Penutupan Donasi Markas Dakwah

Alhamdulillah, Segala puji bagi Allah yang telah memberikan kepada kita kenikmatan yang tiada lagi dapat terhitung jumlahnya. Shalawat serta salam, marilah senantiasa kita sanjung-agungkan kepada uswatun hasanah, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa salam.Melalui tulisan ini, Yayasan Pendidikan Islam Al Atsari Yogyakarta mengucapkan banyak terima kasih kepada muhsinin sekalian yang telah membersamai kami dalam banyak sekali program kebaikan. Tak terkecuali pula, program pelunasan Markas Dakwah YPIA.Atas izin Allah Ta’ala, Donasi Markas Dakwah -yang mulai digalangkan sejak bulan Juli 2015 silam- sudah tercukupi, dimana pada tanggal 17 Agustus 2016 telah dinyatakan lunas, setelah terkumpul donasi total sebesar 1,3 Milyar Rupiah.Donasi yang terhimpun dalam kurun waktu 13 bulan ini, merupakan bentuk kepedulian kita semua agar semakin berkembangnya dakwah yang diusung oleh YPIA Yogyakarta. Markas Dakwah YPIA ini berlokasi di wilayah Pogung Rejo, Sinduadi, Mlati, Sleman, Utara Fakultas Teknik UGM, dengan koordinat 7°45’26.3″S 110°22’18.4″E.Dengan lunasnya Markas Dakwah ini, tentu saja menjadi pemacu dan pemicu kita semua untuk semakin gia dan semangat dalam berdakwah. Sebab, Marka Dakwah ini akan menjadi pusat koordinasi dari sedemikian kegiatan-kegiatan dakwah YPIA.Diantara fungsi Markas Dakwah ialah: > Pengelolaan website dakwah www.muslim.or.id dan www.muslimah.or.id > Pengelolaan Radio Dakwah www.radiomuslim.com > Program pembelajaran bahasa Arab melalui Ma’had ‘Umar bin Khatthab > Pesantren Mahasiswa Ma’had ‘Ilmi > Program penghafalan Al-Qur’an mahasiswa melalui Kampus Tahfidz > Pengelolaan Wisma Mahasiswa Muslim & Muslimah > Penerbitan Buletin Jum’at At Tauhid > Pengordinasian kajian keislaman umum & Kajian Mahasiswa > Pengelolaan SDIT Yaa Bunayya > Pusat koordinasi tim Peduli Muslim dalam program layanan kesehatan, tanggap darurat bencana alam, penyaluran zakat mal, pengiriman da’i ke penjuru tanah air, santunan kemanusiaan. dllKami ucapkan Jazaakumullahu Khayran kepada donator sekalian yang telah memberikan bantuannya hingga terlunasinya Markas Dakwah ini. Semoga Allah senantiasa menerima amal kebaikan kita dan memudahkan kita dalam setiap kebaikan.Ttd, YPIA Yogyakarta🔍 Macam Macam Syirik, Hadist Tentang Hawa Nafsu, Bekal Ramadhan, Ayat Kursi Terdapat Pada Surat, Istri Nurut Suami Atau Ortu

Penutupan Donasi Markas Dakwah

Alhamdulillah, Segala puji bagi Allah yang telah memberikan kepada kita kenikmatan yang tiada lagi dapat terhitung jumlahnya. Shalawat serta salam, marilah senantiasa kita sanjung-agungkan kepada uswatun hasanah, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa salam.Melalui tulisan ini, Yayasan Pendidikan Islam Al Atsari Yogyakarta mengucapkan banyak terima kasih kepada muhsinin sekalian yang telah membersamai kami dalam banyak sekali program kebaikan. Tak terkecuali pula, program pelunasan Markas Dakwah YPIA.Atas izin Allah Ta’ala, Donasi Markas Dakwah -yang mulai digalangkan sejak bulan Juli 2015 silam- sudah tercukupi, dimana pada tanggal 17 Agustus 2016 telah dinyatakan lunas, setelah terkumpul donasi total sebesar 1,3 Milyar Rupiah.Donasi yang terhimpun dalam kurun waktu 13 bulan ini, merupakan bentuk kepedulian kita semua agar semakin berkembangnya dakwah yang diusung oleh YPIA Yogyakarta. Markas Dakwah YPIA ini berlokasi di wilayah Pogung Rejo, Sinduadi, Mlati, Sleman, Utara Fakultas Teknik UGM, dengan koordinat 7°45’26.3″S 110°22’18.4″E.Dengan lunasnya Markas Dakwah ini, tentu saja menjadi pemacu dan pemicu kita semua untuk semakin gia dan semangat dalam berdakwah. Sebab, Marka Dakwah ini akan menjadi pusat koordinasi dari sedemikian kegiatan-kegiatan dakwah YPIA.Diantara fungsi Markas Dakwah ialah: > Pengelolaan website dakwah www.muslim.or.id dan www.muslimah.or.id > Pengelolaan Radio Dakwah www.radiomuslim.com > Program pembelajaran bahasa Arab melalui Ma’had ‘Umar bin Khatthab > Pesantren Mahasiswa Ma’had ‘Ilmi > Program penghafalan Al-Qur’an mahasiswa melalui Kampus Tahfidz > Pengelolaan Wisma Mahasiswa Muslim & Muslimah > Penerbitan Buletin Jum’at At Tauhid > Pengordinasian kajian keislaman umum & Kajian Mahasiswa > Pengelolaan SDIT Yaa Bunayya > Pusat koordinasi tim Peduli Muslim dalam program layanan kesehatan, tanggap darurat bencana alam, penyaluran zakat mal, pengiriman da’i ke penjuru tanah air, santunan kemanusiaan. dllKami ucapkan Jazaakumullahu Khayran kepada donator sekalian yang telah memberikan bantuannya hingga terlunasinya Markas Dakwah ini. Semoga Allah senantiasa menerima amal kebaikan kita dan memudahkan kita dalam setiap kebaikan.Ttd, YPIA Yogyakarta🔍 Macam Macam Syirik, Hadist Tentang Hawa Nafsu, Bekal Ramadhan, Ayat Kursi Terdapat Pada Surat, Istri Nurut Suami Atau Ortu
Alhamdulillah, Segala puji bagi Allah yang telah memberikan kepada kita kenikmatan yang tiada lagi dapat terhitung jumlahnya. Shalawat serta salam, marilah senantiasa kita sanjung-agungkan kepada uswatun hasanah, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa salam.Melalui tulisan ini, Yayasan Pendidikan Islam Al Atsari Yogyakarta mengucapkan banyak terima kasih kepada muhsinin sekalian yang telah membersamai kami dalam banyak sekali program kebaikan. Tak terkecuali pula, program pelunasan Markas Dakwah YPIA.Atas izin Allah Ta’ala, Donasi Markas Dakwah -yang mulai digalangkan sejak bulan Juli 2015 silam- sudah tercukupi, dimana pada tanggal 17 Agustus 2016 telah dinyatakan lunas, setelah terkumpul donasi total sebesar 1,3 Milyar Rupiah.Donasi yang terhimpun dalam kurun waktu 13 bulan ini, merupakan bentuk kepedulian kita semua agar semakin berkembangnya dakwah yang diusung oleh YPIA Yogyakarta. Markas Dakwah YPIA ini berlokasi di wilayah Pogung Rejo, Sinduadi, Mlati, Sleman, Utara Fakultas Teknik UGM, dengan koordinat 7°45’26.3″S 110°22’18.4″E.Dengan lunasnya Markas Dakwah ini, tentu saja menjadi pemacu dan pemicu kita semua untuk semakin gia dan semangat dalam berdakwah. Sebab, Marka Dakwah ini akan menjadi pusat koordinasi dari sedemikian kegiatan-kegiatan dakwah YPIA.Diantara fungsi Markas Dakwah ialah: > Pengelolaan website dakwah www.muslim.or.id dan www.muslimah.or.id > Pengelolaan Radio Dakwah www.radiomuslim.com > Program pembelajaran bahasa Arab melalui Ma’had ‘Umar bin Khatthab > Pesantren Mahasiswa Ma’had ‘Ilmi > Program penghafalan Al-Qur’an mahasiswa melalui Kampus Tahfidz > Pengelolaan Wisma Mahasiswa Muslim & Muslimah > Penerbitan Buletin Jum’at At Tauhid > Pengordinasian kajian keislaman umum & Kajian Mahasiswa > Pengelolaan SDIT Yaa Bunayya > Pusat koordinasi tim Peduli Muslim dalam program layanan kesehatan, tanggap darurat bencana alam, penyaluran zakat mal, pengiriman da’i ke penjuru tanah air, santunan kemanusiaan. dllKami ucapkan Jazaakumullahu Khayran kepada donator sekalian yang telah memberikan bantuannya hingga terlunasinya Markas Dakwah ini. Semoga Allah senantiasa menerima amal kebaikan kita dan memudahkan kita dalam setiap kebaikan.Ttd, YPIA Yogyakarta🔍 Macam Macam Syirik, Hadist Tentang Hawa Nafsu, Bekal Ramadhan, Ayat Kursi Terdapat Pada Surat, Istri Nurut Suami Atau Ortu


Alhamdulillah, Segala puji bagi Allah yang telah memberikan kepada kita kenikmatan yang tiada lagi dapat terhitung jumlahnya. Shalawat serta salam, marilah senantiasa kita sanjung-agungkan kepada uswatun hasanah, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa salam.Melalui tulisan ini, Yayasan Pendidikan Islam Al Atsari Yogyakarta mengucapkan banyak terima kasih kepada muhsinin sekalian yang telah membersamai kami dalam banyak sekali program kebaikan. Tak terkecuali pula, program pelunasan Markas Dakwah YPIA.Atas izin Allah Ta’ala, Donasi Markas Dakwah -yang mulai digalangkan sejak bulan Juli 2015 silam- sudah tercukupi, dimana pada tanggal 17 Agustus 2016 telah dinyatakan lunas, setelah terkumpul donasi total sebesar 1,3 Milyar Rupiah.Donasi yang terhimpun dalam kurun waktu 13 bulan ini, merupakan bentuk kepedulian kita semua agar semakin berkembangnya dakwah yang diusung oleh YPIA Yogyakarta. Markas Dakwah YPIA ini berlokasi di wilayah Pogung Rejo, Sinduadi, Mlati, Sleman, Utara Fakultas Teknik UGM, dengan koordinat 7°45’26.3″S 110°22’18.4″E.Dengan lunasnya Markas Dakwah ini, tentu saja menjadi pemacu dan pemicu kita semua untuk semakin gia dan semangat dalam berdakwah. Sebab, Marka Dakwah ini akan menjadi pusat koordinasi dari sedemikian kegiatan-kegiatan dakwah YPIA.Diantara fungsi Markas Dakwah ialah: > Pengelolaan website dakwah www.muslim.or.id dan www.muslimah.or.id > Pengelolaan Radio Dakwah www.radiomuslim.com > Program pembelajaran bahasa Arab melalui Ma’had ‘Umar bin Khatthab > Pesantren Mahasiswa Ma’had ‘Ilmi > Program penghafalan Al-Qur’an mahasiswa melalui Kampus Tahfidz > Pengelolaan Wisma Mahasiswa Muslim & Muslimah > Penerbitan Buletin Jum’at At Tauhid > Pengordinasian kajian keislaman umum & Kajian Mahasiswa > Pengelolaan SDIT Yaa Bunayya > Pusat koordinasi tim Peduli Muslim dalam program layanan kesehatan, tanggap darurat bencana alam, penyaluran zakat mal, pengiriman da’i ke penjuru tanah air, santunan kemanusiaan. dllKami ucapkan Jazaakumullahu Khayran kepada donator sekalian yang telah memberikan bantuannya hingga terlunasinya Markas Dakwah ini. Semoga Allah senantiasa menerima amal kebaikan kita dan memudahkan kita dalam setiap kebaikan.Ttd, YPIA Yogyakarta🔍 Macam Macam Syirik, Hadist Tentang Hawa Nafsu, Bekal Ramadhan, Ayat Kursi Terdapat Pada Surat, Istri Nurut Suami Atau Ortu

Mengenal Dua Miqat Jama’ah Haji Indonesia

Sebagaimana kita ketahui bahwa jama’ah haji Indonesia ada dua gelombang keberangkatan, gelombang pertama tiba di Madinah dahulu baru mereka berhaji berangkat dari Madinah, sedangkan gelombang kedua mereka langsung menuju Mekkah dari Indonesia. Berbeda tempat berangkat haji, maka miqat jama’ah haji Indonesia ada dua berdasarkan gelombang keberangkatan.Gelombang haji pertama: Jama’ah menuju ke Madinah terlebih dahuluMiqat mereka adalah miqat penduduk Madinah yaitu Dzul Hulai-fah / Bi’r ‘Ali. Karena mereka berhenti dahulu di Madinah dan menetap sementara di sana sehingga mereka berihram dari miqat penduduk MadinahRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menetapkan tempat-tempat miqat, beliau bersabda:هن لهن ولمن أتى عليهن من غير أهلهن ممن يريد الحج أو العمرة“Miqat-miqat tersebut adalah untuk penduduknya dan orang-orang selain penduduknya yang datang melaluinya, dari orang-orang yang hendak berhaji atau berumrah” (HR. Al Bukhari- Muslim).Gelombang kedua: Jamaah yang langsung terbang menuju MekkahMiqatnya adalah di Yalamlam, karena ini arah yang sejajar bagi penduduk Indonesia dari arah tanah air. Ketika melewati daerah miqat ini jama’ah haji masih berada di atas pesawat sehingga jamaah haji harus berihram di atas pesawat. Awak pesawat mengumumkannya satu jam atau setengah jam sebelum tiba di atas miqat atau di tempat yang sejajar dengan miqat, agar jama’ah haji bersiap-siap untuk berihram. Miqat di atas pesawat, maka kita pilih yang sejajar dengan daerah tersebut. Ini sesuai hadits dengan arahan para ulama. Penduduk Kufah dan Bashrah mendatangi Amirul Mukminin Umar bin Khattab radhiallahu ‘anhu dan mereka berkata, “Wahai amirul mukminin sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menetapkan miqat bagi penduduk Najed yaitu Qarnul Manazil, sesunggunya ia jauh dari Jalan kami”.Maka Umar radhiallahu ‘anhu berkata, “Perhatikanlah daerah yang sejajar dengan jalan kalian (itulah miqat)”.Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin menjelaskan, “Maka ini dalil bahwa jika manusia sudah sejajar dengan miqat, baik dengan jalan darat, laut atau udara maka wajib berihram ketika sejajar dengan miqat.” (Majmu’ Fatawa wa Rasa’il syaikh Al-‘Utsaimin, 21/331)Adapun berihram dari Jeddah, maka ini adalah kesalahan karena Jeddah bukan tempat Miqat. Jeddah adalah daerah terletak antara miqat dan Mekkah, sehingga penduduk jeddah berihram dari rumah mereka. Berdasarkan hadits,وَمَنْ كَانَ دُونَ ذَلِكَ فَمِنْ حَيْثُ أَنْشَأَ ، حَتَّى أَهْلُ مَكَّةَ مِنْ مَكَّةَ“Sedangkan mereka yang berada di dalam batasan miqat (antara miqat dan Mekkah), maka dia memulai dari kediamannya, dan bagi penduduk Mekkah, mereka memulainya dari di Mekkah (rumah mereka)” (HR. Al Bukhari no. 1524 dan Muslim no. 1181).Wallahu a’lam.Catatan:Berihram adalah niat masuk ke manasik haji, tidak mesti berpakaian ihram tepat sekali ketika pas di miqat, sehingga sebelum naik pesawat memakai pakaian ihram tidaklah menjadi masalah. Yang menjadi masalah adalah ketika sudah melewati daerah miqat dan belum memakai pakaian ihram.***@Laboratorium RS Manambai, Sumbawa BesarPenyusun: dr. Raehanul BahraenArtikel Muslim.or.id🔍 Macam Macam Syirik, Hadist Tentang Hawa Nafsu, Bekal Ramadhan, Ayat Kursi Terdapat Pada Surat, Istri Nurut Suami Atau Ortu

Mengenal Dua Miqat Jama’ah Haji Indonesia

Sebagaimana kita ketahui bahwa jama’ah haji Indonesia ada dua gelombang keberangkatan, gelombang pertama tiba di Madinah dahulu baru mereka berhaji berangkat dari Madinah, sedangkan gelombang kedua mereka langsung menuju Mekkah dari Indonesia. Berbeda tempat berangkat haji, maka miqat jama’ah haji Indonesia ada dua berdasarkan gelombang keberangkatan.Gelombang haji pertama: Jama’ah menuju ke Madinah terlebih dahuluMiqat mereka adalah miqat penduduk Madinah yaitu Dzul Hulai-fah / Bi’r ‘Ali. Karena mereka berhenti dahulu di Madinah dan menetap sementara di sana sehingga mereka berihram dari miqat penduduk MadinahRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menetapkan tempat-tempat miqat, beliau bersabda:هن لهن ولمن أتى عليهن من غير أهلهن ممن يريد الحج أو العمرة“Miqat-miqat tersebut adalah untuk penduduknya dan orang-orang selain penduduknya yang datang melaluinya, dari orang-orang yang hendak berhaji atau berumrah” (HR. Al Bukhari- Muslim).Gelombang kedua: Jamaah yang langsung terbang menuju MekkahMiqatnya adalah di Yalamlam, karena ini arah yang sejajar bagi penduduk Indonesia dari arah tanah air. Ketika melewati daerah miqat ini jama’ah haji masih berada di atas pesawat sehingga jamaah haji harus berihram di atas pesawat. Awak pesawat mengumumkannya satu jam atau setengah jam sebelum tiba di atas miqat atau di tempat yang sejajar dengan miqat, agar jama’ah haji bersiap-siap untuk berihram. Miqat di atas pesawat, maka kita pilih yang sejajar dengan daerah tersebut. Ini sesuai hadits dengan arahan para ulama. Penduduk Kufah dan Bashrah mendatangi Amirul Mukminin Umar bin Khattab radhiallahu ‘anhu dan mereka berkata, “Wahai amirul mukminin sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menetapkan miqat bagi penduduk Najed yaitu Qarnul Manazil, sesunggunya ia jauh dari Jalan kami”.Maka Umar radhiallahu ‘anhu berkata, “Perhatikanlah daerah yang sejajar dengan jalan kalian (itulah miqat)”.Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin menjelaskan, “Maka ini dalil bahwa jika manusia sudah sejajar dengan miqat, baik dengan jalan darat, laut atau udara maka wajib berihram ketika sejajar dengan miqat.” (Majmu’ Fatawa wa Rasa’il syaikh Al-‘Utsaimin, 21/331)Adapun berihram dari Jeddah, maka ini adalah kesalahan karena Jeddah bukan tempat Miqat. Jeddah adalah daerah terletak antara miqat dan Mekkah, sehingga penduduk jeddah berihram dari rumah mereka. Berdasarkan hadits,وَمَنْ كَانَ دُونَ ذَلِكَ فَمِنْ حَيْثُ أَنْشَأَ ، حَتَّى أَهْلُ مَكَّةَ مِنْ مَكَّةَ“Sedangkan mereka yang berada di dalam batasan miqat (antara miqat dan Mekkah), maka dia memulai dari kediamannya, dan bagi penduduk Mekkah, mereka memulainya dari di Mekkah (rumah mereka)” (HR. Al Bukhari no. 1524 dan Muslim no. 1181).Wallahu a’lam.Catatan:Berihram adalah niat masuk ke manasik haji, tidak mesti berpakaian ihram tepat sekali ketika pas di miqat, sehingga sebelum naik pesawat memakai pakaian ihram tidaklah menjadi masalah. Yang menjadi masalah adalah ketika sudah melewati daerah miqat dan belum memakai pakaian ihram.***@Laboratorium RS Manambai, Sumbawa BesarPenyusun: dr. Raehanul BahraenArtikel Muslim.or.id🔍 Macam Macam Syirik, Hadist Tentang Hawa Nafsu, Bekal Ramadhan, Ayat Kursi Terdapat Pada Surat, Istri Nurut Suami Atau Ortu
Sebagaimana kita ketahui bahwa jama’ah haji Indonesia ada dua gelombang keberangkatan, gelombang pertama tiba di Madinah dahulu baru mereka berhaji berangkat dari Madinah, sedangkan gelombang kedua mereka langsung menuju Mekkah dari Indonesia. Berbeda tempat berangkat haji, maka miqat jama’ah haji Indonesia ada dua berdasarkan gelombang keberangkatan.Gelombang haji pertama: Jama’ah menuju ke Madinah terlebih dahuluMiqat mereka adalah miqat penduduk Madinah yaitu Dzul Hulai-fah / Bi’r ‘Ali. Karena mereka berhenti dahulu di Madinah dan menetap sementara di sana sehingga mereka berihram dari miqat penduduk MadinahRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menetapkan tempat-tempat miqat, beliau bersabda:هن لهن ولمن أتى عليهن من غير أهلهن ممن يريد الحج أو العمرة“Miqat-miqat tersebut adalah untuk penduduknya dan orang-orang selain penduduknya yang datang melaluinya, dari orang-orang yang hendak berhaji atau berumrah” (HR. Al Bukhari- Muslim).Gelombang kedua: Jamaah yang langsung terbang menuju MekkahMiqatnya adalah di Yalamlam, karena ini arah yang sejajar bagi penduduk Indonesia dari arah tanah air. Ketika melewati daerah miqat ini jama’ah haji masih berada di atas pesawat sehingga jamaah haji harus berihram di atas pesawat. Awak pesawat mengumumkannya satu jam atau setengah jam sebelum tiba di atas miqat atau di tempat yang sejajar dengan miqat, agar jama’ah haji bersiap-siap untuk berihram. Miqat di atas pesawat, maka kita pilih yang sejajar dengan daerah tersebut. Ini sesuai hadits dengan arahan para ulama. Penduduk Kufah dan Bashrah mendatangi Amirul Mukminin Umar bin Khattab radhiallahu ‘anhu dan mereka berkata, “Wahai amirul mukminin sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menetapkan miqat bagi penduduk Najed yaitu Qarnul Manazil, sesunggunya ia jauh dari Jalan kami”.Maka Umar radhiallahu ‘anhu berkata, “Perhatikanlah daerah yang sejajar dengan jalan kalian (itulah miqat)”.Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin menjelaskan, “Maka ini dalil bahwa jika manusia sudah sejajar dengan miqat, baik dengan jalan darat, laut atau udara maka wajib berihram ketika sejajar dengan miqat.” (Majmu’ Fatawa wa Rasa’il syaikh Al-‘Utsaimin, 21/331)Adapun berihram dari Jeddah, maka ini adalah kesalahan karena Jeddah bukan tempat Miqat. Jeddah adalah daerah terletak antara miqat dan Mekkah, sehingga penduduk jeddah berihram dari rumah mereka. Berdasarkan hadits,وَمَنْ كَانَ دُونَ ذَلِكَ فَمِنْ حَيْثُ أَنْشَأَ ، حَتَّى أَهْلُ مَكَّةَ مِنْ مَكَّةَ“Sedangkan mereka yang berada di dalam batasan miqat (antara miqat dan Mekkah), maka dia memulai dari kediamannya, dan bagi penduduk Mekkah, mereka memulainya dari di Mekkah (rumah mereka)” (HR. Al Bukhari no. 1524 dan Muslim no. 1181).Wallahu a’lam.Catatan:Berihram adalah niat masuk ke manasik haji, tidak mesti berpakaian ihram tepat sekali ketika pas di miqat, sehingga sebelum naik pesawat memakai pakaian ihram tidaklah menjadi masalah. Yang menjadi masalah adalah ketika sudah melewati daerah miqat dan belum memakai pakaian ihram.***@Laboratorium RS Manambai, Sumbawa BesarPenyusun: dr. Raehanul BahraenArtikel Muslim.or.id🔍 Macam Macam Syirik, Hadist Tentang Hawa Nafsu, Bekal Ramadhan, Ayat Kursi Terdapat Pada Surat, Istri Nurut Suami Atau Ortu


Sebagaimana kita ketahui bahwa jama’ah haji Indonesia ada dua gelombang keberangkatan, gelombang pertama tiba di Madinah dahulu baru mereka berhaji berangkat dari Madinah, sedangkan gelombang kedua mereka langsung menuju Mekkah dari Indonesia. Berbeda tempat berangkat haji, maka miqat jama’ah haji Indonesia ada dua berdasarkan gelombang keberangkatan.Gelombang haji pertama: Jama’ah menuju ke Madinah terlebih dahuluMiqat mereka adalah miqat penduduk Madinah yaitu Dzul Hulai-fah / Bi’r ‘Ali. Karena mereka berhenti dahulu di Madinah dan menetap sementara di sana sehingga mereka berihram dari miqat penduduk MadinahRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menetapkan tempat-tempat miqat, beliau bersabda:هن لهن ولمن أتى عليهن من غير أهلهن ممن يريد الحج أو العمرة“Miqat-miqat tersebut adalah untuk penduduknya dan orang-orang selain penduduknya yang datang melaluinya, dari orang-orang yang hendak berhaji atau berumrah” (HR. Al Bukhari- Muslim).Gelombang kedua: Jamaah yang langsung terbang menuju MekkahMiqatnya adalah di Yalamlam, karena ini arah yang sejajar bagi penduduk Indonesia dari arah tanah air. Ketika melewati daerah miqat ini jama’ah haji masih berada di atas pesawat sehingga jamaah haji harus berihram di atas pesawat. Awak pesawat mengumumkannya satu jam atau setengah jam sebelum tiba di atas miqat atau di tempat yang sejajar dengan miqat, agar jama’ah haji bersiap-siap untuk berihram. Miqat di atas pesawat, maka kita pilih yang sejajar dengan daerah tersebut. Ini sesuai hadits dengan arahan para ulama. Penduduk Kufah dan Bashrah mendatangi Amirul Mukminin Umar bin Khattab radhiallahu ‘anhu dan mereka berkata, “Wahai amirul mukminin sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menetapkan miqat bagi penduduk Najed yaitu Qarnul Manazil, sesunggunya ia jauh dari Jalan kami”.Maka Umar radhiallahu ‘anhu berkata, “Perhatikanlah daerah yang sejajar dengan jalan kalian (itulah miqat)”.Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin menjelaskan, “Maka ini dalil bahwa jika manusia sudah sejajar dengan miqat, baik dengan jalan darat, laut atau udara maka wajib berihram ketika sejajar dengan miqat.” (Majmu’ Fatawa wa Rasa’il syaikh Al-‘Utsaimin, 21/331)Adapun berihram dari Jeddah, maka ini adalah kesalahan karena Jeddah bukan tempat Miqat. Jeddah adalah daerah terletak antara miqat dan Mekkah, sehingga penduduk jeddah berihram dari rumah mereka. Berdasarkan hadits,وَمَنْ كَانَ دُونَ ذَلِكَ فَمِنْ حَيْثُ أَنْشَأَ ، حَتَّى أَهْلُ مَكَّةَ مِنْ مَكَّةَ“Sedangkan mereka yang berada di dalam batasan miqat (antara miqat dan Mekkah), maka dia memulai dari kediamannya, dan bagi penduduk Mekkah, mereka memulainya dari di Mekkah (rumah mereka)” (HR. Al Bukhari no. 1524 dan Muslim no. 1181).Wallahu a’lam.Catatan:Berihram adalah niat masuk ke manasik haji, tidak mesti berpakaian ihram tepat sekali ketika pas di miqat, sehingga sebelum naik pesawat memakai pakaian ihram tidaklah menjadi masalah. Yang menjadi masalah adalah ketika sudah melewati daerah miqat dan belum memakai pakaian ihram.***@Laboratorium RS Manambai, Sumbawa BesarPenyusun: dr. Raehanul BahraenArtikel Muslim.or.id🔍 Macam Macam Syirik, Hadist Tentang Hawa Nafsu, Bekal Ramadhan, Ayat Kursi Terdapat Pada Surat, Istri Nurut Suami Atau Ortu

Resensi Kitab Tauhid (2)

Syaikh Ṣāliḥ Al-Fauzan ḥafiẓahullāh menjelaskan bahwa kitab tauḥīd termasuk karya terbaik sang penulis dari sekian banyak karya-karya beliau. Hal ini sebagaimana yang diungkapkan Syaikh Ṣāliḥ Al-Fauzan ḥafiẓahullāh menjelaskan bahwa Kitābut Tauḥīd adalah tulisan terbaik dari Syaikh Al-Mujaddid Muḥammad bin ‘Abdul Wahhāb[1. I’ānatul Mustafīd bi Syarḥ Kitābit Tauḥīd, Syaikh Ṣāliḥ Al-Fauzan, hal.12]. Syaikh Ṣāliḥ Al-Fauzan ḥafiẓahullāh menjelaskan bahwa kitab ini ditulis untuk menjelaskan tauḥīd ulūhiyyah, yaitu mengesakan Allāh dalam peribadatan dan meninggalkan ibadah kepada selain-Nya (syirik) serta berlepas diri dari kesyirikan tersebut.Dalam kitab ini juga dijelaskan mengenai syirik akbar, sebuah perkara yang bertentangan dengan tauḥīd, dan perkara yang mengurangi kesempurnaannya yang wajib, berupa syirik kecil atau yang mengurangi kesempurnaan (tauḥīd) yang sunnah.Syaikh (sang penulis) mengkhususkan pada pembahasan tauḥīd jenis ini (ulūhiyyah), karena tauḥīd jenis inilah yang memasukkan seseorang ke dalam Islam[2. Tentunya maksud Syaikh Ṣāliḥ Al-Fauzan disini adalah tauḥīd ulūhiyyah yang mengandung tauḥīd Rububiyyah dan Al-Asma` waṣ ṣifat, karena tidaklah boleh seseorang meninggalkan tauḥīd, walaupun hanya satu macam saja] dan menyebabkan ia selamat dari azab Allāh.Tauḥīd (ulūhiyyah) merupakan tujuan diutusnya para rasul (‘alaihimuṣ ṣalātu was salām) sekaligus tujuan diturunkannya kitab-kitab Allāh serta merupakan jenis tauḥīd yang diselisihi oleh kaum musyrikin pada setiap zaman dan tempat. Adapun jenis tauḥīd rubūbiyyah, maka kaum musyrikin pun mengakuinya, namun hal itu tidaklah memasukkan mereka ke dalam Islam[3. I’ānatul Mustafīd bi Syarḥ Kitābit Tauḥīd, Syaikh Ṣāliḥ Al-Fauzan, hal.12-13].Para ulama raḥimahumullāh memandang Kitab Tauḥīd ini memiliki nilai ilmiyyah yang sangat tinggi, hal itu dapat diketahui dari banyak sisi, di antaranya adalah sebagai berikut.1. Bersumber dari Al-Qur`ān dan As-Sunnah Dengan Pemahaman Salafuṣ ṢāliḥSyaikh Ṣāliḥ Al-Fauzan ḥafiẓahullāh menjelaskan bahwa pentingnya kitab ini nampak dari sisi ini isinya yang ditulis berdasarkan dalil dari ayat-ayat Al-Qur`ān dan hadis-hadis dari As-Sunnah, sehingga tidaklah bisa dikatakan bahwa kitab ini berasal dari ajaran fulan atau ajaran dari Ibnu Abdil Wahhab (Wahabi). Bahkan yang benar adalah (isi) kitab ini adalah Kalāmullāh, sabda Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam dan ucapan para imam kaum muslimin (dari kalangan sahabat dan selain mereka, pent). Demikianlah selayaknya penulisan (tulisan ilmiyyah yang baik)[4. I’ānatul Mustafīd bi Syarḥ Kitābit Tauḥīd, Syaikh Ṣāliḥ Al-Fauzan, hal.18.].2. Semua Makna Hadis yang Dinukil adalah SahihHadis yang beliau bawakan terbagi menjadi dua: Sahih atau hasan derajatnya dan ṣahih maknanya. Tidak sahih atau tidak hasan derajatnya, namun sahih ditinjau dari sisi makna yang menjadi inti pembahasan, karena sesuai dengan kaedah umum dalam syari’at Islam. Syaikh Ṣāliḥ Al-Fauzan ḥafiẓahullāh menjelaskan bahwa penulis tidaklah membawakan dalam kitab ini kecuali hadis-hadis yang sahih, hasan atau dha’if (lemah) yang memiliki penguat atau (makna secara umum) hadis dha’if tersebut masuk didalam kaedah umum yang didukung Al Quran dan As-Sunnah[5. I’ānatul Mustafīd bi Syarḥ Kitābit Tauḥīd, Syaikh Ṣāliḥ Al-Fauzan, hal.13].[Bersambung]***Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id___🔍 Hadits Tersenyum, Contoh Orang Yang Mempermainkan Agama, Jumlah Sholat Rawatib, Tawaf Qudum Artinya, Allahumma Anta Salam Wa Minka Salam

Resensi Kitab Tauhid (2)

Syaikh Ṣāliḥ Al-Fauzan ḥafiẓahullāh menjelaskan bahwa kitab tauḥīd termasuk karya terbaik sang penulis dari sekian banyak karya-karya beliau. Hal ini sebagaimana yang diungkapkan Syaikh Ṣāliḥ Al-Fauzan ḥafiẓahullāh menjelaskan bahwa Kitābut Tauḥīd adalah tulisan terbaik dari Syaikh Al-Mujaddid Muḥammad bin ‘Abdul Wahhāb[1. I’ānatul Mustafīd bi Syarḥ Kitābit Tauḥīd, Syaikh Ṣāliḥ Al-Fauzan, hal.12]. Syaikh Ṣāliḥ Al-Fauzan ḥafiẓahullāh menjelaskan bahwa kitab ini ditulis untuk menjelaskan tauḥīd ulūhiyyah, yaitu mengesakan Allāh dalam peribadatan dan meninggalkan ibadah kepada selain-Nya (syirik) serta berlepas diri dari kesyirikan tersebut.Dalam kitab ini juga dijelaskan mengenai syirik akbar, sebuah perkara yang bertentangan dengan tauḥīd, dan perkara yang mengurangi kesempurnaannya yang wajib, berupa syirik kecil atau yang mengurangi kesempurnaan (tauḥīd) yang sunnah.Syaikh (sang penulis) mengkhususkan pada pembahasan tauḥīd jenis ini (ulūhiyyah), karena tauḥīd jenis inilah yang memasukkan seseorang ke dalam Islam[2. Tentunya maksud Syaikh Ṣāliḥ Al-Fauzan disini adalah tauḥīd ulūhiyyah yang mengandung tauḥīd Rububiyyah dan Al-Asma` waṣ ṣifat, karena tidaklah boleh seseorang meninggalkan tauḥīd, walaupun hanya satu macam saja] dan menyebabkan ia selamat dari azab Allāh.Tauḥīd (ulūhiyyah) merupakan tujuan diutusnya para rasul (‘alaihimuṣ ṣalātu was salām) sekaligus tujuan diturunkannya kitab-kitab Allāh serta merupakan jenis tauḥīd yang diselisihi oleh kaum musyrikin pada setiap zaman dan tempat. Adapun jenis tauḥīd rubūbiyyah, maka kaum musyrikin pun mengakuinya, namun hal itu tidaklah memasukkan mereka ke dalam Islam[3. I’ānatul Mustafīd bi Syarḥ Kitābit Tauḥīd, Syaikh Ṣāliḥ Al-Fauzan, hal.12-13].Para ulama raḥimahumullāh memandang Kitab Tauḥīd ini memiliki nilai ilmiyyah yang sangat tinggi, hal itu dapat diketahui dari banyak sisi, di antaranya adalah sebagai berikut.1. Bersumber dari Al-Qur`ān dan As-Sunnah Dengan Pemahaman Salafuṣ ṢāliḥSyaikh Ṣāliḥ Al-Fauzan ḥafiẓahullāh menjelaskan bahwa pentingnya kitab ini nampak dari sisi ini isinya yang ditulis berdasarkan dalil dari ayat-ayat Al-Qur`ān dan hadis-hadis dari As-Sunnah, sehingga tidaklah bisa dikatakan bahwa kitab ini berasal dari ajaran fulan atau ajaran dari Ibnu Abdil Wahhab (Wahabi). Bahkan yang benar adalah (isi) kitab ini adalah Kalāmullāh, sabda Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam dan ucapan para imam kaum muslimin (dari kalangan sahabat dan selain mereka, pent). Demikianlah selayaknya penulisan (tulisan ilmiyyah yang baik)[4. I’ānatul Mustafīd bi Syarḥ Kitābit Tauḥīd, Syaikh Ṣāliḥ Al-Fauzan, hal.18.].2. Semua Makna Hadis yang Dinukil adalah SahihHadis yang beliau bawakan terbagi menjadi dua: Sahih atau hasan derajatnya dan ṣahih maknanya. Tidak sahih atau tidak hasan derajatnya, namun sahih ditinjau dari sisi makna yang menjadi inti pembahasan, karena sesuai dengan kaedah umum dalam syari’at Islam. Syaikh Ṣāliḥ Al-Fauzan ḥafiẓahullāh menjelaskan bahwa penulis tidaklah membawakan dalam kitab ini kecuali hadis-hadis yang sahih, hasan atau dha’if (lemah) yang memiliki penguat atau (makna secara umum) hadis dha’if tersebut masuk didalam kaedah umum yang didukung Al Quran dan As-Sunnah[5. I’ānatul Mustafīd bi Syarḥ Kitābit Tauḥīd, Syaikh Ṣāliḥ Al-Fauzan, hal.13].[Bersambung]***Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id___🔍 Hadits Tersenyum, Contoh Orang Yang Mempermainkan Agama, Jumlah Sholat Rawatib, Tawaf Qudum Artinya, Allahumma Anta Salam Wa Minka Salam
Syaikh Ṣāliḥ Al-Fauzan ḥafiẓahullāh menjelaskan bahwa kitab tauḥīd termasuk karya terbaik sang penulis dari sekian banyak karya-karya beliau. Hal ini sebagaimana yang diungkapkan Syaikh Ṣāliḥ Al-Fauzan ḥafiẓahullāh menjelaskan bahwa Kitābut Tauḥīd adalah tulisan terbaik dari Syaikh Al-Mujaddid Muḥammad bin ‘Abdul Wahhāb[1. I’ānatul Mustafīd bi Syarḥ Kitābit Tauḥīd, Syaikh Ṣāliḥ Al-Fauzan, hal.12]. Syaikh Ṣāliḥ Al-Fauzan ḥafiẓahullāh menjelaskan bahwa kitab ini ditulis untuk menjelaskan tauḥīd ulūhiyyah, yaitu mengesakan Allāh dalam peribadatan dan meninggalkan ibadah kepada selain-Nya (syirik) serta berlepas diri dari kesyirikan tersebut.Dalam kitab ini juga dijelaskan mengenai syirik akbar, sebuah perkara yang bertentangan dengan tauḥīd, dan perkara yang mengurangi kesempurnaannya yang wajib, berupa syirik kecil atau yang mengurangi kesempurnaan (tauḥīd) yang sunnah.Syaikh (sang penulis) mengkhususkan pada pembahasan tauḥīd jenis ini (ulūhiyyah), karena tauḥīd jenis inilah yang memasukkan seseorang ke dalam Islam[2. Tentunya maksud Syaikh Ṣāliḥ Al-Fauzan disini adalah tauḥīd ulūhiyyah yang mengandung tauḥīd Rububiyyah dan Al-Asma` waṣ ṣifat, karena tidaklah boleh seseorang meninggalkan tauḥīd, walaupun hanya satu macam saja] dan menyebabkan ia selamat dari azab Allāh.Tauḥīd (ulūhiyyah) merupakan tujuan diutusnya para rasul (‘alaihimuṣ ṣalātu was salām) sekaligus tujuan diturunkannya kitab-kitab Allāh serta merupakan jenis tauḥīd yang diselisihi oleh kaum musyrikin pada setiap zaman dan tempat. Adapun jenis tauḥīd rubūbiyyah, maka kaum musyrikin pun mengakuinya, namun hal itu tidaklah memasukkan mereka ke dalam Islam[3. I’ānatul Mustafīd bi Syarḥ Kitābit Tauḥīd, Syaikh Ṣāliḥ Al-Fauzan, hal.12-13].Para ulama raḥimahumullāh memandang Kitab Tauḥīd ini memiliki nilai ilmiyyah yang sangat tinggi, hal itu dapat diketahui dari banyak sisi, di antaranya adalah sebagai berikut.1. Bersumber dari Al-Qur`ān dan As-Sunnah Dengan Pemahaman Salafuṣ ṢāliḥSyaikh Ṣāliḥ Al-Fauzan ḥafiẓahullāh menjelaskan bahwa pentingnya kitab ini nampak dari sisi ini isinya yang ditulis berdasarkan dalil dari ayat-ayat Al-Qur`ān dan hadis-hadis dari As-Sunnah, sehingga tidaklah bisa dikatakan bahwa kitab ini berasal dari ajaran fulan atau ajaran dari Ibnu Abdil Wahhab (Wahabi). Bahkan yang benar adalah (isi) kitab ini adalah Kalāmullāh, sabda Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam dan ucapan para imam kaum muslimin (dari kalangan sahabat dan selain mereka, pent). Demikianlah selayaknya penulisan (tulisan ilmiyyah yang baik)[4. I’ānatul Mustafīd bi Syarḥ Kitābit Tauḥīd, Syaikh Ṣāliḥ Al-Fauzan, hal.18.].2. Semua Makna Hadis yang Dinukil adalah SahihHadis yang beliau bawakan terbagi menjadi dua: Sahih atau hasan derajatnya dan ṣahih maknanya. Tidak sahih atau tidak hasan derajatnya, namun sahih ditinjau dari sisi makna yang menjadi inti pembahasan, karena sesuai dengan kaedah umum dalam syari’at Islam. Syaikh Ṣāliḥ Al-Fauzan ḥafiẓahullāh menjelaskan bahwa penulis tidaklah membawakan dalam kitab ini kecuali hadis-hadis yang sahih, hasan atau dha’if (lemah) yang memiliki penguat atau (makna secara umum) hadis dha’if tersebut masuk didalam kaedah umum yang didukung Al Quran dan As-Sunnah[5. I’ānatul Mustafīd bi Syarḥ Kitābit Tauḥīd, Syaikh Ṣāliḥ Al-Fauzan, hal.13].[Bersambung]***Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id___🔍 Hadits Tersenyum, Contoh Orang Yang Mempermainkan Agama, Jumlah Sholat Rawatib, Tawaf Qudum Artinya, Allahumma Anta Salam Wa Minka Salam


Syaikh Ṣāliḥ Al-Fauzan ḥafiẓahullāh menjelaskan bahwa kitab tauḥīd termasuk karya terbaik sang penulis dari sekian banyak karya-karya beliau. Hal ini sebagaimana yang diungkapkan Syaikh Ṣāliḥ Al-Fauzan ḥafiẓahullāh menjelaskan bahwa Kitābut Tauḥīd adalah tulisan terbaik dari Syaikh Al-Mujaddid Muḥammad bin ‘Abdul Wahhāb[1. I’ānatul Mustafīd bi Syarḥ Kitābit Tauḥīd, Syaikh Ṣāliḥ Al-Fauzan, hal.12]. Syaikh Ṣāliḥ Al-Fauzan ḥafiẓahullāh menjelaskan bahwa kitab ini ditulis untuk menjelaskan tauḥīd ulūhiyyah, yaitu mengesakan Allāh dalam peribadatan dan meninggalkan ibadah kepada selain-Nya (syirik) serta berlepas diri dari kesyirikan tersebut.Dalam kitab ini juga dijelaskan mengenai syirik akbar, sebuah perkara yang bertentangan dengan tauḥīd, dan perkara yang mengurangi kesempurnaannya yang wajib, berupa syirik kecil atau yang mengurangi kesempurnaan (tauḥīd) yang sunnah.Syaikh (sang penulis) mengkhususkan pada pembahasan tauḥīd jenis ini (ulūhiyyah), karena tauḥīd jenis inilah yang memasukkan seseorang ke dalam Islam[2. Tentunya maksud Syaikh Ṣāliḥ Al-Fauzan disini adalah tauḥīd ulūhiyyah yang mengandung tauḥīd Rububiyyah dan Al-Asma` waṣ ṣifat, karena tidaklah boleh seseorang meninggalkan tauḥīd, walaupun hanya satu macam saja] dan menyebabkan ia selamat dari azab Allāh.Tauḥīd (ulūhiyyah) merupakan tujuan diutusnya para rasul (‘alaihimuṣ ṣalātu was salām) sekaligus tujuan diturunkannya kitab-kitab Allāh serta merupakan jenis tauḥīd yang diselisihi oleh kaum musyrikin pada setiap zaman dan tempat. Adapun jenis tauḥīd rubūbiyyah, maka kaum musyrikin pun mengakuinya, namun hal itu tidaklah memasukkan mereka ke dalam Islam[3. I’ānatul Mustafīd bi Syarḥ Kitābit Tauḥīd, Syaikh Ṣāliḥ Al-Fauzan, hal.12-13].Para ulama raḥimahumullāh memandang Kitab Tauḥīd ini memiliki nilai ilmiyyah yang sangat tinggi, hal itu dapat diketahui dari banyak sisi, di antaranya adalah sebagai berikut.1. Bersumber dari Al-Qur`ān dan As-Sunnah Dengan Pemahaman Salafuṣ ṢāliḥSyaikh Ṣāliḥ Al-Fauzan ḥafiẓahullāh menjelaskan bahwa pentingnya kitab ini nampak dari sisi ini isinya yang ditulis berdasarkan dalil dari ayat-ayat Al-Qur`ān dan hadis-hadis dari As-Sunnah, sehingga tidaklah bisa dikatakan bahwa kitab ini berasal dari ajaran fulan atau ajaran dari Ibnu Abdil Wahhab (Wahabi). Bahkan yang benar adalah (isi) kitab ini adalah Kalāmullāh, sabda Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam dan ucapan para imam kaum muslimin (dari kalangan sahabat dan selain mereka, pent). Demikianlah selayaknya penulisan (tulisan ilmiyyah yang baik)[4. I’ānatul Mustafīd bi Syarḥ Kitābit Tauḥīd, Syaikh Ṣāliḥ Al-Fauzan, hal.18.].2. Semua Makna Hadis yang Dinukil adalah SahihHadis yang beliau bawakan terbagi menjadi dua: Sahih atau hasan derajatnya dan ṣahih maknanya. Tidak sahih atau tidak hasan derajatnya, namun sahih ditinjau dari sisi makna yang menjadi inti pembahasan, karena sesuai dengan kaedah umum dalam syari’at Islam. Syaikh Ṣāliḥ Al-Fauzan ḥafiẓahullāh menjelaskan bahwa penulis tidaklah membawakan dalam kitab ini kecuali hadis-hadis yang sahih, hasan atau dha’if (lemah) yang memiliki penguat atau (makna secara umum) hadis dha’if tersebut masuk didalam kaedah umum yang didukung Al Quran dan As-Sunnah[5. I’ānatul Mustafīd bi Syarḥ Kitābit Tauḥīd, Syaikh Ṣāliḥ Al-Fauzan, hal.13].[Bersambung]***Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id___🔍 Hadits Tersenyum, Contoh Orang Yang Mempermainkan Agama, Jumlah Sholat Rawatib, Tawaf Qudum Artinya, Allahumma Anta Salam Wa Minka Salam

Rumaysho.Com di Play Store

Rumasyho.Com – Official Application ini dapat membantu Anda untuk Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat. Anda bisa mengetahui cara berakidah yang benar, cara beribadah yang benar sampai pada masalah akhlak dan rumah tangga dengan membuka artikel Rumaysho.Com yang rata-rata ditampilkan singkat sesuai pemahaman orang awam. Dengan aplikasi ini, setiap waktu Anda bisa mengaji ilmu agama dengan mudah. Selain itu, Anda bisa pula melakukan transaksi, keuntungannya nanti dimanfaatkan untuk website Islam Rumaysho.Com dan Pesantren Darush Sholihin binaan Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal di Panggang, Gunungkidul. Dalam aplikasi Rumaysho.Com, Anda bisa membeli pulsa HP (dengan harga relatif murah), beli token PLN, bayar telkom dan HP, bayar PDAM dan PLN. Nah semua hasil keuntungannya akan dimanfaatkan untuk dakwah. Yuk dukung! Silakan download di sini: https://play.google.com/store/apps/details?id=sms.com.rumaysho — Info Rumaysho.Com dan DarushSholihin.Com Tagsaplikasi

Rumaysho.Com di Play Store

Rumasyho.Com – Official Application ini dapat membantu Anda untuk Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat. Anda bisa mengetahui cara berakidah yang benar, cara beribadah yang benar sampai pada masalah akhlak dan rumah tangga dengan membuka artikel Rumaysho.Com yang rata-rata ditampilkan singkat sesuai pemahaman orang awam. Dengan aplikasi ini, setiap waktu Anda bisa mengaji ilmu agama dengan mudah. Selain itu, Anda bisa pula melakukan transaksi, keuntungannya nanti dimanfaatkan untuk website Islam Rumaysho.Com dan Pesantren Darush Sholihin binaan Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal di Panggang, Gunungkidul. Dalam aplikasi Rumaysho.Com, Anda bisa membeli pulsa HP (dengan harga relatif murah), beli token PLN, bayar telkom dan HP, bayar PDAM dan PLN. Nah semua hasil keuntungannya akan dimanfaatkan untuk dakwah. Yuk dukung! Silakan download di sini: https://play.google.com/store/apps/details?id=sms.com.rumaysho — Info Rumaysho.Com dan DarushSholihin.Com Tagsaplikasi
Rumasyho.Com – Official Application ini dapat membantu Anda untuk Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat. Anda bisa mengetahui cara berakidah yang benar, cara beribadah yang benar sampai pada masalah akhlak dan rumah tangga dengan membuka artikel Rumaysho.Com yang rata-rata ditampilkan singkat sesuai pemahaman orang awam. Dengan aplikasi ini, setiap waktu Anda bisa mengaji ilmu agama dengan mudah. Selain itu, Anda bisa pula melakukan transaksi, keuntungannya nanti dimanfaatkan untuk website Islam Rumaysho.Com dan Pesantren Darush Sholihin binaan Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal di Panggang, Gunungkidul. Dalam aplikasi Rumaysho.Com, Anda bisa membeli pulsa HP (dengan harga relatif murah), beli token PLN, bayar telkom dan HP, bayar PDAM dan PLN. Nah semua hasil keuntungannya akan dimanfaatkan untuk dakwah. Yuk dukung! Silakan download di sini: https://play.google.com/store/apps/details?id=sms.com.rumaysho — Info Rumaysho.Com dan DarushSholihin.Com Tagsaplikasi


Rumasyho.Com – Official Application ini dapat membantu Anda untuk Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat. Anda bisa mengetahui cara berakidah yang benar, cara beribadah yang benar sampai pada masalah akhlak dan rumah tangga dengan membuka artikel Rumaysho.Com yang rata-rata ditampilkan singkat sesuai pemahaman orang awam. Dengan aplikasi ini, setiap waktu Anda bisa mengaji ilmu agama dengan mudah. Selain itu, Anda bisa pula melakukan transaksi, keuntungannya nanti dimanfaatkan untuk website Islam Rumaysho.Com dan Pesantren Darush Sholihin binaan Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal di Panggang, Gunungkidul. Dalam aplikasi Rumaysho.Com, Anda bisa membeli pulsa HP (dengan harga relatif murah), beli token PLN, bayar telkom dan HP, bayar PDAM dan PLN. Nah semua hasil keuntungannya akan dimanfaatkan untuk dakwah. Yuk dukung! Silakan download di sini: https://play.google.com/store/apps/details?id=sms.com.rumaysho — Info Rumaysho.Com dan DarushSholihin.Com Tagsaplikasi

Doa yang Dibaca Ketika Menyembelih Aqiqah

Apa yang dibaca saat menyembelih aqiqah? Apakah disyari’atkan pula menghadirkan bayi saat aqiqah disembelih? Yang disyari’atkan ketika aqiqah sama seperti yang disyari’atkan ketika qurban. Ada tuntunan membaca: Bismillah Takbir, Allahu Akbar Aqiqah min … (sebut nama anak yang akan diaqiqahi) Dasar dari hal ini adalah hadits dari Al-Baihaqi dan selainnya,  أن رسول الله صلى الله عليه وسلم: عق عن الحسن والحسين شاتين يوم السابع وأمر أن يماط عن رأسه الأذى وقال اذبحوا على اسمه وقولوا بسم الله والله أكبر اللهم لك وإليك هذه عقيقة فلان Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengaqiqahi Al-Hasan dan Al-Husain dengan dua ekor kambing pada hari ketujuh, dan diperintahkan agar rambut kepalanya dicukur. Lalu beliau berkata, sembelihlah atas namanya, ucapkanlah, “Bismillah wallahu akbar. Allahumma laka wa ilaik. Hadzihi aqiqah fulan.” (Dengan nama Allah, Allah Maha Besar. Ya Allah, ini milik-Mu dan untuk-Mu. Ini adalah aqiqah untuk si fulan.” Dalam riwayat Ibnu Abi Syaibah dalam mushannafnya, sebagaimana dalam qurban (udhiyah) dibacakan bismillah, maka dalam aqiqah juga demikian dibaca, “Bismillah, ‘aqiqah fulan (disebut nama bayinya, pen.).” Bukan hanya diucapkan do’a khusus pada si buah hati pada penyembelihan aqiqah, namun juga selayaknya memuji dan bersyukur pada Allah atas karunia anak yang telah diberi. Hendaklah mendoakan keberkahan untuk si buah hati. Contohilah Al-Hasan Al-Bashri … Al-Hasan Al-Bashri pernah mengajarkan kepada seseorang mengenai ucapan pada orang yang baru mendapatkan buah hati: “Barokallahu laka fil mawhuubi laka wa syakarta al waahib, wa balagho asyuddahu, wa ruziqta birrohu” (Semoga Allah memberkahimu anak yang diberikan kepadamu. Semoga engkau pun bersyukur kepada Sang Pemberi, dan dia dapat mencapai dewasa, serta engkau dikaruniai kebaikannya). Tidak menjadi syarat menghadirkan buah hati ketika penyembelihan aqiqah. Karena tidak ada dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat radhiyallahu ‘anhum yang mencontohkan seperti itu.   Wallahu a’lam.   Referensi: http://fatwa.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&Id=114952   Disusun @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 28 Dzulqa’dah 1437 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Tagsaqiqah

Doa yang Dibaca Ketika Menyembelih Aqiqah

Apa yang dibaca saat menyembelih aqiqah? Apakah disyari’atkan pula menghadirkan bayi saat aqiqah disembelih? Yang disyari’atkan ketika aqiqah sama seperti yang disyari’atkan ketika qurban. Ada tuntunan membaca: Bismillah Takbir, Allahu Akbar Aqiqah min … (sebut nama anak yang akan diaqiqahi) Dasar dari hal ini adalah hadits dari Al-Baihaqi dan selainnya,  أن رسول الله صلى الله عليه وسلم: عق عن الحسن والحسين شاتين يوم السابع وأمر أن يماط عن رأسه الأذى وقال اذبحوا على اسمه وقولوا بسم الله والله أكبر اللهم لك وإليك هذه عقيقة فلان Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengaqiqahi Al-Hasan dan Al-Husain dengan dua ekor kambing pada hari ketujuh, dan diperintahkan agar rambut kepalanya dicukur. Lalu beliau berkata, sembelihlah atas namanya, ucapkanlah, “Bismillah wallahu akbar. Allahumma laka wa ilaik. Hadzihi aqiqah fulan.” (Dengan nama Allah, Allah Maha Besar. Ya Allah, ini milik-Mu dan untuk-Mu. Ini adalah aqiqah untuk si fulan.” Dalam riwayat Ibnu Abi Syaibah dalam mushannafnya, sebagaimana dalam qurban (udhiyah) dibacakan bismillah, maka dalam aqiqah juga demikian dibaca, “Bismillah, ‘aqiqah fulan (disebut nama bayinya, pen.).” Bukan hanya diucapkan do’a khusus pada si buah hati pada penyembelihan aqiqah, namun juga selayaknya memuji dan bersyukur pada Allah atas karunia anak yang telah diberi. Hendaklah mendoakan keberkahan untuk si buah hati. Contohilah Al-Hasan Al-Bashri … Al-Hasan Al-Bashri pernah mengajarkan kepada seseorang mengenai ucapan pada orang yang baru mendapatkan buah hati: “Barokallahu laka fil mawhuubi laka wa syakarta al waahib, wa balagho asyuddahu, wa ruziqta birrohu” (Semoga Allah memberkahimu anak yang diberikan kepadamu. Semoga engkau pun bersyukur kepada Sang Pemberi, dan dia dapat mencapai dewasa, serta engkau dikaruniai kebaikannya). Tidak menjadi syarat menghadirkan buah hati ketika penyembelihan aqiqah. Karena tidak ada dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat radhiyallahu ‘anhum yang mencontohkan seperti itu.   Wallahu a’lam.   Referensi: http://fatwa.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&Id=114952   Disusun @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 28 Dzulqa’dah 1437 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Tagsaqiqah
Apa yang dibaca saat menyembelih aqiqah? Apakah disyari’atkan pula menghadirkan bayi saat aqiqah disembelih? Yang disyari’atkan ketika aqiqah sama seperti yang disyari’atkan ketika qurban. Ada tuntunan membaca: Bismillah Takbir, Allahu Akbar Aqiqah min … (sebut nama anak yang akan diaqiqahi) Dasar dari hal ini adalah hadits dari Al-Baihaqi dan selainnya,  أن رسول الله صلى الله عليه وسلم: عق عن الحسن والحسين شاتين يوم السابع وأمر أن يماط عن رأسه الأذى وقال اذبحوا على اسمه وقولوا بسم الله والله أكبر اللهم لك وإليك هذه عقيقة فلان Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengaqiqahi Al-Hasan dan Al-Husain dengan dua ekor kambing pada hari ketujuh, dan diperintahkan agar rambut kepalanya dicukur. Lalu beliau berkata, sembelihlah atas namanya, ucapkanlah, “Bismillah wallahu akbar. Allahumma laka wa ilaik. Hadzihi aqiqah fulan.” (Dengan nama Allah, Allah Maha Besar. Ya Allah, ini milik-Mu dan untuk-Mu. Ini adalah aqiqah untuk si fulan.” Dalam riwayat Ibnu Abi Syaibah dalam mushannafnya, sebagaimana dalam qurban (udhiyah) dibacakan bismillah, maka dalam aqiqah juga demikian dibaca, “Bismillah, ‘aqiqah fulan (disebut nama bayinya, pen.).” Bukan hanya diucapkan do’a khusus pada si buah hati pada penyembelihan aqiqah, namun juga selayaknya memuji dan bersyukur pada Allah atas karunia anak yang telah diberi. Hendaklah mendoakan keberkahan untuk si buah hati. Contohilah Al-Hasan Al-Bashri … Al-Hasan Al-Bashri pernah mengajarkan kepada seseorang mengenai ucapan pada orang yang baru mendapatkan buah hati: “Barokallahu laka fil mawhuubi laka wa syakarta al waahib, wa balagho asyuddahu, wa ruziqta birrohu” (Semoga Allah memberkahimu anak yang diberikan kepadamu. Semoga engkau pun bersyukur kepada Sang Pemberi, dan dia dapat mencapai dewasa, serta engkau dikaruniai kebaikannya). Tidak menjadi syarat menghadirkan buah hati ketika penyembelihan aqiqah. Karena tidak ada dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat radhiyallahu ‘anhum yang mencontohkan seperti itu.   Wallahu a’lam.   Referensi: http://fatwa.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&Id=114952   Disusun @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 28 Dzulqa’dah 1437 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Tagsaqiqah


Apa yang dibaca saat menyembelih aqiqah? Apakah disyari’atkan pula menghadirkan bayi saat aqiqah disembelih? Yang disyari’atkan ketika aqiqah sama seperti yang disyari’atkan ketika qurban. Ada tuntunan membaca: Bismillah Takbir, Allahu Akbar Aqiqah min … (sebut nama anak yang akan diaqiqahi) Dasar dari hal ini adalah hadits dari Al-Baihaqi dan selainnya,  أن رسول الله صلى الله عليه وسلم: عق عن الحسن والحسين شاتين يوم السابع وأمر أن يماط عن رأسه الأذى وقال اذبحوا على اسمه وقولوا بسم الله والله أكبر اللهم لك وإليك هذه عقيقة فلان Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengaqiqahi Al-Hasan dan Al-Husain dengan dua ekor kambing pada hari ketujuh, dan diperintahkan agar rambut kepalanya dicukur. Lalu beliau berkata, sembelihlah atas namanya, ucapkanlah, “Bismillah wallahu akbar. Allahumma laka wa ilaik. Hadzihi aqiqah fulan.” (Dengan nama Allah, Allah Maha Besar. Ya Allah, ini milik-Mu dan untuk-Mu. Ini adalah aqiqah untuk si fulan.” Dalam riwayat Ibnu Abi Syaibah dalam mushannafnya, sebagaimana dalam qurban (udhiyah) dibacakan bismillah, maka dalam aqiqah juga demikian dibaca, “Bismillah, ‘aqiqah fulan (disebut nama bayinya, pen.).” Bukan hanya diucapkan do’a khusus pada si buah hati pada penyembelihan aqiqah, namun juga selayaknya memuji dan bersyukur pada Allah atas karunia anak yang telah diberi. Hendaklah mendoakan keberkahan untuk si buah hati. Contohilah Al-Hasan Al-Bashri … Al-Hasan Al-Bashri pernah mengajarkan kepada seseorang mengenai ucapan pada orang yang baru mendapatkan buah hati: “Barokallahu laka fil mawhuubi laka wa syakarta al waahib, wa balagho asyuddahu, wa ruziqta birrohu” (Semoga Allah memberkahimu anak yang diberikan kepadamu. Semoga engkau pun bersyukur kepada Sang Pemberi, dan dia dapat mencapai dewasa, serta engkau dikaruniai kebaikannya). Tidak menjadi syarat menghadirkan buah hati ketika penyembelihan aqiqah. Karena tidak ada dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat radhiyallahu ‘anhum yang mencontohkan seperti itu.   Wallahu a’lam.   Referensi: http://fatwa.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&Id=114952   Disusun @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 28 Dzulqa’dah 1437 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Tagsaqiqah

Doa Agar Memaksakan Jodoh

Ada yang bertanya demikian, “Ustadz apa boleh meminta doa kepada Allah dengan memaksa kepada Allah agar saya dijodohkan dengan wanita dengan pilihan saya?” Jawabnya, Ingatlah bahwasanya do’a yang terbaik, kita serahkan pilihan yang terbaik adalah yang Allah pilih. Karena Allah Ta’ala berfirman, وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216) Dari sini berarti kita tidak bisa memaksa Allah karena Allah yang tahu yang terbaik untuk kita. Jika ingin berdo’a, mintalah dengan do’a istikharah. اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْتَخِيرُكَ بِعِلْمِكَ ، وَأَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ ، وَأَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ ، فَإِنَّكَ تَقْدِرُ وَلاَ أَقْدِرُ ، وَتَعْلَمُ وَلاَ أَعْلَمُ ، وَأَنْتَ عَلاَّمُ الْغُيُوبِ ، اللَّهُمَّ فَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ هَذَا الأَمْرَ – ثُمَّ تُسَمِّيهِ بِعَيْنِهِ – خَيْرًا لِى فِى عَاجِلِ أَمْرِى وَآجِلِهِ – قَالَ أَوْ فِى دِينِى وَمَعَاشِى وَعَاقِبَةِ أَمْرِى – فَاقْدُرْهُ لِى ، وَيَسِّرْهُ لِى ، ثُمَّ بَارِكْ لِى فِيهِ ، اللَّهُمَّ وَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّهُ شَرٌّ لِى فِى دِينِى وَمَعَاشِى وَعَاقِبَةِ أَمْرِى – أَوْ قَالَ فِى عَاجِلِ أَمْرِى وَآجِلِهِ – فَاصْرِفْنِى عَنْهُ ، وَاقْدُرْ لِىَ الْخَيْرَ حَيْثُ كَانَ ، ثُمَّ رَضِّنِى بِهِ “Allahumma inni astakhiruka bi ‘ilmika, wa astaqdiruka bi qudratika, wa as-aluka min fadhlika, fa innaka taqdiru wa laa aqdiru, wa ta’lamu wa laa a’lamu, wa anta ‘allaamul ghuyub. Allahumma fa-in kunta ta’lamu hadzal amro (sebut nama urusan tersebut) khoiron lii fii ‘aajili amrii wa aajilih (aw fii diinii wa ma’aasyi wa ‘aqibati amrii) faqdur lii, wa yassirhu lii, tsumma baarik lii fiihi. Allahumma in kunta ta’lamu annahu syarrun lii fii diini wa ma’aasyi wa ‘aqibati amrii (fii ‘aajili amri wa aajilih) fash-rifnii ‘anhu, waqdur liil khoiro haitsu kaana tsumma rodh-dhinii bih”   Ya Allah, sesungguhnya aku beristikhoroh pada-Mu dengan ilmu-Mu, aku memohon kepada-Mu kekuatan dengan kekuatan-Mu, aku meminta kepada-Mu dengan kemuliaan-Mu. Sesungguhnya Engkau yang menakdirkan dan aku tidaklah mampu melakukannya. Engkau yang Maha Tahu, sedangkan aku tidak. Engkaulah yang mengetahui perkara yang ghoib. Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa perkara ini (sebut urusan tersebut) baik bagiku dalam urusanku di dunia dan di akhirat, (atau baik bagi agama, penghidupan, dan akhir urusanku), maka takdirkanlah hal tersebut untukku, mudahkanlah untukku dan berkahilah ia untukku. Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa perkara tersebut jelek bagi agama, penghidupan, dan akhir urusanku (baik bagiku dalam urusanku di dunia dan akhirat), maka palingkanlah ia dariku, takdirkanlah yang terbaik bagiku di mana pun itu sehingga aku pun ridho dengannya.” (HR. Bukhari, no. 7390, dari Jabir bin ‘Abdillah) Praktikkan: Panduan Shalat Istikhoroh Semoga bermanfaat. Semoga Allah memberikan jodoh yang terbaik. — @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, Malam Rabu, 28 Dzulqa’dah 1437 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Tagsistikhoroh jodoh

Doa Agar Memaksakan Jodoh

Ada yang bertanya demikian, “Ustadz apa boleh meminta doa kepada Allah dengan memaksa kepada Allah agar saya dijodohkan dengan wanita dengan pilihan saya?” Jawabnya, Ingatlah bahwasanya do’a yang terbaik, kita serahkan pilihan yang terbaik adalah yang Allah pilih. Karena Allah Ta’ala berfirman, وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216) Dari sini berarti kita tidak bisa memaksa Allah karena Allah yang tahu yang terbaik untuk kita. Jika ingin berdo’a, mintalah dengan do’a istikharah. اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْتَخِيرُكَ بِعِلْمِكَ ، وَأَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ ، وَأَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ ، فَإِنَّكَ تَقْدِرُ وَلاَ أَقْدِرُ ، وَتَعْلَمُ وَلاَ أَعْلَمُ ، وَأَنْتَ عَلاَّمُ الْغُيُوبِ ، اللَّهُمَّ فَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ هَذَا الأَمْرَ – ثُمَّ تُسَمِّيهِ بِعَيْنِهِ – خَيْرًا لِى فِى عَاجِلِ أَمْرِى وَآجِلِهِ – قَالَ أَوْ فِى دِينِى وَمَعَاشِى وَعَاقِبَةِ أَمْرِى – فَاقْدُرْهُ لِى ، وَيَسِّرْهُ لِى ، ثُمَّ بَارِكْ لِى فِيهِ ، اللَّهُمَّ وَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّهُ شَرٌّ لِى فِى دِينِى وَمَعَاشِى وَعَاقِبَةِ أَمْرِى – أَوْ قَالَ فِى عَاجِلِ أَمْرِى وَآجِلِهِ – فَاصْرِفْنِى عَنْهُ ، وَاقْدُرْ لِىَ الْخَيْرَ حَيْثُ كَانَ ، ثُمَّ رَضِّنِى بِهِ “Allahumma inni astakhiruka bi ‘ilmika, wa astaqdiruka bi qudratika, wa as-aluka min fadhlika, fa innaka taqdiru wa laa aqdiru, wa ta’lamu wa laa a’lamu, wa anta ‘allaamul ghuyub. Allahumma fa-in kunta ta’lamu hadzal amro (sebut nama urusan tersebut) khoiron lii fii ‘aajili amrii wa aajilih (aw fii diinii wa ma’aasyi wa ‘aqibati amrii) faqdur lii, wa yassirhu lii, tsumma baarik lii fiihi. Allahumma in kunta ta’lamu annahu syarrun lii fii diini wa ma’aasyi wa ‘aqibati amrii (fii ‘aajili amri wa aajilih) fash-rifnii ‘anhu, waqdur liil khoiro haitsu kaana tsumma rodh-dhinii bih”   Ya Allah, sesungguhnya aku beristikhoroh pada-Mu dengan ilmu-Mu, aku memohon kepada-Mu kekuatan dengan kekuatan-Mu, aku meminta kepada-Mu dengan kemuliaan-Mu. Sesungguhnya Engkau yang menakdirkan dan aku tidaklah mampu melakukannya. Engkau yang Maha Tahu, sedangkan aku tidak. Engkaulah yang mengetahui perkara yang ghoib. Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa perkara ini (sebut urusan tersebut) baik bagiku dalam urusanku di dunia dan di akhirat, (atau baik bagi agama, penghidupan, dan akhir urusanku), maka takdirkanlah hal tersebut untukku, mudahkanlah untukku dan berkahilah ia untukku. Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa perkara tersebut jelek bagi agama, penghidupan, dan akhir urusanku (baik bagiku dalam urusanku di dunia dan akhirat), maka palingkanlah ia dariku, takdirkanlah yang terbaik bagiku di mana pun itu sehingga aku pun ridho dengannya.” (HR. Bukhari, no. 7390, dari Jabir bin ‘Abdillah) Praktikkan: Panduan Shalat Istikhoroh Semoga bermanfaat. Semoga Allah memberikan jodoh yang terbaik. — @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, Malam Rabu, 28 Dzulqa’dah 1437 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Tagsistikhoroh jodoh
Ada yang bertanya demikian, “Ustadz apa boleh meminta doa kepada Allah dengan memaksa kepada Allah agar saya dijodohkan dengan wanita dengan pilihan saya?” Jawabnya, Ingatlah bahwasanya do’a yang terbaik, kita serahkan pilihan yang terbaik adalah yang Allah pilih. Karena Allah Ta’ala berfirman, وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216) Dari sini berarti kita tidak bisa memaksa Allah karena Allah yang tahu yang terbaik untuk kita. Jika ingin berdo’a, mintalah dengan do’a istikharah. اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْتَخِيرُكَ بِعِلْمِكَ ، وَأَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ ، وَأَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ ، فَإِنَّكَ تَقْدِرُ وَلاَ أَقْدِرُ ، وَتَعْلَمُ وَلاَ أَعْلَمُ ، وَأَنْتَ عَلاَّمُ الْغُيُوبِ ، اللَّهُمَّ فَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ هَذَا الأَمْرَ – ثُمَّ تُسَمِّيهِ بِعَيْنِهِ – خَيْرًا لِى فِى عَاجِلِ أَمْرِى وَآجِلِهِ – قَالَ أَوْ فِى دِينِى وَمَعَاشِى وَعَاقِبَةِ أَمْرِى – فَاقْدُرْهُ لِى ، وَيَسِّرْهُ لِى ، ثُمَّ بَارِكْ لِى فِيهِ ، اللَّهُمَّ وَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّهُ شَرٌّ لِى فِى دِينِى وَمَعَاشِى وَعَاقِبَةِ أَمْرِى – أَوْ قَالَ فِى عَاجِلِ أَمْرِى وَآجِلِهِ – فَاصْرِفْنِى عَنْهُ ، وَاقْدُرْ لِىَ الْخَيْرَ حَيْثُ كَانَ ، ثُمَّ رَضِّنِى بِهِ “Allahumma inni astakhiruka bi ‘ilmika, wa astaqdiruka bi qudratika, wa as-aluka min fadhlika, fa innaka taqdiru wa laa aqdiru, wa ta’lamu wa laa a’lamu, wa anta ‘allaamul ghuyub. Allahumma fa-in kunta ta’lamu hadzal amro (sebut nama urusan tersebut) khoiron lii fii ‘aajili amrii wa aajilih (aw fii diinii wa ma’aasyi wa ‘aqibati amrii) faqdur lii, wa yassirhu lii, tsumma baarik lii fiihi. Allahumma in kunta ta’lamu annahu syarrun lii fii diini wa ma’aasyi wa ‘aqibati amrii (fii ‘aajili amri wa aajilih) fash-rifnii ‘anhu, waqdur liil khoiro haitsu kaana tsumma rodh-dhinii bih”   Ya Allah, sesungguhnya aku beristikhoroh pada-Mu dengan ilmu-Mu, aku memohon kepada-Mu kekuatan dengan kekuatan-Mu, aku meminta kepada-Mu dengan kemuliaan-Mu. Sesungguhnya Engkau yang menakdirkan dan aku tidaklah mampu melakukannya. Engkau yang Maha Tahu, sedangkan aku tidak. Engkaulah yang mengetahui perkara yang ghoib. Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa perkara ini (sebut urusan tersebut) baik bagiku dalam urusanku di dunia dan di akhirat, (atau baik bagi agama, penghidupan, dan akhir urusanku), maka takdirkanlah hal tersebut untukku, mudahkanlah untukku dan berkahilah ia untukku. Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa perkara tersebut jelek bagi agama, penghidupan, dan akhir urusanku (baik bagiku dalam urusanku di dunia dan akhirat), maka palingkanlah ia dariku, takdirkanlah yang terbaik bagiku di mana pun itu sehingga aku pun ridho dengannya.” (HR. Bukhari, no. 7390, dari Jabir bin ‘Abdillah) Praktikkan: Panduan Shalat Istikhoroh Semoga bermanfaat. Semoga Allah memberikan jodoh yang terbaik. — @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, Malam Rabu, 28 Dzulqa’dah 1437 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Tagsistikhoroh jodoh


Ada yang bertanya demikian, “Ustadz apa boleh meminta doa kepada Allah dengan memaksa kepada Allah agar saya dijodohkan dengan wanita dengan pilihan saya?” Jawabnya, Ingatlah bahwasanya do’a yang terbaik, kita serahkan pilihan yang terbaik adalah yang Allah pilih. Karena Allah Ta’ala berfirman, وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216) Dari sini berarti kita tidak bisa memaksa Allah karena Allah yang tahu yang terbaik untuk kita. Jika ingin berdo’a, mintalah dengan do’a istikharah. اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْتَخِيرُكَ بِعِلْمِكَ ، وَأَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ ، وَأَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ ، فَإِنَّكَ تَقْدِرُ وَلاَ أَقْدِرُ ، وَتَعْلَمُ وَلاَ أَعْلَمُ ، وَأَنْتَ عَلاَّمُ الْغُيُوبِ ، اللَّهُمَّ فَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ هَذَا الأَمْرَ – ثُمَّ تُسَمِّيهِ بِعَيْنِهِ – خَيْرًا لِى فِى عَاجِلِ أَمْرِى وَآجِلِهِ – قَالَ أَوْ فِى دِينِى وَمَعَاشِى وَعَاقِبَةِ أَمْرِى – فَاقْدُرْهُ لِى ، وَيَسِّرْهُ لِى ، ثُمَّ بَارِكْ لِى فِيهِ ، اللَّهُمَّ وَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّهُ شَرٌّ لِى فِى دِينِى وَمَعَاشِى وَعَاقِبَةِ أَمْرِى – أَوْ قَالَ فِى عَاجِلِ أَمْرِى وَآجِلِهِ – فَاصْرِفْنِى عَنْهُ ، وَاقْدُرْ لِىَ الْخَيْرَ حَيْثُ كَانَ ، ثُمَّ رَضِّنِى بِهِ “Allahumma inni astakhiruka bi ‘ilmika, wa astaqdiruka bi qudratika, wa as-aluka min fadhlika, fa innaka taqdiru wa laa aqdiru, wa ta’lamu wa laa a’lamu, wa anta ‘allaamul ghuyub. Allahumma fa-in kunta ta’lamu hadzal amro (sebut nama urusan tersebut) khoiron lii fii ‘aajili amrii wa aajilih (aw fii diinii wa ma’aasyi wa ‘aqibati amrii) faqdur lii, wa yassirhu lii, tsumma baarik lii fiihi. Allahumma in kunta ta’lamu annahu syarrun lii fii diini wa ma’aasyi wa ‘aqibati amrii (fii ‘aajili amri wa aajilih) fash-rifnii ‘anhu, waqdur liil khoiro haitsu kaana tsumma rodh-dhinii bih”   Ya Allah, sesungguhnya aku beristikhoroh pada-Mu dengan ilmu-Mu, aku memohon kepada-Mu kekuatan dengan kekuatan-Mu, aku meminta kepada-Mu dengan kemuliaan-Mu. Sesungguhnya Engkau yang menakdirkan dan aku tidaklah mampu melakukannya. Engkau yang Maha Tahu, sedangkan aku tidak. Engkaulah yang mengetahui perkara yang ghoib. Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa perkara ini (sebut urusan tersebut) baik bagiku dalam urusanku di dunia dan di akhirat, (atau baik bagi agama, penghidupan, dan akhir urusanku), maka takdirkanlah hal tersebut untukku, mudahkanlah untukku dan berkahilah ia untukku. Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa perkara tersebut jelek bagi agama, penghidupan, dan akhir urusanku (baik bagiku dalam urusanku di dunia dan akhirat), maka palingkanlah ia dariku, takdirkanlah yang terbaik bagiku di mana pun itu sehingga aku pun ridho dengannya.” (HR. Bukhari, no. 7390, dari Jabir bin ‘Abdillah) Praktikkan: Panduan Shalat Istikhoroh Semoga bermanfaat. Semoga Allah memberikan jodoh yang terbaik. — @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, Malam Rabu, 28 Dzulqa’dah 1437 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Tagsistikhoroh jodoh

Resensi Kitab Tauhid (1)

Kitab TauḥīdKitab ini berjudul Kitābut tauḥīd allażī Huwa Ḥaqqullāh ‘alal ‘Abīd, ‘Kitab tentang penjelasan tauḥīd yang merupakan hak Allāh atas hamba-Nya’ atau lebih dikenal luas di masyarakat kita dengan sebutan singkat Kitab Tauḥīd. Kitab ini adalah karya ilmiyah populer dari seorang mujaddid, ulama Ahli tauḥīd, Syaikh Muḥammad At-Tamīmī raḥimahullāh.Kitab ini ditulis oleh Al-Imām Al-‘Allāmah Al-Mujaddid lid dinillāh, Syaikhul Islam Abu ‘Ali, Muḥammad At-Tamīmī raḥimahullāh. Beliau lahir di daerah Al-‘Uyainah KSA pada tahun 1115 H dan wafat di kota Ad-Dir‘iyyah KSA pada tahun1206 H, dengan umur 91 tahun. Beliau adalah sosok yang tumbuh berkembang di tengah-tengah keluarga yang berilmu, bapaknya adalah ‘Abdul Wahhāb seorang ahli fikih sekaligus seorang hakim pengadilan syar’i. Sedangkan kakeknya adalah ketua ulama Najed dan ahli fatwa (mufti). Sedangkan paman-paman dan anak paman-pamannya adalah orang-orang yang memiliki kedudukan tinggi di tengah-tengah masyarakatnya. Oleh karenanya, beliau tumbuh berkembang di lingkungan keluarga yang terhormat dengan pendidikan yang ilmiyyah.Beliau adalah seorang ulama pembaharu Islam (Al-Mujaddid) pada kurun kedua belas hijriyyah. Makna pembaharu Islam adalah sebagaimana yang dikatakan oleh Syaikh Ṣāliḥ Al-Fauzan ḥafiẓahullāh berikut. Sesungguhnya pembaharuan (Islam) bermakna menghilangkan dan memerangi (kotoran yang mengotori) ajaran agama (Islam) berupa khurafat, kesyirikan dan kebid‘ahan yang dalilnya tidak Allāh turunkan, serta menjelaskan agama (Islam) yang benar dan keyakinan yang bersih sebagaimana yang diajarkan oleh Rasūlullāh ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam.Dengan demikian, hakikat dakwah sang penulis Kitab tauḥīd ini bukanlah membawa ajaran baru dari diri beliau sendiri, namun semata-mata yang beliau lakukan adalah mengajak manusia untuk kembali kepada ajaran Islam yang murni. Beliaupun juga berusaha melaksanakan sabda Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam,إِنَّ الإِيْمَانَ لَيَخْلَقُ فِيْ جَوْفِ أَحَدِكُمْ كَمَا يَخْلَقُ الثَّوْبُ، فَاسْأَلُوْا اللَّهَ أَنْ يُجَدِّدَ الإِيْمَانَ فِيْ قُلُوْبِكُمْ“Sesungguhnya iman dalam hati salah seorang di antara kalian itu benar-benar bisa usang sebagaimana usangnya pakaian, maka berdoalah kepada Allāh agar memperbaharui iman dalam hati kalian” (HR. Al-Hakim dan dishahihkan Syaikh Al-Albani).Berkenaan dengan diri penulis kitab ini, Syaikh Abdur Razzaq ḥafiẓahullāh menyatakan bahwa Syaikh Muḥammad At-Tamīmī adalah sosok yang telah menasehati orang-orang dengan sebesar-besar nasehat dengan menjelaskan tauḥīd (tauḥīd adalah tujuan diciptakan manusia) dan memperingatkan mereka agar tidak menyekutukan Allāh ‘Azza wa Jalla yang merupakan dosa dan larangan paling besar. Beraneka ragam tulisan beliau raḥimahullāh tentang penjelasan tauḥīd dan penetapannya serta memperingatkan orang-orang dari kesyirikan, menyatakan batilnya, menjelaskan bahayanya dan kebatilan syubhat pelakunya. Terkait masalah ini, berbagai karya tulis yang banyak, dalam rangka menasehati dan menjelaskan kepada manusia, sekaligus sebagai uzur (bahwa telah menunaikan kewajiban menegakkan hujjah di hadapan Allāh) dan sebagai peringatan bagi manusia. Dengan demikian, beliau adalah sosok (ulama) penasehat, pengajar, pendidik, pengarah (kebaikan) sekaligus sosok (ulama) yang berpegang teguh dengan Kitābullāh Jalla wa ‘Alā dan Sunnah Rasul-Nya ṣalawātullāh wa salāmuhu ‘alaihi.[Bersambung]***Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id🔍 Hukum Operasi Plastik, Mencari Pasangan Hidup Menurut Islam, Perayaan Ulang Tahun, Contoh Kebesaran Allah, Apakah Orang Yang Sudah Meninggal Bisa Melihat Kita Menurut Islam

Resensi Kitab Tauhid (1)

Kitab TauḥīdKitab ini berjudul Kitābut tauḥīd allażī Huwa Ḥaqqullāh ‘alal ‘Abīd, ‘Kitab tentang penjelasan tauḥīd yang merupakan hak Allāh atas hamba-Nya’ atau lebih dikenal luas di masyarakat kita dengan sebutan singkat Kitab Tauḥīd. Kitab ini adalah karya ilmiyah populer dari seorang mujaddid, ulama Ahli tauḥīd, Syaikh Muḥammad At-Tamīmī raḥimahullāh.Kitab ini ditulis oleh Al-Imām Al-‘Allāmah Al-Mujaddid lid dinillāh, Syaikhul Islam Abu ‘Ali, Muḥammad At-Tamīmī raḥimahullāh. Beliau lahir di daerah Al-‘Uyainah KSA pada tahun 1115 H dan wafat di kota Ad-Dir‘iyyah KSA pada tahun1206 H, dengan umur 91 tahun. Beliau adalah sosok yang tumbuh berkembang di tengah-tengah keluarga yang berilmu, bapaknya adalah ‘Abdul Wahhāb seorang ahli fikih sekaligus seorang hakim pengadilan syar’i. Sedangkan kakeknya adalah ketua ulama Najed dan ahli fatwa (mufti). Sedangkan paman-paman dan anak paman-pamannya adalah orang-orang yang memiliki kedudukan tinggi di tengah-tengah masyarakatnya. Oleh karenanya, beliau tumbuh berkembang di lingkungan keluarga yang terhormat dengan pendidikan yang ilmiyyah.Beliau adalah seorang ulama pembaharu Islam (Al-Mujaddid) pada kurun kedua belas hijriyyah. Makna pembaharu Islam adalah sebagaimana yang dikatakan oleh Syaikh Ṣāliḥ Al-Fauzan ḥafiẓahullāh berikut. Sesungguhnya pembaharuan (Islam) bermakna menghilangkan dan memerangi (kotoran yang mengotori) ajaran agama (Islam) berupa khurafat, kesyirikan dan kebid‘ahan yang dalilnya tidak Allāh turunkan, serta menjelaskan agama (Islam) yang benar dan keyakinan yang bersih sebagaimana yang diajarkan oleh Rasūlullāh ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam.Dengan demikian, hakikat dakwah sang penulis Kitab tauḥīd ini bukanlah membawa ajaran baru dari diri beliau sendiri, namun semata-mata yang beliau lakukan adalah mengajak manusia untuk kembali kepada ajaran Islam yang murni. Beliaupun juga berusaha melaksanakan sabda Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam,إِنَّ الإِيْمَانَ لَيَخْلَقُ فِيْ جَوْفِ أَحَدِكُمْ كَمَا يَخْلَقُ الثَّوْبُ، فَاسْأَلُوْا اللَّهَ أَنْ يُجَدِّدَ الإِيْمَانَ فِيْ قُلُوْبِكُمْ“Sesungguhnya iman dalam hati salah seorang di antara kalian itu benar-benar bisa usang sebagaimana usangnya pakaian, maka berdoalah kepada Allāh agar memperbaharui iman dalam hati kalian” (HR. Al-Hakim dan dishahihkan Syaikh Al-Albani).Berkenaan dengan diri penulis kitab ini, Syaikh Abdur Razzaq ḥafiẓahullāh menyatakan bahwa Syaikh Muḥammad At-Tamīmī adalah sosok yang telah menasehati orang-orang dengan sebesar-besar nasehat dengan menjelaskan tauḥīd (tauḥīd adalah tujuan diciptakan manusia) dan memperingatkan mereka agar tidak menyekutukan Allāh ‘Azza wa Jalla yang merupakan dosa dan larangan paling besar. Beraneka ragam tulisan beliau raḥimahullāh tentang penjelasan tauḥīd dan penetapannya serta memperingatkan orang-orang dari kesyirikan, menyatakan batilnya, menjelaskan bahayanya dan kebatilan syubhat pelakunya. Terkait masalah ini, berbagai karya tulis yang banyak, dalam rangka menasehati dan menjelaskan kepada manusia, sekaligus sebagai uzur (bahwa telah menunaikan kewajiban menegakkan hujjah di hadapan Allāh) dan sebagai peringatan bagi manusia. Dengan demikian, beliau adalah sosok (ulama) penasehat, pengajar, pendidik, pengarah (kebaikan) sekaligus sosok (ulama) yang berpegang teguh dengan Kitābullāh Jalla wa ‘Alā dan Sunnah Rasul-Nya ṣalawātullāh wa salāmuhu ‘alaihi.[Bersambung]***Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id🔍 Hukum Operasi Plastik, Mencari Pasangan Hidup Menurut Islam, Perayaan Ulang Tahun, Contoh Kebesaran Allah, Apakah Orang Yang Sudah Meninggal Bisa Melihat Kita Menurut Islam
Kitab TauḥīdKitab ini berjudul Kitābut tauḥīd allażī Huwa Ḥaqqullāh ‘alal ‘Abīd, ‘Kitab tentang penjelasan tauḥīd yang merupakan hak Allāh atas hamba-Nya’ atau lebih dikenal luas di masyarakat kita dengan sebutan singkat Kitab Tauḥīd. Kitab ini adalah karya ilmiyah populer dari seorang mujaddid, ulama Ahli tauḥīd, Syaikh Muḥammad At-Tamīmī raḥimahullāh.Kitab ini ditulis oleh Al-Imām Al-‘Allāmah Al-Mujaddid lid dinillāh, Syaikhul Islam Abu ‘Ali, Muḥammad At-Tamīmī raḥimahullāh. Beliau lahir di daerah Al-‘Uyainah KSA pada tahun 1115 H dan wafat di kota Ad-Dir‘iyyah KSA pada tahun1206 H, dengan umur 91 tahun. Beliau adalah sosok yang tumbuh berkembang di tengah-tengah keluarga yang berilmu, bapaknya adalah ‘Abdul Wahhāb seorang ahli fikih sekaligus seorang hakim pengadilan syar’i. Sedangkan kakeknya adalah ketua ulama Najed dan ahli fatwa (mufti). Sedangkan paman-paman dan anak paman-pamannya adalah orang-orang yang memiliki kedudukan tinggi di tengah-tengah masyarakatnya. Oleh karenanya, beliau tumbuh berkembang di lingkungan keluarga yang terhormat dengan pendidikan yang ilmiyyah.Beliau adalah seorang ulama pembaharu Islam (Al-Mujaddid) pada kurun kedua belas hijriyyah. Makna pembaharu Islam adalah sebagaimana yang dikatakan oleh Syaikh Ṣāliḥ Al-Fauzan ḥafiẓahullāh berikut. Sesungguhnya pembaharuan (Islam) bermakna menghilangkan dan memerangi (kotoran yang mengotori) ajaran agama (Islam) berupa khurafat, kesyirikan dan kebid‘ahan yang dalilnya tidak Allāh turunkan, serta menjelaskan agama (Islam) yang benar dan keyakinan yang bersih sebagaimana yang diajarkan oleh Rasūlullāh ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam.Dengan demikian, hakikat dakwah sang penulis Kitab tauḥīd ini bukanlah membawa ajaran baru dari diri beliau sendiri, namun semata-mata yang beliau lakukan adalah mengajak manusia untuk kembali kepada ajaran Islam yang murni. Beliaupun juga berusaha melaksanakan sabda Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam,إِنَّ الإِيْمَانَ لَيَخْلَقُ فِيْ جَوْفِ أَحَدِكُمْ كَمَا يَخْلَقُ الثَّوْبُ، فَاسْأَلُوْا اللَّهَ أَنْ يُجَدِّدَ الإِيْمَانَ فِيْ قُلُوْبِكُمْ“Sesungguhnya iman dalam hati salah seorang di antara kalian itu benar-benar bisa usang sebagaimana usangnya pakaian, maka berdoalah kepada Allāh agar memperbaharui iman dalam hati kalian” (HR. Al-Hakim dan dishahihkan Syaikh Al-Albani).Berkenaan dengan diri penulis kitab ini, Syaikh Abdur Razzaq ḥafiẓahullāh menyatakan bahwa Syaikh Muḥammad At-Tamīmī adalah sosok yang telah menasehati orang-orang dengan sebesar-besar nasehat dengan menjelaskan tauḥīd (tauḥīd adalah tujuan diciptakan manusia) dan memperingatkan mereka agar tidak menyekutukan Allāh ‘Azza wa Jalla yang merupakan dosa dan larangan paling besar. Beraneka ragam tulisan beliau raḥimahullāh tentang penjelasan tauḥīd dan penetapannya serta memperingatkan orang-orang dari kesyirikan, menyatakan batilnya, menjelaskan bahayanya dan kebatilan syubhat pelakunya. Terkait masalah ini, berbagai karya tulis yang banyak, dalam rangka menasehati dan menjelaskan kepada manusia, sekaligus sebagai uzur (bahwa telah menunaikan kewajiban menegakkan hujjah di hadapan Allāh) dan sebagai peringatan bagi manusia. Dengan demikian, beliau adalah sosok (ulama) penasehat, pengajar, pendidik, pengarah (kebaikan) sekaligus sosok (ulama) yang berpegang teguh dengan Kitābullāh Jalla wa ‘Alā dan Sunnah Rasul-Nya ṣalawātullāh wa salāmuhu ‘alaihi.[Bersambung]***Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id🔍 Hukum Operasi Plastik, Mencari Pasangan Hidup Menurut Islam, Perayaan Ulang Tahun, Contoh Kebesaran Allah, Apakah Orang Yang Sudah Meninggal Bisa Melihat Kita Menurut Islam


Kitab TauḥīdKitab ini berjudul Kitābut tauḥīd allażī Huwa Ḥaqqullāh ‘alal ‘Abīd, ‘Kitab tentang penjelasan tauḥīd yang merupakan hak Allāh atas hamba-Nya’ atau lebih dikenal luas di masyarakat kita dengan sebutan singkat Kitab Tauḥīd. Kitab ini adalah karya ilmiyah populer dari seorang mujaddid, ulama Ahli tauḥīd, Syaikh Muḥammad At-Tamīmī raḥimahullāh.Kitab ini ditulis oleh Al-Imām Al-‘Allāmah Al-Mujaddid lid dinillāh, Syaikhul Islam Abu ‘Ali, Muḥammad At-Tamīmī raḥimahullāh. Beliau lahir di daerah Al-‘Uyainah KSA pada tahun 1115 H dan wafat di kota Ad-Dir‘iyyah KSA pada tahun1206 H, dengan umur 91 tahun. Beliau adalah sosok yang tumbuh berkembang di tengah-tengah keluarga yang berilmu, bapaknya adalah ‘Abdul Wahhāb seorang ahli fikih sekaligus seorang hakim pengadilan syar’i. Sedangkan kakeknya adalah ketua ulama Najed dan ahli fatwa (mufti). Sedangkan paman-paman dan anak paman-pamannya adalah orang-orang yang memiliki kedudukan tinggi di tengah-tengah masyarakatnya. Oleh karenanya, beliau tumbuh berkembang di lingkungan keluarga yang terhormat dengan pendidikan yang ilmiyyah.Beliau adalah seorang ulama pembaharu Islam (Al-Mujaddid) pada kurun kedua belas hijriyyah. Makna pembaharu Islam adalah sebagaimana yang dikatakan oleh Syaikh Ṣāliḥ Al-Fauzan ḥafiẓahullāh berikut. Sesungguhnya pembaharuan (Islam) bermakna menghilangkan dan memerangi (kotoran yang mengotori) ajaran agama (Islam) berupa khurafat, kesyirikan dan kebid‘ahan yang dalilnya tidak Allāh turunkan, serta menjelaskan agama (Islam) yang benar dan keyakinan yang bersih sebagaimana yang diajarkan oleh Rasūlullāh ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam.Dengan demikian, hakikat dakwah sang penulis Kitab tauḥīd ini bukanlah membawa ajaran baru dari diri beliau sendiri, namun semata-mata yang beliau lakukan adalah mengajak manusia untuk kembali kepada ajaran Islam yang murni. Beliaupun juga berusaha melaksanakan sabda Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam,إِنَّ الإِيْمَانَ لَيَخْلَقُ فِيْ جَوْفِ أَحَدِكُمْ كَمَا يَخْلَقُ الثَّوْبُ، فَاسْأَلُوْا اللَّهَ أَنْ يُجَدِّدَ الإِيْمَانَ فِيْ قُلُوْبِكُمْ“Sesungguhnya iman dalam hati salah seorang di antara kalian itu benar-benar bisa usang sebagaimana usangnya pakaian, maka berdoalah kepada Allāh agar memperbaharui iman dalam hati kalian” (HR. Al-Hakim dan dishahihkan Syaikh Al-Albani).Berkenaan dengan diri penulis kitab ini, Syaikh Abdur Razzaq ḥafiẓahullāh menyatakan bahwa Syaikh Muḥammad At-Tamīmī adalah sosok yang telah menasehati orang-orang dengan sebesar-besar nasehat dengan menjelaskan tauḥīd (tauḥīd adalah tujuan diciptakan manusia) dan memperingatkan mereka agar tidak menyekutukan Allāh ‘Azza wa Jalla yang merupakan dosa dan larangan paling besar. Beraneka ragam tulisan beliau raḥimahullāh tentang penjelasan tauḥīd dan penetapannya serta memperingatkan orang-orang dari kesyirikan, menyatakan batilnya, menjelaskan bahayanya dan kebatilan syubhat pelakunya. Terkait masalah ini, berbagai karya tulis yang banyak, dalam rangka menasehati dan menjelaskan kepada manusia, sekaligus sebagai uzur (bahwa telah menunaikan kewajiban menegakkan hujjah di hadapan Allāh) dan sebagai peringatan bagi manusia. Dengan demikian, beliau adalah sosok (ulama) penasehat, pengajar, pendidik, pengarah (kebaikan) sekaligus sosok (ulama) yang berpegang teguh dengan Kitābullāh Jalla wa ‘Alā dan Sunnah Rasul-Nya ṣalawātullāh wa salāmuhu ‘alaihi.[Bersambung]***Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id🔍 Hukum Operasi Plastik, Mencari Pasangan Hidup Menurut Islam, Perayaan Ulang Tahun, Contoh Kebesaran Allah, Apakah Orang Yang Sudah Meninggal Bisa Melihat Kita Menurut Islam

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 73: Anak dan Sifat Pengecut

30AugSilsilah Fiqih Pendidikan Anak No 73: Anak dan Sifat PengecutAugust 30, 2016Belajar Islam, Keluarga Islami Sifat pengecut adalah salah satu sifat negatif yang harus dihilangkan dari diri anak sejak dini. Caranya adalah dengan menumbuhkan rasa percaya diri, berani mengambil resiko (dalam sesuatu yang positif) dan berani bertanggung jawab. Tidak boleh bagi orang tua untuk selalu menganggap remeh anaknya. Sehingga berakibat si anak senantiasa merasa kecut, kerdil dan cenderung lari dari tanggung jawab. Serahkanlah tugas kepadanya sesuai dengan kemampuan yang ia miliki. Bukankah di dalam Islam, anak-anak dibolehkan untuk mengumandangkan adzan, bahkan juga sah untuk menjadi imam shalat? Beri dia kesempatan untuk memikul tanggung jawab agar terbiasa. Banyak orang tua yang meremehkan anaknya, padahal si anak memiliki kemampuan. Kalau begitu keadaannya, kapan ia akan mampu dan berani mencoba? ‘Amr bin Salamah radhiyallahu ‘anhu menceritakan pengalamannya, “Dahulu ketika masih kecil, aku sudah memiliki hafalan yang kuat. Saat itu aku banyak menghafal al-Qur’an. Ketika ayahku dan beberapa orang kaumku pergi menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau mengajari mereka shalat. Di antara yang beliau sampaikan, “Hendaklah yang mengimami kalian adalah orang yang paling banyak hafalan al-Qur’annya”. Saat itu akulah orang yang paling banyak hafalan al-Qur’annya dibandingkan mereka. Maka akupun ditugasi untuk mengimami mereka. Ketika menjadi imam, aku hanya memakai kain yang pendek. Sehingga bila aku sujud terlihatlah sebagian auratku. Salah satu wanita Anshar berkata, “Mengapa kalian tidak menutupi aurat imam kalian dari pandangan kami?”. Maka merekapun membelikan untukku baju gamis. Sungguh tidak ada kegembiraan yang melebihi kegembiraanku saat memperoleh gamis tersebut”. HR. Bukhari dan lainnya. Itulah didikan yang ditanamkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada anak-anak muda. Beliau memberi mereka tanggung jawab. Bahkan terkadang beliau memberikan tanggung jawab yang besar kepada mereka. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah menunjuk Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhuma yang kala itu masih sangat muda untuk memimpin sebuah pasukan besar. Padahal di antara anggota pasukan tersebut ada Abu Bakar, Umar dan beberapa sahabat senior lainnya. Tahukah Anda siapa lawan yang akan dihadapi pasukan tersebut? Mereka adalah pasukan Romawi! Ya, musuh yang sangat besar jumlahnya dan kuat. Sebagian orang sempat meragukan kepemimpinan Usamah. Namun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tetap pada pendirian beliau. Padahal saat itu usia Usamah baru 18 tahun![1] Semua itu dilakukan, antara lain dalam rangka menumbuhkan keberanian dan kedewasaan. Maka latihlah putra-putri Anda untuk mengemban sebuah tanggung jawab menurut kapasitas dan kemampuan yang dimilikinya. Tidak dibebani melebihi kemampuannya. Juga tidak diremehkan kemampuan yang dimilikinya. Tentu ada saatnya pula orang tua turun tangan membantu si anak. Bila ternyata dia terlihat tidak mampu atau akan putus asa. Sambil terus dibimbing agar bisa menyelesaikan tanggung jawabnya dengan baik. Selamat mempraktekkan! Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 1 Sya’ban 1437 / 9 Mei 2016 [1] Kisah selengkapnya bisa dibaca dalam Sirah Ibn Hisyam (IV/328) dan Fath al-Bâriy (VIII/152). PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 73: Anak dan Sifat Pengecut

30AugSilsilah Fiqih Pendidikan Anak No 73: Anak dan Sifat PengecutAugust 30, 2016Belajar Islam, Keluarga Islami Sifat pengecut adalah salah satu sifat negatif yang harus dihilangkan dari diri anak sejak dini. Caranya adalah dengan menumbuhkan rasa percaya diri, berani mengambil resiko (dalam sesuatu yang positif) dan berani bertanggung jawab. Tidak boleh bagi orang tua untuk selalu menganggap remeh anaknya. Sehingga berakibat si anak senantiasa merasa kecut, kerdil dan cenderung lari dari tanggung jawab. Serahkanlah tugas kepadanya sesuai dengan kemampuan yang ia miliki. Bukankah di dalam Islam, anak-anak dibolehkan untuk mengumandangkan adzan, bahkan juga sah untuk menjadi imam shalat? Beri dia kesempatan untuk memikul tanggung jawab agar terbiasa. Banyak orang tua yang meremehkan anaknya, padahal si anak memiliki kemampuan. Kalau begitu keadaannya, kapan ia akan mampu dan berani mencoba? ‘Amr bin Salamah radhiyallahu ‘anhu menceritakan pengalamannya, “Dahulu ketika masih kecil, aku sudah memiliki hafalan yang kuat. Saat itu aku banyak menghafal al-Qur’an. Ketika ayahku dan beberapa orang kaumku pergi menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau mengajari mereka shalat. Di antara yang beliau sampaikan, “Hendaklah yang mengimami kalian adalah orang yang paling banyak hafalan al-Qur’annya”. Saat itu akulah orang yang paling banyak hafalan al-Qur’annya dibandingkan mereka. Maka akupun ditugasi untuk mengimami mereka. Ketika menjadi imam, aku hanya memakai kain yang pendek. Sehingga bila aku sujud terlihatlah sebagian auratku. Salah satu wanita Anshar berkata, “Mengapa kalian tidak menutupi aurat imam kalian dari pandangan kami?”. Maka merekapun membelikan untukku baju gamis. Sungguh tidak ada kegembiraan yang melebihi kegembiraanku saat memperoleh gamis tersebut”. HR. Bukhari dan lainnya. Itulah didikan yang ditanamkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada anak-anak muda. Beliau memberi mereka tanggung jawab. Bahkan terkadang beliau memberikan tanggung jawab yang besar kepada mereka. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah menunjuk Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhuma yang kala itu masih sangat muda untuk memimpin sebuah pasukan besar. Padahal di antara anggota pasukan tersebut ada Abu Bakar, Umar dan beberapa sahabat senior lainnya. Tahukah Anda siapa lawan yang akan dihadapi pasukan tersebut? Mereka adalah pasukan Romawi! Ya, musuh yang sangat besar jumlahnya dan kuat. Sebagian orang sempat meragukan kepemimpinan Usamah. Namun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tetap pada pendirian beliau. Padahal saat itu usia Usamah baru 18 tahun![1] Semua itu dilakukan, antara lain dalam rangka menumbuhkan keberanian dan kedewasaan. Maka latihlah putra-putri Anda untuk mengemban sebuah tanggung jawab menurut kapasitas dan kemampuan yang dimilikinya. Tidak dibebani melebihi kemampuannya. Juga tidak diremehkan kemampuan yang dimilikinya. Tentu ada saatnya pula orang tua turun tangan membantu si anak. Bila ternyata dia terlihat tidak mampu atau akan putus asa. Sambil terus dibimbing agar bisa menyelesaikan tanggung jawabnya dengan baik. Selamat mempraktekkan! Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 1 Sya’ban 1437 / 9 Mei 2016 [1] Kisah selengkapnya bisa dibaca dalam Sirah Ibn Hisyam (IV/328) dan Fath al-Bâriy (VIII/152). PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022
30AugSilsilah Fiqih Pendidikan Anak No 73: Anak dan Sifat PengecutAugust 30, 2016Belajar Islam, Keluarga Islami Sifat pengecut adalah salah satu sifat negatif yang harus dihilangkan dari diri anak sejak dini. Caranya adalah dengan menumbuhkan rasa percaya diri, berani mengambil resiko (dalam sesuatu yang positif) dan berani bertanggung jawab. Tidak boleh bagi orang tua untuk selalu menganggap remeh anaknya. Sehingga berakibat si anak senantiasa merasa kecut, kerdil dan cenderung lari dari tanggung jawab. Serahkanlah tugas kepadanya sesuai dengan kemampuan yang ia miliki. Bukankah di dalam Islam, anak-anak dibolehkan untuk mengumandangkan adzan, bahkan juga sah untuk menjadi imam shalat? Beri dia kesempatan untuk memikul tanggung jawab agar terbiasa. Banyak orang tua yang meremehkan anaknya, padahal si anak memiliki kemampuan. Kalau begitu keadaannya, kapan ia akan mampu dan berani mencoba? ‘Amr bin Salamah radhiyallahu ‘anhu menceritakan pengalamannya, “Dahulu ketika masih kecil, aku sudah memiliki hafalan yang kuat. Saat itu aku banyak menghafal al-Qur’an. Ketika ayahku dan beberapa orang kaumku pergi menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau mengajari mereka shalat. Di antara yang beliau sampaikan, “Hendaklah yang mengimami kalian adalah orang yang paling banyak hafalan al-Qur’annya”. Saat itu akulah orang yang paling banyak hafalan al-Qur’annya dibandingkan mereka. Maka akupun ditugasi untuk mengimami mereka. Ketika menjadi imam, aku hanya memakai kain yang pendek. Sehingga bila aku sujud terlihatlah sebagian auratku. Salah satu wanita Anshar berkata, “Mengapa kalian tidak menutupi aurat imam kalian dari pandangan kami?”. Maka merekapun membelikan untukku baju gamis. Sungguh tidak ada kegembiraan yang melebihi kegembiraanku saat memperoleh gamis tersebut”. HR. Bukhari dan lainnya. Itulah didikan yang ditanamkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada anak-anak muda. Beliau memberi mereka tanggung jawab. Bahkan terkadang beliau memberikan tanggung jawab yang besar kepada mereka. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah menunjuk Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhuma yang kala itu masih sangat muda untuk memimpin sebuah pasukan besar. Padahal di antara anggota pasukan tersebut ada Abu Bakar, Umar dan beberapa sahabat senior lainnya. Tahukah Anda siapa lawan yang akan dihadapi pasukan tersebut? Mereka adalah pasukan Romawi! Ya, musuh yang sangat besar jumlahnya dan kuat. Sebagian orang sempat meragukan kepemimpinan Usamah. Namun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tetap pada pendirian beliau. Padahal saat itu usia Usamah baru 18 tahun![1] Semua itu dilakukan, antara lain dalam rangka menumbuhkan keberanian dan kedewasaan. Maka latihlah putra-putri Anda untuk mengemban sebuah tanggung jawab menurut kapasitas dan kemampuan yang dimilikinya. Tidak dibebani melebihi kemampuannya. Juga tidak diremehkan kemampuan yang dimilikinya. Tentu ada saatnya pula orang tua turun tangan membantu si anak. Bila ternyata dia terlihat tidak mampu atau akan putus asa. Sambil terus dibimbing agar bisa menyelesaikan tanggung jawabnya dengan baik. Selamat mempraktekkan! Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 1 Sya’ban 1437 / 9 Mei 2016 [1] Kisah selengkapnya bisa dibaca dalam Sirah Ibn Hisyam (IV/328) dan Fath al-Bâriy (VIII/152). PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022


30AugSilsilah Fiqih Pendidikan Anak No 73: Anak dan Sifat PengecutAugust 30, 2016Belajar Islam, Keluarga Islami Sifat pengecut adalah salah satu sifat negatif yang harus dihilangkan dari diri anak sejak dini. Caranya adalah dengan menumbuhkan rasa percaya diri, berani mengambil resiko (dalam sesuatu yang positif) dan berani bertanggung jawab. Tidak boleh bagi orang tua untuk selalu menganggap remeh anaknya. Sehingga berakibat si anak senantiasa merasa kecut, kerdil dan cenderung lari dari tanggung jawab. Serahkanlah tugas kepadanya sesuai dengan kemampuan yang ia miliki. Bukankah di dalam Islam, anak-anak dibolehkan untuk mengumandangkan adzan, bahkan juga sah untuk menjadi imam shalat? Beri dia kesempatan untuk memikul tanggung jawab agar terbiasa. Banyak orang tua yang meremehkan anaknya, padahal si anak memiliki kemampuan. Kalau begitu keadaannya, kapan ia akan mampu dan berani mencoba? ‘Amr bin Salamah radhiyallahu ‘anhu menceritakan pengalamannya, “Dahulu ketika masih kecil, aku sudah memiliki hafalan yang kuat. Saat itu aku banyak menghafal al-Qur’an. Ketika ayahku dan beberapa orang kaumku pergi menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau mengajari mereka shalat. Di antara yang beliau sampaikan, “Hendaklah yang mengimami kalian adalah orang yang paling banyak hafalan al-Qur’annya”. Saat itu akulah orang yang paling banyak hafalan al-Qur’annya dibandingkan mereka. Maka akupun ditugasi untuk mengimami mereka. Ketika menjadi imam, aku hanya memakai kain yang pendek. Sehingga bila aku sujud terlihatlah sebagian auratku. Salah satu wanita Anshar berkata, “Mengapa kalian tidak menutupi aurat imam kalian dari pandangan kami?”. Maka merekapun membelikan untukku baju gamis. Sungguh tidak ada kegembiraan yang melebihi kegembiraanku saat memperoleh gamis tersebut”. HR. Bukhari dan lainnya. Itulah didikan yang ditanamkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada anak-anak muda. Beliau memberi mereka tanggung jawab. Bahkan terkadang beliau memberikan tanggung jawab yang besar kepada mereka. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah menunjuk Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhuma yang kala itu masih sangat muda untuk memimpin sebuah pasukan besar. Padahal di antara anggota pasukan tersebut ada Abu Bakar, Umar dan beberapa sahabat senior lainnya. Tahukah Anda siapa lawan yang akan dihadapi pasukan tersebut? Mereka adalah pasukan Romawi! Ya, musuh yang sangat besar jumlahnya dan kuat. Sebagian orang sempat meragukan kepemimpinan Usamah. Namun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tetap pada pendirian beliau. Padahal saat itu usia Usamah baru 18 tahun![1] Semua itu dilakukan, antara lain dalam rangka menumbuhkan keberanian dan kedewasaan. Maka latihlah putra-putri Anda untuk mengemban sebuah tanggung jawab menurut kapasitas dan kemampuan yang dimilikinya. Tidak dibebani melebihi kemampuannya. Juga tidak diremehkan kemampuan yang dimilikinya. Tentu ada saatnya pula orang tua turun tangan membantu si anak. Bila ternyata dia terlihat tidak mampu atau akan putus asa. Sambil terus dibimbing agar bisa menyelesaikan tanggung jawabnya dengan baik. Selamat mempraktekkan! Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 1 Sya’ban 1437 / 9 Mei 2016 [1] Kisah selengkapnya bisa dibaca dalam Sirah Ibn Hisyam (IV/328) dan Fath al-Bâriy (VIII/152). PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 72: Anak dan Sifat Penakut

29AugSilsilah Fiqih Pendidikan Anak No 72: Anak dan Sifat PenakutAugust 29, 2016Belajar Islam, Fikih, Keluarga Islami Sifat takut itu ada yang diperbolehkan, ada yang terpuji dan ada yang tercela. Takut yang diperbolehkan adalah takut alamiah yang sewajarnya. Seperti takut kepada binatang buas, takut jatuh dari ketinggian, atau takut tersengat aliran listrik. Adapun takut yang terpuji adalah takut kepada Allah ta’ala. Di dalam al-Qur’an ditegaskan, “وَخَافُونِ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ” Artinya: “Takutlah kalian kepada-Ku (Allah); bila kalian benar-benar beriman”. QS. Ali Imran (3): 175. Sedangkan takut yang tercela, adalah takut yang tidak sewajarnya atau berlebih-lebihan. Seperti takut kepada berhala, takut hantu, takut kegelapan, takut berbicara di hadapan orang banyak, takut sendirian dan yang semisal. Walaupun level tercelanya berbeda-beda, namun semua itu harus dihindari. Ada beberapa faktor yang dapat menimbulkan perasaan takut dalam diri anak. Antara lain: Kebiasaan menakut-nakuti anak dengan orang tertentu, dengan kegelapan, kuburan, hantu, bayangan dan lain-lain. Kebiasaan orang tua terlalu memanjakan dan mendikte anak secara berlebihan. Membiarkan anak selalu menyendiri. Cerita-cerita atau film-film horor. Maka untuk mengatasi masalah ini, perlu ditempuh berbagai langkah berikut: Didiklah anak sejak kecil dengan keimanan kepada Allah. Beribadah dan berserah diri hanya kepada-Nya di setiap waktu. Berikan kebebasan terarah kepada anak dalam bertindak, namun juga harus dilatih bertanggungjawab atas tindakannya. Selain itu juga dibiasakan menjalankan tugas sesuai tingkat pertumbuhan dan perkembangannya. Jangan terbiasa menakut-nakuti anak dengan setan, jin, binatang buas dan hal ‘seram’ lainnya. Pahamkan kepada anak tentang hakikat setan dan jin secara proporsional. Yakni yang sesuai dengan syariat agama. Bahwa setan itu ada, tapi ia lemah dan tidak bisa mencelakai tanpa izin Allah. Maka mohonlah perlindungan selalu kepada-Nya. Dengan cara rutin berdzikir dan yang semisalnya. Hindarkan anak dari berhubungan dengan hal-hal yang berbau menyeramkan. Seperti film horor, mistik dan perdukunan. Bila telah tiba saatnya, yakni saat anak sudah bisa berpikir dewasa, bisa dijelaskan hakekat hal-hal tadi. Kenalkan kisah-kisah heroik dan para pejuang yang salih. Agar terbentuk jiwa pemberani dalam diri anak. Hindari menceritakan kisah fiktif tentang super hero yang bersifat imajinatif dan tidak ada contoh riilnya dalam kehidupan nyata. Bangun rasa sosial dan jiwa bersosialisasi pada anak. Dengan melatih dia bergaul dan bergabung dengan teman-temannya. Supaya anak tidak merasa sendiri dan merasa bahwa dirinya dibutuhkan orang lain. Sehingga bisa mengkikis rasa minder dalam dirinya. Biasanya anak yang minder cenderung memiliki sifat takut yang berlebihan. Semoga bermanfaat… Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 17 Rajab 1437 / 24 April 2016 PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 72: Anak dan Sifat Penakut

29AugSilsilah Fiqih Pendidikan Anak No 72: Anak dan Sifat PenakutAugust 29, 2016Belajar Islam, Fikih, Keluarga Islami Sifat takut itu ada yang diperbolehkan, ada yang terpuji dan ada yang tercela. Takut yang diperbolehkan adalah takut alamiah yang sewajarnya. Seperti takut kepada binatang buas, takut jatuh dari ketinggian, atau takut tersengat aliran listrik. Adapun takut yang terpuji adalah takut kepada Allah ta’ala. Di dalam al-Qur’an ditegaskan, “وَخَافُونِ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ” Artinya: “Takutlah kalian kepada-Ku (Allah); bila kalian benar-benar beriman”. QS. Ali Imran (3): 175. Sedangkan takut yang tercela, adalah takut yang tidak sewajarnya atau berlebih-lebihan. Seperti takut kepada berhala, takut hantu, takut kegelapan, takut berbicara di hadapan orang banyak, takut sendirian dan yang semisal. Walaupun level tercelanya berbeda-beda, namun semua itu harus dihindari. Ada beberapa faktor yang dapat menimbulkan perasaan takut dalam diri anak. Antara lain: Kebiasaan menakut-nakuti anak dengan orang tertentu, dengan kegelapan, kuburan, hantu, bayangan dan lain-lain. Kebiasaan orang tua terlalu memanjakan dan mendikte anak secara berlebihan. Membiarkan anak selalu menyendiri. Cerita-cerita atau film-film horor. Maka untuk mengatasi masalah ini, perlu ditempuh berbagai langkah berikut: Didiklah anak sejak kecil dengan keimanan kepada Allah. Beribadah dan berserah diri hanya kepada-Nya di setiap waktu. Berikan kebebasan terarah kepada anak dalam bertindak, namun juga harus dilatih bertanggungjawab atas tindakannya. Selain itu juga dibiasakan menjalankan tugas sesuai tingkat pertumbuhan dan perkembangannya. Jangan terbiasa menakut-nakuti anak dengan setan, jin, binatang buas dan hal ‘seram’ lainnya. Pahamkan kepada anak tentang hakikat setan dan jin secara proporsional. Yakni yang sesuai dengan syariat agama. Bahwa setan itu ada, tapi ia lemah dan tidak bisa mencelakai tanpa izin Allah. Maka mohonlah perlindungan selalu kepada-Nya. Dengan cara rutin berdzikir dan yang semisalnya. Hindarkan anak dari berhubungan dengan hal-hal yang berbau menyeramkan. Seperti film horor, mistik dan perdukunan. Bila telah tiba saatnya, yakni saat anak sudah bisa berpikir dewasa, bisa dijelaskan hakekat hal-hal tadi. Kenalkan kisah-kisah heroik dan para pejuang yang salih. Agar terbentuk jiwa pemberani dalam diri anak. Hindari menceritakan kisah fiktif tentang super hero yang bersifat imajinatif dan tidak ada contoh riilnya dalam kehidupan nyata. Bangun rasa sosial dan jiwa bersosialisasi pada anak. Dengan melatih dia bergaul dan bergabung dengan teman-temannya. Supaya anak tidak merasa sendiri dan merasa bahwa dirinya dibutuhkan orang lain. Sehingga bisa mengkikis rasa minder dalam dirinya. Biasanya anak yang minder cenderung memiliki sifat takut yang berlebihan. Semoga bermanfaat… Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 17 Rajab 1437 / 24 April 2016 PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022
29AugSilsilah Fiqih Pendidikan Anak No 72: Anak dan Sifat PenakutAugust 29, 2016Belajar Islam, Fikih, Keluarga Islami Sifat takut itu ada yang diperbolehkan, ada yang terpuji dan ada yang tercela. Takut yang diperbolehkan adalah takut alamiah yang sewajarnya. Seperti takut kepada binatang buas, takut jatuh dari ketinggian, atau takut tersengat aliran listrik. Adapun takut yang terpuji adalah takut kepada Allah ta’ala. Di dalam al-Qur’an ditegaskan, “وَخَافُونِ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ” Artinya: “Takutlah kalian kepada-Ku (Allah); bila kalian benar-benar beriman”. QS. Ali Imran (3): 175. Sedangkan takut yang tercela, adalah takut yang tidak sewajarnya atau berlebih-lebihan. Seperti takut kepada berhala, takut hantu, takut kegelapan, takut berbicara di hadapan orang banyak, takut sendirian dan yang semisal. Walaupun level tercelanya berbeda-beda, namun semua itu harus dihindari. Ada beberapa faktor yang dapat menimbulkan perasaan takut dalam diri anak. Antara lain: Kebiasaan menakut-nakuti anak dengan orang tertentu, dengan kegelapan, kuburan, hantu, bayangan dan lain-lain. Kebiasaan orang tua terlalu memanjakan dan mendikte anak secara berlebihan. Membiarkan anak selalu menyendiri. Cerita-cerita atau film-film horor. Maka untuk mengatasi masalah ini, perlu ditempuh berbagai langkah berikut: Didiklah anak sejak kecil dengan keimanan kepada Allah. Beribadah dan berserah diri hanya kepada-Nya di setiap waktu. Berikan kebebasan terarah kepada anak dalam bertindak, namun juga harus dilatih bertanggungjawab atas tindakannya. Selain itu juga dibiasakan menjalankan tugas sesuai tingkat pertumbuhan dan perkembangannya. Jangan terbiasa menakut-nakuti anak dengan setan, jin, binatang buas dan hal ‘seram’ lainnya. Pahamkan kepada anak tentang hakikat setan dan jin secara proporsional. Yakni yang sesuai dengan syariat agama. Bahwa setan itu ada, tapi ia lemah dan tidak bisa mencelakai tanpa izin Allah. Maka mohonlah perlindungan selalu kepada-Nya. Dengan cara rutin berdzikir dan yang semisalnya. Hindarkan anak dari berhubungan dengan hal-hal yang berbau menyeramkan. Seperti film horor, mistik dan perdukunan. Bila telah tiba saatnya, yakni saat anak sudah bisa berpikir dewasa, bisa dijelaskan hakekat hal-hal tadi. Kenalkan kisah-kisah heroik dan para pejuang yang salih. Agar terbentuk jiwa pemberani dalam diri anak. Hindari menceritakan kisah fiktif tentang super hero yang bersifat imajinatif dan tidak ada contoh riilnya dalam kehidupan nyata. Bangun rasa sosial dan jiwa bersosialisasi pada anak. Dengan melatih dia bergaul dan bergabung dengan teman-temannya. Supaya anak tidak merasa sendiri dan merasa bahwa dirinya dibutuhkan orang lain. Sehingga bisa mengkikis rasa minder dalam dirinya. Biasanya anak yang minder cenderung memiliki sifat takut yang berlebihan. Semoga bermanfaat… Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 17 Rajab 1437 / 24 April 2016 PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022


29AugSilsilah Fiqih Pendidikan Anak No 72: Anak dan Sifat PenakutAugust 29, 2016Belajar Islam, Fikih, Keluarga Islami Sifat takut itu ada yang diperbolehkan, ada yang terpuji dan ada yang tercela. Takut yang diperbolehkan adalah takut alamiah yang sewajarnya. Seperti takut kepada binatang buas, takut jatuh dari ketinggian, atau takut tersengat aliran listrik. Adapun takut yang terpuji adalah takut kepada Allah ta’ala. Di dalam al-Qur’an ditegaskan, “وَخَافُونِ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ” Artinya: “Takutlah kalian kepada-Ku (Allah); bila kalian benar-benar beriman”. QS. Ali Imran (3): 175. Sedangkan takut yang tercela, adalah takut yang tidak sewajarnya atau berlebih-lebihan. Seperti takut kepada berhala, takut hantu, takut kegelapan, takut berbicara di hadapan orang banyak, takut sendirian dan yang semisal. Walaupun level tercelanya berbeda-beda, namun semua itu harus dihindari. Ada beberapa faktor yang dapat menimbulkan perasaan takut dalam diri anak. Antara lain: Kebiasaan menakut-nakuti anak dengan orang tertentu, dengan kegelapan, kuburan, hantu, bayangan dan lain-lain. Kebiasaan orang tua terlalu memanjakan dan mendikte anak secara berlebihan. Membiarkan anak selalu menyendiri. Cerita-cerita atau film-film horor. Maka untuk mengatasi masalah ini, perlu ditempuh berbagai langkah berikut: Didiklah anak sejak kecil dengan keimanan kepada Allah. Beribadah dan berserah diri hanya kepada-Nya di setiap waktu. Berikan kebebasan terarah kepada anak dalam bertindak, namun juga harus dilatih bertanggungjawab atas tindakannya. Selain itu juga dibiasakan menjalankan tugas sesuai tingkat pertumbuhan dan perkembangannya. Jangan terbiasa menakut-nakuti anak dengan setan, jin, binatang buas dan hal ‘seram’ lainnya. Pahamkan kepada anak tentang hakikat setan dan jin secara proporsional. Yakni yang sesuai dengan syariat agama. Bahwa setan itu ada, tapi ia lemah dan tidak bisa mencelakai tanpa izin Allah. Maka mohonlah perlindungan selalu kepada-Nya. Dengan cara rutin berdzikir dan yang semisalnya. Hindarkan anak dari berhubungan dengan hal-hal yang berbau menyeramkan. Seperti film horor, mistik dan perdukunan. Bila telah tiba saatnya, yakni saat anak sudah bisa berpikir dewasa, bisa dijelaskan hakekat hal-hal tadi. Kenalkan kisah-kisah heroik dan para pejuang yang salih. Agar terbentuk jiwa pemberani dalam diri anak. Hindari menceritakan kisah fiktif tentang super hero yang bersifat imajinatif dan tidak ada contoh riilnya dalam kehidupan nyata. Bangun rasa sosial dan jiwa bersosialisasi pada anak. Dengan melatih dia bergaul dan bergabung dengan teman-temannya. Supaya anak tidak merasa sendiri dan merasa bahwa dirinya dibutuhkan orang lain. Sehingga bisa mengkikis rasa minder dalam dirinya. Biasanya anak yang minder cenderung memiliki sifat takut yang berlebihan. Semoga bermanfaat… Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 17 Rajab 1437 / 24 April 2016 PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022

Tanda Guru yang Cerdas

Mau tahu tanda guru yang cerdas? Kita bisa lihat dari bagaimana ia memberikan jawaban ketika ditanya.   Dari Abu Hurairah, Rasul pernah ditanya mengenai air laut, lantas beliau jawab: Air laut itu suci dan mensucikan, bangkainya pun halal. (Dikeluarkan oleh yang empat dan Ibnu Abi Syaibah. Lafazhnya adalah lafazh dari Ibnu Abi Syaibah, hadits ini dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah dan Tirmidzi)   Hadits lengkapnya … Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia mengatakan, سَأَلَ رَجُلٌ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّا نَرْكَبُ الْبَحْرَ وَنَحْمِلُ مَعَنَا الْقَلِيلَ مِنَ الْمَاءِ فَإِنْ تَوَضَّأْنَا بِهِ عَطِشْنَا أَفَنَتَوَضَّأُ بِمَاءِ الْبَحْرِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- هُوَ الطَّهُورُ مَاؤُهُ الْحِلُّ مَيْتَتُهُ “Seseorang pernah menanyakan pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, kami pernah naik kapal dan hanya membawa sedikit air. Jika kami berwudhu dengannya, maka kami akan kehausan. Apakah boleh kami berwudhu dengan air laut?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas menjawab, “Air laut itu suci dan bangkainya pun halal.” (HR. Abu Daud, no. 83, An- Nasa’i, no. 59, Tirmidzi, no. 69. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih)   Ada salah satu pelajaran penting di sini, Rasul ketika ditanya oleh para sahabat mengenai hukum air laut apakah suci ataukah tidak, beliau menjawab sampai pada status bangkai hewan laut. Ini tanda beliau sangat cerdas. Karena ditanya satu pertanyaan namun dijabarkan hingga masalah lain yang masih terkait. Tujuannya agar tidak perlu lagi muncul pertanyaan selanjutnya yang butuh untuk ditanyakan.   Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan berkata, “Dalil di atas menunjukkan bahwa seorang mufti (pemberi fatwa) jika ia melihat dari keadaan orang yang bertanya bahwa ia sangat butuh penjelasan untuk perkara lain yang tidak ditanya, hendaklah dijelaskan pula. Itulah cara memberi fatwa yang baik. Itu juga menunjukkan kecerdasan dari seorang yang memberi fatwa dan perhatiannya terhadap yang dibutuhkan dan dirasa manfaat bagi yang bertanya.” (Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram, 1: 28)   Kalau mau mencari guru hendaklah mencari guru seperti yang dijelaskan oleh Syaikh ‘Abdullah. Jawabannya bagus dan baik ketika ada yang bertanya. Jawabannya pun bisa melebar pada perkara lain yang tidak ditanya, namun juga dibutuhkan. Namun kalau jawabannya malah ‘ngalor ngidul, ngetan ngulon‘ alias TIDAK JELAS, bahkan asal memberikan jawaban, parahnya juga ngawur dalam membawakan dalil atau bahkan dalil tidak ada sama sekali cuma ngomong seenaknya, nah itu tanda guru yang Anda bisa nilai sendiri. Orang cerdas akan tahu guru yang baik untuk diikuti itu seperti apa. Guru yang baik adalah guru yang dapat memberikan petunjuk. Dalam Musnad Al-Imam Ahmad, dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ مَثَلَ الْعُلَمَاءِ فِى الأَرْضِ كَمَثَلِ النُّجُومِ فِى السَّمَاءِ يُهْتَدَى بِهَا فِى ظُلُمَاتِ الْبَرِّ وَالْبَحْرِ فَإِذَا انْطَمَسَتِ النُّجُومُ أَوْشَكَ أَنْ تَضِلَّ الهُدَاةُ “Permisalan ulama di muka bumi seperti bintang yang ada di langit. Bintang dapat memberi petunjuk pada orang yang berada di gelap malam di daratan maupun di lautan. Jika bintang tak muncul, manusia tak mendapatkan petunjuk.” (HR. Ahmad, 3: 157. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini dha’if jiddan) Hati-hati dengan guru yang berfatwa tanpa ilmu … Dari ‘Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhuma, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia berkata, إِنَّ اللَّهَ لاَ يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا ، يَنْتَزِعُهُ مِنَ الْعِبَادِ ، وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ ، حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا ، اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالاً فَسُئِلُوا ، فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ ، فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا “Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu begitu saja, dicabut dari para hamba. Ketahuilah ilmu itu mudah dicabut dengan diwafatkannya para ulama sampai tidak tersisa seorang alim pun. Akhirnya, manusia menjadikan orang-orang bodoh sebagai tempat rujukan. Jadinya, ketika ditanya, ia pun berfatwa tanpa ilmu. Ia sesat dan orang-orang pun ikut tersesat.” (HR. Bukhari, no. 100; Muslim, no. 2673)   Silakan pandai-pandai dalam mencari guru.   Tonton di menit ke 40, penjelasan menarik dari kajian Bulughul Maram tentang Air Laut dan Bangkainya, ada penjelasan seperti dalam tulisan ini:   Link Youtube: Bulughul Maram (02): Air Laut dan Bangkainya [Jangan sampai tidak mensubscribe channel Darush Sholihin di Youtube biar terus mendapatkan notifikasi video terbaru]   @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 26 Dzulqa’dah 1437 H   Referensi: Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Cetakan keempat, tahun 1433 H. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Subul As-Salam Al-Muwshilah ila Bulugh Al-Maram. Muhammad bin Isma’il Al-Amir Ash-Shan’ani. Cetakan kedua, tahun 1432 H. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. — @ Pagi hari penuh berkah, 25 Dzulqa’dah 1437 H @ Darush Sholihin Panggang, Gunungkidul Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Tagsadab guru belajar

Tanda Guru yang Cerdas

Mau tahu tanda guru yang cerdas? Kita bisa lihat dari bagaimana ia memberikan jawaban ketika ditanya.   Dari Abu Hurairah, Rasul pernah ditanya mengenai air laut, lantas beliau jawab: Air laut itu suci dan mensucikan, bangkainya pun halal. (Dikeluarkan oleh yang empat dan Ibnu Abi Syaibah. Lafazhnya adalah lafazh dari Ibnu Abi Syaibah, hadits ini dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah dan Tirmidzi)   Hadits lengkapnya … Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia mengatakan, سَأَلَ رَجُلٌ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّا نَرْكَبُ الْبَحْرَ وَنَحْمِلُ مَعَنَا الْقَلِيلَ مِنَ الْمَاءِ فَإِنْ تَوَضَّأْنَا بِهِ عَطِشْنَا أَفَنَتَوَضَّأُ بِمَاءِ الْبَحْرِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- هُوَ الطَّهُورُ مَاؤُهُ الْحِلُّ مَيْتَتُهُ “Seseorang pernah menanyakan pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, kami pernah naik kapal dan hanya membawa sedikit air. Jika kami berwudhu dengannya, maka kami akan kehausan. Apakah boleh kami berwudhu dengan air laut?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas menjawab, “Air laut itu suci dan bangkainya pun halal.” (HR. Abu Daud, no. 83, An- Nasa’i, no. 59, Tirmidzi, no. 69. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih)   Ada salah satu pelajaran penting di sini, Rasul ketika ditanya oleh para sahabat mengenai hukum air laut apakah suci ataukah tidak, beliau menjawab sampai pada status bangkai hewan laut. Ini tanda beliau sangat cerdas. Karena ditanya satu pertanyaan namun dijabarkan hingga masalah lain yang masih terkait. Tujuannya agar tidak perlu lagi muncul pertanyaan selanjutnya yang butuh untuk ditanyakan.   Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan berkata, “Dalil di atas menunjukkan bahwa seorang mufti (pemberi fatwa) jika ia melihat dari keadaan orang yang bertanya bahwa ia sangat butuh penjelasan untuk perkara lain yang tidak ditanya, hendaklah dijelaskan pula. Itulah cara memberi fatwa yang baik. Itu juga menunjukkan kecerdasan dari seorang yang memberi fatwa dan perhatiannya terhadap yang dibutuhkan dan dirasa manfaat bagi yang bertanya.” (Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram, 1: 28)   Kalau mau mencari guru hendaklah mencari guru seperti yang dijelaskan oleh Syaikh ‘Abdullah. Jawabannya bagus dan baik ketika ada yang bertanya. Jawabannya pun bisa melebar pada perkara lain yang tidak ditanya, namun juga dibutuhkan. Namun kalau jawabannya malah ‘ngalor ngidul, ngetan ngulon‘ alias TIDAK JELAS, bahkan asal memberikan jawaban, parahnya juga ngawur dalam membawakan dalil atau bahkan dalil tidak ada sama sekali cuma ngomong seenaknya, nah itu tanda guru yang Anda bisa nilai sendiri. Orang cerdas akan tahu guru yang baik untuk diikuti itu seperti apa. Guru yang baik adalah guru yang dapat memberikan petunjuk. Dalam Musnad Al-Imam Ahmad, dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ مَثَلَ الْعُلَمَاءِ فِى الأَرْضِ كَمَثَلِ النُّجُومِ فِى السَّمَاءِ يُهْتَدَى بِهَا فِى ظُلُمَاتِ الْبَرِّ وَالْبَحْرِ فَإِذَا انْطَمَسَتِ النُّجُومُ أَوْشَكَ أَنْ تَضِلَّ الهُدَاةُ “Permisalan ulama di muka bumi seperti bintang yang ada di langit. Bintang dapat memberi petunjuk pada orang yang berada di gelap malam di daratan maupun di lautan. Jika bintang tak muncul, manusia tak mendapatkan petunjuk.” (HR. Ahmad, 3: 157. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini dha’if jiddan) Hati-hati dengan guru yang berfatwa tanpa ilmu … Dari ‘Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhuma, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia berkata, إِنَّ اللَّهَ لاَ يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا ، يَنْتَزِعُهُ مِنَ الْعِبَادِ ، وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ ، حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا ، اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالاً فَسُئِلُوا ، فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ ، فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا “Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu begitu saja, dicabut dari para hamba. Ketahuilah ilmu itu mudah dicabut dengan diwafatkannya para ulama sampai tidak tersisa seorang alim pun. Akhirnya, manusia menjadikan orang-orang bodoh sebagai tempat rujukan. Jadinya, ketika ditanya, ia pun berfatwa tanpa ilmu. Ia sesat dan orang-orang pun ikut tersesat.” (HR. Bukhari, no. 100; Muslim, no. 2673)   Silakan pandai-pandai dalam mencari guru.   Tonton di menit ke 40, penjelasan menarik dari kajian Bulughul Maram tentang Air Laut dan Bangkainya, ada penjelasan seperti dalam tulisan ini:   Link Youtube: Bulughul Maram (02): Air Laut dan Bangkainya [Jangan sampai tidak mensubscribe channel Darush Sholihin di Youtube biar terus mendapatkan notifikasi video terbaru]   @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 26 Dzulqa’dah 1437 H   Referensi: Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Cetakan keempat, tahun 1433 H. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Subul As-Salam Al-Muwshilah ila Bulugh Al-Maram. Muhammad bin Isma’il Al-Amir Ash-Shan’ani. Cetakan kedua, tahun 1432 H. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. — @ Pagi hari penuh berkah, 25 Dzulqa’dah 1437 H @ Darush Sholihin Panggang, Gunungkidul Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Tagsadab guru belajar
Mau tahu tanda guru yang cerdas? Kita bisa lihat dari bagaimana ia memberikan jawaban ketika ditanya.   Dari Abu Hurairah, Rasul pernah ditanya mengenai air laut, lantas beliau jawab: Air laut itu suci dan mensucikan, bangkainya pun halal. (Dikeluarkan oleh yang empat dan Ibnu Abi Syaibah. Lafazhnya adalah lafazh dari Ibnu Abi Syaibah, hadits ini dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah dan Tirmidzi)   Hadits lengkapnya … Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia mengatakan, سَأَلَ رَجُلٌ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّا نَرْكَبُ الْبَحْرَ وَنَحْمِلُ مَعَنَا الْقَلِيلَ مِنَ الْمَاءِ فَإِنْ تَوَضَّأْنَا بِهِ عَطِشْنَا أَفَنَتَوَضَّأُ بِمَاءِ الْبَحْرِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- هُوَ الطَّهُورُ مَاؤُهُ الْحِلُّ مَيْتَتُهُ “Seseorang pernah menanyakan pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, kami pernah naik kapal dan hanya membawa sedikit air. Jika kami berwudhu dengannya, maka kami akan kehausan. Apakah boleh kami berwudhu dengan air laut?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas menjawab, “Air laut itu suci dan bangkainya pun halal.” (HR. Abu Daud, no. 83, An- Nasa’i, no. 59, Tirmidzi, no. 69. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih)   Ada salah satu pelajaran penting di sini, Rasul ketika ditanya oleh para sahabat mengenai hukum air laut apakah suci ataukah tidak, beliau menjawab sampai pada status bangkai hewan laut. Ini tanda beliau sangat cerdas. Karena ditanya satu pertanyaan namun dijabarkan hingga masalah lain yang masih terkait. Tujuannya agar tidak perlu lagi muncul pertanyaan selanjutnya yang butuh untuk ditanyakan.   Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan berkata, “Dalil di atas menunjukkan bahwa seorang mufti (pemberi fatwa) jika ia melihat dari keadaan orang yang bertanya bahwa ia sangat butuh penjelasan untuk perkara lain yang tidak ditanya, hendaklah dijelaskan pula. Itulah cara memberi fatwa yang baik. Itu juga menunjukkan kecerdasan dari seorang yang memberi fatwa dan perhatiannya terhadap yang dibutuhkan dan dirasa manfaat bagi yang bertanya.” (Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram, 1: 28)   Kalau mau mencari guru hendaklah mencari guru seperti yang dijelaskan oleh Syaikh ‘Abdullah. Jawabannya bagus dan baik ketika ada yang bertanya. Jawabannya pun bisa melebar pada perkara lain yang tidak ditanya, namun juga dibutuhkan. Namun kalau jawabannya malah ‘ngalor ngidul, ngetan ngulon‘ alias TIDAK JELAS, bahkan asal memberikan jawaban, parahnya juga ngawur dalam membawakan dalil atau bahkan dalil tidak ada sama sekali cuma ngomong seenaknya, nah itu tanda guru yang Anda bisa nilai sendiri. Orang cerdas akan tahu guru yang baik untuk diikuti itu seperti apa. Guru yang baik adalah guru yang dapat memberikan petunjuk. Dalam Musnad Al-Imam Ahmad, dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ مَثَلَ الْعُلَمَاءِ فِى الأَرْضِ كَمَثَلِ النُّجُومِ فِى السَّمَاءِ يُهْتَدَى بِهَا فِى ظُلُمَاتِ الْبَرِّ وَالْبَحْرِ فَإِذَا انْطَمَسَتِ النُّجُومُ أَوْشَكَ أَنْ تَضِلَّ الهُدَاةُ “Permisalan ulama di muka bumi seperti bintang yang ada di langit. Bintang dapat memberi petunjuk pada orang yang berada di gelap malam di daratan maupun di lautan. Jika bintang tak muncul, manusia tak mendapatkan petunjuk.” (HR. Ahmad, 3: 157. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini dha’if jiddan) Hati-hati dengan guru yang berfatwa tanpa ilmu … Dari ‘Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhuma, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia berkata, إِنَّ اللَّهَ لاَ يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا ، يَنْتَزِعُهُ مِنَ الْعِبَادِ ، وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ ، حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا ، اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالاً فَسُئِلُوا ، فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ ، فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا “Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu begitu saja, dicabut dari para hamba. Ketahuilah ilmu itu mudah dicabut dengan diwafatkannya para ulama sampai tidak tersisa seorang alim pun. Akhirnya, manusia menjadikan orang-orang bodoh sebagai tempat rujukan. Jadinya, ketika ditanya, ia pun berfatwa tanpa ilmu. Ia sesat dan orang-orang pun ikut tersesat.” (HR. Bukhari, no. 100; Muslim, no. 2673)   Silakan pandai-pandai dalam mencari guru.   Tonton di menit ke 40, penjelasan menarik dari kajian Bulughul Maram tentang Air Laut dan Bangkainya, ada penjelasan seperti dalam tulisan ini:   Link Youtube: Bulughul Maram (02): Air Laut dan Bangkainya [Jangan sampai tidak mensubscribe channel Darush Sholihin di Youtube biar terus mendapatkan notifikasi video terbaru]   @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 26 Dzulqa’dah 1437 H   Referensi: Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Cetakan keempat, tahun 1433 H. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Subul As-Salam Al-Muwshilah ila Bulugh Al-Maram. Muhammad bin Isma’il Al-Amir Ash-Shan’ani. Cetakan kedua, tahun 1432 H. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. — @ Pagi hari penuh berkah, 25 Dzulqa’dah 1437 H @ Darush Sholihin Panggang, Gunungkidul Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Tagsadab guru belajar


Mau tahu tanda guru yang cerdas? Kita bisa lihat dari bagaimana ia memberikan jawaban ketika ditanya.   Dari Abu Hurairah, Rasul pernah ditanya mengenai air laut, lantas beliau jawab: Air laut itu suci dan mensucikan, bangkainya pun halal. (Dikeluarkan oleh yang empat dan Ibnu Abi Syaibah. Lafazhnya adalah lafazh dari Ibnu Abi Syaibah, hadits ini dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah dan Tirmidzi)   Hadits lengkapnya … Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia mengatakan, سَأَلَ رَجُلٌ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّا نَرْكَبُ الْبَحْرَ وَنَحْمِلُ مَعَنَا الْقَلِيلَ مِنَ الْمَاءِ فَإِنْ تَوَضَّأْنَا بِهِ عَطِشْنَا أَفَنَتَوَضَّأُ بِمَاءِ الْبَحْرِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- هُوَ الطَّهُورُ مَاؤُهُ الْحِلُّ مَيْتَتُهُ “Seseorang pernah menanyakan pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, kami pernah naik kapal dan hanya membawa sedikit air. Jika kami berwudhu dengannya, maka kami akan kehausan. Apakah boleh kami berwudhu dengan air laut?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas menjawab, “Air laut itu suci dan bangkainya pun halal.” (HR. Abu Daud, no. 83, An- Nasa’i, no. 59, Tirmidzi, no. 69. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih)   Ada salah satu pelajaran penting di sini, Rasul ketika ditanya oleh para sahabat mengenai hukum air laut apakah suci ataukah tidak, beliau menjawab sampai pada status bangkai hewan laut. Ini tanda beliau sangat cerdas. Karena ditanya satu pertanyaan namun dijabarkan hingga masalah lain yang masih terkait. Tujuannya agar tidak perlu lagi muncul pertanyaan selanjutnya yang butuh untuk ditanyakan.   Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan berkata, “Dalil di atas menunjukkan bahwa seorang mufti (pemberi fatwa) jika ia melihat dari keadaan orang yang bertanya bahwa ia sangat butuh penjelasan untuk perkara lain yang tidak ditanya, hendaklah dijelaskan pula. Itulah cara memberi fatwa yang baik. Itu juga menunjukkan kecerdasan dari seorang yang memberi fatwa dan perhatiannya terhadap yang dibutuhkan dan dirasa manfaat bagi yang bertanya.” (Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram, 1: 28)   Kalau mau mencari guru hendaklah mencari guru seperti yang dijelaskan oleh Syaikh ‘Abdullah. Jawabannya bagus dan baik ketika ada yang bertanya. Jawabannya pun bisa melebar pada perkara lain yang tidak ditanya, namun juga dibutuhkan. Namun kalau jawabannya malah ‘ngalor ngidul, ngetan ngulon‘ alias TIDAK JELAS, bahkan asal memberikan jawaban, parahnya juga ngawur dalam membawakan dalil atau bahkan dalil tidak ada sama sekali cuma ngomong seenaknya, nah itu tanda guru yang Anda bisa nilai sendiri. Orang cerdas akan tahu guru yang baik untuk diikuti itu seperti apa. Guru yang baik adalah guru yang dapat memberikan petunjuk. Dalam Musnad Al-Imam Ahmad, dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ مَثَلَ الْعُلَمَاءِ فِى الأَرْضِ كَمَثَلِ النُّجُومِ فِى السَّمَاءِ يُهْتَدَى بِهَا فِى ظُلُمَاتِ الْبَرِّ وَالْبَحْرِ فَإِذَا انْطَمَسَتِ النُّجُومُ أَوْشَكَ أَنْ تَضِلَّ الهُدَاةُ “Permisalan ulama di muka bumi seperti bintang yang ada di langit. Bintang dapat memberi petunjuk pada orang yang berada di gelap malam di daratan maupun di lautan. Jika bintang tak muncul, manusia tak mendapatkan petunjuk.” (HR. Ahmad, 3: 157. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini dha’if jiddan) Hati-hati dengan guru yang berfatwa tanpa ilmu … Dari ‘Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhuma, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia berkata, إِنَّ اللَّهَ لاَ يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا ، يَنْتَزِعُهُ مِنَ الْعِبَادِ ، وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ ، حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا ، اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالاً فَسُئِلُوا ، فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ ، فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا “Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu begitu saja, dicabut dari para hamba. Ketahuilah ilmu itu mudah dicabut dengan diwafatkannya para ulama sampai tidak tersisa seorang alim pun. Akhirnya, manusia menjadikan orang-orang bodoh sebagai tempat rujukan. Jadinya, ketika ditanya, ia pun berfatwa tanpa ilmu. Ia sesat dan orang-orang pun ikut tersesat.” (HR. Bukhari, no. 100; Muslim, no. 2673)   Silakan pandai-pandai dalam mencari guru.   Tonton di menit ke 40, penjelasan menarik dari kajian Bulughul Maram tentang Air Laut dan Bangkainya, ada penjelasan seperti dalam tulisan ini:   Link Youtube: Bulughul Maram (02): Air Laut dan Bangkainya [Jangan sampai tidak mensubscribe channel Darush Sholihin di Youtube biar terus mendapatkan notifikasi video terbaru]   @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 26 Dzulqa’dah 1437 H   Referensi: Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Cetakan keempat, tahun 1433 H. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Subul As-Salam Al-Muwshilah ila Bulugh Al-Maram. Muhammad bin Isma’il Al-Amir Ash-Shan’ani. Cetakan kedua, tahun 1432 H. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. — @ Pagi hari penuh berkah, 25 Dzulqa’dah 1437 H @ Darush Sholihin Panggang, Gunungkidul Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Tagsadab guru belajar

Doa Ibnu Hajar, Ilmu Jangan Jadi Petaka

Ada do’a yang sangat bagus dari Ibnu Hajar Al-Asqalani ketika beliau menyampaikan muqaddimah dari kitab Bulughul Maram, beliau berdo’a seperti ini: وسميته بُلُوغُ اَلْمَرَامِ مِنْ أَدِلَّةِ اَلْأَحْكَامِ ، وَاللهُ أَسْأَلُهُ أَنْ لاَ يَجْعَلَ مَا عَلِمْنَاهُ عَلَيْنَا وَبَالاً ، وَأَنْ يَرْزُقَنَا الَعمَلَ بِمَا يَرْضِيْهِ سبحانه وتعالى. “Kitab tersebut aku namakan Bulughul Maram yang menjelaskan tentang dalil-dalil tentang masalah hukum. Hanya pada Allah-lah aku memohon agar ilmu yang diberikan pada kami tidak menjadi petaka (musibah) bagi kami. Juga berikanlah kami rezeki untuk beramal sesuai dengan ridha Allah subhanahu wa ta’ala.”   Apa yang dimaksud ilmu itu bisa membawa petaka? Disebutkan oleh Ash-Shan’ani rahimahullah, janganlah jadikan ilmu itu sebagai sesuatu beban yang berat bagi kita, yaitu jangan sampai memberatkan dalam hisab dan jangan sampai berat karena menjadi dosa (yaitu ketika ilmu itu diselisihi, pen.). Karena amal shalih jika tidak dilakukan ikhlas untuk mengharap wajah Allah, maka berubah menjadi dosa. Disebutkan dalam Subul As-Salam, 1: 90. Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan dalam Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram, ilmu jika tidak diamalkan, maka akan menjadi ‘wabal’ (musibah). Do’a ini sangat bagus sekali karena berisi permintaan agar kita diajarkan ilmu yang bermanfaat dan ilmu kita bermanfaat. Juga yang dimintakan oleh Ibnu Hajar yang kedua adalah agar dijauhkan dari amal yang tidak diridhai. Karena amal yang diridhai adalah kebahagiaan dunia dan akhirat. Lihat Minhah Al-‘Allam, 1: 18. Oleh karena itu, kita diajarkan setiap ba’da shalat Shubuh membaca doa berikut ini, اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَرِزْقًا طَيِّبًا وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً [Allahumma inni as-aluka ‘ilman naafi’a wa rizqon thoyyibaa wa ‘amalan mutaqobbalaa] “Ya Allah, aku memohon pada-Mu ilmu yang bermanfaat, rizki yang thoyyib dan amalan yang diterima” (HR. Ibnu Majah no. 925, shahih) Baca di sini: https://rumaysho.com/2524-ilmu-yang-bermanfaat-bukan-sekedar-dihafalkan.html   Semoga jadi faedah ilmu yang bermanfaat.   Penjelasan do’a di atas, silakan simak di menit ke-44 dari video Muqaddimah Bulughul Maram berikut:   Link Youtube: Muqaddimah Bulughul Maram [Jangan sampai tidak mensubscribe channel Darush Sholihin di Youtube biar terus mendapatkan notifikasi video terbaru]   Referensi: Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Cetakan keempat, tahun 1433 H. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Subul As-Salam Al-Muwshilah ila Bulugh Al-Maram. Muhammad bin Isma’il Al-Amir Ash-Shan’ani. Cetakan kedua, tahun 1432 H. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. — @ Pagi hari penuh berkah, 25 Dzulqa’dah 1437 H @ Darush Sholihin Panggang, Gunungkidul Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Tagsbelajar

Doa Ibnu Hajar, Ilmu Jangan Jadi Petaka

Ada do’a yang sangat bagus dari Ibnu Hajar Al-Asqalani ketika beliau menyampaikan muqaddimah dari kitab Bulughul Maram, beliau berdo’a seperti ini: وسميته بُلُوغُ اَلْمَرَامِ مِنْ أَدِلَّةِ اَلْأَحْكَامِ ، وَاللهُ أَسْأَلُهُ أَنْ لاَ يَجْعَلَ مَا عَلِمْنَاهُ عَلَيْنَا وَبَالاً ، وَأَنْ يَرْزُقَنَا الَعمَلَ بِمَا يَرْضِيْهِ سبحانه وتعالى. “Kitab tersebut aku namakan Bulughul Maram yang menjelaskan tentang dalil-dalil tentang masalah hukum. Hanya pada Allah-lah aku memohon agar ilmu yang diberikan pada kami tidak menjadi petaka (musibah) bagi kami. Juga berikanlah kami rezeki untuk beramal sesuai dengan ridha Allah subhanahu wa ta’ala.”   Apa yang dimaksud ilmu itu bisa membawa petaka? Disebutkan oleh Ash-Shan’ani rahimahullah, janganlah jadikan ilmu itu sebagai sesuatu beban yang berat bagi kita, yaitu jangan sampai memberatkan dalam hisab dan jangan sampai berat karena menjadi dosa (yaitu ketika ilmu itu diselisihi, pen.). Karena amal shalih jika tidak dilakukan ikhlas untuk mengharap wajah Allah, maka berubah menjadi dosa. Disebutkan dalam Subul As-Salam, 1: 90. Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan dalam Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram, ilmu jika tidak diamalkan, maka akan menjadi ‘wabal’ (musibah). Do’a ini sangat bagus sekali karena berisi permintaan agar kita diajarkan ilmu yang bermanfaat dan ilmu kita bermanfaat. Juga yang dimintakan oleh Ibnu Hajar yang kedua adalah agar dijauhkan dari amal yang tidak diridhai. Karena amal yang diridhai adalah kebahagiaan dunia dan akhirat. Lihat Minhah Al-‘Allam, 1: 18. Oleh karena itu, kita diajarkan setiap ba’da shalat Shubuh membaca doa berikut ini, اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَرِزْقًا طَيِّبًا وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً [Allahumma inni as-aluka ‘ilman naafi’a wa rizqon thoyyibaa wa ‘amalan mutaqobbalaa] “Ya Allah, aku memohon pada-Mu ilmu yang bermanfaat, rizki yang thoyyib dan amalan yang diterima” (HR. Ibnu Majah no. 925, shahih) Baca di sini: https://rumaysho.com/2524-ilmu-yang-bermanfaat-bukan-sekedar-dihafalkan.html   Semoga jadi faedah ilmu yang bermanfaat.   Penjelasan do’a di atas, silakan simak di menit ke-44 dari video Muqaddimah Bulughul Maram berikut:   Link Youtube: Muqaddimah Bulughul Maram [Jangan sampai tidak mensubscribe channel Darush Sholihin di Youtube biar terus mendapatkan notifikasi video terbaru]   Referensi: Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Cetakan keempat, tahun 1433 H. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Subul As-Salam Al-Muwshilah ila Bulugh Al-Maram. Muhammad bin Isma’il Al-Amir Ash-Shan’ani. Cetakan kedua, tahun 1432 H. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. — @ Pagi hari penuh berkah, 25 Dzulqa’dah 1437 H @ Darush Sholihin Panggang, Gunungkidul Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Tagsbelajar
Ada do’a yang sangat bagus dari Ibnu Hajar Al-Asqalani ketika beliau menyampaikan muqaddimah dari kitab Bulughul Maram, beliau berdo’a seperti ini: وسميته بُلُوغُ اَلْمَرَامِ مِنْ أَدِلَّةِ اَلْأَحْكَامِ ، وَاللهُ أَسْأَلُهُ أَنْ لاَ يَجْعَلَ مَا عَلِمْنَاهُ عَلَيْنَا وَبَالاً ، وَأَنْ يَرْزُقَنَا الَعمَلَ بِمَا يَرْضِيْهِ سبحانه وتعالى. “Kitab tersebut aku namakan Bulughul Maram yang menjelaskan tentang dalil-dalil tentang masalah hukum. Hanya pada Allah-lah aku memohon agar ilmu yang diberikan pada kami tidak menjadi petaka (musibah) bagi kami. Juga berikanlah kami rezeki untuk beramal sesuai dengan ridha Allah subhanahu wa ta’ala.”   Apa yang dimaksud ilmu itu bisa membawa petaka? Disebutkan oleh Ash-Shan’ani rahimahullah, janganlah jadikan ilmu itu sebagai sesuatu beban yang berat bagi kita, yaitu jangan sampai memberatkan dalam hisab dan jangan sampai berat karena menjadi dosa (yaitu ketika ilmu itu diselisihi, pen.). Karena amal shalih jika tidak dilakukan ikhlas untuk mengharap wajah Allah, maka berubah menjadi dosa. Disebutkan dalam Subul As-Salam, 1: 90. Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan dalam Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram, ilmu jika tidak diamalkan, maka akan menjadi ‘wabal’ (musibah). Do’a ini sangat bagus sekali karena berisi permintaan agar kita diajarkan ilmu yang bermanfaat dan ilmu kita bermanfaat. Juga yang dimintakan oleh Ibnu Hajar yang kedua adalah agar dijauhkan dari amal yang tidak diridhai. Karena amal yang diridhai adalah kebahagiaan dunia dan akhirat. Lihat Minhah Al-‘Allam, 1: 18. Oleh karena itu, kita diajarkan setiap ba’da shalat Shubuh membaca doa berikut ini, اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَرِزْقًا طَيِّبًا وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً [Allahumma inni as-aluka ‘ilman naafi’a wa rizqon thoyyibaa wa ‘amalan mutaqobbalaa] “Ya Allah, aku memohon pada-Mu ilmu yang bermanfaat, rizki yang thoyyib dan amalan yang diterima” (HR. Ibnu Majah no. 925, shahih) Baca di sini: https://rumaysho.com/2524-ilmu-yang-bermanfaat-bukan-sekedar-dihafalkan.html   Semoga jadi faedah ilmu yang bermanfaat.   Penjelasan do’a di atas, silakan simak di menit ke-44 dari video Muqaddimah Bulughul Maram berikut:   Link Youtube: Muqaddimah Bulughul Maram [Jangan sampai tidak mensubscribe channel Darush Sholihin di Youtube biar terus mendapatkan notifikasi video terbaru]   Referensi: Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Cetakan keempat, tahun 1433 H. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Subul As-Salam Al-Muwshilah ila Bulugh Al-Maram. Muhammad bin Isma’il Al-Amir Ash-Shan’ani. Cetakan kedua, tahun 1432 H. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. — @ Pagi hari penuh berkah, 25 Dzulqa’dah 1437 H @ Darush Sholihin Panggang, Gunungkidul Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Tagsbelajar


Ada do’a yang sangat bagus dari Ibnu Hajar Al-Asqalani ketika beliau menyampaikan muqaddimah dari kitab Bulughul Maram, beliau berdo’a seperti ini: وسميته بُلُوغُ اَلْمَرَامِ مِنْ أَدِلَّةِ اَلْأَحْكَامِ ، وَاللهُ أَسْأَلُهُ أَنْ لاَ يَجْعَلَ مَا عَلِمْنَاهُ عَلَيْنَا وَبَالاً ، وَأَنْ يَرْزُقَنَا الَعمَلَ بِمَا يَرْضِيْهِ سبحانه وتعالى. “Kitab tersebut aku namakan Bulughul Maram yang menjelaskan tentang dalil-dalil tentang masalah hukum. Hanya pada Allah-lah aku memohon agar ilmu yang diberikan pada kami tidak menjadi petaka (musibah) bagi kami. Juga berikanlah kami rezeki untuk beramal sesuai dengan ridha Allah subhanahu wa ta’ala.”   Apa yang dimaksud ilmu itu bisa membawa petaka? Disebutkan oleh Ash-Shan’ani rahimahullah, janganlah jadikan ilmu itu sebagai sesuatu beban yang berat bagi kita, yaitu jangan sampai memberatkan dalam hisab dan jangan sampai berat karena menjadi dosa (yaitu ketika ilmu itu diselisihi, pen.). Karena amal shalih jika tidak dilakukan ikhlas untuk mengharap wajah Allah, maka berubah menjadi dosa. Disebutkan dalam Subul As-Salam, 1: 90. Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan dalam Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram, ilmu jika tidak diamalkan, maka akan menjadi ‘wabal’ (musibah). Do’a ini sangat bagus sekali karena berisi permintaan agar kita diajarkan ilmu yang bermanfaat dan ilmu kita bermanfaat. Juga yang dimintakan oleh Ibnu Hajar yang kedua adalah agar dijauhkan dari amal yang tidak diridhai. Karena amal yang diridhai adalah kebahagiaan dunia dan akhirat. Lihat Minhah Al-‘Allam, 1: 18. Oleh karena itu, kita diajarkan setiap ba’da shalat Shubuh membaca doa berikut ini, اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَرِزْقًا طَيِّبًا وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً [Allahumma inni as-aluka ‘ilman naafi’a wa rizqon thoyyibaa wa ‘amalan mutaqobbalaa] “Ya Allah, aku memohon pada-Mu ilmu yang bermanfaat, rizki yang thoyyib dan amalan yang diterima” (HR. Ibnu Majah no. 925, shahih) Baca di sini: https://rumaysho.com/2524-ilmu-yang-bermanfaat-bukan-sekedar-dihafalkan.html   Semoga jadi faedah ilmu yang bermanfaat.   Penjelasan do’a di atas, silakan simak di menit ke-44 dari video Muqaddimah Bulughul Maram berikut:   Link Youtube: Muqaddimah Bulughul Maram [Jangan sampai tidak mensubscribe channel Darush Sholihin di Youtube biar terus mendapatkan notifikasi video terbaru]   Referensi: Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Cetakan keempat, tahun 1433 H. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Subul As-Salam Al-Muwshilah ila Bulugh Al-Maram. Muhammad bin Isma’il Al-Amir Ash-Shan’ani. Cetakan kedua, tahun 1432 H. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. — @ Pagi hari penuh berkah, 25 Dzulqa’dah 1437 H @ Darush Sholihin Panggang, Gunungkidul Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Tagsbelajar

Sudah Memberi Hiburan untuk Istri?

Tugas istri di rumah itu sudah begitu berat, apalagi menjadi seorang ibu rumah tangga dan mengurus anak-anak. Juga tambah lagi suami biasanya rewel. Di akhir pekan seperti ini, tentu saja istri butuh akan hiburan. Kalau mau tahu bahwa memberikan hiburan itu penting, contohlah dan ambil suri tauladan dari Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Coba lihat dari hadits muttafaqun ‘alaih, ‘Aisyah berkata, “Aku pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada suatu hari berada di pintu kamarku. Saat itu anak-anak Habasyah (dari Ethiopia) sedang bermain (perang-perangan) di masjid dan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam menutup-nutupi dengan kain rida’nya ketika aku melihat bagaimana mereka bermain.” (HR. Bukhari, no. 454; Muslim, no. 892, 17) Lihat saja bagaimana sikap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sangat baik pada istrinya. Itu bukan maksud melarang Aisyah untuk menonton hiburan, namun itu adalah bentuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bermain dengan Aisyah, menghibur istrinya. Beliau masih memberikan kesempatan pada Aisyah untuk melihat permainan anak Habasyah yang sedang bermain perang di masjid. Berarti terbukti kan kalau Nabi berusaha memberikan istrinya hiburan. Mumpung sekarang masuk weekend. Semoga ada hiburan untuk istri tercinta yang selalu repot di rumah.   Faedah dari Syaikh Abdullah Al-Fauzan dalam Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Marram jilid ke-2, hlm. 488-489. — @ Citilink, Jogja – Jakarta, Sabtu, 24 Dzulqa’dah 1437 H Al-faqir ila maghfirati rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagssuami istri

Sudah Memberi Hiburan untuk Istri?

Tugas istri di rumah itu sudah begitu berat, apalagi menjadi seorang ibu rumah tangga dan mengurus anak-anak. Juga tambah lagi suami biasanya rewel. Di akhir pekan seperti ini, tentu saja istri butuh akan hiburan. Kalau mau tahu bahwa memberikan hiburan itu penting, contohlah dan ambil suri tauladan dari Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Coba lihat dari hadits muttafaqun ‘alaih, ‘Aisyah berkata, “Aku pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada suatu hari berada di pintu kamarku. Saat itu anak-anak Habasyah (dari Ethiopia) sedang bermain (perang-perangan) di masjid dan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam menutup-nutupi dengan kain rida’nya ketika aku melihat bagaimana mereka bermain.” (HR. Bukhari, no. 454; Muslim, no. 892, 17) Lihat saja bagaimana sikap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sangat baik pada istrinya. Itu bukan maksud melarang Aisyah untuk menonton hiburan, namun itu adalah bentuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bermain dengan Aisyah, menghibur istrinya. Beliau masih memberikan kesempatan pada Aisyah untuk melihat permainan anak Habasyah yang sedang bermain perang di masjid. Berarti terbukti kan kalau Nabi berusaha memberikan istrinya hiburan. Mumpung sekarang masuk weekend. Semoga ada hiburan untuk istri tercinta yang selalu repot di rumah.   Faedah dari Syaikh Abdullah Al-Fauzan dalam Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Marram jilid ke-2, hlm. 488-489. — @ Citilink, Jogja – Jakarta, Sabtu, 24 Dzulqa’dah 1437 H Al-faqir ila maghfirati rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagssuami istri
Tugas istri di rumah itu sudah begitu berat, apalagi menjadi seorang ibu rumah tangga dan mengurus anak-anak. Juga tambah lagi suami biasanya rewel. Di akhir pekan seperti ini, tentu saja istri butuh akan hiburan. Kalau mau tahu bahwa memberikan hiburan itu penting, contohlah dan ambil suri tauladan dari Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Coba lihat dari hadits muttafaqun ‘alaih, ‘Aisyah berkata, “Aku pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada suatu hari berada di pintu kamarku. Saat itu anak-anak Habasyah (dari Ethiopia) sedang bermain (perang-perangan) di masjid dan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam menutup-nutupi dengan kain rida’nya ketika aku melihat bagaimana mereka bermain.” (HR. Bukhari, no. 454; Muslim, no. 892, 17) Lihat saja bagaimana sikap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sangat baik pada istrinya. Itu bukan maksud melarang Aisyah untuk menonton hiburan, namun itu adalah bentuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bermain dengan Aisyah, menghibur istrinya. Beliau masih memberikan kesempatan pada Aisyah untuk melihat permainan anak Habasyah yang sedang bermain perang di masjid. Berarti terbukti kan kalau Nabi berusaha memberikan istrinya hiburan. Mumpung sekarang masuk weekend. Semoga ada hiburan untuk istri tercinta yang selalu repot di rumah.   Faedah dari Syaikh Abdullah Al-Fauzan dalam Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Marram jilid ke-2, hlm. 488-489. — @ Citilink, Jogja – Jakarta, Sabtu, 24 Dzulqa’dah 1437 H Al-faqir ila maghfirati rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagssuami istri


Tugas istri di rumah itu sudah begitu berat, apalagi menjadi seorang ibu rumah tangga dan mengurus anak-anak. Juga tambah lagi suami biasanya rewel. Di akhir pekan seperti ini, tentu saja istri butuh akan hiburan. Kalau mau tahu bahwa memberikan hiburan itu penting, contohlah dan ambil suri tauladan dari Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Coba lihat dari hadits muttafaqun ‘alaih, ‘Aisyah berkata, “Aku pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada suatu hari berada di pintu kamarku. Saat itu anak-anak Habasyah (dari Ethiopia) sedang bermain (perang-perangan) di masjid dan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam menutup-nutupi dengan kain rida’nya ketika aku melihat bagaimana mereka bermain.” (HR. Bukhari, no. 454; Muslim, no. 892, 17) Lihat saja bagaimana sikap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sangat baik pada istrinya. Itu bukan maksud melarang Aisyah untuk menonton hiburan, namun itu adalah bentuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bermain dengan Aisyah, menghibur istrinya. Beliau masih memberikan kesempatan pada Aisyah untuk melihat permainan anak Habasyah yang sedang bermain perang di masjid. Berarti terbukti kan kalau Nabi berusaha memberikan istrinya hiburan. Mumpung sekarang masuk weekend. Semoga ada hiburan untuk istri tercinta yang selalu repot di rumah.   Faedah dari Syaikh Abdullah Al-Fauzan dalam Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Marram jilid ke-2, hlm. 488-489. — @ Citilink, Jogja – Jakarta, Sabtu, 24 Dzulqa’dah 1437 H Al-faqir ila maghfirati rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagssuami istri

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No71: Memanjakan Anak Bukan Tanda Sayang

27AugSilsilah Fiqih Pendidikan Anak No71: Memanjakan Anak Bukan Tanda SayangAugust 27, 2016Belajar Islam, Fikih, Keluarga Islami Setiap orang tua menyayangi anaknya melebihi apapun di dunia ini. Saking besarnya kasih sayang mereka terhadap anaknya, seringkali mereka terjerumus terhadap perilaku memanjakan anak. Memanjakan anak adalah suatu sikap orang tua yang selalu mengalah kepada anaknya, membatalkan perintah, petunjuk atau penolakan, hanya karena anak menjerit, menentang dan membantah. Orang masih beranggapan bahwa anak- anak yang dimanjakan, ialah anak- anak orang kaya atau anak seorang konglomerat saja, anggapan ini tidak benar. Memanjakan anak tidak bergantung pada kaya atau miskinnya suatu keluarga, tetapi lebih dipengaruhi oleh sedikit banyaknya pengetahuan orang tua akan ilmu mendidik anak. Ketidaktahuan pola mendidik anak membuat mereka salah kaprah. Niat hati sayang pada anaknya, justru membuat anak itu celaka, tidak berdaya dan kehilangan masa depan mereka. Memanjakan anak banyak potretnya. Antara lain: Pertama: memproteksi anak dengan seribu satu macam perlindungan. Hal ini bisa dilakukan dengan cara berusaha menyingkirkan segala kesulitan baginya. Misalnya memperlakukan anak seperti seorang raja, selalu membela anaknya ketika bertengkar dengan temannya meskipun anaknya yang salah. Kedua: memenuhi segala keinginan si anak. Apa saja yang menjadi kehendak dan keinginan anak, biarpun akan merugi atau mengganggu kesehatan dan pertumbuhannya dituruti saja. Tidak bisa berkata tidak kepada anak, selalu mengalah pada anak, takut pada anak, sehingga menjadikan kita sebagai orang tua tidak mempunyai wibawa lagi. Ketiga: membiarkan dan membolehkan si anak berbuat sekehendak hatinya. Ini menjadikan dia jauh dari ketertiban, kepatuhan, peraturan dan kebiasaan baik lainnya. Biasanya orangtua segan untuk mendidik anak agar segara membereskan tempat tidurnya dan merapihkan mainan ketika sudah selesai main. Hal tersebut dalam jangka pendek seakan tak ada masalah, namun dalam jangka panjang akan mempunyai dampak yang sangat signifikan. Di antaranya: Pertama: Anak akan mempunyai sifat mementingkan dirinya sendiri. Anak yang dimanja merasa bahwa orang lain selalu menolongnya, selalu memandang dirinya lebih penting dari pada yang lain. Akibatnya, setelah anak menjadi besar, akan menjadi orang yang selalu ingin dipandang, ingin ditolong, merasa kepentingannya sendiri lebih penting dari pada kepentingan orang lain, ia selalu ingin dipuji, ingin menang sendiri. Sehingga akhirnya dapat menjadi orang yang congkak dan tamak; perasaan sosialnya kurang. Kedua: Kurang mempunyai rasa tanggung jawab. Anak yang dimanjakan selalu mendapat pertolongan, segala kehendaknya dituruti, tidak boleh dan tidak pernah menderita susah dan kesukaran. Hal ini akan menjadikannya selalu minta pertolongan dan mengharapkan belas kasihan orang lain. Ia tidak sanggup berikhtiar dan inisiatif sendiri. Meskipun ia telah berkeluarga masih selalu mengharapkan bantuan orang tuanya baik secara moril maupun materil. Ketiga: Mengakibatkan anak menjadi tidak percaya diri. Kebiasaan menerima pertolongan dan selalu mendapat bantuan akibatnya anak itu menjadi orang yang selalu tidak dapat mengerjakan atau memecahkan suatu masalah dalam kehidupannya ia merasa bodoh, tidak sanggup, merasa harga diri kurang dan meyebabkan anak itu lekas putus asa dan keras kepala. Mudah-mudahan, kita sebagai orang tua bisa mendidik anak-anak kita dengan pendidikan yang tepat dan memandu mereka menjadi generasi-generasi yang hebat di masa yang akan datang. PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No71: Memanjakan Anak Bukan Tanda Sayang

27AugSilsilah Fiqih Pendidikan Anak No71: Memanjakan Anak Bukan Tanda SayangAugust 27, 2016Belajar Islam, Fikih, Keluarga Islami Setiap orang tua menyayangi anaknya melebihi apapun di dunia ini. Saking besarnya kasih sayang mereka terhadap anaknya, seringkali mereka terjerumus terhadap perilaku memanjakan anak. Memanjakan anak adalah suatu sikap orang tua yang selalu mengalah kepada anaknya, membatalkan perintah, petunjuk atau penolakan, hanya karena anak menjerit, menentang dan membantah. Orang masih beranggapan bahwa anak- anak yang dimanjakan, ialah anak- anak orang kaya atau anak seorang konglomerat saja, anggapan ini tidak benar. Memanjakan anak tidak bergantung pada kaya atau miskinnya suatu keluarga, tetapi lebih dipengaruhi oleh sedikit banyaknya pengetahuan orang tua akan ilmu mendidik anak. Ketidaktahuan pola mendidik anak membuat mereka salah kaprah. Niat hati sayang pada anaknya, justru membuat anak itu celaka, tidak berdaya dan kehilangan masa depan mereka. Memanjakan anak banyak potretnya. Antara lain: Pertama: memproteksi anak dengan seribu satu macam perlindungan. Hal ini bisa dilakukan dengan cara berusaha menyingkirkan segala kesulitan baginya. Misalnya memperlakukan anak seperti seorang raja, selalu membela anaknya ketika bertengkar dengan temannya meskipun anaknya yang salah. Kedua: memenuhi segala keinginan si anak. Apa saja yang menjadi kehendak dan keinginan anak, biarpun akan merugi atau mengganggu kesehatan dan pertumbuhannya dituruti saja. Tidak bisa berkata tidak kepada anak, selalu mengalah pada anak, takut pada anak, sehingga menjadikan kita sebagai orang tua tidak mempunyai wibawa lagi. Ketiga: membiarkan dan membolehkan si anak berbuat sekehendak hatinya. Ini menjadikan dia jauh dari ketertiban, kepatuhan, peraturan dan kebiasaan baik lainnya. Biasanya orangtua segan untuk mendidik anak agar segara membereskan tempat tidurnya dan merapihkan mainan ketika sudah selesai main. Hal tersebut dalam jangka pendek seakan tak ada masalah, namun dalam jangka panjang akan mempunyai dampak yang sangat signifikan. Di antaranya: Pertama: Anak akan mempunyai sifat mementingkan dirinya sendiri. Anak yang dimanja merasa bahwa orang lain selalu menolongnya, selalu memandang dirinya lebih penting dari pada yang lain. Akibatnya, setelah anak menjadi besar, akan menjadi orang yang selalu ingin dipandang, ingin ditolong, merasa kepentingannya sendiri lebih penting dari pada kepentingan orang lain, ia selalu ingin dipuji, ingin menang sendiri. Sehingga akhirnya dapat menjadi orang yang congkak dan tamak; perasaan sosialnya kurang. Kedua: Kurang mempunyai rasa tanggung jawab. Anak yang dimanjakan selalu mendapat pertolongan, segala kehendaknya dituruti, tidak boleh dan tidak pernah menderita susah dan kesukaran. Hal ini akan menjadikannya selalu minta pertolongan dan mengharapkan belas kasihan orang lain. Ia tidak sanggup berikhtiar dan inisiatif sendiri. Meskipun ia telah berkeluarga masih selalu mengharapkan bantuan orang tuanya baik secara moril maupun materil. Ketiga: Mengakibatkan anak menjadi tidak percaya diri. Kebiasaan menerima pertolongan dan selalu mendapat bantuan akibatnya anak itu menjadi orang yang selalu tidak dapat mengerjakan atau memecahkan suatu masalah dalam kehidupannya ia merasa bodoh, tidak sanggup, merasa harga diri kurang dan meyebabkan anak itu lekas putus asa dan keras kepala. Mudah-mudahan, kita sebagai orang tua bisa mendidik anak-anak kita dengan pendidikan yang tepat dan memandu mereka menjadi generasi-generasi yang hebat di masa yang akan datang. PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022
27AugSilsilah Fiqih Pendidikan Anak No71: Memanjakan Anak Bukan Tanda SayangAugust 27, 2016Belajar Islam, Fikih, Keluarga Islami Setiap orang tua menyayangi anaknya melebihi apapun di dunia ini. Saking besarnya kasih sayang mereka terhadap anaknya, seringkali mereka terjerumus terhadap perilaku memanjakan anak. Memanjakan anak adalah suatu sikap orang tua yang selalu mengalah kepada anaknya, membatalkan perintah, petunjuk atau penolakan, hanya karena anak menjerit, menentang dan membantah. Orang masih beranggapan bahwa anak- anak yang dimanjakan, ialah anak- anak orang kaya atau anak seorang konglomerat saja, anggapan ini tidak benar. Memanjakan anak tidak bergantung pada kaya atau miskinnya suatu keluarga, tetapi lebih dipengaruhi oleh sedikit banyaknya pengetahuan orang tua akan ilmu mendidik anak. Ketidaktahuan pola mendidik anak membuat mereka salah kaprah. Niat hati sayang pada anaknya, justru membuat anak itu celaka, tidak berdaya dan kehilangan masa depan mereka. Memanjakan anak banyak potretnya. Antara lain: Pertama: memproteksi anak dengan seribu satu macam perlindungan. Hal ini bisa dilakukan dengan cara berusaha menyingkirkan segala kesulitan baginya. Misalnya memperlakukan anak seperti seorang raja, selalu membela anaknya ketika bertengkar dengan temannya meskipun anaknya yang salah. Kedua: memenuhi segala keinginan si anak. Apa saja yang menjadi kehendak dan keinginan anak, biarpun akan merugi atau mengganggu kesehatan dan pertumbuhannya dituruti saja. Tidak bisa berkata tidak kepada anak, selalu mengalah pada anak, takut pada anak, sehingga menjadikan kita sebagai orang tua tidak mempunyai wibawa lagi. Ketiga: membiarkan dan membolehkan si anak berbuat sekehendak hatinya. Ini menjadikan dia jauh dari ketertiban, kepatuhan, peraturan dan kebiasaan baik lainnya. Biasanya orangtua segan untuk mendidik anak agar segara membereskan tempat tidurnya dan merapihkan mainan ketika sudah selesai main. Hal tersebut dalam jangka pendek seakan tak ada masalah, namun dalam jangka panjang akan mempunyai dampak yang sangat signifikan. Di antaranya: Pertama: Anak akan mempunyai sifat mementingkan dirinya sendiri. Anak yang dimanja merasa bahwa orang lain selalu menolongnya, selalu memandang dirinya lebih penting dari pada yang lain. Akibatnya, setelah anak menjadi besar, akan menjadi orang yang selalu ingin dipandang, ingin ditolong, merasa kepentingannya sendiri lebih penting dari pada kepentingan orang lain, ia selalu ingin dipuji, ingin menang sendiri. Sehingga akhirnya dapat menjadi orang yang congkak dan tamak; perasaan sosialnya kurang. Kedua: Kurang mempunyai rasa tanggung jawab. Anak yang dimanjakan selalu mendapat pertolongan, segala kehendaknya dituruti, tidak boleh dan tidak pernah menderita susah dan kesukaran. Hal ini akan menjadikannya selalu minta pertolongan dan mengharapkan belas kasihan orang lain. Ia tidak sanggup berikhtiar dan inisiatif sendiri. Meskipun ia telah berkeluarga masih selalu mengharapkan bantuan orang tuanya baik secara moril maupun materil. Ketiga: Mengakibatkan anak menjadi tidak percaya diri. Kebiasaan menerima pertolongan dan selalu mendapat bantuan akibatnya anak itu menjadi orang yang selalu tidak dapat mengerjakan atau memecahkan suatu masalah dalam kehidupannya ia merasa bodoh, tidak sanggup, merasa harga diri kurang dan meyebabkan anak itu lekas putus asa dan keras kepala. Mudah-mudahan, kita sebagai orang tua bisa mendidik anak-anak kita dengan pendidikan yang tepat dan memandu mereka menjadi generasi-generasi yang hebat di masa yang akan datang. PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022


27AugSilsilah Fiqih Pendidikan Anak No71: Memanjakan Anak Bukan Tanda SayangAugust 27, 2016Belajar Islam, Fikih, Keluarga Islami Setiap orang tua menyayangi anaknya melebihi apapun di dunia ini. Saking besarnya kasih sayang mereka terhadap anaknya, seringkali mereka terjerumus terhadap perilaku memanjakan anak. Memanjakan anak adalah suatu sikap orang tua yang selalu mengalah kepada anaknya, membatalkan perintah, petunjuk atau penolakan, hanya karena anak menjerit, menentang dan membantah. Orang masih beranggapan bahwa anak- anak yang dimanjakan, ialah anak- anak orang kaya atau anak seorang konglomerat saja, anggapan ini tidak benar. Memanjakan anak tidak bergantung pada kaya atau miskinnya suatu keluarga, tetapi lebih dipengaruhi oleh sedikit banyaknya pengetahuan orang tua akan ilmu mendidik anak. Ketidaktahuan pola mendidik anak membuat mereka salah kaprah. Niat hati sayang pada anaknya, justru membuat anak itu celaka, tidak berdaya dan kehilangan masa depan mereka. Memanjakan anak banyak potretnya. Antara lain: Pertama: memproteksi anak dengan seribu satu macam perlindungan. Hal ini bisa dilakukan dengan cara berusaha menyingkirkan segala kesulitan baginya. Misalnya memperlakukan anak seperti seorang raja, selalu membela anaknya ketika bertengkar dengan temannya meskipun anaknya yang salah. Kedua: memenuhi segala keinginan si anak. Apa saja yang menjadi kehendak dan keinginan anak, biarpun akan merugi atau mengganggu kesehatan dan pertumbuhannya dituruti saja. Tidak bisa berkata tidak kepada anak, selalu mengalah pada anak, takut pada anak, sehingga menjadikan kita sebagai orang tua tidak mempunyai wibawa lagi. Ketiga: membiarkan dan membolehkan si anak berbuat sekehendak hatinya. Ini menjadikan dia jauh dari ketertiban, kepatuhan, peraturan dan kebiasaan baik lainnya. Biasanya orangtua segan untuk mendidik anak agar segara membereskan tempat tidurnya dan merapihkan mainan ketika sudah selesai main. Hal tersebut dalam jangka pendek seakan tak ada masalah, namun dalam jangka panjang akan mempunyai dampak yang sangat signifikan. Di antaranya: Pertama: Anak akan mempunyai sifat mementingkan dirinya sendiri. Anak yang dimanja merasa bahwa orang lain selalu menolongnya, selalu memandang dirinya lebih penting dari pada yang lain. Akibatnya, setelah anak menjadi besar, akan menjadi orang yang selalu ingin dipandang, ingin ditolong, merasa kepentingannya sendiri lebih penting dari pada kepentingan orang lain, ia selalu ingin dipuji, ingin menang sendiri. Sehingga akhirnya dapat menjadi orang yang congkak dan tamak; perasaan sosialnya kurang. Kedua: Kurang mempunyai rasa tanggung jawab. Anak yang dimanjakan selalu mendapat pertolongan, segala kehendaknya dituruti, tidak boleh dan tidak pernah menderita susah dan kesukaran. Hal ini akan menjadikannya selalu minta pertolongan dan mengharapkan belas kasihan orang lain. Ia tidak sanggup berikhtiar dan inisiatif sendiri. Meskipun ia telah berkeluarga masih selalu mengharapkan bantuan orang tuanya baik secara moril maupun materil. Ketiga: Mengakibatkan anak menjadi tidak percaya diri. Kebiasaan menerima pertolongan dan selalu mendapat bantuan akibatnya anak itu menjadi orang yang selalu tidak dapat mengerjakan atau memecahkan suatu masalah dalam kehidupannya ia merasa bodoh, tidak sanggup, merasa harga diri kurang dan meyebabkan anak itu lekas putus asa dan keras kepala. Mudah-mudahan, kita sebagai orang tua bisa mendidik anak-anak kita dengan pendidikan yang tepat dan memandu mereka menjadi generasi-generasi yang hebat di masa yang akan datang. PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022

Metode Al-Qur’an Dalam Memerintah dan Melarang Hamba Allah Yang Beriman (11)

Hampir Setiap Ayat Al-Qur`ān Ditutup dengan Penyebutan Nama atau Sifat-Nya.Kalau kita perhatikan dengan baik isi Al-Qur`ān Al-Karīm, niscaya kita akan mendapatkan bahwa hampir setiap ayat Al-Qur`ān ditutup dengan penyebutan nama atau sifat-Nya.Perhatikanlah penutup beberapa ayat yang agung dalam surat Al-Mā`idah berikut ini,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَقْتُلُوا الصَّيْدَ وَأَنْتُمْ حُرُمٌ ۚ وَمَنْ قَتَلَهُ مِنْكُمْ مُتَعَمِّدًا فَجَزَاءٌ مِثْلُ مَا قَتَلَ مِنَ النَّعَمِ يَحْكُمُ بِهِ ذَوَا عَدْلٍ مِنْكُمْ هَدْيًا بَالِغَ الْكَعْبَةِ أَوْ كَفَّارَةٌ طَعَامُ مَسَاكِينَ أَوْ عَدْلُ ذَٰلِكَ صِيَامًا لِيَذُوقَ وَبَالَ أَمْرِهِ ۗ عَفَا اللَّهُ عَمَّا سَلَفَ ۚ وَمَنْ عَادَ فَيَنْتَقِمُ اللَّهُ مِنْهُ ۗ وَاللَّهُ عَزِيزٌ ذُو انْتِقَامٍ ﴿٩٥﴾ أُحِلَّ لَكُمْ صَيْدُ الْبَحْرِ وَطَعَامُهُ مَتَاعًا لَكُمْ وَلِلسَّيَّارَةِ ۖ وَحُرِّمَ عَلَيْكُمْ صَيْدُ الْبَرِّ مَا دُمْتُمْ حُرُمًا ۗ وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ ﴿٩٦﴾ جَعَلَ اللَّهُ الْكَعْبَةَ الْبَيْتَ الْحَرَامَ قِيَامًا لِلنَّاسِ وَالشَّهْرَ الْحَرَامَ وَالْهَدْيَ وَالْقَلَائِدَ ۚ ذَٰلِكَ لِتَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَأَنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ ﴿٩٧﴾ اعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ وَأَنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ ﴿٩٨﴾ مَا عَلَى الرَّسُولِ إِلَّا الْبَلَاغُ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تُبْدُونَ وَمَا تَكْتُمُونَ ﴿٩٩﴾ قُلْ لَا يَسْتَوِي الْخَبِيثُ وَالطَّيِّبُ وَلَوْ أَعْجَبَكَ كَثْرَةُ الْخَبِيثِ ۚ فَاتَّقُوا اللَّهَ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ ﴿١٠٠﴾ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَسْأَلُوا عَنْ أَشْيَاءَ إِنْ تُبْدَ لَكُمْ تَسُؤْكُمْ وَإِنْ تَسْأَلُوا عَنْهَا حِينَ يُنَزَّلُ الْقُرْآنُ تُبْدَ لَكُمْ عَفَا اللَّهُ عَنْهَا ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ حَلِيمٌ ﴿١٠١﴾“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu membunuh binatang buruan, ketika kamu sedang ihram. Barangsiapa di antara kamu membunuhnya dengan sengaja, maka dendanya ialah mengganti dengan binatang ternak seimbang dengan buruan yang dibunuhnya, menurut putusan dua orang yang adil di antara kamu sebagai had-yad yang dibawa sampai ke Ka’bah atau (dendanya) membayar kaffarat dengan memberi makan orang-orang miskin atau berpuasa seimbang dengan makanan yang dikeluarkan itu, supaya dia merasakan akibat buruk dari perbuatannya. Allah telah memaafkan apa yang telah lalu. Dan barangsiapa yang kembali mengerjakannya, niscaya Allah akan menyiksanya. Allah Maha Kuasa lagi mempunyai (kekuasaan untuk) menyiksa. Dihalalkan bagimu binatang buruan laut dan makanan (yang berasal) dari laut sebagai makanan yang lezat bagimu, dan bagi orang-orang yang dalam perjalanan; dan diharamkan atasmu (menangkap) binatang buruan darat, selama kamu dalam ihram. Dan bertakwalah kepada Allah Yang kepada-Nya-lah kamu akan dikumpulkan. Allah telah menjadikan Ka’bah, rumah suci itu sebagai pusat (peribadatan dan urusan dunia) bagi manusia, dan (demikian pula) bulan Haram, had-ya, qalaid. (Allah menjadikan yang) demikian itu agar kamu tahu, bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi dan bahwa sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya dan bahwa sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Kewajiban Rasul tidak lain hanyalah menyampaikan, dan Allah mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan. Katakanlah: “Tidak sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu, maka bertakwalah kepada Allah hai orang-orang berakal, agar kamu mendapat keberuntungan”. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menanyakan (kepada Nabimu) hal-hal yang jika diterangkan kepadamu akan menyusahkan kamu dan jika kamu menanyakan di waktu Al Quran itu diturunkan, niscaya akan diterangkan kepadamu, Allah memaafkan (kamu) tentang hal-hal itu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun” (QS. Al Maidah: 95 – 101).Tidaklah disebutkan perintah atau larangan-Nya dalam ayat-ayat  Al-Qur`ān kecuali serasi dengan perintah atau larangan-Nya tersebut. Oleh karena itu, benar-benar seseorang yang membacanya terdorong kuat untuk ta‘at kepada Allāh, kembali kepada-Nya, mendekatkan diri kepada-Nya, serta melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.Allāh Ta’ālā berfirman,قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ“Katakanlah, ‘Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allāh. Sesungguhnya Allāh mengampuni dosa-dosa semuanya.’ Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. Az-Zumar: 53).Pada ayat di atas, Allāh Ta’ālā mengiringi penyebutan larangan berputus asa dari rahmat-Nya bagi orang yang malampaui batas dengan nama-Nya, yaitu Al-Gafūr Ar-Raḥīm. Hal tersebut mendorong hamba-Nya untuk memperbanyak memohon ampun, kasih sayang-Nya, dan bertaubat kepada-Nya.Allāh Ta’ālā berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allāh dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allāh, sesungguhnya Allāh Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS. Al-Ḥasyr: 18).يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ ۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ“Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allāh, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allāh, sesungguhnya Allāh Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS.Al-Maaidah: 8).إِنْ تُبْدُوا الصَّدَقَاتِ فَنِعِمَّا هِيَ ۖ وَإِنْ تُخْفُوهَا وَتُؤْتُوهَا الْفُقَرَاءَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۚ وَيُكَفِّرُ عَنْكُمْ مِنْ سَيِّئَاتِكُمْ ۗ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ“Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Dan Allāh akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu; dan Allāh mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS.Al-Baqarah: 271).Demikian pula beberapa firman Allāh Ta’ālā tentang perintah dan larangan-Nya di atas, ditutup dengan berita bahwa Allāh Maha Mengetahui apa yang dikerjakan oleh hamba-Nya. Hal ini menjadi salah satu pendorong terbesar bagi hamba tersebut untuk melakukan keta’atan sekaligus menjadu penghalang terbesar melanggar larangan-Nya.[Bersambung]***Penulis: Ustadz Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id🔍 Islam Secara Kaffah, Islam Bumi Datar, Foto Agama Islam, Buku Adab Dan Akhlak Penuntut Ilmu, Apa Itu Ghuluw

Metode Al-Qur’an Dalam Memerintah dan Melarang Hamba Allah Yang Beriman (11)

Hampir Setiap Ayat Al-Qur`ān Ditutup dengan Penyebutan Nama atau Sifat-Nya.Kalau kita perhatikan dengan baik isi Al-Qur`ān Al-Karīm, niscaya kita akan mendapatkan bahwa hampir setiap ayat Al-Qur`ān ditutup dengan penyebutan nama atau sifat-Nya.Perhatikanlah penutup beberapa ayat yang agung dalam surat Al-Mā`idah berikut ini,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَقْتُلُوا الصَّيْدَ وَأَنْتُمْ حُرُمٌ ۚ وَمَنْ قَتَلَهُ مِنْكُمْ مُتَعَمِّدًا فَجَزَاءٌ مِثْلُ مَا قَتَلَ مِنَ النَّعَمِ يَحْكُمُ بِهِ ذَوَا عَدْلٍ مِنْكُمْ هَدْيًا بَالِغَ الْكَعْبَةِ أَوْ كَفَّارَةٌ طَعَامُ مَسَاكِينَ أَوْ عَدْلُ ذَٰلِكَ صِيَامًا لِيَذُوقَ وَبَالَ أَمْرِهِ ۗ عَفَا اللَّهُ عَمَّا سَلَفَ ۚ وَمَنْ عَادَ فَيَنْتَقِمُ اللَّهُ مِنْهُ ۗ وَاللَّهُ عَزِيزٌ ذُو انْتِقَامٍ ﴿٩٥﴾ أُحِلَّ لَكُمْ صَيْدُ الْبَحْرِ وَطَعَامُهُ مَتَاعًا لَكُمْ وَلِلسَّيَّارَةِ ۖ وَحُرِّمَ عَلَيْكُمْ صَيْدُ الْبَرِّ مَا دُمْتُمْ حُرُمًا ۗ وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ ﴿٩٦﴾ جَعَلَ اللَّهُ الْكَعْبَةَ الْبَيْتَ الْحَرَامَ قِيَامًا لِلنَّاسِ وَالشَّهْرَ الْحَرَامَ وَالْهَدْيَ وَالْقَلَائِدَ ۚ ذَٰلِكَ لِتَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَأَنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ ﴿٩٧﴾ اعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ وَأَنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ ﴿٩٨﴾ مَا عَلَى الرَّسُولِ إِلَّا الْبَلَاغُ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تُبْدُونَ وَمَا تَكْتُمُونَ ﴿٩٩﴾ قُلْ لَا يَسْتَوِي الْخَبِيثُ وَالطَّيِّبُ وَلَوْ أَعْجَبَكَ كَثْرَةُ الْخَبِيثِ ۚ فَاتَّقُوا اللَّهَ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ ﴿١٠٠﴾ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَسْأَلُوا عَنْ أَشْيَاءَ إِنْ تُبْدَ لَكُمْ تَسُؤْكُمْ وَإِنْ تَسْأَلُوا عَنْهَا حِينَ يُنَزَّلُ الْقُرْآنُ تُبْدَ لَكُمْ عَفَا اللَّهُ عَنْهَا ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ حَلِيمٌ ﴿١٠١﴾“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu membunuh binatang buruan, ketika kamu sedang ihram. Barangsiapa di antara kamu membunuhnya dengan sengaja, maka dendanya ialah mengganti dengan binatang ternak seimbang dengan buruan yang dibunuhnya, menurut putusan dua orang yang adil di antara kamu sebagai had-yad yang dibawa sampai ke Ka’bah atau (dendanya) membayar kaffarat dengan memberi makan orang-orang miskin atau berpuasa seimbang dengan makanan yang dikeluarkan itu, supaya dia merasakan akibat buruk dari perbuatannya. Allah telah memaafkan apa yang telah lalu. Dan barangsiapa yang kembali mengerjakannya, niscaya Allah akan menyiksanya. Allah Maha Kuasa lagi mempunyai (kekuasaan untuk) menyiksa. Dihalalkan bagimu binatang buruan laut dan makanan (yang berasal) dari laut sebagai makanan yang lezat bagimu, dan bagi orang-orang yang dalam perjalanan; dan diharamkan atasmu (menangkap) binatang buruan darat, selama kamu dalam ihram. Dan bertakwalah kepada Allah Yang kepada-Nya-lah kamu akan dikumpulkan. Allah telah menjadikan Ka’bah, rumah suci itu sebagai pusat (peribadatan dan urusan dunia) bagi manusia, dan (demikian pula) bulan Haram, had-ya, qalaid. (Allah menjadikan yang) demikian itu agar kamu tahu, bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi dan bahwa sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya dan bahwa sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Kewajiban Rasul tidak lain hanyalah menyampaikan, dan Allah mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan. Katakanlah: “Tidak sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu, maka bertakwalah kepada Allah hai orang-orang berakal, agar kamu mendapat keberuntungan”. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menanyakan (kepada Nabimu) hal-hal yang jika diterangkan kepadamu akan menyusahkan kamu dan jika kamu menanyakan di waktu Al Quran itu diturunkan, niscaya akan diterangkan kepadamu, Allah memaafkan (kamu) tentang hal-hal itu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun” (QS. Al Maidah: 95 – 101).Tidaklah disebutkan perintah atau larangan-Nya dalam ayat-ayat  Al-Qur`ān kecuali serasi dengan perintah atau larangan-Nya tersebut. Oleh karena itu, benar-benar seseorang yang membacanya terdorong kuat untuk ta‘at kepada Allāh, kembali kepada-Nya, mendekatkan diri kepada-Nya, serta melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.Allāh Ta’ālā berfirman,قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ“Katakanlah, ‘Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allāh. Sesungguhnya Allāh mengampuni dosa-dosa semuanya.’ Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. Az-Zumar: 53).Pada ayat di atas, Allāh Ta’ālā mengiringi penyebutan larangan berputus asa dari rahmat-Nya bagi orang yang malampaui batas dengan nama-Nya, yaitu Al-Gafūr Ar-Raḥīm. Hal tersebut mendorong hamba-Nya untuk memperbanyak memohon ampun, kasih sayang-Nya, dan bertaubat kepada-Nya.Allāh Ta’ālā berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allāh dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allāh, sesungguhnya Allāh Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS. Al-Ḥasyr: 18).يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ ۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ“Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allāh, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allāh, sesungguhnya Allāh Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS.Al-Maaidah: 8).إِنْ تُبْدُوا الصَّدَقَاتِ فَنِعِمَّا هِيَ ۖ وَإِنْ تُخْفُوهَا وَتُؤْتُوهَا الْفُقَرَاءَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۚ وَيُكَفِّرُ عَنْكُمْ مِنْ سَيِّئَاتِكُمْ ۗ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ“Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Dan Allāh akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu; dan Allāh mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS.Al-Baqarah: 271).Demikian pula beberapa firman Allāh Ta’ālā tentang perintah dan larangan-Nya di atas, ditutup dengan berita bahwa Allāh Maha Mengetahui apa yang dikerjakan oleh hamba-Nya. Hal ini menjadi salah satu pendorong terbesar bagi hamba tersebut untuk melakukan keta’atan sekaligus menjadu penghalang terbesar melanggar larangan-Nya.[Bersambung]***Penulis: Ustadz Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id🔍 Islam Secara Kaffah, Islam Bumi Datar, Foto Agama Islam, Buku Adab Dan Akhlak Penuntut Ilmu, Apa Itu Ghuluw
Hampir Setiap Ayat Al-Qur`ān Ditutup dengan Penyebutan Nama atau Sifat-Nya.Kalau kita perhatikan dengan baik isi Al-Qur`ān Al-Karīm, niscaya kita akan mendapatkan bahwa hampir setiap ayat Al-Qur`ān ditutup dengan penyebutan nama atau sifat-Nya.Perhatikanlah penutup beberapa ayat yang agung dalam surat Al-Mā`idah berikut ini,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَقْتُلُوا الصَّيْدَ وَأَنْتُمْ حُرُمٌ ۚ وَمَنْ قَتَلَهُ مِنْكُمْ مُتَعَمِّدًا فَجَزَاءٌ مِثْلُ مَا قَتَلَ مِنَ النَّعَمِ يَحْكُمُ بِهِ ذَوَا عَدْلٍ مِنْكُمْ هَدْيًا بَالِغَ الْكَعْبَةِ أَوْ كَفَّارَةٌ طَعَامُ مَسَاكِينَ أَوْ عَدْلُ ذَٰلِكَ صِيَامًا لِيَذُوقَ وَبَالَ أَمْرِهِ ۗ عَفَا اللَّهُ عَمَّا سَلَفَ ۚ وَمَنْ عَادَ فَيَنْتَقِمُ اللَّهُ مِنْهُ ۗ وَاللَّهُ عَزِيزٌ ذُو انْتِقَامٍ ﴿٩٥﴾ أُحِلَّ لَكُمْ صَيْدُ الْبَحْرِ وَطَعَامُهُ مَتَاعًا لَكُمْ وَلِلسَّيَّارَةِ ۖ وَحُرِّمَ عَلَيْكُمْ صَيْدُ الْبَرِّ مَا دُمْتُمْ حُرُمًا ۗ وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ ﴿٩٦﴾ جَعَلَ اللَّهُ الْكَعْبَةَ الْبَيْتَ الْحَرَامَ قِيَامًا لِلنَّاسِ وَالشَّهْرَ الْحَرَامَ وَالْهَدْيَ وَالْقَلَائِدَ ۚ ذَٰلِكَ لِتَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَأَنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ ﴿٩٧﴾ اعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ وَأَنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ ﴿٩٨﴾ مَا عَلَى الرَّسُولِ إِلَّا الْبَلَاغُ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تُبْدُونَ وَمَا تَكْتُمُونَ ﴿٩٩﴾ قُلْ لَا يَسْتَوِي الْخَبِيثُ وَالطَّيِّبُ وَلَوْ أَعْجَبَكَ كَثْرَةُ الْخَبِيثِ ۚ فَاتَّقُوا اللَّهَ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ ﴿١٠٠﴾ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَسْأَلُوا عَنْ أَشْيَاءَ إِنْ تُبْدَ لَكُمْ تَسُؤْكُمْ وَإِنْ تَسْأَلُوا عَنْهَا حِينَ يُنَزَّلُ الْقُرْآنُ تُبْدَ لَكُمْ عَفَا اللَّهُ عَنْهَا ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ حَلِيمٌ ﴿١٠١﴾“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu membunuh binatang buruan, ketika kamu sedang ihram. Barangsiapa di antara kamu membunuhnya dengan sengaja, maka dendanya ialah mengganti dengan binatang ternak seimbang dengan buruan yang dibunuhnya, menurut putusan dua orang yang adil di antara kamu sebagai had-yad yang dibawa sampai ke Ka’bah atau (dendanya) membayar kaffarat dengan memberi makan orang-orang miskin atau berpuasa seimbang dengan makanan yang dikeluarkan itu, supaya dia merasakan akibat buruk dari perbuatannya. Allah telah memaafkan apa yang telah lalu. Dan barangsiapa yang kembali mengerjakannya, niscaya Allah akan menyiksanya. Allah Maha Kuasa lagi mempunyai (kekuasaan untuk) menyiksa. Dihalalkan bagimu binatang buruan laut dan makanan (yang berasal) dari laut sebagai makanan yang lezat bagimu, dan bagi orang-orang yang dalam perjalanan; dan diharamkan atasmu (menangkap) binatang buruan darat, selama kamu dalam ihram. Dan bertakwalah kepada Allah Yang kepada-Nya-lah kamu akan dikumpulkan. Allah telah menjadikan Ka’bah, rumah suci itu sebagai pusat (peribadatan dan urusan dunia) bagi manusia, dan (demikian pula) bulan Haram, had-ya, qalaid. (Allah menjadikan yang) demikian itu agar kamu tahu, bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi dan bahwa sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya dan bahwa sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Kewajiban Rasul tidak lain hanyalah menyampaikan, dan Allah mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan. Katakanlah: “Tidak sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu, maka bertakwalah kepada Allah hai orang-orang berakal, agar kamu mendapat keberuntungan”. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menanyakan (kepada Nabimu) hal-hal yang jika diterangkan kepadamu akan menyusahkan kamu dan jika kamu menanyakan di waktu Al Quran itu diturunkan, niscaya akan diterangkan kepadamu, Allah memaafkan (kamu) tentang hal-hal itu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun” (QS. Al Maidah: 95 – 101).Tidaklah disebutkan perintah atau larangan-Nya dalam ayat-ayat  Al-Qur`ān kecuali serasi dengan perintah atau larangan-Nya tersebut. Oleh karena itu, benar-benar seseorang yang membacanya terdorong kuat untuk ta‘at kepada Allāh, kembali kepada-Nya, mendekatkan diri kepada-Nya, serta melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.Allāh Ta’ālā berfirman,قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ“Katakanlah, ‘Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allāh. Sesungguhnya Allāh mengampuni dosa-dosa semuanya.’ Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. Az-Zumar: 53).Pada ayat di atas, Allāh Ta’ālā mengiringi penyebutan larangan berputus asa dari rahmat-Nya bagi orang yang malampaui batas dengan nama-Nya, yaitu Al-Gafūr Ar-Raḥīm. Hal tersebut mendorong hamba-Nya untuk memperbanyak memohon ampun, kasih sayang-Nya, dan bertaubat kepada-Nya.Allāh Ta’ālā berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allāh dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allāh, sesungguhnya Allāh Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS. Al-Ḥasyr: 18).يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ ۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ“Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allāh, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allāh, sesungguhnya Allāh Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS.Al-Maaidah: 8).إِنْ تُبْدُوا الصَّدَقَاتِ فَنِعِمَّا هِيَ ۖ وَإِنْ تُخْفُوهَا وَتُؤْتُوهَا الْفُقَرَاءَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۚ وَيُكَفِّرُ عَنْكُمْ مِنْ سَيِّئَاتِكُمْ ۗ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ“Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Dan Allāh akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu; dan Allāh mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS.Al-Baqarah: 271).Demikian pula beberapa firman Allāh Ta’ālā tentang perintah dan larangan-Nya di atas, ditutup dengan berita bahwa Allāh Maha Mengetahui apa yang dikerjakan oleh hamba-Nya. Hal ini menjadi salah satu pendorong terbesar bagi hamba tersebut untuk melakukan keta’atan sekaligus menjadu penghalang terbesar melanggar larangan-Nya.[Bersambung]***Penulis: Ustadz Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id🔍 Islam Secara Kaffah, Islam Bumi Datar, Foto Agama Islam, Buku Adab Dan Akhlak Penuntut Ilmu, Apa Itu Ghuluw


Hampir Setiap Ayat Al-Qur`ān Ditutup dengan Penyebutan Nama atau Sifat-Nya.Kalau kita perhatikan dengan baik isi Al-Qur`ān Al-Karīm, niscaya kita akan mendapatkan bahwa hampir setiap ayat Al-Qur`ān ditutup dengan penyebutan nama atau sifat-Nya.Perhatikanlah penutup beberapa ayat yang agung dalam surat Al-Mā`idah berikut ini,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَقْتُلُوا الصَّيْدَ وَأَنْتُمْ حُرُمٌ ۚ وَمَنْ قَتَلَهُ مِنْكُمْ مُتَعَمِّدًا فَجَزَاءٌ مِثْلُ مَا قَتَلَ مِنَ النَّعَمِ يَحْكُمُ بِهِ ذَوَا عَدْلٍ مِنْكُمْ هَدْيًا بَالِغَ الْكَعْبَةِ أَوْ كَفَّارَةٌ طَعَامُ مَسَاكِينَ أَوْ عَدْلُ ذَٰلِكَ صِيَامًا لِيَذُوقَ وَبَالَ أَمْرِهِ ۗ عَفَا اللَّهُ عَمَّا سَلَفَ ۚ وَمَنْ عَادَ فَيَنْتَقِمُ اللَّهُ مِنْهُ ۗ وَاللَّهُ عَزِيزٌ ذُو انْتِقَامٍ ﴿٩٥﴾ أُحِلَّ لَكُمْ صَيْدُ الْبَحْرِ وَطَعَامُهُ مَتَاعًا لَكُمْ وَلِلسَّيَّارَةِ ۖ وَحُرِّمَ عَلَيْكُمْ صَيْدُ الْبَرِّ مَا دُمْتُمْ حُرُمًا ۗ وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ ﴿٩٦﴾ جَعَلَ اللَّهُ الْكَعْبَةَ الْبَيْتَ الْحَرَامَ قِيَامًا لِلنَّاسِ وَالشَّهْرَ الْحَرَامَ وَالْهَدْيَ وَالْقَلَائِدَ ۚ ذَٰلِكَ لِتَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَأَنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ ﴿٩٧﴾ اعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ وَأَنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ ﴿٩٨﴾ مَا عَلَى الرَّسُولِ إِلَّا الْبَلَاغُ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تُبْدُونَ وَمَا تَكْتُمُونَ ﴿٩٩﴾ قُلْ لَا يَسْتَوِي الْخَبِيثُ وَالطَّيِّبُ وَلَوْ أَعْجَبَكَ كَثْرَةُ الْخَبِيثِ ۚ فَاتَّقُوا اللَّهَ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ ﴿١٠٠﴾ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَسْأَلُوا عَنْ أَشْيَاءَ إِنْ تُبْدَ لَكُمْ تَسُؤْكُمْ وَإِنْ تَسْأَلُوا عَنْهَا حِينَ يُنَزَّلُ الْقُرْآنُ تُبْدَ لَكُمْ عَفَا اللَّهُ عَنْهَا ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ حَلِيمٌ ﴿١٠١﴾“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu membunuh binatang buruan, ketika kamu sedang ihram. Barangsiapa di antara kamu membunuhnya dengan sengaja, maka dendanya ialah mengganti dengan binatang ternak seimbang dengan buruan yang dibunuhnya, menurut putusan dua orang yang adil di antara kamu sebagai had-yad yang dibawa sampai ke Ka’bah atau (dendanya) membayar kaffarat dengan memberi makan orang-orang miskin atau berpuasa seimbang dengan makanan yang dikeluarkan itu, supaya dia merasakan akibat buruk dari perbuatannya. Allah telah memaafkan apa yang telah lalu. Dan barangsiapa yang kembali mengerjakannya, niscaya Allah akan menyiksanya. Allah Maha Kuasa lagi mempunyai (kekuasaan untuk) menyiksa. Dihalalkan bagimu binatang buruan laut dan makanan (yang berasal) dari laut sebagai makanan yang lezat bagimu, dan bagi orang-orang yang dalam perjalanan; dan diharamkan atasmu (menangkap) binatang buruan darat, selama kamu dalam ihram. Dan bertakwalah kepada Allah Yang kepada-Nya-lah kamu akan dikumpulkan. Allah telah menjadikan Ka’bah, rumah suci itu sebagai pusat (peribadatan dan urusan dunia) bagi manusia, dan (demikian pula) bulan Haram, had-ya, qalaid. (Allah menjadikan yang) demikian itu agar kamu tahu, bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi dan bahwa sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya dan bahwa sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Kewajiban Rasul tidak lain hanyalah menyampaikan, dan Allah mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan. Katakanlah: “Tidak sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu, maka bertakwalah kepada Allah hai orang-orang berakal, agar kamu mendapat keberuntungan”. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menanyakan (kepada Nabimu) hal-hal yang jika diterangkan kepadamu akan menyusahkan kamu dan jika kamu menanyakan di waktu Al Quran itu diturunkan, niscaya akan diterangkan kepadamu, Allah memaafkan (kamu) tentang hal-hal itu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun” (QS. Al Maidah: 95 – 101).Tidaklah disebutkan perintah atau larangan-Nya dalam ayat-ayat  Al-Qur`ān kecuali serasi dengan perintah atau larangan-Nya tersebut. Oleh karena itu, benar-benar seseorang yang membacanya terdorong kuat untuk ta‘at kepada Allāh, kembali kepada-Nya, mendekatkan diri kepada-Nya, serta melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.Allāh Ta’ālā berfirman,قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ“Katakanlah, ‘Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allāh. Sesungguhnya Allāh mengampuni dosa-dosa semuanya.’ Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. Az-Zumar: 53).Pada ayat di atas, Allāh Ta’ālā mengiringi penyebutan larangan berputus asa dari rahmat-Nya bagi orang yang malampaui batas dengan nama-Nya, yaitu Al-Gafūr Ar-Raḥīm. Hal tersebut mendorong hamba-Nya untuk memperbanyak memohon ampun, kasih sayang-Nya, dan bertaubat kepada-Nya.Allāh Ta’ālā berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allāh dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allāh, sesungguhnya Allāh Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS. Al-Ḥasyr: 18).يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ ۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ“Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allāh, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allāh, sesungguhnya Allāh Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS.Al-Maaidah: 8).إِنْ تُبْدُوا الصَّدَقَاتِ فَنِعِمَّا هِيَ ۖ وَإِنْ تُخْفُوهَا وَتُؤْتُوهَا الْفُقَرَاءَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۚ وَيُكَفِّرُ عَنْكُمْ مِنْ سَيِّئَاتِكُمْ ۗ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ“Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Dan Allāh akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu; dan Allāh mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS.Al-Baqarah: 271).Demikian pula beberapa firman Allāh Ta’ālā tentang perintah dan larangan-Nya di atas, ditutup dengan berita bahwa Allāh Maha Mengetahui apa yang dikerjakan oleh hamba-Nya. Hal ini menjadi salah satu pendorong terbesar bagi hamba tersebut untuk melakukan keta’atan sekaligus menjadu penghalang terbesar melanggar larangan-Nya.[Bersambung]***Penulis: Ustadz Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id🔍 Islam Secara Kaffah, Islam Bumi Datar, Foto Agama Islam, Buku Adab Dan Akhlak Penuntut Ilmu, Apa Itu Ghuluw
Prev     Next