Keutamaan Mempelajari Tafsir Alquran (2)

Baca pembahasan sebelumnya Keutamaan Mempelajari Tafsir Alquran (1)Ucapan Emas Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah!Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah,العادة تمنع أن يقرأ قوم كتاباً في فن من العلم، كالطب والحساب، ولايستشْرِحوه، فكيف بكلام الله الذي هو عصمتهم، وبه نجاتهم وسعادتهم، وقيام دينهم ودنياهم“Adat kebiasaan manusia itu menolak jika ada sekelompok orang yang membaca suatu buku dalam disiplin ilmu tertentu, seperti kedokteran dan matematika, namun mereka tidak mau mengetahui makna/maksudnya,(jika demikian kenyataannya),bagaimana dengan Kalamullah yang menjadi penyebab tercegahnya seseorang dari kebinasaan, penyebab kesuksesan, kebahagiaan mereka dan penyebab tegaknya urusan agama serta dunia mereka.”[1]3.  Ancaman bagi Orang yang Tidak Mentadaburi Al-Qur`an adalah Akan Dikunci HatinyaFirman Allah Ta’alaأَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَىٰ قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا”Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur`an bahkan hati mereka terkunci?” (QS. Muhammad: 24).Ibnu Katsir rahimahullah berkata,يقول تعالى آمرا بتدبر القرآن وتفهمه، وناهيا عن الإعراض عنه، فقال: {أفلا يتدبرون القرآن أم على قلوب أقفالها} أي: بل على قلوب أقفالها ، فهي مطبقة لا يخلص إليها  شيء من معانيه“Allah Ta’ala berfirman, memerintahkan (hamba-Nya) untuk mentadaburi dan memahami Al-Qur`an dan melarangnya berpaling darinya, dengan berfirman,{أفلا يتدبرون القرآن أم على قلوب أقفالها},yaitu bahkan hati mereka terkunci, maka hati tersebut tertutup, tidak ada satu makna Al-Qur`an pun yang masuk ke dalam hatinya” (Tafsir Ibnu Katsir rahimahullah, jilid.4 hal. 459).Berkata Syaikh Muhammad Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah,أن الله تعالى وبخ أولئك الذين لا يتدبرون القرآن، وأشار إلى أن ذلك من الإقفال على قلوبهم، وعدم وصول الخير إليها“Bahwa Allah Ta’ala mencela orang-orang yang tidak mentadaburi Al-Qur`an,dan mengisyaratkan bahwa hal itu termasuk bentuk dari penguncian hati mereka serta tidak bisa sampainya kebaikan kepada hati mereka” (Ushulun fit Tafsir, Syaikh Muhammad Shalih Al-‘Utsaimin, hal.23)4. Mempelajari Tafsir Al-Qur`an sebagai Sebab Terhindar dari Kesesatan Di Dunia dan Tercapai Kebahagiaan di AkhiratDi antara keutamaan mempelajari tafsir Al-Qur`an adalah terhindar dari kesesatan di dunia dengan meniti jalan lurus yang ditunjukkan Al-Qur`an, serta masuk kedalam Surga dan selamat dari siksa di akhirat. Imam Ath-Thabari rahimahullah menyebutkan dalam kitab Tafsirnya,“Amr bin Qais Al-Mula`i dari Ikrimah, dari Ibnu ‘Abbas. Beliau berkata,تضمن الله لمن قرأ القرآن، واتبع ما فيه أن لا يضل في الدنيا ولا يشقى في الآخرة ، ثم تلا هذه الآية“Allah menjamin barangsiapa yang membaca Al-Qur`an dan mengikuti ajaran yang terkandung didalamnya, maka ia akan tidak sesat di dunia dan tidak sengsara di akhirat, lalu Ibnu Abbas membaca ayat berikut ini.فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقَىٰ“Lalu barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka” (QS. Thaha: 123). [Bersambung]Daftar Link Artikel Berseri: Keutamaan Mempelajari Tafsir Alquran (1) Keutamaan Mempelajari Tafsir Alquran (2) Keutamaan Mempelajari Tafsir Alquran (3) Penulis: Sa’id Abu Ukkasyah Artikel: Muslim.or.id Catatan Kaki [1]. (Majmu’ul Fatawa :13/332,dinukil dari Ushulun fit Tafsir,Syaikh Muhammad Shalih Al-‘Utsaimin ,hal.24).🔍 Hadits Tentang Lisan, Mengapa Dalam Hidup Kita Dilarang Untuk Menjadi Beban Orang Lain, Foto Orang Mengaji, Hukum Sholat Jumat Bagi Musafir, Doa Jenazah Perempuan

Keutamaan Mempelajari Tafsir Alquran (2)

Baca pembahasan sebelumnya Keutamaan Mempelajari Tafsir Alquran (1)Ucapan Emas Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah!Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah,العادة تمنع أن يقرأ قوم كتاباً في فن من العلم، كالطب والحساب، ولايستشْرِحوه، فكيف بكلام الله الذي هو عصمتهم، وبه نجاتهم وسعادتهم، وقيام دينهم ودنياهم“Adat kebiasaan manusia itu menolak jika ada sekelompok orang yang membaca suatu buku dalam disiplin ilmu tertentu, seperti kedokteran dan matematika, namun mereka tidak mau mengetahui makna/maksudnya,(jika demikian kenyataannya),bagaimana dengan Kalamullah yang menjadi penyebab tercegahnya seseorang dari kebinasaan, penyebab kesuksesan, kebahagiaan mereka dan penyebab tegaknya urusan agama serta dunia mereka.”[1]3.  Ancaman bagi Orang yang Tidak Mentadaburi Al-Qur`an adalah Akan Dikunci HatinyaFirman Allah Ta’alaأَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَىٰ قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا”Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur`an bahkan hati mereka terkunci?” (QS. Muhammad: 24).Ibnu Katsir rahimahullah berkata,يقول تعالى آمرا بتدبر القرآن وتفهمه، وناهيا عن الإعراض عنه، فقال: {أفلا يتدبرون القرآن أم على قلوب أقفالها} أي: بل على قلوب أقفالها ، فهي مطبقة لا يخلص إليها  شيء من معانيه“Allah Ta’ala berfirman, memerintahkan (hamba-Nya) untuk mentadaburi dan memahami Al-Qur`an dan melarangnya berpaling darinya, dengan berfirman,{أفلا يتدبرون القرآن أم على قلوب أقفالها},yaitu bahkan hati mereka terkunci, maka hati tersebut tertutup, tidak ada satu makna Al-Qur`an pun yang masuk ke dalam hatinya” (Tafsir Ibnu Katsir rahimahullah, jilid.4 hal. 459).Berkata Syaikh Muhammad Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah,أن الله تعالى وبخ أولئك الذين لا يتدبرون القرآن، وأشار إلى أن ذلك من الإقفال على قلوبهم، وعدم وصول الخير إليها“Bahwa Allah Ta’ala mencela orang-orang yang tidak mentadaburi Al-Qur`an,dan mengisyaratkan bahwa hal itu termasuk bentuk dari penguncian hati mereka serta tidak bisa sampainya kebaikan kepada hati mereka” (Ushulun fit Tafsir, Syaikh Muhammad Shalih Al-‘Utsaimin, hal.23)4. Mempelajari Tafsir Al-Qur`an sebagai Sebab Terhindar dari Kesesatan Di Dunia dan Tercapai Kebahagiaan di AkhiratDi antara keutamaan mempelajari tafsir Al-Qur`an adalah terhindar dari kesesatan di dunia dengan meniti jalan lurus yang ditunjukkan Al-Qur`an, serta masuk kedalam Surga dan selamat dari siksa di akhirat. Imam Ath-Thabari rahimahullah menyebutkan dalam kitab Tafsirnya,“Amr bin Qais Al-Mula`i dari Ikrimah, dari Ibnu ‘Abbas. Beliau berkata,تضمن الله لمن قرأ القرآن، واتبع ما فيه أن لا يضل في الدنيا ولا يشقى في الآخرة ، ثم تلا هذه الآية“Allah menjamin barangsiapa yang membaca Al-Qur`an dan mengikuti ajaran yang terkandung didalamnya, maka ia akan tidak sesat di dunia dan tidak sengsara di akhirat, lalu Ibnu Abbas membaca ayat berikut ini.فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقَىٰ“Lalu barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka” (QS. Thaha: 123). [Bersambung]Daftar Link Artikel Berseri: Keutamaan Mempelajari Tafsir Alquran (1) Keutamaan Mempelajari Tafsir Alquran (2) Keutamaan Mempelajari Tafsir Alquran (3) Penulis: Sa’id Abu Ukkasyah Artikel: Muslim.or.id Catatan Kaki [1]. (Majmu’ul Fatawa :13/332,dinukil dari Ushulun fit Tafsir,Syaikh Muhammad Shalih Al-‘Utsaimin ,hal.24).🔍 Hadits Tentang Lisan, Mengapa Dalam Hidup Kita Dilarang Untuk Menjadi Beban Orang Lain, Foto Orang Mengaji, Hukum Sholat Jumat Bagi Musafir, Doa Jenazah Perempuan
Baca pembahasan sebelumnya Keutamaan Mempelajari Tafsir Alquran (1)Ucapan Emas Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah!Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah,العادة تمنع أن يقرأ قوم كتاباً في فن من العلم، كالطب والحساب، ولايستشْرِحوه، فكيف بكلام الله الذي هو عصمتهم، وبه نجاتهم وسعادتهم، وقيام دينهم ودنياهم“Adat kebiasaan manusia itu menolak jika ada sekelompok orang yang membaca suatu buku dalam disiplin ilmu tertentu, seperti kedokteran dan matematika, namun mereka tidak mau mengetahui makna/maksudnya,(jika demikian kenyataannya),bagaimana dengan Kalamullah yang menjadi penyebab tercegahnya seseorang dari kebinasaan, penyebab kesuksesan, kebahagiaan mereka dan penyebab tegaknya urusan agama serta dunia mereka.”[1]3.  Ancaman bagi Orang yang Tidak Mentadaburi Al-Qur`an adalah Akan Dikunci HatinyaFirman Allah Ta’alaأَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَىٰ قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا”Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur`an bahkan hati mereka terkunci?” (QS. Muhammad: 24).Ibnu Katsir rahimahullah berkata,يقول تعالى آمرا بتدبر القرآن وتفهمه، وناهيا عن الإعراض عنه، فقال: {أفلا يتدبرون القرآن أم على قلوب أقفالها} أي: بل على قلوب أقفالها ، فهي مطبقة لا يخلص إليها  شيء من معانيه“Allah Ta’ala berfirman, memerintahkan (hamba-Nya) untuk mentadaburi dan memahami Al-Qur`an dan melarangnya berpaling darinya, dengan berfirman,{أفلا يتدبرون القرآن أم على قلوب أقفالها},yaitu bahkan hati mereka terkunci, maka hati tersebut tertutup, tidak ada satu makna Al-Qur`an pun yang masuk ke dalam hatinya” (Tafsir Ibnu Katsir rahimahullah, jilid.4 hal. 459).Berkata Syaikh Muhammad Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah,أن الله تعالى وبخ أولئك الذين لا يتدبرون القرآن، وأشار إلى أن ذلك من الإقفال على قلوبهم، وعدم وصول الخير إليها“Bahwa Allah Ta’ala mencela orang-orang yang tidak mentadaburi Al-Qur`an,dan mengisyaratkan bahwa hal itu termasuk bentuk dari penguncian hati mereka serta tidak bisa sampainya kebaikan kepada hati mereka” (Ushulun fit Tafsir, Syaikh Muhammad Shalih Al-‘Utsaimin, hal.23)4. Mempelajari Tafsir Al-Qur`an sebagai Sebab Terhindar dari Kesesatan Di Dunia dan Tercapai Kebahagiaan di AkhiratDi antara keutamaan mempelajari tafsir Al-Qur`an adalah terhindar dari kesesatan di dunia dengan meniti jalan lurus yang ditunjukkan Al-Qur`an, serta masuk kedalam Surga dan selamat dari siksa di akhirat. Imam Ath-Thabari rahimahullah menyebutkan dalam kitab Tafsirnya,“Amr bin Qais Al-Mula`i dari Ikrimah, dari Ibnu ‘Abbas. Beliau berkata,تضمن الله لمن قرأ القرآن، واتبع ما فيه أن لا يضل في الدنيا ولا يشقى في الآخرة ، ثم تلا هذه الآية“Allah menjamin barangsiapa yang membaca Al-Qur`an dan mengikuti ajaran yang terkandung didalamnya, maka ia akan tidak sesat di dunia dan tidak sengsara di akhirat, lalu Ibnu Abbas membaca ayat berikut ini.فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقَىٰ“Lalu barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka” (QS. Thaha: 123). [Bersambung]Daftar Link Artikel Berseri: Keutamaan Mempelajari Tafsir Alquran (1) Keutamaan Mempelajari Tafsir Alquran (2) Keutamaan Mempelajari Tafsir Alquran (3) Penulis: Sa’id Abu Ukkasyah Artikel: Muslim.or.id Catatan Kaki [1]. (Majmu’ul Fatawa :13/332,dinukil dari Ushulun fit Tafsir,Syaikh Muhammad Shalih Al-‘Utsaimin ,hal.24).🔍 Hadits Tentang Lisan, Mengapa Dalam Hidup Kita Dilarang Untuk Menjadi Beban Orang Lain, Foto Orang Mengaji, Hukum Sholat Jumat Bagi Musafir, Doa Jenazah Perempuan


Baca pembahasan sebelumnya Keutamaan Mempelajari Tafsir Alquran (1)Ucapan Emas Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah!Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah,العادة تمنع أن يقرأ قوم كتاباً في فن من العلم، كالطب والحساب، ولايستشْرِحوه، فكيف بكلام الله الذي هو عصمتهم، وبه نجاتهم وسعادتهم، وقيام دينهم ودنياهم“Adat kebiasaan manusia itu menolak jika ada sekelompok orang yang membaca suatu buku dalam disiplin ilmu tertentu, seperti kedokteran dan matematika, namun mereka tidak mau mengetahui makna/maksudnya,(jika demikian kenyataannya),bagaimana dengan Kalamullah yang menjadi penyebab tercegahnya seseorang dari kebinasaan, penyebab kesuksesan, kebahagiaan mereka dan penyebab tegaknya urusan agama serta dunia mereka.”[1]3.  Ancaman bagi Orang yang Tidak Mentadaburi Al-Qur`an adalah Akan Dikunci HatinyaFirman Allah Ta’alaأَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَىٰ قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا”Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur`an bahkan hati mereka terkunci?” (QS. Muhammad: 24).Ibnu Katsir rahimahullah berkata,يقول تعالى آمرا بتدبر القرآن وتفهمه، وناهيا عن الإعراض عنه، فقال: {أفلا يتدبرون القرآن أم على قلوب أقفالها} أي: بل على قلوب أقفالها ، فهي مطبقة لا يخلص إليها  شيء من معانيه“Allah Ta’ala berfirman, memerintahkan (hamba-Nya) untuk mentadaburi dan memahami Al-Qur`an dan melarangnya berpaling darinya, dengan berfirman,{أفلا يتدبرون القرآن أم على قلوب أقفالها},yaitu bahkan hati mereka terkunci, maka hati tersebut tertutup, tidak ada satu makna Al-Qur`an pun yang masuk ke dalam hatinya” (Tafsir Ibnu Katsir rahimahullah, jilid.4 hal. 459).Berkata Syaikh Muhammad Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah,أن الله تعالى وبخ أولئك الذين لا يتدبرون القرآن، وأشار إلى أن ذلك من الإقفال على قلوبهم، وعدم وصول الخير إليها“Bahwa Allah Ta’ala mencela orang-orang yang tidak mentadaburi Al-Qur`an,dan mengisyaratkan bahwa hal itu termasuk bentuk dari penguncian hati mereka serta tidak bisa sampainya kebaikan kepada hati mereka” (Ushulun fit Tafsir, Syaikh Muhammad Shalih Al-‘Utsaimin, hal.23)4. Mempelajari Tafsir Al-Qur`an sebagai Sebab Terhindar dari Kesesatan Di Dunia dan Tercapai Kebahagiaan di AkhiratDi antara keutamaan mempelajari tafsir Al-Qur`an adalah terhindar dari kesesatan di dunia dengan meniti jalan lurus yang ditunjukkan Al-Qur`an, serta masuk kedalam Surga dan selamat dari siksa di akhirat. Imam Ath-Thabari rahimahullah menyebutkan dalam kitab Tafsirnya,“Amr bin Qais Al-Mula`i dari Ikrimah, dari Ibnu ‘Abbas. Beliau berkata,تضمن الله لمن قرأ القرآن، واتبع ما فيه أن لا يضل في الدنيا ولا يشقى في الآخرة ، ثم تلا هذه الآية“Allah menjamin barangsiapa yang membaca Al-Qur`an dan mengikuti ajaran yang terkandung didalamnya, maka ia akan tidak sesat di dunia dan tidak sengsara di akhirat, lalu Ibnu Abbas membaca ayat berikut ini.فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقَىٰ“Lalu barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka” (QS. Thaha: 123). [Bersambung]Daftar Link Artikel Berseri: Keutamaan Mempelajari Tafsir Alquran (1) Keutamaan Mempelajari Tafsir Alquran (2) Keutamaan Mempelajari Tafsir Alquran (3) Penulis: Sa’id Abu Ukkasyah Artikel: Muslim.or.id Catatan Kaki [1]. (Majmu’ul Fatawa :13/332,dinukil dari Ushulun fit Tafsir,Syaikh Muhammad Shalih Al-‘Utsaimin ,hal.24).🔍 Hadits Tentang Lisan, Mengapa Dalam Hidup Kita Dilarang Untuk Menjadi Beban Orang Lain, Foto Orang Mengaji, Hukum Sholat Jumat Bagi Musafir, Doa Jenazah Perempuan

Keutamaan Mempelajari Tafsir Alquran (3)

Baca pembahasan sebelumnya Keutamaan Mempelajari Tafsir Alquran (2)5.  Mempelajari Tafsir Al-Qur`an adalah Salah Satu Tujuan Diturunkannya Al-Qur`anSyaikh Muhammad Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah telah menjelaskan,فالقرآن الكريم نزل لأمور ثلاثة: التعبد بتلاوته، وفهم معانيه والعمل به“Al-Qur`an itu diturunkan untuk tiga tujuan: beribadah dengan membacanya, memahami maknanya dan mengamalkannya” [1] Perhatikanlah, Syaikh Al-’Utsaimin rahimahullah menunjukkan tiga perkara yang menjadi tujuan diturunkannya Al-Qur`an. Tentunya ketiga perkara ini sama-sama pentingnya, sama-sama baiknya, sama-sama menjadi tujuan diturunkannya Al-Qur`an.Yang pertama dari tujuan tersebut adalah beribadah kepada Allah dengan membacanya, tentunya membacanya dengan tajwid dan ilmu qira`ah, kedua: memahami makna atau tafsirnya,ketiga: mengamalkannyaDengan demikian, dapat disimpulkan bahwa mempelajari Tafsir Al-Qur`an adalah salah satu tujuan diturunkannya Al-Qur`an.Jika seseorang sudah bisa membaca Al-Qur`an atau menghafalnya, ia barulah meraih sepertiga dari tujuan diturunkannya Al-Qur`an. Janganlah berhenti sampai di situ saja, teruskan dengan mempelajari tafsirnya, sehingga ia dapat mengamalkan isi Al-Qur`an.6. Kesempurnaan Agama dan Dunia Seseorang Didapatkan dengan Mengetahui Tafsir Kitabullah dan MengamalkannyaBerkata Al-Ashbahani rahimahullah:و أما من جهة شدة الحاجة فلأن كل كمال ديني أو دنيوي عاجلي أو آجلي مفتقر إلى العلوم الشرعية و المعارف الدينية و هي متوقفة على العلم بكتاب الله تعالى.“Adapun ditinjau dari kebutuhan (manusia) yang sangat (terhadap Tafsir Al-Qur`an), maka hal ini karena seluruh kesempurnaan agama atau dunia, baik yang disegerakan ataupun diakhirkan, membutuhkan kepada ilmu Syar’i dan pengetahuan agama, sedangkan semua itu terkait erat dengan pengetahuan tentang Kitabullah Ta’ala.” [2]Sungguh benar ucapan beliau, “bukankah orang yang mempelajari Al-Qur`an dan mengamalkannya dijamin keluar dari kegelapan kepada cahaya?”Allah Ta’ala berfirman tentang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ لِتُخْرِجَ النَّاسَ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِ رَبِّهِمْ إِلَىٰ صِرَاطِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ“(Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari kegelapan kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji” (QS. Ibrahim: 1).Syaikh Abdur Rahman As-Sa’di rahimahullah menjelaskan, “Allah Ta’ala mengabarkan bahwa Dia telah menurunkan kitab-Nya kepada Rasul-Nya, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, untuk menyampaikan manfa’at kepada makhluk, mengeluarkan manusia dari kegelapan kebodohan, kekufuran, akhlak yang buruk dan berbagai macam kemaksiatan kepada cahaya ilmu, iman, dan akhlak yang baik.  Firman Allah بِإِذْنِ رَبِّهِمْyang artinya dengan izin Tuhan mereka, maksudnya: tidaklah mereka mendapatkan tujuan yang dicintai oleh Allah, melainkan dengan kehendak dan pertolongan dari Allah, maka di sini terdapat dorongan bagi seorang hamba untuk memohon pertolongan kepada Tuhan mereka (semata). Kemudian Allah menjelaskan tentang cahaya yang ditunjukkan kepada mereka dalam Alquran, dengan berfirman, إِلَى صِرَاطِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ yang artinya:“(yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji” maksudnya: yang mengantarkan kepada-Nya dan kepada tempat yang dimuliakan-Nya, yang mencakup atas ilmu yang benar dan pengamalannya. Dalam penyebutan العزيز الحميد setelah penyebutan jalan yang mengantarkan kepada-Nya, terdapat isyarat kepada orang yang menitinya, bahwa ia adalah orang yang mulia dengan pengaruh kemuliaan Allah, lagi kuat walaupun tidak ada penolong kecuali Allah, dan terpuji dalam urusan-urusannya lagi memperoleh akibat yang baik” (Tafsir As-Sa’di, hal. 478).Dari penjelasan di atas, sangatlah jelas bahwa barangsiapa yang ingin keluar dari dosa-dosa, ingin keluar dari kekurangan dan kelemahannya menuju kepada kesempurnaan, maka perbanyaklah mempelajari Al-Qur`an dan mengamalkannya, bukannya justru menyedikitkan hal itu sembari sibuk dengan urusan-urusan dunia, sehingga lalai dari belajar dan mengamalkan Al-Qur`an.7. Mempelajari Tafsir Al-Qur`an adalah Sebab yang Besar Didapatkannya Kelezatan dalam MembacanyaBerkata Imam Ahli Tafsir di zamannya dan zaman setelahnya, sekaligus penulis kitab tafsir Jami’ul Bayan, Al-Imam Ath-Thabari rahimahullah,إني لأعجب ممن قرأ القرآن ولم يعلم تأويله كيف يلتذ بقراءته؟“Sesungguhnya saya benar-benar heran kepada orang yang membaca Al-Qur`an, namun ia tidak mengetahui tafsirnya, maka bagaimana ia bisa merasakan kelezatan bacaannya?” (Mu’jamul Adibba`: 8/63, dinukil dari Muhadharat fi ‘Ulumil Qur`an).Dengan demikian, jelaslah urgensi mempelajari tafsir  Al-Qur`an Al-Karim. Semoga Allah Ta’ala menjadikan kita termasuk orang-orang yang dimudahkan mempelajari tafsir Kalam-Nya dan mengamalkannya. Amiin.[Selesai]Daftar Link Artikel Berseri: Keutamaan Mempelajari Tafsir Alquran (1) Keutamaan Mempelajari Tafsir Alquran (2) Keutamaan Mempelajari Tafsir Alquran (3) Penulis: Sa’id Abu Ukkasyah Artikel: Muslim.or.id Catatan Kaki[1] http://www.ibnothaimeen.com/all/books/article_17959.shtml [2] https://vb.tafsir.net/tafsir34611/#.WOJD_MkxXVc🔍 Waqfeeya, Cara Tayamum Yang Benar, Hukum Khitan Wanita, Hikmah Diturunkannya Al Qur'an Kepada Manusia, Doa Qunut Wajib Atau Sunat

Keutamaan Mempelajari Tafsir Alquran (3)

Baca pembahasan sebelumnya Keutamaan Mempelajari Tafsir Alquran (2)5.  Mempelajari Tafsir Al-Qur`an adalah Salah Satu Tujuan Diturunkannya Al-Qur`anSyaikh Muhammad Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah telah menjelaskan,فالقرآن الكريم نزل لأمور ثلاثة: التعبد بتلاوته، وفهم معانيه والعمل به“Al-Qur`an itu diturunkan untuk tiga tujuan: beribadah dengan membacanya, memahami maknanya dan mengamalkannya” [1] Perhatikanlah, Syaikh Al-’Utsaimin rahimahullah menunjukkan tiga perkara yang menjadi tujuan diturunkannya Al-Qur`an. Tentunya ketiga perkara ini sama-sama pentingnya, sama-sama baiknya, sama-sama menjadi tujuan diturunkannya Al-Qur`an.Yang pertama dari tujuan tersebut adalah beribadah kepada Allah dengan membacanya, tentunya membacanya dengan tajwid dan ilmu qira`ah, kedua: memahami makna atau tafsirnya,ketiga: mengamalkannyaDengan demikian, dapat disimpulkan bahwa mempelajari Tafsir Al-Qur`an adalah salah satu tujuan diturunkannya Al-Qur`an.Jika seseorang sudah bisa membaca Al-Qur`an atau menghafalnya, ia barulah meraih sepertiga dari tujuan diturunkannya Al-Qur`an. Janganlah berhenti sampai di situ saja, teruskan dengan mempelajari tafsirnya, sehingga ia dapat mengamalkan isi Al-Qur`an.6. Kesempurnaan Agama dan Dunia Seseorang Didapatkan dengan Mengetahui Tafsir Kitabullah dan MengamalkannyaBerkata Al-Ashbahani rahimahullah:و أما من جهة شدة الحاجة فلأن كل كمال ديني أو دنيوي عاجلي أو آجلي مفتقر إلى العلوم الشرعية و المعارف الدينية و هي متوقفة على العلم بكتاب الله تعالى.“Adapun ditinjau dari kebutuhan (manusia) yang sangat (terhadap Tafsir Al-Qur`an), maka hal ini karena seluruh kesempurnaan agama atau dunia, baik yang disegerakan ataupun diakhirkan, membutuhkan kepada ilmu Syar’i dan pengetahuan agama, sedangkan semua itu terkait erat dengan pengetahuan tentang Kitabullah Ta’ala.” [2]Sungguh benar ucapan beliau, “bukankah orang yang mempelajari Al-Qur`an dan mengamalkannya dijamin keluar dari kegelapan kepada cahaya?”Allah Ta’ala berfirman tentang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ لِتُخْرِجَ النَّاسَ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِ رَبِّهِمْ إِلَىٰ صِرَاطِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ“(Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari kegelapan kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji” (QS. Ibrahim: 1).Syaikh Abdur Rahman As-Sa’di rahimahullah menjelaskan, “Allah Ta’ala mengabarkan bahwa Dia telah menurunkan kitab-Nya kepada Rasul-Nya, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, untuk menyampaikan manfa’at kepada makhluk, mengeluarkan manusia dari kegelapan kebodohan, kekufuran, akhlak yang buruk dan berbagai macam kemaksiatan kepada cahaya ilmu, iman, dan akhlak yang baik.  Firman Allah بِإِذْنِ رَبِّهِمْyang artinya dengan izin Tuhan mereka, maksudnya: tidaklah mereka mendapatkan tujuan yang dicintai oleh Allah, melainkan dengan kehendak dan pertolongan dari Allah, maka di sini terdapat dorongan bagi seorang hamba untuk memohon pertolongan kepada Tuhan mereka (semata). Kemudian Allah menjelaskan tentang cahaya yang ditunjukkan kepada mereka dalam Alquran, dengan berfirman, إِلَى صِرَاطِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ yang artinya:“(yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji” maksudnya: yang mengantarkan kepada-Nya dan kepada tempat yang dimuliakan-Nya, yang mencakup atas ilmu yang benar dan pengamalannya. Dalam penyebutan العزيز الحميد setelah penyebutan jalan yang mengantarkan kepada-Nya, terdapat isyarat kepada orang yang menitinya, bahwa ia adalah orang yang mulia dengan pengaruh kemuliaan Allah, lagi kuat walaupun tidak ada penolong kecuali Allah, dan terpuji dalam urusan-urusannya lagi memperoleh akibat yang baik” (Tafsir As-Sa’di, hal. 478).Dari penjelasan di atas, sangatlah jelas bahwa barangsiapa yang ingin keluar dari dosa-dosa, ingin keluar dari kekurangan dan kelemahannya menuju kepada kesempurnaan, maka perbanyaklah mempelajari Al-Qur`an dan mengamalkannya, bukannya justru menyedikitkan hal itu sembari sibuk dengan urusan-urusan dunia, sehingga lalai dari belajar dan mengamalkan Al-Qur`an.7. Mempelajari Tafsir Al-Qur`an adalah Sebab yang Besar Didapatkannya Kelezatan dalam MembacanyaBerkata Imam Ahli Tafsir di zamannya dan zaman setelahnya, sekaligus penulis kitab tafsir Jami’ul Bayan, Al-Imam Ath-Thabari rahimahullah,إني لأعجب ممن قرأ القرآن ولم يعلم تأويله كيف يلتذ بقراءته؟“Sesungguhnya saya benar-benar heran kepada orang yang membaca Al-Qur`an, namun ia tidak mengetahui tafsirnya, maka bagaimana ia bisa merasakan kelezatan bacaannya?” (Mu’jamul Adibba`: 8/63, dinukil dari Muhadharat fi ‘Ulumil Qur`an).Dengan demikian, jelaslah urgensi mempelajari tafsir  Al-Qur`an Al-Karim. Semoga Allah Ta’ala menjadikan kita termasuk orang-orang yang dimudahkan mempelajari tafsir Kalam-Nya dan mengamalkannya. Amiin.[Selesai]Daftar Link Artikel Berseri: Keutamaan Mempelajari Tafsir Alquran (1) Keutamaan Mempelajari Tafsir Alquran (2) Keutamaan Mempelajari Tafsir Alquran (3) Penulis: Sa’id Abu Ukkasyah Artikel: Muslim.or.id Catatan Kaki[1] http://www.ibnothaimeen.com/all/books/article_17959.shtml [2] https://vb.tafsir.net/tafsir34611/#.WOJD_MkxXVc🔍 Waqfeeya, Cara Tayamum Yang Benar, Hukum Khitan Wanita, Hikmah Diturunkannya Al Qur'an Kepada Manusia, Doa Qunut Wajib Atau Sunat
Baca pembahasan sebelumnya Keutamaan Mempelajari Tafsir Alquran (2)5.  Mempelajari Tafsir Al-Qur`an adalah Salah Satu Tujuan Diturunkannya Al-Qur`anSyaikh Muhammad Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah telah menjelaskan,فالقرآن الكريم نزل لأمور ثلاثة: التعبد بتلاوته، وفهم معانيه والعمل به“Al-Qur`an itu diturunkan untuk tiga tujuan: beribadah dengan membacanya, memahami maknanya dan mengamalkannya” [1] Perhatikanlah, Syaikh Al-’Utsaimin rahimahullah menunjukkan tiga perkara yang menjadi tujuan diturunkannya Al-Qur`an. Tentunya ketiga perkara ini sama-sama pentingnya, sama-sama baiknya, sama-sama menjadi tujuan diturunkannya Al-Qur`an.Yang pertama dari tujuan tersebut adalah beribadah kepada Allah dengan membacanya, tentunya membacanya dengan tajwid dan ilmu qira`ah, kedua: memahami makna atau tafsirnya,ketiga: mengamalkannyaDengan demikian, dapat disimpulkan bahwa mempelajari Tafsir Al-Qur`an adalah salah satu tujuan diturunkannya Al-Qur`an.Jika seseorang sudah bisa membaca Al-Qur`an atau menghafalnya, ia barulah meraih sepertiga dari tujuan diturunkannya Al-Qur`an. Janganlah berhenti sampai di situ saja, teruskan dengan mempelajari tafsirnya, sehingga ia dapat mengamalkan isi Al-Qur`an.6. Kesempurnaan Agama dan Dunia Seseorang Didapatkan dengan Mengetahui Tafsir Kitabullah dan MengamalkannyaBerkata Al-Ashbahani rahimahullah:و أما من جهة شدة الحاجة فلأن كل كمال ديني أو دنيوي عاجلي أو آجلي مفتقر إلى العلوم الشرعية و المعارف الدينية و هي متوقفة على العلم بكتاب الله تعالى.“Adapun ditinjau dari kebutuhan (manusia) yang sangat (terhadap Tafsir Al-Qur`an), maka hal ini karena seluruh kesempurnaan agama atau dunia, baik yang disegerakan ataupun diakhirkan, membutuhkan kepada ilmu Syar’i dan pengetahuan agama, sedangkan semua itu terkait erat dengan pengetahuan tentang Kitabullah Ta’ala.” [2]Sungguh benar ucapan beliau, “bukankah orang yang mempelajari Al-Qur`an dan mengamalkannya dijamin keluar dari kegelapan kepada cahaya?”Allah Ta’ala berfirman tentang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ لِتُخْرِجَ النَّاسَ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِ رَبِّهِمْ إِلَىٰ صِرَاطِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ“(Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari kegelapan kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji” (QS. Ibrahim: 1).Syaikh Abdur Rahman As-Sa’di rahimahullah menjelaskan, “Allah Ta’ala mengabarkan bahwa Dia telah menurunkan kitab-Nya kepada Rasul-Nya, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, untuk menyampaikan manfa’at kepada makhluk, mengeluarkan manusia dari kegelapan kebodohan, kekufuran, akhlak yang buruk dan berbagai macam kemaksiatan kepada cahaya ilmu, iman, dan akhlak yang baik.  Firman Allah بِإِذْنِ رَبِّهِمْyang artinya dengan izin Tuhan mereka, maksudnya: tidaklah mereka mendapatkan tujuan yang dicintai oleh Allah, melainkan dengan kehendak dan pertolongan dari Allah, maka di sini terdapat dorongan bagi seorang hamba untuk memohon pertolongan kepada Tuhan mereka (semata). Kemudian Allah menjelaskan tentang cahaya yang ditunjukkan kepada mereka dalam Alquran, dengan berfirman, إِلَى صِرَاطِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ yang artinya:“(yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji” maksudnya: yang mengantarkan kepada-Nya dan kepada tempat yang dimuliakan-Nya, yang mencakup atas ilmu yang benar dan pengamalannya. Dalam penyebutan العزيز الحميد setelah penyebutan jalan yang mengantarkan kepada-Nya, terdapat isyarat kepada orang yang menitinya, bahwa ia adalah orang yang mulia dengan pengaruh kemuliaan Allah, lagi kuat walaupun tidak ada penolong kecuali Allah, dan terpuji dalam urusan-urusannya lagi memperoleh akibat yang baik” (Tafsir As-Sa’di, hal. 478).Dari penjelasan di atas, sangatlah jelas bahwa barangsiapa yang ingin keluar dari dosa-dosa, ingin keluar dari kekurangan dan kelemahannya menuju kepada kesempurnaan, maka perbanyaklah mempelajari Al-Qur`an dan mengamalkannya, bukannya justru menyedikitkan hal itu sembari sibuk dengan urusan-urusan dunia, sehingga lalai dari belajar dan mengamalkan Al-Qur`an.7. Mempelajari Tafsir Al-Qur`an adalah Sebab yang Besar Didapatkannya Kelezatan dalam MembacanyaBerkata Imam Ahli Tafsir di zamannya dan zaman setelahnya, sekaligus penulis kitab tafsir Jami’ul Bayan, Al-Imam Ath-Thabari rahimahullah,إني لأعجب ممن قرأ القرآن ولم يعلم تأويله كيف يلتذ بقراءته؟“Sesungguhnya saya benar-benar heran kepada orang yang membaca Al-Qur`an, namun ia tidak mengetahui tafsirnya, maka bagaimana ia bisa merasakan kelezatan bacaannya?” (Mu’jamul Adibba`: 8/63, dinukil dari Muhadharat fi ‘Ulumil Qur`an).Dengan demikian, jelaslah urgensi mempelajari tafsir  Al-Qur`an Al-Karim. Semoga Allah Ta’ala menjadikan kita termasuk orang-orang yang dimudahkan mempelajari tafsir Kalam-Nya dan mengamalkannya. Amiin.[Selesai]Daftar Link Artikel Berseri: Keutamaan Mempelajari Tafsir Alquran (1) Keutamaan Mempelajari Tafsir Alquran (2) Keutamaan Mempelajari Tafsir Alquran (3) Penulis: Sa’id Abu Ukkasyah Artikel: Muslim.or.id Catatan Kaki[1] http://www.ibnothaimeen.com/all/books/article_17959.shtml [2] https://vb.tafsir.net/tafsir34611/#.WOJD_MkxXVc🔍 Waqfeeya, Cara Tayamum Yang Benar, Hukum Khitan Wanita, Hikmah Diturunkannya Al Qur'an Kepada Manusia, Doa Qunut Wajib Atau Sunat


Baca pembahasan sebelumnya Keutamaan Mempelajari Tafsir Alquran (2)5.  Mempelajari Tafsir Al-Qur`an adalah Salah Satu Tujuan Diturunkannya Al-Qur`anSyaikh Muhammad Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah telah menjelaskan,فالقرآن الكريم نزل لأمور ثلاثة: التعبد بتلاوته، وفهم معانيه والعمل به“Al-Qur`an itu diturunkan untuk tiga tujuan: beribadah dengan membacanya, memahami maknanya dan mengamalkannya” [1] Perhatikanlah, Syaikh Al-’Utsaimin rahimahullah menunjukkan tiga perkara yang menjadi tujuan diturunkannya Al-Qur`an. Tentunya ketiga perkara ini sama-sama pentingnya, sama-sama baiknya, sama-sama menjadi tujuan diturunkannya Al-Qur`an.Yang pertama dari tujuan tersebut adalah beribadah kepada Allah dengan membacanya, tentunya membacanya dengan tajwid dan ilmu qira`ah, kedua: memahami makna atau tafsirnya,ketiga: mengamalkannyaDengan demikian, dapat disimpulkan bahwa mempelajari Tafsir Al-Qur`an adalah salah satu tujuan diturunkannya Al-Qur`an.Jika seseorang sudah bisa membaca Al-Qur`an atau menghafalnya, ia barulah meraih sepertiga dari tujuan diturunkannya Al-Qur`an. Janganlah berhenti sampai di situ saja, teruskan dengan mempelajari tafsirnya, sehingga ia dapat mengamalkan isi Al-Qur`an.6. Kesempurnaan Agama dan Dunia Seseorang Didapatkan dengan Mengetahui Tafsir Kitabullah dan MengamalkannyaBerkata Al-Ashbahani rahimahullah:و أما من جهة شدة الحاجة فلأن كل كمال ديني أو دنيوي عاجلي أو آجلي مفتقر إلى العلوم الشرعية و المعارف الدينية و هي متوقفة على العلم بكتاب الله تعالى.“Adapun ditinjau dari kebutuhan (manusia) yang sangat (terhadap Tafsir Al-Qur`an), maka hal ini karena seluruh kesempurnaan agama atau dunia, baik yang disegerakan ataupun diakhirkan, membutuhkan kepada ilmu Syar’i dan pengetahuan agama, sedangkan semua itu terkait erat dengan pengetahuan tentang Kitabullah Ta’ala.” [2]Sungguh benar ucapan beliau, “bukankah orang yang mempelajari Al-Qur`an dan mengamalkannya dijamin keluar dari kegelapan kepada cahaya?”Allah Ta’ala berfirman tentang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ لِتُخْرِجَ النَّاسَ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِ رَبِّهِمْ إِلَىٰ صِرَاطِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ“(Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari kegelapan kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji” (QS. Ibrahim: 1).Syaikh Abdur Rahman As-Sa’di rahimahullah menjelaskan, “Allah Ta’ala mengabarkan bahwa Dia telah menurunkan kitab-Nya kepada Rasul-Nya, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, untuk menyampaikan manfa’at kepada makhluk, mengeluarkan manusia dari kegelapan kebodohan, kekufuran, akhlak yang buruk dan berbagai macam kemaksiatan kepada cahaya ilmu, iman, dan akhlak yang baik.  Firman Allah بِإِذْنِ رَبِّهِمْyang artinya dengan izin Tuhan mereka, maksudnya: tidaklah mereka mendapatkan tujuan yang dicintai oleh Allah, melainkan dengan kehendak dan pertolongan dari Allah, maka di sini terdapat dorongan bagi seorang hamba untuk memohon pertolongan kepada Tuhan mereka (semata). Kemudian Allah menjelaskan tentang cahaya yang ditunjukkan kepada mereka dalam Alquran, dengan berfirman, إِلَى صِرَاطِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ yang artinya:“(yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji” maksudnya: yang mengantarkan kepada-Nya dan kepada tempat yang dimuliakan-Nya, yang mencakup atas ilmu yang benar dan pengamalannya. Dalam penyebutan العزيز الحميد setelah penyebutan jalan yang mengantarkan kepada-Nya, terdapat isyarat kepada orang yang menitinya, bahwa ia adalah orang yang mulia dengan pengaruh kemuliaan Allah, lagi kuat walaupun tidak ada penolong kecuali Allah, dan terpuji dalam urusan-urusannya lagi memperoleh akibat yang baik” (Tafsir As-Sa’di, hal. 478).Dari penjelasan di atas, sangatlah jelas bahwa barangsiapa yang ingin keluar dari dosa-dosa, ingin keluar dari kekurangan dan kelemahannya menuju kepada kesempurnaan, maka perbanyaklah mempelajari Al-Qur`an dan mengamalkannya, bukannya justru menyedikitkan hal itu sembari sibuk dengan urusan-urusan dunia, sehingga lalai dari belajar dan mengamalkan Al-Qur`an.7. Mempelajari Tafsir Al-Qur`an adalah Sebab yang Besar Didapatkannya Kelezatan dalam MembacanyaBerkata Imam Ahli Tafsir di zamannya dan zaman setelahnya, sekaligus penulis kitab tafsir Jami’ul Bayan, Al-Imam Ath-Thabari rahimahullah,إني لأعجب ممن قرأ القرآن ولم يعلم تأويله كيف يلتذ بقراءته؟“Sesungguhnya saya benar-benar heran kepada orang yang membaca Al-Qur`an, namun ia tidak mengetahui tafsirnya, maka bagaimana ia bisa merasakan kelezatan bacaannya?” (Mu’jamul Adibba`: 8/63, dinukil dari Muhadharat fi ‘Ulumil Qur`an).Dengan demikian, jelaslah urgensi mempelajari tafsir  Al-Qur`an Al-Karim. Semoga Allah Ta’ala menjadikan kita termasuk orang-orang yang dimudahkan mempelajari tafsir Kalam-Nya dan mengamalkannya. Amiin.[Selesai]Daftar Link Artikel Berseri: Keutamaan Mempelajari Tafsir Alquran (1) Keutamaan Mempelajari Tafsir Alquran (2) Keutamaan Mempelajari Tafsir Alquran (3) Penulis: Sa’id Abu Ukkasyah Artikel: Muslim.or.id Catatan Kaki[1] http://www.ibnothaimeen.com/all/books/article_17959.shtml [2] https://vb.tafsir.net/tafsir34611/#.WOJD_MkxXVc🔍 Waqfeeya, Cara Tayamum Yang Benar, Hukum Khitan Wanita, Hikmah Diturunkannya Al Qur'an Kepada Manusia, Doa Qunut Wajib Atau Sunat

Konsultasi Zakat 11: Zakat Emas Apakah Setiap Tahun Dikeluarkan?

­Apakah jika tahun lalu sudah mengeluarkan zakat dari emas, tahun ini dikeluarkan lagi? Bunda Elly bertanya mengenai hal zakat via WA pribadi Ustadz M Abduh Tuasikal sebagai berikut. “Ust klo emas perhiasan zakatnya setiap tahun atau sekali saja …klo zakat emas batangan simpanan pasti tiap tahun yAs” — Jawaban: Syaikh Shalih Al-Munajjid dalam Fatwa Al-Islam Sual wa Jawab no. 47088 disebutkan bahwa para ulama dahulu dan belakangan sepakat, zakat emas dan perak itu berulang dikeluarkan setiap tahun. Dalam Maratib Al-Ijma’, hlm. 38, Ibnu Hazm mengungkapkan bahwa para ulama sepakat zakat itu berulang pembayarannya untuk setiap harta setiap telah mencapai haul (bertahan satu tahun hijriyah), kecuali untuk zakat tanaman dan buah-buahan yang tidak memperhatikan haul. Dalil ijma’ tersebut adalah apa yang terjadi di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika mengutus orang untuk menarik zakat pada negeri-negeri dan berbagai qabilah, mereka tidaklah membedakan yang sudah mengeluarkan zakat pada tahun lalu ataukah belum. Jadi yang menyatakan bahwa zakat emas tidaklah berulang setiap tahun berarti tidak paham dan perlu diajarkan yang benar. Demikian ringkasan dari jawaban Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid dalam fatawa Al-Islam Sual wa Jawab. Moga bermanfaat, harta kita moga terus diberkahi. Diharapkan para pengunjung Rumaysho.Com bisa membaca artikel dalam Category Zakat di web ini dan bagi yang ingin menyalurkan lewat Darush Sholihin, bisa membaca info Donasi Zakat di Web DarushSholihin.Com. — @ Madinah, Masjid Nabawi, malam 5 Ramadhan 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagskonsultasi zakat

Konsultasi Zakat 11: Zakat Emas Apakah Setiap Tahun Dikeluarkan?

­Apakah jika tahun lalu sudah mengeluarkan zakat dari emas, tahun ini dikeluarkan lagi? Bunda Elly bertanya mengenai hal zakat via WA pribadi Ustadz M Abduh Tuasikal sebagai berikut. “Ust klo emas perhiasan zakatnya setiap tahun atau sekali saja …klo zakat emas batangan simpanan pasti tiap tahun yAs” — Jawaban: Syaikh Shalih Al-Munajjid dalam Fatwa Al-Islam Sual wa Jawab no. 47088 disebutkan bahwa para ulama dahulu dan belakangan sepakat, zakat emas dan perak itu berulang dikeluarkan setiap tahun. Dalam Maratib Al-Ijma’, hlm. 38, Ibnu Hazm mengungkapkan bahwa para ulama sepakat zakat itu berulang pembayarannya untuk setiap harta setiap telah mencapai haul (bertahan satu tahun hijriyah), kecuali untuk zakat tanaman dan buah-buahan yang tidak memperhatikan haul. Dalil ijma’ tersebut adalah apa yang terjadi di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika mengutus orang untuk menarik zakat pada negeri-negeri dan berbagai qabilah, mereka tidaklah membedakan yang sudah mengeluarkan zakat pada tahun lalu ataukah belum. Jadi yang menyatakan bahwa zakat emas tidaklah berulang setiap tahun berarti tidak paham dan perlu diajarkan yang benar. Demikian ringkasan dari jawaban Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid dalam fatawa Al-Islam Sual wa Jawab. Moga bermanfaat, harta kita moga terus diberkahi. Diharapkan para pengunjung Rumaysho.Com bisa membaca artikel dalam Category Zakat di web ini dan bagi yang ingin menyalurkan lewat Darush Sholihin, bisa membaca info Donasi Zakat di Web DarushSholihin.Com. — @ Madinah, Masjid Nabawi, malam 5 Ramadhan 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagskonsultasi zakat
­Apakah jika tahun lalu sudah mengeluarkan zakat dari emas, tahun ini dikeluarkan lagi? Bunda Elly bertanya mengenai hal zakat via WA pribadi Ustadz M Abduh Tuasikal sebagai berikut. “Ust klo emas perhiasan zakatnya setiap tahun atau sekali saja …klo zakat emas batangan simpanan pasti tiap tahun yAs” — Jawaban: Syaikh Shalih Al-Munajjid dalam Fatwa Al-Islam Sual wa Jawab no. 47088 disebutkan bahwa para ulama dahulu dan belakangan sepakat, zakat emas dan perak itu berulang dikeluarkan setiap tahun. Dalam Maratib Al-Ijma’, hlm. 38, Ibnu Hazm mengungkapkan bahwa para ulama sepakat zakat itu berulang pembayarannya untuk setiap harta setiap telah mencapai haul (bertahan satu tahun hijriyah), kecuali untuk zakat tanaman dan buah-buahan yang tidak memperhatikan haul. Dalil ijma’ tersebut adalah apa yang terjadi di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika mengutus orang untuk menarik zakat pada negeri-negeri dan berbagai qabilah, mereka tidaklah membedakan yang sudah mengeluarkan zakat pada tahun lalu ataukah belum. Jadi yang menyatakan bahwa zakat emas tidaklah berulang setiap tahun berarti tidak paham dan perlu diajarkan yang benar. Demikian ringkasan dari jawaban Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid dalam fatawa Al-Islam Sual wa Jawab. Moga bermanfaat, harta kita moga terus diberkahi. Diharapkan para pengunjung Rumaysho.Com bisa membaca artikel dalam Category Zakat di web ini dan bagi yang ingin menyalurkan lewat Darush Sholihin, bisa membaca info Donasi Zakat di Web DarushSholihin.Com. — @ Madinah, Masjid Nabawi, malam 5 Ramadhan 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagskonsultasi zakat


­Apakah jika tahun lalu sudah mengeluarkan zakat dari emas, tahun ini dikeluarkan lagi? Bunda Elly bertanya mengenai hal zakat via WA pribadi Ustadz M Abduh Tuasikal sebagai berikut. “Ust klo emas perhiasan zakatnya setiap tahun atau sekali saja …klo zakat emas batangan simpanan pasti tiap tahun yAs” — Jawaban: Syaikh Shalih Al-Munajjid dalam Fatwa Al-Islam Sual wa Jawab no. 47088 disebutkan bahwa para ulama dahulu dan belakangan sepakat, zakat emas dan perak itu berulang dikeluarkan setiap tahun. Dalam Maratib Al-Ijma’, hlm. 38, Ibnu Hazm mengungkapkan bahwa para ulama sepakat zakat itu berulang pembayarannya untuk setiap harta setiap telah mencapai haul (bertahan satu tahun hijriyah), kecuali untuk zakat tanaman dan buah-buahan yang tidak memperhatikan haul. Dalil ijma’ tersebut adalah apa yang terjadi di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika mengutus orang untuk menarik zakat pada negeri-negeri dan berbagai qabilah, mereka tidaklah membedakan yang sudah mengeluarkan zakat pada tahun lalu ataukah belum. Jadi yang menyatakan bahwa zakat emas tidaklah berulang setiap tahun berarti tidak paham dan perlu diajarkan yang benar. Demikian ringkasan dari jawaban Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid dalam fatawa Al-Islam Sual wa Jawab. Moga bermanfaat, harta kita moga terus diberkahi. Diharapkan para pengunjung Rumaysho.Com bisa membaca artikel dalam Category Zakat di web ini dan bagi yang ingin menyalurkan lewat Darush Sholihin, bisa membaca info Donasi Zakat di Web DarushSholihin.Com. — @ Madinah, Masjid Nabawi, malam 5 Ramadhan 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagskonsultasi zakat

Renungan #11, Benarkah Musibah itu Karena Dosa Kita?

Benarkah musibah itu datang karena dosa? Allah Ta’ala berfirman, ‎مَّا أَصَابَكَ مِنْ حَسَنَةٍ فَمِنَ اللَّهِ وَمَا أَصَابَكَ مِن سَيِّئَةٍ فَمِن نَّفْسِكَ وَأَرْسَلْنَاكَ لِلنَّاسِ رَسُولًا وَكَفَىٰ بِاللَّهِ شَهِيدًا “Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri. Kami mengutusmu menjadi Rasul kepada segenap manusia. Dan cukuplah Allah menjadi saksi.” (QS. An-Nisaa’: 79) Jika ada yang mendapatkan kebaikan maka ketahuilah itulah karunia dari Allah. Kita harus meyakini demikian. Namun jika kita mendapatkan musibah, maka ketahuilah itu karena dosa kita. Sedangkan Rasul diutus untuk menyampaikan risalah pada manusia. Allah menjadi saksi akan benarnya risalah tersebut. Demikian keterangan singkat dari Tafsir Al-Jalalain dan Tafsir Al-Muyassar. Semoga jadi renungan berharga di Ramadhan kali ini. — Ditulis di Kota Madinah, 5 Ramadhan 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsmaksiat musibah renungan ayat renungan quran

Renungan #11, Benarkah Musibah itu Karena Dosa Kita?

Benarkah musibah itu datang karena dosa? Allah Ta’ala berfirman, ‎مَّا أَصَابَكَ مِنْ حَسَنَةٍ فَمِنَ اللَّهِ وَمَا أَصَابَكَ مِن سَيِّئَةٍ فَمِن نَّفْسِكَ وَأَرْسَلْنَاكَ لِلنَّاسِ رَسُولًا وَكَفَىٰ بِاللَّهِ شَهِيدًا “Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri. Kami mengutusmu menjadi Rasul kepada segenap manusia. Dan cukuplah Allah menjadi saksi.” (QS. An-Nisaa’: 79) Jika ada yang mendapatkan kebaikan maka ketahuilah itulah karunia dari Allah. Kita harus meyakini demikian. Namun jika kita mendapatkan musibah, maka ketahuilah itu karena dosa kita. Sedangkan Rasul diutus untuk menyampaikan risalah pada manusia. Allah menjadi saksi akan benarnya risalah tersebut. Demikian keterangan singkat dari Tafsir Al-Jalalain dan Tafsir Al-Muyassar. Semoga jadi renungan berharga di Ramadhan kali ini. — Ditulis di Kota Madinah, 5 Ramadhan 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsmaksiat musibah renungan ayat renungan quran
Benarkah musibah itu datang karena dosa? Allah Ta’ala berfirman, ‎مَّا أَصَابَكَ مِنْ حَسَنَةٍ فَمِنَ اللَّهِ وَمَا أَصَابَكَ مِن سَيِّئَةٍ فَمِن نَّفْسِكَ وَأَرْسَلْنَاكَ لِلنَّاسِ رَسُولًا وَكَفَىٰ بِاللَّهِ شَهِيدًا “Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri. Kami mengutusmu menjadi Rasul kepada segenap manusia. Dan cukuplah Allah menjadi saksi.” (QS. An-Nisaa’: 79) Jika ada yang mendapatkan kebaikan maka ketahuilah itulah karunia dari Allah. Kita harus meyakini demikian. Namun jika kita mendapatkan musibah, maka ketahuilah itu karena dosa kita. Sedangkan Rasul diutus untuk menyampaikan risalah pada manusia. Allah menjadi saksi akan benarnya risalah tersebut. Demikian keterangan singkat dari Tafsir Al-Jalalain dan Tafsir Al-Muyassar. Semoga jadi renungan berharga di Ramadhan kali ini. — Ditulis di Kota Madinah, 5 Ramadhan 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsmaksiat musibah renungan ayat renungan quran


Benarkah musibah itu datang karena dosa? Allah Ta’ala berfirman, ‎مَّا أَصَابَكَ مِنْ حَسَنَةٍ فَمِنَ اللَّهِ وَمَا أَصَابَكَ مِن سَيِّئَةٍ فَمِن نَّفْسِكَ وَأَرْسَلْنَاكَ لِلنَّاسِ رَسُولًا وَكَفَىٰ بِاللَّهِ شَهِيدًا “Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri. Kami mengutusmu menjadi Rasul kepada segenap manusia. Dan cukuplah Allah menjadi saksi.” (QS. An-Nisaa’: 79) Jika ada yang mendapatkan kebaikan maka ketahuilah itulah karunia dari Allah. Kita harus meyakini demikian. Namun jika kita mendapatkan musibah, maka ketahuilah itu karena dosa kita. Sedangkan Rasul diutus untuk menyampaikan risalah pada manusia. Allah menjadi saksi akan benarnya risalah tersebut. Demikian keterangan singkat dari Tafsir Al-Jalalain dan Tafsir Al-Muyassar. Semoga jadi renungan berharga di Ramadhan kali ini. — Ditulis di Kota Madinah, 5 Ramadhan 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsmaksiat musibah renungan ayat renungan quran

Puasa Orang Indonesia 19 Jam, Mungkinkah?

Bisakah orang Indonesia puasa 19 Jam? Normalnya kita di Indonesia berpuasa kurang lebih 14 jam. Lalu bagaimana ada yang bisa puasa 19 jam? Bisa saja. Dia ikut makan sahur di Indonesia dan imsak jam 4.00 Waktu Indonesia Barat, lalu berbuka 19.00 Waktu Saudi Arabia dikarenakan ia sedang menunaikan umrah. Dihitung-hitung sekitar 19 jam ia berpuasa. Lalu bagaimana ia berbuka puasa? Apakah ikuti Saudi Arabia ataukah ikuti Indonesia? Kalau ia take-off dari Jakarta menuju Madinah, menempuh perjalanan sekitar 9 jam, maka landing di Madinah sekitar jam 5 sore. Dan sampai Madinah pun belum waktu berbuka puasa karena waktu Maghrib pukul 19.04 Waktu Saudi. Ia tetap berbuka puasa ikuti jam Madinah – Saudi Arabia. Para ulama di Al Lajnah Ad Daimah (komisi Fatwa Kerajan Saudi Arabia) pernah ditanya, “Kapan waktu berbuka puasa di bulan Ramadhan di tengah-tengah perjalanan pesawat?” Jawab: Jika siang hari seseorang yang berpuasa berada di pesawat dan ia tetap menjalankan puasanya hingga malam hari (tenggelamnya matahari), ia tidaklah boleh berbuka puasa kecuali jika telah tenggelamnya matahari. Tenggelamnya matahari di sini dilihat dari posisi orang yang melakukan perjalanan (bukan dari tempat awal ia berpuasa, pen). [Fatwa Al Lajnah Ad Daimah no. 5468, 10/138. Yang menandatangani fatwa ini, Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz selaku ketua, Syaikh ‘Abdurrozaq ‘Afifi selaku wakil ketua, Syaikh ‘Abdullah bin Ghudayan dan Syaikh ‘Abdullah bin Qo’ud selaku anggota] Sumber : https://rumaysho.com/2701-4-permasalahan-kontemporer-seputar-puasa.html Semoga bermanfaat. — @ Bandara Madinah – KSA, 2 Ramadhan 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsbuka puasa pembatal puasa

Puasa Orang Indonesia 19 Jam, Mungkinkah?

Bisakah orang Indonesia puasa 19 Jam? Normalnya kita di Indonesia berpuasa kurang lebih 14 jam. Lalu bagaimana ada yang bisa puasa 19 jam? Bisa saja. Dia ikut makan sahur di Indonesia dan imsak jam 4.00 Waktu Indonesia Barat, lalu berbuka 19.00 Waktu Saudi Arabia dikarenakan ia sedang menunaikan umrah. Dihitung-hitung sekitar 19 jam ia berpuasa. Lalu bagaimana ia berbuka puasa? Apakah ikuti Saudi Arabia ataukah ikuti Indonesia? Kalau ia take-off dari Jakarta menuju Madinah, menempuh perjalanan sekitar 9 jam, maka landing di Madinah sekitar jam 5 sore. Dan sampai Madinah pun belum waktu berbuka puasa karena waktu Maghrib pukul 19.04 Waktu Saudi. Ia tetap berbuka puasa ikuti jam Madinah – Saudi Arabia. Para ulama di Al Lajnah Ad Daimah (komisi Fatwa Kerajan Saudi Arabia) pernah ditanya, “Kapan waktu berbuka puasa di bulan Ramadhan di tengah-tengah perjalanan pesawat?” Jawab: Jika siang hari seseorang yang berpuasa berada di pesawat dan ia tetap menjalankan puasanya hingga malam hari (tenggelamnya matahari), ia tidaklah boleh berbuka puasa kecuali jika telah tenggelamnya matahari. Tenggelamnya matahari di sini dilihat dari posisi orang yang melakukan perjalanan (bukan dari tempat awal ia berpuasa, pen). [Fatwa Al Lajnah Ad Daimah no. 5468, 10/138. Yang menandatangani fatwa ini, Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz selaku ketua, Syaikh ‘Abdurrozaq ‘Afifi selaku wakil ketua, Syaikh ‘Abdullah bin Ghudayan dan Syaikh ‘Abdullah bin Qo’ud selaku anggota] Sumber : https://rumaysho.com/2701-4-permasalahan-kontemporer-seputar-puasa.html Semoga bermanfaat. — @ Bandara Madinah – KSA, 2 Ramadhan 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsbuka puasa pembatal puasa
Bisakah orang Indonesia puasa 19 Jam? Normalnya kita di Indonesia berpuasa kurang lebih 14 jam. Lalu bagaimana ada yang bisa puasa 19 jam? Bisa saja. Dia ikut makan sahur di Indonesia dan imsak jam 4.00 Waktu Indonesia Barat, lalu berbuka 19.00 Waktu Saudi Arabia dikarenakan ia sedang menunaikan umrah. Dihitung-hitung sekitar 19 jam ia berpuasa. Lalu bagaimana ia berbuka puasa? Apakah ikuti Saudi Arabia ataukah ikuti Indonesia? Kalau ia take-off dari Jakarta menuju Madinah, menempuh perjalanan sekitar 9 jam, maka landing di Madinah sekitar jam 5 sore. Dan sampai Madinah pun belum waktu berbuka puasa karena waktu Maghrib pukul 19.04 Waktu Saudi. Ia tetap berbuka puasa ikuti jam Madinah – Saudi Arabia. Para ulama di Al Lajnah Ad Daimah (komisi Fatwa Kerajan Saudi Arabia) pernah ditanya, “Kapan waktu berbuka puasa di bulan Ramadhan di tengah-tengah perjalanan pesawat?” Jawab: Jika siang hari seseorang yang berpuasa berada di pesawat dan ia tetap menjalankan puasanya hingga malam hari (tenggelamnya matahari), ia tidaklah boleh berbuka puasa kecuali jika telah tenggelamnya matahari. Tenggelamnya matahari di sini dilihat dari posisi orang yang melakukan perjalanan (bukan dari tempat awal ia berpuasa, pen). [Fatwa Al Lajnah Ad Daimah no. 5468, 10/138. Yang menandatangani fatwa ini, Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz selaku ketua, Syaikh ‘Abdurrozaq ‘Afifi selaku wakil ketua, Syaikh ‘Abdullah bin Ghudayan dan Syaikh ‘Abdullah bin Qo’ud selaku anggota] Sumber : https://rumaysho.com/2701-4-permasalahan-kontemporer-seputar-puasa.html Semoga bermanfaat. — @ Bandara Madinah – KSA, 2 Ramadhan 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsbuka puasa pembatal puasa


Bisakah orang Indonesia puasa 19 Jam? Normalnya kita di Indonesia berpuasa kurang lebih 14 jam. Lalu bagaimana ada yang bisa puasa 19 jam? Bisa saja. Dia ikut makan sahur di Indonesia dan imsak jam 4.00 Waktu Indonesia Barat, lalu berbuka 19.00 Waktu Saudi Arabia dikarenakan ia sedang menunaikan umrah. Dihitung-hitung sekitar 19 jam ia berpuasa. Lalu bagaimana ia berbuka puasa? Apakah ikuti Saudi Arabia ataukah ikuti Indonesia? Kalau ia take-off dari Jakarta menuju Madinah, menempuh perjalanan sekitar 9 jam, maka landing di Madinah sekitar jam 5 sore. Dan sampai Madinah pun belum waktu berbuka puasa karena waktu Maghrib pukul 19.04 Waktu Saudi. Ia tetap berbuka puasa ikuti jam Madinah – Saudi Arabia. Para ulama di Al Lajnah Ad Daimah (komisi Fatwa Kerajan Saudi Arabia) pernah ditanya, “Kapan waktu berbuka puasa di bulan Ramadhan di tengah-tengah perjalanan pesawat?” Jawab: Jika siang hari seseorang yang berpuasa berada di pesawat dan ia tetap menjalankan puasanya hingga malam hari (tenggelamnya matahari), ia tidaklah boleh berbuka puasa kecuali jika telah tenggelamnya matahari. Tenggelamnya matahari di sini dilihat dari posisi orang yang melakukan perjalanan (bukan dari tempat awal ia berpuasa, pen). [Fatwa Al Lajnah Ad Daimah no. 5468, 10/138. Yang menandatangani fatwa ini, Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz selaku ketua, Syaikh ‘Abdurrozaq ‘Afifi selaku wakil ketua, Syaikh ‘Abdullah bin Ghudayan dan Syaikh ‘Abdullah bin Qo’ud selaku anggota] Sumber : https://rumaysho.com/2701-4-permasalahan-kontemporer-seputar-puasa.html Semoga bermanfaat. — @ Bandara Madinah – KSA, 2 Ramadhan 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsbuka puasa pembatal puasa

Renungan #10, Bangkai, Darah, Daging Babi, Sembelihan Selain Allah itu Haram

Empat hal yang disebutkan dalam ayat ini diharamkan, yaitu bangkai, darah, daging babi dan sembelihan untuk selain Allah. Silakan kaji. Allah Ta’ala berfirman, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ وَاشْكُرُوا لِلَّهِ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ (172) إِنَّمَا حَرَّمَ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةَ وَالدَّمَ وَلَحْمَ الْخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ بِهِ لِغَيْرِ اللَّهِ فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلَا عَادٍ فَلَا إِثْمَ عَلَيْهِ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ (173) “Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya kamu menyembah. Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah[108]. Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah: 172-173)   Faedah dari ayat di atas: 1- Perintah dalam ayat ini adalah perintah penting karena didahului dengan panggilan iman. 2- Keutamaan iman karena diseru dalam ayat ini. 3- Wajib makan yang halal karena perintah dalam ayat ini asalnya bermakna wajib. 4- Segala sesuatu pemberian Allah wajib disyukuri. 5- Syukur itu dengan hati, lisan dan anggota badan ketika diberi nikmat. Sedangkan pujian ‘alhamdu’ ditujukan pada Allah atas sifat dan kenikmatan-Nya yang sempurna. 6- Syukur itu wujud dari realisasi ibadah. 7- Ada empat hal yang diharamkan dalam ayat ini yaitu bangkai (yang mati dalam keadaan tidak disembelih dengan sembelihan yang syar’i), darah yang mengalir, dan sesuatu yang disembelih untuk selain Allah (walau menyebut nama Allah saat menyembelih ataukah tidak). Begitu pula diharamkan yang disembelih untuk dimakan semata lalu disebut nama selain Allah, walau maksudnya bukan ta’abbud (maksud ibadah). Apalagi maksudnya menyebut nama selain Allah untuk ibadah, itu jelas adalah berbuat syirik pada Allah seperti dengan menyebut ‘dengan nama Isa’ dan semacam itu. 8- Yang berhak untuk mengharamkan dan menghalalkan adalah Allah semata. 9- Keadaan darurat membolehkan sesuatu yang diharamkan dengan dua syarat: (a) ghaira baghin, yaitu bukan karena suka dengan yang haram; (b) wa laa ‘aadin, yaitu tidak dengan melampaui batas, selama sudah menghilangkan darurat, maka sudah cukup. 10- Di sini diajarkan pentingnya niat dan maksud. Kalau maksudnya makan makanan haram karena memang keinginannya atau kesukaannya, maka haram. 11- Keringanan mengonsumsi yang haram saat darurat adalah realisasi dari bagian ayat ‘Allah itu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang’. 12- Allah itu memiliki sifat Maha Pengampun berarti menghilangkan hal bahaya dari hamba, juga Allah itu Maha Penyayang berarti mewujudkan apa yang hamba inginkan. Dua sifat ini menunjukkan kesempurnaan sifat Allah. 13- Keadaan darurat membolehkan yang haram dengan syarat jika seseorang tidak menyantapnya akan binasa. 14- Tidak boleh menyantap yang haram ini dalam keadaan darurat ini lebih dari kebutuhan. 15- Allah memberikan rahmat yang luas karena ketika keadaan darurat dibolehkan mengonsumsi yang diharamkan. Moga jadi pelajaran berharga.   Referensi: Ahkam Al-Qur’an Al-Karim. Cetakan pertama, tahun 1428 H. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Penerbit Madar Al-Wathan Al-Islami. Hlm. 594-605. — @ DS, Panggang, Waktu sahur, Ahad 2 Ramadhan 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsmakanan haram renungan ayat renungan quran

Renungan #10, Bangkai, Darah, Daging Babi, Sembelihan Selain Allah itu Haram

Empat hal yang disebutkan dalam ayat ini diharamkan, yaitu bangkai, darah, daging babi dan sembelihan untuk selain Allah. Silakan kaji. Allah Ta’ala berfirman, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ وَاشْكُرُوا لِلَّهِ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ (172) إِنَّمَا حَرَّمَ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةَ وَالدَّمَ وَلَحْمَ الْخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ بِهِ لِغَيْرِ اللَّهِ فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلَا عَادٍ فَلَا إِثْمَ عَلَيْهِ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ (173) “Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya kamu menyembah. Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah[108]. Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah: 172-173)   Faedah dari ayat di atas: 1- Perintah dalam ayat ini adalah perintah penting karena didahului dengan panggilan iman. 2- Keutamaan iman karena diseru dalam ayat ini. 3- Wajib makan yang halal karena perintah dalam ayat ini asalnya bermakna wajib. 4- Segala sesuatu pemberian Allah wajib disyukuri. 5- Syukur itu dengan hati, lisan dan anggota badan ketika diberi nikmat. Sedangkan pujian ‘alhamdu’ ditujukan pada Allah atas sifat dan kenikmatan-Nya yang sempurna. 6- Syukur itu wujud dari realisasi ibadah. 7- Ada empat hal yang diharamkan dalam ayat ini yaitu bangkai (yang mati dalam keadaan tidak disembelih dengan sembelihan yang syar’i), darah yang mengalir, dan sesuatu yang disembelih untuk selain Allah (walau menyebut nama Allah saat menyembelih ataukah tidak). Begitu pula diharamkan yang disembelih untuk dimakan semata lalu disebut nama selain Allah, walau maksudnya bukan ta’abbud (maksud ibadah). Apalagi maksudnya menyebut nama selain Allah untuk ibadah, itu jelas adalah berbuat syirik pada Allah seperti dengan menyebut ‘dengan nama Isa’ dan semacam itu. 8- Yang berhak untuk mengharamkan dan menghalalkan adalah Allah semata. 9- Keadaan darurat membolehkan sesuatu yang diharamkan dengan dua syarat: (a) ghaira baghin, yaitu bukan karena suka dengan yang haram; (b) wa laa ‘aadin, yaitu tidak dengan melampaui batas, selama sudah menghilangkan darurat, maka sudah cukup. 10- Di sini diajarkan pentingnya niat dan maksud. Kalau maksudnya makan makanan haram karena memang keinginannya atau kesukaannya, maka haram. 11- Keringanan mengonsumsi yang haram saat darurat adalah realisasi dari bagian ayat ‘Allah itu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang’. 12- Allah itu memiliki sifat Maha Pengampun berarti menghilangkan hal bahaya dari hamba, juga Allah itu Maha Penyayang berarti mewujudkan apa yang hamba inginkan. Dua sifat ini menunjukkan kesempurnaan sifat Allah. 13- Keadaan darurat membolehkan yang haram dengan syarat jika seseorang tidak menyantapnya akan binasa. 14- Tidak boleh menyantap yang haram ini dalam keadaan darurat ini lebih dari kebutuhan. 15- Allah memberikan rahmat yang luas karena ketika keadaan darurat dibolehkan mengonsumsi yang diharamkan. Moga jadi pelajaran berharga.   Referensi: Ahkam Al-Qur’an Al-Karim. Cetakan pertama, tahun 1428 H. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Penerbit Madar Al-Wathan Al-Islami. Hlm. 594-605. — @ DS, Panggang, Waktu sahur, Ahad 2 Ramadhan 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsmakanan haram renungan ayat renungan quran
Empat hal yang disebutkan dalam ayat ini diharamkan, yaitu bangkai, darah, daging babi dan sembelihan untuk selain Allah. Silakan kaji. Allah Ta’ala berfirman, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ وَاشْكُرُوا لِلَّهِ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ (172) إِنَّمَا حَرَّمَ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةَ وَالدَّمَ وَلَحْمَ الْخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ بِهِ لِغَيْرِ اللَّهِ فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلَا عَادٍ فَلَا إِثْمَ عَلَيْهِ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ (173) “Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya kamu menyembah. Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah[108]. Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah: 172-173)   Faedah dari ayat di atas: 1- Perintah dalam ayat ini adalah perintah penting karena didahului dengan panggilan iman. 2- Keutamaan iman karena diseru dalam ayat ini. 3- Wajib makan yang halal karena perintah dalam ayat ini asalnya bermakna wajib. 4- Segala sesuatu pemberian Allah wajib disyukuri. 5- Syukur itu dengan hati, lisan dan anggota badan ketika diberi nikmat. Sedangkan pujian ‘alhamdu’ ditujukan pada Allah atas sifat dan kenikmatan-Nya yang sempurna. 6- Syukur itu wujud dari realisasi ibadah. 7- Ada empat hal yang diharamkan dalam ayat ini yaitu bangkai (yang mati dalam keadaan tidak disembelih dengan sembelihan yang syar’i), darah yang mengalir, dan sesuatu yang disembelih untuk selain Allah (walau menyebut nama Allah saat menyembelih ataukah tidak). Begitu pula diharamkan yang disembelih untuk dimakan semata lalu disebut nama selain Allah, walau maksudnya bukan ta’abbud (maksud ibadah). Apalagi maksudnya menyebut nama selain Allah untuk ibadah, itu jelas adalah berbuat syirik pada Allah seperti dengan menyebut ‘dengan nama Isa’ dan semacam itu. 8- Yang berhak untuk mengharamkan dan menghalalkan adalah Allah semata. 9- Keadaan darurat membolehkan sesuatu yang diharamkan dengan dua syarat: (a) ghaira baghin, yaitu bukan karena suka dengan yang haram; (b) wa laa ‘aadin, yaitu tidak dengan melampaui batas, selama sudah menghilangkan darurat, maka sudah cukup. 10- Di sini diajarkan pentingnya niat dan maksud. Kalau maksudnya makan makanan haram karena memang keinginannya atau kesukaannya, maka haram. 11- Keringanan mengonsumsi yang haram saat darurat adalah realisasi dari bagian ayat ‘Allah itu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang’. 12- Allah itu memiliki sifat Maha Pengampun berarti menghilangkan hal bahaya dari hamba, juga Allah itu Maha Penyayang berarti mewujudkan apa yang hamba inginkan. Dua sifat ini menunjukkan kesempurnaan sifat Allah. 13- Keadaan darurat membolehkan yang haram dengan syarat jika seseorang tidak menyantapnya akan binasa. 14- Tidak boleh menyantap yang haram ini dalam keadaan darurat ini lebih dari kebutuhan. 15- Allah memberikan rahmat yang luas karena ketika keadaan darurat dibolehkan mengonsumsi yang diharamkan. Moga jadi pelajaran berharga.   Referensi: Ahkam Al-Qur’an Al-Karim. Cetakan pertama, tahun 1428 H. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Penerbit Madar Al-Wathan Al-Islami. Hlm. 594-605. — @ DS, Panggang, Waktu sahur, Ahad 2 Ramadhan 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsmakanan haram renungan ayat renungan quran


Empat hal yang disebutkan dalam ayat ini diharamkan, yaitu bangkai, darah, daging babi dan sembelihan untuk selain Allah. Silakan kaji. Allah Ta’ala berfirman, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ وَاشْكُرُوا لِلَّهِ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ (172) إِنَّمَا حَرَّمَ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةَ وَالدَّمَ وَلَحْمَ الْخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ بِهِ لِغَيْرِ اللَّهِ فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلَا عَادٍ فَلَا إِثْمَ عَلَيْهِ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ (173) “Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya kamu menyembah. Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah[108]. Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah: 172-173)   Faedah dari ayat di atas: 1- Perintah dalam ayat ini adalah perintah penting karena didahului dengan panggilan iman. 2- Keutamaan iman karena diseru dalam ayat ini. 3- Wajib makan yang halal karena perintah dalam ayat ini asalnya bermakna wajib. 4- Segala sesuatu pemberian Allah wajib disyukuri. 5- Syukur itu dengan hati, lisan dan anggota badan ketika diberi nikmat. Sedangkan pujian ‘alhamdu’ ditujukan pada Allah atas sifat dan kenikmatan-Nya yang sempurna. 6- Syukur itu wujud dari realisasi ibadah. 7- Ada empat hal yang diharamkan dalam ayat ini yaitu bangkai (yang mati dalam keadaan tidak disembelih dengan sembelihan yang syar’i), darah yang mengalir, dan sesuatu yang disembelih untuk selain Allah (walau menyebut nama Allah saat menyembelih ataukah tidak). Begitu pula diharamkan yang disembelih untuk dimakan semata lalu disebut nama selain Allah, walau maksudnya bukan ta’abbud (maksud ibadah). Apalagi maksudnya menyebut nama selain Allah untuk ibadah, itu jelas adalah berbuat syirik pada Allah seperti dengan menyebut ‘dengan nama Isa’ dan semacam itu. 8- Yang berhak untuk mengharamkan dan menghalalkan adalah Allah semata. 9- Keadaan darurat membolehkan sesuatu yang diharamkan dengan dua syarat: (a) ghaira baghin, yaitu bukan karena suka dengan yang haram; (b) wa laa ‘aadin, yaitu tidak dengan melampaui batas, selama sudah menghilangkan darurat, maka sudah cukup. 10- Di sini diajarkan pentingnya niat dan maksud. Kalau maksudnya makan makanan haram karena memang keinginannya atau kesukaannya, maka haram. 11- Keringanan mengonsumsi yang haram saat darurat adalah realisasi dari bagian ayat ‘Allah itu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang’. 12- Allah itu memiliki sifat Maha Pengampun berarti menghilangkan hal bahaya dari hamba, juga Allah itu Maha Penyayang berarti mewujudkan apa yang hamba inginkan. Dua sifat ini menunjukkan kesempurnaan sifat Allah. 13- Keadaan darurat membolehkan yang haram dengan syarat jika seseorang tidak menyantapnya akan binasa. 14- Tidak boleh menyantap yang haram ini dalam keadaan darurat ini lebih dari kebutuhan. 15- Allah memberikan rahmat yang luas karena ketika keadaan darurat dibolehkan mengonsumsi yang diharamkan. Moga jadi pelajaran berharga.   Referensi: Ahkam Al-Qur’an Al-Karim. Cetakan pertama, tahun 1428 H. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Penerbit Madar Al-Wathan Al-Islami. Hlm. 594-605. — @ DS, Panggang, Waktu sahur, Ahad 2 Ramadhan 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsmakanan haram renungan ayat renungan quran

Renungan #09, Ketika Sulit dan Butuh Pertolongan, Segeralah Shalat!

Kebiasaan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam jika ada kesulitan, beliau segera melaksanakan shalat. Allah Ta’ala berfirman, وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى الْخَاشِعِينَ “Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’.” (QS. Al-Baqarah: 45)   Faedah dari ayat di atas: 1- Bagi yang ingin meraih kebahagiaan dunia dan akhirat, maka minta tolonglah pada Allah dengan bersabar dan shalat. Maqatil bin Hayan rahimahullah berkata tentang tafsiran ayat ini, “Mintalah tolong dalam mencari akhirat dengan sabar dalam melakukan kewajiban dan shalat.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 1: 379) 2- Ada ulama yang menafsirkan sabar dalam ayat di atas dengan puasa, sebagaimana dikatakan Mujahid. Karenanya bulan Ramadhan disebut dengan bulan sabar. Sebagaimana disebutkan oleh Al-Qurthubi dan ulama lainnya. Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim karya Ibnu Katsir, 1: 379. 4- Ada yang menyebutkan pula bahwa yang dimaksud sabar dalam ayat adalah menahan diri dari maksiat. Ada perkataan dari Umar bin Al-Khattab radhiyallahu ‘anhu dan Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah bahwa sabar itu ada dua macam. Pertama, sabar dalam menghadapi musibah. Sabar yang lebih baik dari itu adalah sabar dalam meninggalkan yang Allah haramkan. Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 1: 380. 5- Hudzaifah bin Al-Yaman berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika mendapati kesulitan dalam suatu urusan, beliau segera mengerjakan shalat. (HR. Ibnu Jarir dalam kitab tafsirnya, dishahihkan oleh Ahmad Syakir dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ Ash-Shaghir) 6- Orang yang khusyu’ dan tenang dalam shalatnya, shalat akan mudah baginya dan juga ia akan mudah untuk sabar. Demikianlah keterangan dari Syaikh Ibnu ‘Utsaimin dalam Ahkam Al-Qur’an Al-Karim, 1: 208. 7- Sabar akan memudahkan segala macam urusan. Begitu pula shalat yang merupakan timbangan iman dan dapat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar akan memudahkan berbagai urusan. Demikian kata Syaikh As-Sa’di dalam kitab tafsirnya, hlm. 38.   Moga jadi pelajaran berharga.   Referensi: Ahkam Al-Qur’an Al-Karim. Cetakan pertama, tahun 1428 H. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Penerbit Madar Al-Wathan Al-Islami. Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Cetakan pertama, tahun 1431 H. Ibnu Katsir. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Tafsir As-Sa’di. Cetakan kedua, tahun 1433 H. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. Penerbit Muassasah Ar-Risalah. — @ DS, Panggang, Sabtu pagi, 1 Ramadhan 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsrenungan ayat renungan quran sabar shalat

Renungan #09, Ketika Sulit dan Butuh Pertolongan, Segeralah Shalat!

Kebiasaan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam jika ada kesulitan, beliau segera melaksanakan shalat. Allah Ta’ala berfirman, وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى الْخَاشِعِينَ “Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’.” (QS. Al-Baqarah: 45)   Faedah dari ayat di atas: 1- Bagi yang ingin meraih kebahagiaan dunia dan akhirat, maka minta tolonglah pada Allah dengan bersabar dan shalat. Maqatil bin Hayan rahimahullah berkata tentang tafsiran ayat ini, “Mintalah tolong dalam mencari akhirat dengan sabar dalam melakukan kewajiban dan shalat.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 1: 379) 2- Ada ulama yang menafsirkan sabar dalam ayat di atas dengan puasa, sebagaimana dikatakan Mujahid. Karenanya bulan Ramadhan disebut dengan bulan sabar. Sebagaimana disebutkan oleh Al-Qurthubi dan ulama lainnya. Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim karya Ibnu Katsir, 1: 379. 4- Ada yang menyebutkan pula bahwa yang dimaksud sabar dalam ayat adalah menahan diri dari maksiat. Ada perkataan dari Umar bin Al-Khattab radhiyallahu ‘anhu dan Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah bahwa sabar itu ada dua macam. Pertama, sabar dalam menghadapi musibah. Sabar yang lebih baik dari itu adalah sabar dalam meninggalkan yang Allah haramkan. Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 1: 380. 5- Hudzaifah bin Al-Yaman berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika mendapati kesulitan dalam suatu urusan, beliau segera mengerjakan shalat. (HR. Ibnu Jarir dalam kitab tafsirnya, dishahihkan oleh Ahmad Syakir dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ Ash-Shaghir) 6- Orang yang khusyu’ dan tenang dalam shalatnya, shalat akan mudah baginya dan juga ia akan mudah untuk sabar. Demikianlah keterangan dari Syaikh Ibnu ‘Utsaimin dalam Ahkam Al-Qur’an Al-Karim, 1: 208. 7- Sabar akan memudahkan segala macam urusan. Begitu pula shalat yang merupakan timbangan iman dan dapat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar akan memudahkan berbagai urusan. Demikian kata Syaikh As-Sa’di dalam kitab tafsirnya, hlm. 38.   Moga jadi pelajaran berharga.   Referensi: Ahkam Al-Qur’an Al-Karim. Cetakan pertama, tahun 1428 H. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Penerbit Madar Al-Wathan Al-Islami. Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Cetakan pertama, tahun 1431 H. Ibnu Katsir. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Tafsir As-Sa’di. Cetakan kedua, tahun 1433 H. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. Penerbit Muassasah Ar-Risalah. — @ DS, Panggang, Sabtu pagi, 1 Ramadhan 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsrenungan ayat renungan quran sabar shalat
Kebiasaan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam jika ada kesulitan, beliau segera melaksanakan shalat. Allah Ta’ala berfirman, وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى الْخَاشِعِينَ “Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’.” (QS. Al-Baqarah: 45)   Faedah dari ayat di atas: 1- Bagi yang ingin meraih kebahagiaan dunia dan akhirat, maka minta tolonglah pada Allah dengan bersabar dan shalat. Maqatil bin Hayan rahimahullah berkata tentang tafsiran ayat ini, “Mintalah tolong dalam mencari akhirat dengan sabar dalam melakukan kewajiban dan shalat.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 1: 379) 2- Ada ulama yang menafsirkan sabar dalam ayat di atas dengan puasa, sebagaimana dikatakan Mujahid. Karenanya bulan Ramadhan disebut dengan bulan sabar. Sebagaimana disebutkan oleh Al-Qurthubi dan ulama lainnya. Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim karya Ibnu Katsir, 1: 379. 4- Ada yang menyebutkan pula bahwa yang dimaksud sabar dalam ayat adalah menahan diri dari maksiat. Ada perkataan dari Umar bin Al-Khattab radhiyallahu ‘anhu dan Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah bahwa sabar itu ada dua macam. Pertama, sabar dalam menghadapi musibah. Sabar yang lebih baik dari itu adalah sabar dalam meninggalkan yang Allah haramkan. Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 1: 380. 5- Hudzaifah bin Al-Yaman berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika mendapati kesulitan dalam suatu urusan, beliau segera mengerjakan shalat. (HR. Ibnu Jarir dalam kitab tafsirnya, dishahihkan oleh Ahmad Syakir dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ Ash-Shaghir) 6- Orang yang khusyu’ dan tenang dalam shalatnya, shalat akan mudah baginya dan juga ia akan mudah untuk sabar. Demikianlah keterangan dari Syaikh Ibnu ‘Utsaimin dalam Ahkam Al-Qur’an Al-Karim, 1: 208. 7- Sabar akan memudahkan segala macam urusan. Begitu pula shalat yang merupakan timbangan iman dan dapat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar akan memudahkan berbagai urusan. Demikian kata Syaikh As-Sa’di dalam kitab tafsirnya, hlm. 38.   Moga jadi pelajaran berharga.   Referensi: Ahkam Al-Qur’an Al-Karim. Cetakan pertama, tahun 1428 H. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Penerbit Madar Al-Wathan Al-Islami. Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Cetakan pertama, tahun 1431 H. Ibnu Katsir. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Tafsir As-Sa’di. Cetakan kedua, tahun 1433 H. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. Penerbit Muassasah Ar-Risalah. — @ DS, Panggang, Sabtu pagi, 1 Ramadhan 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsrenungan ayat renungan quran sabar shalat


Kebiasaan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam jika ada kesulitan, beliau segera melaksanakan shalat. Allah Ta’ala berfirman, وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى الْخَاشِعِينَ “Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’.” (QS. Al-Baqarah: 45)   Faedah dari ayat di atas: 1- Bagi yang ingin meraih kebahagiaan dunia dan akhirat, maka minta tolonglah pada Allah dengan bersabar dan shalat. Maqatil bin Hayan rahimahullah berkata tentang tafsiran ayat ini, “Mintalah tolong dalam mencari akhirat dengan sabar dalam melakukan kewajiban dan shalat.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 1: 379) 2- Ada ulama yang menafsirkan sabar dalam ayat di atas dengan puasa, sebagaimana dikatakan Mujahid. Karenanya bulan Ramadhan disebut dengan bulan sabar. Sebagaimana disebutkan oleh Al-Qurthubi dan ulama lainnya. Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim karya Ibnu Katsir, 1: 379. 4- Ada yang menyebutkan pula bahwa yang dimaksud sabar dalam ayat adalah menahan diri dari maksiat. Ada perkataan dari Umar bin Al-Khattab radhiyallahu ‘anhu dan Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah bahwa sabar itu ada dua macam. Pertama, sabar dalam menghadapi musibah. Sabar yang lebih baik dari itu adalah sabar dalam meninggalkan yang Allah haramkan. Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 1: 380. 5- Hudzaifah bin Al-Yaman berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika mendapati kesulitan dalam suatu urusan, beliau segera mengerjakan shalat. (HR. Ibnu Jarir dalam kitab tafsirnya, dishahihkan oleh Ahmad Syakir dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ Ash-Shaghir) 6- Orang yang khusyu’ dan tenang dalam shalatnya, shalat akan mudah baginya dan juga ia akan mudah untuk sabar. Demikianlah keterangan dari Syaikh Ibnu ‘Utsaimin dalam Ahkam Al-Qur’an Al-Karim, 1: 208. 7- Sabar akan memudahkan segala macam urusan. Begitu pula shalat yang merupakan timbangan iman dan dapat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar akan memudahkan berbagai urusan. Demikian kata Syaikh As-Sa’di dalam kitab tafsirnya, hlm. 38.   Moga jadi pelajaran berharga.   Referensi: Ahkam Al-Qur’an Al-Karim. Cetakan pertama, tahun 1428 H. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Penerbit Madar Al-Wathan Al-Islami. Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Cetakan pertama, tahun 1431 H. Ibnu Katsir. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Tafsir As-Sa’di. Cetakan kedua, tahun 1433 H. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. Penerbit Muassasah Ar-Risalah. — @ DS, Panggang, Sabtu pagi, 1 Ramadhan 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsrenungan ayat renungan quran sabar shalat

Renungan #08, Jangan Seperti Bani Israil, Baca Taurat Tak Tahu Maknanya

Jangan kita seperti Bani Israil yang pandai baca kitab sucinya namun tak memahami maknanya. Allah Ta’ala berfirman, وَمِنْهُمْ أُمِّيُّونَ لَا يَعْلَمُونَ الْكِتَابَ إِلَّا أَمَانِيَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَظُنُّونَ “Dan di antara mereka ada yang buta huruf, tidak mengetahui Al Kitab (Taurat), kecuali hanya sekedar membacanya saja dan mereka hanya menduga-duga.” (QS. Al-Baqarah: 79)   Faedah dari ayat di atas: 1- Jangan seperti Bani Israil hanya pandai membaca kitab suci mereka (Taurat) namun tidak mengetahui maknanya. Inilah kenapa sampai mereka disebut ummiyyuna. 2- Disebut ummi yang asalnya berarti ibu, dikarenakan orang yang lahir dari perut ibunya tak mengetahui apa-apa. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman, وَاللَّهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ “Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.” (QS. An-Nahl: 78) 3- Bani Israil itu punya sifat ummi dikarenakan mereka pandai membaca kitab suci mereka, namun tidak memahami maknanya. Mereka hanya mencukupkan dengan lafazh saja tanpa mau merenungkan maknanya. 4- Ayat ini menunjukkan celaan bagi orang yang enggak memahami makna Kitabullah. 5- Hendaknya kita lebih konsen juga mempelajari makna Al-Qur’an sehingga tidak jadi seperti Bani Israil. Lihatlah para sahabat radhiyallahu ‘anhum, mereka tidaklah melewati sepuluh ayat sampai mereka menguasai maknanya dan sampai mereka amalkan. 6- Orang yang membaca kitab Allah (Al-Qur’an) tanpa mengetahui maknanya akan terjatuh pada wahm dan zhan (salah paham dan menduga-duga). 7- Berusaha memiliki kitab tafsir yang sudah terkenal dan masyhur di kalangan para ulama (seperti Tafsir Ibnu Katsir yang super lengkap disertai dengan riwayat-riwayat dan Tafsir As-Sa’di yang ringkas namun syarat makna) lalu mengkajinya secara lebih mendalam. Semoga di bulan Ramadhan ini, kita bisa terus menggali faedah ilmu dari ayat demi ayat dari Al-Qur’an. Semoga istiqamah.   Referensi:  Ahkam Al-Qur’an Al-Karim. Cetakan pertama, tahun 1428 H. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Penerbit Madar Al-Wathan Al-Islami. 1: 305-307 — @ DS, Panggang, 1 Ramadhan 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsadab al quran adab quran interaksi al quran renungan ayat renungan quran

Renungan #08, Jangan Seperti Bani Israil, Baca Taurat Tak Tahu Maknanya

Jangan kita seperti Bani Israil yang pandai baca kitab sucinya namun tak memahami maknanya. Allah Ta’ala berfirman, وَمِنْهُمْ أُمِّيُّونَ لَا يَعْلَمُونَ الْكِتَابَ إِلَّا أَمَانِيَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَظُنُّونَ “Dan di antara mereka ada yang buta huruf, tidak mengetahui Al Kitab (Taurat), kecuali hanya sekedar membacanya saja dan mereka hanya menduga-duga.” (QS. Al-Baqarah: 79)   Faedah dari ayat di atas: 1- Jangan seperti Bani Israil hanya pandai membaca kitab suci mereka (Taurat) namun tidak mengetahui maknanya. Inilah kenapa sampai mereka disebut ummiyyuna. 2- Disebut ummi yang asalnya berarti ibu, dikarenakan orang yang lahir dari perut ibunya tak mengetahui apa-apa. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman, وَاللَّهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ “Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.” (QS. An-Nahl: 78) 3- Bani Israil itu punya sifat ummi dikarenakan mereka pandai membaca kitab suci mereka, namun tidak memahami maknanya. Mereka hanya mencukupkan dengan lafazh saja tanpa mau merenungkan maknanya. 4- Ayat ini menunjukkan celaan bagi orang yang enggak memahami makna Kitabullah. 5- Hendaknya kita lebih konsen juga mempelajari makna Al-Qur’an sehingga tidak jadi seperti Bani Israil. Lihatlah para sahabat radhiyallahu ‘anhum, mereka tidaklah melewati sepuluh ayat sampai mereka menguasai maknanya dan sampai mereka amalkan. 6- Orang yang membaca kitab Allah (Al-Qur’an) tanpa mengetahui maknanya akan terjatuh pada wahm dan zhan (salah paham dan menduga-duga). 7- Berusaha memiliki kitab tafsir yang sudah terkenal dan masyhur di kalangan para ulama (seperti Tafsir Ibnu Katsir yang super lengkap disertai dengan riwayat-riwayat dan Tafsir As-Sa’di yang ringkas namun syarat makna) lalu mengkajinya secara lebih mendalam. Semoga di bulan Ramadhan ini, kita bisa terus menggali faedah ilmu dari ayat demi ayat dari Al-Qur’an. Semoga istiqamah.   Referensi:  Ahkam Al-Qur’an Al-Karim. Cetakan pertama, tahun 1428 H. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Penerbit Madar Al-Wathan Al-Islami. 1: 305-307 — @ DS, Panggang, 1 Ramadhan 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsadab al quran adab quran interaksi al quran renungan ayat renungan quran
Jangan kita seperti Bani Israil yang pandai baca kitab sucinya namun tak memahami maknanya. Allah Ta’ala berfirman, وَمِنْهُمْ أُمِّيُّونَ لَا يَعْلَمُونَ الْكِتَابَ إِلَّا أَمَانِيَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَظُنُّونَ “Dan di antara mereka ada yang buta huruf, tidak mengetahui Al Kitab (Taurat), kecuali hanya sekedar membacanya saja dan mereka hanya menduga-duga.” (QS. Al-Baqarah: 79)   Faedah dari ayat di atas: 1- Jangan seperti Bani Israil hanya pandai membaca kitab suci mereka (Taurat) namun tidak mengetahui maknanya. Inilah kenapa sampai mereka disebut ummiyyuna. 2- Disebut ummi yang asalnya berarti ibu, dikarenakan orang yang lahir dari perut ibunya tak mengetahui apa-apa. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman, وَاللَّهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ “Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.” (QS. An-Nahl: 78) 3- Bani Israil itu punya sifat ummi dikarenakan mereka pandai membaca kitab suci mereka, namun tidak memahami maknanya. Mereka hanya mencukupkan dengan lafazh saja tanpa mau merenungkan maknanya. 4- Ayat ini menunjukkan celaan bagi orang yang enggak memahami makna Kitabullah. 5- Hendaknya kita lebih konsen juga mempelajari makna Al-Qur’an sehingga tidak jadi seperti Bani Israil. Lihatlah para sahabat radhiyallahu ‘anhum, mereka tidaklah melewati sepuluh ayat sampai mereka menguasai maknanya dan sampai mereka amalkan. 6- Orang yang membaca kitab Allah (Al-Qur’an) tanpa mengetahui maknanya akan terjatuh pada wahm dan zhan (salah paham dan menduga-duga). 7- Berusaha memiliki kitab tafsir yang sudah terkenal dan masyhur di kalangan para ulama (seperti Tafsir Ibnu Katsir yang super lengkap disertai dengan riwayat-riwayat dan Tafsir As-Sa’di yang ringkas namun syarat makna) lalu mengkajinya secara lebih mendalam. Semoga di bulan Ramadhan ini, kita bisa terus menggali faedah ilmu dari ayat demi ayat dari Al-Qur’an. Semoga istiqamah.   Referensi:  Ahkam Al-Qur’an Al-Karim. Cetakan pertama, tahun 1428 H. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Penerbit Madar Al-Wathan Al-Islami. 1: 305-307 — @ DS, Panggang, 1 Ramadhan 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsadab al quran adab quran interaksi al quran renungan ayat renungan quran


Jangan kita seperti Bani Israil yang pandai baca kitab sucinya namun tak memahami maknanya. Allah Ta’ala berfirman, وَمِنْهُمْ أُمِّيُّونَ لَا يَعْلَمُونَ الْكِتَابَ إِلَّا أَمَانِيَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَظُنُّونَ “Dan di antara mereka ada yang buta huruf, tidak mengetahui Al Kitab (Taurat), kecuali hanya sekedar membacanya saja dan mereka hanya menduga-duga.” (QS. Al-Baqarah: 79)   Faedah dari ayat di atas: 1- Jangan seperti Bani Israil hanya pandai membaca kitab suci mereka (Taurat) namun tidak mengetahui maknanya. Inilah kenapa sampai mereka disebut ummiyyuna. 2- Disebut ummi yang asalnya berarti ibu, dikarenakan orang yang lahir dari perut ibunya tak mengetahui apa-apa. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman, وَاللَّهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ “Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.” (QS. An-Nahl: 78) 3- Bani Israil itu punya sifat ummi dikarenakan mereka pandai membaca kitab suci mereka, namun tidak memahami maknanya. Mereka hanya mencukupkan dengan lafazh saja tanpa mau merenungkan maknanya. 4- Ayat ini menunjukkan celaan bagi orang yang enggak memahami makna Kitabullah. 5- Hendaknya kita lebih konsen juga mempelajari makna Al-Qur’an sehingga tidak jadi seperti Bani Israil. Lihatlah para sahabat radhiyallahu ‘anhum, mereka tidaklah melewati sepuluh ayat sampai mereka menguasai maknanya dan sampai mereka amalkan. 6- Orang yang membaca kitab Allah (Al-Qur’an) tanpa mengetahui maknanya akan terjatuh pada wahm dan zhan (salah paham dan menduga-duga). 7- Berusaha memiliki kitab tafsir yang sudah terkenal dan masyhur di kalangan para ulama (seperti Tafsir Ibnu Katsir yang super lengkap disertai dengan riwayat-riwayat dan Tafsir As-Sa’di yang ringkas namun syarat makna) lalu mengkajinya secara lebih mendalam. Semoga di bulan Ramadhan ini, kita bisa terus menggali faedah ilmu dari ayat demi ayat dari Al-Qur’an. Semoga istiqamah.   Referensi:  Ahkam Al-Qur’an Al-Karim. Cetakan pertama, tahun 1428 H. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Penerbit Madar Al-Wathan Al-Islami. 1: 305-307 — @ DS, Panggang, 1 Ramadhan 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsadab al quran adab quran interaksi al quran renungan ayat renungan quran

Khutbah Jumat: 6 Contoh Maksiat yang Terus Berlanjut di Bulan Ramadhan

Ada beberapa yang masih berlanjut dilakukan di bulan Ramadhan. Khutbah Pertama إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَ مِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِىَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ اللّهُمَّ صَلِّ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الكَرِيْمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا فَإِنَّ أَصْدَقَ الحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ وَأَفْضَلُ الهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ r وَشَرَّ الأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ َوكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِى النَّارِ Jama’ah shalat Jumat yang semoga senantiasa dirahmati dan diberkahi oleh Allah Ta’ala, Segala puji pada Allah, kita memuji-Nya, meminta pertolongan pada-Nya meminta ampunan pada-Nya. Kami berlindung dari kejelekan diri kami dan kejelekan amal kami. Siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya. Siapa yang disesatkan oleh Allah, tidak ada yang bisa memberi petunjuk padanya. Segala puji pada Allah, kita memuji-Nya, meminta pertolongan pada-Nya meminta ampunan pada-Nya. Kami berlindung dari kejelekan diri kami dan kejelekan amal kami. Siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya. Siapa yang disesatkan oleh Allah, tidak ada yang bisa memberi petunjuk padanya. Aku bersaksi bahwa tidak ada yang berhak disembah selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Semoga shalawat tercurah pada Nabi kita Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam-, keluarga dan sahabat-Nya serta yang mengikuti mereka dengan baik hingga akhir zaman.   Para jama’ah rahimani wa rahimakumullah …   Di bulan Ramadhan kita punya kewajiban untuk berpuasa. Ditambah lagi bulan tersebut, kita diperintahkan untuk memperbanyak amal shalih, seperti membaca Al-Qur’an, shalat malam, shalat sunnah hingga sedekah. Allah Ta’ala berfirman, شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآَنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ “(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu.” (QS. Al Baqarah: 185) Ketika bulan Ramadhan tiba, kebaikan akan semakin semangat dilakukan dan kejelakan akan semakin berkurang. Bukti hal ini dapat dilihat dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ “Apabila Ramadhan tiba, pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, dan setan dibelenggu.” (HR. Bukhari, no. 1899 dan Muslim, no. 1079). Juga dalam hadits lainnya, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِذَا كَانَ أَوَّلُ لَيْلَةٍ مِنْ شَهْرِ رَمَضَانَ صُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ وَمَرَدَةُ الْجِنِّ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ فَلَمْ يُفْتَحْ مِنْهَا بَابٌ وَفُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ فَلَمْ يُغْلَقْ مِنْهَا بَابٌ وَيُنَادِى مُنَادٍ يَا بَاغِىَ الْخَيْرِ أَقْبِلْ وَيَا بَاغِىَ الشَّرِّ أَقْصِرْ وَلِلَّهِ عُتَقَاءُ مِنَ النَّارِ وَذَلِكَ كُلَّ لَيْلَةٍ “Pada malam pertama bulan Ramadhan setan-setan dan jin-jin yang jahat dibelenggu, pintu-pintu neraka ditutup, tidak ada satu pun pintu yang terbuka dan pintu-pintu surga dibuka, tidak ada satu pun pintu yang tertutup, serta seorang penyeru menyeru: “Wahai yang mengharapkan kebaikan bersegeralah (kepada ketaatan), wahai yang mengharapkan keburukan/maksiat berhentilah”. Allah memiliki hamba-hamba yang selamat dari api neraka pada setiap malam di bulan Ramadhan.” (HR. Tirmidzi, no. 682 dan Ibnu Majah, no. 1642. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan) Syaikh Ibrahim bin ‘Amir Ar Ruhaili hafizahullah dalam kitab Tajridul Ittiba’ (hlm. 118) mengatakan, “Dalil ini menunjukkan keutamaan seluruh amalan kebaikan yang dilakukan di bulan Ramadhan, lebih-lebih lagi amalan qiyam Ramadhan (shalat tarawih) setelah puasa wajib.” Memang terbukti bahwa kebaikan akan semangat kita lakukan, sedangkan maksiat akan semakin berkurang ketika masuk bulan Ramadhan. Seperti itu kenyataannya. Namun maksiat masih saja terjadi. Di bulan Ramadhan, tindak pencurian, perselingkuhan, hingga dosa terbesar yaitu kesyirikan masih saja ada. Kenapa demikian? Disebutkan oleh Abul ‘Abbas Al-Qurthubi rahimahullah: Setan diikat dari orang yang menjalankan puasa yang memperhatikan syarat dan adab saat berpuasa. Adapun yang tidak menjalankan puasa dengan benar, maka setan tidaklah terbelenggu darinya. Seandainya pun kita katakan bahwa setan tidak mengganggu orang yang berpuasa, tetap saja maksiat bisa terjadi dengan sebab lain yaitu dorongan hawa nafsu yang selalu mengajak pada kejelekan, adat kebiasaan dan gangguan dari setan manusia. Bisa juga maksudnya bahwa setan yang diikat adalah umumnya setan dan yang memiliki pasukan sedangkan yang tidak memiliki pasukan tidaklah dibelenggu. Intinya maksudnya adalah kejelekan itu berkurang di bulan Ramadhan. Ini nyata terjadi dibandingkan dengan bulan lainnya. (Al-Mufhim lima Asykala min Takhlis Kitab Muslim, 3: 136)   Para jama’ah rahimani wa rahimakumullah … Kalau kebaikan akan berlipat pahalanya jika dilakukan di bulan Ramadhan, bagaimana dengan maksiat, apakah semakin besar dosanya? Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan dalam Syarh Al-Mumthi’, “Kebaikan bisa berlipat, dosa pun demikian dilihat dari tempat dan waktu. Kebaikan itu berlipat dilihat dari kammiyah (kuantitas atau jumlah) dan kayfiyah (kualitas). Adapun dosa berlipat-lipat dilihat dari kayfiyah (kualitas), bukan dari kammiyah (kuantitas). [Maksudnya: dosa tidak dilipatgandakan dari sisi jumlah, namun dipandang dari sisi besarnya].”   Para jama’ah rahimani wa rahimakumullah … Demikian khutbah pertama ini. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا َوَاسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ إِنَّهُ هُوَ السَمِيْعُ العَلِيْمُ Khutbah Kedua الحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالمِيْنَ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَافِ الأَنْبِيَاءِ وَالمرْسَلِيْنَ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga tercurah pada nabi termulia dari para nabi dan rasul, yaitu kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, kepada keluarga dan seluruh sahabatnya.   Para jama’ah rahimani wa rahimakumullah … Jika kita sudah tahu besarnya dosa yang dilakukan di bulan Ramadhan karena Ramadhan itu bulan suci, maka ada beberapa contoh maksiat di bulan Ramadhan yang masih terus dilakukan oleh orang yang berpuasa: Mudah meninggalkan shalat, seperti shalat Shubuh karena sehabis sahur langsung tidur. Laki-laki masih malas shalat berjamaah di masjid. Perempuan enggan berjilbab bahkan terus-terusan memakai pakaian seksi dan ketat saat puasa. Padahal mengumbar aurat itu dosa besar, menjadikan puasa sia-sia. Bagi kita diharapkan mengingatkan wanita terdekat kita (istri dan puteri kita) untuk berjilbab dan menutupi aurat, moga Allah memberi hidayah. Muda-mudi jalan berdua dengan kekasihnya (pacarnya) hingga ngabuburit menunggu buka dengan pacar. Pacaran itu jalan menuju zina atau zina kecil-kecilan. Membicaran jelek orang lain (ghibah) walau itu nyata ada pada orang lain, hingga suka memfitnah (menuduh jelek orang lain tanpa bukti). Mementingkan buka puasa bersama dengan teman atau rekan kerja dibandingkan shalat Maghrib, bahkan shalat sampai ditinggalkan. Ingat, meninggalkan satu shalat saja, itu akan menghapus amal. Dari Burairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ تَرَكَ صَلاَةَ الْعَصْرِ فَقَدْ حَبِطَ عَمَلُهُ “Barangsiapa meninggalkan shalat Ashar, maka terhapuslah amalannya” (HR. Bukhari, no. 594). Di antara maksud hadits sebagaimana kata Ibnul Qayyim dalam kitabnya Ash-Shalah adalah akan menghapus amalan pada hari tersebut. Jika demikian, apakah puasa orang yang meninggalkan shalat walau satu saja jadi diterima? Silakan direnungkan. Dan ingat, para jamaah shalat Jumat sekalian, yang namanya maksiat akan menghancurkan pahala orang yang berpuasa walau secara hukum puasa tetap sah selama yang dilakukan bukan pembatal puasa. Moga kita dimudahkan oleh Allah untuk menjauhi segala macam maksiat di bulan Ramadhan dan waktu seterusnya. Semoga kita dimudahkan oleh Allah menjadi lebih baik selepas Ramadhan, itulah tekad dan harapan kita.   Di akhir khutbah ini, kami ingatkan untuk bershalawat pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Siapa yang bershalawat pada beliau sekali, akan dibalas sepuluh kali. إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ Marilah kita berdoa pada Allah, moga setiap doa kita diperkenankan di Jumat penuh berkah ini. اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَةِ رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ، وَجَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَسْمَاعِنَا، وَأَبْصَارِنَا، وَقُلُوبِنَا، وَأَزْوَاجِنَا، وَذُرِّيَّاتِنَا، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ، وَاجْعَلْنَا شَاكِرِينَ لِنِعَمِكَ مُثْنِينَ بِهَا عَلَيْكَ، قَابِلِينَ لَهَا، وَأَتِمِمْهَا عَلَيْنَا رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن. وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ Naskah Khutbah Jumat Jami’ Al-Adha Pesantren Darush Sholihin, Warak, Girisekar, Panggang, Jum’at Legi, 29 Syaban 1438 H (26 Mei 2017) Download Naskah: Khutbah Jumat: 6 Contoh Maksiat yang Terus Berlanjut di Bulan Ramadhan — Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsdosa besar keutamaan puasa khutbah jumat ramadhan maksiat ramadhan

Khutbah Jumat: 6 Contoh Maksiat yang Terus Berlanjut di Bulan Ramadhan

Ada beberapa yang masih berlanjut dilakukan di bulan Ramadhan. Khutbah Pertama إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَ مِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِىَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ اللّهُمَّ صَلِّ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الكَرِيْمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا فَإِنَّ أَصْدَقَ الحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ وَأَفْضَلُ الهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ r وَشَرَّ الأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ َوكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِى النَّارِ Jama’ah shalat Jumat yang semoga senantiasa dirahmati dan diberkahi oleh Allah Ta’ala, Segala puji pada Allah, kita memuji-Nya, meminta pertolongan pada-Nya meminta ampunan pada-Nya. Kami berlindung dari kejelekan diri kami dan kejelekan amal kami. Siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya. Siapa yang disesatkan oleh Allah, tidak ada yang bisa memberi petunjuk padanya. Segala puji pada Allah, kita memuji-Nya, meminta pertolongan pada-Nya meminta ampunan pada-Nya. Kami berlindung dari kejelekan diri kami dan kejelekan amal kami. Siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya. Siapa yang disesatkan oleh Allah, tidak ada yang bisa memberi petunjuk padanya. Aku bersaksi bahwa tidak ada yang berhak disembah selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Semoga shalawat tercurah pada Nabi kita Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam-, keluarga dan sahabat-Nya serta yang mengikuti mereka dengan baik hingga akhir zaman.   Para jama’ah rahimani wa rahimakumullah …   Di bulan Ramadhan kita punya kewajiban untuk berpuasa. Ditambah lagi bulan tersebut, kita diperintahkan untuk memperbanyak amal shalih, seperti membaca Al-Qur’an, shalat malam, shalat sunnah hingga sedekah. Allah Ta’ala berfirman, شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآَنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ “(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu.” (QS. Al Baqarah: 185) Ketika bulan Ramadhan tiba, kebaikan akan semakin semangat dilakukan dan kejelakan akan semakin berkurang. Bukti hal ini dapat dilihat dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ “Apabila Ramadhan tiba, pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, dan setan dibelenggu.” (HR. Bukhari, no. 1899 dan Muslim, no. 1079). Juga dalam hadits lainnya, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِذَا كَانَ أَوَّلُ لَيْلَةٍ مِنْ شَهْرِ رَمَضَانَ صُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ وَمَرَدَةُ الْجِنِّ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ فَلَمْ يُفْتَحْ مِنْهَا بَابٌ وَفُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ فَلَمْ يُغْلَقْ مِنْهَا بَابٌ وَيُنَادِى مُنَادٍ يَا بَاغِىَ الْخَيْرِ أَقْبِلْ وَيَا بَاغِىَ الشَّرِّ أَقْصِرْ وَلِلَّهِ عُتَقَاءُ مِنَ النَّارِ وَذَلِكَ كُلَّ لَيْلَةٍ “Pada malam pertama bulan Ramadhan setan-setan dan jin-jin yang jahat dibelenggu, pintu-pintu neraka ditutup, tidak ada satu pun pintu yang terbuka dan pintu-pintu surga dibuka, tidak ada satu pun pintu yang tertutup, serta seorang penyeru menyeru: “Wahai yang mengharapkan kebaikan bersegeralah (kepada ketaatan), wahai yang mengharapkan keburukan/maksiat berhentilah”. Allah memiliki hamba-hamba yang selamat dari api neraka pada setiap malam di bulan Ramadhan.” (HR. Tirmidzi, no. 682 dan Ibnu Majah, no. 1642. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan) Syaikh Ibrahim bin ‘Amir Ar Ruhaili hafizahullah dalam kitab Tajridul Ittiba’ (hlm. 118) mengatakan, “Dalil ini menunjukkan keutamaan seluruh amalan kebaikan yang dilakukan di bulan Ramadhan, lebih-lebih lagi amalan qiyam Ramadhan (shalat tarawih) setelah puasa wajib.” Memang terbukti bahwa kebaikan akan semangat kita lakukan, sedangkan maksiat akan semakin berkurang ketika masuk bulan Ramadhan. Seperti itu kenyataannya. Namun maksiat masih saja terjadi. Di bulan Ramadhan, tindak pencurian, perselingkuhan, hingga dosa terbesar yaitu kesyirikan masih saja ada. Kenapa demikian? Disebutkan oleh Abul ‘Abbas Al-Qurthubi rahimahullah: Setan diikat dari orang yang menjalankan puasa yang memperhatikan syarat dan adab saat berpuasa. Adapun yang tidak menjalankan puasa dengan benar, maka setan tidaklah terbelenggu darinya. Seandainya pun kita katakan bahwa setan tidak mengganggu orang yang berpuasa, tetap saja maksiat bisa terjadi dengan sebab lain yaitu dorongan hawa nafsu yang selalu mengajak pada kejelekan, adat kebiasaan dan gangguan dari setan manusia. Bisa juga maksudnya bahwa setan yang diikat adalah umumnya setan dan yang memiliki pasukan sedangkan yang tidak memiliki pasukan tidaklah dibelenggu. Intinya maksudnya adalah kejelekan itu berkurang di bulan Ramadhan. Ini nyata terjadi dibandingkan dengan bulan lainnya. (Al-Mufhim lima Asykala min Takhlis Kitab Muslim, 3: 136)   Para jama’ah rahimani wa rahimakumullah … Kalau kebaikan akan berlipat pahalanya jika dilakukan di bulan Ramadhan, bagaimana dengan maksiat, apakah semakin besar dosanya? Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan dalam Syarh Al-Mumthi’, “Kebaikan bisa berlipat, dosa pun demikian dilihat dari tempat dan waktu. Kebaikan itu berlipat dilihat dari kammiyah (kuantitas atau jumlah) dan kayfiyah (kualitas). Adapun dosa berlipat-lipat dilihat dari kayfiyah (kualitas), bukan dari kammiyah (kuantitas). [Maksudnya: dosa tidak dilipatgandakan dari sisi jumlah, namun dipandang dari sisi besarnya].”   Para jama’ah rahimani wa rahimakumullah … Demikian khutbah pertama ini. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا َوَاسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ إِنَّهُ هُوَ السَمِيْعُ العَلِيْمُ Khutbah Kedua الحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالمِيْنَ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَافِ الأَنْبِيَاءِ وَالمرْسَلِيْنَ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga tercurah pada nabi termulia dari para nabi dan rasul, yaitu kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, kepada keluarga dan seluruh sahabatnya.   Para jama’ah rahimani wa rahimakumullah … Jika kita sudah tahu besarnya dosa yang dilakukan di bulan Ramadhan karena Ramadhan itu bulan suci, maka ada beberapa contoh maksiat di bulan Ramadhan yang masih terus dilakukan oleh orang yang berpuasa: Mudah meninggalkan shalat, seperti shalat Shubuh karena sehabis sahur langsung tidur. Laki-laki masih malas shalat berjamaah di masjid. Perempuan enggan berjilbab bahkan terus-terusan memakai pakaian seksi dan ketat saat puasa. Padahal mengumbar aurat itu dosa besar, menjadikan puasa sia-sia. Bagi kita diharapkan mengingatkan wanita terdekat kita (istri dan puteri kita) untuk berjilbab dan menutupi aurat, moga Allah memberi hidayah. Muda-mudi jalan berdua dengan kekasihnya (pacarnya) hingga ngabuburit menunggu buka dengan pacar. Pacaran itu jalan menuju zina atau zina kecil-kecilan. Membicaran jelek orang lain (ghibah) walau itu nyata ada pada orang lain, hingga suka memfitnah (menuduh jelek orang lain tanpa bukti). Mementingkan buka puasa bersama dengan teman atau rekan kerja dibandingkan shalat Maghrib, bahkan shalat sampai ditinggalkan. Ingat, meninggalkan satu shalat saja, itu akan menghapus amal. Dari Burairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ تَرَكَ صَلاَةَ الْعَصْرِ فَقَدْ حَبِطَ عَمَلُهُ “Barangsiapa meninggalkan shalat Ashar, maka terhapuslah amalannya” (HR. Bukhari, no. 594). Di antara maksud hadits sebagaimana kata Ibnul Qayyim dalam kitabnya Ash-Shalah adalah akan menghapus amalan pada hari tersebut. Jika demikian, apakah puasa orang yang meninggalkan shalat walau satu saja jadi diterima? Silakan direnungkan. Dan ingat, para jamaah shalat Jumat sekalian, yang namanya maksiat akan menghancurkan pahala orang yang berpuasa walau secara hukum puasa tetap sah selama yang dilakukan bukan pembatal puasa. Moga kita dimudahkan oleh Allah untuk menjauhi segala macam maksiat di bulan Ramadhan dan waktu seterusnya. Semoga kita dimudahkan oleh Allah menjadi lebih baik selepas Ramadhan, itulah tekad dan harapan kita.   Di akhir khutbah ini, kami ingatkan untuk bershalawat pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Siapa yang bershalawat pada beliau sekali, akan dibalas sepuluh kali. إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ Marilah kita berdoa pada Allah, moga setiap doa kita diperkenankan di Jumat penuh berkah ini. اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَةِ رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ، وَجَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَسْمَاعِنَا، وَأَبْصَارِنَا، وَقُلُوبِنَا، وَأَزْوَاجِنَا، وَذُرِّيَّاتِنَا، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ، وَاجْعَلْنَا شَاكِرِينَ لِنِعَمِكَ مُثْنِينَ بِهَا عَلَيْكَ، قَابِلِينَ لَهَا، وَأَتِمِمْهَا عَلَيْنَا رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن. وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ Naskah Khutbah Jumat Jami’ Al-Adha Pesantren Darush Sholihin, Warak, Girisekar, Panggang, Jum’at Legi, 29 Syaban 1438 H (26 Mei 2017) Download Naskah: Khutbah Jumat: 6 Contoh Maksiat yang Terus Berlanjut di Bulan Ramadhan — Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsdosa besar keutamaan puasa khutbah jumat ramadhan maksiat ramadhan
Ada beberapa yang masih berlanjut dilakukan di bulan Ramadhan. Khutbah Pertama إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَ مِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِىَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ اللّهُمَّ صَلِّ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الكَرِيْمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا فَإِنَّ أَصْدَقَ الحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ وَأَفْضَلُ الهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ r وَشَرَّ الأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ َوكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِى النَّارِ Jama’ah shalat Jumat yang semoga senantiasa dirahmati dan diberkahi oleh Allah Ta’ala, Segala puji pada Allah, kita memuji-Nya, meminta pertolongan pada-Nya meminta ampunan pada-Nya. Kami berlindung dari kejelekan diri kami dan kejelekan amal kami. Siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya. Siapa yang disesatkan oleh Allah, tidak ada yang bisa memberi petunjuk padanya. Segala puji pada Allah, kita memuji-Nya, meminta pertolongan pada-Nya meminta ampunan pada-Nya. Kami berlindung dari kejelekan diri kami dan kejelekan amal kami. Siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya. Siapa yang disesatkan oleh Allah, tidak ada yang bisa memberi petunjuk padanya. Aku bersaksi bahwa tidak ada yang berhak disembah selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Semoga shalawat tercurah pada Nabi kita Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam-, keluarga dan sahabat-Nya serta yang mengikuti mereka dengan baik hingga akhir zaman.   Para jama’ah rahimani wa rahimakumullah …   Di bulan Ramadhan kita punya kewajiban untuk berpuasa. Ditambah lagi bulan tersebut, kita diperintahkan untuk memperbanyak amal shalih, seperti membaca Al-Qur’an, shalat malam, shalat sunnah hingga sedekah. Allah Ta’ala berfirman, شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآَنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ “(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu.” (QS. Al Baqarah: 185) Ketika bulan Ramadhan tiba, kebaikan akan semakin semangat dilakukan dan kejelakan akan semakin berkurang. Bukti hal ini dapat dilihat dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ “Apabila Ramadhan tiba, pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, dan setan dibelenggu.” (HR. Bukhari, no. 1899 dan Muslim, no. 1079). Juga dalam hadits lainnya, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِذَا كَانَ أَوَّلُ لَيْلَةٍ مِنْ شَهْرِ رَمَضَانَ صُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ وَمَرَدَةُ الْجِنِّ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ فَلَمْ يُفْتَحْ مِنْهَا بَابٌ وَفُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ فَلَمْ يُغْلَقْ مِنْهَا بَابٌ وَيُنَادِى مُنَادٍ يَا بَاغِىَ الْخَيْرِ أَقْبِلْ وَيَا بَاغِىَ الشَّرِّ أَقْصِرْ وَلِلَّهِ عُتَقَاءُ مِنَ النَّارِ وَذَلِكَ كُلَّ لَيْلَةٍ “Pada malam pertama bulan Ramadhan setan-setan dan jin-jin yang jahat dibelenggu, pintu-pintu neraka ditutup, tidak ada satu pun pintu yang terbuka dan pintu-pintu surga dibuka, tidak ada satu pun pintu yang tertutup, serta seorang penyeru menyeru: “Wahai yang mengharapkan kebaikan bersegeralah (kepada ketaatan), wahai yang mengharapkan keburukan/maksiat berhentilah”. Allah memiliki hamba-hamba yang selamat dari api neraka pada setiap malam di bulan Ramadhan.” (HR. Tirmidzi, no. 682 dan Ibnu Majah, no. 1642. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan) Syaikh Ibrahim bin ‘Amir Ar Ruhaili hafizahullah dalam kitab Tajridul Ittiba’ (hlm. 118) mengatakan, “Dalil ini menunjukkan keutamaan seluruh amalan kebaikan yang dilakukan di bulan Ramadhan, lebih-lebih lagi amalan qiyam Ramadhan (shalat tarawih) setelah puasa wajib.” Memang terbukti bahwa kebaikan akan semangat kita lakukan, sedangkan maksiat akan semakin berkurang ketika masuk bulan Ramadhan. Seperti itu kenyataannya. Namun maksiat masih saja terjadi. Di bulan Ramadhan, tindak pencurian, perselingkuhan, hingga dosa terbesar yaitu kesyirikan masih saja ada. Kenapa demikian? Disebutkan oleh Abul ‘Abbas Al-Qurthubi rahimahullah: Setan diikat dari orang yang menjalankan puasa yang memperhatikan syarat dan adab saat berpuasa. Adapun yang tidak menjalankan puasa dengan benar, maka setan tidaklah terbelenggu darinya. Seandainya pun kita katakan bahwa setan tidak mengganggu orang yang berpuasa, tetap saja maksiat bisa terjadi dengan sebab lain yaitu dorongan hawa nafsu yang selalu mengajak pada kejelekan, adat kebiasaan dan gangguan dari setan manusia. Bisa juga maksudnya bahwa setan yang diikat adalah umumnya setan dan yang memiliki pasukan sedangkan yang tidak memiliki pasukan tidaklah dibelenggu. Intinya maksudnya adalah kejelekan itu berkurang di bulan Ramadhan. Ini nyata terjadi dibandingkan dengan bulan lainnya. (Al-Mufhim lima Asykala min Takhlis Kitab Muslim, 3: 136)   Para jama’ah rahimani wa rahimakumullah … Kalau kebaikan akan berlipat pahalanya jika dilakukan di bulan Ramadhan, bagaimana dengan maksiat, apakah semakin besar dosanya? Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan dalam Syarh Al-Mumthi’, “Kebaikan bisa berlipat, dosa pun demikian dilihat dari tempat dan waktu. Kebaikan itu berlipat dilihat dari kammiyah (kuantitas atau jumlah) dan kayfiyah (kualitas). Adapun dosa berlipat-lipat dilihat dari kayfiyah (kualitas), bukan dari kammiyah (kuantitas). [Maksudnya: dosa tidak dilipatgandakan dari sisi jumlah, namun dipandang dari sisi besarnya].”   Para jama’ah rahimani wa rahimakumullah … Demikian khutbah pertama ini. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا َوَاسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ إِنَّهُ هُوَ السَمِيْعُ العَلِيْمُ Khutbah Kedua الحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالمِيْنَ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَافِ الأَنْبِيَاءِ وَالمرْسَلِيْنَ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga tercurah pada nabi termulia dari para nabi dan rasul, yaitu kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, kepada keluarga dan seluruh sahabatnya.   Para jama’ah rahimani wa rahimakumullah … Jika kita sudah tahu besarnya dosa yang dilakukan di bulan Ramadhan karena Ramadhan itu bulan suci, maka ada beberapa contoh maksiat di bulan Ramadhan yang masih terus dilakukan oleh orang yang berpuasa: Mudah meninggalkan shalat, seperti shalat Shubuh karena sehabis sahur langsung tidur. Laki-laki masih malas shalat berjamaah di masjid. Perempuan enggan berjilbab bahkan terus-terusan memakai pakaian seksi dan ketat saat puasa. Padahal mengumbar aurat itu dosa besar, menjadikan puasa sia-sia. Bagi kita diharapkan mengingatkan wanita terdekat kita (istri dan puteri kita) untuk berjilbab dan menutupi aurat, moga Allah memberi hidayah. Muda-mudi jalan berdua dengan kekasihnya (pacarnya) hingga ngabuburit menunggu buka dengan pacar. Pacaran itu jalan menuju zina atau zina kecil-kecilan. Membicaran jelek orang lain (ghibah) walau itu nyata ada pada orang lain, hingga suka memfitnah (menuduh jelek orang lain tanpa bukti). Mementingkan buka puasa bersama dengan teman atau rekan kerja dibandingkan shalat Maghrib, bahkan shalat sampai ditinggalkan. Ingat, meninggalkan satu shalat saja, itu akan menghapus amal. Dari Burairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ تَرَكَ صَلاَةَ الْعَصْرِ فَقَدْ حَبِطَ عَمَلُهُ “Barangsiapa meninggalkan shalat Ashar, maka terhapuslah amalannya” (HR. Bukhari, no. 594). Di antara maksud hadits sebagaimana kata Ibnul Qayyim dalam kitabnya Ash-Shalah adalah akan menghapus amalan pada hari tersebut. Jika demikian, apakah puasa orang yang meninggalkan shalat walau satu saja jadi diterima? Silakan direnungkan. Dan ingat, para jamaah shalat Jumat sekalian, yang namanya maksiat akan menghancurkan pahala orang yang berpuasa walau secara hukum puasa tetap sah selama yang dilakukan bukan pembatal puasa. Moga kita dimudahkan oleh Allah untuk menjauhi segala macam maksiat di bulan Ramadhan dan waktu seterusnya. Semoga kita dimudahkan oleh Allah menjadi lebih baik selepas Ramadhan, itulah tekad dan harapan kita.   Di akhir khutbah ini, kami ingatkan untuk bershalawat pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Siapa yang bershalawat pada beliau sekali, akan dibalas sepuluh kali. إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ Marilah kita berdoa pada Allah, moga setiap doa kita diperkenankan di Jumat penuh berkah ini. اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَةِ رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ، وَجَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَسْمَاعِنَا، وَأَبْصَارِنَا، وَقُلُوبِنَا، وَأَزْوَاجِنَا، وَذُرِّيَّاتِنَا، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ، وَاجْعَلْنَا شَاكِرِينَ لِنِعَمِكَ مُثْنِينَ بِهَا عَلَيْكَ، قَابِلِينَ لَهَا، وَأَتِمِمْهَا عَلَيْنَا رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن. وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ Naskah Khutbah Jumat Jami’ Al-Adha Pesantren Darush Sholihin, Warak, Girisekar, Panggang, Jum’at Legi, 29 Syaban 1438 H (26 Mei 2017) Download Naskah: Khutbah Jumat: 6 Contoh Maksiat yang Terus Berlanjut di Bulan Ramadhan — Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsdosa besar keutamaan puasa khutbah jumat ramadhan maksiat ramadhan


Ada beberapa yang masih berlanjut dilakukan di bulan Ramadhan. Khutbah Pertama إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَ مِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِىَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ اللّهُمَّ صَلِّ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الكَرِيْمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا فَإِنَّ أَصْدَقَ الحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ وَأَفْضَلُ الهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ r وَشَرَّ الأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ َوكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِى النَّارِ Jama’ah shalat Jumat yang semoga senantiasa dirahmati dan diberkahi oleh Allah Ta’ala, Segala puji pada Allah, kita memuji-Nya, meminta pertolongan pada-Nya meminta ampunan pada-Nya. Kami berlindung dari kejelekan diri kami dan kejelekan amal kami. Siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya. Siapa yang disesatkan oleh Allah, tidak ada yang bisa memberi petunjuk padanya. Segala puji pada Allah, kita memuji-Nya, meminta pertolongan pada-Nya meminta ampunan pada-Nya. Kami berlindung dari kejelekan diri kami dan kejelekan amal kami. Siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya. Siapa yang disesatkan oleh Allah, tidak ada yang bisa memberi petunjuk padanya. Aku bersaksi bahwa tidak ada yang berhak disembah selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Semoga shalawat tercurah pada Nabi kita Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam-, keluarga dan sahabat-Nya serta yang mengikuti mereka dengan baik hingga akhir zaman.   Para jama’ah rahimani wa rahimakumullah …   Di bulan Ramadhan kita punya kewajiban untuk berpuasa. Ditambah lagi bulan tersebut, kita diperintahkan untuk memperbanyak amal shalih, seperti membaca Al-Qur’an, shalat malam, shalat sunnah hingga sedekah. Allah Ta’ala berfirman, شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآَنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ “(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu.” (QS. Al Baqarah: 185) Ketika bulan Ramadhan tiba, kebaikan akan semakin semangat dilakukan dan kejelakan akan semakin berkurang. Bukti hal ini dapat dilihat dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ “Apabila Ramadhan tiba, pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, dan setan dibelenggu.” (HR. Bukhari, no. 1899 dan Muslim, no. 1079). Juga dalam hadits lainnya, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِذَا كَانَ أَوَّلُ لَيْلَةٍ مِنْ شَهْرِ رَمَضَانَ صُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ وَمَرَدَةُ الْجِنِّ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ فَلَمْ يُفْتَحْ مِنْهَا بَابٌ وَفُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ فَلَمْ يُغْلَقْ مِنْهَا بَابٌ وَيُنَادِى مُنَادٍ يَا بَاغِىَ الْخَيْرِ أَقْبِلْ وَيَا بَاغِىَ الشَّرِّ أَقْصِرْ وَلِلَّهِ عُتَقَاءُ مِنَ النَّارِ وَذَلِكَ كُلَّ لَيْلَةٍ “Pada malam pertama bulan Ramadhan setan-setan dan jin-jin yang jahat dibelenggu, pintu-pintu neraka ditutup, tidak ada satu pun pintu yang terbuka dan pintu-pintu surga dibuka, tidak ada satu pun pintu yang tertutup, serta seorang penyeru menyeru: “Wahai yang mengharapkan kebaikan bersegeralah (kepada ketaatan), wahai yang mengharapkan keburukan/maksiat berhentilah”. Allah memiliki hamba-hamba yang selamat dari api neraka pada setiap malam di bulan Ramadhan.” (HR. Tirmidzi, no. 682 dan Ibnu Majah, no. 1642. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan) Syaikh Ibrahim bin ‘Amir Ar Ruhaili hafizahullah dalam kitab Tajridul Ittiba’ (hlm. 118) mengatakan, “Dalil ini menunjukkan keutamaan seluruh amalan kebaikan yang dilakukan di bulan Ramadhan, lebih-lebih lagi amalan qiyam Ramadhan (shalat tarawih) setelah puasa wajib.” Memang terbukti bahwa kebaikan akan semangat kita lakukan, sedangkan maksiat akan semakin berkurang ketika masuk bulan Ramadhan. Seperti itu kenyataannya. Namun maksiat masih saja terjadi. Di bulan Ramadhan, tindak pencurian, perselingkuhan, hingga dosa terbesar yaitu kesyirikan masih saja ada. Kenapa demikian? Disebutkan oleh Abul ‘Abbas Al-Qurthubi rahimahullah: Setan diikat dari orang yang menjalankan puasa yang memperhatikan syarat dan adab saat berpuasa. Adapun yang tidak menjalankan puasa dengan benar, maka setan tidaklah terbelenggu darinya. Seandainya pun kita katakan bahwa setan tidak mengganggu orang yang berpuasa, tetap saja maksiat bisa terjadi dengan sebab lain yaitu dorongan hawa nafsu yang selalu mengajak pada kejelekan, adat kebiasaan dan gangguan dari setan manusia. Bisa juga maksudnya bahwa setan yang diikat adalah umumnya setan dan yang memiliki pasukan sedangkan yang tidak memiliki pasukan tidaklah dibelenggu. Intinya maksudnya adalah kejelekan itu berkurang di bulan Ramadhan. Ini nyata terjadi dibandingkan dengan bulan lainnya. (Al-Mufhim lima Asykala min Takhlis Kitab Muslim, 3: 136)   Para jama’ah rahimani wa rahimakumullah … Kalau kebaikan akan berlipat pahalanya jika dilakukan di bulan Ramadhan, bagaimana dengan maksiat, apakah semakin besar dosanya? Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan dalam Syarh Al-Mumthi’, “Kebaikan bisa berlipat, dosa pun demikian dilihat dari tempat dan waktu. Kebaikan itu berlipat dilihat dari kammiyah (kuantitas atau jumlah) dan kayfiyah (kualitas). Adapun dosa berlipat-lipat dilihat dari kayfiyah (kualitas), bukan dari kammiyah (kuantitas). [Maksudnya: dosa tidak dilipatgandakan dari sisi jumlah, namun dipandang dari sisi besarnya].”   Para jama’ah rahimani wa rahimakumullah … Demikian khutbah pertama ini. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا َوَاسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ إِنَّهُ هُوَ السَمِيْعُ العَلِيْمُ Khutbah Kedua الحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالمِيْنَ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَافِ الأَنْبِيَاءِ وَالمرْسَلِيْنَ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga tercurah pada nabi termulia dari para nabi dan rasul, yaitu kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, kepada keluarga dan seluruh sahabatnya.   Para jama’ah rahimani wa rahimakumullah … Jika kita sudah tahu besarnya dosa yang dilakukan di bulan Ramadhan karena Ramadhan itu bulan suci, maka ada beberapa contoh maksiat di bulan Ramadhan yang masih terus dilakukan oleh orang yang berpuasa: Mudah meninggalkan shalat, seperti shalat Shubuh karena sehabis sahur langsung tidur. Laki-laki masih malas shalat berjamaah di masjid. Perempuan enggan berjilbab bahkan terus-terusan memakai pakaian seksi dan ketat saat puasa. Padahal mengumbar aurat itu dosa besar, menjadikan puasa sia-sia. Bagi kita diharapkan mengingatkan wanita terdekat kita (istri dan puteri kita) untuk berjilbab dan menutupi aurat, moga Allah memberi hidayah. Muda-mudi jalan berdua dengan kekasihnya (pacarnya) hingga ngabuburit menunggu buka dengan pacar. Pacaran itu jalan menuju zina atau zina kecil-kecilan. Membicaran jelek orang lain (ghibah) walau itu nyata ada pada orang lain, hingga suka memfitnah (menuduh jelek orang lain tanpa bukti). Mementingkan buka puasa bersama dengan teman atau rekan kerja dibandingkan shalat Maghrib, bahkan shalat sampai ditinggalkan. Ingat, meninggalkan satu shalat saja, itu akan menghapus amal. Dari Burairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ تَرَكَ صَلاَةَ الْعَصْرِ فَقَدْ حَبِطَ عَمَلُهُ “Barangsiapa meninggalkan shalat Ashar, maka terhapuslah amalannya” (HR. Bukhari, no. 594). Di antara maksud hadits sebagaimana kata Ibnul Qayyim dalam kitabnya Ash-Shalah adalah akan menghapus amalan pada hari tersebut. Jika demikian, apakah puasa orang yang meninggalkan shalat walau satu saja jadi diterima? Silakan direnungkan. Dan ingat, para jamaah shalat Jumat sekalian, yang namanya maksiat akan menghancurkan pahala orang yang berpuasa walau secara hukum puasa tetap sah selama yang dilakukan bukan pembatal puasa. Moga kita dimudahkan oleh Allah untuk menjauhi segala macam maksiat di bulan Ramadhan dan waktu seterusnya. Semoga kita dimudahkan oleh Allah menjadi lebih baik selepas Ramadhan, itulah tekad dan harapan kita.   Di akhir khutbah ini, kami ingatkan untuk bershalawat pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Siapa yang bershalawat pada beliau sekali, akan dibalas sepuluh kali. إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ Marilah kita berdoa pada Allah, moga setiap doa kita diperkenankan di Jumat penuh berkah ini. اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَةِ رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ، وَجَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَسْمَاعِنَا، وَأَبْصَارِنَا، وَقُلُوبِنَا، وَأَزْوَاجِنَا، وَذُرِّيَّاتِنَا، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ، وَاجْعَلْنَا شَاكِرِينَ لِنِعَمِكَ مُثْنِينَ بِهَا عَلَيْكَ، قَابِلِينَ لَهَا، وَأَتِمِمْهَا عَلَيْنَا رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن. وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ Naskah Khutbah Jumat Jami’ Al-Adha Pesantren Darush Sholihin, Warak, Girisekar, Panggang, Jum’at Legi, 29 Syaban 1438 H (26 Mei 2017) Download Naskah: Khutbah Jumat: 6 Contoh Maksiat yang Terus Berlanjut di Bulan Ramadhan — Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsdosa besar keutamaan puasa khutbah jumat ramadhan maksiat ramadhan

Pembangunan Masjid Pinggiran Pantai Binaan Darush Sholihin Butuh 46 Ribu Saja

Mumpung masuk Ramadhan, yuk banyak sedekah, dan ini manfaat untuk amal jariyah kita. Pembangunan Masjid Umar bin Khattab (Darush Sholihin) di Pantai Nguyahan, Saptosari, Gunungkidul, binaan Ustadz M Abduh Tuasikal (Darush Sholihin – Rumaysho). Cukup menyumbang 46 ribu rupiah saja, sudah turut dapat bagian rumah di surga. Total anggaran: Rp.462.200.000,-   Transfer ke rekening: BCA 895009 3791 atas nama Muhammad Abduh Tuasikal BSM 7098637286 atas nama Yayasan Darush Sholihin Gunungkidul BRI 697501000453505 atas nama Yayasan Darush Sholihin *Kode bank BCA 014, BSM 451, BRI 002   Konfirmasi via SMS/ WA ke 082313950500 dengan format: Renovasi Masjid # Nama Donatur # Alamat # Bank Tujuan Transfer # Tgl Transfer # Besar Donasi. Contoh: Masjid DS # Muslim # Godean Yogyakarta # BSM # 19 Mei 2017 # 46.000.   Info Donasi DS: 0811267791 — Info Rumaysho dan Darush Sholihin Tagsrenovasi masjid

Pembangunan Masjid Pinggiran Pantai Binaan Darush Sholihin Butuh 46 Ribu Saja

Mumpung masuk Ramadhan, yuk banyak sedekah, dan ini manfaat untuk amal jariyah kita. Pembangunan Masjid Umar bin Khattab (Darush Sholihin) di Pantai Nguyahan, Saptosari, Gunungkidul, binaan Ustadz M Abduh Tuasikal (Darush Sholihin – Rumaysho). Cukup menyumbang 46 ribu rupiah saja, sudah turut dapat bagian rumah di surga. Total anggaran: Rp.462.200.000,-   Transfer ke rekening: BCA 895009 3791 atas nama Muhammad Abduh Tuasikal BSM 7098637286 atas nama Yayasan Darush Sholihin Gunungkidul BRI 697501000453505 atas nama Yayasan Darush Sholihin *Kode bank BCA 014, BSM 451, BRI 002   Konfirmasi via SMS/ WA ke 082313950500 dengan format: Renovasi Masjid # Nama Donatur # Alamat # Bank Tujuan Transfer # Tgl Transfer # Besar Donasi. Contoh: Masjid DS # Muslim # Godean Yogyakarta # BSM # 19 Mei 2017 # 46.000.   Info Donasi DS: 0811267791 — Info Rumaysho dan Darush Sholihin Tagsrenovasi masjid
Mumpung masuk Ramadhan, yuk banyak sedekah, dan ini manfaat untuk amal jariyah kita. Pembangunan Masjid Umar bin Khattab (Darush Sholihin) di Pantai Nguyahan, Saptosari, Gunungkidul, binaan Ustadz M Abduh Tuasikal (Darush Sholihin – Rumaysho). Cukup menyumbang 46 ribu rupiah saja, sudah turut dapat bagian rumah di surga. Total anggaran: Rp.462.200.000,-   Transfer ke rekening: BCA 895009 3791 atas nama Muhammad Abduh Tuasikal BSM 7098637286 atas nama Yayasan Darush Sholihin Gunungkidul BRI 697501000453505 atas nama Yayasan Darush Sholihin *Kode bank BCA 014, BSM 451, BRI 002   Konfirmasi via SMS/ WA ke 082313950500 dengan format: Renovasi Masjid # Nama Donatur # Alamat # Bank Tujuan Transfer # Tgl Transfer # Besar Donasi. Contoh: Masjid DS # Muslim # Godean Yogyakarta # BSM # 19 Mei 2017 # 46.000.   Info Donasi DS: 0811267791 — Info Rumaysho dan Darush Sholihin Tagsrenovasi masjid


Mumpung masuk Ramadhan, yuk banyak sedekah, dan ini manfaat untuk amal jariyah kita. Pembangunan Masjid Umar bin Khattab (Darush Sholihin) di Pantai Nguyahan, Saptosari, Gunungkidul, binaan Ustadz M Abduh Tuasikal (Darush Sholihin – Rumaysho). Cukup menyumbang 46 ribu rupiah saja, sudah turut dapat bagian rumah di surga. Total anggaran: Rp.462.200.000,-   Transfer ke rekening: BCA 895009 3791 atas nama Muhammad Abduh Tuasikal BSM 7098637286 atas nama Yayasan Darush Sholihin Gunungkidul BRI 697501000453505 atas nama Yayasan Darush Sholihin *Kode bank BCA 014, BSM 451, BRI 002   Konfirmasi via SMS/ WA ke 082313950500 dengan format: Renovasi Masjid # Nama Donatur # Alamat # Bank Tujuan Transfer # Tgl Transfer # Besar Donasi. Contoh: Masjid DS # Muslim # Godean Yogyakarta # BSM # 19 Mei 2017 # 46.000.   Info Donasi DS: 0811267791 — Info Rumaysho dan Darush Sholihin Tagsrenovasi masjid

5 Kesalahan yang Sering Ditemukan Dalam Shalat Tarawih

Ada lima kesalahan yang sering kita temukan ketika shalat tarawih. 1- Dzikir berjama’ah di antara sela-sela shalat tarawih dan ba’da witir. Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz rahimahullah berkata, “Tidak diperbolehkan para jama’ah membaca dzikir secara berjama’ah. Akan tetapi yang tepat adalah setiap orang membaca dzikir sendiri-sendiri tanpa dikomandai oleh yang lain. Karena dzikir secara berjama’ah (bersama-sama) adalah sesuatu yang tidak ada tuntunannya dalam syari’at Islam yang suci ini”. (Majmu’ Fatawa Ibnu Baz, 11:190) 2- Melafazhkan niat selepas shalat tarawih. Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Tidaklah sah puasa seseorang kecuali dengan niat. Letak niat adalah dalam hati, tidak disyaratkan untuk diucapkan dan pendapat ini tidak terdapat perselisihan di antara para ulama.” (Raudhah Ath-Thalibin, 1:268). 3- Memanggil jama’ah dengan ‘ash sholaatul jaami’ah’. Tidak ada tuntunan untuk memanggil jama’ah dengan ucapan ‘ash sholaatul jaami’ah’. Ini termasuk perkara yang diada-adakan, sebagaimana pendapat menurut ulama Hambali. (Lihat Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah, 27:140). 4- Mengkhususkan dzikir atau do’a tertentu antara sela-sela duduk shalat tarawih, tidak ada dalil yang mendukungnya. Demikian pendapat ulama Hambali. (Lihat Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah, 27:144). 5- Ada doa antara shalat tarawih yang dua atau empat raka’at seperti berikut: ASYHADU ALLA ILAAHA ILLALLAH WA ASTAGHFIRULLAH WA AS-ALUKAL JANNAH WA A’UDZU BIKA MINAN NAAR. Asal haditsnya berikut ini, “Perbanyaklah melakukan 4 hal dalam bulan Ramadan. Dengan dua hal, kalian akan mendapatkan ridha dari Rabb kalian; dua hal lainnya sangat kalian butuhkan. Dua hal, yang dengannya kalian mendapatkan ridha Rabb kalian, adalah syahadat Laa ilaaha illallaah dan beristigfar kepada-Nya. Adapun dua hal yang sangat kalian butuhkan adalah kalian meminta surga dan memohon perlindungan dari neraka.” Dijelaskan oleh Syaikh Al-Albani rahimahullah, “Hadis ini diriwayatkan oleh Al-Muhamili dalam Al-Amali (jilid 5, no.50) dan Ibnu Khuzaimah dalam shahihnya (no. 1887). Ibnu Khuzaimah berkomentar, ‘Andaikan shahih, bisa menjadi dalil.’ Juga diriwayatkan oleh Al-Wahidi dalam Al-Wasith (1: 640). Sanad hadits ini dha’if karena adanya sanad dari ‘Ali bin Zaid bin Jada’an, dari Sa’id bin Al-Musayyib, dari Salman Al-Farisi, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhutbah di hari terakhir dari bulan Sya’ban, lantas disebutkan hadits tersebut. ‘Ali bin Zaid bin Jada’an itu dha’if, sebagaimana keterangan Imam Ahmad dan yang lainnya. Imam Ibnu Khuzaimah telah menjelaskan, ‘Saya tidak menjadikan perawi ini sebagai dalil, karena hafalannya jelek.’” (Silsilah Al-Ahadits Adh-Dhaifah, 2: 263) Konteks hadits secara lebih lengkap memang membicarakan tentang bulan Ramadhan. Namun dzikir di atas tidak disebutkan secara khusus untuk shalat tarawih. Sehingga mengkhususkan untuk dzikir shalat tarawih saja adalah sesuatu yang mengada-ada. Silakan lihat hadits secara lengkap dalam Silsilah Al-Ahadits Adh-Dha’ifah no. 871 karya Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah. Apalagi dilihat dari kesimpulan, hadits tersebut munkar, atau masuk golongan hadits yang lemah. Menurut pendapat paling kuat, hadits lemah tidak bisa diamalkan. Moga Allah beri hidayah agar terus berpegang teguh dengan ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang masih murni. — Selesai disusun di Kamis pagi, 28 Syaban 1438 H @ DS Panggang, Gunungkidul Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal (bisa ikuti kajian LIVE via Facebook) Fans Page Facebook Rumasyho | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom | Channel Youtube Rumaysho TV Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Tagsbid'ah bid'ah hasanah shalat tarawih

5 Kesalahan yang Sering Ditemukan Dalam Shalat Tarawih

Ada lima kesalahan yang sering kita temukan ketika shalat tarawih. 1- Dzikir berjama’ah di antara sela-sela shalat tarawih dan ba’da witir. Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz rahimahullah berkata, “Tidak diperbolehkan para jama’ah membaca dzikir secara berjama’ah. Akan tetapi yang tepat adalah setiap orang membaca dzikir sendiri-sendiri tanpa dikomandai oleh yang lain. Karena dzikir secara berjama’ah (bersama-sama) adalah sesuatu yang tidak ada tuntunannya dalam syari’at Islam yang suci ini”. (Majmu’ Fatawa Ibnu Baz, 11:190) 2- Melafazhkan niat selepas shalat tarawih. Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Tidaklah sah puasa seseorang kecuali dengan niat. Letak niat adalah dalam hati, tidak disyaratkan untuk diucapkan dan pendapat ini tidak terdapat perselisihan di antara para ulama.” (Raudhah Ath-Thalibin, 1:268). 3- Memanggil jama’ah dengan ‘ash sholaatul jaami’ah’. Tidak ada tuntunan untuk memanggil jama’ah dengan ucapan ‘ash sholaatul jaami’ah’. Ini termasuk perkara yang diada-adakan, sebagaimana pendapat menurut ulama Hambali. (Lihat Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah, 27:140). 4- Mengkhususkan dzikir atau do’a tertentu antara sela-sela duduk shalat tarawih, tidak ada dalil yang mendukungnya. Demikian pendapat ulama Hambali. (Lihat Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah, 27:144). 5- Ada doa antara shalat tarawih yang dua atau empat raka’at seperti berikut: ASYHADU ALLA ILAAHA ILLALLAH WA ASTAGHFIRULLAH WA AS-ALUKAL JANNAH WA A’UDZU BIKA MINAN NAAR. Asal haditsnya berikut ini, “Perbanyaklah melakukan 4 hal dalam bulan Ramadan. Dengan dua hal, kalian akan mendapatkan ridha dari Rabb kalian; dua hal lainnya sangat kalian butuhkan. Dua hal, yang dengannya kalian mendapatkan ridha Rabb kalian, adalah syahadat Laa ilaaha illallaah dan beristigfar kepada-Nya. Adapun dua hal yang sangat kalian butuhkan adalah kalian meminta surga dan memohon perlindungan dari neraka.” Dijelaskan oleh Syaikh Al-Albani rahimahullah, “Hadis ini diriwayatkan oleh Al-Muhamili dalam Al-Amali (jilid 5, no.50) dan Ibnu Khuzaimah dalam shahihnya (no. 1887). Ibnu Khuzaimah berkomentar, ‘Andaikan shahih, bisa menjadi dalil.’ Juga diriwayatkan oleh Al-Wahidi dalam Al-Wasith (1: 640). Sanad hadits ini dha’if karena adanya sanad dari ‘Ali bin Zaid bin Jada’an, dari Sa’id bin Al-Musayyib, dari Salman Al-Farisi, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhutbah di hari terakhir dari bulan Sya’ban, lantas disebutkan hadits tersebut. ‘Ali bin Zaid bin Jada’an itu dha’if, sebagaimana keterangan Imam Ahmad dan yang lainnya. Imam Ibnu Khuzaimah telah menjelaskan, ‘Saya tidak menjadikan perawi ini sebagai dalil, karena hafalannya jelek.’” (Silsilah Al-Ahadits Adh-Dhaifah, 2: 263) Konteks hadits secara lebih lengkap memang membicarakan tentang bulan Ramadhan. Namun dzikir di atas tidak disebutkan secara khusus untuk shalat tarawih. Sehingga mengkhususkan untuk dzikir shalat tarawih saja adalah sesuatu yang mengada-ada. Silakan lihat hadits secara lengkap dalam Silsilah Al-Ahadits Adh-Dha’ifah no. 871 karya Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah. Apalagi dilihat dari kesimpulan, hadits tersebut munkar, atau masuk golongan hadits yang lemah. Menurut pendapat paling kuat, hadits lemah tidak bisa diamalkan. Moga Allah beri hidayah agar terus berpegang teguh dengan ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang masih murni. — Selesai disusun di Kamis pagi, 28 Syaban 1438 H @ DS Panggang, Gunungkidul Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal (bisa ikuti kajian LIVE via Facebook) Fans Page Facebook Rumasyho | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom | Channel Youtube Rumaysho TV Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Tagsbid'ah bid'ah hasanah shalat tarawih
Ada lima kesalahan yang sering kita temukan ketika shalat tarawih. 1- Dzikir berjama’ah di antara sela-sela shalat tarawih dan ba’da witir. Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz rahimahullah berkata, “Tidak diperbolehkan para jama’ah membaca dzikir secara berjama’ah. Akan tetapi yang tepat adalah setiap orang membaca dzikir sendiri-sendiri tanpa dikomandai oleh yang lain. Karena dzikir secara berjama’ah (bersama-sama) adalah sesuatu yang tidak ada tuntunannya dalam syari’at Islam yang suci ini”. (Majmu’ Fatawa Ibnu Baz, 11:190) 2- Melafazhkan niat selepas shalat tarawih. Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Tidaklah sah puasa seseorang kecuali dengan niat. Letak niat adalah dalam hati, tidak disyaratkan untuk diucapkan dan pendapat ini tidak terdapat perselisihan di antara para ulama.” (Raudhah Ath-Thalibin, 1:268). 3- Memanggil jama’ah dengan ‘ash sholaatul jaami’ah’. Tidak ada tuntunan untuk memanggil jama’ah dengan ucapan ‘ash sholaatul jaami’ah’. Ini termasuk perkara yang diada-adakan, sebagaimana pendapat menurut ulama Hambali. (Lihat Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah, 27:140). 4- Mengkhususkan dzikir atau do’a tertentu antara sela-sela duduk shalat tarawih, tidak ada dalil yang mendukungnya. Demikian pendapat ulama Hambali. (Lihat Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah, 27:144). 5- Ada doa antara shalat tarawih yang dua atau empat raka’at seperti berikut: ASYHADU ALLA ILAAHA ILLALLAH WA ASTAGHFIRULLAH WA AS-ALUKAL JANNAH WA A’UDZU BIKA MINAN NAAR. Asal haditsnya berikut ini, “Perbanyaklah melakukan 4 hal dalam bulan Ramadan. Dengan dua hal, kalian akan mendapatkan ridha dari Rabb kalian; dua hal lainnya sangat kalian butuhkan. Dua hal, yang dengannya kalian mendapatkan ridha Rabb kalian, adalah syahadat Laa ilaaha illallaah dan beristigfar kepada-Nya. Adapun dua hal yang sangat kalian butuhkan adalah kalian meminta surga dan memohon perlindungan dari neraka.” Dijelaskan oleh Syaikh Al-Albani rahimahullah, “Hadis ini diriwayatkan oleh Al-Muhamili dalam Al-Amali (jilid 5, no.50) dan Ibnu Khuzaimah dalam shahihnya (no. 1887). Ibnu Khuzaimah berkomentar, ‘Andaikan shahih, bisa menjadi dalil.’ Juga diriwayatkan oleh Al-Wahidi dalam Al-Wasith (1: 640). Sanad hadits ini dha’if karena adanya sanad dari ‘Ali bin Zaid bin Jada’an, dari Sa’id bin Al-Musayyib, dari Salman Al-Farisi, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhutbah di hari terakhir dari bulan Sya’ban, lantas disebutkan hadits tersebut. ‘Ali bin Zaid bin Jada’an itu dha’if, sebagaimana keterangan Imam Ahmad dan yang lainnya. Imam Ibnu Khuzaimah telah menjelaskan, ‘Saya tidak menjadikan perawi ini sebagai dalil, karena hafalannya jelek.’” (Silsilah Al-Ahadits Adh-Dhaifah, 2: 263) Konteks hadits secara lebih lengkap memang membicarakan tentang bulan Ramadhan. Namun dzikir di atas tidak disebutkan secara khusus untuk shalat tarawih. Sehingga mengkhususkan untuk dzikir shalat tarawih saja adalah sesuatu yang mengada-ada. Silakan lihat hadits secara lengkap dalam Silsilah Al-Ahadits Adh-Dha’ifah no. 871 karya Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah. Apalagi dilihat dari kesimpulan, hadits tersebut munkar, atau masuk golongan hadits yang lemah. Menurut pendapat paling kuat, hadits lemah tidak bisa diamalkan. Moga Allah beri hidayah agar terus berpegang teguh dengan ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang masih murni. — Selesai disusun di Kamis pagi, 28 Syaban 1438 H @ DS Panggang, Gunungkidul Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal (bisa ikuti kajian LIVE via Facebook) Fans Page Facebook Rumasyho | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom | Channel Youtube Rumaysho TV Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Tagsbid'ah bid'ah hasanah shalat tarawih


Ada lima kesalahan yang sering kita temukan ketika shalat tarawih. 1- Dzikir berjama’ah di antara sela-sela shalat tarawih dan ba’da witir. Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz rahimahullah berkata, “Tidak diperbolehkan para jama’ah membaca dzikir secara berjama’ah. Akan tetapi yang tepat adalah setiap orang membaca dzikir sendiri-sendiri tanpa dikomandai oleh yang lain. Karena dzikir secara berjama’ah (bersama-sama) adalah sesuatu yang tidak ada tuntunannya dalam syari’at Islam yang suci ini”. (Majmu’ Fatawa Ibnu Baz, 11:190) 2- Melafazhkan niat selepas shalat tarawih. Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Tidaklah sah puasa seseorang kecuali dengan niat. Letak niat adalah dalam hati, tidak disyaratkan untuk diucapkan dan pendapat ini tidak terdapat perselisihan di antara para ulama.” (Raudhah Ath-Thalibin, 1:268). 3- Memanggil jama’ah dengan ‘ash sholaatul jaami’ah’. Tidak ada tuntunan untuk memanggil jama’ah dengan ucapan ‘ash sholaatul jaami’ah’. Ini termasuk perkara yang diada-adakan, sebagaimana pendapat menurut ulama Hambali. (Lihat Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah, 27:140). 4- Mengkhususkan dzikir atau do’a tertentu antara sela-sela duduk shalat tarawih, tidak ada dalil yang mendukungnya. Demikian pendapat ulama Hambali. (Lihat Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah, 27:144). 5- Ada doa antara shalat tarawih yang dua atau empat raka’at seperti berikut: ASYHADU ALLA ILAAHA ILLALLAH WA ASTAGHFIRULLAH WA AS-ALUKAL JANNAH WA A’UDZU BIKA MINAN NAAR. Asal haditsnya berikut ini, “Perbanyaklah melakukan 4 hal dalam bulan Ramadan. Dengan dua hal, kalian akan mendapatkan ridha dari Rabb kalian; dua hal lainnya sangat kalian butuhkan. Dua hal, yang dengannya kalian mendapatkan ridha Rabb kalian, adalah syahadat Laa ilaaha illallaah dan beristigfar kepada-Nya. Adapun dua hal yang sangat kalian butuhkan adalah kalian meminta surga dan memohon perlindungan dari neraka.” Dijelaskan oleh Syaikh Al-Albani rahimahullah, “Hadis ini diriwayatkan oleh Al-Muhamili dalam Al-Amali (jilid 5, no.50) dan Ibnu Khuzaimah dalam shahihnya (no. 1887). Ibnu Khuzaimah berkomentar, ‘Andaikan shahih, bisa menjadi dalil.’ Juga diriwayatkan oleh Al-Wahidi dalam Al-Wasith (1: 640). Sanad hadits ini dha’if karena adanya sanad dari ‘Ali bin Zaid bin Jada’an, dari Sa’id bin Al-Musayyib, dari Salman Al-Farisi, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhutbah di hari terakhir dari bulan Sya’ban, lantas disebutkan hadits tersebut. ‘Ali bin Zaid bin Jada’an itu dha’if, sebagaimana keterangan Imam Ahmad dan yang lainnya. Imam Ibnu Khuzaimah telah menjelaskan, ‘Saya tidak menjadikan perawi ini sebagai dalil, karena hafalannya jelek.’” (Silsilah Al-Ahadits Adh-Dhaifah, 2: 263) Konteks hadits secara lebih lengkap memang membicarakan tentang bulan Ramadhan. Namun dzikir di atas tidak disebutkan secara khusus untuk shalat tarawih. Sehingga mengkhususkan untuk dzikir shalat tarawih saja adalah sesuatu yang mengada-ada. Silakan lihat hadits secara lengkap dalam Silsilah Al-Ahadits Adh-Dha’ifah no. 871 karya Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah. Apalagi dilihat dari kesimpulan, hadits tersebut munkar, atau masuk golongan hadits yang lemah. Menurut pendapat paling kuat, hadits lemah tidak bisa diamalkan. Moga Allah beri hidayah agar terus berpegang teguh dengan ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang masih murni. — Selesai disusun di Kamis pagi, 28 Syaban 1438 H @ DS Panggang, Gunungkidul Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal (bisa ikuti kajian LIVE via Facebook) Fans Page Facebook Rumasyho | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom | Channel Youtube Rumaysho TV Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Tagsbid'ah bid'ah hasanah shalat tarawih

Saudara-Saudara Kita di Somalia Kelaparan, Mari Kita Segera Salurkan Bantuan !

Awal tahun 2017 ini kita dikejutkan dengan terjadinya bencana kemanusiaan di Afrika Timur. Hujan yang tak kunjung tiba, mengakibatkan kekeringan dahsyat dengan dampak yang melanda 8 negara (Somalia, Djibouti, Kenya, Eritrea, Uganda, Ethiopia, Sudan, dan Sudan Selatan). Organisation of Islamic Cooperation (OIC) menyatakan bahwa kekeringan ini mengancam 17 juta jiwa di delapan negara tersebut, dengan Somalia sebagai negara yang terkena dampak paling parah karena kelaparan di negara ini diderita 6 juta jiwa, atau setara dengan setengah jumlah penduduk negara tersebut. Berdasarkan hal tersebut, Yayasan Peduli Muslim segera membentuk tim penyaluran bantuan, dan alhamdulillah tim relawan ini telah sampai di Somalia pada hari Senin, 22 Mei 2017.Usai tim Peduli Muslim landing di ibukota Somalia, Mogadishu, tim berkeinginan mengunjungi berbagai tempat pengungsian di berbagai penjuru Somalia, dengan meminta pengawalan dari mitra NGO setempat. Akan tetapi, rencana tersebut diurungkan karena di kota Mogadishu saja, terdapat +/- 600.000 pengungsi yang datang dari berbagai pelosok, termasuk dari kawasan perbatasan Somalia. Mereka mengungsi ke ibukota dengan harapan bisa mendapatkan bantuan karena di daerah asalnya sudah terlalu parah ketidaktersedian makanannya.Ada kisah memilukan dari salah satu pengungsi wanita yang diceritakan langsung kepada kami. Ketika wanita ini mulai berjalan mengungsi dari tempat tinggalnya, ia membawa lima orang anaknya. Akan tetapi, begitu sampai di tempat pengungsian, anaknya hanya tersisa dua, sedangkan tiga lainnya meninggal dunia di tengah perjalanan.Belum lagi urusan kesehatan pengungsi yang cukup pelik. Tenaga medis, peralatan medis, serta fasilitas kesehatan tidak sebanding dengan jutaan warga Somalia yang membutuhkan perawatan, terutama ratusan ribu jiwa yang mengungsi.Oleh karena itu, kami mengetuk hati kaum muslimin sekalian di Indonesia, untuk menyisihkan sebagian hartanya untuk membantu saudara-saudara kita di Somalia yang sampai detik ini masih berjuang mempertahankan hidup dari kelaparan. Bantuan Anda, dapat disalurkan melalui rekening:BNI Syariah (Kantor Cabang Yogyakarta), no. 430.4444.308 a.n. Peduli Muslim 👉 Kode transfer dari non BNI: 009 👉 Swift Code untuk transfer dari bank luar negeri: BNINIDJA 👉 CP: 0812.9121.1046 👉 Batas akhir donasi: 5 Juni 2017. 👉 Donasi untuk operasional tim lapangan: BNI Syariah (kantor Cabang Yogyakarta), no: 04444.4322.2 a.n. Peduli Muslim.Semoga Allah ta’ala memberikan kesabaran bagi saudara-saudara kita di Somalia. Dan semoga Allah ta’ala memberikan keikhlasan bagi kita semua dalam membantu mereka, dan menjaga semangat kita untuk terus berkhidmat untuk kemaslahatan kaum muslimin di manapun mereka berada. Aamiin.https://www.facebook.com/Peduli.Muslim/videos/1673371279341511/🔍 Bersyukur Atas Nikmat Allah, Khilafah Islamiyah Adalah, Hukum Mencabut Uban, Astagfirullah Waatubu Ilaik, Macam Macam Sabar Dan Contohnya

Saudara-Saudara Kita di Somalia Kelaparan, Mari Kita Segera Salurkan Bantuan !

Awal tahun 2017 ini kita dikejutkan dengan terjadinya bencana kemanusiaan di Afrika Timur. Hujan yang tak kunjung tiba, mengakibatkan kekeringan dahsyat dengan dampak yang melanda 8 negara (Somalia, Djibouti, Kenya, Eritrea, Uganda, Ethiopia, Sudan, dan Sudan Selatan). Organisation of Islamic Cooperation (OIC) menyatakan bahwa kekeringan ini mengancam 17 juta jiwa di delapan negara tersebut, dengan Somalia sebagai negara yang terkena dampak paling parah karena kelaparan di negara ini diderita 6 juta jiwa, atau setara dengan setengah jumlah penduduk negara tersebut. Berdasarkan hal tersebut, Yayasan Peduli Muslim segera membentuk tim penyaluran bantuan, dan alhamdulillah tim relawan ini telah sampai di Somalia pada hari Senin, 22 Mei 2017.Usai tim Peduli Muslim landing di ibukota Somalia, Mogadishu, tim berkeinginan mengunjungi berbagai tempat pengungsian di berbagai penjuru Somalia, dengan meminta pengawalan dari mitra NGO setempat. Akan tetapi, rencana tersebut diurungkan karena di kota Mogadishu saja, terdapat +/- 600.000 pengungsi yang datang dari berbagai pelosok, termasuk dari kawasan perbatasan Somalia. Mereka mengungsi ke ibukota dengan harapan bisa mendapatkan bantuan karena di daerah asalnya sudah terlalu parah ketidaktersedian makanannya.Ada kisah memilukan dari salah satu pengungsi wanita yang diceritakan langsung kepada kami. Ketika wanita ini mulai berjalan mengungsi dari tempat tinggalnya, ia membawa lima orang anaknya. Akan tetapi, begitu sampai di tempat pengungsian, anaknya hanya tersisa dua, sedangkan tiga lainnya meninggal dunia di tengah perjalanan.Belum lagi urusan kesehatan pengungsi yang cukup pelik. Tenaga medis, peralatan medis, serta fasilitas kesehatan tidak sebanding dengan jutaan warga Somalia yang membutuhkan perawatan, terutama ratusan ribu jiwa yang mengungsi.Oleh karena itu, kami mengetuk hati kaum muslimin sekalian di Indonesia, untuk menyisihkan sebagian hartanya untuk membantu saudara-saudara kita di Somalia yang sampai detik ini masih berjuang mempertahankan hidup dari kelaparan. Bantuan Anda, dapat disalurkan melalui rekening:BNI Syariah (Kantor Cabang Yogyakarta), no. 430.4444.308 a.n. Peduli Muslim 👉 Kode transfer dari non BNI: 009 👉 Swift Code untuk transfer dari bank luar negeri: BNINIDJA 👉 CP: 0812.9121.1046 👉 Batas akhir donasi: 5 Juni 2017. 👉 Donasi untuk operasional tim lapangan: BNI Syariah (kantor Cabang Yogyakarta), no: 04444.4322.2 a.n. Peduli Muslim.Semoga Allah ta’ala memberikan kesabaran bagi saudara-saudara kita di Somalia. Dan semoga Allah ta’ala memberikan keikhlasan bagi kita semua dalam membantu mereka, dan menjaga semangat kita untuk terus berkhidmat untuk kemaslahatan kaum muslimin di manapun mereka berada. Aamiin.https://www.facebook.com/Peduli.Muslim/videos/1673371279341511/🔍 Bersyukur Atas Nikmat Allah, Khilafah Islamiyah Adalah, Hukum Mencabut Uban, Astagfirullah Waatubu Ilaik, Macam Macam Sabar Dan Contohnya
Awal tahun 2017 ini kita dikejutkan dengan terjadinya bencana kemanusiaan di Afrika Timur. Hujan yang tak kunjung tiba, mengakibatkan kekeringan dahsyat dengan dampak yang melanda 8 negara (Somalia, Djibouti, Kenya, Eritrea, Uganda, Ethiopia, Sudan, dan Sudan Selatan). Organisation of Islamic Cooperation (OIC) menyatakan bahwa kekeringan ini mengancam 17 juta jiwa di delapan negara tersebut, dengan Somalia sebagai negara yang terkena dampak paling parah karena kelaparan di negara ini diderita 6 juta jiwa, atau setara dengan setengah jumlah penduduk negara tersebut. Berdasarkan hal tersebut, Yayasan Peduli Muslim segera membentuk tim penyaluran bantuan, dan alhamdulillah tim relawan ini telah sampai di Somalia pada hari Senin, 22 Mei 2017.Usai tim Peduli Muslim landing di ibukota Somalia, Mogadishu, tim berkeinginan mengunjungi berbagai tempat pengungsian di berbagai penjuru Somalia, dengan meminta pengawalan dari mitra NGO setempat. Akan tetapi, rencana tersebut diurungkan karena di kota Mogadishu saja, terdapat +/- 600.000 pengungsi yang datang dari berbagai pelosok, termasuk dari kawasan perbatasan Somalia. Mereka mengungsi ke ibukota dengan harapan bisa mendapatkan bantuan karena di daerah asalnya sudah terlalu parah ketidaktersedian makanannya.Ada kisah memilukan dari salah satu pengungsi wanita yang diceritakan langsung kepada kami. Ketika wanita ini mulai berjalan mengungsi dari tempat tinggalnya, ia membawa lima orang anaknya. Akan tetapi, begitu sampai di tempat pengungsian, anaknya hanya tersisa dua, sedangkan tiga lainnya meninggal dunia di tengah perjalanan.Belum lagi urusan kesehatan pengungsi yang cukup pelik. Tenaga medis, peralatan medis, serta fasilitas kesehatan tidak sebanding dengan jutaan warga Somalia yang membutuhkan perawatan, terutama ratusan ribu jiwa yang mengungsi.Oleh karena itu, kami mengetuk hati kaum muslimin sekalian di Indonesia, untuk menyisihkan sebagian hartanya untuk membantu saudara-saudara kita di Somalia yang sampai detik ini masih berjuang mempertahankan hidup dari kelaparan. Bantuan Anda, dapat disalurkan melalui rekening:BNI Syariah (Kantor Cabang Yogyakarta), no. 430.4444.308 a.n. Peduli Muslim 👉 Kode transfer dari non BNI: 009 👉 Swift Code untuk transfer dari bank luar negeri: BNINIDJA 👉 CP: 0812.9121.1046 👉 Batas akhir donasi: 5 Juni 2017. 👉 Donasi untuk operasional tim lapangan: BNI Syariah (kantor Cabang Yogyakarta), no: 04444.4322.2 a.n. Peduli Muslim.Semoga Allah ta’ala memberikan kesabaran bagi saudara-saudara kita di Somalia. Dan semoga Allah ta’ala memberikan keikhlasan bagi kita semua dalam membantu mereka, dan menjaga semangat kita untuk terus berkhidmat untuk kemaslahatan kaum muslimin di manapun mereka berada. Aamiin.https://www.facebook.com/Peduli.Muslim/videos/1673371279341511/🔍 Bersyukur Atas Nikmat Allah, Khilafah Islamiyah Adalah, Hukum Mencabut Uban, Astagfirullah Waatubu Ilaik, Macam Macam Sabar Dan Contohnya


<img class="alignleft size-medium wp-image-30029" src="https://static.muslim.or.id/wp-content/uploads/2017/05/Somal-3-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" srcset="https://static.muslim.or.id/wp-content/uploads/2017/05/Somal-3-300x225.jpg 300w, https://static.muslim.or.id/wp-content/uploads/2017/05/Somal-3-768x576.jpg 768w, https://static.muslim.or.id/wp-content/uploads/2017/05/Somal-3.jpg 960w" sizes="(max-width: 300px) 100vw, 300px" />Awal tahun 2017 ini kita dikejutkan dengan terjadinya bencana kemanusiaan di Afrika Timur. Hujan yang tak kunjung tiba, mengakibatkan kekeringan dahsyat dengan dampak yang melanda 8 negara (Somalia, Djibouti, Kenya, Eritrea, Uganda, Ethiopia, Sudan, dan Sudan Selatan). Organisation of Islamic Cooperation (OIC) menyatakan bahwa kekeringan ini mengancam 17 juta jiwa di delapan negara tersebut, dengan Somalia sebagai negara yang terkena dampak paling parah karena kelaparan di negara ini diderita 6 juta jiwa, atau setara dengan setengah jumlah penduduk negara tersebut. Berdasarkan hal tersebut, Yayasan Peduli Muslim segera membentuk tim penyaluran bantuan, dan alhamdulillah tim relawan ini telah sampai di Somalia pada hari Senin, 22 Mei 2017.Usai tim Peduli Muslim landing di ibukota Somalia, Mogadishu, tim berkeinginan mengunjungi berbagai tempat pengungsian di berbagai penjuru Somalia, dengan meminta pengawalan dari mitra NGO setempat. Akan tetapi, rencana tersebut diurungkan karena di kota Mogadishu saja, terdapat +/- 600.000 pengungsi yang datang dari berbagai pelosok, termasuk dari kawasan perbatasan Somalia. Mereka mengungsi ke ibukota dengan harapan bisa mendapatkan bantuan karena di daerah asalnya sudah terlalu parah ketidaktersedian makanannya.Ada kisah memilukan dari salah satu pengungsi wanita yang diceritakan langsung kepada kami. Ketika wanita ini <img class="alignright size-medium wp-image-30025" src="https://static.muslim.or.id/wp-content/uploads/2017/05/somal-1-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" srcset="https://static.muslim.or.id/wp-content/uploads/2017/05/somal-1-300x225.jpg 300w, https://static.muslim.or.id/wp-content/uploads/2017/05/somal-1-768x576.jpg 768w, https://static.muslim.or.id/wp-content/uploads/2017/05/somal-1.jpg 960w" sizes="(max-width: 300px) 100vw, 300px" />mulai berjalan mengungsi dari tempat tinggalnya, ia membawa lima orang anaknya. Akan tetapi, begitu sampai di tempat pengungsian, anaknya hanya tersisa dua, sedangkan tiga lainnya meninggal dunia di tengah perjalanan.Belum lagi urusan kesehatan pengungsi yang cukup pelik. Tenaga medis, peralatan medis, serta fasilitas kesehatan tidak sebanding dengan jutaan warga Somalia yang membutuhkan perawatan, terutama ratusan ribu jiwa yang mengungsi.Oleh karena itu, kami mengetuk hati kaum muslimin sekalian di Indonesia, untuk menyisihkan sebagian hartanya untuk membantu saudara-saudara kita di Somalia yang sampai detik ini masih berjuang mempertahankan hidup dari kelaparan. Bantuan Anda, dapat disalurkan melalui rekening:BNI Syariah (Kantor Cabang Yogyakarta), no. 430.4444.308 a.n. Peduli Muslim 👉 Kode transfer dari non BNI: 009 👉 Swift Code untuk transfer dari bank luar negeri: BNINIDJA 👉 CP: 0812.9121.1046 👉 Batas akhir donasi: 5 Juni 2017. 👉 Donasi untuk operasional tim lapangan: BNI Syariah (kantor Cabang Yogyakarta), no: 04444.4322.2 a.n. Peduli Muslim.Semoga Allah ta’ala memberikan kesabaran bagi saudara-saudara kita di Somalia. Dan semoga Allah ta’ala memberikan keikhlasan bagi kita semua dalam membantu mereka, dan menjaga semangat kita untuk terus berkhidmat untuk kemaslahatan kaum muslimin di manapun mereka berada. Aamiin.https://www.facebook.com/Peduli.Muslim/videos/1673371279341511/🔍 Bersyukur Atas Nikmat Allah, Khilafah Islamiyah Adalah, Hukum Mencabut Uban, Astagfirullah Waatubu Ilaik, Macam Macam Sabar Dan Contohnya

7 Manfaat Puasa

Izzuddīn bin Abdissalām asy-Syāfi’iy (w. 660 H.) menyebut tujuh manfaat dīniyyah dari ibadah puasa: رفع الدرجات، تكفير الخطيئات، كسر الشهوات، تكثير الصدقات، توفير الطاعات، شكر عالم الخفيات، الانزجار عن المعاصي والمخالفات. (Raf’ud darajāt, takfīrul khathīāt, kasrusy syahawāt, taktsīrush shadaqāt, taufīruth thā’āt, syukru ‘Ālim al-khafiyyāt, al-inzijāru ‘an al-ma’āshī wa al-mukhālafāt) Meninggikan derajat. Menggugurkan macam kesalahan, mengendalikan syahwat, memperbanyak sedekah, mengoptimalkan ragam bentuk ketaatan, bersyukur kepada Allah yang Maha Mengetahui segala yang tersembunyi, menjauhkan diri dari maksiat dan seluruh pelanggaran.

7 Manfaat Puasa

Izzuddīn bin Abdissalām asy-Syāfi’iy (w. 660 H.) menyebut tujuh manfaat dīniyyah dari ibadah puasa: رفع الدرجات، تكفير الخطيئات، كسر الشهوات، تكثير الصدقات، توفير الطاعات، شكر عالم الخفيات، الانزجار عن المعاصي والمخالفات. (Raf’ud darajāt, takfīrul khathīāt, kasrusy syahawāt, taktsīrush shadaqāt, taufīruth thā’āt, syukru ‘Ālim al-khafiyyāt, al-inzijāru ‘an al-ma’āshī wa al-mukhālafāt) Meninggikan derajat. Menggugurkan macam kesalahan, mengendalikan syahwat, memperbanyak sedekah, mengoptimalkan ragam bentuk ketaatan, bersyukur kepada Allah yang Maha Mengetahui segala yang tersembunyi, menjauhkan diri dari maksiat dan seluruh pelanggaran.
Izzuddīn bin Abdissalām asy-Syāfi’iy (w. 660 H.) menyebut tujuh manfaat dīniyyah dari ibadah puasa: رفع الدرجات، تكفير الخطيئات، كسر الشهوات، تكثير الصدقات، توفير الطاعات، شكر عالم الخفيات، الانزجار عن المعاصي والمخالفات. (Raf’ud darajāt, takfīrul khathīāt, kasrusy syahawāt, taktsīrush shadaqāt, taufīruth thā’āt, syukru ‘Ālim al-khafiyyāt, al-inzijāru ‘an al-ma’āshī wa al-mukhālafāt) Meninggikan derajat. Menggugurkan macam kesalahan, mengendalikan syahwat, memperbanyak sedekah, mengoptimalkan ragam bentuk ketaatan, bersyukur kepada Allah yang Maha Mengetahui segala yang tersembunyi, menjauhkan diri dari maksiat dan seluruh pelanggaran.


Izzuddīn bin Abdissalām asy-Syāfi’iy (w. 660 H.) menyebut tujuh manfaat dīniyyah dari ibadah puasa: رفع الدرجات، تكفير الخطيئات، كسر الشهوات، تكثير الصدقات، توفير الطاعات، شكر عالم الخفيات، الانزجار عن المعاصي والمخالفات. (Raf’ud darajāt, takfīrul khathīāt, kasrusy syahawāt, taktsīrush shadaqāt, taufīruth thā’āt, syukru ‘Ālim al-khafiyyāt, al-inzijāru ‘an al-ma’āshī wa al-mukhālafāt) Meninggikan derajat. Menggugurkan macam kesalahan, mengendalikan syahwat, memperbanyak sedekah, mengoptimalkan ragam bentuk ketaatan, bersyukur kepada Allah yang Maha Mengetahui segala yang tersembunyi, menjauhkan diri dari maksiat dan seluruh pelanggaran.

Apakah Kita Termasuk Orang yang Mentadaburi Al-Qur`an? (2)

Baca pembahasan sebelumnya: Apakah Kita Termasuk Orang yang Mentadaburi Al-Qur`an? (1)Ayat Perintah untuk Mentadaburi Al-Qur`anAyat-ayat tentang perintah untuk mentadaburi Al-Qur`an terbagi menjadi dua macam:1) Ayat tentang perintah mentadaburi Al-Qur`an terkait dengan perkara yang khusus, seperti firman Allah Ta’ala,أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ ۚ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا“Maka apakah mereka tidak merenungkan Al-Qur`an? Kalau kiranya Al Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapati pertentangan yang banyak di dalamnya” (QS. An-Nisa`: 82).2) Ayat tentang perintah mentadaburi Al-Qur`an secara umum, seperti firman Allah Ta’ala,كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka merenungkan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran (yang baik)” (QS. Shad: 29).Tanda-Tanda Tadabur Al-Qur`an yang Bermanfaat bagi PelakunyaSeorang muslim yang mentadaburi Al-Qur`an itu memilki tanda-tanda yang disebutkan dalam Al-Qur`an, Allah Ta’ala berfirman,وَإِذَا مَا أُنْزِلَتْ سُورَةٌ فَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ أَيُّكُمْ زَادَتْهُ هَٰذِهِ إِيمَانًا ۚ فَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُوا فَزَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَهُمْ يَسْتَبْشِرُونَ“Dan apabila diturunkan suatu surat, maka di antara mereka (orang-orang munafik) ada yang berkata, ‘Siapakah di antara kamu yang bertambah imannya dengan (turunnya) surat ini?’ Adapun orang-orang yang beriman, maka surat ini menambah imannya, dan mereka merasa gembira” (At-Taubah: 124).قُلْ آمِنُوا بِهِ أَوْ لَا تُؤْمِنُوا ۚ إِنَّ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ مِنْ قَبْلِهِ إِذَا يُتْلَىٰ عَلَيْهِمْ يَخِرُّونَ لِلْأَذْقَانِ سُجَّدًا“Katakanlah, ‘Berimanlah kamu kepadanya atau tidak usah beriman (sama saja bagi Allah). Sesungguhnya orang-orang yang diberi pengetahuan sebelumnya apabila Al-Qur`an dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur atas muka mereka sambil bersujud” (QS. Al-Isra’: 107).وَيَقُولُونَ سُبْحَانَ رَبِّنَا إِنْ كَانَ وَعْدُ رَبِّنَا لَمَفْعُولًا“dan mereka berkata: “Maha Suci Tuhan kami, sesungguhnya janji Tuhan kami pasti dipenuhi” (QS. Al-Isra’: 108)وَيَخِرُّونَ لِلْأَذْقَانِ يَبْكُونَ وَيَزِيدُهُمْ خُشُوعًا“Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu” (QS. Al-Isra’: 109).أُولَٰئِكَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ مِنْ ذُرِّيَّةِ آدَمَ وَمِمَّنْ حَمَلْنَا مَعَ نُوحٍ وَمِنْ ذُرِّيَّةِ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْرَائِيلَ وَمِمَّنْ هَدَيْنَا وَاجْتَبَيْنَا ۚ إِذَا تُتْلَىٰ عَلَيْهِمْ آيَاتُ الرَّحْمَٰنِ خَرُّوا سُجَّدًا وَبُكِيًّا“Mereka itu adalah orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi dari keturunan Adam, dan dari orang-orang yang Kami angkat bersama Nuh, dan dari keturunan Ibrahim dan Israil, dan dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis” (QS. Maryam: 58)وَالَّذِينَ إِذَا ذُكِّرُوا بِآيَاتِ رَبِّهِمْ لَمْ يَخِرُّوا عَلَيْهَا صُمًّا وَعُمْيَانًا“Dan orang-orang yang apabila diberi peringatan dengan ayat-ayat Tuhan mereka, mereka tidaklah menghadapinya sebagai orang-orang yang tuli dan buta” (QS. Al-Furqan: 73).اللَّهُ نَزَّلَ أَحْسَنَ الْحَدِيثِ كِتَابًا مُتَشَابِهًا مَثَانِيَ تَقْشَعِرُّ مِنْهُ جُلُودُ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ ثُمَّ تَلِينُ جُلُودُهُمْ وَقُلُوبُهُمْ إِلَىٰ ذِكْرِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ هُدَى اللَّهِ يَهْدِي بِهِ مَنْ يَشَاءُ ۚ وَمَنْ يُضْلِلِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ هَادٍ“Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al-Qur`an yang serupa (kesempurnaan ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang , gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan Kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang disesatkan oleh Allah, niscaya tak ada baginya seorang pemimpin pun” (Az-Zumar: 23).Di dalam ayat-ayat di atas mengandung beberapa tanda seorang muslim tadabur Al-Qur`an yang bermanfaat bagi keimanannya,: Ikutsertanya hati dan pikiran ketika membaca Al-Qur’an, yang ditandai dengan perasaan takjub dan mengagungkan ayat -ayat yang dibacanya. Menangis karena takut kepada Allah murka karena seseorang melakukan dosa. Bertambahnya kekhusyukan hati. Bertambahnya keimanan dengan banyak membaca ayat-ayat Al-Qur`an. Menjadi bahagia dengan kabar gembira yang dibacanya. Takut kepada adzab Allah Ta’ala, dan rasa harap kepada ampunan-Nya dan rahmat-Nya, sehingga seorang hamba menjadi tenanglah dirinya. Bersujud kepada Allah dengan mengagungkan Allah ‘Azza wa Jalla sesuai dengan yang disyari’atkan. Tidaklah seorang hamba bisa dengan ikhlas dan semangat mentadaburi Al-Qur`an dengan sebaik-baiknya kecuali dalam hatinya terdapat kecintaan terhadap Al-Qur`an. Dan tanda-tanda hati seseorang mencintai Al-Qur`an, di antaranya: Merasa gembira dan bersyukur dengan karunia Al-Qur`an yang mengandung sebaik-baik petunjuk dan paling sempurnanya. Senang berlama-lama duduk membacanya, memahami tafsirnya, dan mentadaburinya tanpa merasa jemu. Rindu membaca Al-Qur`an setiap kali merasa berdosa, karena didalam Al-Qur`an terdapat ancaman bagi pelaku kemaksiatan, janji bagi orang yang taat kepada Allah, serta kabar tentang rahmat Allah yang luas dan ampunan-Nya. Senantiasa yakin dengan nasihat-nasihat yang ada di dalamnya dan merujuk kepadanya setiapkali menemui permasalahan. Mentaati semua perintah dan menghindari semua larangan yang ada di dalamnya.[1] Wallahu a’lam.[Selesai]Link Artikel Berseri: Apakah Kita Termasuk Orang yang Mentadaburi Al-Qur`an? (1) Apakah Kita Termasuk Orang yang Mentadaburi Al-Qur`an? (2) ***Penulis: Sa’id Abu Ukkasyah Artikel: Muslim.or.id [1].  Tanda-tanda tadabur Al-Qur`an dan Tanda-tanda hati mencintai Al-Qur`an diiolah dari http://www.alukah.net/sharia/0/6647/#ixzz4dCU8j8Nj🔍 Doa Adalah, Hadist Tentang Munafik, Ayat Alquran Tentang Jin, Hadist Tentang Alquran, Mp3 Kajian Sunnah

Apakah Kita Termasuk Orang yang Mentadaburi Al-Qur`an? (2)

Baca pembahasan sebelumnya: Apakah Kita Termasuk Orang yang Mentadaburi Al-Qur`an? (1)Ayat Perintah untuk Mentadaburi Al-Qur`anAyat-ayat tentang perintah untuk mentadaburi Al-Qur`an terbagi menjadi dua macam:1) Ayat tentang perintah mentadaburi Al-Qur`an terkait dengan perkara yang khusus, seperti firman Allah Ta’ala,أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ ۚ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا“Maka apakah mereka tidak merenungkan Al-Qur`an? Kalau kiranya Al Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapati pertentangan yang banyak di dalamnya” (QS. An-Nisa`: 82).2) Ayat tentang perintah mentadaburi Al-Qur`an secara umum, seperti firman Allah Ta’ala,كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka merenungkan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran (yang baik)” (QS. Shad: 29).Tanda-Tanda Tadabur Al-Qur`an yang Bermanfaat bagi PelakunyaSeorang muslim yang mentadaburi Al-Qur`an itu memilki tanda-tanda yang disebutkan dalam Al-Qur`an, Allah Ta’ala berfirman,وَإِذَا مَا أُنْزِلَتْ سُورَةٌ فَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ أَيُّكُمْ زَادَتْهُ هَٰذِهِ إِيمَانًا ۚ فَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُوا فَزَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَهُمْ يَسْتَبْشِرُونَ“Dan apabila diturunkan suatu surat, maka di antara mereka (orang-orang munafik) ada yang berkata, ‘Siapakah di antara kamu yang bertambah imannya dengan (turunnya) surat ini?’ Adapun orang-orang yang beriman, maka surat ini menambah imannya, dan mereka merasa gembira” (At-Taubah: 124).قُلْ آمِنُوا بِهِ أَوْ لَا تُؤْمِنُوا ۚ إِنَّ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ مِنْ قَبْلِهِ إِذَا يُتْلَىٰ عَلَيْهِمْ يَخِرُّونَ لِلْأَذْقَانِ سُجَّدًا“Katakanlah, ‘Berimanlah kamu kepadanya atau tidak usah beriman (sama saja bagi Allah). Sesungguhnya orang-orang yang diberi pengetahuan sebelumnya apabila Al-Qur`an dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur atas muka mereka sambil bersujud” (QS. Al-Isra’: 107).وَيَقُولُونَ سُبْحَانَ رَبِّنَا إِنْ كَانَ وَعْدُ رَبِّنَا لَمَفْعُولًا“dan mereka berkata: “Maha Suci Tuhan kami, sesungguhnya janji Tuhan kami pasti dipenuhi” (QS. Al-Isra’: 108)وَيَخِرُّونَ لِلْأَذْقَانِ يَبْكُونَ وَيَزِيدُهُمْ خُشُوعًا“Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu” (QS. Al-Isra’: 109).أُولَٰئِكَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ مِنْ ذُرِّيَّةِ آدَمَ وَمِمَّنْ حَمَلْنَا مَعَ نُوحٍ وَمِنْ ذُرِّيَّةِ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْرَائِيلَ وَمِمَّنْ هَدَيْنَا وَاجْتَبَيْنَا ۚ إِذَا تُتْلَىٰ عَلَيْهِمْ آيَاتُ الرَّحْمَٰنِ خَرُّوا سُجَّدًا وَبُكِيًّا“Mereka itu adalah orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi dari keturunan Adam, dan dari orang-orang yang Kami angkat bersama Nuh, dan dari keturunan Ibrahim dan Israil, dan dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis” (QS. Maryam: 58)وَالَّذِينَ إِذَا ذُكِّرُوا بِآيَاتِ رَبِّهِمْ لَمْ يَخِرُّوا عَلَيْهَا صُمًّا وَعُمْيَانًا“Dan orang-orang yang apabila diberi peringatan dengan ayat-ayat Tuhan mereka, mereka tidaklah menghadapinya sebagai orang-orang yang tuli dan buta” (QS. Al-Furqan: 73).اللَّهُ نَزَّلَ أَحْسَنَ الْحَدِيثِ كِتَابًا مُتَشَابِهًا مَثَانِيَ تَقْشَعِرُّ مِنْهُ جُلُودُ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ ثُمَّ تَلِينُ جُلُودُهُمْ وَقُلُوبُهُمْ إِلَىٰ ذِكْرِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ هُدَى اللَّهِ يَهْدِي بِهِ مَنْ يَشَاءُ ۚ وَمَنْ يُضْلِلِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ هَادٍ“Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al-Qur`an yang serupa (kesempurnaan ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang , gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan Kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang disesatkan oleh Allah, niscaya tak ada baginya seorang pemimpin pun” (Az-Zumar: 23).Di dalam ayat-ayat di atas mengandung beberapa tanda seorang muslim tadabur Al-Qur`an yang bermanfaat bagi keimanannya,: Ikutsertanya hati dan pikiran ketika membaca Al-Qur’an, yang ditandai dengan perasaan takjub dan mengagungkan ayat -ayat yang dibacanya. Menangis karena takut kepada Allah murka karena seseorang melakukan dosa. Bertambahnya kekhusyukan hati. Bertambahnya keimanan dengan banyak membaca ayat-ayat Al-Qur`an. Menjadi bahagia dengan kabar gembira yang dibacanya. Takut kepada adzab Allah Ta’ala, dan rasa harap kepada ampunan-Nya dan rahmat-Nya, sehingga seorang hamba menjadi tenanglah dirinya. Bersujud kepada Allah dengan mengagungkan Allah ‘Azza wa Jalla sesuai dengan yang disyari’atkan. Tidaklah seorang hamba bisa dengan ikhlas dan semangat mentadaburi Al-Qur`an dengan sebaik-baiknya kecuali dalam hatinya terdapat kecintaan terhadap Al-Qur`an. Dan tanda-tanda hati seseorang mencintai Al-Qur`an, di antaranya: Merasa gembira dan bersyukur dengan karunia Al-Qur`an yang mengandung sebaik-baik petunjuk dan paling sempurnanya. Senang berlama-lama duduk membacanya, memahami tafsirnya, dan mentadaburinya tanpa merasa jemu. Rindu membaca Al-Qur`an setiap kali merasa berdosa, karena didalam Al-Qur`an terdapat ancaman bagi pelaku kemaksiatan, janji bagi orang yang taat kepada Allah, serta kabar tentang rahmat Allah yang luas dan ampunan-Nya. Senantiasa yakin dengan nasihat-nasihat yang ada di dalamnya dan merujuk kepadanya setiapkali menemui permasalahan. Mentaati semua perintah dan menghindari semua larangan yang ada di dalamnya.[1] Wallahu a’lam.[Selesai]Link Artikel Berseri: Apakah Kita Termasuk Orang yang Mentadaburi Al-Qur`an? (1) Apakah Kita Termasuk Orang yang Mentadaburi Al-Qur`an? (2) ***Penulis: Sa’id Abu Ukkasyah Artikel: Muslim.or.id [1].  Tanda-tanda tadabur Al-Qur`an dan Tanda-tanda hati mencintai Al-Qur`an diiolah dari http://www.alukah.net/sharia/0/6647/#ixzz4dCU8j8Nj🔍 Doa Adalah, Hadist Tentang Munafik, Ayat Alquran Tentang Jin, Hadist Tentang Alquran, Mp3 Kajian Sunnah
Baca pembahasan sebelumnya: Apakah Kita Termasuk Orang yang Mentadaburi Al-Qur`an? (1)Ayat Perintah untuk Mentadaburi Al-Qur`anAyat-ayat tentang perintah untuk mentadaburi Al-Qur`an terbagi menjadi dua macam:1) Ayat tentang perintah mentadaburi Al-Qur`an terkait dengan perkara yang khusus, seperti firman Allah Ta’ala,أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ ۚ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا“Maka apakah mereka tidak merenungkan Al-Qur`an? Kalau kiranya Al Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapati pertentangan yang banyak di dalamnya” (QS. An-Nisa`: 82).2) Ayat tentang perintah mentadaburi Al-Qur`an secara umum, seperti firman Allah Ta’ala,كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka merenungkan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran (yang baik)” (QS. Shad: 29).Tanda-Tanda Tadabur Al-Qur`an yang Bermanfaat bagi PelakunyaSeorang muslim yang mentadaburi Al-Qur`an itu memilki tanda-tanda yang disebutkan dalam Al-Qur`an, Allah Ta’ala berfirman,وَإِذَا مَا أُنْزِلَتْ سُورَةٌ فَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ أَيُّكُمْ زَادَتْهُ هَٰذِهِ إِيمَانًا ۚ فَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُوا فَزَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَهُمْ يَسْتَبْشِرُونَ“Dan apabila diturunkan suatu surat, maka di antara mereka (orang-orang munafik) ada yang berkata, ‘Siapakah di antara kamu yang bertambah imannya dengan (turunnya) surat ini?’ Adapun orang-orang yang beriman, maka surat ini menambah imannya, dan mereka merasa gembira” (At-Taubah: 124).قُلْ آمِنُوا بِهِ أَوْ لَا تُؤْمِنُوا ۚ إِنَّ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ مِنْ قَبْلِهِ إِذَا يُتْلَىٰ عَلَيْهِمْ يَخِرُّونَ لِلْأَذْقَانِ سُجَّدًا“Katakanlah, ‘Berimanlah kamu kepadanya atau tidak usah beriman (sama saja bagi Allah). Sesungguhnya orang-orang yang diberi pengetahuan sebelumnya apabila Al-Qur`an dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur atas muka mereka sambil bersujud” (QS. Al-Isra’: 107).وَيَقُولُونَ سُبْحَانَ رَبِّنَا إِنْ كَانَ وَعْدُ رَبِّنَا لَمَفْعُولًا“dan mereka berkata: “Maha Suci Tuhan kami, sesungguhnya janji Tuhan kami pasti dipenuhi” (QS. Al-Isra’: 108)وَيَخِرُّونَ لِلْأَذْقَانِ يَبْكُونَ وَيَزِيدُهُمْ خُشُوعًا“Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu” (QS. Al-Isra’: 109).أُولَٰئِكَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ مِنْ ذُرِّيَّةِ آدَمَ وَمِمَّنْ حَمَلْنَا مَعَ نُوحٍ وَمِنْ ذُرِّيَّةِ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْرَائِيلَ وَمِمَّنْ هَدَيْنَا وَاجْتَبَيْنَا ۚ إِذَا تُتْلَىٰ عَلَيْهِمْ آيَاتُ الرَّحْمَٰنِ خَرُّوا سُجَّدًا وَبُكِيًّا“Mereka itu adalah orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi dari keturunan Adam, dan dari orang-orang yang Kami angkat bersama Nuh, dan dari keturunan Ibrahim dan Israil, dan dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis” (QS. Maryam: 58)وَالَّذِينَ إِذَا ذُكِّرُوا بِآيَاتِ رَبِّهِمْ لَمْ يَخِرُّوا عَلَيْهَا صُمًّا وَعُمْيَانًا“Dan orang-orang yang apabila diberi peringatan dengan ayat-ayat Tuhan mereka, mereka tidaklah menghadapinya sebagai orang-orang yang tuli dan buta” (QS. Al-Furqan: 73).اللَّهُ نَزَّلَ أَحْسَنَ الْحَدِيثِ كِتَابًا مُتَشَابِهًا مَثَانِيَ تَقْشَعِرُّ مِنْهُ جُلُودُ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ ثُمَّ تَلِينُ جُلُودُهُمْ وَقُلُوبُهُمْ إِلَىٰ ذِكْرِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ هُدَى اللَّهِ يَهْدِي بِهِ مَنْ يَشَاءُ ۚ وَمَنْ يُضْلِلِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ هَادٍ“Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al-Qur`an yang serupa (kesempurnaan ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang , gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan Kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang disesatkan oleh Allah, niscaya tak ada baginya seorang pemimpin pun” (Az-Zumar: 23).Di dalam ayat-ayat di atas mengandung beberapa tanda seorang muslim tadabur Al-Qur`an yang bermanfaat bagi keimanannya,: Ikutsertanya hati dan pikiran ketika membaca Al-Qur’an, yang ditandai dengan perasaan takjub dan mengagungkan ayat -ayat yang dibacanya. Menangis karena takut kepada Allah murka karena seseorang melakukan dosa. Bertambahnya kekhusyukan hati. Bertambahnya keimanan dengan banyak membaca ayat-ayat Al-Qur`an. Menjadi bahagia dengan kabar gembira yang dibacanya. Takut kepada adzab Allah Ta’ala, dan rasa harap kepada ampunan-Nya dan rahmat-Nya, sehingga seorang hamba menjadi tenanglah dirinya. Bersujud kepada Allah dengan mengagungkan Allah ‘Azza wa Jalla sesuai dengan yang disyari’atkan. Tidaklah seorang hamba bisa dengan ikhlas dan semangat mentadaburi Al-Qur`an dengan sebaik-baiknya kecuali dalam hatinya terdapat kecintaan terhadap Al-Qur`an. Dan tanda-tanda hati seseorang mencintai Al-Qur`an, di antaranya: Merasa gembira dan bersyukur dengan karunia Al-Qur`an yang mengandung sebaik-baik petunjuk dan paling sempurnanya. Senang berlama-lama duduk membacanya, memahami tafsirnya, dan mentadaburinya tanpa merasa jemu. Rindu membaca Al-Qur`an setiap kali merasa berdosa, karena didalam Al-Qur`an terdapat ancaman bagi pelaku kemaksiatan, janji bagi orang yang taat kepada Allah, serta kabar tentang rahmat Allah yang luas dan ampunan-Nya. Senantiasa yakin dengan nasihat-nasihat yang ada di dalamnya dan merujuk kepadanya setiapkali menemui permasalahan. Mentaati semua perintah dan menghindari semua larangan yang ada di dalamnya.[1] Wallahu a’lam.[Selesai]Link Artikel Berseri: Apakah Kita Termasuk Orang yang Mentadaburi Al-Qur`an? (1) Apakah Kita Termasuk Orang yang Mentadaburi Al-Qur`an? (2) ***Penulis: Sa’id Abu Ukkasyah Artikel: Muslim.or.id [1].  Tanda-tanda tadabur Al-Qur`an dan Tanda-tanda hati mencintai Al-Qur`an diiolah dari http://www.alukah.net/sharia/0/6647/#ixzz4dCU8j8Nj🔍 Doa Adalah, Hadist Tentang Munafik, Ayat Alquran Tentang Jin, Hadist Tentang Alquran, Mp3 Kajian Sunnah


Baca pembahasan sebelumnya: Apakah Kita Termasuk Orang yang Mentadaburi Al-Qur`an? (1)Ayat Perintah untuk Mentadaburi Al-Qur`anAyat-ayat tentang perintah untuk mentadaburi Al-Qur`an terbagi menjadi dua macam:1) Ayat tentang perintah mentadaburi Al-Qur`an terkait dengan perkara yang khusus, seperti firman Allah Ta’ala,أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ ۚ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا“Maka apakah mereka tidak merenungkan Al-Qur`an? Kalau kiranya Al Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapati pertentangan yang banyak di dalamnya” (QS. An-Nisa`: 82).2) Ayat tentang perintah mentadaburi Al-Qur`an secara umum, seperti firman Allah Ta’ala,كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka merenungkan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran (yang baik)” (QS. Shad: 29).Tanda-Tanda Tadabur Al-Qur`an yang Bermanfaat bagi PelakunyaSeorang muslim yang mentadaburi Al-Qur`an itu memilki tanda-tanda yang disebutkan dalam Al-Qur`an, Allah Ta’ala berfirman,وَإِذَا مَا أُنْزِلَتْ سُورَةٌ فَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ أَيُّكُمْ زَادَتْهُ هَٰذِهِ إِيمَانًا ۚ فَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُوا فَزَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَهُمْ يَسْتَبْشِرُونَ“Dan apabila diturunkan suatu surat, maka di antara mereka (orang-orang munafik) ada yang berkata, ‘Siapakah di antara kamu yang bertambah imannya dengan (turunnya) surat ini?’ Adapun orang-orang yang beriman, maka surat ini menambah imannya, dan mereka merasa gembira” (At-Taubah: 124).قُلْ آمِنُوا بِهِ أَوْ لَا تُؤْمِنُوا ۚ إِنَّ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ مِنْ قَبْلِهِ إِذَا يُتْلَىٰ عَلَيْهِمْ يَخِرُّونَ لِلْأَذْقَانِ سُجَّدًا“Katakanlah, ‘Berimanlah kamu kepadanya atau tidak usah beriman (sama saja bagi Allah). Sesungguhnya orang-orang yang diberi pengetahuan sebelumnya apabila Al-Qur`an dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur atas muka mereka sambil bersujud” (QS. Al-Isra’: 107).وَيَقُولُونَ سُبْحَانَ رَبِّنَا إِنْ كَانَ وَعْدُ رَبِّنَا لَمَفْعُولًا“dan mereka berkata: “Maha Suci Tuhan kami, sesungguhnya janji Tuhan kami pasti dipenuhi” (QS. Al-Isra’: 108)وَيَخِرُّونَ لِلْأَذْقَانِ يَبْكُونَ وَيَزِيدُهُمْ خُشُوعًا“Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu” (QS. Al-Isra’: 109).أُولَٰئِكَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ مِنْ ذُرِّيَّةِ آدَمَ وَمِمَّنْ حَمَلْنَا مَعَ نُوحٍ وَمِنْ ذُرِّيَّةِ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْرَائِيلَ وَمِمَّنْ هَدَيْنَا وَاجْتَبَيْنَا ۚ إِذَا تُتْلَىٰ عَلَيْهِمْ آيَاتُ الرَّحْمَٰنِ خَرُّوا سُجَّدًا وَبُكِيًّا“Mereka itu adalah orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi dari keturunan Adam, dan dari orang-orang yang Kami angkat bersama Nuh, dan dari keturunan Ibrahim dan Israil, dan dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis” (QS. Maryam: 58)وَالَّذِينَ إِذَا ذُكِّرُوا بِآيَاتِ رَبِّهِمْ لَمْ يَخِرُّوا عَلَيْهَا صُمًّا وَعُمْيَانًا“Dan orang-orang yang apabila diberi peringatan dengan ayat-ayat Tuhan mereka, mereka tidaklah menghadapinya sebagai orang-orang yang tuli dan buta” (QS. Al-Furqan: 73).اللَّهُ نَزَّلَ أَحْسَنَ الْحَدِيثِ كِتَابًا مُتَشَابِهًا مَثَانِيَ تَقْشَعِرُّ مِنْهُ جُلُودُ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ ثُمَّ تَلِينُ جُلُودُهُمْ وَقُلُوبُهُمْ إِلَىٰ ذِكْرِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ هُدَى اللَّهِ يَهْدِي بِهِ مَنْ يَشَاءُ ۚ وَمَنْ يُضْلِلِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ هَادٍ“Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al-Qur`an yang serupa (kesempurnaan ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang , gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan Kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang disesatkan oleh Allah, niscaya tak ada baginya seorang pemimpin pun” (Az-Zumar: 23).Di dalam ayat-ayat di atas mengandung beberapa tanda seorang muslim tadabur Al-Qur`an yang bermanfaat bagi keimanannya,: Ikutsertanya hati dan pikiran ketika membaca Al-Qur’an, yang ditandai dengan perasaan takjub dan mengagungkan ayat -ayat yang dibacanya. Menangis karena takut kepada Allah murka karena seseorang melakukan dosa. Bertambahnya kekhusyukan hati. Bertambahnya keimanan dengan banyak membaca ayat-ayat Al-Qur`an. Menjadi bahagia dengan kabar gembira yang dibacanya. Takut kepada adzab Allah Ta’ala, dan rasa harap kepada ampunan-Nya dan rahmat-Nya, sehingga seorang hamba menjadi tenanglah dirinya. Bersujud kepada Allah dengan mengagungkan Allah ‘Azza wa Jalla sesuai dengan yang disyari’atkan. Tidaklah seorang hamba bisa dengan ikhlas dan semangat mentadaburi Al-Qur`an dengan sebaik-baiknya kecuali dalam hatinya terdapat kecintaan terhadap Al-Qur`an. Dan tanda-tanda hati seseorang mencintai Al-Qur`an, di antaranya: Merasa gembira dan bersyukur dengan karunia Al-Qur`an yang mengandung sebaik-baik petunjuk dan paling sempurnanya. Senang berlama-lama duduk membacanya, memahami tafsirnya, dan mentadaburinya tanpa merasa jemu. Rindu membaca Al-Qur`an setiap kali merasa berdosa, karena didalam Al-Qur`an terdapat ancaman bagi pelaku kemaksiatan, janji bagi orang yang taat kepada Allah, serta kabar tentang rahmat Allah yang luas dan ampunan-Nya. Senantiasa yakin dengan nasihat-nasihat yang ada di dalamnya dan merujuk kepadanya setiapkali menemui permasalahan. Mentaati semua perintah dan menghindari semua larangan yang ada di dalamnya.[1] Wallahu a’lam.[Selesai]Link Artikel Berseri: Apakah Kita Termasuk Orang yang Mentadaburi Al-Qur`an? (1) Apakah Kita Termasuk Orang yang Mentadaburi Al-Qur`an? (2) ***Penulis: Sa’id Abu Ukkasyah Artikel: Muslim.or.id [1].  Tanda-tanda tadabur Al-Qur`an dan Tanda-tanda hati mencintai Al-Qur`an diiolah dari http://www.alukah.net/sharia/0/6647/#ixzz4dCU8j8Nj🔍 Doa Adalah, Hadist Tentang Munafik, Ayat Alquran Tentang Jin, Hadist Tentang Alquran, Mp3 Kajian Sunnah
Prev     Next