Apa Hukum Mempelajari Bahasa Arab?

Apa hukum mempelajari bahasa Arab? Apa setiap muslim wajib mempelajari bahasa Arab?   Mempelajari bahasa Arab adalah fardhu kifayah, artinya harus ada sebagian orang yang mempelajarinya. Tujuan bahasa Arab dipelajari adalah supaya mudah dalam memahami Al-Qur’an sebagai referensi kita dalam kehidupan. Tadi pandangan dari sisi umat. Namun jika dipandang tiap individu, setiap orang harus mempelajari bahasa Arab sekadar ilmu wajib yang bisa membantunya untuk menjalankan yang wajib seperti membantunya untuk shalat, membaca Al-Qur’an atau berdzikir. Karena amalan-amalan tadi tidak bisa kecuali dengan bahasa Arab. Berarti harus bisa baca Al-Qur’an dengan bahasa Arab walau hanya dari hafalan, bisa shalat dengan bacaan bahasa Arab, begitu pula harus bisa berdzikir memakai bahasa Arab.   Imam Syafi’i rahimahullah pernah berkata, يَجِبُ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ أَنْ يَتَعَلَّمَ مِنْ لِسَانِ العَرَبِ مَا يَبْلُغُ جُهْدَهُ فِي أَدَاءِ فَرْضِهِ “Wajib bagi setiap muslim untuk mempelajari bahasa Arab dengan sekuat tenaga agar bisa menjalankan yang wajib.”   Selain untuk bisa menjalankan yang wajib dengan bahasa Arab, mempelajari bahasa Arab untuk maksud lainnya dihukumi sunnah. Adapun orang yang ingin paham syari’at secara mendalam tetap wajib baginya mempelajari bahasa Arab supaya bisa memahami Al-Qur’an dan ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan benar.   Imam Asy-Syathibi berkata, “Al-Qur’an itu diturunkan dengan bahasa Arab secara keseluruhan. Untuk memahaminya dituntut harus dengan mempelajari bahasa Arab secara khusus. Karena Allah Ta’ala berfirman, إِنَّا أَنزلْنَاهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ “Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al Quran dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya.” (QS. Yusuf: 2) بِلِسَانٍ عَرَبِيٍّ مُبِينٍ “Dengan bahasa Arab yang jelas.” (QS. Asy-Syu’ara: 195). لِسَانُ الَّذِي يُلْحِدُونَ إِلَيْهِ أَعْجَمِيٌّ وَهَذَا لِسَانٌ عَرَبِيٌّ مُبِينٌ “Padahal bahasa orang yang mereka tuduhkan (bahwa) Muhammad belajar kepadanya bahasa ‘Ajam, sedang Al Quran adalah dalam bahasa Arab yang terang.” (QS. An-Nahl: 103)   Dan memang memahami bahasa Arab akan mudah untuk memahami kalamullah, Al-Qur’an.   Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,  “Sudah semestinya untuk Al-Qur’an dan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dipahami lafazhnya dengan yang diinginkan Allah dan Rasul-Nya. Bagaimana kalam Allah bisa dipahami? Tentu dengan mempelajari bahasa Arab di mana bahasa inilah yang dijadikan bahasa dialog dengan kita. Dari pemahaman pada bahasa itulah kita bisa tahu kehendak Allah dan Rasul-Nya.”(Majmu’ah Al-Fatawa, 7: 116)   Sumber rujukan: http://fatwa.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&lang=A&Id=31941   — Selesai disusun di Panggang, Gunungkidul, Darush Sholihin, malam 4 Rabi’uts Tsani 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsbahasa arab belajar

Apa Hukum Mempelajari Bahasa Arab?

Apa hukum mempelajari bahasa Arab? Apa setiap muslim wajib mempelajari bahasa Arab?   Mempelajari bahasa Arab adalah fardhu kifayah, artinya harus ada sebagian orang yang mempelajarinya. Tujuan bahasa Arab dipelajari adalah supaya mudah dalam memahami Al-Qur’an sebagai referensi kita dalam kehidupan. Tadi pandangan dari sisi umat. Namun jika dipandang tiap individu, setiap orang harus mempelajari bahasa Arab sekadar ilmu wajib yang bisa membantunya untuk menjalankan yang wajib seperti membantunya untuk shalat, membaca Al-Qur’an atau berdzikir. Karena amalan-amalan tadi tidak bisa kecuali dengan bahasa Arab. Berarti harus bisa baca Al-Qur’an dengan bahasa Arab walau hanya dari hafalan, bisa shalat dengan bacaan bahasa Arab, begitu pula harus bisa berdzikir memakai bahasa Arab.   Imam Syafi’i rahimahullah pernah berkata, يَجِبُ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ أَنْ يَتَعَلَّمَ مِنْ لِسَانِ العَرَبِ مَا يَبْلُغُ جُهْدَهُ فِي أَدَاءِ فَرْضِهِ “Wajib bagi setiap muslim untuk mempelajari bahasa Arab dengan sekuat tenaga agar bisa menjalankan yang wajib.”   Selain untuk bisa menjalankan yang wajib dengan bahasa Arab, mempelajari bahasa Arab untuk maksud lainnya dihukumi sunnah. Adapun orang yang ingin paham syari’at secara mendalam tetap wajib baginya mempelajari bahasa Arab supaya bisa memahami Al-Qur’an dan ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan benar.   Imam Asy-Syathibi berkata, “Al-Qur’an itu diturunkan dengan bahasa Arab secara keseluruhan. Untuk memahaminya dituntut harus dengan mempelajari bahasa Arab secara khusus. Karena Allah Ta’ala berfirman, إِنَّا أَنزلْنَاهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ “Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al Quran dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya.” (QS. Yusuf: 2) بِلِسَانٍ عَرَبِيٍّ مُبِينٍ “Dengan bahasa Arab yang jelas.” (QS. Asy-Syu’ara: 195). لِسَانُ الَّذِي يُلْحِدُونَ إِلَيْهِ أَعْجَمِيٌّ وَهَذَا لِسَانٌ عَرَبِيٌّ مُبِينٌ “Padahal bahasa orang yang mereka tuduhkan (bahwa) Muhammad belajar kepadanya bahasa ‘Ajam, sedang Al Quran adalah dalam bahasa Arab yang terang.” (QS. An-Nahl: 103)   Dan memang memahami bahasa Arab akan mudah untuk memahami kalamullah, Al-Qur’an.   Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,  “Sudah semestinya untuk Al-Qur’an dan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dipahami lafazhnya dengan yang diinginkan Allah dan Rasul-Nya. Bagaimana kalam Allah bisa dipahami? Tentu dengan mempelajari bahasa Arab di mana bahasa inilah yang dijadikan bahasa dialog dengan kita. Dari pemahaman pada bahasa itulah kita bisa tahu kehendak Allah dan Rasul-Nya.”(Majmu’ah Al-Fatawa, 7: 116)   Sumber rujukan: http://fatwa.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&lang=A&Id=31941   — Selesai disusun di Panggang, Gunungkidul, Darush Sholihin, malam 4 Rabi’uts Tsani 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsbahasa arab belajar
Apa hukum mempelajari bahasa Arab? Apa setiap muslim wajib mempelajari bahasa Arab?   Mempelajari bahasa Arab adalah fardhu kifayah, artinya harus ada sebagian orang yang mempelajarinya. Tujuan bahasa Arab dipelajari adalah supaya mudah dalam memahami Al-Qur’an sebagai referensi kita dalam kehidupan. Tadi pandangan dari sisi umat. Namun jika dipandang tiap individu, setiap orang harus mempelajari bahasa Arab sekadar ilmu wajib yang bisa membantunya untuk menjalankan yang wajib seperti membantunya untuk shalat, membaca Al-Qur’an atau berdzikir. Karena amalan-amalan tadi tidak bisa kecuali dengan bahasa Arab. Berarti harus bisa baca Al-Qur’an dengan bahasa Arab walau hanya dari hafalan, bisa shalat dengan bacaan bahasa Arab, begitu pula harus bisa berdzikir memakai bahasa Arab.   Imam Syafi’i rahimahullah pernah berkata, يَجِبُ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ أَنْ يَتَعَلَّمَ مِنْ لِسَانِ العَرَبِ مَا يَبْلُغُ جُهْدَهُ فِي أَدَاءِ فَرْضِهِ “Wajib bagi setiap muslim untuk mempelajari bahasa Arab dengan sekuat tenaga agar bisa menjalankan yang wajib.”   Selain untuk bisa menjalankan yang wajib dengan bahasa Arab, mempelajari bahasa Arab untuk maksud lainnya dihukumi sunnah. Adapun orang yang ingin paham syari’at secara mendalam tetap wajib baginya mempelajari bahasa Arab supaya bisa memahami Al-Qur’an dan ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan benar.   Imam Asy-Syathibi berkata, “Al-Qur’an itu diturunkan dengan bahasa Arab secara keseluruhan. Untuk memahaminya dituntut harus dengan mempelajari bahasa Arab secara khusus. Karena Allah Ta’ala berfirman, إِنَّا أَنزلْنَاهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ “Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al Quran dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya.” (QS. Yusuf: 2) بِلِسَانٍ عَرَبِيٍّ مُبِينٍ “Dengan bahasa Arab yang jelas.” (QS. Asy-Syu’ara: 195). لِسَانُ الَّذِي يُلْحِدُونَ إِلَيْهِ أَعْجَمِيٌّ وَهَذَا لِسَانٌ عَرَبِيٌّ مُبِينٌ “Padahal bahasa orang yang mereka tuduhkan (bahwa) Muhammad belajar kepadanya bahasa ‘Ajam, sedang Al Quran adalah dalam bahasa Arab yang terang.” (QS. An-Nahl: 103)   Dan memang memahami bahasa Arab akan mudah untuk memahami kalamullah, Al-Qur’an.   Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,  “Sudah semestinya untuk Al-Qur’an dan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dipahami lafazhnya dengan yang diinginkan Allah dan Rasul-Nya. Bagaimana kalam Allah bisa dipahami? Tentu dengan mempelajari bahasa Arab di mana bahasa inilah yang dijadikan bahasa dialog dengan kita. Dari pemahaman pada bahasa itulah kita bisa tahu kehendak Allah dan Rasul-Nya.”(Majmu’ah Al-Fatawa, 7: 116)   Sumber rujukan: http://fatwa.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&lang=A&Id=31941   — Selesai disusun di Panggang, Gunungkidul, Darush Sholihin, malam 4 Rabi’uts Tsani 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsbahasa arab belajar


Apa hukum mempelajari bahasa Arab? Apa setiap muslim wajib mempelajari bahasa Arab?   Mempelajari bahasa Arab adalah fardhu kifayah, artinya harus ada sebagian orang yang mempelajarinya. Tujuan bahasa Arab dipelajari adalah supaya mudah dalam memahami Al-Qur’an sebagai referensi kita dalam kehidupan. Tadi pandangan dari sisi umat. Namun jika dipandang tiap individu, setiap orang harus mempelajari bahasa Arab sekadar ilmu wajib yang bisa membantunya untuk menjalankan yang wajib seperti membantunya untuk shalat, membaca Al-Qur’an atau berdzikir. Karena amalan-amalan tadi tidak bisa kecuali dengan bahasa Arab. Berarti harus bisa baca Al-Qur’an dengan bahasa Arab walau hanya dari hafalan, bisa shalat dengan bacaan bahasa Arab, begitu pula harus bisa berdzikir memakai bahasa Arab.   Imam Syafi’i rahimahullah pernah berkata, يَجِبُ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ أَنْ يَتَعَلَّمَ مِنْ لِسَانِ العَرَبِ مَا يَبْلُغُ جُهْدَهُ فِي أَدَاءِ فَرْضِهِ “Wajib bagi setiap muslim untuk mempelajari bahasa Arab dengan sekuat tenaga agar bisa menjalankan yang wajib.”   Selain untuk bisa menjalankan yang wajib dengan bahasa Arab, mempelajari bahasa Arab untuk maksud lainnya dihukumi sunnah. Adapun orang yang ingin paham syari’at secara mendalam tetap wajib baginya mempelajari bahasa Arab supaya bisa memahami Al-Qur’an dan ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan benar.   Imam Asy-Syathibi berkata, “Al-Qur’an itu diturunkan dengan bahasa Arab secara keseluruhan. Untuk memahaminya dituntut harus dengan mempelajari bahasa Arab secara khusus. Karena Allah Ta’ala berfirman, إِنَّا أَنزلْنَاهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ “Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al Quran dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya.” (QS. Yusuf: 2) بِلِسَانٍ عَرَبِيٍّ مُبِينٍ “Dengan bahasa Arab yang jelas.” (QS. Asy-Syu’ara: 195). لِسَانُ الَّذِي يُلْحِدُونَ إِلَيْهِ أَعْجَمِيٌّ وَهَذَا لِسَانٌ عَرَبِيٌّ مُبِينٌ “Padahal bahasa orang yang mereka tuduhkan (bahwa) Muhammad belajar kepadanya bahasa ‘Ajam, sedang Al Quran adalah dalam bahasa Arab yang terang.” (QS. An-Nahl: 103)   Dan memang memahami bahasa Arab akan mudah untuk memahami kalamullah, Al-Qur’an.   Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,  “Sudah semestinya untuk Al-Qur’an dan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dipahami lafazhnya dengan yang diinginkan Allah dan Rasul-Nya. Bagaimana kalam Allah bisa dipahami? Tentu dengan mempelajari bahasa Arab di mana bahasa inilah yang dijadikan bahasa dialog dengan kita. Dari pemahaman pada bahasa itulah kita bisa tahu kehendak Allah dan Rasul-Nya.”(Majmu’ah Al-Fatawa, 7: 116)   Sumber rujukan: http://fatwa.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&lang=A&Id=31941   — Selesai disusun di Panggang, Gunungkidul, Darush Sholihin, malam 4 Rabi’uts Tsani 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsbahasa arab belajar

7 Alasan Harus Belajar Bahasa Arab

Kenapa mesti belajar bahasa Arab? Apa manfaatnya? Walau kita bukan orang Arab, namun manfaatnya cukup besar jika kita mau mempelajari bahasa Arab. Ini beberapa alasan kenapa kita mesti luangkan waktu untuk belajar bahasa Arab.   Pertama: Keutamaan bahasa Arab amatlah jelas karena bahasa Arab adalah bahasa Al-Qur’an Al-Karim. Cukup alasan inilah yang jadi alasan besar kenapa kita harus mempelajari bahasa Arab. Keistimewaan bahasa Arab disebutkan dalam Al-Qur’an lebih dari sepuluh tempat, di antaranya pada ayat, وَلَقَدْ ضَرَبْنَا لِلنَّاسِ فِي هَذَا الْقُرْآنِ مِنْ كُلِّ مَثَلٍ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ . قُرْآنًا عَرَبِيًّا غَيْرَ ذِي عِوَجٍ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ “Sesungguhnya telah Kami buatkan bagi manusia dalam Al Quran ini setiap macam perumpamaan supaya mereka dapat pelajaran. (Ialah) Al Quran dalam bahasa Arab yang tidak ada kebengkokan (di dalamnya) supaya mereka bertakwa.” (QS. Az-Zumar: 27-28) Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, اللِّسَانُ العَرَبِي شِعَارُ الإِسْلاَمِ وَأَهْلِهِ “Bahasa Arab adalah syi’ar Islam dan syi’ar kaum muslimin.” Disebutkan dalam Iqtidha’ Shirath Al-Mustaqim.   Kedua: Dengan mempelajari bahasa Arab lebih mudah dalam menghafalkan, memahami, mengajarkan dan mengamalkan isi Al-Qur’an. Dengan modal bahasa Arab akan mudah pula dalam memahami hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, menghafalkan, menjelaskan serta mengamalkannya.   Ketiga: Orang yang paham bahasa Arab, terutama paham kaedah-kaedah dalam ilmu nahwu akan semakin mudah memahami Islam daripada yang tidak mempelajarinya sama sekali. Apalagi jika tugas seseorang sebagai penyampai dakwah, menjadi seorang da’i, kyai atau ustadz, tentu lebih urgent lagi mempelajarinya agar mudah memberikan pemahaman agama yang benar pada orang banyak.   Keempat: Orang yang paham bahasa Arab akan mudah menggali ilmu dari ulama secara langsung atau membaca berbagai karya ulama yang sudah banyak tersebar hingga saat ini. Sedangkan yang tidak paham bahasa Arab hanya bisa mengandalkan kitab terjemahan dan itu sifatnya terbatas.   Kelima: Bahasa Arab itu bahasa yang lembut dan lebih mengenakkan hati, serta menentramkan jiwa. Ibnu Katsir saat menjelaskan surat Yusuf ayat kedua menyatakan, لأن لغة العرب أفصح اللغات وأبينها وأوسعها، وأكثرها تأدية للمعاني التي تقوم بالنفوس “Karena bahasa Arab adalah bahasa yang paling fasih, paling jelas, paling luas (kosakatanya), dan paling banyak mengandung makna yang menentramkan jiwa.”   Keenam: Bahasa Arab adalah bahasa yang paling mulia. Ibnu Katsir rahimahullah juga menyatakan, فلهذا أنزلَ أشرف الكتب بأشرف اللغات، على أشرف الرسل، بسفارة أشرف الملائكة، وكان ذلك في أشرف بقاع الأرض، وابتدئ إنزاله في أشرف شهور السنة وهو رمضان، فكمل من كل الوجوه “Karena Al-Qur’an adalah kitab yang paling mulia, diturunkan dengan bahasa yang paling mulia, diajarkan pada Rasul yang paling mulia, disampaikan oleh malaikat yang paling mulia, diturunkan di tempat yang paling mulia di muka bumi, diturunkan pula di bulan yang mulia yaitu bulan Ramadhan. Dari berbagai sisi itu, kita bisa menilai bagaimanakah mulianya kitab suci Al-Qur’an.” Oleh karena itu Allah nyatakan tentang bahasa Arab, إِنَّا أَنزلْنَاهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ “Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al Quran dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya.” (QS. Yusuf: 2)   Ketujuh: Bahasa Arab adalah bahasa yang lurus, mudah dipahami dan mudah digunakan sebagai hukum bagi manusia. Allah menyatakan sendiri, قُرْآَنًا عَرَبِيًّا غَيْرَ ذِي عِوَجٍ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ “(Ialah) Al-Qur’an dalam bahasa Arab yang tidak ada kebengkokan (di dalamnya) supaya mereka bertakwa.” (QS. Az-Zumar: 28) Dalam ayat lain disebutkan, وَإِنَّهُ لَتَنْزِيلُ رَبِّ الْعَالَمِينَ (192) نَزَلَ بِهِ الرُّوحُ الْأَمِينُ (193) عَلَى قَلْبِكَ لِتَكُونَ مِنَ الْمُنْذِرِينَ (194) بِلِسَانٍ عَرَبِيٍّ مُبِينٍ (195) “Dan sesungguhnya Al Quran ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam, dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan, dengan bahasa Arab yang jelas.” (QS. Asy-Syu’ara: 192-195). Sebagaimana disebutkan dalam Zaad Al-Masiir karya Ibnul Jauzi, Al-Qur’an diturunkan dengan bahasa Arab yaitu bahasanya orang Quraisy yang setiap orang mudah memahaminya. Juga dalam ayat lain disebutkan, وَكَذَلِكَ أَنْزَلْنَاهُ حُكْمًا عَرَبِيًّا “Dan demikianlah, Kami telah menurunkan Al Quran itu sebagai peraturan (yang benar) dalam bahasa Arab.” (QS. Ar-Ra’du: 37). Disebutkan dalam Tafsir Al-Jalalain, bahasa Arab digunakan sebagai hukum di tengah-tengah manusia. Dalam Zaad Al-Masiir disebutkan bahwa bahasa Arab bisa digunakan untuk menerangkan hukum-hukum yang wajib. Masih tak tergerak hati Anda untuk mempelajari bahasa yang paling mulia dan dicintai oleh Allah? Semoga Allah mudahkan untuk mempelajari bahasa Arab. Ihrish ‘ala maa yanfa’uk, semangatlah dalam hal yang manfaat untukmu. — Selesai disusun di Darush Sholihin, Panggang, GK, 2 Rabi’uts Tsani 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsbahasa arab belajar

7 Alasan Harus Belajar Bahasa Arab

Kenapa mesti belajar bahasa Arab? Apa manfaatnya? Walau kita bukan orang Arab, namun manfaatnya cukup besar jika kita mau mempelajari bahasa Arab. Ini beberapa alasan kenapa kita mesti luangkan waktu untuk belajar bahasa Arab.   Pertama: Keutamaan bahasa Arab amatlah jelas karena bahasa Arab adalah bahasa Al-Qur’an Al-Karim. Cukup alasan inilah yang jadi alasan besar kenapa kita harus mempelajari bahasa Arab. Keistimewaan bahasa Arab disebutkan dalam Al-Qur’an lebih dari sepuluh tempat, di antaranya pada ayat, وَلَقَدْ ضَرَبْنَا لِلنَّاسِ فِي هَذَا الْقُرْآنِ مِنْ كُلِّ مَثَلٍ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ . قُرْآنًا عَرَبِيًّا غَيْرَ ذِي عِوَجٍ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ “Sesungguhnya telah Kami buatkan bagi manusia dalam Al Quran ini setiap macam perumpamaan supaya mereka dapat pelajaran. (Ialah) Al Quran dalam bahasa Arab yang tidak ada kebengkokan (di dalamnya) supaya mereka bertakwa.” (QS. Az-Zumar: 27-28) Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, اللِّسَانُ العَرَبِي شِعَارُ الإِسْلاَمِ وَأَهْلِهِ “Bahasa Arab adalah syi’ar Islam dan syi’ar kaum muslimin.” Disebutkan dalam Iqtidha’ Shirath Al-Mustaqim.   Kedua: Dengan mempelajari bahasa Arab lebih mudah dalam menghafalkan, memahami, mengajarkan dan mengamalkan isi Al-Qur’an. Dengan modal bahasa Arab akan mudah pula dalam memahami hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, menghafalkan, menjelaskan serta mengamalkannya.   Ketiga: Orang yang paham bahasa Arab, terutama paham kaedah-kaedah dalam ilmu nahwu akan semakin mudah memahami Islam daripada yang tidak mempelajarinya sama sekali. Apalagi jika tugas seseorang sebagai penyampai dakwah, menjadi seorang da’i, kyai atau ustadz, tentu lebih urgent lagi mempelajarinya agar mudah memberikan pemahaman agama yang benar pada orang banyak.   Keempat: Orang yang paham bahasa Arab akan mudah menggali ilmu dari ulama secara langsung atau membaca berbagai karya ulama yang sudah banyak tersebar hingga saat ini. Sedangkan yang tidak paham bahasa Arab hanya bisa mengandalkan kitab terjemahan dan itu sifatnya terbatas.   Kelima: Bahasa Arab itu bahasa yang lembut dan lebih mengenakkan hati, serta menentramkan jiwa. Ibnu Katsir saat menjelaskan surat Yusuf ayat kedua menyatakan, لأن لغة العرب أفصح اللغات وأبينها وأوسعها، وأكثرها تأدية للمعاني التي تقوم بالنفوس “Karena bahasa Arab adalah bahasa yang paling fasih, paling jelas, paling luas (kosakatanya), dan paling banyak mengandung makna yang menentramkan jiwa.”   Keenam: Bahasa Arab adalah bahasa yang paling mulia. Ibnu Katsir rahimahullah juga menyatakan, فلهذا أنزلَ أشرف الكتب بأشرف اللغات، على أشرف الرسل، بسفارة أشرف الملائكة، وكان ذلك في أشرف بقاع الأرض، وابتدئ إنزاله في أشرف شهور السنة وهو رمضان، فكمل من كل الوجوه “Karena Al-Qur’an adalah kitab yang paling mulia, diturunkan dengan bahasa yang paling mulia, diajarkan pada Rasul yang paling mulia, disampaikan oleh malaikat yang paling mulia, diturunkan di tempat yang paling mulia di muka bumi, diturunkan pula di bulan yang mulia yaitu bulan Ramadhan. Dari berbagai sisi itu, kita bisa menilai bagaimanakah mulianya kitab suci Al-Qur’an.” Oleh karena itu Allah nyatakan tentang bahasa Arab, إِنَّا أَنزلْنَاهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ “Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al Quran dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya.” (QS. Yusuf: 2)   Ketujuh: Bahasa Arab adalah bahasa yang lurus, mudah dipahami dan mudah digunakan sebagai hukum bagi manusia. Allah menyatakan sendiri, قُرْآَنًا عَرَبِيًّا غَيْرَ ذِي عِوَجٍ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ “(Ialah) Al-Qur’an dalam bahasa Arab yang tidak ada kebengkokan (di dalamnya) supaya mereka bertakwa.” (QS. Az-Zumar: 28) Dalam ayat lain disebutkan, وَإِنَّهُ لَتَنْزِيلُ رَبِّ الْعَالَمِينَ (192) نَزَلَ بِهِ الرُّوحُ الْأَمِينُ (193) عَلَى قَلْبِكَ لِتَكُونَ مِنَ الْمُنْذِرِينَ (194) بِلِسَانٍ عَرَبِيٍّ مُبِينٍ (195) “Dan sesungguhnya Al Quran ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam, dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan, dengan bahasa Arab yang jelas.” (QS. Asy-Syu’ara: 192-195). Sebagaimana disebutkan dalam Zaad Al-Masiir karya Ibnul Jauzi, Al-Qur’an diturunkan dengan bahasa Arab yaitu bahasanya orang Quraisy yang setiap orang mudah memahaminya. Juga dalam ayat lain disebutkan, وَكَذَلِكَ أَنْزَلْنَاهُ حُكْمًا عَرَبِيًّا “Dan demikianlah, Kami telah menurunkan Al Quran itu sebagai peraturan (yang benar) dalam bahasa Arab.” (QS. Ar-Ra’du: 37). Disebutkan dalam Tafsir Al-Jalalain, bahasa Arab digunakan sebagai hukum di tengah-tengah manusia. Dalam Zaad Al-Masiir disebutkan bahwa bahasa Arab bisa digunakan untuk menerangkan hukum-hukum yang wajib. Masih tak tergerak hati Anda untuk mempelajari bahasa yang paling mulia dan dicintai oleh Allah? Semoga Allah mudahkan untuk mempelajari bahasa Arab. Ihrish ‘ala maa yanfa’uk, semangatlah dalam hal yang manfaat untukmu. — Selesai disusun di Darush Sholihin, Panggang, GK, 2 Rabi’uts Tsani 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsbahasa arab belajar
Kenapa mesti belajar bahasa Arab? Apa manfaatnya? Walau kita bukan orang Arab, namun manfaatnya cukup besar jika kita mau mempelajari bahasa Arab. Ini beberapa alasan kenapa kita mesti luangkan waktu untuk belajar bahasa Arab.   Pertama: Keutamaan bahasa Arab amatlah jelas karena bahasa Arab adalah bahasa Al-Qur’an Al-Karim. Cukup alasan inilah yang jadi alasan besar kenapa kita harus mempelajari bahasa Arab. Keistimewaan bahasa Arab disebutkan dalam Al-Qur’an lebih dari sepuluh tempat, di antaranya pada ayat, وَلَقَدْ ضَرَبْنَا لِلنَّاسِ فِي هَذَا الْقُرْآنِ مِنْ كُلِّ مَثَلٍ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ . قُرْآنًا عَرَبِيًّا غَيْرَ ذِي عِوَجٍ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ “Sesungguhnya telah Kami buatkan bagi manusia dalam Al Quran ini setiap macam perumpamaan supaya mereka dapat pelajaran. (Ialah) Al Quran dalam bahasa Arab yang tidak ada kebengkokan (di dalamnya) supaya mereka bertakwa.” (QS. Az-Zumar: 27-28) Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, اللِّسَانُ العَرَبِي شِعَارُ الإِسْلاَمِ وَأَهْلِهِ “Bahasa Arab adalah syi’ar Islam dan syi’ar kaum muslimin.” Disebutkan dalam Iqtidha’ Shirath Al-Mustaqim.   Kedua: Dengan mempelajari bahasa Arab lebih mudah dalam menghafalkan, memahami, mengajarkan dan mengamalkan isi Al-Qur’an. Dengan modal bahasa Arab akan mudah pula dalam memahami hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, menghafalkan, menjelaskan serta mengamalkannya.   Ketiga: Orang yang paham bahasa Arab, terutama paham kaedah-kaedah dalam ilmu nahwu akan semakin mudah memahami Islam daripada yang tidak mempelajarinya sama sekali. Apalagi jika tugas seseorang sebagai penyampai dakwah, menjadi seorang da’i, kyai atau ustadz, tentu lebih urgent lagi mempelajarinya agar mudah memberikan pemahaman agama yang benar pada orang banyak.   Keempat: Orang yang paham bahasa Arab akan mudah menggali ilmu dari ulama secara langsung atau membaca berbagai karya ulama yang sudah banyak tersebar hingga saat ini. Sedangkan yang tidak paham bahasa Arab hanya bisa mengandalkan kitab terjemahan dan itu sifatnya terbatas.   Kelima: Bahasa Arab itu bahasa yang lembut dan lebih mengenakkan hati, serta menentramkan jiwa. Ibnu Katsir saat menjelaskan surat Yusuf ayat kedua menyatakan, لأن لغة العرب أفصح اللغات وأبينها وأوسعها، وأكثرها تأدية للمعاني التي تقوم بالنفوس “Karena bahasa Arab adalah bahasa yang paling fasih, paling jelas, paling luas (kosakatanya), dan paling banyak mengandung makna yang menentramkan jiwa.”   Keenam: Bahasa Arab adalah bahasa yang paling mulia. Ibnu Katsir rahimahullah juga menyatakan, فلهذا أنزلَ أشرف الكتب بأشرف اللغات، على أشرف الرسل، بسفارة أشرف الملائكة، وكان ذلك في أشرف بقاع الأرض، وابتدئ إنزاله في أشرف شهور السنة وهو رمضان، فكمل من كل الوجوه “Karena Al-Qur’an adalah kitab yang paling mulia, diturunkan dengan bahasa yang paling mulia, diajarkan pada Rasul yang paling mulia, disampaikan oleh malaikat yang paling mulia, diturunkan di tempat yang paling mulia di muka bumi, diturunkan pula di bulan yang mulia yaitu bulan Ramadhan. Dari berbagai sisi itu, kita bisa menilai bagaimanakah mulianya kitab suci Al-Qur’an.” Oleh karena itu Allah nyatakan tentang bahasa Arab, إِنَّا أَنزلْنَاهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ “Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al Quran dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya.” (QS. Yusuf: 2)   Ketujuh: Bahasa Arab adalah bahasa yang lurus, mudah dipahami dan mudah digunakan sebagai hukum bagi manusia. Allah menyatakan sendiri, قُرْآَنًا عَرَبِيًّا غَيْرَ ذِي عِوَجٍ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ “(Ialah) Al-Qur’an dalam bahasa Arab yang tidak ada kebengkokan (di dalamnya) supaya mereka bertakwa.” (QS. Az-Zumar: 28) Dalam ayat lain disebutkan, وَإِنَّهُ لَتَنْزِيلُ رَبِّ الْعَالَمِينَ (192) نَزَلَ بِهِ الرُّوحُ الْأَمِينُ (193) عَلَى قَلْبِكَ لِتَكُونَ مِنَ الْمُنْذِرِينَ (194) بِلِسَانٍ عَرَبِيٍّ مُبِينٍ (195) “Dan sesungguhnya Al Quran ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam, dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan, dengan bahasa Arab yang jelas.” (QS. Asy-Syu’ara: 192-195). Sebagaimana disebutkan dalam Zaad Al-Masiir karya Ibnul Jauzi, Al-Qur’an diturunkan dengan bahasa Arab yaitu bahasanya orang Quraisy yang setiap orang mudah memahaminya. Juga dalam ayat lain disebutkan, وَكَذَلِكَ أَنْزَلْنَاهُ حُكْمًا عَرَبِيًّا “Dan demikianlah, Kami telah menurunkan Al Quran itu sebagai peraturan (yang benar) dalam bahasa Arab.” (QS. Ar-Ra’du: 37). Disebutkan dalam Tafsir Al-Jalalain, bahasa Arab digunakan sebagai hukum di tengah-tengah manusia. Dalam Zaad Al-Masiir disebutkan bahwa bahasa Arab bisa digunakan untuk menerangkan hukum-hukum yang wajib. Masih tak tergerak hati Anda untuk mempelajari bahasa yang paling mulia dan dicintai oleh Allah? Semoga Allah mudahkan untuk mempelajari bahasa Arab. Ihrish ‘ala maa yanfa’uk, semangatlah dalam hal yang manfaat untukmu. — Selesai disusun di Darush Sholihin, Panggang, GK, 2 Rabi’uts Tsani 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsbahasa arab belajar


Kenapa mesti belajar bahasa Arab? Apa manfaatnya? Walau kita bukan orang Arab, namun manfaatnya cukup besar jika kita mau mempelajari bahasa Arab. Ini beberapa alasan kenapa kita mesti luangkan waktu untuk belajar bahasa Arab.   Pertama: Keutamaan bahasa Arab amatlah jelas karena bahasa Arab adalah bahasa Al-Qur’an Al-Karim. Cukup alasan inilah yang jadi alasan besar kenapa kita harus mempelajari bahasa Arab. Keistimewaan bahasa Arab disebutkan dalam Al-Qur’an lebih dari sepuluh tempat, di antaranya pada ayat, وَلَقَدْ ضَرَبْنَا لِلنَّاسِ فِي هَذَا الْقُرْآنِ مِنْ كُلِّ مَثَلٍ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ . قُرْآنًا عَرَبِيًّا غَيْرَ ذِي عِوَجٍ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ “Sesungguhnya telah Kami buatkan bagi manusia dalam Al Quran ini setiap macam perumpamaan supaya mereka dapat pelajaran. (Ialah) Al Quran dalam bahasa Arab yang tidak ada kebengkokan (di dalamnya) supaya mereka bertakwa.” (QS. Az-Zumar: 27-28) Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, اللِّسَانُ العَرَبِي شِعَارُ الإِسْلاَمِ وَأَهْلِهِ “Bahasa Arab adalah syi’ar Islam dan syi’ar kaum muslimin.” Disebutkan dalam Iqtidha’ Shirath Al-Mustaqim.   Kedua: Dengan mempelajari bahasa Arab lebih mudah dalam menghafalkan, memahami, mengajarkan dan mengamalkan isi Al-Qur’an. Dengan modal bahasa Arab akan mudah pula dalam memahami hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, menghafalkan, menjelaskan serta mengamalkannya.   Ketiga: Orang yang paham bahasa Arab, terutama paham kaedah-kaedah dalam ilmu nahwu akan semakin mudah memahami Islam daripada yang tidak mempelajarinya sama sekali. Apalagi jika tugas seseorang sebagai penyampai dakwah, menjadi seorang da’i, kyai atau ustadz, tentu lebih urgent lagi mempelajarinya agar mudah memberikan pemahaman agama yang benar pada orang banyak.   Keempat: Orang yang paham bahasa Arab akan mudah menggali ilmu dari ulama secara langsung atau membaca berbagai karya ulama yang sudah banyak tersebar hingga saat ini. Sedangkan yang tidak paham bahasa Arab hanya bisa mengandalkan kitab terjemahan dan itu sifatnya terbatas.   Kelima: Bahasa Arab itu bahasa yang lembut dan lebih mengenakkan hati, serta menentramkan jiwa. Ibnu Katsir saat menjelaskan surat Yusuf ayat kedua menyatakan, لأن لغة العرب أفصح اللغات وأبينها وأوسعها، وأكثرها تأدية للمعاني التي تقوم بالنفوس “Karena bahasa Arab adalah bahasa yang paling fasih, paling jelas, paling luas (kosakatanya), dan paling banyak mengandung makna yang menentramkan jiwa.”   Keenam: Bahasa Arab adalah bahasa yang paling mulia. Ibnu Katsir rahimahullah juga menyatakan, فلهذا أنزلَ أشرف الكتب بأشرف اللغات، على أشرف الرسل، بسفارة أشرف الملائكة، وكان ذلك في أشرف بقاع الأرض، وابتدئ إنزاله في أشرف شهور السنة وهو رمضان، فكمل من كل الوجوه “Karena Al-Qur’an adalah kitab yang paling mulia, diturunkan dengan bahasa yang paling mulia, diajarkan pada Rasul yang paling mulia, disampaikan oleh malaikat yang paling mulia, diturunkan di tempat yang paling mulia di muka bumi, diturunkan pula di bulan yang mulia yaitu bulan Ramadhan. Dari berbagai sisi itu, kita bisa menilai bagaimanakah mulianya kitab suci Al-Qur’an.” Oleh karena itu Allah nyatakan tentang bahasa Arab, إِنَّا أَنزلْنَاهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ “Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al Quran dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya.” (QS. Yusuf: 2)   Ketujuh: Bahasa Arab adalah bahasa yang lurus, mudah dipahami dan mudah digunakan sebagai hukum bagi manusia. Allah menyatakan sendiri, قُرْآَنًا عَرَبِيًّا غَيْرَ ذِي عِوَجٍ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ “(Ialah) Al-Qur’an dalam bahasa Arab yang tidak ada kebengkokan (di dalamnya) supaya mereka bertakwa.” (QS. Az-Zumar: 28) Dalam ayat lain disebutkan, وَإِنَّهُ لَتَنْزِيلُ رَبِّ الْعَالَمِينَ (192) نَزَلَ بِهِ الرُّوحُ الْأَمِينُ (193) عَلَى قَلْبِكَ لِتَكُونَ مِنَ الْمُنْذِرِينَ (194) بِلِسَانٍ عَرَبِيٍّ مُبِينٍ (195) “Dan sesungguhnya Al Quran ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam, dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan, dengan bahasa Arab yang jelas.” (QS. Asy-Syu’ara: 192-195). Sebagaimana disebutkan dalam Zaad Al-Masiir karya Ibnul Jauzi, Al-Qur’an diturunkan dengan bahasa Arab yaitu bahasanya orang Quraisy yang setiap orang mudah memahaminya. Juga dalam ayat lain disebutkan, وَكَذَلِكَ أَنْزَلْنَاهُ حُكْمًا عَرَبِيًّا “Dan demikianlah, Kami telah menurunkan Al Quran itu sebagai peraturan (yang benar) dalam bahasa Arab.” (QS. Ar-Ra’du: 37). Disebutkan dalam Tafsir Al-Jalalain, bahasa Arab digunakan sebagai hukum di tengah-tengah manusia. Dalam Zaad Al-Masiir disebutkan bahwa bahasa Arab bisa digunakan untuk menerangkan hukum-hukum yang wajib. Masih tak tergerak hati Anda untuk mempelajari bahasa yang paling mulia dan dicintai oleh Allah? Semoga Allah mudahkan untuk mempelajari bahasa Arab. Ihrish ‘ala maa yanfa’uk, semangatlah dalam hal yang manfaat untukmu. — Selesai disusun di Darush Sholihin, Panggang, GK, 2 Rabi’uts Tsani 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsbahasa arab belajar

Ketenangan Jiwa dalam Majelis Ilmu

Semua ingin raih ketenangan jiwa. Meskipun mencari dengan mengeluarkan biaya besar. Sehingga ada yang mencarinya lewat lantunan musik. Ada yang mencarinya lewat night club. Ada yang mencarinya di berbagai tempat rekreasi di pinggir pantai. Apakah mereka dapat ketenangan sebenarnya? Tidak, itu ketenangan semu. Ketenangan hakiki hanya didapati dengan iman. Ketenangan seperti itu didapati hanya dalam majelis ilmu syar’i.   Cobalah rasakan ketenangan lewat majelis ilmu kala Al-Qur’an disenandungkan, kala hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam disuarakan. Silakan rasakan kenikmatan yang berbeda.   Dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِى بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلاَّ نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمُ الْمَلاَئِكَةُ وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ “Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah membaca Kitabullah dan saling mengajarkan satu dan lainnya melainkan akan turun kepada mereka sakinah (ketenangan), akan dinaungi rahmat, akan dikeliling para malaikat dan Allah akan menyebut-nyebut mereka di sisi makhluk yang dimuliakan di sisi-Nya.” (HR. Muslim, no. 2699)   Ada empat keutamaan yang disebutkan bagi orang yang duduk di rumah Allah dan mempelajari kitab Allah:   Pertama: Akan raih ketenangan. Sebagaimana disebutkan saat dibacakan surat Al-Kahfi. Disebutan oleh Al-Barra’ bin ‘Azib, ia berkata, بَيْنَمَا رَجُلٌ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – يَقْرَأُ ، وَفَرَسٌ لَهُ مَرْبُوطٌ فِى الدَّارِ ، فَجَعَلَ يَنْفِرُ ، فَخَرَجَ الرَّجُلُ فَنَظَرَ فَلَمْ يَرَ شَيْئًا ، وَجَعَلَ يَنْفِرُ ، فَلَمَّا أَصْبَحَ ذَكَرَ ذَلِكَ لِلنَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – فَقَالَ « تِلْكَ السَّكِينَةُ تَنَزَّلَتْ بِالْقُرْآنِ » “Ada seseorang yang sedang membaca (surat Al-Kahfi). Di sisinya terdapat seekor kuda yang diikat di rumah. Lantas kuda tersebut lari. Pria tersebut lantas keluar dan melihat-lihat ternyata ia tidak melihat apa pun. Kuda tadi ternyata memang pergi lari. Ketika datang pagi hari, peristiwa tadi diceritakan pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lantas beliau bersabda, “Ketenangan itu datang karena Al-Qur’an.” (HR. Bukhari, no. 4839 dan Muslim, no. 795) Imam Nawawi rahimahullah menyatakan, “Itulah yang menunjukkan keutamaan membaca Al-Qur’an. Al-Qur’an itulah sebab turunnya rahmat dan hadirnya malaikat. Hadits itu juga mengandung pelajaran tentang keutamaan mendengar Al-Qur’an.” (Syarh Shahih Muslim, 6: 74)   Kedua: Akan dinaungi rahmat Allah. Dalam Al-Qur’an juga disebutkan, إِنَّ رَحْمَةَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِنَ الْمُحْسِنِينَ “Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-A’raf: 56) Dalam hadits Salman, ada yang berdzikir pada Allah, lantas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lewat ketika itu, beliau pun bersabda, “ مَا كُنْتُمْ تَقُوْلُوْنَ ؟ فَإِنِّي رَأَيْتُ الرَّحْمَةَ تَنْزِلُ عَلَيْكُمْ ، فَأَحْبَبْتُ أَنْ أُشَارِكَكُمْ فِيْهَا “Apa yang kalian ucapkan? Sungguh aku melihat rahmat turun di tengah-tengah kalian. Aku sangat suka sekali bergabung dalam majelis semacam itu.” (HR. Al-Hakim dalam Al-Mustadrak, 1: 122. Al-Hakim menshahihkannya dan disepakati oleh Imam Adz-Dzahabi).   Ketiga: Malaikat akan mengelilingi majelis ilmu. Tanda bahwasanya malaikat ridha dan suka pada orang-orang yang berada dalam majelis ilmu. وَإِنَّ الْمَلاَئِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا رِضًا لِطَالِبِ الْعِلْمِ “Sesungguhnya malaikat meletakkan sayapnya sebagai tanda ridha pada penuntut ilmu.” (HR. Abu Daud, no. 3641; Ibnu Majah, no. 223; At-Tirmidzi, no. 2682. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini dha’if. Sedangkan Syaikh Al-Albani menshahihkan hadits ini). Maksudnya, para malaikat benar-benar menghormati para penuntut ilmu. Atau maksudnya pula malaikat turun dan ikut dalam majelis ilmu. (Tuhfah Al-Ahwadzi, 7: 493)   Keempat: Akan disebut oleh Allah di sisi makhluk-makhluk mulia. Coba kalau kita di dunia ini disanjung-sanjung di hadapan presiden atau tokok terkemuka, kita pasti merasa seperti berada di atas. Pujian bagi penuntut ilmu lebih dari itu. Karena mereka disanjung-sanjung di hadapan makhluk yang mulia. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Allah Ta’ala berfirman, أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِى وَأَنَا مَعَهُ حِينَ يَذْكُرُنِى فَإِنْ ذَكَرَنِى فِى نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِى نَفْسِى وَإِنْ ذَكَرَنِى فِى مَلإٍ ذَكَرْتُهُ فِى مَلإٍ خَيْرٍ مِنْهُ “Aku sesuai dengan persangkaan hamba-Ku pada-Ku. Aku bersamanya kala ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku dalam dirinya, Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku. Jika ia mengingat-Ku di suatu kumpulan, maka aku akan menyebut-nyebutnya di kumpulan yang lebih baik daripada itu.” (HR. Muslim, no. 2675) Tak inginkah kita mendapatkan ketenangan jiwa dan keutamaan seperti dikemukakan dalam hadits di atas. Cobalah meraihnya dalam majelis ilmu syar’i, bukan pada majelis warung kopi, bukan majelis yang penuh dengan kesia-siaan. Moga Allah memberkahi waktu dan umur kita dalam kebaikan.   Referensi Utama: Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam. Cetakan kesepuluh, tahun 1432 H. Ibnu Rajab Al-Hambali. Penerbit Muassasah Ar-Risalah. — Senin saat hujan mengguyur Darush Sholihin, Warak, Girisekar, Panggang, 1 Rabi’uts Tsani 1437 H, 04: 09 PM Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsbelajar ilmu keutamaan ilmu

Ketenangan Jiwa dalam Majelis Ilmu

Semua ingin raih ketenangan jiwa. Meskipun mencari dengan mengeluarkan biaya besar. Sehingga ada yang mencarinya lewat lantunan musik. Ada yang mencarinya lewat night club. Ada yang mencarinya di berbagai tempat rekreasi di pinggir pantai. Apakah mereka dapat ketenangan sebenarnya? Tidak, itu ketenangan semu. Ketenangan hakiki hanya didapati dengan iman. Ketenangan seperti itu didapati hanya dalam majelis ilmu syar’i.   Cobalah rasakan ketenangan lewat majelis ilmu kala Al-Qur’an disenandungkan, kala hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam disuarakan. Silakan rasakan kenikmatan yang berbeda.   Dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِى بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلاَّ نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمُ الْمَلاَئِكَةُ وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ “Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah membaca Kitabullah dan saling mengajarkan satu dan lainnya melainkan akan turun kepada mereka sakinah (ketenangan), akan dinaungi rahmat, akan dikeliling para malaikat dan Allah akan menyebut-nyebut mereka di sisi makhluk yang dimuliakan di sisi-Nya.” (HR. Muslim, no. 2699)   Ada empat keutamaan yang disebutkan bagi orang yang duduk di rumah Allah dan mempelajari kitab Allah:   Pertama: Akan raih ketenangan. Sebagaimana disebutkan saat dibacakan surat Al-Kahfi. Disebutan oleh Al-Barra’ bin ‘Azib, ia berkata, بَيْنَمَا رَجُلٌ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – يَقْرَأُ ، وَفَرَسٌ لَهُ مَرْبُوطٌ فِى الدَّارِ ، فَجَعَلَ يَنْفِرُ ، فَخَرَجَ الرَّجُلُ فَنَظَرَ فَلَمْ يَرَ شَيْئًا ، وَجَعَلَ يَنْفِرُ ، فَلَمَّا أَصْبَحَ ذَكَرَ ذَلِكَ لِلنَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – فَقَالَ « تِلْكَ السَّكِينَةُ تَنَزَّلَتْ بِالْقُرْآنِ » “Ada seseorang yang sedang membaca (surat Al-Kahfi). Di sisinya terdapat seekor kuda yang diikat di rumah. Lantas kuda tersebut lari. Pria tersebut lantas keluar dan melihat-lihat ternyata ia tidak melihat apa pun. Kuda tadi ternyata memang pergi lari. Ketika datang pagi hari, peristiwa tadi diceritakan pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lantas beliau bersabda, “Ketenangan itu datang karena Al-Qur’an.” (HR. Bukhari, no. 4839 dan Muslim, no. 795) Imam Nawawi rahimahullah menyatakan, “Itulah yang menunjukkan keutamaan membaca Al-Qur’an. Al-Qur’an itulah sebab turunnya rahmat dan hadirnya malaikat. Hadits itu juga mengandung pelajaran tentang keutamaan mendengar Al-Qur’an.” (Syarh Shahih Muslim, 6: 74)   Kedua: Akan dinaungi rahmat Allah. Dalam Al-Qur’an juga disebutkan, إِنَّ رَحْمَةَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِنَ الْمُحْسِنِينَ “Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-A’raf: 56) Dalam hadits Salman, ada yang berdzikir pada Allah, lantas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lewat ketika itu, beliau pun bersabda, “ مَا كُنْتُمْ تَقُوْلُوْنَ ؟ فَإِنِّي رَأَيْتُ الرَّحْمَةَ تَنْزِلُ عَلَيْكُمْ ، فَأَحْبَبْتُ أَنْ أُشَارِكَكُمْ فِيْهَا “Apa yang kalian ucapkan? Sungguh aku melihat rahmat turun di tengah-tengah kalian. Aku sangat suka sekali bergabung dalam majelis semacam itu.” (HR. Al-Hakim dalam Al-Mustadrak, 1: 122. Al-Hakim menshahihkannya dan disepakati oleh Imam Adz-Dzahabi).   Ketiga: Malaikat akan mengelilingi majelis ilmu. Tanda bahwasanya malaikat ridha dan suka pada orang-orang yang berada dalam majelis ilmu. وَإِنَّ الْمَلاَئِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا رِضًا لِطَالِبِ الْعِلْمِ “Sesungguhnya malaikat meletakkan sayapnya sebagai tanda ridha pada penuntut ilmu.” (HR. Abu Daud, no. 3641; Ibnu Majah, no. 223; At-Tirmidzi, no. 2682. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini dha’if. Sedangkan Syaikh Al-Albani menshahihkan hadits ini). Maksudnya, para malaikat benar-benar menghormati para penuntut ilmu. Atau maksudnya pula malaikat turun dan ikut dalam majelis ilmu. (Tuhfah Al-Ahwadzi, 7: 493)   Keempat: Akan disebut oleh Allah di sisi makhluk-makhluk mulia. Coba kalau kita di dunia ini disanjung-sanjung di hadapan presiden atau tokok terkemuka, kita pasti merasa seperti berada di atas. Pujian bagi penuntut ilmu lebih dari itu. Karena mereka disanjung-sanjung di hadapan makhluk yang mulia. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Allah Ta’ala berfirman, أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِى وَأَنَا مَعَهُ حِينَ يَذْكُرُنِى فَإِنْ ذَكَرَنِى فِى نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِى نَفْسِى وَإِنْ ذَكَرَنِى فِى مَلإٍ ذَكَرْتُهُ فِى مَلإٍ خَيْرٍ مِنْهُ “Aku sesuai dengan persangkaan hamba-Ku pada-Ku. Aku bersamanya kala ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku dalam dirinya, Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku. Jika ia mengingat-Ku di suatu kumpulan, maka aku akan menyebut-nyebutnya di kumpulan yang lebih baik daripada itu.” (HR. Muslim, no. 2675) Tak inginkah kita mendapatkan ketenangan jiwa dan keutamaan seperti dikemukakan dalam hadits di atas. Cobalah meraihnya dalam majelis ilmu syar’i, bukan pada majelis warung kopi, bukan majelis yang penuh dengan kesia-siaan. Moga Allah memberkahi waktu dan umur kita dalam kebaikan.   Referensi Utama: Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam. Cetakan kesepuluh, tahun 1432 H. Ibnu Rajab Al-Hambali. Penerbit Muassasah Ar-Risalah. — Senin saat hujan mengguyur Darush Sholihin, Warak, Girisekar, Panggang, 1 Rabi’uts Tsani 1437 H, 04: 09 PM Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsbelajar ilmu keutamaan ilmu
Semua ingin raih ketenangan jiwa. Meskipun mencari dengan mengeluarkan biaya besar. Sehingga ada yang mencarinya lewat lantunan musik. Ada yang mencarinya lewat night club. Ada yang mencarinya di berbagai tempat rekreasi di pinggir pantai. Apakah mereka dapat ketenangan sebenarnya? Tidak, itu ketenangan semu. Ketenangan hakiki hanya didapati dengan iman. Ketenangan seperti itu didapati hanya dalam majelis ilmu syar’i.   Cobalah rasakan ketenangan lewat majelis ilmu kala Al-Qur’an disenandungkan, kala hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam disuarakan. Silakan rasakan kenikmatan yang berbeda.   Dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِى بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلاَّ نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمُ الْمَلاَئِكَةُ وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ “Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah membaca Kitabullah dan saling mengajarkan satu dan lainnya melainkan akan turun kepada mereka sakinah (ketenangan), akan dinaungi rahmat, akan dikeliling para malaikat dan Allah akan menyebut-nyebut mereka di sisi makhluk yang dimuliakan di sisi-Nya.” (HR. Muslim, no. 2699)   Ada empat keutamaan yang disebutkan bagi orang yang duduk di rumah Allah dan mempelajari kitab Allah:   Pertama: Akan raih ketenangan. Sebagaimana disebutkan saat dibacakan surat Al-Kahfi. Disebutan oleh Al-Barra’ bin ‘Azib, ia berkata, بَيْنَمَا رَجُلٌ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – يَقْرَأُ ، وَفَرَسٌ لَهُ مَرْبُوطٌ فِى الدَّارِ ، فَجَعَلَ يَنْفِرُ ، فَخَرَجَ الرَّجُلُ فَنَظَرَ فَلَمْ يَرَ شَيْئًا ، وَجَعَلَ يَنْفِرُ ، فَلَمَّا أَصْبَحَ ذَكَرَ ذَلِكَ لِلنَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – فَقَالَ « تِلْكَ السَّكِينَةُ تَنَزَّلَتْ بِالْقُرْآنِ » “Ada seseorang yang sedang membaca (surat Al-Kahfi). Di sisinya terdapat seekor kuda yang diikat di rumah. Lantas kuda tersebut lari. Pria tersebut lantas keluar dan melihat-lihat ternyata ia tidak melihat apa pun. Kuda tadi ternyata memang pergi lari. Ketika datang pagi hari, peristiwa tadi diceritakan pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lantas beliau bersabda, “Ketenangan itu datang karena Al-Qur’an.” (HR. Bukhari, no. 4839 dan Muslim, no. 795) Imam Nawawi rahimahullah menyatakan, “Itulah yang menunjukkan keutamaan membaca Al-Qur’an. Al-Qur’an itulah sebab turunnya rahmat dan hadirnya malaikat. Hadits itu juga mengandung pelajaran tentang keutamaan mendengar Al-Qur’an.” (Syarh Shahih Muslim, 6: 74)   Kedua: Akan dinaungi rahmat Allah. Dalam Al-Qur’an juga disebutkan, إِنَّ رَحْمَةَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِنَ الْمُحْسِنِينَ “Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-A’raf: 56) Dalam hadits Salman, ada yang berdzikir pada Allah, lantas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lewat ketika itu, beliau pun bersabda, “ مَا كُنْتُمْ تَقُوْلُوْنَ ؟ فَإِنِّي رَأَيْتُ الرَّحْمَةَ تَنْزِلُ عَلَيْكُمْ ، فَأَحْبَبْتُ أَنْ أُشَارِكَكُمْ فِيْهَا “Apa yang kalian ucapkan? Sungguh aku melihat rahmat turun di tengah-tengah kalian. Aku sangat suka sekali bergabung dalam majelis semacam itu.” (HR. Al-Hakim dalam Al-Mustadrak, 1: 122. Al-Hakim menshahihkannya dan disepakati oleh Imam Adz-Dzahabi).   Ketiga: Malaikat akan mengelilingi majelis ilmu. Tanda bahwasanya malaikat ridha dan suka pada orang-orang yang berada dalam majelis ilmu. وَإِنَّ الْمَلاَئِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا رِضًا لِطَالِبِ الْعِلْمِ “Sesungguhnya malaikat meletakkan sayapnya sebagai tanda ridha pada penuntut ilmu.” (HR. Abu Daud, no. 3641; Ibnu Majah, no. 223; At-Tirmidzi, no. 2682. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini dha’if. Sedangkan Syaikh Al-Albani menshahihkan hadits ini). Maksudnya, para malaikat benar-benar menghormati para penuntut ilmu. Atau maksudnya pula malaikat turun dan ikut dalam majelis ilmu. (Tuhfah Al-Ahwadzi, 7: 493)   Keempat: Akan disebut oleh Allah di sisi makhluk-makhluk mulia. Coba kalau kita di dunia ini disanjung-sanjung di hadapan presiden atau tokok terkemuka, kita pasti merasa seperti berada di atas. Pujian bagi penuntut ilmu lebih dari itu. Karena mereka disanjung-sanjung di hadapan makhluk yang mulia. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Allah Ta’ala berfirman, أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِى وَأَنَا مَعَهُ حِينَ يَذْكُرُنِى فَإِنْ ذَكَرَنِى فِى نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِى نَفْسِى وَإِنْ ذَكَرَنِى فِى مَلإٍ ذَكَرْتُهُ فِى مَلإٍ خَيْرٍ مِنْهُ “Aku sesuai dengan persangkaan hamba-Ku pada-Ku. Aku bersamanya kala ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku dalam dirinya, Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku. Jika ia mengingat-Ku di suatu kumpulan, maka aku akan menyebut-nyebutnya di kumpulan yang lebih baik daripada itu.” (HR. Muslim, no. 2675) Tak inginkah kita mendapatkan ketenangan jiwa dan keutamaan seperti dikemukakan dalam hadits di atas. Cobalah meraihnya dalam majelis ilmu syar’i, bukan pada majelis warung kopi, bukan majelis yang penuh dengan kesia-siaan. Moga Allah memberkahi waktu dan umur kita dalam kebaikan.   Referensi Utama: Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam. Cetakan kesepuluh, tahun 1432 H. Ibnu Rajab Al-Hambali. Penerbit Muassasah Ar-Risalah. — Senin saat hujan mengguyur Darush Sholihin, Warak, Girisekar, Panggang, 1 Rabi’uts Tsani 1437 H, 04: 09 PM Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsbelajar ilmu keutamaan ilmu


Semua ingin raih ketenangan jiwa. Meskipun mencari dengan mengeluarkan biaya besar. Sehingga ada yang mencarinya lewat lantunan musik. Ada yang mencarinya lewat night club. Ada yang mencarinya di berbagai tempat rekreasi di pinggir pantai. Apakah mereka dapat ketenangan sebenarnya? Tidak, itu ketenangan semu. Ketenangan hakiki hanya didapati dengan iman. Ketenangan seperti itu didapati hanya dalam majelis ilmu syar’i.   Cobalah rasakan ketenangan lewat majelis ilmu kala Al-Qur’an disenandungkan, kala hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam disuarakan. Silakan rasakan kenikmatan yang berbeda.   Dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِى بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلاَّ نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمُ الْمَلاَئِكَةُ وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ “Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah membaca Kitabullah dan saling mengajarkan satu dan lainnya melainkan akan turun kepada mereka sakinah (ketenangan), akan dinaungi rahmat, akan dikeliling para malaikat dan Allah akan menyebut-nyebut mereka di sisi makhluk yang dimuliakan di sisi-Nya.” (HR. Muslim, no. 2699)   Ada empat keutamaan yang disebutkan bagi orang yang duduk di rumah Allah dan mempelajari kitab Allah:   Pertama: Akan raih ketenangan. Sebagaimana disebutkan saat dibacakan surat Al-Kahfi. Disebutan oleh Al-Barra’ bin ‘Azib, ia berkata, بَيْنَمَا رَجُلٌ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – يَقْرَأُ ، وَفَرَسٌ لَهُ مَرْبُوطٌ فِى الدَّارِ ، فَجَعَلَ يَنْفِرُ ، فَخَرَجَ الرَّجُلُ فَنَظَرَ فَلَمْ يَرَ شَيْئًا ، وَجَعَلَ يَنْفِرُ ، فَلَمَّا أَصْبَحَ ذَكَرَ ذَلِكَ لِلنَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – فَقَالَ « تِلْكَ السَّكِينَةُ تَنَزَّلَتْ بِالْقُرْآنِ » “Ada seseorang yang sedang membaca (surat Al-Kahfi). Di sisinya terdapat seekor kuda yang diikat di rumah. Lantas kuda tersebut lari. Pria tersebut lantas keluar dan melihat-lihat ternyata ia tidak melihat apa pun. Kuda tadi ternyata memang pergi lari. Ketika datang pagi hari, peristiwa tadi diceritakan pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lantas beliau bersabda, “Ketenangan itu datang karena Al-Qur’an.” (HR. Bukhari, no. 4839 dan Muslim, no. 795) Imam Nawawi rahimahullah menyatakan, “Itulah yang menunjukkan keutamaan membaca Al-Qur’an. Al-Qur’an itulah sebab turunnya rahmat dan hadirnya malaikat. Hadits itu juga mengandung pelajaran tentang keutamaan mendengar Al-Qur’an.” (Syarh Shahih Muslim, 6: 74)   Kedua: Akan dinaungi rahmat Allah. Dalam Al-Qur’an juga disebutkan, إِنَّ رَحْمَةَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِنَ الْمُحْسِنِينَ “Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-A’raf: 56) Dalam hadits Salman, ada yang berdzikir pada Allah, lantas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lewat ketika itu, beliau pun bersabda, “ مَا كُنْتُمْ تَقُوْلُوْنَ ؟ فَإِنِّي رَأَيْتُ الرَّحْمَةَ تَنْزِلُ عَلَيْكُمْ ، فَأَحْبَبْتُ أَنْ أُشَارِكَكُمْ فِيْهَا “Apa yang kalian ucapkan? Sungguh aku melihat rahmat turun di tengah-tengah kalian. Aku sangat suka sekali bergabung dalam majelis semacam itu.” (HR. Al-Hakim dalam Al-Mustadrak, 1: 122. Al-Hakim menshahihkannya dan disepakati oleh Imam Adz-Dzahabi).   Ketiga: Malaikat akan mengelilingi majelis ilmu. Tanda bahwasanya malaikat ridha dan suka pada orang-orang yang berada dalam majelis ilmu. وَإِنَّ الْمَلاَئِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا رِضًا لِطَالِبِ الْعِلْمِ “Sesungguhnya malaikat meletakkan sayapnya sebagai tanda ridha pada penuntut ilmu.” (HR. Abu Daud, no. 3641; Ibnu Majah, no. 223; At-Tirmidzi, no. 2682. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini dha’if. Sedangkan Syaikh Al-Albani menshahihkan hadits ini). Maksudnya, para malaikat benar-benar menghormati para penuntut ilmu. Atau maksudnya pula malaikat turun dan ikut dalam majelis ilmu. (Tuhfah Al-Ahwadzi, 7: 493)   Keempat: Akan disebut oleh Allah di sisi makhluk-makhluk mulia. Coba kalau kita di dunia ini disanjung-sanjung di hadapan presiden atau tokok terkemuka, kita pasti merasa seperti berada di atas. Pujian bagi penuntut ilmu lebih dari itu. Karena mereka disanjung-sanjung di hadapan makhluk yang mulia. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Allah Ta’ala berfirman, أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِى وَأَنَا مَعَهُ حِينَ يَذْكُرُنِى فَإِنْ ذَكَرَنِى فِى نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِى نَفْسِى وَإِنْ ذَكَرَنِى فِى مَلإٍ ذَكَرْتُهُ فِى مَلإٍ خَيْرٍ مِنْهُ “Aku sesuai dengan persangkaan hamba-Ku pada-Ku. Aku bersamanya kala ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku dalam dirinya, Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku. Jika ia mengingat-Ku di suatu kumpulan, maka aku akan menyebut-nyebutnya di kumpulan yang lebih baik daripada itu.” (HR. Muslim, no. 2675) Tak inginkah kita mendapatkan ketenangan jiwa dan keutamaan seperti dikemukakan dalam hadits di atas. Cobalah meraihnya dalam majelis ilmu syar’i, bukan pada majelis warung kopi, bukan majelis yang penuh dengan kesia-siaan. Moga Allah memberkahi waktu dan umur kita dalam kebaikan.   Referensi Utama: Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam. Cetakan kesepuluh, tahun 1432 H. Ibnu Rajab Al-Hambali. Penerbit Muassasah Ar-Risalah. — Senin saat hujan mengguyur Darush Sholihin, Warak, Girisekar, Panggang, 1 Rabi’uts Tsani 1437 H, 04: 09 PM Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsbelajar ilmu keutamaan ilmu

Manfaat Shalat Jamaah (3)

Manfaat shalat jamaah lainnya adalah kita merasa satu dan lainnya berada dalam satu derajat meskipun berbeda strata sosial.   11. Kaum muslimin merasa berada dalam satu derajat karena berada dalam jamaah yang sama. Karena di dalam masjid, menyatu berbagai jamaah dari strata sosial yang berbeda. Orang kaya akan berdampingan dengan orang miskin dalam satu shaf. Seorang kepala atau pemimpin akan berada satu jama’ah dengan orang yang ia perintah. Seorang hakim bisa berdampingan dengan orang yang diadili. Anak kecil bisa di samping orang tua saat shalat berjama’ah. Jadi, mereka akan merasa sama, sehingga timbul rasa cinta. Oleh karena itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk meluruskan shaf, اسْتَوُوا وَلاَ تَخْتَلِفُوا فَتَخْتَلِفَ قُلُوبُكُمْ لِيَلِنِى مِنْكُمْ أُولُو الأَحْلاَمِ وَالنُّهَى ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ “Luruskanlah shaf kalian. Janganlah berselisih (dalam badan, pen.), maka nantinya hati-hati kalian akan berselisih. Hendaklah yang mendekatiku orang yang sudah baligh dan berakal, kemudian yang semisal itu dan semisal itu lagi.” (HR. Muslim, no. 432, dari Ibnu Mas’ud. Lihat keterangan dalam Tuhfah Al-Ahwadzi) Dalam lafazh lainnya disebutkan, لَتُسَوُّنَّ صُفُوفَكُمْ أَوْ لَيُخَالِفَنَّ اللَّهُ بَيْنَ وُجُوهِكُمْ “Hendaknya kalian meluruskan shaf kalian atau tidak Allah akan membuat wajah kalian berselisih.” (HR. Bukhari no. 717 dan Muslim no. 436). Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Tidak lurusnya shaf akan menimbulkan permusuhan dan kebencian, serta membuat hati kalian berselisih.” (Syarh Muslim, 4: 157)   12. Mengikuti generasi awal Islam yang rajin berjamaah Terdapat sebuah atsar dari dari ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, مَنْ سَرَّهُ أَنْ يَلْقَى اللَّهَ غَدًا مُسْلِمًا فَلْيُحَافِظْ عَلَى هَؤُلاَءِ الصَّلَوَاتِ حَيْثُ يُنَادَى بِهِنَّ فَإِنَّ اللَّهَ شَرَعَ لِنَبِيِّكُمْ -صلى الله عليه وسلم- سُنَنَ الْهُدَى وَإِنَّهُنَّ مِنْ سُنَنِ الْهُدَى وَلَوْ أَنَّكُمْ صَلَّيْتُمْ فِى بُيُوتِكُمْ كَمَا يُصَلِّى هَذَا الْمُتَخَلِّفُ فِى بَيْتِهِ لَتَرَكْتُمْ سُنَّةَ نَبِيِّكُمْ وَلَوْ تَرَكْتُمْ سُنَّةَ نَبِيِّكُمْ لَضَلَلْتُمْ “Barangsiapa yang ingin bergembira ketika berjumpa dengan Allah besok dalam keadaan muslim, maka jagalah shalat ini (yakni shalat jama’ah) ketika diseru untuk menghadirinya. Karena Allah telah mensyari’atkan bagi nabi kalian shallallahu ‘alaihi wa sallam sunanul huda (petunjuk Nabi). Dan shalat jama’ah termasuk sunanul huda (petunjuk Nabi). Seandainya kalian shalat di rumah kalian, sebagaimana orang yang menganggap remeh dengan shalat di rumahnya, maka ini berarti kalian telah meninggalkan sunnah (ajaran) Nabi kalian. Seandainya kalian meninggalkan sunnah Nabi kalian, niscaya kalian akan sesat.” (HR. Muslim, no. 654)   13. Bersatunya kaum muslimin di masjid akan turun berkah. 14. Menambah semangat jika berjamaah karena di masjid berkumpul pula orang-orang yang semangat untuk ibadah. 15. Semakin menambah pahala jika jamaah semakin banyak. 16. Dengan shalat jama’ah akan ada dakwah dengan perkataan dan perbuatan. Pahala shalat jama’ah yang begitu banyak intinya termaktub dalam hadits berikut ini. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, صَلاَةُ الرَّجُلِ فِى جَمَاعَةٍ تَزِيدُ عَلَى صَلاَتِهِ فِى بَيْتِهِ وَصَلاَتِهِ فِى سُوقِهِ بِضْعًا وَعِشْرِينَ دَرَجَةً وَذَلِكَ أَنَّ أَحَدَهُمْ إِذَا تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ الْوُضُوءَ ثُمَّ أَتَى الْمَسْجِدَ لاَ يَنْهَزُهُ إِلاَّ الصَّلاَةُ لاَ يُرِيدُ إِلاَّ الصَّلاَةَ فَلَمْ يَخْطُ خَطْوَةً إِلاَّ رُفِعَ لَهُ بِهَا دَرَجَةٌ وَحُطَّ عَنْهُ بِهَا خَطِيئَةٌ حَتَّى يَدْخُلَ الْمَسْجِدَ فَإِذَا دَخَلَ الْمَسْجِدَ كَانَ فِى الصَّلاَةِ مَا كَانَتِ الصَّلاَةُ هِىَ تَحْبِسُهُ وَالْمَلاَئِكَةُ يُصَلُّونَ عَلَى أَحَدِكُمْ مَا دَامَ فِى مَجْلِسِهِ الَّذِى صَلَّى فِيهِ يَقُولُونَ اللَّهُمَّ ارْحَمْهُ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ اللَّهُمَّ تُبْ عَلَيْهِ مَا لَمْ يُؤْذِ فِيهِ مَا لَمْ يُحْدِثْ فِيهِ “Shalat seseorang dengan berjama’ah lebih banyak pahalanya daripada shalat sendirian di pasar atau di rumahnya, yaitu selisih 20 sekian derajat. Sebab, seseorang yang telah menyempurnakan wudhunya kemudian pergi ke masjid dengan tujuan untuk shalat, tiap ia melangkah satu langkah maka diangkatkan baginya satu derajat dan dihapuskan satu dosanya, sampai ia masuk masjid. Apabila ia berada dalam masjid, ia dianggap mengerjakan shalat selama ia menunggu hingga shalat dilaksanakan. Para malaikat lalu mendo’akan orang yang senantiasa di tempat ia shalat, “Ya Allah, kasihanilah dia, ampunilah dosa-dosanya, terimalah taubatnya.” Hal itu selama ia tidak berbuat kejelekan dan tidak berhadats.” (HR. Bukhari, no. 477 dan Muslim, no. 649).   Referensi: Shalat Al-Mu’min. Cetakan ketiga, Tahun 1431 H. Syaikh Dr. Sa’id bin ‘Ali bin Wahf Al-Qahthani. Penerbit Maktabah Al-Malik Fahd. hlm. 517-519 — Selesai disusun di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 29 Rabi’ul Awwal 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsmanfaat shalat berjamah shalat berjamaah shalat jamaah

Manfaat Shalat Jamaah (3)

Manfaat shalat jamaah lainnya adalah kita merasa satu dan lainnya berada dalam satu derajat meskipun berbeda strata sosial.   11. Kaum muslimin merasa berada dalam satu derajat karena berada dalam jamaah yang sama. Karena di dalam masjid, menyatu berbagai jamaah dari strata sosial yang berbeda. Orang kaya akan berdampingan dengan orang miskin dalam satu shaf. Seorang kepala atau pemimpin akan berada satu jama’ah dengan orang yang ia perintah. Seorang hakim bisa berdampingan dengan orang yang diadili. Anak kecil bisa di samping orang tua saat shalat berjama’ah. Jadi, mereka akan merasa sama, sehingga timbul rasa cinta. Oleh karena itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk meluruskan shaf, اسْتَوُوا وَلاَ تَخْتَلِفُوا فَتَخْتَلِفَ قُلُوبُكُمْ لِيَلِنِى مِنْكُمْ أُولُو الأَحْلاَمِ وَالنُّهَى ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ “Luruskanlah shaf kalian. Janganlah berselisih (dalam badan, pen.), maka nantinya hati-hati kalian akan berselisih. Hendaklah yang mendekatiku orang yang sudah baligh dan berakal, kemudian yang semisal itu dan semisal itu lagi.” (HR. Muslim, no. 432, dari Ibnu Mas’ud. Lihat keterangan dalam Tuhfah Al-Ahwadzi) Dalam lafazh lainnya disebutkan, لَتُسَوُّنَّ صُفُوفَكُمْ أَوْ لَيُخَالِفَنَّ اللَّهُ بَيْنَ وُجُوهِكُمْ “Hendaknya kalian meluruskan shaf kalian atau tidak Allah akan membuat wajah kalian berselisih.” (HR. Bukhari no. 717 dan Muslim no. 436). Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Tidak lurusnya shaf akan menimbulkan permusuhan dan kebencian, serta membuat hati kalian berselisih.” (Syarh Muslim, 4: 157)   12. Mengikuti generasi awal Islam yang rajin berjamaah Terdapat sebuah atsar dari dari ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, مَنْ سَرَّهُ أَنْ يَلْقَى اللَّهَ غَدًا مُسْلِمًا فَلْيُحَافِظْ عَلَى هَؤُلاَءِ الصَّلَوَاتِ حَيْثُ يُنَادَى بِهِنَّ فَإِنَّ اللَّهَ شَرَعَ لِنَبِيِّكُمْ -صلى الله عليه وسلم- سُنَنَ الْهُدَى وَإِنَّهُنَّ مِنْ سُنَنِ الْهُدَى وَلَوْ أَنَّكُمْ صَلَّيْتُمْ فِى بُيُوتِكُمْ كَمَا يُصَلِّى هَذَا الْمُتَخَلِّفُ فِى بَيْتِهِ لَتَرَكْتُمْ سُنَّةَ نَبِيِّكُمْ وَلَوْ تَرَكْتُمْ سُنَّةَ نَبِيِّكُمْ لَضَلَلْتُمْ “Barangsiapa yang ingin bergembira ketika berjumpa dengan Allah besok dalam keadaan muslim, maka jagalah shalat ini (yakni shalat jama’ah) ketika diseru untuk menghadirinya. Karena Allah telah mensyari’atkan bagi nabi kalian shallallahu ‘alaihi wa sallam sunanul huda (petunjuk Nabi). Dan shalat jama’ah termasuk sunanul huda (petunjuk Nabi). Seandainya kalian shalat di rumah kalian, sebagaimana orang yang menganggap remeh dengan shalat di rumahnya, maka ini berarti kalian telah meninggalkan sunnah (ajaran) Nabi kalian. Seandainya kalian meninggalkan sunnah Nabi kalian, niscaya kalian akan sesat.” (HR. Muslim, no. 654)   13. Bersatunya kaum muslimin di masjid akan turun berkah. 14. Menambah semangat jika berjamaah karena di masjid berkumpul pula orang-orang yang semangat untuk ibadah. 15. Semakin menambah pahala jika jamaah semakin banyak. 16. Dengan shalat jama’ah akan ada dakwah dengan perkataan dan perbuatan. Pahala shalat jama’ah yang begitu banyak intinya termaktub dalam hadits berikut ini. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, صَلاَةُ الرَّجُلِ فِى جَمَاعَةٍ تَزِيدُ عَلَى صَلاَتِهِ فِى بَيْتِهِ وَصَلاَتِهِ فِى سُوقِهِ بِضْعًا وَعِشْرِينَ دَرَجَةً وَذَلِكَ أَنَّ أَحَدَهُمْ إِذَا تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ الْوُضُوءَ ثُمَّ أَتَى الْمَسْجِدَ لاَ يَنْهَزُهُ إِلاَّ الصَّلاَةُ لاَ يُرِيدُ إِلاَّ الصَّلاَةَ فَلَمْ يَخْطُ خَطْوَةً إِلاَّ رُفِعَ لَهُ بِهَا دَرَجَةٌ وَحُطَّ عَنْهُ بِهَا خَطِيئَةٌ حَتَّى يَدْخُلَ الْمَسْجِدَ فَإِذَا دَخَلَ الْمَسْجِدَ كَانَ فِى الصَّلاَةِ مَا كَانَتِ الصَّلاَةُ هِىَ تَحْبِسُهُ وَالْمَلاَئِكَةُ يُصَلُّونَ عَلَى أَحَدِكُمْ مَا دَامَ فِى مَجْلِسِهِ الَّذِى صَلَّى فِيهِ يَقُولُونَ اللَّهُمَّ ارْحَمْهُ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ اللَّهُمَّ تُبْ عَلَيْهِ مَا لَمْ يُؤْذِ فِيهِ مَا لَمْ يُحْدِثْ فِيهِ “Shalat seseorang dengan berjama’ah lebih banyak pahalanya daripada shalat sendirian di pasar atau di rumahnya, yaitu selisih 20 sekian derajat. Sebab, seseorang yang telah menyempurnakan wudhunya kemudian pergi ke masjid dengan tujuan untuk shalat, tiap ia melangkah satu langkah maka diangkatkan baginya satu derajat dan dihapuskan satu dosanya, sampai ia masuk masjid. Apabila ia berada dalam masjid, ia dianggap mengerjakan shalat selama ia menunggu hingga shalat dilaksanakan. Para malaikat lalu mendo’akan orang yang senantiasa di tempat ia shalat, “Ya Allah, kasihanilah dia, ampunilah dosa-dosanya, terimalah taubatnya.” Hal itu selama ia tidak berbuat kejelekan dan tidak berhadats.” (HR. Bukhari, no. 477 dan Muslim, no. 649).   Referensi: Shalat Al-Mu’min. Cetakan ketiga, Tahun 1431 H. Syaikh Dr. Sa’id bin ‘Ali bin Wahf Al-Qahthani. Penerbit Maktabah Al-Malik Fahd. hlm. 517-519 — Selesai disusun di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 29 Rabi’ul Awwal 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsmanfaat shalat berjamah shalat berjamaah shalat jamaah
Manfaat shalat jamaah lainnya adalah kita merasa satu dan lainnya berada dalam satu derajat meskipun berbeda strata sosial.   11. Kaum muslimin merasa berada dalam satu derajat karena berada dalam jamaah yang sama. Karena di dalam masjid, menyatu berbagai jamaah dari strata sosial yang berbeda. Orang kaya akan berdampingan dengan orang miskin dalam satu shaf. Seorang kepala atau pemimpin akan berada satu jama’ah dengan orang yang ia perintah. Seorang hakim bisa berdampingan dengan orang yang diadili. Anak kecil bisa di samping orang tua saat shalat berjama’ah. Jadi, mereka akan merasa sama, sehingga timbul rasa cinta. Oleh karena itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk meluruskan shaf, اسْتَوُوا وَلاَ تَخْتَلِفُوا فَتَخْتَلِفَ قُلُوبُكُمْ لِيَلِنِى مِنْكُمْ أُولُو الأَحْلاَمِ وَالنُّهَى ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ “Luruskanlah shaf kalian. Janganlah berselisih (dalam badan, pen.), maka nantinya hati-hati kalian akan berselisih. Hendaklah yang mendekatiku orang yang sudah baligh dan berakal, kemudian yang semisal itu dan semisal itu lagi.” (HR. Muslim, no. 432, dari Ibnu Mas’ud. Lihat keterangan dalam Tuhfah Al-Ahwadzi) Dalam lafazh lainnya disebutkan, لَتُسَوُّنَّ صُفُوفَكُمْ أَوْ لَيُخَالِفَنَّ اللَّهُ بَيْنَ وُجُوهِكُمْ “Hendaknya kalian meluruskan shaf kalian atau tidak Allah akan membuat wajah kalian berselisih.” (HR. Bukhari no. 717 dan Muslim no. 436). Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Tidak lurusnya shaf akan menimbulkan permusuhan dan kebencian, serta membuat hati kalian berselisih.” (Syarh Muslim, 4: 157)   12. Mengikuti generasi awal Islam yang rajin berjamaah Terdapat sebuah atsar dari dari ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, مَنْ سَرَّهُ أَنْ يَلْقَى اللَّهَ غَدًا مُسْلِمًا فَلْيُحَافِظْ عَلَى هَؤُلاَءِ الصَّلَوَاتِ حَيْثُ يُنَادَى بِهِنَّ فَإِنَّ اللَّهَ شَرَعَ لِنَبِيِّكُمْ -صلى الله عليه وسلم- سُنَنَ الْهُدَى وَإِنَّهُنَّ مِنْ سُنَنِ الْهُدَى وَلَوْ أَنَّكُمْ صَلَّيْتُمْ فِى بُيُوتِكُمْ كَمَا يُصَلِّى هَذَا الْمُتَخَلِّفُ فِى بَيْتِهِ لَتَرَكْتُمْ سُنَّةَ نَبِيِّكُمْ وَلَوْ تَرَكْتُمْ سُنَّةَ نَبِيِّكُمْ لَضَلَلْتُمْ “Barangsiapa yang ingin bergembira ketika berjumpa dengan Allah besok dalam keadaan muslim, maka jagalah shalat ini (yakni shalat jama’ah) ketika diseru untuk menghadirinya. Karena Allah telah mensyari’atkan bagi nabi kalian shallallahu ‘alaihi wa sallam sunanul huda (petunjuk Nabi). Dan shalat jama’ah termasuk sunanul huda (petunjuk Nabi). Seandainya kalian shalat di rumah kalian, sebagaimana orang yang menganggap remeh dengan shalat di rumahnya, maka ini berarti kalian telah meninggalkan sunnah (ajaran) Nabi kalian. Seandainya kalian meninggalkan sunnah Nabi kalian, niscaya kalian akan sesat.” (HR. Muslim, no. 654)   13. Bersatunya kaum muslimin di masjid akan turun berkah. 14. Menambah semangat jika berjamaah karena di masjid berkumpul pula orang-orang yang semangat untuk ibadah. 15. Semakin menambah pahala jika jamaah semakin banyak. 16. Dengan shalat jama’ah akan ada dakwah dengan perkataan dan perbuatan. Pahala shalat jama’ah yang begitu banyak intinya termaktub dalam hadits berikut ini. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, صَلاَةُ الرَّجُلِ فِى جَمَاعَةٍ تَزِيدُ عَلَى صَلاَتِهِ فِى بَيْتِهِ وَصَلاَتِهِ فِى سُوقِهِ بِضْعًا وَعِشْرِينَ دَرَجَةً وَذَلِكَ أَنَّ أَحَدَهُمْ إِذَا تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ الْوُضُوءَ ثُمَّ أَتَى الْمَسْجِدَ لاَ يَنْهَزُهُ إِلاَّ الصَّلاَةُ لاَ يُرِيدُ إِلاَّ الصَّلاَةَ فَلَمْ يَخْطُ خَطْوَةً إِلاَّ رُفِعَ لَهُ بِهَا دَرَجَةٌ وَحُطَّ عَنْهُ بِهَا خَطِيئَةٌ حَتَّى يَدْخُلَ الْمَسْجِدَ فَإِذَا دَخَلَ الْمَسْجِدَ كَانَ فِى الصَّلاَةِ مَا كَانَتِ الصَّلاَةُ هِىَ تَحْبِسُهُ وَالْمَلاَئِكَةُ يُصَلُّونَ عَلَى أَحَدِكُمْ مَا دَامَ فِى مَجْلِسِهِ الَّذِى صَلَّى فِيهِ يَقُولُونَ اللَّهُمَّ ارْحَمْهُ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ اللَّهُمَّ تُبْ عَلَيْهِ مَا لَمْ يُؤْذِ فِيهِ مَا لَمْ يُحْدِثْ فِيهِ “Shalat seseorang dengan berjama’ah lebih banyak pahalanya daripada shalat sendirian di pasar atau di rumahnya, yaitu selisih 20 sekian derajat. Sebab, seseorang yang telah menyempurnakan wudhunya kemudian pergi ke masjid dengan tujuan untuk shalat, tiap ia melangkah satu langkah maka diangkatkan baginya satu derajat dan dihapuskan satu dosanya, sampai ia masuk masjid. Apabila ia berada dalam masjid, ia dianggap mengerjakan shalat selama ia menunggu hingga shalat dilaksanakan. Para malaikat lalu mendo’akan orang yang senantiasa di tempat ia shalat, “Ya Allah, kasihanilah dia, ampunilah dosa-dosanya, terimalah taubatnya.” Hal itu selama ia tidak berbuat kejelekan dan tidak berhadats.” (HR. Bukhari, no. 477 dan Muslim, no. 649).   Referensi: Shalat Al-Mu’min. Cetakan ketiga, Tahun 1431 H. Syaikh Dr. Sa’id bin ‘Ali bin Wahf Al-Qahthani. Penerbit Maktabah Al-Malik Fahd. hlm. 517-519 — Selesai disusun di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 29 Rabi’ul Awwal 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsmanfaat shalat berjamah shalat berjamaah shalat jamaah


Manfaat shalat jamaah lainnya adalah kita merasa satu dan lainnya berada dalam satu derajat meskipun berbeda strata sosial.   11. Kaum muslimin merasa berada dalam satu derajat karena berada dalam jamaah yang sama. Karena di dalam masjid, menyatu berbagai jamaah dari strata sosial yang berbeda. Orang kaya akan berdampingan dengan orang miskin dalam satu shaf. Seorang kepala atau pemimpin akan berada satu jama’ah dengan orang yang ia perintah. Seorang hakim bisa berdampingan dengan orang yang diadili. Anak kecil bisa di samping orang tua saat shalat berjama’ah. Jadi, mereka akan merasa sama, sehingga timbul rasa cinta. Oleh karena itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk meluruskan shaf, اسْتَوُوا وَلاَ تَخْتَلِفُوا فَتَخْتَلِفَ قُلُوبُكُمْ لِيَلِنِى مِنْكُمْ أُولُو الأَحْلاَمِ وَالنُّهَى ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ “Luruskanlah shaf kalian. Janganlah berselisih (dalam badan, pen.), maka nantinya hati-hati kalian akan berselisih. Hendaklah yang mendekatiku orang yang sudah baligh dan berakal, kemudian yang semisal itu dan semisal itu lagi.” (HR. Muslim, no. 432, dari Ibnu Mas’ud. Lihat keterangan dalam Tuhfah Al-Ahwadzi) Dalam lafazh lainnya disebutkan, لَتُسَوُّنَّ صُفُوفَكُمْ أَوْ لَيُخَالِفَنَّ اللَّهُ بَيْنَ وُجُوهِكُمْ “Hendaknya kalian meluruskan shaf kalian atau tidak Allah akan membuat wajah kalian berselisih.” (HR. Bukhari no. 717 dan Muslim no. 436). Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Tidak lurusnya shaf akan menimbulkan permusuhan dan kebencian, serta membuat hati kalian berselisih.” (Syarh Muslim, 4: 157)   12. Mengikuti generasi awal Islam yang rajin berjamaah Terdapat sebuah atsar dari dari ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, مَنْ سَرَّهُ أَنْ يَلْقَى اللَّهَ غَدًا مُسْلِمًا فَلْيُحَافِظْ عَلَى هَؤُلاَءِ الصَّلَوَاتِ حَيْثُ يُنَادَى بِهِنَّ فَإِنَّ اللَّهَ شَرَعَ لِنَبِيِّكُمْ -صلى الله عليه وسلم- سُنَنَ الْهُدَى وَإِنَّهُنَّ مِنْ سُنَنِ الْهُدَى وَلَوْ أَنَّكُمْ صَلَّيْتُمْ فِى بُيُوتِكُمْ كَمَا يُصَلِّى هَذَا الْمُتَخَلِّفُ فِى بَيْتِهِ لَتَرَكْتُمْ سُنَّةَ نَبِيِّكُمْ وَلَوْ تَرَكْتُمْ سُنَّةَ نَبِيِّكُمْ لَضَلَلْتُمْ “Barangsiapa yang ingin bergembira ketika berjumpa dengan Allah besok dalam keadaan muslim, maka jagalah shalat ini (yakni shalat jama’ah) ketika diseru untuk menghadirinya. Karena Allah telah mensyari’atkan bagi nabi kalian shallallahu ‘alaihi wa sallam sunanul huda (petunjuk Nabi). Dan shalat jama’ah termasuk sunanul huda (petunjuk Nabi). Seandainya kalian shalat di rumah kalian, sebagaimana orang yang menganggap remeh dengan shalat di rumahnya, maka ini berarti kalian telah meninggalkan sunnah (ajaran) Nabi kalian. Seandainya kalian meninggalkan sunnah Nabi kalian, niscaya kalian akan sesat.” (HR. Muslim, no. 654)   13. Bersatunya kaum muslimin di masjid akan turun berkah. 14. Menambah semangat jika berjamaah karena di masjid berkumpul pula orang-orang yang semangat untuk ibadah. 15. Semakin menambah pahala jika jamaah semakin banyak. 16. Dengan shalat jama’ah akan ada dakwah dengan perkataan dan perbuatan. Pahala shalat jama’ah yang begitu banyak intinya termaktub dalam hadits berikut ini. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, صَلاَةُ الرَّجُلِ فِى جَمَاعَةٍ تَزِيدُ عَلَى صَلاَتِهِ فِى بَيْتِهِ وَصَلاَتِهِ فِى سُوقِهِ بِضْعًا وَعِشْرِينَ دَرَجَةً وَذَلِكَ أَنَّ أَحَدَهُمْ إِذَا تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ الْوُضُوءَ ثُمَّ أَتَى الْمَسْجِدَ لاَ يَنْهَزُهُ إِلاَّ الصَّلاَةُ لاَ يُرِيدُ إِلاَّ الصَّلاَةَ فَلَمْ يَخْطُ خَطْوَةً إِلاَّ رُفِعَ لَهُ بِهَا دَرَجَةٌ وَحُطَّ عَنْهُ بِهَا خَطِيئَةٌ حَتَّى يَدْخُلَ الْمَسْجِدَ فَإِذَا دَخَلَ الْمَسْجِدَ كَانَ فِى الصَّلاَةِ مَا كَانَتِ الصَّلاَةُ هِىَ تَحْبِسُهُ وَالْمَلاَئِكَةُ يُصَلُّونَ عَلَى أَحَدِكُمْ مَا دَامَ فِى مَجْلِسِهِ الَّذِى صَلَّى فِيهِ يَقُولُونَ اللَّهُمَّ ارْحَمْهُ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ اللَّهُمَّ تُبْ عَلَيْهِ مَا لَمْ يُؤْذِ فِيهِ مَا لَمْ يُحْدِثْ فِيهِ “Shalat seseorang dengan berjama’ah lebih banyak pahalanya daripada shalat sendirian di pasar atau di rumahnya, yaitu selisih 20 sekian derajat. Sebab, seseorang yang telah menyempurnakan wudhunya kemudian pergi ke masjid dengan tujuan untuk shalat, tiap ia melangkah satu langkah maka diangkatkan baginya satu derajat dan dihapuskan satu dosanya, sampai ia masuk masjid. Apabila ia berada dalam masjid, ia dianggap mengerjakan shalat selama ia menunggu hingga shalat dilaksanakan. Para malaikat lalu mendo’akan orang yang senantiasa di tempat ia shalat, “Ya Allah, kasihanilah dia, ampunilah dosa-dosanya, terimalah taubatnya.” Hal itu selama ia tidak berbuat kejelekan dan tidak berhadats.” (HR. Bukhari, no. 477 dan Muslim, no. 649).   Referensi: Shalat Al-Mu’min. Cetakan ketiga, Tahun 1431 H. Syaikh Dr. Sa’id bin ‘Ali bin Wahf Al-Qahthani. Penerbit Maktabah Al-Malik Fahd. hlm. 517-519 — Selesai disusun di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 29 Rabi’ul Awwal 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsmanfaat shalat berjamah shalat berjamaah shalat jamaah

Manfaat Shalat Jamaah (2)

Manfaat shalat jamaah lainnya adalah mengajarkan umat untuk bersatu dan mengikuti satu pemimpin.   7. Mengajarkan orang yang tidak mengerti shalat Kebanyakan orang mengetahui cara shalat yang baik dan benar dari shalat jama’ah. Kaum muslimin dapat mengambil faedah bacaan surat juga dari shalat jama’ah. Begitu pula ada yang mengetahui dzikir setelah shalat, juga dari shalat jama’ah. Jama’ah dapat mengetahui pelajaran beberapa hukum dari imamnya seperti tentang masalah sujud sahwi (saat lupa dalam shalat). Begitu pula orang yang tidak mengerti jadi tahu dari orang yang punya ilmu.   8. Menyatukan umat Islam, tidak menjadikan mereka berpecah belah Ada yang punya pemahaman berbeda-beda. Ada yang pakai qunut shubuh, ada yang tidak, bisa menyatu dengan shalat jama’ah. Ada yang punya amalan tertentu dan ada yang tidak, bisa menyatu kala shalat Jum’at. Ada yang punya perangai yang jelek, ada yang baik, bisa menyatu pula kala sudah masuk dalam masjid untuk berjama’ah. Semuanya bisa mengerjakan shalat dengan jumlah raka’at yang sama, berada di bawah satu imam. Terwujudlah kesatuan ketika itu, tidak berpecah belah.   9. Belajar untuk mengikuti seorang pemimpin Taat pada imam di sini bentuknya juga adalah tidak mendahului dan tidak sangat terlambat dari imam. Karena barangsiapa yang mendahului imam dalam keadaan tahu dan sengaja, shalatnya batal.  Hal ini dikarenakan ancaman yang disebutkan dalam hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أَمَا يَخْشَى أَحَدُكُمْ إِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ قَبْلَ الإِمَامِ أَنْ يَجْعَلَ اللَّهُ رَأْسَهُ رَأْسَ حِمَارٍ أَوْ يَجْعَلَ اللَّهُ صُورَتَهُ صُورَةَ حِمَارٍ “Salah seorang di antara kalian dikhawatirkan dijadikan kepalanya menjadi kepala keledai atau rupanya menjadi rupa keledai ketika ia mengangkat kepalanya sebelum imam.” (HR. Bukhari, no. 691) Ini juga menunjukkan pengajaran, kalau dalam wilayah lebih kecil seperti dalam shalat jama’ah, kita harus patuh pada imam, maka untuk wilayah lebih luas, kita harus taat juga pada pemimpin yang sah. Shalat jama’ah berarti mengajarkan kita untuk bersatu dan taat pada pemimpin. Sebagaimana hal ini merupakan ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ibnu ‘Umar berkata bahwa beliau mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ خَلَعَ يَدًا مِنْ طَاعَةٍ لَقِىَ اللَّهَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لاَ حُجَّةَ لَهُ وَمَنْ مَاتَ وَلَيْسَ فِى عُنُقِهِ بَيْعَةٌ مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً “Barangsiapa yang melepaskan tangannya dari ketaatan pada pemimpin, maka ia pasti bertemu Allah pada hari kiamat dengan tanpa argumen yang membelanya. Barangsiapa yang mati dalam keadaan tidak ada baiat di lehernya, maka ia mati dengan cara mati jahiliyah.” (HR. Muslim no. 1851).   Baca bahasan Rumaysho[dot]Com tentang Taat pada Pemimpin: Taat pada Pemimpin Berarti Taat Rasul. Taat pada Pemimpin pada Selain Perkara Maksiat. Tidak Taat pada Pemimpin Akhirnya Mati Jahiliyah.   Bersambung insya Allah … — Disusun di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, pagi hari, 28 Rabi’ul Awwal 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsmanfaat shalat berjamah shalat berjamaah shalat jamaah

Manfaat Shalat Jamaah (2)

Manfaat shalat jamaah lainnya adalah mengajarkan umat untuk bersatu dan mengikuti satu pemimpin.   7. Mengajarkan orang yang tidak mengerti shalat Kebanyakan orang mengetahui cara shalat yang baik dan benar dari shalat jama’ah. Kaum muslimin dapat mengambil faedah bacaan surat juga dari shalat jama’ah. Begitu pula ada yang mengetahui dzikir setelah shalat, juga dari shalat jama’ah. Jama’ah dapat mengetahui pelajaran beberapa hukum dari imamnya seperti tentang masalah sujud sahwi (saat lupa dalam shalat). Begitu pula orang yang tidak mengerti jadi tahu dari orang yang punya ilmu.   8. Menyatukan umat Islam, tidak menjadikan mereka berpecah belah Ada yang punya pemahaman berbeda-beda. Ada yang pakai qunut shubuh, ada yang tidak, bisa menyatu dengan shalat jama’ah. Ada yang punya amalan tertentu dan ada yang tidak, bisa menyatu kala shalat Jum’at. Ada yang punya perangai yang jelek, ada yang baik, bisa menyatu pula kala sudah masuk dalam masjid untuk berjama’ah. Semuanya bisa mengerjakan shalat dengan jumlah raka’at yang sama, berada di bawah satu imam. Terwujudlah kesatuan ketika itu, tidak berpecah belah.   9. Belajar untuk mengikuti seorang pemimpin Taat pada imam di sini bentuknya juga adalah tidak mendahului dan tidak sangat terlambat dari imam. Karena barangsiapa yang mendahului imam dalam keadaan tahu dan sengaja, shalatnya batal.  Hal ini dikarenakan ancaman yang disebutkan dalam hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أَمَا يَخْشَى أَحَدُكُمْ إِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ قَبْلَ الإِمَامِ أَنْ يَجْعَلَ اللَّهُ رَأْسَهُ رَأْسَ حِمَارٍ أَوْ يَجْعَلَ اللَّهُ صُورَتَهُ صُورَةَ حِمَارٍ “Salah seorang di antara kalian dikhawatirkan dijadikan kepalanya menjadi kepala keledai atau rupanya menjadi rupa keledai ketika ia mengangkat kepalanya sebelum imam.” (HR. Bukhari, no. 691) Ini juga menunjukkan pengajaran, kalau dalam wilayah lebih kecil seperti dalam shalat jama’ah, kita harus patuh pada imam, maka untuk wilayah lebih luas, kita harus taat juga pada pemimpin yang sah. Shalat jama’ah berarti mengajarkan kita untuk bersatu dan taat pada pemimpin. Sebagaimana hal ini merupakan ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ibnu ‘Umar berkata bahwa beliau mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ خَلَعَ يَدًا مِنْ طَاعَةٍ لَقِىَ اللَّهَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لاَ حُجَّةَ لَهُ وَمَنْ مَاتَ وَلَيْسَ فِى عُنُقِهِ بَيْعَةٌ مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً “Barangsiapa yang melepaskan tangannya dari ketaatan pada pemimpin, maka ia pasti bertemu Allah pada hari kiamat dengan tanpa argumen yang membelanya. Barangsiapa yang mati dalam keadaan tidak ada baiat di lehernya, maka ia mati dengan cara mati jahiliyah.” (HR. Muslim no. 1851).   Baca bahasan Rumaysho[dot]Com tentang Taat pada Pemimpin: Taat pada Pemimpin Berarti Taat Rasul. Taat pada Pemimpin pada Selain Perkara Maksiat. Tidak Taat pada Pemimpin Akhirnya Mati Jahiliyah.   Bersambung insya Allah … — Disusun di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, pagi hari, 28 Rabi’ul Awwal 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsmanfaat shalat berjamah shalat berjamaah shalat jamaah
Manfaat shalat jamaah lainnya adalah mengajarkan umat untuk bersatu dan mengikuti satu pemimpin.   7. Mengajarkan orang yang tidak mengerti shalat Kebanyakan orang mengetahui cara shalat yang baik dan benar dari shalat jama’ah. Kaum muslimin dapat mengambil faedah bacaan surat juga dari shalat jama’ah. Begitu pula ada yang mengetahui dzikir setelah shalat, juga dari shalat jama’ah. Jama’ah dapat mengetahui pelajaran beberapa hukum dari imamnya seperti tentang masalah sujud sahwi (saat lupa dalam shalat). Begitu pula orang yang tidak mengerti jadi tahu dari orang yang punya ilmu.   8. Menyatukan umat Islam, tidak menjadikan mereka berpecah belah Ada yang punya pemahaman berbeda-beda. Ada yang pakai qunut shubuh, ada yang tidak, bisa menyatu dengan shalat jama’ah. Ada yang punya amalan tertentu dan ada yang tidak, bisa menyatu kala shalat Jum’at. Ada yang punya perangai yang jelek, ada yang baik, bisa menyatu pula kala sudah masuk dalam masjid untuk berjama’ah. Semuanya bisa mengerjakan shalat dengan jumlah raka’at yang sama, berada di bawah satu imam. Terwujudlah kesatuan ketika itu, tidak berpecah belah.   9. Belajar untuk mengikuti seorang pemimpin Taat pada imam di sini bentuknya juga adalah tidak mendahului dan tidak sangat terlambat dari imam. Karena barangsiapa yang mendahului imam dalam keadaan tahu dan sengaja, shalatnya batal.  Hal ini dikarenakan ancaman yang disebutkan dalam hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أَمَا يَخْشَى أَحَدُكُمْ إِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ قَبْلَ الإِمَامِ أَنْ يَجْعَلَ اللَّهُ رَأْسَهُ رَأْسَ حِمَارٍ أَوْ يَجْعَلَ اللَّهُ صُورَتَهُ صُورَةَ حِمَارٍ “Salah seorang di antara kalian dikhawatirkan dijadikan kepalanya menjadi kepala keledai atau rupanya menjadi rupa keledai ketika ia mengangkat kepalanya sebelum imam.” (HR. Bukhari, no. 691) Ini juga menunjukkan pengajaran, kalau dalam wilayah lebih kecil seperti dalam shalat jama’ah, kita harus patuh pada imam, maka untuk wilayah lebih luas, kita harus taat juga pada pemimpin yang sah. Shalat jama’ah berarti mengajarkan kita untuk bersatu dan taat pada pemimpin. Sebagaimana hal ini merupakan ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ibnu ‘Umar berkata bahwa beliau mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ خَلَعَ يَدًا مِنْ طَاعَةٍ لَقِىَ اللَّهَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لاَ حُجَّةَ لَهُ وَمَنْ مَاتَ وَلَيْسَ فِى عُنُقِهِ بَيْعَةٌ مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً “Barangsiapa yang melepaskan tangannya dari ketaatan pada pemimpin, maka ia pasti bertemu Allah pada hari kiamat dengan tanpa argumen yang membelanya. Barangsiapa yang mati dalam keadaan tidak ada baiat di lehernya, maka ia mati dengan cara mati jahiliyah.” (HR. Muslim no. 1851).   Baca bahasan Rumaysho[dot]Com tentang Taat pada Pemimpin: Taat pada Pemimpin Berarti Taat Rasul. Taat pada Pemimpin pada Selain Perkara Maksiat. Tidak Taat pada Pemimpin Akhirnya Mati Jahiliyah.   Bersambung insya Allah … — Disusun di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, pagi hari, 28 Rabi’ul Awwal 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsmanfaat shalat berjamah shalat berjamaah shalat jamaah


Manfaat shalat jamaah lainnya adalah mengajarkan umat untuk bersatu dan mengikuti satu pemimpin.   7. Mengajarkan orang yang tidak mengerti shalat Kebanyakan orang mengetahui cara shalat yang baik dan benar dari shalat jama’ah. Kaum muslimin dapat mengambil faedah bacaan surat juga dari shalat jama’ah. Begitu pula ada yang mengetahui dzikir setelah shalat, juga dari shalat jama’ah. Jama’ah dapat mengetahui pelajaran beberapa hukum dari imamnya seperti tentang masalah sujud sahwi (saat lupa dalam shalat). Begitu pula orang yang tidak mengerti jadi tahu dari orang yang punya ilmu.   8. Menyatukan umat Islam, tidak menjadikan mereka berpecah belah Ada yang punya pemahaman berbeda-beda. Ada yang pakai qunut shubuh, ada yang tidak, bisa menyatu dengan shalat jama’ah. Ada yang punya amalan tertentu dan ada yang tidak, bisa menyatu kala shalat Jum’at. Ada yang punya perangai yang jelek, ada yang baik, bisa menyatu pula kala sudah masuk dalam masjid untuk berjama’ah. Semuanya bisa mengerjakan shalat dengan jumlah raka’at yang sama, berada di bawah satu imam. Terwujudlah kesatuan ketika itu, tidak berpecah belah.   9. Belajar untuk mengikuti seorang pemimpin Taat pada imam di sini bentuknya juga adalah tidak mendahului dan tidak sangat terlambat dari imam. Karena barangsiapa yang mendahului imam dalam keadaan tahu dan sengaja, shalatnya batal.  Hal ini dikarenakan ancaman yang disebutkan dalam hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أَمَا يَخْشَى أَحَدُكُمْ إِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ قَبْلَ الإِمَامِ أَنْ يَجْعَلَ اللَّهُ رَأْسَهُ رَأْسَ حِمَارٍ أَوْ يَجْعَلَ اللَّهُ صُورَتَهُ صُورَةَ حِمَارٍ “Salah seorang di antara kalian dikhawatirkan dijadikan kepalanya menjadi kepala keledai atau rupanya menjadi rupa keledai ketika ia mengangkat kepalanya sebelum imam.” (HR. Bukhari, no. 691) Ini juga menunjukkan pengajaran, kalau dalam wilayah lebih kecil seperti dalam shalat jama’ah, kita harus patuh pada imam, maka untuk wilayah lebih luas, kita harus taat juga pada pemimpin yang sah. Shalat jama’ah berarti mengajarkan kita untuk bersatu dan taat pada pemimpin. Sebagaimana hal ini merupakan ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ibnu ‘Umar berkata bahwa beliau mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ خَلَعَ يَدًا مِنْ طَاعَةٍ لَقِىَ اللَّهَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لاَ حُجَّةَ لَهُ وَمَنْ مَاتَ وَلَيْسَ فِى عُنُقِهِ بَيْعَةٌ مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً “Barangsiapa yang melepaskan tangannya dari ketaatan pada pemimpin, maka ia pasti bertemu Allah pada hari kiamat dengan tanpa argumen yang membelanya. Barangsiapa yang mati dalam keadaan tidak ada baiat di lehernya, maka ia mati dengan cara mati jahiliyah.” (HR. Muslim no. 1851).   Baca bahasan Rumaysho[dot]Com tentang Taat pada Pemimpin: Taat pada Pemimpin Berarti Taat Rasul. Taat pada Pemimpin pada Selain Perkara Maksiat. Tidak Taat pada Pemimpin Akhirnya Mati Jahiliyah.   Bersambung insya Allah … — Disusun di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, pagi hari, 28 Rabi’ul Awwal 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsmanfaat shalat berjamah shalat berjamaah shalat jamaah

Keaguangan Do’a

Khotbah Jumat Masjid Nabawi21 Rabiul Awal 1437 HKhathib : Syekh Ali bin Abdurrahman Al HudzaifiKhotbah pertamaDengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.Segala puji bagi Allah Tuhan Pencipta bumi dan langit, Maha Mendengar doa, memulai dengan penganugerahan aneka kenikmatan dan pengangkatan keburukan dan bencana.Aku memuji Tuhanku dan bersyukur serta bertobat kepadaNya dengan memohon ampunNya.           Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Dia, tidak ada sekutu bagiNya yang Maha Tinggi dan Perkasa. Akupun bersaksi bahwa nabi kita dan pemuka kita Muhammad –shallallahu alaihi wa sallam- adalah hamba Allah dan rasulNya yang diutus untuk membawa syariat yang sempurna dan gemilang.Ya Allah sampaikanlah shalawat, salam dan keberkahan kepada hambaMu dan rasulMu Muhammad – shallallahu alaihi wa sallam-, keluarganya, dan para sahabatnya yang selalu berada di garis terdepan dalam setiap kebajikan dan upaya-upaya amal yang terpuji. Selanjutnya :Bertakwalah kepada Allah dengan sesungguhnya. Sebab orang yang berpegang teguh pada ketakwaan akan Allah himpunkan baginya kebaikan dunia dan akhirat, sedangkan orang yang menjauh dari ketakwaan akan celaka pada ronde-ronde terakhir dalam segala urusannya sekalipun dari segi duniawinya dalam kemapanan.Para hamba Allah !          Allah telah menetapkan jalur-jalur kebaikan dan kebahagiaan di dunia dan akhirat sebagaimana Dia-pun telah tentukan jalur-jalur keburukan. Barangsiapa yang mengikuti jalur kebaikan dan kebahagiaan pastilah Allah jamin kesuksesan urusan duniawinya di samping kesuksesan yang gemilang pada momen-momen terakhir dengan kekekalan tinggal di surga sebagai tempat kenikmatan dan meraih keridhaan Tuhan yang Maha Pemurah. Firman Allah :( هَلْ جَزَاءُ الْإِحْسَانِ إِلَّا الْإِحْسَانُ)  [ الرحمن / 60 ](Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan pula) Qs Ar-Rahman : 60Orang yang mengikuti jalur keburukan akan memetik hasil perbuatan buruknya semasa hidupnya dan sesudah matinya. Firman Allah :( لَيْسَ بِأَمَانِيِّكُمْ وَلَا أَمَانِيِّ أَهْلِ الْكِتَابِ مَنْ يَعْمَلْ سُوءًا يُجْزَ بِهِ وَلَا يَجِدْ لَهُ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلِيًّا وَلَا نَصِيرًا) [ النساء/123]( Bukanlah menurut angan-anganmu yang kosong dan tidak [pula] menurut angan-angan Ahli Kitab. Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan itu dan ia tidak mendapat pelindung dan tidak [pula] penolong baginya selain dari Allah) Qs An-Nisa : 123Camkanlah, di antara penyebab perolehan keberuntungan, kejayaan, keberhasilan dan silih bergantinya kebaikan serta penghindaran dari segala bencana dan hukuman, juga pengangkatan malapetaka yang melanda dan kemalangan adalah doa dengan tulus ikhlas dalam kekhusukan dan kesungguhan hati dalam doa. Sesungguhnya Allah-subhanahu wa ta’ala- suka dimohon dan justru memerintahkan kita untuk selalu memohon. Sebab permohonan doa dapat memberikan manfaat, baik dari hal-hal yang sudah terjadi maupun yang akan terjadi. Firman Allah :وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ [غافر/60](Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina). Qs Ghafir : 60Doa merupakan ibadah sebagaimana yang disebutkan dalam hadis Nu’man Bin Bashir bahwa Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :( الدُّعَاءُ هُوَ العِبَادَةُ ) رواه أبو داود والترمذى(Doa adalah ibadah) HR Abu Daud dan Turmuzi. Dikatakannya sebagai hadis hasan shahih.Abu Hurairah –radhiyallahu anhu- berkata, Rasulullah – shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :( ليْسَ شَيْءٌ َأكْرَمَ عَلى اللهِ تَعَاَلى مِنَ الدُّعَاءِ ( رواه الترمذى (Tidak ada suatu [zikir dan ibadah] yang lebih mulia di sisi Allah dari pada doa). HR Tirmizi, Ibnu Hibban dalam shahihnya dan Alhakim.Dikatakannya sebagai hadis yang shahih sanadnya.Doa sangat dianjurkan setiap waktu sebagai ibadah yang berpahala sangat besar. Doa dapat mewujudkan segala kebutuhan pribadi dan umum, urusan dunia dan agama, ketika hidup dan setelah mati.Mengingat manfaat doa yang demikian besar, maka Allah-subhanahu wa ta’ala- mensyariatkannya dalam ibadah-ibadah fardhu sebagai perbuatan yang wajib dilaksanakan atau disunnahkan. Hal itu merupakan bentuk kasih sayang, penghargaan dan anugerah dari Allah-subhanahu wa ta’ala-  agar kita ikuti jalan yang telah Dia diajarkan kepada kita. Sekiranya bukan karena pengajaran Allah tentang doa, tentu akal pikiran kita tidak akan menemukannya. Firman Allah :( وَعُلِّمْتُمْ مَا لَمْ تَعْلَمُوا أَنْتُمْ وَلَا آبَاؤُكُم )  [ الأنعام/91]( padahal telah diajarkan kepadamu apa yang kamu dan bapak-bapak kamu tidak mengetahui(nya). Qs Al-An’am : 91Puji syukur kita panjatkan ke hadirat Allah sebanyak-banyaknya dan seindah-indahnya dengan penuh keberkahan di dalamnya sebagaimana yang dikehendaki dan diridhai oleh-Nya. Kebutuhan akan doa menjadi sangat mendesak terutama pada zaman sekarang di tengah-tengah menggejolaknya fitnah dan melandanya bencana yang menghancurkan dan menimbulnya petaka yang menimpa kaum muslimin. Juga munculnya kelompok-kelompok pelaku bid’ah yang dapat memecah belah barisan umat Islam, menghalalkan darah dan harta benda yang seharusnya terjaga, bersikap angkuh terhadap ilmu dan para pengemban ilmu, memberi fatwa dengan kebodohan dan penyesatan.Di zaman di mana musuh-musuh Islam mengepungnya dan bersekongkol jahat terhadap kaum beriman, bersikap acuh dan berseberangan serta bersengketa di antara kaum muslimin sendiri, dengan bermacam-macam problematika yang melekat pada setiap individu umat Islam, mereka terusir dari kampung halamannya secara semena-mena sehingga mengalami penderitaan dan kesulitan ekonomi. Maka dalam situasi genting yang memanaskan hati kaum muslimin yang tinggal di negara-negara yang terlanda malapetaka seperti itulah kebutuhan akan doa semakin mendesak.Allah –subhanahu wa ta’ala- memuji mereka yang berdoa dengan penuh kerendahan hati kepadaNya ketika tertimpa persoalan-persoalan genting dan krisis. Firman Allah mengisahkan Nabi Adam dan istrinya’ –alaihimas-salam- :( قَالَا رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ )  [ الأعراف/23](Keduanya berkata: “Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi) Qs Al-A’raf : 23Firman Allah :( وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ ، الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ ، أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ)  [ البقرة/155-157](Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji´uun” Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk) Qs Al-Baqarah : 155-157Firman Allah tentang Nabi Yunus :( فَنَادَى فِي الظُّلُمَاتِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ )  [الأنبياء/87]( maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap: “Bahwa tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim). Qs Al-Anbiya : 87 Sa’ad Bin Abi Waqash –radhiyallahu anhu- berkata, Rasulullah-shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :( دَعْوَةُ ذِى النُّونِ إِذْ دَعَا وَهُوَ فِى بَطْنِ الْحُوتِ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّى كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ. فَإِنَّهُ لَمْ يَدْعُ بِهَا رَجُلٌ مُسْلِمٌ فِى شَىْءٍ قَطُّ إِلاَّ اسْتَجَابَ اللَّهُ لَهُ) [ رواه الترمذى والحاكم(Doa Dzun Nun [Nabi Yunus] ketika ia berdoa dalam perut ikan paus adalah:( لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّى كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ )[Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk diantara orang-orang yang berbuat aniaya].Sesungguhnya tidaklah seorang muslim pun berdoa dengannya ketika menghadapi suatu persoalan melainkan Allah kabulkan doanya.) HR. Ahmad, Tirmidzi dan Alhakim, dikatakannya sebagai hadis yang ber-isnad shahih.Ketika Rasulullah – shallallahu alaihi wa sallam- mengajak suku Tsaqef memeluk Islam, mereka menolak ajakan beliau, bahkan melempari beliau dengan batu, lalu beliau berdoa kepada Allah –subhanahu wa ta’ala- :( اللهمّ أشكو ضعف قوّتي، وقلّة حيلتي، وهواني على النّاس، يا أرحم الرّاحمين، إلى مَن تَكِلُني؟ إلى عدو يتجهَّمني؟ أم إلى عدوٍّ ملّكتَه أمري؟ إن لم يكن بك غضبٌ عليَّ فلا أبالي، ولكن عافيتك أوسع لي، أعوذ بنور وجهِك الذي أشرقتْ له الظّلمات، وصَلَح عليه أمر الدّنيا والآخرة من أن يحل بي غضبَك، أو ينزل بي سخطك، لك العُتْبَى حتى ترضى، ولا حول ولا قوّة إلا بك)(Ya Allah, kepadaMu aku mengadu kelemahanku, kekurangan daya upayaku dan kehinaanku pada pandangan manusia. Wahai Tuhan Yang Maha Penyayang, Engkaulah Tuhan orang yang tertindas dan Engkau adalah Tuhanku. Kepada siapakah Engkau menyerahkan diriku ini? Kepada orang asing yang akan garang terhadapku ataukah kepada musuh yang menguasai diriku? Sekiranya Engkau tidak murka kepadaku, maka aku tidak pedulikan semua itu. Namun afiat-Mu sudah cukup bagiku. Aku berlindung dengan Nur wajah-Mu yang menerangi segala kegelapan dan membuat keteraturan segala urusan dunia dan akhirat, dari turunnya kemarahan-Mu kepadaku atau menimpanya murkaMu atas diriku ini. KepadaMulah aku mengadukan nasib sehingga Engkau ridha. Tiada daya dan tiada upaya kecuali atas petunjukMu jua). Maka hanya dengan doa sajalah segala kesulitan dan malapetaka dalam hidup ini dapat diatasi karena ketidak berdayaan manusia untuk menolaknya.Tsauban meriwayatkan, Rasulullah – shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :(إنَّ الدُّعَاءَ يَنْفَعُ مِمَّا نَزَلَ وَمِمَّا لَمْ يَنْزِلْ ، فَعَلَيْكُمْ عِبَادَ اللهِ بِالدُّعَاءِ) رواه الترمذي والحاكم(Sungguh doa itu bermanfaat untuk mengatasi persoalan yang sudah terjadi dan yang belum terjadi, maka hendaklah kalian berdoa wahai hamba Allah). HR. Tirmizi dan Alhakim.Abu Hurairah –radhiyallahu anhu- meriwayatkan, Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda, sesungguhnya Allah –subhanahu wa ta’ala- berfirman  :( أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِى بِى ، وَأَنَا مَعَهُ إِذَا دعاَنِى ) رواه البخاري ومسلم(Aku sesuai persangkaan hamba-Ku kepadaKu. Aku selalu bersamanya ketika ia memohon kepadaKu). HR Bukhari dan MuslimCukuplah besar pahala dan karunia Tuhan itu. Di satu sisi, Allah-–subhanahu wa ta’ala- mencela mereka yang enggan berdoa ketika terkena bencana dan tertimpa malapetaka. Firman Allah :( وَلَقَدْ أَخَذْنَاهُمْ بِالْعَذَابِ فَمَا اسْتَكَانُوا لِرَبِّهِمْ وَمَا يَتَضَرَّعُونَ ) [المؤمنون /76](Sesungguhnya Kami telah pernah menimpakan azab kepada mereka, maka mereka tidak tunduk kepada Tuhan mereka, dan [juga] tidak memohon kepada-Nya dengan merendahkan diri) Qs Almukminun : 76Firman Allah :(وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا إِلَى أُمَمٍ مِنْ قَبْلِكَ فَأَخَذْنَاهُمْ بِالْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ لَعَلَّهُمْ يَتَضَرَّعُون ، فَلَوْلَا إِذْ جَاءَهُمْ بَأْسُنَا تَضَرَّعُوا وَلَكِنْ قَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَزَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطَانُ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ)  [ الأنعام/42 ](Sesungguhnya Kami telah mengutus [rasul-rasul] kepada umat-umat yang sebelum kamu, kemudian Kami siksa mereka dengan [menimpakan] kesengsaraan dan kemelaratan, supaya mereka memohon kepada Allah dengan tunduk merendahkan diri. Maka mengapa mereka tidak memohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri ketika datang siksaan Kami kepada mereka, bahkan hati mereka telah menjadi keras, dan syaitanpun menampakkan kepada mereka kebagusan apa yang selalu mereka kerjakan). Qs Al-An’am : 42Firman Allah :( وَمَا أَرْسَلْنَا فِي قَرْيَةٍ مِنْ نَبِيٍّ إِلَّا أَخَذْنَا أَهْلَهَا بِالْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ لَعَلَّهُمْ يَضَّرَّعُونَ) [ الأعراف / 94 ](Kami tidaklah mengutus seseorang nabipun kepada sesuatu negeri, (lalu penduduknya mendustakan nabi itu), melainkan Kami timpakan kepada penduduknya kesempitan dan penderitaan supaya mereka tunduk dengan merendahkan diri). Qs Al-A’raf : 94 Meninggalkan doa dalam kondisi krisis merupakan sikap nekat dan terlalu berani dalam berbuat dosa dengan menyepelekan sanksi hukuman Allah yang sangat pedih. Firman Allah :( إِنَّ بَطْشَ رَبِّكَ لَشَدِيدٌ ) [ البروج 12]( Sesungguhnya azab Tuhanmu benar-benar keras ) Qs Al-Buruj : 12 Doa merupakan faktor utama bagi turunnya kebaikan dan keberkahan serta tertangkisnya dan terangkatnya keburukan dari orang yang berdoa. Doa pula sebagai solusi yang dominan untuk melepaskan diri dari persoalan yang terjadi dan kesulitan yang menimpa. Firman Allah :( وَأَيُّوبَ إِذْ نَادَى رَبَّهُ أَنِّي مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَأَنْتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ ، فَاسْتَجَبْنَا لَهُ فَكَشَفْنَا مَا بِهِ مِنْ ضُرٍّ وَآتَيْنَاهُ أَهْلَهُ وَمِثْلَهُمْ مَعَهُمْ رَحْمَةً مِنْ عِنْدِنَا وَذِكْرَى لِلْعَابِدِينَ ) [ الأنبياء / 83-84 ](Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Tuhannya: “(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang. Maka Kamipun memperkenankan seruannya itu, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami lipat gandakan bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah). Qs Al-Anbiya : 83-84Firman Allah :( أمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ )  [ النمل / 62 ](Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan). Qs An-Naml : 62Tentu tidak ada seorang pun yang mampu berbuat banyak kecuali Allah –subhanahu wa ta’ala- .Firman Allah :( قُلْ مَنْ يُنَجِّيكُمْ مِنْ ظُلُمَاتِ الْبَرِّ وَالْبَحْرِ تَدْعُونَهُ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً لَئِنْ أَنْجَانَا مِنْ هَذِهِ لَنَكُونَنَّ مِنَ الشَّاكِرِينَ) [الأنعام/63](Katakanlah: “Siapakah yang dapat menyelamatkan kamu dari bencana di darat dan di laut, yang kamu berdoa kepada-Nya dengan rendah diri dengan suara yang lembut (dengan mengatakan: “Sesungguhnya jika Dia menyelamatkan kami dari bencana ini, tentulah kami menjadi orang-orang yang bersyukur). Qs Al-An’am : 63Seorang muslim sudah seharusnya mendekatkan diri kepada Allah dalam upaya melakukan perbaikan terhadap segala urusan dan melaporkan segala kebutuhannya kepada Allah -subhanahu wa ta’ala-. Hendaklah memohon kepada Allah, apapun yang dibutuhkannya, sedangkan klimaks dari segala permohonan adalah surga dan terhindar dari siksa neraka. Firman Allah dalam hadis Qudsi :( يَا عِبَادِي كُلُّكُمْ  ضَالٌّ إِلاَّ مَنْ هَدَيْتُهُ، فَاسْتَهْدُوْنِي أَهْدِكُمْ . يَا عِبَادِي كُلُّكُمْ جَائِعٌ إِلاَّ مَنْ أَطْعَمْتُهُ فَاسْتَطْعِمُوْنِي أَطْعِمْكُمْ . يَا عِبَادِي كُلُّكُمْ عَارٍ إِلاَّ مَنْ كَسَوْتُهُ فَاسْتَكْسُوْنِي أَكْسُكُمْ . يَا عِبَادِي إِنَّكُمْ تُخْطِئُوْنَ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَأَناَ أَغْفِرُ الذُّنُوْبَ جَمِيْعاً، فَاسْتَغْفِرُوْنِي أَغْفِرْ لَكُمْ ) رواه مسلم(Wahai hamba-Ku semua kalian adalah sesat kecuali siapa yang Aku beri hidayah, maka mintalah hidayah kepada-Ku niscaya kalian Aku beri hidayah. Wahai hamba-Ku, kalian semua kelaparan kecuali siapa yang aku beri makanan, maka mintalah makan kepada-Ku niscaya kalian Aku beri makanan. Wahai hamba-Ku, kalian semua adalah telanjang kecuali siapa yang aku beri pakaian, maka mintalah pakaian kepada-Ku niscaya kalian Aku beri pakaian. Wahai hamba-Ku kalian semuanya melakukan kesalahan pada malam dan siang hari dan Aku mengampuni semua dosa, maka mintalah ampun kepada-Ku niscaya kalian akan Aku ampuni).HR Muslim dari hadis Abu Dzar – radhiyallahu anhu -.Artinya, mintalah kalian petunjuk, makanan, pakaian dan ampunan kepadaKu niscaya Aku penuhi permintaan kalian. Hadits ini merupakan penekanan agar seseorang selalu memohon kepada Allah, sampai dalam persoalan tali alas kakinya dan rasa asin (garam) pada makanannya-pun diperintahkan untuk dimohonkan kepadaNya.Betapa banyak doa yang mampu merubah perjalanan sejarah dari kondisi buruk menjadi baik, dan dari kondisi baik menjadi lebih baik. Firman Allah -subhanahu wa ta’ala- tentang Nabi Ibrahim – alaihis-salam-  :(رَبَّنَا وَابْعَثْ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُزَكِّيهِمْ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ) [البقرة/129](Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka sesorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab (Al Quran) dan Al-Hikmah (As-Sunnah) serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana). Qs Al-Baqarah : 129 Abu Umamah – radhiyallahu anhu- berkata, aku bertanya, Ya Rasulullah!( مَا كَانَ أَوَّلُ بَدْء أَمْرِكَ؟ قَالَ: “دَعْوَةُ أَبِي إِبْرَاهِيمَ، وَبُشْرَى عِيسَى بِي، وَرَأَتْ أُمِّي أَنَّهُ خَرَجَ مِنْهَا نُورٌ أَضَاءَتْ لَهُ قُصُورُ الشَّامِ ) رواه أحمد)Apa sebenarnya permulaan dari urusanmu? Nabi Saw. menjawab, “Doa ayahku Ibrahim, berita gembira oleh Isa mengenai aku, dan ibuku melihat dalam mimpinya telah keluar dari tubuhnya suatu cahaya yang menerangi gedung-gedung negeri Syam”) HR Ahmad.Kaum muslimin selalu dalam kebaikan berkat doa itu. Bumi ini pun mendapatkan keberkahan dari doa mereka. Doa yang dipanjatkan oleh Nabi Nuh -alaihissalam- membawa keberkahan bagi seluruh orang-orang beriman yang meng-esa-kan Allah, dan mendatangkan bencana bagi kaum pagan [orang-orang musyrik]. Demikian pula doa Nabi Isa –alaihissalam- dan sahabat-sahabatnya yang terkepung di Tursina pada akhir zaman merupakan kemenangan bagi kaum muslimin dan kehancuran bagi Gog dan Magog sebagai bangsa laksana belalang yang bertebaran di bumi, mereka adalah sejahat-jahat mahluk dan paling banyak berbuat kerusakan, keonaran dan arogansi.Disebutkan dalam hadis Annawas Bin Sam’an –radhiyallahu anhu- sesudah Nabi Isa-alaihissalam- selesai membunuh Almasih Dajal :( إذْ أَوْحَى اللهُ إِلَى عِيسَى إِنِّي قَدْ أَخْرَجْتُ عِبَادًا لِي لاَ يَدَانِ لِأَحَدٍ بِقِتَالِهِمْ فَحَرِّزْ عِبَادِي إِلَى الطُّورِ وَيَبْعَثُ اللهُ يَأْجُوجَ وَمَأْجُوجَ وَهُمْ مِنْ كُلِّ حَدَبٍ يَنْسِلُونَ فَيَمُرُّ أَوَائِلُهُمْ عَلَى بُحَيْرَةِ طَبَرِيَّةَ فَيَشْرَبُونَ مَا فِيهَا وَيَمُرُّ آخِرُهُمْ فَيَقُولُونَ لَقَدْ كَانَ بِهَذِهِ مَرَّةً مَاءٌ وَيُحْصَرُ نَبِيُّ اللهِ عِيسَى وَأَصْحَابُهُ حَتَّى يَكُونَ رَأْسُ الثَّوْرِ لِأَحَدِهِمْ خَيْرًا مِنْ مِائَةِ دِينَارٍ لِأَحَدِكُمُ الْيَوْمَ فَيَرْغَبُ نَبِيُّ اللهِ عِيسَى وَأَصْحَابُهُ رضِيَ الله ُعَنهُمْ إلَى اللهِ تعَالى فيَدْعُوْنَهُ فَيُرْسِلُ اللهُ عَلَيْهِمُ النَّغَفَ فِي رِقَابِهِمْ وَهُوَ الدُّوْدُ فَيُصْبِحُونَ مَوْتَى كَمَوْتِ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ ثُمَّ يَهْبِطُ نَبِيُّ اللهِ عِيسَى وَأَصْحَابُهُ إِلَى اْلأَرْضِ فَلاَ يَجِدُونَ فِي اْلأَرْضِ مَوْضِعَ شِبْرٍ إِلاَّ مَلَأَهُ زَهَمُهُمْ وَنَتْنُهُمْ فَيَرْغَبُ نَبِيُّ اللهِ عِيسَى صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ وَأَصْحَابُهُ إِلَى اللهِ يَدْعُوْنَهُ فَيُرْسِلُ اللهُ طَيْرًا كَأَعْنَاقِ الْبُخْتِ فَتَحْمِلُهُمْ فَتَطْرَحُهُمْ حَيْثُ شَاءَ اللهُ تَعَالَى ) رواه مسلمKetika Allah -subhanahu wa ta’ala- mewahyukan kepada Isa –alaihissalam-: Sesungguhnya Aku mengeluarkan hamba-hambaKu yang tidak ada kemampuan bagi seorang pun untuk memeranginya. Maka biarkanlah mereka hamba-hambaKu menuju Tursina. Lalu Allah -subhanahu wa ta’ala- keluarkan Gog dan Magog yang mana mereka mengalir dari setiap tempat yang tinggi. Gelombang pertama melewati danau Tabariah, dan meminum seluruh air yang ada padanya, hingga ketika barisan paling belakang telah sampai pada danau tersebut mereka berkata: “Sungguh dahulu di sini masih ada airnya.” Ketika itu Nabi Isa –alaihissalam- dan para sahabatnya terkepung, hingga kepala sapi bagi mereka saat itu lebih berharga dari pada seratus dinar kalian saat ini. Maka Isa dan para sahabatnya berharap [berdoa] kepada Allah -subhanahu wa ta’ala-, lalu Allah-pun mengirim sejenis ulat yang menyerang leher mereka. Maka pagi harinya mereka seluruhnya binasa menjadi bangkai-bangkai dalam waktu yang hampir bersamaan. Kemudian turunlah Nabi Isa-alaihissalam- [dari gunung Tursina] bersama para sahabatnya, ketika itulah tidak didapati satu jengkal pun tempat kecuali penuh dengan bangkai dan bau busuk mereka. Maka Nabi Isa –alaihissalam- pun berharap (berdoa) kepada Allah -subhanahu wa ta’ala-. Maka Allah lalu mengirimkan burung-burung yang lehernya seperti unta, membawa bangkai-bangkai mereka dan kemudian dilemparkan di tempat yang Allah kehendaki). HR. Muslim Doa Nabi kita Muhammad –shallallahu alaihi wa sallam- pemimpin umat manusia bersama sahabat-sahabatnya di Badar merupakan kemenangan bagi Islam secara permanen dan kenistaan bagi kekafiran untuk selama-lamanya. Firman Allah :( إِذْ تَسْتَغِيثُونَ رَبَّكُمْ فَاسْتَجَابَ لَكُمْ أَنِّي مُمِدُّكُمْ بِأَلْفٍ مِنَ الْمَلَائِكَةِ مُرْدِفِينَ) [ الأنفال /9](Ingatlah, ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu: “Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan untukmu berupa seribu malaikat yang datang berturut-turut). Qs Al-Anfal : 9Nabi-shallallahu alaihi wa sallam- berdoa dengan sepenuh hati di Badar sehingga kain selendang beliau melorot. Abu Bakar- radhiyallahu anhu- mendampingi beliau lalu berkata : Cukuplah sudah Ya Rasulullah apa yang engkau mohonkan kepada Tuhan, karena Allah sungguh memenuhi janjiNya kepada engkau. Doa memohon untuk kemenangan bagi kebenaran dan kehancuran bagi kebatilan merupakan kebulatan hati dalam berbuat baik kepada Allah, kitabNya, rasulNya, para pemimpin kaum muslimin dan seluruh kaum muslimin pada umumnya. Oleh karena itu, tidak mungkin meninggalkan doa kecuali orang yang jelas terhalang dari nasib mujur di dunia dan akhirat, yang menyia-nyiakan tugas wajibnya terhadap Islam dan sesama muslim.Di sebutkan dalam hadis :” مَنْ لَمْ يَهْتَم بِأمِرِ المْسْلِمِيْنَ فَلَيْسَ مِنْهُمْ ““Barangsiapa yang tidak peduli pada urusan kaum muslimin, tidaklah ia termasuk golongan mereka”.Jika kita teliti secara seksama pengaruh doa, keberkahan, kebaikan dan dampak positifnya yang mengagumkan, tentu perlu pemaparan yang panjang lebar. Namun di sini cukuplah apa yang kami singgung di atas.Berdoa tentu ada syarat-syaratnya dan etikanya. Antara lain, hendaknya orang yang berdoa memakan makanan yang halal dan mengenakan pakaian yang halal. Rasulullah –shallahu alaihi wa sallam- berpesan kepada Sa’ad Bin Abi Waqash : “Wahai Sa’ad, bersihkanlah makananmu niscaya doamu terkabulkan”. Di antara syarat berdoa ialah tetap dalam koridor Sunnah Nabi dan mengikuti ketetapan Allah dengan menjalankan perintah-perintahnya. Allah berfirman :(وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ) [البقرة/186](Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka [jawablah], bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi [segala perintah-Ku] dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran). Qs Albaqarah : 186Firman Allah :( وَيَسْتَجِيبُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَيَزِيدُهُمْ مِنْ فَضْلِهِ ) [ الشورى/26](Dan Dia memperkenankan [doa] orang-orang yang beriman serta mengerjakan amal yang saleh dan menambah [pahala] bagi mereka dari karunia-Nya). Qs As-Syura : 26 Perlu diingat, doa orang yang teraniaya adalah mustajabah meskipun dia itu orang kafir atau pelaku bid’ah. Di antara syarat berdoa ialah ikhlas dan kehadiran hati serta kemauan bulat dalam memohon dengan mendekatkan diri kepada Allah –subhanahu wa ta’ala-. Firman Allah :( فَادْعُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ ) [ غافر/14](Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ibadat kepada-Nya, meskipun orang-orang kafir tidak menyukai). Qs Ghafir : 14Disebutkan dalam hadis :“Allah tidak menerima doa seseorang yang hatinya lalai dan melayang”.Di antara syarat terkabulnya doa ialah tidak berdoa untuk sesuatu yang berakibat dosa atau pemutusan tali kekerabatan, dan tidak berdoa untuk sesuatu yang melampaui batas-batas kewajaran. Di antara sebab terkabulnya doa ialah memuji Allah dengan menyebut nama-namaNya yang baik (Asmaul-Husna) dan sifat-sifatNya yang luhur serta bershalawat kepada Nabi-shallallahu alaihi wa sallam-.Dalam suatu riwayat disebutkan, Rasulullah-shallallahu alaihi wa sallam- mendengar seorang lelaki berdoa : ( اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ بِأَنِّيْ أَشْهَدُ أَنَّكَ أَنْتَ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ اْلأَحَدُ الصَّمَدُ الَّذِيْ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلَدْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَد). رواه أبوداود والترمذى(Ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu dengan bersaksi bahwa Engkau adalah Allah, tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau, Maha Esa, tidak membutuhkan sesuatu tapi segala sesuatu membutuhkan-Mu, tidak beranak dan tidak diperanakkan, tidak seorang pun yang menyamaiNya). Maka beliau – shallallahu alaihi wa sallam- berkata kepadanya : “ Sungguh kamu telah memohon kepada Allah melalui asma-Nya yang agung yang bilamana seseorang memohon dengannya niscaya diberi, dan bilamana ia berdoa dengannya, niscaya doanya dikabulkan pula.) HR Abu Daud dan Tirmizi. Dikatakannya sebagai hadis hasan.Fudhalah Bin Ubaid-radhiyallahu anhu- berkata : Ketika Rasulullah – shallallahu alaihi wa sallam- sedang duduk, tiba-tiba ada seorang lelaki masuk lalu berdoa :( اللّهُمَّ اغْفِرْلِى وَارْحَمْنِى )( Ya Allah, ampunilah aku dan kasihanilah aku ), maka Rasulullah- shallallahu alaihi wa sallam- menegurnya seraya berkata : “Kamu terlalu tergesa-gesa hai orang yang sedang berdoa. Jika kamu berdoa lalu duduk, pujilah Allah sebagaimana lazimnya dengan Allah, sesudah itu berdoalah shalawat untukku, lalu memohonlah kepada Allah”. HR. Ahmad, Abu Daud dan Tirmizi. Dikatakannya sebagai hadis hasan.Dalam hadis lain disebutkan bahwa doa seseorang senantiasa tergantung di antara langit dan bumi sehingga orang tersebut menyampaikan doa shalawat kepada Nabi –shallallahu alaihi wa sallam-.Di antara etika dan syarat terkabulnya doa, seorang yang berdoa hendaklah tidak tergesa-gesa, tetapi bersabar. Disebutkan dalam hadis, “Akan terpenuhi doa salah seorang di antara kalian selagi tidak tergesa-gesa, sambil bergumam, “aku sudah berdoa, namun belum kunjung dikabulkan juga”. HR Bukhari dan Muslim dari hadis Abu Hurairah- radhiyallahu anhu-. Bersamaan dengan kelanggengan berdoa, akan terkabul doa seseorang. Disebutkan dalam hadis, : “Tidak seorang pun muslim di atas bumi yang berdoa melainkan Allah memperkenankan apa yang diminta atau menghindarkannya dari keburukan yang setara dengannya selagi dirinya tidak memohon sesuatu yang mengandung dosa atau pemutusan tali kekerabatan, maka tiba-tiba ada seorang lelaki yang berkata, “Kalau demikian kami memperbanyak doa. Maka Nabi-sallallahu alaihi wa sallam- bersabda : “Allah-pun akan memperbanyak pemberianNya”. HR Tirmizi, dikatakannya sebagai hadis hasan shahih. Diriwayatkan pula oleh Alhakim melalui jalur Abu Said dengan tambahan redaksi :” أو يَدًّخِرُ لَهُ مِنْ مِثْلِهَا “( Atau Allah mendepositokan baginya kebaikan yang setara dengannya ). Maka seyogianya seorang muslim membidik waktu-waktu yang mustajabah untuk berdoa. Rasulullah- sallallahu alaihi wa sallam- pernah ditanya, “Ya Rasulallah, doa apakah yang paling didengar oleh Allah?”. Beliau menjawab, “Doa di akhir tengah malam dan di setiap selesai shalat fardhu”. HR Tirmizi, dikatakannya sebagai hadis hasan dari hadis Abu Umamah.Dalam hadis disebutkan :( يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ يَقُولُ : مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ ) رواه البخاري ومسلم (Tuhan kita -tabaaraka wa ta’ala- turun pada setiap malam ke langit dunia pada sepertiga malam terakhir, Dia berfirman, ‘Siapa yang berdoa kepada-Ku, akan Aku kabulkan, siapa yang meminta kepada-Ku akan Aku berikan, siapa yang minta ampun kepada-Ku akan Aku ampuni). HR Bukhari dan Muslim dari hadis Abu Hurairah- radhiyallahu anhu-. Doa di waktu antara azan dan iqamah tidak akan tertolak. Demikian pula pada saat bersujud. Disebutkan dalam hadis,( أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ، وَهُوَ سَاجِدٌ، فَأَكْثِرُوا الدُّعَاءَ ) رواه مسلم(Keadaan paling dekat bagi seorang hamba kepada Tuhan-nya adalah ketika dia dalam keadaan sujud, maka perbanyaklah berdoa). HR. Muslim dari hadis Abu Hurairah.Ketika melihat Ka’bah, ketika turunnya hujan, ketika sedang dalam keadaan darurat, setelah mengkhatamkan Al-Qur’an dan setelah bersedekah pun doa seseorang terkabulkan.Betapa besar kebahagiaan, keberuntungan dan pahala bagi orang yang hatinya selalu tersambung dengan Allah –subhanahu wa ta’ala-, yang selalu memohon, mengharap, bertawakal dan meminta pertolonganNya.Sungguh celaka dan terlampau jauh kemusyrikan dan kekafiran orang yang memohon kepada pemakaman dan pekuburan atau menyampaikan hajat hidupnya kepada malaikat atau nabi. Tugas para nabi dan rasul adalah mengajak umat manusia untuk memohon kepada Allah –subhanahu wa ta’ala- semata, dan memurnikan permohonan hanya kepadaNya. Demikian pula para wali, kita diperintahkan untuk berbuat seperti apa yang mereka perbuat dan meneladani mereka, kita dilarang berdoa, mengharap dan memohon kepada mereka. Firman Allah :( وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَدًا )  [ الجن / 18 ](Dan sesungguhnya mesjid-mesjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah seseorangpun di dalamnya di samping [menyembah] Allah) Qs Al-Jin : 18Firman Allah :( قُلْ إِنَّمَا أَدْعُو رَبِّي وَلَا أُشْرِكُ بِهِ أَحَدًا ) [ الجن / 20 ](Katakanlah: “Sesungguhnya aku hanya menyembah Tuhanku dan aku tidak mempersekutukan sesuatupun dengan-Nya) Qs Al-Jin : 20Seseorang yang menghilang dan orang-orang mati, tidak ada seorangpun di antara mereka yang bisa memenuhi permohonan yang ditujukan kepada mereka, sebab yang bisa memenuhi dan mengabulkan doa hanyalah Allah -subhanahu wa ta’ala-. Firman Allah :( لَهُ دَعْوَةُ الْحَقِّ وَالَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ لَا يَسْتَجِيبُونَ لَهُمْ بِشَيْءٍ إِلَّا كَبَاسِطِ كَفَّيْهِ إِلَى الْمَاءِ لِيَبْلُغَ فَاهُ وَمَا هُوَ بِبَالِغِهِ وَمَا دُعَاءُ الْكَافِرِينَ إِلَّا فِي ضَلَالٍ ) [ الرعد/14](Hanya bagi Allah-lah (hak mengabulkan) doa yang benar. Dan berhala-berhala yang mereka sembah selain Allah tidak dapat memperkenankan sesuatupun bagi mereka, melainkan seperti orang yang membukakan kedua telapak tangannya ke dalam air supaya sampai air ke mulutnya, padahal air itu tidak dapat sampai ke mulutnya. Dan doa (ibadat) orang-orang kafir itu, hanyalah sia-sia belaka). Qs Ar-Ra’d : 14Firman Allah :( وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنْ يَدْعُو مِنْ دُونِ اللَّهِ مَنْ لَا يَسْتَجِيبُ لَهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَهُمْ عَنْ دُعَائِهِمْ غَافِلُونَ ، وَإِذَا حُشِرَ النَّاسُ كَانُوا لَهُمْ أَعْدَاءً وَكَانُوا بِعِبَادَتِهِمْ كَافِرِينَ ، [ الأحقاف/5 – 6](Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang menyembah sembahan-sembahan selain Allah yang tiada dapat memperkenankan (doa)nya sampai hari kiamat dan mereka lalai dari [memperhatikan] doa mereka.  Dan apabila manusia dikumpulkan (pada hari kiamat) niscaya sembahan-sembahan itu menjadi musuh mereka dan mengingkari pemujaan-pemujaan mereka). Qs Al-Ahqaf : 5-6Allah pun berfirman dalam konteks pengisahan tentang pekerjaan-pekerjaanNya :يُولِجُ اللَّيْلَ فِي النَّهَارِ وَيُولِجُ النَّهَارَ فِي اللَّيْلِ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ كُلٌّ يَجْرِي لِأَجَلٍ مُسَمًّى ذَلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمْ لَهُ الْمُلْكُ وَالَّذِينَ تَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ مَا يَمْلِكُونَ مِنْ قِطْمِيرٍ ، إِنْ تَدْعُوهُمْ لَا يَسْمَعُوا دُعَاءَكُمْ وَلَوْ سَمِعُوا مَا اسْتَجَابُوا لَكُمْ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يَكْفُرُونَ بِشِرْكِكُمْ وَلَا يُنَبِّئُكَ مِثْلُ خَبِيرٍ ) [ فاطر/ 13 – 14 ](Dia memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam dan menundukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan. Yang [berbuat] demikian itulah Allah Tuhanmu, kepunyaan-Nya-lah kerajaan. Dan orang-orang yang kamu seru [sembah] selain Allah tiada mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari. Jika kamu menyeru mereka, mereka tiada mendengar seruanmu; dan kalau mereka mendengar, mereka tidak dapat memperkenankan permintaanmu. Dan dihari kiamat mereka akan mengingkari kemusyirikanmu dan tidak ada yang dapat memberi keterangan kepadamu sebagai yang diberikan oleh Yang Maha Mengetahui ) Qs Fathir : 13-14 Allah -subhanahu wa ta’ala- tidak mengizinkan seseorangpun memohon kepada selainNya meskipan yang dimohon itu malaikat yang dekat kepada Allah.Allah -subhanahu wa ta’ala- berfirman mengisahkan Nabi Isa Bin Maryam –alaihissalam-  :( وَقَالَ الْمَسِيحُ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ ) [ المائدة / 72 ]( Al Masih [sendiri] berkata: “Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu”. Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun). Qs Al-Maidah : 72 ( مَنْ مَاتَ وَهُوَ يَدْعُوْ مِنْ دُوْنِ اللهِ نِدًّا دَخَلَ النَّارَ )  رواه البخاري(Barang siapa yang mati dalam keadaan menyembah sesembahan selain Allah, maka masuklah ia kedalam neraka). HR. Bukhari dari hadis Abdullah Bin Mas’ud.Saudaraku sesama muslim!          Itulah pesan Kitab Allah dan Sunnah rasulNya –shallallahu alaihi wa sallam- yang menandaskan bahwa doa pada hakikatnya adalah ibadah, Oleh karena itu doa hanya boleh ditujukan kepada Allah –subhanahu wa ta’ala-. Barangsiapa yang melibatkan seseorang selain Allah dalam doa, maka ia telah melakukan kemusyrikan besar. Maka dalam hal kesesatan dan kemusyrikan ini janganlah ada seseorang yang meniru-niru orang lain, sebab tidak seorangpun terjebak dalam kemusyrikan dan kekafiran kecuali akibat sikapnya yang suka meniru-niru dan mengikuti orang-orang yang tersesat.Firman Allah :( أَذَلِكَ خَيْرٌ نُزُلًا أَمْ شَجَرَةُ الزَّقُّومِ ، إِنَّا جَعَلْنَاهَا فِتْنَةً لِلظَّالِمِينَ ،  إِنَّهَا شَجَرَةٌ تَخْرُجُ فِي أَصْلِ الْجَحِيمِ ، طَلْعُهَا كَأَنَّهُ رُءُوسُ الشَّيَاطِينِ ، فَإِنَّهُمْ لَآكِلُونَ مِنْهَا فَمَالِئُونَ مِنْهَا الْبُطُونَ ، ثُمَّ إِنَّ لَهُمْ عَلَيْهَا لَشَوْبًا مِنْ حَمِيمٍ ، ثُمَّ إِنَّ مَرْجِعَهُمْ لَإِلَى الْجَحِيمِ ، إِنَّهُمْ أَلْفَوْا آبَاءَهُمْ ضَالِّينَ ، فَهُمْ عَلَى آثَارِهِمْ يُهْرَعُونَ ) [ الصافات / 62-70](Makanan surga itukah hidangan yang lebih baik ataukah pohon zaqqum. Sesungguhnya Kami menjadikan pohon zaqqum itu sebagai siksaan bagi orang-orang yang zalim. Sesungguhnya dia adalah sebatang pohon yang ke luar dan dasar neraka yang menyala. mayangnya seperti kepala setan-setan. Maka sesungguhnya mereka benar-benar memakan sebagian dari buah pohon itu, maka mereka memenuhi perutnya dengan buah zaqqum itu. Kemudian sesudah makan buah pohon zaqqum itu pasti mereka mendapat minuman yang bercampur dengan air yang sangat panas. Kemudian sesungguhnya tempat kembali mereka  benar-benar ke neraka Jahim. Karena sesungguhnya mereka mendapati bapak-bapak mereka dalam Keadaaan sesat. Lalu mereka sangat tergesa-gesa mengikuti jejak orang-orang tua mereka itu.) Qs. Ashshafat : 62-70 Firman Allah : ( ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ ) ( الأعراف/55](Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas). Qs Al-A’raf : 55Semoga Allah mencurahkan keberkahan kepadaku dan kepada kalian berkat pengamalan Al-Qur’an yang agung !—————–Khotbah kedua Segala puji bagi Allah yang Maha Pengasih dan Pemurah, Maha Perkasah dan Bijaksana. BagiNya nama-nama yang banik dan indah dengan sifat-sifatNya yang luhur dan agung. Aku bersaksi nahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tiada sekutu bagiNya yang Maha Tinggi dan Agung. Dan aku bersaksi bahwa nabi kita dan pemimpin kita Muhammad –shallallahu alaihi wa sallam- adalah hamba Allah dan rasul pilihanNya.Ya Allah sampaikanlah shalawat, salam dan keberkahan kepada hambaMu, rasulMu Muhammad – shallallahu alaihi wa sallam- beserta seluruh keluarga dan sahabatnya yang konsisten dalam ketakwaan.Selanjutnya :          Bertakwalah kepada Allah, niscaya Allah akan memperbaiki amal perbuatan kalian dan menjadikan kalian orang-orang yang beruntung di dunia sekarang dan di akhirat kelak.Hamba-hamba Allah!          Tetaplah kalian tersambung dengan Allah dengan selalu memohon kepadaNya dalam doa. Tidak akan kecewa orang yang memohon kepadaNya dan tidak akan terhalang dari anugerahNya orang yang mengharapkan karuniaNya.          Kebutuhan hidup setiap menusia akan tetap ada, dengan berbagai macam tuntutan yang muncul setiap waktu. Maka hendaklah setiap individu memohon kepada Tuhannya apa saja yang dinilainya sebagai suatu kebaikan, dan hendaklah berlindung kepadaNya dari apapun yang diduganya mendatangkan keburukan.          Puncak dari permohonan adalah ridha Ilahi dan surgaNya, sedangkan perlindungan yang paling urgen adalah terhindar dari hukuman neraka. Oleh sebab itu sepatutnya setiap muslim bersungguh-sungguh dalam memohon kepada Tuhan apapun hajat yang mendesak baginya, karena Allah –subhanahu wa ta’ala- Maha Pemurah dan Maha Terpuji, Maha Dermawan, Maha Agung dan Maha Kuasa.Firman Allah dalam hadis Qudsi :( يَا عِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أَتْقَى قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مِنْكُمْ مَا زَادَ ذَلِكَ مِمَّا عِنْدِيْ شَيْئاً . يَا عِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أَفْجَرِ قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مِنْكُمْ مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِمَّا عِنْدِيْ شَيْئاً . يَا عِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ قَامُوا فِي صَعِيْدٍ وَاحِدٍ فَسَأَلُوْنِي فَأَعْطَيْتُ كُلَّ وَاحِدٍ مَسْأَلَتَهُ مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِمَّا عِنْدِي إِلاَّ كَمَا يَنْقُصُ الْمَخِيْطُ إِذَا أُدْخِلَ الْبَحْرَ). رواه مسلم (Wahai hambaKu seandainya sejak orang pertama di antara kalian sampai orang terakhir, dari kalangan manusia dan jin semuanya berada dalam keadaan paling bertakwa di antara kamu, niscaya hal itu tidak menambah apa yang Aku miliki sedikitpun.  Wahai hambaKu seandainya sejak orang pertama di antara kalian sampai orang terakhir, dari golongan manusia dan jin, semuanya dalam keadaan paling durhaka di antara kalian, niscaya hal itu tidak akan mengurangi apa yang ada padaKu sedikitpun juga. Wahai hamba-Ku, seandainya  sejak orang pertama diantara kalian sampai orang terakhir  semunya berdiri di sebuah bukit lalu kalian meminta kepada-Ku, lalu setiap orang yang meminta Aku penuhi, niscaya hal itu tidak mengurangi apa yang ada padaKu kecuali bagaikan sebuah jarum yang dicelupkan di tengah lautan). HR Muslim          Dianjurkan bagi seorang muslim memilih doa sapu jagat yang diajarkan oleh Nabi – shallallahu alaihi wa sallam- sebagaimana dalam ayat Al-Qur’an :( رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ )  [ البقرة / 201 ](Dan di antara mereka ada orang yang berdoa: “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka). Qs Albaqarah : 201Dan doa ma’tsur lainnya seperti :اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ رِضَاكَ وَالْجَنَّةَ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ وَعَمَلٍ وَنَعُوْذُ بِكَ مِنْ سَخَطِكَ وَالنَّارِ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ وَعَمَلٍ.(Ya Allah, kami memohon kepada-Mu ridha dan surga-Mu serta semua ucapan maupun perbuatan yang dapat mendekatkan kami kepadanya, dan kami berlindung kepada-Mu dari murka dan neraka-Mu serta semua ucapan maupun perbuatan yang dapat mendekatkan kami kepadanya). Hamba-hamba Allah!          Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikatNya bershalawat kepada Nabi. Wahai orang-orang yang beriman bershalawatlah kalian dan sampaikan salam kepadanya!.—- Selesai —-Penerjemah: Usman Hatim

Keaguangan Do’a

Khotbah Jumat Masjid Nabawi21 Rabiul Awal 1437 HKhathib : Syekh Ali bin Abdurrahman Al HudzaifiKhotbah pertamaDengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.Segala puji bagi Allah Tuhan Pencipta bumi dan langit, Maha Mendengar doa, memulai dengan penganugerahan aneka kenikmatan dan pengangkatan keburukan dan bencana.Aku memuji Tuhanku dan bersyukur serta bertobat kepadaNya dengan memohon ampunNya.           Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Dia, tidak ada sekutu bagiNya yang Maha Tinggi dan Perkasa. Akupun bersaksi bahwa nabi kita dan pemuka kita Muhammad –shallallahu alaihi wa sallam- adalah hamba Allah dan rasulNya yang diutus untuk membawa syariat yang sempurna dan gemilang.Ya Allah sampaikanlah shalawat, salam dan keberkahan kepada hambaMu dan rasulMu Muhammad – shallallahu alaihi wa sallam-, keluarganya, dan para sahabatnya yang selalu berada di garis terdepan dalam setiap kebajikan dan upaya-upaya amal yang terpuji. Selanjutnya :Bertakwalah kepada Allah dengan sesungguhnya. Sebab orang yang berpegang teguh pada ketakwaan akan Allah himpunkan baginya kebaikan dunia dan akhirat, sedangkan orang yang menjauh dari ketakwaan akan celaka pada ronde-ronde terakhir dalam segala urusannya sekalipun dari segi duniawinya dalam kemapanan.Para hamba Allah !          Allah telah menetapkan jalur-jalur kebaikan dan kebahagiaan di dunia dan akhirat sebagaimana Dia-pun telah tentukan jalur-jalur keburukan. Barangsiapa yang mengikuti jalur kebaikan dan kebahagiaan pastilah Allah jamin kesuksesan urusan duniawinya di samping kesuksesan yang gemilang pada momen-momen terakhir dengan kekekalan tinggal di surga sebagai tempat kenikmatan dan meraih keridhaan Tuhan yang Maha Pemurah. Firman Allah :( هَلْ جَزَاءُ الْإِحْسَانِ إِلَّا الْإِحْسَانُ)  [ الرحمن / 60 ](Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan pula) Qs Ar-Rahman : 60Orang yang mengikuti jalur keburukan akan memetik hasil perbuatan buruknya semasa hidupnya dan sesudah matinya. Firman Allah :( لَيْسَ بِأَمَانِيِّكُمْ وَلَا أَمَانِيِّ أَهْلِ الْكِتَابِ مَنْ يَعْمَلْ سُوءًا يُجْزَ بِهِ وَلَا يَجِدْ لَهُ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلِيًّا وَلَا نَصِيرًا) [ النساء/123]( Bukanlah menurut angan-anganmu yang kosong dan tidak [pula] menurut angan-angan Ahli Kitab. Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan itu dan ia tidak mendapat pelindung dan tidak [pula] penolong baginya selain dari Allah) Qs An-Nisa : 123Camkanlah, di antara penyebab perolehan keberuntungan, kejayaan, keberhasilan dan silih bergantinya kebaikan serta penghindaran dari segala bencana dan hukuman, juga pengangkatan malapetaka yang melanda dan kemalangan adalah doa dengan tulus ikhlas dalam kekhusukan dan kesungguhan hati dalam doa. Sesungguhnya Allah-subhanahu wa ta’ala- suka dimohon dan justru memerintahkan kita untuk selalu memohon. Sebab permohonan doa dapat memberikan manfaat, baik dari hal-hal yang sudah terjadi maupun yang akan terjadi. Firman Allah :وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ [غافر/60](Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina). Qs Ghafir : 60Doa merupakan ibadah sebagaimana yang disebutkan dalam hadis Nu’man Bin Bashir bahwa Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :( الدُّعَاءُ هُوَ العِبَادَةُ ) رواه أبو داود والترمذى(Doa adalah ibadah) HR Abu Daud dan Turmuzi. Dikatakannya sebagai hadis hasan shahih.Abu Hurairah –radhiyallahu anhu- berkata, Rasulullah – shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :( ليْسَ شَيْءٌ َأكْرَمَ عَلى اللهِ تَعَاَلى مِنَ الدُّعَاءِ ( رواه الترمذى (Tidak ada suatu [zikir dan ibadah] yang lebih mulia di sisi Allah dari pada doa). HR Tirmizi, Ibnu Hibban dalam shahihnya dan Alhakim.Dikatakannya sebagai hadis yang shahih sanadnya.Doa sangat dianjurkan setiap waktu sebagai ibadah yang berpahala sangat besar. Doa dapat mewujudkan segala kebutuhan pribadi dan umum, urusan dunia dan agama, ketika hidup dan setelah mati.Mengingat manfaat doa yang demikian besar, maka Allah-subhanahu wa ta’ala- mensyariatkannya dalam ibadah-ibadah fardhu sebagai perbuatan yang wajib dilaksanakan atau disunnahkan. Hal itu merupakan bentuk kasih sayang, penghargaan dan anugerah dari Allah-subhanahu wa ta’ala-  agar kita ikuti jalan yang telah Dia diajarkan kepada kita. Sekiranya bukan karena pengajaran Allah tentang doa, tentu akal pikiran kita tidak akan menemukannya. Firman Allah :( وَعُلِّمْتُمْ مَا لَمْ تَعْلَمُوا أَنْتُمْ وَلَا آبَاؤُكُم )  [ الأنعام/91]( padahal telah diajarkan kepadamu apa yang kamu dan bapak-bapak kamu tidak mengetahui(nya). Qs Al-An’am : 91Puji syukur kita panjatkan ke hadirat Allah sebanyak-banyaknya dan seindah-indahnya dengan penuh keberkahan di dalamnya sebagaimana yang dikehendaki dan diridhai oleh-Nya. Kebutuhan akan doa menjadi sangat mendesak terutama pada zaman sekarang di tengah-tengah menggejolaknya fitnah dan melandanya bencana yang menghancurkan dan menimbulnya petaka yang menimpa kaum muslimin. Juga munculnya kelompok-kelompok pelaku bid’ah yang dapat memecah belah barisan umat Islam, menghalalkan darah dan harta benda yang seharusnya terjaga, bersikap angkuh terhadap ilmu dan para pengemban ilmu, memberi fatwa dengan kebodohan dan penyesatan.Di zaman di mana musuh-musuh Islam mengepungnya dan bersekongkol jahat terhadap kaum beriman, bersikap acuh dan berseberangan serta bersengketa di antara kaum muslimin sendiri, dengan bermacam-macam problematika yang melekat pada setiap individu umat Islam, mereka terusir dari kampung halamannya secara semena-mena sehingga mengalami penderitaan dan kesulitan ekonomi. Maka dalam situasi genting yang memanaskan hati kaum muslimin yang tinggal di negara-negara yang terlanda malapetaka seperti itulah kebutuhan akan doa semakin mendesak.Allah –subhanahu wa ta’ala- memuji mereka yang berdoa dengan penuh kerendahan hati kepadaNya ketika tertimpa persoalan-persoalan genting dan krisis. Firman Allah mengisahkan Nabi Adam dan istrinya’ –alaihimas-salam- :( قَالَا رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ )  [ الأعراف/23](Keduanya berkata: “Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi) Qs Al-A’raf : 23Firman Allah :( وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ ، الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ ، أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ)  [ البقرة/155-157](Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji´uun” Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk) Qs Al-Baqarah : 155-157Firman Allah tentang Nabi Yunus :( فَنَادَى فِي الظُّلُمَاتِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ )  [الأنبياء/87]( maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap: “Bahwa tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim). Qs Al-Anbiya : 87 Sa’ad Bin Abi Waqash –radhiyallahu anhu- berkata, Rasulullah-shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :( دَعْوَةُ ذِى النُّونِ إِذْ دَعَا وَهُوَ فِى بَطْنِ الْحُوتِ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّى كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ. فَإِنَّهُ لَمْ يَدْعُ بِهَا رَجُلٌ مُسْلِمٌ فِى شَىْءٍ قَطُّ إِلاَّ اسْتَجَابَ اللَّهُ لَهُ) [ رواه الترمذى والحاكم(Doa Dzun Nun [Nabi Yunus] ketika ia berdoa dalam perut ikan paus adalah:( لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّى كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ )[Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk diantara orang-orang yang berbuat aniaya].Sesungguhnya tidaklah seorang muslim pun berdoa dengannya ketika menghadapi suatu persoalan melainkan Allah kabulkan doanya.) HR. Ahmad, Tirmidzi dan Alhakim, dikatakannya sebagai hadis yang ber-isnad shahih.Ketika Rasulullah – shallallahu alaihi wa sallam- mengajak suku Tsaqef memeluk Islam, mereka menolak ajakan beliau, bahkan melempari beliau dengan batu, lalu beliau berdoa kepada Allah –subhanahu wa ta’ala- :( اللهمّ أشكو ضعف قوّتي، وقلّة حيلتي، وهواني على النّاس، يا أرحم الرّاحمين، إلى مَن تَكِلُني؟ إلى عدو يتجهَّمني؟ أم إلى عدوٍّ ملّكتَه أمري؟ إن لم يكن بك غضبٌ عليَّ فلا أبالي، ولكن عافيتك أوسع لي، أعوذ بنور وجهِك الذي أشرقتْ له الظّلمات، وصَلَح عليه أمر الدّنيا والآخرة من أن يحل بي غضبَك، أو ينزل بي سخطك، لك العُتْبَى حتى ترضى، ولا حول ولا قوّة إلا بك)(Ya Allah, kepadaMu aku mengadu kelemahanku, kekurangan daya upayaku dan kehinaanku pada pandangan manusia. Wahai Tuhan Yang Maha Penyayang, Engkaulah Tuhan orang yang tertindas dan Engkau adalah Tuhanku. Kepada siapakah Engkau menyerahkan diriku ini? Kepada orang asing yang akan garang terhadapku ataukah kepada musuh yang menguasai diriku? Sekiranya Engkau tidak murka kepadaku, maka aku tidak pedulikan semua itu. Namun afiat-Mu sudah cukup bagiku. Aku berlindung dengan Nur wajah-Mu yang menerangi segala kegelapan dan membuat keteraturan segala urusan dunia dan akhirat, dari turunnya kemarahan-Mu kepadaku atau menimpanya murkaMu atas diriku ini. KepadaMulah aku mengadukan nasib sehingga Engkau ridha. Tiada daya dan tiada upaya kecuali atas petunjukMu jua). Maka hanya dengan doa sajalah segala kesulitan dan malapetaka dalam hidup ini dapat diatasi karena ketidak berdayaan manusia untuk menolaknya.Tsauban meriwayatkan, Rasulullah – shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :(إنَّ الدُّعَاءَ يَنْفَعُ مِمَّا نَزَلَ وَمِمَّا لَمْ يَنْزِلْ ، فَعَلَيْكُمْ عِبَادَ اللهِ بِالدُّعَاءِ) رواه الترمذي والحاكم(Sungguh doa itu bermanfaat untuk mengatasi persoalan yang sudah terjadi dan yang belum terjadi, maka hendaklah kalian berdoa wahai hamba Allah). HR. Tirmizi dan Alhakim.Abu Hurairah –radhiyallahu anhu- meriwayatkan, Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda, sesungguhnya Allah –subhanahu wa ta’ala- berfirman  :( أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِى بِى ، وَأَنَا مَعَهُ إِذَا دعاَنِى ) رواه البخاري ومسلم(Aku sesuai persangkaan hamba-Ku kepadaKu. Aku selalu bersamanya ketika ia memohon kepadaKu). HR Bukhari dan MuslimCukuplah besar pahala dan karunia Tuhan itu. Di satu sisi, Allah-–subhanahu wa ta’ala- mencela mereka yang enggan berdoa ketika terkena bencana dan tertimpa malapetaka. Firman Allah :( وَلَقَدْ أَخَذْنَاهُمْ بِالْعَذَابِ فَمَا اسْتَكَانُوا لِرَبِّهِمْ وَمَا يَتَضَرَّعُونَ ) [المؤمنون /76](Sesungguhnya Kami telah pernah menimpakan azab kepada mereka, maka mereka tidak tunduk kepada Tuhan mereka, dan [juga] tidak memohon kepada-Nya dengan merendahkan diri) Qs Almukminun : 76Firman Allah :(وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا إِلَى أُمَمٍ مِنْ قَبْلِكَ فَأَخَذْنَاهُمْ بِالْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ لَعَلَّهُمْ يَتَضَرَّعُون ، فَلَوْلَا إِذْ جَاءَهُمْ بَأْسُنَا تَضَرَّعُوا وَلَكِنْ قَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَزَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطَانُ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ)  [ الأنعام/42 ](Sesungguhnya Kami telah mengutus [rasul-rasul] kepada umat-umat yang sebelum kamu, kemudian Kami siksa mereka dengan [menimpakan] kesengsaraan dan kemelaratan, supaya mereka memohon kepada Allah dengan tunduk merendahkan diri. Maka mengapa mereka tidak memohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri ketika datang siksaan Kami kepada mereka, bahkan hati mereka telah menjadi keras, dan syaitanpun menampakkan kepada mereka kebagusan apa yang selalu mereka kerjakan). Qs Al-An’am : 42Firman Allah :( وَمَا أَرْسَلْنَا فِي قَرْيَةٍ مِنْ نَبِيٍّ إِلَّا أَخَذْنَا أَهْلَهَا بِالْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ لَعَلَّهُمْ يَضَّرَّعُونَ) [ الأعراف / 94 ](Kami tidaklah mengutus seseorang nabipun kepada sesuatu negeri, (lalu penduduknya mendustakan nabi itu), melainkan Kami timpakan kepada penduduknya kesempitan dan penderitaan supaya mereka tunduk dengan merendahkan diri). Qs Al-A’raf : 94 Meninggalkan doa dalam kondisi krisis merupakan sikap nekat dan terlalu berani dalam berbuat dosa dengan menyepelekan sanksi hukuman Allah yang sangat pedih. Firman Allah :( إِنَّ بَطْشَ رَبِّكَ لَشَدِيدٌ ) [ البروج 12]( Sesungguhnya azab Tuhanmu benar-benar keras ) Qs Al-Buruj : 12 Doa merupakan faktor utama bagi turunnya kebaikan dan keberkahan serta tertangkisnya dan terangkatnya keburukan dari orang yang berdoa. Doa pula sebagai solusi yang dominan untuk melepaskan diri dari persoalan yang terjadi dan kesulitan yang menimpa. Firman Allah :( وَأَيُّوبَ إِذْ نَادَى رَبَّهُ أَنِّي مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَأَنْتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ ، فَاسْتَجَبْنَا لَهُ فَكَشَفْنَا مَا بِهِ مِنْ ضُرٍّ وَآتَيْنَاهُ أَهْلَهُ وَمِثْلَهُمْ مَعَهُمْ رَحْمَةً مِنْ عِنْدِنَا وَذِكْرَى لِلْعَابِدِينَ ) [ الأنبياء / 83-84 ](Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Tuhannya: “(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang. Maka Kamipun memperkenankan seruannya itu, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami lipat gandakan bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah). Qs Al-Anbiya : 83-84Firman Allah :( أمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ )  [ النمل / 62 ](Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan). Qs An-Naml : 62Tentu tidak ada seorang pun yang mampu berbuat banyak kecuali Allah –subhanahu wa ta’ala- .Firman Allah :( قُلْ مَنْ يُنَجِّيكُمْ مِنْ ظُلُمَاتِ الْبَرِّ وَالْبَحْرِ تَدْعُونَهُ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً لَئِنْ أَنْجَانَا مِنْ هَذِهِ لَنَكُونَنَّ مِنَ الشَّاكِرِينَ) [الأنعام/63](Katakanlah: “Siapakah yang dapat menyelamatkan kamu dari bencana di darat dan di laut, yang kamu berdoa kepada-Nya dengan rendah diri dengan suara yang lembut (dengan mengatakan: “Sesungguhnya jika Dia menyelamatkan kami dari bencana ini, tentulah kami menjadi orang-orang yang bersyukur). Qs Al-An’am : 63Seorang muslim sudah seharusnya mendekatkan diri kepada Allah dalam upaya melakukan perbaikan terhadap segala urusan dan melaporkan segala kebutuhannya kepada Allah -subhanahu wa ta’ala-. Hendaklah memohon kepada Allah, apapun yang dibutuhkannya, sedangkan klimaks dari segala permohonan adalah surga dan terhindar dari siksa neraka. Firman Allah dalam hadis Qudsi :( يَا عِبَادِي كُلُّكُمْ  ضَالٌّ إِلاَّ مَنْ هَدَيْتُهُ، فَاسْتَهْدُوْنِي أَهْدِكُمْ . يَا عِبَادِي كُلُّكُمْ جَائِعٌ إِلاَّ مَنْ أَطْعَمْتُهُ فَاسْتَطْعِمُوْنِي أَطْعِمْكُمْ . يَا عِبَادِي كُلُّكُمْ عَارٍ إِلاَّ مَنْ كَسَوْتُهُ فَاسْتَكْسُوْنِي أَكْسُكُمْ . يَا عِبَادِي إِنَّكُمْ تُخْطِئُوْنَ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَأَناَ أَغْفِرُ الذُّنُوْبَ جَمِيْعاً، فَاسْتَغْفِرُوْنِي أَغْفِرْ لَكُمْ ) رواه مسلم(Wahai hamba-Ku semua kalian adalah sesat kecuali siapa yang Aku beri hidayah, maka mintalah hidayah kepada-Ku niscaya kalian Aku beri hidayah. Wahai hamba-Ku, kalian semua kelaparan kecuali siapa yang aku beri makanan, maka mintalah makan kepada-Ku niscaya kalian Aku beri makanan. Wahai hamba-Ku, kalian semua adalah telanjang kecuali siapa yang aku beri pakaian, maka mintalah pakaian kepada-Ku niscaya kalian Aku beri pakaian. Wahai hamba-Ku kalian semuanya melakukan kesalahan pada malam dan siang hari dan Aku mengampuni semua dosa, maka mintalah ampun kepada-Ku niscaya kalian akan Aku ampuni).HR Muslim dari hadis Abu Dzar – radhiyallahu anhu -.Artinya, mintalah kalian petunjuk, makanan, pakaian dan ampunan kepadaKu niscaya Aku penuhi permintaan kalian. Hadits ini merupakan penekanan agar seseorang selalu memohon kepada Allah, sampai dalam persoalan tali alas kakinya dan rasa asin (garam) pada makanannya-pun diperintahkan untuk dimohonkan kepadaNya.Betapa banyak doa yang mampu merubah perjalanan sejarah dari kondisi buruk menjadi baik, dan dari kondisi baik menjadi lebih baik. Firman Allah -subhanahu wa ta’ala- tentang Nabi Ibrahim – alaihis-salam-  :(رَبَّنَا وَابْعَثْ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُزَكِّيهِمْ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ) [البقرة/129](Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka sesorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab (Al Quran) dan Al-Hikmah (As-Sunnah) serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana). Qs Al-Baqarah : 129 Abu Umamah – radhiyallahu anhu- berkata, aku bertanya, Ya Rasulullah!( مَا كَانَ أَوَّلُ بَدْء أَمْرِكَ؟ قَالَ: “دَعْوَةُ أَبِي إِبْرَاهِيمَ، وَبُشْرَى عِيسَى بِي، وَرَأَتْ أُمِّي أَنَّهُ خَرَجَ مِنْهَا نُورٌ أَضَاءَتْ لَهُ قُصُورُ الشَّامِ ) رواه أحمد)Apa sebenarnya permulaan dari urusanmu? Nabi Saw. menjawab, “Doa ayahku Ibrahim, berita gembira oleh Isa mengenai aku, dan ibuku melihat dalam mimpinya telah keluar dari tubuhnya suatu cahaya yang menerangi gedung-gedung negeri Syam”) HR Ahmad.Kaum muslimin selalu dalam kebaikan berkat doa itu. Bumi ini pun mendapatkan keberkahan dari doa mereka. Doa yang dipanjatkan oleh Nabi Nuh -alaihissalam- membawa keberkahan bagi seluruh orang-orang beriman yang meng-esa-kan Allah, dan mendatangkan bencana bagi kaum pagan [orang-orang musyrik]. Demikian pula doa Nabi Isa –alaihissalam- dan sahabat-sahabatnya yang terkepung di Tursina pada akhir zaman merupakan kemenangan bagi kaum muslimin dan kehancuran bagi Gog dan Magog sebagai bangsa laksana belalang yang bertebaran di bumi, mereka adalah sejahat-jahat mahluk dan paling banyak berbuat kerusakan, keonaran dan arogansi.Disebutkan dalam hadis Annawas Bin Sam’an –radhiyallahu anhu- sesudah Nabi Isa-alaihissalam- selesai membunuh Almasih Dajal :( إذْ أَوْحَى اللهُ إِلَى عِيسَى إِنِّي قَدْ أَخْرَجْتُ عِبَادًا لِي لاَ يَدَانِ لِأَحَدٍ بِقِتَالِهِمْ فَحَرِّزْ عِبَادِي إِلَى الطُّورِ وَيَبْعَثُ اللهُ يَأْجُوجَ وَمَأْجُوجَ وَهُمْ مِنْ كُلِّ حَدَبٍ يَنْسِلُونَ فَيَمُرُّ أَوَائِلُهُمْ عَلَى بُحَيْرَةِ طَبَرِيَّةَ فَيَشْرَبُونَ مَا فِيهَا وَيَمُرُّ آخِرُهُمْ فَيَقُولُونَ لَقَدْ كَانَ بِهَذِهِ مَرَّةً مَاءٌ وَيُحْصَرُ نَبِيُّ اللهِ عِيسَى وَأَصْحَابُهُ حَتَّى يَكُونَ رَأْسُ الثَّوْرِ لِأَحَدِهِمْ خَيْرًا مِنْ مِائَةِ دِينَارٍ لِأَحَدِكُمُ الْيَوْمَ فَيَرْغَبُ نَبِيُّ اللهِ عِيسَى وَأَصْحَابُهُ رضِيَ الله ُعَنهُمْ إلَى اللهِ تعَالى فيَدْعُوْنَهُ فَيُرْسِلُ اللهُ عَلَيْهِمُ النَّغَفَ فِي رِقَابِهِمْ وَهُوَ الدُّوْدُ فَيُصْبِحُونَ مَوْتَى كَمَوْتِ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ ثُمَّ يَهْبِطُ نَبِيُّ اللهِ عِيسَى وَأَصْحَابُهُ إِلَى اْلأَرْضِ فَلاَ يَجِدُونَ فِي اْلأَرْضِ مَوْضِعَ شِبْرٍ إِلاَّ مَلَأَهُ زَهَمُهُمْ وَنَتْنُهُمْ فَيَرْغَبُ نَبِيُّ اللهِ عِيسَى صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ وَأَصْحَابُهُ إِلَى اللهِ يَدْعُوْنَهُ فَيُرْسِلُ اللهُ طَيْرًا كَأَعْنَاقِ الْبُخْتِ فَتَحْمِلُهُمْ فَتَطْرَحُهُمْ حَيْثُ شَاءَ اللهُ تَعَالَى ) رواه مسلمKetika Allah -subhanahu wa ta’ala- mewahyukan kepada Isa –alaihissalam-: Sesungguhnya Aku mengeluarkan hamba-hambaKu yang tidak ada kemampuan bagi seorang pun untuk memeranginya. Maka biarkanlah mereka hamba-hambaKu menuju Tursina. Lalu Allah -subhanahu wa ta’ala- keluarkan Gog dan Magog yang mana mereka mengalir dari setiap tempat yang tinggi. Gelombang pertama melewati danau Tabariah, dan meminum seluruh air yang ada padanya, hingga ketika barisan paling belakang telah sampai pada danau tersebut mereka berkata: “Sungguh dahulu di sini masih ada airnya.” Ketika itu Nabi Isa –alaihissalam- dan para sahabatnya terkepung, hingga kepala sapi bagi mereka saat itu lebih berharga dari pada seratus dinar kalian saat ini. Maka Isa dan para sahabatnya berharap [berdoa] kepada Allah -subhanahu wa ta’ala-, lalu Allah-pun mengirim sejenis ulat yang menyerang leher mereka. Maka pagi harinya mereka seluruhnya binasa menjadi bangkai-bangkai dalam waktu yang hampir bersamaan. Kemudian turunlah Nabi Isa-alaihissalam- [dari gunung Tursina] bersama para sahabatnya, ketika itulah tidak didapati satu jengkal pun tempat kecuali penuh dengan bangkai dan bau busuk mereka. Maka Nabi Isa –alaihissalam- pun berharap (berdoa) kepada Allah -subhanahu wa ta’ala-. Maka Allah lalu mengirimkan burung-burung yang lehernya seperti unta, membawa bangkai-bangkai mereka dan kemudian dilemparkan di tempat yang Allah kehendaki). HR. Muslim Doa Nabi kita Muhammad –shallallahu alaihi wa sallam- pemimpin umat manusia bersama sahabat-sahabatnya di Badar merupakan kemenangan bagi Islam secara permanen dan kenistaan bagi kekafiran untuk selama-lamanya. Firman Allah :( إِذْ تَسْتَغِيثُونَ رَبَّكُمْ فَاسْتَجَابَ لَكُمْ أَنِّي مُمِدُّكُمْ بِأَلْفٍ مِنَ الْمَلَائِكَةِ مُرْدِفِينَ) [ الأنفال /9](Ingatlah, ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu: “Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan untukmu berupa seribu malaikat yang datang berturut-turut). Qs Al-Anfal : 9Nabi-shallallahu alaihi wa sallam- berdoa dengan sepenuh hati di Badar sehingga kain selendang beliau melorot. Abu Bakar- radhiyallahu anhu- mendampingi beliau lalu berkata : Cukuplah sudah Ya Rasulullah apa yang engkau mohonkan kepada Tuhan, karena Allah sungguh memenuhi janjiNya kepada engkau. Doa memohon untuk kemenangan bagi kebenaran dan kehancuran bagi kebatilan merupakan kebulatan hati dalam berbuat baik kepada Allah, kitabNya, rasulNya, para pemimpin kaum muslimin dan seluruh kaum muslimin pada umumnya. Oleh karena itu, tidak mungkin meninggalkan doa kecuali orang yang jelas terhalang dari nasib mujur di dunia dan akhirat, yang menyia-nyiakan tugas wajibnya terhadap Islam dan sesama muslim.Di sebutkan dalam hadis :” مَنْ لَمْ يَهْتَم بِأمِرِ المْسْلِمِيْنَ فَلَيْسَ مِنْهُمْ ““Barangsiapa yang tidak peduli pada urusan kaum muslimin, tidaklah ia termasuk golongan mereka”.Jika kita teliti secara seksama pengaruh doa, keberkahan, kebaikan dan dampak positifnya yang mengagumkan, tentu perlu pemaparan yang panjang lebar. Namun di sini cukuplah apa yang kami singgung di atas.Berdoa tentu ada syarat-syaratnya dan etikanya. Antara lain, hendaknya orang yang berdoa memakan makanan yang halal dan mengenakan pakaian yang halal. Rasulullah –shallahu alaihi wa sallam- berpesan kepada Sa’ad Bin Abi Waqash : “Wahai Sa’ad, bersihkanlah makananmu niscaya doamu terkabulkan”. Di antara syarat berdoa ialah tetap dalam koridor Sunnah Nabi dan mengikuti ketetapan Allah dengan menjalankan perintah-perintahnya. Allah berfirman :(وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ) [البقرة/186](Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka [jawablah], bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi [segala perintah-Ku] dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran). Qs Albaqarah : 186Firman Allah :( وَيَسْتَجِيبُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَيَزِيدُهُمْ مِنْ فَضْلِهِ ) [ الشورى/26](Dan Dia memperkenankan [doa] orang-orang yang beriman serta mengerjakan amal yang saleh dan menambah [pahala] bagi mereka dari karunia-Nya). Qs As-Syura : 26 Perlu diingat, doa orang yang teraniaya adalah mustajabah meskipun dia itu orang kafir atau pelaku bid’ah. Di antara syarat berdoa ialah ikhlas dan kehadiran hati serta kemauan bulat dalam memohon dengan mendekatkan diri kepada Allah –subhanahu wa ta’ala-. Firman Allah :( فَادْعُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ ) [ غافر/14](Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ibadat kepada-Nya, meskipun orang-orang kafir tidak menyukai). Qs Ghafir : 14Disebutkan dalam hadis :“Allah tidak menerima doa seseorang yang hatinya lalai dan melayang”.Di antara syarat terkabulnya doa ialah tidak berdoa untuk sesuatu yang berakibat dosa atau pemutusan tali kekerabatan, dan tidak berdoa untuk sesuatu yang melampaui batas-batas kewajaran. Di antara sebab terkabulnya doa ialah memuji Allah dengan menyebut nama-namaNya yang baik (Asmaul-Husna) dan sifat-sifatNya yang luhur serta bershalawat kepada Nabi-shallallahu alaihi wa sallam-.Dalam suatu riwayat disebutkan, Rasulullah-shallallahu alaihi wa sallam- mendengar seorang lelaki berdoa : ( اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ بِأَنِّيْ أَشْهَدُ أَنَّكَ أَنْتَ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ اْلأَحَدُ الصَّمَدُ الَّذِيْ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلَدْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَد). رواه أبوداود والترمذى(Ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu dengan bersaksi bahwa Engkau adalah Allah, tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau, Maha Esa, tidak membutuhkan sesuatu tapi segala sesuatu membutuhkan-Mu, tidak beranak dan tidak diperanakkan, tidak seorang pun yang menyamaiNya). Maka beliau – shallallahu alaihi wa sallam- berkata kepadanya : “ Sungguh kamu telah memohon kepada Allah melalui asma-Nya yang agung yang bilamana seseorang memohon dengannya niscaya diberi, dan bilamana ia berdoa dengannya, niscaya doanya dikabulkan pula.) HR Abu Daud dan Tirmizi. Dikatakannya sebagai hadis hasan.Fudhalah Bin Ubaid-radhiyallahu anhu- berkata : Ketika Rasulullah – shallallahu alaihi wa sallam- sedang duduk, tiba-tiba ada seorang lelaki masuk lalu berdoa :( اللّهُمَّ اغْفِرْلِى وَارْحَمْنِى )( Ya Allah, ampunilah aku dan kasihanilah aku ), maka Rasulullah- shallallahu alaihi wa sallam- menegurnya seraya berkata : “Kamu terlalu tergesa-gesa hai orang yang sedang berdoa. Jika kamu berdoa lalu duduk, pujilah Allah sebagaimana lazimnya dengan Allah, sesudah itu berdoalah shalawat untukku, lalu memohonlah kepada Allah”. HR. Ahmad, Abu Daud dan Tirmizi. Dikatakannya sebagai hadis hasan.Dalam hadis lain disebutkan bahwa doa seseorang senantiasa tergantung di antara langit dan bumi sehingga orang tersebut menyampaikan doa shalawat kepada Nabi –shallallahu alaihi wa sallam-.Di antara etika dan syarat terkabulnya doa, seorang yang berdoa hendaklah tidak tergesa-gesa, tetapi bersabar. Disebutkan dalam hadis, “Akan terpenuhi doa salah seorang di antara kalian selagi tidak tergesa-gesa, sambil bergumam, “aku sudah berdoa, namun belum kunjung dikabulkan juga”. HR Bukhari dan Muslim dari hadis Abu Hurairah- radhiyallahu anhu-. Bersamaan dengan kelanggengan berdoa, akan terkabul doa seseorang. Disebutkan dalam hadis, : “Tidak seorang pun muslim di atas bumi yang berdoa melainkan Allah memperkenankan apa yang diminta atau menghindarkannya dari keburukan yang setara dengannya selagi dirinya tidak memohon sesuatu yang mengandung dosa atau pemutusan tali kekerabatan, maka tiba-tiba ada seorang lelaki yang berkata, “Kalau demikian kami memperbanyak doa. Maka Nabi-sallallahu alaihi wa sallam- bersabda : “Allah-pun akan memperbanyak pemberianNya”. HR Tirmizi, dikatakannya sebagai hadis hasan shahih. Diriwayatkan pula oleh Alhakim melalui jalur Abu Said dengan tambahan redaksi :” أو يَدًّخِرُ لَهُ مِنْ مِثْلِهَا “( Atau Allah mendepositokan baginya kebaikan yang setara dengannya ). Maka seyogianya seorang muslim membidik waktu-waktu yang mustajabah untuk berdoa. Rasulullah- sallallahu alaihi wa sallam- pernah ditanya, “Ya Rasulallah, doa apakah yang paling didengar oleh Allah?”. Beliau menjawab, “Doa di akhir tengah malam dan di setiap selesai shalat fardhu”. HR Tirmizi, dikatakannya sebagai hadis hasan dari hadis Abu Umamah.Dalam hadis disebutkan :( يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ يَقُولُ : مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ ) رواه البخاري ومسلم (Tuhan kita -tabaaraka wa ta’ala- turun pada setiap malam ke langit dunia pada sepertiga malam terakhir, Dia berfirman, ‘Siapa yang berdoa kepada-Ku, akan Aku kabulkan, siapa yang meminta kepada-Ku akan Aku berikan, siapa yang minta ampun kepada-Ku akan Aku ampuni). HR Bukhari dan Muslim dari hadis Abu Hurairah- radhiyallahu anhu-. Doa di waktu antara azan dan iqamah tidak akan tertolak. Demikian pula pada saat bersujud. Disebutkan dalam hadis,( أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ، وَهُوَ سَاجِدٌ، فَأَكْثِرُوا الدُّعَاءَ ) رواه مسلم(Keadaan paling dekat bagi seorang hamba kepada Tuhan-nya adalah ketika dia dalam keadaan sujud, maka perbanyaklah berdoa). HR. Muslim dari hadis Abu Hurairah.Ketika melihat Ka’bah, ketika turunnya hujan, ketika sedang dalam keadaan darurat, setelah mengkhatamkan Al-Qur’an dan setelah bersedekah pun doa seseorang terkabulkan.Betapa besar kebahagiaan, keberuntungan dan pahala bagi orang yang hatinya selalu tersambung dengan Allah –subhanahu wa ta’ala-, yang selalu memohon, mengharap, bertawakal dan meminta pertolonganNya.Sungguh celaka dan terlampau jauh kemusyrikan dan kekafiran orang yang memohon kepada pemakaman dan pekuburan atau menyampaikan hajat hidupnya kepada malaikat atau nabi. Tugas para nabi dan rasul adalah mengajak umat manusia untuk memohon kepada Allah –subhanahu wa ta’ala- semata, dan memurnikan permohonan hanya kepadaNya. Demikian pula para wali, kita diperintahkan untuk berbuat seperti apa yang mereka perbuat dan meneladani mereka, kita dilarang berdoa, mengharap dan memohon kepada mereka. Firman Allah :( وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَدًا )  [ الجن / 18 ](Dan sesungguhnya mesjid-mesjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah seseorangpun di dalamnya di samping [menyembah] Allah) Qs Al-Jin : 18Firman Allah :( قُلْ إِنَّمَا أَدْعُو رَبِّي وَلَا أُشْرِكُ بِهِ أَحَدًا ) [ الجن / 20 ](Katakanlah: “Sesungguhnya aku hanya menyembah Tuhanku dan aku tidak mempersekutukan sesuatupun dengan-Nya) Qs Al-Jin : 20Seseorang yang menghilang dan orang-orang mati, tidak ada seorangpun di antara mereka yang bisa memenuhi permohonan yang ditujukan kepada mereka, sebab yang bisa memenuhi dan mengabulkan doa hanyalah Allah -subhanahu wa ta’ala-. Firman Allah :( لَهُ دَعْوَةُ الْحَقِّ وَالَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ لَا يَسْتَجِيبُونَ لَهُمْ بِشَيْءٍ إِلَّا كَبَاسِطِ كَفَّيْهِ إِلَى الْمَاءِ لِيَبْلُغَ فَاهُ وَمَا هُوَ بِبَالِغِهِ وَمَا دُعَاءُ الْكَافِرِينَ إِلَّا فِي ضَلَالٍ ) [ الرعد/14](Hanya bagi Allah-lah (hak mengabulkan) doa yang benar. Dan berhala-berhala yang mereka sembah selain Allah tidak dapat memperkenankan sesuatupun bagi mereka, melainkan seperti orang yang membukakan kedua telapak tangannya ke dalam air supaya sampai air ke mulutnya, padahal air itu tidak dapat sampai ke mulutnya. Dan doa (ibadat) orang-orang kafir itu, hanyalah sia-sia belaka). Qs Ar-Ra’d : 14Firman Allah :( وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنْ يَدْعُو مِنْ دُونِ اللَّهِ مَنْ لَا يَسْتَجِيبُ لَهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَهُمْ عَنْ دُعَائِهِمْ غَافِلُونَ ، وَإِذَا حُشِرَ النَّاسُ كَانُوا لَهُمْ أَعْدَاءً وَكَانُوا بِعِبَادَتِهِمْ كَافِرِينَ ، [ الأحقاف/5 – 6](Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang menyembah sembahan-sembahan selain Allah yang tiada dapat memperkenankan (doa)nya sampai hari kiamat dan mereka lalai dari [memperhatikan] doa mereka.  Dan apabila manusia dikumpulkan (pada hari kiamat) niscaya sembahan-sembahan itu menjadi musuh mereka dan mengingkari pemujaan-pemujaan mereka). Qs Al-Ahqaf : 5-6Allah pun berfirman dalam konteks pengisahan tentang pekerjaan-pekerjaanNya :يُولِجُ اللَّيْلَ فِي النَّهَارِ وَيُولِجُ النَّهَارَ فِي اللَّيْلِ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ كُلٌّ يَجْرِي لِأَجَلٍ مُسَمًّى ذَلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمْ لَهُ الْمُلْكُ وَالَّذِينَ تَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ مَا يَمْلِكُونَ مِنْ قِطْمِيرٍ ، إِنْ تَدْعُوهُمْ لَا يَسْمَعُوا دُعَاءَكُمْ وَلَوْ سَمِعُوا مَا اسْتَجَابُوا لَكُمْ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يَكْفُرُونَ بِشِرْكِكُمْ وَلَا يُنَبِّئُكَ مِثْلُ خَبِيرٍ ) [ فاطر/ 13 – 14 ](Dia memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam dan menundukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan. Yang [berbuat] demikian itulah Allah Tuhanmu, kepunyaan-Nya-lah kerajaan. Dan orang-orang yang kamu seru [sembah] selain Allah tiada mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari. Jika kamu menyeru mereka, mereka tiada mendengar seruanmu; dan kalau mereka mendengar, mereka tidak dapat memperkenankan permintaanmu. Dan dihari kiamat mereka akan mengingkari kemusyirikanmu dan tidak ada yang dapat memberi keterangan kepadamu sebagai yang diberikan oleh Yang Maha Mengetahui ) Qs Fathir : 13-14 Allah -subhanahu wa ta’ala- tidak mengizinkan seseorangpun memohon kepada selainNya meskipan yang dimohon itu malaikat yang dekat kepada Allah.Allah -subhanahu wa ta’ala- berfirman mengisahkan Nabi Isa Bin Maryam –alaihissalam-  :( وَقَالَ الْمَسِيحُ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ ) [ المائدة / 72 ]( Al Masih [sendiri] berkata: “Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu”. Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun). Qs Al-Maidah : 72 ( مَنْ مَاتَ وَهُوَ يَدْعُوْ مِنْ دُوْنِ اللهِ نِدًّا دَخَلَ النَّارَ )  رواه البخاري(Barang siapa yang mati dalam keadaan menyembah sesembahan selain Allah, maka masuklah ia kedalam neraka). HR. Bukhari dari hadis Abdullah Bin Mas’ud.Saudaraku sesama muslim!          Itulah pesan Kitab Allah dan Sunnah rasulNya –shallallahu alaihi wa sallam- yang menandaskan bahwa doa pada hakikatnya adalah ibadah, Oleh karena itu doa hanya boleh ditujukan kepada Allah –subhanahu wa ta’ala-. Barangsiapa yang melibatkan seseorang selain Allah dalam doa, maka ia telah melakukan kemusyrikan besar. Maka dalam hal kesesatan dan kemusyrikan ini janganlah ada seseorang yang meniru-niru orang lain, sebab tidak seorangpun terjebak dalam kemusyrikan dan kekafiran kecuali akibat sikapnya yang suka meniru-niru dan mengikuti orang-orang yang tersesat.Firman Allah :( أَذَلِكَ خَيْرٌ نُزُلًا أَمْ شَجَرَةُ الزَّقُّومِ ، إِنَّا جَعَلْنَاهَا فِتْنَةً لِلظَّالِمِينَ ،  إِنَّهَا شَجَرَةٌ تَخْرُجُ فِي أَصْلِ الْجَحِيمِ ، طَلْعُهَا كَأَنَّهُ رُءُوسُ الشَّيَاطِينِ ، فَإِنَّهُمْ لَآكِلُونَ مِنْهَا فَمَالِئُونَ مِنْهَا الْبُطُونَ ، ثُمَّ إِنَّ لَهُمْ عَلَيْهَا لَشَوْبًا مِنْ حَمِيمٍ ، ثُمَّ إِنَّ مَرْجِعَهُمْ لَإِلَى الْجَحِيمِ ، إِنَّهُمْ أَلْفَوْا آبَاءَهُمْ ضَالِّينَ ، فَهُمْ عَلَى آثَارِهِمْ يُهْرَعُونَ ) [ الصافات / 62-70](Makanan surga itukah hidangan yang lebih baik ataukah pohon zaqqum. Sesungguhnya Kami menjadikan pohon zaqqum itu sebagai siksaan bagi orang-orang yang zalim. Sesungguhnya dia adalah sebatang pohon yang ke luar dan dasar neraka yang menyala. mayangnya seperti kepala setan-setan. Maka sesungguhnya mereka benar-benar memakan sebagian dari buah pohon itu, maka mereka memenuhi perutnya dengan buah zaqqum itu. Kemudian sesudah makan buah pohon zaqqum itu pasti mereka mendapat minuman yang bercampur dengan air yang sangat panas. Kemudian sesungguhnya tempat kembali mereka  benar-benar ke neraka Jahim. Karena sesungguhnya mereka mendapati bapak-bapak mereka dalam Keadaaan sesat. Lalu mereka sangat tergesa-gesa mengikuti jejak orang-orang tua mereka itu.) Qs. Ashshafat : 62-70 Firman Allah : ( ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ ) ( الأعراف/55](Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas). Qs Al-A’raf : 55Semoga Allah mencurahkan keberkahan kepadaku dan kepada kalian berkat pengamalan Al-Qur’an yang agung !—————–Khotbah kedua Segala puji bagi Allah yang Maha Pengasih dan Pemurah, Maha Perkasah dan Bijaksana. BagiNya nama-nama yang banik dan indah dengan sifat-sifatNya yang luhur dan agung. Aku bersaksi nahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tiada sekutu bagiNya yang Maha Tinggi dan Agung. Dan aku bersaksi bahwa nabi kita dan pemimpin kita Muhammad –shallallahu alaihi wa sallam- adalah hamba Allah dan rasul pilihanNya.Ya Allah sampaikanlah shalawat, salam dan keberkahan kepada hambaMu, rasulMu Muhammad – shallallahu alaihi wa sallam- beserta seluruh keluarga dan sahabatnya yang konsisten dalam ketakwaan.Selanjutnya :          Bertakwalah kepada Allah, niscaya Allah akan memperbaiki amal perbuatan kalian dan menjadikan kalian orang-orang yang beruntung di dunia sekarang dan di akhirat kelak.Hamba-hamba Allah!          Tetaplah kalian tersambung dengan Allah dengan selalu memohon kepadaNya dalam doa. Tidak akan kecewa orang yang memohon kepadaNya dan tidak akan terhalang dari anugerahNya orang yang mengharapkan karuniaNya.          Kebutuhan hidup setiap menusia akan tetap ada, dengan berbagai macam tuntutan yang muncul setiap waktu. Maka hendaklah setiap individu memohon kepada Tuhannya apa saja yang dinilainya sebagai suatu kebaikan, dan hendaklah berlindung kepadaNya dari apapun yang diduganya mendatangkan keburukan.          Puncak dari permohonan adalah ridha Ilahi dan surgaNya, sedangkan perlindungan yang paling urgen adalah terhindar dari hukuman neraka. Oleh sebab itu sepatutnya setiap muslim bersungguh-sungguh dalam memohon kepada Tuhan apapun hajat yang mendesak baginya, karena Allah –subhanahu wa ta’ala- Maha Pemurah dan Maha Terpuji, Maha Dermawan, Maha Agung dan Maha Kuasa.Firman Allah dalam hadis Qudsi :( يَا عِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أَتْقَى قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مِنْكُمْ مَا زَادَ ذَلِكَ مِمَّا عِنْدِيْ شَيْئاً . يَا عِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أَفْجَرِ قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مِنْكُمْ مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِمَّا عِنْدِيْ شَيْئاً . يَا عِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ قَامُوا فِي صَعِيْدٍ وَاحِدٍ فَسَأَلُوْنِي فَأَعْطَيْتُ كُلَّ وَاحِدٍ مَسْأَلَتَهُ مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِمَّا عِنْدِي إِلاَّ كَمَا يَنْقُصُ الْمَخِيْطُ إِذَا أُدْخِلَ الْبَحْرَ). رواه مسلم (Wahai hambaKu seandainya sejak orang pertama di antara kalian sampai orang terakhir, dari kalangan manusia dan jin semuanya berada dalam keadaan paling bertakwa di antara kamu, niscaya hal itu tidak menambah apa yang Aku miliki sedikitpun.  Wahai hambaKu seandainya sejak orang pertama di antara kalian sampai orang terakhir, dari golongan manusia dan jin, semuanya dalam keadaan paling durhaka di antara kalian, niscaya hal itu tidak akan mengurangi apa yang ada padaKu sedikitpun juga. Wahai hamba-Ku, seandainya  sejak orang pertama diantara kalian sampai orang terakhir  semunya berdiri di sebuah bukit lalu kalian meminta kepada-Ku, lalu setiap orang yang meminta Aku penuhi, niscaya hal itu tidak mengurangi apa yang ada padaKu kecuali bagaikan sebuah jarum yang dicelupkan di tengah lautan). HR Muslim          Dianjurkan bagi seorang muslim memilih doa sapu jagat yang diajarkan oleh Nabi – shallallahu alaihi wa sallam- sebagaimana dalam ayat Al-Qur’an :( رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ )  [ البقرة / 201 ](Dan di antara mereka ada orang yang berdoa: “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka). Qs Albaqarah : 201Dan doa ma’tsur lainnya seperti :اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ رِضَاكَ وَالْجَنَّةَ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ وَعَمَلٍ وَنَعُوْذُ بِكَ مِنْ سَخَطِكَ وَالنَّارِ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ وَعَمَلٍ.(Ya Allah, kami memohon kepada-Mu ridha dan surga-Mu serta semua ucapan maupun perbuatan yang dapat mendekatkan kami kepadanya, dan kami berlindung kepada-Mu dari murka dan neraka-Mu serta semua ucapan maupun perbuatan yang dapat mendekatkan kami kepadanya). Hamba-hamba Allah!          Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikatNya bershalawat kepada Nabi. Wahai orang-orang yang beriman bershalawatlah kalian dan sampaikan salam kepadanya!.—- Selesai —-Penerjemah: Usman Hatim
Khotbah Jumat Masjid Nabawi21 Rabiul Awal 1437 HKhathib : Syekh Ali bin Abdurrahman Al HudzaifiKhotbah pertamaDengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.Segala puji bagi Allah Tuhan Pencipta bumi dan langit, Maha Mendengar doa, memulai dengan penganugerahan aneka kenikmatan dan pengangkatan keburukan dan bencana.Aku memuji Tuhanku dan bersyukur serta bertobat kepadaNya dengan memohon ampunNya.           Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Dia, tidak ada sekutu bagiNya yang Maha Tinggi dan Perkasa. Akupun bersaksi bahwa nabi kita dan pemuka kita Muhammad –shallallahu alaihi wa sallam- adalah hamba Allah dan rasulNya yang diutus untuk membawa syariat yang sempurna dan gemilang.Ya Allah sampaikanlah shalawat, salam dan keberkahan kepada hambaMu dan rasulMu Muhammad – shallallahu alaihi wa sallam-, keluarganya, dan para sahabatnya yang selalu berada di garis terdepan dalam setiap kebajikan dan upaya-upaya amal yang terpuji. Selanjutnya :Bertakwalah kepada Allah dengan sesungguhnya. Sebab orang yang berpegang teguh pada ketakwaan akan Allah himpunkan baginya kebaikan dunia dan akhirat, sedangkan orang yang menjauh dari ketakwaan akan celaka pada ronde-ronde terakhir dalam segala urusannya sekalipun dari segi duniawinya dalam kemapanan.Para hamba Allah !          Allah telah menetapkan jalur-jalur kebaikan dan kebahagiaan di dunia dan akhirat sebagaimana Dia-pun telah tentukan jalur-jalur keburukan. Barangsiapa yang mengikuti jalur kebaikan dan kebahagiaan pastilah Allah jamin kesuksesan urusan duniawinya di samping kesuksesan yang gemilang pada momen-momen terakhir dengan kekekalan tinggal di surga sebagai tempat kenikmatan dan meraih keridhaan Tuhan yang Maha Pemurah. Firman Allah :( هَلْ جَزَاءُ الْإِحْسَانِ إِلَّا الْإِحْسَانُ)  [ الرحمن / 60 ](Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan pula) Qs Ar-Rahman : 60Orang yang mengikuti jalur keburukan akan memetik hasil perbuatan buruknya semasa hidupnya dan sesudah matinya. Firman Allah :( لَيْسَ بِأَمَانِيِّكُمْ وَلَا أَمَانِيِّ أَهْلِ الْكِتَابِ مَنْ يَعْمَلْ سُوءًا يُجْزَ بِهِ وَلَا يَجِدْ لَهُ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلِيًّا وَلَا نَصِيرًا) [ النساء/123]( Bukanlah menurut angan-anganmu yang kosong dan tidak [pula] menurut angan-angan Ahli Kitab. Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan itu dan ia tidak mendapat pelindung dan tidak [pula] penolong baginya selain dari Allah) Qs An-Nisa : 123Camkanlah, di antara penyebab perolehan keberuntungan, kejayaan, keberhasilan dan silih bergantinya kebaikan serta penghindaran dari segala bencana dan hukuman, juga pengangkatan malapetaka yang melanda dan kemalangan adalah doa dengan tulus ikhlas dalam kekhusukan dan kesungguhan hati dalam doa. Sesungguhnya Allah-subhanahu wa ta’ala- suka dimohon dan justru memerintahkan kita untuk selalu memohon. Sebab permohonan doa dapat memberikan manfaat, baik dari hal-hal yang sudah terjadi maupun yang akan terjadi. Firman Allah :وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ [غافر/60](Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina). Qs Ghafir : 60Doa merupakan ibadah sebagaimana yang disebutkan dalam hadis Nu’man Bin Bashir bahwa Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :( الدُّعَاءُ هُوَ العِبَادَةُ ) رواه أبو داود والترمذى(Doa adalah ibadah) HR Abu Daud dan Turmuzi. Dikatakannya sebagai hadis hasan shahih.Abu Hurairah –radhiyallahu anhu- berkata, Rasulullah – shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :( ليْسَ شَيْءٌ َأكْرَمَ عَلى اللهِ تَعَاَلى مِنَ الدُّعَاءِ ( رواه الترمذى (Tidak ada suatu [zikir dan ibadah] yang lebih mulia di sisi Allah dari pada doa). HR Tirmizi, Ibnu Hibban dalam shahihnya dan Alhakim.Dikatakannya sebagai hadis yang shahih sanadnya.Doa sangat dianjurkan setiap waktu sebagai ibadah yang berpahala sangat besar. Doa dapat mewujudkan segala kebutuhan pribadi dan umum, urusan dunia dan agama, ketika hidup dan setelah mati.Mengingat manfaat doa yang demikian besar, maka Allah-subhanahu wa ta’ala- mensyariatkannya dalam ibadah-ibadah fardhu sebagai perbuatan yang wajib dilaksanakan atau disunnahkan. Hal itu merupakan bentuk kasih sayang, penghargaan dan anugerah dari Allah-subhanahu wa ta’ala-  agar kita ikuti jalan yang telah Dia diajarkan kepada kita. Sekiranya bukan karena pengajaran Allah tentang doa, tentu akal pikiran kita tidak akan menemukannya. Firman Allah :( وَعُلِّمْتُمْ مَا لَمْ تَعْلَمُوا أَنْتُمْ وَلَا آبَاؤُكُم )  [ الأنعام/91]( padahal telah diajarkan kepadamu apa yang kamu dan bapak-bapak kamu tidak mengetahui(nya). Qs Al-An’am : 91Puji syukur kita panjatkan ke hadirat Allah sebanyak-banyaknya dan seindah-indahnya dengan penuh keberkahan di dalamnya sebagaimana yang dikehendaki dan diridhai oleh-Nya. Kebutuhan akan doa menjadi sangat mendesak terutama pada zaman sekarang di tengah-tengah menggejolaknya fitnah dan melandanya bencana yang menghancurkan dan menimbulnya petaka yang menimpa kaum muslimin. Juga munculnya kelompok-kelompok pelaku bid’ah yang dapat memecah belah barisan umat Islam, menghalalkan darah dan harta benda yang seharusnya terjaga, bersikap angkuh terhadap ilmu dan para pengemban ilmu, memberi fatwa dengan kebodohan dan penyesatan.Di zaman di mana musuh-musuh Islam mengepungnya dan bersekongkol jahat terhadap kaum beriman, bersikap acuh dan berseberangan serta bersengketa di antara kaum muslimin sendiri, dengan bermacam-macam problematika yang melekat pada setiap individu umat Islam, mereka terusir dari kampung halamannya secara semena-mena sehingga mengalami penderitaan dan kesulitan ekonomi. Maka dalam situasi genting yang memanaskan hati kaum muslimin yang tinggal di negara-negara yang terlanda malapetaka seperti itulah kebutuhan akan doa semakin mendesak.Allah –subhanahu wa ta’ala- memuji mereka yang berdoa dengan penuh kerendahan hati kepadaNya ketika tertimpa persoalan-persoalan genting dan krisis. Firman Allah mengisahkan Nabi Adam dan istrinya’ –alaihimas-salam- :( قَالَا رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ )  [ الأعراف/23](Keduanya berkata: “Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi) Qs Al-A’raf : 23Firman Allah :( وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ ، الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ ، أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ)  [ البقرة/155-157](Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji´uun” Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk) Qs Al-Baqarah : 155-157Firman Allah tentang Nabi Yunus :( فَنَادَى فِي الظُّلُمَاتِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ )  [الأنبياء/87]( maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap: “Bahwa tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim). Qs Al-Anbiya : 87 Sa’ad Bin Abi Waqash –radhiyallahu anhu- berkata, Rasulullah-shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :( دَعْوَةُ ذِى النُّونِ إِذْ دَعَا وَهُوَ فِى بَطْنِ الْحُوتِ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّى كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ. فَإِنَّهُ لَمْ يَدْعُ بِهَا رَجُلٌ مُسْلِمٌ فِى شَىْءٍ قَطُّ إِلاَّ اسْتَجَابَ اللَّهُ لَهُ) [ رواه الترمذى والحاكم(Doa Dzun Nun [Nabi Yunus] ketika ia berdoa dalam perut ikan paus adalah:( لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّى كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ )[Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk diantara orang-orang yang berbuat aniaya].Sesungguhnya tidaklah seorang muslim pun berdoa dengannya ketika menghadapi suatu persoalan melainkan Allah kabulkan doanya.) HR. Ahmad, Tirmidzi dan Alhakim, dikatakannya sebagai hadis yang ber-isnad shahih.Ketika Rasulullah – shallallahu alaihi wa sallam- mengajak suku Tsaqef memeluk Islam, mereka menolak ajakan beliau, bahkan melempari beliau dengan batu, lalu beliau berdoa kepada Allah –subhanahu wa ta’ala- :( اللهمّ أشكو ضعف قوّتي، وقلّة حيلتي، وهواني على النّاس، يا أرحم الرّاحمين، إلى مَن تَكِلُني؟ إلى عدو يتجهَّمني؟ أم إلى عدوٍّ ملّكتَه أمري؟ إن لم يكن بك غضبٌ عليَّ فلا أبالي، ولكن عافيتك أوسع لي، أعوذ بنور وجهِك الذي أشرقتْ له الظّلمات، وصَلَح عليه أمر الدّنيا والآخرة من أن يحل بي غضبَك، أو ينزل بي سخطك، لك العُتْبَى حتى ترضى، ولا حول ولا قوّة إلا بك)(Ya Allah, kepadaMu aku mengadu kelemahanku, kekurangan daya upayaku dan kehinaanku pada pandangan manusia. Wahai Tuhan Yang Maha Penyayang, Engkaulah Tuhan orang yang tertindas dan Engkau adalah Tuhanku. Kepada siapakah Engkau menyerahkan diriku ini? Kepada orang asing yang akan garang terhadapku ataukah kepada musuh yang menguasai diriku? Sekiranya Engkau tidak murka kepadaku, maka aku tidak pedulikan semua itu. Namun afiat-Mu sudah cukup bagiku. Aku berlindung dengan Nur wajah-Mu yang menerangi segala kegelapan dan membuat keteraturan segala urusan dunia dan akhirat, dari turunnya kemarahan-Mu kepadaku atau menimpanya murkaMu atas diriku ini. KepadaMulah aku mengadukan nasib sehingga Engkau ridha. Tiada daya dan tiada upaya kecuali atas petunjukMu jua). Maka hanya dengan doa sajalah segala kesulitan dan malapetaka dalam hidup ini dapat diatasi karena ketidak berdayaan manusia untuk menolaknya.Tsauban meriwayatkan, Rasulullah – shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :(إنَّ الدُّعَاءَ يَنْفَعُ مِمَّا نَزَلَ وَمِمَّا لَمْ يَنْزِلْ ، فَعَلَيْكُمْ عِبَادَ اللهِ بِالدُّعَاءِ) رواه الترمذي والحاكم(Sungguh doa itu bermanfaat untuk mengatasi persoalan yang sudah terjadi dan yang belum terjadi, maka hendaklah kalian berdoa wahai hamba Allah). HR. Tirmizi dan Alhakim.Abu Hurairah –radhiyallahu anhu- meriwayatkan, Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda, sesungguhnya Allah –subhanahu wa ta’ala- berfirman  :( أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِى بِى ، وَأَنَا مَعَهُ إِذَا دعاَنِى ) رواه البخاري ومسلم(Aku sesuai persangkaan hamba-Ku kepadaKu. Aku selalu bersamanya ketika ia memohon kepadaKu). HR Bukhari dan MuslimCukuplah besar pahala dan karunia Tuhan itu. Di satu sisi, Allah-–subhanahu wa ta’ala- mencela mereka yang enggan berdoa ketika terkena bencana dan tertimpa malapetaka. Firman Allah :( وَلَقَدْ أَخَذْنَاهُمْ بِالْعَذَابِ فَمَا اسْتَكَانُوا لِرَبِّهِمْ وَمَا يَتَضَرَّعُونَ ) [المؤمنون /76](Sesungguhnya Kami telah pernah menimpakan azab kepada mereka, maka mereka tidak tunduk kepada Tuhan mereka, dan [juga] tidak memohon kepada-Nya dengan merendahkan diri) Qs Almukminun : 76Firman Allah :(وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا إِلَى أُمَمٍ مِنْ قَبْلِكَ فَأَخَذْنَاهُمْ بِالْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ لَعَلَّهُمْ يَتَضَرَّعُون ، فَلَوْلَا إِذْ جَاءَهُمْ بَأْسُنَا تَضَرَّعُوا وَلَكِنْ قَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَزَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطَانُ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ)  [ الأنعام/42 ](Sesungguhnya Kami telah mengutus [rasul-rasul] kepada umat-umat yang sebelum kamu, kemudian Kami siksa mereka dengan [menimpakan] kesengsaraan dan kemelaratan, supaya mereka memohon kepada Allah dengan tunduk merendahkan diri. Maka mengapa mereka tidak memohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri ketika datang siksaan Kami kepada mereka, bahkan hati mereka telah menjadi keras, dan syaitanpun menampakkan kepada mereka kebagusan apa yang selalu mereka kerjakan). Qs Al-An’am : 42Firman Allah :( وَمَا أَرْسَلْنَا فِي قَرْيَةٍ مِنْ نَبِيٍّ إِلَّا أَخَذْنَا أَهْلَهَا بِالْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ لَعَلَّهُمْ يَضَّرَّعُونَ) [ الأعراف / 94 ](Kami tidaklah mengutus seseorang nabipun kepada sesuatu negeri, (lalu penduduknya mendustakan nabi itu), melainkan Kami timpakan kepada penduduknya kesempitan dan penderitaan supaya mereka tunduk dengan merendahkan diri). Qs Al-A’raf : 94 Meninggalkan doa dalam kondisi krisis merupakan sikap nekat dan terlalu berani dalam berbuat dosa dengan menyepelekan sanksi hukuman Allah yang sangat pedih. Firman Allah :( إِنَّ بَطْشَ رَبِّكَ لَشَدِيدٌ ) [ البروج 12]( Sesungguhnya azab Tuhanmu benar-benar keras ) Qs Al-Buruj : 12 Doa merupakan faktor utama bagi turunnya kebaikan dan keberkahan serta tertangkisnya dan terangkatnya keburukan dari orang yang berdoa. Doa pula sebagai solusi yang dominan untuk melepaskan diri dari persoalan yang terjadi dan kesulitan yang menimpa. Firman Allah :( وَأَيُّوبَ إِذْ نَادَى رَبَّهُ أَنِّي مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَأَنْتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ ، فَاسْتَجَبْنَا لَهُ فَكَشَفْنَا مَا بِهِ مِنْ ضُرٍّ وَآتَيْنَاهُ أَهْلَهُ وَمِثْلَهُمْ مَعَهُمْ رَحْمَةً مِنْ عِنْدِنَا وَذِكْرَى لِلْعَابِدِينَ ) [ الأنبياء / 83-84 ](Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Tuhannya: “(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang. Maka Kamipun memperkenankan seruannya itu, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami lipat gandakan bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah). Qs Al-Anbiya : 83-84Firman Allah :( أمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ )  [ النمل / 62 ](Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan). Qs An-Naml : 62Tentu tidak ada seorang pun yang mampu berbuat banyak kecuali Allah –subhanahu wa ta’ala- .Firman Allah :( قُلْ مَنْ يُنَجِّيكُمْ مِنْ ظُلُمَاتِ الْبَرِّ وَالْبَحْرِ تَدْعُونَهُ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً لَئِنْ أَنْجَانَا مِنْ هَذِهِ لَنَكُونَنَّ مِنَ الشَّاكِرِينَ) [الأنعام/63](Katakanlah: “Siapakah yang dapat menyelamatkan kamu dari bencana di darat dan di laut, yang kamu berdoa kepada-Nya dengan rendah diri dengan suara yang lembut (dengan mengatakan: “Sesungguhnya jika Dia menyelamatkan kami dari bencana ini, tentulah kami menjadi orang-orang yang bersyukur). Qs Al-An’am : 63Seorang muslim sudah seharusnya mendekatkan diri kepada Allah dalam upaya melakukan perbaikan terhadap segala urusan dan melaporkan segala kebutuhannya kepada Allah -subhanahu wa ta’ala-. Hendaklah memohon kepada Allah, apapun yang dibutuhkannya, sedangkan klimaks dari segala permohonan adalah surga dan terhindar dari siksa neraka. Firman Allah dalam hadis Qudsi :( يَا عِبَادِي كُلُّكُمْ  ضَالٌّ إِلاَّ مَنْ هَدَيْتُهُ، فَاسْتَهْدُوْنِي أَهْدِكُمْ . يَا عِبَادِي كُلُّكُمْ جَائِعٌ إِلاَّ مَنْ أَطْعَمْتُهُ فَاسْتَطْعِمُوْنِي أَطْعِمْكُمْ . يَا عِبَادِي كُلُّكُمْ عَارٍ إِلاَّ مَنْ كَسَوْتُهُ فَاسْتَكْسُوْنِي أَكْسُكُمْ . يَا عِبَادِي إِنَّكُمْ تُخْطِئُوْنَ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَأَناَ أَغْفِرُ الذُّنُوْبَ جَمِيْعاً، فَاسْتَغْفِرُوْنِي أَغْفِرْ لَكُمْ ) رواه مسلم(Wahai hamba-Ku semua kalian adalah sesat kecuali siapa yang Aku beri hidayah, maka mintalah hidayah kepada-Ku niscaya kalian Aku beri hidayah. Wahai hamba-Ku, kalian semua kelaparan kecuali siapa yang aku beri makanan, maka mintalah makan kepada-Ku niscaya kalian Aku beri makanan. Wahai hamba-Ku, kalian semua adalah telanjang kecuali siapa yang aku beri pakaian, maka mintalah pakaian kepada-Ku niscaya kalian Aku beri pakaian. Wahai hamba-Ku kalian semuanya melakukan kesalahan pada malam dan siang hari dan Aku mengampuni semua dosa, maka mintalah ampun kepada-Ku niscaya kalian akan Aku ampuni).HR Muslim dari hadis Abu Dzar – radhiyallahu anhu -.Artinya, mintalah kalian petunjuk, makanan, pakaian dan ampunan kepadaKu niscaya Aku penuhi permintaan kalian. Hadits ini merupakan penekanan agar seseorang selalu memohon kepada Allah, sampai dalam persoalan tali alas kakinya dan rasa asin (garam) pada makanannya-pun diperintahkan untuk dimohonkan kepadaNya.Betapa banyak doa yang mampu merubah perjalanan sejarah dari kondisi buruk menjadi baik, dan dari kondisi baik menjadi lebih baik. Firman Allah -subhanahu wa ta’ala- tentang Nabi Ibrahim – alaihis-salam-  :(رَبَّنَا وَابْعَثْ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُزَكِّيهِمْ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ) [البقرة/129](Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka sesorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab (Al Quran) dan Al-Hikmah (As-Sunnah) serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana). Qs Al-Baqarah : 129 Abu Umamah – radhiyallahu anhu- berkata, aku bertanya, Ya Rasulullah!( مَا كَانَ أَوَّلُ بَدْء أَمْرِكَ؟ قَالَ: “دَعْوَةُ أَبِي إِبْرَاهِيمَ، وَبُشْرَى عِيسَى بِي، وَرَأَتْ أُمِّي أَنَّهُ خَرَجَ مِنْهَا نُورٌ أَضَاءَتْ لَهُ قُصُورُ الشَّامِ ) رواه أحمد)Apa sebenarnya permulaan dari urusanmu? Nabi Saw. menjawab, “Doa ayahku Ibrahim, berita gembira oleh Isa mengenai aku, dan ibuku melihat dalam mimpinya telah keluar dari tubuhnya suatu cahaya yang menerangi gedung-gedung negeri Syam”) HR Ahmad.Kaum muslimin selalu dalam kebaikan berkat doa itu. Bumi ini pun mendapatkan keberkahan dari doa mereka. Doa yang dipanjatkan oleh Nabi Nuh -alaihissalam- membawa keberkahan bagi seluruh orang-orang beriman yang meng-esa-kan Allah, dan mendatangkan bencana bagi kaum pagan [orang-orang musyrik]. Demikian pula doa Nabi Isa –alaihissalam- dan sahabat-sahabatnya yang terkepung di Tursina pada akhir zaman merupakan kemenangan bagi kaum muslimin dan kehancuran bagi Gog dan Magog sebagai bangsa laksana belalang yang bertebaran di bumi, mereka adalah sejahat-jahat mahluk dan paling banyak berbuat kerusakan, keonaran dan arogansi.Disebutkan dalam hadis Annawas Bin Sam’an –radhiyallahu anhu- sesudah Nabi Isa-alaihissalam- selesai membunuh Almasih Dajal :( إذْ أَوْحَى اللهُ إِلَى عِيسَى إِنِّي قَدْ أَخْرَجْتُ عِبَادًا لِي لاَ يَدَانِ لِأَحَدٍ بِقِتَالِهِمْ فَحَرِّزْ عِبَادِي إِلَى الطُّورِ وَيَبْعَثُ اللهُ يَأْجُوجَ وَمَأْجُوجَ وَهُمْ مِنْ كُلِّ حَدَبٍ يَنْسِلُونَ فَيَمُرُّ أَوَائِلُهُمْ عَلَى بُحَيْرَةِ طَبَرِيَّةَ فَيَشْرَبُونَ مَا فِيهَا وَيَمُرُّ آخِرُهُمْ فَيَقُولُونَ لَقَدْ كَانَ بِهَذِهِ مَرَّةً مَاءٌ وَيُحْصَرُ نَبِيُّ اللهِ عِيسَى وَأَصْحَابُهُ حَتَّى يَكُونَ رَأْسُ الثَّوْرِ لِأَحَدِهِمْ خَيْرًا مِنْ مِائَةِ دِينَارٍ لِأَحَدِكُمُ الْيَوْمَ فَيَرْغَبُ نَبِيُّ اللهِ عِيسَى وَأَصْحَابُهُ رضِيَ الله ُعَنهُمْ إلَى اللهِ تعَالى فيَدْعُوْنَهُ فَيُرْسِلُ اللهُ عَلَيْهِمُ النَّغَفَ فِي رِقَابِهِمْ وَهُوَ الدُّوْدُ فَيُصْبِحُونَ مَوْتَى كَمَوْتِ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ ثُمَّ يَهْبِطُ نَبِيُّ اللهِ عِيسَى وَأَصْحَابُهُ إِلَى اْلأَرْضِ فَلاَ يَجِدُونَ فِي اْلأَرْضِ مَوْضِعَ شِبْرٍ إِلاَّ مَلَأَهُ زَهَمُهُمْ وَنَتْنُهُمْ فَيَرْغَبُ نَبِيُّ اللهِ عِيسَى صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ وَأَصْحَابُهُ إِلَى اللهِ يَدْعُوْنَهُ فَيُرْسِلُ اللهُ طَيْرًا كَأَعْنَاقِ الْبُخْتِ فَتَحْمِلُهُمْ فَتَطْرَحُهُمْ حَيْثُ شَاءَ اللهُ تَعَالَى ) رواه مسلمKetika Allah -subhanahu wa ta’ala- mewahyukan kepada Isa –alaihissalam-: Sesungguhnya Aku mengeluarkan hamba-hambaKu yang tidak ada kemampuan bagi seorang pun untuk memeranginya. Maka biarkanlah mereka hamba-hambaKu menuju Tursina. Lalu Allah -subhanahu wa ta’ala- keluarkan Gog dan Magog yang mana mereka mengalir dari setiap tempat yang tinggi. Gelombang pertama melewati danau Tabariah, dan meminum seluruh air yang ada padanya, hingga ketika barisan paling belakang telah sampai pada danau tersebut mereka berkata: “Sungguh dahulu di sini masih ada airnya.” Ketika itu Nabi Isa –alaihissalam- dan para sahabatnya terkepung, hingga kepala sapi bagi mereka saat itu lebih berharga dari pada seratus dinar kalian saat ini. Maka Isa dan para sahabatnya berharap [berdoa] kepada Allah -subhanahu wa ta’ala-, lalu Allah-pun mengirim sejenis ulat yang menyerang leher mereka. Maka pagi harinya mereka seluruhnya binasa menjadi bangkai-bangkai dalam waktu yang hampir bersamaan. Kemudian turunlah Nabi Isa-alaihissalam- [dari gunung Tursina] bersama para sahabatnya, ketika itulah tidak didapati satu jengkal pun tempat kecuali penuh dengan bangkai dan bau busuk mereka. Maka Nabi Isa –alaihissalam- pun berharap (berdoa) kepada Allah -subhanahu wa ta’ala-. Maka Allah lalu mengirimkan burung-burung yang lehernya seperti unta, membawa bangkai-bangkai mereka dan kemudian dilemparkan di tempat yang Allah kehendaki). HR. Muslim Doa Nabi kita Muhammad –shallallahu alaihi wa sallam- pemimpin umat manusia bersama sahabat-sahabatnya di Badar merupakan kemenangan bagi Islam secara permanen dan kenistaan bagi kekafiran untuk selama-lamanya. Firman Allah :( إِذْ تَسْتَغِيثُونَ رَبَّكُمْ فَاسْتَجَابَ لَكُمْ أَنِّي مُمِدُّكُمْ بِأَلْفٍ مِنَ الْمَلَائِكَةِ مُرْدِفِينَ) [ الأنفال /9](Ingatlah, ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu: “Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan untukmu berupa seribu malaikat yang datang berturut-turut). Qs Al-Anfal : 9Nabi-shallallahu alaihi wa sallam- berdoa dengan sepenuh hati di Badar sehingga kain selendang beliau melorot. Abu Bakar- radhiyallahu anhu- mendampingi beliau lalu berkata : Cukuplah sudah Ya Rasulullah apa yang engkau mohonkan kepada Tuhan, karena Allah sungguh memenuhi janjiNya kepada engkau. Doa memohon untuk kemenangan bagi kebenaran dan kehancuran bagi kebatilan merupakan kebulatan hati dalam berbuat baik kepada Allah, kitabNya, rasulNya, para pemimpin kaum muslimin dan seluruh kaum muslimin pada umumnya. Oleh karena itu, tidak mungkin meninggalkan doa kecuali orang yang jelas terhalang dari nasib mujur di dunia dan akhirat, yang menyia-nyiakan tugas wajibnya terhadap Islam dan sesama muslim.Di sebutkan dalam hadis :” مَنْ لَمْ يَهْتَم بِأمِرِ المْسْلِمِيْنَ فَلَيْسَ مِنْهُمْ ““Barangsiapa yang tidak peduli pada urusan kaum muslimin, tidaklah ia termasuk golongan mereka”.Jika kita teliti secara seksama pengaruh doa, keberkahan, kebaikan dan dampak positifnya yang mengagumkan, tentu perlu pemaparan yang panjang lebar. Namun di sini cukuplah apa yang kami singgung di atas.Berdoa tentu ada syarat-syaratnya dan etikanya. Antara lain, hendaknya orang yang berdoa memakan makanan yang halal dan mengenakan pakaian yang halal. Rasulullah –shallahu alaihi wa sallam- berpesan kepada Sa’ad Bin Abi Waqash : “Wahai Sa’ad, bersihkanlah makananmu niscaya doamu terkabulkan”. Di antara syarat berdoa ialah tetap dalam koridor Sunnah Nabi dan mengikuti ketetapan Allah dengan menjalankan perintah-perintahnya. Allah berfirman :(وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ) [البقرة/186](Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka [jawablah], bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi [segala perintah-Ku] dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran). Qs Albaqarah : 186Firman Allah :( وَيَسْتَجِيبُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَيَزِيدُهُمْ مِنْ فَضْلِهِ ) [ الشورى/26](Dan Dia memperkenankan [doa] orang-orang yang beriman serta mengerjakan amal yang saleh dan menambah [pahala] bagi mereka dari karunia-Nya). Qs As-Syura : 26 Perlu diingat, doa orang yang teraniaya adalah mustajabah meskipun dia itu orang kafir atau pelaku bid’ah. Di antara syarat berdoa ialah ikhlas dan kehadiran hati serta kemauan bulat dalam memohon dengan mendekatkan diri kepada Allah –subhanahu wa ta’ala-. Firman Allah :( فَادْعُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ ) [ غافر/14](Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ibadat kepada-Nya, meskipun orang-orang kafir tidak menyukai). Qs Ghafir : 14Disebutkan dalam hadis :“Allah tidak menerima doa seseorang yang hatinya lalai dan melayang”.Di antara syarat terkabulnya doa ialah tidak berdoa untuk sesuatu yang berakibat dosa atau pemutusan tali kekerabatan, dan tidak berdoa untuk sesuatu yang melampaui batas-batas kewajaran. Di antara sebab terkabulnya doa ialah memuji Allah dengan menyebut nama-namaNya yang baik (Asmaul-Husna) dan sifat-sifatNya yang luhur serta bershalawat kepada Nabi-shallallahu alaihi wa sallam-.Dalam suatu riwayat disebutkan, Rasulullah-shallallahu alaihi wa sallam- mendengar seorang lelaki berdoa : ( اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ بِأَنِّيْ أَشْهَدُ أَنَّكَ أَنْتَ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ اْلأَحَدُ الصَّمَدُ الَّذِيْ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلَدْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَد). رواه أبوداود والترمذى(Ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu dengan bersaksi bahwa Engkau adalah Allah, tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau, Maha Esa, tidak membutuhkan sesuatu tapi segala sesuatu membutuhkan-Mu, tidak beranak dan tidak diperanakkan, tidak seorang pun yang menyamaiNya). Maka beliau – shallallahu alaihi wa sallam- berkata kepadanya : “ Sungguh kamu telah memohon kepada Allah melalui asma-Nya yang agung yang bilamana seseorang memohon dengannya niscaya diberi, dan bilamana ia berdoa dengannya, niscaya doanya dikabulkan pula.) HR Abu Daud dan Tirmizi. Dikatakannya sebagai hadis hasan.Fudhalah Bin Ubaid-radhiyallahu anhu- berkata : Ketika Rasulullah – shallallahu alaihi wa sallam- sedang duduk, tiba-tiba ada seorang lelaki masuk lalu berdoa :( اللّهُمَّ اغْفِرْلِى وَارْحَمْنِى )( Ya Allah, ampunilah aku dan kasihanilah aku ), maka Rasulullah- shallallahu alaihi wa sallam- menegurnya seraya berkata : “Kamu terlalu tergesa-gesa hai orang yang sedang berdoa. Jika kamu berdoa lalu duduk, pujilah Allah sebagaimana lazimnya dengan Allah, sesudah itu berdoalah shalawat untukku, lalu memohonlah kepada Allah”. HR. Ahmad, Abu Daud dan Tirmizi. Dikatakannya sebagai hadis hasan.Dalam hadis lain disebutkan bahwa doa seseorang senantiasa tergantung di antara langit dan bumi sehingga orang tersebut menyampaikan doa shalawat kepada Nabi –shallallahu alaihi wa sallam-.Di antara etika dan syarat terkabulnya doa, seorang yang berdoa hendaklah tidak tergesa-gesa, tetapi bersabar. Disebutkan dalam hadis, “Akan terpenuhi doa salah seorang di antara kalian selagi tidak tergesa-gesa, sambil bergumam, “aku sudah berdoa, namun belum kunjung dikabulkan juga”. HR Bukhari dan Muslim dari hadis Abu Hurairah- radhiyallahu anhu-. Bersamaan dengan kelanggengan berdoa, akan terkabul doa seseorang. Disebutkan dalam hadis, : “Tidak seorang pun muslim di atas bumi yang berdoa melainkan Allah memperkenankan apa yang diminta atau menghindarkannya dari keburukan yang setara dengannya selagi dirinya tidak memohon sesuatu yang mengandung dosa atau pemutusan tali kekerabatan, maka tiba-tiba ada seorang lelaki yang berkata, “Kalau demikian kami memperbanyak doa. Maka Nabi-sallallahu alaihi wa sallam- bersabda : “Allah-pun akan memperbanyak pemberianNya”. HR Tirmizi, dikatakannya sebagai hadis hasan shahih. Diriwayatkan pula oleh Alhakim melalui jalur Abu Said dengan tambahan redaksi :” أو يَدًّخِرُ لَهُ مِنْ مِثْلِهَا “( Atau Allah mendepositokan baginya kebaikan yang setara dengannya ). Maka seyogianya seorang muslim membidik waktu-waktu yang mustajabah untuk berdoa. Rasulullah- sallallahu alaihi wa sallam- pernah ditanya, “Ya Rasulallah, doa apakah yang paling didengar oleh Allah?”. Beliau menjawab, “Doa di akhir tengah malam dan di setiap selesai shalat fardhu”. HR Tirmizi, dikatakannya sebagai hadis hasan dari hadis Abu Umamah.Dalam hadis disebutkan :( يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ يَقُولُ : مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ ) رواه البخاري ومسلم (Tuhan kita -tabaaraka wa ta’ala- turun pada setiap malam ke langit dunia pada sepertiga malam terakhir, Dia berfirman, ‘Siapa yang berdoa kepada-Ku, akan Aku kabulkan, siapa yang meminta kepada-Ku akan Aku berikan, siapa yang minta ampun kepada-Ku akan Aku ampuni). HR Bukhari dan Muslim dari hadis Abu Hurairah- radhiyallahu anhu-. Doa di waktu antara azan dan iqamah tidak akan tertolak. Demikian pula pada saat bersujud. Disebutkan dalam hadis,( أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ، وَهُوَ سَاجِدٌ، فَأَكْثِرُوا الدُّعَاءَ ) رواه مسلم(Keadaan paling dekat bagi seorang hamba kepada Tuhan-nya adalah ketika dia dalam keadaan sujud, maka perbanyaklah berdoa). HR. Muslim dari hadis Abu Hurairah.Ketika melihat Ka’bah, ketika turunnya hujan, ketika sedang dalam keadaan darurat, setelah mengkhatamkan Al-Qur’an dan setelah bersedekah pun doa seseorang terkabulkan.Betapa besar kebahagiaan, keberuntungan dan pahala bagi orang yang hatinya selalu tersambung dengan Allah –subhanahu wa ta’ala-, yang selalu memohon, mengharap, bertawakal dan meminta pertolonganNya.Sungguh celaka dan terlampau jauh kemusyrikan dan kekafiran orang yang memohon kepada pemakaman dan pekuburan atau menyampaikan hajat hidupnya kepada malaikat atau nabi. Tugas para nabi dan rasul adalah mengajak umat manusia untuk memohon kepada Allah –subhanahu wa ta’ala- semata, dan memurnikan permohonan hanya kepadaNya. Demikian pula para wali, kita diperintahkan untuk berbuat seperti apa yang mereka perbuat dan meneladani mereka, kita dilarang berdoa, mengharap dan memohon kepada mereka. Firman Allah :( وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَدًا )  [ الجن / 18 ](Dan sesungguhnya mesjid-mesjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah seseorangpun di dalamnya di samping [menyembah] Allah) Qs Al-Jin : 18Firman Allah :( قُلْ إِنَّمَا أَدْعُو رَبِّي وَلَا أُشْرِكُ بِهِ أَحَدًا ) [ الجن / 20 ](Katakanlah: “Sesungguhnya aku hanya menyembah Tuhanku dan aku tidak mempersekutukan sesuatupun dengan-Nya) Qs Al-Jin : 20Seseorang yang menghilang dan orang-orang mati, tidak ada seorangpun di antara mereka yang bisa memenuhi permohonan yang ditujukan kepada mereka, sebab yang bisa memenuhi dan mengabulkan doa hanyalah Allah -subhanahu wa ta’ala-. Firman Allah :( لَهُ دَعْوَةُ الْحَقِّ وَالَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ لَا يَسْتَجِيبُونَ لَهُمْ بِشَيْءٍ إِلَّا كَبَاسِطِ كَفَّيْهِ إِلَى الْمَاءِ لِيَبْلُغَ فَاهُ وَمَا هُوَ بِبَالِغِهِ وَمَا دُعَاءُ الْكَافِرِينَ إِلَّا فِي ضَلَالٍ ) [ الرعد/14](Hanya bagi Allah-lah (hak mengabulkan) doa yang benar. Dan berhala-berhala yang mereka sembah selain Allah tidak dapat memperkenankan sesuatupun bagi mereka, melainkan seperti orang yang membukakan kedua telapak tangannya ke dalam air supaya sampai air ke mulutnya, padahal air itu tidak dapat sampai ke mulutnya. Dan doa (ibadat) orang-orang kafir itu, hanyalah sia-sia belaka). Qs Ar-Ra’d : 14Firman Allah :( وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنْ يَدْعُو مِنْ دُونِ اللَّهِ مَنْ لَا يَسْتَجِيبُ لَهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَهُمْ عَنْ دُعَائِهِمْ غَافِلُونَ ، وَإِذَا حُشِرَ النَّاسُ كَانُوا لَهُمْ أَعْدَاءً وَكَانُوا بِعِبَادَتِهِمْ كَافِرِينَ ، [ الأحقاف/5 – 6](Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang menyembah sembahan-sembahan selain Allah yang tiada dapat memperkenankan (doa)nya sampai hari kiamat dan mereka lalai dari [memperhatikan] doa mereka.  Dan apabila manusia dikumpulkan (pada hari kiamat) niscaya sembahan-sembahan itu menjadi musuh mereka dan mengingkari pemujaan-pemujaan mereka). Qs Al-Ahqaf : 5-6Allah pun berfirman dalam konteks pengisahan tentang pekerjaan-pekerjaanNya :يُولِجُ اللَّيْلَ فِي النَّهَارِ وَيُولِجُ النَّهَارَ فِي اللَّيْلِ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ كُلٌّ يَجْرِي لِأَجَلٍ مُسَمًّى ذَلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمْ لَهُ الْمُلْكُ وَالَّذِينَ تَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ مَا يَمْلِكُونَ مِنْ قِطْمِيرٍ ، إِنْ تَدْعُوهُمْ لَا يَسْمَعُوا دُعَاءَكُمْ وَلَوْ سَمِعُوا مَا اسْتَجَابُوا لَكُمْ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يَكْفُرُونَ بِشِرْكِكُمْ وَلَا يُنَبِّئُكَ مِثْلُ خَبِيرٍ ) [ فاطر/ 13 – 14 ](Dia memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam dan menundukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan. Yang [berbuat] demikian itulah Allah Tuhanmu, kepunyaan-Nya-lah kerajaan. Dan orang-orang yang kamu seru [sembah] selain Allah tiada mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari. Jika kamu menyeru mereka, mereka tiada mendengar seruanmu; dan kalau mereka mendengar, mereka tidak dapat memperkenankan permintaanmu. Dan dihari kiamat mereka akan mengingkari kemusyirikanmu dan tidak ada yang dapat memberi keterangan kepadamu sebagai yang diberikan oleh Yang Maha Mengetahui ) Qs Fathir : 13-14 Allah -subhanahu wa ta’ala- tidak mengizinkan seseorangpun memohon kepada selainNya meskipan yang dimohon itu malaikat yang dekat kepada Allah.Allah -subhanahu wa ta’ala- berfirman mengisahkan Nabi Isa Bin Maryam –alaihissalam-  :( وَقَالَ الْمَسِيحُ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ ) [ المائدة / 72 ]( Al Masih [sendiri] berkata: “Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu”. Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun). Qs Al-Maidah : 72 ( مَنْ مَاتَ وَهُوَ يَدْعُوْ مِنْ دُوْنِ اللهِ نِدًّا دَخَلَ النَّارَ )  رواه البخاري(Barang siapa yang mati dalam keadaan menyembah sesembahan selain Allah, maka masuklah ia kedalam neraka). HR. Bukhari dari hadis Abdullah Bin Mas’ud.Saudaraku sesama muslim!          Itulah pesan Kitab Allah dan Sunnah rasulNya –shallallahu alaihi wa sallam- yang menandaskan bahwa doa pada hakikatnya adalah ibadah, Oleh karena itu doa hanya boleh ditujukan kepada Allah –subhanahu wa ta’ala-. Barangsiapa yang melibatkan seseorang selain Allah dalam doa, maka ia telah melakukan kemusyrikan besar. Maka dalam hal kesesatan dan kemusyrikan ini janganlah ada seseorang yang meniru-niru orang lain, sebab tidak seorangpun terjebak dalam kemusyrikan dan kekafiran kecuali akibat sikapnya yang suka meniru-niru dan mengikuti orang-orang yang tersesat.Firman Allah :( أَذَلِكَ خَيْرٌ نُزُلًا أَمْ شَجَرَةُ الزَّقُّومِ ، إِنَّا جَعَلْنَاهَا فِتْنَةً لِلظَّالِمِينَ ،  إِنَّهَا شَجَرَةٌ تَخْرُجُ فِي أَصْلِ الْجَحِيمِ ، طَلْعُهَا كَأَنَّهُ رُءُوسُ الشَّيَاطِينِ ، فَإِنَّهُمْ لَآكِلُونَ مِنْهَا فَمَالِئُونَ مِنْهَا الْبُطُونَ ، ثُمَّ إِنَّ لَهُمْ عَلَيْهَا لَشَوْبًا مِنْ حَمِيمٍ ، ثُمَّ إِنَّ مَرْجِعَهُمْ لَإِلَى الْجَحِيمِ ، إِنَّهُمْ أَلْفَوْا آبَاءَهُمْ ضَالِّينَ ، فَهُمْ عَلَى آثَارِهِمْ يُهْرَعُونَ ) [ الصافات / 62-70](Makanan surga itukah hidangan yang lebih baik ataukah pohon zaqqum. Sesungguhnya Kami menjadikan pohon zaqqum itu sebagai siksaan bagi orang-orang yang zalim. Sesungguhnya dia adalah sebatang pohon yang ke luar dan dasar neraka yang menyala. mayangnya seperti kepala setan-setan. Maka sesungguhnya mereka benar-benar memakan sebagian dari buah pohon itu, maka mereka memenuhi perutnya dengan buah zaqqum itu. Kemudian sesudah makan buah pohon zaqqum itu pasti mereka mendapat minuman yang bercampur dengan air yang sangat panas. Kemudian sesungguhnya tempat kembali mereka  benar-benar ke neraka Jahim. Karena sesungguhnya mereka mendapati bapak-bapak mereka dalam Keadaaan sesat. Lalu mereka sangat tergesa-gesa mengikuti jejak orang-orang tua mereka itu.) Qs. Ashshafat : 62-70 Firman Allah : ( ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ ) ( الأعراف/55](Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas). Qs Al-A’raf : 55Semoga Allah mencurahkan keberkahan kepadaku dan kepada kalian berkat pengamalan Al-Qur’an yang agung !—————–Khotbah kedua Segala puji bagi Allah yang Maha Pengasih dan Pemurah, Maha Perkasah dan Bijaksana. BagiNya nama-nama yang banik dan indah dengan sifat-sifatNya yang luhur dan agung. Aku bersaksi nahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tiada sekutu bagiNya yang Maha Tinggi dan Agung. Dan aku bersaksi bahwa nabi kita dan pemimpin kita Muhammad –shallallahu alaihi wa sallam- adalah hamba Allah dan rasul pilihanNya.Ya Allah sampaikanlah shalawat, salam dan keberkahan kepada hambaMu, rasulMu Muhammad – shallallahu alaihi wa sallam- beserta seluruh keluarga dan sahabatnya yang konsisten dalam ketakwaan.Selanjutnya :          Bertakwalah kepada Allah, niscaya Allah akan memperbaiki amal perbuatan kalian dan menjadikan kalian orang-orang yang beruntung di dunia sekarang dan di akhirat kelak.Hamba-hamba Allah!          Tetaplah kalian tersambung dengan Allah dengan selalu memohon kepadaNya dalam doa. Tidak akan kecewa orang yang memohon kepadaNya dan tidak akan terhalang dari anugerahNya orang yang mengharapkan karuniaNya.          Kebutuhan hidup setiap menusia akan tetap ada, dengan berbagai macam tuntutan yang muncul setiap waktu. Maka hendaklah setiap individu memohon kepada Tuhannya apa saja yang dinilainya sebagai suatu kebaikan, dan hendaklah berlindung kepadaNya dari apapun yang diduganya mendatangkan keburukan.          Puncak dari permohonan adalah ridha Ilahi dan surgaNya, sedangkan perlindungan yang paling urgen adalah terhindar dari hukuman neraka. Oleh sebab itu sepatutnya setiap muslim bersungguh-sungguh dalam memohon kepada Tuhan apapun hajat yang mendesak baginya, karena Allah –subhanahu wa ta’ala- Maha Pemurah dan Maha Terpuji, Maha Dermawan, Maha Agung dan Maha Kuasa.Firman Allah dalam hadis Qudsi :( يَا عِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أَتْقَى قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مِنْكُمْ مَا زَادَ ذَلِكَ مِمَّا عِنْدِيْ شَيْئاً . يَا عِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أَفْجَرِ قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مِنْكُمْ مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِمَّا عِنْدِيْ شَيْئاً . يَا عِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ قَامُوا فِي صَعِيْدٍ وَاحِدٍ فَسَأَلُوْنِي فَأَعْطَيْتُ كُلَّ وَاحِدٍ مَسْأَلَتَهُ مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِمَّا عِنْدِي إِلاَّ كَمَا يَنْقُصُ الْمَخِيْطُ إِذَا أُدْخِلَ الْبَحْرَ). رواه مسلم (Wahai hambaKu seandainya sejak orang pertama di antara kalian sampai orang terakhir, dari kalangan manusia dan jin semuanya berada dalam keadaan paling bertakwa di antara kamu, niscaya hal itu tidak menambah apa yang Aku miliki sedikitpun.  Wahai hambaKu seandainya sejak orang pertama di antara kalian sampai orang terakhir, dari golongan manusia dan jin, semuanya dalam keadaan paling durhaka di antara kalian, niscaya hal itu tidak akan mengurangi apa yang ada padaKu sedikitpun juga. Wahai hamba-Ku, seandainya  sejak orang pertama diantara kalian sampai orang terakhir  semunya berdiri di sebuah bukit lalu kalian meminta kepada-Ku, lalu setiap orang yang meminta Aku penuhi, niscaya hal itu tidak mengurangi apa yang ada padaKu kecuali bagaikan sebuah jarum yang dicelupkan di tengah lautan). HR Muslim          Dianjurkan bagi seorang muslim memilih doa sapu jagat yang diajarkan oleh Nabi – shallallahu alaihi wa sallam- sebagaimana dalam ayat Al-Qur’an :( رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ )  [ البقرة / 201 ](Dan di antara mereka ada orang yang berdoa: “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka). Qs Albaqarah : 201Dan doa ma’tsur lainnya seperti :اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ رِضَاكَ وَالْجَنَّةَ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ وَعَمَلٍ وَنَعُوْذُ بِكَ مِنْ سَخَطِكَ وَالنَّارِ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ وَعَمَلٍ.(Ya Allah, kami memohon kepada-Mu ridha dan surga-Mu serta semua ucapan maupun perbuatan yang dapat mendekatkan kami kepadanya, dan kami berlindung kepada-Mu dari murka dan neraka-Mu serta semua ucapan maupun perbuatan yang dapat mendekatkan kami kepadanya). Hamba-hamba Allah!          Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikatNya bershalawat kepada Nabi. Wahai orang-orang yang beriman bershalawatlah kalian dan sampaikan salam kepadanya!.—- Selesai —-Penerjemah: Usman Hatim


Khotbah Jumat Masjid Nabawi21 Rabiul Awal 1437 HKhathib : Syekh Ali bin Abdurrahman Al HudzaifiKhotbah pertamaDengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.Segala puji bagi Allah Tuhan Pencipta bumi dan langit, Maha Mendengar doa, memulai dengan penganugerahan aneka kenikmatan dan pengangkatan keburukan dan bencana.Aku memuji Tuhanku dan bersyukur serta bertobat kepadaNya dengan memohon ampunNya.           Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Dia, tidak ada sekutu bagiNya yang Maha Tinggi dan Perkasa. Akupun bersaksi bahwa nabi kita dan pemuka kita Muhammad –shallallahu alaihi wa sallam- adalah hamba Allah dan rasulNya yang diutus untuk membawa syariat yang sempurna dan gemilang.Ya Allah sampaikanlah shalawat, salam dan keberkahan kepada hambaMu dan rasulMu Muhammad – shallallahu alaihi wa sallam-, keluarganya, dan para sahabatnya yang selalu berada di garis terdepan dalam setiap kebajikan dan upaya-upaya amal yang terpuji. Selanjutnya :Bertakwalah kepada Allah dengan sesungguhnya. Sebab orang yang berpegang teguh pada ketakwaan akan Allah himpunkan baginya kebaikan dunia dan akhirat, sedangkan orang yang menjauh dari ketakwaan akan celaka pada ronde-ronde terakhir dalam segala urusannya sekalipun dari segi duniawinya dalam kemapanan.Para hamba Allah !          Allah telah menetapkan jalur-jalur kebaikan dan kebahagiaan di dunia dan akhirat sebagaimana Dia-pun telah tentukan jalur-jalur keburukan. Barangsiapa yang mengikuti jalur kebaikan dan kebahagiaan pastilah Allah jamin kesuksesan urusan duniawinya di samping kesuksesan yang gemilang pada momen-momen terakhir dengan kekekalan tinggal di surga sebagai tempat kenikmatan dan meraih keridhaan Tuhan yang Maha Pemurah. Firman Allah :( هَلْ جَزَاءُ الْإِحْسَانِ إِلَّا الْإِحْسَانُ)  [ الرحمن / 60 ](Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan pula) Qs Ar-Rahman : 60Orang yang mengikuti jalur keburukan akan memetik hasil perbuatan buruknya semasa hidupnya dan sesudah matinya. Firman Allah :( لَيْسَ بِأَمَانِيِّكُمْ وَلَا أَمَانِيِّ أَهْلِ الْكِتَابِ مَنْ يَعْمَلْ سُوءًا يُجْزَ بِهِ وَلَا يَجِدْ لَهُ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلِيًّا وَلَا نَصِيرًا) [ النساء/123]( Bukanlah menurut angan-anganmu yang kosong dan tidak [pula] menurut angan-angan Ahli Kitab. Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan itu dan ia tidak mendapat pelindung dan tidak [pula] penolong baginya selain dari Allah) Qs An-Nisa : 123Camkanlah, di antara penyebab perolehan keberuntungan, kejayaan, keberhasilan dan silih bergantinya kebaikan serta penghindaran dari segala bencana dan hukuman, juga pengangkatan malapetaka yang melanda dan kemalangan adalah doa dengan tulus ikhlas dalam kekhusukan dan kesungguhan hati dalam doa. Sesungguhnya Allah-subhanahu wa ta’ala- suka dimohon dan justru memerintahkan kita untuk selalu memohon. Sebab permohonan doa dapat memberikan manfaat, baik dari hal-hal yang sudah terjadi maupun yang akan terjadi. Firman Allah :وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ [غافر/60](Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina). Qs Ghafir : 60Doa merupakan ibadah sebagaimana yang disebutkan dalam hadis Nu’man Bin Bashir bahwa Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :( الدُّعَاءُ هُوَ العِبَادَةُ ) رواه أبو داود والترمذى(Doa adalah ibadah) HR Abu Daud dan Turmuzi. Dikatakannya sebagai hadis hasan shahih.Abu Hurairah –radhiyallahu anhu- berkata, Rasulullah – shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :( ليْسَ شَيْءٌ َأكْرَمَ عَلى اللهِ تَعَاَلى مِنَ الدُّعَاءِ ( رواه الترمذى (Tidak ada suatu [zikir dan ibadah] yang lebih mulia di sisi Allah dari pada doa). HR Tirmizi, Ibnu Hibban dalam shahihnya dan Alhakim.Dikatakannya sebagai hadis yang shahih sanadnya.Doa sangat dianjurkan setiap waktu sebagai ibadah yang berpahala sangat besar. Doa dapat mewujudkan segala kebutuhan pribadi dan umum, urusan dunia dan agama, ketika hidup dan setelah mati.Mengingat manfaat doa yang demikian besar, maka Allah-subhanahu wa ta’ala- mensyariatkannya dalam ibadah-ibadah fardhu sebagai perbuatan yang wajib dilaksanakan atau disunnahkan. Hal itu merupakan bentuk kasih sayang, penghargaan dan anugerah dari Allah-subhanahu wa ta’ala-  agar kita ikuti jalan yang telah Dia diajarkan kepada kita. Sekiranya bukan karena pengajaran Allah tentang doa, tentu akal pikiran kita tidak akan menemukannya. Firman Allah :( وَعُلِّمْتُمْ مَا لَمْ تَعْلَمُوا أَنْتُمْ وَلَا آبَاؤُكُم )  [ الأنعام/91]( padahal telah diajarkan kepadamu apa yang kamu dan bapak-bapak kamu tidak mengetahui(nya). Qs Al-An’am : 91Puji syukur kita panjatkan ke hadirat Allah sebanyak-banyaknya dan seindah-indahnya dengan penuh keberkahan di dalamnya sebagaimana yang dikehendaki dan diridhai oleh-Nya. Kebutuhan akan doa menjadi sangat mendesak terutama pada zaman sekarang di tengah-tengah menggejolaknya fitnah dan melandanya bencana yang menghancurkan dan menimbulnya petaka yang menimpa kaum muslimin. Juga munculnya kelompok-kelompok pelaku bid’ah yang dapat memecah belah barisan umat Islam, menghalalkan darah dan harta benda yang seharusnya terjaga, bersikap angkuh terhadap ilmu dan para pengemban ilmu, memberi fatwa dengan kebodohan dan penyesatan.Di zaman di mana musuh-musuh Islam mengepungnya dan bersekongkol jahat terhadap kaum beriman, bersikap acuh dan berseberangan serta bersengketa di antara kaum muslimin sendiri, dengan bermacam-macam problematika yang melekat pada setiap individu umat Islam, mereka terusir dari kampung halamannya secara semena-mena sehingga mengalami penderitaan dan kesulitan ekonomi. Maka dalam situasi genting yang memanaskan hati kaum muslimin yang tinggal di negara-negara yang terlanda malapetaka seperti itulah kebutuhan akan doa semakin mendesak.Allah –subhanahu wa ta’ala- memuji mereka yang berdoa dengan penuh kerendahan hati kepadaNya ketika tertimpa persoalan-persoalan genting dan krisis. Firman Allah mengisahkan Nabi Adam dan istrinya’ –alaihimas-salam- :( قَالَا رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ )  [ الأعراف/23](Keduanya berkata: “Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi) Qs Al-A’raf : 23Firman Allah :( وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ ، الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ ، أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ)  [ البقرة/155-157](Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji´uun” Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk) Qs Al-Baqarah : 155-157Firman Allah tentang Nabi Yunus :( فَنَادَى فِي الظُّلُمَاتِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ )  [الأنبياء/87]( maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap: “Bahwa tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim). Qs Al-Anbiya : 87 Sa’ad Bin Abi Waqash –radhiyallahu anhu- berkata, Rasulullah-shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :( دَعْوَةُ ذِى النُّونِ إِذْ دَعَا وَهُوَ فِى بَطْنِ الْحُوتِ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّى كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ. فَإِنَّهُ لَمْ يَدْعُ بِهَا رَجُلٌ مُسْلِمٌ فِى شَىْءٍ قَطُّ إِلاَّ اسْتَجَابَ اللَّهُ لَهُ) [ رواه الترمذى والحاكم(Doa Dzun Nun [Nabi Yunus] ketika ia berdoa dalam perut ikan paus adalah:( لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّى كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ )[Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk diantara orang-orang yang berbuat aniaya].Sesungguhnya tidaklah seorang muslim pun berdoa dengannya ketika menghadapi suatu persoalan melainkan Allah kabulkan doanya.) HR. Ahmad, Tirmidzi dan Alhakim, dikatakannya sebagai hadis yang ber-isnad shahih.Ketika Rasulullah – shallallahu alaihi wa sallam- mengajak suku Tsaqef memeluk Islam, mereka menolak ajakan beliau, bahkan melempari beliau dengan batu, lalu beliau berdoa kepada Allah –subhanahu wa ta’ala- :( اللهمّ أشكو ضعف قوّتي، وقلّة حيلتي، وهواني على النّاس، يا أرحم الرّاحمين، إلى مَن تَكِلُني؟ إلى عدو يتجهَّمني؟ أم إلى عدوٍّ ملّكتَه أمري؟ إن لم يكن بك غضبٌ عليَّ فلا أبالي، ولكن عافيتك أوسع لي، أعوذ بنور وجهِك الذي أشرقتْ له الظّلمات، وصَلَح عليه أمر الدّنيا والآخرة من أن يحل بي غضبَك، أو ينزل بي سخطك، لك العُتْبَى حتى ترضى، ولا حول ولا قوّة إلا بك)(Ya Allah, kepadaMu aku mengadu kelemahanku, kekurangan daya upayaku dan kehinaanku pada pandangan manusia. Wahai Tuhan Yang Maha Penyayang, Engkaulah Tuhan orang yang tertindas dan Engkau adalah Tuhanku. Kepada siapakah Engkau menyerahkan diriku ini? Kepada orang asing yang akan garang terhadapku ataukah kepada musuh yang menguasai diriku? Sekiranya Engkau tidak murka kepadaku, maka aku tidak pedulikan semua itu. Namun afiat-Mu sudah cukup bagiku. Aku berlindung dengan Nur wajah-Mu yang menerangi segala kegelapan dan membuat keteraturan segala urusan dunia dan akhirat, dari turunnya kemarahan-Mu kepadaku atau menimpanya murkaMu atas diriku ini. KepadaMulah aku mengadukan nasib sehingga Engkau ridha. Tiada daya dan tiada upaya kecuali atas petunjukMu jua). Maka hanya dengan doa sajalah segala kesulitan dan malapetaka dalam hidup ini dapat diatasi karena ketidak berdayaan manusia untuk menolaknya.Tsauban meriwayatkan, Rasulullah – shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :(إنَّ الدُّعَاءَ يَنْفَعُ مِمَّا نَزَلَ وَمِمَّا لَمْ يَنْزِلْ ، فَعَلَيْكُمْ عِبَادَ اللهِ بِالدُّعَاءِ) رواه الترمذي والحاكم(Sungguh doa itu bermanfaat untuk mengatasi persoalan yang sudah terjadi dan yang belum terjadi, maka hendaklah kalian berdoa wahai hamba Allah). HR. Tirmizi dan Alhakim.Abu Hurairah –radhiyallahu anhu- meriwayatkan, Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda, sesungguhnya Allah –subhanahu wa ta’ala- berfirman  :( أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِى بِى ، وَأَنَا مَعَهُ إِذَا دعاَنِى ) رواه البخاري ومسلم(Aku sesuai persangkaan hamba-Ku kepadaKu. Aku selalu bersamanya ketika ia memohon kepadaKu). HR Bukhari dan MuslimCukuplah besar pahala dan karunia Tuhan itu. Di satu sisi, Allah-–subhanahu wa ta’ala- mencela mereka yang enggan berdoa ketika terkena bencana dan tertimpa malapetaka. Firman Allah :( وَلَقَدْ أَخَذْنَاهُمْ بِالْعَذَابِ فَمَا اسْتَكَانُوا لِرَبِّهِمْ وَمَا يَتَضَرَّعُونَ ) [المؤمنون /76](Sesungguhnya Kami telah pernah menimpakan azab kepada mereka, maka mereka tidak tunduk kepada Tuhan mereka, dan [juga] tidak memohon kepada-Nya dengan merendahkan diri) Qs Almukminun : 76Firman Allah :(وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا إِلَى أُمَمٍ مِنْ قَبْلِكَ فَأَخَذْنَاهُمْ بِالْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ لَعَلَّهُمْ يَتَضَرَّعُون ، فَلَوْلَا إِذْ جَاءَهُمْ بَأْسُنَا تَضَرَّعُوا وَلَكِنْ قَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَزَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطَانُ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ)  [ الأنعام/42 ](Sesungguhnya Kami telah mengutus [rasul-rasul] kepada umat-umat yang sebelum kamu, kemudian Kami siksa mereka dengan [menimpakan] kesengsaraan dan kemelaratan, supaya mereka memohon kepada Allah dengan tunduk merendahkan diri. Maka mengapa mereka tidak memohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri ketika datang siksaan Kami kepada mereka, bahkan hati mereka telah menjadi keras, dan syaitanpun menampakkan kepada mereka kebagusan apa yang selalu mereka kerjakan). Qs Al-An’am : 42Firman Allah :( وَمَا أَرْسَلْنَا فِي قَرْيَةٍ مِنْ نَبِيٍّ إِلَّا أَخَذْنَا أَهْلَهَا بِالْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ لَعَلَّهُمْ يَضَّرَّعُونَ) [ الأعراف / 94 ](Kami tidaklah mengutus seseorang nabipun kepada sesuatu negeri, (lalu penduduknya mendustakan nabi itu), melainkan Kami timpakan kepada penduduknya kesempitan dan penderitaan supaya mereka tunduk dengan merendahkan diri). Qs Al-A’raf : 94 Meninggalkan doa dalam kondisi krisis merupakan sikap nekat dan terlalu berani dalam berbuat dosa dengan menyepelekan sanksi hukuman Allah yang sangat pedih. Firman Allah :( إِنَّ بَطْشَ رَبِّكَ لَشَدِيدٌ ) [ البروج 12]( Sesungguhnya azab Tuhanmu benar-benar keras ) Qs Al-Buruj : 12 Doa merupakan faktor utama bagi turunnya kebaikan dan keberkahan serta tertangkisnya dan terangkatnya keburukan dari orang yang berdoa. Doa pula sebagai solusi yang dominan untuk melepaskan diri dari persoalan yang terjadi dan kesulitan yang menimpa. Firman Allah :( وَأَيُّوبَ إِذْ نَادَى رَبَّهُ أَنِّي مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَأَنْتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ ، فَاسْتَجَبْنَا لَهُ فَكَشَفْنَا مَا بِهِ مِنْ ضُرٍّ وَآتَيْنَاهُ أَهْلَهُ وَمِثْلَهُمْ مَعَهُمْ رَحْمَةً مِنْ عِنْدِنَا وَذِكْرَى لِلْعَابِدِينَ ) [ الأنبياء / 83-84 ](Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Tuhannya: “(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang. Maka Kamipun memperkenankan seruannya itu, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami lipat gandakan bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah). Qs Al-Anbiya : 83-84Firman Allah :( أمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ )  [ النمل / 62 ](Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan). Qs An-Naml : 62Tentu tidak ada seorang pun yang mampu berbuat banyak kecuali Allah –subhanahu wa ta’ala- .Firman Allah :( قُلْ مَنْ يُنَجِّيكُمْ مِنْ ظُلُمَاتِ الْبَرِّ وَالْبَحْرِ تَدْعُونَهُ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً لَئِنْ أَنْجَانَا مِنْ هَذِهِ لَنَكُونَنَّ مِنَ الشَّاكِرِينَ) [الأنعام/63](Katakanlah: “Siapakah yang dapat menyelamatkan kamu dari bencana di darat dan di laut, yang kamu berdoa kepada-Nya dengan rendah diri dengan suara yang lembut (dengan mengatakan: “Sesungguhnya jika Dia menyelamatkan kami dari bencana ini, tentulah kami menjadi orang-orang yang bersyukur). Qs Al-An’am : 63Seorang muslim sudah seharusnya mendekatkan diri kepada Allah dalam upaya melakukan perbaikan terhadap segala urusan dan melaporkan segala kebutuhannya kepada Allah -subhanahu wa ta’ala-. Hendaklah memohon kepada Allah, apapun yang dibutuhkannya, sedangkan klimaks dari segala permohonan adalah surga dan terhindar dari siksa neraka. Firman Allah dalam hadis Qudsi :( يَا عِبَادِي كُلُّكُمْ  ضَالٌّ إِلاَّ مَنْ هَدَيْتُهُ، فَاسْتَهْدُوْنِي أَهْدِكُمْ . يَا عِبَادِي كُلُّكُمْ جَائِعٌ إِلاَّ مَنْ أَطْعَمْتُهُ فَاسْتَطْعِمُوْنِي أَطْعِمْكُمْ . يَا عِبَادِي كُلُّكُمْ عَارٍ إِلاَّ مَنْ كَسَوْتُهُ فَاسْتَكْسُوْنِي أَكْسُكُمْ . يَا عِبَادِي إِنَّكُمْ تُخْطِئُوْنَ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَأَناَ أَغْفِرُ الذُّنُوْبَ جَمِيْعاً، فَاسْتَغْفِرُوْنِي أَغْفِرْ لَكُمْ ) رواه مسلم(Wahai hamba-Ku semua kalian adalah sesat kecuali siapa yang Aku beri hidayah, maka mintalah hidayah kepada-Ku niscaya kalian Aku beri hidayah. Wahai hamba-Ku, kalian semua kelaparan kecuali siapa yang aku beri makanan, maka mintalah makan kepada-Ku niscaya kalian Aku beri makanan. Wahai hamba-Ku, kalian semua adalah telanjang kecuali siapa yang aku beri pakaian, maka mintalah pakaian kepada-Ku niscaya kalian Aku beri pakaian. Wahai hamba-Ku kalian semuanya melakukan kesalahan pada malam dan siang hari dan Aku mengampuni semua dosa, maka mintalah ampun kepada-Ku niscaya kalian akan Aku ampuni).HR Muslim dari hadis Abu Dzar – radhiyallahu anhu -.Artinya, mintalah kalian petunjuk, makanan, pakaian dan ampunan kepadaKu niscaya Aku penuhi permintaan kalian. Hadits ini merupakan penekanan agar seseorang selalu memohon kepada Allah, sampai dalam persoalan tali alas kakinya dan rasa asin (garam) pada makanannya-pun diperintahkan untuk dimohonkan kepadaNya.Betapa banyak doa yang mampu merubah perjalanan sejarah dari kondisi buruk menjadi baik, dan dari kondisi baik menjadi lebih baik. Firman Allah -subhanahu wa ta’ala- tentang Nabi Ibrahim – alaihis-salam-  :(رَبَّنَا وَابْعَثْ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُزَكِّيهِمْ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ) [البقرة/129](Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka sesorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab (Al Quran) dan Al-Hikmah (As-Sunnah) serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana). Qs Al-Baqarah : 129 Abu Umamah – radhiyallahu anhu- berkata, aku bertanya, Ya Rasulullah!( مَا كَانَ أَوَّلُ بَدْء أَمْرِكَ؟ قَالَ: “دَعْوَةُ أَبِي إِبْرَاهِيمَ، وَبُشْرَى عِيسَى بِي، وَرَأَتْ أُمِّي أَنَّهُ خَرَجَ مِنْهَا نُورٌ أَضَاءَتْ لَهُ قُصُورُ الشَّامِ ) رواه أحمد)Apa sebenarnya permulaan dari urusanmu? Nabi Saw. menjawab, “Doa ayahku Ibrahim, berita gembira oleh Isa mengenai aku, dan ibuku melihat dalam mimpinya telah keluar dari tubuhnya suatu cahaya yang menerangi gedung-gedung negeri Syam”) HR Ahmad.Kaum muslimin selalu dalam kebaikan berkat doa itu. Bumi ini pun mendapatkan keberkahan dari doa mereka. Doa yang dipanjatkan oleh Nabi Nuh -alaihissalam- membawa keberkahan bagi seluruh orang-orang beriman yang meng-esa-kan Allah, dan mendatangkan bencana bagi kaum pagan [orang-orang musyrik]. Demikian pula doa Nabi Isa –alaihissalam- dan sahabat-sahabatnya yang terkepung di Tursina pada akhir zaman merupakan kemenangan bagi kaum muslimin dan kehancuran bagi Gog dan Magog sebagai bangsa laksana belalang yang bertebaran di bumi, mereka adalah sejahat-jahat mahluk dan paling banyak berbuat kerusakan, keonaran dan arogansi.Disebutkan dalam hadis Annawas Bin Sam’an –radhiyallahu anhu- sesudah Nabi Isa-alaihissalam- selesai membunuh Almasih Dajal :( إذْ أَوْحَى اللهُ إِلَى عِيسَى إِنِّي قَدْ أَخْرَجْتُ عِبَادًا لِي لاَ يَدَانِ لِأَحَدٍ بِقِتَالِهِمْ فَحَرِّزْ عِبَادِي إِلَى الطُّورِ وَيَبْعَثُ اللهُ يَأْجُوجَ وَمَأْجُوجَ وَهُمْ مِنْ كُلِّ حَدَبٍ يَنْسِلُونَ فَيَمُرُّ أَوَائِلُهُمْ عَلَى بُحَيْرَةِ طَبَرِيَّةَ فَيَشْرَبُونَ مَا فِيهَا وَيَمُرُّ آخِرُهُمْ فَيَقُولُونَ لَقَدْ كَانَ بِهَذِهِ مَرَّةً مَاءٌ وَيُحْصَرُ نَبِيُّ اللهِ عِيسَى وَأَصْحَابُهُ حَتَّى يَكُونَ رَأْسُ الثَّوْرِ لِأَحَدِهِمْ خَيْرًا مِنْ مِائَةِ دِينَارٍ لِأَحَدِكُمُ الْيَوْمَ فَيَرْغَبُ نَبِيُّ اللهِ عِيسَى وَأَصْحَابُهُ رضِيَ الله ُعَنهُمْ إلَى اللهِ تعَالى فيَدْعُوْنَهُ فَيُرْسِلُ اللهُ عَلَيْهِمُ النَّغَفَ فِي رِقَابِهِمْ وَهُوَ الدُّوْدُ فَيُصْبِحُونَ مَوْتَى كَمَوْتِ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ ثُمَّ يَهْبِطُ نَبِيُّ اللهِ عِيسَى وَأَصْحَابُهُ إِلَى اْلأَرْضِ فَلاَ يَجِدُونَ فِي اْلأَرْضِ مَوْضِعَ شِبْرٍ إِلاَّ مَلَأَهُ زَهَمُهُمْ وَنَتْنُهُمْ فَيَرْغَبُ نَبِيُّ اللهِ عِيسَى صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ وَأَصْحَابُهُ إِلَى اللهِ يَدْعُوْنَهُ فَيُرْسِلُ اللهُ طَيْرًا كَأَعْنَاقِ الْبُخْتِ فَتَحْمِلُهُمْ فَتَطْرَحُهُمْ حَيْثُ شَاءَ اللهُ تَعَالَى ) رواه مسلمKetika Allah -subhanahu wa ta’ala- mewahyukan kepada Isa –alaihissalam-: Sesungguhnya Aku mengeluarkan hamba-hambaKu yang tidak ada kemampuan bagi seorang pun untuk memeranginya. Maka biarkanlah mereka hamba-hambaKu menuju Tursina. Lalu Allah -subhanahu wa ta’ala- keluarkan Gog dan Magog yang mana mereka mengalir dari setiap tempat yang tinggi. Gelombang pertama melewati danau Tabariah, dan meminum seluruh air yang ada padanya, hingga ketika barisan paling belakang telah sampai pada danau tersebut mereka berkata: “Sungguh dahulu di sini masih ada airnya.” Ketika itu Nabi Isa –alaihissalam- dan para sahabatnya terkepung, hingga kepala sapi bagi mereka saat itu lebih berharga dari pada seratus dinar kalian saat ini. Maka Isa dan para sahabatnya berharap [berdoa] kepada Allah -subhanahu wa ta’ala-, lalu Allah-pun mengirim sejenis ulat yang menyerang leher mereka. Maka pagi harinya mereka seluruhnya binasa menjadi bangkai-bangkai dalam waktu yang hampir bersamaan. Kemudian turunlah Nabi Isa-alaihissalam- [dari gunung Tursina] bersama para sahabatnya, ketika itulah tidak didapati satu jengkal pun tempat kecuali penuh dengan bangkai dan bau busuk mereka. Maka Nabi Isa –alaihissalam- pun berharap (berdoa) kepada Allah -subhanahu wa ta’ala-. Maka Allah lalu mengirimkan burung-burung yang lehernya seperti unta, membawa bangkai-bangkai mereka dan kemudian dilemparkan di tempat yang Allah kehendaki). HR. Muslim Doa Nabi kita Muhammad –shallallahu alaihi wa sallam- pemimpin umat manusia bersama sahabat-sahabatnya di Badar merupakan kemenangan bagi Islam secara permanen dan kenistaan bagi kekafiran untuk selama-lamanya. Firman Allah :( إِذْ تَسْتَغِيثُونَ رَبَّكُمْ فَاسْتَجَابَ لَكُمْ أَنِّي مُمِدُّكُمْ بِأَلْفٍ مِنَ الْمَلَائِكَةِ مُرْدِفِينَ) [ الأنفال /9](Ingatlah, ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu: “Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan untukmu berupa seribu malaikat yang datang berturut-turut). Qs Al-Anfal : 9Nabi-shallallahu alaihi wa sallam- berdoa dengan sepenuh hati di Badar sehingga kain selendang beliau melorot. Abu Bakar- radhiyallahu anhu- mendampingi beliau lalu berkata : Cukuplah sudah Ya Rasulullah apa yang engkau mohonkan kepada Tuhan, karena Allah sungguh memenuhi janjiNya kepada engkau. Doa memohon untuk kemenangan bagi kebenaran dan kehancuran bagi kebatilan merupakan kebulatan hati dalam berbuat baik kepada Allah, kitabNya, rasulNya, para pemimpin kaum muslimin dan seluruh kaum muslimin pada umumnya. Oleh karena itu, tidak mungkin meninggalkan doa kecuali orang yang jelas terhalang dari nasib mujur di dunia dan akhirat, yang menyia-nyiakan tugas wajibnya terhadap Islam dan sesama muslim.Di sebutkan dalam hadis :” مَنْ لَمْ يَهْتَم بِأمِرِ المْسْلِمِيْنَ فَلَيْسَ مِنْهُمْ ““Barangsiapa yang tidak peduli pada urusan kaum muslimin, tidaklah ia termasuk golongan mereka”.Jika kita teliti secara seksama pengaruh doa, keberkahan, kebaikan dan dampak positifnya yang mengagumkan, tentu perlu pemaparan yang panjang lebar. Namun di sini cukuplah apa yang kami singgung di atas.Berdoa tentu ada syarat-syaratnya dan etikanya. Antara lain, hendaknya orang yang berdoa memakan makanan yang halal dan mengenakan pakaian yang halal. Rasulullah –shallahu alaihi wa sallam- berpesan kepada Sa’ad Bin Abi Waqash : “Wahai Sa’ad, bersihkanlah makananmu niscaya doamu terkabulkan”. Di antara syarat berdoa ialah tetap dalam koridor Sunnah Nabi dan mengikuti ketetapan Allah dengan menjalankan perintah-perintahnya. Allah berfirman :(وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ) [البقرة/186](Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka [jawablah], bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi [segala perintah-Ku] dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran). Qs Albaqarah : 186Firman Allah :( وَيَسْتَجِيبُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَيَزِيدُهُمْ مِنْ فَضْلِهِ ) [ الشورى/26](Dan Dia memperkenankan [doa] orang-orang yang beriman serta mengerjakan amal yang saleh dan menambah [pahala] bagi mereka dari karunia-Nya). Qs As-Syura : 26 Perlu diingat, doa orang yang teraniaya adalah mustajabah meskipun dia itu orang kafir atau pelaku bid’ah. Di antara syarat berdoa ialah ikhlas dan kehadiran hati serta kemauan bulat dalam memohon dengan mendekatkan diri kepada Allah –subhanahu wa ta’ala-. Firman Allah :( فَادْعُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ ) [ غافر/14](Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ibadat kepada-Nya, meskipun orang-orang kafir tidak menyukai). Qs Ghafir : 14Disebutkan dalam hadis :“Allah tidak menerima doa seseorang yang hatinya lalai dan melayang”.Di antara syarat terkabulnya doa ialah tidak berdoa untuk sesuatu yang berakibat dosa atau pemutusan tali kekerabatan, dan tidak berdoa untuk sesuatu yang melampaui batas-batas kewajaran. Di antara sebab terkabulnya doa ialah memuji Allah dengan menyebut nama-namaNya yang baik (Asmaul-Husna) dan sifat-sifatNya yang luhur serta bershalawat kepada Nabi-shallallahu alaihi wa sallam-.Dalam suatu riwayat disebutkan, Rasulullah-shallallahu alaihi wa sallam- mendengar seorang lelaki berdoa : ( اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ بِأَنِّيْ أَشْهَدُ أَنَّكَ أَنْتَ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ اْلأَحَدُ الصَّمَدُ الَّذِيْ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلَدْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَد). رواه أبوداود والترمذى(Ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu dengan bersaksi bahwa Engkau adalah Allah, tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau, Maha Esa, tidak membutuhkan sesuatu tapi segala sesuatu membutuhkan-Mu, tidak beranak dan tidak diperanakkan, tidak seorang pun yang menyamaiNya). Maka beliau – shallallahu alaihi wa sallam- berkata kepadanya : “ Sungguh kamu telah memohon kepada Allah melalui asma-Nya yang agung yang bilamana seseorang memohon dengannya niscaya diberi, dan bilamana ia berdoa dengannya, niscaya doanya dikabulkan pula.) HR Abu Daud dan Tirmizi. Dikatakannya sebagai hadis hasan.Fudhalah Bin Ubaid-radhiyallahu anhu- berkata : Ketika Rasulullah – shallallahu alaihi wa sallam- sedang duduk, tiba-tiba ada seorang lelaki masuk lalu berdoa :( اللّهُمَّ اغْفِرْلِى وَارْحَمْنِى )( Ya Allah, ampunilah aku dan kasihanilah aku ), maka Rasulullah- shallallahu alaihi wa sallam- menegurnya seraya berkata : “Kamu terlalu tergesa-gesa hai orang yang sedang berdoa. Jika kamu berdoa lalu duduk, pujilah Allah sebagaimana lazimnya dengan Allah, sesudah itu berdoalah shalawat untukku, lalu memohonlah kepada Allah”. HR. Ahmad, Abu Daud dan Tirmizi. Dikatakannya sebagai hadis hasan.Dalam hadis lain disebutkan bahwa doa seseorang senantiasa tergantung di antara langit dan bumi sehingga orang tersebut menyampaikan doa shalawat kepada Nabi –shallallahu alaihi wa sallam-.Di antara etika dan syarat terkabulnya doa, seorang yang berdoa hendaklah tidak tergesa-gesa, tetapi bersabar. Disebutkan dalam hadis, “Akan terpenuhi doa salah seorang di antara kalian selagi tidak tergesa-gesa, sambil bergumam, “aku sudah berdoa, namun belum kunjung dikabulkan juga”. HR Bukhari dan Muslim dari hadis Abu Hurairah- radhiyallahu anhu-. Bersamaan dengan kelanggengan berdoa, akan terkabul doa seseorang. Disebutkan dalam hadis, : “Tidak seorang pun muslim di atas bumi yang berdoa melainkan Allah memperkenankan apa yang diminta atau menghindarkannya dari keburukan yang setara dengannya selagi dirinya tidak memohon sesuatu yang mengandung dosa atau pemutusan tali kekerabatan, maka tiba-tiba ada seorang lelaki yang berkata, “Kalau demikian kami memperbanyak doa. Maka Nabi-sallallahu alaihi wa sallam- bersabda : “Allah-pun akan memperbanyak pemberianNya”. HR Tirmizi, dikatakannya sebagai hadis hasan shahih. Diriwayatkan pula oleh Alhakim melalui jalur Abu Said dengan tambahan redaksi :” أو يَدًّخِرُ لَهُ مِنْ مِثْلِهَا “( Atau Allah mendepositokan baginya kebaikan yang setara dengannya ). Maka seyogianya seorang muslim membidik waktu-waktu yang mustajabah untuk berdoa. Rasulullah- sallallahu alaihi wa sallam- pernah ditanya, “Ya Rasulallah, doa apakah yang paling didengar oleh Allah?”. Beliau menjawab, “Doa di akhir tengah malam dan di setiap selesai shalat fardhu”. HR Tirmizi, dikatakannya sebagai hadis hasan dari hadis Abu Umamah.Dalam hadis disebutkan :( يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ يَقُولُ : مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ ) رواه البخاري ومسلم (Tuhan kita -tabaaraka wa ta’ala- turun pada setiap malam ke langit dunia pada sepertiga malam terakhir, Dia berfirman, ‘Siapa yang berdoa kepada-Ku, akan Aku kabulkan, siapa yang meminta kepada-Ku akan Aku berikan, siapa yang minta ampun kepada-Ku akan Aku ampuni). HR Bukhari dan Muslim dari hadis Abu Hurairah- radhiyallahu anhu-. Doa di waktu antara azan dan iqamah tidak akan tertolak. Demikian pula pada saat bersujud. Disebutkan dalam hadis,( أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ، وَهُوَ سَاجِدٌ، فَأَكْثِرُوا الدُّعَاءَ ) رواه مسلم(Keadaan paling dekat bagi seorang hamba kepada Tuhan-nya adalah ketika dia dalam keadaan sujud, maka perbanyaklah berdoa). HR. Muslim dari hadis Abu Hurairah.Ketika melihat Ka’bah, ketika turunnya hujan, ketika sedang dalam keadaan darurat, setelah mengkhatamkan Al-Qur’an dan setelah bersedekah pun doa seseorang terkabulkan.Betapa besar kebahagiaan, keberuntungan dan pahala bagi orang yang hatinya selalu tersambung dengan Allah –subhanahu wa ta’ala-, yang selalu memohon, mengharap, bertawakal dan meminta pertolonganNya.Sungguh celaka dan terlampau jauh kemusyrikan dan kekafiran orang yang memohon kepada pemakaman dan pekuburan atau menyampaikan hajat hidupnya kepada malaikat atau nabi. Tugas para nabi dan rasul adalah mengajak umat manusia untuk memohon kepada Allah –subhanahu wa ta’ala- semata, dan memurnikan permohonan hanya kepadaNya. Demikian pula para wali, kita diperintahkan untuk berbuat seperti apa yang mereka perbuat dan meneladani mereka, kita dilarang berdoa, mengharap dan memohon kepada mereka. Firman Allah :( وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَدًا )  [ الجن / 18 ](Dan sesungguhnya mesjid-mesjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah seseorangpun di dalamnya di samping [menyembah] Allah) Qs Al-Jin : 18Firman Allah :( قُلْ إِنَّمَا أَدْعُو رَبِّي وَلَا أُشْرِكُ بِهِ أَحَدًا ) [ الجن / 20 ](Katakanlah: “Sesungguhnya aku hanya menyembah Tuhanku dan aku tidak mempersekutukan sesuatupun dengan-Nya) Qs Al-Jin : 20Seseorang yang menghilang dan orang-orang mati, tidak ada seorangpun di antara mereka yang bisa memenuhi permohonan yang ditujukan kepada mereka, sebab yang bisa memenuhi dan mengabulkan doa hanyalah Allah -subhanahu wa ta’ala-. Firman Allah :( لَهُ دَعْوَةُ الْحَقِّ وَالَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ لَا يَسْتَجِيبُونَ لَهُمْ بِشَيْءٍ إِلَّا كَبَاسِطِ كَفَّيْهِ إِلَى الْمَاءِ لِيَبْلُغَ فَاهُ وَمَا هُوَ بِبَالِغِهِ وَمَا دُعَاءُ الْكَافِرِينَ إِلَّا فِي ضَلَالٍ ) [ الرعد/14](Hanya bagi Allah-lah (hak mengabulkan) doa yang benar. Dan berhala-berhala yang mereka sembah selain Allah tidak dapat memperkenankan sesuatupun bagi mereka, melainkan seperti orang yang membukakan kedua telapak tangannya ke dalam air supaya sampai air ke mulutnya, padahal air itu tidak dapat sampai ke mulutnya. Dan doa (ibadat) orang-orang kafir itu, hanyalah sia-sia belaka). Qs Ar-Ra’d : 14Firman Allah :( وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنْ يَدْعُو مِنْ دُونِ اللَّهِ مَنْ لَا يَسْتَجِيبُ لَهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَهُمْ عَنْ دُعَائِهِمْ غَافِلُونَ ، وَإِذَا حُشِرَ النَّاسُ كَانُوا لَهُمْ أَعْدَاءً وَكَانُوا بِعِبَادَتِهِمْ كَافِرِينَ ، [ الأحقاف/5 – 6](Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang menyembah sembahan-sembahan selain Allah yang tiada dapat memperkenankan (doa)nya sampai hari kiamat dan mereka lalai dari [memperhatikan] doa mereka.  Dan apabila manusia dikumpulkan (pada hari kiamat) niscaya sembahan-sembahan itu menjadi musuh mereka dan mengingkari pemujaan-pemujaan mereka). Qs Al-Ahqaf : 5-6Allah pun berfirman dalam konteks pengisahan tentang pekerjaan-pekerjaanNya :يُولِجُ اللَّيْلَ فِي النَّهَارِ وَيُولِجُ النَّهَارَ فِي اللَّيْلِ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ كُلٌّ يَجْرِي لِأَجَلٍ مُسَمًّى ذَلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمْ لَهُ الْمُلْكُ وَالَّذِينَ تَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ مَا يَمْلِكُونَ مِنْ قِطْمِيرٍ ، إِنْ تَدْعُوهُمْ لَا يَسْمَعُوا دُعَاءَكُمْ وَلَوْ سَمِعُوا مَا اسْتَجَابُوا لَكُمْ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يَكْفُرُونَ بِشِرْكِكُمْ وَلَا يُنَبِّئُكَ مِثْلُ خَبِيرٍ ) [ فاطر/ 13 – 14 ](Dia memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam dan menundukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan. Yang [berbuat] demikian itulah Allah Tuhanmu, kepunyaan-Nya-lah kerajaan. Dan orang-orang yang kamu seru [sembah] selain Allah tiada mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari. Jika kamu menyeru mereka, mereka tiada mendengar seruanmu; dan kalau mereka mendengar, mereka tidak dapat memperkenankan permintaanmu. Dan dihari kiamat mereka akan mengingkari kemusyirikanmu dan tidak ada yang dapat memberi keterangan kepadamu sebagai yang diberikan oleh Yang Maha Mengetahui ) Qs Fathir : 13-14 Allah -subhanahu wa ta’ala- tidak mengizinkan seseorangpun memohon kepada selainNya meskipan yang dimohon itu malaikat yang dekat kepada Allah.Allah -subhanahu wa ta’ala- berfirman mengisahkan Nabi Isa Bin Maryam –alaihissalam-  :( وَقَالَ الْمَسِيحُ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ ) [ المائدة / 72 ]( Al Masih [sendiri] berkata: “Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu”. Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun). Qs Al-Maidah : 72 ( مَنْ مَاتَ وَهُوَ يَدْعُوْ مِنْ دُوْنِ اللهِ نِدًّا دَخَلَ النَّارَ )  رواه البخاري(Barang siapa yang mati dalam keadaan menyembah sesembahan selain Allah, maka masuklah ia kedalam neraka). HR. Bukhari dari hadis Abdullah Bin Mas’ud.Saudaraku sesama muslim!          Itulah pesan Kitab Allah dan Sunnah rasulNya –shallallahu alaihi wa sallam- yang menandaskan bahwa doa pada hakikatnya adalah ibadah, Oleh karena itu doa hanya boleh ditujukan kepada Allah –subhanahu wa ta’ala-. Barangsiapa yang melibatkan seseorang selain Allah dalam doa, maka ia telah melakukan kemusyrikan besar. Maka dalam hal kesesatan dan kemusyrikan ini janganlah ada seseorang yang meniru-niru orang lain, sebab tidak seorangpun terjebak dalam kemusyrikan dan kekafiran kecuali akibat sikapnya yang suka meniru-niru dan mengikuti orang-orang yang tersesat.Firman Allah :( أَذَلِكَ خَيْرٌ نُزُلًا أَمْ شَجَرَةُ الزَّقُّومِ ، إِنَّا جَعَلْنَاهَا فِتْنَةً لِلظَّالِمِينَ ،  إِنَّهَا شَجَرَةٌ تَخْرُجُ فِي أَصْلِ الْجَحِيمِ ، طَلْعُهَا كَأَنَّهُ رُءُوسُ الشَّيَاطِينِ ، فَإِنَّهُمْ لَآكِلُونَ مِنْهَا فَمَالِئُونَ مِنْهَا الْبُطُونَ ، ثُمَّ إِنَّ لَهُمْ عَلَيْهَا لَشَوْبًا مِنْ حَمِيمٍ ، ثُمَّ إِنَّ مَرْجِعَهُمْ لَإِلَى الْجَحِيمِ ، إِنَّهُمْ أَلْفَوْا آبَاءَهُمْ ضَالِّينَ ، فَهُمْ عَلَى آثَارِهِمْ يُهْرَعُونَ ) [ الصافات / 62-70](Makanan surga itukah hidangan yang lebih baik ataukah pohon zaqqum. Sesungguhnya Kami menjadikan pohon zaqqum itu sebagai siksaan bagi orang-orang yang zalim. Sesungguhnya dia adalah sebatang pohon yang ke luar dan dasar neraka yang menyala. mayangnya seperti kepala setan-setan. Maka sesungguhnya mereka benar-benar memakan sebagian dari buah pohon itu, maka mereka memenuhi perutnya dengan buah zaqqum itu. Kemudian sesudah makan buah pohon zaqqum itu pasti mereka mendapat minuman yang bercampur dengan air yang sangat panas. Kemudian sesungguhnya tempat kembali mereka  benar-benar ke neraka Jahim. Karena sesungguhnya mereka mendapati bapak-bapak mereka dalam Keadaaan sesat. Lalu mereka sangat tergesa-gesa mengikuti jejak orang-orang tua mereka itu.) Qs. Ashshafat : 62-70 Firman Allah : ( ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ ) ( الأعراف/55](Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas). Qs Al-A’raf : 55Semoga Allah mencurahkan keberkahan kepadaku dan kepada kalian berkat pengamalan Al-Qur’an yang agung !—————–Khotbah kedua Segala puji bagi Allah yang Maha Pengasih dan Pemurah, Maha Perkasah dan Bijaksana. BagiNya nama-nama yang banik dan indah dengan sifat-sifatNya yang luhur dan agung. Aku bersaksi nahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tiada sekutu bagiNya yang Maha Tinggi dan Agung. Dan aku bersaksi bahwa nabi kita dan pemimpin kita Muhammad –shallallahu alaihi wa sallam- adalah hamba Allah dan rasul pilihanNya.Ya Allah sampaikanlah shalawat, salam dan keberkahan kepada hambaMu, rasulMu Muhammad – shallallahu alaihi wa sallam- beserta seluruh keluarga dan sahabatnya yang konsisten dalam ketakwaan.Selanjutnya :          Bertakwalah kepada Allah, niscaya Allah akan memperbaiki amal perbuatan kalian dan menjadikan kalian orang-orang yang beruntung di dunia sekarang dan di akhirat kelak.Hamba-hamba Allah!          Tetaplah kalian tersambung dengan Allah dengan selalu memohon kepadaNya dalam doa. Tidak akan kecewa orang yang memohon kepadaNya dan tidak akan terhalang dari anugerahNya orang yang mengharapkan karuniaNya.          Kebutuhan hidup setiap menusia akan tetap ada, dengan berbagai macam tuntutan yang muncul setiap waktu. Maka hendaklah setiap individu memohon kepada Tuhannya apa saja yang dinilainya sebagai suatu kebaikan, dan hendaklah berlindung kepadaNya dari apapun yang diduganya mendatangkan keburukan.          Puncak dari permohonan adalah ridha Ilahi dan surgaNya, sedangkan perlindungan yang paling urgen adalah terhindar dari hukuman neraka. Oleh sebab itu sepatutnya setiap muslim bersungguh-sungguh dalam memohon kepada Tuhan apapun hajat yang mendesak baginya, karena Allah –subhanahu wa ta’ala- Maha Pemurah dan Maha Terpuji, Maha Dermawan, Maha Agung dan Maha Kuasa.Firman Allah dalam hadis Qudsi :( يَا عِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أَتْقَى قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مِنْكُمْ مَا زَادَ ذَلِكَ مِمَّا عِنْدِيْ شَيْئاً . يَا عِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أَفْجَرِ قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مِنْكُمْ مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِمَّا عِنْدِيْ شَيْئاً . يَا عِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ قَامُوا فِي صَعِيْدٍ وَاحِدٍ فَسَأَلُوْنِي فَأَعْطَيْتُ كُلَّ وَاحِدٍ مَسْأَلَتَهُ مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِمَّا عِنْدِي إِلاَّ كَمَا يَنْقُصُ الْمَخِيْطُ إِذَا أُدْخِلَ الْبَحْرَ). رواه مسلم (Wahai hambaKu seandainya sejak orang pertama di antara kalian sampai orang terakhir, dari kalangan manusia dan jin semuanya berada dalam keadaan paling bertakwa di antara kamu, niscaya hal itu tidak menambah apa yang Aku miliki sedikitpun.  Wahai hambaKu seandainya sejak orang pertama di antara kalian sampai orang terakhir, dari golongan manusia dan jin, semuanya dalam keadaan paling durhaka di antara kalian, niscaya hal itu tidak akan mengurangi apa yang ada padaKu sedikitpun juga. Wahai hamba-Ku, seandainya  sejak orang pertama diantara kalian sampai orang terakhir  semunya berdiri di sebuah bukit lalu kalian meminta kepada-Ku, lalu setiap orang yang meminta Aku penuhi, niscaya hal itu tidak mengurangi apa yang ada padaKu kecuali bagaikan sebuah jarum yang dicelupkan di tengah lautan). HR Muslim          Dianjurkan bagi seorang muslim memilih doa sapu jagat yang diajarkan oleh Nabi – shallallahu alaihi wa sallam- sebagaimana dalam ayat Al-Qur’an :( رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ )  [ البقرة / 201 ](Dan di antara mereka ada orang yang berdoa: “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka). Qs Albaqarah : 201Dan doa ma’tsur lainnya seperti :اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ رِضَاكَ وَالْجَنَّةَ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ وَعَمَلٍ وَنَعُوْذُ بِكَ مِنْ سَخَطِكَ وَالنَّارِ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ وَعَمَلٍ.(Ya Allah, kami memohon kepada-Mu ridha dan surga-Mu serta semua ucapan maupun perbuatan yang dapat mendekatkan kami kepadanya, dan kami berlindung kepada-Mu dari murka dan neraka-Mu serta semua ucapan maupun perbuatan yang dapat mendekatkan kami kepadanya). Hamba-hamba Allah!          Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikatNya bershalawat kepada Nabi. Wahai orang-orang yang beriman bershalawatlah kalian dan sampaikan salam kepadanya!.—- Selesai —-Penerjemah: Usman Hatim

INGIN MEMILIKI PAHALA YANG TERUS MENGALIR WALAUPUN TELAH MATI?

الحمد لله الذي بنعمته تتم الصالحات وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له  وأشهد أن محمدا عبده ورسوله صلّى الله عليه وعلى آله وأصحابه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدينSegala puji bagi Allah atas nikmatNya kemudian atas dukungan dari kaum Muslimin sehingga kami panitia pembebasan tanah wakaf untuk pembangunan Masjid dan Pondok Pesantren Cahaya Islam Papua di Kota Sorong dapat melaksanakan program pembebasan tanah wakaf tersebut. Mulanya tanah yang akan dibebaskan adalah seluas satu hektar dengan estimasi harga sebesar 3,5 milyar rupiah, alhamdulillah atas karunia dari Allah sematalah sehingga lahan yang saat ini telah berhasil dibebaskan (yang telah dibeli menggunakan dana wakaf tunai dari kaum Muslimin) adalah seluas 19.000 M2 (1,9 hektar)  dengan harga Rp. 1.630.000.000,- (satu Milyar Enam Ratus Tiga Puluh Juta Rupiah). Kemudian dilakukan penimbunan sebagian lahan tersebut menggunakan pasir timbunan sebanyak 10.000 rit (sekitar 20.000 M3) dengan harga per ritnya @ Rp. 92.500,- sehingga total biaya penimbunan lahan sampai saat ini adalah Rp. 925.000.000,- (Sembilan Ratus Dua Puluh Lima Juta Rupiah). Kami Panitia Pelaksana Pembebasan Tanah Wakaf tersebut mengucapkan terimakasih serta mendoakan seluruh muhsinin dan kaum muslimin yang telah berpartisipasi dalam amal sholeh ini semoga Allah  memberikan keberkahan pada usia, keluarga, harta yang telah diinfakkan dan yang dimiliki serta menjadikannya sebagai pemberat timbangan amal sholeh di akhirat kelak. Aamiin Alhamdulillaah saat ini lahan wakaf yang telah ditimbun tersebut in syaa Allah telah siap untuk dibangun di atasnya Masjid dan Pondok Pesantren (gambar lahan terlampir), oleh karena itu pada kesempatan yang baik ini kami kembali mengajak Kaum Muslimin di manapun berada untuk turut mendukung pembangunan Masjid dan Pondok Pesantren tersebut dengan menginfakkan sebahagian harta yang telah Allah karuniakan kepada Bapak/Ibu kaum Muslimin sekalian demi tegaknya kalimatullah di Tanah Papua kemudian demi kemaslahatan kaum muslimin. Tentunya setiap rupiah yang Bapak/Ibu Kaum Muslimin infakkan di jalan Allah karena mengharap keridaanNya semata tidak akan pernah sia-sia karena Allah telah berjanji akan menggantinya. Sebagaimana janji Allah di dalam firmanNya yang artinya :“Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan maka Allah akan menggantinya dan Dialah Pemberi Rezeki yang sebaik-baiknya”  (Q.S. Saba’ (34) : 39).Al-Imam Ibnu Katsir rahimahulloohu menjelaskan di dalam Tafsirnya  (Tafsir Al-Qur’an Al-Adzhiim cetakan Maktabah Auladis Syaikh Lit Turoots : Jilid 11 halaman 293) tentang makna ayat di atas adalah : “Apapun yang engkau infakkan dalam hal yang telah Allah perintahkan kepadamu dan perkara yang mubah, maka Allah akan memberikan gantinya di dunia dan memberikan pahala serta balasan di hari akhir”.  Sebagaimana  firman Allah di dalam hadits qudsi :أَّنْفِقْ أُنْفِقْ عَلَيْكَ (رواه البخاري : ٤٦٨٤)Artinya : “Berinfaklah engkau maka Aku akan menafkahimu” (H.R. Bukari : 4684).Demikian ajakan ini kami sampaikan kepada bapak/Ibu kaum Muslimin di manapun berada dan semoga Allah  menjadikan kita termasuk penolong-penolong Agama Allah. Aamiin                  INFORMASI bisa kontak kami di 0813 812 306 24 (Ustadz Sutriyono Sardi Lc.)Semoga Allah membalas kebaikan para muhsinin yang telah sudi membantu dalam kebaikan ini. Moga Allah memberkahi rizkinya, memudahkan kita untuk bisa taat kepada-Nya. AmiinWassalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh.  Jadwal Kajian Rutin di SorongLAPORAN DONASI PEMBANGUNAN MASJID DAN PESANTREN CAHAYA ISLAM PAPUA (terupdate setiap bulan, in syaa Allah)Berikut kami laporkan hasil penggalangan dana untuk Pembangunan Masjid & Pesantren Serta Pembebasan Lahan Wakaf yang dilaksanakan oleh Yayasan Cahaya Islam Papua Sampai dengan 21 Shafar 1439 H / 10 November 2017 M :1. Saldo Dana Pembebasan Lahan Wakaf Untuk Pembangunan Masjid Dan Pondok Pesantren Cahaya Islam Papua : Rp. 292.328.680,- (Dua Ratus Sembilan Puluh Dua Juta, Tiga Ratus Dua Puluh Delapan Ribu, Enam Ratus Delapan Puluh Rupiah)2. Donasi Pembangunan Masjid Cahaya Islam Papua : Rp. 191.399.564,- (Seratus Sembilan Puluh Satu Juta, Tiga Ratus Sembilan Puluh Sembilan Ribu, Lima Ratus Enam Puluh Empat Rupiah)3. Donasi Pembangunan Pesantren Cahaya Islam Papua : Rp. 203.163.828,- (Dua Ratus Tiga Juta, Seratus Enam Puluh Tiga Ribu, Delapan Ratus Dua Puluh Delapan Rupiah)Adapun rincian dana masuk pada poin no 1, 2 & 3 beserta penggunaannya dapat dilihat di link berikut ini :https://app.box.com/s/xmd02qgd4zsgid4949eqvvrv65xlfjav جَزَا اللَّهُ الْمُحْسِنِيْنَ خَيْرًاوَبَارَكَ اللَّهُ فِيْ أَعْمَارِهِمْوَأَهْلِيْهِمْ وَأَمْوَالِهِمْ فِيْمَا أَنْفَقُوْا وَفِيْمَا أَمْسَكُوْا“Semoga Allooh memberikan balasan kebaikan (yg berlipat ganda) bagi para muhsinin dan memberikan keberkahan pada usia , keluarga serta harta mereka”

INGIN MEMILIKI PAHALA YANG TERUS MENGALIR WALAUPUN TELAH MATI?

الحمد لله الذي بنعمته تتم الصالحات وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له  وأشهد أن محمدا عبده ورسوله صلّى الله عليه وعلى آله وأصحابه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدينSegala puji bagi Allah atas nikmatNya kemudian atas dukungan dari kaum Muslimin sehingga kami panitia pembebasan tanah wakaf untuk pembangunan Masjid dan Pondok Pesantren Cahaya Islam Papua di Kota Sorong dapat melaksanakan program pembebasan tanah wakaf tersebut. Mulanya tanah yang akan dibebaskan adalah seluas satu hektar dengan estimasi harga sebesar 3,5 milyar rupiah, alhamdulillah atas karunia dari Allah sematalah sehingga lahan yang saat ini telah berhasil dibebaskan (yang telah dibeli menggunakan dana wakaf tunai dari kaum Muslimin) adalah seluas 19.000 M2 (1,9 hektar)  dengan harga Rp. 1.630.000.000,- (satu Milyar Enam Ratus Tiga Puluh Juta Rupiah). Kemudian dilakukan penimbunan sebagian lahan tersebut menggunakan pasir timbunan sebanyak 10.000 rit (sekitar 20.000 M3) dengan harga per ritnya @ Rp. 92.500,- sehingga total biaya penimbunan lahan sampai saat ini adalah Rp. 925.000.000,- (Sembilan Ratus Dua Puluh Lima Juta Rupiah). Kami Panitia Pelaksana Pembebasan Tanah Wakaf tersebut mengucapkan terimakasih serta mendoakan seluruh muhsinin dan kaum muslimin yang telah berpartisipasi dalam amal sholeh ini semoga Allah  memberikan keberkahan pada usia, keluarga, harta yang telah diinfakkan dan yang dimiliki serta menjadikannya sebagai pemberat timbangan amal sholeh di akhirat kelak. Aamiin Alhamdulillaah saat ini lahan wakaf yang telah ditimbun tersebut in syaa Allah telah siap untuk dibangun di atasnya Masjid dan Pondok Pesantren (gambar lahan terlampir), oleh karena itu pada kesempatan yang baik ini kami kembali mengajak Kaum Muslimin di manapun berada untuk turut mendukung pembangunan Masjid dan Pondok Pesantren tersebut dengan menginfakkan sebahagian harta yang telah Allah karuniakan kepada Bapak/Ibu kaum Muslimin sekalian demi tegaknya kalimatullah di Tanah Papua kemudian demi kemaslahatan kaum muslimin. Tentunya setiap rupiah yang Bapak/Ibu Kaum Muslimin infakkan di jalan Allah karena mengharap keridaanNya semata tidak akan pernah sia-sia karena Allah telah berjanji akan menggantinya. Sebagaimana janji Allah di dalam firmanNya yang artinya :“Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan maka Allah akan menggantinya dan Dialah Pemberi Rezeki yang sebaik-baiknya”  (Q.S. Saba’ (34) : 39).Al-Imam Ibnu Katsir rahimahulloohu menjelaskan di dalam Tafsirnya  (Tafsir Al-Qur’an Al-Adzhiim cetakan Maktabah Auladis Syaikh Lit Turoots : Jilid 11 halaman 293) tentang makna ayat di atas adalah : “Apapun yang engkau infakkan dalam hal yang telah Allah perintahkan kepadamu dan perkara yang mubah, maka Allah akan memberikan gantinya di dunia dan memberikan pahala serta balasan di hari akhir”.  Sebagaimana  firman Allah di dalam hadits qudsi :أَّنْفِقْ أُنْفِقْ عَلَيْكَ (رواه البخاري : ٤٦٨٤)Artinya : “Berinfaklah engkau maka Aku akan menafkahimu” (H.R. Bukari : 4684).Demikian ajakan ini kami sampaikan kepada bapak/Ibu kaum Muslimin di manapun berada dan semoga Allah  menjadikan kita termasuk penolong-penolong Agama Allah. Aamiin                  INFORMASI bisa kontak kami di 0813 812 306 24 (Ustadz Sutriyono Sardi Lc.)Semoga Allah membalas kebaikan para muhsinin yang telah sudi membantu dalam kebaikan ini. Moga Allah memberkahi rizkinya, memudahkan kita untuk bisa taat kepada-Nya. AmiinWassalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh.  Jadwal Kajian Rutin di SorongLAPORAN DONASI PEMBANGUNAN MASJID DAN PESANTREN CAHAYA ISLAM PAPUA (terupdate setiap bulan, in syaa Allah)Berikut kami laporkan hasil penggalangan dana untuk Pembangunan Masjid & Pesantren Serta Pembebasan Lahan Wakaf yang dilaksanakan oleh Yayasan Cahaya Islam Papua Sampai dengan 21 Shafar 1439 H / 10 November 2017 M :1. Saldo Dana Pembebasan Lahan Wakaf Untuk Pembangunan Masjid Dan Pondok Pesantren Cahaya Islam Papua : Rp. 292.328.680,- (Dua Ratus Sembilan Puluh Dua Juta, Tiga Ratus Dua Puluh Delapan Ribu, Enam Ratus Delapan Puluh Rupiah)2. Donasi Pembangunan Masjid Cahaya Islam Papua : Rp. 191.399.564,- (Seratus Sembilan Puluh Satu Juta, Tiga Ratus Sembilan Puluh Sembilan Ribu, Lima Ratus Enam Puluh Empat Rupiah)3. Donasi Pembangunan Pesantren Cahaya Islam Papua : Rp. 203.163.828,- (Dua Ratus Tiga Juta, Seratus Enam Puluh Tiga Ribu, Delapan Ratus Dua Puluh Delapan Rupiah)Adapun rincian dana masuk pada poin no 1, 2 & 3 beserta penggunaannya dapat dilihat di link berikut ini :https://app.box.com/s/xmd02qgd4zsgid4949eqvvrv65xlfjav جَزَا اللَّهُ الْمُحْسِنِيْنَ خَيْرًاوَبَارَكَ اللَّهُ فِيْ أَعْمَارِهِمْوَأَهْلِيْهِمْ وَأَمْوَالِهِمْ فِيْمَا أَنْفَقُوْا وَفِيْمَا أَمْسَكُوْا“Semoga Allooh memberikan balasan kebaikan (yg berlipat ganda) bagi para muhsinin dan memberikan keberkahan pada usia , keluarga serta harta mereka”
الحمد لله الذي بنعمته تتم الصالحات وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له  وأشهد أن محمدا عبده ورسوله صلّى الله عليه وعلى آله وأصحابه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدينSegala puji bagi Allah atas nikmatNya kemudian atas dukungan dari kaum Muslimin sehingga kami panitia pembebasan tanah wakaf untuk pembangunan Masjid dan Pondok Pesantren Cahaya Islam Papua di Kota Sorong dapat melaksanakan program pembebasan tanah wakaf tersebut. Mulanya tanah yang akan dibebaskan adalah seluas satu hektar dengan estimasi harga sebesar 3,5 milyar rupiah, alhamdulillah atas karunia dari Allah sematalah sehingga lahan yang saat ini telah berhasil dibebaskan (yang telah dibeli menggunakan dana wakaf tunai dari kaum Muslimin) adalah seluas 19.000 M2 (1,9 hektar)  dengan harga Rp. 1.630.000.000,- (satu Milyar Enam Ratus Tiga Puluh Juta Rupiah). Kemudian dilakukan penimbunan sebagian lahan tersebut menggunakan pasir timbunan sebanyak 10.000 rit (sekitar 20.000 M3) dengan harga per ritnya @ Rp. 92.500,- sehingga total biaya penimbunan lahan sampai saat ini adalah Rp. 925.000.000,- (Sembilan Ratus Dua Puluh Lima Juta Rupiah). Kami Panitia Pelaksana Pembebasan Tanah Wakaf tersebut mengucapkan terimakasih serta mendoakan seluruh muhsinin dan kaum muslimin yang telah berpartisipasi dalam amal sholeh ini semoga Allah  memberikan keberkahan pada usia, keluarga, harta yang telah diinfakkan dan yang dimiliki serta menjadikannya sebagai pemberat timbangan amal sholeh di akhirat kelak. Aamiin Alhamdulillaah saat ini lahan wakaf yang telah ditimbun tersebut in syaa Allah telah siap untuk dibangun di atasnya Masjid dan Pondok Pesantren (gambar lahan terlampir), oleh karena itu pada kesempatan yang baik ini kami kembali mengajak Kaum Muslimin di manapun berada untuk turut mendukung pembangunan Masjid dan Pondok Pesantren tersebut dengan menginfakkan sebahagian harta yang telah Allah karuniakan kepada Bapak/Ibu kaum Muslimin sekalian demi tegaknya kalimatullah di Tanah Papua kemudian demi kemaslahatan kaum muslimin. Tentunya setiap rupiah yang Bapak/Ibu Kaum Muslimin infakkan di jalan Allah karena mengharap keridaanNya semata tidak akan pernah sia-sia karena Allah telah berjanji akan menggantinya. Sebagaimana janji Allah di dalam firmanNya yang artinya :“Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan maka Allah akan menggantinya dan Dialah Pemberi Rezeki yang sebaik-baiknya”  (Q.S. Saba’ (34) : 39).Al-Imam Ibnu Katsir rahimahulloohu menjelaskan di dalam Tafsirnya  (Tafsir Al-Qur’an Al-Adzhiim cetakan Maktabah Auladis Syaikh Lit Turoots : Jilid 11 halaman 293) tentang makna ayat di atas adalah : “Apapun yang engkau infakkan dalam hal yang telah Allah perintahkan kepadamu dan perkara yang mubah, maka Allah akan memberikan gantinya di dunia dan memberikan pahala serta balasan di hari akhir”.  Sebagaimana  firman Allah di dalam hadits qudsi :أَّنْفِقْ أُنْفِقْ عَلَيْكَ (رواه البخاري : ٤٦٨٤)Artinya : “Berinfaklah engkau maka Aku akan menafkahimu” (H.R. Bukari : 4684).Demikian ajakan ini kami sampaikan kepada bapak/Ibu kaum Muslimin di manapun berada dan semoga Allah  menjadikan kita termasuk penolong-penolong Agama Allah. Aamiin                  INFORMASI bisa kontak kami di 0813 812 306 24 (Ustadz Sutriyono Sardi Lc.)Semoga Allah membalas kebaikan para muhsinin yang telah sudi membantu dalam kebaikan ini. Moga Allah memberkahi rizkinya, memudahkan kita untuk bisa taat kepada-Nya. AmiinWassalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh.  Jadwal Kajian Rutin di SorongLAPORAN DONASI PEMBANGUNAN MASJID DAN PESANTREN CAHAYA ISLAM PAPUA (terupdate setiap bulan, in syaa Allah)Berikut kami laporkan hasil penggalangan dana untuk Pembangunan Masjid & Pesantren Serta Pembebasan Lahan Wakaf yang dilaksanakan oleh Yayasan Cahaya Islam Papua Sampai dengan 21 Shafar 1439 H / 10 November 2017 M :1. Saldo Dana Pembebasan Lahan Wakaf Untuk Pembangunan Masjid Dan Pondok Pesantren Cahaya Islam Papua : Rp. 292.328.680,- (Dua Ratus Sembilan Puluh Dua Juta, Tiga Ratus Dua Puluh Delapan Ribu, Enam Ratus Delapan Puluh Rupiah)2. Donasi Pembangunan Masjid Cahaya Islam Papua : Rp. 191.399.564,- (Seratus Sembilan Puluh Satu Juta, Tiga Ratus Sembilan Puluh Sembilan Ribu, Lima Ratus Enam Puluh Empat Rupiah)3. Donasi Pembangunan Pesantren Cahaya Islam Papua : Rp. 203.163.828,- (Dua Ratus Tiga Juta, Seratus Enam Puluh Tiga Ribu, Delapan Ratus Dua Puluh Delapan Rupiah)Adapun rincian dana masuk pada poin no 1, 2 & 3 beserta penggunaannya dapat dilihat di link berikut ini :https://app.box.com/s/xmd02qgd4zsgid4949eqvvrv65xlfjav جَزَا اللَّهُ الْمُحْسِنِيْنَ خَيْرًاوَبَارَكَ اللَّهُ فِيْ أَعْمَارِهِمْوَأَهْلِيْهِمْ وَأَمْوَالِهِمْ فِيْمَا أَنْفَقُوْا وَفِيْمَا أَمْسَكُوْا“Semoga Allooh memberikan balasan kebaikan (yg berlipat ganda) bagi para muhsinin dan memberikan keberkahan pada usia , keluarga serta harta mereka”


الحمد لله الذي بنعمته تتم الصالحات وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له  وأشهد أن محمدا عبده ورسوله صلّى الله عليه وعلى آله وأصحابه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدينSegala puji bagi Allah atas nikmatNya kemudian atas dukungan dari kaum Muslimin sehingga kami panitia pembebasan tanah wakaf untuk pembangunan Masjid dan Pondok Pesantren Cahaya Islam Papua di Kota Sorong dapat melaksanakan program pembebasan tanah wakaf tersebut. Mulanya tanah yang akan dibebaskan adalah seluas satu hektar dengan estimasi harga sebesar 3,5 milyar rupiah, alhamdulillah atas karunia dari Allah sematalah sehingga lahan yang saat ini telah berhasil dibebaskan (yang telah dibeli menggunakan dana wakaf tunai dari kaum Muslimin) adalah seluas 19.000 M2 (1,9 hektar)  dengan harga Rp. 1.630.000.000,- (satu Milyar Enam Ratus Tiga Puluh Juta Rupiah). Kemudian dilakukan penimbunan sebagian lahan tersebut menggunakan pasir timbunan sebanyak 10.000 rit (sekitar 20.000 M3) dengan harga per ritnya @ Rp. 92.500,- sehingga total biaya penimbunan lahan sampai saat ini adalah Rp. 925.000.000,- (Sembilan Ratus Dua Puluh Lima Juta Rupiah). Kami Panitia Pelaksana Pembebasan Tanah Wakaf tersebut mengucapkan terimakasih serta mendoakan seluruh muhsinin dan kaum muslimin yang telah berpartisipasi dalam amal sholeh ini semoga Allah  memberikan keberkahan pada usia, keluarga, harta yang telah diinfakkan dan yang dimiliki serta menjadikannya sebagai pemberat timbangan amal sholeh di akhirat kelak. Aamiin Alhamdulillaah saat ini lahan wakaf yang telah ditimbun tersebut in syaa Allah telah siap untuk dibangun di atasnya Masjid dan Pondok Pesantren (gambar lahan terlampir), oleh karena itu pada kesempatan yang baik ini kami kembali mengajak Kaum Muslimin di manapun berada untuk turut mendukung pembangunan Masjid dan Pondok Pesantren tersebut dengan menginfakkan sebahagian harta yang telah Allah karuniakan kepada Bapak/Ibu kaum Muslimin sekalian demi tegaknya kalimatullah di Tanah Papua kemudian demi kemaslahatan kaum muslimin. Tentunya setiap rupiah yang Bapak/Ibu Kaum Muslimin infakkan di jalan Allah karena mengharap keridaanNya semata tidak akan pernah sia-sia karena Allah telah berjanji akan menggantinya. Sebagaimana janji Allah di dalam firmanNya yang artinya :“Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan maka Allah akan menggantinya dan Dialah Pemberi Rezeki yang sebaik-baiknya”  (Q.S. Saba’ (34) : 39).Al-Imam Ibnu Katsir rahimahulloohu menjelaskan di dalam Tafsirnya  (Tafsir Al-Qur’an Al-Adzhiim cetakan Maktabah Auladis Syaikh Lit Turoots : Jilid 11 halaman 293) tentang makna ayat di atas adalah : “Apapun yang engkau infakkan dalam hal yang telah Allah perintahkan kepadamu dan perkara yang mubah, maka Allah akan memberikan gantinya di dunia dan memberikan pahala serta balasan di hari akhir”.  Sebagaimana  firman Allah di dalam hadits qudsi :أَّنْفِقْ أُنْفِقْ عَلَيْكَ (رواه البخاري : ٤٦٨٤)Artinya : “Berinfaklah engkau maka Aku akan menafkahimu” (H.R. Bukari : 4684).Demikian ajakan ini kami sampaikan kepada bapak/Ibu kaum Muslimin di manapun berada dan semoga Allah  menjadikan kita termasuk penolong-penolong Agama Allah. Aamiin                  INFORMASI bisa kontak kami di 0813 812 306 24 (Ustadz Sutriyono Sardi Lc.)Semoga Allah membalas kebaikan para muhsinin yang telah sudi membantu dalam kebaikan ini. Moga Allah memberkahi rizkinya, memudahkan kita untuk bisa taat kepada-Nya. AmiinWassalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh.  Jadwal Kajian Rutin di SorongLAPORAN DONASI PEMBANGUNAN MASJID DAN PESANTREN CAHAYA ISLAM PAPUA (terupdate setiap bulan, in syaa Allah)Berikut kami laporkan hasil penggalangan dana untuk Pembangunan Masjid & Pesantren Serta Pembebasan Lahan Wakaf yang dilaksanakan oleh Yayasan Cahaya Islam Papua Sampai dengan 21 Shafar 1439 H / 10 November 2017 M :1. Saldo Dana Pembebasan Lahan Wakaf Untuk Pembangunan Masjid Dan Pondok Pesantren Cahaya Islam Papua : Rp. 292.328.680,- (Dua Ratus Sembilan Puluh Dua Juta, Tiga Ratus Dua Puluh Delapan Ribu, Enam Ratus Delapan Puluh Rupiah)2. Donasi Pembangunan Masjid Cahaya Islam Papua : Rp. 191.399.564,- (Seratus Sembilan Puluh Satu Juta, Tiga Ratus Sembilan Puluh Sembilan Ribu, Lima Ratus Enam Puluh Empat Rupiah)3. Donasi Pembangunan Pesantren Cahaya Islam Papua : Rp. 203.163.828,- (Dua Ratus Tiga Juta, Seratus Enam Puluh Tiga Ribu, Delapan Ratus Dua Puluh Delapan Rupiah)Adapun rincian dana masuk pada poin no 1, 2 & 3 beserta penggunaannya dapat dilihat di link berikut ini :https://app.box.com/s/xmd02qgd4zsgid4949eqvvrv65xlfjav جَزَا اللَّهُ الْمُحْسِنِيْنَ خَيْرًاوَبَارَكَ اللَّهُ فِيْ أَعْمَارِهِمْوَأَهْلِيْهِمْ وَأَمْوَالِهِمْ فِيْمَا أَنْفَقُوْا وَفِيْمَا أَمْسَكُوْا“Semoga Allooh memberikan balasan kebaikan (yg berlipat ganda) bagi para muhsinin dan memberikan keberkahan pada usia , keluarga serta harta mereka”

Manfaat Shalat Jamaah (1)

Apa saja manfaat shalat jama’ah? Mungkin karena kurang mengetahui manfaatnya sehingga jarang berkumpul di masjid untuk berjamaah. Moga bisa pelajari dari tulisan berikut.   1. Agar bisa berkumpul di waktu tertentu, juga agar bisa mengatur waktu dengan baik Karena ada shalat lima waktu yang diadakan di siang dan malam hari. Ada pula shalat pekanan seperti shalat Jum’at. Ada juga shalat yang berulang setiap tahunnya yaitu shalat Idul Fitri dan shalat Idul Adha. Ada juga berkumpul untuk seluruh negeri di tempat tertentu pada waktu tertentu, yaitu di padang Arafah pada hari Arafah (9 Dzulhijjah) untuk melaksanakan wukuf di Arafah. Dan memang orang yang senang berjamaah di masjid akan mudah belajar mengatur waktu dengan baik.   2. Beribadah kepada Allah dengan bentuk berkumpul. Maksudnya berkumpul dalam shalat jama’ah di sini dengan tujuan meraih pahala, takut akan siksa-Nya dan selalu mengharap karunia di sisi-Nya.   3. Menumbuhkan rasa cinta sesama Orang yang terbiasa melakukan shalat berjamaah di masjid akan tahu keadaan jamaah yang rutin hadir. Jika ada yang tidak hadir, maka nanti ada yang akan menjenguknya. Jika ada yang mati, maka ada yang layat. Jika terdapat berita sesama jama’ah ada yang susah, maka yang lainnya akan membantu. Karena pertemuan seperti dalam shalat jama’ah akan lebih melekatkan hubungan dan menimbulkan kasih sayang.   4. Saling mengenal satu dan lainnya Jika seseorang shalat berjama’ah, maka akan saling mengenal satu dan lainnya. Yang kaya akan mengenal yang miskin. Tetangga jauh akan kenal tetangga dekat. Yang tua akan mengenal yang muda.   5. Menyuarakan syi’ar Allah Seandainya setiap orang memilih shalat di rumah, maka tidak ada yang akan tahu ada tuntunan shalat berjama’ah, syi’ar Islam semakin tidak diketahui.   6. Menampakkan besarnya Islam Jika semua orang (laki-laki) masuk masjid, lantas keluarnya berbarengan seperti saat waktu jum’at, maka semakin menunjukkan besarnya Islam, orang kafir dan orang munafik akan semakin kecil nyalinya. Sehingga orang muslim pun untuk meniru dan mengikuti jalan mereka semakin kecil.   7. Mengajarkan orang yang tidak mengerti shalat Kebanyakan orang mengetahui cara shalat yang baik dan benar dari shalat jama’ah. Kaum muslimin dapat mengambil faedah bacaan surat juga dari shalat jama’ah. Begitu pula ada yang mengetahui dzikir setelah shalat, juga dari shalat jama’ah. Jama’ah dapat mengetahui pelajaran beberapa hukum dari imamnya seperti tentang masalah sujud sahwi (saat lupa dalam shalat). Begitu pula orang yang tidak mengerti jadi tahu dari orang yang punya ilmu.   Bersambung insya Allah … — Disusun di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 27 Rabi’ul Awwal 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsmanfaat shalat berjamah shalat berjamaah shalat jamaah

Manfaat Shalat Jamaah (1)

Apa saja manfaat shalat jama’ah? Mungkin karena kurang mengetahui manfaatnya sehingga jarang berkumpul di masjid untuk berjamaah. Moga bisa pelajari dari tulisan berikut.   1. Agar bisa berkumpul di waktu tertentu, juga agar bisa mengatur waktu dengan baik Karena ada shalat lima waktu yang diadakan di siang dan malam hari. Ada pula shalat pekanan seperti shalat Jum’at. Ada juga shalat yang berulang setiap tahunnya yaitu shalat Idul Fitri dan shalat Idul Adha. Ada juga berkumpul untuk seluruh negeri di tempat tertentu pada waktu tertentu, yaitu di padang Arafah pada hari Arafah (9 Dzulhijjah) untuk melaksanakan wukuf di Arafah. Dan memang orang yang senang berjamaah di masjid akan mudah belajar mengatur waktu dengan baik.   2. Beribadah kepada Allah dengan bentuk berkumpul. Maksudnya berkumpul dalam shalat jama’ah di sini dengan tujuan meraih pahala, takut akan siksa-Nya dan selalu mengharap karunia di sisi-Nya.   3. Menumbuhkan rasa cinta sesama Orang yang terbiasa melakukan shalat berjamaah di masjid akan tahu keadaan jamaah yang rutin hadir. Jika ada yang tidak hadir, maka nanti ada yang akan menjenguknya. Jika ada yang mati, maka ada yang layat. Jika terdapat berita sesama jama’ah ada yang susah, maka yang lainnya akan membantu. Karena pertemuan seperti dalam shalat jama’ah akan lebih melekatkan hubungan dan menimbulkan kasih sayang.   4. Saling mengenal satu dan lainnya Jika seseorang shalat berjama’ah, maka akan saling mengenal satu dan lainnya. Yang kaya akan mengenal yang miskin. Tetangga jauh akan kenal tetangga dekat. Yang tua akan mengenal yang muda.   5. Menyuarakan syi’ar Allah Seandainya setiap orang memilih shalat di rumah, maka tidak ada yang akan tahu ada tuntunan shalat berjama’ah, syi’ar Islam semakin tidak diketahui.   6. Menampakkan besarnya Islam Jika semua orang (laki-laki) masuk masjid, lantas keluarnya berbarengan seperti saat waktu jum’at, maka semakin menunjukkan besarnya Islam, orang kafir dan orang munafik akan semakin kecil nyalinya. Sehingga orang muslim pun untuk meniru dan mengikuti jalan mereka semakin kecil.   7. Mengajarkan orang yang tidak mengerti shalat Kebanyakan orang mengetahui cara shalat yang baik dan benar dari shalat jama’ah. Kaum muslimin dapat mengambil faedah bacaan surat juga dari shalat jama’ah. Begitu pula ada yang mengetahui dzikir setelah shalat, juga dari shalat jama’ah. Jama’ah dapat mengetahui pelajaran beberapa hukum dari imamnya seperti tentang masalah sujud sahwi (saat lupa dalam shalat). Begitu pula orang yang tidak mengerti jadi tahu dari orang yang punya ilmu.   Bersambung insya Allah … — Disusun di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 27 Rabi’ul Awwal 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsmanfaat shalat berjamah shalat berjamaah shalat jamaah
Apa saja manfaat shalat jama’ah? Mungkin karena kurang mengetahui manfaatnya sehingga jarang berkumpul di masjid untuk berjamaah. Moga bisa pelajari dari tulisan berikut.   1. Agar bisa berkumpul di waktu tertentu, juga agar bisa mengatur waktu dengan baik Karena ada shalat lima waktu yang diadakan di siang dan malam hari. Ada pula shalat pekanan seperti shalat Jum’at. Ada juga shalat yang berulang setiap tahunnya yaitu shalat Idul Fitri dan shalat Idul Adha. Ada juga berkumpul untuk seluruh negeri di tempat tertentu pada waktu tertentu, yaitu di padang Arafah pada hari Arafah (9 Dzulhijjah) untuk melaksanakan wukuf di Arafah. Dan memang orang yang senang berjamaah di masjid akan mudah belajar mengatur waktu dengan baik.   2. Beribadah kepada Allah dengan bentuk berkumpul. Maksudnya berkumpul dalam shalat jama’ah di sini dengan tujuan meraih pahala, takut akan siksa-Nya dan selalu mengharap karunia di sisi-Nya.   3. Menumbuhkan rasa cinta sesama Orang yang terbiasa melakukan shalat berjamaah di masjid akan tahu keadaan jamaah yang rutin hadir. Jika ada yang tidak hadir, maka nanti ada yang akan menjenguknya. Jika ada yang mati, maka ada yang layat. Jika terdapat berita sesama jama’ah ada yang susah, maka yang lainnya akan membantu. Karena pertemuan seperti dalam shalat jama’ah akan lebih melekatkan hubungan dan menimbulkan kasih sayang.   4. Saling mengenal satu dan lainnya Jika seseorang shalat berjama’ah, maka akan saling mengenal satu dan lainnya. Yang kaya akan mengenal yang miskin. Tetangga jauh akan kenal tetangga dekat. Yang tua akan mengenal yang muda.   5. Menyuarakan syi’ar Allah Seandainya setiap orang memilih shalat di rumah, maka tidak ada yang akan tahu ada tuntunan shalat berjama’ah, syi’ar Islam semakin tidak diketahui.   6. Menampakkan besarnya Islam Jika semua orang (laki-laki) masuk masjid, lantas keluarnya berbarengan seperti saat waktu jum’at, maka semakin menunjukkan besarnya Islam, orang kafir dan orang munafik akan semakin kecil nyalinya. Sehingga orang muslim pun untuk meniru dan mengikuti jalan mereka semakin kecil.   7. Mengajarkan orang yang tidak mengerti shalat Kebanyakan orang mengetahui cara shalat yang baik dan benar dari shalat jama’ah. Kaum muslimin dapat mengambil faedah bacaan surat juga dari shalat jama’ah. Begitu pula ada yang mengetahui dzikir setelah shalat, juga dari shalat jama’ah. Jama’ah dapat mengetahui pelajaran beberapa hukum dari imamnya seperti tentang masalah sujud sahwi (saat lupa dalam shalat). Begitu pula orang yang tidak mengerti jadi tahu dari orang yang punya ilmu.   Bersambung insya Allah … — Disusun di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 27 Rabi’ul Awwal 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsmanfaat shalat berjamah shalat berjamaah shalat jamaah


Apa saja manfaat shalat jama’ah? Mungkin karena kurang mengetahui manfaatnya sehingga jarang berkumpul di masjid untuk berjamaah. Moga bisa pelajari dari tulisan berikut.   1. Agar bisa berkumpul di waktu tertentu, juga agar bisa mengatur waktu dengan baik Karena ada shalat lima waktu yang diadakan di siang dan malam hari. Ada pula shalat pekanan seperti shalat Jum’at. Ada juga shalat yang berulang setiap tahunnya yaitu shalat Idul Fitri dan shalat Idul Adha. Ada juga berkumpul untuk seluruh negeri di tempat tertentu pada waktu tertentu, yaitu di padang Arafah pada hari Arafah (9 Dzulhijjah) untuk melaksanakan wukuf di Arafah. Dan memang orang yang senang berjamaah di masjid akan mudah belajar mengatur waktu dengan baik.   2. Beribadah kepada Allah dengan bentuk berkumpul. Maksudnya berkumpul dalam shalat jama’ah di sini dengan tujuan meraih pahala, takut akan siksa-Nya dan selalu mengharap karunia di sisi-Nya.   3. Menumbuhkan rasa cinta sesama Orang yang terbiasa melakukan shalat berjamaah di masjid akan tahu keadaan jamaah yang rutin hadir. Jika ada yang tidak hadir, maka nanti ada yang akan menjenguknya. Jika ada yang mati, maka ada yang layat. Jika terdapat berita sesama jama’ah ada yang susah, maka yang lainnya akan membantu. Karena pertemuan seperti dalam shalat jama’ah akan lebih melekatkan hubungan dan menimbulkan kasih sayang.   4. Saling mengenal satu dan lainnya Jika seseorang shalat berjama’ah, maka akan saling mengenal satu dan lainnya. Yang kaya akan mengenal yang miskin. Tetangga jauh akan kenal tetangga dekat. Yang tua akan mengenal yang muda.   5. Menyuarakan syi’ar Allah Seandainya setiap orang memilih shalat di rumah, maka tidak ada yang akan tahu ada tuntunan shalat berjama’ah, syi’ar Islam semakin tidak diketahui.   6. Menampakkan besarnya Islam Jika semua orang (laki-laki) masuk masjid, lantas keluarnya berbarengan seperti saat waktu jum’at, maka semakin menunjukkan besarnya Islam, orang kafir dan orang munafik akan semakin kecil nyalinya. Sehingga orang muslim pun untuk meniru dan mengikuti jalan mereka semakin kecil.   7. Mengajarkan orang yang tidak mengerti shalat Kebanyakan orang mengetahui cara shalat yang baik dan benar dari shalat jama’ah. Kaum muslimin dapat mengambil faedah bacaan surat juga dari shalat jama’ah. Begitu pula ada yang mengetahui dzikir setelah shalat, juga dari shalat jama’ah. Jama’ah dapat mengetahui pelajaran beberapa hukum dari imamnya seperti tentang masalah sujud sahwi (saat lupa dalam shalat). Begitu pula orang yang tidak mengerti jadi tahu dari orang yang punya ilmu.   Bersambung insya Allah … — Disusun di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 27 Rabi’ul Awwal 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsmanfaat shalat berjamah shalat berjamaah shalat jamaah

Kalender Rumaysho.Com 2016

Dapatkan kalender 2016 berisi nasihat Rumaysho[dot]Com. Terdiri dari 6 lembar. Ukuran 30×48 cm. Kertas; Art paper 120 gr Desainer: SWOZ Contoh kalender: klik di sini Kalender ini dijual murni untuk mencari donasi Radio dan TV Darush Sholihin. Yang saat ini sudah mengudara (walau masih ujicoba di malam hari Maghrib – 21.00). Jangkauannya bisa hingga 15 KM dari Pesantren Darush Sholihin. Warga DS yang biasa rutin menghadiri kajian Malam Kamis secara rutin adalah 2000 jama’ah, saat ini sudah bisa menikmati ceramah kajian dari rumah lewat TV atau Radio kala tidak bisa hadir. Bagi yang minat, biaya per kalender adalah 30.000 rupiah untuk infak, sudah termasuk ongkos kirim. Silakan hubungi CP 0811267791 (Mas Jarot), guna pemesanan karena disediakan stok yang amat terbatas. Rekening untuk transfer: Bank Syariah Mandiri an Yayasan Darush Sholihin Gunungkidul 7068478612. Jika sudah transfer, silakan konfirmasi berupa SMS ke 082313950500 dengan format: Kalender DS# jumlah pesan# nama donatur# alamat# rekening tujuan# tanggal transfer# besar donasi. Moga rezekinya berkah karena turun membantu dalam dakwah TV dan radio DS. — Info DarushSholihin.Com Channel Telegram @DarushSholihin, @RumayshoCom Tagsradio

Kalender Rumaysho.Com 2016

Dapatkan kalender 2016 berisi nasihat Rumaysho[dot]Com. Terdiri dari 6 lembar. Ukuran 30×48 cm. Kertas; Art paper 120 gr Desainer: SWOZ Contoh kalender: klik di sini Kalender ini dijual murni untuk mencari donasi Radio dan TV Darush Sholihin. Yang saat ini sudah mengudara (walau masih ujicoba di malam hari Maghrib – 21.00). Jangkauannya bisa hingga 15 KM dari Pesantren Darush Sholihin. Warga DS yang biasa rutin menghadiri kajian Malam Kamis secara rutin adalah 2000 jama’ah, saat ini sudah bisa menikmati ceramah kajian dari rumah lewat TV atau Radio kala tidak bisa hadir. Bagi yang minat, biaya per kalender adalah 30.000 rupiah untuk infak, sudah termasuk ongkos kirim. Silakan hubungi CP 0811267791 (Mas Jarot), guna pemesanan karena disediakan stok yang amat terbatas. Rekening untuk transfer: Bank Syariah Mandiri an Yayasan Darush Sholihin Gunungkidul 7068478612. Jika sudah transfer, silakan konfirmasi berupa SMS ke 082313950500 dengan format: Kalender DS# jumlah pesan# nama donatur# alamat# rekening tujuan# tanggal transfer# besar donasi. Moga rezekinya berkah karena turun membantu dalam dakwah TV dan radio DS. — Info DarushSholihin.Com Channel Telegram @DarushSholihin, @RumayshoCom Tagsradio
Dapatkan kalender 2016 berisi nasihat Rumaysho[dot]Com. Terdiri dari 6 lembar. Ukuran 30×48 cm. Kertas; Art paper 120 gr Desainer: SWOZ Contoh kalender: klik di sini Kalender ini dijual murni untuk mencari donasi Radio dan TV Darush Sholihin. Yang saat ini sudah mengudara (walau masih ujicoba di malam hari Maghrib – 21.00). Jangkauannya bisa hingga 15 KM dari Pesantren Darush Sholihin. Warga DS yang biasa rutin menghadiri kajian Malam Kamis secara rutin adalah 2000 jama’ah, saat ini sudah bisa menikmati ceramah kajian dari rumah lewat TV atau Radio kala tidak bisa hadir. Bagi yang minat, biaya per kalender adalah 30.000 rupiah untuk infak, sudah termasuk ongkos kirim. Silakan hubungi CP 0811267791 (Mas Jarot), guna pemesanan karena disediakan stok yang amat terbatas. Rekening untuk transfer: Bank Syariah Mandiri an Yayasan Darush Sholihin Gunungkidul 7068478612. Jika sudah transfer, silakan konfirmasi berupa SMS ke 082313950500 dengan format: Kalender DS# jumlah pesan# nama donatur# alamat# rekening tujuan# tanggal transfer# besar donasi. Moga rezekinya berkah karena turun membantu dalam dakwah TV dan radio DS. — Info DarushSholihin.Com Channel Telegram @DarushSholihin, @RumayshoCom Tagsradio


Dapatkan kalender 2016 berisi nasihat Rumaysho[dot]Com. Terdiri dari 6 lembar. Ukuran 30×48 cm. Kertas; Art paper 120 gr Desainer: SWOZ Contoh kalender: klik di sini Kalender ini dijual murni untuk mencari donasi Radio dan TV Darush Sholihin. Yang saat ini sudah mengudara (walau masih ujicoba di malam hari Maghrib – 21.00). Jangkauannya bisa hingga 15 KM dari Pesantren Darush Sholihin. Warga DS yang biasa rutin menghadiri kajian Malam Kamis secara rutin adalah 2000 jama’ah, saat ini sudah bisa menikmati ceramah kajian dari rumah lewat TV atau Radio kala tidak bisa hadir. Bagi yang minat, biaya per kalender adalah 30.000 rupiah untuk infak, sudah termasuk ongkos kirim. Silakan hubungi CP 0811267791 (Mas Jarot), guna pemesanan karena disediakan stok yang amat terbatas. Rekening untuk transfer: Bank Syariah Mandiri an Yayasan Darush Sholihin Gunungkidul 7068478612. Jika sudah transfer, silakan konfirmasi berupa SMS ke 082313950500 dengan format: Kalender DS# jumlah pesan# nama donatur# alamat# rekening tujuan# tanggal transfer# besar donasi. Moga rezekinya berkah karena turun membantu dalam dakwah TV dan radio DS. — Info DarushSholihin.Com Channel Telegram @DarushSholihin, @RumayshoCom Tagsradio

Di Tengah Berdiri Shalat Mengambil Barang yang Jatuh

Bagaimana jika seseorang di tengah-tengah shalat mengambil tisu yang jatuh, sehingga ia mesti membungkuk? Apakah dibolehkan? Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin pernah ditanya bagaimana jika ada seseorang melakukan shalat Zhuhur, lantas tisu yang ia miliki jatuh sedangkan ia dalam posisi berdiri. Kemudian ia mengambil tisu tersebut. Apakah shalatnya batal dengan melakukan gerakan seperti itu? Syaikh Muhammad rahimahullah menjawab, Iya. Shalatnya batal karena gerakan tersebut. Ketika ia melakukannya, berarti ia membungkuk sampai membentuk ruku’. Berarti ia menambah gerakan ruku’ saat posisi berdiri. Akan tetapi jika ia tidak tahu, tidak ada dosa untuknya. رَبَّنَا لا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا “Ya Rabb kami, janganlah hukum kami ketika kami lupa atau keliru.” (QS. Al-Baqarah: 286) Oleh karena itu, jika ada tisu terjatuh, maka biarkanlah dan silakan diambil saat sujud. Atau bisa pula mengambil tisu tersebut dalam keadaan berdiri lalu ditarik dengan kaki. Lantas tangan kita mengambilnya pada kaki tersebut asalkan saat itu kita bisa berdiri dengan satu kaki. Adapun yang dilakukan tadi sambil membungkuk, berarti ada ruku’ tambahan padahal dalam posisi berdiri. Melakukan seperti itu tentu tidak boleh.   Sumber: Silsilah Al-Liqa’ Asy-Syahri, no. 37, pelajaran sifat shalat.   Allahumma inna nas-aluka ‘ilman naafi’a. Ya Allah, kami meminta pada-Mu ilmu yang bermanfaat. — @ Saudia Airlines menuju Soeta, 25 Rabi’ul Awwal 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagscara shalat pembatal shalat

Di Tengah Berdiri Shalat Mengambil Barang yang Jatuh

Bagaimana jika seseorang di tengah-tengah shalat mengambil tisu yang jatuh, sehingga ia mesti membungkuk? Apakah dibolehkan? Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin pernah ditanya bagaimana jika ada seseorang melakukan shalat Zhuhur, lantas tisu yang ia miliki jatuh sedangkan ia dalam posisi berdiri. Kemudian ia mengambil tisu tersebut. Apakah shalatnya batal dengan melakukan gerakan seperti itu? Syaikh Muhammad rahimahullah menjawab, Iya. Shalatnya batal karena gerakan tersebut. Ketika ia melakukannya, berarti ia membungkuk sampai membentuk ruku’. Berarti ia menambah gerakan ruku’ saat posisi berdiri. Akan tetapi jika ia tidak tahu, tidak ada dosa untuknya. رَبَّنَا لا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا “Ya Rabb kami, janganlah hukum kami ketika kami lupa atau keliru.” (QS. Al-Baqarah: 286) Oleh karena itu, jika ada tisu terjatuh, maka biarkanlah dan silakan diambil saat sujud. Atau bisa pula mengambil tisu tersebut dalam keadaan berdiri lalu ditarik dengan kaki. Lantas tangan kita mengambilnya pada kaki tersebut asalkan saat itu kita bisa berdiri dengan satu kaki. Adapun yang dilakukan tadi sambil membungkuk, berarti ada ruku’ tambahan padahal dalam posisi berdiri. Melakukan seperti itu tentu tidak boleh.   Sumber: Silsilah Al-Liqa’ Asy-Syahri, no. 37, pelajaran sifat shalat.   Allahumma inna nas-aluka ‘ilman naafi’a. Ya Allah, kami meminta pada-Mu ilmu yang bermanfaat. — @ Saudia Airlines menuju Soeta, 25 Rabi’ul Awwal 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagscara shalat pembatal shalat
Bagaimana jika seseorang di tengah-tengah shalat mengambil tisu yang jatuh, sehingga ia mesti membungkuk? Apakah dibolehkan? Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin pernah ditanya bagaimana jika ada seseorang melakukan shalat Zhuhur, lantas tisu yang ia miliki jatuh sedangkan ia dalam posisi berdiri. Kemudian ia mengambil tisu tersebut. Apakah shalatnya batal dengan melakukan gerakan seperti itu? Syaikh Muhammad rahimahullah menjawab, Iya. Shalatnya batal karena gerakan tersebut. Ketika ia melakukannya, berarti ia membungkuk sampai membentuk ruku’. Berarti ia menambah gerakan ruku’ saat posisi berdiri. Akan tetapi jika ia tidak tahu, tidak ada dosa untuknya. رَبَّنَا لا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا “Ya Rabb kami, janganlah hukum kami ketika kami lupa atau keliru.” (QS. Al-Baqarah: 286) Oleh karena itu, jika ada tisu terjatuh, maka biarkanlah dan silakan diambil saat sujud. Atau bisa pula mengambil tisu tersebut dalam keadaan berdiri lalu ditarik dengan kaki. Lantas tangan kita mengambilnya pada kaki tersebut asalkan saat itu kita bisa berdiri dengan satu kaki. Adapun yang dilakukan tadi sambil membungkuk, berarti ada ruku’ tambahan padahal dalam posisi berdiri. Melakukan seperti itu tentu tidak boleh.   Sumber: Silsilah Al-Liqa’ Asy-Syahri, no. 37, pelajaran sifat shalat.   Allahumma inna nas-aluka ‘ilman naafi’a. Ya Allah, kami meminta pada-Mu ilmu yang bermanfaat. — @ Saudia Airlines menuju Soeta, 25 Rabi’ul Awwal 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagscara shalat pembatal shalat


Bagaimana jika seseorang di tengah-tengah shalat mengambil tisu yang jatuh, sehingga ia mesti membungkuk? Apakah dibolehkan? Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin pernah ditanya bagaimana jika ada seseorang melakukan shalat Zhuhur, lantas tisu yang ia miliki jatuh sedangkan ia dalam posisi berdiri. Kemudian ia mengambil tisu tersebut. Apakah shalatnya batal dengan melakukan gerakan seperti itu? Syaikh Muhammad rahimahullah menjawab, Iya. Shalatnya batal karena gerakan tersebut. Ketika ia melakukannya, berarti ia membungkuk sampai membentuk ruku’. Berarti ia menambah gerakan ruku’ saat posisi berdiri. Akan tetapi jika ia tidak tahu, tidak ada dosa untuknya. رَبَّنَا لا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا “Ya Rabb kami, janganlah hukum kami ketika kami lupa atau keliru.” (QS. Al-Baqarah: 286) Oleh karena itu, jika ada tisu terjatuh, maka biarkanlah dan silakan diambil saat sujud. Atau bisa pula mengambil tisu tersebut dalam keadaan berdiri lalu ditarik dengan kaki. Lantas tangan kita mengambilnya pada kaki tersebut asalkan saat itu kita bisa berdiri dengan satu kaki. Adapun yang dilakukan tadi sambil membungkuk, berarti ada ruku’ tambahan padahal dalam posisi berdiri. Melakukan seperti itu tentu tidak boleh.   Sumber: Silsilah Al-Liqa’ Asy-Syahri, no. 37, pelajaran sifat shalat.   Allahumma inna nas-aluka ‘ilman naafi’a. Ya Allah, kami meminta pada-Mu ilmu yang bermanfaat. — @ Saudia Airlines menuju Soeta, 25 Rabi’ul Awwal 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagscara shalat pembatal shalat

Muslim Wajib Beriman pada Isa (5)

Inilah bahasan terakhir tentang keyakinan seorang muslim pada Nabi Isa. Pada hari kiamat, Nabi Isa sendiri akan berlepas diri dari kaum Nashrani yang mengangkatnya jadi sesembahan selain Allah.   Ketigabelas: Nabi Isa ‘alaihis salam berlepas diri pada hari kiamat dari yang mengangkat beliau sebagai ilah (sesembahan). وَإِذْ قَالَ اللَّهُ يَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ أَأَنتَ قُلْتَ لِلنَّاسِ اتَّخِذُونِي وَأُمِّي إِلَهَيْنِ مِنْ دُونِ اللَّهِ قَالَ سُبْحَانَكَ مَا يَكُونُ لِي أَنْ أَقُولَ مَا لَيْسَ لِي بِحَقٍّ إِنْ كُنتُ قُلْتُهُ فَقَدْ عَلِمْتَهُ تَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِي وَلا أَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِكَ إِنَّكَ أَنْتَ عَلامُ الْغُيُوبِ (116) مَا قُلْتُ لَهُمْ إِلا مَا أَمَرْتَنِي بِهِ أَنْ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ وَكُنتُ عَلَيْهِمْ شَهِيدًا مَا دُمْتُ فِيهِمْ فَلَمَّا تَوَفَّيْتَنِي كُنتَ أَنْتَ الرَّقِيبَ عَلَيْهِمْ وَأَنْتَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ “Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman: “Hai Isa putera Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia: “Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain Allah?” Isa menjawab: “Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakan maka tentulah Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang ghaib-ghaib.” Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (mengatakan)nya yaitu: “Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu”, dan adalah aku menjadi saksi terhadap mereka, selama aku berada di antara mereka. Maka setelah Engkau wafatkan aku, Engkau-lah yang mengawasi mereka. Dan Engkau adalah Maha Menyaksikan atas segala sesuatu.” (QS. Al-Maidah: 116-117) Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya ketika menafsirkan ayat di atas menyatakan tentang dialog antara Allah dengan Isa ‘alaihis salam selaku hamba-Nya dan Rasul-Nya. Allah berkata pada Isa pada hari kiamat tentang orang yang mengangkat dirinyda dan ibunya Maryam sebagai sesembahan selain Allah. Lalu Isa menyangkal hal itu, beliau berlepas diri dari menjadi sekutu bagi Allah. Bahkan Nabi Isa memerintahkan hanya menyembah Allah semata. Karena Allah adalah Rabb Isa dan Rabb manusia sekalian. Inilah keyakinan muslim pada Nabi Isa ‘alaihis salam. Intinya, keutamaan mengimani Nabi Isa disebutkan dalam hadits berikut: “Barangsiapa bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, juga bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya; begitu juga bersaksi bahwa ‘Isa adalah hamba Allah dan Rasul-Nya, serta kalimat-Nya (yaitu Allah menciptakan Isa dengan kalimat ‘kun’, -pen) yang disampaikan pada Maryam dan ruh dari-Nya; juga bersaksi bahwa surga dan neraka benar adanya; maka Allah akan memasukkan-Nya dalam surga apa pun amalnya.” (HR. Bukhari no. 3435 dan Muslim no. 28) Musa saja wajib mengikuti Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika ia hidup di tengah-tengah kita saat ini. Sama halnya pula dengan Nabi Isa dan umatnya. Dari Jabir bin ‘Abdullah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لَوْ كَانَ مُوسَى حَيًّا بَيْنَ أَظْهُرِكُمْ مَا حَلَّ لَهُ إِلاَّ أَنْ يَتَّبِعَنِى “Seandainya Nabi Musa hidup di tengah-tengah kalian, ia tetap harus mengikutiku.” (HR. Ahmad, 3: 338. Sanad hadits ini dha’if kata Syaikh Syu’aib Al-Arnauth) Wallahu waliyyut taufiq. Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah.   Referensi Utama: Fatwa Al-Islam Sual wa Jawab, Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid, http://islamqa.info/ar/43148 — Selesai disusun di Darush Sholihin, Panggang, GK, 26 Rabi’ul Awwal 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsnabi isa

Muslim Wajib Beriman pada Isa (5)

Inilah bahasan terakhir tentang keyakinan seorang muslim pada Nabi Isa. Pada hari kiamat, Nabi Isa sendiri akan berlepas diri dari kaum Nashrani yang mengangkatnya jadi sesembahan selain Allah.   Ketigabelas: Nabi Isa ‘alaihis salam berlepas diri pada hari kiamat dari yang mengangkat beliau sebagai ilah (sesembahan). وَإِذْ قَالَ اللَّهُ يَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ أَأَنتَ قُلْتَ لِلنَّاسِ اتَّخِذُونِي وَأُمِّي إِلَهَيْنِ مِنْ دُونِ اللَّهِ قَالَ سُبْحَانَكَ مَا يَكُونُ لِي أَنْ أَقُولَ مَا لَيْسَ لِي بِحَقٍّ إِنْ كُنتُ قُلْتُهُ فَقَدْ عَلِمْتَهُ تَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِي وَلا أَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِكَ إِنَّكَ أَنْتَ عَلامُ الْغُيُوبِ (116) مَا قُلْتُ لَهُمْ إِلا مَا أَمَرْتَنِي بِهِ أَنْ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ وَكُنتُ عَلَيْهِمْ شَهِيدًا مَا دُمْتُ فِيهِمْ فَلَمَّا تَوَفَّيْتَنِي كُنتَ أَنْتَ الرَّقِيبَ عَلَيْهِمْ وَأَنْتَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ “Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman: “Hai Isa putera Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia: “Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain Allah?” Isa menjawab: “Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakan maka tentulah Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang ghaib-ghaib.” Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (mengatakan)nya yaitu: “Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu”, dan adalah aku menjadi saksi terhadap mereka, selama aku berada di antara mereka. Maka setelah Engkau wafatkan aku, Engkau-lah yang mengawasi mereka. Dan Engkau adalah Maha Menyaksikan atas segala sesuatu.” (QS. Al-Maidah: 116-117) Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya ketika menafsirkan ayat di atas menyatakan tentang dialog antara Allah dengan Isa ‘alaihis salam selaku hamba-Nya dan Rasul-Nya. Allah berkata pada Isa pada hari kiamat tentang orang yang mengangkat dirinyda dan ibunya Maryam sebagai sesembahan selain Allah. Lalu Isa menyangkal hal itu, beliau berlepas diri dari menjadi sekutu bagi Allah. Bahkan Nabi Isa memerintahkan hanya menyembah Allah semata. Karena Allah adalah Rabb Isa dan Rabb manusia sekalian. Inilah keyakinan muslim pada Nabi Isa ‘alaihis salam. Intinya, keutamaan mengimani Nabi Isa disebutkan dalam hadits berikut: “Barangsiapa bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, juga bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya; begitu juga bersaksi bahwa ‘Isa adalah hamba Allah dan Rasul-Nya, serta kalimat-Nya (yaitu Allah menciptakan Isa dengan kalimat ‘kun’, -pen) yang disampaikan pada Maryam dan ruh dari-Nya; juga bersaksi bahwa surga dan neraka benar adanya; maka Allah akan memasukkan-Nya dalam surga apa pun amalnya.” (HR. Bukhari no. 3435 dan Muslim no. 28) Musa saja wajib mengikuti Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika ia hidup di tengah-tengah kita saat ini. Sama halnya pula dengan Nabi Isa dan umatnya. Dari Jabir bin ‘Abdullah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لَوْ كَانَ مُوسَى حَيًّا بَيْنَ أَظْهُرِكُمْ مَا حَلَّ لَهُ إِلاَّ أَنْ يَتَّبِعَنِى “Seandainya Nabi Musa hidup di tengah-tengah kalian, ia tetap harus mengikutiku.” (HR. Ahmad, 3: 338. Sanad hadits ini dha’if kata Syaikh Syu’aib Al-Arnauth) Wallahu waliyyut taufiq. Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah.   Referensi Utama: Fatwa Al-Islam Sual wa Jawab, Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid, http://islamqa.info/ar/43148 — Selesai disusun di Darush Sholihin, Panggang, GK, 26 Rabi’ul Awwal 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsnabi isa
Inilah bahasan terakhir tentang keyakinan seorang muslim pada Nabi Isa. Pada hari kiamat, Nabi Isa sendiri akan berlepas diri dari kaum Nashrani yang mengangkatnya jadi sesembahan selain Allah.   Ketigabelas: Nabi Isa ‘alaihis salam berlepas diri pada hari kiamat dari yang mengangkat beliau sebagai ilah (sesembahan). وَإِذْ قَالَ اللَّهُ يَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ أَأَنتَ قُلْتَ لِلنَّاسِ اتَّخِذُونِي وَأُمِّي إِلَهَيْنِ مِنْ دُونِ اللَّهِ قَالَ سُبْحَانَكَ مَا يَكُونُ لِي أَنْ أَقُولَ مَا لَيْسَ لِي بِحَقٍّ إِنْ كُنتُ قُلْتُهُ فَقَدْ عَلِمْتَهُ تَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِي وَلا أَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِكَ إِنَّكَ أَنْتَ عَلامُ الْغُيُوبِ (116) مَا قُلْتُ لَهُمْ إِلا مَا أَمَرْتَنِي بِهِ أَنْ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ وَكُنتُ عَلَيْهِمْ شَهِيدًا مَا دُمْتُ فِيهِمْ فَلَمَّا تَوَفَّيْتَنِي كُنتَ أَنْتَ الرَّقِيبَ عَلَيْهِمْ وَأَنْتَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ “Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman: “Hai Isa putera Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia: “Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain Allah?” Isa menjawab: “Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakan maka tentulah Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang ghaib-ghaib.” Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (mengatakan)nya yaitu: “Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu”, dan adalah aku menjadi saksi terhadap mereka, selama aku berada di antara mereka. Maka setelah Engkau wafatkan aku, Engkau-lah yang mengawasi mereka. Dan Engkau adalah Maha Menyaksikan atas segala sesuatu.” (QS. Al-Maidah: 116-117) Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya ketika menafsirkan ayat di atas menyatakan tentang dialog antara Allah dengan Isa ‘alaihis salam selaku hamba-Nya dan Rasul-Nya. Allah berkata pada Isa pada hari kiamat tentang orang yang mengangkat dirinyda dan ibunya Maryam sebagai sesembahan selain Allah. Lalu Isa menyangkal hal itu, beliau berlepas diri dari menjadi sekutu bagi Allah. Bahkan Nabi Isa memerintahkan hanya menyembah Allah semata. Karena Allah adalah Rabb Isa dan Rabb manusia sekalian. Inilah keyakinan muslim pada Nabi Isa ‘alaihis salam. Intinya, keutamaan mengimani Nabi Isa disebutkan dalam hadits berikut: “Barangsiapa bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, juga bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya; begitu juga bersaksi bahwa ‘Isa adalah hamba Allah dan Rasul-Nya, serta kalimat-Nya (yaitu Allah menciptakan Isa dengan kalimat ‘kun’, -pen) yang disampaikan pada Maryam dan ruh dari-Nya; juga bersaksi bahwa surga dan neraka benar adanya; maka Allah akan memasukkan-Nya dalam surga apa pun amalnya.” (HR. Bukhari no. 3435 dan Muslim no. 28) Musa saja wajib mengikuti Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika ia hidup di tengah-tengah kita saat ini. Sama halnya pula dengan Nabi Isa dan umatnya. Dari Jabir bin ‘Abdullah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لَوْ كَانَ مُوسَى حَيًّا بَيْنَ أَظْهُرِكُمْ مَا حَلَّ لَهُ إِلاَّ أَنْ يَتَّبِعَنِى “Seandainya Nabi Musa hidup di tengah-tengah kalian, ia tetap harus mengikutiku.” (HR. Ahmad, 3: 338. Sanad hadits ini dha’if kata Syaikh Syu’aib Al-Arnauth) Wallahu waliyyut taufiq. Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah.   Referensi Utama: Fatwa Al-Islam Sual wa Jawab, Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid, http://islamqa.info/ar/43148 — Selesai disusun di Darush Sholihin, Panggang, GK, 26 Rabi’ul Awwal 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsnabi isa


Inilah bahasan terakhir tentang keyakinan seorang muslim pada Nabi Isa. Pada hari kiamat, Nabi Isa sendiri akan berlepas diri dari kaum Nashrani yang mengangkatnya jadi sesembahan selain Allah.   Ketigabelas: Nabi Isa ‘alaihis salam berlepas diri pada hari kiamat dari yang mengangkat beliau sebagai ilah (sesembahan). وَإِذْ قَالَ اللَّهُ يَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ أَأَنتَ قُلْتَ لِلنَّاسِ اتَّخِذُونِي وَأُمِّي إِلَهَيْنِ مِنْ دُونِ اللَّهِ قَالَ سُبْحَانَكَ مَا يَكُونُ لِي أَنْ أَقُولَ مَا لَيْسَ لِي بِحَقٍّ إِنْ كُنتُ قُلْتُهُ فَقَدْ عَلِمْتَهُ تَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِي وَلا أَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِكَ إِنَّكَ أَنْتَ عَلامُ الْغُيُوبِ (116) مَا قُلْتُ لَهُمْ إِلا مَا أَمَرْتَنِي بِهِ أَنْ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ وَكُنتُ عَلَيْهِمْ شَهِيدًا مَا دُمْتُ فِيهِمْ فَلَمَّا تَوَفَّيْتَنِي كُنتَ أَنْتَ الرَّقِيبَ عَلَيْهِمْ وَأَنْتَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ “Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman: “Hai Isa putera Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia: “Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain Allah?” Isa menjawab: “Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakan maka tentulah Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang ghaib-ghaib.” Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (mengatakan)nya yaitu: “Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu”, dan adalah aku menjadi saksi terhadap mereka, selama aku berada di antara mereka. Maka setelah Engkau wafatkan aku, Engkau-lah yang mengawasi mereka. Dan Engkau adalah Maha Menyaksikan atas segala sesuatu.” (QS. Al-Maidah: 116-117) Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya ketika menafsirkan ayat di atas menyatakan tentang dialog antara Allah dengan Isa ‘alaihis salam selaku hamba-Nya dan Rasul-Nya. Allah berkata pada Isa pada hari kiamat tentang orang yang mengangkat dirinyda dan ibunya Maryam sebagai sesembahan selain Allah. Lalu Isa menyangkal hal itu, beliau berlepas diri dari menjadi sekutu bagi Allah. Bahkan Nabi Isa memerintahkan hanya menyembah Allah semata. Karena Allah adalah Rabb Isa dan Rabb manusia sekalian. Inilah keyakinan muslim pada Nabi Isa ‘alaihis salam. Intinya, keutamaan mengimani Nabi Isa disebutkan dalam hadits berikut: “Barangsiapa bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, juga bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya; begitu juga bersaksi bahwa ‘Isa adalah hamba Allah dan Rasul-Nya, serta kalimat-Nya (yaitu Allah menciptakan Isa dengan kalimat ‘kun’, -pen) yang disampaikan pada Maryam dan ruh dari-Nya; juga bersaksi bahwa surga dan neraka benar adanya; maka Allah akan memasukkan-Nya dalam surga apa pun amalnya.” (HR. Bukhari no. 3435 dan Muslim no. 28) Musa saja wajib mengikuti Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika ia hidup di tengah-tengah kita saat ini. Sama halnya pula dengan Nabi Isa dan umatnya. Dari Jabir bin ‘Abdullah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لَوْ كَانَ مُوسَى حَيًّا بَيْنَ أَظْهُرِكُمْ مَا حَلَّ لَهُ إِلاَّ أَنْ يَتَّبِعَنِى “Seandainya Nabi Musa hidup di tengah-tengah kalian, ia tetap harus mengikutiku.” (HR. Ahmad, 3: 338. Sanad hadits ini dha’if kata Syaikh Syu’aib Al-Arnauth) Wallahu waliyyut taufiq. Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah.   Referensi Utama: Fatwa Al-Islam Sual wa Jawab, Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid, http://islamqa.info/ar/43148 — Selesai disusun di Darush Sholihin, Panggang, GK, 26 Rabi’ul Awwal 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsnabi isa

Shalat di Musholla Pesawat

Waktu menunjukkan pukul 04.30 di jam tangan kami. Dan memang sengaja kami setting agar tetap mengikuti Waktu Indonesia Barat. Menurut kebiasaan, jam segitu sudah menunjukkan masuk shalat shubuh untuk Pulau Jawa. Namun masalahnya pesawat baru memasuki perairan Thailand, sekitar laut Andaman. Pada waktu tersebut, kami sudah dibangunkan oleh teman di samping. Kami lihat ke langit-langit, belum masuk waktu Shubuh. Beranjak ke bagian buritan pesawat. Kami lihat ada seorang pramugara di belakang (tampak wajah Saudi) sedang duduk di kursi penumpang sambil mengutak-atik layar. Kami bertanya, “Saya ingin tahu waktu shalat shubuh.” Ia menjawab, “Insya-Allah nanti akan diumumkan.” Saat itu … orang-orang berhidung mancung, nampak sekali perawakan Saudi sedang menuju bagian belakang dari pesawat. Kami lihat-lihat, ternyata di bagian belakang memang ada musholla, tempat shalat. Walhamdulillah … Mereka semangat berbondong-bondong ke ruang shalat (musholla pesawat) padahal waktu masih menunjukkan jam lima pagi. Sambil menunggu, masing-masing sibuk shalat sunnah. Mumpung masih ada kesempatan menambah shalat tahajud dan witir. Saat pukul 05.35, waktu di jam tangan kami, dari ruang pilot sudah meneriakkan, “Sekarang waktu Shalat Fajar (Shalat Shubuh).” Barulah saat itu dilaksanakan shalat shubuh secara berjama’ah dengan jamaah sekitar sepuluh orang. Ternyata habis shalat, sudah banyak yang mengantri di belakang. Dan orang-orang yang ingin shalat terus berdatangan ke musholla yang hanya berukuran dua kali dua.   —   Pelajaran Penting  1. Orang Saudi sangat memperhatikan waktu shalat, sepertinya mereka sudah merasa Shubuh sudah akan masuk karena sebelum waktu shalat tiba, mereka sudah berkumpul untuk menanti. 2. Kami baru tahu ada musholla di dalam pesawat. Ini baru kami temui di pesawat Saudia Airlines, belum di maskapai lainnya. 3. Pilot Saudia sangat memperhatikan kemaslahatan jamaah, sebelum masuk shubuh ia selalu memperhatikan keadaan langit. Lalu ia umumkan mengenai waktu shalat. 4. Sempat terjadi dialog dengan orang Indo yang ikut shalat. Kala itu ia mengambil tayamum dengan debu di dinding pesawat. Orang Saudi sempat menasihati. “Masih ada air dan bisa gunakan sedikit-sedikit saja. Tidak boleh beralih pada tayamum.” Memang benar, kami juga praktikkan seperti itu selama shalat di pesawat. Air masih ada, dan Insya-Allah masih cukup untuk jamaah 400-an. Tak boleh beralih sama sekali pada tayamum dalam kondisi ada air yang mencukupi seperti itu. Akhirnya, setelah dinasihati dengan baik dan santun, sambil kami juga menerjemahkan perkataan orang Saudi, orang Indo pun beralih memakai air. 5. Semangat shalat malam walau di pesawat. 6. Mau rela ngantri menunggu gantian menggunakan musholla. 7. Tetap semangat menjaga shalat jamaah meskipun di pesawat. 8. Tetap melakukan shalat dalam keadaan berdiri dan menghadap kiblat sedangkan arah pesawat saat itu ke arah timur.   Semoga bisa jadi pelajaran berharga dan jadi penyemangat kita untuk beribadah. — Berbagi cerita saat di Saudia Airlines, Rabu, 25 Rabi’ul Awwal 1437 H Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Channel Telegram @RumayshoCom #RumayshoSaatPagi Tagscara shalat Safar shalat jamaah

Shalat di Musholla Pesawat

Waktu menunjukkan pukul 04.30 di jam tangan kami. Dan memang sengaja kami setting agar tetap mengikuti Waktu Indonesia Barat. Menurut kebiasaan, jam segitu sudah menunjukkan masuk shalat shubuh untuk Pulau Jawa. Namun masalahnya pesawat baru memasuki perairan Thailand, sekitar laut Andaman. Pada waktu tersebut, kami sudah dibangunkan oleh teman di samping. Kami lihat ke langit-langit, belum masuk waktu Shubuh. Beranjak ke bagian buritan pesawat. Kami lihat ada seorang pramugara di belakang (tampak wajah Saudi) sedang duduk di kursi penumpang sambil mengutak-atik layar. Kami bertanya, “Saya ingin tahu waktu shalat shubuh.” Ia menjawab, “Insya-Allah nanti akan diumumkan.” Saat itu … orang-orang berhidung mancung, nampak sekali perawakan Saudi sedang menuju bagian belakang dari pesawat. Kami lihat-lihat, ternyata di bagian belakang memang ada musholla, tempat shalat. Walhamdulillah … Mereka semangat berbondong-bondong ke ruang shalat (musholla pesawat) padahal waktu masih menunjukkan jam lima pagi. Sambil menunggu, masing-masing sibuk shalat sunnah. Mumpung masih ada kesempatan menambah shalat tahajud dan witir. Saat pukul 05.35, waktu di jam tangan kami, dari ruang pilot sudah meneriakkan, “Sekarang waktu Shalat Fajar (Shalat Shubuh).” Barulah saat itu dilaksanakan shalat shubuh secara berjama’ah dengan jamaah sekitar sepuluh orang. Ternyata habis shalat, sudah banyak yang mengantri di belakang. Dan orang-orang yang ingin shalat terus berdatangan ke musholla yang hanya berukuran dua kali dua.   —   Pelajaran Penting  1. Orang Saudi sangat memperhatikan waktu shalat, sepertinya mereka sudah merasa Shubuh sudah akan masuk karena sebelum waktu shalat tiba, mereka sudah berkumpul untuk menanti. 2. Kami baru tahu ada musholla di dalam pesawat. Ini baru kami temui di pesawat Saudia Airlines, belum di maskapai lainnya. 3. Pilot Saudia sangat memperhatikan kemaslahatan jamaah, sebelum masuk shubuh ia selalu memperhatikan keadaan langit. Lalu ia umumkan mengenai waktu shalat. 4. Sempat terjadi dialog dengan orang Indo yang ikut shalat. Kala itu ia mengambil tayamum dengan debu di dinding pesawat. Orang Saudi sempat menasihati. “Masih ada air dan bisa gunakan sedikit-sedikit saja. Tidak boleh beralih pada tayamum.” Memang benar, kami juga praktikkan seperti itu selama shalat di pesawat. Air masih ada, dan Insya-Allah masih cukup untuk jamaah 400-an. Tak boleh beralih sama sekali pada tayamum dalam kondisi ada air yang mencukupi seperti itu. Akhirnya, setelah dinasihati dengan baik dan santun, sambil kami juga menerjemahkan perkataan orang Saudi, orang Indo pun beralih memakai air. 5. Semangat shalat malam walau di pesawat. 6. Mau rela ngantri menunggu gantian menggunakan musholla. 7. Tetap semangat menjaga shalat jamaah meskipun di pesawat. 8. Tetap melakukan shalat dalam keadaan berdiri dan menghadap kiblat sedangkan arah pesawat saat itu ke arah timur.   Semoga bisa jadi pelajaran berharga dan jadi penyemangat kita untuk beribadah. — Berbagi cerita saat di Saudia Airlines, Rabu, 25 Rabi’ul Awwal 1437 H Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Channel Telegram @RumayshoCom #RumayshoSaatPagi Tagscara shalat Safar shalat jamaah
Waktu menunjukkan pukul 04.30 di jam tangan kami. Dan memang sengaja kami setting agar tetap mengikuti Waktu Indonesia Barat. Menurut kebiasaan, jam segitu sudah menunjukkan masuk shalat shubuh untuk Pulau Jawa. Namun masalahnya pesawat baru memasuki perairan Thailand, sekitar laut Andaman. Pada waktu tersebut, kami sudah dibangunkan oleh teman di samping. Kami lihat ke langit-langit, belum masuk waktu Shubuh. Beranjak ke bagian buritan pesawat. Kami lihat ada seorang pramugara di belakang (tampak wajah Saudi) sedang duduk di kursi penumpang sambil mengutak-atik layar. Kami bertanya, “Saya ingin tahu waktu shalat shubuh.” Ia menjawab, “Insya-Allah nanti akan diumumkan.” Saat itu … orang-orang berhidung mancung, nampak sekali perawakan Saudi sedang menuju bagian belakang dari pesawat. Kami lihat-lihat, ternyata di bagian belakang memang ada musholla, tempat shalat. Walhamdulillah … Mereka semangat berbondong-bondong ke ruang shalat (musholla pesawat) padahal waktu masih menunjukkan jam lima pagi. Sambil menunggu, masing-masing sibuk shalat sunnah. Mumpung masih ada kesempatan menambah shalat tahajud dan witir. Saat pukul 05.35, waktu di jam tangan kami, dari ruang pilot sudah meneriakkan, “Sekarang waktu Shalat Fajar (Shalat Shubuh).” Barulah saat itu dilaksanakan shalat shubuh secara berjama’ah dengan jamaah sekitar sepuluh orang. Ternyata habis shalat, sudah banyak yang mengantri di belakang. Dan orang-orang yang ingin shalat terus berdatangan ke musholla yang hanya berukuran dua kali dua.   —   Pelajaran Penting  1. Orang Saudi sangat memperhatikan waktu shalat, sepertinya mereka sudah merasa Shubuh sudah akan masuk karena sebelum waktu shalat tiba, mereka sudah berkumpul untuk menanti. 2. Kami baru tahu ada musholla di dalam pesawat. Ini baru kami temui di pesawat Saudia Airlines, belum di maskapai lainnya. 3. Pilot Saudia sangat memperhatikan kemaslahatan jamaah, sebelum masuk shubuh ia selalu memperhatikan keadaan langit. Lalu ia umumkan mengenai waktu shalat. 4. Sempat terjadi dialog dengan orang Indo yang ikut shalat. Kala itu ia mengambil tayamum dengan debu di dinding pesawat. Orang Saudi sempat menasihati. “Masih ada air dan bisa gunakan sedikit-sedikit saja. Tidak boleh beralih pada tayamum.” Memang benar, kami juga praktikkan seperti itu selama shalat di pesawat. Air masih ada, dan Insya-Allah masih cukup untuk jamaah 400-an. Tak boleh beralih sama sekali pada tayamum dalam kondisi ada air yang mencukupi seperti itu. Akhirnya, setelah dinasihati dengan baik dan santun, sambil kami juga menerjemahkan perkataan orang Saudi, orang Indo pun beralih memakai air. 5. Semangat shalat malam walau di pesawat. 6. Mau rela ngantri menunggu gantian menggunakan musholla. 7. Tetap semangat menjaga shalat jamaah meskipun di pesawat. 8. Tetap melakukan shalat dalam keadaan berdiri dan menghadap kiblat sedangkan arah pesawat saat itu ke arah timur.   Semoga bisa jadi pelajaran berharga dan jadi penyemangat kita untuk beribadah. — Berbagi cerita saat di Saudia Airlines, Rabu, 25 Rabi’ul Awwal 1437 H Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Channel Telegram @RumayshoCom #RumayshoSaatPagi Tagscara shalat Safar shalat jamaah


Waktu menunjukkan pukul 04.30 di jam tangan kami. Dan memang sengaja kami setting agar tetap mengikuti Waktu Indonesia Barat. Menurut kebiasaan, jam segitu sudah menunjukkan masuk shalat shubuh untuk Pulau Jawa. Namun masalahnya pesawat baru memasuki perairan Thailand, sekitar laut Andaman. Pada waktu tersebut, kami sudah dibangunkan oleh teman di samping. Kami lihat ke langit-langit, belum masuk waktu Shubuh. Beranjak ke bagian buritan pesawat. Kami lihat ada seorang pramugara di belakang (tampak wajah Saudi) sedang duduk di kursi penumpang sambil mengutak-atik layar. Kami bertanya, “Saya ingin tahu waktu shalat shubuh.” Ia menjawab, “Insya-Allah nanti akan diumumkan.” Saat itu … orang-orang berhidung mancung, nampak sekali perawakan Saudi sedang menuju bagian belakang dari pesawat. Kami lihat-lihat, ternyata di bagian belakang memang ada musholla, tempat shalat. Walhamdulillah … Mereka semangat berbondong-bondong ke ruang shalat (musholla pesawat) padahal waktu masih menunjukkan jam lima pagi. Sambil menunggu, masing-masing sibuk shalat sunnah. Mumpung masih ada kesempatan menambah shalat tahajud dan witir. Saat pukul 05.35, waktu di jam tangan kami, dari ruang pilot sudah meneriakkan, “Sekarang waktu Shalat Fajar (Shalat Shubuh).” Barulah saat itu dilaksanakan shalat shubuh secara berjama’ah dengan jamaah sekitar sepuluh orang. Ternyata habis shalat, sudah banyak yang mengantri di belakang. Dan orang-orang yang ingin shalat terus berdatangan ke musholla yang hanya berukuran dua kali dua.   —   Pelajaran Penting  1. Orang Saudi sangat memperhatikan waktu shalat, sepertinya mereka sudah merasa Shubuh sudah akan masuk karena sebelum waktu shalat tiba, mereka sudah berkumpul untuk menanti. 2. Kami baru tahu ada musholla di dalam pesawat. Ini baru kami temui di pesawat Saudia Airlines, belum di maskapai lainnya. 3. Pilot Saudia sangat memperhatikan kemaslahatan jamaah, sebelum masuk shubuh ia selalu memperhatikan keadaan langit. Lalu ia umumkan mengenai waktu shalat. 4. Sempat terjadi dialog dengan orang Indo yang ikut shalat. Kala itu ia mengambil tayamum dengan debu di dinding pesawat. Orang Saudi sempat menasihati. “Masih ada air dan bisa gunakan sedikit-sedikit saja. Tidak boleh beralih pada tayamum.” Memang benar, kami juga praktikkan seperti itu selama shalat di pesawat. Air masih ada, dan Insya-Allah masih cukup untuk jamaah 400-an. Tak boleh beralih sama sekali pada tayamum dalam kondisi ada air yang mencukupi seperti itu. Akhirnya, setelah dinasihati dengan baik dan santun, sambil kami juga menerjemahkan perkataan orang Saudi, orang Indo pun beralih memakai air. 5. Semangat shalat malam walau di pesawat. 6. Mau rela ngantri menunggu gantian menggunakan musholla. 7. Tetap semangat menjaga shalat jamaah meskipun di pesawat. 8. Tetap melakukan shalat dalam keadaan berdiri dan menghadap kiblat sedangkan arah pesawat saat itu ke arah timur.   Semoga bisa jadi pelajaran berharga dan jadi penyemangat kita untuk beribadah. — Berbagi cerita saat di Saudia Airlines, Rabu, 25 Rabi’ul Awwal 1437 H Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Channel Telegram @RumayshoCom #RumayshoSaatPagi Tagscara shalat Safar shalat jamaah

Keaguangan al-Quran

Khotbah Jum’at di Masjid Nabawi, 14 Rabiul Awal 1437 H.Oleh : Syekh Dr. Abdul-Muhsin Bin Qasim Al-QasimKhotbah PertamaSegala puji bagi Allah. Kami memujiNya, memohon pertolonganNya dan ampunanNya. Kami berlindung kepada Allah dari kejahatan diri kami dan keburukan amal perbuatan kami. Barangsiapa yang Allah berikan petunjuk, tidak akan ada yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa yang Allah biarkan sesat, tidak ada orang yang mampu memberinya petunjuk.Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah semata, tiada sekutu bagiNya. Dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah hambaNya dan utusanNya. Shalawat dan salam semoga tercurah sebanyak-banyaknya kepada beliau, beserta seluruh keluarga dan sahabatnya.Selanjutnya. Bertakwalah kepada Allah – wahai hamba-hamba Allah – dengan sesungguhnya. Takwa adalah mengikuti petunjuk, sedangkan kebutaan adalah karena mengikuti hawa nafsu.Kaum muslimin!            Allah –subhanahu wa ta’ala- Maha sempurna zatNya, nama-namaNya dan sifat-sifatNya. Tiada yang setara dan sebanding denganNya. Sifat-sifatNya demikian sempurna dan indah yang di antara sifatNya adalah berfirman. Allah berfirman kapanpun Dia berkehendak manakala Dia menghendaki dengan apapun yang Dia kehendaki, kalimat-kalimatNya tidak terhingga. Allah -subhanahu wa ta’ala- berfirman :قُلْ لَوْ كَانَ الْبَحْرُ مِدَادًا لِكَلِمَاتِ رَبِّي لَنَفِدَ الْبَحْرُ قَبْلَ أَنْ تَنْفَدَ كَلِمَاتُ رَبِّي وَلَوْ جِئْنَا بِمِثْلِهِ مَدَدً [ الكهف/109](Katakanlah: Sekiranya lautan menjadi tinta untuk [menulis] kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis [ditulis] kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu [pula]” ) Qs Al-Kahfi : 109Firman-Nya adalah sebaik-baik perkataan. Keunggulan firmanNya atas ucapan makhluk bagaikan keunggulan Allah Sang Pencipta atas makhluk ciptaanNya.  Setiap nabi terangkat keutamaannya manakala Allah berbicara dengannya secara langsung tanpa perantara.  Allah berfirman  :تِلْكَ الرُّسُلُ فَضَّلْنَا بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ مِنْهُمْ مَنْ كَلَّمَ اللَّهُ [ البقرة / 253 ](Rasul-rasul itu Kami lebihkan sebagian (dari) mereka atas sebagian yang lain. Di antara mereka ada yang Allah berkata-kata [langsung] dengannya). Qs Al-Baqarah : 253Karena kebijaksanaan dan kasih sayang Allah kepada manusia, diutuslah olehNya para rasul dari kalangan mereka dan diturunkan kepada mereka kitab-kitabNya. Maka Allah – subhanahu wa ta’ala – turunkan kitab Taurat, Injil, Zabur dan lembaran-lembaran Nabi Ibrahim dan Nabi Musa –alaihimassalam- yang kemudian ditutupNya kitab-kitab itu dengan menurunkan Al-Qur’an yang agung sebagai kitab yang paling mulia dan paling tinggi derajatnya, untuk membenarkan kitab-kitab yang telah ada sebelumnya serta sebagai pengontrol terhadap kitab-kitab itu dan penghapus serta pengemban amanat dari pada isi kitab-kitab tersebut. Seluruh nabi telah menubuatkan Al-Qur’an sebelum diturunkannya. Allah berfirman :وَإِنَّهُ لَفِي زُبُرِ الْأَوَّلِينَ [ الشعراء/ 196](Dan sesungguhnya Al Quran itu benar-benar disebut dalam kitab-kitab orang yang dahulu) Qs As-Syu’ara : 196Ibnu Katsir  -rahimahullah- berkata : “Penyebutan dan penyaksian tentang Al-Qur’an telah ada pada kitab-kitab umat terdahulu yang dinukil dari para nabi mereka. Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail –alaihimas salam- memohon dalam doa agar Allah – subhanahu wa ta’ala – mengutus seorang nabi untuk membacakan dan mengajarkan Al-Qur’an.رَبَّنَا وَابْعَثْ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُزَكِّيهِمْ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ [ البقرة/129](Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka sesorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab [Al Quran] dan Al-Hikmah [As-Sunnah] serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana) Qs Al-Baqarah : 129Al-Qur’an adalah firman Allah, Tuhan semesta alam, Dia berbicara dengan firman itu secara hakiki dengan huruf dan suara, dari Allah-lah firman itu berawal dan kepadaNya pula kembali. Firman itu didengar oleh Malaikat Jibril Al-amin dari Allah dan diturunkannya kepada Nabi Muhammad –shallahu alaihi wa sallam-, lalu beliau sampaikan, maka dengan Al-Qur’an beliau memungkasi misi seluruh para rasul dan beliau-pun berjasa besar terhadap umatnya yang tergolong ummiyin (buta aksara saat turunnya). Allah berfirman :لَقَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْ أَنْفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ [ آل عمران / 164](Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus diantara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan [jiwa] mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum [kedatangan Nabi] itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata) Qs Ali Imran : 164Al-Qur’an turun untuk sebaik-baik umat, dengan bahasa paling unggul dan paling lengkap, turun pada malam paling mulia di tanah yang paling suci.  Maka dengan Al-Qur’an kita terbebas dari kegelapan menuju ke cahaya terang, dan dari ketidak-tahuan mengarah ke dunia ilmu pengetahuan. Firman Allah :كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ لِتُخْرِجَ النَّاسَ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِ رَبِّهِمْ إِلَى صِرَاطِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ [ إبراهيم/1](Ini adalah Kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan mereka, [yaitu] menuju jalan Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji) Qs Ibrahim : 1Tidak sah keimanan seseorang kecuali jika dirinya mengimani Al-Qur’an secara totalitas dan detail. Firman Allah :يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا آمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي نَزَّلَ عَلَى رَسُولِهِ [ النساء /136](Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya). Qs An-Nisa : 136Allah memuji DzatNya sendiri atas penurunan Al-Qur’an. Firman Allah :الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَى عَبْدِهِ الْكِتَابَ وَلَمْ يَجْعَلْ لَهُ عِوَجًا [ الكهف/1](Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kepada hamba-Nya Al Kitab (Al-Quran) dan Dia tidak mengadakan kebengkokan di dalamnya) Qs Al-Kahfi :1Allah-pun bersumpah dengan Al-Qur’an sebagaimana firmanNya ;يس ، وَالْقُرْآنِ الْحَكِيمِ [ يس/1-2](Yaa siin, Demi Al Quran yang penuh hikmah) Qs Yasin : 1-2Allah-pun bersumpah atas keagungan Al-Qur’an :فَلَا أُقْسِمُ بِمَوَاقِعِ النُّجُومِ ، وَإِنَّهُ لَقَسَمٌ لَوْ تَعْلَمُونَ عَظِيمٌ ، إِنَّهُ لَقُرْآنٌ كَرِيمٌ [ الواقعة / 75- 76 – 77](Maka Aku bersumpah dengan masa turunnya bagian-bagian Al-Quran. Sesungguhnya sumpah itu adalah sumpah yang besar kalau kamu mengetahui. Sesungguhnya Al-Quran ini adalah bacaan yang sangat mulia). Qs Al-Qaqi’ah : 75- 76-77Allah –subhanahu wa ta’ala- memudahkan Al-Qur’an untuk hamba-hambaNya sehingga tidak sulit dan tidak menyusahkan, bisa dihafal oleh orang Arab dan non Arab, pria dan wanita, anak kecil dan orang dewasa, si kaya dan si miskin, bahkan orang yang tuna netra, yang lanjut usia dan yang jompo pun mudah menghafalnya. Firman Allah :وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرٍ [ القمر / 17 ](Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran). Qs Al-Qamar :17Sungguh besar derajat Al-Qur’an, oleh karenanya Allah menempatkannya paling depan di antara sederetan nikmatNya. Firman Allah :الرَّحْمَنُ ، عَلَّمَ الْقُرْآنَ [ الرحمن / 1-2 ](Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang telah mengajarkan al Quran) Qs Ar-Rahman : 1-2فِي صُحُفٍ مُكَرَّمَةٍ ، مَرْفُوعَةٍ مُطَهَّرَةٍ ، بِأَيْدِي سَفَرَةٍ ،  كِرَامٍ بَرَرَةٍ  [ عبس / 13 – 16 ]( Al-Qur’an, di dalam kitab-kitab yang dimuliakan, yang ditinggikan lagi disucikan, di tangan para penulis (malaikat), yang mulia lagi berbakti) Qs Abasa : 13-16Allah –subhanahu wa ta’ala- telah menjaganya sebelum (pra) menurunkannya. Firman Allah :بَلْ هُوَ قُرْآنٌ مَجِيدٌ  [ البروج /  21 ](Bahkan yang didustakan mereka itu adalah Al Qur’an yang mulia) Qs Al-Buruj : 21Allah–subhanahu wa ta’ala- melindunginya dari setan-setan saat penurunannya. Firman Allah :وَمَا تَنَزَّلَتْ بِهِ الشَّيَاطِينُ ، وَمَا يَنْبَغِي لَهُمْ وَمَا يَسْتَطِيعُونَ [ الشعراء / 210-211 ](Al Quran itu bukanlah dibawa turun oleh setan-setan. Dan tidaklah patut mereka membawa turun Al Quran itu, dan merekapun tidak akan kuasa ) Qs As-Syu’ara : 210-211Al-Qur’an tetap terjaga pasca penurunannya.  Firman Allah :إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ [ الحجر/9](Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar menjaganya). Qs Al-Hijr : 9Al-Qur’an aman dari penambahan dan pengurangan, aman dari pengubahan dan penggantian. Allah menjadikannya petunjuk dan pengingat bagi umat semesta alam, bersifat universal untuk seluruh umat manusia sama dengan keuniversalan misi kerasulan  Nabi kita Muhammad –shallallahu alaihi wa sallam- bukan spesialis untuk suatu umat tanpa menjangkau umat yang lain. Firman Allah :إِنْ هُوَ إِلَّا ذِكْرٌ لِلْعَالَمِينَ [ التكوير/ 27](Al Quran itu tiada lain hanyalah peringatan bagi semesta alam) Qs At-Takwir : 27Al-Qur’an menjadi pelajaran bagi orang yang punya rasa takut, juga menjadi argumen pembungkam terhadap orang yang menyimpang. Allah –subhanahu wa ta’ala- men-deskripsikannya dengan beragam sifat dan menggelarinya dengan berbagai sebutan. Maka Al-Qur’an merupakan kebenaran mutlak yang tidak ada kebatilan dan keraguan sama sekali di dalamnya. Firman Allah :بَلْ هُوَ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ [ السجدة / 3](Sebenarnya Al-Quran itu adalah kebenaran dari Tuhan-mu) Qs As-Sajdah : 3Firman Allah :كِتَابٌ أُحْكِمَتْ آيَاتُهُ ثُمَّ فُصِّلَتْ مِنْ لَدُنْ حَكِيمٍ خَبِيرٍ [ هود/1](Inilah suatu kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi serta dijelaskan secara terperinci, yang diturunkan dari sisi [Allah] Yang Maha Bijaksana lagi Maha Tahu) Qs Fushshilat : 1Ayat-ayatnya serupa satu dengan yang lain dan saling membenarkan;كِتَابًا مُتَشَابِهًا مَثَانِيَ [ الزمر / 23 ]( Kitab Al Qur’an yang serupa [ayat-ayatnya] lagi berulang-ulang) Qs Az-Zumar : 23Lurus, tidak bengkok, tidak kontroversial dan tidak pula kontradiksi. Firman Allah :وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا [ النساء / 82 ]( Kalau sekiranya Al Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya) Qs An-Nisa : 82Al-Qur’an merupakan perkataan yang paling baik dan paling unggul.Firman Allah :اللَّهُ نَزَّلَ أَحْسَنَ الْحَدِيثِ [ الزمر/ 23]( Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik ) Qs Az-Zumar : 23            Imam Nawawi – rahimahullah- berkomentar : Ayat ini mengindikasikan bahwa Al-Qur’an merupakan perkataan terbaik dibanding perkataan-perkataan lainnya yang turun dari Allah-subhanahu wa ta’ala- maupun yang selain itu.Allah- subhanahu wa ta’ala- menyifatkan Al-Qur’an sebagai sesuatu yang agung :وَلَقَدْ آتَيْنَاكَ سَبْعًا مِنَ الْمَثَانِي وَالْقُرْآنَ الْعَظِيمَ [ الحجر/ 87](Dan sesungguhnya Kami telah berikan kepadamu tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang dan Al Quran yang agung) Qs Al-Hijr : 87Allah menetapkan Al-Qur’an sebagai perkataan yang memiliki ketinggian jati diri dan kedudukannya. Firman Allah :وَإِنَّهُ فِي أُمِّ الْكِتَابِ لَدَيْنَا لَعَلِيٌّ حَكِيمٌ [ الزخرف/ 4](Dan sesungguhnya Al Qur’an itu dalam induk Al Kitab [Lauh Mahfuzh] di sisi Kami, adalah benar-benar tinggi [kedudukannya] dan amat banyak kandungan hikmahnya) Qs Az-Zukhruf : 4Sangat jelas redaksi dan maknanya sebagai penjelas tentang segala sesuatu. Firman Allah:هَذَا بَيَانٌ لِلنَّاسِ وَهُدًى وَمَوْعِظَةٌ لِلْمُتَّقِينَ [ آل عمران/ 138](Inilah [Al-Qur’an] penerang bagi seluruh umat manusia, dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa) Qs Ali Imran : 138Ibnu Mas’ud – radhiyallahu ‘anhu- berkata : “Allah jelaskan kepada kita dalam Al-Qur’an segala ilmu yang mencakup semua aspeknya”.Al-Qur’an penuh kearifan, mengandung lautan hikmah, barangsiapa yang dikaruniai hikmah (kearifan) sungguh dirinya telah mendapat kebaikan yang banyak. Al-Qur’an mulia di sisi Allah, kemuliaan yang terkandung di dalamnya sangat tinggi nilainya. Maka dengan kemuliaan Al-Qur’an, seseorang menjadi terhormat dan mulia pula dalam pandangan Allah dan sesama makhluk. Firman Allah :إِنَّهُ لَقُرْآنٌ كَرِيمٌ [ الواقعة / 77](Sesungguhnya Al-Quran ini adalah bacaan yang sangat mulia) Qs Al-Waqiah :77Di dalamnya terdapat petunjuk jalan hidup [hidayah] bagi manusia dan jalan keselamatan, kejayaan dan kebahagiaan. Seseorang tidak bisa lepas dari hidayah Al-Qur’an. Allah –subhanahu wa ta’ala- berfirman kepada seorang hambaNya sebagai manusia paling sempurna dan paling cerdas akal pikirannya :قُلْ إِنْ ضَلَلْتُ فَإِنَّمَا أَضِلُّ عَلَى نَفْسِي وَإِنِ اهْتَدَيْتُ فَبِمَا يُوحِي إِلَيَّ رَبِّي [ سبأ / 50 ](Katakanlah: “Jika aku sesat maka sesungguhnya aku menyesatkan diriku sendiri; dan jika aku mendapat petunjuk maka itu adalah disebabkan apa yang diwahyukan Tuhanku kepadaku.) Qs Saba : 50Orang-orang yang beriman seharusnya manusia yang paling layak mendapatkan hidayah Al-Qur’an. Sebab Allah -subhanahu wa ta’ala- berfirman :هُدًى لِلْمُتَّقِينَ [ البقرة/2](Al Qur’an ini, petunjuk bagi mereka yang bertakwa) Qs Al-Baqarah : 2Di samping petunjuk jalan hidup [ hidayah], Al-Qur’an juga rahmat. Firman Allah :هُدًى وَرَحْمَةً لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ  [ الأعراف/52](Al Quran, menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman) Qs. Al-A’raf : 52Terlindunglah dari kesesatan orang yang berpegang kepadanya. Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda :( تركت فيكم ما لن تضلوا بعده إن اعتصمتم به. كتاب الله) رواه مسلم(Sungguh telah aku tinggalkan kepada kalian yang jika kalian berpegang teguh kepadanya, niscaya kalian tidak akan tersesat; Kitabullah) HR MuslimSungguh tinggi, agung dan di puncak kemuliaan. Firman Allah :ق وَالْقُرْآنِ الْمَجِيدِ [ ق /1](Qaaf, Demi Al Quran yang sangat mulia) Qs Qaf : 1Sebaik-baik peringatan dan setinggi-tinggi zikir. Dengan Al-Qur’an akan tercapai keimanan dengan upaya peningkatannya.تَقْشَعِرُّ مِنْهُ جُلُودُ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ ثُمَّ تَلِينُ جُلُودُهُمْ وَقُلُوبُهُمْ إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ [ الزمر/23]( Karena [Al-Qur’an] gemetarlah kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi hening kulit dan hati mereka ketika mengingat Allah). Qs. Az-Zumar : 23Ibnu Mas’ud – radhiyallahu ‘anhu- pernah membaca surah An-Nisa di hadapan Rasulullah – shallallahu alaihi wa sallam-, ketika sampai pada ayat :فَكَيْفَ إِذَا جِئْنَا مِنْ كُلِّ أُمَّةٍ بِشَهِيدٍ وَجِئْنَا بِكَ عَلَى هَؤُلَاءِ شَهِيدًا [ النساء / 41](Maka bagaimanakah [halnya orang kafir nanti] apabila Kami mendatangkan seseorang saksi [rasul] dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu [Muhammad] sebagai saksi atas mereka itu [sebagai umatmu] ) Qs An-Nisa : 41Berkatalah Rasulullah -shallallahu alaihi wa sallam- kepadanya, “cukup-cukup”. Kata Ibnu Mas’ud : Maka aku menoleh kepada beliau, tiba-tiba air mata telah meleleh membasahi kedua mata beliau”. HR BukhariSegudang kebaikan dan kemanfaatan serta pintu-pintu keberkahan ada di dalamnya. Firman Allah  :وَهَذَا كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ مُبَارَكٌ   [ الأنعام / 155](Dan Al-Quran itu adalah kitab yang Kami turunkan yang diberkati) Qs Al-An’am : 15Siapapun membacanya, mengamalkannya dan menyebar luaskannya ke segenap penjuru pastilah jaya dan mendapatkan keamanan dan kemakmuran.Ibnu Katsir – rahimahullah- berkata : Semasa pemerintahan Usman Bin Affan – radhiyallahu ‘anhu- wilayah kekuasaan Islam terbentang luas menjangkau timur jauh dan barat, hal itu berkat pembacaan dan kajian Al-Qur’an yang dilakukannya serta upaya-upayanya memotivasi umat untuk menghafalnya.Al-Qur’an adalah cahaya kehidupan yang menyoroti segala urusan dunia dan akhirat; urusan bisnis dan keagamaan. Firman Allah :قَدْ جَاءَكُمْ مِنَ اللَّهِ نُورٌ وَكِتَابٌ مُبِينٌ [ المائدة/15](Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan Kitab yang menerangkan). Qs Al-Maidah : 15Dengan Al-Qur’an, jiwa menjadi hidup kembali, karena Al-Qur’an memberikan kehidupan kepada siapa saja yang meresponnya. Firman Allah :اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ [ الأنفال/24]( Penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu) Qs Al-Anfal : 24Qatadah – rahimahullah- berkata : “Itulah hebatnya Al-Qur’an ini, di samping memberikan kehidupan, ia juga Allah jadikan sebagai obat penawar bagi segala penyakit fisik. “Seorang lelaki disengat kalajengking (scorpio), lalu dibacakan Al-Fatihah untuknya, maka sembuhlah dia” HR BukhariAl-Qur’an pelindung dari segala kejahatan. Firman Allah :وَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ جَعَلْنَا بَيْنَكَ وَبَيْنَ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِالْآخِرَةِ حِجَابًا مَسْتُورًا [ الإسراء /45](Dan ketika kamu membaca Al Quran, Kami adakan antara kamu dan orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat, suatu dinding yang tertutup) Qs Al-Isra : 45Membuat kelapangan dan ketegaran hati orang yang membacanya. Firman Allah :كَذَلِكَ لِنُثَبِّتَ بِهِ فُؤَادَكَ [ الفرقان/32]( Demikianlah supaya Kami perkuat hatimu dengannya) Qs Al-Furqan : 32Al-Qur’an merupakan petuah sekaligus obat penyembuh bagi penyakit hati, di samping penghias diri bagi pembacanya. Berkat Al-Qur’an pula dapat terajut persatuan umat. Firman Allah :وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا [ آل عمران /103](Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali [agama] Allah, dan janganlah kamu bercerai berai). Qs Ali Imran : 103Dengan Al-Qur’an persengketaan dapat diputuskan. Al-Qur’an adalah jalan keselamatan, merupakan kata pemutus yang tegas, tidak ada senda gurau di dalamnya. Sebagai kitab yang kokoh hukumnya, Allah menantang generasi terdahulu dan yang datang kemudian, baik dari kalangan manusia maupun jin. Firman Allah :قُلْ لَئِنِ اجْتَمَعَتِ الْإِنْسُ وَالْجِنُّ عَلَى أَنْ يَأْتُوا بِمِثْلِ هَذَا الْقُرْآنِ لَا يَأْتُونَ بِمِثْلِهِ وَلَوْ كَانَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ ظَهِيرًا [ الإسراء/88](Katakanlah: “Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al Quran ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain). Qs Al-Isra : 88Tidak ada seorangpun memiliki kemampuan menandingi Al-Qur’an. Tiada seorang cerdik cendekiawan yang mendengarnya kecuali mengakui bahwa Al-Qur’an adalah firman Allah Tuhan semesta alam. Jin-pun mendengar Al-Qur’an, lalu berkata kepada sesamanya, dengarkanlah dengan seksama, lalu usai mendengar mereka kembali kepada kaumnya seraya berkata :إِنَّا سَمِعْنَا قُرْآنًا عَجَبًا [ الجن/1]( Sesungguhnya kami telah mendengarkan Al Qur’an yang sangat mengagumkan) Qs Al-Jin:1Kaum Kristiani Arab ketika mendengar Al-Qur’an, spontanitas meneteskan air mata mereka. Al-Qur’an dibacakan di hadapan raja Negus (penguasa Ethiopia) sebelum masuk Islam, maka menangislah raja itu.Jubair Bin Muth’im –radhiyallahu anhu- sewaktu mendengar firman Allah :أَمْ خُلِقُوا مِنْ غَيْرِ شَيْءٍ أَمْ هُمُ الْخَالِقُونَ ، أَمْ خَلَقُوا السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بَلْ لَا يُوقِنُونَ ، أَمْ عِنْدَهُمْ خَزَائِنُ رَبِّكَ أَمْ هُمُ الْمُصَيْطِرُونَ [ الطور/ 35-37](Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun ataukah mereka yang menciptakan [diri mereka sendiri]Ataukah mereka telah menciptakan langit dan bumi itu?; sebenarnya mereka tidak meyakini [apa yang mereka katakan]. Ataukah di sisi mereka ada perbendaharaan Tuhanmu atau merekakah yang berkuasa) Qs At-Thur : 35-37Berkatalah ia, “hampir saja hatiku melayang”. Allah –subhanahu wa ta’ala- memerintahkan kita melindungi orang yang memohon suaka hingga ia mendengar Al-Qur’an. Firman Allah :وَإِنْ أَحَدٌ مِنَ الْمُشْرِكِينَ اسْتَجَارَكَ فَأَجِرْهُ حَتَّى يَسْمَعَ كَلَامَ اللَّهِ [ التوبة/6](Dan jika seorang diantara orang-orang musyrikin itu meminta suaka (perlindungan) kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar firman Allah) Qs At-Taubah :6Al-Qur’an menampung ilmu pengetahuan (sains) yang begitu luas dan memuat pengetahuan kognitif yang demikian bermanfaat. Pengamalnya yang memahami maknanya adalah para penyandang ilmu. Firman Allah :بَلْ هُوَ آيَاتٌ بَيِّنَاتٌ فِي صُدُورِ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ [ العنكبوت/ 49](Sebenarnya, Al Quran itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu) Qs Al-Ankabut : 49Pemahaman terletak pada pengetahuan seseorang tentang ayat-ayat Al-Qur’an. Pengajar dan pelajar Al-Qur’an adalah manusia terbaik. Rasulullah – shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :( خيركم من تعلم القرآن وعلمه ) رواه مسلم(Sebaik-baik orang di antara kalian adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya) . HR Bukhari.Berkat ketinggian derajat Al-Qur’an, terangkat pula derajat ilmu. Di dalam Al-Qur’an terdapat sebaik-baik kisah, perumpamaan yang paling efektif, hikmah yang paling elok. Terdapat berita yang paling akurat dan argumen yang paling kuat. Retorika dan gaya bahasa yang paling indah. Hujah yang membungkam seluruh umat manusia. Terdapat pula kabar gembira sekaligus berita buruk untuk menjadi pelajaran bagi manusia di dunia. Tinggi maknanya, indah susunan bahasanya, moderat metodenya, universal ketentuan hukumnya, adil keputusannya, bijak perintahnya dan larangannya. Penuh karisma, memiliki kekuatan dan pengaruh yang menakjubkan, melumpuhkan lawan hanya dengan beberapa susunan kata semata, menjadi petunjuk yang jelas dengan indikasi-indikasi dalil yang memudahkan, ayat yang cemerlang dan mukjizat yang jelas, tali Allah yang sangat kuat dan jalanNya yang lurus. Siapapun yang mengamalkannya meraih pahala, yang mengadili dengan ketentuan hukumnya akan mencerminkan rasa keadilan, yang berpegang teguh dengannya terlindungi, yang mengikuti ajarannya mendapatkan rahmat kasih sayang.Firman Allah :فَاتَّبِعُوهُ وَاتَّقُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ [ الأنعام/155]( maka ikutilah dia [ Al-Qur’an] dan bertakwalah agar kamu diberi rahmat) Qs Al-An’am : 155Allah –subhanahu wa ta’ala- menganugerahkan Al-Qur’an dan menyempurnakan nikmatNya ini. Firman Allah :أَوَلَمْ يَكْفِهِمْ أَنَّا أَنْزَلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ يُتْلَى عَلَيْهِمْ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَرَحْمَةً وَذِكْرَى لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ [ العنكبوت/ 51](Dan apakah tidak cukup bagi mereka bahwasanya Kami telah menurunkan kepadamu Al Kitab [Al Quran] sedang dia dibacakan kepada mereka? Sesungguhnya dalam [Al Quran] itu terdapat rahmat yang besar dan pelajaran bagi orang-orang yang beriman) Qs Al-Ankabut : 51Al-Qur’an merupakan penghormatan bagi Nabi-shallallahu alaihi wa sallam- dan umatnya. Firman Allah :وَإِنَّهُ لَذِكْرٌ لَكَ وَلِقَوْمِكَ [ الزخرف/44](Dan sesungguhnya Al Quran itu benar-benar adalah suatu kemuliaan besar bagimu dan bagi kaummu). Qs Az-Zukhruf : 44Sekiranya Allah menurunkan Al-Qur’an kepada gunung, pastilah gunung itu tak berdaya dan terpecah-pecah karena ketundukkan dan ketaatannya kepada Allah. Firman Allah :لَوْ أَنْزَلْنَا هَذَا الْقُرْآنَ عَلَى جَبَلٍ لَرَأَيْتَهُ خَاشِعًا مُتَصَدِّعًا مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ  [ الحشر / 21 ](Kalau sekiranya Kami turunkan Al-Quran ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan ketakutannya kepada Allah). Qs Al-Hasyar : 21            وَلَوْ أَنَّ قُرْآنًا سُيِّرَتْ بِهِ الْجِبَالُ أَوْ قُطِّعَتْ بِهِ الْأَرْضُ أَوْ كُلِّمَ بِهِ الْمَوْتَى  [ الرعد/31](Dan sekiranya ada suatu bacaan (kitab suci) yang dengan bacaan itu gunung-gunung dapat digoncangkan atau bumi jadi terbelah atau oleh karenanya orang-orang yang sudah mati dapat berbicara, [tentulah Al Quran itulah dia] ). Qs Ar-Ra’d : 21Jelaslah tidak ada suatu perkataan atau bacaan yang dapat mengungguli Al-Qur’an.            Berpegang teguh dengan Al-Qur’an dan mengamalkan isinya merupakan pesan Nabi–shallallahu alaihi wa sallam- kepada umatnya. Abdullah Bin Abi Aufa –radhiyallahu ‘anhu- pernah ditanya tentang pesan Nabi -shallallahu alaihi wa sallam-, maka dia menjawab : “Nabi -shallallahu alaihi wa sallam- berpesan agar berpegang kepada Kitab Allah [Al-Qur’an]”. HR Bukhari.Ibnu Hajar – rahimahullah- berkata : “Yang dimaksud dengan pesan Nabi -shallallahu alaihi wa sallam- untuk berpegang teguh kepada Kitab Allah adalah menjaganya secara fisik dan kandungan isinya, yaitu dengan memuliakannya dan merawatnya serta mengamalkan isinya, senantiasa membacanya, mengkajinya dan mengajarkannya”.            Siapapun yang berinteraksi dengan Al-Qur’an pasti jaya dan mulia. Para pengemban Al-Qur’an disebut “Ahlullah”       (keluarga Allah) dan orang-orang dekatNya. Penghafal Al-Qur’an terhormat dalam hidupnya dan di alam kuburnya. Faktanya, ketika hidup di dunia, yang berhak menjadi imam shalat adalah orang yang paling indah bacaan Al-Qur’an-nya. HR Muslim. Setelah meninggal dunia, terbukti Rasulullah – shallallahu alaihi wa sallam- pernah mengumpulkan dua lelaki di antara kaum muslimin yang gugur dalam pertempuran uhud, lalu beliau bertanya : “Manakah di antara mereka yang lebih banyak peduli kepada Al-Qur’an ? maka beliau mendahulukannya masuk ke liang lahad”. HR Bukhari.(Para pembaca Al-Qur’an adalah mereka yang turut hadir dalam majelis diskusi Umar).HR Bukhari.Amal kebajikan yang paling agung untuk mendekatkan diri kepada Allah –subhanahu wa ta’ala- adalah memperbanyak baca Al-Qur’an, menyimak bacaannya dengan merenungkan dan berusaha memahami maknanya. Allah – subhanahu wa ta’ala- menyanjung orang yang membaca Al-Qur’an dan memuji orang-orang yang mengamalkannya serta menjanjikan akan memenuhi janjiNya dan meningkatkan balasan kebaikan bagi mereka. Firman Allah :إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَنْ تَبُورَ ، لِيُوَفِّيَهُمْ أُجُورَهُمْ وَيَزِيدَهُمْ مِنْ فَضْلِهِ . [ فاطر/29](Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi, agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya.) . Qs Fathir : 29-30Inilah bisnis yang menguntungkan. Maka “Barangsiapa membaca satu huruf dalam Kitabullah, baginya satu kebaikan, sedangkan satu kebaikan dilipat gandakan menjadi sepuluh kali lipat. Aku tidak katakan Alif Laam Miim hanya satu huruf, tetapi Alif satu huruf, Laam satu huruf dan Miim satu huruf”. HR Turmuzi.            ” الْمَاهِرُ بِالْقُرْآنِ مَعَ السَّفَرَةِ الْكِرَامِ الْبَرَرَةِ ” رواه الترمذي(Orang yang lancar membaca Al Qur’an akan bersama malaikat utusan yang mulia lagi berbakti).HR TurmuziMajlis-majlis Al-Qur’an adalah tempat-tempat turunnya ketenteraman hati karena di sana rahmat kasih sayang menyelimuti para pengajar dan pelajar Al-Qur’an. Dalam konteks ini Nabi  – shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :( ما اجتمع قوم في بيت من بيوت الله يتلون كتاب الله ويتدارسونه بينهم إلا نزلت عليهم السكينة ، وغشيتهم الرحمة وحفتهم الملائكة وذكرهم الله فيمن عنده  ) رواه أبو داود(Tidaklah suatu kaum berkumpul di rumah-rumah Allah sambil membaca Kitabullah, dan saling mempelajarinya, kecuali akan turun kepada mereka ketenangan, dan mereka tersirami rahmat serta diliputi naungan malaikat. Dan mereka disebut-sebut oleh Allah di kalangan orang-orang yang di sisiNya).HR Abu DaudDengan menyimak bacaan Al-Qur’an, kucuran rahmat didapat. Firman Allah :وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنْصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ [  الأعراف/204](Dan apabila dibacakan Al Quran, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat). Qs Al-A’raf : 204Al-Qur’an merupakan dzikir yang paling besar dan paling lengkap manfaatnya. Persaingan dalam Al-Qur’an sangatlah terpuji.( لاحسد الا في اثنين : رجل آتاه القران فهو يقوم آناء الليل وآناءالنهار , ورجل آتاه الله مالا فهو ينفقه آناء الليل وآناء النهار ) متفق عليه(Tidak ada iri hati kecuali terhadap dua hal; yaitu orang yang telah Allah beri Al-Qur’an (menerima kebenaran dalam Al-Qur’an) dan ia membacanya di waktu malam dan di siang hari. Kedua, orang yang Allah memberinya harta kekayaan lalu ia menginfakkannya di waktu malam dan di siang hari). Muttafaq alaihMemenangkan perolehan kebenaran Al-Qur’an lebih baik dari pada harta kekayaan dunia yang fana ini. Rasulullah – shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :( أَيُّكُمْ يُحِبُّ أَنْ يَغْدُوَ كُلَّ يَوْمٍ إِلَى بُطْحَانَ أَوْ إِلَى الْعَقِيقِ فَيَأْتِىَ مِنْهُ بِنَاقَتَيْنِ كَوْمَاوَيْنِ فِى غَيْرِ إِثْمٍ وَلاَ قَطْعِ رَحِمٍ  . فَقُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ نُحِبُّ ذَلِكَ . قَالَ : أَفَلاَ يَغْدُو أَحَدُكُمْ إِلَى الْمَسْجِدِ فَيَعْلَمَ أَوْ يَقْرَأَ آيَتَيْنِ مِنْ كِتَابِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ خَيْرٌ لَهُ مِنْ نَاقَتَيْنِ وَثَلاَثٌ خَيْرٌ لَهُ مِنْ ثَلاَثٍ وَأَرْبَعٌ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَرْبَعٍ وَمِنْ أَعْدَادِهِنَّ مِنَ الإِبِلِ .) رواه مسلم (Siapakah di antara kalian yang suka berangkat pagi setiap hari ke Bathhan atau ‘Aqiq dan pulangnya membawa dua onta yang besar punuknya tanpa melakukan dosa dan memutuskan tali silaturrahim?” Para sahabat menjawab, “Wahai Rasulullah, kami suka hal itu.” Beliau bersabda: “Tidak adakah salah seorang di antara kamu yang pergi ke masjid, lalu ia belajar atau membaca dua ayat Alquran? Yang sesungguhnya hal itu lebih baik dari pada memperoleh dua ekor onta, tiga ayat lebih baik dari pada tiga ekor onta, empat ayat lebih baik daripada empat ekor onta dan [jika lebih] tentu sesuai jumlah itu pula beberapa ekor onta-nya). HR. MuslimAl-Qur’an akan menjadi hujah pembela bagi pengembannya pada hari kiamat kelak, dan pemberi syafaat yang diterima syafaatnya di sisi Tuhan semesta alam. Rasulullah – shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :( اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لصَاحِبِه ) رواه أحمد( Bacalah oleh kalian Al-Qur`an. Karena ia akan datang pada Hari Kiamat kelak sebagai pemberi syafa’at bagi orang-orang yang rajin membacanya.) HR AhmadPara pengemban Al-Qur’an yang mengamalkan kandungannya menempati derajat tertinggi di surga na’im.(يُقَالُ لِصَاحِبِ الْقُرْآنِ اقْرَأْ وَارْتَقِ وَرَتِّلْ كَمَا كُنْتَ تُرَتِّلُ فِى الدُّنْيَا فَإِنَّ مَنْزِلَكَ عِنْدَ آخِرِ آيَةٍ تَقْرَؤُهَا ) رواه أبو داود(Dikatakan kepada orang yang membaca dan menghafalkan Al Qur’an : ‘Bacalah dan tingkatkanlah serta tartilkan-lah sebagaimana engkau di dunia mentartilkannya. Karena kedudukanmu adalah pada akhir ayat yang engkau baca ) HR. Abu DaudKaum muslimin !            Al-Qur’an akan menjadi hujah pembelaan antara Allah dan makhlukNya, suatu kemuliaan dan kebanggaan bagi kaum muslimin, kemajuan dan kebesaran generasi, pengaman dan keberkahan bagi masyarakat. Di dalamnya terdapat kebahagiaan dan keluhuran serta keridhaan Allah Tuhan semesta alam. Maka sepantasnyalah seorang muslim mengharumkan mulutnya, hatinya, tempat tinggalnya, tempat sujudnya, waktunya melalui bacaan Al-Qur’an serta perenungannya dan penghayatannya. Demikian pula dengan mengekspresikan rasa senang, pengagungan dan kepasrahan terhadap kandungannya. Tidak menelantarkannya dan tidak pula menentangnya.Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutukمَنْ كَانَ يُرِيدُ الْعِزَّةَ فَلِلَّهِ الْعِزَّةُ جَمِيعًا إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ يَرْفَعُهُ وَالَّذِينَ يَمْكُرُونَ السَّيِّئَاتِ لَهُمْ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَكْرُ أُولَئِكَ هُوَ يَبُورُ  [ فاطر/10]( Barangsiapa yang menghendaki kemuliaan, maka bagi Allah-lah kemuliaan itu semuanya. Kepada-Nya-lah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang saleh dinaikkan-Nya. Dan orang-orang yang merencanakan kejahatan bagi mereka azab yang keras. Dan rencana jahat mereka akan hancur). Qs Fathir : 10 Semoga Allah memberkahi kita semua berkat pengamalan kitab suci Al-Qur’an yang agung !============ Khotbah keduaSegala puji bagi Allah atas anugerahnya, puji syukur kepadaNya atas bimbingan taufiqNya dan karuniaNya. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagiNya dengan mengagungkanNya. Dan aku bersaksi bahwa nabi kita Muhammad adalah hambaNya dan rasulNya – shallallahu alaihi wa sallam- Semoga shalawat dan salam tercurahkan sebanyak-banyaknya kepadanya beserta seluruh keluarga dan sahabatnya.Kaum muslimin !Barangsiapa yang mengikuti Al-Qur’an pasti menggapai petunjuknya, dan barangsiapa yang berpaling darinya akan tetap dalam keterpurukan dan kehinaan. Allah berfirman :فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقَى ،  وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى [ طه / 123-124](Lalu barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta). Qs Thaha : 123-124Tidak ada jalan lain untuk mendapatkan hidayah kecuali melalui petunjuk Al-Qur’an. Siapapun orangnya yang terhalang hatinya untuk memperoleh petunjuk Al-Qur’an, tidaklah berguna baginya petunjuk manapun di luar Al-Qur’an. Allah berfirman :فَبِأَيِّ حَدِيثٍ بَعْدَ اللَّهِ وَآيَاتِهِ يُؤْمِنُونَ  [  الجاثية / 6 ]( maka dengan perkataan manakah lagi mereka akan beriman sesudah firman Allah (Al-Qur’an) dan keterangan-keterangan-Nya? ) Qs Al-Jatsiyah : 6Jika Al-Qur’an meninggikan derajat seseorang yang mengembannya, maka iapun merendahkan harga diri orang yang memusuhinya. Rasulullah – shallallahu alaihi wa sallam-( إِنَّ اللهَ يَرْفَعُ بِهَذَا الْكِتَابِ أَقْوَامًا، وَيَضَعُ بِهِ آخَرِينَ ) . رواه مسلم .(Sesungguhnya Allah memuliakan suatu kaum dengan kitab ini (Al Qur`an) dan menghinakan kaum yang lain). HR MuslimFirman Allah – subhanahu wa ta’ala – sungguh mulia. Barangsiapa yang mengingkarinya meskipun hanya satu huruf atau melecehkannya, kafirlah ia. Allah berfirman :( قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ ،  لَا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ ) [ التوبة / 65 ]( Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu mengejek?. Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu telah kafir sesudah beriman.). Qs At-Taubah : 65-66Tidak ada seorangpun yang berani menghinakan kitab Allah atau merendahkan para pengemban kitab Allah melainkan Allah pasti menghinakannya dan merendahkannya.Maka sudah sepantasnyalah seorang muslim melakukan pembelaan terhadap kitabullah dengan perasaan bangga agar dapat meraih ketinggian derajat di surga.Selanjutnya, ketahuilah bahwa Allah –subhanahu wa ta’ala- memerintahkan kalian untuk bershalawat dan menyampaikan salam sejahtera kepada nabi-Nya . . .======  Selesai  ======Penerjemah: Usman Hatim

Keaguangan al-Quran

Khotbah Jum’at di Masjid Nabawi, 14 Rabiul Awal 1437 H.Oleh : Syekh Dr. Abdul-Muhsin Bin Qasim Al-QasimKhotbah PertamaSegala puji bagi Allah. Kami memujiNya, memohon pertolonganNya dan ampunanNya. Kami berlindung kepada Allah dari kejahatan diri kami dan keburukan amal perbuatan kami. Barangsiapa yang Allah berikan petunjuk, tidak akan ada yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa yang Allah biarkan sesat, tidak ada orang yang mampu memberinya petunjuk.Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah semata, tiada sekutu bagiNya. Dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah hambaNya dan utusanNya. Shalawat dan salam semoga tercurah sebanyak-banyaknya kepada beliau, beserta seluruh keluarga dan sahabatnya.Selanjutnya. Bertakwalah kepada Allah – wahai hamba-hamba Allah – dengan sesungguhnya. Takwa adalah mengikuti petunjuk, sedangkan kebutaan adalah karena mengikuti hawa nafsu.Kaum muslimin!            Allah –subhanahu wa ta’ala- Maha sempurna zatNya, nama-namaNya dan sifat-sifatNya. Tiada yang setara dan sebanding denganNya. Sifat-sifatNya demikian sempurna dan indah yang di antara sifatNya adalah berfirman. Allah berfirman kapanpun Dia berkehendak manakala Dia menghendaki dengan apapun yang Dia kehendaki, kalimat-kalimatNya tidak terhingga. Allah -subhanahu wa ta’ala- berfirman :قُلْ لَوْ كَانَ الْبَحْرُ مِدَادًا لِكَلِمَاتِ رَبِّي لَنَفِدَ الْبَحْرُ قَبْلَ أَنْ تَنْفَدَ كَلِمَاتُ رَبِّي وَلَوْ جِئْنَا بِمِثْلِهِ مَدَدً [ الكهف/109](Katakanlah: Sekiranya lautan menjadi tinta untuk [menulis] kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis [ditulis] kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu [pula]” ) Qs Al-Kahfi : 109Firman-Nya adalah sebaik-baik perkataan. Keunggulan firmanNya atas ucapan makhluk bagaikan keunggulan Allah Sang Pencipta atas makhluk ciptaanNya.  Setiap nabi terangkat keutamaannya manakala Allah berbicara dengannya secara langsung tanpa perantara.  Allah berfirman  :تِلْكَ الرُّسُلُ فَضَّلْنَا بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ مِنْهُمْ مَنْ كَلَّمَ اللَّهُ [ البقرة / 253 ](Rasul-rasul itu Kami lebihkan sebagian (dari) mereka atas sebagian yang lain. Di antara mereka ada yang Allah berkata-kata [langsung] dengannya). Qs Al-Baqarah : 253Karena kebijaksanaan dan kasih sayang Allah kepada manusia, diutuslah olehNya para rasul dari kalangan mereka dan diturunkan kepada mereka kitab-kitabNya. Maka Allah – subhanahu wa ta’ala – turunkan kitab Taurat, Injil, Zabur dan lembaran-lembaran Nabi Ibrahim dan Nabi Musa –alaihimassalam- yang kemudian ditutupNya kitab-kitab itu dengan menurunkan Al-Qur’an yang agung sebagai kitab yang paling mulia dan paling tinggi derajatnya, untuk membenarkan kitab-kitab yang telah ada sebelumnya serta sebagai pengontrol terhadap kitab-kitab itu dan penghapus serta pengemban amanat dari pada isi kitab-kitab tersebut. Seluruh nabi telah menubuatkan Al-Qur’an sebelum diturunkannya. Allah berfirman :وَإِنَّهُ لَفِي زُبُرِ الْأَوَّلِينَ [ الشعراء/ 196](Dan sesungguhnya Al Quran itu benar-benar disebut dalam kitab-kitab orang yang dahulu) Qs As-Syu’ara : 196Ibnu Katsir  -rahimahullah- berkata : “Penyebutan dan penyaksian tentang Al-Qur’an telah ada pada kitab-kitab umat terdahulu yang dinukil dari para nabi mereka. Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail –alaihimas salam- memohon dalam doa agar Allah – subhanahu wa ta’ala – mengutus seorang nabi untuk membacakan dan mengajarkan Al-Qur’an.رَبَّنَا وَابْعَثْ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُزَكِّيهِمْ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ [ البقرة/129](Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka sesorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab [Al Quran] dan Al-Hikmah [As-Sunnah] serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana) Qs Al-Baqarah : 129Al-Qur’an adalah firman Allah, Tuhan semesta alam, Dia berbicara dengan firman itu secara hakiki dengan huruf dan suara, dari Allah-lah firman itu berawal dan kepadaNya pula kembali. Firman itu didengar oleh Malaikat Jibril Al-amin dari Allah dan diturunkannya kepada Nabi Muhammad –shallahu alaihi wa sallam-, lalu beliau sampaikan, maka dengan Al-Qur’an beliau memungkasi misi seluruh para rasul dan beliau-pun berjasa besar terhadap umatnya yang tergolong ummiyin (buta aksara saat turunnya). Allah berfirman :لَقَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْ أَنْفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ [ آل عمران / 164](Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus diantara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan [jiwa] mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum [kedatangan Nabi] itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata) Qs Ali Imran : 164Al-Qur’an turun untuk sebaik-baik umat, dengan bahasa paling unggul dan paling lengkap, turun pada malam paling mulia di tanah yang paling suci.  Maka dengan Al-Qur’an kita terbebas dari kegelapan menuju ke cahaya terang, dan dari ketidak-tahuan mengarah ke dunia ilmu pengetahuan. Firman Allah :كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ لِتُخْرِجَ النَّاسَ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِ رَبِّهِمْ إِلَى صِرَاطِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ [ إبراهيم/1](Ini adalah Kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan mereka, [yaitu] menuju jalan Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji) Qs Ibrahim : 1Tidak sah keimanan seseorang kecuali jika dirinya mengimani Al-Qur’an secara totalitas dan detail. Firman Allah :يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا آمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي نَزَّلَ عَلَى رَسُولِهِ [ النساء /136](Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya). Qs An-Nisa : 136Allah memuji DzatNya sendiri atas penurunan Al-Qur’an. Firman Allah :الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَى عَبْدِهِ الْكِتَابَ وَلَمْ يَجْعَلْ لَهُ عِوَجًا [ الكهف/1](Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kepada hamba-Nya Al Kitab (Al-Quran) dan Dia tidak mengadakan kebengkokan di dalamnya) Qs Al-Kahfi :1Allah-pun bersumpah dengan Al-Qur’an sebagaimana firmanNya ;يس ، وَالْقُرْآنِ الْحَكِيمِ [ يس/1-2](Yaa siin, Demi Al Quran yang penuh hikmah) Qs Yasin : 1-2Allah-pun bersumpah atas keagungan Al-Qur’an :فَلَا أُقْسِمُ بِمَوَاقِعِ النُّجُومِ ، وَإِنَّهُ لَقَسَمٌ لَوْ تَعْلَمُونَ عَظِيمٌ ، إِنَّهُ لَقُرْآنٌ كَرِيمٌ [ الواقعة / 75- 76 – 77](Maka Aku bersumpah dengan masa turunnya bagian-bagian Al-Quran. Sesungguhnya sumpah itu adalah sumpah yang besar kalau kamu mengetahui. Sesungguhnya Al-Quran ini adalah bacaan yang sangat mulia). Qs Al-Qaqi’ah : 75- 76-77Allah –subhanahu wa ta’ala- memudahkan Al-Qur’an untuk hamba-hambaNya sehingga tidak sulit dan tidak menyusahkan, bisa dihafal oleh orang Arab dan non Arab, pria dan wanita, anak kecil dan orang dewasa, si kaya dan si miskin, bahkan orang yang tuna netra, yang lanjut usia dan yang jompo pun mudah menghafalnya. Firman Allah :وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرٍ [ القمر / 17 ](Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran). Qs Al-Qamar :17Sungguh besar derajat Al-Qur’an, oleh karenanya Allah menempatkannya paling depan di antara sederetan nikmatNya. Firman Allah :الرَّحْمَنُ ، عَلَّمَ الْقُرْآنَ [ الرحمن / 1-2 ](Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang telah mengajarkan al Quran) Qs Ar-Rahman : 1-2فِي صُحُفٍ مُكَرَّمَةٍ ، مَرْفُوعَةٍ مُطَهَّرَةٍ ، بِأَيْدِي سَفَرَةٍ ،  كِرَامٍ بَرَرَةٍ  [ عبس / 13 – 16 ]( Al-Qur’an, di dalam kitab-kitab yang dimuliakan, yang ditinggikan lagi disucikan, di tangan para penulis (malaikat), yang mulia lagi berbakti) Qs Abasa : 13-16Allah –subhanahu wa ta’ala- telah menjaganya sebelum (pra) menurunkannya. Firman Allah :بَلْ هُوَ قُرْآنٌ مَجِيدٌ  [ البروج /  21 ](Bahkan yang didustakan mereka itu adalah Al Qur’an yang mulia) Qs Al-Buruj : 21Allah–subhanahu wa ta’ala- melindunginya dari setan-setan saat penurunannya. Firman Allah :وَمَا تَنَزَّلَتْ بِهِ الشَّيَاطِينُ ، وَمَا يَنْبَغِي لَهُمْ وَمَا يَسْتَطِيعُونَ [ الشعراء / 210-211 ](Al Quran itu bukanlah dibawa turun oleh setan-setan. Dan tidaklah patut mereka membawa turun Al Quran itu, dan merekapun tidak akan kuasa ) Qs As-Syu’ara : 210-211Al-Qur’an tetap terjaga pasca penurunannya.  Firman Allah :إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ [ الحجر/9](Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar menjaganya). Qs Al-Hijr : 9Al-Qur’an aman dari penambahan dan pengurangan, aman dari pengubahan dan penggantian. Allah menjadikannya petunjuk dan pengingat bagi umat semesta alam, bersifat universal untuk seluruh umat manusia sama dengan keuniversalan misi kerasulan  Nabi kita Muhammad –shallallahu alaihi wa sallam- bukan spesialis untuk suatu umat tanpa menjangkau umat yang lain. Firman Allah :إِنْ هُوَ إِلَّا ذِكْرٌ لِلْعَالَمِينَ [ التكوير/ 27](Al Quran itu tiada lain hanyalah peringatan bagi semesta alam) Qs At-Takwir : 27Al-Qur’an menjadi pelajaran bagi orang yang punya rasa takut, juga menjadi argumen pembungkam terhadap orang yang menyimpang. Allah –subhanahu wa ta’ala- men-deskripsikannya dengan beragam sifat dan menggelarinya dengan berbagai sebutan. Maka Al-Qur’an merupakan kebenaran mutlak yang tidak ada kebatilan dan keraguan sama sekali di dalamnya. Firman Allah :بَلْ هُوَ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ [ السجدة / 3](Sebenarnya Al-Quran itu adalah kebenaran dari Tuhan-mu) Qs As-Sajdah : 3Firman Allah :كِتَابٌ أُحْكِمَتْ آيَاتُهُ ثُمَّ فُصِّلَتْ مِنْ لَدُنْ حَكِيمٍ خَبِيرٍ [ هود/1](Inilah suatu kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi serta dijelaskan secara terperinci, yang diturunkan dari sisi [Allah] Yang Maha Bijaksana lagi Maha Tahu) Qs Fushshilat : 1Ayat-ayatnya serupa satu dengan yang lain dan saling membenarkan;كِتَابًا مُتَشَابِهًا مَثَانِيَ [ الزمر / 23 ]( Kitab Al Qur’an yang serupa [ayat-ayatnya] lagi berulang-ulang) Qs Az-Zumar : 23Lurus, tidak bengkok, tidak kontroversial dan tidak pula kontradiksi. Firman Allah :وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا [ النساء / 82 ]( Kalau sekiranya Al Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya) Qs An-Nisa : 82Al-Qur’an merupakan perkataan yang paling baik dan paling unggul.Firman Allah :اللَّهُ نَزَّلَ أَحْسَنَ الْحَدِيثِ [ الزمر/ 23]( Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik ) Qs Az-Zumar : 23            Imam Nawawi – rahimahullah- berkomentar : Ayat ini mengindikasikan bahwa Al-Qur’an merupakan perkataan terbaik dibanding perkataan-perkataan lainnya yang turun dari Allah-subhanahu wa ta’ala- maupun yang selain itu.Allah- subhanahu wa ta’ala- menyifatkan Al-Qur’an sebagai sesuatu yang agung :وَلَقَدْ آتَيْنَاكَ سَبْعًا مِنَ الْمَثَانِي وَالْقُرْآنَ الْعَظِيمَ [ الحجر/ 87](Dan sesungguhnya Kami telah berikan kepadamu tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang dan Al Quran yang agung) Qs Al-Hijr : 87Allah menetapkan Al-Qur’an sebagai perkataan yang memiliki ketinggian jati diri dan kedudukannya. Firman Allah :وَإِنَّهُ فِي أُمِّ الْكِتَابِ لَدَيْنَا لَعَلِيٌّ حَكِيمٌ [ الزخرف/ 4](Dan sesungguhnya Al Qur’an itu dalam induk Al Kitab [Lauh Mahfuzh] di sisi Kami, adalah benar-benar tinggi [kedudukannya] dan amat banyak kandungan hikmahnya) Qs Az-Zukhruf : 4Sangat jelas redaksi dan maknanya sebagai penjelas tentang segala sesuatu. Firman Allah:هَذَا بَيَانٌ لِلنَّاسِ وَهُدًى وَمَوْعِظَةٌ لِلْمُتَّقِينَ [ آل عمران/ 138](Inilah [Al-Qur’an] penerang bagi seluruh umat manusia, dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa) Qs Ali Imran : 138Ibnu Mas’ud – radhiyallahu ‘anhu- berkata : “Allah jelaskan kepada kita dalam Al-Qur’an segala ilmu yang mencakup semua aspeknya”.Al-Qur’an penuh kearifan, mengandung lautan hikmah, barangsiapa yang dikaruniai hikmah (kearifan) sungguh dirinya telah mendapat kebaikan yang banyak. Al-Qur’an mulia di sisi Allah, kemuliaan yang terkandung di dalamnya sangat tinggi nilainya. Maka dengan kemuliaan Al-Qur’an, seseorang menjadi terhormat dan mulia pula dalam pandangan Allah dan sesama makhluk. Firman Allah :إِنَّهُ لَقُرْآنٌ كَرِيمٌ [ الواقعة / 77](Sesungguhnya Al-Quran ini adalah bacaan yang sangat mulia) Qs Al-Waqiah :77Di dalamnya terdapat petunjuk jalan hidup [hidayah] bagi manusia dan jalan keselamatan, kejayaan dan kebahagiaan. Seseorang tidak bisa lepas dari hidayah Al-Qur’an. Allah –subhanahu wa ta’ala- berfirman kepada seorang hambaNya sebagai manusia paling sempurna dan paling cerdas akal pikirannya :قُلْ إِنْ ضَلَلْتُ فَإِنَّمَا أَضِلُّ عَلَى نَفْسِي وَإِنِ اهْتَدَيْتُ فَبِمَا يُوحِي إِلَيَّ رَبِّي [ سبأ / 50 ](Katakanlah: “Jika aku sesat maka sesungguhnya aku menyesatkan diriku sendiri; dan jika aku mendapat petunjuk maka itu adalah disebabkan apa yang diwahyukan Tuhanku kepadaku.) Qs Saba : 50Orang-orang yang beriman seharusnya manusia yang paling layak mendapatkan hidayah Al-Qur’an. Sebab Allah -subhanahu wa ta’ala- berfirman :هُدًى لِلْمُتَّقِينَ [ البقرة/2](Al Qur’an ini, petunjuk bagi mereka yang bertakwa) Qs Al-Baqarah : 2Di samping petunjuk jalan hidup [ hidayah], Al-Qur’an juga rahmat. Firman Allah :هُدًى وَرَحْمَةً لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ  [ الأعراف/52](Al Quran, menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman) Qs. Al-A’raf : 52Terlindunglah dari kesesatan orang yang berpegang kepadanya. Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda :( تركت فيكم ما لن تضلوا بعده إن اعتصمتم به. كتاب الله) رواه مسلم(Sungguh telah aku tinggalkan kepada kalian yang jika kalian berpegang teguh kepadanya, niscaya kalian tidak akan tersesat; Kitabullah) HR MuslimSungguh tinggi, agung dan di puncak kemuliaan. Firman Allah :ق وَالْقُرْآنِ الْمَجِيدِ [ ق /1](Qaaf, Demi Al Quran yang sangat mulia) Qs Qaf : 1Sebaik-baik peringatan dan setinggi-tinggi zikir. Dengan Al-Qur’an akan tercapai keimanan dengan upaya peningkatannya.تَقْشَعِرُّ مِنْهُ جُلُودُ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ ثُمَّ تَلِينُ جُلُودُهُمْ وَقُلُوبُهُمْ إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ [ الزمر/23]( Karena [Al-Qur’an] gemetarlah kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi hening kulit dan hati mereka ketika mengingat Allah). Qs. Az-Zumar : 23Ibnu Mas’ud – radhiyallahu ‘anhu- pernah membaca surah An-Nisa di hadapan Rasulullah – shallallahu alaihi wa sallam-, ketika sampai pada ayat :فَكَيْفَ إِذَا جِئْنَا مِنْ كُلِّ أُمَّةٍ بِشَهِيدٍ وَجِئْنَا بِكَ عَلَى هَؤُلَاءِ شَهِيدًا [ النساء / 41](Maka bagaimanakah [halnya orang kafir nanti] apabila Kami mendatangkan seseorang saksi [rasul] dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu [Muhammad] sebagai saksi atas mereka itu [sebagai umatmu] ) Qs An-Nisa : 41Berkatalah Rasulullah -shallallahu alaihi wa sallam- kepadanya, “cukup-cukup”. Kata Ibnu Mas’ud : Maka aku menoleh kepada beliau, tiba-tiba air mata telah meleleh membasahi kedua mata beliau”. HR BukhariSegudang kebaikan dan kemanfaatan serta pintu-pintu keberkahan ada di dalamnya. Firman Allah  :وَهَذَا كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ مُبَارَكٌ   [ الأنعام / 155](Dan Al-Quran itu adalah kitab yang Kami turunkan yang diberkati) Qs Al-An’am : 15Siapapun membacanya, mengamalkannya dan menyebar luaskannya ke segenap penjuru pastilah jaya dan mendapatkan keamanan dan kemakmuran.Ibnu Katsir – rahimahullah- berkata : Semasa pemerintahan Usman Bin Affan – radhiyallahu ‘anhu- wilayah kekuasaan Islam terbentang luas menjangkau timur jauh dan barat, hal itu berkat pembacaan dan kajian Al-Qur’an yang dilakukannya serta upaya-upayanya memotivasi umat untuk menghafalnya.Al-Qur’an adalah cahaya kehidupan yang menyoroti segala urusan dunia dan akhirat; urusan bisnis dan keagamaan. Firman Allah :قَدْ جَاءَكُمْ مِنَ اللَّهِ نُورٌ وَكِتَابٌ مُبِينٌ [ المائدة/15](Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan Kitab yang menerangkan). Qs Al-Maidah : 15Dengan Al-Qur’an, jiwa menjadi hidup kembali, karena Al-Qur’an memberikan kehidupan kepada siapa saja yang meresponnya. Firman Allah :اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ [ الأنفال/24]( Penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu) Qs Al-Anfal : 24Qatadah – rahimahullah- berkata : “Itulah hebatnya Al-Qur’an ini, di samping memberikan kehidupan, ia juga Allah jadikan sebagai obat penawar bagi segala penyakit fisik. “Seorang lelaki disengat kalajengking (scorpio), lalu dibacakan Al-Fatihah untuknya, maka sembuhlah dia” HR BukhariAl-Qur’an pelindung dari segala kejahatan. Firman Allah :وَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ جَعَلْنَا بَيْنَكَ وَبَيْنَ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِالْآخِرَةِ حِجَابًا مَسْتُورًا [ الإسراء /45](Dan ketika kamu membaca Al Quran, Kami adakan antara kamu dan orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat, suatu dinding yang tertutup) Qs Al-Isra : 45Membuat kelapangan dan ketegaran hati orang yang membacanya. Firman Allah :كَذَلِكَ لِنُثَبِّتَ بِهِ فُؤَادَكَ [ الفرقان/32]( Demikianlah supaya Kami perkuat hatimu dengannya) Qs Al-Furqan : 32Al-Qur’an merupakan petuah sekaligus obat penyembuh bagi penyakit hati, di samping penghias diri bagi pembacanya. Berkat Al-Qur’an pula dapat terajut persatuan umat. Firman Allah :وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا [ آل عمران /103](Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali [agama] Allah, dan janganlah kamu bercerai berai). Qs Ali Imran : 103Dengan Al-Qur’an persengketaan dapat diputuskan. Al-Qur’an adalah jalan keselamatan, merupakan kata pemutus yang tegas, tidak ada senda gurau di dalamnya. Sebagai kitab yang kokoh hukumnya, Allah menantang generasi terdahulu dan yang datang kemudian, baik dari kalangan manusia maupun jin. Firman Allah :قُلْ لَئِنِ اجْتَمَعَتِ الْإِنْسُ وَالْجِنُّ عَلَى أَنْ يَأْتُوا بِمِثْلِ هَذَا الْقُرْآنِ لَا يَأْتُونَ بِمِثْلِهِ وَلَوْ كَانَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ ظَهِيرًا [ الإسراء/88](Katakanlah: “Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al Quran ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain). Qs Al-Isra : 88Tidak ada seorangpun memiliki kemampuan menandingi Al-Qur’an. Tiada seorang cerdik cendekiawan yang mendengarnya kecuali mengakui bahwa Al-Qur’an adalah firman Allah Tuhan semesta alam. Jin-pun mendengar Al-Qur’an, lalu berkata kepada sesamanya, dengarkanlah dengan seksama, lalu usai mendengar mereka kembali kepada kaumnya seraya berkata :إِنَّا سَمِعْنَا قُرْآنًا عَجَبًا [ الجن/1]( Sesungguhnya kami telah mendengarkan Al Qur’an yang sangat mengagumkan) Qs Al-Jin:1Kaum Kristiani Arab ketika mendengar Al-Qur’an, spontanitas meneteskan air mata mereka. Al-Qur’an dibacakan di hadapan raja Negus (penguasa Ethiopia) sebelum masuk Islam, maka menangislah raja itu.Jubair Bin Muth’im –radhiyallahu anhu- sewaktu mendengar firman Allah :أَمْ خُلِقُوا مِنْ غَيْرِ شَيْءٍ أَمْ هُمُ الْخَالِقُونَ ، أَمْ خَلَقُوا السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بَلْ لَا يُوقِنُونَ ، أَمْ عِنْدَهُمْ خَزَائِنُ رَبِّكَ أَمْ هُمُ الْمُصَيْطِرُونَ [ الطور/ 35-37](Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun ataukah mereka yang menciptakan [diri mereka sendiri]Ataukah mereka telah menciptakan langit dan bumi itu?; sebenarnya mereka tidak meyakini [apa yang mereka katakan]. Ataukah di sisi mereka ada perbendaharaan Tuhanmu atau merekakah yang berkuasa) Qs At-Thur : 35-37Berkatalah ia, “hampir saja hatiku melayang”. Allah –subhanahu wa ta’ala- memerintahkan kita melindungi orang yang memohon suaka hingga ia mendengar Al-Qur’an. Firman Allah :وَإِنْ أَحَدٌ مِنَ الْمُشْرِكِينَ اسْتَجَارَكَ فَأَجِرْهُ حَتَّى يَسْمَعَ كَلَامَ اللَّهِ [ التوبة/6](Dan jika seorang diantara orang-orang musyrikin itu meminta suaka (perlindungan) kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar firman Allah) Qs At-Taubah :6Al-Qur’an menampung ilmu pengetahuan (sains) yang begitu luas dan memuat pengetahuan kognitif yang demikian bermanfaat. Pengamalnya yang memahami maknanya adalah para penyandang ilmu. Firman Allah :بَلْ هُوَ آيَاتٌ بَيِّنَاتٌ فِي صُدُورِ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ [ العنكبوت/ 49](Sebenarnya, Al Quran itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu) Qs Al-Ankabut : 49Pemahaman terletak pada pengetahuan seseorang tentang ayat-ayat Al-Qur’an. Pengajar dan pelajar Al-Qur’an adalah manusia terbaik. Rasulullah – shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :( خيركم من تعلم القرآن وعلمه ) رواه مسلم(Sebaik-baik orang di antara kalian adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya) . HR Bukhari.Berkat ketinggian derajat Al-Qur’an, terangkat pula derajat ilmu. Di dalam Al-Qur’an terdapat sebaik-baik kisah, perumpamaan yang paling efektif, hikmah yang paling elok. Terdapat berita yang paling akurat dan argumen yang paling kuat. Retorika dan gaya bahasa yang paling indah. Hujah yang membungkam seluruh umat manusia. Terdapat pula kabar gembira sekaligus berita buruk untuk menjadi pelajaran bagi manusia di dunia. Tinggi maknanya, indah susunan bahasanya, moderat metodenya, universal ketentuan hukumnya, adil keputusannya, bijak perintahnya dan larangannya. Penuh karisma, memiliki kekuatan dan pengaruh yang menakjubkan, melumpuhkan lawan hanya dengan beberapa susunan kata semata, menjadi petunjuk yang jelas dengan indikasi-indikasi dalil yang memudahkan, ayat yang cemerlang dan mukjizat yang jelas, tali Allah yang sangat kuat dan jalanNya yang lurus. Siapapun yang mengamalkannya meraih pahala, yang mengadili dengan ketentuan hukumnya akan mencerminkan rasa keadilan, yang berpegang teguh dengannya terlindungi, yang mengikuti ajarannya mendapatkan rahmat kasih sayang.Firman Allah :فَاتَّبِعُوهُ وَاتَّقُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ [ الأنعام/155]( maka ikutilah dia [ Al-Qur’an] dan bertakwalah agar kamu diberi rahmat) Qs Al-An’am : 155Allah –subhanahu wa ta’ala- menganugerahkan Al-Qur’an dan menyempurnakan nikmatNya ini. Firman Allah :أَوَلَمْ يَكْفِهِمْ أَنَّا أَنْزَلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ يُتْلَى عَلَيْهِمْ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَرَحْمَةً وَذِكْرَى لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ [ العنكبوت/ 51](Dan apakah tidak cukup bagi mereka bahwasanya Kami telah menurunkan kepadamu Al Kitab [Al Quran] sedang dia dibacakan kepada mereka? Sesungguhnya dalam [Al Quran] itu terdapat rahmat yang besar dan pelajaran bagi orang-orang yang beriman) Qs Al-Ankabut : 51Al-Qur’an merupakan penghormatan bagi Nabi-shallallahu alaihi wa sallam- dan umatnya. Firman Allah :وَإِنَّهُ لَذِكْرٌ لَكَ وَلِقَوْمِكَ [ الزخرف/44](Dan sesungguhnya Al Quran itu benar-benar adalah suatu kemuliaan besar bagimu dan bagi kaummu). Qs Az-Zukhruf : 44Sekiranya Allah menurunkan Al-Qur’an kepada gunung, pastilah gunung itu tak berdaya dan terpecah-pecah karena ketundukkan dan ketaatannya kepada Allah. Firman Allah :لَوْ أَنْزَلْنَا هَذَا الْقُرْآنَ عَلَى جَبَلٍ لَرَأَيْتَهُ خَاشِعًا مُتَصَدِّعًا مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ  [ الحشر / 21 ](Kalau sekiranya Kami turunkan Al-Quran ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan ketakutannya kepada Allah). Qs Al-Hasyar : 21            وَلَوْ أَنَّ قُرْآنًا سُيِّرَتْ بِهِ الْجِبَالُ أَوْ قُطِّعَتْ بِهِ الْأَرْضُ أَوْ كُلِّمَ بِهِ الْمَوْتَى  [ الرعد/31](Dan sekiranya ada suatu bacaan (kitab suci) yang dengan bacaan itu gunung-gunung dapat digoncangkan atau bumi jadi terbelah atau oleh karenanya orang-orang yang sudah mati dapat berbicara, [tentulah Al Quran itulah dia] ). Qs Ar-Ra’d : 21Jelaslah tidak ada suatu perkataan atau bacaan yang dapat mengungguli Al-Qur’an.            Berpegang teguh dengan Al-Qur’an dan mengamalkan isinya merupakan pesan Nabi–shallallahu alaihi wa sallam- kepada umatnya. Abdullah Bin Abi Aufa –radhiyallahu ‘anhu- pernah ditanya tentang pesan Nabi -shallallahu alaihi wa sallam-, maka dia menjawab : “Nabi -shallallahu alaihi wa sallam- berpesan agar berpegang kepada Kitab Allah [Al-Qur’an]”. HR Bukhari.Ibnu Hajar – rahimahullah- berkata : “Yang dimaksud dengan pesan Nabi -shallallahu alaihi wa sallam- untuk berpegang teguh kepada Kitab Allah adalah menjaganya secara fisik dan kandungan isinya, yaitu dengan memuliakannya dan merawatnya serta mengamalkan isinya, senantiasa membacanya, mengkajinya dan mengajarkannya”.            Siapapun yang berinteraksi dengan Al-Qur’an pasti jaya dan mulia. Para pengemban Al-Qur’an disebut “Ahlullah”       (keluarga Allah) dan orang-orang dekatNya. Penghafal Al-Qur’an terhormat dalam hidupnya dan di alam kuburnya. Faktanya, ketika hidup di dunia, yang berhak menjadi imam shalat adalah orang yang paling indah bacaan Al-Qur’an-nya. HR Muslim. Setelah meninggal dunia, terbukti Rasulullah – shallallahu alaihi wa sallam- pernah mengumpulkan dua lelaki di antara kaum muslimin yang gugur dalam pertempuran uhud, lalu beliau bertanya : “Manakah di antara mereka yang lebih banyak peduli kepada Al-Qur’an ? maka beliau mendahulukannya masuk ke liang lahad”. HR Bukhari.(Para pembaca Al-Qur’an adalah mereka yang turut hadir dalam majelis diskusi Umar).HR Bukhari.Amal kebajikan yang paling agung untuk mendekatkan diri kepada Allah –subhanahu wa ta’ala- adalah memperbanyak baca Al-Qur’an, menyimak bacaannya dengan merenungkan dan berusaha memahami maknanya. Allah – subhanahu wa ta’ala- menyanjung orang yang membaca Al-Qur’an dan memuji orang-orang yang mengamalkannya serta menjanjikan akan memenuhi janjiNya dan meningkatkan balasan kebaikan bagi mereka. Firman Allah :إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَنْ تَبُورَ ، لِيُوَفِّيَهُمْ أُجُورَهُمْ وَيَزِيدَهُمْ مِنْ فَضْلِهِ . [ فاطر/29](Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi, agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya.) . Qs Fathir : 29-30Inilah bisnis yang menguntungkan. Maka “Barangsiapa membaca satu huruf dalam Kitabullah, baginya satu kebaikan, sedangkan satu kebaikan dilipat gandakan menjadi sepuluh kali lipat. Aku tidak katakan Alif Laam Miim hanya satu huruf, tetapi Alif satu huruf, Laam satu huruf dan Miim satu huruf”. HR Turmuzi.            ” الْمَاهِرُ بِالْقُرْآنِ مَعَ السَّفَرَةِ الْكِرَامِ الْبَرَرَةِ ” رواه الترمذي(Orang yang lancar membaca Al Qur’an akan bersama malaikat utusan yang mulia lagi berbakti).HR TurmuziMajlis-majlis Al-Qur’an adalah tempat-tempat turunnya ketenteraman hati karena di sana rahmat kasih sayang menyelimuti para pengajar dan pelajar Al-Qur’an. Dalam konteks ini Nabi  – shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :( ما اجتمع قوم في بيت من بيوت الله يتلون كتاب الله ويتدارسونه بينهم إلا نزلت عليهم السكينة ، وغشيتهم الرحمة وحفتهم الملائكة وذكرهم الله فيمن عنده  ) رواه أبو داود(Tidaklah suatu kaum berkumpul di rumah-rumah Allah sambil membaca Kitabullah, dan saling mempelajarinya, kecuali akan turun kepada mereka ketenangan, dan mereka tersirami rahmat serta diliputi naungan malaikat. Dan mereka disebut-sebut oleh Allah di kalangan orang-orang yang di sisiNya).HR Abu DaudDengan menyimak bacaan Al-Qur’an, kucuran rahmat didapat. Firman Allah :وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنْصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ [  الأعراف/204](Dan apabila dibacakan Al Quran, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat). Qs Al-A’raf : 204Al-Qur’an merupakan dzikir yang paling besar dan paling lengkap manfaatnya. Persaingan dalam Al-Qur’an sangatlah terpuji.( لاحسد الا في اثنين : رجل آتاه القران فهو يقوم آناء الليل وآناءالنهار , ورجل آتاه الله مالا فهو ينفقه آناء الليل وآناء النهار ) متفق عليه(Tidak ada iri hati kecuali terhadap dua hal; yaitu orang yang telah Allah beri Al-Qur’an (menerima kebenaran dalam Al-Qur’an) dan ia membacanya di waktu malam dan di siang hari. Kedua, orang yang Allah memberinya harta kekayaan lalu ia menginfakkannya di waktu malam dan di siang hari). Muttafaq alaihMemenangkan perolehan kebenaran Al-Qur’an lebih baik dari pada harta kekayaan dunia yang fana ini. Rasulullah – shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :( أَيُّكُمْ يُحِبُّ أَنْ يَغْدُوَ كُلَّ يَوْمٍ إِلَى بُطْحَانَ أَوْ إِلَى الْعَقِيقِ فَيَأْتِىَ مِنْهُ بِنَاقَتَيْنِ كَوْمَاوَيْنِ فِى غَيْرِ إِثْمٍ وَلاَ قَطْعِ رَحِمٍ  . فَقُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ نُحِبُّ ذَلِكَ . قَالَ : أَفَلاَ يَغْدُو أَحَدُكُمْ إِلَى الْمَسْجِدِ فَيَعْلَمَ أَوْ يَقْرَأَ آيَتَيْنِ مِنْ كِتَابِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ خَيْرٌ لَهُ مِنْ نَاقَتَيْنِ وَثَلاَثٌ خَيْرٌ لَهُ مِنْ ثَلاَثٍ وَأَرْبَعٌ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَرْبَعٍ وَمِنْ أَعْدَادِهِنَّ مِنَ الإِبِلِ .) رواه مسلم (Siapakah di antara kalian yang suka berangkat pagi setiap hari ke Bathhan atau ‘Aqiq dan pulangnya membawa dua onta yang besar punuknya tanpa melakukan dosa dan memutuskan tali silaturrahim?” Para sahabat menjawab, “Wahai Rasulullah, kami suka hal itu.” Beliau bersabda: “Tidak adakah salah seorang di antara kamu yang pergi ke masjid, lalu ia belajar atau membaca dua ayat Alquran? Yang sesungguhnya hal itu lebih baik dari pada memperoleh dua ekor onta, tiga ayat lebih baik dari pada tiga ekor onta, empat ayat lebih baik daripada empat ekor onta dan [jika lebih] tentu sesuai jumlah itu pula beberapa ekor onta-nya). HR. MuslimAl-Qur’an akan menjadi hujah pembela bagi pengembannya pada hari kiamat kelak, dan pemberi syafaat yang diterima syafaatnya di sisi Tuhan semesta alam. Rasulullah – shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :( اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لصَاحِبِه ) رواه أحمد( Bacalah oleh kalian Al-Qur`an. Karena ia akan datang pada Hari Kiamat kelak sebagai pemberi syafa’at bagi orang-orang yang rajin membacanya.) HR AhmadPara pengemban Al-Qur’an yang mengamalkan kandungannya menempati derajat tertinggi di surga na’im.(يُقَالُ لِصَاحِبِ الْقُرْآنِ اقْرَأْ وَارْتَقِ وَرَتِّلْ كَمَا كُنْتَ تُرَتِّلُ فِى الدُّنْيَا فَإِنَّ مَنْزِلَكَ عِنْدَ آخِرِ آيَةٍ تَقْرَؤُهَا ) رواه أبو داود(Dikatakan kepada orang yang membaca dan menghafalkan Al Qur’an : ‘Bacalah dan tingkatkanlah serta tartilkan-lah sebagaimana engkau di dunia mentartilkannya. Karena kedudukanmu adalah pada akhir ayat yang engkau baca ) HR. Abu DaudKaum muslimin !            Al-Qur’an akan menjadi hujah pembelaan antara Allah dan makhlukNya, suatu kemuliaan dan kebanggaan bagi kaum muslimin, kemajuan dan kebesaran generasi, pengaman dan keberkahan bagi masyarakat. Di dalamnya terdapat kebahagiaan dan keluhuran serta keridhaan Allah Tuhan semesta alam. Maka sepantasnyalah seorang muslim mengharumkan mulutnya, hatinya, tempat tinggalnya, tempat sujudnya, waktunya melalui bacaan Al-Qur’an serta perenungannya dan penghayatannya. Demikian pula dengan mengekspresikan rasa senang, pengagungan dan kepasrahan terhadap kandungannya. Tidak menelantarkannya dan tidak pula menentangnya.Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutukمَنْ كَانَ يُرِيدُ الْعِزَّةَ فَلِلَّهِ الْعِزَّةُ جَمِيعًا إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ يَرْفَعُهُ وَالَّذِينَ يَمْكُرُونَ السَّيِّئَاتِ لَهُمْ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَكْرُ أُولَئِكَ هُوَ يَبُورُ  [ فاطر/10]( Barangsiapa yang menghendaki kemuliaan, maka bagi Allah-lah kemuliaan itu semuanya. Kepada-Nya-lah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang saleh dinaikkan-Nya. Dan orang-orang yang merencanakan kejahatan bagi mereka azab yang keras. Dan rencana jahat mereka akan hancur). Qs Fathir : 10 Semoga Allah memberkahi kita semua berkat pengamalan kitab suci Al-Qur’an yang agung !============ Khotbah keduaSegala puji bagi Allah atas anugerahnya, puji syukur kepadaNya atas bimbingan taufiqNya dan karuniaNya. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagiNya dengan mengagungkanNya. Dan aku bersaksi bahwa nabi kita Muhammad adalah hambaNya dan rasulNya – shallallahu alaihi wa sallam- Semoga shalawat dan salam tercurahkan sebanyak-banyaknya kepadanya beserta seluruh keluarga dan sahabatnya.Kaum muslimin !Barangsiapa yang mengikuti Al-Qur’an pasti menggapai petunjuknya, dan barangsiapa yang berpaling darinya akan tetap dalam keterpurukan dan kehinaan. Allah berfirman :فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقَى ،  وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى [ طه / 123-124](Lalu barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta). Qs Thaha : 123-124Tidak ada jalan lain untuk mendapatkan hidayah kecuali melalui petunjuk Al-Qur’an. Siapapun orangnya yang terhalang hatinya untuk memperoleh petunjuk Al-Qur’an, tidaklah berguna baginya petunjuk manapun di luar Al-Qur’an. Allah berfirman :فَبِأَيِّ حَدِيثٍ بَعْدَ اللَّهِ وَآيَاتِهِ يُؤْمِنُونَ  [  الجاثية / 6 ]( maka dengan perkataan manakah lagi mereka akan beriman sesudah firman Allah (Al-Qur’an) dan keterangan-keterangan-Nya? ) Qs Al-Jatsiyah : 6Jika Al-Qur’an meninggikan derajat seseorang yang mengembannya, maka iapun merendahkan harga diri orang yang memusuhinya. Rasulullah – shallallahu alaihi wa sallam-( إِنَّ اللهَ يَرْفَعُ بِهَذَا الْكِتَابِ أَقْوَامًا، وَيَضَعُ بِهِ آخَرِينَ ) . رواه مسلم .(Sesungguhnya Allah memuliakan suatu kaum dengan kitab ini (Al Qur`an) dan menghinakan kaum yang lain). HR MuslimFirman Allah – subhanahu wa ta’ala – sungguh mulia. Barangsiapa yang mengingkarinya meskipun hanya satu huruf atau melecehkannya, kafirlah ia. Allah berfirman :( قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ ،  لَا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ ) [ التوبة / 65 ]( Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu mengejek?. Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu telah kafir sesudah beriman.). Qs At-Taubah : 65-66Tidak ada seorangpun yang berani menghinakan kitab Allah atau merendahkan para pengemban kitab Allah melainkan Allah pasti menghinakannya dan merendahkannya.Maka sudah sepantasnyalah seorang muslim melakukan pembelaan terhadap kitabullah dengan perasaan bangga agar dapat meraih ketinggian derajat di surga.Selanjutnya, ketahuilah bahwa Allah –subhanahu wa ta’ala- memerintahkan kalian untuk bershalawat dan menyampaikan salam sejahtera kepada nabi-Nya . . .======  Selesai  ======Penerjemah: Usman Hatim
Khotbah Jum’at di Masjid Nabawi, 14 Rabiul Awal 1437 H.Oleh : Syekh Dr. Abdul-Muhsin Bin Qasim Al-QasimKhotbah PertamaSegala puji bagi Allah. Kami memujiNya, memohon pertolonganNya dan ampunanNya. Kami berlindung kepada Allah dari kejahatan diri kami dan keburukan amal perbuatan kami. Barangsiapa yang Allah berikan petunjuk, tidak akan ada yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa yang Allah biarkan sesat, tidak ada orang yang mampu memberinya petunjuk.Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah semata, tiada sekutu bagiNya. Dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah hambaNya dan utusanNya. Shalawat dan salam semoga tercurah sebanyak-banyaknya kepada beliau, beserta seluruh keluarga dan sahabatnya.Selanjutnya. Bertakwalah kepada Allah – wahai hamba-hamba Allah – dengan sesungguhnya. Takwa adalah mengikuti petunjuk, sedangkan kebutaan adalah karena mengikuti hawa nafsu.Kaum muslimin!            Allah –subhanahu wa ta’ala- Maha sempurna zatNya, nama-namaNya dan sifat-sifatNya. Tiada yang setara dan sebanding denganNya. Sifat-sifatNya demikian sempurna dan indah yang di antara sifatNya adalah berfirman. Allah berfirman kapanpun Dia berkehendak manakala Dia menghendaki dengan apapun yang Dia kehendaki, kalimat-kalimatNya tidak terhingga. Allah -subhanahu wa ta’ala- berfirman :قُلْ لَوْ كَانَ الْبَحْرُ مِدَادًا لِكَلِمَاتِ رَبِّي لَنَفِدَ الْبَحْرُ قَبْلَ أَنْ تَنْفَدَ كَلِمَاتُ رَبِّي وَلَوْ جِئْنَا بِمِثْلِهِ مَدَدً [ الكهف/109](Katakanlah: Sekiranya lautan menjadi tinta untuk [menulis] kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis [ditulis] kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu [pula]” ) Qs Al-Kahfi : 109Firman-Nya adalah sebaik-baik perkataan. Keunggulan firmanNya atas ucapan makhluk bagaikan keunggulan Allah Sang Pencipta atas makhluk ciptaanNya.  Setiap nabi terangkat keutamaannya manakala Allah berbicara dengannya secara langsung tanpa perantara.  Allah berfirman  :تِلْكَ الرُّسُلُ فَضَّلْنَا بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ مِنْهُمْ مَنْ كَلَّمَ اللَّهُ [ البقرة / 253 ](Rasul-rasul itu Kami lebihkan sebagian (dari) mereka atas sebagian yang lain. Di antara mereka ada yang Allah berkata-kata [langsung] dengannya). Qs Al-Baqarah : 253Karena kebijaksanaan dan kasih sayang Allah kepada manusia, diutuslah olehNya para rasul dari kalangan mereka dan diturunkan kepada mereka kitab-kitabNya. Maka Allah – subhanahu wa ta’ala – turunkan kitab Taurat, Injil, Zabur dan lembaran-lembaran Nabi Ibrahim dan Nabi Musa –alaihimassalam- yang kemudian ditutupNya kitab-kitab itu dengan menurunkan Al-Qur’an yang agung sebagai kitab yang paling mulia dan paling tinggi derajatnya, untuk membenarkan kitab-kitab yang telah ada sebelumnya serta sebagai pengontrol terhadap kitab-kitab itu dan penghapus serta pengemban amanat dari pada isi kitab-kitab tersebut. Seluruh nabi telah menubuatkan Al-Qur’an sebelum diturunkannya. Allah berfirman :وَإِنَّهُ لَفِي زُبُرِ الْأَوَّلِينَ [ الشعراء/ 196](Dan sesungguhnya Al Quran itu benar-benar disebut dalam kitab-kitab orang yang dahulu) Qs As-Syu’ara : 196Ibnu Katsir  -rahimahullah- berkata : “Penyebutan dan penyaksian tentang Al-Qur’an telah ada pada kitab-kitab umat terdahulu yang dinukil dari para nabi mereka. Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail –alaihimas salam- memohon dalam doa agar Allah – subhanahu wa ta’ala – mengutus seorang nabi untuk membacakan dan mengajarkan Al-Qur’an.رَبَّنَا وَابْعَثْ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُزَكِّيهِمْ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ [ البقرة/129](Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka sesorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab [Al Quran] dan Al-Hikmah [As-Sunnah] serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana) Qs Al-Baqarah : 129Al-Qur’an adalah firman Allah, Tuhan semesta alam, Dia berbicara dengan firman itu secara hakiki dengan huruf dan suara, dari Allah-lah firman itu berawal dan kepadaNya pula kembali. Firman itu didengar oleh Malaikat Jibril Al-amin dari Allah dan diturunkannya kepada Nabi Muhammad –shallahu alaihi wa sallam-, lalu beliau sampaikan, maka dengan Al-Qur’an beliau memungkasi misi seluruh para rasul dan beliau-pun berjasa besar terhadap umatnya yang tergolong ummiyin (buta aksara saat turunnya). Allah berfirman :لَقَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْ أَنْفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ [ آل عمران / 164](Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus diantara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan [jiwa] mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum [kedatangan Nabi] itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata) Qs Ali Imran : 164Al-Qur’an turun untuk sebaik-baik umat, dengan bahasa paling unggul dan paling lengkap, turun pada malam paling mulia di tanah yang paling suci.  Maka dengan Al-Qur’an kita terbebas dari kegelapan menuju ke cahaya terang, dan dari ketidak-tahuan mengarah ke dunia ilmu pengetahuan. Firman Allah :كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ لِتُخْرِجَ النَّاسَ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِ رَبِّهِمْ إِلَى صِرَاطِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ [ إبراهيم/1](Ini adalah Kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan mereka, [yaitu] menuju jalan Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji) Qs Ibrahim : 1Tidak sah keimanan seseorang kecuali jika dirinya mengimani Al-Qur’an secara totalitas dan detail. Firman Allah :يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا آمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي نَزَّلَ عَلَى رَسُولِهِ [ النساء /136](Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya). Qs An-Nisa : 136Allah memuji DzatNya sendiri atas penurunan Al-Qur’an. Firman Allah :الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَى عَبْدِهِ الْكِتَابَ وَلَمْ يَجْعَلْ لَهُ عِوَجًا [ الكهف/1](Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kepada hamba-Nya Al Kitab (Al-Quran) dan Dia tidak mengadakan kebengkokan di dalamnya) Qs Al-Kahfi :1Allah-pun bersumpah dengan Al-Qur’an sebagaimana firmanNya ;يس ، وَالْقُرْآنِ الْحَكِيمِ [ يس/1-2](Yaa siin, Demi Al Quran yang penuh hikmah) Qs Yasin : 1-2Allah-pun bersumpah atas keagungan Al-Qur’an :فَلَا أُقْسِمُ بِمَوَاقِعِ النُّجُومِ ، وَإِنَّهُ لَقَسَمٌ لَوْ تَعْلَمُونَ عَظِيمٌ ، إِنَّهُ لَقُرْآنٌ كَرِيمٌ [ الواقعة / 75- 76 – 77](Maka Aku bersumpah dengan masa turunnya bagian-bagian Al-Quran. Sesungguhnya sumpah itu adalah sumpah yang besar kalau kamu mengetahui. Sesungguhnya Al-Quran ini adalah bacaan yang sangat mulia). Qs Al-Qaqi’ah : 75- 76-77Allah –subhanahu wa ta’ala- memudahkan Al-Qur’an untuk hamba-hambaNya sehingga tidak sulit dan tidak menyusahkan, bisa dihafal oleh orang Arab dan non Arab, pria dan wanita, anak kecil dan orang dewasa, si kaya dan si miskin, bahkan orang yang tuna netra, yang lanjut usia dan yang jompo pun mudah menghafalnya. Firman Allah :وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرٍ [ القمر / 17 ](Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran). Qs Al-Qamar :17Sungguh besar derajat Al-Qur’an, oleh karenanya Allah menempatkannya paling depan di antara sederetan nikmatNya. Firman Allah :الرَّحْمَنُ ، عَلَّمَ الْقُرْآنَ [ الرحمن / 1-2 ](Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang telah mengajarkan al Quran) Qs Ar-Rahman : 1-2فِي صُحُفٍ مُكَرَّمَةٍ ، مَرْفُوعَةٍ مُطَهَّرَةٍ ، بِأَيْدِي سَفَرَةٍ ،  كِرَامٍ بَرَرَةٍ  [ عبس / 13 – 16 ]( Al-Qur’an, di dalam kitab-kitab yang dimuliakan, yang ditinggikan lagi disucikan, di tangan para penulis (malaikat), yang mulia lagi berbakti) Qs Abasa : 13-16Allah –subhanahu wa ta’ala- telah menjaganya sebelum (pra) menurunkannya. Firman Allah :بَلْ هُوَ قُرْآنٌ مَجِيدٌ  [ البروج /  21 ](Bahkan yang didustakan mereka itu adalah Al Qur’an yang mulia) Qs Al-Buruj : 21Allah–subhanahu wa ta’ala- melindunginya dari setan-setan saat penurunannya. Firman Allah :وَمَا تَنَزَّلَتْ بِهِ الشَّيَاطِينُ ، وَمَا يَنْبَغِي لَهُمْ وَمَا يَسْتَطِيعُونَ [ الشعراء / 210-211 ](Al Quran itu bukanlah dibawa turun oleh setan-setan. Dan tidaklah patut mereka membawa turun Al Quran itu, dan merekapun tidak akan kuasa ) Qs As-Syu’ara : 210-211Al-Qur’an tetap terjaga pasca penurunannya.  Firman Allah :إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ [ الحجر/9](Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar menjaganya). Qs Al-Hijr : 9Al-Qur’an aman dari penambahan dan pengurangan, aman dari pengubahan dan penggantian. Allah menjadikannya petunjuk dan pengingat bagi umat semesta alam, bersifat universal untuk seluruh umat manusia sama dengan keuniversalan misi kerasulan  Nabi kita Muhammad –shallallahu alaihi wa sallam- bukan spesialis untuk suatu umat tanpa menjangkau umat yang lain. Firman Allah :إِنْ هُوَ إِلَّا ذِكْرٌ لِلْعَالَمِينَ [ التكوير/ 27](Al Quran itu tiada lain hanyalah peringatan bagi semesta alam) Qs At-Takwir : 27Al-Qur’an menjadi pelajaran bagi orang yang punya rasa takut, juga menjadi argumen pembungkam terhadap orang yang menyimpang. Allah –subhanahu wa ta’ala- men-deskripsikannya dengan beragam sifat dan menggelarinya dengan berbagai sebutan. Maka Al-Qur’an merupakan kebenaran mutlak yang tidak ada kebatilan dan keraguan sama sekali di dalamnya. Firman Allah :بَلْ هُوَ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ [ السجدة / 3](Sebenarnya Al-Quran itu adalah kebenaran dari Tuhan-mu) Qs As-Sajdah : 3Firman Allah :كِتَابٌ أُحْكِمَتْ آيَاتُهُ ثُمَّ فُصِّلَتْ مِنْ لَدُنْ حَكِيمٍ خَبِيرٍ [ هود/1](Inilah suatu kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi serta dijelaskan secara terperinci, yang diturunkan dari sisi [Allah] Yang Maha Bijaksana lagi Maha Tahu) Qs Fushshilat : 1Ayat-ayatnya serupa satu dengan yang lain dan saling membenarkan;كِتَابًا مُتَشَابِهًا مَثَانِيَ [ الزمر / 23 ]( Kitab Al Qur’an yang serupa [ayat-ayatnya] lagi berulang-ulang) Qs Az-Zumar : 23Lurus, tidak bengkok, tidak kontroversial dan tidak pula kontradiksi. Firman Allah :وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا [ النساء / 82 ]( Kalau sekiranya Al Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya) Qs An-Nisa : 82Al-Qur’an merupakan perkataan yang paling baik dan paling unggul.Firman Allah :اللَّهُ نَزَّلَ أَحْسَنَ الْحَدِيثِ [ الزمر/ 23]( Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik ) Qs Az-Zumar : 23            Imam Nawawi – rahimahullah- berkomentar : Ayat ini mengindikasikan bahwa Al-Qur’an merupakan perkataan terbaik dibanding perkataan-perkataan lainnya yang turun dari Allah-subhanahu wa ta’ala- maupun yang selain itu.Allah- subhanahu wa ta’ala- menyifatkan Al-Qur’an sebagai sesuatu yang agung :وَلَقَدْ آتَيْنَاكَ سَبْعًا مِنَ الْمَثَانِي وَالْقُرْآنَ الْعَظِيمَ [ الحجر/ 87](Dan sesungguhnya Kami telah berikan kepadamu tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang dan Al Quran yang agung) Qs Al-Hijr : 87Allah menetapkan Al-Qur’an sebagai perkataan yang memiliki ketinggian jati diri dan kedudukannya. Firman Allah :وَإِنَّهُ فِي أُمِّ الْكِتَابِ لَدَيْنَا لَعَلِيٌّ حَكِيمٌ [ الزخرف/ 4](Dan sesungguhnya Al Qur’an itu dalam induk Al Kitab [Lauh Mahfuzh] di sisi Kami, adalah benar-benar tinggi [kedudukannya] dan amat banyak kandungan hikmahnya) Qs Az-Zukhruf : 4Sangat jelas redaksi dan maknanya sebagai penjelas tentang segala sesuatu. Firman Allah:هَذَا بَيَانٌ لِلنَّاسِ وَهُدًى وَمَوْعِظَةٌ لِلْمُتَّقِينَ [ آل عمران/ 138](Inilah [Al-Qur’an] penerang bagi seluruh umat manusia, dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa) Qs Ali Imran : 138Ibnu Mas’ud – radhiyallahu ‘anhu- berkata : “Allah jelaskan kepada kita dalam Al-Qur’an segala ilmu yang mencakup semua aspeknya”.Al-Qur’an penuh kearifan, mengandung lautan hikmah, barangsiapa yang dikaruniai hikmah (kearifan) sungguh dirinya telah mendapat kebaikan yang banyak. Al-Qur’an mulia di sisi Allah, kemuliaan yang terkandung di dalamnya sangat tinggi nilainya. Maka dengan kemuliaan Al-Qur’an, seseorang menjadi terhormat dan mulia pula dalam pandangan Allah dan sesama makhluk. Firman Allah :إِنَّهُ لَقُرْآنٌ كَرِيمٌ [ الواقعة / 77](Sesungguhnya Al-Quran ini adalah bacaan yang sangat mulia) Qs Al-Waqiah :77Di dalamnya terdapat petunjuk jalan hidup [hidayah] bagi manusia dan jalan keselamatan, kejayaan dan kebahagiaan. Seseorang tidak bisa lepas dari hidayah Al-Qur’an. Allah –subhanahu wa ta’ala- berfirman kepada seorang hambaNya sebagai manusia paling sempurna dan paling cerdas akal pikirannya :قُلْ إِنْ ضَلَلْتُ فَإِنَّمَا أَضِلُّ عَلَى نَفْسِي وَإِنِ اهْتَدَيْتُ فَبِمَا يُوحِي إِلَيَّ رَبِّي [ سبأ / 50 ](Katakanlah: “Jika aku sesat maka sesungguhnya aku menyesatkan diriku sendiri; dan jika aku mendapat petunjuk maka itu adalah disebabkan apa yang diwahyukan Tuhanku kepadaku.) Qs Saba : 50Orang-orang yang beriman seharusnya manusia yang paling layak mendapatkan hidayah Al-Qur’an. Sebab Allah -subhanahu wa ta’ala- berfirman :هُدًى لِلْمُتَّقِينَ [ البقرة/2](Al Qur’an ini, petunjuk bagi mereka yang bertakwa) Qs Al-Baqarah : 2Di samping petunjuk jalan hidup [ hidayah], Al-Qur’an juga rahmat. Firman Allah :هُدًى وَرَحْمَةً لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ  [ الأعراف/52](Al Quran, menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman) Qs. Al-A’raf : 52Terlindunglah dari kesesatan orang yang berpegang kepadanya. Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda :( تركت فيكم ما لن تضلوا بعده إن اعتصمتم به. كتاب الله) رواه مسلم(Sungguh telah aku tinggalkan kepada kalian yang jika kalian berpegang teguh kepadanya, niscaya kalian tidak akan tersesat; Kitabullah) HR MuslimSungguh tinggi, agung dan di puncak kemuliaan. Firman Allah :ق وَالْقُرْآنِ الْمَجِيدِ [ ق /1](Qaaf, Demi Al Quran yang sangat mulia) Qs Qaf : 1Sebaik-baik peringatan dan setinggi-tinggi zikir. Dengan Al-Qur’an akan tercapai keimanan dengan upaya peningkatannya.تَقْشَعِرُّ مِنْهُ جُلُودُ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ ثُمَّ تَلِينُ جُلُودُهُمْ وَقُلُوبُهُمْ إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ [ الزمر/23]( Karena [Al-Qur’an] gemetarlah kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi hening kulit dan hati mereka ketika mengingat Allah). Qs. Az-Zumar : 23Ibnu Mas’ud – radhiyallahu ‘anhu- pernah membaca surah An-Nisa di hadapan Rasulullah – shallallahu alaihi wa sallam-, ketika sampai pada ayat :فَكَيْفَ إِذَا جِئْنَا مِنْ كُلِّ أُمَّةٍ بِشَهِيدٍ وَجِئْنَا بِكَ عَلَى هَؤُلَاءِ شَهِيدًا [ النساء / 41](Maka bagaimanakah [halnya orang kafir nanti] apabila Kami mendatangkan seseorang saksi [rasul] dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu [Muhammad] sebagai saksi atas mereka itu [sebagai umatmu] ) Qs An-Nisa : 41Berkatalah Rasulullah -shallallahu alaihi wa sallam- kepadanya, “cukup-cukup”. Kata Ibnu Mas’ud : Maka aku menoleh kepada beliau, tiba-tiba air mata telah meleleh membasahi kedua mata beliau”. HR BukhariSegudang kebaikan dan kemanfaatan serta pintu-pintu keberkahan ada di dalamnya. Firman Allah  :وَهَذَا كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ مُبَارَكٌ   [ الأنعام / 155](Dan Al-Quran itu adalah kitab yang Kami turunkan yang diberkati) Qs Al-An’am : 15Siapapun membacanya, mengamalkannya dan menyebar luaskannya ke segenap penjuru pastilah jaya dan mendapatkan keamanan dan kemakmuran.Ibnu Katsir – rahimahullah- berkata : Semasa pemerintahan Usman Bin Affan – radhiyallahu ‘anhu- wilayah kekuasaan Islam terbentang luas menjangkau timur jauh dan barat, hal itu berkat pembacaan dan kajian Al-Qur’an yang dilakukannya serta upaya-upayanya memotivasi umat untuk menghafalnya.Al-Qur’an adalah cahaya kehidupan yang menyoroti segala urusan dunia dan akhirat; urusan bisnis dan keagamaan. Firman Allah :قَدْ جَاءَكُمْ مِنَ اللَّهِ نُورٌ وَكِتَابٌ مُبِينٌ [ المائدة/15](Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan Kitab yang menerangkan). Qs Al-Maidah : 15Dengan Al-Qur’an, jiwa menjadi hidup kembali, karena Al-Qur’an memberikan kehidupan kepada siapa saja yang meresponnya. Firman Allah :اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ [ الأنفال/24]( Penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu) Qs Al-Anfal : 24Qatadah – rahimahullah- berkata : “Itulah hebatnya Al-Qur’an ini, di samping memberikan kehidupan, ia juga Allah jadikan sebagai obat penawar bagi segala penyakit fisik. “Seorang lelaki disengat kalajengking (scorpio), lalu dibacakan Al-Fatihah untuknya, maka sembuhlah dia” HR BukhariAl-Qur’an pelindung dari segala kejahatan. Firman Allah :وَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ جَعَلْنَا بَيْنَكَ وَبَيْنَ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِالْآخِرَةِ حِجَابًا مَسْتُورًا [ الإسراء /45](Dan ketika kamu membaca Al Quran, Kami adakan antara kamu dan orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat, suatu dinding yang tertutup) Qs Al-Isra : 45Membuat kelapangan dan ketegaran hati orang yang membacanya. Firman Allah :كَذَلِكَ لِنُثَبِّتَ بِهِ فُؤَادَكَ [ الفرقان/32]( Demikianlah supaya Kami perkuat hatimu dengannya) Qs Al-Furqan : 32Al-Qur’an merupakan petuah sekaligus obat penyembuh bagi penyakit hati, di samping penghias diri bagi pembacanya. Berkat Al-Qur’an pula dapat terajut persatuan umat. Firman Allah :وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا [ آل عمران /103](Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali [agama] Allah, dan janganlah kamu bercerai berai). Qs Ali Imran : 103Dengan Al-Qur’an persengketaan dapat diputuskan. Al-Qur’an adalah jalan keselamatan, merupakan kata pemutus yang tegas, tidak ada senda gurau di dalamnya. Sebagai kitab yang kokoh hukumnya, Allah menantang generasi terdahulu dan yang datang kemudian, baik dari kalangan manusia maupun jin. Firman Allah :قُلْ لَئِنِ اجْتَمَعَتِ الْإِنْسُ وَالْجِنُّ عَلَى أَنْ يَأْتُوا بِمِثْلِ هَذَا الْقُرْآنِ لَا يَأْتُونَ بِمِثْلِهِ وَلَوْ كَانَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ ظَهِيرًا [ الإسراء/88](Katakanlah: “Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al Quran ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain). Qs Al-Isra : 88Tidak ada seorangpun memiliki kemampuan menandingi Al-Qur’an. Tiada seorang cerdik cendekiawan yang mendengarnya kecuali mengakui bahwa Al-Qur’an adalah firman Allah Tuhan semesta alam. Jin-pun mendengar Al-Qur’an, lalu berkata kepada sesamanya, dengarkanlah dengan seksama, lalu usai mendengar mereka kembali kepada kaumnya seraya berkata :إِنَّا سَمِعْنَا قُرْآنًا عَجَبًا [ الجن/1]( Sesungguhnya kami telah mendengarkan Al Qur’an yang sangat mengagumkan) Qs Al-Jin:1Kaum Kristiani Arab ketika mendengar Al-Qur’an, spontanitas meneteskan air mata mereka. Al-Qur’an dibacakan di hadapan raja Negus (penguasa Ethiopia) sebelum masuk Islam, maka menangislah raja itu.Jubair Bin Muth’im –radhiyallahu anhu- sewaktu mendengar firman Allah :أَمْ خُلِقُوا مِنْ غَيْرِ شَيْءٍ أَمْ هُمُ الْخَالِقُونَ ، أَمْ خَلَقُوا السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بَلْ لَا يُوقِنُونَ ، أَمْ عِنْدَهُمْ خَزَائِنُ رَبِّكَ أَمْ هُمُ الْمُصَيْطِرُونَ [ الطور/ 35-37](Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun ataukah mereka yang menciptakan [diri mereka sendiri]Ataukah mereka telah menciptakan langit dan bumi itu?; sebenarnya mereka tidak meyakini [apa yang mereka katakan]. Ataukah di sisi mereka ada perbendaharaan Tuhanmu atau merekakah yang berkuasa) Qs At-Thur : 35-37Berkatalah ia, “hampir saja hatiku melayang”. Allah –subhanahu wa ta’ala- memerintahkan kita melindungi orang yang memohon suaka hingga ia mendengar Al-Qur’an. Firman Allah :وَإِنْ أَحَدٌ مِنَ الْمُشْرِكِينَ اسْتَجَارَكَ فَأَجِرْهُ حَتَّى يَسْمَعَ كَلَامَ اللَّهِ [ التوبة/6](Dan jika seorang diantara orang-orang musyrikin itu meminta suaka (perlindungan) kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar firman Allah) Qs At-Taubah :6Al-Qur’an menampung ilmu pengetahuan (sains) yang begitu luas dan memuat pengetahuan kognitif yang demikian bermanfaat. Pengamalnya yang memahami maknanya adalah para penyandang ilmu. Firman Allah :بَلْ هُوَ آيَاتٌ بَيِّنَاتٌ فِي صُدُورِ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ [ العنكبوت/ 49](Sebenarnya, Al Quran itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu) Qs Al-Ankabut : 49Pemahaman terletak pada pengetahuan seseorang tentang ayat-ayat Al-Qur’an. Pengajar dan pelajar Al-Qur’an adalah manusia terbaik. Rasulullah – shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :( خيركم من تعلم القرآن وعلمه ) رواه مسلم(Sebaik-baik orang di antara kalian adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya) . HR Bukhari.Berkat ketinggian derajat Al-Qur’an, terangkat pula derajat ilmu. Di dalam Al-Qur’an terdapat sebaik-baik kisah, perumpamaan yang paling efektif, hikmah yang paling elok. Terdapat berita yang paling akurat dan argumen yang paling kuat. Retorika dan gaya bahasa yang paling indah. Hujah yang membungkam seluruh umat manusia. Terdapat pula kabar gembira sekaligus berita buruk untuk menjadi pelajaran bagi manusia di dunia. Tinggi maknanya, indah susunan bahasanya, moderat metodenya, universal ketentuan hukumnya, adil keputusannya, bijak perintahnya dan larangannya. Penuh karisma, memiliki kekuatan dan pengaruh yang menakjubkan, melumpuhkan lawan hanya dengan beberapa susunan kata semata, menjadi petunjuk yang jelas dengan indikasi-indikasi dalil yang memudahkan, ayat yang cemerlang dan mukjizat yang jelas, tali Allah yang sangat kuat dan jalanNya yang lurus. Siapapun yang mengamalkannya meraih pahala, yang mengadili dengan ketentuan hukumnya akan mencerminkan rasa keadilan, yang berpegang teguh dengannya terlindungi, yang mengikuti ajarannya mendapatkan rahmat kasih sayang.Firman Allah :فَاتَّبِعُوهُ وَاتَّقُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ [ الأنعام/155]( maka ikutilah dia [ Al-Qur’an] dan bertakwalah agar kamu diberi rahmat) Qs Al-An’am : 155Allah –subhanahu wa ta’ala- menganugerahkan Al-Qur’an dan menyempurnakan nikmatNya ini. Firman Allah :أَوَلَمْ يَكْفِهِمْ أَنَّا أَنْزَلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ يُتْلَى عَلَيْهِمْ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَرَحْمَةً وَذِكْرَى لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ [ العنكبوت/ 51](Dan apakah tidak cukup bagi mereka bahwasanya Kami telah menurunkan kepadamu Al Kitab [Al Quran] sedang dia dibacakan kepada mereka? Sesungguhnya dalam [Al Quran] itu terdapat rahmat yang besar dan pelajaran bagi orang-orang yang beriman) Qs Al-Ankabut : 51Al-Qur’an merupakan penghormatan bagi Nabi-shallallahu alaihi wa sallam- dan umatnya. Firman Allah :وَإِنَّهُ لَذِكْرٌ لَكَ وَلِقَوْمِكَ [ الزخرف/44](Dan sesungguhnya Al Quran itu benar-benar adalah suatu kemuliaan besar bagimu dan bagi kaummu). Qs Az-Zukhruf : 44Sekiranya Allah menurunkan Al-Qur’an kepada gunung, pastilah gunung itu tak berdaya dan terpecah-pecah karena ketundukkan dan ketaatannya kepada Allah. Firman Allah :لَوْ أَنْزَلْنَا هَذَا الْقُرْآنَ عَلَى جَبَلٍ لَرَأَيْتَهُ خَاشِعًا مُتَصَدِّعًا مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ  [ الحشر / 21 ](Kalau sekiranya Kami turunkan Al-Quran ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan ketakutannya kepada Allah). Qs Al-Hasyar : 21            وَلَوْ أَنَّ قُرْآنًا سُيِّرَتْ بِهِ الْجِبَالُ أَوْ قُطِّعَتْ بِهِ الْأَرْضُ أَوْ كُلِّمَ بِهِ الْمَوْتَى  [ الرعد/31](Dan sekiranya ada suatu bacaan (kitab suci) yang dengan bacaan itu gunung-gunung dapat digoncangkan atau bumi jadi terbelah atau oleh karenanya orang-orang yang sudah mati dapat berbicara, [tentulah Al Quran itulah dia] ). Qs Ar-Ra’d : 21Jelaslah tidak ada suatu perkataan atau bacaan yang dapat mengungguli Al-Qur’an.            Berpegang teguh dengan Al-Qur’an dan mengamalkan isinya merupakan pesan Nabi–shallallahu alaihi wa sallam- kepada umatnya. Abdullah Bin Abi Aufa –radhiyallahu ‘anhu- pernah ditanya tentang pesan Nabi -shallallahu alaihi wa sallam-, maka dia menjawab : “Nabi -shallallahu alaihi wa sallam- berpesan agar berpegang kepada Kitab Allah [Al-Qur’an]”. HR Bukhari.Ibnu Hajar – rahimahullah- berkata : “Yang dimaksud dengan pesan Nabi -shallallahu alaihi wa sallam- untuk berpegang teguh kepada Kitab Allah adalah menjaganya secara fisik dan kandungan isinya, yaitu dengan memuliakannya dan merawatnya serta mengamalkan isinya, senantiasa membacanya, mengkajinya dan mengajarkannya”.            Siapapun yang berinteraksi dengan Al-Qur’an pasti jaya dan mulia. Para pengemban Al-Qur’an disebut “Ahlullah”       (keluarga Allah) dan orang-orang dekatNya. Penghafal Al-Qur’an terhormat dalam hidupnya dan di alam kuburnya. Faktanya, ketika hidup di dunia, yang berhak menjadi imam shalat adalah orang yang paling indah bacaan Al-Qur’an-nya. HR Muslim. Setelah meninggal dunia, terbukti Rasulullah – shallallahu alaihi wa sallam- pernah mengumpulkan dua lelaki di antara kaum muslimin yang gugur dalam pertempuran uhud, lalu beliau bertanya : “Manakah di antara mereka yang lebih banyak peduli kepada Al-Qur’an ? maka beliau mendahulukannya masuk ke liang lahad”. HR Bukhari.(Para pembaca Al-Qur’an adalah mereka yang turut hadir dalam majelis diskusi Umar).HR Bukhari.Amal kebajikan yang paling agung untuk mendekatkan diri kepada Allah –subhanahu wa ta’ala- adalah memperbanyak baca Al-Qur’an, menyimak bacaannya dengan merenungkan dan berusaha memahami maknanya. Allah – subhanahu wa ta’ala- menyanjung orang yang membaca Al-Qur’an dan memuji orang-orang yang mengamalkannya serta menjanjikan akan memenuhi janjiNya dan meningkatkan balasan kebaikan bagi mereka. Firman Allah :إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَنْ تَبُورَ ، لِيُوَفِّيَهُمْ أُجُورَهُمْ وَيَزِيدَهُمْ مِنْ فَضْلِهِ . [ فاطر/29](Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi, agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya.) . Qs Fathir : 29-30Inilah bisnis yang menguntungkan. Maka “Barangsiapa membaca satu huruf dalam Kitabullah, baginya satu kebaikan, sedangkan satu kebaikan dilipat gandakan menjadi sepuluh kali lipat. Aku tidak katakan Alif Laam Miim hanya satu huruf, tetapi Alif satu huruf, Laam satu huruf dan Miim satu huruf”. HR Turmuzi.            ” الْمَاهِرُ بِالْقُرْآنِ مَعَ السَّفَرَةِ الْكِرَامِ الْبَرَرَةِ ” رواه الترمذي(Orang yang lancar membaca Al Qur’an akan bersama malaikat utusan yang mulia lagi berbakti).HR TurmuziMajlis-majlis Al-Qur’an adalah tempat-tempat turunnya ketenteraman hati karena di sana rahmat kasih sayang menyelimuti para pengajar dan pelajar Al-Qur’an. Dalam konteks ini Nabi  – shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :( ما اجتمع قوم في بيت من بيوت الله يتلون كتاب الله ويتدارسونه بينهم إلا نزلت عليهم السكينة ، وغشيتهم الرحمة وحفتهم الملائكة وذكرهم الله فيمن عنده  ) رواه أبو داود(Tidaklah suatu kaum berkumpul di rumah-rumah Allah sambil membaca Kitabullah, dan saling mempelajarinya, kecuali akan turun kepada mereka ketenangan, dan mereka tersirami rahmat serta diliputi naungan malaikat. Dan mereka disebut-sebut oleh Allah di kalangan orang-orang yang di sisiNya).HR Abu DaudDengan menyimak bacaan Al-Qur’an, kucuran rahmat didapat. Firman Allah :وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنْصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ [  الأعراف/204](Dan apabila dibacakan Al Quran, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat). Qs Al-A’raf : 204Al-Qur’an merupakan dzikir yang paling besar dan paling lengkap manfaatnya. Persaingan dalam Al-Qur’an sangatlah terpuji.( لاحسد الا في اثنين : رجل آتاه القران فهو يقوم آناء الليل وآناءالنهار , ورجل آتاه الله مالا فهو ينفقه آناء الليل وآناء النهار ) متفق عليه(Tidak ada iri hati kecuali terhadap dua hal; yaitu orang yang telah Allah beri Al-Qur’an (menerima kebenaran dalam Al-Qur’an) dan ia membacanya di waktu malam dan di siang hari. Kedua, orang yang Allah memberinya harta kekayaan lalu ia menginfakkannya di waktu malam dan di siang hari). Muttafaq alaihMemenangkan perolehan kebenaran Al-Qur’an lebih baik dari pada harta kekayaan dunia yang fana ini. Rasulullah – shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :( أَيُّكُمْ يُحِبُّ أَنْ يَغْدُوَ كُلَّ يَوْمٍ إِلَى بُطْحَانَ أَوْ إِلَى الْعَقِيقِ فَيَأْتِىَ مِنْهُ بِنَاقَتَيْنِ كَوْمَاوَيْنِ فِى غَيْرِ إِثْمٍ وَلاَ قَطْعِ رَحِمٍ  . فَقُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ نُحِبُّ ذَلِكَ . قَالَ : أَفَلاَ يَغْدُو أَحَدُكُمْ إِلَى الْمَسْجِدِ فَيَعْلَمَ أَوْ يَقْرَأَ آيَتَيْنِ مِنْ كِتَابِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ خَيْرٌ لَهُ مِنْ نَاقَتَيْنِ وَثَلاَثٌ خَيْرٌ لَهُ مِنْ ثَلاَثٍ وَأَرْبَعٌ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَرْبَعٍ وَمِنْ أَعْدَادِهِنَّ مِنَ الإِبِلِ .) رواه مسلم (Siapakah di antara kalian yang suka berangkat pagi setiap hari ke Bathhan atau ‘Aqiq dan pulangnya membawa dua onta yang besar punuknya tanpa melakukan dosa dan memutuskan tali silaturrahim?” Para sahabat menjawab, “Wahai Rasulullah, kami suka hal itu.” Beliau bersabda: “Tidak adakah salah seorang di antara kamu yang pergi ke masjid, lalu ia belajar atau membaca dua ayat Alquran? Yang sesungguhnya hal itu lebih baik dari pada memperoleh dua ekor onta, tiga ayat lebih baik dari pada tiga ekor onta, empat ayat lebih baik daripada empat ekor onta dan [jika lebih] tentu sesuai jumlah itu pula beberapa ekor onta-nya). HR. MuslimAl-Qur’an akan menjadi hujah pembela bagi pengembannya pada hari kiamat kelak, dan pemberi syafaat yang diterima syafaatnya di sisi Tuhan semesta alam. Rasulullah – shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :( اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لصَاحِبِه ) رواه أحمد( Bacalah oleh kalian Al-Qur`an. Karena ia akan datang pada Hari Kiamat kelak sebagai pemberi syafa’at bagi orang-orang yang rajin membacanya.) HR AhmadPara pengemban Al-Qur’an yang mengamalkan kandungannya menempati derajat tertinggi di surga na’im.(يُقَالُ لِصَاحِبِ الْقُرْآنِ اقْرَأْ وَارْتَقِ وَرَتِّلْ كَمَا كُنْتَ تُرَتِّلُ فِى الدُّنْيَا فَإِنَّ مَنْزِلَكَ عِنْدَ آخِرِ آيَةٍ تَقْرَؤُهَا ) رواه أبو داود(Dikatakan kepada orang yang membaca dan menghafalkan Al Qur’an : ‘Bacalah dan tingkatkanlah serta tartilkan-lah sebagaimana engkau di dunia mentartilkannya. Karena kedudukanmu adalah pada akhir ayat yang engkau baca ) HR. Abu DaudKaum muslimin !            Al-Qur’an akan menjadi hujah pembelaan antara Allah dan makhlukNya, suatu kemuliaan dan kebanggaan bagi kaum muslimin, kemajuan dan kebesaran generasi, pengaman dan keberkahan bagi masyarakat. Di dalamnya terdapat kebahagiaan dan keluhuran serta keridhaan Allah Tuhan semesta alam. Maka sepantasnyalah seorang muslim mengharumkan mulutnya, hatinya, tempat tinggalnya, tempat sujudnya, waktunya melalui bacaan Al-Qur’an serta perenungannya dan penghayatannya. Demikian pula dengan mengekspresikan rasa senang, pengagungan dan kepasrahan terhadap kandungannya. Tidak menelantarkannya dan tidak pula menentangnya.Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutukمَنْ كَانَ يُرِيدُ الْعِزَّةَ فَلِلَّهِ الْعِزَّةُ جَمِيعًا إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ يَرْفَعُهُ وَالَّذِينَ يَمْكُرُونَ السَّيِّئَاتِ لَهُمْ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَكْرُ أُولَئِكَ هُوَ يَبُورُ  [ فاطر/10]( Barangsiapa yang menghendaki kemuliaan, maka bagi Allah-lah kemuliaan itu semuanya. Kepada-Nya-lah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang saleh dinaikkan-Nya. Dan orang-orang yang merencanakan kejahatan bagi mereka azab yang keras. Dan rencana jahat mereka akan hancur). Qs Fathir : 10 Semoga Allah memberkahi kita semua berkat pengamalan kitab suci Al-Qur’an yang agung !============ Khotbah keduaSegala puji bagi Allah atas anugerahnya, puji syukur kepadaNya atas bimbingan taufiqNya dan karuniaNya. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagiNya dengan mengagungkanNya. Dan aku bersaksi bahwa nabi kita Muhammad adalah hambaNya dan rasulNya – shallallahu alaihi wa sallam- Semoga shalawat dan salam tercurahkan sebanyak-banyaknya kepadanya beserta seluruh keluarga dan sahabatnya.Kaum muslimin !Barangsiapa yang mengikuti Al-Qur’an pasti menggapai petunjuknya, dan barangsiapa yang berpaling darinya akan tetap dalam keterpurukan dan kehinaan. Allah berfirman :فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقَى ،  وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى [ طه / 123-124](Lalu barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta). Qs Thaha : 123-124Tidak ada jalan lain untuk mendapatkan hidayah kecuali melalui petunjuk Al-Qur’an. Siapapun orangnya yang terhalang hatinya untuk memperoleh petunjuk Al-Qur’an, tidaklah berguna baginya petunjuk manapun di luar Al-Qur’an. Allah berfirman :فَبِأَيِّ حَدِيثٍ بَعْدَ اللَّهِ وَآيَاتِهِ يُؤْمِنُونَ  [  الجاثية / 6 ]( maka dengan perkataan manakah lagi mereka akan beriman sesudah firman Allah (Al-Qur’an) dan keterangan-keterangan-Nya? ) Qs Al-Jatsiyah : 6Jika Al-Qur’an meninggikan derajat seseorang yang mengembannya, maka iapun merendahkan harga diri orang yang memusuhinya. Rasulullah – shallallahu alaihi wa sallam-( إِنَّ اللهَ يَرْفَعُ بِهَذَا الْكِتَابِ أَقْوَامًا، وَيَضَعُ بِهِ آخَرِينَ ) . رواه مسلم .(Sesungguhnya Allah memuliakan suatu kaum dengan kitab ini (Al Qur`an) dan menghinakan kaum yang lain). HR MuslimFirman Allah – subhanahu wa ta’ala – sungguh mulia. Barangsiapa yang mengingkarinya meskipun hanya satu huruf atau melecehkannya, kafirlah ia. Allah berfirman :( قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ ،  لَا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ ) [ التوبة / 65 ]( Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu mengejek?. Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu telah kafir sesudah beriman.). Qs At-Taubah : 65-66Tidak ada seorangpun yang berani menghinakan kitab Allah atau merendahkan para pengemban kitab Allah melainkan Allah pasti menghinakannya dan merendahkannya.Maka sudah sepantasnyalah seorang muslim melakukan pembelaan terhadap kitabullah dengan perasaan bangga agar dapat meraih ketinggian derajat di surga.Selanjutnya, ketahuilah bahwa Allah –subhanahu wa ta’ala- memerintahkan kalian untuk bershalawat dan menyampaikan salam sejahtera kepada nabi-Nya . . .======  Selesai  ======Penerjemah: Usman Hatim


Khotbah Jum’at di Masjid Nabawi, 14 Rabiul Awal 1437 H.Oleh : Syekh Dr. Abdul-Muhsin Bin Qasim Al-QasimKhotbah PertamaSegala puji bagi Allah. Kami memujiNya, memohon pertolonganNya dan ampunanNya. Kami berlindung kepada Allah dari kejahatan diri kami dan keburukan amal perbuatan kami. Barangsiapa yang Allah berikan petunjuk, tidak akan ada yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa yang Allah biarkan sesat, tidak ada orang yang mampu memberinya petunjuk.Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah semata, tiada sekutu bagiNya. Dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah hambaNya dan utusanNya. Shalawat dan salam semoga tercurah sebanyak-banyaknya kepada beliau, beserta seluruh keluarga dan sahabatnya.Selanjutnya. Bertakwalah kepada Allah – wahai hamba-hamba Allah – dengan sesungguhnya. Takwa adalah mengikuti petunjuk, sedangkan kebutaan adalah karena mengikuti hawa nafsu.Kaum muslimin!            Allah –subhanahu wa ta’ala- Maha sempurna zatNya, nama-namaNya dan sifat-sifatNya. Tiada yang setara dan sebanding denganNya. Sifat-sifatNya demikian sempurna dan indah yang di antara sifatNya adalah berfirman. Allah berfirman kapanpun Dia berkehendak manakala Dia menghendaki dengan apapun yang Dia kehendaki, kalimat-kalimatNya tidak terhingga. Allah -subhanahu wa ta’ala- berfirman :قُلْ لَوْ كَانَ الْبَحْرُ مِدَادًا لِكَلِمَاتِ رَبِّي لَنَفِدَ الْبَحْرُ قَبْلَ أَنْ تَنْفَدَ كَلِمَاتُ رَبِّي وَلَوْ جِئْنَا بِمِثْلِهِ مَدَدً [ الكهف/109](Katakanlah: Sekiranya lautan menjadi tinta untuk [menulis] kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis [ditulis] kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu [pula]” ) Qs Al-Kahfi : 109Firman-Nya adalah sebaik-baik perkataan. Keunggulan firmanNya atas ucapan makhluk bagaikan keunggulan Allah Sang Pencipta atas makhluk ciptaanNya.  Setiap nabi terangkat keutamaannya manakala Allah berbicara dengannya secara langsung tanpa perantara.  Allah berfirman  :تِلْكَ الرُّسُلُ فَضَّلْنَا بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ مِنْهُمْ مَنْ كَلَّمَ اللَّهُ [ البقرة / 253 ](Rasul-rasul itu Kami lebihkan sebagian (dari) mereka atas sebagian yang lain. Di antara mereka ada yang Allah berkata-kata [langsung] dengannya). Qs Al-Baqarah : 253Karena kebijaksanaan dan kasih sayang Allah kepada manusia, diutuslah olehNya para rasul dari kalangan mereka dan diturunkan kepada mereka kitab-kitabNya. Maka Allah – subhanahu wa ta’ala – turunkan kitab Taurat, Injil, Zabur dan lembaran-lembaran Nabi Ibrahim dan Nabi Musa –alaihimassalam- yang kemudian ditutupNya kitab-kitab itu dengan menurunkan Al-Qur’an yang agung sebagai kitab yang paling mulia dan paling tinggi derajatnya, untuk membenarkan kitab-kitab yang telah ada sebelumnya serta sebagai pengontrol terhadap kitab-kitab itu dan penghapus serta pengemban amanat dari pada isi kitab-kitab tersebut. Seluruh nabi telah menubuatkan Al-Qur’an sebelum diturunkannya. Allah berfirman :وَإِنَّهُ لَفِي زُبُرِ الْأَوَّلِينَ [ الشعراء/ 196](Dan sesungguhnya Al Quran itu benar-benar disebut dalam kitab-kitab orang yang dahulu) Qs As-Syu’ara : 196Ibnu Katsir  -rahimahullah- berkata : “Penyebutan dan penyaksian tentang Al-Qur’an telah ada pada kitab-kitab umat terdahulu yang dinukil dari para nabi mereka. Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail –alaihimas salam- memohon dalam doa agar Allah – subhanahu wa ta’ala – mengutus seorang nabi untuk membacakan dan mengajarkan Al-Qur’an.رَبَّنَا وَابْعَثْ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُزَكِّيهِمْ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ [ البقرة/129](Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka sesorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab [Al Quran] dan Al-Hikmah [As-Sunnah] serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana) Qs Al-Baqarah : 129Al-Qur’an adalah firman Allah, Tuhan semesta alam, Dia berbicara dengan firman itu secara hakiki dengan huruf dan suara, dari Allah-lah firman itu berawal dan kepadaNya pula kembali. Firman itu didengar oleh Malaikat Jibril Al-amin dari Allah dan diturunkannya kepada Nabi Muhammad –shallahu alaihi wa sallam-, lalu beliau sampaikan, maka dengan Al-Qur’an beliau memungkasi misi seluruh para rasul dan beliau-pun berjasa besar terhadap umatnya yang tergolong ummiyin (buta aksara saat turunnya). Allah berfirman :لَقَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْ أَنْفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ [ آل عمران / 164](Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus diantara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan [jiwa] mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum [kedatangan Nabi] itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata) Qs Ali Imran : 164Al-Qur’an turun untuk sebaik-baik umat, dengan bahasa paling unggul dan paling lengkap, turun pada malam paling mulia di tanah yang paling suci.  Maka dengan Al-Qur’an kita terbebas dari kegelapan menuju ke cahaya terang, dan dari ketidak-tahuan mengarah ke dunia ilmu pengetahuan. Firman Allah :كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ لِتُخْرِجَ النَّاسَ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِ رَبِّهِمْ إِلَى صِرَاطِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ [ إبراهيم/1](Ini adalah Kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan mereka, [yaitu] menuju jalan Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji) Qs Ibrahim : 1Tidak sah keimanan seseorang kecuali jika dirinya mengimani Al-Qur’an secara totalitas dan detail. Firman Allah :يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا آمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي نَزَّلَ عَلَى رَسُولِهِ [ النساء /136](Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya). Qs An-Nisa : 136Allah memuji DzatNya sendiri atas penurunan Al-Qur’an. Firman Allah :الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَى عَبْدِهِ الْكِتَابَ وَلَمْ يَجْعَلْ لَهُ عِوَجًا [ الكهف/1](Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kepada hamba-Nya Al Kitab (Al-Quran) dan Dia tidak mengadakan kebengkokan di dalamnya) Qs Al-Kahfi :1Allah-pun bersumpah dengan Al-Qur’an sebagaimana firmanNya ;يس ، وَالْقُرْآنِ الْحَكِيمِ [ يس/1-2](Yaa siin, Demi Al Quran yang penuh hikmah) Qs Yasin : 1-2Allah-pun bersumpah atas keagungan Al-Qur’an :فَلَا أُقْسِمُ بِمَوَاقِعِ النُّجُومِ ، وَإِنَّهُ لَقَسَمٌ لَوْ تَعْلَمُونَ عَظِيمٌ ، إِنَّهُ لَقُرْآنٌ كَرِيمٌ [ الواقعة / 75- 76 – 77](Maka Aku bersumpah dengan masa turunnya bagian-bagian Al-Quran. Sesungguhnya sumpah itu adalah sumpah yang besar kalau kamu mengetahui. Sesungguhnya Al-Quran ini adalah bacaan yang sangat mulia). Qs Al-Qaqi’ah : 75- 76-77Allah –subhanahu wa ta’ala- memudahkan Al-Qur’an untuk hamba-hambaNya sehingga tidak sulit dan tidak menyusahkan, bisa dihafal oleh orang Arab dan non Arab, pria dan wanita, anak kecil dan orang dewasa, si kaya dan si miskin, bahkan orang yang tuna netra, yang lanjut usia dan yang jompo pun mudah menghafalnya. Firman Allah :وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرٍ [ القمر / 17 ](Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran). Qs Al-Qamar :17Sungguh besar derajat Al-Qur’an, oleh karenanya Allah menempatkannya paling depan di antara sederetan nikmatNya. Firman Allah :الرَّحْمَنُ ، عَلَّمَ الْقُرْآنَ [ الرحمن / 1-2 ](Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang telah mengajarkan al Quran) Qs Ar-Rahman : 1-2فِي صُحُفٍ مُكَرَّمَةٍ ، مَرْفُوعَةٍ مُطَهَّرَةٍ ، بِأَيْدِي سَفَرَةٍ ،  كِرَامٍ بَرَرَةٍ  [ عبس / 13 – 16 ]( Al-Qur’an, di dalam kitab-kitab yang dimuliakan, yang ditinggikan lagi disucikan, di tangan para penulis (malaikat), yang mulia lagi berbakti) Qs Abasa : 13-16Allah –subhanahu wa ta’ala- telah menjaganya sebelum (pra) menurunkannya. Firman Allah :بَلْ هُوَ قُرْآنٌ مَجِيدٌ  [ البروج /  21 ](Bahkan yang didustakan mereka itu adalah Al Qur’an yang mulia) Qs Al-Buruj : 21Allah–subhanahu wa ta’ala- melindunginya dari setan-setan saat penurunannya. Firman Allah :وَمَا تَنَزَّلَتْ بِهِ الشَّيَاطِينُ ، وَمَا يَنْبَغِي لَهُمْ وَمَا يَسْتَطِيعُونَ [ الشعراء / 210-211 ](Al Quran itu bukanlah dibawa turun oleh setan-setan. Dan tidaklah patut mereka membawa turun Al Quran itu, dan merekapun tidak akan kuasa ) Qs As-Syu’ara : 210-211Al-Qur’an tetap terjaga pasca penurunannya.  Firman Allah :إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ [ الحجر/9](Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar menjaganya). Qs Al-Hijr : 9Al-Qur’an aman dari penambahan dan pengurangan, aman dari pengubahan dan penggantian. Allah menjadikannya petunjuk dan pengingat bagi umat semesta alam, bersifat universal untuk seluruh umat manusia sama dengan keuniversalan misi kerasulan  Nabi kita Muhammad –shallallahu alaihi wa sallam- bukan spesialis untuk suatu umat tanpa menjangkau umat yang lain. Firman Allah :إِنْ هُوَ إِلَّا ذِكْرٌ لِلْعَالَمِينَ [ التكوير/ 27](Al Quran itu tiada lain hanyalah peringatan bagi semesta alam) Qs At-Takwir : 27Al-Qur’an menjadi pelajaran bagi orang yang punya rasa takut, juga menjadi argumen pembungkam terhadap orang yang menyimpang. Allah –subhanahu wa ta’ala- men-deskripsikannya dengan beragam sifat dan menggelarinya dengan berbagai sebutan. Maka Al-Qur’an merupakan kebenaran mutlak yang tidak ada kebatilan dan keraguan sama sekali di dalamnya. Firman Allah :بَلْ هُوَ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ [ السجدة / 3](Sebenarnya Al-Quran itu adalah kebenaran dari Tuhan-mu) Qs As-Sajdah : 3Firman Allah :كِتَابٌ أُحْكِمَتْ آيَاتُهُ ثُمَّ فُصِّلَتْ مِنْ لَدُنْ حَكِيمٍ خَبِيرٍ [ هود/1](Inilah suatu kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi serta dijelaskan secara terperinci, yang diturunkan dari sisi [Allah] Yang Maha Bijaksana lagi Maha Tahu) Qs Fushshilat : 1Ayat-ayatnya serupa satu dengan yang lain dan saling membenarkan;كِتَابًا مُتَشَابِهًا مَثَانِيَ [ الزمر / 23 ]( Kitab Al Qur’an yang serupa [ayat-ayatnya] lagi berulang-ulang) Qs Az-Zumar : 23Lurus, tidak bengkok, tidak kontroversial dan tidak pula kontradiksi. Firman Allah :وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا [ النساء / 82 ]( Kalau sekiranya Al Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya) Qs An-Nisa : 82Al-Qur’an merupakan perkataan yang paling baik dan paling unggul.Firman Allah :اللَّهُ نَزَّلَ أَحْسَنَ الْحَدِيثِ [ الزمر/ 23]( Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik ) Qs Az-Zumar : 23            Imam Nawawi – rahimahullah- berkomentar : Ayat ini mengindikasikan bahwa Al-Qur’an merupakan perkataan terbaik dibanding perkataan-perkataan lainnya yang turun dari Allah-subhanahu wa ta’ala- maupun yang selain itu.Allah- subhanahu wa ta’ala- menyifatkan Al-Qur’an sebagai sesuatu yang agung :وَلَقَدْ آتَيْنَاكَ سَبْعًا مِنَ الْمَثَانِي وَالْقُرْآنَ الْعَظِيمَ [ الحجر/ 87](Dan sesungguhnya Kami telah berikan kepadamu tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang dan Al Quran yang agung) Qs Al-Hijr : 87Allah menetapkan Al-Qur’an sebagai perkataan yang memiliki ketinggian jati diri dan kedudukannya. Firman Allah :وَإِنَّهُ فِي أُمِّ الْكِتَابِ لَدَيْنَا لَعَلِيٌّ حَكِيمٌ [ الزخرف/ 4](Dan sesungguhnya Al Qur’an itu dalam induk Al Kitab [Lauh Mahfuzh] di sisi Kami, adalah benar-benar tinggi [kedudukannya] dan amat banyak kandungan hikmahnya) Qs Az-Zukhruf : 4Sangat jelas redaksi dan maknanya sebagai penjelas tentang segala sesuatu. Firman Allah:هَذَا بَيَانٌ لِلنَّاسِ وَهُدًى وَمَوْعِظَةٌ لِلْمُتَّقِينَ [ آل عمران/ 138](Inilah [Al-Qur’an] penerang bagi seluruh umat manusia, dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa) Qs Ali Imran : 138Ibnu Mas’ud – radhiyallahu ‘anhu- berkata : “Allah jelaskan kepada kita dalam Al-Qur’an segala ilmu yang mencakup semua aspeknya”.Al-Qur’an penuh kearifan, mengandung lautan hikmah, barangsiapa yang dikaruniai hikmah (kearifan) sungguh dirinya telah mendapat kebaikan yang banyak. Al-Qur’an mulia di sisi Allah, kemuliaan yang terkandung di dalamnya sangat tinggi nilainya. Maka dengan kemuliaan Al-Qur’an, seseorang menjadi terhormat dan mulia pula dalam pandangan Allah dan sesama makhluk. Firman Allah :إِنَّهُ لَقُرْآنٌ كَرِيمٌ [ الواقعة / 77](Sesungguhnya Al-Quran ini adalah bacaan yang sangat mulia) Qs Al-Waqiah :77Di dalamnya terdapat petunjuk jalan hidup [hidayah] bagi manusia dan jalan keselamatan, kejayaan dan kebahagiaan. Seseorang tidak bisa lepas dari hidayah Al-Qur’an. Allah –subhanahu wa ta’ala- berfirman kepada seorang hambaNya sebagai manusia paling sempurna dan paling cerdas akal pikirannya :قُلْ إِنْ ضَلَلْتُ فَإِنَّمَا أَضِلُّ عَلَى نَفْسِي وَإِنِ اهْتَدَيْتُ فَبِمَا يُوحِي إِلَيَّ رَبِّي [ سبأ / 50 ](Katakanlah: “Jika aku sesat maka sesungguhnya aku menyesatkan diriku sendiri; dan jika aku mendapat petunjuk maka itu adalah disebabkan apa yang diwahyukan Tuhanku kepadaku.) Qs Saba : 50Orang-orang yang beriman seharusnya manusia yang paling layak mendapatkan hidayah Al-Qur’an. Sebab Allah -subhanahu wa ta’ala- berfirman :هُدًى لِلْمُتَّقِينَ [ البقرة/2](Al Qur’an ini, petunjuk bagi mereka yang bertakwa) Qs Al-Baqarah : 2Di samping petunjuk jalan hidup [ hidayah], Al-Qur’an juga rahmat. Firman Allah :هُدًى وَرَحْمَةً لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ  [ الأعراف/52](Al Quran, menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman) Qs. Al-A’raf : 52Terlindunglah dari kesesatan orang yang berpegang kepadanya. Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda :( تركت فيكم ما لن تضلوا بعده إن اعتصمتم به. كتاب الله) رواه مسلم(Sungguh telah aku tinggalkan kepada kalian yang jika kalian berpegang teguh kepadanya, niscaya kalian tidak akan tersesat; Kitabullah) HR MuslimSungguh tinggi, agung dan di puncak kemuliaan. Firman Allah :ق وَالْقُرْآنِ الْمَجِيدِ [ ق /1](Qaaf, Demi Al Quran yang sangat mulia) Qs Qaf : 1Sebaik-baik peringatan dan setinggi-tinggi zikir. Dengan Al-Qur’an akan tercapai keimanan dengan upaya peningkatannya.تَقْشَعِرُّ مِنْهُ جُلُودُ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ ثُمَّ تَلِينُ جُلُودُهُمْ وَقُلُوبُهُمْ إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ [ الزمر/23]( Karena [Al-Qur’an] gemetarlah kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi hening kulit dan hati mereka ketika mengingat Allah). Qs. Az-Zumar : 23Ibnu Mas’ud – radhiyallahu ‘anhu- pernah membaca surah An-Nisa di hadapan Rasulullah – shallallahu alaihi wa sallam-, ketika sampai pada ayat :فَكَيْفَ إِذَا جِئْنَا مِنْ كُلِّ أُمَّةٍ بِشَهِيدٍ وَجِئْنَا بِكَ عَلَى هَؤُلَاءِ شَهِيدًا [ النساء / 41](Maka bagaimanakah [halnya orang kafir nanti] apabila Kami mendatangkan seseorang saksi [rasul] dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu [Muhammad] sebagai saksi atas mereka itu [sebagai umatmu] ) Qs An-Nisa : 41Berkatalah Rasulullah -shallallahu alaihi wa sallam- kepadanya, “cukup-cukup”. Kata Ibnu Mas’ud : Maka aku menoleh kepada beliau, tiba-tiba air mata telah meleleh membasahi kedua mata beliau”. HR BukhariSegudang kebaikan dan kemanfaatan serta pintu-pintu keberkahan ada di dalamnya. Firman Allah  :وَهَذَا كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ مُبَارَكٌ   [ الأنعام / 155](Dan Al-Quran itu adalah kitab yang Kami turunkan yang diberkati) Qs Al-An’am : 15Siapapun membacanya, mengamalkannya dan menyebar luaskannya ke segenap penjuru pastilah jaya dan mendapatkan keamanan dan kemakmuran.Ibnu Katsir – rahimahullah- berkata : Semasa pemerintahan Usman Bin Affan – radhiyallahu ‘anhu- wilayah kekuasaan Islam terbentang luas menjangkau timur jauh dan barat, hal itu berkat pembacaan dan kajian Al-Qur’an yang dilakukannya serta upaya-upayanya memotivasi umat untuk menghafalnya.Al-Qur’an adalah cahaya kehidupan yang menyoroti segala urusan dunia dan akhirat; urusan bisnis dan keagamaan. Firman Allah :قَدْ جَاءَكُمْ مِنَ اللَّهِ نُورٌ وَكِتَابٌ مُبِينٌ [ المائدة/15](Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan Kitab yang menerangkan). Qs Al-Maidah : 15Dengan Al-Qur’an, jiwa menjadi hidup kembali, karena Al-Qur’an memberikan kehidupan kepada siapa saja yang meresponnya. Firman Allah :اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ [ الأنفال/24]( Penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu) Qs Al-Anfal : 24Qatadah – rahimahullah- berkata : “Itulah hebatnya Al-Qur’an ini, di samping memberikan kehidupan, ia juga Allah jadikan sebagai obat penawar bagi segala penyakit fisik. “Seorang lelaki disengat kalajengking (scorpio), lalu dibacakan Al-Fatihah untuknya, maka sembuhlah dia” HR BukhariAl-Qur’an pelindung dari segala kejahatan. Firman Allah :وَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ جَعَلْنَا بَيْنَكَ وَبَيْنَ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِالْآخِرَةِ حِجَابًا مَسْتُورًا [ الإسراء /45](Dan ketika kamu membaca Al Quran, Kami adakan antara kamu dan orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat, suatu dinding yang tertutup) Qs Al-Isra : 45Membuat kelapangan dan ketegaran hati orang yang membacanya. Firman Allah :كَذَلِكَ لِنُثَبِّتَ بِهِ فُؤَادَكَ [ الفرقان/32]( Demikianlah supaya Kami perkuat hatimu dengannya) Qs Al-Furqan : 32Al-Qur’an merupakan petuah sekaligus obat penyembuh bagi penyakit hati, di samping penghias diri bagi pembacanya. Berkat Al-Qur’an pula dapat terajut persatuan umat. Firman Allah :وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا [ آل عمران /103](Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali [agama] Allah, dan janganlah kamu bercerai berai). Qs Ali Imran : 103Dengan Al-Qur’an persengketaan dapat diputuskan. Al-Qur’an adalah jalan keselamatan, merupakan kata pemutus yang tegas, tidak ada senda gurau di dalamnya. Sebagai kitab yang kokoh hukumnya, Allah menantang generasi terdahulu dan yang datang kemudian, baik dari kalangan manusia maupun jin. Firman Allah :قُلْ لَئِنِ اجْتَمَعَتِ الْإِنْسُ وَالْجِنُّ عَلَى أَنْ يَأْتُوا بِمِثْلِ هَذَا الْقُرْآنِ لَا يَأْتُونَ بِمِثْلِهِ وَلَوْ كَانَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ ظَهِيرًا [ الإسراء/88](Katakanlah: “Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al Quran ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain). Qs Al-Isra : 88Tidak ada seorangpun memiliki kemampuan menandingi Al-Qur’an. Tiada seorang cerdik cendekiawan yang mendengarnya kecuali mengakui bahwa Al-Qur’an adalah firman Allah Tuhan semesta alam. Jin-pun mendengar Al-Qur’an, lalu berkata kepada sesamanya, dengarkanlah dengan seksama, lalu usai mendengar mereka kembali kepada kaumnya seraya berkata :إِنَّا سَمِعْنَا قُرْآنًا عَجَبًا [ الجن/1]( Sesungguhnya kami telah mendengarkan Al Qur’an yang sangat mengagumkan) Qs Al-Jin:1Kaum Kristiani Arab ketika mendengar Al-Qur’an, spontanitas meneteskan air mata mereka. Al-Qur’an dibacakan di hadapan raja Negus (penguasa Ethiopia) sebelum masuk Islam, maka menangislah raja itu.Jubair Bin Muth’im –radhiyallahu anhu- sewaktu mendengar firman Allah :أَمْ خُلِقُوا مِنْ غَيْرِ شَيْءٍ أَمْ هُمُ الْخَالِقُونَ ، أَمْ خَلَقُوا السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بَلْ لَا يُوقِنُونَ ، أَمْ عِنْدَهُمْ خَزَائِنُ رَبِّكَ أَمْ هُمُ الْمُصَيْطِرُونَ [ الطور/ 35-37](Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun ataukah mereka yang menciptakan [diri mereka sendiri]Ataukah mereka telah menciptakan langit dan bumi itu?; sebenarnya mereka tidak meyakini [apa yang mereka katakan]. Ataukah di sisi mereka ada perbendaharaan Tuhanmu atau merekakah yang berkuasa) Qs At-Thur : 35-37Berkatalah ia, “hampir saja hatiku melayang”. Allah –subhanahu wa ta’ala- memerintahkan kita melindungi orang yang memohon suaka hingga ia mendengar Al-Qur’an. Firman Allah :وَإِنْ أَحَدٌ مِنَ الْمُشْرِكِينَ اسْتَجَارَكَ فَأَجِرْهُ حَتَّى يَسْمَعَ كَلَامَ اللَّهِ [ التوبة/6](Dan jika seorang diantara orang-orang musyrikin itu meminta suaka (perlindungan) kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar firman Allah) Qs At-Taubah :6Al-Qur’an menampung ilmu pengetahuan (sains) yang begitu luas dan memuat pengetahuan kognitif yang demikian bermanfaat. Pengamalnya yang memahami maknanya adalah para penyandang ilmu. Firman Allah :بَلْ هُوَ آيَاتٌ بَيِّنَاتٌ فِي صُدُورِ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ [ العنكبوت/ 49](Sebenarnya, Al Quran itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu) Qs Al-Ankabut : 49Pemahaman terletak pada pengetahuan seseorang tentang ayat-ayat Al-Qur’an. Pengajar dan pelajar Al-Qur’an adalah manusia terbaik. Rasulullah – shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :( خيركم من تعلم القرآن وعلمه ) رواه مسلم(Sebaik-baik orang di antara kalian adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya) . HR Bukhari.Berkat ketinggian derajat Al-Qur’an, terangkat pula derajat ilmu. Di dalam Al-Qur’an terdapat sebaik-baik kisah, perumpamaan yang paling efektif, hikmah yang paling elok. Terdapat berita yang paling akurat dan argumen yang paling kuat. Retorika dan gaya bahasa yang paling indah. Hujah yang membungkam seluruh umat manusia. Terdapat pula kabar gembira sekaligus berita buruk untuk menjadi pelajaran bagi manusia di dunia. Tinggi maknanya, indah susunan bahasanya, moderat metodenya, universal ketentuan hukumnya, adil keputusannya, bijak perintahnya dan larangannya. Penuh karisma, memiliki kekuatan dan pengaruh yang menakjubkan, melumpuhkan lawan hanya dengan beberapa susunan kata semata, menjadi petunjuk yang jelas dengan indikasi-indikasi dalil yang memudahkan, ayat yang cemerlang dan mukjizat yang jelas, tali Allah yang sangat kuat dan jalanNya yang lurus. Siapapun yang mengamalkannya meraih pahala, yang mengadili dengan ketentuan hukumnya akan mencerminkan rasa keadilan, yang berpegang teguh dengannya terlindungi, yang mengikuti ajarannya mendapatkan rahmat kasih sayang.Firman Allah :فَاتَّبِعُوهُ وَاتَّقُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ [ الأنعام/155]( maka ikutilah dia [ Al-Qur’an] dan bertakwalah agar kamu diberi rahmat) Qs Al-An’am : 155Allah –subhanahu wa ta’ala- menganugerahkan Al-Qur’an dan menyempurnakan nikmatNya ini. Firman Allah :أَوَلَمْ يَكْفِهِمْ أَنَّا أَنْزَلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ يُتْلَى عَلَيْهِمْ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَرَحْمَةً وَذِكْرَى لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ [ العنكبوت/ 51](Dan apakah tidak cukup bagi mereka bahwasanya Kami telah menurunkan kepadamu Al Kitab [Al Quran] sedang dia dibacakan kepada mereka? Sesungguhnya dalam [Al Quran] itu terdapat rahmat yang besar dan pelajaran bagi orang-orang yang beriman) Qs Al-Ankabut : 51Al-Qur’an merupakan penghormatan bagi Nabi-shallallahu alaihi wa sallam- dan umatnya. Firman Allah :وَإِنَّهُ لَذِكْرٌ لَكَ وَلِقَوْمِكَ [ الزخرف/44](Dan sesungguhnya Al Quran itu benar-benar adalah suatu kemuliaan besar bagimu dan bagi kaummu). Qs Az-Zukhruf : 44Sekiranya Allah menurunkan Al-Qur’an kepada gunung, pastilah gunung itu tak berdaya dan terpecah-pecah karena ketundukkan dan ketaatannya kepada Allah. Firman Allah :لَوْ أَنْزَلْنَا هَذَا الْقُرْآنَ عَلَى جَبَلٍ لَرَأَيْتَهُ خَاشِعًا مُتَصَدِّعًا مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ  [ الحشر / 21 ](Kalau sekiranya Kami turunkan Al-Quran ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan ketakutannya kepada Allah). Qs Al-Hasyar : 21            وَلَوْ أَنَّ قُرْآنًا سُيِّرَتْ بِهِ الْجِبَالُ أَوْ قُطِّعَتْ بِهِ الْأَرْضُ أَوْ كُلِّمَ بِهِ الْمَوْتَى  [ الرعد/31](Dan sekiranya ada suatu bacaan (kitab suci) yang dengan bacaan itu gunung-gunung dapat digoncangkan atau bumi jadi terbelah atau oleh karenanya orang-orang yang sudah mati dapat berbicara, [tentulah Al Quran itulah dia] ). Qs Ar-Ra’d : 21Jelaslah tidak ada suatu perkataan atau bacaan yang dapat mengungguli Al-Qur’an.            Berpegang teguh dengan Al-Qur’an dan mengamalkan isinya merupakan pesan Nabi–shallallahu alaihi wa sallam- kepada umatnya. Abdullah Bin Abi Aufa –radhiyallahu ‘anhu- pernah ditanya tentang pesan Nabi -shallallahu alaihi wa sallam-, maka dia menjawab : “Nabi -shallallahu alaihi wa sallam- berpesan agar berpegang kepada Kitab Allah [Al-Qur’an]”. HR Bukhari.Ibnu Hajar – rahimahullah- berkata : “Yang dimaksud dengan pesan Nabi -shallallahu alaihi wa sallam- untuk berpegang teguh kepada Kitab Allah adalah menjaganya secara fisik dan kandungan isinya, yaitu dengan memuliakannya dan merawatnya serta mengamalkan isinya, senantiasa membacanya, mengkajinya dan mengajarkannya”.            Siapapun yang berinteraksi dengan Al-Qur’an pasti jaya dan mulia. Para pengemban Al-Qur’an disebut “Ahlullah”       (keluarga Allah) dan orang-orang dekatNya. Penghafal Al-Qur’an terhormat dalam hidupnya dan di alam kuburnya. Faktanya, ketika hidup di dunia, yang berhak menjadi imam shalat adalah orang yang paling indah bacaan Al-Qur’an-nya. HR Muslim. Setelah meninggal dunia, terbukti Rasulullah – shallallahu alaihi wa sallam- pernah mengumpulkan dua lelaki di antara kaum muslimin yang gugur dalam pertempuran uhud, lalu beliau bertanya : “Manakah di antara mereka yang lebih banyak peduli kepada Al-Qur’an ? maka beliau mendahulukannya masuk ke liang lahad”. HR Bukhari.(Para pembaca Al-Qur’an adalah mereka yang turut hadir dalam majelis diskusi Umar).HR Bukhari.Amal kebajikan yang paling agung untuk mendekatkan diri kepada Allah –subhanahu wa ta’ala- adalah memperbanyak baca Al-Qur’an, menyimak bacaannya dengan merenungkan dan berusaha memahami maknanya. Allah – subhanahu wa ta’ala- menyanjung orang yang membaca Al-Qur’an dan memuji orang-orang yang mengamalkannya serta menjanjikan akan memenuhi janjiNya dan meningkatkan balasan kebaikan bagi mereka. Firman Allah :إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَنْ تَبُورَ ، لِيُوَفِّيَهُمْ أُجُورَهُمْ وَيَزِيدَهُمْ مِنْ فَضْلِهِ . [ فاطر/29](Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi, agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya.) . Qs Fathir : 29-30Inilah bisnis yang menguntungkan. Maka “Barangsiapa membaca satu huruf dalam Kitabullah, baginya satu kebaikan, sedangkan satu kebaikan dilipat gandakan menjadi sepuluh kali lipat. Aku tidak katakan Alif Laam Miim hanya satu huruf, tetapi Alif satu huruf, Laam satu huruf dan Miim satu huruf”. HR Turmuzi.            ” الْمَاهِرُ بِالْقُرْآنِ مَعَ السَّفَرَةِ الْكِرَامِ الْبَرَرَةِ ” رواه الترمذي(Orang yang lancar membaca Al Qur’an akan bersama malaikat utusan yang mulia lagi berbakti).HR TurmuziMajlis-majlis Al-Qur’an adalah tempat-tempat turunnya ketenteraman hati karena di sana rahmat kasih sayang menyelimuti para pengajar dan pelajar Al-Qur’an. Dalam konteks ini Nabi  – shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :( ما اجتمع قوم في بيت من بيوت الله يتلون كتاب الله ويتدارسونه بينهم إلا نزلت عليهم السكينة ، وغشيتهم الرحمة وحفتهم الملائكة وذكرهم الله فيمن عنده  ) رواه أبو داود(Tidaklah suatu kaum berkumpul di rumah-rumah Allah sambil membaca Kitabullah, dan saling mempelajarinya, kecuali akan turun kepada mereka ketenangan, dan mereka tersirami rahmat serta diliputi naungan malaikat. Dan mereka disebut-sebut oleh Allah di kalangan orang-orang yang di sisiNya).HR Abu DaudDengan menyimak bacaan Al-Qur’an, kucuran rahmat didapat. Firman Allah :وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنْصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ [  الأعراف/204](Dan apabila dibacakan Al Quran, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat). Qs Al-A’raf : 204Al-Qur’an merupakan dzikir yang paling besar dan paling lengkap manfaatnya. Persaingan dalam Al-Qur’an sangatlah terpuji.( لاحسد الا في اثنين : رجل آتاه القران فهو يقوم آناء الليل وآناءالنهار , ورجل آتاه الله مالا فهو ينفقه آناء الليل وآناء النهار ) متفق عليه(Tidak ada iri hati kecuali terhadap dua hal; yaitu orang yang telah Allah beri Al-Qur’an (menerima kebenaran dalam Al-Qur’an) dan ia membacanya di waktu malam dan di siang hari. Kedua, orang yang Allah memberinya harta kekayaan lalu ia menginfakkannya di waktu malam dan di siang hari). Muttafaq alaihMemenangkan perolehan kebenaran Al-Qur’an lebih baik dari pada harta kekayaan dunia yang fana ini. Rasulullah – shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :( أَيُّكُمْ يُحِبُّ أَنْ يَغْدُوَ كُلَّ يَوْمٍ إِلَى بُطْحَانَ أَوْ إِلَى الْعَقِيقِ فَيَأْتِىَ مِنْهُ بِنَاقَتَيْنِ كَوْمَاوَيْنِ فِى غَيْرِ إِثْمٍ وَلاَ قَطْعِ رَحِمٍ  . فَقُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ نُحِبُّ ذَلِكَ . قَالَ : أَفَلاَ يَغْدُو أَحَدُكُمْ إِلَى الْمَسْجِدِ فَيَعْلَمَ أَوْ يَقْرَأَ آيَتَيْنِ مِنْ كِتَابِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ خَيْرٌ لَهُ مِنْ نَاقَتَيْنِ وَثَلاَثٌ خَيْرٌ لَهُ مِنْ ثَلاَثٍ وَأَرْبَعٌ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَرْبَعٍ وَمِنْ أَعْدَادِهِنَّ مِنَ الإِبِلِ .) رواه مسلم (Siapakah di antara kalian yang suka berangkat pagi setiap hari ke Bathhan atau ‘Aqiq dan pulangnya membawa dua onta yang besar punuknya tanpa melakukan dosa dan memutuskan tali silaturrahim?” Para sahabat menjawab, “Wahai Rasulullah, kami suka hal itu.” Beliau bersabda: “Tidak adakah salah seorang di antara kamu yang pergi ke masjid, lalu ia belajar atau membaca dua ayat Alquran? Yang sesungguhnya hal itu lebih baik dari pada memperoleh dua ekor onta, tiga ayat lebih baik dari pada tiga ekor onta, empat ayat lebih baik daripada empat ekor onta dan [jika lebih] tentu sesuai jumlah itu pula beberapa ekor onta-nya). HR. MuslimAl-Qur’an akan menjadi hujah pembela bagi pengembannya pada hari kiamat kelak, dan pemberi syafaat yang diterima syafaatnya di sisi Tuhan semesta alam. Rasulullah – shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :( اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لصَاحِبِه ) رواه أحمد( Bacalah oleh kalian Al-Qur`an. Karena ia akan datang pada Hari Kiamat kelak sebagai pemberi syafa’at bagi orang-orang yang rajin membacanya.) HR AhmadPara pengemban Al-Qur’an yang mengamalkan kandungannya menempati derajat tertinggi di surga na’im.(يُقَالُ لِصَاحِبِ الْقُرْآنِ اقْرَأْ وَارْتَقِ وَرَتِّلْ كَمَا كُنْتَ تُرَتِّلُ فِى الدُّنْيَا فَإِنَّ مَنْزِلَكَ عِنْدَ آخِرِ آيَةٍ تَقْرَؤُهَا ) رواه أبو داود(Dikatakan kepada orang yang membaca dan menghafalkan Al Qur’an : ‘Bacalah dan tingkatkanlah serta tartilkan-lah sebagaimana engkau di dunia mentartilkannya. Karena kedudukanmu adalah pada akhir ayat yang engkau baca ) HR. Abu DaudKaum muslimin !            Al-Qur’an akan menjadi hujah pembelaan antara Allah dan makhlukNya, suatu kemuliaan dan kebanggaan bagi kaum muslimin, kemajuan dan kebesaran generasi, pengaman dan keberkahan bagi masyarakat. Di dalamnya terdapat kebahagiaan dan keluhuran serta keridhaan Allah Tuhan semesta alam. Maka sepantasnyalah seorang muslim mengharumkan mulutnya, hatinya, tempat tinggalnya, tempat sujudnya, waktunya melalui bacaan Al-Qur’an serta perenungannya dan penghayatannya. Demikian pula dengan mengekspresikan rasa senang, pengagungan dan kepasrahan terhadap kandungannya. Tidak menelantarkannya dan tidak pula menentangnya.Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutukمَنْ كَانَ يُرِيدُ الْعِزَّةَ فَلِلَّهِ الْعِزَّةُ جَمِيعًا إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ يَرْفَعُهُ وَالَّذِينَ يَمْكُرُونَ السَّيِّئَاتِ لَهُمْ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَكْرُ أُولَئِكَ هُوَ يَبُورُ  [ فاطر/10]( Barangsiapa yang menghendaki kemuliaan, maka bagi Allah-lah kemuliaan itu semuanya. Kepada-Nya-lah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang saleh dinaikkan-Nya. Dan orang-orang yang merencanakan kejahatan bagi mereka azab yang keras. Dan rencana jahat mereka akan hancur). Qs Fathir : 10 Semoga Allah memberkahi kita semua berkat pengamalan kitab suci Al-Qur’an yang agung !============ Khotbah keduaSegala puji bagi Allah atas anugerahnya, puji syukur kepadaNya atas bimbingan taufiqNya dan karuniaNya. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagiNya dengan mengagungkanNya. Dan aku bersaksi bahwa nabi kita Muhammad adalah hambaNya dan rasulNya – shallallahu alaihi wa sallam- Semoga shalawat dan salam tercurahkan sebanyak-banyaknya kepadanya beserta seluruh keluarga dan sahabatnya.Kaum muslimin !Barangsiapa yang mengikuti Al-Qur’an pasti menggapai petunjuknya, dan barangsiapa yang berpaling darinya akan tetap dalam keterpurukan dan kehinaan. Allah berfirman :فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقَى ،  وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى [ طه / 123-124](Lalu barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta). Qs Thaha : 123-124Tidak ada jalan lain untuk mendapatkan hidayah kecuali melalui petunjuk Al-Qur’an. Siapapun orangnya yang terhalang hatinya untuk memperoleh petunjuk Al-Qur’an, tidaklah berguna baginya petunjuk manapun di luar Al-Qur’an. Allah berfirman :فَبِأَيِّ حَدِيثٍ بَعْدَ اللَّهِ وَآيَاتِهِ يُؤْمِنُونَ  [  الجاثية / 6 ]( maka dengan perkataan manakah lagi mereka akan beriman sesudah firman Allah (Al-Qur’an) dan keterangan-keterangan-Nya? ) Qs Al-Jatsiyah : 6Jika Al-Qur’an meninggikan derajat seseorang yang mengembannya, maka iapun merendahkan harga diri orang yang memusuhinya. Rasulullah – shallallahu alaihi wa sallam-( إِنَّ اللهَ يَرْفَعُ بِهَذَا الْكِتَابِ أَقْوَامًا، وَيَضَعُ بِهِ آخَرِينَ ) . رواه مسلم .(Sesungguhnya Allah memuliakan suatu kaum dengan kitab ini (Al Qur`an) dan menghinakan kaum yang lain). HR MuslimFirman Allah – subhanahu wa ta’ala – sungguh mulia. Barangsiapa yang mengingkarinya meskipun hanya satu huruf atau melecehkannya, kafirlah ia. Allah berfirman :( قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ ،  لَا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ ) [ التوبة / 65 ]( Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu mengejek?. Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu telah kafir sesudah beriman.). Qs At-Taubah : 65-66Tidak ada seorangpun yang berani menghinakan kitab Allah atau merendahkan para pengemban kitab Allah melainkan Allah pasti menghinakannya dan merendahkannya.Maka sudah sepantasnyalah seorang muslim melakukan pembelaan terhadap kitabullah dengan perasaan bangga agar dapat meraih ketinggian derajat di surga.Selanjutnya, ketahuilah bahwa Allah –subhanahu wa ta’ala- memerintahkan kalian untuk bershalawat dan menyampaikan salam sejahtera kepada nabi-Nya . . .======  Selesai  ======Penerjemah: Usman Hatim

Dosa Karena Meninggalkan Amalan Sunnah

Apakah meninggalkan suatu amalan yang dihukumi sunnah (tidak wajib) mendapatkan dosa, termasuk dalam celaan bahkan dihukumi berbuat bid’ah? Ulama besar Kerajaan Saudi Arabia di masa silam, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin ditanya: Dalam ringkasan Kitab Al-I’tisham karya Imam Asy-Syatibi, meninggalkan suatu perkara sunnah ataukah wajib apakah dapat digolongkan berbuat bid’ah? Meninggalkan perkara yang diperintahkan itu ada dua macam. Ada meninggalkannya bukan dianggap sebagai bentuk ibadah. Perkara tersebut ditinggalkan karena malas-malasan atau menganggap remeh atau alasan pribadi lainnya. Bentuk pertama ini berarti melakukan suatu pelanggaran. Jika yang ditinggalkan adalah perkara wajib, maka dihukumi maksiat. Adapun pertanyaannya. Jika meninggalkan perkara sunnah (yang bukan wajib) dihukumi bukan maksiat, jika memang yang ditinggalkan sebagian amalan saja. Bagaimana jika yang ditinggalkan adalah seluruh perkara sunnah? Jawab Syaikh Muhammad Al-‘Utsaimin rahimahullah, seperti itu bukanlah maksiat, tergantung kondisinya. Jika disebut meninggalkan seluruh perkara sunnah itu maksiat, maka perlu ditinjau lagi. Namun sepertinya pemahaman itu diambil dari perkataan Imam Ahmad rahimahullah, “Siapa yang meninggalkan shalat witir, maka ia adalah rajulun suu’ (laki-laki yang jelek), janganlah terima persaksiaannya.” Padahal diketahui bahwa shalat witir dihukumi sunnah (bukan wajib) seperti yang diyakini pula oleh Imam Ahmad. Begitu pula ulama Hambali menyatakan bahwa meninggalkan shalat rawatib juga tidak diterima persaksiaannya padahal shalat rawatib tidaklah wajib. Namun kalau kita rinci, itu lebih baik. Kita katakan: Jika seseorang meninggalkan perkara sunnah dianggap sebagai suatu bentuk ibadah, malah termasuk dalam orang yang berbuat bid’ah. Karena meninggalkan sesuatu sama hal dalam hukum melakukannya. Jika seseorang meninggalkan perkara sunnah karena malas-malasan atau menganggap remeh. Ia menyatakan, yang wajib tetaplah wajib dan yang tidak wajib tetaplah tidak wajib. Seperti itu tidak dihukumi dosa, baik ia meninggalkan sebagian atau seluruh perkara yang dihukumi sunnah.   Sumber: Silsilah Liqa’at Al-Bab Al-Maftuh, pertemuan no. 136, pelajaran Ushul Al-Fiqh wa Qawa’iduhu.   Memang orang yang meninggalkan amalan yang tidak wajib (baca: sunnah) tidaklah berdosa, cuma ia mendapatkan kerugian karena tidak ada kesempatan untuk menambah kebaikan. Semoga kita tidak termasuk dalam orang-orang yang nantinya menyesal di akhirat karena amalannya yang kurang. — Diselesaikan di King Abdul Aziz Airport, Saudia Airlines, Jeddah, 24 Rabi’ul Awwal 1437 H Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Tagsamalan sunnah

Dosa Karena Meninggalkan Amalan Sunnah

Apakah meninggalkan suatu amalan yang dihukumi sunnah (tidak wajib) mendapatkan dosa, termasuk dalam celaan bahkan dihukumi berbuat bid’ah? Ulama besar Kerajaan Saudi Arabia di masa silam, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin ditanya: Dalam ringkasan Kitab Al-I’tisham karya Imam Asy-Syatibi, meninggalkan suatu perkara sunnah ataukah wajib apakah dapat digolongkan berbuat bid’ah? Meninggalkan perkara yang diperintahkan itu ada dua macam. Ada meninggalkannya bukan dianggap sebagai bentuk ibadah. Perkara tersebut ditinggalkan karena malas-malasan atau menganggap remeh atau alasan pribadi lainnya. Bentuk pertama ini berarti melakukan suatu pelanggaran. Jika yang ditinggalkan adalah perkara wajib, maka dihukumi maksiat. Adapun pertanyaannya. Jika meninggalkan perkara sunnah (yang bukan wajib) dihukumi bukan maksiat, jika memang yang ditinggalkan sebagian amalan saja. Bagaimana jika yang ditinggalkan adalah seluruh perkara sunnah? Jawab Syaikh Muhammad Al-‘Utsaimin rahimahullah, seperti itu bukanlah maksiat, tergantung kondisinya. Jika disebut meninggalkan seluruh perkara sunnah itu maksiat, maka perlu ditinjau lagi. Namun sepertinya pemahaman itu diambil dari perkataan Imam Ahmad rahimahullah, “Siapa yang meninggalkan shalat witir, maka ia adalah rajulun suu’ (laki-laki yang jelek), janganlah terima persaksiaannya.” Padahal diketahui bahwa shalat witir dihukumi sunnah (bukan wajib) seperti yang diyakini pula oleh Imam Ahmad. Begitu pula ulama Hambali menyatakan bahwa meninggalkan shalat rawatib juga tidak diterima persaksiaannya padahal shalat rawatib tidaklah wajib. Namun kalau kita rinci, itu lebih baik. Kita katakan: Jika seseorang meninggalkan perkara sunnah dianggap sebagai suatu bentuk ibadah, malah termasuk dalam orang yang berbuat bid’ah. Karena meninggalkan sesuatu sama hal dalam hukum melakukannya. Jika seseorang meninggalkan perkara sunnah karena malas-malasan atau menganggap remeh. Ia menyatakan, yang wajib tetaplah wajib dan yang tidak wajib tetaplah tidak wajib. Seperti itu tidak dihukumi dosa, baik ia meninggalkan sebagian atau seluruh perkara yang dihukumi sunnah.   Sumber: Silsilah Liqa’at Al-Bab Al-Maftuh, pertemuan no. 136, pelajaran Ushul Al-Fiqh wa Qawa’iduhu.   Memang orang yang meninggalkan amalan yang tidak wajib (baca: sunnah) tidaklah berdosa, cuma ia mendapatkan kerugian karena tidak ada kesempatan untuk menambah kebaikan. Semoga kita tidak termasuk dalam orang-orang yang nantinya menyesal di akhirat karena amalannya yang kurang. — Diselesaikan di King Abdul Aziz Airport, Saudia Airlines, Jeddah, 24 Rabi’ul Awwal 1437 H Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Tagsamalan sunnah
Apakah meninggalkan suatu amalan yang dihukumi sunnah (tidak wajib) mendapatkan dosa, termasuk dalam celaan bahkan dihukumi berbuat bid’ah? Ulama besar Kerajaan Saudi Arabia di masa silam, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin ditanya: Dalam ringkasan Kitab Al-I’tisham karya Imam Asy-Syatibi, meninggalkan suatu perkara sunnah ataukah wajib apakah dapat digolongkan berbuat bid’ah? Meninggalkan perkara yang diperintahkan itu ada dua macam. Ada meninggalkannya bukan dianggap sebagai bentuk ibadah. Perkara tersebut ditinggalkan karena malas-malasan atau menganggap remeh atau alasan pribadi lainnya. Bentuk pertama ini berarti melakukan suatu pelanggaran. Jika yang ditinggalkan adalah perkara wajib, maka dihukumi maksiat. Adapun pertanyaannya. Jika meninggalkan perkara sunnah (yang bukan wajib) dihukumi bukan maksiat, jika memang yang ditinggalkan sebagian amalan saja. Bagaimana jika yang ditinggalkan adalah seluruh perkara sunnah? Jawab Syaikh Muhammad Al-‘Utsaimin rahimahullah, seperti itu bukanlah maksiat, tergantung kondisinya. Jika disebut meninggalkan seluruh perkara sunnah itu maksiat, maka perlu ditinjau lagi. Namun sepertinya pemahaman itu diambil dari perkataan Imam Ahmad rahimahullah, “Siapa yang meninggalkan shalat witir, maka ia adalah rajulun suu’ (laki-laki yang jelek), janganlah terima persaksiaannya.” Padahal diketahui bahwa shalat witir dihukumi sunnah (bukan wajib) seperti yang diyakini pula oleh Imam Ahmad. Begitu pula ulama Hambali menyatakan bahwa meninggalkan shalat rawatib juga tidak diterima persaksiaannya padahal shalat rawatib tidaklah wajib. Namun kalau kita rinci, itu lebih baik. Kita katakan: Jika seseorang meninggalkan perkara sunnah dianggap sebagai suatu bentuk ibadah, malah termasuk dalam orang yang berbuat bid’ah. Karena meninggalkan sesuatu sama hal dalam hukum melakukannya. Jika seseorang meninggalkan perkara sunnah karena malas-malasan atau menganggap remeh. Ia menyatakan, yang wajib tetaplah wajib dan yang tidak wajib tetaplah tidak wajib. Seperti itu tidak dihukumi dosa, baik ia meninggalkan sebagian atau seluruh perkara yang dihukumi sunnah.   Sumber: Silsilah Liqa’at Al-Bab Al-Maftuh, pertemuan no. 136, pelajaran Ushul Al-Fiqh wa Qawa’iduhu.   Memang orang yang meninggalkan amalan yang tidak wajib (baca: sunnah) tidaklah berdosa, cuma ia mendapatkan kerugian karena tidak ada kesempatan untuk menambah kebaikan. Semoga kita tidak termasuk dalam orang-orang yang nantinya menyesal di akhirat karena amalannya yang kurang. — Diselesaikan di King Abdul Aziz Airport, Saudia Airlines, Jeddah, 24 Rabi’ul Awwal 1437 H Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Tagsamalan sunnah


Apakah meninggalkan suatu amalan yang dihukumi sunnah (tidak wajib) mendapatkan dosa, termasuk dalam celaan bahkan dihukumi berbuat bid’ah? Ulama besar Kerajaan Saudi Arabia di masa silam, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin ditanya: Dalam ringkasan Kitab Al-I’tisham karya Imam Asy-Syatibi, meninggalkan suatu perkara sunnah ataukah wajib apakah dapat digolongkan berbuat bid’ah? Meninggalkan perkara yang diperintahkan itu ada dua macam. Ada meninggalkannya bukan dianggap sebagai bentuk ibadah. Perkara tersebut ditinggalkan karena malas-malasan atau menganggap remeh atau alasan pribadi lainnya. Bentuk pertama ini berarti melakukan suatu pelanggaran. Jika yang ditinggalkan adalah perkara wajib, maka dihukumi maksiat. Adapun pertanyaannya. Jika meninggalkan perkara sunnah (yang bukan wajib) dihukumi bukan maksiat, jika memang yang ditinggalkan sebagian amalan saja. Bagaimana jika yang ditinggalkan adalah seluruh perkara sunnah? Jawab Syaikh Muhammad Al-‘Utsaimin rahimahullah, seperti itu bukanlah maksiat, tergantung kondisinya. Jika disebut meninggalkan seluruh perkara sunnah itu maksiat, maka perlu ditinjau lagi. Namun sepertinya pemahaman itu diambil dari perkataan Imam Ahmad rahimahullah, “Siapa yang meninggalkan shalat witir, maka ia adalah rajulun suu’ (laki-laki yang jelek), janganlah terima persaksiaannya.” Padahal diketahui bahwa shalat witir dihukumi sunnah (bukan wajib) seperti yang diyakini pula oleh Imam Ahmad. Begitu pula ulama Hambali menyatakan bahwa meninggalkan shalat rawatib juga tidak diterima persaksiaannya padahal shalat rawatib tidaklah wajib. Namun kalau kita rinci, itu lebih baik. Kita katakan: Jika seseorang meninggalkan perkara sunnah dianggap sebagai suatu bentuk ibadah, malah termasuk dalam orang yang berbuat bid’ah. Karena meninggalkan sesuatu sama hal dalam hukum melakukannya. Jika seseorang meninggalkan perkara sunnah karena malas-malasan atau menganggap remeh. Ia menyatakan, yang wajib tetaplah wajib dan yang tidak wajib tetaplah tidak wajib. Seperti itu tidak dihukumi dosa, baik ia meninggalkan sebagian atau seluruh perkara yang dihukumi sunnah.   Sumber: Silsilah Liqa’at Al-Bab Al-Maftuh, pertemuan no. 136, pelajaran Ushul Al-Fiqh wa Qawa’iduhu.   Memang orang yang meninggalkan amalan yang tidak wajib (baca: sunnah) tidaklah berdosa, cuma ia mendapatkan kerugian karena tidak ada kesempatan untuk menambah kebaikan. Semoga kita tidak termasuk dalam orang-orang yang nantinya menyesal di akhirat karena amalannya yang kurang. — Diselesaikan di King Abdul Aziz Airport, Saudia Airlines, Jeddah, 24 Rabi’ul Awwal 1437 H Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Tagsamalan sunnah
Prev     Next