Ramadhan Telah Tiba

Khotbah Jum’at, Masjid Nabawi, 27 Sya’ban 1437 HKhatib : Syekh Ali Bin Abdurrahman Al-HudzaifiKhotbah PertamaSegala puji bagi Allah yang Maha Perkasa dan Maha Pengampun. Mencipta apa yang dikehendakiNya dan dipilihNya serta mengatur pergantian siang dan malam. Sesungguhnya yang demikian itu merupakan pelajaran bagi orang-orang yang berpandangan tajam. Aku memuji Tuhanku, bersyukur, bertobat dan memohon ampun kepadaNya. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah semata yang Maha Esa lagi Perkasa, tidak ada sekutu bagiNya. Aku pun bersaksi bahwa nabi dan penghulu kita Muhammad –shallallahu alaihi wa sallam- adalah hamba dan rasul pilihan-Nya.Ya Allah, curahkanlah shalawat dan salam serta keberkahan kepada hamba-Mu dan rasul-Mu Muhammad –shallallahu alaihi wa sallam- beserta seluruh keluarganya dan sahabatnya yang setia.Selanjutnya.      Bertakwalah dan taatlah kepada Allah. Tidak ada orang yang celaka lantaran taat kepada Allah, dan tidak ada orang yang selamat karena kemaksiatan kepadaNya.Wahai hamba Allah!     Percayalah akan janji Allah atas amal kebajikan kalian, dan bersungguh-sungguhlah meraih kesudahan dan final yang gemilang. Sesungguhnya Allah adalah “Syakur” (Maha menghargai dan merima apapun amal baik seseorang), Maha mengetahui, Maha Kaya dan Maha Mulia. Dia mengajak kalian untuk mendekatkan diri kepadaNya dengan amal-amal yang dicintaiNya, meskipun sesungguhnya Dia tidak memerlukan ketaatan kalian. Allah memperingatkan kalian dari kemaksiatan, meskipun Dia tidak terpengaruh oleh perbuatan durjana yang dilakukan seseorang. Firman Allah :مَنْ عَمِلَ صَالِحًا فَلِنَفْسِهِ وَمَنْ أَسَاءَ فَعَلَيْهَا وَمَا رَبُّكَ بِظَلامٍ لِلْعَبِيدِ [ فصلت/46]“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan Barangsiapa mengerjakan perbuatan durjana, maka (dosanya) untuk dirinya sendiri; dan sekali-kali tidaklah Tuhan-mu menganiaya hamba-hambaNya.”Qs Fushilat : 46Firman Allah:وَمَنْ يَنْقَلِبْ عَلَى عَقِبَيْهِ فَلَنْ يَضُرَّ اللَّهَ شَيْئًا وَسَيَجْزِي اللَّهُ الشَّاكِرِينَ [آل عمران/144]“Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan kemudharatan sedikitpun bagi Allah, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.”Qs Ali Imran : 144Waspadalah selalu –wahai hamba Allah- terhadap ancamana Allah. Tidaklah ancamanNya mengena seseorang melainkan menghinakannya dan tidaklah ancamannya mengepung seseorang yang berpaling dan lalai melainkan menyiksanya dan menyengsarakannya. Firman Allah:وَمَنْ يَحْلِلْ عَلَيْهِ غَضَبِي فَقَدْ هَوَى [طه/81]“Barangsiapa ditimpa oleh kemurkaan-Ku, maka sungguh binasalah ia.” Qs Thaha : 81      Sangat mengherankan, urusan orang yang bekerja hanya untuk dunia saja dengan melupakan akhiratnya, padahal urusan dunia dapat diperoleh dengan bekerja atau tanpa bekerja bagi orang yang dirinya tidak mampu bekerja. Sedangkan akhirat dan kenikmatan ukhrawi tidaklah didapat kecuali dengan bekerja untuk itu. Firman Allah:وَتِلْكَ الْجَنَّةُ الَّتِي أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ [الزخرف/72]“Dan Itulah surga yang diwariskan kepada kamu disebabkan amal-amal yang dahulu kamu kerjakan.” Qs Az-Zukhruf:72Kaum muslimin!     Kini telah tiba di tengah-tengah kita suatu momen yang agung, bulan mulia yang penuh kebaikan dan keberkahan, yang di dalamnya kesalahan-kesalahan dihapuskan, yaitu bulan Ramadhan yang Allah istimewakan.Diriwayatkan dari Abi Saed Al-Hudhri dari Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :” سيد الشهور شهر رمضان وأعظمها حرمة ذو الحجة” رواه البزار “Penghulu bulan adalah bulan Ramadhan dan yang paling agung kesuciannya adalah Dzulhijah.” HR Al-BazzarFirman Allah :شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ [البقرة/185]“Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil).”Qs Albaqarah : 185Semua waktu dalam bulan Ramadhan penuh keberkahan. Allah menggabungkan di dalamnya ibadah puasa dengan ibadah shalat, zakat bagi mereka yang berkewajiban, sedekah, haji kecil (umrah), memperbanyak baca Al-Qur’an, berbagai macam zikir, beramar makruf dan nahi anil munkar serta aneka ragam bentuk ketaatan dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah –subhanahu wa ta’ala-.     Sangat banyak dan terlihat cukup jelas lahan amal kebajikan di dalam bulan Ramadhan, sementara lahan keburukan di dalamnya dipersempit sedemikian rupa, sebab antara setan dan kemauan jahatnya untuk merusak, menyesatkan dan merintangi seorang muslim yang ingin beribadah telah dihambat dan dihalangi sedemikian rupa.Dari Abu Hurairah –radhiyallahu anhu- dari Nabi –shallallahu alaihi wa sallam – bersabda :“إذا دخل رمضان فتحت أبواب الجنة ، وأغلقت أبواب جهنم ، وسلسلت الشياطين ” رواه البخاري ومسلم“Jika datang bulan Ramadhan, pintu surga dibuka, pintu neraka Jahanam ditutup dan setan-setan dibelenggu.” HR. Bukhari dan Muslim.     Aneka macam pahala dan kenikmatan surgawi adalah cerminan dari aneka macam ibadah dan ketaatan di dunia ini. Maka setiap bentuk ketaatan pasti ada balasan pahalanya dan kenikmatan tertentu baginya. Firman Allah:كُلُوا وَاشْرَبُوا هَنِيئًا بِمَا أَسْلَفْتُمْ فِي الأيَّامِ الْخَالِيَةِ [ الحاقة/24]“Makanlah dan minumlah dengan sedap disebabkan amal yang telah kalian kerjakan pada hari-hari yang telah lalu”.Qs Alhaaqah : 24Dari Sahal Bin Sa’ad –radhiyallahu anhu- dari Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :“إنَّ فِي الْجَنَّةِ بَابًا يُدْعى لَهُ الرَّيَّانُ يَدْعى لَهُ الصَّائِمُونَ فمَنْ كَانَ مِنَ الصَّائِميْنَ دَخلَهُ ومَنْ دَخَلَهُ لَا يَظْمَعُ أَبَدًا” رواه البخاري ومسلم “Sesungguhnya di surga itu ada pintu yang dinamakan Ar-Rayyan. Orang-orang yang berpuasa dipanggil melalui pintu itu. Barangsiapa yang termasuk orang-orang yang berpuasa, akan memasukinya. Dan barangsiapa yang telah memasukinya tidaklah akan haus selama-lamanya.” HR Bukhari dan Muslim.      Penghormatan paling besar bagi orang yang masuk surga adalah karunia bisa memandang wajah Allah yang Maha Mulia. Ini merupakan balasan terbaik atas ibadah yang dilakukan seorang muslim sehingga ia dapat melihat Allah –subhanahu wa ta’ala-. Firman Allah :لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَى وَزِيَادَةٌ [ يونس / 26 ]“bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahan[kenikmatan melihat Allah].”Qs Yunus : 26Demikianlah Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- menafsirkan kata “Ziyadah” dalam ayat tersebut sebagai nikmat melihat wajah Allah yang Maha Mulia sebagaimana hadis Salman –radhiyallahu anhu- yang riwayatkan oleh Imam Muslim. Sebab, suatu balasan kebaikan yang diterima seseorang adalah cerminan dari jenis amal kebaikan yang dilakukannya. Demikian pula berbagai macam sanksi kejahatan seseorang identik dengan berbagai macam jenis pelanggaran yang pernah dilakukannya.Itulah sebabnya mengapa makanan zaqum dan minuman air yang sangat panas mendidih menjadi jenis balasan bagi orang yang memakan harta riba, uang haram, meminum minuman yang memabukkan dan mengonsumsi narkoba. Demikian pula penuangan air mendidih yang sangat panas ke atas kepala seseorang merupakan pembalasan atas sikap sombong dan arogan terhadap syariat Allah. Firman Allah :إِنَّ شَجَرَةَ الزَّقُّومِ ، طَعَامُ الأثِيم ، كَالْمُهْلِ يَغْلِي فِي الْبُطُونِ ، كَغَلْيِ الْحَمِيمِ ، خُذُوهُ فَاعْتِلُوهُ إِلَى سَوَاءِ الْجَحِيمِ ، ثُمَّ صُبُّوا فَوْقَ رَأْسِهِ مِنْ عَذَابِ الْحَمِيمِ ، ذُقْ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْكَرِيمُ [ الدخان/ 43-49]“Sesungguhnya pohon zaqqum, makanan orang yang banyak berdosa sebagai kotoran minyak yang mendidih di dalam perut, seperti mendidihnya air yang amat panas. Tangkaplah dia kemudian seretlah ke tengah-tengah neraka. Kemudian tuangkanlah di atas kepalanya siksaan (dari) air yang amat panas. Rasakanlah, sesungguhnya kamu orang yang perkasa lagi mulia.” Qs Al-Dukhan: 43-49Jelaslah bahwa pembalasan di akhirat adalah identik dengan jenis amal perbuatan itu sendiri di dunia.Maka berbesar hatilah kalian –wahai kaum muslimin- dengan kabar gembira yang pernah disampaikan oleh Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- kepada para sahabatnya berupa kehadiran bulan Ramadhan. Beliau mengabarkannya kepada mereka di akhir bulan Sya’ban, maka mereka pun bersiap-siap menyambut bulan yang agung ini sebaik-baiknya serta menyongsongnya dengan penuh keikhlasan kepada Allah –subhanahu wa ta’ala untuk mencari ridha-Nya. Mereka menyambutnya dengan senang hati, lantaran Allah telah mengantarkan mereka kepada bulan yang agung ini. Firman Allah :قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ [يونس/58]“Katakanlah: “Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. karunia Allah dan rahmat-Nya lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.” Qs Yunus : 58Penyambutan mereka dalam bentuk pertobatan atas segala dosa agar Allah –subhanahu wa ta’ala- menghapuskan dosa-dosa yang telah lampau. Mereka menyambutnya dengan mengembalikan hak-hak sesama kepada pemiliknya agar Allah menjaga keutuhan amal kebaikan mereka dan menghapus kesalahan-kesalahan mereka.Ingatlah pasti datang suatu saat dimana Anda tidak lagi dapat mengenyam ramadhan, maka bersiap-siaplah menghadapi kematian dengan segala petakan yang menyertaiya. Jagalah puasa Anda dari perbuatan yang sia-sia, mengumpat,adu domba, omong kosong, kemaksiatan dan melepaskan pandangan mata kepada obyek yang terlarang. Jagalah batin Anda dari suara-suara hati yang berakibat buruk. Diriwayatkan dari Ibnu Umar –radhiyallahu anhuma- dari Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :“رب صائم حظه من صيامه الجوع والعطش ورب قائم حظه من قيامه السهر” رواه الطبراني فى الكبير“Betapa banyak orang yang berpuasa hanya mendapatkan rasa lapar dan dahaga saja. Betapa banyak pula orang yang melakukan shalat malam, hanya begadang di malam hari.”HR. At-Tabrani.Menurut Al-Munziri,sanad hadis ini cukup dapat diterima.Dari Abu Hurairah –radhiyallahu anhu- dari Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :” من لم يدع قول الزور والعمل به فليس لله حاجة في أن يدع طعامه وشرابه ” رواه البخاري و أبو داود والترمذي“Barangsiapa yang tidak meninggalkan ucapan dusta dan tidak berhenti melakukannya, maka Allah tidak butuh kepadanya untuk meninggalkan makanannya dan minumannya“.HR. Bukhari, Abu Dawud dan Tirmizi.     Dari Abi Ubaidah –radhiyallahu anhu- dari Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :“الصَّوْمُ جُنَّةٌ مَا لَمْ يَخْرِقْهَا ” رواه النسائي والطبراني فى الأوسط“Puasa itu adalah perisai (bagi seseorang) selama ia tidak melubanginya.” HR. Nasa’i dan Tabrani dalam Al-Ausath. Melubanginya adalah merusaknya dengan ucapan dusta dan umpatan.     Seorang muslim seharusnya merawat pahala puasanya dengan memperbanyak ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah –subhanahu wa ta’ala- di bulan Ramadhan, memperbanyak baca Al-Qur’an, berdzikir, beristighfar, bershalawat kepada Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- bersedekah, memberi hadiah secara ikhlas karena Allah dan melakukan berbagai bentuk amal sosial seperti mengajarkan ilmu, meyerukan untuk berbuat kebaikan, mendorong orang lain untuk melakukannya, mencegahnya dari keburukan dan memperingatkannya dari bahayanya.     Bervariasi dalam melakukan ketaatan selain puasa dapat menambah pahala ibadah puasa itu sendiri. Oleh karena itu, barangsiapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala setara dengan pahala orang yang berbuasa itu tanpa berkurang sedikit pun. Janganlah Anda lewatkan shalat terawih –wahai saudara sesama muslim- dan shalat-shalat malam lainnya. Berusahalah dengan penuh antusias untuk meraih karunia “Lailatul-Qadr” pada sepuluh malam akhir Ramadhan.     Puasa dapat menghapuskan dosa-dosa, sebagaimana hadis dari Abu Hurairah –radhiyallahu anhu- yang menyatakan, Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda:من صام رمضان إيمانا واحتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه [رواه البخارى]“Barangsiapa yang berpuasa (di bulan) Ramadhan karena iman dan mengharapkan ridha Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu”. HR Bukhari      Abu Hurairah –radhiyallahu anhu- berkata, Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :من قام رمضان إيمانا واحتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه[ رواه البخاري ومسلم]“Barangsiapa yang melakukan qiyamul-lail dengan penuh keimanan dan mengharap pahala (dari Allah), maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah berlalu.” HR Bukhari dan Muslim.     Dari Ubadah Bin Shamit –radhiyallahu anhu- dari Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda terkait Lailatul-Qadr:الْتَمِسُوهَا فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ   فَمَنْ قَامَهَا إيْمَاناً وَاحْتِسَابًا ثُمَّ وُفِّقَتْ لَهُ غُفِرَ لَه مَا تَقدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَا تَأخّرَ ” رواه أحمد والطبرانى فى الكبير . ”Carilah malam lailatul qadar pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Barangsiapa yang mengidupkan (shalat malam) pada malam (lailatul Qodar) dilandasi keimanan dan mengharap ridha Allah, lalu bertepatan dengan (turunnya), niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu maupun yang kemudian.”HR Ahmad, dan Tabrani dalam kitab Alkabir.     Lakukanlah –wahai saudara sesama muslim- shalat secara berjamaah pada malam Lailatul Qadar tersebut, niscaya Allah melindungi Anda, menolong urusan Anda, dan meluruskan hal ihwal Anda tepat pada sasaran.     Barangsiapa yang melalaikan shalat, lenyaplah dunianya dan akhiratnya. Meski di dunia bisa menikmati kehidupan seperti halnya binatang, namun di hari kiamat kelak akan dikatakan kepadanya, “masuklah Engkau ke dalam neraka bersama para penghuninya”. Dalam sebuah hadis disebutkan :” من صلى العشاء في جماعة فكأنما قام نصف الليل، ومن صلى الفجر في جماعة فكأنما قام الليل كله” رواه مسلم “Barangsiapa yang melakukan shalat isya’ berjama’ah maka seakan-akan ia melakukan shalat sunnah separuh malam, dan barangsiapa yang melakukan shalat shubuh berjama’ah maka seakan-akan ia melakukan shalat sunnah semalam penuh.” HR. Muslim dari hadis Utsman –radhiyallahu anhu-.     Salah satu kerugian yang teramat besar dan keterhalangan dari pahala adalah berpuasa namun tidak melakukan shalat, atau meninggalkan sebagian shalat. Termasuk membuang-buang umur dan waktu adalah menghabiskan waktu malam sampai larut malam dengan permainan dan senda gurau, atau mencari situs-situs yang merusak moral dan menonton sinetron yang membahayakan dan menyebabkan kemerosotan akhlak.     Ketertinggalan (dari kebaikan) yang membawa kerugian teramat besar adalah ketika waktu seseorang tersita untuk aktivitas tersebut sepanjang bulan Ramadhan sehingga tidak sempat mendekatkan diri kepada Allah. Firman Allah :وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالأرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ ،الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ [ آل عمران/ 133-1 34]“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.”Qs Ali Imran : 133-134     Semoga Allah mencurahkan keberkahan kepada kita semua lantaran pengamalan Al-Qur’an yang mulia.======= Khotbah Kedua     Segala puji bagi Allah, yang Maha Pemberi petunjuk ke jalan yang lurus, Pemilik karunia agung, menganugerahkan karunianya kepada siapa yang dikehendaki-Nya karena kebaikan-Nya dan menahan (pemberian)-Nya dari siapa saja yang dikehendaki-Nya karena keadilan-Nya. Dia-lah yang Maha Mulia dan Maha Bijaksana. Aku memuji Tuhanku, bersyukur, bertobat dan memohon ampun kepada-Nya. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya yang Maha Kuasa dan Maha mengetahui. Aku pun bersaksi bahwa nabi dan pemimpin kami Muhammad –shallallahu alaihi wa sallam- adalah hamba Allah dan rasul-Nya, sebagai nabi pembawa syariat yang gemilang dan petunjuk yang lurus.Ya Allah, curahkanlah shalawat, salam dan keberkahan kepada hamba-Mu dan rasul-Mu, Muhammad –shallallahu alaihi wa sallam- beserta seluruh keluarga dan sahabatnya yang memiliki karakter tangguh cerminan dari akhlak mereka yang mulia.Selanjutnya. Bertakwalah kepada Allah dengan sesungguhnya. Berpegang-teguhlah dengan ikatan Islam yang demikian kokoh.Para hamba Allah!     Bertobatlah dari setiap dosa. Sungguh beruntung orang-orang yang bertobat dan celakalah orang-orang yang terus menerus berdosa. Firman Allah:وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ [ النور/31]“Dan bertobatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” Qs An-Nur : 31     Bulan Ramadhan adalah waktu bertobat. Termasuk perbuatan yang besar dosanya dan harus dilakukan pertobatan adalah merokok. Maka harumkanlah mulutmu –wahai saudaraku sesama muslim- dengan tidak merokok, bersihkanlah lidahmu dari noda-noda rokok untuk berdzikir kepada Allah –subhanahu wa ta’ala- dan membaca Al-Qur’an. Sedapkanlah aroma mulutmu untuk duduk berdampingan dengan orang-orang saleh dan para malaikat terhormat yang mencatat amalmu.     Merokok sama dengan mendekatkan diri kepada setan, dapat merusak darah, mendatangkan berbagai penyakit yang ganas, memperpendek umur, dan karenanya dasar-dasar syariat Islam mengharamkan-nya.Ketahuilah –saudaraku seiman- bahwa dalam puasa Ramadhan seseorang wajib menempatkan niat puasanya di malam hari sesuai hadis dari Hafshah –radhiyallahu anha- dari Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :من لم يجمع الصيام قبل الفجر فلا صيام له [ رواه أبو داود والترمذى والنسائي وابن ماجه]“Barangsiapa yang tidak berniat puasa sebelum terbitnya fajar, maka tidak ada puasa baginya.” HR Abu Dawud, Tirmizi, Nasa’i dan Ibnu Majah.Disebutkan dalam hadis :” من أفطر يوما من رمضان من غير عذر لم يقضه صوم الدهر وإن صامه” “Barangsiapa yang berbuka sehari bulan Ramadhan tanpa ada alasan ( yang dibenarkan menurut syara’),tidak akan diterima qadha’nya walaupun dia berpuasa penuh selama setahun”.Para hamba Allah!إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا.“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah dan sampaikanlah salam dengan sesungguhnya kepadanya.” === Doa ===Penerjemah Usman Hatimhttps://firanda.com/

Ramadhan Telah Tiba

Khotbah Jum’at, Masjid Nabawi, 27 Sya’ban 1437 HKhatib : Syekh Ali Bin Abdurrahman Al-HudzaifiKhotbah PertamaSegala puji bagi Allah yang Maha Perkasa dan Maha Pengampun. Mencipta apa yang dikehendakiNya dan dipilihNya serta mengatur pergantian siang dan malam. Sesungguhnya yang demikian itu merupakan pelajaran bagi orang-orang yang berpandangan tajam. Aku memuji Tuhanku, bersyukur, bertobat dan memohon ampun kepadaNya. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah semata yang Maha Esa lagi Perkasa, tidak ada sekutu bagiNya. Aku pun bersaksi bahwa nabi dan penghulu kita Muhammad –shallallahu alaihi wa sallam- adalah hamba dan rasul pilihan-Nya.Ya Allah, curahkanlah shalawat dan salam serta keberkahan kepada hamba-Mu dan rasul-Mu Muhammad –shallallahu alaihi wa sallam- beserta seluruh keluarganya dan sahabatnya yang setia.Selanjutnya.      Bertakwalah dan taatlah kepada Allah. Tidak ada orang yang celaka lantaran taat kepada Allah, dan tidak ada orang yang selamat karena kemaksiatan kepadaNya.Wahai hamba Allah!     Percayalah akan janji Allah atas amal kebajikan kalian, dan bersungguh-sungguhlah meraih kesudahan dan final yang gemilang. Sesungguhnya Allah adalah “Syakur” (Maha menghargai dan merima apapun amal baik seseorang), Maha mengetahui, Maha Kaya dan Maha Mulia. Dia mengajak kalian untuk mendekatkan diri kepadaNya dengan amal-amal yang dicintaiNya, meskipun sesungguhnya Dia tidak memerlukan ketaatan kalian. Allah memperingatkan kalian dari kemaksiatan, meskipun Dia tidak terpengaruh oleh perbuatan durjana yang dilakukan seseorang. Firman Allah :مَنْ عَمِلَ صَالِحًا فَلِنَفْسِهِ وَمَنْ أَسَاءَ فَعَلَيْهَا وَمَا رَبُّكَ بِظَلامٍ لِلْعَبِيدِ [ فصلت/46]“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan Barangsiapa mengerjakan perbuatan durjana, maka (dosanya) untuk dirinya sendiri; dan sekali-kali tidaklah Tuhan-mu menganiaya hamba-hambaNya.”Qs Fushilat : 46Firman Allah:وَمَنْ يَنْقَلِبْ عَلَى عَقِبَيْهِ فَلَنْ يَضُرَّ اللَّهَ شَيْئًا وَسَيَجْزِي اللَّهُ الشَّاكِرِينَ [آل عمران/144]“Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan kemudharatan sedikitpun bagi Allah, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.”Qs Ali Imran : 144Waspadalah selalu –wahai hamba Allah- terhadap ancamana Allah. Tidaklah ancamanNya mengena seseorang melainkan menghinakannya dan tidaklah ancamannya mengepung seseorang yang berpaling dan lalai melainkan menyiksanya dan menyengsarakannya. Firman Allah:وَمَنْ يَحْلِلْ عَلَيْهِ غَضَبِي فَقَدْ هَوَى [طه/81]“Barangsiapa ditimpa oleh kemurkaan-Ku, maka sungguh binasalah ia.” Qs Thaha : 81      Sangat mengherankan, urusan orang yang bekerja hanya untuk dunia saja dengan melupakan akhiratnya, padahal urusan dunia dapat diperoleh dengan bekerja atau tanpa bekerja bagi orang yang dirinya tidak mampu bekerja. Sedangkan akhirat dan kenikmatan ukhrawi tidaklah didapat kecuali dengan bekerja untuk itu. Firman Allah:وَتِلْكَ الْجَنَّةُ الَّتِي أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ [الزخرف/72]“Dan Itulah surga yang diwariskan kepada kamu disebabkan amal-amal yang dahulu kamu kerjakan.” Qs Az-Zukhruf:72Kaum muslimin!     Kini telah tiba di tengah-tengah kita suatu momen yang agung, bulan mulia yang penuh kebaikan dan keberkahan, yang di dalamnya kesalahan-kesalahan dihapuskan, yaitu bulan Ramadhan yang Allah istimewakan.Diriwayatkan dari Abi Saed Al-Hudhri dari Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :” سيد الشهور شهر رمضان وأعظمها حرمة ذو الحجة” رواه البزار “Penghulu bulan adalah bulan Ramadhan dan yang paling agung kesuciannya adalah Dzulhijah.” HR Al-BazzarFirman Allah :شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ [البقرة/185]“Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil).”Qs Albaqarah : 185Semua waktu dalam bulan Ramadhan penuh keberkahan. Allah menggabungkan di dalamnya ibadah puasa dengan ibadah shalat, zakat bagi mereka yang berkewajiban, sedekah, haji kecil (umrah), memperbanyak baca Al-Qur’an, berbagai macam zikir, beramar makruf dan nahi anil munkar serta aneka ragam bentuk ketaatan dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah –subhanahu wa ta’ala-.     Sangat banyak dan terlihat cukup jelas lahan amal kebajikan di dalam bulan Ramadhan, sementara lahan keburukan di dalamnya dipersempit sedemikian rupa, sebab antara setan dan kemauan jahatnya untuk merusak, menyesatkan dan merintangi seorang muslim yang ingin beribadah telah dihambat dan dihalangi sedemikian rupa.Dari Abu Hurairah –radhiyallahu anhu- dari Nabi –shallallahu alaihi wa sallam – bersabda :“إذا دخل رمضان فتحت أبواب الجنة ، وأغلقت أبواب جهنم ، وسلسلت الشياطين ” رواه البخاري ومسلم“Jika datang bulan Ramadhan, pintu surga dibuka, pintu neraka Jahanam ditutup dan setan-setan dibelenggu.” HR. Bukhari dan Muslim.     Aneka macam pahala dan kenikmatan surgawi adalah cerminan dari aneka macam ibadah dan ketaatan di dunia ini. Maka setiap bentuk ketaatan pasti ada balasan pahalanya dan kenikmatan tertentu baginya. Firman Allah:كُلُوا وَاشْرَبُوا هَنِيئًا بِمَا أَسْلَفْتُمْ فِي الأيَّامِ الْخَالِيَةِ [ الحاقة/24]“Makanlah dan minumlah dengan sedap disebabkan amal yang telah kalian kerjakan pada hari-hari yang telah lalu”.Qs Alhaaqah : 24Dari Sahal Bin Sa’ad –radhiyallahu anhu- dari Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :“إنَّ فِي الْجَنَّةِ بَابًا يُدْعى لَهُ الرَّيَّانُ يَدْعى لَهُ الصَّائِمُونَ فمَنْ كَانَ مِنَ الصَّائِميْنَ دَخلَهُ ومَنْ دَخَلَهُ لَا يَظْمَعُ أَبَدًا” رواه البخاري ومسلم “Sesungguhnya di surga itu ada pintu yang dinamakan Ar-Rayyan. Orang-orang yang berpuasa dipanggil melalui pintu itu. Barangsiapa yang termasuk orang-orang yang berpuasa, akan memasukinya. Dan barangsiapa yang telah memasukinya tidaklah akan haus selama-lamanya.” HR Bukhari dan Muslim.      Penghormatan paling besar bagi orang yang masuk surga adalah karunia bisa memandang wajah Allah yang Maha Mulia. Ini merupakan balasan terbaik atas ibadah yang dilakukan seorang muslim sehingga ia dapat melihat Allah –subhanahu wa ta’ala-. Firman Allah :لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَى وَزِيَادَةٌ [ يونس / 26 ]“bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahan[kenikmatan melihat Allah].”Qs Yunus : 26Demikianlah Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- menafsirkan kata “Ziyadah” dalam ayat tersebut sebagai nikmat melihat wajah Allah yang Maha Mulia sebagaimana hadis Salman –radhiyallahu anhu- yang riwayatkan oleh Imam Muslim. Sebab, suatu balasan kebaikan yang diterima seseorang adalah cerminan dari jenis amal kebaikan yang dilakukannya. Demikian pula berbagai macam sanksi kejahatan seseorang identik dengan berbagai macam jenis pelanggaran yang pernah dilakukannya.Itulah sebabnya mengapa makanan zaqum dan minuman air yang sangat panas mendidih menjadi jenis balasan bagi orang yang memakan harta riba, uang haram, meminum minuman yang memabukkan dan mengonsumsi narkoba. Demikian pula penuangan air mendidih yang sangat panas ke atas kepala seseorang merupakan pembalasan atas sikap sombong dan arogan terhadap syariat Allah. Firman Allah :إِنَّ شَجَرَةَ الزَّقُّومِ ، طَعَامُ الأثِيم ، كَالْمُهْلِ يَغْلِي فِي الْبُطُونِ ، كَغَلْيِ الْحَمِيمِ ، خُذُوهُ فَاعْتِلُوهُ إِلَى سَوَاءِ الْجَحِيمِ ، ثُمَّ صُبُّوا فَوْقَ رَأْسِهِ مِنْ عَذَابِ الْحَمِيمِ ، ذُقْ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْكَرِيمُ [ الدخان/ 43-49]“Sesungguhnya pohon zaqqum, makanan orang yang banyak berdosa sebagai kotoran minyak yang mendidih di dalam perut, seperti mendidihnya air yang amat panas. Tangkaplah dia kemudian seretlah ke tengah-tengah neraka. Kemudian tuangkanlah di atas kepalanya siksaan (dari) air yang amat panas. Rasakanlah, sesungguhnya kamu orang yang perkasa lagi mulia.” Qs Al-Dukhan: 43-49Jelaslah bahwa pembalasan di akhirat adalah identik dengan jenis amal perbuatan itu sendiri di dunia.Maka berbesar hatilah kalian –wahai kaum muslimin- dengan kabar gembira yang pernah disampaikan oleh Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- kepada para sahabatnya berupa kehadiran bulan Ramadhan. Beliau mengabarkannya kepada mereka di akhir bulan Sya’ban, maka mereka pun bersiap-siap menyambut bulan yang agung ini sebaik-baiknya serta menyongsongnya dengan penuh keikhlasan kepada Allah –subhanahu wa ta’ala untuk mencari ridha-Nya. Mereka menyambutnya dengan senang hati, lantaran Allah telah mengantarkan mereka kepada bulan yang agung ini. Firman Allah :قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ [يونس/58]“Katakanlah: “Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. karunia Allah dan rahmat-Nya lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.” Qs Yunus : 58Penyambutan mereka dalam bentuk pertobatan atas segala dosa agar Allah –subhanahu wa ta’ala- menghapuskan dosa-dosa yang telah lampau. Mereka menyambutnya dengan mengembalikan hak-hak sesama kepada pemiliknya agar Allah menjaga keutuhan amal kebaikan mereka dan menghapus kesalahan-kesalahan mereka.Ingatlah pasti datang suatu saat dimana Anda tidak lagi dapat mengenyam ramadhan, maka bersiap-siaplah menghadapi kematian dengan segala petakan yang menyertaiya. Jagalah puasa Anda dari perbuatan yang sia-sia, mengumpat,adu domba, omong kosong, kemaksiatan dan melepaskan pandangan mata kepada obyek yang terlarang. Jagalah batin Anda dari suara-suara hati yang berakibat buruk. Diriwayatkan dari Ibnu Umar –radhiyallahu anhuma- dari Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :“رب صائم حظه من صيامه الجوع والعطش ورب قائم حظه من قيامه السهر” رواه الطبراني فى الكبير“Betapa banyak orang yang berpuasa hanya mendapatkan rasa lapar dan dahaga saja. Betapa banyak pula orang yang melakukan shalat malam, hanya begadang di malam hari.”HR. At-Tabrani.Menurut Al-Munziri,sanad hadis ini cukup dapat diterima.Dari Abu Hurairah –radhiyallahu anhu- dari Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :” من لم يدع قول الزور والعمل به فليس لله حاجة في أن يدع طعامه وشرابه ” رواه البخاري و أبو داود والترمذي“Barangsiapa yang tidak meninggalkan ucapan dusta dan tidak berhenti melakukannya, maka Allah tidak butuh kepadanya untuk meninggalkan makanannya dan minumannya“.HR. Bukhari, Abu Dawud dan Tirmizi.     Dari Abi Ubaidah –radhiyallahu anhu- dari Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :“الصَّوْمُ جُنَّةٌ مَا لَمْ يَخْرِقْهَا ” رواه النسائي والطبراني فى الأوسط“Puasa itu adalah perisai (bagi seseorang) selama ia tidak melubanginya.” HR. Nasa’i dan Tabrani dalam Al-Ausath. Melubanginya adalah merusaknya dengan ucapan dusta dan umpatan.     Seorang muslim seharusnya merawat pahala puasanya dengan memperbanyak ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah –subhanahu wa ta’ala- di bulan Ramadhan, memperbanyak baca Al-Qur’an, berdzikir, beristighfar, bershalawat kepada Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- bersedekah, memberi hadiah secara ikhlas karena Allah dan melakukan berbagai bentuk amal sosial seperti mengajarkan ilmu, meyerukan untuk berbuat kebaikan, mendorong orang lain untuk melakukannya, mencegahnya dari keburukan dan memperingatkannya dari bahayanya.     Bervariasi dalam melakukan ketaatan selain puasa dapat menambah pahala ibadah puasa itu sendiri. Oleh karena itu, barangsiapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala setara dengan pahala orang yang berbuasa itu tanpa berkurang sedikit pun. Janganlah Anda lewatkan shalat terawih –wahai saudara sesama muslim- dan shalat-shalat malam lainnya. Berusahalah dengan penuh antusias untuk meraih karunia “Lailatul-Qadr” pada sepuluh malam akhir Ramadhan.     Puasa dapat menghapuskan dosa-dosa, sebagaimana hadis dari Abu Hurairah –radhiyallahu anhu- yang menyatakan, Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda:من صام رمضان إيمانا واحتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه [رواه البخارى]“Barangsiapa yang berpuasa (di bulan) Ramadhan karena iman dan mengharapkan ridha Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu”. HR Bukhari      Abu Hurairah –radhiyallahu anhu- berkata, Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :من قام رمضان إيمانا واحتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه[ رواه البخاري ومسلم]“Barangsiapa yang melakukan qiyamul-lail dengan penuh keimanan dan mengharap pahala (dari Allah), maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah berlalu.” HR Bukhari dan Muslim.     Dari Ubadah Bin Shamit –radhiyallahu anhu- dari Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda terkait Lailatul-Qadr:الْتَمِسُوهَا فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ   فَمَنْ قَامَهَا إيْمَاناً وَاحْتِسَابًا ثُمَّ وُفِّقَتْ لَهُ غُفِرَ لَه مَا تَقدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَا تَأخّرَ ” رواه أحمد والطبرانى فى الكبير . ”Carilah malam lailatul qadar pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Barangsiapa yang mengidupkan (shalat malam) pada malam (lailatul Qodar) dilandasi keimanan dan mengharap ridha Allah, lalu bertepatan dengan (turunnya), niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu maupun yang kemudian.”HR Ahmad, dan Tabrani dalam kitab Alkabir.     Lakukanlah –wahai saudara sesama muslim- shalat secara berjamaah pada malam Lailatul Qadar tersebut, niscaya Allah melindungi Anda, menolong urusan Anda, dan meluruskan hal ihwal Anda tepat pada sasaran.     Barangsiapa yang melalaikan shalat, lenyaplah dunianya dan akhiratnya. Meski di dunia bisa menikmati kehidupan seperti halnya binatang, namun di hari kiamat kelak akan dikatakan kepadanya, “masuklah Engkau ke dalam neraka bersama para penghuninya”. Dalam sebuah hadis disebutkan :” من صلى العشاء في جماعة فكأنما قام نصف الليل، ومن صلى الفجر في جماعة فكأنما قام الليل كله” رواه مسلم “Barangsiapa yang melakukan shalat isya’ berjama’ah maka seakan-akan ia melakukan shalat sunnah separuh malam, dan barangsiapa yang melakukan shalat shubuh berjama’ah maka seakan-akan ia melakukan shalat sunnah semalam penuh.” HR. Muslim dari hadis Utsman –radhiyallahu anhu-.     Salah satu kerugian yang teramat besar dan keterhalangan dari pahala adalah berpuasa namun tidak melakukan shalat, atau meninggalkan sebagian shalat. Termasuk membuang-buang umur dan waktu adalah menghabiskan waktu malam sampai larut malam dengan permainan dan senda gurau, atau mencari situs-situs yang merusak moral dan menonton sinetron yang membahayakan dan menyebabkan kemerosotan akhlak.     Ketertinggalan (dari kebaikan) yang membawa kerugian teramat besar adalah ketika waktu seseorang tersita untuk aktivitas tersebut sepanjang bulan Ramadhan sehingga tidak sempat mendekatkan diri kepada Allah. Firman Allah :وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالأرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ ،الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ [ آل عمران/ 133-1 34]“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.”Qs Ali Imran : 133-134     Semoga Allah mencurahkan keberkahan kepada kita semua lantaran pengamalan Al-Qur’an yang mulia.======= Khotbah Kedua     Segala puji bagi Allah, yang Maha Pemberi petunjuk ke jalan yang lurus, Pemilik karunia agung, menganugerahkan karunianya kepada siapa yang dikehendaki-Nya karena kebaikan-Nya dan menahan (pemberian)-Nya dari siapa saja yang dikehendaki-Nya karena keadilan-Nya. Dia-lah yang Maha Mulia dan Maha Bijaksana. Aku memuji Tuhanku, bersyukur, bertobat dan memohon ampun kepada-Nya. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya yang Maha Kuasa dan Maha mengetahui. Aku pun bersaksi bahwa nabi dan pemimpin kami Muhammad –shallallahu alaihi wa sallam- adalah hamba Allah dan rasul-Nya, sebagai nabi pembawa syariat yang gemilang dan petunjuk yang lurus.Ya Allah, curahkanlah shalawat, salam dan keberkahan kepada hamba-Mu dan rasul-Mu, Muhammad –shallallahu alaihi wa sallam- beserta seluruh keluarga dan sahabatnya yang memiliki karakter tangguh cerminan dari akhlak mereka yang mulia.Selanjutnya. Bertakwalah kepada Allah dengan sesungguhnya. Berpegang-teguhlah dengan ikatan Islam yang demikian kokoh.Para hamba Allah!     Bertobatlah dari setiap dosa. Sungguh beruntung orang-orang yang bertobat dan celakalah orang-orang yang terus menerus berdosa. Firman Allah:وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ [ النور/31]“Dan bertobatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” Qs An-Nur : 31     Bulan Ramadhan adalah waktu bertobat. Termasuk perbuatan yang besar dosanya dan harus dilakukan pertobatan adalah merokok. Maka harumkanlah mulutmu –wahai saudaraku sesama muslim- dengan tidak merokok, bersihkanlah lidahmu dari noda-noda rokok untuk berdzikir kepada Allah –subhanahu wa ta’ala- dan membaca Al-Qur’an. Sedapkanlah aroma mulutmu untuk duduk berdampingan dengan orang-orang saleh dan para malaikat terhormat yang mencatat amalmu.     Merokok sama dengan mendekatkan diri kepada setan, dapat merusak darah, mendatangkan berbagai penyakit yang ganas, memperpendek umur, dan karenanya dasar-dasar syariat Islam mengharamkan-nya.Ketahuilah –saudaraku seiman- bahwa dalam puasa Ramadhan seseorang wajib menempatkan niat puasanya di malam hari sesuai hadis dari Hafshah –radhiyallahu anha- dari Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :من لم يجمع الصيام قبل الفجر فلا صيام له [ رواه أبو داود والترمذى والنسائي وابن ماجه]“Barangsiapa yang tidak berniat puasa sebelum terbitnya fajar, maka tidak ada puasa baginya.” HR Abu Dawud, Tirmizi, Nasa’i dan Ibnu Majah.Disebutkan dalam hadis :” من أفطر يوما من رمضان من غير عذر لم يقضه صوم الدهر وإن صامه” “Barangsiapa yang berbuka sehari bulan Ramadhan tanpa ada alasan ( yang dibenarkan menurut syara’),tidak akan diterima qadha’nya walaupun dia berpuasa penuh selama setahun”.Para hamba Allah!إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا.“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah dan sampaikanlah salam dengan sesungguhnya kepadanya.” === Doa ===Penerjemah Usman Hatimhttps://firanda.com/
Khotbah Jum’at, Masjid Nabawi, 27 Sya’ban 1437 HKhatib : Syekh Ali Bin Abdurrahman Al-HudzaifiKhotbah PertamaSegala puji bagi Allah yang Maha Perkasa dan Maha Pengampun. Mencipta apa yang dikehendakiNya dan dipilihNya serta mengatur pergantian siang dan malam. Sesungguhnya yang demikian itu merupakan pelajaran bagi orang-orang yang berpandangan tajam. Aku memuji Tuhanku, bersyukur, bertobat dan memohon ampun kepadaNya. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah semata yang Maha Esa lagi Perkasa, tidak ada sekutu bagiNya. Aku pun bersaksi bahwa nabi dan penghulu kita Muhammad –shallallahu alaihi wa sallam- adalah hamba dan rasul pilihan-Nya.Ya Allah, curahkanlah shalawat dan salam serta keberkahan kepada hamba-Mu dan rasul-Mu Muhammad –shallallahu alaihi wa sallam- beserta seluruh keluarganya dan sahabatnya yang setia.Selanjutnya.      Bertakwalah dan taatlah kepada Allah. Tidak ada orang yang celaka lantaran taat kepada Allah, dan tidak ada orang yang selamat karena kemaksiatan kepadaNya.Wahai hamba Allah!     Percayalah akan janji Allah atas amal kebajikan kalian, dan bersungguh-sungguhlah meraih kesudahan dan final yang gemilang. Sesungguhnya Allah adalah “Syakur” (Maha menghargai dan merima apapun amal baik seseorang), Maha mengetahui, Maha Kaya dan Maha Mulia. Dia mengajak kalian untuk mendekatkan diri kepadaNya dengan amal-amal yang dicintaiNya, meskipun sesungguhnya Dia tidak memerlukan ketaatan kalian. Allah memperingatkan kalian dari kemaksiatan, meskipun Dia tidak terpengaruh oleh perbuatan durjana yang dilakukan seseorang. Firman Allah :مَنْ عَمِلَ صَالِحًا فَلِنَفْسِهِ وَمَنْ أَسَاءَ فَعَلَيْهَا وَمَا رَبُّكَ بِظَلامٍ لِلْعَبِيدِ [ فصلت/46]“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan Barangsiapa mengerjakan perbuatan durjana, maka (dosanya) untuk dirinya sendiri; dan sekali-kali tidaklah Tuhan-mu menganiaya hamba-hambaNya.”Qs Fushilat : 46Firman Allah:وَمَنْ يَنْقَلِبْ عَلَى عَقِبَيْهِ فَلَنْ يَضُرَّ اللَّهَ شَيْئًا وَسَيَجْزِي اللَّهُ الشَّاكِرِينَ [آل عمران/144]“Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan kemudharatan sedikitpun bagi Allah, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.”Qs Ali Imran : 144Waspadalah selalu –wahai hamba Allah- terhadap ancamana Allah. Tidaklah ancamanNya mengena seseorang melainkan menghinakannya dan tidaklah ancamannya mengepung seseorang yang berpaling dan lalai melainkan menyiksanya dan menyengsarakannya. Firman Allah:وَمَنْ يَحْلِلْ عَلَيْهِ غَضَبِي فَقَدْ هَوَى [طه/81]“Barangsiapa ditimpa oleh kemurkaan-Ku, maka sungguh binasalah ia.” Qs Thaha : 81      Sangat mengherankan, urusan orang yang bekerja hanya untuk dunia saja dengan melupakan akhiratnya, padahal urusan dunia dapat diperoleh dengan bekerja atau tanpa bekerja bagi orang yang dirinya tidak mampu bekerja. Sedangkan akhirat dan kenikmatan ukhrawi tidaklah didapat kecuali dengan bekerja untuk itu. Firman Allah:وَتِلْكَ الْجَنَّةُ الَّتِي أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ [الزخرف/72]“Dan Itulah surga yang diwariskan kepada kamu disebabkan amal-amal yang dahulu kamu kerjakan.” Qs Az-Zukhruf:72Kaum muslimin!     Kini telah tiba di tengah-tengah kita suatu momen yang agung, bulan mulia yang penuh kebaikan dan keberkahan, yang di dalamnya kesalahan-kesalahan dihapuskan, yaitu bulan Ramadhan yang Allah istimewakan.Diriwayatkan dari Abi Saed Al-Hudhri dari Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :” سيد الشهور شهر رمضان وأعظمها حرمة ذو الحجة” رواه البزار “Penghulu bulan adalah bulan Ramadhan dan yang paling agung kesuciannya adalah Dzulhijah.” HR Al-BazzarFirman Allah :شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ [البقرة/185]“Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil).”Qs Albaqarah : 185Semua waktu dalam bulan Ramadhan penuh keberkahan. Allah menggabungkan di dalamnya ibadah puasa dengan ibadah shalat, zakat bagi mereka yang berkewajiban, sedekah, haji kecil (umrah), memperbanyak baca Al-Qur’an, berbagai macam zikir, beramar makruf dan nahi anil munkar serta aneka ragam bentuk ketaatan dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah –subhanahu wa ta’ala-.     Sangat banyak dan terlihat cukup jelas lahan amal kebajikan di dalam bulan Ramadhan, sementara lahan keburukan di dalamnya dipersempit sedemikian rupa, sebab antara setan dan kemauan jahatnya untuk merusak, menyesatkan dan merintangi seorang muslim yang ingin beribadah telah dihambat dan dihalangi sedemikian rupa.Dari Abu Hurairah –radhiyallahu anhu- dari Nabi –shallallahu alaihi wa sallam – bersabda :“إذا دخل رمضان فتحت أبواب الجنة ، وأغلقت أبواب جهنم ، وسلسلت الشياطين ” رواه البخاري ومسلم“Jika datang bulan Ramadhan, pintu surga dibuka, pintu neraka Jahanam ditutup dan setan-setan dibelenggu.” HR. Bukhari dan Muslim.     Aneka macam pahala dan kenikmatan surgawi adalah cerminan dari aneka macam ibadah dan ketaatan di dunia ini. Maka setiap bentuk ketaatan pasti ada balasan pahalanya dan kenikmatan tertentu baginya. Firman Allah:كُلُوا وَاشْرَبُوا هَنِيئًا بِمَا أَسْلَفْتُمْ فِي الأيَّامِ الْخَالِيَةِ [ الحاقة/24]“Makanlah dan minumlah dengan sedap disebabkan amal yang telah kalian kerjakan pada hari-hari yang telah lalu”.Qs Alhaaqah : 24Dari Sahal Bin Sa’ad –radhiyallahu anhu- dari Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :“إنَّ فِي الْجَنَّةِ بَابًا يُدْعى لَهُ الرَّيَّانُ يَدْعى لَهُ الصَّائِمُونَ فمَنْ كَانَ مِنَ الصَّائِميْنَ دَخلَهُ ومَنْ دَخَلَهُ لَا يَظْمَعُ أَبَدًا” رواه البخاري ومسلم “Sesungguhnya di surga itu ada pintu yang dinamakan Ar-Rayyan. Orang-orang yang berpuasa dipanggil melalui pintu itu. Barangsiapa yang termasuk orang-orang yang berpuasa, akan memasukinya. Dan barangsiapa yang telah memasukinya tidaklah akan haus selama-lamanya.” HR Bukhari dan Muslim.      Penghormatan paling besar bagi orang yang masuk surga adalah karunia bisa memandang wajah Allah yang Maha Mulia. Ini merupakan balasan terbaik atas ibadah yang dilakukan seorang muslim sehingga ia dapat melihat Allah –subhanahu wa ta’ala-. Firman Allah :لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَى وَزِيَادَةٌ [ يونس / 26 ]“bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahan[kenikmatan melihat Allah].”Qs Yunus : 26Demikianlah Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- menafsirkan kata “Ziyadah” dalam ayat tersebut sebagai nikmat melihat wajah Allah yang Maha Mulia sebagaimana hadis Salman –radhiyallahu anhu- yang riwayatkan oleh Imam Muslim. Sebab, suatu balasan kebaikan yang diterima seseorang adalah cerminan dari jenis amal kebaikan yang dilakukannya. Demikian pula berbagai macam sanksi kejahatan seseorang identik dengan berbagai macam jenis pelanggaran yang pernah dilakukannya.Itulah sebabnya mengapa makanan zaqum dan minuman air yang sangat panas mendidih menjadi jenis balasan bagi orang yang memakan harta riba, uang haram, meminum minuman yang memabukkan dan mengonsumsi narkoba. Demikian pula penuangan air mendidih yang sangat panas ke atas kepala seseorang merupakan pembalasan atas sikap sombong dan arogan terhadap syariat Allah. Firman Allah :إِنَّ شَجَرَةَ الزَّقُّومِ ، طَعَامُ الأثِيم ، كَالْمُهْلِ يَغْلِي فِي الْبُطُونِ ، كَغَلْيِ الْحَمِيمِ ، خُذُوهُ فَاعْتِلُوهُ إِلَى سَوَاءِ الْجَحِيمِ ، ثُمَّ صُبُّوا فَوْقَ رَأْسِهِ مِنْ عَذَابِ الْحَمِيمِ ، ذُقْ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْكَرِيمُ [ الدخان/ 43-49]“Sesungguhnya pohon zaqqum, makanan orang yang banyak berdosa sebagai kotoran minyak yang mendidih di dalam perut, seperti mendidihnya air yang amat panas. Tangkaplah dia kemudian seretlah ke tengah-tengah neraka. Kemudian tuangkanlah di atas kepalanya siksaan (dari) air yang amat panas. Rasakanlah, sesungguhnya kamu orang yang perkasa lagi mulia.” Qs Al-Dukhan: 43-49Jelaslah bahwa pembalasan di akhirat adalah identik dengan jenis amal perbuatan itu sendiri di dunia.Maka berbesar hatilah kalian –wahai kaum muslimin- dengan kabar gembira yang pernah disampaikan oleh Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- kepada para sahabatnya berupa kehadiran bulan Ramadhan. Beliau mengabarkannya kepada mereka di akhir bulan Sya’ban, maka mereka pun bersiap-siap menyambut bulan yang agung ini sebaik-baiknya serta menyongsongnya dengan penuh keikhlasan kepada Allah –subhanahu wa ta’ala untuk mencari ridha-Nya. Mereka menyambutnya dengan senang hati, lantaran Allah telah mengantarkan mereka kepada bulan yang agung ini. Firman Allah :قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ [يونس/58]“Katakanlah: “Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. karunia Allah dan rahmat-Nya lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.” Qs Yunus : 58Penyambutan mereka dalam bentuk pertobatan atas segala dosa agar Allah –subhanahu wa ta’ala- menghapuskan dosa-dosa yang telah lampau. Mereka menyambutnya dengan mengembalikan hak-hak sesama kepada pemiliknya agar Allah menjaga keutuhan amal kebaikan mereka dan menghapus kesalahan-kesalahan mereka.Ingatlah pasti datang suatu saat dimana Anda tidak lagi dapat mengenyam ramadhan, maka bersiap-siaplah menghadapi kematian dengan segala petakan yang menyertaiya. Jagalah puasa Anda dari perbuatan yang sia-sia, mengumpat,adu domba, omong kosong, kemaksiatan dan melepaskan pandangan mata kepada obyek yang terlarang. Jagalah batin Anda dari suara-suara hati yang berakibat buruk. Diriwayatkan dari Ibnu Umar –radhiyallahu anhuma- dari Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :“رب صائم حظه من صيامه الجوع والعطش ورب قائم حظه من قيامه السهر” رواه الطبراني فى الكبير“Betapa banyak orang yang berpuasa hanya mendapatkan rasa lapar dan dahaga saja. Betapa banyak pula orang yang melakukan shalat malam, hanya begadang di malam hari.”HR. At-Tabrani.Menurut Al-Munziri,sanad hadis ini cukup dapat diterima.Dari Abu Hurairah –radhiyallahu anhu- dari Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :” من لم يدع قول الزور والعمل به فليس لله حاجة في أن يدع طعامه وشرابه ” رواه البخاري و أبو داود والترمذي“Barangsiapa yang tidak meninggalkan ucapan dusta dan tidak berhenti melakukannya, maka Allah tidak butuh kepadanya untuk meninggalkan makanannya dan minumannya“.HR. Bukhari, Abu Dawud dan Tirmizi.     Dari Abi Ubaidah –radhiyallahu anhu- dari Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :“الصَّوْمُ جُنَّةٌ مَا لَمْ يَخْرِقْهَا ” رواه النسائي والطبراني فى الأوسط“Puasa itu adalah perisai (bagi seseorang) selama ia tidak melubanginya.” HR. Nasa’i dan Tabrani dalam Al-Ausath. Melubanginya adalah merusaknya dengan ucapan dusta dan umpatan.     Seorang muslim seharusnya merawat pahala puasanya dengan memperbanyak ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah –subhanahu wa ta’ala- di bulan Ramadhan, memperbanyak baca Al-Qur’an, berdzikir, beristighfar, bershalawat kepada Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- bersedekah, memberi hadiah secara ikhlas karena Allah dan melakukan berbagai bentuk amal sosial seperti mengajarkan ilmu, meyerukan untuk berbuat kebaikan, mendorong orang lain untuk melakukannya, mencegahnya dari keburukan dan memperingatkannya dari bahayanya.     Bervariasi dalam melakukan ketaatan selain puasa dapat menambah pahala ibadah puasa itu sendiri. Oleh karena itu, barangsiapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala setara dengan pahala orang yang berbuasa itu tanpa berkurang sedikit pun. Janganlah Anda lewatkan shalat terawih –wahai saudara sesama muslim- dan shalat-shalat malam lainnya. Berusahalah dengan penuh antusias untuk meraih karunia “Lailatul-Qadr” pada sepuluh malam akhir Ramadhan.     Puasa dapat menghapuskan dosa-dosa, sebagaimana hadis dari Abu Hurairah –radhiyallahu anhu- yang menyatakan, Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda:من صام رمضان إيمانا واحتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه [رواه البخارى]“Barangsiapa yang berpuasa (di bulan) Ramadhan karena iman dan mengharapkan ridha Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu”. HR Bukhari      Abu Hurairah –radhiyallahu anhu- berkata, Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :من قام رمضان إيمانا واحتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه[ رواه البخاري ومسلم]“Barangsiapa yang melakukan qiyamul-lail dengan penuh keimanan dan mengharap pahala (dari Allah), maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah berlalu.” HR Bukhari dan Muslim.     Dari Ubadah Bin Shamit –radhiyallahu anhu- dari Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda terkait Lailatul-Qadr:الْتَمِسُوهَا فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ   فَمَنْ قَامَهَا إيْمَاناً وَاحْتِسَابًا ثُمَّ وُفِّقَتْ لَهُ غُفِرَ لَه مَا تَقدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَا تَأخّرَ ” رواه أحمد والطبرانى فى الكبير . ”Carilah malam lailatul qadar pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Barangsiapa yang mengidupkan (shalat malam) pada malam (lailatul Qodar) dilandasi keimanan dan mengharap ridha Allah, lalu bertepatan dengan (turunnya), niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu maupun yang kemudian.”HR Ahmad, dan Tabrani dalam kitab Alkabir.     Lakukanlah –wahai saudara sesama muslim- shalat secara berjamaah pada malam Lailatul Qadar tersebut, niscaya Allah melindungi Anda, menolong urusan Anda, dan meluruskan hal ihwal Anda tepat pada sasaran.     Barangsiapa yang melalaikan shalat, lenyaplah dunianya dan akhiratnya. Meski di dunia bisa menikmati kehidupan seperti halnya binatang, namun di hari kiamat kelak akan dikatakan kepadanya, “masuklah Engkau ke dalam neraka bersama para penghuninya”. Dalam sebuah hadis disebutkan :” من صلى العشاء في جماعة فكأنما قام نصف الليل، ومن صلى الفجر في جماعة فكأنما قام الليل كله” رواه مسلم “Barangsiapa yang melakukan shalat isya’ berjama’ah maka seakan-akan ia melakukan shalat sunnah separuh malam, dan barangsiapa yang melakukan shalat shubuh berjama’ah maka seakan-akan ia melakukan shalat sunnah semalam penuh.” HR. Muslim dari hadis Utsman –radhiyallahu anhu-.     Salah satu kerugian yang teramat besar dan keterhalangan dari pahala adalah berpuasa namun tidak melakukan shalat, atau meninggalkan sebagian shalat. Termasuk membuang-buang umur dan waktu adalah menghabiskan waktu malam sampai larut malam dengan permainan dan senda gurau, atau mencari situs-situs yang merusak moral dan menonton sinetron yang membahayakan dan menyebabkan kemerosotan akhlak.     Ketertinggalan (dari kebaikan) yang membawa kerugian teramat besar adalah ketika waktu seseorang tersita untuk aktivitas tersebut sepanjang bulan Ramadhan sehingga tidak sempat mendekatkan diri kepada Allah. Firman Allah :وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالأرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ ،الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ [ آل عمران/ 133-1 34]“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.”Qs Ali Imran : 133-134     Semoga Allah mencurahkan keberkahan kepada kita semua lantaran pengamalan Al-Qur’an yang mulia.======= Khotbah Kedua     Segala puji bagi Allah, yang Maha Pemberi petunjuk ke jalan yang lurus, Pemilik karunia agung, menganugerahkan karunianya kepada siapa yang dikehendaki-Nya karena kebaikan-Nya dan menahan (pemberian)-Nya dari siapa saja yang dikehendaki-Nya karena keadilan-Nya. Dia-lah yang Maha Mulia dan Maha Bijaksana. Aku memuji Tuhanku, bersyukur, bertobat dan memohon ampun kepada-Nya. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya yang Maha Kuasa dan Maha mengetahui. Aku pun bersaksi bahwa nabi dan pemimpin kami Muhammad –shallallahu alaihi wa sallam- adalah hamba Allah dan rasul-Nya, sebagai nabi pembawa syariat yang gemilang dan petunjuk yang lurus.Ya Allah, curahkanlah shalawat, salam dan keberkahan kepada hamba-Mu dan rasul-Mu, Muhammad –shallallahu alaihi wa sallam- beserta seluruh keluarga dan sahabatnya yang memiliki karakter tangguh cerminan dari akhlak mereka yang mulia.Selanjutnya. Bertakwalah kepada Allah dengan sesungguhnya. Berpegang-teguhlah dengan ikatan Islam yang demikian kokoh.Para hamba Allah!     Bertobatlah dari setiap dosa. Sungguh beruntung orang-orang yang bertobat dan celakalah orang-orang yang terus menerus berdosa. Firman Allah:وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ [ النور/31]“Dan bertobatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” Qs An-Nur : 31     Bulan Ramadhan adalah waktu bertobat. Termasuk perbuatan yang besar dosanya dan harus dilakukan pertobatan adalah merokok. Maka harumkanlah mulutmu –wahai saudaraku sesama muslim- dengan tidak merokok, bersihkanlah lidahmu dari noda-noda rokok untuk berdzikir kepada Allah –subhanahu wa ta’ala- dan membaca Al-Qur’an. Sedapkanlah aroma mulutmu untuk duduk berdampingan dengan orang-orang saleh dan para malaikat terhormat yang mencatat amalmu.     Merokok sama dengan mendekatkan diri kepada setan, dapat merusak darah, mendatangkan berbagai penyakit yang ganas, memperpendek umur, dan karenanya dasar-dasar syariat Islam mengharamkan-nya.Ketahuilah –saudaraku seiman- bahwa dalam puasa Ramadhan seseorang wajib menempatkan niat puasanya di malam hari sesuai hadis dari Hafshah –radhiyallahu anha- dari Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :من لم يجمع الصيام قبل الفجر فلا صيام له [ رواه أبو داود والترمذى والنسائي وابن ماجه]“Barangsiapa yang tidak berniat puasa sebelum terbitnya fajar, maka tidak ada puasa baginya.” HR Abu Dawud, Tirmizi, Nasa’i dan Ibnu Majah.Disebutkan dalam hadis :” من أفطر يوما من رمضان من غير عذر لم يقضه صوم الدهر وإن صامه” “Barangsiapa yang berbuka sehari bulan Ramadhan tanpa ada alasan ( yang dibenarkan menurut syara’),tidak akan diterima qadha’nya walaupun dia berpuasa penuh selama setahun”.Para hamba Allah!إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا.“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah dan sampaikanlah salam dengan sesungguhnya kepadanya.” === Doa ===Penerjemah Usman Hatimhttps://firanda.com/


Khotbah Jum’at, Masjid Nabawi, 27 Sya’ban 1437 HKhatib : Syekh Ali Bin Abdurrahman Al-HudzaifiKhotbah PertamaSegala puji bagi Allah yang Maha Perkasa dan Maha Pengampun. Mencipta apa yang dikehendakiNya dan dipilihNya serta mengatur pergantian siang dan malam. Sesungguhnya yang demikian itu merupakan pelajaran bagi orang-orang yang berpandangan tajam. Aku memuji Tuhanku, bersyukur, bertobat dan memohon ampun kepadaNya. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah semata yang Maha Esa lagi Perkasa, tidak ada sekutu bagiNya. Aku pun bersaksi bahwa nabi dan penghulu kita Muhammad –shallallahu alaihi wa sallam- adalah hamba dan rasul pilihan-Nya.Ya Allah, curahkanlah shalawat dan salam serta keberkahan kepada hamba-Mu dan rasul-Mu Muhammad –shallallahu alaihi wa sallam- beserta seluruh keluarganya dan sahabatnya yang setia.Selanjutnya.      Bertakwalah dan taatlah kepada Allah. Tidak ada orang yang celaka lantaran taat kepada Allah, dan tidak ada orang yang selamat karena kemaksiatan kepadaNya.Wahai hamba Allah!     Percayalah akan janji Allah atas amal kebajikan kalian, dan bersungguh-sungguhlah meraih kesudahan dan final yang gemilang. Sesungguhnya Allah adalah “Syakur” (Maha menghargai dan merima apapun amal baik seseorang), Maha mengetahui, Maha Kaya dan Maha Mulia. Dia mengajak kalian untuk mendekatkan diri kepadaNya dengan amal-amal yang dicintaiNya, meskipun sesungguhnya Dia tidak memerlukan ketaatan kalian. Allah memperingatkan kalian dari kemaksiatan, meskipun Dia tidak terpengaruh oleh perbuatan durjana yang dilakukan seseorang. Firman Allah :مَنْ عَمِلَ صَالِحًا فَلِنَفْسِهِ وَمَنْ أَسَاءَ فَعَلَيْهَا وَمَا رَبُّكَ بِظَلامٍ لِلْعَبِيدِ [ فصلت/46]“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan Barangsiapa mengerjakan perbuatan durjana, maka (dosanya) untuk dirinya sendiri; dan sekali-kali tidaklah Tuhan-mu menganiaya hamba-hambaNya.”Qs Fushilat : 46Firman Allah:وَمَنْ يَنْقَلِبْ عَلَى عَقِبَيْهِ فَلَنْ يَضُرَّ اللَّهَ شَيْئًا وَسَيَجْزِي اللَّهُ الشَّاكِرِينَ [آل عمران/144]“Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan kemudharatan sedikitpun bagi Allah, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.”Qs Ali Imran : 144Waspadalah selalu –wahai hamba Allah- terhadap ancamana Allah. Tidaklah ancamanNya mengena seseorang melainkan menghinakannya dan tidaklah ancamannya mengepung seseorang yang berpaling dan lalai melainkan menyiksanya dan menyengsarakannya. Firman Allah:وَمَنْ يَحْلِلْ عَلَيْهِ غَضَبِي فَقَدْ هَوَى [طه/81]“Barangsiapa ditimpa oleh kemurkaan-Ku, maka sungguh binasalah ia.” Qs Thaha : 81      Sangat mengherankan, urusan orang yang bekerja hanya untuk dunia saja dengan melupakan akhiratnya, padahal urusan dunia dapat diperoleh dengan bekerja atau tanpa bekerja bagi orang yang dirinya tidak mampu bekerja. Sedangkan akhirat dan kenikmatan ukhrawi tidaklah didapat kecuali dengan bekerja untuk itu. Firman Allah:وَتِلْكَ الْجَنَّةُ الَّتِي أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ [الزخرف/72]“Dan Itulah surga yang diwariskan kepada kamu disebabkan amal-amal yang dahulu kamu kerjakan.” Qs Az-Zukhruf:72Kaum muslimin!     Kini telah tiba di tengah-tengah kita suatu momen yang agung, bulan mulia yang penuh kebaikan dan keberkahan, yang di dalamnya kesalahan-kesalahan dihapuskan, yaitu bulan Ramadhan yang Allah istimewakan.Diriwayatkan dari Abi Saed Al-Hudhri dari Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :” سيد الشهور شهر رمضان وأعظمها حرمة ذو الحجة” رواه البزار “Penghulu bulan adalah bulan Ramadhan dan yang paling agung kesuciannya adalah Dzulhijah.” HR Al-BazzarFirman Allah :شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ [البقرة/185]“Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil).”Qs Albaqarah : 185Semua waktu dalam bulan Ramadhan penuh keberkahan. Allah menggabungkan di dalamnya ibadah puasa dengan ibadah shalat, zakat bagi mereka yang berkewajiban, sedekah, haji kecil (umrah), memperbanyak baca Al-Qur’an, berbagai macam zikir, beramar makruf dan nahi anil munkar serta aneka ragam bentuk ketaatan dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah –subhanahu wa ta’ala-.     Sangat banyak dan terlihat cukup jelas lahan amal kebajikan di dalam bulan Ramadhan, sementara lahan keburukan di dalamnya dipersempit sedemikian rupa, sebab antara setan dan kemauan jahatnya untuk merusak, menyesatkan dan merintangi seorang muslim yang ingin beribadah telah dihambat dan dihalangi sedemikian rupa.Dari Abu Hurairah –radhiyallahu anhu- dari Nabi –shallallahu alaihi wa sallam – bersabda :“إذا دخل رمضان فتحت أبواب الجنة ، وأغلقت أبواب جهنم ، وسلسلت الشياطين ” رواه البخاري ومسلم“Jika datang bulan Ramadhan, pintu surga dibuka, pintu neraka Jahanam ditutup dan setan-setan dibelenggu.” HR. Bukhari dan Muslim.     Aneka macam pahala dan kenikmatan surgawi adalah cerminan dari aneka macam ibadah dan ketaatan di dunia ini. Maka setiap bentuk ketaatan pasti ada balasan pahalanya dan kenikmatan tertentu baginya. Firman Allah:كُلُوا وَاشْرَبُوا هَنِيئًا بِمَا أَسْلَفْتُمْ فِي الأيَّامِ الْخَالِيَةِ [ الحاقة/24]“Makanlah dan minumlah dengan sedap disebabkan amal yang telah kalian kerjakan pada hari-hari yang telah lalu”.Qs Alhaaqah : 24Dari Sahal Bin Sa’ad –radhiyallahu anhu- dari Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :“إنَّ فِي الْجَنَّةِ بَابًا يُدْعى لَهُ الرَّيَّانُ يَدْعى لَهُ الصَّائِمُونَ فمَنْ كَانَ مِنَ الصَّائِميْنَ دَخلَهُ ومَنْ دَخَلَهُ لَا يَظْمَعُ أَبَدًا” رواه البخاري ومسلم “Sesungguhnya di surga itu ada pintu yang dinamakan Ar-Rayyan. Orang-orang yang berpuasa dipanggil melalui pintu itu. Barangsiapa yang termasuk orang-orang yang berpuasa, akan memasukinya. Dan barangsiapa yang telah memasukinya tidaklah akan haus selama-lamanya.” HR Bukhari dan Muslim.      Penghormatan paling besar bagi orang yang masuk surga adalah karunia bisa memandang wajah Allah yang Maha Mulia. Ini merupakan balasan terbaik atas ibadah yang dilakukan seorang muslim sehingga ia dapat melihat Allah –subhanahu wa ta’ala-. Firman Allah :لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَى وَزِيَادَةٌ [ يونس / 26 ]“bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahan[kenikmatan melihat Allah].”Qs Yunus : 26Demikianlah Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- menafsirkan kata “Ziyadah” dalam ayat tersebut sebagai nikmat melihat wajah Allah yang Maha Mulia sebagaimana hadis Salman –radhiyallahu anhu- yang riwayatkan oleh Imam Muslim. Sebab, suatu balasan kebaikan yang diterima seseorang adalah cerminan dari jenis amal kebaikan yang dilakukannya. Demikian pula berbagai macam sanksi kejahatan seseorang identik dengan berbagai macam jenis pelanggaran yang pernah dilakukannya.Itulah sebabnya mengapa makanan zaqum dan minuman air yang sangat panas mendidih menjadi jenis balasan bagi orang yang memakan harta riba, uang haram, meminum minuman yang memabukkan dan mengonsumsi narkoba. Demikian pula penuangan air mendidih yang sangat panas ke atas kepala seseorang merupakan pembalasan atas sikap sombong dan arogan terhadap syariat Allah. Firman Allah :إِنَّ شَجَرَةَ الزَّقُّومِ ، طَعَامُ الأثِيم ، كَالْمُهْلِ يَغْلِي فِي الْبُطُونِ ، كَغَلْيِ الْحَمِيمِ ، خُذُوهُ فَاعْتِلُوهُ إِلَى سَوَاءِ الْجَحِيمِ ، ثُمَّ صُبُّوا فَوْقَ رَأْسِهِ مِنْ عَذَابِ الْحَمِيمِ ، ذُقْ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْكَرِيمُ [ الدخان/ 43-49]“Sesungguhnya pohon zaqqum, makanan orang yang banyak berdosa sebagai kotoran minyak yang mendidih di dalam perut, seperti mendidihnya air yang amat panas. Tangkaplah dia kemudian seretlah ke tengah-tengah neraka. Kemudian tuangkanlah di atas kepalanya siksaan (dari) air yang amat panas. Rasakanlah, sesungguhnya kamu orang yang perkasa lagi mulia.” Qs Al-Dukhan: 43-49Jelaslah bahwa pembalasan di akhirat adalah identik dengan jenis amal perbuatan itu sendiri di dunia.Maka berbesar hatilah kalian –wahai kaum muslimin- dengan kabar gembira yang pernah disampaikan oleh Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- kepada para sahabatnya berupa kehadiran bulan Ramadhan. Beliau mengabarkannya kepada mereka di akhir bulan Sya’ban, maka mereka pun bersiap-siap menyambut bulan yang agung ini sebaik-baiknya serta menyongsongnya dengan penuh keikhlasan kepada Allah –subhanahu wa ta’ala untuk mencari ridha-Nya. Mereka menyambutnya dengan senang hati, lantaran Allah telah mengantarkan mereka kepada bulan yang agung ini. Firman Allah :قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ [يونس/58]“Katakanlah: “Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. karunia Allah dan rahmat-Nya lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.” Qs Yunus : 58Penyambutan mereka dalam bentuk pertobatan atas segala dosa agar Allah –subhanahu wa ta’ala- menghapuskan dosa-dosa yang telah lampau. Mereka menyambutnya dengan mengembalikan hak-hak sesama kepada pemiliknya agar Allah menjaga keutuhan amal kebaikan mereka dan menghapus kesalahan-kesalahan mereka.Ingatlah pasti datang suatu saat dimana Anda tidak lagi dapat mengenyam ramadhan, maka bersiap-siaplah menghadapi kematian dengan segala petakan yang menyertaiya. Jagalah puasa Anda dari perbuatan yang sia-sia, mengumpat,adu domba, omong kosong, kemaksiatan dan melepaskan pandangan mata kepada obyek yang terlarang. Jagalah batin Anda dari suara-suara hati yang berakibat buruk. Diriwayatkan dari Ibnu Umar –radhiyallahu anhuma- dari Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :“رب صائم حظه من صيامه الجوع والعطش ورب قائم حظه من قيامه السهر” رواه الطبراني فى الكبير“Betapa banyak orang yang berpuasa hanya mendapatkan rasa lapar dan dahaga saja. Betapa banyak pula orang yang melakukan shalat malam, hanya begadang di malam hari.”HR. At-Tabrani.Menurut Al-Munziri,sanad hadis ini cukup dapat diterima.Dari Abu Hurairah –radhiyallahu anhu- dari Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :” من لم يدع قول الزور والعمل به فليس لله حاجة في أن يدع طعامه وشرابه ” رواه البخاري و أبو داود والترمذي“Barangsiapa yang tidak meninggalkan ucapan dusta dan tidak berhenti melakukannya, maka Allah tidak butuh kepadanya untuk meninggalkan makanannya dan minumannya“.HR. Bukhari, Abu Dawud dan Tirmizi.     Dari Abi Ubaidah –radhiyallahu anhu- dari Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :“الصَّوْمُ جُنَّةٌ مَا لَمْ يَخْرِقْهَا ” رواه النسائي والطبراني فى الأوسط“Puasa itu adalah perisai (bagi seseorang) selama ia tidak melubanginya.” HR. Nasa’i dan Tabrani dalam Al-Ausath. Melubanginya adalah merusaknya dengan ucapan dusta dan umpatan.     Seorang muslim seharusnya merawat pahala puasanya dengan memperbanyak ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah –subhanahu wa ta’ala- di bulan Ramadhan, memperbanyak baca Al-Qur’an, berdzikir, beristighfar, bershalawat kepada Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- bersedekah, memberi hadiah secara ikhlas karena Allah dan melakukan berbagai bentuk amal sosial seperti mengajarkan ilmu, meyerukan untuk berbuat kebaikan, mendorong orang lain untuk melakukannya, mencegahnya dari keburukan dan memperingatkannya dari bahayanya.     Bervariasi dalam melakukan ketaatan selain puasa dapat menambah pahala ibadah puasa itu sendiri. Oleh karena itu, barangsiapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala setara dengan pahala orang yang berbuasa itu tanpa berkurang sedikit pun. Janganlah Anda lewatkan shalat terawih –wahai saudara sesama muslim- dan shalat-shalat malam lainnya. Berusahalah dengan penuh antusias untuk meraih karunia “Lailatul-Qadr” pada sepuluh malam akhir Ramadhan.     Puasa dapat menghapuskan dosa-dosa, sebagaimana hadis dari Abu Hurairah –radhiyallahu anhu- yang menyatakan, Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda:من صام رمضان إيمانا واحتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه [رواه البخارى]“Barangsiapa yang berpuasa (di bulan) Ramadhan karena iman dan mengharapkan ridha Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu”. HR Bukhari      Abu Hurairah –radhiyallahu anhu- berkata, Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :من قام رمضان إيمانا واحتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه[ رواه البخاري ومسلم]“Barangsiapa yang melakukan qiyamul-lail dengan penuh keimanan dan mengharap pahala (dari Allah), maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah berlalu.” HR Bukhari dan Muslim.     Dari Ubadah Bin Shamit –radhiyallahu anhu- dari Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda terkait Lailatul-Qadr:الْتَمِسُوهَا فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ   فَمَنْ قَامَهَا إيْمَاناً وَاحْتِسَابًا ثُمَّ وُفِّقَتْ لَهُ غُفِرَ لَه مَا تَقدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَا تَأخّرَ ” رواه أحمد والطبرانى فى الكبير . ”Carilah malam lailatul qadar pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Barangsiapa yang mengidupkan (shalat malam) pada malam (lailatul Qodar) dilandasi keimanan dan mengharap ridha Allah, lalu bertepatan dengan (turunnya), niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu maupun yang kemudian.”HR Ahmad, dan Tabrani dalam kitab Alkabir.     Lakukanlah –wahai saudara sesama muslim- shalat secara berjamaah pada malam Lailatul Qadar tersebut, niscaya Allah melindungi Anda, menolong urusan Anda, dan meluruskan hal ihwal Anda tepat pada sasaran.     Barangsiapa yang melalaikan shalat, lenyaplah dunianya dan akhiratnya. Meski di dunia bisa menikmati kehidupan seperti halnya binatang, namun di hari kiamat kelak akan dikatakan kepadanya, “masuklah Engkau ke dalam neraka bersama para penghuninya”. Dalam sebuah hadis disebutkan :” من صلى العشاء في جماعة فكأنما قام نصف الليل، ومن صلى الفجر في جماعة فكأنما قام الليل كله” رواه مسلم “Barangsiapa yang melakukan shalat isya’ berjama’ah maka seakan-akan ia melakukan shalat sunnah separuh malam, dan barangsiapa yang melakukan shalat shubuh berjama’ah maka seakan-akan ia melakukan shalat sunnah semalam penuh.” HR. Muslim dari hadis Utsman –radhiyallahu anhu-.     Salah satu kerugian yang teramat besar dan keterhalangan dari pahala adalah berpuasa namun tidak melakukan shalat, atau meninggalkan sebagian shalat. Termasuk membuang-buang umur dan waktu adalah menghabiskan waktu malam sampai larut malam dengan permainan dan senda gurau, atau mencari situs-situs yang merusak moral dan menonton sinetron yang membahayakan dan menyebabkan kemerosotan akhlak.     Ketertinggalan (dari kebaikan) yang membawa kerugian teramat besar adalah ketika waktu seseorang tersita untuk aktivitas tersebut sepanjang bulan Ramadhan sehingga tidak sempat mendekatkan diri kepada Allah. Firman Allah :وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالأرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ ،الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ [ آل عمران/ 133-1 34]“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.”Qs Ali Imran : 133-134     Semoga Allah mencurahkan keberkahan kepada kita semua lantaran pengamalan Al-Qur’an yang mulia.======= Khotbah Kedua     Segala puji bagi Allah, yang Maha Pemberi petunjuk ke jalan yang lurus, Pemilik karunia agung, menganugerahkan karunianya kepada siapa yang dikehendaki-Nya karena kebaikan-Nya dan menahan (pemberian)-Nya dari siapa saja yang dikehendaki-Nya karena keadilan-Nya. Dia-lah yang Maha Mulia dan Maha Bijaksana. Aku memuji Tuhanku, bersyukur, bertobat dan memohon ampun kepada-Nya. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya yang Maha Kuasa dan Maha mengetahui. Aku pun bersaksi bahwa nabi dan pemimpin kami Muhammad –shallallahu alaihi wa sallam- adalah hamba Allah dan rasul-Nya, sebagai nabi pembawa syariat yang gemilang dan petunjuk yang lurus.Ya Allah, curahkanlah shalawat, salam dan keberkahan kepada hamba-Mu dan rasul-Mu, Muhammad –shallallahu alaihi wa sallam- beserta seluruh keluarga dan sahabatnya yang memiliki karakter tangguh cerminan dari akhlak mereka yang mulia.Selanjutnya. Bertakwalah kepada Allah dengan sesungguhnya. Berpegang-teguhlah dengan ikatan Islam yang demikian kokoh.Para hamba Allah!     Bertobatlah dari setiap dosa. Sungguh beruntung orang-orang yang bertobat dan celakalah orang-orang yang terus menerus berdosa. Firman Allah:وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ [ النور/31]“Dan bertobatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” Qs An-Nur : 31     Bulan Ramadhan adalah waktu bertobat. Termasuk perbuatan yang besar dosanya dan harus dilakukan pertobatan adalah merokok. Maka harumkanlah mulutmu –wahai saudaraku sesama muslim- dengan tidak merokok, bersihkanlah lidahmu dari noda-noda rokok untuk berdzikir kepada Allah –subhanahu wa ta’ala- dan membaca Al-Qur’an. Sedapkanlah aroma mulutmu untuk duduk berdampingan dengan orang-orang saleh dan para malaikat terhormat yang mencatat amalmu.     Merokok sama dengan mendekatkan diri kepada setan, dapat merusak darah, mendatangkan berbagai penyakit yang ganas, memperpendek umur, dan karenanya dasar-dasar syariat Islam mengharamkan-nya.Ketahuilah –saudaraku seiman- bahwa dalam puasa Ramadhan seseorang wajib menempatkan niat puasanya di malam hari sesuai hadis dari Hafshah –radhiyallahu anha- dari Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :من لم يجمع الصيام قبل الفجر فلا صيام له [ رواه أبو داود والترمذى والنسائي وابن ماجه]“Barangsiapa yang tidak berniat puasa sebelum terbitnya fajar, maka tidak ada puasa baginya.” HR Abu Dawud, Tirmizi, Nasa’i dan Ibnu Majah.Disebutkan dalam hadis :” من أفطر يوما من رمضان من غير عذر لم يقضه صوم الدهر وإن صامه” “Barangsiapa yang berbuka sehari bulan Ramadhan tanpa ada alasan ( yang dibenarkan menurut syara’),tidak akan diterima qadha’nya walaupun dia berpuasa penuh selama setahun”.Para hamba Allah!إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا.“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah dan sampaikanlah salam dengan sesungguhnya kepadanya.” === Doa ===Penerjemah Usman Hatimhttps://firanda.com/

Video Post Format

06JunVideo Post FormatJune 6, 2016Post Format Far far away, behind the word mountains, far from the countries Vokalia and Consonantia, there live the blind texts. Separated they live in Bookmarksgrove right at the coast of the Semantics, a large language ocean. A small river named Duden flows by their place and supplies it with the necessary regelialia. It is a paradisematic country, in which roasted parts of sentences fly into your mouth. Even the all-powerful Pointing has no control about the blind texts it is an almost unorthographic life One day however a small line of blind text by the name of Lorem Ipsum decided to leave for the far World of Grammar. The Big Oxmox advised her not to do so, because there were thousands of bad Commas, wild Question Marks and devious Semikoli, but the Little Blind Text didn’t listen. She packed her seven versalia, put her initial into the belt and made herself on the way. When she reached the first hills of the Italic Mountains, she had a last view back on the skyline of her hometown Bookmarksgrove, the headline of Alphabet Village and the subline of her own road, the Line Lane. Pityful a rethoric question ran over her cheek, then she continued her way. On her way she met a copy. The copy warned the Little Blind Text, that where it came from it would have been rewritten a thousand times and everything that was left from its origin would be the word “and” and the Little Blind Text should turn around and return to its own, safe country. But nothing the copy said could convince her and so it didn’t take long until a few insidious Copy Writers ambushed her. PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022

Video Post Format

06JunVideo Post FormatJune 6, 2016Post Format Far far away, behind the word mountains, far from the countries Vokalia and Consonantia, there live the blind texts. Separated they live in Bookmarksgrove right at the coast of the Semantics, a large language ocean. A small river named Duden flows by their place and supplies it with the necessary regelialia. It is a paradisematic country, in which roasted parts of sentences fly into your mouth. Even the all-powerful Pointing has no control about the blind texts it is an almost unorthographic life One day however a small line of blind text by the name of Lorem Ipsum decided to leave for the far World of Grammar. The Big Oxmox advised her not to do so, because there were thousands of bad Commas, wild Question Marks and devious Semikoli, but the Little Blind Text didn’t listen. She packed her seven versalia, put her initial into the belt and made herself on the way. When she reached the first hills of the Italic Mountains, she had a last view back on the skyline of her hometown Bookmarksgrove, the headline of Alphabet Village and the subline of her own road, the Line Lane. Pityful a rethoric question ran over her cheek, then she continued her way. On her way she met a copy. The copy warned the Little Blind Text, that where it came from it would have been rewritten a thousand times and everything that was left from its origin would be the word “and” and the Little Blind Text should turn around and return to its own, safe country. But nothing the copy said could convince her and so it didn’t take long until a few insidious Copy Writers ambushed her. PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022
06JunVideo Post FormatJune 6, 2016Post Format Far far away, behind the word mountains, far from the countries Vokalia and Consonantia, there live the blind texts. Separated they live in Bookmarksgrove right at the coast of the Semantics, a large language ocean. A small river named Duden flows by their place and supplies it with the necessary regelialia. It is a paradisematic country, in which roasted parts of sentences fly into your mouth. Even the all-powerful Pointing has no control about the blind texts it is an almost unorthographic life One day however a small line of blind text by the name of Lorem Ipsum decided to leave for the far World of Grammar. The Big Oxmox advised her not to do so, because there were thousands of bad Commas, wild Question Marks and devious Semikoli, but the Little Blind Text didn’t listen. She packed her seven versalia, put her initial into the belt and made herself on the way. When she reached the first hills of the Italic Mountains, she had a last view back on the skyline of her hometown Bookmarksgrove, the headline of Alphabet Village and the subline of her own road, the Line Lane. Pityful a rethoric question ran over her cheek, then she continued her way. On her way she met a copy. The copy warned the Little Blind Text, that where it came from it would have been rewritten a thousand times and everything that was left from its origin would be the word “and” and the Little Blind Text should turn around and return to its own, safe country. But nothing the copy said could convince her and so it didn’t take long until a few insidious Copy Writers ambushed her. PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022


06JunVideo Post FormatJune 6, 2016Post Format Far far away, behind the word mountains, far from the countries Vokalia and Consonantia, there live the blind texts. Separated they live in Bookmarksgrove right at the coast of the Semantics, a large language ocean. A small river named Duden flows by their place and supplies it with the necessary regelialia. It is a paradisematic country, in which roasted parts of sentences fly into your mouth. Even the all-powerful Pointing has no control about the blind texts it is an almost unorthographic life One day however a small line of blind text by the name of Lorem Ipsum decided to leave for the far World of Grammar. The Big Oxmox advised her not to do so, because there were thousands of bad Commas, wild Question Marks and devious Semikoli, but the Little Blind Text didn’t listen. She packed her seven versalia, put her initial into the belt and made herself on the way. When she reached the first hills of the Italic Mountains, she had a last view back on the skyline of her hometown Bookmarksgrove, the headline of Alphabet Village and the subline of her own road, the Line Lane. Pityful a rethoric question ran over her cheek, then she continued her way. On her way she met a copy. The copy warned the Little Blind Text, that where it came from it would have been rewritten a thousand times and everything that was left from its origin would be the word “and” and the Little Blind Text should turn around and return to its own, safe country. But nothing the copy said could convince her and so it didn’t take long until a few insidious Copy Writers ambushed her. PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022

Image Post Format

06JunImage Post FormatJune 6, 2016Post Format Far far away, behind the word mountains, far from the countries Vokalia and Consonantia, there live the blind texts. Separated they live in Bookmarksgrove right at the coast of the Semantics, a large language ocean. A small river named Duden flows by their place and supplies it with the necessary regelialia. It is a paradisematic country, in which roasted parts of sentences fly into your mouth. Even the all-powerful Pointing has no control about the blind texts it is an almost unorthographic life One day however a small line of blind text by the name of Lorem Ipsum decided to leave for the far World of Grammar. The Big Oxmox advised her not to do so, because there were thousands of bad Commas, wild Question Marks and devious Semikoli, but the Little Blind Text didn’t listen. She packed her seven versalia, put her initial into the belt and made herself on the way. When she reached the first hills of the Italic Mountains, she had a last view back on the skyline of her hometown Bookmarksgrove, the headline of Alphabet Village and the subline of her own road, the Line Lane. Pityful a rethoric question ran over her cheek, then she continued her way. On her way she met a copy. The copy warned the Little Blind Text, that where it came from it would have been rewritten a thousand times and everything that was left from its origin would be the word “and” and the Little Blind Text should turn around and return to its own, safe country. But nothing the copy said could convince her and so it didn’t take long until a few insidious Copy Writers ambushed her. PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022

Image Post Format

06JunImage Post FormatJune 6, 2016Post Format Far far away, behind the word mountains, far from the countries Vokalia and Consonantia, there live the blind texts. Separated they live in Bookmarksgrove right at the coast of the Semantics, a large language ocean. A small river named Duden flows by their place and supplies it with the necessary regelialia. It is a paradisematic country, in which roasted parts of sentences fly into your mouth. Even the all-powerful Pointing has no control about the blind texts it is an almost unorthographic life One day however a small line of blind text by the name of Lorem Ipsum decided to leave for the far World of Grammar. The Big Oxmox advised her not to do so, because there were thousands of bad Commas, wild Question Marks and devious Semikoli, but the Little Blind Text didn’t listen. She packed her seven versalia, put her initial into the belt and made herself on the way. When she reached the first hills of the Italic Mountains, she had a last view back on the skyline of her hometown Bookmarksgrove, the headline of Alphabet Village and the subline of her own road, the Line Lane. Pityful a rethoric question ran over her cheek, then she continued her way. On her way she met a copy. The copy warned the Little Blind Text, that where it came from it would have been rewritten a thousand times and everything that was left from its origin would be the word “and” and the Little Blind Text should turn around and return to its own, safe country. But nothing the copy said could convince her and so it didn’t take long until a few insidious Copy Writers ambushed her. PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022
06JunImage Post FormatJune 6, 2016Post Format Far far away, behind the word mountains, far from the countries Vokalia and Consonantia, there live the blind texts. Separated they live in Bookmarksgrove right at the coast of the Semantics, a large language ocean. A small river named Duden flows by their place and supplies it with the necessary regelialia. It is a paradisematic country, in which roasted parts of sentences fly into your mouth. Even the all-powerful Pointing has no control about the blind texts it is an almost unorthographic life One day however a small line of blind text by the name of Lorem Ipsum decided to leave for the far World of Grammar. The Big Oxmox advised her not to do so, because there were thousands of bad Commas, wild Question Marks and devious Semikoli, but the Little Blind Text didn’t listen. She packed her seven versalia, put her initial into the belt and made herself on the way. When she reached the first hills of the Italic Mountains, she had a last view back on the skyline of her hometown Bookmarksgrove, the headline of Alphabet Village and the subline of her own road, the Line Lane. Pityful a rethoric question ran over her cheek, then she continued her way. On her way she met a copy. The copy warned the Little Blind Text, that where it came from it would have been rewritten a thousand times and everything that was left from its origin would be the word “and” and the Little Blind Text should turn around and return to its own, safe country. But nothing the copy said could convince her and so it didn’t take long until a few insidious Copy Writers ambushed her. PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022


06JunImage Post FormatJune 6, 2016Post Format Far far away, behind the word mountains, far from the countries Vokalia and Consonantia, there live the blind texts. Separated they live in Bookmarksgrove right at the coast of the Semantics, a large language ocean. A small river named Duden flows by their place and supplies it with the necessary regelialia. It is a paradisematic country, in which roasted parts of sentences fly into your mouth. Even the all-powerful Pointing has no control about the blind texts it is an almost unorthographic life One day however a small line of blind text by the name of Lorem Ipsum decided to leave for the far World of Grammar. The Big Oxmox advised her not to do so, because there were thousands of bad Commas, wild Question Marks and devious Semikoli, but the Little Blind Text didn’t listen. She packed her seven versalia, put her initial into the belt and made herself on the way. When she reached the first hills of the Italic Mountains, she had a last view back on the skyline of her hometown Bookmarksgrove, the headline of Alphabet Village and the subline of her own road, the Line Lane. Pityful a rethoric question ran over her cheek, then she continued her way. On her way she met a copy. The copy warned the Little Blind Text, that where it came from it would have been rewritten a thousand times and everything that was left from its origin would be the word “and” and the Little Blind Text should turn around and return to its own, safe country. But nothing the copy said could convince her and so it didn’t take long until a few insidious Copy Writers ambushed her. PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022

Gallery Post Format

06JunGallery Post FormatJune 6, 2016Post Format ts. Separated they live in Bookmarksgrove right at the coast of the Semantics, a large language ocean. A small river named Duden flows by their place and supplies it with the necessary regelialia. It is a paradisematic country, in which roasted parts of sentences fly into your mouth. Even the all-powerful Pointing has no control about the blind texts it is an almost unorthographic life One day however a small line of blind text by the name of Lorem Ipsum decided to leave for the far World of Grammar. The Big Oxmox advised her not to do so, because there were thousands of bad Commas, wild Question Marks and devious Semikoli, but the Little Blind Text didn’t listen. She packed her seven versalia, put her initial into the belt and made herself on the way. When she reached the first hills of the Italic Mountains, she had a last view back on the skyline of her hometown Bookmarksgrove, the headline of Alphabet Village and the subline of her own road, the Line Lane. Pityful a rethoric question ran over her cheek, then she continued her way. On her way she met a copy. The copy warned the Little Blind Text, that where it came from it would have been rewritten a thousand times and everything that was left from its origin would be the word “and” and the Little Blind Text should turn around and return to its own, safe country. But nothing the copy said could convince her and so it didn’t take long until a few insidious Copy Writers ambushed her. PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment.

Gallery Post Format

06JunGallery Post FormatJune 6, 2016Post Format ts. Separated they live in Bookmarksgrove right at the coast of the Semantics, a large language ocean. A small river named Duden flows by their place and supplies it with the necessary regelialia. It is a paradisematic country, in which roasted parts of sentences fly into your mouth. Even the all-powerful Pointing has no control about the blind texts it is an almost unorthographic life One day however a small line of blind text by the name of Lorem Ipsum decided to leave for the far World of Grammar. The Big Oxmox advised her not to do so, because there were thousands of bad Commas, wild Question Marks and devious Semikoli, but the Little Blind Text didn’t listen. She packed her seven versalia, put her initial into the belt and made herself on the way. When she reached the first hills of the Italic Mountains, she had a last view back on the skyline of her hometown Bookmarksgrove, the headline of Alphabet Village and the subline of her own road, the Line Lane. Pityful a rethoric question ran over her cheek, then she continued her way. On her way she met a copy. The copy warned the Little Blind Text, that where it came from it would have been rewritten a thousand times and everything that was left from its origin would be the word “and” and the Little Blind Text should turn around and return to its own, safe country. But nothing the copy said could convince her and so it didn’t take long until a few insidious Copy Writers ambushed her. PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment.
06JunGallery Post FormatJune 6, 2016Post Format ts. Separated they live in Bookmarksgrove right at the coast of the Semantics, a large language ocean. A small river named Duden flows by their place and supplies it with the necessary regelialia. It is a paradisematic country, in which roasted parts of sentences fly into your mouth. Even the all-powerful Pointing has no control about the blind texts it is an almost unorthographic life One day however a small line of blind text by the name of Lorem Ipsum decided to leave for the far World of Grammar. The Big Oxmox advised her not to do so, because there were thousands of bad Commas, wild Question Marks and devious Semikoli, but the Little Blind Text didn’t listen. She packed her seven versalia, put her initial into the belt and made herself on the way. When she reached the first hills of the Italic Mountains, she had a last view back on the skyline of her hometown Bookmarksgrove, the headline of Alphabet Village and the subline of her own road, the Line Lane. Pityful a rethoric question ran over her cheek, then she continued her way. On her way she met a copy. The copy warned the Little Blind Text, that where it came from it would have been rewritten a thousand times and everything that was left from its origin would be the word “and” and the Little Blind Text should turn around and return to its own, safe country. But nothing the copy said could convince her and so it didn’t take long until a few insidious Copy Writers ambushed her. PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment.


06JunGallery Post FormatJune 6, 2016Post Format ts. Separated they live in Bookmarksgrove right at the coast of the Semantics, a large language ocean. A small river named Duden flows by their place and supplies it with the necessary regelialia. It is a paradisematic country, in which roasted parts of sentences fly into your mouth. Even the all-powerful Pointing has no control about the blind texts it is an almost unorthographic life One day however a small line of blind text by the name of Lorem Ipsum decided to leave for the far World of Grammar. The Big Oxmox advised her not to do so, because there were thousands of bad Commas, wild Question Marks and devious Semikoli, but the Little Blind Text didn’t listen. She packed her seven versalia, put her initial into the belt and made herself on the way. When she reached the first hills of the Italic Mountains, she had a last view back on the skyline of her hometown Bookmarksgrove, the headline of Alphabet Village and the subline of her own road, the Line Lane. Pityful a rethoric question ran over her cheek, then she continued her way. On her way she met a copy. The copy warned the Little Blind Text, that where it came from it would have been rewritten a thousand times and everything that was left from its origin would be the word “and” and the Little Blind Text should turn around and return to its own, safe country. But nothing the copy said could convince her and so it didn’t take long until a few insidious Copy Writers ambushed her. PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment.

Standard Post Type

06JunStandard Post TypeJune 6, 2016Blog, Post Format A wonderful serenity has taken possession of my entire soul, like these sweet mornings of spring which I enjoy with my whole heart. I am alone, and feel the charm of existence in this spot, which was created for the bliss of souls like mine. I am so happy, my dear friend, so absorbed in the exquisite sense of mere tranquil existence, that I neglect my talents. I should be incapable of drawing a single stroke at the present moment; and yet I feel that I never was a greater artist than now. When, while the lovely valley teems with vapour around me, and the meridian sun strikes the upper surface of the impenetrable foliage of my trees, and but a few stray gleams steal into the inner sanctuary, I throw myself down among the tall grass by the trickling stream; and, as I lie close to the earth, a thousand unknown plants are noticed by me: when I hear the buzz of the little world among the stalks, and grow familiar with the countless indescribable forms of the insects and flies, then I feel the presence of the Almighty, who formed us in his own image, and the breath of that universal love which bears and sustains us, as it floats around us in an eternity of blist. I sink under the weight of the splendour of these visions!A wonderful serenity has taken possession of my entire soul, like these sweet mornings of spring which I sink under the weight of the splendour of these visions!A wonderful serenity has taken possession of my entire soul, like these sweet mornings of spring which I enjoy with my whole heart. I am alone, and feel the charm of existence in this spot, which was created for the bliss of souls like mine. I am so happy, my dear friend, so absorbed in the exquis I throw myself down among the tall grass I should be incapable of drawing a single stroke at the present moment; and yet I feel that I never was a greater artist than now. When, while the lovely valley teems with vapour around me, and the meridian sun strikes the upper surface of the impenetrable foliage of my trees, and but a few stray gleams steal into the inner sanctuary, I throw myself down among the tall grass by the trickling stream; and, as I lie close to the earth, a thousand unknown plants are noticed by me: when I hear the buzz of the little world among the stalks, and grow familiar with the countless indescribable forms of the insects and Text, that where it came from it Far far away, behind the word mountains, far from the countries Vokalia and Consonantia, there live the blind texts. Separated they live in Bookmarksgrove right at the coast of the Semantics, a large language ocean. A small river named Duden flows by their place and supplies it with the necessary regelialia. It is a paradisematic country, in which roasted parts of sentences fly into your mouth. Even the all-powerful Pointing has no control about the blind texts it is an almost unorthographic life One day however a small line of blind text by the name of Lorem Ipsum decided to leave for the far World of Grammar. The Big Oxmox advised her not to do so, because there were thousands of bad Commas, wild Question Marks and devious Semikoli, but the Littl Far far away, behind the word mountain When she reached the first hills A small river named Duden flows A small river named Duden flows by their plat. Far far away, behind the word mountain Copy Writers ambushed her, made her drunk with Longe and Parole and dragged her into their agency, where they abused her for their projects again and again. And if she hasn’t been rewritten, then they are still using her.Far far away, behind the word mountains, far from the countries Vokalia and Consonantia, there live the blind texts. Separated they live in Bookmarksgrove right at the coast of the Semantics, a large language ocean. A small river named Duden flows by their plate. PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022

Standard Post Type

06JunStandard Post TypeJune 6, 2016Blog, Post Format A wonderful serenity has taken possession of my entire soul, like these sweet mornings of spring which I enjoy with my whole heart. I am alone, and feel the charm of existence in this spot, which was created for the bliss of souls like mine. I am so happy, my dear friend, so absorbed in the exquisite sense of mere tranquil existence, that I neglect my talents. I should be incapable of drawing a single stroke at the present moment; and yet I feel that I never was a greater artist than now. When, while the lovely valley teems with vapour around me, and the meridian sun strikes the upper surface of the impenetrable foliage of my trees, and but a few stray gleams steal into the inner sanctuary, I throw myself down among the tall grass by the trickling stream; and, as I lie close to the earth, a thousand unknown plants are noticed by me: when I hear the buzz of the little world among the stalks, and grow familiar with the countless indescribable forms of the insects and flies, then I feel the presence of the Almighty, who formed us in his own image, and the breath of that universal love which bears and sustains us, as it floats around us in an eternity of blist. I sink under the weight of the splendour of these visions!A wonderful serenity has taken possession of my entire soul, like these sweet mornings of spring which I sink under the weight of the splendour of these visions!A wonderful serenity has taken possession of my entire soul, like these sweet mornings of spring which I enjoy with my whole heart. I am alone, and feel the charm of existence in this spot, which was created for the bliss of souls like mine. I am so happy, my dear friend, so absorbed in the exquis I throw myself down among the tall grass I should be incapable of drawing a single stroke at the present moment; and yet I feel that I never was a greater artist than now. When, while the lovely valley teems with vapour around me, and the meridian sun strikes the upper surface of the impenetrable foliage of my trees, and but a few stray gleams steal into the inner sanctuary, I throw myself down among the tall grass by the trickling stream; and, as I lie close to the earth, a thousand unknown plants are noticed by me: when I hear the buzz of the little world among the stalks, and grow familiar with the countless indescribable forms of the insects and Text, that where it came from it Far far away, behind the word mountains, far from the countries Vokalia and Consonantia, there live the blind texts. Separated they live in Bookmarksgrove right at the coast of the Semantics, a large language ocean. A small river named Duden flows by their place and supplies it with the necessary regelialia. It is a paradisematic country, in which roasted parts of sentences fly into your mouth. Even the all-powerful Pointing has no control about the blind texts it is an almost unorthographic life One day however a small line of blind text by the name of Lorem Ipsum decided to leave for the far World of Grammar. The Big Oxmox advised her not to do so, because there were thousands of bad Commas, wild Question Marks and devious Semikoli, but the Littl Far far away, behind the word mountain When she reached the first hills A small river named Duden flows A small river named Duden flows by their plat. Far far away, behind the word mountain Copy Writers ambushed her, made her drunk with Longe and Parole and dragged her into their agency, where they abused her for their projects again and again. And if she hasn’t been rewritten, then they are still using her.Far far away, behind the word mountains, far from the countries Vokalia and Consonantia, there live the blind texts. Separated they live in Bookmarksgrove right at the coast of the Semantics, a large language ocean. A small river named Duden flows by their plate. PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022
06JunStandard Post TypeJune 6, 2016Blog, Post Format A wonderful serenity has taken possession of my entire soul, like these sweet mornings of spring which I enjoy with my whole heart. I am alone, and feel the charm of existence in this spot, which was created for the bliss of souls like mine. I am so happy, my dear friend, so absorbed in the exquisite sense of mere tranquil existence, that I neglect my talents. I should be incapable of drawing a single stroke at the present moment; and yet I feel that I never was a greater artist than now. When, while the lovely valley teems with vapour around me, and the meridian sun strikes the upper surface of the impenetrable foliage of my trees, and but a few stray gleams steal into the inner sanctuary, I throw myself down among the tall grass by the trickling stream; and, as I lie close to the earth, a thousand unknown plants are noticed by me: when I hear the buzz of the little world among the stalks, and grow familiar with the countless indescribable forms of the insects and flies, then I feel the presence of the Almighty, who formed us in his own image, and the breath of that universal love which bears and sustains us, as it floats around us in an eternity of blist. I sink under the weight of the splendour of these visions!A wonderful serenity has taken possession of my entire soul, like these sweet mornings of spring which I sink under the weight of the splendour of these visions!A wonderful serenity has taken possession of my entire soul, like these sweet mornings of spring which I enjoy with my whole heart. I am alone, and feel the charm of existence in this spot, which was created for the bliss of souls like mine. I am so happy, my dear friend, so absorbed in the exquis I throw myself down among the tall grass I should be incapable of drawing a single stroke at the present moment; and yet I feel that I never was a greater artist than now. When, while the lovely valley teems with vapour around me, and the meridian sun strikes the upper surface of the impenetrable foliage of my trees, and but a few stray gleams steal into the inner sanctuary, I throw myself down among the tall grass by the trickling stream; and, as I lie close to the earth, a thousand unknown plants are noticed by me: when I hear the buzz of the little world among the stalks, and grow familiar with the countless indescribable forms of the insects and Text, that where it came from it Far far away, behind the word mountains, far from the countries Vokalia and Consonantia, there live the blind texts. Separated they live in Bookmarksgrove right at the coast of the Semantics, a large language ocean. A small river named Duden flows by their place and supplies it with the necessary regelialia. It is a paradisematic country, in which roasted parts of sentences fly into your mouth. Even the all-powerful Pointing has no control about the blind texts it is an almost unorthographic life One day however a small line of blind text by the name of Lorem Ipsum decided to leave for the far World of Grammar. The Big Oxmox advised her not to do so, because there were thousands of bad Commas, wild Question Marks and devious Semikoli, but the Littl Far far away, behind the word mountain When she reached the first hills A small river named Duden flows A small river named Duden flows by their plat. Far far away, behind the word mountain Copy Writers ambushed her, made her drunk with Longe and Parole and dragged her into their agency, where they abused her for their projects again and again. And if she hasn’t been rewritten, then they are still using her.Far far away, behind the word mountains, far from the countries Vokalia and Consonantia, there live the blind texts. Separated they live in Bookmarksgrove right at the coast of the Semantics, a large language ocean. A small river named Duden flows by their plate. PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022


06JunStandard Post TypeJune 6, 2016Blog, Post Format A wonderful serenity has taken possession of my entire soul, like these sweet mornings of spring which I enjoy with my whole heart. I am alone, and feel the charm of existence in this spot, which was created for the bliss of souls like mine. I am so happy, my dear friend, so absorbed in the exquisite sense of mere tranquil existence, that I neglect my talents. I should be incapable of drawing a single stroke at the present moment; and yet I feel that I never was a greater artist than now. When, while the lovely valley teems with vapour around me, and the meridian sun strikes the upper surface of the impenetrable foliage of my trees, and but a few stray gleams steal into the inner sanctuary, I throw myself down among the tall grass by the trickling stream; and, as I lie close to the earth, a thousand unknown plants are noticed by me: when I hear the buzz of the little world among the stalks, and grow familiar with the countless indescribable forms of the insects and flies, then I feel the presence of the Almighty, who formed us in his own image, and the breath of that universal love which bears and sustains us, as it floats around us in an eternity of blist. I sink under the weight of the splendour of these visions!A wonderful serenity has taken possession of my entire soul, like these sweet mornings of spring which I sink under the weight of the splendour of these visions!A wonderful serenity has taken possession of my entire soul, like these sweet mornings of spring which I enjoy with my whole heart. I am alone, and feel the charm of existence in this spot, which was created for the bliss of souls like mine. I am so happy, my dear friend, so absorbed in the exquis I throw myself down among the tall grass I should be incapable of drawing a single stroke at the present moment; and yet I feel that I never was a greater artist than now. When, while the lovely valley teems with vapour around me, and the meridian sun strikes the upper surface of the impenetrable foliage of my trees, and but a few stray gleams steal into the inner sanctuary, I throw myself down among the tall grass by the trickling stream; and, as I lie close to the earth, a thousand unknown plants are noticed by me: when I hear the buzz of the little world among the stalks, and grow familiar with the countless indescribable forms of the insects and Text, that where it came from it Far far away, behind the word mountains, far from the countries Vokalia and Consonantia, there live the blind texts. Separated they live in Bookmarksgrove right at the coast of the Semantics, a large language ocean. A small river named Duden flows by their place and supplies it with the necessary regelialia. It is a paradisematic country, in which roasted parts of sentences fly into your mouth. Even the all-powerful Pointing has no control about the blind texts it is an almost unorthographic life One day however a small line of blind text by the name of Lorem Ipsum decided to leave for the far World of Grammar. The Big Oxmox advised her not to do so, because there were thousands of bad Commas, wild Question Marks and devious Semikoli, but the Littl Far far away, behind the word mountain When she reached the first hills A small river named Duden flows A small river named Duden flows by their plat. Far far away, behind the word mountain Copy Writers ambushed her, made her drunk with Longe and Parole and dragged her into their agency, where they abused her for their projects again and again. And if she hasn’t been rewritten, then they are still using her.Far far away, behind the word mountains, far from the countries Vokalia and Consonantia, there live the blind texts. Separated they live in Bookmarksgrove right at the coast of the Semantics, a large language ocean. A small river named Duden flows by their plate. PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022

Audio Post Format

06JunAudio Post FormatJune 6, 2016Post Format https://demo.goodlayers.com/ztudiox/wp-content/uploads/2016/06/wm_far_away.mp3Far far away, behind the word mountains, far from the countries Vokalia and Consonantia, there live the blind texts. Separated they live in Bookmarksgrove right at the coast of the Semantics, a large language ocean. A small river named Duden flows by their place and supplies it with the necessary regelialia. It is a paradisematic country, in which roasted parts of sentences fly into your mouth. Even the all-powerful Pointing has no control about the blind texts it is an almost unorthographic life One day however a small line of blind text by the name of Lorem Ipsum decided to leave for the far World of Grammar. The Big Oxmox advised her not to do so, because there were thousands of bad Commas, wild Question Marks and devious Semikoli, but the Little Blind Text didn’t listen. She packed her seven versalia, put her initial into the belt and made herself on the way. When she reached the first hills of the Italic Mountains, she had a last view back on the skyline of her hometown Bookmarksgrove, the headline of Alphabet Village and the subline of her own road, the Line Lane. Pityful a rethoric question ran over her cheek, then she continued her way. On her way she met a copy. The copy warned the Little Blind Text, that where it came from it would have been rewritten a thousand times and everything that was left from its origin would be the word “and” and the Little Blind Text should turn around and return to its own, safe country. But nothing the copy said could convince her and so it didn’t take long until a few insidious Copy Writers ambushed her. PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022

Audio Post Format

06JunAudio Post FormatJune 6, 2016Post Format https://demo.goodlayers.com/ztudiox/wp-content/uploads/2016/06/wm_far_away.mp3Far far away, behind the word mountains, far from the countries Vokalia and Consonantia, there live the blind texts. Separated they live in Bookmarksgrove right at the coast of the Semantics, a large language ocean. A small river named Duden flows by their place and supplies it with the necessary regelialia. It is a paradisematic country, in which roasted parts of sentences fly into your mouth. Even the all-powerful Pointing has no control about the blind texts it is an almost unorthographic life One day however a small line of blind text by the name of Lorem Ipsum decided to leave for the far World of Grammar. The Big Oxmox advised her not to do so, because there were thousands of bad Commas, wild Question Marks and devious Semikoli, but the Little Blind Text didn’t listen. She packed her seven versalia, put her initial into the belt and made herself on the way. When she reached the first hills of the Italic Mountains, she had a last view back on the skyline of her hometown Bookmarksgrove, the headline of Alphabet Village and the subline of her own road, the Line Lane. Pityful a rethoric question ran over her cheek, then she continued her way. On her way she met a copy. The copy warned the Little Blind Text, that where it came from it would have been rewritten a thousand times and everything that was left from its origin would be the word “and” and the Little Blind Text should turn around and return to its own, safe country. But nothing the copy said could convince her and so it didn’t take long until a few insidious Copy Writers ambushed her. PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022
06JunAudio Post FormatJune 6, 2016Post Format https://demo.goodlayers.com/ztudiox/wp-content/uploads/2016/06/wm_far_away.mp3Far far away, behind the word mountains, far from the countries Vokalia and Consonantia, there live the blind texts. Separated they live in Bookmarksgrove right at the coast of the Semantics, a large language ocean. A small river named Duden flows by their place and supplies it with the necessary regelialia. It is a paradisematic country, in which roasted parts of sentences fly into your mouth. Even the all-powerful Pointing has no control about the blind texts it is an almost unorthographic life One day however a small line of blind text by the name of Lorem Ipsum decided to leave for the far World of Grammar. The Big Oxmox advised her not to do so, because there were thousands of bad Commas, wild Question Marks and devious Semikoli, but the Little Blind Text didn’t listen. She packed her seven versalia, put her initial into the belt and made herself on the way. When she reached the first hills of the Italic Mountains, she had a last view back on the skyline of her hometown Bookmarksgrove, the headline of Alphabet Village and the subline of her own road, the Line Lane. Pityful a rethoric question ran over her cheek, then she continued her way. On her way she met a copy. The copy warned the Little Blind Text, that where it came from it would have been rewritten a thousand times and everything that was left from its origin would be the word “and” and the Little Blind Text should turn around and return to its own, safe country. But nothing the copy said could convince her and so it didn’t take long until a few insidious Copy Writers ambushed her. PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022


06JunAudio Post FormatJune 6, 2016Post Format https://demo.goodlayers.com/ztudiox/wp-content/uploads/2016/06/wm_far_away.mp3Far far away, behind the word mountains, far from the countries Vokalia and Consonantia, there live the blind texts. Separated they live in Bookmarksgrove right at the coast of the Semantics, a large language ocean. A small river named Duden flows by their place and supplies it with the necessary regelialia. It is a paradisematic country, in which roasted parts of sentences fly into your mouth. Even the all-powerful Pointing has no control about the blind texts it is an almost unorthographic life One day however a small line of blind text by the name of Lorem Ipsum decided to leave for the far World of Grammar. The Big Oxmox advised her not to do so, because there were thousands of bad Commas, wild Question Marks and devious Semikoli, but the Little Blind Text didn’t listen. She packed her seven versalia, put her initial into the belt and made herself on the way. When she reached the first hills of the Italic Mountains, she had a last view back on the skyline of her hometown Bookmarksgrove, the headline of Alphabet Village and the subline of her own road, the Line Lane. Pityful a rethoric question ran over her cheek, then she continued her way. On her way she met a copy. The copy warned the Little Blind Text, that where it came from it would have been rewritten a thousand times and everything that was left from its origin would be the word “and” and the Little Blind Text should turn around and return to its own, safe country. But nothing the copy said could convince her and so it didn’t take long until a few insidious Copy Writers ambushed her. PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022

Shalat Imam Tidak Memakai Doa Iftitah, Sahkah?

Kita lihat sebagian imam shalat saat shalat tarawih –misalnya- langsung membaca surat Al-Fatihah tanpa mendahului dengan membaca do’a istiftah (disebut sebagian ulama dengan doa iftitah). Para ulama menganggap bahwa membaca do’a iftitah dihukumi sunnah, tidak sampai tingkatan wajib. Inilah pendapat jumhur (mayoritas ulama). Salah satu contoh doa istiftah yang dibaca adalah, سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ وَتَبَارَكَ اسْمُكَ وَتَعَالَى جَدُّكَ وَلاَ إِلَهَ غَيْرُكَ “Subhaanakallahumma wa bi hamdika wa tabaarokasmuka wa ta’aalaa jadduka wa laa ilaha ghoiruk (artinya: Maha suci Engkau ya Allah, aku memuji-Mu, Maha berkah Nama-Mu. Maha tinggi kekayaan dan kebesaran-Mu, tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar selain Engkau).” (HR. Muslim, no. 399; Abu Daud, no. 775; Tirmidzi, no. 242; Ibnu Majah no. 804). Doa iftitah ini disunnahkan untuk dibaca pada setiap shalat dan setiap keadaan. Imam Nawawi mengatakan bahwa do’a iftitah disunnahkan dibaca untuk setiap orang yang shalat, untuk imam, makmum, munfarid, wanita, anak-anak, musafir, orang yang shalat wajib, orang yang shalat sunnah, orang yang shalat sambil duduk, orang yang shalat sambil berbaring, dan selainnya. Termasuk juga di dalamnya orang yang melaksanakan shalat sunnah rawatib, shalat sunnah mutlak, shalat ‘ied, shalat gerhana (shalat kusuf) dan shalat minta hujan (shalat istisqa’). Yang dikecualikan di sini adalah shalat jenazah, shalat ‘ied dan shalat lail (shalat malam), ada pembicaraan tersendiri mengenai do’a iftitah dalam shalat tersebut. Adapun meninggalkan membaca do’a iftitah mungkin bisa dilihat dari pendapat berikut ini. Ulama Hanabilah berpandangan bahwa shalat sunnah jika lebih dari sekali salam seperti pada shalat tarawih, dhuha, sunnah rawatib, maka di setiap dua raka’at (memulai shalat) disunnahkan membaca doa iftitah. Karena setiap dua raka’at itu berdiri sendiri. Namun menurut pendapat yang lain, cukup di awal shalat saja membaca iftitah. Berarti ada ulama yang berpandangan bolehnya meninggalkan doa iftitah untuk shalat yang salamnya lebih dari sekali seperti dalam shalat tarawih. Bagaimana kalau imam tidak membaca do’a iftitah (langsung membaca surat), apakah makmum tetap membacanya? Jawabannya, tetap membacanya. Lihat nukilan berikut, قال الشّافعيّة : يسنّ للمأموم أن يستفتح ، ولو كان الإمام يجهر والمأموم يسمع قراءته. “Ulama Syafi’iyah menyatakan bahwa disunnahkan bagi makmum untuk membaca doa iftitah walau imam sudah mengeraskan bacaan suratnya dan makmum mendengarkannya.” Semoga bermanfaat.   Referensi: Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah. Penerbit Kementrian Agama Kuwait. — Disusun di kota Ambon, 1 Ramadhan 1437 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsdoa iftitah iftitah imam shalat shalat tarawih

Shalat Imam Tidak Memakai Doa Iftitah, Sahkah?

Kita lihat sebagian imam shalat saat shalat tarawih –misalnya- langsung membaca surat Al-Fatihah tanpa mendahului dengan membaca do’a istiftah (disebut sebagian ulama dengan doa iftitah). Para ulama menganggap bahwa membaca do’a iftitah dihukumi sunnah, tidak sampai tingkatan wajib. Inilah pendapat jumhur (mayoritas ulama). Salah satu contoh doa istiftah yang dibaca adalah, سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ وَتَبَارَكَ اسْمُكَ وَتَعَالَى جَدُّكَ وَلاَ إِلَهَ غَيْرُكَ “Subhaanakallahumma wa bi hamdika wa tabaarokasmuka wa ta’aalaa jadduka wa laa ilaha ghoiruk (artinya: Maha suci Engkau ya Allah, aku memuji-Mu, Maha berkah Nama-Mu. Maha tinggi kekayaan dan kebesaran-Mu, tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar selain Engkau).” (HR. Muslim, no. 399; Abu Daud, no. 775; Tirmidzi, no. 242; Ibnu Majah no. 804). Doa iftitah ini disunnahkan untuk dibaca pada setiap shalat dan setiap keadaan. Imam Nawawi mengatakan bahwa do’a iftitah disunnahkan dibaca untuk setiap orang yang shalat, untuk imam, makmum, munfarid, wanita, anak-anak, musafir, orang yang shalat wajib, orang yang shalat sunnah, orang yang shalat sambil duduk, orang yang shalat sambil berbaring, dan selainnya. Termasuk juga di dalamnya orang yang melaksanakan shalat sunnah rawatib, shalat sunnah mutlak, shalat ‘ied, shalat gerhana (shalat kusuf) dan shalat minta hujan (shalat istisqa’). Yang dikecualikan di sini adalah shalat jenazah, shalat ‘ied dan shalat lail (shalat malam), ada pembicaraan tersendiri mengenai do’a iftitah dalam shalat tersebut. Adapun meninggalkan membaca do’a iftitah mungkin bisa dilihat dari pendapat berikut ini. Ulama Hanabilah berpandangan bahwa shalat sunnah jika lebih dari sekali salam seperti pada shalat tarawih, dhuha, sunnah rawatib, maka di setiap dua raka’at (memulai shalat) disunnahkan membaca doa iftitah. Karena setiap dua raka’at itu berdiri sendiri. Namun menurut pendapat yang lain, cukup di awal shalat saja membaca iftitah. Berarti ada ulama yang berpandangan bolehnya meninggalkan doa iftitah untuk shalat yang salamnya lebih dari sekali seperti dalam shalat tarawih. Bagaimana kalau imam tidak membaca do’a iftitah (langsung membaca surat), apakah makmum tetap membacanya? Jawabannya, tetap membacanya. Lihat nukilan berikut, قال الشّافعيّة : يسنّ للمأموم أن يستفتح ، ولو كان الإمام يجهر والمأموم يسمع قراءته. “Ulama Syafi’iyah menyatakan bahwa disunnahkan bagi makmum untuk membaca doa iftitah walau imam sudah mengeraskan bacaan suratnya dan makmum mendengarkannya.” Semoga bermanfaat.   Referensi: Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah. Penerbit Kementrian Agama Kuwait. — Disusun di kota Ambon, 1 Ramadhan 1437 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsdoa iftitah iftitah imam shalat shalat tarawih
Kita lihat sebagian imam shalat saat shalat tarawih –misalnya- langsung membaca surat Al-Fatihah tanpa mendahului dengan membaca do’a istiftah (disebut sebagian ulama dengan doa iftitah). Para ulama menganggap bahwa membaca do’a iftitah dihukumi sunnah, tidak sampai tingkatan wajib. Inilah pendapat jumhur (mayoritas ulama). Salah satu contoh doa istiftah yang dibaca adalah, سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ وَتَبَارَكَ اسْمُكَ وَتَعَالَى جَدُّكَ وَلاَ إِلَهَ غَيْرُكَ “Subhaanakallahumma wa bi hamdika wa tabaarokasmuka wa ta’aalaa jadduka wa laa ilaha ghoiruk (artinya: Maha suci Engkau ya Allah, aku memuji-Mu, Maha berkah Nama-Mu. Maha tinggi kekayaan dan kebesaran-Mu, tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar selain Engkau).” (HR. Muslim, no. 399; Abu Daud, no. 775; Tirmidzi, no. 242; Ibnu Majah no. 804). Doa iftitah ini disunnahkan untuk dibaca pada setiap shalat dan setiap keadaan. Imam Nawawi mengatakan bahwa do’a iftitah disunnahkan dibaca untuk setiap orang yang shalat, untuk imam, makmum, munfarid, wanita, anak-anak, musafir, orang yang shalat wajib, orang yang shalat sunnah, orang yang shalat sambil duduk, orang yang shalat sambil berbaring, dan selainnya. Termasuk juga di dalamnya orang yang melaksanakan shalat sunnah rawatib, shalat sunnah mutlak, shalat ‘ied, shalat gerhana (shalat kusuf) dan shalat minta hujan (shalat istisqa’). Yang dikecualikan di sini adalah shalat jenazah, shalat ‘ied dan shalat lail (shalat malam), ada pembicaraan tersendiri mengenai do’a iftitah dalam shalat tersebut. Adapun meninggalkan membaca do’a iftitah mungkin bisa dilihat dari pendapat berikut ini. Ulama Hanabilah berpandangan bahwa shalat sunnah jika lebih dari sekali salam seperti pada shalat tarawih, dhuha, sunnah rawatib, maka di setiap dua raka’at (memulai shalat) disunnahkan membaca doa iftitah. Karena setiap dua raka’at itu berdiri sendiri. Namun menurut pendapat yang lain, cukup di awal shalat saja membaca iftitah. Berarti ada ulama yang berpandangan bolehnya meninggalkan doa iftitah untuk shalat yang salamnya lebih dari sekali seperti dalam shalat tarawih. Bagaimana kalau imam tidak membaca do’a iftitah (langsung membaca surat), apakah makmum tetap membacanya? Jawabannya, tetap membacanya. Lihat nukilan berikut, قال الشّافعيّة : يسنّ للمأموم أن يستفتح ، ولو كان الإمام يجهر والمأموم يسمع قراءته. “Ulama Syafi’iyah menyatakan bahwa disunnahkan bagi makmum untuk membaca doa iftitah walau imam sudah mengeraskan bacaan suratnya dan makmum mendengarkannya.” Semoga bermanfaat.   Referensi: Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah. Penerbit Kementrian Agama Kuwait. — Disusun di kota Ambon, 1 Ramadhan 1437 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsdoa iftitah iftitah imam shalat shalat tarawih


Kita lihat sebagian imam shalat saat shalat tarawih –misalnya- langsung membaca surat Al-Fatihah tanpa mendahului dengan membaca do’a istiftah (disebut sebagian ulama dengan doa iftitah). Para ulama menganggap bahwa membaca do’a iftitah dihukumi sunnah, tidak sampai tingkatan wajib. Inilah pendapat jumhur (mayoritas ulama). Salah satu contoh doa istiftah yang dibaca adalah, سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ وَتَبَارَكَ اسْمُكَ وَتَعَالَى جَدُّكَ وَلاَ إِلَهَ غَيْرُكَ “Subhaanakallahumma wa bi hamdika wa tabaarokasmuka wa ta’aalaa jadduka wa laa ilaha ghoiruk (artinya: Maha suci Engkau ya Allah, aku memuji-Mu, Maha berkah Nama-Mu. Maha tinggi kekayaan dan kebesaran-Mu, tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar selain Engkau).” (HR. Muslim, no. 399; Abu Daud, no. 775; Tirmidzi, no. 242; Ibnu Majah no. 804). Doa iftitah ini disunnahkan untuk dibaca pada setiap shalat dan setiap keadaan. Imam Nawawi mengatakan bahwa do’a iftitah disunnahkan dibaca untuk setiap orang yang shalat, untuk imam, makmum, munfarid, wanita, anak-anak, musafir, orang yang shalat wajib, orang yang shalat sunnah, orang yang shalat sambil duduk, orang yang shalat sambil berbaring, dan selainnya. Termasuk juga di dalamnya orang yang melaksanakan shalat sunnah rawatib, shalat sunnah mutlak, shalat ‘ied, shalat gerhana (shalat kusuf) dan shalat minta hujan (shalat istisqa’). Yang dikecualikan di sini adalah shalat jenazah, shalat ‘ied dan shalat lail (shalat malam), ada pembicaraan tersendiri mengenai do’a iftitah dalam shalat tersebut. Adapun meninggalkan membaca do’a iftitah mungkin bisa dilihat dari pendapat berikut ini. Ulama Hanabilah berpandangan bahwa shalat sunnah jika lebih dari sekali salam seperti pada shalat tarawih, dhuha, sunnah rawatib, maka di setiap dua raka’at (memulai shalat) disunnahkan membaca doa iftitah. Karena setiap dua raka’at itu berdiri sendiri. Namun menurut pendapat yang lain, cukup di awal shalat saja membaca iftitah. Berarti ada ulama yang berpandangan bolehnya meninggalkan doa iftitah untuk shalat yang salamnya lebih dari sekali seperti dalam shalat tarawih. Bagaimana kalau imam tidak membaca do’a iftitah (langsung membaca surat), apakah makmum tetap membacanya? Jawabannya, tetap membacanya. Lihat nukilan berikut, قال الشّافعيّة : يسنّ للمأموم أن يستفتح ، ولو كان الإمام يجهر والمأموم يسمع قراءته. “Ulama Syafi’iyah menyatakan bahwa disunnahkan bagi makmum untuk membaca doa iftitah walau imam sudah mengeraskan bacaan suratnya dan makmum mendengarkannya.” Semoga bermanfaat.   Referensi: Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah. Penerbit Kementrian Agama Kuwait. — Disusun di kota Ambon, 1 Ramadhan 1437 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsdoa iftitah iftitah imam shalat shalat tarawih

Renungan #01, Dikira Golongannya Saja yang Masuk Surga

Renungan ayat di Ramadhan pertama ini ada di juz pertama, وَقَالُوا لَنْ يَدْخُلَ الْجَنَّةَ إِلَّا مَنْ كَانَ هُودًا أَوْ نَصَارَى تِلْكَ أَمَانِيُّهُمْ قُلْ هَاتُوا بُرْهَانَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ (111) بَلَى مَنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَلَهُ أَجْرُهُ عِنْدَ رَبِّهِ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ (112) “Dan mereka (Yahudi dan Nasrani) berkata: “Sekali-kali tidak akan masuk surga kecuali orang-orang (yang beragama) Yahudi atau Nasrani.” Demikian itu (hanya) angan-angan mereka yang kosong belaka. Katakanlah: “Tunjukkanlah bukti kebenaranmu jika kamu adalah orang yang benar.” (Tidak demikian) bahkan barangsiapa yang menyerahkan diri kepada Allah, sedang ia berbuat kebajikan, maka baginya pahala pada sisi Tuhannya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS. Al-Baqarah: 111-112) Lihatlah apa yang dikatakan oleh orang Yahudi dan Nashrani. Orang Yahudi berkata bahwa hanya merekalah yang masuk surga. Orang Nashrani juga menyatakan hanyalah mereka yang masuk surga. Mereka menghukumi diri mereka sendiri yang akan masuk surga. Ini hanyalah angan-angan yang tidak bisa diterima kecuali ada bukti yang jelas. Jika memang itu benar, silakan buktikan. Namun yang masuk surga adalah orang yang mengikhlaskan ibadahnya karena mengharap wajah Allah, ia berbuat ihsan (berbuat baik) dalam ibadahnya dengan mengikuti petunjuk Rasul. Inilah yang masuk surga, dari golongan mana pun. Sifat ini didapat ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam datang yaitu dengan berislam mengikuti ajaran beliau terlebih dahulu. Intinya, kata Syaikh Abu Bakr Al-Jazairi berkata, الإِسلام الصحيح القائم على أسسه الثلاثة الإِيمان والإِسلام والإِحسان هو سبيل النجاة من النار والفوز بالجنة “Islam yang benar kalau dibangun di atas tiga hal: (1) iman, (2) islam, (3) ihsan. Inilah jalan keselamatan dari neraka dan jalan untuk masuk surga.” Disebutkan dalam Aysar At-Tafasir. Lihatlah tidak perlu asal mengklaim, kami saja yang masuk surga. Namun cukup dibuktikan dengan iman, islam dan ihsan. Semoga kita bisa memenuhinya. — Disusun di kota Ambon, 1 Ramadhan 1437 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsrenungan ayat renungan quran

Renungan #01, Dikira Golongannya Saja yang Masuk Surga

Renungan ayat di Ramadhan pertama ini ada di juz pertama, وَقَالُوا لَنْ يَدْخُلَ الْجَنَّةَ إِلَّا مَنْ كَانَ هُودًا أَوْ نَصَارَى تِلْكَ أَمَانِيُّهُمْ قُلْ هَاتُوا بُرْهَانَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ (111) بَلَى مَنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَلَهُ أَجْرُهُ عِنْدَ رَبِّهِ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ (112) “Dan mereka (Yahudi dan Nasrani) berkata: “Sekali-kali tidak akan masuk surga kecuali orang-orang (yang beragama) Yahudi atau Nasrani.” Demikian itu (hanya) angan-angan mereka yang kosong belaka. Katakanlah: “Tunjukkanlah bukti kebenaranmu jika kamu adalah orang yang benar.” (Tidak demikian) bahkan barangsiapa yang menyerahkan diri kepada Allah, sedang ia berbuat kebajikan, maka baginya pahala pada sisi Tuhannya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS. Al-Baqarah: 111-112) Lihatlah apa yang dikatakan oleh orang Yahudi dan Nashrani. Orang Yahudi berkata bahwa hanya merekalah yang masuk surga. Orang Nashrani juga menyatakan hanyalah mereka yang masuk surga. Mereka menghukumi diri mereka sendiri yang akan masuk surga. Ini hanyalah angan-angan yang tidak bisa diterima kecuali ada bukti yang jelas. Jika memang itu benar, silakan buktikan. Namun yang masuk surga adalah orang yang mengikhlaskan ibadahnya karena mengharap wajah Allah, ia berbuat ihsan (berbuat baik) dalam ibadahnya dengan mengikuti petunjuk Rasul. Inilah yang masuk surga, dari golongan mana pun. Sifat ini didapat ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam datang yaitu dengan berislam mengikuti ajaran beliau terlebih dahulu. Intinya, kata Syaikh Abu Bakr Al-Jazairi berkata, الإِسلام الصحيح القائم على أسسه الثلاثة الإِيمان والإِسلام والإِحسان هو سبيل النجاة من النار والفوز بالجنة “Islam yang benar kalau dibangun di atas tiga hal: (1) iman, (2) islam, (3) ihsan. Inilah jalan keselamatan dari neraka dan jalan untuk masuk surga.” Disebutkan dalam Aysar At-Tafasir. Lihatlah tidak perlu asal mengklaim, kami saja yang masuk surga. Namun cukup dibuktikan dengan iman, islam dan ihsan. Semoga kita bisa memenuhinya. — Disusun di kota Ambon, 1 Ramadhan 1437 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsrenungan ayat renungan quran
Renungan ayat di Ramadhan pertama ini ada di juz pertama, وَقَالُوا لَنْ يَدْخُلَ الْجَنَّةَ إِلَّا مَنْ كَانَ هُودًا أَوْ نَصَارَى تِلْكَ أَمَانِيُّهُمْ قُلْ هَاتُوا بُرْهَانَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ (111) بَلَى مَنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَلَهُ أَجْرُهُ عِنْدَ رَبِّهِ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ (112) “Dan mereka (Yahudi dan Nasrani) berkata: “Sekali-kali tidak akan masuk surga kecuali orang-orang (yang beragama) Yahudi atau Nasrani.” Demikian itu (hanya) angan-angan mereka yang kosong belaka. Katakanlah: “Tunjukkanlah bukti kebenaranmu jika kamu adalah orang yang benar.” (Tidak demikian) bahkan barangsiapa yang menyerahkan diri kepada Allah, sedang ia berbuat kebajikan, maka baginya pahala pada sisi Tuhannya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS. Al-Baqarah: 111-112) Lihatlah apa yang dikatakan oleh orang Yahudi dan Nashrani. Orang Yahudi berkata bahwa hanya merekalah yang masuk surga. Orang Nashrani juga menyatakan hanyalah mereka yang masuk surga. Mereka menghukumi diri mereka sendiri yang akan masuk surga. Ini hanyalah angan-angan yang tidak bisa diterima kecuali ada bukti yang jelas. Jika memang itu benar, silakan buktikan. Namun yang masuk surga adalah orang yang mengikhlaskan ibadahnya karena mengharap wajah Allah, ia berbuat ihsan (berbuat baik) dalam ibadahnya dengan mengikuti petunjuk Rasul. Inilah yang masuk surga, dari golongan mana pun. Sifat ini didapat ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam datang yaitu dengan berislam mengikuti ajaran beliau terlebih dahulu. Intinya, kata Syaikh Abu Bakr Al-Jazairi berkata, الإِسلام الصحيح القائم على أسسه الثلاثة الإِيمان والإِسلام والإِحسان هو سبيل النجاة من النار والفوز بالجنة “Islam yang benar kalau dibangun di atas tiga hal: (1) iman, (2) islam, (3) ihsan. Inilah jalan keselamatan dari neraka dan jalan untuk masuk surga.” Disebutkan dalam Aysar At-Tafasir. Lihatlah tidak perlu asal mengklaim, kami saja yang masuk surga. Namun cukup dibuktikan dengan iman, islam dan ihsan. Semoga kita bisa memenuhinya. — Disusun di kota Ambon, 1 Ramadhan 1437 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsrenungan ayat renungan quran


Renungan ayat di Ramadhan pertama ini ada di juz pertama, وَقَالُوا لَنْ يَدْخُلَ الْجَنَّةَ إِلَّا مَنْ كَانَ هُودًا أَوْ نَصَارَى تِلْكَ أَمَانِيُّهُمْ قُلْ هَاتُوا بُرْهَانَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ (111) بَلَى مَنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَلَهُ أَجْرُهُ عِنْدَ رَبِّهِ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ (112) “Dan mereka (Yahudi dan Nasrani) berkata: “Sekali-kali tidak akan masuk surga kecuali orang-orang (yang beragama) Yahudi atau Nasrani.” Demikian itu (hanya) angan-angan mereka yang kosong belaka. Katakanlah: “Tunjukkanlah bukti kebenaranmu jika kamu adalah orang yang benar.” (Tidak demikian) bahkan barangsiapa yang menyerahkan diri kepada Allah, sedang ia berbuat kebajikan, maka baginya pahala pada sisi Tuhannya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS. Al-Baqarah: 111-112) Lihatlah apa yang dikatakan oleh orang Yahudi dan Nashrani. Orang Yahudi berkata bahwa hanya merekalah yang masuk surga. Orang Nashrani juga menyatakan hanyalah mereka yang masuk surga. Mereka menghukumi diri mereka sendiri yang akan masuk surga. Ini hanyalah angan-angan yang tidak bisa diterima kecuali ada bukti yang jelas. Jika memang itu benar, silakan buktikan. Namun yang masuk surga adalah orang yang mengikhlaskan ibadahnya karena mengharap wajah Allah, ia berbuat ihsan (berbuat baik) dalam ibadahnya dengan mengikuti petunjuk Rasul. Inilah yang masuk surga, dari golongan mana pun. Sifat ini didapat ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam datang yaitu dengan berislam mengikuti ajaran beliau terlebih dahulu. Intinya, kata Syaikh Abu Bakr Al-Jazairi berkata, الإِسلام الصحيح القائم على أسسه الثلاثة الإِيمان والإِسلام والإِحسان هو سبيل النجاة من النار والفوز بالجنة “Islam yang benar kalau dibangun di atas tiga hal: (1) iman, (2) islam, (3) ihsan. Inilah jalan keselamatan dari neraka dan jalan untuk masuk surga.” Disebutkan dalam Aysar At-Tafasir. Lihatlah tidak perlu asal mengklaim, kami saja yang masuk surga. Namun cukup dibuktikan dengan iman, islam dan ihsan. Semoga kita bisa memenuhinya. — Disusun di kota Ambon, 1 Ramadhan 1437 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsrenungan ayat renungan quran

Wanita Mendapatkan Flek Saat Puasa

Kalau wanita mendapatkan haidh saat puasa, puasanya batal. Bagaimana jika mendapati flek saja? Dari Abu Sa’id Al Khudri radhiyallahu ‘anhu ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya mengenai sebab kekurangan agama wanita, beliau berkata, أَلَيْسَ إِذَا حَاضَتْ لَمْ تُصَلِّ وَلَمْ تَصُمْ “Bukankah wanita jika haidh tidak shalat dan tidak puasa?” (HR. Bukhari, no. 304; Muslim, no. 79). Bagi wanita yang berhalangan untuk puasa karena haidh tersebut, ia punya kewajiban untuk mengqadha’ puasa di hari lain. Dari Mu’adzah dia berkata, “Saya bertanya kepada Aisyah seraya berkata, ‘Kenapa gerangan wanita yang haid mengqadha’ puasa dan tidak mengqadha’ shalat?’ Maka Aisyah menjawab, ‘Apakah kamu dari golongan Haruriyah? ‘ Aku menjawab, ‘Aku bukan Haruriyah, akan tetapi aku hanya bertanya.’ Aisyah menjawab, كَانَ يُصِيبُنَا ذَلِكَ فَنُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّوْمِ وَلاَ نُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّلاَةِ “Kami dahulu juga mengalami haid, maka kami diperintahkan untuk mengqadha’ puasa dan tidak diperintahkan untuk mengqadha’ shalat.” (HR. Muslim, no. 335) Namun bagaimana jika mendapati hanya flek saat puasa, apakah puasanya batal? Ada kaedah dari Syaikh As-Sa’di dalam kitabnya Manhajus Salikin yang bisa menjawab hal ini. Akhir kesimpulannya seperti yang dirinci berikut ini. Flek yang keluar di masa kebiasaan haidh sebelum darah haidh keluar, ditambah jika terasa nyeri, maka terhitung sebagai DARAH HAIDH. Flek yang keluar di luar masa kebiasaan haidh, maka dianggap BUKAN DARAH HAIDH. Flek yang keluar setelah darah haidh dan masih bersambung, maka dianggap DARAH HAIDH. Flek yang keluar setelah suci (setelah darah haidh berhenti total), namun setelah beberapa hari keluar flek lagi, maka dianggap BUKAN DARAH HAIDH. Kalau dianggap HAIDH, maka tidak boleh shalat dan tidak boleh puasa. Kalau dianggap bukan darah HAIDH, maka tetap diperintahkan shalat dan puasa. Wallahu a’lam. Semoga bermanfaat. — @ Bula, Seram Bagian Timur, 29 Sya’ban 1437 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsdarah haid darah haidh

Wanita Mendapatkan Flek Saat Puasa

Kalau wanita mendapatkan haidh saat puasa, puasanya batal. Bagaimana jika mendapati flek saja? Dari Abu Sa’id Al Khudri radhiyallahu ‘anhu ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya mengenai sebab kekurangan agama wanita, beliau berkata, أَلَيْسَ إِذَا حَاضَتْ لَمْ تُصَلِّ وَلَمْ تَصُمْ “Bukankah wanita jika haidh tidak shalat dan tidak puasa?” (HR. Bukhari, no. 304; Muslim, no. 79). Bagi wanita yang berhalangan untuk puasa karena haidh tersebut, ia punya kewajiban untuk mengqadha’ puasa di hari lain. Dari Mu’adzah dia berkata, “Saya bertanya kepada Aisyah seraya berkata, ‘Kenapa gerangan wanita yang haid mengqadha’ puasa dan tidak mengqadha’ shalat?’ Maka Aisyah menjawab, ‘Apakah kamu dari golongan Haruriyah? ‘ Aku menjawab, ‘Aku bukan Haruriyah, akan tetapi aku hanya bertanya.’ Aisyah menjawab, كَانَ يُصِيبُنَا ذَلِكَ فَنُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّوْمِ وَلاَ نُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّلاَةِ “Kami dahulu juga mengalami haid, maka kami diperintahkan untuk mengqadha’ puasa dan tidak diperintahkan untuk mengqadha’ shalat.” (HR. Muslim, no. 335) Namun bagaimana jika mendapati hanya flek saat puasa, apakah puasanya batal? Ada kaedah dari Syaikh As-Sa’di dalam kitabnya Manhajus Salikin yang bisa menjawab hal ini. Akhir kesimpulannya seperti yang dirinci berikut ini. Flek yang keluar di masa kebiasaan haidh sebelum darah haidh keluar, ditambah jika terasa nyeri, maka terhitung sebagai DARAH HAIDH. Flek yang keluar di luar masa kebiasaan haidh, maka dianggap BUKAN DARAH HAIDH. Flek yang keluar setelah darah haidh dan masih bersambung, maka dianggap DARAH HAIDH. Flek yang keluar setelah suci (setelah darah haidh berhenti total), namun setelah beberapa hari keluar flek lagi, maka dianggap BUKAN DARAH HAIDH. Kalau dianggap HAIDH, maka tidak boleh shalat dan tidak boleh puasa. Kalau dianggap bukan darah HAIDH, maka tetap diperintahkan shalat dan puasa. Wallahu a’lam. Semoga bermanfaat. — @ Bula, Seram Bagian Timur, 29 Sya’ban 1437 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsdarah haid darah haidh
Kalau wanita mendapatkan haidh saat puasa, puasanya batal. Bagaimana jika mendapati flek saja? Dari Abu Sa’id Al Khudri radhiyallahu ‘anhu ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya mengenai sebab kekurangan agama wanita, beliau berkata, أَلَيْسَ إِذَا حَاضَتْ لَمْ تُصَلِّ وَلَمْ تَصُمْ “Bukankah wanita jika haidh tidak shalat dan tidak puasa?” (HR. Bukhari, no. 304; Muslim, no. 79). Bagi wanita yang berhalangan untuk puasa karena haidh tersebut, ia punya kewajiban untuk mengqadha’ puasa di hari lain. Dari Mu’adzah dia berkata, “Saya bertanya kepada Aisyah seraya berkata, ‘Kenapa gerangan wanita yang haid mengqadha’ puasa dan tidak mengqadha’ shalat?’ Maka Aisyah menjawab, ‘Apakah kamu dari golongan Haruriyah? ‘ Aku menjawab, ‘Aku bukan Haruriyah, akan tetapi aku hanya bertanya.’ Aisyah menjawab, كَانَ يُصِيبُنَا ذَلِكَ فَنُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّوْمِ وَلاَ نُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّلاَةِ “Kami dahulu juga mengalami haid, maka kami diperintahkan untuk mengqadha’ puasa dan tidak diperintahkan untuk mengqadha’ shalat.” (HR. Muslim, no. 335) Namun bagaimana jika mendapati hanya flek saat puasa, apakah puasanya batal? Ada kaedah dari Syaikh As-Sa’di dalam kitabnya Manhajus Salikin yang bisa menjawab hal ini. Akhir kesimpulannya seperti yang dirinci berikut ini. Flek yang keluar di masa kebiasaan haidh sebelum darah haidh keluar, ditambah jika terasa nyeri, maka terhitung sebagai DARAH HAIDH. Flek yang keluar di luar masa kebiasaan haidh, maka dianggap BUKAN DARAH HAIDH. Flek yang keluar setelah darah haidh dan masih bersambung, maka dianggap DARAH HAIDH. Flek yang keluar setelah suci (setelah darah haidh berhenti total), namun setelah beberapa hari keluar flek lagi, maka dianggap BUKAN DARAH HAIDH. Kalau dianggap HAIDH, maka tidak boleh shalat dan tidak boleh puasa. Kalau dianggap bukan darah HAIDH, maka tetap diperintahkan shalat dan puasa. Wallahu a’lam. Semoga bermanfaat. — @ Bula, Seram Bagian Timur, 29 Sya’ban 1437 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsdarah haid darah haidh


Kalau wanita mendapatkan haidh saat puasa, puasanya batal. Bagaimana jika mendapati flek saja? Dari Abu Sa’id Al Khudri radhiyallahu ‘anhu ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya mengenai sebab kekurangan agama wanita, beliau berkata, أَلَيْسَ إِذَا حَاضَتْ لَمْ تُصَلِّ وَلَمْ تَصُمْ “Bukankah wanita jika haidh tidak shalat dan tidak puasa?” (HR. Bukhari, no. 304; Muslim, no. 79). Bagi wanita yang berhalangan untuk puasa karena haidh tersebut, ia punya kewajiban untuk mengqadha’ puasa di hari lain. Dari Mu’adzah dia berkata, “Saya bertanya kepada Aisyah seraya berkata, ‘Kenapa gerangan wanita yang haid mengqadha’ puasa dan tidak mengqadha’ shalat?’ Maka Aisyah menjawab, ‘Apakah kamu dari golongan Haruriyah? ‘ Aku menjawab, ‘Aku bukan Haruriyah, akan tetapi aku hanya bertanya.’ Aisyah menjawab, كَانَ يُصِيبُنَا ذَلِكَ فَنُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّوْمِ وَلاَ نُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّلاَةِ “Kami dahulu juga mengalami haid, maka kami diperintahkan untuk mengqadha’ puasa dan tidak diperintahkan untuk mengqadha’ shalat.” (HR. Muslim, no. 335) Namun bagaimana jika mendapati hanya flek saat puasa, apakah puasanya batal? Ada kaedah dari Syaikh As-Sa’di dalam kitabnya Manhajus Salikin yang bisa menjawab hal ini. Akhir kesimpulannya seperti yang dirinci berikut ini. Flek yang keluar di masa kebiasaan haidh sebelum darah haidh keluar, ditambah jika terasa nyeri, maka terhitung sebagai DARAH HAIDH. Flek yang keluar di luar masa kebiasaan haidh, maka dianggap BUKAN DARAH HAIDH. Flek yang keluar setelah darah haidh dan masih bersambung, maka dianggap DARAH HAIDH. Flek yang keluar setelah suci (setelah darah haidh berhenti total), namun setelah beberapa hari keluar flek lagi, maka dianggap BUKAN DARAH HAIDH. Kalau dianggap HAIDH, maka tidak boleh shalat dan tidak boleh puasa. Kalau dianggap bukan darah HAIDH, maka tetap diperintahkan shalat dan puasa. Wallahu a’lam. Semoga bermanfaat. — @ Bula, Seram Bagian Timur, 29 Sya’ban 1437 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsdarah haid darah haidh

Contoh Cacat dalam Membaca Surat Al Fatihah

Contoh Cacat dalam Membaca Al-Fatihah Ibnu Qudamah dalam Al-Mughni berkata, Wajib membaca Al-Fatihah secara berurutan dan memperhatikan tasydid, jangan sampai terjadi lahn yang dapat mengubah makna. Jika urutan ayat dan tasydid dalam surat Al-Fatihah itu hilang atau ada lahn yang merubah makna misalnya membaca kalimat menjadi “iyyaki na’budu” atau “an’amtu ‘alaihim” atau membaca menjadi “ahdanash shirothol mustaqim”, maka bacaan tersebut tidaklah dianggap kecuali kalau tidak mampu dalam hal ini. Pengertian lahn disampaikan oleh Imam Nawawi sebagai berikut. Imam An-Nawawi menyebutkan dalam kitab At-Tibyan Fi Adabi Hamalah Al-Qur’an hlm. 89, “Bagi orang yang sudah bisa membaca Al-Qur’an haram membaca Al-Qur’an dengan Lahn yaitu terlalu panjang dalam membacanya atau terlalu pendek sehingga ada sebagian huruf yang mestinya dibaca panjang malah dibaca pendek, atau membuang harakat pada sebagian lafadznya yang membuat rusak maknanya, bagi yang membaca Al-Qur’an dengan cara demikian adalah haram dan pelakunya dihukumi fasik. Adapun bagi yang mendengarnya juga berdosa jika ia mampu mengingatkan atau menghentikannya malah tetap lebih memilih diam dan mengikutinya.”   Referensi: http://fatwa.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&Id=49378   @ Masohi, Maluku Tengah, 28 Syaban 1437 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagscara shalat rukun shalat

Contoh Cacat dalam Membaca Surat Al Fatihah

Contoh Cacat dalam Membaca Al-Fatihah Ibnu Qudamah dalam Al-Mughni berkata, Wajib membaca Al-Fatihah secara berurutan dan memperhatikan tasydid, jangan sampai terjadi lahn yang dapat mengubah makna. Jika urutan ayat dan tasydid dalam surat Al-Fatihah itu hilang atau ada lahn yang merubah makna misalnya membaca kalimat menjadi “iyyaki na’budu” atau “an’amtu ‘alaihim” atau membaca menjadi “ahdanash shirothol mustaqim”, maka bacaan tersebut tidaklah dianggap kecuali kalau tidak mampu dalam hal ini. Pengertian lahn disampaikan oleh Imam Nawawi sebagai berikut. Imam An-Nawawi menyebutkan dalam kitab At-Tibyan Fi Adabi Hamalah Al-Qur’an hlm. 89, “Bagi orang yang sudah bisa membaca Al-Qur’an haram membaca Al-Qur’an dengan Lahn yaitu terlalu panjang dalam membacanya atau terlalu pendek sehingga ada sebagian huruf yang mestinya dibaca panjang malah dibaca pendek, atau membuang harakat pada sebagian lafadznya yang membuat rusak maknanya, bagi yang membaca Al-Qur’an dengan cara demikian adalah haram dan pelakunya dihukumi fasik. Adapun bagi yang mendengarnya juga berdosa jika ia mampu mengingatkan atau menghentikannya malah tetap lebih memilih diam dan mengikutinya.”   Referensi: http://fatwa.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&Id=49378   @ Masohi, Maluku Tengah, 28 Syaban 1437 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagscara shalat rukun shalat
Contoh Cacat dalam Membaca Al-Fatihah Ibnu Qudamah dalam Al-Mughni berkata, Wajib membaca Al-Fatihah secara berurutan dan memperhatikan tasydid, jangan sampai terjadi lahn yang dapat mengubah makna. Jika urutan ayat dan tasydid dalam surat Al-Fatihah itu hilang atau ada lahn yang merubah makna misalnya membaca kalimat menjadi “iyyaki na’budu” atau “an’amtu ‘alaihim” atau membaca menjadi “ahdanash shirothol mustaqim”, maka bacaan tersebut tidaklah dianggap kecuali kalau tidak mampu dalam hal ini. Pengertian lahn disampaikan oleh Imam Nawawi sebagai berikut. Imam An-Nawawi menyebutkan dalam kitab At-Tibyan Fi Adabi Hamalah Al-Qur’an hlm. 89, “Bagi orang yang sudah bisa membaca Al-Qur’an haram membaca Al-Qur’an dengan Lahn yaitu terlalu panjang dalam membacanya atau terlalu pendek sehingga ada sebagian huruf yang mestinya dibaca panjang malah dibaca pendek, atau membuang harakat pada sebagian lafadznya yang membuat rusak maknanya, bagi yang membaca Al-Qur’an dengan cara demikian adalah haram dan pelakunya dihukumi fasik. Adapun bagi yang mendengarnya juga berdosa jika ia mampu mengingatkan atau menghentikannya malah tetap lebih memilih diam dan mengikutinya.”   Referensi: http://fatwa.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&Id=49378   @ Masohi, Maluku Tengah, 28 Syaban 1437 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagscara shalat rukun shalat


Contoh Cacat dalam Membaca Al-Fatihah Ibnu Qudamah dalam Al-Mughni berkata, Wajib membaca Al-Fatihah secara berurutan dan memperhatikan tasydid, jangan sampai terjadi lahn yang dapat mengubah makna. Jika urutan ayat dan tasydid dalam surat Al-Fatihah itu hilang atau ada lahn yang merubah makna misalnya membaca kalimat menjadi “iyyaki na’budu” atau “an’amtu ‘alaihim” atau membaca menjadi “ahdanash shirothol mustaqim”, maka bacaan tersebut tidaklah dianggap kecuali kalau tidak mampu dalam hal ini. Pengertian lahn disampaikan oleh Imam Nawawi sebagai berikut. Imam An-Nawawi menyebutkan dalam kitab At-Tibyan Fi Adabi Hamalah Al-Qur’an hlm. 89, “Bagi orang yang sudah bisa membaca Al-Qur’an haram membaca Al-Qur’an dengan Lahn yaitu terlalu panjang dalam membacanya atau terlalu pendek sehingga ada sebagian huruf yang mestinya dibaca panjang malah dibaca pendek, atau membuang harakat pada sebagian lafadznya yang membuat rusak maknanya, bagi yang membaca Al-Qur’an dengan cara demikian adalah haram dan pelakunya dihukumi fasik. Adapun bagi yang mendengarnya juga berdosa jika ia mampu mengingatkan atau menghentikannya malah tetap lebih memilih diam dan mengikutinya.”   Referensi: http://fatwa.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&Id=49378   @ Masohi, Maluku Tengah, 28 Syaban 1437 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagscara shalat rukun shalat

Berantas Kemiskinan 2000 Dhuafa Gunungkidul Lewat Zakat

Merekalah fakir miskin, dari harta kita mereka punya hak. Jika harta kita telah mencapai nishab dan telah bertahan selama haul (satu tahun hijriyah), maka wajib 2,5 % dari harta simpanan kita dikenai zakat. Di Gunungkidul, terkenal miskin, apalagi ketika musim kering lebih tampak lagi kemiskinannya. Dan dulunya mereka inilah yang menjadi rongrongan kaum misionaris. Karenanya dari tahun ke tahun, Pesantren Darush Sholihin binaan RumayshoCom yang berada di Warak, Girisekar, Panggang, Gunungkidul berusaha untuk menyalurkan zakat kepada mereka. Tujuannya di antaranya adalah untuk menguatkan iman dan keislaman mereka. Pesantren Darush Sholihin hingga saat ini memiliki lebih dari 100 masjid binaan dan 3000 jama’ah pengajian Malam Kamis dari lima kecamatan yang rata-rata miskin. Lewat takmir masjid itulah zakat akan disalurkan. Begitu pula Pesantren Darush Sholihin bekerjasama dengan pihak Aisiyah Panggang – Purwosari. Tahun ini, penyalurannya sangat-sangat dibutuhkan karena cakupan jamaah pengajian yang sudah semakin luas. Moga dengan zakat ini dapat mengangkat ekonomi rakyat kecil. Di samping untuk masyarakat miskin, zakat juga akan disalurkan pada anak asuh yang disekolahkan di MTs Al-I’tisham Wonosari dan juga untuk para ustadz yang memang butuh akan zakat sehingga bisa konsen dalam menebar ilmu saja.   Cara Penyaluran Zakat Bagi yang berminat menyalurkan zakat dari harta (2,5%) untuk daerah Gunungkidul, silakan mentransfer melalui rekening: BCA KCP Wonosari: 8950092310 (kode bank: 014) atas nama Muhammad Abduh Tuasikal. BSM KCP Wonosari: 7098637367  (kode bank: 451) atas nama Yayasan Darush Sholihin Gunungkidul.   Konfirmasi via SMS ke 082313950500 atau WA ke dengan contoh sms konfirmasi: Zakat DS#Rini# Jogja# Rp.3.000.000#BCA# 1 Juni 2016.   * Dana zakat di atas juga pernah disalurkan untuk Flores Timur dan Maluku, program ini pun direncanakan demikian.   Info donasi: 0811 26 7791 (CALL/WA), 0823 139 50500 (SMS) Laporan penyaluran zakat selama ini bisa dilihat di sini. Dokumentasi penyaluran zakat tahun lalu di sini.   Info Rumaysho.Com dan DarushSholihin.Com Tagspenyaluran zakat

Berantas Kemiskinan 2000 Dhuafa Gunungkidul Lewat Zakat

Merekalah fakir miskin, dari harta kita mereka punya hak. Jika harta kita telah mencapai nishab dan telah bertahan selama haul (satu tahun hijriyah), maka wajib 2,5 % dari harta simpanan kita dikenai zakat. Di Gunungkidul, terkenal miskin, apalagi ketika musim kering lebih tampak lagi kemiskinannya. Dan dulunya mereka inilah yang menjadi rongrongan kaum misionaris. Karenanya dari tahun ke tahun, Pesantren Darush Sholihin binaan RumayshoCom yang berada di Warak, Girisekar, Panggang, Gunungkidul berusaha untuk menyalurkan zakat kepada mereka. Tujuannya di antaranya adalah untuk menguatkan iman dan keislaman mereka. Pesantren Darush Sholihin hingga saat ini memiliki lebih dari 100 masjid binaan dan 3000 jama’ah pengajian Malam Kamis dari lima kecamatan yang rata-rata miskin. Lewat takmir masjid itulah zakat akan disalurkan. Begitu pula Pesantren Darush Sholihin bekerjasama dengan pihak Aisiyah Panggang – Purwosari. Tahun ini, penyalurannya sangat-sangat dibutuhkan karena cakupan jamaah pengajian yang sudah semakin luas. Moga dengan zakat ini dapat mengangkat ekonomi rakyat kecil. Di samping untuk masyarakat miskin, zakat juga akan disalurkan pada anak asuh yang disekolahkan di MTs Al-I’tisham Wonosari dan juga untuk para ustadz yang memang butuh akan zakat sehingga bisa konsen dalam menebar ilmu saja.   Cara Penyaluran Zakat Bagi yang berminat menyalurkan zakat dari harta (2,5%) untuk daerah Gunungkidul, silakan mentransfer melalui rekening: BCA KCP Wonosari: 8950092310 (kode bank: 014) atas nama Muhammad Abduh Tuasikal. BSM KCP Wonosari: 7098637367  (kode bank: 451) atas nama Yayasan Darush Sholihin Gunungkidul.   Konfirmasi via SMS ke 082313950500 atau WA ke dengan contoh sms konfirmasi: Zakat DS#Rini# Jogja# Rp.3.000.000#BCA# 1 Juni 2016.   * Dana zakat di atas juga pernah disalurkan untuk Flores Timur dan Maluku, program ini pun direncanakan demikian.   Info donasi: 0811 26 7791 (CALL/WA), 0823 139 50500 (SMS) Laporan penyaluran zakat selama ini bisa dilihat di sini. Dokumentasi penyaluran zakat tahun lalu di sini.   Info Rumaysho.Com dan DarushSholihin.Com Tagspenyaluran zakat
Merekalah fakir miskin, dari harta kita mereka punya hak. Jika harta kita telah mencapai nishab dan telah bertahan selama haul (satu tahun hijriyah), maka wajib 2,5 % dari harta simpanan kita dikenai zakat. Di Gunungkidul, terkenal miskin, apalagi ketika musim kering lebih tampak lagi kemiskinannya. Dan dulunya mereka inilah yang menjadi rongrongan kaum misionaris. Karenanya dari tahun ke tahun, Pesantren Darush Sholihin binaan RumayshoCom yang berada di Warak, Girisekar, Panggang, Gunungkidul berusaha untuk menyalurkan zakat kepada mereka. Tujuannya di antaranya adalah untuk menguatkan iman dan keislaman mereka. Pesantren Darush Sholihin hingga saat ini memiliki lebih dari 100 masjid binaan dan 3000 jama’ah pengajian Malam Kamis dari lima kecamatan yang rata-rata miskin. Lewat takmir masjid itulah zakat akan disalurkan. Begitu pula Pesantren Darush Sholihin bekerjasama dengan pihak Aisiyah Panggang – Purwosari. Tahun ini, penyalurannya sangat-sangat dibutuhkan karena cakupan jamaah pengajian yang sudah semakin luas. Moga dengan zakat ini dapat mengangkat ekonomi rakyat kecil. Di samping untuk masyarakat miskin, zakat juga akan disalurkan pada anak asuh yang disekolahkan di MTs Al-I’tisham Wonosari dan juga untuk para ustadz yang memang butuh akan zakat sehingga bisa konsen dalam menebar ilmu saja.   Cara Penyaluran Zakat Bagi yang berminat menyalurkan zakat dari harta (2,5%) untuk daerah Gunungkidul, silakan mentransfer melalui rekening: BCA KCP Wonosari: 8950092310 (kode bank: 014) atas nama Muhammad Abduh Tuasikal. BSM KCP Wonosari: 7098637367  (kode bank: 451) atas nama Yayasan Darush Sholihin Gunungkidul.   Konfirmasi via SMS ke 082313950500 atau WA ke dengan contoh sms konfirmasi: Zakat DS#Rini# Jogja# Rp.3.000.000#BCA# 1 Juni 2016.   * Dana zakat di atas juga pernah disalurkan untuk Flores Timur dan Maluku, program ini pun direncanakan demikian.   Info donasi: 0811 26 7791 (CALL/WA), 0823 139 50500 (SMS) Laporan penyaluran zakat selama ini bisa dilihat di sini. Dokumentasi penyaluran zakat tahun lalu di sini.   Info Rumaysho.Com dan DarushSholihin.Com Tagspenyaluran zakat


Merekalah fakir miskin, dari harta kita mereka punya hak. Jika harta kita telah mencapai nishab dan telah bertahan selama haul (satu tahun hijriyah), maka wajib 2,5 % dari harta simpanan kita dikenai zakat. Di Gunungkidul, terkenal miskin, apalagi ketika musim kering lebih tampak lagi kemiskinannya. Dan dulunya mereka inilah yang menjadi rongrongan kaum misionaris. Karenanya dari tahun ke tahun, Pesantren Darush Sholihin binaan RumayshoCom yang berada di Warak, Girisekar, Panggang, Gunungkidul berusaha untuk menyalurkan zakat kepada mereka. Tujuannya di antaranya adalah untuk menguatkan iman dan keislaman mereka. Pesantren Darush Sholihin hingga saat ini memiliki lebih dari 100 masjid binaan dan 3000 jama’ah pengajian Malam Kamis dari lima kecamatan yang rata-rata miskin. Lewat takmir masjid itulah zakat akan disalurkan. Begitu pula Pesantren Darush Sholihin bekerjasama dengan pihak Aisiyah Panggang – Purwosari. Tahun ini, penyalurannya sangat-sangat dibutuhkan karena cakupan jamaah pengajian yang sudah semakin luas. Moga dengan zakat ini dapat mengangkat ekonomi rakyat kecil. Di samping untuk masyarakat miskin, zakat juga akan disalurkan pada anak asuh yang disekolahkan di MTs Al-I’tisham Wonosari dan juga untuk para ustadz yang memang butuh akan zakat sehingga bisa konsen dalam menebar ilmu saja.   Cara Penyaluran Zakat Bagi yang berminat menyalurkan zakat dari harta (2,5%) untuk daerah Gunungkidul, silakan mentransfer melalui rekening: BCA KCP Wonosari: 8950092310 (kode bank: 014) atas nama Muhammad Abduh Tuasikal. BSM KCP Wonosari: 7098637367  (kode bank: 451) atas nama Yayasan Darush Sholihin Gunungkidul.   Konfirmasi via SMS ke 082313950500 atau WA ke dengan contoh sms konfirmasi: Zakat DS#Rini# Jogja# Rp.3.000.000#BCA# 1 Juni 2016.   * Dana zakat di atas juga pernah disalurkan untuk Flores Timur dan Maluku, program ini pun direncanakan demikian.   Info donasi: 0811 26 7791 (CALL/WA), 0823 139 50500 (SMS) Laporan penyaluran zakat selama ini bisa dilihat di sini. Dokumentasi penyaluran zakat tahun lalu di sini.   Info Rumaysho.Com dan DarushSholihin.Com Tagspenyaluran zakat

Memuji Diri Sendiri

Hati-hati memuji diri sendiri. “Saya itu seperti ini dan seperti itu, yang lain tidak bisa.” Hati-hati dan waspada dari memuji dan mentazkiyah diri sendiri. Al-‘Izz ibnu ‘Abdis Salam berkata, “Engkau memuji dirimu sendiri lebih parah daripada engkau memuji orang lain. Karena kesalahan seseorang di matanya sendiri lebih ia tahu banyaknya dibanding mengetahui kesalahan orang lain. Kecintaanmu pada sesuatu itu membutakan dan menulikan. Dan memang betul, tidak ada yang disukai kecuali diri sendiri. Oleh karena itu, kita lebih suka melihat ‘aib (kekurangan) orang lain daripada memperhatikan kekurangan diri sendiri. Juga kita lebih mudah memberi toleransi jika diri kita kurang, namun tidak bagi yang lain.” Allah Ta’ala berfirman, فَلَا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى “Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa.” (QS. An-Najm: 32) أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يُزَكُّونَ أَنْفُسَهُمْ بَلِ اللَّهُ يُزَكِّي مَنْ يَشَاءُ “Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang menganggap dirinya bersih? Sebenarnya Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya.” (QS. An-Nisa’: 49) Tidak boleh seseorang memuji dirinya sendiri kecuali jika ada hajat untuk hal itu. Misalnya:   Pertama: Ingin melamar seorang wanita dan ia mengemukakan keistimewaan dirinya.   Kedua: Ingin memperkenalkan kemampuan dirinya dalam memenej pemerintahan dan mengurus agama seperti yang terjadi pada Nabi Yusuf ‘alaihis salam. Yusuf berkata, اجْعَلْنِي عَلَى خَزَائِنِ الْأَرْضِ إِنِّي حَفِيظٌ عَلِيمٌ “Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir); sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan.” (QS. Yusuf: 55)   Ketiga: Boleh memuji diri sendiri agar bisa dicontoh. Tentu ini bagi orang yang benar-benar niatannya untuk dicontoh orang lain dan aman dari penyakit riya’ dan sum’ah. Seperti Nabi kita sendiri pernah berkata, أَنَا سَيِّدُ وَلَدِ آدَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلاَ فَخْرَ وَبِيَدِى لِوَاءُ الْحَمْدِ وَلاَ فَخْرَ وَمَا مِنْ نَبِىٍّ يَوْمَئِذٍ آدَمُ فَمَنْ سِوَاهُ إِلاَّ تَحْتَ لِوَائِى وَأَنَا أَوَّلُ مَنْ تَنْشَقُّ عَنْهُ الأَرْضُ وَلاَ فَخْرَ “Aku adalah pemimpin (sayyid) anak Adam pada hari kiamat. Aku katakan ini bukan untuk menyombongkan diri. Di tanganku ada bendera Al-Hamdi. Aku katakan ini bukan untuk menyombongkan diri. Tidak ada seorang nabi pun, tidak pula Adam, juga yang lainnya saat itu melainkan berada di bawah benderaku. Aku orang pertama yang keluar dari kubur. Aku katakan ini bukan untuk menyombongkan diri.” (HR. Tirmidzi, no. 3148; Ibnu Majah, no. 4308. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan) Semoga bermanfaat. — @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 24 Sya’ban 1437 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsmemuji

Memuji Diri Sendiri

Hati-hati memuji diri sendiri. “Saya itu seperti ini dan seperti itu, yang lain tidak bisa.” Hati-hati dan waspada dari memuji dan mentazkiyah diri sendiri. Al-‘Izz ibnu ‘Abdis Salam berkata, “Engkau memuji dirimu sendiri lebih parah daripada engkau memuji orang lain. Karena kesalahan seseorang di matanya sendiri lebih ia tahu banyaknya dibanding mengetahui kesalahan orang lain. Kecintaanmu pada sesuatu itu membutakan dan menulikan. Dan memang betul, tidak ada yang disukai kecuali diri sendiri. Oleh karena itu, kita lebih suka melihat ‘aib (kekurangan) orang lain daripada memperhatikan kekurangan diri sendiri. Juga kita lebih mudah memberi toleransi jika diri kita kurang, namun tidak bagi yang lain.” Allah Ta’ala berfirman, فَلَا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى “Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa.” (QS. An-Najm: 32) أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يُزَكُّونَ أَنْفُسَهُمْ بَلِ اللَّهُ يُزَكِّي مَنْ يَشَاءُ “Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang menganggap dirinya bersih? Sebenarnya Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya.” (QS. An-Nisa’: 49) Tidak boleh seseorang memuji dirinya sendiri kecuali jika ada hajat untuk hal itu. Misalnya:   Pertama: Ingin melamar seorang wanita dan ia mengemukakan keistimewaan dirinya.   Kedua: Ingin memperkenalkan kemampuan dirinya dalam memenej pemerintahan dan mengurus agama seperti yang terjadi pada Nabi Yusuf ‘alaihis salam. Yusuf berkata, اجْعَلْنِي عَلَى خَزَائِنِ الْأَرْضِ إِنِّي حَفِيظٌ عَلِيمٌ “Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir); sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan.” (QS. Yusuf: 55)   Ketiga: Boleh memuji diri sendiri agar bisa dicontoh. Tentu ini bagi orang yang benar-benar niatannya untuk dicontoh orang lain dan aman dari penyakit riya’ dan sum’ah. Seperti Nabi kita sendiri pernah berkata, أَنَا سَيِّدُ وَلَدِ آدَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلاَ فَخْرَ وَبِيَدِى لِوَاءُ الْحَمْدِ وَلاَ فَخْرَ وَمَا مِنْ نَبِىٍّ يَوْمَئِذٍ آدَمُ فَمَنْ سِوَاهُ إِلاَّ تَحْتَ لِوَائِى وَأَنَا أَوَّلُ مَنْ تَنْشَقُّ عَنْهُ الأَرْضُ وَلاَ فَخْرَ “Aku adalah pemimpin (sayyid) anak Adam pada hari kiamat. Aku katakan ini bukan untuk menyombongkan diri. Di tanganku ada bendera Al-Hamdi. Aku katakan ini bukan untuk menyombongkan diri. Tidak ada seorang nabi pun, tidak pula Adam, juga yang lainnya saat itu melainkan berada di bawah benderaku. Aku orang pertama yang keluar dari kubur. Aku katakan ini bukan untuk menyombongkan diri.” (HR. Tirmidzi, no. 3148; Ibnu Majah, no. 4308. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan) Semoga bermanfaat. — @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 24 Sya’ban 1437 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsmemuji
Hati-hati memuji diri sendiri. “Saya itu seperti ini dan seperti itu, yang lain tidak bisa.” Hati-hati dan waspada dari memuji dan mentazkiyah diri sendiri. Al-‘Izz ibnu ‘Abdis Salam berkata, “Engkau memuji dirimu sendiri lebih parah daripada engkau memuji orang lain. Karena kesalahan seseorang di matanya sendiri lebih ia tahu banyaknya dibanding mengetahui kesalahan orang lain. Kecintaanmu pada sesuatu itu membutakan dan menulikan. Dan memang betul, tidak ada yang disukai kecuali diri sendiri. Oleh karena itu, kita lebih suka melihat ‘aib (kekurangan) orang lain daripada memperhatikan kekurangan diri sendiri. Juga kita lebih mudah memberi toleransi jika diri kita kurang, namun tidak bagi yang lain.” Allah Ta’ala berfirman, فَلَا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى “Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa.” (QS. An-Najm: 32) أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يُزَكُّونَ أَنْفُسَهُمْ بَلِ اللَّهُ يُزَكِّي مَنْ يَشَاءُ “Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang menganggap dirinya bersih? Sebenarnya Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya.” (QS. An-Nisa’: 49) Tidak boleh seseorang memuji dirinya sendiri kecuali jika ada hajat untuk hal itu. Misalnya:   Pertama: Ingin melamar seorang wanita dan ia mengemukakan keistimewaan dirinya.   Kedua: Ingin memperkenalkan kemampuan dirinya dalam memenej pemerintahan dan mengurus agama seperti yang terjadi pada Nabi Yusuf ‘alaihis salam. Yusuf berkata, اجْعَلْنِي عَلَى خَزَائِنِ الْأَرْضِ إِنِّي حَفِيظٌ عَلِيمٌ “Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir); sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan.” (QS. Yusuf: 55)   Ketiga: Boleh memuji diri sendiri agar bisa dicontoh. Tentu ini bagi orang yang benar-benar niatannya untuk dicontoh orang lain dan aman dari penyakit riya’ dan sum’ah. Seperti Nabi kita sendiri pernah berkata, أَنَا سَيِّدُ وَلَدِ آدَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلاَ فَخْرَ وَبِيَدِى لِوَاءُ الْحَمْدِ وَلاَ فَخْرَ وَمَا مِنْ نَبِىٍّ يَوْمَئِذٍ آدَمُ فَمَنْ سِوَاهُ إِلاَّ تَحْتَ لِوَائِى وَأَنَا أَوَّلُ مَنْ تَنْشَقُّ عَنْهُ الأَرْضُ وَلاَ فَخْرَ “Aku adalah pemimpin (sayyid) anak Adam pada hari kiamat. Aku katakan ini bukan untuk menyombongkan diri. Di tanganku ada bendera Al-Hamdi. Aku katakan ini bukan untuk menyombongkan diri. Tidak ada seorang nabi pun, tidak pula Adam, juga yang lainnya saat itu melainkan berada di bawah benderaku. Aku orang pertama yang keluar dari kubur. Aku katakan ini bukan untuk menyombongkan diri.” (HR. Tirmidzi, no. 3148; Ibnu Majah, no. 4308. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan) Semoga bermanfaat. — @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 24 Sya’ban 1437 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsmemuji


Hati-hati memuji diri sendiri. “Saya itu seperti ini dan seperti itu, yang lain tidak bisa.” Hati-hati dan waspada dari memuji dan mentazkiyah diri sendiri. Al-‘Izz ibnu ‘Abdis Salam berkata, “Engkau memuji dirimu sendiri lebih parah daripada engkau memuji orang lain. Karena kesalahan seseorang di matanya sendiri lebih ia tahu banyaknya dibanding mengetahui kesalahan orang lain. Kecintaanmu pada sesuatu itu membutakan dan menulikan. Dan memang betul, tidak ada yang disukai kecuali diri sendiri. Oleh karena itu, kita lebih suka melihat ‘aib (kekurangan) orang lain daripada memperhatikan kekurangan diri sendiri. Juga kita lebih mudah memberi toleransi jika diri kita kurang, namun tidak bagi yang lain.” Allah Ta’ala berfirman, فَلَا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى “Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa.” (QS. An-Najm: 32) أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يُزَكُّونَ أَنْفُسَهُمْ بَلِ اللَّهُ يُزَكِّي مَنْ يَشَاءُ “Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang menganggap dirinya bersih? Sebenarnya Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya.” (QS. An-Nisa’: 49) Tidak boleh seseorang memuji dirinya sendiri kecuali jika ada hajat untuk hal itu. Misalnya:   Pertama: Ingin melamar seorang wanita dan ia mengemukakan keistimewaan dirinya.   Kedua: Ingin memperkenalkan kemampuan dirinya dalam memenej pemerintahan dan mengurus agama seperti yang terjadi pada Nabi Yusuf ‘alaihis salam. Yusuf berkata, اجْعَلْنِي عَلَى خَزَائِنِ الْأَرْضِ إِنِّي حَفِيظٌ عَلِيمٌ “Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir); sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan.” (QS. Yusuf: 55)   Ketiga: Boleh memuji diri sendiri agar bisa dicontoh. Tentu ini bagi orang yang benar-benar niatannya untuk dicontoh orang lain dan aman dari penyakit riya’ dan sum’ah. Seperti Nabi kita sendiri pernah berkata, أَنَا سَيِّدُ وَلَدِ آدَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلاَ فَخْرَ وَبِيَدِى لِوَاءُ الْحَمْدِ وَلاَ فَخْرَ وَمَا مِنْ نَبِىٍّ يَوْمَئِذٍ آدَمُ فَمَنْ سِوَاهُ إِلاَّ تَحْتَ لِوَائِى وَأَنَا أَوَّلُ مَنْ تَنْشَقُّ عَنْهُ الأَرْضُ وَلاَ فَخْرَ “Aku adalah pemimpin (sayyid) anak Adam pada hari kiamat. Aku katakan ini bukan untuk menyombongkan diri. Di tanganku ada bendera Al-Hamdi. Aku katakan ini bukan untuk menyombongkan diri. Tidak ada seorang nabi pun, tidak pula Adam, juga yang lainnya saat itu melainkan berada di bawah benderaku. Aku orang pertama yang keluar dari kubur. Aku katakan ini bukan untuk menyombongkan diri.” (HR. Tirmidzi, no. 3148; Ibnu Majah, no. 4308. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan) Semoga bermanfaat. — @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 24 Sya’ban 1437 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsmemuji

Amalan Ketika Dipuji Orang Lain

Apa yang kita lakukan ketika dipuji orang lain? Imam Al-Ghazali rahimahullah mengatakan, “Orang yang dipuji hendaknya waspada, jangan sampai ia terjatuh dalam kesombongan, ujub dan bentuk futur lainnya.  Seseorang bisa selamat dari hal-hal jelek tadi, hanya dengan mengetahui hakikat keadaan dirinya. Hendaklah ia renungkan akan bahaya jika berada dalam akhir hidup yang jelek. Hendaklah ia waspada akan bahaya riya’ dan terhapusnya amalan. Hendaknya ia kenali diri yang orang yang memuji pun tidak mengenalnya. Kalau saja orang yang memuji itu tahu kejelekan yang ada pada dirinya, tentu ia tak akan memuji. Baiknya, ia tampakkan pula bahwa ia tidak suka pada pujian tersebut.” (Ihya’ Ulum Ad-Diin, 3: 236) Juga perhatikan perkataan yang sama dari Ibnu ‘Ajibah. Ibnu ‘Ajibah rahimahullah mengatakan, “Janganlah engkau tertipu dengan pujian orang lain yang menghampirimu. Sesungguhnya mereka yang memuji tidaklah mengetahui dirimu sendiri kecuali yang nampak bagi mereka. Sedangkan engkau sendiri yang mengetahui isi hatimu. Ada ulama yang mengatakan, ‘Barangsiapa yang begitu girang dengan pujian manusia, syaithon pun akan merasuk dalam hatinya.’“ (Lihat Iqazh Al-Himam Syarh Matn Al-Hikam, Ibnu ‘Ajibah, hlm. 159, Mawqi’ Al-Qaraq, Asy-Syamilah) Dalam hadits disebutkan bahwa Al-Miqdad pernah menyiramkan kerikil di wajah seseorang yang memuji Usman bin ‘Affan, lantas Usman bertanya pada Miqdad, kenapa engkau melakukan seperti itu. Miqdad menjawab bahwa ia pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِذَا رَأَيْتُمُ الْمَدَّاحِينَ فَاحْثُوا فِى وُجُوهِهِمُ التُّرَابَ “Jika kalian melihat orang-orang yang doyan memuji maka siramkanlah pasir ke wajahnya.” (HR. Muslim, no. 3002). Ada ulama yang mempraktikkan hadits ini secara tekstual seperti yang dilakukan oleh Al-Miqdad. Ada juga ulama yang memaknakan, celalah orang yang memuji tersebut. Ulama lain menyatakan bahwa maksudnya adalah kita berasal dari tanah, maka bersikap tawadhu’lah (rendah hati) dan jangan sampai ujub. Namun Imam Nawawi melemahkan penafsiran terakhir ini. (Lihat Syarh Shahih Muslim, 18: 107) Para ulama katakan, kalau ada yang memujimu, bacalah doa seperti berikut. Ketika dipuji, Abu Bakr berdo’a, اللَّهُمَّ أَنْتَ أَعْلَمُ مِنِّى بِنَفْسِى وَأَنَا أَعْلَمُ بِنَفْسِى مِنْهُمْ اللَّهُمَّ اجْعَلْنِى خَيْرًا مِمَّا يَظُنُّوْنَ وَاغْفِرْ لِى مَا لاَ يَعْلَمُوْنَ وَلاَ تُؤَاخِذْنِى بِمَا يَقُوْلُوْنَ Allahumma anta a’lamu minni bi nafsiy, wa anaa a’lamu bi nafsii minhum. Allahummaj ‘alniy khoirom mimmaa yazhunnuun, wagh-firliy maa laa ya’lamuun, wa laa tu-akhidzniy bimaa yaquuluun. [Ya Allah, Engkau lebih mengetahui keadaan diriku daripada diriku sendiri dan aku lebih mengetahui keadaan diriku daripada mereka yang memujiku. Ya Allah, jadikanlah diriku lebih baik dari yang mereka sangkakan, ampunilah aku terhadap apa yang mereka tidak ketahui dariku, dan janganlah menyiksaku dengan perkataan mereka] (Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam Syu’ab Al- Iman, 4: 228, no.4876. Lihat Jaami’ Al-Ahadits, Jalaluddin As-Suyuthi, 25: 145, Asy-Syamilah) Sebagaimana disebutkan Al-Baihaqi dalam Syu’ab Al-Iman, Al-Auza’i mengatakan bahwa ketika seseorang dipuji oleh orang lain di hadapan  wajahnya, maka hendaklah ia mengucapkan do’a di atas. Disebutkan pula dalam Adabul Mufrod karya Imam Al Bukhari mengenai hadits di atas ketika beliau sebutkan dalam Bab “Apa yang disebutkan oleh seseorang ketika ia disanjung.” Begitu pula disebutkan dalam kitab Hilyatul Awliya’ karya Abu Na’im Al Asbahaniy bahwa ketika seseorang dipuji di hadapannya, hendaklah ia mengingkari, marah dan tidak menyukainya, ditambah membaca do’a di atas. Semoga bermanfaat.   Referensi: Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah. Penerbit Kementrian Agama Kuwait. Juz ke-36. — @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 24 Sya’ban 1437 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsmemuji riya sombong

Amalan Ketika Dipuji Orang Lain

Apa yang kita lakukan ketika dipuji orang lain? Imam Al-Ghazali rahimahullah mengatakan, “Orang yang dipuji hendaknya waspada, jangan sampai ia terjatuh dalam kesombongan, ujub dan bentuk futur lainnya.  Seseorang bisa selamat dari hal-hal jelek tadi, hanya dengan mengetahui hakikat keadaan dirinya. Hendaklah ia renungkan akan bahaya jika berada dalam akhir hidup yang jelek. Hendaklah ia waspada akan bahaya riya’ dan terhapusnya amalan. Hendaknya ia kenali diri yang orang yang memuji pun tidak mengenalnya. Kalau saja orang yang memuji itu tahu kejelekan yang ada pada dirinya, tentu ia tak akan memuji. Baiknya, ia tampakkan pula bahwa ia tidak suka pada pujian tersebut.” (Ihya’ Ulum Ad-Diin, 3: 236) Juga perhatikan perkataan yang sama dari Ibnu ‘Ajibah. Ibnu ‘Ajibah rahimahullah mengatakan, “Janganlah engkau tertipu dengan pujian orang lain yang menghampirimu. Sesungguhnya mereka yang memuji tidaklah mengetahui dirimu sendiri kecuali yang nampak bagi mereka. Sedangkan engkau sendiri yang mengetahui isi hatimu. Ada ulama yang mengatakan, ‘Barangsiapa yang begitu girang dengan pujian manusia, syaithon pun akan merasuk dalam hatinya.’“ (Lihat Iqazh Al-Himam Syarh Matn Al-Hikam, Ibnu ‘Ajibah, hlm. 159, Mawqi’ Al-Qaraq, Asy-Syamilah) Dalam hadits disebutkan bahwa Al-Miqdad pernah menyiramkan kerikil di wajah seseorang yang memuji Usman bin ‘Affan, lantas Usman bertanya pada Miqdad, kenapa engkau melakukan seperti itu. Miqdad menjawab bahwa ia pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِذَا رَأَيْتُمُ الْمَدَّاحِينَ فَاحْثُوا فِى وُجُوهِهِمُ التُّرَابَ “Jika kalian melihat orang-orang yang doyan memuji maka siramkanlah pasir ke wajahnya.” (HR. Muslim, no. 3002). Ada ulama yang mempraktikkan hadits ini secara tekstual seperti yang dilakukan oleh Al-Miqdad. Ada juga ulama yang memaknakan, celalah orang yang memuji tersebut. Ulama lain menyatakan bahwa maksudnya adalah kita berasal dari tanah, maka bersikap tawadhu’lah (rendah hati) dan jangan sampai ujub. Namun Imam Nawawi melemahkan penafsiran terakhir ini. (Lihat Syarh Shahih Muslim, 18: 107) Para ulama katakan, kalau ada yang memujimu, bacalah doa seperti berikut. Ketika dipuji, Abu Bakr berdo’a, اللَّهُمَّ أَنْتَ أَعْلَمُ مِنِّى بِنَفْسِى وَأَنَا أَعْلَمُ بِنَفْسِى مِنْهُمْ اللَّهُمَّ اجْعَلْنِى خَيْرًا مِمَّا يَظُنُّوْنَ وَاغْفِرْ لِى مَا لاَ يَعْلَمُوْنَ وَلاَ تُؤَاخِذْنِى بِمَا يَقُوْلُوْنَ Allahumma anta a’lamu minni bi nafsiy, wa anaa a’lamu bi nafsii minhum. Allahummaj ‘alniy khoirom mimmaa yazhunnuun, wagh-firliy maa laa ya’lamuun, wa laa tu-akhidzniy bimaa yaquuluun. [Ya Allah, Engkau lebih mengetahui keadaan diriku daripada diriku sendiri dan aku lebih mengetahui keadaan diriku daripada mereka yang memujiku. Ya Allah, jadikanlah diriku lebih baik dari yang mereka sangkakan, ampunilah aku terhadap apa yang mereka tidak ketahui dariku, dan janganlah menyiksaku dengan perkataan mereka] (Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam Syu’ab Al- Iman, 4: 228, no.4876. Lihat Jaami’ Al-Ahadits, Jalaluddin As-Suyuthi, 25: 145, Asy-Syamilah) Sebagaimana disebutkan Al-Baihaqi dalam Syu’ab Al-Iman, Al-Auza’i mengatakan bahwa ketika seseorang dipuji oleh orang lain di hadapan  wajahnya, maka hendaklah ia mengucapkan do’a di atas. Disebutkan pula dalam Adabul Mufrod karya Imam Al Bukhari mengenai hadits di atas ketika beliau sebutkan dalam Bab “Apa yang disebutkan oleh seseorang ketika ia disanjung.” Begitu pula disebutkan dalam kitab Hilyatul Awliya’ karya Abu Na’im Al Asbahaniy bahwa ketika seseorang dipuji di hadapannya, hendaklah ia mengingkari, marah dan tidak menyukainya, ditambah membaca do’a di atas. Semoga bermanfaat.   Referensi: Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah. Penerbit Kementrian Agama Kuwait. Juz ke-36. — @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 24 Sya’ban 1437 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsmemuji riya sombong
Apa yang kita lakukan ketika dipuji orang lain? Imam Al-Ghazali rahimahullah mengatakan, “Orang yang dipuji hendaknya waspada, jangan sampai ia terjatuh dalam kesombongan, ujub dan bentuk futur lainnya.  Seseorang bisa selamat dari hal-hal jelek tadi, hanya dengan mengetahui hakikat keadaan dirinya. Hendaklah ia renungkan akan bahaya jika berada dalam akhir hidup yang jelek. Hendaklah ia waspada akan bahaya riya’ dan terhapusnya amalan. Hendaknya ia kenali diri yang orang yang memuji pun tidak mengenalnya. Kalau saja orang yang memuji itu tahu kejelekan yang ada pada dirinya, tentu ia tak akan memuji. Baiknya, ia tampakkan pula bahwa ia tidak suka pada pujian tersebut.” (Ihya’ Ulum Ad-Diin, 3: 236) Juga perhatikan perkataan yang sama dari Ibnu ‘Ajibah. Ibnu ‘Ajibah rahimahullah mengatakan, “Janganlah engkau tertipu dengan pujian orang lain yang menghampirimu. Sesungguhnya mereka yang memuji tidaklah mengetahui dirimu sendiri kecuali yang nampak bagi mereka. Sedangkan engkau sendiri yang mengetahui isi hatimu. Ada ulama yang mengatakan, ‘Barangsiapa yang begitu girang dengan pujian manusia, syaithon pun akan merasuk dalam hatinya.’“ (Lihat Iqazh Al-Himam Syarh Matn Al-Hikam, Ibnu ‘Ajibah, hlm. 159, Mawqi’ Al-Qaraq, Asy-Syamilah) Dalam hadits disebutkan bahwa Al-Miqdad pernah menyiramkan kerikil di wajah seseorang yang memuji Usman bin ‘Affan, lantas Usman bertanya pada Miqdad, kenapa engkau melakukan seperti itu. Miqdad menjawab bahwa ia pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِذَا رَأَيْتُمُ الْمَدَّاحِينَ فَاحْثُوا فِى وُجُوهِهِمُ التُّرَابَ “Jika kalian melihat orang-orang yang doyan memuji maka siramkanlah pasir ke wajahnya.” (HR. Muslim, no. 3002). Ada ulama yang mempraktikkan hadits ini secara tekstual seperti yang dilakukan oleh Al-Miqdad. Ada juga ulama yang memaknakan, celalah orang yang memuji tersebut. Ulama lain menyatakan bahwa maksudnya adalah kita berasal dari tanah, maka bersikap tawadhu’lah (rendah hati) dan jangan sampai ujub. Namun Imam Nawawi melemahkan penafsiran terakhir ini. (Lihat Syarh Shahih Muslim, 18: 107) Para ulama katakan, kalau ada yang memujimu, bacalah doa seperti berikut. Ketika dipuji, Abu Bakr berdo’a, اللَّهُمَّ أَنْتَ أَعْلَمُ مِنِّى بِنَفْسِى وَأَنَا أَعْلَمُ بِنَفْسِى مِنْهُمْ اللَّهُمَّ اجْعَلْنِى خَيْرًا مِمَّا يَظُنُّوْنَ وَاغْفِرْ لِى مَا لاَ يَعْلَمُوْنَ وَلاَ تُؤَاخِذْنِى بِمَا يَقُوْلُوْنَ Allahumma anta a’lamu minni bi nafsiy, wa anaa a’lamu bi nafsii minhum. Allahummaj ‘alniy khoirom mimmaa yazhunnuun, wagh-firliy maa laa ya’lamuun, wa laa tu-akhidzniy bimaa yaquuluun. [Ya Allah, Engkau lebih mengetahui keadaan diriku daripada diriku sendiri dan aku lebih mengetahui keadaan diriku daripada mereka yang memujiku. Ya Allah, jadikanlah diriku lebih baik dari yang mereka sangkakan, ampunilah aku terhadap apa yang mereka tidak ketahui dariku, dan janganlah menyiksaku dengan perkataan mereka] (Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam Syu’ab Al- Iman, 4: 228, no.4876. Lihat Jaami’ Al-Ahadits, Jalaluddin As-Suyuthi, 25: 145, Asy-Syamilah) Sebagaimana disebutkan Al-Baihaqi dalam Syu’ab Al-Iman, Al-Auza’i mengatakan bahwa ketika seseorang dipuji oleh orang lain di hadapan  wajahnya, maka hendaklah ia mengucapkan do’a di atas. Disebutkan pula dalam Adabul Mufrod karya Imam Al Bukhari mengenai hadits di atas ketika beliau sebutkan dalam Bab “Apa yang disebutkan oleh seseorang ketika ia disanjung.” Begitu pula disebutkan dalam kitab Hilyatul Awliya’ karya Abu Na’im Al Asbahaniy bahwa ketika seseorang dipuji di hadapannya, hendaklah ia mengingkari, marah dan tidak menyukainya, ditambah membaca do’a di atas. Semoga bermanfaat.   Referensi: Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah. Penerbit Kementrian Agama Kuwait. Juz ke-36. — @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 24 Sya’ban 1437 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsmemuji riya sombong


Apa yang kita lakukan ketika dipuji orang lain? Imam Al-Ghazali rahimahullah mengatakan, “Orang yang dipuji hendaknya waspada, jangan sampai ia terjatuh dalam kesombongan, ujub dan bentuk futur lainnya.  Seseorang bisa selamat dari hal-hal jelek tadi, hanya dengan mengetahui hakikat keadaan dirinya. Hendaklah ia renungkan akan bahaya jika berada dalam akhir hidup yang jelek. Hendaklah ia waspada akan bahaya riya’ dan terhapusnya amalan. Hendaknya ia kenali diri yang orang yang memuji pun tidak mengenalnya. Kalau saja orang yang memuji itu tahu kejelekan yang ada pada dirinya, tentu ia tak akan memuji. Baiknya, ia tampakkan pula bahwa ia tidak suka pada pujian tersebut.” (Ihya’ Ulum Ad-Diin, 3: 236) Juga perhatikan perkataan yang sama dari Ibnu ‘Ajibah. Ibnu ‘Ajibah rahimahullah mengatakan, “Janganlah engkau tertipu dengan pujian orang lain yang menghampirimu. Sesungguhnya mereka yang memuji tidaklah mengetahui dirimu sendiri kecuali yang nampak bagi mereka. Sedangkan engkau sendiri yang mengetahui isi hatimu. Ada ulama yang mengatakan, ‘Barangsiapa yang begitu girang dengan pujian manusia, syaithon pun akan merasuk dalam hatinya.’“ (Lihat Iqazh Al-Himam Syarh Matn Al-Hikam, Ibnu ‘Ajibah, hlm. 159, Mawqi’ Al-Qaraq, Asy-Syamilah) Dalam hadits disebutkan bahwa Al-Miqdad pernah menyiramkan kerikil di wajah seseorang yang memuji Usman bin ‘Affan, lantas Usman bertanya pada Miqdad, kenapa engkau melakukan seperti itu. Miqdad menjawab bahwa ia pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِذَا رَأَيْتُمُ الْمَدَّاحِينَ فَاحْثُوا فِى وُجُوهِهِمُ التُّرَابَ “Jika kalian melihat orang-orang yang doyan memuji maka siramkanlah pasir ke wajahnya.” (HR. Muslim, no. 3002). Ada ulama yang mempraktikkan hadits ini secara tekstual seperti yang dilakukan oleh Al-Miqdad. Ada juga ulama yang memaknakan, celalah orang yang memuji tersebut. Ulama lain menyatakan bahwa maksudnya adalah kita berasal dari tanah, maka bersikap tawadhu’lah (rendah hati) dan jangan sampai ujub. Namun Imam Nawawi melemahkan penafsiran terakhir ini. (Lihat Syarh Shahih Muslim, 18: 107) Para ulama katakan, kalau ada yang memujimu, bacalah doa seperti berikut. Ketika dipuji, Abu Bakr berdo’a, اللَّهُمَّ أَنْتَ أَعْلَمُ مِنِّى بِنَفْسِى وَأَنَا أَعْلَمُ بِنَفْسِى مِنْهُمْ اللَّهُمَّ اجْعَلْنِى خَيْرًا مِمَّا يَظُنُّوْنَ وَاغْفِرْ لِى مَا لاَ يَعْلَمُوْنَ وَلاَ تُؤَاخِذْنِى بِمَا يَقُوْلُوْنَ Allahumma anta a’lamu minni bi nafsiy, wa anaa a’lamu bi nafsii minhum. Allahummaj ‘alniy khoirom mimmaa yazhunnuun, wagh-firliy maa laa ya’lamuun, wa laa tu-akhidzniy bimaa yaquuluun. [Ya Allah, Engkau lebih mengetahui keadaan diriku daripada diriku sendiri dan aku lebih mengetahui keadaan diriku daripada mereka yang memujiku. Ya Allah, jadikanlah diriku lebih baik dari yang mereka sangkakan, ampunilah aku terhadap apa yang mereka tidak ketahui dariku, dan janganlah menyiksaku dengan perkataan mereka] (Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam Syu’ab Al- Iman, 4: 228, no.4876. Lihat Jaami’ Al-Ahadits, Jalaluddin As-Suyuthi, 25: 145, Asy-Syamilah) Sebagaimana disebutkan Al-Baihaqi dalam Syu’ab Al-Iman, Al-Auza’i mengatakan bahwa ketika seseorang dipuji oleh orang lain di hadapan  wajahnya, maka hendaklah ia mengucapkan do’a di atas. Disebutkan pula dalam Adabul Mufrod karya Imam Al Bukhari mengenai hadits di atas ketika beliau sebutkan dalam Bab “Apa yang disebutkan oleh seseorang ketika ia disanjung.” Begitu pula disebutkan dalam kitab Hilyatul Awliya’ karya Abu Na’im Al Asbahaniy bahwa ketika seseorang dipuji di hadapannya, hendaklah ia mengingkari, marah dan tidak menyukainya, ditambah membaca do’a di atas. Semoga bermanfaat.   Referensi: Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah. Penerbit Kementrian Agama Kuwait. Juz ke-36. — @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 24 Sya’ban 1437 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsmemuji riya sombong

Dana Sosial untuk Pelebaran Jalan (Mulai Ketika Dana Terkumpul 200 Juta)

Jika dana sosial telah mencapai 200 juta rupiah, insya Allah jalan di selatan Pesantren Darush Sholihin akan dilebarkan.   Kenapa sampai dilebarkan? Ingin mendukung program desa karena di antara program Darush Sholihin bukan hanya memajukan agama namun juga memajukan desa. Melebarkan jalan berguna untuk menampung kendaraan saat berlangsung kajian Malam Kamis yang saat ini sudah mencapai hampir 3000 jama’ah dari lima kecamatan di Gunungkidul. Mengurangi kemacetan terutama saat kajian. Memanfaatkan waktu Ramadhan karena saat Ramadhan kajian Malam Kamis menurun jama’ahnya sebab jama’ah yang jauh jaraknya tidak bisa hadir. Melanjutkan jalan yang pernah diperlebar di sebelah utara pesantren sepanjang setengah kilometer. Memudahkan diterimanya dakwah di desa.   Panjang jalan yang digarap: 400 meter (sampai daerah Kunci Warak). Perkiraan anggaran: 200 juta rupiah. Bagi yang berminat menyalurkan dana sosial untuk kepentingan pelebaran jalan di atas (bisa disalurkan pula dari dana riba dan dana syubhat), silakan mentransfer via rekening khusus dana sosial berikut: BCA KCP Wonosari 8950092905 (kode bank: 014) atas nama Muhammad Abduh Tuasikal. BSM KCP Wonosari 7068478612 (kode bank: 451) atas nama Yayasan Darush Sholihin Gunungkidul.   Konfirmasi via SMS ke 082313950500 atau WA ke 0811267791 dengan format: Dana Sosial # Nama Donatur # Alamat # Bank Tujuan Transfer # Tgl Transfer # Besar Donasi. Contoh: Dana Sosial # Rini # Jogja # BSM# 31 Mei 2016 # Rp.3.000.000.   Baca masalah penyaluran dana sosial di sini. Pelaporan donasi sosial baca: di sini.       — DarushSholihin.Com | Channel Telegram @DarushSholihin Info Rumaysho.Com Tagspelebran jalan riba

Dana Sosial untuk Pelebaran Jalan (Mulai Ketika Dana Terkumpul 200 Juta)

Jika dana sosial telah mencapai 200 juta rupiah, insya Allah jalan di selatan Pesantren Darush Sholihin akan dilebarkan.   Kenapa sampai dilebarkan? Ingin mendukung program desa karena di antara program Darush Sholihin bukan hanya memajukan agama namun juga memajukan desa. Melebarkan jalan berguna untuk menampung kendaraan saat berlangsung kajian Malam Kamis yang saat ini sudah mencapai hampir 3000 jama’ah dari lima kecamatan di Gunungkidul. Mengurangi kemacetan terutama saat kajian. Memanfaatkan waktu Ramadhan karena saat Ramadhan kajian Malam Kamis menurun jama’ahnya sebab jama’ah yang jauh jaraknya tidak bisa hadir. Melanjutkan jalan yang pernah diperlebar di sebelah utara pesantren sepanjang setengah kilometer. Memudahkan diterimanya dakwah di desa.   Panjang jalan yang digarap: 400 meter (sampai daerah Kunci Warak). Perkiraan anggaran: 200 juta rupiah. Bagi yang berminat menyalurkan dana sosial untuk kepentingan pelebaran jalan di atas (bisa disalurkan pula dari dana riba dan dana syubhat), silakan mentransfer via rekening khusus dana sosial berikut: BCA KCP Wonosari 8950092905 (kode bank: 014) atas nama Muhammad Abduh Tuasikal. BSM KCP Wonosari 7068478612 (kode bank: 451) atas nama Yayasan Darush Sholihin Gunungkidul.   Konfirmasi via SMS ke 082313950500 atau WA ke 0811267791 dengan format: Dana Sosial # Nama Donatur # Alamat # Bank Tujuan Transfer # Tgl Transfer # Besar Donasi. Contoh: Dana Sosial # Rini # Jogja # BSM# 31 Mei 2016 # Rp.3.000.000.   Baca masalah penyaluran dana sosial di sini. Pelaporan donasi sosial baca: di sini.       — DarushSholihin.Com | Channel Telegram @DarushSholihin Info Rumaysho.Com Tagspelebran jalan riba
Jika dana sosial telah mencapai 200 juta rupiah, insya Allah jalan di selatan Pesantren Darush Sholihin akan dilebarkan.   Kenapa sampai dilebarkan? Ingin mendukung program desa karena di antara program Darush Sholihin bukan hanya memajukan agama namun juga memajukan desa. Melebarkan jalan berguna untuk menampung kendaraan saat berlangsung kajian Malam Kamis yang saat ini sudah mencapai hampir 3000 jama’ah dari lima kecamatan di Gunungkidul. Mengurangi kemacetan terutama saat kajian. Memanfaatkan waktu Ramadhan karena saat Ramadhan kajian Malam Kamis menurun jama’ahnya sebab jama’ah yang jauh jaraknya tidak bisa hadir. Melanjutkan jalan yang pernah diperlebar di sebelah utara pesantren sepanjang setengah kilometer. Memudahkan diterimanya dakwah di desa.   Panjang jalan yang digarap: 400 meter (sampai daerah Kunci Warak). Perkiraan anggaran: 200 juta rupiah. Bagi yang berminat menyalurkan dana sosial untuk kepentingan pelebaran jalan di atas (bisa disalurkan pula dari dana riba dan dana syubhat), silakan mentransfer via rekening khusus dana sosial berikut: BCA KCP Wonosari 8950092905 (kode bank: 014) atas nama Muhammad Abduh Tuasikal. BSM KCP Wonosari 7068478612 (kode bank: 451) atas nama Yayasan Darush Sholihin Gunungkidul.   Konfirmasi via SMS ke 082313950500 atau WA ke 0811267791 dengan format: Dana Sosial # Nama Donatur # Alamat # Bank Tujuan Transfer # Tgl Transfer # Besar Donasi. Contoh: Dana Sosial # Rini # Jogja # BSM# 31 Mei 2016 # Rp.3.000.000.   Baca masalah penyaluran dana sosial di sini. Pelaporan donasi sosial baca: di sini.       — DarushSholihin.Com | Channel Telegram @DarushSholihin Info Rumaysho.Com Tagspelebran jalan riba


Jika dana sosial telah mencapai 200 juta rupiah, insya Allah jalan di selatan Pesantren Darush Sholihin akan dilebarkan.   Kenapa sampai dilebarkan? Ingin mendukung program desa karena di antara program Darush Sholihin bukan hanya memajukan agama namun juga memajukan desa. Melebarkan jalan berguna untuk menampung kendaraan saat berlangsung kajian Malam Kamis yang saat ini sudah mencapai hampir 3000 jama’ah dari lima kecamatan di Gunungkidul. Mengurangi kemacetan terutama saat kajian. Memanfaatkan waktu Ramadhan karena saat Ramadhan kajian Malam Kamis menurun jama’ahnya sebab jama’ah yang jauh jaraknya tidak bisa hadir. Melanjutkan jalan yang pernah diperlebar di sebelah utara pesantren sepanjang setengah kilometer. Memudahkan diterimanya dakwah di desa.   Panjang jalan yang digarap: 400 meter (sampai daerah Kunci Warak). Perkiraan anggaran: 200 juta rupiah. Bagi yang berminat menyalurkan dana sosial untuk kepentingan pelebaran jalan di atas (bisa disalurkan pula dari dana riba dan dana syubhat), silakan mentransfer via rekening khusus dana sosial berikut: BCA KCP Wonosari 8950092905 (kode bank: 014) atas nama Muhammad Abduh Tuasikal. BSM KCP Wonosari 7068478612 (kode bank: 451) atas nama Yayasan Darush Sholihin Gunungkidul.   Konfirmasi via SMS ke 082313950500 atau WA ke 0811267791 dengan format: Dana Sosial # Nama Donatur # Alamat # Bank Tujuan Transfer # Tgl Transfer # Besar Donasi. Contoh: Dana Sosial # Rini # Jogja # BSM# 31 Mei 2016 # Rp.3.000.000.   Baca masalah penyaluran dana sosial di sini. Pelaporan donasi sosial baca: di sini.       — DarushSholihin.Com | Channel Telegram @DarushSholihin Info Rumaysho.Com Tagspelebran jalan riba
Prev     Next