Poligami Tanpa Diketahui Istri Pertama

Apakah boleh seorang suami menikah lagi (berpoligami) diam-diam (kucing-kucingan) tanpa diketahui istri pertama? Syaikh Ibnu Jibrin rahimahullah pernah ditanya apakah disyaratkan untuk sahnya nikah, seorang suami yang ingin poligami harus mengakui bahwa statusnya sudah menikah dengan wanita lain ketika tidak ditanya hal tersebut. Apakah ada konsekuensi jika ia berbohong mengatakan belum menikah saat ditanya (padahal sudah punya istri dan anak, pen.)?   Jawaban Syaikh Jibrin, Yang jelas seorang pria tidak mesti mengabarkan pada istri kedua atau keluarganya bahwa ia telah menikah sebelumnya (masih berkeluarga) ketika tidak ditanya. Akan tetapi hal itu mustahil tersembunyi. Karena yang namanya nikah pasti akan menelusuri dan ingin mencari tahu keadaan masing-masing pasangan sebelum terjadinya akad, lantas diputuskan pantas ataukah tidak dijadikan pasangan. Yang jelas tidak boleh sampai menyembunyikan status dari kenyataan. Jika sampai ada dusta di antara pasangan suami-istri tersebut, lantas akad sudah berlangsung, maka ada hak khiyar (memutuskan untuk lanjut ataukah tidak, pen.). Jika salah satunya mengaku bahwa ia belum menikah, padahal itu dusta, maka boleh memilih untuk fasekh (membatalkan nikah, pen.) atau boleh tetap lanjut. Begitu pula ketika ada yang mengaku sebagai gadis padahal tidak lagi gadis, maka boleh memilih lanjut ataukah membatalkan nikah. (Diambil dari Fawaid wa Fatawa Tahummu Al-Mar’ah Al-Muslimah, 114) Kejujuran itu penting. Nikah atau berpoligami dengan kucing-kucingan pasti akan penuh dengan kedustaan. Tak percaya? Ibnu Mas’ud menuturkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِى إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِى إِلَى الْجَنَّةِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ صِدِّيقًا وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِى إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِى إِلَى النَّارِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا “Hendaklah kalian senantiasa berlaku jujur, karena sesungguhnya kejujuran akan megantarkan pada kebaikan dan sesungguhnya kebaikan akan mengantarkan pada surga. Jika seseorang senantiasa berlaku jujur dan berusaha untuk jujur, maka dia akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Hati-hatilah kalian dari berbuat dusta, karena sesungguhnya dusta akan mengantarkan kepada kejahatan dan kejahatan akan mengantarkan pada neraka. Jika seseorang sukanya berdusta dan berupaya untuk berdusta, maka ia akan dicatat di sisi Allah sebagai pendusta.” (HR. Muslim, no. 2607) Karena berpoligami itu adalah sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau sendiri mengajarkan kejujuran, maka berpoligami hendaklah berani untuk jujur. Wallahu waliyyut taufiq.   Referensi: Fatwa Al-Islam Sual wa Jawab no. 75405, https://islamqa.info/ar/75405 — @ DS, Panggang, Gunungkidul, 20 Rabi’ul Awwal 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagsjujur poligami

Poligami Tanpa Diketahui Istri Pertama

Apakah boleh seorang suami menikah lagi (berpoligami) diam-diam (kucing-kucingan) tanpa diketahui istri pertama? Syaikh Ibnu Jibrin rahimahullah pernah ditanya apakah disyaratkan untuk sahnya nikah, seorang suami yang ingin poligami harus mengakui bahwa statusnya sudah menikah dengan wanita lain ketika tidak ditanya hal tersebut. Apakah ada konsekuensi jika ia berbohong mengatakan belum menikah saat ditanya (padahal sudah punya istri dan anak, pen.)?   Jawaban Syaikh Jibrin, Yang jelas seorang pria tidak mesti mengabarkan pada istri kedua atau keluarganya bahwa ia telah menikah sebelumnya (masih berkeluarga) ketika tidak ditanya. Akan tetapi hal itu mustahil tersembunyi. Karena yang namanya nikah pasti akan menelusuri dan ingin mencari tahu keadaan masing-masing pasangan sebelum terjadinya akad, lantas diputuskan pantas ataukah tidak dijadikan pasangan. Yang jelas tidak boleh sampai menyembunyikan status dari kenyataan. Jika sampai ada dusta di antara pasangan suami-istri tersebut, lantas akad sudah berlangsung, maka ada hak khiyar (memutuskan untuk lanjut ataukah tidak, pen.). Jika salah satunya mengaku bahwa ia belum menikah, padahal itu dusta, maka boleh memilih untuk fasekh (membatalkan nikah, pen.) atau boleh tetap lanjut. Begitu pula ketika ada yang mengaku sebagai gadis padahal tidak lagi gadis, maka boleh memilih lanjut ataukah membatalkan nikah. (Diambil dari Fawaid wa Fatawa Tahummu Al-Mar’ah Al-Muslimah, 114) Kejujuran itu penting. Nikah atau berpoligami dengan kucing-kucingan pasti akan penuh dengan kedustaan. Tak percaya? Ibnu Mas’ud menuturkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِى إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِى إِلَى الْجَنَّةِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ صِدِّيقًا وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِى إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِى إِلَى النَّارِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا “Hendaklah kalian senantiasa berlaku jujur, karena sesungguhnya kejujuran akan megantarkan pada kebaikan dan sesungguhnya kebaikan akan mengantarkan pada surga. Jika seseorang senantiasa berlaku jujur dan berusaha untuk jujur, maka dia akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Hati-hatilah kalian dari berbuat dusta, karena sesungguhnya dusta akan mengantarkan kepada kejahatan dan kejahatan akan mengantarkan pada neraka. Jika seseorang sukanya berdusta dan berupaya untuk berdusta, maka ia akan dicatat di sisi Allah sebagai pendusta.” (HR. Muslim, no. 2607) Karena berpoligami itu adalah sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau sendiri mengajarkan kejujuran, maka berpoligami hendaklah berani untuk jujur. Wallahu waliyyut taufiq.   Referensi: Fatwa Al-Islam Sual wa Jawab no. 75405, https://islamqa.info/ar/75405 — @ DS, Panggang, Gunungkidul, 20 Rabi’ul Awwal 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagsjujur poligami
Apakah boleh seorang suami menikah lagi (berpoligami) diam-diam (kucing-kucingan) tanpa diketahui istri pertama? Syaikh Ibnu Jibrin rahimahullah pernah ditanya apakah disyaratkan untuk sahnya nikah, seorang suami yang ingin poligami harus mengakui bahwa statusnya sudah menikah dengan wanita lain ketika tidak ditanya hal tersebut. Apakah ada konsekuensi jika ia berbohong mengatakan belum menikah saat ditanya (padahal sudah punya istri dan anak, pen.)?   Jawaban Syaikh Jibrin, Yang jelas seorang pria tidak mesti mengabarkan pada istri kedua atau keluarganya bahwa ia telah menikah sebelumnya (masih berkeluarga) ketika tidak ditanya. Akan tetapi hal itu mustahil tersembunyi. Karena yang namanya nikah pasti akan menelusuri dan ingin mencari tahu keadaan masing-masing pasangan sebelum terjadinya akad, lantas diputuskan pantas ataukah tidak dijadikan pasangan. Yang jelas tidak boleh sampai menyembunyikan status dari kenyataan. Jika sampai ada dusta di antara pasangan suami-istri tersebut, lantas akad sudah berlangsung, maka ada hak khiyar (memutuskan untuk lanjut ataukah tidak, pen.). Jika salah satunya mengaku bahwa ia belum menikah, padahal itu dusta, maka boleh memilih untuk fasekh (membatalkan nikah, pen.) atau boleh tetap lanjut. Begitu pula ketika ada yang mengaku sebagai gadis padahal tidak lagi gadis, maka boleh memilih lanjut ataukah membatalkan nikah. (Diambil dari Fawaid wa Fatawa Tahummu Al-Mar’ah Al-Muslimah, 114) Kejujuran itu penting. Nikah atau berpoligami dengan kucing-kucingan pasti akan penuh dengan kedustaan. Tak percaya? Ibnu Mas’ud menuturkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِى إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِى إِلَى الْجَنَّةِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ صِدِّيقًا وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِى إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِى إِلَى النَّارِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا “Hendaklah kalian senantiasa berlaku jujur, karena sesungguhnya kejujuran akan megantarkan pada kebaikan dan sesungguhnya kebaikan akan mengantarkan pada surga. Jika seseorang senantiasa berlaku jujur dan berusaha untuk jujur, maka dia akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Hati-hatilah kalian dari berbuat dusta, karena sesungguhnya dusta akan mengantarkan kepada kejahatan dan kejahatan akan mengantarkan pada neraka. Jika seseorang sukanya berdusta dan berupaya untuk berdusta, maka ia akan dicatat di sisi Allah sebagai pendusta.” (HR. Muslim, no. 2607) Karena berpoligami itu adalah sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau sendiri mengajarkan kejujuran, maka berpoligami hendaklah berani untuk jujur. Wallahu waliyyut taufiq.   Referensi: Fatwa Al-Islam Sual wa Jawab no. 75405, https://islamqa.info/ar/75405 — @ DS, Panggang, Gunungkidul, 20 Rabi’ul Awwal 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagsjujur poligami


Apakah boleh seorang suami menikah lagi (berpoligami) diam-diam (kucing-kucingan) tanpa diketahui istri pertama? Syaikh Ibnu Jibrin rahimahullah pernah ditanya apakah disyaratkan untuk sahnya nikah, seorang suami yang ingin poligami harus mengakui bahwa statusnya sudah menikah dengan wanita lain ketika tidak ditanya hal tersebut. Apakah ada konsekuensi jika ia berbohong mengatakan belum menikah saat ditanya (padahal sudah punya istri dan anak, pen.)?   Jawaban Syaikh Jibrin, Yang jelas seorang pria tidak mesti mengabarkan pada istri kedua atau keluarganya bahwa ia telah menikah sebelumnya (masih berkeluarga) ketika tidak ditanya. Akan tetapi hal itu mustahil tersembunyi. Karena yang namanya nikah pasti akan menelusuri dan ingin mencari tahu keadaan masing-masing pasangan sebelum terjadinya akad, lantas diputuskan pantas ataukah tidak dijadikan pasangan. Yang jelas tidak boleh sampai menyembunyikan status dari kenyataan. Jika sampai ada dusta di antara pasangan suami-istri tersebut, lantas akad sudah berlangsung, maka ada hak khiyar (memutuskan untuk lanjut ataukah tidak, pen.). Jika salah satunya mengaku bahwa ia belum menikah, padahal itu dusta, maka boleh memilih untuk fasekh (membatalkan nikah, pen.) atau boleh tetap lanjut. Begitu pula ketika ada yang mengaku sebagai gadis padahal tidak lagi gadis, maka boleh memilih lanjut ataukah membatalkan nikah. (Diambil dari Fawaid wa Fatawa Tahummu Al-Mar’ah Al-Muslimah, 114) Kejujuran itu penting. Nikah atau berpoligami dengan kucing-kucingan pasti akan penuh dengan kedustaan. Tak percaya? Ibnu Mas’ud menuturkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِى إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِى إِلَى الْجَنَّةِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ صِدِّيقًا وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِى إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِى إِلَى النَّارِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا “Hendaklah kalian senantiasa berlaku jujur, karena sesungguhnya kejujuran akan megantarkan pada kebaikan dan sesungguhnya kebaikan akan mengantarkan pada surga. Jika seseorang senantiasa berlaku jujur dan berusaha untuk jujur, maka dia akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Hati-hatilah kalian dari berbuat dusta, karena sesungguhnya dusta akan mengantarkan kepada kejahatan dan kejahatan akan mengantarkan pada neraka. Jika seseorang sukanya berdusta dan berupaya untuk berdusta, maka ia akan dicatat di sisi Allah sebagai pendusta.” (HR. Muslim, no. 2607) Karena berpoligami itu adalah sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau sendiri mengajarkan kejujuran, maka berpoligami hendaklah berani untuk jujur. Wallahu waliyyut taufiq.   Referensi: Fatwa Al-Islam Sual wa Jawab no. 75405, https://islamqa.info/ar/75405 — @ DS, Panggang, Gunungkidul, 20 Rabi’ul Awwal 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagsjujur poligami

47 Ribu Rupiah Bantu 70 Anak Dhuafa Sunatan Massal

Tujuh puluh anak pada Sabtu, 24-12-2016 akan disunat massal di Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul. Mereka mayoritasnya adalah anak Gunungkidul yang tidak mampu dari berbagai kecamatan binaan Darush Sholihin (Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal). Biaya dokter @250.000 x 70 = 17.500.000 Konsumsi dan makan siang = 2.550.000 Hadiah tas, sarung, koko = 21.000.000 Pengobatan dan check up gratis 150 orang = 2.500.000 Lain-lain = 4.000.000 Total anggaran yang dibutuhkan: Rp.47.550.000 Pelaksanaan sunnatan massal dan check up gratis: 24 Desember 2016, 08.00 – Zhuhur di Pesantren Darush Sholihin @ Dusun Warak RT.08 / RW.02, Desa Girisekar, Panggang, Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta 55872 • Google Map: https://goo.gl/maps/VArqg3RRkU52 Kegiatan ini berlangsung atas kerjasama Darush Sholihin dan RS PKU Muhammadiyah Wonosari Gunungkidul. Tanggal 17 Desember 2016, 12.00 WIB kemarin, alhamdulillah sudah dilakukan screening untuk anak-anak yang mengikuti sunatan massal, hadir 53 anak dari 70 peserta.   YUK IKUT BANTU! Bagi yang ingin berdonasi hanya 47 ribu rupiah, silakan transfer via rekening: BRI 015301000406566 atas nama Yayasan Darush Sholihin (Kode Bank: 002) Konfirmasi ke: 082313950500 (SMS/ WA) dengan format: sunatan massal DS# nama donatur# alamat# no Hape # besar donasi# rekening# tanggal transfer Info donasi dan rekening lainnya, hubungi: 0811267791 Semoga Allah membalas dengan pahala melimpah bagi yang berdonasi untuk kegiatan ini. Moga menjadi amal jariyah yang langgeng. — Diselenggarakan oleh: Rumaysho.Com dan Pesantren Darush Sholihin Tagskhitan sunatan massal

47 Ribu Rupiah Bantu 70 Anak Dhuafa Sunatan Massal

Tujuh puluh anak pada Sabtu, 24-12-2016 akan disunat massal di Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul. Mereka mayoritasnya adalah anak Gunungkidul yang tidak mampu dari berbagai kecamatan binaan Darush Sholihin (Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal). Biaya dokter @250.000 x 70 = 17.500.000 Konsumsi dan makan siang = 2.550.000 Hadiah tas, sarung, koko = 21.000.000 Pengobatan dan check up gratis 150 orang = 2.500.000 Lain-lain = 4.000.000 Total anggaran yang dibutuhkan: Rp.47.550.000 Pelaksanaan sunnatan massal dan check up gratis: 24 Desember 2016, 08.00 – Zhuhur di Pesantren Darush Sholihin @ Dusun Warak RT.08 / RW.02, Desa Girisekar, Panggang, Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta 55872 • Google Map: https://goo.gl/maps/VArqg3RRkU52 Kegiatan ini berlangsung atas kerjasama Darush Sholihin dan RS PKU Muhammadiyah Wonosari Gunungkidul. Tanggal 17 Desember 2016, 12.00 WIB kemarin, alhamdulillah sudah dilakukan screening untuk anak-anak yang mengikuti sunatan massal, hadir 53 anak dari 70 peserta.   YUK IKUT BANTU! Bagi yang ingin berdonasi hanya 47 ribu rupiah, silakan transfer via rekening: BRI 015301000406566 atas nama Yayasan Darush Sholihin (Kode Bank: 002) Konfirmasi ke: 082313950500 (SMS/ WA) dengan format: sunatan massal DS# nama donatur# alamat# no Hape # besar donasi# rekening# tanggal transfer Info donasi dan rekening lainnya, hubungi: 0811267791 Semoga Allah membalas dengan pahala melimpah bagi yang berdonasi untuk kegiatan ini. Moga menjadi amal jariyah yang langgeng. — Diselenggarakan oleh: Rumaysho.Com dan Pesantren Darush Sholihin Tagskhitan sunatan massal
Tujuh puluh anak pada Sabtu, 24-12-2016 akan disunat massal di Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul. Mereka mayoritasnya adalah anak Gunungkidul yang tidak mampu dari berbagai kecamatan binaan Darush Sholihin (Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal). Biaya dokter @250.000 x 70 = 17.500.000 Konsumsi dan makan siang = 2.550.000 Hadiah tas, sarung, koko = 21.000.000 Pengobatan dan check up gratis 150 orang = 2.500.000 Lain-lain = 4.000.000 Total anggaran yang dibutuhkan: Rp.47.550.000 Pelaksanaan sunnatan massal dan check up gratis: 24 Desember 2016, 08.00 – Zhuhur di Pesantren Darush Sholihin @ Dusun Warak RT.08 / RW.02, Desa Girisekar, Panggang, Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta 55872 • Google Map: https://goo.gl/maps/VArqg3RRkU52 Kegiatan ini berlangsung atas kerjasama Darush Sholihin dan RS PKU Muhammadiyah Wonosari Gunungkidul. Tanggal 17 Desember 2016, 12.00 WIB kemarin, alhamdulillah sudah dilakukan screening untuk anak-anak yang mengikuti sunatan massal, hadir 53 anak dari 70 peserta.   YUK IKUT BANTU! Bagi yang ingin berdonasi hanya 47 ribu rupiah, silakan transfer via rekening: BRI 015301000406566 atas nama Yayasan Darush Sholihin (Kode Bank: 002) Konfirmasi ke: 082313950500 (SMS/ WA) dengan format: sunatan massal DS# nama donatur# alamat# no Hape # besar donasi# rekening# tanggal transfer Info donasi dan rekening lainnya, hubungi: 0811267791 Semoga Allah membalas dengan pahala melimpah bagi yang berdonasi untuk kegiatan ini. Moga menjadi amal jariyah yang langgeng. — Diselenggarakan oleh: Rumaysho.Com dan Pesantren Darush Sholihin Tagskhitan sunatan massal


Tujuh puluh anak pada Sabtu, 24-12-2016 akan disunat massal di Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul. Mereka mayoritasnya adalah anak Gunungkidul yang tidak mampu dari berbagai kecamatan binaan Darush Sholihin (Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal). Biaya dokter @250.000 x 70 = 17.500.000 Konsumsi dan makan siang = 2.550.000 Hadiah tas, sarung, koko = 21.000.000 Pengobatan dan check up gratis 150 orang = 2.500.000 Lain-lain = 4.000.000 Total anggaran yang dibutuhkan: Rp.47.550.000 Pelaksanaan sunnatan massal dan check up gratis: 24 Desember 2016, 08.00 – Zhuhur di Pesantren Darush Sholihin @ Dusun Warak RT.08 / RW.02, Desa Girisekar, Panggang, Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta 55872 • Google Map: https://goo.gl/maps/VArqg3RRkU52 Kegiatan ini berlangsung atas kerjasama Darush Sholihin dan RS PKU Muhammadiyah Wonosari Gunungkidul. Tanggal 17 Desember 2016, 12.00 WIB kemarin, alhamdulillah sudah dilakukan screening untuk anak-anak yang mengikuti sunatan massal, hadir 53 anak dari 70 peserta.   YUK IKUT BANTU! Bagi yang ingin berdonasi hanya 47 ribu rupiah, silakan transfer via rekening: BRI 015301000406566 atas nama Yayasan Darush Sholihin (Kode Bank: 002) Konfirmasi ke: 082313950500 (SMS/ WA) dengan format: sunatan massal DS# nama donatur# alamat# no Hape # besar donasi# rekening# tanggal transfer Info donasi dan rekening lainnya, hubungi: 0811267791 Semoga Allah membalas dengan pahala melimpah bagi yang berdonasi untuk kegiatan ini. Moga menjadi amal jariyah yang langgeng. — Diselenggarakan oleh: Rumaysho.Com dan Pesantren Darush Sholihin Tagskhitan sunatan massal

Tiga Tanda Kebaikan pada Diri Kita

Apa tanda kebaikan pada diri seseorang? Allah Ta’ala berfirman, أَنْ تَبَرُّوا وَتَتَّقُوا وَتُصْلِحُوا بَيْنَ النَّاسِ “Hendaklah kalian berbuat kebajikan, bertakwa dan mengadakan ishlah di antara manusia.” (QS. Al-Baqarah: 224) Tanda kebaikan itu ada tiga: Berbuat baik Bertakwa Memperbaiki hubungan sesama manusia Faedah dari Syaikh Shalih Al-Munajjid dalam Channel Telegramnya. Moga bermanfaat. — @ DS, Panggang, Gunungkidul, 20 Rabi’ul Awwal 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagstakwa

Tiga Tanda Kebaikan pada Diri Kita

Apa tanda kebaikan pada diri seseorang? Allah Ta’ala berfirman, أَنْ تَبَرُّوا وَتَتَّقُوا وَتُصْلِحُوا بَيْنَ النَّاسِ “Hendaklah kalian berbuat kebajikan, bertakwa dan mengadakan ishlah di antara manusia.” (QS. Al-Baqarah: 224) Tanda kebaikan itu ada tiga: Berbuat baik Bertakwa Memperbaiki hubungan sesama manusia Faedah dari Syaikh Shalih Al-Munajjid dalam Channel Telegramnya. Moga bermanfaat. — @ DS, Panggang, Gunungkidul, 20 Rabi’ul Awwal 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagstakwa
Apa tanda kebaikan pada diri seseorang? Allah Ta’ala berfirman, أَنْ تَبَرُّوا وَتَتَّقُوا وَتُصْلِحُوا بَيْنَ النَّاسِ “Hendaklah kalian berbuat kebajikan, bertakwa dan mengadakan ishlah di antara manusia.” (QS. Al-Baqarah: 224) Tanda kebaikan itu ada tiga: Berbuat baik Bertakwa Memperbaiki hubungan sesama manusia Faedah dari Syaikh Shalih Al-Munajjid dalam Channel Telegramnya. Moga bermanfaat. — @ DS, Panggang, Gunungkidul, 20 Rabi’ul Awwal 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagstakwa


Apa tanda kebaikan pada diri seseorang? Allah Ta’ala berfirman, أَنْ تَبَرُّوا وَتَتَّقُوا وَتُصْلِحُوا بَيْنَ النَّاسِ “Hendaklah kalian berbuat kebajikan, bertakwa dan mengadakan ishlah di antara manusia.” (QS. Al-Baqarah: 224) Tanda kebaikan itu ada tiga: Berbuat baik Bertakwa Memperbaiki hubungan sesama manusia Faedah dari Syaikh Shalih Al-Munajjid dalam Channel Telegramnya. Moga bermanfaat. — @ DS, Panggang, Gunungkidul, 20 Rabi’ul Awwal 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagstakwa

Berbohong Agar Bisa Menikahi Wanita Kaya

Saat khitbah atau lamaran ada seorang pria yang berbohong. Ia menyatakan bahwa dirinya itu sudah mapan dan punya pekerjaan tetap, ternyata masih pengangguran. Tujuannya agar bisa mendapatkan wanita yang ia idam-idamkan, entah itu wanita kaya atau wanita ayu lagi cantik. Apakah berbohong seperti itu bisa membatalkan nikah? Yang jelas berbohong itu terlarang. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلاَثٌ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ ، وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ “Tiga tanda munafik adalah jika berkata, ia dusta; jika berjanji, ia mengingkari; dan ketika diberi amanat, maka ia ingkar.” (HR. Bukhari, no. 33; Muslim, no. 59). Dalam hadits dari sahabat ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu juga dijelaskan keutamaan sikap jujur dan bahaya sikap dusta.  Ibnu Mas’ud menuturkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِى إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِى إِلَى الْجَنَّةِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ صِدِّيقًا وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِى إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِى إِلَى النَّارِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا “Hendaklah kalian senantiasa berlaku jujur, karena sesungguhnya kejujuran akan megantarkan pada kebaikan dan sesungguhnya kebaikan akan mengantarkan pada surga. Jika seseorang senantiasa berlaku jujur dan berusaha untuk jujur, maka dia akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Hati-hatilah kalian dari berbuat dusta, karena sesungguhnya dusta akan mengantarkan kepada kejahatan dan kejahatan akan mengantarkan pada neraka. Jika seseorang sukanya berdusta dan berupaya untuk berdusta, maka ia akan dicatat di sisi Allah sebagai pendusta.” (HR. Muslim, no. 2607)   Kaitannya dengan akad nikah, bagaimana jika perempuan dibohongi oleh sang pria, apakah nikahnya jadi sah? Berbohong dalam hal ini ada dua macam: Pertama: Jika tidak ada kaitannya dengan ‘aib yang sulit untuk menggauli, maka nikahnya sah. Kedua: Jika terkait dengan aib nikah yang membuat suami sulit menggauli istri atau ada penyakit yang membuat seseorang itu dapat lari, atau ada penyakit yang bisa menular seperti penyakit kulit dan lepra, maka boleh bagi pasangan untuk membatalkan nikah karena aib tersebut. Wallahu a’lam.   Referensi: Shahih Fiqh As-Sunnah. Syaikh Abu Malik Kamal bin As-Sayyid Salim. Penerbit Al-Maktabah At-Tawfiqiyyah. 3: 396-397. Fatwa Islam Web, no. 317968 — @ DS, Panggang, Gunungkidul, 19 Rabi’ul Awwal 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagsakad nikah berbohong bohong jujur menikah nikah

Berbohong Agar Bisa Menikahi Wanita Kaya

Saat khitbah atau lamaran ada seorang pria yang berbohong. Ia menyatakan bahwa dirinya itu sudah mapan dan punya pekerjaan tetap, ternyata masih pengangguran. Tujuannya agar bisa mendapatkan wanita yang ia idam-idamkan, entah itu wanita kaya atau wanita ayu lagi cantik. Apakah berbohong seperti itu bisa membatalkan nikah? Yang jelas berbohong itu terlarang. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلاَثٌ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ ، وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ “Tiga tanda munafik adalah jika berkata, ia dusta; jika berjanji, ia mengingkari; dan ketika diberi amanat, maka ia ingkar.” (HR. Bukhari, no. 33; Muslim, no. 59). Dalam hadits dari sahabat ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu juga dijelaskan keutamaan sikap jujur dan bahaya sikap dusta.  Ibnu Mas’ud menuturkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِى إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِى إِلَى الْجَنَّةِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ صِدِّيقًا وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِى إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِى إِلَى النَّارِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا “Hendaklah kalian senantiasa berlaku jujur, karena sesungguhnya kejujuran akan megantarkan pada kebaikan dan sesungguhnya kebaikan akan mengantarkan pada surga. Jika seseorang senantiasa berlaku jujur dan berusaha untuk jujur, maka dia akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Hati-hatilah kalian dari berbuat dusta, karena sesungguhnya dusta akan mengantarkan kepada kejahatan dan kejahatan akan mengantarkan pada neraka. Jika seseorang sukanya berdusta dan berupaya untuk berdusta, maka ia akan dicatat di sisi Allah sebagai pendusta.” (HR. Muslim, no. 2607)   Kaitannya dengan akad nikah, bagaimana jika perempuan dibohongi oleh sang pria, apakah nikahnya jadi sah? Berbohong dalam hal ini ada dua macam: Pertama: Jika tidak ada kaitannya dengan ‘aib yang sulit untuk menggauli, maka nikahnya sah. Kedua: Jika terkait dengan aib nikah yang membuat suami sulit menggauli istri atau ada penyakit yang membuat seseorang itu dapat lari, atau ada penyakit yang bisa menular seperti penyakit kulit dan lepra, maka boleh bagi pasangan untuk membatalkan nikah karena aib tersebut. Wallahu a’lam.   Referensi: Shahih Fiqh As-Sunnah. Syaikh Abu Malik Kamal bin As-Sayyid Salim. Penerbit Al-Maktabah At-Tawfiqiyyah. 3: 396-397. Fatwa Islam Web, no. 317968 — @ DS, Panggang, Gunungkidul, 19 Rabi’ul Awwal 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagsakad nikah berbohong bohong jujur menikah nikah
Saat khitbah atau lamaran ada seorang pria yang berbohong. Ia menyatakan bahwa dirinya itu sudah mapan dan punya pekerjaan tetap, ternyata masih pengangguran. Tujuannya agar bisa mendapatkan wanita yang ia idam-idamkan, entah itu wanita kaya atau wanita ayu lagi cantik. Apakah berbohong seperti itu bisa membatalkan nikah? Yang jelas berbohong itu terlarang. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلاَثٌ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ ، وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ “Tiga tanda munafik adalah jika berkata, ia dusta; jika berjanji, ia mengingkari; dan ketika diberi amanat, maka ia ingkar.” (HR. Bukhari, no. 33; Muslim, no. 59). Dalam hadits dari sahabat ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu juga dijelaskan keutamaan sikap jujur dan bahaya sikap dusta.  Ibnu Mas’ud menuturkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِى إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِى إِلَى الْجَنَّةِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ صِدِّيقًا وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِى إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِى إِلَى النَّارِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا “Hendaklah kalian senantiasa berlaku jujur, karena sesungguhnya kejujuran akan megantarkan pada kebaikan dan sesungguhnya kebaikan akan mengantarkan pada surga. Jika seseorang senantiasa berlaku jujur dan berusaha untuk jujur, maka dia akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Hati-hatilah kalian dari berbuat dusta, karena sesungguhnya dusta akan mengantarkan kepada kejahatan dan kejahatan akan mengantarkan pada neraka. Jika seseorang sukanya berdusta dan berupaya untuk berdusta, maka ia akan dicatat di sisi Allah sebagai pendusta.” (HR. Muslim, no. 2607)   Kaitannya dengan akad nikah, bagaimana jika perempuan dibohongi oleh sang pria, apakah nikahnya jadi sah? Berbohong dalam hal ini ada dua macam: Pertama: Jika tidak ada kaitannya dengan ‘aib yang sulit untuk menggauli, maka nikahnya sah. Kedua: Jika terkait dengan aib nikah yang membuat suami sulit menggauli istri atau ada penyakit yang membuat seseorang itu dapat lari, atau ada penyakit yang bisa menular seperti penyakit kulit dan lepra, maka boleh bagi pasangan untuk membatalkan nikah karena aib tersebut. Wallahu a’lam.   Referensi: Shahih Fiqh As-Sunnah. Syaikh Abu Malik Kamal bin As-Sayyid Salim. Penerbit Al-Maktabah At-Tawfiqiyyah. 3: 396-397. Fatwa Islam Web, no. 317968 — @ DS, Panggang, Gunungkidul, 19 Rabi’ul Awwal 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagsakad nikah berbohong bohong jujur menikah nikah


Saat khitbah atau lamaran ada seorang pria yang berbohong. Ia menyatakan bahwa dirinya itu sudah mapan dan punya pekerjaan tetap, ternyata masih pengangguran. Tujuannya agar bisa mendapatkan wanita yang ia idam-idamkan, entah itu wanita kaya atau wanita ayu lagi cantik. Apakah berbohong seperti itu bisa membatalkan nikah? Yang jelas berbohong itu terlarang. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلاَثٌ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ ، وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ “Tiga tanda munafik adalah jika berkata, ia dusta; jika berjanji, ia mengingkari; dan ketika diberi amanat, maka ia ingkar.” (HR. Bukhari, no. 33; Muslim, no. 59). Dalam hadits dari sahabat ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu juga dijelaskan keutamaan sikap jujur dan bahaya sikap dusta.  Ibnu Mas’ud menuturkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِى إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِى إِلَى الْجَنَّةِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ صِدِّيقًا وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِى إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِى إِلَى النَّارِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا “Hendaklah kalian senantiasa berlaku jujur, karena sesungguhnya kejujuran akan megantarkan pada kebaikan dan sesungguhnya kebaikan akan mengantarkan pada surga. Jika seseorang senantiasa berlaku jujur dan berusaha untuk jujur, maka dia akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Hati-hatilah kalian dari berbuat dusta, karena sesungguhnya dusta akan mengantarkan kepada kejahatan dan kejahatan akan mengantarkan pada neraka. Jika seseorang sukanya berdusta dan berupaya untuk berdusta, maka ia akan dicatat di sisi Allah sebagai pendusta.” (HR. Muslim, no. 2607)   Kaitannya dengan akad nikah, bagaimana jika perempuan dibohongi oleh sang pria, apakah nikahnya jadi sah? Berbohong dalam hal ini ada dua macam: Pertama: Jika tidak ada kaitannya dengan ‘aib yang sulit untuk menggauli, maka nikahnya sah. Kedua: Jika terkait dengan aib nikah yang membuat suami sulit menggauli istri atau ada penyakit yang membuat seseorang itu dapat lari, atau ada penyakit yang bisa menular seperti penyakit kulit dan lepra, maka boleh bagi pasangan untuk membatalkan nikah karena aib tersebut. Wallahu a’lam.   Referensi: Shahih Fiqh As-Sunnah. Syaikh Abu Malik Kamal bin As-Sayyid Salim. Penerbit Al-Maktabah At-Tawfiqiyyah. 3: 396-397. Fatwa Islam Web, no. 317968 — @ DS, Panggang, Gunungkidul, 19 Rabi’ul Awwal 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagsakad nikah berbohong bohong jujur menikah nikah

Apa Yang Bisa Kita Lakukan Untuk Saudara Kita Di Aleppo?

Saudara kita di Kota Aleppo dalam beberapa waktu terakhir mendapat cobaan yang tak tertara. Kota mereka dibombardir dari udara yang menghancurkan kawasan pemukiman penduduk sipil dan rumah sakit, serta telah memakan banyak korban, termasuk anak-anak dan tenaga medis. Bahkan, orang-orang yang masih bertahan di rumah-rumah mereka ditembaki dengan senjata api. Kejadian ini merupakan episode tambahan dari episode-episode lainnya tentang penderitaan saudara kita di Suriah.Sebagai seorang muslim yang masih memiliki keimanan dan perikemanusiaan, kita kemudian bertanya: apa aksi nyata yang bisa kita lakukan untuk menolong mereka? Berikut daftar aksi yang bisa anda lakukan untuk menolong saudara kita di Suriah.Sebagai aksi individual, hal-hal berikut bisa anda lakukan: Bermohon kepada Allah agar Allah berkenan segera mencabut cobaan yang menimpa kaum muslimin di Suriah dan menolong kaum muslimin yang ada di sana. Berdo’alah di waktu-waktu yang mustajab, seperti antara azan dan iqomah, di sepertiga malam terakhir, dan di penghujung hari Jum’at (sebelum Magrib). Memperbanyak taubat dan istighfar kepada Allah. Ikut meringankan beban kaum muslimin Suriah dengan berinfaq ke lembaga-lembaga kemanusian yang terpercaya Ikut menyadarkan orang di sekitar anda tentang apa yang terjadi di Suriah dengan cara menyebarkan pesan ini melalui social media yang anda punya. Aksi lainnya yang bisa anda lakukan: Bila anda memiliki akses ke kepengurusan sebuah masjid, cobalah meminta khotib jumat/penceramah pengajian yang ada di masjid anda untuk menyadarkan para jamaah tentang apa yang terjadi di Suriah, agar para jamaah tergerak untuk ikut mendoakan dan membantu kaum muslimin di Suriah. Cobalah juga meminta pengurus masjid untuk mengalihkan infak yang terkumpul di hari Jum’at ke Suriah. Akan sangat baik jika hal tersebut diumumkan terlebih dahulu ke para jama’ah. Menyelenggarakan qunut nazilah bersama imam ketika solat berjamaah. Qunut nazilah ini bisa digabungkan dengan qunut nazilah untuk muslimin Rohingnya yang memang dianjurkan untuk diselenggarakan oleh Kemenag. Pembahasan qunut nazilah bisa diakses pada tautan berikut: https://muslim.or.id/3763-mengkaji-qunut-nazilah.html Bila anda mengenal seseorang yang memiliki akses terhadap sebuah page dengan liker yang banyak, mintalah ia untuk memposting sesuatu untuk menyadarkan para liker-nya tentang apa yang terjadi di Suriah. Bisa juga dengan memposting ulang broadcast ini. Bila anda mengenal seseorang yang memiliki broadcast list/grup, mintalah ia untuk mem-broadcast ulang pesan ini. *Salah satu lembaga kemanusiaan yang memiliki Program Peduli Suriah adalah Yayasan Peduli Muslim. Silakan baca keterangan lebih lanjut mengenai kebijakan dan cara berdonasi pada tautan berikut: http://pedulimuslim.com/donasi-suriah/Broadcasted and supported by: YPIA Yogyakarta KIPMI Indonesia Bertauhid Twit Ulama Masjid Pogung Raya Masjid Al-Ashri Pogung Rejo Masjid Pogung Dalangan Yayasan Muslim Plus Islam Itu Indah Hikmah Muslim Muslim Edu [Download banner]🔍 Sunnah Rasul Tentang Cinta, Hadits Tentang Penyakit Hati, Adzan Dan Iqamah, Aplikasi Hadits Shahih, Hukum Puasa Di Bulan Muharram

Apa Yang Bisa Kita Lakukan Untuk Saudara Kita Di Aleppo?

Saudara kita di Kota Aleppo dalam beberapa waktu terakhir mendapat cobaan yang tak tertara. Kota mereka dibombardir dari udara yang menghancurkan kawasan pemukiman penduduk sipil dan rumah sakit, serta telah memakan banyak korban, termasuk anak-anak dan tenaga medis. Bahkan, orang-orang yang masih bertahan di rumah-rumah mereka ditembaki dengan senjata api. Kejadian ini merupakan episode tambahan dari episode-episode lainnya tentang penderitaan saudara kita di Suriah.Sebagai seorang muslim yang masih memiliki keimanan dan perikemanusiaan, kita kemudian bertanya: apa aksi nyata yang bisa kita lakukan untuk menolong mereka? Berikut daftar aksi yang bisa anda lakukan untuk menolong saudara kita di Suriah.Sebagai aksi individual, hal-hal berikut bisa anda lakukan: Bermohon kepada Allah agar Allah berkenan segera mencabut cobaan yang menimpa kaum muslimin di Suriah dan menolong kaum muslimin yang ada di sana. Berdo’alah di waktu-waktu yang mustajab, seperti antara azan dan iqomah, di sepertiga malam terakhir, dan di penghujung hari Jum’at (sebelum Magrib). Memperbanyak taubat dan istighfar kepada Allah. Ikut meringankan beban kaum muslimin Suriah dengan berinfaq ke lembaga-lembaga kemanusian yang terpercaya Ikut menyadarkan orang di sekitar anda tentang apa yang terjadi di Suriah dengan cara menyebarkan pesan ini melalui social media yang anda punya. Aksi lainnya yang bisa anda lakukan: Bila anda memiliki akses ke kepengurusan sebuah masjid, cobalah meminta khotib jumat/penceramah pengajian yang ada di masjid anda untuk menyadarkan para jamaah tentang apa yang terjadi di Suriah, agar para jamaah tergerak untuk ikut mendoakan dan membantu kaum muslimin di Suriah. Cobalah juga meminta pengurus masjid untuk mengalihkan infak yang terkumpul di hari Jum’at ke Suriah. Akan sangat baik jika hal tersebut diumumkan terlebih dahulu ke para jama’ah. Menyelenggarakan qunut nazilah bersama imam ketika solat berjamaah. Qunut nazilah ini bisa digabungkan dengan qunut nazilah untuk muslimin Rohingnya yang memang dianjurkan untuk diselenggarakan oleh Kemenag. Pembahasan qunut nazilah bisa diakses pada tautan berikut: https://muslim.or.id/3763-mengkaji-qunut-nazilah.html Bila anda mengenal seseorang yang memiliki akses terhadap sebuah page dengan liker yang banyak, mintalah ia untuk memposting sesuatu untuk menyadarkan para liker-nya tentang apa yang terjadi di Suriah. Bisa juga dengan memposting ulang broadcast ini. Bila anda mengenal seseorang yang memiliki broadcast list/grup, mintalah ia untuk mem-broadcast ulang pesan ini. *Salah satu lembaga kemanusiaan yang memiliki Program Peduli Suriah adalah Yayasan Peduli Muslim. Silakan baca keterangan lebih lanjut mengenai kebijakan dan cara berdonasi pada tautan berikut: http://pedulimuslim.com/donasi-suriah/Broadcasted and supported by: YPIA Yogyakarta KIPMI Indonesia Bertauhid Twit Ulama Masjid Pogung Raya Masjid Al-Ashri Pogung Rejo Masjid Pogung Dalangan Yayasan Muslim Plus Islam Itu Indah Hikmah Muslim Muslim Edu [Download banner]🔍 Sunnah Rasul Tentang Cinta, Hadits Tentang Penyakit Hati, Adzan Dan Iqamah, Aplikasi Hadits Shahih, Hukum Puasa Di Bulan Muharram
Saudara kita di Kota Aleppo dalam beberapa waktu terakhir mendapat cobaan yang tak tertara. Kota mereka dibombardir dari udara yang menghancurkan kawasan pemukiman penduduk sipil dan rumah sakit, serta telah memakan banyak korban, termasuk anak-anak dan tenaga medis. Bahkan, orang-orang yang masih bertahan di rumah-rumah mereka ditembaki dengan senjata api. Kejadian ini merupakan episode tambahan dari episode-episode lainnya tentang penderitaan saudara kita di Suriah.Sebagai seorang muslim yang masih memiliki keimanan dan perikemanusiaan, kita kemudian bertanya: apa aksi nyata yang bisa kita lakukan untuk menolong mereka? Berikut daftar aksi yang bisa anda lakukan untuk menolong saudara kita di Suriah.Sebagai aksi individual, hal-hal berikut bisa anda lakukan: Bermohon kepada Allah agar Allah berkenan segera mencabut cobaan yang menimpa kaum muslimin di Suriah dan menolong kaum muslimin yang ada di sana. Berdo’alah di waktu-waktu yang mustajab, seperti antara azan dan iqomah, di sepertiga malam terakhir, dan di penghujung hari Jum’at (sebelum Magrib). Memperbanyak taubat dan istighfar kepada Allah. Ikut meringankan beban kaum muslimin Suriah dengan berinfaq ke lembaga-lembaga kemanusian yang terpercaya Ikut menyadarkan orang di sekitar anda tentang apa yang terjadi di Suriah dengan cara menyebarkan pesan ini melalui social media yang anda punya. Aksi lainnya yang bisa anda lakukan: Bila anda memiliki akses ke kepengurusan sebuah masjid, cobalah meminta khotib jumat/penceramah pengajian yang ada di masjid anda untuk menyadarkan para jamaah tentang apa yang terjadi di Suriah, agar para jamaah tergerak untuk ikut mendoakan dan membantu kaum muslimin di Suriah. Cobalah juga meminta pengurus masjid untuk mengalihkan infak yang terkumpul di hari Jum’at ke Suriah. Akan sangat baik jika hal tersebut diumumkan terlebih dahulu ke para jama’ah. Menyelenggarakan qunut nazilah bersama imam ketika solat berjamaah. Qunut nazilah ini bisa digabungkan dengan qunut nazilah untuk muslimin Rohingnya yang memang dianjurkan untuk diselenggarakan oleh Kemenag. Pembahasan qunut nazilah bisa diakses pada tautan berikut: https://muslim.or.id/3763-mengkaji-qunut-nazilah.html Bila anda mengenal seseorang yang memiliki akses terhadap sebuah page dengan liker yang banyak, mintalah ia untuk memposting sesuatu untuk menyadarkan para liker-nya tentang apa yang terjadi di Suriah. Bisa juga dengan memposting ulang broadcast ini. Bila anda mengenal seseorang yang memiliki broadcast list/grup, mintalah ia untuk mem-broadcast ulang pesan ini. *Salah satu lembaga kemanusiaan yang memiliki Program Peduli Suriah adalah Yayasan Peduli Muslim. Silakan baca keterangan lebih lanjut mengenai kebijakan dan cara berdonasi pada tautan berikut: http://pedulimuslim.com/donasi-suriah/Broadcasted and supported by: YPIA Yogyakarta KIPMI Indonesia Bertauhid Twit Ulama Masjid Pogung Raya Masjid Al-Ashri Pogung Rejo Masjid Pogung Dalangan Yayasan Muslim Plus Islam Itu Indah Hikmah Muslim Muslim Edu [Download banner]🔍 Sunnah Rasul Tentang Cinta, Hadits Tentang Penyakit Hati, Adzan Dan Iqamah, Aplikasi Hadits Shahih, Hukum Puasa Di Bulan Muharram


Saudara kita di Kota Aleppo dalam beberapa waktu terakhir mendapat cobaan yang tak tertara. Kota mereka dibombardir dari udara yang menghancurkan kawasan pemukiman penduduk sipil dan rumah sakit, serta telah memakan banyak korban, termasuk anak-anak dan tenaga medis. Bahkan, orang-orang yang masih bertahan di rumah-rumah mereka ditembaki dengan senjata api. Kejadian ini merupakan episode tambahan dari episode-episode lainnya tentang penderitaan saudara kita di Suriah.Sebagai seorang muslim yang masih memiliki keimanan dan perikemanusiaan, kita kemudian bertanya: apa aksi nyata yang bisa kita lakukan untuk menolong mereka? Berikut daftar aksi yang bisa anda lakukan untuk menolong saudara kita di Suriah.Sebagai aksi individual, hal-hal berikut bisa anda lakukan: Bermohon kepada Allah agar Allah berkenan segera mencabut cobaan yang menimpa kaum muslimin di Suriah dan menolong kaum muslimin yang ada di sana. Berdo’alah di waktu-waktu yang mustajab, seperti antara azan dan iqomah, di sepertiga malam terakhir, dan di penghujung hari Jum’at (sebelum Magrib). Memperbanyak taubat dan istighfar kepada Allah. Ikut meringankan beban kaum muslimin Suriah dengan berinfaq ke lembaga-lembaga kemanusian yang terpercaya Ikut menyadarkan orang di sekitar anda tentang apa yang terjadi di Suriah dengan cara menyebarkan pesan ini melalui social media yang anda punya. Aksi lainnya yang bisa anda lakukan: Bila anda memiliki akses ke kepengurusan sebuah masjid, cobalah meminta khotib jumat/penceramah pengajian yang ada di masjid anda untuk menyadarkan para jamaah tentang apa yang terjadi di Suriah, agar para jamaah tergerak untuk ikut mendoakan dan membantu kaum muslimin di Suriah. Cobalah juga meminta pengurus masjid untuk mengalihkan infak yang terkumpul di hari Jum’at ke Suriah. Akan sangat baik jika hal tersebut diumumkan terlebih dahulu ke para jama’ah. Menyelenggarakan qunut nazilah bersama imam ketika solat berjamaah. Qunut nazilah ini bisa digabungkan dengan qunut nazilah untuk muslimin Rohingnya yang memang dianjurkan untuk diselenggarakan oleh Kemenag. Pembahasan qunut nazilah bisa diakses pada tautan berikut: https://muslim.or.id/3763-mengkaji-qunut-nazilah.html Bila anda mengenal seseorang yang memiliki akses terhadap sebuah page dengan liker yang banyak, mintalah ia untuk memposting sesuatu untuk menyadarkan para liker-nya tentang apa yang terjadi di Suriah. Bisa juga dengan memposting ulang broadcast ini. Bila anda mengenal seseorang yang memiliki broadcast list/grup, mintalah ia untuk mem-broadcast ulang pesan ini. *Salah satu lembaga kemanusiaan yang memiliki Program Peduli Suriah adalah Yayasan Peduli Muslim. Silakan baca keterangan lebih lanjut mengenai kebijakan dan cara berdonasi pada tautan berikut: http://pedulimuslim.com/donasi-suriah/Broadcasted and supported by: YPIA Yogyakarta KIPMI Indonesia Bertauhid Twit Ulama Masjid Pogung Raya Masjid Al-Ashri Pogung Rejo Masjid Pogung Dalangan Yayasan Muslim Plus Islam Itu Indah Hikmah Muslim Muslim Edu <img class="alignnone wp-image-29115 size-medium" src="https://static.muslim.or.id/wp-content/uploads/2016/12/aksi-nyata-300x300.jpg" width="300" height="300" srcset="https://static.muslim.or.id/wp-content/uploads/2016/12/aksi-nyata-300x300.jpg 300w, https://static.muslim.or.id/wp-content/uploads/2016/12/aksi-nyata-150x150.jpg 150w, https://static.muslim.or.id/wp-content/uploads/2016/12/aksi-nyata-768x768.jpg 768w, https://static.muslim.or.id/wp-content/uploads/2016/12/aksi-nyata.jpg 960w" sizes="(max-width: 300px) 100vw, 300px" />[Download banner]🔍 Sunnah Rasul Tentang Cinta, Hadits Tentang Penyakit Hati, Adzan Dan Iqamah, Aplikasi Hadits Shahih, Hukum Puasa Di Bulan Muharram

Sepuluh Bahasa Cinta Dalam Mendidik Anak (4)

Urgensi Mendidik Anak dengan Cinta dan Kasih SayangTatkala Anda tahu bahwa kecintaan Allah adalah tujuan mendidik anak, maka ketahuilah bahwa mendidik anak dengan cinta karena-Nya adalah perkara yang dicintai-Nya. Allah Ta’ala amatlah mencintai hamba-hamba-Nya yang didalam hatinya terdapat kasih sayang dan cinta kepada sesamanya. Dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu’anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الرَّاحِمُونَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمَنُ ارْحَمُوا أَهْلَ الأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِى السَّمَاءِ“Orang-orang yang penyayang niscaya akan disayangi pula oleh Ar-Rahman (Allah). Maka sayangilah penduduk bumi niscaya Yang di atas langit pun akan menyayangi kalian” (HR. Abu Dawud, dinyatakan shahih oleh Al-Albani).Renungkanlah, tidakkah kita mau menjadi orang yang disayangi-Nya dan dicintai-Nya melalui cara mendidik anak-anak dengan kasih sayang dan cinta karena Allah?Perhatikanlah hadis berikut ini, bagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengasuh dua anak kecil, Usamah bin Zaid dan  Al-Hasan bin Ali dengan asuhan cinta. Dari Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhuma dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau memeluk dirinya dan Al-Hasan lalu bersabda, اللَّهُمَّ إِنِّي أُحِبُّهُمَا فَأَحِبَّهُمَا أَوْ كَمَا قَال“Ya Allah, sungguh aku mencintai keduanya maka itu cintailah keduanya”, atau sebagaimana beliau sabdakan” (HR. Al-Bukhari).Dari Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhuma bahwa Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengambilku dan mendudukkanku di atas pahanya serta meletakkan Hasan di paha beliau yang lainnya, lalu beliau mendekap keduanya dan berdo’a, اللَّهُمَّ ارْحَمْهُمَا فَإِنِّي أَرْحَمُهُمَا“Ya Allah kasihilah keduanya karena aku mengasihi keduanya” (HR. Al-Bukhari).Pelajaran Di dalam hadis yang agung di atas terdapat isyarat bahwa kecintaan dan kasih sayang beliau kepada dua anak kecil tersebut adalah cinta dan kasih sayang yang ikhlas karena Allah dan demi mengharap keridhaan-Nya, karena mengiringi kecintaan dan kasih sayangnya dengan kecintaan dan kasih sayang Allah sebagai dasarnya sekaligus buahnya. Mengasuh anak dengan cinta dan kasih sayang yang ikhlas adalah perkara yang diajarkan dan dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam! Maka barangsiapa mempraktekkannya berarti ia mengikuti suri teladan terbaik, Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan barangsiapa yang mengikuti beliau, maka tanda bahwa ia mencintai Allah dan dicintai oleh-Nya, karena Allah berfirman, قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ “Katakanlah, “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. Ali Imraan: 31). Imam Ibnu Katsir rahimahullah menyatakan: هذه الآية الكريمة حاكمة على كل من ادعى محبة الله ، وليس هو على الطريقة المحمدية فإنه كاذب في دعواه في نفس الأمر ، حتى يتبع الشرع المحمدي والدين النبوي في جميع أقواله وأحواله “Ayat yang mulia ini merupakan hakim bagi setiap orang yang mengklaim bahwa dirinya mencintai Allah, jika ia tidaklah berada di atas Sunnah Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka sesungguhnya ia berdusta dalam masalah tersebut hingga mengikuti Syari’at dan agama (yang dibawa) Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam seluruh ucapan maupun perbuatannya”. [Bersambung]Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id🔍 Sejarah Kodifikasi Hadits, Sindiran Dalam Islam, Orang Munafik Menurut Islam, Sabar Menurut Islam, Rukun 13

Sepuluh Bahasa Cinta Dalam Mendidik Anak (4)

Urgensi Mendidik Anak dengan Cinta dan Kasih SayangTatkala Anda tahu bahwa kecintaan Allah adalah tujuan mendidik anak, maka ketahuilah bahwa mendidik anak dengan cinta karena-Nya adalah perkara yang dicintai-Nya. Allah Ta’ala amatlah mencintai hamba-hamba-Nya yang didalam hatinya terdapat kasih sayang dan cinta kepada sesamanya. Dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu’anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الرَّاحِمُونَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمَنُ ارْحَمُوا أَهْلَ الأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِى السَّمَاءِ“Orang-orang yang penyayang niscaya akan disayangi pula oleh Ar-Rahman (Allah). Maka sayangilah penduduk bumi niscaya Yang di atas langit pun akan menyayangi kalian” (HR. Abu Dawud, dinyatakan shahih oleh Al-Albani).Renungkanlah, tidakkah kita mau menjadi orang yang disayangi-Nya dan dicintai-Nya melalui cara mendidik anak-anak dengan kasih sayang dan cinta karena Allah?Perhatikanlah hadis berikut ini, bagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengasuh dua anak kecil, Usamah bin Zaid dan  Al-Hasan bin Ali dengan asuhan cinta. Dari Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhuma dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau memeluk dirinya dan Al-Hasan lalu bersabda, اللَّهُمَّ إِنِّي أُحِبُّهُمَا فَأَحِبَّهُمَا أَوْ كَمَا قَال“Ya Allah, sungguh aku mencintai keduanya maka itu cintailah keduanya”, atau sebagaimana beliau sabdakan” (HR. Al-Bukhari).Dari Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhuma bahwa Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengambilku dan mendudukkanku di atas pahanya serta meletakkan Hasan di paha beliau yang lainnya, lalu beliau mendekap keduanya dan berdo’a, اللَّهُمَّ ارْحَمْهُمَا فَإِنِّي أَرْحَمُهُمَا“Ya Allah kasihilah keduanya karena aku mengasihi keduanya” (HR. Al-Bukhari).Pelajaran Di dalam hadis yang agung di atas terdapat isyarat bahwa kecintaan dan kasih sayang beliau kepada dua anak kecil tersebut adalah cinta dan kasih sayang yang ikhlas karena Allah dan demi mengharap keridhaan-Nya, karena mengiringi kecintaan dan kasih sayangnya dengan kecintaan dan kasih sayang Allah sebagai dasarnya sekaligus buahnya. Mengasuh anak dengan cinta dan kasih sayang yang ikhlas adalah perkara yang diajarkan dan dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam! Maka barangsiapa mempraktekkannya berarti ia mengikuti suri teladan terbaik, Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan barangsiapa yang mengikuti beliau, maka tanda bahwa ia mencintai Allah dan dicintai oleh-Nya, karena Allah berfirman, قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ “Katakanlah, “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. Ali Imraan: 31). Imam Ibnu Katsir rahimahullah menyatakan: هذه الآية الكريمة حاكمة على كل من ادعى محبة الله ، وليس هو على الطريقة المحمدية فإنه كاذب في دعواه في نفس الأمر ، حتى يتبع الشرع المحمدي والدين النبوي في جميع أقواله وأحواله “Ayat yang mulia ini merupakan hakim bagi setiap orang yang mengklaim bahwa dirinya mencintai Allah, jika ia tidaklah berada di atas Sunnah Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka sesungguhnya ia berdusta dalam masalah tersebut hingga mengikuti Syari’at dan agama (yang dibawa) Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam seluruh ucapan maupun perbuatannya”. [Bersambung]Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id🔍 Sejarah Kodifikasi Hadits, Sindiran Dalam Islam, Orang Munafik Menurut Islam, Sabar Menurut Islam, Rukun 13
Urgensi Mendidik Anak dengan Cinta dan Kasih SayangTatkala Anda tahu bahwa kecintaan Allah adalah tujuan mendidik anak, maka ketahuilah bahwa mendidik anak dengan cinta karena-Nya adalah perkara yang dicintai-Nya. Allah Ta’ala amatlah mencintai hamba-hamba-Nya yang didalam hatinya terdapat kasih sayang dan cinta kepada sesamanya. Dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu’anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الرَّاحِمُونَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمَنُ ارْحَمُوا أَهْلَ الأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِى السَّمَاءِ“Orang-orang yang penyayang niscaya akan disayangi pula oleh Ar-Rahman (Allah). Maka sayangilah penduduk bumi niscaya Yang di atas langit pun akan menyayangi kalian” (HR. Abu Dawud, dinyatakan shahih oleh Al-Albani).Renungkanlah, tidakkah kita mau menjadi orang yang disayangi-Nya dan dicintai-Nya melalui cara mendidik anak-anak dengan kasih sayang dan cinta karena Allah?Perhatikanlah hadis berikut ini, bagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengasuh dua anak kecil, Usamah bin Zaid dan  Al-Hasan bin Ali dengan asuhan cinta. Dari Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhuma dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau memeluk dirinya dan Al-Hasan lalu bersabda, اللَّهُمَّ إِنِّي أُحِبُّهُمَا فَأَحِبَّهُمَا أَوْ كَمَا قَال“Ya Allah, sungguh aku mencintai keduanya maka itu cintailah keduanya”, atau sebagaimana beliau sabdakan” (HR. Al-Bukhari).Dari Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhuma bahwa Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengambilku dan mendudukkanku di atas pahanya serta meletakkan Hasan di paha beliau yang lainnya, lalu beliau mendekap keduanya dan berdo’a, اللَّهُمَّ ارْحَمْهُمَا فَإِنِّي أَرْحَمُهُمَا“Ya Allah kasihilah keduanya karena aku mengasihi keduanya” (HR. Al-Bukhari).Pelajaran Di dalam hadis yang agung di atas terdapat isyarat bahwa kecintaan dan kasih sayang beliau kepada dua anak kecil tersebut adalah cinta dan kasih sayang yang ikhlas karena Allah dan demi mengharap keridhaan-Nya, karena mengiringi kecintaan dan kasih sayangnya dengan kecintaan dan kasih sayang Allah sebagai dasarnya sekaligus buahnya. Mengasuh anak dengan cinta dan kasih sayang yang ikhlas adalah perkara yang diajarkan dan dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam! Maka barangsiapa mempraktekkannya berarti ia mengikuti suri teladan terbaik, Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan barangsiapa yang mengikuti beliau, maka tanda bahwa ia mencintai Allah dan dicintai oleh-Nya, karena Allah berfirman, قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ “Katakanlah, “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. Ali Imraan: 31). Imam Ibnu Katsir rahimahullah menyatakan: هذه الآية الكريمة حاكمة على كل من ادعى محبة الله ، وليس هو على الطريقة المحمدية فإنه كاذب في دعواه في نفس الأمر ، حتى يتبع الشرع المحمدي والدين النبوي في جميع أقواله وأحواله “Ayat yang mulia ini merupakan hakim bagi setiap orang yang mengklaim bahwa dirinya mencintai Allah, jika ia tidaklah berada di atas Sunnah Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka sesungguhnya ia berdusta dalam masalah tersebut hingga mengikuti Syari’at dan agama (yang dibawa) Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam seluruh ucapan maupun perbuatannya”. [Bersambung]Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id🔍 Sejarah Kodifikasi Hadits, Sindiran Dalam Islam, Orang Munafik Menurut Islam, Sabar Menurut Islam, Rukun 13


Urgensi Mendidik Anak dengan Cinta dan Kasih SayangTatkala Anda tahu bahwa kecintaan Allah adalah tujuan mendidik anak, maka ketahuilah bahwa mendidik anak dengan cinta karena-Nya adalah perkara yang dicintai-Nya. Allah Ta’ala amatlah mencintai hamba-hamba-Nya yang didalam hatinya terdapat kasih sayang dan cinta kepada sesamanya. Dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu’anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الرَّاحِمُونَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمَنُ ارْحَمُوا أَهْلَ الأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِى السَّمَاءِ“Orang-orang yang penyayang niscaya akan disayangi pula oleh Ar-Rahman (Allah). Maka sayangilah penduduk bumi niscaya Yang di atas langit pun akan menyayangi kalian” (HR. Abu Dawud, dinyatakan shahih oleh Al-Albani).Renungkanlah, tidakkah kita mau menjadi orang yang disayangi-Nya dan dicintai-Nya melalui cara mendidik anak-anak dengan kasih sayang dan cinta karena Allah?Perhatikanlah hadis berikut ini, bagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengasuh dua anak kecil, Usamah bin Zaid dan  Al-Hasan bin Ali dengan asuhan cinta. Dari Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhuma dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau memeluk dirinya dan Al-Hasan lalu bersabda, اللَّهُمَّ إِنِّي أُحِبُّهُمَا فَأَحِبَّهُمَا أَوْ كَمَا قَال“Ya Allah, sungguh aku mencintai keduanya maka itu cintailah keduanya”, atau sebagaimana beliau sabdakan” (HR. Al-Bukhari).Dari Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhuma bahwa Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengambilku dan mendudukkanku di atas pahanya serta meletakkan Hasan di paha beliau yang lainnya, lalu beliau mendekap keduanya dan berdo’a, اللَّهُمَّ ارْحَمْهُمَا فَإِنِّي أَرْحَمُهُمَا“Ya Allah kasihilah keduanya karena aku mengasihi keduanya” (HR. Al-Bukhari).Pelajaran Di dalam hadis yang agung di atas terdapat isyarat bahwa kecintaan dan kasih sayang beliau kepada dua anak kecil tersebut adalah cinta dan kasih sayang yang ikhlas karena Allah dan demi mengharap keridhaan-Nya, karena mengiringi kecintaan dan kasih sayangnya dengan kecintaan dan kasih sayang Allah sebagai dasarnya sekaligus buahnya. Mengasuh anak dengan cinta dan kasih sayang yang ikhlas adalah perkara yang diajarkan dan dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam! Maka barangsiapa mempraktekkannya berarti ia mengikuti suri teladan terbaik, Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan barangsiapa yang mengikuti beliau, maka tanda bahwa ia mencintai Allah dan dicintai oleh-Nya, karena Allah berfirman, قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ “Katakanlah, “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. Ali Imraan: 31). Imam Ibnu Katsir rahimahullah menyatakan: هذه الآية الكريمة حاكمة على كل من ادعى محبة الله ، وليس هو على الطريقة المحمدية فإنه كاذب في دعواه في نفس الأمر ، حتى يتبع الشرع المحمدي والدين النبوي في جميع أقواله وأحواله “Ayat yang mulia ini merupakan hakim bagi setiap orang yang mengklaim bahwa dirinya mencintai Allah, jika ia tidaklah berada di atas Sunnah Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka sesungguhnya ia berdusta dalam masalah tersebut hingga mengikuti Syari’at dan agama (yang dibawa) Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam seluruh ucapan maupun perbuatannya”. [Bersambung]Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id🔍 Sejarah Kodifikasi Hadits, Sindiran Dalam Islam, Orang Munafik Menurut Islam, Sabar Menurut Islam, Rukun 13

Sepuluh Bahasa Cinta Dalam Mendidik Anak (5)

Definisi Kasih Sayang (rahmah)Dalam kitab Mufrodaatul Quraan yang ditulis oleh Ar-Ragib Al-Ashfahani rahimahullah dikisahkan sebagai berikut.الرَّحْمَة رقَّة تقتضي الإحسان إلى الْمَرْحُومِ، وقد تستعمل تارةً في الرِّقَّة المجرَّدة، وتارة في الإحسان المجرَّد عن الرِّقَّة“Rahmah adalah rasa belas kasih (didalam hati) yang mengharuskan (seseorang) berbuat baik kepada makhluk yang disayangi, terkadang kata ‘rahmah’ dipakai untuk rasa belas kasih (didalam hati) saja, namun terkadang kata ‘rahmah’ dipakai untuk mengungkapkan perbuatan baik saja tanpa rasa belas kasih (di dalam hati).”Ibnul Qoyyim rahimahullah menjelaskan kata ‘rahmah’ dalam Ighaatsatul Lahfan,فالرحمة صفة تقتضي إيصال المنافع والمصالح إلى العبد ، وإن كرهتها نفسه ، وشقت عليها ، فهذه هي الرحمة الحقيقية“Rahmah adalah suatu sifat yang mengharuskan adanya penyampaian manfaat dan maslahat kepada seorang hamba meskipun hal itu dibenci dan dirasakan berat olehnya, inilah rahmah yang sebenarnya”.Ibnul Qoyyim pun melanjutkan penjelasannya bahwa orang yang paling sayang kepada Anda adalah orang yang paling bermanfaat dan bermaslahat bagi Anda dan paling menjaga anda dari segala hal yang membahayakan Anda, walaupun sikap itu berat Anda rasakan.Misalnya, seorang ayah yang sayang kepada anaknya, maka ia akan ‘memaksakan’ atau mengarahkan untuk mau belajar adab Islami dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, dan sang ayah pun akan menghalang-halangi anaknya menuruti hawa nafsunya yang membahayakannya.Dan apabila sang ayah mendapatkan dirinya teledor dalam hal itu, maka itu disebabkan sedikitnya rasa kasih sayangnya kepada sang anak, meskipun ia berdalih bahwa dirinya amat menyayangi putranya dan ingin menyenangkannya, karena ini berarti kasih sayang yang diiringi ketidaktahuan akan hakikat kasih sayang yang sebenarnya, sebagaimana sikap ini terjadi pada sebagian ibu-ibu. Oleh karena itu, termasuk kesempurnaan Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang adalah Dia menimpakan berbagai macam musibah kepada seorang hamba, mengujinya dengan berbagai macam ujian, dan mencegahnya mendapatkan banyak hal yang disukai oleh hawa nafsunya, karena Dia menyayanginya.Namun, karena kebodohan seorang hamba dan kezalimannya, ia menyangka yang tidak-tidak terhadap Rabbnya sampai iapun tidak memahami bahwa hal itu adalah bentuk ihsan Allah kepada dirinya dengan mengujinya dan menimpakan musibah kepadanya. Allah Ta’ala Maha Mengetahui apa yang paling bermanfaat bagi diri seorang hamba (Diringkas dari Ighaatsatul Lahfan, hal. 491).Definisi CintaAr-Rogib Al-Ashfahani rahimahullah mengatakan:المحبَّة: ميل النفس إلى ما تراه وتظنه خيرًا“Cinta adalah condongnya jiwa kepada sesuatu yang dipandangnya dan disangkanya sebagai sebuah kebaikan”.Adapun Ibnul Qoyyim rahimahullah memiliki pandangan lain dalam mendefinisikan cinta, beliau menjelaskan bahwa tidaklah ada suatu ungkapan yang lebih jelas dalam membatasi makna cinta daripada kata ‘cinta’ itu sendiri. Justru dengan membatasi makna cinta dalam sebuah definisi akan menambah tidak jelasnya makna cinta.Adapun apa yang banyak dikatakan oleh manusia tentang cinta, hanyalah sebatas penjelasan tentang sebab-sebab cinta, perkara-perkara yang mengharuskannya, tanda-tandanya, dan bukti-bukti cinta (Diringkas dari Madarijus Salikin : 3/11). Jadi, cinta menurut Ibnul Qoyyim adalah cinta itu ya cinta, suatu hal yang sulit jika harus menjelaskan perkara yang sudah jelas dirasakan dalam hati manusia.[Bersambung]***Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id🔍 Fasiq, Hadits Tentang Orang Yang Pelit, Pertanyaan Seputar Agama, Tanya Jawab Fiqih, Syarah Ushul Tsalatsah Syaikh Utsaimin

Sepuluh Bahasa Cinta Dalam Mendidik Anak (5)

Definisi Kasih Sayang (rahmah)Dalam kitab Mufrodaatul Quraan yang ditulis oleh Ar-Ragib Al-Ashfahani rahimahullah dikisahkan sebagai berikut.الرَّحْمَة رقَّة تقتضي الإحسان إلى الْمَرْحُومِ، وقد تستعمل تارةً في الرِّقَّة المجرَّدة، وتارة في الإحسان المجرَّد عن الرِّقَّة“Rahmah adalah rasa belas kasih (didalam hati) yang mengharuskan (seseorang) berbuat baik kepada makhluk yang disayangi, terkadang kata ‘rahmah’ dipakai untuk rasa belas kasih (didalam hati) saja, namun terkadang kata ‘rahmah’ dipakai untuk mengungkapkan perbuatan baik saja tanpa rasa belas kasih (di dalam hati).”Ibnul Qoyyim rahimahullah menjelaskan kata ‘rahmah’ dalam Ighaatsatul Lahfan,فالرحمة صفة تقتضي إيصال المنافع والمصالح إلى العبد ، وإن كرهتها نفسه ، وشقت عليها ، فهذه هي الرحمة الحقيقية“Rahmah adalah suatu sifat yang mengharuskan adanya penyampaian manfaat dan maslahat kepada seorang hamba meskipun hal itu dibenci dan dirasakan berat olehnya, inilah rahmah yang sebenarnya”.Ibnul Qoyyim pun melanjutkan penjelasannya bahwa orang yang paling sayang kepada Anda adalah orang yang paling bermanfaat dan bermaslahat bagi Anda dan paling menjaga anda dari segala hal yang membahayakan Anda, walaupun sikap itu berat Anda rasakan.Misalnya, seorang ayah yang sayang kepada anaknya, maka ia akan ‘memaksakan’ atau mengarahkan untuk mau belajar adab Islami dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, dan sang ayah pun akan menghalang-halangi anaknya menuruti hawa nafsunya yang membahayakannya.Dan apabila sang ayah mendapatkan dirinya teledor dalam hal itu, maka itu disebabkan sedikitnya rasa kasih sayangnya kepada sang anak, meskipun ia berdalih bahwa dirinya amat menyayangi putranya dan ingin menyenangkannya, karena ini berarti kasih sayang yang diiringi ketidaktahuan akan hakikat kasih sayang yang sebenarnya, sebagaimana sikap ini terjadi pada sebagian ibu-ibu. Oleh karena itu, termasuk kesempurnaan Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang adalah Dia menimpakan berbagai macam musibah kepada seorang hamba, mengujinya dengan berbagai macam ujian, dan mencegahnya mendapatkan banyak hal yang disukai oleh hawa nafsunya, karena Dia menyayanginya.Namun, karena kebodohan seorang hamba dan kezalimannya, ia menyangka yang tidak-tidak terhadap Rabbnya sampai iapun tidak memahami bahwa hal itu adalah bentuk ihsan Allah kepada dirinya dengan mengujinya dan menimpakan musibah kepadanya. Allah Ta’ala Maha Mengetahui apa yang paling bermanfaat bagi diri seorang hamba (Diringkas dari Ighaatsatul Lahfan, hal. 491).Definisi CintaAr-Rogib Al-Ashfahani rahimahullah mengatakan:المحبَّة: ميل النفس إلى ما تراه وتظنه خيرًا“Cinta adalah condongnya jiwa kepada sesuatu yang dipandangnya dan disangkanya sebagai sebuah kebaikan”.Adapun Ibnul Qoyyim rahimahullah memiliki pandangan lain dalam mendefinisikan cinta, beliau menjelaskan bahwa tidaklah ada suatu ungkapan yang lebih jelas dalam membatasi makna cinta daripada kata ‘cinta’ itu sendiri. Justru dengan membatasi makna cinta dalam sebuah definisi akan menambah tidak jelasnya makna cinta.Adapun apa yang banyak dikatakan oleh manusia tentang cinta, hanyalah sebatas penjelasan tentang sebab-sebab cinta, perkara-perkara yang mengharuskannya, tanda-tandanya, dan bukti-bukti cinta (Diringkas dari Madarijus Salikin : 3/11). Jadi, cinta menurut Ibnul Qoyyim adalah cinta itu ya cinta, suatu hal yang sulit jika harus menjelaskan perkara yang sudah jelas dirasakan dalam hati manusia.[Bersambung]***Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id🔍 Fasiq, Hadits Tentang Orang Yang Pelit, Pertanyaan Seputar Agama, Tanya Jawab Fiqih, Syarah Ushul Tsalatsah Syaikh Utsaimin
Definisi Kasih Sayang (rahmah)Dalam kitab Mufrodaatul Quraan yang ditulis oleh Ar-Ragib Al-Ashfahani rahimahullah dikisahkan sebagai berikut.الرَّحْمَة رقَّة تقتضي الإحسان إلى الْمَرْحُومِ، وقد تستعمل تارةً في الرِّقَّة المجرَّدة، وتارة في الإحسان المجرَّد عن الرِّقَّة“Rahmah adalah rasa belas kasih (didalam hati) yang mengharuskan (seseorang) berbuat baik kepada makhluk yang disayangi, terkadang kata ‘rahmah’ dipakai untuk rasa belas kasih (didalam hati) saja, namun terkadang kata ‘rahmah’ dipakai untuk mengungkapkan perbuatan baik saja tanpa rasa belas kasih (di dalam hati).”Ibnul Qoyyim rahimahullah menjelaskan kata ‘rahmah’ dalam Ighaatsatul Lahfan,فالرحمة صفة تقتضي إيصال المنافع والمصالح إلى العبد ، وإن كرهتها نفسه ، وشقت عليها ، فهذه هي الرحمة الحقيقية“Rahmah adalah suatu sifat yang mengharuskan adanya penyampaian manfaat dan maslahat kepada seorang hamba meskipun hal itu dibenci dan dirasakan berat olehnya, inilah rahmah yang sebenarnya”.Ibnul Qoyyim pun melanjutkan penjelasannya bahwa orang yang paling sayang kepada Anda adalah orang yang paling bermanfaat dan bermaslahat bagi Anda dan paling menjaga anda dari segala hal yang membahayakan Anda, walaupun sikap itu berat Anda rasakan.Misalnya, seorang ayah yang sayang kepada anaknya, maka ia akan ‘memaksakan’ atau mengarahkan untuk mau belajar adab Islami dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, dan sang ayah pun akan menghalang-halangi anaknya menuruti hawa nafsunya yang membahayakannya.Dan apabila sang ayah mendapatkan dirinya teledor dalam hal itu, maka itu disebabkan sedikitnya rasa kasih sayangnya kepada sang anak, meskipun ia berdalih bahwa dirinya amat menyayangi putranya dan ingin menyenangkannya, karena ini berarti kasih sayang yang diiringi ketidaktahuan akan hakikat kasih sayang yang sebenarnya, sebagaimana sikap ini terjadi pada sebagian ibu-ibu. Oleh karena itu, termasuk kesempurnaan Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang adalah Dia menimpakan berbagai macam musibah kepada seorang hamba, mengujinya dengan berbagai macam ujian, dan mencegahnya mendapatkan banyak hal yang disukai oleh hawa nafsunya, karena Dia menyayanginya.Namun, karena kebodohan seorang hamba dan kezalimannya, ia menyangka yang tidak-tidak terhadap Rabbnya sampai iapun tidak memahami bahwa hal itu adalah bentuk ihsan Allah kepada dirinya dengan mengujinya dan menimpakan musibah kepadanya. Allah Ta’ala Maha Mengetahui apa yang paling bermanfaat bagi diri seorang hamba (Diringkas dari Ighaatsatul Lahfan, hal. 491).Definisi CintaAr-Rogib Al-Ashfahani rahimahullah mengatakan:المحبَّة: ميل النفس إلى ما تراه وتظنه خيرًا“Cinta adalah condongnya jiwa kepada sesuatu yang dipandangnya dan disangkanya sebagai sebuah kebaikan”.Adapun Ibnul Qoyyim rahimahullah memiliki pandangan lain dalam mendefinisikan cinta, beliau menjelaskan bahwa tidaklah ada suatu ungkapan yang lebih jelas dalam membatasi makna cinta daripada kata ‘cinta’ itu sendiri. Justru dengan membatasi makna cinta dalam sebuah definisi akan menambah tidak jelasnya makna cinta.Adapun apa yang banyak dikatakan oleh manusia tentang cinta, hanyalah sebatas penjelasan tentang sebab-sebab cinta, perkara-perkara yang mengharuskannya, tanda-tandanya, dan bukti-bukti cinta (Diringkas dari Madarijus Salikin : 3/11). Jadi, cinta menurut Ibnul Qoyyim adalah cinta itu ya cinta, suatu hal yang sulit jika harus menjelaskan perkara yang sudah jelas dirasakan dalam hati manusia.[Bersambung]***Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id🔍 Fasiq, Hadits Tentang Orang Yang Pelit, Pertanyaan Seputar Agama, Tanya Jawab Fiqih, Syarah Ushul Tsalatsah Syaikh Utsaimin


Definisi Kasih Sayang (rahmah)Dalam kitab Mufrodaatul Quraan yang ditulis oleh Ar-Ragib Al-Ashfahani rahimahullah dikisahkan sebagai berikut.الرَّحْمَة رقَّة تقتضي الإحسان إلى الْمَرْحُومِ، وقد تستعمل تارةً في الرِّقَّة المجرَّدة، وتارة في الإحسان المجرَّد عن الرِّقَّة“Rahmah adalah rasa belas kasih (didalam hati) yang mengharuskan (seseorang) berbuat baik kepada makhluk yang disayangi, terkadang kata ‘rahmah’ dipakai untuk rasa belas kasih (didalam hati) saja, namun terkadang kata ‘rahmah’ dipakai untuk mengungkapkan perbuatan baik saja tanpa rasa belas kasih (di dalam hati).”Ibnul Qoyyim rahimahullah menjelaskan kata ‘rahmah’ dalam Ighaatsatul Lahfan,فالرحمة صفة تقتضي إيصال المنافع والمصالح إلى العبد ، وإن كرهتها نفسه ، وشقت عليها ، فهذه هي الرحمة الحقيقية“Rahmah adalah suatu sifat yang mengharuskan adanya penyampaian manfaat dan maslahat kepada seorang hamba meskipun hal itu dibenci dan dirasakan berat olehnya, inilah rahmah yang sebenarnya”.Ibnul Qoyyim pun melanjutkan penjelasannya bahwa orang yang paling sayang kepada Anda adalah orang yang paling bermanfaat dan bermaslahat bagi Anda dan paling menjaga anda dari segala hal yang membahayakan Anda, walaupun sikap itu berat Anda rasakan.Misalnya, seorang ayah yang sayang kepada anaknya, maka ia akan ‘memaksakan’ atau mengarahkan untuk mau belajar adab Islami dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, dan sang ayah pun akan menghalang-halangi anaknya menuruti hawa nafsunya yang membahayakannya.Dan apabila sang ayah mendapatkan dirinya teledor dalam hal itu, maka itu disebabkan sedikitnya rasa kasih sayangnya kepada sang anak, meskipun ia berdalih bahwa dirinya amat menyayangi putranya dan ingin menyenangkannya, karena ini berarti kasih sayang yang diiringi ketidaktahuan akan hakikat kasih sayang yang sebenarnya, sebagaimana sikap ini terjadi pada sebagian ibu-ibu. Oleh karena itu, termasuk kesempurnaan Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang adalah Dia menimpakan berbagai macam musibah kepada seorang hamba, mengujinya dengan berbagai macam ujian, dan mencegahnya mendapatkan banyak hal yang disukai oleh hawa nafsunya, karena Dia menyayanginya.Namun, karena kebodohan seorang hamba dan kezalimannya, ia menyangka yang tidak-tidak terhadap Rabbnya sampai iapun tidak memahami bahwa hal itu adalah bentuk ihsan Allah kepada dirinya dengan mengujinya dan menimpakan musibah kepadanya. Allah Ta’ala Maha Mengetahui apa yang paling bermanfaat bagi diri seorang hamba (Diringkas dari Ighaatsatul Lahfan, hal. 491).Definisi CintaAr-Rogib Al-Ashfahani rahimahullah mengatakan:المحبَّة: ميل النفس إلى ما تراه وتظنه خيرًا“Cinta adalah condongnya jiwa kepada sesuatu yang dipandangnya dan disangkanya sebagai sebuah kebaikan”.Adapun Ibnul Qoyyim rahimahullah memiliki pandangan lain dalam mendefinisikan cinta, beliau menjelaskan bahwa tidaklah ada suatu ungkapan yang lebih jelas dalam membatasi makna cinta daripada kata ‘cinta’ itu sendiri. Justru dengan membatasi makna cinta dalam sebuah definisi akan menambah tidak jelasnya makna cinta.Adapun apa yang banyak dikatakan oleh manusia tentang cinta, hanyalah sebatas penjelasan tentang sebab-sebab cinta, perkara-perkara yang mengharuskannya, tanda-tandanya, dan bukti-bukti cinta (Diringkas dari Madarijus Salikin : 3/11). Jadi, cinta menurut Ibnul Qoyyim adalah cinta itu ya cinta, suatu hal yang sulit jika harus menjelaskan perkara yang sudah jelas dirasakan dalam hati manusia.[Bersambung]***Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id🔍 Fasiq, Hadits Tentang Orang Yang Pelit, Pertanyaan Seputar Agama, Tanya Jawab Fiqih, Syarah Ushul Tsalatsah Syaikh Utsaimin

Menjadi Teman Ahok (Presentasi dan Video)

  Bolehkah menjadi teman Ahok? Sampai kita rela mengorbankan agama kita? Kalau tidak seperti itu, minimal cinta dan dukungan diberikan padanya yang non-muslim. Kebanyakan kaum muslimin tidak mengenal prinsip loyal dan setia pada muslim saja (al-wala’), sedangkan kita berlepas diri dari orang kafir (al-bara’). Bukan malah dengan non-muslim dukung dan cinta mati, sedangkan dengan muslim malah dibenci. Sungguh aneh bukan? Kalau prinsip wala’ dan bara’ yang dipegang, maka seorang muslim tak mungkin setia pada non-muslim.   Contohnya: tidak menjadikan mereka sebagai pemimpin atau teman dekat; tidak bersafar ke negeri kafir tanpa ada keperluan; ikut serta dalam perayaan non muslim seperti mengucapkan selamat natal, mendukung, bertamu hingga menjaga perayaan natal; juga bentuknya adalah tasyabbuh seperti memakai pakaian sinterklas, memakai baju jersey bola yang bersalib, merayakan tahun baru 1 Januari.   Hal-hal di atas lebih lengkap penjelasannya dalam video Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal di Youtube: https://youtu.be/pWNEckiJZwg   Silakan download file presentasi kajian tersebut: File Presentasi PDF: Menjadi Teman Ahok File Presentasi PNG: Menjadi Teman Ahok (19 pictures)   Semoga bermanfaat. — @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 17 Rabi’ul Awwal 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagsloyal pada non muslim teman ahok

Menjadi Teman Ahok (Presentasi dan Video)

  Bolehkah menjadi teman Ahok? Sampai kita rela mengorbankan agama kita? Kalau tidak seperti itu, minimal cinta dan dukungan diberikan padanya yang non-muslim. Kebanyakan kaum muslimin tidak mengenal prinsip loyal dan setia pada muslim saja (al-wala’), sedangkan kita berlepas diri dari orang kafir (al-bara’). Bukan malah dengan non-muslim dukung dan cinta mati, sedangkan dengan muslim malah dibenci. Sungguh aneh bukan? Kalau prinsip wala’ dan bara’ yang dipegang, maka seorang muslim tak mungkin setia pada non-muslim.   Contohnya: tidak menjadikan mereka sebagai pemimpin atau teman dekat; tidak bersafar ke negeri kafir tanpa ada keperluan; ikut serta dalam perayaan non muslim seperti mengucapkan selamat natal, mendukung, bertamu hingga menjaga perayaan natal; juga bentuknya adalah tasyabbuh seperti memakai pakaian sinterklas, memakai baju jersey bola yang bersalib, merayakan tahun baru 1 Januari.   Hal-hal di atas lebih lengkap penjelasannya dalam video Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal di Youtube: https://youtu.be/pWNEckiJZwg   Silakan download file presentasi kajian tersebut: File Presentasi PDF: Menjadi Teman Ahok File Presentasi PNG: Menjadi Teman Ahok (19 pictures)   Semoga bermanfaat. — @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 17 Rabi’ul Awwal 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagsloyal pada non muslim teman ahok
  Bolehkah menjadi teman Ahok? Sampai kita rela mengorbankan agama kita? Kalau tidak seperti itu, minimal cinta dan dukungan diberikan padanya yang non-muslim. Kebanyakan kaum muslimin tidak mengenal prinsip loyal dan setia pada muslim saja (al-wala’), sedangkan kita berlepas diri dari orang kafir (al-bara’). Bukan malah dengan non-muslim dukung dan cinta mati, sedangkan dengan muslim malah dibenci. Sungguh aneh bukan? Kalau prinsip wala’ dan bara’ yang dipegang, maka seorang muslim tak mungkin setia pada non-muslim.   Contohnya: tidak menjadikan mereka sebagai pemimpin atau teman dekat; tidak bersafar ke negeri kafir tanpa ada keperluan; ikut serta dalam perayaan non muslim seperti mengucapkan selamat natal, mendukung, bertamu hingga menjaga perayaan natal; juga bentuknya adalah tasyabbuh seperti memakai pakaian sinterklas, memakai baju jersey bola yang bersalib, merayakan tahun baru 1 Januari.   Hal-hal di atas lebih lengkap penjelasannya dalam video Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal di Youtube: https://youtu.be/pWNEckiJZwg   Silakan download file presentasi kajian tersebut: File Presentasi PDF: Menjadi Teman Ahok File Presentasi PNG: Menjadi Teman Ahok (19 pictures)   Semoga bermanfaat. — @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 17 Rabi’ul Awwal 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagsloyal pada non muslim teman ahok


  Bolehkah menjadi teman Ahok? Sampai kita rela mengorbankan agama kita? Kalau tidak seperti itu, minimal cinta dan dukungan diberikan padanya yang non-muslim. Kebanyakan kaum muslimin tidak mengenal prinsip loyal dan setia pada muslim saja (al-wala’), sedangkan kita berlepas diri dari orang kafir (al-bara’). Bukan malah dengan non-muslim dukung dan cinta mati, sedangkan dengan muslim malah dibenci. Sungguh aneh bukan? Kalau prinsip wala’ dan bara’ yang dipegang, maka seorang muslim tak mungkin setia pada non-muslim.   Contohnya: tidak menjadikan mereka sebagai pemimpin atau teman dekat; tidak bersafar ke negeri kafir tanpa ada keperluan; ikut serta dalam perayaan non muslim seperti mengucapkan selamat natal, mendukung, bertamu hingga menjaga perayaan natal; juga bentuknya adalah tasyabbuh seperti memakai pakaian sinterklas, memakai baju jersey bola yang bersalib, merayakan tahun baru 1 Januari.   Hal-hal di atas lebih lengkap penjelasannya dalam video Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal di Youtube: https://youtu.be/pWNEckiJZwg   Silakan download file presentasi kajian tersebut: File Presentasi PDF: Menjadi Teman Ahok File Presentasi PNG: Menjadi Teman Ahok (19 pictures)   Semoga bermanfaat. — @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 17 Rabi’ul Awwal 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagsloyal pada non muslim teman ahok

Kaedah: Qadha Shalat Safar Saat Mukim

Ada kaedah yang penting diperhatikan bagi orang yang mengqadha shalat yang harusnya dilakukan ketika safar namun ia kerjakan ketika mukim. Qadha ini misal karena lupa. جاء في ” الموسوعة الفقهية” (27/ 281) : ” قال الحنفية والمالكية والشافعية في القديم : من فاتته صلاة في السفر قضاها في الحضر ركعتين ، ومن فاتته صلاة في الحضر قضاها في السفر أربعا ؛ لأن القضاء بحسب الأداء … Disebutkan dalam Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah (27: 281), ulama Hanafiyah, Malikiyyah, dan Syafi’iyyah dalam qoul qadim berpendapat bahwa jika ada shalat safar yang luput lalu diqadha ketika mukim, maka shalatnya dikerjakan dua raka’at (sama seperti saat safar, pen.). Jika ada shalat saat mukim diqadha ketika safar, maka shalatnya tetap empat raka’at (sama seperti saat mukim dikerjakan sempurna, pen.). Karena qadha’ shalat mempertimbangkan shalat yang ia mesti kerjakan tepat pada waktunya (shalat ada’an). وقال الحنابلة : إذا نسي صلاة حضر ، فذكرها في السفر ، أو نسي صلاة سفر ، فذكرها في الحضر : صلى في الحالتين صلاة حضر . نص عليه أحمد في رواية أبي داود والأثرم ؛ لأن القصر رخصة من رخص السفر ، فيبطل بزواله” انتهى. Ulama Hambali punya pendapat berbeda. Jika lupat mengerjakan shalat mukim, lalu ingat ketika safar atau lupa mengerjakan shalat saat safar dan ingatnya ketika mukim, maka shalatnya untuk dua keadaan tersebut dikerjakan dengan sempurna seperti mukim. Karena qashar shalat cuma rukhsah ketika safar. Ketika tidak safar, gugur untuk mengqashar. Pendapat ini menjadi pegangan Imam Ahmad, juga pendapat dari Abu Daud dan Al-Atsram. Semoga bermanfaat.   Referensi: https://islamqa.info/ar/257302 — @ DS Panggang Gunungkidul, malam hari, 15 Rabi’ul Awwal 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagskaedah fikih qadha shalat

Kaedah: Qadha Shalat Safar Saat Mukim

Ada kaedah yang penting diperhatikan bagi orang yang mengqadha shalat yang harusnya dilakukan ketika safar namun ia kerjakan ketika mukim. Qadha ini misal karena lupa. جاء في ” الموسوعة الفقهية” (27/ 281) : ” قال الحنفية والمالكية والشافعية في القديم : من فاتته صلاة في السفر قضاها في الحضر ركعتين ، ومن فاتته صلاة في الحضر قضاها في السفر أربعا ؛ لأن القضاء بحسب الأداء … Disebutkan dalam Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah (27: 281), ulama Hanafiyah, Malikiyyah, dan Syafi’iyyah dalam qoul qadim berpendapat bahwa jika ada shalat safar yang luput lalu diqadha ketika mukim, maka shalatnya dikerjakan dua raka’at (sama seperti saat safar, pen.). Jika ada shalat saat mukim diqadha ketika safar, maka shalatnya tetap empat raka’at (sama seperti saat mukim dikerjakan sempurna, pen.). Karena qadha’ shalat mempertimbangkan shalat yang ia mesti kerjakan tepat pada waktunya (shalat ada’an). وقال الحنابلة : إذا نسي صلاة حضر ، فذكرها في السفر ، أو نسي صلاة سفر ، فذكرها في الحضر : صلى في الحالتين صلاة حضر . نص عليه أحمد في رواية أبي داود والأثرم ؛ لأن القصر رخصة من رخص السفر ، فيبطل بزواله” انتهى. Ulama Hambali punya pendapat berbeda. Jika lupat mengerjakan shalat mukim, lalu ingat ketika safar atau lupa mengerjakan shalat saat safar dan ingatnya ketika mukim, maka shalatnya untuk dua keadaan tersebut dikerjakan dengan sempurna seperti mukim. Karena qashar shalat cuma rukhsah ketika safar. Ketika tidak safar, gugur untuk mengqashar. Pendapat ini menjadi pegangan Imam Ahmad, juga pendapat dari Abu Daud dan Al-Atsram. Semoga bermanfaat.   Referensi: https://islamqa.info/ar/257302 — @ DS Panggang Gunungkidul, malam hari, 15 Rabi’ul Awwal 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagskaedah fikih qadha shalat
Ada kaedah yang penting diperhatikan bagi orang yang mengqadha shalat yang harusnya dilakukan ketika safar namun ia kerjakan ketika mukim. Qadha ini misal karena lupa. جاء في ” الموسوعة الفقهية” (27/ 281) : ” قال الحنفية والمالكية والشافعية في القديم : من فاتته صلاة في السفر قضاها في الحضر ركعتين ، ومن فاتته صلاة في الحضر قضاها في السفر أربعا ؛ لأن القضاء بحسب الأداء … Disebutkan dalam Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah (27: 281), ulama Hanafiyah, Malikiyyah, dan Syafi’iyyah dalam qoul qadim berpendapat bahwa jika ada shalat safar yang luput lalu diqadha ketika mukim, maka shalatnya dikerjakan dua raka’at (sama seperti saat safar, pen.). Jika ada shalat saat mukim diqadha ketika safar, maka shalatnya tetap empat raka’at (sama seperti saat mukim dikerjakan sempurna, pen.). Karena qadha’ shalat mempertimbangkan shalat yang ia mesti kerjakan tepat pada waktunya (shalat ada’an). وقال الحنابلة : إذا نسي صلاة حضر ، فذكرها في السفر ، أو نسي صلاة سفر ، فذكرها في الحضر : صلى في الحالتين صلاة حضر . نص عليه أحمد في رواية أبي داود والأثرم ؛ لأن القصر رخصة من رخص السفر ، فيبطل بزواله” انتهى. Ulama Hambali punya pendapat berbeda. Jika lupat mengerjakan shalat mukim, lalu ingat ketika safar atau lupa mengerjakan shalat saat safar dan ingatnya ketika mukim, maka shalatnya untuk dua keadaan tersebut dikerjakan dengan sempurna seperti mukim. Karena qashar shalat cuma rukhsah ketika safar. Ketika tidak safar, gugur untuk mengqashar. Pendapat ini menjadi pegangan Imam Ahmad, juga pendapat dari Abu Daud dan Al-Atsram. Semoga bermanfaat.   Referensi: https://islamqa.info/ar/257302 — @ DS Panggang Gunungkidul, malam hari, 15 Rabi’ul Awwal 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagskaedah fikih qadha shalat


Ada kaedah yang penting diperhatikan bagi orang yang mengqadha shalat yang harusnya dilakukan ketika safar namun ia kerjakan ketika mukim. Qadha ini misal karena lupa. جاء في ” الموسوعة الفقهية” (27/ 281) : ” قال الحنفية والمالكية والشافعية في القديم : من فاتته صلاة في السفر قضاها في الحضر ركعتين ، ومن فاتته صلاة في الحضر قضاها في السفر أربعا ؛ لأن القضاء بحسب الأداء … Disebutkan dalam Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah (27: 281), ulama Hanafiyah, Malikiyyah, dan Syafi’iyyah dalam qoul qadim berpendapat bahwa jika ada shalat safar yang luput lalu diqadha ketika mukim, maka shalatnya dikerjakan dua raka’at (sama seperti saat safar, pen.). Jika ada shalat saat mukim diqadha ketika safar, maka shalatnya tetap empat raka’at (sama seperti saat mukim dikerjakan sempurna, pen.). Karena qadha’ shalat mempertimbangkan shalat yang ia mesti kerjakan tepat pada waktunya (shalat ada’an). وقال الحنابلة : إذا نسي صلاة حضر ، فذكرها في السفر ، أو نسي صلاة سفر ، فذكرها في الحضر : صلى في الحالتين صلاة حضر . نص عليه أحمد في رواية أبي داود والأثرم ؛ لأن القصر رخصة من رخص السفر ، فيبطل بزواله” انتهى. Ulama Hambali punya pendapat berbeda. Jika lupat mengerjakan shalat mukim, lalu ingat ketika safar atau lupa mengerjakan shalat saat safar dan ingatnya ketika mukim, maka shalatnya untuk dua keadaan tersebut dikerjakan dengan sempurna seperti mukim. Karena qashar shalat cuma rukhsah ketika safar. Ketika tidak safar, gugur untuk mengqashar. Pendapat ini menjadi pegangan Imam Ahmad, juga pendapat dari Abu Daud dan Al-Atsram. Semoga bermanfaat.   Referensi: https://islamqa.info/ar/257302 — @ DS Panggang Gunungkidul, malam hari, 15 Rabi’ul Awwal 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagskaedah fikih qadha shalat

Sepuluh Bahasa Cinta Dalam Mendidik Anak (3)

RenungkanlahDengan demikian, harapan punya anak yang sekedar lucu dan sehat, tidaklah cukup. Sekedar anak cerdas nan berprestasi duniawi juga belumlah cukup. Anak yang bergelar akademik tinggi dengan seabrek prestasi lomba ini dan itupun masih tidak cukup.Barangkali kita pernah mendengar seorang anak yang semasa kecilnya berbadan sehat, lucu, dan sedap dipandang mata, lalu setelah orang tuanya susah payah mendidik sampai sang anak tumbuh besar dengan prestasi duniawi yang ‘wah’ dan sang ortu telah tua renta, tiba-tiba dengan berani sang anak berlaku kasar dan membentak orang tuanya dan melupakan jasa-jasanya bahkan mencampakkan ke panti jompo tanpa merasa bersalah.Itu baru di dunia, akankah seabrek prestasi dan gelar sang anak itu  dapat membantu kedua orang tuanya menghadap Allah. Apalagi jika ditambah dengan malas mendoakan untuk kebaikan kedua orang tuanya[1. Diolah dari : http://tunasilmu.com/jurus-jitu-mendidik-anak]. Mari, semangat mendidik anak dalam bingkai ibadatullah yang terkandung dalam QS. Adz-Dzaariyaat: 56 menjadi cita-cita kita bersama. Sehingga terlahir sosok anak-anak yang berhasil dicintai dan diridhai Allah Tabaraka wa Ta’ala dan selamat dari api neraka. Inilah kesuksesan yang hakiki berumah tangga dan keberhasilan dalam mendidik anak, tatkala semua anggota keluarga selamat dari api neraka dan masuk kedalam surga. Allah Ta’ala berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan” (QS.At-Tahriim: 6).كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۖ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan” (QS. Ali Imraan:185).Saya katakan, “Tinggal satu permasalahannya, yaitu akankah seorang anak bisa beribadah kepada Allah Ta’ala dan bisa menjadi sosok anak yang ucapan dan perbuatannya dicintai oleh-Nya tanpa mengetahui syari’at-Nya? Bukankah syari’at-Nya berisikan segala hal yang dicintai-Nya?”Sayapun bertanya kepada anda, wahai ayah dan ibu. “Apakah Anda bisa beribadah kepada Allah Ta’ala dengan menjadi orang tua yang sukses tanpa tahu Syari’at-Nya?”Ya, benar. Tak akan bisa orang tua menjadi sukses mendidik anak dan tidaklah bisa sang anak menjadi sholeh atau sholehah sampai mengetahui syari’at-Nya.[bersambung]***Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id_____🔍 Sejarah Dajjal Dan Segitiga Bermuda, Hukum Nyanyian Dalam Islam, Cara Menikmati Hidup Menurut Islam, Foto Taman Surga, Para Nabi Dan Rasul

Sepuluh Bahasa Cinta Dalam Mendidik Anak (3)

RenungkanlahDengan demikian, harapan punya anak yang sekedar lucu dan sehat, tidaklah cukup. Sekedar anak cerdas nan berprestasi duniawi juga belumlah cukup. Anak yang bergelar akademik tinggi dengan seabrek prestasi lomba ini dan itupun masih tidak cukup.Barangkali kita pernah mendengar seorang anak yang semasa kecilnya berbadan sehat, lucu, dan sedap dipandang mata, lalu setelah orang tuanya susah payah mendidik sampai sang anak tumbuh besar dengan prestasi duniawi yang ‘wah’ dan sang ortu telah tua renta, tiba-tiba dengan berani sang anak berlaku kasar dan membentak orang tuanya dan melupakan jasa-jasanya bahkan mencampakkan ke panti jompo tanpa merasa bersalah.Itu baru di dunia, akankah seabrek prestasi dan gelar sang anak itu  dapat membantu kedua orang tuanya menghadap Allah. Apalagi jika ditambah dengan malas mendoakan untuk kebaikan kedua orang tuanya[1. Diolah dari : http://tunasilmu.com/jurus-jitu-mendidik-anak]. Mari, semangat mendidik anak dalam bingkai ibadatullah yang terkandung dalam QS. Adz-Dzaariyaat: 56 menjadi cita-cita kita bersama. Sehingga terlahir sosok anak-anak yang berhasil dicintai dan diridhai Allah Tabaraka wa Ta’ala dan selamat dari api neraka. Inilah kesuksesan yang hakiki berumah tangga dan keberhasilan dalam mendidik anak, tatkala semua anggota keluarga selamat dari api neraka dan masuk kedalam surga. Allah Ta’ala berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan” (QS.At-Tahriim: 6).كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۖ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan” (QS. Ali Imraan:185).Saya katakan, “Tinggal satu permasalahannya, yaitu akankah seorang anak bisa beribadah kepada Allah Ta’ala dan bisa menjadi sosok anak yang ucapan dan perbuatannya dicintai oleh-Nya tanpa mengetahui syari’at-Nya? Bukankah syari’at-Nya berisikan segala hal yang dicintai-Nya?”Sayapun bertanya kepada anda, wahai ayah dan ibu. “Apakah Anda bisa beribadah kepada Allah Ta’ala dengan menjadi orang tua yang sukses tanpa tahu Syari’at-Nya?”Ya, benar. Tak akan bisa orang tua menjadi sukses mendidik anak dan tidaklah bisa sang anak menjadi sholeh atau sholehah sampai mengetahui syari’at-Nya.[bersambung]***Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id_____🔍 Sejarah Dajjal Dan Segitiga Bermuda, Hukum Nyanyian Dalam Islam, Cara Menikmati Hidup Menurut Islam, Foto Taman Surga, Para Nabi Dan Rasul
RenungkanlahDengan demikian, harapan punya anak yang sekedar lucu dan sehat, tidaklah cukup. Sekedar anak cerdas nan berprestasi duniawi juga belumlah cukup. Anak yang bergelar akademik tinggi dengan seabrek prestasi lomba ini dan itupun masih tidak cukup.Barangkali kita pernah mendengar seorang anak yang semasa kecilnya berbadan sehat, lucu, dan sedap dipandang mata, lalu setelah orang tuanya susah payah mendidik sampai sang anak tumbuh besar dengan prestasi duniawi yang ‘wah’ dan sang ortu telah tua renta, tiba-tiba dengan berani sang anak berlaku kasar dan membentak orang tuanya dan melupakan jasa-jasanya bahkan mencampakkan ke panti jompo tanpa merasa bersalah.Itu baru di dunia, akankah seabrek prestasi dan gelar sang anak itu  dapat membantu kedua orang tuanya menghadap Allah. Apalagi jika ditambah dengan malas mendoakan untuk kebaikan kedua orang tuanya[1. Diolah dari : http://tunasilmu.com/jurus-jitu-mendidik-anak]. Mari, semangat mendidik anak dalam bingkai ibadatullah yang terkandung dalam QS. Adz-Dzaariyaat: 56 menjadi cita-cita kita bersama. Sehingga terlahir sosok anak-anak yang berhasil dicintai dan diridhai Allah Tabaraka wa Ta’ala dan selamat dari api neraka. Inilah kesuksesan yang hakiki berumah tangga dan keberhasilan dalam mendidik anak, tatkala semua anggota keluarga selamat dari api neraka dan masuk kedalam surga. Allah Ta’ala berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan” (QS.At-Tahriim: 6).كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۖ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan” (QS. Ali Imraan:185).Saya katakan, “Tinggal satu permasalahannya, yaitu akankah seorang anak bisa beribadah kepada Allah Ta’ala dan bisa menjadi sosok anak yang ucapan dan perbuatannya dicintai oleh-Nya tanpa mengetahui syari’at-Nya? Bukankah syari’at-Nya berisikan segala hal yang dicintai-Nya?”Sayapun bertanya kepada anda, wahai ayah dan ibu. “Apakah Anda bisa beribadah kepada Allah Ta’ala dengan menjadi orang tua yang sukses tanpa tahu Syari’at-Nya?”Ya, benar. Tak akan bisa orang tua menjadi sukses mendidik anak dan tidaklah bisa sang anak menjadi sholeh atau sholehah sampai mengetahui syari’at-Nya.[bersambung]***Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id_____🔍 Sejarah Dajjal Dan Segitiga Bermuda, Hukum Nyanyian Dalam Islam, Cara Menikmati Hidup Menurut Islam, Foto Taman Surga, Para Nabi Dan Rasul


RenungkanlahDengan demikian, harapan punya anak yang sekedar lucu dan sehat, tidaklah cukup. Sekedar anak cerdas nan berprestasi duniawi juga belumlah cukup. Anak yang bergelar akademik tinggi dengan seabrek prestasi lomba ini dan itupun masih tidak cukup.Barangkali kita pernah mendengar seorang anak yang semasa kecilnya berbadan sehat, lucu, dan sedap dipandang mata, lalu setelah orang tuanya susah payah mendidik sampai sang anak tumbuh besar dengan prestasi duniawi yang ‘wah’ dan sang ortu telah tua renta, tiba-tiba dengan berani sang anak berlaku kasar dan membentak orang tuanya dan melupakan jasa-jasanya bahkan mencampakkan ke panti jompo tanpa merasa bersalah.Itu baru di dunia, akankah seabrek prestasi dan gelar sang anak itu  dapat membantu kedua orang tuanya menghadap Allah. Apalagi jika ditambah dengan malas mendoakan untuk kebaikan kedua orang tuanya[1. Diolah dari : http://tunasilmu.com/jurus-jitu-mendidik-anak]. Mari, semangat mendidik anak dalam bingkai ibadatullah yang terkandung dalam QS. Adz-Dzaariyaat: 56 menjadi cita-cita kita bersama. Sehingga terlahir sosok anak-anak yang berhasil dicintai dan diridhai Allah Tabaraka wa Ta’ala dan selamat dari api neraka. Inilah kesuksesan yang hakiki berumah tangga dan keberhasilan dalam mendidik anak, tatkala semua anggota keluarga selamat dari api neraka dan masuk kedalam surga. Allah Ta’ala berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan” (QS.At-Tahriim: 6).كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۖ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan” (QS. Ali Imraan:185).Saya katakan, “Tinggal satu permasalahannya, yaitu akankah seorang anak bisa beribadah kepada Allah Ta’ala dan bisa menjadi sosok anak yang ucapan dan perbuatannya dicintai oleh-Nya tanpa mengetahui syari’at-Nya? Bukankah syari’at-Nya berisikan segala hal yang dicintai-Nya?”Sayapun bertanya kepada anda, wahai ayah dan ibu. “Apakah Anda bisa beribadah kepada Allah Ta’ala dengan menjadi orang tua yang sukses tanpa tahu Syari’at-Nya?”Ya, benar. Tak akan bisa orang tua menjadi sukses mendidik anak dan tidaklah bisa sang anak menjadi sholeh atau sholehah sampai mengetahui syari’at-Nya.[bersambung]***Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id_____🔍 Sejarah Dajjal Dan Segitiga Bermuda, Hukum Nyanyian Dalam Islam, Cara Menikmati Hidup Menurut Islam, Foto Taman Surga, Para Nabi Dan Rasul

Menerima Sumbangan Dari Non-Muslim Untuk Membangun Masjid Dan Pesantren

Jika ada non-muslim yang ingin menyumbangkan harta untuk membangun masjid misalnya atau untuk membangun pondok pesantren, apakah diterima atau ditolak?Pertama perlu dijelaskan bahwa hukum asal menerima hadiah dan infak dari non-muslim adalah mubah. Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menerima hadiah dari Para raja-raja non-muslim dan juga menerima hadiah daging dari seorang wanita Yahudi. Ini dalam rangka muamalah yang baik dan mengambil hati mereka.Imam Bukhari menuliskan bab mengenai hal iniباب قبول الهدية من المشركين“Bab bolehnya menerima Hadiah dari orang musyik”.Bahkan ulama menjelaskan boleh menerima sumbangan membangun masjid dari non-muslim asalkan tanpa syarat dan tidak membuat kaum muslimin menjadi hina serta bukan alat politik non-muslim tersebut untuk membuat makar terhadap umat Islam.Ibnu Muflih menjelaskan bahwa Masjid boleh dibangun dari harta orang kafir, beliau berkataوَتَجُوزُ عِمَارَةُ كُلِّ مَسْجِدٍ وَكِسْوَتُهُ وَإِشْعَالُهُ بِمَالِ كُلِّ كَافِرٍ“Boleh membangun masjid, memberikan kiswah dan penerangan dari harta orang kafir”[1. Al-Furu’ 11/478].Lajnah Daimah (semacam MUI di Saudi) mengeluarkan fatwa ketika ditanya apakah boleh shalat di masjid yang dibangun dari harta orang kafir? Dalam fatwa dijelaskan:لا بأس في الصلاة في المسجد المذكور“Tidak mengapa shalat di masjid tersebut (yang dibangun dari harta orang kafir)“[2. Fatwa Lajnah Daimah 5/255 nomor 20112].Adapun maksud ayat bahwa Allah tidak akan menerima dari harta mereka karena kekafiran mereka, maka ini maksudnya adalah dari segi diterimanya ibadah mereka oleh Allah, bukan dari segi halal dan haramnya menerima sumbangan dari mereka. Ayat tersebut sebagai berikut:وَمَا مَنَعَهُمْ أَنْ تُقْبَلَ مِنْهُمْ نَفَقَاتُهُمْ إِلَّا أَنَّهُمْ كَفَرُوا بِاللَّهِ وَبِرَسُولِهِ وَلَا يَأْتُونَ الصَّلَاةَ إِلَّا وَهُمْ كُسَالَىٰ وَلَا يُنْفِقُونَ إِلَّا وَهُمْ كَارِهُونَ“Dan tidak ada yang menghalangi untuk diterima dari mereka nafkah-nafkahnya melainkan karena mereka kafir kepada Allâh dan Rasul-Nya dan mereka tidak mengerjakan shalat, melainkan dengan malas dan tidak (pula) menafkahkan (harta) mereka, melainkan dengan rasa enggan” (At-Taubah:54).Sekali lagi perlu diperhatikan bahwa boleh menerima dengan syarat:Pertama: Tidak menimbulkan bahaya bagi kaum muslimin karena menerima hadiah tersebut, semisal sumbangan tersebut ada syaratnya yang merugikan kaum muslimin atau alat politik untuk membuat makar terhadap IslamDalam Fatwa Lajnah Daimah dijelaskan,يجوز للمسلمين أن يمكنوا غير المسلمين من الإنفاق على المشاريع الإسلامية؛ كالمساجد والمدارس إذا كان لا يترتب على ذلك ضرر على المسلمين أكثر من المنفعة“Boleh bagi kaum muslimin menerima infak dari non-muslim untuk kegiatan Islam semisal membangun masjid dan sekolah/pesantren, jika tidak ada bahaya yang ditimbulkan bagi kaum muslimin dan banyak manfaatnya”[3. Fatwa Lajnah Daimah 5/256 nomor 21334].Kedua: Dipastikan bahwa harta orang kafir tersebut adalah bukan harta yang haram. Jika jelas informasi yang masuk ke kita bahwa harta yang disumbangkan itu haram, maka tidak boleh menerimanya untuk membangun masjid. Dalam Fatawa Syabakah Islamiyah disebutkan:فلا مانع من أن تطلبوا من كافر إعانة مالية يهبكم إياها ثم تستعينون بها في بناء مسجد ، كما لا حرج في قبولها منه دون طلب لا سيما مع عجزكم عن بنائه وحاجتكم إليه، ولا يلزمكم البحث عن مصدر ماله الذي تبرع به هل هو من حلال أو من حرام ، ولكن إذا علمتم أن عين المال الذي أعطاكم إياه حراما فلا يجوز لكم قبوله وصرفه في بناء المسجد“Tidak ada masalah meminta sumbangan dari orang kafir dalam bentuk harta, kemudian digunakan untuk membangun masjid. Sebagaimana juga dibolehkan menerima pemberian orang kafir tanpa melalui permintaan. Terlebih jika kalian (kaum muslimin) tidak mampu membangun masjid, sementara kalian sangat membutuhkannya. Tidak ada kewajiban untuk mencari tahu sumber harta mereka, apakah dari jalan yang halal ataukah dari jalur yang haram. Akan tetapi, jika kalian tahu persis bahwa uang yang diberikan orang kafir itu adalah uang haram, maka tidak boleh diterima dan tidak boleh digunakan untuk membangun masjid”[4. Fatawa Syabakah Islamiyah, no. 75831 ].Minta bantuan dan sumbangan dari orang kafirYang di jelaskan di atas adalah mengenai menerima bantuan dan sumbangan untuk kepentingan umat dari orang kafir, tanpa didahului meminta. Yaitu ketika orang kafir menawarkan bantuan dan sumbangannya, dan kaum Muslimin tidak meminta. Adapun kaum Muslimin yang meminta terlebih dahulu, maka selain dua syarat yang disebutkan, para ulama juga mensyaratkan hendaknya kaum Muslimin tidak menunjukkan dzull (perendahan diri) di depan orang kafir dan tidak boleh muncul kecenderungan hati sehingga mudah dipengaruhi oleh orang kafir. Syaikh Muhammad Shalih Al Munajjid menyatakan,فقبول هبات الكفار وتبرعاتهم دون طلب لا بأس به ويجوز صرف هذا المال في المشاريع الإسلامية ونفقاتها المختلفة . أما طلب التبرعات من الكفار ففيه بعض المحاذير مثل الذلّ أمامهم وملكهم قلب الطالب إذا أعطوه . فلو خلا من هذه المحاذير فلا بأس ، فقد كان النبي صلى الله عليه وسلم يستعين ( دون ذلّ ) في أمور الدعوة – وهو بمكة – ببعض المشركين كعمه أبي طالب وغيره“Menerima pemberian orang kuffar dan bantuan mereka, tanpa meminta terlebih dahulu, itu tidak mengapa. Dan boleh menggunakan harta pemberian tersebut untuk berbagai keperluan umat Islam. Adapun meminta bantuan dari orang kafir, di sana terdapat perkara-perkara yang perlu dijauhi diantaranya bersikap dzull (merendahkan diri) di depan mereka dan timbulnya kecenderungan hati dari peminta sehingga mudah pengaruhi oleh mereka, jika permintaannya diberikan. Jika tidak ada perkara-perkara yang terlarang ini, maka tidak mengapa. Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam dahulu pernah meminta bantuan (tanpa merendahkan diri) kepada sebagian kaum Musyrikin di Mekkah dalam urusan dakwah, semisal kepada paman beliau Abu Thalib dan yang selainnya” [5. Fatawa Islam Sual Wal Jawab no.212, https://islamqa.info/ar/212].KesimpulanMaka, jika kaum muslimin mampu membangun masjid atau sekolah/pesantren, sebaiknya tidak menerima sumbangan dari non-muslim karena memang tidak butuh dan mampu, terlebih di daerah mayoritas muslim yang tentu umumnya tidak kekurangan harta untuk membangun masjid. Apalagi memang ada indikasi kuat ada makar politik untuk membahayakan kaum muslimin. Kita harus berhati-hati karena orang kafir tidak akan pernah ridha dengan orang IslamAllah berfirman,وَدُّوا لَوْ تَكْفُرُونَ كَمَا كَفَرُوا فَتَكُونُونَ سَوَاءً“Mereka ingin supaya kamu menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir, lalu kamu menjadi sama (dengan mereka)” (An-Nisaa’:89) Demikian semoga bermanfaat.@Yogyakarta tercinta, dalam keheningan jaga malam***Penyusun: dr. Raehanul BahraenArtikel Muslim.or.id 🔍 Allah Ta Ala, Doa Agar Cepat Punya Mobil, Hadits Tentang Hari Jumat, Hadits Tentang Jodoh Dalam Islam, Hadist Nabi Tentang Akhir Zaman

Menerima Sumbangan Dari Non-Muslim Untuk Membangun Masjid Dan Pesantren

Jika ada non-muslim yang ingin menyumbangkan harta untuk membangun masjid misalnya atau untuk membangun pondok pesantren, apakah diterima atau ditolak?Pertama perlu dijelaskan bahwa hukum asal menerima hadiah dan infak dari non-muslim adalah mubah. Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menerima hadiah dari Para raja-raja non-muslim dan juga menerima hadiah daging dari seorang wanita Yahudi. Ini dalam rangka muamalah yang baik dan mengambil hati mereka.Imam Bukhari menuliskan bab mengenai hal iniباب قبول الهدية من المشركين“Bab bolehnya menerima Hadiah dari orang musyik”.Bahkan ulama menjelaskan boleh menerima sumbangan membangun masjid dari non-muslim asalkan tanpa syarat dan tidak membuat kaum muslimin menjadi hina serta bukan alat politik non-muslim tersebut untuk membuat makar terhadap umat Islam.Ibnu Muflih menjelaskan bahwa Masjid boleh dibangun dari harta orang kafir, beliau berkataوَتَجُوزُ عِمَارَةُ كُلِّ مَسْجِدٍ وَكِسْوَتُهُ وَإِشْعَالُهُ بِمَالِ كُلِّ كَافِرٍ“Boleh membangun masjid, memberikan kiswah dan penerangan dari harta orang kafir”[1. Al-Furu’ 11/478].Lajnah Daimah (semacam MUI di Saudi) mengeluarkan fatwa ketika ditanya apakah boleh shalat di masjid yang dibangun dari harta orang kafir? Dalam fatwa dijelaskan:لا بأس في الصلاة في المسجد المذكور“Tidak mengapa shalat di masjid tersebut (yang dibangun dari harta orang kafir)“[2. Fatwa Lajnah Daimah 5/255 nomor 20112].Adapun maksud ayat bahwa Allah tidak akan menerima dari harta mereka karena kekafiran mereka, maka ini maksudnya adalah dari segi diterimanya ibadah mereka oleh Allah, bukan dari segi halal dan haramnya menerima sumbangan dari mereka. Ayat tersebut sebagai berikut:وَمَا مَنَعَهُمْ أَنْ تُقْبَلَ مِنْهُمْ نَفَقَاتُهُمْ إِلَّا أَنَّهُمْ كَفَرُوا بِاللَّهِ وَبِرَسُولِهِ وَلَا يَأْتُونَ الصَّلَاةَ إِلَّا وَهُمْ كُسَالَىٰ وَلَا يُنْفِقُونَ إِلَّا وَهُمْ كَارِهُونَ“Dan tidak ada yang menghalangi untuk diterima dari mereka nafkah-nafkahnya melainkan karena mereka kafir kepada Allâh dan Rasul-Nya dan mereka tidak mengerjakan shalat, melainkan dengan malas dan tidak (pula) menafkahkan (harta) mereka, melainkan dengan rasa enggan” (At-Taubah:54).Sekali lagi perlu diperhatikan bahwa boleh menerima dengan syarat:Pertama: Tidak menimbulkan bahaya bagi kaum muslimin karena menerima hadiah tersebut, semisal sumbangan tersebut ada syaratnya yang merugikan kaum muslimin atau alat politik untuk membuat makar terhadap IslamDalam Fatwa Lajnah Daimah dijelaskan,يجوز للمسلمين أن يمكنوا غير المسلمين من الإنفاق على المشاريع الإسلامية؛ كالمساجد والمدارس إذا كان لا يترتب على ذلك ضرر على المسلمين أكثر من المنفعة“Boleh bagi kaum muslimin menerima infak dari non-muslim untuk kegiatan Islam semisal membangun masjid dan sekolah/pesantren, jika tidak ada bahaya yang ditimbulkan bagi kaum muslimin dan banyak manfaatnya”[3. Fatwa Lajnah Daimah 5/256 nomor 21334].Kedua: Dipastikan bahwa harta orang kafir tersebut adalah bukan harta yang haram. Jika jelas informasi yang masuk ke kita bahwa harta yang disumbangkan itu haram, maka tidak boleh menerimanya untuk membangun masjid. Dalam Fatawa Syabakah Islamiyah disebutkan:فلا مانع من أن تطلبوا من كافر إعانة مالية يهبكم إياها ثم تستعينون بها في بناء مسجد ، كما لا حرج في قبولها منه دون طلب لا سيما مع عجزكم عن بنائه وحاجتكم إليه، ولا يلزمكم البحث عن مصدر ماله الذي تبرع به هل هو من حلال أو من حرام ، ولكن إذا علمتم أن عين المال الذي أعطاكم إياه حراما فلا يجوز لكم قبوله وصرفه في بناء المسجد“Tidak ada masalah meminta sumbangan dari orang kafir dalam bentuk harta, kemudian digunakan untuk membangun masjid. Sebagaimana juga dibolehkan menerima pemberian orang kafir tanpa melalui permintaan. Terlebih jika kalian (kaum muslimin) tidak mampu membangun masjid, sementara kalian sangat membutuhkannya. Tidak ada kewajiban untuk mencari tahu sumber harta mereka, apakah dari jalan yang halal ataukah dari jalur yang haram. Akan tetapi, jika kalian tahu persis bahwa uang yang diberikan orang kafir itu adalah uang haram, maka tidak boleh diterima dan tidak boleh digunakan untuk membangun masjid”[4. Fatawa Syabakah Islamiyah, no. 75831 ].Minta bantuan dan sumbangan dari orang kafirYang di jelaskan di atas adalah mengenai menerima bantuan dan sumbangan untuk kepentingan umat dari orang kafir, tanpa didahului meminta. Yaitu ketika orang kafir menawarkan bantuan dan sumbangannya, dan kaum Muslimin tidak meminta. Adapun kaum Muslimin yang meminta terlebih dahulu, maka selain dua syarat yang disebutkan, para ulama juga mensyaratkan hendaknya kaum Muslimin tidak menunjukkan dzull (perendahan diri) di depan orang kafir dan tidak boleh muncul kecenderungan hati sehingga mudah dipengaruhi oleh orang kafir. Syaikh Muhammad Shalih Al Munajjid menyatakan,فقبول هبات الكفار وتبرعاتهم دون طلب لا بأس به ويجوز صرف هذا المال في المشاريع الإسلامية ونفقاتها المختلفة . أما طلب التبرعات من الكفار ففيه بعض المحاذير مثل الذلّ أمامهم وملكهم قلب الطالب إذا أعطوه . فلو خلا من هذه المحاذير فلا بأس ، فقد كان النبي صلى الله عليه وسلم يستعين ( دون ذلّ ) في أمور الدعوة – وهو بمكة – ببعض المشركين كعمه أبي طالب وغيره“Menerima pemberian orang kuffar dan bantuan mereka, tanpa meminta terlebih dahulu, itu tidak mengapa. Dan boleh menggunakan harta pemberian tersebut untuk berbagai keperluan umat Islam. Adapun meminta bantuan dari orang kafir, di sana terdapat perkara-perkara yang perlu dijauhi diantaranya bersikap dzull (merendahkan diri) di depan mereka dan timbulnya kecenderungan hati dari peminta sehingga mudah pengaruhi oleh mereka, jika permintaannya diberikan. Jika tidak ada perkara-perkara yang terlarang ini, maka tidak mengapa. Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam dahulu pernah meminta bantuan (tanpa merendahkan diri) kepada sebagian kaum Musyrikin di Mekkah dalam urusan dakwah, semisal kepada paman beliau Abu Thalib dan yang selainnya” [5. Fatawa Islam Sual Wal Jawab no.212, https://islamqa.info/ar/212].KesimpulanMaka, jika kaum muslimin mampu membangun masjid atau sekolah/pesantren, sebaiknya tidak menerima sumbangan dari non-muslim karena memang tidak butuh dan mampu, terlebih di daerah mayoritas muslim yang tentu umumnya tidak kekurangan harta untuk membangun masjid. Apalagi memang ada indikasi kuat ada makar politik untuk membahayakan kaum muslimin. Kita harus berhati-hati karena orang kafir tidak akan pernah ridha dengan orang IslamAllah berfirman,وَدُّوا لَوْ تَكْفُرُونَ كَمَا كَفَرُوا فَتَكُونُونَ سَوَاءً“Mereka ingin supaya kamu menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir, lalu kamu menjadi sama (dengan mereka)” (An-Nisaa’:89) Demikian semoga bermanfaat.@Yogyakarta tercinta, dalam keheningan jaga malam***Penyusun: dr. Raehanul BahraenArtikel Muslim.or.id 🔍 Allah Ta Ala, Doa Agar Cepat Punya Mobil, Hadits Tentang Hari Jumat, Hadits Tentang Jodoh Dalam Islam, Hadist Nabi Tentang Akhir Zaman
Jika ada non-muslim yang ingin menyumbangkan harta untuk membangun masjid misalnya atau untuk membangun pondok pesantren, apakah diterima atau ditolak?Pertama perlu dijelaskan bahwa hukum asal menerima hadiah dan infak dari non-muslim adalah mubah. Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menerima hadiah dari Para raja-raja non-muslim dan juga menerima hadiah daging dari seorang wanita Yahudi. Ini dalam rangka muamalah yang baik dan mengambil hati mereka.Imam Bukhari menuliskan bab mengenai hal iniباب قبول الهدية من المشركين“Bab bolehnya menerima Hadiah dari orang musyik”.Bahkan ulama menjelaskan boleh menerima sumbangan membangun masjid dari non-muslim asalkan tanpa syarat dan tidak membuat kaum muslimin menjadi hina serta bukan alat politik non-muslim tersebut untuk membuat makar terhadap umat Islam.Ibnu Muflih menjelaskan bahwa Masjid boleh dibangun dari harta orang kafir, beliau berkataوَتَجُوزُ عِمَارَةُ كُلِّ مَسْجِدٍ وَكِسْوَتُهُ وَإِشْعَالُهُ بِمَالِ كُلِّ كَافِرٍ“Boleh membangun masjid, memberikan kiswah dan penerangan dari harta orang kafir”[1. Al-Furu’ 11/478].Lajnah Daimah (semacam MUI di Saudi) mengeluarkan fatwa ketika ditanya apakah boleh shalat di masjid yang dibangun dari harta orang kafir? Dalam fatwa dijelaskan:لا بأس في الصلاة في المسجد المذكور“Tidak mengapa shalat di masjid tersebut (yang dibangun dari harta orang kafir)“[2. Fatwa Lajnah Daimah 5/255 nomor 20112].Adapun maksud ayat bahwa Allah tidak akan menerima dari harta mereka karena kekafiran mereka, maka ini maksudnya adalah dari segi diterimanya ibadah mereka oleh Allah, bukan dari segi halal dan haramnya menerima sumbangan dari mereka. Ayat tersebut sebagai berikut:وَمَا مَنَعَهُمْ أَنْ تُقْبَلَ مِنْهُمْ نَفَقَاتُهُمْ إِلَّا أَنَّهُمْ كَفَرُوا بِاللَّهِ وَبِرَسُولِهِ وَلَا يَأْتُونَ الصَّلَاةَ إِلَّا وَهُمْ كُسَالَىٰ وَلَا يُنْفِقُونَ إِلَّا وَهُمْ كَارِهُونَ“Dan tidak ada yang menghalangi untuk diterima dari mereka nafkah-nafkahnya melainkan karena mereka kafir kepada Allâh dan Rasul-Nya dan mereka tidak mengerjakan shalat, melainkan dengan malas dan tidak (pula) menafkahkan (harta) mereka, melainkan dengan rasa enggan” (At-Taubah:54).Sekali lagi perlu diperhatikan bahwa boleh menerima dengan syarat:Pertama: Tidak menimbulkan bahaya bagi kaum muslimin karena menerima hadiah tersebut, semisal sumbangan tersebut ada syaratnya yang merugikan kaum muslimin atau alat politik untuk membuat makar terhadap IslamDalam Fatwa Lajnah Daimah dijelaskan,يجوز للمسلمين أن يمكنوا غير المسلمين من الإنفاق على المشاريع الإسلامية؛ كالمساجد والمدارس إذا كان لا يترتب على ذلك ضرر على المسلمين أكثر من المنفعة“Boleh bagi kaum muslimin menerima infak dari non-muslim untuk kegiatan Islam semisal membangun masjid dan sekolah/pesantren, jika tidak ada bahaya yang ditimbulkan bagi kaum muslimin dan banyak manfaatnya”[3. Fatwa Lajnah Daimah 5/256 nomor 21334].Kedua: Dipastikan bahwa harta orang kafir tersebut adalah bukan harta yang haram. Jika jelas informasi yang masuk ke kita bahwa harta yang disumbangkan itu haram, maka tidak boleh menerimanya untuk membangun masjid. Dalam Fatawa Syabakah Islamiyah disebutkan:فلا مانع من أن تطلبوا من كافر إعانة مالية يهبكم إياها ثم تستعينون بها في بناء مسجد ، كما لا حرج في قبولها منه دون طلب لا سيما مع عجزكم عن بنائه وحاجتكم إليه، ولا يلزمكم البحث عن مصدر ماله الذي تبرع به هل هو من حلال أو من حرام ، ولكن إذا علمتم أن عين المال الذي أعطاكم إياه حراما فلا يجوز لكم قبوله وصرفه في بناء المسجد“Tidak ada masalah meminta sumbangan dari orang kafir dalam bentuk harta, kemudian digunakan untuk membangun masjid. Sebagaimana juga dibolehkan menerima pemberian orang kafir tanpa melalui permintaan. Terlebih jika kalian (kaum muslimin) tidak mampu membangun masjid, sementara kalian sangat membutuhkannya. Tidak ada kewajiban untuk mencari tahu sumber harta mereka, apakah dari jalan yang halal ataukah dari jalur yang haram. Akan tetapi, jika kalian tahu persis bahwa uang yang diberikan orang kafir itu adalah uang haram, maka tidak boleh diterima dan tidak boleh digunakan untuk membangun masjid”[4. Fatawa Syabakah Islamiyah, no. 75831 ].Minta bantuan dan sumbangan dari orang kafirYang di jelaskan di atas adalah mengenai menerima bantuan dan sumbangan untuk kepentingan umat dari orang kafir, tanpa didahului meminta. Yaitu ketika orang kafir menawarkan bantuan dan sumbangannya, dan kaum Muslimin tidak meminta. Adapun kaum Muslimin yang meminta terlebih dahulu, maka selain dua syarat yang disebutkan, para ulama juga mensyaratkan hendaknya kaum Muslimin tidak menunjukkan dzull (perendahan diri) di depan orang kafir dan tidak boleh muncul kecenderungan hati sehingga mudah dipengaruhi oleh orang kafir. Syaikh Muhammad Shalih Al Munajjid menyatakan,فقبول هبات الكفار وتبرعاتهم دون طلب لا بأس به ويجوز صرف هذا المال في المشاريع الإسلامية ونفقاتها المختلفة . أما طلب التبرعات من الكفار ففيه بعض المحاذير مثل الذلّ أمامهم وملكهم قلب الطالب إذا أعطوه . فلو خلا من هذه المحاذير فلا بأس ، فقد كان النبي صلى الله عليه وسلم يستعين ( دون ذلّ ) في أمور الدعوة – وهو بمكة – ببعض المشركين كعمه أبي طالب وغيره“Menerima pemberian orang kuffar dan bantuan mereka, tanpa meminta terlebih dahulu, itu tidak mengapa. Dan boleh menggunakan harta pemberian tersebut untuk berbagai keperluan umat Islam. Adapun meminta bantuan dari orang kafir, di sana terdapat perkara-perkara yang perlu dijauhi diantaranya bersikap dzull (merendahkan diri) di depan mereka dan timbulnya kecenderungan hati dari peminta sehingga mudah pengaruhi oleh mereka, jika permintaannya diberikan. Jika tidak ada perkara-perkara yang terlarang ini, maka tidak mengapa. Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam dahulu pernah meminta bantuan (tanpa merendahkan diri) kepada sebagian kaum Musyrikin di Mekkah dalam urusan dakwah, semisal kepada paman beliau Abu Thalib dan yang selainnya” [5. Fatawa Islam Sual Wal Jawab no.212, https://islamqa.info/ar/212].KesimpulanMaka, jika kaum muslimin mampu membangun masjid atau sekolah/pesantren, sebaiknya tidak menerima sumbangan dari non-muslim karena memang tidak butuh dan mampu, terlebih di daerah mayoritas muslim yang tentu umumnya tidak kekurangan harta untuk membangun masjid. Apalagi memang ada indikasi kuat ada makar politik untuk membahayakan kaum muslimin. Kita harus berhati-hati karena orang kafir tidak akan pernah ridha dengan orang IslamAllah berfirman,وَدُّوا لَوْ تَكْفُرُونَ كَمَا كَفَرُوا فَتَكُونُونَ سَوَاءً“Mereka ingin supaya kamu menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir, lalu kamu menjadi sama (dengan mereka)” (An-Nisaa’:89) Demikian semoga bermanfaat.@Yogyakarta tercinta, dalam keheningan jaga malam***Penyusun: dr. Raehanul BahraenArtikel Muslim.or.id 🔍 Allah Ta Ala, Doa Agar Cepat Punya Mobil, Hadits Tentang Hari Jumat, Hadits Tentang Jodoh Dalam Islam, Hadist Nabi Tentang Akhir Zaman


Jika ada non-muslim yang ingin menyumbangkan harta untuk membangun masjid misalnya atau untuk membangun pondok pesantren, apakah diterima atau ditolak?Pertama perlu dijelaskan bahwa hukum asal menerima hadiah dan infak dari non-muslim adalah mubah. Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menerima hadiah dari Para raja-raja non-muslim dan juga menerima hadiah daging dari seorang wanita Yahudi. Ini dalam rangka muamalah yang baik dan mengambil hati mereka.Imam Bukhari menuliskan bab mengenai hal iniباب قبول الهدية من المشركين“Bab bolehnya menerima Hadiah dari orang musyik”.Bahkan ulama menjelaskan boleh menerima sumbangan membangun masjid dari non-muslim asalkan tanpa syarat dan tidak membuat kaum muslimin menjadi hina serta bukan alat politik non-muslim tersebut untuk membuat makar terhadap umat Islam.Ibnu Muflih menjelaskan bahwa Masjid boleh dibangun dari harta orang kafir, beliau berkataوَتَجُوزُ عِمَارَةُ كُلِّ مَسْجِدٍ وَكِسْوَتُهُ وَإِشْعَالُهُ بِمَالِ كُلِّ كَافِرٍ“Boleh membangun masjid, memberikan kiswah dan penerangan dari harta orang kafir”[1. Al-Furu’ 11/478].Lajnah Daimah (semacam MUI di Saudi) mengeluarkan fatwa ketika ditanya apakah boleh shalat di masjid yang dibangun dari harta orang kafir? Dalam fatwa dijelaskan:لا بأس في الصلاة في المسجد المذكور“Tidak mengapa shalat di masjid tersebut (yang dibangun dari harta orang kafir)“[2. Fatwa Lajnah Daimah 5/255 nomor 20112].Adapun maksud ayat bahwa Allah tidak akan menerima dari harta mereka karena kekafiran mereka, maka ini maksudnya adalah dari segi diterimanya ibadah mereka oleh Allah, bukan dari segi halal dan haramnya menerima sumbangan dari mereka. Ayat tersebut sebagai berikut:وَمَا مَنَعَهُمْ أَنْ تُقْبَلَ مِنْهُمْ نَفَقَاتُهُمْ إِلَّا أَنَّهُمْ كَفَرُوا بِاللَّهِ وَبِرَسُولِهِ وَلَا يَأْتُونَ الصَّلَاةَ إِلَّا وَهُمْ كُسَالَىٰ وَلَا يُنْفِقُونَ إِلَّا وَهُمْ كَارِهُونَ“Dan tidak ada yang menghalangi untuk diterima dari mereka nafkah-nafkahnya melainkan karena mereka kafir kepada Allâh dan Rasul-Nya dan mereka tidak mengerjakan shalat, melainkan dengan malas dan tidak (pula) menafkahkan (harta) mereka, melainkan dengan rasa enggan” (At-Taubah:54).Sekali lagi perlu diperhatikan bahwa boleh menerima dengan syarat:Pertama: Tidak menimbulkan bahaya bagi kaum muslimin karena menerima hadiah tersebut, semisal sumbangan tersebut ada syaratnya yang merugikan kaum muslimin atau alat politik untuk membuat makar terhadap IslamDalam Fatwa Lajnah Daimah dijelaskan,يجوز للمسلمين أن يمكنوا غير المسلمين من الإنفاق على المشاريع الإسلامية؛ كالمساجد والمدارس إذا كان لا يترتب على ذلك ضرر على المسلمين أكثر من المنفعة“Boleh bagi kaum muslimin menerima infak dari non-muslim untuk kegiatan Islam semisal membangun masjid dan sekolah/pesantren, jika tidak ada bahaya yang ditimbulkan bagi kaum muslimin dan banyak manfaatnya”[3. Fatwa Lajnah Daimah 5/256 nomor 21334].Kedua: Dipastikan bahwa harta orang kafir tersebut adalah bukan harta yang haram. Jika jelas informasi yang masuk ke kita bahwa harta yang disumbangkan itu haram, maka tidak boleh menerimanya untuk membangun masjid. Dalam Fatawa Syabakah Islamiyah disebutkan:فلا مانع من أن تطلبوا من كافر إعانة مالية يهبكم إياها ثم تستعينون بها في بناء مسجد ، كما لا حرج في قبولها منه دون طلب لا سيما مع عجزكم عن بنائه وحاجتكم إليه، ولا يلزمكم البحث عن مصدر ماله الذي تبرع به هل هو من حلال أو من حرام ، ولكن إذا علمتم أن عين المال الذي أعطاكم إياه حراما فلا يجوز لكم قبوله وصرفه في بناء المسجد“Tidak ada masalah meminta sumbangan dari orang kafir dalam bentuk harta, kemudian digunakan untuk membangun masjid. Sebagaimana juga dibolehkan menerima pemberian orang kafir tanpa melalui permintaan. Terlebih jika kalian (kaum muslimin) tidak mampu membangun masjid, sementara kalian sangat membutuhkannya. Tidak ada kewajiban untuk mencari tahu sumber harta mereka, apakah dari jalan yang halal ataukah dari jalur yang haram. Akan tetapi, jika kalian tahu persis bahwa uang yang diberikan orang kafir itu adalah uang haram, maka tidak boleh diterima dan tidak boleh digunakan untuk membangun masjid”[4. Fatawa Syabakah Islamiyah, no. 75831 ].Minta bantuan dan sumbangan dari orang kafirYang di jelaskan di atas adalah mengenai menerima bantuan dan sumbangan untuk kepentingan umat dari orang kafir, tanpa didahului meminta. Yaitu ketika orang kafir menawarkan bantuan dan sumbangannya, dan kaum Muslimin tidak meminta. Adapun kaum Muslimin yang meminta terlebih dahulu, maka selain dua syarat yang disebutkan, para ulama juga mensyaratkan hendaknya kaum Muslimin tidak menunjukkan dzull (perendahan diri) di depan orang kafir dan tidak boleh muncul kecenderungan hati sehingga mudah dipengaruhi oleh orang kafir. Syaikh Muhammad Shalih Al Munajjid menyatakan,فقبول هبات الكفار وتبرعاتهم دون طلب لا بأس به ويجوز صرف هذا المال في المشاريع الإسلامية ونفقاتها المختلفة . أما طلب التبرعات من الكفار ففيه بعض المحاذير مثل الذلّ أمامهم وملكهم قلب الطالب إذا أعطوه . فلو خلا من هذه المحاذير فلا بأس ، فقد كان النبي صلى الله عليه وسلم يستعين ( دون ذلّ ) في أمور الدعوة – وهو بمكة – ببعض المشركين كعمه أبي طالب وغيره“Menerima pemberian orang kuffar dan bantuan mereka, tanpa meminta terlebih dahulu, itu tidak mengapa. Dan boleh menggunakan harta pemberian tersebut untuk berbagai keperluan umat Islam. Adapun meminta bantuan dari orang kafir, di sana terdapat perkara-perkara yang perlu dijauhi diantaranya bersikap dzull (merendahkan diri) di depan mereka dan timbulnya kecenderungan hati dari peminta sehingga mudah pengaruhi oleh mereka, jika permintaannya diberikan. Jika tidak ada perkara-perkara yang terlarang ini, maka tidak mengapa. Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam dahulu pernah meminta bantuan (tanpa merendahkan diri) kepada sebagian kaum Musyrikin di Mekkah dalam urusan dakwah, semisal kepada paman beliau Abu Thalib dan yang selainnya” [5. Fatawa Islam Sual Wal Jawab no.212, https://islamqa.info/ar/212].KesimpulanMaka, jika kaum muslimin mampu membangun masjid atau sekolah/pesantren, sebaiknya tidak menerima sumbangan dari non-muslim karena memang tidak butuh dan mampu, terlebih di daerah mayoritas muslim yang tentu umumnya tidak kekurangan harta untuk membangun masjid. Apalagi memang ada indikasi kuat ada makar politik untuk membahayakan kaum muslimin. Kita harus berhati-hati karena orang kafir tidak akan pernah ridha dengan orang IslamAllah berfirman,وَدُّوا لَوْ تَكْفُرُونَ كَمَا كَفَرُوا فَتَكُونُونَ سَوَاءً“Mereka ingin supaya kamu menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir, lalu kamu menjadi sama (dengan mereka)” (An-Nisaa’:89) Demikian semoga bermanfaat.@Yogyakarta tercinta, dalam keheningan jaga malam***Penyusun: dr. Raehanul BahraenArtikel Muslim.or.id 🔍 Allah Ta Ala, Doa Agar Cepat Punya Mobil, Hadits Tentang Hari Jumat, Hadits Tentang Jodoh Dalam Islam, Hadist Nabi Tentang Akhir Zaman

Sepuluh Bahasa Cinta Dalam Mendidik Anak (1)

Jadilah Orang Tua Betulan, Bukan Kebetulan Jadi Orang TuaSetiap orang yang berpikir sehat tentunya sepakat bahwa mendidik anak itu perlu ilmu. Jangankan mendidik anak, hanya sekedar masak nasi pun butuh ilmu kan?Apalagi mendidik anak yang diposisikan dalam jalur ibadah ini dan diharapkan menghasilkan amal-amal jariyah. Benarlah kata Imam Al-Bukhari rahimahullah, al-’ilmu qoblal qaul wal ‘amal.Apabila kita telah sama-sama tahu bahwa mendidik anak itu sangat butuh ilmu, marilah kita bandingkan antara dua aktifitas keseharian kita, yaitu mendidik anak dan bekerja.Banyak orang yang sangat antusias mempersiapkan diri untuk menjadi pegawai atau profesi tertentu yang menjadi cita-citanya semenjak duduk di SD. Tidak hanya sekedar kegiatan utama KBM di kelas, namun juga les privat dan kursus pun dijalani untuk sebuah persiapan itu, bahkan sampai kuliah gelar S3 bukan?Hal itu berarti untuk urusan pekerjaan bagi banyak orang harus benar-benar menjadi ‘profesionalis betulan’ dan bukan ‘kebetulan profesional’ kan?Namun…Untuk urusan menjadi orang tua, sang pendidik anak, apakah banyak orang mempersiapkan diri seperti persiapan mereka untuk menjadi profesionalis? Bukankah urusan pekerjaan itu pada umumnya ada jam kerja yang terbatas beberapa jam saja? Adapun tugas menjadi orang tua dan mendidik anak tak terbatasi dengan ‘jam kerja’ bukan?Tapi…Lihatlah kenyataannya antara dua urusan tersebut, sungguh jauh berbeda. Banyak lho, lelaki yang menyandang gelar ‘bapak’, hanya karena istrinya melahirkan anak. Dan gak kalah banyaknya, wanita yang dijuluki ibu, hanya karena baru saja melahirkan sang jabang bayi.Yang laki-laki adalah bapak ‘kebetulan’ , nah yang wanita adalah ibu ‘tak diprogram’. Kalau urusan pekerjaan, sampai harus melakukan standarisasi dan sertifikasi, namun jika urusan menjadi orang tua sang pendidik anak, cukuplah belajar sambil langsung magang atau learning by doing.Ini mirip dengan prinsip muda foya-foya, tua kaya raya, dan mati masuk surga! Urusan mendidik anak, bukan asal punya uang sehingga bisa memasukkan sang anak ke sekolah unggulan. Boleh jadi, sekolahnya yang unggulan, namun lulusannya bisa saja bukan manusia unggulan. Terlalu banyak perkara yang tidak bisa dibeli dengan uang.Ustadzuna Abdullah Zaen, MA hafizhahullah mengatakan, “Uang memang bisa membeli tempat tidur yang mewah, tetapi bukan tidur yang lelap. Uang bisa membeli rumah yang lapang, tetapi bukan kelapangan hati untuk tinggal di dalamnya. Uang juga bisa membeli pesawat televisi yang sangat besar untuk menghibur anak, tetapi bukan kebesaran jiwa untuk memberi dukungan saat mereka terempas. Betapa banyak anak-anak yang rapuh jiwanya, padahal mereka tinggal di rumah-rumah yang kokoh bangunannya. Mereka mendapatkan apa saja dari orangtuanya, kecuali perhatian, ketulusan dan kasih sayang” (Dinukil dan diolah dari : http://tunasilmu.com/jurus-jitu-mendidik-anak/).[Bersambung]***Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id🔍 Adab Sebelum Tidur, Hadits Jihad, Ebook Id, Hadits Tentang Makan Dan Minum, Ritual Mayit

Sepuluh Bahasa Cinta Dalam Mendidik Anak (1)

Jadilah Orang Tua Betulan, Bukan Kebetulan Jadi Orang TuaSetiap orang yang berpikir sehat tentunya sepakat bahwa mendidik anak itu perlu ilmu. Jangankan mendidik anak, hanya sekedar masak nasi pun butuh ilmu kan?Apalagi mendidik anak yang diposisikan dalam jalur ibadah ini dan diharapkan menghasilkan amal-amal jariyah. Benarlah kata Imam Al-Bukhari rahimahullah, al-’ilmu qoblal qaul wal ‘amal.Apabila kita telah sama-sama tahu bahwa mendidik anak itu sangat butuh ilmu, marilah kita bandingkan antara dua aktifitas keseharian kita, yaitu mendidik anak dan bekerja.Banyak orang yang sangat antusias mempersiapkan diri untuk menjadi pegawai atau profesi tertentu yang menjadi cita-citanya semenjak duduk di SD. Tidak hanya sekedar kegiatan utama KBM di kelas, namun juga les privat dan kursus pun dijalani untuk sebuah persiapan itu, bahkan sampai kuliah gelar S3 bukan?Hal itu berarti untuk urusan pekerjaan bagi banyak orang harus benar-benar menjadi ‘profesionalis betulan’ dan bukan ‘kebetulan profesional’ kan?Namun…Untuk urusan menjadi orang tua, sang pendidik anak, apakah banyak orang mempersiapkan diri seperti persiapan mereka untuk menjadi profesionalis? Bukankah urusan pekerjaan itu pada umumnya ada jam kerja yang terbatas beberapa jam saja? Adapun tugas menjadi orang tua dan mendidik anak tak terbatasi dengan ‘jam kerja’ bukan?Tapi…Lihatlah kenyataannya antara dua urusan tersebut, sungguh jauh berbeda. Banyak lho, lelaki yang menyandang gelar ‘bapak’, hanya karena istrinya melahirkan anak. Dan gak kalah banyaknya, wanita yang dijuluki ibu, hanya karena baru saja melahirkan sang jabang bayi.Yang laki-laki adalah bapak ‘kebetulan’ , nah yang wanita adalah ibu ‘tak diprogram’. Kalau urusan pekerjaan, sampai harus melakukan standarisasi dan sertifikasi, namun jika urusan menjadi orang tua sang pendidik anak, cukuplah belajar sambil langsung magang atau learning by doing.Ini mirip dengan prinsip muda foya-foya, tua kaya raya, dan mati masuk surga! Urusan mendidik anak, bukan asal punya uang sehingga bisa memasukkan sang anak ke sekolah unggulan. Boleh jadi, sekolahnya yang unggulan, namun lulusannya bisa saja bukan manusia unggulan. Terlalu banyak perkara yang tidak bisa dibeli dengan uang.Ustadzuna Abdullah Zaen, MA hafizhahullah mengatakan, “Uang memang bisa membeli tempat tidur yang mewah, tetapi bukan tidur yang lelap. Uang bisa membeli rumah yang lapang, tetapi bukan kelapangan hati untuk tinggal di dalamnya. Uang juga bisa membeli pesawat televisi yang sangat besar untuk menghibur anak, tetapi bukan kebesaran jiwa untuk memberi dukungan saat mereka terempas. Betapa banyak anak-anak yang rapuh jiwanya, padahal mereka tinggal di rumah-rumah yang kokoh bangunannya. Mereka mendapatkan apa saja dari orangtuanya, kecuali perhatian, ketulusan dan kasih sayang” (Dinukil dan diolah dari : http://tunasilmu.com/jurus-jitu-mendidik-anak/).[Bersambung]***Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id🔍 Adab Sebelum Tidur, Hadits Jihad, Ebook Id, Hadits Tentang Makan Dan Minum, Ritual Mayit
Jadilah Orang Tua Betulan, Bukan Kebetulan Jadi Orang TuaSetiap orang yang berpikir sehat tentunya sepakat bahwa mendidik anak itu perlu ilmu. Jangankan mendidik anak, hanya sekedar masak nasi pun butuh ilmu kan?Apalagi mendidik anak yang diposisikan dalam jalur ibadah ini dan diharapkan menghasilkan amal-amal jariyah. Benarlah kata Imam Al-Bukhari rahimahullah, al-’ilmu qoblal qaul wal ‘amal.Apabila kita telah sama-sama tahu bahwa mendidik anak itu sangat butuh ilmu, marilah kita bandingkan antara dua aktifitas keseharian kita, yaitu mendidik anak dan bekerja.Banyak orang yang sangat antusias mempersiapkan diri untuk menjadi pegawai atau profesi tertentu yang menjadi cita-citanya semenjak duduk di SD. Tidak hanya sekedar kegiatan utama KBM di kelas, namun juga les privat dan kursus pun dijalani untuk sebuah persiapan itu, bahkan sampai kuliah gelar S3 bukan?Hal itu berarti untuk urusan pekerjaan bagi banyak orang harus benar-benar menjadi ‘profesionalis betulan’ dan bukan ‘kebetulan profesional’ kan?Namun…Untuk urusan menjadi orang tua, sang pendidik anak, apakah banyak orang mempersiapkan diri seperti persiapan mereka untuk menjadi profesionalis? Bukankah urusan pekerjaan itu pada umumnya ada jam kerja yang terbatas beberapa jam saja? Adapun tugas menjadi orang tua dan mendidik anak tak terbatasi dengan ‘jam kerja’ bukan?Tapi…Lihatlah kenyataannya antara dua urusan tersebut, sungguh jauh berbeda. Banyak lho, lelaki yang menyandang gelar ‘bapak’, hanya karena istrinya melahirkan anak. Dan gak kalah banyaknya, wanita yang dijuluki ibu, hanya karena baru saja melahirkan sang jabang bayi.Yang laki-laki adalah bapak ‘kebetulan’ , nah yang wanita adalah ibu ‘tak diprogram’. Kalau urusan pekerjaan, sampai harus melakukan standarisasi dan sertifikasi, namun jika urusan menjadi orang tua sang pendidik anak, cukuplah belajar sambil langsung magang atau learning by doing.Ini mirip dengan prinsip muda foya-foya, tua kaya raya, dan mati masuk surga! Urusan mendidik anak, bukan asal punya uang sehingga bisa memasukkan sang anak ke sekolah unggulan. Boleh jadi, sekolahnya yang unggulan, namun lulusannya bisa saja bukan manusia unggulan. Terlalu banyak perkara yang tidak bisa dibeli dengan uang.Ustadzuna Abdullah Zaen, MA hafizhahullah mengatakan, “Uang memang bisa membeli tempat tidur yang mewah, tetapi bukan tidur yang lelap. Uang bisa membeli rumah yang lapang, tetapi bukan kelapangan hati untuk tinggal di dalamnya. Uang juga bisa membeli pesawat televisi yang sangat besar untuk menghibur anak, tetapi bukan kebesaran jiwa untuk memberi dukungan saat mereka terempas. Betapa banyak anak-anak yang rapuh jiwanya, padahal mereka tinggal di rumah-rumah yang kokoh bangunannya. Mereka mendapatkan apa saja dari orangtuanya, kecuali perhatian, ketulusan dan kasih sayang” (Dinukil dan diolah dari : http://tunasilmu.com/jurus-jitu-mendidik-anak/).[Bersambung]***Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id🔍 Adab Sebelum Tidur, Hadits Jihad, Ebook Id, Hadits Tentang Makan Dan Minum, Ritual Mayit


Jadilah Orang Tua Betulan, Bukan Kebetulan Jadi Orang TuaSetiap orang yang berpikir sehat tentunya sepakat bahwa mendidik anak itu perlu ilmu. Jangankan mendidik anak, hanya sekedar masak nasi pun butuh ilmu kan?Apalagi mendidik anak yang diposisikan dalam jalur ibadah ini dan diharapkan menghasilkan amal-amal jariyah. Benarlah kata Imam Al-Bukhari rahimahullah, al-’ilmu qoblal qaul wal ‘amal.Apabila kita telah sama-sama tahu bahwa mendidik anak itu sangat butuh ilmu, marilah kita bandingkan antara dua aktifitas keseharian kita, yaitu mendidik anak dan bekerja.Banyak orang yang sangat antusias mempersiapkan diri untuk menjadi pegawai atau profesi tertentu yang menjadi cita-citanya semenjak duduk di SD. Tidak hanya sekedar kegiatan utama KBM di kelas, namun juga les privat dan kursus pun dijalani untuk sebuah persiapan itu, bahkan sampai kuliah gelar S3 bukan?Hal itu berarti untuk urusan pekerjaan bagi banyak orang harus benar-benar menjadi ‘profesionalis betulan’ dan bukan ‘kebetulan profesional’ kan?Namun…Untuk urusan menjadi orang tua, sang pendidik anak, apakah banyak orang mempersiapkan diri seperti persiapan mereka untuk menjadi profesionalis? Bukankah urusan pekerjaan itu pada umumnya ada jam kerja yang terbatas beberapa jam saja? Adapun tugas menjadi orang tua dan mendidik anak tak terbatasi dengan ‘jam kerja’ bukan?Tapi…Lihatlah kenyataannya antara dua urusan tersebut, sungguh jauh berbeda. Banyak lho, lelaki yang menyandang gelar ‘bapak’, hanya karena istrinya melahirkan anak. Dan gak kalah banyaknya, wanita yang dijuluki ibu, hanya karena baru saja melahirkan sang jabang bayi.Yang laki-laki adalah bapak ‘kebetulan’ , nah yang wanita adalah ibu ‘tak diprogram’. Kalau urusan pekerjaan, sampai harus melakukan standarisasi dan sertifikasi, namun jika urusan menjadi orang tua sang pendidik anak, cukuplah belajar sambil langsung magang atau learning by doing.Ini mirip dengan prinsip muda foya-foya, tua kaya raya, dan mati masuk surga! Urusan mendidik anak, bukan asal punya uang sehingga bisa memasukkan sang anak ke sekolah unggulan. Boleh jadi, sekolahnya yang unggulan, namun lulusannya bisa saja bukan manusia unggulan. Terlalu banyak perkara yang tidak bisa dibeli dengan uang.Ustadzuna Abdullah Zaen, MA hafizhahullah mengatakan, “Uang memang bisa membeli tempat tidur yang mewah, tetapi bukan tidur yang lelap. Uang bisa membeli rumah yang lapang, tetapi bukan kelapangan hati untuk tinggal di dalamnya. Uang juga bisa membeli pesawat televisi yang sangat besar untuk menghibur anak, tetapi bukan kebesaran jiwa untuk memberi dukungan saat mereka terempas. Betapa banyak anak-anak yang rapuh jiwanya, padahal mereka tinggal di rumah-rumah yang kokoh bangunannya. Mereka mendapatkan apa saja dari orangtuanya, kecuali perhatian, ketulusan dan kasih sayang” (Dinukil dan diolah dari : http://tunasilmu.com/jurus-jitu-mendidik-anak/).[Bersambung]***Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id🔍 Adab Sebelum Tidur, Hadits Jihad, Ebook Id, Hadits Tentang Makan Dan Minum, Ritual Mayit

Sepuluh Bahasa Cinta Dalam Mendidik Anak (2)

Tujuan Pendidikan Anak (Tarbiyyatul Aulad)Ketika dua sejoli memadu kasih dengan ikatan nikah yang diungkapkan dalam Alquran sebagai mitsaaqan gholiizhan, maka terbayanglah cita-cita yang mulia menanti untuk diraih. Cita-cita yang tinggi dari pernikahan yang suci tentunya tidaklah sebatas untuk menyalurkan kebutuhan biologis sepasang anak manusia dengan cara yang halal. Namun di sana terdapat tujuan-tujuan besar lainnya, seperti menjaga kehormatan, memperbanyak jumlah orang-orang yang menyembah Allah semata, menjaga keberlangsungan keturunan Nabi Adam ‘alaihis salam, dan selainnya.Nah, salah satu tujuan mulia tersebut yang tentunya sangat diidam-idamkan kita bersama sebagai orang tua adalah terlahir dari rahim ibu-ibu muslimah generasi yang saleh dan salehah lagi mampu menjadi penyejuk pandangan kedua orang tuanya, bermanfaat bagi keduanya di dunia terlebih lagi di akhirat.Berpikirlah sejenak, dan renungkanlah dengan hati yang bening jawaban pertanyaan berikut, “Bukankah anak saleh dan salehah adalah sosok anak yang memahami untuk apa mereka diciptakan di muka bumi ini?” Ya, anak saleh berarti anak yang berhasil meraih tujuan hidupnya. Kesanalah bermuara seluruh tujuan-tujuan pernikahan, kembali kepada tujuan hidup kita sebagai hamba Allah.Oleh karena itu, jika ada yang bertanya apakah tujuan pendidikan anak dalam Islam? maka sebut saja sebuah jawaban sederhana namun universal cakupannya,Allah Ta’ala berfirman,وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ“Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku (saja)” (QS.Adz-Dzaariyaat: 56).Adapun pada ayat ini, Allah Ta’ala mengabarkan bahwa Dia menciptakan jin dan manusia dengan tujuan agar mereka beribadah kepada-Nya saja, dan tidak menyekutukan-Nya. Tahukah anda,wahai orang tua, apakah ibadah itu?Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah mendefinisikan ibadah dalam kitab beliau Al-‘Ubudiyyah (hal. 4) sebagai berikut.الْعِبَادَةُ هِيَ اسْمٌ جَامِعٌ لِكُلِّ مَا يُحِبُّهُ اللَّهُ تَعَالَى وَيَرْضَاهُ مِنَ الْأَقْوَالِ وَالْأَعْمَالِ الْبَاطِنَةِ وَالظَّاهِرَةِ“Ibadah adalah suatu kata yang mencakup setiap perkara yang dicintai dan diridhai oleh Allah Ta’ala, baik berupa ucapan maupun perbuatan, (baik) yang batin (hati), maupun yang lahir (anggota tubuh yang nampak)”.Jadi, tatkala seseorang berusaha dan berjuang keras agar setiap kata dan perbuatannya yang lahir maupun batin dicintai oleh Rabbnya, maka itulah profil seorang hamba yang sadar akan tujuan hidupnya, apapun kedudukan dan strata sosialnya. Dengan demikian, jika kita kembalikan kepada pertanyaan untuk apa kita mendidik anak.Jawablah, “Agar mereka menjadi generasi penyembah Allah semata, generasi muwahhidiin muwahhidah yang seluruh ucapan dan perbuatan mereka dibingkai dan didasari dengan niat yang tulus untuk beribadah kepada Rabbul ‘Aalamiin. Agar setiap ucapan anakku dan setiap perbuatannya diridhai oleh-Nya. Agar batin dan lahir buah hatiku sesuai dengan keridhaan-Nya.”[bersambung]***Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id🔍 Hadits Tentang Akhlak Terpuji, Perbedaan Adab Dan Akhlak, Hadits Ciri Ciri Orang Munafik, Hadits Tentang Bacaan Sholat, Hadits Tentang Wanita Cantik

Sepuluh Bahasa Cinta Dalam Mendidik Anak (2)

Tujuan Pendidikan Anak (Tarbiyyatul Aulad)Ketika dua sejoli memadu kasih dengan ikatan nikah yang diungkapkan dalam Alquran sebagai mitsaaqan gholiizhan, maka terbayanglah cita-cita yang mulia menanti untuk diraih. Cita-cita yang tinggi dari pernikahan yang suci tentunya tidaklah sebatas untuk menyalurkan kebutuhan biologis sepasang anak manusia dengan cara yang halal. Namun di sana terdapat tujuan-tujuan besar lainnya, seperti menjaga kehormatan, memperbanyak jumlah orang-orang yang menyembah Allah semata, menjaga keberlangsungan keturunan Nabi Adam ‘alaihis salam, dan selainnya.Nah, salah satu tujuan mulia tersebut yang tentunya sangat diidam-idamkan kita bersama sebagai orang tua adalah terlahir dari rahim ibu-ibu muslimah generasi yang saleh dan salehah lagi mampu menjadi penyejuk pandangan kedua orang tuanya, bermanfaat bagi keduanya di dunia terlebih lagi di akhirat.Berpikirlah sejenak, dan renungkanlah dengan hati yang bening jawaban pertanyaan berikut, “Bukankah anak saleh dan salehah adalah sosok anak yang memahami untuk apa mereka diciptakan di muka bumi ini?” Ya, anak saleh berarti anak yang berhasil meraih tujuan hidupnya. Kesanalah bermuara seluruh tujuan-tujuan pernikahan, kembali kepada tujuan hidup kita sebagai hamba Allah.Oleh karena itu, jika ada yang bertanya apakah tujuan pendidikan anak dalam Islam? maka sebut saja sebuah jawaban sederhana namun universal cakupannya,Allah Ta’ala berfirman,وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ“Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku (saja)” (QS.Adz-Dzaariyaat: 56).Adapun pada ayat ini, Allah Ta’ala mengabarkan bahwa Dia menciptakan jin dan manusia dengan tujuan agar mereka beribadah kepada-Nya saja, dan tidak menyekutukan-Nya. Tahukah anda,wahai orang tua, apakah ibadah itu?Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah mendefinisikan ibadah dalam kitab beliau Al-‘Ubudiyyah (hal. 4) sebagai berikut.الْعِبَادَةُ هِيَ اسْمٌ جَامِعٌ لِكُلِّ مَا يُحِبُّهُ اللَّهُ تَعَالَى وَيَرْضَاهُ مِنَ الْأَقْوَالِ وَالْأَعْمَالِ الْبَاطِنَةِ وَالظَّاهِرَةِ“Ibadah adalah suatu kata yang mencakup setiap perkara yang dicintai dan diridhai oleh Allah Ta’ala, baik berupa ucapan maupun perbuatan, (baik) yang batin (hati), maupun yang lahir (anggota tubuh yang nampak)”.Jadi, tatkala seseorang berusaha dan berjuang keras agar setiap kata dan perbuatannya yang lahir maupun batin dicintai oleh Rabbnya, maka itulah profil seorang hamba yang sadar akan tujuan hidupnya, apapun kedudukan dan strata sosialnya. Dengan demikian, jika kita kembalikan kepada pertanyaan untuk apa kita mendidik anak.Jawablah, “Agar mereka menjadi generasi penyembah Allah semata, generasi muwahhidiin muwahhidah yang seluruh ucapan dan perbuatan mereka dibingkai dan didasari dengan niat yang tulus untuk beribadah kepada Rabbul ‘Aalamiin. Agar setiap ucapan anakku dan setiap perbuatannya diridhai oleh-Nya. Agar batin dan lahir buah hatiku sesuai dengan keridhaan-Nya.”[bersambung]***Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id🔍 Hadits Tentang Akhlak Terpuji, Perbedaan Adab Dan Akhlak, Hadits Ciri Ciri Orang Munafik, Hadits Tentang Bacaan Sholat, Hadits Tentang Wanita Cantik
Tujuan Pendidikan Anak (Tarbiyyatul Aulad)Ketika dua sejoli memadu kasih dengan ikatan nikah yang diungkapkan dalam Alquran sebagai mitsaaqan gholiizhan, maka terbayanglah cita-cita yang mulia menanti untuk diraih. Cita-cita yang tinggi dari pernikahan yang suci tentunya tidaklah sebatas untuk menyalurkan kebutuhan biologis sepasang anak manusia dengan cara yang halal. Namun di sana terdapat tujuan-tujuan besar lainnya, seperti menjaga kehormatan, memperbanyak jumlah orang-orang yang menyembah Allah semata, menjaga keberlangsungan keturunan Nabi Adam ‘alaihis salam, dan selainnya.Nah, salah satu tujuan mulia tersebut yang tentunya sangat diidam-idamkan kita bersama sebagai orang tua adalah terlahir dari rahim ibu-ibu muslimah generasi yang saleh dan salehah lagi mampu menjadi penyejuk pandangan kedua orang tuanya, bermanfaat bagi keduanya di dunia terlebih lagi di akhirat.Berpikirlah sejenak, dan renungkanlah dengan hati yang bening jawaban pertanyaan berikut, “Bukankah anak saleh dan salehah adalah sosok anak yang memahami untuk apa mereka diciptakan di muka bumi ini?” Ya, anak saleh berarti anak yang berhasil meraih tujuan hidupnya. Kesanalah bermuara seluruh tujuan-tujuan pernikahan, kembali kepada tujuan hidup kita sebagai hamba Allah.Oleh karena itu, jika ada yang bertanya apakah tujuan pendidikan anak dalam Islam? maka sebut saja sebuah jawaban sederhana namun universal cakupannya,Allah Ta’ala berfirman,وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ“Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku (saja)” (QS.Adz-Dzaariyaat: 56).Adapun pada ayat ini, Allah Ta’ala mengabarkan bahwa Dia menciptakan jin dan manusia dengan tujuan agar mereka beribadah kepada-Nya saja, dan tidak menyekutukan-Nya. Tahukah anda,wahai orang tua, apakah ibadah itu?Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah mendefinisikan ibadah dalam kitab beliau Al-‘Ubudiyyah (hal. 4) sebagai berikut.الْعِبَادَةُ هِيَ اسْمٌ جَامِعٌ لِكُلِّ مَا يُحِبُّهُ اللَّهُ تَعَالَى وَيَرْضَاهُ مِنَ الْأَقْوَالِ وَالْأَعْمَالِ الْبَاطِنَةِ وَالظَّاهِرَةِ“Ibadah adalah suatu kata yang mencakup setiap perkara yang dicintai dan diridhai oleh Allah Ta’ala, baik berupa ucapan maupun perbuatan, (baik) yang batin (hati), maupun yang lahir (anggota tubuh yang nampak)”.Jadi, tatkala seseorang berusaha dan berjuang keras agar setiap kata dan perbuatannya yang lahir maupun batin dicintai oleh Rabbnya, maka itulah profil seorang hamba yang sadar akan tujuan hidupnya, apapun kedudukan dan strata sosialnya. Dengan demikian, jika kita kembalikan kepada pertanyaan untuk apa kita mendidik anak.Jawablah, “Agar mereka menjadi generasi penyembah Allah semata, generasi muwahhidiin muwahhidah yang seluruh ucapan dan perbuatan mereka dibingkai dan didasari dengan niat yang tulus untuk beribadah kepada Rabbul ‘Aalamiin. Agar setiap ucapan anakku dan setiap perbuatannya diridhai oleh-Nya. Agar batin dan lahir buah hatiku sesuai dengan keridhaan-Nya.”[bersambung]***Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id🔍 Hadits Tentang Akhlak Terpuji, Perbedaan Adab Dan Akhlak, Hadits Ciri Ciri Orang Munafik, Hadits Tentang Bacaan Sholat, Hadits Tentang Wanita Cantik


Tujuan Pendidikan Anak (Tarbiyyatul Aulad)Ketika dua sejoli memadu kasih dengan ikatan nikah yang diungkapkan dalam Alquran sebagai mitsaaqan gholiizhan, maka terbayanglah cita-cita yang mulia menanti untuk diraih. Cita-cita yang tinggi dari pernikahan yang suci tentunya tidaklah sebatas untuk menyalurkan kebutuhan biologis sepasang anak manusia dengan cara yang halal. Namun di sana terdapat tujuan-tujuan besar lainnya, seperti menjaga kehormatan, memperbanyak jumlah orang-orang yang menyembah Allah semata, menjaga keberlangsungan keturunan Nabi Adam ‘alaihis salam, dan selainnya.Nah, salah satu tujuan mulia tersebut yang tentunya sangat diidam-idamkan kita bersama sebagai orang tua adalah terlahir dari rahim ibu-ibu muslimah generasi yang saleh dan salehah lagi mampu menjadi penyejuk pandangan kedua orang tuanya, bermanfaat bagi keduanya di dunia terlebih lagi di akhirat.Berpikirlah sejenak, dan renungkanlah dengan hati yang bening jawaban pertanyaan berikut, “Bukankah anak saleh dan salehah adalah sosok anak yang memahami untuk apa mereka diciptakan di muka bumi ini?” Ya, anak saleh berarti anak yang berhasil meraih tujuan hidupnya. Kesanalah bermuara seluruh tujuan-tujuan pernikahan, kembali kepada tujuan hidup kita sebagai hamba Allah.Oleh karena itu, jika ada yang bertanya apakah tujuan pendidikan anak dalam Islam? maka sebut saja sebuah jawaban sederhana namun universal cakupannya,Allah Ta’ala berfirman,وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ“Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku (saja)” (QS.Adz-Dzaariyaat: 56).Adapun pada ayat ini, Allah Ta’ala mengabarkan bahwa Dia menciptakan jin dan manusia dengan tujuan agar mereka beribadah kepada-Nya saja, dan tidak menyekutukan-Nya. Tahukah anda,wahai orang tua, apakah ibadah itu?Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah mendefinisikan ibadah dalam kitab beliau Al-‘Ubudiyyah (hal. 4) sebagai berikut.الْعِبَادَةُ هِيَ اسْمٌ جَامِعٌ لِكُلِّ مَا يُحِبُّهُ اللَّهُ تَعَالَى وَيَرْضَاهُ مِنَ الْأَقْوَالِ وَالْأَعْمَالِ الْبَاطِنَةِ وَالظَّاهِرَةِ“Ibadah adalah suatu kata yang mencakup setiap perkara yang dicintai dan diridhai oleh Allah Ta’ala, baik berupa ucapan maupun perbuatan, (baik) yang batin (hati), maupun yang lahir (anggota tubuh yang nampak)”.Jadi, tatkala seseorang berusaha dan berjuang keras agar setiap kata dan perbuatannya yang lahir maupun batin dicintai oleh Rabbnya, maka itulah profil seorang hamba yang sadar akan tujuan hidupnya, apapun kedudukan dan strata sosialnya. Dengan demikian, jika kita kembalikan kepada pertanyaan untuk apa kita mendidik anak.Jawablah, “Agar mereka menjadi generasi penyembah Allah semata, generasi muwahhidiin muwahhidah yang seluruh ucapan dan perbuatan mereka dibingkai dan didasari dengan niat yang tulus untuk beribadah kepada Rabbul ‘Aalamiin. Agar setiap ucapan anakku dan setiap perbuatannya diridhai oleh-Nya. Agar batin dan lahir buah hatiku sesuai dengan keridhaan-Nya.”[bersambung]***Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id🔍 Hadits Tentang Akhlak Terpuji, Perbedaan Adab Dan Akhlak, Hadits Ciri Ciri Orang Munafik, Hadits Tentang Bacaan Sholat, Hadits Tentang Wanita Cantik

Bid’ah yang Paling Parah

  Pernah dengar istilah bid’ah? Bid’ah secara etimologi (bahasa) berarti suatu yang baru, yang tidak ada contoh sebelumnya. Namun kalau maksud bid’ah secara terminologi (istilah) adalah setiap i’tiqad, perkataan, perbuatan dalam rangka beribadah pada Allah Ta’ala yang tidak ada dalil yang mendukung pensyari’atannya atau bentuknya karena meninggalkan sesuatu karena Allah. Ternyata bid’ah itu bukan sekedar amalan yang tidak ada tuntunan saja. Bid’ah itu bertingkat-tingkat, ada bid’ah yang paling parah. Bid’ah dibagi menjadi tiga: Bid’ah i’tiqadiyyah Bid’ah ‘amaliyyah Bid’ah at-tark Bid’ah i’tiqadiyyah adalah bid’ah yang menyelisihi firman Allah dan sabda Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hal keyakinan atau akidah. Contoh: bid’ah tamtsil (menyatakan Allah semisal makhluk), bid’ah ta’thil (menolak nama dan sifat Allah), bid’ah qadariyyah (menolak takdir Allah), bid’ah jabariyyah (meyakini semua berjalan dengan takdir Allah, tak ada usaha manusia).   Bid’ah amaliyyah adalah menyembah Allah tanpa memakai tuntunan dari Allah dan Rasul-Nya. Bentuknya bisa jadi membuat amalan baru, menambahkan atau melakukan pengurangan dalam ibadah yang disyari’atkan. Contoh: mendirikan bangunan di atas kubur, berdo’a di sisi kubur, membangun masjid di atas kubur atau di area pekuburan, menjadikan perayaan (haul) di sisi kubur, atau membuat perayaan-perayaan baru yang tidak disyari’atkan.   Bid’ah at-tark adalah meninggalkan suatu yang mubah dalam rangka ibadah padahal dalam ajaran Islam tidak menganggap meninggalkannya sebagai ibadah. Contoh: meninggalkan makan daging dalam rangka ibadah, enggan menikah dan mengharap sebagai pahala (seperti yang dilakukan biarawati, pen.). Seperti ini termasuk bid’ah yang diharamkan.   Allah Ta’ala berfirman, أَمْ لَهُمْ شُرَكَاءُ شَرَعُوا لَهُمْ مِنَ الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَنْ بِهِ اللَّهُ “Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah?” (QS. Asy-Syura: 21) Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ “Amma ba’du: Sebaik-baiknya perkataan adalah Kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuknya Nabi Muhammad. Sejelek-jelek perkara adalah perkara yang baru dan setiap perkara bid’ah adalah sesat.” (HR. Muslim, no. 867) Bid’ah pertama di atas tentu lebih parah daripada bid’ah lainnya karena berkaitan dengan masalah i’tiqad atau keyakinan. Semoga Allah menjauhkan kita dari setiap bid’ah yang menyesatkan.   Referensi: Al-Mukhtashor fi Al-‘Aqidah. Cetakan kedua, tahun 1433 H. Prof. Dr. Khalid bin ‘Ali Al-Musyaiqih. Penerbit Maktabah Ar-Rusyd. — @ DS, Panggang, Gunungkidul, 13 Rabi’ul Awwal 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagsbid'ah bid'ah hasanah

Bid’ah yang Paling Parah

  Pernah dengar istilah bid’ah? Bid’ah secara etimologi (bahasa) berarti suatu yang baru, yang tidak ada contoh sebelumnya. Namun kalau maksud bid’ah secara terminologi (istilah) adalah setiap i’tiqad, perkataan, perbuatan dalam rangka beribadah pada Allah Ta’ala yang tidak ada dalil yang mendukung pensyari’atannya atau bentuknya karena meninggalkan sesuatu karena Allah. Ternyata bid’ah itu bukan sekedar amalan yang tidak ada tuntunan saja. Bid’ah itu bertingkat-tingkat, ada bid’ah yang paling parah. Bid’ah dibagi menjadi tiga: Bid’ah i’tiqadiyyah Bid’ah ‘amaliyyah Bid’ah at-tark Bid’ah i’tiqadiyyah adalah bid’ah yang menyelisihi firman Allah dan sabda Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hal keyakinan atau akidah. Contoh: bid’ah tamtsil (menyatakan Allah semisal makhluk), bid’ah ta’thil (menolak nama dan sifat Allah), bid’ah qadariyyah (menolak takdir Allah), bid’ah jabariyyah (meyakini semua berjalan dengan takdir Allah, tak ada usaha manusia).   Bid’ah amaliyyah adalah menyembah Allah tanpa memakai tuntunan dari Allah dan Rasul-Nya. Bentuknya bisa jadi membuat amalan baru, menambahkan atau melakukan pengurangan dalam ibadah yang disyari’atkan. Contoh: mendirikan bangunan di atas kubur, berdo’a di sisi kubur, membangun masjid di atas kubur atau di area pekuburan, menjadikan perayaan (haul) di sisi kubur, atau membuat perayaan-perayaan baru yang tidak disyari’atkan.   Bid’ah at-tark adalah meninggalkan suatu yang mubah dalam rangka ibadah padahal dalam ajaran Islam tidak menganggap meninggalkannya sebagai ibadah. Contoh: meninggalkan makan daging dalam rangka ibadah, enggan menikah dan mengharap sebagai pahala (seperti yang dilakukan biarawati, pen.). Seperti ini termasuk bid’ah yang diharamkan.   Allah Ta’ala berfirman, أَمْ لَهُمْ شُرَكَاءُ شَرَعُوا لَهُمْ مِنَ الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَنْ بِهِ اللَّهُ “Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah?” (QS. Asy-Syura: 21) Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ “Amma ba’du: Sebaik-baiknya perkataan adalah Kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuknya Nabi Muhammad. Sejelek-jelek perkara adalah perkara yang baru dan setiap perkara bid’ah adalah sesat.” (HR. Muslim, no. 867) Bid’ah pertama di atas tentu lebih parah daripada bid’ah lainnya karena berkaitan dengan masalah i’tiqad atau keyakinan. Semoga Allah menjauhkan kita dari setiap bid’ah yang menyesatkan.   Referensi: Al-Mukhtashor fi Al-‘Aqidah. Cetakan kedua, tahun 1433 H. Prof. Dr. Khalid bin ‘Ali Al-Musyaiqih. Penerbit Maktabah Ar-Rusyd. — @ DS, Panggang, Gunungkidul, 13 Rabi’ul Awwal 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagsbid'ah bid'ah hasanah
  Pernah dengar istilah bid’ah? Bid’ah secara etimologi (bahasa) berarti suatu yang baru, yang tidak ada contoh sebelumnya. Namun kalau maksud bid’ah secara terminologi (istilah) adalah setiap i’tiqad, perkataan, perbuatan dalam rangka beribadah pada Allah Ta’ala yang tidak ada dalil yang mendukung pensyari’atannya atau bentuknya karena meninggalkan sesuatu karena Allah. Ternyata bid’ah itu bukan sekedar amalan yang tidak ada tuntunan saja. Bid’ah itu bertingkat-tingkat, ada bid’ah yang paling parah. Bid’ah dibagi menjadi tiga: Bid’ah i’tiqadiyyah Bid’ah ‘amaliyyah Bid’ah at-tark Bid’ah i’tiqadiyyah adalah bid’ah yang menyelisihi firman Allah dan sabda Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hal keyakinan atau akidah. Contoh: bid’ah tamtsil (menyatakan Allah semisal makhluk), bid’ah ta’thil (menolak nama dan sifat Allah), bid’ah qadariyyah (menolak takdir Allah), bid’ah jabariyyah (meyakini semua berjalan dengan takdir Allah, tak ada usaha manusia).   Bid’ah amaliyyah adalah menyembah Allah tanpa memakai tuntunan dari Allah dan Rasul-Nya. Bentuknya bisa jadi membuat amalan baru, menambahkan atau melakukan pengurangan dalam ibadah yang disyari’atkan. Contoh: mendirikan bangunan di atas kubur, berdo’a di sisi kubur, membangun masjid di atas kubur atau di area pekuburan, menjadikan perayaan (haul) di sisi kubur, atau membuat perayaan-perayaan baru yang tidak disyari’atkan.   Bid’ah at-tark adalah meninggalkan suatu yang mubah dalam rangka ibadah padahal dalam ajaran Islam tidak menganggap meninggalkannya sebagai ibadah. Contoh: meninggalkan makan daging dalam rangka ibadah, enggan menikah dan mengharap sebagai pahala (seperti yang dilakukan biarawati, pen.). Seperti ini termasuk bid’ah yang diharamkan.   Allah Ta’ala berfirman, أَمْ لَهُمْ شُرَكَاءُ شَرَعُوا لَهُمْ مِنَ الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَنْ بِهِ اللَّهُ “Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah?” (QS. Asy-Syura: 21) Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ “Amma ba’du: Sebaik-baiknya perkataan adalah Kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuknya Nabi Muhammad. Sejelek-jelek perkara adalah perkara yang baru dan setiap perkara bid’ah adalah sesat.” (HR. Muslim, no. 867) Bid’ah pertama di atas tentu lebih parah daripada bid’ah lainnya karena berkaitan dengan masalah i’tiqad atau keyakinan. Semoga Allah menjauhkan kita dari setiap bid’ah yang menyesatkan.   Referensi: Al-Mukhtashor fi Al-‘Aqidah. Cetakan kedua, tahun 1433 H. Prof. Dr. Khalid bin ‘Ali Al-Musyaiqih. Penerbit Maktabah Ar-Rusyd. — @ DS, Panggang, Gunungkidul, 13 Rabi’ul Awwal 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagsbid'ah bid'ah hasanah


  Pernah dengar istilah bid’ah? Bid’ah secara etimologi (bahasa) berarti suatu yang baru, yang tidak ada contoh sebelumnya. Namun kalau maksud bid’ah secara terminologi (istilah) adalah setiap i’tiqad, perkataan, perbuatan dalam rangka beribadah pada Allah Ta’ala yang tidak ada dalil yang mendukung pensyari’atannya atau bentuknya karena meninggalkan sesuatu karena Allah. Ternyata bid’ah itu bukan sekedar amalan yang tidak ada tuntunan saja. Bid’ah itu bertingkat-tingkat, ada bid’ah yang paling parah. Bid’ah dibagi menjadi tiga: Bid’ah i’tiqadiyyah Bid’ah ‘amaliyyah Bid’ah at-tark Bid’ah i’tiqadiyyah adalah bid’ah yang menyelisihi firman Allah dan sabda Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hal keyakinan atau akidah. Contoh: bid’ah tamtsil (menyatakan Allah semisal makhluk), bid’ah ta’thil (menolak nama dan sifat Allah), bid’ah qadariyyah (menolak takdir Allah), bid’ah jabariyyah (meyakini semua berjalan dengan takdir Allah, tak ada usaha manusia).   Bid’ah amaliyyah adalah menyembah Allah tanpa memakai tuntunan dari Allah dan Rasul-Nya. Bentuknya bisa jadi membuat amalan baru, menambahkan atau melakukan pengurangan dalam ibadah yang disyari’atkan. Contoh: mendirikan bangunan di atas kubur, berdo’a di sisi kubur, membangun masjid di atas kubur atau di area pekuburan, menjadikan perayaan (haul) di sisi kubur, atau membuat perayaan-perayaan baru yang tidak disyari’atkan.   Bid’ah at-tark adalah meninggalkan suatu yang mubah dalam rangka ibadah padahal dalam ajaran Islam tidak menganggap meninggalkannya sebagai ibadah. Contoh: meninggalkan makan daging dalam rangka ibadah, enggan menikah dan mengharap sebagai pahala (seperti yang dilakukan biarawati, pen.). Seperti ini termasuk bid’ah yang diharamkan.   Allah Ta’ala berfirman, أَمْ لَهُمْ شُرَكَاءُ شَرَعُوا لَهُمْ مِنَ الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَنْ بِهِ اللَّهُ “Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah?” (QS. Asy-Syura: 21) Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ “Amma ba’du: Sebaik-baiknya perkataan adalah Kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuknya Nabi Muhammad. Sejelek-jelek perkara adalah perkara yang baru dan setiap perkara bid’ah adalah sesat.” (HR. Muslim, no. 867) Bid’ah pertama di atas tentu lebih parah daripada bid’ah lainnya karena berkaitan dengan masalah i’tiqad atau keyakinan. Semoga Allah menjauhkan kita dari setiap bid’ah yang menyesatkan.   Referensi: Al-Mukhtashor fi Al-‘Aqidah. Cetakan kedua, tahun 1433 H. Prof. Dr. Khalid bin ‘Ali Al-Musyaiqih. Penerbit Maktabah Ar-Rusyd. — @ DS, Panggang, Gunungkidul, 13 Rabi’ul Awwal 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagsbid'ah bid'ah hasanah
Prev     Next