muslim beribadah dengan do’a ini, karena dia ketika mendengar dan taat kepada waliyyul amr adalah melaksanakan perintah Alloh, karena Allah berfirman (yang artinya): “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kalian“ (QS. An-Nisa’ : 59).Maka seorang muslim mendengar dan mentaati waliyyul amr sebagai suatu ibadah, dan termasuk mendengar dan taat kepada waliyyul amr adalah mendoakan mereka, Al-Imam Nashiruddin Ibnul Munayyir rahimahullah (wafat tahun 681 H) berkata :الدعاء للسلطان الواجب الطاعة ، مشروع بكل حال“Mendoakan seorang penguasa yang wajib ditaati adalah disyari’atkan dalam semua keadaan ” (Al-Intishaf di dalam Hasyiyah Al-Kaasyif 4/105-106).Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz berkata :الدعاء لولي الأمر من أعظم القربات ومن أفضل الطاعات“Mendoakan waliyyul amr termasuk qurbah yang paling agung dan termasuk ketaatan yang paling utama” (Risalah Nashihatul Ummah Fi Jawaabi ‘Asyarati As’ilatin Muhimmah dari Mausu’ah Fatawa Lajnah wa Imamain).Kedua : Mendoakan waliyyul amr adalah melepaskan tanggung jawab menjalankan kewajiban, karena do’a termasuk nasihat, dan nasihat wajib atas setiap muslim, Al-Imam Ahmad bin Hanbal berkata :إِني لأدعو له [أي السلطان ] بالتسديد والتوفيق – في الليل والنهار – والتأييد وأرى ذلك واجبا عليَّ“Sesungguhnya aku mendoakan dia (yaitu penguasa) dengan kelurusan dan taufiq – siang dan malam – serta dukungan dari Allah, dan saya memandang hal itu wajib atasku ” (As-Sunnah oleh Al-Khollal hal. 116).Ketiga : Mendoakan waliyyul amr adalah satu dari tanda-tanda Ahli Sunnah wal Jama’ah, maka orang yang mendoakan waliyyul amr menyandang salah satu sifat dari sifat-sifat Ahli Sunnah wal Jama’ah, Al-Imam Abu Muhammad Al-Barbahari berkata :وإِذا رأيت الرجل يدعو على السلطان فاعلم أنه صاحب هوى ، وإِذا رأيت الرجل يدعو للسلطان بالصلاح ، فاعلم أنه صاحب سنة إن شاء الله“Jika Engkau melihat seseorang mendoakan kejelekan kepada penguasa maka ketahuilah bahwa dia adalah ahli hawa, dan jika Engkau melihat seseorang mendoakan kebaikan kepada penguasa maka ketahuilah bahwa dia adalah ahli Sunnah Insya Allah” (Syarhus Sunnah, hal. 116).Keempat : Sesungguhnya mendoakan waliyyul amr akan kembali manfaatnya kepada para rakyat sendiri, karena jika waliyyul amr baik, maka akan baiklah rakyat dan sejahtera kehidupan mereka, Al-Imam Bukhari meriwayatkan di dalam Shahihnya dari Qais bin Abi Hazim bahwa seorang wanita bertanya kepada Abu Bakar Ash-Shiddiq : “Apakah yang membuat kami tetap di dalam perkara yang baik ini yang didatangkan Alloh setelah Jahiliyyah ?”, Abu Bakar menjawab :بقاؤكم عليه ما استقامت بكم أئمتكم“Tetapnya kalian di atasnya selama istiqamah para pemimpin kalian terhadap kalian” (Shahih Bukhari 3/51).Fudhail bin ‘Iyadh berkata :لو كانت لي دعوةٌ مستجابة ما جعلتها إِلا في السلطان“Seandainya aku memiliki do’a yang mustajab maka tidaklah aku jadikan kecuali pada penguasa”.Ketika ditanyakan tentang maksudnya maka Fudhail bin ‘Iyadh berkata :إذا جعلتُها في نفسي لم تَعْدُني.وإِذا جعلتها في السلطان صَلَح فصَلَح بصلاحه العبادُ والبلاد“Jika saya jadikan do’a itu pada diriku maka tidak akan melampauiku, sedangkan jika saya jadikan pada penguasa maka dengan kebaikannya akan baiklah para hamba dan negeri ” (Diriwayatkan oleh Barbahari di dalam Syarhu Sunnah hal. 116-117 dan Abu Nu’aim di dalam Al-Hilyah 8/91-92 dengan sanad yang shahih ).Kelima : Jika waliyyul amr mendengar bahwa rakyatnya mendoakan kebaikan padanya maka dia akan senang sekali dengan hal itu, yang membuatnya mencintai rakyatnya dan mengupayakan apa saja yang membahagiakan mereka.Ketika Al-Imam Ahmad menulis surat kepada Khalifah Al-Mutawakkil maka sebelum diserahkan kepadanya beliau memusyawarahkannya dengan Ibnu Khaaqan menteri Al-Mutawakkil, Ibnu Khaaqan berkata kepada beliau : “Seyogyanya surat ini ditambah dengan do’a kebaikan untuk khalifah karena dia senang dengannya”, maka Al-Imam Ahmad menambahnya dengan do’a kebaikan kepada khalifah (As-Sunnah oleh Abdullah bin Ahmad bin Hanbal 1/133-134).***Penulis: Ust. Arif Fathul UlumArtikel Muslim.or.id🔍 Allah Maha Pengasih, Doa Agar Dilindungi Dari Orang Jahat, Kehidupan Di Dunia, Hukum Suami Menyakiti Hati Istri Dalam Islam, Doa Untuk Palestina Dan Suriah


Mendoakan kebaikan terhadap waliyyul amr mengandung faidah-faidah yang bayak sekali, di antaranya :Pertama : Seorang muslim beribadah dengan do’a ini, karena dia ketika mendengar dan taat kepada waliyyul amr adalah melaksanakan perintah Alloh, karena Allah berfirman (yang artinya): “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kalian“ (QS. An-Nisa’ : 59).Maka seorang muslim mendengar dan mentaati waliyyul amr sebagai suatu ibadah, dan termasuk mendengar dan taat kepada waliyyul amr adalah mendoakan mereka, Al-Imam Nashiruddin Ibnul Munayyir rahimahullah (wafat tahun 681 H) berkata :الدعاء للسلطان الواجب الطاعة ، مشروع بكل حال“Mendoakan seorang penguasa yang wajib ditaati adalah disyari’atkan dalam semua keadaan ” (Al-Intishaf di dalam Hasyiyah Al-Kaasyif 4/105-106).Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz berkata :الدعاء لولي الأمر من أعظم القربات ومن أفضل الطاعات“Mendoakan waliyyul amr termasuk qurbah yang paling agung dan termasuk ketaatan yang paling utama” (Risalah Nashihatul Ummah Fi Jawaabi ‘Asyarati As’ilatin Muhimmah dari Mausu’ah Fatawa Lajnah wa Imamain).Kedua : Mendoakan waliyyul amr adalah melepaskan tanggung jawab menjalankan kewajiban, karena do’a termasuk nasihat, dan nasihat wajib atas setiap muslim, Al-Imam Ahmad bin Hanbal berkata :إِني لأدعو له [أي السلطان ] بالتسديد والتوفيق – في الليل والنهار – والتأييد وأرى ذلك واجبا عليَّ“Sesungguhnya aku mendoakan dia (yaitu penguasa) dengan kelurusan dan taufiq – siang dan malam – serta dukungan dari Allah, dan saya memandang hal itu wajib atasku ” (As-Sunnah oleh Al-Khollal hal. 116).Ketiga : Mendoakan waliyyul amr adalah satu dari tanda-tanda Ahli Sunnah wal Jama’ah, maka orang yang mendoakan waliyyul amr menyandang salah satu sifat dari sifat-sifat Ahli Sunnah wal Jama’ah, Al-Imam Abu Muhammad Al-Barbahari berkata :وإِذا رأيت الرجل يدعو على السلطان فاعلم أنه صاحب هوى ، وإِذا رأيت الرجل يدعو للسلطان بالصلاح ، فاعلم أنه صاحب سنة إن شاء الله“Jika Engkau melihat seseorang mendoakan kejelekan kepada penguasa maka ketahuilah bahwa dia adalah ahli hawa, dan jika Engkau melihat seseorang mendoakan kebaikan kepada penguasa maka ketahuilah bahwa dia adalah ahli Sunnah Insya Allah” (Syarhus Sunnah, hal. 116).Keempat : Sesungguhnya mendoakan waliyyul amr akan kembali manfaatnya kepada para rakyat sendiri, karena jika waliyyul amr baik, maka akan baiklah rakyat dan sejahtera kehidupan mereka, Al-Imam Bukhari meriwayatkan di dalam Shahihnya dari Qais bin Abi Hazim bahwa seorang wanita bertanya kepada Abu Bakar Ash-Shiddiq : “Apakah yang membuat kami tetap di dalam perkara yang baik ini yang didatangkan Alloh setelah Jahiliyyah ?”, Abu Bakar menjawab :بقاؤكم عليه ما استقامت بكم أئمتكم“Tetapnya kalian di atasnya selama istiqamah para pemimpin kalian terhadap kalian” (Shahih Bukhari 3/51).Fudhail bin ‘Iyadh berkata :لو كانت لي دعوةٌ مستجابة ما جعلتها إِلا في السلطان“Seandainya aku memiliki do’a yang mustajab maka tidaklah aku jadikan kecuali pada penguasa”.Ketika ditanyakan tentang maksudnya maka Fudhail bin ‘Iyadh berkata :إذا جعلتُها في نفسي لم تَعْدُني.وإِذا جعلتها في السلطان صَلَح فصَلَح بصلاحه العبادُ والبلاد“Jika saya jadikan do’a itu pada diriku maka tidak akan melampauiku, sedangkan jika saya jadikan pada penguasa maka dengan kebaikannya akan baiklah para hamba dan negeri ” (Diriwayatkan oleh Barbahari di dalam Syarhu Sunnah hal. 116-117 dan Abu Nu’aim di dalam Al-Hilyah 8/91-92 dengan sanad yang shahih ).Kelima : Jika waliyyul amr mendengar bahwa rakyatnya mendoakan kebaikan padanya maka dia akan senang sekali dengan hal itu, yang membuatnya mencintai rakyatnya dan mengupayakan apa saja yang membahagiakan mereka.Ketika Al-Imam Ahmad menulis surat kepada Khalifah Al-Mutawakkil maka sebelum diserahkan kepadanya beliau memusyawarahkannya dengan Ibnu Khaaqan menteri Al-Mutawakkil, Ibnu Khaaqan berkata kepada beliau : “Seyogyanya surat ini ditambah dengan do’a kebaikan untuk khalifah karena dia senang dengannya”, maka Al-Imam Ahmad menambahnya dengan do’a kebaikan kepada khalifah (As-Sunnah oleh Abdullah bin Ahmad bin Hanbal 1/133-134).***Penulis: Ust. Arif Fathul UlumArtikel Muslim.or.id🔍 Allah Maha Pengasih, Doa Agar Dilindungi Dari Orang Jahat, Kehidupan Di Dunia, Hukum Suami Menyakiti Hati Istri Dalam Islam, Doa Untuk Palestina Dan Suriah

Dengan Niat, Pahala Anda Bisa Seperti Orang Kaya Yang Dermawan

Bagi Anda yang tidak mampu beramal dengan harta, Islam yang agung dan penuh rahmat ini masih memberikan niat yang dengannya Anda bisa menyamai orang kaya yang menginfakkan hartanya di jalan Allah.Renungkanlah potongan sabda Nabi -shollallohu alaihi wasallam- berikut ini:“Dunia ini, hanya untuk empat orang… (yang kedua:) seorang hamba yang ِAllah beri rezeki ilmu (agama), Dia tidak memberinya harta, namun orang tersebut baik niatnya, ia mengatakan: ‘seandainya aku memiliki harta, tentu aku akan beramal seperti amalnya si fulan’, maka dia (diberi pahala) dengan sebab niatnya, dan pahala keduanya sama“. (HR. Attirmidzi: 2325, dishahihkan oleh Sy. Albani).Dari sini, kita bisa mengambil 3 pelajaran berharga: Jangan terkecoh dengan harta. Dan jangan bersedih karena kurang harta.. karena sebenarnya tanpa harta pun Anda juga bisa mendapatkan pahala seperti pahalanya orang kaya yang menginfakkan hartanya di jalan Allah. Inilah bukti Maha Pemurah-nya Allah kepada para hamba-Nya. Tidak perlu iri dengan orang kaya, karena belum tentu kita akan kuat menghadapi fitnah harta, bila ia benar-benar ada di tangan kita.. padahal di sisi lain, tanpa harta pun kita bisa mengimbangi pahala orang kaya itu dari hartanya… bahkan dengan niat ini, Allah memberikan Anda pahala dengan lebih mudah dan tanpa resiko. Niat adalah sumber pahala yang sangat agung, mudah, dan tanpa modal untuk mendapatkannya. Sudah seharusnya kita benar-benar memperhatikannya… sayangnya, kebanyakan orang malah melalaikannya. Semoga Allah memberikan taufiqNya kepada kita dalam menata hati dan niat kita, amin.***Penulis: Ust. Musyaffa Ad Darini MA.Artikel Muslim.or.id🔍 Shalat Jenazah Sesuai Sunnah, Puasa Tanpa Sholat Ibarat, Nasihat Lukmanul Hakim, Reaksi Ruqyah Mandiri, Buku Hadits Shahih Bukhari

Dengan Niat, Pahala Anda Bisa Seperti Orang Kaya Yang Dermawan

Bagi Anda yang tidak mampu beramal dengan harta, Islam yang agung dan penuh rahmat ini masih memberikan niat yang dengannya Anda bisa menyamai orang kaya yang menginfakkan hartanya di jalan Allah.Renungkanlah potongan sabda Nabi -shollallohu alaihi wasallam- berikut ini:“Dunia ini, hanya untuk empat orang… (yang kedua:) seorang hamba yang ِAllah beri rezeki ilmu (agama), Dia tidak memberinya harta, namun orang tersebut baik niatnya, ia mengatakan: ‘seandainya aku memiliki harta, tentu aku akan beramal seperti amalnya si fulan’, maka dia (diberi pahala) dengan sebab niatnya, dan pahala keduanya sama“. (HR. Attirmidzi: 2325, dishahihkan oleh Sy. Albani).Dari sini, kita bisa mengambil 3 pelajaran berharga: Jangan terkecoh dengan harta. Dan jangan bersedih karena kurang harta.. karena sebenarnya tanpa harta pun Anda juga bisa mendapatkan pahala seperti pahalanya orang kaya yang menginfakkan hartanya di jalan Allah. Inilah bukti Maha Pemurah-nya Allah kepada para hamba-Nya. Tidak perlu iri dengan orang kaya, karena belum tentu kita akan kuat menghadapi fitnah harta, bila ia benar-benar ada di tangan kita.. padahal di sisi lain, tanpa harta pun kita bisa mengimbangi pahala orang kaya itu dari hartanya… bahkan dengan niat ini, Allah memberikan Anda pahala dengan lebih mudah dan tanpa resiko. Niat adalah sumber pahala yang sangat agung, mudah, dan tanpa modal untuk mendapatkannya. Sudah seharusnya kita benar-benar memperhatikannya… sayangnya, kebanyakan orang malah melalaikannya. Semoga Allah memberikan taufiqNya kepada kita dalam menata hati dan niat kita, amin.***Penulis: Ust. Musyaffa Ad Darini MA.Artikel Muslim.or.id🔍 Shalat Jenazah Sesuai Sunnah, Puasa Tanpa Sholat Ibarat, Nasihat Lukmanul Hakim, Reaksi Ruqyah Mandiri, Buku Hadits Shahih Bukhari
Bagi Anda yang tidak mampu beramal dengan harta, Islam yang agung dan penuh rahmat ini masih memberikan niat yang dengannya Anda bisa menyamai orang kaya yang menginfakkan hartanya di jalan Allah.Renungkanlah potongan sabda Nabi -shollallohu alaihi wasallam- berikut ini:“Dunia ini, hanya untuk empat orang… (yang kedua:) seorang hamba yang ِAllah beri rezeki ilmu (agama), Dia tidak memberinya harta, namun orang tersebut baik niatnya, ia mengatakan: ‘seandainya aku memiliki harta, tentu aku akan beramal seperti amalnya si fulan’, maka dia (diberi pahala) dengan sebab niatnya, dan pahala keduanya sama“. (HR. Attirmidzi: 2325, dishahihkan oleh Sy. Albani).Dari sini, kita bisa mengambil 3 pelajaran berharga: Jangan terkecoh dengan harta. Dan jangan bersedih karena kurang harta.. karena sebenarnya tanpa harta pun Anda juga bisa mendapatkan pahala seperti pahalanya orang kaya yang menginfakkan hartanya di jalan Allah. Inilah bukti Maha Pemurah-nya Allah kepada para hamba-Nya. Tidak perlu iri dengan orang kaya, karena belum tentu kita akan kuat menghadapi fitnah harta, bila ia benar-benar ada di tangan kita.. padahal di sisi lain, tanpa harta pun kita bisa mengimbangi pahala orang kaya itu dari hartanya… bahkan dengan niat ini, Allah memberikan Anda pahala dengan lebih mudah dan tanpa resiko. Niat adalah sumber pahala yang sangat agung, mudah, dan tanpa modal untuk mendapatkannya. Sudah seharusnya kita benar-benar memperhatikannya… sayangnya, kebanyakan orang malah melalaikannya. Semoga Allah memberikan taufiqNya kepada kita dalam menata hati dan niat kita, amin.***Penulis: Ust. Musyaffa Ad Darini MA.Artikel Muslim.or.id🔍 Shalat Jenazah Sesuai Sunnah, Puasa Tanpa Sholat Ibarat, Nasihat Lukmanul Hakim, Reaksi Ruqyah Mandiri, Buku Hadits Shahih Bukhari


Bagi Anda yang tidak mampu beramal dengan harta, Islam yang agung dan penuh rahmat ini masih memberikan niat yang dengannya Anda bisa menyamai orang kaya yang menginfakkan hartanya di jalan Allah.Renungkanlah potongan sabda Nabi -shollallohu alaihi wasallam- berikut ini:“Dunia ini, hanya untuk empat orang… (yang kedua:) seorang hamba yang ِAllah beri rezeki ilmu (agama), Dia tidak memberinya harta, namun orang tersebut baik niatnya, ia mengatakan: ‘seandainya aku memiliki harta, tentu aku akan beramal seperti amalnya si fulan’, maka dia (diberi pahala) dengan sebab niatnya, dan pahala keduanya sama“. (HR. Attirmidzi: 2325, dishahihkan oleh Sy. Albani).Dari sini, kita bisa mengambil 3 pelajaran berharga: Jangan terkecoh dengan harta. Dan jangan bersedih karena kurang harta.. karena sebenarnya tanpa harta pun Anda juga bisa mendapatkan pahala seperti pahalanya orang kaya yang menginfakkan hartanya di jalan Allah. Inilah bukti Maha Pemurah-nya Allah kepada para hamba-Nya. Tidak perlu iri dengan orang kaya, karena belum tentu kita akan kuat menghadapi fitnah harta, bila ia benar-benar ada di tangan kita.. padahal di sisi lain, tanpa harta pun kita bisa mengimbangi pahala orang kaya itu dari hartanya… bahkan dengan niat ini, Allah memberikan Anda pahala dengan lebih mudah dan tanpa resiko. Niat adalah sumber pahala yang sangat agung, mudah, dan tanpa modal untuk mendapatkannya. Sudah seharusnya kita benar-benar memperhatikannya… sayangnya, kebanyakan orang malah melalaikannya. Semoga Allah memberikan taufiqNya kepada kita dalam menata hati dan niat kita, amin.***Penulis: Ust. Musyaffa Ad Darini MA.Artikel Muslim.or.id🔍 Shalat Jenazah Sesuai Sunnah, Puasa Tanpa Sholat Ibarat, Nasihat Lukmanul Hakim, Reaksi Ruqyah Mandiri, Buku Hadits Shahih Bukhari

Yuk Donasi 30 Ribu untuk Jalan Pesantren, Target 97 Juta Rupiah

Jalan ini digunakan untuk kajian di Pesantren Darush Sholihin saat lapangan parkir tidak mencukupi untuk menampung 2000 jamaah rutin pengajian malam Kamis.   Cor Blok Jalan Depan Pesantren dan Utara Pesantren Selatan Volume 305 X 240 = 73.200.000 Utara Volume 55 X 225 = 12.375.000 Total = 97.950.000 Kebutuhan semen sekitar 200 sak   Cara Donasi   Bisa dengan 30 ribu rupiah, moga ada 3200-an orang bisa mencapai target 97 juta rupiah.   Silakan transfer ke rekening: BCA 895009 2905 atas nama Muhammad Abduh Tuasikal BSM 7068478612 atas nama Yayasan Darush Sholihin Gunungkidul BRI 697501000452509 atas nama Yayasan Darush Sholihin *Kode bank BCA 014, BSM 451, BRI 002   Konfirmasi via SMS/WA ke 082313950500 dengan format: Dana Sosial Jalan # Nama Donatur # Alamat # Bank Tujuan Transfer # Tgl Transfer # Besar Donasi. Contoh: Dana Sosial Jalan # Rini # Jogja # BSM# 23 November 2016 # Rp.3.000.000.   * Dana yang disalurkan bisa dana riba atau dana syubhat karena dana seperti itu bisa disalurkan untuk fasilitas umum menurut sebagian ulama. ** Mohon maaf jika respon konfirmasi dari RumayshoCom & DarushSholihin lambat, karena banyak pesan yang masuk.     Info Donasi: 0811267791 — Info DarushSholihin.Com | Rumaysho.Com Tagsdana riba dana syubhat pelebaran jalan

Yuk Donasi 30 Ribu untuk Jalan Pesantren, Target 97 Juta Rupiah

Jalan ini digunakan untuk kajian di Pesantren Darush Sholihin saat lapangan parkir tidak mencukupi untuk menampung 2000 jamaah rutin pengajian malam Kamis.   Cor Blok Jalan Depan Pesantren dan Utara Pesantren Selatan Volume 305 X 240 = 73.200.000 Utara Volume 55 X 225 = 12.375.000 Total = 97.950.000 Kebutuhan semen sekitar 200 sak   Cara Donasi   Bisa dengan 30 ribu rupiah, moga ada 3200-an orang bisa mencapai target 97 juta rupiah.   Silakan transfer ke rekening: BCA 895009 2905 atas nama Muhammad Abduh Tuasikal BSM 7068478612 atas nama Yayasan Darush Sholihin Gunungkidul BRI 697501000452509 atas nama Yayasan Darush Sholihin *Kode bank BCA 014, BSM 451, BRI 002   Konfirmasi via SMS/WA ke 082313950500 dengan format: Dana Sosial Jalan # Nama Donatur # Alamat # Bank Tujuan Transfer # Tgl Transfer # Besar Donasi. Contoh: Dana Sosial Jalan # Rini # Jogja # BSM# 23 November 2016 # Rp.3.000.000.   * Dana yang disalurkan bisa dana riba atau dana syubhat karena dana seperti itu bisa disalurkan untuk fasilitas umum menurut sebagian ulama. ** Mohon maaf jika respon konfirmasi dari RumayshoCom & DarushSholihin lambat, karena banyak pesan yang masuk.     Info Donasi: 0811267791 — Info DarushSholihin.Com | Rumaysho.Com Tagsdana riba dana syubhat pelebaran jalan
Jalan ini digunakan untuk kajian di Pesantren Darush Sholihin saat lapangan parkir tidak mencukupi untuk menampung 2000 jamaah rutin pengajian malam Kamis.   Cor Blok Jalan Depan Pesantren dan Utara Pesantren Selatan Volume 305 X 240 = 73.200.000 Utara Volume 55 X 225 = 12.375.000 Total = 97.950.000 Kebutuhan semen sekitar 200 sak   Cara Donasi   Bisa dengan 30 ribu rupiah, moga ada 3200-an orang bisa mencapai target 97 juta rupiah.   Silakan transfer ke rekening: BCA 895009 2905 atas nama Muhammad Abduh Tuasikal BSM 7068478612 atas nama Yayasan Darush Sholihin Gunungkidul BRI 697501000452509 atas nama Yayasan Darush Sholihin *Kode bank BCA 014, BSM 451, BRI 002   Konfirmasi via SMS/WA ke 082313950500 dengan format: Dana Sosial Jalan # Nama Donatur # Alamat # Bank Tujuan Transfer # Tgl Transfer # Besar Donasi. Contoh: Dana Sosial Jalan # Rini # Jogja # BSM# 23 November 2016 # Rp.3.000.000.   * Dana yang disalurkan bisa dana riba atau dana syubhat karena dana seperti itu bisa disalurkan untuk fasilitas umum menurut sebagian ulama. ** Mohon maaf jika respon konfirmasi dari RumayshoCom & DarushSholihin lambat, karena banyak pesan yang masuk.     Info Donasi: 0811267791 — Info DarushSholihin.Com | Rumaysho.Com Tagsdana riba dana syubhat pelebaran jalan


Jalan ini digunakan untuk kajian di Pesantren Darush Sholihin saat lapangan parkir tidak mencukupi untuk menampung 2000 jamaah rutin pengajian malam Kamis.   Cor Blok Jalan Depan Pesantren dan Utara Pesantren Selatan Volume 305 X 240 = 73.200.000 Utara Volume 55 X 225 = 12.375.000 Total = 97.950.000 Kebutuhan semen sekitar 200 sak   Cara Donasi   Bisa dengan 30 ribu rupiah, moga ada 3200-an orang bisa mencapai target 97 juta rupiah.   Silakan transfer ke rekening: BCA 895009 2905 atas nama Muhammad Abduh Tuasikal BSM 7068478612 atas nama Yayasan Darush Sholihin Gunungkidul BRI 697501000452509 atas nama Yayasan Darush Sholihin *Kode bank BCA 014, BSM 451, BRI 002   Konfirmasi via SMS/WA ke 082313950500 dengan format: Dana Sosial Jalan # Nama Donatur # Alamat # Bank Tujuan Transfer # Tgl Transfer # Besar Donasi. Contoh: Dana Sosial Jalan # Rini # Jogja # BSM# 23 November 2016 # Rp.3.000.000.   * Dana yang disalurkan bisa dana riba atau dana syubhat karena dana seperti itu bisa disalurkan untuk fasilitas umum menurut sebagian ulama. ** Mohon maaf jika respon konfirmasi dari RumayshoCom & DarushSholihin lambat, karena banyak pesan yang masuk.     Info Donasi: 0811267791 — Info DarushSholihin.Com | Rumaysho.Com Tagsdana riba dana syubhat pelebaran jalan

Sanksi Berat Bagi Penista Agama Menurut Dr. Patrialis Akbar

  Apa sanksi jika ada yang melakukan penistaan pada agama? Mengenai sanksi penista agama telah dijelaskan oleh Dr. H. Patrialis Akbar, S.H., M.H. (Hakim Mahkamah Konstitusi) dalam acara Tabligh Akbar Gunungkidul Mengaji V di Masjid Agung Al-Ikhlas Wonosari Gunungkidul pada Ahad Wage, 20 November 2016 beberapa pekan silam. Kajian tersebut bertemakan: “Terorisme, Radikalisme dan Penistaan Agama Menurut  Putusan Mahkamah Konstitusi RI“, di mana kajian tersebut dipandu hingga selesai oleh Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal.   Beberapa pelajaran menarik dari Tabligh Akbar tersebut: Berislam itu mesti fanatik, bukan menyatakan semua agama itu sama. Karena kalau tidak fanatik, pasti akan tidak semangat dalam menjalankan agama, kurang bergairah dalam beribadah. Islam itu tidak setuju dengan tindakan teror dan radikal. Radikalisme sebenarnya sudah ada sejak masa silam sebelum Nabi kita Muhammad. Di masa Nabi Musa juga ada Fir’aun yang dikenal radikal. Penistaan Agama sangat tidak disukai oleh umat mana pun dan pelakunya mesti ditindak. Dahulu ada seorang Kristen menista agama Hindu, hanya disaksikan dua orang saja, dikenakan pasal 156 A KUHP, akhirnya masuk penjara selama 1 tahun 2 bulan.   Silakan download, share dan tonton video tersebut VERSI FULL dalam link Youtube: https://youtu.be/jysKGBGNzDc Ikuti terus video di Channel Darush Sholihin TV Jangan lupa subscribe -berlangganan gratis biar dapat notifikasi- Channel Darush Sholihin TV https://www.youtube.com/channel/UC42PJ3sXqYJwSMPtiWCTfew/featured — Info Rumaysho.Com Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagspenista agama penistaan agama radikal radikalisme teroris terorisme

Sanksi Berat Bagi Penista Agama Menurut Dr. Patrialis Akbar

  Apa sanksi jika ada yang melakukan penistaan pada agama? Mengenai sanksi penista agama telah dijelaskan oleh Dr. H. Patrialis Akbar, S.H., M.H. (Hakim Mahkamah Konstitusi) dalam acara Tabligh Akbar Gunungkidul Mengaji V di Masjid Agung Al-Ikhlas Wonosari Gunungkidul pada Ahad Wage, 20 November 2016 beberapa pekan silam. Kajian tersebut bertemakan: “Terorisme, Radikalisme dan Penistaan Agama Menurut  Putusan Mahkamah Konstitusi RI“, di mana kajian tersebut dipandu hingga selesai oleh Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal.   Beberapa pelajaran menarik dari Tabligh Akbar tersebut: Berislam itu mesti fanatik, bukan menyatakan semua agama itu sama. Karena kalau tidak fanatik, pasti akan tidak semangat dalam menjalankan agama, kurang bergairah dalam beribadah. Islam itu tidak setuju dengan tindakan teror dan radikal. Radikalisme sebenarnya sudah ada sejak masa silam sebelum Nabi kita Muhammad. Di masa Nabi Musa juga ada Fir’aun yang dikenal radikal. Penistaan Agama sangat tidak disukai oleh umat mana pun dan pelakunya mesti ditindak. Dahulu ada seorang Kristen menista agama Hindu, hanya disaksikan dua orang saja, dikenakan pasal 156 A KUHP, akhirnya masuk penjara selama 1 tahun 2 bulan.   Silakan download, share dan tonton video tersebut VERSI FULL dalam link Youtube: https://youtu.be/jysKGBGNzDc Ikuti terus video di Channel Darush Sholihin TV Jangan lupa subscribe -berlangganan gratis biar dapat notifikasi- Channel Darush Sholihin TV https://www.youtube.com/channel/UC42PJ3sXqYJwSMPtiWCTfew/featured — Info Rumaysho.Com Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagspenista agama penistaan agama radikal radikalisme teroris terorisme
  Apa sanksi jika ada yang melakukan penistaan pada agama? Mengenai sanksi penista agama telah dijelaskan oleh Dr. H. Patrialis Akbar, S.H., M.H. (Hakim Mahkamah Konstitusi) dalam acara Tabligh Akbar Gunungkidul Mengaji V di Masjid Agung Al-Ikhlas Wonosari Gunungkidul pada Ahad Wage, 20 November 2016 beberapa pekan silam. Kajian tersebut bertemakan: “Terorisme, Radikalisme dan Penistaan Agama Menurut  Putusan Mahkamah Konstitusi RI“, di mana kajian tersebut dipandu hingga selesai oleh Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal.   Beberapa pelajaran menarik dari Tabligh Akbar tersebut: Berislam itu mesti fanatik, bukan menyatakan semua agama itu sama. Karena kalau tidak fanatik, pasti akan tidak semangat dalam menjalankan agama, kurang bergairah dalam beribadah. Islam itu tidak setuju dengan tindakan teror dan radikal. Radikalisme sebenarnya sudah ada sejak masa silam sebelum Nabi kita Muhammad. Di masa Nabi Musa juga ada Fir’aun yang dikenal radikal. Penistaan Agama sangat tidak disukai oleh umat mana pun dan pelakunya mesti ditindak. Dahulu ada seorang Kristen menista agama Hindu, hanya disaksikan dua orang saja, dikenakan pasal 156 A KUHP, akhirnya masuk penjara selama 1 tahun 2 bulan.   Silakan download, share dan tonton video tersebut VERSI FULL dalam link Youtube: https://youtu.be/jysKGBGNzDc Ikuti terus video di Channel Darush Sholihin TV Jangan lupa subscribe -berlangganan gratis biar dapat notifikasi- Channel Darush Sholihin TV https://www.youtube.com/channel/UC42PJ3sXqYJwSMPtiWCTfew/featured — Info Rumaysho.Com Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagspenista agama penistaan agama radikal radikalisme teroris terorisme


  Apa sanksi jika ada yang melakukan penistaan pada agama? Mengenai sanksi penista agama telah dijelaskan oleh Dr. H. Patrialis Akbar, S.H., M.H. (Hakim Mahkamah Konstitusi) dalam acara Tabligh Akbar Gunungkidul Mengaji V di Masjid Agung Al-Ikhlas Wonosari Gunungkidul pada Ahad Wage, 20 November 2016 beberapa pekan silam. Kajian tersebut bertemakan: “Terorisme, Radikalisme dan Penistaan Agama Menurut  Putusan Mahkamah Konstitusi RI“, di mana kajian tersebut dipandu hingga selesai oleh Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal.   Beberapa pelajaran menarik dari Tabligh Akbar tersebut: Berislam itu mesti fanatik, bukan menyatakan semua agama itu sama. Karena kalau tidak fanatik, pasti akan tidak semangat dalam menjalankan agama, kurang bergairah dalam beribadah. Islam itu tidak setuju dengan tindakan teror dan radikal. Radikalisme sebenarnya sudah ada sejak masa silam sebelum Nabi kita Muhammad. Di masa Nabi Musa juga ada Fir’aun yang dikenal radikal. Penistaan Agama sangat tidak disukai oleh umat mana pun dan pelakunya mesti ditindak. Dahulu ada seorang Kristen menista agama Hindu, hanya disaksikan dua orang saja, dikenakan pasal 156 A KUHP, akhirnya masuk penjara selama 1 tahun 2 bulan.   Silakan download, share dan tonton video tersebut VERSI FULL dalam link Youtube: https://youtu.be/jysKGBGNzDc Ikuti terus video di Channel Darush Sholihin TV Jangan lupa subscribe -berlangganan gratis biar dapat notifikasi- Channel Darush Sholihin TV https://www.youtube.com/channel/UC42PJ3sXqYJwSMPtiWCTfew/featured — Info Rumaysho.Com Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagspenista agama penistaan agama radikal radikalisme teroris terorisme

Khutbah Jumat: Beruntunglah Mereka yang Terasing

Beruntunglah manusia yang terasing, menjadi shalih di tengah rusaknya manusia.   Khutbah Pertama   الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ لَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّ وَنُودُوا أَنْ تِلْكُمُ الْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ  صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنَ اللّهُمَّ عَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا، وَانْفَعَنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا، وَزِدْنَا عِلْماً، وَأَرَنَا الحَقَّ حَقّاً وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرَنَا البَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ Amma ba’du Ma’asyirol muslimin rahimani wa rahimakumullah …   Segala puji kita panjatkan pada Allah atas berbagai macam nikmat yang telah Allah anugerahkan pada kita sekalian. Allah masih memberikan kita nikmat sehat, umur panjang. Juga lebih dari itu, kita masih diberikan nikmat iman dan Islam. Atas nikmat tersebut marilah kita bersyukur, wujud syukur kita adalah dengan meningkatkan ketakwaan kita pada Allah.   Allah Ta’ala berfirman, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS. Ali Imran: 102) Shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada junjungan dan suri tauladan kita, Nabi besar kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, juga kepada para sahabat dan istri-istri beliau yang tercinta serta pada setiap pengikut beliau yang mengikuti beliau dengan baik hingga akhir zaman. Siapa yang bershalawat pada Nabi sekali, maka Allah akan membalas shalawatnya sebanyak sepuluh kali, maksudnya akan diberikan rahmat atau ampunan-Nya.   Para jama’ah rahimani wa rahimakumullah …   Kalau kita sendirian di kampung, menjalankan Islam, akan merasa seperti orang yang terasing. Kalau kita berjenggot di kantoran, juga terasing. Kalau kita bercelana cingkrang, juga terasing. Kalau di antara wanita ada yang menutup aurat sempurna bahkan sampai mengenakan cadar, kian terasing. Bahkan berakhlak jujur, ingin mengikuti ajaran sesuai tuntunan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahkan ingin menjauhi kesyirikan, sama halnya kian terasing. Itulah keterasingan Islam saat ini. Namun tak perlu khawatir, berbanggalah menjadi orang yang asing selama berada dalam kebenaran. Thuba lil ghurobaa.   Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, بَدَأَ الإِسْلاَمُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ “Islam datang dalam keadaan yang asing, akan kembali pula dalam keadaan asing. Sungguh beruntungnlah orang yang asing.” (HR. Muslim no. 145).   Al Qadhi ‘Iyadh menyebutkan makna hadits di atas sebagaimana disebutkan oleh Imam Nawawi, أَنَّ الإِسْلام بَدَأَ فِي آحَاد مِنْ النَّاس وَقِلَّة ، ثُمَّ اِنْتَشَرَ وَظَهَرَ ، ثُمَّ سَيَلْحَقُهُ النَّقْص وَالإِخْلال ، حَتَّى لا يَبْقَى إِلا فِي آحَاد وَقِلَّة أَيْضًا كَمَا بَدَأَ “Islam dimulai dari segelintir orang dari sedikitnya manusia. Lalu Islam menyebar dan menampakkan kebesarannya. Kemudian keadaannya akan surut. Sampai Islam berada di tengah keterasingan kembali, berada pada segelintir orang dari sedikitnya manusia pula sebagaimana awalanya. ” (Syarh Shahih Muslim, 2: 143)   ( وَسَيَعُودُ غَرِيبًا ) بِقِلَّةِ مَنْ يَقُوم بِهِ وَيُعِين عَلَيْهِ وَإِنْ كَانَ أَهْله كَثِيرً Kembali dalam keadaan asing karena sedikitnya yang mau menjalankan dan saling menyokong dalam menjalankan syari’at Islam padahal umatnya banyak.   (فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ) الْقَائِمِينَ بِأَمْرِهِ Beruntunglah orang yang asing, yaitu yang menjalankan ajaran Islam tersebut. و”طُوبَى” تُفَسَّر بِالْجَنَّةِ وَبِشَجَرَةٍ عَظِيمَة فِيهَا Thuba sendiri ditafsirkan dengan surga dan pohon besar yang berada di surga.   Para jama’ah rahimani wa rahimakumullah …   Siapa yang Terasing? Orang yang berpegang teguh pada ajaran Islam yang murni, itulah yang selalu teranggap asing. Sebagaimana disebutkan dalam hadits, عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنَ سَنَّةَ أَنَّهُ سَمِعَ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ بَدَأَ الإِسْلاَمُ غَرِيباً ثُمَّ يَعُودُ غَرِيباً كَمَا بَدَأَ فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَنِ الْغُرَبَاءُ قَالَ الَّذِينَ يُصْلِحُونَ إِذَا فَسَدَ النَّاسُ Dari ‘Abdurrahman bin Sannah. Ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabad, “Islam itu akan datang dalam keadaan asing dan kembali dalam keadaan asing seperti awalnya. Beruntunglah orang-orang yang asing.” Lalu ada yang bertanya pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai ghuroba’, lalu beliau menjawab, “(Ghuroba atau orang yang terasing adalah) mereka yang memperbaiki manusia ketika rusak.” (HR. Ahmad 4: 74. Berdasarkan jalur ini, hadits ini dho’if. Namun ada hadits semisal itu riwayat Ahmad 1: 184 dari Sa’ad bin Abi Waqqosh dengan sanad jayyid)   Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, طُوبَى لِلْغُرَبَاءِ فَقِيلَ مَنِ الْغُرَبَاءُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ أُنَاسٌ صَالِحُونَ فِى أُنَاسِ سَوْءٍ كَثِيرٍ مَنْ يَعْصِيهِمْ أَكْثَرُ مِمَّنْ يُطِيعُهُمْ “Beruntunglah orang-orang yang terasing.” “Lalu siapa orang yang terasing wahai Rasulullah”, tanya sahabat. Jawab beliau, “Orang-orang yang shalih yang berada di tengah banyaknya orang-orang yang jelek, lalu orang yang mendurhakainya lebih banyak daripada yang mentaatinya.” (HR. Ahmad 2: 177. Hadits ini hasan lighoirihi, kata Syaikh Syu’aib Al Arnauth)   Contoh … Orang yang ingin jujur dan tidak korupsi akan terasa asing di tengah-tengah rekan kerjanya sendiri. Padahal anti korupsi sudah diajarkan dari sifat amanah yang diajarkan oleh Rasul kita –shallallahu ‘alaihi wa sallam-. Pedagang yang ingin menempuh cara yang halal dan tidak berbuat curang akan terasa asing di tengah-tengah pedagang lainnya. Padahal Islam menuntut kita mencari rezeki dengan cara yang halal dan jujur tanpa berbuat curang karena itulah yang mendatangkan berkah Orang yang ingin rutin shalat ketika safar, juga akan terasa asing di kalangan orang-orang yang tidak shalat. Sama halnya dengan orang yang ingin konsekuen dengan ajaran Nabi, kian terasing dan dia akan memikul cobaan yang berat dan berbagai cemoohan.   Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, يَأْتِى عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ الصَّابِرُ فِيهِمْ عَلَى دِينِهِ كَالْقَابِضِ عَلَى الْجَمْرِ “Akan datang kepada manusia suatu zaman, orang yang berpegang teguh pada agamanya seperti orang yang menggenggam bara api.” (HR. Tirmidzi no. 2260. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini hasan). Jama’ah shalat Jum’at yang semoga senantiasa dirahmati oleh Allah. Demikian khutbah pertama ini. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا َوَاسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ إِنَّهُ هُوَ السَمِيْعُ العَلِيْمُ Khutbah Kedua   الحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالمِيْنَ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَافِ الأَنْبِيَاءِ وَالمرْسَلِيْنَ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ   Amma ba’du Ma’asyirol muslimin rahimani wa rahimakumullah …   Berpeganglah dengan kebenaran walau engkau seorang diri … Ibnu Mas’ud berkata, الجَمَاعَةُ مَا وَافَقَ الحَقَّ وَإِنْ كُنْتَ وَحْدَكَ “Yang disebut jama’ah adalah jika mengikuti kebenaran, walau ia seorang diri.” (Dikeluarkan oleh Al Lalikai dalam Syarh I’tiqod Ahlis Sunnah wal Jama’ah 160 dan Ibnu ‘Asakir dalam Tarikh Dimasyq 2/ 322/ 13). Sebagian salaf mengatakan, عَلَيْكَ بِطَرِيْقِ الحَقِّ وَلاَ تَسْتَوْحِشُ لِقِلَّةِ السَّالِكِيْنَ وَإِيَّاكَ وَطَرِيْقَ البَاطِلِ وَلاَ تَغْتَرُّ بِكَثْرَةِ الهَالِكِيْنَ “Hendaklah engkau menempuh jalan kebenaran. Jangan engkau berkecil hati dengan sedikitnya orang yang mengikuti jalan kebenaran tersebut. Hati-hatilah dengan jalan kebatilan. Jangan engkau tertipu dengan banyaknya orang yang mengikuti yang kan binasa.” (Madarijus Salikin, 1: 22).   Moga kita bisa terus berpegang teguh ajaran Islam di tengah-tengah manusia yang semakin rusak dan moga kita terus berpegang teguh pada kebenaran sampai maut menjemput kita.   Jangan lupa untuk memperbanyak shalawat di hari Jumat ini.   Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أَكْثِرُوا عَلَىَّ مِنَ الصَّلاَةِ فِى كُلِّ يَوْمِ جُمُعَةٍ فَإِنَّ صَلاَةَ أُمَّتِى تُعْرَضُ عَلَىَّ فِى كُلِّ يَوْمِ جُمُعَةٍ ، فَمَنْ كَانَ أَكْثَرَهُمْ عَلَىَّ صَلاَةً كَانَ أَقْرَبَهُمْ مِنِّى مَنْزِلَةً “Perbanyaklah shalawat kepadaku pada setiap Jum’at. Karena shalawat umatku akan diperlihatkan padaku pada setiap Jum’at. Barangsiapa yang banyak bershalawat kepadaku, dialah yang paling dekat denganku pada hari kiamat nanti.” (HR. Al-Baihaqi dalam Sunan Al Kubro. Hadits ini hasan ligoirihi –yaitu hasan dilihat dari jalur lainnya-) إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ Marilah kita memanjatkan doa pada Allah, moga setiap doa kita diperkenankan di hari Jum’at yang penuh berkah ini. اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ، وَجَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَسْمَاعِنَا، وَأَبْصَارِنَا، وَقُلُوبِنَا، وَأَزْوَاجِنَا، وَذُرِّيَّاتِنَا، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ، وَاجْعَلْنَا شَاكِرِينَ لِنِعَمِكَ مُثْنِينَ بِهَا عَلَيْكَ، قَابِلِينَ لَهَا، وَأَتِمِمْهَا عَلَيْنَا رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا اللَّهُمَّ إِنِّا نَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَرِزْقًا طَيِّبًا وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن. وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ   — Naskah Khutbah Jum’at di Masjid Al-Hikmah, Tanjung, Girisekar, Panggang, Gunungkidul, Jum’at Legi, 2 Rabi’ul Awwal 1438 H (2 Desember 2016) Silakan download file PDF: Khutbah Jumat, Beruntunglah Mereka yang Terasing — @ DS, Panggang, Gunungkidul, 2 Rabi’ul Awwal 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagsahlus sunnah

Khutbah Jumat: Beruntunglah Mereka yang Terasing

Beruntunglah manusia yang terasing, menjadi shalih di tengah rusaknya manusia.   Khutbah Pertama   الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ لَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّ وَنُودُوا أَنْ تِلْكُمُ الْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ  صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنَ اللّهُمَّ عَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا، وَانْفَعَنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا، وَزِدْنَا عِلْماً، وَأَرَنَا الحَقَّ حَقّاً وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرَنَا البَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ Amma ba’du Ma’asyirol muslimin rahimani wa rahimakumullah …   Segala puji kita panjatkan pada Allah atas berbagai macam nikmat yang telah Allah anugerahkan pada kita sekalian. Allah masih memberikan kita nikmat sehat, umur panjang. Juga lebih dari itu, kita masih diberikan nikmat iman dan Islam. Atas nikmat tersebut marilah kita bersyukur, wujud syukur kita adalah dengan meningkatkan ketakwaan kita pada Allah.   Allah Ta’ala berfirman, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS. Ali Imran: 102) Shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada junjungan dan suri tauladan kita, Nabi besar kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, juga kepada para sahabat dan istri-istri beliau yang tercinta serta pada setiap pengikut beliau yang mengikuti beliau dengan baik hingga akhir zaman. Siapa yang bershalawat pada Nabi sekali, maka Allah akan membalas shalawatnya sebanyak sepuluh kali, maksudnya akan diberikan rahmat atau ampunan-Nya.   Para jama’ah rahimani wa rahimakumullah …   Kalau kita sendirian di kampung, menjalankan Islam, akan merasa seperti orang yang terasing. Kalau kita berjenggot di kantoran, juga terasing. Kalau kita bercelana cingkrang, juga terasing. Kalau di antara wanita ada yang menutup aurat sempurna bahkan sampai mengenakan cadar, kian terasing. Bahkan berakhlak jujur, ingin mengikuti ajaran sesuai tuntunan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahkan ingin menjauhi kesyirikan, sama halnya kian terasing. Itulah keterasingan Islam saat ini. Namun tak perlu khawatir, berbanggalah menjadi orang yang asing selama berada dalam kebenaran. Thuba lil ghurobaa.   Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, بَدَأَ الإِسْلاَمُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ “Islam datang dalam keadaan yang asing, akan kembali pula dalam keadaan asing. Sungguh beruntungnlah orang yang asing.” (HR. Muslim no. 145).   Al Qadhi ‘Iyadh menyebutkan makna hadits di atas sebagaimana disebutkan oleh Imam Nawawi, أَنَّ الإِسْلام بَدَأَ فِي آحَاد مِنْ النَّاس وَقِلَّة ، ثُمَّ اِنْتَشَرَ وَظَهَرَ ، ثُمَّ سَيَلْحَقُهُ النَّقْص وَالإِخْلال ، حَتَّى لا يَبْقَى إِلا فِي آحَاد وَقِلَّة أَيْضًا كَمَا بَدَأَ “Islam dimulai dari segelintir orang dari sedikitnya manusia. Lalu Islam menyebar dan menampakkan kebesarannya. Kemudian keadaannya akan surut. Sampai Islam berada di tengah keterasingan kembali, berada pada segelintir orang dari sedikitnya manusia pula sebagaimana awalanya. ” (Syarh Shahih Muslim, 2: 143)   ( وَسَيَعُودُ غَرِيبًا ) بِقِلَّةِ مَنْ يَقُوم بِهِ وَيُعِين عَلَيْهِ وَإِنْ كَانَ أَهْله كَثِيرً Kembali dalam keadaan asing karena sedikitnya yang mau menjalankan dan saling menyokong dalam menjalankan syari’at Islam padahal umatnya banyak.   (فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ) الْقَائِمِينَ بِأَمْرِهِ Beruntunglah orang yang asing, yaitu yang menjalankan ajaran Islam tersebut. و”طُوبَى” تُفَسَّر بِالْجَنَّةِ وَبِشَجَرَةٍ عَظِيمَة فِيهَا Thuba sendiri ditafsirkan dengan surga dan pohon besar yang berada di surga.   Para jama’ah rahimani wa rahimakumullah …   Siapa yang Terasing? Orang yang berpegang teguh pada ajaran Islam yang murni, itulah yang selalu teranggap asing. Sebagaimana disebutkan dalam hadits, عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنَ سَنَّةَ أَنَّهُ سَمِعَ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ بَدَأَ الإِسْلاَمُ غَرِيباً ثُمَّ يَعُودُ غَرِيباً كَمَا بَدَأَ فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَنِ الْغُرَبَاءُ قَالَ الَّذِينَ يُصْلِحُونَ إِذَا فَسَدَ النَّاسُ Dari ‘Abdurrahman bin Sannah. Ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabad, “Islam itu akan datang dalam keadaan asing dan kembali dalam keadaan asing seperti awalnya. Beruntunglah orang-orang yang asing.” Lalu ada yang bertanya pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai ghuroba’, lalu beliau menjawab, “(Ghuroba atau orang yang terasing adalah) mereka yang memperbaiki manusia ketika rusak.” (HR. Ahmad 4: 74. Berdasarkan jalur ini, hadits ini dho’if. Namun ada hadits semisal itu riwayat Ahmad 1: 184 dari Sa’ad bin Abi Waqqosh dengan sanad jayyid)   Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, طُوبَى لِلْغُرَبَاءِ فَقِيلَ مَنِ الْغُرَبَاءُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ أُنَاسٌ صَالِحُونَ فِى أُنَاسِ سَوْءٍ كَثِيرٍ مَنْ يَعْصِيهِمْ أَكْثَرُ مِمَّنْ يُطِيعُهُمْ “Beruntunglah orang-orang yang terasing.” “Lalu siapa orang yang terasing wahai Rasulullah”, tanya sahabat. Jawab beliau, “Orang-orang yang shalih yang berada di tengah banyaknya orang-orang yang jelek, lalu orang yang mendurhakainya lebih banyak daripada yang mentaatinya.” (HR. Ahmad 2: 177. Hadits ini hasan lighoirihi, kata Syaikh Syu’aib Al Arnauth)   Contoh … Orang yang ingin jujur dan tidak korupsi akan terasa asing di tengah-tengah rekan kerjanya sendiri. Padahal anti korupsi sudah diajarkan dari sifat amanah yang diajarkan oleh Rasul kita –shallallahu ‘alaihi wa sallam-. Pedagang yang ingin menempuh cara yang halal dan tidak berbuat curang akan terasa asing di tengah-tengah pedagang lainnya. Padahal Islam menuntut kita mencari rezeki dengan cara yang halal dan jujur tanpa berbuat curang karena itulah yang mendatangkan berkah Orang yang ingin rutin shalat ketika safar, juga akan terasa asing di kalangan orang-orang yang tidak shalat. Sama halnya dengan orang yang ingin konsekuen dengan ajaran Nabi, kian terasing dan dia akan memikul cobaan yang berat dan berbagai cemoohan.   Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, يَأْتِى عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ الصَّابِرُ فِيهِمْ عَلَى دِينِهِ كَالْقَابِضِ عَلَى الْجَمْرِ “Akan datang kepada manusia suatu zaman, orang yang berpegang teguh pada agamanya seperti orang yang menggenggam bara api.” (HR. Tirmidzi no. 2260. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini hasan). Jama’ah shalat Jum’at yang semoga senantiasa dirahmati oleh Allah. Demikian khutbah pertama ini. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا َوَاسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ إِنَّهُ هُوَ السَمِيْعُ العَلِيْمُ Khutbah Kedua   الحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالمِيْنَ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَافِ الأَنْبِيَاءِ وَالمرْسَلِيْنَ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ   Amma ba’du Ma’asyirol muslimin rahimani wa rahimakumullah …   Berpeganglah dengan kebenaran walau engkau seorang diri … Ibnu Mas’ud berkata, الجَمَاعَةُ مَا وَافَقَ الحَقَّ وَإِنْ كُنْتَ وَحْدَكَ “Yang disebut jama’ah adalah jika mengikuti kebenaran, walau ia seorang diri.” (Dikeluarkan oleh Al Lalikai dalam Syarh I’tiqod Ahlis Sunnah wal Jama’ah 160 dan Ibnu ‘Asakir dalam Tarikh Dimasyq 2/ 322/ 13). Sebagian salaf mengatakan, عَلَيْكَ بِطَرِيْقِ الحَقِّ وَلاَ تَسْتَوْحِشُ لِقِلَّةِ السَّالِكِيْنَ وَإِيَّاكَ وَطَرِيْقَ البَاطِلِ وَلاَ تَغْتَرُّ بِكَثْرَةِ الهَالِكِيْنَ “Hendaklah engkau menempuh jalan kebenaran. Jangan engkau berkecil hati dengan sedikitnya orang yang mengikuti jalan kebenaran tersebut. Hati-hatilah dengan jalan kebatilan. Jangan engkau tertipu dengan banyaknya orang yang mengikuti yang kan binasa.” (Madarijus Salikin, 1: 22).   Moga kita bisa terus berpegang teguh ajaran Islam di tengah-tengah manusia yang semakin rusak dan moga kita terus berpegang teguh pada kebenaran sampai maut menjemput kita.   Jangan lupa untuk memperbanyak shalawat di hari Jumat ini.   Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أَكْثِرُوا عَلَىَّ مِنَ الصَّلاَةِ فِى كُلِّ يَوْمِ جُمُعَةٍ فَإِنَّ صَلاَةَ أُمَّتِى تُعْرَضُ عَلَىَّ فِى كُلِّ يَوْمِ جُمُعَةٍ ، فَمَنْ كَانَ أَكْثَرَهُمْ عَلَىَّ صَلاَةً كَانَ أَقْرَبَهُمْ مِنِّى مَنْزِلَةً “Perbanyaklah shalawat kepadaku pada setiap Jum’at. Karena shalawat umatku akan diperlihatkan padaku pada setiap Jum’at. Barangsiapa yang banyak bershalawat kepadaku, dialah yang paling dekat denganku pada hari kiamat nanti.” (HR. Al-Baihaqi dalam Sunan Al Kubro. Hadits ini hasan ligoirihi –yaitu hasan dilihat dari jalur lainnya-) إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ Marilah kita memanjatkan doa pada Allah, moga setiap doa kita diperkenankan di hari Jum’at yang penuh berkah ini. اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ، وَجَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَسْمَاعِنَا، وَأَبْصَارِنَا، وَقُلُوبِنَا، وَأَزْوَاجِنَا، وَذُرِّيَّاتِنَا، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ، وَاجْعَلْنَا شَاكِرِينَ لِنِعَمِكَ مُثْنِينَ بِهَا عَلَيْكَ، قَابِلِينَ لَهَا، وَأَتِمِمْهَا عَلَيْنَا رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا اللَّهُمَّ إِنِّا نَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَرِزْقًا طَيِّبًا وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن. وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ   — Naskah Khutbah Jum’at di Masjid Al-Hikmah, Tanjung, Girisekar, Panggang, Gunungkidul, Jum’at Legi, 2 Rabi’ul Awwal 1438 H (2 Desember 2016) Silakan download file PDF: Khutbah Jumat, Beruntunglah Mereka yang Terasing — @ DS, Panggang, Gunungkidul, 2 Rabi’ul Awwal 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagsahlus sunnah
Beruntunglah manusia yang terasing, menjadi shalih di tengah rusaknya manusia.   Khutbah Pertama   الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ لَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّ وَنُودُوا أَنْ تِلْكُمُ الْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ  صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنَ اللّهُمَّ عَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا، وَانْفَعَنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا، وَزِدْنَا عِلْماً، وَأَرَنَا الحَقَّ حَقّاً وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرَنَا البَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ Amma ba’du Ma’asyirol muslimin rahimani wa rahimakumullah …   Segala puji kita panjatkan pada Allah atas berbagai macam nikmat yang telah Allah anugerahkan pada kita sekalian. Allah masih memberikan kita nikmat sehat, umur panjang. Juga lebih dari itu, kita masih diberikan nikmat iman dan Islam. Atas nikmat tersebut marilah kita bersyukur, wujud syukur kita adalah dengan meningkatkan ketakwaan kita pada Allah.   Allah Ta’ala berfirman, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS. Ali Imran: 102) Shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada junjungan dan suri tauladan kita, Nabi besar kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, juga kepada para sahabat dan istri-istri beliau yang tercinta serta pada setiap pengikut beliau yang mengikuti beliau dengan baik hingga akhir zaman. Siapa yang bershalawat pada Nabi sekali, maka Allah akan membalas shalawatnya sebanyak sepuluh kali, maksudnya akan diberikan rahmat atau ampunan-Nya.   Para jama’ah rahimani wa rahimakumullah …   Kalau kita sendirian di kampung, menjalankan Islam, akan merasa seperti orang yang terasing. Kalau kita berjenggot di kantoran, juga terasing. Kalau kita bercelana cingkrang, juga terasing. Kalau di antara wanita ada yang menutup aurat sempurna bahkan sampai mengenakan cadar, kian terasing. Bahkan berakhlak jujur, ingin mengikuti ajaran sesuai tuntunan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahkan ingin menjauhi kesyirikan, sama halnya kian terasing. Itulah keterasingan Islam saat ini. Namun tak perlu khawatir, berbanggalah menjadi orang yang asing selama berada dalam kebenaran. Thuba lil ghurobaa.   Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, بَدَأَ الإِسْلاَمُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ “Islam datang dalam keadaan yang asing, akan kembali pula dalam keadaan asing. Sungguh beruntungnlah orang yang asing.” (HR. Muslim no. 145).   Al Qadhi ‘Iyadh menyebutkan makna hadits di atas sebagaimana disebutkan oleh Imam Nawawi, أَنَّ الإِسْلام بَدَأَ فِي آحَاد مِنْ النَّاس وَقِلَّة ، ثُمَّ اِنْتَشَرَ وَظَهَرَ ، ثُمَّ سَيَلْحَقُهُ النَّقْص وَالإِخْلال ، حَتَّى لا يَبْقَى إِلا فِي آحَاد وَقِلَّة أَيْضًا كَمَا بَدَأَ “Islam dimulai dari segelintir orang dari sedikitnya manusia. Lalu Islam menyebar dan menampakkan kebesarannya. Kemudian keadaannya akan surut. Sampai Islam berada di tengah keterasingan kembali, berada pada segelintir orang dari sedikitnya manusia pula sebagaimana awalanya. ” (Syarh Shahih Muslim, 2: 143)   ( وَسَيَعُودُ غَرِيبًا ) بِقِلَّةِ مَنْ يَقُوم بِهِ وَيُعِين عَلَيْهِ وَإِنْ كَانَ أَهْله كَثِيرً Kembali dalam keadaan asing karena sedikitnya yang mau menjalankan dan saling menyokong dalam menjalankan syari’at Islam padahal umatnya banyak.   (فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ) الْقَائِمِينَ بِأَمْرِهِ Beruntunglah orang yang asing, yaitu yang menjalankan ajaran Islam tersebut. و”طُوبَى” تُفَسَّر بِالْجَنَّةِ وَبِشَجَرَةٍ عَظِيمَة فِيهَا Thuba sendiri ditafsirkan dengan surga dan pohon besar yang berada di surga.   Para jama’ah rahimani wa rahimakumullah …   Siapa yang Terasing? Orang yang berpegang teguh pada ajaran Islam yang murni, itulah yang selalu teranggap asing. Sebagaimana disebutkan dalam hadits, عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنَ سَنَّةَ أَنَّهُ سَمِعَ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ بَدَأَ الإِسْلاَمُ غَرِيباً ثُمَّ يَعُودُ غَرِيباً كَمَا بَدَأَ فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَنِ الْغُرَبَاءُ قَالَ الَّذِينَ يُصْلِحُونَ إِذَا فَسَدَ النَّاسُ Dari ‘Abdurrahman bin Sannah. Ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabad, “Islam itu akan datang dalam keadaan asing dan kembali dalam keadaan asing seperti awalnya. Beruntunglah orang-orang yang asing.” Lalu ada yang bertanya pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai ghuroba’, lalu beliau menjawab, “(Ghuroba atau orang yang terasing adalah) mereka yang memperbaiki manusia ketika rusak.” (HR. Ahmad 4: 74. Berdasarkan jalur ini, hadits ini dho’if. Namun ada hadits semisal itu riwayat Ahmad 1: 184 dari Sa’ad bin Abi Waqqosh dengan sanad jayyid)   Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, طُوبَى لِلْغُرَبَاءِ فَقِيلَ مَنِ الْغُرَبَاءُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ أُنَاسٌ صَالِحُونَ فِى أُنَاسِ سَوْءٍ كَثِيرٍ مَنْ يَعْصِيهِمْ أَكْثَرُ مِمَّنْ يُطِيعُهُمْ “Beruntunglah orang-orang yang terasing.” “Lalu siapa orang yang terasing wahai Rasulullah”, tanya sahabat. Jawab beliau, “Orang-orang yang shalih yang berada di tengah banyaknya orang-orang yang jelek, lalu orang yang mendurhakainya lebih banyak daripada yang mentaatinya.” (HR. Ahmad 2: 177. Hadits ini hasan lighoirihi, kata Syaikh Syu’aib Al Arnauth)   Contoh … Orang yang ingin jujur dan tidak korupsi akan terasa asing di tengah-tengah rekan kerjanya sendiri. Padahal anti korupsi sudah diajarkan dari sifat amanah yang diajarkan oleh Rasul kita –shallallahu ‘alaihi wa sallam-. Pedagang yang ingin menempuh cara yang halal dan tidak berbuat curang akan terasa asing di tengah-tengah pedagang lainnya. Padahal Islam menuntut kita mencari rezeki dengan cara yang halal dan jujur tanpa berbuat curang karena itulah yang mendatangkan berkah Orang yang ingin rutin shalat ketika safar, juga akan terasa asing di kalangan orang-orang yang tidak shalat. Sama halnya dengan orang yang ingin konsekuen dengan ajaran Nabi, kian terasing dan dia akan memikul cobaan yang berat dan berbagai cemoohan.   Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, يَأْتِى عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ الصَّابِرُ فِيهِمْ عَلَى دِينِهِ كَالْقَابِضِ عَلَى الْجَمْرِ “Akan datang kepada manusia suatu zaman, orang yang berpegang teguh pada agamanya seperti orang yang menggenggam bara api.” (HR. Tirmidzi no. 2260. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini hasan). Jama’ah shalat Jum’at yang semoga senantiasa dirahmati oleh Allah. Demikian khutbah pertama ini. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا َوَاسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ إِنَّهُ هُوَ السَمِيْعُ العَلِيْمُ Khutbah Kedua   الحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالمِيْنَ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَافِ الأَنْبِيَاءِ وَالمرْسَلِيْنَ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ   Amma ba’du Ma’asyirol muslimin rahimani wa rahimakumullah …   Berpeganglah dengan kebenaran walau engkau seorang diri … Ibnu Mas’ud berkata, الجَمَاعَةُ مَا وَافَقَ الحَقَّ وَإِنْ كُنْتَ وَحْدَكَ “Yang disebut jama’ah adalah jika mengikuti kebenaran, walau ia seorang diri.” (Dikeluarkan oleh Al Lalikai dalam Syarh I’tiqod Ahlis Sunnah wal Jama’ah 160 dan Ibnu ‘Asakir dalam Tarikh Dimasyq 2/ 322/ 13). Sebagian salaf mengatakan, عَلَيْكَ بِطَرِيْقِ الحَقِّ وَلاَ تَسْتَوْحِشُ لِقِلَّةِ السَّالِكِيْنَ وَإِيَّاكَ وَطَرِيْقَ البَاطِلِ وَلاَ تَغْتَرُّ بِكَثْرَةِ الهَالِكِيْنَ “Hendaklah engkau menempuh jalan kebenaran. Jangan engkau berkecil hati dengan sedikitnya orang yang mengikuti jalan kebenaran tersebut. Hati-hatilah dengan jalan kebatilan. Jangan engkau tertipu dengan banyaknya orang yang mengikuti yang kan binasa.” (Madarijus Salikin, 1: 22).   Moga kita bisa terus berpegang teguh ajaran Islam di tengah-tengah manusia yang semakin rusak dan moga kita terus berpegang teguh pada kebenaran sampai maut menjemput kita.   Jangan lupa untuk memperbanyak shalawat di hari Jumat ini.   Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أَكْثِرُوا عَلَىَّ مِنَ الصَّلاَةِ فِى كُلِّ يَوْمِ جُمُعَةٍ فَإِنَّ صَلاَةَ أُمَّتِى تُعْرَضُ عَلَىَّ فِى كُلِّ يَوْمِ جُمُعَةٍ ، فَمَنْ كَانَ أَكْثَرَهُمْ عَلَىَّ صَلاَةً كَانَ أَقْرَبَهُمْ مِنِّى مَنْزِلَةً “Perbanyaklah shalawat kepadaku pada setiap Jum’at. Karena shalawat umatku akan diperlihatkan padaku pada setiap Jum’at. Barangsiapa yang banyak bershalawat kepadaku, dialah yang paling dekat denganku pada hari kiamat nanti.” (HR. Al-Baihaqi dalam Sunan Al Kubro. Hadits ini hasan ligoirihi –yaitu hasan dilihat dari jalur lainnya-) إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ Marilah kita memanjatkan doa pada Allah, moga setiap doa kita diperkenankan di hari Jum’at yang penuh berkah ini. اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ، وَجَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَسْمَاعِنَا، وَأَبْصَارِنَا، وَقُلُوبِنَا، وَأَزْوَاجِنَا، وَذُرِّيَّاتِنَا، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ، وَاجْعَلْنَا شَاكِرِينَ لِنِعَمِكَ مُثْنِينَ بِهَا عَلَيْكَ، قَابِلِينَ لَهَا، وَأَتِمِمْهَا عَلَيْنَا رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا اللَّهُمَّ إِنِّا نَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَرِزْقًا طَيِّبًا وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن. وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ   — Naskah Khutbah Jum’at di Masjid Al-Hikmah, Tanjung, Girisekar, Panggang, Gunungkidul, Jum’at Legi, 2 Rabi’ul Awwal 1438 H (2 Desember 2016) Silakan download file PDF: Khutbah Jumat, Beruntunglah Mereka yang Terasing — @ DS, Panggang, Gunungkidul, 2 Rabi’ul Awwal 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagsahlus sunnah


Beruntunglah manusia yang terasing, menjadi shalih di tengah rusaknya manusia.   Khutbah Pertama   الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ لَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّ وَنُودُوا أَنْ تِلْكُمُ الْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ  صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنَ اللّهُمَّ عَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا، وَانْفَعَنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا، وَزِدْنَا عِلْماً، وَأَرَنَا الحَقَّ حَقّاً وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرَنَا البَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ Amma ba’du Ma’asyirol muslimin rahimani wa rahimakumullah …   Segala puji kita panjatkan pada Allah atas berbagai macam nikmat yang telah Allah anugerahkan pada kita sekalian. Allah masih memberikan kita nikmat sehat, umur panjang. Juga lebih dari itu, kita masih diberikan nikmat iman dan Islam. Atas nikmat tersebut marilah kita bersyukur, wujud syukur kita adalah dengan meningkatkan ketakwaan kita pada Allah.   Allah Ta’ala berfirman, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS. Ali Imran: 102) Shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada junjungan dan suri tauladan kita, Nabi besar kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, juga kepada para sahabat dan istri-istri beliau yang tercinta serta pada setiap pengikut beliau yang mengikuti beliau dengan baik hingga akhir zaman. Siapa yang bershalawat pada Nabi sekali, maka Allah akan membalas shalawatnya sebanyak sepuluh kali, maksudnya akan diberikan rahmat atau ampunan-Nya.   Para jama’ah rahimani wa rahimakumullah …   Kalau kita sendirian di kampung, menjalankan Islam, akan merasa seperti orang yang terasing. Kalau kita berjenggot di kantoran, juga terasing. Kalau kita bercelana cingkrang, juga terasing. Kalau di antara wanita ada yang menutup aurat sempurna bahkan sampai mengenakan cadar, kian terasing. Bahkan berakhlak jujur, ingin mengikuti ajaran sesuai tuntunan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahkan ingin menjauhi kesyirikan, sama halnya kian terasing. Itulah keterasingan Islam saat ini. Namun tak perlu khawatir, berbanggalah menjadi orang yang asing selama berada dalam kebenaran. Thuba lil ghurobaa.   Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, بَدَأَ الإِسْلاَمُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ “Islam datang dalam keadaan yang asing, akan kembali pula dalam keadaan asing. Sungguh beruntungnlah orang yang asing.” (HR. Muslim no. 145).   Al Qadhi ‘Iyadh menyebutkan makna hadits di atas sebagaimana disebutkan oleh Imam Nawawi, أَنَّ الإِسْلام بَدَأَ فِي آحَاد مِنْ النَّاس وَقِلَّة ، ثُمَّ اِنْتَشَرَ وَظَهَرَ ، ثُمَّ سَيَلْحَقُهُ النَّقْص وَالإِخْلال ، حَتَّى لا يَبْقَى إِلا فِي آحَاد وَقِلَّة أَيْضًا كَمَا بَدَأَ “Islam dimulai dari segelintir orang dari sedikitnya manusia. Lalu Islam menyebar dan menampakkan kebesarannya. Kemudian keadaannya akan surut. Sampai Islam berada di tengah keterasingan kembali, berada pada segelintir orang dari sedikitnya manusia pula sebagaimana awalanya. ” (Syarh Shahih Muslim, 2: 143)   ( وَسَيَعُودُ غَرِيبًا ) بِقِلَّةِ مَنْ يَقُوم بِهِ وَيُعِين عَلَيْهِ وَإِنْ كَانَ أَهْله كَثِيرً Kembali dalam keadaan asing karena sedikitnya yang mau menjalankan dan saling menyokong dalam menjalankan syari’at Islam padahal umatnya banyak.   (فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ) الْقَائِمِينَ بِأَمْرِهِ Beruntunglah orang yang asing, yaitu yang menjalankan ajaran Islam tersebut. و”طُوبَى” تُفَسَّر بِالْجَنَّةِ وَبِشَجَرَةٍ عَظِيمَة فِيهَا Thuba sendiri ditafsirkan dengan surga dan pohon besar yang berada di surga.   Para jama’ah rahimani wa rahimakumullah …   Siapa yang Terasing? Orang yang berpegang teguh pada ajaran Islam yang murni, itulah yang selalu teranggap asing. Sebagaimana disebutkan dalam hadits, عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنَ سَنَّةَ أَنَّهُ سَمِعَ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ بَدَأَ الإِسْلاَمُ غَرِيباً ثُمَّ يَعُودُ غَرِيباً كَمَا بَدَأَ فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَنِ الْغُرَبَاءُ قَالَ الَّذِينَ يُصْلِحُونَ إِذَا فَسَدَ النَّاسُ Dari ‘Abdurrahman bin Sannah. Ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabad, “Islam itu akan datang dalam keadaan asing dan kembali dalam keadaan asing seperti awalnya. Beruntunglah orang-orang yang asing.” Lalu ada yang bertanya pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai ghuroba’, lalu beliau menjawab, “(Ghuroba atau orang yang terasing adalah) mereka yang memperbaiki manusia ketika rusak.” (HR. Ahmad 4: 74. Berdasarkan jalur ini, hadits ini dho’if. Namun ada hadits semisal itu riwayat Ahmad 1: 184 dari Sa’ad bin Abi Waqqosh dengan sanad jayyid)   Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, طُوبَى لِلْغُرَبَاءِ فَقِيلَ مَنِ الْغُرَبَاءُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ أُنَاسٌ صَالِحُونَ فِى أُنَاسِ سَوْءٍ كَثِيرٍ مَنْ يَعْصِيهِمْ أَكْثَرُ مِمَّنْ يُطِيعُهُمْ “Beruntunglah orang-orang yang terasing.” “Lalu siapa orang yang terasing wahai Rasulullah”, tanya sahabat. Jawab beliau, “Orang-orang yang shalih yang berada di tengah banyaknya orang-orang yang jelek, lalu orang yang mendurhakainya lebih banyak daripada yang mentaatinya.” (HR. Ahmad 2: 177. Hadits ini hasan lighoirihi, kata Syaikh Syu’aib Al Arnauth)   Contoh … Orang yang ingin jujur dan tidak korupsi akan terasa asing di tengah-tengah rekan kerjanya sendiri. Padahal anti korupsi sudah diajarkan dari sifat amanah yang diajarkan oleh Rasul kita –shallallahu ‘alaihi wa sallam-. Pedagang yang ingin menempuh cara yang halal dan tidak berbuat curang akan terasa asing di tengah-tengah pedagang lainnya. Padahal Islam menuntut kita mencari rezeki dengan cara yang halal dan jujur tanpa berbuat curang karena itulah yang mendatangkan berkah Orang yang ingin rutin shalat ketika safar, juga akan terasa asing di kalangan orang-orang yang tidak shalat. Sama halnya dengan orang yang ingin konsekuen dengan ajaran Nabi, kian terasing dan dia akan memikul cobaan yang berat dan berbagai cemoohan.   Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, يَأْتِى عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ الصَّابِرُ فِيهِمْ عَلَى دِينِهِ كَالْقَابِضِ عَلَى الْجَمْرِ “Akan datang kepada manusia suatu zaman, orang yang berpegang teguh pada agamanya seperti orang yang menggenggam bara api.” (HR. Tirmidzi no. 2260. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini hasan). Jama’ah shalat Jum’at yang semoga senantiasa dirahmati oleh Allah. Demikian khutbah pertama ini. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا َوَاسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ إِنَّهُ هُوَ السَمِيْعُ العَلِيْمُ Khutbah Kedua   الحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالمِيْنَ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَافِ الأَنْبِيَاءِ وَالمرْسَلِيْنَ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ   Amma ba’du Ma’asyirol muslimin rahimani wa rahimakumullah …   Berpeganglah dengan kebenaran walau engkau seorang diri … Ibnu Mas’ud berkata, الجَمَاعَةُ مَا وَافَقَ الحَقَّ وَإِنْ كُنْتَ وَحْدَكَ “Yang disebut jama’ah adalah jika mengikuti kebenaran, walau ia seorang diri.” (Dikeluarkan oleh Al Lalikai dalam Syarh I’tiqod Ahlis Sunnah wal Jama’ah 160 dan Ibnu ‘Asakir dalam Tarikh Dimasyq 2/ 322/ 13). Sebagian salaf mengatakan, عَلَيْكَ بِطَرِيْقِ الحَقِّ وَلاَ تَسْتَوْحِشُ لِقِلَّةِ السَّالِكِيْنَ وَإِيَّاكَ وَطَرِيْقَ البَاطِلِ وَلاَ تَغْتَرُّ بِكَثْرَةِ الهَالِكِيْنَ “Hendaklah engkau menempuh jalan kebenaran. Jangan engkau berkecil hati dengan sedikitnya orang yang mengikuti jalan kebenaran tersebut. Hati-hatilah dengan jalan kebatilan. Jangan engkau tertipu dengan banyaknya orang yang mengikuti yang kan binasa.” (Madarijus Salikin, 1: 22).   Moga kita bisa terus berpegang teguh ajaran Islam di tengah-tengah manusia yang semakin rusak dan moga kita terus berpegang teguh pada kebenaran sampai maut menjemput kita.   Jangan lupa untuk memperbanyak shalawat di hari Jumat ini.   Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أَكْثِرُوا عَلَىَّ مِنَ الصَّلاَةِ فِى كُلِّ يَوْمِ جُمُعَةٍ فَإِنَّ صَلاَةَ أُمَّتِى تُعْرَضُ عَلَىَّ فِى كُلِّ يَوْمِ جُمُعَةٍ ، فَمَنْ كَانَ أَكْثَرَهُمْ عَلَىَّ صَلاَةً كَانَ أَقْرَبَهُمْ مِنِّى مَنْزِلَةً “Perbanyaklah shalawat kepadaku pada setiap Jum’at. Karena shalawat umatku akan diperlihatkan padaku pada setiap Jum’at. Barangsiapa yang banyak bershalawat kepadaku, dialah yang paling dekat denganku pada hari kiamat nanti.” (HR. Al-Baihaqi dalam Sunan Al Kubro. Hadits ini hasan ligoirihi –yaitu hasan dilihat dari jalur lainnya-) إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ Marilah kita memanjatkan doa pada Allah, moga setiap doa kita diperkenankan di hari Jum’at yang penuh berkah ini. اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ، وَجَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَسْمَاعِنَا، وَأَبْصَارِنَا، وَقُلُوبِنَا، وَأَزْوَاجِنَا، وَذُرِّيَّاتِنَا، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ، وَاجْعَلْنَا شَاكِرِينَ لِنِعَمِكَ مُثْنِينَ بِهَا عَلَيْكَ، قَابِلِينَ لَهَا، وَأَتِمِمْهَا عَلَيْنَا رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا اللَّهُمَّ إِنِّا نَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَرِزْقًا طَيِّبًا وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن. وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ   — Naskah Khutbah Jum’at di Masjid Al-Hikmah, Tanjung, Girisekar, Panggang, Gunungkidul, Jum’at Legi, 2 Rabi’ul Awwal 1438 H (2 Desember 2016) Silakan download file PDF: Khutbah Jumat, Beruntunglah Mereka yang Terasing — @ DS, Panggang, Gunungkidul, 2 Rabi’ul Awwal 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagsahlus sunnah

Pamer Status Facebook “Alhamdulillah, Sudah Bangun Tahajud”, Baikkah?

  Bolehkah membuat status Facebook, “Alhamdulillah, sudah bangun tahajud”? Apa itu termasuk riya’ atau tidak ikhlas? Patut dipahami, amalan yang terbaik adalah amalan yang dilakukan sembunyi-sembunyi kalau memang amalan tersebut yang terbaik adalah disembunyikan. Dan itulah tanda ikhlas, di antara tandanya adalah berusaha menyembunyikan amalan shalih. Dari Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْعَبْدَ التَّقِىَّ الْغَنِىَّ الْخَفِىَّ “Sesungguhnya Allah mencintai hamba yang bertakwa, hamba yang hatinya selalu merasa cukup dan yang suka mengasingkan diri.” (HR. Muslim, no. 2965. Lihat Syarh Shahih Muslim, 18: 84). Makna mengasingkan diri di sini adalah mengasingkan amalannya agar tidak terlihat yang lainnya. Coba perhatikan balasan untuk mereka yang lambungnya jauh dari tempat tidurnya karena sibuk shalat malam, تَتَجَافَى جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَطَمَعًا وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ (16) فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَا أُخْفِيَ لَهُمْ مِنْ قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (17) “Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya dan mereka selalu berdoa kepada Rabbnya dengan penuh rasa takut dan harap, serta mereka menafkahkan apa apa rezki yang Kami berikan. Tak seorangpun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang indah dipandang sebagai balasan bagi mereka, atas apa yang mereka kerjakan.” (QS. As-Sajdah: 16-17) Allah membalas dengan surga yang belum pernah dilihat oleh mata dan belum pernah didengar oleh telinga. Kenapa dibalas dengan sesuatu yang tidak pernah kita lihat? Hal itu dikarenakan shalat malam itu dilakukan diam-diam. Karenanya Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah mengatakan, أخفى القوم أعمالا فأخفى الله تعالى لهم ما لا عين رأت ولا أذن سمعت “Jika suatu kaum menyembunyikan amalannya, maka Allah akan menjanjikan pada mereka sesuatu yang mereka tidak pernah memandangnya dan tidak pernah mendengarnya.” (Tafsir Al-Qurthubi, Al-Jami’ li Ahkam Al-Qur’an, Penerbit Dar Al-Fikr, 14: 67) Ibnul Qayyim juga berkata, تامل كيف قابل ما اخفوه من قيام الليل بالجزاء الذي اخفاه لهم مما لا تعلمه نفس “Renungkanlah, bagaimanakah bentuk balasan bagi yang melaksanakan shalat malam dengan sembunyi-sembunyi, mereka mendapatkan balasan dengan sesuatu yang jiwa mereka tidak mengetahuinya.” Ada cerita juga dari Ayyub As-Sikhtiyani bahwasanya ia melakukan shalat malam semalam penuh, lalu ia sembunyikan amalan tersebut. Ketika datang Shubuh, ia sengaja mengeraskan suaranya seakan-akan baru bangun pada waktu tersebut. (Hilyah Al-Auliya’, 3: 8. Dinukil dari Ta’thir Al-Anfas, hlm. 234) Lihatlah Ayyub, dia shalat semalam suntuk, benar-benar jaga amalannya jangan sampai diketahui oleh orang lain. Sedangkan kita, baru beramal sebentar sudah memamerkan amalan dalam status FB kita. Kalau amalan shalat malam kita disembunyikan, maka akan terhapus dosa sebagaimana kata Ka’ab Al-Ahbar, من تعبد لله ليلة حيث لا يراه أحد يعرفه خرج من ذنوبه كما يخرج من ليلته “Siapa yang beribadah pada Allah pada malam hari saat tak seorang pun melihatnya, maka dosa-dosanya akan keluar sebagaimana ia mau keluar untuk shalat malamnya.” (Hilyah Al-Auliya’, 5: 383. Dinukil dari Ta’thir Al-Anfas, hlm. 235) Mau pamer-pamer status Facebook lagi kalau sudah shalat malam? Silakan ditimbang-timbang. Moga Allah memberi taufik pada kita untuk beramal yang ikhlas karena-Nya. — Diselesaikan saat hujan mengguyur DS, Panggang, Gunungkidul, 1 Rabi’ul Awwal 1438 H Allahumma shoyyiban naafi’a, Ya Allah turunkanlah hujan yang bermanfaat. Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagsikhlas riya shalat malam shalat tahaju

Pamer Status Facebook “Alhamdulillah, Sudah Bangun Tahajud”, Baikkah?

  Bolehkah membuat status Facebook, “Alhamdulillah, sudah bangun tahajud”? Apa itu termasuk riya’ atau tidak ikhlas? Patut dipahami, amalan yang terbaik adalah amalan yang dilakukan sembunyi-sembunyi kalau memang amalan tersebut yang terbaik adalah disembunyikan. Dan itulah tanda ikhlas, di antara tandanya adalah berusaha menyembunyikan amalan shalih. Dari Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْعَبْدَ التَّقِىَّ الْغَنِىَّ الْخَفِىَّ “Sesungguhnya Allah mencintai hamba yang bertakwa, hamba yang hatinya selalu merasa cukup dan yang suka mengasingkan diri.” (HR. Muslim, no. 2965. Lihat Syarh Shahih Muslim, 18: 84). Makna mengasingkan diri di sini adalah mengasingkan amalannya agar tidak terlihat yang lainnya. Coba perhatikan balasan untuk mereka yang lambungnya jauh dari tempat tidurnya karena sibuk shalat malam, تَتَجَافَى جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَطَمَعًا وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ (16) فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَا أُخْفِيَ لَهُمْ مِنْ قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (17) “Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya dan mereka selalu berdoa kepada Rabbnya dengan penuh rasa takut dan harap, serta mereka menafkahkan apa apa rezki yang Kami berikan. Tak seorangpun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang indah dipandang sebagai balasan bagi mereka, atas apa yang mereka kerjakan.” (QS. As-Sajdah: 16-17) Allah membalas dengan surga yang belum pernah dilihat oleh mata dan belum pernah didengar oleh telinga. Kenapa dibalas dengan sesuatu yang tidak pernah kita lihat? Hal itu dikarenakan shalat malam itu dilakukan diam-diam. Karenanya Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah mengatakan, أخفى القوم أعمالا فأخفى الله تعالى لهم ما لا عين رأت ولا أذن سمعت “Jika suatu kaum menyembunyikan amalannya, maka Allah akan menjanjikan pada mereka sesuatu yang mereka tidak pernah memandangnya dan tidak pernah mendengarnya.” (Tafsir Al-Qurthubi, Al-Jami’ li Ahkam Al-Qur’an, Penerbit Dar Al-Fikr, 14: 67) Ibnul Qayyim juga berkata, تامل كيف قابل ما اخفوه من قيام الليل بالجزاء الذي اخفاه لهم مما لا تعلمه نفس “Renungkanlah, bagaimanakah bentuk balasan bagi yang melaksanakan shalat malam dengan sembunyi-sembunyi, mereka mendapatkan balasan dengan sesuatu yang jiwa mereka tidak mengetahuinya.” Ada cerita juga dari Ayyub As-Sikhtiyani bahwasanya ia melakukan shalat malam semalam penuh, lalu ia sembunyikan amalan tersebut. Ketika datang Shubuh, ia sengaja mengeraskan suaranya seakan-akan baru bangun pada waktu tersebut. (Hilyah Al-Auliya’, 3: 8. Dinukil dari Ta’thir Al-Anfas, hlm. 234) Lihatlah Ayyub, dia shalat semalam suntuk, benar-benar jaga amalannya jangan sampai diketahui oleh orang lain. Sedangkan kita, baru beramal sebentar sudah memamerkan amalan dalam status FB kita. Kalau amalan shalat malam kita disembunyikan, maka akan terhapus dosa sebagaimana kata Ka’ab Al-Ahbar, من تعبد لله ليلة حيث لا يراه أحد يعرفه خرج من ذنوبه كما يخرج من ليلته “Siapa yang beribadah pada Allah pada malam hari saat tak seorang pun melihatnya, maka dosa-dosanya akan keluar sebagaimana ia mau keluar untuk shalat malamnya.” (Hilyah Al-Auliya’, 5: 383. Dinukil dari Ta’thir Al-Anfas, hlm. 235) Mau pamer-pamer status Facebook lagi kalau sudah shalat malam? Silakan ditimbang-timbang. Moga Allah memberi taufik pada kita untuk beramal yang ikhlas karena-Nya. — Diselesaikan saat hujan mengguyur DS, Panggang, Gunungkidul, 1 Rabi’ul Awwal 1438 H Allahumma shoyyiban naafi’a, Ya Allah turunkanlah hujan yang bermanfaat. Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagsikhlas riya shalat malam shalat tahaju
  Bolehkah membuat status Facebook, “Alhamdulillah, sudah bangun tahajud”? Apa itu termasuk riya’ atau tidak ikhlas? Patut dipahami, amalan yang terbaik adalah amalan yang dilakukan sembunyi-sembunyi kalau memang amalan tersebut yang terbaik adalah disembunyikan. Dan itulah tanda ikhlas, di antara tandanya adalah berusaha menyembunyikan amalan shalih. Dari Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْعَبْدَ التَّقِىَّ الْغَنِىَّ الْخَفِىَّ “Sesungguhnya Allah mencintai hamba yang bertakwa, hamba yang hatinya selalu merasa cukup dan yang suka mengasingkan diri.” (HR. Muslim, no. 2965. Lihat Syarh Shahih Muslim, 18: 84). Makna mengasingkan diri di sini adalah mengasingkan amalannya agar tidak terlihat yang lainnya. Coba perhatikan balasan untuk mereka yang lambungnya jauh dari tempat tidurnya karena sibuk shalat malam, تَتَجَافَى جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَطَمَعًا وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ (16) فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَا أُخْفِيَ لَهُمْ مِنْ قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (17) “Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya dan mereka selalu berdoa kepada Rabbnya dengan penuh rasa takut dan harap, serta mereka menafkahkan apa apa rezki yang Kami berikan. Tak seorangpun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang indah dipandang sebagai balasan bagi mereka, atas apa yang mereka kerjakan.” (QS. As-Sajdah: 16-17) Allah membalas dengan surga yang belum pernah dilihat oleh mata dan belum pernah didengar oleh telinga. Kenapa dibalas dengan sesuatu yang tidak pernah kita lihat? Hal itu dikarenakan shalat malam itu dilakukan diam-diam. Karenanya Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah mengatakan, أخفى القوم أعمالا فأخفى الله تعالى لهم ما لا عين رأت ولا أذن سمعت “Jika suatu kaum menyembunyikan amalannya, maka Allah akan menjanjikan pada mereka sesuatu yang mereka tidak pernah memandangnya dan tidak pernah mendengarnya.” (Tafsir Al-Qurthubi, Al-Jami’ li Ahkam Al-Qur’an, Penerbit Dar Al-Fikr, 14: 67) Ibnul Qayyim juga berkata, تامل كيف قابل ما اخفوه من قيام الليل بالجزاء الذي اخفاه لهم مما لا تعلمه نفس “Renungkanlah, bagaimanakah bentuk balasan bagi yang melaksanakan shalat malam dengan sembunyi-sembunyi, mereka mendapatkan balasan dengan sesuatu yang jiwa mereka tidak mengetahuinya.” Ada cerita juga dari Ayyub As-Sikhtiyani bahwasanya ia melakukan shalat malam semalam penuh, lalu ia sembunyikan amalan tersebut. Ketika datang Shubuh, ia sengaja mengeraskan suaranya seakan-akan baru bangun pada waktu tersebut. (Hilyah Al-Auliya’, 3: 8. Dinukil dari Ta’thir Al-Anfas, hlm. 234) Lihatlah Ayyub, dia shalat semalam suntuk, benar-benar jaga amalannya jangan sampai diketahui oleh orang lain. Sedangkan kita, baru beramal sebentar sudah memamerkan amalan dalam status FB kita. Kalau amalan shalat malam kita disembunyikan, maka akan terhapus dosa sebagaimana kata Ka’ab Al-Ahbar, من تعبد لله ليلة حيث لا يراه أحد يعرفه خرج من ذنوبه كما يخرج من ليلته “Siapa yang beribadah pada Allah pada malam hari saat tak seorang pun melihatnya, maka dosa-dosanya akan keluar sebagaimana ia mau keluar untuk shalat malamnya.” (Hilyah Al-Auliya’, 5: 383. Dinukil dari Ta’thir Al-Anfas, hlm. 235) Mau pamer-pamer status Facebook lagi kalau sudah shalat malam? Silakan ditimbang-timbang. Moga Allah memberi taufik pada kita untuk beramal yang ikhlas karena-Nya. — Diselesaikan saat hujan mengguyur DS, Panggang, Gunungkidul, 1 Rabi’ul Awwal 1438 H Allahumma shoyyiban naafi’a, Ya Allah turunkanlah hujan yang bermanfaat. Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagsikhlas riya shalat malam shalat tahaju


  Bolehkah membuat status Facebook, “Alhamdulillah, sudah bangun tahajud”? Apa itu termasuk riya’ atau tidak ikhlas? Patut dipahami, amalan yang terbaik adalah amalan yang dilakukan sembunyi-sembunyi kalau memang amalan tersebut yang terbaik adalah disembunyikan. Dan itulah tanda ikhlas, di antara tandanya adalah berusaha menyembunyikan amalan shalih. Dari Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْعَبْدَ التَّقِىَّ الْغَنِىَّ الْخَفِىَّ “Sesungguhnya Allah mencintai hamba yang bertakwa, hamba yang hatinya selalu merasa cukup dan yang suka mengasingkan diri.” (HR. Muslim, no. 2965. Lihat Syarh Shahih Muslim, 18: 84). Makna mengasingkan diri di sini adalah mengasingkan amalannya agar tidak terlihat yang lainnya. Coba perhatikan balasan untuk mereka yang lambungnya jauh dari tempat tidurnya karena sibuk shalat malam, تَتَجَافَى جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَطَمَعًا وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ (16) فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَا أُخْفِيَ لَهُمْ مِنْ قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (17) “Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya dan mereka selalu berdoa kepada Rabbnya dengan penuh rasa takut dan harap, serta mereka menafkahkan apa apa rezki yang Kami berikan. Tak seorangpun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang indah dipandang sebagai balasan bagi mereka, atas apa yang mereka kerjakan.” (QS. As-Sajdah: 16-17) Allah membalas dengan surga yang belum pernah dilihat oleh mata dan belum pernah didengar oleh telinga. Kenapa dibalas dengan sesuatu yang tidak pernah kita lihat? Hal itu dikarenakan shalat malam itu dilakukan diam-diam. Karenanya Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah mengatakan, أخفى القوم أعمالا فأخفى الله تعالى لهم ما لا عين رأت ولا أذن سمعت “Jika suatu kaum menyembunyikan amalannya, maka Allah akan menjanjikan pada mereka sesuatu yang mereka tidak pernah memandangnya dan tidak pernah mendengarnya.” (Tafsir Al-Qurthubi, Al-Jami’ li Ahkam Al-Qur’an, Penerbit Dar Al-Fikr, 14: 67) Ibnul Qayyim juga berkata, تامل كيف قابل ما اخفوه من قيام الليل بالجزاء الذي اخفاه لهم مما لا تعلمه نفس “Renungkanlah, bagaimanakah bentuk balasan bagi yang melaksanakan shalat malam dengan sembunyi-sembunyi, mereka mendapatkan balasan dengan sesuatu yang jiwa mereka tidak mengetahuinya.” Ada cerita juga dari Ayyub As-Sikhtiyani bahwasanya ia melakukan shalat malam semalam penuh, lalu ia sembunyikan amalan tersebut. Ketika datang Shubuh, ia sengaja mengeraskan suaranya seakan-akan baru bangun pada waktu tersebut. (Hilyah Al-Auliya’, 3: 8. Dinukil dari Ta’thir Al-Anfas, hlm. 234) Lihatlah Ayyub, dia shalat semalam suntuk, benar-benar jaga amalannya jangan sampai diketahui oleh orang lain. Sedangkan kita, baru beramal sebentar sudah memamerkan amalan dalam status FB kita. Kalau amalan shalat malam kita disembunyikan, maka akan terhapus dosa sebagaimana kata Ka’ab Al-Ahbar, من تعبد لله ليلة حيث لا يراه أحد يعرفه خرج من ذنوبه كما يخرج من ليلته “Siapa yang beribadah pada Allah pada malam hari saat tak seorang pun melihatnya, maka dosa-dosanya akan keluar sebagaimana ia mau keluar untuk shalat malamnya.” (Hilyah Al-Auliya’, 5: 383. Dinukil dari Ta’thir Al-Anfas, hlm. 235) Mau pamer-pamer status Facebook lagi kalau sudah shalat malam? Silakan ditimbang-timbang. Moga Allah memberi taufik pada kita untuk beramal yang ikhlas karena-Nya. — Diselesaikan saat hujan mengguyur DS, Panggang, Gunungkidul, 1 Rabi’ul Awwal 1438 H Allahumma shoyyiban naafi’a, Ya Allah turunkanlah hujan yang bermanfaat. Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagsikhlas riya shalat malam shalat tahaju

Doa Agar Tawakkal Penuh pada Allah

Doa ini bisa diamalkan menunjukkan tawakal kita penuh pada Allah, اللَّهُمَّ لَكَ أَسْلَمْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْكَ أَنَبْتُ وَبِكَ خَاصَمْتُ، اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِعِزَّتِكَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَنْ تُضِلَّنِى، أَنْتَ الْحَىُّ الَّذِى لاَ يَمُوتُ وَالْجِنُّ وَالإِنْسُ يَمُوتُونَ “Allohumma laka aslamtu wa bika amantu wa ‘alaika tawakkaltu, wa ilaika anabtu, wa bika khoshomtu. Allohumma inni a’udzu bi ‘izzatika laa ilaha illa anta an tudhillani. Antal hayyu alladzi laa yamuut wal jinnu wal insu yamuutun.” Artinya: Ya Allah, aku berserah diri kepada-Mu, aku beriman kepada-Mu, aku bertawakal kepada-Mu, aku bertaubat kepada-Mu, dan aku mengadukan urusanku kepada-Mu. Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung dengan kemuliaan-Mu – tidak ada ilah (sesembahan) yang berhak disembah selain Engkau – dari segala hal yang bisa menyesatkanku. Engkau Mahahidup dan tidak mati, sedangkan jin dan manusia pasti mati. (HR. Muslim, no. 2717)   Kandungan Doa   Segala urusan terjadi atas kuasa Allah. Tidak ada kuasa bagi hamba terhadap sesuatu selain melalui kuasa Allah. Bertawakal kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya adalah penyebab datangnya pertolongan Allah. Allah menyesatkan siapa saja sesuai kehendak-Nya dan melindungi siapa saja dari kesesatan. Oleh karena itu, kita dituntut meminta perlindungan kepada Allah agar tidak terjerumus dalam kesesatan. Kita tidak boleh bertawakal kepada jin dan manusia karena mereka tidak kekal abadi dan pasti akan mati. Berbeda dengan Allah yang kekal abadi dan memiliki sifat kesempurnaan yang tidak mengandung cacat sedikit pun.   Semoga Allah memberi taufik dan hidayah untuk mengamalkan doa ini dan bertawakkal penuh pada Allah.   * Nantikan dalam buku … “Sembilan Mutiara, Faedah Tersembunyi dari Hadits Nama dan Sifat Allah” karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, Penerbit Rumaysho. — @ DS, Panggang, Gunungkidul, 1 Rabi’ul Awwal 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagsdoa tawakal

Doa Agar Tawakkal Penuh pada Allah

Doa ini bisa diamalkan menunjukkan tawakal kita penuh pada Allah, اللَّهُمَّ لَكَ أَسْلَمْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْكَ أَنَبْتُ وَبِكَ خَاصَمْتُ، اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِعِزَّتِكَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَنْ تُضِلَّنِى، أَنْتَ الْحَىُّ الَّذِى لاَ يَمُوتُ وَالْجِنُّ وَالإِنْسُ يَمُوتُونَ “Allohumma laka aslamtu wa bika amantu wa ‘alaika tawakkaltu, wa ilaika anabtu, wa bika khoshomtu. Allohumma inni a’udzu bi ‘izzatika laa ilaha illa anta an tudhillani. Antal hayyu alladzi laa yamuut wal jinnu wal insu yamuutun.” Artinya: Ya Allah, aku berserah diri kepada-Mu, aku beriman kepada-Mu, aku bertawakal kepada-Mu, aku bertaubat kepada-Mu, dan aku mengadukan urusanku kepada-Mu. Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung dengan kemuliaan-Mu – tidak ada ilah (sesembahan) yang berhak disembah selain Engkau – dari segala hal yang bisa menyesatkanku. Engkau Mahahidup dan tidak mati, sedangkan jin dan manusia pasti mati. (HR. Muslim, no. 2717)   Kandungan Doa   Segala urusan terjadi atas kuasa Allah. Tidak ada kuasa bagi hamba terhadap sesuatu selain melalui kuasa Allah. Bertawakal kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya adalah penyebab datangnya pertolongan Allah. Allah menyesatkan siapa saja sesuai kehendak-Nya dan melindungi siapa saja dari kesesatan. Oleh karena itu, kita dituntut meminta perlindungan kepada Allah agar tidak terjerumus dalam kesesatan. Kita tidak boleh bertawakal kepada jin dan manusia karena mereka tidak kekal abadi dan pasti akan mati. Berbeda dengan Allah yang kekal abadi dan memiliki sifat kesempurnaan yang tidak mengandung cacat sedikit pun.   Semoga Allah memberi taufik dan hidayah untuk mengamalkan doa ini dan bertawakkal penuh pada Allah.   * Nantikan dalam buku … “Sembilan Mutiara, Faedah Tersembunyi dari Hadits Nama dan Sifat Allah” karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, Penerbit Rumaysho. — @ DS, Panggang, Gunungkidul, 1 Rabi’ul Awwal 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagsdoa tawakal
Doa ini bisa diamalkan menunjukkan tawakal kita penuh pada Allah, اللَّهُمَّ لَكَ أَسْلَمْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْكَ أَنَبْتُ وَبِكَ خَاصَمْتُ، اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِعِزَّتِكَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَنْ تُضِلَّنِى، أَنْتَ الْحَىُّ الَّذِى لاَ يَمُوتُ وَالْجِنُّ وَالإِنْسُ يَمُوتُونَ “Allohumma laka aslamtu wa bika amantu wa ‘alaika tawakkaltu, wa ilaika anabtu, wa bika khoshomtu. Allohumma inni a’udzu bi ‘izzatika laa ilaha illa anta an tudhillani. Antal hayyu alladzi laa yamuut wal jinnu wal insu yamuutun.” Artinya: Ya Allah, aku berserah diri kepada-Mu, aku beriman kepada-Mu, aku bertawakal kepada-Mu, aku bertaubat kepada-Mu, dan aku mengadukan urusanku kepada-Mu. Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung dengan kemuliaan-Mu – tidak ada ilah (sesembahan) yang berhak disembah selain Engkau – dari segala hal yang bisa menyesatkanku. Engkau Mahahidup dan tidak mati, sedangkan jin dan manusia pasti mati. (HR. Muslim, no. 2717)   Kandungan Doa   Segala urusan terjadi atas kuasa Allah. Tidak ada kuasa bagi hamba terhadap sesuatu selain melalui kuasa Allah. Bertawakal kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya adalah penyebab datangnya pertolongan Allah. Allah menyesatkan siapa saja sesuai kehendak-Nya dan melindungi siapa saja dari kesesatan. Oleh karena itu, kita dituntut meminta perlindungan kepada Allah agar tidak terjerumus dalam kesesatan. Kita tidak boleh bertawakal kepada jin dan manusia karena mereka tidak kekal abadi dan pasti akan mati. Berbeda dengan Allah yang kekal abadi dan memiliki sifat kesempurnaan yang tidak mengandung cacat sedikit pun.   Semoga Allah memberi taufik dan hidayah untuk mengamalkan doa ini dan bertawakkal penuh pada Allah.   * Nantikan dalam buku … “Sembilan Mutiara, Faedah Tersembunyi dari Hadits Nama dan Sifat Allah” karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, Penerbit Rumaysho. — @ DS, Panggang, Gunungkidul, 1 Rabi’ul Awwal 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagsdoa tawakal


Doa ini bisa diamalkan menunjukkan tawakal kita penuh pada Allah, اللَّهُمَّ لَكَ أَسْلَمْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْكَ أَنَبْتُ وَبِكَ خَاصَمْتُ، اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِعِزَّتِكَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَنْ تُضِلَّنِى، أَنْتَ الْحَىُّ الَّذِى لاَ يَمُوتُ وَالْجِنُّ وَالإِنْسُ يَمُوتُونَ “Allohumma laka aslamtu wa bika amantu wa ‘alaika tawakkaltu, wa ilaika anabtu, wa bika khoshomtu. Allohumma inni a’udzu bi ‘izzatika laa ilaha illa anta an tudhillani. Antal hayyu alladzi laa yamuut wal jinnu wal insu yamuutun.” Artinya: Ya Allah, aku berserah diri kepada-Mu, aku beriman kepada-Mu, aku bertawakal kepada-Mu, aku bertaubat kepada-Mu, dan aku mengadukan urusanku kepada-Mu. Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung dengan kemuliaan-Mu – tidak ada ilah (sesembahan) yang berhak disembah selain Engkau – dari segala hal yang bisa menyesatkanku. Engkau Mahahidup dan tidak mati, sedangkan jin dan manusia pasti mati. (HR. Muslim, no. 2717)   Kandungan Doa   Segala urusan terjadi atas kuasa Allah. Tidak ada kuasa bagi hamba terhadap sesuatu selain melalui kuasa Allah. Bertawakal kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya adalah penyebab datangnya pertolongan Allah. Allah menyesatkan siapa saja sesuai kehendak-Nya dan melindungi siapa saja dari kesesatan. Oleh karena itu, kita dituntut meminta perlindungan kepada Allah agar tidak terjerumus dalam kesesatan. Kita tidak boleh bertawakal kepada jin dan manusia karena mereka tidak kekal abadi dan pasti akan mati. Berbeda dengan Allah yang kekal abadi dan memiliki sifat kesempurnaan yang tidak mengandung cacat sedikit pun.   Semoga Allah memberi taufik dan hidayah untuk mengamalkan doa ini dan bertawakkal penuh pada Allah.   * Nantikan dalam buku … “Sembilan Mutiara, Faedah Tersembunyi dari Hadits Nama dan Sifat Allah” karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, Penerbit Rumaysho. — @ DS, Panggang, Gunungkidul, 1 Rabi’ul Awwal 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagsdoa tawakal

Walau Durhaka, Manusia Tetap Masih Diberi Rezeki

Walau durhaka, manusia tetap masih diberi rezeki oleh Allah. Dari Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu; ia berkata, مَا أَحَدٌ أَصْبَرُ عَلَى أَذًى سَمِعَهُ مِنَ اللَّهِ ، يَدَّعُونَ لَهُ الْوَلَدَ ، ثُمَّ يُعَافِيهِمْ وَيَرْزُقُهُمْ “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Tidak ada siapa pun yang lebih sabar terhadap gangguan yang ia dengar dibandingkan (sabarnya) Allah. Manusia mengatakan bahwa Allah memiliki anak, namun Allah memaafkan mereka dan masih memberi rezeki kepada mereka.” (HR. Bukhari, no. 7378)   Guru kami, Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir Al-Barrak mengatakan dalam penjelasan kitab At-Tajrid Ash-Sharih, “Dengan sifat sabarnya Allah, Dia memaafkan orang yang mencela-Nya dengan mengatakan Allah memiliki anak dan Dia masih tetap memberikan rezeki pada-Nya.”   Kita selalu durhaka dan bermaksiat, namun Allah masih menyayangi kita karena tetap masih diberi rezeki.   * Nantikan dalam buku … “Sembilan Mutiara, Faedah Tersembunyi dari Hadits Nama dan Sifat Allah” karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, Penerbit Rumaysho.   — @ DS, Panggang, Gunungkidul, 1 Rabi’ul Awwal 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagsasmaul husna rezeki

Walau Durhaka, Manusia Tetap Masih Diberi Rezeki

Walau durhaka, manusia tetap masih diberi rezeki oleh Allah. Dari Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu; ia berkata, مَا أَحَدٌ أَصْبَرُ عَلَى أَذًى سَمِعَهُ مِنَ اللَّهِ ، يَدَّعُونَ لَهُ الْوَلَدَ ، ثُمَّ يُعَافِيهِمْ وَيَرْزُقُهُمْ “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Tidak ada siapa pun yang lebih sabar terhadap gangguan yang ia dengar dibandingkan (sabarnya) Allah. Manusia mengatakan bahwa Allah memiliki anak, namun Allah memaafkan mereka dan masih memberi rezeki kepada mereka.” (HR. Bukhari, no. 7378)   Guru kami, Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir Al-Barrak mengatakan dalam penjelasan kitab At-Tajrid Ash-Sharih, “Dengan sifat sabarnya Allah, Dia memaafkan orang yang mencela-Nya dengan mengatakan Allah memiliki anak dan Dia masih tetap memberikan rezeki pada-Nya.”   Kita selalu durhaka dan bermaksiat, namun Allah masih menyayangi kita karena tetap masih diberi rezeki.   * Nantikan dalam buku … “Sembilan Mutiara, Faedah Tersembunyi dari Hadits Nama dan Sifat Allah” karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, Penerbit Rumaysho.   — @ DS, Panggang, Gunungkidul, 1 Rabi’ul Awwal 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagsasmaul husna rezeki
Walau durhaka, manusia tetap masih diberi rezeki oleh Allah. Dari Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu; ia berkata, مَا أَحَدٌ أَصْبَرُ عَلَى أَذًى سَمِعَهُ مِنَ اللَّهِ ، يَدَّعُونَ لَهُ الْوَلَدَ ، ثُمَّ يُعَافِيهِمْ وَيَرْزُقُهُمْ “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Tidak ada siapa pun yang lebih sabar terhadap gangguan yang ia dengar dibandingkan (sabarnya) Allah. Manusia mengatakan bahwa Allah memiliki anak, namun Allah memaafkan mereka dan masih memberi rezeki kepada mereka.” (HR. Bukhari, no. 7378)   Guru kami, Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir Al-Barrak mengatakan dalam penjelasan kitab At-Tajrid Ash-Sharih, “Dengan sifat sabarnya Allah, Dia memaafkan orang yang mencela-Nya dengan mengatakan Allah memiliki anak dan Dia masih tetap memberikan rezeki pada-Nya.”   Kita selalu durhaka dan bermaksiat, namun Allah masih menyayangi kita karena tetap masih diberi rezeki.   * Nantikan dalam buku … “Sembilan Mutiara, Faedah Tersembunyi dari Hadits Nama dan Sifat Allah” karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, Penerbit Rumaysho.   — @ DS, Panggang, Gunungkidul, 1 Rabi’ul Awwal 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagsasmaul husna rezeki


Walau durhaka, manusia tetap masih diberi rezeki oleh Allah. Dari Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu; ia berkata, مَا أَحَدٌ أَصْبَرُ عَلَى أَذًى سَمِعَهُ مِنَ اللَّهِ ، يَدَّعُونَ لَهُ الْوَلَدَ ، ثُمَّ يُعَافِيهِمْ وَيَرْزُقُهُمْ “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Tidak ada siapa pun yang lebih sabar terhadap gangguan yang ia dengar dibandingkan (sabarnya) Allah. Manusia mengatakan bahwa Allah memiliki anak, namun Allah memaafkan mereka dan masih memberi rezeki kepada mereka.” (HR. Bukhari, no. 7378)   Guru kami, Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir Al-Barrak mengatakan dalam penjelasan kitab At-Tajrid Ash-Sharih, “Dengan sifat sabarnya Allah, Dia memaafkan orang yang mencela-Nya dengan mengatakan Allah memiliki anak dan Dia masih tetap memberikan rezeki pada-Nya.”   Kita selalu durhaka dan bermaksiat, namun Allah masih menyayangi kita karena tetap masih diberi rezeki.   * Nantikan dalam buku … “Sembilan Mutiara, Faedah Tersembunyi dari Hadits Nama dan Sifat Allah” karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, Penerbit Rumaysho.   — @ DS, Panggang, Gunungkidul, 1 Rabi’ul Awwal 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagsasmaul husna rezeki

Laporan Donasi YPIA Periode Bulan November 2016

Laporan Donasi YPIA periode Bulan November 2016Segala puji bagi Allah ta’ala atas limpahan rahmat dan hidayah dari-Nya. Kami mengucapkan jazakumullohu khairan atas partisipasi dan kepercayaan para donatur yang dalam menyalurkan donasinya untuk dakwah melalui Yayasan Pendidikan Islam Al Atsari.Semoga Allah mengganti dengan yang lebih baik dan memudahkan urusan kita, baik di dunia maupun di akhirat kelak. Barakallahu fiikumBerikut ini kami laporkan pemasukan donasi melalui YPIA Bulan November 2016. Semoga bantuan dari kaum muslimin sekalian memberikan manfaat yang besar bagi dakwah Islam yang Haq.Kami mohon maaf, apabila ada penulisan nama ataupun donasi yang belum terlaporkan dalam laporan ini, bisa dikonfirmasikan kepada bidang donasi Dakwah YPIA. Jazakumullohu khairan.Kami juga memohon maaf, untuk rincian lebih lengkapnya bisa mendownload link yang kami berikan di bawah, sekaligus rincian donasi pulsa, karena banyaknya donatur pada Bulan November 2016Adapun Rekap Donasi Bulan November 2016  sebagai berikut: No. Alokasi Donasi Nominal (Rp) 1 Buletin Jum’at At-Tauhid 5.485.000 2 Donasi Pulsa (via bank) 700.000 3 Forum Kajian Islam Mahasiswa (FKIM) 600.000 4 Forum Kegiatan Kemuslimahan Al-Atsari (FKKA) 6.050.000 5 Kampus Tahfizh 10.363.500 6 Ma’had Al-‘Ilmi 8.400.000 7 Ma’had Umar Bin Khattab (MUBK) 296.600 8 Pendidikan 400.000 9 Peduli Muslim Luar Negeri 50.000 10 Peduli Muslim Umum 100.000 11 Radio Muslim 706.089 12 SDIT Yaa Bunayya 11.830.500 13 SMS Taushiyah 300.000 14 Operasional / Umum 5.025.111 15 Website 3.250.000 16 Flash Donation YPIA TV 27.546.219 17 Donasi Pulsa 2.030.000 LINK DOWNLOAD: KLIK DI SINIBagi kaum muslimin yang hendak membantu donasi dalam syi’ar dakwah Islam, bisa disalurkan ke rekening  YPIA berikut ini:REKENING DONASI YPIA: Bank BNI Syariah Yogyakarta atas nama Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari. Nomor rekening: 024 1913 801. Bank Muamalat atas nama Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari Yogyakarta. Nomor rekening: 5350002594 Bank Syariah Mandiri atas nama YPIA Yogyakarta. Nomor rekening: 703 157 1329. CIMB Niaga Syariah atas nama Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari. Nomor rekening: 508.01.00028.00.0. Rekening paypal: donasi@muslim.or.id Western union an Muhammad Akmalul Khuluk d/a Kauman GM 1/241 RT/RW 049/013 kel. Ngupasan kec. Gondomanan Yogyakarta Indonesia 55122 (harap segera menginformasikan Nomor Transaksi Pengiriman Uang (MTCN) setelah pengiriman ke: 0857-4722-3366)Konfirmasi donasi :Setiap donatur yang telah menyalurkan bantuan donasi dakwah dimohon mengkonfirmasikan donasi yang telah dikirimkan ke nomor Donasi Dakwah & Sosial YPIA berikut ini:HP: 0857-4722-3366 ( SMS, Telpon, Whatsapp dan Telegram)PIN BBM Tambahan: 7E51c4a4.PIN BBM: 73db10e1 (kontak Penuh)Dengan format konfirmasi sebagai berikut:Nama#Alamat#email#BesarDonasi#TanggalTransfer#Rekening#Tujuan Donasi#Contoh:Abdullah#Jl. Slamet Riyadi, no. 100, Solo.#500.000#12 Desember 2012#Muamalat#Buletin At Tauhid🔍 Marah Dalam Islam, Pakaian Wanita Menurut Islam, Doa Mudah Bersalin Surah Maryam, Anas Burhanuddin, Kapan Aku Sukses

Laporan Donasi YPIA Periode Bulan November 2016

Laporan Donasi YPIA periode Bulan November 2016Segala puji bagi Allah ta’ala atas limpahan rahmat dan hidayah dari-Nya. Kami mengucapkan jazakumullohu khairan atas partisipasi dan kepercayaan para donatur yang dalam menyalurkan donasinya untuk dakwah melalui Yayasan Pendidikan Islam Al Atsari.Semoga Allah mengganti dengan yang lebih baik dan memudahkan urusan kita, baik di dunia maupun di akhirat kelak. Barakallahu fiikumBerikut ini kami laporkan pemasukan donasi melalui YPIA Bulan November 2016. Semoga bantuan dari kaum muslimin sekalian memberikan manfaat yang besar bagi dakwah Islam yang Haq.Kami mohon maaf, apabila ada penulisan nama ataupun donasi yang belum terlaporkan dalam laporan ini, bisa dikonfirmasikan kepada bidang donasi Dakwah YPIA. Jazakumullohu khairan.Kami juga memohon maaf, untuk rincian lebih lengkapnya bisa mendownload link yang kami berikan di bawah, sekaligus rincian donasi pulsa, karena banyaknya donatur pada Bulan November 2016Adapun Rekap Donasi Bulan November 2016  sebagai berikut: No. Alokasi Donasi Nominal (Rp) 1 Buletin Jum’at At-Tauhid 5.485.000 2 Donasi Pulsa (via bank) 700.000 3 Forum Kajian Islam Mahasiswa (FKIM) 600.000 4 Forum Kegiatan Kemuslimahan Al-Atsari (FKKA) 6.050.000 5 Kampus Tahfizh 10.363.500 6 Ma’had Al-‘Ilmi 8.400.000 7 Ma’had Umar Bin Khattab (MUBK) 296.600 8 Pendidikan 400.000 9 Peduli Muslim Luar Negeri 50.000 10 Peduli Muslim Umum 100.000 11 Radio Muslim 706.089 12 SDIT Yaa Bunayya 11.830.500 13 SMS Taushiyah 300.000 14 Operasional / Umum 5.025.111 15 Website 3.250.000 16 Flash Donation YPIA TV 27.546.219 17 Donasi Pulsa 2.030.000 LINK DOWNLOAD: KLIK DI SINIBagi kaum muslimin yang hendak membantu donasi dalam syi’ar dakwah Islam, bisa disalurkan ke rekening  YPIA berikut ini:REKENING DONASI YPIA: Bank BNI Syariah Yogyakarta atas nama Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari. Nomor rekening: 024 1913 801. Bank Muamalat atas nama Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari Yogyakarta. Nomor rekening: 5350002594 Bank Syariah Mandiri atas nama YPIA Yogyakarta. Nomor rekening: 703 157 1329. CIMB Niaga Syariah atas nama Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari. Nomor rekening: 508.01.00028.00.0. Rekening paypal: donasi@muslim.or.id Western union an Muhammad Akmalul Khuluk d/a Kauman GM 1/241 RT/RW 049/013 kel. Ngupasan kec. Gondomanan Yogyakarta Indonesia 55122 (harap segera menginformasikan Nomor Transaksi Pengiriman Uang (MTCN) setelah pengiriman ke: 0857-4722-3366)Konfirmasi donasi :Setiap donatur yang telah menyalurkan bantuan donasi dakwah dimohon mengkonfirmasikan donasi yang telah dikirimkan ke nomor Donasi Dakwah & Sosial YPIA berikut ini:HP: 0857-4722-3366 ( SMS, Telpon, Whatsapp dan Telegram)PIN BBM Tambahan: 7E51c4a4.PIN BBM: 73db10e1 (kontak Penuh)Dengan format konfirmasi sebagai berikut:Nama#Alamat#email#BesarDonasi#TanggalTransfer#Rekening#Tujuan Donasi#Contoh:Abdullah#Jl. Slamet Riyadi, no. 100, Solo.#500.000#12 Desember 2012#Muamalat#Buletin At Tauhid🔍 Marah Dalam Islam, Pakaian Wanita Menurut Islam, Doa Mudah Bersalin Surah Maryam, Anas Burhanuddin, Kapan Aku Sukses
Laporan Donasi YPIA periode Bulan November 2016Segala puji bagi Allah ta’ala atas limpahan rahmat dan hidayah dari-Nya. Kami mengucapkan jazakumullohu khairan atas partisipasi dan kepercayaan para donatur yang dalam menyalurkan donasinya untuk dakwah melalui Yayasan Pendidikan Islam Al Atsari.Semoga Allah mengganti dengan yang lebih baik dan memudahkan urusan kita, baik di dunia maupun di akhirat kelak. Barakallahu fiikumBerikut ini kami laporkan pemasukan donasi melalui YPIA Bulan November 2016. Semoga bantuan dari kaum muslimin sekalian memberikan manfaat yang besar bagi dakwah Islam yang Haq.Kami mohon maaf, apabila ada penulisan nama ataupun donasi yang belum terlaporkan dalam laporan ini, bisa dikonfirmasikan kepada bidang donasi Dakwah YPIA. Jazakumullohu khairan.Kami juga memohon maaf, untuk rincian lebih lengkapnya bisa mendownload link yang kami berikan di bawah, sekaligus rincian donasi pulsa, karena banyaknya donatur pada Bulan November 2016Adapun Rekap Donasi Bulan November 2016  sebagai berikut: No. Alokasi Donasi Nominal (Rp) 1 Buletin Jum’at At-Tauhid 5.485.000 2 Donasi Pulsa (via bank) 700.000 3 Forum Kajian Islam Mahasiswa (FKIM) 600.000 4 Forum Kegiatan Kemuslimahan Al-Atsari (FKKA) 6.050.000 5 Kampus Tahfizh 10.363.500 6 Ma’had Al-‘Ilmi 8.400.000 7 Ma’had Umar Bin Khattab (MUBK) 296.600 8 Pendidikan 400.000 9 Peduli Muslim Luar Negeri 50.000 10 Peduli Muslim Umum 100.000 11 Radio Muslim 706.089 12 SDIT Yaa Bunayya 11.830.500 13 SMS Taushiyah 300.000 14 Operasional / Umum 5.025.111 15 Website 3.250.000 16 Flash Donation YPIA TV 27.546.219 17 Donasi Pulsa 2.030.000 LINK DOWNLOAD: KLIK DI SINIBagi kaum muslimin yang hendak membantu donasi dalam syi’ar dakwah Islam, bisa disalurkan ke rekening  YPIA berikut ini:REKENING DONASI YPIA: Bank BNI Syariah Yogyakarta atas nama Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari. Nomor rekening: 024 1913 801. Bank Muamalat atas nama Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari Yogyakarta. Nomor rekening: 5350002594 Bank Syariah Mandiri atas nama YPIA Yogyakarta. Nomor rekening: 703 157 1329. CIMB Niaga Syariah atas nama Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari. Nomor rekening: 508.01.00028.00.0. Rekening paypal: donasi@muslim.or.id Western union an Muhammad Akmalul Khuluk d/a Kauman GM 1/241 RT/RW 049/013 kel. Ngupasan kec. Gondomanan Yogyakarta Indonesia 55122 (harap segera menginformasikan Nomor Transaksi Pengiriman Uang (MTCN) setelah pengiriman ke: 0857-4722-3366)Konfirmasi donasi :Setiap donatur yang telah menyalurkan bantuan donasi dakwah dimohon mengkonfirmasikan donasi yang telah dikirimkan ke nomor Donasi Dakwah & Sosial YPIA berikut ini:HP: 0857-4722-3366 ( SMS, Telpon, Whatsapp dan Telegram)PIN BBM Tambahan: 7E51c4a4.PIN BBM: 73db10e1 (kontak Penuh)Dengan format konfirmasi sebagai berikut:Nama#Alamat#email#BesarDonasi#TanggalTransfer#Rekening#Tujuan Donasi#Contoh:Abdullah#Jl. Slamet Riyadi, no. 100, Solo.#500.000#12 Desember 2012#Muamalat#Buletin At Tauhid🔍 Marah Dalam Islam, Pakaian Wanita Menurut Islam, Doa Mudah Bersalin Surah Maryam, Anas Burhanuddin, Kapan Aku Sukses


Laporan Donasi YPIA periode Bulan November 2016Segala puji bagi Allah ta’ala atas limpahan rahmat dan hidayah dari-Nya. Kami mengucapkan jazakumullohu khairan atas partisipasi dan kepercayaan para donatur yang dalam menyalurkan donasinya untuk dakwah melalui Yayasan Pendidikan Islam Al Atsari.Semoga Allah mengganti dengan yang lebih baik dan memudahkan urusan kita, baik di dunia maupun di akhirat kelak. Barakallahu fiikumBerikut ini kami laporkan pemasukan donasi melalui YPIA Bulan November 2016. Semoga bantuan dari kaum muslimin sekalian memberikan manfaat yang besar bagi dakwah Islam yang Haq.Kami mohon maaf, apabila ada penulisan nama ataupun donasi yang belum terlaporkan dalam laporan ini, bisa dikonfirmasikan kepada bidang donasi Dakwah YPIA. Jazakumullohu khairan.Kami juga memohon maaf, untuk rincian lebih lengkapnya bisa mendownload link yang kami berikan di bawah, sekaligus rincian donasi pulsa, karena banyaknya donatur pada Bulan November 2016Adapun Rekap Donasi Bulan November 2016  sebagai berikut: No. Alokasi Donasi Nominal (Rp) 1 Buletin Jum’at At-Tauhid 5.485.000 2 Donasi Pulsa (via bank) 700.000 3 Forum Kajian Islam Mahasiswa (FKIM) 600.000 4 Forum Kegiatan Kemuslimahan Al-Atsari (FKKA) 6.050.000 5 Kampus Tahfizh 10.363.500 6 Ma’had Al-‘Ilmi 8.400.000 7 Ma’had Umar Bin Khattab (MUBK) 296.600 8 Pendidikan 400.000 9 Peduli Muslim Luar Negeri 50.000 10 Peduli Muslim Umum 100.000 11 Radio Muslim 706.089 12 SDIT Yaa Bunayya 11.830.500 13 SMS Taushiyah 300.000 14 Operasional / Umum 5.025.111 15 Website 3.250.000 16 Flash Donation YPIA TV 27.546.219 17 Donasi Pulsa 2.030.000 LINK DOWNLOAD: KLIK DI SINIBagi kaum muslimin yang hendak membantu donasi dalam syi’ar dakwah Islam, bisa disalurkan ke rekening  YPIA berikut ini:REKENING DONASI YPIA: Bank BNI Syariah Yogyakarta atas nama Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari. Nomor rekening: 024 1913 801. Bank Muamalat atas nama Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari Yogyakarta. Nomor rekening: 5350002594 Bank Syariah Mandiri atas nama YPIA Yogyakarta. Nomor rekening: 703 157 1329. CIMB Niaga Syariah atas nama Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari. Nomor rekening: 508.01.00028.00.0. Rekening paypal: donasi@muslim.or.id Western union an Muhammad Akmalul Khuluk d/a Kauman GM 1/241 RT/RW 049/013 kel. Ngupasan kec. Gondomanan Yogyakarta Indonesia 55122 (harap segera menginformasikan Nomor Transaksi Pengiriman Uang (MTCN) setelah pengiriman ke: 0857-4722-3366)Konfirmasi donasi :Setiap donatur yang telah menyalurkan bantuan donasi dakwah dimohon mengkonfirmasikan donasi yang telah dikirimkan ke nomor Donasi Dakwah & Sosial YPIA berikut ini:HP: 0857-4722-3366 ( SMS, Telpon, Whatsapp dan Telegram)PIN BBM Tambahan: 7E51c4a4.PIN BBM: 73db10e1 (kontak Penuh)Dengan format konfirmasi sebagai berikut:Nama#Alamat#email#BesarDonasi#TanggalTransfer#Rekening#Tujuan Donasi#Contoh:Abdullah#Jl. Slamet Riyadi, no. 100, Solo.#500.000#12 Desember 2012#Muamalat#Buletin At Tauhid🔍 Marah Dalam Islam, Pakaian Wanita Menurut Islam, Doa Mudah Bersalin Surah Maryam, Anas Burhanuddin, Kapan Aku Sukses

Kejayaan Umat Islam

Khotbah Jum’at, Masjid Nabawi, 25 Shafar 1438 HKhotib : Syekh Husen Bin Abdul Aziz Alu SyekhPenerjemah : Usman HatimKhotbah PertamaDalam realita, umat Islam saat ini menghadapi fitnah bertubi-tubi, bencana beraneka ragam, tantangan membahayakan dan persekongkolan mengicu.Kaum muslimin sedang menanti solusi untuk memperbaiki kondisi mereka, membahagiakan kehidupan mereka, mewujudkan kemakmuran dan kesejahteraan mereka serta mengatasi kesulitan dan penderitaan mereka.Namun, kesuksesan dan kejayaan umat ini dalam mencapai segala dambaan, terselamatkan dari segala ketakutan serta terhindar dari berbagai problematika tidaklah mungkin terwujud tanpa mereka berpegang teguh dengan Islam sejati, termasuk kemurnian tauhid dan kebenaran keyakian, serta berserah diri kepada Tuhan yang Maha Esa dalam segala aktivitas mereka dan berbagai bidang kehidupan mereka. Firman Allah :قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ [ المؤمنون/1]“Sungguh beruntung orang-orang yang beriman” Qs Al-Mu’minun :1Sabda Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- :” يَا أيهَا النّاسُ قُوْلوْا لَا إلَه إلّا اللهَ تُفْلِحُوْا ” أخرجه ابن خزيمة فى صحيحه“Wahai umat manusia, katakanlah ‘La ilaaha illa Allah’ (tidak ada sesembahan kecuali Allah) niscaya kalian beruntung”. HR Ibnu Khuzaimah dalam Shahihnya.Kaum muslimin sekalian!    Umat Islam tidak akan jaya dan kondisi mereka tidak akan membaik selagi seluruh sistem kehidupan mereka dan haluan hidup mereka tidak tunduk kepada syariat Allah –subhanahu wa ta’ala-. Firman Allah:يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ارْكَعُوا وَاسْجُدُوا وَاعْبُدُوا رَبَّكُمْ وَافْعَلُوا الْخَيْرَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ[ الحج/77]“Wahai orang-orang yang beriman, rukuklah dan sujudlah, sembahlah Tuhanmu dan berbuatlah amal kebajikan agar kalian beruntung”. Qs Alhaj : 77Sabda Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- :” قَدْ أفْلَحَ مَنْ أسْلَمَ وَرُزِقَ كَفَافًا وَقَنَعَهُ الله بِمَا آتَاهُ “ “Sungguh bernasib baik orang yang berserah diri, mendapatkan rezeki cukup dan Allah menganugerahinya hati yang merasa puas dengan pemberianNya”.  Kesejahteraan, stabilitas, kemakmuran ekonomi, keamanan dan rasa aman bagi masyarakat muslim tidak akan tercapai kecuali jika mereka menyerahkan segala urusan kepada Allah dengan menerapkan hukum syariatNya serta tunduk kepada petunjuk Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam. Firman Allah:  إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَنْ يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ [ النور/ 51]“Sesungguhnya jawaban oran-orang mukmin, bila mereka dipanggil menuju Allah dan Rasul-Nya agar Rasul mengadili di antara mereka ialah ucapan. “Kami mendengar, dan Kami patuh”. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung”.Qs An-Nur : 51Wahai umat Islam!    Tidak akan terangkat keterpurukan dengan berbagai macamnya kendatipun kita berupaya dengan segala cara untuk melepaskan diri dari padanya selagi kita belum bertobat secara sungguh-sungguh dari dosa akibat pelanggaran terhadap sistem hukum Allah dan sunnah Nabi-Nya Muhammad –shallallahu alaihi wa sallam- sehingga kondisi kita seperti ini.    Sudah tiba saatnya bagi umat Islam yang sedang mengalami berbagai penderitaan dan tragedi untuk merundukkan hati kepada Tuhannya dan bertobat kepada-Nya dengan memperbaiki urusan mereka sesuai aturan yang diridhai-Nya. Firman Allah :أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ [ الحديد/ 16 ]“Bukankah sudah tiba waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk ingat kepada Allah dan kebenaran yang turun (dari pada-Nya)” Qs :Firman Allah :وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ [ النور/31]“Dan bertobatlah kalian semua kepada Allah wahai orang-orang mukmin agar kalian beruntung”. Qs An-Nur:31    Jika tidak demikian, maka selagi urusan mereka masih berjalan pada jalur kemaksiatan, dan masih berkubang dalam larangan dan perbuatan dosa, sadarilah bahwa jalan kesuksesan dan kemajuan akan tetap menajuh dan menghindar dari mereka. Firman Allah :يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالأنْصَابُ وَالأزْلامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ [ المائدة / 90 ]“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan setan. maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu beruntung”. Qs Al-Maidah: 90    Inilah sebagian contoh, kita saksikan umat Islam saling bertolak belakang, memutuskan hubungan, berselisih, konflik, bertengkar, saling dorong mendorong yang berujung pada pertumpahan darah dan pelanggaran terhadap kehormatan sehingga sebagian pihak menimpakan bencana kepada sebagian lainnya. Terjadilah pada diri mereka itu apa yang difirmankan Allah :وَلا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ [ الأنفال/ 46]“Dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu”.Qs Al-Anfal : 46Terbukti pula pada mereka apa yang disinyalir Nabi –shallallahu alaihi wasallam-:” مَا لَمْ تحْكُمْ أئِمَّتُهُمْ بمَا أنْزَلَ اللهُ إلَّا جَعَل اللهُ بَأسَهُمْ بَيْنَهُمْ “ “Selama para pemimpin mereka (kaum muslimin) tidak menerapkan hukum yang diturunkan Allah, selama itu pula Allah menimpakan bencana di antara mereka”.Inilah pula kemerosotan drastis di bidang ekonomi yang diderita oleh mereka (umat Islam) sebagaimana pula halnya kondisi seluruh dunia. Maka solusi yang dapat menyelamatkan umat Muhammad dari bencana dan kemerosotan ekonomi adalah dengan menerapkan sistem hukum Allah yang diridhai-Nya. Jika menyimpang dari sistem Allah, jatuhlah umat ini dalam kesuliatan dan bencana.Firman Allah :يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَأْكُلُوا الرِّبَا أَضْعَافًا مُضَاعَفَةً وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ[آل عمران/ 130]“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba secara berlipat ganda,dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu beruntung”. Qs Ali Imran:130Kaum muslimin sekalian!    Terwujudnya kebahagiaan sangat tergantung pada penerapan umat ini terhadap sistem kontrol sosial (amar makruf dan nahi munkar), saling memberi nasihat untuk memperbaiki keadaan dan meluruskan haluan sesuai dengan sistem yang ideal, metode yang santun, maksud yang luhur dan tujuan yang mulia. Firman Allah:وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ [ آل عمران/104]“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar. Merekalah orang-orang yang beruntung”. Qs Ali Imran : 104Sebagian ahli tafsir memahami, huruf “Min” dalam ayat ini berfungsi sebagai “penjelas” bukan bermakna “sebagian”.        Manakala umat Islam menyimpang dari jalur ini, jatuhlah mereka kedalam kerugian dan terjungkal ke dalam jurang kebinasaan. Firman Allah :وَالْعَصْرِ ، إِنَّ الإنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ ، إِلا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ [ العصر/ 1-3]“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan saling menasehati supaya mentaati kebenaran dan saling menasehati supaya tetap dalam kesabaran”. Qs Al-Ashr : 1-3Saudara-saudara sesama muslim !    Keberuntungan kaum muslimin erat kaitannya dengan pemahaman mereka terhadap penerapan Islam yang murni, sebagai agama moderat; jauh dari sikap ekstrim, kekerasan dan radikal, jauh pula dari sikap over lemah dan abai terhadap ketetapan hukum yang ada dalam dua wahyu (Al-Qur’an dan Sunnah).    Betapa banyak sikap ekstrem dalam memahami dan menerapkan Islam justru menyeret seseorang pada kerusakan yang besar dan dampak buruk yang tidak terhitung, karena sikap itu bertentangan dengan kehendak Allah dan sunnah Nabi-Nya. Firman Allah:وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا [ البقرة/ 143]“Dan demikian (pula) Kami telah jadikan kalian (umat Islam), umat yang moderat”. Qs Albaqarah: 143Kaum muslimin sekalian!    Kesuksesan duniawi yang identik dengan kemakmuran sosial dan kesejahteraan umum lantaran banyaknya nikmat yang tercurah dan keberkahan yang susul menyusul, bukanlah terjadi karena mengikuti faktor-faktor empiris semata, tetapi lebih pada faktor spritual yang sejati sebagai buah konsitensi dalam mengikuti sunnah dan konsekuensi dari penerapan sistem hukum syariat. Firman Allah :وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا ، وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لا يَحْتَسِبُ [الطلاق/2-3]“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar, dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya”. Qs At-Thalaq ; 2-3Dan firman-Nya :وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالأرْضِ [ الأعراف/ 96]“Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi”. Qs Al-Araf : 96Wahai umat Islam!Setelah lenyapnya apa yang disebut dengan era kolonialisme, banyak di antara umat Islam yang mencoba menerapkan pola pikir dan gagasan asing yang datang dari luar dalam kehidupan mereka, namun mereka tidak menemukan hasilnya kecuali bencana pemikiran, kelemahan militer, kelesuan ekonomi, kerusakan moral dan keretakan sosial. Pemikiran-pemikiran asing itu tidak cocok untuk dunia mereka, bahkan merusak sebagian urusan agamanya.     Sudah tiba waktunya bagi umat Islam setelah pembuktian di lapangan dengan fakta seperti itu untuk kembali kepada cahaya dua wahyu (Al-Qur’an dan Sunnah)sebagai penerang jalan petunjuk. Sudah tiba saatnya bagi orang yang terbius dan silau oleh peradaban yang memperlihatkan prinsip-prinsip dan norma-norma yang kemudian terbukti palsu dan menipu ketika berbagai kepentingan pribadi dan kemanfaatan individual bermunculan. Semua itu hanyalah bagaikan ukiran indah yang ditorehkan pada papan hukum perundang-undangan saja. Ketika diimplementasikan ternyata menghancurkan negeri kaum muslimin, meluluh-lantakkan potensi mereka dan merampas kekayaan negeri mereka secara permanen. Itulah sesungguhnya prinsip-prinsip peradaban yang terlepas dari ketentuan hukum Allah yang membangun. Tujuannya hanya menumbangkan peradaban lain tanpa kriteria agama, moral dan kemanusiaan. Firman Allah :وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ [ المائدة/ 50]“Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik dari pada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin ?”. Qs Al-Maidah : 50==== Khotbah KeduaUmat Islam memiliki potensi kejayaan dan kemenangan yang tidak dimiliki oleh umat lain. Memiliki pilar-pilar untuk membangun dan mencapai kebahagiaan yang tidak dimiliki oleh umat lain. Sejarah umat Islam beberapa abad silam menjadi saksi dan bukti paling nyata atas hal itu. Namun pencapaiannya dengan syarat dan tergadaikan oleh potensi yang ada. Firman Allah:يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ [ محمد/ 7]“Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu”. Qs Muhammad : 7Dan firman Allah :إِنَّا لَنَنْصُرُ رُسُلَنَا وَالَّذِينَ آمَنُوا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ يَقُومُ الأشْهَادُ [ غافر/51]“Sesungguhnya Kami menolong rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari berdirinya saksi-saksi”.Qs Ghafir : 51    Perlindungan Allah –subhanahu wa ta’ala- terhadap umat Islam terkait erat dengan penerapan syariatNya dan sejauh mana ketaatan mereka pada perintahNya dan penghindaran mereka dari larangan-laranganNya. Firman Allah :إِنَّ اللَّهَ يُدَافِعُ عَنِ الَّذِينَ آمَنُوا [ الحج/ 38 ]“Sesungguhnya Allah membela orang-orang yang beriman”.Qs Alhaj:38Menurut bacaan lainnya, “Yadfa’u” (menolak). Disebutkan dalam hadis shahih :” احْفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ ““Jagalah Allah, maka Dia menjagamu”.Keamanan dan stabilitas, rasa aman dan kemakmuran umat ini sangat terkait dengan sejauh mana mereka menjalankan keimanan dengan segala konsekuensinya, Islam dengan segala hak-haknya. Firman Allah:الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَئِكَ لَهُمُ الأمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ [ الأنعام : 82 ]“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur-adukkan iman mereka dengan kezaliman (kemusyrikan), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk”. Qs Al-An’am : 82Superioritas dan keunggulan umat Islam atas musuh-musuhnya sangat tergantung pada keimanan berikut esensinya dan konsekuensinya sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Al-Qayim.Firman Allah :وَلا تَهِنُوا وَلا تَحْزَنُوا وَأَنْتُمُ الأعْلَوْنَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ [ آل عمران/ 139]“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) bersedih hati, karena kamulah orang-orang yang lebih unggul, jika kamu orang-orang yang beriman”.Qs Ali Imran : 139Dan firman-Nya :وَإِنَّ جُنْدَنَا لَهُمُ الْغَالِبُونَ [ الصافات/ 173]“Dan sesungguhnya tentara Kami,itulah yang pasti menang”. Qs As-Shafaat:17Ibnu Katsir berkomentar seputar firman Allah :يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قَاتِلُوا الَّذِينَ يَلُونَكُمْ مِنَ الْكُفَّارِ وَلْيَجِدُوا فِيكُمْ غِلْظَةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ [ التوبة/ 123]“Hai orang-orang yang beriman, perangilah orang-orang kafir yang di sekitar kamu, dan hendaklah mereka menemui ketegasan dari-padamu. Ketahuilah, bahwa Allah bersama orang-orang yang bertaqwa”. Qs At-Taubah : 123” فكلما قام ملك من ملوك الإسلام وأطاع أوامر الله وتوكل على الله ، فتح الله عليه من البلاد ، واسترجع من الأعداء بحسبه وبقدر ما فيه من ولاية الله ““Sejauh mana seorang raja di antara raja-raja Islam menunaikan dan mentaati perintah Allah serta berserah diri kepadaNya, negeri-negeri dapat ia taklukkan atas pertolongan Allah. Terukur dengan loyalitasnya kepada Allah pula, harta rampasan dari musuh dapat ia rebut kembali”.    Selanjutnya, ketahuilah bahwa seharum-harum cara menegakkan kehidupan kita ialah menyibukkan diri dengan bershalawat dan salam kepada Nabi yang mulia.Ya Allah,curahkanlah shalawat, salam dan keberkahan kepada hambaMu dan rasulMu, Nabi Muhammad –shallallahu alaihi wa sallam-.    Ya Allah, ridhailah para Khulafaurasyidin dan para imam yang terbimbing; Abu Bakar, Umar, Usman dan Ali.    Ya Allah, perbaikilah kondisi kami dan kondisi kaum muslimin. Ya Allah, hilangkanlah kesedihan dari kami, angkatlah kegelisahan hati kami.    Ya Allah, selamatkanlah hamba-hambaMu kaum muslimin dari segala bencana dan cobaan. Ya Allah, Hadapilah olehMu musuh-musuh kaum muslimin, sebab mereka tidak akan mampu melemahkan-Mu wahai Tuhan yang Maha Agung.    Ya Allah, lindungilah saudara-saudara kami kaum muslimin di manapun mereka berada. Ya Allah, jadilah Engkau Penolong dan Pembela mereka wahai Tuhan yang Maha Perkasa, Maha Kuat dan Maha Kokoh.    Ya Allah,bimbinglah pelayan dua kota suci untuk melakukan sesuatu yang Engkau cintai dan ridhai. Ya Allah tolonglah agama ini dengannya. Tinggikanlah kalimat kaum muslimin dengannya.    Ya Allah, ampunilah kaum muslimin dan muslimat, yang hidup dan yang telah wafat. Ya Allah, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat. Jauhkanlah kami dari siksa neraka”. == Penutup == 

Kejayaan Umat Islam

Khotbah Jum’at, Masjid Nabawi, 25 Shafar 1438 HKhotib : Syekh Husen Bin Abdul Aziz Alu SyekhPenerjemah : Usman HatimKhotbah PertamaDalam realita, umat Islam saat ini menghadapi fitnah bertubi-tubi, bencana beraneka ragam, tantangan membahayakan dan persekongkolan mengicu.Kaum muslimin sedang menanti solusi untuk memperbaiki kondisi mereka, membahagiakan kehidupan mereka, mewujudkan kemakmuran dan kesejahteraan mereka serta mengatasi kesulitan dan penderitaan mereka.Namun, kesuksesan dan kejayaan umat ini dalam mencapai segala dambaan, terselamatkan dari segala ketakutan serta terhindar dari berbagai problematika tidaklah mungkin terwujud tanpa mereka berpegang teguh dengan Islam sejati, termasuk kemurnian tauhid dan kebenaran keyakian, serta berserah diri kepada Tuhan yang Maha Esa dalam segala aktivitas mereka dan berbagai bidang kehidupan mereka. Firman Allah :قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ [ المؤمنون/1]“Sungguh beruntung orang-orang yang beriman” Qs Al-Mu’minun :1Sabda Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- :” يَا أيهَا النّاسُ قُوْلوْا لَا إلَه إلّا اللهَ تُفْلِحُوْا ” أخرجه ابن خزيمة فى صحيحه“Wahai umat manusia, katakanlah ‘La ilaaha illa Allah’ (tidak ada sesembahan kecuali Allah) niscaya kalian beruntung”. HR Ibnu Khuzaimah dalam Shahihnya.Kaum muslimin sekalian!    Umat Islam tidak akan jaya dan kondisi mereka tidak akan membaik selagi seluruh sistem kehidupan mereka dan haluan hidup mereka tidak tunduk kepada syariat Allah –subhanahu wa ta’ala-. Firman Allah:يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ارْكَعُوا وَاسْجُدُوا وَاعْبُدُوا رَبَّكُمْ وَافْعَلُوا الْخَيْرَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ[ الحج/77]“Wahai orang-orang yang beriman, rukuklah dan sujudlah, sembahlah Tuhanmu dan berbuatlah amal kebajikan agar kalian beruntung”. Qs Alhaj : 77Sabda Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- :” قَدْ أفْلَحَ مَنْ أسْلَمَ وَرُزِقَ كَفَافًا وَقَنَعَهُ الله بِمَا آتَاهُ “ “Sungguh bernasib baik orang yang berserah diri, mendapatkan rezeki cukup dan Allah menganugerahinya hati yang merasa puas dengan pemberianNya”.  Kesejahteraan, stabilitas, kemakmuran ekonomi, keamanan dan rasa aman bagi masyarakat muslim tidak akan tercapai kecuali jika mereka menyerahkan segala urusan kepada Allah dengan menerapkan hukum syariatNya serta tunduk kepada petunjuk Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam. Firman Allah:  إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَنْ يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ [ النور/ 51]“Sesungguhnya jawaban oran-orang mukmin, bila mereka dipanggil menuju Allah dan Rasul-Nya agar Rasul mengadili di antara mereka ialah ucapan. “Kami mendengar, dan Kami patuh”. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung”.Qs An-Nur : 51Wahai umat Islam!    Tidak akan terangkat keterpurukan dengan berbagai macamnya kendatipun kita berupaya dengan segala cara untuk melepaskan diri dari padanya selagi kita belum bertobat secara sungguh-sungguh dari dosa akibat pelanggaran terhadap sistem hukum Allah dan sunnah Nabi-Nya Muhammad –shallallahu alaihi wa sallam- sehingga kondisi kita seperti ini.    Sudah tiba saatnya bagi umat Islam yang sedang mengalami berbagai penderitaan dan tragedi untuk merundukkan hati kepada Tuhannya dan bertobat kepada-Nya dengan memperbaiki urusan mereka sesuai aturan yang diridhai-Nya. Firman Allah :أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ [ الحديد/ 16 ]“Bukankah sudah tiba waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk ingat kepada Allah dan kebenaran yang turun (dari pada-Nya)” Qs :Firman Allah :وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ [ النور/31]“Dan bertobatlah kalian semua kepada Allah wahai orang-orang mukmin agar kalian beruntung”. Qs An-Nur:31    Jika tidak demikian, maka selagi urusan mereka masih berjalan pada jalur kemaksiatan, dan masih berkubang dalam larangan dan perbuatan dosa, sadarilah bahwa jalan kesuksesan dan kemajuan akan tetap menajuh dan menghindar dari mereka. Firman Allah :يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالأنْصَابُ وَالأزْلامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ [ المائدة / 90 ]“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan setan. maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu beruntung”. Qs Al-Maidah: 90    Inilah sebagian contoh, kita saksikan umat Islam saling bertolak belakang, memutuskan hubungan, berselisih, konflik, bertengkar, saling dorong mendorong yang berujung pada pertumpahan darah dan pelanggaran terhadap kehormatan sehingga sebagian pihak menimpakan bencana kepada sebagian lainnya. Terjadilah pada diri mereka itu apa yang difirmankan Allah :وَلا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ [ الأنفال/ 46]“Dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu”.Qs Al-Anfal : 46Terbukti pula pada mereka apa yang disinyalir Nabi –shallallahu alaihi wasallam-:” مَا لَمْ تحْكُمْ أئِمَّتُهُمْ بمَا أنْزَلَ اللهُ إلَّا جَعَل اللهُ بَأسَهُمْ بَيْنَهُمْ “ “Selama para pemimpin mereka (kaum muslimin) tidak menerapkan hukum yang diturunkan Allah, selama itu pula Allah menimpakan bencana di antara mereka”.Inilah pula kemerosotan drastis di bidang ekonomi yang diderita oleh mereka (umat Islam) sebagaimana pula halnya kondisi seluruh dunia. Maka solusi yang dapat menyelamatkan umat Muhammad dari bencana dan kemerosotan ekonomi adalah dengan menerapkan sistem hukum Allah yang diridhai-Nya. Jika menyimpang dari sistem Allah, jatuhlah umat ini dalam kesuliatan dan bencana.Firman Allah :يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَأْكُلُوا الرِّبَا أَضْعَافًا مُضَاعَفَةً وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ[آل عمران/ 130]“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba secara berlipat ganda,dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu beruntung”. Qs Ali Imran:130Kaum muslimin sekalian!    Terwujudnya kebahagiaan sangat tergantung pada penerapan umat ini terhadap sistem kontrol sosial (amar makruf dan nahi munkar), saling memberi nasihat untuk memperbaiki keadaan dan meluruskan haluan sesuai dengan sistem yang ideal, metode yang santun, maksud yang luhur dan tujuan yang mulia. Firman Allah:وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ [ آل عمران/104]“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar. Merekalah orang-orang yang beruntung”. Qs Ali Imran : 104Sebagian ahli tafsir memahami, huruf “Min” dalam ayat ini berfungsi sebagai “penjelas” bukan bermakna “sebagian”.        Manakala umat Islam menyimpang dari jalur ini, jatuhlah mereka kedalam kerugian dan terjungkal ke dalam jurang kebinasaan. Firman Allah :وَالْعَصْرِ ، إِنَّ الإنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ ، إِلا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ [ العصر/ 1-3]“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan saling menasehati supaya mentaati kebenaran dan saling menasehati supaya tetap dalam kesabaran”. Qs Al-Ashr : 1-3Saudara-saudara sesama muslim !    Keberuntungan kaum muslimin erat kaitannya dengan pemahaman mereka terhadap penerapan Islam yang murni, sebagai agama moderat; jauh dari sikap ekstrim, kekerasan dan radikal, jauh pula dari sikap over lemah dan abai terhadap ketetapan hukum yang ada dalam dua wahyu (Al-Qur’an dan Sunnah).    Betapa banyak sikap ekstrem dalam memahami dan menerapkan Islam justru menyeret seseorang pada kerusakan yang besar dan dampak buruk yang tidak terhitung, karena sikap itu bertentangan dengan kehendak Allah dan sunnah Nabi-Nya. Firman Allah:وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا [ البقرة/ 143]“Dan demikian (pula) Kami telah jadikan kalian (umat Islam), umat yang moderat”. Qs Albaqarah: 143Kaum muslimin sekalian!    Kesuksesan duniawi yang identik dengan kemakmuran sosial dan kesejahteraan umum lantaran banyaknya nikmat yang tercurah dan keberkahan yang susul menyusul, bukanlah terjadi karena mengikuti faktor-faktor empiris semata, tetapi lebih pada faktor spritual yang sejati sebagai buah konsitensi dalam mengikuti sunnah dan konsekuensi dari penerapan sistem hukum syariat. Firman Allah :وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا ، وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لا يَحْتَسِبُ [الطلاق/2-3]“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar, dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya”. Qs At-Thalaq ; 2-3Dan firman-Nya :وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالأرْضِ [ الأعراف/ 96]“Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi”. Qs Al-Araf : 96Wahai umat Islam!Setelah lenyapnya apa yang disebut dengan era kolonialisme, banyak di antara umat Islam yang mencoba menerapkan pola pikir dan gagasan asing yang datang dari luar dalam kehidupan mereka, namun mereka tidak menemukan hasilnya kecuali bencana pemikiran, kelemahan militer, kelesuan ekonomi, kerusakan moral dan keretakan sosial. Pemikiran-pemikiran asing itu tidak cocok untuk dunia mereka, bahkan merusak sebagian urusan agamanya.     Sudah tiba waktunya bagi umat Islam setelah pembuktian di lapangan dengan fakta seperti itu untuk kembali kepada cahaya dua wahyu (Al-Qur’an dan Sunnah)sebagai penerang jalan petunjuk. Sudah tiba saatnya bagi orang yang terbius dan silau oleh peradaban yang memperlihatkan prinsip-prinsip dan norma-norma yang kemudian terbukti palsu dan menipu ketika berbagai kepentingan pribadi dan kemanfaatan individual bermunculan. Semua itu hanyalah bagaikan ukiran indah yang ditorehkan pada papan hukum perundang-undangan saja. Ketika diimplementasikan ternyata menghancurkan negeri kaum muslimin, meluluh-lantakkan potensi mereka dan merampas kekayaan negeri mereka secara permanen. Itulah sesungguhnya prinsip-prinsip peradaban yang terlepas dari ketentuan hukum Allah yang membangun. Tujuannya hanya menumbangkan peradaban lain tanpa kriteria agama, moral dan kemanusiaan. Firman Allah :وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ [ المائدة/ 50]“Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik dari pada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin ?”. Qs Al-Maidah : 50==== Khotbah KeduaUmat Islam memiliki potensi kejayaan dan kemenangan yang tidak dimiliki oleh umat lain. Memiliki pilar-pilar untuk membangun dan mencapai kebahagiaan yang tidak dimiliki oleh umat lain. Sejarah umat Islam beberapa abad silam menjadi saksi dan bukti paling nyata atas hal itu. Namun pencapaiannya dengan syarat dan tergadaikan oleh potensi yang ada. Firman Allah:يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ [ محمد/ 7]“Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu”. Qs Muhammad : 7Dan firman Allah :إِنَّا لَنَنْصُرُ رُسُلَنَا وَالَّذِينَ آمَنُوا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ يَقُومُ الأشْهَادُ [ غافر/51]“Sesungguhnya Kami menolong rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari berdirinya saksi-saksi”.Qs Ghafir : 51    Perlindungan Allah –subhanahu wa ta’ala- terhadap umat Islam terkait erat dengan penerapan syariatNya dan sejauh mana ketaatan mereka pada perintahNya dan penghindaran mereka dari larangan-laranganNya. Firman Allah :إِنَّ اللَّهَ يُدَافِعُ عَنِ الَّذِينَ آمَنُوا [ الحج/ 38 ]“Sesungguhnya Allah membela orang-orang yang beriman”.Qs Alhaj:38Menurut bacaan lainnya, “Yadfa’u” (menolak). Disebutkan dalam hadis shahih :” احْفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ ““Jagalah Allah, maka Dia menjagamu”.Keamanan dan stabilitas, rasa aman dan kemakmuran umat ini sangat terkait dengan sejauh mana mereka menjalankan keimanan dengan segala konsekuensinya, Islam dengan segala hak-haknya. Firman Allah:الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَئِكَ لَهُمُ الأمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ [ الأنعام : 82 ]“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur-adukkan iman mereka dengan kezaliman (kemusyrikan), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk”. Qs Al-An’am : 82Superioritas dan keunggulan umat Islam atas musuh-musuhnya sangat tergantung pada keimanan berikut esensinya dan konsekuensinya sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Al-Qayim.Firman Allah :وَلا تَهِنُوا وَلا تَحْزَنُوا وَأَنْتُمُ الأعْلَوْنَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ [ آل عمران/ 139]“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) bersedih hati, karena kamulah orang-orang yang lebih unggul, jika kamu orang-orang yang beriman”.Qs Ali Imran : 139Dan firman-Nya :وَإِنَّ جُنْدَنَا لَهُمُ الْغَالِبُونَ [ الصافات/ 173]“Dan sesungguhnya tentara Kami,itulah yang pasti menang”. Qs As-Shafaat:17Ibnu Katsir berkomentar seputar firman Allah :يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قَاتِلُوا الَّذِينَ يَلُونَكُمْ مِنَ الْكُفَّارِ وَلْيَجِدُوا فِيكُمْ غِلْظَةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ [ التوبة/ 123]“Hai orang-orang yang beriman, perangilah orang-orang kafir yang di sekitar kamu, dan hendaklah mereka menemui ketegasan dari-padamu. Ketahuilah, bahwa Allah bersama orang-orang yang bertaqwa”. Qs At-Taubah : 123” فكلما قام ملك من ملوك الإسلام وأطاع أوامر الله وتوكل على الله ، فتح الله عليه من البلاد ، واسترجع من الأعداء بحسبه وبقدر ما فيه من ولاية الله ““Sejauh mana seorang raja di antara raja-raja Islam menunaikan dan mentaati perintah Allah serta berserah diri kepadaNya, negeri-negeri dapat ia taklukkan atas pertolongan Allah. Terukur dengan loyalitasnya kepada Allah pula, harta rampasan dari musuh dapat ia rebut kembali”.    Selanjutnya, ketahuilah bahwa seharum-harum cara menegakkan kehidupan kita ialah menyibukkan diri dengan bershalawat dan salam kepada Nabi yang mulia.Ya Allah,curahkanlah shalawat, salam dan keberkahan kepada hambaMu dan rasulMu, Nabi Muhammad –shallallahu alaihi wa sallam-.    Ya Allah, ridhailah para Khulafaurasyidin dan para imam yang terbimbing; Abu Bakar, Umar, Usman dan Ali.    Ya Allah, perbaikilah kondisi kami dan kondisi kaum muslimin. Ya Allah, hilangkanlah kesedihan dari kami, angkatlah kegelisahan hati kami.    Ya Allah, selamatkanlah hamba-hambaMu kaum muslimin dari segala bencana dan cobaan. Ya Allah, Hadapilah olehMu musuh-musuh kaum muslimin, sebab mereka tidak akan mampu melemahkan-Mu wahai Tuhan yang Maha Agung.    Ya Allah, lindungilah saudara-saudara kami kaum muslimin di manapun mereka berada. Ya Allah, jadilah Engkau Penolong dan Pembela mereka wahai Tuhan yang Maha Perkasa, Maha Kuat dan Maha Kokoh.    Ya Allah,bimbinglah pelayan dua kota suci untuk melakukan sesuatu yang Engkau cintai dan ridhai. Ya Allah tolonglah agama ini dengannya. Tinggikanlah kalimat kaum muslimin dengannya.    Ya Allah, ampunilah kaum muslimin dan muslimat, yang hidup dan yang telah wafat. Ya Allah, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat. Jauhkanlah kami dari siksa neraka”. == Penutup == 
Khotbah Jum’at, Masjid Nabawi, 25 Shafar 1438 HKhotib : Syekh Husen Bin Abdul Aziz Alu SyekhPenerjemah : Usman HatimKhotbah PertamaDalam realita, umat Islam saat ini menghadapi fitnah bertubi-tubi, bencana beraneka ragam, tantangan membahayakan dan persekongkolan mengicu.Kaum muslimin sedang menanti solusi untuk memperbaiki kondisi mereka, membahagiakan kehidupan mereka, mewujudkan kemakmuran dan kesejahteraan mereka serta mengatasi kesulitan dan penderitaan mereka.Namun, kesuksesan dan kejayaan umat ini dalam mencapai segala dambaan, terselamatkan dari segala ketakutan serta terhindar dari berbagai problematika tidaklah mungkin terwujud tanpa mereka berpegang teguh dengan Islam sejati, termasuk kemurnian tauhid dan kebenaran keyakian, serta berserah diri kepada Tuhan yang Maha Esa dalam segala aktivitas mereka dan berbagai bidang kehidupan mereka. Firman Allah :قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ [ المؤمنون/1]“Sungguh beruntung orang-orang yang beriman” Qs Al-Mu’minun :1Sabda Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- :” يَا أيهَا النّاسُ قُوْلوْا لَا إلَه إلّا اللهَ تُفْلِحُوْا ” أخرجه ابن خزيمة فى صحيحه“Wahai umat manusia, katakanlah ‘La ilaaha illa Allah’ (tidak ada sesembahan kecuali Allah) niscaya kalian beruntung”. HR Ibnu Khuzaimah dalam Shahihnya.Kaum muslimin sekalian!    Umat Islam tidak akan jaya dan kondisi mereka tidak akan membaik selagi seluruh sistem kehidupan mereka dan haluan hidup mereka tidak tunduk kepada syariat Allah –subhanahu wa ta’ala-. Firman Allah:يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ارْكَعُوا وَاسْجُدُوا وَاعْبُدُوا رَبَّكُمْ وَافْعَلُوا الْخَيْرَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ[ الحج/77]“Wahai orang-orang yang beriman, rukuklah dan sujudlah, sembahlah Tuhanmu dan berbuatlah amal kebajikan agar kalian beruntung”. Qs Alhaj : 77Sabda Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- :” قَدْ أفْلَحَ مَنْ أسْلَمَ وَرُزِقَ كَفَافًا وَقَنَعَهُ الله بِمَا آتَاهُ “ “Sungguh bernasib baik orang yang berserah diri, mendapatkan rezeki cukup dan Allah menganugerahinya hati yang merasa puas dengan pemberianNya”.  Kesejahteraan, stabilitas, kemakmuran ekonomi, keamanan dan rasa aman bagi masyarakat muslim tidak akan tercapai kecuali jika mereka menyerahkan segala urusan kepada Allah dengan menerapkan hukum syariatNya serta tunduk kepada petunjuk Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam. Firman Allah:  إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَنْ يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ [ النور/ 51]“Sesungguhnya jawaban oran-orang mukmin, bila mereka dipanggil menuju Allah dan Rasul-Nya agar Rasul mengadili di antara mereka ialah ucapan. “Kami mendengar, dan Kami patuh”. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung”.Qs An-Nur : 51Wahai umat Islam!    Tidak akan terangkat keterpurukan dengan berbagai macamnya kendatipun kita berupaya dengan segala cara untuk melepaskan diri dari padanya selagi kita belum bertobat secara sungguh-sungguh dari dosa akibat pelanggaran terhadap sistem hukum Allah dan sunnah Nabi-Nya Muhammad –shallallahu alaihi wa sallam- sehingga kondisi kita seperti ini.    Sudah tiba saatnya bagi umat Islam yang sedang mengalami berbagai penderitaan dan tragedi untuk merundukkan hati kepada Tuhannya dan bertobat kepada-Nya dengan memperbaiki urusan mereka sesuai aturan yang diridhai-Nya. Firman Allah :أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ [ الحديد/ 16 ]“Bukankah sudah tiba waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk ingat kepada Allah dan kebenaran yang turun (dari pada-Nya)” Qs :Firman Allah :وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ [ النور/31]“Dan bertobatlah kalian semua kepada Allah wahai orang-orang mukmin agar kalian beruntung”. Qs An-Nur:31    Jika tidak demikian, maka selagi urusan mereka masih berjalan pada jalur kemaksiatan, dan masih berkubang dalam larangan dan perbuatan dosa, sadarilah bahwa jalan kesuksesan dan kemajuan akan tetap menajuh dan menghindar dari mereka. Firman Allah :يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالأنْصَابُ وَالأزْلامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ [ المائدة / 90 ]“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan setan. maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu beruntung”. Qs Al-Maidah: 90    Inilah sebagian contoh, kita saksikan umat Islam saling bertolak belakang, memutuskan hubungan, berselisih, konflik, bertengkar, saling dorong mendorong yang berujung pada pertumpahan darah dan pelanggaran terhadap kehormatan sehingga sebagian pihak menimpakan bencana kepada sebagian lainnya. Terjadilah pada diri mereka itu apa yang difirmankan Allah :وَلا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ [ الأنفال/ 46]“Dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu”.Qs Al-Anfal : 46Terbukti pula pada mereka apa yang disinyalir Nabi –shallallahu alaihi wasallam-:” مَا لَمْ تحْكُمْ أئِمَّتُهُمْ بمَا أنْزَلَ اللهُ إلَّا جَعَل اللهُ بَأسَهُمْ بَيْنَهُمْ “ “Selama para pemimpin mereka (kaum muslimin) tidak menerapkan hukum yang diturunkan Allah, selama itu pula Allah menimpakan bencana di antara mereka”.Inilah pula kemerosotan drastis di bidang ekonomi yang diderita oleh mereka (umat Islam) sebagaimana pula halnya kondisi seluruh dunia. Maka solusi yang dapat menyelamatkan umat Muhammad dari bencana dan kemerosotan ekonomi adalah dengan menerapkan sistem hukum Allah yang diridhai-Nya. Jika menyimpang dari sistem Allah, jatuhlah umat ini dalam kesuliatan dan bencana.Firman Allah :يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَأْكُلُوا الرِّبَا أَضْعَافًا مُضَاعَفَةً وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ[آل عمران/ 130]“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba secara berlipat ganda,dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu beruntung”. Qs Ali Imran:130Kaum muslimin sekalian!    Terwujudnya kebahagiaan sangat tergantung pada penerapan umat ini terhadap sistem kontrol sosial (amar makruf dan nahi munkar), saling memberi nasihat untuk memperbaiki keadaan dan meluruskan haluan sesuai dengan sistem yang ideal, metode yang santun, maksud yang luhur dan tujuan yang mulia. Firman Allah:وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ [ آل عمران/104]“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar. Merekalah orang-orang yang beruntung”. Qs Ali Imran : 104Sebagian ahli tafsir memahami, huruf “Min” dalam ayat ini berfungsi sebagai “penjelas” bukan bermakna “sebagian”.        Manakala umat Islam menyimpang dari jalur ini, jatuhlah mereka kedalam kerugian dan terjungkal ke dalam jurang kebinasaan. Firman Allah :وَالْعَصْرِ ، إِنَّ الإنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ ، إِلا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ [ العصر/ 1-3]“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan saling menasehati supaya mentaati kebenaran dan saling menasehati supaya tetap dalam kesabaran”. Qs Al-Ashr : 1-3Saudara-saudara sesama muslim !    Keberuntungan kaum muslimin erat kaitannya dengan pemahaman mereka terhadap penerapan Islam yang murni, sebagai agama moderat; jauh dari sikap ekstrim, kekerasan dan radikal, jauh pula dari sikap over lemah dan abai terhadap ketetapan hukum yang ada dalam dua wahyu (Al-Qur’an dan Sunnah).    Betapa banyak sikap ekstrem dalam memahami dan menerapkan Islam justru menyeret seseorang pada kerusakan yang besar dan dampak buruk yang tidak terhitung, karena sikap itu bertentangan dengan kehendak Allah dan sunnah Nabi-Nya. Firman Allah:وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا [ البقرة/ 143]“Dan demikian (pula) Kami telah jadikan kalian (umat Islam), umat yang moderat”. Qs Albaqarah: 143Kaum muslimin sekalian!    Kesuksesan duniawi yang identik dengan kemakmuran sosial dan kesejahteraan umum lantaran banyaknya nikmat yang tercurah dan keberkahan yang susul menyusul, bukanlah terjadi karena mengikuti faktor-faktor empiris semata, tetapi lebih pada faktor spritual yang sejati sebagai buah konsitensi dalam mengikuti sunnah dan konsekuensi dari penerapan sistem hukum syariat. Firman Allah :وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا ، وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لا يَحْتَسِبُ [الطلاق/2-3]“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar, dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya”. Qs At-Thalaq ; 2-3Dan firman-Nya :وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالأرْضِ [ الأعراف/ 96]“Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi”. Qs Al-Araf : 96Wahai umat Islam!Setelah lenyapnya apa yang disebut dengan era kolonialisme, banyak di antara umat Islam yang mencoba menerapkan pola pikir dan gagasan asing yang datang dari luar dalam kehidupan mereka, namun mereka tidak menemukan hasilnya kecuali bencana pemikiran, kelemahan militer, kelesuan ekonomi, kerusakan moral dan keretakan sosial. Pemikiran-pemikiran asing itu tidak cocok untuk dunia mereka, bahkan merusak sebagian urusan agamanya.     Sudah tiba waktunya bagi umat Islam setelah pembuktian di lapangan dengan fakta seperti itu untuk kembali kepada cahaya dua wahyu (Al-Qur’an dan Sunnah)sebagai penerang jalan petunjuk. Sudah tiba saatnya bagi orang yang terbius dan silau oleh peradaban yang memperlihatkan prinsip-prinsip dan norma-norma yang kemudian terbukti palsu dan menipu ketika berbagai kepentingan pribadi dan kemanfaatan individual bermunculan. Semua itu hanyalah bagaikan ukiran indah yang ditorehkan pada papan hukum perundang-undangan saja. Ketika diimplementasikan ternyata menghancurkan negeri kaum muslimin, meluluh-lantakkan potensi mereka dan merampas kekayaan negeri mereka secara permanen. Itulah sesungguhnya prinsip-prinsip peradaban yang terlepas dari ketentuan hukum Allah yang membangun. Tujuannya hanya menumbangkan peradaban lain tanpa kriteria agama, moral dan kemanusiaan. Firman Allah :وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ [ المائدة/ 50]“Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik dari pada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin ?”. Qs Al-Maidah : 50==== Khotbah KeduaUmat Islam memiliki potensi kejayaan dan kemenangan yang tidak dimiliki oleh umat lain. Memiliki pilar-pilar untuk membangun dan mencapai kebahagiaan yang tidak dimiliki oleh umat lain. Sejarah umat Islam beberapa abad silam menjadi saksi dan bukti paling nyata atas hal itu. Namun pencapaiannya dengan syarat dan tergadaikan oleh potensi yang ada. Firman Allah:يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ [ محمد/ 7]“Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu”. Qs Muhammad : 7Dan firman Allah :إِنَّا لَنَنْصُرُ رُسُلَنَا وَالَّذِينَ آمَنُوا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ يَقُومُ الأشْهَادُ [ غافر/51]“Sesungguhnya Kami menolong rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari berdirinya saksi-saksi”.Qs Ghafir : 51    Perlindungan Allah –subhanahu wa ta’ala- terhadap umat Islam terkait erat dengan penerapan syariatNya dan sejauh mana ketaatan mereka pada perintahNya dan penghindaran mereka dari larangan-laranganNya. Firman Allah :إِنَّ اللَّهَ يُدَافِعُ عَنِ الَّذِينَ آمَنُوا [ الحج/ 38 ]“Sesungguhnya Allah membela orang-orang yang beriman”.Qs Alhaj:38Menurut bacaan lainnya, “Yadfa’u” (menolak). Disebutkan dalam hadis shahih :” احْفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ ““Jagalah Allah, maka Dia menjagamu”.Keamanan dan stabilitas, rasa aman dan kemakmuran umat ini sangat terkait dengan sejauh mana mereka menjalankan keimanan dengan segala konsekuensinya, Islam dengan segala hak-haknya. Firman Allah:الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَئِكَ لَهُمُ الأمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ [ الأنعام : 82 ]“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur-adukkan iman mereka dengan kezaliman (kemusyrikan), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk”. Qs Al-An’am : 82Superioritas dan keunggulan umat Islam atas musuh-musuhnya sangat tergantung pada keimanan berikut esensinya dan konsekuensinya sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Al-Qayim.Firman Allah :وَلا تَهِنُوا وَلا تَحْزَنُوا وَأَنْتُمُ الأعْلَوْنَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ [ آل عمران/ 139]“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) bersedih hati, karena kamulah orang-orang yang lebih unggul, jika kamu orang-orang yang beriman”.Qs Ali Imran : 139Dan firman-Nya :وَإِنَّ جُنْدَنَا لَهُمُ الْغَالِبُونَ [ الصافات/ 173]“Dan sesungguhnya tentara Kami,itulah yang pasti menang”. Qs As-Shafaat:17Ibnu Katsir berkomentar seputar firman Allah :يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قَاتِلُوا الَّذِينَ يَلُونَكُمْ مِنَ الْكُفَّارِ وَلْيَجِدُوا فِيكُمْ غِلْظَةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ [ التوبة/ 123]“Hai orang-orang yang beriman, perangilah orang-orang kafir yang di sekitar kamu, dan hendaklah mereka menemui ketegasan dari-padamu. Ketahuilah, bahwa Allah bersama orang-orang yang bertaqwa”. Qs At-Taubah : 123” فكلما قام ملك من ملوك الإسلام وأطاع أوامر الله وتوكل على الله ، فتح الله عليه من البلاد ، واسترجع من الأعداء بحسبه وبقدر ما فيه من ولاية الله ““Sejauh mana seorang raja di antara raja-raja Islam menunaikan dan mentaati perintah Allah serta berserah diri kepadaNya, negeri-negeri dapat ia taklukkan atas pertolongan Allah. Terukur dengan loyalitasnya kepada Allah pula, harta rampasan dari musuh dapat ia rebut kembali”.    Selanjutnya, ketahuilah bahwa seharum-harum cara menegakkan kehidupan kita ialah menyibukkan diri dengan bershalawat dan salam kepada Nabi yang mulia.Ya Allah,curahkanlah shalawat, salam dan keberkahan kepada hambaMu dan rasulMu, Nabi Muhammad –shallallahu alaihi wa sallam-.    Ya Allah, ridhailah para Khulafaurasyidin dan para imam yang terbimbing; Abu Bakar, Umar, Usman dan Ali.    Ya Allah, perbaikilah kondisi kami dan kondisi kaum muslimin. Ya Allah, hilangkanlah kesedihan dari kami, angkatlah kegelisahan hati kami.    Ya Allah, selamatkanlah hamba-hambaMu kaum muslimin dari segala bencana dan cobaan. Ya Allah, Hadapilah olehMu musuh-musuh kaum muslimin, sebab mereka tidak akan mampu melemahkan-Mu wahai Tuhan yang Maha Agung.    Ya Allah, lindungilah saudara-saudara kami kaum muslimin di manapun mereka berada. Ya Allah, jadilah Engkau Penolong dan Pembela mereka wahai Tuhan yang Maha Perkasa, Maha Kuat dan Maha Kokoh.    Ya Allah,bimbinglah pelayan dua kota suci untuk melakukan sesuatu yang Engkau cintai dan ridhai. Ya Allah tolonglah agama ini dengannya. Tinggikanlah kalimat kaum muslimin dengannya.    Ya Allah, ampunilah kaum muslimin dan muslimat, yang hidup dan yang telah wafat. Ya Allah, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat. Jauhkanlah kami dari siksa neraka”. == Penutup == 


Khotbah Jum’at, Masjid Nabawi, 25 Shafar 1438 HKhotib : Syekh Husen Bin Abdul Aziz Alu SyekhPenerjemah : Usman HatimKhotbah PertamaDalam realita, umat Islam saat ini menghadapi fitnah bertubi-tubi, bencana beraneka ragam, tantangan membahayakan dan persekongkolan mengicu.Kaum muslimin sedang menanti solusi untuk memperbaiki kondisi mereka, membahagiakan kehidupan mereka, mewujudkan kemakmuran dan kesejahteraan mereka serta mengatasi kesulitan dan penderitaan mereka.Namun, kesuksesan dan kejayaan umat ini dalam mencapai segala dambaan, terselamatkan dari segala ketakutan serta terhindar dari berbagai problematika tidaklah mungkin terwujud tanpa mereka berpegang teguh dengan Islam sejati, termasuk kemurnian tauhid dan kebenaran keyakian, serta berserah diri kepada Tuhan yang Maha Esa dalam segala aktivitas mereka dan berbagai bidang kehidupan mereka. Firman Allah :قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ [ المؤمنون/1]“Sungguh beruntung orang-orang yang beriman” Qs Al-Mu’minun :1Sabda Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- :” يَا أيهَا النّاسُ قُوْلوْا لَا إلَه إلّا اللهَ تُفْلِحُوْا ” أخرجه ابن خزيمة فى صحيحه“Wahai umat manusia, katakanlah ‘La ilaaha illa Allah’ (tidak ada sesembahan kecuali Allah) niscaya kalian beruntung”. HR Ibnu Khuzaimah dalam Shahihnya.Kaum muslimin sekalian!    Umat Islam tidak akan jaya dan kondisi mereka tidak akan membaik selagi seluruh sistem kehidupan mereka dan haluan hidup mereka tidak tunduk kepada syariat Allah –subhanahu wa ta’ala-. Firman Allah:يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ارْكَعُوا وَاسْجُدُوا وَاعْبُدُوا رَبَّكُمْ وَافْعَلُوا الْخَيْرَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ[ الحج/77]“Wahai orang-orang yang beriman, rukuklah dan sujudlah, sembahlah Tuhanmu dan berbuatlah amal kebajikan agar kalian beruntung”. Qs Alhaj : 77Sabda Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- :” قَدْ أفْلَحَ مَنْ أسْلَمَ وَرُزِقَ كَفَافًا وَقَنَعَهُ الله بِمَا آتَاهُ “ “Sungguh bernasib baik orang yang berserah diri, mendapatkan rezeki cukup dan Allah menganugerahinya hati yang merasa puas dengan pemberianNya”.  Kesejahteraan, stabilitas, kemakmuran ekonomi, keamanan dan rasa aman bagi masyarakat muslim tidak akan tercapai kecuali jika mereka menyerahkan segala urusan kepada Allah dengan menerapkan hukum syariatNya serta tunduk kepada petunjuk Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam. Firman Allah:  إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَنْ يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ [ النور/ 51]“Sesungguhnya jawaban oran-orang mukmin, bila mereka dipanggil menuju Allah dan Rasul-Nya agar Rasul mengadili di antara mereka ialah ucapan. “Kami mendengar, dan Kami patuh”. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung”.Qs An-Nur : 51Wahai umat Islam!    Tidak akan terangkat keterpurukan dengan berbagai macamnya kendatipun kita berupaya dengan segala cara untuk melepaskan diri dari padanya selagi kita belum bertobat secara sungguh-sungguh dari dosa akibat pelanggaran terhadap sistem hukum Allah dan sunnah Nabi-Nya Muhammad –shallallahu alaihi wa sallam- sehingga kondisi kita seperti ini.    Sudah tiba saatnya bagi umat Islam yang sedang mengalami berbagai penderitaan dan tragedi untuk merundukkan hati kepada Tuhannya dan bertobat kepada-Nya dengan memperbaiki urusan mereka sesuai aturan yang diridhai-Nya. Firman Allah :أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ [ الحديد/ 16 ]“Bukankah sudah tiba waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk ingat kepada Allah dan kebenaran yang turun (dari pada-Nya)” Qs :Firman Allah :وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ [ النور/31]“Dan bertobatlah kalian semua kepada Allah wahai orang-orang mukmin agar kalian beruntung”. Qs An-Nur:31    Jika tidak demikian, maka selagi urusan mereka masih berjalan pada jalur kemaksiatan, dan masih berkubang dalam larangan dan perbuatan dosa, sadarilah bahwa jalan kesuksesan dan kemajuan akan tetap menajuh dan menghindar dari mereka. Firman Allah :يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالأنْصَابُ وَالأزْلامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ [ المائدة / 90 ]“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan setan. maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu beruntung”. Qs Al-Maidah: 90    Inilah sebagian contoh, kita saksikan umat Islam saling bertolak belakang, memutuskan hubungan, berselisih, konflik, bertengkar, saling dorong mendorong yang berujung pada pertumpahan darah dan pelanggaran terhadap kehormatan sehingga sebagian pihak menimpakan bencana kepada sebagian lainnya. Terjadilah pada diri mereka itu apa yang difirmankan Allah :وَلا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ [ الأنفال/ 46]“Dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu”.Qs Al-Anfal : 46Terbukti pula pada mereka apa yang disinyalir Nabi –shallallahu alaihi wasallam-:” مَا لَمْ تحْكُمْ أئِمَّتُهُمْ بمَا أنْزَلَ اللهُ إلَّا جَعَل اللهُ بَأسَهُمْ بَيْنَهُمْ “ “Selama para pemimpin mereka (kaum muslimin) tidak menerapkan hukum yang diturunkan Allah, selama itu pula Allah menimpakan bencana di antara mereka”.Inilah pula kemerosotan drastis di bidang ekonomi yang diderita oleh mereka (umat Islam) sebagaimana pula halnya kondisi seluruh dunia. Maka solusi yang dapat menyelamatkan umat Muhammad dari bencana dan kemerosotan ekonomi adalah dengan menerapkan sistem hukum Allah yang diridhai-Nya. Jika menyimpang dari sistem Allah, jatuhlah umat ini dalam kesuliatan dan bencana.Firman Allah :يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَأْكُلُوا الرِّبَا أَضْعَافًا مُضَاعَفَةً وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ[آل عمران/ 130]“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba secara berlipat ganda,dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu beruntung”. Qs Ali Imran:130Kaum muslimin sekalian!    Terwujudnya kebahagiaan sangat tergantung pada penerapan umat ini terhadap sistem kontrol sosial (amar makruf dan nahi munkar), saling memberi nasihat untuk memperbaiki keadaan dan meluruskan haluan sesuai dengan sistem yang ideal, metode yang santun, maksud yang luhur dan tujuan yang mulia. Firman Allah:وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ [ آل عمران/104]“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar. Merekalah orang-orang yang beruntung”. Qs Ali Imran : 104Sebagian ahli tafsir memahami, huruf “Min” dalam ayat ini berfungsi sebagai “penjelas” bukan bermakna “sebagian”.        Manakala umat Islam menyimpang dari jalur ini, jatuhlah mereka kedalam kerugian dan terjungkal ke dalam jurang kebinasaan. Firman Allah :وَالْعَصْرِ ، إِنَّ الإنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ ، إِلا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ [ العصر/ 1-3]“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan saling menasehati supaya mentaati kebenaran dan saling menasehati supaya tetap dalam kesabaran”. Qs Al-Ashr : 1-3Saudara-saudara sesama muslim !    Keberuntungan kaum muslimin erat kaitannya dengan pemahaman mereka terhadap penerapan Islam yang murni, sebagai agama moderat; jauh dari sikap ekstrim, kekerasan dan radikal, jauh pula dari sikap over lemah dan abai terhadap ketetapan hukum yang ada dalam dua wahyu (Al-Qur’an dan Sunnah).    Betapa banyak sikap ekstrem dalam memahami dan menerapkan Islam justru menyeret seseorang pada kerusakan yang besar dan dampak buruk yang tidak terhitung, karena sikap itu bertentangan dengan kehendak Allah dan sunnah Nabi-Nya. Firman Allah:وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا [ البقرة/ 143]“Dan demikian (pula) Kami telah jadikan kalian (umat Islam), umat yang moderat”. Qs Albaqarah: 143Kaum muslimin sekalian!    Kesuksesan duniawi yang identik dengan kemakmuran sosial dan kesejahteraan umum lantaran banyaknya nikmat yang tercurah dan keberkahan yang susul menyusul, bukanlah terjadi karena mengikuti faktor-faktor empiris semata, tetapi lebih pada faktor spritual yang sejati sebagai buah konsitensi dalam mengikuti sunnah dan konsekuensi dari penerapan sistem hukum syariat. Firman Allah :وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا ، وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لا يَحْتَسِبُ [الطلاق/2-3]“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar, dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya”. Qs At-Thalaq ; 2-3Dan firman-Nya :وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالأرْضِ [ الأعراف/ 96]“Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi”. Qs Al-Araf : 96Wahai umat Islam!Setelah lenyapnya apa yang disebut dengan era kolonialisme, banyak di antara umat Islam yang mencoba menerapkan pola pikir dan gagasan asing yang datang dari luar dalam kehidupan mereka, namun mereka tidak menemukan hasilnya kecuali bencana pemikiran, kelemahan militer, kelesuan ekonomi, kerusakan moral dan keretakan sosial. Pemikiran-pemikiran asing itu tidak cocok untuk dunia mereka, bahkan merusak sebagian urusan agamanya.     Sudah tiba waktunya bagi umat Islam setelah pembuktian di lapangan dengan fakta seperti itu untuk kembali kepada cahaya dua wahyu (Al-Qur’an dan Sunnah)sebagai penerang jalan petunjuk. Sudah tiba saatnya bagi orang yang terbius dan silau oleh peradaban yang memperlihatkan prinsip-prinsip dan norma-norma yang kemudian terbukti palsu dan menipu ketika berbagai kepentingan pribadi dan kemanfaatan individual bermunculan. Semua itu hanyalah bagaikan ukiran indah yang ditorehkan pada papan hukum perundang-undangan saja. Ketika diimplementasikan ternyata menghancurkan negeri kaum muslimin, meluluh-lantakkan potensi mereka dan merampas kekayaan negeri mereka secara permanen. Itulah sesungguhnya prinsip-prinsip peradaban yang terlepas dari ketentuan hukum Allah yang membangun. Tujuannya hanya menumbangkan peradaban lain tanpa kriteria agama, moral dan kemanusiaan. Firman Allah :وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ [ المائدة/ 50]“Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik dari pada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin ?”. Qs Al-Maidah : 50==== Khotbah KeduaUmat Islam memiliki potensi kejayaan dan kemenangan yang tidak dimiliki oleh umat lain. Memiliki pilar-pilar untuk membangun dan mencapai kebahagiaan yang tidak dimiliki oleh umat lain. Sejarah umat Islam beberapa abad silam menjadi saksi dan bukti paling nyata atas hal itu. Namun pencapaiannya dengan syarat dan tergadaikan oleh potensi yang ada. Firman Allah:يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ [ محمد/ 7]“Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu”. Qs Muhammad : 7Dan firman Allah :إِنَّا لَنَنْصُرُ رُسُلَنَا وَالَّذِينَ آمَنُوا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ يَقُومُ الأشْهَادُ [ غافر/51]“Sesungguhnya Kami menolong rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari berdirinya saksi-saksi”.Qs Ghafir : 51    Perlindungan Allah –subhanahu wa ta’ala- terhadap umat Islam terkait erat dengan penerapan syariatNya dan sejauh mana ketaatan mereka pada perintahNya dan penghindaran mereka dari larangan-laranganNya. Firman Allah :إِنَّ اللَّهَ يُدَافِعُ عَنِ الَّذِينَ آمَنُوا [ الحج/ 38 ]“Sesungguhnya Allah membela orang-orang yang beriman”.Qs Alhaj:38Menurut bacaan lainnya, “Yadfa’u” (menolak). Disebutkan dalam hadis shahih :” احْفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ ““Jagalah Allah, maka Dia menjagamu”.Keamanan dan stabilitas, rasa aman dan kemakmuran umat ini sangat terkait dengan sejauh mana mereka menjalankan keimanan dengan segala konsekuensinya, Islam dengan segala hak-haknya. Firman Allah:الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَئِكَ لَهُمُ الأمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ [ الأنعام : 82 ]“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur-adukkan iman mereka dengan kezaliman (kemusyrikan), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk”. Qs Al-An’am : 82Superioritas dan keunggulan umat Islam atas musuh-musuhnya sangat tergantung pada keimanan berikut esensinya dan konsekuensinya sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Al-Qayim.Firman Allah :وَلا تَهِنُوا وَلا تَحْزَنُوا وَأَنْتُمُ الأعْلَوْنَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ [ آل عمران/ 139]“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) bersedih hati, karena kamulah orang-orang yang lebih unggul, jika kamu orang-orang yang beriman”.Qs Ali Imran : 139Dan firman-Nya :وَإِنَّ جُنْدَنَا لَهُمُ الْغَالِبُونَ [ الصافات/ 173]“Dan sesungguhnya tentara Kami,itulah yang pasti menang”. Qs As-Shafaat:17Ibnu Katsir berkomentar seputar firman Allah :يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قَاتِلُوا الَّذِينَ يَلُونَكُمْ مِنَ الْكُفَّارِ وَلْيَجِدُوا فِيكُمْ غِلْظَةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ [ التوبة/ 123]“Hai orang-orang yang beriman, perangilah orang-orang kafir yang di sekitar kamu, dan hendaklah mereka menemui ketegasan dari-padamu. Ketahuilah, bahwa Allah bersama orang-orang yang bertaqwa”. Qs At-Taubah : 123” فكلما قام ملك من ملوك الإسلام وأطاع أوامر الله وتوكل على الله ، فتح الله عليه من البلاد ، واسترجع من الأعداء بحسبه وبقدر ما فيه من ولاية الله ““Sejauh mana seorang raja di antara raja-raja Islam menunaikan dan mentaati perintah Allah serta berserah diri kepadaNya, negeri-negeri dapat ia taklukkan atas pertolongan Allah. Terukur dengan loyalitasnya kepada Allah pula, harta rampasan dari musuh dapat ia rebut kembali”.    Selanjutnya, ketahuilah bahwa seharum-harum cara menegakkan kehidupan kita ialah menyibukkan diri dengan bershalawat dan salam kepada Nabi yang mulia.Ya Allah,curahkanlah shalawat, salam dan keberkahan kepada hambaMu dan rasulMu, Nabi Muhammad –shallallahu alaihi wa sallam-.    Ya Allah, ridhailah para Khulafaurasyidin dan para imam yang terbimbing; Abu Bakar, Umar, Usman dan Ali.    Ya Allah, perbaikilah kondisi kami dan kondisi kaum muslimin. Ya Allah, hilangkanlah kesedihan dari kami, angkatlah kegelisahan hati kami.    Ya Allah, selamatkanlah hamba-hambaMu kaum muslimin dari segala bencana dan cobaan. Ya Allah, Hadapilah olehMu musuh-musuh kaum muslimin, sebab mereka tidak akan mampu melemahkan-Mu wahai Tuhan yang Maha Agung.    Ya Allah, lindungilah saudara-saudara kami kaum muslimin di manapun mereka berada. Ya Allah, jadilah Engkau Penolong dan Pembela mereka wahai Tuhan yang Maha Perkasa, Maha Kuat dan Maha Kokoh.    Ya Allah,bimbinglah pelayan dua kota suci untuk melakukan sesuatu yang Engkau cintai dan ridhai. Ya Allah tolonglah agama ini dengannya. Tinggikanlah kalimat kaum muslimin dengannya.    Ya Allah, ampunilah kaum muslimin dan muslimat, yang hidup dan yang telah wafat. Ya Allah, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat. Jauhkanlah kami dari siksa neraka”. == Penutup == 

Wajib Memanjangkan Jenggot Dan Haram Memotongnya

Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz rahimahullahBismillah, segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarganya, para sahabatnya dan orang-orang yang mengikuti petunjuknya. Amma ba’du.Telah tersebar pada buletin Al Madinah edisi tanggal 24/1/1415H yang memuat perkataan Syaikh Muhammad bin Ali Ash Shabuni -semoga Allah mengampuninya- yang diantara isinya:“terkait penampilan seorang Muslim, hendaknya seorang Muslim memangkas rambutnya, memotong kukunya, merawat jenggotnya dan tidak dibiarkan semrawut, semestinya jenggot itu dipangkas atau dipendekkan, tidak dibiarkan memanjang sehingga membuat anak-anak serta orang lain ketakutan. Kaidah mengatakan: kullu syai’in zada ‘an haddihi, inqalaba ilaa dhiddihi (Segala sesuatu yang melebihi batas akan menimbulkan hal yang sebaliknya [keburukan]). Diantara para pemuda ada yang menyangka bahwa memangkas sedikit jenggot itu haram. Dan saya lihat sebagian mereka memutlakan secara kaku larangan tersebut sehingga jenggot mereka sampai sepanjang pusar mereka. Sehingga jadilah penampilan mereka seperti Ash-habul Kahfi (penghuni gua) : لَوِ اطَّلَعْتَ عَلَيْهِمْ لَوَلَّيْتَ مِنْهُمْ فِرَارًا وَلَمُلِئْتَ مِنْهُمْ رُعْبًا “Dan jika kamu menyaksikan mereka tentulah kamu akan berpaling dari mereka dengan melarikan diri dan tentulah (hati) kamu akan dipenuhi oleh ketakutan terhadap mereka“. (QS. Al Kahfi: 18)”.Dan seterusnya yang juga disebutkan hadits dari Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam juga dari Ibnu Umar radhiallahu’anhuma.Dikarenakan penyataan ini menyelisihi sunnah Nabi yang shahihah, dan di dalamnya terdapat pembolehan untuk memangkas serta memendekkan jenggot, maka saya memandang wajibnya untuk memberikan peringatan terhadap apa yang ada dalam pernyataan tersebut -semoga Allah memberi taufiq kepada penulisnya- yaitu berupa kesalahan yang fatal dan penyelisihan yang nyata terhadap sunnah Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam.Terdapat hadits shahih dari Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam, dari hadits Ibnu Umar radhiallahu’anhuma, dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim, serta kitab Sunan yang lainnya, bahwa Nabi bersabda:قصوا الشوارب وأعفوا اللحى“Pendekkan kumis dan panjangkanlah jenggot“.Dalam lafadz yang lain:قصوا الشوارب ووفروا اللحى، خالفوا المشركين“Pendekkan kumis dan panjangkanlah jenggot, bedakanlah diri dengan orang-orang Musyrikin“.Dalam Shahih Muslim, dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, dari Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:جزوا الشوارب وأرخوا اللحى، خالفوا المجوس“Pangkaslah kumis dan biarkanlah jenggot,bedakanlah diri dengan orang-orang Majusi“.Dalam hadits-hadits ini terdapat perintah yang tegas untuk memanjangkan jenggot, memperbanyaknya, membiarkannya (tidak mencukurnya), serta memendekkan kumis. Dalam rangka membedakan diri dengan orang Musyrikin dan orang Majusi. Dan hukum asal perintah adalah wajib. Maka tidak boleh menyelisihi perintah ini kecuali dengan dalil yang menunjukkan tidak wajibnya. Dan tidak dalil lain yang menunjukkan bolehnya mencukur jenggot, bolehnya memendekkan jenggot atau bolehnya untuk tidak memanjangkan jenggot.Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا“Ajaran yang dibawa oleh Rasulullah maka kerjakanlah, apa-apa yang dilarang oleh Rasulullah maka tinggalkanlah” (QS. Al Hasyr: 7).Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:قُلْ أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّمَا عَلَيْهِ مَا حُمِّلَ وَعَلَيْكُمْ مَا حُمِّلْتُمْ وَإِنْ تُطِيعُوهُ تَهْتَدُوا وَمَا عَلَى الرَّسُولِ إِلا الْبَلاغُ الْمُبِينُ“Katakanlah: “Taat kepada Allah dan taatlah kepada rasul; dan jika kamu berpaling maka sesungguhnya kewajiban rasul itu adalah apa yang dibebankan kepadanya, dan kewajiban kamu sekalian adalah semata-mata apa yang dibebankan kepadamu. Dan jika kamu taat kepadanya, niscaya kamu mendapat petunjuk. Dan tidak lain kewajiban rasul itu melainkan menyampaikan (amanat Allah) dengan terang”” (QS. An Nur: 54).Ia juga berfirman:وَأَقِيمُوا الصَّلاَةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ“Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan taatlah kepada rasul, supaya kamu diberi rahmat” (QS. An Nur: 56).Ayat-ayat dan hadits-hadits yang maknanya demikian banyak sekali. Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:كل أمتي يدخلون الجنة إلا من أبى، قيل: يا رسول الله ومن يأبى؟! قال: من أطاعني دخل الجنة، ومن عصاني فقد أبى“Setiap umatku akan masuk surga kecuali yang enggan”. Para sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, siapa yang enggan masuk surga?”. Beliau bersabda: “barangsiapa menaatiku ia masuk surga, barangsiapa bermaksiat terhadap perintahku ia enggan masuk surga” (HR. Al Bukhari).Beliau juga bersabda:ما نهيتكم عنه فاجتنبوه، وما أمرتكم به فأتوا منه ما استطعتم، فإنما هلك من كان قبلكم بكثرة مسائلهم واختلافهم على أنبيائهم“Segala yang aku larang maka tinggalkanlah, dan segala yang aku perintahkan maka kerjakanlah semampu kalian. Karena umat sebelum kalian telah binasa karena terlalu banyak bertanya dan banyak menyelisihi perintah Nabi-Nabi mereka” (Muttafaqun ‘alaihi).Hadits-hadits yang semisal ini juga banyak sekali.Syaikh Muhammad Ash Shabuni, sebagaimana disebutkan diatas, berdalil dengan hadits riwayat Tirmidzi, dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam:أنه كان يأخذ من لحيته من طولها وعرضها“Bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam pernah mengambil (memangkas) jenggotnya dari sisi samping dan dari sisi panjangnya (bawah)“.Hadits ini sanadnya lemah, tidak shahih dari Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam. Andaikan hadits ini shahih maka bisa dijadikan hujjah dalam masalah ini, namun sayangnya tidak shahih. Karena di dalam sanadnya terdapat Umar bin Harun Al Balkhi, ia statusnya matrukul hadits.Syaikh Muhammad Ash Shabuni juga berhujjah dengan perbuatan Ibnu Umar radhiallahu’anhuma, bahwasanya beliau memangkas jenggotnya yang melebihi satu genggaman tangan ketika berhaji. Maka ini bukanlah dalil, karena ini adalah ijtihad beliau radhiallahu’anhuma. Yang menjadi dalil adalah hadits yang beliau riwayatkan bukan ijtihad beliau. Para ulama rahimahumullah menegaskan bahwa:أن رواية الراوي من الصحابة ومن بعدهم الثابتة عن النبي صلى الله عليه وسلم هي الحجة، وهي مقدمة على رأيه إذا خالف السنة“riwayat hadits yang shahih dari seorang para sahabat Nabi dan orang-orang setelahnya adalah hujjah (dalil), dan ia lebih didahulukan dari pada pendapat sang rawi tersebut jika ia menyelisihi sunnah”Maka saya harap, pihak yang memberikan penyataan (yaitu Syaikh Muhammad Ash Shabuni) bertaqwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan bertaubat kepada Allah atas apa yang ia tulis. Dan menyatakan koreksi atas penyataannya tersebut di surat kabar yang menerbitkan pernyataan yang tidak benar tersebut. Dan sudah menjadi perkara yang diketahui para ulama, bahwa rujuk kepada kebenaran itu merupakan kemuliaan dan wajib hukumnya serta lebih baik daripada bersikeras di atas kesalahan.Dan saya memohon kepada Allah agar Allah memberikan taufiq-Nya kepada kami dan beliau serta seluruh kaum Muslimin agar memahami agama-Nya dengan benar. Dan semoga Allah melindungi kita semua dari keburukan nafsu kita dan keburukan amalan kita. Dan semoga Allah memperbaiki hati kita dan amalan kita. Sesungguhnya Allah itu Maha Pemurah dan Maha Pemberi Karunia.Shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarganya, para sahabatnya.***Sumber: Fatawa Ibnu Baaz, juz 29 hal. 32-36, dikutip dari web alifta.net.Penerjemah: Yulian PurnamaArtikel Muslim.or.id🔍 Marah Dalam Islam, Pakaian Wanita Menurut Islam, Doa Mudah Bersalin Surah Maryam, Anas Burhanuddin, Kapan Aku Sukses

Wajib Memanjangkan Jenggot Dan Haram Memotongnya

Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz rahimahullahBismillah, segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarganya, para sahabatnya dan orang-orang yang mengikuti petunjuknya. Amma ba’du.Telah tersebar pada buletin Al Madinah edisi tanggal 24/1/1415H yang memuat perkataan Syaikh Muhammad bin Ali Ash Shabuni -semoga Allah mengampuninya- yang diantara isinya:“terkait penampilan seorang Muslim, hendaknya seorang Muslim memangkas rambutnya, memotong kukunya, merawat jenggotnya dan tidak dibiarkan semrawut, semestinya jenggot itu dipangkas atau dipendekkan, tidak dibiarkan memanjang sehingga membuat anak-anak serta orang lain ketakutan. Kaidah mengatakan: kullu syai’in zada ‘an haddihi, inqalaba ilaa dhiddihi (Segala sesuatu yang melebihi batas akan menimbulkan hal yang sebaliknya [keburukan]). Diantara para pemuda ada yang menyangka bahwa memangkas sedikit jenggot itu haram. Dan saya lihat sebagian mereka memutlakan secara kaku larangan tersebut sehingga jenggot mereka sampai sepanjang pusar mereka. Sehingga jadilah penampilan mereka seperti Ash-habul Kahfi (penghuni gua) : لَوِ اطَّلَعْتَ عَلَيْهِمْ لَوَلَّيْتَ مِنْهُمْ فِرَارًا وَلَمُلِئْتَ مِنْهُمْ رُعْبًا “Dan jika kamu menyaksikan mereka tentulah kamu akan berpaling dari mereka dengan melarikan diri dan tentulah (hati) kamu akan dipenuhi oleh ketakutan terhadap mereka“. (QS. Al Kahfi: 18)”.Dan seterusnya yang juga disebutkan hadits dari Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam juga dari Ibnu Umar radhiallahu’anhuma.Dikarenakan penyataan ini menyelisihi sunnah Nabi yang shahihah, dan di dalamnya terdapat pembolehan untuk memangkas serta memendekkan jenggot, maka saya memandang wajibnya untuk memberikan peringatan terhadap apa yang ada dalam pernyataan tersebut -semoga Allah memberi taufiq kepada penulisnya- yaitu berupa kesalahan yang fatal dan penyelisihan yang nyata terhadap sunnah Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam.Terdapat hadits shahih dari Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam, dari hadits Ibnu Umar radhiallahu’anhuma, dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim, serta kitab Sunan yang lainnya, bahwa Nabi bersabda:قصوا الشوارب وأعفوا اللحى“Pendekkan kumis dan panjangkanlah jenggot“.Dalam lafadz yang lain:قصوا الشوارب ووفروا اللحى، خالفوا المشركين“Pendekkan kumis dan panjangkanlah jenggot, bedakanlah diri dengan orang-orang Musyrikin“.Dalam Shahih Muslim, dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, dari Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:جزوا الشوارب وأرخوا اللحى، خالفوا المجوس“Pangkaslah kumis dan biarkanlah jenggot,bedakanlah diri dengan orang-orang Majusi“.Dalam hadits-hadits ini terdapat perintah yang tegas untuk memanjangkan jenggot, memperbanyaknya, membiarkannya (tidak mencukurnya), serta memendekkan kumis. Dalam rangka membedakan diri dengan orang Musyrikin dan orang Majusi. Dan hukum asal perintah adalah wajib. Maka tidak boleh menyelisihi perintah ini kecuali dengan dalil yang menunjukkan tidak wajibnya. Dan tidak dalil lain yang menunjukkan bolehnya mencukur jenggot, bolehnya memendekkan jenggot atau bolehnya untuk tidak memanjangkan jenggot.Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا“Ajaran yang dibawa oleh Rasulullah maka kerjakanlah, apa-apa yang dilarang oleh Rasulullah maka tinggalkanlah” (QS. Al Hasyr: 7).Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:قُلْ أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّمَا عَلَيْهِ مَا حُمِّلَ وَعَلَيْكُمْ مَا حُمِّلْتُمْ وَإِنْ تُطِيعُوهُ تَهْتَدُوا وَمَا عَلَى الرَّسُولِ إِلا الْبَلاغُ الْمُبِينُ“Katakanlah: “Taat kepada Allah dan taatlah kepada rasul; dan jika kamu berpaling maka sesungguhnya kewajiban rasul itu adalah apa yang dibebankan kepadanya, dan kewajiban kamu sekalian adalah semata-mata apa yang dibebankan kepadamu. Dan jika kamu taat kepadanya, niscaya kamu mendapat petunjuk. Dan tidak lain kewajiban rasul itu melainkan menyampaikan (amanat Allah) dengan terang”” (QS. An Nur: 54).Ia juga berfirman:وَأَقِيمُوا الصَّلاَةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ“Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan taatlah kepada rasul, supaya kamu diberi rahmat” (QS. An Nur: 56).Ayat-ayat dan hadits-hadits yang maknanya demikian banyak sekali. Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:كل أمتي يدخلون الجنة إلا من أبى، قيل: يا رسول الله ومن يأبى؟! قال: من أطاعني دخل الجنة، ومن عصاني فقد أبى“Setiap umatku akan masuk surga kecuali yang enggan”. Para sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, siapa yang enggan masuk surga?”. Beliau bersabda: “barangsiapa menaatiku ia masuk surga, barangsiapa bermaksiat terhadap perintahku ia enggan masuk surga” (HR. Al Bukhari).Beliau juga bersabda:ما نهيتكم عنه فاجتنبوه، وما أمرتكم به فأتوا منه ما استطعتم، فإنما هلك من كان قبلكم بكثرة مسائلهم واختلافهم على أنبيائهم“Segala yang aku larang maka tinggalkanlah, dan segala yang aku perintahkan maka kerjakanlah semampu kalian. Karena umat sebelum kalian telah binasa karena terlalu banyak bertanya dan banyak menyelisihi perintah Nabi-Nabi mereka” (Muttafaqun ‘alaihi).Hadits-hadits yang semisal ini juga banyak sekali.Syaikh Muhammad Ash Shabuni, sebagaimana disebutkan diatas, berdalil dengan hadits riwayat Tirmidzi, dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam:أنه كان يأخذ من لحيته من طولها وعرضها“Bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam pernah mengambil (memangkas) jenggotnya dari sisi samping dan dari sisi panjangnya (bawah)“.Hadits ini sanadnya lemah, tidak shahih dari Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam. Andaikan hadits ini shahih maka bisa dijadikan hujjah dalam masalah ini, namun sayangnya tidak shahih. Karena di dalam sanadnya terdapat Umar bin Harun Al Balkhi, ia statusnya matrukul hadits.Syaikh Muhammad Ash Shabuni juga berhujjah dengan perbuatan Ibnu Umar radhiallahu’anhuma, bahwasanya beliau memangkas jenggotnya yang melebihi satu genggaman tangan ketika berhaji. Maka ini bukanlah dalil, karena ini adalah ijtihad beliau radhiallahu’anhuma. Yang menjadi dalil adalah hadits yang beliau riwayatkan bukan ijtihad beliau. Para ulama rahimahumullah menegaskan bahwa:أن رواية الراوي من الصحابة ومن بعدهم الثابتة عن النبي صلى الله عليه وسلم هي الحجة، وهي مقدمة على رأيه إذا خالف السنة“riwayat hadits yang shahih dari seorang para sahabat Nabi dan orang-orang setelahnya adalah hujjah (dalil), dan ia lebih didahulukan dari pada pendapat sang rawi tersebut jika ia menyelisihi sunnah”Maka saya harap, pihak yang memberikan penyataan (yaitu Syaikh Muhammad Ash Shabuni) bertaqwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan bertaubat kepada Allah atas apa yang ia tulis. Dan menyatakan koreksi atas penyataannya tersebut di surat kabar yang menerbitkan pernyataan yang tidak benar tersebut. Dan sudah menjadi perkara yang diketahui para ulama, bahwa rujuk kepada kebenaran itu merupakan kemuliaan dan wajib hukumnya serta lebih baik daripada bersikeras di atas kesalahan.Dan saya memohon kepada Allah agar Allah memberikan taufiq-Nya kepada kami dan beliau serta seluruh kaum Muslimin agar memahami agama-Nya dengan benar. Dan semoga Allah melindungi kita semua dari keburukan nafsu kita dan keburukan amalan kita. Dan semoga Allah memperbaiki hati kita dan amalan kita. Sesungguhnya Allah itu Maha Pemurah dan Maha Pemberi Karunia.Shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarganya, para sahabatnya.***Sumber: Fatawa Ibnu Baaz, juz 29 hal. 32-36, dikutip dari web alifta.net.Penerjemah: Yulian PurnamaArtikel Muslim.or.id🔍 Marah Dalam Islam, Pakaian Wanita Menurut Islam, Doa Mudah Bersalin Surah Maryam, Anas Burhanuddin, Kapan Aku Sukses
Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz rahimahullahBismillah, segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarganya, para sahabatnya dan orang-orang yang mengikuti petunjuknya. Amma ba’du.Telah tersebar pada buletin Al Madinah edisi tanggal 24/1/1415H yang memuat perkataan Syaikh Muhammad bin Ali Ash Shabuni -semoga Allah mengampuninya- yang diantara isinya:“terkait penampilan seorang Muslim, hendaknya seorang Muslim memangkas rambutnya, memotong kukunya, merawat jenggotnya dan tidak dibiarkan semrawut, semestinya jenggot itu dipangkas atau dipendekkan, tidak dibiarkan memanjang sehingga membuat anak-anak serta orang lain ketakutan. Kaidah mengatakan: kullu syai’in zada ‘an haddihi, inqalaba ilaa dhiddihi (Segala sesuatu yang melebihi batas akan menimbulkan hal yang sebaliknya [keburukan]). Diantara para pemuda ada yang menyangka bahwa memangkas sedikit jenggot itu haram. Dan saya lihat sebagian mereka memutlakan secara kaku larangan tersebut sehingga jenggot mereka sampai sepanjang pusar mereka. Sehingga jadilah penampilan mereka seperti Ash-habul Kahfi (penghuni gua) : لَوِ اطَّلَعْتَ عَلَيْهِمْ لَوَلَّيْتَ مِنْهُمْ فِرَارًا وَلَمُلِئْتَ مِنْهُمْ رُعْبًا “Dan jika kamu menyaksikan mereka tentulah kamu akan berpaling dari mereka dengan melarikan diri dan tentulah (hati) kamu akan dipenuhi oleh ketakutan terhadap mereka“. (QS. Al Kahfi: 18)”.Dan seterusnya yang juga disebutkan hadits dari Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam juga dari Ibnu Umar radhiallahu’anhuma.Dikarenakan penyataan ini menyelisihi sunnah Nabi yang shahihah, dan di dalamnya terdapat pembolehan untuk memangkas serta memendekkan jenggot, maka saya memandang wajibnya untuk memberikan peringatan terhadap apa yang ada dalam pernyataan tersebut -semoga Allah memberi taufiq kepada penulisnya- yaitu berupa kesalahan yang fatal dan penyelisihan yang nyata terhadap sunnah Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam.Terdapat hadits shahih dari Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam, dari hadits Ibnu Umar radhiallahu’anhuma, dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim, serta kitab Sunan yang lainnya, bahwa Nabi bersabda:قصوا الشوارب وأعفوا اللحى“Pendekkan kumis dan panjangkanlah jenggot“.Dalam lafadz yang lain:قصوا الشوارب ووفروا اللحى، خالفوا المشركين“Pendekkan kumis dan panjangkanlah jenggot, bedakanlah diri dengan orang-orang Musyrikin“.Dalam Shahih Muslim, dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, dari Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:جزوا الشوارب وأرخوا اللحى، خالفوا المجوس“Pangkaslah kumis dan biarkanlah jenggot,bedakanlah diri dengan orang-orang Majusi“.Dalam hadits-hadits ini terdapat perintah yang tegas untuk memanjangkan jenggot, memperbanyaknya, membiarkannya (tidak mencukurnya), serta memendekkan kumis. Dalam rangka membedakan diri dengan orang Musyrikin dan orang Majusi. Dan hukum asal perintah adalah wajib. Maka tidak boleh menyelisihi perintah ini kecuali dengan dalil yang menunjukkan tidak wajibnya. Dan tidak dalil lain yang menunjukkan bolehnya mencukur jenggot, bolehnya memendekkan jenggot atau bolehnya untuk tidak memanjangkan jenggot.Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا“Ajaran yang dibawa oleh Rasulullah maka kerjakanlah, apa-apa yang dilarang oleh Rasulullah maka tinggalkanlah” (QS. Al Hasyr: 7).Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:قُلْ أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّمَا عَلَيْهِ مَا حُمِّلَ وَعَلَيْكُمْ مَا حُمِّلْتُمْ وَإِنْ تُطِيعُوهُ تَهْتَدُوا وَمَا عَلَى الرَّسُولِ إِلا الْبَلاغُ الْمُبِينُ“Katakanlah: “Taat kepada Allah dan taatlah kepada rasul; dan jika kamu berpaling maka sesungguhnya kewajiban rasul itu adalah apa yang dibebankan kepadanya, dan kewajiban kamu sekalian adalah semata-mata apa yang dibebankan kepadamu. Dan jika kamu taat kepadanya, niscaya kamu mendapat petunjuk. Dan tidak lain kewajiban rasul itu melainkan menyampaikan (amanat Allah) dengan terang”” (QS. An Nur: 54).Ia juga berfirman:وَأَقِيمُوا الصَّلاَةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ“Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan taatlah kepada rasul, supaya kamu diberi rahmat” (QS. An Nur: 56).Ayat-ayat dan hadits-hadits yang maknanya demikian banyak sekali. Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:كل أمتي يدخلون الجنة إلا من أبى، قيل: يا رسول الله ومن يأبى؟! قال: من أطاعني دخل الجنة، ومن عصاني فقد أبى“Setiap umatku akan masuk surga kecuali yang enggan”. Para sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, siapa yang enggan masuk surga?”. Beliau bersabda: “barangsiapa menaatiku ia masuk surga, barangsiapa bermaksiat terhadap perintahku ia enggan masuk surga” (HR. Al Bukhari).Beliau juga bersabda:ما نهيتكم عنه فاجتنبوه، وما أمرتكم به فأتوا منه ما استطعتم، فإنما هلك من كان قبلكم بكثرة مسائلهم واختلافهم على أنبيائهم“Segala yang aku larang maka tinggalkanlah, dan segala yang aku perintahkan maka kerjakanlah semampu kalian. Karena umat sebelum kalian telah binasa karena terlalu banyak bertanya dan banyak menyelisihi perintah Nabi-Nabi mereka” (Muttafaqun ‘alaihi).Hadits-hadits yang semisal ini juga banyak sekali.Syaikh Muhammad Ash Shabuni, sebagaimana disebutkan diatas, berdalil dengan hadits riwayat Tirmidzi, dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam:أنه كان يأخذ من لحيته من طولها وعرضها“Bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam pernah mengambil (memangkas) jenggotnya dari sisi samping dan dari sisi panjangnya (bawah)“.Hadits ini sanadnya lemah, tidak shahih dari Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam. Andaikan hadits ini shahih maka bisa dijadikan hujjah dalam masalah ini, namun sayangnya tidak shahih. Karena di dalam sanadnya terdapat Umar bin Harun Al Balkhi, ia statusnya matrukul hadits.Syaikh Muhammad Ash Shabuni juga berhujjah dengan perbuatan Ibnu Umar radhiallahu’anhuma, bahwasanya beliau memangkas jenggotnya yang melebihi satu genggaman tangan ketika berhaji. Maka ini bukanlah dalil, karena ini adalah ijtihad beliau radhiallahu’anhuma. Yang menjadi dalil adalah hadits yang beliau riwayatkan bukan ijtihad beliau. Para ulama rahimahumullah menegaskan bahwa:أن رواية الراوي من الصحابة ومن بعدهم الثابتة عن النبي صلى الله عليه وسلم هي الحجة، وهي مقدمة على رأيه إذا خالف السنة“riwayat hadits yang shahih dari seorang para sahabat Nabi dan orang-orang setelahnya adalah hujjah (dalil), dan ia lebih didahulukan dari pada pendapat sang rawi tersebut jika ia menyelisihi sunnah”Maka saya harap, pihak yang memberikan penyataan (yaitu Syaikh Muhammad Ash Shabuni) bertaqwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan bertaubat kepada Allah atas apa yang ia tulis. Dan menyatakan koreksi atas penyataannya tersebut di surat kabar yang menerbitkan pernyataan yang tidak benar tersebut. Dan sudah menjadi perkara yang diketahui para ulama, bahwa rujuk kepada kebenaran itu merupakan kemuliaan dan wajib hukumnya serta lebih baik daripada bersikeras di atas kesalahan.Dan saya memohon kepada Allah agar Allah memberikan taufiq-Nya kepada kami dan beliau serta seluruh kaum Muslimin agar memahami agama-Nya dengan benar. Dan semoga Allah melindungi kita semua dari keburukan nafsu kita dan keburukan amalan kita. Dan semoga Allah memperbaiki hati kita dan amalan kita. Sesungguhnya Allah itu Maha Pemurah dan Maha Pemberi Karunia.Shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarganya, para sahabatnya.***Sumber: Fatawa Ibnu Baaz, juz 29 hal. 32-36, dikutip dari web alifta.net.Penerjemah: Yulian PurnamaArtikel Muslim.or.id🔍 Marah Dalam Islam, Pakaian Wanita Menurut Islam, Doa Mudah Bersalin Surah Maryam, Anas Burhanuddin, Kapan Aku Sukses


Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz rahimahullahBismillah, segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarganya, para sahabatnya dan orang-orang yang mengikuti petunjuknya. Amma ba’du.Telah tersebar pada buletin Al Madinah edisi tanggal 24/1/1415H yang memuat perkataan Syaikh Muhammad bin Ali Ash Shabuni -semoga Allah mengampuninya- yang diantara isinya:“terkait penampilan seorang Muslim, hendaknya seorang Muslim memangkas rambutnya, memotong kukunya, merawat jenggotnya dan tidak dibiarkan semrawut, semestinya jenggot itu dipangkas atau dipendekkan, tidak dibiarkan memanjang sehingga membuat anak-anak serta orang lain ketakutan. Kaidah mengatakan: kullu syai’in zada ‘an haddihi, inqalaba ilaa dhiddihi (Segala sesuatu yang melebihi batas akan menimbulkan hal yang sebaliknya [keburukan]). Diantara para pemuda ada yang menyangka bahwa memangkas sedikit jenggot itu haram. Dan saya lihat sebagian mereka memutlakan secara kaku larangan tersebut sehingga jenggot mereka sampai sepanjang pusar mereka. Sehingga jadilah penampilan mereka seperti Ash-habul Kahfi (penghuni gua) : لَوِ اطَّلَعْتَ عَلَيْهِمْ لَوَلَّيْتَ مِنْهُمْ فِرَارًا وَلَمُلِئْتَ مِنْهُمْ رُعْبًا “Dan jika kamu menyaksikan mereka tentulah kamu akan berpaling dari mereka dengan melarikan diri dan tentulah (hati) kamu akan dipenuhi oleh ketakutan terhadap mereka“. (QS. Al Kahfi: 18)”.Dan seterusnya yang juga disebutkan hadits dari Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam juga dari Ibnu Umar radhiallahu’anhuma.Dikarenakan penyataan ini menyelisihi sunnah Nabi yang shahihah, dan di dalamnya terdapat pembolehan untuk memangkas serta memendekkan jenggot, maka saya memandang wajibnya untuk memberikan peringatan terhadap apa yang ada dalam pernyataan tersebut -semoga Allah memberi taufiq kepada penulisnya- yaitu berupa kesalahan yang fatal dan penyelisihan yang nyata terhadap sunnah Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam.Terdapat hadits shahih dari Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam, dari hadits Ibnu Umar radhiallahu’anhuma, dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim, serta kitab Sunan yang lainnya, bahwa Nabi bersabda:قصوا الشوارب وأعفوا اللحى“Pendekkan kumis dan panjangkanlah jenggot“.Dalam lafadz yang lain:قصوا الشوارب ووفروا اللحى، خالفوا المشركين“Pendekkan kumis dan panjangkanlah jenggot, bedakanlah diri dengan orang-orang Musyrikin“.Dalam Shahih Muslim, dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, dari Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:جزوا الشوارب وأرخوا اللحى، خالفوا المجوس“Pangkaslah kumis dan biarkanlah jenggot,bedakanlah diri dengan orang-orang Majusi“.Dalam hadits-hadits ini terdapat perintah yang tegas untuk memanjangkan jenggot, memperbanyaknya, membiarkannya (tidak mencukurnya), serta memendekkan kumis. Dalam rangka membedakan diri dengan orang Musyrikin dan orang Majusi. Dan hukum asal perintah adalah wajib. Maka tidak boleh menyelisihi perintah ini kecuali dengan dalil yang menunjukkan tidak wajibnya. Dan tidak dalil lain yang menunjukkan bolehnya mencukur jenggot, bolehnya memendekkan jenggot atau bolehnya untuk tidak memanjangkan jenggot.Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا“Ajaran yang dibawa oleh Rasulullah maka kerjakanlah, apa-apa yang dilarang oleh Rasulullah maka tinggalkanlah” (QS. Al Hasyr: 7).Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:قُلْ أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّمَا عَلَيْهِ مَا حُمِّلَ وَعَلَيْكُمْ مَا حُمِّلْتُمْ وَإِنْ تُطِيعُوهُ تَهْتَدُوا وَمَا عَلَى الرَّسُولِ إِلا الْبَلاغُ الْمُبِينُ“Katakanlah: “Taat kepada Allah dan taatlah kepada rasul; dan jika kamu berpaling maka sesungguhnya kewajiban rasul itu adalah apa yang dibebankan kepadanya, dan kewajiban kamu sekalian adalah semata-mata apa yang dibebankan kepadamu. Dan jika kamu taat kepadanya, niscaya kamu mendapat petunjuk. Dan tidak lain kewajiban rasul itu melainkan menyampaikan (amanat Allah) dengan terang”” (QS. An Nur: 54).Ia juga berfirman:وَأَقِيمُوا الصَّلاَةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ“Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan taatlah kepada rasul, supaya kamu diberi rahmat” (QS. An Nur: 56).Ayat-ayat dan hadits-hadits yang maknanya demikian banyak sekali. Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:كل أمتي يدخلون الجنة إلا من أبى، قيل: يا رسول الله ومن يأبى؟! قال: من أطاعني دخل الجنة، ومن عصاني فقد أبى“Setiap umatku akan masuk surga kecuali yang enggan”. Para sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, siapa yang enggan masuk surga?”. Beliau bersabda: “barangsiapa menaatiku ia masuk surga, barangsiapa bermaksiat terhadap perintahku ia enggan masuk surga” (HR. Al Bukhari).Beliau juga bersabda:ما نهيتكم عنه فاجتنبوه، وما أمرتكم به فأتوا منه ما استطعتم، فإنما هلك من كان قبلكم بكثرة مسائلهم واختلافهم على أنبيائهم“Segala yang aku larang maka tinggalkanlah, dan segala yang aku perintahkan maka kerjakanlah semampu kalian. Karena umat sebelum kalian telah binasa karena terlalu banyak bertanya dan banyak menyelisihi perintah Nabi-Nabi mereka” (Muttafaqun ‘alaihi).Hadits-hadits yang semisal ini juga banyak sekali.Syaikh Muhammad Ash Shabuni, sebagaimana disebutkan diatas, berdalil dengan hadits riwayat Tirmidzi, dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam:أنه كان يأخذ من لحيته من طولها وعرضها“Bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam pernah mengambil (memangkas) jenggotnya dari sisi samping dan dari sisi panjangnya (bawah)“.Hadits ini sanadnya lemah, tidak shahih dari Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam. Andaikan hadits ini shahih maka bisa dijadikan hujjah dalam masalah ini, namun sayangnya tidak shahih. Karena di dalam sanadnya terdapat Umar bin Harun Al Balkhi, ia statusnya matrukul hadits.Syaikh Muhammad Ash Shabuni juga berhujjah dengan perbuatan Ibnu Umar radhiallahu’anhuma, bahwasanya beliau memangkas jenggotnya yang melebihi satu genggaman tangan ketika berhaji. Maka ini bukanlah dalil, karena ini adalah ijtihad beliau radhiallahu’anhuma. Yang menjadi dalil adalah hadits yang beliau riwayatkan bukan ijtihad beliau. Para ulama rahimahumullah menegaskan bahwa:أن رواية الراوي من الصحابة ومن بعدهم الثابتة عن النبي صلى الله عليه وسلم هي الحجة، وهي مقدمة على رأيه إذا خالف السنة“riwayat hadits yang shahih dari seorang para sahabat Nabi dan orang-orang setelahnya adalah hujjah (dalil), dan ia lebih didahulukan dari pada pendapat sang rawi tersebut jika ia menyelisihi sunnah”Maka saya harap, pihak yang memberikan penyataan (yaitu Syaikh Muhammad Ash Shabuni) bertaqwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan bertaubat kepada Allah atas apa yang ia tulis. Dan menyatakan koreksi atas penyataannya tersebut di surat kabar yang menerbitkan pernyataan yang tidak benar tersebut. Dan sudah menjadi perkara yang diketahui para ulama, bahwa rujuk kepada kebenaran itu merupakan kemuliaan dan wajib hukumnya serta lebih baik daripada bersikeras di atas kesalahan.Dan saya memohon kepada Allah agar Allah memberikan taufiq-Nya kepada kami dan beliau serta seluruh kaum Muslimin agar memahami agama-Nya dengan benar. Dan semoga Allah melindungi kita semua dari keburukan nafsu kita dan keburukan amalan kita. Dan semoga Allah memperbaiki hati kita dan amalan kita. Sesungguhnya Allah itu Maha Pemurah dan Maha Pemberi Karunia.Shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarganya, para sahabatnya.***Sumber: Fatawa Ibnu Baaz, juz 29 hal. 32-36, dikutip dari web alifta.net.Penerjemah: Yulian PurnamaArtikel Muslim.or.id🔍 Marah Dalam Islam, Pakaian Wanita Menurut Islam, Doa Mudah Bersalin Surah Maryam, Anas Burhanuddin, Kapan Aku Sukses

Hadits Lemah: Rasulullah Qunut Shubuh Hingga Meninggal Dunia

Dari Anas bin Malik radhiallahu’anhu, beliau berkata:أنَّ رسولَ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ لم يزَلْ يقنُتُ في الصُّبحِ حتَّى فارقَ الدُّنيا“Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam senantiasa qunut Shubuh sampai beliau meninggal dunia“.Derajat hadits: mungkar.Diriwayatkan oleh Abdurrozaq (4964), Ibnu Abi Syaibah (7002), Ahmad (3/162), Ath Thahawi (1/244), Daruquthni (2/39), Hakim dalam Al Arba’in dan Baihaqi (2/201) dari beberapa jalan dari Abu Ja’far Ar Rozi dari Robi bin Anas dari Anas bin Malik secara marfu‘.Sisi cacatnya adalah Abu Ja’far, dia orang yang jelek hafalannya, hanya bisa digunakan untuk syawahid, namun kalau sendirian maka haditsnya lemah.Hadits ini dilemahkan Ibnul Jauzi, Ibnu Taimiyah, Ibnu Turkumani, Ibnul Qoyyim, Al Albani dan lainnya. Berkata Al Hafidz Ibnu Hajar: “hadits semacam ini tidak bisa dijadikan hujjah (dalil)”.Adapun sisi kemungkaran hadits ini adalah karena bertentangan dengan riwayat lain yang shohih, yaitu:Pertama: Riwayat Anas bin Malik bahwasanya beliau berkata:أنَّ النبي صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ كان لا يَقنطُ إلَّا إذا دَعَى لِقومٍ ، أوْ دَعَى على قومٍ“Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam tidak pernah qunut kecuali apabila mendoakan kebaikan atau kehancuran suatu kaum“.Kedua: Riwayat Abu Hurairah:عن أبي هريرة قال: كان رسول الله صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ كان لا يَقنطُ في صلاة الصبح إلَّا أن يدعو لِقومٍ ، أوْ على قومٍ“Dari Abu Hurairah ia berkata: Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam tidak qunut dalam shalat Shubuh kecuali kalau mendoakan akan kebaikan atau kehancuran suatu kaum“.Ketiga:عن أبي مالك الأشجعي قال: قُلْت لِأَبِي يَا أَبَتِ إنَّكَ قَدْ صَلَّيْتَ خَلْفَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ بِالْكُوفَةِ نَحْوًا مِنْ خَمْسِ سِنِينَ أَكَانُوا يَقْنُتُونَ فِي الْفَجْرِ ؟ قَالَ : أَيْ بُنَيَّ مُحْدَثٌ“Dari Abu Malik Al Asyja’i ia berkata: Saya bertanya kepada bapakku: ‘Wahai bapakku, Sesungguhnya engkau pernah shalat di belakang Rasulullah Shallallahu’alaihi Wassallam, Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali bin Abi Thalib di sini di kota Kufah selama lima tahun. Apakah mereka semua qunut?’. Maka bapaknya menjawab: ‘Wahai anakku, itu adalah perbuatan bid’ah’“ (HR. Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah, Nasa’i dan lainnya dengan sanad shohih).Lihat Zadul Ma’ad (1/271), Silsilah Adh Dha’ifah (1238, 5574), Irwa Gholil (435), Takhrij Adzkar Nawawiyah (137).***Disalin dari buku “Hadits Lemah & Palsu Yang Populer Di Indonesia” hal 125-126.Penulis: Ust. Ahmad SabiqArtikel Muslim.or.id🔍 Hukum Shalawat Nariyah, Jadwal Kajian Rutin, Pembalasan, Pendiri Salafi, Mahar Terbaik Menurut Islam

Hadits Lemah: Rasulullah Qunut Shubuh Hingga Meninggal Dunia

Dari Anas bin Malik radhiallahu’anhu, beliau berkata:أنَّ رسولَ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ لم يزَلْ يقنُتُ في الصُّبحِ حتَّى فارقَ الدُّنيا“Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam senantiasa qunut Shubuh sampai beliau meninggal dunia“.Derajat hadits: mungkar.Diriwayatkan oleh Abdurrozaq (4964), Ibnu Abi Syaibah (7002), Ahmad (3/162), Ath Thahawi (1/244), Daruquthni (2/39), Hakim dalam Al Arba’in dan Baihaqi (2/201) dari beberapa jalan dari Abu Ja’far Ar Rozi dari Robi bin Anas dari Anas bin Malik secara marfu‘.Sisi cacatnya adalah Abu Ja’far, dia orang yang jelek hafalannya, hanya bisa digunakan untuk syawahid, namun kalau sendirian maka haditsnya lemah.Hadits ini dilemahkan Ibnul Jauzi, Ibnu Taimiyah, Ibnu Turkumani, Ibnul Qoyyim, Al Albani dan lainnya. Berkata Al Hafidz Ibnu Hajar: “hadits semacam ini tidak bisa dijadikan hujjah (dalil)”.Adapun sisi kemungkaran hadits ini adalah karena bertentangan dengan riwayat lain yang shohih, yaitu:Pertama: Riwayat Anas bin Malik bahwasanya beliau berkata:أنَّ النبي صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ كان لا يَقنطُ إلَّا إذا دَعَى لِقومٍ ، أوْ دَعَى على قومٍ“Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam tidak pernah qunut kecuali apabila mendoakan kebaikan atau kehancuran suatu kaum“.Kedua: Riwayat Abu Hurairah:عن أبي هريرة قال: كان رسول الله صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ كان لا يَقنطُ في صلاة الصبح إلَّا أن يدعو لِقومٍ ، أوْ على قومٍ“Dari Abu Hurairah ia berkata: Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam tidak qunut dalam shalat Shubuh kecuali kalau mendoakan akan kebaikan atau kehancuran suatu kaum“.Ketiga:عن أبي مالك الأشجعي قال: قُلْت لِأَبِي يَا أَبَتِ إنَّكَ قَدْ صَلَّيْتَ خَلْفَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ بِالْكُوفَةِ نَحْوًا مِنْ خَمْسِ سِنِينَ أَكَانُوا يَقْنُتُونَ فِي الْفَجْرِ ؟ قَالَ : أَيْ بُنَيَّ مُحْدَثٌ“Dari Abu Malik Al Asyja’i ia berkata: Saya bertanya kepada bapakku: ‘Wahai bapakku, Sesungguhnya engkau pernah shalat di belakang Rasulullah Shallallahu’alaihi Wassallam, Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali bin Abi Thalib di sini di kota Kufah selama lima tahun. Apakah mereka semua qunut?’. Maka bapaknya menjawab: ‘Wahai anakku, itu adalah perbuatan bid’ah’“ (HR. Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah, Nasa’i dan lainnya dengan sanad shohih).Lihat Zadul Ma’ad (1/271), Silsilah Adh Dha’ifah (1238, 5574), Irwa Gholil (435), Takhrij Adzkar Nawawiyah (137).***Disalin dari buku “Hadits Lemah & Palsu Yang Populer Di Indonesia” hal 125-126.Penulis: Ust. Ahmad SabiqArtikel Muslim.or.id🔍 Hukum Shalawat Nariyah, Jadwal Kajian Rutin, Pembalasan, Pendiri Salafi, Mahar Terbaik Menurut Islam
Dari Anas bin Malik radhiallahu’anhu, beliau berkata:أنَّ رسولَ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ لم يزَلْ يقنُتُ في الصُّبحِ حتَّى فارقَ الدُّنيا“Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam senantiasa qunut Shubuh sampai beliau meninggal dunia“.Derajat hadits: mungkar.Diriwayatkan oleh Abdurrozaq (4964), Ibnu Abi Syaibah (7002), Ahmad (3/162), Ath Thahawi (1/244), Daruquthni (2/39), Hakim dalam Al Arba’in dan Baihaqi (2/201) dari beberapa jalan dari Abu Ja’far Ar Rozi dari Robi bin Anas dari Anas bin Malik secara marfu‘.Sisi cacatnya adalah Abu Ja’far, dia orang yang jelek hafalannya, hanya bisa digunakan untuk syawahid, namun kalau sendirian maka haditsnya lemah.Hadits ini dilemahkan Ibnul Jauzi, Ibnu Taimiyah, Ibnu Turkumani, Ibnul Qoyyim, Al Albani dan lainnya. Berkata Al Hafidz Ibnu Hajar: “hadits semacam ini tidak bisa dijadikan hujjah (dalil)”.Adapun sisi kemungkaran hadits ini adalah karena bertentangan dengan riwayat lain yang shohih, yaitu:Pertama: Riwayat Anas bin Malik bahwasanya beliau berkata:أنَّ النبي صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ كان لا يَقنطُ إلَّا إذا دَعَى لِقومٍ ، أوْ دَعَى على قومٍ“Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam tidak pernah qunut kecuali apabila mendoakan kebaikan atau kehancuran suatu kaum“.Kedua: Riwayat Abu Hurairah:عن أبي هريرة قال: كان رسول الله صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ كان لا يَقنطُ في صلاة الصبح إلَّا أن يدعو لِقومٍ ، أوْ على قومٍ“Dari Abu Hurairah ia berkata: Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam tidak qunut dalam shalat Shubuh kecuali kalau mendoakan akan kebaikan atau kehancuran suatu kaum“.Ketiga:عن أبي مالك الأشجعي قال: قُلْت لِأَبِي يَا أَبَتِ إنَّكَ قَدْ صَلَّيْتَ خَلْفَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ بِالْكُوفَةِ نَحْوًا مِنْ خَمْسِ سِنِينَ أَكَانُوا يَقْنُتُونَ فِي الْفَجْرِ ؟ قَالَ : أَيْ بُنَيَّ مُحْدَثٌ“Dari Abu Malik Al Asyja’i ia berkata: Saya bertanya kepada bapakku: ‘Wahai bapakku, Sesungguhnya engkau pernah shalat di belakang Rasulullah Shallallahu’alaihi Wassallam, Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali bin Abi Thalib di sini di kota Kufah selama lima tahun. Apakah mereka semua qunut?’. Maka bapaknya menjawab: ‘Wahai anakku, itu adalah perbuatan bid’ah’“ (HR. Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah, Nasa’i dan lainnya dengan sanad shohih).Lihat Zadul Ma’ad (1/271), Silsilah Adh Dha’ifah (1238, 5574), Irwa Gholil (435), Takhrij Adzkar Nawawiyah (137).***Disalin dari buku “Hadits Lemah & Palsu Yang Populer Di Indonesia” hal 125-126.Penulis: Ust. Ahmad SabiqArtikel Muslim.or.id🔍 Hukum Shalawat Nariyah, Jadwal Kajian Rutin, Pembalasan, Pendiri Salafi, Mahar Terbaik Menurut Islam


Dari Anas bin Malik radhiallahu’anhu, beliau berkata:أنَّ رسولَ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ لم يزَلْ يقنُتُ في الصُّبحِ حتَّى فارقَ الدُّنيا“Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam senantiasa qunut Shubuh sampai beliau meninggal dunia“.Derajat hadits: mungkar.Diriwayatkan oleh Abdurrozaq (4964), Ibnu Abi Syaibah (7002), Ahmad (3/162), Ath Thahawi (1/244), Daruquthni (2/39), Hakim dalam Al Arba’in dan Baihaqi (2/201) dari beberapa jalan dari Abu Ja’far Ar Rozi dari Robi bin Anas dari Anas bin Malik secara marfu‘.Sisi cacatnya adalah Abu Ja’far, dia orang yang jelek hafalannya, hanya bisa digunakan untuk syawahid, namun kalau sendirian maka haditsnya lemah.Hadits ini dilemahkan Ibnul Jauzi, Ibnu Taimiyah, Ibnu Turkumani, Ibnul Qoyyim, Al Albani dan lainnya. Berkata Al Hafidz Ibnu Hajar: “hadits semacam ini tidak bisa dijadikan hujjah (dalil)”.Adapun sisi kemungkaran hadits ini adalah karena bertentangan dengan riwayat lain yang shohih, yaitu:Pertama: Riwayat Anas bin Malik bahwasanya beliau berkata:أنَّ النبي صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ كان لا يَقنطُ إلَّا إذا دَعَى لِقومٍ ، أوْ دَعَى على قومٍ“Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam tidak pernah qunut kecuali apabila mendoakan kebaikan atau kehancuran suatu kaum“.Kedua: Riwayat Abu Hurairah:عن أبي هريرة قال: كان رسول الله صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ كان لا يَقنطُ في صلاة الصبح إلَّا أن يدعو لِقومٍ ، أوْ على قومٍ“Dari Abu Hurairah ia berkata: Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam tidak qunut dalam shalat Shubuh kecuali kalau mendoakan akan kebaikan atau kehancuran suatu kaum“.Ketiga:عن أبي مالك الأشجعي قال: قُلْت لِأَبِي يَا أَبَتِ إنَّكَ قَدْ صَلَّيْتَ خَلْفَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ بِالْكُوفَةِ نَحْوًا مِنْ خَمْسِ سِنِينَ أَكَانُوا يَقْنُتُونَ فِي الْفَجْرِ ؟ قَالَ : أَيْ بُنَيَّ مُحْدَثٌ“Dari Abu Malik Al Asyja’i ia berkata: Saya bertanya kepada bapakku: ‘Wahai bapakku, Sesungguhnya engkau pernah shalat di belakang Rasulullah Shallallahu’alaihi Wassallam, Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali bin Abi Thalib di sini di kota Kufah selama lima tahun. Apakah mereka semua qunut?’. Maka bapaknya menjawab: ‘Wahai anakku, itu adalah perbuatan bid’ah’“ (HR. Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah, Nasa’i dan lainnya dengan sanad shohih).Lihat Zadul Ma’ad (1/271), Silsilah Adh Dha’ifah (1238, 5574), Irwa Gholil (435), Takhrij Adzkar Nawawiyah (137).***Disalin dari buku “Hadits Lemah & Palsu Yang Populer Di Indonesia” hal 125-126.Penulis: Ust. Ahmad SabiqArtikel Muslim.or.id🔍 Hukum Shalawat Nariyah, Jadwal Kajian Rutin, Pembalasan, Pendiri Salafi, Mahar Terbaik Menurut Islam
Prev     Next