Metode Berdakwah Kepada Non-Muslim (1)

Dakwah adalah Jalan para Rasul, para Sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan para Imam Kaum MusliminAllah Ta’ala telah mengutus para rasul ‘alaihimush shalatu was salamu sebagai da’i yang mengajak hamba-hamba-Nya untuk beribadah kepada Allah semata dengan meniti jalan yang lurus.Para rasul ‘alaihimush shalatu was salamu telah menjelaskan agama yang Allah turunkan dengan sempurna, mereka telah menegakkan hujjah, memberi peringatan, membawa kabar gembira serta menghilangkan syubhat sehingga tidak ada alasan untuk menyatakan tidak mengetahui agama Islam dan tidak ada alasan untuk tidak menerima agama Islam. Allah Ta’ala berfirman,… لِيَهْلِكَ مَنْ هَلَكَ عَنْ بَيِّنَةٍ وَيَحْيَىٰ مَنْ حَيَّ عَنْ بَيِّنَةٍ ۗ وَإِنَّ اللَّهَ لَسَمِيعٌ عَلِيمٌ“…agar orang yang binasa itu binasanya dengan keterangan yang nyata dan agar orang yang hidup itu hidupnya dengan keterangan yang nyata (pula). Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” (QS. Al-Anfaal: 42).Para rasul ‘alaihimush shalatu was salamu telah membebaskan umat mereka dari perbudakan terhadap hawa nafsu dan syahwat sehingga mereka menghamba kepada Allah semata, dan mendorong umat untuk meraih keridhaan Allah. Tidak ada satu kebaikan pun kecuali telah mereka jelaskan dan tidak ada satu keburukan pun kecuali telah mereka peringatkan. Dan yang paling sempurna melaksanakan tugas Ad-Dakwah ilallah adalah Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan membawa ajaran yang paling sempurna.Lalu tongkat estafet dakwah diteruskan oleh para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tabi’in, dan tabi’ut-tabi’in, para imam kaum muslimin, ulama mereka dan da’i-da’i ilallah. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para pengikut beliau mengajak kepada Allah di atas ilmu yang shahih.Allah Ta’ala berfirman,قُلْ هَٰذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ ۚ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي ۖ وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَKatakanlah: “Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan ilmu (yang benar), Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik” (QS. Yusuf: 108).Agama Allah tidaklah tersebar, dan kebaikan sebuah masyarakat pun tidaklah terwujud kecuali dengan Ad-Dakwah ilallah.Sebaliknya, sebuah umat tidaklah binasa, sebuah umat tidaklah diazab, dan keburukan tidaklah tersebar di tengah-tengah umat kecuali karena akibat meninggalkan dakwah ataupun tidak memberikan perhatian yang semestinya kepada dakawah tersebut.Kebutuhan manusia terhadap dakwah melebihi kebutuhan manusia terhadap makan dan minum. Seseorang yang terkena musibah kelaparan sehingga tidak mendapatkan makanan dan minuman, maka akibat terparahnya adalah mati, namun jika orang yang mati kelaparan tersebut adalah orang yang bertakwa, maka kematian itupun menghantarkannya kepada surga. Akan tetapi, apabila seseorang berpaling dari seruan Ad-Dakwah ilallah dan menolaknya, maka ancamannya bukan hanya kematian, namun juga adzab neraka yang menyala-nyala.Skala Prioritas dalam Berdakwah IlallahPerlu diingat, bahwa ajaran agama Islam itu keutamaannya beranekaragam dan bertingkat-tingkat, ada yang termulia dan paling mendasar, ada pula yang tidak demikian, namun keyakinan yang pasti adalah semua ajaran Islam itu mulia dan penting. Oleh karena itu di dalam mendakwahkan Islam pun perlu diperhatikan skala prioritas. Dahulukan perkara yang terpenting dan termulia sebelum perkara yang penting dan mulia. Dahulukan perkara yang mendasar sebelum perkara yang terbangun di atas dasar tersebut.Dalam mendakwahkan ajaran Islam, ketika seorang da’i menghadapi dua pilihan dan keadaan yang menuntut harus dipilih salah satunya, maka dahulukan perkara yang wajib sebelum perkara yang sunnah, karena perintah Allah itu ada yang wajib dan ada pula yang sunnah untuk dikerjakan. Demikian pula, dahulukan melarang dari perkara yang haram, sebelum melarang dari perkara yang makruh, karena larangan Allah itu ada yang haram dilakukan dan ada pula yang makruh dilakukan.[Bersambung]*** Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id🔍 Bacaan Dzikir Setelah Shalat, Apakah Asuransi Itu Riba, Ahli Kitab Dalam Al Quran, Doa Keselamatan Diri, Hadits Tentang Patung

Metode Berdakwah Kepada Non-Muslim (1)

Dakwah adalah Jalan para Rasul, para Sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan para Imam Kaum MusliminAllah Ta’ala telah mengutus para rasul ‘alaihimush shalatu was salamu sebagai da’i yang mengajak hamba-hamba-Nya untuk beribadah kepada Allah semata dengan meniti jalan yang lurus.Para rasul ‘alaihimush shalatu was salamu telah menjelaskan agama yang Allah turunkan dengan sempurna, mereka telah menegakkan hujjah, memberi peringatan, membawa kabar gembira serta menghilangkan syubhat sehingga tidak ada alasan untuk menyatakan tidak mengetahui agama Islam dan tidak ada alasan untuk tidak menerima agama Islam. Allah Ta’ala berfirman,… لِيَهْلِكَ مَنْ هَلَكَ عَنْ بَيِّنَةٍ وَيَحْيَىٰ مَنْ حَيَّ عَنْ بَيِّنَةٍ ۗ وَإِنَّ اللَّهَ لَسَمِيعٌ عَلِيمٌ“…agar orang yang binasa itu binasanya dengan keterangan yang nyata dan agar orang yang hidup itu hidupnya dengan keterangan yang nyata (pula). Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” (QS. Al-Anfaal: 42).Para rasul ‘alaihimush shalatu was salamu telah membebaskan umat mereka dari perbudakan terhadap hawa nafsu dan syahwat sehingga mereka menghamba kepada Allah semata, dan mendorong umat untuk meraih keridhaan Allah. Tidak ada satu kebaikan pun kecuali telah mereka jelaskan dan tidak ada satu keburukan pun kecuali telah mereka peringatkan. Dan yang paling sempurna melaksanakan tugas Ad-Dakwah ilallah adalah Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan membawa ajaran yang paling sempurna.Lalu tongkat estafet dakwah diteruskan oleh para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tabi’in, dan tabi’ut-tabi’in, para imam kaum muslimin, ulama mereka dan da’i-da’i ilallah. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para pengikut beliau mengajak kepada Allah di atas ilmu yang shahih.Allah Ta’ala berfirman,قُلْ هَٰذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ ۚ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي ۖ وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَKatakanlah: “Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan ilmu (yang benar), Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik” (QS. Yusuf: 108).Agama Allah tidaklah tersebar, dan kebaikan sebuah masyarakat pun tidaklah terwujud kecuali dengan Ad-Dakwah ilallah.Sebaliknya, sebuah umat tidaklah binasa, sebuah umat tidaklah diazab, dan keburukan tidaklah tersebar di tengah-tengah umat kecuali karena akibat meninggalkan dakwah ataupun tidak memberikan perhatian yang semestinya kepada dakawah tersebut.Kebutuhan manusia terhadap dakwah melebihi kebutuhan manusia terhadap makan dan minum. Seseorang yang terkena musibah kelaparan sehingga tidak mendapatkan makanan dan minuman, maka akibat terparahnya adalah mati, namun jika orang yang mati kelaparan tersebut adalah orang yang bertakwa, maka kematian itupun menghantarkannya kepada surga. Akan tetapi, apabila seseorang berpaling dari seruan Ad-Dakwah ilallah dan menolaknya, maka ancamannya bukan hanya kematian, namun juga adzab neraka yang menyala-nyala.Skala Prioritas dalam Berdakwah IlallahPerlu diingat, bahwa ajaran agama Islam itu keutamaannya beranekaragam dan bertingkat-tingkat, ada yang termulia dan paling mendasar, ada pula yang tidak demikian, namun keyakinan yang pasti adalah semua ajaran Islam itu mulia dan penting. Oleh karena itu di dalam mendakwahkan Islam pun perlu diperhatikan skala prioritas. Dahulukan perkara yang terpenting dan termulia sebelum perkara yang penting dan mulia. Dahulukan perkara yang mendasar sebelum perkara yang terbangun di atas dasar tersebut.Dalam mendakwahkan ajaran Islam, ketika seorang da’i menghadapi dua pilihan dan keadaan yang menuntut harus dipilih salah satunya, maka dahulukan perkara yang wajib sebelum perkara yang sunnah, karena perintah Allah itu ada yang wajib dan ada pula yang sunnah untuk dikerjakan. Demikian pula, dahulukan melarang dari perkara yang haram, sebelum melarang dari perkara yang makruh, karena larangan Allah itu ada yang haram dilakukan dan ada pula yang makruh dilakukan.[Bersambung]*** Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id🔍 Bacaan Dzikir Setelah Shalat, Apakah Asuransi Itu Riba, Ahli Kitab Dalam Al Quran, Doa Keselamatan Diri, Hadits Tentang Patung
Dakwah adalah Jalan para Rasul, para Sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan para Imam Kaum MusliminAllah Ta’ala telah mengutus para rasul ‘alaihimush shalatu was salamu sebagai da’i yang mengajak hamba-hamba-Nya untuk beribadah kepada Allah semata dengan meniti jalan yang lurus.Para rasul ‘alaihimush shalatu was salamu telah menjelaskan agama yang Allah turunkan dengan sempurna, mereka telah menegakkan hujjah, memberi peringatan, membawa kabar gembira serta menghilangkan syubhat sehingga tidak ada alasan untuk menyatakan tidak mengetahui agama Islam dan tidak ada alasan untuk tidak menerima agama Islam. Allah Ta’ala berfirman,… لِيَهْلِكَ مَنْ هَلَكَ عَنْ بَيِّنَةٍ وَيَحْيَىٰ مَنْ حَيَّ عَنْ بَيِّنَةٍ ۗ وَإِنَّ اللَّهَ لَسَمِيعٌ عَلِيمٌ“…agar orang yang binasa itu binasanya dengan keterangan yang nyata dan agar orang yang hidup itu hidupnya dengan keterangan yang nyata (pula). Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” (QS. Al-Anfaal: 42).Para rasul ‘alaihimush shalatu was salamu telah membebaskan umat mereka dari perbudakan terhadap hawa nafsu dan syahwat sehingga mereka menghamba kepada Allah semata, dan mendorong umat untuk meraih keridhaan Allah. Tidak ada satu kebaikan pun kecuali telah mereka jelaskan dan tidak ada satu keburukan pun kecuali telah mereka peringatkan. Dan yang paling sempurna melaksanakan tugas Ad-Dakwah ilallah adalah Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan membawa ajaran yang paling sempurna.Lalu tongkat estafet dakwah diteruskan oleh para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tabi’in, dan tabi’ut-tabi’in, para imam kaum muslimin, ulama mereka dan da’i-da’i ilallah. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para pengikut beliau mengajak kepada Allah di atas ilmu yang shahih.Allah Ta’ala berfirman,قُلْ هَٰذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ ۚ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي ۖ وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَKatakanlah: “Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan ilmu (yang benar), Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik” (QS. Yusuf: 108).Agama Allah tidaklah tersebar, dan kebaikan sebuah masyarakat pun tidaklah terwujud kecuali dengan Ad-Dakwah ilallah.Sebaliknya, sebuah umat tidaklah binasa, sebuah umat tidaklah diazab, dan keburukan tidaklah tersebar di tengah-tengah umat kecuali karena akibat meninggalkan dakwah ataupun tidak memberikan perhatian yang semestinya kepada dakawah tersebut.Kebutuhan manusia terhadap dakwah melebihi kebutuhan manusia terhadap makan dan minum. Seseorang yang terkena musibah kelaparan sehingga tidak mendapatkan makanan dan minuman, maka akibat terparahnya adalah mati, namun jika orang yang mati kelaparan tersebut adalah orang yang bertakwa, maka kematian itupun menghantarkannya kepada surga. Akan tetapi, apabila seseorang berpaling dari seruan Ad-Dakwah ilallah dan menolaknya, maka ancamannya bukan hanya kematian, namun juga adzab neraka yang menyala-nyala.Skala Prioritas dalam Berdakwah IlallahPerlu diingat, bahwa ajaran agama Islam itu keutamaannya beranekaragam dan bertingkat-tingkat, ada yang termulia dan paling mendasar, ada pula yang tidak demikian, namun keyakinan yang pasti adalah semua ajaran Islam itu mulia dan penting. Oleh karena itu di dalam mendakwahkan Islam pun perlu diperhatikan skala prioritas. Dahulukan perkara yang terpenting dan termulia sebelum perkara yang penting dan mulia. Dahulukan perkara yang mendasar sebelum perkara yang terbangun di atas dasar tersebut.Dalam mendakwahkan ajaran Islam, ketika seorang da’i menghadapi dua pilihan dan keadaan yang menuntut harus dipilih salah satunya, maka dahulukan perkara yang wajib sebelum perkara yang sunnah, karena perintah Allah itu ada yang wajib dan ada pula yang sunnah untuk dikerjakan. Demikian pula, dahulukan melarang dari perkara yang haram, sebelum melarang dari perkara yang makruh, karena larangan Allah itu ada yang haram dilakukan dan ada pula yang makruh dilakukan.[Bersambung]*** Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id🔍 Bacaan Dzikir Setelah Shalat, Apakah Asuransi Itu Riba, Ahli Kitab Dalam Al Quran, Doa Keselamatan Diri, Hadits Tentang Patung


Dakwah adalah Jalan para Rasul, para Sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan para Imam Kaum MusliminAllah Ta’ala telah mengutus para rasul ‘alaihimush shalatu was salamu sebagai da’i yang mengajak hamba-hamba-Nya untuk beribadah kepada Allah semata dengan meniti jalan yang lurus.Para rasul ‘alaihimush shalatu was salamu telah menjelaskan agama yang Allah turunkan dengan sempurna, mereka telah menegakkan hujjah, memberi peringatan, membawa kabar gembira serta menghilangkan syubhat sehingga tidak ada alasan untuk menyatakan tidak mengetahui agama Islam dan tidak ada alasan untuk tidak menerima agama Islam. Allah Ta’ala berfirman,… لِيَهْلِكَ مَنْ هَلَكَ عَنْ بَيِّنَةٍ وَيَحْيَىٰ مَنْ حَيَّ عَنْ بَيِّنَةٍ ۗ وَإِنَّ اللَّهَ لَسَمِيعٌ عَلِيمٌ“…agar orang yang binasa itu binasanya dengan keterangan yang nyata dan agar orang yang hidup itu hidupnya dengan keterangan yang nyata (pula). Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” (QS. Al-Anfaal: 42).Para rasul ‘alaihimush shalatu was salamu telah membebaskan umat mereka dari perbudakan terhadap hawa nafsu dan syahwat sehingga mereka menghamba kepada Allah semata, dan mendorong umat untuk meraih keridhaan Allah. Tidak ada satu kebaikan pun kecuali telah mereka jelaskan dan tidak ada satu keburukan pun kecuali telah mereka peringatkan. Dan yang paling sempurna melaksanakan tugas Ad-Dakwah ilallah adalah Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan membawa ajaran yang paling sempurna.Lalu tongkat estafet dakwah diteruskan oleh para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tabi’in, dan tabi’ut-tabi’in, para imam kaum muslimin, ulama mereka dan da’i-da’i ilallah. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para pengikut beliau mengajak kepada Allah di atas ilmu yang shahih.Allah Ta’ala berfirman,قُلْ هَٰذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ ۚ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي ۖ وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَKatakanlah: “Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan ilmu (yang benar), Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik” (QS. Yusuf: 108).Agama Allah tidaklah tersebar, dan kebaikan sebuah masyarakat pun tidaklah terwujud kecuali dengan Ad-Dakwah ilallah.Sebaliknya, sebuah umat tidaklah binasa, sebuah umat tidaklah diazab, dan keburukan tidaklah tersebar di tengah-tengah umat kecuali karena akibat meninggalkan dakwah ataupun tidak memberikan perhatian yang semestinya kepada dakawah tersebut.Kebutuhan manusia terhadap dakwah melebihi kebutuhan manusia terhadap makan dan minum. Seseorang yang terkena musibah kelaparan sehingga tidak mendapatkan makanan dan minuman, maka akibat terparahnya adalah mati, namun jika orang yang mati kelaparan tersebut adalah orang yang bertakwa, maka kematian itupun menghantarkannya kepada surga. Akan tetapi, apabila seseorang berpaling dari seruan Ad-Dakwah ilallah dan menolaknya, maka ancamannya bukan hanya kematian, namun juga adzab neraka yang menyala-nyala.Skala Prioritas dalam Berdakwah IlallahPerlu diingat, bahwa ajaran agama Islam itu keutamaannya beranekaragam dan bertingkat-tingkat, ada yang termulia dan paling mendasar, ada pula yang tidak demikian, namun keyakinan yang pasti adalah semua ajaran Islam itu mulia dan penting. Oleh karena itu di dalam mendakwahkan Islam pun perlu diperhatikan skala prioritas. Dahulukan perkara yang terpenting dan termulia sebelum perkara yang penting dan mulia. Dahulukan perkara yang mendasar sebelum perkara yang terbangun di atas dasar tersebut.Dalam mendakwahkan ajaran Islam, ketika seorang da’i menghadapi dua pilihan dan keadaan yang menuntut harus dipilih salah satunya, maka dahulukan perkara yang wajib sebelum perkara yang sunnah, karena perintah Allah itu ada yang wajib dan ada pula yang sunnah untuk dikerjakan. Demikian pula, dahulukan melarang dari perkara yang haram, sebelum melarang dari perkara yang makruh, karena larangan Allah itu ada yang haram dilakukan dan ada pula yang makruh dilakukan.[Bersambung]*** Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id🔍 Bacaan Dzikir Setelah Shalat, Apakah Asuransi Itu Riba, Ahli Kitab Dalam Al Quran, Doa Keselamatan Diri, Hadits Tentang Patung

Doa Jelek bagi Perokok

Tidak khawatirkah para perokok dengan asap rokoknya? Taruhlah ia mendapatkan kesenangan? Namun asapnya itu sebenarnya mengganggu dan menzalimi yang lain. Apa tak takut dengan doa jelek orang yang terzalimi atau tersakiti? Tonton videonya:   Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Mu’adz bin Jabal pernah diberi wasiat oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika diutus ke Yaman, وَاتَّقِ دَعْوَةَ الْمَظْلُومِ ، فَإِنَّهُ لَيْسَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ اللَّهِ حِجَابٌ “Hati-hatilah dengan doa orang yang dizalimi. Ingatlah tak ada hijab antara dirinya dengan Allah (doa tersebut akan diijabahi, tak tertolak, pen-).” (HR. Bukhari, no. 1496 dan Muslim, no. 19) Hadits ini kata Imam Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim (9: 100) menunjukkan larangan untuk bertindak zalim. Ibnu Hajar dalam Fath Al-Bar (3: 360) menyatakan bahwa doa tetap terkabul walaupun yang mendoakan adalah orang yang fajir (gemar maksiat). Sebagaimana disebutkan dalam hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, دَعْوَةُ الْمَظْلُومِ مُسْتَجَابَةٌ وَإِنْ كَانَ فَاجِراً فَفُجُورُهُ عَلَى نَفْسِهِ “Doa orang yang terzalimi itu terkabul meskipun yang mendoakan adalah orang yang fajir (gemar maksiat). Kefajiran yang perbuat itu tanggung jawab dirinya.” (HR. Ahmad, 2: 367. Ibnu Hajar menyatakan dalam Fath Al-Bari, 3: 360 bahwa hadits ini hasan. Sedangkan Syaikh Syu’aib Al-Arnauth pada komentarnya dalam Musnad Imam Ahmad mengatakan bahwa hadits ini dha’if) Syukur-syukur orang yang dizalimi malah doakan kebaikan[1], “Moga si perokok itu mendapatkan hidayah.” Namun kalau yang ia doakan jelek bagaimana? Coba renungkan nasihat di atas. Bisa jadi masalah-masalah kita belum Allah angkat dan berikan jalan keluar, cuma lantaran ada tindakan zalim kita pada orang lain yang belum kita utarakan maaf. Bahkan mungkin tanpa sadar, asap rokok kitalah yang membuat orang lain mendoakan jelek pada kita yang merokok. Semoga menjadi renungan berharga pagi bagi para perokok. Moga Allah beri hidayah dan menjauhkan kita dari setiap kezaliman. — [1] Di antara nasihat Umar bin Al-Khattab radhiyallahu ‘anhu, مَا عَاقَبْتَ مَنْ عَصَى اللهَ فِيْكَ بِمِثْلِ أَنْ تَطِيْعَ اللهَ فِيْهِ “Engkau tiada pernah dapat membalas orang yang telah berbuat dosa kepada Allah dengan cara menyakiti dirimu, melebihi sikapmu yang tetap menegakkan ketaatan kepada Allah pada diri orang tersebut.” (HR. Al-Baihaqi dalam Syu’ab Al-Iman, 6: 323). Maksudnya, tetap lebih baik membalas orang yang menzalimi kita dengan kebaikan.   Allah Ta’ala berfirman, وَلَا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ (34) وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الَّذِينَ صَبَرُوا وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ (35) “Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar.” (QS. Fushilat: 34-35) — @ DS, Panggang, Gunungkidul, Jumat pagi, 11 Jumadats Tsaniyyah 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagsdizalimi menzalimi perokok rokok

Doa Jelek bagi Perokok

Tidak khawatirkah para perokok dengan asap rokoknya? Taruhlah ia mendapatkan kesenangan? Namun asapnya itu sebenarnya mengganggu dan menzalimi yang lain. Apa tak takut dengan doa jelek orang yang terzalimi atau tersakiti? Tonton videonya:   Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Mu’adz bin Jabal pernah diberi wasiat oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika diutus ke Yaman, وَاتَّقِ دَعْوَةَ الْمَظْلُومِ ، فَإِنَّهُ لَيْسَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ اللَّهِ حِجَابٌ “Hati-hatilah dengan doa orang yang dizalimi. Ingatlah tak ada hijab antara dirinya dengan Allah (doa tersebut akan diijabahi, tak tertolak, pen-).” (HR. Bukhari, no. 1496 dan Muslim, no. 19) Hadits ini kata Imam Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim (9: 100) menunjukkan larangan untuk bertindak zalim. Ibnu Hajar dalam Fath Al-Bar (3: 360) menyatakan bahwa doa tetap terkabul walaupun yang mendoakan adalah orang yang fajir (gemar maksiat). Sebagaimana disebutkan dalam hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, دَعْوَةُ الْمَظْلُومِ مُسْتَجَابَةٌ وَإِنْ كَانَ فَاجِراً فَفُجُورُهُ عَلَى نَفْسِهِ “Doa orang yang terzalimi itu terkabul meskipun yang mendoakan adalah orang yang fajir (gemar maksiat). Kefajiran yang perbuat itu tanggung jawab dirinya.” (HR. Ahmad, 2: 367. Ibnu Hajar menyatakan dalam Fath Al-Bari, 3: 360 bahwa hadits ini hasan. Sedangkan Syaikh Syu’aib Al-Arnauth pada komentarnya dalam Musnad Imam Ahmad mengatakan bahwa hadits ini dha’if) Syukur-syukur orang yang dizalimi malah doakan kebaikan[1], “Moga si perokok itu mendapatkan hidayah.” Namun kalau yang ia doakan jelek bagaimana? Coba renungkan nasihat di atas. Bisa jadi masalah-masalah kita belum Allah angkat dan berikan jalan keluar, cuma lantaran ada tindakan zalim kita pada orang lain yang belum kita utarakan maaf. Bahkan mungkin tanpa sadar, asap rokok kitalah yang membuat orang lain mendoakan jelek pada kita yang merokok. Semoga menjadi renungan berharga pagi bagi para perokok. Moga Allah beri hidayah dan menjauhkan kita dari setiap kezaliman. — [1] Di antara nasihat Umar bin Al-Khattab radhiyallahu ‘anhu, مَا عَاقَبْتَ مَنْ عَصَى اللهَ فِيْكَ بِمِثْلِ أَنْ تَطِيْعَ اللهَ فِيْهِ “Engkau tiada pernah dapat membalas orang yang telah berbuat dosa kepada Allah dengan cara menyakiti dirimu, melebihi sikapmu yang tetap menegakkan ketaatan kepada Allah pada diri orang tersebut.” (HR. Al-Baihaqi dalam Syu’ab Al-Iman, 6: 323). Maksudnya, tetap lebih baik membalas orang yang menzalimi kita dengan kebaikan.   Allah Ta’ala berfirman, وَلَا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ (34) وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الَّذِينَ صَبَرُوا وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ (35) “Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar.” (QS. Fushilat: 34-35) — @ DS, Panggang, Gunungkidul, Jumat pagi, 11 Jumadats Tsaniyyah 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagsdizalimi menzalimi perokok rokok
Tidak khawatirkah para perokok dengan asap rokoknya? Taruhlah ia mendapatkan kesenangan? Namun asapnya itu sebenarnya mengganggu dan menzalimi yang lain. Apa tak takut dengan doa jelek orang yang terzalimi atau tersakiti? Tonton videonya:   Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Mu’adz bin Jabal pernah diberi wasiat oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika diutus ke Yaman, وَاتَّقِ دَعْوَةَ الْمَظْلُومِ ، فَإِنَّهُ لَيْسَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ اللَّهِ حِجَابٌ “Hati-hatilah dengan doa orang yang dizalimi. Ingatlah tak ada hijab antara dirinya dengan Allah (doa tersebut akan diijabahi, tak tertolak, pen-).” (HR. Bukhari, no. 1496 dan Muslim, no. 19) Hadits ini kata Imam Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim (9: 100) menunjukkan larangan untuk bertindak zalim. Ibnu Hajar dalam Fath Al-Bar (3: 360) menyatakan bahwa doa tetap terkabul walaupun yang mendoakan adalah orang yang fajir (gemar maksiat). Sebagaimana disebutkan dalam hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, دَعْوَةُ الْمَظْلُومِ مُسْتَجَابَةٌ وَإِنْ كَانَ فَاجِراً فَفُجُورُهُ عَلَى نَفْسِهِ “Doa orang yang terzalimi itu terkabul meskipun yang mendoakan adalah orang yang fajir (gemar maksiat). Kefajiran yang perbuat itu tanggung jawab dirinya.” (HR. Ahmad, 2: 367. Ibnu Hajar menyatakan dalam Fath Al-Bari, 3: 360 bahwa hadits ini hasan. Sedangkan Syaikh Syu’aib Al-Arnauth pada komentarnya dalam Musnad Imam Ahmad mengatakan bahwa hadits ini dha’if) Syukur-syukur orang yang dizalimi malah doakan kebaikan[1], “Moga si perokok itu mendapatkan hidayah.” Namun kalau yang ia doakan jelek bagaimana? Coba renungkan nasihat di atas. Bisa jadi masalah-masalah kita belum Allah angkat dan berikan jalan keluar, cuma lantaran ada tindakan zalim kita pada orang lain yang belum kita utarakan maaf. Bahkan mungkin tanpa sadar, asap rokok kitalah yang membuat orang lain mendoakan jelek pada kita yang merokok. Semoga menjadi renungan berharga pagi bagi para perokok. Moga Allah beri hidayah dan menjauhkan kita dari setiap kezaliman. — [1] Di antara nasihat Umar bin Al-Khattab radhiyallahu ‘anhu, مَا عَاقَبْتَ مَنْ عَصَى اللهَ فِيْكَ بِمِثْلِ أَنْ تَطِيْعَ اللهَ فِيْهِ “Engkau tiada pernah dapat membalas orang yang telah berbuat dosa kepada Allah dengan cara menyakiti dirimu, melebihi sikapmu yang tetap menegakkan ketaatan kepada Allah pada diri orang tersebut.” (HR. Al-Baihaqi dalam Syu’ab Al-Iman, 6: 323). Maksudnya, tetap lebih baik membalas orang yang menzalimi kita dengan kebaikan.   Allah Ta’ala berfirman, وَلَا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ (34) وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الَّذِينَ صَبَرُوا وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ (35) “Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar.” (QS. Fushilat: 34-35) — @ DS, Panggang, Gunungkidul, Jumat pagi, 11 Jumadats Tsaniyyah 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagsdizalimi menzalimi perokok rokok


Tidak khawatirkah para perokok dengan asap rokoknya? Taruhlah ia mendapatkan kesenangan? Namun asapnya itu sebenarnya mengganggu dan menzalimi yang lain. Apa tak takut dengan doa jelek orang yang terzalimi atau tersakiti? Tonton videonya:   Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Mu’adz bin Jabal pernah diberi wasiat oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika diutus ke Yaman, وَاتَّقِ دَعْوَةَ الْمَظْلُومِ ، فَإِنَّهُ لَيْسَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ اللَّهِ حِجَابٌ “Hati-hatilah dengan doa orang yang dizalimi. Ingatlah tak ada hijab antara dirinya dengan Allah (doa tersebut akan diijabahi, tak tertolak, pen-).” (HR. Bukhari, no. 1496 dan Muslim, no. 19) Hadits ini kata Imam Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim (9: 100) menunjukkan larangan untuk bertindak zalim. Ibnu Hajar dalam Fath Al-Bar (3: 360) menyatakan bahwa doa tetap terkabul walaupun yang mendoakan adalah orang yang fajir (gemar maksiat). Sebagaimana disebutkan dalam hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, دَعْوَةُ الْمَظْلُومِ مُسْتَجَابَةٌ وَإِنْ كَانَ فَاجِراً فَفُجُورُهُ عَلَى نَفْسِهِ “Doa orang yang terzalimi itu terkabul meskipun yang mendoakan adalah orang yang fajir (gemar maksiat). Kefajiran yang perbuat itu tanggung jawab dirinya.” (HR. Ahmad, 2: 367. Ibnu Hajar menyatakan dalam Fath Al-Bari, 3: 360 bahwa hadits ini hasan. Sedangkan Syaikh Syu’aib Al-Arnauth pada komentarnya dalam Musnad Imam Ahmad mengatakan bahwa hadits ini dha’if) Syukur-syukur orang yang dizalimi malah doakan kebaikan[1], “Moga si perokok itu mendapatkan hidayah.” Namun kalau yang ia doakan jelek bagaimana? Coba renungkan nasihat di atas. Bisa jadi masalah-masalah kita belum Allah angkat dan berikan jalan keluar, cuma lantaran ada tindakan zalim kita pada orang lain yang belum kita utarakan maaf. Bahkan mungkin tanpa sadar, asap rokok kitalah yang membuat orang lain mendoakan jelek pada kita yang merokok. Semoga menjadi renungan berharga pagi bagi para perokok. Moga Allah beri hidayah dan menjauhkan kita dari setiap kezaliman. — [1] Di antara nasihat Umar bin Al-Khattab radhiyallahu ‘anhu, مَا عَاقَبْتَ مَنْ عَصَى اللهَ فِيْكَ بِمِثْلِ أَنْ تَطِيْعَ اللهَ فِيْهِ “Engkau tiada pernah dapat membalas orang yang telah berbuat dosa kepada Allah dengan cara menyakiti dirimu, melebihi sikapmu yang tetap menegakkan ketaatan kepada Allah pada diri orang tersebut.” (HR. Al-Baihaqi dalam Syu’ab Al-Iman, 6: 323). Maksudnya, tetap lebih baik membalas orang yang menzalimi kita dengan kebaikan.   Allah Ta’ala berfirman, وَلَا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ (34) وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الَّذِينَ صَبَرُوا وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ (35) “Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar.” (QS. Fushilat: 34-35) — @ DS, Panggang, Gunungkidul, Jumat pagi, 11 Jumadats Tsaniyyah 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagsdizalimi menzalimi perokok rokok

7 Solusi Utang Riba

Anda mungkin di antara yang terlilit utang riba. Bagaimana solusi terbaik untuk menyelesaikan utang riba?   1- Bertaubat dari riba. Ini langkah pertama sebelum langkah lainnya. Taubat yang sungguh-sungguh adalah bertekad tidak ingin meminjam uang dengan cara riba lagi. Allah Ta’ala memerintahkan untuk melakukan taubat yang tulus, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا “Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya).” (QS. At Tahrim: 8)   2- Perbanyak istighfar  Terdapat sebuah atsar dari Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah yang menunjukkan bagaimana faedah istighfar yang luar biasa. “Sesungguhnya seseorang pernah mengadukan kepada A-Hasan tentang musim paceklik yang terjadi. Lalu Al-Hasan menasehatkan, “Beristigfarlah (mohon ampunlah) kepada Allah”. Kemudian orang lain mengadu lagi kepada beliau tentang kemiskinannya. Lalu Al-Hasan menasehatkan, “Beristigfarlah (mohon ampunlah) kepada Allah”. Kemudian orang lain mengadu lagi kepada beliau tentang kekeringan pada lahan (kebunnya). Lalu Al-Hasan menasihatkan, “Beristigfarlah (mohon ampunlah) kepada Allah”. Kemudian orang lain mengadu lagi kepada beliau karena sampai waktu itu belum memiliki anak. Lalu Al-Hasan menasehatkan, “Beristigfarlah (mohon ampunlah) kepada Allah”. Kemudian setelah itu Al-Hasan Al-Bashri membacakan surat Nuh, فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا (10) يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا (11) وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا ) 12( “Maka aku katakan kepada mereka: ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.” (QS. Nuh: 10-12). (Riwayat ini disebutkan oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam Fath Al-Bari, 11: 98) Jadi, istighfar adalah pembuka pintu rezeki dan pembuka jalan agar terlepas dari utang yang memberatkan.   3- Lebih giat lagi untuk bekerja  Dengan makin kiat bekerja dan terus memperhatikan nafkah keluarga, maka Allah akan memberikan ganti dan memberikan jalan keluar. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ketika hamba berada di setiap pagi, ada dua malaikat yang turun dan berdoa, “Ya Allah berikanlah ganti pada yang gemar berinfak (rajin memberi nafkah pada keluarga).” Malaikat yang lain berdoa, “Ya Allah, berikanlah kebangkrutan bagi yang enggan bersedekah (memberi nafkah).” (HR. Bukhari, no. 1442 dan Muslim, no. 1010)   4- Bersikap lebih amanat  Semakin kita amanat, maka semakin orang akan menaruh kepercayaan kepada kita. Semakin tidak amanat, maka kita sendiri yang akan mendapatkan kesusahan. Itu realita yang terjadi di tengah-tengah kita. Kalau dalam masalah utang, kita bersikap amanat dalam mengembalikannya, maka tentu orang akan terus menaruh rasa percaya dan bisa saja tidak dikenakan riba saat peminjaman. Sifat amanah dalam berutang sudah barang tentu wajib dimiliki. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Tunaikanlah amanat kepada orang yang menitipkan amanat padamu.” (HR. Abu Daud no. 3535 dan At Tirmidzi no. 1624, hasan shahih)   5- Bersikap hidup lebih sederhana dan qana’ah Dengan bersikap hidup sederhana kala terlilit utang, maka akan mengurangi pengeluaran dan akhirnya lebih diprioritaskan pada pelunasan utang. Sifat qana’ah yaitu merasa cukup dan bnar-benar bersyukur dengan rezeki yang Allah beri sunggu akan mendatangkan kebaikan. dari ’Abdullah bin ’Amr bin Al ’Ash, Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh beruntung orang yang diberi petunjuk dalam Islam, diberi rizki yang cukup, dan qana’ah (merasa cukup) dengan rizki tersebut.” (HR. Ibnu Majah, no. 4138. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).   6- Jual aset untuk melunasi utang  Sebagian orang sebenarnya punya aset yang berharga dan itu bisa digunakan untuk melunasi utang riba ratusan juta. Namun karena saking hasratnya tetap harus memiliki harta jadi utang tersebut terus ditahan. Padahal jika tanah, rumah atau kendaraan sebagai aset yang ia miiki dijual, maka akan lunas semua utangnya. Ingatlah, orang yang serius untuk melunasi utangnya akan ditolong oleh Allah. Sebaliknya yang enggan lunasi padahal punya aset dan mampu melunasi, tentu akan jauh dari pertolongan Allah. Dari ‘Abdullah bin Ja’far, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ اللَّهَ مَعَ الدَّائِنِ حَتَّى يَقْضِىَ دَيْنَهُ مَا لَمْ يَكُنْ فِيمَا يَكْرَهُ اللَّهُ “Allah akan bersama (memberi pertolongan pada) orang yang berutang (yang ingin melunasi utangnya) sampai dia melunasi utang tersebut selama utang tersebut bukanlah sesuatu yang dilarang oleh Allah.” (HR. Ibnu Majah, no. 2400. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).   7- Hindari gali lubang tutup lubang  Percaya deh, menyelesaikan lubang dengan menggali lubang akan membuat kita makin pusing. Hanya Allah yang memberi taufik. Wallahu waliyyut taufiq was sadaad. — Sore hari @ DS Panggang, 10 Jumadats Tsaniyyah 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagskredit riba solusi utang riba utang utang piutang

7 Solusi Utang Riba

Anda mungkin di antara yang terlilit utang riba. Bagaimana solusi terbaik untuk menyelesaikan utang riba?   1- Bertaubat dari riba. Ini langkah pertama sebelum langkah lainnya. Taubat yang sungguh-sungguh adalah bertekad tidak ingin meminjam uang dengan cara riba lagi. Allah Ta’ala memerintahkan untuk melakukan taubat yang tulus, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا “Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya).” (QS. At Tahrim: 8)   2- Perbanyak istighfar  Terdapat sebuah atsar dari Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah yang menunjukkan bagaimana faedah istighfar yang luar biasa. “Sesungguhnya seseorang pernah mengadukan kepada A-Hasan tentang musim paceklik yang terjadi. Lalu Al-Hasan menasehatkan, “Beristigfarlah (mohon ampunlah) kepada Allah”. Kemudian orang lain mengadu lagi kepada beliau tentang kemiskinannya. Lalu Al-Hasan menasehatkan, “Beristigfarlah (mohon ampunlah) kepada Allah”. Kemudian orang lain mengadu lagi kepada beliau tentang kekeringan pada lahan (kebunnya). Lalu Al-Hasan menasihatkan, “Beristigfarlah (mohon ampunlah) kepada Allah”. Kemudian orang lain mengadu lagi kepada beliau karena sampai waktu itu belum memiliki anak. Lalu Al-Hasan menasehatkan, “Beristigfarlah (mohon ampunlah) kepada Allah”. Kemudian setelah itu Al-Hasan Al-Bashri membacakan surat Nuh, فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا (10) يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا (11) وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا ) 12( “Maka aku katakan kepada mereka: ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.” (QS. Nuh: 10-12). (Riwayat ini disebutkan oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam Fath Al-Bari, 11: 98) Jadi, istighfar adalah pembuka pintu rezeki dan pembuka jalan agar terlepas dari utang yang memberatkan.   3- Lebih giat lagi untuk bekerja  Dengan makin kiat bekerja dan terus memperhatikan nafkah keluarga, maka Allah akan memberikan ganti dan memberikan jalan keluar. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ketika hamba berada di setiap pagi, ada dua malaikat yang turun dan berdoa, “Ya Allah berikanlah ganti pada yang gemar berinfak (rajin memberi nafkah pada keluarga).” Malaikat yang lain berdoa, “Ya Allah, berikanlah kebangkrutan bagi yang enggan bersedekah (memberi nafkah).” (HR. Bukhari, no. 1442 dan Muslim, no. 1010)   4- Bersikap lebih amanat  Semakin kita amanat, maka semakin orang akan menaruh kepercayaan kepada kita. Semakin tidak amanat, maka kita sendiri yang akan mendapatkan kesusahan. Itu realita yang terjadi di tengah-tengah kita. Kalau dalam masalah utang, kita bersikap amanat dalam mengembalikannya, maka tentu orang akan terus menaruh rasa percaya dan bisa saja tidak dikenakan riba saat peminjaman. Sifat amanah dalam berutang sudah barang tentu wajib dimiliki. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Tunaikanlah amanat kepada orang yang menitipkan amanat padamu.” (HR. Abu Daud no. 3535 dan At Tirmidzi no. 1624, hasan shahih)   5- Bersikap hidup lebih sederhana dan qana’ah Dengan bersikap hidup sederhana kala terlilit utang, maka akan mengurangi pengeluaran dan akhirnya lebih diprioritaskan pada pelunasan utang. Sifat qana’ah yaitu merasa cukup dan bnar-benar bersyukur dengan rezeki yang Allah beri sunggu akan mendatangkan kebaikan. dari ’Abdullah bin ’Amr bin Al ’Ash, Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh beruntung orang yang diberi petunjuk dalam Islam, diberi rizki yang cukup, dan qana’ah (merasa cukup) dengan rizki tersebut.” (HR. Ibnu Majah, no. 4138. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).   6- Jual aset untuk melunasi utang  Sebagian orang sebenarnya punya aset yang berharga dan itu bisa digunakan untuk melunasi utang riba ratusan juta. Namun karena saking hasratnya tetap harus memiliki harta jadi utang tersebut terus ditahan. Padahal jika tanah, rumah atau kendaraan sebagai aset yang ia miiki dijual, maka akan lunas semua utangnya. Ingatlah, orang yang serius untuk melunasi utangnya akan ditolong oleh Allah. Sebaliknya yang enggan lunasi padahal punya aset dan mampu melunasi, tentu akan jauh dari pertolongan Allah. Dari ‘Abdullah bin Ja’far, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ اللَّهَ مَعَ الدَّائِنِ حَتَّى يَقْضِىَ دَيْنَهُ مَا لَمْ يَكُنْ فِيمَا يَكْرَهُ اللَّهُ “Allah akan bersama (memberi pertolongan pada) orang yang berutang (yang ingin melunasi utangnya) sampai dia melunasi utang tersebut selama utang tersebut bukanlah sesuatu yang dilarang oleh Allah.” (HR. Ibnu Majah, no. 2400. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).   7- Hindari gali lubang tutup lubang  Percaya deh, menyelesaikan lubang dengan menggali lubang akan membuat kita makin pusing. Hanya Allah yang memberi taufik. Wallahu waliyyut taufiq was sadaad. — Sore hari @ DS Panggang, 10 Jumadats Tsaniyyah 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagskredit riba solusi utang riba utang utang piutang
Anda mungkin di antara yang terlilit utang riba. Bagaimana solusi terbaik untuk menyelesaikan utang riba?   1- Bertaubat dari riba. Ini langkah pertama sebelum langkah lainnya. Taubat yang sungguh-sungguh adalah bertekad tidak ingin meminjam uang dengan cara riba lagi. Allah Ta’ala memerintahkan untuk melakukan taubat yang tulus, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا “Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya).” (QS. At Tahrim: 8)   2- Perbanyak istighfar  Terdapat sebuah atsar dari Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah yang menunjukkan bagaimana faedah istighfar yang luar biasa. “Sesungguhnya seseorang pernah mengadukan kepada A-Hasan tentang musim paceklik yang terjadi. Lalu Al-Hasan menasehatkan, “Beristigfarlah (mohon ampunlah) kepada Allah”. Kemudian orang lain mengadu lagi kepada beliau tentang kemiskinannya. Lalu Al-Hasan menasehatkan, “Beristigfarlah (mohon ampunlah) kepada Allah”. Kemudian orang lain mengadu lagi kepada beliau tentang kekeringan pada lahan (kebunnya). Lalu Al-Hasan menasihatkan, “Beristigfarlah (mohon ampunlah) kepada Allah”. Kemudian orang lain mengadu lagi kepada beliau karena sampai waktu itu belum memiliki anak. Lalu Al-Hasan menasehatkan, “Beristigfarlah (mohon ampunlah) kepada Allah”. Kemudian setelah itu Al-Hasan Al-Bashri membacakan surat Nuh, فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا (10) يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا (11) وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا ) 12( “Maka aku katakan kepada mereka: ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.” (QS. Nuh: 10-12). (Riwayat ini disebutkan oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam Fath Al-Bari, 11: 98) Jadi, istighfar adalah pembuka pintu rezeki dan pembuka jalan agar terlepas dari utang yang memberatkan.   3- Lebih giat lagi untuk bekerja  Dengan makin kiat bekerja dan terus memperhatikan nafkah keluarga, maka Allah akan memberikan ganti dan memberikan jalan keluar. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ketika hamba berada di setiap pagi, ada dua malaikat yang turun dan berdoa, “Ya Allah berikanlah ganti pada yang gemar berinfak (rajin memberi nafkah pada keluarga).” Malaikat yang lain berdoa, “Ya Allah, berikanlah kebangkrutan bagi yang enggan bersedekah (memberi nafkah).” (HR. Bukhari, no. 1442 dan Muslim, no. 1010)   4- Bersikap lebih amanat  Semakin kita amanat, maka semakin orang akan menaruh kepercayaan kepada kita. Semakin tidak amanat, maka kita sendiri yang akan mendapatkan kesusahan. Itu realita yang terjadi di tengah-tengah kita. Kalau dalam masalah utang, kita bersikap amanat dalam mengembalikannya, maka tentu orang akan terus menaruh rasa percaya dan bisa saja tidak dikenakan riba saat peminjaman. Sifat amanah dalam berutang sudah barang tentu wajib dimiliki. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Tunaikanlah amanat kepada orang yang menitipkan amanat padamu.” (HR. Abu Daud no. 3535 dan At Tirmidzi no. 1624, hasan shahih)   5- Bersikap hidup lebih sederhana dan qana’ah Dengan bersikap hidup sederhana kala terlilit utang, maka akan mengurangi pengeluaran dan akhirnya lebih diprioritaskan pada pelunasan utang. Sifat qana’ah yaitu merasa cukup dan bnar-benar bersyukur dengan rezeki yang Allah beri sunggu akan mendatangkan kebaikan. dari ’Abdullah bin ’Amr bin Al ’Ash, Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh beruntung orang yang diberi petunjuk dalam Islam, diberi rizki yang cukup, dan qana’ah (merasa cukup) dengan rizki tersebut.” (HR. Ibnu Majah, no. 4138. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).   6- Jual aset untuk melunasi utang  Sebagian orang sebenarnya punya aset yang berharga dan itu bisa digunakan untuk melunasi utang riba ratusan juta. Namun karena saking hasratnya tetap harus memiliki harta jadi utang tersebut terus ditahan. Padahal jika tanah, rumah atau kendaraan sebagai aset yang ia miiki dijual, maka akan lunas semua utangnya. Ingatlah, orang yang serius untuk melunasi utangnya akan ditolong oleh Allah. Sebaliknya yang enggan lunasi padahal punya aset dan mampu melunasi, tentu akan jauh dari pertolongan Allah. Dari ‘Abdullah bin Ja’far, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ اللَّهَ مَعَ الدَّائِنِ حَتَّى يَقْضِىَ دَيْنَهُ مَا لَمْ يَكُنْ فِيمَا يَكْرَهُ اللَّهُ “Allah akan bersama (memberi pertolongan pada) orang yang berutang (yang ingin melunasi utangnya) sampai dia melunasi utang tersebut selama utang tersebut bukanlah sesuatu yang dilarang oleh Allah.” (HR. Ibnu Majah, no. 2400. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).   7- Hindari gali lubang tutup lubang  Percaya deh, menyelesaikan lubang dengan menggali lubang akan membuat kita makin pusing. Hanya Allah yang memberi taufik. Wallahu waliyyut taufiq was sadaad. — Sore hari @ DS Panggang, 10 Jumadats Tsaniyyah 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagskredit riba solusi utang riba utang utang piutang


Anda mungkin di antara yang terlilit utang riba. Bagaimana solusi terbaik untuk menyelesaikan utang riba?   1- Bertaubat dari riba. Ini langkah pertama sebelum langkah lainnya. Taubat yang sungguh-sungguh adalah bertekad tidak ingin meminjam uang dengan cara riba lagi. Allah Ta’ala memerintahkan untuk melakukan taubat yang tulus, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا “Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya).” (QS. At Tahrim: 8)   2- Perbanyak istighfar  Terdapat sebuah atsar dari Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah yang menunjukkan bagaimana faedah istighfar yang luar biasa. “Sesungguhnya seseorang pernah mengadukan kepada A-Hasan tentang musim paceklik yang terjadi. Lalu Al-Hasan menasehatkan, “Beristigfarlah (mohon ampunlah) kepada Allah”. Kemudian orang lain mengadu lagi kepada beliau tentang kemiskinannya. Lalu Al-Hasan menasehatkan, “Beristigfarlah (mohon ampunlah) kepada Allah”. Kemudian orang lain mengadu lagi kepada beliau tentang kekeringan pada lahan (kebunnya). Lalu Al-Hasan menasihatkan, “Beristigfarlah (mohon ampunlah) kepada Allah”. Kemudian orang lain mengadu lagi kepada beliau karena sampai waktu itu belum memiliki anak. Lalu Al-Hasan menasehatkan, “Beristigfarlah (mohon ampunlah) kepada Allah”. Kemudian setelah itu Al-Hasan Al-Bashri membacakan surat Nuh, فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا (10) يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا (11) وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا ) 12( “Maka aku katakan kepada mereka: ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.” (QS. Nuh: 10-12). (Riwayat ini disebutkan oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam Fath Al-Bari, 11: 98) Jadi, istighfar adalah pembuka pintu rezeki dan pembuka jalan agar terlepas dari utang yang memberatkan.   3- Lebih giat lagi untuk bekerja  Dengan makin kiat bekerja dan terus memperhatikan nafkah keluarga, maka Allah akan memberikan ganti dan memberikan jalan keluar. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ketika hamba berada di setiap pagi, ada dua malaikat yang turun dan berdoa, “Ya Allah berikanlah ganti pada yang gemar berinfak (rajin memberi nafkah pada keluarga).” Malaikat yang lain berdoa, “Ya Allah, berikanlah kebangkrutan bagi yang enggan bersedekah (memberi nafkah).” (HR. Bukhari, no. 1442 dan Muslim, no. 1010)   4- Bersikap lebih amanat  Semakin kita amanat, maka semakin orang akan menaruh kepercayaan kepada kita. Semakin tidak amanat, maka kita sendiri yang akan mendapatkan kesusahan. Itu realita yang terjadi di tengah-tengah kita. Kalau dalam masalah utang, kita bersikap amanat dalam mengembalikannya, maka tentu orang akan terus menaruh rasa percaya dan bisa saja tidak dikenakan riba saat peminjaman. Sifat amanah dalam berutang sudah barang tentu wajib dimiliki. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Tunaikanlah amanat kepada orang yang menitipkan amanat padamu.” (HR. Abu Daud no. 3535 dan At Tirmidzi no. 1624, hasan shahih)   5- Bersikap hidup lebih sederhana dan qana’ah Dengan bersikap hidup sederhana kala terlilit utang, maka akan mengurangi pengeluaran dan akhirnya lebih diprioritaskan pada pelunasan utang. Sifat qana’ah yaitu merasa cukup dan bnar-benar bersyukur dengan rezeki yang Allah beri sunggu akan mendatangkan kebaikan. dari ’Abdullah bin ’Amr bin Al ’Ash, Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh beruntung orang yang diberi petunjuk dalam Islam, diberi rizki yang cukup, dan qana’ah (merasa cukup) dengan rizki tersebut.” (HR. Ibnu Majah, no. 4138. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).   6- Jual aset untuk melunasi utang  Sebagian orang sebenarnya punya aset yang berharga dan itu bisa digunakan untuk melunasi utang riba ratusan juta. Namun karena saking hasratnya tetap harus memiliki harta jadi utang tersebut terus ditahan. Padahal jika tanah, rumah atau kendaraan sebagai aset yang ia miiki dijual, maka akan lunas semua utangnya. Ingatlah, orang yang serius untuk melunasi utangnya akan ditolong oleh Allah. Sebaliknya yang enggan lunasi padahal punya aset dan mampu melunasi, tentu akan jauh dari pertolongan Allah. Dari ‘Abdullah bin Ja’far, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ اللَّهَ مَعَ الدَّائِنِ حَتَّى يَقْضِىَ دَيْنَهُ مَا لَمْ يَكُنْ فِيمَا يَكْرَهُ اللَّهُ “Allah akan bersama (memberi pertolongan pada) orang yang berutang (yang ingin melunasi utangnya) sampai dia melunasi utang tersebut selama utang tersebut bukanlah sesuatu yang dilarang oleh Allah.” (HR. Ibnu Majah, no. 2400. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).   7- Hindari gali lubang tutup lubang  Percaya deh, menyelesaikan lubang dengan menggali lubang akan membuat kita makin pusing. Hanya Allah yang memberi taufik. Wallahu waliyyut taufiq was sadaad. — Sore hari @ DS Panggang, 10 Jumadats Tsaniyyah 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagskredit riba solusi utang riba utang utang piutang

Faedah Surat Yasin: Hancurnya Umat Karena Mentaati Setan

Kali ini faedah surat Yasin yaitu setan adalah musuh manusia, hancurnya umat karena mentaati setan. سَلَامٌ قَوْلًا مِنْ رَبٍّ رَحِيمٍ (58) وَامْتَازُوا الْيَوْمَ أَيُّهَا الْمُجْرِمُونَ (59) أَلَمْ أَعْهَدْ إِلَيْكُمْ يَا بَنِي آَدَمَ أَنْ لَا تَعْبُدُوا الشَّيْطَانَ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ (60) وَأَنِ اعْبُدُونِي هَذَا صِرَاطٌ مُسْتَقِيمٌ (61) وَلَقَدْ أَضَلَّ مِنْكُمْ جِبِلًّا كَثِيرًا أَفَلَمْ تَكُونُوا تَعْقِلُونَ (62) “(Kepada mereka dikatakan): “Salam”, sebagai ucapan selamat dari Tuhan Yang Maha Penyayang. Dan (dikatakan kepada orang-orang kafir): “Berpisahlah kamu (dari orang-orang mukmin) pada hari ini, hai orang-orang yang berbuat jahat. Bukankah Aku telah memerintahkan kepadamu hai Bani Adam supaya kamu tidak menyembah syaitan? Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu”, dan hendaklah kamu menyembah-Ku. Inilah jalan yang lurus. Sesungguhnya syaitan itu telah menyesatkan sebahagian besar diantaramu, Maka apakah kamu tidak memikirkan?” (QS. Yasin: 58-62)   Kesimpulan Mutiara Ayat   Kata Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Allah sendiri yang mengucapkan salam kepada penduduk surga. Sebagaimana disebutkan dalam surat Al-Ahzab ayat 44 (yang artinya), “Salam penghormatan kepada mereka (orang-orang mukmin itu) pada hari mereka menemui-Nya ialah: Salam; dan Dia menyediakan pahala yang mulia bagi mereka.” Orang-orang beriman dan orang-orang kafir akan berpisah pada hari kiamat. Ayat 59 dari surat Yasin dikatakan oleh Adh-Dhahhak, setiap orang kafir memiliki rumah. Api akan masuk ke dalam rumah tersebut dan mengalir di depan pintunya. Itu akan berlangsung selamanya. Akhirnya mereka tidak bisa melihat dan tidak bisa dilihat. Ayat 60 bertujuan untuk menggertak orang kafir dari Bani Adam yang mentaati setan. Setan itu musuh manusia. Setan telah mendurhakai Allah yang telah menciptakan dan memberikan rezeki padanya. Di dunia, kita diperintahkan untuk mendurhakai setan dan kita diperintahkan untuk beribadah pada Allah. Itulah jalan yang lurus. Siapa yang mengikuti selain jalan yang lurus tersebut dan ia mengikuti setan, berarti ia telah sesat. Imam Al-Husain bin Mas’ud Al-Baghawi menyatakan bahwa maksud kalimat “sembahlah Aku”, yaitu athi’uunii wa wahhidunii, artinya taatilah Aku dan esakanlah Aku. Artinya maksud Imam Al-Baghawi, kita diperintahkan beribadah dengan mentauhidkan Allah, tidak menyekutukan Allah dengan selain-Nya. Kata Imam Al-Baghawi, tidakkah kita memikirkan bahwa yang menghancurkan umat sebelum kita karena mentaati Iblis. Kapan disebut mentaati setan? Pokoknya setiap menyelesihi perintah Ar-Rahman (perintah Allah Sang Khaliq), maka berarti mentaati setan.   Referensi: Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, karya Ibnu Katsir rahimahullah, Penerbit Dar Ibnul Jauzi 6: 348-349; Ma’alim At-Tanzil, karya Imam Al-Husain bin Mas’ud Al-Baghawi rahimahullah, Penerbit Dar Thiybah, 3: 645-646; ‘Alam Al-Jin wa Asy-Syaithan, hlm. 79.   — Malam hari @ DS, Panggang, Malam 7 Jumadats Tsaniyyah 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagsfaedah surat yasin setan surat yasin tafsir surat yasin yasinan

Faedah Surat Yasin: Hancurnya Umat Karena Mentaati Setan

Kali ini faedah surat Yasin yaitu setan adalah musuh manusia, hancurnya umat karena mentaati setan. سَلَامٌ قَوْلًا مِنْ رَبٍّ رَحِيمٍ (58) وَامْتَازُوا الْيَوْمَ أَيُّهَا الْمُجْرِمُونَ (59) أَلَمْ أَعْهَدْ إِلَيْكُمْ يَا بَنِي آَدَمَ أَنْ لَا تَعْبُدُوا الشَّيْطَانَ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ (60) وَأَنِ اعْبُدُونِي هَذَا صِرَاطٌ مُسْتَقِيمٌ (61) وَلَقَدْ أَضَلَّ مِنْكُمْ جِبِلًّا كَثِيرًا أَفَلَمْ تَكُونُوا تَعْقِلُونَ (62) “(Kepada mereka dikatakan): “Salam”, sebagai ucapan selamat dari Tuhan Yang Maha Penyayang. Dan (dikatakan kepada orang-orang kafir): “Berpisahlah kamu (dari orang-orang mukmin) pada hari ini, hai orang-orang yang berbuat jahat. Bukankah Aku telah memerintahkan kepadamu hai Bani Adam supaya kamu tidak menyembah syaitan? Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu”, dan hendaklah kamu menyembah-Ku. Inilah jalan yang lurus. Sesungguhnya syaitan itu telah menyesatkan sebahagian besar diantaramu, Maka apakah kamu tidak memikirkan?” (QS. Yasin: 58-62)   Kesimpulan Mutiara Ayat   Kata Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Allah sendiri yang mengucapkan salam kepada penduduk surga. Sebagaimana disebutkan dalam surat Al-Ahzab ayat 44 (yang artinya), “Salam penghormatan kepada mereka (orang-orang mukmin itu) pada hari mereka menemui-Nya ialah: Salam; dan Dia menyediakan pahala yang mulia bagi mereka.” Orang-orang beriman dan orang-orang kafir akan berpisah pada hari kiamat. Ayat 59 dari surat Yasin dikatakan oleh Adh-Dhahhak, setiap orang kafir memiliki rumah. Api akan masuk ke dalam rumah tersebut dan mengalir di depan pintunya. Itu akan berlangsung selamanya. Akhirnya mereka tidak bisa melihat dan tidak bisa dilihat. Ayat 60 bertujuan untuk menggertak orang kafir dari Bani Adam yang mentaati setan. Setan itu musuh manusia. Setan telah mendurhakai Allah yang telah menciptakan dan memberikan rezeki padanya. Di dunia, kita diperintahkan untuk mendurhakai setan dan kita diperintahkan untuk beribadah pada Allah. Itulah jalan yang lurus. Siapa yang mengikuti selain jalan yang lurus tersebut dan ia mengikuti setan, berarti ia telah sesat. Imam Al-Husain bin Mas’ud Al-Baghawi menyatakan bahwa maksud kalimat “sembahlah Aku”, yaitu athi’uunii wa wahhidunii, artinya taatilah Aku dan esakanlah Aku. Artinya maksud Imam Al-Baghawi, kita diperintahkan beribadah dengan mentauhidkan Allah, tidak menyekutukan Allah dengan selain-Nya. Kata Imam Al-Baghawi, tidakkah kita memikirkan bahwa yang menghancurkan umat sebelum kita karena mentaati Iblis. Kapan disebut mentaati setan? Pokoknya setiap menyelesihi perintah Ar-Rahman (perintah Allah Sang Khaliq), maka berarti mentaati setan.   Referensi: Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, karya Ibnu Katsir rahimahullah, Penerbit Dar Ibnul Jauzi 6: 348-349; Ma’alim At-Tanzil, karya Imam Al-Husain bin Mas’ud Al-Baghawi rahimahullah, Penerbit Dar Thiybah, 3: 645-646; ‘Alam Al-Jin wa Asy-Syaithan, hlm. 79.   — Malam hari @ DS, Panggang, Malam 7 Jumadats Tsaniyyah 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagsfaedah surat yasin setan surat yasin tafsir surat yasin yasinan
Kali ini faedah surat Yasin yaitu setan adalah musuh manusia, hancurnya umat karena mentaati setan. سَلَامٌ قَوْلًا مِنْ رَبٍّ رَحِيمٍ (58) وَامْتَازُوا الْيَوْمَ أَيُّهَا الْمُجْرِمُونَ (59) أَلَمْ أَعْهَدْ إِلَيْكُمْ يَا بَنِي آَدَمَ أَنْ لَا تَعْبُدُوا الشَّيْطَانَ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ (60) وَأَنِ اعْبُدُونِي هَذَا صِرَاطٌ مُسْتَقِيمٌ (61) وَلَقَدْ أَضَلَّ مِنْكُمْ جِبِلًّا كَثِيرًا أَفَلَمْ تَكُونُوا تَعْقِلُونَ (62) “(Kepada mereka dikatakan): “Salam”, sebagai ucapan selamat dari Tuhan Yang Maha Penyayang. Dan (dikatakan kepada orang-orang kafir): “Berpisahlah kamu (dari orang-orang mukmin) pada hari ini, hai orang-orang yang berbuat jahat. Bukankah Aku telah memerintahkan kepadamu hai Bani Adam supaya kamu tidak menyembah syaitan? Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu”, dan hendaklah kamu menyembah-Ku. Inilah jalan yang lurus. Sesungguhnya syaitan itu telah menyesatkan sebahagian besar diantaramu, Maka apakah kamu tidak memikirkan?” (QS. Yasin: 58-62)   Kesimpulan Mutiara Ayat   Kata Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Allah sendiri yang mengucapkan salam kepada penduduk surga. Sebagaimana disebutkan dalam surat Al-Ahzab ayat 44 (yang artinya), “Salam penghormatan kepada mereka (orang-orang mukmin itu) pada hari mereka menemui-Nya ialah: Salam; dan Dia menyediakan pahala yang mulia bagi mereka.” Orang-orang beriman dan orang-orang kafir akan berpisah pada hari kiamat. Ayat 59 dari surat Yasin dikatakan oleh Adh-Dhahhak, setiap orang kafir memiliki rumah. Api akan masuk ke dalam rumah tersebut dan mengalir di depan pintunya. Itu akan berlangsung selamanya. Akhirnya mereka tidak bisa melihat dan tidak bisa dilihat. Ayat 60 bertujuan untuk menggertak orang kafir dari Bani Adam yang mentaati setan. Setan itu musuh manusia. Setan telah mendurhakai Allah yang telah menciptakan dan memberikan rezeki padanya. Di dunia, kita diperintahkan untuk mendurhakai setan dan kita diperintahkan untuk beribadah pada Allah. Itulah jalan yang lurus. Siapa yang mengikuti selain jalan yang lurus tersebut dan ia mengikuti setan, berarti ia telah sesat. Imam Al-Husain bin Mas’ud Al-Baghawi menyatakan bahwa maksud kalimat “sembahlah Aku”, yaitu athi’uunii wa wahhidunii, artinya taatilah Aku dan esakanlah Aku. Artinya maksud Imam Al-Baghawi, kita diperintahkan beribadah dengan mentauhidkan Allah, tidak menyekutukan Allah dengan selain-Nya. Kata Imam Al-Baghawi, tidakkah kita memikirkan bahwa yang menghancurkan umat sebelum kita karena mentaati Iblis. Kapan disebut mentaati setan? Pokoknya setiap menyelesihi perintah Ar-Rahman (perintah Allah Sang Khaliq), maka berarti mentaati setan.   Referensi: Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, karya Ibnu Katsir rahimahullah, Penerbit Dar Ibnul Jauzi 6: 348-349; Ma’alim At-Tanzil, karya Imam Al-Husain bin Mas’ud Al-Baghawi rahimahullah, Penerbit Dar Thiybah, 3: 645-646; ‘Alam Al-Jin wa Asy-Syaithan, hlm. 79.   — Malam hari @ DS, Panggang, Malam 7 Jumadats Tsaniyyah 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagsfaedah surat yasin setan surat yasin tafsir surat yasin yasinan


Kali ini faedah surat Yasin yaitu setan adalah musuh manusia, hancurnya umat karena mentaati setan. سَلَامٌ قَوْلًا مِنْ رَبٍّ رَحِيمٍ (58) وَامْتَازُوا الْيَوْمَ أَيُّهَا الْمُجْرِمُونَ (59) أَلَمْ أَعْهَدْ إِلَيْكُمْ يَا بَنِي آَدَمَ أَنْ لَا تَعْبُدُوا الشَّيْطَانَ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ (60) وَأَنِ اعْبُدُونِي هَذَا صِرَاطٌ مُسْتَقِيمٌ (61) وَلَقَدْ أَضَلَّ مِنْكُمْ جِبِلًّا كَثِيرًا أَفَلَمْ تَكُونُوا تَعْقِلُونَ (62) “(Kepada mereka dikatakan): “Salam”, sebagai ucapan selamat dari Tuhan Yang Maha Penyayang. Dan (dikatakan kepada orang-orang kafir): “Berpisahlah kamu (dari orang-orang mukmin) pada hari ini, hai orang-orang yang berbuat jahat. Bukankah Aku telah memerintahkan kepadamu hai Bani Adam supaya kamu tidak menyembah syaitan? Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu”, dan hendaklah kamu menyembah-Ku. Inilah jalan yang lurus. Sesungguhnya syaitan itu telah menyesatkan sebahagian besar diantaramu, Maka apakah kamu tidak memikirkan?” (QS. Yasin: 58-62)   Kesimpulan Mutiara Ayat   Kata Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Allah sendiri yang mengucapkan salam kepada penduduk surga. Sebagaimana disebutkan dalam surat Al-Ahzab ayat 44 (yang artinya), “Salam penghormatan kepada mereka (orang-orang mukmin itu) pada hari mereka menemui-Nya ialah: Salam; dan Dia menyediakan pahala yang mulia bagi mereka.” Orang-orang beriman dan orang-orang kafir akan berpisah pada hari kiamat. Ayat 59 dari surat Yasin dikatakan oleh Adh-Dhahhak, setiap orang kafir memiliki rumah. Api akan masuk ke dalam rumah tersebut dan mengalir di depan pintunya. Itu akan berlangsung selamanya. Akhirnya mereka tidak bisa melihat dan tidak bisa dilihat. Ayat 60 bertujuan untuk menggertak orang kafir dari Bani Adam yang mentaati setan. Setan itu musuh manusia. Setan telah mendurhakai Allah yang telah menciptakan dan memberikan rezeki padanya. Di dunia, kita diperintahkan untuk mendurhakai setan dan kita diperintahkan untuk beribadah pada Allah. Itulah jalan yang lurus. Siapa yang mengikuti selain jalan yang lurus tersebut dan ia mengikuti setan, berarti ia telah sesat. Imam Al-Husain bin Mas’ud Al-Baghawi menyatakan bahwa maksud kalimat “sembahlah Aku”, yaitu athi’uunii wa wahhidunii, artinya taatilah Aku dan esakanlah Aku. Artinya maksud Imam Al-Baghawi, kita diperintahkan beribadah dengan mentauhidkan Allah, tidak menyekutukan Allah dengan selain-Nya. Kata Imam Al-Baghawi, tidakkah kita memikirkan bahwa yang menghancurkan umat sebelum kita karena mentaati Iblis. Kapan disebut mentaati setan? Pokoknya setiap menyelesihi perintah Ar-Rahman (perintah Allah Sang Khaliq), maka berarti mentaati setan.   Referensi: Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, karya Ibnu Katsir rahimahullah, Penerbit Dar Ibnul Jauzi 6: 348-349; Ma’alim At-Tanzil, karya Imam Al-Husain bin Mas’ud Al-Baghawi rahimahullah, Penerbit Dar Thiybah, 3: 645-646; ‘Alam Al-Jin wa Asy-Syaithan, hlm. 79.   — Malam hari @ DS, Panggang, Malam 7 Jumadats Tsaniyyah 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagsfaedah surat yasin setan surat yasin tafsir surat yasin yasinan

21 Faedah Tentang Hadiah

Ada 21 faedah tentang hadiah yang barangkali di antara kita belum mengetahuinya.   1- Hadiah itu punya pengaruh yang besar, semakin mempererat cinta dan mempersatukan hati, juga memperbaiki hubungan.   2- Terimalah hadiah dan berusahalah untuk membalasnya. Aisyah radhiyallahu ‘anha menyatakan, كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يَقْبَلُ الْهَدِيَّةَ وَيُثِيبُ عَلَيْهَا “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa menerima hadiah dan biasa pula membalasnya.” (HR. Bukhari, no. 2585)   3- Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri menerima hadiah, namun tidak menerima sedekah. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika disodorkan makanan, beliau bertanya dahulu apakah makanan tersebut berasal dari hadiah ataukah sedekah. Kalau itu sedekah, beliau berkata, “Kalian makan saja makanan tersebut.” Namun kalau makanan tersebut adalah hadiah, maka beliau menyantapnya. (HR. Bukhari, no. 2576 dan Muslim, no. 1077) Dari ‘Abdullah bin Busr radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menerima hadiah dan tidak menerima sedekah.” (HR. Ahmad, 4: 189, sanadnya hasan kata Syaikh Musthofa Al-‘Adawi dalam Fiqh Al-Akhlaq, hlm. 67)   4- Tetap memberi hadiah walau jumlahnya sedikit. Coba perhatikan apa yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebutkan pada para wanita, يَا نِسَاءَ الْمُسْلِمَاتِ لاَ تَحْقِرَنَّ جَارَةٌ لِجَارَتِهَا ، وَلَوْ فِرْسِنَ شَاةٍ “Wahai para wanita muslimah, tetaplah memberi hadiah pada tetangga walau hanya kaki kambing yang diberi.” (HR. Bukhari, no. 2566 dan Muslim, no. 1030) Ini pertanda bahwa tetaplah perhatikan tetangga dalam hadiah dengan sesuatu yang gampang bagi kita. Memberi sedikit tetap lebih baik daripada tidak sama sekali.   5- Rajin memberi hadiah akan menimbulkan rasa cinta. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, tahaadu tahaabbu, تَهَادَوْا تَحَابُّوا “Salinglah memberi hadiah, maka kalian akan saling mencintai.” (HR. Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrod, no. 594. Hadits ini dihasankan oleh Syaikh Al-Albani dalam Al-Irwa’, no. 1601. Syaikh Musthofa Al-‘Adawi dalam catatan kaki Fiqh Al-Akhlaq menyatakan bahwa sanad haditsnya hasan dengan syawahidnya) Juga ada hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, تَصَافَحُوْا يَذْهَبُ الغِلُّ ، وتَهَادَوْا تَحَابُّوا ، وَتَذْهَبُ الشَحْنَاءُ “Saling bersalamanlah (berjabat tanganlah) kalian, maka akan hilanglah kedengkian (dendam). Saling memberi hadiahlah kalian, maka kalian akan saling mencintai dan akan hilang kebencian.” (HR. Malik dalam Al-Muwatha’, 2/ 908/ 16. Syaikh Al-Albani menukilkan pernyataan dari Ibnu ‘Abdil Barr bahwa hadits ini bersambung dari beberapa jalur yang berbeda, semuanya hasan)   6- Hendaknya hadiah itu diterima, jangan ditolak. Dalam hadits ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, أَجِيبُوا الدَّاعِىَ وَلاَ تَرُدُّوا الْهَدِيَّةَ وَلاَ تَضْرِبُوا الْمُسْلِمِينَ “Terimalah hadiah, janganlah menolaknya. Janganlah memukul kaum muslimin.” (HR. Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrod, no. 157; Ahmad, 1: 404; Abu Ya’la, 9: 284, Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannafnya, 6: 555. Syaikh Musthofa Al-‘Adawi mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih dalam Fiqh Al-Akhlaq, hlm. 69. Hadits ini juga dinyatakan shahih oleh Syaikh Al-Albani dalam Al-Irwa’, no. 1616)   7- Hadiah yang sedikit tetap diterima sebagaimana jika diberi banyak. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لَوْ دُعِيتُ إِلَى ذِرَاعٍ أَوْ كُرَاعٍ لأَجَبْتُ ، وَلَوْ أُهْدِىَ إِلَىَّ ذِرَاعٌ أَوْ كُرَاعٌ لَقَبِلْتُ “Kalau aku diundang untuk menghadiri undangan yang di situ disajikan dziro’ (paha), aku hadir sebagaimana pula ketika disajikan kuro’ (kaki). Kalau aku diberi hadiah dziro’ (paha), aku terima sebagaimana ketika diberi hadiah kuro’ (kaki).” (HR. Bukhari, no. 2568) Dziro’ (paha) menandakan suatu yang mahal dan disukai. Kuro’ menandakan suatu yang remeh dan tidak punya nilai apa-apa. Demikian kata Syaikh Musthofa Al-‘Adawi dalam Fiqh Al-Akhlaq, hlm. 69.   8- Boleh saja hadiah itu ditolak atau dikembalikan. Kalau ada yang diberi hadiah lantas ia mengembalikan hadiah tersebut hendaklah kita tidak bersedih dan menaruh uzur padanya selama alasan yang diutarakan pada kita benar-benar jelas. Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, bahwa Nabi shalllallahu ‘alaihi wa sallam shalat mengenakan pakaian yang bergaris-garis, lalu beliau memandang kepada garis-garisnya sepintas. Maka, tatkala beliau selesai dari shalatnya, beliau bersabda, اذْهَبُوا بِخَمِيصَتِي هَذِهِ إِلَى أَبِي جَهْمٍ وَأْتُونِي بِأَنْبِجَانِيَّةِ أَبِي جَهْمٍ فَإِنَّهَا أَلْهَتْنِي آنِفًا عَنْ صَلاَتِي. “Bawalah pakaianku ini kepada Abu Jahm dan bawalah untukku ambijaaniyahnya Abu Jahm, sesungguhnya pakaian ini telah melalaikan aku dari shalatku.” Dari Ash-Sha’b bin Juttsamah Al-Laitsi -ia termasuk sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam-, bahwa ia pernah memberi hadiah kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berupa keledai liar saat beliau berada di Abwa -atau di Waddan- dan beliau sedang ihram, maka beliau pun menolaknya. Sha’b berkata, “Tatkala beliau melihat perubahan raut wajahku karena penolakannya terhadap hadiahku. Beliau bersabda, لَيْسَ بِنَا رَدٌّ عَلَيْكَ وَلَكِنَّا حُرُمٌ “Kami tidak menolak (karena ada sesuatu) atas dirimu, akan tetapi (karena) kami sedang dalam keadaan ihram.” (HR. Bukhari, no. 2596)   9- Boleh menyedekahkan sesuatu terus mewarisinya setelah itu. ‘Abdullah bin Buraidah dari ayahnya, ia berkata, “Seorang wanita datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku menyedekahkan seorang budak wanita kepada ibuku, dan ia (ibuku) telah wafat.’ Lalu beliau bersabda, قَدْ آجَرَكِ اللَّهُ وَرَدَّ عَلَيْكِ فِى الْمِيرَاثِ “Semoga Allah memberimu pahala dan Allah mengembalikan warisan kepadamu.” (HR. Ahmad, 5: 349. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih sesuai syarah Muslim)   10- Boleh menerima hadiah dari lawan jenis selama tidak menimbulkan godaan. عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِىَ اللهُ عَنْهُ قاَلَ: أَهْدَتْ أُمُّ حُفَيْدٍ خَالَةُ ابْنِ عَبَّاسٍ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَقِطًا وسَمْنًا وَأَضُبًّا فَأَكَلَ مِنَ الأَقِطِ والسَّمْنِ وَتَرَكَ الضَّبَّ تَقَّذُّرًا وَأَكَلَ عَلَى مَائِدَةِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَوْ كَانَ حَرَامًا مَا أُكِلَ عَلَى مَائِدَةِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallaahu ‘anhuma, ia berkata, “Bibiku Ummu Hufaid pernah memberikan hadiah kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam berupa mentega, keju dan daging dhabb (sejenis biawak). Beliau makan keju dan menteganya, dan beliau meninggalkan daging biawak karena merasa jijik, kemudian makanan yang dihidangkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dimakan (oleh para shahabat). Jika (dhabb itu) haram, niscaya kami tidak akan makan hidangan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Bukhari, no. 2575 dan Muslim, no. 1544)   11- Jangan sampai kita mengharap hadiah kita dikembalikan. Kalau memang punya harapan semacam itu, baiknya tidak memberi hadiah sama sekali. Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الْعَائِدُ فِى هِبَتِهِ كَالْكَلْبِ يَقِىءُ ، ثُمَّ يَعُودُ فِى قَيْئِهِ “Orang yang meminta kembali hadiahnya seperti anjing muntah lalu menelan muntahannya sendiri.” (HR. Bukhari, no. 2589 dan Muslim, no. 1622) Namun seorang ayah masih boleh mengambil kembali apa yang ia beri pada anaknya. Dari Ibnu ‘Umar dan Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhum, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ يَحِلُّ لِرَجُلٍ أَنْ يُعْطِىَ عَطِيَّةً أَوْ يَهَبَ هِبَةً فَيَرْجِعَ فِيهَا إِلاَّ الْوَالِدَ فِيمَا يُعْطِى وَلَدَهُ وَمَثَلُ الَّذِى يُعْطِى الْعَطِيَّةَ ثُمَّ يَرْجِعُ فِيهَا كَمَثَلِ الْكَلْبِ يَأْكُلُ فَإِذَا شَبِعَ قَاءَ ثُمَّ عَادَ فِى قَيْئِهِ “Tidak halal bagi seseorang memberikan suatu pemberian kemudian ia memintanya kembali kecuali ayah pada apa yang ia berikan kepada anaknya (maka boleh diminta kembali). Permisalan orang yang memberi hadiah lantas ia memintanya kembali seperti anjing yang makan, lalu ketika ia kenyang, ia muntahkan, kemudian ia menelan muntahannya.” (HR. Abu Daud, no. 3539; Tirmidzi, no. 1299; An-Nasa’i, no. 3720; Ibnu Majah, no. 2377. Hadits ini dishahihkan oleh Ibnul Jarud, 994; juga oleh Imam Al-Hakim, 2: 46, begitu pula disepakati oleh Imam Adz-Dzahabi)   12- Jangan pula mengungkit-ungkit hadiah yang telah diberi. Allah Ta’ala berfirman, قَوْلٌ مَعْرُوفٌ وَمَغْفِرَةٌ خَيْرٌ مِنْ صَدَقَةٍ يَتْبَعُهَا أَذًى وَاللَّهُ غَنِيٌّ حَلِيمٌ  ,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالْأَذَى “Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima). Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima).” (QS. Al-Baqarah: 263-264) Dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ada tiga orang yang tidak akan diajak bicara oleh Allah pada hari kiamat, tidak akan memandangnya, tidak akan meyucikannya, bagi mereka azab yang pedih.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengulangi hal itu sampai tiga kali. Abu Dzar berkata, “Benar-benar rugi mereka-mereka itu.” Abu Dzar pin bertanya, “Siapa mereka wahai Rasulullah?” Beliau pun menjawab, الْمُسْبِلُ وَالْمَنَّانُ وَالْمُنَفِّقُ سِلْعَتَهُ بِالْحَلِفِ الْكَاذِبِ 1- Orang yang isbal, pria yang menjulurkan pakaiannya di bawah mata kaki. 2- Orang yang mengungkit terus apa yang ia sedekahkan. 3- Orang yang melariskan dagangan dengan sumpah yang dusta.” (HR. Muslim, no. 106) Dalam riwayat Muslim lainnya disebutkan, “Al-mannan itu yang tidak memberi sesuatu melainkan ia selalu mengungkit-ungkitnya.”   13- Saling memberi hadiah antara suami istri juga penting untuk semakin langgengnya cinta antara keduanya. Coba lihat yang dibicarakan tentang mas kawin dalam ayat berikut. وَآتُوا النِّسَاءَ صَدُقَاتِهِنَّ نِحْلَةً فَإِن طِبْنَ لَكُمْ عَن شَيْءٍ مِّنْهُ نَفْسًا فَكُلُوهُ هَنِيئًا مَّرِيئًا “Berikanlah maskawin (mahar) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan. Kemudian jika mereka menyerahkan kepada kamu sebagian dari maskawin itu dengan senang hati, maka makanlah (ambillah) pemberian itu (sebagai makanan) yang sedap lagi baik akibatnya.” (QS. An-Nisaa’: 4) Ayat tersebut menunjukkan boleh saja istri memberi hadiah pada suami dari mahar (mas kawin) yang telah diberi. Hadiah antara suami istri menunjukkan cinta antara mereka. Bentuknya juga bisa dengan bertutur kata yang baik, mengutarakan kata-kata romantis antara mereka hingga pada senyuman manis.   14- Bagaimana jika hanya punya satu hadiah, kepada siapakah diberi? Kata Syaikh Musthofa Al-‘Adawi dalam Fiqh Al-Akhlaq, hlm. 72, dahulukan orang yang paling dekat. Dahulukan yang punya kedekatan nasab (keturunan) dan kedekatan sebagai tetangga. Coba perhatikan dahulu istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bernama Maimunah, ketika itu ia memiliki seorang budak wanita dan ia merdekakan budak tersebut (sebagai bentuk sedekah, -pen.). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas mengatakan pada Maimunah, أَمَا إِنَّكِ لَوْ أَعْطَيْتِيهَا أَخْوَالَكِ كَانَ أَعْظَمَ لأَجْرِكِ “Coba engkau memberikan budak tersebut pada bibimu tentu lebih besar pahalanya.” (HR. Bukhari, no. 2592 dan Muslim, no. 999)   15- Boleh menerima hadiah dari non-muslim dan boleh juga memberi hadiah padanya. Seorang Yahudi pernah memberikan pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam daging kambing, lantas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menerima dan menyantapnya. Juga masih boleh berbuat baik dengan memberi hadiah pada non-muslim sebagaimana kesimpulan dari ayat, لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ , إِنَّمَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ قَاتَلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَأَخْرَجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ وَظَاهَرُوا عَلَى إِخْرَاجِكُمْ أَنْ تَوَلَّوْهُمْ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangimu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu, dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Dan barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Mumtahanah: 8-9) Umar juga pernah memberikan hadiah berupa kain pada saudaranya yang musyrik di Makkah sebelum saudaranya masuk Islam. Catatan: Selama non-muslim tersebut dengan hadiah tadi tidak menindas kaum muslimin, maka tidak masalah memberi hadiah padanya. Termasuk juga tidak boleh menerima dan memberi hadiah pada non-muslim terkait dengan hari raya atau ibadah mereka.   16- Ada hadiah yang tidak boleh ditolak yaitu minyak wangi, susu dan bantal Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ثَلاَثٌ لاَ تُرَدُّ الْوَسَائِدُ وَالدُّهْنُ وَاللَّبَنُ “Tiga hal yang tidak boleh ditolak; (1) bantal, (2) minyak rambut dan (3) susu.” (HR. Tirmidzi, no. 2790. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan) Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, ia menyatakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah menolak jika diberi hadiah minyak wangi. (HR. Bukhari, no. 2582) Dalam hadits juga disebutkan, “Siapa yang diberi hadiah minyak wangi, maka janganlah menolaknya karena yang paling mudah untuk dibawa adalah bau yang wangi.” (HR. Muslim, no.  2253, dari Abu Hurairah)   17- Sebaliknya hadiah yang mesti ditolak, di antaranya: Hadiah dalam rangka sogok pada agama. Contohnya pada kisah ratu Balqis yang memberi hadiah pada Nabi Sulaiman ‘alaihis salam dengan tujuan supaya Nabi Sulaiman menyembah matahari, lantas Nabi Sulaiman menolaknya. Hadiah dalam rangka sogok untuk memutar balikkan kebenaran dan kebatilan. Hadiah pada pegawai dan pekerja negara yang ada sangkut pautnya dengan jabatan dan pekerjaannya. Hadiah yang asalnya dari barang curian atau dari sesuatu yang haram. Hadiah yang maksudnya diberi untuk dapat gantian lebih banyak. Jika tidak dapat gantian lebih banyak, ia murka. Hadiah karena sebab utang, sebelum utang tersebut dilunasi. Hadiah dari al-mannan, yang biasa mengungkit-ungkit pemberian.   18- Ada hadiah yang dilarang untuk diberikan, yaitu: Hadiah yang diberikan pada safih, orang yang menggunakan hadiah dalam maksiat atau membuat kerusakan. Hadiah yang diberikan secara tidak adil pada anak-anak. Dalam hadits disebutkan, “Bertakwalah pada Allah dan adillah pada anak-anak kalian.” (HR. Bukhari, no. 2587 dan Muslim, no. 1623)   19- Seringnya di tengah-tengah kita memberikan hadiah sebagai tips dan yang diberi menerimanya. Uang tips semacam ini terlarang jika memang yang diberi sudah diberi gaji dari tugasnya seperti pada pegawai negeri atau pejabat. Telah menceritakan kepada kami Ali bin Abdullah telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Az Zuhri, ia mendengar ‘Urwah telah mengabarkan kepada kami, Abu Humaid As Sa’idi mengatakan, Pernah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mempekerjakan seseorang dari bani Asad yang namanya Ibnul Lutbiyyah untuk mengurus zakat. Orang itu datang sambil mengatakan, “Ini bagimu, dan ini hadiah bagiku.” Secara spontan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri di atas mimbar -sedang Sufyan mengatakan dengan redaksi ‘naik minbar’-, beliau memuja dan memuji Allah kemudian bersabda, مَا بَالُ الْعَامِلِ نَبْعَثُهُ ، فَيَأْتِى يَقُولُ هَذَا لَكَ وَهَذَا لِى . فَهَلاَّ جَلَسَ فِى بَيْتِ أَبِيهِ وَأُمِّهِ فَيَنْظُرُ أَيُهْدَى لَهُ أَمْ لاَ ، وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لاَ يَأْتِى بِشَىْءٍ إِلاَّ جَاءَ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَحْمِلُهُ عَلَى رَقَبَتِهِ ، إِنْ كَانَ بَعِيرًا لَهُ رُغَاءٌ ، أَوْ بَقَرَةً لَهَا خُوَارٌ ، أَوْ شَاةً تَيْعَرُ “Ada apa dengan seorang pengurus zakat yang kami utus, lalu ia datang dengan mengatakan, “Ini untukmu dan ini hadiah untukku!” Cobalah ia duduk saja di rumah ayahnya atau rumah ibunya, dan cermatilah, apakah ia menerima hadiah ataukah tidak? Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidaklah seseorang datang dengan mengambil hadiah seperti pekerja tadi melainkan ia akan datang dengannya pada hari kiamat, lalu dia akan memikul hadiah tadi di lehernya. Jika hadiah yang ia ambil adalah unta, maka akan keluar suara unta. Jika hadiah yang ia ambil adalah sapi betina, maka akan keluar suara sapi. Jika yang dipikulnya adalah kambing, maka akan keluar suara kambing.“ ثُمَّ رَفَعَ يَدَيْهِ حَتَّى رَأَيْنَا عُفْرَتَىْ إِبْطَيْهِ « أَلاَ هَلْ بَلَّغْتُ » ثَلاَثًا Kemudian beliau mengangkat kedua tangannya sehingga kami melihat putih kedua ketiaknya seraya mengatakan, “Ketahuilah, bukankah telah kusampaikan?” (beliau mengulang-ulanginya tiga kali). (HR. Bukhari, no. 7174 dan Muslim, no. 1832) Ada hadits pula dari Abu Humaid As Sa’idiy. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, هَدَايَا الْعُمَّالِ غُلُولٌ “Hadiah bagi pejabat (pekerja) adalah ghulul (khianat).” (HR. Ahmad, 5: 424. Syaikh Al-Albani menshohihkan hadits ini sebagaimana disebutkan dalam Irwa’ul Gholil, no. 2622) Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah mengatakan, “Adapun hadits Abu Humaid, maka di sana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelek-jelekkan Ibnul Lutbiyyah yang menerima hadiah yang dihadiahkan kepadanya. Padahal kala itu dia adalah seorang pekerja saja (ia pun sudah diberi jatah upah oleh atasannya, pen).” (Fath Al-Bari, 5: 221)   20- Perbedaan hadiah dan sedekah. Sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Taimiyah berikut ini, “Sedekah itu dikeluarkan dalam rangka ibadah tanpa maksud diberikan kepada orang tertentu, dikeluarkan pada orang-orang yang butuh. Sedangkan hadiah itu dikeluarkan untuk memuliakan orang tertentu, bisa jadi maksudnya karena cinta atau bentuk sedekah, atau bisa juga diserahkan pada orang yang butuh.” (Majmu’ah Al-Fatawa, 31: 269)   21- Hendaknya membalas hadiah. Kalau tidak bisa, maka hendaknya mendoakan orang yang memberi. Dalam hadits disebutkan, مَن صَنَعَ إِليكُم مَعرُوفًا فَكَافِئُوه ، فَإِن لَم تَجِدُوا مَا تُكَافِئُوا بِهِ فَادعُوا لَهُ حَتَّى تَرَوا أَنَّكُم قَد كَافَأتُمُوهُ “Siapa yang memberikan kebaikan untuk kalian, maka balaslah. Jika engkau tidak mampu membalasnya, doakanlah ia sampai-sampai engkau yakin telah benar-benar membalasnya.” (HR. Abu Daud no. 1672 dan AnN-asa’i no. 2568. Hadits ini dishahihkan oleh Ibnu Hibban, Al Hakim dan disepakati oleh Adz Dzahabi). Dari Usamah bin Zaid, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ صُنِعَ إِلَيْهِ مَعْرُوفٌ ، فَقَالَ لِفَاعِلِهِ : جَزَاكَ اللَّهُ خَيْرًا , فَقَدْ أبْلَغَ فِي الثَّنَاءِ “Siapa yang diberikan kebaikan, lalu ia katakan kepada orang yang memberikan kebaikan tersebut, “Jazakallah khoiron (semoga Allah membalas dengan kebaikan)”, seperti itu sudah sangat baik dalam memuji.” (HR. Tirmidzi, no. 2035 dan An-Nasa’i dalam Al-Kubro, no. 10008, juga dalam ‘Amal Al-Yaum wa Al-Lailah, no. 180. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan). Semoga jadi tulisan yang bermanfaat.   Referensi: Al-Wajiz fi Fiqh As-Sunnah wa Al-Kitab Al-‘Aziz. Cetakan ketiga, tahun 1431 H. Syaikh Dr. ‘Abdul ‘Azhim Badawi. Penerbit Dar Ibnu Hazm. Fiqh Al-Akhlaq wa Al-Mu’amalaat ‘ala Al-Mu’miniin, Cetakan Pertama, tahun 1418 H, Syaikh Musthofa Al-‘Adawi, Penerbit Dar Majid ‘Usairi. Majmu’ah Al-Fatawa. Cetakan keempat, tahun 1432 H. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Penerbit Darul Wafa’ dan Dar Ibnu Hazm. Maktabah Syamilah, kitab hadits dan referensi lain.   Tulisan ini mayoritas disusun saat safar ke Handil, Balikpapan (Kaltim) dan safar ke Jakarta Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat. Segala puji bagi Allah, segala kebaikan menjadi sempurna. — Disempurnakan di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 8 Jumadats Tsaniyyah 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagshadiah korupsi uang tips

21 Faedah Tentang Hadiah

Ada 21 faedah tentang hadiah yang barangkali di antara kita belum mengetahuinya.   1- Hadiah itu punya pengaruh yang besar, semakin mempererat cinta dan mempersatukan hati, juga memperbaiki hubungan.   2- Terimalah hadiah dan berusahalah untuk membalasnya. Aisyah radhiyallahu ‘anha menyatakan, كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يَقْبَلُ الْهَدِيَّةَ وَيُثِيبُ عَلَيْهَا “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa menerima hadiah dan biasa pula membalasnya.” (HR. Bukhari, no. 2585)   3- Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri menerima hadiah, namun tidak menerima sedekah. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika disodorkan makanan, beliau bertanya dahulu apakah makanan tersebut berasal dari hadiah ataukah sedekah. Kalau itu sedekah, beliau berkata, “Kalian makan saja makanan tersebut.” Namun kalau makanan tersebut adalah hadiah, maka beliau menyantapnya. (HR. Bukhari, no. 2576 dan Muslim, no. 1077) Dari ‘Abdullah bin Busr radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menerima hadiah dan tidak menerima sedekah.” (HR. Ahmad, 4: 189, sanadnya hasan kata Syaikh Musthofa Al-‘Adawi dalam Fiqh Al-Akhlaq, hlm. 67)   4- Tetap memberi hadiah walau jumlahnya sedikit. Coba perhatikan apa yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebutkan pada para wanita, يَا نِسَاءَ الْمُسْلِمَاتِ لاَ تَحْقِرَنَّ جَارَةٌ لِجَارَتِهَا ، وَلَوْ فِرْسِنَ شَاةٍ “Wahai para wanita muslimah, tetaplah memberi hadiah pada tetangga walau hanya kaki kambing yang diberi.” (HR. Bukhari, no. 2566 dan Muslim, no. 1030) Ini pertanda bahwa tetaplah perhatikan tetangga dalam hadiah dengan sesuatu yang gampang bagi kita. Memberi sedikit tetap lebih baik daripada tidak sama sekali.   5- Rajin memberi hadiah akan menimbulkan rasa cinta. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, tahaadu tahaabbu, تَهَادَوْا تَحَابُّوا “Salinglah memberi hadiah, maka kalian akan saling mencintai.” (HR. Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrod, no. 594. Hadits ini dihasankan oleh Syaikh Al-Albani dalam Al-Irwa’, no. 1601. Syaikh Musthofa Al-‘Adawi dalam catatan kaki Fiqh Al-Akhlaq menyatakan bahwa sanad haditsnya hasan dengan syawahidnya) Juga ada hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, تَصَافَحُوْا يَذْهَبُ الغِلُّ ، وتَهَادَوْا تَحَابُّوا ، وَتَذْهَبُ الشَحْنَاءُ “Saling bersalamanlah (berjabat tanganlah) kalian, maka akan hilanglah kedengkian (dendam). Saling memberi hadiahlah kalian, maka kalian akan saling mencintai dan akan hilang kebencian.” (HR. Malik dalam Al-Muwatha’, 2/ 908/ 16. Syaikh Al-Albani menukilkan pernyataan dari Ibnu ‘Abdil Barr bahwa hadits ini bersambung dari beberapa jalur yang berbeda, semuanya hasan)   6- Hendaknya hadiah itu diterima, jangan ditolak. Dalam hadits ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, أَجِيبُوا الدَّاعِىَ وَلاَ تَرُدُّوا الْهَدِيَّةَ وَلاَ تَضْرِبُوا الْمُسْلِمِينَ “Terimalah hadiah, janganlah menolaknya. Janganlah memukul kaum muslimin.” (HR. Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrod, no. 157; Ahmad, 1: 404; Abu Ya’la, 9: 284, Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannafnya, 6: 555. Syaikh Musthofa Al-‘Adawi mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih dalam Fiqh Al-Akhlaq, hlm. 69. Hadits ini juga dinyatakan shahih oleh Syaikh Al-Albani dalam Al-Irwa’, no. 1616)   7- Hadiah yang sedikit tetap diterima sebagaimana jika diberi banyak. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لَوْ دُعِيتُ إِلَى ذِرَاعٍ أَوْ كُرَاعٍ لأَجَبْتُ ، وَلَوْ أُهْدِىَ إِلَىَّ ذِرَاعٌ أَوْ كُرَاعٌ لَقَبِلْتُ “Kalau aku diundang untuk menghadiri undangan yang di situ disajikan dziro’ (paha), aku hadir sebagaimana pula ketika disajikan kuro’ (kaki). Kalau aku diberi hadiah dziro’ (paha), aku terima sebagaimana ketika diberi hadiah kuro’ (kaki).” (HR. Bukhari, no. 2568) Dziro’ (paha) menandakan suatu yang mahal dan disukai. Kuro’ menandakan suatu yang remeh dan tidak punya nilai apa-apa. Demikian kata Syaikh Musthofa Al-‘Adawi dalam Fiqh Al-Akhlaq, hlm. 69.   8- Boleh saja hadiah itu ditolak atau dikembalikan. Kalau ada yang diberi hadiah lantas ia mengembalikan hadiah tersebut hendaklah kita tidak bersedih dan menaruh uzur padanya selama alasan yang diutarakan pada kita benar-benar jelas. Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, bahwa Nabi shalllallahu ‘alaihi wa sallam shalat mengenakan pakaian yang bergaris-garis, lalu beliau memandang kepada garis-garisnya sepintas. Maka, tatkala beliau selesai dari shalatnya, beliau bersabda, اذْهَبُوا بِخَمِيصَتِي هَذِهِ إِلَى أَبِي جَهْمٍ وَأْتُونِي بِأَنْبِجَانِيَّةِ أَبِي جَهْمٍ فَإِنَّهَا أَلْهَتْنِي آنِفًا عَنْ صَلاَتِي. “Bawalah pakaianku ini kepada Abu Jahm dan bawalah untukku ambijaaniyahnya Abu Jahm, sesungguhnya pakaian ini telah melalaikan aku dari shalatku.” Dari Ash-Sha’b bin Juttsamah Al-Laitsi -ia termasuk sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam-, bahwa ia pernah memberi hadiah kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berupa keledai liar saat beliau berada di Abwa -atau di Waddan- dan beliau sedang ihram, maka beliau pun menolaknya. Sha’b berkata, “Tatkala beliau melihat perubahan raut wajahku karena penolakannya terhadap hadiahku. Beliau bersabda, لَيْسَ بِنَا رَدٌّ عَلَيْكَ وَلَكِنَّا حُرُمٌ “Kami tidak menolak (karena ada sesuatu) atas dirimu, akan tetapi (karena) kami sedang dalam keadaan ihram.” (HR. Bukhari, no. 2596)   9- Boleh menyedekahkan sesuatu terus mewarisinya setelah itu. ‘Abdullah bin Buraidah dari ayahnya, ia berkata, “Seorang wanita datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku menyedekahkan seorang budak wanita kepada ibuku, dan ia (ibuku) telah wafat.’ Lalu beliau bersabda, قَدْ آجَرَكِ اللَّهُ وَرَدَّ عَلَيْكِ فِى الْمِيرَاثِ “Semoga Allah memberimu pahala dan Allah mengembalikan warisan kepadamu.” (HR. Ahmad, 5: 349. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih sesuai syarah Muslim)   10- Boleh menerima hadiah dari lawan jenis selama tidak menimbulkan godaan. عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِىَ اللهُ عَنْهُ قاَلَ: أَهْدَتْ أُمُّ حُفَيْدٍ خَالَةُ ابْنِ عَبَّاسٍ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَقِطًا وسَمْنًا وَأَضُبًّا فَأَكَلَ مِنَ الأَقِطِ والسَّمْنِ وَتَرَكَ الضَّبَّ تَقَّذُّرًا وَأَكَلَ عَلَى مَائِدَةِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَوْ كَانَ حَرَامًا مَا أُكِلَ عَلَى مَائِدَةِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallaahu ‘anhuma, ia berkata, “Bibiku Ummu Hufaid pernah memberikan hadiah kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam berupa mentega, keju dan daging dhabb (sejenis biawak). Beliau makan keju dan menteganya, dan beliau meninggalkan daging biawak karena merasa jijik, kemudian makanan yang dihidangkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dimakan (oleh para shahabat). Jika (dhabb itu) haram, niscaya kami tidak akan makan hidangan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Bukhari, no. 2575 dan Muslim, no. 1544)   11- Jangan sampai kita mengharap hadiah kita dikembalikan. Kalau memang punya harapan semacam itu, baiknya tidak memberi hadiah sama sekali. Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الْعَائِدُ فِى هِبَتِهِ كَالْكَلْبِ يَقِىءُ ، ثُمَّ يَعُودُ فِى قَيْئِهِ “Orang yang meminta kembali hadiahnya seperti anjing muntah lalu menelan muntahannya sendiri.” (HR. Bukhari, no. 2589 dan Muslim, no. 1622) Namun seorang ayah masih boleh mengambil kembali apa yang ia beri pada anaknya. Dari Ibnu ‘Umar dan Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhum, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ يَحِلُّ لِرَجُلٍ أَنْ يُعْطِىَ عَطِيَّةً أَوْ يَهَبَ هِبَةً فَيَرْجِعَ فِيهَا إِلاَّ الْوَالِدَ فِيمَا يُعْطِى وَلَدَهُ وَمَثَلُ الَّذِى يُعْطِى الْعَطِيَّةَ ثُمَّ يَرْجِعُ فِيهَا كَمَثَلِ الْكَلْبِ يَأْكُلُ فَإِذَا شَبِعَ قَاءَ ثُمَّ عَادَ فِى قَيْئِهِ “Tidak halal bagi seseorang memberikan suatu pemberian kemudian ia memintanya kembali kecuali ayah pada apa yang ia berikan kepada anaknya (maka boleh diminta kembali). Permisalan orang yang memberi hadiah lantas ia memintanya kembali seperti anjing yang makan, lalu ketika ia kenyang, ia muntahkan, kemudian ia menelan muntahannya.” (HR. Abu Daud, no. 3539; Tirmidzi, no. 1299; An-Nasa’i, no. 3720; Ibnu Majah, no. 2377. Hadits ini dishahihkan oleh Ibnul Jarud, 994; juga oleh Imam Al-Hakim, 2: 46, begitu pula disepakati oleh Imam Adz-Dzahabi)   12- Jangan pula mengungkit-ungkit hadiah yang telah diberi. Allah Ta’ala berfirman, قَوْلٌ مَعْرُوفٌ وَمَغْفِرَةٌ خَيْرٌ مِنْ صَدَقَةٍ يَتْبَعُهَا أَذًى وَاللَّهُ غَنِيٌّ حَلِيمٌ  ,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالْأَذَى “Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima). Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima).” (QS. Al-Baqarah: 263-264) Dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ada tiga orang yang tidak akan diajak bicara oleh Allah pada hari kiamat, tidak akan memandangnya, tidak akan meyucikannya, bagi mereka azab yang pedih.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengulangi hal itu sampai tiga kali. Abu Dzar berkata, “Benar-benar rugi mereka-mereka itu.” Abu Dzar pin bertanya, “Siapa mereka wahai Rasulullah?” Beliau pun menjawab, الْمُسْبِلُ وَالْمَنَّانُ وَالْمُنَفِّقُ سِلْعَتَهُ بِالْحَلِفِ الْكَاذِبِ 1- Orang yang isbal, pria yang menjulurkan pakaiannya di bawah mata kaki. 2- Orang yang mengungkit terus apa yang ia sedekahkan. 3- Orang yang melariskan dagangan dengan sumpah yang dusta.” (HR. Muslim, no. 106) Dalam riwayat Muslim lainnya disebutkan, “Al-mannan itu yang tidak memberi sesuatu melainkan ia selalu mengungkit-ungkitnya.”   13- Saling memberi hadiah antara suami istri juga penting untuk semakin langgengnya cinta antara keduanya. Coba lihat yang dibicarakan tentang mas kawin dalam ayat berikut. وَآتُوا النِّسَاءَ صَدُقَاتِهِنَّ نِحْلَةً فَإِن طِبْنَ لَكُمْ عَن شَيْءٍ مِّنْهُ نَفْسًا فَكُلُوهُ هَنِيئًا مَّرِيئًا “Berikanlah maskawin (mahar) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan. Kemudian jika mereka menyerahkan kepada kamu sebagian dari maskawin itu dengan senang hati, maka makanlah (ambillah) pemberian itu (sebagai makanan) yang sedap lagi baik akibatnya.” (QS. An-Nisaa’: 4) Ayat tersebut menunjukkan boleh saja istri memberi hadiah pada suami dari mahar (mas kawin) yang telah diberi. Hadiah antara suami istri menunjukkan cinta antara mereka. Bentuknya juga bisa dengan bertutur kata yang baik, mengutarakan kata-kata romantis antara mereka hingga pada senyuman manis.   14- Bagaimana jika hanya punya satu hadiah, kepada siapakah diberi? Kata Syaikh Musthofa Al-‘Adawi dalam Fiqh Al-Akhlaq, hlm. 72, dahulukan orang yang paling dekat. Dahulukan yang punya kedekatan nasab (keturunan) dan kedekatan sebagai tetangga. Coba perhatikan dahulu istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bernama Maimunah, ketika itu ia memiliki seorang budak wanita dan ia merdekakan budak tersebut (sebagai bentuk sedekah, -pen.). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas mengatakan pada Maimunah, أَمَا إِنَّكِ لَوْ أَعْطَيْتِيهَا أَخْوَالَكِ كَانَ أَعْظَمَ لأَجْرِكِ “Coba engkau memberikan budak tersebut pada bibimu tentu lebih besar pahalanya.” (HR. Bukhari, no. 2592 dan Muslim, no. 999)   15- Boleh menerima hadiah dari non-muslim dan boleh juga memberi hadiah padanya. Seorang Yahudi pernah memberikan pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam daging kambing, lantas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menerima dan menyantapnya. Juga masih boleh berbuat baik dengan memberi hadiah pada non-muslim sebagaimana kesimpulan dari ayat, لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ , إِنَّمَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ قَاتَلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَأَخْرَجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ وَظَاهَرُوا عَلَى إِخْرَاجِكُمْ أَنْ تَوَلَّوْهُمْ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangimu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu, dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Dan barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Mumtahanah: 8-9) Umar juga pernah memberikan hadiah berupa kain pada saudaranya yang musyrik di Makkah sebelum saudaranya masuk Islam. Catatan: Selama non-muslim tersebut dengan hadiah tadi tidak menindas kaum muslimin, maka tidak masalah memberi hadiah padanya. Termasuk juga tidak boleh menerima dan memberi hadiah pada non-muslim terkait dengan hari raya atau ibadah mereka.   16- Ada hadiah yang tidak boleh ditolak yaitu minyak wangi, susu dan bantal Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ثَلاَثٌ لاَ تُرَدُّ الْوَسَائِدُ وَالدُّهْنُ وَاللَّبَنُ “Tiga hal yang tidak boleh ditolak; (1) bantal, (2) minyak rambut dan (3) susu.” (HR. Tirmidzi, no. 2790. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan) Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, ia menyatakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah menolak jika diberi hadiah minyak wangi. (HR. Bukhari, no. 2582) Dalam hadits juga disebutkan, “Siapa yang diberi hadiah minyak wangi, maka janganlah menolaknya karena yang paling mudah untuk dibawa adalah bau yang wangi.” (HR. Muslim, no.  2253, dari Abu Hurairah)   17- Sebaliknya hadiah yang mesti ditolak, di antaranya: Hadiah dalam rangka sogok pada agama. Contohnya pada kisah ratu Balqis yang memberi hadiah pada Nabi Sulaiman ‘alaihis salam dengan tujuan supaya Nabi Sulaiman menyembah matahari, lantas Nabi Sulaiman menolaknya. Hadiah dalam rangka sogok untuk memutar balikkan kebenaran dan kebatilan. Hadiah pada pegawai dan pekerja negara yang ada sangkut pautnya dengan jabatan dan pekerjaannya. Hadiah yang asalnya dari barang curian atau dari sesuatu yang haram. Hadiah yang maksudnya diberi untuk dapat gantian lebih banyak. Jika tidak dapat gantian lebih banyak, ia murka. Hadiah karena sebab utang, sebelum utang tersebut dilunasi. Hadiah dari al-mannan, yang biasa mengungkit-ungkit pemberian.   18- Ada hadiah yang dilarang untuk diberikan, yaitu: Hadiah yang diberikan pada safih, orang yang menggunakan hadiah dalam maksiat atau membuat kerusakan. Hadiah yang diberikan secara tidak adil pada anak-anak. Dalam hadits disebutkan, “Bertakwalah pada Allah dan adillah pada anak-anak kalian.” (HR. Bukhari, no. 2587 dan Muslim, no. 1623)   19- Seringnya di tengah-tengah kita memberikan hadiah sebagai tips dan yang diberi menerimanya. Uang tips semacam ini terlarang jika memang yang diberi sudah diberi gaji dari tugasnya seperti pada pegawai negeri atau pejabat. Telah menceritakan kepada kami Ali bin Abdullah telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Az Zuhri, ia mendengar ‘Urwah telah mengabarkan kepada kami, Abu Humaid As Sa’idi mengatakan, Pernah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mempekerjakan seseorang dari bani Asad yang namanya Ibnul Lutbiyyah untuk mengurus zakat. Orang itu datang sambil mengatakan, “Ini bagimu, dan ini hadiah bagiku.” Secara spontan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri di atas mimbar -sedang Sufyan mengatakan dengan redaksi ‘naik minbar’-, beliau memuja dan memuji Allah kemudian bersabda, مَا بَالُ الْعَامِلِ نَبْعَثُهُ ، فَيَأْتِى يَقُولُ هَذَا لَكَ وَهَذَا لِى . فَهَلاَّ جَلَسَ فِى بَيْتِ أَبِيهِ وَأُمِّهِ فَيَنْظُرُ أَيُهْدَى لَهُ أَمْ لاَ ، وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لاَ يَأْتِى بِشَىْءٍ إِلاَّ جَاءَ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَحْمِلُهُ عَلَى رَقَبَتِهِ ، إِنْ كَانَ بَعِيرًا لَهُ رُغَاءٌ ، أَوْ بَقَرَةً لَهَا خُوَارٌ ، أَوْ شَاةً تَيْعَرُ “Ada apa dengan seorang pengurus zakat yang kami utus, lalu ia datang dengan mengatakan, “Ini untukmu dan ini hadiah untukku!” Cobalah ia duduk saja di rumah ayahnya atau rumah ibunya, dan cermatilah, apakah ia menerima hadiah ataukah tidak? Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidaklah seseorang datang dengan mengambil hadiah seperti pekerja tadi melainkan ia akan datang dengannya pada hari kiamat, lalu dia akan memikul hadiah tadi di lehernya. Jika hadiah yang ia ambil adalah unta, maka akan keluar suara unta. Jika hadiah yang ia ambil adalah sapi betina, maka akan keluar suara sapi. Jika yang dipikulnya adalah kambing, maka akan keluar suara kambing.“ ثُمَّ رَفَعَ يَدَيْهِ حَتَّى رَأَيْنَا عُفْرَتَىْ إِبْطَيْهِ « أَلاَ هَلْ بَلَّغْتُ » ثَلاَثًا Kemudian beliau mengangkat kedua tangannya sehingga kami melihat putih kedua ketiaknya seraya mengatakan, “Ketahuilah, bukankah telah kusampaikan?” (beliau mengulang-ulanginya tiga kali). (HR. Bukhari, no. 7174 dan Muslim, no. 1832) Ada hadits pula dari Abu Humaid As Sa’idiy. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, هَدَايَا الْعُمَّالِ غُلُولٌ “Hadiah bagi pejabat (pekerja) adalah ghulul (khianat).” (HR. Ahmad, 5: 424. Syaikh Al-Albani menshohihkan hadits ini sebagaimana disebutkan dalam Irwa’ul Gholil, no. 2622) Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah mengatakan, “Adapun hadits Abu Humaid, maka di sana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelek-jelekkan Ibnul Lutbiyyah yang menerima hadiah yang dihadiahkan kepadanya. Padahal kala itu dia adalah seorang pekerja saja (ia pun sudah diberi jatah upah oleh atasannya, pen).” (Fath Al-Bari, 5: 221)   20- Perbedaan hadiah dan sedekah. Sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Taimiyah berikut ini, “Sedekah itu dikeluarkan dalam rangka ibadah tanpa maksud diberikan kepada orang tertentu, dikeluarkan pada orang-orang yang butuh. Sedangkan hadiah itu dikeluarkan untuk memuliakan orang tertentu, bisa jadi maksudnya karena cinta atau bentuk sedekah, atau bisa juga diserahkan pada orang yang butuh.” (Majmu’ah Al-Fatawa, 31: 269)   21- Hendaknya membalas hadiah. Kalau tidak bisa, maka hendaknya mendoakan orang yang memberi. Dalam hadits disebutkan, مَن صَنَعَ إِليكُم مَعرُوفًا فَكَافِئُوه ، فَإِن لَم تَجِدُوا مَا تُكَافِئُوا بِهِ فَادعُوا لَهُ حَتَّى تَرَوا أَنَّكُم قَد كَافَأتُمُوهُ “Siapa yang memberikan kebaikan untuk kalian, maka balaslah. Jika engkau tidak mampu membalasnya, doakanlah ia sampai-sampai engkau yakin telah benar-benar membalasnya.” (HR. Abu Daud no. 1672 dan AnN-asa’i no. 2568. Hadits ini dishahihkan oleh Ibnu Hibban, Al Hakim dan disepakati oleh Adz Dzahabi). Dari Usamah bin Zaid, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ صُنِعَ إِلَيْهِ مَعْرُوفٌ ، فَقَالَ لِفَاعِلِهِ : جَزَاكَ اللَّهُ خَيْرًا , فَقَدْ أبْلَغَ فِي الثَّنَاءِ “Siapa yang diberikan kebaikan, lalu ia katakan kepada orang yang memberikan kebaikan tersebut, “Jazakallah khoiron (semoga Allah membalas dengan kebaikan)”, seperti itu sudah sangat baik dalam memuji.” (HR. Tirmidzi, no. 2035 dan An-Nasa’i dalam Al-Kubro, no. 10008, juga dalam ‘Amal Al-Yaum wa Al-Lailah, no. 180. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan). Semoga jadi tulisan yang bermanfaat.   Referensi: Al-Wajiz fi Fiqh As-Sunnah wa Al-Kitab Al-‘Aziz. Cetakan ketiga, tahun 1431 H. Syaikh Dr. ‘Abdul ‘Azhim Badawi. Penerbit Dar Ibnu Hazm. Fiqh Al-Akhlaq wa Al-Mu’amalaat ‘ala Al-Mu’miniin, Cetakan Pertama, tahun 1418 H, Syaikh Musthofa Al-‘Adawi, Penerbit Dar Majid ‘Usairi. Majmu’ah Al-Fatawa. Cetakan keempat, tahun 1432 H. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Penerbit Darul Wafa’ dan Dar Ibnu Hazm. Maktabah Syamilah, kitab hadits dan referensi lain.   Tulisan ini mayoritas disusun saat safar ke Handil, Balikpapan (Kaltim) dan safar ke Jakarta Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat. Segala puji bagi Allah, segala kebaikan menjadi sempurna. — Disempurnakan di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 8 Jumadats Tsaniyyah 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagshadiah korupsi uang tips
Ada 21 faedah tentang hadiah yang barangkali di antara kita belum mengetahuinya.   1- Hadiah itu punya pengaruh yang besar, semakin mempererat cinta dan mempersatukan hati, juga memperbaiki hubungan.   2- Terimalah hadiah dan berusahalah untuk membalasnya. Aisyah radhiyallahu ‘anha menyatakan, كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يَقْبَلُ الْهَدِيَّةَ وَيُثِيبُ عَلَيْهَا “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa menerima hadiah dan biasa pula membalasnya.” (HR. Bukhari, no. 2585)   3- Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri menerima hadiah, namun tidak menerima sedekah. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika disodorkan makanan, beliau bertanya dahulu apakah makanan tersebut berasal dari hadiah ataukah sedekah. Kalau itu sedekah, beliau berkata, “Kalian makan saja makanan tersebut.” Namun kalau makanan tersebut adalah hadiah, maka beliau menyantapnya. (HR. Bukhari, no. 2576 dan Muslim, no. 1077) Dari ‘Abdullah bin Busr radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menerima hadiah dan tidak menerima sedekah.” (HR. Ahmad, 4: 189, sanadnya hasan kata Syaikh Musthofa Al-‘Adawi dalam Fiqh Al-Akhlaq, hlm. 67)   4- Tetap memberi hadiah walau jumlahnya sedikit. Coba perhatikan apa yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebutkan pada para wanita, يَا نِسَاءَ الْمُسْلِمَاتِ لاَ تَحْقِرَنَّ جَارَةٌ لِجَارَتِهَا ، وَلَوْ فِرْسِنَ شَاةٍ “Wahai para wanita muslimah, tetaplah memberi hadiah pada tetangga walau hanya kaki kambing yang diberi.” (HR. Bukhari, no. 2566 dan Muslim, no. 1030) Ini pertanda bahwa tetaplah perhatikan tetangga dalam hadiah dengan sesuatu yang gampang bagi kita. Memberi sedikit tetap lebih baik daripada tidak sama sekali.   5- Rajin memberi hadiah akan menimbulkan rasa cinta. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, tahaadu tahaabbu, تَهَادَوْا تَحَابُّوا “Salinglah memberi hadiah, maka kalian akan saling mencintai.” (HR. Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrod, no. 594. Hadits ini dihasankan oleh Syaikh Al-Albani dalam Al-Irwa’, no. 1601. Syaikh Musthofa Al-‘Adawi dalam catatan kaki Fiqh Al-Akhlaq menyatakan bahwa sanad haditsnya hasan dengan syawahidnya) Juga ada hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, تَصَافَحُوْا يَذْهَبُ الغِلُّ ، وتَهَادَوْا تَحَابُّوا ، وَتَذْهَبُ الشَحْنَاءُ “Saling bersalamanlah (berjabat tanganlah) kalian, maka akan hilanglah kedengkian (dendam). Saling memberi hadiahlah kalian, maka kalian akan saling mencintai dan akan hilang kebencian.” (HR. Malik dalam Al-Muwatha’, 2/ 908/ 16. Syaikh Al-Albani menukilkan pernyataan dari Ibnu ‘Abdil Barr bahwa hadits ini bersambung dari beberapa jalur yang berbeda, semuanya hasan)   6- Hendaknya hadiah itu diterima, jangan ditolak. Dalam hadits ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, أَجِيبُوا الدَّاعِىَ وَلاَ تَرُدُّوا الْهَدِيَّةَ وَلاَ تَضْرِبُوا الْمُسْلِمِينَ “Terimalah hadiah, janganlah menolaknya. Janganlah memukul kaum muslimin.” (HR. Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrod, no. 157; Ahmad, 1: 404; Abu Ya’la, 9: 284, Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannafnya, 6: 555. Syaikh Musthofa Al-‘Adawi mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih dalam Fiqh Al-Akhlaq, hlm. 69. Hadits ini juga dinyatakan shahih oleh Syaikh Al-Albani dalam Al-Irwa’, no. 1616)   7- Hadiah yang sedikit tetap diterima sebagaimana jika diberi banyak. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لَوْ دُعِيتُ إِلَى ذِرَاعٍ أَوْ كُرَاعٍ لأَجَبْتُ ، وَلَوْ أُهْدِىَ إِلَىَّ ذِرَاعٌ أَوْ كُرَاعٌ لَقَبِلْتُ “Kalau aku diundang untuk menghadiri undangan yang di situ disajikan dziro’ (paha), aku hadir sebagaimana pula ketika disajikan kuro’ (kaki). Kalau aku diberi hadiah dziro’ (paha), aku terima sebagaimana ketika diberi hadiah kuro’ (kaki).” (HR. Bukhari, no. 2568) Dziro’ (paha) menandakan suatu yang mahal dan disukai. Kuro’ menandakan suatu yang remeh dan tidak punya nilai apa-apa. Demikian kata Syaikh Musthofa Al-‘Adawi dalam Fiqh Al-Akhlaq, hlm. 69.   8- Boleh saja hadiah itu ditolak atau dikembalikan. Kalau ada yang diberi hadiah lantas ia mengembalikan hadiah tersebut hendaklah kita tidak bersedih dan menaruh uzur padanya selama alasan yang diutarakan pada kita benar-benar jelas. Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, bahwa Nabi shalllallahu ‘alaihi wa sallam shalat mengenakan pakaian yang bergaris-garis, lalu beliau memandang kepada garis-garisnya sepintas. Maka, tatkala beliau selesai dari shalatnya, beliau bersabda, اذْهَبُوا بِخَمِيصَتِي هَذِهِ إِلَى أَبِي جَهْمٍ وَأْتُونِي بِأَنْبِجَانِيَّةِ أَبِي جَهْمٍ فَإِنَّهَا أَلْهَتْنِي آنِفًا عَنْ صَلاَتِي. “Bawalah pakaianku ini kepada Abu Jahm dan bawalah untukku ambijaaniyahnya Abu Jahm, sesungguhnya pakaian ini telah melalaikan aku dari shalatku.” Dari Ash-Sha’b bin Juttsamah Al-Laitsi -ia termasuk sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam-, bahwa ia pernah memberi hadiah kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berupa keledai liar saat beliau berada di Abwa -atau di Waddan- dan beliau sedang ihram, maka beliau pun menolaknya. Sha’b berkata, “Tatkala beliau melihat perubahan raut wajahku karena penolakannya terhadap hadiahku. Beliau bersabda, لَيْسَ بِنَا رَدٌّ عَلَيْكَ وَلَكِنَّا حُرُمٌ “Kami tidak menolak (karena ada sesuatu) atas dirimu, akan tetapi (karena) kami sedang dalam keadaan ihram.” (HR. Bukhari, no. 2596)   9- Boleh menyedekahkan sesuatu terus mewarisinya setelah itu. ‘Abdullah bin Buraidah dari ayahnya, ia berkata, “Seorang wanita datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku menyedekahkan seorang budak wanita kepada ibuku, dan ia (ibuku) telah wafat.’ Lalu beliau bersabda, قَدْ آجَرَكِ اللَّهُ وَرَدَّ عَلَيْكِ فِى الْمِيرَاثِ “Semoga Allah memberimu pahala dan Allah mengembalikan warisan kepadamu.” (HR. Ahmad, 5: 349. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih sesuai syarah Muslim)   10- Boleh menerima hadiah dari lawan jenis selama tidak menimbulkan godaan. عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِىَ اللهُ عَنْهُ قاَلَ: أَهْدَتْ أُمُّ حُفَيْدٍ خَالَةُ ابْنِ عَبَّاسٍ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَقِطًا وسَمْنًا وَأَضُبًّا فَأَكَلَ مِنَ الأَقِطِ والسَّمْنِ وَتَرَكَ الضَّبَّ تَقَّذُّرًا وَأَكَلَ عَلَى مَائِدَةِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَوْ كَانَ حَرَامًا مَا أُكِلَ عَلَى مَائِدَةِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallaahu ‘anhuma, ia berkata, “Bibiku Ummu Hufaid pernah memberikan hadiah kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam berupa mentega, keju dan daging dhabb (sejenis biawak). Beliau makan keju dan menteganya, dan beliau meninggalkan daging biawak karena merasa jijik, kemudian makanan yang dihidangkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dimakan (oleh para shahabat). Jika (dhabb itu) haram, niscaya kami tidak akan makan hidangan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Bukhari, no. 2575 dan Muslim, no. 1544)   11- Jangan sampai kita mengharap hadiah kita dikembalikan. Kalau memang punya harapan semacam itu, baiknya tidak memberi hadiah sama sekali. Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الْعَائِدُ فِى هِبَتِهِ كَالْكَلْبِ يَقِىءُ ، ثُمَّ يَعُودُ فِى قَيْئِهِ “Orang yang meminta kembali hadiahnya seperti anjing muntah lalu menelan muntahannya sendiri.” (HR. Bukhari, no. 2589 dan Muslim, no. 1622) Namun seorang ayah masih boleh mengambil kembali apa yang ia beri pada anaknya. Dari Ibnu ‘Umar dan Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhum, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ يَحِلُّ لِرَجُلٍ أَنْ يُعْطِىَ عَطِيَّةً أَوْ يَهَبَ هِبَةً فَيَرْجِعَ فِيهَا إِلاَّ الْوَالِدَ فِيمَا يُعْطِى وَلَدَهُ وَمَثَلُ الَّذِى يُعْطِى الْعَطِيَّةَ ثُمَّ يَرْجِعُ فِيهَا كَمَثَلِ الْكَلْبِ يَأْكُلُ فَإِذَا شَبِعَ قَاءَ ثُمَّ عَادَ فِى قَيْئِهِ “Tidak halal bagi seseorang memberikan suatu pemberian kemudian ia memintanya kembali kecuali ayah pada apa yang ia berikan kepada anaknya (maka boleh diminta kembali). Permisalan orang yang memberi hadiah lantas ia memintanya kembali seperti anjing yang makan, lalu ketika ia kenyang, ia muntahkan, kemudian ia menelan muntahannya.” (HR. Abu Daud, no. 3539; Tirmidzi, no. 1299; An-Nasa’i, no. 3720; Ibnu Majah, no. 2377. Hadits ini dishahihkan oleh Ibnul Jarud, 994; juga oleh Imam Al-Hakim, 2: 46, begitu pula disepakati oleh Imam Adz-Dzahabi)   12- Jangan pula mengungkit-ungkit hadiah yang telah diberi. Allah Ta’ala berfirman, قَوْلٌ مَعْرُوفٌ وَمَغْفِرَةٌ خَيْرٌ مِنْ صَدَقَةٍ يَتْبَعُهَا أَذًى وَاللَّهُ غَنِيٌّ حَلِيمٌ  ,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالْأَذَى “Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima). Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima).” (QS. Al-Baqarah: 263-264) Dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ada tiga orang yang tidak akan diajak bicara oleh Allah pada hari kiamat, tidak akan memandangnya, tidak akan meyucikannya, bagi mereka azab yang pedih.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengulangi hal itu sampai tiga kali. Abu Dzar berkata, “Benar-benar rugi mereka-mereka itu.” Abu Dzar pin bertanya, “Siapa mereka wahai Rasulullah?” Beliau pun menjawab, الْمُسْبِلُ وَالْمَنَّانُ وَالْمُنَفِّقُ سِلْعَتَهُ بِالْحَلِفِ الْكَاذِبِ 1- Orang yang isbal, pria yang menjulurkan pakaiannya di bawah mata kaki. 2- Orang yang mengungkit terus apa yang ia sedekahkan. 3- Orang yang melariskan dagangan dengan sumpah yang dusta.” (HR. Muslim, no. 106) Dalam riwayat Muslim lainnya disebutkan, “Al-mannan itu yang tidak memberi sesuatu melainkan ia selalu mengungkit-ungkitnya.”   13- Saling memberi hadiah antara suami istri juga penting untuk semakin langgengnya cinta antara keduanya. Coba lihat yang dibicarakan tentang mas kawin dalam ayat berikut. وَآتُوا النِّسَاءَ صَدُقَاتِهِنَّ نِحْلَةً فَإِن طِبْنَ لَكُمْ عَن شَيْءٍ مِّنْهُ نَفْسًا فَكُلُوهُ هَنِيئًا مَّرِيئًا “Berikanlah maskawin (mahar) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan. Kemudian jika mereka menyerahkan kepada kamu sebagian dari maskawin itu dengan senang hati, maka makanlah (ambillah) pemberian itu (sebagai makanan) yang sedap lagi baik akibatnya.” (QS. An-Nisaa’: 4) Ayat tersebut menunjukkan boleh saja istri memberi hadiah pada suami dari mahar (mas kawin) yang telah diberi. Hadiah antara suami istri menunjukkan cinta antara mereka. Bentuknya juga bisa dengan bertutur kata yang baik, mengutarakan kata-kata romantis antara mereka hingga pada senyuman manis.   14- Bagaimana jika hanya punya satu hadiah, kepada siapakah diberi? Kata Syaikh Musthofa Al-‘Adawi dalam Fiqh Al-Akhlaq, hlm. 72, dahulukan orang yang paling dekat. Dahulukan yang punya kedekatan nasab (keturunan) dan kedekatan sebagai tetangga. Coba perhatikan dahulu istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bernama Maimunah, ketika itu ia memiliki seorang budak wanita dan ia merdekakan budak tersebut (sebagai bentuk sedekah, -pen.). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas mengatakan pada Maimunah, أَمَا إِنَّكِ لَوْ أَعْطَيْتِيهَا أَخْوَالَكِ كَانَ أَعْظَمَ لأَجْرِكِ “Coba engkau memberikan budak tersebut pada bibimu tentu lebih besar pahalanya.” (HR. Bukhari, no. 2592 dan Muslim, no. 999)   15- Boleh menerima hadiah dari non-muslim dan boleh juga memberi hadiah padanya. Seorang Yahudi pernah memberikan pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam daging kambing, lantas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menerima dan menyantapnya. Juga masih boleh berbuat baik dengan memberi hadiah pada non-muslim sebagaimana kesimpulan dari ayat, لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ , إِنَّمَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ قَاتَلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَأَخْرَجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ وَظَاهَرُوا عَلَى إِخْرَاجِكُمْ أَنْ تَوَلَّوْهُمْ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangimu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu, dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Dan barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Mumtahanah: 8-9) Umar juga pernah memberikan hadiah berupa kain pada saudaranya yang musyrik di Makkah sebelum saudaranya masuk Islam. Catatan: Selama non-muslim tersebut dengan hadiah tadi tidak menindas kaum muslimin, maka tidak masalah memberi hadiah padanya. Termasuk juga tidak boleh menerima dan memberi hadiah pada non-muslim terkait dengan hari raya atau ibadah mereka.   16- Ada hadiah yang tidak boleh ditolak yaitu minyak wangi, susu dan bantal Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ثَلاَثٌ لاَ تُرَدُّ الْوَسَائِدُ وَالدُّهْنُ وَاللَّبَنُ “Tiga hal yang tidak boleh ditolak; (1) bantal, (2) minyak rambut dan (3) susu.” (HR. Tirmidzi, no. 2790. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan) Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, ia menyatakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah menolak jika diberi hadiah minyak wangi. (HR. Bukhari, no. 2582) Dalam hadits juga disebutkan, “Siapa yang diberi hadiah minyak wangi, maka janganlah menolaknya karena yang paling mudah untuk dibawa adalah bau yang wangi.” (HR. Muslim, no.  2253, dari Abu Hurairah)   17- Sebaliknya hadiah yang mesti ditolak, di antaranya: Hadiah dalam rangka sogok pada agama. Contohnya pada kisah ratu Balqis yang memberi hadiah pada Nabi Sulaiman ‘alaihis salam dengan tujuan supaya Nabi Sulaiman menyembah matahari, lantas Nabi Sulaiman menolaknya. Hadiah dalam rangka sogok untuk memutar balikkan kebenaran dan kebatilan. Hadiah pada pegawai dan pekerja negara yang ada sangkut pautnya dengan jabatan dan pekerjaannya. Hadiah yang asalnya dari barang curian atau dari sesuatu yang haram. Hadiah yang maksudnya diberi untuk dapat gantian lebih banyak. Jika tidak dapat gantian lebih banyak, ia murka. Hadiah karena sebab utang, sebelum utang tersebut dilunasi. Hadiah dari al-mannan, yang biasa mengungkit-ungkit pemberian.   18- Ada hadiah yang dilarang untuk diberikan, yaitu: Hadiah yang diberikan pada safih, orang yang menggunakan hadiah dalam maksiat atau membuat kerusakan. Hadiah yang diberikan secara tidak adil pada anak-anak. Dalam hadits disebutkan, “Bertakwalah pada Allah dan adillah pada anak-anak kalian.” (HR. Bukhari, no. 2587 dan Muslim, no. 1623)   19- Seringnya di tengah-tengah kita memberikan hadiah sebagai tips dan yang diberi menerimanya. Uang tips semacam ini terlarang jika memang yang diberi sudah diberi gaji dari tugasnya seperti pada pegawai negeri atau pejabat. Telah menceritakan kepada kami Ali bin Abdullah telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Az Zuhri, ia mendengar ‘Urwah telah mengabarkan kepada kami, Abu Humaid As Sa’idi mengatakan, Pernah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mempekerjakan seseorang dari bani Asad yang namanya Ibnul Lutbiyyah untuk mengurus zakat. Orang itu datang sambil mengatakan, “Ini bagimu, dan ini hadiah bagiku.” Secara spontan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri di atas mimbar -sedang Sufyan mengatakan dengan redaksi ‘naik minbar’-, beliau memuja dan memuji Allah kemudian bersabda, مَا بَالُ الْعَامِلِ نَبْعَثُهُ ، فَيَأْتِى يَقُولُ هَذَا لَكَ وَهَذَا لِى . فَهَلاَّ جَلَسَ فِى بَيْتِ أَبِيهِ وَأُمِّهِ فَيَنْظُرُ أَيُهْدَى لَهُ أَمْ لاَ ، وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لاَ يَأْتِى بِشَىْءٍ إِلاَّ جَاءَ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَحْمِلُهُ عَلَى رَقَبَتِهِ ، إِنْ كَانَ بَعِيرًا لَهُ رُغَاءٌ ، أَوْ بَقَرَةً لَهَا خُوَارٌ ، أَوْ شَاةً تَيْعَرُ “Ada apa dengan seorang pengurus zakat yang kami utus, lalu ia datang dengan mengatakan, “Ini untukmu dan ini hadiah untukku!” Cobalah ia duduk saja di rumah ayahnya atau rumah ibunya, dan cermatilah, apakah ia menerima hadiah ataukah tidak? Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidaklah seseorang datang dengan mengambil hadiah seperti pekerja tadi melainkan ia akan datang dengannya pada hari kiamat, lalu dia akan memikul hadiah tadi di lehernya. Jika hadiah yang ia ambil adalah unta, maka akan keluar suara unta. Jika hadiah yang ia ambil adalah sapi betina, maka akan keluar suara sapi. Jika yang dipikulnya adalah kambing, maka akan keluar suara kambing.“ ثُمَّ رَفَعَ يَدَيْهِ حَتَّى رَأَيْنَا عُفْرَتَىْ إِبْطَيْهِ « أَلاَ هَلْ بَلَّغْتُ » ثَلاَثًا Kemudian beliau mengangkat kedua tangannya sehingga kami melihat putih kedua ketiaknya seraya mengatakan, “Ketahuilah, bukankah telah kusampaikan?” (beliau mengulang-ulanginya tiga kali). (HR. Bukhari, no. 7174 dan Muslim, no. 1832) Ada hadits pula dari Abu Humaid As Sa’idiy. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, هَدَايَا الْعُمَّالِ غُلُولٌ “Hadiah bagi pejabat (pekerja) adalah ghulul (khianat).” (HR. Ahmad, 5: 424. Syaikh Al-Albani menshohihkan hadits ini sebagaimana disebutkan dalam Irwa’ul Gholil, no. 2622) Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah mengatakan, “Adapun hadits Abu Humaid, maka di sana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelek-jelekkan Ibnul Lutbiyyah yang menerima hadiah yang dihadiahkan kepadanya. Padahal kala itu dia adalah seorang pekerja saja (ia pun sudah diberi jatah upah oleh atasannya, pen).” (Fath Al-Bari, 5: 221)   20- Perbedaan hadiah dan sedekah. Sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Taimiyah berikut ini, “Sedekah itu dikeluarkan dalam rangka ibadah tanpa maksud diberikan kepada orang tertentu, dikeluarkan pada orang-orang yang butuh. Sedangkan hadiah itu dikeluarkan untuk memuliakan orang tertentu, bisa jadi maksudnya karena cinta atau bentuk sedekah, atau bisa juga diserahkan pada orang yang butuh.” (Majmu’ah Al-Fatawa, 31: 269)   21- Hendaknya membalas hadiah. Kalau tidak bisa, maka hendaknya mendoakan orang yang memberi. Dalam hadits disebutkan, مَن صَنَعَ إِليكُم مَعرُوفًا فَكَافِئُوه ، فَإِن لَم تَجِدُوا مَا تُكَافِئُوا بِهِ فَادعُوا لَهُ حَتَّى تَرَوا أَنَّكُم قَد كَافَأتُمُوهُ “Siapa yang memberikan kebaikan untuk kalian, maka balaslah. Jika engkau tidak mampu membalasnya, doakanlah ia sampai-sampai engkau yakin telah benar-benar membalasnya.” (HR. Abu Daud no. 1672 dan AnN-asa’i no. 2568. Hadits ini dishahihkan oleh Ibnu Hibban, Al Hakim dan disepakati oleh Adz Dzahabi). Dari Usamah bin Zaid, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ صُنِعَ إِلَيْهِ مَعْرُوفٌ ، فَقَالَ لِفَاعِلِهِ : جَزَاكَ اللَّهُ خَيْرًا , فَقَدْ أبْلَغَ فِي الثَّنَاءِ “Siapa yang diberikan kebaikan, lalu ia katakan kepada orang yang memberikan kebaikan tersebut, “Jazakallah khoiron (semoga Allah membalas dengan kebaikan)”, seperti itu sudah sangat baik dalam memuji.” (HR. Tirmidzi, no. 2035 dan An-Nasa’i dalam Al-Kubro, no. 10008, juga dalam ‘Amal Al-Yaum wa Al-Lailah, no. 180. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan). Semoga jadi tulisan yang bermanfaat.   Referensi: Al-Wajiz fi Fiqh As-Sunnah wa Al-Kitab Al-‘Aziz. Cetakan ketiga, tahun 1431 H. Syaikh Dr. ‘Abdul ‘Azhim Badawi. Penerbit Dar Ibnu Hazm. Fiqh Al-Akhlaq wa Al-Mu’amalaat ‘ala Al-Mu’miniin, Cetakan Pertama, tahun 1418 H, Syaikh Musthofa Al-‘Adawi, Penerbit Dar Majid ‘Usairi. Majmu’ah Al-Fatawa. Cetakan keempat, tahun 1432 H. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Penerbit Darul Wafa’ dan Dar Ibnu Hazm. Maktabah Syamilah, kitab hadits dan referensi lain.   Tulisan ini mayoritas disusun saat safar ke Handil, Balikpapan (Kaltim) dan safar ke Jakarta Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat. Segala puji bagi Allah, segala kebaikan menjadi sempurna. — Disempurnakan di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 8 Jumadats Tsaniyyah 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagshadiah korupsi uang tips


Ada 21 faedah tentang hadiah yang barangkali di antara kita belum mengetahuinya.   1- Hadiah itu punya pengaruh yang besar, semakin mempererat cinta dan mempersatukan hati, juga memperbaiki hubungan.   2- Terimalah hadiah dan berusahalah untuk membalasnya. Aisyah radhiyallahu ‘anha menyatakan, كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يَقْبَلُ الْهَدِيَّةَ وَيُثِيبُ عَلَيْهَا “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa menerima hadiah dan biasa pula membalasnya.” (HR. Bukhari, no. 2585)   3- Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri menerima hadiah, namun tidak menerima sedekah. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika disodorkan makanan, beliau bertanya dahulu apakah makanan tersebut berasal dari hadiah ataukah sedekah. Kalau itu sedekah, beliau berkata, “Kalian makan saja makanan tersebut.” Namun kalau makanan tersebut adalah hadiah, maka beliau menyantapnya. (HR. Bukhari, no. 2576 dan Muslim, no. 1077) Dari ‘Abdullah bin Busr radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menerima hadiah dan tidak menerima sedekah.” (HR. Ahmad, 4: 189, sanadnya hasan kata Syaikh Musthofa Al-‘Adawi dalam Fiqh Al-Akhlaq, hlm. 67)   4- Tetap memberi hadiah walau jumlahnya sedikit. Coba perhatikan apa yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebutkan pada para wanita, يَا نِسَاءَ الْمُسْلِمَاتِ لاَ تَحْقِرَنَّ جَارَةٌ لِجَارَتِهَا ، وَلَوْ فِرْسِنَ شَاةٍ “Wahai para wanita muslimah, tetaplah memberi hadiah pada tetangga walau hanya kaki kambing yang diberi.” (HR. Bukhari, no. 2566 dan Muslim, no. 1030) Ini pertanda bahwa tetaplah perhatikan tetangga dalam hadiah dengan sesuatu yang gampang bagi kita. Memberi sedikit tetap lebih baik daripada tidak sama sekali.   5- Rajin memberi hadiah akan menimbulkan rasa cinta. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, tahaadu tahaabbu, تَهَادَوْا تَحَابُّوا “Salinglah memberi hadiah, maka kalian akan saling mencintai.” (HR. Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrod, no. 594. Hadits ini dihasankan oleh Syaikh Al-Albani dalam Al-Irwa’, no. 1601. Syaikh Musthofa Al-‘Adawi dalam catatan kaki Fiqh Al-Akhlaq menyatakan bahwa sanad haditsnya hasan dengan syawahidnya) Juga ada hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, تَصَافَحُوْا يَذْهَبُ الغِلُّ ، وتَهَادَوْا تَحَابُّوا ، وَتَذْهَبُ الشَحْنَاءُ “Saling bersalamanlah (berjabat tanganlah) kalian, maka akan hilanglah kedengkian (dendam). Saling memberi hadiahlah kalian, maka kalian akan saling mencintai dan akan hilang kebencian.” (HR. Malik dalam Al-Muwatha’, 2/ 908/ 16. Syaikh Al-Albani menukilkan pernyataan dari Ibnu ‘Abdil Barr bahwa hadits ini bersambung dari beberapa jalur yang berbeda, semuanya hasan)   6- Hendaknya hadiah itu diterima, jangan ditolak. Dalam hadits ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, أَجِيبُوا الدَّاعِىَ وَلاَ تَرُدُّوا الْهَدِيَّةَ وَلاَ تَضْرِبُوا الْمُسْلِمِينَ “Terimalah hadiah, janganlah menolaknya. Janganlah memukul kaum muslimin.” (HR. Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrod, no. 157; Ahmad, 1: 404; Abu Ya’la, 9: 284, Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannafnya, 6: 555. Syaikh Musthofa Al-‘Adawi mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih dalam Fiqh Al-Akhlaq, hlm. 69. Hadits ini juga dinyatakan shahih oleh Syaikh Al-Albani dalam Al-Irwa’, no. 1616)   7- Hadiah yang sedikit tetap diterima sebagaimana jika diberi banyak. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لَوْ دُعِيتُ إِلَى ذِرَاعٍ أَوْ كُرَاعٍ لأَجَبْتُ ، وَلَوْ أُهْدِىَ إِلَىَّ ذِرَاعٌ أَوْ كُرَاعٌ لَقَبِلْتُ “Kalau aku diundang untuk menghadiri undangan yang di situ disajikan dziro’ (paha), aku hadir sebagaimana pula ketika disajikan kuro’ (kaki). Kalau aku diberi hadiah dziro’ (paha), aku terima sebagaimana ketika diberi hadiah kuro’ (kaki).” (HR. Bukhari, no. 2568) Dziro’ (paha) menandakan suatu yang mahal dan disukai. Kuro’ menandakan suatu yang remeh dan tidak punya nilai apa-apa. Demikian kata Syaikh Musthofa Al-‘Adawi dalam Fiqh Al-Akhlaq, hlm. 69.   8- Boleh saja hadiah itu ditolak atau dikembalikan. Kalau ada yang diberi hadiah lantas ia mengembalikan hadiah tersebut hendaklah kita tidak bersedih dan menaruh uzur padanya selama alasan yang diutarakan pada kita benar-benar jelas. Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, bahwa Nabi shalllallahu ‘alaihi wa sallam shalat mengenakan pakaian yang bergaris-garis, lalu beliau memandang kepada garis-garisnya sepintas. Maka, tatkala beliau selesai dari shalatnya, beliau bersabda, اذْهَبُوا بِخَمِيصَتِي هَذِهِ إِلَى أَبِي جَهْمٍ وَأْتُونِي بِأَنْبِجَانِيَّةِ أَبِي جَهْمٍ فَإِنَّهَا أَلْهَتْنِي آنِفًا عَنْ صَلاَتِي. “Bawalah pakaianku ini kepada Abu Jahm dan bawalah untukku ambijaaniyahnya Abu Jahm, sesungguhnya pakaian ini telah melalaikan aku dari shalatku.” Dari Ash-Sha’b bin Juttsamah Al-Laitsi -ia termasuk sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam-, bahwa ia pernah memberi hadiah kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berupa keledai liar saat beliau berada di Abwa -atau di Waddan- dan beliau sedang ihram, maka beliau pun menolaknya. Sha’b berkata, “Tatkala beliau melihat perubahan raut wajahku karena penolakannya terhadap hadiahku. Beliau bersabda, لَيْسَ بِنَا رَدٌّ عَلَيْكَ وَلَكِنَّا حُرُمٌ “Kami tidak menolak (karena ada sesuatu) atas dirimu, akan tetapi (karena) kami sedang dalam keadaan ihram.” (HR. Bukhari, no. 2596)   9- Boleh menyedekahkan sesuatu terus mewarisinya setelah itu. ‘Abdullah bin Buraidah dari ayahnya, ia berkata, “Seorang wanita datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku menyedekahkan seorang budak wanita kepada ibuku, dan ia (ibuku) telah wafat.’ Lalu beliau bersabda, قَدْ آجَرَكِ اللَّهُ وَرَدَّ عَلَيْكِ فِى الْمِيرَاثِ “Semoga Allah memberimu pahala dan Allah mengembalikan warisan kepadamu.” (HR. Ahmad, 5: 349. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih sesuai syarah Muslim)   10- Boleh menerima hadiah dari lawan jenis selama tidak menimbulkan godaan. عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِىَ اللهُ عَنْهُ قاَلَ: أَهْدَتْ أُمُّ حُفَيْدٍ خَالَةُ ابْنِ عَبَّاسٍ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَقِطًا وسَمْنًا وَأَضُبًّا فَأَكَلَ مِنَ الأَقِطِ والسَّمْنِ وَتَرَكَ الضَّبَّ تَقَّذُّرًا وَأَكَلَ عَلَى مَائِدَةِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَوْ كَانَ حَرَامًا مَا أُكِلَ عَلَى مَائِدَةِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallaahu ‘anhuma, ia berkata, “Bibiku Ummu Hufaid pernah memberikan hadiah kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam berupa mentega, keju dan daging dhabb (sejenis biawak). Beliau makan keju dan menteganya, dan beliau meninggalkan daging biawak karena merasa jijik, kemudian makanan yang dihidangkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dimakan (oleh para shahabat). Jika (dhabb itu) haram, niscaya kami tidak akan makan hidangan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Bukhari, no. 2575 dan Muslim, no. 1544)   11- Jangan sampai kita mengharap hadiah kita dikembalikan. Kalau memang punya harapan semacam itu, baiknya tidak memberi hadiah sama sekali. Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الْعَائِدُ فِى هِبَتِهِ كَالْكَلْبِ يَقِىءُ ، ثُمَّ يَعُودُ فِى قَيْئِهِ “Orang yang meminta kembali hadiahnya seperti anjing muntah lalu menelan muntahannya sendiri.” (HR. Bukhari, no. 2589 dan Muslim, no. 1622) Namun seorang ayah masih boleh mengambil kembali apa yang ia beri pada anaknya. Dari Ibnu ‘Umar dan Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhum, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ يَحِلُّ لِرَجُلٍ أَنْ يُعْطِىَ عَطِيَّةً أَوْ يَهَبَ هِبَةً فَيَرْجِعَ فِيهَا إِلاَّ الْوَالِدَ فِيمَا يُعْطِى وَلَدَهُ وَمَثَلُ الَّذِى يُعْطِى الْعَطِيَّةَ ثُمَّ يَرْجِعُ فِيهَا كَمَثَلِ الْكَلْبِ يَأْكُلُ فَإِذَا شَبِعَ قَاءَ ثُمَّ عَادَ فِى قَيْئِهِ “Tidak halal bagi seseorang memberikan suatu pemberian kemudian ia memintanya kembali kecuali ayah pada apa yang ia berikan kepada anaknya (maka boleh diminta kembali). Permisalan orang yang memberi hadiah lantas ia memintanya kembali seperti anjing yang makan, lalu ketika ia kenyang, ia muntahkan, kemudian ia menelan muntahannya.” (HR. Abu Daud, no. 3539; Tirmidzi, no. 1299; An-Nasa’i, no. 3720; Ibnu Majah, no. 2377. Hadits ini dishahihkan oleh Ibnul Jarud, 994; juga oleh Imam Al-Hakim, 2: 46, begitu pula disepakati oleh Imam Adz-Dzahabi)   12- Jangan pula mengungkit-ungkit hadiah yang telah diberi. Allah Ta’ala berfirman, قَوْلٌ مَعْرُوفٌ وَمَغْفِرَةٌ خَيْرٌ مِنْ صَدَقَةٍ يَتْبَعُهَا أَذًى وَاللَّهُ غَنِيٌّ حَلِيمٌ  ,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالْأَذَى “Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima). Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima).” (QS. Al-Baqarah: 263-264) Dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ada tiga orang yang tidak akan diajak bicara oleh Allah pada hari kiamat, tidak akan memandangnya, tidak akan meyucikannya, bagi mereka azab yang pedih.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengulangi hal itu sampai tiga kali. Abu Dzar berkata, “Benar-benar rugi mereka-mereka itu.” Abu Dzar pin bertanya, “Siapa mereka wahai Rasulullah?” Beliau pun menjawab, الْمُسْبِلُ وَالْمَنَّانُ وَالْمُنَفِّقُ سِلْعَتَهُ بِالْحَلِفِ الْكَاذِبِ 1- Orang yang isbal, pria yang menjulurkan pakaiannya di bawah mata kaki. 2- Orang yang mengungkit terus apa yang ia sedekahkan. 3- Orang yang melariskan dagangan dengan sumpah yang dusta.” (HR. Muslim, no. 106) Dalam riwayat Muslim lainnya disebutkan, “Al-mannan itu yang tidak memberi sesuatu melainkan ia selalu mengungkit-ungkitnya.”   13- Saling memberi hadiah antara suami istri juga penting untuk semakin langgengnya cinta antara keduanya. Coba lihat yang dibicarakan tentang mas kawin dalam ayat berikut. وَآتُوا النِّسَاءَ صَدُقَاتِهِنَّ نِحْلَةً فَإِن طِبْنَ لَكُمْ عَن شَيْءٍ مِّنْهُ نَفْسًا فَكُلُوهُ هَنِيئًا مَّرِيئًا “Berikanlah maskawin (mahar) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan. Kemudian jika mereka menyerahkan kepada kamu sebagian dari maskawin itu dengan senang hati, maka makanlah (ambillah) pemberian itu (sebagai makanan) yang sedap lagi baik akibatnya.” (QS. An-Nisaa’: 4) Ayat tersebut menunjukkan boleh saja istri memberi hadiah pada suami dari mahar (mas kawin) yang telah diberi. Hadiah antara suami istri menunjukkan cinta antara mereka. Bentuknya juga bisa dengan bertutur kata yang baik, mengutarakan kata-kata romantis antara mereka hingga pada senyuman manis.   14- Bagaimana jika hanya punya satu hadiah, kepada siapakah diberi? Kata Syaikh Musthofa Al-‘Adawi dalam Fiqh Al-Akhlaq, hlm. 72, dahulukan orang yang paling dekat. Dahulukan yang punya kedekatan nasab (keturunan) dan kedekatan sebagai tetangga. Coba perhatikan dahulu istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bernama Maimunah, ketika itu ia memiliki seorang budak wanita dan ia merdekakan budak tersebut (sebagai bentuk sedekah, -pen.). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas mengatakan pada Maimunah, أَمَا إِنَّكِ لَوْ أَعْطَيْتِيهَا أَخْوَالَكِ كَانَ أَعْظَمَ لأَجْرِكِ “Coba engkau memberikan budak tersebut pada bibimu tentu lebih besar pahalanya.” (HR. Bukhari, no. 2592 dan Muslim, no. 999)   15- Boleh menerima hadiah dari non-muslim dan boleh juga memberi hadiah padanya. Seorang Yahudi pernah memberikan pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam daging kambing, lantas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menerima dan menyantapnya. Juga masih boleh berbuat baik dengan memberi hadiah pada non-muslim sebagaimana kesimpulan dari ayat, لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ , إِنَّمَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ قَاتَلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَأَخْرَجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ وَظَاهَرُوا عَلَى إِخْرَاجِكُمْ أَنْ تَوَلَّوْهُمْ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangimu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu, dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Dan barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Mumtahanah: 8-9) Umar juga pernah memberikan hadiah berupa kain pada saudaranya yang musyrik di Makkah sebelum saudaranya masuk Islam. Catatan: Selama non-muslim tersebut dengan hadiah tadi tidak menindas kaum muslimin, maka tidak masalah memberi hadiah padanya. Termasuk juga tidak boleh menerima dan memberi hadiah pada non-muslim terkait dengan hari raya atau ibadah mereka.   16- Ada hadiah yang tidak boleh ditolak yaitu minyak wangi, susu dan bantal Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ثَلاَثٌ لاَ تُرَدُّ الْوَسَائِدُ وَالدُّهْنُ وَاللَّبَنُ “Tiga hal yang tidak boleh ditolak; (1) bantal, (2) minyak rambut dan (3) susu.” (HR. Tirmidzi, no. 2790. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan) Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, ia menyatakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah menolak jika diberi hadiah minyak wangi. (HR. Bukhari, no. 2582) Dalam hadits juga disebutkan, “Siapa yang diberi hadiah minyak wangi, maka janganlah menolaknya karena yang paling mudah untuk dibawa adalah bau yang wangi.” (HR. Muslim, no.  2253, dari Abu Hurairah)   17- Sebaliknya hadiah yang mesti ditolak, di antaranya: Hadiah dalam rangka sogok pada agama. Contohnya pada kisah ratu Balqis yang memberi hadiah pada Nabi Sulaiman ‘alaihis salam dengan tujuan supaya Nabi Sulaiman menyembah matahari, lantas Nabi Sulaiman menolaknya. Hadiah dalam rangka sogok untuk memutar balikkan kebenaran dan kebatilan. Hadiah pada pegawai dan pekerja negara yang ada sangkut pautnya dengan jabatan dan pekerjaannya. Hadiah yang asalnya dari barang curian atau dari sesuatu yang haram. Hadiah yang maksudnya diberi untuk dapat gantian lebih banyak. Jika tidak dapat gantian lebih banyak, ia murka. Hadiah karena sebab utang, sebelum utang tersebut dilunasi. Hadiah dari al-mannan, yang biasa mengungkit-ungkit pemberian.   18- Ada hadiah yang dilarang untuk diberikan, yaitu: Hadiah yang diberikan pada safih, orang yang menggunakan hadiah dalam maksiat atau membuat kerusakan. Hadiah yang diberikan secara tidak adil pada anak-anak. Dalam hadits disebutkan, “Bertakwalah pada Allah dan adillah pada anak-anak kalian.” (HR. Bukhari, no. 2587 dan Muslim, no. 1623)   19- Seringnya di tengah-tengah kita memberikan hadiah sebagai tips dan yang diberi menerimanya. Uang tips semacam ini terlarang jika memang yang diberi sudah diberi gaji dari tugasnya seperti pada pegawai negeri atau pejabat. Telah menceritakan kepada kami Ali bin Abdullah telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Az Zuhri, ia mendengar ‘Urwah telah mengabarkan kepada kami, Abu Humaid As Sa’idi mengatakan, Pernah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mempekerjakan seseorang dari bani Asad yang namanya Ibnul Lutbiyyah untuk mengurus zakat. Orang itu datang sambil mengatakan, “Ini bagimu, dan ini hadiah bagiku.” Secara spontan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri di atas mimbar -sedang Sufyan mengatakan dengan redaksi ‘naik minbar’-, beliau memuja dan memuji Allah kemudian bersabda, مَا بَالُ الْعَامِلِ نَبْعَثُهُ ، فَيَأْتِى يَقُولُ هَذَا لَكَ وَهَذَا لِى . فَهَلاَّ جَلَسَ فِى بَيْتِ أَبِيهِ وَأُمِّهِ فَيَنْظُرُ أَيُهْدَى لَهُ أَمْ لاَ ، وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لاَ يَأْتِى بِشَىْءٍ إِلاَّ جَاءَ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَحْمِلُهُ عَلَى رَقَبَتِهِ ، إِنْ كَانَ بَعِيرًا لَهُ رُغَاءٌ ، أَوْ بَقَرَةً لَهَا خُوَارٌ ، أَوْ شَاةً تَيْعَرُ “Ada apa dengan seorang pengurus zakat yang kami utus, lalu ia datang dengan mengatakan, “Ini untukmu dan ini hadiah untukku!” Cobalah ia duduk saja di rumah ayahnya atau rumah ibunya, dan cermatilah, apakah ia menerima hadiah ataukah tidak? Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidaklah seseorang datang dengan mengambil hadiah seperti pekerja tadi melainkan ia akan datang dengannya pada hari kiamat, lalu dia akan memikul hadiah tadi di lehernya. Jika hadiah yang ia ambil adalah unta, maka akan keluar suara unta. Jika hadiah yang ia ambil adalah sapi betina, maka akan keluar suara sapi. Jika yang dipikulnya adalah kambing, maka akan keluar suara kambing.“ ثُمَّ رَفَعَ يَدَيْهِ حَتَّى رَأَيْنَا عُفْرَتَىْ إِبْطَيْهِ « أَلاَ هَلْ بَلَّغْتُ » ثَلاَثًا Kemudian beliau mengangkat kedua tangannya sehingga kami melihat putih kedua ketiaknya seraya mengatakan, “Ketahuilah, bukankah telah kusampaikan?” (beliau mengulang-ulanginya tiga kali). (HR. Bukhari, no. 7174 dan Muslim, no. 1832) Ada hadits pula dari Abu Humaid As Sa’idiy. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, هَدَايَا الْعُمَّالِ غُلُولٌ “Hadiah bagi pejabat (pekerja) adalah ghulul (khianat).” (HR. Ahmad, 5: 424. Syaikh Al-Albani menshohihkan hadits ini sebagaimana disebutkan dalam Irwa’ul Gholil, no. 2622) Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah mengatakan, “Adapun hadits Abu Humaid, maka di sana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelek-jelekkan Ibnul Lutbiyyah yang menerima hadiah yang dihadiahkan kepadanya. Padahal kala itu dia adalah seorang pekerja saja (ia pun sudah diberi jatah upah oleh atasannya, pen).” (Fath Al-Bari, 5: 221)   20- Perbedaan hadiah dan sedekah. Sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Taimiyah berikut ini, “Sedekah itu dikeluarkan dalam rangka ibadah tanpa maksud diberikan kepada orang tertentu, dikeluarkan pada orang-orang yang butuh. Sedangkan hadiah itu dikeluarkan untuk memuliakan orang tertentu, bisa jadi maksudnya karena cinta atau bentuk sedekah, atau bisa juga diserahkan pada orang yang butuh.” (Majmu’ah Al-Fatawa, 31: 269)   21- Hendaknya membalas hadiah. Kalau tidak bisa, maka hendaknya mendoakan orang yang memberi. Dalam hadits disebutkan, مَن صَنَعَ إِليكُم مَعرُوفًا فَكَافِئُوه ، فَإِن لَم تَجِدُوا مَا تُكَافِئُوا بِهِ فَادعُوا لَهُ حَتَّى تَرَوا أَنَّكُم قَد كَافَأتُمُوهُ “Siapa yang memberikan kebaikan untuk kalian, maka balaslah. Jika engkau tidak mampu membalasnya, doakanlah ia sampai-sampai engkau yakin telah benar-benar membalasnya.” (HR. Abu Daud no. 1672 dan AnN-asa’i no. 2568. Hadits ini dishahihkan oleh Ibnu Hibban, Al Hakim dan disepakati oleh Adz Dzahabi). Dari Usamah bin Zaid, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ صُنِعَ إِلَيْهِ مَعْرُوفٌ ، فَقَالَ لِفَاعِلِهِ : جَزَاكَ اللَّهُ خَيْرًا , فَقَدْ أبْلَغَ فِي الثَّنَاءِ “Siapa yang diberikan kebaikan, lalu ia katakan kepada orang yang memberikan kebaikan tersebut, “Jazakallah khoiron (semoga Allah membalas dengan kebaikan)”, seperti itu sudah sangat baik dalam memuji.” (HR. Tirmidzi, no. 2035 dan An-Nasa’i dalam Al-Kubro, no. 10008, juga dalam ‘Amal Al-Yaum wa Al-Lailah, no. 180. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan). Semoga jadi tulisan yang bermanfaat.   Referensi: Al-Wajiz fi Fiqh As-Sunnah wa Al-Kitab Al-‘Aziz. Cetakan ketiga, tahun 1431 H. Syaikh Dr. ‘Abdul ‘Azhim Badawi. Penerbit Dar Ibnu Hazm. Fiqh Al-Akhlaq wa Al-Mu’amalaat ‘ala Al-Mu’miniin, Cetakan Pertama, tahun 1418 H, Syaikh Musthofa Al-‘Adawi, Penerbit Dar Majid ‘Usairi. Majmu’ah Al-Fatawa. Cetakan keempat, tahun 1432 H. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Penerbit Darul Wafa’ dan Dar Ibnu Hazm. Maktabah Syamilah, kitab hadits dan referensi lain.   Tulisan ini mayoritas disusun saat safar ke Handil, Balikpapan (Kaltim) dan safar ke Jakarta Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat. Segala puji bagi Allah, segala kebaikan menjadi sempurna. — Disempurnakan di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 8 Jumadats Tsaniyyah 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagshadiah korupsi uang tips

Jangan Mudah Berhutang!

Sebagian kita ada yang senang dengan perilaku hutang, walaupun terkadang dia mampu. Adapula yang memang menjadikan hutang itu sebagai gaya hidupnya.Padahal yang demikian itu tidak baik, karena hutang termasuk pwrilaku buruk, yang akan membuat orang berakhlak tidak baik. Maksudnya dapat menimbulkan perilaku yang buruk bagi orang yang suka (hobi) berhutang, seperti suka berdusta dan ingkar janji.Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Sesungguhnya seseorang apabila berhutang, maka dia sering berkata lantas berdusta, dan berjanji lantas mengingkari” (HR. Al-Bukhari).Lebih dari itu, hutang akan menyebabkan kesedihan di malam hari, dan kehinaan di siang hari.Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam menolak untuk menshalatkan jenazah seseorang yang diketahui masih meninggalkan hutang dan tidak meninggalkan harta untuk membayarnya.Dan dosa orang yang memiliki hutang tidak terhapuskan walaupun dia mati syahid, dijelaskan dari Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash radhiallah ‘anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:يغفر للشهيد كل ذنب إلا الدَّين“Akan diampuni seluruh dosa orang Чαπƍ mati syahid kecuali hutang” (HR. Muslim).Oleh karena itu, hindari hutang kalo tidak kepepet!***Penulis: Ust. Fuad Hamzah Baraba, Lc.Artikel Muslim.or.id🔍 Ayat Alquran Tentang Bahasa, Contoh Berbakti Kepada Orang Tua, Waliyullah Adalah, Menjawab Pujian Dalam Islam, Kembaran Manusia Menurut Islam

Jangan Mudah Berhutang!

Sebagian kita ada yang senang dengan perilaku hutang, walaupun terkadang dia mampu. Adapula yang memang menjadikan hutang itu sebagai gaya hidupnya.Padahal yang demikian itu tidak baik, karena hutang termasuk pwrilaku buruk, yang akan membuat orang berakhlak tidak baik. Maksudnya dapat menimbulkan perilaku yang buruk bagi orang yang suka (hobi) berhutang, seperti suka berdusta dan ingkar janji.Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Sesungguhnya seseorang apabila berhutang, maka dia sering berkata lantas berdusta, dan berjanji lantas mengingkari” (HR. Al-Bukhari).Lebih dari itu, hutang akan menyebabkan kesedihan di malam hari, dan kehinaan di siang hari.Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam menolak untuk menshalatkan jenazah seseorang yang diketahui masih meninggalkan hutang dan tidak meninggalkan harta untuk membayarnya.Dan dosa orang yang memiliki hutang tidak terhapuskan walaupun dia mati syahid, dijelaskan dari Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash radhiallah ‘anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:يغفر للشهيد كل ذنب إلا الدَّين“Akan diampuni seluruh dosa orang Чαπƍ mati syahid kecuali hutang” (HR. Muslim).Oleh karena itu, hindari hutang kalo tidak kepepet!***Penulis: Ust. Fuad Hamzah Baraba, Lc.Artikel Muslim.or.id🔍 Ayat Alquran Tentang Bahasa, Contoh Berbakti Kepada Orang Tua, Waliyullah Adalah, Menjawab Pujian Dalam Islam, Kembaran Manusia Menurut Islam
Sebagian kita ada yang senang dengan perilaku hutang, walaupun terkadang dia mampu. Adapula yang memang menjadikan hutang itu sebagai gaya hidupnya.Padahal yang demikian itu tidak baik, karena hutang termasuk pwrilaku buruk, yang akan membuat orang berakhlak tidak baik. Maksudnya dapat menimbulkan perilaku yang buruk bagi orang yang suka (hobi) berhutang, seperti suka berdusta dan ingkar janji.Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Sesungguhnya seseorang apabila berhutang, maka dia sering berkata lantas berdusta, dan berjanji lantas mengingkari” (HR. Al-Bukhari).Lebih dari itu, hutang akan menyebabkan kesedihan di malam hari, dan kehinaan di siang hari.Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam menolak untuk menshalatkan jenazah seseorang yang diketahui masih meninggalkan hutang dan tidak meninggalkan harta untuk membayarnya.Dan dosa orang yang memiliki hutang tidak terhapuskan walaupun dia mati syahid, dijelaskan dari Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash radhiallah ‘anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:يغفر للشهيد كل ذنب إلا الدَّين“Akan diampuni seluruh dosa orang Чαπƍ mati syahid kecuali hutang” (HR. Muslim).Oleh karena itu, hindari hutang kalo tidak kepepet!***Penulis: Ust. Fuad Hamzah Baraba, Lc.Artikel Muslim.or.id🔍 Ayat Alquran Tentang Bahasa, Contoh Berbakti Kepada Orang Tua, Waliyullah Adalah, Menjawab Pujian Dalam Islam, Kembaran Manusia Menurut Islam


Sebagian kita ada yang senang dengan perilaku hutang, walaupun terkadang dia mampu. Adapula yang memang menjadikan hutang itu sebagai gaya hidupnya.Padahal yang demikian itu tidak baik, karena hutang termasuk pwrilaku buruk, yang akan membuat orang berakhlak tidak baik. Maksudnya dapat menimbulkan perilaku yang buruk bagi orang yang suka (hobi) berhutang, seperti suka berdusta dan ingkar janji.Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Sesungguhnya seseorang apabila berhutang, maka dia sering berkata lantas berdusta, dan berjanji lantas mengingkari” (HR. Al-Bukhari).Lebih dari itu, hutang akan menyebabkan kesedihan di malam hari, dan kehinaan di siang hari.Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam menolak untuk menshalatkan jenazah seseorang yang diketahui masih meninggalkan hutang dan tidak meninggalkan harta untuk membayarnya.Dan dosa orang yang memiliki hutang tidak terhapuskan walaupun dia mati syahid, dijelaskan dari Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash radhiallah ‘anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:يغفر للشهيد كل ذنب إلا الدَّين“Akan diampuni seluruh dosa orang Чαπƍ mati syahid kecuali hutang” (HR. Muslim).Oleh karena itu, hindari hutang kalo tidak kepepet!***Penulis: Ust. Fuad Hamzah Baraba, Lc.Artikel Muslim.or.id🔍 Ayat Alquran Tentang Bahasa, Contoh Berbakti Kepada Orang Tua, Waliyullah Adalah, Menjawab Pujian Dalam Islam, Kembaran Manusia Menurut Islam

Pembangunan Masjid Al-Azhar, Basis Kajian Ustadz M Abduh Tuasikal di Wonosari

Yuk ikut nyumbang walau hanya 50 Ribu [Donasi Awal Maret hingga 7-3-2017]   Pembangunan Masjid Al-Azhar Basis Kajian Ustadz M Abduh Tuasikal di Wonosari Alamat: Jl. Baron KM 2 Padukuhan Karangrejek, RT 07, RW 03, Desa Karangrejek, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Gunungkidul, D.I.Y., Kode Pos: 55851 Kebutuhan 500 juta Rupiah Silakan transfer ke rekening Darush Sholihin dan RumayshoCom: • BCA 895009 3791 atas nama Muhammad Abduh Tuasikal • BSM 7098637286 atas nama Yayasan Darush Sholihin Gunungkidul • BRI 697501000453505 atas nama Yayasan Darush Sholihin *Kode bank BCA 014, BSM 451, BRI 002   Konfirmasi via SMS/ WA ke 082313950500 dengan format: Masjid Binaan DS # Nama Donatur # Alamat # Bank Tujuan Transfer # Tgl Transfer # Besar Donasi. Contoh: Masjid Binaan DS # Muslim # Godean Yogyakarta # BSM # 4 Maret 2017 # 50.000 — Catatan: Tidak ada biaya tambahan untuk donasi di atas, penyaluran donasi ini murni menyalurkan dana. Menyumbang 50 RIBU saja sudah bisa mendapatkan pahala berikut. Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ بَنَى مَسْجِدًا لِلَّهِ كَمَفْحَصِ قَطَاةٍ أَوْ أَصْغَرَ بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِى الْجَنَّةِ “Siapa yang membangun masjid karena Allah walaupun hanya selubang tempat burung bertelur atau lebih kecil, maka Allah bangunkan baginya (rumah) seperti itu pula di surga.” (HR. Ibnu Majah no. 738. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih) Semoga Allah memberi limpahan pahala bagi yang siap membantu dakwah ilallah ini. Kami juga memohon doa kaum muslimin sekalian agar pembangunan Masjid Al-Azhar ini berjalan lancar dan bisa sebagai pusat kajian di Wonosari. — Info DarushSholihin.Com | Rumaysho.Com Tagsrenovasi masjid

Pembangunan Masjid Al-Azhar, Basis Kajian Ustadz M Abduh Tuasikal di Wonosari

Yuk ikut nyumbang walau hanya 50 Ribu [Donasi Awal Maret hingga 7-3-2017]   Pembangunan Masjid Al-Azhar Basis Kajian Ustadz M Abduh Tuasikal di Wonosari Alamat: Jl. Baron KM 2 Padukuhan Karangrejek, RT 07, RW 03, Desa Karangrejek, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Gunungkidul, D.I.Y., Kode Pos: 55851 Kebutuhan 500 juta Rupiah Silakan transfer ke rekening Darush Sholihin dan RumayshoCom: • BCA 895009 3791 atas nama Muhammad Abduh Tuasikal • BSM 7098637286 atas nama Yayasan Darush Sholihin Gunungkidul • BRI 697501000453505 atas nama Yayasan Darush Sholihin *Kode bank BCA 014, BSM 451, BRI 002   Konfirmasi via SMS/ WA ke 082313950500 dengan format: Masjid Binaan DS # Nama Donatur # Alamat # Bank Tujuan Transfer # Tgl Transfer # Besar Donasi. Contoh: Masjid Binaan DS # Muslim # Godean Yogyakarta # BSM # 4 Maret 2017 # 50.000 — Catatan: Tidak ada biaya tambahan untuk donasi di atas, penyaluran donasi ini murni menyalurkan dana. Menyumbang 50 RIBU saja sudah bisa mendapatkan pahala berikut. Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ بَنَى مَسْجِدًا لِلَّهِ كَمَفْحَصِ قَطَاةٍ أَوْ أَصْغَرَ بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِى الْجَنَّةِ “Siapa yang membangun masjid karena Allah walaupun hanya selubang tempat burung bertelur atau lebih kecil, maka Allah bangunkan baginya (rumah) seperti itu pula di surga.” (HR. Ibnu Majah no. 738. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih) Semoga Allah memberi limpahan pahala bagi yang siap membantu dakwah ilallah ini. Kami juga memohon doa kaum muslimin sekalian agar pembangunan Masjid Al-Azhar ini berjalan lancar dan bisa sebagai pusat kajian di Wonosari. — Info DarushSholihin.Com | Rumaysho.Com Tagsrenovasi masjid
Yuk ikut nyumbang walau hanya 50 Ribu [Donasi Awal Maret hingga 7-3-2017]   Pembangunan Masjid Al-Azhar Basis Kajian Ustadz M Abduh Tuasikal di Wonosari Alamat: Jl. Baron KM 2 Padukuhan Karangrejek, RT 07, RW 03, Desa Karangrejek, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Gunungkidul, D.I.Y., Kode Pos: 55851 Kebutuhan 500 juta Rupiah Silakan transfer ke rekening Darush Sholihin dan RumayshoCom: • BCA 895009 3791 atas nama Muhammad Abduh Tuasikal • BSM 7098637286 atas nama Yayasan Darush Sholihin Gunungkidul • BRI 697501000453505 atas nama Yayasan Darush Sholihin *Kode bank BCA 014, BSM 451, BRI 002   Konfirmasi via SMS/ WA ke 082313950500 dengan format: Masjid Binaan DS # Nama Donatur # Alamat # Bank Tujuan Transfer # Tgl Transfer # Besar Donasi. Contoh: Masjid Binaan DS # Muslim # Godean Yogyakarta # BSM # 4 Maret 2017 # 50.000 — Catatan: Tidak ada biaya tambahan untuk donasi di atas, penyaluran donasi ini murni menyalurkan dana. Menyumbang 50 RIBU saja sudah bisa mendapatkan pahala berikut. Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ بَنَى مَسْجِدًا لِلَّهِ كَمَفْحَصِ قَطَاةٍ أَوْ أَصْغَرَ بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِى الْجَنَّةِ “Siapa yang membangun masjid karena Allah walaupun hanya selubang tempat burung bertelur atau lebih kecil, maka Allah bangunkan baginya (rumah) seperti itu pula di surga.” (HR. Ibnu Majah no. 738. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih) Semoga Allah memberi limpahan pahala bagi yang siap membantu dakwah ilallah ini. Kami juga memohon doa kaum muslimin sekalian agar pembangunan Masjid Al-Azhar ini berjalan lancar dan bisa sebagai pusat kajian di Wonosari. — Info DarushSholihin.Com | Rumaysho.Com Tagsrenovasi masjid


Yuk ikut nyumbang walau hanya 50 Ribu [Donasi Awal Maret hingga 7-3-2017]   Pembangunan Masjid Al-Azhar Basis Kajian Ustadz M Abduh Tuasikal di Wonosari Alamat: Jl. Baron KM 2 Padukuhan Karangrejek, RT 07, RW 03, Desa Karangrejek, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Gunungkidul, D.I.Y., Kode Pos: 55851 Kebutuhan 500 juta Rupiah Silakan transfer ke rekening Darush Sholihin dan RumayshoCom: • BCA 895009 3791 atas nama Muhammad Abduh Tuasikal • BSM 7098637286 atas nama Yayasan Darush Sholihin Gunungkidul • BRI 697501000453505 atas nama Yayasan Darush Sholihin *Kode bank BCA 014, BSM 451, BRI 002   Konfirmasi via SMS/ WA ke 082313950500 dengan format: Masjid Binaan DS # Nama Donatur # Alamat # Bank Tujuan Transfer # Tgl Transfer # Besar Donasi. Contoh: Masjid Binaan DS # Muslim # Godean Yogyakarta # BSM # 4 Maret 2017 # 50.000 — Catatan: Tidak ada biaya tambahan untuk donasi di atas, penyaluran donasi ini murni menyalurkan dana. Menyumbang 50 RIBU saja sudah bisa mendapatkan pahala berikut. Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ بَنَى مَسْجِدًا لِلَّهِ كَمَفْحَصِ قَطَاةٍ أَوْ أَصْغَرَ بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِى الْجَنَّةِ “Siapa yang membangun masjid karena Allah walaupun hanya selubang tempat burung bertelur atau lebih kecil, maka Allah bangunkan baginya (rumah) seperti itu pula di surga.” (HR. Ibnu Majah no. 738. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih) Semoga Allah memberi limpahan pahala bagi yang siap membantu dakwah ilallah ini. Kami juga memohon doa kaum muslimin sekalian agar pembangunan Masjid Al-Azhar ini berjalan lancar dan bisa sebagai pusat kajian di Wonosari. — Info DarushSholihin.Com | Rumaysho.Com Tagsrenovasi masjid

Khutbah Jumat: Ingin Makmur Seperti Negerinya Raja Salman

Kita akui bahwa negerinya Raja Salman (Saudi Arabia) bisa lebih makmur dari kita padahal di sana negeri padang pasir dan tandus. Kenapa bisa? Baca naskah Khutbah Jumat berikut.   Khutbah Pertama إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَ مِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِىَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ اللّهُمَّ صَلِّ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ اللّهُمَّ عَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا، وَانْفَعَنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا، وَزِدْنَا عِلْماً، وَأَرَنَا الحَقَّ حَقّاً وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرَنَا البَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ Amma ba’du Ma’asyirol muslimin jama’ah shalat Jumat rahimani wa rahimakumullah …   Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam yang telah memberikan kita berbagai karunia. Karunia terbesar yang Allah berikan adalah karunia Iman dan Islam. Moga kita semakin bersyukur atas nikmat tersebut dan kita bisa buktikan dengan semakin meningkatkan ketakwaan kita pada Allah Ta’ala. Perintah dalam ayat tentang takwa, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS. Ali Imran: 102)   Shalawat dan salam semoga tercurah pada junjungan dan suri tauladan kita, Nabi akhir zaman, Nabi besar kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, kepada Ummahatul Mukmin, kepada para sahabat tercinta, kepada khulafaur rosyidin (Abu Bakr, ‘Umar, ‘Utsman dan ‘Ali radhiyallahu ‘anhum) serta yang mengikuti para salaf tadi dengan baik hingga akhir zaman.   Para jama’ah shalat jumat rahimani wa rahimakumullah … Mau tahu bagaimanakah makmurnya negeri padang pasir seperti Kerajaan Saudi Arabia? Padahal negara Saudi Arabia tidak sehijau negeri kita. Air di daratan sana tidak sebanyak di negeri kita. Namun mereka terlihat lebih makmur dan lebih maju. Kenapa? Ini keadaan Saudi Arabia dengan berbagai kemakmurannya: BBM jenis oktan 91 hanya dihargai 0,75 riyal. Sedangkan BBM jenis oktan 95 hanya seharga 0,90 riyal. Di negeri kita Pertamax yang angka oktannya 92, dijual Rp.8.050 dan Pertalite yang angka oktannya 90, dijual Rp.7.350,-. Bensin Saudi dengan angkat oktan terbaik (95) bisa diperoleh dengan harga Rp.3.600,- dengan kurs Rp.4000,- per riyal. Harga segitu di sana sudah mendapatkan satu aqua botol sedang seharga 1 riyal. Jadi harga bensin kelas tinggi hampir sama dengan aqua botol sedang. Sekolah hingga kuliah di Saudi Arabia gratis dan dapat tunjangan hidup dan dapat asrama. Parahnya berlaku juga untuk warga asing seperti kita yang ingin sekolah di sana dari Indonesia. Pengangguran di Arab Saudi menerima tunjangan sebesar 2,000 Riyal (± Rp.8 Juta) perbulan. Sedangkan mahasiswa di seluruh Universitas Negeri mendapat uang saku bulanan sekitar 900 Riyal (± Rp.3,6 juta), asrama gratis dan tanpa dipungut biaya kuliah sama sekali. Minimal gaji bersih yang harus diterima oleh Saudi sebesar 2500 riyal (± Rp.10 Juta) per bulan untuk posisi (terendah) sebagai pegawai junior semisal sopir atau petugas keamanan. Arab Saudi adalah produsen terbesar di dunia dan eksportir minyak, dan memiliki seperempat dari cadangan minyak dunia yang dikenal – lebih dari 260 miliar barel. Sebagian besar berada di Provinsi Timur, termasuk bidang onshore terbesar di Ghawar dan bidang lepas pantai terbesar di Safaniya di Teluk Arab. Kilang Arab Saudi memproduksi sekitar 8 juta barel minyak per hari, dan ada rencana untuk meningkatkan produksi menjadi sekitar 12 juta barel per hari. Jalanan di Arab Saudi adalah jalan tol semua dan gratis semua. Tidak ada pajak untuk warga negara Saudi. Sehingga harga mobil pun bisa lebih murah dari negeri produsennya. Contoh mobil innova diproduksi di Indonesia dan dibawa ke Saudi Arabia dengan harga 60.000 riyal (± Rp.240 Juta). Sedangkan di Indonesia, mobil tersebut dijual dengan harga di atas 300-an juta rupiah.   Apa yang menyebabkan Saudi Arabia terlihat begitu maju dan makmur: 1- Negara tersebut memegang teguh TAUHID Ini dibuktikan lewat dakwah Syaikh Al-Imam Al-Mujaddid Muhammad bin Abdul Wahhab sejak abad ke-18. Yang dahulu bekerja sama dengan Muhammad bin Saud. Muhammad bin Abdul Wahhab dan Muhammad bin Saud membentuk kesepakatan untuk mendedikasikan diri mereka untuk memulihkan ajaran Islam yang murni kepada komunitas Muslim. Dalam semangat itu, bin Saud mendirikan negara pertama Arab Saudi, dengan  bimbingan spiritual Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab. Dakwah tauhid inilah yang menjadi dakwah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan dakwah para Rasul. Dalam ayat disebutkan, وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ “Sungguh Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul yang mengajak; sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.” (QS. An-Nahl: 36). Makanya di Saudi Arabia, tidak terlihat warganya doyan memakai jimat, susuk dan pelet; warganya juga sangat tidak suka dengan dunia perdukunan; juga di Saudi Arabia benar-benar kubur orang shalih tidak diperlakukan secara berlebihan (ghuluw atau ekstrim).   2- Rakyatnya memperhatikan shalat Saudi Arabia adalah satu-satunya negara yang mengharuskan penduduknya untuk menghentikan seluruh aktivitas perdagangan selama pelaksanaan shalat berjamaah yang mana setiap toko harus ditutup ketika telah dikumandangkan azan tanda masuknya waktu shalat wajib. Orang yang menjaga shalat jamaah dan rajin menunggu shalat, pantas mendapatkan rahmat Allah. Itulah di antara buah dari menjaga shalat. Para malaikat mendoakan orang yang menunggu shalat, اللَّهُمَّ ارْحَمْهُ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ اللَّهُمَّ تُبْ عَلَيْهِ “Ya Allah, rahmatilah ia. Ya Allah, ampunilah dia. Ya Allah, terimalah taubatnya.” (HR. Bukhari, no. 477 dan Muslim, no. 649) Kata Umar bin Khattab, orang yang memperhatikan shalat tentu urusan lainnya akan lebih dimudahkan lagi. Amirul Mukminin, Umar bin Al Khoththob –radhiyallahu ‘anhu– mengatakan, “Sesungguhnya di antara perkara terpenting bagi kalian adalah shalat. Barangsiapa menjaga shalat, berarti dia telah menjaga agama. Barangsiapa yang menyia-nyiakannya, maka untuk amalan lainnya akan lebih disia-siakan lagi. Tidak ada bagian dalam Islam, bagi orang yang meninggalkan shalat.“ (Lihat Ash-Shalah karya Ibnul Qayyim, hlm. 12)   3- Kriminalitas relatif rendah dan ditindak tegas Tingkat kriminalitas di Arab Saudi relatif rendah dibandingkan kebanyakan negara di dunia, namun setiap tindak kriminalitas akan ditanggapi secara serius. Tindak kejahatan seperti pemerkosaan, pembunuhan, kemurtadan, perampokan bersenjata dan perdagangan narkoba terancam hukuman mati dibawah hukum syariat Islam yang ketat yang diberlakukan otoritas Saudi. Karena takut pada Allah dan menjalankan hukum Islam, akhirya buahnya adalah berkah dari langit dan bumi, وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آَمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS. Al-A’raf: 96) Lihatlah karena mau beriman dengan benar dalam hati yang dibuktikan dengan amalan, juga karena bertakwa pada Allah dengan menjauhi segala yang diharamkan, maka berkah dari langit dan dari dalam bumi akan dibuka. (Lihat Tafsir As-Sa’di, hlm. 305)   Demikian tiga hal yang menjadi keunggulan Saudi Arabia yang menjadikan mereka lebih makmur. Semoga Allah memberi taufik dan hidayah pada kita semua. Demikian khutbah pertama ini. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا َوَاسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ إِنَّهُ هُوَ السَمِيْعُ العَلِيْمُ Khutbah Kedua  الحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالمِيْنَ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَافِ الأَنْبِيَاءِ وَالمرْسَلِيْنَ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ   Amma ba’du Ma’asyirol muslimin jama’ah shalat Jumat rahimani wa rahimakumullah …   Setelah kita lihat tadi kenapa Saudi Arabia bisa begitu makmur, yaitu karena mereka sadar akan tauhid dan menjauhi syirik, mereka memperhatikan shalat, juga mereka menindak tegas kriminal dan kejahatan. Ada lagi alasan kenapa sampai Saudi Arabia terlihat lebih maju selain tiga hal tadi yang disebutkan, yaitu:   4- Saudi Arabia berusaha kembali pada Islam yang murni (pemahaman salaf) Karena kembali pada Islam yang murni seperti yang dibawa oleh Rasul dan para sahabat radhiyallahu ‘anhum itulah yang membuat kita selamat dari kesesatan. إِنِّي قَدْ تَرَكْتُ فِيْكُمْ مَا إِنْ اِعْتَصَمْتُمْ بِهِ فَلَنْ تَضِلُّوْا أَبَدًا كِتَابَ اللهِ وَسُنَّةَ نَبِيِّهِ “Aku telah tinggalkan bagi kalian dua perkara yang kalian tidak akan sesat selamanya jika berpegang teguh dengan keduanya yaitu: Al Qur’an dan Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Al-Hakim, sanadnya shahih kata Al Hakim). Islam yang hakiki bukan hanya berpegang pada Al Qur’an dan Hadits, namun juga mesti ditambah dengan mengikuti para sahabat dalam beragama. Karena para sahabatlah yang mengetahui bagaimana wahyu itu turun. Dalam ayat, Allah Ta’ala memuji keimanan para sahabat radhiyallahu ‘anhum dan orang-orang yang mengikuti mereka dalam firman-Nya, فَإِنْ آمَنُوا بِمِثْلِ مَا آمَنْتُمْ بِهِ فَقَدِ اهْتَدَوْا “Dan jika mereka beriman seperti keimanan kalian, maka sungguh mereka telah mendapatkan petunjuk (ke jalan yang benar).” (QS. Al-Baqarah: 137) Jadi tidaklah cukup dengan berpegang dengan Al-Qur’an dan Hadits saja, namun hendaklah ditambahkan berpegang pula dengan pemahaman para sahabat (para salaf) radhiyallahu ‘anhum. Demikian khutbah kami untuk Jumat kali ini. Semoga Indonesia menjadi negeri yang beriman dan bertakwa, diberi limpahan rezeki dan berkah, dikaruniakan kemakmuran; moga kita diangkat dari kemiskinan dan berbagai musibah, serta istiqamah di atas Islam. إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَةِ رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ، وَجَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَسْمَاعِنَا، وَأَبْصَارِنَا، وَقُلُوبِنَا، وَأَزْوَاجِنَا، وَذُرِّيَّاتِنَا، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ، وَاجْعَلْنَا شَاكِرِينَ لِنِعَمِكَ مُثْنِينَ بِهَا عَلَيْكَ، قَابِلِينَ لَهَا، وَأَتِمِمْهَا عَلَيْنَا رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن. وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ —   Naskah Khutbah Masjid Jenderal Sudirman Panggang, Jum’at Pahing, 4 Jumadats Tsaniyyah 1438 H (3 Maret 2017) Silakan download naskah Khutbah Jumat: Cara Bisa Makmur Seperti Negerinya Raja Salman — Disusun di pagi hari @ DS Panggang, Jumat pagi, 24 Jumadats Tsaniyyah 1438 H (03-03-2017) Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagsmakmur negeri tauhid saudi arabia syirik tauhid

Khutbah Jumat: Ingin Makmur Seperti Negerinya Raja Salman

Kita akui bahwa negerinya Raja Salman (Saudi Arabia) bisa lebih makmur dari kita padahal di sana negeri padang pasir dan tandus. Kenapa bisa? Baca naskah Khutbah Jumat berikut.   Khutbah Pertama إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَ مِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِىَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ اللّهُمَّ صَلِّ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ اللّهُمَّ عَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا، وَانْفَعَنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا، وَزِدْنَا عِلْماً، وَأَرَنَا الحَقَّ حَقّاً وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرَنَا البَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ Amma ba’du Ma’asyirol muslimin jama’ah shalat Jumat rahimani wa rahimakumullah …   Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam yang telah memberikan kita berbagai karunia. Karunia terbesar yang Allah berikan adalah karunia Iman dan Islam. Moga kita semakin bersyukur atas nikmat tersebut dan kita bisa buktikan dengan semakin meningkatkan ketakwaan kita pada Allah Ta’ala. Perintah dalam ayat tentang takwa, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS. Ali Imran: 102)   Shalawat dan salam semoga tercurah pada junjungan dan suri tauladan kita, Nabi akhir zaman, Nabi besar kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, kepada Ummahatul Mukmin, kepada para sahabat tercinta, kepada khulafaur rosyidin (Abu Bakr, ‘Umar, ‘Utsman dan ‘Ali radhiyallahu ‘anhum) serta yang mengikuti para salaf tadi dengan baik hingga akhir zaman.   Para jama’ah shalat jumat rahimani wa rahimakumullah … Mau tahu bagaimanakah makmurnya negeri padang pasir seperti Kerajaan Saudi Arabia? Padahal negara Saudi Arabia tidak sehijau negeri kita. Air di daratan sana tidak sebanyak di negeri kita. Namun mereka terlihat lebih makmur dan lebih maju. Kenapa? Ini keadaan Saudi Arabia dengan berbagai kemakmurannya: BBM jenis oktan 91 hanya dihargai 0,75 riyal. Sedangkan BBM jenis oktan 95 hanya seharga 0,90 riyal. Di negeri kita Pertamax yang angka oktannya 92, dijual Rp.8.050 dan Pertalite yang angka oktannya 90, dijual Rp.7.350,-. Bensin Saudi dengan angkat oktan terbaik (95) bisa diperoleh dengan harga Rp.3.600,- dengan kurs Rp.4000,- per riyal. Harga segitu di sana sudah mendapatkan satu aqua botol sedang seharga 1 riyal. Jadi harga bensin kelas tinggi hampir sama dengan aqua botol sedang. Sekolah hingga kuliah di Saudi Arabia gratis dan dapat tunjangan hidup dan dapat asrama. Parahnya berlaku juga untuk warga asing seperti kita yang ingin sekolah di sana dari Indonesia. Pengangguran di Arab Saudi menerima tunjangan sebesar 2,000 Riyal (± Rp.8 Juta) perbulan. Sedangkan mahasiswa di seluruh Universitas Negeri mendapat uang saku bulanan sekitar 900 Riyal (± Rp.3,6 juta), asrama gratis dan tanpa dipungut biaya kuliah sama sekali. Minimal gaji bersih yang harus diterima oleh Saudi sebesar 2500 riyal (± Rp.10 Juta) per bulan untuk posisi (terendah) sebagai pegawai junior semisal sopir atau petugas keamanan. Arab Saudi adalah produsen terbesar di dunia dan eksportir minyak, dan memiliki seperempat dari cadangan minyak dunia yang dikenal – lebih dari 260 miliar barel. Sebagian besar berada di Provinsi Timur, termasuk bidang onshore terbesar di Ghawar dan bidang lepas pantai terbesar di Safaniya di Teluk Arab. Kilang Arab Saudi memproduksi sekitar 8 juta barel minyak per hari, dan ada rencana untuk meningkatkan produksi menjadi sekitar 12 juta barel per hari. Jalanan di Arab Saudi adalah jalan tol semua dan gratis semua. Tidak ada pajak untuk warga negara Saudi. Sehingga harga mobil pun bisa lebih murah dari negeri produsennya. Contoh mobil innova diproduksi di Indonesia dan dibawa ke Saudi Arabia dengan harga 60.000 riyal (± Rp.240 Juta). Sedangkan di Indonesia, mobil tersebut dijual dengan harga di atas 300-an juta rupiah.   Apa yang menyebabkan Saudi Arabia terlihat begitu maju dan makmur: 1- Negara tersebut memegang teguh TAUHID Ini dibuktikan lewat dakwah Syaikh Al-Imam Al-Mujaddid Muhammad bin Abdul Wahhab sejak abad ke-18. Yang dahulu bekerja sama dengan Muhammad bin Saud. Muhammad bin Abdul Wahhab dan Muhammad bin Saud membentuk kesepakatan untuk mendedikasikan diri mereka untuk memulihkan ajaran Islam yang murni kepada komunitas Muslim. Dalam semangat itu, bin Saud mendirikan negara pertama Arab Saudi, dengan  bimbingan spiritual Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab. Dakwah tauhid inilah yang menjadi dakwah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan dakwah para Rasul. Dalam ayat disebutkan, وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ “Sungguh Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul yang mengajak; sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.” (QS. An-Nahl: 36). Makanya di Saudi Arabia, tidak terlihat warganya doyan memakai jimat, susuk dan pelet; warganya juga sangat tidak suka dengan dunia perdukunan; juga di Saudi Arabia benar-benar kubur orang shalih tidak diperlakukan secara berlebihan (ghuluw atau ekstrim).   2- Rakyatnya memperhatikan shalat Saudi Arabia adalah satu-satunya negara yang mengharuskan penduduknya untuk menghentikan seluruh aktivitas perdagangan selama pelaksanaan shalat berjamaah yang mana setiap toko harus ditutup ketika telah dikumandangkan azan tanda masuknya waktu shalat wajib. Orang yang menjaga shalat jamaah dan rajin menunggu shalat, pantas mendapatkan rahmat Allah. Itulah di antara buah dari menjaga shalat. Para malaikat mendoakan orang yang menunggu shalat, اللَّهُمَّ ارْحَمْهُ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ اللَّهُمَّ تُبْ عَلَيْهِ “Ya Allah, rahmatilah ia. Ya Allah, ampunilah dia. Ya Allah, terimalah taubatnya.” (HR. Bukhari, no. 477 dan Muslim, no. 649) Kata Umar bin Khattab, orang yang memperhatikan shalat tentu urusan lainnya akan lebih dimudahkan lagi. Amirul Mukminin, Umar bin Al Khoththob –radhiyallahu ‘anhu– mengatakan, “Sesungguhnya di antara perkara terpenting bagi kalian adalah shalat. Barangsiapa menjaga shalat, berarti dia telah menjaga agama. Barangsiapa yang menyia-nyiakannya, maka untuk amalan lainnya akan lebih disia-siakan lagi. Tidak ada bagian dalam Islam, bagi orang yang meninggalkan shalat.“ (Lihat Ash-Shalah karya Ibnul Qayyim, hlm. 12)   3- Kriminalitas relatif rendah dan ditindak tegas Tingkat kriminalitas di Arab Saudi relatif rendah dibandingkan kebanyakan negara di dunia, namun setiap tindak kriminalitas akan ditanggapi secara serius. Tindak kejahatan seperti pemerkosaan, pembunuhan, kemurtadan, perampokan bersenjata dan perdagangan narkoba terancam hukuman mati dibawah hukum syariat Islam yang ketat yang diberlakukan otoritas Saudi. Karena takut pada Allah dan menjalankan hukum Islam, akhirya buahnya adalah berkah dari langit dan bumi, وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آَمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS. Al-A’raf: 96) Lihatlah karena mau beriman dengan benar dalam hati yang dibuktikan dengan amalan, juga karena bertakwa pada Allah dengan menjauhi segala yang diharamkan, maka berkah dari langit dan dari dalam bumi akan dibuka. (Lihat Tafsir As-Sa’di, hlm. 305)   Demikian tiga hal yang menjadi keunggulan Saudi Arabia yang menjadikan mereka lebih makmur. Semoga Allah memberi taufik dan hidayah pada kita semua. Demikian khutbah pertama ini. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا َوَاسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ إِنَّهُ هُوَ السَمِيْعُ العَلِيْمُ Khutbah Kedua  الحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالمِيْنَ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَافِ الأَنْبِيَاءِ وَالمرْسَلِيْنَ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ   Amma ba’du Ma’asyirol muslimin jama’ah shalat Jumat rahimani wa rahimakumullah …   Setelah kita lihat tadi kenapa Saudi Arabia bisa begitu makmur, yaitu karena mereka sadar akan tauhid dan menjauhi syirik, mereka memperhatikan shalat, juga mereka menindak tegas kriminal dan kejahatan. Ada lagi alasan kenapa sampai Saudi Arabia terlihat lebih maju selain tiga hal tadi yang disebutkan, yaitu:   4- Saudi Arabia berusaha kembali pada Islam yang murni (pemahaman salaf) Karena kembali pada Islam yang murni seperti yang dibawa oleh Rasul dan para sahabat radhiyallahu ‘anhum itulah yang membuat kita selamat dari kesesatan. إِنِّي قَدْ تَرَكْتُ فِيْكُمْ مَا إِنْ اِعْتَصَمْتُمْ بِهِ فَلَنْ تَضِلُّوْا أَبَدًا كِتَابَ اللهِ وَسُنَّةَ نَبِيِّهِ “Aku telah tinggalkan bagi kalian dua perkara yang kalian tidak akan sesat selamanya jika berpegang teguh dengan keduanya yaitu: Al Qur’an dan Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Al-Hakim, sanadnya shahih kata Al Hakim). Islam yang hakiki bukan hanya berpegang pada Al Qur’an dan Hadits, namun juga mesti ditambah dengan mengikuti para sahabat dalam beragama. Karena para sahabatlah yang mengetahui bagaimana wahyu itu turun. Dalam ayat, Allah Ta’ala memuji keimanan para sahabat radhiyallahu ‘anhum dan orang-orang yang mengikuti mereka dalam firman-Nya, فَإِنْ آمَنُوا بِمِثْلِ مَا آمَنْتُمْ بِهِ فَقَدِ اهْتَدَوْا “Dan jika mereka beriman seperti keimanan kalian, maka sungguh mereka telah mendapatkan petunjuk (ke jalan yang benar).” (QS. Al-Baqarah: 137) Jadi tidaklah cukup dengan berpegang dengan Al-Qur’an dan Hadits saja, namun hendaklah ditambahkan berpegang pula dengan pemahaman para sahabat (para salaf) radhiyallahu ‘anhum. Demikian khutbah kami untuk Jumat kali ini. Semoga Indonesia menjadi negeri yang beriman dan bertakwa, diberi limpahan rezeki dan berkah, dikaruniakan kemakmuran; moga kita diangkat dari kemiskinan dan berbagai musibah, serta istiqamah di atas Islam. إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَةِ رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ، وَجَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَسْمَاعِنَا، وَأَبْصَارِنَا، وَقُلُوبِنَا، وَأَزْوَاجِنَا، وَذُرِّيَّاتِنَا، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ، وَاجْعَلْنَا شَاكِرِينَ لِنِعَمِكَ مُثْنِينَ بِهَا عَلَيْكَ، قَابِلِينَ لَهَا، وَأَتِمِمْهَا عَلَيْنَا رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن. وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ —   Naskah Khutbah Masjid Jenderal Sudirman Panggang, Jum’at Pahing, 4 Jumadats Tsaniyyah 1438 H (3 Maret 2017) Silakan download naskah Khutbah Jumat: Cara Bisa Makmur Seperti Negerinya Raja Salman — Disusun di pagi hari @ DS Panggang, Jumat pagi, 24 Jumadats Tsaniyyah 1438 H (03-03-2017) Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagsmakmur negeri tauhid saudi arabia syirik tauhid
Kita akui bahwa negerinya Raja Salman (Saudi Arabia) bisa lebih makmur dari kita padahal di sana negeri padang pasir dan tandus. Kenapa bisa? Baca naskah Khutbah Jumat berikut.   Khutbah Pertama إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَ مِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِىَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ اللّهُمَّ صَلِّ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ اللّهُمَّ عَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا، وَانْفَعَنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا، وَزِدْنَا عِلْماً، وَأَرَنَا الحَقَّ حَقّاً وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرَنَا البَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ Amma ba’du Ma’asyirol muslimin jama’ah shalat Jumat rahimani wa rahimakumullah …   Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam yang telah memberikan kita berbagai karunia. Karunia terbesar yang Allah berikan adalah karunia Iman dan Islam. Moga kita semakin bersyukur atas nikmat tersebut dan kita bisa buktikan dengan semakin meningkatkan ketakwaan kita pada Allah Ta’ala. Perintah dalam ayat tentang takwa, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS. Ali Imran: 102)   Shalawat dan salam semoga tercurah pada junjungan dan suri tauladan kita, Nabi akhir zaman, Nabi besar kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, kepada Ummahatul Mukmin, kepada para sahabat tercinta, kepada khulafaur rosyidin (Abu Bakr, ‘Umar, ‘Utsman dan ‘Ali radhiyallahu ‘anhum) serta yang mengikuti para salaf tadi dengan baik hingga akhir zaman.   Para jama’ah shalat jumat rahimani wa rahimakumullah … Mau tahu bagaimanakah makmurnya negeri padang pasir seperti Kerajaan Saudi Arabia? Padahal negara Saudi Arabia tidak sehijau negeri kita. Air di daratan sana tidak sebanyak di negeri kita. Namun mereka terlihat lebih makmur dan lebih maju. Kenapa? Ini keadaan Saudi Arabia dengan berbagai kemakmurannya: BBM jenis oktan 91 hanya dihargai 0,75 riyal. Sedangkan BBM jenis oktan 95 hanya seharga 0,90 riyal. Di negeri kita Pertamax yang angka oktannya 92, dijual Rp.8.050 dan Pertalite yang angka oktannya 90, dijual Rp.7.350,-. Bensin Saudi dengan angkat oktan terbaik (95) bisa diperoleh dengan harga Rp.3.600,- dengan kurs Rp.4000,- per riyal. Harga segitu di sana sudah mendapatkan satu aqua botol sedang seharga 1 riyal. Jadi harga bensin kelas tinggi hampir sama dengan aqua botol sedang. Sekolah hingga kuliah di Saudi Arabia gratis dan dapat tunjangan hidup dan dapat asrama. Parahnya berlaku juga untuk warga asing seperti kita yang ingin sekolah di sana dari Indonesia. Pengangguran di Arab Saudi menerima tunjangan sebesar 2,000 Riyal (± Rp.8 Juta) perbulan. Sedangkan mahasiswa di seluruh Universitas Negeri mendapat uang saku bulanan sekitar 900 Riyal (± Rp.3,6 juta), asrama gratis dan tanpa dipungut biaya kuliah sama sekali. Minimal gaji bersih yang harus diterima oleh Saudi sebesar 2500 riyal (± Rp.10 Juta) per bulan untuk posisi (terendah) sebagai pegawai junior semisal sopir atau petugas keamanan. Arab Saudi adalah produsen terbesar di dunia dan eksportir minyak, dan memiliki seperempat dari cadangan minyak dunia yang dikenal – lebih dari 260 miliar barel. Sebagian besar berada di Provinsi Timur, termasuk bidang onshore terbesar di Ghawar dan bidang lepas pantai terbesar di Safaniya di Teluk Arab. Kilang Arab Saudi memproduksi sekitar 8 juta barel minyak per hari, dan ada rencana untuk meningkatkan produksi menjadi sekitar 12 juta barel per hari. Jalanan di Arab Saudi adalah jalan tol semua dan gratis semua. Tidak ada pajak untuk warga negara Saudi. Sehingga harga mobil pun bisa lebih murah dari negeri produsennya. Contoh mobil innova diproduksi di Indonesia dan dibawa ke Saudi Arabia dengan harga 60.000 riyal (± Rp.240 Juta). Sedangkan di Indonesia, mobil tersebut dijual dengan harga di atas 300-an juta rupiah.   Apa yang menyebabkan Saudi Arabia terlihat begitu maju dan makmur: 1- Negara tersebut memegang teguh TAUHID Ini dibuktikan lewat dakwah Syaikh Al-Imam Al-Mujaddid Muhammad bin Abdul Wahhab sejak abad ke-18. Yang dahulu bekerja sama dengan Muhammad bin Saud. Muhammad bin Abdul Wahhab dan Muhammad bin Saud membentuk kesepakatan untuk mendedikasikan diri mereka untuk memulihkan ajaran Islam yang murni kepada komunitas Muslim. Dalam semangat itu, bin Saud mendirikan negara pertama Arab Saudi, dengan  bimbingan spiritual Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab. Dakwah tauhid inilah yang menjadi dakwah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan dakwah para Rasul. Dalam ayat disebutkan, وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ “Sungguh Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul yang mengajak; sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.” (QS. An-Nahl: 36). Makanya di Saudi Arabia, tidak terlihat warganya doyan memakai jimat, susuk dan pelet; warganya juga sangat tidak suka dengan dunia perdukunan; juga di Saudi Arabia benar-benar kubur orang shalih tidak diperlakukan secara berlebihan (ghuluw atau ekstrim).   2- Rakyatnya memperhatikan shalat Saudi Arabia adalah satu-satunya negara yang mengharuskan penduduknya untuk menghentikan seluruh aktivitas perdagangan selama pelaksanaan shalat berjamaah yang mana setiap toko harus ditutup ketika telah dikumandangkan azan tanda masuknya waktu shalat wajib. Orang yang menjaga shalat jamaah dan rajin menunggu shalat, pantas mendapatkan rahmat Allah. Itulah di antara buah dari menjaga shalat. Para malaikat mendoakan orang yang menunggu shalat, اللَّهُمَّ ارْحَمْهُ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ اللَّهُمَّ تُبْ عَلَيْهِ “Ya Allah, rahmatilah ia. Ya Allah, ampunilah dia. Ya Allah, terimalah taubatnya.” (HR. Bukhari, no. 477 dan Muslim, no. 649) Kata Umar bin Khattab, orang yang memperhatikan shalat tentu urusan lainnya akan lebih dimudahkan lagi. Amirul Mukminin, Umar bin Al Khoththob –radhiyallahu ‘anhu– mengatakan, “Sesungguhnya di antara perkara terpenting bagi kalian adalah shalat. Barangsiapa menjaga shalat, berarti dia telah menjaga agama. Barangsiapa yang menyia-nyiakannya, maka untuk amalan lainnya akan lebih disia-siakan lagi. Tidak ada bagian dalam Islam, bagi orang yang meninggalkan shalat.“ (Lihat Ash-Shalah karya Ibnul Qayyim, hlm. 12)   3- Kriminalitas relatif rendah dan ditindak tegas Tingkat kriminalitas di Arab Saudi relatif rendah dibandingkan kebanyakan negara di dunia, namun setiap tindak kriminalitas akan ditanggapi secara serius. Tindak kejahatan seperti pemerkosaan, pembunuhan, kemurtadan, perampokan bersenjata dan perdagangan narkoba terancam hukuman mati dibawah hukum syariat Islam yang ketat yang diberlakukan otoritas Saudi. Karena takut pada Allah dan menjalankan hukum Islam, akhirya buahnya adalah berkah dari langit dan bumi, وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آَمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS. Al-A’raf: 96) Lihatlah karena mau beriman dengan benar dalam hati yang dibuktikan dengan amalan, juga karena bertakwa pada Allah dengan menjauhi segala yang diharamkan, maka berkah dari langit dan dari dalam bumi akan dibuka. (Lihat Tafsir As-Sa’di, hlm. 305)   Demikian tiga hal yang menjadi keunggulan Saudi Arabia yang menjadikan mereka lebih makmur. Semoga Allah memberi taufik dan hidayah pada kita semua. Demikian khutbah pertama ini. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا َوَاسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ إِنَّهُ هُوَ السَمِيْعُ العَلِيْمُ Khutbah Kedua  الحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالمِيْنَ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَافِ الأَنْبِيَاءِ وَالمرْسَلِيْنَ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ   Amma ba’du Ma’asyirol muslimin jama’ah shalat Jumat rahimani wa rahimakumullah …   Setelah kita lihat tadi kenapa Saudi Arabia bisa begitu makmur, yaitu karena mereka sadar akan tauhid dan menjauhi syirik, mereka memperhatikan shalat, juga mereka menindak tegas kriminal dan kejahatan. Ada lagi alasan kenapa sampai Saudi Arabia terlihat lebih maju selain tiga hal tadi yang disebutkan, yaitu:   4- Saudi Arabia berusaha kembali pada Islam yang murni (pemahaman salaf) Karena kembali pada Islam yang murni seperti yang dibawa oleh Rasul dan para sahabat radhiyallahu ‘anhum itulah yang membuat kita selamat dari kesesatan. إِنِّي قَدْ تَرَكْتُ فِيْكُمْ مَا إِنْ اِعْتَصَمْتُمْ بِهِ فَلَنْ تَضِلُّوْا أَبَدًا كِتَابَ اللهِ وَسُنَّةَ نَبِيِّهِ “Aku telah tinggalkan bagi kalian dua perkara yang kalian tidak akan sesat selamanya jika berpegang teguh dengan keduanya yaitu: Al Qur’an dan Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Al-Hakim, sanadnya shahih kata Al Hakim). Islam yang hakiki bukan hanya berpegang pada Al Qur’an dan Hadits, namun juga mesti ditambah dengan mengikuti para sahabat dalam beragama. Karena para sahabatlah yang mengetahui bagaimana wahyu itu turun. Dalam ayat, Allah Ta’ala memuji keimanan para sahabat radhiyallahu ‘anhum dan orang-orang yang mengikuti mereka dalam firman-Nya, فَإِنْ آمَنُوا بِمِثْلِ مَا آمَنْتُمْ بِهِ فَقَدِ اهْتَدَوْا “Dan jika mereka beriman seperti keimanan kalian, maka sungguh mereka telah mendapatkan petunjuk (ke jalan yang benar).” (QS. Al-Baqarah: 137) Jadi tidaklah cukup dengan berpegang dengan Al-Qur’an dan Hadits saja, namun hendaklah ditambahkan berpegang pula dengan pemahaman para sahabat (para salaf) radhiyallahu ‘anhum. Demikian khutbah kami untuk Jumat kali ini. Semoga Indonesia menjadi negeri yang beriman dan bertakwa, diberi limpahan rezeki dan berkah, dikaruniakan kemakmuran; moga kita diangkat dari kemiskinan dan berbagai musibah, serta istiqamah di atas Islam. إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَةِ رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ، وَجَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَسْمَاعِنَا، وَأَبْصَارِنَا، وَقُلُوبِنَا، وَأَزْوَاجِنَا، وَذُرِّيَّاتِنَا، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ، وَاجْعَلْنَا شَاكِرِينَ لِنِعَمِكَ مُثْنِينَ بِهَا عَلَيْكَ، قَابِلِينَ لَهَا، وَأَتِمِمْهَا عَلَيْنَا رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن. وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ —   Naskah Khutbah Masjid Jenderal Sudirman Panggang, Jum’at Pahing, 4 Jumadats Tsaniyyah 1438 H (3 Maret 2017) Silakan download naskah Khutbah Jumat: Cara Bisa Makmur Seperti Negerinya Raja Salman — Disusun di pagi hari @ DS Panggang, Jumat pagi, 24 Jumadats Tsaniyyah 1438 H (03-03-2017) Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagsmakmur negeri tauhid saudi arabia syirik tauhid


Kita akui bahwa negerinya Raja Salman (Saudi Arabia) bisa lebih makmur dari kita padahal di sana negeri padang pasir dan tandus. Kenapa bisa? Baca naskah Khutbah Jumat berikut.   Khutbah Pertama إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَ مِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِىَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ اللّهُمَّ صَلِّ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ اللّهُمَّ عَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا، وَانْفَعَنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا، وَزِدْنَا عِلْماً، وَأَرَنَا الحَقَّ حَقّاً وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرَنَا البَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ Amma ba’du Ma’asyirol muslimin jama’ah shalat Jumat rahimani wa rahimakumullah …   Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam yang telah memberikan kita berbagai karunia. Karunia terbesar yang Allah berikan adalah karunia Iman dan Islam. Moga kita semakin bersyukur atas nikmat tersebut dan kita bisa buktikan dengan semakin meningkatkan ketakwaan kita pada Allah Ta’ala. Perintah dalam ayat tentang takwa, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS. Ali Imran: 102)   Shalawat dan salam semoga tercurah pada junjungan dan suri tauladan kita, Nabi akhir zaman, Nabi besar kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, kepada Ummahatul Mukmin, kepada para sahabat tercinta, kepada khulafaur rosyidin (Abu Bakr, ‘Umar, ‘Utsman dan ‘Ali radhiyallahu ‘anhum) serta yang mengikuti para salaf tadi dengan baik hingga akhir zaman.   Para jama’ah shalat jumat rahimani wa rahimakumullah … Mau tahu bagaimanakah makmurnya negeri padang pasir seperti Kerajaan Saudi Arabia? Padahal negara Saudi Arabia tidak sehijau negeri kita. Air di daratan sana tidak sebanyak di negeri kita. Namun mereka terlihat lebih makmur dan lebih maju. Kenapa? Ini keadaan Saudi Arabia dengan berbagai kemakmurannya: BBM jenis oktan 91 hanya dihargai 0,75 riyal. Sedangkan BBM jenis oktan 95 hanya seharga 0,90 riyal. Di negeri kita Pertamax yang angka oktannya 92, dijual Rp.8.050 dan Pertalite yang angka oktannya 90, dijual Rp.7.350,-. Bensin Saudi dengan angkat oktan terbaik (95) bisa diperoleh dengan harga Rp.3.600,- dengan kurs Rp.4000,- per riyal. Harga segitu di sana sudah mendapatkan satu aqua botol sedang seharga 1 riyal. Jadi harga bensin kelas tinggi hampir sama dengan aqua botol sedang. Sekolah hingga kuliah di Saudi Arabia gratis dan dapat tunjangan hidup dan dapat asrama. Parahnya berlaku juga untuk warga asing seperti kita yang ingin sekolah di sana dari Indonesia. Pengangguran di Arab Saudi menerima tunjangan sebesar 2,000 Riyal (± Rp.8 Juta) perbulan. Sedangkan mahasiswa di seluruh Universitas Negeri mendapat uang saku bulanan sekitar 900 Riyal (± Rp.3,6 juta), asrama gratis dan tanpa dipungut biaya kuliah sama sekali. Minimal gaji bersih yang harus diterima oleh Saudi sebesar 2500 riyal (± Rp.10 Juta) per bulan untuk posisi (terendah) sebagai pegawai junior semisal sopir atau petugas keamanan. Arab Saudi adalah produsen terbesar di dunia dan eksportir minyak, dan memiliki seperempat dari cadangan minyak dunia yang dikenal – lebih dari 260 miliar barel. Sebagian besar berada di Provinsi Timur, termasuk bidang onshore terbesar di Ghawar dan bidang lepas pantai terbesar di Safaniya di Teluk Arab. Kilang Arab Saudi memproduksi sekitar 8 juta barel minyak per hari, dan ada rencana untuk meningkatkan produksi menjadi sekitar 12 juta barel per hari. Jalanan di Arab Saudi adalah jalan tol semua dan gratis semua. Tidak ada pajak untuk warga negara Saudi. Sehingga harga mobil pun bisa lebih murah dari negeri produsennya. Contoh mobil innova diproduksi di Indonesia dan dibawa ke Saudi Arabia dengan harga 60.000 riyal (± Rp.240 Juta). Sedangkan di Indonesia, mobil tersebut dijual dengan harga di atas 300-an juta rupiah.   Apa yang menyebabkan Saudi Arabia terlihat begitu maju dan makmur: 1- Negara tersebut memegang teguh TAUHID Ini dibuktikan lewat dakwah Syaikh Al-Imam Al-Mujaddid Muhammad bin Abdul Wahhab sejak abad ke-18. Yang dahulu bekerja sama dengan Muhammad bin Saud. Muhammad bin Abdul Wahhab dan Muhammad bin Saud membentuk kesepakatan untuk mendedikasikan diri mereka untuk memulihkan ajaran Islam yang murni kepada komunitas Muslim. Dalam semangat itu, bin Saud mendirikan negara pertama Arab Saudi, dengan  bimbingan spiritual Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab. Dakwah tauhid inilah yang menjadi dakwah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan dakwah para Rasul. Dalam ayat disebutkan, وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ “Sungguh Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul yang mengajak; sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.” (QS. An-Nahl: 36). Makanya di Saudi Arabia, tidak terlihat warganya doyan memakai jimat, susuk dan pelet; warganya juga sangat tidak suka dengan dunia perdukunan; juga di Saudi Arabia benar-benar kubur orang shalih tidak diperlakukan secara berlebihan (ghuluw atau ekstrim).   2- Rakyatnya memperhatikan shalat Saudi Arabia adalah satu-satunya negara yang mengharuskan penduduknya untuk menghentikan seluruh aktivitas perdagangan selama pelaksanaan shalat berjamaah yang mana setiap toko harus ditutup ketika telah dikumandangkan azan tanda masuknya waktu shalat wajib. Orang yang menjaga shalat jamaah dan rajin menunggu shalat, pantas mendapatkan rahmat Allah. Itulah di antara buah dari menjaga shalat. Para malaikat mendoakan orang yang menunggu shalat, اللَّهُمَّ ارْحَمْهُ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ اللَّهُمَّ تُبْ عَلَيْهِ “Ya Allah, rahmatilah ia. Ya Allah, ampunilah dia. Ya Allah, terimalah taubatnya.” (HR. Bukhari, no. 477 dan Muslim, no. 649) Kata Umar bin Khattab, orang yang memperhatikan shalat tentu urusan lainnya akan lebih dimudahkan lagi. Amirul Mukminin, Umar bin Al Khoththob –radhiyallahu ‘anhu– mengatakan, “Sesungguhnya di antara perkara terpenting bagi kalian adalah shalat. Barangsiapa menjaga shalat, berarti dia telah menjaga agama. Barangsiapa yang menyia-nyiakannya, maka untuk amalan lainnya akan lebih disia-siakan lagi. Tidak ada bagian dalam Islam, bagi orang yang meninggalkan shalat.“ (Lihat Ash-Shalah karya Ibnul Qayyim, hlm. 12)   3- Kriminalitas relatif rendah dan ditindak tegas Tingkat kriminalitas di Arab Saudi relatif rendah dibandingkan kebanyakan negara di dunia, namun setiap tindak kriminalitas akan ditanggapi secara serius. Tindak kejahatan seperti pemerkosaan, pembunuhan, kemurtadan, perampokan bersenjata dan perdagangan narkoba terancam hukuman mati dibawah hukum syariat Islam yang ketat yang diberlakukan otoritas Saudi. Karena takut pada Allah dan menjalankan hukum Islam, akhirya buahnya adalah berkah dari langit dan bumi, وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آَمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS. Al-A’raf: 96) Lihatlah karena mau beriman dengan benar dalam hati yang dibuktikan dengan amalan, juga karena bertakwa pada Allah dengan menjauhi segala yang diharamkan, maka berkah dari langit dan dari dalam bumi akan dibuka. (Lihat Tafsir As-Sa’di, hlm. 305)   Demikian tiga hal yang menjadi keunggulan Saudi Arabia yang menjadikan mereka lebih makmur. Semoga Allah memberi taufik dan hidayah pada kita semua. Demikian khutbah pertama ini. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا َوَاسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ إِنَّهُ هُوَ السَمِيْعُ العَلِيْمُ Khutbah Kedua  الحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالمِيْنَ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَافِ الأَنْبِيَاءِ وَالمرْسَلِيْنَ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ   Amma ba’du Ma’asyirol muslimin jama’ah shalat Jumat rahimani wa rahimakumullah …   Setelah kita lihat tadi kenapa Saudi Arabia bisa begitu makmur, yaitu karena mereka sadar akan tauhid dan menjauhi syirik, mereka memperhatikan shalat, juga mereka menindak tegas kriminal dan kejahatan. Ada lagi alasan kenapa sampai Saudi Arabia terlihat lebih maju selain tiga hal tadi yang disebutkan, yaitu:   4- Saudi Arabia berusaha kembali pada Islam yang murni (pemahaman salaf) Karena kembali pada Islam yang murni seperti yang dibawa oleh Rasul dan para sahabat radhiyallahu ‘anhum itulah yang membuat kita selamat dari kesesatan. إِنِّي قَدْ تَرَكْتُ فِيْكُمْ مَا إِنْ اِعْتَصَمْتُمْ بِهِ فَلَنْ تَضِلُّوْا أَبَدًا كِتَابَ اللهِ وَسُنَّةَ نَبِيِّهِ “Aku telah tinggalkan bagi kalian dua perkara yang kalian tidak akan sesat selamanya jika berpegang teguh dengan keduanya yaitu: Al Qur’an dan Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Al-Hakim, sanadnya shahih kata Al Hakim). Islam yang hakiki bukan hanya berpegang pada Al Qur’an dan Hadits, namun juga mesti ditambah dengan mengikuti para sahabat dalam beragama. Karena para sahabatlah yang mengetahui bagaimana wahyu itu turun. Dalam ayat, Allah Ta’ala memuji keimanan para sahabat radhiyallahu ‘anhum dan orang-orang yang mengikuti mereka dalam firman-Nya, فَإِنْ آمَنُوا بِمِثْلِ مَا آمَنْتُمْ بِهِ فَقَدِ اهْتَدَوْا “Dan jika mereka beriman seperti keimanan kalian, maka sungguh mereka telah mendapatkan petunjuk (ke jalan yang benar).” (QS. Al-Baqarah: 137) Jadi tidaklah cukup dengan berpegang dengan Al-Qur’an dan Hadits saja, namun hendaklah ditambahkan berpegang pula dengan pemahaman para sahabat (para salaf) radhiyallahu ‘anhum. Demikian khutbah kami untuk Jumat kali ini. Semoga Indonesia menjadi negeri yang beriman dan bertakwa, diberi limpahan rezeki dan berkah, dikaruniakan kemakmuran; moga kita diangkat dari kemiskinan dan berbagai musibah, serta istiqamah di atas Islam. إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَةِ رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ، وَجَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَسْمَاعِنَا، وَأَبْصَارِنَا، وَقُلُوبِنَا، وَأَزْوَاجِنَا، وَذُرِّيَّاتِنَا، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ، وَاجْعَلْنَا شَاكِرِينَ لِنِعَمِكَ مُثْنِينَ بِهَا عَلَيْكَ، قَابِلِينَ لَهَا، وَأَتِمِمْهَا عَلَيْنَا رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن. وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ —   Naskah Khutbah Masjid Jenderal Sudirman Panggang, Jum’at Pahing, 4 Jumadats Tsaniyyah 1438 H (3 Maret 2017) Silakan download naskah Khutbah Jumat: Cara Bisa Makmur Seperti Negerinya Raja Salman — Disusun di pagi hari @ DS Panggang, Jumat pagi, 24 Jumadats Tsaniyyah 1438 H (03-03-2017) Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagsmakmur negeri tauhid saudi arabia syirik tauhid

Laporan Donasi YPIA Periode Bulan Februari 2017

Laporan Donasi YPIA Periode Bulan Februari 2017Segala puji bagi Allah ta’ala atas limpahan rahmat dan hidayah dari-Nya. Kami mengucapkan jazakumullohu khairan atas partisipasi dan kepercayaan para donatur yang dalam menyalurkan donasinya untuk dakwah melalui Yayasan Pendidikan Islam Al Atsari.Semoga Allah mengganti dengan yang lebih baik dan memudahkan urusan kita, baik di dunia maupun di akhirat kelak. Barakallahu fiikumBerikut ini kami laporkan pemasukan donasi melalui YPIA Bulan Februari 2017. Semoga bantuan dari kaum muslimin sekalian memberikan manfaat yang besar bagi dakwah Islam yang Haq.Kami mohon maaf, apabila ada penulisan nama ataupun donasi yang belum terlaporkan dalam laporan ini, bisa dikonfirmasikan kepada bidang donasi Dakwah YPIA. Jazakumullohu khairan.Kami juga memohon maaf, untuk rincian lebih lengkapnya bisa mendownload link yang kami berikan di bawah, sekaligus rincian donasi pulsa, karena banyaknya donatur pada Bulan Februari 2017Adapun Rekap Donasi Bulan Februari 2017  sebagai berikut: No. Alokasi Donasi Jumlah (Rp) Jumlah (Valas) 1 Buletin Jumat At-Tauhid 3.676.111   2 Forum Kegiatan Kemuslimahan Al-Atsari 200.000   3 Kampus Tahfizh 475.000   4 Mahad Ilmi 3.860.000   5 Mahad Umar Bin Khattab 2.100.000   6 Pendidikan 100.000   7 Peduli Muslim (Suriah) 1.000.000   8 SDIT Yaa Bunayya 13.525.000   9 SMS Tausiyah 50.000   10 Umum 3.280.000   11 Website 850.000 USD 10 12 Wisma Muslim 300.000   13 Donasi Pulsa 1.180.000   LINK DOWNLOAD: KLIK DI SINIBagi kaum muslimin yang hendak membantu donasi dalam syi’ar dakwah Islam, bisa disalurkan ke rekening  YPIA berikut ini:REKENING DONASI YPIA: Bank BNI Syariah Yogyakarta atas nama Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari. Nomor rekening: 024 1913 801. Bank Muamalat atas nama Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari Yogyakarta. Nomor rekening: 5350002594 Bank Syariah Mandiri atas nama YPIA Yogyakarta. Nomor rekening: 703 157 1329. CIMB Niaga Syariah atas nama Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari. Nomor rekening: 508.01.00028.00.0. Rekening paypal: donasi@muslim.or.id Western union an Muhammad Akmalul Khuluk d/a Kauman GM 1/241 RT/RW 049/013 kel. Ngupasan kec. Gondomanan Yogyakarta Indonesia 55122 (harap segera menginformasikan Nomor Transaksi Pengiriman Uang (MTCN) setelah pengiriman ke: 0857-4722-3366)Konfirmasi donasi :Setiap donatur yang telah menyalurkan bantuan donasi dakwah dimohon mengkonfirmasikan donasi yang telah dikirimkan ke nomor Donasi Dakwah & Sosial YPIA berikut ini:HP: 0857-4722-3366 ( SMS, Telpon, Whatsapp dan Telegram)PIN BBM Tambahan: 7E51c4a4.PIN BBM: 73db10e1 (kontak Penuh)Dengan format konfirmasi sebagai berikut:Nama#Alamat#email#BesarDonasi#TanggalTransfer#Rekening#Tujuan Donasi#Contoh:Abdullah#Jl. Slamet Riyadi, no. 100, Solo.#500.000#12 Februari 2012#Muamalat#Buletin At Tauhid🔍 Muslim Org, Alam Kubur Orang Kristen, Menjauhi Dosa Besar, Hukum Talak Menurut Islam, Pertanyaan Tentang Wakalah

Laporan Donasi YPIA Periode Bulan Februari 2017

Laporan Donasi YPIA Periode Bulan Februari 2017Segala puji bagi Allah ta’ala atas limpahan rahmat dan hidayah dari-Nya. Kami mengucapkan jazakumullohu khairan atas partisipasi dan kepercayaan para donatur yang dalam menyalurkan donasinya untuk dakwah melalui Yayasan Pendidikan Islam Al Atsari.Semoga Allah mengganti dengan yang lebih baik dan memudahkan urusan kita, baik di dunia maupun di akhirat kelak. Barakallahu fiikumBerikut ini kami laporkan pemasukan donasi melalui YPIA Bulan Februari 2017. Semoga bantuan dari kaum muslimin sekalian memberikan manfaat yang besar bagi dakwah Islam yang Haq.Kami mohon maaf, apabila ada penulisan nama ataupun donasi yang belum terlaporkan dalam laporan ini, bisa dikonfirmasikan kepada bidang donasi Dakwah YPIA. Jazakumullohu khairan.Kami juga memohon maaf, untuk rincian lebih lengkapnya bisa mendownload link yang kami berikan di bawah, sekaligus rincian donasi pulsa, karena banyaknya donatur pada Bulan Februari 2017Adapun Rekap Donasi Bulan Februari 2017  sebagai berikut: No. Alokasi Donasi Jumlah (Rp) Jumlah (Valas) 1 Buletin Jumat At-Tauhid 3.676.111   2 Forum Kegiatan Kemuslimahan Al-Atsari 200.000   3 Kampus Tahfizh 475.000   4 Mahad Ilmi 3.860.000   5 Mahad Umar Bin Khattab 2.100.000   6 Pendidikan 100.000   7 Peduli Muslim (Suriah) 1.000.000   8 SDIT Yaa Bunayya 13.525.000   9 SMS Tausiyah 50.000   10 Umum 3.280.000   11 Website 850.000 USD 10 12 Wisma Muslim 300.000   13 Donasi Pulsa 1.180.000   LINK DOWNLOAD: KLIK DI SINIBagi kaum muslimin yang hendak membantu donasi dalam syi’ar dakwah Islam, bisa disalurkan ke rekening  YPIA berikut ini:REKENING DONASI YPIA: Bank BNI Syariah Yogyakarta atas nama Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari. Nomor rekening: 024 1913 801. Bank Muamalat atas nama Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari Yogyakarta. Nomor rekening: 5350002594 Bank Syariah Mandiri atas nama YPIA Yogyakarta. Nomor rekening: 703 157 1329. CIMB Niaga Syariah atas nama Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari. Nomor rekening: 508.01.00028.00.0. Rekening paypal: donasi@muslim.or.id Western union an Muhammad Akmalul Khuluk d/a Kauman GM 1/241 RT/RW 049/013 kel. Ngupasan kec. Gondomanan Yogyakarta Indonesia 55122 (harap segera menginformasikan Nomor Transaksi Pengiriman Uang (MTCN) setelah pengiriman ke: 0857-4722-3366)Konfirmasi donasi :Setiap donatur yang telah menyalurkan bantuan donasi dakwah dimohon mengkonfirmasikan donasi yang telah dikirimkan ke nomor Donasi Dakwah & Sosial YPIA berikut ini:HP: 0857-4722-3366 ( SMS, Telpon, Whatsapp dan Telegram)PIN BBM Tambahan: 7E51c4a4.PIN BBM: 73db10e1 (kontak Penuh)Dengan format konfirmasi sebagai berikut:Nama#Alamat#email#BesarDonasi#TanggalTransfer#Rekening#Tujuan Donasi#Contoh:Abdullah#Jl. Slamet Riyadi, no. 100, Solo.#500.000#12 Februari 2012#Muamalat#Buletin At Tauhid🔍 Muslim Org, Alam Kubur Orang Kristen, Menjauhi Dosa Besar, Hukum Talak Menurut Islam, Pertanyaan Tentang Wakalah
Laporan Donasi YPIA Periode Bulan Februari 2017Segala puji bagi Allah ta’ala atas limpahan rahmat dan hidayah dari-Nya. Kami mengucapkan jazakumullohu khairan atas partisipasi dan kepercayaan para donatur yang dalam menyalurkan donasinya untuk dakwah melalui Yayasan Pendidikan Islam Al Atsari.Semoga Allah mengganti dengan yang lebih baik dan memudahkan urusan kita, baik di dunia maupun di akhirat kelak. Barakallahu fiikumBerikut ini kami laporkan pemasukan donasi melalui YPIA Bulan Februari 2017. Semoga bantuan dari kaum muslimin sekalian memberikan manfaat yang besar bagi dakwah Islam yang Haq.Kami mohon maaf, apabila ada penulisan nama ataupun donasi yang belum terlaporkan dalam laporan ini, bisa dikonfirmasikan kepada bidang donasi Dakwah YPIA. Jazakumullohu khairan.Kami juga memohon maaf, untuk rincian lebih lengkapnya bisa mendownload link yang kami berikan di bawah, sekaligus rincian donasi pulsa, karena banyaknya donatur pada Bulan Februari 2017Adapun Rekap Donasi Bulan Februari 2017  sebagai berikut: No. Alokasi Donasi Jumlah (Rp) Jumlah (Valas) 1 Buletin Jumat At-Tauhid 3.676.111   2 Forum Kegiatan Kemuslimahan Al-Atsari 200.000   3 Kampus Tahfizh 475.000   4 Mahad Ilmi 3.860.000   5 Mahad Umar Bin Khattab 2.100.000   6 Pendidikan 100.000   7 Peduli Muslim (Suriah) 1.000.000   8 SDIT Yaa Bunayya 13.525.000   9 SMS Tausiyah 50.000   10 Umum 3.280.000   11 Website 850.000 USD 10 12 Wisma Muslim 300.000   13 Donasi Pulsa 1.180.000   LINK DOWNLOAD: KLIK DI SINIBagi kaum muslimin yang hendak membantu donasi dalam syi’ar dakwah Islam, bisa disalurkan ke rekening  YPIA berikut ini:REKENING DONASI YPIA: Bank BNI Syariah Yogyakarta atas nama Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari. Nomor rekening: 024 1913 801. Bank Muamalat atas nama Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari Yogyakarta. Nomor rekening: 5350002594 Bank Syariah Mandiri atas nama YPIA Yogyakarta. Nomor rekening: 703 157 1329. CIMB Niaga Syariah atas nama Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari. Nomor rekening: 508.01.00028.00.0. Rekening paypal: donasi@muslim.or.id Western union an Muhammad Akmalul Khuluk d/a Kauman GM 1/241 RT/RW 049/013 kel. Ngupasan kec. Gondomanan Yogyakarta Indonesia 55122 (harap segera menginformasikan Nomor Transaksi Pengiriman Uang (MTCN) setelah pengiriman ke: 0857-4722-3366)Konfirmasi donasi :Setiap donatur yang telah menyalurkan bantuan donasi dakwah dimohon mengkonfirmasikan donasi yang telah dikirimkan ke nomor Donasi Dakwah & Sosial YPIA berikut ini:HP: 0857-4722-3366 ( SMS, Telpon, Whatsapp dan Telegram)PIN BBM Tambahan: 7E51c4a4.PIN BBM: 73db10e1 (kontak Penuh)Dengan format konfirmasi sebagai berikut:Nama#Alamat#email#BesarDonasi#TanggalTransfer#Rekening#Tujuan Donasi#Contoh:Abdullah#Jl. Slamet Riyadi, no. 100, Solo.#500.000#12 Februari 2012#Muamalat#Buletin At Tauhid🔍 Muslim Org, Alam Kubur Orang Kristen, Menjauhi Dosa Besar, Hukum Talak Menurut Islam, Pertanyaan Tentang Wakalah


Laporan Donasi YPIA Periode Bulan Februari 2017Segala puji bagi Allah ta’ala atas limpahan rahmat dan hidayah dari-Nya. Kami mengucapkan jazakumullohu khairan atas partisipasi dan kepercayaan para donatur yang dalam menyalurkan donasinya untuk dakwah melalui Yayasan Pendidikan Islam Al Atsari.Semoga Allah mengganti dengan yang lebih baik dan memudahkan urusan kita, baik di dunia maupun di akhirat kelak. Barakallahu fiikumBerikut ini kami laporkan pemasukan donasi melalui YPIA Bulan Februari 2017. Semoga bantuan dari kaum muslimin sekalian memberikan manfaat yang besar bagi dakwah Islam yang Haq.Kami mohon maaf, apabila ada penulisan nama ataupun donasi yang belum terlaporkan dalam laporan ini, bisa dikonfirmasikan kepada bidang donasi Dakwah YPIA. Jazakumullohu khairan.Kami juga memohon maaf, untuk rincian lebih lengkapnya bisa mendownload link yang kami berikan di bawah, sekaligus rincian donasi pulsa, karena banyaknya donatur pada Bulan Februari 2017Adapun Rekap Donasi Bulan Februari 2017  sebagai berikut: No. Alokasi Donasi Jumlah (Rp) Jumlah (Valas) 1 Buletin Jumat At-Tauhid 3.676.111   2 Forum Kegiatan Kemuslimahan Al-Atsari 200.000   3 Kampus Tahfizh 475.000   4 Mahad Ilmi 3.860.000   5 Mahad Umar Bin Khattab 2.100.000   6 Pendidikan 100.000   7 Peduli Muslim (Suriah) 1.000.000   8 SDIT Yaa Bunayya 13.525.000   9 SMS Tausiyah 50.000   10 Umum 3.280.000   11 Website 850.000 USD 10 12 Wisma Muslim 300.000   13 Donasi Pulsa 1.180.000   LINK DOWNLOAD: KLIK DI SINIBagi kaum muslimin yang hendak membantu donasi dalam syi’ar dakwah Islam, bisa disalurkan ke rekening  YPIA berikut ini:REKENING DONASI YPIA: Bank BNI Syariah Yogyakarta atas nama Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari. Nomor rekening: 024 1913 801. Bank Muamalat atas nama Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari Yogyakarta. Nomor rekening: 5350002594 Bank Syariah Mandiri atas nama YPIA Yogyakarta. Nomor rekening: 703 157 1329. CIMB Niaga Syariah atas nama Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari. Nomor rekening: 508.01.00028.00.0. Rekening paypal: donasi@muslim.or.id Western union an Muhammad Akmalul Khuluk d/a Kauman GM 1/241 RT/RW 049/013 kel. Ngupasan kec. Gondomanan Yogyakarta Indonesia 55122 (harap segera menginformasikan Nomor Transaksi Pengiriman Uang (MTCN) setelah pengiriman ke: 0857-4722-3366)Konfirmasi donasi :Setiap donatur yang telah menyalurkan bantuan donasi dakwah dimohon mengkonfirmasikan donasi yang telah dikirimkan ke nomor Donasi Dakwah & Sosial YPIA berikut ini:HP: 0857-4722-3366 ( SMS, Telpon, Whatsapp dan Telegram)PIN BBM Tambahan: 7E51c4a4.PIN BBM: 73db10e1 (kontak Penuh)Dengan format konfirmasi sebagai berikut:Nama#Alamat#email#BesarDonasi#TanggalTransfer#Rekening#Tujuan Donasi#Contoh:Abdullah#Jl. Slamet Riyadi, no. 100, Solo.#500.000#12 Februari 2012#Muamalat#Buletin At Tauhid🔍 Muslim Org, Alam Kubur Orang Kristen, Menjauhi Dosa Besar, Hukum Talak Menurut Islam, Pertanyaan Tentang Wakalah

Menarik Hati Manusia Dengan Harta Untuk Agama

Ajaran Islam yang Indah dan sempurna memahami psikologi manusia. Ada beberapa cara menarik hati (ta’liful qulub)manusia untuk kembali ke agama, bisa dengan akhlak yang mulia, bisa dengan penjelasan yang indah akan Islam dan sebagainya. Salah satu cara menarik hati (ta’liful qulub) manusia untuk mendekat kepada agama adalah dengan harta, ini juga bisa menunjukkan tingginya kemuliaan dan kehormatan agama Islam, karena memang sifat dasar manusia adalah sangat cinta dengan harta.Allah Ta’ala Berfirman,وَتُحِبُّونَ الْمَالَ حُبّاً جَمّاً”dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan.” (QS. Al-Fajr: 20).Salah satu yang dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah beliau membagi harta rampasan yang sangat banyak kepada pembesar Quraisy yang baru saja masuk Islam dalam rangka menarik hati mereka. Sampai-sampai Kaum Anshar yang ikut berperang saat itu merasa sedih dan merasa “menjadi anak tiri”. Tetapi Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam dengan kebijakkannya menjelaskan hikmah ta’liful qulub ini kepada kaum Anshar.Beliau membagikan harta rampasan yang sangat banyak kepada pembesar-pembesar Quraisy yang baru masuk Islam. Abdullah bin Zaid bin ‘Ashim Radhiallahu ‘anhu menceritakan,قَسَمَ فِي النَّاسِ فِي الْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَلَمْ يُعْطِ الْأَنْصَارَ شَيْئًا فَكَأَنَّهُمْ وَجَدُوا إِذْ لَمْ يُصِبْهُمْ مَا أَصَابَ النَّاسَ“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam membagi-baginya untuk orang-orang yang mu’allaf dan tidak memberikan kaum Anshar sedikitpun.” (HR. Bukhari).Nabi pun menjelaskan hikmah ta’liful qulub ini adalah demi agama, bukan maksud beliau untuk menjadikan kaum Anshar sebagai “anak tiri” atau karena beliau telah menemukan kembali kaum dan keluarganya di kalangan orang Quraisy. Kaum Anshar kemudian sadar dengan penjelasan beliau. Jika saja kaum Quraisy membawa harta, tetapi kaum Anshar pulang ke Madinah membawa Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam.Abu Sa’id al-Khudri Radhiallahu anhu menceritakan,قَالَ فَبَكَى الْقَوْمُ حَتَّى أَخْضَلُوا لِحَاهُمْ وَقَالُوا رَضِينَا بِرَسُولِ اللَّهِ قِسْمًا وَحَظًّا ثُمَّ انْصَرَفَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَتَفَرَّقْنَا“Lalu kaum Anshar menangis hingga membasahi jenggot-jenggot mereka dan mereka berkata, ‘Kami telah ridha dengan pembagian dan bagian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian Rasalullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berlalu dan kamipun berpisah.” (HR Ahmad no. 11305)Ibnu Hajar Al-Asqalani ketika mengomentari hadits ini, beliau menjelaskan bahwa maksud perbuatan ini adalah untuk menarik hari orang Quraisy yang baru masuk Islam dan belum terlalu kuat keimanannya. Beliau berkata,والمراد بالمؤلفة ناس من قريش أسلموا يوم الفتح إسلاما ضعيفا“Maksud dari “muallafah” yaitu manusia dari orang Quraisy yang masuk Islam pada hari Fathul Mekkah yang keIslamannya masih lemah” (Fathul Bari 12/139, Syamilah).Sehingga boleh melakukan ta’liful qulub dengan mengunakan harta, jika memang ini bisa mengangkat kemuliaan agama Islam dan melunakkan hati manusia. Bahkan termasuk dalam orang yang berhak mendapatkan sedekah adalah mereka yang dilunakkan hatinya (muallaf).Allah berfirman,إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَابْنِ السَّبِيلِ فَرِيضَةً مِنَ اللَّهِ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ“Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk [1] orang-orang fakir, [2] orang-orang miskin, [3] amil zakat, [4] para mu’allaf yang dibujuk hatinya, [5] untuk (memerdekakan) budak, [6] orang-orang yang terlilit utang, [7] untuk jalan Allah dan [8] untuk mereka yang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana” (QS. At-Taubah: 60).Demikian semoga bermanfaat.***@Markaz YPIA, Yogyakarta tercintaPenyususn: dr. Raehanul BahraenArtikel muslim.or.id🔍 Hadits Tentang Amar Ma Ruf Nahi Munkar, Hadist Tentang Berbohong, Bukti Kesesatan Wahdah Islamiyah, Quran Al Hadi, Surah Penerang Kubur

Menarik Hati Manusia Dengan Harta Untuk Agama

Ajaran Islam yang Indah dan sempurna memahami psikologi manusia. Ada beberapa cara menarik hati (ta’liful qulub)manusia untuk kembali ke agama, bisa dengan akhlak yang mulia, bisa dengan penjelasan yang indah akan Islam dan sebagainya. Salah satu cara menarik hati (ta’liful qulub) manusia untuk mendekat kepada agama adalah dengan harta, ini juga bisa menunjukkan tingginya kemuliaan dan kehormatan agama Islam, karena memang sifat dasar manusia adalah sangat cinta dengan harta.Allah Ta’ala Berfirman,وَتُحِبُّونَ الْمَالَ حُبّاً جَمّاً”dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan.” (QS. Al-Fajr: 20).Salah satu yang dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah beliau membagi harta rampasan yang sangat banyak kepada pembesar Quraisy yang baru saja masuk Islam dalam rangka menarik hati mereka. Sampai-sampai Kaum Anshar yang ikut berperang saat itu merasa sedih dan merasa “menjadi anak tiri”. Tetapi Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam dengan kebijakkannya menjelaskan hikmah ta’liful qulub ini kepada kaum Anshar.Beliau membagikan harta rampasan yang sangat banyak kepada pembesar-pembesar Quraisy yang baru masuk Islam. Abdullah bin Zaid bin ‘Ashim Radhiallahu ‘anhu menceritakan,قَسَمَ فِي النَّاسِ فِي الْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَلَمْ يُعْطِ الْأَنْصَارَ شَيْئًا فَكَأَنَّهُمْ وَجَدُوا إِذْ لَمْ يُصِبْهُمْ مَا أَصَابَ النَّاسَ“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam membagi-baginya untuk orang-orang yang mu’allaf dan tidak memberikan kaum Anshar sedikitpun.” (HR. Bukhari).Nabi pun menjelaskan hikmah ta’liful qulub ini adalah demi agama, bukan maksud beliau untuk menjadikan kaum Anshar sebagai “anak tiri” atau karena beliau telah menemukan kembali kaum dan keluarganya di kalangan orang Quraisy. Kaum Anshar kemudian sadar dengan penjelasan beliau. Jika saja kaum Quraisy membawa harta, tetapi kaum Anshar pulang ke Madinah membawa Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam.Abu Sa’id al-Khudri Radhiallahu anhu menceritakan,قَالَ فَبَكَى الْقَوْمُ حَتَّى أَخْضَلُوا لِحَاهُمْ وَقَالُوا رَضِينَا بِرَسُولِ اللَّهِ قِسْمًا وَحَظًّا ثُمَّ انْصَرَفَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَتَفَرَّقْنَا“Lalu kaum Anshar menangis hingga membasahi jenggot-jenggot mereka dan mereka berkata, ‘Kami telah ridha dengan pembagian dan bagian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian Rasalullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berlalu dan kamipun berpisah.” (HR Ahmad no. 11305)Ibnu Hajar Al-Asqalani ketika mengomentari hadits ini, beliau menjelaskan bahwa maksud perbuatan ini adalah untuk menarik hari orang Quraisy yang baru masuk Islam dan belum terlalu kuat keimanannya. Beliau berkata,والمراد بالمؤلفة ناس من قريش أسلموا يوم الفتح إسلاما ضعيفا“Maksud dari “muallafah” yaitu manusia dari orang Quraisy yang masuk Islam pada hari Fathul Mekkah yang keIslamannya masih lemah” (Fathul Bari 12/139, Syamilah).Sehingga boleh melakukan ta’liful qulub dengan mengunakan harta, jika memang ini bisa mengangkat kemuliaan agama Islam dan melunakkan hati manusia. Bahkan termasuk dalam orang yang berhak mendapatkan sedekah adalah mereka yang dilunakkan hatinya (muallaf).Allah berfirman,إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَابْنِ السَّبِيلِ فَرِيضَةً مِنَ اللَّهِ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ“Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk [1] orang-orang fakir, [2] orang-orang miskin, [3] amil zakat, [4] para mu’allaf yang dibujuk hatinya, [5] untuk (memerdekakan) budak, [6] orang-orang yang terlilit utang, [7] untuk jalan Allah dan [8] untuk mereka yang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana” (QS. At-Taubah: 60).Demikian semoga bermanfaat.***@Markaz YPIA, Yogyakarta tercintaPenyususn: dr. Raehanul BahraenArtikel muslim.or.id🔍 Hadits Tentang Amar Ma Ruf Nahi Munkar, Hadist Tentang Berbohong, Bukti Kesesatan Wahdah Islamiyah, Quran Al Hadi, Surah Penerang Kubur
Ajaran Islam yang Indah dan sempurna memahami psikologi manusia. Ada beberapa cara menarik hati (ta’liful qulub)manusia untuk kembali ke agama, bisa dengan akhlak yang mulia, bisa dengan penjelasan yang indah akan Islam dan sebagainya. Salah satu cara menarik hati (ta’liful qulub) manusia untuk mendekat kepada agama adalah dengan harta, ini juga bisa menunjukkan tingginya kemuliaan dan kehormatan agama Islam, karena memang sifat dasar manusia adalah sangat cinta dengan harta.Allah Ta’ala Berfirman,وَتُحِبُّونَ الْمَالَ حُبّاً جَمّاً”dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan.” (QS. Al-Fajr: 20).Salah satu yang dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah beliau membagi harta rampasan yang sangat banyak kepada pembesar Quraisy yang baru saja masuk Islam dalam rangka menarik hati mereka. Sampai-sampai Kaum Anshar yang ikut berperang saat itu merasa sedih dan merasa “menjadi anak tiri”. Tetapi Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam dengan kebijakkannya menjelaskan hikmah ta’liful qulub ini kepada kaum Anshar.Beliau membagikan harta rampasan yang sangat banyak kepada pembesar-pembesar Quraisy yang baru masuk Islam. Abdullah bin Zaid bin ‘Ashim Radhiallahu ‘anhu menceritakan,قَسَمَ فِي النَّاسِ فِي الْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَلَمْ يُعْطِ الْأَنْصَارَ شَيْئًا فَكَأَنَّهُمْ وَجَدُوا إِذْ لَمْ يُصِبْهُمْ مَا أَصَابَ النَّاسَ“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam membagi-baginya untuk orang-orang yang mu’allaf dan tidak memberikan kaum Anshar sedikitpun.” (HR. Bukhari).Nabi pun menjelaskan hikmah ta’liful qulub ini adalah demi agama, bukan maksud beliau untuk menjadikan kaum Anshar sebagai “anak tiri” atau karena beliau telah menemukan kembali kaum dan keluarganya di kalangan orang Quraisy. Kaum Anshar kemudian sadar dengan penjelasan beliau. Jika saja kaum Quraisy membawa harta, tetapi kaum Anshar pulang ke Madinah membawa Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam.Abu Sa’id al-Khudri Radhiallahu anhu menceritakan,قَالَ فَبَكَى الْقَوْمُ حَتَّى أَخْضَلُوا لِحَاهُمْ وَقَالُوا رَضِينَا بِرَسُولِ اللَّهِ قِسْمًا وَحَظًّا ثُمَّ انْصَرَفَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَتَفَرَّقْنَا“Lalu kaum Anshar menangis hingga membasahi jenggot-jenggot mereka dan mereka berkata, ‘Kami telah ridha dengan pembagian dan bagian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian Rasalullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berlalu dan kamipun berpisah.” (HR Ahmad no. 11305)Ibnu Hajar Al-Asqalani ketika mengomentari hadits ini, beliau menjelaskan bahwa maksud perbuatan ini adalah untuk menarik hari orang Quraisy yang baru masuk Islam dan belum terlalu kuat keimanannya. Beliau berkata,والمراد بالمؤلفة ناس من قريش أسلموا يوم الفتح إسلاما ضعيفا“Maksud dari “muallafah” yaitu manusia dari orang Quraisy yang masuk Islam pada hari Fathul Mekkah yang keIslamannya masih lemah” (Fathul Bari 12/139, Syamilah).Sehingga boleh melakukan ta’liful qulub dengan mengunakan harta, jika memang ini bisa mengangkat kemuliaan agama Islam dan melunakkan hati manusia. Bahkan termasuk dalam orang yang berhak mendapatkan sedekah adalah mereka yang dilunakkan hatinya (muallaf).Allah berfirman,إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَابْنِ السَّبِيلِ فَرِيضَةً مِنَ اللَّهِ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ“Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk [1] orang-orang fakir, [2] orang-orang miskin, [3] amil zakat, [4] para mu’allaf yang dibujuk hatinya, [5] untuk (memerdekakan) budak, [6] orang-orang yang terlilit utang, [7] untuk jalan Allah dan [8] untuk mereka yang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana” (QS. At-Taubah: 60).Demikian semoga bermanfaat.***@Markaz YPIA, Yogyakarta tercintaPenyususn: dr. Raehanul BahraenArtikel muslim.or.id🔍 Hadits Tentang Amar Ma Ruf Nahi Munkar, Hadist Tentang Berbohong, Bukti Kesesatan Wahdah Islamiyah, Quran Al Hadi, Surah Penerang Kubur


Ajaran Islam yang Indah dan sempurna memahami psikologi manusia. Ada beberapa cara menarik hati (ta’liful qulub)manusia untuk kembali ke agama, bisa dengan akhlak yang mulia, bisa dengan penjelasan yang indah akan Islam dan sebagainya. Salah satu cara menarik hati (ta’liful qulub) manusia untuk mendekat kepada agama adalah dengan harta, ini juga bisa menunjukkan tingginya kemuliaan dan kehormatan agama Islam, karena memang sifat dasar manusia adalah sangat cinta dengan harta.Allah Ta’ala Berfirman,وَتُحِبُّونَ الْمَالَ حُبّاً جَمّاً”dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan.” (QS. Al-Fajr: 20).Salah satu yang dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah beliau membagi harta rampasan yang sangat banyak kepada pembesar Quraisy yang baru saja masuk Islam dalam rangka menarik hati mereka. Sampai-sampai Kaum Anshar yang ikut berperang saat itu merasa sedih dan merasa “menjadi anak tiri”. Tetapi Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam dengan kebijakkannya menjelaskan hikmah ta’liful qulub ini kepada kaum Anshar.Beliau membagikan harta rampasan yang sangat banyak kepada pembesar-pembesar Quraisy yang baru masuk Islam. Abdullah bin Zaid bin ‘Ashim Radhiallahu ‘anhu menceritakan,قَسَمَ فِي النَّاسِ فِي الْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَلَمْ يُعْطِ الْأَنْصَارَ شَيْئًا فَكَأَنَّهُمْ وَجَدُوا إِذْ لَمْ يُصِبْهُمْ مَا أَصَابَ النَّاسَ“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam membagi-baginya untuk orang-orang yang mu’allaf dan tidak memberikan kaum Anshar sedikitpun.” (HR. Bukhari).Nabi pun menjelaskan hikmah ta’liful qulub ini adalah demi agama, bukan maksud beliau untuk menjadikan kaum Anshar sebagai “anak tiri” atau karena beliau telah menemukan kembali kaum dan keluarganya di kalangan orang Quraisy. Kaum Anshar kemudian sadar dengan penjelasan beliau. Jika saja kaum Quraisy membawa harta, tetapi kaum Anshar pulang ke Madinah membawa Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam.Abu Sa’id al-Khudri Radhiallahu anhu menceritakan,قَالَ فَبَكَى الْقَوْمُ حَتَّى أَخْضَلُوا لِحَاهُمْ وَقَالُوا رَضِينَا بِرَسُولِ اللَّهِ قِسْمًا وَحَظًّا ثُمَّ انْصَرَفَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَتَفَرَّقْنَا“Lalu kaum Anshar menangis hingga membasahi jenggot-jenggot mereka dan mereka berkata, ‘Kami telah ridha dengan pembagian dan bagian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian Rasalullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berlalu dan kamipun berpisah.” (HR Ahmad no. 11305)Ibnu Hajar Al-Asqalani ketika mengomentari hadits ini, beliau menjelaskan bahwa maksud perbuatan ini adalah untuk menarik hari orang Quraisy yang baru masuk Islam dan belum terlalu kuat keimanannya. Beliau berkata,والمراد بالمؤلفة ناس من قريش أسلموا يوم الفتح إسلاما ضعيفا“Maksud dari “muallafah” yaitu manusia dari orang Quraisy yang masuk Islam pada hari Fathul Mekkah yang keIslamannya masih lemah” (Fathul Bari 12/139, Syamilah).Sehingga boleh melakukan ta’liful qulub dengan mengunakan harta, jika memang ini bisa mengangkat kemuliaan agama Islam dan melunakkan hati manusia. Bahkan termasuk dalam orang yang berhak mendapatkan sedekah adalah mereka yang dilunakkan hatinya (muallaf).Allah berfirman,إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَابْنِ السَّبِيلِ فَرِيضَةً مِنَ اللَّهِ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ“Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk [1] orang-orang fakir, [2] orang-orang miskin, [3] amil zakat, [4] para mu’allaf yang dibujuk hatinya, [5] untuk (memerdekakan) budak, [6] orang-orang yang terlilit utang, [7] untuk jalan Allah dan [8] untuk mereka yang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana” (QS. At-Taubah: 60).Demikian semoga bermanfaat.***@Markaz YPIA, Yogyakarta tercintaPenyususn: dr. Raehanul BahraenArtikel muslim.or.id🔍 Hadits Tentang Amar Ma Ruf Nahi Munkar, Hadist Tentang Berbohong, Bukti Kesesatan Wahdah Islamiyah, Quran Al Hadi, Surah Penerang Kubur

Khotbah Jumat: Ujian Membawa Berkah

01MarKhotbah Jumat: Ujian Membawa BerkahMarch 1, 2017Khotbah Jumat Khutbah Pertama: إِنَّ الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. “يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ”. “يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاء وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً”. “يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً . يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزاً عَظِيماً”. أَمَّا بَعْدُ، فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ، وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ. اللهم صلى على محمد وعلى آل محمد كما صليت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد، اللهم بارك على محمد وعلى آل محمد كما باركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد. Jama’ah Jum’at rahimakumullah… Mari kita tingkatkan ketaqwaan kita kepada Allah ta’ala dengan ketaqwaan yang sebenar-benarnya; yaitu mengamalkan apa yang diperintahkan oleh-Nya dan Rasul-Nya shallallahu’alaihi wasallam serta menjauhi apa yang dilarang oleh-Nya dan Rasul-Nya shallallahu’alaihiwasallam. Jama’ah Jum’at yang dirahmati oleh Allah.. Harga sebutir buah kelapa dengan harga sebotol minyak kelapa tentu tidak sama. Jauh lebih mahal berlipat-lipat harga sebotol minyak kelapa. Mengapa harganya bisa berbeda jauh, padahal keduanya berasal dari bahan yang sama? Mengapa buah kelapa yang asalnya murah, bisa berubah menjadi mahal, manakala telah menjadi minyak kelapa? Jawabannya: adalah karena supaya berubah menjadi minyak, buah kelapa harus melewati proses panjang yang tidak ringan. Menghadapi ujian-ujian yang berat. Ujian yang berat, akan membuat sesuatu menjadi lebih bernilai dan berharga mahal. Proses panjang itu diawali dengan dijatuhkannya buah kelapa yang telah berumur tua dari puncak pohonnya yang amat tinggi. Begitu membentur tanah, bukannya dielus-elus, justru sabutnya dijambak dan disobek-sobek hingga gundul habis. Saat sudah gundul, kelapa tadi dibenturkan ke batu agar pecah. Lalu buahnya dicungkili dari batok kelapa. Ujian masih berlanjut. Potongan-potongan buah kelapa tadi diparut di parutan besi yang tajam, hingga rontok berguguran dan berubah menjadi serbuk. Setelah serbuk kelapa menumpuk, ia diperas supaya keluar santannya. Kemudian santan kental itu dipanaskan di atas tungku api hingga mendidih. Baru saat itulah keluar minyak kelapa, dengan harga yang berlipat-lipat lebih mahal dibanding kelapa tua yang belum diapa-apakan. Jama’ah Jum’at yang kami hormati… Begitulah ujian hidup, akan membuat seseorang dan umat menjadi lebih bernilai dan berharga mahal. Allah ta’ala mengingatkan, “أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُمْ مَثَلُ الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ مَسَّتْهُمُ الْبَأْسَاءُ وَالضَّرَّاءُ وَزُلْزِلُوا حَتَّى يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ مَتَى نَصْرُ اللَّهِ أَلَا إِنَّ نَصْرَ اللَّهِ قَرِيبٌ“ Artinya: “Apakah kalian mengira bahwa kalian akan masuk surga, padahal belum datang kepada kalian (cobaan) seperti (yang dialami) orang-orang terdahulu sebelum kalian. Mereka ditimpa kesengsaraan, penderitaan dan diguncang (dengan berbagai cobaan). Hingga Rasul dan orang-orang yang beriman bersama beliau bertanya, “Kapankah datang pertolongan Allah?”. Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat”. QS. Al-Baqarah (2): 214. Kedudukan mulia di surga Allah bukanlah sesuatu yang dibagikan secara cuma-cuma. Namun membutuhkan perjuangan dan pengorbanan, serta harus melewati ujian dan cobaan. Sidang Jum’at rahimakumullah… Ketahuilah bahwa peristiwa apapun yang terjadi di alam semesta ini adalah dengan kehendak dan takdir Allah. Entah itu peristiwa yang indah dan menggembirakan ataupun yang menyedihkan. Peristiwa yang mengenakkan maupun yang menyakitkan. Allah ta’ala menjelaskan, “مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ“ Artinya: “Setiap bencana yang terjadi di bumi dan yang menimpa diri kalian, semuanya telah tertulis dalam Kitab (Lauh Mahfudz) sebelum Kami mewujudkannya. Sungguh, yang demikian itu mudah bagi Allah”. QS. Al-Hadid (57): 22. Allah timpakan berbagai ujian itu, tentu bukan tanpa ada maksud dan tujuan. Pasti banyak hikmah di balik itu semua. Hanya saja ada yang yang memahaminya dan ada pula yang tidak memahaminya. Ujian yang silih berganti menimpa agama Islam dan kaum muslimin, itu semua tentu dengan kehendak dan takdir Allah. Penistaan terhadap al-Qur’an, pelecehan terhadap para ulama dan tekanan terhadap umat Islam, ini semua telah tercatat di dalam Lauhul Mahfuzh, lima puluh ribu tahun sebelum diciptakannya langit dan bumi. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menerangkan, “كَتَبَ اللَّهُ مَقَادِيرَ الْخَلاَئِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ“ “Allah menulis takdir para makhluk lima puluh ribu tahun sebelum Dia menciptakan langit dan bumi”. HR. Muslim dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu’anhuma. Kaum muslimin dan muslimat yang berbahagia… Menurut hemat kami, sikap yang tepat dalam menghadapi berbagai cobaan itu adalah dengan introspeksi diri, merapatkan barisan ummat dan tidak terpancing untuk melanggar garis merah aturan agama. Pertama: Introspeksi Diri Salah satu hikmah ujian dan cobaan adalah agar seorang hamba tersadar lalu melakukan introspeksi diri. Mengoreksi perilaku diri yang mungkin selama ini masih jauh dari tuntunan agama. Atau terlalu lama terlena dalam gemerlap kehidupan dunia. Tidur panjang umat Islam perlu untuk segera diakhiri. Mereka harus segera bangkit dan menyadari kelalaian yang telah begitu lama membuai mereka. Sejak empat belas abad lalu, Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam telah mengingatkan, “يُوشِكُ الأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا“. فَقَالَ قَائِلٌ: “وَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ؟” قَالَ: “بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ…”. “Akan datang suatu masa di mana musuh-musuh (bersatu-padu dan) berlomba-lomba untuk memerangi kalian. Sebagaimana berebutnya orang-orang yang sedang menyantap makanan di atas nampan”. Salah seorang sahabat bertanya, “Apakah karena saat itu jumlah kami sedikit?”. Beliau menjawab, “Justru saat itu kalian banyak, namun kalian bagaikan buih di lautan”… HR. Abu Dawud dan dinilai sahih oleh al-Albani. Dalam hadits lain, Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam memberikan solusi untuk mengakhiri keterpurukan tersebut, “…سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ ذُلاًّ لاَ يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوا إِلَى دِينِكُمْ“. “… Allah akan menimpakan kehinaan atas kalian, hingga kalian kembali kepada ajaran agama kalian”. HR. Abu Dawud dan dikuatkan oleh Ibnu Taimiyah, asy-Syaukani dan al-Albani. Jadi solusinya adalah kembali terhadap aturan agama dalam setiap aspek kehidupan. Akidah, ibadah, akhlak, ekonomi, politik, budaya dan lain-lain. Jama’ah Jum’at rahimakumullah… Kedua: Rapatkan Barisan Umat Tentu banyak di antara kita yang masih ingat, salah satu nasehat kehidupan yang kerap diajarkan oleh bapak dan ibu guru di sekolah dulu. Yang juga merupakan warisan turun menurun nenek moyang kita dari zaman ke zaman. Yaitu: perumpamaan tentang sapu lidi. Sebuah perumpamaan yang sederhana namun penuh dengan makna. Sebatang lidi tidak akan ada artinya bagi tumpukan sampah yang menggunung. Sebatang lidi tidak akan membersihkan sampah di sekeliling kita. Bahkan bukan tidak mungkin sebatang lidi tadi akan patah-patah, bila dipaksa menjadi alat pembersih. Namun tidak demikian, bila batangan-batangan lidi itu dikumpulkan menjadi satu, lalu diikat di pangkalnya. Tenaga yang kecil dari sebatang lidi akan berubah menjadi kekuatan yang besar. “Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh”, itulah inti petuahnya. Kehidupan manusia dapat berjalan baik, sebagaimana sebuah sapu lidi, jika manusia mempererat ikatannya. Disadari ataupun tidak, manusia membentuk kumpulan berdasarkan ikatan tertentu. Umat Islam merupakan kumpulan dari para muslim dan muslimah yang terikat oleh kesamaan akidah. Persatuan antar umat Islam dan ukhuwah islamiyyah merupakan salah satu prinsip yang amat mendasar dalam agama kita. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam memotivasi kita untuk merealisasikannya dalam sabda beliau, “كُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا! الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ، لَا يَظْلِمُهُ، وَلَا يَخْذُلُهُ، وَلَا يَحْقِرُهُ”. “Jadilah kalian hamba Allah yang saling bersaudara. Muslim adalah saudara bagi muslim yang lain. Tidak boleh ia menzaliminya, menterlantarkannya dan menghinanya. HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu. Persatuan akan menghasilkan begitu banyak manfaat. Persatuan akan membuahkan kekuatan besar. Persatuan akan menumbuhkan ketenangan batin. Persatuan akan memunculkan solidaritas. Persatuan akan membangun empati dan kepedulian sosial. Karenanya, begitu banyak ibadah dalam agama kita yang disyariatkan untuk dilaksanakan secara berjamaah. Dari ibadah yang bersifat harian, seperti shalat lima waktu, mingguan semisal shalat jum’at, hingga yang bersifat tahunan seperti idhul fitri, idhul adha serta pelaksanaan ibadah haji. Mengapa semua itu dilakukan secara berjama’ah? Antara lain adalah dalam rangka merealisasikan persatuan, meretas kebersamaan dan menumbuhkan kasih sayang di antara kaum muslimin. أقول قولي هذا، وأستغفر الله لي ولكم ولجميع المسلمين والمسلمات، فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم Khutbah Kedua الحمد لله وحده والصلاة والسلام على من لا نبي بعده، أما بعد؛ Jama’ah Jum’at rahimakumullah… Ketiga: Jangan Terpancing Melanggar Aturan Agama Semangat juang yang tinggi sangat diperlukan dalam segala situasi, terlebih dalam kondisi seperti ini. Namun, kita harus benar-benar mengingat, bahwa semangat yang membara harus siap untuk dipandu dan dikendalikan aturan agama. Fenomena munculnya penguasa yang tidak ramah terhadap umat Islam, sudah dikabarkan jauh-jauh hari oleh Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau bersabda, “يَكُونُ بَعْدِى أَئِمَّةٌ لاَ يَهْتَدُونَ بِهُدَاىَ وَلاَ يَسْتَنُّونَ بِسُنَّتِى وَسَيَقُومُ فِيهِمْ رِجَالٌ قُلُوبُهُمْ قُلُوبُ الشَّيَاطِينِ فِى جُثْمَانِ إِنْسٍ“. قَالَ قُلْتُ: “كَيْفَ أَصْنَعُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنْ أَدْرَكْتُ ذَلِكَ؟”. قَالَ: “تَسْمَعُ وَتُطِيعُ لِلأَمِيرِ وَإِنْ ضُرِبَ ظَهْرُكَ وَأُخِذَ مَالُكَ فَاسْمَعْ وَأَطِعْ“. “Nanti sepeninggalku akan ada para pemimpin yang tidak mengikuti petunjukku dan tidak pula menjalankan tuntunanku. Akan ada di antara mereka orang-orang yang hatinya adalah hati setan, walaupun jasadnya adalah jasad manusia”. Aku (Hudzaifah) berkata, “Wahai Rasulullah, apa yang harus aku lakukan jika aku menjumpai zaman itu?” Beliau bersabda, ”Dengarlah dan taati pemimpinmu, walaupun engkau disiksa dan hartamu dirampas. Tetaplah dengar dan taati mereka.” HR. Muslim. Sabar bukan bermakna sikap apatis dan diam duduk berpangku tangan. Namun sabar berarti tetap patuh selain dalam maksiat. Sabar berarti selalu menyampaikan nasehat dengan cara yang syar’i. Sabar berarti tidak terprovokasi untuk berkudeta atau melakukan revolusi berdarah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengingatkan, “خِيَارُ أَئِمَّتِكُمُ الَّذِينَ تُحِبُّونَهُمْ وَيُحِبُّونَكُمْ، وَيُصَلُّونَ عَلَيْكُمْ وَتُصَلُّونَ عَلَيْهِمْ، وَشِرَارُ أَئِمَّتِكُمُ الَّذِينَ تُبْغِضُونَهُمْ وَيُبْغِضُونَكُمْ، وَتَلْعَنُونَهُمْ وَيَلْعَنُونَكُمْ“، قِيلَ: “يَا رَسُولَ اللهِ، أَفَلَا نُنَابِذُهُمْ بِالسَّيْفِ؟“ فَقَالَ: “لَا، مَا أَقَامُوا فِيكُمُ الصَّلَاةَ، وَإِذَا رَأَيْتُمْ مِنْ وُلَاتِكُمْ شَيْئًا تَكْرَهُونَهُ، فَاكْرَهُوا عَمَلَهُ، وَلَا تَنْزِعُوا يَدًا مِنْ طَاعَةٍ“ “Sebaik-baik pemimpin kalian adalah yang kalian cintai dan mereka mencintai kalian, serta yang kalian doakan dan mereka juga mendoakan kalian. Sedangkan seburuk-buruk pemimpin kalian adalah yang kalian benci dan mereka membenci kalian, serta yang kalian laknat dan mereka juga melaknat kalian. Ada yang bertanya, “Wahai Rasulullah, tidakkah kita angkat senjata untuk memerangi mereka?”. Rasul menjawab, “Jangan, selama mereka masih menegakkan shalat di tengah-tengah kalian. Jika kalian melihat sesuatu yang kalian benci dari pemimpin kalian, maka bencilah perbuatannya, dan jangan lepas tangan dari ketaatan kepadanya”. HR. Muslim. Banyak orang mengira bahwa larangan untuk kudeta itu, semata-mata hanya untuk kepentingan penguasa saja. Tentunya ini adalah anggapan yang keliru. Sebenarnya yang pertama kali akan merasakan manfaat dari larangan berontak adalah rakyat sendiri. Betapa banyak kekacauan dan huru-hara yang ditimbulkan akibat kudeta. Belum lagi jatuhnya ribuan korban jiwa yang tidak berdosa. Tentunya masih segar dalam ingatan kita, situasi chaos yang pernah dialami tanah air kita, saat awal reformasi, beberapa belas tahun silam. Saat itu rakyat hidup dalam ketakutan yang mencekam, situasi ekonomi, sosial dan politik yang tidak menentu. Serta masih banyak kerugian lain yang kita alami saat itu. Jadi sebenarnya Islam melarang kudeta serampangan adalah demi kebaikan rakyat, pemerintah dan negeri secara keseluruhan. Bukan untuk kepentingan segelintir pihak tertentu saja. Barangkali bisa dikatakan bahwa tujuan larangan ini antara lain, dalam rangka menjaga negeri tercinta ini, agar tetap gemah ripah loh jinawi toto tentrem kerto raharjo (makmur, serba banyak, subur, tertata, tentram, bahagia dan sejahtera). أَلاَ وَصَلُّوْا وَسَلِّمُوْا -رَحِمَكُمُ الله- عَلَى الْهَادِي الْبَشِيْر، وَالسِّرَاجِ الْمُنِيْر، كَمَا أَمَرَكُمْ بِذَلِكَ اللَّطِيْفُ الْخَبِيْر؛ فَقَالَ فِي مُحْكَمِ التَّنْـِزْيل “إن الله وملائكته يصلون على النبي يا أيها الذين آمنوا صلوا عليه وسلموا تسليما” اللهم صل على محمد وعلى آل محمد كما صليت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد, اللهم بارك على محمد وعلى آل محمد كما باركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد. ربنا ظلمنا أنفسنا وإن لم تغفر لنا وترحمنا لنكونن من الخاسرين ربنا اغفر لنا ولإخواننا الذين سبقونا بالإيمان ولا تجعل في قلوبنا غلا للذين آمنوا ربنا إنك رؤوف رحيم ربنا لا تزغ قلوبنا بعد إذ هديتنا وهب لنا من لدنك رحمة إنك أنت الوهاب اللهم أصلح ولاة أمورنا وارزقهم البطانة الصالحة الناصحة التي تدلهم عل الخير وتعينهم عليه يا رب العالمين اللهم نج إخواننا المؤمنين المستضعفين في بورما، وسوريا، وفلسطين، وفي كل مكان اللهم اشدد وطأتك على كفار بورما الظالمين، وعلى جيوش بشار المجرمين ومن حالفهم من الروس والصين وإيران واليهود الظالمين، يا عزيز يا جبار اللهم اجعلها عليهم سنين كسني يوسف ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022

Khotbah Jumat: Ujian Membawa Berkah

01MarKhotbah Jumat: Ujian Membawa BerkahMarch 1, 2017Khotbah Jumat Khutbah Pertama: إِنَّ الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. “يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ”. “يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاء وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً”. “يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً . يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزاً عَظِيماً”. أَمَّا بَعْدُ، فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ، وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ. اللهم صلى على محمد وعلى آل محمد كما صليت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد، اللهم بارك على محمد وعلى آل محمد كما باركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد. Jama’ah Jum’at rahimakumullah… Mari kita tingkatkan ketaqwaan kita kepada Allah ta’ala dengan ketaqwaan yang sebenar-benarnya; yaitu mengamalkan apa yang diperintahkan oleh-Nya dan Rasul-Nya shallallahu’alaihi wasallam serta menjauhi apa yang dilarang oleh-Nya dan Rasul-Nya shallallahu’alaihiwasallam. Jama’ah Jum’at yang dirahmati oleh Allah.. Harga sebutir buah kelapa dengan harga sebotol minyak kelapa tentu tidak sama. Jauh lebih mahal berlipat-lipat harga sebotol minyak kelapa. Mengapa harganya bisa berbeda jauh, padahal keduanya berasal dari bahan yang sama? Mengapa buah kelapa yang asalnya murah, bisa berubah menjadi mahal, manakala telah menjadi minyak kelapa? Jawabannya: adalah karena supaya berubah menjadi minyak, buah kelapa harus melewati proses panjang yang tidak ringan. Menghadapi ujian-ujian yang berat. Ujian yang berat, akan membuat sesuatu menjadi lebih bernilai dan berharga mahal. Proses panjang itu diawali dengan dijatuhkannya buah kelapa yang telah berumur tua dari puncak pohonnya yang amat tinggi. Begitu membentur tanah, bukannya dielus-elus, justru sabutnya dijambak dan disobek-sobek hingga gundul habis. Saat sudah gundul, kelapa tadi dibenturkan ke batu agar pecah. Lalu buahnya dicungkili dari batok kelapa. Ujian masih berlanjut. Potongan-potongan buah kelapa tadi diparut di parutan besi yang tajam, hingga rontok berguguran dan berubah menjadi serbuk. Setelah serbuk kelapa menumpuk, ia diperas supaya keluar santannya. Kemudian santan kental itu dipanaskan di atas tungku api hingga mendidih. Baru saat itulah keluar minyak kelapa, dengan harga yang berlipat-lipat lebih mahal dibanding kelapa tua yang belum diapa-apakan. Jama’ah Jum’at yang kami hormati… Begitulah ujian hidup, akan membuat seseorang dan umat menjadi lebih bernilai dan berharga mahal. Allah ta’ala mengingatkan, “أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُمْ مَثَلُ الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ مَسَّتْهُمُ الْبَأْسَاءُ وَالضَّرَّاءُ وَزُلْزِلُوا حَتَّى يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ مَتَى نَصْرُ اللَّهِ أَلَا إِنَّ نَصْرَ اللَّهِ قَرِيبٌ“ Artinya: “Apakah kalian mengira bahwa kalian akan masuk surga, padahal belum datang kepada kalian (cobaan) seperti (yang dialami) orang-orang terdahulu sebelum kalian. Mereka ditimpa kesengsaraan, penderitaan dan diguncang (dengan berbagai cobaan). Hingga Rasul dan orang-orang yang beriman bersama beliau bertanya, “Kapankah datang pertolongan Allah?”. Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat”. QS. Al-Baqarah (2): 214. Kedudukan mulia di surga Allah bukanlah sesuatu yang dibagikan secara cuma-cuma. Namun membutuhkan perjuangan dan pengorbanan, serta harus melewati ujian dan cobaan. Sidang Jum’at rahimakumullah… Ketahuilah bahwa peristiwa apapun yang terjadi di alam semesta ini adalah dengan kehendak dan takdir Allah. Entah itu peristiwa yang indah dan menggembirakan ataupun yang menyedihkan. Peristiwa yang mengenakkan maupun yang menyakitkan. Allah ta’ala menjelaskan, “مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ“ Artinya: “Setiap bencana yang terjadi di bumi dan yang menimpa diri kalian, semuanya telah tertulis dalam Kitab (Lauh Mahfudz) sebelum Kami mewujudkannya. Sungguh, yang demikian itu mudah bagi Allah”. QS. Al-Hadid (57): 22. Allah timpakan berbagai ujian itu, tentu bukan tanpa ada maksud dan tujuan. Pasti banyak hikmah di balik itu semua. Hanya saja ada yang yang memahaminya dan ada pula yang tidak memahaminya. Ujian yang silih berganti menimpa agama Islam dan kaum muslimin, itu semua tentu dengan kehendak dan takdir Allah. Penistaan terhadap al-Qur’an, pelecehan terhadap para ulama dan tekanan terhadap umat Islam, ini semua telah tercatat di dalam Lauhul Mahfuzh, lima puluh ribu tahun sebelum diciptakannya langit dan bumi. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menerangkan, “كَتَبَ اللَّهُ مَقَادِيرَ الْخَلاَئِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ“ “Allah menulis takdir para makhluk lima puluh ribu tahun sebelum Dia menciptakan langit dan bumi”. HR. Muslim dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu’anhuma. Kaum muslimin dan muslimat yang berbahagia… Menurut hemat kami, sikap yang tepat dalam menghadapi berbagai cobaan itu adalah dengan introspeksi diri, merapatkan barisan ummat dan tidak terpancing untuk melanggar garis merah aturan agama. Pertama: Introspeksi Diri Salah satu hikmah ujian dan cobaan adalah agar seorang hamba tersadar lalu melakukan introspeksi diri. Mengoreksi perilaku diri yang mungkin selama ini masih jauh dari tuntunan agama. Atau terlalu lama terlena dalam gemerlap kehidupan dunia. Tidur panjang umat Islam perlu untuk segera diakhiri. Mereka harus segera bangkit dan menyadari kelalaian yang telah begitu lama membuai mereka. Sejak empat belas abad lalu, Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam telah mengingatkan, “يُوشِكُ الأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا“. فَقَالَ قَائِلٌ: “وَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ؟” قَالَ: “بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ…”. “Akan datang suatu masa di mana musuh-musuh (bersatu-padu dan) berlomba-lomba untuk memerangi kalian. Sebagaimana berebutnya orang-orang yang sedang menyantap makanan di atas nampan”. Salah seorang sahabat bertanya, “Apakah karena saat itu jumlah kami sedikit?”. Beliau menjawab, “Justru saat itu kalian banyak, namun kalian bagaikan buih di lautan”… HR. Abu Dawud dan dinilai sahih oleh al-Albani. Dalam hadits lain, Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam memberikan solusi untuk mengakhiri keterpurukan tersebut, “…سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ ذُلاًّ لاَ يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوا إِلَى دِينِكُمْ“. “… Allah akan menimpakan kehinaan atas kalian, hingga kalian kembali kepada ajaran agama kalian”. HR. Abu Dawud dan dikuatkan oleh Ibnu Taimiyah, asy-Syaukani dan al-Albani. Jadi solusinya adalah kembali terhadap aturan agama dalam setiap aspek kehidupan. Akidah, ibadah, akhlak, ekonomi, politik, budaya dan lain-lain. Jama’ah Jum’at rahimakumullah… Kedua: Rapatkan Barisan Umat Tentu banyak di antara kita yang masih ingat, salah satu nasehat kehidupan yang kerap diajarkan oleh bapak dan ibu guru di sekolah dulu. Yang juga merupakan warisan turun menurun nenek moyang kita dari zaman ke zaman. Yaitu: perumpamaan tentang sapu lidi. Sebuah perumpamaan yang sederhana namun penuh dengan makna. Sebatang lidi tidak akan ada artinya bagi tumpukan sampah yang menggunung. Sebatang lidi tidak akan membersihkan sampah di sekeliling kita. Bahkan bukan tidak mungkin sebatang lidi tadi akan patah-patah, bila dipaksa menjadi alat pembersih. Namun tidak demikian, bila batangan-batangan lidi itu dikumpulkan menjadi satu, lalu diikat di pangkalnya. Tenaga yang kecil dari sebatang lidi akan berubah menjadi kekuatan yang besar. “Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh”, itulah inti petuahnya. Kehidupan manusia dapat berjalan baik, sebagaimana sebuah sapu lidi, jika manusia mempererat ikatannya. Disadari ataupun tidak, manusia membentuk kumpulan berdasarkan ikatan tertentu. Umat Islam merupakan kumpulan dari para muslim dan muslimah yang terikat oleh kesamaan akidah. Persatuan antar umat Islam dan ukhuwah islamiyyah merupakan salah satu prinsip yang amat mendasar dalam agama kita. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam memotivasi kita untuk merealisasikannya dalam sabda beliau, “كُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا! الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ، لَا يَظْلِمُهُ، وَلَا يَخْذُلُهُ، وَلَا يَحْقِرُهُ”. “Jadilah kalian hamba Allah yang saling bersaudara. Muslim adalah saudara bagi muslim yang lain. Tidak boleh ia menzaliminya, menterlantarkannya dan menghinanya. HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu. Persatuan akan menghasilkan begitu banyak manfaat. Persatuan akan membuahkan kekuatan besar. Persatuan akan menumbuhkan ketenangan batin. Persatuan akan memunculkan solidaritas. Persatuan akan membangun empati dan kepedulian sosial. Karenanya, begitu banyak ibadah dalam agama kita yang disyariatkan untuk dilaksanakan secara berjamaah. Dari ibadah yang bersifat harian, seperti shalat lima waktu, mingguan semisal shalat jum’at, hingga yang bersifat tahunan seperti idhul fitri, idhul adha serta pelaksanaan ibadah haji. Mengapa semua itu dilakukan secara berjama’ah? Antara lain adalah dalam rangka merealisasikan persatuan, meretas kebersamaan dan menumbuhkan kasih sayang di antara kaum muslimin. أقول قولي هذا، وأستغفر الله لي ولكم ولجميع المسلمين والمسلمات، فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم Khutbah Kedua الحمد لله وحده والصلاة والسلام على من لا نبي بعده، أما بعد؛ Jama’ah Jum’at rahimakumullah… Ketiga: Jangan Terpancing Melanggar Aturan Agama Semangat juang yang tinggi sangat diperlukan dalam segala situasi, terlebih dalam kondisi seperti ini. Namun, kita harus benar-benar mengingat, bahwa semangat yang membara harus siap untuk dipandu dan dikendalikan aturan agama. Fenomena munculnya penguasa yang tidak ramah terhadap umat Islam, sudah dikabarkan jauh-jauh hari oleh Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau bersabda, “يَكُونُ بَعْدِى أَئِمَّةٌ لاَ يَهْتَدُونَ بِهُدَاىَ وَلاَ يَسْتَنُّونَ بِسُنَّتِى وَسَيَقُومُ فِيهِمْ رِجَالٌ قُلُوبُهُمْ قُلُوبُ الشَّيَاطِينِ فِى جُثْمَانِ إِنْسٍ“. قَالَ قُلْتُ: “كَيْفَ أَصْنَعُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنْ أَدْرَكْتُ ذَلِكَ؟”. قَالَ: “تَسْمَعُ وَتُطِيعُ لِلأَمِيرِ وَإِنْ ضُرِبَ ظَهْرُكَ وَأُخِذَ مَالُكَ فَاسْمَعْ وَأَطِعْ“. “Nanti sepeninggalku akan ada para pemimpin yang tidak mengikuti petunjukku dan tidak pula menjalankan tuntunanku. Akan ada di antara mereka orang-orang yang hatinya adalah hati setan, walaupun jasadnya adalah jasad manusia”. Aku (Hudzaifah) berkata, “Wahai Rasulullah, apa yang harus aku lakukan jika aku menjumpai zaman itu?” Beliau bersabda, ”Dengarlah dan taati pemimpinmu, walaupun engkau disiksa dan hartamu dirampas. Tetaplah dengar dan taati mereka.” HR. Muslim. Sabar bukan bermakna sikap apatis dan diam duduk berpangku tangan. Namun sabar berarti tetap patuh selain dalam maksiat. Sabar berarti selalu menyampaikan nasehat dengan cara yang syar’i. Sabar berarti tidak terprovokasi untuk berkudeta atau melakukan revolusi berdarah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengingatkan, “خِيَارُ أَئِمَّتِكُمُ الَّذِينَ تُحِبُّونَهُمْ وَيُحِبُّونَكُمْ، وَيُصَلُّونَ عَلَيْكُمْ وَتُصَلُّونَ عَلَيْهِمْ، وَشِرَارُ أَئِمَّتِكُمُ الَّذِينَ تُبْغِضُونَهُمْ وَيُبْغِضُونَكُمْ، وَتَلْعَنُونَهُمْ وَيَلْعَنُونَكُمْ“، قِيلَ: “يَا رَسُولَ اللهِ، أَفَلَا نُنَابِذُهُمْ بِالسَّيْفِ؟“ فَقَالَ: “لَا، مَا أَقَامُوا فِيكُمُ الصَّلَاةَ، وَإِذَا رَأَيْتُمْ مِنْ وُلَاتِكُمْ شَيْئًا تَكْرَهُونَهُ، فَاكْرَهُوا عَمَلَهُ، وَلَا تَنْزِعُوا يَدًا مِنْ طَاعَةٍ“ “Sebaik-baik pemimpin kalian adalah yang kalian cintai dan mereka mencintai kalian, serta yang kalian doakan dan mereka juga mendoakan kalian. Sedangkan seburuk-buruk pemimpin kalian adalah yang kalian benci dan mereka membenci kalian, serta yang kalian laknat dan mereka juga melaknat kalian. Ada yang bertanya, “Wahai Rasulullah, tidakkah kita angkat senjata untuk memerangi mereka?”. Rasul menjawab, “Jangan, selama mereka masih menegakkan shalat di tengah-tengah kalian. Jika kalian melihat sesuatu yang kalian benci dari pemimpin kalian, maka bencilah perbuatannya, dan jangan lepas tangan dari ketaatan kepadanya”. HR. Muslim. Banyak orang mengira bahwa larangan untuk kudeta itu, semata-mata hanya untuk kepentingan penguasa saja. Tentunya ini adalah anggapan yang keliru. Sebenarnya yang pertama kali akan merasakan manfaat dari larangan berontak adalah rakyat sendiri. Betapa banyak kekacauan dan huru-hara yang ditimbulkan akibat kudeta. Belum lagi jatuhnya ribuan korban jiwa yang tidak berdosa. Tentunya masih segar dalam ingatan kita, situasi chaos yang pernah dialami tanah air kita, saat awal reformasi, beberapa belas tahun silam. Saat itu rakyat hidup dalam ketakutan yang mencekam, situasi ekonomi, sosial dan politik yang tidak menentu. Serta masih banyak kerugian lain yang kita alami saat itu. Jadi sebenarnya Islam melarang kudeta serampangan adalah demi kebaikan rakyat, pemerintah dan negeri secara keseluruhan. Bukan untuk kepentingan segelintir pihak tertentu saja. Barangkali bisa dikatakan bahwa tujuan larangan ini antara lain, dalam rangka menjaga negeri tercinta ini, agar tetap gemah ripah loh jinawi toto tentrem kerto raharjo (makmur, serba banyak, subur, tertata, tentram, bahagia dan sejahtera). أَلاَ وَصَلُّوْا وَسَلِّمُوْا -رَحِمَكُمُ الله- عَلَى الْهَادِي الْبَشِيْر، وَالسِّرَاجِ الْمُنِيْر، كَمَا أَمَرَكُمْ بِذَلِكَ اللَّطِيْفُ الْخَبِيْر؛ فَقَالَ فِي مُحْكَمِ التَّنْـِزْيل “إن الله وملائكته يصلون على النبي يا أيها الذين آمنوا صلوا عليه وسلموا تسليما” اللهم صل على محمد وعلى آل محمد كما صليت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد, اللهم بارك على محمد وعلى آل محمد كما باركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد. ربنا ظلمنا أنفسنا وإن لم تغفر لنا وترحمنا لنكونن من الخاسرين ربنا اغفر لنا ولإخواننا الذين سبقونا بالإيمان ولا تجعل في قلوبنا غلا للذين آمنوا ربنا إنك رؤوف رحيم ربنا لا تزغ قلوبنا بعد إذ هديتنا وهب لنا من لدنك رحمة إنك أنت الوهاب اللهم أصلح ولاة أمورنا وارزقهم البطانة الصالحة الناصحة التي تدلهم عل الخير وتعينهم عليه يا رب العالمين اللهم نج إخواننا المؤمنين المستضعفين في بورما، وسوريا، وفلسطين، وفي كل مكان اللهم اشدد وطأتك على كفار بورما الظالمين، وعلى جيوش بشار المجرمين ومن حالفهم من الروس والصين وإيران واليهود الظالمين، يا عزيز يا جبار اللهم اجعلها عليهم سنين كسني يوسف ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022
01MarKhotbah Jumat: Ujian Membawa BerkahMarch 1, 2017Khotbah Jumat Khutbah Pertama: إِنَّ الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. “يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ”. “يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاء وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً”. “يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً . يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزاً عَظِيماً”. أَمَّا بَعْدُ، فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ، وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ. اللهم صلى على محمد وعلى آل محمد كما صليت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد، اللهم بارك على محمد وعلى آل محمد كما باركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد. Jama’ah Jum’at rahimakumullah… Mari kita tingkatkan ketaqwaan kita kepada Allah ta’ala dengan ketaqwaan yang sebenar-benarnya; yaitu mengamalkan apa yang diperintahkan oleh-Nya dan Rasul-Nya shallallahu’alaihi wasallam serta menjauhi apa yang dilarang oleh-Nya dan Rasul-Nya shallallahu’alaihiwasallam. Jama’ah Jum’at yang dirahmati oleh Allah.. Harga sebutir buah kelapa dengan harga sebotol minyak kelapa tentu tidak sama. Jauh lebih mahal berlipat-lipat harga sebotol minyak kelapa. Mengapa harganya bisa berbeda jauh, padahal keduanya berasal dari bahan yang sama? Mengapa buah kelapa yang asalnya murah, bisa berubah menjadi mahal, manakala telah menjadi minyak kelapa? Jawabannya: adalah karena supaya berubah menjadi minyak, buah kelapa harus melewati proses panjang yang tidak ringan. Menghadapi ujian-ujian yang berat. Ujian yang berat, akan membuat sesuatu menjadi lebih bernilai dan berharga mahal. Proses panjang itu diawali dengan dijatuhkannya buah kelapa yang telah berumur tua dari puncak pohonnya yang amat tinggi. Begitu membentur tanah, bukannya dielus-elus, justru sabutnya dijambak dan disobek-sobek hingga gundul habis. Saat sudah gundul, kelapa tadi dibenturkan ke batu agar pecah. Lalu buahnya dicungkili dari batok kelapa. Ujian masih berlanjut. Potongan-potongan buah kelapa tadi diparut di parutan besi yang tajam, hingga rontok berguguran dan berubah menjadi serbuk. Setelah serbuk kelapa menumpuk, ia diperas supaya keluar santannya. Kemudian santan kental itu dipanaskan di atas tungku api hingga mendidih. Baru saat itulah keluar minyak kelapa, dengan harga yang berlipat-lipat lebih mahal dibanding kelapa tua yang belum diapa-apakan. Jama’ah Jum’at yang kami hormati… Begitulah ujian hidup, akan membuat seseorang dan umat menjadi lebih bernilai dan berharga mahal. Allah ta’ala mengingatkan, “أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُمْ مَثَلُ الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ مَسَّتْهُمُ الْبَأْسَاءُ وَالضَّرَّاءُ وَزُلْزِلُوا حَتَّى يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ مَتَى نَصْرُ اللَّهِ أَلَا إِنَّ نَصْرَ اللَّهِ قَرِيبٌ“ Artinya: “Apakah kalian mengira bahwa kalian akan masuk surga, padahal belum datang kepada kalian (cobaan) seperti (yang dialami) orang-orang terdahulu sebelum kalian. Mereka ditimpa kesengsaraan, penderitaan dan diguncang (dengan berbagai cobaan). Hingga Rasul dan orang-orang yang beriman bersama beliau bertanya, “Kapankah datang pertolongan Allah?”. Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat”. QS. Al-Baqarah (2): 214. Kedudukan mulia di surga Allah bukanlah sesuatu yang dibagikan secara cuma-cuma. Namun membutuhkan perjuangan dan pengorbanan, serta harus melewati ujian dan cobaan. Sidang Jum’at rahimakumullah… Ketahuilah bahwa peristiwa apapun yang terjadi di alam semesta ini adalah dengan kehendak dan takdir Allah. Entah itu peristiwa yang indah dan menggembirakan ataupun yang menyedihkan. Peristiwa yang mengenakkan maupun yang menyakitkan. Allah ta’ala menjelaskan, “مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ“ Artinya: “Setiap bencana yang terjadi di bumi dan yang menimpa diri kalian, semuanya telah tertulis dalam Kitab (Lauh Mahfudz) sebelum Kami mewujudkannya. Sungguh, yang demikian itu mudah bagi Allah”. QS. Al-Hadid (57): 22. Allah timpakan berbagai ujian itu, tentu bukan tanpa ada maksud dan tujuan. Pasti banyak hikmah di balik itu semua. Hanya saja ada yang yang memahaminya dan ada pula yang tidak memahaminya. Ujian yang silih berganti menimpa agama Islam dan kaum muslimin, itu semua tentu dengan kehendak dan takdir Allah. Penistaan terhadap al-Qur’an, pelecehan terhadap para ulama dan tekanan terhadap umat Islam, ini semua telah tercatat di dalam Lauhul Mahfuzh, lima puluh ribu tahun sebelum diciptakannya langit dan bumi. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menerangkan, “كَتَبَ اللَّهُ مَقَادِيرَ الْخَلاَئِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ“ “Allah menulis takdir para makhluk lima puluh ribu tahun sebelum Dia menciptakan langit dan bumi”. HR. Muslim dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu’anhuma. Kaum muslimin dan muslimat yang berbahagia… Menurut hemat kami, sikap yang tepat dalam menghadapi berbagai cobaan itu adalah dengan introspeksi diri, merapatkan barisan ummat dan tidak terpancing untuk melanggar garis merah aturan agama. Pertama: Introspeksi Diri Salah satu hikmah ujian dan cobaan adalah agar seorang hamba tersadar lalu melakukan introspeksi diri. Mengoreksi perilaku diri yang mungkin selama ini masih jauh dari tuntunan agama. Atau terlalu lama terlena dalam gemerlap kehidupan dunia. Tidur panjang umat Islam perlu untuk segera diakhiri. Mereka harus segera bangkit dan menyadari kelalaian yang telah begitu lama membuai mereka. Sejak empat belas abad lalu, Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam telah mengingatkan, “يُوشِكُ الأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا“. فَقَالَ قَائِلٌ: “وَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ؟” قَالَ: “بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ…”. “Akan datang suatu masa di mana musuh-musuh (bersatu-padu dan) berlomba-lomba untuk memerangi kalian. Sebagaimana berebutnya orang-orang yang sedang menyantap makanan di atas nampan”. Salah seorang sahabat bertanya, “Apakah karena saat itu jumlah kami sedikit?”. Beliau menjawab, “Justru saat itu kalian banyak, namun kalian bagaikan buih di lautan”… HR. Abu Dawud dan dinilai sahih oleh al-Albani. Dalam hadits lain, Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam memberikan solusi untuk mengakhiri keterpurukan tersebut, “…سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ ذُلاًّ لاَ يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوا إِلَى دِينِكُمْ“. “… Allah akan menimpakan kehinaan atas kalian, hingga kalian kembali kepada ajaran agama kalian”. HR. Abu Dawud dan dikuatkan oleh Ibnu Taimiyah, asy-Syaukani dan al-Albani. Jadi solusinya adalah kembali terhadap aturan agama dalam setiap aspek kehidupan. Akidah, ibadah, akhlak, ekonomi, politik, budaya dan lain-lain. Jama’ah Jum’at rahimakumullah… Kedua: Rapatkan Barisan Umat Tentu banyak di antara kita yang masih ingat, salah satu nasehat kehidupan yang kerap diajarkan oleh bapak dan ibu guru di sekolah dulu. Yang juga merupakan warisan turun menurun nenek moyang kita dari zaman ke zaman. Yaitu: perumpamaan tentang sapu lidi. Sebuah perumpamaan yang sederhana namun penuh dengan makna. Sebatang lidi tidak akan ada artinya bagi tumpukan sampah yang menggunung. Sebatang lidi tidak akan membersihkan sampah di sekeliling kita. Bahkan bukan tidak mungkin sebatang lidi tadi akan patah-patah, bila dipaksa menjadi alat pembersih. Namun tidak demikian, bila batangan-batangan lidi itu dikumpulkan menjadi satu, lalu diikat di pangkalnya. Tenaga yang kecil dari sebatang lidi akan berubah menjadi kekuatan yang besar. “Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh”, itulah inti petuahnya. Kehidupan manusia dapat berjalan baik, sebagaimana sebuah sapu lidi, jika manusia mempererat ikatannya. Disadari ataupun tidak, manusia membentuk kumpulan berdasarkan ikatan tertentu. Umat Islam merupakan kumpulan dari para muslim dan muslimah yang terikat oleh kesamaan akidah. Persatuan antar umat Islam dan ukhuwah islamiyyah merupakan salah satu prinsip yang amat mendasar dalam agama kita. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam memotivasi kita untuk merealisasikannya dalam sabda beliau, “كُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا! الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ، لَا يَظْلِمُهُ، وَلَا يَخْذُلُهُ، وَلَا يَحْقِرُهُ”. “Jadilah kalian hamba Allah yang saling bersaudara. Muslim adalah saudara bagi muslim yang lain. Tidak boleh ia menzaliminya, menterlantarkannya dan menghinanya. HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu. Persatuan akan menghasilkan begitu banyak manfaat. Persatuan akan membuahkan kekuatan besar. Persatuan akan menumbuhkan ketenangan batin. Persatuan akan memunculkan solidaritas. Persatuan akan membangun empati dan kepedulian sosial. Karenanya, begitu banyak ibadah dalam agama kita yang disyariatkan untuk dilaksanakan secara berjamaah. Dari ibadah yang bersifat harian, seperti shalat lima waktu, mingguan semisal shalat jum’at, hingga yang bersifat tahunan seperti idhul fitri, idhul adha serta pelaksanaan ibadah haji. Mengapa semua itu dilakukan secara berjama’ah? Antara lain adalah dalam rangka merealisasikan persatuan, meretas kebersamaan dan menumbuhkan kasih sayang di antara kaum muslimin. أقول قولي هذا، وأستغفر الله لي ولكم ولجميع المسلمين والمسلمات، فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم Khutbah Kedua الحمد لله وحده والصلاة والسلام على من لا نبي بعده، أما بعد؛ Jama’ah Jum’at rahimakumullah… Ketiga: Jangan Terpancing Melanggar Aturan Agama Semangat juang yang tinggi sangat diperlukan dalam segala situasi, terlebih dalam kondisi seperti ini. Namun, kita harus benar-benar mengingat, bahwa semangat yang membara harus siap untuk dipandu dan dikendalikan aturan agama. Fenomena munculnya penguasa yang tidak ramah terhadap umat Islam, sudah dikabarkan jauh-jauh hari oleh Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau bersabda, “يَكُونُ بَعْدِى أَئِمَّةٌ لاَ يَهْتَدُونَ بِهُدَاىَ وَلاَ يَسْتَنُّونَ بِسُنَّتِى وَسَيَقُومُ فِيهِمْ رِجَالٌ قُلُوبُهُمْ قُلُوبُ الشَّيَاطِينِ فِى جُثْمَانِ إِنْسٍ“. قَالَ قُلْتُ: “كَيْفَ أَصْنَعُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنْ أَدْرَكْتُ ذَلِكَ؟”. قَالَ: “تَسْمَعُ وَتُطِيعُ لِلأَمِيرِ وَإِنْ ضُرِبَ ظَهْرُكَ وَأُخِذَ مَالُكَ فَاسْمَعْ وَأَطِعْ“. “Nanti sepeninggalku akan ada para pemimpin yang tidak mengikuti petunjukku dan tidak pula menjalankan tuntunanku. Akan ada di antara mereka orang-orang yang hatinya adalah hati setan, walaupun jasadnya adalah jasad manusia”. Aku (Hudzaifah) berkata, “Wahai Rasulullah, apa yang harus aku lakukan jika aku menjumpai zaman itu?” Beliau bersabda, ”Dengarlah dan taati pemimpinmu, walaupun engkau disiksa dan hartamu dirampas. Tetaplah dengar dan taati mereka.” HR. Muslim. Sabar bukan bermakna sikap apatis dan diam duduk berpangku tangan. Namun sabar berarti tetap patuh selain dalam maksiat. Sabar berarti selalu menyampaikan nasehat dengan cara yang syar’i. Sabar berarti tidak terprovokasi untuk berkudeta atau melakukan revolusi berdarah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengingatkan, “خِيَارُ أَئِمَّتِكُمُ الَّذِينَ تُحِبُّونَهُمْ وَيُحِبُّونَكُمْ، وَيُصَلُّونَ عَلَيْكُمْ وَتُصَلُّونَ عَلَيْهِمْ، وَشِرَارُ أَئِمَّتِكُمُ الَّذِينَ تُبْغِضُونَهُمْ وَيُبْغِضُونَكُمْ، وَتَلْعَنُونَهُمْ وَيَلْعَنُونَكُمْ“، قِيلَ: “يَا رَسُولَ اللهِ، أَفَلَا نُنَابِذُهُمْ بِالسَّيْفِ؟“ فَقَالَ: “لَا، مَا أَقَامُوا فِيكُمُ الصَّلَاةَ، وَإِذَا رَأَيْتُمْ مِنْ وُلَاتِكُمْ شَيْئًا تَكْرَهُونَهُ، فَاكْرَهُوا عَمَلَهُ، وَلَا تَنْزِعُوا يَدًا مِنْ طَاعَةٍ“ “Sebaik-baik pemimpin kalian adalah yang kalian cintai dan mereka mencintai kalian, serta yang kalian doakan dan mereka juga mendoakan kalian. Sedangkan seburuk-buruk pemimpin kalian adalah yang kalian benci dan mereka membenci kalian, serta yang kalian laknat dan mereka juga melaknat kalian. Ada yang bertanya, “Wahai Rasulullah, tidakkah kita angkat senjata untuk memerangi mereka?”. Rasul menjawab, “Jangan, selama mereka masih menegakkan shalat di tengah-tengah kalian. Jika kalian melihat sesuatu yang kalian benci dari pemimpin kalian, maka bencilah perbuatannya, dan jangan lepas tangan dari ketaatan kepadanya”. HR. Muslim. Banyak orang mengira bahwa larangan untuk kudeta itu, semata-mata hanya untuk kepentingan penguasa saja. Tentunya ini adalah anggapan yang keliru. Sebenarnya yang pertama kali akan merasakan manfaat dari larangan berontak adalah rakyat sendiri. Betapa banyak kekacauan dan huru-hara yang ditimbulkan akibat kudeta. Belum lagi jatuhnya ribuan korban jiwa yang tidak berdosa. Tentunya masih segar dalam ingatan kita, situasi chaos yang pernah dialami tanah air kita, saat awal reformasi, beberapa belas tahun silam. Saat itu rakyat hidup dalam ketakutan yang mencekam, situasi ekonomi, sosial dan politik yang tidak menentu. Serta masih banyak kerugian lain yang kita alami saat itu. Jadi sebenarnya Islam melarang kudeta serampangan adalah demi kebaikan rakyat, pemerintah dan negeri secara keseluruhan. Bukan untuk kepentingan segelintir pihak tertentu saja. Barangkali bisa dikatakan bahwa tujuan larangan ini antara lain, dalam rangka menjaga negeri tercinta ini, agar tetap gemah ripah loh jinawi toto tentrem kerto raharjo (makmur, serba banyak, subur, tertata, tentram, bahagia dan sejahtera). أَلاَ وَصَلُّوْا وَسَلِّمُوْا -رَحِمَكُمُ الله- عَلَى الْهَادِي الْبَشِيْر، وَالسِّرَاجِ الْمُنِيْر، كَمَا أَمَرَكُمْ بِذَلِكَ اللَّطِيْفُ الْخَبِيْر؛ فَقَالَ فِي مُحْكَمِ التَّنْـِزْيل “إن الله وملائكته يصلون على النبي يا أيها الذين آمنوا صلوا عليه وسلموا تسليما” اللهم صل على محمد وعلى آل محمد كما صليت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد, اللهم بارك على محمد وعلى آل محمد كما باركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد. ربنا ظلمنا أنفسنا وإن لم تغفر لنا وترحمنا لنكونن من الخاسرين ربنا اغفر لنا ولإخواننا الذين سبقونا بالإيمان ولا تجعل في قلوبنا غلا للذين آمنوا ربنا إنك رؤوف رحيم ربنا لا تزغ قلوبنا بعد إذ هديتنا وهب لنا من لدنك رحمة إنك أنت الوهاب اللهم أصلح ولاة أمورنا وارزقهم البطانة الصالحة الناصحة التي تدلهم عل الخير وتعينهم عليه يا رب العالمين اللهم نج إخواننا المؤمنين المستضعفين في بورما، وسوريا، وفلسطين، وفي كل مكان اللهم اشدد وطأتك على كفار بورما الظالمين، وعلى جيوش بشار المجرمين ومن حالفهم من الروس والصين وإيران واليهود الظالمين، يا عزيز يا جبار اللهم اجعلها عليهم سنين كسني يوسف ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022


01MarKhotbah Jumat: Ujian Membawa BerkahMarch 1, 2017Khotbah Jumat Khutbah Pertama: إِنَّ الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. “يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ”. “يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاء وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً”. “يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً . يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزاً عَظِيماً”. أَمَّا بَعْدُ، فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ، وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ. اللهم صلى على محمد وعلى آل محمد كما صليت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد، اللهم بارك على محمد وعلى آل محمد كما باركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد. Jama’ah Jum’at rahimakumullah… Mari kita tingkatkan ketaqwaan kita kepada Allah ta’ala dengan ketaqwaan yang sebenar-benarnya; yaitu mengamalkan apa yang diperintahkan oleh-Nya dan Rasul-Nya shallallahu’alaihi wasallam serta menjauhi apa yang dilarang oleh-Nya dan Rasul-Nya shallallahu’alaihiwasallam. Jama’ah Jum’at yang dirahmati oleh Allah.. Harga sebutir buah kelapa dengan harga sebotol minyak kelapa tentu tidak sama. Jauh lebih mahal berlipat-lipat harga sebotol minyak kelapa. Mengapa harganya bisa berbeda jauh, padahal keduanya berasal dari bahan yang sama? Mengapa buah kelapa yang asalnya murah, bisa berubah menjadi mahal, manakala telah menjadi minyak kelapa? Jawabannya: adalah karena supaya berubah menjadi minyak, buah kelapa harus melewati proses panjang yang tidak ringan. Menghadapi ujian-ujian yang berat. Ujian yang berat, akan membuat sesuatu menjadi lebih bernilai dan berharga mahal. Proses panjang itu diawali dengan dijatuhkannya buah kelapa yang telah berumur tua dari puncak pohonnya yang amat tinggi. Begitu membentur tanah, bukannya dielus-elus, justru sabutnya dijambak dan disobek-sobek hingga gundul habis. Saat sudah gundul, kelapa tadi dibenturkan ke batu agar pecah. Lalu buahnya dicungkili dari batok kelapa. Ujian masih berlanjut. Potongan-potongan buah kelapa tadi diparut di parutan besi yang tajam, hingga rontok berguguran dan berubah menjadi serbuk. Setelah serbuk kelapa menumpuk, ia diperas supaya keluar santannya. Kemudian santan kental itu dipanaskan di atas tungku api hingga mendidih. Baru saat itulah keluar minyak kelapa, dengan harga yang berlipat-lipat lebih mahal dibanding kelapa tua yang belum diapa-apakan. Jama’ah Jum’at yang kami hormati… Begitulah ujian hidup, akan membuat seseorang dan umat menjadi lebih bernilai dan berharga mahal. Allah ta’ala mengingatkan, “أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُمْ مَثَلُ الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ مَسَّتْهُمُ الْبَأْسَاءُ وَالضَّرَّاءُ وَزُلْزِلُوا حَتَّى يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ مَتَى نَصْرُ اللَّهِ أَلَا إِنَّ نَصْرَ اللَّهِ قَرِيبٌ“ Artinya: “Apakah kalian mengira bahwa kalian akan masuk surga, padahal belum datang kepada kalian (cobaan) seperti (yang dialami) orang-orang terdahulu sebelum kalian. Mereka ditimpa kesengsaraan, penderitaan dan diguncang (dengan berbagai cobaan). Hingga Rasul dan orang-orang yang beriman bersama beliau bertanya, “Kapankah datang pertolongan Allah?”. Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat”. QS. Al-Baqarah (2): 214. Kedudukan mulia di surga Allah bukanlah sesuatu yang dibagikan secara cuma-cuma. Namun membutuhkan perjuangan dan pengorbanan, serta harus melewati ujian dan cobaan. Sidang Jum’at rahimakumullah… Ketahuilah bahwa peristiwa apapun yang terjadi di alam semesta ini adalah dengan kehendak dan takdir Allah. Entah itu peristiwa yang indah dan menggembirakan ataupun yang menyedihkan. Peristiwa yang mengenakkan maupun yang menyakitkan. Allah ta’ala menjelaskan, “مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ“ Artinya: “Setiap bencana yang terjadi di bumi dan yang menimpa diri kalian, semuanya telah tertulis dalam Kitab (Lauh Mahfudz) sebelum Kami mewujudkannya. Sungguh, yang demikian itu mudah bagi Allah”. QS. Al-Hadid (57): 22. Allah timpakan berbagai ujian itu, tentu bukan tanpa ada maksud dan tujuan. Pasti banyak hikmah di balik itu semua. Hanya saja ada yang yang memahaminya dan ada pula yang tidak memahaminya. Ujian yang silih berganti menimpa agama Islam dan kaum muslimin, itu semua tentu dengan kehendak dan takdir Allah. Penistaan terhadap al-Qur’an, pelecehan terhadap para ulama dan tekanan terhadap umat Islam, ini semua telah tercatat di dalam Lauhul Mahfuzh, lima puluh ribu tahun sebelum diciptakannya langit dan bumi. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menerangkan, “كَتَبَ اللَّهُ مَقَادِيرَ الْخَلاَئِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ“ “Allah menulis takdir para makhluk lima puluh ribu tahun sebelum Dia menciptakan langit dan bumi”. HR. Muslim dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu’anhuma. Kaum muslimin dan muslimat yang berbahagia… Menurut hemat kami, sikap yang tepat dalam menghadapi berbagai cobaan itu adalah dengan introspeksi diri, merapatkan barisan ummat dan tidak terpancing untuk melanggar garis merah aturan agama. Pertama: Introspeksi Diri Salah satu hikmah ujian dan cobaan adalah agar seorang hamba tersadar lalu melakukan introspeksi diri. Mengoreksi perilaku diri yang mungkin selama ini masih jauh dari tuntunan agama. Atau terlalu lama terlena dalam gemerlap kehidupan dunia. Tidur panjang umat Islam perlu untuk segera diakhiri. Mereka harus segera bangkit dan menyadari kelalaian yang telah begitu lama membuai mereka. Sejak empat belas abad lalu, Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam telah mengingatkan, “يُوشِكُ الأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا“. فَقَالَ قَائِلٌ: “وَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ؟” قَالَ: “بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ…”. “Akan datang suatu masa di mana musuh-musuh (bersatu-padu dan) berlomba-lomba untuk memerangi kalian. Sebagaimana berebutnya orang-orang yang sedang menyantap makanan di atas nampan”. Salah seorang sahabat bertanya, “Apakah karena saat itu jumlah kami sedikit?”. Beliau menjawab, “Justru saat itu kalian banyak, namun kalian bagaikan buih di lautan”… HR. Abu Dawud dan dinilai sahih oleh al-Albani. Dalam hadits lain, Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam memberikan solusi untuk mengakhiri keterpurukan tersebut, “…سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ ذُلاًّ لاَ يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوا إِلَى دِينِكُمْ“. “… Allah akan menimpakan kehinaan atas kalian, hingga kalian kembali kepada ajaran agama kalian”. HR. Abu Dawud dan dikuatkan oleh Ibnu Taimiyah, asy-Syaukani dan al-Albani. Jadi solusinya adalah kembali terhadap aturan agama dalam setiap aspek kehidupan. Akidah, ibadah, akhlak, ekonomi, politik, budaya dan lain-lain. Jama’ah Jum’at rahimakumullah… Kedua: Rapatkan Barisan Umat Tentu banyak di antara kita yang masih ingat, salah satu nasehat kehidupan yang kerap diajarkan oleh bapak dan ibu guru di sekolah dulu. Yang juga merupakan warisan turun menurun nenek moyang kita dari zaman ke zaman. Yaitu: perumpamaan tentang sapu lidi. Sebuah perumpamaan yang sederhana namun penuh dengan makna. Sebatang lidi tidak akan ada artinya bagi tumpukan sampah yang menggunung. Sebatang lidi tidak akan membersihkan sampah di sekeliling kita. Bahkan bukan tidak mungkin sebatang lidi tadi akan patah-patah, bila dipaksa menjadi alat pembersih. Namun tidak demikian, bila batangan-batangan lidi itu dikumpulkan menjadi satu, lalu diikat di pangkalnya. Tenaga yang kecil dari sebatang lidi akan berubah menjadi kekuatan yang besar. “Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh”, itulah inti petuahnya. Kehidupan manusia dapat berjalan baik, sebagaimana sebuah sapu lidi, jika manusia mempererat ikatannya. Disadari ataupun tidak, manusia membentuk kumpulan berdasarkan ikatan tertentu. Umat Islam merupakan kumpulan dari para muslim dan muslimah yang terikat oleh kesamaan akidah. Persatuan antar umat Islam dan ukhuwah islamiyyah merupakan salah satu prinsip yang amat mendasar dalam agama kita. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam memotivasi kita untuk merealisasikannya dalam sabda beliau, “كُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا! الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ، لَا يَظْلِمُهُ، وَلَا يَخْذُلُهُ، وَلَا يَحْقِرُهُ”. “Jadilah kalian hamba Allah yang saling bersaudara. Muslim adalah saudara bagi muslim yang lain. Tidak boleh ia menzaliminya, menterlantarkannya dan menghinanya. HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu. Persatuan akan menghasilkan begitu banyak manfaat. Persatuan akan membuahkan kekuatan besar. Persatuan akan menumbuhkan ketenangan batin. Persatuan akan memunculkan solidaritas. Persatuan akan membangun empati dan kepedulian sosial. Karenanya, begitu banyak ibadah dalam agama kita yang disyariatkan untuk dilaksanakan secara berjamaah. Dari ibadah yang bersifat harian, seperti shalat lima waktu, mingguan semisal shalat jum’at, hingga yang bersifat tahunan seperti idhul fitri, idhul adha serta pelaksanaan ibadah haji. Mengapa semua itu dilakukan secara berjama’ah? Antara lain adalah dalam rangka merealisasikan persatuan, meretas kebersamaan dan menumbuhkan kasih sayang di antara kaum muslimin. أقول قولي هذا، وأستغفر الله لي ولكم ولجميع المسلمين والمسلمات، فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم Khutbah Kedua الحمد لله وحده والصلاة والسلام على من لا نبي بعده، أما بعد؛ Jama’ah Jum’at rahimakumullah… Ketiga: Jangan Terpancing Melanggar Aturan Agama Semangat juang yang tinggi sangat diperlukan dalam segala situasi, terlebih dalam kondisi seperti ini. Namun, kita harus benar-benar mengingat, bahwa semangat yang membara harus siap untuk dipandu dan dikendalikan aturan agama. Fenomena munculnya penguasa yang tidak ramah terhadap umat Islam, sudah dikabarkan jauh-jauh hari oleh Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau bersabda, “يَكُونُ بَعْدِى أَئِمَّةٌ لاَ يَهْتَدُونَ بِهُدَاىَ وَلاَ يَسْتَنُّونَ بِسُنَّتِى وَسَيَقُومُ فِيهِمْ رِجَالٌ قُلُوبُهُمْ قُلُوبُ الشَّيَاطِينِ فِى جُثْمَانِ إِنْسٍ“. قَالَ قُلْتُ: “كَيْفَ أَصْنَعُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنْ أَدْرَكْتُ ذَلِكَ؟”. قَالَ: “تَسْمَعُ وَتُطِيعُ لِلأَمِيرِ وَإِنْ ضُرِبَ ظَهْرُكَ وَأُخِذَ مَالُكَ فَاسْمَعْ وَأَطِعْ“. “Nanti sepeninggalku akan ada para pemimpin yang tidak mengikuti petunjukku dan tidak pula menjalankan tuntunanku. Akan ada di antara mereka orang-orang yang hatinya adalah hati setan, walaupun jasadnya adalah jasad manusia”. Aku (Hudzaifah) berkata, “Wahai Rasulullah, apa yang harus aku lakukan jika aku menjumpai zaman itu?” Beliau bersabda, ”Dengarlah dan taati pemimpinmu, walaupun engkau disiksa dan hartamu dirampas. Tetaplah dengar dan taati mereka.” HR. Muslim. Sabar bukan bermakna sikap apatis dan diam duduk berpangku tangan. Namun sabar berarti tetap patuh selain dalam maksiat. Sabar berarti selalu menyampaikan nasehat dengan cara yang syar’i. Sabar berarti tidak terprovokasi untuk berkudeta atau melakukan revolusi berdarah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengingatkan, “خِيَارُ أَئِمَّتِكُمُ الَّذِينَ تُحِبُّونَهُمْ وَيُحِبُّونَكُمْ، وَيُصَلُّونَ عَلَيْكُمْ وَتُصَلُّونَ عَلَيْهِمْ، وَشِرَارُ أَئِمَّتِكُمُ الَّذِينَ تُبْغِضُونَهُمْ وَيُبْغِضُونَكُمْ، وَتَلْعَنُونَهُمْ وَيَلْعَنُونَكُمْ“، قِيلَ: “يَا رَسُولَ اللهِ، أَفَلَا نُنَابِذُهُمْ بِالسَّيْفِ؟“ فَقَالَ: “لَا، مَا أَقَامُوا فِيكُمُ الصَّلَاةَ، وَإِذَا رَأَيْتُمْ مِنْ وُلَاتِكُمْ شَيْئًا تَكْرَهُونَهُ، فَاكْرَهُوا عَمَلَهُ، وَلَا تَنْزِعُوا يَدًا مِنْ طَاعَةٍ“ “Sebaik-baik pemimpin kalian adalah yang kalian cintai dan mereka mencintai kalian, serta yang kalian doakan dan mereka juga mendoakan kalian. Sedangkan seburuk-buruk pemimpin kalian adalah yang kalian benci dan mereka membenci kalian, serta yang kalian laknat dan mereka juga melaknat kalian. Ada yang bertanya, “Wahai Rasulullah, tidakkah kita angkat senjata untuk memerangi mereka?”. Rasul menjawab, “Jangan, selama mereka masih menegakkan shalat di tengah-tengah kalian. Jika kalian melihat sesuatu yang kalian benci dari pemimpin kalian, maka bencilah perbuatannya, dan jangan lepas tangan dari ketaatan kepadanya”. HR. Muslim. Banyak orang mengira bahwa larangan untuk kudeta itu, semata-mata hanya untuk kepentingan penguasa saja. Tentunya ini adalah anggapan yang keliru. Sebenarnya yang pertama kali akan merasakan manfaat dari larangan berontak adalah rakyat sendiri. Betapa banyak kekacauan dan huru-hara yang ditimbulkan akibat kudeta. Belum lagi jatuhnya ribuan korban jiwa yang tidak berdosa. Tentunya masih segar dalam ingatan kita, situasi chaos yang pernah dialami tanah air kita, saat awal reformasi, beberapa belas tahun silam. Saat itu rakyat hidup dalam ketakutan yang mencekam, situasi ekonomi, sosial dan politik yang tidak menentu. Serta masih banyak kerugian lain yang kita alami saat itu. Jadi sebenarnya Islam melarang kudeta serampangan adalah demi kebaikan rakyat, pemerintah dan negeri secara keseluruhan. Bukan untuk kepentingan segelintir pihak tertentu saja. Barangkali bisa dikatakan bahwa tujuan larangan ini antara lain, dalam rangka menjaga negeri tercinta ini, agar tetap gemah ripah loh jinawi toto tentrem kerto raharjo (makmur, serba banyak, subur, tertata, tentram, bahagia dan sejahtera). أَلاَ وَصَلُّوْا وَسَلِّمُوْا -رَحِمَكُمُ الله- عَلَى الْهَادِي الْبَشِيْر، وَالسِّرَاجِ الْمُنِيْر، كَمَا أَمَرَكُمْ بِذَلِكَ اللَّطِيْفُ الْخَبِيْر؛ فَقَالَ فِي مُحْكَمِ التَّنْـِزْيل “إن الله وملائكته يصلون على النبي يا أيها الذين آمنوا صلوا عليه وسلموا تسليما” اللهم صل على محمد وعلى آل محمد كما صليت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد, اللهم بارك على محمد وعلى آل محمد كما باركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد. ربنا ظلمنا أنفسنا وإن لم تغفر لنا وترحمنا لنكونن من الخاسرين ربنا اغفر لنا ولإخواننا الذين سبقونا بالإيمان ولا تجعل في قلوبنا غلا للذين آمنوا ربنا إنك رؤوف رحيم ربنا لا تزغ قلوبنا بعد إذ هديتنا وهب لنا من لدنك رحمة إنك أنت الوهاب اللهم أصلح ولاة أمورنا وارزقهم البطانة الصالحة الناصحة التي تدلهم عل الخير وتعينهم عليه يا رب العالمين اللهم نج إخواننا المؤمنين المستضعفين في بورما، وسوريا، وفلسطين، وفي كل مكان اللهم اشدد وطأتك على كفار بورما الظالمين، وعلى جيوش بشار المجرمين ومن حالفهم من الروس والصين وإيران واليهود الظالمين، يا عزيز يا جبار اللهم اجعلها عليهم سنين كسني يوسف ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022

Ekstra Hati-Hati Dalam Menjadikan Seseorang Sebagai Rujukan Beragama

Dalam situasi seperti masa-masa sekarang ini, saatnya kita super hati-hati dalam menjadikan seseorang sebagai rujukan ilmu agama.Imam Adz-Dzahabi –rohimahulloh– mengatakan:“Mayoritas para imam salaf.. mereka memandang bahwa hati itu lemah dan syubhat itu menyambar-nyambar” (Siyaru A’lamin Nubala‘ 7/261).Ini di zaman mereka, apalagi di zaman kita sekarang ini.. oleh karena itu, harusnya kita selalu wasapada dan mengingat terus pesan-pesan para ulama Ahlussunnah dalam masalah ini:Sahabat Ibnu Abbas –rodhiallohu anhuma-:“Dahulu, jika kami mendengar orang mengatakan ‘Nabi shollallohu alaihi wasallam bersabda’; mata-mata kami langsung tertuju kepadanya, dan telinga-telinga kami juga langsung mendengarkannya dg seksama.Lalu ketika orang-orang menaiki tunggangan yg liar dan jinak (yakni: menceburkan diri dalam urusan yg tidak mereka kuasai dg baik); maka kami pun tidak mengambil dari orang-orang, kecuali ilmu yg kami ketahui (sebelumnya)” (Muqoddimah Shahih Muslim 1/13).Imam Ibnu Sirin –rohimahulloh-:“Dahulu para ulama salaf tidak menanyakan tentang sanad, lalu ketika terjadi fitnah, mereka pun mengatakan: ‘sebutkan kepada kami orang-orang (sumber ilmu) kalian!’, maka jika dilihat orang tersebut ahlussunnah; haditsnya diterima, dan jika dilihat orang tersebut ahli bid’ah; haditsnya tidak diterima”. (Muqoddimah Shahih Muslim 1/15).Beliau juga mengatakan dalam pesannya yang masyhur:“Sungguh ilmu ini adalah agama kalian, maka lihatlah darimana kalian mengambil agama kalian”. (Muqoddimah Shahih Muslim 1/14).Imam Ibrohim An-Nakho’i –rohimahulloh-:“Dahulu, jika mereka ingin mengambil (ilmu agama) dari seseorang; mereka (lebih dahulu) melihat kepada shalatnya, kepada penampilan lahirnya, dan kepada perhatiannya terhadap sunnah”. (Al-Jarhu Wat Ta’dil libni Abi Hatim 2/29).Semoga Allah memberikan taufiq kepada kita semua dalam menimba ilmu agama, dan semoga Allah meneguhkan kita di atas sunnah Nabi shollallohu alaihi wasallam, amin.***Penulis: Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny, Lc., MAArtikel Muslim.or.id🔍 Muslim Org, Alam Kubur Orang Kristen, Menjauhi Dosa Besar, Hukum Talak Menurut Islam, Pertanyaan Tentang Wakalah

Ekstra Hati-Hati Dalam Menjadikan Seseorang Sebagai Rujukan Beragama

Dalam situasi seperti masa-masa sekarang ini, saatnya kita super hati-hati dalam menjadikan seseorang sebagai rujukan ilmu agama.Imam Adz-Dzahabi –rohimahulloh– mengatakan:“Mayoritas para imam salaf.. mereka memandang bahwa hati itu lemah dan syubhat itu menyambar-nyambar” (Siyaru A’lamin Nubala‘ 7/261).Ini di zaman mereka, apalagi di zaman kita sekarang ini.. oleh karena itu, harusnya kita selalu wasapada dan mengingat terus pesan-pesan para ulama Ahlussunnah dalam masalah ini:Sahabat Ibnu Abbas –rodhiallohu anhuma-:“Dahulu, jika kami mendengar orang mengatakan ‘Nabi shollallohu alaihi wasallam bersabda’; mata-mata kami langsung tertuju kepadanya, dan telinga-telinga kami juga langsung mendengarkannya dg seksama.Lalu ketika orang-orang menaiki tunggangan yg liar dan jinak (yakni: menceburkan diri dalam urusan yg tidak mereka kuasai dg baik); maka kami pun tidak mengambil dari orang-orang, kecuali ilmu yg kami ketahui (sebelumnya)” (Muqoddimah Shahih Muslim 1/13).Imam Ibnu Sirin –rohimahulloh-:“Dahulu para ulama salaf tidak menanyakan tentang sanad, lalu ketika terjadi fitnah, mereka pun mengatakan: ‘sebutkan kepada kami orang-orang (sumber ilmu) kalian!’, maka jika dilihat orang tersebut ahlussunnah; haditsnya diterima, dan jika dilihat orang tersebut ahli bid’ah; haditsnya tidak diterima”. (Muqoddimah Shahih Muslim 1/15).Beliau juga mengatakan dalam pesannya yang masyhur:“Sungguh ilmu ini adalah agama kalian, maka lihatlah darimana kalian mengambil agama kalian”. (Muqoddimah Shahih Muslim 1/14).Imam Ibrohim An-Nakho’i –rohimahulloh-:“Dahulu, jika mereka ingin mengambil (ilmu agama) dari seseorang; mereka (lebih dahulu) melihat kepada shalatnya, kepada penampilan lahirnya, dan kepada perhatiannya terhadap sunnah”. (Al-Jarhu Wat Ta’dil libni Abi Hatim 2/29).Semoga Allah memberikan taufiq kepada kita semua dalam menimba ilmu agama, dan semoga Allah meneguhkan kita di atas sunnah Nabi shollallohu alaihi wasallam, amin.***Penulis: Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny, Lc., MAArtikel Muslim.or.id🔍 Muslim Org, Alam Kubur Orang Kristen, Menjauhi Dosa Besar, Hukum Talak Menurut Islam, Pertanyaan Tentang Wakalah
Dalam situasi seperti masa-masa sekarang ini, saatnya kita super hati-hati dalam menjadikan seseorang sebagai rujukan ilmu agama.Imam Adz-Dzahabi –rohimahulloh– mengatakan:“Mayoritas para imam salaf.. mereka memandang bahwa hati itu lemah dan syubhat itu menyambar-nyambar” (Siyaru A’lamin Nubala‘ 7/261).Ini di zaman mereka, apalagi di zaman kita sekarang ini.. oleh karena itu, harusnya kita selalu wasapada dan mengingat terus pesan-pesan para ulama Ahlussunnah dalam masalah ini:Sahabat Ibnu Abbas –rodhiallohu anhuma-:“Dahulu, jika kami mendengar orang mengatakan ‘Nabi shollallohu alaihi wasallam bersabda’; mata-mata kami langsung tertuju kepadanya, dan telinga-telinga kami juga langsung mendengarkannya dg seksama.Lalu ketika orang-orang menaiki tunggangan yg liar dan jinak (yakni: menceburkan diri dalam urusan yg tidak mereka kuasai dg baik); maka kami pun tidak mengambil dari orang-orang, kecuali ilmu yg kami ketahui (sebelumnya)” (Muqoddimah Shahih Muslim 1/13).Imam Ibnu Sirin –rohimahulloh-:“Dahulu para ulama salaf tidak menanyakan tentang sanad, lalu ketika terjadi fitnah, mereka pun mengatakan: ‘sebutkan kepada kami orang-orang (sumber ilmu) kalian!’, maka jika dilihat orang tersebut ahlussunnah; haditsnya diterima, dan jika dilihat orang tersebut ahli bid’ah; haditsnya tidak diterima”. (Muqoddimah Shahih Muslim 1/15).Beliau juga mengatakan dalam pesannya yang masyhur:“Sungguh ilmu ini adalah agama kalian, maka lihatlah darimana kalian mengambil agama kalian”. (Muqoddimah Shahih Muslim 1/14).Imam Ibrohim An-Nakho’i –rohimahulloh-:“Dahulu, jika mereka ingin mengambil (ilmu agama) dari seseorang; mereka (lebih dahulu) melihat kepada shalatnya, kepada penampilan lahirnya, dan kepada perhatiannya terhadap sunnah”. (Al-Jarhu Wat Ta’dil libni Abi Hatim 2/29).Semoga Allah memberikan taufiq kepada kita semua dalam menimba ilmu agama, dan semoga Allah meneguhkan kita di atas sunnah Nabi shollallohu alaihi wasallam, amin.***Penulis: Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny, Lc., MAArtikel Muslim.or.id🔍 Muslim Org, Alam Kubur Orang Kristen, Menjauhi Dosa Besar, Hukum Talak Menurut Islam, Pertanyaan Tentang Wakalah


Dalam situasi seperti masa-masa sekarang ini, saatnya kita super hati-hati dalam menjadikan seseorang sebagai rujukan ilmu agama.Imam Adz-Dzahabi –rohimahulloh– mengatakan:“Mayoritas para imam salaf.. mereka memandang bahwa hati itu lemah dan syubhat itu menyambar-nyambar” (Siyaru A’lamin Nubala‘ 7/261).Ini di zaman mereka, apalagi di zaman kita sekarang ini.. oleh karena itu, harusnya kita selalu wasapada dan mengingat terus pesan-pesan para ulama Ahlussunnah dalam masalah ini:Sahabat Ibnu Abbas –rodhiallohu anhuma-:“Dahulu, jika kami mendengar orang mengatakan ‘Nabi shollallohu alaihi wasallam bersabda’; mata-mata kami langsung tertuju kepadanya, dan telinga-telinga kami juga langsung mendengarkannya dg seksama.Lalu ketika orang-orang menaiki tunggangan yg liar dan jinak (yakni: menceburkan diri dalam urusan yg tidak mereka kuasai dg baik); maka kami pun tidak mengambil dari orang-orang, kecuali ilmu yg kami ketahui (sebelumnya)” (Muqoddimah Shahih Muslim 1/13).Imam Ibnu Sirin –rohimahulloh-:“Dahulu para ulama salaf tidak menanyakan tentang sanad, lalu ketika terjadi fitnah, mereka pun mengatakan: ‘sebutkan kepada kami orang-orang (sumber ilmu) kalian!’, maka jika dilihat orang tersebut ahlussunnah; haditsnya diterima, dan jika dilihat orang tersebut ahli bid’ah; haditsnya tidak diterima”. (Muqoddimah Shahih Muslim 1/15).Beliau juga mengatakan dalam pesannya yang masyhur:“Sungguh ilmu ini adalah agama kalian, maka lihatlah darimana kalian mengambil agama kalian”. (Muqoddimah Shahih Muslim 1/14).Imam Ibrohim An-Nakho’i –rohimahulloh-:“Dahulu, jika mereka ingin mengambil (ilmu agama) dari seseorang; mereka (lebih dahulu) melihat kepada shalatnya, kepada penampilan lahirnya, dan kepada perhatiannya terhadap sunnah”. (Al-Jarhu Wat Ta’dil libni Abi Hatim 2/29).Semoga Allah memberikan taufiq kepada kita semua dalam menimba ilmu agama, dan semoga Allah meneguhkan kita di atas sunnah Nabi shollallohu alaihi wasallam, amin.***Penulis: Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny, Lc., MAArtikel Muslim.or.id🔍 Muslim Org, Alam Kubur Orang Kristen, Menjauhi Dosa Besar, Hukum Talak Menurut Islam, Pertanyaan Tentang Wakalah

Tafsir Surat An-Najm 19-23: Ngalap Berkah Yang Salah (5)

2. Tafsiran kedua“Apakah kalian menganggap al-laata, al-uzza, dan manaah itu sesembahan-sesembahan perempuan dan kalian tetapkan sesembahan-sesembahan permpuan tersebut sebagai sekutu-sekutu Allah Ta’ala yang layak untuk disembah, padahal biasanya kalian merendahkan perempuan dan kalian malu jika memiliki anak perempuan”[1. Ringkasan Taisiirul Aziziil Hamiid, Syaikh Sulaiman bin Abdillah, hal. 178].Selanjutnya, Allah Ta’ala berfirman,تِلْكَ إِذًا قِسْمَةٌ ضِيزَىٰ(22) Yang demikian itu tentulah suatu pembagian yang tidak adil.Maksudnya adalah itu merupakan pembagian yang zalim dan batil. Bagaimana bisa kalian membagi untuk Rabb kalian dengan model pembagian yang kalau seandainya pembagian seperti itu diterapkan di antara makhluk saja, akan terhitung sebagai bentuk kecurangan, ketidakadilan, kebatilan dan kedunguan. Bahkan sebenarnya kalian pun juga tidak mau mendapatkan pembagian anak perempuan, tapi kalian tetapkan anak perempuan itu untuk Allah Ta’ala.إِنْ هِيَ إِلَّا أَسْمَاءٌ سَمَّيْتُمُوهَا أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمْ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ بِهَا مِنْ سُلْطَانٍ ۚ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَمَا تَهْوَى الْأَنْفُسُ ۖ وَلَقَدْ جَاءَهُمْ مِنْ رَبِّهِمُ الْهُدَىٰ(23) Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan bapak-bapak kamu mengadakannya; Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun untuk (menyembah)nya. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan, dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka dan sesungguhnya telah datang petunjuk kepada mereka dari Tuhan mereka.Ibnu Katsir rahimahullah dalam kitab tafsirnya mengatakan, “Kemudian Allah berfirman mengingkari mereka terkait dengan bid’ah yang mereka ada-adakan dan perbuat, berupa kedustaan, mengada-ada dan kekufuran, dalam bentuk menyembah patung dan berhala serta menyebut patung dan berhala tersebut sebagai “sesembahan-sesembahan”, (maka Allah pun mengingkari mereka)إِنْ هِيَ إِلَّا أَسْمَاءٌ سَمَّيْتُمُوهَا أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمْ“Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan bapak-bapak kamu mengadakannya” maksudnya (penamaan itu hanyalah) dari diri kalian sendiri,مَا أَنْزَلَ اللَّهُ بِهَا مِنْ سُلْطَانٍ“Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun untuk (menyembah)nya,” maksudnya: (tidak menurunkan) hujjah (yang benar sedikit pun),إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَمَا تَهْوَى الْأَنْفُسُ“Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan, dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka”maksudnya: mereka tidak memiliki landasan (yang benar) kecuali sebatas berbaik sangka kepada bapak-bapak (pendahulu) mereka yang meniti jalan kebatilan sebelum mereka. Seandainya tidak demikian, tentulah penamaan itu dikarenakan mereka mengikuti nafsu mengejar kepemimpinan (kekuasaan) dan mengagungkan bapak-bapak mereka terdahulu.وَلَقَدْ جَاءَهُمْ مِنْ رَبِّهِمُ الْهُدَىٰ“dan sesungguhnya telah datang petunjuk kepada mereka dari Tuhan mereka,” maksudnya: Allah telah mengutus kepada mereka para rasul yang membawa kebenaran yang terang dan hujjah yang tegas, namun kendati demikian, mereka tidaklah mengikuti petunjuk (Allah) yang sampai kepada mereka dan mereka pun tidak mau tunduk melaksanakannya.PenutupDari penjelasan di atas dapat disimpulkan beberapa faidah sebagai berikut: Kesalahan musyrikin yang disebutkan dalam Surat An-Najm: 19-23 ini ada tiga, yaitu: Mereka menyembah sesembahan-sesembahan selain Allah yang tidak bisa memberi manfaat dan tidak mampu menimpakan mudharat (bahaya). Mereka memberi nama dan sifat kepada tiga sesembahan tersebut dengan nama yang diambil dari nama Allah. Mereka anggap ketiga sesembahan tersebut sebagai anak-anak perempuan Allah. Di antara jurus kaum musyrikin dalam melegalkan kesyirikan mereka adalah memberi nama dan sifat kepada sesembahan-sesembahan mereka dengan nama dan sifat yang mengandung kesan indah dan mengandung kekhususan Ilahiyyah. Inti kesyirikan mereka adalah bahwa mereka meyakini akan memperoleh barakah dari al-laatta, al-uzza, dan manaah (tabarruk) dengan mengagungkan, berharap, dan mempersembahkan ritual ibadah kepada sesembahan-sesembahan tersebut.          Barangsiapa yang bertabarruk (ngalap berkah) kepada kuburan yang dikeramatkan, maka perbuatannya seperti perbuatan orang yang tabarruk kepada al-laatta, barangsiapa yang bertabarruk (ngalap berkah) kepada pohon yang dikeramatkan,  maka perbuatannya seperti perbuatan orang yang tabarruk kepada al-uzza, barangsiapa yang bertabarruk (ngalap berkah) kepada batu yang dikeramatkan (patung), maka perbuatannya seperti perbuatan orang yang tabarruk kepada manaah. [Selesai]***Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id🔍 Hadist Bersyukur, Kisah Malaikat Harut Marut, Arti Jihat, Menghayal Menurut Islam, Selamat Natal Dan Tahun Baru

Tafsir Surat An-Najm 19-23: Ngalap Berkah Yang Salah (5)

2. Tafsiran kedua“Apakah kalian menganggap al-laata, al-uzza, dan manaah itu sesembahan-sesembahan perempuan dan kalian tetapkan sesembahan-sesembahan permpuan tersebut sebagai sekutu-sekutu Allah Ta’ala yang layak untuk disembah, padahal biasanya kalian merendahkan perempuan dan kalian malu jika memiliki anak perempuan”[1. Ringkasan Taisiirul Aziziil Hamiid, Syaikh Sulaiman bin Abdillah, hal. 178].Selanjutnya, Allah Ta’ala berfirman,تِلْكَ إِذًا قِسْمَةٌ ضِيزَىٰ(22) Yang demikian itu tentulah suatu pembagian yang tidak adil.Maksudnya adalah itu merupakan pembagian yang zalim dan batil. Bagaimana bisa kalian membagi untuk Rabb kalian dengan model pembagian yang kalau seandainya pembagian seperti itu diterapkan di antara makhluk saja, akan terhitung sebagai bentuk kecurangan, ketidakadilan, kebatilan dan kedunguan. Bahkan sebenarnya kalian pun juga tidak mau mendapatkan pembagian anak perempuan, tapi kalian tetapkan anak perempuan itu untuk Allah Ta’ala.إِنْ هِيَ إِلَّا أَسْمَاءٌ سَمَّيْتُمُوهَا أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمْ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ بِهَا مِنْ سُلْطَانٍ ۚ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَمَا تَهْوَى الْأَنْفُسُ ۖ وَلَقَدْ جَاءَهُمْ مِنْ رَبِّهِمُ الْهُدَىٰ(23) Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan bapak-bapak kamu mengadakannya; Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun untuk (menyembah)nya. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan, dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka dan sesungguhnya telah datang petunjuk kepada mereka dari Tuhan mereka.Ibnu Katsir rahimahullah dalam kitab tafsirnya mengatakan, “Kemudian Allah berfirman mengingkari mereka terkait dengan bid’ah yang mereka ada-adakan dan perbuat, berupa kedustaan, mengada-ada dan kekufuran, dalam bentuk menyembah patung dan berhala serta menyebut patung dan berhala tersebut sebagai “sesembahan-sesembahan”, (maka Allah pun mengingkari mereka)إِنْ هِيَ إِلَّا أَسْمَاءٌ سَمَّيْتُمُوهَا أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمْ“Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan bapak-bapak kamu mengadakannya” maksudnya (penamaan itu hanyalah) dari diri kalian sendiri,مَا أَنْزَلَ اللَّهُ بِهَا مِنْ سُلْطَانٍ“Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun untuk (menyembah)nya,” maksudnya: (tidak menurunkan) hujjah (yang benar sedikit pun),إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَمَا تَهْوَى الْأَنْفُسُ“Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan, dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka”maksudnya: mereka tidak memiliki landasan (yang benar) kecuali sebatas berbaik sangka kepada bapak-bapak (pendahulu) mereka yang meniti jalan kebatilan sebelum mereka. Seandainya tidak demikian, tentulah penamaan itu dikarenakan mereka mengikuti nafsu mengejar kepemimpinan (kekuasaan) dan mengagungkan bapak-bapak mereka terdahulu.وَلَقَدْ جَاءَهُمْ مِنْ رَبِّهِمُ الْهُدَىٰ“dan sesungguhnya telah datang petunjuk kepada mereka dari Tuhan mereka,” maksudnya: Allah telah mengutus kepada mereka para rasul yang membawa kebenaran yang terang dan hujjah yang tegas, namun kendati demikian, mereka tidaklah mengikuti petunjuk (Allah) yang sampai kepada mereka dan mereka pun tidak mau tunduk melaksanakannya.PenutupDari penjelasan di atas dapat disimpulkan beberapa faidah sebagai berikut: Kesalahan musyrikin yang disebutkan dalam Surat An-Najm: 19-23 ini ada tiga, yaitu: Mereka menyembah sesembahan-sesembahan selain Allah yang tidak bisa memberi manfaat dan tidak mampu menimpakan mudharat (bahaya). Mereka memberi nama dan sifat kepada tiga sesembahan tersebut dengan nama yang diambil dari nama Allah. Mereka anggap ketiga sesembahan tersebut sebagai anak-anak perempuan Allah. Di antara jurus kaum musyrikin dalam melegalkan kesyirikan mereka adalah memberi nama dan sifat kepada sesembahan-sesembahan mereka dengan nama dan sifat yang mengandung kesan indah dan mengandung kekhususan Ilahiyyah. Inti kesyirikan mereka adalah bahwa mereka meyakini akan memperoleh barakah dari al-laatta, al-uzza, dan manaah (tabarruk) dengan mengagungkan, berharap, dan mempersembahkan ritual ibadah kepada sesembahan-sesembahan tersebut.          Barangsiapa yang bertabarruk (ngalap berkah) kepada kuburan yang dikeramatkan, maka perbuatannya seperti perbuatan orang yang tabarruk kepada al-laatta, barangsiapa yang bertabarruk (ngalap berkah) kepada pohon yang dikeramatkan,  maka perbuatannya seperti perbuatan orang yang tabarruk kepada al-uzza, barangsiapa yang bertabarruk (ngalap berkah) kepada batu yang dikeramatkan (patung), maka perbuatannya seperti perbuatan orang yang tabarruk kepada manaah. [Selesai]***Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id🔍 Hadist Bersyukur, Kisah Malaikat Harut Marut, Arti Jihat, Menghayal Menurut Islam, Selamat Natal Dan Tahun Baru
2. Tafsiran kedua“Apakah kalian menganggap al-laata, al-uzza, dan manaah itu sesembahan-sesembahan perempuan dan kalian tetapkan sesembahan-sesembahan permpuan tersebut sebagai sekutu-sekutu Allah Ta’ala yang layak untuk disembah, padahal biasanya kalian merendahkan perempuan dan kalian malu jika memiliki anak perempuan”[1. Ringkasan Taisiirul Aziziil Hamiid, Syaikh Sulaiman bin Abdillah, hal. 178].Selanjutnya, Allah Ta’ala berfirman,تِلْكَ إِذًا قِسْمَةٌ ضِيزَىٰ(22) Yang demikian itu tentulah suatu pembagian yang tidak adil.Maksudnya adalah itu merupakan pembagian yang zalim dan batil. Bagaimana bisa kalian membagi untuk Rabb kalian dengan model pembagian yang kalau seandainya pembagian seperti itu diterapkan di antara makhluk saja, akan terhitung sebagai bentuk kecurangan, ketidakadilan, kebatilan dan kedunguan. Bahkan sebenarnya kalian pun juga tidak mau mendapatkan pembagian anak perempuan, tapi kalian tetapkan anak perempuan itu untuk Allah Ta’ala.إِنْ هِيَ إِلَّا أَسْمَاءٌ سَمَّيْتُمُوهَا أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمْ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ بِهَا مِنْ سُلْطَانٍ ۚ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَمَا تَهْوَى الْأَنْفُسُ ۖ وَلَقَدْ جَاءَهُمْ مِنْ رَبِّهِمُ الْهُدَىٰ(23) Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan bapak-bapak kamu mengadakannya; Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun untuk (menyembah)nya. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan, dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka dan sesungguhnya telah datang petunjuk kepada mereka dari Tuhan mereka.Ibnu Katsir rahimahullah dalam kitab tafsirnya mengatakan, “Kemudian Allah berfirman mengingkari mereka terkait dengan bid’ah yang mereka ada-adakan dan perbuat, berupa kedustaan, mengada-ada dan kekufuran, dalam bentuk menyembah patung dan berhala serta menyebut patung dan berhala tersebut sebagai “sesembahan-sesembahan”, (maka Allah pun mengingkari mereka)إِنْ هِيَ إِلَّا أَسْمَاءٌ سَمَّيْتُمُوهَا أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمْ“Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan bapak-bapak kamu mengadakannya” maksudnya (penamaan itu hanyalah) dari diri kalian sendiri,مَا أَنْزَلَ اللَّهُ بِهَا مِنْ سُلْطَانٍ“Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun untuk (menyembah)nya,” maksudnya: (tidak menurunkan) hujjah (yang benar sedikit pun),إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَمَا تَهْوَى الْأَنْفُسُ“Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan, dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka”maksudnya: mereka tidak memiliki landasan (yang benar) kecuali sebatas berbaik sangka kepada bapak-bapak (pendahulu) mereka yang meniti jalan kebatilan sebelum mereka. Seandainya tidak demikian, tentulah penamaan itu dikarenakan mereka mengikuti nafsu mengejar kepemimpinan (kekuasaan) dan mengagungkan bapak-bapak mereka terdahulu.وَلَقَدْ جَاءَهُمْ مِنْ رَبِّهِمُ الْهُدَىٰ“dan sesungguhnya telah datang petunjuk kepada mereka dari Tuhan mereka,” maksudnya: Allah telah mengutus kepada mereka para rasul yang membawa kebenaran yang terang dan hujjah yang tegas, namun kendati demikian, mereka tidaklah mengikuti petunjuk (Allah) yang sampai kepada mereka dan mereka pun tidak mau tunduk melaksanakannya.PenutupDari penjelasan di atas dapat disimpulkan beberapa faidah sebagai berikut: Kesalahan musyrikin yang disebutkan dalam Surat An-Najm: 19-23 ini ada tiga, yaitu: Mereka menyembah sesembahan-sesembahan selain Allah yang tidak bisa memberi manfaat dan tidak mampu menimpakan mudharat (bahaya). Mereka memberi nama dan sifat kepada tiga sesembahan tersebut dengan nama yang diambil dari nama Allah. Mereka anggap ketiga sesembahan tersebut sebagai anak-anak perempuan Allah. Di antara jurus kaum musyrikin dalam melegalkan kesyirikan mereka adalah memberi nama dan sifat kepada sesembahan-sesembahan mereka dengan nama dan sifat yang mengandung kesan indah dan mengandung kekhususan Ilahiyyah. Inti kesyirikan mereka adalah bahwa mereka meyakini akan memperoleh barakah dari al-laatta, al-uzza, dan manaah (tabarruk) dengan mengagungkan, berharap, dan mempersembahkan ritual ibadah kepada sesembahan-sesembahan tersebut.          Barangsiapa yang bertabarruk (ngalap berkah) kepada kuburan yang dikeramatkan, maka perbuatannya seperti perbuatan orang yang tabarruk kepada al-laatta, barangsiapa yang bertabarruk (ngalap berkah) kepada pohon yang dikeramatkan,  maka perbuatannya seperti perbuatan orang yang tabarruk kepada al-uzza, barangsiapa yang bertabarruk (ngalap berkah) kepada batu yang dikeramatkan (patung), maka perbuatannya seperti perbuatan orang yang tabarruk kepada manaah. [Selesai]***Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id🔍 Hadist Bersyukur, Kisah Malaikat Harut Marut, Arti Jihat, Menghayal Menurut Islam, Selamat Natal Dan Tahun Baru


2. Tafsiran kedua“Apakah kalian menganggap al-laata, al-uzza, dan manaah itu sesembahan-sesembahan perempuan dan kalian tetapkan sesembahan-sesembahan permpuan tersebut sebagai sekutu-sekutu Allah Ta’ala yang layak untuk disembah, padahal biasanya kalian merendahkan perempuan dan kalian malu jika memiliki anak perempuan”[1. Ringkasan Taisiirul Aziziil Hamiid, Syaikh Sulaiman bin Abdillah, hal. 178].Selanjutnya, Allah Ta’ala berfirman,تِلْكَ إِذًا قِسْمَةٌ ضِيزَىٰ(22) Yang demikian itu tentulah suatu pembagian yang tidak adil.Maksudnya adalah itu merupakan pembagian yang zalim dan batil. Bagaimana bisa kalian membagi untuk Rabb kalian dengan model pembagian yang kalau seandainya pembagian seperti itu diterapkan di antara makhluk saja, akan terhitung sebagai bentuk kecurangan, ketidakadilan, kebatilan dan kedunguan. Bahkan sebenarnya kalian pun juga tidak mau mendapatkan pembagian anak perempuan, tapi kalian tetapkan anak perempuan itu untuk Allah Ta’ala.إِنْ هِيَ إِلَّا أَسْمَاءٌ سَمَّيْتُمُوهَا أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمْ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ بِهَا مِنْ سُلْطَانٍ ۚ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَمَا تَهْوَى الْأَنْفُسُ ۖ وَلَقَدْ جَاءَهُمْ مِنْ رَبِّهِمُ الْهُدَىٰ(23) Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan bapak-bapak kamu mengadakannya; Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun untuk (menyembah)nya. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan, dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka dan sesungguhnya telah datang petunjuk kepada mereka dari Tuhan mereka.Ibnu Katsir rahimahullah dalam kitab tafsirnya mengatakan, “Kemudian Allah berfirman mengingkari mereka terkait dengan bid’ah yang mereka ada-adakan dan perbuat, berupa kedustaan, mengada-ada dan kekufuran, dalam bentuk menyembah patung dan berhala serta menyebut patung dan berhala tersebut sebagai “sesembahan-sesembahan”, (maka Allah pun mengingkari mereka)إِنْ هِيَ إِلَّا أَسْمَاءٌ سَمَّيْتُمُوهَا أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمْ“Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan bapak-bapak kamu mengadakannya” maksudnya (penamaan itu hanyalah) dari diri kalian sendiri,مَا أَنْزَلَ اللَّهُ بِهَا مِنْ سُلْطَانٍ“Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun untuk (menyembah)nya,” maksudnya: (tidak menurunkan) hujjah (yang benar sedikit pun),إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَمَا تَهْوَى الْأَنْفُسُ“Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan, dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka”maksudnya: mereka tidak memiliki landasan (yang benar) kecuali sebatas berbaik sangka kepada bapak-bapak (pendahulu) mereka yang meniti jalan kebatilan sebelum mereka. Seandainya tidak demikian, tentulah penamaan itu dikarenakan mereka mengikuti nafsu mengejar kepemimpinan (kekuasaan) dan mengagungkan bapak-bapak mereka terdahulu.وَلَقَدْ جَاءَهُمْ مِنْ رَبِّهِمُ الْهُدَىٰ“dan sesungguhnya telah datang petunjuk kepada mereka dari Tuhan mereka,” maksudnya: Allah telah mengutus kepada mereka para rasul yang membawa kebenaran yang terang dan hujjah yang tegas, namun kendati demikian, mereka tidaklah mengikuti petunjuk (Allah) yang sampai kepada mereka dan mereka pun tidak mau tunduk melaksanakannya.PenutupDari penjelasan di atas dapat disimpulkan beberapa faidah sebagai berikut: Kesalahan musyrikin yang disebutkan dalam Surat An-Najm: 19-23 ini ada tiga, yaitu: Mereka menyembah sesembahan-sesembahan selain Allah yang tidak bisa memberi manfaat dan tidak mampu menimpakan mudharat (bahaya). Mereka memberi nama dan sifat kepada tiga sesembahan tersebut dengan nama yang diambil dari nama Allah. Mereka anggap ketiga sesembahan tersebut sebagai anak-anak perempuan Allah. Di antara jurus kaum musyrikin dalam melegalkan kesyirikan mereka adalah memberi nama dan sifat kepada sesembahan-sesembahan mereka dengan nama dan sifat yang mengandung kesan indah dan mengandung kekhususan Ilahiyyah. Inti kesyirikan mereka adalah bahwa mereka meyakini akan memperoleh barakah dari al-laatta, al-uzza, dan manaah (tabarruk) dengan mengagungkan, berharap, dan mempersembahkan ritual ibadah kepada sesembahan-sesembahan tersebut.          Barangsiapa yang bertabarruk (ngalap berkah) kepada kuburan yang dikeramatkan, maka perbuatannya seperti perbuatan orang yang tabarruk kepada al-laatta, barangsiapa yang bertabarruk (ngalap berkah) kepada pohon yang dikeramatkan,  maka perbuatannya seperti perbuatan orang yang tabarruk kepada al-uzza, barangsiapa yang bertabarruk (ngalap berkah) kepada batu yang dikeramatkan (patung), maka perbuatannya seperti perbuatan orang yang tabarruk kepada manaah. [Selesai]***Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id🔍 Hadist Bersyukur, Kisah Malaikat Harut Marut, Arti Jihat, Menghayal Menurut Islam, Selamat Natal Dan Tahun Baru

Tipu tipu

01MarTipu tipuMarch 1, 2017Belajar Islam, Khutbah Jumat, Metode Beragama, Nasihat dan Faidah “Pisau bermata dua” begitulah kira-kira ungkapan yang biasa dipakai untuk menggambarkan sesuatu yang bisa mendatangkan kebaikan maupun keburukan dalam satu waktu sekaligus. Nampaknya ungkapan tersebut, amat cocok untuk menggambarkan efek media massa, cetak maupun elektronik. Sebab bisa mendatangkan kebaikan sekaligus bisa pula menebarkan keburukan. Jika demikian realitanya, bagaimanakah seharusnya muslim bersikap? Apakah wajib mengucilkan diri dan menutup mata rapat-rapat dari berbagai media tadi? Ataukah sebaliknya menelan mentah-mentah segala apa yang disajikan tanpa memfilternya? Tentu saja, seorang muslim harus bersikap cerdas dan bijak dalam menghadapi segala sesuatu, termasuk fenomena gempuran dahsyat media massa. Cerdas dalam arti melandaskan sikapnya di atas pedoman agama yakni kitab dan sunnah, juga senantiasa mengambil arahan dan petunjuk dari para ulama. Adapun sikap bijak berarti berusaha memilah dan memilih mana yang bermanfaat dan mana yang sebaliknya, yakni yang berbahaya. Lalu mengambil yang bermanfaat serta meninggalkan yang berbahaya. Media membawa misi pemiliknya Media cetak maupun elektronik tentu bukanlah barang yang tak bertuan. Dia dimiliki oleh orang-orang yang memiliki ideologi dan keyakinan. Andaikan ideologi yang diusung baik, maka akan berdampak positif bagi misi media yang dimilikinya. Sebaliknya bila ideologinya buruk, maka tentu akan berdampak negatif bagi misi medianya. Allah ta’ala mengingatkan, “الْمُنَافِقُونَ وَالْمُنَافِقَاتُ بَعْضُهُم مِّن بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمُنكَرِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمَعْرُوفِ وَيَقْبِضُونَ أَيْدِيَهُمْ نَسُواْ اللّهَ فَنَسِيَهُمْ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ هُمُ الْفَاسِقُونَ“. Artinya: “Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan, sebagian dengan sebagian yang lain adalah sama, mereka menyuruh membuat yang munkar dan melarang berbuat yang ma´ruf dan mereka berlaku kikir. Mereka telah lupa kepada Allah, maka Allah melupakan mereka. Sesungguhnya orang-orang munafik itu adalah orang-orang yang fasiq.” QS. At-Taubah (9): 67. Tidak menelan mentah-mentah setiap berita Satu hal yang harus selalu kita ingat, bahwa media tidak lepas dari kepentingan. Entah itu kepentingan bisnis maupun kepentingan politik. Sehingga berita yang disajikan pun seringkali merupakan representasi atau perwakilan dari kepentingan tersebut. Maka, tidak selayaknya seorang muslim menjadi bulan-bulanan korban media. Sebab sejatinya mereka telah memiliki panduan yang jelas dalam menyikapi berita. Sebagaimana dijelaskan Allah ta’ala, “يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن جَاءكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَأٍ فَتَبَيَّنُوا أَن تُصِيبُوا قَوْماً بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ“. Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasiq membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” QS. Al Hujurat (49): 6. Apa yang kami sampaikan tadi bukanlah dalam rangka men-generalisir seluruh media massa. Namun sekedar memotivasi kaum muslimin agar bersikap bijak dan cerdas dalam menghadapi tayangan serta berita yang mereka konsumsi. Sebab alhamdulillah masih ada media yang relatif menjunjung tinggi objektifitas dan independensi, sekalipun harus beresiko ‘kurang lakunya’ media mereka. Sebab berani melawan arus isu mainstream yang menggurita. Bila telah jelas keburukan trackrecord suatu media, cetak atau elektronik, maka yang pantas bagi seorang muslim adalah menghapus chanel tersebut dari daftar stasiun yang tercantum di televisinya. Jangan mau bersikap sukarela manakala diracuni! PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022

Tipu tipu

01MarTipu tipuMarch 1, 2017Belajar Islam, Khutbah Jumat, Metode Beragama, Nasihat dan Faidah “Pisau bermata dua” begitulah kira-kira ungkapan yang biasa dipakai untuk menggambarkan sesuatu yang bisa mendatangkan kebaikan maupun keburukan dalam satu waktu sekaligus. Nampaknya ungkapan tersebut, amat cocok untuk menggambarkan efek media massa, cetak maupun elektronik. Sebab bisa mendatangkan kebaikan sekaligus bisa pula menebarkan keburukan. Jika demikian realitanya, bagaimanakah seharusnya muslim bersikap? Apakah wajib mengucilkan diri dan menutup mata rapat-rapat dari berbagai media tadi? Ataukah sebaliknya menelan mentah-mentah segala apa yang disajikan tanpa memfilternya? Tentu saja, seorang muslim harus bersikap cerdas dan bijak dalam menghadapi segala sesuatu, termasuk fenomena gempuran dahsyat media massa. Cerdas dalam arti melandaskan sikapnya di atas pedoman agama yakni kitab dan sunnah, juga senantiasa mengambil arahan dan petunjuk dari para ulama. Adapun sikap bijak berarti berusaha memilah dan memilih mana yang bermanfaat dan mana yang sebaliknya, yakni yang berbahaya. Lalu mengambil yang bermanfaat serta meninggalkan yang berbahaya. Media membawa misi pemiliknya Media cetak maupun elektronik tentu bukanlah barang yang tak bertuan. Dia dimiliki oleh orang-orang yang memiliki ideologi dan keyakinan. Andaikan ideologi yang diusung baik, maka akan berdampak positif bagi misi media yang dimilikinya. Sebaliknya bila ideologinya buruk, maka tentu akan berdampak negatif bagi misi medianya. Allah ta’ala mengingatkan, “الْمُنَافِقُونَ وَالْمُنَافِقَاتُ بَعْضُهُم مِّن بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمُنكَرِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمَعْرُوفِ وَيَقْبِضُونَ أَيْدِيَهُمْ نَسُواْ اللّهَ فَنَسِيَهُمْ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ هُمُ الْفَاسِقُونَ“. Artinya: “Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan, sebagian dengan sebagian yang lain adalah sama, mereka menyuruh membuat yang munkar dan melarang berbuat yang ma´ruf dan mereka berlaku kikir. Mereka telah lupa kepada Allah, maka Allah melupakan mereka. Sesungguhnya orang-orang munafik itu adalah orang-orang yang fasiq.” QS. At-Taubah (9): 67. Tidak menelan mentah-mentah setiap berita Satu hal yang harus selalu kita ingat, bahwa media tidak lepas dari kepentingan. Entah itu kepentingan bisnis maupun kepentingan politik. Sehingga berita yang disajikan pun seringkali merupakan representasi atau perwakilan dari kepentingan tersebut. Maka, tidak selayaknya seorang muslim menjadi bulan-bulanan korban media. Sebab sejatinya mereka telah memiliki panduan yang jelas dalam menyikapi berita. Sebagaimana dijelaskan Allah ta’ala, “يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن جَاءكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَأٍ فَتَبَيَّنُوا أَن تُصِيبُوا قَوْماً بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ“. Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasiq membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” QS. Al Hujurat (49): 6. Apa yang kami sampaikan tadi bukanlah dalam rangka men-generalisir seluruh media massa. Namun sekedar memotivasi kaum muslimin agar bersikap bijak dan cerdas dalam menghadapi tayangan serta berita yang mereka konsumsi. Sebab alhamdulillah masih ada media yang relatif menjunjung tinggi objektifitas dan independensi, sekalipun harus beresiko ‘kurang lakunya’ media mereka. Sebab berani melawan arus isu mainstream yang menggurita. Bila telah jelas keburukan trackrecord suatu media, cetak atau elektronik, maka yang pantas bagi seorang muslim adalah menghapus chanel tersebut dari daftar stasiun yang tercantum di televisinya. Jangan mau bersikap sukarela manakala diracuni! PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022
01MarTipu tipuMarch 1, 2017Belajar Islam, Khutbah Jumat, Metode Beragama, Nasihat dan Faidah “Pisau bermata dua” begitulah kira-kira ungkapan yang biasa dipakai untuk menggambarkan sesuatu yang bisa mendatangkan kebaikan maupun keburukan dalam satu waktu sekaligus. Nampaknya ungkapan tersebut, amat cocok untuk menggambarkan efek media massa, cetak maupun elektronik. Sebab bisa mendatangkan kebaikan sekaligus bisa pula menebarkan keburukan. Jika demikian realitanya, bagaimanakah seharusnya muslim bersikap? Apakah wajib mengucilkan diri dan menutup mata rapat-rapat dari berbagai media tadi? Ataukah sebaliknya menelan mentah-mentah segala apa yang disajikan tanpa memfilternya? Tentu saja, seorang muslim harus bersikap cerdas dan bijak dalam menghadapi segala sesuatu, termasuk fenomena gempuran dahsyat media massa. Cerdas dalam arti melandaskan sikapnya di atas pedoman agama yakni kitab dan sunnah, juga senantiasa mengambil arahan dan petunjuk dari para ulama. Adapun sikap bijak berarti berusaha memilah dan memilih mana yang bermanfaat dan mana yang sebaliknya, yakni yang berbahaya. Lalu mengambil yang bermanfaat serta meninggalkan yang berbahaya. Media membawa misi pemiliknya Media cetak maupun elektronik tentu bukanlah barang yang tak bertuan. Dia dimiliki oleh orang-orang yang memiliki ideologi dan keyakinan. Andaikan ideologi yang diusung baik, maka akan berdampak positif bagi misi media yang dimilikinya. Sebaliknya bila ideologinya buruk, maka tentu akan berdampak negatif bagi misi medianya. Allah ta’ala mengingatkan, “الْمُنَافِقُونَ وَالْمُنَافِقَاتُ بَعْضُهُم مِّن بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمُنكَرِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمَعْرُوفِ وَيَقْبِضُونَ أَيْدِيَهُمْ نَسُواْ اللّهَ فَنَسِيَهُمْ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ هُمُ الْفَاسِقُونَ“. Artinya: “Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan, sebagian dengan sebagian yang lain adalah sama, mereka menyuruh membuat yang munkar dan melarang berbuat yang ma´ruf dan mereka berlaku kikir. Mereka telah lupa kepada Allah, maka Allah melupakan mereka. Sesungguhnya orang-orang munafik itu adalah orang-orang yang fasiq.” QS. At-Taubah (9): 67. Tidak menelan mentah-mentah setiap berita Satu hal yang harus selalu kita ingat, bahwa media tidak lepas dari kepentingan. Entah itu kepentingan bisnis maupun kepentingan politik. Sehingga berita yang disajikan pun seringkali merupakan representasi atau perwakilan dari kepentingan tersebut. Maka, tidak selayaknya seorang muslim menjadi bulan-bulanan korban media. Sebab sejatinya mereka telah memiliki panduan yang jelas dalam menyikapi berita. Sebagaimana dijelaskan Allah ta’ala, “يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن جَاءكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَأٍ فَتَبَيَّنُوا أَن تُصِيبُوا قَوْماً بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ“. Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasiq membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” QS. Al Hujurat (49): 6. Apa yang kami sampaikan tadi bukanlah dalam rangka men-generalisir seluruh media massa. Namun sekedar memotivasi kaum muslimin agar bersikap bijak dan cerdas dalam menghadapi tayangan serta berita yang mereka konsumsi. Sebab alhamdulillah masih ada media yang relatif menjunjung tinggi objektifitas dan independensi, sekalipun harus beresiko ‘kurang lakunya’ media mereka. Sebab berani melawan arus isu mainstream yang menggurita. Bila telah jelas keburukan trackrecord suatu media, cetak atau elektronik, maka yang pantas bagi seorang muslim adalah menghapus chanel tersebut dari daftar stasiun yang tercantum di televisinya. Jangan mau bersikap sukarela manakala diracuni! PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022


01MarTipu tipuMarch 1, 2017Belajar Islam, Khutbah Jumat, Metode Beragama, Nasihat dan Faidah “Pisau bermata dua” begitulah kira-kira ungkapan yang biasa dipakai untuk menggambarkan sesuatu yang bisa mendatangkan kebaikan maupun keburukan dalam satu waktu sekaligus. Nampaknya ungkapan tersebut, amat cocok untuk menggambarkan efek media massa, cetak maupun elektronik. Sebab bisa mendatangkan kebaikan sekaligus bisa pula menebarkan keburukan. Jika demikian realitanya, bagaimanakah seharusnya muslim bersikap? Apakah wajib mengucilkan diri dan menutup mata rapat-rapat dari berbagai media tadi? Ataukah sebaliknya menelan mentah-mentah segala apa yang disajikan tanpa memfilternya? Tentu saja, seorang muslim harus bersikap cerdas dan bijak dalam menghadapi segala sesuatu, termasuk fenomena gempuran dahsyat media massa. Cerdas dalam arti melandaskan sikapnya di atas pedoman agama yakni kitab dan sunnah, juga senantiasa mengambil arahan dan petunjuk dari para ulama. Adapun sikap bijak berarti berusaha memilah dan memilih mana yang bermanfaat dan mana yang sebaliknya, yakni yang berbahaya. Lalu mengambil yang bermanfaat serta meninggalkan yang berbahaya. Media membawa misi pemiliknya Media cetak maupun elektronik tentu bukanlah barang yang tak bertuan. Dia dimiliki oleh orang-orang yang memiliki ideologi dan keyakinan. Andaikan ideologi yang diusung baik, maka akan berdampak positif bagi misi media yang dimilikinya. Sebaliknya bila ideologinya buruk, maka tentu akan berdampak negatif bagi misi medianya. Allah ta’ala mengingatkan, “الْمُنَافِقُونَ وَالْمُنَافِقَاتُ بَعْضُهُم مِّن بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمُنكَرِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمَعْرُوفِ وَيَقْبِضُونَ أَيْدِيَهُمْ نَسُواْ اللّهَ فَنَسِيَهُمْ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ هُمُ الْفَاسِقُونَ“. Artinya: “Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan, sebagian dengan sebagian yang lain adalah sama, mereka menyuruh membuat yang munkar dan melarang berbuat yang ma´ruf dan mereka berlaku kikir. Mereka telah lupa kepada Allah, maka Allah melupakan mereka. Sesungguhnya orang-orang munafik itu adalah orang-orang yang fasiq.” QS. At-Taubah (9): 67. Tidak menelan mentah-mentah setiap berita Satu hal yang harus selalu kita ingat, bahwa media tidak lepas dari kepentingan. Entah itu kepentingan bisnis maupun kepentingan politik. Sehingga berita yang disajikan pun seringkali merupakan representasi atau perwakilan dari kepentingan tersebut. Maka, tidak selayaknya seorang muslim menjadi bulan-bulanan korban media. Sebab sejatinya mereka telah memiliki panduan yang jelas dalam menyikapi berita. Sebagaimana dijelaskan Allah ta’ala, “يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن جَاءكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَأٍ فَتَبَيَّنُوا أَن تُصِيبُوا قَوْماً بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ“. Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasiq membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” QS. Al Hujurat (49): 6. Apa yang kami sampaikan tadi bukanlah dalam rangka men-generalisir seluruh media massa. Namun sekedar memotivasi kaum muslimin agar bersikap bijak dan cerdas dalam menghadapi tayangan serta berita yang mereka konsumsi. Sebab alhamdulillah masih ada media yang relatif menjunjung tinggi objektifitas dan independensi, sekalipun harus beresiko ‘kurang lakunya’ media mereka. Sebab berani melawan arus isu mainstream yang menggurita. Bila telah jelas keburukan trackrecord suatu media, cetak atau elektronik, maka yang pantas bagi seorang muslim adalah menghapus chanel tersebut dari daftar stasiun yang tercantum di televisinya. Jangan mau bersikap sukarela manakala diracuni! PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022
Prev     Next