Istiqamahlah, Jika Tidak, Mendekatilah Ideal

Dalam istiqamah kita butuh menggapai derajat yang tinggi. Kalau tidak bisa digapai, maka mendetilah yang ideal.   Istiqamah berarti kita menempuh jalan yang lurus, tidak condong ke kanan atau ke kiri. Istiqamah ini sangat kita butuhkan. Tidak sedikit ada yang berada di atas iman, malah ia condong pada kekafiran.   Seorang mukmin sudah sepatutnya terus meminta pada Allah keistiqamahan. Itulah yang kita pinta dalam shalat minimal 17 kali dalam sehari lewat doa, اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ (6) “Tunjukkanlah kepada kami jalan yang lurus.” (QS. Al-Fatihah: 6) Ini pertanda kita butuh untuk terus istiqamah. Namun tentu saja dalam istiqamah ada saja kekurangan. Makanya Allah perintahkan untuk mengiringi istiqamah itu dengan istighfar, فَاسْتَقِيمُوا إِلَيْهِ وَاسْتَغْفِرُوهُ “Maka tetaplah pada jalan yang lurus menuju kepadaNya dan mohonlah ampun kepadaNya.” (QS. Fushshilat: 6). Ini menunjukkan bahwa dalam menempuh jalan yang lurus dan istiqamah di atasnya pasti ada kekurangan. Dari Abu Dzar dan Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, اتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ “Bertakwalah kepada Allah di mana saja engkau berada dan ikutilah setiap kejelekan dengan kebaikan, niscaya kejelekan tersebut akan terhapus dengan kebaikan yang dilakukan. Lalu berakhlaklah pada manusia dengan akhlak yang mulia.” (HR. Tirmidzi, no. 1987; Ahmad, 5: 153. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan). Hadits ini juga menunjukkan bahwa dalam istiqamah pasti ada kekurangan. Kalau tidak bisa ideal, baiknya tetap berusaha mendekati yang ideal. Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, سَدِّدُوا وَقَارِبُوا “Istiqamahlah (dalam perkataan, amalan dan niat, pen.). Kalau tidak mampu ideal, dekatilah yang ideal.” (HR. Bukhari, no. 6467; Muslim, no. 2818) Yang bisa dicapai oleh manusia adalah beristiqamahlah (yang ideal), kalau tidak mampu, maka mendekatilah. Jadi ada dua keadaan seperti itu yang bisa kita raih. Moga terus istiqamah. — @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 2 Rajab 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsistiqamah

Istiqamahlah, Jika Tidak, Mendekatilah Ideal

Dalam istiqamah kita butuh menggapai derajat yang tinggi. Kalau tidak bisa digapai, maka mendetilah yang ideal.   Istiqamah berarti kita menempuh jalan yang lurus, tidak condong ke kanan atau ke kiri. Istiqamah ini sangat kita butuhkan. Tidak sedikit ada yang berada di atas iman, malah ia condong pada kekafiran.   Seorang mukmin sudah sepatutnya terus meminta pada Allah keistiqamahan. Itulah yang kita pinta dalam shalat minimal 17 kali dalam sehari lewat doa, اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ (6) “Tunjukkanlah kepada kami jalan yang lurus.” (QS. Al-Fatihah: 6) Ini pertanda kita butuh untuk terus istiqamah. Namun tentu saja dalam istiqamah ada saja kekurangan. Makanya Allah perintahkan untuk mengiringi istiqamah itu dengan istighfar, فَاسْتَقِيمُوا إِلَيْهِ وَاسْتَغْفِرُوهُ “Maka tetaplah pada jalan yang lurus menuju kepadaNya dan mohonlah ampun kepadaNya.” (QS. Fushshilat: 6). Ini menunjukkan bahwa dalam menempuh jalan yang lurus dan istiqamah di atasnya pasti ada kekurangan. Dari Abu Dzar dan Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, اتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ “Bertakwalah kepada Allah di mana saja engkau berada dan ikutilah setiap kejelekan dengan kebaikan, niscaya kejelekan tersebut akan terhapus dengan kebaikan yang dilakukan. Lalu berakhlaklah pada manusia dengan akhlak yang mulia.” (HR. Tirmidzi, no. 1987; Ahmad, 5: 153. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan). Hadits ini juga menunjukkan bahwa dalam istiqamah pasti ada kekurangan. Kalau tidak bisa ideal, baiknya tetap berusaha mendekati yang ideal. Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, سَدِّدُوا وَقَارِبُوا “Istiqamahlah (dalam perkataan, amalan dan niat, pen.). Kalau tidak mampu ideal, dekatilah yang ideal.” (HR. Bukhari, no. 6467; Muslim, no. 2818) Yang bisa dicapai oleh manusia adalah beristiqamahlah (yang ideal), kalau tidak mampu, maka mendekatilah. Jadi ada dua keadaan seperti itu yang bisa kita raih. Moga terus istiqamah. — @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 2 Rajab 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsistiqamah
Dalam istiqamah kita butuh menggapai derajat yang tinggi. Kalau tidak bisa digapai, maka mendetilah yang ideal.   Istiqamah berarti kita menempuh jalan yang lurus, tidak condong ke kanan atau ke kiri. Istiqamah ini sangat kita butuhkan. Tidak sedikit ada yang berada di atas iman, malah ia condong pada kekafiran.   Seorang mukmin sudah sepatutnya terus meminta pada Allah keistiqamahan. Itulah yang kita pinta dalam shalat minimal 17 kali dalam sehari lewat doa, اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ (6) “Tunjukkanlah kepada kami jalan yang lurus.” (QS. Al-Fatihah: 6) Ini pertanda kita butuh untuk terus istiqamah. Namun tentu saja dalam istiqamah ada saja kekurangan. Makanya Allah perintahkan untuk mengiringi istiqamah itu dengan istighfar, فَاسْتَقِيمُوا إِلَيْهِ وَاسْتَغْفِرُوهُ “Maka tetaplah pada jalan yang lurus menuju kepadaNya dan mohonlah ampun kepadaNya.” (QS. Fushshilat: 6). Ini menunjukkan bahwa dalam menempuh jalan yang lurus dan istiqamah di atasnya pasti ada kekurangan. Dari Abu Dzar dan Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, اتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ “Bertakwalah kepada Allah di mana saja engkau berada dan ikutilah setiap kejelekan dengan kebaikan, niscaya kejelekan tersebut akan terhapus dengan kebaikan yang dilakukan. Lalu berakhlaklah pada manusia dengan akhlak yang mulia.” (HR. Tirmidzi, no. 1987; Ahmad, 5: 153. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan). Hadits ini juga menunjukkan bahwa dalam istiqamah pasti ada kekurangan. Kalau tidak bisa ideal, baiknya tetap berusaha mendekati yang ideal. Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, سَدِّدُوا وَقَارِبُوا “Istiqamahlah (dalam perkataan, amalan dan niat, pen.). Kalau tidak mampu ideal, dekatilah yang ideal.” (HR. Bukhari, no. 6467; Muslim, no. 2818) Yang bisa dicapai oleh manusia adalah beristiqamahlah (yang ideal), kalau tidak mampu, maka mendekatilah. Jadi ada dua keadaan seperti itu yang bisa kita raih. Moga terus istiqamah. — @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 2 Rajab 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsistiqamah


Dalam istiqamah kita butuh menggapai derajat yang tinggi. Kalau tidak bisa digapai, maka mendetilah yang ideal.   Istiqamah berarti kita menempuh jalan yang lurus, tidak condong ke kanan atau ke kiri. Istiqamah ini sangat kita butuhkan. Tidak sedikit ada yang berada di atas iman, malah ia condong pada kekafiran.   Seorang mukmin sudah sepatutnya terus meminta pada Allah keistiqamahan. Itulah yang kita pinta dalam shalat minimal 17 kali dalam sehari lewat doa, اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ (6) “Tunjukkanlah kepada kami jalan yang lurus.” (QS. Al-Fatihah: 6) Ini pertanda kita butuh untuk terus istiqamah. Namun tentu saja dalam istiqamah ada saja kekurangan. Makanya Allah perintahkan untuk mengiringi istiqamah itu dengan istighfar, فَاسْتَقِيمُوا إِلَيْهِ وَاسْتَغْفِرُوهُ “Maka tetaplah pada jalan yang lurus menuju kepadaNya dan mohonlah ampun kepadaNya.” (QS. Fushshilat: 6). Ini menunjukkan bahwa dalam menempuh jalan yang lurus dan istiqamah di atasnya pasti ada kekurangan. Dari Abu Dzar dan Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, اتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ “Bertakwalah kepada Allah di mana saja engkau berada dan ikutilah setiap kejelekan dengan kebaikan, niscaya kejelekan tersebut akan terhapus dengan kebaikan yang dilakukan. Lalu berakhlaklah pada manusia dengan akhlak yang mulia.” (HR. Tirmidzi, no. 1987; Ahmad, 5: 153. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan). Hadits ini juga menunjukkan bahwa dalam istiqamah pasti ada kekurangan. Kalau tidak bisa ideal, baiknya tetap berusaha mendekati yang ideal. Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, سَدِّدُوا وَقَارِبُوا “Istiqamahlah (dalam perkataan, amalan dan niat, pen.). Kalau tidak mampu ideal, dekatilah yang ideal.” (HR. Bukhari, no. 6467; Muslim, no. 2818) Yang bisa dicapai oleh manusia adalah beristiqamahlah (yang ideal), kalau tidak mampu, maka mendekatilah. Jadi ada dua keadaan seperti itu yang bisa kita raih. Moga terus istiqamah. — @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 2 Rajab 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsistiqamah

Masih Layak, Mending Disumbangkan

Punya pakaian layak pakai, punya jilbab dan gamis muslimah atau mungkin koko pria masih layak pakai, jangan dibuang, jangan disimpan di lemari saja. Yuk beri pada yang masih membutuhkan untuk menutup aurat.   Dibutuhkan untuk dua agenda besar: 1. 19 April 2016 di Pesantren Darush Sholihin Gunungkidul, ada program tebar 3000 jilbab dan gamis muslimah saat peresmian Pesantren Darush Sholihin oleh Bupati Gunungkidul. 2. 2-8 Juni 2016 di tiga pulau (Ambon, Haruku, dan Seram) tebar 5000 jilbab saat safari dakwah bersama Ustadz M. Abduh Tuasikal. Walau lewat jilbab bekas, tetap itu amat berharga sebagai jalan hidayah bagi saudara kita yang baru belajar berjilbab apalagi mereka mendapatkan kesulitan biaya untuk memilikinya.   CARA IKUT PROGRAM TEBAR JILBAB 1. Bisa mengirim paket jilbab gamis layak pakai ke: Alamat: Pesantren Darush Sholihin Binaan: Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal (Rumaysho.Com) Dusun Warak, Desa Girisekar, Panggang, Gunungkidul, 55872, HP: 085200171222(Mas Slamet) Disarankan mengirim via Tiki, JNE atau POS Indonesia dan akan sampai ke tempat tujuan sesuai alamat di atas. Jangan lupa sertakan nomor telepon pengirim, biar bisa dikonfirmasi jika sudah sampai. * Paket yang dikirim bisa berupa jilbab, gamis muslimah, koko pria yang layak pakai. 2. Atau jika ingin berdonasi Silakan transfer ke rekening: 1. BCA: 8610123881 (kode bank: 014). 2. BNI Syariah: 0194475165 (kode bank: 009). 3. BSM: 3107011155 (kode bank: 451). 4. BRI: 0029-01-101480-50-9 (kode bank: 002). (Semua a.n:Muhammad Abduh Tuasikal). Konfirmasi via SMS ke 082313950500 atau WA ke 0811267791 dengan format: Dana sosial Jilbab# Nama Donatur # Alamat # Bank Tujuan Transfer # Tgl Transfer # Besar Donasi. Contoh: Dana sosial Jilbab # Muslim # Godean Yogyakarta # BSM # 31 Maret 2016# 1.000.000. Info DarushSholihin.Com | Channel Telegram @DarushSholihin | Rumaysho[dot]Com Info donasi: 0811 26 7791 (CALL/WA), 0823 139 50500 (SMS) Laporan donasi: http://darushsholihin.com/tebar-jilbab — SHARE YUK PADA YANG KAUM MUSLIMIN YANG BERBAIK HATI. Tagsjilbab tebar jilbab

Masih Layak, Mending Disumbangkan

Punya pakaian layak pakai, punya jilbab dan gamis muslimah atau mungkin koko pria masih layak pakai, jangan dibuang, jangan disimpan di lemari saja. Yuk beri pada yang masih membutuhkan untuk menutup aurat.   Dibutuhkan untuk dua agenda besar: 1. 19 April 2016 di Pesantren Darush Sholihin Gunungkidul, ada program tebar 3000 jilbab dan gamis muslimah saat peresmian Pesantren Darush Sholihin oleh Bupati Gunungkidul. 2. 2-8 Juni 2016 di tiga pulau (Ambon, Haruku, dan Seram) tebar 5000 jilbab saat safari dakwah bersama Ustadz M. Abduh Tuasikal. Walau lewat jilbab bekas, tetap itu amat berharga sebagai jalan hidayah bagi saudara kita yang baru belajar berjilbab apalagi mereka mendapatkan kesulitan biaya untuk memilikinya.   CARA IKUT PROGRAM TEBAR JILBAB 1. Bisa mengirim paket jilbab gamis layak pakai ke: Alamat: Pesantren Darush Sholihin Binaan: Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal (Rumaysho.Com) Dusun Warak, Desa Girisekar, Panggang, Gunungkidul, 55872, HP: 085200171222(Mas Slamet) Disarankan mengirim via Tiki, JNE atau POS Indonesia dan akan sampai ke tempat tujuan sesuai alamat di atas. Jangan lupa sertakan nomor telepon pengirim, biar bisa dikonfirmasi jika sudah sampai. * Paket yang dikirim bisa berupa jilbab, gamis muslimah, koko pria yang layak pakai. 2. Atau jika ingin berdonasi Silakan transfer ke rekening: 1. BCA: 8610123881 (kode bank: 014). 2. BNI Syariah: 0194475165 (kode bank: 009). 3. BSM: 3107011155 (kode bank: 451). 4. BRI: 0029-01-101480-50-9 (kode bank: 002). (Semua a.n:Muhammad Abduh Tuasikal). Konfirmasi via SMS ke 082313950500 atau WA ke 0811267791 dengan format: Dana sosial Jilbab# Nama Donatur # Alamat # Bank Tujuan Transfer # Tgl Transfer # Besar Donasi. Contoh: Dana sosial Jilbab # Muslim # Godean Yogyakarta # BSM # 31 Maret 2016# 1.000.000. Info DarushSholihin.Com | Channel Telegram @DarushSholihin | Rumaysho[dot]Com Info donasi: 0811 26 7791 (CALL/WA), 0823 139 50500 (SMS) Laporan donasi: http://darushsholihin.com/tebar-jilbab — SHARE YUK PADA YANG KAUM MUSLIMIN YANG BERBAIK HATI. Tagsjilbab tebar jilbab
Punya pakaian layak pakai, punya jilbab dan gamis muslimah atau mungkin koko pria masih layak pakai, jangan dibuang, jangan disimpan di lemari saja. Yuk beri pada yang masih membutuhkan untuk menutup aurat.   Dibutuhkan untuk dua agenda besar: 1. 19 April 2016 di Pesantren Darush Sholihin Gunungkidul, ada program tebar 3000 jilbab dan gamis muslimah saat peresmian Pesantren Darush Sholihin oleh Bupati Gunungkidul. 2. 2-8 Juni 2016 di tiga pulau (Ambon, Haruku, dan Seram) tebar 5000 jilbab saat safari dakwah bersama Ustadz M. Abduh Tuasikal. Walau lewat jilbab bekas, tetap itu amat berharga sebagai jalan hidayah bagi saudara kita yang baru belajar berjilbab apalagi mereka mendapatkan kesulitan biaya untuk memilikinya.   CARA IKUT PROGRAM TEBAR JILBAB 1. Bisa mengirim paket jilbab gamis layak pakai ke: Alamat: Pesantren Darush Sholihin Binaan: Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal (Rumaysho.Com) Dusun Warak, Desa Girisekar, Panggang, Gunungkidul, 55872, HP: 085200171222(Mas Slamet) Disarankan mengirim via Tiki, JNE atau POS Indonesia dan akan sampai ke tempat tujuan sesuai alamat di atas. Jangan lupa sertakan nomor telepon pengirim, biar bisa dikonfirmasi jika sudah sampai. * Paket yang dikirim bisa berupa jilbab, gamis muslimah, koko pria yang layak pakai. 2. Atau jika ingin berdonasi Silakan transfer ke rekening: 1. BCA: 8610123881 (kode bank: 014). 2. BNI Syariah: 0194475165 (kode bank: 009). 3. BSM: 3107011155 (kode bank: 451). 4. BRI: 0029-01-101480-50-9 (kode bank: 002). (Semua a.n:Muhammad Abduh Tuasikal). Konfirmasi via SMS ke 082313950500 atau WA ke 0811267791 dengan format: Dana sosial Jilbab# Nama Donatur # Alamat # Bank Tujuan Transfer # Tgl Transfer # Besar Donasi. Contoh: Dana sosial Jilbab # Muslim # Godean Yogyakarta # BSM # 31 Maret 2016# 1.000.000. Info DarushSholihin.Com | Channel Telegram @DarushSholihin | Rumaysho[dot]Com Info donasi: 0811 26 7791 (CALL/WA), 0823 139 50500 (SMS) Laporan donasi: http://darushsholihin.com/tebar-jilbab — SHARE YUK PADA YANG KAUM MUSLIMIN YANG BERBAIK HATI. Tagsjilbab tebar jilbab


Punya pakaian layak pakai, punya jilbab dan gamis muslimah atau mungkin koko pria masih layak pakai, jangan dibuang, jangan disimpan di lemari saja. Yuk beri pada yang masih membutuhkan untuk menutup aurat.   Dibutuhkan untuk dua agenda besar: 1. 19 April 2016 di Pesantren Darush Sholihin Gunungkidul, ada program tebar 3000 jilbab dan gamis muslimah saat peresmian Pesantren Darush Sholihin oleh Bupati Gunungkidul. 2. 2-8 Juni 2016 di tiga pulau (Ambon, Haruku, dan Seram) tebar 5000 jilbab saat safari dakwah bersama Ustadz M. Abduh Tuasikal. Walau lewat jilbab bekas, tetap itu amat berharga sebagai jalan hidayah bagi saudara kita yang baru belajar berjilbab apalagi mereka mendapatkan kesulitan biaya untuk memilikinya.   CARA IKUT PROGRAM TEBAR JILBAB 1. Bisa mengirim paket jilbab gamis layak pakai ke: Alamat: Pesantren Darush Sholihin Binaan: Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal (Rumaysho.Com) Dusun Warak, Desa Girisekar, Panggang, Gunungkidul, 55872, HP: 085200171222(Mas Slamet) Disarankan mengirim via Tiki, JNE atau POS Indonesia dan akan sampai ke tempat tujuan sesuai alamat di atas. Jangan lupa sertakan nomor telepon pengirim, biar bisa dikonfirmasi jika sudah sampai. * Paket yang dikirim bisa berupa jilbab, gamis muslimah, koko pria yang layak pakai. 2. Atau jika ingin berdonasi Silakan transfer ke rekening: 1. BCA: 8610123881 (kode bank: 014). 2. BNI Syariah: 0194475165 (kode bank: 009). 3. BSM: 3107011155 (kode bank: 451). 4. BRI: 0029-01-101480-50-9 (kode bank: 002). (Semua a.n:Muhammad Abduh Tuasikal). Konfirmasi via SMS ke 082313950500 atau WA ke 0811267791 dengan format: Dana sosial Jilbab# Nama Donatur # Alamat # Bank Tujuan Transfer # Tgl Transfer # Besar Donasi. Contoh: Dana sosial Jilbab # Muslim # Godean Yogyakarta # BSM # 31 Maret 2016# 1.000.000. Info DarushSholihin.Com | Channel Telegram @DarushSholihin | Rumaysho[dot]Com Info donasi: 0811 26 7791 (CALL/WA), 0823 139 50500 (SMS) Laporan donasi: http://darushsholihin.com/tebar-jilbab — SHARE YUK PADA YANG KAUM MUSLIMIN YANG BERBAIK HATI. Tagsjilbab tebar jilbab

MENUTUP CELAH-CELAH KESYIRIKAN

Khotbah Jum’at di Masjid Nabawi, 23 Jumadal Akhir 1437 H.Oleh : Syekh Husen Bin Abdul Aziz Al As-SyekhKhotbah PertamaPrinsip dasar yang membuat seorang muslim bahagia dan eksistensinya membuatnya selamat, aman dan sentosa  adalah penghambaan (ubudiyah) secara totalitas kepada Tuhan semesta alam (Rabbul Alamin).  Atas dasar itulah manusia diciptakan dan diwujudkan.Firman Allah :وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِيَعۡبُدُونِ [ الذاريات / 56]“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku”Artinya mereka harus memurnikan ibadah (kepada Allah semata) sebagaimana pernyataan Ibnu Abas –radhiyallahu anhuma-, bahwa Tauhid (peng-esa-an ) Allah merupakan sarana segala kesuksesan; di mana pengangungan dan pemurnian ibadah kepadaNya adalah penyebab keberuntungan, bahkan faktor utama kebahagiaan dan keselamatan dunia akhirat. Landasan terkuat bagi keamanan dan kesentosaan adalah penegakan tauhid kepada Allah yang Maha Esa, Tuhan satu-satunya, Yang menjadi tumpuan harapan (bagi semua makhluk). Maka hendaklah seorang hamba memurnikan tujuan ibadah kepada Allah semata  , memurnikan kecintaan dan pengagungan kepada Allah semata, memurnikan perasaan takut, kekhawatiran, pengharapan dan permohonan kepada Allah semata, memurnikan aspek lahir dan batinnya dalam menentukan arah dan kehendak hanya kepada Allah semata.Firman Allah –subhanahu wa ta’ala- kepada NabiNya –shallallahu alaihi wa sallam- :Firman Allah  :قُلۡ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحۡيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ، لَا شَرِيكَ لَهُۥۖ وَبِذَٰلِكَ أُمِرۡتُ وَأَنَا۠ أَوَّلُ ٱلۡمُسۡلِمِينَ [ الأنعام /  162- 163]“Katakanlah: sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)”. Qs Al-An’am :162Firman Allah :فَإِلَٰهُكُمۡ إِلَٰهٞ وَٰحِدٞ فَلَهُۥٓ أَسۡلِمُواْۗ  [ الحج/34]“Maka Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa, karena itu berserah dirilah kamu kepada-Nya.” Qs Al-Haj : 34Firman Allah :وَأَنِيبُوٓاْ إِلَىٰ رَبِّكُمۡ وَأَسۡلِمُواْ لَهُۥ [ الزمر/ 54]“Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya.” Qs Al-Zumar : 54Saudara sesama muslim !Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam-  sangat antusias memantapkan pondasi yang agung ini dalam pengarahan-pengarahan, seruan-seruan dan rekam jejak beliau, bertolak dari keinginan dan kecintaan beliau akan keselamatan umat dan para pengikut beliau. Itulah sebabnya, maka beliau –shallallahu alaihi wa sallam- membuntu segenap jalan dan mencegah segala cara yang dapat mencemari kemurnian tauhid atau berpengaruh terhadap kesempurnaan tauhid, atau melukai esensi tauhid.Di antara pengarahan Nabi –shallallahu alaihi wa sallam-  terkait dengan upaya mewujudkan  maksud luhur dan tujuan agung ini ialah pesan beliau yang merupakan salah satu pondasi agama ini dan merupakan prinsip yang amat kuat untuk membentengi substansinya, yakni tauhid dan keimanan.Ibnu Abas –radhiyallahu anhuma- berkata, “Aku pernah berada di belakang Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- pada suatu hari, beliau berpesan : “ Wahai bocah, sungguh aku ajarkan kepadamu beberapa kalimat; Jagalah Allah, niscaya Allah menjagamu. Jagalah Allah, niscaya kamu dapatkan-Nya di hadapanmu. Jika kamu meminta, mintalah kepada Allah dan jika kamu memohon pertolongan mintalah kepada Allah. Ketahuilah bahwa seandainya umat manusia seluruhnya berkumpul (bersepakat) untuk memberikan manfaat kepadamu, tidaklah mereka dapat memberikan manfaat kepadamu sedikitpun kecuali karena Allah telah menetapkannya untukmu. (Demikian pula) seandainya seluruh umat manusia bersepakat menjatuhkan suatu bahaya atasmu, tidaklah mereka dapat membehayakanmu sedikitmun kecuali karena Allah telah menetapkannya atasmu. Pena telah diangkat dan lembaran telah kering”. HR Tirmizi, dikatakannya hadis Hasan Shahih.Benar, ini merupakan suatu pesan yang di dalamnya terkandung penanaman pengagungan kepada Allah dalam jiwa manusia, dan bahwa Allah yang di tanganNya terletak segala kunci berbagai urusan, di tanganNya pula terletak penyelesaian persoalan-persoalan yang rumit, di sisi-Nya keberadaan perbendaharaan alam semesta dan kunci segala sesuatu, hanya Dia-lah yang dapat memenuhi segala kebutuhan dan memperkenankan permohonan hamba-hambaNya. Semua membutuhkan Allah, sangat memerlukan kedermawanan-Nya, pemberian-Nya dan kemurahan-Nya. Firman Allah :أَمَّن يُجِيبُ ٱلۡمُضۡطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكۡشِفُ ٱلسُّوٓءَ [ النمل / 62]“Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan”.Qs An-Naml :62Firman Allah :وَإِن يَمۡسَسۡكَ ٱللَّهُ بِضُرّٖ فَلَا كَاشِفَ لَهُۥٓ إِلَّا هُوَۖ وَإِن يُرِدۡكَ بِخَيۡرٖ فَلَا رَآدَّ لِفَضۡلِهِۦۚ يُصِيبُ بِهِۦ مَن يَشَآءُ مِنۡ عِبَادِهِۦۚ وَهُوَ ٱلۡغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ [ يونس / 107]“ Jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak kurnia-Nya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayan.” Qs Yunus : 107Suatu pesan agung disampaikan oleh Pemimpin para nabi dan rasul –shallallahu alaihi wa sallam- yang ditujukan kepada setip muslim agar menjadikan Allah –subhanahu wa ta’ala- semata sebagai tujuan satu-satunya dalam memenuhi hajat hidup, menghilangkan keprihatinan dan kesulitannya. Firman Allah :إِيَّاكَ نَعۡبُدُ وَإِيَّاكَ نَسۡتَعِينُ [ الفاتحة / 5]“Hanya kepada Engkaulah kami menyembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan.” Qs Al-Fatihah :5Suatu pesan agung yang memperingatkan seorang muslim agar tidak terjatuh dalam hal-hal yang menyebabkan kehancuran secara permanen dan siksaan yang kekal abadi, suatu pesan yang mewanti-wanti manusia agar tidak berdoa dan meminta kepada selain Allah untuk menghilangkan krisis dan bencana, tidak pula mengarahkan permohonannya kepada selain Allah dalam mengangkat penderitaan atau  mendatangkan kesejahteraan. Firman Allah :إِنَّهُۥ مَن يُشۡرِكۡ بِٱللَّهِ فَقَدۡ حَرَّمَ ٱللَّهُ عَلَيۡهِ ٱلۡجَنَّةَ وَمَأۡوَىٰهُ ٱلنَّارُۖ [ المائدة / 72]“Sesungguhnya barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan surga baginya, dan tempatnya ialah neraka.”Qs Al-Maidah : 72Sabda Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- :” مَنْ لَقِيَ اللَّهَ لا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ لَقِيهُ يُشْرِكُ بِهِ دَخَلَ النَّارَ ” أخرجه مسلم“Barangsiapa yang berjumpa dengan Allah tanpa pernah menyekutukan sesuatu denganNya, maka ia akan masuk surga. Dan barangsiapa yang berjumpa dengan Allah sementara dirinya menyekutukan sesuatu denganNya, maka ia masuk neraka”. HR Muslim. Menurut hadis riwayat Ubnu Mas’ud –radhiyallahu anhu- : ” مَنْ مَاتَ وَهُوَ يَدْعُو مِنْ دُوْنِ اللهِ نِدًّا دَخَلَ النَّارَ ” أخرجه البخاري“Barangsiapa meninggal dunia sedangkan dia memohon kepada selain Allah sebagai tandingan, masuklah ia ke neraka”. HR Bukhari.Suatu pesan agung yang me-resume untuk Anda –wahai muslim- bimbingan Al-Qur’an serta maksud, arah dan tujuan Al-Qur’an terkait dengan perintah, larangan, berita-berita dan kisah-kisah di dalamnya bahwa orang yang menggantungkan segala sesuatu kepada Allah, menitipkan segala kebutuhan kepadaNya dan menyerahkan segenap urusan kepadaNya semata, niscaya Allah akan mencukupikan dirinya dalam segala urusan, memudahkan segala kesulitannya dan mendekatkan baginya segala yang jauh.Firman Allah :إِنَّ ٱللَّهَ يُدَٰفِعُ عَنِ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْۗ   [ الحج/38]“Sesungguhnya Allah membela orang-orang yang beriman.” Qs Al-Haj : 38Firman Allah :وَمَن يَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِ فَهُوَ حَسۡبُهُۥٓۚ [ الطلاق /3]“Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” Qs At-Thalaq : 3Bahwa sesungguhnya orang yang mengandalkan selain Allah dan merasa puas dengannya, Allah akan serahkan urusannya kepadanya sehingga ia menajadi rendah diri, lemah dan hina-dina serta terjatuh dalam keburukan dan berbagai bencana.عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي لَيْلَى، عَنْ عِيسَى، أَخِيهِ قَالَ: دَخَلْتُ عَلَى عَبْدِ اللهِ بْنِ عُكَيْمٍ أَعُودُهُ وَبِهِ حُمْرَةٌ، فَقُلْنَا: أَلاَ تُعَلِّقُ شَيْئًا؟ قَالَ: الْمَوْتُ أَقْرَبُ مِنْ ذَلِكَ، قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ تَعَلَّقَ شَيْئًا وُكِلَ إِلَيْهِDiriwayatkan dari Muhammad bin Abdurrahman bin Abu Lalila, dari Isa, saudaranya berkata: Aku pernah menemui ‘Abdullah bin ‘Ukaim untuk membesuknya, sehubungan dengan penyakit Humrah (bercak-bercak merah pada kulit) yang diidapnya.  Aku pun berkata: Tidakkah sewajarnya engkau menggantungkan (hati) kepada sesuatu (jimat)? ‘Abdullah bin ‘Ukaim menjawab: “Kematian lebih baik bagiku dari pada perbuatan itu. Sebab Nabi -sallallahu alaihi wa sallam-  bersabda: Siapapun yang menggantungkan (hati) pada sesuatu benda, maka urusannya akan diserahkan sepenuhnya kepadanya’.HR Ahmad dan TirmiziRasulullah –shallallahu alaihi wa sallam – bersabda :” مَنْ نَزَلَ  بِهِ حَاجَةٌ فَأَنْزَلَهَا بِالنَّاسِ، كَانَ قَمِنًا مِنْ أَنْ لَا تَسْهُلَ حَاجَتُهُ، وَمَنْ أَنْزَلَهَا بِاللهِ، أتَاهُ  اللهُ بِرِزْقٍ عَاجِلٍ، أَوْ بِمَوْتٍ آجِلٍ ” أخرجه أحمد“Barangsiapa yang mempunyai suatu keperluan, lalu menyerahkannya kepada manusia, maka dapat dipastikan tidak lancar keperluannya itu. Dan barangsiapa yang menyerahkan keperluannya itu kepada Allah, maka Allah akan mendatangkan kepadanya rezeki dengan segera atau menunda ajal kematiannya.”HR AhmadMaka peganglah –wahai saudara sesama muslim- pesan agung itu secara konsisten agar Anda tidak dipermainkan oleh hawa nafsu dan tidak terombang-ambing oleh pemikiran liar yang tidak dapat menghindar dari bahayanya kecuali dengan mengikuti arahan pesan cemerlang dari Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- yang telah berhasil mencetak para sahabat sehingga mereka mencapai klimaks kesempurnaan tauhid berkat mengaplikasikan pesan agung beliau, sebagaimana yang dituturkan oleh Auf bin Malik Al-Asyja’i, ia bercerita : “كُنَّا عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تِسْعَةً أَوْ ثَمَانِيَةً أَوْ سَبْعَةً فَقَالَ صلى الله عليه وسلم : لاَ تَسْأَلُوْا النَّاسَ شَيْئًا” فَلَقَدْ رَأَيْتُ بَعْضَ أُولَئِكَ النَّفَرِ يَسْقُطُ سَوْطُ أَحَدِهِمْ فَمَا يَسْأَلُ أَحَدًا يُنَاوِلُهُ إِيَّاهُ ” أخرجه مسلم“Kami di sisi Rasulullallah -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, kami sembilan atau delapan atau tujuh orang.  Maka Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam-, bersabda : “Janganlah kalian meminta apapun kepada manusia”. Sungguh aku telah melihat salah seorang di antara mereka ketika cemetinya terjatuh maka ia tidak meminta seorangpun untuk mengambilkannya dan memberikan kepadanya.” HR Muslim.Dari Tsauban, berkata : Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda : “مَنْ يَكْفُلُ لِي أَنْ لَا يَسْأَلَ النَّاسَ شَيْئًا وَأَتَكَفَّلُ لَهُ بِالْجَنَّةِ فَقُلتُ أنَا فَكَانَ لَا يَسْألُ أحَدًا شَيْئًا ” أخرجه أبو داود والنسائي“Adakah orang yang bisa menjamin untukku bahwa ia tidak meminta-minta suatu apapun kepada sehingga aku menjamin baginya surga. Aku (Tsauban) menjawab, ‘Aku Ya Rasulallah’. Sejak itulah ia (Tsauban) tidak pernah meminta sesuatu kepada siapapun.”. HR Abu Daud dan Nasa’i.Seorang keponakan Al-Akhnaf bin Qais mengeluhkan sakit gigi yang diderita, maka Akhnaf menasihatinya seraya berkata : “Aku kehilangan pengelihatanku semenjak 40 tahun yang lalu, namun begitu aku tidak pernah mengadu kepada siapapun.”Wahai saudara sesama muslim! Mengadulah kepada Allah –subhanahu wa ta’ala- ketika Anda dalam kondisi krisis dan kesulitan. Bergantunglah kepada-Nya semata, bukan kepada lain-Nya ketika Anda tertimpa malapetaka, kegentingan dan kemelut.Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :إذَا أصَابَ أحَدَكم هَمٌّ أوْ لَأوَاءٌ فَلْيَقلْ: اللّه، اللّه رَبّي لَا أشْرِكُ بِهِ شَيْئًا ”   أخرجه الطبرانى فى الأوسط “Jika salah seorang di antara kalian tertimpa kesedihan atau gangguan kesehatan, maka hendaklah ia menyebut, “Allah – Allah adalah Tuhanku, aku tidak menyekutukan-Nya dengan sesua-tu.” HR Tabrani dalam Al-Ausath.Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- ketika dalam kesulitan selalu berdoa :” لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ الْعَظِيمُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ رَبُّ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَرَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيْمِ” متفق عليه“Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah Yang Maha Agung. Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah Tuhan langit dan bumi dan Tuhan Arasy yang agung”. Muttafaq Alaih.Para Ulama telah bersepakat bahwa orang yang meminta pertolongan, bantuan dan perlindungan kepada sesama makhluk, yang telah meninggal, atau yang sedang raib atau bahkan yang masih hidup untuk mengatasi suatu persoalan yang sebenarnya hanya Allah sendiri yang mampu mengatasinya, maka sungguh ia telah berbuat kesyirikan yang menghanguskan amalnya.Wahai kaum muslimin!Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- benar-benar antusias menanamkan bibit-bibit ketauhidan dalam jiwa. Beliau bersungguh-sungguh mengajak memperhatikan pondasi ini. Beliau berupaya dengan serius melindungi esensi tauhid secara sempurna, jangan sampai ada kekurangan dalam perkataan, perbuatan, maksud dan kehendak terkait dengan tauhid ini.Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- pernah ditanya tentang seseorang yang berjumpa dengan sesamanya untuk memberi salam, apakah lalu ia membungkuk di hadapannya? Beliau menjawab, “Tidak boleh”. HR Ahmad dan Tirmizi. Status hadis ini adalah hasan.Semua itu tak lain hanyalah untuk mencegah sikap ketundukan apapun kecuali ketuntukan kepada Allah yang maha agung.Rasulullah yang penyayang telah memberi pengarahan kepada perkara yang bisa menolak godaan syaitan serta tipu daya dan makarnya. Anas meriwayatkan bahwasanya ada seseorang berkata :يَا مُحَمَّدُ، يَا سَيِّدَنَا، وَابْنَ سَيِّدِنَا وَابْنَ خَيْرِنَا“Wahai Muhammad, wahai pemimpin kami, putra pemimpin kami, putra lelaki terbaik kami”.Maka Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- berkata :أَيُّهَا النَّاسُ، عَلَيْكُمْ بِتَقْوَاكُمْ وَلاَ يَسْتَهْوِيَنَّكُمُ الشًّيْطَانُ، أَنَا مُحَمَّدٌ عَبْدُاللهِ وَرَسُوْلُهُ، مَا أُحِبُّ أَنْ تَرْفَعُوْنِي فَوْقَ مَنْزِلَتِي الَّتِي أَنْزَلَنِيَ اللهُ“Wahai manusia, hendaknya kalian tetap di atas ketakwaan kalian, jangan sampai syaitan menggelincirkan kalian. Aku adalah Muhammad, seorang hamba Allah dan rasulNya, aku tidak suka kalian mengangkatku lebih dari kedudukanku yang telah Allah tetapkan untukku” (HR An-Nasaai dan Ibnu Hibban)Dalam shahih Al-Bukhari, beliau –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :لاَ تُطْرُوْنِي كَمَا أَطْرَتِ النَّصَارَى عِيْسَى بْنَ مَرْيَمَ، فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدٌ، فَقُوْلُوا عَبْدُاللهِ وَرَسُوْلُهُ“Janganlah kalian berlebih-lebihan kepadaku sebagaimana kaum nashoro berlebihan kepada ‘Isa bin Maryam. Karena sesungguhnya aku hanyalah seorang hamba, maka katakanlah : (Muhammad itu) hamba Allah dan rasulNya.” HR Al-BukhariSaudara-saudaraku seiman!Diantara contoh semangat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam untuk menekankan tauhid dan besarnya perhatian beliau untuk memantapkan tauid, maka beliau menutup segala sarana yang bisa digunakan syaitan untuk menjerumuskan para hamba ke dalam lumpur kesyirikan dan khurofat jahiliyah. Karenanya telah datang pengarahan-pengarahan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam dalam rangka mengingatkan untuk tidak mengarahkan hati kepada para penghuni kubur, dan tidak bersandar kepada mereka atau merendahkan diri di hadapan pintu-pintu masuk kuburan mereka, atau beristighotsah kepada mereka tatkala dalam kondisi-kondisi sulit dan genting serta dalam kesulitan, yang hal ini semuanya selama-lamanya tidak pantas ditujukan kecuali hanya kepada pencipta bumi dan langit !!.Dari Abu Huroiroh radhiallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :اللَّهُمَّ لاَ تَجْعَلْ قَبْرِي وَثَنًا يُعْبَدُ، اِشْتَدَّ غَضَبُ اللهِ عَلَى قَوْمٍ اتَّخَذُوْا قُبُوْرَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ“Ya Allah, janganlah engkau menjadikan kuburanku adalah berhara yang disembah. Sungguh Allah sangat marah terhadap kaum yang menjadikan kuburan-kuburan nabi-nabi mereka sebagai mesjid-mesjid.” HR Ahmad dan Malik dalam Muwattha’ dengan periwayatan ‘Atha bin Yasar.Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- memberi perhatian yang sangat besar terhadap penjagaan tauhid, karenanya beliau memperingatkan akan bahaya sarana-sarana setan dan penyesatan syaitan yang memfitnah manusia dengan jimat-jimat dan kalung-kalung yang digantungkan (diikatkan) ke badan atau harta benda dengan alasan untuk menolak keburukan dan menghilangkan kemudorotan serta mendatangkan kebaikan.  Dalam Musnad Al-Imam Ahmad, Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda :مَنْ تَعَلَّقَ تَمِيْمَةً فَقَدْ أَشْرَكَ“Barangsiapa yang menggantungkan jimat maka sungguh ia telah berbuat kesyirikan”.  HR Al-HakimSebagaimana Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- memperingatkan agar tidak terpedaya oleh para dukun, pera peramal dan para pendusta. Beliau berkata ;مَنْ أَتَى كَاهِنًا أَوْ عَرَّافًا فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُوْلُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ“Barangsiapa yang mendatangi dukun atau para normal lalu membenarkan apa yang diucapkannya maka sungguh ia telah kefir kepada apa yang diturunkan kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.” HR Al-Arba’ah (Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasaai, dan Ibnu Maajah) dan Al-Haakim).Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- ditanya tentang An-Nusyroh, maka beliau menjawab :هِيَ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ“Itu termasuk perbuatan syaitan.” HR Ahmad, Abu Dawud, dan Al-BaihaqiAn-Nusyroh adalah berupaya menghilangkan sihir dengan menggunakan sihir yang serupa.Kaum muslimin sekalian!Tatkala kita berada pada kondisi yang mengajak jiwa untuk melakukan perkara yang tidak terpuji atau perkara yang tidak halal, yaitu tatkala kondisi berobat, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengingatkan umatnya dengan perkara tauhid dan wajibnya memberi perhatian yang besar kepada tauhid, sehingga tetap bergantung kepada Allah dan bersandar kepadaNya, serta bertawakkal kepadaNya dan tidak mengarahkan hati kecuali hanya kepadaNya. Maka beliau bersabda –sebagaiamana diriwayatkan oleh Aisyah- , bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam jika menjenguk orang sakit beliau berkata ;أَذْهِبِ الْبَأْسَ رَبَّ النَّاسِ، اِشْفِ أَنْتَ الشَّافِي لاَ شِفَاءَ إِلاَّ شِفَاؤُكَ شِفَاءٌ لاَ يُغَادِرُ سَقَمًا“Hilangkanlah penyakit wahai Tuhannya manusia, sembuhkanlah sesungguhnya Engkau adalah Maha Penyembuh, tidak ada kesembuhan kecuali dari kesembuhanMu, kesembuhan yang tidak menyisakan satu penyakitpun.”  HR Al-Bukhari dan Muslim.Nabi berkata kepada Utsman bin Abil ‘Aash Ats-Tsaqofi tatkala ia menyampaikan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam akan sakit yang beliau rasakan di tubuh beliau sejak beliau masuk Islam. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada beliau:“Letakanlah tanganmu di lokasi bagian tubuhmu yang sakit, lalu ucapkanlah “Bismillah” tiga kali, lalu ucapkanlah sebanyak tujuh kali:أَعُوْذُ بِاللهِ وَقُدْرَتِهِ مِنْ شَرِّ مَا أَجِدُ وَأُحَاذِرُ“Aku berlindung kepada Allah dan kekuasaanNya dari keburukan yang aku dapati dan keburukan yang aku khawatirkan.”  HR Muslim.Kaum muslimin sekalian!Pada bentuk-bentuk semangat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam menjaga kemurnian tauhid dan perhatian besar beliau maka datanglah pengarahan beliau yang mulia sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Abbas bahwasanya ada seseorang berkata kepada Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- : مَا شَاءَ اللهُ وَشِئْتَ“Atas kehenda Allah dan kehendakmu”Maka Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- berkata kepadanya :أَجَعَلْتَنِي للهِ عِدْلاً، بَلْ مَا شَاءَ اللهُ وَحْدَهُ“Apakah engkau menjadikan aku sama seperti Allah?, akan tetapi (katakanlah) “Atas kehendak Allah semata.”  HR Ahmad dan Ibnu Maajah.Dalam hadits riwayat Hudzaifah, Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :لاَ تَقُوْلُوا مَا شَاءَ اللهُ وَشَاءَ فُلاَنٌ، وَلَكِنْ قُوْلُوْا : مَا شَاءَ اللهُ ثُمَّ شَاءِ فُلاَنٌ“Janganlah kalian berkata, “Atas kehendak Allah dan kehendak si fulan”, akan tetapi katakanlah, “Atas kehendak Allah, kemudian kehendak si fulan.”  HR Ahmad, Abu Dawud, dan Ibnu Maajah.Di antara sisi semangat Nabi kita Muhammad -shallallahu ‘alaihi wasallam dalam membimbing umatnya agar waspada dari segala yang menyelisihi hakikat tauhid dan membatalkan pokok tauhid atau kewajibannya, maka beliau menyampaikan kepada umatnya pidato beliau yang agung sebagaimana yang diriwayatkan oleh Umar dari beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bahwasanya beliau bersabda :أَلآ إِنَّ اللهَ يَنْهَاكُمْ أَنْ تَحْلِفُوا بَآبَائِكُمْ، فَمَنْ كَانَ حَالِفًا فَلْيَحْلِفْ بِاللهِ وَإِلاَّ فَلْيَصْمُتْ“Ketahuilah bahwasanya Allah melarang kalian untuk bersumpah dengan nenek moyang kalian, maka barangsiapa yang bersumpah hendaknya ia bersumpah dengan nama Allah, jika tidak maka hendaknya ia diam”Umar berkata :فَوَاللهِ مَا حَلَفْتُ بِهَا مُنْذُ سَمِعْتُ النَّبِيَّ ذَاكِرًا وَلاَ آثِرًا“Demi Allah, aku tidak pernah bersumpah dengan nenek moyang semenjak aku mendengar Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam, apakah aku bersumpah dari diri sendiri atau hanya menceritakan sumpah orang lain.” HR Al-Bukhari dan Muslim.Dalam hadits Ibnu Umar bahwasanya Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda ;مَنْ حَلَفَ بِغَيْرِ اللهِ فَقَدْ كَفَرَ أَوْ أَشْرَكَ“Barangsiapa yang bersumpah dengan selain nama Allah maka sungguh ia telah kafir atau telah syirik.” HR Ahmad, Abu Dawud, dan At-Tirmidzi.Kaum muslimin sekalian!Jadikanlah tauhid (pengesaan Allah) selalu di hadapan kalian, dan jalanilah kehidupan ini untuk beribadah kepada sang Pencipta dan mengagungkanNya, serta bergantung kepadaNya dalam segala kondisi. Ikatlah jiwa dan hati kepada Penciptanya. Gunakanlah anggota tubuh untuk perkara-perkara yang mendatangkan keridoan Penciptanya, maka akan terwujudkan bagi kalian kebaikan dan kalian akan memperoleh ganjaran yang besar.إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ ، أُولَئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ خَالِدِينَ فِيهَا جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ [ الأحقاف / 13-14]“Sesungguhnya orang-orang yang berkata Rabb kami adalah Allah lalu mereka beristiqomah, maka tidak ada ketakutan atas mereka dan mereka tidaklah bersedih. Mereka itulah penghuni surga, kekal di dalamnya, sebagai ganjaran atas apa yang mereka amalkan. QS Al-AHqoof : 13-14Semoga Allah memberi keberkahan kepadaku dan kepada anda dalam al-Qur’an dan sunnah Nabi Muhammad pemimpin keturunan Adnan.=============== Khotbah KeduaDalam rangka penjagaan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam akan kemurnian tauhid dan pembentengan beliau yang agung terhadap sisi tauhid dari segala perkara yang hanya merupakan prasangka-prasangka yang batil dan dugaan-dugaan yang hanya merupakan khayalan semata, maka dalam hadits ‘Imron beliau bersabda ;لَيْسَ مِنَّا مَنْ تَطَيَّرَ أَوْ تُطُيِّرَ لَهُ أَوْ تَكَهَّنَ أَوْ تُكُهِّنَ لَهُ أَوْ سَحَرَ أَوْ سُحِرَ لَهُ“Bukan dari kami orang yang melakukan tathoyyur (yaitu mengkaitkan nasib sial dengan sesuatu yang dilihat atau didengar-pen) atau dilakukan tathoyyur untuknya, atau melakukan praktik perdukunan atau dilakukan praktik perdukunan untuknya, atau melakukan sihir atau dilakukan praktik sihir baginya.” HR Al-Bazzaar dan sanadnya hasan.Dalam hadits Mu’awiyah bin Al-Hakam As-Sulami, ia berkata :يَا رَسُوْلَ اللهِ أُمُوْرٌ كُنَّا نَصْنَعُهَا فِي الْجَاهِلِيَّةِ، كُنَّا نَأْتِي الْكُهَّانَ“Wahai Rasulullah, ada perkara-perkara yang dahulu kami melakukannya di masa jahiliyah. Kami dahulu mendatangi para dukun.  فَلاَ تَأْتُوا الْكُهَّانَ  “Maka janganlah kalian mendatangi para dukun”   Aku berkata,  كُنَّا نَتَطَيَّر  “Kami dahulu bertathoyyur (merasa mendapatkan nasib sial) !”  Beliau berkata,  ذَاكَ شَيْءٌ يَجِدُهُ أَحَدُكُمْ فِي نَفْسِهِ فَلاَ يَصُدَنَّكُمْ  “Itu adalah Sesuatu yang salah seorang dari kalian mendapatinya dalam dirinya maka jangan sampai menghalangi kalian (dari kegiatan kalian)” (HR Muslim)Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Dawud, dan At-Tirmidzi dari hadits Ibnu Mas’ud,  Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda :الطِّيَرَةُ شِرْكٌ“Tathoyyur (meyakini mendapat kesialan) adalah suatu kesyirikan”Dan yang terakhir, Yakinlah bahwasanya seluruh perkara adalah di tangan Allah -subhanahu wa ta’ala-, dan hanya terjadi karena takdirNya dan ketentuanNya. Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda :لاَ عَدْوَى وَلاَ طِيَرَةَ وَلاَ هَامَّةَ وَلاَ صَفَرَ“Tidak ada penyakit menular (yang menular dengan sendirinya), tidak ada tathoyyur (nasib sial), tidak ada haammah (burung hantu yang memberi kemudaratan tanpa seizin Allah) dan tidak ada (kesialan) di bulan Shafar.”  HR Al-Bukhari dan Muslim.Maka tempuhlah jalan Al-Qur’an dan jadikanlah kehidupan kalian selalu berada pada sunnah Nabi Muhammad -shallallahu ‘alaihi wasallam- pemimpin keturunan Adnan.======  Doa  ===== 

MENUTUP CELAH-CELAH KESYIRIKAN

Khotbah Jum’at di Masjid Nabawi, 23 Jumadal Akhir 1437 H.Oleh : Syekh Husen Bin Abdul Aziz Al As-SyekhKhotbah PertamaPrinsip dasar yang membuat seorang muslim bahagia dan eksistensinya membuatnya selamat, aman dan sentosa  adalah penghambaan (ubudiyah) secara totalitas kepada Tuhan semesta alam (Rabbul Alamin).  Atas dasar itulah manusia diciptakan dan diwujudkan.Firman Allah :وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِيَعۡبُدُونِ [ الذاريات / 56]“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku”Artinya mereka harus memurnikan ibadah (kepada Allah semata) sebagaimana pernyataan Ibnu Abas –radhiyallahu anhuma-, bahwa Tauhid (peng-esa-an ) Allah merupakan sarana segala kesuksesan; di mana pengangungan dan pemurnian ibadah kepadaNya adalah penyebab keberuntungan, bahkan faktor utama kebahagiaan dan keselamatan dunia akhirat. Landasan terkuat bagi keamanan dan kesentosaan adalah penegakan tauhid kepada Allah yang Maha Esa, Tuhan satu-satunya, Yang menjadi tumpuan harapan (bagi semua makhluk). Maka hendaklah seorang hamba memurnikan tujuan ibadah kepada Allah semata  , memurnikan kecintaan dan pengagungan kepada Allah semata, memurnikan perasaan takut, kekhawatiran, pengharapan dan permohonan kepada Allah semata, memurnikan aspek lahir dan batinnya dalam menentukan arah dan kehendak hanya kepada Allah semata.Firman Allah –subhanahu wa ta’ala- kepada NabiNya –shallallahu alaihi wa sallam- :Firman Allah  :قُلۡ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحۡيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ، لَا شَرِيكَ لَهُۥۖ وَبِذَٰلِكَ أُمِرۡتُ وَأَنَا۠ أَوَّلُ ٱلۡمُسۡلِمِينَ [ الأنعام /  162- 163]“Katakanlah: sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)”. Qs Al-An’am :162Firman Allah :فَإِلَٰهُكُمۡ إِلَٰهٞ وَٰحِدٞ فَلَهُۥٓ أَسۡلِمُواْۗ  [ الحج/34]“Maka Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa, karena itu berserah dirilah kamu kepada-Nya.” Qs Al-Haj : 34Firman Allah :وَأَنِيبُوٓاْ إِلَىٰ رَبِّكُمۡ وَأَسۡلِمُواْ لَهُۥ [ الزمر/ 54]“Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya.” Qs Al-Zumar : 54Saudara sesama muslim !Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam-  sangat antusias memantapkan pondasi yang agung ini dalam pengarahan-pengarahan, seruan-seruan dan rekam jejak beliau, bertolak dari keinginan dan kecintaan beliau akan keselamatan umat dan para pengikut beliau. Itulah sebabnya, maka beliau –shallallahu alaihi wa sallam- membuntu segenap jalan dan mencegah segala cara yang dapat mencemari kemurnian tauhid atau berpengaruh terhadap kesempurnaan tauhid, atau melukai esensi tauhid.Di antara pengarahan Nabi –shallallahu alaihi wa sallam-  terkait dengan upaya mewujudkan  maksud luhur dan tujuan agung ini ialah pesan beliau yang merupakan salah satu pondasi agama ini dan merupakan prinsip yang amat kuat untuk membentengi substansinya, yakni tauhid dan keimanan.Ibnu Abas –radhiyallahu anhuma- berkata, “Aku pernah berada di belakang Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- pada suatu hari, beliau berpesan : “ Wahai bocah, sungguh aku ajarkan kepadamu beberapa kalimat; Jagalah Allah, niscaya Allah menjagamu. Jagalah Allah, niscaya kamu dapatkan-Nya di hadapanmu. Jika kamu meminta, mintalah kepada Allah dan jika kamu memohon pertolongan mintalah kepada Allah. Ketahuilah bahwa seandainya umat manusia seluruhnya berkumpul (bersepakat) untuk memberikan manfaat kepadamu, tidaklah mereka dapat memberikan manfaat kepadamu sedikitpun kecuali karena Allah telah menetapkannya untukmu. (Demikian pula) seandainya seluruh umat manusia bersepakat menjatuhkan suatu bahaya atasmu, tidaklah mereka dapat membehayakanmu sedikitmun kecuali karena Allah telah menetapkannya atasmu. Pena telah diangkat dan lembaran telah kering”. HR Tirmizi, dikatakannya hadis Hasan Shahih.Benar, ini merupakan suatu pesan yang di dalamnya terkandung penanaman pengagungan kepada Allah dalam jiwa manusia, dan bahwa Allah yang di tanganNya terletak segala kunci berbagai urusan, di tanganNya pula terletak penyelesaian persoalan-persoalan yang rumit, di sisi-Nya keberadaan perbendaharaan alam semesta dan kunci segala sesuatu, hanya Dia-lah yang dapat memenuhi segala kebutuhan dan memperkenankan permohonan hamba-hambaNya. Semua membutuhkan Allah, sangat memerlukan kedermawanan-Nya, pemberian-Nya dan kemurahan-Nya. Firman Allah :أَمَّن يُجِيبُ ٱلۡمُضۡطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكۡشِفُ ٱلسُّوٓءَ [ النمل / 62]“Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan”.Qs An-Naml :62Firman Allah :وَإِن يَمۡسَسۡكَ ٱللَّهُ بِضُرّٖ فَلَا كَاشِفَ لَهُۥٓ إِلَّا هُوَۖ وَإِن يُرِدۡكَ بِخَيۡرٖ فَلَا رَآدَّ لِفَضۡلِهِۦۚ يُصِيبُ بِهِۦ مَن يَشَآءُ مِنۡ عِبَادِهِۦۚ وَهُوَ ٱلۡغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ [ يونس / 107]“ Jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak kurnia-Nya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayan.” Qs Yunus : 107Suatu pesan agung disampaikan oleh Pemimpin para nabi dan rasul –shallallahu alaihi wa sallam- yang ditujukan kepada setip muslim agar menjadikan Allah –subhanahu wa ta’ala- semata sebagai tujuan satu-satunya dalam memenuhi hajat hidup, menghilangkan keprihatinan dan kesulitannya. Firman Allah :إِيَّاكَ نَعۡبُدُ وَإِيَّاكَ نَسۡتَعِينُ [ الفاتحة / 5]“Hanya kepada Engkaulah kami menyembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan.” Qs Al-Fatihah :5Suatu pesan agung yang memperingatkan seorang muslim agar tidak terjatuh dalam hal-hal yang menyebabkan kehancuran secara permanen dan siksaan yang kekal abadi, suatu pesan yang mewanti-wanti manusia agar tidak berdoa dan meminta kepada selain Allah untuk menghilangkan krisis dan bencana, tidak pula mengarahkan permohonannya kepada selain Allah dalam mengangkat penderitaan atau  mendatangkan kesejahteraan. Firman Allah :إِنَّهُۥ مَن يُشۡرِكۡ بِٱللَّهِ فَقَدۡ حَرَّمَ ٱللَّهُ عَلَيۡهِ ٱلۡجَنَّةَ وَمَأۡوَىٰهُ ٱلنَّارُۖ [ المائدة / 72]“Sesungguhnya barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan surga baginya, dan tempatnya ialah neraka.”Qs Al-Maidah : 72Sabda Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- :” مَنْ لَقِيَ اللَّهَ لا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ لَقِيهُ يُشْرِكُ بِهِ دَخَلَ النَّارَ ” أخرجه مسلم“Barangsiapa yang berjumpa dengan Allah tanpa pernah menyekutukan sesuatu denganNya, maka ia akan masuk surga. Dan barangsiapa yang berjumpa dengan Allah sementara dirinya menyekutukan sesuatu denganNya, maka ia masuk neraka”. HR Muslim. Menurut hadis riwayat Ubnu Mas’ud –radhiyallahu anhu- : ” مَنْ مَاتَ وَهُوَ يَدْعُو مِنْ دُوْنِ اللهِ نِدًّا دَخَلَ النَّارَ ” أخرجه البخاري“Barangsiapa meninggal dunia sedangkan dia memohon kepada selain Allah sebagai tandingan, masuklah ia ke neraka”. HR Bukhari.Suatu pesan agung yang me-resume untuk Anda –wahai muslim- bimbingan Al-Qur’an serta maksud, arah dan tujuan Al-Qur’an terkait dengan perintah, larangan, berita-berita dan kisah-kisah di dalamnya bahwa orang yang menggantungkan segala sesuatu kepada Allah, menitipkan segala kebutuhan kepadaNya dan menyerahkan segenap urusan kepadaNya semata, niscaya Allah akan mencukupikan dirinya dalam segala urusan, memudahkan segala kesulitannya dan mendekatkan baginya segala yang jauh.Firman Allah :إِنَّ ٱللَّهَ يُدَٰفِعُ عَنِ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْۗ   [ الحج/38]“Sesungguhnya Allah membela orang-orang yang beriman.” Qs Al-Haj : 38Firman Allah :وَمَن يَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِ فَهُوَ حَسۡبُهُۥٓۚ [ الطلاق /3]“Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” Qs At-Thalaq : 3Bahwa sesungguhnya orang yang mengandalkan selain Allah dan merasa puas dengannya, Allah akan serahkan urusannya kepadanya sehingga ia menajadi rendah diri, lemah dan hina-dina serta terjatuh dalam keburukan dan berbagai bencana.عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي لَيْلَى، عَنْ عِيسَى، أَخِيهِ قَالَ: دَخَلْتُ عَلَى عَبْدِ اللهِ بْنِ عُكَيْمٍ أَعُودُهُ وَبِهِ حُمْرَةٌ، فَقُلْنَا: أَلاَ تُعَلِّقُ شَيْئًا؟ قَالَ: الْمَوْتُ أَقْرَبُ مِنْ ذَلِكَ، قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ تَعَلَّقَ شَيْئًا وُكِلَ إِلَيْهِDiriwayatkan dari Muhammad bin Abdurrahman bin Abu Lalila, dari Isa, saudaranya berkata: Aku pernah menemui ‘Abdullah bin ‘Ukaim untuk membesuknya, sehubungan dengan penyakit Humrah (bercak-bercak merah pada kulit) yang diidapnya.  Aku pun berkata: Tidakkah sewajarnya engkau menggantungkan (hati) kepada sesuatu (jimat)? ‘Abdullah bin ‘Ukaim menjawab: “Kematian lebih baik bagiku dari pada perbuatan itu. Sebab Nabi -sallallahu alaihi wa sallam-  bersabda: Siapapun yang menggantungkan (hati) pada sesuatu benda, maka urusannya akan diserahkan sepenuhnya kepadanya’.HR Ahmad dan TirmiziRasulullah –shallallahu alaihi wa sallam – bersabda :” مَنْ نَزَلَ  بِهِ حَاجَةٌ فَأَنْزَلَهَا بِالنَّاسِ، كَانَ قَمِنًا مِنْ أَنْ لَا تَسْهُلَ حَاجَتُهُ، وَمَنْ أَنْزَلَهَا بِاللهِ، أتَاهُ  اللهُ بِرِزْقٍ عَاجِلٍ، أَوْ بِمَوْتٍ آجِلٍ ” أخرجه أحمد“Barangsiapa yang mempunyai suatu keperluan, lalu menyerahkannya kepada manusia, maka dapat dipastikan tidak lancar keperluannya itu. Dan barangsiapa yang menyerahkan keperluannya itu kepada Allah, maka Allah akan mendatangkan kepadanya rezeki dengan segera atau menunda ajal kematiannya.”HR AhmadMaka peganglah –wahai saudara sesama muslim- pesan agung itu secara konsisten agar Anda tidak dipermainkan oleh hawa nafsu dan tidak terombang-ambing oleh pemikiran liar yang tidak dapat menghindar dari bahayanya kecuali dengan mengikuti arahan pesan cemerlang dari Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- yang telah berhasil mencetak para sahabat sehingga mereka mencapai klimaks kesempurnaan tauhid berkat mengaplikasikan pesan agung beliau, sebagaimana yang dituturkan oleh Auf bin Malik Al-Asyja’i, ia bercerita : “كُنَّا عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تِسْعَةً أَوْ ثَمَانِيَةً أَوْ سَبْعَةً فَقَالَ صلى الله عليه وسلم : لاَ تَسْأَلُوْا النَّاسَ شَيْئًا” فَلَقَدْ رَأَيْتُ بَعْضَ أُولَئِكَ النَّفَرِ يَسْقُطُ سَوْطُ أَحَدِهِمْ فَمَا يَسْأَلُ أَحَدًا يُنَاوِلُهُ إِيَّاهُ ” أخرجه مسلم“Kami di sisi Rasulullallah -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, kami sembilan atau delapan atau tujuh orang.  Maka Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam-, bersabda : “Janganlah kalian meminta apapun kepada manusia”. Sungguh aku telah melihat salah seorang di antara mereka ketika cemetinya terjatuh maka ia tidak meminta seorangpun untuk mengambilkannya dan memberikan kepadanya.” HR Muslim.Dari Tsauban, berkata : Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda : “مَنْ يَكْفُلُ لِي أَنْ لَا يَسْأَلَ النَّاسَ شَيْئًا وَأَتَكَفَّلُ لَهُ بِالْجَنَّةِ فَقُلتُ أنَا فَكَانَ لَا يَسْألُ أحَدًا شَيْئًا ” أخرجه أبو داود والنسائي“Adakah orang yang bisa menjamin untukku bahwa ia tidak meminta-minta suatu apapun kepada sehingga aku menjamin baginya surga. Aku (Tsauban) menjawab, ‘Aku Ya Rasulallah’. Sejak itulah ia (Tsauban) tidak pernah meminta sesuatu kepada siapapun.”. HR Abu Daud dan Nasa’i.Seorang keponakan Al-Akhnaf bin Qais mengeluhkan sakit gigi yang diderita, maka Akhnaf menasihatinya seraya berkata : “Aku kehilangan pengelihatanku semenjak 40 tahun yang lalu, namun begitu aku tidak pernah mengadu kepada siapapun.”Wahai saudara sesama muslim! Mengadulah kepada Allah –subhanahu wa ta’ala- ketika Anda dalam kondisi krisis dan kesulitan. Bergantunglah kepada-Nya semata, bukan kepada lain-Nya ketika Anda tertimpa malapetaka, kegentingan dan kemelut.Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :إذَا أصَابَ أحَدَكم هَمٌّ أوْ لَأوَاءٌ فَلْيَقلْ: اللّه، اللّه رَبّي لَا أشْرِكُ بِهِ شَيْئًا ”   أخرجه الطبرانى فى الأوسط “Jika salah seorang di antara kalian tertimpa kesedihan atau gangguan kesehatan, maka hendaklah ia menyebut, “Allah – Allah adalah Tuhanku, aku tidak menyekutukan-Nya dengan sesua-tu.” HR Tabrani dalam Al-Ausath.Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- ketika dalam kesulitan selalu berdoa :” لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ الْعَظِيمُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ رَبُّ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَرَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيْمِ” متفق عليه“Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah Yang Maha Agung. Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah Tuhan langit dan bumi dan Tuhan Arasy yang agung”. Muttafaq Alaih.Para Ulama telah bersepakat bahwa orang yang meminta pertolongan, bantuan dan perlindungan kepada sesama makhluk, yang telah meninggal, atau yang sedang raib atau bahkan yang masih hidup untuk mengatasi suatu persoalan yang sebenarnya hanya Allah sendiri yang mampu mengatasinya, maka sungguh ia telah berbuat kesyirikan yang menghanguskan amalnya.Wahai kaum muslimin!Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- benar-benar antusias menanamkan bibit-bibit ketauhidan dalam jiwa. Beliau bersungguh-sungguh mengajak memperhatikan pondasi ini. Beliau berupaya dengan serius melindungi esensi tauhid secara sempurna, jangan sampai ada kekurangan dalam perkataan, perbuatan, maksud dan kehendak terkait dengan tauhid ini.Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- pernah ditanya tentang seseorang yang berjumpa dengan sesamanya untuk memberi salam, apakah lalu ia membungkuk di hadapannya? Beliau menjawab, “Tidak boleh”. HR Ahmad dan Tirmizi. Status hadis ini adalah hasan.Semua itu tak lain hanyalah untuk mencegah sikap ketundukan apapun kecuali ketuntukan kepada Allah yang maha agung.Rasulullah yang penyayang telah memberi pengarahan kepada perkara yang bisa menolak godaan syaitan serta tipu daya dan makarnya. Anas meriwayatkan bahwasanya ada seseorang berkata :يَا مُحَمَّدُ، يَا سَيِّدَنَا، وَابْنَ سَيِّدِنَا وَابْنَ خَيْرِنَا“Wahai Muhammad, wahai pemimpin kami, putra pemimpin kami, putra lelaki terbaik kami”.Maka Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- berkata :أَيُّهَا النَّاسُ، عَلَيْكُمْ بِتَقْوَاكُمْ وَلاَ يَسْتَهْوِيَنَّكُمُ الشًّيْطَانُ، أَنَا مُحَمَّدٌ عَبْدُاللهِ وَرَسُوْلُهُ، مَا أُحِبُّ أَنْ تَرْفَعُوْنِي فَوْقَ مَنْزِلَتِي الَّتِي أَنْزَلَنِيَ اللهُ“Wahai manusia, hendaknya kalian tetap di atas ketakwaan kalian, jangan sampai syaitan menggelincirkan kalian. Aku adalah Muhammad, seorang hamba Allah dan rasulNya, aku tidak suka kalian mengangkatku lebih dari kedudukanku yang telah Allah tetapkan untukku” (HR An-Nasaai dan Ibnu Hibban)Dalam shahih Al-Bukhari, beliau –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :لاَ تُطْرُوْنِي كَمَا أَطْرَتِ النَّصَارَى عِيْسَى بْنَ مَرْيَمَ، فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدٌ، فَقُوْلُوا عَبْدُاللهِ وَرَسُوْلُهُ“Janganlah kalian berlebih-lebihan kepadaku sebagaimana kaum nashoro berlebihan kepada ‘Isa bin Maryam. Karena sesungguhnya aku hanyalah seorang hamba, maka katakanlah : (Muhammad itu) hamba Allah dan rasulNya.” HR Al-BukhariSaudara-saudaraku seiman!Diantara contoh semangat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam untuk menekankan tauhid dan besarnya perhatian beliau untuk memantapkan tauid, maka beliau menutup segala sarana yang bisa digunakan syaitan untuk menjerumuskan para hamba ke dalam lumpur kesyirikan dan khurofat jahiliyah. Karenanya telah datang pengarahan-pengarahan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam dalam rangka mengingatkan untuk tidak mengarahkan hati kepada para penghuni kubur, dan tidak bersandar kepada mereka atau merendahkan diri di hadapan pintu-pintu masuk kuburan mereka, atau beristighotsah kepada mereka tatkala dalam kondisi-kondisi sulit dan genting serta dalam kesulitan, yang hal ini semuanya selama-lamanya tidak pantas ditujukan kecuali hanya kepada pencipta bumi dan langit !!.Dari Abu Huroiroh radhiallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :اللَّهُمَّ لاَ تَجْعَلْ قَبْرِي وَثَنًا يُعْبَدُ، اِشْتَدَّ غَضَبُ اللهِ عَلَى قَوْمٍ اتَّخَذُوْا قُبُوْرَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ“Ya Allah, janganlah engkau menjadikan kuburanku adalah berhara yang disembah. Sungguh Allah sangat marah terhadap kaum yang menjadikan kuburan-kuburan nabi-nabi mereka sebagai mesjid-mesjid.” HR Ahmad dan Malik dalam Muwattha’ dengan periwayatan ‘Atha bin Yasar.Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- memberi perhatian yang sangat besar terhadap penjagaan tauhid, karenanya beliau memperingatkan akan bahaya sarana-sarana setan dan penyesatan syaitan yang memfitnah manusia dengan jimat-jimat dan kalung-kalung yang digantungkan (diikatkan) ke badan atau harta benda dengan alasan untuk menolak keburukan dan menghilangkan kemudorotan serta mendatangkan kebaikan.  Dalam Musnad Al-Imam Ahmad, Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda :مَنْ تَعَلَّقَ تَمِيْمَةً فَقَدْ أَشْرَكَ“Barangsiapa yang menggantungkan jimat maka sungguh ia telah berbuat kesyirikan”.  HR Al-HakimSebagaimana Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- memperingatkan agar tidak terpedaya oleh para dukun, pera peramal dan para pendusta. Beliau berkata ;مَنْ أَتَى كَاهِنًا أَوْ عَرَّافًا فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُوْلُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ“Barangsiapa yang mendatangi dukun atau para normal lalu membenarkan apa yang diucapkannya maka sungguh ia telah kefir kepada apa yang diturunkan kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.” HR Al-Arba’ah (Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasaai, dan Ibnu Maajah) dan Al-Haakim).Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- ditanya tentang An-Nusyroh, maka beliau menjawab :هِيَ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ“Itu termasuk perbuatan syaitan.” HR Ahmad, Abu Dawud, dan Al-BaihaqiAn-Nusyroh adalah berupaya menghilangkan sihir dengan menggunakan sihir yang serupa.Kaum muslimin sekalian!Tatkala kita berada pada kondisi yang mengajak jiwa untuk melakukan perkara yang tidak terpuji atau perkara yang tidak halal, yaitu tatkala kondisi berobat, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengingatkan umatnya dengan perkara tauhid dan wajibnya memberi perhatian yang besar kepada tauhid, sehingga tetap bergantung kepada Allah dan bersandar kepadaNya, serta bertawakkal kepadaNya dan tidak mengarahkan hati kecuali hanya kepadaNya. Maka beliau bersabda –sebagaiamana diriwayatkan oleh Aisyah- , bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam jika menjenguk orang sakit beliau berkata ;أَذْهِبِ الْبَأْسَ رَبَّ النَّاسِ، اِشْفِ أَنْتَ الشَّافِي لاَ شِفَاءَ إِلاَّ شِفَاؤُكَ شِفَاءٌ لاَ يُغَادِرُ سَقَمًا“Hilangkanlah penyakit wahai Tuhannya manusia, sembuhkanlah sesungguhnya Engkau adalah Maha Penyembuh, tidak ada kesembuhan kecuali dari kesembuhanMu, kesembuhan yang tidak menyisakan satu penyakitpun.”  HR Al-Bukhari dan Muslim.Nabi berkata kepada Utsman bin Abil ‘Aash Ats-Tsaqofi tatkala ia menyampaikan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam akan sakit yang beliau rasakan di tubuh beliau sejak beliau masuk Islam. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada beliau:“Letakanlah tanganmu di lokasi bagian tubuhmu yang sakit, lalu ucapkanlah “Bismillah” tiga kali, lalu ucapkanlah sebanyak tujuh kali:أَعُوْذُ بِاللهِ وَقُدْرَتِهِ مِنْ شَرِّ مَا أَجِدُ وَأُحَاذِرُ“Aku berlindung kepada Allah dan kekuasaanNya dari keburukan yang aku dapati dan keburukan yang aku khawatirkan.”  HR Muslim.Kaum muslimin sekalian!Pada bentuk-bentuk semangat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam menjaga kemurnian tauhid dan perhatian besar beliau maka datanglah pengarahan beliau yang mulia sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Abbas bahwasanya ada seseorang berkata kepada Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- : مَا شَاءَ اللهُ وَشِئْتَ“Atas kehenda Allah dan kehendakmu”Maka Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- berkata kepadanya :أَجَعَلْتَنِي للهِ عِدْلاً، بَلْ مَا شَاءَ اللهُ وَحْدَهُ“Apakah engkau menjadikan aku sama seperti Allah?, akan tetapi (katakanlah) “Atas kehendak Allah semata.”  HR Ahmad dan Ibnu Maajah.Dalam hadits riwayat Hudzaifah, Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :لاَ تَقُوْلُوا مَا شَاءَ اللهُ وَشَاءَ فُلاَنٌ، وَلَكِنْ قُوْلُوْا : مَا شَاءَ اللهُ ثُمَّ شَاءِ فُلاَنٌ“Janganlah kalian berkata, “Atas kehendak Allah dan kehendak si fulan”, akan tetapi katakanlah, “Atas kehendak Allah, kemudian kehendak si fulan.”  HR Ahmad, Abu Dawud, dan Ibnu Maajah.Di antara sisi semangat Nabi kita Muhammad -shallallahu ‘alaihi wasallam dalam membimbing umatnya agar waspada dari segala yang menyelisihi hakikat tauhid dan membatalkan pokok tauhid atau kewajibannya, maka beliau menyampaikan kepada umatnya pidato beliau yang agung sebagaimana yang diriwayatkan oleh Umar dari beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bahwasanya beliau bersabda :أَلآ إِنَّ اللهَ يَنْهَاكُمْ أَنْ تَحْلِفُوا بَآبَائِكُمْ، فَمَنْ كَانَ حَالِفًا فَلْيَحْلِفْ بِاللهِ وَإِلاَّ فَلْيَصْمُتْ“Ketahuilah bahwasanya Allah melarang kalian untuk bersumpah dengan nenek moyang kalian, maka barangsiapa yang bersumpah hendaknya ia bersumpah dengan nama Allah, jika tidak maka hendaknya ia diam”Umar berkata :فَوَاللهِ مَا حَلَفْتُ بِهَا مُنْذُ سَمِعْتُ النَّبِيَّ ذَاكِرًا وَلاَ آثِرًا“Demi Allah, aku tidak pernah bersumpah dengan nenek moyang semenjak aku mendengar Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam, apakah aku bersumpah dari diri sendiri atau hanya menceritakan sumpah orang lain.” HR Al-Bukhari dan Muslim.Dalam hadits Ibnu Umar bahwasanya Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda ;مَنْ حَلَفَ بِغَيْرِ اللهِ فَقَدْ كَفَرَ أَوْ أَشْرَكَ“Barangsiapa yang bersumpah dengan selain nama Allah maka sungguh ia telah kafir atau telah syirik.” HR Ahmad, Abu Dawud, dan At-Tirmidzi.Kaum muslimin sekalian!Jadikanlah tauhid (pengesaan Allah) selalu di hadapan kalian, dan jalanilah kehidupan ini untuk beribadah kepada sang Pencipta dan mengagungkanNya, serta bergantung kepadaNya dalam segala kondisi. Ikatlah jiwa dan hati kepada Penciptanya. Gunakanlah anggota tubuh untuk perkara-perkara yang mendatangkan keridoan Penciptanya, maka akan terwujudkan bagi kalian kebaikan dan kalian akan memperoleh ganjaran yang besar.إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ ، أُولَئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ خَالِدِينَ فِيهَا جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ [ الأحقاف / 13-14]“Sesungguhnya orang-orang yang berkata Rabb kami adalah Allah lalu mereka beristiqomah, maka tidak ada ketakutan atas mereka dan mereka tidaklah bersedih. Mereka itulah penghuni surga, kekal di dalamnya, sebagai ganjaran atas apa yang mereka amalkan. QS Al-AHqoof : 13-14Semoga Allah memberi keberkahan kepadaku dan kepada anda dalam al-Qur’an dan sunnah Nabi Muhammad pemimpin keturunan Adnan.=============== Khotbah KeduaDalam rangka penjagaan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam akan kemurnian tauhid dan pembentengan beliau yang agung terhadap sisi tauhid dari segala perkara yang hanya merupakan prasangka-prasangka yang batil dan dugaan-dugaan yang hanya merupakan khayalan semata, maka dalam hadits ‘Imron beliau bersabda ;لَيْسَ مِنَّا مَنْ تَطَيَّرَ أَوْ تُطُيِّرَ لَهُ أَوْ تَكَهَّنَ أَوْ تُكُهِّنَ لَهُ أَوْ سَحَرَ أَوْ سُحِرَ لَهُ“Bukan dari kami orang yang melakukan tathoyyur (yaitu mengkaitkan nasib sial dengan sesuatu yang dilihat atau didengar-pen) atau dilakukan tathoyyur untuknya, atau melakukan praktik perdukunan atau dilakukan praktik perdukunan untuknya, atau melakukan sihir atau dilakukan praktik sihir baginya.” HR Al-Bazzaar dan sanadnya hasan.Dalam hadits Mu’awiyah bin Al-Hakam As-Sulami, ia berkata :يَا رَسُوْلَ اللهِ أُمُوْرٌ كُنَّا نَصْنَعُهَا فِي الْجَاهِلِيَّةِ، كُنَّا نَأْتِي الْكُهَّانَ“Wahai Rasulullah, ada perkara-perkara yang dahulu kami melakukannya di masa jahiliyah. Kami dahulu mendatangi para dukun.  فَلاَ تَأْتُوا الْكُهَّانَ  “Maka janganlah kalian mendatangi para dukun”   Aku berkata,  كُنَّا نَتَطَيَّر  “Kami dahulu bertathoyyur (merasa mendapatkan nasib sial) !”  Beliau berkata,  ذَاكَ شَيْءٌ يَجِدُهُ أَحَدُكُمْ فِي نَفْسِهِ فَلاَ يَصُدَنَّكُمْ  “Itu adalah Sesuatu yang salah seorang dari kalian mendapatinya dalam dirinya maka jangan sampai menghalangi kalian (dari kegiatan kalian)” (HR Muslim)Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Dawud, dan At-Tirmidzi dari hadits Ibnu Mas’ud,  Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda :الطِّيَرَةُ شِرْكٌ“Tathoyyur (meyakini mendapat kesialan) adalah suatu kesyirikan”Dan yang terakhir, Yakinlah bahwasanya seluruh perkara adalah di tangan Allah -subhanahu wa ta’ala-, dan hanya terjadi karena takdirNya dan ketentuanNya. Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda :لاَ عَدْوَى وَلاَ طِيَرَةَ وَلاَ هَامَّةَ وَلاَ صَفَرَ“Tidak ada penyakit menular (yang menular dengan sendirinya), tidak ada tathoyyur (nasib sial), tidak ada haammah (burung hantu yang memberi kemudaratan tanpa seizin Allah) dan tidak ada (kesialan) di bulan Shafar.”  HR Al-Bukhari dan Muslim.Maka tempuhlah jalan Al-Qur’an dan jadikanlah kehidupan kalian selalu berada pada sunnah Nabi Muhammad -shallallahu ‘alaihi wasallam- pemimpin keturunan Adnan.======  Doa  ===== 
Khotbah Jum’at di Masjid Nabawi, 23 Jumadal Akhir 1437 H.Oleh : Syekh Husen Bin Abdul Aziz Al As-SyekhKhotbah PertamaPrinsip dasar yang membuat seorang muslim bahagia dan eksistensinya membuatnya selamat, aman dan sentosa  adalah penghambaan (ubudiyah) secara totalitas kepada Tuhan semesta alam (Rabbul Alamin).  Atas dasar itulah manusia diciptakan dan diwujudkan.Firman Allah :وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِيَعۡبُدُونِ [ الذاريات / 56]“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku”Artinya mereka harus memurnikan ibadah (kepada Allah semata) sebagaimana pernyataan Ibnu Abas –radhiyallahu anhuma-, bahwa Tauhid (peng-esa-an ) Allah merupakan sarana segala kesuksesan; di mana pengangungan dan pemurnian ibadah kepadaNya adalah penyebab keberuntungan, bahkan faktor utama kebahagiaan dan keselamatan dunia akhirat. Landasan terkuat bagi keamanan dan kesentosaan adalah penegakan tauhid kepada Allah yang Maha Esa, Tuhan satu-satunya, Yang menjadi tumpuan harapan (bagi semua makhluk). Maka hendaklah seorang hamba memurnikan tujuan ibadah kepada Allah semata  , memurnikan kecintaan dan pengagungan kepada Allah semata, memurnikan perasaan takut, kekhawatiran, pengharapan dan permohonan kepada Allah semata, memurnikan aspek lahir dan batinnya dalam menentukan arah dan kehendak hanya kepada Allah semata.Firman Allah –subhanahu wa ta’ala- kepada NabiNya –shallallahu alaihi wa sallam- :Firman Allah  :قُلۡ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحۡيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ، لَا شَرِيكَ لَهُۥۖ وَبِذَٰلِكَ أُمِرۡتُ وَأَنَا۠ أَوَّلُ ٱلۡمُسۡلِمِينَ [ الأنعام /  162- 163]“Katakanlah: sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)”. Qs Al-An’am :162Firman Allah :فَإِلَٰهُكُمۡ إِلَٰهٞ وَٰحِدٞ فَلَهُۥٓ أَسۡلِمُواْۗ  [ الحج/34]“Maka Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa, karena itu berserah dirilah kamu kepada-Nya.” Qs Al-Haj : 34Firman Allah :وَأَنِيبُوٓاْ إِلَىٰ رَبِّكُمۡ وَأَسۡلِمُواْ لَهُۥ [ الزمر/ 54]“Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya.” Qs Al-Zumar : 54Saudara sesama muslim !Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam-  sangat antusias memantapkan pondasi yang agung ini dalam pengarahan-pengarahan, seruan-seruan dan rekam jejak beliau, bertolak dari keinginan dan kecintaan beliau akan keselamatan umat dan para pengikut beliau. Itulah sebabnya, maka beliau –shallallahu alaihi wa sallam- membuntu segenap jalan dan mencegah segala cara yang dapat mencemari kemurnian tauhid atau berpengaruh terhadap kesempurnaan tauhid, atau melukai esensi tauhid.Di antara pengarahan Nabi –shallallahu alaihi wa sallam-  terkait dengan upaya mewujudkan  maksud luhur dan tujuan agung ini ialah pesan beliau yang merupakan salah satu pondasi agama ini dan merupakan prinsip yang amat kuat untuk membentengi substansinya, yakni tauhid dan keimanan.Ibnu Abas –radhiyallahu anhuma- berkata, “Aku pernah berada di belakang Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- pada suatu hari, beliau berpesan : “ Wahai bocah, sungguh aku ajarkan kepadamu beberapa kalimat; Jagalah Allah, niscaya Allah menjagamu. Jagalah Allah, niscaya kamu dapatkan-Nya di hadapanmu. Jika kamu meminta, mintalah kepada Allah dan jika kamu memohon pertolongan mintalah kepada Allah. Ketahuilah bahwa seandainya umat manusia seluruhnya berkumpul (bersepakat) untuk memberikan manfaat kepadamu, tidaklah mereka dapat memberikan manfaat kepadamu sedikitpun kecuali karena Allah telah menetapkannya untukmu. (Demikian pula) seandainya seluruh umat manusia bersepakat menjatuhkan suatu bahaya atasmu, tidaklah mereka dapat membehayakanmu sedikitmun kecuali karena Allah telah menetapkannya atasmu. Pena telah diangkat dan lembaran telah kering”. HR Tirmizi, dikatakannya hadis Hasan Shahih.Benar, ini merupakan suatu pesan yang di dalamnya terkandung penanaman pengagungan kepada Allah dalam jiwa manusia, dan bahwa Allah yang di tanganNya terletak segala kunci berbagai urusan, di tanganNya pula terletak penyelesaian persoalan-persoalan yang rumit, di sisi-Nya keberadaan perbendaharaan alam semesta dan kunci segala sesuatu, hanya Dia-lah yang dapat memenuhi segala kebutuhan dan memperkenankan permohonan hamba-hambaNya. Semua membutuhkan Allah, sangat memerlukan kedermawanan-Nya, pemberian-Nya dan kemurahan-Nya. Firman Allah :أَمَّن يُجِيبُ ٱلۡمُضۡطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكۡشِفُ ٱلسُّوٓءَ [ النمل / 62]“Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan”.Qs An-Naml :62Firman Allah :وَإِن يَمۡسَسۡكَ ٱللَّهُ بِضُرّٖ فَلَا كَاشِفَ لَهُۥٓ إِلَّا هُوَۖ وَإِن يُرِدۡكَ بِخَيۡرٖ فَلَا رَآدَّ لِفَضۡلِهِۦۚ يُصِيبُ بِهِۦ مَن يَشَآءُ مِنۡ عِبَادِهِۦۚ وَهُوَ ٱلۡغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ [ يونس / 107]“ Jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak kurnia-Nya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayan.” Qs Yunus : 107Suatu pesan agung disampaikan oleh Pemimpin para nabi dan rasul –shallallahu alaihi wa sallam- yang ditujukan kepada setip muslim agar menjadikan Allah –subhanahu wa ta’ala- semata sebagai tujuan satu-satunya dalam memenuhi hajat hidup, menghilangkan keprihatinan dan kesulitannya. Firman Allah :إِيَّاكَ نَعۡبُدُ وَإِيَّاكَ نَسۡتَعِينُ [ الفاتحة / 5]“Hanya kepada Engkaulah kami menyembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan.” Qs Al-Fatihah :5Suatu pesan agung yang memperingatkan seorang muslim agar tidak terjatuh dalam hal-hal yang menyebabkan kehancuran secara permanen dan siksaan yang kekal abadi, suatu pesan yang mewanti-wanti manusia agar tidak berdoa dan meminta kepada selain Allah untuk menghilangkan krisis dan bencana, tidak pula mengarahkan permohonannya kepada selain Allah dalam mengangkat penderitaan atau  mendatangkan kesejahteraan. Firman Allah :إِنَّهُۥ مَن يُشۡرِكۡ بِٱللَّهِ فَقَدۡ حَرَّمَ ٱللَّهُ عَلَيۡهِ ٱلۡجَنَّةَ وَمَأۡوَىٰهُ ٱلنَّارُۖ [ المائدة / 72]“Sesungguhnya barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan surga baginya, dan tempatnya ialah neraka.”Qs Al-Maidah : 72Sabda Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- :” مَنْ لَقِيَ اللَّهَ لا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ لَقِيهُ يُشْرِكُ بِهِ دَخَلَ النَّارَ ” أخرجه مسلم“Barangsiapa yang berjumpa dengan Allah tanpa pernah menyekutukan sesuatu denganNya, maka ia akan masuk surga. Dan barangsiapa yang berjumpa dengan Allah sementara dirinya menyekutukan sesuatu denganNya, maka ia masuk neraka”. HR Muslim. Menurut hadis riwayat Ubnu Mas’ud –radhiyallahu anhu- : ” مَنْ مَاتَ وَهُوَ يَدْعُو مِنْ دُوْنِ اللهِ نِدًّا دَخَلَ النَّارَ ” أخرجه البخاري“Barangsiapa meninggal dunia sedangkan dia memohon kepada selain Allah sebagai tandingan, masuklah ia ke neraka”. HR Bukhari.Suatu pesan agung yang me-resume untuk Anda –wahai muslim- bimbingan Al-Qur’an serta maksud, arah dan tujuan Al-Qur’an terkait dengan perintah, larangan, berita-berita dan kisah-kisah di dalamnya bahwa orang yang menggantungkan segala sesuatu kepada Allah, menitipkan segala kebutuhan kepadaNya dan menyerahkan segenap urusan kepadaNya semata, niscaya Allah akan mencukupikan dirinya dalam segala urusan, memudahkan segala kesulitannya dan mendekatkan baginya segala yang jauh.Firman Allah :إِنَّ ٱللَّهَ يُدَٰفِعُ عَنِ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْۗ   [ الحج/38]“Sesungguhnya Allah membela orang-orang yang beriman.” Qs Al-Haj : 38Firman Allah :وَمَن يَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِ فَهُوَ حَسۡبُهُۥٓۚ [ الطلاق /3]“Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” Qs At-Thalaq : 3Bahwa sesungguhnya orang yang mengandalkan selain Allah dan merasa puas dengannya, Allah akan serahkan urusannya kepadanya sehingga ia menajadi rendah diri, lemah dan hina-dina serta terjatuh dalam keburukan dan berbagai bencana.عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي لَيْلَى، عَنْ عِيسَى، أَخِيهِ قَالَ: دَخَلْتُ عَلَى عَبْدِ اللهِ بْنِ عُكَيْمٍ أَعُودُهُ وَبِهِ حُمْرَةٌ، فَقُلْنَا: أَلاَ تُعَلِّقُ شَيْئًا؟ قَالَ: الْمَوْتُ أَقْرَبُ مِنْ ذَلِكَ، قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ تَعَلَّقَ شَيْئًا وُكِلَ إِلَيْهِDiriwayatkan dari Muhammad bin Abdurrahman bin Abu Lalila, dari Isa, saudaranya berkata: Aku pernah menemui ‘Abdullah bin ‘Ukaim untuk membesuknya, sehubungan dengan penyakit Humrah (bercak-bercak merah pada kulit) yang diidapnya.  Aku pun berkata: Tidakkah sewajarnya engkau menggantungkan (hati) kepada sesuatu (jimat)? ‘Abdullah bin ‘Ukaim menjawab: “Kematian lebih baik bagiku dari pada perbuatan itu. Sebab Nabi -sallallahu alaihi wa sallam-  bersabda: Siapapun yang menggantungkan (hati) pada sesuatu benda, maka urusannya akan diserahkan sepenuhnya kepadanya’.HR Ahmad dan TirmiziRasulullah –shallallahu alaihi wa sallam – bersabda :” مَنْ نَزَلَ  بِهِ حَاجَةٌ فَأَنْزَلَهَا بِالنَّاسِ، كَانَ قَمِنًا مِنْ أَنْ لَا تَسْهُلَ حَاجَتُهُ، وَمَنْ أَنْزَلَهَا بِاللهِ، أتَاهُ  اللهُ بِرِزْقٍ عَاجِلٍ، أَوْ بِمَوْتٍ آجِلٍ ” أخرجه أحمد“Barangsiapa yang mempunyai suatu keperluan, lalu menyerahkannya kepada manusia, maka dapat dipastikan tidak lancar keperluannya itu. Dan barangsiapa yang menyerahkan keperluannya itu kepada Allah, maka Allah akan mendatangkan kepadanya rezeki dengan segera atau menunda ajal kematiannya.”HR AhmadMaka peganglah –wahai saudara sesama muslim- pesan agung itu secara konsisten agar Anda tidak dipermainkan oleh hawa nafsu dan tidak terombang-ambing oleh pemikiran liar yang tidak dapat menghindar dari bahayanya kecuali dengan mengikuti arahan pesan cemerlang dari Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- yang telah berhasil mencetak para sahabat sehingga mereka mencapai klimaks kesempurnaan tauhid berkat mengaplikasikan pesan agung beliau, sebagaimana yang dituturkan oleh Auf bin Malik Al-Asyja’i, ia bercerita : “كُنَّا عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تِسْعَةً أَوْ ثَمَانِيَةً أَوْ سَبْعَةً فَقَالَ صلى الله عليه وسلم : لاَ تَسْأَلُوْا النَّاسَ شَيْئًا” فَلَقَدْ رَأَيْتُ بَعْضَ أُولَئِكَ النَّفَرِ يَسْقُطُ سَوْطُ أَحَدِهِمْ فَمَا يَسْأَلُ أَحَدًا يُنَاوِلُهُ إِيَّاهُ ” أخرجه مسلم“Kami di sisi Rasulullallah -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, kami sembilan atau delapan atau tujuh orang.  Maka Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam-, bersabda : “Janganlah kalian meminta apapun kepada manusia”. Sungguh aku telah melihat salah seorang di antara mereka ketika cemetinya terjatuh maka ia tidak meminta seorangpun untuk mengambilkannya dan memberikan kepadanya.” HR Muslim.Dari Tsauban, berkata : Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda : “مَنْ يَكْفُلُ لِي أَنْ لَا يَسْأَلَ النَّاسَ شَيْئًا وَأَتَكَفَّلُ لَهُ بِالْجَنَّةِ فَقُلتُ أنَا فَكَانَ لَا يَسْألُ أحَدًا شَيْئًا ” أخرجه أبو داود والنسائي“Adakah orang yang bisa menjamin untukku bahwa ia tidak meminta-minta suatu apapun kepada sehingga aku menjamin baginya surga. Aku (Tsauban) menjawab, ‘Aku Ya Rasulallah’. Sejak itulah ia (Tsauban) tidak pernah meminta sesuatu kepada siapapun.”. HR Abu Daud dan Nasa’i.Seorang keponakan Al-Akhnaf bin Qais mengeluhkan sakit gigi yang diderita, maka Akhnaf menasihatinya seraya berkata : “Aku kehilangan pengelihatanku semenjak 40 tahun yang lalu, namun begitu aku tidak pernah mengadu kepada siapapun.”Wahai saudara sesama muslim! Mengadulah kepada Allah –subhanahu wa ta’ala- ketika Anda dalam kondisi krisis dan kesulitan. Bergantunglah kepada-Nya semata, bukan kepada lain-Nya ketika Anda tertimpa malapetaka, kegentingan dan kemelut.Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :إذَا أصَابَ أحَدَكم هَمٌّ أوْ لَأوَاءٌ فَلْيَقلْ: اللّه، اللّه رَبّي لَا أشْرِكُ بِهِ شَيْئًا ”   أخرجه الطبرانى فى الأوسط “Jika salah seorang di antara kalian tertimpa kesedihan atau gangguan kesehatan, maka hendaklah ia menyebut, “Allah – Allah adalah Tuhanku, aku tidak menyekutukan-Nya dengan sesua-tu.” HR Tabrani dalam Al-Ausath.Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- ketika dalam kesulitan selalu berdoa :” لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ الْعَظِيمُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ رَبُّ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَرَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيْمِ” متفق عليه“Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah Yang Maha Agung. Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah Tuhan langit dan bumi dan Tuhan Arasy yang agung”. Muttafaq Alaih.Para Ulama telah bersepakat bahwa orang yang meminta pertolongan, bantuan dan perlindungan kepada sesama makhluk, yang telah meninggal, atau yang sedang raib atau bahkan yang masih hidup untuk mengatasi suatu persoalan yang sebenarnya hanya Allah sendiri yang mampu mengatasinya, maka sungguh ia telah berbuat kesyirikan yang menghanguskan amalnya.Wahai kaum muslimin!Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- benar-benar antusias menanamkan bibit-bibit ketauhidan dalam jiwa. Beliau bersungguh-sungguh mengajak memperhatikan pondasi ini. Beliau berupaya dengan serius melindungi esensi tauhid secara sempurna, jangan sampai ada kekurangan dalam perkataan, perbuatan, maksud dan kehendak terkait dengan tauhid ini.Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- pernah ditanya tentang seseorang yang berjumpa dengan sesamanya untuk memberi salam, apakah lalu ia membungkuk di hadapannya? Beliau menjawab, “Tidak boleh”. HR Ahmad dan Tirmizi. Status hadis ini adalah hasan.Semua itu tak lain hanyalah untuk mencegah sikap ketundukan apapun kecuali ketuntukan kepada Allah yang maha agung.Rasulullah yang penyayang telah memberi pengarahan kepada perkara yang bisa menolak godaan syaitan serta tipu daya dan makarnya. Anas meriwayatkan bahwasanya ada seseorang berkata :يَا مُحَمَّدُ، يَا سَيِّدَنَا، وَابْنَ سَيِّدِنَا وَابْنَ خَيْرِنَا“Wahai Muhammad, wahai pemimpin kami, putra pemimpin kami, putra lelaki terbaik kami”.Maka Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- berkata :أَيُّهَا النَّاسُ، عَلَيْكُمْ بِتَقْوَاكُمْ وَلاَ يَسْتَهْوِيَنَّكُمُ الشًّيْطَانُ، أَنَا مُحَمَّدٌ عَبْدُاللهِ وَرَسُوْلُهُ، مَا أُحِبُّ أَنْ تَرْفَعُوْنِي فَوْقَ مَنْزِلَتِي الَّتِي أَنْزَلَنِيَ اللهُ“Wahai manusia, hendaknya kalian tetap di atas ketakwaan kalian, jangan sampai syaitan menggelincirkan kalian. Aku adalah Muhammad, seorang hamba Allah dan rasulNya, aku tidak suka kalian mengangkatku lebih dari kedudukanku yang telah Allah tetapkan untukku” (HR An-Nasaai dan Ibnu Hibban)Dalam shahih Al-Bukhari, beliau –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :لاَ تُطْرُوْنِي كَمَا أَطْرَتِ النَّصَارَى عِيْسَى بْنَ مَرْيَمَ، فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدٌ، فَقُوْلُوا عَبْدُاللهِ وَرَسُوْلُهُ“Janganlah kalian berlebih-lebihan kepadaku sebagaimana kaum nashoro berlebihan kepada ‘Isa bin Maryam. Karena sesungguhnya aku hanyalah seorang hamba, maka katakanlah : (Muhammad itu) hamba Allah dan rasulNya.” HR Al-BukhariSaudara-saudaraku seiman!Diantara contoh semangat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam untuk menekankan tauhid dan besarnya perhatian beliau untuk memantapkan tauid, maka beliau menutup segala sarana yang bisa digunakan syaitan untuk menjerumuskan para hamba ke dalam lumpur kesyirikan dan khurofat jahiliyah. Karenanya telah datang pengarahan-pengarahan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam dalam rangka mengingatkan untuk tidak mengarahkan hati kepada para penghuni kubur, dan tidak bersandar kepada mereka atau merendahkan diri di hadapan pintu-pintu masuk kuburan mereka, atau beristighotsah kepada mereka tatkala dalam kondisi-kondisi sulit dan genting serta dalam kesulitan, yang hal ini semuanya selama-lamanya tidak pantas ditujukan kecuali hanya kepada pencipta bumi dan langit !!.Dari Abu Huroiroh radhiallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :اللَّهُمَّ لاَ تَجْعَلْ قَبْرِي وَثَنًا يُعْبَدُ، اِشْتَدَّ غَضَبُ اللهِ عَلَى قَوْمٍ اتَّخَذُوْا قُبُوْرَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ“Ya Allah, janganlah engkau menjadikan kuburanku adalah berhara yang disembah. Sungguh Allah sangat marah terhadap kaum yang menjadikan kuburan-kuburan nabi-nabi mereka sebagai mesjid-mesjid.” HR Ahmad dan Malik dalam Muwattha’ dengan periwayatan ‘Atha bin Yasar.Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- memberi perhatian yang sangat besar terhadap penjagaan tauhid, karenanya beliau memperingatkan akan bahaya sarana-sarana setan dan penyesatan syaitan yang memfitnah manusia dengan jimat-jimat dan kalung-kalung yang digantungkan (diikatkan) ke badan atau harta benda dengan alasan untuk menolak keburukan dan menghilangkan kemudorotan serta mendatangkan kebaikan.  Dalam Musnad Al-Imam Ahmad, Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda :مَنْ تَعَلَّقَ تَمِيْمَةً فَقَدْ أَشْرَكَ“Barangsiapa yang menggantungkan jimat maka sungguh ia telah berbuat kesyirikan”.  HR Al-HakimSebagaimana Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- memperingatkan agar tidak terpedaya oleh para dukun, pera peramal dan para pendusta. Beliau berkata ;مَنْ أَتَى كَاهِنًا أَوْ عَرَّافًا فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُوْلُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ“Barangsiapa yang mendatangi dukun atau para normal lalu membenarkan apa yang diucapkannya maka sungguh ia telah kefir kepada apa yang diturunkan kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.” HR Al-Arba’ah (Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasaai, dan Ibnu Maajah) dan Al-Haakim).Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- ditanya tentang An-Nusyroh, maka beliau menjawab :هِيَ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ“Itu termasuk perbuatan syaitan.” HR Ahmad, Abu Dawud, dan Al-BaihaqiAn-Nusyroh adalah berupaya menghilangkan sihir dengan menggunakan sihir yang serupa.Kaum muslimin sekalian!Tatkala kita berada pada kondisi yang mengajak jiwa untuk melakukan perkara yang tidak terpuji atau perkara yang tidak halal, yaitu tatkala kondisi berobat, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengingatkan umatnya dengan perkara tauhid dan wajibnya memberi perhatian yang besar kepada tauhid, sehingga tetap bergantung kepada Allah dan bersandar kepadaNya, serta bertawakkal kepadaNya dan tidak mengarahkan hati kecuali hanya kepadaNya. Maka beliau bersabda –sebagaiamana diriwayatkan oleh Aisyah- , bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam jika menjenguk orang sakit beliau berkata ;أَذْهِبِ الْبَأْسَ رَبَّ النَّاسِ، اِشْفِ أَنْتَ الشَّافِي لاَ شِفَاءَ إِلاَّ شِفَاؤُكَ شِفَاءٌ لاَ يُغَادِرُ سَقَمًا“Hilangkanlah penyakit wahai Tuhannya manusia, sembuhkanlah sesungguhnya Engkau adalah Maha Penyembuh, tidak ada kesembuhan kecuali dari kesembuhanMu, kesembuhan yang tidak menyisakan satu penyakitpun.”  HR Al-Bukhari dan Muslim.Nabi berkata kepada Utsman bin Abil ‘Aash Ats-Tsaqofi tatkala ia menyampaikan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam akan sakit yang beliau rasakan di tubuh beliau sejak beliau masuk Islam. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada beliau:“Letakanlah tanganmu di lokasi bagian tubuhmu yang sakit, lalu ucapkanlah “Bismillah” tiga kali, lalu ucapkanlah sebanyak tujuh kali:أَعُوْذُ بِاللهِ وَقُدْرَتِهِ مِنْ شَرِّ مَا أَجِدُ وَأُحَاذِرُ“Aku berlindung kepada Allah dan kekuasaanNya dari keburukan yang aku dapati dan keburukan yang aku khawatirkan.”  HR Muslim.Kaum muslimin sekalian!Pada bentuk-bentuk semangat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam menjaga kemurnian tauhid dan perhatian besar beliau maka datanglah pengarahan beliau yang mulia sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Abbas bahwasanya ada seseorang berkata kepada Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- : مَا شَاءَ اللهُ وَشِئْتَ“Atas kehenda Allah dan kehendakmu”Maka Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- berkata kepadanya :أَجَعَلْتَنِي للهِ عِدْلاً، بَلْ مَا شَاءَ اللهُ وَحْدَهُ“Apakah engkau menjadikan aku sama seperti Allah?, akan tetapi (katakanlah) “Atas kehendak Allah semata.”  HR Ahmad dan Ibnu Maajah.Dalam hadits riwayat Hudzaifah, Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :لاَ تَقُوْلُوا مَا شَاءَ اللهُ وَشَاءَ فُلاَنٌ، وَلَكِنْ قُوْلُوْا : مَا شَاءَ اللهُ ثُمَّ شَاءِ فُلاَنٌ“Janganlah kalian berkata, “Atas kehendak Allah dan kehendak si fulan”, akan tetapi katakanlah, “Atas kehendak Allah, kemudian kehendak si fulan.”  HR Ahmad, Abu Dawud, dan Ibnu Maajah.Di antara sisi semangat Nabi kita Muhammad -shallallahu ‘alaihi wasallam dalam membimbing umatnya agar waspada dari segala yang menyelisihi hakikat tauhid dan membatalkan pokok tauhid atau kewajibannya, maka beliau menyampaikan kepada umatnya pidato beliau yang agung sebagaimana yang diriwayatkan oleh Umar dari beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bahwasanya beliau bersabda :أَلآ إِنَّ اللهَ يَنْهَاكُمْ أَنْ تَحْلِفُوا بَآبَائِكُمْ، فَمَنْ كَانَ حَالِفًا فَلْيَحْلِفْ بِاللهِ وَإِلاَّ فَلْيَصْمُتْ“Ketahuilah bahwasanya Allah melarang kalian untuk bersumpah dengan nenek moyang kalian, maka barangsiapa yang bersumpah hendaknya ia bersumpah dengan nama Allah, jika tidak maka hendaknya ia diam”Umar berkata :فَوَاللهِ مَا حَلَفْتُ بِهَا مُنْذُ سَمِعْتُ النَّبِيَّ ذَاكِرًا وَلاَ آثِرًا“Demi Allah, aku tidak pernah bersumpah dengan nenek moyang semenjak aku mendengar Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam, apakah aku bersumpah dari diri sendiri atau hanya menceritakan sumpah orang lain.” HR Al-Bukhari dan Muslim.Dalam hadits Ibnu Umar bahwasanya Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda ;مَنْ حَلَفَ بِغَيْرِ اللهِ فَقَدْ كَفَرَ أَوْ أَشْرَكَ“Barangsiapa yang bersumpah dengan selain nama Allah maka sungguh ia telah kafir atau telah syirik.” HR Ahmad, Abu Dawud, dan At-Tirmidzi.Kaum muslimin sekalian!Jadikanlah tauhid (pengesaan Allah) selalu di hadapan kalian, dan jalanilah kehidupan ini untuk beribadah kepada sang Pencipta dan mengagungkanNya, serta bergantung kepadaNya dalam segala kondisi. Ikatlah jiwa dan hati kepada Penciptanya. Gunakanlah anggota tubuh untuk perkara-perkara yang mendatangkan keridoan Penciptanya, maka akan terwujudkan bagi kalian kebaikan dan kalian akan memperoleh ganjaran yang besar.إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ ، أُولَئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ خَالِدِينَ فِيهَا جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ [ الأحقاف / 13-14]“Sesungguhnya orang-orang yang berkata Rabb kami adalah Allah lalu mereka beristiqomah, maka tidak ada ketakutan atas mereka dan mereka tidaklah bersedih. Mereka itulah penghuni surga, kekal di dalamnya, sebagai ganjaran atas apa yang mereka amalkan. QS Al-AHqoof : 13-14Semoga Allah memberi keberkahan kepadaku dan kepada anda dalam al-Qur’an dan sunnah Nabi Muhammad pemimpin keturunan Adnan.=============== Khotbah KeduaDalam rangka penjagaan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam akan kemurnian tauhid dan pembentengan beliau yang agung terhadap sisi tauhid dari segala perkara yang hanya merupakan prasangka-prasangka yang batil dan dugaan-dugaan yang hanya merupakan khayalan semata, maka dalam hadits ‘Imron beliau bersabda ;لَيْسَ مِنَّا مَنْ تَطَيَّرَ أَوْ تُطُيِّرَ لَهُ أَوْ تَكَهَّنَ أَوْ تُكُهِّنَ لَهُ أَوْ سَحَرَ أَوْ سُحِرَ لَهُ“Bukan dari kami orang yang melakukan tathoyyur (yaitu mengkaitkan nasib sial dengan sesuatu yang dilihat atau didengar-pen) atau dilakukan tathoyyur untuknya, atau melakukan praktik perdukunan atau dilakukan praktik perdukunan untuknya, atau melakukan sihir atau dilakukan praktik sihir baginya.” HR Al-Bazzaar dan sanadnya hasan.Dalam hadits Mu’awiyah bin Al-Hakam As-Sulami, ia berkata :يَا رَسُوْلَ اللهِ أُمُوْرٌ كُنَّا نَصْنَعُهَا فِي الْجَاهِلِيَّةِ، كُنَّا نَأْتِي الْكُهَّانَ“Wahai Rasulullah, ada perkara-perkara yang dahulu kami melakukannya di masa jahiliyah. Kami dahulu mendatangi para dukun.  فَلاَ تَأْتُوا الْكُهَّانَ  “Maka janganlah kalian mendatangi para dukun”   Aku berkata,  كُنَّا نَتَطَيَّر  “Kami dahulu bertathoyyur (merasa mendapatkan nasib sial) !”  Beliau berkata,  ذَاكَ شَيْءٌ يَجِدُهُ أَحَدُكُمْ فِي نَفْسِهِ فَلاَ يَصُدَنَّكُمْ  “Itu adalah Sesuatu yang salah seorang dari kalian mendapatinya dalam dirinya maka jangan sampai menghalangi kalian (dari kegiatan kalian)” (HR Muslim)Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Dawud, dan At-Tirmidzi dari hadits Ibnu Mas’ud,  Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda :الطِّيَرَةُ شِرْكٌ“Tathoyyur (meyakini mendapat kesialan) adalah suatu kesyirikan”Dan yang terakhir, Yakinlah bahwasanya seluruh perkara adalah di tangan Allah -subhanahu wa ta’ala-, dan hanya terjadi karena takdirNya dan ketentuanNya. Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda :لاَ عَدْوَى وَلاَ طِيَرَةَ وَلاَ هَامَّةَ وَلاَ صَفَرَ“Tidak ada penyakit menular (yang menular dengan sendirinya), tidak ada tathoyyur (nasib sial), tidak ada haammah (burung hantu yang memberi kemudaratan tanpa seizin Allah) dan tidak ada (kesialan) di bulan Shafar.”  HR Al-Bukhari dan Muslim.Maka tempuhlah jalan Al-Qur’an dan jadikanlah kehidupan kalian selalu berada pada sunnah Nabi Muhammad -shallallahu ‘alaihi wasallam- pemimpin keturunan Adnan.======  Doa  ===== 


Khotbah Jum’at di Masjid Nabawi, 23 Jumadal Akhir 1437 H.Oleh : Syekh Husen Bin Abdul Aziz Al As-SyekhKhotbah PertamaPrinsip dasar yang membuat seorang muslim bahagia dan eksistensinya membuatnya selamat, aman dan sentosa  adalah penghambaan (ubudiyah) secara totalitas kepada Tuhan semesta alam (Rabbul Alamin).  Atas dasar itulah manusia diciptakan dan diwujudkan.Firman Allah :وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِيَعۡبُدُونِ [ الذاريات / 56]“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku”Artinya mereka harus memurnikan ibadah (kepada Allah semata) sebagaimana pernyataan Ibnu Abas –radhiyallahu anhuma-, bahwa Tauhid (peng-esa-an ) Allah merupakan sarana segala kesuksesan; di mana pengangungan dan pemurnian ibadah kepadaNya adalah penyebab keberuntungan, bahkan faktor utama kebahagiaan dan keselamatan dunia akhirat. Landasan terkuat bagi keamanan dan kesentosaan adalah penegakan tauhid kepada Allah yang Maha Esa, Tuhan satu-satunya, Yang menjadi tumpuan harapan (bagi semua makhluk). Maka hendaklah seorang hamba memurnikan tujuan ibadah kepada Allah semata  , memurnikan kecintaan dan pengagungan kepada Allah semata, memurnikan perasaan takut, kekhawatiran, pengharapan dan permohonan kepada Allah semata, memurnikan aspek lahir dan batinnya dalam menentukan arah dan kehendak hanya kepada Allah semata.Firman Allah –subhanahu wa ta’ala- kepada NabiNya –shallallahu alaihi wa sallam- :Firman Allah  :قُلۡ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحۡيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ، لَا شَرِيكَ لَهُۥۖ وَبِذَٰلِكَ أُمِرۡتُ وَأَنَا۠ أَوَّلُ ٱلۡمُسۡلِمِينَ [ الأنعام /  162- 163]“Katakanlah: sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)”. Qs Al-An’am :162Firman Allah :فَإِلَٰهُكُمۡ إِلَٰهٞ وَٰحِدٞ فَلَهُۥٓ أَسۡلِمُواْۗ  [ الحج/34]“Maka Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa, karena itu berserah dirilah kamu kepada-Nya.” Qs Al-Haj : 34Firman Allah :وَأَنِيبُوٓاْ إِلَىٰ رَبِّكُمۡ وَأَسۡلِمُواْ لَهُۥ [ الزمر/ 54]“Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya.” Qs Al-Zumar : 54Saudara sesama muslim !Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam-  sangat antusias memantapkan pondasi yang agung ini dalam pengarahan-pengarahan, seruan-seruan dan rekam jejak beliau, bertolak dari keinginan dan kecintaan beliau akan keselamatan umat dan para pengikut beliau. Itulah sebabnya, maka beliau –shallallahu alaihi wa sallam- membuntu segenap jalan dan mencegah segala cara yang dapat mencemari kemurnian tauhid atau berpengaruh terhadap kesempurnaan tauhid, atau melukai esensi tauhid.Di antara pengarahan Nabi –shallallahu alaihi wa sallam-  terkait dengan upaya mewujudkan  maksud luhur dan tujuan agung ini ialah pesan beliau yang merupakan salah satu pondasi agama ini dan merupakan prinsip yang amat kuat untuk membentengi substansinya, yakni tauhid dan keimanan.Ibnu Abas –radhiyallahu anhuma- berkata, “Aku pernah berada di belakang Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- pada suatu hari, beliau berpesan : “ Wahai bocah, sungguh aku ajarkan kepadamu beberapa kalimat; Jagalah Allah, niscaya Allah menjagamu. Jagalah Allah, niscaya kamu dapatkan-Nya di hadapanmu. Jika kamu meminta, mintalah kepada Allah dan jika kamu memohon pertolongan mintalah kepada Allah. Ketahuilah bahwa seandainya umat manusia seluruhnya berkumpul (bersepakat) untuk memberikan manfaat kepadamu, tidaklah mereka dapat memberikan manfaat kepadamu sedikitpun kecuali karena Allah telah menetapkannya untukmu. (Demikian pula) seandainya seluruh umat manusia bersepakat menjatuhkan suatu bahaya atasmu, tidaklah mereka dapat membehayakanmu sedikitmun kecuali karena Allah telah menetapkannya atasmu. Pena telah diangkat dan lembaran telah kering”. HR Tirmizi, dikatakannya hadis Hasan Shahih.Benar, ini merupakan suatu pesan yang di dalamnya terkandung penanaman pengagungan kepada Allah dalam jiwa manusia, dan bahwa Allah yang di tanganNya terletak segala kunci berbagai urusan, di tanganNya pula terletak penyelesaian persoalan-persoalan yang rumit, di sisi-Nya keberadaan perbendaharaan alam semesta dan kunci segala sesuatu, hanya Dia-lah yang dapat memenuhi segala kebutuhan dan memperkenankan permohonan hamba-hambaNya. Semua membutuhkan Allah, sangat memerlukan kedermawanan-Nya, pemberian-Nya dan kemurahan-Nya. Firman Allah :أَمَّن يُجِيبُ ٱلۡمُضۡطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكۡشِفُ ٱلسُّوٓءَ [ النمل / 62]“Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan”.Qs An-Naml :62Firman Allah :وَإِن يَمۡسَسۡكَ ٱللَّهُ بِضُرّٖ فَلَا كَاشِفَ لَهُۥٓ إِلَّا هُوَۖ وَإِن يُرِدۡكَ بِخَيۡرٖ فَلَا رَآدَّ لِفَضۡلِهِۦۚ يُصِيبُ بِهِۦ مَن يَشَآءُ مِنۡ عِبَادِهِۦۚ وَهُوَ ٱلۡغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ [ يونس / 107]“ Jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak kurnia-Nya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayan.” Qs Yunus : 107Suatu pesan agung disampaikan oleh Pemimpin para nabi dan rasul –shallallahu alaihi wa sallam- yang ditujukan kepada setip muslim agar menjadikan Allah –subhanahu wa ta’ala- semata sebagai tujuan satu-satunya dalam memenuhi hajat hidup, menghilangkan keprihatinan dan kesulitannya. Firman Allah :إِيَّاكَ نَعۡبُدُ وَإِيَّاكَ نَسۡتَعِينُ [ الفاتحة / 5]“Hanya kepada Engkaulah kami menyembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan.” Qs Al-Fatihah :5Suatu pesan agung yang memperingatkan seorang muslim agar tidak terjatuh dalam hal-hal yang menyebabkan kehancuran secara permanen dan siksaan yang kekal abadi, suatu pesan yang mewanti-wanti manusia agar tidak berdoa dan meminta kepada selain Allah untuk menghilangkan krisis dan bencana, tidak pula mengarahkan permohonannya kepada selain Allah dalam mengangkat penderitaan atau  mendatangkan kesejahteraan. Firman Allah :إِنَّهُۥ مَن يُشۡرِكۡ بِٱللَّهِ فَقَدۡ حَرَّمَ ٱللَّهُ عَلَيۡهِ ٱلۡجَنَّةَ وَمَأۡوَىٰهُ ٱلنَّارُۖ [ المائدة / 72]“Sesungguhnya barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan surga baginya, dan tempatnya ialah neraka.”Qs Al-Maidah : 72Sabda Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- :” مَنْ لَقِيَ اللَّهَ لا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ لَقِيهُ يُشْرِكُ بِهِ دَخَلَ النَّارَ ” أخرجه مسلم“Barangsiapa yang berjumpa dengan Allah tanpa pernah menyekutukan sesuatu denganNya, maka ia akan masuk surga. Dan barangsiapa yang berjumpa dengan Allah sementara dirinya menyekutukan sesuatu denganNya, maka ia masuk neraka”. HR Muslim. Menurut hadis riwayat Ubnu Mas’ud –radhiyallahu anhu- : ” مَنْ مَاتَ وَهُوَ يَدْعُو مِنْ دُوْنِ اللهِ نِدًّا دَخَلَ النَّارَ ” أخرجه البخاري“Barangsiapa meninggal dunia sedangkan dia memohon kepada selain Allah sebagai tandingan, masuklah ia ke neraka”. HR Bukhari.Suatu pesan agung yang me-resume untuk Anda –wahai muslim- bimbingan Al-Qur’an serta maksud, arah dan tujuan Al-Qur’an terkait dengan perintah, larangan, berita-berita dan kisah-kisah di dalamnya bahwa orang yang menggantungkan segala sesuatu kepada Allah, menitipkan segala kebutuhan kepadaNya dan menyerahkan segenap urusan kepadaNya semata, niscaya Allah akan mencukupikan dirinya dalam segala urusan, memudahkan segala kesulitannya dan mendekatkan baginya segala yang jauh.Firman Allah :إِنَّ ٱللَّهَ يُدَٰفِعُ عَنِ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْۗ   [ الحج/38]“Sesungguhnya Allah membela orang-orang yang beriman.” Qs Al-Haj : 38Firman Allah :وَمَن يَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِ فَهُوَ حَسۡبُهُۥٓۚ [ الطلاق /3]“Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” Qs At-Thalaq : 3Bahwa sesungguhnya orang yang mengandalkan selain Allah dan merasa puas dengannya, Allah akan serahkan urusannya kepadanya sehingga ia menajadi rendah diri, lemah dan hina-dina serta terjatuh dalam keburukan dan berbagai bencana.عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي لَيْلَى، عَنْ عِيسَى، أَخِيهِ قَالَ: دَخَلْتُ عَلَى عَبْدِ اللهِ بْنِ عُكَيْمٍ أَعُودُهُ وَبِهِ حُمْرَةٌ، فَقُلْنَا: أَلاَ تُعَلِّقُ شَيْئًا؟ قَالَ: الْمَوْتُ أَقْرَبُ مِنْ ذَلِكَ، قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ تَعَلَّقَ شَيْئًا وُكِلَ إِلَيْهِDiriwayatkan dari Muhammad bin Abdurrahman bin Abu Lalila, dari Isa, saudaranya berkata: Aku pernah menemui ‘Abdullah bin ‘Ukaim untuk membesuknya, sehubungan dengan penyakit Humrah (bercak-bercak merah pada kulit) yang diidapnya.  Aku pun berkata: Tidakkah sewajarnya engkau menggantungkan (hati) kepada sesuatu (jimat)? ‘Abdullah bin ‘Ukaim menjawab: “Kematian lebih baik bagiku dari pada perbuatan itu. Sebab Nabi -sallallahu alaihi wa sallam-  bersabda: Siapapun yang menggantungkan (hati) pada sesuatu benda, maka urusannya akan diserahkan sepenuhnya kepadanya’.HR Ahmad dan TirmiziRasulullah –shallallahu alaihi wa sallam – bersabda :” مَنْ نَزَلَ  بِهِ حَاجَةٌ فَأَنْزَلَهَا بِالنَّاسِ، كَانَ قَمِنًا مِنْ أَنْ لَا تَسْهُلَ حَاجَتُهُ، وَمَنْ أَنْزَلَهَا بِاللهِ، أتَاهُ  اللهُ بِرِزْقٍ عَاجِلٍ، أَوْ بِمَوْتٍ آجِلٍ ” أخرجه أحمد“Barangsiapa yang mempunyai suatu keperluan, lalu menyerahkannya kepada manusia, maka dapat dipastikan tidak lancar keperluannya itu. Dan barangsiapa yang menyerahkan keperluannya itu kepada Allah, maka Allah akan mendatangkan kepadanya rezeki dengan segera atau menunda ajal kematiannya.”HR AhmadMaka peganglah –wahai saudara sesama muslim- pesan agung itu secara konsisten agar Anda tidak dipermainkan oleh hawa nafsu dan tidak terombang-ambing oleh pemikiran liar yang tidak dapat menghindar dari bahayanya kecuali dengan mengikuti arahan pesan cemerlang dari Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- yang telah berhasil mencetak para sahabat sehingga mereka mencapai klimaks kesempurnaan tauhid berkat mengaplikasikan pesan agung beliau, sebagaimana yang dituturkan oleh Auf bin Malik Al-Asyja’i, ia bercerita : “كُنَّا عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تِسْعَةً أَوْ ثَمَانِيَةً أَوْ سَبْعَةً فَقَالَ صلى الله عليه وسلم : لاَ تَسْأَلُوْا النَّاسَ شَيْئًا” فَلَقَدْ رَأَيْتُ بَعْضَ أُولَئِكَ النَّفَرِ يَسْقُطُ سَوْطُ أَحَدِهِمْ فَمَا يَسْأَلُ أَحَدًا يُنَاوِلُهُ إِيَّاهُ ” أخرجه مسلم“Kami di sisi Rasulullallah -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, kami sembilan atau delapan atau tujuh orang.  Maka Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam-, bersabda : “Janganlah kalian meminta apapun kepada manusia”. Sungguh aku telah melihat salah seorang di antara mereka ketika cemetinya terjatuh maka ia tidak meminta seorangpun untuk mengambilkannya dan memberikan kepadanya.” HR Muslim.Dari Tsauban, berkata : Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda : “مَنْ يَكْفُلُ لِي أَنْ لَا يَسْأَلَ النَّاسَ شَيْئًا وَأَتَكَفَّلُ لَهُ بِالْجَنَّةِ فَقُلتُ أنَا فَكَانَ لَا يَسْألُ أحَدًا شَيْئًا ” أخرجه أبو داود والنسائي“Adakah orang yang bisa menjamin untukku bahwa ia tidak meminta-minta suatu apapun kepada sehingga aku menjamin baginya surga. Aku (Tsauban) menjawab, ‘Aku Ya Rasulallah’. Sejak itulah ia (Tsauban) tidak pernah meminta sesuatu kepada siapapun.”. HR Abu Daud dan Nasa’i.Seorang keponakan Al-Akhnaf bin Qais mengeluhkan sakit gigi yang diderita, maka Akhnaf menasihatinya seraya berkata : “Aku kehilangan pengelihatanku semenjak 40 tahun yang lalu, namun begitu aku tidak pernah mengadu kepada siapapun.”Wahai saudara sesama muslim! Mengadulah kepada Allah –subhanahu wa ta’ala- ketika Anda dalam kondisi krisis dan kesulitan. Bergantunglah kepada-Nya semata, bukan kepada lain-Nya ketika Anda tertimpa malapetaka, kegentingan dan kemelut.Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :إذَا أصَابَ أحَدَكم هَمٌّ أوْ لَأوَاءٌ فَلْيَقلْ: اللّه، اللّه رَبّي لَا أشْرِكُ بِهِ شَيْئًا ”   أخرجه الطبرانى فى الأوسط “Jika salah seorang di antara kalian tertimpa kesedihan atau gangguan kesehatan, maka hendaklah ia menyebut, “Allah – Allah adalah Tuhanku, aku tidak menyekutukan-Nya dengan sesua-tu.” HR Tabrani dalam Al-Ausath.Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- ketika dalam kesulitan selalu berdoa :” لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ الْعَظِيمُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ رَبُّ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَرَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيْمِ” متفق عليه“Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah Yang Maha Agung. Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah Tuhan langit dan bumi dan Tuhan Arasy yang agung”. Muttafaq Alaih.Para Ulama telah bersepakat bahwa orang yang meminta pertolongan, bantuan dan perlindungan kepada sesama makhluk, yang telah meninggal, atau yang sedang raib atau bahkan yang masih hidup untuk mengatasi suatu persoalan yang sebenarnya hanya Allah sendiri yang mampu mengatasinya, maka sungguh ia telah berbuat kesyirikan yang menghanguskan amalnya.Wahai kaum muslimin!Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- benar-benar antusias menanamkan bibit-bibit ketauhidan dalam jiwa. Beliau bersungguh-sungguh mengajak memperhatikan pondasi ini. Beliau berupaya dengan serius melindungi esensi tauhid secara sempurna, jangan sampai ada kekurangan dalam perkataan, perbuatan, maksud dan kehendak terkait dengan tauhid ini.Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- pernah ditanya tentang seseorang yang berjumpa dengan sesamanya untuk memberi salam, apakah lalu ia membungkuk di hadapannya? Beliau menjawab, “Tidak boleh”. HR Ahmad dan Tirmizi. Status hadis ini adalah hasan.Semua itu tak lain hanyalah untuk mencegah sikap ketundukan apapun kecuali ketuntukan kepada Allah yang maha agung.Rasulullah yang penyayang telah memberi pengarahan kepada perkara yang bisa menolak godaan syaitan serta tipu daya dan makarnya. Anas meriwayatkan bahwasanya ada seseorang berkata :يَا مُحَمَّدُ، يَا سَيِّدَنَا، وَابْنَ سَيِّدِنَا وَابْنَ خَيْرِنَا“Wahai Muhammad, wahai pemimpin kami, putra pemimpin kami, putra lelaki terbaik kami”.Maka Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- berkata :أَيُّهَا النَّاسُ، عَلَيْكُمْ بِتَقْوَاكُمْ وَلاَ يَسْتَهْوِيَنَّكُمُ الشًّيْطَانُ، أَنَا مُحَمَّدٌ عَبْدُاللهِ وَرَسُوْلُهُ، مَا أُحِبُّ أَنْ تَرْفَعُوْنِي فَوْقَ مَنْزِلَتِي الَّتِي أَنْزَلَنِيَ اللهُ“Wahai manusia, hendaknya kalian tetap di atas ketakwaan kalian, jangan sampai syaitan menggelincirkan kalian. Aku adalah Muhammad, seorang hamba Allah dan rasulNya, aku tidak suka kalian mengangkatku lebih dari kedudukanku yang telah Allah tetapkan untukku” (HR An-Nasaai dan Ibnu Hibban)Dalam shahih Al-Bukhari, beliau –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :لاَ تُطْرُوْنِي كَمَا أَطْرَتِ النَّصَارَى عِيْسَى بْنَ مَرْيَمَ، فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدٌ، فَقُوْلُوا عَبْدُاللهِ وَرَسُوْلُهُ“Janganlah kalian berlebih-lebihan kepadaku sebagaimana kaum nashoro berlebihan kepada ‘Isa bin Maryam. Karena sesungguhnya aku hanyalah seorang hamba, maka katakanlah : (Muhammad itu) hamba Allah dan rasulNya.” HR Al-BukhariSaudara-saudaraku seiman!Diantara contoh semangat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam untuk menekankan tauhid dan besarnya perhatian beliau untuk memantapkan tauid, maka beliau menutup segala sarana yang bisa digunakan syaitan untuk menjerumuskan para hamba ke dalam lumpur kesyirikan dan khurofat jahiliyah. Karenanya telah datang pengarahan-pengarahan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam dalam rangka mengingatkan untuk tidak mengarahkan hati kepada para penghuni kubur, dan tidak bersandar kepada mereka atau merendahkan diri di hadapan pintu-pintu masuk kuburan mereka, atau beristighotsah kepada mereka tatkala dalam kondisi-kondisi sulit dan genting serta dalam kesulitan, yang hal ini semuanya selama-lamanya tidak pantas ditujukan kecuali hanya kepada pencipta bumi dan langit !!.Dari Abu Huroiroh radhiallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :اللَّهُمَّ لاَ تَجْعَلْ قَبْرِي وَثَنًا يُعْبَدُ، اِشْتَدَّ غَضَبُ اللهِ عَلَى قَوْمٍ اتَّخَذُوْا قُبُوْرَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ“Ya Allah, janganlah engkau menjadikan kuburanku adalah berhara yang disembah. Sungguh Allah sangat marah terhadap kaum yang menjadikan kuburan-kuburan nabi-nabi mereka sebagai mesjid-mesjid.” HR Ahmad dan Malik dalam Muwattha’ dengan periwayatan ‘Atha bin Yasar.Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- memberi perhatian yang sangat besar terhadap penjagaan tauhid, karenanya beliau memperingatkan akan bahaya sarana-sarana setan dan penyesatan syaitan yang memfitnah manusia dengan jimat-jimat dan kalung-kalung yang digantungkan (diikatkan) ke badan atau harta benda dengan alasan untuk menolak keburukan dan menghilangkan kemudorotan serta mendatangkan kebaikan.  Dalam Musnad Al-Imam Ahmad, Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda :مَنْ تَعَلَّقَ تَمِيْمَةً فَقَدْ أَشْرَكَ“Barangsiapa yang menggantungkan jimat maka sungguh ia telah berbuat kesyirikan”.  HR Al-HakimSebagaimana Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- memperingatkan agar tidak terpedaya oleh para dukun, pera peramal dan para pendusta. Beliau berkata ;مَنْ أَتَى كَاهِنًا أَوْ عَرَّافًا فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُوْلُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ“Barangsiapa yang mendatangi dukun atau para normal lalu membenarkan apa yang diucapkannya maka sungguh ia telah kefir kepada apa yang diturunkan kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.” HR Al-Arba’ah (Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasaai, dan Ibnu Maajah) dan Al-Haakim).Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- ditanya tentang An-Nusyroh, maka beliau menjawab :هِيَ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ“Itu termasuk perbuatan syaitan.” HR Ahmad, Abu Dawud, dan Al-BaihaqiAn-Nusyroh adalah berupaya menghilangkan sihir dengan menggunakan sihir yang serupa.Kaum muslimin sekalian!Tatkala kita berada pada kondisi yang mengajak jiwa untuk melakukan perkara yang tidak terpuji atau perkara yang tidak halal, yaitu tatkala kondisi berobat, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengingatkan umatnya dengan perkara tauhid dan wajibnya memberi perhatian yang besar kepada tauhid, sehingga tetap bergantung kepada Allah dan bersandar kepadaNya, serta bertawakkal kepadaNya dan tidak mengarahkan hati kecuali hanya kepadaNya. Maka beliau bersabda –sebagaiamana diriwayatkan oleh Aisyah- , bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam jika menjenguk orang sakit beliau berkata ;أَذْهِبِ الْبَأْسَ رَبَّ النَّاسِ، اِشْفِ أَنْتَ الشَّافِي لاَ شِفَاءَ إِلاَّ شِفَاؤُكَ شِفَاءٌ لاَ يُغَادِرُ سَقَمًا“Hilangkanlah penyakit wahai Tuhannya manusia, sembuhkanlah sesungguhnya Engkau adalah Maha Penyembuh, tidak ada kesembuhan kecuali dari kesembuhanMu, kesembuhan yang tidak menyisakan satu penyakitpun.”  HR Al-Bukhari dan Muslim.Nabi berkata kepada Utsman bin Abil ‘Aash Ats-Tsaqofi tatkala ia menyampaikan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam akan sakit yang beliau rasakan di tubuh beliau sejak beliau masuk Islam. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada beliau:“Letakanlah tanganmu di lokasi bagian tubuhmu yang sakit, lalu ucapkanlah “Bismillah” tiga kali, lalu ucapkanlah sebanyak tujuh kali:أَعُوْذُ بِاللهِ وَقُدْرَتِهِ مِنْ شَرِّ مَا أَجِدُ وَأُحَاذِرُ“Aku berlindung kepada Allah dan kekuasaanNya dari keburukan yang aku dapati dan keburukan yang aku khawatirkan.”  HR Muslim.Kaum muslimin sekalian!Pada bentuk-bentuk semangat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam menjaga kemurnian tauhid dan perhatian besar beliau maka datanglah pengarahan beliau yang mulia sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Abbas bahwasanya ada seseorang berkata kepada Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- : مَا شَاءَ اللهُ وَشِئْتَ“Atas kehenda Allah dan kehendakmu”Maka Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- berkata kepadanya :أَجَعَلْتَنِي للهِ عِدْلاً، بَلْ مَا شَاءَ اللهُ وَحْدَهُ“Apakah engkau menjadikan aku sama seperti Allah?, akan tetapi (katakanlah) “Atas kehendak Allah semata.”  HR Ahmad dan Ibnu Maajah.Dalam hadits riwayat Hudzaifah, Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :لاَ تَقُوْلُوا مَا شَاءَ اللهُ وَشَاءَ فُلاَنٌ، وَلَكِنْ قُوْلُوْا : مَا شَاءَ اللهُ ثُمَّ شَاءِ فُلاَنٌ“Janganlah kalian berkata, “Atas kehendak Allah dan kehendak si fulan”, akan tetapi katakanlah, “Atas kehendak Allah, kemudian kehendak si fulan.”  HR Ahmad, Abu Dawud, dan Ibnu Maajah.Di antara sisi semangat Nabi kita Muhammad -shallallahu ‘alaihi wasallam dalam membimbing umatnya agar waspada dari segala yang menyelisihi hakikat tauhid dan membatalkan pokok tauhid atau kewajibannya, maka beliau menyampaikan kepada umatnya pidato beliau yang agung sebagaimana yang diriwayatkan oleh Umar dari beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bahwasanya beliau bersabda :أَلآ إِنَّ اللهَ يَنْهَاكُمْ أَنْ تَحْلِفُوا بَآبَائِكُمْ، فَمَنْ كَانَ حَالِفًا فَلْيَحْلِفْ بِاللهِ وَإِلاَّ فَلْيَصْمُتْ“Ketahuilah bahwasanya Allah melarang kalian untuk bersumpah dengan nenek moyang kalian, maka barangsiapa yang bersumpah hendaknya ia bersumpah dengan nama Allah, jika tidak maka hendaknya ia diam”Umar berkata :فَوَاللهِ مَا حَلَفْتُ بِهَا مُنْذُ سَمِعْتُ النَّبِيَّ ذَاكِرًا وَلاَ آثِرًا“Demi Allah, aku tidak pernah bersumpah dengan nenek moyang semenjak aku mendengar Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam, apakah aku bersumpah dari diri sendiri atau hanya menceritakan sumpah orang lain.” HR Al-Bukhari dan Muslim.Dalam hadits Ibnu Umar bahwasanya Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda ;مَنْ حَلَفَ بِغَيْرِ اللهِ فَقَدْ كَفَرَ أَوْ أَشْرَكَ“Barangsiapa yang bersumpah dengan selain nama Allah maka sungguh ia telah kafir atau telah syirik.” HR Ahmad, Abu Dawud, dan At-Tirmidzi.Kaum muslimin sekalian!Jadikanlah tauhid (pengesaan Allah) selalu di hadapan kalian, dan jalanilah kehidupan ini untuk beribadah kepada sang Pencipta dan mengagungkanNya, serta bergantung kepadaNya dalam segala kondisi. Ikatlah jiwa dan hati kepada Penciptanya. Gunakanlah anggota tubuh untuk perkara-perkara yang mendatangkan keridoan Penciptanya, maka akan terwujudkan bagi kalian kebaikan dan kalian akan memperoleh ganjaran yang besar.إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ ، أُولَئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ خَالِدِينَ فِيهَا جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ [ الأحقاف / 13-14]“Sesungguhnya orang-orang yang berkata Rabb kami adalah Allah lalu mereka beristiqomah, maka tidak ada ketakutan atas mereka dan mereka tidaklah bersedih. Mereka itulah penghuni surga, kekal di dalamnya, sebagai ganjaran atas apa yang mereka amalkan. QS Al-AHqoof : 13-14Semoga Allah memberi keberkahan kepadaku dan kepada anda dalam al-Qur’an dan sunnah Nabi Muhammad pemimpin keturunan Adnan.=============== Khotbah KeduaDalam rangka penjagaan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam akan kemurnian tauhid dan pembentengan beliau yang agung terhadap sisi tauhid dari segala perkara yang hanya merupakan prasangka-prasangka yang batil dan dugaan-dugaan yang hanya merupakan khayalan semata, maka dalam hadits ‘Imron beliau bersabda ;لَيْسَ مِنَّا مَنْ تَطَيَّرَ أَوْ تُطُيِّرَ لَهُ أَوْ تَكَهَّنَ أَوْ تُكُهِّنَ لَهُ أَوْ سَحَرَ أَوْ سُحِرَ لَهُ“Bukan dari kami orang yang melakukan tathoyyur (yaitu mengkaitkan nasib sial dengan sesuatu yang dilihat atau didengar-pen) atau dilakukan tathoyyur untuknya, atau melakukan praktik perdukunan atau dilakukan praktik perdukunan untuknya, atau melakukan sihir atau dilakukan praktik sihir baginya.” HR Al-Bazzaar dan sanadnya hasan.Dalam hadits Mu’awiyah bin Al-Hakam As-Sulami, ia berkata :يَا رَسُوْلَ اللهِ أُمُوْرٌ كُنَّا نَصْنَعُهَا فِي الْجَاهِلِيَّةِ، كُنَّا نَأْتِي الْكُهَّانَ“Wahai Rasulullah, ada perkara-perkara yang dahulu kami melakukannya di masa jahiliyah. Kami dahulu mendatangi para dukun.  فَلاَ تَأْتُوا الْكُهَّانَ  “Maka janganlah kalian mendatangi para dukun”   Aku berkata,  كُنَّا نَتَطَيَّر  “Kami dahulu bertathoyyur (merasa mendapatkan nasib sial) !”  Beliau berkata,  ذَاكَ شَيْءٌ يَجِدُهُ أَحَدُكُمْ فِي نَفْسِهِ فَلاَ يَصُدَنَّكُمْ  “Itu adalah Sesuatu yang salah seorang dari kalian mendapatinya dalam dirinya maka jangan sampai menghalangi kalian (dari kegiatan kalian)” (HR Muslim)Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Dawud, dan At-Tirmidzi dari hadits Ibnu Mas’ud,  Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda :الطِّيَرَةُ شِرْكٌ“Tathoyyur (meyakini mendapat kesialan) adalah suatu kesyirikan”Dan yang terakhir, Yakinlah bahwasanya seluruh perkara adalah di tangan Allah -subhanahu wa ta’ala-, dan hanya terjadi karena takdirNya dan ketentuanNya. Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda :لاَ عَدْوَى وَلاَ طِيَرَةَ وَلاَ هَامَّةَ وَلاَ صَفَرَ“Tidak ada penyakit menular (yang menular dengan sendirinya), tidak ada tathoyyur (nasib sial), tidak ada haammah (burung hantu yang memberi kemudaratan tanpa seizin Allah) dan tidak ada (kesialan) di bulan Shafar.”  HR Al-Bukhari dan Muslim.Maka tempuhlah jalan Al-Qur’an dan jadikanlah kehidupan kalian selalu berada pada sunnah Nabi Muhammad -shallallahu ‘alaihi wasallam- pemimpin keturunan Adnan.======  Doa  ===== 

YANG TERBAIK…

Khotbah Jum’at dari Masjid Nabawi, 1 Rajab 1437 H.Oleh : Syekh Dr. Abdul Muhsin Bin Muhamad Al-QasimKhotbah PertamaSegala puji bagi Allah, kami memujiNya, memohon pertolonganNya dan ampunanNya. Kami berlindung kepada Allah dari kejahatan diri kami dan keburukan amal perbuatan kami. Barangsiapa yang Allah beri petunjuk, tidak akan ada yang dapat menyesatkannya. Dan barangsiapa yang Allah biarkan sesat, tidak akan ada yang dapat memberinya petunjuk. Aku bersaksi tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagiNya. Dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah hambaNya dan rasulNya. Semoga Allah mencurahkan shalawat dan salam sebanyak-banyaknya kepadanya, beserta seluruh keluarganya dan sahabatnya.Selanjutnya ……. Kaum muslimin !Hanya Allah sajalah yang memilih dan melebihkan sesuatu, sebagaimana Dia pula satu-satunya yang menciptakan dan mengatur (segala urusan).Firman Allah :وَرَبُّكَ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَيَخْتَارُ مَا كَانَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ سُبْحَانَ اللَّهِ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ [ القصص / 68]“Dan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya. Sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan (dengan Dia)”. Qs Al-Qashas : 68Suatu bukti kesempurnaan iilmu-Nya, Dia mengistimewakan apa yang dikehendakinya karena anugerah-Nya. Maka Pemilihan-Nya dan pengkhususan-Nya tersebut menjadi bukti Ketuhanan-Nya dan Keesaan-Nya serta kesempurnaan kebiajaksanaan-Nya dan kekuasaan-Nya.Allah –subhanahu wa ta’ala- memilih malaikat-Nya di atas seluruh makhlu-Nya; maka Allah ciptakan mereka dari cahaya dan menugaskan mereka mengurus kerajaan-Nya.لا يَعۡصُونَ ٱللَّهَ مَآ أَمَرَهُمۡ وَيَفۡعَلُونَ مَا يُؤۡمَرُونَ [ التحريم / 6]“Mereka tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” Qs At-Tahrim : 6Allah –subhanahu wa ta’ala- memuliakan anak cucu Adam (manusia) dan memilih di antara mereka para nabi dan rasul-Nya. Allah –subhanahu wa ta’ala- memilih nabi kita Muhammad –shallallahu alaihi wa sallam- sebagai pemimpin anak cucu Adam, beliau manusia termulia di antara mereka, dan sebaik-baik para nabi dan rasul. Demikian pula sahabat-sahabat beliau, mereka sebaik-baik sahabat dan sebaik baik generasi, tidak ada manusia sebelum dan sesudah mereka yang setara dengan mereka.Sabda beliau –shallallahu alaihi wa sallam- :” خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ “ “Sebaik-baik manusia adalah generasi sezaman denganku, lalu disusul oleh generasi berikutnya, dan kemudian generasi berikutnya”.Umat Islam sebagai penyempurna 70 umat adalah umat terbaik dan termulia di sisi Allah. Penghuni surga terkelompokkan menjadi 120 baris; 80 baris di antaranya adalah umat Muhammad –shallallahu alaihi wa sallam- sedangkan yang 40 baris adalah dari umat lain. Orang yang paling mulia di antara mereka adala yang paling bertakwa.Ada dua orang lelaki yang melintas di dekat Nabi –shallallahu alaihi wa sallam-; Lelaki pertama termasuk orang miskin di antara kaum muslimin, sedangkan yang kedua termasuk orang kelas elit dalam masyarakat, maka ketika mengomentari orang yang pertama beliau berkata :” هَذا خَيْرٌ مِنْ مِلْء الأرْضِ مِثْل هَذَا ““Orang ini (yang pertama yang miskin) lebih baik dari pada yang seperti itu (orang kedua yang elit) sepenuh bumi” HR BukhariSurga tempat terhormat disiapkan oleh Allah untuk hamba-hamba-Nya yang mukmin.” وَلمَوْضِعُ سَوْطٍ أحَدِكُم فِي الجَنَّةِ، خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا ” رواه البخاري“Sungguh tempat cemeti salah seorang di antara kalian di surga lebih baik nilainya dari pada dunia seisinya”. HR BukhariYang paling unggul adalah surga Firdaus, ia adalah surga paling tinggi dan paling tengah, dari situlah sungai-sungai di surga terpancar, dan di atasnya terdapat Arasy (tahta, singgasana Allah) yang Maha Pengasih. Puncak kenikmatan surgawi adalah melihat Allah –subhanahu wa ta’ala-.Firman Allah :” فيَكْشِفُ الْحِجَابَ، فَمَا أُعْطُوا شَيْئًا أَحَبَّ إِلَيْهِمْ مِنَ النَّظَرِ إِلَى رَبِّهِمْ عَزَّ وَجَلَّ ” [ رواه مسلم ]“Maka Allah pun menyingkap tabir, ketika itulah penghuni surga merasa tidak mengecap kenikmatan yang lebih mereka sukai dibanding memandang Tuhan mereka, Allah –subhanahu wa ta’ala.” HR MuslimAllah –subhanahu wa ta’ala- menciptakan berbagai tempat (lokasi) dan mengistimewakan antara satu dengan lainnya. Sebaik-baik lokasi adalah yang dapat mengantarkan seorang hamba kepada Tuhannya, dan yang lebih dekat untuk meraih ridha-Nya dan surga-Nya. Mekah adalah bumi Allah yang terbaik dan paling dicintai oleh-Nya, merupakan tanah suci. Di dalamnya terdapat Kiblat kaum muslimin, dan Masjid pertama kali didirikan di muka bumi. Shalat di dalamnya lebih baik dari pada 100.000 X shalat di masjid lainnya.Allah –subhanahu wa ta’ala- menjadikannya sebagai tempat manasik ibadah (haji dan umrah) bagi hamba-hamba-Nya. Ke sanalah hati manusia condong, di sanalah umat manusia (beriman) datang dari seluruh penjuru negeri yang jauh.Madinah, tempat hijarah Rasul –shallallahu alaihi wa sallam- dan kota suci, keberkahan di dalamnya dua kali lipat dari yang di Mekah. Shalat di Masjid Rasul –shallallahu alaihi wa sallam- lebih baik dari pada 1000 X shalat di masjid lain. Orang yang bersuci (berwudhu) di tempat tinggalnya lalu pergi menuju ke Masjid Quba’ mendapatkan pahala sebanding pahala umrah. Masjidil Aqsha, Qiblat pertama dan tempat isra’ Rasul –shallallahu alaihi wa sallam-, shalat di dalamnya menyamai 500 X shalat. Tidak dilakukan perjalanan jauh untuk ibadah kecuali ke 3 masjid; Masjidil Haram, Masjidil Aqsha dan Masjid Rasul –shallallahu alaihi wa sallam-.Sebaik-baik lokasi di bumi adalah Masjid, sedangkan seburuk-buruk lokasi di bumi adalah pasar. Majlis-majlis dzikir adalah laksana pertamanan surga. Sabda Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- :وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللهِ، يَتْلُونَ كِتَابَ اللهِ، وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ، إِلَّا نَزَلَتْ عَلَيْهِمِ السَّكِينَةُ، وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمُ الْمَلَائِكَةُ، وَذَكَرَهُمُ اللهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ [ رواه مسلم]“Tidaklah suatu kaum berkumpul di satu rumah Allah, mereka membacakan kitabullah dan mempelajarinya, kecuali turun kepada mereka ketenangan, dan rahmat menyelimuti mereka, para malaikat mengelilingi mereka dan Allah memuji mereka di hadapan makhluk yang ada di dekatnya”. HR MuslimWaktu (zaman) adalah kendaraan menuju akhirat. Orang yang cerdas adalah orang yang memanfaatkan waktu-waktunya yang termahal. Bulan yang paling utama adalah Ramadhan; Allah mewajibkan berpuasa bulan Ramadhan dan menurunkan Al-Qur’an di dalamnya.Bulan-bulan haram yang mulia di sisi Allah patut diagungkan, bermaksiat kepada Allah di dalamnya lebih buruk dosanya dari pada bermaksiat di bulan-bulan lainnya.Sebaik-baik hari adalah hari nahar (hari raya Qurban,10 Zulhijah) lalu hari Arafah (9 Zulhijah). Tidak ada hari-hari yang mana amal shalih di dalamnya lebih Allah sukai dari pada sepuluh hari bulan Zulhijah.Hari jum’at adalah sebaik-baik hari yang disinari matahari; di hari jum’at terdapat suatu saat yang bilamana seorang muslim tepat pada saat itu sedang melakukan shalat dan memohon kebaikan kepada Allah, niscaya Allah memberinya. Demikian pula sepuluh malam bulan Ramadhan yang penuh berkah. Sebaik-baik malam sepanjang masa adalah Lailatul-Qadar, karena kebaikannya melebihi seribu bulan.Kemudian sepertiga akhir malam merupakan waktu yang paling berharga di antara waktu malam, karena di dalamnya Allah turun ke Langit dunia untuk mendekati dan menyayangi hamba-hambaNya seraya berfirman :” مَنْ يَدْعُونِي، فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ، مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ ” متفق عليه“Siapakah kiranya yang berdoa kepadaKu lalu aku kabulkan doanya, siapakah kiranya yang memohon kepadaKu lalu aku berkenan memberinya, siapakah kiranya yang meminta ampun kepadaKu lalu aku ampuninya.?” Muttafaq Alaih.Allah adalah Maha Baik, tidak menerima di antara ucapan dan amal perbuatan kecuali yang baik pula.Firman Allah :إِلَيۡهِ يَصۡعَدُ ٱلۡكَلِمُ ٱلطَّيِّبُ وَٱلۡعَمَلُ ٱلصَّٰلِحُ يَرۡفَعُهُۥۚ [ فاطر/10]“ Kepada-Nya-lah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang saleh dinaikkan-Nya.” Qs Fathir : 10Amal shalih merupakan deposito bagi seorang hamba di sisi Tuhan-nya; dengan amal shalih mereka meraih kebahagiaan, keselamatan dan kesuksesan. Allah –subhanahu wa ta’ala- melebihkan mutu antara amal shalih satu dengan lainnya. Tidak ada suatu amal yang digunakan oleh seorang hamba untuk mendekatkan diri kepada Allah dibanding amal fardhu yang Allah wajibkan atasnya. Dan tak henti-hentinya seorang hamba mendekatkan diri kepada Allah melalui amal-amal sunnah sehingga Allah mencintainya.Amal fardhu (wajib) yang paling agung ialah keimanan yang benar dan keyakinan yang mantap. Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- pernah ditanya tentang : “Amal apakah yang lebih utama?” Jawab beliau : “Beriman kepada Allah.” Muttafaq Alaih.Sebaik-baik hati adalah hati yang sehat (bersih dari endapan dosa), sebab dengan kesehatan hati, maka seluruh organ tubuh akan menjadi sehat dan baik. Di akhirat kelak harta dan anak-anak lelaki tidak berguna, “Kecuali orang yang datang menghadap Allah dengan hati yang sehat/bersih”.Para generasi pertama (umat ini) menempati garis terdepan (dalam kebaikan) berkat ketulusan batin mereka.Bakar Al-Muzani berkata, :” مَا سَبَقهم أبو بَكْرٍ بِكثْرَةِ صَلَاةٍ وَلَا صِيَامٍ وَلكنْ بشَئْ وَقرَ فِى صَدْرِهِ ““Bukanlah yang membuat Abu Bakar membalap mereka itu banyaknya shalat dan puasa, tetapi karena berkat sesuatu yang bersemayam di dalam dadanya”. Sebagian Ulama berkata :” الذِى وَقُرَ فِى صَدْرِه هُوَ حُبُّ اللهِ وَالنَّصِيْحَةُ لِخَلْقِهِ ““Sesuatu yang bersemayam di dalam dadanya adalah kecintaannya kepada Allah dan nasihatnya kepada hamba-hambaNya”.Memurnikan Ibadah kepada Allah semata, tanpa menyekutukanNya dengan sesuatu, merupakan sumber segala kebaikan dan kesuksesan. Sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi kita Muhammad –shallallahu alaihi wa sallam- sedangkan mengikuti sunnah beliau adalah penyebab terkabulnya ibadah dan keberkahan amal”.Kalimat Tauhid adalah lambang Islam dan kunci surga, menghimpun ajaran agama secara keseluruhan, maka kalimat Tauhid-lah yang menjadi pemula dan pemungkas agama, sekaligus merupakan puncak tertinggi cabang keimanan. Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :الْإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ شُعْبَةً، فَأَعلاهَا قَوْلُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ [ متفق عليه] “Iman itu lebih dari tujuh puluh cabang, yang tertinggi adalah pernyataan, ‘La ilaha Illallah’ (Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah”. Muttafaq AlaihLoyalitas (karena Allah) dan berlepas diri (dari keburukan karena Allah) merupakan benteng kokoh bagi agama dan pemeluknya. Tali pengikat keimanan yang paling kuat adalah cinta karena Allah dan benci karena Allah. Barangsiapa yang cinta karena Allah dan benci-pun karena Allah, maka sungguh telah sempurna keimanannya. Itulah sebabnya maka kecintaan kepada Allah dan manisnya agama hanya dapat dirasakan dengan cara ini.Shalat adalah penghubung antara hamba dengan Tuhan-nya. Shalat adalah sebaik-baik ibadah anggota badan dan yang paling suci. Ia merupakan rukun kedua di antara rukun-rukun Islam dan bangunan-bangunannya yang kokoh. Shalat menjadi pembeda antara orang yang beriman dan orang kafir. Melaksanakan shalat secara berjamaah di masjid adalah wajib. Keutamaan pelaksanaannya secara berjamaah melebihi shalat seorang diri dengan 27 derajat. Yang paling besar pahala shalatnya adalah yang paling jauh jarak tempuhnya ke tempat shalat.Sebaik-baik baris kaum lelaki adalah paling depan, sedangkan bagi kaum wanita adalah paling belakang. Sebaik-baik shalat adalah yang dilaksanakan dengan lama berdiri, kecuali dalam kondisi seperti dalam hadis yang menuntut mempercepatnya.Suatu kondisi di mana seorang hamba paling dekat kepada Tuhan-nya adalah ketika ia sedang bersujud. Shalat wanita di rumahnya lebih baik dari pada di masjid. Bagi lelaki pun demikian; lebih baik shalat di rumahnya kecuali shalat wajib. Sebaik-baik shalat setelah shalat wajib adalah shalat malam. Shalat malam akan disaksikan (oleh para malaikat) jika dilakukan di sepertiga akhir malam. Sebaik-baik shalat malam adalah shalat seperti cara Nabi Daud –alaihissalam-; beliau tidur setengah malam, bangun shalat sepertiga malam dan tidur lagi seperenam malam. Dua rak’at fajar pahalanya lebih baik dari pada dunia seisinya.Sedekah dapat menghapus kesalahan seperti air dapat memadamkan api. Sedekah menjadi bukti keimanan seseorang dan termasuk sebaik-baik amal ibadahnya. Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- pernah ditanya tentang, “Amal apakah dalam Islam yang paling baik ?” beliau menjawab :” تُطعِمُ الطَّعامَ وتَقرَأ السَّلامَ عَلى مَنْ عَرَفْتَ وَمَنْ لَمْ تَعْرِفْ ” متفق عليه“Engkau memberi makan dan menyampaikan salam kepada orang yang engkau kenal dan orang yang tidak engkau kenal”.Muttafaq Alaih“Sedekah yang paling besar pahalanya adalah sedekah yang engkau keluarkan ketika engkau dalam keadaan sehat dan kikir, di mana engkau takut jatuh miskin dan berharap menjadi kaya. Janganlah engkau menunda-nunda sampai roh di tenggorokan, ketika itula engkau ingin katakan : “bagian si fulan sekian dan bagian si fulan sekian, padahal bagian itu seharusnya telah menjadi milik si fulan”. Muttafaq alaih.Sebaik-baik sedekah adalah yang dikeluarkan dari sisa kebutuhan sendiri. Tangan yang di atas (pemberi) lebih baik dari pada tangan yang di bawah (penerima). Bersedakah secara samar-samar lebih baik dari pada secara terang-terangan, karena cara seperti itu lebih aman dari sikap pamer (riya’) kecuali bilamana bersedekah secara terang-terangan itu dapat mendatangkan kemaslahatan yang meyakinkan. Firman Allah :إِن تُبۡدُواْ ٱلصَّدَقَٰتِ فَنِعِمَّا هِيَۖ وَإِن تُخۡفُوهَا وَتُؤۡتُوهَا ٱلۡفُقَرَآءَ فَهُوَ خَيۡرٞ لَّكُمۡۚ وَيُكَفِّرُ عَنكُم مِّن سَيِّ‍َٔاتِكُمۡۗ [ البقرة/271]“Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu.” Qs Al-Baqarah : 271Di antara tujuh orang yang dinaungi Allah pada naungan Arasy-Nya adalah seorang yang mengeluarkan suatu sedekah secara samar-samar sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang dikeluarkan oleh tangan kanannya.Memberi kelonggaran kepada orang yang sedang dalam kesulitan adalah sedekah. Siapa yang pinjam uang kepada seseorang dan bertekad akan mengembalikannya, maka Allah akan menunaikan (memudahkan) pembayarannya. Sesungguhnya orang pilihan di antara kalian adalah orang yang paling baik cara pengembalian hutangnya.Puasa merupakan perisai dari neraka. Bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah dari pada aroma wewangian misk. Sebaik-baik puasa setelah Ramadhan adalah puasa bulan Muharam. Puasa yang paling disenagi Allah ialah puasa Daud –alaihissalam-, beliau sehari puasa dan sehari berbuka.Umrah sebelumnya ke umrah berikutnya dapat menghapus dosa antara keduanya. Haji mabrur tiada suatu balasan baginya kecuali surga. Pelaksanaan haji yang terbaik adalah haji tamattu’ bagi orang yang mampu memotong hewan sembelian (hadyu). Mencukur gundul rambut dalam ibadah haji lebih baik dari pada hanya mencukur pendek. Tidak ada suatu amal yang dilakukan oleh seseorang pada hari raya lebih utama dari pada menyembelih hewan sembelihannya.Berangkat untuk berjihad di jalan Allah di waktu pagi atau sore hari lebih baik dari pada dunia dan seisinya. Berjaga sehari semalam (di daerah perbatasan dengan musuh) lebih baik dari pada berpuasa dan shalat malam sebulan, bahkan lebih baik dari pada dunia seisinya.Penguasaan ilmu seharusnya telah ada sebelum beramal dan lebih didahulukan dari amal. Sebab ilmu adalah nahkoda sedangkan amal menginduk pada ilmu. Barangsiapa yang Allah kehendaki suatu kebaikan baginya, maka Allah memahamkannya urusan agama.Allah –subhanahu wa ta’ala- menafikan kesejajaran orang-orang yang berilmu dengan orang-orang yang tidak berilmu. Kelebihan orang yang berilmu atas orang yang ahli ibadah bagaikan kelebihan cahaya bulan purnama atas bintang-bintang lainnya. Manusia adalah bagaikan barang tambang; mereka yang pernah menjadi orang-orang terbaik pada masa jahiliah akan menjadi orang-orang terbaik pula pada masa Islam jika mereka memahami ilmu Islam.  Sebaik-baik manusia adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.Sofyan –rahimahullah- berkata : ” مَا مِنْ عَمَل أفضَلَ مِنْ طَلَبِ الْعِلْمِ إذَا صَحَّت النّيَةُ ““ Tidak ada suatu amal yang lebih baik dari pada upaya mencari ilmu jika niatnya lurus”.Berdzikir kepada Allah adalah amal sunnah yang paling layak dijalani seseorang, dan dzikir yang paling utama adalah membaca Al-Qur’an, firman Tuhan semesta alam, sebaik-baik kitab suci yang diturunkan.Barangsiapa membaca :” لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ”“Tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tiada sekutu bagiNya, milikNya kerajaan dan milikNya pula segala puji. Dia Maha Kuasa atas segalanya”. 100 X sehari, maka baginya pahala sama dengan memerdekakan 10 budak, dicatat baginya 100 kebaikan, dihapuskan darinya 100 keburukan, dan kalimat tersebut menjadi benteng baginya dari gangguan setan pada hari itu hingga sore. Tidak ada orang yang melakukan suatu amal kebajikan lebih afdhal dari pada apa yang ia lakukan kecuali orang yang melakukan lebih banyak lagi dari pada itu”. HR MuslimPerkataan yang paling disenangi Allah sesudah Al-Qur’an ialah 4 kalimat :” سُبْحَانَ اللهِ ، وَالحمْدُ للهِ ، وَلَا إلهَ إلّا اللهَ ، وَاللهُ أكبَرُ ““Maha suci Allah, segala puji bagi Allah, tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, Allah Maha Besar”.Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :” لَأَنْ أَقُولَ سُبْحَانَ اللهِ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ، وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ، أَحَبُّ إِلَيَّ مِمَّا طَلَعَتْ عَلَيْهِ الشَّمْسُ ” رواه مسلمSungguh jika aku mengucapkan ; “Maha suci Allah, segala puji bagi Allah, tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, Allah Maha Besar” lebih aku sukai dari pada (bumi) yang tersinari matahari”. HR MuslimDua kalimat yang ringan di lidah, berat dalam timbangan, dicintai oleh Allah yang Maha Pengasih, ialah :  سُبحَانَ الله وَبحَمْدِهِ  (Maha suci Allah dan Maha terpuji).Berdakwah kepada Allah merupakan tugas para rasul, dan tidak ada perkataan yang lebih baik daripada perkataan orang yang berdakwah kepada Allah. Dengan dakwah, maka umat ini meraih yang terbaik dan mencapai kemuliaan. لَأَنْ يَهْدِيَ اللهُ بِكَ رَجُلاً وَاحِدًا خَيْرٌ لَكَ مِنْ حُمرِ النِّعَمِ“Sungguh sekiranya Allah memberi petunjuk kepada seseorang melalui perantaramu akan lebih baik bagimu daripada onta merah)”.“Barangsiapa yang mengajak kepada kebenaran maka baginya pahala seperti pahala orang yang mengikutinya hingga hari kiamat “.Dakwah dibuka pertama kali dimulai dari persoalan yang paling urgen kemudian beralih kepada persoalan yang urgen. Pokok dan asas dari segala persoalan adalah mengajak manusia untuk beribadah kepada Allah semata dan menyelamatkan mereka dari kemurkaan dan siksaanNya.    Mendamaikan dua pihak yang bersengketa merupakan bagian dari agama dan bentuk pendekatan diri kepada Allah yang berdampak positif kepada masyarakat secara luas. Allah berfirman :لَا خَيْرَ فِي كَثِيرٍ مِنْ نَجْوَاهُمْ إِلَّا مَنْ أَمَرَ بِصَدَقَةٍ أَوْ مَعْرُوفٍ أَوْ إِصْلَاحٍ بَيْنَ النَّاسِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ فَسَوْفَ نُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا“Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma’ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keridhaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar” QS An-Nisaa’ : 114Mengingat begitu besar manfaatnya, maka dengan mendamaikan, seseorang akan meraih derajat seorang yang rajin berpuasa dan tekun melakukan sholat malam. Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda :أَلآ أُخْبِرُكُمْ بِأَفْضَلَ مِنْ دَرَجَةِ الصِّيَامِ وَالصَّلاَةِ وَالصَّدَقَةِ؟“Maukah aku kabarkan kepada kalian yang lebih afdol dibanding derajat puasa dan shalat serta sedekah?”.Para sahabat berkata, “Tentu wahai Rasulullah”. Beliau berkata :إِصْلاَحُ ذَاتِ الْبَيْنِ“Mendamaikan dua pihak yang beresengketa”. HR Abu Dawud    Seorang hamba diamanati oleh Allah untuk berbuat baik kepada sesama manusia, sedangkan orang paling utama yang harus diperlakukan dengan baik adalah kedua orang tua. Bakti kepada keduanya merupakan gandengan tauhid dan merupakan amal yang terbaik setelah keimanan. Selanjutnya berbuat baik kepada kaum kerabat terdekat.Seorang mukmin yang berinteraksi dengan masyarakat dan dapat menahan diri dalam menghadapi gangguan mereka lebih baik dari pada orang yang tidak berinteraksi dengan masyarakat dan tidak sabar dalam menghadapi gangguan mereka. Orang yang terbaik adalah yang paling bermanfaat dan mau memberikan andil kebaikan kepada orang lain sesuai kemampuannya. Ia memperlakukan masyarakat dengan cara yang dirinya ingin diperlakukan oleh mereka. Ia menyukai kebaikan bagi mereka, sama dengan yang ia menyukainya untuk dirinya. Ia berusaha memberikan yang terbaik bagi masyarakatnya dan bersikap sabar terhadap gangguan mereka.Orang mukmin yang paling sempurna keimanannya adalah yang terbaik akhlaknya. Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda : إِنَّ مِنْ خِيَارِكُمْ أَحْسَنَكُمْ أَخْلاَقًا“Sesungguhnya diantara yang terbaik diantara kalian adalah yang terindah akhlaknya” . HR Al-Bukhari dan MuslimTidak ada sesuatupun di timbangan kebajikan yang lebih berat daripada akhlak yang mulia.Sebaik-baik sahabat adalah yang terbaik bagi sahabatnya, dan sebaik-baik tetangga adalah yang terbaik bagi tetangganya. Sebaik-baik pemimpin kalian adalah yang kalian mencintai mereka dan mereka mencintai kalian, dan sebaik-baik lelaki adalah yang terbaik bagi istrinya.    Amal yang terbaik adalah amal yang paling langgeng meskipun sedikit.  Amal sedikit namun berkesinambungan akan membuahkan hasil hingga lebih dan bahkan berlipat-lipat dari pada yang banyak namun terputus.Sebaik-baik agama adalah yang lurus (jauh dari kesyirikan) dan yang memberikan kemudahan. Tidaklah Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- dihadapkan kepada dua pilihan melainkan beliau memilih yang termudah selama pilihannya itu bukan dosa.Ibadah di masa fitnah adalah seperti berhijrah kepada Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam-. Orang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih disukai Allah dari pada orang mukmin yang lemah.Jika pencetus kejahatan telah menguat, maka saatnya berdiri tegak dengan ketegaran hati ( di atas keimanan untuk menghadapi kejahatan tersebut). Diantara mereka yang akan dinaungi oleh Allah pada naunganNya –pada hari kiamat- adalah seorang lelaki yang diajak berzina oleh seorang wanita yang memiliki kedudukan dan kecantikan, namun demikian lelaki tersebut berkata, “Sesungguhnya aku takut kepada Allah”.Seorang yang tetap beramal dalam situasi yang memerlukan kesabaran, dan berpegang teguh pada agamanya, baginya pahal lima puluh orang sahabat. Sedangkan pahala menjadi sahabat Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- mengungguli itu semua”.Sesungguhnya fitnah (huru-hara) itu merupakan petaka, maka dalam hal ini orang yang memilih sikap defensif lebih baik dari pada yang agresif dan ofensif, namun begitu yang lebih aman adalah menghindar dari fitnah-fitnah tersebut.    Dunia merupakan ladang usaha dan perjuangan. Hasil usaha yang terbaik adalah hasil jerih payah tangan sendiri, dan tidaklah seseorang memakan makanan yang lebih baik dibanding hasil jerih payah tangannya sendiri. Maka makanan terbaik adalah apa yang diperoleh dari hasil usaha sendiri, dan sesungguhnya anak  merupakan hasil usahanya. Sekiranya ada seseorang yang mengambil talinya lalu pergi mencari kayu akan lebih baik dari pada meminta-minta kepada sesama, baik mereka mengabulkan permintaannya ataupun menolaknya.Dunia merupakan kesenangan sesaat, dan sebaik-baik kesenangan adalah istri yang sholihah. Sebaik-baik pernikahan adalah yang sederhana, dan pernikahan yang paling besar berkahnya adalah pernikahan yang paling sedikit biayayanya (maharnya). Lalu nama yang paling disukai oleh Allah adalah Abdullah dan Abdurrahman, dan yang paling benar adalah Harits dan Hammaam. Dan yang paling afdhal untuk menyemir (merubah) uban rambut adalah hinna dan katm. Cara terbaik untuk berobat adalah dengan hijamah (bekam). Sebaik-baik air adalah air zam-zam, ia adalah air yang berkah dan makanan mengenyangkan sekaligus obat penyakit.Selanjutnya wahai kaum muslimin sekalian…Sesungguhnya dunia adalah medan untuk berlomba dalam kebaikan dan berpacu dalam ketaatan. Maka orang yang muwaffaq (bernasib mujur) adalah yang segera melakukan amal ketaatan sebelum kedatangan ajal yang mengagetkan.  Ia bersaing dengan orang-orang yang bersegera melakukan kebaikan, dan tidak ingin berlama-lama dalam kehampaan dan kemalasan. Justru ia konsisten dalam ketaatan dan tidak meninggalkan perkara yang lebih afdhal dan lebih sempurna, bukan tersibukkan oleh persoalan-persoalan yang kurang afdhal. Oleh sebab itu, siapa yang mampu untuk tidak didahului oleh seorangpun dalam ketaatan menuju Allah, maka lakukanlah!.==========Khotbah KeduaSegala puji bagi Allah atas kebaikan-Nya, puji syukur tertujukan kepada-Nya atas bimbingan dan karunia-Nya. Aku bersaksi bahwasanya tiada sesembahan yang berhak disembah melainkan Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, sebagai bentuk pengagungan kepadaNya. Aku-pun bersaksi bahwasanya nabi kita Muhammad adalah hamba dan utusanNya. Semoga shalawat dan salam sebanyak-banyaknya selalu tercurahkan kepadanya, seluruh keluarganya dan sahabat-sahabatnya.Kaum muslimin sekalian…Kebahagiaan dan kelapangan dada seseorang terletak pada kedekatannya kepada Allah –subhanahu wa ta’ala-. Ketaatan akan membuahkan ketenteraman batin dengan Allah dan kecintaan hati kepada-Nya. Seorang mukmin hendaknya berambisi dalam mencapai amalan yang paling tinggi dan yang paling sempurna serta paling afdhol. Berprasangka kepada Allah adalah perkara yang besar (sangat berpengaruh). Allah tidak akan mengecewakan orang yang berharap dan berbaik sangka kepadaNya.Barangsiapa yang bervariasi dalam melakukan amal shalih, maka akan semakin banyak pula variasi kenikmatan yang ia rasakan di dunia dan akhirat. Tentunya tidak sama antara ganjaran dan kelezatan bagi orang yang punya andil banyak dalam melakukan ketaatan dengan ganjaran dan kelezatan bagi orang yang hanya terbatas melakukan satu model ketaatan.Akhirnya ketahuilah, sesungguhnya Allah telah memerintahkan kalian untuk bershalawat dan bersalam kepada nabi-Nya. Allah telah berfirman dalam Al-Qur’an :إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا“Sesungguhnya Allah dan para malaikatNya bershalawat kepada Nabi, wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian kepadanya dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya”. QS Al-Ahzaab : 56======= Doa ========Penerjemah : Usman Hatim & Firanda Andirja

YANG TERBAIK…

Khotbah Jum’at dari Masjid Nabawi, 1 Rajab 1437 H.Oleh : Syekh Dr. Abdul Muhsin Bin Muhamad Al-QasimKhotbah PertamaSegala puji bagi Allah, kami memujiNya, memohon pertolonganNya dan ampunanNya. Kami berlindung kepada Allah dari kejahatan diri kami dan keburukan amal perbuatan kami. Barangsiapa yang Allah beri petunjuk, tidak akan ada yang dapat menyesatkannya. Dan barangsiapa yang Allah biarkan sesat, tidak akan ada yang dapat memberinya petunjuk. Aku bersaksi tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagiNya. Dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah hambaNya dan rasulNya. Semoga Allah mencurahkan shalawat dan salam sebanyak-banyaknya kepadanya, beserta seluruh keluarganya dan sahabatnya.Selanjutnya ……. Kaum muslimin !Hanya Allah sajalah yang memilih dan melebihkan sesuatu, sebagaimana Dia pula satu-satunya yang menciptakan dan mengatur (segala urusan).Firman Allah :وَرَبُّكَ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَيَخْتَارُ مَا كَانَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ سُبْحَانَ اللَّهِ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ [ القصص / 68]“Dan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya. Sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan (dengan Dia)”. Qs Al-Qashas : 68Suatu bukti kesempurnaan iilmu-Nya, Dia mengistimewakan apa yang dikehendakinya karena anugerah-Nya. Maka Pemilihan-Nya dan pengkhususan-Nya tersebut menjadi bukti Ketuhanan-Nya dan Keesaan-Nya serta kesempurnaan kebiajaksanaan-Nya dan kekuasaan-Nya.Allah –subhanahu wa ta’ala- memilih malaikat-Nya di atas seluruh makhlu-Nya; maka Allah ciptakan mereka dari cahaya dan menugaskan mereka mengurus kerajaan-Nya.لا يَعۡصُونَ ٱللَّهَ مَآ أَمَرَهُمۡ وَيَفۡعَلُونَ مَا يُؤۡمَرُونَ [ التحريم / 6]“Mereka tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” Qs At-Tahrim : 6Allah –subhanahu wa ta’ala- memuliakan anak cucu Adam (manusia) dan memilih di antara mereka para nabi dan rasul-Nya. Allah –subhanahu wa ta’ala- memilih nabi kita Muhammad –shallallahu alaihi wa sallam- sebagai pemimpin anak cucu Adam, beliau manusia termulia di antara mereka, dan sebaik-baik para nabi dan rasul. Demikian pula sahabat-sahabat beliau, mereka sebaik-baik sahabat dan sebaik baik generasi, tidak ada manusia sebelum dan sesudah mereka yang setara dengan mereka.Sabda beliau –shallallahu alaihi wa sallam- :” خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ “ “Sebaik-baik manusia adalah generasi sezaman denganku, lalu disusul oleh generasi berikutnya, dan kemudian generasi berikutnya”.Umat Islam sebagai penyempurna 70 umat adalah umat terbaik dan termulia di sisi Allah. Penghuni surga terkelompokkan menjadi 120 baris; 80 baris di antaranya adalah umat Muhammad –shallallahu alaihi wa sallam- sedangkan yang 40 baris adalah dari umat lain. Orang yang paling mulia di antara mereka adala yang paling bertakwa.Ada dua orang lelaki yang melintas di dekat Nabi –shallallahu alaihi wa sallam-; Lelaki pertama termasuk orang miskin di antara kaum muslimin, sedangkan yang kedua termasuk orang kelas elit dalam masyarakat, maka ketika mengomentari orang yang pertama beliau berkata :” هَذا خَيْرٌ مِنْ مِلْء الأرْضِ مِثْل هَذَا ““Orang ini (yang pertama yang miskin) lebih baik dari pada yang seperti itu (orang kedua yang elit) sepenuh bumi” HR BukhariSurga tempat terhormat disiapkan oleh Allah untuk hamba-hamba-Nya yang mukmin.” وَلمَوْضِعُ سَوْطٍ أحَدِكُم فِي الجَنَّةِ، خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا ” رواه البخاري“Sungguh tempat cemeti salah seorang di antara kalian di surga lebih baik nilainya dari pada dunia seisinya”. HR BukhariYang paling unggul adalah surga Firdaus, ia adalah surga paling tinggi dan paling tengah, dari situlah sungai-sungai di surga terpancar, dan di atasnya terdapat Arasy (tahta, singgasana Allah) yang Maha Pengasih. Puncak kenikmatan surgawi adalah melihat Allah –subhanahu wa ta’ala-.Firman Allah :” فيَكْشِفُ الْحِجَابَ، فَمَا أُعْطُوا شَيْئًا أَحَبَّ إِلَيْهِمْ مِنَ النَّظَرِ إِلَى رَبِّهِمْ عَزَّ وَجَلَّ ” [ رواه مسلم ]“Maka Allah pun menyingkap tabir, ketika itulah penghuni surga merasa tidak mengecap kenikmatan yang lebih mereka sukai dibanding memandang Tuhan mereka, Allah –subhanahu wa ta’ala.” HR MuslimAllah –subhanahu wa ta’ala- menciptakan berbagai tempat (lokasi) dan mengistimewakan antara satu dengan lainnya. Sebaik-baik lokasi adalah yang dapat mengantarkan seorang hamba kepada Tuhannya, dan yang lebih dekat untuk meraih ridha-Nya dan surga-Nya. Mekah adalah bumi Allah yang terbaik dan paling dicintai oleh-Nya, merupakan tanah suci. Di dalamnya terdapat Kiblat kaum muslimin, dan Masjid pertama kali didirikan di muka bumi. Shalat di dalamnya lebih baik dari pada 100.000 X shalat di masjid lainnya.Allah –subhanahu wa ta’ala- menjadikannya sebagai tempat manasik ibadah (haji dan umrah) bagi hamba-hamba-Nya. Ke sanalah hati manusia condong, di sanalah umat manusia (beriman) datang dari seluruh penjuru negeri yang jauh.Madinah, tempat hijarah Rasul –shallallahu alaihi wa sallam- dan kota suci, keberkahan di dalamnya dua kali lipat dari yang di Mekah. Shalat di Masjid Rasul –shallallahu alaihi wa sallam- lebih baik dari pada 1000 X shalat di masjid lain. Orang yang bersuci (berwudhu) di tempat tinggalnya lalu pergi menuju ke Masjid Quba’ mendapatkan pahala sebanding pahala umrah. Masjidil Aqsha, Qiblat pertama dan tempat isra’ Rasul –shallallahu alaihi wa sallam-, shalat di dalamnya menyamai 500 X shalat. Tidak dilakukan perjalanan jauh untuk ibadah kecuali ke 3 masjid; Masjidil Haram, Masjidil Aqsha dan Masjid Rasul –shallallahu alaihi wa sallam-.Sebaik-baik lokasi di bumi adalah Masjid, sedangkan seburuk-buruk lokasi di bumi adalah pasar. Majlis-majlis dzikir adalah laksana pertamanan surga. Sabda Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- :وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللهِ، يَتْلُونَ كِتَابَ اللهِ، وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ، إِلَّا نَزَلَتْ عَلَيْهِمِ السَّكِينَةُ، وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمُ الْمَلَائِكَةُ، وَذَكَرَهُمُ اللهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ [ رواه مسلم]“Tidaklah suatu kaum berkumpul di satu rumah Allah, mereka membacakan kitabullah dan mempelajarinya, kecuali turun kepada mereka ketenangan, dan rahmat menyelimuti mereka, para malaikat mengelilingi mereka dan Allah memuji mereka di hadapan makhluk yang ada di dekatnya”. HR MuslimWaktu (zaman) adalah kendaraan menuju akhirat. Orang yang cerdas adalah orang yang memanfaatkan waktu-waktunya yang termahal. Bulan yang paling utama adalah Ramadhan; Allah mewajibkan berpuasa bulan Ramadhan dan menurunkan Al-Qur’an di dalamnya.Bulan-bulan haram yang mulia di sisi Allah patut diagungkan, bermaksiat kepada Allah di dalamnya lebih buruk dosanya dari pada bermaksiat di bulan-bulan lainnya.Sebaik-baik hari adalah hari nahar (hari raya Qurban,10 Zulhijah) lalu hari Arafah (9 Zulhijah). Tidak ada hari-hari yang mana amal shalih di dalamnya lebih Allah sukai dari pada sepuluh hari bulan Zulhijah.Hari jum’at adalah sebaik-baik hari yang disinari matahari; di hari jum’at terdapat suatu saat yang bilamana seorang muslim tepat pada saat itu sedang melakukan shalat dan memohon kebaikan kepada Allah, niscaya Allah memberinya. Demikian pula sepuluh malam bulan Ramadhan yang penuh berkah. Sebaik-baik malam sepanjang masa adalah Lailatul-Qadar, karena kebaikannya melebihi seribu bulan.Kemudian sepertiga akhir malam merupakan waktu yang paling berharga di antara waktu malam, karena di dalamnya Allah turun ke Langit dunia untuk mendekati dan menyayangi hamba-hambaNya seraya berfirman :” مَنْ يَدْعُونِي، فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ، مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ ” متفق عليه“Siapakah kiranya yang berdoa kepadaKu lalu aku kabulkan doanya, siapakah kiranya yang memohon kepadaKu lalu aku berkenan memberinya, siapakah kiranya yang meminta ampun kepadaKu lalu aku ampuninya.?” Muttafaq Alaih.Allah adalah Maha Baik, tidak menerima di antara ucapan dan amal perbuatan kecuali yang baik pula.Firman Allah :إِلَيۡهِ يَصۡعَدُ ٱلۡكَلِمُ ٱلطَّيِّبُ وَٱلۡعَمَلُ ٱلصَّٰلِحُ يَرۡفَعُهُۥۚ [ فاطر/10]“ Kepada-Nya-lah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang saleh dinaikkan-Nya.” Qs Fathir : 10Amal shalih merupakan deposito bagi seorang hamba di sisi Tuhan-nya; dengan amal shalih mereka meraih kebahagiaan, keselamatan dan kesuksesan. Allah –subhanahu wa ta’ala- melebihkan mutu antara amal shalih satu dengan lainnya. Tidak ada suatu amal yang digunakan oleh seorang hamba untuk mendekatkan diri kepada Allah dibanding amal fardhu yang Allah wajibkan atasnya. Dan tak henti-hentinya seorang hamba mendekatkan diri kepada Allah melalui amal-amal sunnah sehingga Allah mencintainya.Amal fardhu (wajib) yang paling agung ialah keimanan yang benar dan keyakinan yang mantap. Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- pernah ditanya tentang : “Amal apakah yang lebih utama?” Jawab beliau : “Beriman kepada Allah.” Muttafaq Alaih.Sebaik-baik hati adalah hati yang sehat (bersih dari endapan dosa), sebab dengan kesehatan hati, maka seluruh organ tubuh akan menjadi sehat dan baik. Di akhirat kelak harta dan anak-anak lelaki tidak berguna, “Kecuali orang yang datang menghadap Allah dengan hati yang sehat/bersih”.Para generasi pertama (umat ini) menempati garis terdepan (dalam kebaikan) berkat ketulusan batin mereka.Bakar Al-Muzani berkata, :” مَا سَبَقهم أبو بَكْرٍ بِكثْرَةِ صَلَاةٍ وَلَا صِيَامٍ وَلكنْ بشَئْ وَقرَ فِى صَدْرِهِ ““Bukanlah yang membuat Abu Bakar membalap mereka itu banyaknya shalat dan puasa, tetapi karena berkat sesuatu yang bersemayam di dalam dadanya”. Sebagian Ulama berkata :” الذِى وَقُرَ فِى صَدْرِه هُوَ حُبُّ اللهِ وَالنَّصِيْحَةُ لِخَلْقِهِ ““Sesuatu yang bersemayam di dalam dadanya adalah kecintaannya kepada Allah dan nasihatnya kepada hamba-hambaNya”.Memurnikan Ibadah kepada Allah semata, tanpa menyekutukanNya dengan sesuatu, merupakan sumber segala kebaikan dan kesuksesan. Sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi kita Muhammad –shallallahu alaihi wa sallam- sedangkan mengikuti sunnah beliau adalah penyebab terkabulnya ibadah dan keberkahan amal”.Kalimat Tauhid adalah lambang Islam dan kunci surga, menghimpun ajaran agama secara keseluruhan, maka kalimat Tauhid-lah yang menjadi pemula dan pemungkas agama, sekaligus merupakan puncak tertinggi cabang keimanan. Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :الْإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ شُعْبَةً، فَأَعلاهَا قَوْلُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ [ متفق عليه] “Iman itu lebih dari tujuh puluh cabang, yang tertinggi adalah pernyataan, ‘La ilaha Illallah’ (Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah”. Muttafaq AlaihLoyalitas (karena Allah) dan berlepas diri (dari keburukan karena Allah) merupakan benteng kokoh bagi agama dan pemeluknya. Tali pengikat keimanan yang paling kuat adalah cinta karena Allah dan benci karena Allah. Barangsiapa yang cinta karena Allah dan benci-pun karena Allah, maka sungguh telah sempurna keimanannya. Itulah sebabnya maka kecintaan kepada Allah dan manisnya agama hanya dapat dirasakan dengan cara ini.Shalat adalah penghubung antara hamba dengan Tuhan-nya. Shalat adalah sebaik-baik ibadah anggota badan dan yang paling suci. Ia merupakan rukun kedua di antara rukun-rukun Islam dan bangunan-bangunannya yang kokoh. Shalat menjadi pembeda antara orang yang beriman dan orang kafir. Melaksanakan shalat secara berjamaah di masjid adalah wajib. Keutamaan pelaksanaannya secara berjamaah melebihi shalat seorang diri dengan 27 derajat. Yang paling besar pahala shalatnya adalah yang paling jauh jarak tempuhnya ke tempat shalat.Sebaik-baik baris kaum lelaki adalah paling depan, sedangkan bagi kaum wanita adalah paling belakang. Sebaik-baik shalat adalah yang dilaksanakan dengan lama berdiri, kecuali dalam kondisi seperti dalam hadis yang menuntut mempercepatnya.Suatu kondisi di mana seorang hamba paling dekat kepada Tuhan-nya adalah ketika ia sedang bersujud. Shalat wanita di rumahnya lebih baik dari pada di masjid. Bagi lelaki pun demikian; lebih baik shalat di rumahnya kecuali shalat wajib. Sebaik-baik shalat setelah shalat wajib adalah shalat malam. Shalat malam akan disaksikan (oleh para malaikat) jika dilakukan di sepertiga akhir malam. Sebaik-baik shalat malam adalah shalat seperti cara Nabi Daud –alaihissalam-; beliau tidur setengah malam, bangun shalat sepertiga malam dan tidur lagi seperenam malam. Dua rak’at fajar pahalanya lebih baik dari pada dunia seisinya.Sedekah dapat menghapus kesalahan seperti air dapat memadamkan api. Sedekah menjadi bukti keimanan seseorang dan termasuk sebaik-baik amal ibadahnya. Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- pernah ditanya tentang, “Amal apakah dalam Islam yang paling baik ?” beliau menjawab :” تُطعِمُ الطَّعامَ وتَقرَأ السَّلامَ عَلى مَنْ عَرَفْتَ وَمَنْ لَمْ تَعْرِفْ ” متفق عليه“Engkau memberi makan dan menyampaikan salam kepada orang yang engkau kenal dan orang yang tidak engkau kenal”.Muttafaq Alaih“Sedekah yang paling besar pahalanya adalah sedekah yang engkau keluarkan ketika engkau dalam keadaan sehat dan kikir, di mana engkau takut jatuh miskin dan berharap menjadi kaya. Janganlah engkau menunda-nunda sampai roh di tenggorokan, ketika itula engkau ingin katakan : “bagian si fulan sekian dan bagian si fulan sekian, padahal bagian itu seharusnya telah menjadi milik si fulan”. Muttafaq alaih.Sebaik-baik sedekah adalah yang dikeluarkan dari sisa kebutuhan sendiri. Tangan yang di atas (pemberi) lebih baik dari pada tangan yang di bawah (penerima). Bersedakah secara samar-samar lebih baik dari pada secara terang-terangan, karena cara seperti itu lebih aman dari sikap pamer (riya’) kecuali bilamana bersedekah secara terang-terangan itu dapat mendatangkan kemaslahatan yang meyakinkan. Firman Allah :إِن تُبۡدُواْ ٱلصَّدَقَٰتِ فَنِعِمَّا هِيَۖ وَإِن تُخۡفُوهَا وَتُؤۡتُوهَا ٱلۡفُقَرَآءَ فَهُوَ خَيۡرٞ لَّكُمۡۚ وَيُكَفِّرُ عَنكُم مِّن سَيِّ‍َٔاتِكُمۡۗ [ البقرة/271]“Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu.” Qs Al-Baqarah : 271Di antara tujuh orang yang dinaungi Allah pada naungan Arasy-Nya adalah seorang yang mengeluarkan suatu sedekah secara samar-samar sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang dikeluarkan oleh tangan kanannya.Memberi kelonggaran kepada orang yang sedang dalam kesulitan adalah sedekah. Siapa yang pinjam uang kepada seseorang dan bertekad akan mengembalikannya, maka Allah akan menunaikan (memudahkan) pembayarannya. Sesungguhnya orang pilihan di antara kalian adalah orang yang paling baik cara pengembalian hutangnya.Puasa merupakan perisai dari neraka. Bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah dari pada aroma wewangian misk. Sebaik-baik puasa setelah Ramadhan adalah puasa bulan Muharam. Puasa yang paling disenagi Allah ialah puasa Daud –alaihissalam-, beliau sehari puasa dan sehari berbuka.Umrah sebelumnya ke umrah berikutnya dapat menghapus dosa antara keduanya. Haji mabrur tiada suatu balasan baginya kecuali surga. Pelaksanaan haji yang terbaik adalah haji tamattu’ bagi orang yang mampu memotong hewan sembelian (hadyu). Mencukur gundul rambut dalam ibadah haji lebih baik dari pada hanya mencukur pendek. Tidak ada suatu amal yang dilakukan oleh seseorang pada hari raya lebih utama dari pada menyembelih hewan sembelihannya.Berangkat untuk berjihad di jalan Allah di waktu pagi atau sore hari lebih baik dari pada dunia dan seisinya. Berjaga sehari semalam (di daerah perbatasan dengan musuh) lebih baik dari pada berpuasa dan shalat malam sebulan, bahkan lebih baik dari pada dunia seisinya.Penguasaan ilmu seharusnya telah ada sebelum beramal dan lebih didahulukan dari amal. Sebab ilmu adalah nahkoda sedangkan amal menginduk pada ilmu. Barangsiapa yang Allah kehendaki suatu kebaikan baginya, maka Allah memahamkannya urusan agama.Allah –subhanahu wa ta’ala- menafikan kesejajaran orang-orang yang berilmu dengan orang-orang yang tidak berilmu. Kelebihan orang yang berilmu atas orang yang ahli ibadah bagaikan kelebihan cahaya bulan purnama atas bintang-bintang lainnya. Manusia adalah bagaikan barang tambang; mereka yang pernah menjadi orang-orang terbaik pada masa jahiliah akan menjadi orang-orang terbaik pula pada masa Islam jika mereka memahami ilmu Islam.  Sebaik-baik manusia adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.Sofyan –rahimahullah- berkata : ” مَا مِنْ عَمَل أفضَلَ مِنْ طَلَبِ الْعِلْمِ إذَا صَحَّت النّيَةُ ““ Tidak ada suatu amal yang lebih baik dari pada upaya mencari ilmu jika niatnya lurus”.Berdzikir kepada Allah adalah amal sunnah yang paling layak dijalani seseorang, dan dzikir yang paling utama adalah membaca Al-Qur’an, firman Tuhan semesta alam, sebaik-baik kitab suci yang diturunkan.Barangsiapa membaca :” لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ”“Tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tiada sekutu bagiNya, milikNya kerajaan dan milikNya pula segala puji. Dia Maha Kuasa atas segalanya”. 100 X sehari, maka baginya pahala sama dengan memerdekakan 10 budak, dicatat baginya 100 kebaikan, dihapuskan darinya 100 keburukan, dan kalimat tersebut menjadi benteng baginya dari gangguan setan pada hari itu hingga sore. Tidak ada orang yang melakukan suatu amal kebajikan lebih afdhal dari pada apa yang ia lakukan kecuali orang yang melakukan lebih banyak lagi dari pada itu”. HR MuslimPerkataan yang paling disenangi Allah sesudah Al-Qur’an ialah 4 kalimat :” سُبْحَانَ اللهِ ، وَالحمْدُ للهِ ، وَلَا إلهَ إلّا اللهَ ، وَاللهُ أكبَرُ ““Maha suci Allah, segala puji bagi Allah, tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, Allah Maha Besar”.Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :” لَأَنْ أَقُولَ سُبْحَانَ اللهِ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ، وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ، أَحَبُّ إِلَيَّ مِمَّا طَلَعَتْ عَلَيْهِ الشَّمْسُ ” رواه مسلمSungguh jika aku mengucapkan ; “Maha suci Allah, segala puji bagi Allah, tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, Allah Maha Besar” lebih aku sukai dari pada (bumi) yang tersinari matahari”. HR MuslimDua kalimat yang ringan di lidah, berat dalam timbangan, dicintai oleh Allah yang Maha Pengasih, ialah :  سُبحَانَ الله وَبحَمْدِهِ  (Maha suci Allah dan Maha terpuji).Berdakwah kepada Allah merupakan tugas para rasul, dan tidak ada perkataan yang lebih baik daripada perkataan orang yang berdakwah kepada Allah. Dengan dakwah, maka umat ini meraih yang terbaik dan mencapai kemuliaan. لَأَنْ يَهْدِيَ اللهُ بِكَ رَجُلاً وَاحِدًا خَيْرٌ لَكَ مِنْ حُمرِ النِّعَمِ“Sungguh sekiranya Allah memberi petunjuk kepada seseorang melalui perantaramu akan lebih baik bagimu daripada onta merah)”.“Barangsiapa yang mengajak kepada kebenaran maka baginya pahala seperti pahala orang yang mengikutinya hingga hari kiamat “.Dakwah dibuka pertama kali dimulai dari persoalan yang paling urgen kemudian beralih kepada persoalan yang urgen. Pokok dan asas dari segala persoalan adalah mengajak manusia untuk beribadah kepada Allah semata dan menyelamatkan mereka dari kemurkaan dan siksaanNya.    Mendamaikan dua pihak yang bersengketa merupakan bagian dari agama dan bentuk pendekatan diri kepada Allah yang berdampak positif kepada masyarakat secara luas. Allah berfirman :لَا خَيْرَ فِي كَثِيرٍ مِنْ نَجْوَاهُمْ إِلَّا مَنْ أَمَرَ بِصَدَقَةٍ أَوْ مَعْرُوفٍ أَوْ إِصْلَاحٍ بَيْنَ النَّاسِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ فَسَوْفَ نُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا“Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma’ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keridhaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar” QS An-Nisaa’ : 114Mengingat begitu besar manfaatnya, maka dengan mendamaikan, seseorang akan meraih derajat seorang yang rajin berpuasa dan tekun melakukan sholat malam. Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda :أَلآ أُخْبِرُكُمْ بِأَفْضَلَ مِنْ دَرَجَةِ الصِّيَامِ وَالصَّلاَةِ وَالصَّدَقَةِ؟“Maukah aku kabarkan kepada kalian yang lebih afdol dibanding derajat puasa dan shalat serta sedekah?”.Para sahabat berkata, “Tentu wahai Rasulullah”. Beliau berkata :إِصْلاَحُ ذَاتِ الْبَيْنِ“Mendamaikan dua pihak yang beresengketa”. HR Abu Dawud    Seorang hamba diamanati oleh Allah untuk berbuat baik kepada sesama manusia, sedangkan orang paling utama yang harus diperlakukan dengan baik adalah kedua orang tua. Bakti kepada keduanya merupakan gandengan tauhid dan merupakan amal yang terbaik setelah keimanan. Selanjutnya berbuat baik kepada kaum kerabat terdekat.Seorang mukmin yang berinteraksi dengan masyarakat dan dapat menahan diri dalam menghadapi gangguan mereka lebih baik dari pada orang yang tidak berinteraksi dengan masyarakat dan tidak sabar dalam menghadapi gangguan mereka. Orang yang terbaik adalah yang paling bermanfaat dan mau memberikan andil kebaikan kepada orang lain sesuai kemampuannya. Ia memperlakukan masyarakat dengan cara yang dirinya ingin diperlakukan oleh mereka. Ia menyukai kebaikan bagi mereka, sama dengan yang ia menyukainya untuk dirinya. Ia berusaha memberikan yang terbaik bagi masyarakatnya dan bersikap sabar terhadap gangguan mereka.Orang mukmin yang paling sempurna keimanannya adalah yang terbaik akhlaknya. Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda : إِنَّ مِنْ خِيَارِكُمْ أَحْسَنَكُمْ أَخْلاَقًا“Sesungguhnya diantara yang terbaik diantara kalian adalah yang terindah akhlaknya” . HR Al-Bukhari dan MuslimTidak ada sesuatupun di timbangan kebajikan yang lebih berat daripada akhlak yang mulia.Sebaik-baik sahabat adalah yang terbaik bagi sahabatnya, dan sebaik-baik tetangga adalah yang terbaik bagi tetangganya. Sebaik-baik pemimpin kalian adalah yang kalian mencintai mereka dan mereka mencintai kalian, dan sebaik-baik lelaki adalah yang terbaik bagi istrinya.    Amal yang terbaik adalah amal yang paling langgeng meskipun sedikit.  Amal sedikit namun berkesinambungan akan membuahkan hasil hingga lebih dan bahkan berlipat-lipat dari pada yang banyak namun terputus.Sebaik-baik agama adalah yang lurus (jauh dari kesyirikan) dan yang memberikan kemudahan. Tidaklah Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- dihadapkan kepada dua pilihan melainkan beliau memilih yang termudah selama pilihannya itu bukan dosa.Ibadah di masa fitnah adalah seperti berhijrah kepada Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam-. Orang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih disukai Allah dari pada orang mukmin yang lemah.Jika pencetus kejahatan telah menguat, maka saatnya berdiri tegak dengan ketegaran hati ( di atas keimanan untuk menghadapi kejahatan tersebut). Diantara mereka yang akan dinaungi oleh Allah pada naunganNya –pada hari kiamat- adalah seorang lelaki yang diajak berzina oleh seorang wanita yang memiliki kedudukan dan kecantikan, namun demikian lelaki tersebut berkata, “Sesungguhnya aku takut kepada Allah”.Seorang yang tetap beramal dalam situasi yang memerlukan kesabaran, dan berpegang teguh pada agamanya, baginya pahal lima puluh orang sahabat. Sedangkan pahala menjadi sahabat Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- mengungguli itu semua”.Sesungguhnya fitnah (huru-hara) itu merupakan petaka, maka dalam hal ini orang yang memilih sikap defensif lebih baik dari pada yang agresif dan ofensif, namun begitu yang lebih aman adalah menghindar dari fitnah-fitnah tersebut.    Dunia merupakan ladang usaha dan perjuangan. Hasil usaha yang terbaik adalah hasil jerih payah tangan sendiri, dan tidaklah seseorang memakan makanan yang lebih baik dibanding hasil jerih payah tangannya sendiri. Maka makanan terbaik adalah apa yang diperoleh dari hasil usaha sendiri, dan sesungguhnya anak  merupakan hasil usahanya. Sekiranya ada seseorang yang mengambil talinya lalu pergi mencari kayu akan lebih baik dari pada meminta-minta kepada sesama, baik mereka mengabulkan permintaannya ataupun menolaknya.Dunia merupakan kesenangan sesaat, dan sebaik-baik kesenangan adalah istri yang sholihah. Sebaik-baik pernikahan adalah yang sederhana, dan pernikahan yang paling besar berkahnya adalah pernikahan yang paling sedikit biayayanya (maharnya). Lalu nama yang paling disukai oleh Allah adalah Abdullah dan Abdurrahman, dan yang paling benar adalah Harits dan Hammaam. Dan yang paling afdhal untuk menyemir (merubah) uban rambut adalah hinna dan katm. Cara terbaik untuk berobat adalah dengan hijamah (bekam). Sebaik-baik air adalah air zam-zam, ia adalah air yang berkah dan makanan mengenyangkan sekaligus obat penyakit.Selanjutnya wahai kaum muslimin sekalian…Sesungguhnya dunia adalah medan untuk berlomba dalam kebaikan dan berpacu dalam ketaatan. Maka orang yang muwaffaq (bernasib mujur) adalah yang segera melakukan amal ketaatan sebelum kedatangan ajal yang mengagetkan.  Ia bersaing dengan orang-orang yang bersegera melakukan kebaikan, dan tidak ingin berlama-lama dalam kehampaan dan kemalasan. Justru ia konsisten dalam ketaatan dan tidak meninggalkan perkara yang lebih afdhal dan lebih sempurna, bukan tersibukkan oleh persoalan-persoalan yang kurang afdhal. Oleh sebab itu, siapa yang mampu untuk tidak didahului oleh seorangpun dalam ketaatan menuju Allah, maka lakukanlah!.==========Khotbah KeduaSegala puji bagi Allah atas kebaikan-Nya, puji syukur tertujukan kepada-Nya atas bimbingan dan karunia-Nya. Aku bersaksi bahwasanya tiada sesembahan yang berhak disembah melainkan Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, sebagai bentuk pengagungan kepadaNya. Aku-pun bersaksi bahwasanya nabi kita Muhammad adalah hamba dan utusanNya. Semoga shalawat dan salam sebanyak-banyaknya selalu tercurahkan kepadanya, seluruh keluarganya dan sahabat-sahabatnya.Kaum muslimin sekalian…Kebahagiaan dan kelapangan dada seseorang terletak pada kedekatannya kepada Allah –subhanahu wa ta’ala-. Ketaatan akan membuahkan ketenteraman batin dengan Allah dan kecintaan hati kepada-Nya. Seorang mukmin hendaknya berambisi dalam mencapai amalan yang paling tinggi dan yang paling sempurna serta paling afdhol. Berprasangka kepada Allah adalah perkara yang besar (sangat berpengaruh). Allah tidak akan mengecewakan orang yang berharap dan berbaik sangka kepadaNya.Barangsiapa yang bervariasi dalam melakukan amal shalih, maka akan semakin banyak pula variasi kenikmatan yang ia rasakan di dunia dan akhirat. Tentunya tidak sama antara ganjaran dan kelezatan bagi orang yang punya andil banyak dalam melakukan ketaatan dengan ganjaran dan kelezatan bagi orang yang hanya terbatas melakukan satu model ketaatan.Akhirnya ketahuilah, sesungguhnya Allah telah memerintahkan kalian untuk bershalawat dan bersalam kepada nabi-Nya. Allah telah berfirman dalam Al-Qur’an :إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا“Sesungguhnya Allah dan para malaikatNya bershalawat kepada Nabi, wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian kepadanya dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya”. QS Al-Ahzaab : 56======= Doa ========Penerjemah : Usman Hatim & Firanda Andirja
Khotbah Jum’at dari Masjid Nabawi, 1 Rajab 1437 H.Oleh : Syekh Dr. Abdul Muhsin Bin Muhamad Al-QasimKhotbah PertamaSegala puji bagi Allah, kami memujiNya, memohon pertolonganNya dan ampunanNya. Kami berlindung kepada Allah dari kejahatan diri kami dan keburukan amal perbuatan kami. Barangsiapa yang Allah beri petunjuk, tidak akan ada yang dapat menyesatkannya. Dan barangsiapa yang Allah biarkan sesat, tidak akan ada yang dapat memberinya petunjuk. Aku bersaksi tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagiNya. Dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah hambaNya dan rasulNya. Semoga Allah mencurahkan shalawat dan salam sebanyak-banyaknya kepadanya, beserta seluruh keluarganya dan sahabatnya.Selanjutnya ……. Kaum muslimin !Hanya Allah sajalah yang memilih dan melebihkan sesuatu, sebagaimana Dia pula satu-satunya yang menciptakan dan mengatur (segala urusan).Firman Allah :وَرَبُّكَ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَيَخْتَارُ مَا كَانَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ سُبْحَانَ اللَّهِ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ [ القصص / 68]“Dan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya. Sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan (dengan Dia)”. Qs Al-Qashas : 68Suatu bukti kesempurnaan iilmu-Nya, Dia mengistimewakan apa yang dikehendakinya karena anugerah-Nya. Maka Pemilihan-Nya dan pengkhususan-Nya tersebut menjadi bukti Ketuhanan-Nya dan Keesaan-Nya serta kesempurnaan kebiajaksanaan-Nya dan kekuasaan-Nya.Allah –subhanahu wa ta’ala- memilih malaikat-Nya di atas seluruh makhlu-Nya; maka Allah ciptakan mereka dari cahaya dan menugaskan mereka mengurus kerajaan-Nya.لا يَعۡصُونَ ٱللَّهَ مَآ أَمَرَهُمۡ وَيَفۡعَلُونَ مَا يُؤۡمَرُونَ [ التحريم / 6]“Mereka tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” Qs At-Tahrim : 6Allah –subhanahu wa ta’ala- memuliakan anak cucu Adam (manusia) dan memilih di antara mereka para nabi dan rasul-Nya. Allah –subhanahu wa ta’ala- memilih nabi kita Muhammad –shallallahu alaihi wa sallam- sebagai pemimpin anak cucu Adam, beliau manusia termulia di antara mereka, dan sebaik-baik para nabi dan rasul. Demikian pula sahabat-sahabat beliau, mereka sebaik-baik sahabat dan sebaik baik generasi, tidak ada manusia sebelum dan sesudah mereka yang setara dengan mereka.Sabda beliau –shallallahu alaihi wa sallam- :” خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ “ “Sebaik-baik manusia adalah generasi sezaman denganku, lalu disusul oleh generasi berikutnya, dan kemudian generasi berikutnya”.Umat Islam sebagai penyempurna 70 umat adalah umat terbaik dan termulia di sisi Allah. Penghuni surga terkelompokkan menjadi 120 baris; 80 baris di antaranya adalah umat Muhammad –shallallahu alaihi wa sallam- sedangkan yang 40 baris adalah dari umat lain. Orang yang paling mulia di antara mereka adala yang paling bertakwa.Ada dua orang lelaki yang melintas di dekat Nabi –shallallahu alaihi wa sallam-; Lelaki pertama termasuk orang miskin di antara kaum muslimin, sedangkan yang kedua termasuk orang kelas elit dalam masyarakat, maka ketika mengomentari orang yang pertama beliau berkata :” هَذا خَيْرٌ مِنْ مِلْء الأرْضِ مِثْل هَذَا ““Orang ini (yang pertama yang miskin) lebih baik dari pada yang seperti itu (orang kedua yang elit) sepenuh bumi” HR BukhariSurga tempat terhormat disiapkan oleh Allah untuk hamba-hamba-Nya yang mukmin.” وَلمَوْضِعُ سَوْطٍ أحَدِكُم فِي الجَنَّةِ، خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا ” رواه البخاري“Sungguh tempat cemeti salah seorang di antara kalian di surga lebih baik nilainya dari pada dunia seisinya”. HR BukhariYang paling unggul adalah surga Firdaus, ia adalah surga paling tinggi dan paling tengah, dari situlah sungai-sungai di surga terpancar, dan di atasnya terdapat Arasy (tahta, singgasana Allah) yang Maha Pengasih. Puncak kenikmatan surgawi adalah melihat Allah –subhanahu wa ta’ala-.Firman Allah :” فيَكْشِفُ الْحِجَابَ، فَمَا أُعْطُوا شَيْئًا أَحَبَّ إِلَيْهِمْ مِنَ النَّظَرِ إِلَى رَبِّهِمْ عَزَّ وَجَلَّ ” [ رواه مسلم ]“Maka Allah pun menyingkap tabir, ketika itulah penghuni surga merasa tidak mengecap kenikmatan yang lebih mereka sukai dibanding memandang Tuhan mereka, Allah –subhanahu wa ta’ala.” HR MuslimAllah –subhanahu wa ta’ala- menciptakan berbagai tempat (lokasi) dan mengistimewakan antara satu dengan lainnya. Sebaik-baik lokasi adalah yang dapat mengantarkan seorang hamba kepada Tuhannya, dan yang lebih dekat untuk meraih ridha-Nya dan surga-Nya. Mekah adalah bumi Allah yang terbaik dan paling dicintai oleh-Nya, merupakan tanah suci. Di dalamnya terdapat Kiblat kaum muslimin, dan Masjid pertama kali didirikan di muka bumi. Shalat di dalamnya lebih baik dari pada 100.000 X shalat di masjid lainnya.Allah –subhanahu wa ta’ala- menjadikannya sebagai tempat manasik ibadah (haji dan umrah) bagi hamba-hamba-Nya. Ke sanalah hati manusia condong, di sanalah umat manusia (beriman) datang dari seluruh penjuru negeri yang jauh.Madinah, tempat hijarah Rasul –shallallahu alaihi wa sallam- dan kota suci, keberkahan di dalamnya dua kali lipat dari yang di Mekah. Shalat di Masjid Rasul –shallallahu alaihi wa sallam- lebih baik dari pada 1000 X shalat di masjid lain. Orang yang bersuci (berwudhu) di tempat tinggalnya lalu pergi menuju ke Masjid Quba’ mendapatkan pahala sebanding pahala umrah. Masjidil Aqsha, Qiblat pertama dan tempat isra’ Rasul –shallallahu alaihi wa sallam-, shalat di dalamnya menyamai 500 X shalat. Tidak dilakukan perjalanan jauh untuk ibadah kecuali ke 3 masjid; Masjidil Haram, Masjidil Aqsha dan Masjid Rasul –shallallahu alaihi wa sallam-.Sebaik-baik lokasi di bumi adalah Masjid, sedangkan seburuk-buruk lokasi di bumi adalah pasar. Majlis-majlis dzikir adalah laksana pertamanan surga. Sabda Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- :وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللهِ، يَتْلُونَ كِتَابَ اللهِ، وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ، إِلَّا نَزَلَتْ عَلَيْهِمِ السَّكِينَةُ، وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمُ الْمَلَائِكَةُ، وَذَكَرَهُمُ اللهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ [ رواه مسلم]“Tidaklah suatu kaum berkumpul di satu rumah Allah, mereka membacakan kitabullah dan mempelajarinya, kecuali turun kepada mereka ketenangan, dan rahmat menyelimuti mereka, para malaikat mengelilingi mereka dan Allah memuji mereka di hadapan makhluk yang ada di dekatnya”. HR MuslimWaktu (zaman) adalah kendaraan menuju akhirat. Orang yang cerdas adalah orang yang memanfaatkan waktu-waktunya yang termahal. Bulan yang paling utama adalah Ramadhan; Allah mewajibkan berpuasa bulan Ramadhan dan menurunkan Al-Qur’an di dalamnya.Bulan-bulan haram yang mulia di sisi Allah patut diagungkan, bermaksiat kepada Allah di dalamnya lebih buruk dosanya dari pada bermaksiat di bulan-bulan lainnya.Sebaik-baik hari adalah hari nahar (hari raya Qurban,10 Zulhijah) lalu hari Arafah (9 Zulhijah). Tidak ada hari-hari yang mana amal shalih di dalamnya lebih Allah sukai dari pada sepuluh hari bulan Zulhijah.Hari jum’at adalah sebaik-baik hari yang disinari matahari; di hari jum’at terdapat suatu saat yang bilamana seorang muslim tepat pada saat itu sedang melakukan shalat dan memohon kebaikan kepada Allah, niscaya Allah memberinya. Demikian pula sepuluh malam bulan Ramadhan yang penuh berkah. Sebaik-baik malam sepanjang masa adalah Lailatul-Qadar, karena kebaikannya melebihi seribu bulan.Kemudian sepertiga akhir malam merupakan waktu yang paling berharga di antara waktu malam, karena di dalamnya Allah turun ke Langit dunia untuk mendekati dan menyayangi hamba-hambaNya seraya berfirman :” مَنْ يَدْعُونِي، فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ، مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ ” متفق عليه“Siapakah kiranya yang berdoa kepadaKu lalu aku kabulkan doanya, siapakah kiranya yang memohon kepadaKu lalu aku berkenan memberinya, siapakah kiranya yang meminta ampun kepadaKu lalu aku ampuninya.?” Muttafaq Alaih.Allah adalah Maha Baik, tidak menerima di antara ucapan dan amal perbuatan kecuali yang baik pula.Firman Allah :إِلَيۡهِ يَصۡعَدُ ٱلۡكَلِمُ ٱلطَّيِّبُ وَٱلۡعَمَلُ ٱلصَّٰلِحُ يَرۡفَعُهُۥۚ [ فاطر/10]“ Kepada-Nya-lah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang saleh dinaikkan-Nya.” Qs Fathir : 10Amal shalih merupakan deposito bagi seorang hamba di sisi Tuhan-nya; dengan amal shalih mereka meraih kebahagiaan, keselamatan dan kesuksesan. Allah –subhanahu wa ta’ala- melebihkan mutu antara amal shalih satu dengan lainnya. Tidak ada suatu amal yang digunakan oleh seorang hamba untuk mendekatkan diri kepada Allah dibanding amal fardhu yang Allah wajibkan atasnya. Dan tak henti-hentinya seorang hamba mendekatkan diri kepada Allah melalui amal-amal sunnah sehingga Allah mencintainya.Amal fardhu (wajib) yang paling agung ialah keimanan yang benar dan keyakinan yang mantap. Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- pernah ditanya tentang : “Amal apakah yang lebih utama?” Jawab beliau : “Beriman kepada Allah.” Muttafaq Alaih.Sebaik-baik hati adalah hati yang sehat (bersih dari endapan dosa), sebab dengan kesehatan hati, maka seluruh organ tubuh akan menjadi sehat dan baik. Di akhirat kelak harta dan anak-anak lelaki tidak berguna, “Kecuali orang yang datang menghadap Allah dengan hati yang sehat/bersih”.Para generasi pertama (umat ini) menempati garis terdepan (dalam kebaikan) berkat ketulusan batin mereka.Bakar Al-Muzani berkata, :” مَا سَبَقهم أبو بَكْرٍ بِكثْرَةِ صَلَاةٍ وَلَا صِيَامٍ وَلكنْ بشَئْ وَقرَ فِى صَدْرِهِ ““Bukanlah yang membuat Abu Bakar membalap mereka itu banyaknya shalat dan puasa, tetapi karena berkat sesuatu yang bersemayam di dalam dadanya”. Sebagian Ulama berkata :” الذِى وَقُرَ فِى صَدْرِه هُوَ حُبُّ اللهِ وَالنَّصِيْحَةُ لِخَلْقِهِ ““Sesuatu yang bersemayam di dalam dadanya adalah kecintaannya kepada Allah dan nasihatnya kepada hamba-hambaNya”.Memurnikan Ibadah kepada Allah semata, tanpa menyekutukanNya dengan sesuatu, merupakan sumber segala kebaikan dan kesuksesan. Sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi kita Muhammad –shallallahu alaihi wa sallam- sedangkan mengikuti sunnah beliau adalah penyebab terkabulnya ibadah dan keberkahan amal”.Kalimat Tauhid adalah lambang Islam dan kunci surga, menghimpun ajaran agama secara keseluruhan, maka kalimat Tauhid-lah yang menjadi pemula dan pemungkas agama, sekaligus merupakan puncak tertinggi cabang keimanan. Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :الْإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ شُعْبَةً، فَأَعلاهَا قَوْلُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ [ متفق عليه] “Iman itu lebih dari tujuh puluh cabang, yang tertinggi adalah pernyataan, ‘La ilaha Illallah’ (Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah”. Muttafaq AlaihLoyalitas (karena Allah) dan berlepas diri (dari keburukan karena Allah) merupakan benteng kokoh bagi agama dan pemeluknya. Tali pengikat keimanan yang paling kuat adalah cinta karena Allah dan benci karena Allah. Barangsiapa yang cinta karena Allah dan benci-pun karena Allah, maka sungguh telah sempurna keimanannya. Itulah sebabnya maka kecintaan kepada Allah dan manisnya agama hanya dapat dirasakan dengan cara ini.Shalat adalah penghubung antara hamba dengan Tuhan-nya. Shalat adalah sebaik-baik ibadah anggota badan dan yang paling suci. Ia merupakan rukun kedua di antara rukun-rukun Islam dan bangunan-bangunannya yang kokoh. Shalat menjadi pembeda antara orang yang beriman dan orang kafir. Melaksanakan shalat secara berjamaah di masjid adalah wajib. Keutamaan pelaksanaannya secara berjamaah melebihi shalat seorang diri dengan 27 derajat. Yang paling besar pahala shalatnya adalah yang paling jauh jarak tempuhnya ke tempat shalat.Sebaik-baik baris kaum lelaki adalah paling depan, sedangkan bagi kaum wanita adalah paling belakang. Sebaik-baik shalat adalah yang dilaksanakan dengan lama berdiri, kecuali dalam kondisi seperti dalam hadis yang menuntut mempercepatnya.Suatu kondisi di mana seorang hamba paling dekat kepada Tuhan-nya adalah ketika ia sedang bersujud. Shalat wanita di rumahnya lebih baik dari pada di masjid. Bagi lelaki pun demikian; lebih baik shalat di rumahnya kecuali shalat wajib. Sebaik-baik shalat setelah shalat wajib adalah shalat malam. Shalat malam akan disaksikan (oleh para malaikat) jika dilakukan di sepertiga akhir malam. Sebaik-baik shalat malam adalah shalat seperti cara Nabi Daud –alaihissalam-; beliau tidur setengah malam, bangun shalat sepertiga malam dan tidur lagi seperenam malam. Dua rak’at fajar pahalanya lebih baik dari pada dunia seisinya.Sedekah dapat menghapus kesalahan seperti air dapat memadamkan api. Sedekah menjadi bukti keimanan seseorang dan termasuk sebaik-baik amal ibadahnya. Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- pernah ditanya tentang, “Amal apakah dalam Islam yang paling baik ?” beliau menjawab :” تُطعِمُ الطَّعامَ وتَقرَأ السَّلامَ عَلى مَنْ عَرَفْتَ وَمَنْ لَمْ تَعْرِفْ ” متفق عليه“Engkau memberi makan dan menyampaikan salam kepada orang yang engkau kenal dan orang yang tidak engkau kenal”.Muttafaq Alaih“Sedekah yang paling besar pahalanya adalah sedekah yang engkau keluarkan ketika engkau dalam keadaan sehat dan kikir, di mana engkau takut jatuh miskin dan berharap menjadi kaya. Janganlah engkau menunda-nunda sampai roh di tenggorokan, ketika itula engkau ingin katakan : “bagian si fulan sekian dan bagian si fulan sekian, padahal bagian itu seharusnya telah menjadi milik si fulan”. Muttafaq alaih.Sebaik-baik sedekah adalah yang dikeluarkan dari sisa kebutuhan sendiri. Tangan yang di atas (pemberi) lebih baik dari pada tangan yang di bawah (penerima). Bersedakah secara samar-samar lebih baik dari pada secara terang-terangan, karena cara seperti itu lebih aman dari sikap pamer (riya’) kecuali bilamana bersedekah secara terang-terangan itu dapat mendatangkan kemaslahatan yang meyakinkan. Firman Allah :إِن تُبۡدُواْ ٱلصَّدَقَٰتِ فَنِعِمَّا هِيَۖ وَإِن تُخۡفُوهَا وَتُؤۡتُوهَا ٱلۡفُقَرَآءَ فَهُوَ خَيۡرٞ لَّكُمۡۚ وَيُكَفِّرُ عَنكُم مِّن سَيِّ‍َٔاتِكُمۡۗ [ البقرة/271]“Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu.” Qs Al-Baqarah : 271Di antara tujuh orang yang dinaungi Allah pada naungan Arasy-Nya adalah seorang yang mengeluarkan suatu sedekah secara samar-samar sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang dikeluarkan oleh tangan kanannya.Memberi kelonggaran kepada orang yang sedang dalam kesulitan adalah sedekah. Siapa yang pinjam uang kepada seseorang dan bertekad akan mengembalikannya, maka Allah akan menunaikan (memudahkan) pembayarannya. Sesungguhnya orang pilihan di antara kalian adalah orang yang paling baik cara pengembalian hutangnya.Puasa merupakan perisai dari neraka. Bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah dari pada aroma wewangian misk. Sebaik-baik puasa setelah Ramadhan adalah puasa bulan Muharam. Puasa yang paling disenagi Allah ialah puasa Daud –alaihissalam-, beliau sehari puasa dan sehari berbuka.Umrah sebelumnya ke umrah berikutnya dapat menghapus dosa antara keduanya. Haji mabrur tiada suatu balasan baginya kecuali surga. Pelaksanaan haji yang terbaik adalah haji tamattu’ bagi orang yang mampu memotong hewan sembelian (hadyu). Mencukur gundul rambut dalam ibadah haji lebih baik dari pada hanya mencukur pendek. Tidak ada suatu amal yang dilakukan oleh seseorang pada hari raya lebih utama dari pada menyembelih hewan sembelihannya.Berangkat untuk berjihad di jalan Allah di waktu pagi atau sore hari lebih baik dari pada dunia dan seisinya. Berjaga sehari semalam (di daerah perbatasan dengan musuh) lebih baik dari pada berpuasa dan shalat malam sebulan, bahkan lebih baik dari pada dunia seisinya.Penguasaan ilmu seharusnya telah ada sebelum beramal dan lebih didahulukan dari amal. Sebab ilmu adalah nahkoda sedangkan amal menginduk pada ilmu. Barangsiapa yang Allah kehendaki suatu kebaikan baginya, maka Allah memahamkannya urusan agama.Allah –subhanahu wa ta’ala- menafikan kesejajaran orang-orang yang berilmu dengan orang-orang yang tidak berilmu. Kelebihan orang yang berilmu atas orang yang ahli ibadah bagaikan kelebihan cahaya bulan purnama atas bintang-bintang lainnya. Manusia adalah bagaikan barang tambang; mereka yang pernah menjadi orang-orang terbaik pada masa jahiliah akan menjadi orang-orang terbaik pula pada masa Islam jika mereka memahami ilmu Islam.  Sebaik-baik manusia adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.Sofyan –rahimahullah- berkata : ” مَا مِنْ عَمَل أفضَلَ مِنْ طَلَبِ الْعِلْمِ إذَا صَحَّت النّيَةُ ““ Tidak ada suatu amal yang lebih baik dari pada upaya mencari ilmu jika niatnya lurus”.Berdzikir kepada Allah adalah amal sunnah yang paling layak dijalani seseorang, dan dzikir yang paling utama adalah membaca Al-Qur’an, firman Tuhan semesta alam, sebaik-baik kitab suci yang diturunkan.Barangsiapa membaca :” لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ”“Tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tiada sekutu bagiNya, milikNya kerajaan dan milikNya pula segala puji. Dia Maha Kuasa atas segalanya”. 100 X sehari, maka baginya pahala sama dengan memerdekakan 10 budak, dicatat baginya 100 kebaikan, dihapuskan darinya 100 keburukan, dan kalimat tersebut menjadi benteng baginya dari gangguan setan pada hari itu hingga sore. Tidak ada orang yang melakukan suatu amal kebajikan lebih afdhal dari pada apa yang ia lakukan kecuali orang yang melakukan lebih banyak lagi dari pada itu”. HR MuslimPerkataan yang paling disenangi Allah sesudah Al-Qur’an ialah 4 kalimat :” سُبْحَانَ اللهِ ، وَالحمْدُ للهِ ، وَلَا إلهَ إلّا اللهَ ، وَاللهُ أكبَرُ ““Maha suci Allah, segala puji bagi Allah, tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, Allah Maha Besar”.Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :” لَأَنْ أَقُولَ سُبْحَانَ اللهِ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ، وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ، أَحَبُّ إِلَيَّ مِمَّا طَلَعَتْ عَلَيْهِ الشَّمْسُ ” رواه مسلمSungguh jika aku mengucapkan ; “Maha suci Allah, segala puji bagi Allah, tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, Allah Maha Besar” lebih aku sukai dari pada (bumi) yang tersinari matahari”. HR MuslimDua kalimat yang ringan di lidah, berat dalam timbangan, dicintai oleh Allah yang Maha Pengasih, ialah :  سُبحَانَ الله وَبحَمْدِهِ  (Maha suci Allah dan Maha terpuji).Berdakwah kepada Allah merupakan tugas para rasul, dan tidak ada perkataan yang lebih baik daripada perkataan orang yang berdakwah kepada Allah. Dengan dakwah, maka umat ini meraih yang terbaik dan mencapai kemuliaan. لَأَنْ يَهْدِيَ اللهُ بِكَ رَجُلاً وَاحِدًا خَيْرٌ لَكَ مِنْ حُمرِ النِّعَمِ“Sungguh sekiranya Allah memberi petunjuk kepada seseorang melalui perantaramu akan lebih baik bagimu daripada onta merah)”.“Barangsiapa yang mengajak kepada kebenaran maka baginya pahala seperti pahala orang yang mengikutinya hingga hari kiamat “.Dakwah dibuka pertama kali dimulai dari persoalan yang paling urgen kemudian beralih kepada persoalan yang urgen. Pokok dan asas dari segala persoalan adalah mengajak manusia untuk beribadah kepada Allah semata dan menyelamatkan mereka dari kemurkaan dan siksaanNya.    Mendamaikan dua pihak yang bersengketa merupakan bagian dari agama dan bentuk pendekatan diri kepada Allah yang berdampak positif kepada masyarakat secara luas. Allah berfirman :لَا خَيْرَ فِي كَثِيرٍ مِنْ نَجْوَاهُمْ إِلَّا مَنْ أَمَرَ بِصَدَقَةٍ أَوْ مَعْرُوفٍ أَوْ إِصْلَاحٍ بَيْنَ النَّاسِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ فَسَوْفَ نُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا“Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma’ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keridhaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar” QS An-Nisaa’ : 114Mengingat begitu besar manfaatnya, maka dengan mendamaikan, seseorang akan meraih derajat seorang yang rajin berpuasa dan tekun melakukan sholat malam. Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda :أَلآ أُخْبِرُكُمْ بِأَفْضَلَ مِنْ دَرَجَةِ الصِّيَامِ وَالصَّلاَةِ وَالصَّدَقَةِ؟“Maukah aku kabarkan kepada kalian yang lebih afdol dibanding derajat puasa dan shalat serta sedekah?”.Para sahabat berkata, “Tentu wahai Rasulullah”. Beliau berkata :إِصْلاَحُ ذَاتِ الْبَيْنِ“Mendamaikan dua pihak yang beresengketa”. HR Abu Dawud    Seorang hamba diamanati oleh Allah untuk berbuat baik kepada sesama manusia, sedangkan orang paling utama yang harus diperlakukan dengan baik adalah kedua orang tua. Bakti kepada keduanya merupakan gandengan tauhid dan merupakan amal yang terbaik setelah keimanan. Selanjutnya berbuat baik kepada kaum kerabat terdekat.Seorang mukmin yang berinteraksi dengan masyarakat dan dapat menahan diri dalam menghadapi gangguan mereka lebih baik dari pada orang yang tidak berinteraksi dengan masyarakat dan tidak sabar dalam menghadapi gangguan mereka. Orang yang terbaik adalah yang paling bermanfaat dan mau memberikan andil kebaikan kepada orang lain sesuai kemampuannya. Ia memperlakukan masyarakat dengan cara yang dirinya ingin diperlakukan oleh mereka. Ia menyukai kebaikan bagi mereka, sama dengan yang ia menyukainya untuk dirinya. Ia berusaha memberikan yang terbaik bagi masyarakatnya dan bersikap sabar terhadap gangguan mereka.Orang mukmin yang paling sempurna keimanannya adalah yang terbaik akhlaknya. Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda : إِنَّ مِنْ خِيَارِكُمْ أَحْسَنَكُمْ أَخْلاَقًا“Sesungguhnya diantara yang terbaik diantara kalian adalah yang terindah akhlaknya” . HR Al-Bukhari dan MuslimTidak ada sesuatupun di timbangan kebajikan yang lebih berat daripada akhlak yang mulia.Sebaik-baik sahabat adalah yang terbaik bagi sahabatnya, dan sebaik-baik tetangga adalah yang terbaik bagi tetangganya. Sebaik-baik pemimpin kalian adalah yang kalian mencintai mereka dan mereka mencintai kalian, dan sebaik-baik lelaki adalah yang terbaik bagi istrinya.    Amal yang terbaik adalah amal yang paling langgeng meskipun sedikit.  Amal sedikit namun berkesinambungan akan membuahkan hasil hingga lebih dan bahkan berlipat-lipat dari pada yang banyak namun terputus.Sebaik-baik agama adalah yang lurus (jauh dari kesyirikan) dan yang memberikan kemudahan. Tidaklah Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- dihadapkan kepada dua pilihan melainkan beliau memilih yang termudah selama pilihannya itu bukan dosa.Ibadah di masa fitnah adalah seperti berhijrah kepada Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam-. Orang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih disukai Allah dari pada orang mukmin yang lemah.Jika pencetus kejahatan telah menguat, maka saatnya berdiri tegak dengan ketegaran hati ( di atas keimanan untuk menghadapi kejahatan tersebut). Diantara mereka yang akan dinaungi oleh Allah pada naunganNya –pada hari kiamat- adalah seorang lelaki yang diajak berzina oleh seorang wanita yang memiliki kedudukan dan kecantikan, namun demikian lelaki tersebut berkata, “Sesungguhnya aku takut kepada Allah”.Seorang yang tetap beramal dalam situasi yang memerlukan kesabaran, dan berpegang teguh pada agamanya, baginya pahal lima puluh orang sahabat. Sedangkan pahala menjadi sahabat Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- mengungguli itu semua”.Sesungguhnya fitnah (huru-hara) itu merupakan petaka, maka dalam hal ini orang yang memilih sikap defensif lebih baik dari pada yang agresif dan ofensif, namun begitu yang lebih aman adalah menghindar dari fitnah-fitnah tersebut.    Dunia merupakan ladang usaha dan perjuangan. Hasil usaha yang terbaik adalah hasil jerih payah tangan sendiri, dan tidaklah seseorang memakan makanan yang lebih baik dibanding hasil jerih payah tangannya sendiri. Maka makanan terbaik adalah apa yang diperoleh dari hasil usaha sendiri, dan sesungguhnya anak  merupakan hasil usahanya. Sekiranya ada seseorang yang mengambil talinya lalu pergi mencari kayu akan lebih baik dari pada meminta-minta kepada sesama, baik mereka mengabulkan permintaannya ataupun menolaknya.Dunia merupakan kesenangan sesaat, dan sebaik-baik kesenangan adalah istri yang sholihah. Sebaik-baik pernikahan adalah yang sederhana, dan pernikahan yang paling besar berkahnya adalah pernikahan yang paling sedikit biayayanya (maharnya). Lalu nama yang paling disukai oleh Allah adalah Abdullah dan Abdurrahman, dan yang paling benar adalah Harits dan Hammaam. Dan yang paling afdhal untuk menyemir (merubah) uban rambut adalah hinna dan katm. Cara terbaik untuk berobat adalah dengan hijamah (bekam). Sebaik-baik air adalah air zam-zam, ia adalah air yang berkah dan makanan mengenyangkan sekaligus obat penyakit.Selanjutnya wahai kaum muslimin sekalian…Sesungguhnya dunia adalah medan untuk berlomba dalam kebaikan dan berpacu dalam ketaatan. Maka orang yang muwaffaq (bernasib mujur) adalah yang segera melakukan amal ketaatan sebelum kedatangan ajal yang mengagetkan.  Ia bersaing dengan orang-orang yang bersegera melakukan kebaikan, dan tidak ingin berlama-lama dalam kehampaan dan kemalasan. Justru ia konsisten dalam ketaatan dan tidak meninggalkan perkara yang lebih afdhal dan lebih sempurna, bukan tersibukkan oleh persoalan-persoalan yang kurang afdhal. Oleh sebab itu, siapa yang mampu untuk tidak didahului oleh seorangpun dalam ketaatan menuju Allah, maka lakukanlah!.==========Khotbah KeduaSegala puji bagi Allah atas kebaikan-Nya, puji syukur tertujukan kepada-Nya atas bimbingan dan karunia-Nya. Aku bersaksi bahwasanya tiada sesembahan yang berhak disembah melainkan Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, sebagai bentuk pengagungan kepadaNya. Aku-pun bersaksi bahwasanya nabi kita Muhammad adalah hamba dan utusanNya. Semoga shalawat dan salam sebanyak-banyaknya selalu tercurahkan kepadanya, seluruh keluarganya dan sahabat-sahabatnya.Kaum muslimin sekalian…Kebahagiaan dan kelapangan dada seseorang terletak pada kedekatannya kepada Allah –subhanahu wa ta’ala-. Ketaatan akan membuahkan ketenteraman batin dengan Allah dan kecintaan hati kepada-Nya. Seorang mukmin hendaknya berambisi dalam mencapai amalan yang paling tinggi dan yang paling sempurna serta paling afdhol. Berprasangka kepada Allah adalah perkara yang besar (sangat berpengaruh). Allah tidak akan mengecewakan orang yang berharap dan berbaik sangka kepadaNya.Barangsiapa yang bervariasi dalam melakukan amal shalih, maka akan semakin banyak pula variasi kenikmatan yang ia rasakan di dunia dan akhirat. Tentunya tidak sama antara ganjaran dan kelezatan bagi orang yang punya andil banyak dalam melakukan ketaatan dengan ganjaran dan kelezatan bagi orang yang hanya terbatas melakukan satu model ketaatan.Akhirnya ketahuilah, sesungguhnya Allah telah memerintahkan kalian untuk bershalawat dan bersalam kepada nabi-Nya. Allah telah berfirman dalam Al-Qur’an :إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا“Sesungguhnya Allah dan para malaikatNya bershalawat kepada Nabi, wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian kepadanya dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya”. QS Al-Ahzaab : 56======= Doa ========Penerjemah : Usman Hatim & Firanda Andirja


Khotbah Jum’at dari Masjid Nabawi, 1 Rajab 1437 H.Oleh : Syekh Dr. Abdul Muhsin Bin Muhamad Al-QasimKhotbah PertamaSegala puji bagi Allah, kami memujiNya, memohon pertolonganNya dan ampunanNya. Kami berlindung kepada Allah dari kejahatan diri kami dan keburukan amal perbuatan kami. Barangsiapa yang Allah beri petunjuk, tidak akan ada yang dapat menyesatkannya. Dan barangsiapa yang Allah biarkan sesat, tidak akan ada yang dapat memberinya petunjuk. Aku bersaksi tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagiNya. Dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah hambaNya dan rasulNya. Semoga Allah mencurahkan shalawat dan salam sebanyak-banyaknya kepadanya, beserta seluruh keluarganya dan sahabatnya.Selanjutnya ……. Kaum muslimin !Hanya Allah sajalah yang memilih dan melebihkan sesuatu, sebagaimana Dia pula satu-satunya yang menciptakan dan mengatur (segala urusan).Firman Allah :وَرَبُّكَ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَيَخْتَارُ مَا كَانَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ سُبْحَانَ اللَّهِ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ [ القصص / 68]“Dan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya. Sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan (dengan Dia)”. Qs Al-Qashas : 68Suatu bukti kesempurnaan iilmu-Nya, Dia mengistimewakan apa yang dikehendakinya karena anugerah-Nya. Maka Pemilihan-Nya dan pengkhususan-Nya tersebut menjadi bukti Ketuhanan-Nya dan Keesaan-Nya serta kesempurnaan kebiajaksanaan-Nya dan kekuasaan-Nya.Allah –subhanahu wa ta’ala- memilih malaikat-Nya di atas seluruh makhlu-Nya; maka Allah ciptakan mereka dari cahaya dan menugaskan mereka mengurus kerajaan-Nya.لا يَعۡصُونَ ٱللَّهَ مَآ أَمَرَهُمۡ وَيَفۡعَلُونَ مَا يُؤۡمَرُونَ [ التحريم / 6]“Mereka tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” Qs At-Tahrim : 6Allah –subhanahu wa ta’ala- memuliakan anak cucu Adam (manusia) dan memilih di antara mereka para nabi dan rasul-Nya. Allah –subhanahu wa ta’ala- memilih nabi kita Muhammad –shallallahu alaihi wa sallam- sebagai pemimpin anak cucu Adam, beliau manusia termulia di antara mereka, dan sebaik-baik para nabi dan rasul. Demikian pula sahabat-sahabat beliau, mereka sebaik-baik sahabat dan sebaik baik generasi, tidak ada manusia sebelum dan sesudah mereka yang setara dengan mereka.Sabda beliau –shallallahu alaihi wa sallam- :” خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ “ “Sebaik-baik manusia adalah generasi sezaman denganku, lalu disusul oleh generasi berikutnya, dan kemudian generasi berikutnya”.Umat Islam sebagai penyempurna 70 umat adalah umat terbaik dan termulia di sisi Allah. Penghuni surga terkelompokkan menjadi 120 baris; 80 baris di antaranya adalah umat Muhammad –shallallahu alaihi wa sallam- sedangkan yang 40 baris adalah dari umat lain. Orang yang paling mulia di antara mereka adala yang paling bertakwa.Ada dua orang lelaki yang melintas di dekat Nabi –shallallahu alaihi wa sallam-; Lelaki pertama termasuk orang miskin di antara kaum muslimin, sedangkan yang kedua termasuk orang kelas elit dalam masyarakat, maka ketika mengomentari orang yang pertama beliau berkata :” هَذا خَيْرٌ مِنْ مِلْء الأرْضِ مِثْل هَذَا ““Orang ini (yang pertama yang miskin) lebih baik dari pada yang seperti itu (orang kedua yang elit) sepenuh bumi” HR BukhariSurga tempat terhormat disiapkan oleh Allah untuk hamba-hamba-Nya yang mukmin.” وَلمَوْضِعُ سَوْطٍ أحَدِكُم فِي الجَنَّةِ، خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا ” رواه البخاري“Sungguh tempat cemeti salah seorang di antara kalian di surga lebih baik nilainya dari pada dunia seisinya”. HR BukhariYang paling unggul adalah surga Firdaus, ia adalah surga paling tinggi dan paling tengah, dari situlah sungai-sungai di surga terpancar, dan di atasnya terdapat Arasy (tahta, singgasana Allah) yang Maha Pengasih. Puncak kenikmatan surgawi adalah melihat Allah –subhanahu wa ta’ala-.Firman Allah :” فيَكْشِفُ الْحِجَابَ، فَمَا أُعْطُوا شَيْئًا أَحَبَّ إِلَيْهِمْ مِنَ النَّظَرِ إِلَى رَبِّهِمْ عَزَّ وَجَلَّ ” [ رواه مسلم ]“Maka Allah pun menyingkap tabir, ketika itulah penghuni surga merasa tidak mengecap kenikmatan yang lebih mereka sukai dibanding memandang Tuhan mereka, Allah –subhanahu wa ta’ala.” HR MuslimAllah –subhanahu wa ta’ala- menciptakan berbagai tempat (lokasi) dan mengistimewakan antara satu dengan lainnya. Sebaik-baik lokasi adalah yang dapat mengantarkan seorang hamba kepada Tuhannya, dan yang lebih dekat untuk meraih ridha-Nya dan surga-Nya. Mekah adalah bumi Allah yang terbaik dan paling dicintai oleh-Nya, merupakan tanah suci. Di dalamnya terdapat Kiblat kaum muslimin, dan Masjid pertama kali didirikan di muka bumi. Shalat di dalamnya lebih baik dari pada 100.000 X shalat di masjid lainnya.Allah –subhanahu wa ta’ala- menjadikannya sebagai tempat manasik ibadah (haji dan umrah) bagi hamba-hamba-Nya. Ke sanalah hati manusia condong, di sanalah umat manusia (beriman) datang dari seluruh penjuru negeri yang jauh.Madinah, tempat hijarah Rasul –shallallahu alaihi wa sallam- dan kota suci, keberkahan di dalamnya dua kali lipat dari yang di Mekah. Shalat di Masjid Rasul –shallallahu alaihi wa sallam- lebih baik dari pada 1000 X shalat di masjid lain. Orang yang bersuci (berwudhu) di tempat tinggalnya lalu pergi menuju ke Masjid Quba’ mendapatkan pahala sebanding pahala umrah. Masjidil Aqsha, Qiblat pertama dan tempat isra’ Rasul –shallallahu alaihi wa sallam-, shalat di dalamnya menyamai 500 X shalat. Tidak dilakukan perjalanan jauh untuk ibadah kecuali ke 3 masjid; Masjidil Haram, Masjidil Aqsha dan Masjid Rasul –shallallahu alaihi wa sallam-.Sebaik-baik lokasi di bumi adalah Masjid, sedangkan seburuk-buruk lokasi di bumi adalah pasar. Majlis-majlis dzikir adalah laksana pertamanan surga. Sabda Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- :وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللهِ، يَتْلُونَ كِتَابَ اللهِ، وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ، إِلَّا نَزَلَتْ عَلَيْهِمِ السَّكِينَةُ، وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمُ الْمَلَائِكَةُ، وَذَكَرَهُمُ اللهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ [ رواه مسلم]“Tidaklah suatu kaum berkumpul di satu rumah Allah, mereka membacakan kitabullah dan mempelajarinya, kecuali turun kepada mereka ketenangan, dan rahmat menyelimuti mereka, para malaikat mengelilingi mereka dan Allah memuji mereka di hadapan makhluk yang ada di dekatnya”. HR MuslimWaktu (zaman) adalah kendaraan menuju akhirat. Orang yang cerdas adalah orang yang memanfaatkan waktu-waktunya yang termahal. Bulan yang paling utama adalah Ramadhan; Allah mewajibkan berpuasa bulan Ramadhan dan menurunkan Al-Qur’an di dalamnya.Bulan-bulan haram yang mulia di sisi Allah patut diagungkan, bermaksiat kepada Allah di dalamnya lebih buruk dosanya dari pada bermaksiat di bulan-bulan lainnya.Sebaik-baik hari adalah hari nahar (hari raya Qurban,10 Zulhijah) lalu hari Arafah (9 Zulhijah). Tidak ada hari-hari yang mana amal shalih di dalamnya lebih Allah sukai dari pada sepuluh hari bulan Zulhijah.Hari jum’at adalah sebaik-baik hari yang disinari matahari; di hari jum’at terdapat suatu saat yang bilamana seorang muslim tepat pada saat itu sedang melakukan shalat dan memohon kebaikan kepada Allah, niscaya Allah memberinya. Demikian pula sepuluh malam bulan Ramadhan yang penuh berkah. Sebaik-baik malam sepanjang masa adalah Lailatul-Qadar, karena kebaikannya melebihi seribu bulan.Kemudian sepertiga akhir malam merupakan waktu yang paling berharga di antara waktu malam, karena di dalamnya Allah turun ke Langit dunia untuk mendekati dan menyayangi hamba-hambaNya seraya berfirman :” مَنْ يَدْعُونِي، فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ، مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ ” متفق عليه“Siapakah kiranya yang berdoa kepadaKu lalu aku kabulkan doanya, siapakah kiranya yang memohon kepadaKu lalu aku berkenan memberinya, siapakah kiranya yang meminta ampun kepadaKu lalu aku ampuninya.?” Muttafaq Alaih.Allah adalah Maha Baik, tidak menerima di antara ucapan dan amal perbuatan kecuali yang baik pula.Firman Allah :إِلَيۡهِ يَصۡعَدُ ٱلۡكَلِمُ ٱلطَّيِّبُ وَٱلۡعَمَلُ ٱلصَّٰلِحُ يَرۡفَعُهُۥۚ [ فاطر/10]“ Kepada-Nya-lah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang saleh dinaikkan-Nya.” Qs Fathir : 10Amal shalih merupakan deposito bagi seorang hamba di sisi Tuhan-nya; dengan amal shalih mereka meraih kebahagiaan, keselamatan dan kesuksesan. Allah –subhanahu wa ta’ala- melebihkan mutu antara amal shalih satu dengan lainnya. Tidak ada suatu amal yang digunakan oleh seorang hamba untuk mendekatkan diri kepada Allah dibanding amal fardhu yang Allah wajibkan atasnya. Dan tak henti-hentinya seorang hamba mendekatkan diri kepada Allah melalui amal-amal sunnah sehingga Allah mencintainya.Amal fardhu (wajib) yang paling agung ialah keimanan yang benar dan keyakinan yang mantap. Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- pernah ditanya tentang : “Amal apakah yang lebih utama?” Jawab beliau : “Beriman kepada Allah.” Muttafaq Alaih.Sebaik-baik hati adalah hati yang sehat (bersih dari endapan dosa), sebab dengan kesehatan hati, maka seluruh organ tubuh akan menjadi sehat dan baik. Di akhirat kelak harta dan anak-anak lelaki tidak berguna, “Kecuali orang yang datang menghadap Allah dengan hati yang sehat/bersih”.Para generasi pertama (umat ini) menempati garis terdepan (dalam kebaikan) berkat ketulusan batin mereka.Bakar Al-Muzani berkata, :” مَا سَبَقهم أبو بَكْرٍ بِكثْرَةِ صَلَاةٍ وَلَا صِيَامٍ وَلكنْ بشَئْ وَقرَ فِى صَدْرِهِ ““Bukanlah yang membuat Abu Bakar membalap mereka itu banyaknya shalat dan puasa, tetapi karena berkat sesuatu yang bersemayam di dalam dadanya”. Sebagian Ulama berkata :” الذِى وَقُرَ فِى صَدْرِه هُوَ حُبُّ اللهِ وَالنَّصِيْحَةُ لِخَلْقِهِ ““Sesuatu yang bersemayam di dalam dadanya adalah kecintaannya kepada Allah dan nasihatnya kepada hamba-hambaNya”.Memurnikan Ibadah kepada Allah semata, tanpa menyekutukanNya dengan sesuatu, merupakan sumber segala kebaikan dan kesuksesan. Sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi kita Muhammad –shallallahu alaihi wa sallam- sedangkan mengikuti sunnah beliau adalah penyebab terkabulnya ibadah dan keberkahan amal”.Kalimat Tauhid adalah lambang Islam dan kunci surga, menghimpun ajaran agama secara keseluruhan, maka kalimat Tauhid-lah yang menjadi pemula dan pemungkas agama, sekaligus merupakan puncak tertinggi cabang keimanan. Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :الْإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ شُعْبَةً، فَأَعلاهَا قَوْلُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ [ متفق عليه] “Iman itu lebih dari tujuh puluh cabang, yang tertinggi adalah pernyataan, ‘La ilaha Illallah’ (Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah”. Muttafaq AlaihLoyalitas (karena Allah) dan berlepas diri (dari keburukan karena Allah) merupakan benteng kokoh bagi agama dan pemeluknya. Tali pengikat keimanan yang paling kuat adalah cinta karena Allah dan benci karena Allah. Barangsiapa yang cinta karena Allah dan benci-pun karena Allah, maka sungguh telah sempurna keimanannya. Itulah sebabnya maka kecintaan kepada Allah dan manisnya agama hanya dapat dirasakan dengan cara ini.Shalat adalah penghubung antara hamba dengan Tuhan-nya. Shalat adalah sebaik-baik ibadah anggota badan dan yang paling suci. Ia merupakan rukun kedua di antara rukun-rukun Islam dan bangunan-bangunannya yang kokoh. Shalat menjadi pembeda antara orang yang beriman dan orang kafir. Melaksanakan shalat secara berjamaah di masjid adalah wajib. Keutamaan pelaksanaannya secara berjamaah melebihi shalat seorang diri dengan 27 derajat. Yang paling besar pahala shalatnya adalah yang paling jauh jarak tempuhnya ke tempat shalat.Sebaik-baik baris kaum lelaki adalah paling depan, sedangkan bagi kaum wanita adalah paling belakang. Sebaik-baik shalat adalah yang dilaksanakan dengan lama berdiri, kecuali dalam kondisi seperti dalam hadis yang menuntut mempercepatnya.Suatu kondisi di mana seorang hamba paling dekat kepada Tuhan-nya adalah ketika ia sedang bersujud. Shalat wanita di rumahnya lebih baik dari pada di masjid. Bagi lelaki pun demikian; lebih baik shalat di rumahnya kecuali shalat wajib. Sebaik-baik shalat setelah shalat wajib adalah shalat malam. Shalat malam akan disaksikan (oleh para malaikat) jika dilakukan di sepertiga akhir malam. Sebaik-baik shalat malam adalah shalat seperti cara Nabi Daud –alaihissalam-; beliau tidur setengah malam, bangun shalat sepertiga malam dan tidur lagi seperenam malam. Dua rak’at fajar pahalanya lebih baik dari pada dunia seisinya.Sedekah dapat menghapus kesalahan seperti air dapat memadamkan api. Sedekah menjadi bukti keimanan seseorang dan termasuk sebaik-baik amal ibadahnya. Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- pernah ditanya tentang, “Amal apakah dalam Islam yang paling baik ?” beliau menjawab :” تُطعِمُ الطَّعامَ وتَقرَأ السَّلامَ عَلى مَنْ عَرَفْتَ وَمَنْ لَمْ تَعْرِفْ ” متفق عليه“Engkau memberi makan dan menyampaikan salam kepada orang yang engkau kenal dan orang yang tidak engkau kenal”.Muttafaq Alaih“Sedekah yang paling besar pahalanya adalah sedekah yang engkau keluarkan ketika engkau dalam keadaan sehat dan kikir, di mana engkau takut jatuh miskin dan berharap menjadi kaya. Janganlah engkau menunda-nunda sampai roh di tenggorokan, ketika itula engkau ingin katakan : “bagian si fulan sekian dan bagian si fulan sekian, padahal bagian itu seharusnya telah menjadi milik si fulan”. Muttafaq alaih.Sebaik-baik sedekah adalah yang dikeluarkan dari sisa kebutuhan sendiri. Tangan yang di atas (pemberi) lebih baik dari pada tangan yang di bawah (penerima). Bersedakah secara samar-samar lebih baik dari pada secara terang-terangan, karena cara seperti itu lebih aman dari sikap pamer (riya’) kecuali bilamana bersedekah secara terang-terangan itu dapat mendatangkan kemaslahatan yang meyakinkan. Firman Allah :إِن تُبۡدُواْ ٱلصَّدَقَٰتِ فَنِعِمَّا هِيَۖ وَإِن تُخۡفُوهَا وَتُؤۡتُوهَا ٱلۡفُقَرَآءَ فَهُوَ خَيۡرٞ لَّكُمۡۚ وَيُكَفِّرُ عَنكُم مِّن سَيِّ‍َٔاتِكُمۡۗ [ البقرة/271]“Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu.” Qs Al-Baqarah : 271Di antara tujuh orang yang dinaungi Allah pada naungan Arasy-Nya adalah seorang yang mengeluarkan suatu sedekah secara samar-samar sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang dikeluarkan oleh tangan kanannya.Memberi kelonggaran kepada orang yang sedang dalam kesulitan adalah sedekah. Siapa yang pinjam uang kepada seseorang dan bertekad akan mengembalikannya, maka Allah akan menunaikan (memudahkan) pembayarannya. Sesungguhnya orang pilihan di antara kalian adalah orang yang paling baik cara pengembalian hutangnya.Puasa merupakan perisai dari neraka. Bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah dari pada aroma wewangian misk. Sebaik-baik puasa setelah Ramadhan adalah puasa bulan Muharam. Puasa yang paling disenagi Allah ialah puasa Daud –alaihissalam-, beliau sehari puasa dan sehari berbuka.Umrah sebelumnya ke umrah berikutnya dapat menghapus dosa antara keduanya. Haji mabrur tiada suatu balasan baginya kecuali surga. Pelaksanaan haji yang terbaik adalah haji tamattu’ bagi orang yang mampu memotong hewan sembelian (hadyu). Mencukur gundul rambut dalam ibadah haji lebih baik dari pada hanya mencukur pendek. Tidak ada suatu amal yang dilakukan oleh seseorang pada hari raya lebih utama dari pada menyembelih hewan sembelihannya.Berangkat untuk berjihad di jalan Allah di waktu pagi atau sore hari lebih baik dari pada dunia dan seisinya. Berjaga sehari semalam (di daerah perbatasan dengan musuh) lebih baik dari pada berpuasa dan shalat malam sebulan, bahkan lebih baik dari pada dunia seisinya.Penguasaan ilmu seharusnya telah ada sebelum beramal dan lebih didahulukan dari amal. Sebab ilmu adalah nahkoda sedangkan amal menginduk pada ilmu. Barangsiapa yang Allah kehendaki suatu kebaikan baginya, maka Allah memahamkannya urusan agama.Allah –subhanahu wa ta’ala- menafikan kesejajaran orang-orang yang berilmu dengan orang-orang yang tidak berilmu. Kelebihan orang yang berilmu atas orang yang ahli ibadah bagaikan kelebihan cahaya bulan purnama atas bintang-bintang lainnya. Manusia adalah bagaikan barang tambang; mereka yang pernah menjadi orang-orang terbaik pada masa jahiliah akan menjadi orang-orang terbaik pula pada masa Islam jika mereka memahami ilmu Islam.  Sebaik-baik manusia adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.Sofyan –rahimahullah- berkata : ” مَا مِنْ عَمَل أفضَلَ مِنْ طَلَبِ الْعِلْمِ إذَا صَحَّت النّيَةُ ““ Tidak ada suatu amal yang lebih baik dari pada upaya mencari ilmu jika niatnya lurus”.Berdzikir kepada Allah adalah amal sunnah yang paling layak dijalani seseorang, dan dzikir yang paling utama adalah membaca Al-Qur’an, firman Tuhan semesta alam, sebaik-baik kitab suci yang diturunkan.Barangsiapa membaca :” لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ”“Tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tiada sekutu bagiNya, milikNya kerajaan dan milikNya pula segala puji. Dia Maha Kuasa atas segalanya”. 100 X sehari, maka baginya pahala sama dengan memerdekakan 10 budak, dicatat baginya 100 kebaikan, dihapuskan darinya 100 keburukan, dan kalimat tersebut menjadi benteng baginya dari gangguan setan pada hari itu hingga sore. Tidak ada orang yang melakukan suatu amal kebajikan lebih afdhal dari pada apa yang ia lakukan kecuali orang yang melakukan lebih banyak lagi dari pada itu”. HR MuslimPerkataan yang paling disenangi Allah sesudah Al-Qur’an ialah 4 kalimat :” سُبْحَانَ اللهِ ، وَالحمْدُ للهِ ، وَلَا إلهَ إلّا اللهَ ، وَاللهُ أكبَرُ ““Maha suci Allah, segala puji bagi Allah, tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, Allah Maha Besar”.Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :” لَأَنْ أَقُولَ سُبْحَانَ اللهِ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ، وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ، أَحَبُّ إِلَيَّ مِمَّا طَلَعَتْ عَلَيْهِ الشَّمْسُ ” رواه مسلمSungguh jika aku mengucapkan ; “Maha suci Allah, segala puji bagi Allah, tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, Allah Maha Besar” lebih aku sukai dari pada (bumi) yang tersinari matahari”. HR MuslimDua kalimat yang ringan di lidah, berat dalam timbangan, dicintai oleh Allah yang Maha Pengasih, ialah :  سُبحَانَ الله وَبحَمْدِهِ  (Maha suci Allah dan Maha terpuji).Berdakwah kepada Allah merupakan tugas para rasul, dan tidak ada perkataan yang lebih baik daripada perkataan orang yang berdakwah kepada Allah. Dengan dakwah, maka umat ini meraih yang terbaik dan mencapai kemuliaan. لَأَنْ يَهْدِيَ اللهُ بِكَ رَجُلاً وَاحِدًا خَيْرٌ لَكَ مِنْ حُمرِ النِّعَمِ“Sungguh sekiranya Allah memberi petunjuk kepada seseorang melalui perantaramu akan lebih baik bagimu daripada onta merah)”.“Barangsiapa yang mengajak kepada kebenaran maka baginya pahala seperti pahala orang yang mengikutinya hingga hari kiamat “.Dakwah dibuka pertama kali dimulai dari persoalan yang paling urgen kemudian beralih kepada persoalan yang urgen. Pokok dan asas dari segala persoalan adalah mengajak manusia untuk beribadah kepada Allah semata dan menyelamatkan mereka dari kemurkaan dan siksaanNya.    Mendamaikan dua pihak yang bersengketa merupakan bagian dari agama dan bentuk pendekatan diri kepada Allah yang berdampak positif kepada masyarakat secara luas. Allah berfirman :لَا خَيْرَ فِي كَثِيرٍ مِنْ نَجْوَاهُمْ إِلَّا مَنْ أَمَرَ بِصَدَقَةٍ أَوْ مَعْرُوفٍ أَوْ إِصْلَاحٍ بَيْنَ النَّاسِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ فَسَوْفَ نُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا“Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma’ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keridhaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar” QS An-Nisaa’ : 114Mengingat begitu besar manfaatnya, maka dengan mendamaikan, seseorang akan meraih derajat seorang yang rajin berpuasa dan tekun melakukan sholat malam. Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda :أَلآ أُخْبِرُكُمْ بِأَفْضَلَ مِنْ دَرَجَةِ الصِّيَامِ وَالصَّلاَةِ وَالصَّدَقَةِ؟“Maukah aku kabarkan kepada kalian yang lebih afdol dibanding derajat puasa dan shalat serta sedekah?”.Para sahabat berkata, “Tentu wahai Rasulullah”. Beliau berkata :إِصْلاَحُ ذَاتِ الْبَيْنِ“Mendamaikan dua pihak yang beresengketa”. HR Abu Dawud    Seorang hamba diamanati oleh Allah untuk berbuat baik kepada sesama manusia, sedangkan orang paling utama yang harus diperlakukan dengan baik adalah kedua orang tua. Bakti kepada keduanya merupakan gandengan tauhid dan merupakan amal yang terbaik setelah keimanan. Selanjutnya berbuat baik kepada kaum kerabat terdekat.Seorang mukmin yang berinteraksi dengan masyarakat dan dapat menahan diri dalam menghadapi gangguan mereka lebih baik dari pada orang yang tidak berinteraksi dengan masyarakat dan tidak sabar dalam menghadapi gangguan mereka. Orang yang terbaik adalah yang paling bermanfaat dan mau memberikan andil kebaikan kepada orang lain sesuai kemampuannya. Ia memperlakukan masyarakat dengan cara yang dirinya ingin diperlakukan oleh mereka. Ia menyukai kebaikan bagi mereka, sama dengan yang ia menyukainya untuk dirinya. Ia berusaha memberikan yang terbaik bagi masyarakatnya dan bersikap sabar terhadap gangguan mereka.Orang mukmin yang paling sempurna keimanannya adalah yang terbaik akhlaknya. Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda : إِنَّ مِنْ خِيَارِكُمْ أَحْسَنَكُمْ أَخْلاَقًا“Sesungguhnya diantara yang terbaik diantara kalian adalah yang terindah akhlaknya” . HR Al-Bukhari dan MuslimTidak ada sesuatupun di timbangan kebajikan yang lebih berat daripada akhlak yang mulia.Sebaik-baik sahabat adalah yang terbaik bagi sahabatnya, dan sebaik-baik tetangga adalah yang terbaik bagi tetangganya. Sebaik-baik pemimpin kalian adalah yang kalian mencintai mereka dan mereka mencintai kalian, dan sebaik-baik lelaki adalah yang terbaik bagi istrinya.    Amal yang terbaik adalah amal yang paling langgeng meskipun sedikit.  Amal sedikit namun berkesinambungan akan membuahkan hasil hingga lebih dan bahkan berlipat-lipat dari pada yang banyak namun terputus.Sebaik-baik agama adalah yang lurus (jauh dari kesyirikan) dan yang memberikan kemudahan. Tidaklah Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- dihadapkan kepada dua pilihan melainkan beliau memilih yang termudah selama pilihannya itu bukan dosa.Ibadah di masa fitnah adalah seperti berhijrah kepada Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam-. Orang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih disukai Allah dari pada orang mukmin yang lemah.Jika pencetus kejahatan telah menguat, maka saatnya berdiri tegak dengan ketegaran hati ( di atas keimanan untuk menghadapi kejahatan tersebut). Diantara mereka yang akan dinaungi oleh Allah pada naunganNya –pada hari kiamat- adalah seorang lelaki yang diajak berzina oleh seorang wanita yang memiliki kedudukan dan kecantikan, namun demikian lelaki tersebut berkata, “Sesungguhnya aku takut kepada Allah”.Seorang yang tetap beramal dalam situasi yang memerlukan kesabaran, dan berpegang teguh pada agamanya, baginya pahal lima puluh orang sahabat. Sedangkan pahala menjadi sahabat Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- mengungguli itu semua”.Sesungguhnya fitnah (huru-hara) itu merupakan petaka, maka dalam hal ini orang yang memilih sikap defensif lebih baik dari pada yang agresif dan ofensif, namun begitu yang lebih aman adalah menghindar dari fitnah-fitnah tersebut.    Dunia merupakan ladang usaha dan perjuangan. Hasil usaha yang terbaik adalah hasil jerih payah tangan sendiri, dan tidaklah seseorang memakan makanan yang lebih baik dibanding hasil jerih payah tangannya sendiri. Maka makanan terbaik adalah apa yang diperoleh dari hasil usaha sendiri, dan sesungguhnya anak  merupakan hasil usahanya. Sekiranya ada seseorang yang mengambil talinya lalu pergi mencari kayu akan lebih baik dari pada meminta-minta kepada sesama, baik mereka mengabulkan permintaannya ataupun menolaknya.Dunia merupakan kesenangan sesaat, dan sebaik-baik kesenangan adalah istri yang sholihah. Sebaik-baik pernikahan adalah yang sederhana, dan pernikahan yang paling besar berkahnya adalah pernikahan yang paling sedikit biayayanya (maharnya). Lalu nama yang paling disukai oleh Allah adalah Abdullah dan Abdurrahman, dan yang paling benar adalah Harits dan Hammaam. Dan yang paling afdhal untuk menyemir (merubah) uban rambut adalah hinna dan katm. Cara terbaik untuk berobat adalah dengan hijamah (bekam). Sebaik-baik air adalah air zam-zam, ia adalah air yang berkah dan makanan mengenyangkan sekaligus obat penyakit.Selanjutnya wahai kaum muslimin sekalian…Sesungguhnya dunia adalah medan untuk berlomba dalam kebaikan dan berpacu dalam ketaatan. Maka orang yang muwaffaq (bernasib mujur) adalah yang segera melakukan amal ketaatan sebelum kedatangan ajal yang mengagetkan.  Ia bersaing dengan orang-orang yang bersegera melakukan kebaikan, dan tidak ingin berlama-lama dalam kehampaan dan kemalasan. Justru ia konsisten dalam ketaatan dan tidak meninggalkan perkara yang lebih afdhal dan lebih sempurna, bukan tersibukkan oleh persoalan-persoalan yang kurang afdhal. Oleh sebab itu, siapa yang mampu untuk tidak didahului oleh seorangpun dalam ketaatan menuju Allah, maka lakukanlah!.==========Khotbah KeduaSegala puji bagi Allah atas kebaikan-Nya, puji syukur tertujukan kepada-Nya atas bimbingan dan karunia-Nya. Aku bersaksi bahwasanya tiada sesembahan yang berhak disembah melainkan Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, sebagai bentuk pengagungan kepadaNya. Aku-pun bersaksi bahwasanya nabi kita Muhammad adalah hamba dan utusanNya. Semoga shalawat dan salam sebanyak-banyaknya selalu tercurahkan kepadanya, seluruh keluarganya dan sahabat-sahabatnya.Kaum muslimin sekalian…Kebahagiaan dan kelapangan dada seseorang terletak pada kedekatannya kepada Allah –subhanahu wa ta’ala-. Ketaatan akan membuahkan ketenteraman batin dengan Allah dan kecintaan hati kepada-Nya. Seorang mukmin hendaknya berambisi dalam mencapai amalan yang paling tinggi dan yang paling sempurna serta paling afdhol. Berprasangka kepada Allah adalah perkara yang besar (sangat berpengaruh). Allah tidak akan mengecewakan orang yang berharap dan berbaik sangka kepadaNya.Barangsiapa yang bervariasi dalam melakukan amal shalih, maka akan semakin banyak pula variasi kenikmatan yang ia rasakan di dunia dan akhirat. Tentunya tidak sama antara ganjaran dan kelezatan bagi orang yang punya andil banyak dalam melakukan ketaatan dengan ganjaran dan kelezatan bagi orang yang hanya terbatas melakukan satu model ketaatan.Akhirnya ketahuilah, sesungguhnya Allah telah memerintahkan kalian untuk bershalawat dan bersalam kepada nabi-Nya. Allah telah berfirman dalam Al-Qur’an :إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا“Sesungguhnya Allah dan para malaikatNya bershalawat kepada Nabi, wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian kepadanya dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya”. QS Al-Ahzaab : 56======= Doa ========Penerjemah : Usman Hatim & Firanda Andirja

Imam Syafi’i: Dzikir Setelah Shalat Tidak Dikeraskan

Kalau kita mau melihat perkataan Imam Syafi’i secara seksama yang dikatakan oleh Imam Nawawi, akan ada petunjuk bahwa dzikir setelah shalat tidak perlu dikeraskan terus menerus. Silakan kaji. Dari Ibnu Jarir, ia berkata, ‘Amr telah berkata padaku bahwa Abu Ma’bad –bekas budak Ibnu ‘Abbas- mengabarkan kepadanya bahwa Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata, أَنَّ رَفْعَ الصَّوْتِ بِالذِّكْرِ حِينَ يَنْصَرِفُ النَّاسُ مِنَ الْمَكْتُوبَةِ كَانَ عَلَى عَهْدِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – . وَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ كُنْتُ أَعْلَمُ إِذَا انْصَرَفُوا بِذَلِكَ إِذَا سَمِعْتُهُ “Mengeraskan suara pada dzikir setelah shalat wajib telah ada di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Ibnu ‘Abbas berkata, “Aku mengetahui bahwa shalat telah selesai dengan mendengar hal itu, yaitu jika aku mendengarnya.” (HR. Bukhari, no. 805; Muslim, no. 583) Dalam riwayat lainnya disebutkan, كُنَّا نَعْرِفُ انْقِضَاءَ صَلاَةِ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- بِالتَّكْبِيرِ “Kami dahulu mengetahui berakhirnya shalat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melalui suara takbir.” (HR. Bukhari no. 806; Muslim, no. 583) Imam Nawawi rahimahullah mengatakan mengenai hadits di atas, menurut sebagian ulama salaf, disunnahkan mengeraskan bacaan takbir setelah shalat, termasuk pula bacaan dzikir setelahnya. Di antara ulama belakangan yang menganjurkan adalah Ibnu Hazm Az-Zahiri, begitu pula dinukil pendapat ini dari Ibnu Batthol dan ulama lainnya. Sedangkan ulama madzhab dan selain mereka sepakat tidak disunnahkan mengeraskan suara untuk dzikir setelah shalat, termasuk pula takbir. Adapun Imam Syafi’i rahimahullah memaknai hadits di atas bahwa waktu menjaherkan hanya sebentar sekali sehingga diketahui bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam itu berdzikir. Namun dzikir tadi bukan dikeraskan terus menerus. Cukup bagi imam dan makmum berdzikir pada Allah setelah selesai shalat dengan disirrkan (dilirihkan). Kecuali jika imam ingin mengajarkan pada makmum, maka ia boleh menjaherkan hingga makmum itu paham, setelah itu tetap disirrkan (dilirihkan). Demikian hadits tersebut dipahami. (Syarh Shahih Muslim, 5: 76) Wallahu waliyyut taufiq.   Referensi: Al- Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Al-Hajjaj. Cetakan pertama, tahun 1433 H. Yahya bin Syarf An-Nawawi. Penerbit Dar Ibnu Hazm. — Selesai disusun di pagi hari, 29 Jumadats Tsaniyyah 1437 H @ Darush Sholihin, Panggang, GK Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagscara shalat Dzikir

Imam Syafi’i: Dzikir Setelah Shalat Tidak Dikeraskan

Kalau kita mau melihat perkataan Imam Syafi’i secara seksama yang dikatakan oleh Imam Nawawi, akan ada petunjuk bahwa dzikir setelah shalat tidak perlu dikeraskan terus menerus. Silakan kaji. Dari Ibnu Jarir, ia berkata, ‘Amr telah berkata padaku bahwa Abu Ma’bad –bekas budak Ibnu ‘Abbas- mengabarkan kepadanya bahwa Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata, أَنَّ رَفْعَ الصَّوْتِ بِالذِّكْرِ حِينَ يَنْصَرِفُ النَّاسُ مِنَ الْمَكْتُوبَةِ كَانَ عَلَى عَهْدِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – . وَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ كُنْتُ أَعْلَمُ إِذَا انْصَرَفُوا بِذَلِكَ إِذَا سَمِعْتُهُ “Mengeraskan suara pada dzikir setelah shalat wajib telah ada di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Ibnu ‘Abbas berkata, “Aku mengetahui bahwa shalat telah selesai dengan mendengar hal itu, yaitu jika aku mendengarnya.” (HR. Bukhari, no. 805; Muslim, no. 583) Dalam riwayat lainnya disebutkan, كُنَّا نَعْرِفُ انْقِضَاءَ صَلاَةِ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- بِالتَّكْبِيرِ “Kami dahulu mengetahui berakhirnya shalat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melalui suara takbir.” (HR. Bukhari no. 806; Muslim, no. 583) Imam Nawawi rahimahullah mengatakan mengenai hadits di atas, menurut sebagian ulama salaf, disunnahkan mengeraskan bacaan takbir setelah shalat, termasuk pula bacaan dzikir setelahnya. Di antara ulama belakangan yang menganjurkan adalah Ibnu Hazm Az-Zahiri, begitu pula dinukil pendapat ini dari Ibnu Batthol dan ulama lainnya. Sedangkan ulama madzhab dan selain mereka sepakat tidak disunnahkan mengeraskan suara untuk dzikir setelah shalat, termasuk pula takbir. Adapun Imam Syafi’i rahimahullah memaknai hadits di atas bahwa waktu menjaherkan hanya sebentar sekali sehingga diketahui bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam itu berdzikir. Namun dzikir tadi bukan dikeraskan terus menerus. Cukup bagi imam dan makmum berdzikir pada Allah setelah selesai shalat dengan disirrkan (dilirihkan). Kecuali jika imam ingin mengajarkan pada makmum, maka ia boleh menjaherkan hingga makmum itu paham, setelah itu tetap disirrkan (dilirihkan). Demikian hadits tersebut dipahami. (Syarh Shahih Muslim, 5: 76) Wallahu waliyyut taufiq.   Referensi: Al- Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Al-Hajjaj. Cetakan pertama, tahun 1433 H. Yahya bin Syarf An-Nawawi. Penerbit Dar Ibnu Hazm. — Selesai disusun di pagi hari, 29 Jumadats Tsaniyyah 1437 H @ Darush Sholihin, Panggang, GK Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagscara shalat Dzikir
Kalau kita mau melihat perkataan Imam Syafi’i secara seksama yang dikatakan oleh Imam Nawawi, akan ada petunjuk bahwa dzikir setelah shalat tidak perlu dikeraskan terus menerus. Silakan kaji. Dari Ibnu Jarir, ia berkata, ‘Amr telah berkata padaku bahwa Abu Ma’bad –bekas budak Ibnu ‘Abbas- mengabarkan kepadanya bahwa Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata, أَنَّ رَفْعَ الصَّوْتِ بِالذِّكْرِ حِينَ يَنْصَرِفُ النَّاسُ مِنَ الْمَكْتُوبَةِ كَانَ عَلَى عَهْدِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – . وَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ كُنْتُ أَعْلَمُ إِذَا انْصَرَفُوا بِذَلِكَ إِذَا سَمِعْتُهُ “Mengeraskan suara pada dzikir setelah shalat wajib telah ada di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Ibnu ‘Abbas berkata, “Aku mengetahui bahwa shalat telah selesai dengan mendengar hal itu, yaitu jika aku mendengarnya.” (HR. Bukhari, no. 805; Muslim, no. 583) Dalam riwayat lainnya disebutkan, كُنَّا نَعْرِفُ انْقِضَاءَ صَلاَةِ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- بِالتَّكْبِيرِ “Kami dahulu mengetahui berakhirnya shalat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melalui suara takbir.” (HR. Bukhari no. 806; Muslim, no. 583) Imam Nawawi rahimahullah mengatakan mengenai hadits di atas, menurut sebagian ulama salaf, disunnahkan mengeraskan bacaan takbir setelah shalat, termasuk pula bacaan dzikir setelahnya. Di antara ulama belakangan yang menganjurkan adalah Ibnu Hazm Az-Zahiri, begitu pula dinukil pendapat ini dari Ibnu Batthol dan ulama lainnya. Sedangkan ulama madzhab dan selain mereka sepakat tidak disunnahkan mengeraskan suara untuk dzikir setelah shalat, termasuk pula takbir. Adapun Imam Syafi’i rahimahullah memaknai hadits di atas bahwa waktu menjaherkan hanya sebentar sekali sehingga diketahui bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam itu berdzikir. Namun dzikir tadi bukan dikeraskan terus menerus. Cukup bagi imam dan makmum berdzikir pada Allah setelah selesai shalat dengan disirrkan (dilirihkan). Kecuali jika imam ingin mengajarkan pada makmum, maka ia boleh menjaherkan hingga makmum itu paham, setelah itu tetap disirrkan (dilirihkan). Demikian hadits tersebut dipahami. (Syarh Shahih Muslim, 5: 76) Wallahu waliyyut taufiq.   Referensi: Al- Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Al-Hajjaj. Cetakan pertama, tahun 1433 H. Yahya bin Syarf An-Nawawi. Penerbit Dar Ibnu Hazm. — Selesai disusun di pagi hari, 29 Jumadats Tsaniyyah 1437 H @ Darush Sholihin, Panggang, GK Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagscara shalat Dzikir


Kalau kita mau melihat perkataan Imam Syafi’i secara seksama yang dikatakan oleh Imam Nawawi, akan ada petunjuk bahwa dzikir setelah shalat tidak perlu dikeraskan terus menerus. Silakan kaji. Dari Ibnu Jarir, ia berkata, ‘Amr telah berkata padaku bahwa Abu Ma’bad –bekas budak Ibnu ‘Abbas- mengabarkan kepadanya bahwa Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata, أَنَّ رَفْعَ الصَّوْتِ بِالذِّكْرِ حِينَ يَنْصَرِفُ النَّاسُ مِنَ الْمَكْتُوبَةِ كَانَ عَلَى عَهْدِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – . وَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ كُنْتُ أَعْلَمُ إِذَا انْصَرَفُوا بِذَلِكَ إِذَا سَمِعْتُهُ “Mengeraskan suara pada dzikir setelah shalat wajib telah ada di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Ibnu ‘Abbas berkata, “Aku mengetahui bahwa shalat telah selesai dengan mendengar hal itu, yaitu jika aku mendengarnya.” (HR. Bukhari, no. 805; Muslim, no. 583) Dalam riwayat lainnya disebutkan, كُنَّا نَعْرِفُ انْقِضَاءَ صَلاَةِ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- بِالتَّكْبِيرِ “Kami dahulu mengetahui berakhirnya shalat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melalui suara takbir.” (HR. Bukhari no. 806; Muslim, no. 583) Imam Nawawi rahimahullah mengatakan mengenai hadits di atas, menurut sebagian ulama salaf, disunnahkan mengeraskan bacaan takbir setelah shalat, termasuk pula bacaan dzikir setelahnya. Di antara ulama belakangan yang menganjurkan adalah Ibnu Hazm Az-Zahiri, begitu pula dinukil pendapat ini dari Ibnu Batthol dan ulama lainnya. Sedangkan ulama madzhab dan selain mereka sepakat tidak disunnahkan mengeraskan suara untuk dzikir setelah shalat, termasuk pula takbir. Adapun Imam Syafi’i rahimahullah memaknai hadits di atas bahwa waktu menjaherkan hanya sebentar sekali sehingga diketahui bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam itu berdzikir. Namun dzikir tadi bukan dikeraskan terus menerus. Cukup bagi imam dan makmum berdzikir pada Allah setelah selesai shalat dengan disirrkan (dilirihkan). Kecuali jika imam ingin mengajarkan pada makmum, maka ia boleh menjaherkan hingga makmum itu paham, setelah itu tetap disirrkan (dilirihkan). Demikian hadits tersebut dipahami. (Syarh Shahih Muslim, 5: 76) Wallahu waliyyut taufiq.   Referensi: Al- Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Al-Hajjaj. Cetakan pertama, tahun 1433 H. Yahya bin Syarf An-Nawawi. Penerbit Dar Ibnu Hazm. — Selesai disusun di pagi hari, 29 Jumadats Tsaniyyah 1437 H @ Darush Sholihin, Panggang, GK Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagscara shalat Dzikir

Anjuran Puasa Tujuh Hari di Awal Rajab

Seseorang boleh saja berpuasa di bulan Rajab sebagaimana berpuasa pada bulan lainnya, seperti melakukan puasa Senin-Kamis, puasa Ayyamul Bidh (13, 14, 15 Hijriyah), puasa Daud (sehari berpuasa, sehari tidak). Namun bagaimana dengan motivasi puasa di bulan Rajab secara khusus? Adakah tuntunannya? Di antaranya, ada anjuran puasa tujuh hari di awal Rajab.   Hadits Puasa Rajab Ada beberapa hadits yang menganjurkan beberapa puasa di bulan Rajab, contohnya:   Pertama: Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إن في الجنة نهرا يقال له رجب أشد بياضا من اللبن و أحلى من العسل من صام من رجب يوما سقاه الله من ذلك النهر “Sesungguhnya di surga ada sebuah sungai, namanya sungai Rajab. Airnya lebih putih dari pada salju, lebih manis dari pada madu. Siapa yang puasa sehari di bulan Rajab, maka Allah akan memberinya minum dengan air sungai tersebut.” (HR. Al-Baihaqi dalam Syu’ab Al-Iman,  no. 3800, 3: 367. Ibnul Jauzi dalam Al-‘Ilal Al-Muntanahiyah, no. 912 menyatakan bahwa hadits ini tidak shahih, di dalamnya ada perawi majhul yang tidak jelas siapa mereka)   Kedua: رجب شهر عظيم يضاعف الله فيه الحسنات فمن صام يوما من رجب فكأنما صام سنة ومن صام منه سبعة أيام غلقت عنه سبعة أبواب جهنم ومن صام منه ثمانية أيام فتح له ثمانية أبواب الجنة ومن صام منه عشر أيام لم يسأل الله إلا أعطاه ومن صام منه خمسة عشر يوما نادى مناد في السماء قد غفر لك ما مضى فاستأنف العمل ومن زاد زاده الله “Bulan Rajab adalah bulan yang agung, Allah akan melipatkan kebaikan pada bulan itu. Barang siapa yang berpuasa satu hari pada bulan Rajab, maka seakan-akan ia berpuasa selama satu tahun. Barang siapa yang berpuasa tujuh hari pada bulan Rajab, maka akan ditutup tujuh pintu api neraka jahanam darinya. Barang siapa yang berpuasa delapan hari pada bulan itu, maka akan dibukakan delapan pintu surga baginya. Barang siapa yang berpuasa sepuluh hari dari bulan Rajab, maka tidaklah Allah dimintai apa pun kecuali Allah akan memberinya. Barang siapa berpuasa lima belas hari pada bulan Rajab, maka ada yang memanggil dari langit, ‘Engkau telah diampuni dosamu yang telah lampau.’ Mulailah amal, siapa yang terus menambah, maka akan terus diberi pahala.”  (HR. Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir 5538 dari jalur ‘Utsman Ibnu Mathor Asy-Syaibani, dari ‘Abdul Ghafur yaitu Ibnu Sa’id, dari ‘Abdul ‘Aziz bin Sa’id dari bapaknya. Hadits ini dikatakan oleh Syaikh Al-Albani sebagai hadits maudhu’ atau palsu karena adanya ‘Utsman bin Mathar. Ibnu Hibban menyatakan bahwa ia meriwayatkan hadits-hadits palsu. Syaikh Al-Albani memasukkan hadits ini dalam kumpulan hadits lemah, dalam Silsilah Al-Ahadits Adh-Dha’ifah, no. 5413, 11: 692)   Penilaian Ulama Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Setiap hadits yang membicarakan puasa Rajab dan shalat pada sebagian malam (seperti shalat setelah Maghrib pada malam-malam pertama bulan Rajab, pen), itu berdasarkan hadits dusta.” (Al-Manar Al-Munif, hlm. 49). Ibnu Rajab rahimahullah berkata, “Hadits yang menunjukkan keutamaan puasa Rajab secara khusus tidaklah shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya.” (Latha’if Al- Ma’arif, hlm. 213) Penulis Fiqh Sunnah, Syaikh Sayyid Sabiq rahimahullah berkata, “Adapun puasa Rajab, maka ia tidak memiliki keutamaan dari bulan haram yang lain. Tidak ada hadits shahih yang menyebutkan keutamaan puasa Rajab secara khusus. Jika pun ada, maka hadits tersebut tidak bisa dijadikan dalil pendukung.” (Fiqh Sunnah, 1: 401). Sebagaimana dinukil oleh Sayyid Sabiq dalam Fiqh Sunnah (1: 401), Ibnu Hajar Al-Asqalani berkata, “Tidak ada dalil yang menunjukkan keutamaan puasa di bulan Rajab atau menjelaskan puasa tertentu di bulan tersebut. Begitu pula tidak ada dalil yang menganjurkan shalat malam secara khusus pada bulan Rajab. Artinya, tidak ada dalil shahih yang bisa jadi pendukung.” Syaikh Shalih Al-Munajjid hafizhahullah berkata, “Adapun mengkhususkan puasa pada bulan Rajab, maka tidak ada hadits shahih yang menunjukkan keutamaannya atau menunjukkan anjuran puasa saat bulan Rajab. Yang dikerjakan oleh sebagian orang dengan mengkhususkan sebagian hari di bulan Rajab untuk puasa dengan keyakinan bahwa puasa saat itu memiliki keutamaan dari yang lainnya, maka tidak ada dalil yang mendukung hal tersebut.” (Fatwa Al-Islam Sual wa Jawab no. 75394) Kalau kita lihat hadits-hadits di atas dan masih banyak hadits lainnya, sungguh betapa besar keutamaan puasa pada bulan Rajab. Akan tetapi kalau kita lihat lebih teliti lagi, kita dapati hadits-hadits itu berkisar antara hadits lemah dan hadits palsu. Silakan timbang-timbang, apa dengan hadits lemah atau hadits palsu untuk kita beramal? Semoga Allah memberi taufik dan hidayah untuk menerima amalan sesuai tuntunan. — @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 29 Jumadats Tsaniyyah 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsamalan rajab hadits dhaif

Anjuran Puasa Tujuh Hari di Awal Rajab

Seseorang boleh saja berpuasa di bulan Rajab sebagaimana berpuasa pada bulan lainnya, seperti melakukan puasa Senin-Kamis, puasa Ayyamul Bidh (13, 14, 15 Hijriyah), puasa Daud (sehari berpuasa, sehari tidak). Namun bagaimana dengan motivasi puasa di bulan Rajab secara khusus? Adakah tuntunannya? Di antaranya, ada anjuran puasa tujuh hari di awal Rajab.   Hadits Puasa Rajab Ada beberapa hadits yang menganjurkan beberapa puasa di bulan Rajab, contohnya:   Pertama: Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إن في الجنة نهرا يقال له رجب أشد بياضا من اللبن و أحلى من العسل من صام من رجب يوما سقاه الله من ذلك النهر “Sesungguhnya di surga ada sebuah sungai, namanya sungai Rajab. Airnya lebih putih dari pada salju, lebih manis dari pada madu. Siapa yang puasa sehari di bulan Rajab, maka Allah akan memberinya minum dengan air sungai tersebut.” (HR. Al-Baihaqi dalam Syu’ab Al-Iman,  no. 3800, 3: 367. Ibnul Jauzi dalam Al-‘Ilal Al-Muntanahiyah, no. 912 menyatakan bahwa hadits ini tidak shahih, di dalamnya ada perawi majhul yang tidak jelas siapa mereka)   Kedua: رجب شهر عظيم يضاعف الله فيه الحسنات فمن صام يوما من رجب فكأنما صام سنة ومن صام منه سبعة أيام غلقت عنه سبعة أبواب جهنم ومن صام منه ثمانية أيام فتح له ثمانية أبواب الجنة ومن صام منه عشر أيام لم يسأل الله إلا أعطاه ومن صام منه خمسة عشر يوما نادى مناد في السماء قد غفر لك ما مضى فاستأنف العمل ومن زاد زاده الله “Bulan Rajab adalah bulan yang agung, Allah akan melipatkan kebaikan pada bulan itu. Barang siapa yang berpuasa satu hari pada bulan Rajab, maka seakan-akan ia berpuasa selama satu tahun. Barang siapa yang berpuasa tujuh hari pada bulan Rajab, maka akan ditutup tujuh pintu api neraka jahanam darinya. Barang siapa yang berpuasa delapan hari pada bulan itu, maka akan dibukakan delapan pintu surga baginya. Barang siapa yang berpuasa sepuluh hari dari bulan Rajab, maka tidaklah Allah dimintai apa pun kecuali Allah akan memberinya. Barang siapa berpuasa lima belas hari pada bulan Rajab, maka ada yang memanggil dari langit, ‘Engkau telah diampuni dosamu yang telah lampau.’ Mulailah amal, siapa yang terus menambah, maka akan terus diberi pahala.”  (HR. Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir 5538 dari jalur ‘Utsman Ibnu Mathor Asy-Syaibani, dari ‘Abdul Ghafur yaitu Ibnu Sa’id, dari ‘Abdul ‘Aziz bin Sa’id dari bapaknya. Hadits ini dikatakan oleh Syaikh Al-Albani sebagai hadits maudhu’ atau palsu karena adanya ‘Utsman bin Mathar. Ibnu Hibban menyatakan bahwa ia meriwayatkan hadits-hadits palsu. Syaikh Al-Albani memasukkan hadits ini dalam kumpulan hadits lemah, dalam Silsilah Al-Ahadits Adh-Dha’ifah, no. 5413, 11: 692)   Penilaian Ulama Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Setiap hadits yang membicarakan puasa Rajab dan shalat pada sebagian malam (seperti shalat setelah Maghrib pada malam-malam pertama bulan Rajab, pen), itu berdasarkan hadits dusta.” (Al-Manar Al-Munif, hlm. 49). Ibnu Rajab rahimahullah berkata, “Hadits yang menunjukkan keutamaan puasa Rajab secara khusus tidaklah shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya.” (Latha’if Al- Ma’arif, hlm. 213) Penulis Fiqh Sunnah, Syaikh Sayyid Sabiq rahimahullah berkata, “Adapun puasa Rajab, maka ia tidak memiliki keutamaan dari bulan haram yang lain. Tidak ada hadits shahih yang menyebutkan keutamaan puasa Rajab secara khusus. Jika pun ada, maka hadits tersebut tidak bisa dijadikan dalil pendukung.” (Fiqh Sunnah, 1: 401). Sebagaimana dinukil oleh Sayyid Sabiq dalam Fiqh Sunnah (1: 401), Ibnu Hajar Al-Asqalani berkata, “Tidak ada dalil yang menunjukkan keutamaan puasa di bulan Rajab atau menjelaskan puasa tertentu di bulan tersebut. Begitu pula tidak ada dalil yang menganjurkan shalat malam secara khusus pada bulan Rajab. Artinya, tidak ada dalil shahih yang bisa jadi pendukung.” Syaikh Shalih Al-Munajjid hafizhahullah berkata, “Adapun mengkhususkan puasa pada bulan Rajab, maka tidak ada hadits shahih yang menunjukkan keutamaannya atau menunjukkan anjuran puasa saat bulan Rajab. Yang dikerjakan oleh sebagian orang dengan mengkhususkan sebagian hari di bulan Rajab untuk puasa dengan keyakinan bahwa puasa saat itu memiliki keutamaan dari yang lainnya, maka tidak ada dalil yang mendukung hal tersebut.” (Fatwa Al-Islam Sual wa Jawab no. 75394) Kalau kita lihat hadits-hadits di atas dan masih banyak hadits lainnya, sungguh betapa besar keutamaan puasa pada bulan Rajab. Akan tetapi kalau kita lihat lebih teliti lagi, kita dapati hadits-hadits itu berkisar antara hadits lemah dan hadits palsu. Silakan timbang-timbang, apa dengan hadits lemah atau hadits palsu untuk kita beramal? Semoga Allah memberi taufik dan hidayah untuk menerima amalan sesuai tuntunan. — @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 29 Jumadats Tsaniyyah 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsamalan rajab hadits dhaif
Seseorang boleh saja berpuasa di bulan Rajab sebagaimana berpuasa pada bulan lainnya, seperti melakukan puasa Senin-Kamis, puasa Ayyamul Bidh (13, 14, 15 Hijriyah), puasa Daud (sehari berpuasa, sehari tidak). Namun bagaimana dengan motivasi puasa di bulan Rajab secara khusus? Adakah tuntunannya? Di antaranya, ada anjuran puasa tujuh hari di awal Rajab.   Hadits Puasa Rajab Ada beberapa hadits yang menganjurkan beberapa puasa di bulan Rajab, contohnya:   Pertama: Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إن في الجنة نهرا يقال له رجب أشد بياضا من اللبن و أحلى من العسل من صام من رجب يوما سقاه الله من ذلك النهر “Sesungguhnya di surga ada sebuah sungai, namanya sungai Rajab. Airnya lebih putih dari pada salju, lebih manis dari pada madu. Siapa yang puasa sehari di bulan Rajab, maka Allah akan memberinya minum dengan air sungai tersebut.” (HR. Al-Baihaqi dalam Syu’ab Al-Iman,  no. 3800, 3: 367. Ibnul Jauzi dalam Al-‘Ilal Al-Muntanahiyah, no. 912 menyatakan bahwa hadits ini tidak shahih, di dalamnya ada perawi majhul yang tidak jelas siapa mereka)   Kedua: رجب شهر عظيم يضاعف الله فيه الحسنات فمن صام يوما من رجب فكأنما صام سنة ومن صام منه سبعة أيام غلقت عنه سبعة أبواب جهنم ومن صام منه ثمانية أيام فتح له ثمانية أبواب الجنة ومن صام منه عشر أيام لم يسأل الله إلا أعطاه ومن صام منه خمسة عشر يوما نادى مناد في السماء قد غفر لك ما مضى فاستأنف العمل ومن زاد زاده الله “Bulan Rajab adalah bulan yang agung, Allah akan melipatkan kebaikan pada bulan itu. Barang siapa yang berpuasa satu hari pada bulan Rajab, maka seakan-akan ia berpuasa selama satu tahun. Barang siapa yang berpuasa tujuh hari pada bulan Rajab, maka akan ditutup tujuh pintu api neraka jahanam darinya. Barang siapa yang berpuasa delapan hari pada bulan itu, maka akan dibukakan delapan pintu surga baginya. Barang siapa yang berpuasa sepuluh hari dari bulan Rajab, maka tidaklah Allah dimintai apa pun kecuali Allah akan memberinya. Barang siapa berpuasa lima belas hari pada bulan Rajab, maka ada yang memanggil dari langit, ‘Engkau telah diampuni dosamu yang telah lampau.’ Mulailah amal, siapa yang terus menambah, maka akan terus diberi pahala.”  (HR. Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir 5538 dari jalur ‘Utsman Ibnu Mathor Asy-Syaibani, dari ‘Abdul Ghafur yaitu Ibnu Sa’id, dari ‘Abdul ‘Aziz bin Sa’id dari bapaknya. Hadits ini dikatakan oleh Syaikh Al-Albani sebagai hadits maudhu’ atau palsu karena adanya ‘Utsman bin Mathar. Ibnu Hibban menyatakan bahwa ia meriwayatkan hadits-hadits palsu. Syaikh Al-Albani memasukkan hadits ini dalam kumpulan hadits lemah, dalam Silsilah Al-Ahadits Adh-Dha’ifah, no. 5413, 11: 692)   Penilaian Ulama Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Setiap hadits yang membicarakan puasa Rajab dan shalat pada sebagian malam (seperti shalat setelah Maghrib pada malam-malam pertama bulan Rajab, pen), itu berdasarkan hadits dusta.” (Al-Manar Al-Munif, hlm. 49). Ibnu Rajab rahimahullah berkata, “Hadits yang menunjukkan keutamaan puasa Rajab secara khusus tidaklah shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya.” (Latha’if Al- Ma’arif, hlm. 213) Penulis Fiqh Sunnah, Syaikh Sayyid Sabiq rahimahullah berkata, “Adapun puasa Rajab, maka ia tidak memiliki keutamaan dari bulan haram yang lain. Tidak ada hadits shahih yang menyebutkan keutamaan puasa Rajab secara khusus. Jika pun ada, maka hadits tersebut tidak bisa dijadikan dalil pendukung.” (Fiqh Sunnah, 1: 401). Sebagaimana dinukil oleh Sayyid Sabiq dalam Fiqh Sunnah (1: 401), Ibnu Hajar Al-Asqalani berkata, “Tidak ada dalil yang menunjukkan keutamaan puasa di bulan Rajab atau menjelaskan puasa tertentu di bulan tersebut. Begitu pula tidak ada dalil yang menganjurkan shalat malam secara khusus pada bulan Rajab. Artinya, tidak ada dalil shahih yang bisa jadi pendukung.” Syaikh Shalih Al-Munajjid hafizhahullah berkata, “Adapun mengkhususkan puasa pada bulan Rajab, maka tidak ada hadits shahih yang menunjukkan keutamaannya atau menunjukkan anjuran puasa saat bulan Rajab. Yang dikerjakan oleh sebagian orang dengan mengkhususkan sebagian hari di bulan Rajab untuk puasa dengan keyakinan bahwa puasa saat itu memiliki keutamaan dari yang lainnya, maka tidak ada dalil yang mendukung hal tersebut.” (Fatwa Al-Islam Sual wa Jawab no. 75394) Kalau kita lihat hadits-hadits di atas dan masih banyak hadits lainnya, sungguh betapa besar keutamaan puasa pada bulan Rajab. Akan tetapi kalau kita lihat lebih teliti lagi, kita dapati hadits-hadits itu berkisar antara hadits lemah dan hadits palsu. Silakan timbang-timbang, apa dengan hadits lemah atau hadits palsu untuk kita beramal? Semoga Allah memberi taufik dan hidayah untuk menerima amalan sesuai tuntunan. — @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 29 Jumadats Tsaniyyah 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsamalan rajab hadits dhaif


Seseorang boleh saja berpuasa di bulan Rajab sebagaimana berpuasa pada bulan lainnya, seperti melakukan puasa Senin-Kamis, puasa Ayyamul Bidh (13, 14, 15 Hijriyah), puasa Daud (sehari berpuasa, sehari tidak). Namun bagaimana dengan motivasi puasa di bulan Rajab secara khusus? Adakah tuntunannya? Di antaranya, ada anjuran puasa tujuh hari di awal Rajab.   Hadits Puasa Rajab Ada beberapa hadits yang menganjurkan beberapa puasa di bulan Rajab, contohnya:   Pertama: Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إن في الجنة نهرا يقال له رجب أشد بياضا من اللبن و أحلى من العسل من صام من رجب يوما سقاه الله من ذلك النهر “Sesungguhnya di surga ada sebuah sungai, namanya sungai Rajab. Airnya lebih putih dari pada salju, lebih manis dari pada madu. Siapa yang puasa sehari di bulan Rajab, maka Allah akan memberinya minum dengan air sungai tersebut.” (HR. Al-Baihaqi dalam Syu’ab Al-Iman,  no. 3800, 3: 367. Ibnul Jauzi dalam Al-‘Ilal Al-Muntanahiyah, no. 912 menyatakan bahwa hadits ini tidak shahih, di dalamnya ada perawi majhul yang tidak jelas siapa mereka)   Kedua: رجب شهر عظيم يضاعف الله فيه الحسنات فمن صام يوما من رجب فكأنما صام سنة ومن صام منه سبعة أيام غلقت عنه سبعة أبواب جهنم ومن صام منه ثمانية أيام فتح له ثمانية أبواب الجنة ومن صام منه عشر أيام لم يسأل الله إلا أعطاه ومن صام منه خمسة عشر يوما نادى مناد في السماء قد غفر لك ما مضى فاستأنف العمل ومن زاد زاده الله “Bulan Rajab adalah bulan yang agung, Allah akan melipatkan kebaikan pada bulan itu. Barang siapa yang berpuasa satu hari pada bulan Rajab, maka seakan-akan ia berpuasa selama satu tahun. Barang siapa yang berpuasa tujuh hari pada bulan Rajab, maka akan ditutup tujuh pintu api neraka jahanam darinya. Barang siapa yang berpuasa delapan hari pada bulan itu, maka akan dibukakan delapan pintu surga baginya. Barang siapa yang berpuasa sepuluh hari dari bulan Rajab, maka tidaklah Allah dimintai apa pun kecuali Allah akan memberinya. Barang siapa berpuasa lima belas hari pada bulan Rajab, maka ada yang memanggil dari langit, ‘Engkau telah diampuni dosamu yang telah lampau.’ Mulailah amal, siapa yang terus menambah, maka akan terus diberi pahala.”  (HR. Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir 5538 dari jalur ‘Utsman Ibnu Mathor Asy-Syaibani, dari ‘Abdul Ghafur yaitu Ibnu Sa’id, dari ‘Abdul ‘Aziz bin Sa’id dari bapaknya. Hadits ini dikatakan oleh Syaikh Al-Albani sebagai hadits maudhu’ atau palsu karena adanya ‘Utsman bin Mathar. Ibnu Hibban menyatakan bahwa ia meriwayatkan hadits-hadits palsu. Syaikh Al-Albani memasukkan hadits ini dalam kumpulan hadits lemah, dalam Silsilah Al-Ahadits Adh-Dha’ifah, no. 5413, 11: 692)   Penilaian Ulama Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Setiap hadits yang membicarakan puasa Rajab dan shalat pada sebagian malam (seperti shalat setelah Maghrib pada malam-malam pertama bulan Rajab, pen), itu berdasarkan hadits dusta.” (Al-Manar Al-Munif, hlm. 49). Ibnu Rajab rahimahullah berkata, “Hadits yang menunjukkan keutamaan puasa Rajab secara khusus tidaklah shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya.” (Latha’if Al- Ma’arif, hlm. 213) Penulis Fiqh Sunnah, Syaikh Sayyid Sabiq rahimahullah berkata, “Adapun puasa Rajab, maka ia tidak memiliki keutamaan dari bulan haram yang lain. Tidak ada hadits shahih yang menyebutkan keutamaan puasa Rajab secara khusus. Jika pun ada, maka hadits tersebut tidak bisa dijadikan dalil pendukung.” (Fiqh Sunnah, 1: 401). Sebagaimana dinukil oleh Sayyid Sabiq dalam Fiqh Sunnah (1: 401), Ibnu Hajar Al-Asqalani berkata, “Tidak ada dalil yang menunjukkan keutamaan puasa di bulan Rajab atau menjelaskan puasa tertentu di bulan tersebut. Begitu pula tidak ada dalil yang menganjurkan shalat malam secara khusus pada bulan Rajab. Artinya, tidak ada dalil shahih yang bisa jadi pendukung.” Syaikh Shalih Al-Munajjid hafizhahullah berkata, “Adapun mengkhususkan puasa pada bulan Rajab, maka tidak ada hadits shahih yang menunjukkan keutamaannya atau menunjukkan anjuran puasa saat bulan Rajab. Yang dikerjakan oleh sebagian orang dengan mengkhususkan sebagian hari di bulan Rajab untuk puasa dengan keyakinan bahwa puasa saat itu memiliki keutamaan dari yang lainnya, maka tidak ada dalil yang mendukung hal tersebut.” (Fatwa Al-Islam Sual wa Jawab no. 75394) Kalau kita lihat hadits-hadits di atas dan masih banyak hadits lainnya, sungguh betapa besar keutamaan puasa pada bulan Rajab. Akan tetapi kalau kita lihat lebih teliti lagi, kita dapati hadits-hadits itu berkisar antara hadits lemah dan hadits palsu. Silakan timbang-timbang, apa dengan hadits lemah atau hadits palsu untuk kita beramal? Semoga Allah memberi taufik dan hidayah untuk menerima amalan sesuai tuntunan. — @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 29 Jumadats Tsaniyyah 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsamalan rajab hadits dhaif

Pakaian Takwa Sebagai Bekal

Pakaian takwa itulah yang terbaik dibanding pakaian lahiriyah. Allah Ta’ala berfirman, يَا بَنِي آَدَمَ قَدْ أَنْزَلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَاسًا يُوَارِي سَوْآَتِكُمْ وَرِيشًا وَلِبَاسُ التَّقْوَى ذَلِكَ خَيْرٌ “Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik.” (QS. Al-A’raf: 26). Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin menjelaskan bahwa pakaian itu ada dua macam, yaitu pakaian lahiriyah dan pakaian batin. Pakaian lahiriyah yaitu yang menutupi aurat dan ini sifatnya primer. Termasuk pakaian lahir juga adalah pakaian perhiasan yang disebut dalam ayat di atas dengan riisya’ yang berarti perhiasan atau penyempurna. Pakaian batin sendiri adalah pakaian takwa. Pakaian ini lebih baik daripada pakaian lahir yang nampak. Setelah menyebutkan dua penjelasan di atas, Syaikh Ibnu ‘Utsaimin menjelaskan, “Kita dapati bahwa orang-orang begitu semangat sekali memperhatikan bersihnya pakaiannya yang nampak. Jika ada kotoran yang menempel di pakaiannya, maka ia akan mencucinya dengan air dan sabun sesuai kemampuannya. Namun untuk pakaian takwa, sedikit sekali yang mau memperhatikannya. Kalau pakaian batin tersebut kotor, tidak ada yang ambil peduli. Ingatlah, pakaian takwa itulah yang lebih baik. Itu menunjukkan seharusnya perhatian kita lebih tinggi pada pakaian takwa dibanding badan dan pakaian lahir yang nampak. Pakaian takwa itulah yang lebih penting.” (Syarh Riyadh Ash-Shalihin, 4: 266). Dari penjelasan Syaikh di atas, kita lihat bahwa yang mesti diperhatikan adalah pakaian takwa. Bahkan pakaian takwa inilah yang jadi bekal terbaik. Allah Ta’ala berfirman, وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى “Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.” (QS. Al-Baqarah: 197) Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata, “Bekal yang sebenarnya yang tetap mesti ada di dunia dan di akhirat adalah bekal takwa, ini adalah bekal yang mesti dibawa untuk negeri akhirat yang kekal abadi. Bekal ini dibutuhkan untuk kehidupan sempurna yang penuh kelezatan di akhirat dan negeri yang kekal abadi selamanya. Siapa saja yang meninggalkan bekal ini, perjalanannya akan terputus dan akan mendapatkan berbagai kesulitan, bahkan ia tak bisa sampai pada negeri orang yang bertakwa (yaitu surga). Inilah pujian bagi yang bertakwa.” (Taisir Al-Karim Ar-Rahman, hlm. 92) Al-Qasimi berkata, “Persiapkanlah ketakwaan untuk hari kiamat (yaumul ma’ad). Karena sudah jadi kepastian bahwa orang yang bersafar di dunia mesti memiliki bekal. Musafir tersebut membutuhkan makan, minum dan kendaraan. Sama halnya dengan safar dunia menuju akhirat juga butuh bekal. Bekalnya adalah dengan ketakwaan pada Allah, amal taat dan menjauhi berbagai larangan Allah. Bekal ini tentu lebih utama dari bekal saat safar di dunia. Bekal dunia tadi hanya memenuhi keinginan jiwa dan nafsu syahwat. Sedangkan bekal akhirat (takwa) akan mengantarkan pada kehidupan abadi di akhirat.” (Mahasin At-Ta’wil, 3: 153. Dinukil dari Kunuz Riyadh Ash-Shalihin, 10: 125) Tak masalah memang memiliki baju baru karena asalnya mubah. Namun jangan melalaikan dari menyiapkan bekal hakiki untuk akhirat yaitu takwa. — 29 Jumadats Tsaniyyah 1437 H @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsadab pakaian takwa

Pakaian Takwa Sebagai Bekal

Pakaian takwa itulah yang terbaik dibanding pakaian lahiriyah. Allah Ta’ala berfirman, يَا بَنِي آَدَمَ قَدْ أَنْزَلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَاسًا يُوَارِي سَوْآَتِكُمْ وَرِيشًا وَلِبَاسُ التَّقْوَى ذَلِكَ خَيْرٌ “Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik.” (QS. Al-A’raf: 26). Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin menjelaskan bahwa pakaian itu ada dua macam, yaitu pakaian lahiriyah dan pakaian batin. Pakaian lahiriyah yaitu yang menutupi aurat dan ini sifatnya primer. Termasuk pakaian lahir juga adalah pakaian perhiasan yang disebut dalam ayat di atas dengan riisya’ yang berarti perhiasan atau penyempurna. Pakaian batin sendiri adalah pakaian takwa. Pakaian ini lebih baik daripada pakaian lahir yang nampak. Setelah menyebutkan dua penjelasan di atas, Syaikh Ibnu ‘Utsaimin menjelaskan, “Kita dapati bahwa orang-orang begitu semangat sekali memperhatikan bersihnya pakaiannya yang nampak. Jika ada kotoran yang menempel di pakaiannya, maka ia akan mencucinya dengan air dan sabun sesuai kemampuannya. Namun untuk pakaian takwa, sedikit sekali yang mau memperhatikannya. Kalau pakaian batin tersebut kotor, tidak ada yang ambil peduli. Ingatlah, pakaian takwa itulah yang lebih baik. Itu menunjukkan seharusnya perhatian kita lebih tinggi pada pakaian takwa dibanding badan dan pakaian lahir yang nampak. Pakaian takwa itulah yang lebih penting.” (Syarh Riyadh Ash-Shalihin, 4: 266). Dari penjelasan Syaikh di atas, kita lihat bahwa yang mesti diperhatikan adalah pakaian takwa. Bahkan pakaian takwa inilah yang jadi bekal terbaik. Allah Ta’ala berfirman, وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى “Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.” (QS. Al-Baqarah: 197) Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata, “Bekal yang sebenarnya yang tetap mesti ada di dunia dan di akhirat adalah bekal takwa, ini adalah bekal yang mesti dibawa untuk negeri akhirat yang kekal abadi. Bekal ini dibutuhkan untuk kehidupan sempurna yang penuh kelezatan di akhirat dan negeri yang kekal abadi selamanya. Siapa saja yang meninggalkan bekal ini, perjalanannya akan terputus dan akan mendapatkan berbagai kesulitan, bahkan ia tak bisa sampai pada negeri orang yang bertakwa (yaitu surga). Inilah pujian bagi yang bertakwa.” (Taisir Al-Karim Ar-Rahman, hlm. 92) Al-Qasimi berkata, “Persiapkanlah ketakwaan untuk hari kiamat (yaumul ma’ad). Karena sudah jadi kepastian bahwa orang yang bersafar di dunia mesti memiliki bekal. Musafir tersebut membutuhkan makan, minum dan kendaraan. Sama halnya dengan safar dunia menuju akhirat juga butuh bekal. Bekalnya adalah dengan ketakwaan pada Allah, amal taat dan menjauhi berbagai larangan Allah. Bekal ini tentu lebih utama dari bekal saat safar di dunia. Bekal dunia tadi hanya memenuhi keinginan jiwa dan nafsu syahwat. Sedangkan bekal akhirat (takwa) akan mengantarkan pada kehidupan abadi di akhirat.” (Mahasin At-Ta’wil, 3: 153. Dinukil dari Kunuz Riyadh Ash-Shalihin, 10: 125) Tak masalah memang memiliki baju baru karena asalnya mubah. Namun jangan melalaikan dari menyiapkan bekal hakiki untuk akhirat yaitu takwa. — 29 Jumadats Tsaniyyah 1437 H @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsadab pakaian takwa
Pakaian takwa itulah yang terbaik dibanding pakaian lahiriyah. Allah Ta’ala berfirman, يَا بَنِي آَدَمَ قَدْ أَنْزَلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَاسًا يُوَارِي سَوْآَتِكُمْ وَرِيشًا وَلِبَاسُ التَّقْوَى ذَلِكَ خَيْرٌ “Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik.” (QS. Al-A’raf: 26). Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin menjelaskan bahwa pakaian itu ada dua macam, yaitu pakaian lahiriyah dan pakaian batin. Pakaian lahiriyah yaitu yang menutupi aurat dan ini sifatnya primer. Termasuk pakaian lahir juga adalah pakaian perhiasan yang disebut dalam ayat di atas dengan riisya’ yang berarti perhiasan atau penyempurna. Pakaian batin sendiri adalah pakaian takwa. Pakaian ini lebih baik daripada pakaian lahir yang nampak. Setelah menyebutkan dua penjelasan di atas, Syaikh Ibnu ‘Utsaimin menjelaskan, “Kita dapati bahwa orang-orang begitu semangat sekali memperhatikan bersihnya pakaiannya yang nampak. Jika ada kotoran yang menempel di pakaiannya, maka ia akan mencucinya dengan air dan sabun sesuai kemampuannya. Namun untuk pakaian takwa, sedikit sekali yang mau memperhatikannya. Kalau pakaian batin tersebut kotor, tidak ada yang ambil peduli. Ingatlah, pakaian takwa itulah yang lebih baik. Itu menunjukkan seharusnya perhatian kita lebih tinggi pada pakaian takwa dibanding badan dan pakaian lahir yang nampak. Pakaian takwa itulah yang lebih penting.” (Syarh Riyadh Ash-Shalihin, 4: 266). Dari penjelasan Syaikh di atas, kita lihat bahwa yang mesti diperhatikan adalah pakaian takwa. Bahkan pakaian takwa inilah yang jadi bekal terbaik. Allah Ta’ala berfirman, وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى “Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.” (QS. Al-Baqarah: 197) Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata, “Bekal yang sebenarnya yang tetap mesti ada di dunia dan di akhirat adalah bekal takwa, ini adalah bekal yang mesti dibawa untuk negeri akhirat yang kekal abadi. Bekal ini dibutuhkan untuk kehidupan sempurna yang penuh kelezatan di akhirat dan negeri yang kekal abadi selamanya. Siapa saja yang meninggalkan bekal ini, perjalanannya akan terputus dan akan mendapatkan berbagai kesulitan, bahkan ia tak bisa sampai pada negeri orang yang bertakwa (yaitu surga). Inilah pujian bagi yang bertakwa.” (Taisir Al-Karim Ar-Rahman, hlm. 92) Al-Qasimi berkata, “Persiapkanlah ketakwaan untuk hari kiamat (yaumul ma’ad). Karena sudah jadi kepastian bahwa orang yang bersafar di dunia mesti memiliki bekal. Musafir tersebut membutuhkan makan, minum dan kendaraan. Sama halnya dengan safar dunia menuju akhirat juga butuh bekal. Bekalnya adalah dengan ketakwaan pada Allah, amal taat dan menjauhi berbagai larangan Allah. Bekal ini tentu lebih utama dari bekal saat safar di dunia. Bekal dunia tadi hanya memenuhi keinginan jiwa dan nafsu syahwat. Sedangkan bekal akhirat (takwa) akan mengantarkan pada kehidupan abadi di akhirat.” (Mahasin At-Ta’wil, 3: 153. Dinukil dari Kunuz Riyadh Ash-Shalihin, 10: 125) Tak masalah memang memiliki baju baru karena asalnya mubah. Namun jangan melalaikan dari menyiapkan bekal hakiki untuk akhirat yaitu takwa. — 29 Jumadats Tsaniyyah 1437 H @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsadab pakaian takwa


Pakaian takwa itulah yang terbaik dibanding pakaian lahiriyah. Allah Ta’ala berfirman, يَا بَنِي آَدَمَ قَدْ أَنْزَلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَاسًا يُوَارِي سَوْآَتِكُمْ وَرِيشًا وَلِبَاسُ التَّقْوَى ذَلِكَ خَيْرٌ “Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik.” (QS. Al-A’raf: 26). Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin menjelaskan bahwa pakaian itu ada dua macam, yaitu pakaian lahiriyah dan pakaian batin. Pakaian lahiriyah yaitu yang menutupi aurat dan ini sifatnya primer. Termasuk pakaian lahir juga adalah pakaian perhiasan yang disebut dalam ayat di atas dengan riisya’ yang berarti perhiasan atau penyempurna. Pakaian batin sendiri adalah pakaian takwa. Pakaian ini lebih baik daripada pakaian lahir yang nampak. Setelah menyebutkan dua penjelasan di atas, Syaikh Ibnu ‘Utsaimin menjelaskan, “Kita dapati bahwa orang-orang begitu semangat sekali memperhatikan bersihnya pakaiannya yang nampak. Jika ada kotoran yang menempel di pakaiannya, maka ia akan mencucinya dengan air dan sabun sesuai kemampuannya. Namun untuk pakaian takwa, sedikit sekali yang mau memperhatikannya. Kalau pakaian batin tersebut kotor, tidak ada yang ambil peduli. Ingatlah, pakaian takwa itulah yang lebih baik. Itu menunjukkan seharusnya perhatian kita lebih tinggi pada pakaian takwa dibanding badan dan pakaian lahir yang nampak. Pakaian takwa itulah yang lebih penting.” (Syarh Riyadh Ash-Shalihin, 4: 266). Dari penjelasan Syaikh di atas, kita lihat bahwa yang mesti diperhatikan adalah pakaian takwa. Bahkan pakaian takwa inilah yang jadi bekal terbaik. Allah Ta’ala berfirman, وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى “Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.” (QS. Al-Baqarah: 197) Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata, “Bekal yang sebenarnya yang tetap mesti ada di dunia dan di akhirat adalah bekal takwa, ini adalah bekal yang mesti dibawa untuk negeri akhirat yang kekal abadi. Bekal ini dibutuhkan untuk kehidupan sempurna yang penuh kelezatan di akhirat dan negeri yang kekal abadi selamanya. Siapa saja yang meninggalkan bekal ini, perjalanannya akan terputus dan akan mendapatkan berbagai kesulitan, bahkan ia tak bisa sampai pada negeri orang yang bertakwa (yaitu surga). Inilah pujian bagi yang bertakwa.” (Taisir Al-Karim Ar-Rahman, hlm. 92) Al-Qasimi berkata, “Persiapkanlah ketakwaan untuk hari kiamat (yaumul ma’ad). Karena sudah jadi kepastian bahwa orang yang bersafar di dunia mesti memiliki bekal. Musafir tersebut membutuhkan makan, minum dan kendaraan. Sama halnya dengan safar dunia menuju akhirat juga butuh bekal. Bekalnya adalah dengan ketakwaan pada Allah, amal taat dan menjauhi berbagai larangan Allah. Bekal ini tentu lebih utama dari bekal saat safar di dunia. Bekal dunia tadi hanya memenuhi keinginan jiwa dan nafsu syahwat. Sedangkan bekal akhirat (takwa) akan mengantarkan pada kehidupan abadi di akhirat.” (Mahasin At-Ta’wil, 3: 153. Dinukil dari Kunuz Riyadh Ash-Shalihin, 10: 125) Tak masalah memang memiliki baju baru karena asalnya mubah. Namun jangan melalaikan dari menyiapkan bekal hakiki untuk akhirat yaitu takwa. — 29 Jumadats Tsaniyyah 1437 H @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsadab pakaian takwa

Keutamaan Doa Kafaratul Majelis

Bagaimana doa kafaratul majelis yang katanya bisa menghapuskan kesalahan yang dilakukan selama berada dalam majelis. Disebutkan dalam hadits, عَنْ أَبِى بَرْزَةَ الأَسْلَمِىِّ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ بِأَخَرَةٍ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَقُومَ مِنَ الْمَجْلِسِ « سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ ». فَقَالَ رَجُلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّكَ لَتَقُولُ قَوْلاً مَا كُنْتَ تَقُولُهُ فِيمَا مَضَى. قَالَ « كَفَّارَةٌ لِمَا يَكُونُ فِى الْمَجْلِسِ ». Dari Abu Barzah Al-Aslami, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata di akhir majelis jika beliau hendak berdiri meninggalkan majelis, “Subhanakallahumma wa bihamdika asyhadu alla ilaaha illa anta, astaghfiruka wa atuubu ilaik (artinya: Maha Suci Engkau Ya Allah, segala pujian untuk-Mu, aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau dan aku meminta ampunan dan bertaubat pada-Mu).” Ada seseorang yang berkata pada Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, engkau mengucapkan suatu perkataan selama hidupmu.” Beliau bersabda, “Doa itu sebagai penambal kesalahan yang dilakukan dalam majelis.” (HR. Abu Daud, no. 4857;  Ahmad, 4: 425. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan) Maksudnya, doa itu adalah penambal kesalahan berupa kata-kata laghwu atau perkataan yang sia-sia. Doa itu diucapkan ketika akan berpisah atau akan selesai dari suatu majelis. Majelis ini tidak mesti dengan duduk-duduk. Pokoknya setiap pembicaraan atau obrolan biasa apalagi diyakini ada perkataan sia-sia yang terucap, maka doa kafaratul majelis sangat dianjurkan untuk dibaca. Jika suatu majelis atau tempat obrolan yang membicarakan hal akhirat maupun hal dunia, lantas di dalamnya tidak terdapat dzikir pada Allah, sungguh sangat merugi. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَامِنْ قَوْمٍ يَقُوْمُوْنَ مِنْ مَجْلِسٍ لاَ يَذْكُرُوْنَ اللهَ فِيْهِ إِلاَّ قَامُوْا عَنْ مِثْلِ جِيْفَةِ حِمَارٍ وَكَانَ لَهُمْ حَسْرَةً “Setiap kaum yang bangkit dari majelis yang tidak ada dzikir pada Allah, maka selesainya majelis itu seperti bangkai keledai dan hanya menjadi penyesalan pada hari kiamat.” (HR. Abu Daud, no. 4855; Ahmad, 2: 389. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih) Tentu kita tidak mau menjadi orang yang merugi dalam setiap waktu kita. Karenanya, jadikanlah akhir majelis dengan istighfar dan bacaan doa kafaratul majelis. Semoga bermanfaat. — Disusun di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, Rabu, 28 Jumadats Tsaniyyah 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsbelajar doa kafaratul majelis taubat

Keutamaan Doa Kafaratul Majelis

Bagaimana doa kafaratul majelis yang katanya bisa menghapuskan kesalahan yang dilakukan selama berada dalam majelis. Disebutkan dalam hadits, عَنْ أَبِى بَرْزَةَ الأَسْلَمِىِّ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ بِأَخَرَةٍ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَقُومَ مِنَ الْمَجْلِسِ « سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ ». فَقَالَ رَجُلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّكَ لَتَقُولُ قَوْلاً مَا كُنْتَ تَقُولُهُ فِيمَا مَضَى. قَالَ « كَفَّارَةٌ لِمَا يَكُونُ فِى الْمَجْلِسِ ». Dari Abu Barzah Al-Aslami, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata di akhir majelis jika beliau hendak berdiri meninggalkan majelis, “Subhanakallahumma wa bihamdika asyhadu alla ilaaha illa anta, astaghfiruka wa atuubu ilaik (artinya: Maha Suci Engkau Ya Allah, segala pujian untuk-Mu, aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau dan aku meminta ampunan dan bertaubat pada-Mu).” Ada seseorang yang berkata pada Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, engkau mengucapkan suatu perkataan selama hidupmu.” Beliau bersabda, “Doa itu sebagai penambal kesalahan yang dilakukan dalam majelis.” (HR. Abu Daud, no. 4857;  Ahmad, 4: 425. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan) Maksudnya, doa itu adalah penambal kesalahan berupa kata-kata laghwu atau perkataan yang sia-sia. Doa itu diucapkan ketika akan berpisah atau akan selesai dari suatu majelis. Majelis ini tidak mesti dengan duduk-duduk. Pokoknya setiap pembicaraan atau obrolan biasa apalagi diyakini ada perkataan sia-sia yang terucap, maka doa kafaratul majelis sangat dianjurkan untuk dibaca. Jika suatu majelis atau tempat obrolan yang membicarakan hal akhirat maupun hal dunia, lantas di dalamnya tidak terdapat dzikir pada Allah, sungguh sangat merugi. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَامِنْ قَوْمٍ يَقُوْمُوْنَ مِنْ مَجْلِسٍ لاَ يَذْكُرُوْنَ اللهَ فِيْهِ إِلاَّ قَامُوْا عَنْ مِثْلِ جِيْفَةِ حِمَارٍ وَكَانَ لَهُمْ حَسْرَةً “Setiap kaum yang bangkit dari majelis yang tidak ada dzikir pada Allah, maka selesainya majelis itu seperti bangkai keledai dan hanya menjadi penyesalan pada hari kiamat.” (HR. Abu Daud, no. 4855; Ahmad, 2: 389. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih) Tentu kita tidak mau menjadi orang yang merugi dalam setiap waktu kita. Karenanya, jadikanlah akhir majelis dengan istighfar dan bacaan doa kafaratul majelis. Semoga bermanfaat. — Disusun di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, Rabu, 28 Jumadats Tsaniyyah 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsbelajar doa kafaratul majelis taubat
Bagaimana doa kafaratul majelis yang katanya bisa menghapuskan kesalahan yang dilakukan selama berada dalam majelis. Disebutkan dalam hadits, عَنْ أَبِى بَرْزَةَ الأَسْلَمِىِّ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ بِأَخَرَةٍ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَقُومَ مِنَ الْمَجْلِسِ « سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ ». فَقَالَ رَجُلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّكَ لَتَقُولُ قَوْلاً مَا كُنْتَ تَقُولُهُ فِيمَا مَضَى. قَالَ « كَفَّارَةٌ لِمَا يَكُونُ فِى الْمَجْلِسِ ». Dari Abu Barzah Al-Aslami, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata di akhir majelis jika beliau hendak berdiri meninggalkan majelis, “Subhanakallahumma wa bihamdika asyhadu alla ilaaha illa anta, astaghfiruka wa atuubu ilaik (artinya: Maha Suci Engkau Ya Allah, segala pujian untuk-Mu, aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau dan aku meminta ampunan dan bertaubat pada-Mu).” Ada seseorang yang berkata pada Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, engkau mengucapkan suatu perkataan selama hidupmu.” Beliau bersabda, “Doa itu sebagai penambal kesalahan yang dilakukan dalam majelis.” (HR. Abu Daud, no. 4857;  Ahmad, 4: 425. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan) Maksudnya, doa itu adalah penambal kesalahan berupa kata-kata laghwu atau perkataan yang sia-sia. Doa itu diucapkan ketika akan berpisah atau akan selesai dari suatu majelis. Majelis ini tidak mesti dengan duduk-duduk. Pokoknya setiap pembicaraan atau obrolan biasa apalagi diyakini ada perkataan sia-sia yang terucap, maka doa kafaratul majelis sangat dianjurkan untuk dibaca. Jika suatu majelis atau tempat obrolan yang membicarakan hal akhirat maupun hal dunia, lantas di dalamnya tidak terdapat dzikir pada Allah, sungguh sangat merugi. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَامِنْ قَوْمٍ يَقُوْمُوْنَ مِنْ مَجْلِسٍ لاَ يَذْكُرُوْنَ اللهَ فِيْهِ إِلاَّ قَامُوْا عَنْ مِثْلِ جِيْفَةِ حِمَارٍ وَكَانَ لَهُمْ حَسْرَةً “Setiap kaum yang bangkit dari majelis yang tidak ada dzikir pada Allah, maka selesainya majelis itu seperti bangkai keledai dan hanya menjadi penyesalan pada hari kiamat.” (HR. Abu Daud, no. 4855; Ahmad, 2: 389. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih) Tentu kita tidak mau menjadi orang yang merugi dalam setiap waktu kita. Karenanya, jadikanlah akhir majelis dengan istighfar dan bacaan doa kafaratul majelis. Semoga bermanfaat. — Disusun di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, Rabu, 28 Jumadats Tsaniyyah 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsbelajar doa kafaratul majelis taubat


Bagaimana doa kafaratul majelis yang katanya bisa menghapuskan kesalahan yang dilakukan selama berada dalam majelis. Disebutkan dalam hadits, عَنْ أَبِى بَرْزَةَ الأَسْلَمِىِّ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ بِأَخَرَةٍ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَقُومَ مِنَ الْمَجْلِسِ « سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ ». فَقَالَ رَجُلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّكَ لَتَقُولُ قَوْلاً مَا كُنْتَ تَقُولُهُ فِيمَا مَضَى. قَالَ « كَفَّارَةٌ لِمَا يَكُونُ فِى الْمَجْلِسِ ». Dari Abu Barzah Al-Aslami, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata di akhir majelis jika beliau hendak berdiri meninggalkan majelis, “Subhanakallahumma wa bihamdika asyhadu alla ilaaha illa anta, astaghfiruka wa atuubu ilaik (artinya: Maha Suci Engkau Ya Allah, segala pujian untuk-Mu, aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau dan aku meminta ampunan dan bertaubat pada-Mu).” Ada seseorang yang berkata pada Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, engkau mengucapkan suatu perkataan selama hidupmu.” Beliau bersabda, “Doa itu sebagai penambal kesalahan yang dilakukan dalam majelis.” (HR. Abu Daud, no. 4857;  Ahmad, 4: 425. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan) Maksudnya, doa itu adalah penambal kesalahan berupa kata-kata laghwu atau perkataan yang sia-sia. Doa itu diucapkan ketika akan berpisah atau akan selesai dari suatu majelis. Majelis ini tidak mesti dengan duduk-duduk. Pokoknya setiap pembicaraan atau obrolan biasa apalagi diyakini ada perkataan sia-sia yang terucap, maka doa kafaratul majelis sangat dianjurkan untuk dibaca. Jika suatu majelis atau tempat obrolan yang membicarakan hal akhirat maupun hal dunia, lantas di dalamnya tidak terdapat dzikir pada Allah, sungguh sangat merugi. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَامِنْ قَوْمٍ يَقُوْمُوْنَ مِنْ مَجْلِسٍ لاَ يَذْكُرُوْنَ اللهَ فِيْهِ إِلاَّ قَامُوْا عَنْ مِثْلِ جِيْفَةِ حِمَارٍ وَكَانَ لَهُمْ حَسْرَةً “Setiap kaum yang bangkit dari majelis yang tidak ada dzikir pada Allah, maka selesainya majelis itu seperti bangkai keledai dan hanya menjadi penyesalan pada hari kiamat.” (HR. Abu Daud, no. 4855; Ahmad, 2: 389. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih) Tentu kita tidak mau menjadi orang yang merugi dalam setiap waktu kita. Karenanya, jadikanlah akhir majelis dengan istighfar dan bacaan doa kafaratul majelis. Semoga bermanfaat. — Disusun di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, Rabu, 28 Jumadats Tsaniyyah 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsbelajar doa kafaratul majelis taubat

Menutup Majelis dengan Surat Al Ashr

Adakah tuntunan menutup majelis dengan membaca surat Al-Ashr? Jawabannya ada. Dalilnya adalah perbuatan para sahabat radhiyallahu ‘anhum. Dari Abu Madinah Ad-Darimi, ia berkata, كَانَ الرَّجُلانِ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا الْتَقَيَا لَمْ يَفْتَرِقَا حَتَّى يَقْرَأَ أَحَدُهُمَا عَلَى الآخَرِ : ” وَالْعَصْرِ إِنَّ الإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ ” ، ثُمَّ يُسَلِّمَ أَحَدُهُمَا عَلَى الآخَرِ “Jika dua orang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam itu bertemu, mereka tidaklah berpisah sampai salah satu di antara keduanya membaca ‘wal ‘ashr innal insana lafii khusr …’. Lalu salah satu dari keduanya mengucapkan salam untuk lainnya.” (HR. Abu Daud dalam Az-Zuhd, no. 417; Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Awsath, 5: 215; Al-Baihaqi dalam Syu’ab Al-Iman, 6: 501. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Lihat Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, no. 2648) Ada dua faidah dari hadits ini kata Syaikh Al-Albani sebagaimana kita mengamalkan sunnah para salaf kita:   Pertama: Mengucapkan salam saat berpisah. Hal ini sesuai pula dengan hadits, إِذَا انْتَهَى أَحَدُكُمْ إِلَى الْمَجْلِسِ فَلْيُسَلِّمْ فَإِذَا أَرَادَ أَنْ يَقُومَ فَلْيُسَلِّمْ فَلَيْسَتِ الأُولَى بِأَحَقَّ مِنَ الآخِرَةِ “Apabila salah seorang di antara kalian masuk majlis, hendaklah ia mengucapkan salam.  Apabila ia keluar, hendaklah ia mengucap salam. Tidaklah yang pertama lebih pantas dari yang kedua.”” (HR. Abu Daud, no. 5208; Tirmidzi, no. 2706. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan)   Kedua: Para sahabat radhiyallahu ‘anhum sudah terbiasa merutinkan surat Al-‘Ashr (saat berpisah dari majelis). Seperti itu bukanlah bid’ah yang dibuat-buat. Amalan tersebut tentu ada petunjuk dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, entah sabda, praktik atau persetujuan dari beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah Ta’ala pun telah memuji para sahabat, وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ “Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.” (QS. At-Taubah: 100) Ibnu Mas’ud dan Al-Hasan Al-Bashri pernah berkata, مَنْ كَانَ مِنْكُمْ مُتَأَسِّيًا فَلْيَتَأَسَّ بِأَصْحَابِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِنَّهُمْ كَانُوْا أَبَرَّ هَذِهِ اْلأُمَّةِ قُلُوْبًا، وَأَعْمَقَهَا عِلْمًا، وَأَقَلَّهَا تَكَلُّفًا، وَأَقْوَمَهَا هَدْيًا، وَأَحْسَنَهَا حَالاً، قَوْمٌ اخْتَارَهُمُ اللهُ لِصُحْبَةِ نَبِيِّهِ وَلإِقَامَةِ دِيْنِهِ، فَاعْرِفُوْا لَهُمْ فَضْلَهُمْ وَاتَّبِعُوْهُمْ فِي آثَارِهِمْ، فَإِنَّهُمْ كَانُوْا عَلَى الْهُدَى الْمُسْتَقِيْمِ. “Barangsiapa di antara kalian yang ingin meneladani, hendaklah meneladani para Shahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena sesungguhnya mereka adalah umat yang paling baik hatinya, paling dalam ilmunya, paling sedikit bebannya, dan paling lurus petunjuknya, serta paling baik keadaannya. Suatu kaum yang Allah telah memilih mereka untuk menemani Nabi-Nya, untuk menegakkan agama-Nya, maka kenalilah keutamaan mereka serta ikutilah atsar-atsarnya, karena mereka berada di jalan yang lurus.” (HR. Ibnu ‘Abdil Barr dalam Jami’ Bayan Al-‘Ilm, 2: 97) (Lihat Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, no. 2648, 6: 308-309) Semoga Allah memberi taufik dan hidayah, serta diberi kemudahan terus berada dalam petunjuk ilmu.   Referensi: Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah. Cetakan Kedua, Tahun 1415 H. Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani. Penerbit Maktabah Al-Ma’arif. — Diselesaikan menjelang Zhuhur, 28 Jumadats Tsaniyyah 1437 H @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsbelajar

Menutup Majelis dengan Surat Al Ashr

Adakah tuntunan menutup majelis dengan membaca surat Al-Ashr? Jawabannya ada. Dalilnya adalah perbuatan para sahabat radhiyallahu ‘anhum. Dari Abu Madinah Ad-Darimi, ia berkata, كَانَ الرَّجُلانِ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا الْتَقَيَا لَمْ يَفْتَرِقَا حَتَّى يَقْرَأَ أَحَدُهُمَا عَلَى الآخَرِ : ” وَالْعَصْرِ إِنَّ الإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ ” ، ثُمَّ يُسَلِّمَ أَحَدُهُمَا عَلَى الآخَرِ “Jika dua orang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam itu bertemu, mereka tidaklah berpisah sampai salah satu di antara keduanya membaca ‘wal ‘ashr innal insana lafii khusr …’. Lalu salah satu dari keduanya mengucapkan salam untuk lainnya.” (HR. Abu Daud dalam Az-Zuhd, no. 417; Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Awsath, 5: 215; Al-Baihaqi dalam Syu’ab Al-Iman, 6: 501. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Lihat Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, no. 2648) Ada dua faidah dari hadits ini kata Syaikh Al-Albani sebagaimana kita mengamalkan sunnah para salaf kita:   Pertama: Mengucapkan salam saat berpisah. Hal ini sesuai pula dengan hadits, إِذَا انْتَهَى أَحَدُكُمْ إِلَى الْمَجْلِسِ فَلْيُسَلِّمْ فَإِذَا أَرَادَ أَنْ يَقُومَ فَلْيُسَلِّمْ فَلَيْسَتِ الأُولَى بِأَحَقَّ مِنَ الآخِرَةِ “Apabila salah seorang di antara kalian masuk majlis, hendaklah ia mengucapkan salam.  Apabila ia keluar, hendaklah ia mengucap salam. Tidaklah yang pertama lebih pantas dari yang kedua.”” (HR. Abu Daud, no. 5208; Tirmidzi, no. 2706. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan)   Kedua: Para sahabat radhiyallahu ‘anhum sudah terbiasa merutinkan surat Al-‘Ashr (saat berpisah dari majelis). Seperti itu bukanlah bid’ah yang dibuat-buat. Amalan tersebut tentu ada petunjuk dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, entah sabda, praktik atau persetujuan dari beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah Ta’ala pun telah memuji para sahabat, وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ “Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.” (QS. At-Taubah: 100) Ibnu Mas’ud dan Al-Hasan Al-Bashri pernah berkata, مَنْ كَانَ مِنْكُمْ مُتَأَسِّيًا فَلْيَتَأَسَّ بِأَصْحَابِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِنَّهُمْ كَانُوْا أَبَرَّ هَذِهِ اْلأُمَّةِ قُلُوْبًا، وَأَعْمَقَهَا عِلْمًا، وَأَقَلَّهَا تَكَلُّفًا، وَأَقْوَمَهَا هَدْيًا، وَأَحْسَنَهَا حَالاً، قَوْمٌ اخْتَارَهُمُ اللهُ لِصُحْبَةِ نَبِيِّهِ وَلإِقَامَةِ دِيْنِهِ، فَاعْرِفُوْا لَهُمْ فَضْلَهُمْ وَاتَّبِعُوْهُمْ فِي آثَارِهِمْ، فَإِنَّهُمْ كَانُوْا عَلَى الْهُدَى الْمُسْتَقِيْمِ. “Barangsiapa di antara kalian yang ingin meneladani, hendaklah meneladani para Shahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena sesungguhnya mereka adalah umat yang paling baik hatinya, paling dalam ilmunya, paling sedikit bebannya, dan paling lurus petunjuknya, serta paling baik keadaannya. Suatu kaum yang Allah telah memilih mereka untuk menemani Nabi-Nya, untuk menegakkan agama-Nya, maka kenalilah keutamaan mereka serta ikutilah atsar-atsarnya, karena mereka berada di jalan yang lurus.” (HR. Ibnu ‘Abdil Barr dalam Jami’ Bayan Al-‘Ilm, 2: 97) (Lihat Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, no. 2648, 6: 308-309) Semoga Allah memberi taufik dan hidayah, serta diberi kemudahan terus berada dalam petunjuk ilmu.   Referensi: Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah. Cetakan Kedua, Tahun 1415 H. Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani. Penerbit Maktabah Al-Ma’arif. — Diselesaikan menjelang Zhuhur, 28 Jumadats Tsaniyyah 1437 H @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsbelajar
Adakah tuntunan menutup majelis dengan membaca surat Al-Ashr? Jawabannya ada. Dalilnya adalah perbuatan para sahabat radhiyallahu ‘anhum. Dari Abu Madinah Ad-Darimi, ia berkata, كَانَ الرَّجُلانِ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا الْتَقَيَا لَمْ يَفْتَرِقَا حَتَّى يَقْرَأَ أَحَدُهُمَا عَلَى الآخَرِ : ” وَالْعَصْرِ إِنَّ الإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ ” ، ثُمَّ يُسَلِّمَ أَحَدُهُمَا عَلَى الآخَرِ “Jika dua orang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam itu bertemu, mereka tidaklah berpisah sampai salah satu di antara keduanya membaca ‘wal ‘ashr innal insana lafii khusr …’. Lalu salah satu dari keduanya mengucapkan salam untuk lainnya.” (HR. Abu Daud dalam Az-Zuhd, no. 417; Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Awsath, 5: 215; Al-Baihaqi dalam Syu’ab Al-Iman, 6: 501. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Lihat Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, no. 2648) Ada dua faidah dari hadits ini kata Syaikh Al-Albani sebagaimana kita mengamalkan sunnah para salaf kita:   Pertama: Mengucapkan salam saat berpisah. Hal ini sesuai pula dengan hadits, إِذَا انْتَهَى أَحَدُكُمْ إِلَى الْمَجْلِسِ فَلْيُسَلِّمْ فَإِذَا أَرَادَ أَنْ يَقُومَ فَلْيُسَلِّمْ فَلَيْسَتِ الأُولَى بِأَحَقَّ مِنَ الآخِرَةِ “Apabila salah seorang di antara kalian masuk majlis, hendaklah ia mengucapkan salam.  Apabila ia keluar, hendaklah ia mengucap salam. Tidaklah yang pertama lebih pantas dari yang kedua.”” (HR. Abu Daud, no. 5208; Tirmidzi, no. 2706. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan)   Kedua: Para sahabat radhiyallahu ‘anhum sudah terbiasa merutinkan surat Al-‘Ashr (saat berpisah dari majelis). Seperti itu bukanlah bid’ah yang dibuat-buat. Amalan tersebut tentu ada petunjuk dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, entah sabda, praktik atau persetujuan dari beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah Ta’ala pun telah memuji para sahabat, وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ “Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.” (QS. At-Taubah: 100) Ibnu Mas’ud dan Al-Hasan Al-Bashri pernah berkata, مَنْ كَانَ مِنْكُمْ مُتَأَسِّيًا فَلْيَتَأَسَّ بِأَصْحَابِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِنَّهُمْ كَانُوْا أَبَرَّ هَذِهِ اْلأُمَّةِ قُلُوْبًا، وَأَعْمَقَهَا عِلْمًا، وَأَقَلَّهَا تَكَلُّفًا، وَأَقْوَمَهَا هَدْيًا، وَأَحْسَنَهَا حَالاً، قَوْمٌ اخْتَارَهُمُ اللهُ لِصُحْبَةِ نَبِيِّهِ وَلإِقَامَةِ دِيْنِهِ، فَاعْرِفُوْا لَهُمْ فَضْلَهُمْ وَاتَّبِعُوْهُمْ فِي آثَارِهِمْ، فَإِنَّهُمْ كَانُوْا عَلَى الْهُدَى الْمُسْتَقِيْمِ. “Barangsiapa di antara kalian yang ingin meneladani, hendaklah meneladani para Shahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena sesungguhnya mereka adalah umat yang paling baik hatinya, paling dalam ilmunya, paling sedikit bebannya, dan paling lurus petunjuknya, serta paling baik keadaannya. Suatu kaum yang Allah telah memilih mereka untuk menemani Nabi-Nya, untuk menegakkan agama-Nya, maka kenalilah keutamaan mereka serta ikutilah atsar-atsarnya, karena mereka berada di jalan yang lurus.” (HR. Ibnu ‘Abdil Barr dalam Jami’ Bayan Al-‘Ilm, 2: 97) (Lihat Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, no. 2648, 6: 308-309) Semoga Allah memberi taufik dan hidayah, serta diberi kemudahan terus berada dalam petunjuk ilmu.   Referensi: Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah. Cetakan Kedua, Tahun 1415 H. Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani. Penerbit Maktabah Al-Ma’arif. — Diselesaikan menjelang Zhuhur, 28 Jumadats Tsaniyyah 1437 H @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsbelajar


Adakah tuntunan menutup majelis dengan membaca surat Al-Ashr? Jawabannya ada. Dalilnya adalah perbuatan para sahabat radhiyallahu ‘anhum. Dari Abu Madinah Ad-Darimi, ia berkata, كَانَ الرَّجُلانِ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا الْتَقَيَا لَمْ يَفْتَرِقَا حَتَّى يَقْرَأَ أَحَدُهُمَا عَلَى الآخَرِ : ” وَالْعَصْرِ إِنَّ الإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ ” ، ثُمَّ يُسَلِّمَ أَحَدُهُمَا عَلَى الآخَرِ “Jika dua orang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam itu bertemu, mereka tidaklah berpisah sampai salah satu di antara keduanya membaca ‘wal ‘ashr innal insana lafii khusr …’. Lalu salah satu dari keduanya mengucapkan salam untuk lainnya.” (HR. Abu Daud dalam Az-Zuhd, no. 417; Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Awsath, 5: 215; Al-Baihaqi dalam Syu’ab Al-Iman, 6: 501. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Lihat Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, no. 2648) Ada dua faidah dari hadits ini kata Syaikh Al-Albani sebagaimana kita mengamalkan sunnah para salaf kita:   Pertama: Mengucapkan salam saat berpisah. Hal ini sesuai pula dengan hadits, إِذَا انْتَهَى أَحَدُكُمْ إِلَى الْمَجْلِسِ فَلْيُسَلِّمْ فَإِذَا أَرَادَ أَنْ يَقُومَ فَلْيُسَلِّمْ فَلَيْسَتِ الأُولَى بِأَحَقَّ مِنَ الآخِرَةِ “Apabila salah seorang di antara kalian masuk majlis, hendaklah ia mengucapkan salam.  Apabila ia keluar, hendaklah ia mengucap salam. Tidaklah yang pertama lebih pantas dari yang kedua.”” (HR. Abu Daud, no. 5208; Tirmidzi, no. 2706. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan)   Kedua: Para sahabat radhiyallahu ‘anhum sudah terbiasa merutinkan surat Al-‘Ashr (saat berpisah dari majelis). Seperti itu bukanlah bid’ah yang dibuat-buat. Amalan tersebut tentu ada petunjuk dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, entah sabda, praktik atau persetujuan dari beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah Ta’ala pun telah memuji para sahabat, وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ “Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.” (QS. At-Taubah: 100) Ibnu Mas’ud dan Al-Hasan Al-Bashri pernah berkata, مَنْ كَانَ مِنْكُمْ مُتَأَسِّيًا فَلْيَتَأَسَّ بِأَصْحَابِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِنَّهُمْ كَانُوْا أَبَرَّ هَذِهِ اْلأُمَّةِ قُلُوْبًا، وَأَعْمَقَهَا عِلْمًا، وَأَقَلَّهَا تَكَلُّفًا، وَأَقْوَمَهَا هَدْيًا، وَأَحْسَنَهَا حَالاً، قَوْمٌ اخْتَارَهُمُ اللهُ لِصُحْبَةِ نَبِيِّهِ وَلإِقَامَةِ دِيْنِهِ، فَاعْرِفُوْا لَهُمْ فَضْلَهُمْ وَاتَّبِعُوْهُمْ فِي آثَارِهِمْ، فَإِنَّهُمْ كَانُوْا عَلَى الْهُدَى الْمُسْتَقِيْمِ. “Barangsiapa di antara kalian yang ingin meneladani, hendaklah meneladani para Shahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena sesungguhnya mereka adalah umat yang paling baik hatinya, paling dalam ilmunya, paling sedikit bebannya, dan paling lurus petunjuknya, serta paling baik keadaannya. Suatu kaum yang Allah telah memilih mereka untuk menemani Nabi-Nya, untuk menegakkan agama-Nya, maka kenalilah keutamaan mereka serta ikutilah atsar-atsarnya, karena mereka berada di jalan yang lurus.” (HR. Ibnu ‘Abdil Barr dalam Jami’ Bayan Al-‘Ilm, 2: 97) (Lihat Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, no. 2648, 6: 308-309) Semoga Allah memberi taufik dan hidayah, serta diberi kemudahan terus berada dalam petunjuk ilmu.   Referensi: Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah. Cetakan Kedua, Tahun 1415 H. Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani. Penerbit Maktabah Al-Ma’arif. — Diselesaikan menjelang Zhuhur, 28 Jumadats Tsaniyyah 1437 H @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsbelajar

Mengeraskan Amin Bagi Perempuan dalam Shalat Berjamaah

Bagaimana hukum menjaherkan bacaan aamiin bagi makmum wanita dalam shalat berjamaah? Perlu diketahui bahwa membaca aamiin disunnahkan bagi setiap orang yang shalat setelah membaca Al-Fatihah. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِذَا قَالَ الْإِمَامُ  غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ فَقُولُوا آمِينَ فَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ تَقُولُ آمِينَ وَإِنَّ الْإِمَامَ يَقُولُ آمِينَ فَمَنْ وَافَقَ تَأْمِينُهُ تَأْمِينَ الْمَلَائِكَةِ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ “Jika imam membaca ‘ghoiril maghdhubi ‘alaihim wa laaddhoolliin’, maka ucapkanlah ‘aamiin’ karena malaikat akan mengucapkan pula ‘aamiin’ tatkala imam mengucapkan aamiin. Siapa saja yang ucapan aamiin-nya berbarengan dengan ucapan ‘aamiin’ malaikat, maka akan diampuni dosanya yang telah lalu.” (HR. An Nasa’i, no. 928; Ibnu Majah, no. 852. Al Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini shahih) Imam Nawawi rahimahullah dalam Al-Majmu’ berkata, التَّأْمِينُ سُنَّةٌ لِكُلِّ مُصَلٍّ فَرَغَ مِنْ الْفَاتِحَةِ سَوَاءٌ الإِمَامُ وَالْمَأْمُومُ , وَالْمُنْفَرِدُ , وَالرَّجُلُ وَالْمَرْأَةُ وَالصَّبِيُّ , وَالْقَائِمُ وَالْقَاعِدُ وَالْمُضْطَجِعُ ( أي لعذرٍ ) وَالْمُفْتَرِضُ وَالْمُتَنَفِّلُ فِي الصَّلاةِ السِّرِّيَّةِ وَالْجَهْرِيَّةِ وَلا خِلافَ فِي شَيْءٍ مِنْ هَذَا عِنْدَ أَصْحَابِنَا اهـ . “Membaca aamiin disunnahkan bagi setiap orang yang shalat setelah membaca Al-Fatihah. Ini berlaku bagi imam, makmum, orang yang shalat sendirian, berlaku pula bagi laki-laki, perempuan dan anak-anak. Sama halnya pula berlaku bagi orang yang shalat sambil berdiri, sambil duduk, atau sambil berbaring karena adanya uzur. Membaca aamiin juga berlaku bagi orang yang melaksanakan shalat wajib dan shalat sunnah baik shalatnya sirr (bacaannya lirih) maupun shalat jaher (bacaannya keras). Yang disebutkan tadi tetap berlaku sama menurut ulama madzhab Syafi’i.” (Al-Majmu’, 3: 371)   Apakah Perempuan Juga Mengeraskan Suara Amin? Kenapa hal ini ditanyakan, karena saat menegur imam yang keliru, laki-laki mengucapkan ‘subhanallah’, sedangkan perempuan menepuk punggung telapak tangan. Ini menunjukkan bahwa suara wanita tidak dianjurkan dalam hal itu. Dalam hadits disebutkan, مَنْ نَابَهُ شَىْءٌ فِى صَلاَتِهِ فَلْيُسَبِّحْ فَإِنَّهُ إِذَا سَبَّحَ الْتُفِتَ إِلَيْهِ وَإِنَّمَا التَّصْفِيحُ لِلنِّسَاءِ “Barangsiapa menjadi makmum lalu merasa ada kekeliruan dalam shalat, hendaklah dia membaca tasbih. Karena jika dibacakan tasbih, dia (imam) akan memperhatikannya. Sedangkan tepukan khusus untuk wanita.” (HR. Bukhari, no. 7190; Muslim no. 421) Bagaimana dengan mengucapkan aamiin jika perempuan ikut dalam shalat berjamaah? Ibnu Hajar berkata, وكان منع النساء من التسبيح لأنها مأمورة بخفض صوتها في الصلاة مطلقا لما يخشى من الافتتان ومنع الرجال من التصفيق لأنه من شأن النساء اهـ “Wanita tidak diperkenankan mengucapkan ‘subhanallah’ ketika ingin mengingatkan imam, wanita diperintahkan untuk memelankan suaranya dalam shalat. Hal ini dikarenakan takut menimbulkan godaan. Sedangkan laki-laki dilarang menepuk punggung telapak tangan karena yang diperintahkan adalah perempuan.” (Fath Al-Bari, 3: 77) Imam Nawawi berkata, Menurut kebanyakan ulama Syafi’iyah, untuk wanita saat ia shalat sendirian atau ia shalat bersama wanita lainnya atau ada laki-laki mahram bersamanya, maka ia mengeraskan bacaan. Hal tadi berlaku jika ia shalat sendirian atau bersama wanita lainnya. Adapun jika ia shalat dan hadir di situ laki-laki asing (bukan mahram), ia melirihkan bacaan. Inilah pendapat dalam madzhab Syafi’i. Al-Qadhi Abu Ath-Thayyib mengatakan bahwa dalam masalah mengeraskan atau melirihkan ucapan takbir sama dengan pembahasan hukum mengeraskan atau melirihkan bacaan surat dalam shalat. (Al-Majmu’,: 3: 390) Kesimpulannya, boleh bagi wanita mengeraskan bacaan surat dan aamiin dalam shalat kecuali jika ia shalat sendirian dan di situ ada laki-laki asing (bukan mahram). Dalil-dalil yang ada, tidak membedakan antara makmum perempuan dan lelaki. Demikian juga tidak ada larangan membaca keras bagi makmum perempuan, apalagi bila ia bermakmum kepada suaminya yang sudah barang tentu tidak ada kekhawatiran akan menimbulkan fitnah. Sebagian pendapat mungkin melarang kaum perempuan membaca keras aamiin ketika berjamaah, ini semata untuk berhati-hati dan menghindarkan fitnah, misalnya akibat suara perempuan yang keras tersebut sehingga membuyarkan konsentrasi makmum lelaki yang di  dekatnya. Wallahu Ta’ala A’lam. — Disusun di Citilink Jogja-Jakarta, Senin, 26 Jumadats Tsaniyyah 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsshalat jamaah

Mengeraskan Amin Bagi Perempuan dalam Shalat Berjamaah

Bagaimana hukum menjaherkan bacaan aamiin bagi makmum wanita dalam shalat berjamaah? Perlu diketahui bahwa membaca aamiin disunnahkan bagi setiap orang yang shalat setelah membaca Al-Fatihah. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِذَا قَالَ الْإِمَامُ  غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ فَقُولُوا آمِينَ فَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ تَقُولُ آمِينَ وَإِنَّ الْإِمَامَ يَقُولُ آمِينَ فَمَنْ وَافَقَ تَأْمِينُهُ تَأْمِينَ الْمَلَائِكَةِ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ “Jika imam membaca ‘ghoiril maghdhubi ‘alaihim wa laaddhoolliin’, maka ucapkanlah ‘aamiin’ karena malaikat akan mengucapkan pula ‘aamiin’ tatkala imam mengucapkan aamiin. Siapa saja yang ucapan aamiin-nya berbarengan dengan ucapan ‘aamiin’ malaikat, maka akan diampuni dosanya yang telah lalu.” (HR. An Nasa’i, no. 928; Ibnu Majah, no. 852. Al Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini shahih) Imam Nawawi rahimahullah dalam Al-Majmu’ berkata, التَّأْمِينُ سُنَّةٌ لِكُلِّ مُصَلٍّ فَرَغَ مِنْ الْفَاتِحَةِ سَوَاءٌ الإِمَامُ وَالْمَأْمُومُ , وَالْمُنْفَرِدُ , وَالرَّجُلُ وَالْمَرْأَةُ وَالصَّبِيُّ , وَالْقَائِمُ وَالْقَاعِدُ وَالْمُضْطَجِعُ ( أي لعذرٍ ) وَالْمُفْتَرِضُ وَالْمُتَنَفِّلُ فِي الصَّلاةِ السِّرِّيَّةِ وَالْجَهْرِيَّةِ وَلا خِلافَ فِي شَيْءٍ مِنْ هَذَا عِنْدَ أَصْحَابِنَا اهـ . “Membaca aamiin disunnahkan bagi setiap orang yang shalat setelah membaca Al-Fatihah. Ini berlaku bagi imam, makmum, orang yang shalat sendirian, berlaku pula bagi laki-laki, perempuan dan anak-anak. Sama halnya pula berlaku bagi orang yang shalat sambil berdiri, sambil duduk, atau sambil berbaring karena adanya uzur. Membaca aamiin juga berlaku bagi orang yang melaksanakan shalat wajib dan shalat sunnah baik shalatnya sirr (bacaannya lirih) maupun shalat jaher (bacaannya keras). Yang disebutkan tadi tetap berlaku sama menurut ulama madzhab Syafi’i.” (Al-Majmu’, 3: 371)   Apakah Perempuan Juga Mengeraskan Suara Amin? Kenapa hal ini ditanyakan, karena saat menegur imam yang keliru, laki-laki mengucapkan ‘subhanallah’, sedangkan perempuan menepuk punggung telapak tangan. Ini menunjukkan bahwa suara wanita tidak dianjurkan dalam hal itu. Dalam hadits disebutkan, مَنْ نَابَهُ شَىْءٌ فِى صَلاَتِهِ فَلْيُسَبِّحْ فَإِنَّهُ إِذَا سَبَّحَ الْتُفِتَ إِلَيْهِ وَإِنَّمَا التَّصْفِيحُ لِلنِّسَاءِ “Barangsiapa menjadi makmum lalu merasa ada kekeliruan dalam shalat, hendaklah dia membaca tasbih. Karena jika dibacakan tasbih, dia (imam) akan memperhatikannya. Sedangkan tepukan khusus untuk wanita.” (HR. Bukhari, no. 7190; Muslim no. 421) Bagaimana dengan mengucapkan aamiin jika perempuan ikut dalam shalat berjamaah? Ibnu Hajar berkata, وكان منع النساء من التسبيح لأنها مأمورة بخفض صوتها في الصلاة مطلقا لما يخشى من الافتتان ومنع الرجال من التصفيق لأنه من شأن النساء اهـ “Wanita tidak diperkenankan mengucapkan ‘subhanallah’ ketika ingin mengingatkan imam, wanita diperintahkan untuk memelankan suaranya dalam shalat. Hal ini dikarenakan takut menimbulkan godaan. Sedangkan laki-laki dilarang menepuk punggung telapak tangan karena yang diperintahkan adalah perempuan.” (Fath Al-Bari, 3: 77) Imam Nawawi berkata, Menurut kebanyakan ulama Syafi’iyah, untuk wanita saat ia shalat sendirian atau ia shalat bersama wanita lainnya atau ada laki-laki mahram bersamanya, maka ia mengeraskan bacaan. Hal tadi berlaku jika ia shalat sendirian atau bersama wanita lainnya. Adapun jika ia shalat dan hadir di situ laki-laki asing (bukan mahram), ia melirihkan bacaan. Inilah pendapat dalam madzhab Syafi’i. Al-Qadhi Abu Ath-Thayyib mengatakan bahwa dalam masalah mengeraskan atau melirihkan ucapan takbir sama dengan pembahasan hukum mengeraskan atau melirihkan bacaan surat dalam shalat. (Al-Majmu’,: 3: 390) Kesimpulannya, boleh bagi wanita mengeraskan bacaan surat dan aamiin dalam shalat kecuali jika ia shalat sendirian dan di situ ada laki-laki asing (bukan mahram). Dalil-dalil yang ada, tidak membedakan antara makmum perempuan dan lelaki. Demikian juga tidak ada larangan membaca keras bagi makmum perempuan, apalagi bila ia bermakmum kepada suaminya yang sudah barang tentu tidak ada kekhawatiran akan menimbulkan fitnah. Sebagian pendapat mungkin melarang kaum perempuan membaca keras aamiin ketika berjamaah, ini semata untuk berhati-hati dan menghindarkan fitnah, misalnya akibat suara perempuan yang keras tersebut sehingga membuyarkan konsentrasi makmum lelaki yang di  dekatnya. Wallahu Ta’ala A’lam. — Disusun di Citilink Jogja-Jakarta, Senin, 26 Jumadats Tsaniyyah 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsshalat jamaah
Bagaimana hukum menjaherkan bacaan aamiin bagi makmum wanita dalam shalat berjamaah? Perlu diketahui bahwa membaca aamiin disunnahkan bagi setiap orang yang shalat setelah membaca Al-Fatihah. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِذَا قَالَ الْإِمَامُ  غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ فَقُولُوا آمِينَ فَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ تَقُولُ آمِينَ وَإِنَّ الْإِمَامَ يَقُولُ آمِينَ فَمَنْ وَافَقَ تَأْمِينُهُ تَأْمِينَ الْمَلَائِكَةِ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ “Jika imam membaca ‘ghoiril maghdhubi ‘alaihim wa laaddhoolliin’, maka ucapkanlah ‘aamiin’ karena malaikat akan mengucapkan pula ‘aamiin’ tatkala imam mengucapkan aamiin. Siapa saja yang ucapan aamiin-nya berbarengan dengan ucapan ‘aamiin’ malaikat, maka akan diampuni dosanya yang telah lalu.” (HR. An Nasa’i, no. 928; Ibnu Majah, no. 852. Al Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini shahih) Imam Nawawi rahimahullah dalam Al-Majmu’ berkata, التَّأْمِينُ سُنَّةٌ لِكُلِّ مُصَلٍّ فَرَغَ مِنْ الْفَاتِحَةِ سَوَاءٌ الإِمَامُ وَالْمَأْمُومُ , وَالْمُنْفَرِدُ , وَالرَّجُلُ وَالْمَرْأَةُ وَالصَّبِيُّ , وَالْقَائِمُ وَالْقَاعِدُ وَالْمُضْطَجِعُ ( أي لعذرٍ ) وَالْمُفْتَرِضُ وَالْمُتَنَفِّلُ فِي الصَّلاةِ السِّرِّيَّةِ وَالْجَهْرِيَّةِ وَلا خِلافَ فِي شَيْءٍ مِنْ هَذَا عِنْدَ أَصْحَابِنَا اهـ . “Membaca aamiin disunnahkan bagi setiap orang yang shalat setelah membaca Al-Fatihah. Ini berlaku bagi imam, makmum, orang yang shalat sendirian, berlaku pula bagi laki-laki, perempuan dan anak-anak. Sama halnya pula berlaku bagi orang yang shalat sambil berdiri, sambil duduk, atau sambil berbaring karena adanya uzur. Membaca aamiin juga berlaku bagi orang yang melaksanakan shalat wajib dan shalat sunnah baik shalatnya sirr (bacaannya lirih) maupun shalat jaher (bacaannya keras). Yang disebutkan tadi tetap berlaku sama menurut ulama madzhab Syafi’i.” (Al-Majmu’, 3: 371)   Apakah Perempuan Juga Mengeraskan Suara Amin? Kenapa hal ini ditanyakan, karena saat menegur imam yang keliru, laki-laki mengucapkan ‘subhanallah’, sedangkan perempuan menepuk punggung telapak tangan. Ini menunjukkan bahwa suara wanita tidak dianjurkan dalam hal itu. Dalam hadits disebutkan, مَنْ نَابَهُ شَىْءٌ فِى صَلاَتِهِ فَلْيُسَبِّحْ فَإِنَّهُ إِذَا سَبَّحَ الْتُفِتَ إِلَيْهِ وَإِنَّمَا التَّصْفِيحُ لِلنِّسَاءِ “Barangsiapa menjadi makmum lalu merasa ada kekeliruan dalam shalat, hendaklah dia membaca tasbih. Karena jika dibacakan tasbih, dia (imam) akan memperhatikannya. Sedangkan tepukan khusus untuk wanita.” (HR. Bukhari, no. 7190; Muslim no. 421) Bagaimana dengan mengucapkan aamiin jika perempuan ikut dalam shalat berjamaah? Ibnu Hajar berkata, وكان منع النساء من التسبيح لأنها مأمورة بخفض صوتها في الصلاة مطلقا لما يخشى من الافتتان ومنع الرجال من التصفيق لأنه من شأن النساء اهـ “Wanita tidak diperkenankan mengucapkan ‘subhanallah’ ketika ingin mengingatkan imam, wanita diperintahkan untuk memelankan suaranya dalam shalat. Hal ini dikarenakan takut menimbulkan godaan. Sedangkan laki-laki dilarang menepuk punggung telapak tangan karena yang diperintahkan adalah perempuan.” (Fath Al-Bari, 3: 77) Imam Nawawi berkata, Menurut kebanyakan ulama Syafi’iyah, untuk wanita saat ia shalat sendirian atau ia shalat bersama wanita lainnya atau ada laki-laki mahram bersamanya, maka ia mengeraskan bacaan. Hal tadi berlaku jika ia shalat sendirian atau bersama wanita lainnya. Adapun jika ia shalat dan hadir di situ laki-laki asing (bukan mahram), ia melirihkan bacaan. Inilah pendapat dalam madzhab Syafi’i. Al-Qadhi Abu Ath-Thayyib mengatakan bahwa dalam masalah mengeraskan atau melirihkan ucapan takbir sama dengan pembahasan hukum mengeraskan atau melirihkan bacaan surat dalam shalat. (Al-Majmu’,: 3: 390) Kesimpulannya, boleh bagi wanita mengeraskan bacaan surat dan aamiin dalam shalat kecuali jika ia shalat sendirian dan di situ ada laki-laki asing (bukan mahram). Dalil-dalil yang ada, tidak membedakan antara makmum perempuan dan lelaki. Demikian juga tidak ada larangan membaca keras bagi makmum perempuan, apalagi bila ia bermakmum kepada suaminya yang sudah barang tentu tidak ada kekhawatiran akan menimbulkan fitnah. Sebagian pendapat mungkin melarang kaum perempuan membaca keras aamiin ketika berjamaah, ini semata untuk berhati-hati dan menghindarkan fitnah, misalnya akibat suara perempuan yang keras tersebut sehingga membuyarkan konsentrasi makmum lelaki yang di  dekatnya. Wallahu Ta’ala A’lam. — Disusun di Citilink Jogja-Jakarta, Senin, 26 Jumadats Tsaniyyah 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsshalat jamaah


Bagaimana hukum menjaherkan bacaan aamiin bagi makmum wanita dalam shalat berjamaah? Perlu diketahui bahwa membaca aamiin disunnahkan bagi setiap orang yang shalat setelah membaca Al-Fatihah. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِذَا قَالَ الْإِمَامُ  غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ فَقُولُوا آمِينَ فَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ تَقُولُ آمِينَ وَإِنَّ الْإِمَامَ يَقُولُ آمِينَ فَمَنْ وَافَقَ تَأْمِينُهُ تَأْمِينَ الْمَلَائِكَةِ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ “Jika imam membaca ‘ghoiril maghdhubi ‘alaihim wa laaddhoolliin’, maka ucapkanlah ‘aamiin’ karena malaikat akan mengucapkan pula ‘aamiin’ tatkala imam mengucapkan aamiin. Siapa saja yang ucapan aamiin-nya berbarengan dengan ucapan ‘aamiin’ malaikat, maka akan diampuni dosanya yang telah lalu.” (HR. An Nasa’i, no. 928; Ibnu Majah, no. 852. Al Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini shahih) Imam Nawawi rahimahullah dalam Al-Majmu’ berkata, التَّأْمِينُ سُنَّةٌ لِكُلِّ مُصَلٍّ فَرَغَ مِنْ الْفَاتِحَةِ سَوَاءٌ الإِمَامُ وَالْمَأْمُومُ , وَالْمُنْفَرِدُ , وَالرَّجُلُ وَالْمَرْأَةُ وَالصَّبِيُّ , وَالْقَائِمُ وَالْقَاعِدُ وَالْمُضْطَجِعُ ( أي لعذرٍ ) وَالْمُفْتَرِضُ وَالْمُتَنَفِّلُ فِي الصَّلاةِ السِّرِّيَّةِ وَالْجَهْرِيَّةِ وَلا خِلافَ فِي شَيْءٍ مِنْ هَذَا عِنْدَ أَصْحَابِنَا اهـ . “Membaca aamiin disunnahkan bagi setiap orang yang shalat setelah membaca Al-Fatihah. Ini berlaku bagi imam, makmum, orang yang shalat sendirian, berlaku pula bagi laki-laki, perempuan dan anak-anak. Sama halnya pula berlaku bagi orang yang shalat sambil berdiri, sambil duduk, atau sambil berbaring karena adanya uzur. Membaca aamiin juga berlaku bagi orang yang melaksanakan shalat wajib dan shalat sunnah baik shalatnya sirr (bacaannya lirih) maupun shalat jaher (bacaannya keras). Yang disebutkan tadi tetap berlaku sama menurut ulama madzhab Syafi’i.” (Al-Majmu’, 3: 371)   Apakah Perempuan Juga Mengeraskan Suara Amin? Kenapa hal ini ditanyakan, karena saat menegur imam yang keliru, laki-laki mengucapkan ‘subhanallah’, sedangkan perempuan menepuk punggung telapak tangan. Ini menunjukkan bahwa suara wanita tidak dianjurkan dalam hal itu. Dalam hadits disebutkan, مَنْ نَابَهُ شَىْءٌ فِى صَلاَتِهِ فَلْيُسَبِّحْ فَإِنَّهُ إِذَا سَبَّحَ الْتُفِتَ إِلَيْهِ وَإِنَّمَا التَّصْفِيحُ لِلنِّسَاءِ “Barangsiapa menjadi makmum lalu merasa ada kekeliruan dalam shalat, hendaklah dia membaca tasbih. Karena jika dibacakan tasbih, dia (imam) akan memperhatikannya. Sedangkan tepukan khusus untuk wanita.” (HR. Bukhari, no. 7190; Muslim no. 421) Bagaimana dengan mengucapkan aamiin jika perempuan ikut dalam shalat berjamaah? Ibnu Hajar berkata, وكان منع النساء من التسبيح لأنها مأمورة بخفض صوتها في الصلاة مطلقا لما يخشى من الافتتان ومنع الرجال من التصفيق لأنه من شأن النساء اهـ “Wanita tidak diperkenankan mengucapkan ‘subhanallah’ ketika ingin mengingatkan imam, wanita diperintahkan untuk memelankan suaranya dalam shalat. Hal ini dikarenakan takut menimbulkan godaan. Sedangkan laki-laki dilarang menepuk punggung telapak tangan karena yang diperintahkan adalah perempuan.” (Fath Al-Bari, 3: 77) Imam Nawawi berkata, Menurut kebanyakan ulama Syafi’iyah, untuk wanita saat ia shalat sendirian atau ia shalat bersama wanita lainnya atau ada laki-laki mahram bersamanya, maka ia mengeraskan bacaan. Hal tadi berlaku jika ia shalat sendirian atau bersama wanita lainnya. Adapun jika ia shalat dan hadir di situ laki-laki asing (bukan mahram), ia melirihkan bacaan. Inilah pendapat dalam madzhab Syafi’i. Al-Qadhi Abu Ath-Thayyib mengatakan bahwa dalam masalah mengeraskan atau melirihkan ucapan takbir sama dengan pembahasan hukum mengeraskan atau melirihkan bacaan surat dalam shalat. (Al-Majmu’,: 3: 390) Kesimpulannya, boleh bagi wanita mengeraskan bacaan surat dan aamiin dalam shalat kecuali jika ia shalat sendirian dan di situ ada laki-laki asing (bukan mahram). Dalil-dalil yang ada, tidak membedakan antara makmum perempuan dan lelaki. Demikian juga tidak ada larangan membaca keras bagi makmum perempuan, apalagi bila ia bermakmum kepada suaminya yang sudah barang tentu tidak ada kekhawatiran akan menimbulkan fitnah. Sebagian pendapat mungkin melarang kaum perempuan membaca keras aamiin ketika berjamaah, ini semata untuk berhati-hati dan menghindarkan fitnah, misalnya akibat suara perempuan yang keras tersebut sehingga membuyarkan konsentrasi makmum lelaki yang di  dekatnya. Wallahu Ta’ala A’lam. — Disusun di Citilink Jogja-Jakarta, Senin, 26 Jumadats Tsaniyyah 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsshalat jamaah

Kenapa Babi Diciptakan, Lantas Diharamkan?

Ada yang bertanya seperti ini? Kenapa BABI itu haram? Kenapa Tuhan menciptakan BABI? Kalau soal minuman keras itu haram wajar karena mengudang bahaya dan itu buatan manusia. Tolong di jawab. Beberapa hal perlu diterangkan untuk menjawab hal di atas.   Pengharaman Babi dan Segala Unsurnya Allah Ta’ala berfirman, إِنَّمَا حَرَّمَ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةَ وَالدَّمَ وَلَحْمَ الْخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ بِهِ لِغَيْرِ اللَّهِ فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلَا عَادٍ فَلَا إِثْمَ عَلَيْهِ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ “Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah. Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al- Baqarah: 173). حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ وَالدَّمُ وَلَحْمُ الْخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ وَالْمُنْخَنِقَةُ وَالْمَوْقُوذَةُ وَالْمُتَرَدِّيَةُ وَالنَّطِيحَةُ وَمَا أَكَلَ السَّبُعُ إِلَّا مَا ذَكَّيْتُمْ وَمَا ذُبِحَ عَلَى النُّصُبِ “Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala.” (QS. Al-Maidah: 3). إِنَّمَا حَرَّمَ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةَ وَالدَّمَ وَلَحْمَ الْخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلَا عَادٍ فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ “Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan atasmu (memakan) bangkai, darah, daging babi dan apa yang disembelih dengan menyebut nama selain Allah; tetapi barangsiapa yang terpaksa memakannya dengan tidak menganiaya dan tidak pula melampaui batas, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nahl: 115). Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Begitu juga dilarang memakan daging babi baik yang mati dengan cara disembelih atau mati dalam keadaan tidak wajar. Lemak babi pun haram dimakan sebagaimana dagingnya karena penyebutan daging dalam ayat cuma menunjukkan keumuman (aghlabiyyah) atau dalam daging juga sudah termasuk pula lemaknya, atau hukumnya diambil dengan jalan qiyas (analogi).” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 2: 36) Yang jelas haramnya babi adalah berdasarkan ijma’ atau kata sepakat ulama sebagaimana dikatakan oleh Ibnul ‘Arabi rahimahullah. Penyusun Ahkam Al-Qur’an ini berkata, “Umat telah sepakat haramnya daging babi dan seluruh bagian tubuhnya. Dalam ayat disebutkan dengan kata ‘daging’ karena babi adalah hewan yang disembelih dengan maksud mengambil dagingnya. … Dan lemak babi termasuk dalam larangan daging babi.” (Ahkam Al-Qur’an, 1: 94).   Hikmah Diharamkannya Babi Hewan yang diharamkan pasti akan memberikan pengaruh bagi orang yang memakannya. Dan ini berlaku untuk makanan haram secara umum. Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Diharamkan darah yang dialirkan karena darah seperti itu dapat membangkitkan syahwat dan menimbulkan amarah. Jika terus dikonsumsi, maka akan membuat seseorang bersikap melampaui batas. Saluran darah inilah tempat mengalirnya setan pada badan manusia. Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Setan itu bisa menyusup dalam diri manusia melalui saluran darahnya.” (HR. Bukhari, no. 3281; Muslim, no. 2175).” (Disebutkan oleh Al-Qasimi dalam tafsirnya, 3: 41-42. Dinukil dari Tafsir Syaikhil Islam Ibni Taimiyah, 1: 405.) Begitu pula orang yang memakan binatang buas yang bertaring bisa mendapat pengaruh sombong dan congkak di mana sifat tersebut termasuk watak hewan buas. Ada juga hewan yang diharamkan karena sifatnya yang khobits (menjijikkan) seperti babi yang kita bahas kali ini. Maka orang yang gemar memakan babi akan punya sifat khobits pula. Juga yang memakan hewan ini bisa mewarisi sifat sombong dan angkuh sebagaimana babi. Jika ada pengaruh jelek seperti di atas, kenapa dalam keadaan darurat masih dibolehkan untuk dimakan? Jawabnya, karena kebolehannya dalam keadaan darurat seperti itu mengingat bahwa mengambil maslahat dengan dipertahankannya jiwa lebih didahulukan daripada menolak bahaya seperti yang disebutkan. Karena bahaya di atas tidak diwarisi ketika dalam keadaan hajat yang besar seperti yang disebutkan. (Lihat kitab Al-Ath’imah karya guru kami, Syaikh Shalih Al-Fauzan, hlm. 39-40. Lihat penjelasan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Al-Fatawa, 21: 585 dan 20: 340)   Kenapa Babi Diciptakan? Jika memakan babi itu haram, kenapa Allah menciptakan babi? Moga pertanyaan ini bukan mengetes dan bukan bercanda. Namun benar ingin bertanya. Pertanyan itu sama saja maksudnya, kenapa sampai Allah menciptakan sesuatu yang buruk? Maka pertanyaan itu sama juga dengan, kenapa Allah menciptakan setan? Bukankah semau Allah, memerintah apa saja dan melarang apa saja? Tugas kita sebagai hamba-Nya adalah, sami’naa wa atho’naa, yaitu dengar dan taat. Kalau mau dinyatakan sebagai orang beriman yang benar, إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَنْ يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ “Sesungguhnya jawaban oran-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan. “Kami mendengar, dan kami patuh.” Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. An-Nuur: 51)   Yang Harus Direnungkan Allah Ta’ala berfirman, لَا يُسْأَلُ عَمَّا يَفْعَلُ وَهُمْ يُسْأَلُونَ “Allah tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya dan merekalah yang akan ditanyai.” (QS. Al-Anbiya’: 23) Tentang ayat tersebut, Ibnu Katsir rahimahullah berkata, Allah itu Al-Hakim yang tidak ada yang bisa menentang ketetapan Allah karena kebesaran dan keagungan Allah. Karena Allah menetapkan sesuatu dengan Maha Adil dan penuh kelembutan. Makhluk-Nya lah yang ditanya oleh Allah atas apa yang mereka amalkan kelak. Surat Al-Anbiya’ ayat 23 menerangkan bahwa setiap muslim tidak mesti mengetahui hikmah dari apa yang dilakukan oleh Allah Ta’ala. Manusia hanya punya kewajiban untuk membenarkan dan beriman karena Allah yang lebih mengetahui mana yang terbaik untuk diri kita daripada diri kita sendiri. Allah tidak mungkin melarang dan menjauhkan kita dari sesuatu kecuali pasti mengandung mudarat (bahaya) bagi kita. Begitu pula Allah tidak mungkin memerintahkan dan mendekatkan kita pada sesuatu kecuali pasti ada kebaikan di dalamnya. Allah Ta’ala berfirman, الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الرَّسُولَ النَّبِيَّ الْأُمِّيَّ الَّذِي يَجِدُونَهُ مَكْتُوبًا عِنْدَهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ يَأْمُرُهُمْ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَاهُمْ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَائِثَ وَيَضَعُ عَنْهُمْ إِصْرَهُمْ وَالْأَغْلَالَ الَّتِي كَانَتْ عَلَيْهِمْ فَالَّذِينَ آَمَنُوا بِهِ وَعَزَّرُوهُ وَنَصَرُوهُ وَاتَّبَعُوا النُّورَ الَّذِي أُنْزِلَ مَعَهُ أُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ “(Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Quran), mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-A’raf: 157) Namun terkadang, Allah melarang sesuatu dan menjelaskan hikmahnya pada kita. Semoga Allah memberi taufik untuk menerima hukum dan ketentuan Allah. — @ Darush Sholihin, Panggang, GK, 25 Jumadats Tsaniyyah 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsdaging hikmah makanan halal

Kenapa Babi Diciptakan, Lantas Diharamkan?

Ada yang bertanya seperti ini? Kenapa BABI itu haram? Kenapa Tuhan menciptakan BABI? Kalau soal minuman keras itu haram wajar karena mengudang bahaya dan itu buatan manusia. Tolong di jawab. Beberapa hal perlu diterangkan untuk menjawab hal di atas.   Pengharaman Babi dan Segala Unsurnya Allah Ta’ala berfirman, إِنَّمَا حَرَّمَ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةَ وَالدَّمَ وَلَحْمَ الْخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ بِهِ لِغَيْرِ اللَّهِ فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلَا عَادٍ فَلَا إِثْمَ عَلَيْهِ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ “Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah. Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al- Baqarah: 173). حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ وَالدَّمُ وَلَحْمُ الْخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ وَالْمُنْخَنِقَةُ وَالْمَوْقُوذَةُ وَالْمُتَرَدِّيَةُ وَالنَّطِيحَةُ وَمَا أَكَلَ السَّبُعُ إِلَّا مَا ذَكَّيْتُمْ وَمَا ذُبِحَ عَلَى النُّصُبِ “Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala.” (QS. Al-Maidah: 3). إِنَّمَا حَرَّمَ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةَ وَالدَّمَ وَلَحْمَ الْخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلَا عَادٍ فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ “Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan atasmu (memakan) bangkai, darah, daging babi dan apa yang disembelih dengan menyebut nama selain Allah; tetapi barangsiapa yang terpaksa memakannya dengan tidak menganiaya dan tidak pula melampaui batas, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nahl: 115). Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Begitu juga dilarang memakan daging babi baik yang mati dengan cara disembelih atau mati dalam keadaan tidak wajar. Lemak babi pun haram dimakan sebagaimana dagingnya karena penyebutan daging dalam ayat cuma menunjukkan keumuman (aghlabiyyah) atau dalam daging juga sudah termasuk pula lemaknya, atau hukumnya diambil dengan jalan qiyas (analogi).” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 2: 36) Yang jelas haramnya babi adalah berdasarkan ijma’ atau kata sepakat ulama sebagaimana dikatakan oleh Ibnul ‘Arabi rahimahullah. Penyusun Ahkam Al-Qur’an ini berkata, “Umat telah sepakat haramnya daging babi dan seluruh bagian tubuhnya. Dalam ayat disebutkan dengan kata ‘daging’ karena babi adalah hewan yang disembelih dengan maksud mengambil dagingnya. … Dan lemak babi termasuk dalam larangan daging babi.” (Ahkam Al-Qur’an, 1: 94).   Hikmah Diharamkannya Babi Hewan yang diharamkan pasti akan memberikan pengaruh bagi orang yang memakannya. Dan ini berlaku untuk makanan haram secara umum. Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Diharamkan darah yang dialirkan karena darah seperti itu dapat membangkitkan syahwat dan menimbulkan amarah. Jika terus dikonsumsi, maka akan membuat seseorang bersikap melampaui batas. Saluran darah inilah tempat mengalirnya setan pada badan manusia. Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Setan itu bisa menyusup dalam diri manusia melalui saluran darahnya.” (HR. Bukhari, no. 3281; Muslim, no. 2175).” (Disebutkan oleh Al-Qasimi dalam tafsirnya, 3: 41-42. Dinukil dari Tafsir Syaikhil Islam Ibni Taimiyah, 1: 405.) Begitu pula orang yang memakan binatang buas yang bertaring bisa mendapat pengaruh sombong dan congkak di mana sifat tersebut termasuk watak hewan buas. Ada juga hewan yang diharamkan karena sifatnya yang khobits (menjijikkan) seperti babi yang kita bahas kali ini. Maka orang yang gemar memakan babi akan punya sifat khobits pula. Juga yang memakan hewan ini bisa mewarisi sifat sombong dan angkuh sebagaimana babi. Jika ada pengaruh jelek seperti di atas, kenapa dalam keadaan darurat masih dibolehkan untuk dimakan? Jawabnya, karena kebolehannya dalam keadaan darurat seperti itu mengingat bahwa mengambil maslahat dengan dipertahankannya jiwa lebih didahulukan daripada menolak bahaya seperti yang disebutkan. Karena bahaya di atas tidak diwarisi ketika dalam keadaan hajat yang besar seperti yang disebutkan. (Lihat kitab Al-Ath’imah karya guru kami, Syaikh Shalih Al-Fauzan, hlm. 39-40. Lihat penjelasan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Al-Fatawa, 21: 585 dan 20: 340)   Kenapa Babi Diciptakan? Jika memakan babi itu haram, kenapa Allah menciptakan babi? Moga pertanyaan ini bukan mengetes dan bukan bercanda. Namun benar ingin bertanya. Pertanyan itu sama saja maksudnya, kenapa sampai Allah menciptakan sesuatu yang buruk? Maka pertanyaan itu sama juga dengan, kenapa Allah menciptakan setan? Bukankah semau Allah, memerintah apa saja dan melarang apa saja? Tugas kita sebagai hamba-Nya adalah, sami’naa wa atho’naa, yaitu dengar dan taat. Kalau mau dinyatakan sebagai orang beriman yang benar, إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَنْ يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ “Sesungguhnya jawaban oran-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan. “Kami mendengar, dan kami patuh.” Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. An-Nuur: 51)   Yang Harus Direnungkan Allah Ta’ala berfirman, لَا يُسْأَلُ عَمَّا يَفْعَلُ وَهُمْ يُسْأَلُونَ “Allah tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya dan merekalah yang akan ditanyai.” (QS. Al-Anbiya’: 23) Tentang ayat tersebut, Ibnu Katsir rahimahullah berkata, Allah itu Al-Hakim yang tidak ada yang bisa menentang ketetapan Allah karena kebesaran dan keagungan Allah. Karena Allah menetapkan sesuatu dengan Maha Adil dan penuh kelembutan. Makhluk-Nya lah yang ditanya oleh Allah atas apa yang mereka amalkan kelak. Surat Al-Anbiya’ ayat 23 menerangkan bahwa setiap muslim tidak mesti mengetahui hikmah dari apa yang dilakukan oleh Allah Ta’ala. Manusia hanya punya kewajiban untuk membenarkan dan beriman karena Allah yang lebih mengetahui mana yang terbaik untuk diri kita daripada diri kita sendiri. Allah tidak mungkin melarang dan menjauhkan kita dari sesuatu kecuali pasti mengandung mudarat (bahaya) bagi kita. Begitu pula Allah tidak mungkin memerintahkan dan mendekatkan kita pada sesuatu kecuali pasti ada kebaikan di dalamnya. Allah Ta’ala berfirman, الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الرَّسُولَ النَّبِيَّ الْأُمِّيَّ الَّذِي يَجِدُونَهُ مَكْتُوبًا عِنْدَهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ يَأْمُرُهُمْ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَاهُمْ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَائِثَ وَيَضَعُ عَنْهُمْ إِصْرَهُمْ وَالْأَغْلَالَ الَّتِي كَانَتْ عَلَيْهِمْ فَالَّذِينَ آَمَنُوا بِهِ وَعَزَّرُوهُ وَنَصَرُوهُ وَاتَّبَعُوا النُّورَ الَّذِي أُنْزِلَ مَعَهُ أُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ “(Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Quran), mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-A’raf: 157) Namun terkadang, Allah melarang sesuatu dan menjelaskan hikmahnya pada kita. Semoga Allah memberi taufik untuk menerima hukum dan ketentuan Allah. — @ Darush Sholihin, Panggang, GK, 25 Jumadats Tsaniyyah 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsdaging hikmah makanan halal
Ada yang bertanya seperti ini? Kenapa BABI itu haram? Kenapa Tuhan menciptakan BABI? Kalau soal minuman keras itu haram wajar karena mengudang bahaya dan itu buatan manusia. Tolong di jawab. Beberapa hal perlu diterangkan untuk menjawab hal di atas.   Pengharaman Babi dan Segala Unsurnya Allah Ta’ala berfirman, إِنَّمَا حَرَّمَ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةَ وَالدَّمَ وَلَحْمَ الْخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ بِهِ لِغَيْرِ اللَّهِ فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلَا عَادٍ فَلَا إِثْمَ عَلَيْهِ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ “Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah. Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al- Baqarah: 173). حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ وَالدَّمُ وَلَحْمُ الْخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ وَالْمُنْخَنِقَةُ وَالْمَوْقُوذَةُ وَالْمُتَرَدِّيَةُ وَالنَّطِيحَةُ وَمَا أَكَلَ السَّبُعُ إِلَّا مَا ذَكَّيْتُمْ وَمَا ذُبِحَ عَلَى النُّصُبِ “Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala.” (QS. Al-Maidah: 3). إِنَّمَا حَرَّمَ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةَ وَالدَّمَ وَلَحْمَ الْخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلَا عَادٍ فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ “Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan atasmu (memakan) bangkai, darah, daging babi dan apa yang disembelih dengan menyebut nama selain Allah; tetapi barangsiapa yang terpaksa memakannya dengan tidak menganiaya dan tidak pula melampaui batas, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nahl: 115). Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Begitu juga dilarang memakan daging babi baik yang mati dengan cara disembelih atau mati dalam keadaan tidak wajar. Lemak babi pun haram dimakan sebagaimana dagingnya karena penyebutan daging dalam ayat cuma menunjukkan keumuman (aghlabiyyah) atau dalam daging juga sudah termasuk pula lemaknya, atau hukumnya diambil dengan jalan qiyas (analogi).” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 2: 36) Yang jelas haramnya babi adalah berdasarkan ijma’ atau kata sepakat ulama sebagaimana dikatakan oleh Ibnul ‘Arabi rahimahullah. Penyusun Ahkam Al-Qur’an ini berkata, “Umat telah sepakat haramnya daging babi dan seluruh bagian tubuhnya. Dalam ayat disebutkan dengan kata ‘daging’ karena babi adalah hewan yang disembelih dengan maksud mengambil dagingnya. … Dan lemak babi termasuk dalam larangan daging babi.” (Ahkam Al-Qur’an, 1: 94).   Hikmah Diharamkannya Babi Hewan yang diharamkan pasti akan memberikan pengaruh bagi orang yang memakannya. Dan ini berlaku untuk makanan haram secara umum. Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Diharamkan darah yang dialirkan karena darah seperti itu dapat membangkitkan syahwat dan menimbulkan amarah. Jika terus dikonsumsi, maka akan membuat seseorang bersikap melampaui batas. Saluran darah inilah tempat mengalirnya setan pada badan manusia. Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Setan itu bisa menyusup dalam diri manusia melalui saluran darahnya.” (HR. Bukhari, no. 3281; Muslim, no. 2175).” (Disebutkan oleh Al-Qasimi dalam tafsirnya, 3: 41-42. Dinukil dari Tafsir Syaikhil Islam Ibni Taimiyah, 1: 405.) Begitu pula orang yang memakan binatang buas yang bertaring bisa mendapat pengaruh sombong dan congkak di mana sifat tersebut termasuk watak hewan buas. Ada juga hewan yang diharamkan karena sifatnya yang khobits (menjijikkan) seperti babi yang kita bahas kali ini. Maka orang yang gemar memakan babi akan punya sifat khobits pula. Juga yang memakan hewan ini bisa mewarisi sifat sombong dan angkuh sebagaimana babi. Jika ada pengaruh jelek seperti di atas, kenapa dalam keadaan darurat masih dibolehkan untuk dimakan? Jawabnya, karena kebolehannya dalam keadaan darurat seperti itu mengingat bahwa mengambil maslahat dengan dipertahankannya jiwa lebih didahulukan daripada menolak bahaya seperti yang disebutkan. Karena bahaya di atas tidak diwarisi ketika dalam keadaan hajat yang besar seperti yang disebutkan. (Lihat kitab Al-Ath’imah karya guru kami, Syaikh Shalih Al-Fauzan, hlm. 39-40. Lihat penjelasan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Al-Fatawa, 21: 585 dan 20: 340)   Kenapa Babi Diciptakan? Jika memakan babi itu haram, kenapa Allah menciptakan babi? Moga pertanyaan ini bukan mengetes dan bukan bercanda. Namun benar ingin bertanya. Pertanyan itu sama saja maksudnya, kenapa sampai Allah menciptakan sesuatu yang buruk? Maka pertanyaan itu sama juga dengan, kenapa Allah menciptakan setan? Bukankah semau Allah, memerintah apa saja dan melarang apa saja? Tugas kita sebagai hamba-Nya adalah, sami’naa wa atho’naa, yaitu dengar dan taat. Kalau mau dinyatakan sebagai orang beriman yang benar, إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَنْ يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ “Sesungguhnya jawaban oran-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan. “Kami mendengar, dan kami patuh.” Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. An-Nuur: 51)   Yang Harus Direnungkan Allah Ta’ala berfirman, لَا يُسْأَلُ عَمَّا يَفْعَلُ وَهُمْ يُسْأَلُونَ “Allah tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya dan merekalah yang akan ditanyai.” (QS. Al-Anbiya’: 23) Tentang ayat tersebut, Ibnu Katsir rahimahullah berkata, Allah itu Al-Hakim yang tidak ada yang bisa menentang ketetapan Allah karena kebesaran dan keagungan Allah. Karena Allah menetapkan sesuatu dengan Maha Adil dan penuh kelembutan. Makhluk-Nya lah yang ditanya oleh Allah atas apa yang mereka amalkan kelak. Surat Al-Anbiya’ ayat 23 menerangkan bahwa setiap muslim tidak mesti mengetahui hikmah dari apa yang dilakukan oleh Allah Ta’ala. Manusia hanya punya kewajiban untuk membenarkan dan beriman karena Allah yang lebih mengetahui mana yang terbaik untuk diri kita daripada diri kita sendiri. Allah tidak mungkin melarang dan menjauhkan kita dari sesuatu kecuali pasti mengandung mudarat (bahaya) bagi kita. Begitu pula Allah tidak mungkin memerintahkan dan mendekatkan kita pada sesuatu kecuali pasti ada kebaikan di dalamnya. Allah Ta’ala berfirman, الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الرَّسُولَ النَّبِيَّ الْأُمِّيَّ الَّذِي يَجِدُونَهُ مَكْتُوبًا عِنْدَهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ يَأْمُرُهُمْ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَاهُمْ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَائِثَ وَيَضَعُ عَنْهُمْ إِصْرَهُمْ وَالْأَغْلَالَ الَّتِي كَانَتْ عَلَيْهِمْ فَالَّذِينَ آَمَنُوا بِهِ وَعَزَّرُوهُ وَنَصَرُوهُ وَاتَّبَعُوا النُّورَ الَّذِي أُنْزِلَ مَعَهُ أُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ “(Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Quran), mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-A’raf: 157) Namun terkadang, Allah melarang sesuatu dan menjelaskan hikmahnya pada kita. Semoga Allah memberi taufik untuk menerima hukum dan ketentuan Allah. — @ Darush Sholihin, Panggang, GK, 25 Jumadats Tsaniyyah 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsdaging hikmah makanan halal


Ada yang bertanya seperti ini? Kenapa BABI itu haram? Kenapa Tuhan menciptakan BABI? Kalau soal minuman keras itu haram wajar karena mengudang bahaya dan itu buatan manusia. Tolong di jawab. Beberapa hal perlu diterangkan untuk menjawab hal di atas.   Pengharaman Babi dan Segala Unsurnya Allah Ta’ala berfirman, إِنَّمَا حَرَّمَ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةَ وَالدَّمَ وَلَحْمَ الْخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ بِهِ لِغَيْرِ اللَّهِ فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلَا عَادٍ فَلَا إِثْمَ عَلَيْهِ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ “Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah. Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al- Baqarah: 173). حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ وَالدَّمُ وَلَحْمُ الْخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ وَالْمُنْخَنِقَةُ وَالْمَوْقُوذَةُ وَالْمُتَرَدِّيَةُ وَالنَّطِيحَةُ وَمَا أَكَلَ السَّبُعُ إِلَّا مَا ذَكَّيْتُمْ وَمَا ذُبِحَ عَلَى النُّصُبِ “Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala.” (QS. Al-Maidah: 3). إِنَّمَا حَرَّمَ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةَ وَالدَّمَ وَلَحْمَ الْخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلَا عَادٍ فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ “Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan atasmu (memakan) bangkai, darah, daging babi dan apa yang disembelih dengan menyebut nama selain Allah; tetapi barangsiapa yang terpaksa memakannya dengan tidak menganiaya dan tidak pula melampaui batas, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nahl: 115). Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Begitu juga dilarang memakan daging babi baik yang mati dengan cara disembelih atau mati dalam keadaan tidak wajar. Lemak babi pun haram dimakan sebagaimana dagingnya karena penyebutan daging dalam ayat cuma menunjukkan keumuman (aghlabiyyah) atau dalam daging juga sudah termasuk pula lemaknya, atau hukumnya diambil dengan jalan qiyas (analogi).” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 2: 36) Yang jelas haramnya babi adalah berdasarkan ijma’ atau kata sepakat ulama sebagaimana dikatakan oleh Ibnul ‘Arabi rahimahullah. Penyusun Ahkam Al-Qur’an ini berkata, “Umat telah sepakat haramnya daging babi dan seluruh bagian tubuhnya. Dalam ayat disebutkan dengan kata ‘daging’ karena babi adalah hewan yang disembelih dengan maksud mengambil dagingnya. … Dan lemak babi termasuk dalam larangan daging babi.” (Ahkam Al-Qur’an, 1: 94).   Hikmah Diharamkannya Babi Hewan yang diharamkan pasti akan memberikan pengaruh bagi orang yang memakannya. Dan ini berlaku untuk makanan haram secara umum. Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Diharamkan darah yang dialirkan karena darah seperti itu dapat membangkitkan syahwat dan menimbulkan amarah. Jika terus dikonsumsi, maka akan membuat seseorang bersikap melampaui batas. Saluran darah inilah tempat mengalirnya setan pada badan manusia. Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Setan itu bisa menyusup dalam diri manusia melalui saluran darahnya.” (HR. Bukhari, no. 3281; Muslim, no. 2175).” (Disebutkan oleh Al-Qasimi dalam tafsirnya, 3: 41-42. Dinukil dari Tafsir Syaikhil Islam Ibni Taimiyah, 1: 405.) Begitu pula orang yang memakan binatang buas yang bertaring bisa mendapat pengaruh sombong dan congkak di mana sifat tersebut termasuk watak hewan buas. Ada juga hewan yang diharamkan karena sifatnya yang khobits (menjijikkan) seperti babi yang kita bahas kali ini. Maka orang yang gemar memakan babi akan punya sifat khobits pula. Juga yang memakan hewan ini bisa mewarisi sifat sombong dan angkuh sebagaimana babi. Jika ada pengaruh jelek seperti di atas, kenapa dalam keadaan darurat masih dibolehkan untuk dimakan? Jawabnya, karena kebolehannya dalam keadaan darurat seperti itu mengingat bahwa mengambil maslahat dengan dipertahankannya jiwa lebih didahulukan daripada menolak bahaya seperti yang disebutkan. Karena bahaya di atas tidak diwarisi ketika dalam keadaan hajat yang besar seperti yang disebutkan. (Lihat kitab Al-Ath’imah karya guru kami, Syaikh Shalih Al-Fauzan, hlm. 39-40. Lihat penjelasan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Al-Fatawa, 21: 585 dan 20: 340)   Kenapa Babi Diciptakan? Jika memakan babi itu haram, kenapa Allah menciptakan babi? Moga pertanyaan ini bukan mengetes dan bukan bercanda. Namun benar ingin bertanya. Pertanyan itu sama saja maksudnya, kenapa sampai Allah menciptakan sesuatu yang buruk? Maka pertanyaan itu sama juga dengan, kenapa Allah menciptakan setan? Bukankah semau Allah, memerintah apa saja dan melarang apa saja? Tugas kita sebagai hamba-Nya adalah, sami’naa wa atho’naa, yaitu dengar dan taat. Kalau mau dinyatakan sebagai orang beriman yang benar, إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَنْ يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ “Sesungguhnya jawaban oran-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan. “Kami mendengar, dan kami patuh.” Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. An-Nuur: 51)   Yang Harus Direnungkan Allah Ta’ala berfirman, لَا يُسْأَلُ عَمَّا يَفْعَلُ وَهُمْ يُسْأَلُونَ “Allah tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya dan merekalah yang akan ditanyai.” (QS. Al-Anbiya’: 23) Tentang ayat tersebut, Ibnu Katsir rahimahullah berkata, Allah itu Al-Hakim yang tidak ada yang bisa menentang ketetapan Allah karena kebesaran dan keagungan Allah. Karena Allah menetapkan sesuatu dengan Maha Adil dan penuh kelembutan. Makhluk-Nya lah yang ditanya oleh Allah atas apa yang mereka amalkan kelak. Surat Al-Anbiya’ ayat 23 menerangkan bahwa setiap muslim tidak mesti mengetahui hikmah dari apa yang dilakukan oleh Allah Ta’ala. Manusia hanya punya kewajiban untuk membenarkan dan beriman karena Allah yang lebih mengetahui mana yang terbaik untuk diri kita daripada diri kita sendiri. Allah tidak mungkin melarang dan menjauhkan kita dari sesuatu kecuali pasti mengandung mudarat (bahaya) bagi kita. Begitu pula Allah tidak mungkin memerintahkan dan mendekatkan kita pada sesuatu kecuali pasti ada kebaikan di dalamnya. Allah Ta’ala berfirman, الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الرَّسُولَ النَّبِيَّ الْأُمِّيَّ الَّذِي يَجِدُونَهُ مَكْتُوبًا عِنْدَهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ يَأْمُرُهُمْ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَاهُمْ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَائِثَ وَيَضَعُ عَنْهُمْ إِصْرَهُمْ وَالْأَغْلَالَ الَّتِي كَانَتْ عَلَيْهِمْ فَالَّذِينَ آَمَنُوا بِهِ وَعَزَّرُوهُ وَنَصَرُوهُ وَاتَّبَعُوا النُّورَ الَّذِي أُنْزِلَ مَعَهُ أُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ “(Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Quran), mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-A’raf: 157) Namun terkadang, Allah melarang sesuatu dan menjelaskan hikmahnya pada kita. Semoga Allah memberi taufik untuk menerima hukum dan ketentuan Allah. — @ Darush Sholihin, Panggang, GK, 25 Jumadats Tsaniyyah 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsdaging hikmah makanan halal

Kebutuhan Donasi Rumaysho.Com dan Pesantren Darush Sholihin

Selain donasi umum seperti jilbab yang disebar, RumayshoCom dan Pesantren Darush Sholihin sebenarnya membutuhkan pula donasi untuk jalannya pesantren dan website. Pesantren yang ada adalah pesantren masyarakat tanpa pondokan, namun sudah mengasuh 800 santri TPA dan 2000-an jamaah pengajian umum setiap Malam Kamis setiap pekannya. Kebutuhan saat ini untuk pesantren dan web rumaysho adalah: Membiayai sekitar 40-an pengajar TPA yang mengampu hampir 800 santri. Membiayai pegawai yang mengurusi administrasi DS. Membiayai sopir yang bertugas antar jemput ustadz dan antar jemput santri. Membiayai server web RumayshoCom dan web Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari. Membiayai langganan jasa net. Rata-rata biaya pengeluaran setiap bulannya adalah 50 juta rupiah. Bagi yang berminat berdonasi secara rutin maupun tidak rutin, silakan mentransfer ke rekening berikut: BCA: 8610123881 (kode bank: 014). BNI Syariah: 0194475165 (kode bank: 009). BSM: 3107011155 (kode bank: 451). BRI: 0029-01-101480-50-9 (kode bank: 002). (Semua a.n: Muhammad Abduh Tuasikal). Konfirmasi via SMS ke 082313950500 atau WA 0811267791 dengan format: Donasi DS# Nama Donatur # Alamat # Bank Tujuan Transfer # Tgl Transfer # Besar Donasi. Contoh: Donasi DS # Muslim # Godean Yogyakarta # BNI Syariah # 1 April 2016# 1.000.000. Info donasi DS di sini: http://darushsholihin.com/donasi-pesantren/ Semoga rezekinya senantiasa diberkahi oleh Allah. — DarushSholihin.Com | Channel Telegram @DarushSholihin Pimpinan Pesantren DS: MUhammad Abduh Tuasikal Share Yuk! Tagsdonasi pesantren

Kebutuhan Donasi Rumaysho.Com dan Pesantren Darush Sholihin

Selain donasi umum seperti jilbab yang disebar, RumayshoCom dan Pesantren Darush Sholihin sebenarnya membutuhkan pula donasi untuk jalannya pesantren dan website. Pesantren yang ada adalah pesantren masyarakat tanpa pondokan, namun sudah mengasuh 800 santri TPA dan 2000-an jamaah pengajian umum setiap Malam Kamis setiap pekannya. Kebutuhan saat ini untuk pesantren dan web rumaysho adalah: Membiayai sekitar 40-an pengajar TPA yang mengampu hampir 800 santri. Membiayai pegawai yang mengurusi administrasi DS. Membiayai sopir yang bertugas antar jemput ustadz dan antar jemput santri. Membiayai server web RumayshoCom dan web Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari. Membiayai langganan jasa net. Rata-rata biaya pengeluaran setiap bulannya adalah 50 juta rupiah. Bagi yang berminat berdonasi secara rutin maupun tidak rutin, silakan mentransfer ke rekening berikut: BCA: 8610123881 (kode bank: 014). BNI Syariah: 0194475165 (kode bank: 009). BSM: 3107011155 (kode bank: 451). BRI: 0029-01-101480-50-9 (kode bank: 002). (Semua a.n: Muhammad Abduh Tuasikal). Konfirmasi via SMS ke 082313950500 atau WA 0811267791 dengan format: Donasi DS# Nama Donatur # Alamat # Bank Tujuan Transfer # Tgl Transfer # Besar Donasi. Contoh: Donasi DS # Muslim # Godean Yogyakarta # BNI Syariah # 1 April 2016# 1.000.000. Info donasi DS di sini: http://darushsholihin.com/donasi-pesantren/ Semoga rezekinya senantiasa diberkahi oleh Allah. — DarushSholihin.Com | Channel Telegram @DarushSholihin Pimpinan Pesantren DS: MUhammad Abduh Tuasikal Share Yuk! Tagsdonasi pesantren
Selain donasi umum seperti jilbab yang disebar, RumayshoCom dan Pesantren Darush Sholihin sebenarnya membutuhkan pula donasi untuk jalannya pesantren dan website. Pesantren yang ada adalah pesantren masyarakat tanpa pondokan, namun sudah mengasuh 800 santri TPA dan 2000-an jamaah pengajian umum setiap Malam Kamis setiap pekannya. Kebutuhan saat ini untuk pesantren dan web rumaysho adalah: Membiayai sekitar 40-an pengajar TPA yang mengampu hampir 800 santri. Membiayai pegawai yang mengurusi administrasi DS. Membiayai sopir yang bertugas antar jemput ustadz dan antar jemput santri. Membiayai server web RumayshoCom dan web Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari. Membiayai langganan jasa net. Rata-rata biaya pengeluaran setiap bulannya adalah 50 juta rupiah. Bagi yang berminat berdonasi secara rutin maupun tidak rutin, silakan mentransfer ke rekening berikut: BCA: 8610123881 (kode bank: 014). BNI Syariah: 0194475165 (kode bank: 009). BSM: 3107011155 (kode bank: 451). BRI: 0029-01-101480-50-9 (kode bank: 002). (Semua a.n: Muhammad Abduh Tuasikal). Konfirmasi via SMS ke 082313950500 atau WA 0811267791 dengan format: Donasi DS# Nama Donatur # Alamat # Bank Tujuan Transfer # Tgl Transfer # Besar Donasi. Contoh: Donasi DS # Muslim # Godean Yogyakarta # BNI Syariah # 1 April 2016# 1.000.000. Info donasi DS di sini: http://darushsholihin.com/donasi-pesantren/ Semoga rezekinya senantiasa diberkahi oleh Allah. — DarushSholihin.Com | Channel Telegram @DarushSholihin Pimpinan Pesantren DS: MUhammad Abduh Tuasikal Share Yuk! Tagsdonasi pesantren


Selain donasi umum seperti jilbab yang disebar, RumayshoCom dan Pesantren Darush Sholihin sebenarnya membutuhkan pula donasi untuk jalannya pesantren dan website. Pesantren yang ada adalah pesantren masyarakat tanpa pondokan, namun sudah mengasuh 800 santri TPA dan 2000-an jamaah pengajian umum setiap Malam Kamis setiap pekannya. Kebutuhan saat ini untuk pesantren dan web rumaysho adalah: Membiayai sekitar 40-an pengajar TPA yang mengampu hampir 800 santri. Membiayai pegawai yang mengurusi administrasi DS. Membiayai sopir yang bertugas antar jemput ustadz dan antar jemput santri. Membiayai server web RumayshoCom dan web Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari. Membiayai langganan jasa net. Rata-rata biaya pengeluaran setiap bulannya adalah 50 juta rupiah. Bagi yang berminat berdonasi secara rutin maupun tidak rutin, silakan mentransfer ke rekening berikut: BCA: 8610123881 (kode bank: 014). BNI Syariah: 0194475165 (kode bank: 009). BSM: 3107011155 (kode bank: 451). BRI: 0029-01-101480-50-9 (kode bank: 002). (Semua a.n: Muhammad Abduh Tuasikal). Konfirmasi via SMS ke 082313950500 atau WA 0811267791 dengan format: Donasi DS# Nama Donatur # Alamat # Bank Tujuan Transfer # Tgl Transfer # Besar Donasi. Contoh: Donasi DS # Muslim # Godean Yogyakarta # BNI Syariah # 1 April 2016# 1.000.000. Info donasi DS di sini: http://darushsholihin.com/donasi-pesantren/ Semoga rezekinya senantiasa diberkahi oleh Allah. — DarushSholihin.Com | Channel Telegram @DarushSholihin Pimpinan Pesantren DS: MUhammad Abduh Tuasikal Share Yuk! Tagsdonasi pesantren

Antara Israf dan Mubazir

Antara israf (berlebih-lebihan) dan mubazir atau tabzir (boros) punya perbedaan walau terlihat kadang sama. Ada ulama yang mengatakan keduanya berbeda, seperti Ibnu ‘Abidin, الإسراف: صرف الشيء فيما ينبغي زائداً على ما ينبغي، والتبذير: صرف الشيء فيما لا ينبغي “Israf adalah memanfaatkan sesuatu sepantasnya namun sudah berlebihan dari yang pantas. Tabzir (mubazir) adalah memanfaatkan sesuatu pada sesuatu yang tidak pantas.” Contoh: Untuk keperluan berkendaraan untuk sekedar pergi ke kantor, sebenarnya bisa memakai motor yang seharga 15 juta rupiah. Itu bisa selamat sampai kantor, namun terlalu berlebihan hingga membeli yang berada dalam kisaran harga 50 juta. Ini namanya israf. Untuk ibu-ibu dalam berkendaraan saat keluar rumah cukup memakai motor matic, namun yang dibeli adalah motor laki-laki (seperti King dan CBR). Ada ulama yang menyatakan pula, tabzir atau mubazir adalah mengeluarkan (menginfakkan) harta untuk hal maksiat (bukan pada jalan yang benar). Sedangkan israf adalah melampaui batas baik itu dalam masalah harta atau lainnya. Seperti berlebihan dengan melakukan tindakan pembunuhan. Ada juga berlebihan dalam berbicara. Ada ayat dalam Al-Qur’an yang memperingatkan israf dan mubazir. Allah Ta’ala berfirman, وَآَتِ ذَا الْقُرْبَى حَقَّهُ وَالْمِسْكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَلَا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا (26) إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُورًا (27) “Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.” (QS. Al-Isra’: 26-27) يَا بَنِي آَدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ “Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS. Al-A’raf: 31) Dari ‘Amr bin Syu’aib, dari bapaknya, dari kakeknya, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, كُلُوا وَاشْرَبُوا وَالْبَسُوا وَتَصَدَّقُوا ، فِى غَيْرِ إِسْرَافٍ وَلاَ مَخِيلَةٍ “Makan dan minumlah, berpakaianlah dan bersedekahlah tanpa bersikap berlebihan dan sombong.”  (HR. An-Nasa’I, no. 2559. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan) Semoga bermanfaat.   Referensi: http://fatwa.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&Id=72041 — @ Darush Sholihin, Panggang, GK, 24 Jumadats Tsaniyyah 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsadab pakaian boros

Antara Israf dan Mubazir

Antara israf (berlebih-lebihan) dan mubazir atau tabzir (boros) punya perbedaan walau terlihat kadang sama. Ada ulama yang mengatakan keduanya berbeda, seperti Ibnu ‘Abidin, الإسراف: صرف الشيء فيما ينبغي زائداً على ما ينبغي، والتبذير: صرف الشيء فيما لا ينبغي “Israf adalah memanfaatkan sesuatu sepantasnya namun sudah berlebihan dari yang pantas. Tabzir (mubazir) adalah memanfaatkan sesuatu pada sesuatu yang tidak pantas.” Contoh: Untuk keperluan berkendaraan untuk sekedar pergi ke kantor, sebenarnya bisa memakai motor yang seharga 15 juta rupiah. Itu bisa selamat sampai kantor, namun terlalu berlebihan hingga membeli yang berada dalam kisaran harga 50 juta. Ini namanya israf. Untuk ibu-ibu dalam berkendaraan saat keluar rumah cukup memakai motor matic, namun yang dibeli adalah motor laki-laki (seperti King dan CBR). Ada ulama yang menyatakan pula, tabzir atau mubazir adalah mengeluarkan (menginfakkan) harta untuk hal maksiat (bukan pada jalan yang benar). Sedangkan israf adalah melampaui batas baik itu dalam masalah harta atau lainnya. Seperti berlebihan dengan melakukan tindakan pembunuhan. Ada juga berlebihan dalam berbicara. Ada ayat dalam Al-Qur’an yang memperingatkan israf dan mubazir. Allah Ta’ala berfirman, وَآَتِ ذَا الْقُرْبَى حَقَّهُ وَالْمِسْكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَلَا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا (26) إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُورًا (27) “Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.” (QS. Al-Isra’: 26-27) يَا بَنِي آَدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ “Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS. Al-A’raf: 31) Dari ‘Amr bin Syu’aib, dari bapaknya, dari kakeknya, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, كُلُوا وَاشْرَبُوا وَالْبَسُوا وَتَصَدَّقُوا ، فِى غَيْرِ إِسْرَافٍ وَلاَ مَخِيلَةٍ “Makan dan minumlah, berpakaianlah dan bersedekahlah tanpa bersikap berlebihan dan sombong.”  (HR. An-Nasa’I, no. 2559. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan) Semoga bermanfaat.   Referensi: http://fatwa.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&Id=72041 — @ Darush Sholihin, Panggang, GK, 24 Jumadats Tsaniyyah 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsadab pakaian boros
Antara israf (berlebih-lebihan) dan mubazir atau tabzir (boros) punya perbedaan walau terlihat kadang sama. Ada ulama yang mengatakan keduanya berbeda, seperti Ibnu ‘Abidin, الإسراف: صرف الشيء فيما ينبغي زائداً على ما ينبغي، والتبذير: صرف الشيء فيما لا ينبغي “Israf adalah memanfaatkan sesuatu sepantasnya namun sudah berlebihan dari yang pantas. Tabzir (mubazir) adalah memanfaatkan sesuatu pada sesuatu yang tidak pantas.” Contoh: Untuk keperluan berkendaraan untuk sekedar pergi ke kantor, sebenarnya bisa memakai motor yang seharga 15 juta rupiah. Itu bisa selamat sampai kantor, namun terlalu berlebihan hingga membeli yang berada dalam kisaran harga 50 juta. Ini namanya israf. Untuk ibu-ibu dalam berkendaraan saat keluar rumah cukup memakai motor matic, namun yang dibeli adalah motor laki-laki (seperti King dan CBR). Ada ulama yang menyatakan pula, tabzir atau mubazir adalah mengeluarkan (menginfakkan) harta untuk hal maksiat (bukan pada jalan yang benar). Sedangkan israf adalah melampaui batas baik itu dalam masalah harta atau lainnya. Seperti berlebihan dengan melakukan tindakan pembunuhan. Ada juga berlebihan dalam berbicara. Ada ayat dalam Al-Qur’an yang memperingatkan israf dan mubazir. Allah Ta’ala berfirman, وَآَتِ ذَا الْقُرْبَى حَقَّهُ وَالْمِسْكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَلَا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا (26) إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُورًا (27) “Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.” (QS. Al-Isra’: 26-27) يَا بَنِي آَدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ “Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS. Al-A’raf: 31) Dari ‘Amr bin Syu’aib, dari bapaknya, dari kakeknya, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, كُلُوا وَاشْرَبُوا وَالْبَسُوا وَتَصَدَّقُوا ، فِى غَيْرِ إِسْرَافٍ وَلاَ مَخِيلَةٍ “Makan dan minumlah, berpakaianlah dan bersedekahlah tanpa bersikap berlebihan dan sombong.”  (HR. An-Nasa’I, no. 2559. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan) Semoga bermanfaat.   Referensi: http://fatwa.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&Id=72041 — @ Darush Sholihin, Panggang, GK, 24 Jumadats Tsaniyyah 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsadab pakaian boros


Antara israf (berlebih-lebihan) dan mubazir atau tabzir (boros) punya perbedaan walau terlihat kadang sama. Ada ulama yang mengatakan keduanya berbeda, seperti Ibnu ‘Abidin, الإسراف: صرف الشيء فيما ينبغي زائداً على ما ينبغي، والتبذير: صرف الشيء فيما لا ينبغي “Israf adalah memanfaatkan sesuatu sepantasnya namun sudah berlebihan dari yang pantas. Tabzir (mubazir) adalah memanfaatkan sesuatu pada sesuatu yang tidak pantas.” Contoh: Untuk keperluan berkendaraan untuk sekedar pergi ke kantor, sebenarnya bisa memakai motor yang seharga 15 juta rupiah. Itu bisa selamat sampai kantor, namun terlalu berlebihan hingga membeli yang berada dalam kisaran harga 50 juta. Ini namanya israf. Untuk ibu-ibu dalam berkendaraan saat keluar rumah cukup memakai motor matic, namun yang dibeli adalah motor laki-laki (seperti King dan CBR). Ada ulama yang menyatakan pula, tabzir atau mubazir adalah mengeluarkan (menginfakkan) harta untuk hal maksiat (bukan pada jalan yang benar). Sedangkan israf adalah melampaui batas baik itu dalam masalah harta atau lainnya. Seperti berlebihan dengan melakukan tindakan pembunuhan. Ada juga berlebihan dalam berbicara. Ada ayat dalam Al-Qur’an yang memperingatkan israf dan mubazir. Allah Ta’ala berfirman, وَآَتِ ذَا الْقُرْبَى حَقَّهُ وَالْمِسْكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَلَا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا (26) إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُورًا (27) “Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.” (QS. Al-Isra’: 26-27) يَا بَنِي آَدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ “Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS. Al-A’raf: 31) Dari ‘Amr bin Syu’aib, dari bapaknya, dari kakeknya, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, كُلُوا وَاشْرَبُوا وَالْبَسُوا وَتَصَدَّقُوا ، فِى غَيْرِ إِسْرَافٍ وَلاَ مَخِيلَةٍ “Makan dan minumlah, berpakaianlah dan bersedekahlah tanpa bersikap berlebihan dan sombong.”  (HR. An-Nasa’I, no. 2559. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan) Semoga bermanfaat.   Referensi: http://fatwa.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&Id=72041 — @ Darush Sholihin, Panggang, GK, 24 Jumadats Tsaniyyah 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsadab pakaian boros

Tebar 5000 Jilbab untuk Muslimah Maluku (Donasi 20 Hari)

Anda Peduli akan aurat saudara Anda. Ada dua program dari Pesantren Darush Sholihin untuk dua daerah yaitu di Maluku dan Gunungkidul (Yogyakarta), program tebar 5000 plus 3000 jilbab dan gamis (total 8000). Moga dalam 20 hari bisa terpenuhi hingga 19 April 2016, namun bisa untuk kegiatan seterusnya.   # Tebar 5000 Jilbab untuk Muslimah Maluku Untuk tiga pulau di Maluku 2 – 8 Juni 2016: Pulau Ambon, Pulau Haruku, Pulau Seram. Donasi yang ada akan diberikan jilbab sebanyak 5000 buah.   Cara Berdonasi Silakan transfer ke rekening: 1. BCA: 8610123881 (kode bank: 014). 2. BNI Syariah: 0194475165 (kode bank: 009). 3. BSM: 3107011155 (kode bank: 451). 4. BRI: 0029-01-101480-50-9 (kode bank: 002). (Semua a.n:Muhammad Abduh Tuasikal).   Konfirmasi via sms ke 082313950500 dengan format: Dana sosial Jilbab# Nama Donatur # Alamat # Bank Tujuan Transfer # Tgl Transfer # Besar Donasi. Contoh: Dana sosial Jilbab # Muslim # Godean Yogyakarta # BSM # 31 Maret 2016# 1.000.000.   # Tebar 3000 Jilbab dan Gamis untuk Gunungkidul Pada tanggal 19 April 2016 akan diadakan peresmian Masjid Jami Al-Adha (Pesantren Darush Sholihin) oleh Bupati Gunungkidul (Bu Badingah, S.Sos) sekaligus diadakan bakti sosial tebar jilbab (lebar) dan gamis muslimah (bukan jersey), serta koko layak pakai bagi pria muslim. Tak percaya kalau jilbab bekas Anda bisa memberi hidayah pada muslimah lain? Baca: Hidayah Lewat Jilbab Bekas (https://rumaysho.com/10373-hidayah-lewat-jilbab-bekas.html).   Kirim ke alamat: Pesantren Darush Sholihin Binaan: Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal (Rumaysho.Com) Dusun Warak, Desa Girisekar, Panggang, Gunungkidul, 55872, HP: 085200171222(Mas Slamet)   Disarankan mengirim via Tiki, JNE atau POS Indonesia dan akan sampai ke tempat tujuan sesuai alamat di atas. Jangan lupa sertakan nomor telepon pengirim, biar bisa dikonfirmasi jika sudah sampai.   Info donasi: 0811 26 7791 (CALL/WA), 0823 139 50500 (SMS) Laporan donasi jilbab, silakan cek di sini: http://darushsholihin.com/tebar-jilbab — SHARE YUK PADA YANG KAUM MUSLIMIN YANG BERBAIK HATI.   Info Rumaysho.Com Tagstebar jilbab

Tebar 5000 Jilbab untuk Muslimah Maluku (Donasi 20 Hari)

Anda Peduli akan aurat saudara Anda. Ada dua program dari Pesantren Darush Sholihin untuk dua daerah yaitu di Maluku dan Gunungkidul (Yogyakarta), program tebar 5000 plus 3000 jilbab dan gamis (total 8000). Moga dalam 20 hari bisa terpenuhi hingga 19 April 2016, namun bisa untuk kegiatan seterusnya.   # Tebar 5000 Jilbab untuk Muslimah Maluku Untuk tiga pulau di Maluku 2 – 8 Juni 2016: Pulau Ambon, Pulau Haruku, Pulau Seram. Donasi yang ada akan diberikan jilbab sebanyak 5000 buah.   Cara Berdonasi Silakan transfer ke rekening: 1. BCA: 8610123881 (kode bank: 014). 2. BNI Syariah: 0194475165 (kode bank: 009). 3. BSM: 3107011155 (kode bank: 451). 4. BRI: 0029-01-101480-50-9 (kode bank: 002). (Semua a.n:Muhammad Abduh Tuasikal).   Konfirmasi via sms ke 082313950500 dengan format: Dana sosial Jilbab# Nama Donatur # Alamat # Bank Tujuan Transfer # Tgl Transfer # Besar Donasi. Contoh: Dana sosial Jilbab # Muslim # Godean Yogyakarta # BSM # 31 Maret 2016# 1.000.000.   # Tebar 3000 Jilbab dan Gamis untuk Gunungkidul Pada tanggal 19 April 2016 akan diadakan peresmian Masjid Jami Al-Adha (Pesantren Darush Sholihin) oleh Bupati Gunungkidul (Bu Badingah, S.Sos) sekaligus diadakan bakti sosial tebar jilbab (lebar) dan gamis muslimah (bukan jersey), serta koko layak pakai bagi pria muslim. Tak percaya kalau jilbab bekas Anda bisa memberi hidayah pada muslimah lain? Baca: Hidayah Lewat Jilbab Bekas (https://rumaysho.com/10373-hidayah-lewat-jilbab-bekas.html).   Kirim ke alamat: Pesantren Darush Sholihin Binaan: Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal (Rumaysho.Com) Dusun Warak, Desa Girisekar, Panggang, Gunungkidul, 55872, HP: 085200171222(Mas Slamet)   Disarankan mengirim via Tiki, JNE atau POS Indonesia dan akan sampai ke tempat tujuan sesuai alamat di atas. Jangan lupa sertakan nomor telepon pengirim, biar bisa dikonfirmasi jika sudah sampai.   Info donasi: 0811 26 7791 (CALL/WA), 0823 139 50500 (SMS) Laporan donasi jilbab, silakan cek di sini: http://darushsholihin.com/tebar-jilbab — SHARE YUK PADA YANG KAUM MUSLIMIN YANG BERBAIK HATI.   Info Rumaysho.Com Tagstebar jilbab
Anda Peduli akan aurat saudara Anda. Ada dua program dari Pesantren Darush Sholihin untuk dua daerah yaitu di Maluku dan Gunungkidul (Yogyakarta), program tebar 5000 plus 3000 jilbab dan gamis (total 8000). Moga dalam 20 hari bisa terpenuhi hingga 19 April 2016, namun bisa untuk kegiatan seterusnya.   # Tebar 5000 Jilbab untuk Muslimah Maluku Untuk tiga pulau di Maluku 2 – 8 Juni 2016: Pulau Ambon, Pulau Haruku, Pulau Seram. Donasi yang ada akan diberikan jilbab sebanyak 5000 buah.   Cara Berdonasi Silakan transfer ke rekening: 1. BCA: 8610123881 (kode bank: 014). 2. BNI Syariah: 0194475165 (kode bank: 009). 3. BSM: 3107011155 (kode bank: 451). 4. BRI: 0029-01-101480-50-9 (kode bank: 002). (Semua a.n:Muhammad Abduh Tuasikal).   Konfirmasi via sms ke 082313950500 dengan format: Dana sosial Jilbab# Nama Donatur # Alamat # Bank Tujuan Transfer # Tgl Transfer # Besar Donasi. Contoh: Dana sosial Jilbab # Muslim # Godean Yogyakarta # BSM # 31 Maret 2016# 1.000.000.   # Tebar 3000 Jilbab dan Gamis untuk Gunungkidul Pada tanggal 19 April 2016 akan diadakan peresmian Masjid Jami Al-Adha (Pesantren Darush Sholihin) oleh Bupati Gunungkidul (Bu Badingah, S.Sos) sekaligus diadakan bakti sosial tebar jilbab (lebar) dan gamis muslimah (bukan jersey), serta koko layak pakai bagi pria muslim. Tak percaya kalau jilbab bekas Anda bisa memberi hidayah pada muslimah lain? Baca: Hidayah Lewat Jilbab Bekas (https://rumaysho.com/10373-hidayah-lewat-jilbab-bekas.html).   Kirim ke alamat: Pesantren Darush Sholihin Binaan: Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal (Rumaysho.Com) Dusun Warak, Desa Girisekar, Panggang, Gunungkidul, 55872, HP: 085200171222(Mas Slamet)   Disarankan mengirim via Tiki, JNE atau POS Indonesia dan akan sampai ke tempat tujuan sesuai alamat di atas. Jangan lupa sertakan nomor telepon pengirim, biar bisa dikonfirmasi jika sudah sampai.   Info donasi: 0811 26 7791 (CALL/WA), 0823 139 50500 (SMS) Laporan donasi jilbab, silakan cek di sini: http://darushsholihin.com/tebar-jilbab — SHARE YUK PADA YANG KAUM MUSLIMIN YANG BERBAIK HATI.   Info Rumaysho.Com Tagstebar jilbab


Anda Peduli akan aurat saudara Anda. Ada dua program dari Pesantren Darush Sholihin untuk dua daerah yaitu di Maluku dan Gunungkidul (Yogyakarta), program tebar 5000 plus 3000 jilbab dan gamis (total 8000). Moga dalam 20 hari bisa terpenuhi hingga 19 April 2016, namun bisa untuk kegiatan seterusnya.   # Tebar 5000 Jilbab untuk Muslimah Maluku Untuk tiga pulau di Maluku 2 – 8 Juni 2016: Pulau Ambon, Pulau Haruku, Pulau Seram. Donasi yang ada akan diberikan jilbab sebanyak 5000 buah.   Cara Berdonasi Silakan transfer ke rekening: 1. BCA: 8610123881 (kode bank: 014). 2. BNI Syariah: 0194475165 (kode bank: 009). 3. BSM: 3107011155 (kode bank: 451). 4. BRI: 0029-01-101480-50-9 (kode bank: 002). (Semua a.n:Muhammad Abduh Tuasikal).   Konfirmasi via sms ke 082313950500 dengan format: Dana sosial Jilbab# Nama Donatur # Alamat # Bank Tujuan Transfer # Tgl Transfer # Besar Donasi. Contoh: Dana sosial Jilbab # Muslim # Godean Yogyakarta # BSM # 31 Maret 2016# 1.000.000.   # Tebar 3000 Jilbab dan Gamis untuk Gunungkidul Pada tanggal 19 April 2016 akan diadakan peresmian Masjid Jami Al-Adha (Pesantren Darush Sholihin) oleh Bupati Gunungkidul (Bu Badingah, S.Sos) sekaligus diadakan bakti sosial tebar jilbab (lebar) dan gamis muslimah (bukan jersey), serta koko layak pakai bagi pria muslim. Tak percaya kalau jilbab bekas Anda bisa memberi hidayah pada muslimah lain? Baca: Hidayah Lewat Jilbab Bekas (https://rumaysho.com/10373-hidayah-lewat-jilbab-bekas.html).   Kirim ke alamat: Pesantren Darush Sholihin Binaan: Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal (Rumaysho.Com) Dusun Warak, Desa Girisekar, Panggang, Gunungkidul, 55872, HP: 085200171222(Mas Slamet)   Disarankan mengirim via Tiki, JNE atau POS Indonesia dan akan sampai ke tempat tujuan sesuai alamat di atas. Jangan lupa sertakan nomor telepon pengirim, biar bisa dikonfirmasi jika sudah sampai.   Info donasi: 0811 26 7791 (CALL/WA), 0823 139 50500 (SMS) Laporan donasi jilbab, silakan cek di sini: http://darushsholihin.com/tebar-jilbab — SHARE YUK PADA YANG KAUM MUSLIMIN YANG BERBAIK HATI.   Info Rumaysho.Com Tagstebar jilbab
Prev     Next