Tidak Ada Perkataan Dusta dan Kotor

Tahukah Anda tempat dan waktu yg tidak ada perkataan dan berita dusta? (لَا يَسْمَعُونَ فِيهَا لَغْوًا وَلَا كِذَّابًا) Di dalamnya mereka tidak mendengar perkataan yang sia-sia dan tidak (pula) perkataan dusta. [Surat An-Naba’ 35] Ibnu katsir mengatakan, “Ayat ini sebagaimana firman Allah dalam surat Ath Thur “لا لغو فيها ولا تأثيم” Tidak ada perkataan sia-sia di dalamnya, dan tidak ada kemaksiatan di dalamnya. Maksudnya tidak ada di dalamnya kalimat sia2 yg hina yg jauh dr faidah serta tidak ada maksiat dan kedustaan. Tempat itu adalah Darus Salam (surga) yg penghuninya selamat (dari perkataan sia2 dan dusta). **Abu Najmah Syahidah

Tidak Ada Perkataan Dusta dan Kotor

Tahukah Anda tempat dan waktu yg tidak ada perkataan dan berita dusta? (لَا يَسْمَعُونَ فِيهَا لَغْوًا وَلَا كِذَّابًا) Di dalamnya mereka tidak mendengar perkataan yang sia-sia dan tidak (pula) perkataan dusta. [Surat An-Naba’ 35] Ibnu katsir mengatakan, “Ayat ini sebagaimana firman Allah dalam surat Ath Thur “لا لغو فيها ولا تأثيم” Tidak ada perkataan sia-sia di dalamnya, dan tidak ada kemaksiatan di dalamnya. Maksudnya tidak ada di dalamnya kalimat sia2 yg hina yg jauh dr faidah serta tidak ada maksiat dan kedustaan. Tempat itu adalah Darus Salam (surga) yg penghuninya selamat (dari perkataan sia2 dan dusta). **Abu Najmah Syahidah
Tahukah Anda tempat dan waktu yg tidak ada perkataan dan berita dusta? (لَا يَسْمَعُونَ فِيهَا لَغْوًا وَلَا كِذَّابًا) Di dalamnya mereka tidak mendengar perkataan yang sia-sia dan tidak (pula) perkataan dusta. [Surat An-Naba’ 35] Ibnu katsir mengatakan, “Ayat ini sebagaimana firman Allah dalam surat Ath Thur “لا لغو فيها ولا تأثيم” Tidak ada perkataan sia-sia di dalamnya, dan tidak ada kemaksiatan di dalamnya. Maksudnya tidak ada di dalamnya kalimat sia2 yg hina yg jauh dr faidah serta tidak ada maksiat dan kedustaan. Tempat itu adalah Darus Salam (surga) yg penghuninya selamat (dari perkataan sia2 dan dusta). **Abu Najmah Syahidah


Tahukah Anda tempat dan waktu yg tidak ada perkataan dan berita dusta? (لَا يَسْمَعُونَ فِيهَا لَغْوًا وَلَا كِذَّابًا) Di dalamnya mereka tidak mendengar perkataan yang sia-sia dan tidak (pula) perkataan dusta. [Surat An-Naba’ 35] Ibnu katsir mengatakan, “Ayat ini sebagaimana firman Allah dalam surat Ath Thur “لا لغو فيها ولا تأثيم” Tidak ada perkataan sia-sia di dalamnya, dan tidak ada kemaksiatan di dalamnya. Maksudnya tidak ada di dalamnya kalimat sia2 yg hina yg jauh dr faidah serta tidak ada maksiat dan kedustaan. Tempat itu adalah Darus Salam (surga) yg penghuninya selamat (dari perkataan sia2 dan dusta). **Abu Najmah Syahidah

Metode Al-Qur’an Dalam Memerintah dan Melarang Hamba Allah Yang Beriman (6)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إن الله إذا أحب عبدا دعا جبريل فقال إني أحب فلانا فأحبه قال فيحبه جبريل ثم ينادي في السماء فيقول إن الله يحب فلانا فأحبوه فيحبه أهل السماء قال ثم يوضع له القبول في الأرض“Jika Allah mencintai seorang hamba, maka Allah memanggil malaikat Jibril lalu berfirman, ‘Sesungguhnya Aku mencintai fulan, oleh karena itu cintailah si fulan.’ Maka, Jibril pun mencintainya. Lalu, malaikat Jibril menyeru di langit, beliau berkata, ‘Sesungguhnya Allah mencintai fulan, oleh karena itu hendaklah kalian mencintai fulan.’ Maka, penduduk langit pun mencintai si fulan. Kemudian, diletakkan untuk si fulan tersebut penerimaan di muka bumi” (HR. Muslim).Makna  ‘diletakkan untuk si fulan tersebut penerimaan di muka bumi’ sebagaimana dijelaskan An-Nawawi rahimahullah, yaitu:الحب في قلوب الناس ، ورضاهم عنه ، فتميل إليه القلوب ، وترضى عنه “Kecintaan di hati manusia (kepada orang tersebut), mereka menerimanya, condong hati mereka kepadanya dan mereka meridhainya” (Syarah Shahih Muslim An-Nawawi).ويفهم منه أن محبة قلوب الناس علامة محبة الله عز وجل “Dipahami darinya bahwa kecintaan di hati manusia (kepada seseorang) adalah tanda kecintaan Allah ‘Azza wa Jalla” (Umdatul Qari’ Syarah Shahih Al-Bukhari).Allah melarang Hamba-Nya dari Keburukan dengan Menyebutkan Dampak Negatif dan Akibat Buruknya di Dunia maupun di AkhiratAllah Ta’ala berfirman,إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ ۚ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَىٰ إِثْمًا عَظِيمًا(48) “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik[1. Yang dimaksud syirik paada ayat ini menurut pendapat ulama yang terkuat adalah syirik besar], dan Dia mengampuni dosa yang dibawah kesyirikan tersebut bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar” (QS. An-Nisaa`: 48).Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ ۚ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا بَعِيدًا(116) Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa yang di bawah kesyirikan tersebut bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya (QS. An-Nisaa`:116).Kedua ayat ini menunjukkan bahwa menyekutukan Allah (syirik besar) adalah perkara yang terlarang, karena syirik disebut sebagai dosa yang besar dan Allah Ta’ala juga menyebutkan akibat buruk bagi pelakunya pada kedua ayat ini, yaitu tersesat sejauh-jauhnya dan tidak akan diampuni oleh Allah Ta’ala. [Bersambung]***Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id___🔍 Tata Cara Mandi Junub Sesuai Sunnah, Hukum Zakat Mal, Gambar Ucapan Salam Islam, Kata Ucapan Salam, Bacaan Solat Yang Benar

Metode Al-Qur’an Dalam Memerintah dan Melarang Hamba Allah Yang Beriman (6)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إن الله إذا أحب عبدا دعا جبريل فقال إني أحب فلانا فأحبه قال فيحبه جبريل ثم ينادي في السماء فيقول إن الله يحب فلانا فأحبوه فيحبه أهل السماء قال ثم يوضع له القبول في الأرض“Jika Allah mencintai seorang hamba, maka Allah memanggil malaikat Jibril lalu berfirman, ‘Sesungguhnya Aku mencintai fulan, oleh karena itu cintailah si fulan.’ Maka, Jibril pun mencintainya. Lalu, malaikat Jibril menyeru di langit, beliau berkata, ‘Sesungguhnya Allah mencintai fulan, oleh karena itu hendaklah kalian mencintai fulan.’ Maka, penduduk langit pun mencintai si fulan. Kemudian, diletakkan untuk si fulan tersebut penerimaan di muka bumi” (HR. Muslim).Makna  ‘diletakkan untuk si fulan tersebut penerimaan di muka bumi’ sebagaimana dijelaskan An-Nawawi rahimahullah, yaitu:الحب في قلوب الناس ، ورضاهم عنه ، فتميل إليه القلوب ، وترضى عنه “Kecintaan di hati manusia (kepada orang tersebut), mereka menerimanya, condong hati mereka kepadanya dan mereka meridhainya” (Syarah Shahih Muslim An-Nawawi).ويفهم منه أن محبة قلوب الناس علامة محبة الله عز وجل “Dipahami darinya bahwa kecintaan di hati manusia (kepada seseorang) adalah tanda kecintaan Allah ‘Azza wa Jalla” (Umdatul Qari’ Syarah Shahih Al-Bukhari).Allah melarang Hamba-Nya dari Keburukan dengan Menyebutkan Dampak Negatif dan Akibat Buruknya di Dunia maupun di AkhiratAllah Ta’ala berfirman,إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ ۚ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَىٰ إِثْمًا عَظِيمًا(48) “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik[1. Yang dimaksud syirik paada ayat ini menurut pendapat ulama yang terkuat adalah syirik besar], dan Dia mengampuni dosa yang dibawah kesyirikan tersebut bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar” (QS. An-Nisaa`: 48).Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ ۚ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا بَعِيدًا(116) Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa yang di bawah kesyirikan tersebut bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya (QS. An-Nisaa`:116).Kedua ayat ini menunjukkan bahwa menyekutukan Allah (syirik besar) adalah perkara yang terlarang, karena syirik disebut sebagai dosa yang besar dan Allah Ta’ala juga menyebutkan akibat buruk bagi pelakunya pada kedua ayat ini, yaitu tersesat sejauh-jauhnya dan tidak akan diampuni oleh Allah Ta’ala. [Bersambung]***Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id___🔍 Tata Cara Mandi Junub Sesuai Sunnah, Hukum Zakat Mal, Gambar Ucapan Salam Islam, Kata Ucapan Salam, Bacaan Solat Yang Benar
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إن الله إذا أحب عبدا دعا جبريل فقال إني أحب فلانا فأحبه قال فيحبه جبريل ثم ينادي في السماء فيقول إن الله يحب فلانا فأحبوه فيحبه أهل السماء قال ثم يوضع له القبول في الأرض“Jika Allah mencintai seorang hamba, maka Allah memanggil malaikat Jibril lalu berfirman, ‘Sesungguhnya Aku mencintai fulan, oleh karena itu cintailah si fulan.’ Maka, Jibril pun mencintainya. Lalu, malaikat Jibril menyeru di langit, beliau berkata, ‘Sesungguhnya Allah mencintai fulan, oleh karena itu hendaklah kalian mencintai fulan.’ Maka, penduduk langit pun mencintai si fulan. Kemudian, diletakkan untuk si fulan tersebut penerimaan di muka bumi” (HR. Muslim).Makna  ‘diletakkan untuk si fulan tersebut penerimaan di muka bumi’ sebagaimana dijelaskan An-Nawawi rahimahullah, yaitu:الحب في قلوب الناس ، ورضاهم عنه ، فتميل إليه القلوب ، وترضى عنه “Kecintaan di hati manusia (kepada orang tersebut), mereka menerimanya, condong hati mereka kepadanya dan mereka meridhainya” (Syarah Shahih Muslim An-Nawawi).ويفهم منه أن محبة قلوب الناس علامة محبة الله عز وجل “Dipahami darinya bahwa kecintaan di hati manusia (kepada seseorang) adalah tanda kecintaan Allah ‘Azza wa Jalla” (Umdatul Qari’ Syarah Shahih Al-Bukhari).Allah melarang Hamba-Nya dari Keburukan dengan Menyebutkan Dampak Negatif dan Akibat Buruknya di Dunia maupun di AkhiratAllah Ta’ala berfirman,إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ ۚ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَىٰ إِثْمًا عَظِيمًا(48) “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik[1. Yang dimaksud syirik paada ayat ini menurut pendapat ulama yang terkuat adalah syirik besar], dan Dia mengampuni dosa yang dibawah kesyirikan tersebut bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar” (QS. An-Nisaa`: 48).Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ ۚ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا بَعِيدًا(116) Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa yang di bawah kesyirikan tersebut bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya (QS. An-Nisaa`:116).Kedua ayat ini menunjukkan bahwa menyekutukan Allah (syirik besar) adalah perkara yang terlarang, karena syirik disebut sebagai dosa yang besar dan Allah Ta’ala juga menyebutkan akibat buruk bagi pelakunya pada kedua ayat ini, yaitu tersesat sejauh-jauhnya dan tidak akan diampuni oleh Allah Ta’ala. [Bersambung]***Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id___🔍 Tata Cara Mandi Junub Sesuai Sunnah, Hukum Zakat Mal, Gambar Ucapan Salam Islam, Kata Ucapan Salam, Bacaan Solat Yang Benar


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إن الله إذا أحب عبدا دعا جبريل فقال إني أحب فلانا فأحبه قال فيحبه جبريل ثم ينادي في السماء فيقول إن الله يحب فلانا فأحبوه فيحبه أهل السماء قال ثم يوضع له القبول في الأرض“Jika Allah mencintai seorang hamba, maka Allah memanggil malaikat Jibril lalu berfirman, ‘Sesungguhnya Aku mencintai fulan, oleh karena itu cintailah si fulan.’ Maka, Jibril pun mencintainya. Lalu, malaikat Jibril menyeru di langit, beliau berkata, ‘Sesungguhnya Allah mencintai fulan, oleh karena itu hendaklah kalian mencintai fulan.’ Maka, penduduk langit pun mencintai si fulan. Kemudian, diletakkan untuk si fulan tersebut penerimaan di muka bumi” (HR. Muslim).Makna  ‘diletakkan untuk si fulan tersebut penerimaan di muka bumi’ sebagaimana dijelaskan An-Nawawi rahimahullah, yaitu:الحب في قلوب الناس ، ورضاهم عنه ، فتميل إليه القلوب ، وترضى عنه “Kecintaan di hati manusia (kepada orang tersebut), mereka menerimanya, condong hati mereka kepadanya dan mereka meridhainya” (Syarah Shahih Muslim An-Nawawi).ويفهم منه أن محبة قلوب الناس علامة محبة الله عز وجل “Dipahami darinya bahwa kecintaan di hati manusia (kepada seseorang) adalah tanda kecintaan Allah ‘Azza wa Jalla” (Umdatul Qari’ Syarah Shahih Al-Bukhari).Allah melarang Hamba-Nya dari Keburukan dengan Menyebutkan Dampak Negatif dan Akibat Buruknya di Dunia maupun di AkhiratAllah Ta’ala berfirman,إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ ۚ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَىٰ إِثْمًا عَظِيمًا(48) “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik[1. Yang dimaksud syirik paada ayat ini menurut pendapat ulama yang terkuat adalah syirik besar], dan Dia mengampuni dosa yang dibawah kesyirikan tersebut bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar” (QS. An-Nisaa`: 48).Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ ۚ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا بَعِيدًا(116) Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa yang di bawah kesyirikan tersebut bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya (QS. An-Nisaa`:116).Kedua ayat ini menunjukkan bahwa menyekutukan Allah (syirik besar) adalah perkara yang terlarang, karena syirik disebut sebagai dosa yang besar dan Allah Ta’ala juga menyebutkan akibat buruk bagi pelakunya pada kedua ayat ini, yaitu tersesat sejauh-jauhnya dan tidak akan diampuni oleh Allah Ta’ala. [Bersambung]***Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id___🔍 Tata Cara Mandi Junub Sesuai Sunnah, Hukum Zakat Mal, Gambar Ucapan Salam Islam, Kata Ucapan Salam, Bacaan Solat Yang Benar

Ujub Maksiat Tanpa Sadar

Fasiq dan Ujub Sesungguhnya orang fasiq mengetahui dosa-dosa mereka dan membuat hatinya menderita. Sehingga dia bisa menangisi kesalahannya. Adapun orang ujub dia tidak mengetahui kondisinya dalam keadaan bermaksiat. Bagaimana mungkin dia menangisi dosa-dosa yg kotor ini sementara dia tidak sadar dalam kondisi ujub? Adapun tawadhu’ adalah orang yg bisa melihat dirinya dalam keadaan kecil dan merasa hina. Allah berfirman, ﴿فَلا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى﴾ النجم 32 Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dia-lah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa. *Abu Najmah Syahidah

Ujub Maksiat Tanpa Sadar

Fasiq dan Ujub Sesungguhnya orang fasiq mengetahui dosa-dosa mereka dan membuat hatinya menderita. Sehingga dia bisa menangisi kesalahannya. Adapun orang ujub dia tidak mengetahui kondisinya dalam keadaan bermaksiat. Bagaimana mungkin dia menangisi dosa-dosa yg kotor ini sementara dia tidak sadar dalam kondisi ujub? Adapun tawadhu’ adalah orang yg bisa melihat dirinya dalam keadaan kecil dan merasa hina. Allah berfirman, ﴿فَلا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى﴾ النجم 32 Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dia-lah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa. *Abu Najmah Syahidah
Fasiq dan Ujub Sesungguhnya orang fasiq mengetahui dosa-dosa mereka dan membuat hatinya menderita. Sehingga dia bisa menangisi kesalahannya. Adapun orang ujub dia tidak mengetahui kondisinya dalam keadaan bermaksiat. Bagaimana mungkin dia menangisi dosa-dosa yg kotor ini sementara dia tidak sadar dalam kondisi ujub? Adapun tawadhu’ adalah orang yg bisa melihat dirinya dalam keadaan kecil dan merasa hina. Allah berfirman, ﴿فَلا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى﴾ النجم 32 Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dia-lah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa. *Abu Najmah Syahidah


Fasiq dan Ujub Sesungguhnya orang fasiq mengetahui dosa-dosa mereka dan membuat hatinya menderita. Sehingga dia bisa menangisi kesalahannya. Adapun orang ujub dia tidak mengetahui kondisinya dalam keadaan bermaksiat. Bagaimana mungkin dia menangisi dosa-dosa yg kotor ini sementara dia tidak sadar dalam kondisi ujub? Adapun tawadhu’ adalah orang yg bisa melihat dirinya dalam keadaan kecil dan merasa hina. Allah berfirman, ﴿فَلا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى﴾ النجم 32 Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dia-lah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa. *Abu Najmah Syahidah

Akhlak Mulia Adalah Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam

Alhamdulillah jika kita bersemangat untuk melaksanakan sunnah Nabi shallalahu a’alaihi wa sallam, mulai dari menggunakan siwak sampai sunnah mandi hari Jumat dan sunnah lainnya. Akan tetapi kita perlu lebih semangat melaksanakan sunnah (ajaran) Nabi yang satu ini yaitu: berakhlak mulia. Awalnya kami mengira permasalahan utama adalah tauhid dan aqidah SAJA, tetapi ternyata akhlak mulia sangat penting bagi masyarakat dan dakwah.Ulama besar abad ini, Syaikh Al-Albani rahimahullah sudah menyadari hal ini sebelumnya. Beliau berkata,كنت أظن أن المشكلة في العالم الإسلامي إنما هي فقط ابتعادهم عن فهمهم لحقيقة معنى لا اله إلا الله ولكني مع الزمن صرت أتبيّن أن هناك مشكلة أخرى في هذا العالم تُضاف إلى المشكلة الأولى الأساسية – ألا وهي بُعدهم عن التوحيد – المشكلة الأخرى: أنهم أكثرهم لا يتخلقون بأخلاق الإسلام الصحيحة إلا بقدر زهيد“Saya dahulunya MENGIRA bahwa problem utama dunia Islam saat ini hanyalah SEMATA-MATA jauhnya mereka dari pemahaman yang benar terhadap hakikat “La ilaha illallah”. Namun setelah beberapa waktu, tampaklah pada diriku bahwa ada “masalah lain” (yang tidak kalah penting) sebagai tambahan atas masalah pokok yang pertama tadi, yaitu problem jauhnya mereka dari tauhid. MASALAH LAIN tersebut adalah: banyaknya orang yang tidak berakhlak dengan akhlak Islam yang benar, kecuali sedikit saja”[1. Fatawa Jeddah, kaset no 34 menit 4:38].Iya akhlak yang mulia, ini adalah cerminan keimanan seseorang. Bukan hanya ilmunya, karena seseorang diberi ganjaran karena amal bukan karena ilmu. Bisa jadi seorang ilmunya “terlihat tinggi” tetapi akhlaknya jelek, maka akhlaknya itulah cerminan imannya.Ada 3 poin akhlak mulia yang dijelaskan ulama, Hasan Al-Bashri menjelaskan,كف الأذى ؛ وبذل الندى ؛ وطلاقة الوجه“[1] Tidak menganggu, [2] suka menolong dan [3] berwajah ceria/optimis”[1] Tidak mengangguJika memang tidak bisa membantu dan memberi manfaat, minimal jangan mengganggu atau membuat orang lain susah.[2] Suka menolongMembantu saudara kita dengan tenaga, harta atau pikiran, karena kita yakin jika membantu saudara di dunia maka ada-ada saja cara Allah akan membantu kita dunia-akhirat dengan cara yang tidak kita sangka.[3] Berwajah ceria/optimisMembuat orang sekitar kita juga optimis dan bahagia hanya karena berjumpa dengan kita, artinya kita bisa membuat mereka bahagia hanya dengan sekedar penjumpaan saja, terlebih lagi setelah kita berbicara yang menyenangkan mereka kemudian bisa membantu mereka.Perlu kita ingat bahwa amalan yang paling banyak memasukkan surga adalah akhlak mulia. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,أَكْثَرُ مَا يُدْخِلُ اَلْجَنَّةَ تَقْوى اَللَّهِ وَحُسْنُ اَلْخُلُقِ“Yang paling banyak memasukkan ke surga adalah takwa kepada Allah dan akhlak yang mulia”[2. HR At-Tirmidzi, Ibnu Maajah dan Al-Haakim dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani].Semoga kita tidak hanya fokus pada ilmu, tetapi juga pada amal dan akhlak kita. Syaikh Al-Albani berkata melanjutkan,أنا ألاحظ مع الأسف أن الناس اليوم يهتمون بالجانب الأول ألا وهو العلم ولا يهتمون بالجانب الآخر ألا وهو الأخلاق والسلوك“Saya perhatikan, disayangkan sekali banyak orang di zaman ini lebih mementingkan pada satu aspek, yaitu ilmu namun tidak menaruh perhatian pada aspek yang lain, yaitu perkara akhlak dan perangai”[3. Fatawa Jeddah, kaset no 34 menit 4:38].Semoga Allah selalu memperbagus akhlak kita dengan doa yang kita panjatkan,Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam salah satu do’anya beliau mengucapkan:,أَللَّهُمَّ اهْدِنِيْ لِأَحْسَنِ الأَخْلَاقِ, فَإِنَّهُ لَا يَهْدِيْ لِأَحْسَنِهَا إِلَّا أَنْتَ وَاصْرِفْ عَنِّيْ سَيِّئَهَالَايَصْرِفُ عَنِّيْ سَيِّئَهَاإِلَّاأَنْتَ“Ya Allah, tunjukkanlah aku pada akhlak yang paling baik, karena tidak ada yang bisa menunjukkannya selain Engkau. Ya Allah, jauhkanlah aku dari akhlak yang tidak baik, karena tidak ada yang mampu menjauhkannya dariku selain Engkau”[4. HR. Muslim no. 771].@Laboratorium RS Manambai, Sumbawa Besar***Penulis: dr. Raehanul BahraenArtikel Muslim.or.id___🔍 Kewajiban Sholat, Hadits Mencari Ilmu, Hadits Tentang Hukum Menuntut Ilmu, Jumlah Makmum Dalam Shalat Berjamaah Paling Sedikit Adalah, Masjid At Thur

Akhlak Mulia Adalah Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam

Alhamdulillah jika kita bersemangat untuk melaksanakan sunnah Nabi shallalahu a’alaihi wa sallam, mulai dari menggunakan siwak sampai sunnah mandi hari Jumat dan sunnah lainnya. Akan tetapi kita perlu lebih semangat melaksanakan sunnah (ajaran) Nabi yang satu ini yaitu: berakhlak mulia. Awalnya kami mengira permasalahan utama adalah tauhid dan aqidah SAJA, tetapi ternyata akhlak mulia sangat penting bagi masyarakat dan dakwah.Ulama besar abad ini, Syaikh Al-Albani rahimahullah sudah menyadari hal ini sebelumnya. Beliau berkata,كنت أظن أن المشكلة في العالم الإسلامي إنما هي فقط ابتعادهم عن فهمهم لحقيقة معنى لا اله إلا الله ولكني مع الزمن صرت أتبيّن أن هناك مشكلة أخرى في هذا العالم تُضاف إلى المشكلة الأولى الأساسية – ألا وهي بُعدهم عن التوحيد – المشكلة الأخرى: أنهم أكثرهم لا يتخلقون بأخلاق الإسلام الصحيحة إلا بقدر زهيد“Saya dahulunya MENGIRA bahwa problem utama dunia Islam saat ini hanyalah SEMATA-MATA jauhnya mereka dari pemahaman yang benar terhadap hakikat “La ilaha illallah”. Namun setelah beberapa waktu, tampaklah pada diriku bahwa ada “masalah lain” (yang tidak kalah penting) sebagai tambahan atas masalah pokok yang pertama tadi, yaitu problem jauhnya mereka dari tauhid. MASALAH LAIN tersebut adalah: banyaknya orang yang tidak berakhlak dengan akhlak Islam yang benar, kecuali sedikit saja”[1. Fatawa Jeddah, kaset no 34 menit 4:38].Iya akhlak yang mulia, ini adalah cerminan keimanan seseorang. Bukan hanya ilmunya, karena seseorang diberi ganjaran karena amal bukan karena ilmu. Bisa jadi seorang ilmunya “terlihat tinggi” tetapi akhlaknya jelek, maka akhlaknya itulah cerminan imannya.Ada 3 poin akhlak mulia yang dijelaskan ulama, Hasan Al-Bashri menjelaskan,كف الأذى ؛ وبذل الندى ؛ وطلاقة الوجه“[1] Tidak menganggu, [2] suka menolong dan [3] berwajah ceria/optimis”[1] Tidak mengangguJika memang tidak bisa membantu dan memberi manfaat, minimal jangan mengganggu atau membuat orang lain susah.[2] Suka menolongMembantu saudara kita dengan tenaga, harta atau pikiran, karena kita yakin jika membantu saudara di dunia maka ada-ada saja cara Allah akan membantu kita dunia-akhirat dengan cara yang tidak kita sangka.[3] Berwajah ceria/optimisMembuat orang sekitar kita juga optimis dan bahagia hanya karena berjumpa dengan kita, artinya kita bisa membuat mereka bahagia hanya dengan sekedar penjumpaan saja, terlebih lagi setelah kita berbicara yang menyenangkan mereka kemudian bisa membantu mereka.Perlu kita ingat bahwa amalan yang paling banyak memasukkan surga adalah akhlak mulia. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,أَكْثَرُ مَا يُدْخِلُ اَلْجَنَّةَ تَقْوى اَللَّهِ وَحُسْنُ اَلْخُلُقِ“Yang paling banyak memasukkan ke surga adalah takwa kepada Allah dan akhlak yang mulia”[2. HR At-Tirmidzi, Ibnu Maajah dan Al-Haakim dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani].Semoga kita tidak hanya fokus pada ilmu, tetapi juga pada amal dan akhlak kita. Syaikh Al-Albani berkata melanjutkan,أنا ألاحظ مع الأسف أن الناس اليوم يهتمون بالجانب الأول ألا وهو العلم ولا يهتمون بالجانب الآخر ألا وهو الأخلاق والسلوك“Saya perhatikan, disayangkan sekali banyak orang di zaman ini lebih mementingkan pada satu aspek, yaitu ilmu namun tidak menaruh perhatian pada aspek yang lain, yaitu perkara akhlak dan perangai”[3. Fatawa Jeddah, kaset no 34 menit 4:38].Semoga Allah selalu memperbagus akhlak kita dengan doa yang kita panjatkan,Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam salah satu do’anya beliau mengucapkan:,أَللَّهُمَّ اهْدِنِيْ لِأَحْسَنِ الأَخْلَاقِ, فَإِنَّهُ لَا يَهْدِيْ لِأَحْسَنِهَا إِلَّا أَنْتَ وَاصْرِفْ عَنِّيْ سَيِّئَهَالَايَصْرِفُ عَنِّيْ سَيِّئَهَاإِلَّاأَنْتَ“Ya Allah, tunjukkanlah aku pada akhlak yang paling baik, karena tidak ada yang bisa menunjukkannya selain Engkau. Ya Allah, jauhkanlah aku dari akhlak yang tidak baik, karena tidak ada yang mampu menjauhkannya dariku selain Engkau”[4. HR. Muslim no. 771].@Laboratorium RS Manambai, Sumbawa Besar***Penulis: dr. Raehanul BahraenArtikel Muslim.or.id___🔍 Kewajiban Sholat, Hadits Mencari Ilmu, Hadits Tentang Hukum Menuntut Ilmu, Jumlah Makmum Dalam Shalat Berjamaah Paling Sedikit Adalah, Masjid At Thur
Alhamdulillah jika kita bersemangat untuk melaksanakan sunnah Nabi shallalahu a’alaihi wa sallam, mulai dari menggunakan siwak sampai sunnah mandi hari Jumat dan sunnah lainnya. Akan tetapi kita perlu lebih semangat melaksanakan sunnah (ajaran) Nabi yang satu ini yaitu: berakhlak mulia. Awalnya kami mengira permasalahan utama adalah tauhid dan aqidah SAJA, tetapi ternyata akhlak mulia sangat penting bagi masyarakat dan dakwah.Ulama besar abad ini, Syaikh Al-Albani rahimahullah sudah menyadari hal ini sebelumnya. Beliau berkata,كنت أظن أن المشكلة في العالم الإسلامي إنما هي فقط ابتعادهم عن فهمهم لحقيقة معنى لا اله إلا الله ولكني مع الزمن صرت أتبيّن أن هناك مشكلة أخرى في هذا العالم تُضاف إلى المشكلة الأولى الأساسية – ألا وهي بُعدهم عن التوحيد – المشكلة الأخرى: أنهم أكثرهم لا يتخلقون بأخلاق الإسلام الصحيحة إلا بقدر زهيد“Saya dahulunya MENGIRA bahwa problem utama dunia Islam saat ini hanyalah SEMATA-MATA jauhnya mereka dari pemahaman yang benar terhadap hakikat “La ilaha illallah”. Namun setelah beberapa waktu, tampaklah pada diriku bahwa ada “masalah lain” (yang tidak kalah penting) sebagai tambahan atas masalah pokok yang pertama tadi, yaitu problem jauhnya mereka dari tauhid. MASALAH LAIN tersebut adalah: banyaknya orang yang tidak berakhlak dengan akhlak Islam yang benar, kecuali sedikit saja”[1. Fatawa Jeddah, kaset no 34 menit 4:38].Iya akhlak yang mulia, ini adalah cerminan keimanan seseorang. Bukan hanya ilmunya, karena seseorang diberi ganjaran karena amal bukan karena ilmu. Bisa jadi seorang ilmunya “terlihat tinggi” tetapi akhlaknya jelek, maka akhlaknya itulah cerminan imannya.Ada 3 poin akhlak mulia yang dijelaskan ulama, Hasan Al-Bashri menjelaskan,كف الأذى ؛ وبذل الندى ؛ وطلاقة الوجه“[1] Tidak menganggu, [2] suka menolong dan [3] berwajah ceria/optimis”[1] Tidak mengangguJika memang tidak bisa membantu dan memberi manfaat, minimal jangan mengganggu atau membuat orang lain susah.[2] Suka menolongMembantu saudara kita dengan tenaga, harta atau pikiran, karena kita yakin jika membantu saudara di dunia maka ada-ada saja cara Allah akan membantu kita dunia-akhirat dengan cara yang tidak kita sangka.[3] Berwajah ceria/optimisMembuat orang sekitar kita juga optimis dan bahagia hanya karena berjumpa dengan kita, artinya kita bisa membuat mereka bahagia hanya dengan sekedar penjumpaan saja, terlebih lagi setelah kita berbicara yang menyenangkan mereka kemudian bisa membantu mereka.Perlu kita ingat bahwa amalan yang paling banyak memasukkan surga adalah akhlak mulia. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,أَكْثَرُ مَا يُدْخِلُ اَلْجَنَّةَ تَقْوى اَللَّهِ وَحُسْنُ اَلْخُلُقِ“Yang paling banyak memasukkan ke surga adalah takwa kepada Allah dan akhlak yang mulia”[2. HR At-Tirmidzi, Ibnu Maajah dan Al-Haakim dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani].Semoga kita tidak hanya fokus pada ilmu, tetapi juga pada amal dan akhlak kita. Syaikh Al-Albani berkata melanjutkan,أنا ألاحظ مع الأسف أن الناس اليوم يهتمون بالجانب الأول ألا وهو العلم ولا يهتمون بالجانب الآخر ألا وهو الأخلاق والسلوك“Saya perhatikan, disayangkan sekali banyak orang di zaman ini lebih mementingkan pada satu aspek, yaitu ilmu namun tidak menaruh perhatian pada aspek yang lain, yaitu perkara akhlak dan perangai”[3. Fatawa Jeddah, kaset no 34 menit 4:38].Semoga Allah selalu memperbagus akhlak kita dengan doa yang kita panjatkan,Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam salah satu do’anya beliau mengucapkan:,أَللَّهُمَّ اهْدِنِيْ لِأَحْسَنِ الأَخْلَاقِ, فَإِنَّهُ لَا يَهْدِيْ لِأَحْسَنِهَا إِلَّا أَنْتَ وَاصْرِفْ عَنِّيْ سَيِّئَهَالَايَصْرِفُ عَنِّيْ سَيِّئَهَاإِلَّاأَنْتَ“Ya Allah, tunjukkanlah aku pada akhlak yang paling baik, karena tidak ada yang bisa menunjukkannya selain Engkau. Ya Allah, jauhkanlah aku dari akhlak yang tidak baik, karena tidak ada yang mampu menjauhkannya dariku selain Engkau”[4. HR. Muslim no. 771].@Laboratorium RS Manambai, Sumbawa Besar***Penulis: dr. Raehanul BahraenArtikel Muslim.or.id___🔍 Kewajiban Sholat, Hadits Mencari Ilmu, Hadits Tentang Hukum Menuntut Ilmu, Jumlah Makmum Dalam Shalat Berjamaah Paling Sedikit Adalah, Masjid At Thur


Alhamdulillah jika kita bersemangat untuk melaksanakan sunnah Nabi shallalahu a’alaihi wa sallam, mulai dari menggunakan siwak sampai sunnah mandi hari Jumat dan sunnah lainnya. Akan tetapi kita perlu lebih semangat melaksanakan sunnah (ajaran) Nabi yang satu ini yaitu: berakhlak mulia. Awalnya kami mengira permasalahan utama adalah tauhid dan aqidah SAJA, tetapi ternyata akhlak mulia sangat penting bagi masyarakat dan dakwah.Ulama besar abad ini, Syaikh Al-Albani rahimahullah sudah menyadari hal ini sebelumnya. Beliau berkata,كنت أظن أن المشكلة في العالم الإسلامي إنما هي فقط ابتعادهم عن فهمهم لحقيقة معنى لا اله إلا الله ولكني مع الزمن صرت أتبيّن أن هناك مشكلة أخرى في هذا العالم تُضاف إلى المشكلة الأولى الأساسية – ألا وهي بُعدهم عن التوحيد – المشكلة الأخرى: أنهم أكثرهم لا يتخلقون بأخلاق الإسلام الصحيحة إلا بقدر زهيد“Saya dahulunya MENGIRA bahwa problem utama dunia Islam saat ini hanyalah SEMATA-MATA jauhnya mereka dari pemahaman yang benar terhadap hakikat “La ilaha illallah”. Namun setelah beberapa waktu, tampaklah pada diriku bahwa ada “masalah lain” (yang tidak kalah penting) sebagai tambahan atas masalah pokok yang pertama tadi, yaitu problem jauhnya mereka dari tauhid. MASALAH LAIN tersebut adalah: banyaknya orang yang tidak berakhlak dengan akhlak Islam yang benar, kecuali sedikit saja”[1. Fatawa Jeddah, kaset no 34 menit 4:38].Iya akhlak yang mulia, ini adalah cerminan keimanan seseorang. Bukan hanya ilmunya, karena seseorang diberi ganjaran karena amal bukan karena ilmu. Bisa jadi seorang ilmunya “terlihat tinggi” tetapi akhlaknya jelek, maka akhlaknya itulah cerminan imannya.Ada 3 poin akhlak mulia yang dijelaskan ulama, Hasan Al-Bashri menjelaskan,كف الأذى ؛ وبذل الندى ؛ وطلاقة الوجه“[1] Tidak menganggu, [2] suka menolong dan [3] berwajah ceria/optimis”[1] Tidak mengangguJika memang tidak bisa membantu dan memberi manfaat, minimal jangan mengganggu atau membuat orang lain susah.[2] Suka menolongMembantu saudara kita dengan tenaga, harta atau pikiran, karena kita yakin jika membantu saudara di dunia maka ada-ada saja cara Allah akan membantu kita dunia-akhirat dengan cara yang tidak kita sangka.[3] Berwajah ceria/optimisMembuat orang sekitar kita juga optimis dan bahagia hanya karena berjumpa dengan kita, artinya kita bisa membuat mereka bahagia hanya dengan sekedar penjumpaan saja, terlebih lagi setelah kita berbicara yang menyenangkan mereka kemudian bisa membantu mereka.Perlu kita ingat bahwa amalan yang paling banyak memasukkan surga adalah akhlak mulia. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,أَكْثَرُ مَا يُدْخِلُ اَلْجَنَّةَ تَقْوى اَللَّهِ وَحُسْنُ اَلْخُلُقِ“Yang paling banyak memasukkan ke surga adalah takwa kepada Allah dan akhlak yang mulia”[2. HR At-Tirmidzi, Ibnu Maajah dan Al-Haakim dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani].Semoga kita tidak hanya fokus pada ilmu, tetapi juga pada amal dan akhlak kita. Syaikh Al-Albani berkata melanjutkan,أنا ألاحظ مع الأسف أن الناس اليوم يهتمون بالجانب الأول ألا وهو العلم ولا يهتمون بالجانب الآخر ألا وهو الأخلاق والسلوك“Saya perhatikan, disayangkan sekali banyak orang di zaman ini lebih mementingkan pada satu aspek, yaitu ilmu namun tidak menaruh perhatian pada aspek yang lain, yaitu perkara akhlak dan perangai”[3. Fatawa Jeddah, kaset no 34 menit 4:38].Semoga Allah selalu memperbagus akhlak kita dengan doa yang kita panjatkan,Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam salah satu do’anya beliau mengucapkan:,أَللَّهُمَّ اهْدِنِيْ لِأَحْسَنِ الأَخْلَاقِ, فَإِنَّهُ لَا يَهْدِيْ لِأَحْسَنِهَا إِلَّا أَنْتَ وَاصْرِفْ عَنِّيْ سَيِّئَهَالَايَصْرِفُ عَنِّيْ سَيِّئَهَاإِلَّاأَنْتَ“Ya Allah, tunjukkanlah aku pada akhlak yang paling baik, karena tidak ada yang bisa menunjukkannya selain Engkau. Ya Allah, jauhkanlah aku dari akhlak yang tidak baik, karena tidak ada yang mampu menjauhkannya dariku selain Engkau”[4. HR. Muslim no. 771].@Laboratorium RS Manambai, Sumbawa Besar***Penulis: dr. Raehanul BahraenArtikel Muslim.or.id___🔍 Kewajiban Sholat, Hadits Mencari Ilmu, Hadits Tentang Hukum Menuntut Ilmu, Jumlah Makmum Dalam Shalat Berjamaah Paling Sedikit Adalah, Masjid At Thur

Laporan Donasi YPIA Periode Bulan Juli 2016

Laporan Donasi YPIA periode Bulan Juli 2016Segala puji bagi Allah ta’ala atas limpahan rahmat dan hidayah dari-Nya. Kami mengucapkan jazakumullohu khairan atas partisipasi dan kepercayaan para donatur yang dalam menyalurkan donasinya untuk dakwah melalui Yayasan Pendidikan Islam Al Atsari.Semoga Allah mengganti dengan yang lebih baik dan memudahkan urusan kita, baik di dunia maupun di akhirat kelak. Barakallahu fiikumBerikut ini kami laporkan pemasukan donasi melalui YPIA Bulan Juli 2016. Semoga bantuan dari kaum muslimin sekalian memberikan manfaat yang besar bagi dakwah Islam yang Haq.Kami mohon maaf, apabila ada penulisan nama ataupun donasi yang belum terlaporkan dalam laporan ini, bisa dikonfirmasikan kepada bidang donasi Dakwah YPIA. Jazakumullohu khairan.Kami juga memohon maaf, untuk rincian lebih lengkapnya bisa mendownload link yang kami berikan di bawah, sekaligus rincian donasi pulsa, karena banyaknya donatur pada Bulan Juli 2016Adapun Rekap Donasi Bulan Juli 2016  sebagai berikut: No. Rekapitulasi Alokasi Jumlah (Rp) 1 Buletin Jum’at “At-Tauhid”            4.220.000 2 Kampus Tahfizh                511.111 3 Mahad Ilmi                650.000 4 Markas Dakwah       160.614.556 5 Mahad Umar Bin Khatthab                320.000 6 Pendidikan                400.000 7 PM – Luar Negeri          21.308.000 8 PM – Zakat Mal          12.000.000 9 Radio Muslim            1.000.000 10 SDIT “Yaa Bunayya”            5.080.921 11 Semarak Ramadhan            6.350.000 12 Koran Uleenuha            1.500.000 13 Operasional (Umum)            1.980.000 14 Website            2.965.764 15 Donasi Pulsa                515.000 LINK DOWNLOAD: KLIK DI SINIBagi kaum muslimin yang hendak membantu donasi dalam syi’ar dakwah Islam, bisa disalurkan ke rekening  YPIA berikut ini:REKENING DONASI YPIA: Bank BNI Syariah Yogyakarta atas nama Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari. Nomor rekening: 024 1913 801. Bank Muamalat atas nama Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari Yogyakarta. Nomor rekening: 5350002594 Bank Syariah Mandiri atas nama YPIA Yogyakarta. Nomor rekening: 703 157 1329. CIMB Niaga Syariah atas nama Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari. Nomor rekening: 508.01.00028.00.0. Rekening paypal: donasi@muslim.or.id Western union an Muhammad Akmalul Khuluk d/a Kauman GM 1/241 RT/RW 049/013 kel. Ngupasan kec. Gondomanan Yogyakarta Indonesia 55122 (harap segera menginformasikan Nomor Transaksi Pengiriman Uang (MTCN) setelah pengiriman ke: 0857-4722-3366)Konfirmasi donasi :Setiap donatur yang telah menyalurkan bantuan donasi dakwah dimohon mengkonfirmasikan donasi yang telah dikirimkan ke nomor Donasi Dakwah & Sosial YPIA berikut ini:HP: 0857-4722-3366 ( SMS, Telpon, Whatsapp dan Telegram)PIN BBM Tambahan: 7E51c4a4.PIN BBM: 73db10e1 (kontak Penuh)Dengan format konfirmasi sebagai berikut:Nama#Alamat#email#BesarDonasi#TanggalTransfer#Rekening#Tujuan Donasi#Contoh:Abdullah#Jl. Slamet Riyadi, no. 100, Solo.#500.000#12 Desember 2012#Muamalat#Buletin At Tauhid🔍 Tata Cara Sholat Rasulullah, Hadis Tentang Kewajiban Berbakti Kepada Orang Tua, Tata Cara Berdoa Setelah Sholat, Syiah Ghulat, Minyak Jin

Laporan Donasi YPIA Periode Bulan Juli 2016

Laporan Donasi YPIA periode Bulan Juli 2016Segala puji bagi Allah ta’ala atas limpahan rahmat dan hidayah dari-Nya. Kami mengucapkan jazakumullohu khairan atas partisipasi dan kepercayaan para donatur yang dalam menyalurkan donasinya untuk dakwah melalui Yayasan Pendidikan Islam Al Atsari.Semoga Allah mengganti dengan yang lebih baik dan memudahkan urusan kita, baik di dunia maupun di akhirat kelak. Barakallahu fiikumBerikut ini kami laporkan pemasukan donasi melalui YPIA Bulan Juli 2016. Semoga bantuan dari kaum muslimin sekalian memberikan manfaat yang besar bagi dakwah Islam yang Haq.Kami mohon maaf, apabila ada penulisan nama ataupun donasi yang belum terlaporkan dalam laporan ini, bisa dikonfirmasikan kepada bidang donasi Dakwah YPIA. Jazakumullohu khairan.Kami juga memohon maaf, untuk rincian lebih lengkapnya bisa mendownload link yang kami berikan di bawah, sekaligus rincian donasi pulsa, karena banyaknya donatur pada Bulan Juli 2016Adapun Rekap Donasi Bulan Juli 2016  sebagai berikut: No. Rekapitulasi Alokasi Jumlah (Rp) 1 Buletin Jum’at “At-Tauhid”            4.220.000 2 Kampus Tahfizh                511.111 3 Mahad Ilmi                650.000 4 Markas Dakwah       160.614.556 5 Mahad Umar Bin Khatthab                320.000 6 Pendidikan                400.000 7 PM – Luar Negeri          21.308.000 8 PM – Zakat Mal          12.000.000 9 Radio Muslim            1.000.000 10 SDIT “Yaa Bunayya”            5.080.921 11 Semarak Ramadhan            6.350.000 12 Koran Uleenuha            1.500.000 13 Operasional (Umum)            1.980.000 14 Website            2.965.764 15 Donasi Pulsa                515.000 LINK DOWNLOAD: KLIK DI SINIBagi kaum muslimin yang hendak membantu donasi dalam syi’ar dakwah Islam, bisa disalurkan ke rekening  YPIA berikut ini:REKENING DONASI YPIA: Bank BNI Syariah Yogyakarta atas nama Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari. Nomor rekening: 024 1913 801. Bank Muamalat atas nama Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari Yogyakarta. Nomor rekening: 5350002594 Bank Syariah Mandiri atas nama YPIA Yogyakarta. Nomor rekening: 703 157 1329. CIMB Niaga Syariah atas nama Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari. Nomor rekening: 508.01.00028.00.0. Rekening paypal: donasi@muslim.or.id Western union an Muhammad Akmalul Khuluk d/a Kauman GM 1/241 RT/RW 049/013 kel. Ngupasan kec. Gondomanan Yogyakarta Indonesia 55122 (harap segera menginformasikan Nomor Transaksi Pengiriman Uang (MTCN) setelah pengiriman ke: 0857-4722-3366)Konfirmasi donasi :Setiap donatur yang telah menyalurkan bantuan donasi dakwah dimohon mengkonfirmasikan donasi yang telah dikirimkan ke nomor Donasi Dakwah & Sosial YPIA berikut ini:HP: 0857-4722-3366 ( SMS, Telpon, Whatsapp dan Telegram)PIN BBM Tambahan: 7E51c4a4.PIN BBM: 73db10e1 (kontak Penuh)Dengan format konfirmasi sebagai berikut:Nama#Alamat#email#BesarDonasi#TanggalTransfer#Rekening#Tujuan Donasi#Contoh:Abdullah#Jl. Slamet Riyadi, no. 100, Solo.#500.000#12 Desember 2012#Muamalat#Buletin At Tauhid🔍 Tata Cara Sholat Rasulullah, Hadis Tentang Kewajiban Berbakti Kepada Orang Tua, Tata Cara Berdoa Setelah Sholat, Syiah Ghulat, Minyak Jin
Laporan Donasi YPIA periode Bulan Juli 2016Segala puji bagi Allah ta’ala atas limpahan rahmat dan hidayah dari-Nya. Kami mengucapkan jazakumullohu khairan atas partisipasi dan kepercayaan para donatur yang dalam menyalurkan donasinya untuk dakwah melalui Yayasan Pendidikan Islam Al Atsari.Semoga Allah mengganti dengan yang lebih baik dan memudahkan urusan kita, baik di dunia maupun di akhirat kelak. Barakallahu fiikumBerikut ini kami laporkan pemasukan donasi melalui YPIA Bulan Juli 2016. Semoga bantuan dari kaum muslimin sekalian memberikan manfaat yang besar bagi dakwah Islam yang Haq.Kami mohon maaf, apabila ada penulisan nama ataupun donasi yang belum terlaporkan dalam laporan ini, bisa dikonfirmasikan kepada bidang donasi Dakwah YPIA. Jazakumullohu khairan.Kami juga memohon maaf, untuk rincian lebih lengkapnya bisa mendownload link yang kami berikan di bawah, sekaligus rincian donasi pulsa, karena banyaknya donatur pada Bulan Juli 2016Adapun Rekap Donasi Bulan Juli 2016  sebagai berikut: No. Rekapitulasi Alokasi Jumlah (Rp) 1 Buletin Jum’at “At-Tauhid”            4.220.000 2 Kampus Tahfizh                511.111 3 Mahad Ilmi                650.000 4 Markas Dakwah       160.614.556 5 Mahad Umar Bin Khatthab                320.000 6 Pendidikan                400.000 7 PM – Luar Negeri          21.308.000 8 PM – Zakat Mal          12.000.000 9 Radio Muslim            1.000.000 10 SDIT “Yaa Bunayya”            5.080.921 11 Semarak Ramadhan            6.350.000 12 Koran Uleenuha            1.500.000 13 Operasional (Umum)            1.980.000 14 Website            2.965.764 15 Donasi Pulsa                515.000 LINK DOWNLOAD: KLIK DI SINIBagi kaum muslimin yang hendak membantu donasi dalam syi’ar dakwah Islam, bisa disalurkan ke rekening  YPIA berikut ini:REKENING DONASI YPIA: Bank BNI Syariah Yogyakarta atas nama Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari. Nomor rekening: 024 1913 801. Bank Muamalat atas nama Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari Yogyakarta. Nomor rekening: 5350002594 Bank Syariah Mandiri atas nama YPIA Yogyakarta. Nomor rekening: 703 157 1329. CIMB Niaga Syariah atas nama Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari. Nomor rekening: 508.01.00028.00.0. Rekening paypal: donasi@muslim.or.id Western union an Muhammad Akmalul Khuluk d/a Kauman GM 1/241 RT/RW 049/013 kel. Ngupasan kec. Gondomanan Yogyakarta Indonesia 55122 (harap segera menginformasikan Nomor Transaksi Pengiriman Uang (MTCN) setelah pengiriman ke: 0857-4722-3366)Konfirmasi donasi :Setiap donatur yang telah menyalurkan bantuan donasi dakwah dimohon mengkonfirmasikan donasi yang telah dikirimkan ke nomor Donasi Dakwah & Sosial YPIA berikut ini:HP: 0857-4722-3366 ( SMS, Telpon, Whatsapp dan Telegram)PIN BBM Tambahan: 7E51c4a4.PIN BBM: 73db10e1 (kontak Penuh)Dengan format konfirmasi sebagai berikut:Nama#Alamat#email#BesarDonasi#TanggalTransfer#Rekening#Tujuan Donasi#Contoh:Abdullah#Jl. Slamet Riyadi, no. 100, Solo.#500.000#12 Desember 2012#Muamalat#Buletin At Tauhid🔍 Tata Cara Sholat Rasulullah, Hadis Tentang Kewajiban Berbakti Kepada Orang Tua, Tata Cara Berdoa Setelah Sholat, Syiah Ghulat, Minyak Jin


Laporan Donasi YPIA periode Bulan Juli 2016Segala puji bagi Allah ta’ala atas limpahan rahmat dan hidayah dari-Nya. Kami mengucapkan jazakumullohu khairan atas partisipasi dan kepercayaan para donatur yang dalam menyalurkan donasinya untuk dakwah melalui Yayasan Pendidikan Islam Al Atsari.Semoga Allah mengganti dengan yang lebih baik dan memudahkan urusan kita, baik di dunia maupun di akhirat kelak. Barakallahu fiikumBerikut ini kami laporkan pemasukan donasi melalui YPIA Bulan Juli 2016. Semoga bantuan dari kaum muslimin sekalian memberikan manfaat yang besar bagi dakwah Islam yang Haq.Kami mohon maaf, apabila ada penulisan nama ataupun donasi yang belum terlaporkan dalam laporan ini, bisa dikonfirmasikan kepada bidang donasi Dakwah YPIA. Jazakumullohu khairan.Kami juga memohon maaf, untuk rincian lebih lengkapnya bisa mendownload link yang kami berikan di bawah, sekaligus rincian donasi pulsa, karena banyaknya donatur pada Bulan Juli 2016Adapun Rekap Donasi Bulan Juli 2016  sebagai berikut: No. Rekapitulasi Alokasi Jumlah (Rp) 1 Buletin Jum’at “At-Tauhid”            4.220.000 2 Kampus Tahfizh                511.111 3 Mahad Ilmi                650.000 4 Markas Dakwah       160.614.556 5 Mahad Umar Bin Khatthab                320.000 6 Pendidikan                400.000 7 PM – Luar Negeri          21.308.000 8 PM – Zakat Mal          12.000.000 9 Radio Muslim            1.000.000 10 SDIT “Yaa Bunayya”            5.080.921 11 Semarak Ramadhan            6.350.000 12 Koran Uleenuha            1.500.000 13 Operasional (Umum)            1.980.000 14 Website            2.965.764 15 Donasi Pulsa                515.000 LINK DOWNLOAD: KLIK DI SINIBagi kaum muslimin yang hendak membantu donasi dalam syi’ar dakwah Islam, bisa disalurkan ke rekening  YPIA berikut ini:REKENING DONASI YPIA: Bank BNI Syariah Yogyakarta atas nama Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari. Nomor rekening: 024 1913 801. Bank Muamalat atas nama Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari Yogyakarta. Nomor rekening: 5350002594 Bank Syariah Mandiri atas nama YPIA Yogyakarta. Nomor rekening: 703 157 1329. CIMB Niaga Syariah atas nama Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari. Nomor rekening: 508.01.00028.00.0. Rekening paypal: donasi@muslim.or.id Western union an Muhammad Akmalul Khuluk d/a Kauman GM 1/241 RT/RW 049/013 kel. Ngupasan kec. Gondomanan Yogyakarta Indonesia 55122 (harap segera menginformasikan Nomor Transaksi Pengiriman Uang (MTCN) setelah pengiriman ke: 0857-4722-3366)Konfirmasi donasi :Setiap donatur yang telah menyalurkan bantuan donasi dakwah dimohon mengkonfirmasikan donasi yang telah dikirimkan ke nomor Donasi Dakwah & Sosial YPIA berikut ini:HP: 0857-4722-3366 ( SMS, Telpon, Whatsapp dan Telegram)PIN BBM Tambahan: 7E51c4a4.PIN BBM: 73db10e1 (kontak Penuh)Dengan format konfirmasi sebagai berikut:Nama#Alamat#email#BesarDonasi#TanggalTransfer#Rekening#Tujuan Donasi#Contoh:Abdullah#Jl. Slamet Riyadi, no. 100, Solo.#500.000#12 Desember 2012#Muamalat#Buletin At Tauhid🔍 Tata Cara Sholat Rasulullah, Hadis Tentang Kewajiban Berbakti Kepada Orang Tua, Tata Cara Berdoa Setelah Sholat, Syiah Ghulat, Minyak Jin

Untuk Pencaci Maki di Medsos …

Khotbah Jumat, 24 Syawal 1437 H. Di Masjid NabawiKhotib : Syekh Shalah Bin Muhammad Al-BudairKhotbah PertamaKaum muslimin sekalian!Orang mukmin sangat antusias terhadap nilai-nilai kebaikan dan selalu bersikap lemah lembut dengan sesama.Sikap santun dalam berdialog, lemah lembut dalam berbicara, halus dalam penyampaian pesan, merupakan jalan tengah yang membuat orang lain simpati sehingga berbagai kepentingan terakomodir, hati yang bercerai berai dan pendapat yang berbeda dapat terangkul. Allah –subhanahu wa ta,ala- berpesan kepada Nabi Musa dan Harun –alaihimassalam- :فَقُولا لَهُ قَوْلا لَيِّنًا لَعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَى [ طه/ 44]“Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya (Fir’aun) dengan kata-kata yang lemah lembut, Mudah-mudahan ia menjadi sadar atau takut”.Qs Thaha: 44Ibnu Katsir –rahimahullah- ketika mengomentari ayat ini berkata : “Ada pelajaran sangat berharga yang dapat dipetik dari padanya, yaitu bahwa Fir’aun yang terkenal keangkuhan dan arogansinya, sementara Musa –alaihissalam- sebaik-baik manusia pilihan Allah saat itu, namun demikian Allah memerintahkannya untuk tidak berbicara dengan Fir’aun kecuali dengan perkataan yang santun dan lemah lembut.Kata-kata cacian hanya mengundang malapetaka. Cacian tidak akan menghadirkan kembali orang yang kabur dan tidak akan membuat simpati orang yang berkepala batu, justru hanya menanamkan rasa dendam di hati dan membuat orang yang berseberangan semakin nekad dan keras kepala.Bila Anda menghujani orang yang tidak sependapat dengan Anda itu dengan makian, kecaman dan kutukan, maka apa yang Anda lakukan itu akan semakin memperkeruh persoalan dan memperparah penyakit. Oleh karena itu, bila Anda menyampaikan nasihat, sampaikanlah dengan cara yang tidak membuat orang lain kabur, dan bila Anda berdebat, berdebatlah dengan cara yang santun tanpa merendahkan lawan bicara.Orang yang rendah moralnya, kotor tutur katanya, suka merendahkan martabat sesama, pengumpat orang lain, pelontar tuduhan terhadap orang tak berdosa, suka menyerang orang-orang yang baik, pengecam dan pengutuk, semua ucapannya hanya umpatan dan cacian, sungguh ia tidak pantas disebut reformis, penasihat atau guru pembimbing yang baik.Begitu terjadi peristiwa di tengah masyarakat, langsung mereka tangkap intensitas beritanya -entah tempat kejadian peristiwa itu dekat atau jauh-, mereka segera meluncur ke jaringan internet untuk menjadikan peristiwa itu sebagai alasan pelampiasan cacian dan umpatan.Mereka bergegas mencari situs-situs media soasial; maka dari kalangan mereka muncul-lah penuduh, pengecam, pencaci, pengutuk dan pengumpat kecuali orang-orang yang diselamatkan oleh Allah, namun sayangnya amat sedikit golongan ini.Wahai Anda yang menulis pernyataan-pernyataan yang penuh umpatan, kutukan dan cacian. Wahai Anda yang suka menjustifikasi dan melontarkan tuduhan-tuduhan. Anda akan mempertanggung-jawabkan perbuatan Anda kelak pada hari pertemuan seluruh makhluk, di mana perbuatan Anda sekecil apapun akan ditimbang dan diperhitungkan. Setiap orang akan datang didampingi malaikat penyaksi dan malaikat penggiring.Wahai Anda yang bersembunyi di balik layar! Wahai Anda yang berlindung di belakang nama samaran, menghindar dari pandangan khalayak dan keramaian, untuk memainkan peran licik dengan cara mencaci maki pihak lain! Sadarkah bahwa Anda berada dalam pengawasan Allah; kesendirian dan keterasingan Anda itu tetap dilihat Allah.لَيْسَ الْمُؤْمِنُ بِالطَّعَّانِ وَلَا اللَّعَّانِ وَلَا الْفَاحِشِ وَلَا الْبَذِيءِ“Seorang mukmin bukanlah orang yang banyak mencela, bukan orang yang banyak melaknat, bukan orang yang keji, dan bukan pula orang yang kotor omongannya”.Manusia yang suka mencela, mengutuk, mengejek dan berkata keji, bukanlah tipe manusia beriman. Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- bukanlah pencela, pengecam dan pengutuk. Sabda beliau :إنِّي لَمْ أُبْعَثْ لَعَّانًا وَإِنَّمَا بُعِثْتُ رَحْمَةً“Sesunguhnya aku tidak diutus sebagai tukang melaknat, tetapi aku diutus hanyalah sebagai rahmat.”Beliau pun bersabda :           سِبَابُ المسْلِمِ فُسُوْقٌ“Mencaci maki seorang muslim adalah suatu kefasikan”. Dalam riwayat lain disebutkan :         اَلْمُسْتَبَّانِ شَيْطَانَانِ يَتَهَاتَرَانِ وَيَتَكَاذَبَانِ“Dua orang yang saling memaki adalah seperti dua setan yang saling menjatuhkan dan mendustakan lawannya”.قَالَ جَابرٌ بن سليْم رَضيَ اللهُ عَنْه : قُلْتُ: اعْهَدْ إِلَيَّ يَا رَسُوْلَ اللهِ، قَالَ: «لَا تَسُبَّنَّ أَحَدًا» قَالَ: فَمَا سَبَبْتُ بَعْدَهُ حُرًّا، وَلَا عَبْدًا، وَلَا بَعِيرًا، وَلَا شَاةً، رواه أبو داودJabir Bin Salim –radhiyallahu anhu- bercerita, “Aku berkata, “Buatlah ikatan perjanjian denganku Ya Rasulallah!” beliau lalu menjawab, “Janganlah sekali-kali engkau memaki orang lain”. Kata Jabir, “Sejak itulah aku tidak pernah memaki seorang pun, baik ia berstatus orang merdeka atau hamba sahaya, termasuk tidak memaki unta dan kambing”. HR Abu Dawud.Maka, bertobatlah dari dosa akibat goresan tulisan tangan Anda. Hapuskanlah dosa cacian dan gangguan yang Anda lakukan. Sesungguhnya orang yang bertobat dari perbuatan dosa identik dengan orang yang tidak pernah berbuat dosa.Ya Allah, ilhamkanlah kepada kami kedewasaan dan kematangan berpikir, selamatkanlah kami dari kejahatan perbuatan kami. Marilah kita beristighfar (memohon ampun) kepada Allah. Sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun bagi orang-orang yang kembali kepada-Nya.*******Khotbah KeduaKaum muslimin!Allah –subhanahu wa ta’ala- melarang orang-orang yang beriman mencaci maki sesembahan orang-orang non muslim agar hal itu tidak mereka jadikan alasan pembenar untuk mencaci maki Allah –subhanahu wa ta’ala-.Sesungguhnya mencaci maki tuhan-tuhan sesembahan mereka hanyalah akan membuat mereka semakin ingkar, keras kepala dan lari dari kebenaran. Hal itu bertentangan dengan karakteristik misi da’wah yang dikehendaki Allah –subhanahu wa ta’ala-.Firman Allah :وَلا تَسُبُّوا الَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ فَيَسُبُّوا اللَّهَ عَدْوًا بِغَيْرِ عِلْمٍ [ الأنعام/108]“Janganlah kalian memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah,karena nanti mereka akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa dasar pengetahuan”.Qs Al-An’am: 108Waspadalah kalian wahai hamba Allah, janganlah hadapi mereka dengan kekerasan, makian, kutukan dan umpatan. Sebab hal itu hanya akan menambah mereka semakin menjauh dari kebenaran, petunjuk sunnah dan nilai-nilai keluhuran.Sampaikanlah kebenaran itu dengan mengemukakan alasan-alasan kuat dan bukti-bukti nyata, melalui cara-cara yang bijak dan elegan. Kewajiban kalian hanyalah menyampaikan nasihat, mengajak dan mencegah. Soal menjadikan mereka baik dan buruk bukanlah tugas kalian. Itu urusan Allah, bukan urusan kalian. Kelak Allah yang akan menghitung dan membalas mereka.=== Doa Penutup ===Penerjemah: Usman Hatimhttps://firanda.com/

Untuk Pencaci Maki di Medsos …

Khotbah Jumat, 24 Syawal 1437 H. Di Masjid NabawiKhotib : Syekh Shalah Bin Muhammad Al-BudairKhotbah PertamaKaum muslimin sekalian!Orang mukmin sangat antusias terhadap nilai-nilai kebaikan dan selalu bersikap lemah lembut dengan sesama.Sikap santun dalam berdialog, lemah lembut dalam berbicara, halus dalam penyampaian pesan, merupakan jalan tengah yang membuat orang lain simpati sehingga berbagai kepentingan terakomodir, hati yang bercerai berai dan pendapat yang berbeda dapat terangkul. Allah –subhanahu wa ta,ala- berpesan kepada Nabi Musa dan Harun –alaihimassalam- :فَقُولا لَهُ قَوْلا لَيِّنًا لَعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَى [ طه/ 44]“Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya (Fir’aun) dengan kata-kata yang lemah lembut, Mudah-mudahan ia menjadi sadar atau takut”.Qs Thaha: 44Ibnu Katsir –rahimahullah- ketika mengomentari ayat ini berkata : “Ada pelajaran sangat berharga yang dapat dipetik dari padanya, yaitu bahwa Fir’aun yang terkenal keangkuhan dan arogansinya, sementara Musa –alaihissalam- sebaik-baik manusia pilihan Allah saat itu, namun demikian Allah memerintahkannya untuk tidak berbicara dengan Fir’aun kecuali dengan perkataan yang santun dan lemah lembut.Kata-kata cacian hanya mengundang malapetaka. Cacian tidak akan menghadirkan kembali orang yang kabur dan tidak akan membuat simpati orang yang berkepala batu, justru hanya menanamkan rasa dendam di hati dan membuat orang yang berseberangan semakin nekad dan keras kepala.Bila Anda menghujani orang yang tidak sependapat dengan Anda itu dengan makian, kecaman dan kutukan, maka apa yang Anda lakukan itu akan semakin memperkeruh persoalan dan memperparah penyakit. Oleh karena itu, bila Anda menyampaikan nasihat, sampaikanlah dengan cara yang tidak membuat orang lain kabur, dan bila Anda berdebat, berdebatlah dengan cara yang santun tanpa merendahkan lawan bicara.Orang yang rendah moralnya, kotor tutur katanya, suka merendahkan martabat sesama, pengumpat orang lain, pelontar tuduhan terhadap orang tak berdosa, suka menyerang orang-orang yang baik, pengecam dan pengutuk, semua ucapannya hanya umpatan dan cacian, sungguh ia tidak pantas disebut reformis, penasihat atau guru pembimbing yang baik.Begitu terjadi peristiwa di tengah masyarakat, langsung mereka tangkap intensitas beritanya -entah tempat kejadian peristiwa itu dekat atau jauh-, mereka segera meluncur ke jaringan internet untuk menjadikan peristiwa itu sebagai alasan pelampiasan cacian dan umpatan.Mereka bergegas mencari situs-situs media soasial; maka dari kalangan mereka muncul-lah penuduh, pengecam, pencaci, pengutuk dan pengumpat kecuali orang-orang yang diselamatkan oleh Allah, namun sayangnya amat sedikit golongan ini.Wahai Anda yang menulis pernyataan-pernyataan yang penuh umpatan, kutukan dan cacian. Wahai Anda yang suka menjustifikasi dan melontarkan tuduhan-tuduhan. Anda akan mempertanggung-jawabkan perbuatan Anda kelak pada hari pertemuan seluruh makhluk, di mana perbuatan Anda sekecil apapun akan ditimbang dan diperhitungkan. Setiap orang akan datang didampingi malaikat penyaksi dan malaikat penggiring.Wahai Anda yang bersembunyi di balik layar! Wahai Anda yang berlindung di belakang nama samaran, menghindar dari pandangan khalayak dan keramaian, untuk memainkan peran licik dengan cara mencaci maki pihak lain! Sadarkah bahwa Anda berada dalam pengawasan Allah; kesendirian dan keterasingan Anda itu tetap dilihat Allah.لَيْسَ الْمُؤْمِنُ بِالطَّعَّانِ وَلَا اللَّعَّانِ وَلَا الْفَاحِشِ وَلَا الْبَذِيءِ“Seorang mukmin bukanlah orang yang banyak mencela, bukan orang yang banyak melaknat, bukan orang yang keji, dan bukan pula orang yang kotor omongannya”.Manusia yang suka mencela, mengutuk, mengejek dan berkata keji, bukanlah tipe manusia beriman. Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- bukanlah pencela, pengecam dan pengutuk. Sabda beliau :إنِّي لَمْ أُبْعَثْ لَعَّانًا وَإِنَّمَا بُعِثْتُ رَحْمَةً“Sesunguhnya aku tidak diutus sebagai tukang melaknat, tetapi aku diutus hanyalah sebagai rahmat.”Beliau pun bersabda :           سِبَابُ المسْلِمِ فُسُوْقٌ“Mencaci maki seorang muslim adalah suatu kefasikan”. Dalam riwayat lain disebutkan :         اَلْمُسْتَبَّانِ شَيْطَانَانِ يَتَهَاتَرَانِ وَيَتَكَاذَبَانِ“Dua orang yang saling memaki adalah seperti dua setan yang saling menjatuhkan dan mendustakan lawannya”.قَالَ جَابرٌ بن سليْم رَضيَ اللهُ عَنْه : قُلْتُ: اعْهَدْ إِلَيَّ يَا رَسُوْلَ اللهِ، قَالَ: «لَا تَسُبَّنَّ أَحَدًا» قَالَ: فَمَا سَبَبْتُ بَعْدَهُ حُرًّا، وَلَا عَبْدًا، وَلَا بَعِيرًا، وَلَا شَاةً، رواه أبو داودJabir Bin Salim –radhiyallahu anhu- bercerita, “Aku berkata, “Buatlah ikatan perjanjian denganku Ya Rasulallah!” beliau lalu menjawab, “Janganlah sekali-kali engkau memaki orang lain”. Kata Jabir, “Sejak itulah aku tidak pernah memaki seorang pun, baik ia berstatus orang merdeka atau hamba sahaya, termasuk tidak memaki unta dan kambing”. HR Abu Dawud.Maka, bertobatlah dari dosa akibat goresan tulisan tangan Anda. Hapuskanlah dosa cacian dan gangguan yang Anda lakukan. Sesungguhnya orang yang bertobat dari perbuatan dosa identik dengan orang yang tidak pernah berbuat dosa.Ya Allah, ilhamkanlah kepada kami kedewasaan dan kematangan berpikir, selamatkanlah kami dari kejahatan perbuatan kami. Marilah kita beristighfar (memohon ampun) kepada Allah. Sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun bagi orang-orang yang kembali kepada-Nya.*******Khotbah KeduaKaum muslimin!Allah –subhanahu wa ta’ala- melarang orang-orang yang beriman mencaci maki sesembahan orang-orang non muslim agar hal itu tidak mereka jadikan alasan pembenar untuk mencaci maki Allah –subhanahu wa ta’ala-.Sesungguhnya mencaci maki tuhan-tuhan sesembahan mereka hanyalah akan membuat mereka semakin ingkar, keras kepala dan lari dari kebenaran. Hal itu bertentangan dengan karakteristik misi da’wah yang dikehendaki Allah –subhanahu wa ta’ala-.Firman Allah :وَلا تَسُبُّوا الَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ فَيَسُبُّوا اللَّهَ عَدْوًا بِغَيْرِ عِلْمٍ [ الأنعام/108]“Janganlah kalian memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah,karena nanti mereka akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa dasar pengetahuan”.Qs Al-An’am: 108Waspadalah kalian wahai hamba Allah, janganlah hadapi mereka dengan kekerasan, makian, kutukan dan umpatan. Sebab hal itu hanya akan menambah mereka semakin menjauh dari kebenaran, petunjuk sunnah dan nilai-nilai keluhuran.Sampaikanlah kebenaran itu dengan mengemukakan alasan-alasan kuat dan bukti-bukti nyata, melalui cara-cara yang bijak dan elegan. Kewajiban kalian hanyalah menyampaikan nasihat, mengajak dan mencegah. Soal menjadikan mereka baik dan buruk bukanlah tugas kalian. Itu urusan Allah, bukan urusan kalian. Kelak Allah yang akan menghitung dan membalas mereka.=== Doa Penutup ===Penerjemah: Usman Hatimhttps://firanda.com/
Khotbah Jumat, 24 Syawal 1437 H. Di Masjid NabawiKhotib : Syekh Shalah Bin Muhammad Al-BudairKhotbah PertamaKaum muslimin sekalian!Orang mukmin sangat antusias terhadap nilai-nilai kebaikan dan selalu bersikap lemah lembut dengan sesama.Sikap santun dalam berdialog, lemah lembut dalam berbicara, halus dalam penyampaian pesan, merupakan jalan tengah yang membuat orang lain simpati sehingga berbagai kepentingan terakomodir, hati yang bercerai berai dan pendapat yang berbeda dapat terangkul. Allah –subhanahu wa ta,ala- berpesan kepada Nabi Musa dan Harun –alaihimassalam- :فَقُولا لَهُ قَوْلا لَيِّنًا لَعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَى [ طه/ 44]“Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya (Fir’aun) dengan kata-kata yang lemah lembut, Mudah-mudahan ia menjadi sadar atau takut”.Qs Thaha: 44Ibnu Katsir –rahimahullah- ketika mengomentari ayat ini berkata : “Ada pelajaran sangat berharga yang dapat dipetik dari padanya, yaitu bahwa Fir’aun yang terkenal keangkuhan dan arogansinya, sementara Musa –alaihissalam- sebaik-baik manusia pilihan Allah saat itu, namun demikian Allah memerintahkannya untuk tidak berbicara dengan Fir’aun kecuali dengan perkataan yang santun dan lemah lembut.Kata-kata cacian hanya mengundang malapetaka. Cacian tidak akan menghadirkan kembali orang yang kabur dan tidak akan membuat simpati orang yang berkepala batu, justru hanya menanamkan rasa dendam di hati dan membuat orang yang berseberangan semakin nekad dan keras kepala.Bila Anda menghujani orang yang tidak sependapat dengan Anda itu dengan makian, kecaman dan kutukan, maka apa yang Anda lakukan itu akan semakin memperkeruh persoalan dan memperparah penyakit. Oleh karena itu, bila Anda menyampaikan nasihat, sampaikanlah dengan cara yang tidak membuat orang lain kabur, dan bila Anda berdebat, berdebatlah dengan cara yang santun tanpa merendahkan lawan bicara.Orang yang rendah moralnya, kotor tutur katanya, suka merendahkan martabat sesama, pengumpat orang lain, pelontar tuduhan terhadap orang tak berdosa, suka menyerang orang-orang yang baik, pengecam dan pengutuk, semua ucapannya hanya umpatan dan cacian, sungguh ia tidak pantas disebut reformis, penasihat atau guru pembimbing yang baik.Begitu terjadi peristiwa di tengah masyarakat, langsung mereka tangkap intensitas beritanya -entah tempat kejadian peristiwa itu dekat atau jauh-, mereka segera meluncur ke jaringan internet untuk menjadikan peristiwa itu sebagai alasan pelampiasan cacian dan umpatan.Mereka bergegas mencari situs-situs media soasial; maka dari kalangan mereka muncul-lah penuduh, pengecam, pencaci, pengutuk dan pengumpat kecuali orang-orang yang diselamatkan oleh Allah, namun sayangnya amat sedikit golongan ini.Wahai Anda yang menulis pernyataan-pernyataan yang penuh umpatan, kutukan dan cacian. Wahai Anda yang suka menjustifikasi dan melontarkan tuduhan-tuduhan. Anda akan mempertanggung-jawabkan perbuatan Anda kelak pada hari pertemuan seluruh makhluk, di mana perbuatan Anda sekecil apapun akan ditimbang dan diperhitungkan. Setiap orang akan datang didampingi malaikat penyaksi dan malaikat penggiring.Wahai Anda yang bersembunyi di balik layar! Wahai Anda yang berlindung di belakang nama samaran, menghindar dari pandangan khalayak dan keramaian, untuk memainkan peran licik dengan cara mencaci maki pihak lain! Sadarkah bahwa Anda berada dalam pengawasan Allah; kesendirian dan keterasingan Anda itu tetap dilihat Allah.لَيْسَ الْمُؤْمِنُ بِالطَّعَّانِ وَلَا اللَّعَّانِ وَلَا الْفَاحِشِ وَلَا الْبَذِيءِ“Seorang mukmin bukanlah orang yang banyak mencela, bukan orang yang banyak melaknat, bukan orang yang keji, dan bukan pula orang yang kotor omongannya”.Manusia yang suka mencela, mengutuk, mengejek dan berkata keji, bukanlah tipe manusia beriman. Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- bukanlah pencela, pengecam dan pengutuk. Sabda beliau :إنِّي لَمْ أُبْعَثْ لَعَّانًا وَإِنَّمَا بُعِثْتُ رَحْمَةً“Sesunguhnya aku tidak diutus sebagai tukang melaknat, tetapi aku diutus hanyalah sebagai rahmat.”Beliau pun bersabda :           سِبَابُ المسْلِمِ فُسُوْقٌ“Mencaci maki seorang muslim adalah suatu kefasikan”. Dalam riwayat lain disebutkan :         اَلْمُسْتَبَّانِ شَيْطَانَانِ يَتَهَاتَرَانِ وَيَتَكَاذَبَانِ“Dua orang yang saling memaki adalah seperti dua setan yang saling menjatuhkan dan mendustakan lawannya”.قَالَ جَابرٌ بن سليْم رَضيَ اللهُ عَنْه : قُلْتُ: اعْهَدْ إِلَيَّ يَا رَسُوْلَ اللهِ، قَالَ: «لَا تَسُبَّنَّ أَحَدًا» قَالَ: فَمَا سَبَبْتُ بَعْدَهُ حُرًّا، وَلَا عَبْدًا، وَلَا بَعِيرًا، وَلَا شَاةً، رواه أبو داودJabir Bin Salim –radhiyallahu anhu- bercerita, “Aku berkata, “Buatlah ikatan perjanjian denganku Ya Rasulallah!” beliau lalu menjawab, “Janganlah sekali-kali engkau memaki orang lain”. Kata Jabir, “Sejak itulah aku tidak pernah memaki seorang pun, baik ia berstatus orang merdeka atau hamba sahaya, termasuk tidak memaki unta dan kambing”. HR Abu Dawud.Maka, bertobatlah dari dosa akibat goresan tulisan tangan Anda. Hapuskanlah dosa cacian dan gangguan yang Anda lakukan. Sesungguhnya orang yang bertobat dari perbuatan dosa identik dengan orang yang tidak pernah berbuat dosa.Ya Allah, ilhamkanlah kepada kami kedewasaan dan kematangan berpikir, selamatkanlah kami dari kejahatan perbuatan kami. Marilah kita beristighfar (memohon ampun) kepada Allah. Sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun bagi orang-orang yang kembali kepada-Nya.*******Khotbah KeduaKaum muslimin!Allah –subhanahu wa ta’ala- melarang orang-orang yang beriman mencaci maki sesembahan orang-orang non muslim agar hal itu tidak mereka jadikan alasan pembenar untuk mencaci maki Allah –subhanahu wa ta’ala-.Sesungguhnya mencaci maki tuhan-tuhan sesembahan mereka hanyalah akan membuat mereka semakin ingkar, keras kepala dan lari dari kebenaran. Hal itu bertentangan dengan karakteristik misi da’wah yang dikehendaki Allah –subhanahu wa ta’ala-.Firman Allah :وَلا تَسُبُّوا الَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ فَيَسُبُّوا اللَّهَ عَدْوًا بِغَيْرِ عِلْمٍ [ الأنعام/108]“Janganlah kalian memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah,karena nanti mereka akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa dasar pengetahuan”.Qs Al-An’am: 108Waspadalah kalian wahai hamba Allah, janganlah hadapi mereka dengan kekerasan, makian, kutukan dan umpatan. Sebab hal itu hanya akan menambah mereka semakin menjauh dari kebenaran, petunjuk sunnah dan nilai-nilai keluhuran.Sampaikanlah kebenaran itu dengan mengemukakan alasan-alasan kuat dan bukti-bukti nyata, melalui cara-cara yang bijak dan elegan. Kewajiban kalian hanyalah menyampaikan nasihat, mengajak dan mencegah. Soal menjadikan mereka baik dan buruk bukanlah tugas kalian. Itu urusan Allah, bukan urusan kalian. Kelak Allah yang akan menghitung dan membalas mereka.=== Doa Penutup ===Penerjemah: Usman Hatimhttps://firanda.com/


Khotbah Jumat, 24 Syawal 1437 H. Di Masjid NabawiKhotib : Syekh Shalah Bin Muhammad Al-BudairKhotbah PertamaKaum muslimin sekalian!Orang mukmin sangat antusias terhadap nilai-nilai kebaikan dan selalu bersikap lemah lembut dengan sesama.Sikap santun dalam berdialog, lemah lembut dalam berbicara, halus dalam penyampaian pesan, merupakan jalan tengah yang membuat orang lain simpati sehingga berbagai kepentingan terakomodir, hati yang bercerai berai dan pendapat yang berbeda dapat terangkul. Allah –subhanahu wa ta,ala- berpesan kepada Nabi Musa dan Harun –alaihimassalam- :فَقُولا لَهُ قَوْلا لَيِّنًا لَعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَى [ طه/ 44]“Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya (Fir’aun) dengan kata-kata yang lemah lembut, Mudah-mudahan ia menjadi sadar atau takut”.Qs Thaha: 44Ibnu Katsir –rahimahullah- ketika mengomentari ayat ini berkata : “Ada pelajaran sangat berharga yang dapat dipetik dari padanya, yaitu bahwa Fir’aun yang terkenal keangkuhan dan arogansinya, sementara Musa –alaihissalam- sebaik-baik manusia pilihan Allah saat itu, namun demikian Allah memerintahkannya untuk tidak berbicara dengan Fir’aun kecuali dengan perkataan yang santun dan lemah lembut.Kata-kata cacian hanya mengundang malapetaka. Cacian tidak akan menghadirkan kembali orang yang kabur dan tidak akan membuat simpati orang yang berkepala batu, justru hanya menanamkan rasa dendam di hati dan membuat orang yang berseberangan semakin nekad dan keras kepala.Bila Anda menghujani orang yang tidak sependapat dengan Anda itu dengan makian, kecaman dan kutukan, maka apa yang Anda lakukan itu akan semakin memperkeruh persoalan dan memperparah penyakit. Oleh karena itu, bila Anda menyampaikan nasihat, sampaikanlah dengan cara yang tidak membuat orang lain kabur, dan bila Anda berdebat, berdebatlah dengan cara yang santun tanpa merendahkan lawan bicara.Orang yang rendah moralnya, kotor tutur katanya, suka merendahkan martabat sesama, pengumpat orang lain, pelontar tuduhan terhadap orang tak berdosa, suka menyerang orang-orang yang baik, pengecam dan pengutuk, semua ucapannya hanya umpatan dan cacian, sungguh ia tidak pantas disebut reformis, penasihat atau guru pembimbing yang baik.Begitu terjadi peristiwa di tengah masyarakat, langsung mereka tangkap intensitas beritanya -entah tempat kejadian peristiwa itu dekat atau jauh-, mereka segera meluncur ke jaringan internet untuk menjadikan peristiwa itu sebagai alasan pelampiasan cacian dan umpatan.Mereka bergegas mencari situs-situs media soasial; maka dari kalangan mereka muncul-lah penuduh, pengecam, pencaci, pengutuk dan pengumpat kecuali orang-orang yang diselamatkan oleh Allah, namun sayangnya amat sedikit golongan ini.Wahai Anda yang menulis pernyataan-pernyataan yang penuh umpatan, kutukan dan cacian. Wahai Anda yang suka menjustifikasi dan melontarkan tuduhan-tuduhan. Anda akan mempertanggung-jawabkan perbuatan Anda kelak pada hari pertemuan seluruh makhluk, di mana perbuatan Anda sekecil apapun akan ditimbang dan diperhitungkan. Setiap orang akan datang didampingi malaikat penyaksi dan malaikat penggiring.Wahai Anda yang bersembunyi di balik layar! Wahai Anda yang berlindung di belakang nama samaran, menghindar dari pandangan khalayak dan keramaian, untuk memainkan peran licik dengan cara mencaci maki pihak lain! Sadarkah bahwa Anda berada dalam pengawasan Allah; kesendirian dan keterasingan Anda itu tetap dilihat Allah.لَيْسَ الْمُؤْمِنُ بِالطَّعَّانِ وَلَا اللَّعَّانِ وَلَا الْفَاحِشِ وَلَا الْبَذِيءِ“Seorang mukmin bukanlah orang yang banyak mencela, bukan orang yang banyak melaknat, bukan orang yang keji, dan bukan pula orang yang kotor omongannya”.Manusia yang suka mencela, mengutuk, mengejek dan berkata keji, bukanlah tipe manusia beriman. Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- bukanlah pencela, pengecam dan pengutuk. Sabda beliau :إنِّي لَمْ أُبْعَثْ لَعَّانًا وَإِنَّمَا بُعِثْتُ رَحْمَةً“Sesunguhnya aku tidak diutus sebagai tukang melaknat, tetapi aku diutus hanyalah sebagai rahmat.”Beliau pun bersabda :           سِبَابُ المسْلِمِ فُسُوْقٌ“Mencaci maki seorang muslim adalah suatu kefasikan”. Dalam riwayat lain disebutkan :         اَلْمُسْتَبَّانِ شَيْطَانَانِ يَتَهَاتَرَانِ وَيَتَكَاذَبَانِ“Dua orang yang saling memaki adalah seperti dua setan yang saling menjatuhkan dan mendustakan lawannya”.قَالَ جَابرٌ بن سليْم رَضيَ اللهُ عَنْه : قُلْتُ: اعْهَدْ إِلَيَّ يَا رَسُوْلَ اللهِ، قَالَ: «لَا تَسُبَّنَّ أَحَدًا» قَالَ: فَمَا سَبَبْتُ بَعْدَهُ حُرًّا، وَلَا عَبْدًا، وَلَا بَعِيرًا، وَلَا شَاةً، رواه أبو داودJabir Bin Salim –radhiyallahu anhu- bercerita, “Aku berkata, “Buatlah ikatan perjanjian denganku Ya Rasulallah!” beliau lalu menjawab, “Janganlah sekali-kali engkau memaki orang lain”. Kata Jabir, “Sejak itulah aku tidak pernah memaki seorang pun, baik ia berstatus orang merdeka atau hamba sahaya, termasuk tidak memaki unta dan kambing”. HR Abu Dawud.Maka, bertobatlah dari dosa akibat goresan tulisan tangan Anda. Hapuskanlah dosa cacian dan gangguan yang Anda lakukan. Sesungguhnya orang yang bertobat dari perbuatan dosa identik dengan orang yang tidak pernah berbuat dosa.Ya Allah, ilhamkanlah kepada kami kedewasaan dan kematangan berpikir, selamatkanlah kami dari kejahatan perbuatan kami. Marilah kita beristighfar (memohon ampun) kepada Allah. Sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun bagi orang-orang yang kembali kepada-Nya.*******Khotbah KeduaKaum muslimin!Allah –subhanahu wa ta’ala- melarang orang-orang yang beriman mencaci maki sesembahan orang-orang non muslim agar hal itu tidak mereka jadikan alasan pembenar untuk mencaci maki Allah –subhanahu wa ta’ala-.Sesungguhnya mencaci maki tuhan-tuhan sesembahan mereka hanyalah akan membuat mereka semakin ingkar, keras kepala dan lari dari kebenaran. Hal itu bertentangan dengan karakteristik misi da’wah yang dikehendaki Allah –subhanahu wa ta’ala-.Firman Allah :وَلا تَسُبُّوا الَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ فَيَسُبُّوا اللَّهَ عَدْوًا بِغَيْرِ عِلْمٍ [ الأنعام/108]“Janganlah kalian memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah,karena nanti mereka akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa dasar pengetahuan”.Qs Al-An’am: 108Waspadalah kalian wahai hamba Allah, janganlah hadapi mereka dengan kekerasan, makian, kutukan dan umpatan. Sebab hal itu hanya akan menambah mereka semakin menjauh dari kebenaran, petunjuk sunnah dan nilai-nilai keluhuran.Sampaikanlah kebenaran itu dengan mengemukakan alasan-alasan kuat dan bukti-bukti nyata, melalui cara-cara yang bijak dan elegan. Kewajiban kalian hanyalah menyampaikan nasihat, mengajak dan mencegah. Soal menjadikan mereka baik dan buruk bukanlah tugas kalian. Itu urusan Allah, bukan urusan kalian. Kelak Allah yang akan menghitung dan membalas mereka.=== Doa Penutup ===Penerjemah: Usman Hatimhttps://firanda.com/

Krisis Air Bersih, Jalan dan Qurban

Target donasi: 100 juta rupiah s.d. 7 Agustus 2016 Sekarang yang dialami oleh masyarakat Panggang & Purwosari adalah krisis air bersih. Di beberapa tempat terutama di daerah Purwosari (kecamatan paling barat Gunungkidul) mengalami kekeringan di beberapa titik dan sudah sangat darurat membutuhkan air. Dan daerah tersebut memang belum terjangkau oleh PDAM, berbeda dengan daerah lain. Apalagi masyarakat sangat berharap sekali bantuan dari Darush Sholihin sebagaimana tahun-tahun sebelumnya. Krisis kedua adalah jalan sempit di depan pesantren. Ini problema besar karena tanggal 20 Agustus 2016 (17 Dzulqa’dah 1437 H) akan diadakan Tabligh Akbar bersama Ustadz Dr. Syafiq Reza Basalamah di Warak, Desa Girisekar, Panggang tepatnya di halaman Parkir Pesantren Darush Sholihin. Kendaraan yang hadir pada kajian tersebut diperkirakan bisa lebih dari 120 kendaraan besar, selain dari mobil pribadi dan motor. Adapun jama’ah yang hadir bisa lebih dari 5000 jama’ah (dari lima kecamatan). Kalau jalan ini tidak diperlebar segera, maka akan mengganggu lalu lintas saat kajian berlangsung terutama jalan sebelah selatan pesantren.   Bagi yang berminat berdonasi untuk dua krisis di atas, bisa ditransfer melalui rekening: BCA KCP Wonosari 8950092905 (kode bank: 014) atas nama Muhammad Abduh Tuasikal. BSM KCP Wonosari 7068478612 (kode bank: 451) atas nama Yayasan Darush Sholihin Gunungkidul. Konfirmasi via SMS atau WA ke 082313950500 dengan format: Krisis# Nama Donatur # Alamat # Bank Tujuan Transfer # Tgl Transfer # Besar Donasi. Contoh: Krisis # Rini # Jogja # BSM# 2 Agustus 2016 # Rp.100.000. * Dimohon sangat untuk bisa mengirimkan konfirmasi agar bisa membedakan dengan donasi sosial lainnya. * Untuk kegiatan di atas memanfaatkan dana riba atau dana syubhat lainnya sebagaimana fatwa sebagian ulama. *** Donasi diharapkan bisa terkumpul terakhir tanggal 7 Agustus, hari Ahad agar bisa segera menangani krisis ini.   Krisis ketiga adalah krisis qurban. Sudah lima tahun dengan tahun ini, Pesantren Darush Sholihin binaan Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal (pengasuh RumayshoCom) terus mencari donasi qurban demi membahagiakan fakir miskin yang ada di sekitar pesantren. Namun saat ini baru terkumpul 5 sapi, 33 ekor kambing padahal jama’ah pengajian datang lebih dari 100 masjid. Tebar qurban di Gunungkidul ini bertujuan untuk memenuhi qurban di beberapa daerah yang sama sekali belum pernah merasakan qurban, di samping itu untuk jalan agar dakwah di desa lebih mudah diterima dengan melembutkan hati masyarakat. Harga qurban tahun 1437 H ini, untuk sapi 15 juta rupiah/ ekor (patungan tujuh orang masing-masing 2,2 juta rupiah) dan kambing mulai dari 1,8 – 4,0 juta rupiah. Harga ini berlaku hanya sampai 5 Agustus 2016. Setelah tanggal 5 bisa berubah.   Info qurban hubungi Contact Person di bawah: 0811267791 (Telp/ SMS/ WhatsApp)   Ingatlah dengan membantu kaum dhuafa, maka kita akan diberi pertolongan dan dibukakan pintu rezeki. Dalam hadits disebutkan: “Kalian hanyalah mendapat pertolongan dan rezeki dengan sebab adanya orang-orang lemah dari kalangan kalian.” (HR. Bukhari, no. 2896). Laporan dana sosial, bisa dilihat di sini.   Info DarushSholihin.Com dan Rumaysho.Com Selasa, 28 Syawal 1437 H Pimpinan Pesantren Darush Sholihin: Muhammad Abduh Tuasikal # Mohon share pada kaum muslimin lainnya jika menyayangi para dhuafa. Tagsair bersih pelebaran jalan tebar qurban

Krisis Air Bersih, Jalan dan Qurban

Target donasi: 100 juta rupiah s.d. 7 Agustus 2016 Sekarang yang dialami oleh masyarakat Panggang & Purwosari adalah krisis air bersih. Di beberapa tempat terutama di daerah Purwosari (kecamatan paling barat Gunungkidul) mengalami kekeringan di beberapa titik dan sudah sangat darurat membutuhkan air. Dan daerah tersebut memang belum terjangkau oleh PDAM, berbeda dengan daerah lain. Apalagi masyarakat sangat berharap sekali bantuan dari Darush Sholihin sebagaimana tahun-tahun sebelumnya. Krisis kedua adalah jalan sempit di depan pesantren. Ini problema besar karena tanggal 20 Agustus 2016 (17 Dzulqa’dah 1437 H) akan diadakan Tabligh Akbar bersama Ustadz Dr. Syafiq Reza Basalamah di Warak, Desa Girisekar, Panggang tepatnya di halaman Parkir Pesantren Darush Sholihin. Kendaraan yang hadir pada kajian tersebut diperkirakan bisa lebih dari 120 kendaraan besar, selain dari mobil pribadi dan motor. Adapun jama’ah yang hadir bisa lebih dari 5000 jama’ah (dari lima kecamatan). Kalau jalan ini tidak diperlebar segera, maka akan mengganggu lalu lintas saat kajian berlangsung terutama jalan sebelah selatan pesantren.   Bagi yang berminat berdonasi untuk dua krisis di atas, bisa ditransfer melalui rekening: BCA KCP Wonosari 8950092905 (kode bank: 014) atas nama Muhammad Abduh Tuasikal. BSM KCP Wonosari 7068478612 (kode bank: 451) atas nama Yayasan Darush Sholihin Gunungkidul. Konfirmasi via SMS atau WA ke 082313950500 dengan format: Krisis# Nama Donatur # Alamat # Bank Tujuan Transfer # Tgl Transfer # Besar Donasi. Contoh: Krisis # Rini # Jogja # BSM# 2 Agustus 2016 # Rp.100.000. * Dimohon sangat untuk bisa mengirimkan konfirmasi agar bisa membedakan dengan donasi sosial lainnya. * Untuk kegiatan di atas memanfaatkan dana riba atau dana syubhat lainnya sebagaimana fatwa sebagian ulama. *** Donasi diharapkan bisa terkumpul terakhir tanggal 7 Agustus, hari Ahad agar bisa segera menangani krisis ini.   Krisis ketiga adalah krisis qurban. Sudah lima tahun dengan tahun ini, Pesantren Darush Sholihin binaan Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal (pengasuh RumayshoCom) terus mencari donasi qurban demi membahagiakan fakir miskin yang ada di sekitar pesantren. Namun saat ini baru terkumpul 5 sapi, 33 ekor kambing padahal jama’ah pengajian datang lebih dari 100 masjid. Tebar qurban di Gunungkidul ini bertujuan untuk memenuhi qurban di beberapa daerah yang sama sekali belum pernah merasakan qurban, di samping itu untuk jalan agar dakwah di desa lebih mudah diterima dengan melembutkan hati masyarakat. Harga qurban tahun 1437 H ini, untuk sapi 15 juta rupiah/ ekor (patungan tujuh orang masing-masing 2,2 juta rupiah) dan kambing mulai dari 1,8 – 4,0 juta rupiah. Harga ini berlaku hanya sampai 5 Agustus 2016. Setelah tanggal 5 bisa berubah.   Info qurban hubungi Contact Person di bawah: 0811267791 (Telp/ SMS/ WhatsApp)   Ingatlah dengan membantu kaum dhuafa, maka kita akan diberi pertolongan dan dibukakan pintu rezeki. Dalam hadits disebutkan: “Kalian hanyalah mendapat pertolongan dan rezeki dengan sebab adanya orang-orang lemah dari kalangan kalian.” (HR. Bukhari, no. 2896). Laporan dana sosial, bisa dilihat di sini.   Info DarushSholihin.Com dan Rumaysho.Com Selasa, 28 Syawal 1437 H Pimpinan Pesantren Darush Sholihin: Muhammad Abduh Tuasikal # Mohon share pada kaum muslimin lainnya jika menyayangi para dhuafa. Tagsair bersih pelebaran jalan tebar qurban
Target donasi: 100 juta rupiah s.d. 7 Agustus 2016 Sekarang yang dialami oleh masyarakat Panggang & Purwosari adalah krisis air bersih. Di beberapa tempat terutama di daerah Purwosari (kecamatan paling barat Gunungkidul) mengalami kekeringan di beberapa titik dan sudah sangat darurat membutuhkan air. Dan daerah tersebut memang belum terjangkau oleh PDAM, berbeda dengan daerah lain. Apalagi masyarakat sangat berharap sekali bantuan dari Darush Sholihin sebagaimana tahun-tahun sebelumnya. Krisis kedua adalah jalan sempit di depan pesantren. Ini problema besar karena tanggal 20 Agustus 2016 (17 Dzulqa’dah 1437 H) akan diadakan Tabligh Akbar bersama Ustadz Dr. Syafiq Reza Basalamah di Warak, Desa Girisekar, Panggang tepatnya di halaman Parkir Pesantren Darush Sholihin. Kendaraan yang hadir pada kajian tersebut diperkirakan bisa lebih dari 120 kendaraan besar, selain dari mobil pribadi dan motor. Adapun jama’ah yang hadir bisa lebih dari 5000 jama’ah (dari lima kecamatan). Kalau jalan ini tidak diperlebar segera, maka akan mengganggu lalu lintas saat kajian berlangsung terutama jalan sebelah selatan pesantren.   Bagi yang berminat berdonasi untuk dua krisis di atas, bisa ditransfer melalui rekening: BCA KCP Wonosari 8950092905 (kode bank: 014) atas nama Muhammad Abduh Tuasikal. BSM KCP Wonosari 7068478612 (kode bank: 451) atas nama Yayasan Darush Sholihin Gunungkidul. Konfirmasi via SMS atau WA ke 082313950500 dengan format: Krisis# Nama Donatur # Alamat # Bank Tujuan Transfer # Tgl Transfer # Besar Donasi. Contoh: Krisis # Rini # Jogja # BSM# 2 Agustus 2016 # Rp.100.000. * Dimohon sangat untuk bisa mengirimkan konfirmasi agar bisa membedakan dengan donasi sosial lainnya. * Untuk kegiatan di atas memanfaatkan dana riba atau dana syubhat lainnya sebagaimana fatwa sebagian ulama. *** Donasi diharapkan bisa terkumpul terakhir tanggal 7 Agustus, hari Ahad agar bisa segera menangani krisis ini.   Krisis ketiga adalah krisis qurban. Sudah lima tahun dengan tahun ini, Pesantren Darush Sholihin binaan Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal (pengasuh RumayshoCom) terus mencari donasi qurban demi membahagiakan fakir miskin yang ada di sekitar pesantren. Namun saat ini baru terkumpul 5 sapi, 33 ekor kambing padahal jama’ah pengajian datang lebih dari 100 masjid. Tebar qurban di Gunungkidul ini bertujuan untuk memenuhi qurban di beberapa daerah yang sama sekali belum pernah merasakan qurban, di samping itu untuk jalan agar dakwah di desa lebih mudah diterima dengan melembutkan hati masyarakat. Harga qurban tahun 1437 H ini, untuk sapi 15 juta rupiah/ ekor (patungan tujuh orang masing-masing 2,2 juta rupiah) dan kambing mulai dari 1,8 – 4,0 juta rupiah. Harga ini berlaku hanya sampai 5 Agustus 2016. Setelah tanggal 5 bisa berubah.   Info qurban hubungi Contact Person di bawah: 0811267791 (Telp/ SMS/ WhatsApp)   Ingatlah dengan membantu kaum dhuafa, maka kita akan diberi pertolongan dan dibukakan pintu rezeki. Dalam hadits disebutkan: “Kalian hanyalah mendapat pertolongan dan rezeki dengan sebab adanya orang-orang lemah dari kalangan kalian.” (HR. Bukhari, no. 2896). Laporan dana sosial, bisa dilihat di sini.   Info DarushSholihin.Com dan Rumaysho.Com Selasa, 28 Syawal 1437 H Pimpinan Pesantren Darush Sholihin: Muhammad Abduh Tuasikal # Mohon share pada kaum muslimin lainnya jika menyayangi para dhuafa. Tagsair bersih pelebaran jalan tebar qurban


Target donasi: 100 juta rupiah s.d. 7 Agustus 2016 Sekarang yang dialami oleh masyarakat Panggang & Purwosari adalah krisis air bersih. Di beberapa tempat terutama di daerah Purwosari (kecamatan paling barat Gunungkidul) mengalami kekeringan di beberapa titik dan sudah sangat darurat membutuhkan air. Dan daerah tersebut memang belum terjangkau oleh PDAM, berbeda dengan daerah lain. Apalagi masyarakat sangat berharap sekali bantuan dari Darush Sholihin sebagaimana tahun-tahun sebelumnya. Krisis kedua adalah jalan sempit di depan pesantren. Ini problema besar karena tanggal 20 Agustus 2016 (17 Dzulqa’dah 1437 H) akan diadakan Tabligh Akbar bersama Ustadz Dr. Syafiq Reza Basalamah di Warak, Desa Girisekar, Panggang tepatnya di halaman Parkir Pesantren Darush Sholihin. Kendaraan yang hadir pada kajian tersebut diperkirakan bisa lebih dari 120 kendaraan besar, selain dari mobil pribadi dan motor. Adapun jama’ah yang hadir bisa lebih dari 5000 jama’ah (dari lima kecamatan). Kalau jalan ini tidak diperlebar segera, maka akan mengganggu lalu lintas saat kajian berlangsung terutama jalan sebelah selatan pesantren.   Bagi yang berminat berdonasi untuk dua krisis di atas, bisa ditransfer melalui rekening: BCA KCP Wonosari 8950092905 (kode bank: 014) atas nama Muhammad Abduh Tuasikal. BSM KCP Wonosari 7068478612 (kode bank: 451) atas nama Yayasan Darush Sholihin Gunungkidul. Konfirmasi via SMS atau WA ke 082313950500 dengan format: Krisis# Nama Donatur # Alamat # Bank Tujuan Transfer # Tgl Transfer # Besar Donasi. Contoh: Krisis # Rini # Jogja # BSM# 2 Agustus 2016 # Rp.100.000. * Dimohon sangat untuk bisa mengirimkan konfirmasi agar bisa membedakan dengan donasi sosial lainnya. * Untuk kegiatan di atas memanfaatkan dana riba atau dana syubhat lainnya sebagaimana fatwa sebagian ulama. *** Donasi diharapkan bisa terkumpul terakhir tanggal 7 Agustus, hari Ahad agar bisa segera menangani krisis ini.   Krisis ketiga adalah krisis qurban. Sudah lima tahun dengan tahun ini, Pesantren Darush Sholihin binaan Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal (pengasuh RumayshoCom) terus mencari donasi qurban demi membahagiakan fakir miskin yang ada di sekitar pesantren. Namun saat ini baru terkumpul 5 sapi, 33 ekor kambing padahal jama’ah pengajian datang lebih dari 100 masjid. Tebar qurban di Gunungkidul ini bertujuan untuk memenuhi qurban di beberapa daerah yang sama sekali belum pernah merasakan qurban, di samping itu untuk jalan agar dakwah di desa lebih mudah diterima dengan melembutkan hati masyarakat. Harga qurban tahun 1437 H ini, untuk sapi 15 juta rupiah/ ekor (patungan tujuh orang masing-masing 2,2 juta rupiah) dan kambing mulai dari 1,8 – 4,0 juta rupiah. Harga ini berlaku hanya sampai 5 Agustus 2016. Setelah tanggal 5 bisa berubah.   Info qurban hubungi Contact Person di bawah: 0811267791 (Telp/ SMS/ WhatsApp)   Ingatlah dengan membantu kaum dhuafa, maka kita akan diberi pertolongan dan dibukakan pintu rezeki. Dalam hadits disebutkan: “Kalian hanyalah mendapat pertolongan dan rezeki dengan sebab adanya orang-orang lemah dari kalangan kalian.” (HR. Bukhari, no. 2896). Laporan dana sosial, bisa dilihat di sini.   Info DarushSholihin.Com dan Rumaysho.Com Selasa, 28 Syawal 1437 H Pimpinan Pesantren Darush Sholihin: Muhammad Abduh Tuasikal # Mohon share pada kaum muslimin lainnya jika menyayangi para dhuafa. Tagsair bersih pelebaran jalan tebar qurban

Sebelas Hanya Dua Ratus (s/d 5 Agustus 2016)

Sebelas buku hanya 200 ribu rupiah, sudah termasuk ongkos kirim untuk Pulau Jawa. Apa saja buku tersebut? Buku-buku ini semua karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal (pengasuh Rumaysho.Com) mumpung promo di Awal Agustus. Buku-bukunya adalah: Dzikir Pagi Petang Transliterasi (ukuran besar): 2 pcs (@ 15 ribu) Mengenal BID’AH Lebih Dekat: 2 pcs (@ 18 ribu) Panduan Zakat: 1 pcs (@ 20 ribu) Panduan Qurban: 1 pcs (@ 25 ribu) Pembuka Pintu Rezeki: 1 pcs (@ 25 ribu) Bermodalkan Ilmu Sebelum Berdagang: 1 pcs (@ 30 ribu) Dzikir Pagi Petang (ukuran kecil): 3 pcs (@ 8 ribu) Promosi tersisa 4 hari hanya sampai dengan 5 Agustus 2016. Ingin order? Hubungi Toko Online Ruwaifi.Com: 085200171222 Format pemesanan: Promo Agustus Awal# Nama Lengkap# Alamat# No. Hp# Jumlah Paket Segera yah! Biar dapat ilmu bermanfaat dari buku-buku di atas.   Info Toko Online Ruwaifi.Com dan Rumaysho.Com Tagsbuku promo

Sebelas Hanya Dua Ratus (s/d 5 Agustus 2016)

Sebelas buku hanya 200 ribu rupiah, sudah termasuk ongkos kirim untuk Pulau Jawa. Apa saja buku tersebut? Buku-buku ini semua karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal (pengasuh Rumaysho.Com) mumpung promo di Awal Agustus. Buku-bukunya adalah: Dzikir Pagi Petang Transliterasi (ukuran besar): 2 pcs (@ 15 ribu) Mengenal BID’AH Lebih Dekat: 2 pcs (@ 18 ribu) Panduan Zakat: 1 pcs (@ 20 ribu) Panduan Qurban: 1 pcs (@ 25 ribu) Pembuka Pintu Rezeki: 1 pcs (@ 25 ribu) Bermodalkan Ilmu Sebelum Berdagang: 1 pcs (@ 30 ribu) Dzikir Pagi Petang (ukuran kecil): 3 pcs (@ 8 ribu) Promosi tersisa 4 hari hanya sampai dengan 5 Agustus 2016. Ingin order? Hubungi Toko Online Ruwaifi.Com: 085200171222 Format pemesanan: Promo Agustus Awal# Nama Lengkap# Alamat# No. Hp# Jumlah Paket Segera yah! Biar dapat ilmu bermanfaat dari buku-buku di atas.   Info Toko Online Ruwaifi.Com dan Rumaysho.Com Tagsbuku promo
Sebelas buku hanya 200 ribu rupiah, sudah termasuk ongkos kirim untuk Pulau Jawa. Apa saja buku tersebut? Buku-buku ini semua karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal (pengasuh Rumaysho.Com) mumpung promo di Awal Agustus. Buku-bukunya adalah: Dzikir Pagi Petang Transliterasi (ukuran besar): 2 pcs (@ 15 ribu) Mengenal BID’AH Lebih Dekat: 2 pcs (@ 18 ribu) Panduan Zakat: 1 pcs (@ 20 ribu) Panduan Qurban: 1 pcs (@ 25 ribu) Pembuka Pintu Rezeki: 1 pcs (@ 25 ribu) Bermodalkan Ilmu Sebelum Berdagang: 1 pcs (@ 30 ribu) Dzikir Pagi Petang (ukuran kecil): 3 pcs (@ 8 ribu) Promosi tersisa 4 hari hanya sampai dengan 5 Agustus 2016. Ingin order? Hubungi Toko Online Ruwaifi.Com: 085200171222 Format pemesanan: Promo Agustus Awal# Nama Lengkap# Alamat# No. Hp# Jumlah Paket Segera yah! Biar dapat ilmu bermanfaat dari buku-buku di atas.   Info Toko Online Ruwaifi.Com dan Rumaysho.Com Tagsbuku promo


Sebelas buku hanya 200 ribu rupiah, sudah termasuk ongkos kirim untuk Pulau Jawa. Apa saja buku tersebut? Buku-buku ini semua karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal (pengasuh Rumaysho.Com) mumpung promo di Awal Agustus. Buku-bukunya adalah: Dzikir Pagi Petang Transliterasi (ukuran besar): 2 pcs (@ 15 ribu) Mengenal BID’AH Lebih Dekat: 2 pcs (@ 18 ribu) Panduan Zakat: 1 pcs (@ 20 ribu) Panduan Qurban: 1 pcs (@ 25 ribu) Pembuka Pintu Rezeki: 1 pcs (@ 25 ribu) Bermodalkan Ilmu Sebelum Berdagang: 1 pcs (@ 30 ribu) Dzikir Pagi Petang (ukuran kecil): 3 pcs (@ 8 ribu) Promosi tersisa 4 hari hanya sampai dengan 5 Agustus 2016. Ingin order? Hubungi Toko Online Ruwaifi.Com: 085200171222 Format pemesanan: Promo Agustus Awal# Nama Lengkap# Alamat# No. Hp# Jumlah Paket Segera yah! Biar dapat ilmu bermanfaat dari buku-buku di atas.   Info Toko Online Ruwaifi.Com dan Rumaysho.Com Tagsbuku promo

8 Amalan Ringan Berpahala Besar (Presentasi)

Bada Ramadhan biasanya kita malas lagi untuk beramal. Amalan-amalan ringan ini berpahala besar bisa membantu kita untuk terus kontinu dalam beramal.   Pelajari 8 amalan berikut ini: 1. Shalat Shubuh dan ‘Ashar 2. Mengamalkan doa setelah azan 3. Mengerjakan 12 raka’at shalat rawatib dalam sehari 4. Mengerjakan shalat rawatib Zhuhur, 4 raka’at qabliyah dan 4 raka’at ba’diyah 5. Membaca ayat kursi ba’da shalat 6. Menjaga shalat sunnah wudhu 7. Puasa tiga hari setiap bulan 8. Mengerjakan shalat Isyraq (shalat dhuha di awal waktu)   SHARE YUK ILMU INI DAN AMALKAN!   Silakan download materi presentasi “8 Amalan Ringan Berpahala Besar”: File PDF: 8 Amalan Ringan Berpahala Besar File Presentasi PNG: 8 Amalan Ringan Berpahala Besar Semoga bermanfaat. — @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, Malam Rabu, 29 Syawal 1437 H Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsamalan ringan

8 Amalan Ringan Berpahala Besar (Presentasi)

Bada Ramadhan biasanya kita malas lagi untuk beramal. Amalan-amalan ringan ini berpahala besar bisa membantu kita untuk terus kontinu dalam beramal.   Pelajari 8 amalan berikut ini: 1. Shalat Shubuh dan ‘Ashar 2. Mengamalkan doa setelah azan 3. Mengerjakan 12 raka’at shalat rawatib dalam sehari 4. Mengerjakan shalat rawatib Zhuhur, 4 raka’at qabliyah dan 4 raka’at ba’diyah 5. Membaca ayat kursi ba’da shalat 6. Menjaga shalat sunnah wudhu 7. Puasa tiga hari setiap bulan 8. Mengerjakan shalat Isyraq (shalat dhuha di awal waktu)   SHARE YUK ILMU INI DAN AMALKAN!   Silakan download materi presentasi “8 Amalan Ringan Berpahala Besar”: File PDF: 8 Amalan Ringan Berpahala Besar File Presentasi PNG: 8 Amalan Ringan Berpahala Besar Semoga bermanfaat. — @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, Malam Rabu, 29 Syawal 1437 H Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsamalan ringan
Bada Ramadhan biasanya kita malas lagi untuk beramal. Amalan-amalan ringan ini berpahala besar bisa membantu kita untuk terus kontinu dalam beramal.   Pelajari 8 amalan berikut ini: 1. Shalat Shubuh dan ‘Ashar 2. Mengamalkan doa setelah azan 3. Mengerjakan 12 raka’at shalat rawatib dalam sehari 4. Mengerjakan shalat rawatib Zhuhur, 4 raka’at qabliyah dan 4 raka’at ba’diyah 5. Membaca ayat kursi ba’da shalat 6. Menjaga shalat sunnah wudhu 7. Puasa tiga hari setiap bulan 8. Mengerjakan shalat Isyraq (shalat dhuha di awal waktu)   SHARE YUK ILMU INI DAN AMALKAN!   Silakan download materi presentasi “8 Amalan Ringan Berpahala Besar”: File PDF: 8 Amalan Ringan Berpahala Besar File Presentasi PNG: 8 Amalan Ringan Berpahala Besar Semoga bermanfaat. — @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, Malam Rabu, 29 Syawal 1437 H Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsamalan ringan


Bada Ramadhan biasanya kita malas lagi untuk beramal. Amalan-amalan ringan ini berpahala besar bisa membantu kita untuk terus kontinu dalam beramal.   Pelajari 8 amalan berikut ini: 1. Shalat Shubuh dan ‘Ashar 2. Mengamalkan doa setelah azan 3. Mengerjakan 12 raka’at shalat rawatib dalam sehari 4. Mengerjakan shalat rawatib Zhuhur, 4 raka’at qabliyah dan 4 raka’at ba’diyah 5. Membaca ayat kursi ba’da shalat 6. Menjaga shalat sunnah wudhu 7. Puasa tiga hari setiap bulan 8. Mengerjakan shalat Isyraq (shalat dhuha di awal waktu)   SHARE YUK ILMU INI DAN AMALKAN!   Silakan download materi presentasi “8 Amalan Ringan Berpahala Besar”: File PDF: 8 Amalan Ringan Berpahala Besar File Presentasi PNG: 8 Amalan Ringan Berpahala Besar Semoga bermanfaat. — @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, Malam Rabu, 29 Syawal 1437 H Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsamalan ringan

Orang Tua Nabi Muhammad dan Keluarga Para Nabi

Kemarin saat di Makassar, kami sempat bertemu dengan seorang ikhwan yang muallaf, sejak 2010 (kalau tidak salah). Saat ini ia menjadi seorang hafizh Al-Qur’an, suaranya merdu dan enak sekali didengar. Namun sayangnya, tentang ibunya ia cerita masih belum masuk Islam. Kami cuma doakan saja, moga ibunya bisa masuk Islam dengan segera. Ia katakan juga bahwa ibunya sebenarnya sudah percaya bahwa Yesus itu bukan Tuhan. Cuma karena pihak keluarga ibunya saja yang mungkin membuat ortunya belum bisa bersyahadat. Apakah mungkin seorang anak muslim bahkan hafizh, orang tuanya itu kafir? Apa mencacati anaknya yang hafizh tadi dengan keadaan orang tua seperti itu? Coba renungkan sendiri pada Nabi kita Muhammad dari dalil-dalil yang berbicara. Lihat juga keluarga para nabi lainnya. Ada Nabi yang istri dan anaknya kafir. Ada Nabi yang bapaknya kafir. Apakah mencacati ia sebagai seorang Nabi? Apalagi kalau seorang Nabi seperti Nabi Muhammad memiliki orang tua yang belum sempat beliau dakwahi.   Istri Nabi Nuh dan Nabi Luth Kafir Allah Ta’ala berfirman, ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا لِلَّذِينَ كَفَرُوا اِمْرَأَةَ نُوحٍ وَامْرَأَةَ لُوطٍ كَانَتَا تَحْتَ عَبْدَيْنِ مِنْ عِبَادِنَا صَالِحَيْنِ فَخَانَتَاهُمَا فَلَمْ يُغْنِيَا عَنْهُمَا مِنَ اللَّهِ شَيْئًا وَقِيلَ ادْخُلَا النَّارَ مَعَ الدَّاخِلِينَ “Allah membuat isteri Nuh dan isteri Luth sebagai perumpamaan bagi orang-orang kafir. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba Kami; lalu kedua isteri itu berkhianat kepada suaminya (masing-masing), maka suaminya itu tiada dapat membantu mereka sedikitpun dari (siksa) Allah; dan dikatakan (kepada keduanya): “Masuklah ke dalam jahannam bersama orang-orang yang masuk (jahannam).” (QS. At-Tahrim: 10)   Anak Nabi Nuh Kafir Allah Ta’ala berfirman, وَقِيلَ يَأَرْضُ ابْلَعِي مَآءَكِ وَيَسَمَآءُ أَقْلِعِي وَغِيضَ الْمَآءُ وَقُضِيَ الأمْرُ وَاسْتَوَتْ عَلَى الْجُودِيّ وَقِيلَ بُعْداً لّلْقَوْمِ الظّالِمِينَ * وَنَادَى نُوحٌ رّبّهُ فَقَالَ رَبّ إِنّ ابُنِي مِنْ أَهْلِي وَإِنّ وَعْدَكَ الْحَقّ وَأَنتَ أَحْكَمُ الْحَاكِمِينَ *  قَالَ يَنُوحُ إِنّهُ لَيْسَ مِنْ أَهْلِكَ إِنّهُ عَمَلٌ غَيْرُ صَالِحٍ فَلاَ تَسْأَلْنِـي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنّيَ أَعِظُكَ أَن تَكُونَ مِنَ الْجَاهِلِينَ “Dan difirmankan: “Hai bumi telanlah airmu, dan hai langit (hujan) berhentilah,” dan air pun disurutkan, perintah pun diselesaikan dan bahtera itu pun berlabuh di atas bukit Judi, dan dikatakan: “Binasalah orang-orang yang zalim“. Dan Nuh berseru kepada Tuhannya sambil berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya anakku termasuk keluargaku, dan sesungguhnya janji Engkau itulah yang benar. Dan Engkau adalah Hakim yang seadil-adilnya”. Allah berfirman: “Hai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan), sesungguhnya (perbuatan)nya perbuatan yang tidak baik. Sebab itu janganlah kamu memohon kepada-Ku sesuatu yang kamu tidak mengetahui (hakekat)nya. Sesungguhnya Aku memperingatkan kepadamu supaya kamu jangan termasuk orang-orang yang tidak berpengetahuan.” (QS. Huud : 44-46)   Ayah Nabi Ibrahim (Azar) Kafir Dalam ayat disebutkan, وَمَا كَانَ اسْتِغْفَارُ إِبْرَاهِيمَ لأبِيهِ إِلاّ عَن مّوْعِدَةٍ وَعَدَهَآ إِيّاهُ فَلَمّا تَبَيّنَ لَهُ أَنّهُ عَدُوّ للّهِ تَبَرّأَ مِنْهُ إِنّ إِبْرَاهِيمَ لأوّاهٌ حَلِيمٌ “Dan permintaan ampun dari Ibrahim (kepada Allah) untuk bapaknya tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya kepada bapaknya itu. Maka, tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya itu adalah musuh Allah, maka Ibrahim berlepas diri dari padanya. Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun” (QS. At-Taubah: 114).   Orang Tua Nabi Muhammad Dibicarakan dalam Al-Qur’an Dalam ayat disebutkan, مَا كَانَ لِلنّبِيّ وَالّذِينَ آمَنُوَاْ أَن يَسْتَغْفِرُواْ لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوَاْ أُوْلِي قُرْبَىَ مِن بَعْدِ مَا تَبَيّنَ لَهُمْ أَنّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ “Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat (nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka jahanam.” (QS. At-Taubah : 113). Kalau kitas telusuri ayat di atas ternyata membicarakan tentang orang tua Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ibnu Abi Hatim dalam kitab tafsirnya menyebutkan, telah menceritakan kepadaku bapakku, telah menceritakan kepadaku Khalid bin Khadasy, telah menceritakan padaku ‘Abdullah bin Wahb, dari Ibnu Juraij, dari Ayyub bin Hani’, dari Masruq, dari ‘Abdullah bin Mas’ud, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah keluar ke daerah pekuburan. Kami pun mengikuti beliau. Sesudah sampai, beliau duduk di samping sebuah kubur. Beliau berbicara (dengan lirih), kemudian beliau menangis. Kami pun menangis karena mengikuti beliau menangis. ‘Umar bin Al-Khattab lantas berdiri. ‘Umar berbicara pada Nabi dan Nabi pun berbicara pada kami. Nabi berkata, “Apa yang membuat kalian menangis?” Para sahabat lantas menjawab, “Kami menangis lantaran engkau menangis.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, إِنَّ القَبْرَ الَّذِي جَلَسْتُ عِنْدَهُ قَبْرُ آمِنَة، وَإِنِّي اسْتَأْذَنْتُ رَبِّي فِي زِيَارَتِهَا فَأَذِنَ لِي “Perlu diketahui bahwa kubur yang aku duduk di sampingnya adalah kubur Aminah (ibuku). Aku meminta izin pada Rabbku untuk diperbolehkan menziarahi kubur ibuku. Lantas aku diizinkan.” Dalam riwayat lain disebutkan, وَإِنِّي اسْتَأْذَنْتُ رَبِّي فِي الدُّعَاءِ لَهَا فَلَمْ يَأْذَنْ لِي “Aku meminta izin pada Rabbku untuk mendo’akan ibuku, namun aku tidak diizinkan.” Lalu turunlah ayat pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam surat At-Taubah ayat 113 yang telah disebutkan di atas, مَا كَانَ لِلنّبِيّ وَالّذِينَ آمَنُوَاْ أَن يَسْتَغْفِرُواْ لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوَاْ أُوْلِي قُرْبَىَ… “Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat (nya), ….” (QS. At-Taubah : 113). (HR. Ibnu Abi Hatim. Sanad dan matan hadits dekat seperti itu. Dalam riwayat ini terdapat Ayyub bin Hani’, ia adalah perawi yang shaduq, namun lemah hafalannya sebagaimana disebutkan dalam At-Taqrib. Namun hadits ini memiliki syawahid atau penguat. Lihat tahqiq Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 4: 358)   Orang Tua Nabi Muhammad Di Mana? Dari Anas bin Malik, ia berkata bahwa ada seseorang yang bertanya, يَا رَسُولَ اللَّهِ ، أَيْنَ أَبِي؟ “Wahai Rasulullah di mana tempat kembali bapakku?” فِي النَّارِ “Di neraka.” Ketika orang tersebut berpaling, Rasul memanggilnya lantas berkata, إِنَّ أَبِي وَأَبَاكَ فِي النَّار “Sesungguhnya ayahku dan ayahmu di neraka.” (HR. Muslim, no. 203) Dari hadits di atas kita bisa mengambil beberapa faedah yang kami sarikan dari penjelasan Imam Nawawi: 1- Siapa saja yang mati dalam keadaan kafir, maka ia berada di neraka dan tak bermanfaat hubungan keluarga dekat. 2- Dalam hadits ini dapat diambil pelajaran bahwa siapa yang mati pada masa fatrah (masa kosong di antara dua nabi) dan saat itu ada kebiasaan orang-orang Arab menyembah berhala, maka ia dihukumi sebagai penduduk neraka. Bukan berarti di masa itu mereka tidak mendapatkan dakwah. Bahkan dakwah dari Nabi Ibrahim dan para nabi lainnya sudah ada. 3- Ini menunjukkan cara bergaul Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sangat baik. Kalau orang tua Nabi Muhammad sendiri dinyatakan di neraka dan itu memang terasa berat bagi beliau. Orang tua dari orang yang bertanya pun demikian. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengungkapkan “ayahku dan ayahmu di neraka” menunjukkan bahwa beliau merasa senasib dengannya dalam musibah. Imam Nawawi rahimahullah membawakan judul bab untuk hadits di atas “Bab: Penjelasan mengenai orang yang di atas kekafiran tempatnya di neraka. Syafa’at dan hubungan kerabat dekat tidaklah bermanfaat untuknya.” (Syarh Shahih Muslim, 3: 70).   Hadits yang Tidak Jelas dan Lemah Sebenarnya kalau mau melihat berita-berita yang menyatakan tidak kafirnya orang tua nabi dan selamatnya mereka karena di atas iman adalah berdasarkan pemahaman yang tidak jelas. Karena berita tersebut berasal dari hadits bermasalah. Penulis kitab ‘Aunul Ma’bud menyatakan, “Hadits-hadits yang menyebutkan berimannya orang tua Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan selamatnya mereka, semuanya adalah hadits yang mawdhu, dusta dan tidak benar. Sebagian hadits tersebtu dha’if jiddan (sangat lemah). Menurut kesepatan ulama pakar hadits, hadits-hadits tersebut tidaklah shahih sama sekali. Alasan mawdhu’ (berisi perawi pendusta) dinyatakan oleh Ad-Daruquthni, Al-Jauzaqani, Ibnu Syahin, Al-Khatib, Ibnu ‘Asakir, Ibnu Nashir, Ibnul Jauzi, As-Suhaili, Al-Qurthubi, Ath-Thabari, Fath Ad-Diin bin Sayyid An-Naas, Ibrahim Al-Halabi dan ulama lainnya.” (‘Aun Al-Ma’bud, 12: 358)   Lemahnya Pendapat Imam Suyuthi rahimahullah Al-‘Azhim Abadi, penulis ‘Aun Al-Ma’bud menyatakan dalam rangka membantah perkataan Imam As-Suyuthi yang menyatakan tidak kafirnya orang tua Nabi, “Asy-Syaikh Jalaluddin As-Suyuthi telah menyelisihi para hufazh (pakar hadits) dan para ulama muhaqqiqin. Beliau menyatakan bahwa orang tua nabi mati dalam keadaan beriman dan selamat. Bahkan Imam Suyuthi sampai menulis beberapa risalah untuk mendukung hal ini. Di antara risalah tersebut berjudul “At-Ta’zhim wa Al-Minnah fi Anna Abaway Rasulillah fi Al-Jannah” yaitu pengagungan dan karunia yang membuktikan kedua orang tua Rasulullah berada di surga.” Al-‘Azhim Abadi menyatakan, “Al-‘Alamah As-Suyuthi terlalu bergampang-gampangan dalam masalah ini. Pendapat beliau tak perlu dianggap. Karena perkataan beliau telah menyelisihi pendapat ulama yang lebih mumpuni.” (‘Aun Al-Ma’bud, 12: 358)   Telah Ada Ijma’ Bahkan telah ada ijma’ dari para ulama akan keadaan orang tua Nabi Muhammad. Ibnul Jauzi berkata, وأما عبد الله فإنه مات ورسول الله صلى الله عليه وسلم حمل ولا خلاف أنه مات كافراً، وكذلك آمنة ماتت ولرسول الله صلى الله عليه وسلم ست سنين ”Adapun ’Abdullah (ayah Nabi), ia mati ketika Rasulullah shallallaahu ’alaihi wa sallam masih berada dalam kandungan, dan ia mati dalam keadaan kafir tanpa ada perselisihan di antara para ulama. Begitu pula Aminah (tentang kekafirannya tanpa ada khilaf), di mana ia mati ketika Rasulullah shallallaahu ’alaihi wa sallam berusia enam tahun.” (Al-Mawdhu’at, 1: 283). Al-’Allamah ’Ali bin Muhammad Sulthan Al-Qaari telah menukil adanya ijma’ tentang kafirnya kedua orang tua Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam dengan perkataannya : وأما الإجماع فقد اتفق السلف والخلف من الصحابة والتابعين والأئمة الأربعة وسائر المجتهدين على ذلك من غير إظهار خلاف لما هنالك والخلاف من اللاحق لا يقدح في الإجماع السابق سواء يكون من جنس المخالف أو صنف الموافق ”Adapun ijma’, maka sungguh ulama salaf dan khalaf dari kalangan shahabat, tabi’in, imam empat, serta seluruh mujtahidin telah bersepakat tentang hal tersebut (kafirnya kedua orang tua Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam) tanpa adanya khilaf. Jika memang terdapat khilaf setelah adanya ijma’, maka tidak mengurangi nilai ijma’ yang telah terjadi sebelumnya. Sama saja apakah hal itu terjadi pada orang-orang menyelisihi ijma’ (di era setelahnya) atau dari orang-orang yang telah bersepakat (yang kemudian ia berubah pendapat menyelisihi ijma’) (Adilltaul-Mu’taqad Abi Haniifah hlm. 7. Download dari www.alsoufia.com)   Silakan Simpulkan Setelah membaca tulisan ini, Anda kami yakin cerdas bisa menyimpulkan manakah pendapat yang benar. Ingin menerima hadits dari Nabi sendiri atau ingin menerima pendapat yang tidak berdasar? Silakan menyimpulkan. Allahumma inna nas-aluka ’ilman naafi’a, Ya Allah kami meminta kepada-Mu ilmu yang bermanfaat.   Referensi: Al- Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Al-Hajjaj. Cetakan pertama, tahun 1433 H. Yahya bin Syarf An-Nawawi. Penerbit Dar Ibnu Hazm. ’Aun Al-Ma’bud Syarh Sunan Abi Daud. Cetakan pertama, tahun 1430 H. Al-’Azhim Abadi. Penerbit Darul Fayha’. Tafsir Al-Qur’an Al-’Azhim. Cetakan pertama, tahun 1431 H. Ibnu Katsir. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. https://islamqa.info/ar/47170 http://abul-jauzaa.blogspot.co.id/2008/06/kafirkah-kedua-orang-tua-nabi-sebuah.html — @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 27 Syawal 1437 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagscinta nabi

Orang Tua Nabi Muhammad dan Keluarga Para Nabi

Kemarin saat di Makassar, kami sempat bertemu dengan seorang ikhwan yang muallaf, sejak 2010 (kalau tidak salah). Saat ini ia menjadi seorang hafizh Al-Qur’an, suaranya merdu dan enak sekali didengar. Namun sayangnya, tentang ibunya ia cerita masih belum masuk Islam. Kami cuma doakan saja, moga ibunya bisa masuk Islam dengan segera. Ia katakan juga bahwa ibunya sebenarnya sudah percaya bahwa Yesus itu bukan Tuhan. Cuma karena pihak keluarga ibunya saja yang mungkin membuat ortunya belum bisa bersyahadat. Apakah mungkin seorang anak muslim bahkan hafizh, orang tuanya itu kafir? Apa mencacati anaknya yang hafizh tadi dengan keadaan orang tua seperti itu? Coba renungkan sendiri pada Nabi kita Muhammad dari dalil-dalil yang berbicara. Lihat juga keluarga para nabi lainnya. Ada Nabi yang istri dan anaknya kafir. Ada Nabi yang bapaknya kafir. Apakah mencacati ia sebagai seorang Nabi? Apalagi kalau seorang Nabi seperti Nabi Muhammad memiliki orang tua yang belum sempat beliau dakwahi.   Istri Nabi Nuh dan Nabi Luth Kafir Allah Ta’ala berfirman, ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا لِلَّذِينَ كَفَرُوا اِمْرَأَةَ نُوحٍ وَامْرَأَةَ لُوطٍ كَانَتَا تَحْتَ عَبْدَيْنِ مِنْ عِبَادِنَا صَالِحَيْنِ فَخَانَتَاهُمَا فَلَمْ يُغْنِيَا عَنْهُمَا مِنَ اللَّهِ شَيْئًا وَقِيلَ ادْخُلَا النَّارَ مَعَ الدَّاخِلِينَ “Allah membuat isteri Nuh dan isteri Luth sebagai perumpamaan bagi orang-orang kafir. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba Kami; lalu kedua isteri itu berkhianat kepada suaminya (masing-masing), maka suaminya itu tiada dapat membantu mereka sedikitpun dari (siksa) Allah; dan dikatakan (kepada keduanya): “Masuklah ke dalam jahannam bersama orang-orang yang masuk (jahannam).” (QS. At-Tahrim: 10)   Anak Nabi Nuh Kafir Allah Ta’ala berfirman, وَقِيلَ يَأَرْضُ ابْلَعِي مَآءَكِ وَيَسَمَآءُ أَقْلِعِي وَغِيضَ الْمَآءُ وَقُضِيَ الأمْرُ وَاسْتَوَتْ عَلَى الْجُودِيّ وَقِيلَ بُعْداً لّلْقَوْمِ الظّالِمِينَ * وَنَادَى نُوحٌ رّبّهُ فَقَالَ رَبّ إِنّ ابُنِي مِنْ أَهْلِي وَإِنّ وَعْدَكَ الْحَقّ وَأَنتَ أَحْكَمُ الْحَاكِمِينَ *  قَالَ يَنُوحُ إِنّهُ لَيْسَ مِنْ أَهْلِكَ إِنّهُ عَمَلٌ غَيْرُ صَالِحٍ فَلاَ تَسْأَلْنِـي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنّيَ أَعِظُكَ أَن تَكُونَ مِنَ الْجَاهِلِينَ “Dan difirmankan: “Hai bumi telanlah airmu, dan hai langit (hujan) berhentilah,” dan air pun disurutkan, perintah pun diselesaikan dan bahtera itu pun berlabuh di atas bukit Judi, dan dikatakan: “Binasalah orang-orang yang zalim“. Dan Nuh berseru kepada Tuhannya sambil berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya anakku termasuk keluargaku, dan sesungguhnya janji Engkau itulah yang benar. Dan Engkau adalah Hakim yang seadil-adilnya”. Allah berfirman: “Hai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan), sesungguhnya (perbuatan)nya perbuatan yang tidak baik. Sebab itu janganlah kamu memohon kepada-Ku sesuatu yang kamu tidak mengetahui (hakekat)nya. Sesungguhnya Aku memperingatkan kepadamu supaya kamu jangan termasuk orang-orang yang tidak berpengetahuan.” (QS. Huud : 44-46)   Ayah Nabi Ibrahim (Azar) Kafir Dalam ayat disebutkan, وَمَا كَانَ اسْتِغْفَارُ إِبْرَاهِيمَ لأبِيهِ إِلاّ عَن مّوْعِدَةٍ وَعَدَهَآ إِيّاهُ فَلَمّا تَبَيّنَ لَهُ أَنّهُ عَدُوّ للّهِ تَبَرّأَ مِنْهُ إِنّ إِبْرَاهِيمَ لأوّاهٌ حَلِيمٌ “Dan permintaan ampun dari Ibrahim (kepada Allah) untuk bapaknya tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya kepada bapaknya itu. Maka, tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya itu adalah musuh Allah, maka Ibrahim berlepas diri dari padanya. Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun” (QS. At-Taubah: 114).   Orang Tua Nabi Muhammad Dibicarakan dalam Al-Qur’an Dalam ayat disebutkan, مَا كَانَ لِلنّبِيّ وَالّذِينَ آمَنُوَاْ أَن يَسْتَغْفِرُواْ لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوَاْ أُوْلِي قُرْبَىَ مِن بَعْدِ مَا تَبَيّنَ لَهُمْ أَنّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ “Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat (nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka jahanam.” (QS. At-Taubah : 113). Kalau kitas telusuri ayat di atas ternyata membicarakan tentang orang tua Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ibnu Abi Hatim dalam kitab tafsirnya menyebutkan, telah menceritakan kepadaku bapakku, telah menceritakan kepadaku Khalid bin Khadasy, telah menceritakan padaku ‘Abdullah bin Wahb, dari Ibnu Juraij, dari Ayyub bin Hani’, dari Masruq, dari ‘Abdullah bin Mas’ud, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah keluar ke daerah pekuburan. Kami pun mengikuti beliau. Sesudah sampai, beliau duduk di samping sebuah kubur. Beliau berbicara (dengan lirih), kemudian beliau menangis. Kami pun menangis karena mengikuti beliau menangis. ‘Umar bin Al-Khattab lantas berdiri. ‘Umar berbicara pada Nabi dan Nabi pun berbicara pada kami. Nabi berkata, “Apa yang membuat kalian menangis?” Para sahabat lantas menjawab, “Kami menangis lantaran engkau menangis.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, إِنَّ القَبْرَ الَّذِي جَلَسْتُ عِنْدَهُ قَبْرُ آمِنَة، وَإِنِّي اسْتَأْذَنْتُ رَبِّي فِي زِيَارَتِهَا فَأَذِنَ لِي “Perlu diketahui bahwa kubur yang aku duduk di sampingnya adalah kubur Aminah (ibuku). Aku meminta izin pada Rabbku untuk diperbolehkan menziarahi kubur ibuku. Lantas aku diizinkan.” Dalam riwayat lain disebutkan, وَإِنِّي اسْتَأْذَنْتُ رَبِّي فِي الدُّعَاءِ لَهَا فَلَمْ يَأْذَنْ لِي “Aku meminta izin pada Rabbku untuk mendo’akan ibuku, namun aku tidak diizinkan.” Lalu turunlah ayat pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam surat At-Taubah ayat 113 yang telah disebutkan di atas, مَا كَانَ لِلنّبِيّ وَالّذِينَ آمَنُوَاْ أَن يَسْتَغْفِرُواْ لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوَاْ أُوْلِي قُرْبَىَ… “Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat (nya), ….” (QS. At-Taubah : 113). (HR. Ibnu Abi Hatim. Sanad dan matan hadits dekat seperti itu. Dalam riwayat ini terdapat Ayyub bin Hani’, ia adalah perawi yang shaduq, namun lemah hafalannya sebagaimana disebutkan dalam At-Taqrib. Namun hadits ini memiliki syawahid atau penguat. Lihat tahqiq Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 4: 358)   Orang Tua Nabi Muhammad Di Mana? Dari Anas bin Malik, ia berkata bahwa ada seseorang yang bertanya, يَا رَسُولَ اللَّهِ ، أَيْنَ أَبِي؟ “Wahai Rasulullah di mana tempat kembali bapakku?” فِي النَّارِ “Di neraka.” Ketika orang tersebut berpaling, Rasul memanggilnya lantas berkata, إِنَّ أَبِي وَأَبَاكَ فِي النَّار “Sesungguhnya ayahku dan ayahmu di neraka.” (HR. Muslim, no. 203) Dari hadits di atas kita bisa mengambil beberapa faedah yang kami sarikan dari penjelasan Imam Nawawi: 1- Siapa saja yang mati dalam keadaan kafir, maka ia berada di neraka dan tak bermanfaat hubungan keluarga dekat. 2- Dalam hadits ini dapat diambil pelajaran bahwa siapa yang mati pada masa fatrah (masa kosong di antara dua nabi) dan saat itu ada kebiasaan orang-orang Arab menyembah berhala, maka ia dihukumi sebagai penduduk neraka. Bukan berarti di masa itu mereka tidak mendapatkan dakwah. Bahkan dakwah dari Nabi Ibrahim dan para nabi lainnya sudah ada. 3- Ini menunjukkan cara bergaul Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sangat baik. Kalau orang tua Nabi Muhammad sendiri dinyatakan di neraka dan itu memang terasa berat bagi beliau. Orang tua dari orang yang bertanya pun demikian. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengungkapkan “ayahku dan ayahmu di neraka” menunjukkan bahwa beliau merasa senasib dengannya dalam musibah. Imam Nawawi rahimahullah membawakan judul bab untuk hadits di atas “Bab: Penjelasan mengenai orang yang di atas kekafiran tempatnya di neraka. Syafa’at dan hubungan kerabat dekat tidaklah bermanfaat untuknya.” (Syarh Shahih Muslim, 3: 70).   Hadits yang Tidak Jelas dan Lemah Sebenarnya kalau mau melihat berita-berita yang menyatakan tidak kafirnya orang tua nabi dan selamatnya mereka karena di atas iman adalah berdasarkan pemahaman yang tidak jelas. Karena berita tersebut berasal dari hadits bermasalah. Penulis kitab ‘Aunul Ma’bud menyatakan, “Hadits-hadits yang menyebutkan berimannya orang tua Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan selamatnya mereka, semuanya adalah hadits yang mawdhu, dusta dan tidak benar. Sebagian hadits tersebtu dha’if jiddan (sangat lemah). Menurut kesepatan ulama pakar hadits, hadits-hadits tersebut tidaklah shahih sama sekali. Alasan mawdhu’ (berisi perawi pendusta) dinyatakan oleh Ad-Daruquthni, Al-Jauzaqani, Ibnu Syahin, Al-Khatib, Ibnu ‘Asakir, Ibnu Nashir, Ibnul Jauzi, As-Suhaili, Al-Qurthubi, Ath-Thabari, Fath Ad-Diin bin Sayyid An-Naas, Ibrahim Al-Halabi dan ulama lainnya.” (‘Aun Al-Ma’bud, 12: 358)   Lemahnya Pendapat Imam Suyuthi rahimahullah Al-‘Azhim Abadi, penulis ‘Aun Al-Ma’bud menyatakan dalam rangka membantah perkataan Imam As-Suyuthi yang menyatakan tidak kafirnya orang tua Nabi, “Asy-Syaikh Jalaluddin As-Suyuthi telah menyelisihi para hufazh (pakar hadits) dan para ulama muhaqqiqin. Beliau menyatakan bahwa orang tua nabi mati dalam keadaan beriman dan selamat. Bahkan Imam Suyuthi sampai menulis beberapa risalah untuk mendukung hal ini. Di antara risalah tersebut berjudul “At-Ta’zhim wa Al-Minnah fi Anna Abaway Rasulillah fi Al-Jannah” yaitu pengagungan dan karunia yang membuktikan kedua orang tua Rasulullah berada di surga.” Al-‘Azhim Abadi menyatakan, “Al-‘Alamah As-Suyuthi terlalu bergampang-gampangan dalam masalah ini. Pendapat beliau tak perlu dianggap. Karena perkataan beliau telah menyelisihi pendapat ulama yang lebih mumpuni.” (‘Aun Al-Ma’bud, 12: 358)   Telah Ada Ijma’ Bahkan telah ada ijma’ dari para ulama akan keadaan orang tua Nabi Muhammad. Ibnul Jauzi berkata, وأما عبد الله فإنه مات ورسول الله صلى الله عليه وسلم حمل ولا خلاف أنه مات كافراً، وكذلك آمنة ماتت ولرسول الله صلى الله عليه وسلم ست سنين ”Adapun ’Abdullah (ayah Nabi), ia mati ketika Rasulullah shallallaahu ’alaihi wa sallam masih berada dalam kandungan, dan ia mati dalam keadaan kafir tanpa ada perselisihan di antara para ulama. Begitu pula Aminah (tentang kekafirannya tanpa ada khilaf), di mana ia mati ketika Rasulullah shallallaahu ’alaihi wa sallam berusia enam tahun.” (Al-Mawdhu’at, 1: 283). Al-’Allamah ’Ali bin Muhammad Sulthan Al-Qaari telah menukil adanya ijma’ tentang kafirnya kedua orang tua Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam dengan perkataannya : وأما الإجماع فقد اتفق السلف والخلف من الصحابة والتابعين والأئمة الأربعة وسائر المجتهدين على ذلك من غير إظهار خلاف لما هنالك والخلاف من اللاحق لا يقدح في الإجماع السابق سواء يكون من جنس المخالف أو صنف الموافق ”Adapun ijma’, maka sungguh ulama salaf dan khalaf dari kalangan shahabat, tabi’in, imam empat, serta seluruh mujtahidin telah bersepakat tentang hal tersebut (kafirnya kedua orang tua Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam) tanpa adanya khilaf. Jika memang terdapat khilaf setelah adanya ijma’, maka tidak mengurangi nilai ijma’ yang telah terjadi sebelumnya. Sama saja apakah hal itu terjadi pada orang-orang menyelisihi ijma’ (di era setelahnya) atau dari orang-orang yang telah bersepakat (yang kemudian ia berubah pendapat menyelisihi ijma’) (Adilltaul-Mu’taqad Abi Haniifah hlm. 7. Download dari www.alsoufia.com)   Silakan Simpulkan Setelah membaca tulisan ini, Anda kami yakin cerdas bisa menyimpulkan manakah pendapat yang benar. Ingin menerima hadits dari Nabi sendiri atau ingin menerima pendapat yang tidak berdasar? Silakan menyimpulkan. Allahumma inna nas-aluka ’ilman naafi’a, Ya Allah kami meminta kepada-Mu ilmu yang bermanfaat.   Referensi: Al- Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Al-Hajjaj. Cetakan pertama, tahun 1433 H. Yahya bin Syarf An-Nawawi. Penerbit Dar Ibnu Hazm. ’Aun Al-Ma’bud Syarh Sunan Abi Daud. Cetakan pertama, tahun 1430 H. Al-’Azhim Abadi. Penerbit Darul Fayha’. Tafsir Al-Qur’an Al-’Azhim. Cetakan pertama, tahun 1431 H. Ibnu Katsir. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. https://islamqa.info/ar/47170 http://abul-jauzaa.blogspot.co.id/2008/06/kafirkah-kedua-orang-tua-nabi-sebuah.html — @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 27 Syawal 1437 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagscinta nabi
Kemarin saat di Makassar, kami sempat bertemu dengan seorang ikhwan yang muallaf, sejak 2010 (kalau tidak salah). Saat ini ia menjadi seorang hafizh Al-Qur’an, suaranya merdu dan enak sekali didengar. Namun sayangnya, tentang ibunya ia cerita masih belum masuk Islam. Kami cuma doakan saja, moga ibunya bisa masuk Islam dengan segera. Ia katakan juga bahwa ibunya sebenarnya sudah percaya bahwa Yesus itu bukan Tuhan. Cuma karena pihak keluarga ibunya saja yang mungkin membuat ortunya belum bisa bersyahadat. Apakah mungkin seorang anak muslim bahkan hafizh, orang tuanya itu kafir? Apa mencacati anaknya yang hafizh tadi dengan keadaan orang tua seperti itu? Coba renungkan sendiri pada Nabi kita Muhammad dari dalil-dalil yang berbicara. Lihat juga keluarga para nabi lainnya. Ada Nabi yang istri dan anaknya kafir. Ada Nabi yang bapaknya kafir. Apakah mencacati ia sebagai seorang Nabi? Apalagi kalau seorang Nabi seperti Nabi Muhammad memiliki orang tua yang belum sempat beliau dakwahi.   Istri Nabi Nuh dan Nabi Luth Kafir Allah Ta’ala berfirman, ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا لِلَّذِينَ كَفَرُوا اِمْرَأَةَ نُوحٍ وَامْرَأَةَ لُوطٍ كَانَتَا تَحْتَ عَبْدَيْنِ مِنْ عِبَادِنَا صَالِحَيْنِ فَخَانَتَاهُمَا فَلَمْ يُغْنِيَا عَنْهُمَا مِنَ اللَّهِ شَيْئًا وَقِيلَ ادْخُلَا النَّارَ مَعَ الدَّاخِلِينَ “Allah membuat isteri Nuh dan isteri Luth sebagai perumpamaan bagi orang-orang kafir. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba Kami; lalu kedua isteri itu berkhianat kepada suaminya (masing-masing), maka suaminya itu tiada dapat membantu mereka sedikitpun dari (siksa) Allah; dan dikatakan (kepada keduanya): “Masuklah ke dalam jahannam bersama orang-orang yang masuk (jahannam).” (QS. At-Tahrim: 10)   Anak Nabi Nuh Kafir Allah Ta’ala berfirman, وَقِيلَ يَأَرْضُ ابْلَعِي مَآءَكِ وَيَسَمَآءُ أَقْلِعِي وَغِيضَ الْمَآءُ وَقُضِيَ الأمْرُ وَاسْتَوَتْ عَلَى الْجُودِيّ وَقِيلَ بُعْداً لّلْقَوْمِ الظّالِمِينَ * وَنَادَى نُوحٌ رّبّهُ فَقَالَ رَبّ إِنّ ابُنِي مِنْ أَهْلِي وَإِنّ وَعْدَكَ الْحَقّ وَأَنتَ أَحْكَمُ الْحَاكِمِينَ *  قَالَ يَنُوحُ إِنّهُ لَيْسَ مِنْ أَهْلِكَ إِنّهُ عَمَلٌ غَيْرُ صَالِحٍ فَلاَ تَسْأَلْنِـي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنّيَ أَعِظُكَ أَن تَكُونَ مِنَ الْجَاهِلِينَ “Dan difirmankan: “Hai bumi telanlah airmu, dan hai langit (hujan) berhentilah,” dan air pun disurutkan, perintah pun diselesaikan dan bahtera itu pun berlabuh di atas bukit Judi, dan dikatakan: “Binasalah orang-orang yang zalim“. Dan Nuh berseru kepada Tuhannya sambil berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya anakku termasuk keluargaku, dan sesungguhnya janji Engkau itulah yang benar. Dan Engkau adalah Hakim yang seadil-adilnya”. Allah berfirman: “Hai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan), sesungguhnya (perbuatan)nya perbuatan yang tidak baik. Sebab itu janganlah kamu memohon kepada-Ku sesuatu yang kamu tidak mengetahui (hakekat)nya. Sesungguhnya Aku memperingatkan kepadamu supaya kamu jangan termasuk orang-orang yang tidak berpengetahuan.” (QS. Huud : 44-46)   Ayah Nabi Ibrahim (Azar) Kafir Dalam ayat disebutkan, وَمَا كَانَ اسْتِغْفَارُ إِبْرَاهِيمَ لأبِيهِ إِلاّ عَن مّوْعِدَةٍ وَعَدَهَآ إِيّاهُ فَلَمّا تَبَيّنَ لَهُ أَنّهُ عَدُوّ للّهِ تَبَرّأَ مِنْهُ إِنّ إِبْرَاهِيمَ لأوّاهٌ حَلِيمٌ “Dan permintaan ampun dari Ibrahim (kepada Allah) untuk bapaknya tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya kepada bapaknya itu. Maka, tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya itu adalah musuh Allah, maka Ibrahim berlepas diri dari padanya. Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun” (QS. At-Taubah: 114).   Orang Tua Nabi Muhammad Dibicarakan dalam Al-Qur’an Dalam ayat disebutkan, مَا كَانَ لِلنّبِيّ وَالّذِينَ آمَنُوَاْ أَن يَسْتَغْفِرُواْ لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوَاْ أُوْلِي قُرْبَىَ مِن بَعْدِ مَا تَبَيّنَ لَهُمْ أَنّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ “Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat (nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka jahanam.” (QS. At-Taubah : 113). Kalau kitas telusuri ayat di atas ternyata membicarakan tentang orang tua Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ibnu Abi Hatim dalam kitab tafsirnya menyebutkan, telah menceritakan kepadaku bapakku, telah menceritakan kepadaku Khalid bin Khadasy, telah menceritakan padaku ‘Abdullah bin Wahb, dari Ibnu Juraij, dari Ayyub bin Hani’, dari Masruq, dari ‘Abdullah bin Mas’ud, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah keluar ke daerah pekuburan. Kami pun mengikuti beliau. Sesudah sampai, beliau duduk di samping sebuah kubur. Beliau berbicara (dengan lirih), kemudian beliau menangis. Kami pun menangis karena mengikuti beliau menangis. ‘Umar bin Al-Khattab lantas berdiri. ‘Umar berbicara pada Nabi dan Nabi pun berbicara pada kami. Nabi berkata, “Apa yang membuat kalian menangis?” Para sahabat lantas menjawab, “Kami menangis lantaran engkau menangis.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, إِنَّ القَبْرَ الَّذِي جَلَسْتُ عِنْدَهُ قَبْرُ آمِنَة، وَإِنِّي اسْتَأْذَنْتُ رَبِّي فِي زِيَارَتِهَا فَأَذِنَ لِي “Perlu diketahui bahwa kubur yang aku duduk di sampingnya adalah kubur Aminah (ibuku). Aku meminta izin pada Rabbku untuk diperbolehkan menziarahi kubur ibuku. Lantas aku diizinkan.” Dalam riwayat lain disebutkan, وَإِنِّي اسْتَأْذَنْتُ رَبِّي فِي الدُّعَاءِ لَهَا فَلَمْ يَأْذَنْ لِي “Aku meminta izin pada Rabbku untuk mendo’akan ibuku, namun aku tidak diizinkan.” Lalu turunlah ayat pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam surat At-Taubah ayat 113 yang telah disebutkan di atas, مَا كَانَ لِلنّبِيّ وَالّذِينَ آمَنُوَاْ أَن يَسْتَغْفِرُواْ لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوَاْ أُوْلِي قُرْبَىَ… “Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat (nya), ….” (QS. At-Taubah : 113). (HR. Ibnu Abi Hatim. Sanad dan matan hadits dekat seperti itu. Dalam riwayat ini terdapat Ayyub bin Hani’, ia adalah perawi yang shaduq, namun lemah hafalannya sebagaimana disebutkan dalam At-Taqrib. Namun hadits ini memiliki syawahid atau penguat. Lihat tahqiq Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 4: 358)   Orang Tua Nabi Muhammad Di Mana? Dari Anas bin Malik, ia berkata bahwa ada seseorang yang bertanya, يَا رَسُولَ اللَّهِ ، أَيْنَ أَبِي؟ “Wahai Rasulullah di mana tempat kembali bapakku?” فِي النَّارِ “Di neraka.” Ketika orang tersebut berpaling, Rasul memanggilnya lantas berkata, إِنَّ أَبِي وَأَبَاكَ فِي النَّار “Sesungguhnya ayahku dan ayahmu di neraka.” (HR. Muslim, no. 203) Dari hadits di atas kita bisa mengambil beberapa faedah yang kami sarikan dari penjelasan Imam Nawawi: 1- Siapa saja yang mati dalam keadaan kafir, maka ia berada di neraka dan tak bermanfaat hubungan keluarga dekat. 2- Dalam hadits ini dapat diambil pelajaran bahwa siapa yang mati pada masa fatrah (masa kosong di antara dua nabi) dan saat itu ada kebiasaan orang-orang Arab menyembah berhala, maka ia dihukumi sebagai penduduk neraka. Bukan berarti di masa itu mereka tidak mendapatkan dakwah. Bahkan dakwah dari Nabi Ibrahim dan para nabi lainnya sudah ada. 3- Ini menunjukkan cara bergaul Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sangat baik. Kalau orang tua Nabi Muhammad sendiri dinyatakan di neraka dan itu memang terasa berat bagi beliau. Orang tua dari orang yang bertanya pun demikian. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengungkapkan “ayahku dan ayahmu di neraka” menunjukkan bahwa beliau merasa senasib dengannya dalam musibah. Imam Nawawi rahimahullah membawakan judul bab untuk hadits di atas “Bab: Penjelasan mengenai orang yang di atas kekafiran tempatnya di neraka. Syafa’at dan hubungan kerabat dekat tidaklah bermanfaat untuknya.” (Syarh Shahih Muslim, 3: 70).   Hadits yang Tidak Jelas dan Lemah Sebenarnya kalau mau melihat berita-berita yang menyatakan tidak kafirnya orang tua nabi dan selamatnya mereka karena di atas iman adalah berdasarkan pemahaman yang tidak jelas. Karena berita tersebut berasal dari hadits bermasalah. Penulis kitab ‘Aunul Ma’bud menyatakan, “Hadits-hadits yang menyebutkan berimannya orang tua Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan selamatnya mereka, semuanya adalah hadits yang mawdhu, dusta dan tidak benar. Sebagian hadits tersebtu dha’if jiddan (sangat lemah). Menurut kesepatan ulama pakar hadits, hadits-hadits tersebut tidaklah shahih sama sekali. Alasan mawdhu’ (berisi perawi pendusta) dinyatakan oleh Ad-Daruquthni, Al-Jauzaqani, Ibnu Syahin, Al-Khatib, Ibnu ‘Asakir, Ibnu Nashir, Ibnul Jauzi, As-Suhaili, Al-Qurthubi, Ath-Thabari, Fath Ad-Diin bin Sayyid An-Naas, Ibrahim Al-Halabi dan ulama lainnya.” (‘Aun Al-Ma’bud, 12: 358)   Lemahnya Pendapat Imam Suyuthi rahimahullah Al-‘Azhim Abadi, penulis ‘Aun Al-Ma’bud menyatakan dalam rangka membantah perkataan Imam As-Suyuthi yang menyatakan tidak kafirnya orang tua Nabi, “Asy-Syaikh Jalaluddin As-Suyuthi telah menyelisihi para hufazh (pakar hadits) dan para ulama muhaqqiqin. Beliau menyatakan bahwa orang tua nabi mati dalam keadaan beriman dan selamat. Bahkan Imam Suyuthi sampai menulis beberapa risalah untuk mendukung hal ini. Di antara risalah tersebut berjudul “At-Ta’zhim wa Al-Minnah fi Anna Abaway Rasulillah fi Al-Jannah” yaitu pengagungan dan karunia yang membuktikan kedua orang tua Rasulullah berada di surga.” Al-‘Azhim Abadi menyatakan, “Al-‘Alamah As-Suyuthi terlalu bergampang-gampangan dalam masalah ini. Pendapat beliau tak perlu dianggap. Karena perkataan beliau telah menyelisihi pendapat ulama yang lebih mumpuni.” (‘Aun Al-Ma’bud, 12: 358)   Telah Ada Ijma’ Bahkan telah ada ijma’ dari para ulama akan keadaan orang tua Nabi Muhammad. Ibnul Jauzi berkata, وأما عبد الله فإنه مات ورسول الله صلى الله عليه وسلم حمل ولا خلاف أنه مات كافراً، وكذلك آمنة ماتت ولرسول الله صلى الله عليه وسلم ست سنين ”Adapun ’Abdullah (ayah Nabi), ia mati ketika Rasulullah shallallaahu ’alaihi wa sallam masih berada dalam kandungan, dan ia mati dalam keadaan kafir tanpa ada perselisihan di antara para ulama. Begitu pula Aminah (tentang kekafirannya tanpa ada khilaf), di mana ia mati ketika Rasulullah shallallaahu ’alaihi wa sallam berusia enam tahun.” (Al-Mawdhu’at, 1: 283). Al-’Allamah ’Ali bin Muhammad Sulthan Al-Qaari telah menukil adanya ijma’ tentang kafirnya kedua orang tua Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam dengan perkataannya : وأما الإجماع فقد اتفق السلف والخلف من الصحابة والتابعين والأئمة الأربعة وسائر المجتهدين على ذلك من غير إظهار خلاف لما هنالك والخلاف من اللاحق لا يقدح في الإجماع السابق سواء يكون من جنس المخالف أو صنف الموافق ”Adapun ijma’, maka sungguh ulama salaf dan khalaf dari kalangan shahabat, tabi’in, imam empat, serta seluruh mujtahidin telah bersepakat tentang hal tersebut (kafirnya kedua orang tua Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam) tanpa adanya khilaf. Jika memang terdapat khilaf setelah adanya ijma’, maka tidak mengurangi nilai ijma’ yang telah terjadi sebelumnya. Sama saja apakah hal itu terjadi pada orang-orang menyelisihi ijma’ (di era setelahnya) atau dari orang-orang yang telah bersepakat (yang kemudian ia berubah pendapat menyelisihi ijma’) (Adilltaul-Mu’taqad Abi Haniifah hlm. 7. Download dari www.alsoufia.com)   Silakan Simpulkan Setelah membaca tulisan ini, Anda kami yakin cerdas bisa menyimpulkan manakah pendapat yang benar. Ingin menerima hadits dari Nabi sendiri atau ingin menerima pendapat yang tidak berdasar? Silakan menyimpulkan. Allahumma inna nas-aluka ’ilman naafi’a, Ya Allah kami meminta kepada-Mu ilmu yang bermanfaat.   Referensi: Al- Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Al-Hajjaj. Cetakan pertama, tahun 1433 H. Yahya bin Syarf An-Nawawi. Penerbit Dar Ibnu Hazm. ’Aun Al-Ma’bud Syarh Sunan Abi Daud. Cetakan pertama, tahun 1430 H. Al-’Azhim Abadi. Penerbit Darul Fayha’. Tafsir Al-Qur’an Al-’Azhim. Cetakan pertama, tahun 1431 H. Ibnu Katsir. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. https://islamqa.info/ar/47170 http://abul-jauzaa.blogspot.co.id/2008/06/kafirkah-kedua-orang-tua-nabi-sebuah.html — @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 27 Syawal 1437 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagscinta nabi


Kemarin saat di Makassar, kami sempat bertemu dengan seorang ikhwan yang muallaf, sejak 2010 (kalau tidak salah). Saat ini ia menjadi seorang hafizh Al-Qur’an, suaranya merdu dan enak sekali didengar. Namun sayangnya, tentang ibunya ia cerita masih belum masuk Islam. Kami cuma doakan saja, moga ibunya bisa masuk Islam dengan segera. Ia katakan juga bahwa ibunya sebenarnya sudah percaya bahwa Yesus itu bukan Tuhan. Cuma karena pihak keluarga ibunya saja yang mungkin membuat ortunya belum bisa bersyahadat. Apakah mungkin seorang anak muslim bahkan hafizh, orang tuanya itu kafir? Apa mencacati anaknya yang hafizh tadi dengan keadaan orang tua seperti itu? Coba renungkan sendiri pada Nabi kita Muhammad dari dalil-dalil yang berbicara. Lihat juga keluarga para nabi lainnya. Ada Nabi yang istri dan anaknya kafir. Ada Nabi yang bapaknya kafir. Apakah mencacati ia sebagai seorang Nabi? Apalagi kalau seorang Nabi seperti Nabi Muhammad memiliki orang tua yang belum sempat beliau dakwahi.   Istri Nabi Nuh dan Nabi Luth Kafir Allah Ta’ala berfirman, ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا لِلَّذِينَ كَفَرُوا اِمْرَأَةَ نُوحٍ وَامْرَأَةَ لُوطٍ كَانَتَا تَحْتَ عَبْدَيْنِ مِنْ عِبَادِنَا صَالِحَيْنِ فَخَانَتَاهُمَا فَلَمْ يُغْنِيَا عَنْهُمَا مِنَ اللَّهِ شَيْئًا وَقِيلَ ادْخُلَا النَّارَ مَعَ الدَّاخِلِينَ “Allah membuat isteri Nuh dan isteri Luth sebagai perumpamaan bagi orang-orang kafir. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba Kami; lalu kedua isteri itu berkhianat kepada suaminya (masing-masing), maka suaminya itu tiada dapat membantu mereka sedikitpun dari (siksa) Allah; dan dikatakan (kepada keduanya): “Masuklah ke dalam jahannam bersama orang-orang yang masuk (jahannam).” (QS. At-Tahrim: 10)   Anak Nabi Nuh Kafir Allah Ta’ala berfirman, وَقِيلَ يَأَرْضُ ابْلَعِي مَآءَكِ وَيَسَمَآءُ أَقْلِعِي وَغِيضَ الْمَآءُ وَقُضِيَ الأمْرُ وَاسْتَوَتْ عَلَى الْجُودِيّ وَقِيلَ بُعْداً لّلْقَوْمِ الظّالِمِينَ * وَنَادَى نُوحٌ رّبّهُ فَقَالَ رَبّ إِنّ ابُنِي مِنْ أَهْلِي وَإِنّ وَعْدَكَ الْحَقّ وَأَنتَ أَحْكَمُ الْحَاكِمِينَ *  قَالَ يَنُوحُ إِنّهُ لَيْسَ مِنْ أَهْلِكَ إِنّهُ عَمَلٌ غَيْرُ صَالِحٍ فَلاَ تَسْأَلْنِـي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنّيَ أَعِظُكَ أَن تَكُونَ مِنَ الْجَاهِلِينَ “Dan difirmankan: “Hai bumi telanlah airmu, dan hai langit (hujan) berhentilah,” dan air pun disurutkan, perintah pun diselesaikan dan bahtera itu pun berlabuh di atas bukit Judi, dan dikatakan: “Binasalah orang-orang yang zalim“. Dan Nuh berseru kepada Tuhannya sambil berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya anakku termasuk keluargaku, dan sesungguhnya janji Engkau itulah yang benar. Dan Engkau adalah Hakim yang seadil-adilnya”. Allah berfirman: “Hai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan), sesungguhnya (perbuatan)nya perbuatan yang tidak baik. Sebab itu janganlah kamu memohon kepada-Ku sesuatu yang kamu tidak mengetahui (hakekat)nya. Sesungguhnya Aku memperingatkan kepadamu supaya kamu jangan termasuk orang-orang yang tidak berpengetahuan.” (QS. Huud : 44-46)   Ayah Nabi Ibrahim (Azar) Kafir Dalam ayat disebutkan, وَمَا كَانَ اسْتِغْفَارُ إِبْرَاهِيمَ لأبِيهِ إِلاّ عَن مّوْعِدَةٍ وَعَدَهَآ إِيّاهُ فَلَمّا تَبَيّنَ لَهُ أَنّهُ عَدُوّ للّهِ تَبَرّأَ مِنْهُ إِنّ إِبْرَاهِيمَ لأوّاهٌ حَلِيمٌ “Dan permintaan ampun dari Ibrahim (kepada Allah) untuk bapaknya tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya kepada bapaknya itu. Maka, tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya itu adalah musuh Allah, maka Ibrahim berlepas diri dari padanya. Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun” (QS. At-Taubah: 114).   Orang Tua Nabi Muhammad Dibicarakan dalam Al-Qur’an Dalam ayat disebutkan, مَا كَانَ لِلنّبِيّ وَالّذِينَ آمَنُوَاْ أَن يَسْتَغْفِرُواْ لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوَاْ أُوْلِي قُرْبَىَ مِن بَعْدِ مَا تَبَيّنَ لَهُمْ أَنّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ “Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat (nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka jahanam.” (QS. At-Taubah : 113). Kalau kitas telusuri ayat di atas ternyata membicarakan tentang orang tua Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ibnu Abi Hatim dalam kitab tafsirnya menyebutkan, telah menceritakan kepadaku bapakku, telah menceritakan kepadaku Khalid bin Khadasy, telah menceritakan padaku ‘Abdullah bin Wahb, dari Ibnu Juraij, dari Ayyub bin Hani’, dari Masruq, dari ‘Abdullah bin Mas’ud, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah keluar ke daerah pekuburan. Kami pun mengikuti beliau. Sesudah sampai, beliau duduk di samping sebuah kubur. Beliau berbicara (dengan lirih), kemudian beliau menangis. Kami pun menangis karena mengikuti beliau menangis. ‘Umar bin Al-Khattab lantas berdiri. ‘Umar berbicara pada Nabi dan Nabi pun berbicara pada kami. Nabi berkata, “Apa yang membuat kalian menangis?” Para sahabat lantas menjawab, “Kami menangis lantaran engkau menangis.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, إِنَّ القَبْرَ الَّذِي جَلَسْتُ عِنْدَهُ قَبْرُ آمِنَة، وَإِنِّي اسْتَأْذَنْتُ رَبِّي فِي زِيَارَتِهَا فَأَذِنَ لِي “Perlu diketahui bahwa kubur yang aku duduk di sampingnya adalah kubur Aminah (ibuku). Aku meminta izin pada Rabbku untuk diperbolehkan menziarahi kubur ibuku. Lantas aku diizinkan.” Dalam riwayat lain disebutkan, وَإِنِّي اسْتَأْذَنْتُ رَبِّي فِي الدُّعَاءِ لَهَا فَلَمْ يَأْذَنْ لِي “Aku meminta izin pada Rabbku untuk mendo’akan ibuku, namun aku tidak diizinkan.” Lalu turunlah ayat pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam surat At-Taubah ayat 113 yang telah disebutkan di atas, مَا كَانَ لِلنّبِيّ وَالّذِينَ آمَنُوَاْ أَن يَسْتَغْفِرُواْ لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوَاْ أُوْلِي قُرْبَىَ… “Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat (nya), ….” (QS. At-Taubah : 113). (HR. Ibnu Abi Hatim. Sanad dan matan hadits dekat seperti itu. Dalam riwayat ini terdapat Ayyub bin Hani’, ia adalah perawi yang shaduq, namun lemah hafalannya sebagaimana disebutkan dalam At-Taqrib. Namun hadits ini memiliki syawahid atau penguat. Lihat tahqiq Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 4: 358)   Orang Tua Nabi Muhammad Di Mana? Dari Anas bin Malik, ia berkata bahwa ada seseorang yang bertanya, يَا رَسُولَ اللَّهِ ، أَيْنَ أَبِي؟ “Wahai Rasulullah di mana tempat kembali bapakku?” فِي النَّارِ “Di neraka.” Ketika orang tersebut berpaling, Rasul memanggilnya lantas berkata, إِنَّ أَبِي وَأَبَاكَ فِي النَّار “Sesungguhnya ayahku dan ayahmu di neraka.” (HR. Muslim, no. 203) Dari hadits di atas kita bisa mengambil beberapa faedah yang kami sarikan dari penjelasan Imam Nawawi: 1- Siapa saja yang mati dalam keadaan kafir, maka ia berada di neraka dan tak bermanfaat hubungan keluarga dekat. 2- Dalam hadits ini dapat diambil pelajaran bahwa siapa yang mati pada masa fatrah (masa kosong di antara dua nabi) dan saat itu ada kebiasaan orang-orang Arab menyembah berhala, maka ia dihukumi sebagai penduduk neraka. Bukan berarti di masa itu mereka tidak mendapatkan dakwah. Bahkan dakwah dari Nabi Ibrahim dan para nabi lainnya sudah ada. 3- Ini menunjukkan cara bergaul Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sangat baik. Kalau orang tua Nabi Muhammad sendiri dinyatakan di neraka dan itu memang terasa berat bagi beliau. Orang tua dari orang yang bertanya pun demikian. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengungkapkan “ayahku dan ayahmu di neraka” menunjukkan bahwa beliau merasa senasib dengannya dalam musibah. Imam Nawawi rahimahullah membawakan judul bab untuk hadits di atas “Bab: Penjelasan mengenai orang yang di atas kekafiran tempatnya di neraka. Syafa’at dan hubungan kerabat dekat tidaklah bermanfaat untuknya.” (Syarh Shahih Muslim, 3: 70).   Hadits yang Tidak Jelas dan Lemah Sebenarnya kalau mau melihat berita-berita yang menyatakan tidak kafirnya orang tua nabi dan selamatnya mereka karena di atas iman adalah berdasarkan pemahaman yang tidak jelas. Karena berita tersebut berasal dari hadits bermasalah. Penulis kitab ‘Aunul Ma’bud menyatakan, “Hadits-hadits yang menyebutkan berimannya orang tua Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan selamatnya mereka, semuanya adalah hadits yang mawdhu, dusta dan tidak benar. Sebagian hadits tersebtu dha’if jiddan (sangat lemah). Menurut kesepatan ulama pakar hadits, hadits-hadits tersebut tidaklah shahih sama sekali. Alasan mawdhu’ (berisi perawi pendusta) dinyatakan oleh Ad-Daruquthni, Al-Jauzaqani, Ibnu Syahin, Al-Khatib, Ibnu ‘Asakir, Ibnu Nashir, Ibnul Jauzi, As-Suhaili, Al-Qurthubi, Ath-Thabari, Fath Ad-Diin bin Sayyid An-Naas, Ibrahim Al-Halabi dan ulama lainnya.” (‘Aun Al-Ma’bud, 12: 358)   Lemahnya Pendapat Imam Suyuthi rahimahullah Al-‘Azhim Abadi, penulis ‘Aun Al-Ma’bud menyatakan dalam rangka membantah perkataan Imam As-Suyuthi yang menyatakan tidak kafirnya orang tua Nabi, “Asy-Syaikh Jalaluddin As-Suyuthi telah menyelisihi para hufazh (pakar hadits) dan para ulama muhaqqiqin. Beliau menyatakan bahwa orang tua nabi mati dalam keadaan beriman dan selamat. Bahkan Imam Suyuthi sampai menulis beberapa risalah untuk mendukung hal ini. Di antara risalah tersebut berjudul “At-Ta’zhim wa Al-Minnah fi Anna Abaway Rasulillah fi Al-Jannah” yaitu pengagungan dan karunia yang membuktikan kedua orang tua Rasulullah berada di surga.” Al-‘Azhim Abadi menyatakan, “Al-‘Alamah As-Suyuthi terlalu bergampang-gampangan dalam masalah ini. Pendapat beliau tak perlu dianggap. Karena perkataan beliau telah menyelisihi pendapat ulama yang lebih mumpuni.” (‘Aun Al-Ma’bud, 12: 358)   Telah Ada Ijma’ Bahkan telah ada ijma’ dari para ulama akan keadaan orang tua Nabi Muhammad. Ibnul Jauzi berkata, وأما عبد الله فإنه مات ورسول الله صلى الله عليه وسلم حمل ولا خلاف أنه مات كافراً، وكذلك آمنة ماتت ولرسول الله صلى الله عليه وسلم ست سنين ”Adapun ’Abdullah (ayah Nabi), ia mati ketika Rasulullah shallallaahu ’alaihi wa sallam masih berada dalam kandungan, dan ia mati dalam keadaan kafir tanpa ada perselisihan di antara para ulama. Begitu pula Aminah (tentang kekafirannya tanpa ada khilaf), di mana ia mati ketika Rasulullah shallallaahu ’alaihi wa sallam berusia enam tahun.” (Al-Mawdhu’at, 1: 283). Al-’Allamah ’Ali bin Muhammad Sulthan Al-Qaari telah menukil adanya ijma’ tentang kafirnya kedua orang tua Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam dengan perkataannya : وأما الإجماع فقد اتفق السلف والخلف من الصحابة والتابعين والأئمة الأربعة وسائر المجتهدين على ذلك من غير إظهار خلاف لما هنالك والخلاف من اللاحق لا يقدح في الإجماع السابق سواء يكون من جنس المخالف أو صنف الموافق ”Adapun ijma’, maka sungguh ulama salaf dan khalaf dari kalangan shahabat, tabi’in, imam empat, serta seluruh mujtahidin telah bersepakat tentang hal tersebut (kafirnya kedua orang tua Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam) tanpa adanya khilaf. Jika memang terdapat khilaf setelah adanya ijma’, maka tidak mengurangi nilai ijma’ yang telah terjadi sebelumnya. Sama saja apakah hal itu terjadi pada orang-orang menyelisihi ijma’ (di era setelahnya) atau dari orang-orang yang telah bersepakat (yang kemudian ia berubah pendapat menyelisihi ijma’) (Adilltaul-Mu’taqad Abi Haniifah hlm. 7. Download dari www.alsoufia.com)   Silakan Simpulkan Setelah membaca tulisan ini, Anda kami yakin cerdas bisa menyimpulkan manakah pendapat yang benar. Ingin menerima hadits dari Nabi sendiri atau ingin menerima pendapat yang tidak berdasar? Silakan menyimpulkan. Allahumma inna nas-aluka ’ilman naafi’a, Ya Allah kami meminta kepada-Mu ilmu yang bermanfaat.   Referensi: Al- Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Al-Hajjaj. Cetakan pertama, tahun 1433 H. Yahya bin Syarf An-Nawawi. Penerbit Dar Ibnu Hazm. ’Aun Al-Ma’bud Syarh Sunan Abi Daud. Cetakan pertama, tahun 1430 H. Al-’Azhim Abadi. Penerbit Darul Fayha’. Tafsir Al-Qur’an Al-’Azhim. Cetakan pertama, tahun 1431 H. Ibnu Katsir. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. https://islamqa.info/ar/47170 http://abul-jauzaa.blogspot.co.id/2008/06/kafirkah-kedua-orang-tua-nabi-sebuah.html — @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 27 Syawal 1437 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagscinta nabi

Orang Tua Nabi Muhammad di Masa Fatrah

Bagaimana jika ada yang meninggal di masa fatrah (masa kosong di antara dua nabi) seperti orang tua nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.   Dari Anas bin Malik, ia berkata bahwa ada seseorang yang bertanya, يَا رَسُولَ اللَّهِ ، أَيْنَ أَبِي؟ “Wahai Rasulullah di mana tempat kembali bapakku?” فِي النَّارِ “Di neraka.” Ketika orang tersebut berpaling, Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam memanggilnya lantas berkata, إِنَّ أَبِي وَأَبَاكَ فِي النَّار “Sesungguhnya ayahku dan ayahmu di neraka.” (HR. Muslim, no. 203)   Dari hadits di atas kita bisa mengambil beberapa faedah yang kami sarikan dari penjelasan Imam Nawawi: 1- Siapa saja yang mati dalam keadaan kafir, maka ia berada di neraka dan tak bermanfaat hubungan keluarga dekat. 2- Dalam hadits ini dapat diambil pelajaran bahwa siapa yang mati pada masa fatrah (masa kosong di antara dua nabi) dan saat itu ada kebiasaan orang-orang Arab menyembah berhala, maka ia dihukumi sebagai penduduk neraka. Bukan berarti di masa itu mereka tidak mendapatkan dakwah. Bahkan dakwah dari Nabi Ibrahim dan para nabi lainnya sudah ada. 3- Ini menunjukkan cara bergaul Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sangat baik. Kalau orang tua Nabi Muhammad sendiri dinyatakan di neraka dan itu memang terasa berat bagi beliau. Orang tua dari orang yang bertanya pun demikian. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengungkapkan “ayahku dan ayahmu di neraka” menunjukkan bahwa beliau merasa senasib dengannya dalam musibah. Imam Nawawi rahimahullah membawakan judul bab untuk hadits di atas “Bab: Penjelasan mengenai orang yang di atas kekafiran tempatnya di neraka. Syafa’at dan hubungan kerabat dekat tidaklah bermanfaat untuknya.” Demikian faedah dari seorang ulama besar Syafi’iyah yaitu Imam Nawawi rahimahullah yang moga bermanfaat untuk kita dalam memahami hadits di atas.   Allahumma zidnaa ‘ilmaa, ya Allah tambahkanlah pada kami ilmu.   Referensi: Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim. Cetakan pertama, tahun 1433 H. Yahya bin Syarf An-Nawawi. Penerbit Dar Ibnu Hazm. 3: 70.   @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 27 Syawal 1437 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagscinta nabi orang tua nabi

Orang Tua Nabi Muhammad di Masa Fatrah

Bagaimana jika ada yang meninggal di masa fatrah (masa kosong di antara dua nabi) seperti orang tua nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.   Dari Anas bin Malik, ia berkata bahwa ada seseorang yang bertanya, يَا رَسُولَ اللَّهِ ، أَيْنَ أَبِي؟ “Wahai Rasulullah di mana tempat kembali bapakku?” فِي النَّارِ “Di neraka.” Ketika orang tersebut berpaling, Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam memanggilnya lantas berkata, إِنَّ أَبِي وَأَبَاكَ فِي النَّار “Sesungguhnya ayahku dan ayahmu di neraka.” (HR. Muslim, no. 203)   Dari hadits di atas kita bisa mengambil beberapa faedah yang kami sarikan dari penjelasan Imam Nawawi: 1- Siapa saja yang mati dalam keadaan kafir, maka ia berada di neraka dan tak bermanfaat hubungan keluarga dekat. 2- Dalam hadits ini dapat diambil pelajaran bahwa siapa yang mati pada masa fatrah (masa kosong di antara dua nabi) dan saat itu ada kebiasaan orang-orang Arab menyembah berhala, maka ia dihukumi sebagai penduduk neraka. Bukan berarti di masa itu mereka tidak mendapatkan dakwah. Bahkan dakwah dari Nabi Ibrahim dan para nabi lainnya sudah ada. 3- Ini menunjukkan cara bergaul Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sangat baik. Kalau orang tua Nabi Muhammad sendiri dinyatakan di neraka dan itu memang terasa berat bagi beliau. Orang tua dari orang yang bertanya pun demikian. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengungkapkan “ayahku dan ayahmu di neraka” menunjukkan bahwa beliau merasa senasib dengannya dalam musibah. Imam Nawawi rahimahullah membawakan judul bab untuk hadits di atas “Bab: Penjelasan mengenai orang yang di atas kekafiran tempatnya di neraka. Syafa’at dan hubungan kerabat dekat tidaklah bermanfaat untuknya.” Demikian faedah dari seorang ulama besar Syafi’iyah yaitu Imam Nawawi rahimahullah yang moga bermanfaat untuk kita dalam memahami hadits di atas.   Allahumma zidnaa ‘ilmaa, ya Allah tambahkanlah pada kami ilmu.   Referensi: Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim. Cetakan pertama, tahun 1433 H. Yahya bin Syarf An-Nawawi. Penerbit Dar Ibnu Hazm. 3: 70.   @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 27 Syawal 1437 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagscinta nabi orang tua nabi
Bagaimana jika ada yang meninggal di masa fatrah (masa kosong di antara dua nabi) seperti orang tua nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.   Dari Anas bin Malik, ia berkata bahwa ada seseorang yang bertanya, يَا رَسُولَ اللَّهِ ، أَيْنَ أَبِي؟ “Wahai Rasulullah di mana tempat kembali bapakku?” فِي النَّارِ “Di neraka.” Ketika orang tersebut berpaling, Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam memanggilnya lantas berkata, إِنَّ أَبِي وَأَبَاكَ فِي النَّار “Sesungguhnya ayahku dan ayahmu di neraka.” (HR. Muslim, no. 203)   Dari hadits di atas kita bisa mengambil beberapa faedah yang kami sarikan dari penjelasan Imam Nawawi: 1- Siapa saja yang mati dalam keadaan kafir, maka ia berada di neraka dan tak bermanfaat hubungan keluarga dekat. 2- Dalam hadits ini dapat diambil pelajaran bahwa siapa yang mati pada masa fatrah (masa kosong di antara dua nabi) dan saat itu ada kebiasaan orang-orang Arab menyembah berhala, maka ia dihukumi sebagai penduduk neraka. Bukan berarti di masa itu mereka tidak mendapatkan dakwah. Bahkan dakwah dari Nabi Ibrahim dan para nabi lainnya sudah ada. 3- Ini menunjukkan cara bergaul Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sangat baik. Kalau orang tua Nabi Muhammad sendiri dinyatakan di neraka dan itu memang terasa berat bagi beliau. Orang tua dari orang yang bertanya pun demikian. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengungkapkan “ayahku dan ayahmu di neraka” menunjukkan bahwa beliau merasa senasib dengannya dalam musibah. Imam Nawawi rahimahullah membawakan judul bab untuk hadits di atas “Bab: Penjelasan mengenai orang yang di atas kekafiran tempatnya di neraka. Syafa’at dan hubungan kerabat dekat tidaklah bermanfaat untuknya.” Demikian faedah dari seorang ulama besar Syafi’iyah yaitu Imam Nawawi rahimahullah yang moga bermanfaat untuk kita dalam memahami hadits di atas.   Allahumma zidnaa ‘ilmaa, ya Allah tambahkanlah pada kami ilmu.   Referensi: Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim. Cetakan pertama, tahun 1433 H. Yahya bin Syarf An-Nawawi. Penerbit Dar Ibnu Hazm. 3: 70.   @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 27 Syawal 1437 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagscinta nabi orang tua nabi


Bagaimana jika ada yang meninggal di masa fatrah (masa kosong di antara dua nabi) seperti orang tua nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.   Dari Anas bin Malik, ia berkata bahwa ada seseorang yang bertanya, يَا رَسُولَ اللَّهِ ، أَيْنَ أَبِي؟ “Wahai Rasulullah di mana tempat kembali bapakku?” فِي النَّارِ “Di neraka.” Ketika orang tersebut berpaling, Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam memanggilnya lantas berkata, إِنَّ أَبِي وَأَبَاكَ فِي النَّار “Sesungguhnya ayahku dan ayahmu di neraka.” (HR. Muslim, no. 203)   Dari hadits di atas kita bisa mengambil beberapa faedah yang kami sarikan dari penjelasan Imam Nawawi: 1- Siapa saja yang mati dalam keadaan kafir, maka ia berada di neraka dan tak bermanfaat hubungan keluarga dekat. 2- Dalam hadits ini dapat diambil pelajaran bahwa siapa yang mati pada masa fatrah (masa kosong di antara dua nabi) dan saat itu ada kebiasaan orang-orang Arab menyembah berhala, maka ia dihukumi sebagai penduduk neraka. Bukan berarti di masa itu mereka tidak mendapatkan dakwah. Bahkan dakwah dari Nabi Ibrahim dan para nabi lainnya sudah ada. 3- Ini menunjukkan cara bergaul Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sangat baik. Kalau orang tua Nabi Muhammad sendiri dinyatakan di neraka dan itu memang terasa berat bagi beliau. Orang tua dari orang yang bertanya pun demikian. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengungkapkan “ayahku dan ayahmu di neraka” menunjukkan bahwa beliau merasa senasib dengannya dalam musibah. Imam Nawawi rahimahullah membawakan judul bab untuk hadits di atas “Bab: Penjelasan mengenai orang yang di atas kekafiran tempatnya di neraka. Syafa’at dan hubungan kerabat dekat tidaklah bermanfaat untuknya.” Demikian faedah dari seorang ulama besar Syafi’iyah yaitu Imam Nawawi rahimahullah yang moga bermanfaat untuk kita dalam memahami hadits di atas.   Allahumma zidnaa ‘ilmaa, ya Allah tambahkanlah pada kami ilmu.   Referensi: Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim. Cetakan pertama, tahun 1433 H. Yahya bin Syarf An-Nawawi. Penerbit Dar Ibnu Hazm. 3: 70.   @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 27 Syawal 1437 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagscinta nabi orang tua nabi

Istri Shalihah Senangnya Dandan

Istri shalihah senangnya dandan? Iya benar. Namun coba lihat apa yang dimaksud dengan pernyataan ini. Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata, كُنَّا نِسَاؤُنَا يَخْتَضَبْنَ بِاللَّيْلِ فَإِذَا أَصْبَحْنَ فَتَحْنَهُ فَتَوَضَّأْنَ وَصَلَّيْنَ ثُمَّ يَخْتَضَبْنَ بَعْدَ الصَّلاَةِ ، فَإِذَا كَانَ عِنْدَ الظُّهْرِ فَتَحْنَهُ فَتَوَضَّأْنَ وَصَلَّيْنَ فَأَحْسَنَّ خِضَابًا وَلاَ يَمْنَعُ مِنَ الصَّلاَةِ “Istri-istri kami punya kebiasaan memakai pewarna kuku di malam hari. Jika tiba waktu Shubuh, pewarna tersebut dihilangkan, lalu mereka berwudhu dan melaksanakan shalat. Setelah shalat Shubuh, mereka memakai pewarna lagi. Ketika tiba waktu Zhuhur, mereka menghilangkan pewarna tersebut, lalu mereka berwudhu dan melaksanakan shalat. Mereka mewarnai kuku dengan bagus, namun tidak menghalangi mereka untuk shalat.” (HR. Ad-Darimi, no. 1093. Syaikh Abu Malik menyatakan bahwa sanad hadits ini shahih dalam Shahih Fiqh As-Sunnah li An-Nisa’, hlm. 419).   Beberapa hal dapat kita simpulkan dari hadits di atas: Istri-istri para sahabat dahulu senang berdandan. Istri-istri mereka hanya berdandan di rumah untuk suaminya. Mereka ingin memberikan suatu yang spesial untuk suami mereka. Adapun dandan wanita masa kini kalau mau keluar rumah saja biar dibilang cantik oleh orang banyak. Jadi tak ada lagi yang spesial di rumah. Istri-istri sahabat meskipun terlihat repot untuk hanya sekedar berdandan dan berpenampilan istimewa untuk sumi. Mewarnai kuku adalah suatu yang masih dibolehkan dan jadi kebiasaan para wanita di masa sahabat. Pewarna kuku yang digunakan oleh para istri sahabat bisa dihilangkan setiap kali akan shalat. Memakai pewarna kuku baiknya tetap memperhatikan keabsahan wudhu. Pewarna yang baik adalah dari hena atau pacar. Pewarna semacam ini tidak menutupi permukaan kulit dan tidak mengahalangi air untuk mengenai permukaan kulit. Namun jika yang digunakan adalah cat yang membentuk permukaan baru di atas kulit atau kuku, maka sudah sepantasnya tidak digunakan. Semoga bermanfaat. Wallahu waliyyut taufiq. — Disusun @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 27 Syawal 1437 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsdandan

Istri Shalihah Senangnya Dandan

Istri shalihah senangnya dandan? Iya benar. Namun coba lihat apa yang dimaksud dengan pernyataan ini. Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata, كُنَّا نِسَاؤُنَا يَخْتَضَبْنَ بِاللَّيْلِ فَإِذَا أَصْبَحْنَ فَتَحْنَهُ فَتَوَضَّأْنَ وَصَلَّيْنَ ثُمَّ يَخْتَضَبْنَ بَعْدَ الصَّلاَةِ ، فَإِذَا كَانَ عِنْدَ الظُّهْرِ فَتَحْنَهُ فَتَوَضَّأْنَ وَصَلَّيْنَ فَأَحْسَنَّ خِضَابًا وَلاَ يَمْنَعُ مِنَ الصَّلاَةِ “Istri-istri kami punya kebiasaan memakai pewarna kuku di malam hari. Jika tiba waktu Shubuh, pewarna tersebut dihilangkan, lalu mereka berwudhu dan melaksanakan shalat. Setelah shalat Shubuh, mereka memakai pewarna lagi. Ketika tiba waktu Zhuhur, mereka menghilangkan pewarna tersebut, lalu mereka berwudhu dan melaksanakan shalat. Mereka mewarnai kuku dengan bagus, namun tidak menghalangi mereka untuk shalat.” (HR. Ad-Darimi, no. 1093. Syaikh Abu Malik menyatakan bahwa sanad hadits ini shahih dalam Shahih Fiqh As-Sunnah li An-Nisa’, hlm. 419).   Beberapa hal dapat kita simpulkan dari hadits di atas: Istri-istri para sahabat dahulu senang berdandan. Istri-istri mereka hanya berdandan di rumah untuk suaminya. Mereka ingin memberikan suatu yang spesial untuk suami mereka. Adapun dandan wanita masa kini kalau mau keluar rumah saja biar dibilang cantik oleh orang banyak. Jadi tak ada lagi yang spesial di rumah. Istri-istri sahabat meskipun terlihat repot untuk hanya sekedar berdandan dan berpenampilan istimewa untuk sumi. Mewarnai kuku adalah suatu yang masih dibolehkan dan jadi kebiasaan para wanita di masa sahabat. Pewarna kuku yang digunakan oleh para istri sahabat bisa dihilangkan setiap kali akan shalat. Memakai pewarna kuku baiknya tetap memperhatikan keabsahan wudhu. Pewarna yang baik adalah dari hena atau pacar. Pewarna semacam ini tidak menutupi permukaan kulit dan tidak mengahalangi air untuk mengenai permukaan kulit. Namun jika yang digunakan adalah cat yang membentuk permukaan baru di atas kulit atau kuku, maka sudah sepantasnya tidak digunakan. Semoga bermanfaat. Wallahu waliyyut taufiq. — Disusun @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 27 Syawal 1437 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsdandan
Istri shalihah senangnya dandan? Iya benar. Namun coba lihat apa yang dimaksud dengan pernyataan ini. Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata, كُنَّا نِسَاؤُنَا يَخْتَضَبْنَ بِاللَّيْلِ فَإِذَا أَصْبَحْنَ فَتَحْنَهُ فَتَوَضَّأْنَ وَصَلَّيْنَ ثُمَّ يَخْتَضَبْنَ بَعْدَ الصَّلاَةِ ، فَإِذَا كَانَ عِنْدَ الظُّهْرِ فَتَحْنَهُ فَتَوَضَّأْنَ وَصَلَّيْنَ فَأَحْسَنَّ خِضَابًا وَلاَ يَمْنَعُ مِنَ الصَّلاَةِ “Istri-istri kami punya kebiasaan memakai pewarna kuku di malam hari. Jika tiba waktu Shubuh, pewarna tersebut dihilangkan, lalu mereka berwudhu dan melaksanakan shalat. Setelah shalat Shubuh, mereka memakai pewarna lagi. Ketika tiba waktu Zhuhur, mereka menghilangkan pewarna tersebut, lalu mereka berwudhu dan melaksanakan shalat. Mereka mewarnai kuku dengan bagus, namun tidak menghalangi mereka untuk shalat.” (HR. Ad-Darimi, no. 1093. Syaikh Abu Malik menyatakan bahwa sanad hadits ini shahih dalam Shahih Fiqh As-Sunnah li An-Nisa’, hlm. 419).   Beberapa hal dapat kita simpulkan dari hadits di atas: Istri-istri para sahabat dahulu senang berdandan. Istri-istri mereka hanya berdandan di rumah untuk suaminya. Mereka ingin memberikan suatu yang spesial untuk suami mereka. Adapun dandan wanita masa kini kalau mau keluar rumah saja biar dibilang cantik oleh orang banyak. Jadi tak ada lagi yang spesial di rumah. Istri-istri sahabat meskipun terlihat repot untuk hanya sekedar berdandan dan berpenampilan istimewa untuk sumi. Mewarnai kuku adalah suatu yang masih dibolehkan dan jadi kebiasaan para wanita di masa sahabat. Pewarna kuku yang digunakan oleh para istri sahabat bisa dihilangkan setiap kali akan shalat. Memakai pewarna kuku baiknya tetap memperhatikan keabsahan wudhu. Pewarna yang baik adalah dari hena atau pacar. Pewarna semacam ini tidak menutupi permukaan kulit dan tidak mengahalangi air untuk mengenai permukaan kulit. Namun jika yang digunakan adalah cat yang membentuk permukaan baru di atas kulit atau kuku, maka sudah sepantasnya tidak digunakan. Semoga bermanfaat. Wallahu waliyyut taufiq. — Disusun @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 27 Syawal 1437 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsdandan


Istri shalihah senangnya dandan? Iya benar. Namun coba lihat apa yang dimaksud dengan pernyataan ini. Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata, كُنَّا نِسَاؤُنَا يَخْتَضَبْنَ بِاللَّيْلِ فَإِذَا أَصْبَحْنَ فَتَحْنَهُ فَتَوَضَّأْنَ وَصَلَّيْنَ ثُمَّ يَخْتَضَبْنَ بَعْدَ الصَّلاَةِ ، فَإِذَا كَانَ عِنْدَ الظُّهْرِ فَتَحْنَهُ فَتَوَضَّأْنَ وَصَلَّيْنَ فَأَحْسَنَّ خِضَابًا وَلاَ يَمْنَعُ مِنَ الصَّلاَةِ “Istri-istri kami punya kebiasaan memakai pewarna kuku di malam hari. Jika tiba waktu Shubuh, pewarna tersebut dihilangkan, lalu mereka berwudhu dan melaksanakan shalat. Setelah shalat Shubuh, mereka memakai pewarna lagi. Ketika tiba waktu Zhuhur, mereka menghilangkan pewarna tersebut, lalu mereka berwudhu dan melaksanakan shalat. Mereka mewarnai kuku dengan bagus, namun tidak menghalangi mereka untuk shalat.” (HR. Ad-Darimi, no. 1093. Syaikh Abu Malik menyatakan bahwa sanad hadits ini shahih dalam Shahih Fiqh As-Sunnah li An-Nisa’, hlm. 419).   Beberapa hal dapat kita simpulkan dari hadits di atas: Istri-istri para sahabat dahulu senang berdandan. Istri-istri mereka hanya berdandan di rumah untuk suaminya. Mereka ingin memberikan suatu yang spesial untuk suami mereka. Adapun dandan wanita masa kini kalau mau keluar rumah saja biar dibilang cantik oleh orang banyak. Jadi tak ada lagi yang spesial di rumah. Istri-istri sahabat meskipun terlihat repot untuk hanya sekedar berdandan dan berpenampilan istimewa untuk sumi. Mewarnai kuku adalah suatu yang masih dibolehkan dan jadi kebiasaan para wanita di masa sahabat. Pewarna kuku yang digunakan oleh para istri sahabat bisa dihilangkan setiap kali akan shalat. Memakai pewarna kuku baiknya tetap memperhatikan keabsahan wudhu. Pewarna yang baik adalah dari hena atau pacar. Pewarna semacam ini tidak menutupi permukaan kulit dan tidak mengahalangi air untuk mengenai permukaan kulit. Namun jika yang digunakan adalah cat yang membentuk permukaan baru di atas kulit atau kuku, maka sudah sepantasnya tidak digunakan. Semoga bermanfaat. Wallahu waliyyut taufiq. — Disusun @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 27 Syawal 1437 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsdandan

Metode Al-Qur’an Dalam Memerintah dan Melarang Hamba Allah Yang Beriman (5)

Beberapa cara lain yang Allah Ta’ala pilih Banyak cara lain yang Allah Ta’ala pilih untuk menyeru hamba-hamba-Nya yang beriman agar mereka berbuat kebaikan dan meninggalkan keburukan, di antaranya adalah sebagai berikut.Penyebutan dampak positif kebaikan dan dampak negatif keburukanTerkadang di dalam Al-Qur’an, Allah Ta’ala menyeru orang-orang yang beriman agar mereka berbuat kebaikan dan meninggalkan keburukan dengan cara menyebutkan dampak positif kebaikan dan dampak negatif keburukan.Berikut ini perinciannya:A. Allah menyebutkan perintah-Nya berupa amal saleh lalu menyebutkan dampak positif dan buah manisnya, baik di dunia maupun di akhirat. Adapun dampak positif dan buah manisnya di dunia, berupa kehidupan yang baik, ketenangan hati, kebahagiaan, hilangnya kesedihan, pelakunya dicintai oleh Allah dan dijaga oleh Allah.Sedangkan di akhirat, pelakunya mendapatkan kenikmatan di surga, selamat dari siksa neraka dan kemurkaan-Nya.Contohnya adalah firman Allah Ta’ala dalam surat An-Nahl: 97.مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun wanita dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan”.Dalam ayat ini, terdapat penggabungan balasan dunia dan akhirat, yaitu kehidupan yang baik di dunia berupa kebahagiaan, ketenangan hati, kelapangan dada, dan rezeki yang halal. Selain itu mereka juga akan dibalas dengan pahala yang lebih baik di akhirat, berupa kenikmatan yang tidak pernah dilihat oleh mata, tidak pernah didengar oleh telinga, dan tidak pernah terbetik dalam hati manusia.Allah Ta’ala berfirman dalam surat Al-Qomar: 54.إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي جَنَّاتٍ وَنَهَرٍ“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa itu di dalam taman-taman dan sungai-sungai”Allah Ta’ala berfirman dalam surat Maryam: 96.إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ سَيَجْعَلُ لَهُمُ الرَّحْمَٰنُ وُدًّا“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal sholeh, kelak Allah Yang Maha Pemurah akan menanamkan rasa cinta kepada mereka (di hati penduduk langit & bumi)”.Syaikh Abdur Rahman As-Sa’di rahimahullah menjelaskan bahwa janji yang disebutkan dalam ayat ini termasuk nikmat Allah yang besar atas hamba-hamba-Nya yang beriman dan beramal sholeh, yaitu Allah Ta’ala menjanjikan akan memberikan kasih sayang wali-wali-Nya, penduduk langit, dan bumi kepada mereka. Apabila rasa kasih sayang kepada mereka itu ada dalam hati wali-wali-Nya, penduduk langit, dan bumi, maka akan dimudahkan banyak dari urusan mereka, mereka akan mendapatkan kebaikan, dakwah, pengajaran, penerimaan, dan kepemimpinan dalam kebaikan, karena mereka mencintai Allah Ta’ala, maka Allah Ta’ala pun menjadikan mereka dicintai oleh wali-wali-Nya, penduduk langit, dan bumi.[Bersambung]***Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id🔍 Hadist Birrul Walidain, Masjid Kita, Alhamdulillah Bini'matihi Tatimusholihat, Arti Tabarakallahu, Alasan Anjing Haram

Metode Al-Qur’an Dalam Memerintah dan Melarang Hamba Allah Yang Beriman (5)

Beberapa cara lain yang Allah Ta’ala pilih Banyak cara lain yang Allah Ta’ala pilih untuk menyeru hamba-hamba-Nya yang beriman agar mereka berbuat kebaikan dan meninggalkan keburukan, di antaranya adalah sebagai berikut.Penyebutan dampak positif kebaikan dan dampak negatif keburukanTerkadang di dalam Al-Qur’an, Allah Ta’ala menyeru orang-orang yang beriman agar mereka berbuat kebaikan dan meninggalkan keburukan dengan cara menyebutkan dampak positif kebaikan dan dampak negatif keburukan.Berikut ini perinciannya:A. Allah menyebutkan perintah-Nya berupa amal saleh lalu menyebutkan dampak positif dan buah manisnya, baik di dunia maupun di akhirat. Adapun dampak positif dan buah manisnya di dunia, berupa kehidupan yang baik, ketenangan hati, kebahagiaan, hilangnya kesedihan, pelakunya dicintai oleh Allah dan dijaga oleh Allah.Sedangkan di akhirat, pelakunya mendapatkan kenikmatan di surga, selamat dari siksa neraka dan kemurkaan-Nya.Contohnya adalah firman Allah Ta’ala dalam surat An-Nahl: 97.مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun wanita dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan”.Dalam ayat ini, terdapat penggabungan balasan dunia dan akhirat, yaitu kehidupan yang baik di dunia berupa kebahagiaan, ketenangan hati, kelapangan dada, dan rezeki yang halal. Selain itu mereka juga akan dibalas dengan pahala yang lebih baik di akhirat, berupa kenikmatan yang tidak pernah dilihat oleh mata, tidak pernah didengar oleh telinga, dan tidak pernah terbetik dalam hati manusia.Allah Ta’ala berfirman dalam surat Al-Qomar: 54.إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي جَنَّاتٍ وَنَهَرٍ“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa itu di dalam taman-taman dan sungai-sungai”Allah Ta’ala berfirman dalam surat Maryam: 96.إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ سَيَجْعَلُ لَهُمُ الرَّحْمَٰنُ وُدًّا“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal sholeh, kelak Allah Yang Maha Pemurah akan menanamkan rasa cinta kepada mereka (di hati penduduk langit & bumi)”.Syaikh Abdur Rahman As-Sa’di rahimahullah menjelaskan bahwa janji yang disebutkan dalam ayat ini termasuk nikmat Allah yang besar atas hamba-hamba-Nya yang beriman dan beramal sholeh, yaitu Allah Ta’ala menjanjikan akan memberikan kasih sayang wali-wali-Nya, penduduk langit, dan bumi kepada mereka. Apabila rasa kasih sayang kepada mereka itu ada dalam hati wali-wali-Nya, penduduk langit, dan bumi, maka akan dimudahkan banyak dari urusan mereka, mereka akan mendapatkan kebaikan, dakwah, pengajaran, penerimaan, dan kepemimpinan dalam kebaikan, karena mereka mencintai Allah Ta’ala, maka Allah Ta’ala pun menjadikan mereka dicintai oleh wali-wali-Nya, penduduk langit, dan bumi.[Bersambung]***Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id🔍 Hadist Birrul Walidain, Masjid Kita, Alhamdulillah Bini'matihi Tatimusholihat, Arti Tabarakallahu, Alasan Anjing Haram
Beberapa cara lain yang Allah Ta’ala pilih Banyak cara lain yang Allah Ta’ala pilih untuk menyeru hamba-hamba-Nya yang beriman agar mereka berbuat kebaikan dan meninggalkan keburukan, di antaranya adalah sebagai berikut.Penyebutan dampak positif kebaikan dan dampak negatif keburukanTerkadang di dalam Al-Qur’an, Allah Ta’ala menyeru orang-orang yang beriman agar mereka berbuat kebaikan dan meninggalkan keburukan dengan cara menyebutkan dampak positif kebaikan dan dampak negatif keburukan.Berikut ini perinciannya:A. Allah menyebutkan perintah-Nya berupa amal saleh lalu menyebutkan dampak positif dan buah manisnya, baik di dunia maupun di akhirat. Adapun dampak positif dan buah manisnya di dunia, berupa kehidupan yang baik, ketenangan hati, kebahagiaan, hilangnya kesedihan, pelakunya dicintai oleh Allah dan dijaga oleh Allah.Sedangkan di akhirat, pelakunya mendapatkan kenikmatan di surga, selamat dari siksa neraka dan kemurkaan-Nya.Contohnya adalah firman Allah Ta’ala dalam surat An-Nahl: 97.مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun wanita dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan”.Dalam ayat ini, terdapat penggabungan balasan dunia dan akhirat, yaitu kehidupan yang baik di dunia berupa kebahagiaan, ketenangan hati, kelapangan dada, dan rezeki yang halal. Selain itu mereka juga akan dibalas dengan pahala yang lebih baik di akhirat, berupa kenikmatan yang tidak pernah dilihat oleh mata, tidak pernah didengar oleh telinga, dan tidak pernah terbetik dalam hati manusia.Allah Ta’ala berfirman dalam surat Al-Qomar: 54.إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي جَنَّاتٍ وَنَهَرٍ“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa itu di dalam taman-taman dan sungai-sungai”Allah Ta’ala berfirman dalam surat Maryam: 96.إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ سَيَجْعَلُ لَهُمُ الرَّحْمَٰنُ وُدًّا“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal sholeh, kelak Allah Yang Maha Pemurah akan menanamkan rasa cinta kepada mereka (di hati penduduk langit & bumi)”.Syaikh Abdur Rahman As-Sa’di rahimahullah menjelaskan bahwa janji yang disebutkan dalam ayat ini termasuk nikmat Allah yang besar atas hamba-hamba-Nya yang beriman dan beramal sholeh, yaitu Allah Ta’ala menjanjikan akan memberikan kasih sayang wali-wali-Nya, penduduk langit, dan bumi kepada mereka. Apabila rasa kasih sayang kepada mereka itu ada dalam hati wali-wali-Nya, penduduk langit, dan bumi, maka akan dimudahkan banyak dari urusan mereka, mereka akan mendapatkan kebaikan, dakwah, pengajaran, penerimaan, dan kepemimpinan dalam kebaikan, karena mereka mencintai Allah Ta’ala, maka Allah Ta’ala pun menjadikan mereka dicintai oleh wali-wali-Nya, penduduk langit, dan bumi.[Bersambung]***Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id🔍 Hadist Birrul Walidain, Masjid Kita, Alhamdulillah Bini'matihi Tatimusholihat, Arti Tabarakallahu, Alasan Anjing Haram


Beberapa cara lain yang Allah Ta’ala pilih Banyak cara lain yang Allah Ta’ala pilih untuk menyeru hamba-hamba-Nya yang beriman agar mereka berbuat kebaikan dan meninggalkan keburukan, di antaranya adalah sebagai berikut.Penyebutan dampak positif kebaikan dan dampak negatif keburukanTerkadang di dalam Al-Qur’an, Allah Ta’ala menyeru orang-orang yang beriman agar mereka berbuat kebaikan dan meninggalkan keburukan dengan cara menyebutkan dampak positif kebaikan dan dampak negatif keburukan.Berikut ini perinciannya:A. Allah menyebutkan perintah-Nya berupa amal saleh lalu menyebutkan dampak positif dan buah manisnya, baik di dunia maupun di akhirat. Adapun dampak positif dan buah manisnya di dunia, berupa kehidupan yang baik, ketenangan hati, kebahagiaan, hilangnya kesedihan, pelakunya dicintai oleh Allah dan dijaga oleh Allah.Sedangkan di akhirat, pelakunya mendapatkan kenikmatan di surga, selamat dari siksa neraka dan kemurkaan-Nya.Contohnya adalah firman Allah Ta’ala dalam surat An-Nahl: 97.مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun wanita dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan”.Dalam ayat ini, terdapat penggabungan balasan dunia dan akhirat, yaitu kehidupan yang baik di dunia berupa kebahagiaan, ketenangan hati, kelapangan dada, dan rezeki yang halal. Selain itu mereka juga akan dibalas dengan pahala yang lebih baik di akhirat, berupa kenikmatan yang tidak pernah dilihat oleh mata, tidak pernah didengar oleh telinga, dan tidak pernah terbetik dalam hati manusia.Allah Ta’ala berfirman dalam surat Al-Qomar: 54.إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي جَنَّاتٍ وَنَهَرٍ“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa itu di dalam taman-taman dan sungai-sungai”Allah Ta’ala berfirman dalam surat Maryam: 96.إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ سَيَجْعَلُ لَهُمُ الرَّحْمَٰنُ وُدًّا“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal sholeh, kelak Allah Yang Maha Pemurah akan menanamkan rasa cinta kepada mereka (di hati penduduk langit & bumi)”.Syaikh Abdur Rahman As-Sa’di rahimahullah menjelaskan bahwa janji yang disebutkan dalam ayat ini termasuk nikmat Allah yang besar atas hamba-hamba-Nya yang beriman dan beramal sholeh, yaitu Allah Ta’ala menjanjikan akan memberikan kasih sayang wali-wali-Nya, penduduk langit, dan bumi kepada mereka. Apabila rasa kasih sayang kepada mereka itu ada dalam hati wali-wali-Nya, penduduk langit, dan bumi, maka akan dimudahkan banyak dari urusan mereka, mereka akan mendapatkan kebaikan, dakwah, pengajaran, penerimaan, dan kepemimpinan dalam kebaikan, karena mereka mencintai Allah Ta’ala, maka Allah Ta’ala pun menjadikan mereka dicintai oleh wali-wali-Nya, penduduk langit, dan bumi.[Bersambung]***Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id🔍 Hadist Birrul Walidain, Masjid Kita, Alhamdulillah Bini'matihi Tatimusholihat, Arti Tabarakallahu, Alasan Anjing Haram
Prev     Next