Menundukkan Hawa Nafsu Demi Mengikuti Ajaran Nabi

Kita diperintahkan untuk menundukkan hawa nafsu kita demi mengikuti ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.   Menundukkan Hawa Nafsu Dalam hadits dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يَكُوْنَ هَوَاهُ تَبَعًا لِمَا جِئْتُ بِهِ “Tidaklah beriman salah seorang di antara kalian sampai ia menundukkan hawa nafsunya untuk tunduk pada ajaran yang aku bawa.” (Diriwayatkan dalam kitab Al-Hujjah dengan sanad yang shahih menurut Imam Nawawi. Namun penshahihan hadits ini tidak tepat menurut Ibnu Rajab). Walau hadits di atas adalah hadits yang dha’if, namun maknanya benar. Makna hadits tersebut menurut Ibnu Rajab Al-Hambali, kita dikatakan memiliki iman yang sempurna yang sifatnya wajib ketika kita tunduk pada ajaran Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan mengikuti perintahnya dan menjauhi larangannya serta mencintai perintah dan membenci setiap larangan. Demikian dijelaskan oleh Ibnu Rajab dalam Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2: 395. Banyak dalil lain yang menjelaskan semisal itu. Seperti firman Allah Ta’ala, فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا “Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS. An-Nisa’: 65) Dalam ayat lain juga disebutkan, وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ “Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.” (QS. Al-Ahzab: 36) Sedangkan orang yang membenci sesuatu yang Allah cintai atau mencintai sesuatu yang Allah benci, dialah yang mendapatkan celaaan. Allah Ta’ala berfirman, ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ كَرِهُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأَحْبَطَ أَعْمَالَهُمْ “Yang demikian itu adalah karena Sesungguhnya mereka benci kepada apa yang diturunkan Allah (Al Quran) lalu Allah menghapuskan (pahala-pahala) amal-amal mereka.” (QS. Muhammad: 9) Juga disebutkan dalam surat yang sama, ذَلِكَ بِأَنَّهُمُ اتَّبَعُوا مَا أَسْخَطَ اللَّهَ وَكَرِهُوا رِضْوَانَهُ فَأَحْبَطَ أَعْمَالَهُمْ “Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka mengikuti apa yang menimbulkan kemurkaan Allah dan karena mereka membenci keridhaan-Nya, sebab itu Allah menghapus (pahala) amal-amal mereka.” (QS. Muhammad: 28)   Melakukan yang Wajib dan Sunnah, Meninggalkan yang Haram dan Makruh Wajib bagi setiap mukmin mencintai segala yang Allah cintai sehingga harus baginya melakukan perkara yang wajib. Jika kecintaannya bertambah, ia menambah lagi dengan melakukan amalan sunnah. Itulah tambahan untuknya. Begitu pula wajib bagi setiap muslim membenci segala yang Allah benci sehingga sudah selayaknya baginya menahan diri dari segala perkara yang haram. Rasa bencinya ditambah lagi dengan meninggalkan hal yang makruh (makruh tanzih). Ada hadits dalam shahihain, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ “Salah seorang di antara kalian tidaklah beriman sampai aku lebih ia cintai dari orang tua, anak dan manusia seluruhnya.” (HR. Bukhari, no. 15; Muslim, no. 44) Dalam riwayat Muslim disebutkan, لاَ يُؤْمِنُ عَبْدٌ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ أَهْلِهِ وَمَالِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ “Seorang hamba tidaklah beriman hingga aku lebih ia cintai dari keluarga, harta, dan manusia seluruhnya.” (HR. Muslim, no. 44)   Jangan Sampai Cinta Allah dan Rasul Dikalahkan oleh Dunia Allah Ta’ala berfirman, قُلْ إِنْ كَانَ آَبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ “Katakanlah: “jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” (QS. At-Taubah: 24) Dalam ayat disebutkan harta yang ia usahakan. Dikhususkan demikian karena yang memiliki harta tentu sangat cinta sekali pada hartanya. Apalagi harta tersebut diperoleh dengan keletihan dan kepayahan tentu lebih dicintai dibanding dengan yang tidak demikian. Sedangkan yang dimaksudkan perdagangan dalam ayat di atas itu umum, mencakup berbagai bentuk perdagangan dan berbagai aset yang dijual, ada berupa alat tukar, bejana, senjata, barang-barang, biji-bijian, tanaman dan ternak. Begitu pula tempat tinggal yang bagus dan penuh dengan berbagai perhiasan serta rumah yang sesuai keinginan. Jika itu semua lebih dicintai dari Allah, Rasul-Nya dan jihad di jalan Allah, maka ia termasuk orang yang fasik lagi zalim. Lihat penjelasan Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah dalam kitab tafsirnya, Taisir Al-Karim Ar-Rahman.   Bahkan Rasul Harus Lebih Dicintai dari Diri Sendiri Dari ‘Abdullah bin Hisyam, ia berkata, كُنَّا مَعَ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – وَهْوَ آخِذٌ بِيَدِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ فَقَالَ لَهُ عُمَرُ يَا رَسُولَ اللَّهِ لأَنْتَ أَحَبُّ إِلَىَّ مِنْ كُلِّ شَىْءٍ إِلاَّ مِنْ نَفْسِى . فَقَالَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – « لاَ وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْكَ مِنْ نَفْسِكَ » . فَقَالَ لَهُ عُمَرُ فَإِنَّهُ الآنَ وَاللَّهِ لأَنْتَ أَحَبُّ إِلَىَّ مِنْ نَفْسِى . فَقَالَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – « الآنَ يَا عُمَرُ » “Kami pernah bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau ketika itu memegang tangan Umar bin Al-Khattab. ‘Umar berkata pada beliau, “Wahai Rasulullah, engkau lebih aku cintai dari segala sesuatu kecuali dari diriku sendiri.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak. Demi yang jiwaku berada di tangan-Nya, pokoknya aku tetap harus lebih engkau cintai dari dirimu sendiri.” Umar pun berkata, “Sekarang, demi Allah, engkau lebih aku cintai dari diriku sendiri.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Pokoknya mulai dari sekarang wahai Umar.”  (HR. Bukhari, no. 6632).   Timbulnya Maksiat dan Bid’ah Semua maksiat timbul karena seseorang mendahulukan hawa nafsu daripada kecintaan pada Allah dan Rasul-Nya. Contoh yang disebutkan oleh Allah tentang orang musyrik, فَإِنْ لَمْ يَسْتَجِيبُوا لَكَ فَاعْلَمْ أَنَّمَا يَتَّبِعُونَ أَهْوَاءَهُمْ وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنِ اتَّبَعَ هَوَاهُ بِغَيْرِ هُدًى مِنَ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ “Maka jika mereka tidak menjawab (tantanganmu) ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka (belaka). Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikitpun. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Qashshash: 50) Begitu pula bid’ah bisa muncul karena mendahulukan hawa nafsu daripada mengikuti syari’at Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sekarang, sudahkah kita benar-benar mencintai Rasul dan mengikuti ajaran beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam? Ataukah kita malah mengedepankan hawa nafsu kita? Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah.   Referensi: Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam. Cetakan kesepuluh, tahun 1432 H. Ibnu Rajab Al-Hambali. Penerbit Muassasah Ar-Risalah. — Naskah Khutbah Jumat, Jumat Pon, 13 Rabi’ul Awwal 1437 H di Masjid Adz-Dzikro, Ngampel, Warak, Gunungkidul Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsbid'ah cinta nabi hawa nafsu

Menundukkan Hawa Nafsu Demi Mengikuti Ajaran Nabi

Kita diperintahkan untuk menundukkan hawa nafsu kita demi mengikuti ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.   Menundukkan Hawa Nafsu Dalam hadits dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يَكُوْنَ هَوَاهُ تَبَعًا لِمَا جِئْتُ بِهِ “Tidaklah beriman salah seorang di antara kalian sampai ia menundukkan hawa nafsunya untuk tunduk pada ajaran yang aku bawa.” (Diriwayatkan dalam kitab Al-Hujjah dengan sanad yang shahih menurut Imam Nawawi. Namun penshahihan hadits ini tidak tepat menurut Ibnu Rajab). Walau hadits di atas adalah hadits yang dha’if, namun maknanya benar. Makna hadits tersebut menurut Ibnu Rajab Al-Hambali, kita dikatakan memiliki iman yang sempurna yang sifatnya wajib ketika kita tunduk pada ajaran Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan mengikuti perintahnya dan menjauhi larangannya serta mencintai perintah dan membenci setiap larangan. Demikian dijelaskan oleh Ibnu Rajab dalam Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2: 395. Banyak dalil lain yang menjelaskan semisal itu. Seperti firman Allah Ta’ala, فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا “Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS. An-Nisa’: 65) Dalam ayat lain juga disebutkan, وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ “Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.” (QS. Al-Ahzab: 36) Sedangkan orang yang membenci sesuatu yang Allah cintai atau mencintai sesuatu yang Allah benci, dialah yang mendapatkan celaaan. Allah Ta’ala berfirman, ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ كَرِهُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأَحْبَطَ أَعْمَالَهُمْ “Yang demikian itu adalah karena Sesungguhnya mereka benci kepada apa yang diturunkan Allah (Al Quran) lalu Allah menghapuskan (pahala-pahala) amal-amal mereka.” (QS. Muhammad: 9) Juga disebutkan dalam surat yang sama, ذَلِكَ بِأَنَّهُمُ اتَّبَعُوا مَا أَسْخَطَ اللَّهَ وَكَرِهُوا رِضْوَانَهُ فَأَحْبَطَ أَعْمَالَهُمْ “Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka mengikuti apa yang menimbulkan kemurkaan Allah dan karena mereka membenci keridhaan-Nya, sebab itu Allah menghapus (pahala) amal-amal mereka.” (QS. Muhammad: 28)   Melakukan yang Wajib dan Sunnah, Meninggalkan yang Haram dan Makruh Wajib bagi setiap mukmin mencintai segala yang Allah cintai sehingga harus baginya melakukan perkara yang wajib. Jika kecintaannya bertambah, ia menambah lagi dengan melakukan amalan sunnah. Itulah tambahan untuknya. Begitu pula wajib bagi setiap muslim membenci segala yang Allah benci sehingga sudah selayaknya baginya menahan diri dari segala perkara yang haram. Rasa bencinya ditambah lagi dengan meninggalkan hal yang makruh (makruh tanzih). Ada hadits dalam shahihain, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ “Salah seorang di antara kalian tidaklah beriman sampai aku lebih ia cintai dari orang tua, anak dan manusia seluruhnya.” (HR. Bukhari, no. 15; Muslim, no. 44) Dalam riwayat Muslim disebutkan, لاَ يُؤْمِنُ عَبْدٌ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ أَهْلِهِ وَمَالِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ “Seorang hamba tidaklah beriman hingga aku lebih ia cintai dari keluarga, harta, dan manusia seluruhnya.” (HR. Muslim, no. 44)   Jangan Sampai Cinta Allah dan Rasul Dikalahkan oleh Dunia Allah Ta’ala berfirman, قُلْ إِنْ كَانَ آَبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ “Katakanlah: “jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” (QS. At-Taubah: 24) Dalam ayat disebutkan harta yang ia usahakan. Dikhususkan demikian karena yang memiliki harta tentu sangat cinta sekali pada hartanya. Apalagi harta tersebut diperoleh dengan keletihan dan kepayahan tentu lebih dicintai dibanding dengan yang tidak demikian. Sedangkan yang dimaksudkan perdagangan dalam ayat di atas itu umum, mencakup berbagai bentuk perdagangan dan berbagai aset yang dijual, ada berupa alat tukar, bejana, senjata, barang-barang, biji-bijian, tanaman dan ternak. Begitu pula tempat tinggal yang bagus dan penuh dengan berbagai perhiasan serta rumah yang sesuai keinginan. Jika itu semua lebih dicintai dari Allah, Rasul-Nya dan jihad di jalan Allah, maka ia termasuk orang yang fasik lagi zalim. Lihat penjelasan Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah dalam kitab tafsirnya, Taisir Al-Karim Ar-Rahman.   Bahkan Rasul Harus Lebih Dicintai dari Diri Sendiri Dari ‘Abdullah bin Hisyam, ia berkata, كُنَّا مَعَ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – وَهْوَ آخِذٌ بِيَدِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ فَقَالَ لَهُ عُمَرُ يَا رَسُولَ اللَّهِ لأَنْتَ أَحَبُّ إِلَىَّ مِنْ كُلِّ شَىْءٍ إِلاَّ مِنْ نَفْسِى . فَقَالَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – « لاَ وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْكَ مِنْ نَفْسِكَ » . فَقَالَ لَهُ عُمَرُ فَإِنَّهُ الآنَ وَاللَّهِ لأَنْتَ أَحَبُّ إِلَىَّ مِنْ نَفْسِى . فَقَالَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – « الآنَ يَا عُمَرُ » “Kami pernah bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau ketika itu memegang tangan Umar bin Al-Khattab. ‘Umar berkata pada beliau, “Wahai Rasulullah, engkau lebih aku cintai dari segala sesuatu kecuali dari diriku sendiri.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak. Demi yang jiwaku berada di tangan-Nya, pokoknya aku tetap harus lebih engkau cintai dari dirimu sendiri.” Umar pun berkata, “Sekarang, demi Allah, engkau lebih aku cintai dari diriku sendiri.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Pokoknya mulai dari sekarang wahai Umar.”  (HR. Bukhari, no. 6632).   Timbulnya Maksiat dan Bid’ah Semua maksiat timbul karena seseorang mendahulukan hawa nafsu daripada kecintaan pada Allah dan Rasul-Nya. Contoh yang disebutkan oleh Allah tentang orang musyrik, فَإِنْ لَمْ يَسْتَجِيبُوا لَكَ فَاعْلَمْ أَنَّمَا يَتَّبِعُونَ أَهْوَاءَهُمْ وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنِ اتَّبَعَ هَوَاهُ بِغَيْرِ هُدًى مِنَ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ “Maka jika mereka tidak menjawab (tantanganmu) ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka (belaka). Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikitpun. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Qashshash: 50) Begitu pula bid’ah bisa muncul karena mendahulukan hawa nafsu daripada mengikuti syari’at Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sekarang, sudahkah kita benar-benar mencintai Rasul dan mengikuti ajaran beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam? Ataukah kita malah mengedepankan hawa nafsu kita? Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah.   Referensi: Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam. Cetakan kesepuluh, tahun 1432 H. Ibnu Rajab Al-Hambali. Penerbit Muassasah Ar-Risalah. — Naskah Khutbah Jumat, Jumat Pon, 13 Rabi’ul Awwal 1437 H di Masjid Adz-Dzikro, Ngampel, Warak, Gunungkidul Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsbid'ah cinta nabi hawa nafsu
Kita diperintahkan untuk menundukkan hawa nafsu kita demi mengikuti ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.   Menundukkan Hawa Nafsu Dalam hadits dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يَكُوْنَ هَوَاهُ تَبَعًا لِمَا جِئْتُ بِهِ “Tidaklah beriman salah seorang di antara kalian sampai ia menundukkan hawa nafsunya untuk tunduk pada ajaran yang aku bawa.” (Diriwayatkan dalam kitab Al-Hujjah dengan sanad yang shahih menurut Imam Nawawi. Namun penshahihan hadits ini tidak tepat menurut Ibnu Rajab). Walau hadits di atas adalah hadits yang dha’if, namun maknanya benar. Makna hadits tersebut menurut Ibnu Rajab Al-Hambali, kita dikatakan memiliki iman yang sempurna yang sifatnya wajib ketika kita tunduk pada ajaran Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan mengikuti perintahnya dan menjauhi larangannya serta mencintai perintah dan membenci setiap larangan. Demikian dijelaskan oleh Ibnu Rajab dalam Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2: 395. Banyak dalil lain yang menjelaskan semisal itu. Seperti firman Allah Ta’ala, فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا “Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS. An-Nisa’: 65) Dalam ayat lain juga disebutkan, وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ “Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.” (QS. Al-Ahzab: 36) Sedangkan orang yang membenci sesuatu yang Allah cintai atau mencintai sesuatu yang Allah benci, dialah yang mendapatkan celaaan. Allah Ta’ala berfirman, ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ كَرِهُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأَحْبَطَ أَعْمَالَهُمْ “Yang demikian itu adalah karena Sesungguhnya mereka benci kepada apa yang diturunkan Allah (Al Quran) lalu Allah menghapuskan (pahala-pahala) amal-amal mereka.” (QS. Muhammad: 9) Juga disebutkan dalam surat yang sama, ذَلِكَ بِأَنَّهُمُ اتَّبَعُوا مَا أَسْخَطَ اللَّهَ وَكَرِهُوا رِضْوَانَهُ فَأَحْبَطَ أَعْمَالَهُمْ “Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka mengikuti apa yang menimbulkan kemurkaan Allah dan karena mereka membenci keridhaan-Nya, sebab itu Allah menghapus (pahala) amal-amal mereka.” (QS. Muhammad: 28)   Melakukan yang Wajib dan Sunnah, Meninggalkan yang Haram dan Makruh Wajib bagi setiap mukmin mencintai segala yang Allah cintai sehingga harus baginya melakukan perkara yang wajib. Jika kecintaannya bertambah, ia menambah lagi dengan melakukan amalan sunnah. Itulah tambahan untuknya. Begitu pula wajib bagi setiap muslim membenci segala yang Allah benci sehingga sudah selayaknya baginya menahan diri dari segala perkara yang haram. Rasa bencinya ditambah lagi dengan meninggalkan hal yang makruh (makruh tanzih). Ada hadits dalam shahihain, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ “Salah seorang di antara kalian tidaklah beriman sampai aku lebih ia cintai dari orang tua, anak dan manusia seluruhnya.” (HR. Bukhari, no. 15; Muslim, no. 44) Dalam riwayat Muslim disebutkan, لاَ يُؤْمِنُ عَبْدٌ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ أَهْلِهِ وَمَالِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ “Seorang hamba tidaklah beriman hingga aku lebih ia cintai dari keluarga, harta, dan manusia seluruhnya.” (HR. Muslim, no. 44)   Jangan Sampai Cinta Allah dan Rasul Dikalahkan oleh Dunia Allah Ta’ala berfirman, قُلْ إِنْ كَانَ آَبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ “Katakanlah: “jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” (QS. At-Taubah: 24) Dalam ayat disebutkan harta yang ia usahakan. Dikhususkan demikian karena yang memiliki harta tentu sangat cinta sekali pada hartanya. Apalagi harta tersebut diperoleh dengan keletihan dan kepayahan tentu lebih dicintai dibanding dengan yang tidak demikian. Sedangkan yang dimaksudkan perdagangan dalam ayat di atas itu umum, mencakup berbagai bentuk perdagangan dan berbagai aset yang dijual, ada berupa alat tukar, bejana, senjata, barang-barang, biji-bijian, tanaman dan ternak. Begitu pula tempat tinggal yang bagus dan penuh dengan berbagai perhiasan serta rumah yang sesuai keinginan. Jika itu semua lebih dicintai dari Allah, Rasul-Nya dan jihad di jalan Allah, maka ia termasuk orang yang fasik lagi zalim. Lihat penjelasan Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah dalam kitab tafsirnya, Taisir Al-Karim Ar-Rahman.   Bahkan Rasul Harus Lebih Dicintai dari Diri Sendiri Dari ‘Abdullah bin Hisyam, ia berkata, كُنَّا مَعَ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – وَهْوَ آخِذٌ بِيَدِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ فَقَالَ لَهُ عُمَرُ يَا رَسُولَ اللَّهِ لأَنْتَ أَحَبُّ إِلَىَّ مِنْ كُلِّ شَىْءٍ إِلاَّ مِنْ نَفْسِى . فَقَالَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – « لاَ وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْكَ مِنْ نَفْسِكَ » . فَقَالَ لَهُ عُمَرُ فَإِنَّهُ الآنَ وَاللَّهِ لأَنْتَ أَحَبُّ إِلَىَّ مِنْ نَفْسِى . فَقَالَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – « الآنَ يَا عُمَرُ » “Kami pernah bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau ketika itu memegang tangan Umar bin Al-Khattab. ‘Umar berkata pada beliau, “Wahai Rasulullah, engkau lebih aku cintai dari segala sesuatu kecuali dari diriku sendiri.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak. Demi yang jiwaku berada di tangan-Nya, pokoknya aku tetap harus lebih engkau cintai dari dirimu sendiri.” Umar pun berkata, “Sekarang, demi Allah, engkau lebih aku cintai dari diriku sendiri.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Pokoknya mulai dari sekarang wahai Umar.”  (HR. Bukhari, no. 6632).   Timbulnya Maksiat dan Bid’ah Semua maksiat timbul karena seseorang mendahulukan hawa nafsu daripada kecintaan pada Allah dan Rasul-Nya. Contoh yang disebutkan oleh Allah tentang orang musyrik, فَإِنْ لَمْ يَسْتَجِيبُوا لَكَ فَاعْلَمْ أَنَّمَا يَتَّبِعُونَ أَهْوَاءَهُمْ وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنِ اتَّبَعَ هَوَاهُ بِغَيْرِ هُدًى مِنَ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ “Maka jika mereka tidak menjawab (tantanganmu) ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka (belaka). Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikitpun. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Qashshash: 50) Begitu pula bid’ah bisa muncul karena mendahulukan hawa nafsu daripada mengikuti syari’at Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sekarang, sudahkah kita benar-benar mencintai Rasul dan mengikuti ajaran beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam? Ataukah kita malah mengedepankan hawa nafsu kita? Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah.   Referensi: Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam. Cetakan kesepuluh, tahun 1432 H. Ibnu Rajab Al-Hambali. Penerbit Muassasah Ar-Risalah. — Naskah Khutbah Jumat, Jumat Pon, 13 Rabi’ul Awwal 1437 H di Masjid Adz-Dzikro, Ngampel, Warak, Gunungkidul Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsbid'ah cinta nabi hawa nafsu


Kita diperintahkan untuk menundukkan hawa nafsu kita demi mengikuti ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.   Menundukkan Hawa Nafsu Dalam hadits dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يَكُوْنَ هَوَاهُ تَبَعًا لِمَا جِئْتُ بِهِ “Tidaklah beriman salah seorang di antara kalian sampai ia menundukkan hawa nafsunya untuk tunduk pada ajaran yang aku bawa.” (Diriwayatkan dalam kitab Al-Hujjah dengan sanad yang shahih menurut Imam Nawawi. Namun penshahihan hadits ini tidak tepat menurut Ibnu Rajab). Walau hadits di atas adalah hadits yang dha’if, namun maknanya benar. Makna hadits tersebut menurut Ibnu Rajab Al-Hambali, kita dikatakan memiliki iman yang sempurna yang sifatnya wajib ketika kita tunduk pada ajaran Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan mengikuti perintahnya dan menjauhi larangannya serta mencintai perintah dan membenci setiap larangan. Demikian dijelaskan oleh Ibnu Rajab dalam Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2: 395. Banyak dalil lain yang menjelaskan semisal itu. Seperti firman Allah Ta’ala, فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا “Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS. An-Nisa’: 65) Dalam ayat lain juga disebutkan, وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ “Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.” (QS. Al-Ahzab: 36) Sedangkan orang yang membenci sesuatu yang Allah cintai atau mencintai sesuatu yang Allah benci, dialah yang mendapatkan celaaan. Allah Ta’ala berfirman, ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ كَرِهُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأَحْبَطَ أَعْمَالَهُمْ “Yang demikian itu adalah karena Sesungguhnya mereka benci kepada apa yang diturunkan Allah (Al Quran) lalu Allah menghapuskan (pahala-pahala) amal-amal mereka.” (QS. Muhammad: 9) Juga disebutkan dalam surat yang sama, ذَلِكَ بِأَنَّهُمُ اتَّبَعُوا مَا أَسْخَطَ اللَّهَ وَكَرِهُوا رِضْوَانَهُ فَأَحْبَطَ أَعْمَالَهُمْ “Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka mengikuti apa yang menimbulkan kemurkaan Allah dan karena mereka membenci keridhaan-Nya, sebab itu Allah menghapus (pahala) amal-amal mereka.” (QS. Muhammad: 28)   Melakukan yang Wajib dan Sunnah, Meninggalkan yang Haram dan Makruh Wajib bagi setiap mukmin mencintai segala yang Allah cintai sehingga harus baginya melakukan perkara yang wajib. Jika kecintaannya bertambah, ia menambah lagi dengan melakukan amalan sunnah. Itulah tambahan untuknya. Begitu pula wajib bagi setiap muslim membenci segala yang Allah benci sehingga sudah selayaknya baginya menahan diri dari segala perkara yang haram. Rasa bencinya ditambah lagi dengan meninggalkan hal yang makruh (makruh tanzih). Ada hadits dalam shahihain, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ “Salah seorang di antara kalian tidaklah beriman sampai aku lebih ia cintai dari orang tua, anak dan manusia seluruhnya.” (HR. Bukhari, no. 15; Muslim, no. 44) Dalam riwayat Muslim disebutkan, لاَ يُؤْمِنُ عَبْدٌ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ أَهْلِهِ وَمَالِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ “Seorang hamba tidaklah beriman hingga aku lebih ia cintai dari keluarga, harta, dan manusia seluruhnya.” (HR. Muslim, no. 44)   Jangan Sampai Cinta Allah dan Rasul Dikalahkan oleh Dunia Allah Ta’ala berfirman, قُلْ إِنْ كَانَ آَبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ “Katakanlah: “jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” (QS. At-Taubah: 24) Dalam ayat disebutkan harta yang ia usahakan. Dikhususkan demikian karena yang memiliki harta tentu sangat cinta sekali pada hartanya. Apalagi harta tersebut diperoleh dengan keletihan dan kepayahan tentu lebih dicintai dibanding dengan yang tidak demikian. Sedangkan yang dimaksudkan perdagangan dalam ayat di atas itu umum, mencakup berbagai bentuk perdagangan dan berbagai aset yang dijual, ada berupa alat tukar, bejana, senjata, barang-barang, biji-bijian, tanaman dan ternak. Begitu pula tempat tinggal yang bagus dan penuh dengan berbagai perhiasan serta rumah yang sesuai keinginan. Jika itu semua lebih dicintai dari Allah, Rasul-Nya dan jihad di jalan Allah, maka ia termasuk orang yang fasik lagi zalim. Lihat penjelasan Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah dalam kitab tafsirnya, Taisir Al-Karim Ar-Rahman.   Bahkan Rasul Harus Lebih Dicintai dari Diri Sendiri Dari ‘Abdullah bin Hisyam, ia berkata, كُنَّا مَعَ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – وَهْوَ آخِذٌ بِيَدِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ فَقَالَ لَهُ عُمَرُ يَا رَسُولَ اللَّهِ لأَنْتَ أَحَبُّ إِلَىَّ مِنْ كُلِّ شَىْءٍ إِلاَّ مِنْ نَفْسِى . فَقَالَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – « لاَ وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْكَ مِنْ نَفْسِكَ » . فَقَالَ لَهُ عُمَرُ فَإِنَّهُ الآنَ وَاللَّهِ لأَنْتَ أَحَبُّ إِلَىَّ مِنْ نَفْسِى . فَقَالَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – « الآنَ يَا عُمَرُ » “Kami pernah bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau ketika itu memegang tangan Umar bin Al-Khattab. ‘Umar berkata pada beliau, “Wahai Rasulullah, engkau lebih aku cintai dari segala sesuatu kecuali dari diriku sendiri.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak. Demi yang jiwaku berada di tangan-Nya, pokoknya aku tetap harus lebih engkau cintai dari dirimu sendiri.” Umar pun berkata, “Sekarang, demi Allah, engkau lebih aku cintai dari diriku sendiri.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Pokoknya mulai dari sekarang wahai Umar.”  (HR. Bukhari, no. 6632).   Timbulnya Maksiat dan Bid’ah Semua maksiat timbul karena seseorang mendahulukan hawa nafsu daripada kecintaan pada Allah dan Rasul-Nya. Contoh yang disebutkan oleh Allah tentang orang musyrik, فَإِنْ لَمْ يَسْتَجِيبُوا لَكَ فَاعْلَمْ أَنَّمَا يَتَّبِعُونَ أَهْوَاءَهُمْ وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنِ اتَّبَعَ هَوَاهُ بِغَيْرِ هُدًى مِنَ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ “Maka jika mereka tidak menjawab (tantanganmu) ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka (belaka). Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikitpun. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Qashshash: 50) Begitu pula bid’ah bisa muncul karena mendahulukan hawa nafsu daripada mengikuti syari’at Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sekarang, sudahkah kita benar-benar mencintai Rasul dan mengikuti ajaran beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam? Ataukah kita malah mengedepankan hawa nafsu kita? Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah.   Referensi: Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam. Cetakan kesepuluh, tahun 1432 H. Ibnu Rajab Al-Hambali. Penerbit Muassasah Ar-Risalah. — Naskah Khutbah Jumat, Jumat Pon, 13 Rabi’ul Awwal 1437 H di Masjid Adz-Dzikro, Ngampel, Warak, Gunungkidul Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsbid'ah cinta nabi hawa nafsu

Anda Muslim Masih Mengucapkan Selamat Natal?

Kami dulunya tinggal di Papua yang mayoritas Nashrani Kami bertetangga dengan mereka Bahkan rumah kami berdampingan dengan rumah-rumah mereka Kami tahu perayaan mereka Bahkan dahulu kami bertamu Bahkan kami bantu dan gotong royong Bahkan acara kebaktian mereka pun kami tahu Sampai mengucapkan selamat pun kami anggap hal umrah   Namun kala kami hijrah ke Jawa …   Kami tahu mengucapkan selamat untuk perayaan mereka itu tidak boleh. Kami tahu bertamu ke tempat mereka untuk mengucapkan selamat pun tidak boleh. Padahal teman dan rekan kami banyak yang berbeda akidah. Kami tahu tak perlu merayakan bersama, walau secara prinsip muamalah tetap baik. Karena prinsip kami “Lakum diinukum wa liyadiin”. Bagi kalian ajaran kalian, bagiku ajaranku. Kalian silakan rayakan, tanpa kami turut serta dan dukung, kalian pun tidak kami ganggu.   Bagi yang rela dan ridha ucapkan, Tak takutkah murka Allah? Bukankah mereka meyakini bahwa Isa itu bagian dari yang tiga. Teori trinitas yang mereka yakini, Isa adalah Bapak, Putera dan Roh Kudus. Padahal prinsip Islam adalah lam yalid wa lam yuulad. Yaitu Allah itu Esa, tidak ada putera atau istilah anak Tuhan.   Jika Anda ucapkan, sama saja Anda mengucapkan selamat atas kelahiran anak Tuhan.   Kami yang dahulu dari Papua, berusaha tidak ucapkan lagi … Sedangkan Anda? Akidah dan keyakinan rela dikorbankan cuma karena ingin dibilang tolerir dan baik. Padahal baik dengan mereka itu boleh selama bukan ranah agama.   Anda Muslim masih ucapkan selamat Natal? Masih mendukung? Masih membantu? Masih merayakan bersama?   Terserahlah … Anda harus siap menjawab jika ditanya di hadapan Allah kelak. Hisab di sisi Allah itu sungguh berat.   Tugas kami hanyalah memberi penjelasan, Sedangkan hidayah milik Allah. Wallahu waliyyut taufiq.   — @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 11 Rabi’ul Awwal 1437 H By: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin Tagsnatal

Anda Muslim Masih Mengucapkan Selamat Natal?

Kami dulunya tinggal di Papua yang mayoritas Nashrani Kami bertetangga dengan mereka Bahkan rumah kami berdampingan dengan rumah-rumah mereka Kami tahu perayaan mereka Bahkan dahulu kami bertamu Bahkan kami bantu dan gotong royong Bahkan acara kebaktian mereka pun kami tahu Sampai mengucapkan selamat pun kami anggap hal umrah   Namun kala kami hijrah ke Jawa …   Kami tahu mengucapkan selamat untuk perayaan mereka itu tidak boleh. Kami tahu bertamu ke tempat mereka untuk mengucapkan selamat pun tidak boleh. Padahal teman dan rekan kami banyak yang berbeda akidah. Kami tahu tak perlu merayakan bersama, walau secara prinsip muamalah tetap baik. Karena prinsip kami “Lakum diinukum wa liyadiin”. Bagi kalian ajaran kalian, bagiku ajaranku. Kalian silakan rayakan, tanpa kami turut serta dan dukung, kalian pun tidak kami ganggu.   Bagi yang rela dan ridha ucapkan, Tak takutkah murka Allah? Bukankah mereka meyakini bahwa Isa itu bagian dari yang tiga. Teori trinitas yang mereka yakini, Isa adalah Bapak, Putera dan Roh Kudus. Padahal prinsip Islam adalah lam yalid wa lam yuulad. Yaitu Allah itu Esa, tidak ada putera atau istilah anak Tuhan.   Jika Anda ucapkan, sama saja Anda mengucapkan selamat atas kelahiran anak Tuhan.   Kami yang dahulu dari Papua, berusaha tidak ucapkan lagi … Sedangkan Anda? Akidah dan keyakinan rela dikorbankan cuma karena ingin dibilang tolerir dan baik. Padahal baik dengan mereka itu boleh selama bukan ranah agama.   Anda Muslim masih ucapkan selamat Natal? Masih mendukung? Masih membantu? Masih merayakan bersama?   Terserahlah … Anda harus siap menjawab jika ditanya di hadapan Allah kelak. Hisab di sisi Allah itu sungguh berat.   Tugas kami hanyalah memberi penjelasan, Sedangkan hidayah milik Allah. Wallahu waliyyut taufiq.   — @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 11 Rabi’ul Awwal 1437 H By: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin Tagsnatal
Kami dulunya tinggal di Papua yang mayoritas Nashrani Kami bertetangga dengan mereka Bahkan rumah kami berdampingan dengan rumah-rumah mereka Kami tahu perayaan mereka Bahkan dahulu kami bertamu Bahkan kami bantu dan gotong royong Bahkan acara kebaktian mereka pun kami tahu Sampai mengucapkan selamat pun kami anggap hal umrah   Namun kala kami hijrah ke Jawa …   Kami tahu mengucapkan selamat untuk perayaan mereka itu tidak boleh. Kami tahu bertamu ke tempat mereka untuk mengucapkan selamat pun tidak boleh. Padahal teman dan rekan kami banyak yang berbeda akidah. Kami tahu tak perlu merayakan bersama, walau secara prinsip muamalah tetap baik. Karena prinsip kami “Lakum diinukum wa liyadiin”. Bagi kalian ajaran kalian, bagiku ajaranku. Kalian silakan rayakan, tanpa kami turut serta dan dukung, kalian pun tidak kami ganggu.   Bagi yang rela dan ridha ucapkan, Tak takutkah murka Allah? Bukankah mereka meyakini bahwa Isa itu bagian dari yang tiga. Teori trinitas yang mereka yakini, Isa adalah Bapak, Putera dan Roh Kudus. Padahal prinsip Islam adalah lam yalid wa lam yuulad. Yaitu Allah itu Esa, tidak ada putera atau istilah anak Tuhan.   Jika Anda ucapkan, sama saja Anda mengucapkan selamat atas kelahiran anak Tuhan.   Kami yang dahulu dari Papua, berusaha tidak ucapkan lagi … Sedangkan Anda? Akidah dan keyakinan rela dikorbankan cuma karena ingin dibilang tolerir dan baik. Padahal baik dengan mereka itu boleh selama bukan ranah agama.   Anda Muslim masih ucapkan selamat Natal? Masih mendukung? Masih membantu? Masih merayakan bersama?   Terserahlah … Anda harus siap menjawab jika ditanya di hadapan Allah kelak. Hisab di sisi Allah itu sungguh berat.   Tugas kami hanyalah memberi penjelasan, Sedangkan hidayah milik Allah. Wallahu waliyyut taufiq.   — @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 11 Rabi’ul Awwal 1437 H By: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin Tagsnatal


Kami dulunya tinggal di Papua yang mayoritas Nashrani Kami bertetangga dengan mereka Bahkan rumah kami berdampingan dengan rumah-rumah mereka Kami tahu perayaan mereka Bahkan dahulu kami bertamu Bahkan kami bantu dan gotong royong Bahkan acara kebaktian mereka pun kami tahu Sampai mengucapkan selamat pun kami anggap hal umrah   Namun kala kami hijrah ke Jawa …   Kami tahu mengucapkan selamat untuk perayaan mereka itu tidak boleh. Kami tahu bertamu ke tempat mereka untuk mengucapkan selamat pun tidak boleh. Padahal teman dan rekan kami banyak yang berbeda akidah. Kami tahu tak perlu merayakan bersama, walau secara prinsip muamalah tetap baik. Karena prinsip kami “Lakum diinukum wa liyadiin”. Bagi kalian ajaran kalian, bagiku ajaranku. Kalian silakan rayakan, tanpa kami turut serta dan dukung, kalian pun tidak kami ganggu.   Bagi yang rela dan ridha ucapkan, Tak takutkah murka Allah? Bukankah mereka meyakini bahwa Isa itu bagian dari yang tiga. Teori trinitas yang mereka yakini, Isa adalah Bapak, Putera dan Roh Kudus. Padahal prinsip Islam adalah lam yalid wa lam yuulad. Yaitu Allah itu Esa, tidak ada putera atau istilah anak Tuhan.   Jika Anda ucapkan, sama saja Anda mengucapkan selamat atas kelahiran anak Tuhan.   Kami yang dahulu dari Papua, berusaha tidak ucapkan lagi … Sedangkan Anda? Akidah dan keyakinan rela dikorbankan cuma karena ingin dibilang tolerir dan baik. Padahal baik dengan mereka itu boleh selama bukan ranah agama.   Anda Muslim masih ucapkan selamat Natal? Masih mendukung? Masih membantu? Masih merayakan bersama?   Terserahlah … Anda harus siap menjawab jika ditanya di hadapan Allah kelak. Hisab di sisi Allah itu sungguh berat.   Tugas kami hanyalah memberi penjelasan, Sedangkan hidayah milik Allah. Wallahu waliyyut taufiq.   — @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 11 Rabi’ul Awwal 1437 H By: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin Tagsnatal

Mati Saat Menuntut Ilmu

Di antara tanda husnul khatimah adalah mati saat menuntut ilmu. # MATI SAAT MENUNTUT ILMU قال الحافظ ابن عبد البر رحمه الله: ‏ “من مات طالباً للعلم فهو من علامات حسن الخاتمة”. ‏لأنه مات على طاعة عظيمة Al-Hafizh Ibnu ‘Abdil Barr berkata: Siapa yang mati dalam keadaan menuntut ilmu, maka ia berada dalam tanda husnul khatimah (mati yang baik) karena ia telah mati dalam ketaatan yang sangat besar. (Diambil dari status telegram Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid: @almunajjid) — Terus semangat dalam menuntut ilmu. Channel Telegram @UntaianNasihat. Tagsbelajar husnul khatimah

Mati Saat Menuntut Ilmu

Di antara tanda husnul khatimah adalah mati saat menuntut ilmu. # MATI SAAT MENUNTUT ILMU قال الحافظ ابن عبد البر رحمه الله: ‏ “من مات طالباً للعلم فهو من علامات حسن الخاتمة”. ‏لأنه مات على طاعة عظيمة Al-Hafizh Ibnu ‘Abdil Barr berkata: Siapa yang mati dalam keadaan menuntut ilmu, maka ia berada dalam tanda husnul khatimah (mati yang baik) karena ia telah mati dalam ketaatan yang sangat besar. (Diambil dari status telegram Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid: @almunajjid) — Terus semangat dalam menuntut ilmu. Channel Telegram @UntaianNasihat. Tagsbelajar husnul khatimah
Di antara tanda husnul khatimah adalah mati saat menuntut ilmu. # MATI SAAT MENUNTUT ILMU قال الحافظ ابن عبد البر رحمه الله: ‏ “من مات طالباً للعلم فهو من علامات حسن الخاتمة”. ‏لأنه مات على طاعة عظيمة Al-Hafizh Ibnu ‘Abdil Barr berkata: Siapa yang mati dalam keadaan menuntut ilmu, maka ia berada dalam tanda husnul khatimah (mati yang baik) karena ia telah mati dalam ketaatan yang sangat besar. (Diambil dari status telegram Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid: @almunajjid) — Terus semangat dalam menuntut ilmu. Channel Telegram @UntaianNasihat. Tagsbelajar husnul khatimah


Di antara tanda husnul khatimah adalah mati saat menuntut ilmu. # MATI SAAT MENUNTUT ILMU قال الحافظ ابن عبد البر رحمه الله: ‏ “من مات طالباً للعلم فهو من علامات حسن الخاتمة”. ‏لأنه مات على طاعة عظيمة Al-Hafizh Ibnu ‘Abdil Barr berkata: Siapa yang mati dalam keadaan menuntut ilmu, maka ia berada dalam tanda husnul khatimah (mati yang baik) karena ia telah mati dalam ketaatan yang sangat besar. (Diambil dari status telegram Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid: @almunajjid) — Terus semangat dalam menuntut ilmu. Channel Telegram @UntaianNasihat. Tagsbelajar husnul khatimah

10 Alasan Istri Tidak Mau Dipoligami

Perlu dipahami … Sebagian wanita khawatir sekali jika suaminya memilih poligami … Tahu tidak kenapa?   Alasan pertama … Karena istri tersebut sangat menyayangi suami.   Alasan kedua … Karena istri tersebut takut suaminya melalaikan dirinya.   Alasan ketiga … Karena istri tersebut takut suaminya melalaikan anak-anaknya.   Alasan keempat … Karena istri tersebut khawatir suaminya tidak bisa adil dalam hal nafkah. Walau masalah cinta sulit untuk dibuat adil.   Alasan kelima … Karena istri tahu bahwa suami tidak bisa adil dalam memberikan jatah malam antara istri tua dan muda. Padahal tidak bisa adil dalam hal ini, kena ancaman berat pada hari kiamat.   Alasan keenam … Karena istri merasa suami masih kurang berilmu, sehingga sulit membina rumah tangga poligami dengan baik.   Alasan ketujuh … Karena istri tidak mau keluarga besarnya yang belum paham kecewa dan sedih.   Alasan kedelapan … Karena istri merasa keinginan suami hanya ingin dibilang paling mengikuti sunnah, bukan lillahi ta’ala.   Alasan kesembilan … Karena istri tidak mau suami merusak rumah tangga yang telah lama dibangun.   Alasan kesepuluh … Karena istri tidak mau jauh dari suami, ingin terus bersama, sehidup sesurga.   So … Syukurlah kalau alasannya seperti itu ada pada istri Anda. Itu tanda istri benar-benar menyayagi Anda, maka jagalah ia dengan baik. Setiap yang punya keinginan berpoligami seharusnya memikirkan bahwa melanjutkan rumah tangga itu lebih mudah daripada membangun dari awal lagi.   Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah. — @ Halim Perdana Kusuma, 9 Rabi’ul Awwal 1437 H Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin Tagsnafkah poligami

10 Alasan Istri Tidak Mau Dipoligami

Perlu dipahami … Sebagian wanita khawatir sekali jika suaminya memilih poligami … Tahu tidak kenapa?   Alasan pertama … Karena istri tersebut sangat menyayangi suami.   Alasan kedua … Karena istri tersebut takut suaminya melalaikan dirinya.   Alasan ketiga … Karena istri tersebut takut suaminya melalaikan anak-anaknya.   Alasan keempat … Karena istri tersebut khawatir suaminya tidak bisa adil dalam hal nafkah. Walau masalah cinta sulit untuk dibuat adil.   Alasan kelima … Karena istri tahu bahwa suami tidak bisa adil dalam memberikan jatah malam antara istri tua dan muda. Padahal tidak bisa adil dalam hal ini, kena ancaman berat pada hari kiamat.   Alasan keenam … Karena istri merasa suami masih kurang berilmu, sehingga sulit membina rumah tangga poligami dengan baik.   Alasan ketujuh … Karena istri tidak mau keluarga besarnya yang belum paham kecewa dan sedih.   Alasan kedelapan … Karena istri merasa keinginan suami hanya ingin dibilang paling mengikuti sunnah, bukan lillahi ta’ala.   Alasan kesembilan … Karena istri tidak mau suami merusak rumah tangga yang telah lama dibangun.   Alasan kesepuluh … Karena istri tidak mau jauh dari suami, ingin terus bersama, sehidup sesurga.   So … Syukurlah kalau alasannya seperti itu ada pada istri Anda. Itu tanda istri benar-benar menyayagi Anda, maka jagalah ia dengan baik. Setiap yang punya keinginan berpoligami seharusnya memikirkan bahwa melanjutkan rumah tangga itu lebih mudah daripada membangun dari awal lagi.   Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah. — @ Halim Perdana Kusuma, 9 Rabi’ul Awwal 1437 H Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin Tagsnafkah poligami
Perlu dipahami … Sebagian wanita khawatir sekali jika suaminya memilih poligami … Tahu tidak kenapa?   Alasan pertama … Karena istri tersebut sangat menyayangi suami.   Alasan kedua … Karena istri tersebut takut suaminya melalaikan dirinya.   Alasan ketiga … Karena istri tersebut takut suaminya melalaikan anak-anaknya.   Alasan keempat … Karena istri tersebut khawatir suaminya tidak bisa adil dalam hal nafkah. Walau masalah cinta sulit untuk dibuat adil.   Alasan kelima … Karena istri tahu bahwa suami tidak bisa adil dalam memberikan jatah malam antara istri tua dan muda. Padahal tidak bisa adil dalam hal ini, kena ancaman berat pada hari kiamat.   Alasan keenam … Karena istri merasa suami masih kurang berilmu, sehingga sulit membina rumah tangga poligami dengan baik.   Alasan ketujuh … Karena istri tidak mau keluarga besarnya yang belum paham kecewa dan sedih.   Alasan kedelapan … Karena istri merasa keinginan suami hanya ingin dibilang paling mengikuti sunnah, bukan lillahi ta’ala.   Alasan kesembilan … Karena istri tidak mau suami merusak rumah tangga yang telah lama dibangun.   Alasan kesepuluh … Karena istri tidak mau jauh dari suami, ingin terus bersama, sehidup sesurga.   So … Syukurlah kalau alasannya seperti itu ada pada istri Anda. Itu tanda istri benar-benar menyayagi Anda, maka jagalah ia dengan baik. Setiap yang punya keinginan berpoligami seharusnya memikirkan bahwa melanjutkan rumah tangga itu lebih mudah daripada membangun dari awal lagi.   Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah. — @ Halim Perdana Kusuma, 9 Rabi’ul Awwal 1437 H Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin Tagsnafkah poligami


Perlu dipahami … Sebagian wanita khawatir sekali jika suaminya memilih poligami … Tahu tidak kenapa?   Alasan pertama … Karena istri tersebut sangat menyayangi suami.   Alasan kedua … Karena istri tersebut takut suaminya melalaikan dirinya.   Alasan ketiga … Karena istri tersebut takut suaminya melalaikan anak-anaknya.   Alasan keempat … Karena istri tersebut khawatir suaminya tidak bisa adil dalam hal nafkah. Walau masalah cinta sulit untuk dibuat adil.   Alasan kelima … Karena istri tahu bahwa suami tidak bisa adil dalam memberikan jatah malam antara istri tua dan muda. Padahal tidak bisa adil dalam hal ini, kena ancaman berat pada hari kiamat.   Alasan keenam … Karena istri merasa suami masih kurang berilmu, sehingga sulit membina rumah tangga poligami dengan baik.   Alasan ketujuh … Karena istri tidak mau keluarga besarnya yang belum paham kecewa dan sedih.   Alasan kedelapan … Karena istri merasa keinginan suami hanya ingin dibilang paling mengikuti sunnah, bukan lillahi ta’ala.   Alasan kesembilan … Karena istri tidak mau suami merusak rumah tangga yang telah lama dibangun.   Alasan kesepuluh … Karena istri tidak mau jauh dari suami, ingin terus bersama, sehidup sesurga.   So … Syukurlah kalau alasannya seperti itu ada pada istri Anda. Itu tanda istri benar-benar menyayagi Anda, maka jagalah ia dengan baik. Setiap yang punya keinginan berpoligami seharusnya memikirkan bahwa melanjutkan rumah tangga itu lebih mudah daripada membangun dari awal lagi.   Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah. — @ Halim Perdana Kusuma, 9 Rabi’ul Awwal 1437 H Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin Tagsnafkah poligami

Waktu dan Tempat untuk Bershalawat (8)

Di antara kesempatan terbaik untuk bershalawat, kata Ibnul Qayyim adalah saat mengkhatamkan Al-Qur’an.   15- Setelah mengkhatamkan Al-Qur’an. Karena setelah mengkhatamkan Al-Qur’an adalah kesempatan untuk berdoa. Ada riwayat dari Imam Ahmad yang menunjukkan anjuran do’a setelah khatam Al-Qur’an. Ada riwayat dari Abul Harits, “Ketika Anas mengkhatamkan Al-Qur’an, ia mengumpulkan keluarga dan anaknya.” Diriwayatkan dari Ibnu Abi Daud dalam Fadhail Al-Qur’an, dari Al-Hakam, ia berkata bahwa Mujahid dan ‘Abdah bin Abi Lubabah mengutus kepadanya, bahwa mereka ingin mengkhatamkan Al-Qur’an. Lalu disebutkan, “Sesungguhnya doa itu mudah diijabahi ketika seseorang mengkhatamkan Al-Qur’an. Lantas ia berdo’a dengan beberapa do’a.” Diriwayatkan pula dari Ibnu Mas’ud, ia berkata, “Siapa yang mengkhatamkan Al-Qur’an, maka ia memiliki doa yang mustajab (terkabulkan).” Mujahid juga berkata, “Rahmat itu turun ketika seseorang mengkhatamkan Al-Qur’an.” Ibnul Qayyim berakta, “Jika tempat terbaik dan waktu terijabahnya do’a adalah ketika khatam Al-Qur’an, maka tempat terbaik ketika bershalawat ketika itu pula.” (Jala’ Al-Alfham, hlm. 354-356) Silakan amalkan … Tunggu lanjutan bahasan shalawat lainnya.   Referensi: Jalaa-ul Afham fii Fadhli Ash Shalah was Salaam ‘ala Muhammad Khoiril Anam, Ibnu Qayyim Al Jauziyah, terbitan Dar Ibni Katsir, cetakan kedua, tahun 1432 H. Jalaa-ul Afham fii Fadhli Ash Shalah was Salaam ‘ala Muhammad Khoiril Anam, Ibnu Qayyim Al Jauziyah, terbitan Dar ‘Alamil Fawaid, cetakan ketiga, tahun 1433 H. — Selesai disusun menjelang ‘Ashar, 10 Rabi’ul Awwal1437 H di Darush Sholihin Panggang, Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin   Tagsshalawat

Waktu dan Tempat untuk Bershalawat (8)

Di antara kesempatan terbaik untuk bershalawat, kata Ibnul Qayyim adalah saat mengkhatamkan Al-Qur’an.   15- Setelah mengkhatamkan Al-Qur’an. Karena setelah mengkhatamkan Al-Qur’an adalah kesempatan untuk berdoa. Ada riwayat dari Imam Ahmad yang menunjukkan anjuran do’a setelah khatam Al-Qur’an. Ada riwayat dari Abul Harits, “Ketika Anas mengkhatamkan Al-Qur’an, ia mengumpulkan keluarga dan anaknya.” Diriwayatkan dari Ibnu Abi Daud dalam Fadhail Al-Qur’an, dari Al-Hakam, ia berkata bahwa Mujahid dan ‘Abdah bin Abi Lubabah mengutus kepadanya, bahwa mereka ingin mengkhatamkan Al-Qur’an. Lalu disebutkan, “Sesungguhnya doa itu mudah diijabahi ketika seseorang mengkhatamkan Al-Qur’an. Lantas ia berdo’a dengan beberapa do’a.” Diriwayatkan pula dari Ibnu Mas’ud, ia berkata, “Siapa yang mengkhatamkan Al-Qur’an, maka ia memiliki doa yang mustajab (terkabulkan).” Mujahid juga berkata, “Rahmat itu turun ketika seseorang mengkhatamkan Al-Qur’an.” Ibnul Qayyim berakta, “Jika tempat terbaik dan waktu terijabahnya do’a adalah ketika khatam Al-Qur’an, maka tempat terbaik ketika bershalawat ketika itu pula.” (Jala’ Al-Alfham, hlm. 354-356) Silakan amalkan … Tunggu lanjutan bahasan shalawat lainnya.   Referensi: Jalaa-ul Afham fii Fadhli Ash Shalah was Salaam ‘ala Muhammad Khoiril Anam, Ibnu Qayyim Al Jauziyah, terbitan Dar Ibni Katsir, cetakan kedua, tahun 1432 H. Jalaa-ul Afham fii Fadhli Ash Shalah was Salaam ‘ala Muhammad Khoiril Anam, Ibnu Qayyim Al Jauziyah, terbitan Dar ‘Alamil Fawaid, cetakan ketiga, tahun 1433 H. — Selesai disusun menjelang ‘Ashar, 10 Rabi’ul Awwal1437 H di Darush Sholihin Panggang, Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin   Tagsshalawat
Di antara kesempatan terbaik untuk bershalawat, kata Ibnul Qayyim adalah saat mengkhatamkan Al-Qur’an.   15- Setelah mengkhatamkan Al-Qur’an. Karena setelah mengkhatamkan Al-Qur’an adalah kesempatan untuk berdoa. Ada riwayat dari Imam Ahmad yang menunjukkan anjuran do’a setelah khatam Al-Qur’an. Ada riwayat dari Abul Harits, “Ketika Anas mengkhatamkan Al-Qur’an, ia mengumpulkan keluarga dan anaknya.” Diriwayatkan dari Ibnu Abi Daud dalam Fadhail Al-Qur’an, dari Al-Hakam, ia berkata bahwa Mujahid dan ‘Abdah bin Abi Lubabah mengutus kepadanya, bahwa mereka ingin mengkhatamkan Al-Qur’an. Lalu disebutkan, “Sesungguhnya doa itu mudah diijabahi ketika seseorang mengkhatamkan Al-Qur’an. Lantas ia berdo’a dengan beberapa do’a.” Diriwayatkan pula dari Ibnu Mas’ud, ia berkata, “Siapa yang mengkhatamkan Al-Qur’an, maka ia memiliki doa yang mustajab (terkabulkan).” Mujahid juga berkata, “Rahmat itu turun ketika seseorang mengkhatamkan Al-Qur’an.” Ibnul Qayyim berakta, “Jika tempat terbaik dan waktu terijabahnya do’a adalah ketika khatam Al-Qur’an, maka tempat terbaik ketika bershalawat ketika itu pula.” (Jala’ Al-Alfham, hlm. 354-356) Silakan amalkan … Tunggu lanjutan bahasan shalawat lainnya.   Referensi: Jalaa-ul Afham fii Fadhli Ash Shalah was Salaam ‘ala Muhammad Khoiril Anam, Ibnu Qayyim Al Jauziyah, terbitan Dar Ibni Katsir, cetakan kedua, tahun 1432 H. Jalaa-ul Afham fii Fadhli Ash Shalah was Salaam ‘ala Muhammad Khoiril Anam, Ibnu Qayyim Al Jauziyah, terbitan Dar ‘Alamil Fawaid, cetakan ketiga, tahun 1433 H. — Selesai disusun menjelang ‘Ashar, 10 Rabi’ul Awwal1437 H di Darush Sholihin Panggang, Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin   Tagsshalawat


Di antara kesempatan terbaik untuk bershalawat, kata Ibnul Qayyim adalah saat mengkhatamkan Al-Qur’an.   15- Setelah mengkhatamkan Al-Qur’an. Karena setelah mengkhatamkan Al-Qur’an adalah kesempatan untuk berdoa. Ada riwayat dari Imam Ahmad yang menunjukkan anjuran do’a setelah khatam Al-Qur’an. Ada riwayat dari Abul Harits, “Ketika Anas mengkhatamkan Al-Qur’an, ia mengumpulkan keluarga dan anaknya.” Diriwayatkan dari Ibnu Abi Daud dalam Fadhail Al-Qur’an, dari Al-Hakam, ia berkata bahwa Mujahid dan ‘Abdah bin Abi Lubabah mengutus kepadanya, bahwa mereka ingin mengkhatamkan Al-Qur’an. Lalu disebutkan, “Sesungguhnya doa itu mudah diijabahi ketika seseorang mengkhatamkan Al-Qur’an. Lantas ia berdo’a dengan beberapa do’a.” Diriwayatkan pula dari Ibnu Mas’ud, ia berkata, “Siapa yang mengkhatamkan Al-Qur’an, maka ia memiliki doa yang mustajab (terkabulkan).” Mujahid juga berkata, “Rahmat itu turun ketika seseorang mengkhatamkan Al-Qur’an.” Ibnul Qayyim berakta, “Jika tempat terbaik dan waktu terijabahnya do’a adalah ketika khatam Al-Qur’an, maka tempat terbaik ketika bershalawat ketika itu pula.” (Jala’ Al-Alfham, hlm. 354-356) Silakan amalkan … Tunggu lanjutan bahasan shalawat lainnya.   Referensi: Jalaa-ul Afham fii Fadhli Ash Shalah was Salaam ‘ala Muhammad Khoiril Anam, Ibnu Qayyim Al Jauziyah, terbitan Dar Ibni Katsir, cetakan kedua, tahun 1432 H. Jalaa-ul Afham fii Fadhli Ash Shalah was Salaam ‘ala Muhammad Khoiril Anam, Ibnu Qayyim Al Jauziyah, terbitan Dar ‘Alamil Fawaid, cetakan ketiga, tahun 1433 H. — Selesai disusun menjelang ‘Ashar, 10 Rabi’ul Awwal1437 H di Darush Sholihin Panggang, Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin   Tagsshalawat

Rezeki Tak Mungkin Tertukar

Hasad, iri, dengki, jadi sebab kita tak pernah puas dengan rezeki. Namun sebenarnya itu semua kembali pada diri kurangnya iman pada takdir. Rezeki adalah bagian dari takdir ilahi sehingga untuk memahaminya harus memahami takdir dengan baik. Yang jelas rezeki kita tak pernah tertukar.   Apa yang kita miliki, itulah yang terbaik untuk kita. Rezeki kita tak pernah tertukar.   Jika kita mendapatkan kendaraan biasa, tetangga punya lebih baik …. Tetap rezeki kita tak tertukar. Jika kita memiliki rumah sederhana, tetangga memiliki rumah mewah bak istana …. Tetap rezeki kita tak tertukar.   Lalu kaitannya dengan meninggalkan yang haram … Jika kita menolak orderan natal, ingin cari yang halal dan berkah … Rezeki kita pun tak tertukar. Jangan kira ketika tidak menerima orderan semacam itu, rezeki kita pergi dan tertukar pada orang lain. Justru ketika kita ingin yang halal, Allah terus berkahi dan menambahkan rezeki. Rezeki tak mungkin tertukar, Allah pasti membagi rezeki dengan adil. إِنَّ رَبَّكَ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَقْدِرُ إِنَّهُ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيرًا بَصِيرًا “Sesungguhnya Tuhanmu melapangkan rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki dan menyempitkannya; Sesungguhnya Dia Maha mengetahui lagi Maha melihat akan hamba-hamba-Nya.” (QS. Al Isra’: 30) Ingat pula janji ini … إِنَّكَ لَنْ تَدَعَ شَيْئاً لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ بَدَّلَكَ اللَّهُ بِهِ مَا هُوَ خَيْرٌ لَكَ مِنْهُ “Sesungguhnya jika engkau meninggalkan sesuatu karena Allah, niscaya Allah akan memberi ganti padamu dengan yang lebih baik.” (HR. Ahmad 5: 363. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih. Syaikh Salim bin ‘Ied Al Hilali berkata bahwa sanad hadits ini shahih) Dengan kita meninggalkan yang haram karena Allah, maka akan diganti dengan yang lebih baik. Harus terus yakin dan percaya … Moga rezeki kita penuh berkah. — @ Pondok Labu, Jakarta Selatan, 9 Rabi’ul Awwal 1437 H, 7:38 AM Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin Tagsrezeki

Rezeki Tak Mungkin Tertukar

Hasad, iri, dengki, jadi sebab kita tak pernah puas dengan rezeki. Namun sebenarnya itu semua kembali pada diri kurangnya iman pada takdir. Rezeki adalah bagian dari takdir ilahi sehingga untuk memahaminya harus memahami takdir dengan baik. Yang jelas rezeki kita tak pernah tertukar.   Apa yang kita miliki, itulah yang terbaik untuk kita. Rezeki kita tak pernah tertukar.   Jika kita mendapatkan kendaraan biasa, tetangga punya lebih baik …. Tetap rezeki kita tak tertukar. Jika kita memiliki rumah sederhana, tetangga memiliki rumah mewah bak istana …. Tetap rezeki kita tak tertukar.   Lalu kaitannya dengan meninggalkan yang haram … Jika kita menolak orderan natal, ingin cari yang halal dan berkah … Rezeki kita pun tak tertukar. Jangan kira ketika tidak menerima orderan semacam itu, rezeki kita pergi dan tertukar pada orang lain. Justru ketika kita ingin yang halal, Allah terus berkahi dan menambahkan rezeki. Rezeki tak mungkin tertukar, Allah pasti membagi rezeki dengan adil. إِنَّ رَبَّكَ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَقْدِرُ إِنَّهُ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيرًا بَصِيرًا “Sesungguhnya Tuhanmu melapangkan rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki dan menyempitkannya; Sesungguhnya Dia Maha mengetahui lagi Maha melihat akan hamba-hamba-Nya.” (QS. Al Isra’: 30) Ingat pula janji ini … إِنَّكَ لَنْ تَدَعَ شَيْئاً لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ بَدَّلَكَ اللَّهُ بِهِ مَا هُوَ خَيْرٌ لَكَ مِنْهُ “Sesungguhnya jika engkau meninggalkan sesuatu karena Allah, niscaya Allah akan memberi ganti padamu dengan yang lebih baik.” (HR. Ahmad 5: 363. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih. Syaikh Salim bin ‘Ied Al Hilali berkata bahwa sanad hadits ini shahih) Dengan kita meninggalkan yang haram karena Allah, maka akan diganti dengan yang lebih baik. Harus terus yakin dan percaya … Moga rezeki kita penuh berkah. — @ Pondok Labu, Jakarta Selatan, 9 Rabi’ul Awwal 1437 H, 7:38 AM Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin Tagsrezeki
Hasad, iri, dengki, jadi sebab kita tak pernah puas dengan rezeki. Namun sebenarnya itu semua kembali pada diri kurangnya iman pada takdir. Rezeki adalah bagian dari takdir ilahi sehingga untuk memahaminya harus memahami takdir dengan baik. Yang jelas rezeki kita tak pernah tertukar.   Apa yang kita miliki, itulah yang terbaik untuk kita. Rezeki kita tak pernah tertukar.   Jika kita mendapatkan kendaraan biasa, tetangga punya lebih baik …. Tetap rezeki kita tak tertukar. Jika kita memiliki rumah sederhana, tetangga memiliki rumah mewah bak istana …. Tetap rezeki kita tak tertukar.   Lalu kaitannya dengan meninggalkan yang haram … Jika kita menolak orderan natal, ingin cari yang halal dan berkah … Rezeki kita pun tak tertukar. Jangan kira ketika tidak menerima orderan semacam itu, rezeki kita pergi dan tertukar pada orang lain. Justru ketika kita ingin yang halal, Allah terus berkahi dan menambahkan rezeki. Rezeki tak mungkin tertukar, Allah pasti membagi rezeki dengan adil. إِنَّ رَبَّكَ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَقْدِرُ إِنَّهُ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيرًا بَصِيرًا “Sesungguhnya Tuhanmu melapangkan rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki dan menyempitkannya; Sesungguhnya Dia Maha mengetahui lagi Maha melihat akan hamba-hamba-Nya.” (QS. Al Isra’: 30) Ingat pula janji ini … إِنَّكَ لَنْ تَدَعَ شَيْئاً لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ بَدَّلَكَ اللَّهُ بِهِ مَا هُوَ خَيْرٌ لَكَ مِنْهُ “Sesungguhnya jika engkau meninggalkan sesuatu karena Allah, niscaya Allah akan memberi ganti padamu dengan yang lebih baik.” (HR. Ahmad 5: 363. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih. Syaikh Salim bin ‘Ied Al Hilali berkata bahwa sanad hadits ini shahih) Dengan kita meninggalkan yang haram karena Allah, maka akan diganti dengan yang lebih baik. Harus terus yakin dan percaya … Moga rezeki kita penuh berkah. — @ Pondok Labu, Jakarta Selatan, 9 Rabi’ul Awwal 1437 H, 7:38 AM Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin Tagsrezeki


Hasad, iri, dengki, jadi sebab kita tak pernah puas dengan rezeki. Namun sebenarnya itu semua kembali pada diri kurangnya iman pada takdir. Rezeki adalah bagian dari takdir ilahi sehingga untuk memahaminya harus memahami takdir dengan baik. Yang jelas rezeki kita tak pernah tertukar.   Apa yang kita miliki, itulah yang terbaik untuk kita. Rezeki kita tak pernah tertukar.   Jika kita mendapatkan kendaraan biasa, tetangga punya lebih baik …. Tetap rezeki kita tak tertukar. Jika kita memiliki rumah sederhana, tetangga memiliki rumah mewah bak istana …. Tetap rezeki kita tak tertukar.   Lalu kaitannya dengan meninggalkan yang haram … Jika kita menolak orderan natal, ingin cari yang halal dan berkah … Rezeki kita pun tak tertukar. Jangan kira ketika tidak menerima orderan semacam itu, rezeki kita pergi dan tertukar pada orang lain. Justru ketika kita ingin yang halal, Allah terus berkahi dan menambahkan rezeki. Rezeki tak mungkin tertukar, Allah pasti membagi rezeki dengan adil. إِنَّ رَبَّكَ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَقْدِرُ إِنَّهُ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيرًا بَصِيرًا “Sesungguhnya Tuhanmu melapangkan rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki dan menyempitkannya; Sesungguhnya Dia Maha mengetahui lagi Maha melihat akan hamba-hamba-Nya.” (QS. Al Isra’: 30) Ingat pula janji ini … إِنَّكَ لَنْ تَدَعَ شَيْئاً لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ بَدَّلَكَ اللَّهُ بِهِ مَا هُوَ خَيْرٌ لَكَ مِنْهُ “Sesungguhnya jika engkau meninggalkan sesuatu karena Allah, niscaya Allah akan memberi ganti padamu dengan yang lebih baik.” (HR. Ahmad 5: 363. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih. Syaikh Salim bin ‘Ied Al Hilali berkata bahwa sanad hadits ini shahih) Dengan kita meninggalkan yang haram karena Allah, maka akan diganti dengan yang lebih baik. Harus terus yakin dan percaya … Moga rezeki kita penuh berkah. — @ Pondok Labu, Jakarta Selatan, 9 Rabi’ul Awwal 1437 H, 7:38 AM Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin Tagsrezeki

Orang Desa Sudah Bisa Nonton TV Dakwah UHF (Butuh Donasi Studio)

Tanpa parabola, walhamdulillah tiap malam warga bisa mengikuti kajian LIVE yang disampaikan oleh Muhammad Abduh Tuasikal selaku Pengasuh Pesantren Darush Sholihin, Dusun Warak, Desa Girisekar, Kecamatan Panggang, Kabupaten Gunungkidul, DIY. Sekedar info bahwa jamaah pengajian bisa mencapai 2000 jamaah setiap Malam Kamis dan 4000 jamaah setiap ada pengajian Akbar. Mayoritas yang hadir dalam kajian adalah masyarakat awam yang butuh ilmu agama.   TV dan radio begitu urgent, kenapa? Ada yang mungkin sakit atau karena hujan deras lalu jauh dari Pesantren dengan terpaksa hanya bisa mendengar atau menonton kajian dari rumah lewat Radio atau TV DS. Bahkan orang-orang yang tidak pernah menghadiri pengajian di pesantren atau karena malu untuk hadir cukup menonton dari rumah. Walhamdulillah siaran DS tadi sesuai standar siaran komunitas, sudah tersebar hingga radius 15 KM. Sementara memang baru mendapatkan izin untuk ujicoba sehingga kajian hanya ditayangkan atau disiarkan di malam hari selepas Maghrib antara 18.00 hingga 21.30 WIB. Namun tentu saja untuk menjalankan dakwah seperti ini butuh dana yang lumayan besar. Hingga saat ini, pengeluaran mulai dari pendirian pemancar dan infrastruktur sudah menghabiskan dana 400-an juta rupiah. Sedangkan dana yang ada MINUS di atas 250 juta, yang ditutup dari donasi pesantren yang lain. Tentu kekurangan ini perlu ditutup dengan segera demi stabilnya keuangan DS.   Saat ini … Saat ini yang akan dibangun adalah studio TV dan Radio, seperti pada slide show di bawah, dana yang habis sekitar 57 juta rupiah. Barangkali ada yang berminat untuk beramal jariyah untuk studio ini.   YUK DONASI AMAL JARIYAH Yang ingin memberikan donasi untuk pendirian studio radio dan TV Darush Sholihin, Bank Syariah Mandiri (BSM) a/n Yayasan Darush Sholihin Gunungkidul: 7068478612. Lalu konfirmasi via SMS ke 082313950500: Studio DS# Nama# Alamat# Rekening Tujuan# Tanggal Transfer# Besar Transfer. Atau konfirmasi via WA: 0811 267791 (Mas Jarot) Info donasi: 0811 267791 (Mas Jarot) Ingat ini adalah amal jariyah Anda. Harta yang Anda sumbangkan itulah sebenarnya harta Anda karena jadi simpanan di akhirat.   SEBAR YUK … — By: Muhammad Abduh Tuasikal Malam Senin, 9 Rabi’ul Awwal 1437 H Info DarushSholihin.Com, Channel Telegram @DarushSholihin, @RumayshoCom Tagsradio

Orang Desa Sudah Bisa Nonton TV Dakwah UHF (Butuh Donasi Studio)

Tanpa parabola, walhamdulillah tiap malam warga bisa mengikuti kajian LIVE yang disampaikan oleh Muhammad Abduh Tuasikal selaku Pengasuh Pesantren Darush Sholihin, Dusun Warak, Desa Girisekar, Kecamatan Panggang, Kabupaten Gunungkidul, DIY. Sekedar info bahwa jamaah pengajian bisa mencapai 2000 jamaah setiap Malam Kamis dan 4000 jamaah setiap ada pengajian Akbar. Mayoritas yang hadir dalam kajian adalah masyarakat awam yang butuh ilmu agama.   TV dan radio begitu urgent, kenapa? Ada yang mungkin sakit atau karena hujan deras lalu jauh dari Pesantren dengan terpaksa hanya bisa mendengar atau menonton kajian dari rumah lewat Radio atau TV DS. Bahkan orang-orang yang tidak pernah menghadiri pengajian di pesantren atau karena malu untuk hadir cukup menonton dari rumah. Walhamdulillah siaran DS tadi sesuai standar siaran komunitas, sudah tersebar hingga radius 15 KM. Sementara memang baru mendapatkan izin untuk ujicoba sehingga kajian hanya ditayangkan atau disiarkan di malam hari selepas Maghrib antara 18.00 hingga 21.30 WIB. Namun tentu saja untuk menjalankan dakwah seperti ini butuh dana yang lumayan besar. Hingga saat ini, pengeluaran mulai dari pendirian pemancar dan infrastruktur sudah menghabiskan dana 400-an juta rupiah. Sedangkan dana yang ada MINUS di atas 250 juta, yang ditutup dari donasi pesantren yang lain. Tentu kekurangan ini perlu ditutup dengan segera demi stabilnya keuangan DS.   Saat ini … Saat ini yang akan dibangun adalah studio TV dan Radio, seperti pada slide show di bawah, dana yang habis sekitar 57 juta rupiah. Barangkali ada yang berminat untuk beramal jariyah untuk studio ini.   YUK DONASI AMAL JARIYAH Yang ingin memberikan donasi untuk pendirian studio radio dan TV Darush Sholihin, Bank Syariah Mandiri (BSM) a/n Yayasan Darush Sholihin Gunungkidul: 7068478612. Lalu konfirmasi via SMS ke 082313950500: Studio DS# Nama# Alamat# Rekening Tujuan# Tanggal Transfer# Besar Transfer. Atau konfirmasi via WA: 0811 267791 (Mas Jarot) Info donasi: 0811 267791 (Mas Jarot) Ingat ini adalah amal jariyah Anda. Harta yang Anda sumbangkan itulah sebenarnya harta Anda karena jadi simpanan di akhirat.   SEBAR YUK … — By: Muhammad Abduh Tuasikal Malam Senin, 9 Rabi’ul Awwal 1437 H Info DarushSholihin.Com, Channel Telegram @DarushSholihin, @RumayshoCom Tagsradio
Tanpa parabola, walhamdulillah tiap malam warga bisa mengikuti kajian LIVE yang disampaikan oleh Muhammad Abduh Tuasikal selaku Pengasuh Pesantren Darush Sholihin, Dusun Warak, Desa Girisekar, Kecamatan Panggang, Kabupaten Gunungkidul, DIY. Sekedar info bahwa jamaah pengajian bisa mencapai 2000 jamaah setiap Malam Kamis dan 4000 jamaah setiap ada pengajian Akbar. Mayoritas yang hadir dalam kajian adalah masyarakat awam yang butuh ilmu agama.   TV dan radio begitu urgent, kenapa? Ada yang mungkin sakit atau karena hujan deras lalu jauh dari Pesantren dengan terpaksa hanya bisa mendengar atau menonton kajian dari rumah lewat Radio atau TV DS. Bahkan orang-orang yang tidak pernah menghadiri pengajian di pesantren atau karena malu untuk hadir cukup menonton dari rumah. Walhamdulillah siaran DS tadi sesuai standar siaran komunitas, sudah tersebar hingga radius 15 KM. Sementara memang baru mendapatkan izin untuk ujicoba sehingga kajian hanya ditayangkan atau disiarkan di malam hari selepas Maghrib antara 18.00 hingga 21.30 WIB. Namun tentu saja untuk menjalankan dakwah seperti ini butuh dana yang lumayan besar. Hingga saat ini, pengeluaran mulai dari pendirian pemancar dan infrastruktur sudah menghabiskan dana 400-an juta rupiah. Sedangkan dana yang ada MINUS di atas 250 juta, yang ditutup dari donasi pesantren yang lain. Tentu kekurangan ini perlu ditutup dengan segera demi stabilnya keuangan DS.   Saat ini … Saat ini yang akan dibangun adalah studio TV dan Radio, seperti pada slide show di bawah, dana yang habis sekitar 57 juta rupiah. Barangkali ada yang berminat untuk beramal jariyah untuk studio ini.   YUK DONASI AMAL JARIYAH Yang ingin memberikan donasi untuk pendirian studio radio dan TV Darush Sholihin, Bank Syariah Mandiri (BSM) a/n Yayasan Darush Sholihin Gunungkidul: 7068478612. Lalu konfirmasi via SMS ke 082313950500: Studio DS# Nama# Alamat# Rekening Tujuan# Tanggal Transfer# Besar Transfer. Atau konfirmasi via WA: 0811 267791 (Mas Jarot) Info donasi: 0811 267791 (Mas Jarot) Ingat ini adalah amal jariyah Anda. Harta yang Anda sumbangkan itulah sebenarnya harta Anda karena jadi simpanan di akhirat.   SEBAR YUK … — By: Muhammad Abduh Tuasikal Malam Senin, 9 Rabi’ul Awwal 1437 H Info DarushSholihin.Com, Channel Telegram @DarushSholihin, @RumayshoCom Tagsradio


Tanpa parabola, walhamdulillah tiap malam warga bisa mengikuti kajian LIVE yang disampaikan oleh Muhammad Abduh Tuasikal selaku Pengasuh Pesantren Darush Sholihin, Dusun Warak, Desa Girisekar, Kecamatan Panggang, Kabupaten Gunungkidul, DIY. Sekedar info bahwa jamaah pengajian bisa mencapai 2000 jamaah setiap Malam Kamis dan 4000 jamaah setiap ada pengajian Akbar. Mayoritas yang hadir dalam kajian adalah masyarakat awam yang butuh ilmu agama.   TV dan radio begitu urgent, kenapa? Ada yang mungkin sakit atau karena hujan deras lalu jauh dari Pesantren dengan terpaksa hanya bisa mendengar atau menonton kajian dari rumah lewat Radio atau TV DS. Bahkan orang-orang yang tidak pernah menghadiri pengajian di pesantren atau karena malu untuk hadir cukup menonton dari rumah. Walhamdulillah siaran DS tadi sesuai standar siaran komunitas, sudah tersebar hingga radius 15 KM. Sementara memang baru mendapatkan izin untuk ujicoba sehingga kajian hanya ditayangkan atau disiarkan di malam hari selepas Maghrib antara 18.00 hingga 21.30 WIB. Namun tentu saja untuk menjalankan dakwah seperti ini butuh dana yang lumayan besar. Hingga saat ini, pengeluaran mulai dari pendirian pemancar dan infrastruktur sudah menghabiskan dana 400-an juta rupiah. Sedangkan dana yang ada MINUS di atas 250 juta, yang ditutup dari donasi pesantren yang lain. Tentu kekurangan ini perlu ditutup dengan segera demi stabilnya keuangan DS.   Saat ini … Saat ini yang akan dibangun adalah studio TV dan Radio, seperti pada slide show di bawah, dana yang habis sekitar 57 juta rupiah. Barangkali ada yang berminat untuk beramal jariyah untuk studio ini.   YUK DONASI AMAL JARIYAH Yang ingin memberikan donasi untuk pendirian studio radio dan TV Darush Sholihin, Bank Syariah Mandiri (BSM) a/n Yayasan Darush Sholihin Gunungkidul: 7068478612. Lalu konfirmasi via SMS ke 082313950500: Studio DS# Nama# Alamat# Rekening Tujuan# Tanggal Transfer# Besar Transfer. Atau konfirmasi via WA: 0811 267791 (Mas Jarot) Info donasi: 0811 267791 (Mas Jarot) Ingat ini adalah amal jariyah Anda. Harta yang Anda sumbangkan itulah sebenarnya harta Anda karena jadi simpanan di akhirat.   SEBAR YUK … — By: Muhammad Abduh Tuasikal Malam Senin, 9 Rabi’ul Awwal 1437 H Info DarushSholihin.Com, Channel Telegram @DarushSholihin, @RumayshoCom Tagsradio

Menerima Orderan Natal

Apa hukum menerima orderan atau pesanan natal? Seringkali didapat pertanyaan hangat seperti ini menjelang natal terutama dari para pelaku bisnis karena banyak orderan menjelang natal 25 Desember. Tentu saja kita selaku muslim tidak mendukung ritual keagamaan non-muslim. Menerima orderan berkaitan dengan acara natal berarti mendukung. Mendukung seperti ini tidaklah dibolehkan dalam agama kita. Allah Ta’ala berfirman, وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ “Dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya. ” (QS. Al-Maidah: 2). Ayat ini menunjukkan bahwa terlarang saling tolong menolong dalam maksiat. Kami cuma ingatkan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut bagi yang begitu khawatir rugi karena meninggalkan order yang tidak boleh diterima seorang muslim. إِنَّكَ لَنْ تَدَعَ شَيْئاً لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ بَدَّلَكَ اللَّهُ بِهِ مَا هُوَ خَيْرٌ لَكَ مِنْهُ “Sesungguhnya jika engkau meninggalkan sesuatu karena Allah, niscaya Allah akan memberi ganti padamu dengan yang lebih baik bagimu.” (HR. Ahmad 5/363. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih)   Padahal rezeki kita tidak pernah tertukar. Kenapa khawatir?   Moga siapa saja yang meninggalkan sesuatu karena Allah, moga usaha dan bisnisnya lebih berkah. Sedangkan bekerjasama bisnis dengan non-muslim, asalnya masih boleh. Baca bahasannya di sini. — 10: 39 PM, 9 Rabi’ul Awwal 1437 H di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin Tagsloyal non muslim natal

Menerima Orderan Natal

Apa hukum menerima orderan atau pesanan natal? Seringkali didapat pertanyaan hangat seperti ini menjelang natal terutama dari para pelaku bisnis karena banyak orderan menjelang natal 25 Desember. Tentu saja kita selaku muslim tidak mendukung ritual keagamaan non-muslim. Menerima orderan berkaitan dengan acara natal berarti mendukung. Mendukung seperti ini tidaklah dibolehkan dalam agama kita. Allah Ta’ala berfirman, وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ “Dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya. ” (QS. Al-Maidah: 2). Ayat ini menunjukkan bahwa terlarang saling tolong menolong dalam maksiat. Kami cuma ingatkan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut bagi yang begitu khawatir rugi karena meninggalkan order yang tidak boleh diterima seorang muslim. إِنَّكَ لَنْ تَدَعَ شَيْئاً لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ بَدَّلَكَ اللَّهُ بِهِ مَا هُوَ خَيْرٌ لَكَ مِنْهُ “Sesungguhnya jika engkau meninggalkan sesuatu karena Allah, niscaya Allah akan memberi ganti padamu dengan yang lebih baik bagimu.” (HR. Ahmad 5/363. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih)   Padahal rezeki kita tidak pernah tertukar. Kenapa khawatir?   Moga siapa saja yang meninggalkan sesuatu karena Allah, moga usaha dan bisnisnya lebih berkah. Sedangkan bekerjasama bisnis dengan non-muslim, asalnya masih boleh. Baca bahasannya di sini. — 10: 39 PM, 9 Rabi’ul Awwal 1437 H di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin Tagsloyal non muslim natal
Apa hukum menerima orderan atau pesanan natal? Seringkali didapat pertanyaan hangat seperti ini menjelang natal terutama dari para pelaku bisnis karena banyak orderan menjelang natal 25 Desember. Tentu saja kita selaku muslim tidak mendukung ritual keagamaan non-muslim. Menerima orderan berkaitan dengan acara natal berarti mendukung. Mendukung seperti ini tidaklah dibolehkan dalam agama kita. Allah Ta’ala berfirman, وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ “Dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya. ” (QS. Al-Maidah: 2). Ayat ini menunjukkan bahwa terlarang saling tolong menolong dalam maksiat. Kami cuma ingatkan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut bagi yang begitu khawatir rugi karena meninggalkan order yang tidak boleh diterima seorang muslim. إِنَّكَ لَنْ تَدَعَ شَيْئاً لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ بَدَّلَكَ اللَّهُ بِهِ مَا هُوَ خَيْرٌ لَكَ مِنْهُ “Sesungguhnya jika engkau meninggalkan sesuatu karena Allah, niscaya Allah akan memberi ganti padamu dengan yang lebih baik bagimu.” (HR. Ahmad 5/363. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih)   Padahal rezeki kita tidak pernah tertukar. Kenapa khawatir?   Moga siapa saja yang meninggalkan sesuatu karena Allah, moga usaha dan bisnisnya lebih berkah. Sedangkan bekerjasama bisnis dengan non-muslim, asalnya masih boleh. Baca bahasannya di sini. — 10: 39 PM, 9 Rabi’ul Awwal 1437 H di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin Tagsloyal non muslim natal


Apa hukum menerima orderan atau pesanan natal? Seringkali didapat pertanyaan hangat seperti ini menjelang natal terutama dari para pelaku bisnis karena banyak orderan menjelang natal 25 Desember. Tentu saja kita selaku muslim tidak mendukung ritual keagamaan non-muslim. Menerima orderan berkaitan dengan acara natal berarti mendukung. Mendukung seperti ini tidaklah dibolehkan dalam agama kita. Allah Ta’ala berfirman, وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ “Dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya. ” (QS. Al-Maidah: 2). Ayat ini menunjukkan bahwa terlarang saling tolong menolong dalam maksiat. Kami cuma ingatkan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut bagi yang begitu khawatir rugi karena meninggalkan order yang tidak boleh diterima seorang muslim. إِنَّكَ لَنْ تَدَعَ شَيْئاً لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ بَدَّلَكَ اللَّهُ بِهِ مَا هُوَ خَيْرٌ لَكَ مِنْهُ “Sesungguhnya jika engkau meninggalkan sesuatu karena Allah, niscaya Allah akan memberi ganti padamu dengan yang lebih baik bagimu.” (HR. Ahmad 5/363. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih)   Padahal rezeki kita tidak pernah tertukar. Kenapa khawatir?   Moga siapa saja yang meninggalkan sesuatu karena Allah, moga usaha dan bisnisnya lebih berkah. Sedangkan bekerjasama bisnis dengan non-muslim, asalnya masih boleh. Baca bahasannya di sini. — 10: 39 PM, 9 Rabi’ul Awwal 1437 H di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin Tagsloyal non muslim natal

Curhat pada Suami Orang

Bolehkah seorang istri curhat pada suami orang, baik sekedar bercerita atau curhat? Yang jelas syari’at kita membentengi umatnya dari perbuatan haram seperti zina, وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al-Isra’: 32) Syaikh As-Sa’di membawakan dalam bait sya’irnya, وَسَائِلُ الأُمُوْرِ كَالمَقَاصِدِ وَاحْكُمْ بِهَذَا الحُكْمِ لِلزَّوَائِدِ Hukum perantara sama dengan hukum tujuan Hukumilah dengan hukum tersebut untuk tambahan lainnya   Karenanya, perantara menuju zina seperti berdua-duaan pun dilarang. Dari ‘Abdullah bin ‘Amir, yaitu Ibnu Rabi’ah, dari bapaknya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أَلاَ لاَ يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ لاَ تَحِلُّ لَهُ ، فَإِنَّ ثَالِثَهُمَا الشَّيْطَانُ ، إِلاَّ مَحْرَمٍ “Janganlah seorang laki-laki berduaan dengan seorang wanita yang tidak halal baginya karena sesungguhnya syaithan adalah orang ketiga di antara mereka berdua kecuali apabila bersama mahramnya.” (HR. Ahmad no. 15734. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan hadits ini shahih lighairihi) Di antara bentuk berdua-duaan (alias: khalwat) adalah chating dengan lawan jenis, termasuk bentuknya curhat dengan suami orang.   Apa saja bahayanya? Ada beberapa bahaya dari curhat pada suami orang, baik secara langsung maupun lewat media online seperti WhatsApp dan Facebook. Berikut delapan komentar yang kami himpun dari status kami di FB, hari ini, 7 Rabi’ul Awwal 1437 H (19-12-2015). Kami saring pendapat yang dinilai menarik. Suya Macell: Biasanya cenderung terjadi perselingkungan ustadz. Karena laki-laki yang jadi tumpuan curhat tiba-tiba jadi dewa penolong bagi ibu tersebut. Dan ujung-ujungnya yang terjadi adalah maksiat, Ustadz. Di Bondowoso sini sudah banyak yang terjadi. Peni Nur Aisyah: Saya rasa itu tidak pantas, kalau memang harus curhat masalah keluarga saya pilih ke teman akhwat yang memang bijak, atau ke ustadzah yang kompeten. Apalagi jika curhatnya berdua saja di inbox atau WhatsApp, atau via SMS itu akan sangat mudah sekali membuka jalan bagi syaithon untuk membuat “tersesat”. Ayah Zahwa: Bahaya kholwat itu ustadz, membuka aib keluarga pada orang yang tidak tepat, akan timbul penilaian pada dirinya bahwa laki-laki yang dicurhati lebih baik dari suaminya, talbis iblis (tipu daya setan, pen.) Anik Murlina: Sungguh tidak pantas. Hal tersebut adalah awal timbulnya perselingkuhan yang nantinya kita sebagai wanita yang akan dirugikan. Seorang istri harusnya bisa menyimpan semua masalah yang terjadi dalam rumah tangganya, bukan mengumbarnya. Sumar Hilmikalila: Itu adalah pintu awal perzinaan, tidak pantas seorang istri ngobrol curhat sama suami orang. Itu namanya khianat. Susiati Naya: Gimana mo pantas lah si ibu dengan suami orang tu, bukan mahram. Apalagi yang mau dishare masalah rumah tangga yang terlihat malah fitnah. Priyadi Abu Nuha: Sungguh sangatlah tidak pantas ustadz. Karena itu: (1) membongkar aib keluarga, (2) membuka celah-celah setan, (3) pintu berbuat dosa dan maksiat. Apalagi dilakukan sering dan kontinyu, wah… Bahaya banget!! Kharis Nizar: Bahaya ustadz, CURHAT jadi CURHOT, itu kata Ustadz Zainal Abidin.   Semoga Allah menjauhkan kita dari berbagai perbuatan haram dan menjauhkan kita dari zina serta hal-hal yang mendekatkan pada zina. Wallahu waliyyut taufiq was sadaad. — Selesai disusun di Darush Sholihin Panggang Gunungkidul, 7 Rabi’ul Awwal 1437 H Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom Tagscinta pacaran islami talak zina

Curhat pada Suami Orang

Bolehkah seorang istri curhat pada suami orang, baik sekedar bercerita atau curhat? Yang jelas syari’at kita membentengi umatnya dari perbuatan haram seperti zina, وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al-Isra’: 32) Syaikh As-Sa’di membawakan dalam bait sya’irnya, وَسَائِلُ الأُمُوْرِ كَالمَقَاصِدِ وَاحْكُمْ بِهَذَا الحُكْمِ لِلزَّوَائِدِ Hukum perantara sama dengan hukum tujuan Hukumilah dengan hukum tersebut untuk tambahan lainnya   Karenanya, perantara menuju zina seperti berdua-duaan pun dilarang. Dari ‘Abdullah bin ‘Amir, yaitu Ibnu Rabi’ah, dari bapaknya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أَلاَ لاَ يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ لاَ تَحِلُّ لَهُ ، فَإِنَّ ثَالِثَهُمَا الشَّيْطَانُ ، إِلاَّ مَحْرَمٍ “Janganlah seorang laki-laki berduaan dengan seorang wanita yang tidak halal baginya karena sesungguhnya syaithan adalah orang ketiga di antara mereka berdua kecuali apabila bersama mahramnya.” (HR. Ahmad no. 15734. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan hadits ini shahih lighairihi) Di antara bentuk berdua-duaan (alias: khalwat) adalah chating dengan lawan jenis, termasuk bentuknya curhat dengan suami orang.   Apa saja bahayanya? Ada beberapa bahaya dari curhat pada suami orang, baik secara langsung maupun lewat media online seperti WhatsApp dan Facebook. Berikut delapan komentar yang kami himpun dari status kami di FB, hari ini, 7 Rabi’ul Awwal 1437 H (19-12-2015). Kami saring pendapat yang dinilai menarik. Suya Macell: Biasanya cenderung terjadi perselingkungan ustadz. Karena laki-laki yang jadi tumpuan curhat tiba-tiba jadi dewa penolong bagi ibu tersebut. Dan ujung-ujungnya yang terjadi adalah maksiat, Ustadz. Di Bondowoso sini sudah banyak yang terjadi. Peni Nur Aisyah: Saya rasa itu tidak pantas, kalau memang harus curhat masalah keluarga saya pilih ke teman akhwat yang memang bijak, atau ke ustadzah yang kompeten. Apalagi jika curhatnya berdua saja di inbox atau WhatsApp, atau via SMS itu akan sangat mudah sekali membuka jalan bagi syaithon untuk membuat “tersesat”. Ayah Zahwa: Bahaya kholwat itu ustadz, membuka aib keluarga pada orang yang tidak tepat, akan timbul penilaian pada dirinya bahwa laki-laki yang dicurhati lebih baik dari suaminya, talbis iblis (tipu daya setan, pen.) Anik Murlina: Sungguh tidak pantas. Hal tersebut adalah awal timbulnya perselingkuhan yang nantinya kita sebagai wanita yang akan dirugikan. Seorang istri harusnya bisa menyimpan semua masalah yang terjadi dalam rumah tangganya, bukan mengumbarnya. Sumar Hilmikalila: Itu adalah pintu awal perzinaan, tidak pantas seorang istri ngobrol curhat sama suami orang. Itu namanya khianat. Susiati Naya: Gimana mo pantas lah si ibu dengan suami orang tu, bukan mahram. Apalagi yang mau dishare masalah rumah tangga yang terlihat malah fitnah. Priyadi Abu Nuha: Sungguh sangatlah tidak pantas ustadz. Karena itu: (1) membongkar aib keluarga, (2) membuka celah-celah setan, (3) pintu berbuat dosa dan maksiat. Apalagi dilakukan sering dan kontinyu, wah… Bahaya banget!! Kharis Nizar: Bahaya ustadz, CURHAT jadi CURHOT, itu kata Ustadz Zainal Abidin.   Semoga Allah menjauhkan kita dari berbagai perbuatan haram dan menjauhkan kita dari zina serta hal-hal yang mendekatkan pada zina. Wallahu waliyyut taufiq was sadaad. — Selesai disusun di Darush Sholihin Panggang Gunungkidul, 7 Rabi’ul Awwal 1437 H Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom Tagscinta pacaran islami talak zina
Bolehkah seorang istri curhat pada suami orang, baik sekedar bercerita atau curhat? Yang jelas syari’at kita membentengi umatnya dari perbuatan haram seperti zina, وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al-Isra’: 32) Syaikh As-Sa’di membawakan dalam bait sya’irnya, وَسَائِلُ الأُمُوْرِ كَالمَقَاصِدِ وَاحْكُمْ بِهَذَا الحُكْمِ لِلزَّوَائِدِ Hukum perantara sama dengan hukum tujuan Hukumilah dengan hukum tersebut untuk tambahan lainnya   Karenanya, perantara menuju zina seperti berdua-duaan pun dilarang. Dari ‘Abdullah bin ‘Amir, yaitu Ibnu Rabi’ah, dari bapaknya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أَلاَ لاَ يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ لاَ تَحِلُّ لَهُ ، فَإِنَّ ثَالِثَهُمَا الشَّيْطَانُ ، إِلاَّ مَحْرَمٍ “Janganlah seorang laki-laki berduaan dengan seorang wanita yang tidak halal baginya karena sesungguhnya syaithan adalah orang ketiga di antara mereka berdua kecuali apabila bersama mahramnya.” (HR. Ahmad no. 15734. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan hadits ini shahih lighairihi) Di antara bentuk berdua-duaan (alias: khalwat) adalah chating dengan lawan jenis, termasuk bentuknya curhat dengan suami orang.   Apa saja bahayanya? Ada beberapa bahaya dari curhat pada suami orang, baik secara langsung maupun lewat media online seperti WhatsApp dan Facebook. Berikut delapan komentar yang kami himpun dari status kami di FB, hari ini, 7 Rabi’ul Awwal 1437 H (19-12-2015). Kami saring pendapat yang dinilai menarik. Suya Macell: Biasanya cenderung terjadi perselingkungan ustadz. Karena laki-laki yang jadi tumpuan curhat tiba-tiba jadi dewa penolong bagi ibu tersebut. Dan ujung-ujungnya yang terjadi adalah maksiat, Ustadz. Di Bondowoso sini sudah banyak yang terjadi. Peni Nur Aisyah: Saya rasa itu tidak pantas, kalau memang harus curhat masalah keluarga saya pilih ke teman akhwat yang memang bijak, atau ke ustadzah yang kompeten. Apalagi jika curhatnya berdua saja di inbox atau WhatsApp, atau via SMS itu akan sangat mudah sekali membuka jalan bagi syaithon untuk membuat “tersesat”. Ayah Zahwa: Bahaya kholwat itu ustadz, membuka aib keluarga pada orang yang tidak tepat, akan timbul penilaian pada dirinya bahwa laki-laki yang dicurhati lebih baik dari suaminya, talbis iblis (tipu daya setan, pen.) Anik Murlina: Sungguh tidak pantas. Hal tersebut adalah awal timbulnya perselingkuhan yang nantinya kita sebagai wanita yang akan dirugikan. Seorang istri harusnya bisa menyimpan semua masalah yang terjadi dalam rumah tangganya, bukan mengumbarnya. Sumar Hilmikalila: Itu adalah pintu awal perzinaan, tidak pantas seorang istri ngobrol curhat sama suami orang. Itu namanya khianat. Susiati Naya: Gimana mo pantas lah si ibu dengan suami orang tu, bukan mahram. Apalagi yang mau dishare masalah rumah tangga yang terlihat malah fitnah. Priyadi Abu Nuha: Sungguh sangatlah tidak pantas ustadz. Karena itu: (1) membongkar aib keluarga, (2) membuka celah-celah setan, (3) pintu berbuat dosa dan maksiat. Apalagi dilakukan sering dan kontinyu, wah… Bahaya banget!! Kharis Nizar: Bahaya ustadz, CURHAT jadi CURHOT, itu kata Ustadz Zainal Abidin.   Semoga Allah menjauhkan kita dari berbagai perbuatan haram dan menjauhkan kita dari zina serta hal-hal yang mendekatkan pada zina. Wallahu waliyyut taufiq was sadaad. — Selesai disusun di Darush Sholihin Panggang Gunungkidul, 7 Rabi’ul Awwal 1437 H Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom Tagscinta pacaran islami talak zina


Bolehkah seorang istri curhat pada suami orang, baik sekedar bercerita atau curhat? Yang jelas syari’at kita membentengi umatnya dari perbuatan haram seperti zina, وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al-Isra’: 32) Syaikh As-Sa’di membawakan dalam bait sya’irnya, وَسَائِلُ الأُمُوْرِ كَالمَقَاصِدِ وَاحْكُمْ بِهَذَا الحُكْمِ لِلزَّوَائِدِ Hukum perantara sama dengan hukum tujuan Hukumilah dengan hukum tersebut untuk tambahan lainnya   Karenanya, perantara menuju zina seperti berdua-duaan pun dilarang. Dari ‘Abdullah bin ‘Amir, yaitu Ibnu Rabi’ah, dari bapaknya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أَلاَ لاَ يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ لاَ تَحِلُّ لَهُ ، فَإِنَّ ثَالِثَهُمَا الشَّيْطَانُ ، إِلاَّ مَحْرَمٍ “Janganlah seorang laki-laki berduaan dengan seorang wanita yang tidak halal baginya karena sesungguhnya syaithan adalah orang ketiga di antara mereka berdua kecuali apabila bersama mahramnya.” (HR. Ahmad no. 15734. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan hadits ini shahih lighairihi) Di antara bentuk berdua-duaan (alias: khalwat) adalah chating dengan lawan jenis, termasuk bentuknya curhat dengan suami orang.   Apa saja bahayanya? Ada beberapa bahaya dari curhat pada suami orang, baik secara langsung maupun lewat media online seperti WhatsApp dan Facebook. Berikut delapan komentar yang kami himpun dari status kami di FB, hari ini, 7 Rabi’ul Awwal 1437 H (19-12-2015). Kami saring pendapat yang dinilai menarik. Suya Macell: Biasanya cenderung terjadi perselingkungan ustadz. Karena laki-laki yang jadi tumpuan curhat tiba-tiba jadi dewa penolong bagi ibu tersebut. Dan ujung-ujungnya yang terjadi adalah maksiat, Ustadz. Di Bondowoso sini sudah banyak yang terjadi. Peni Nur Aisyah: Saya rasa itu tidak pantas, kalau memang harus curhat masalah keluarga saya pilih ke teman akhwat yang memang bijak, atau ke ustadzah yang kompeten. Apalagi jika curhatnya berdua saja di inbox atau WhatsApp, atau via SMS itu akan sangat mudah sekali membuka jalan bagi syaithon untuk membuat “tersesat”. Ayah Zahwa: Bahaya kholwat itu ustadz, membuka aib keluarga pada orang yang tidak tepat, akan timbul penilaian pada dirinya bahwa laki-laki yang dicurhati lebih baik dari suaminya, talbis iblis (tipu daya setan, pen.) Anik Murlina: Sungguh tidak pantas. Hal tersebut adalah awal timbulnya perselingkuhan yang nantinya kita sebagai wanita yang akan dirugikan. Seorang istri harusnya bisa menyimpan semua masalah yang terjadi dalam rumah tangganya, bukan mengumbarnya. Sumar Hilmikalila: Itu adalah pintu awal perzinaan, tidak pantas seorang istri ngobrol curhat sama suami orang. Itu namanya khianat. Susiati Naya: Gimana mo pantas lah si ibu dengan suami orang tu, bukan mahram. Apalagi yang mau dishare masalah rumah tangga yang terlihat malah fitnah. Priyadi Abu Nuha: Sungguh sangatlah tidak pantas ustadz. Karena itu: (1) membongkar aib keluarga, (2) membuka celah-celah setan, (3) pintu berbuat dosa dan maksiat. Apalagi dilakukan sering dan kontinyu, wah… Bahaya banget!! Kharis Nizar: Bahaya ustadz, CURHAT jadi CURHOT, itu kata Ustadz Zainal Abidin.   Semoga Allah menjauhkan kita dari berbagai perbuatan haram dan menjauhkan kita dari zina serta hal-hal yang mendekatkan pada zina. Wallahu waliyyut taufiq was sadaad. — Selesai disusun di Darush Sholihin Panggang Gunungkidul, 7 Rabi’ul Awwal 1437 H Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom Tagscinta pacaran islami talak zina

Nasihatmu Bukan Tak Mau Kuterima, Namun …

Nasihat kita pada orang lain kadang sulit diterima. Sebenarnya bukan isinya yang salah, namun caranya saja yang kurang pas. Ada bait sya’ir yang bagus dari Imam Syafi’i rahimahullah tentang cara menasihati orang lain biar nasihat kita mudah diterima. Imam Syafi’i rahimahullah berkata, تعمدني بنصحك في انفرادي ….. وجنبني النصيحة في الجماعة Tutuplah kesalahanku dengan menasihatiku seorang diri. Janganlah menasihatiku di hadapan khalayak ramai. فإن النصح بين الناس نوع ….. من التوبيخ لا أرضى استماعه Karena menasihatiku di hadapan orang lain adalah bagian dari menjelekkanku, Aku tidak ridha mendengar seperti itu. وإن خالفتني وعصيت قولي ….. فلا تجزع إذا لم تعط طاعه Jika engkau enggan menuruti perkataanku. Maka janganlah kaget jika nasihatmu tidak ditaati. (Dinukil dari Al-Mu’jam Al-Jami’ fi Tarajim Al-‘Ulama’ wa Talabatul ‘Ilm Al-Mu’ashirin, Asy-Syamilah) — Kita sama saja membuat saudara kita malu kalau kita nasihati dia di hadapan khalayak ramai. Renungan bagi yang ingin menasihati sobatnya, teman karibnya bahkan pasangannya (suami atau istri) menjadi baik. Jangan jatuhkan temanmu di hadapan orang lain. Jangan jatuhkan suami atau istrimu di depan teman karibnya. Ingatlah, ada yang tak bisa menerima jika cara nasihat tidak baik walau nasihat kita baik. Di zaman ini, ada sarana lewat tulisan, pesan singkat atau telepon, yang itu bisa jadi rahasia antara yang menasihati dan dinasihati. Sifat orang mukmin adalah menasihati dan menutupinya, sedangkan orang munafik menasihati namun maksudnya untuk menjelek-jelekkan. Satu catatan: Tertawa kita ketika mendengar saudara kita dinasihati merupakan tanda kalau kita bukan menginginkan teman kita jadi baik namun ingin merasa kitalah yang menang. — Diselesaikan ba’da ‘Ashar, 7 Rabi’ul Awwal 1437 H, di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom Tagsdakwah

Nasihatmu Bukan Tak Mau Kuterima, Namun …

Nasihat kita pada orang lain kadang sulit diterima. Sebenarnya bukan isinya yang salah, namun caranya saja yang kurang pas. Ada bait sya’ir yang bagus dari Imam Syafi’i rahimahullah tentang cara menasihati orang lain biar nasihat kita mudah diterima. Imam Syafi’i rahimahullah berkata, تعمدني بنصحك في انفرادي ….. وجنبني النصيحة في الجماعة Tutuplah kesalahanku dengan menasihatiku seorang diri. Janganlah menasihatiku di hadapan khalayak ramai. فإن النصح بين الناس نوع ….. من التوبيخ لا أرضى استماعه Karena menasihatiku di hadapan orang lain adalah bagian dari menjelekkanku, Aku tidak ridha mendengar seperti itu. وإن خالفتني وعصيت قولي ….. فلا تجزع إذا لم تعط طاعه Jika engkau enggan menuruti perkataanku. Maka janganlah kaget jika nasihatmu tidak ditaati. (Dinukil dari Al-Mu’jam Al-Jami’ fi Tarajim Al-‘Ulama’ wa Talabatul ‘Ilm Al-Mu’ashirin, Asy-Syamilah) — Kita sama saja membuat saudara kita malu kalau kita nasihati dia di hadapan khalayak ramai. Renungan bagi yang ingin menasihati sobatnya, teman karibnya bahkan pasangannya (suami atau istri) menjadi baik. Jangan jatuhkan temanmu di hadapan orang lain. Jangan jatuhkan suami atau istrimu di depan teman karibnya. Ingatlah, ada yang tak bisa menerima jika cara nasihat tidak baik walau nasihat kita baik. Di zaman ini, ada sarana lewat tulisan, pesan singkat atau telepon, yang itu bisa jadi rahasia antara yang menasihati dan dinasihati. Sifat orang mukmin adalah menasihati dan menutupinya, sedangkan orang munafik menasihati namun maksudnya untuk menjelek-jelekkan. Satu catatan: Tertawa kita ketika mendengar saudara kita dinasihati merupakan tanda kalau kita bukan menginginkan teman kita jadi baik namun ingin merasa kitalah yang menang. — Diselesaikan ba’da ‘Ashar, 7 Rabi’ul Awwal 1437 H, di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom Tagsdakwah
Nasihat kita pada orang lain kadang sulit diterima. Sebenarnya bukan isinya yang salah, namun caranya saja yang kurang pas. Ada bait sya’ir yang bagus dari Imam Syafi’i rahimahullah tentang cara menasihati orang lain biar nasihat kita mudah diterima. Imam Syafi’i rahimahullah berkata, تعمدني بنصحك في انفرادي ….. وجنبني النصيحة في الجماعة Tutuplah kesalahanku dengan menasihatiku seorang diri. Janganlah menasihatiku di hadapan khalayak ramai. فإن النصح بين الناس نوع ….. من التوبيخ لا أرضى استماعه Karena menasihatiku di hadapan orang lain adalah bagian dari menjelekkanku, Aku tidak ridha mendengar seperti itu. وإن خالفتني وعصيت قولي ….. فلا تجزع إذا لم تعط طاعه Jika engkau enggan menuruti perkataanku. Maka janganlah kaget jika nasihatmu tidak ditaati. (Dinukil dari Al-Mu’jam Al-Jami’ fi Tarajim Al-‘Ulama’ wa Talabatul ‘Ilm Al-Mu’ashirin, Asy-Syamilah) — Kita sama saja membuat saudara kita malu kalau kita nasihati dia di hadapan khalayak ramai. Renungan bagi yang ingin menasihati sobatnya, teman karibnya bahkan pasangannya (suami atau istri) menjadi baik. Jangan jatuhkan temanmu di hadapan orang lain. Jangan jatuhkan suami atau istrimu di depan teman karibnya. Ingatlah, ada yang tak bisa menerima jika cara nasihat tidak baik walau nasihat kita baik. Di zaman ini, ada sarana lewat tulisan, pesan singkat atau telepon, yang itu bisa jadi rahasia antara yang menasihati dan dinasihati. Sifat orang mukmin adalah menasihati dan menutupinya, sedangkan orang munafik menasihati namun maksudnya untuk menjelek-jelekkan. Satu catatan: Tertawa kita ketika mendengar saudara kita dinasihati merupakan tanda kalau kita bukan menginginkan teman kita jadi baik namun ingin merasa kitalah yang menang. — Diselesaikan ba’da ‘Ashar, 7 Rabi’ul Awwal 1437 H, di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom Tagsdakwah


Nasihat kita pada orang lain kadang sulit diterima. Sebenarnya bukan isinya yang salah, namun caranya saja yang kurang pas. Ada bait sya’ir yang bagus dari Imam Syafi’i rahimahullah tentang cara menasihati orang lain biar nasihat kita mudah diterima. Imam Syafi’i rahimahullah berkata, تعمدني بنصحك في انفرادي ….. وجنبني النصيحة في الجماعة Tutuplah kesalahanku dengan menasihatiku seorang diri. Janganlah menasihatiku di hadapan khalayak ramai. فإن النصح بين الناس نوع ….. من التوبيخ لا أرضى استماعه Karena menasihatiku di hadapan orang lain adalah bagian dari menjelekkanku, Aku tidak ridha mendengar seperti itu. وإن خالفتني وعصيت قولي ….. فلا تجزع إذا لم تعط طاعه Jika engkau enggan menuruti perkataanku. Maka janganlah kaget jika nasihatmu tidak ditaati. (Dinukil dari Al-Mu’jam Al-Jami’ fi Tarajim Al-‘Ulama’ wa Talabatul ‘Ilm Al-Mu’ashirin, Asy-Syamilah) — Kita sama saja membuat saudara kita malu kalau kita nasihati dia di hadapan khalayak ramai. Renungan bagi yang ingin menasihati sobatnya, teman karibnya bahkan pasangannya (suami atau istri) menjadi baik. Jangan jatuhkan temanmu di hadapan orang lain. Jangan jatuhkan suami atau istrimu di depan teman karibnya. Ingatlah, ada yang tak bisa menerima jika cara nasihat tidak baik walau nasihat kita baik. Di zaman ini, ada sarana lewat tulisan, pesan singkat atau telepon, yang itu bisa jadi rahasia antara yang menasihati dan dinasihati. Sifat orang mukmin adalah menasihati dan menutupinya, sedangkan orang munafik menasihati namun maksudnya untuk menjelek-jelekkan. Satu catatan: Tertawa kita ketika mendengar saudara kita dinasihati merupakan tanda kalau kita bukan menginginkan teman kita jadi baik namun ingin merasa kitalah yang menang. — Diselesaikan ba’da ‘Ashar, 7 Rabi’ul Awwal 1437 H, di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom Tagsdakwah

Butuh Bekal ke Kampung Akhirat

Kita semua butuh bekal, bukan bertujuan bersaing di dunia. Bekal ini lebih kita butuh untuk menuju alam akhirat. Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memegang pundaknya, lalu berkata, كُنْ فِى الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ ، أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ “Hiduplah kalian di dunia seakan-akan seperti orang asing, atau seperti seorang pengembara.” Ibnu ‘Umar lantas berkata, إِذَا أَمْسَيْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ الصَّبَاحَ ، وَإِذَا أَصْبَحْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ الْمَسَاءَ ، وَخُذْ مِنْ صِحَّتِكَ لِمَرَضِكَ ، وَمِنْ حَيَاتِكَ لِمَوْتِكَ “Jika engkau berada di petang hari, janganlah tunggu sampai datang pagi. Jika engkau berada di pagi hari, janganlah tunggu sampai datang petang. Manfaatkanlah waktu sehatmu sebelum datang sakitmu. Manfaatkanlah pula waktu hidupmu sebelum datang matimu.” (HR. Bukhari, no. 6416) Hadits di atas mengajarkan bahwa dunia ini bukanlah tempat kita menetap dan bukanlah negeri kita sesungguhnya. Dari sini seharusnya setiap mukmin berada pada salah satu dari dua keadaan berikut.   Pertama: Hidup seperti orang asing yang tinggal di negeri asing. Yang ia lakukan: Hatinya tidak bergantung pada dunia. Hatinya bergantung pada kampung sesungguhnya yang nanti ia akan kembali, yaitu negeri akhirat. Mukim di dunia hanya untuk menyiapkan bekal menuju ke kampung akhirat. Tidak pernah bersaing yaitu antara orang asing tadi dan penduduk asli (penggila dunia). Tidak pernah gelisah ketika ada yang mendapatkan dunia. Itulah orang asing. Al-Hasan Al-Bashri berkata, المؤْمِنُ فِي الدُّنْيَا كَالغَرِيْبِ لاَ يَجْزَع مِنْ ذُلِّهَا ، وَلاَ يُنَافِسُ فِي عِزِّهَا ، لَهُ شَأْنٌ ، وَلِلنَّاسِ شَأْنٌ “Seorang mukmin di dunia seperti orang asing. Tidak pernah gelisah terhadap orang yang mendapatkan dunia, tidak pernah saling berlomba dengan penggila dunia. Penggila dunia memiliki urusan sendiri, orang asing yang ingin kembali ke kampung akhirat punya urusan sendiri.” (Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2: 379) ‘Atho’ As-Salimi berkata dalam doanya, اللهمَّ ارْحَمْ فِي الدُّنْيَا غُرْبَتِي ، وَارْحَمْ فِي القَبْرِ وَحْشَتِي ، وَارْحَمْ مَوْقِفِي غَداً بَيْنَ يَدَيْكَ “Ya Allah, rahmatilah keasinganku di dunia, selamatkanlah dari kesedihan di kuburku, rahmatilah aku ketika aku berdiri di hadapan-Mu kelak.” (Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2: 379) Orang yang tergila dengan dunia, lupa akan akhirat, gambarannya seperti yang disampaikan oleh Yahya bin Mu’adz Ar-Razi, الدُّنْيَا خَمْرُ الشَّيْطَان ، مَنْ سَكِرَ مِنْهَا لَمْ يُفِقْ إِلاَّ فِي عَسْكَرِ الموْتَى نَادِماً مَعَ الخَاسِرِيْنَ “Dunia adalah khamarnya setan. Siapa yang mabuk, barulah tersadarkan diri ketika kematian (yang gelap) itu datang. Nantinya ia akan menyesal bersama dengan orang-orang yang merugi.” (Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2: 381)   Kedua: Hidup seperti seorang musafir atau pengembara yang tidak punya niatan untuk menetap sama sekali. Orang seperti hanya ingin terus menelusuri jalan hingga sampai pada ujung akhirnya, yaitu kematian. Yang ia lakukan: Terus mencari bekal untuk safarnya supaya bisa sampai di ujung perjalanan. Tidak punya keinginan untuk memperbanyak kesenangan dunia karena ingin sibuk terus menambah bekal. Cobalah ambil pelajaran dari perkataan Al-Fudhail bin ‘Iyadh. Beliau pernah mengatakan pada seseorang, كَمْ أَتَتْ عَلَيْكَ ؟ “Berapa umur yang telah kau lewati?” Ia menjawab, سِتُّوْنَ سَنَةً “Enam puluh tahun.” Fudhail menyatakan, فَأَنْتَ مُنْذُ سِتِّيْنَ سَنَةً تَسِيْرُ إِلَى رَبِّكَ يُوشِكُ أَنْ تَبلُغَ “Selama 60 tahun ini engkau sedang berjalan menuju Rabbmu dan sebentar lagi engkau akan sampai.” Orang itu menjawab, إِنّا للهِ وَإنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُوْنَ “Segala sesuatu milik Allah dan akan kembali pada Allah.” Fudhail balik bertanya, أَتَعْرِفُ تَفْسِيْرَهُ “Apa engkau tahu arti kalimat yang engkau ucapkan tersebut?” Fudhail lantas melanjutkan, harusnya engkau katakan pula, أَنَا للهِ عَبْدٌ وَإِلَيْهِ رَاجِعٌ ، فَمَنْ عَلِمَ أَنَّهُ للهِ عَبْدٌ ، وَأَنَّهُ إِلَيْهِ رَاجِعٌ ، فَلْيَعْلَمْ أَنَّهُ مَوْقُوْفٌ ، وَمَنْ عَلِمَ أَنَّهُ مَوْقُوْفٌ ، فَلْيَعْلَمْ أَنَّهُ مَسْؤُوْلٌ ، وَمَنْ عَلِمَ أَنَّهُ مَسْؤُوْلٌ ، فَلْيُعِدَّ لِلسُّؤَالِ جَوَاباً “Sesungguhnya aku adalah hamba di sisi Allah dan akan kembali pada-Nya. Siapa saja yang mengetahui Allah itu memiliki hamba dan akan kembali pada-Nya, maka tentu ia tahu bahwa hidupnya akan berakhir. Kalau tahu hidupnya akan berakhir, tentu ia tahu bahwa ia akan ditanya. Kalau ia tahu akan ditanya, maka ia tentu akan mempersiapkan jawaban dari pertanyaan yang ada. ” Orang itu bertanya pada Fudhail, فَمَا الحِيْلَةُ ؟ “Adakah alasan yang bisa dibuat-buat untuk melepaskan diri?” Fudhail menjawab, يَسِيْرَةٌ “Itu mudah.” Ia balik bertanya, مَا هِيَ ؟ “Apa itu?” Fudhail menjawab, تُحْسِنُ فِيْمَا بَقِيَ يُغْفَرُ لَكَ مَا مَضَى فَإِنّكَ إِنْ أَسَأْتَ فِيْمَا بَقِيَ ، أُخِذْتَ بِمَا مَضَى وَبِمَا بَقِيَ “Hendaklah beramal baik di sisa umur yang ada, maka akan diampuni kesalah-kesalahanmu yang terdahulu. Karena jika engkau masih berbuat jelek di sisa umurmu, engkau akan disiksa karena kesalahanmu yang dulu dan sisa umurmu yang ada.” (Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2: 383)   Nasihat Ibnu ‘Umar: Jangan Panjang Angan-Angan Adapun wasiat dari Ibnu ‘Umar diambil dari hadits, yang berisi nasihat supaya kita tidak berpanjang angan-angan. Jika kita berada di petang hari, maka janganlah menunggu sampai pagi hari. Jika kita berada di pagi hari, maka janganlah menunggu sampai petang hari. Bahkan kita harus merasa bahwa bisa jadi ajal (kematian) menjemput kita sebelum itu. Kita dapat ambil pelajaran dari apa yang dikatakan oleh Imam Ahmad tentang maksud zuhud, أيُّ شيءٍ الزُّهد في الدنيا ؟ قال : قِصَرُ الأمل ، من إذا أصبحَ ، قال : لا أُمسي ، قال : وهكذا قال سفيان. قيل لأبي عبد الله : بأيِّ شيء نستعين على قِصَرِ الأمل ؟ قال : ما ندري إنَّما هو توفيق “Bagaimana cara zuhud terhadap dunia?” Jawab Imam Ahmad, “Tidak berpanjang angan-angan. Ketika berada di pagi hari, maka ia tidak berkata, “Ahh … Tunggu sore saja.” Sufyan juga pernah bertanya pada Imam Ahmad, “Bagaimana agar kita tidak panjang angan-angan?” Jawab beliau, “Bisa seperti hanya taufik dari Allah.” (Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2: 384)   Moga kita tidak jadi seperti yang mengatakan … رَبِّ ارْجِعُونِ  لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ “(Ketika datang kematian pada seseorang, lalu ia berkata): Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia) agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan.” (QS. Al Mu’minuun: 99-100). Ya Allah … Mudahkanlah kami untuk mempersiapkan bekal amalan shalih untuk menuju kampung akhirat. Wallahu waliyyut taufiq was sadaad.   Referensi: Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam. Cetakan kesepuluh, tahun 1432 H. Ibnu Rajab Al-Hambali. Tahqiq: Syaikh Syu’aib Al-Arnauth dan Ibrahim Yajis. Penerbit Muassasah Ar-Risalah. — Naskah Khutbah Jumat Masjid Klampok Purwosari, Jum’at Legi, 6 Rabi’ul Awwal 1437 H Disusun menjelang jumatan di Darush Sholihin, 6 Rabi’ul Awwal 1437 H Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Channel Telegram @RumayshoCom, @UntaianNasihat,@DarushSholihin Tagsmati

Butuh Bekal ke Kampung Akhirat

Kita semua butuh bekal, bukan bertujuan bersaing di dunia. Bekal ini lebih kita butuh untuk menuju alam akhirat. Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memegang pundaknya, lalu berkata, كُنْ فِى الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ ، أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ “Hiduplah kalian di dunia seakan-akan seperti orang asing, atau seperti seorang pengembara.” Ibnu ‘Umar lantas berkata, إِذَا أَمْسَيْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ الصَّبَاحَ ، وَإِذَا أَصْبَحْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ الْمَسَاءَ ، وَخُذْ مِنْ صِحَّتِكَ لِمَرَضِكَ ، وَمِنْ حَيَاتِكَ لِمَوْتِكَ “Jika engkau berada di petang hari, janganlah tunggu sampai datang pagi. Jika engkau berada di pagi hari, janganlah tunggu sampai datang petang. Manfaatkanlah waktu sehatmu sebelum datang sakitmu. Manfaatkanlah pula waktu hidupmu sebelum datang matimu.” (HR. Bukhari, no. 6416) Hadits di atas mengajarkan bahwa dunia ini bukanlah tempat kita menetap dan bukanlah negeri kita sesungguhnya. Dari sini seharusnya setiap mukmin berada pada salah satu dari dua keadaan berikut.   Pertama: Hidup seperti orang asing yang tinggal di negeri asing. Yang ia lakukan: Hatinya tidak bergantung pada dunia. Hatinya bergantung pada kampung sesungguhnya yang nanti ia akan kembali, yaitu negeri akhirat. Mukim di dunia hanya untuk menyiapkan bekal menuju ke kampung akhirat. Tidak pernah bersaing yaitu antara orang asing tadi dan penduduk asli (penggila dunia). Tidak pernah gelisah ketika ada yang mendapatkan dunia. Itulah orang asing. Al-Hasan Al-Bashri berkata, المؤْمِنُ فِي الدُّنْيَا كَالغَرِيْبِ لاَ يَجْزَع مِنْ ذُلِّهَا ، وَلاَ يُنَافِسُ فِي عِزِّهَا ، لَهُ شَأْنٌ ، وَلِلنَّاسِ شَأْنٌ “Seorang mukmin di dunia seperti orang asing. Tidak pernah gelisah terhadap orang yang mendapatkan dunia, tidak pernah saling berlomba dengan penggila dunia. Penggila dunia memiliki urusan sendiri, orang asing yang ingin kembali ke kampung akhirat punya urusan sendiri.” (Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2: 379) ‘Atho’ As-Salimi berkata dalam doanya, اللهمَّ ارْحَمْ فِي الدُّنْيَا غُرْبَتِي ، وَارْحَمْ فِي القَبْرِ وَحْشَتِي ، وَارْحَمْ مَوْقِفِي غَداً بَيْنَ يَدَيْكَ “Ya Allah, rahmatilah keasinganku di dunia, selamatkanlah dari kesedihan di kuburku, rahmatilah aku ketika aku berdiri di hadapan-Mu kelak.” (Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2: 379) Orang yang tergila dengan dunia, lupa akan akhirat, gambarannya seperti yang disampaikan oleh Yahya bin Mu’adz Ar-Razi, الدُّنْيَا خَمْرُ الشَّيْطَان ، مَنْ سَكِرَ مِنْهَا لَمْ يُفِقْ إِلاَّ فِي عَسْكَرِ الموْتَى نَادِماً مَعَ الخَاسِرِيْنَ “Dunia adalah khamarnya setan. Siapa yang mabuk, barulah tersadarkan diri ketika kematian (yang gelap) itu datang. Nantinya ia akan menyesal bersama dengan orang-orang yang merugi.” (Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2: 381)   Kedua: Hidup seperti seorang musafir atau pengembara yang tidak punya niatan untuk menetap sama sekali. Orang seperti hanya ingin terus menelusuri jalan hingga sampai pada ujung akhirnya, yaitu kematian. Yang ia lakukan: Terus mencari bekal untuk safarnya supaya bisa sampai di ujung perjalanan. Tidak punya keinginan untuk memperbanyak kesenangan dunia karena ingin sibuk terus menambah bekal. Cobalah ambil pelajaran dari perkataan Al-Fudhail bin ‘Iyadh. Beliau pernah mengatakan pada seseorang, كَمْ أَتَتْ عَلَيْكَ ؟ “Berapa umur yang telah kau lewati?” Ia menjawab, سِتُّوْنَ سَنَةً “Enam puluh tahun.” Fudhail menyatakan, فَأَنْتَ مُنْذُ سِتِّيْنَ سَنَةً تَسِيْرُ إِلَى رَبِّكَ يُوشِكُ أَنْ تَبلُغَ “Selama 60 tahun ini engkau sedang berjalan menuju Rabbmu dan sebentar lagi engkau akan sampai.” Orang itu menjawab, إِنّا للهِ وَإنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُوْنَ “Segala sesuatu milik Allah dan akan kembali pada Allah.” Fudhail balik bertanya, أَتَعْرِفُ تَفْسِيْرَهُ “Apa engkau tahu arti kalimat yang engkau ucapkan tersebut?” Fudhail lantas melanjutkan, harusnya engkau katakan pula, أَنَا للهِ عَبْدٌ وَإِلَيْهِ رَاجِعٌ ، فَمَنْ عَلِمَ أَنَّهُ للهِ عَبْدٌ ، وَأَنَّهُ إِلَيْهِ رَاجِعٌ ، فَلْيَعْلَمْ أَنَّهُ مَوْقُوْفٌ ، وَمَنْ عَلِمَ أَنَّهُ مَوْقُوْفٌ ، فَلْيَعْلَمْ أَنَّهُ مَسْؤُوْلٌ ، وَمَنْ عَلِمَ أَنَّهُ مَسْؤُوْلٌ ، فَلْيُعِدَّ لِلسُّؤَالِ جَوَاباً “Sesungguhnya aku adalah hamba di sisi Allah dan akan kembali pada-Nya. Siapa saja yang mengetahui Allah itu memiliki hamba dan akan kembali pada-Nya, maka tentu ia tahu bahwa hidupnya akan berakhir. Kalau tahu hidupnya akan berakhir, tentu ia tahu bahwa ia akan ditanya. Kalau ia tahu akan ditanya, maka ia tentu akan mempersiapkan jawaban dari pertanyaan yang ada. ” Orang itu bertanya pada Fudhail, فَمَا الحِيْلَةُ ؟ “Adakah alasan yang bisa dibuat-buat untuk melepaskan diri?” Fudhail menjawab, يَسِيْرَةٌ “Itu mudah.” Ia balik bertanya, مَا هِيَ ؟ “Apa itu?” Fudhail menjawab, تُحْسِنُ فِيْمَا بَقِيَ يُغْفَرُ لَكَ مَا مَضَى فَإِنّكَ إِنْ أَسَأْتَ فِيْمَا بَقِيَ ، أُخِذْتَ بِمَا مَضَى وَبِمَا بَقِيَ “Hendaklah beramal baik di sisa umur yang ada, maka akan diampuni kesalah-kesalahanmu yang terdahulu. Karena jika engkau masih berbuat jelek di sisa umurmu, engkau akan disiksa karena kesalahanmu yang dulu dan sisa umurmu yang ada.” (Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2: 383)   Nasihat Ibnu ‘Umar: Jangan Panjang Angan-Angan Adapun wasiat dari Ibnu ‘Umar diambil dari hadits, yang berisi nasihat supaya kita tidak berpanjang angan-angan. Jika kita berada di petang hari, maka janganlah menunggu sampai pagi hari. Jika kita berada di pagi hari, maka janganlah menunggu sampai petang hari. Bahkan kita harus merasa bahwa bisa jadi ajal (kematian) menjemput kita sebelum itu. Kita dapat ambil pelajaran dari apa yang dikatakan oleh Imam Ahmad tentang maksud zuhud, أيُّ شيءٍ الزُّهد في الدنيا ؟ قال : قِصَرُ الأمل ، من إذا أصبحَ ، قال : لا أُمسي ، قال : وهكذا قال سفيان. قيل لأبي عبد الله : بأيِّ شيء نستعين على قِصَرِ الأمل ؟ قال : ما ندري إنَّما هو توفيق “Bagaimana cara zuhud terhadap dunia?” Jawab Imam Ahmad, “Tidak berpanjang angan-angan. Ketika berada di pagi hari, maka ia tidak berkata, “Ahh … Tunggu sore saja.” Sufyan juga pernah bertanya pada Imam Ahmad, “Bagaimana agar kita tidak panjang angan-angan?” Jawab beliau, “Bisa seperti hanya taufik dari Allah.” (Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2: 384)   Moga kita tidak jadi seperti yang mengatakan … رَبِّ ارْجِعُونِ  لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ “(Ketika datang kematian pada seseorang, lalu ia berkata): Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia) agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan.” (QS. Al Mu’minuun: 99-100). Ya Allah … Mudahkanlah kami untuk mempersiapkan bekal amalan shalih untuk menuju kampung akhirat. Wallahu waliyyut taufiq was sadaad.   Referensi: Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam. Cetakan kesepuluh, tahun 1432 H. Ibnu Rajab Al-Hambali. Tahqiq: Syaikh Syu’aib Al-Arnauth dan Ibrahim Yajis. Penerbit Muassasah Ar-Risalah. — Naskah Khutbah Jumat Masjid Klampok Purwosari, Jum’at Legi, 6 Rabi’ul Awwal 1437 H Disusun menjelang jumatan di Darush Sholihin, 6 Rabi’ul Awwal 1437 H Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Channel Telegram @RumayshoCom, @UntaianNasihat,@DarushSholihin Tagsmati
Kita semua butuh bekal, bukan bertujuan bersaing di dunia. Bekal ini lebih kita butuh untuk menuju alam akhirat. Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memegang pundaknya, lalu berkata, كُنْ فِى الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ ، أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ “Hiduplah kalian di dunia seakan-akan seperti orang asing, atau seperti seorang pengembara.” Ibnu ‘Umar lantas berkata, إِذَا أَمْسَيْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ الصَّبَاحَ ، وَإِذَا أَصْبَحْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ الْمَسَاءَ ، وَخُذْ مِنْ صِحَّتِكَ لِمَرَضِكَ ، وَمِنْ حَيَاتِكَ لِمَوْتِكَ “Jika engkau berada di petang hari, janganlah tunggu sampai datang pagi. Jika engkau berada di pagi hari, janganlah tunggu sampai datang petang. Manfaatkanlah waktu sehatmu sebelum datang sakitmu. Manfaatkanlah pula waktu hidupmu sebelum datang matimu.” (HR. Bukhari, no. 6416) Hadits di atas mengajarkan bahwa dunia ini bukanlah tempat kita menetap dan bukanlah negeri kita sesungguhnya. Dari sini seharusnya setiap mukmin berada pada salah satu dari dua keadaan berikut.   Pertama: Hidup seperti orang asing yang tinggal di negeri asing. Yang ia lakukan: Hatinya tidak bergantung pada dunia. Hatinya bergantung pada kampung sesungguhnya yang nanti ia akan kembali, yaitu negeri akhirat. Mukim di dunia hanya untuk menyiapkan bekal menuju ke kampung akhirat. Tidak pernah bersaing yaitu antara orang asing tadi dan penduduk asli (penggila dunia). Tidak pernah gelisah ketika ada yang mendapatkan dunia. Itulah orang asing. Al-Hasan Al-Bashri berkata, المؤْمِنُ فِي الدُّنْيَا كَالغَرِيْبِ لاَ يَجْزَع مِنْ ذُلِّهَا ، وَلاَ يُنَافِسُ فِي عِزِّهَا ، لَهُ شَأْنٌ ، وَلِلنَّاسِ شَأْنٌ “Seorang mukmin di dunia seperti orang asing. Tidak pernah gelisah terhadap orang yang mendapatkan dunia, tidak pernah saling berlomba dengan penggila dunia. Penggila dunia memiliki urusan sendiri, orang asing yang ingin kembali ke kampung akhirat punya urusan sendiri.” (Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2: 379) ‘Atho’ As-Salimi berkata dalam doanya, اللهمَّ ارْحَمْ فِي الدُّنْيَا غُرْبَتِي ، وَارْحَمْ فِي القَبْرِ وَحْشَتِي ، وَارْحَمْ مَوْقِفِي غَداً بَيْنَ يَدَيْكَ “Ya Allah, rahmatilah keasinganku di dunia, selamatkanlah dari kesedihan di kuburku, rahmatilah aku ketika aku berdiri di hadapan-Mu kelak.” (Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2: 379) Orang yang tergila dengan dunia, lupa akan akhirat, gambarannya seperti yang disampaikan oleh Yahya bin Mu’adz Ar-Razi, الدُّنْيَا خَمْرُ الشَّيْطَان ، مَنْ سَكِرَ مِنْهَا لَمْ يُفِقْ إِلاَّ فِي عَسْكَرِ الموْتَى نَادِماً مَعَ الخَاسِرِيْنَ “Dunia adalah khamarnya setan. Siapa yang mabuk, barulah tersadarkan diri ketika kematian (yang gelap) itu datang. Nantinya ia akan menyesal bersama dengan orang-orang yang merugi.” (Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2: 381)   Kedua: Hidup seperti seorang musafir atau pengembara yang tidak punya niatan untuk menetap sama sekali. Orang seperti hanya ingin terus menelusuri jalan hingga sampai pada ujung akhirnya, yaitu kematian. Yang ia lakukan: Terus mencari bekal untuk safarnya supaya bisa sampai di ujung perjalanan. Tidak punya keinginan untuk memperbanyak kesenangan dunia karena ingin sibuk terus menambah bekal. Cobalah ambil pelajaran dari perkataan Al-Fudhail bin ‘Iyadh. Beliau pernah mengatakan pada seseorang, كَمْ أَتَتْ عَلَيْكَ ؟ “Berapa umur yang telah kau lewati?” Ia menjawab, سِتُّوْنَ سَنَةً “Enam puluh tahun.” Fudhail menyatakan, فَأَنْتَ مُنْذُ سِتِّيْنَ سَنَةً تَسِيْرُ إِلَى رَبِّكَ يُوشِكُ أَنْ تَبلُغَ “Selama 60 tahun ini engkau sedang berjalan menuju Rabbmu dan sebentar lagi engkau akan sampai.” Orang itu menjawab, إِنّا للهِ وَإنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُوْنَ “Segala sesuatu milik Allah dan akan kembali pada Allah.” Fudhail balik bertanya, أَتَعْرِفُ تَفْسِيْرَهُ “Apa engkau tahu arti kalimat yang engkau ucapkan tersebut?” Fudhail lantas melanjutkan, harusnya engkau katakan pula, أَنَا للهِ عَبْدٌ وَإِلَيْهِ رَاجِعٌ ، فَمَنْ عَلِمَ أَنَّهُ للهِ عَبْدٌ ، وَأَنَّهُ إِلَيْهِ رَاجِعٌ ، فَلْيَعْلَمْ أَنَّهُ مَوْقُوْفٌ ، وَمَنْ عَلِمَ أَنَّهُ مَوْقُوْفٌ ، فَلْيَعْلَمْ أَنَّهُ مَسْؤُوْلٌ ، وَمَنْ عَلِمَ أَنَّهُ مَسْؤُوْلٌ ، فَلْيُعِدَّ لِلسُّؤَالِ جَوَاباً “Sesungguhnya aku adalah hamba di sisi Allah dan akan kembali pada-Nya. Siapa saja yang mengetahui Allah itu memiliki hamba dan akan kembali pada-Nya, maka tentu ia tahu bahwa hidupnya akan berakhir. Kalau tahu hidupnya akan berakhir, tentu ia tahu bahwa ia akan ditanya. Kalau ia tahu akan ditanya, maka ia tentu akan mempersiapkan jawaban dari pertanyaan yang ada. ” Orang itu bertanya pada Fudhail, فَمَا الحِيْلَةُ ؟ “Adakah alasan yang bisa dibuat-buat untuk melepaskan diri?” Fudhail menjawab, يَسِيْرَةٌ “Itu mudah.” Ia balik bertanya, مَا هِيَ ؟ “Apa itu?” Fudhail menjawab, تُحْسِنُ فِيْمَا بَقِيَ يُغْفَرُ لَكَ مَا مَضَى فَإِنّكَ إِنْ أَسَأْتَ فِيْمَا بَقِيَ ، أُخِذْتَ بِمَا مَضَى وَبِمَا بَقِيَ “Hendaklah beramal baik di sisa umur yang ada, maka akan diampuni kesalah-kesalahanmu yang terdahulu. Karena jika engkau masih berbuat jelek di sisa umurmu, engkau akan disiksa karena kesalahanmu yang dulu dan sisa umurmu yang ada.” (Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2: 383)   Nasihat Ibnu ‘Umar: Jangan Panjang Angan-Angan Adapun wasiat dari Ibnu ‘Umar diambil dari hadits, yang berisi nasihat supaya kita tidak berpanjang angan-angan. Jika kita berada di petang hari, maka janganlah menunggu sampai pagi hari. Jika kita berada di pagi hari, maka janganlah menunggu sampai petang hari. Bahkan kita harus merasa bahwa bisa jadi ajal (kematian) menjemput kita sebelum itu. Kita dapat ambil pelajaran dari apa yang dikatakan oleh Imam Ahmad tentang maksud zuhud, أيُّ شيءٍ الزُّهد في الدنيا ؟ قال : قِصَرُ الأمل ، من إذا أصبحَ ، قال : لا أُمسي ، قال : وهكذا قال سفيان. قيل لأبي عبد الله : بأيِّ شيء نستعين على قِصَرِ الأمل ؟ قال : ما ندري إنَّما هو توفيق “Bagaimana cara zuhud terhadap dunia?” Jawab Imam Ahmad, “Tidak berpanjang angan-angan. Ketika berada di pagi hari, maka ia tidak berkata, “Ahh … Tunggu sore saja.” Sufyan juga pernah bertanya pada Imam Ahmad, “Bagaimana agar kita tidak panjang angan-angan?” Jawab beliau, “Bisa seperti hanya taufik dari Allah.” (Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2: 384)   Moga kita tidak jadi seperti yang mengatakan … رَبِّ ارْجِعُونِ  لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ “(Ketika datang kematian pada seseorang, lalu ia berkata): Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia) agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan.” (QS. Al Mu’minuun: 99-100). Ya Allah … Mudahkanlah kami untuk mempersiapkan bekal amalan shalih untuk menuju kampung akhirat. Wallahu waliyyut taufiq was sadaad.   Referensi: Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam. Cetakan kesepuluh, tahun 1432 H. Ibnu Rajab Al-Hambali. Tahqiq: Syaikh Syu’aib Al-Arnauth dan Ibrahim Yajis. Penerbit Muassasah Ar-Risalah. — Naskah Khutbah Jumat Masjid Klampok Purwosari, Jum’at Legi, 6 Rabi’ul Awwal 1437 H Disusun menjelang jumatan di Darush Sholihin, 6 Rabi’ul Awwal 1437 H Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Channel Telegram @RumayshoCom, @UntaianNasihat,@DarushSholihin Tagsmati


Kita semua butuh bekal, bukan bertujuan bersaing di dunia. Bekal ini lebih kita butuh untuk menuju alam akhirat. Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memegang pundaknya, lalu berkata, كُنْ فِى الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ ، أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ “Hiduplah kalian di dunia seakan-akan seperti orang asing, atau seperti seorang pengembara.” Ibnu ‘Umar lantas berkata, إِذَا أَمْسَيْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ الصَّبَاحَ ، وَإِذَا أَصْبَحْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ الْمَسَاءَ ، وَخُذْ مِنْ صِحَّتِكَ لِمَرَضِكَ ، وَمِنْ حَيَاتِكَ لِمَوْتِكَ “Jika engkau berada di petang hari, janganlah tunggu sampai datang pagi. Jika engkau berada di pagi hari, janganlah tunggu sampai datang petang. Manfaatkanlah waktu sehatmu sebelum datang sakitmu. Manfaatkanlah pula waktu hidupmu sebelum datang matimu.” (HR. Bukhari, no. 6416) Hadits di atas mengajarkan bahwa dunia ini bukanlah tempat kita menetap dan bukanlah negeri kita sesungguhnya. Dari sini seharusnya setiap mukmin berada pada salah satu dari dua keadaan berikut.   Pertama: Hidup seperti orang asing yang tinggal di negeri asing. Yang ia lakukan: Hatinya tidak bergantung pada dunia. Hatinya bergantung pada kampung sesungguhnya yang nanti ia akan kembali, yaitu negeri akhirat. Mukim di dunia hanya untuk menyiapkan bekal menuju ke kampung akhirat. Tidak pernah bersaing yaitu antara orang asing tadi dan penduduk asli (penggila dunia). Tidak pernah gelisah ketika ada yang mendapatkan dunia. Itulah orang asing. Al-Hasan Al-Bashri berkata, المؤْمِنُ فِي الدُّنْيَا كَالغَرِيْبِ لاَ يَجْزَع مِنْ ذُلِّهَا ، وَلاَ يُنَافِسُ فِي عِزِّهَا ، لَهُ شَأْنٌ ، وَلِلنَّاسِ شَأْنٌ “Seorang mukmin di dunia seperti orang asing. Tidak pernah gelisah terhadap orang yang mendapatkan dunia, tidak pernah saling berlomba dengan penggila dunia. Penggila dunia memiliki urusan sendiri, orang asing yang ingin kembali ke kampung akhirat punya urusan sendiri.” (Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2: 379) ‘Atho’ As-Salimi berkata dalam doanya, اللهمَّ ارْحَمْ فِي الدُّنْيَا غُرْبَتِي ، وَارْحَمْ فِي القَبْرِ وَحْشَتِي ، وَارْحَمْ مَوْقِفِي غَداً بَيْنَ يَدَيْكَ “Ya Allah, rahmatilah keasinganku di dunia, selamatkanlah dari kesedihan di kuburku, rahmatilah aku ketika aku berdiri di hadapan-Mu kelak.” (Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2: 379) Orang yang tergila dengan dunia, lupa akan akhirat, gambarannya seperti yang disampaikan oleh Yahya bin Mu’adz Ar-Razi, الدُّنْيَا خَمْرُ الشَّيْطَان ، مَنْ سَكِرَ مِنْهَا لَمْ يُفِقْ إِلاَّ فِي عَسْكَرِ الموْتَى نَادِماً مَعَ الخَاسِرِيْنَ “Dunia adalah khamarnya setan. Siapa yang mabuk, barulah tersadarkan diri ketika kematian (yang gelap) itu datang. Nantinya ia akan menyesal bersama dengan orang-orang yang merugi.” (Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2: 381)   Kedua: Hidup seperti seorang musafir atau pengembara yang tidak punya niatan untuk menetap sama sekali. Orang seperti hanya ingin terus menelusuri jalan hingga sampai pada ujung akhirnya, yaitu kematian. Yang ia lakukan: Terus mencari bekal untuk safarnya supaya bisa sampai di ujung perjalanan. Tidak punya keinginan untuk memperbanyak kesenangan dunia karena ingin sibuk terus menambah bekal. Cobalah ambil pelajaran dari perkataan Al-Fudhail bin ‘Iyadh. Beliau pernah mengatakan pada seseorang, كَمْ أَتَتْ عَلَيْكَ ؟ “Berapa umur yang telah kau lewati?” Ia menjawab, سِتُّوْنَ سَنَةً “Enam puluh tahun.” Fudhail menyatakan, فَأَنْتَ مُنْذُ سِتِّيْنَ سَنَةً تَسِيْرُ إِلَى رَبِّكَ يُوشِكُ أَنْ تَبلُغَ “Selama 60 tahun ini engkau sedang berjalan menuju Rabbmu dan sebentar lagi engkau akan sampai.” Orang itu menjawab, إِنّا للهِ وَإنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُوْنَ “Segala sesuatu milik Allah dan akan kembali pada Allah.” Fudhail balik bertanya, أَتَعْرِفُ تَفْسِيْرَهُ “Apa engkau tahu arti kalimat yang engkau ucapkan tersebut?” Fudhail lantas melanjutkan, harusnya engkau katakan pula, أَنَا للهِ عَبْدٌ وَإِلَيْهِ رَاجِعٌ ، فَمَنْ عَلِمَ أَنَّهُ للهِ عَبْدٌ ، وَأَنَّهُ إِلَيْهِ رَاجِعٌ ، فَلْيَعْلَمْ أَنَّهُ مَوْقُوْفٌ ، وَمَنْ عَلِمَ أَنَّهُ مَوْقُوْفٌ ، فَلْيَعْلَمْ أَنَّهُ مَسْؤُوْلٌ ، وَمَنْ عَلِمَ أَنَّهُ مَسْؤُوْلٌ ، فَلْيُعِدَّ لِلسُّؤَالِ جَوَاباً “Sesungguhnya aku adalah hamba di sisi Allah dan akan kembali pada-Nya. Siapa saja yang mengetahui Allah itu memiliki hamba dan akan kembali pada-Nya, maka tentu ia tahu bahwa hidupnya akan berakhir. Kalau tahu hidupnya akan berakhir, tentu ia tahu bahwa ia akan ditanya. Kalau ia tahu akan ditanya, maka ia tentu akan mempersiapkan jawaban dari pertanyaan yang ada. ” Orang itu bertanya pada Fudhail, فَمَا الحِيْلَةُ ؟ “Adakah alasan yang bisa dibuat-buat untuk melepaskan diri?” Fudhail menjawab, يَسِيْرَةٌ “Itu mudah.” Ia balik bertanya, مَا هِيَ ؟ “Apa itu?” Fudhail menjawab, تُحْسِنُ فِيْمَا بَقِيَ يُغْفَرُ لَكَ مَا مَضَى فَإِنّكَ إِنْ أَسَأْتَ فِيْمَا بَقِيَ ، أُخِذْتَ بِمَا مَضَى وَبِمَا بَقِيَ “Hendaklah beramal baik di sisa umur yang ada, maka akan diampuni kesalah-kesalahanmu yang terdahulu. Karena jika engkau masih berbuat jelek di sisa umurmu, engkau akan disiksa karena kesalahanmu yang dulu dan sisa umurmu yang ada.” (Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2: 383)   Nasihat Ibnu ‘Umar: Jangan Panjang Angan-Angan Adapun wasiat dari Ibnu ‘Umar diambil dari hadits, yang berisi nasihat supaya kita tidak berpanjang angan-angan. Jika kita berada di petang hari, maka janganlah menunggu sampai pagi hari. Jika kita berada di pagi hari, maka janganlah menunggu sampai petang hari. Bahkan kita harus merasa bahwa bisa jadi ajal (kematian) menjemput kita sebelum itu. Kita dapat ambil pelajaran dari apa yang dikatakan oleh Imam Ahmad tentang maksud zuhud, أيُّ شيءٍ الزُّهد في الدنيا ؟ قال : قِصَرُ الأمل ، من إذا أصبحَ ، قال : لا أُمسي ، قال : وهكذا قال سفيان. قيل لأبي عبد الله : بأيِّ شيء نستعين على قِصَرِ الأمل ؟ قال : ما ندري إنَّما هو توفيق “Bagaimana cara zuhud terhadap dunia?” Jawab Imam Ahmad, “Tidak berpanjang angan-angan. Ketika berada di pagi hari, maka ia tidak berkata, “Ahh … Tunggu sore saja.” Sufyan juga pernah bertanya pada Imam Ahmad, “Bagaimana agar kita tidak panjang angan-angan?” Jawab beliau, “Bisa seperti hanya taufik dari Allah.” (Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2: 384)   Moga kita tidak jadi seperti yang mengatakan … رَبِّ ارْجِعُونِ  لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ “(Ketika datang kematian pada seseorang, lalu ia berkata): Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia) agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan.” (QS. Al Mu’minuun: 99-100). Ya Allah … Mudahkanlah kami untuk mempersiapkan bekal amalan shalih untuk menuju kampung akhirat. Wallahu waliyyut taufiq was sadaad.   Referensi: Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam. Cetakan kesepuluh, tahun 1432 H. Ibnu Rajab Al-Hambali. Tahqiq: Syaikh Syu’aib Al-Arnauth dan Ibrahim Yajis. Penerbit Muassasah Ar-Risalah. — Naskah Khutbah Jumat Masjid Klampok Purwosari, Jum’at Legi, 6 Rabi’ul Awwal 1437 H Disusun menjelang jumatan di Darush Sholihin, 6 Rabi’ul Awwal 1437 H Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Channel Telegram @RumayshoCom, @UntaianNasihat,@DarushSholihin Tagsmati

Faedah Surat Yasin: Dai Dituduh Bawa Sial

Ketika disebutkan bahwa para penyeru dakwah itu datang hanya untuk menyampaikan. Yang disampaikan adalah kebenaran. Orang-orang yang didakwahi malah menjawab bahwa mereka selalu mendapatkan kesialan karena para rasul yang diutus. Mereka menuduh bahwa seperti hujan yang tidak kunjung turun, itu semua disebabkan oleh para penyeru dakwah. Allah Ta’ala berfirman, قَالُوا إِنَّا تَطَيَّرْنَا بِكُمْ لَئِنْ لَمْ تَنْتَهُوا لَنَرْجُمَنَّكُمْ وَلَيَمَسَّنَّكُمْ مِنَّا عَذَابٌ أَلِيمٌ (18) قَالُوا طَائِرُكُمْ مَعَكُمْ أَئِنْ ذُكِّرْتُمْ بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ مُسْرِفُونَ (19) “Mereka menjawab: “Sesungguhnya kami bernasib malang karena kamu, sesungguhnya jika kamu tidak berhenti (menyeru kami), niscaya kami akan merajam kamu dan kamu pasti akan mendapat siksa yang pedih dari kami.” Utusan-utusan itu berkata: “Kemalangan kamu adalah karena kamu sendiri. Apakah jika kamu diberi peringatan (kamu bernasib malang)? Sebenarnya kamu adalah kaum yang melampui batas.” (QS. Yasin: 18-19) Berikut keterangan singkat dari Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. Ini adalah tanggapan dari penduduk negeri yang didatangi para penyeru dakwah. Mereka menyatakan bahwa mereka bernasib sial saat kedatangan para rasul. Dan memang itu sungguh aneh. Jika tidak mau berhenti, maka kaum tersebut akan melempar mereka dengan batu. Dan ini adalah tindakan pembinasaan yang amat jelek. Sebaliknya … Para penyeru dakwah itu berkata, kesialan itu sebenarnya karena kesyirikan dan dosa yang diperbuat oleh penduduk negeri tersebut. Itulah yang menyebabkan musibah datang dan berbagai nikmat hilang. Diberi peringatan itu demi baiknya kaum tersebut supaya bertakwa. Namun mereka malah berkata bahwa kesialan tadi datang dari para penyeru dakwah. Mereka (penduduk negeri) tersebut adalah orang-orang yang melampaui batas. Seruan pada mereka malah membuat mereka lari dan bertambah angkuh. Demikian ringkasan dari Tafsir As-Sa’di.   Faedah yang bisa diambil: Menganggap sial dengan suatu hal merupakan amalan jahiliyah dari orang-orang kafir. Menganggap sial diharamkan dalam Islam. Keadaan orang-orang dalam menanggapi dakwah. Ada yang menerima dan ada yang menolak. Penolakan dakwah adalah suatu yang wajar. Kesialan kadang disandarkan pada penyeruh dakwah. Karena kesyirikan dan maksiat, berbagai nikmat hilang dan musibah datang. Para da’i kadang mendapatkan perlakuan tidak enak dari kaumnya. Ada yang sampai dilempar batu, bahkan dibunuh. Seruan dan dakwah pada sebagian orang kadang membuat mereka lari bahkan bertambah sombong. Taufik di tangan Allah. Semoga manfaat. Hanya Allah yang memberi taufik.   Referensi: Tafsir As-Sa’di dan Aysar At-Tafasir. — Diselesaikan di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 5 Rabi’ul Awwal 1437 H Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Channel Telegram @RumayshoCom, @UntaianNasihat,@DarushSholihin Tagsfaedah surat yasin surat yasin tafsir surat yasin

Faedah Surat Yasin: Dai Dituduh Bawa Sial

Ketika disebutkan bahwa para penyeru dakwah itu datang hanya untuk menyampaikan. Yang disampaikan adalah kebenaran. Orang-orang yang didakwahi malah menjawab bahwa mereka selalu mendapatkan kesialan karena para rasul yang diutus. Mereka menuduh bahwa seperti hujan yang tidak kunjung turun, itu semua disebabkan oleh para penyeru dakwah. Allah Ta’ala berfirman, قَالُوا إِنَّا تَطَيَّرْنَا بِكُمْ لَئِنْ لَمْ تَنْتَهُوا لَنَرْجُمَنَّكُمْ وَلَيَمَسَّنَّكُمْ مِنَّا عَذَابٌ أَلِيمٌ (18) قَالُوا طَائِرُكُمْ مَعَكُمْ أَئِنْ ذُكِّرْتُمْ بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ مُسْرِفُونَ (19) “Mereka menjawab: “Sesungguhnya kami bernasib malang karena kamu, sesungguhnya jika kamu tidak berhenti (menyeru kami), niscaya kami akan merajam kamu dan kamu pasti akan mendapat siksa yang pedih dari kami.” Utusan-utusan itu berkata: “Kemalangan kamu adalah karena kamu sendiri. Apakah jika kamu diberi peringatan (kamu bernasib malang)? Sebenarnya kamu adalah kaum yang melampui batas.” (QS. Yasin: 18-19) Berikut keterangan singkat dari Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. Ini adalah tanggapan dari penduduk negeri yang didatangi para penyeru dakwah. Mereka menyatakan bahwa mereka bernasib sial saat kedatangan para rasul. Dan memang itu sungguh aneh. Jika tidak mau berhenti, maka kaum tersebut akan melempar mereka dengan batu. Dan ini adalah tindakan pembinasaan yang amat jelek. Sebaliknya … Para penyeru dakwah itu berkata, kesialan itu sebenarnya karena kesyirikan dan dosa yang diperbuat oleh penduduk negeri tersebut. Itulah yang menyebabkan musibah datang dan berbagai nikmat hilang. Diberi peringatan itu demi baiknya kaum tersebut supaya bertakwa. Namun mereka malah berkata bahwa kesialan tadi datang dari para penyeru dakwah. Mereka (penduduk negeri) tersebut adalah orang-orang yang melampaui batas. Seruan pada mereka malah membuat mereka lari dan bertambah angkuh. Demikian ringkasan dari Tafsir As-Sa’di.   Faedah yang bisa diambil: Menganggap sial dengan suatu hal merupakan amalan jahiliyah dari orang-orang kafir. Menganggap sial diharamkan dalam Islam. Keadaan orang-orang dalam menanggapi dakwah. Ada yang menerima dan ada yang menolak. Penolakan dakwah adalah suatu yang wajar. Kesialan kadang disandarkan pada penyeruh dakwah. Karena kesyirikan dan maksiat, berbagai nikmat hilang dan musibah datang. Para da’i kadang mendapatkan perlakuan tidak enak dari kaumnya. Ada yang sampai dilempar batu, bahkan dibunuh. Seruan dan dakwah pada sebagian orang kadang membuat mereka lari bahkan bertambah sombong. Taufik di tangan Allah. Semoga manfaat. Hanya Allah yang memberi taufik.   Referensi: Tafsir As-Sa’di dan Aysar At-Tafasir. — Diselesaikan di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 5 Rabi’ul Awwal 1437 H Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Channel Telegram @RumayshoCom, @UntaianNasihat,@DarushSholihin Tagsfaedah surat yasin surat yasin tafsir surat yasin
Ketika disebutkan bahwa para penyeru dakwah itu datang hanya untuk menyampaikan. Yang disampaikan adalah kebenaran. Orang-orang yang didakwahi malah menjawab bahwa mereka selalu mendapatkan kesialan karena para rasul yang diutus. Mereka menuduh bahwa seperti hujan yang tidak kunjung turun, itu semua disebabkan oleh para penyeru dakwah. Allah Ta’ala berfirman, قَالُوا إِنَّا تَطَيَّرْنَا بِكُمْ لَئِنْ لَمْ تَنْتَهُوا لَنَرْجُمَنَّكُمْ وَلَيَمَسَّنَّكُمْ مِنَّا عَذَابٌ أَلِيمٌ (18) قَالُوا طَائِرُكُمْ مَعَكُمْ أَئِنْ ذُكِّرْتُمْ بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ مُسْرِفُونَ (19) “Mereka menjawab: “Sesungguhnya kami bernasib malang karena kamu, sesungguhnya jika kamu tidak berhenti (menyeru kami), niscaya kami akan merajam kamu dan kamu pasti akan mendapat siksa yang pedih dari kami.” Utusan-utusan itu berkata: “Kemalangan kamu adalah karena kamu sendiri. Apakah jika kamu diberi peringatan (kamu bernasib malang)? Sebenarnya kamu adalah kaum yang melampui batas.” (QS. Yasin: 18-19) Berikut keterangan singkat dari Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. Ini adalah tanggapan dari penduduk negeri yang didatangi para penyeru dakwah. Mereka menyatakan bahwa mereka bernasib sial saat kedatangan para rasul. Dan memang itu sungguh aneh. Jika tidak mau berhenti, maka kaum tersebut akan melempar mereka dengan batu. Dan ini adalah tindakan pembinasaan yang amat jelek. Sebaliknya … Para penyeru dakwah itu berkata, kesialan itu sebenarnya karena kesyirikan dan dosa yang diperbuat oleh penduduk negeri tersebut. Itulah yang menyebabkan musibah datang dan berbagai nikmat hilang. Diberi peringatan itu demi baiknya kaum tersebut supaya bertakwa. Namun mereka malah berkata bahwa kesialan tadi datang dari para penyeru dakwah. Mereka (penduduk negeri) tersebut adalah orang-orang yang melampaui batas. Seruan pada mereka malah membuat mereka lari dan bertambah angkuh. Demikian ringkasan dari Tafsir As-Sa’di.   Faedah yang bisa diambil: Menganggap sial dengan suatu hal merupakan amalan jahiliyah dari orang-orang kafir. Menganggap sial diharamkan dalam Islam. Keadaan orang-orang dalam menanggapi dakwah. Ada yang menerima dan ada yang menolak. Penolakan dakwah adalah suatu yang wajar. Kesialan kadang disandarkan pada penyeruh dakwah. Karena kesyirikan dan maksiat, berbagai nikmat hilang dan musibah datang. Para da’i kadang mendapatkan perlakuan tidak enak dari kaumnya. Ada yang sampai dilempar batu, bahkan dibunuh. Seruan dan dakwah pada sebagian orang kadang membuat mereka lari bahkan bertambah sombong. Taufik di tangan Allah. Semoga manfaat. Hanya Allah yang memberi taufik.   Referensi: Tafsir As-Sa’di dan Aysar At-Tafasir. — Diselesaikan di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 5 Rabi’ul Awwal 1437 H Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Channel Telegram @RumayshoCom, @UntaianNasihat,@DarushSholihin Tagsfaedah surat yasin surat yasin tafsir surat yasin


Ketika disebutkan bahwa para penyeru dakwah itu datang hanya untuk menyampaikan. Yang disampaikan adalah kebenaran. Orang-orang yang didakwahi malah menjawab bahwa mereka selalu mendapatkan kesialan karena para rasul yang diutus. Mereka menuduh bahwa seperti hujan yang tidak kunjung turun, itu semua disebabkan oleh para penyeru dakwah. Allah Ta’ala berfirman, قَالُوا إِنَّا تَطَيَّرْنَا بِكُمْ لَئِنْ لَمْ تَنْتَهُوا لَنَرْجُمَنَّكُمْ وَلَيَمَسَّنَّكُمْ مِنَّا عَذَابٌ أَلِيمٌ (18) قَالُوا طَائِرُكُمْ مَعَكُمْ أَئِنْ ذُكِّرْتُمْ بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ مُسْرِفُونَ (19) “Mereka menjawab: “Sesungguhnya kami bernasib malang karena kamu, sesungguhnya jika kamu tidak berhenti (menyeru kami), niscaya kami akan merajam kamu dan kamu pasti akan mendapat siksa yang pedih dari kami.” Utusan-utusan itu berkata: “Kemalangan kamu adalah karena kamu sendiri. Apakah jika kamu diberi peringatan (kamu bernasib malang)? Sebenarnya kamu adalah kaum yang melampui batas.” (QS. Yasin: 18-19) Berikut keterangan singkat dari Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. Ini adalah tanggapan dari penduduk negeri yang didatangi para penyeru dakwah. Mereka menyatakan bahwa mereka bernasib sial saat kedatangan para rasul. Dan memang itu sungguh aneh. Jika tidak mau berhenti, maka kaum tersebut akan melempar mereka dengan batu. Dan ini adalah tindakan pembinasaan yang amat jelek. Sebaliknya … Para penyeru dakwah itu berkata, kesialan itu sebenarnya karena kesyirikan dan dosa yang diperbuat oleh penduduk negeri tersebut. Itulah yang menyebabkan musibah datang dan berbagai nikmat hilang. Diberi peringatan itu demi baiknya kaum tersebut supaya bertakwa. Namun mereka malah berkata bahwa kesialan tadi datang dari para penyeru dakwah. Mereka (penduduk negeri) tersebut adalah orang-orang yang melampaui batas. Seruan pada mereka malah membuat mereka lari dan bertambah angkuh. Demikian ringkasan dari Tafsir As-Sa’di.   Faedah yang bisa diambil: Menganggap sial dengan suatu hal merupakan amalan jahiliyah dari orang-orang kafir. Menganggap sial diharamkan dalam Islam. Keadaan orang-orang dalam menanggapi dakwah. Ada yang menerima dan ada yang menolak. Penolakan dakwah adalah suatu yang wajar. Kesialan kadang disandarkan pada penyeruh dakwah. Karena kesyirikan dan maksiat, berbagai nikmat hilang dan musibah datang. Para da’i kadang mendapatkan perlakuan tidak enak dari kaumnya. Ada yang sampai dilempar batu, bahkan dibunuh. Seruan dan dakwah pada sebagian orang kadang membuat mereka lari bahkan bertambah sombong. Taufik di tangan Allah. Semoga manfaat. Hanya Allah yang memberi taufik.   Referensi: Tafsir As-Sa’di dan Aysar At-Tafasir. — Diselesaikan di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 5 Rabi’ul Awwal 1437 H Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Channel Telegram @RumayshoCom, @UntaianNasihat,@DarushSholihin Tagsfaedah surat yasin surat yasin tafsir surat yasin

Dosa itu Membandel Bagai Noda Lemak

Ibarat yang bagus dari ulama mengenai dosa bahwa dosa itu membandel bagai noda lemak. “وقوع الذنب على القلب Dosa yang menempel pada HATI كوقوع الدهن على الثوب Seperti NODA LEMAK yang menempel pada baju إن لم تعجل غسله Jika tidak segera dicuci وإلا انبسط-اتسع-[ابن الجوزي] Tentu akan menyebar luas ~Ibnul Jauzi~ ‏فسارع (وأتبع السيئة الحسنة تمحها)، Segeralah ikuti kejelekan (dosa) dengan kebaikan (taubat dan istighfar, pen.), maka kejelekan tersebut akan dihapus dengan kebaikan. {واستغفر لذنبك}.” “Beristighfarlah atas dosamu.”   Sumber: ‏Channel Telegram Bahasa Arab dari ulama KSA, Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid: @almunajjid   Semoga kita jadi hamba yang terus bertaubat, minimal Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam beristighfar dalam sehari 70 atau 100 kali. Sudahkah kita meneladani petunjuk beliau? ••• Diterjemahkan saat terbit mentari di Bandara Adisucipto Jogja, Selasa, 3 Rabi’ul Awwal 1437 H Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Channel Telegram @RumayshoCom, @UntaianNasihat,@DarushSholihin Tagsmaksiat

Dosa itu Membandel Bagai Noda Lemak

Ibarat yang bagus dari ulama mengenai dosa bahwa dosa itu membandel bagai noda lemak. “وقوع الذنب على القلب Dosa yang menempel pada HATI كوقوع الدهن على الثوب Seperti NODA LEMAK yang menempel pada baju إن لم تعجل غسله Jika tidak segera dicuci وإلا انبسط-اتسع-[ابن الجوزي] Tentu akan menyebar luas ~Ibnul Jauzi~ ‏فسارع (وأتبع السيئة الحسنة تمحها)، Segeralah ikuti kejelekan (dosa) dengan kebaikan (taubat dan istighfar, pen.), maka kejelekan tersebut akan dihapus dengan kebaikan. {واستغفر لذنبك}.” “Beristighfarlah atas dosamu.”   Sumber: ‏Channel Telegram Bahasa Arab dari ulama KSA, Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid: @almunajjid   Semoga kita jadi hamba yang terus bertaubat, minimal Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam beristighfar dalam sehari 70 atau 100 kali. Sudahkah kita meneladani petunjuk beliau? ••• Diterjemahkan saat terbit mentari di Bandara Adisucipto Jogja, Selasa, 3 Rabi’ul Awwal 1437 H Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Channel Telegram @RumayshoCom, @UntaianNasihat,@DarushSholihin Tagsmaksiat
Ibarat yang bagus dari ulama mengenai dosa bahwa dosa itu membandel bagai noda lemak. “وقوع الذنب على القلب Dosa yang menempel pada HATI كوقوع الدهن على الثوب Seperti NODA LEMAK yang menempel pada baju إن لم تعجل غسله Jika tidak segera dicuci وإلا انبسط-اتسع-[ابن الجوزي] Tentu akan menyebar luas ~Ibnul Jauzi~ ‏فسارع (وأتبع السيئة الحسنة تمحها)، Segeralah ikuti kejelekan (dosa) dengan kebaikan (taubat dan istighfar, pen.), maka kejelekan tersebut akan dihapus dengan kebaikan. {واستغفر لذنبك}.” “Beristighfarlah atas dosamu.”   Sumber: ‏Channel Telegram Bahasa Arab dari ulama KSA, Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid: @almunajjid   Semoga kita jadi hamba yang terus bertaubat, minimal Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam beristighfar dalam sehari 70 atau 100 kali. Sudahkah kita meneladani petunjuk beliau? ••• Diterjemahkan saat terbit mentari di Bandara Adisucipto Jogja, Selasa, 3 Rabi’ul Awwal 1437 H Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Channel Telegram @RumayshoCom, @UntaianNasihat,@DarushSholihin Tagsmaksiat


Ibarat yang bagus dari ulama mengenai dosa bahwa dosa itu membandel bagai noda lemak. “وقوع الذنب على القلب Dosa yang menempel pada HATI كوقوع الدهن على الثوب Seperti NODA LEMAK yang menempel pada baju إن لم تعجل غسله Jika tidak segera dicuci وإلا انبسط-اتسع-[ابن الجوزي] Tentu akan menyebar luas ~Ibnul Jauzi~ ‏فسارع (وأتبع السيئة الحسنة تمحها)، Segeralah ikuti kejelekan (dosa) dengan kebaikan (taubat dan istighfar, pen.), maka kejelekan tersebut akan dihapus dengan kebaikan. {واستغفر لذنبك}.” “Beristighfarlah atas dosamu.”   Sumber: ‏Channel Telegram Bahasa Arab dari ulama KSA, Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid: @almunajjid   Semoga kita jadi hamba yang terus bertaubat, minimal Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam beristighfar dalam sehari 70 atau 100 kali. Sudahkah kita meneladani petunjuk beliau? ••• Diterjemahkan saat terbit mentari di Bandara Adisucipto Jogja, Selasa, 3 Rabi’ul Awwal 1437 H Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Channel Telegram @RumayshoCom, @UntaianNasihat,@DarushSholihin Tagsmaksiat
Prev     Next