Donasi 4 Hari untuk Memenuhi 203 Juta Pembangunan Masjid DS

Kamis, Jumat, Sabtu, dan Ahad ini ada donasi mendesak yang dibutuhkan untuk merampungkan lantai 3 Masjid Darush Sholihin (Jami’ Al-Adha) yang akan difungsikan sebagai studio DS dan Maktabah DS (Perpustakaan), juga ada kebutuhan karpet masjid DS lantai 2 yang sudah disesuaikan dengan arah kiblat (ketetapan Kemenag). Total anggaran yang dibutuhkan : Rp.203.838.200,-   Jika Anda turut dalam donasi masjid ini: Anda sudah turut dapat pahala rumah di surga. Sebagai amal jariyah Mendukung semangat ngaji Masjid Darush Sholihin (Jami’ Al-Adha) sudah berdiri tegak dengan dua lantai. Dua2nya dimanfaatkan untuk shalat lima waktu dan kajian rutin. Setiap Malam Kamis saja harus dipaksa menampung 2000-an jamaah padahal sebenarnya hanya bisa memuat 800 jamaah. Yang jadi masalah besar adalah ketika musim hujan seperti saat ini.   Lihat video mengharukan di sini:   Lihat kegiatan-kegiatan Darush Sholihin selama ini, ini video kegiatan di bulan Desember 2016:   Silakan mentransfer via Rekening khusus Donasi Masjid: • BCA 895009 3791 atas nama Muhammad Abduh Tuasikal • BSM 7098637286 atas nama Yayasan Darush Sholihin Gunungkidul • BRI 697501000453505 atas nama Yayasan Darush Sholihin *Kode bank BCA 014, BSM 451, BRI 002 Konfirmasi via SMS/ WA ke 082313950500 dengan format: Masjid DS # Nama Donatur # Alamat # Bank Tujuan Transfer # Tgl Transfer # Besar Donasi. Moga semakin termotivasi dengan hadits berikut ini. مَنْ بَنَى مَسْجِدًا يَبْتَغِى بِهِ وَجْهَ اللَّهِ ، بَنَى اللَّهُ لَهُ مِثْلَهُ فِى الْجَنَّةِ “Barangsiapa yang membangun masjid (karena ingin mengharap wajah Allah), Allah akan membangunkan bangunan yang semisalnya di surga.” (HR. Bukhari dan Muslim, dari ‘Utsman bin ‘Affan) Semoga Allah memberi limpahan pahala bagi yang siap membantu dakwah ilallah ini. — Info Rumaysho.Com dan DarushSholihin.Com Tagsrenovasi masjid

Donasi 4 Hari untuk Memenuhi 203 Juta Pembangunan Masjid DS

Kamis, Jumat, Sabtu, dan Ahad ini ada donasi mendesak yang dibutuhkan untuk merampungkan lantai 3 Masjid Darush Sholihin (Jami’ Al-Adha) yang akan difungsikan sebagai studio DS dan Maktabah DS (Perpustakaan), juga ada kebutuhan karpet masjid DS lantai 2 yang sudah disesuaikan dengan arah kiblat (ketetapan Kemenag). Total anggaran yang dibutuhkan : Rp.203.838.200,-   Jika Anda turut dalam donasi masjid ini: Anda sudah turut dapat pahala rumah di surga. Sebagai amal jariyah Mendukung semangat ngaji Masjid Darush Sholihin (Jami’ Al-Adha) sudah berdiri tegak dengan dua lantai. Dua2nya dimanfaatkan untuk shalat lima waktu dan kajian rutin. Setiap Malam Kamis saja harus dipaksa menampung 2000-an jamaah padahal sebenarnya hanya bisa memuat 800 jamaah. Yang jadi masalah besar adalah ketika musim hujan seperti saat ini.   Lihat video mengharukan di sini:   Lihat kegiatan-kegiatan Darush Sholihin selama ini, ini video kegiatan di bulan Desember 2016:   Silakan mentransfer via Rekening khusus Donasi Masjid: • BCA 895009 3791 atas nama Muhammad Abduh Tuasikal • BSM 7098637286 atas nama Yayasan Darush Sholihin Gunungkidul • BRI 697501000453505 atas nama Yayasan Darush Sholihin *Kode bank BCA 014, BSM 451, BRI 002 Konfirmasi via SMS/ WA ke 082313950500 dengan format: Masjid DS # Nama Donatur # Alamat # Bank Tujuan Transfer # Tgl Transfer # Besar Donasi. Moga semakin termotivasi dengan hadits berikut ini. مَنْ بَنَى مَسْجِدًا يَبْتَغِى بِهِ وَجْهَ اللَّهِ ، بَنَى اللَّهُ لَهُ مِثْلَهُ فِى الْجَنَّةِ “Barangsiapa yang membangun masjid (karena ingin mengharap wajah Allah), Allah akan membangunkan bangunan yang semisalnya di surga.” (HR. Bukhari dan Muslim, dari ‘Utsman bin ‘Affan) Semoga Allah memberi limpahan pahala bagi yang siap membantu dakwah ilallah ini. — Info Rumaysho.Com dan DarushSholihin.Com Tagsrenovasi masjid
Kamis, Jumat, Sabtu, dan Ahad ini ada donasi mendesak yang dibutuhkan untuk merampungkan lantai 3 Masjid Darush Sholihin (Jami’ Al-Adha) yang akan difungsikan sebagai studio DS dan Maktabah DS (Perpustakaan), juga ada kebutuhan karpet masjid DS lantai 2 yang sudah disesuaikan dengan arah kiblat (ketetapan Kemenag). Total anggaran yang dibutuhkan : Rp.203.838.200,-   Jika Anda turut dalam donasi masjid ini: Anda sudah turut dapat pahala rumah di surga. Sebagai amal jariyah Mendukung semangat ngaji Masjid Darush Sholihin (Jami’ Al-Adha) sudah berdiri tegak dengan dua lantai. Dua2nya dimanfaatkan untuk shalat lima waktu dan kajian rutin. Setiap Malam Kamis saja harus dipaksa menampung 2000-an jamaah padahal sebenarnya hanya bisa memuat 800 jamaah. Yang jadi masalah besar adalah ketika musim hujan seperti saat ini.   Lihat video mengharukan di sini:   Lihat kegiatan-kegiatan Darush Sholihin selama ini, ini video kegiatan di bulan Desember 2016:   Silakan mentransfer via Rekening khusus Donasi Masjid: • BCA 895009 3791 atas nama Muhammad Abduh Tuasikal • BSM 7098637286 atas nama Yayasan Darush Sholihin Gunungkidul • BRI 697501000453505 atas nama Yayasan Darush Sholihin *Kode bank BCA 014, BSM 451, BRI 002 Konfirmasi via SMS/ WA ke 082313950500 dengan format: Masjid DS # Nama Donatur # Alamat # Bank Tujuan Transfer # Tgl Transfer # Besar Donasi. Moga semakin termotivasi dengan hadits berikut ini. مَنْ بَنَى مَسْجِدًا يَبْتَغِى بِهِ وَجْهَ اللَّهِ ، بَنَى اللَّهُ لَهُ مِثْلَهُ فِى الْجَنَّةِ “Barangsiapa yang membangun masjid (karena ingin mengharap wajah Allah), Allah akan membangunkan bangunan yang semisalnya di surga.” (HR. Bukhari dan Muslim, dari ‘Utsman bin ‘Affan) Semoga Allah memberi limpahan pahala bagi yang siap membantu dakwah ilallah ini. — Info Rumaysho.Com dan DarushSholihin.Com Tagsrenovasi masjid


Kamis, Jumat, Sabtu, dan Ahad ini ada donasi mendesak yang dibutuhkan untuk merampungkan lantai 3 Masjid Darush Sholihin (Jami’ Al-Adha) yang akan difungsikan sebagai studio DS dan Maktabah DS (Perpustakaan), juga ada kebutuhan karpet masjid DS lantai 2 yang sudah disesuaikan dengan arah kiblat (ketetapan Kemenag). Total anggaran yang dibutuhkan : Rp.203.838.200,-   Jika Anda turut dalam donasi masjid ini: Anda sudah turut dapat pahala rumah di surga. Sebagai amal jariyah Mendukung semangat ngaji Masjid Darush Sholihin (Jami’ Al-Adha) sudah berdiri tegak dengan dua lantai. Dua2nya dimanfaatkan untuk shalat lima waktu dan kajian rutin. Setiap Malam Kamis saja harus dipaksa menampung 2000-an jamaah padahal sebenarnya hanya bisa memuat 800 jamaah. Yang jadi masalah besar adalah ketika musim hujan seperti saat ini.   Lihat video mengharukan di sini:   Lihat kegiatan-kegiatan Darush Sholihin selama ini, ini video kegiatan di bulan Desember 2016:   Silakan mentransfer via Rekening khusus Donasi Masjid: • BCA 895009 3791 atas nama Muhammad Abduh Tuasikal • BSM 7098637286 atas nama Yayasan Darush Sholihin Gunungkidul • BRI 697501000453505 atas nama Yayasan Darush Sholihin *Kode bank BCA 014, BSM 451, BRI 002 Konfirmasi via SMS/ WA ke 082313950500 dengan format: Masjid DS # Nama Donatur # Alamat # Bank Tujuan Transfer # Tgl Transfer # Besar Donasi. Moga semakin termotivasi dengan hadits berikut ini. مَنْ بَنَى مَسْجِدًا يَبْتَغِى بِهِ وَجْهَ اللَّهِ ، بَنَى اللَّهُ لَهُ مِثْلَهُ فِى الْجَنَّةِ “Barangsiapa yang membangun masjid (karena ingin mengharap wajah Allah), Allah akan membangunkan bangunan yang semisalnya di surga.” (HR. Bukhari dan Muslim, dari ‘Utsman bin ‘Affan) Semoga Allah memberi limpahan pahala bagi yang siap membantu dakwah ilallah ini. — Info Rumaysho.Com dan DarushSholihin.Com Tagsrenovasi masjid

Keutamaan Berjalan ke Masjid pada Waktu Shubuh dan Isya

Ini satu hadits yang membicarakan keutamaan berjalan ke masjid di kegelapan, terutama saat shalat Shubuh dan Isya. Hadits no. 1058 dari Kitab Riyadhus Sholihin, Bab Keutamaan Berjalan ke Masjid عن بُريدَة – رضي الله عنه – ، عن النبيِّ – صلى الله عليه وسلم – ، قَالَ : (( بَشِّرُوا المَشَّائِينَ في الظُّلَمِ إلى المَسَاجِدِ بِالنُّورِ التَّامِّ يَوْمَ القِيَامَةِ)) رواه أبُو دَاوُدَ وَالتِّرمِذِيُّ . Dari Buraidah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang berjalan di dalam kegelapan menuju masjid-masjid, bahwa ia akan mendapatkan cahaya sempurna pada hari kiamat.” (HR. Abu Daud, no. 561; Tirmidzi, no. 223. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini shahih)   Kesimpulan Mutiara Hadits Orang beriman mendapatkan kabar gembira tentang keadaannya yang bercahaya pada hari kiamat. Setiap hamba berada dalam kegelapan kecuali orang yang beriman. Hadits ini menunjukkan keutamaan orang yang berjalan di kegelapan dan ini ditemukan dalam shalat Isya’ dan shalat Shubuh yang dilakukan berjamaah di masjid. Mereka yang menjaga shalat tersebut, itulah yang akan mendapatkan cahaya pada hari kiamat. Ada beberapa hikmah shalat berjamaah Isya dan Shubuh di masjid: (a) akan mudah turun berkah dan rahmat, (b) dengan berjamaah bisa menambah ilmu dan mengerti cara beramal shalat yang benar dengan memperhatikan lainnya, (c) keikhlasan dan kekhusyu’an sebagian jamaah akan berpengaruh pada jamaah lainnya, sehingga membuat ibadah seluruh jamaah jadi diterima.   Referensi: Bahjah An-Nazhirin karya Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali, 2: 239-240; Kunuz Riyadh Ash-Shalihin, 13: 314-319.   — Disusun di DS Panggang, 4 Jumadal Ula 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagsberjalan ke masjid shalat berjamaah shalat jamaah

Keutamaan Berjalan ke Masjid pada Waktu Shubuh dan Isya

Ini satu hadits yang membicarakan keutamaan berjalan ke masjid di kegelapan, terutama saat shalat Shubuh dan Isya. Hadits no. 1058 dari Kitab Riyadhus Sholihin, Bab Keutamaan Berjalan ke Masjid عن بُريدَة – رضي الله عنه – ، عن النبيِّ – صلى الله عليه وسلم – ، قَالَ : (( بَشِّرُوا المَشَّائِينَ في الظُّلَمِ إلى المَسَاجِدِ بِالنُّورِ التَّامِّ يَوْمَ القِيَامَةِ)) رواه أبُو دَاوُدَ وَالتِّرمِذِيُّ . Dari Buraidah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang berjalan di dalam kegelapan menuju masjid-masjid, bahwa ia akan mendapatkan cahaya sempurna pada hari kiamat.” (HR. Abu Daud, no. 561; Tirmidzi, no. 223. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini shahih)   Kesimpulan Mutiara Hadits Orang beriman mendapatkan kabar gembira tentang keadaannya yang bercahaya pada hari kiamat. Setiap hamba berada dalam kegelapan kecuali orang yang beriman. Hadits ini menunjukkan keutamaan orang yang berjalan di kegelapan dan ini ditemukan dalam shalat Isya’ dan shalat Shubuh yang dilakukan berjamaah di masjid. Mereka yang menjaga shalat tersebut, itulah yang akan mendapatkan cahaya pada hari kiamat. Ada beberapa hikmah shalat berjamaah Isya dan Shubuh di masjid: (a) akan mudah turun berkah dan rahmat, (b) dengan berjamaah bisa menambah ilmu dan mengerti cara beramal shalat yang benar dengan memperhatikan lainnya, (c) keikhlasan dan kekhusyu’an sebagian jamaah akan berpengaruh pada jamaah lainnya, sehingga membuat ibadah seluruh jamaah jadi diterima.   Referensi: Bahjah An-Nazhirin karya Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali, 2: 239-240; Kunuz Riyadh Ash-Shalihin, 13: 314-319.   — Disusun di DS Panggang, 4 Jumadal Ula 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagsberjalan ke masjid shalat berjamaah shalat jamaah
Ini satu hadits yang membicarakan keutamaan berjalan ke masjid di kegelapan, terutama saat shalat Shubuh dan Isya. Hadits no. 1058 dari Kitab Riyadhus Sholihin, Bab Keutamaan Berjalan ke Masjid عن بُريدَة – رضي الله عنه – ، عن النبيِّ – صلى الله عليه وسلم – ، قَالَ : (( بَشِّرُوا المَشَّائِينَ في الظُّلَمِ إلى المَسَاجِدِ بِالنُّورِ التَّامِّ يَوْمَ القِيَامَةِ)) رواه أبُو دَاوُدَ وَالتِّرمِذِيُّ . Dari Buraidah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang berjalan di dalam kegelapan menuju masjid-masjid, bahwa ia akan mendapatkan cahaya sempurna pada hari kiamat.” (HR. Abu Daud, no. 561; Tirmidzi, no. 223. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini shahih)   Kesimpulan Mutiara Hadits Orang beriman mendapatkan kabar gembira tentang keadaannya yang bercahaya pada hari kiamat. Setiap hamba berada dalam kegelapan kecuali orang yang beriman. Hadits ini menunjukkan keutamaan orang yang berjalan di kegelapan dan ini ditemukan dalam shalat Isya’ dan shalat Shubuh yang dilakukan berjamaah di masjid. Mereka yang menjaga shalat tersebut, itulah yang akan mendapatkan cahaya pada hari kiamat. Ada beberapa hikmah shalat berjamaah Isya dan Shubuh di masjid: (a) akan mudah turun berkah dan rahmat, (b) dengan berjamaah bisa menambah ilmu dan mengerti cara beramal shalat yang benar dengan memperhatikan lainnya, (c) keikhlasan dan kekhusyu’an sebagian jamaah akan berpengaruh pada jamaah lainnya, sehingga membuat ibadah seluruh jamaah jadi diterima.   Referensi: Bahjah An-Nazhirin karya Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali, 2: 239-240; Kunuz Riyadh Ash-Shalihin, 13: 314-319.   — Disusun di DS Panggang, 4 Jumadal Ula 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagsberjalan ke masjid shalat berjamaah shalat jamaah


Ini satu hadits yang membicarakan keutamaan berjalan ke masjid di kegelapan, terutama saat shalat Shubuh dan Isya. Hadits no. 1058 dari Kitab Riyadhus Sholihin, Bab Keutamaan Berjalan ke Masjid عن بُريدَة – رضي الله عنه – ، عن النبيِّ – صلى الله عليه وسلم – ، قَالَ : (( بَشِّرُوا المَشَّائِينَ في الظُّلَمِ إلى المَسَاجِدِ بِالنُّورِ التَّامِّ يَوْمَ القِيَامَةِ)) رواه أبُو دَاوُدَ وَالتِّرمِذِيُّ . Dari Buraidah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang berjalan di dalam kegelapan menuju masjid-masjid, bahwa ia akan mendapatkan cahaya sempurna pada hari kiamat.” (HR. Abu Daud, no. 561; Tirmidzi, no. 223. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini shahih)   Kesimpulan Mutiara Hadits Orang beriman mendapatkan kabar gembira tentang keadaannya yang bercahaya pada hari kiamat. Setiap hamba berada dalam kegelapan kecuali orang yang beriman. Hadits ini menunjukkan keutamaan orang yang berjalan di kegelapan dan ini ditemukan dalam shalat Isya’ dan shalat Shubuh yang dilakukan berjamaah di masjid. Mereka yang menjaga shalat tersebut, itulah yang akan mendapatkan cahaya pada hari kiamat. Ada beberapa hikmah shalat berjamaah Isya dan Shubuh di masjid: (a) akan mudah turun berkah dan rahmat, (b) dengan berjamaah bisa menambah ilmu dan mengerti cara beramal shalat yang benar dengan memperhatikan lainnya, (c) keikhlasan dan kekhusyu’an sebagian jamaah akan berpengaruh pada jamaah lainnya, sehingga membuat ibadah seluruh jamaah jadi diterima.   Referensi: Bahjah An-Nazhirin karya Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali, 2: 239-240; Kunuz Riyadh Ash-Shalihin, 13: 314-319.   — Disusun di DS Panggang, 4 Jumadal Ula 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagsberjalan ke masjid shalat berjamaah shalat jamaah

Keindahan Islam (5)

Ibnul Qoyyim rahimahullah Berbicara tentang Kesempurnaan Islam Perhatikanlah, para pembaca, bagaimana Ibnul Qoyyim rahimahullah menggambarkan kepada kita kesempurnaan Islam yang hal ini sesungguhnya menunjukkan keindahan Islam. Berikut ini kami sarikan[1. Dengan sedikit penambahan dan pengurangan kata-kata untuk penyesuaian bahasa, namun tanpa merubah intisari penjelasan beliau] penjelasan beliau yang tertulis dalam kitabnya I’lamul Muwaqqi’in (4/285-286).Ibnul Qoyyim rahimahullah menjelaskan bahwa agama yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi was sallam adalah agama yang sempurna, menyeluruh, mencukupi kebutuhan manusia, sehingga umat Islam tidak membutuhkan ajaran agama selainnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi was sallam telah menjelaskan kepada umat ini tentang hukum kehidupan, kematian maupun setelahnya.Rasulullah shallallahu ‘alaihi was sallam wafat, sedangkan tidak ada satu pun kebaikan yang dibutuhkan manusia kecuali telah beliau shallallahu ‘alaihi was sallam jelaskan. Beliau  shallallahu ‘alaihi was sallam telah mengajarkan semua kebaikan, sampai pun adab buang hajat, hubungan badan antar suami istri, tidur, berdiri, duduk, makan, minum, menaiki kendaraan, safar, mukim, diam, berbicara, dan adab bergaul. Beliau pun shallallahu ‘alaihi was sallam  mengajarkan tentang hakikat kekayaan, perihal kemiskinan, masalah sehat dan sakit.Rasulullah shallallahu ‘alaihi was sallam wafat dan beliau telah menjelaskan tentang sifat-sifat Al-‘Arsy, Al-Kursi, malaikat, jin, neraka, surga, hari Kiamat dan apa yang terjadi padanya hingga seolah-olah orang yang mendengarnya seperti sedang melihat dengan mata kepala sendiri. Rasulullah shallallahu ‘alaihi was sallam telah memberitahukan kepada umatnya tentang satu-satunya sesembahan mereka yang benar, yaitu Allah Tabaraka wa Ta’ala, dengan penjelasan yang sempurna. Mengenalkan kepada mereka nama Allah, sifat dan perbuatan-Nya. Beliau shallallahu ‘alaihi was sallam mengenalkan kepada umatnya tentang para nabi ‘alaihimush shalatu was salam dan umat mereka, serta peristiwa yang terjadi di antara mereka, seolah-olah umatnya sedang hidup di tengah-tengah umat terdahulu.Beliau shallallahu ‘alaihi was sallam juga memberitahukan jalan-jalan kebaikan dan keburukan, yang nampak maupun tidak nampak, mengenalkan tentang keadaan-keadaan kematian, dan  alam barzakh, memberitahukan adanya hari kebangkitan dan prosesi di akherat nantinya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi was sallam pun telah menjelaskan dengan gamblang dalil-dalil tentang tauhid, kenabian, kerasulan serta bantahan terhadap kelompok kufur dan sesat yang jika dipahami dengan baik, tidak akan tersisa sedikitpun syubhat dan kebingungan.Beliau shallallahu ‘alaihi was sallam pun mengajarkan ilmu tentang peperangan dan adab-adabnya, dan mengajarkan pula sebab-sebab kemenangan yang kalau diterapkan tidak ada satupun musuh Islam yang sanggup berhadapan dengan kaum muslimin.Demikian pula, beliau shallallahu ‘alaihi was sallam menjelaskan tentang tipu daya setan dan pintu-pintunya sehingga umatnya pun bisa terlindungi dari keburukannya dengan mewaspadai tipu dayanya dan mennghindari pintu-pintunya.Rasulullah shallallahu ‘alaihi was sallam pun telah menjelaskan tentang jiwa manusia, serta sifat-sifatnya dengan sempurna sehingga umatnya tidaklah membutuhkan penjelasan selainnya.Beliau shallallahu ‘alaihi was sallam pun mengajarkan tentang pedoman hidup manusia yang jika manusia menerapkannya, niscaya akan lurus hidupnya. Kesimpulannya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi was sallam membawa ajaran kebaikan dunia dan akherat untuk umatnya dengan sempurna. Jadi, bagaimana mungkin muncul persangkaan bahwa agama Islam yang dibawa oleh beliau shallallahu ‘alaihi was sallam itu masih membutuhkan logika, analogi (qiyas), dan teori politik di luar Islam untuk menyempurnakan agama Islam?Barangsiapa yang menyangka demikian, maka kedudukannya seperti orang yang menyangka bahwa manusia membutuhkan rasul lain sepeninggal beliau shallallahu ‘alaihi was sallam. Dan faktor penyebab sangkaan yang salah itu adalah sedikitnya pemahaman orang yang menyangka tentang agama Islam yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi was sallam dan tidak banyak mengenal pemahaman para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi was sallam, yang mana para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi was sallam adalah orang-orang yang mencukupkan diri mereka dengan agama Islam yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi was sallam dan mereka tidak membutuhkan kepada ajaran agama selainnya, oleh karena itu mereka berhasil menjadi penyebab terbukanya hati manusia  dan terbukanya berbagai negeri di bawah kepemimpinan mereka.[Bersambung]Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id______🔍 Cara Shalat Rasulullah Yang Benar, Waktu Pembayaran Zakat Untuk Harta Dagangan Adalah, Islam On Line, Waktu Shalat Isyroq, Alasan Wanita Bercadar

Keindahan Islam (5)

Ibnul Qoyyim rahimahullah Berbicara tentang Kesempurnaan Islam Perhatikanlah, para pembaca, bagaimana Ibnul Qoyyim rahimahullah menggambarkan kepada kita kesempurnaan Islam yang hal ini sesungguhnya menunjukkan keindahan Islam. Berikut ini kami sarikan[1. Dengan sedikit penambahan dan pengurangan kata-kata untuk penyesuaian bahasa, namun tanpa merubah intisari penjelasan beliau] penjelasan beliau yang tertulis dalam kitabnya I’lamul Muwaqqi’in (4/285-286).Ibnul Qoyyim rahimahullah menjelaskan bahwa agama yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi was sallam adalah agama yang sempurna, menyeluruh, mencukupi kebutuhan manusia, sehingga umat Islam tidak membutuhkan ajaran agama selainnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi was sallam telah menjelaskan kepada umat ini tentang hukum kehidupan, kematian maupun setelahnya.Rasulullah shallallahu ‘alaihi was sallam wafat, sedangkan tidak ada satu pun kebaikan yang dibutuhkan manusia kecuali telah beliau shallallahu ‘alaihi was sallam jelaskan. Beliau  shallallahu ‘alaihi was sallam telah mengajarkan semua kebaikan, sampai pun adab buang hajat, hubungan badan antar suami istri, tidur, berdiri, duduk, makan, minum, menaiki kendaraan, safar, mukim, diam, berbicara, dan adab bergaul. Beliau pun shallallahu ‘alaihi was sallam  mengajarkan tentang hakikat kekayaan, perihal kemiskinan, masalah sehat dan sakit.Rasulullah shallallahu ‘alaihi was sallam wafat dan beliau telah menjelaskan tentang sifat-sifat Al-‘Arsy, Al-Kursi, malaikat, jin, neraka, surga, hari Kiamat dan apa yang terjadi padanya hingga seolah-olah orang yang mendengarnya seperti sedang melihat dengan mata kepala sendiri. Rasulullah shallallahu ‘alaihi was sallam telah memberitahukan kepada umatnya tentang satu-satunya sesembahan mereka yang benar, yaitu Allah Tabaraka wa Ta’ala, dengan penjelasan yang sempurna. Mengenalkan kepada mereka nama Allah, sifat dan perbuatan-Nya. Beliau shallallahu ‘alaihi was sallam mengenalkan kepada umatnya tentang para nabi ‘alaihimush shalatu was salam dan umat mereka, serta peristiwa yang terjadi di antara mereka, seolah-olah umatnya sedang hidup di tengah-tengah umat terdahulu.Beliau shallallahu ‘alaihi was sallam juga memberitahukan jalan-jalan kebaikan dan keburukan, yang nampak maupun tidak nampak, mengenalkan tentang keadaan-keadaan kematian, dan  alam barzakh, memberitahukan adanya hari kebangkitan dan prosesi di akherat nantinya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi was sallam pun telah menjelaskan dengan gamblang dalil-dalil tentang tauhid, kenabian, kerasulan serta bantahan terhadap kelompok kufur dan sesat yang jika dipahami dengan baik, tidak akan tersisa sedikitpun syubhat dan kebingungan.Beliau shallallahu ‘alaihi was sallam pun mengajarkan ilmu tentang peperangan dan adab-adabnya, dan mengajarkan pula sebab-sebab kemenangan yang kalau diterapkan tidak ada satupun musuh Islam yang sanggup berhadapan dengan kaum muslimin.Demikian pula, beliau shallallahu ‘alaihi was sallam menjelaskan tentang tipu daya setan dan pintu-pintunya sehingga umatnya pun bisa terlindungi dari keburukannya dengan mewaspadai tipu dayanya dan mennghindari pintu-pintunya.Rasulullah shallallahu ‘alaihi was sallam pun telah menjelaskan tentang jiwa manusia, serta sifat-sifatnya dengan sempurna sehingga umatnya tidaklah membutuhkan penjelasan selainnya.Beliau shallallahu ‘alaihi was sallam pun mengajarkan tentang pedoman hidup manusia yang jika manusia menerapkannya, niscaya akan lurus hidupnya. Kesimpulannya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi was sallam membawa ajaran kebaikan dunia dan akherat untuk umatnya dengan sempurna. Jadi, bagaimana mungkin muncul persangkaan bahwa agama Islam yang dibawa oleh beliau shallallahu ‘alaihi was sallam itu masih membutuhkan logika, analogi (qiyas), dan teori politik di luar Islam untuk menyempurnakan agama Islam?Barangsiapa yang menyangka demikian, maka kedudukannya seperti orang yang menyangka bahwa manusia membutuhkan rasul lain sepeninggal beliau shallallahu ‘alaihi was sallam. Dan faktor penyebab sangkaan yang salah itu adalah sedikitnya pemahaman orang yang menyangka tentang agama Islam yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi was sallam dan tidak banyak mengenal pemahaman para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi was sallam, yang mana para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi was sallam adalah orang-orang yang mencukupkan diri mereka dengan agama Islam yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi was sallam dan mereka tidak membutuhkan kepada ajaran agama selainnya, oleh karena itu mereka berhasil menjadi penyebab terbukanya hati manusia  dan terbukanya berbagai negeri di bawah kepemimpinan mereka.[Bersambung]Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id______🔍 Cara Shalat Rasulullah Yang Benar, Waktu Pembayaran Zakat Untuk Harta Dagangan Adalah, Islam On Line, Waktu Shalat Isyroq, Alasan Wanita Bercadar
Ibnul Qoyyim rahimahullah Berbicara tentang Kesempurnaan Islam Perhatikanlah, para pembaca, bagaimana Ibnul Qoyyim rahimahullah menggambarkan kepada kita kesempurnaan Islam yang hal ini sesungguhnya menunjukkan keindahan Islam. Berikut ini kami sarikan[1. Dengan sedikit penambahan dan pengurangan kata-kata untuk penyesuaian bahasa, namun tanpa merubah intisari penjelasan beliau] penjelasan beliau yang tertulis dalam kitabnya I’lamul Muwaqqi’in (4/285-286).Ibnul Qoyyim rahimahullah menjelaskan bahwa agama yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi was sallam adalah agama yang sempurna, menyeluruh, mencukupi kebutuhan manusia, sehingga umat Islam tidak membutuhkan ajaran agama selainnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi was sallam telah menjelaskan kepada umat ini tentang hukum kehidupan, kematian maupun setelahnya.Rasulullah shallallahu ‘alaihi was sallam wafat, sedangkan tidak ada satu pun kebaikan yang dibutuhkan manusia kecuali telah beliau shallallahu ‘alaihi was sallam jelaskan. Beliau  shallallahu ‘alaihi was sallam telah mengajarkan semua kebaikan, sampai pun adab buang hajat, hubungan badan antar suami istri, tidur, berdiri, duduk, makan, minum, menaiki kendaraan, safar, mukim, diam, berbicara, dan adab bergaul. Beliau pun shallallahu ‘alaihi was sallam  mengajarkan tentang hakikat kekayaan, perihal kemiskinan, masalah sehat dan sakit.Rasulullah shallallahu ‘alaihi was sallam wafat dan beliau telah menjelaskan tentang sifat-sifat Al-‘Arsy, Al-Kursi, malaikat, jin, neraka, surga, hari Kiamat dan apa yang terjadi padanya hingga seolah-olah orang yang mendengarnya seperti sedang melihat dengan mata kepala sendiri. Rasulullah shallallahu ‘alaihi was sallam telah memberitahukan kepada umatnya tentang satu-satunya sesembahan mereka yang benar, yaitu Allah Tabaraka wa Ta’ala, dengan penjelasan yang sempurna. Mengenalkan kepada mereka nama Allah, sifat dan perbuatan-Nya. Beliau shallallahu ‘alaihi was sallam mengenalkan kepada umatnya tentang para nabi ‘alaihimush shalatu was salam dan umat mereka, serta peristiwa yang terjadi di antara mereka, seolah-olah umatnya sedang hidup di tengah-tengah umat terdahulu.Beliau shallallahu ‘alaihi was sallam juga memberitahukan jalan-jalan kebaikan dan keburukan, yang nampak maupun tidak nampak, mengenalkan tentang keadaan-keadaan kematian, dan  alam barzakh, memberitahukan adanya hari kebangkitan dan prosesi di akherat nantinya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi was sallam pun telah menjelaskan dengan gamblang dalil-dalil tentang tauhid, kenabian, kerasulan serta bantahan terhadap kelompok kufur dan sesat yang jika dipahami dengan baik, tidak akan tersisa sedikitpun syubhat dan kebingungan.Beliau shallallahu ‘alaihi was sallam pun mengajarkan ilmu tentang peperangan dan adab-adabnya, dan mengajarkan pula sebab-sebab kemenangan yang kalau diterapkan tidak ada satupun musuh Islam yang sanggup berhadapan dengan kaum muslimin.Demikian pula, beliau shallallahu ‘alaihi was sallam menjelaskan tentang tipu daya setan dan pintu-pintunya sehingga umatnya pun bisa terlindungi dari keburukannya dengan mewaspadai tipu dayanya dan mennghindari pintu-pintunya.Rasulullah shallallahu ‘alaihi was sallam pun telah menjelaskan tentang jiwa manusia, serta sifat-sifatnya dengan sempurna sehingga umatnya tidaklah membutuhkan penjelasan selainnya.Beliau shallallahu ‘alaihi was sallam pun mengajarkan tentang pedoman hidup manusia yang jika manusia menerapkannya, niscaya akan lurus hidupnya. Kesimpulannya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi was sallam membawa ajaran kebaikan dunia dan akherat untuk umatnya dengan sempurna. Jadi, bagaimana mungkin muncul persangkaan bahwa agama Islam yang dibawa oleh beliau shallallahu ‘alaihi was sallam itu masih membutuhkan logika, analogi (qiyas), dan teori politik di luar Islam untuk menyempurnakan agama Islam?Barangsiapa yang menyangka demikian, maka kedudukannya seperti orang yang menyangka bahwa manusia membutuhkan rasul lain sepeninggal beliau shallallahu ‘alaihi was sallam. Dan faktor penyebab sangkaan yang salah itu adalah sedikitnya pemahaman orang yang menyangka tentang agama Islam yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi was sallam dan tidak banyak mengenal pemahaman para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi was sallam, yang mana para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi was sallam adalah orang-orang yang mencukupkan diri mereka dengan agama Islam yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi was sallam dan mereka tidak membutuhkan kepada ajaran agama selainnya, oleh karena itu mereka berhasil menjadi penyebab terbukanya hati manusia  dan terbukanya berbagai negeri di bawah kepemimpinan mereka.[Bersambung]Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id______🔍 Cara Shalat Rasulullah Yang Benar, Waktu Pembayaran Zakat Untuk Harta Dagangan Adalah, Islam On Line, Waktu Shalat Isyroq, Alasan Wanita Bercadar


Ibnul Qoyyim rahimahullah Berbicara tentang Kesempurnaan Islam Perhatikanlah, para pembaca, bagaimana Ibnul Qoyyim rahimahullah menggambarkan kepada kita kesempurnaan Islam yang hal ini sesungguhnya menunjukkan keindahan Islam. Berikut ini kami sarikan[1. Dengan sedikit penambahan dan pengurangan kata-kata untuk penyesuaian bahasa, namun tanpa merubah intisari penjelasan beliau] penjelasan beliau yang tertulis dalam kitabnya I’lamul Muwaqqi’in (4/285-286).Ibnul Qoyyim rahimahullah menjelaskan bahwa agama yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi was sallam adalah agama yang sempurna, menyeluruh, mencukupi kebutuhan manusia, sehingga umat Islam tidak membutuhkan ajaran agama selainnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi was sallam telah menjelaskan kepada umat ini tentang hukum kehidupan, kematian maupun setelahnya.Rasulullah shallallahu ‘alaihi was sallam wafat, sedangkan tidak ada satu pun kebaikan yang dibutuhkan manusia kecuali telah beliau shallallahu ‘alaihi was sallam jelaskan. Beliau  shallallahu ‘alaihi was sallam telah mengajarkan semua kebaikan, sampai pun adab buang hajat, hubungan badan antar suami istri, tidur, berdiri, duduk, makan, minum, menaiki kendaraan, safar, mukim, diam, berbicara, dan adab bergaul. Beliau pun shallallahu ‘alaihi was sallam  mengajarkan tentang hakikat kekayaan, perihal kemiskinan, masalah sehat dan sakit.Rasulullah shallallahu ‘alaihi was sallam wafat dan beliau telah menjelaskan tentang sifat-sifat Al-‘Arsy, Al-Kursi, malaikat, jin, neraka, surga, hari Kiamat dan apa yang terjadi padanya hingga seolah-olah orang yang mendengarnya seperti sedang melihat dengan mata kepala sendiri. Rasulullah shallallahu ‘alaihi was sallam telah memberitahukan kepada umatnya tentang satu-satunya sesembahan mereka yang benar, yaitu Allah Tabaraka wa Ta’ala, dengan penjelasan yang sempurna. Mengenalkan kepada mereka nama Allah, sifat dan perbuatan-Nya. Beliau shallallahu ‘alaihi was sallam mengenalkan kepada umatnya tentang para nabi ‘alaihimush shalatu was salam dan umat mereka, serta peristiwa yang terjadi di antara mereka, seolah-olah umatnya sedang hidup di tengah-tengah umat terdahulu.Beliau shallallahu ‘alaihi was sallam juga memberitahukan jalan-jalan kebaikan dan keburukan, yang nampak maupun tidak nampak, mengenalkan tentang keadaan-keadaan kematian, dan  alam barzakh, memberitahukan adanya hari kebangkitan dan prosesi di akherat nantinya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi was sallam pun telah menjelaskan dengan gamblang dalil-dalil tentang tauhid, kenabian, kerasulan serta bantahan terhadap kelompok kufur dan sesat yang jika dipahami dengan baik, tidak akan tersisa sedikitpun syubhat dan kebingungan.Beliau shallallahu ‘alaihi was sallam pun mengajarkan ilmu tentang peperangan dan adab-adabnya, dan mengajarkan pula sebab-sebab kemenangan yang kalau diterapkan tidak ada satupun musuh Islam yang sanggup berhadapan dengan kaum muslimin.Demikian pula, beliau shallallahu ‘alaihi was sallam menjelaskan tentang tipu daya setan dan pintu-pintunya sehingga umatnya pun bisa terlindungi dari keburukannya dengan mewaspadai tipu dayanya dan mennghindari pintu-pintunya.Rasulullah shallallahu ‘alaihi was sallam pun telah menjelaskan tentang jiwa manusia, serta sifat-sifatnya dengan sempurna sehingga umatnya tidaklah membutuhkan penjelasan selainnya.Beliau shallallahu ‘alaihi was sallam pun mengajarkan tentang pedoman hidup manusia yang jika manusia menerapkannya, niscaya akan lurus hidupnya. Kesimpulannya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi was sallam membawa ajaran kebaikan dunia dan akherat untuk umatnya dengan sempurna. Jadi, bagaimana mungkin muncul persangkaan bahwa agama Islam yang dibawa oleh beliau shallallahu ‘alaihi was sallam itu masih membutuhkan logika, analogi (qiyas), dan teori politik di luar Islam untuk menyempurnakan agama Islam?Barangsiapa yang menyangka demikian, maka kedudukannya seperti orang yang menyangka bahwa manusia membutuhkan rasul lain sepeninggal beliau shallallahu ‘alaihi was sallam. Dan faktor penyebab sangkaan yang salah itu adalah sedikitnya pemahaman orang yang menyangka tentang agama Islam yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi was sallam dan tidak banyak mengenal pemahaman para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi was sallam, yang mana para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi was sallam adalah orang-orang yang mencukupkan diri mereka dengan agama Islam yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi was sallam dan mereka tidak membutuhkan kepada ajaran agama selainnya, oleh karena itu mereka berhasil menjadi penyebab terbukanya hati manusia  dan terbukanya berbagai negeri di bawah kepemimpinan mereka.[Bersambung]Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id______🔍 Cara Shalat Rasulullah Yang Benar, Waktu Pembayaran Zakat Untuk Harta Dagangan Adalah, Islam On Line, Waktu Shalat Isyroq, Alasan Wanita Bercadar

Jangan Tuntut Ayah

Suatu kali ayahku mengajak ke pemakaman. Setelah sampai beliau sepertinya mencari-cari sesuatu. Lalu ayahku berkata, “Nak, lihat nisan dari batu bata kecil itu!! Yang dibawah pohon kamboja… Itu kuburan mbah putrimu.” Tunjuk bapakku “Suatu saat kuburan itu akan hilang karena kemiskinan, orang-orang kaya akan merusak kuburan dengan membuat batu kijing[1].” tambah bapakku.. Sementara aku cuma diam sambil melihat kuburan-kuburan berserakan didepan.. Aku tak lupa memegang lengan beliau yang kekar karena tiap hari bergulat dengan cangkul. Sesekali saya melihat jenggot dan matanya yang menatap jauh… jauh jauh.. seakan dia memikirkan apa yang akan terjadi dibalik batu nisan ini. Tiba-tiba suara bapakku muncul dari mimik bibirnya sembari melihatku, “Nak… kamu sudah baligh, kamu sudah bertanggung jawab dengan amalmu..”. “Bapak sudah berusaha mendidik kalian agar menunaikan kewajiban kepada Allah, terutama shalat” “Jangan sampai suatu saat kalian menjadi penghalang masuk surga orang tua, jika di yaumil hisab ketika kalian di tanya Allah tentang keadaan sholatmu… kalian mengatakan ‘saya belum diajari agama oleh orang tuaku’. Maka Allah akan meminta pertanggungjawaban kepada orang tua karena dia bertanggung jawab mendidik anaknya..” “Ingat Bapak sudah berusaha mendidik kalian, dan menyuruh menunaikan kewajiban kepada Allah… jika Bapakmu kelak tiada. Kalian-kalianlah kelak yang mendoakan bapak-ibumu.” [Abu Najmah Minanurrohman] Keterangan:  1. Ada hadis larangan membuat kijing pada kuburan. Dari sahabat Jabir bin Abdillah Radhiyallahu ‘anhu, نَهَى رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَنْ يُجَصَّصَ الْقَبْرُ وَأَنْ يُقْعَدَ عَلَيْهِ وَأَنْ يُبْنَى عَلَيْهِ “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang dari memberi semen pada kubur, duduk di atas kubur dan membuat bangunan di atas kubur.” (HR. Muslim no. 970) Disamping itu secara ekonomi, pemberian kijing syarat pemborosan. Karena area pemakaman umum akan penuh bangunan yang menyulitkan tempat pemakaman bagi orang yg meninggal esok hari.

Jangan Tuntut Ayah

Suatu kali ayahku mengajak ke pemakaman. Setelah sampai beliau sepertinya mencari-cari sesuatu. Lalu ayahku berkata, “Nak, lihat nisan dari batu bata kecil itu!! Yang dibawah pohon kamboja… Itu kuburan mbah putrimu.” Tunjuk bapakku “Suatu saat kuburan itu akan hilang karena kemiskinan, orang-orang kaya akan merusak kuburan dengan membuat batu kijing[1].” tambah bapakku.. Sementara aku cuma diam sambil melihat kuburan-kuburan berserakan didepan.. Aku tak lupa memegang lengan beliau yang kekar karena tiap hari bergulat dengan cangkul. Sesekali saya melihat jenggot dan matanya yang menatap jauh… jauh jauh.. seakan dia memikirkan apa yang akan terjadi dibalik batu nisan ini. Tiba-tiba suara bapakku muncul dari mimik bibirnya sembari melihatku, “Nak… kamu sudah baligh, kamu sudah bertanggung jawab dengan amalmu..”. “Bapak sudah berusaha mendidik kalian agar menunaikan kewajiban kepada Allah, terutama shalat” “Jangan sampai suatu saat kalian menjadi penghalang masuk surga orang tua, jika di yaumil hisab ketika kalian di tanya Allah tentang keadaan sholatmu… kalian mengatakan ‘saya belum diajari agama oleh orang tuaku’. Maka Allah akan meminta pertanggungjawaban kepada orang tua karena dia bertanggung jawab mendidik anaknya..” “Ingat Bapak sudah berusaha mendidik kalian, dan menyuruh menunaikan kewajiban kepada Allah… jika Bapakmu kelak tiada. Kalian-kalianlah kelak yang mendoakan bapak-ibumu.” [Abu Najmah Minanurrohman] Keterangan:  1. Ada hadis larangan membuat kijing pada kuburan. Dari sahabat Jabir bin Abdillah Radhiyallahu ‘anhu, نَهَى رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَنْ يُجَصَّصَ الْقَبْرُ وَأَنْ يُقْعَدَ عَلَيْهِ وَأَنْ يُبْنَى عَلَيْهِ “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang dari memberi semen pada kubur, duduk di atas kubur dan membuat bangunan di atas kubur.” (HR. Muslim no. 970) Disamping itu secara ekonomi, pemberian kijing syarat pemborosan. Karena area pemakaman umum akan penuh bangunan yang menyulitkan tempat pemakaman bagi orang yg meninggal esok hari.
Suatu kali ayahku mengajak ke pemakaman. Setelah sampai beliau sepertinya mencari-cari sesuatu. Lalu ayahku berkata, “Nak, lihat nisan dari batu bata kecil itu!! Yang dibawah pohon kamboja… Itu kuburan mbah putrimu.” Tunjuk bapakku “Suatu saat kuburan itu akan hilang karena kemiskinan, orang-orang kaya akan merusak kuburan dengan membuat batu kijing[1].” tambah bapakku.. Sementara aku cuma diam sambil melihat kuburan-kuburan berserakan didepan.. Aku tak lupa memegang lengan beliau yang kekar karena tiap hari bergulat dengan cangkul. Sesekali saya melihat jenggot dan matanya yang menatap jauh… jauh jauh.. seakan dia memikirkan apa yang akan terjadi dibalik batu nisan ini. Tiba-tiba suara bapakku muncul dari mimik bibirnya sembari melihatku, “Nak… kamu sudah baligh, kamu sudah bertanggung jawab dengan amalmu..”. “Bapak sudah berusaha mendidik kalian agar menunaikan kewajiban kepada Allah, terutama shalat” “Jangan sampai suatu saat kalian menjadi penghalang masuk surga orang tua, jika di yaumil hisab ketika kalian di tanya Allah tentang keadaan sholatmu… kalian mengatakan ‘saya belum diajari agama oleh orang tuaku’. Maka Allah akan meminta pertanggungjawaban kepada orang tua karena dia bertanggung jawab mendidik anaknya..” “Ingat Bapak sudah berusaha mendidik kalian, dan menyuruh menunaikan kewajiban kepada Allah… jika Bapakmu kelak tiada. Kalian-kalianlah kelak yang mendoakan bapak-ibumu.” [Abu Najmah Minanurrohman] Keterangan:  1. Ada hadis larangan membuat kijing pada kuburan. Dari sahabat Jabir bin Abdillah Radhiyallahu ‘anhu, نَهَى رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَنْ يُجَصَّصَ الْقَبْرُ وَأَنْ يُقْعَدَ عَلَيْهِ وَأَنْ يُبْنَى عَلَيْهِ “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang dari memberi semen pada kubur, duduk di atas kubur dan membuat bangunan di atas kubur.” (HR. Muslim no. 970) Disamping itu secara ekonomi, pemberian kijing syarat pemborosan. Karena area pemakaman umum akan penuh bangunan yang menyulitkan tempat pemakaman bagi orang yg meninggal esok hari.


Suatu kali ayahku mengajak ke pemakaman. Setelah sampai beliau sepertinya mencari-cari sesuatu. Lalu ayahku berkata, “Nak, lihat nisan dari batu bata kecil itu!! Yang dibawah pohon kamboja… Itu kuburan mbah putrimu.” Tunjuk bapakku “Suatu saat kuburan itu akan hilang karena kemiskinan, orang-orang kaya akan merusak kuburan dengan membuat batu kijing[1].” tambah bapakku.. Sementara aku cuma diam sambil melihat kuburan-kuburan berserakan didepan.. Aku tak lupa memegang lengan beliau yang kekar karena tiap hari bergulat dengan cangkul. Sesekali saya melihat jenggot dan matanya yang menatap jauh… jauh jauh.. seakan dia memikirkan apa yang akan terjadi dibalik batu nisan ini. Tiba-tiba suara bapakku muncul dari mimik bibirnya sembari melihatku, “Nak… kamu sudah baligh, kamu sudah bertanggung jawab dengan amalmu..”. “Bapak sudah berusaha mendidik kalian agar menunaikan kewajiban kepada Allah, terutama shalat” “Jangan sampai suatu saat kalian menjadi penghalang masuk surga orang tua, jika di yaumil hisab ketika kalian di tanya Allah tentang keadaan sholatmu… kalian mengatakan ‘saya belum diajari agama oleh orang tuaku’. Maka Allah akan meminta pertanggungjawaban kepada orang tua karena dia bertanggung jawab mendidik anaknya..” “Ingat Bapak sudah berusaha mendidik kalian, dan menyuruh menunaikan kewajiban kepada Allah… jika Bapakmu kelak tiada. Kalian-kalianlah kelak yang mendoakan bapak-ibumu.” [Abu Najmah Minanurrohman] Keterangan:  1. Ada hadis larangan membuat kijing pada kuburan. Dari sahabat Jabir bin Abdillah Radhiyallahu ‘anhu, نَهَى رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَنْ يُجَصَّصَ الْقَبْرُ وَأَنْ يُقْعَدَ عَلَيْهِ وَأَنْ يُبْنَى عَلَيْهِ “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang dari memberi semen pada kubur, duduk di atas kubur dan membuat bangunan di atas kubur.” (HR. Muslim no. 970) Disamping itu secara ekonomi, pemberian kijing syarat pemborosan. Karena area pemakaman umum akan penuh bangunan yang menyulitkan tempat pemakaman bagi orang yg meninggal esok hari.

Donasi Pembangunan Masjid Umar bin Khattab Pondok Pesantren Intan Ilmu

KAMI MEMBUKA LAHAN BERAMAL UNTUK ANDA!Hanya Dengan 300 RIBU RUPIAHDonasi Pemasangan Pondasi Tiang PancangDengan 300 ribu rupiah, Anda telah berpartisipasi untuk 1 meter tiang pancang Masjid Umar bin KhattabTotal biaya: Rp 3,1 MCaranya sebagai berikut: 1. Transfer ke nomor rekening Bank Mandiri: 031-00-10697186 an. Yayasan Intan Ilmu2. Konfirmasi via SMS/WA ke nomor 0811-511-3737 format: TIANGPANCANG#NAMA#DOMISILI#NOMINALcontoh: TIANGPANCANG#ABDULLAH#BANJARMASIN#300.000Barakallahu fiikum.Pembina Yayasan & Pesantren Intan Ilmu:Ust. Ahmad Zainuddin Al Banjary, LcUst. Khairullah Anwar Luthfi, LcUst. Ayman’t Abdillah, LcKetua Yayasan :Drs. Muchlis Ridha, MMPenasihat Hukum:Dr. H. Fikri S.H. Msi. M.HYayasan Intan IlmuIMB nomor: 503/644/1581-1588/KPT-BTL/2016Sekretariat:  Jl. Trans Kalimantan RT 09 No. 76 Handil Bakti, BatolaCall Center: 0811-511-3737www.intanilmu.or.idTempat Pondok Pesantren Intan Ilmu:https://goo.gl/maps/3NmZWM9o9bU2___Targhib:Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ بَنَى مَسْجِدًا لِلَّهِ كَمَفْحَصِ قَطَاةٍ أَوْ أَصْغَرَ بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِى الْجَنَّةِ“Siapa yang membangun masjid karena Allah walaupun hanya selubang tempat burung bertelur atau lebih kecil, maka Allah bangunkan baginya rumah di surga.” (HR. Ibnu Majah)

Donasi Pembangunan Masjid Umar bin Khattab Pondok Pesantren Intan Ilmu

KAMI MEMBUKA LAHAN BERAMAL UNTUK ANDA!Hanya Dengan 300 RIBU RUPIAHDonasi Pemasangan Pondasi Tiang PancangDengan 300 ribu rupiah, Anda telah berpartisipasi untuk 1 meter tiang pancang Masjid Umar bin KhattabTotal biaya: Rp 3,1 MCaranya sebagai berikut: 1. Transfer ke nomor rekening Bank Mandiri: 031-00-10697186 an. Yayasan Intan Ilmu2. Konfirmasi via SMS/WA ke nomor 0811-511-3737 format: TIANGPANCANG#NAMA#DOMISILI#NOMINALcontoh: TIANGPANCANG#ABDULLAH#BANJARMASIN#300.000Barakallahu fiikum.Pembina Yayasan & Pesantren Intan Ilmu:Ust. Ahmad Zainuddin Al Banjary, LcUst. Khairullah Anwar Luthfi, LcUst. Ayman’t Abdillah, LcKetua Yayasan :Drs. Muchlis Ridha, MMPenasihat Hukum:Dr. H. Fikri S.H. Msi. M.HYayasan Intan IlmuIMB nomor: 503/644/1581-1588/KPT-BTL/2016Sekretariat:  Jl. Trans Kalimantan RT 09 No. 76 Handil Bakti, BatolaCall Center: 0811-511-3737www.intanilmu.or.idTempat Pondok Pesantren Intan Ilmu:https://goo.gl/maps/3NmZWM9o9bU2___Targhib:Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ بَنَى مَسْجِدًا لِلَّهِ كَمَفْحَصِ قَطَاةٍ أَوْ أَصْغَرَ بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِى الْجَنَّةِ“Siapa yang membangun masjid karena Allah walaupun hanya selubang tempat burung bertelur atau lebih kecil, maka Allah bangunkan baginya rumah di surga.” (HR. Ibnu Majah)
KAMI MEMBUKA LAHAN BERAMAL UNTUK ANDA!Hanya Dengan 300 RIBU RUPIAHDonasi Pemasangan Pondasi Tiang PancangDengan 300 ribu rupiah, Anda telah berpartisipasi untuk 1 meter tiang pancang Masjid Umar bin KhattabTotal biaya: Rp 3,1 MCaranya sebagai berikut: 1. Transfer ke nomor rekening Bank Mandiri: 031-00-10697186 an. Yayasan Intan Ilmu2. Konfirmasi via SMS/WA ke nomor 0811-511-3737 format: TIANGPANCANG#NAMA#DOMISILI#NOMINALcontoh: TIANGPANCANG#ABDULLAH#BANJARMASIN#300.000Barakallahu fiikum.Pembina Yayasan & Pesantren Intan Ilmu:Ust. Ahmad Zainuddin Al Banjary, LcUst. Khairullah Anwar Luthfi, LcUst. Ayman’t Abdillah, LcKetua Yayasan :Drs. Muchlis Ridha, MMPenasihat Hukum:Dr. H. Fikri S.H. Msi. M.HYayasan Intan IlmuIMB nomor: 503/644/1581-1588/KPT-BTL/2016Sekretariat:  Jl. Trans Kalimantan RT 09 No. 76 Handil Bakti, BatolaCall Center: 0811-511-3737www.intanilmu.or.idTempat Pondok Pesantren Intan Ilmu:https://goo.gl/maps/3NmZWM9o9bU2___Targhib:Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ بَنَى مَسْجِدًا لِلَّهِ كَمَفْحَصِ قَطَاةٍ أَوْ أَصْغَرَ بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِى الْجَنَّةِ“Siapa yang membangun masjid karena Allah walaupun hanya selubang tempat burung bertelur atau lebih kecil, maka Allah bangunkan baginya rumah di surga.” (HR. Ibnu Majah)


KAMI MEMBUKA LAHAN BERAMAL UNTUK ANDA!Hanya Dengan 300 RIBU RUPIAHDonasi Pemasangan Pondasi Tiang PancangDengan 300 ribu rupiah, Anda telah berpartisipasi untuk 1 meter tiang pancang Masjid Umar bin KhattabTotal biaya: Rp 3,1 MCaranya sebagai berikut: 1. Transfer ke nomor rekening Bank Mandiri: 031-00-10697186 an. Yayasan Intan Ilmu2. Konfirmasi via SMS/WA ke nomor 0811-511-3737 format: TIANGPANCANG#NAMA#DOMISILI#NOMINALcontoh: TIANGPANCANG#ABDULLAH#BANJARMASIN#300.000Barakallahu fiikum.Pembina Yayasan & Pesantren Intan Ilmu:Ust. Ahmad Zainuddin Al Banjary, LcUst. Khairullah Anwar Luthfi, LcUst. Ayman’t Abdillah, LcKetua Yayasan :Drs. Muchlis Ridha, MMPenasihat Hukum:Dr. H. Fikri S.H. Msi. M.HYayasan Intan IlmuIMB nomor: 503/644/1581-1588/KPT-BTL/2016Sekretariat:  Jl. Trans Kalimantan RT 09 No. 76 Handil Bakti, BatolaCall Center: 0811-511-3737www.intanilmu.or.idTempat Pondok Pesantren Intan Ilmu:https://goo.gl/maps/3NmZWM9o9bU2___Targhib:Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ بَنَى مَسْجِدًا لِلَّهِ كَمَفْحَصِ قَطَاةٍ أَوْ أَصْغَرَ بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِى الْجَنَّةِ“Siapa yang membangun masjid karena Allah walaupun hanya selubang tempat burung bertelur atau lebih kecil, maka Allah bangunkan baginya rumah di surga.” (HR. Ibnu Majah)

Riba Akan Hancur, Sedekah Akan Subur

Ingatlah riba itu akan hancur. Sebaliknya, sedekah akan subur.   Renungan Bahaya Riba dari Surat Al-Baqarah ayat 276 يَمْحَقُ اللَّهُ الرِّبَا وَيُرْبِي الصَّدَقَاتِ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ كَفَّارٍ أَثِيمٍ “Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa.” (QS. Al-Baqarah: 276)   Syaikh As-Sa’di rahimahullah dalam Tafsir As-Sa’di, hlm. 109 menjelaskan bahwa harta riba itu akan sirna, bisa jadi secara kasatmata (dzatan) memang musnah atau secara maknawi (shifatan), berkah harta itu akan hilang. Bisa jadi Allah menimpakan berbagai musibah atau Allah cabut keberkahan pada hartanya. Kalau harta riba tersebut juga ia infakkan, tidak mendapatkan pahala, bahkan hanya menambah ia jatuh dalam jurang neraka. Syaikh As-Sa’di mengungkapkan lagi bahwa sedekah itulah yang akan membuat harta itu berkembang dan semakin bertambah berkah. Pahala dari orang yang bersedekah semakin bertambah. Karena ingatlah bahwa balasan itu sesuai dengan amalan. Harta riba bisa hancur dikarenakan ada tindakan zalim dan mengambil harta orang lain tanpa jalan yang benar. Dari Adh-Dhahak, dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata, “Allah menghancurkan riba maksudnya adalah sedekah, jihad, haji, dan shalat dari pelaku riba tidak diterima.” Sedangkan sedekah itu akan menyuburkan dan memberkahi harta di dunia dan melipatgandakan pahala dan ganjaran di akhirat. Dari ayat tersebut ditunjukkan bahwa riba itu haram karena Allah tidak suka bagi yang menghalalkannya dan pelakunya disebut terjerumus dalam dosa.  (Tafsir Al-Baghawi, 3: 302) Ibnu Katsir menyatakan bahwa ada kaitannya ayat 276 ditutup dengan “Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa”, yaitu pelaku riba tidak ridha dengan apa yang Allah halalkan. Ia tidak mau mencukupkan dengan yang mubah. Keinginannya adalah memakan harta orang lain dengan jalan yang batil dengan menempuh usaha yang kotor. Makanya ia disebut menentang nikmat Allah dan zalim lagi berdosa karena memakan harta orang lain dengan jalan yang batil.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 2: 285)   Wallahu waliyyut taufiq was sadaad. — Disusun di DS Panggang, Selasa, 3 Jumadal Ula 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagsriba sedekah

Riba Akan Hancur, Sedekah Akan Subur

Ingatlah riba itu akan hancur. Sebaliknya, sedekah akan subur.   Renungan Bahaya Riba dari Surat Al-Baqarah ayat 276 يَمْحَقُ اللَّهُ الرِّبَا وَيُرْبِي الصَّدَقَاتِ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ كَفَّارٍ أَثِيمٍ “Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa.” (QS. Al-Baqarah: 276)   Syaikh As-Sa’di rahimahullah dalam Tafsir As-Sa’di, hlm. 109 menjelaskan bahwa harta riba itu akan sirna, bisa jadi secara kasatmata (dzatan) memang musnah atau secara maknawi (shifatan), berkah harta itu akan hilang. Bisa jadi Allah menimpakan berbagai musibah atau Allah cabut keberkahan pada hartanya. Kalau harta riba tersebut juga ia infakkan, tidak mendapatkan pahala, bahkan hanya menambah ia jatuh dalam jurang neraka. Syaikh As-Sa’di mengungkapkan lagi bahwa sedekah itulah yang akan membuat harta itu berkembang dan semakin bertambah berkah. Pahala dari orang yang bersedekah semakin bertambah. Karena ingatlah bahwa balasan itu sesuai dengan amalan. Harta riba bisa hancur dikarenakan ada tindakan zalim dan mengambil harta orang lain tanpa jalan yang benar. Dari Adh-Dhahak, dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata, “Allah menghancurkan riba maksudnya adalah sedekah, jihad, haji, dan shalat dari pelaku riba tidak diterima.” Sedangkan sedekah itu akan menyuburkan dan memberkahi harta di dunia dan melipatgandakan pahala dan ganjaran di akhirat. Dari ayat tersebut ditunjukkan bahwa riba itu haram karena Allah tidak suka bagi yang menghalalkannya dan pelakunya disebut terjerumus dalam dosa.  (Tafsir Al-Baghawi, 3: 302) Ibnu Katsir menyatakan bahwa ada kaitannya ayat 276 ditutup dengan “Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa”, yaitu pelaku riba tidak ridha dengan apa yang Allah halalkan. Ia tidak mau mencukupkan dengan yang mubah. Keinginannya adalah memakan harta orang lain dengan jalan yang batil dengan menempuh usaha yang kotor. Makanya ia disebut menentang nikmat Allah dan zalim lagi berdosa karena memakan harta orang lain dengan jalan yang batil.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 2: 285)   Wallahu waliyyut taufiq was sadaad. — Disusun di DS Panggang, Selasa, 3 Jumadal Ula 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagsriba sedekah
Ingatlah riba itu akan hancur. Sebaliknya, sedekah akan subur.   Renungan Bahaya Riba dari Surat Al-Baqarah ayat 276 يَمْحَقُ اللَّهُ الرِّبَا وَيُرْبِي الصَّدَقَاتِ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ كَفَّارٍ أَثِيمٍ “Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa.” (QS. Al-Baqarah: 276)   Syaikh As-Sa’di rahimahullah dalam Tafsir As-Sa’di, hlm. 109 menjelaskan bahwa harta riba itu akan sirna, bisa jadi secara kasatmata (dzatan) memang musnah atau secara maknawi (shifatan), berkah harta itu akan hilang. Bisa jadi Allah menimpakan berbagai musibah atau Allah cabut keberkahan pada hartanya. Kalau harta riba tersebut juga ia infakkan, tidak mendapatkan pahala, bahkan hanya menambah ia jatuh dalam jurang neraka. Syaikh As-Sa’di mengungkapkan lagi bahwa sedekah itulah yang akan membuat harta itu berkembang dan semakin bertambah berkah. Pahala dari orang yang bersedekah semakin bertambah. Karena ingatlah bahwa balasan itu sesuai dengan amalan. Harta riba bisa hancur dikarenakan ada tindakan zalim dan mengambil harta orang lain tanpa jalan yang benar. Dari Adh-Dhahak, dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata, “Allah menghancurkan riba maksudnya adalah sedekah, jihad, haji, dan shalat dari pelaku riba tidak diterima.” Sedangkan sedekah itu akan menyuburkan dan memberkahi harta di dunia dan melipatgandakan pahala dan ganjaran di akhirat. Dari ayat tersebut ditunjukkan bahwa riba itu haram karena Allah tidak suka bagi yang menghalalkannya dan pelakunya disebut terjerumus dalam dosa.  (Tafsir Al-Baghawi, 3: 302) Ibnu Katsir menyatakan bahwa ada kaitannya ayat 276 ditutup dengan “Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa”, yaitu pelaku riba tidak ridha dengan apa yang Allah halalkan. Ia tidak mau mencukupkan dengan yang mubah. Keinginannya adalah memakan harta orang lain dengan jalan yang batil dengan menempuh usaha yang kotor. Makanya ia disebut menentang nikmat Allah dan zalim lagi berdosa karena memakan harta orang lain dengan jalan yang batil.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 2: 285)   Wallahu waliyyut taufiq was sadaad. — Disusun di DS Panggang, Selasa, 3 Jumadal Ula 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagsriba sedekah


Ingatlah riba itu akan hancur. Sebaliknya, sedekah akan subur.   Renungan Bahaya Riba dari Surat Al-Baqarah ayat 276 يَمْحَقُ اللَّهُ الرِّبَا وَيُرْبِي الصَّدَقَاتِ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ كَفَّارٍ أَثِيمٍ “Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa.” (QS. Al-Baqarah: 276)   Syaikh As-Sa’di rahimahullah dalam Tafsir As-Sa’di, hlm. 109 menjelaskan bahwa harta riba itu akan sirna, bisa jadi secara kasatmata (dzatan) memang musnah atau secara maknawi (shifatan), berkah harta itu akan hilang. Bisa jadi Allah menimpakan berbagai musibah atau Allah cabut keberkahan pada hartanya. Kalau harta riba tersebut juga ia infakkan, tidak mendapatkan pahala, bahkan hanya menambah ia jatuh dalam jurang neraka. Syaikh As-Sa’di mengungkapkan lagi bahwa sedekah itulah yang akan membuat harta itu berkembang dan semakin bertambah berkah. Pahala dari orang yang bersedekah semakin bertambah. Karena ingatlah bahwa balasan itu sesuai dengan amalan. Harta riba bisa hancur dikarenakan ada tindakan zalim dan mengambil harta orang lain tanpa jalan yang benar. Dari Adh-Dhahak, dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata, “Allah menghancurkan riba maksudnya adalah sedekah, jihad, haji, dan shalat dari pelaku riba tidak diterima.” Sedangkan sedekah itu akan menyuburkan dan memberkahi harta di dunia dan melipatgandakan pahala dan ganjaran di akhirat. Dari ayat tersebut ditunjukkan bahwa riba itu haram karena Allah tidak suka bagi yang menghalalkannya dan pelakunya disebut terjerumus dalam dosa.  (Tafsir Al-Baghawi, 3: 302) Ibnu Katsir menyatakan bahwa ada kaitannya ayat 276 ditutup dengan “Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa”, yaitu pelaku riba tidak ridha dengan apa yang Allah halalkan. Ia tidak mau mencukupkan dengan yang mubah. Keinginannya adalah memakan harta orang lain dengan jalan yang batil dengan menempuh usaha yang kotor. Makanya ia disebut menentang nikmat Allah dan zalim lagi berdosa karena memakan harta orang lain dengan jalan yang batil.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 2: 285)   Wallahu waliyyut taufiq was sadaad. — Disusun di DS Panggang, Selasa, 3 Jumadal Ula 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagsriba sedekah

Faedah Surat Yasin: Berapa Kali Tiupan Sangkakala pada Hari Kiamat?

Berapa kali tiupan sangkakala pada hari kiamat? Coba renungkan surat Yasin berikut. وَنُفِخَ فِي الصُّورِ فَإِذَا هُمْ مِنَ الْأَجْدَاثِ إِلَى رَبِّهِمْ يَنْسِلُونَ (51) قَالُوا يَا وَيْلَنَا مَنْ بَعَثَنَا مِنْ مَرْقَدِنَا هَذَا مَا وَعَدَ الرَّحْمَنُ وَصَدَقَ الْمُرْسَلُونَ (52) إِنْ كَانَتْ إِلَّا صَيْحَةً وَاحِدَةً فَإِذَا هُمْ جَمِيعٌ لَدَيْنَا مُحْضَرُونَ (53) فَالْيَوْمَ لَا تُظْلَمُ نَفْسٌ شَيْئًا وَلَا تُجْزَوْنَ إِلَّا مَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ (54) إِنَّ أَصْحَابَ الْجَنَّةِ الْيَوْمَ فِي شُغُلٍ فَاكِهُونَ (55) “Dan ditiuplah sangkalala, maka tiba-tiba mereka keluar dengan segera dari kuburnya (menuju) kepada Rabb mereka. Mereka berkata: “Aduhai celakalah kami! Siapakah yang membangkitkan kami dari tempat-tidur kami (kubur)?” Inilah yang dijanjikan (Rabb) Yang Maha Pemurah dan benarlah Rasul- rasul(Nya). Tidak adalah teriakan itu selain sekali teriakan saja, maka tiba- tiba mereka semua dikumpulkan kepada Kami. Maka pada hari itu seseorang tidak akan dirugikan sedikitpun dan kamu tidak dibalasi, kecuali dengan apa yang telah kamu kerjakan. Sesungguhnya penghuni syurga pada hari itu bersenang-senang dalam kesibukan (mereka).” (QS. Yasin: 52-55)   Kesimpulan Mutiara Ayat   Tiupan sangkakala yang pertama adalah seluruh makhluk dikagetkan dan dimatikan. Tiupan yang kedua seperti yang disebutkan dalam ayat yaitu seluruh makhluk dibangkitkan dari kuburnya, dengan segera menuju Rabb mereka. (Tafsir As-Sa’di, hlm. 739) Ibnu Katsir menyatakan bahwa tiupan sangkakala itu tiga kali. Pertama adalah tiupan untuk mengagetkan atau menakuti sehingga orang-orang yang berada di pasar dan yang sedang sibuk dengan urusan dunia pada berlarian sambil meneriakkan “yaa layta, yaa layta” (andai saja, andai saja), seperti diisyaratkan dalam surat Yasin ayat 49. Kedua adalah tiupan untuk mematikan. Ketiga adalah tiupan untuk membangkitkan makhluk dari kubur seperti yang disebut dalam surat Yasin ayat 51. (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 6: 345-346) Ahli tafsir mengatakan bahwa yang dimaksud dengan ayat 52 adalah orang kafir ketika dihadapkan pada Jahannam, maka yang mereka rasakan pada siksa kubur sebelumnya hanya seperti tidur. Makanya mereka katakan, “Aduhai celakalah kami! Siapakah yang membangkitkan kami dari tempat-tidur kami (kubur)?” (Tafsir Al-Baghawi, 23: 644) Bangkit dari kubur hanya satu kali tiupan saja lalu bangkitlah semua makhluk ketika itu dari orang yang terdahulu dan belakangan, kemudian akan dihisab amal-amal mereka. (Tafsir As-Sa’di, hlm. 739) Pada hari kiamat tidak mungkin ada yang dikurangi kebaikannya dan tidak mungkin lagi ditambah dosanya. Setiap orang akan dibalas sesuai dengan amal kebaikan dan kejelekan yang ia perbuat. Karenanya siapa yang mendapat kebaikan, pujilah Allah. Sebaliknya siapa yang mendapatkan kejelekan, janganlah ia salahkan kecuali dirinya sendiri. (Tafsir As-Sa’di, hlm. 739) Yang dimaksud penghuni surga dalam keadaan sibuk, kata Al-Hasan Al-Bashri, “Mereka sibuk menikmati kenikmatan yang ada di surga, sedangkan penduduk neraka sibuk dengan azab di neraka.” Ibnu Kisan mengatakan bahwa yang dimaksud adalah di surga mereka sibuk berziarah (berkunjung) satu dan lainnya. (Tafsir Al-Baghawi, 23: 644)   Semoga bermanfaat. Moga Allah memberikan ilmu yang bermanfaat. — Disusun di DS Panggang, Senin, 2 Jumadal Ula 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagsfaedah surat yasin hari kiamat sangkakala surat yasin tafsir surat yasin

Faedah Surat Yasin: Berapa Kali Tiupan Sangkakala pada Hari Kiamat?

Berapa kali tiupan sangkakala pada hari kiamat? Coba renungkan surat Yasin berikut. وَنُفِخَ فِي الصُّورِ فَإِذَا هُمْ مِنَ الْأَجْدَاثِ إِلَى رَبِّهِمْ يَنْسِلُونَ (51) قَالُوا يَا وَيْلَنَا مَنْ بَعَثَنَا مِنْ مَرْقَدِنَا هَذَا مَا وَعَدَ الرَّحْمَنُ وَصَدَقَ الْمُرْسَلُونَ (52) إِنْ كَانَتْ إِلَّا صَيْحَةً وَاحِدَةً فَإِذَا هُمْ جَمِيعٌ لَدَيْنَا مُحْضَرُونَ (53) فَالْيَوْمَ لَا تُظْلَمُ نَفْسٌ شَيْئًا وَلَا تُجْزَوْنَ إِلَّا مَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ (54) إِنَّ أَصْحَابَ الْجَنَّةِ الْيَوْمَ فِي شُغُلٍ فَاكِهُونَ (55) “Dan ditiuplah sangkalala, maka tiba-tiba mereka keluar dengan segera dari kuburnya (menuju) kepada Rabb mereka. Mereka berkata: “Aduhai celakalah kami! Siapakah yang membangkitkan kami dari tempat-tidur kami (kubur)?” Inilah yang dijanjikan (Rabb) Yang Maha Pemurah dan benarlah Rasul- rasul(Nya). Tidak adalah teriakan itu selain sekali teriakan saja, maka tiba- tiba mereka semua dikumpulkan kepada Kami. Maka pada hari itu seseorang tidak akan dirugikan sedikitpun dan kamu tidak dibalasi, kecuali dengan apa yang telah kamu kerjakan. Sesungguhnya penghuni syurga pada hari itu bersenang-senang dalam kesibukan (mereka).” (QS. Yasin: 52-55)   Kesimpulan Mutiara Ayat   Tiupan sangkakala yang pertama adalah seluruh makhluk dikagetkan dan dimatikan. Tiupan yang kedua seperti yang disebutkan dalam ayat yaitu seluruh makhluk dibangkitkan dari kuburnya, dengan segera menuju Rabb mereka. (Tafsir As-Sa’di, hlm. 739) Ibnu Katsir menyatakan bahwa tiupan sangkakala itu tiga kali. Pertama adalah tiupan untuk mengagetkan atau menakuti sehingga orang-orang yang berada di pasar dan yang sedang sibuk dengan urusan dunia pada berlarian sambil meneriakkan “yaa layta, yaa layta” (andai saja, andai saja), seperti diisyaratkan dalam surat Yasin ayat 49. Kedua adalah tiupan untuk mematikan. Ketiga adalah tiupan untuk membangkitkan makhluk dari kubur seperti yang disebut dalam surat Yasin ayat 51. (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 6: 345-346) Ahli tafsir mengatakan bahwa yang dimaksud dengan ayat 52 adalah orang kafir ketika dihadapkan pada Jahannam, maka yang mereka rasakan pada siksa kubur sebelumnya hanya seperti tidur. Makanya mereka katakan, “Aduhai celakalah kami! Siapakah yang membangkitkan kami dari tempat-tidur kami (kubur)?” (Tafsir Al-Baghawi, 23: 644) Bangkit dari kubur hanya satu kali tiupan saja lalu bangkitlah semua makhluk ketika itu dari orang yang terdahulu dan belakangan, kemudian akan dihisab amal-amal mereka. (Tafsir As-Sa’di, hlm. 739) Pada hari kiamat tidak mungkin ada yang dikurangi kebaikannya dan tidak mungkin lagi ditambah dosanya. Setiap orang akan dibalas sesuai dengan amal kebaikan dan kejelekan yang ia perbuat. Karenanya siapa yang mendapat kebaikan, pujilah Allah. Sebaliknya siapa yang mendapatkan kejelekan, janganlah ia salahkan kecuali dirinya sendiri. (Tafsir As-Sa’di, hlm. 739) Yang dimaksud penghuni surga dalam keadaan sibuk, kata Al-Hasan Al-Bashri, “Mereka sibuk menikmati kenikmatan yang ada di surga, sedangkan penduduk neraka sibuk dengan azab di neraka.” Ibnu Kisan mengatakan bahwa yang dimaksud adalah di surga mereka sibuk berziarah (berkunjung) satu dan lainnya. (Tafsir Al-Baghawi, 23: 644)   Semoga bermanfaat. Moga Allah memberikan ilmu yang bermanfaat. — Disusun di DS Panggang, Senin, 2 Jumadal Ula 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagsfaedah surat yasin hari kiamat sangkakala surat yasin tafsir surat yasin
Berapa kali tiupan sangkakala pada hari kiamat? Coba renungkan surat Yasin berikut. وَنُفِخَ فِي الصُّورِ فَإِذَا هُمْ مِنَ الْأَجْدَاثِ إِلَى رَبِّهِمْ يَنْسِلُونَ (51) قَالُوا يَا وَيْلَنَا مَنْ بَعَثَنَا مِنْ مَرْقَدِنَا هَذَا مَا وَعَدَ الرَّحْمَنُ وَصَدَقَ الْمُرْسَلُونَ (52) إِنْ كَانَتْ إِلَّا صَيْحَةً وَاحِدَةً فَإِذَا هُمْ جَمِيعٌ لَدَيْنَا مُحْضَرُونَ (53) فَالْيَوْمَ لَا تُظْلَمُ نَفْسٌ شَيْئًا وَلَا تُجْزَوْنَ إِلَّا مَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ (54) إِنَّ أَصْحَابَ الْجَنَّةِ الْيَوْمَ فِي شُغُلٍ فَاكِهُونَ (55) “Dan ditiuplah sangkalala, maka tiba-tiba mereka keluar dengan segera dari kuburnya (menuju) kepada Rabb mereka. Mereka berkata: “Aduhai celakalah kami! Siapakah yang membangkitkan kami dari tempat-tidur kami (kubur)?” Inilah yang dijanjikan (Rabb) Yang Maha Pemurah dan benarlah Rasul- rasul(Nya). Tidak adalah teriakan itu selain sekali teriakan saja, maka tiba- tiba mereka semua dikumpulkan kepada Kami. Maka pada hari itu seseorang tidak akan dirugikan sedikitpun dan kamu tidak dibalasi, kecuali dengan apa yang telah kamu kerjakan. Sesungguhnya penghuni syurga pada hari itu bersenang-senang dalam kesibukan (mereka).” (QS. Yasin: 52-55)   Kesimpulan Mutiara Ayat   Tiupan sangkakala yang pertama adalah seluruh makhluk dikagetkan dan dimatikan. Tiupan yang kedua seperti yang disebutkan dalam ayat yaitu seluruh makhluk dibangkitkan dari kuburnya, dengan segera menuju Rabb mereka. (Tafsir As-Sa’di, hlm. 739) Ibnu Katsir menyatakan bahwa tiupan sangkakala itu tiga kali. Pertama adalah tiupan untuk mengagetkan atau menakuti sehingga orang-orang yang berada di pasar dan yang sedang sibuk dengan urusan dunia pada berlarian sambil meneriakkan “yaa layta, yaa layta” (andai saja, andai saja), seperti diisyaratkan dalam surat Yasin ayat 49. Kedua adalah tiupan untuk mematikan. Ketiga adalah tiupan untuk membangkitkan makhluk dari kubur seperti yang disebut dalam surat Yasin ayat 51. (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 6: 345-346) Ahli tafsir mengatakan bahwa yang dimaksud dengan ayat 52 adalah orang kafir ketika dihadapkan pada Jahannam, maka yang mereka rasakan pada siksa kubur sebelumnya hanya seperti tidur. Makanya mereka katakan, “Aduhai celakalah kami! Siapakah yang membangkitkan kami dari tempat-tidur kami (kubur)?” (Tafsir Al-Baghawi, 23: 644) Bangkit dari kubur hanya satu kali tiupan saja lalu bangkitlah semua makhluk ketika itu dari orang yang terdahulu dan belakangan, kemudian akan dihisab amal-amal mereka. (Tafsir As-Sa’di, hlm. 739) Pada hari kiamat tidak mungkin ada yang dikurangi kebaikannya dan tidak mungkin lagi ditambah dosanya. Setiap orang akan dibalas sesuai dengan amal kebaikan dan kejelekan yang ia perbuat. Karenanya siapa yang mendapat kebaikan, pujilah Allah. Sebaliknya siapa yang mendapatkan kejelekan, janganlah ia salahkan kecuali dirinya sendiri. (Tafsir As-Sa’di, hlm. 739) Yang dimaksud penghuni surga dalam keadaan sibuk, kata Al-Hasan Al-Bashri, “Mereka sibuk menikmati kenikmatan yang ada di surga, sedangkan penduduk neraka sibuk dengan azab di neraka.” Ibnu Kisan mengatakan bahwa yang dimaksud adalah di surga mereka sibuk berziarah (berkunjung) satu dan lainnya. (Tafsir Al-Baghawi, 23: 644)   Semoga bermanfaat. Moga Allah memberikan ilmu yang bermanfaat. — Disusun di DS Panggang, Senin, 2 Jumadal Ula 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagsfaedah surat yasin hari kiamat sangkakala surat yasin tafsir surat yasin


Berapa kali tiupan sangkakala pada hari kiamat? Coba renungkan surat Yasin berikut. وَنُفِخَ فِي الصُّورِ فَإِذَا هُمْ مِنَ الْأَجْدَاثِ إِلَى رَبِّهِمْ يَنْسِلُونَ (51) قَالُوا يَا وَيْلَنَا مَنْ بَعَثَنَا مِنْ مَرْقَدِنَا هَذَا مَا وَعَدَ الرَّحْمَنُ وَصَدَقَ الْمُرْسَلُونَ (52) إِنْ كَانَتْ إِلَّا صَيْحَةً وَاحِدَةً فَإِذَا هُمْ جَمِيعٌ لَدَيْنَا مُحْضَرُونَ (53) فَالْيَوْمَ لَا تُظْلَمُ نَفْسٌ شَيْئًا وَلَا تُجْزَوْنَ إِلَّا مَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ (54) إِنَّ أَصْحَابَ الْجَنَّةِ الْيَوْمَ فِي شُغُلٍ فَاكِهُونَ (55) “Dan ditiuplah sangkalala, maka tiba-tiba mereka keluar dengan segera dari kuburnya (menuju) kepada Rabb mereka. Mereka berkata: “Aduhai celakalah kami! Siapakah yang membangkitkan kami dari tempat-tidur kami (kubur)?” Inilah yang dijanjikan (Rabb) Yang Maha Pemurah dan benarlah Rasul- rasul(Nya). Tidak adalah teriakan itu selain sekali teriakan saja, maka tiba- tiba mereka semua dikumpulkan kepada Kami. Maka pada hari itu seseorang tidak akan dirugikan sedikitpun dan kamu tidak dibalasi, kecuali dengan apa yang telah kamu kerjakan. Sesungguhnya penghuni syurga pada hari itu bersenang-senang dalam kesibukan (mereka).” (QS. Yasin: 52-55)   Kesimpulan Mutiara Ayat   Tiupan sangkakala yang pertama adalah seluruh makhluk dikagetkan dan dimatikan. Tiupan yang kedua seperti yang disebutkan dalam ayat yaitu seluruh makhluk dibangkitkan dari kuburnya, dengan segera menuju Rabb mereka. (Tafsir As-Sa’di, hlm. 739) Ibnu Katsir menyatakan bahwa tiupan sangkakala itu tiga kali. Pertama adalah tiupan untuk mengagetkan atau menakuti sehingga orang-orang yang berada di pasar dan yang sedang sibuk dengan urusan dunia pada berlarian sambil meneriakkan “yaa layta, yaa layta” (andai saja, andai saja), seperti diisyaratkan dalam surat Yasin ayat 49. Kedua adalah tiupan untuk mematikan. Ketiga adalah tiupan untuk membangkitkan makhluk dari kubur seperti yang disebut dalam surat Yasin ayat 51. (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 6: 345-346) Ahli tafsir mengatakan bahwa yang dimaksud dengan ayat 52 adalah orang kafir ketika dihadapkan pada Jahannam, maka yang mereka rasakan pada siksa kubur sebelumnya hanya seperti tidur. Makanya mereka katakan, “Aduhai celakalah kami! Siapakah yang membangkitkan kami dari tempat-tidur kami (kubur)?” (Tafsir Al-Baghawi, 23: 644) Bangkit dari kubur hanya satu kali tiupan saja lalu bangkitlah semua makhluk ketika itu dari orang yang terdahulu dan belakangan, kemudian akan dihisab amal-amal mereka. (Tafsir As-Sa’di, hlm. 739) Pada hari kiamat tidak mungkin ada yang dikurangi kebaikannya dan tidak mungkin lagi ditambah dosanya. Setiap orang akan dibalas sesuai dengan amal kebaikan dan kejelekan yang ia perbuat. Karenanya siapa yang mendapat kebaikan, pujilah Allah. Sebaliknya siapa yang mendapatkan kejelekan, janganlah ia salahkan kecuali dirinya sendiri. (Tafsir As-Sa’di, hlm. 739) Yang dimaksud penghuni surga dalam keadaan sibuk, kata Al-Hasan Al-Bashri, “Mereka sibuk menikmati kenikmatan yang ada di surga, sedangkan penduduk neraka sibuk dengan azab di neraka.” Ibnu Kisan mengatakan bahwa yang dimaksud adalah di surga mereka sibuk berziarah (berkunjung) satu dan lainnya. (Tafsir Al-Baghawi, 23: 644)   Semoga bermanfaat. Moga Allah memberikan ilmu yang bermanfaat. — Disusun di DS Panggang, Senin, 2 Jumadal Ula 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagsfaedah surat yasin hari kiamat sangkakala surat yasin tafsir surat yasin

Keindahan Islam (4)

Agama Islam merupakan agama yang sempurna dari segala sisi, tidak ada kekurangan, tidak ada kesalahan, dan tidak ada aib di dalam agama ini sedikitpun. Tidak ada satupun kebaikan yang dibutuhkan umat manusia kecuali Allah telah jelaskan dalam agama Islam dengan penjelasan yang sempurna, jelas, dan gamblang yang mampu dipahami oleh manusia.Demikian pula, dalam agama Islam ini tidak ada satupun dari keburukan yang membahayakan umat manusia kecuali Allah telah peringatkan manusia darinya. Hal ini adalah perkara yang ditetapkan dalam Alquran dan As-Sunnah dan disepakati oleh ulama kaum muslimin. Beberapa dalil berikut ini menjadi dasarnya:Firman Allah Ta’ala:مَا فَرَّطْنَا فِي الْكِتَابِ مِنْ شَيْءٍ“Tiadalah Kami alpakan sesuatupun dalam Al-Kitab” (QS. Al-An’aam: 38).وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَىٰ لِلْمُسْلِمِينَ“Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri” (QS. An-Nahl: 89).Firman Allah Ta’ala:وَكُلَّ شَيْءٍ فَصَّلْنَاهُ تَفْصِيلًا“Dan segala sesuatu telah Kami terangkan dengan jelas” (QS. Al-Israa’: 12).Dalam Dar`u Ta’arudhil ‘aqli wan naqli, Ibnu Taimiyyah rahimahullah setelah menyebutkan ayat-ayat Alquran yang menunjukkan bahwa Kitabullah menjelaskan seluruh petunjuk Allah yang dibutuhkan manusia, beliau mengatakan,ومثل هذا في القرآن كثير، مما يبين الله فيه أن كتابه مبيِّن للدين كله، موضح لسبيل الهدى، كافٍ لمن اتبعه، لا يحتاج معه إلى غيره يجب اتباعه دون اتباع غيره من السبل“Dan ayat-ayat yang seperti ini dalam Alquran banyak jumlahnya, yang mana Allah menjelaskan di dalamnya bahwa Kitab-Nya menjelaskan seluruh ajaran agama Islam ini, menjelaskan jalan petunjuk-Nya, mencukupi bagi orang yang mengikutinya dan ia tidaklah membutuhkan petunjuk selain Alquran serta wajib baginya mengikutinya dan tidak boleh mengikuti jalan-jalan selainnya.”Rasulullah shallallahu ‘alaihi was sallam bersabda,أيها الناس ! إنه ليس من شيء يقربكم من الجنة ويبعدكم من النار إلا قد أمرتكم به، وليس شيء يقربكم من النار ويبعدكم من الجنة إلا قد نهيتكم عنه“Wahai manusia, sesungguhnya tiada sesuatupun yang mendekatkan diri kalian ke surga dan menjauhkan diri kalian dari dari neraka kecuali telah aku perintahkan kalian melakukannya.Dan tidak ada sesuatupun yang mendekatkan diri kalian ke  neraka dan menjauhkan diri kalian dari dari surga kecuali telah aku larang kalian dari melakukannya”.(HR. Ibnu Abi Syaibah dan Abdur Razzaq dalam Mushannaf keduanya, Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman, dan selain mereka. Syaikh Al-Albani menshahihkannya As-Silsilah). Dan masih banyak dalil lainnya yang menunjukkan kesempurnaan agama Islam. Ajaran agama Islam merupakan ajaran yang menyeluruh. Islam mengandung petunjuk yang mencakup seluruh sisi kehidupan manusia, baik di dunia dan akhirat.Dalam Islam, terdapat petunjuk tentang aspek akidah, ibadah, mu’amalah, dan akhlak manusia, sebagaimana terdapat pula aturan tentang perekonomian, politik, sosial, budaya, dan keamanan. Sebagaimana terdapat pula aturan tentang individu, masyarakat, negara, maupun hubungan antar negara, serta seluruh sisi kehidupan lainnya. Dan semua petunjuk dan aturan dalam Islam merupakan ajaran yang sempurna dari segala sisi, dan tidak ada aib serta tiada pula kekurangan dari sisi manapun.[Bersambung]***Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id🔍 Kenapa Doa Tidak Terkabul, Ayat Ayat Tentang Riba, Kumpulan Hadits Shahih Tentang Akhlak, Pintu Harus Selalu Tertutup, Berita Islam Terupdate

Keindahan Islam (4)

Agama Islam merupakan agama yang sempurna dari segala sisi, tidak ada kekurangan, tidak ada kesalahan, dan tidak ada aib di dalam agama ini sedikitpun. Tidak ada satupun kebaikan yang dibutuhkan umat manusia kecuali Allah telah jelaskan dalam agama Islam dengan penjelasan yang sempurna, jelas, dan gamblang yang mampu dipahami oleh manusia.Demikian pula, dalam agama Islam ini tidak ada satupun dari keburukan yang membahayakan umat manusia kecuali Allah telah peringatkan manusia darinya. Hal ini adalah perkara yang ditetapkan dalam Alquran dan As-Sunnah dan disepakati oleh ulama kaum muslimin. Beberapa dalil berikut ini menjadi dasarnya:Firman Allah Ta’ala:مَا فَرَّطْنَا فِي الْكِتَابِ مِنْ شَيْءٍ“Tiadalah Kami alpakan sesuatupun dalam Al-Kitab” (QS. Al-An’aam: 38).وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَىٰ لِلْمُسْلِمِينَ“Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri” (QS. An-Nahl: 89).Firman Allah Ta’ala:وَكُلَّ شَيْءٍ فَصَّلْنَاهُ تَفْصِيلًا“Dan segala sesuatu telah Kami terangkan dengan jelas” (QS. Al-Israa’: 12).Dalam Dar`u Ta’arudhil ‘aqli wan naqli, Ibnu Taimiyyah rahimahullah setelah menyebutkan ayat-ayat Alquran yang menunjukkan bahwa Kitabullah menjelaskan seluruh petunjuk Allah yang dibutuhkan manusia, beliau mengatakan,ومثل هذا في القرآن كثير، مما يبين الله فيه أن كتابه مبيِّن للدين كله، موضح لسبيل الهدى، كافٍ لمن اتبعه، لا يحتاج معه إلى غيره يجب اتباعه دون اتباع غيره من السبل“Dan ayat-ayat yang seperti ini dalam Alquran banyak jumlahnya, yang mana Allah menjelaskan di dalamnya bahwa Kitab-Nya menjelaskan seluruh ajaran agama Islam ini, menjelaskan jalan petunjuk-Nya, mencukupi bagi orang yang mengikutinya dan ia tidaklah membutuhkan petunjuk selain Alquran serta wajib baginya mengikutinya dan tidak boleh mengikuti jalan-jalan selainnya.”Rasulullah shallallahu ‘alaihi was sallam bersabda,أيها الناس ! إنه ليس من شيء يقربكم من الجنة ويبعدكم من النار إلا قد أمرتكم به، وليس شيء يقربكم من النار ويبعدكم من الجنة إلا قد نهيتكم عنه“Wahai manusia, sesungguhnya tiada sesuatupun yang mendekatkan diri kalian ke surga dan menjauhkan diri kalian dari dari neraka kecuali telah aku perintahkan kalian melakukannya.Dan tidak ada sesuatupun yang mendekatkan diri kalian ke  neraka dan menjauhkan diri kalian dari dari surga kecuali telah aku larang kalian dari melakukannya”.(HR. Ibnu Abi Syaibah dan Abdur Razzaq dalam Mushannaf keduanya, Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman, dan selain mereka. Syaikh Al-Albani menshahihkannya As-Silsilah). Dan masih banyak dalil lainnya yang menunjukkan kesempurnaan agama Islam. Ajaran agama Islam merupakan ajaran yang menyeluruh. Islam mengandung petunjuk yang mencakup seluruh sisi kehidupan manusia, baik di dunia dan akhirat.Dalam Islam, terdapat petunjuk tentang aspek akidah, ibadah, mu’amalah, dan akhlak manusia, sebagaimana terdapat pula aturan tentang perekonomian, politik, sosial, budaya, dan keamanan. Sebagaimana terdapat pula aturan tentang individu, masyarakat, negara, maupun hubungan antar negara, serta seluruh sisi kehidupan lainnya. Dan semua petunjuk dan aturan dalam Islam merupakan ajaran yang sempurna dari segala sisi, dan tidak ada aib serta tiada pula kekurangan dari sisi manapun.[Bersambung]***Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id🔍 Kenapa Doa Tidak Terkabul, Ayat Ayat Tentang Riba, Kumpulan Hadits Shahih Tentang Akhlak, Pintu Harus Selalu Tertutup, Berita Islam Terupdate
Agama Islam merupakan agama yang sempurna dari segala sisi, tidak ada kekurangan, tidak ada kesalahan, dan tidak ada aib di dalam agama ini sedikitpun. Tidak ada satupun kebaikan yang dibutuhkan umat manusia kecuali Allah telah jelaskan dalam agama Islam dengan penjelasan yang sempurna, jelas, dan gamblang yang mampu dipahami oleh manusia.Demikian pula, dalam agama Islam ini tidak ada satupun dari keburukan yang membahayakan umat manusia kecuali Allah telah peringatkan manusia darinya. Hal ini adalah perkara yang ditetapkan dalam Alquran dan As-Sunnah dan disepakati oleh ulama kaum muslimin. Beberapa dalil berikut ini menjadi dasarnya:Firman Allah Ta’ala:مَا فَرَّطْنَا فِي الْكِتَابِ مِنْ شَيْءٍ“Tiadalah Kami alpakan sesuatupun dalam Al-Kitab” (QS. Al-An’aam: 38).وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَىٰ لِلْمُسْلِمِينَ“Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri” (QS. An-Nahl: 89).Firman Allah Ta’ala:وَكُلَّ شَيْءٍ فَصَّلْنَاهُ تَفْصِيلًا“Dan segala sesuatu telah Kami terangkan dengan jelas” (QS. Al-Israa’: 12).Dalam Dar`u Ta’arudhil ‘aqli wan naqli, Ibnu Taimiyyah rahimahullah setelah menyebutkan ayat-ayat Alquran yang menunjukkan bahwa Kitabullah menjelaskan seluruh petunjuk Allah yang dibutuhkan manusia, beliau mengatakan,ومثل هذا في القرآن كثير، مما يبين الله فيه أن كتابه مبيِّن للدين كله، موضح لسبيل الهدى، كافٍ لمن اتبعه، لا يحتاج معه إلى غيره يجب اتباعه دون اتباع غيره من السبل“Dan ayat-ayat yang seperti ini dalam Alquran banyak jumlahnya, yang mana Allah menjelaskan di dalamnya bahwa Kitab-Nya menjelaskan seluruh ajaran agama Islam ini, menjelaskan jalan petunjuk-Nya, mencukupi bagi orang yang mengikutinya dan ia tidaklah membutuhkan petunjuk selain Alquran serta wajib baginya mengikutinya dan tidak boleh mengikuti jalan-jalan selainnya.”Rasulullah shallallahu ‘alaihi was sallam bersabda,أيها الناس ! إنه ليس من شيء يقربكم من الجنة ويبعدكم من النار إلا قد أمرتكم به، وليس شيء يقربكم من النار ويبعدكم من الجنة إلا قد نهيتكم عنه“Wahai manusia, sesungguhnya tiada sesuatupun yang mendekatkan diri kalian ke surga dan menjauhkan diri kalian dari dari neraka kecuali telah aku perintahkan kalian melakukannya.Dan tidak ada sesuatupun yang mendekatkan diri kalian ke  neraka dan menjauhkan diri kalian dari dari surga kecuali telah aku larang kalian dari melakukannya”.(HR. Ibnu Abi Syaibah dan Abdur Razzaq dalam Mushannaf keduanya, Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman, dan selain mereka. Syaikh Al-Albani menshahihkannya As-Silsilah). Dan masih banyak dalil lainnya yang menunjukkan kesempurnaan agama Islam. Ajaran agama Islam merupakan ajaran yang menyeluruh. Islam mengandung petunjuk yang mencakup seluruh sisi kehidupan manusia, baik di dunia dan akhirat.Dalam Islam, terdapat petunjuk tentang aspek akidah, ibadah, mu’amalah, dan akhlak manusia, sebagaimana terdapat pula aturan tentang perekonomian, politik, sosial, budaya, dan keamanan. Sebagaimana terdapat pula aturan tentang individu, masyarakat, negara, maupun hubungan antar negara, serta seluruh sisi kehidupan lainnya. Dan semua petunjuk dan aturan dalam Islam merupakan ajaran yang sempurna dari segala sisi, dan tidak ada aib serta tiada pula kekurangan dari sisi manapun.[Bersambung]***Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id🔍 Kenapa Doa Tidak Terkabul, Ayat Ayat Tentang Riba, Kumpulan Hadits Shahih Tentang Akhlak, Pintu Harus Selalu Tertutup, Berita Islam Terupdate


Agama Islam merupakan agama yang sempurna dari segala sisi, tidak ada kekurangan, tidak ada kesalahan, dan tidak ada aib di dalam agama ini sedikitpun. Tidak ada satupun kebaikan yang dibutuhkan umat manusia kecuali Allah telah jelaskan dalam agama Islam dengan penjelasan yang sempurna, jelas, dan gamblang yang mampu dipahami oleh manusia.Demikian pula, dalam agama Islam ini tidak ada satupun dari keburukan yang membahayakan umat manusia kecuali Allah telah peringatkan manusia darinya. Hal ini adalah perkara yang ditetapkan dalam Alquran dan As-Sunnah dan disepakati oleh ulama kaum muslimin. Beberapa dalil berikut ini menjadi dasarnya:Firman Allah Ta’ala:مَا فَرَّطْنَا فِي الْكِتَابِ مِنْ شَيْءٍ“Tiadalah Kami alpakan sesuatupun dalam Al-Kitab” (QS. Al-An’aam: 38).وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَىٰ لِلْمُسْلِمِينَ“Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri” (QS. An-Nahl: 89).Firman Allah Ta’ala:وَكُلَّ شَيْءٍ فَصَّلْنَاهُ تَفْصِيلًا“Dan segala sesuatu telah Kami terangkan dengan jelas” (QS. Al-Israa’: 12).Dalam Dar`u Ta’arudhil ‘aqli wan naqli, Ibnu Taimiyyah rahimahullah setelah menyebutkan ayat-ayat Alquran yang menunjukkan bahwa Kitabullah menjelaskan seluruh petunjuk Allah yang dibutuhkan manusia, beliau mengatakan,ومثل هذا في القرآن كثير، مما يبين الله فيه أن كتابه مبيِّن للدين كله، موضح لسبيل الهدى، كافٍ لمن اتبعه، لا يحتاج معه إلى غيره يجب اتباعه دون اتباع غيره من السبل“Dan ayat-ayat yang seperti ini dalam Alquran banyak jumlahnya, yang mana Allah menjelaskan di dalamnya bahwa Kitab-Nya menjelaskan seluruh ajaran agama Islam ini, menjelaskan jalan petunjuk-Nya, mencukupi bagi orang yang mengikutinya dan ia tidaklah membutuhkan petunjuk selain Alquran serta wajib baginya mengikutinya dan tidak boleh mengikuti jalan-jalan selainnya.”Rasulullah shallallahu ‘alaihi was sallam bersabda,أيها الناس ! إنه ليس من شيء يقربكم من الجنة ويبعدكم من النار إلا قد أمرتكم به، وليس شيء يقربكم من النار ويبعدكم من الجنة إلا قد نهيتكم عنه“Wahai manusia, sesungguhnya tiada sesuatupun yang mendekatkan diri kalian ke surga dan menjauhkan diri kalian dari dari neraka kecuali telah aku perintahkan kalian melakukannya.Dan tidak ada sesuatupun yang mendekatkan diri kalian ke  neraka dan menjauhkan diri kalian dari dari surga kecuali telah aku larang kalian dari melakukannya”.(HR. Ibnu Abi Syaibah dan Abdur Razzaq dalam Mushannaf keduanya, Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman, dan selain mereka. Syaikh Al-Albani menshahihkannya As-Silsilah). Dan masih banyak dalil lainnya yang menunjukkan kesempurnaan agama Islam. Ajaran agama Islam merupakan ajaran yang menyeluruh. Islam mengandung petunjuk yang mencakup seluruh sisi kehidupan manusia, baik di dunia dan akhirat.Dalam Islam, terdapat petunjuk tentang aspek akidah, ibadah, mu’amalah, dan akhlak manusia, sebagaimana terdapat pula aturan tentang perekonomian, politik, sosial, budaya, dan keamanan. Sebagaimana terdapat pula aturan tentang individu, masyarakat, negara, maupun hubungan antar negara, serta seluruh sisi kehidupan lainnya. Dan semua petunjuk dan aturan dalam Islam merupakan ajaran yang sempurna dari segala sisi, dan tidak ada aib serta tiada pula kekurangan dari sisi manapun.[Bersambung]***Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id🔍 Kenapa Doa Tidak Terkabul, Ayat Ayat Tentang Riba, Kumpulan Hadits Shahih Tentang Akhlak, Pintu Harus Selalu Tertutup, Berita Islam Terupdate

Keindahan Islam (1)

Bismillahi wal hamdullillahi wahdahu wash shalatu was salamu ‘ala man la nabiyya ba’dahu, amma ba’du.Alhamdulillah, segala puji hanya bagi Allah yang meridahi agama Islam untuk umat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Segala puji hanya bagi Allah yang menjadikan syari’at yang dibawa oleh beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai penutup syari’at Allah dan menjadi syari’at yang paling sempurna serta dibawa oleh utusan-Nya yang paling mulia, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.Keindahan Islam adalah suatu tema yang sangat menyejukkan jiwa orang-orang yang berhati hanif dan melapangkan dada orang-orang yang berfitrah lurus. Betapa tidak, dengan mengetahui keindahan Islam, seorang muslim semakin paham tentang agama yang dianutnya, dan semakin mantap dalam beragama Islam. Dengan dijelaskan tentang keindahan Islam, seorang non muslim pun akan terdakwahi dan syubhat merekapun akan terbantah.Perkara-perkara inilah yang disebut oleh Markaz Qatar litta’rif bilIslam –dalam kitabnya berjudul: At-Ta’rif bil Islam– sebagai hal yang merupakan urgensi mengenal keindahan Islam. Disebutkan di dalam kitab tersebut, bahwa urgensi mengenal keindahan Islam itu terbagi menjadi tiga sisi faedah besar, yaitu:Sisi Pemeliharaan: Menguatkan Keimanan Seorang MuslimMengenal keindahan Islam mendorong seorang muslim untuk mengetahui agamanya, semakin mengenal keistimewaan, dan keagungan agamanya, sehingga menguatlah keimanannya dan bertambah kuat iltizamnya dengan agama Islam.Sisi Pencegahan: Membentengi Diri dari Serangan SyubhatSesungguhnya mengenal keindahan Islam merupakan bekal dan senjata bagi seorang muslim dalam menghadapi syubhat yang dilontarkan oleh musuh-musuh Islam. Seorang muslim yang paham tentang keindahan Islam diharapkan akan mudah mengetahui kedustaan dan keburukan syubhat yang merusak keimanannya dan mampu membentengi diri dari bahayanya.Sisi Dakwah: Metode yang Sangat Indah dalam BerdakwahSalah satu metode terbaik dalam menjelaskan Islam kepada orang-orang dan mengajak mereka melaksanakan agama Islam adalah dengan mengenalkan keindahan Islam yang sangat banyak kepada mereka. Hal ini, bukan hanya bermanfaat bagi keimanan seorang muslim, namun juga akan mendorong non muslim tertarik mengenal agama Islam dengan baik serta mengetahui keindahan dan kekokohan dasar-dasar agama Islam ini.Islam Adalah Satu-Satunya Agama yang Diridhoi Oleh Allah Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ“Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam” (QS. Ali Imraan:19).Ibnu Katsir rahimahullah berkata,إخبار من الله تعالى بأنه لا دين عنده يقبله من أحد سوى الإسلام ، وهو اتباع الرسل فيما بعثهم الله به في كل حين ، حتى ختموا بمحمد صلى الله عليه وسلم ، الذي سد جميع الطرق إليه إلا من جهة محمد صلى الله عليه وسلم ، فمن لقي الله بعد بعثته محمدا صلى الله عليه وسلم بدين على غير شريعته ، فليس بمتقبل .“(Dalam ayat ini terdapat) kabar dari Allah Ta’ala bahwa tidak ada agama di sisi-Nya yang Allah terima dari seseorang selain Islam, yaitu mengikuti para rasul dalam perkara yang Allah utus mereka dengannya dalam setiap waktu hingga ditutup dengan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah menutup seluruh jalan menuju kepada-Nya kecuali dari jalur Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka barangsiapa yang berjumpa dengan Allah setelah Allah mengutus Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam membawa agama Islam, dalam keadaan ia beragama dengan agama selainnya, maka agamanya tersebut tidaklah diterima.”[Bersambung]***Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id🔍 Kitab Ilmu Tauhid, Doa Dijauhkan Dari Orang Zalim, Keutamaan Shalat Tahiyatul Masjid, Islam Wahabi, Tanaman Yang Dilarang Dalam Islam

Keindahan Islam (1)

Bismillahi wal hamdullillahi wahdahu wash shalatu was salamu ‘ala man la nabiyya ba’dahu, amma ba’du.Alhamdulillah, segala puji hanya bagi Allah yang meridahi agama Islam untuk umat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Segala puji hanya bagi Allah yang menjadikan syari’at yang dibawa oleh beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai penutup syari’at Allah dan menjadi syari’at yang paling sempurna serta dibawa oleh utusan-Nya yang paling mulia, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.Keindahan Islam adalah suatu tema yang sangat menyejukkan jiwa orang-orang yang berhati hanif dan melapangkan dada orang-orang yang berfitrah lurus. Betapa tidak, dengan mengetahui keindahan Islam, seorang muslim semakin paham tentang agama yang dianutnya, dan semakin mantap dalam beragama Islam. Dengan dijelaskan tentang keindahan Islam, seorang non muslim pun akan terdakwahi dan syubhat merekapun akan terbantah.Perkara-perkara inilah yang disebut oleh Markaz Qatar litta’rif bilIslam –dalam kitabnya berjudul: At-Ta’rif bil Islam– sebagai hal yang merupakan urgensi mengenal keindahan Islam. Disebutkan di dalam kitab tersebut, bahwa urgensi mengenal keindahan Islam itu terbagi menjadi tiga sisi faedah besar, yaitu:Sisi Pemeliharaan: Menguatkan Keimanan Seorang MuslimMengenal keindahan Islam mendorong seorang muslim untuk mengetahui agamanya, semakin mengenal keistimewaan, dan keagungan agamanya, sehingga menguatlah keimanannya dan bertambah kuat iltizamnya dengan agama Islam.Sisi Pencegahan: Membentengi Diri dari Serangan SyubhatSesungguhnya mengenal keindahan Islam merupakan bekal dan senjata bagi seorang muslim dalam menghadapi syubhat yang dilontarkan oleh musuh-musuh Islam. Seorang muslim yang paham tentang keindahan Islam diharapkan akan mudah mengetahui kedustaan dan keburukan syubhat yang merusak keimanannya dan mampu membentengi diri dari bahayanya.Sisi Dakwah: Metode yang Sangat Indah dalam BerdakwahSalah satu metode terbaik dalam menjelaskan Islam kepada orang-orang dan mengajak mereka melaksanakan agama Islam adalah dengan mengenalkan keindahan Islam yang sangat banyak kepada mereka. Hal ini, bukan hanya bermanfaat bagi keimanan seorang muslim, namun juga akan mendorong non muslim tertarik mengenal agama Islam dengan baik serta mengetahui keindahan dan kekokohan dasar-dasar agama Islam ini.Islam Adalah Satu-Satunya Agama yang Diridhoi Oleh Allah Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ“Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam” (QS. Ali Imraan:19).Ibnu Katsir rahimahullah berkata,إخبار من الله تعالى بأنه لا دين عنده يقبله من أحد سوى الإسلام ، وهو اتباع الرسل فيما بعثهم الله به في كل حين ، حتى ختموا بمحمد صلى الله عليه وسلم ، الذي سد جميع الطرق إليه إلا من جهة محمد صلى الله عليه وسلم ، فمن لقي الله بعد بعثته محمدا صلى الله عليه وسلم بدين على غير شريعته ، فليس بمتقبل .“(Dalam ayat ini terdapat) kabar dari Allah Ta’ala bahwa tidak ada agama di sisi-Nya yang Allah terima dari seseorang selain Islam, yaitu mengikuti para rasul dalam perkara yang Allah utus mereka dengannya dalam setiap waktu hingga ditutup dengan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah menutup seluruh jalan menuju kepada-Nya kecuali dari jalur Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka barangsiapa yang berjumpa dengan Allah setelah Allah mengutus Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam membawa agama Islam, dalam keadaan ia beragama dengan agama selainnya, maka agamanya tersebut tidaklah diterima.”[Bersambung]***Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id🔍 Kitab Ilmu Tauhid, Doa Dijauhkan Dari Orang Zalim, Keutamaan Shalat Tahiyatul Masjid, Islam Wahabi, Tanaman Yang Dilarang Dalam Islam
Bismillahi wal hamdullillahi wahdahu wash shalatu was salamu ‘ala man la nabiyya ba’dahu, amma ba’du.Alhamdulillah, segala puji hanya bagi Allah yang meridahi agama Islam untuk umat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Segala puji hanya bagi Allah yang menjadikan syari’at yang dibawa oleh beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai penutup syari’at Allah dan menjadi syari’at yang paling sempurna serta dibawa oleh utusan-Nya yang paling mulia, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.Keindahan Islam adalah suatu tema yang sangat menyejukkan jiwa orang-orang yang berhati hanif dan melapangkan dada orang-orang yang berfitrah lurus. Betapa tidak, dengan mengetahui keindahan Islam, seorang muslim semakin paham tentang agama yang dianutnya, dan semakin mantap dalam beragama Islam. Dengan dijelaskan tentang keindahan Islam, seorang non muslim pun akan terdakwahi dan syubhat merekapun akan terbantah.Perkara-perkara inilah yang disebut oleh Markaz Qatar litta’rif bilIslam –dalam kitabnya berjudul: At-Ta’rif bil Islam– sebagai hal yang merupakan urgensi mengenal keindahan Islam. Disebutkan di dalam kitab tersebut, bahwa urgensi mengenal keindahan Islam itu terbagi menjadi tiga sisi faedah besar, yaitu:Sisi Pemeliharaan: Menguatkan Keimanan Seorang MuslimMengenal keindahan Islam mendorong seorang muslim untuk mengetahui agamanya, semakin mengenal keistimewaan, dan keagungan agamanya, sehingga menguatlah keimanannya dan bertambah kuat iltizamnya dengan agama Islam.Sisi Pencegahan: Membentengi Diri dari Serangan SyubhatSesungguhnya mengenal keindahan Islam merupakan bekal dan senjata bagi seorang muslim dalam menghadapi syubhat yang dilontarkan oleh musuh-musuh Islam. Seorang muslim yang paham tentang keindahan Islam diharapkan akan mudah mengetahui kedustaan dan keburukan syubhat yang merusak keimanannya dan mampu membentengi diri dari bahayanya.Sisi Dakwah: Metode yang Sangat Indah dalam BerdakwahSalah satu metode terbaik dalam menjelaskan Islam kepada orang-orang dan mengajak mereka melaksanakan agama Islam adalah dengan mengenalkan keindahan Islam yang sangat banyak kepada mereka. Hal ini, bukan hanya bermanfaat bagi keimanan seorang muslim, namun juga akan mendorong non muslim tertarik mengenal agama Islam dengan baik serta mengetahui keindahan dan kekokohan dasar-dasar agama Islam ini.Islam Adalah Satu-Satunya Agama yang Diridhoi Oleh Allah Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ“Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam” (QS. Ali Imraan:19).Ibnu Katsir rahimahullah berkata,إخبار من الله تعالى بأنه لا دين عنده يقبله من أحد سوى الإسلام ، وهو اتباع الرسل فيما بعثهم الله به في كل حين ، حتى ختموا بمحمد صلى الله عليه وسلم ، الذي سد جميع الطرق إليه إلا من جهة محمد صلى الله عليه وسلم ، فمن لقي الله بعد بعثته محمدا صلى الله عليه وسلم بدين على غير شريعته ، فليس بمتقبل .“(Dalam ayat ini terdapat) kabar dari Allah Ta’ala bahwa tidak ada agama di sisi-Nya yang Allah terima dari seseorang selain Islam, yaitu mengikuti para rasul dalam perkara yang Allah utus mereka dengannya dalam setiap waktu hingga ditutup dengan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah menutup seluruh jalan menuju kepada-Nya kecuali dari jalur Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka barangsiapa yang berjumpa dengan Allah setelah Allah mengutus Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam membawa agama Islam, dalam keadaan ia beragama dengan agama selainnya, maka agamanya tersebut tidaklah diterima.”[Bersambung]***Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id🔍 Kitab Ilmu Tauhid, Doa Dijauhkan Dari Orang Zalim, Keutamaan Shalat Tahiyatul Masjid, Islam Wahabi, Tanaman Yang Dilarang Dalam Islam


Bismillahi wal hamdullillahi wahdahu wash shalatu was salamu ‘ala man la nabiyya ba’dahu, amma ba’du.Alhamdulillah, segala puji hanya bagi Allah yang meridahi agama Islam untuk umat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Segala puji hanya bagi Allah yang menjadikan syari’at yang dibawa oleh beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai penutup syari’at Allah dan menjadi syari’at yang paling sempurna serta dibawa oleh utusan-Nya yang paling mulia, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.Keindahan Islam adalah suatu tema yang sangat menyejukkan jiwa orang-orang yang berhati hanif dan melapangkan dada orang-orang yang berfitrah lurus. Betapa tidak, dengan mengetahui keindahan Islam, seorang muslim semakin paham tentang agama yang dianutnya, dan semakin mantap dalam beragama Islam. Dengan dijelaskan tentang keindahan Islam, seorang non muslim pun akan terdakwahi dan syubhat merekapun akan terbantah.Perkara-perkara inilah yang disebut oleh Markaz Qatar litta’rif bilIslam –dalam kitabnya berjudul: At-Ta’rif bil Islam– sebagai hal yang merupakan urgensi mengenal keindahan Islam. Disebutkan di dalam kitab tersebut, bahwa urgensi mengenal keindahan Islam itu terbagi menjadi tiga sisi faedah besar, yaitu:Sisi Pemeliharaan: Menguatkan Keimanan Seorang MuslimMengenal keindahan Islam mendorong seorang muslim untuk mengetahui agamanya, semakin mengenal keistimewaan, dan keagungan agamanya, sehingga menguatlah keimanannya dan bertambah kuat iltizamnya dengan agama Islam.Sisi Pencegahan: Membentengi Diri dari Serangan SyubhatSesungguhnya mengenal keindahan Islam merupakan bekal dan senjata bagi seorang muslim dalam menghadapi syubhat yang dilontarkan oleh musuh-musuh Islam. Seorang muslim yang paham tentang keindahan Islam diharapkan akan mudah mengetahui kedustaan dan keburukan syubhat yang merusak keimanannya dan mampu membentengi diri dari bahayanya.Sisi Dakwah: Metode yang Sangat Indah dalam BerdakwahSalah satu metode terbaik dalam menjelaskan Islam kepada orang-orang dan mengajak mereka melaksanakan agama Islam adalah dengan mengenalkan keindahan Islam yang sangat banyak kepada mereka. Hal ini, bukan hanya bermanfaat bagi keimanan seorang muslim, namun juga akan mendorong non muslim tertarik mengenal agama Islam dengan baik serta mengetahui keindahan dan kekokohan dasar-dasar agama Islam ini.Islam Adalah Satu-Satunya Agama yang Diridhoi Oleh Allah Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ“Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam” (QS. Ali Imraan:19).Ibnu Katsir rahimahullah berkata,إخبار من الله تعالى بأنه لا دين عنده يقبله من أحد سوى الإسلام ، وهو اتباع الرسل فيما بعثهم الله به في كل حين ، حتى ختموا بمحمد صلى الله عليه وسلم ، الذي سد جميع الطرق إليه إلا من جهة محمد صلى الله عليه وسلم ، فمن لقي الله بعد بعثته محمدا صلى الله عليه وسلم بدين على غير شريعته ، فليس بمتقبل .“(Dalam ayat ini terdapat) kabar dari Allah Ta’ala bahwa tidak ada agama di sisi-Nya yang Allah terima dari seseorang selain Islam, yaitu mengikuti para rasul dalam perkara yang Allah utus mereka dengannya dalam setiap waktu hingga ditutup dengan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah menutup seluruh jalan menuju kepada-Nya kecuali dari jalur Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka barangsiapa yang berjumpa dengan Allah setelah Allah mengutus Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam membawa agama Islam, dalam keadaan ia beragama dengan agama selainnya, maka agamanya tersebut tidaklah diterima.”[Bersambung]***Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id🔍 Kitab Ilmu Tauhid, Doa Dijauhkan Dari Orang Zalim, Keutamaan Shalat Tahiyatul Masjid, Islam Wahabi, Tanaman Yang Dilarang Dalam Islam

Keindahan Islam (3)

– Firman Allah Ta’ala tentang Nabi Ibrahim ‘alaihis salamوَمَنْ يَرْغَبُ عَنْ مِلَّةِ إِبْرَاهِيمَ إِلَّا مَنْ سَفِهَ نَفْسَهُ ۚ وَلَقَدِ اصْطَفَيْنَاهُ فِي الدُّنْيَا ۖ وَإِنَّهُ فِي الْآخِرَةِ لَمِنَ الصَّالِحِينَ“Dan tidak ada yang benci kepada agama Ibrahim, melainkan orang yang memperbodoh dirinya sendiri, dan sungguh Kami telah memilihnya di dunia dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk orang-orang yang saleh”.إِذْ قَالَ لَهُ رَبُّهُ أَسْلِمْ ۖ قَالَ أَسْلَمْتُ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ“Ketika Tuhannya berfirman kepadanya: “Islamlah (Tunduk patuhlah)!” Ibrahim menjawab: “Aku tunduk patuh kepada Tuhan semesta alam.”.وَوَصَّىٰ بِهَا إِبْرَاهِيمُ بَنِيهِ وَيَعْقُوبُ يَا بَنِيَّ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَىٰ لَكُمُ الدِّينَ فَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ“Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qub. (Ibrahim berkata): “Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam” (QS. Al-Baqarah: 130-132).– Firman Allah Ta’ala tentang Nabi Musa ‘alaihis salamوَقَالَ مُوسَىٰ يَا قَوْمِ إِنْ كُنْتُمْ آمَنْتُمْ بِاللَّهِ فَعَلَيْهِ تَوَكَّلُوا إِنْ كُنْتُمْ مُسْلِمِينَ“Berkata Musa: “Hai kaumku, jika kalian beriman kepada Allah, maka bertawakkallah kepada-Nya saja, jika kalian benar-benar muslimin” (QS. Yunus: 84).– Firman Allah Ta’ala tentang Nabi Isa Al-Masih ‘alaihis salamوَإِذْ أَوْحَيْتُ إِلَى الْحَوَارِيِّينَ أَنْ آمِنُوا بِي وَبِرَسُولِي قَالُوا آمَنَّا وَاشْهَدْ بِأَنَّنَا مُسْلِمُونَ“Dan (ingatlah), ketika Aku ilhamkan kepada pengikut Isa yang setia: “Berimanlah kamu kepada-Ku dan kepada Rasul-Ku.” Mereka menjawab: “Kami telah beriman dan saksikanlah (wahai Rasul) bahwa sesungguhnya kami adalah muslim” (QS. Al-Maaidah: 111).– Firman Allah Ta’ala tentang Para Nabi ‘alaihimush shalatu was salam Terdahuluإِنَّا أَنْزَلْنَا التَّوْرَاةَ فِيهَا هُدًى وَنُورٌ ۚ يَحْكُمُ بِهَا النَّبِيُّونَ الَّذِينَ أَسْلَمُوا“Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab Taurat di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), yang dengan Kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang berislam (berserah diri kepada Allah)…” (QS. Al-Maaidah: 44).Dengan demikian, seluruh nabi dan rasul ‘alaihimush shalatu was salam adalah muslim. Para pengikut mereka yang beragama dengan agama para nabi dan rasul ‘alaihimush shalatu was salam yang masih murni sebelum dihapus, maka mereka pun disebut muslim.2. Islam dengan Makna KhususSyaikhul Islam rahimahullah menyatakan di dalam risalah At-Tadmuriyyah bahwa Islam dengan makna khusus adalah agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi was sallam dan umat yang menganutnya pun hanyalah kaum muslimin umat beliau shallallahu ‘alaihi was sallam.Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata,فإن الإسلام الخاص الذي بعث الله به محمدا صلى الله عليه وسلم المتضمن لشريعة القرآن : ليس عليه إلا أمة محمد صلى الله عليه وسلم “…karena sesungguhnya Islam dengan makna khusus yang Allah utus Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi was sallam dengannya, lagi mengandung syari’at Alquran, maka (diantara umat-umat yang ada) hanyalah umat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi was sallam yang memeluknya.”Keistimewaan Agama yang Diridhai Oleh AllahAgama Islam adalah satu-satunya agama yang diridhai oleh Allah, maka tentulah agama ini memiliki keistemewaan sekaligus keindahan yang sangat banyak, di antara keistimewaan dan keindahan tersebut adalah sebagai berikut.1. Islam adalah Agama yang SempurnaAllah Ta’ala berfirman,الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu menjadi agama bagimu” (QS. Al-Maaidah: 3).[Bersambung]***Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id [serialposts]🔍 Hadits Menyantuni Anak Yatim, Pengertian Ijma Dan Contohnya, Sejarah Isro Mi Roj, Bumi Hamparan, Bacaan Tahiyat Awal Dan Akhir Yang Betul

Keindahan Islam (3)

– Firman Allah Ta’ala tentang Nabi Ibrahim ‘alaihis salamوَمَنْ يَرْغَبُ عَنْ مِلَّةِ إِبْرَاهِيمَ إِلَّا مَنْ سَفِهَ نَفْسَهُ ۚ وَلَقَدِ اصْطَفَيْنَاهُ فِي الدُّنْيَا ۖ وَإِنَّهُ فِي الْآخِرَةِ لَمِنَ الصَّالِحِينَ“Dan tidak ada yang benci kepada agama Ibrahim, melainkan orang yang memperbodoh dirinya sendiri, dan sungguh Kami telah memilihnya di dunia dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk orang-orang yang saleh”.إِذْ قَالَ لَهُ رَبُّهُ أَسْلِمْ ۖ قَالَ أَسْلَمْتُ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ“Ketika Tuhannya berfirman kepadanya: “Islamlah (Tunduk patuhlah)!” Ibrahim menjawab: “Aku tunduk patuh kepada Tuhan semesta alam.”.وَوَصَّىٰ بِهَا إِبْرَاهِيمُ بَنِيهِ وَيَعْقُوبُ يَا بَنِيَّ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَىٰ لَكُمُ الدِّينَ فَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ“Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qub. (Ibrahim berkata): “Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam” (QS. Al-Baqarah: 130-132).– Firman Allah Ta’ala tentang Nabi Musa ‘alaihis salamوَقَالَ مُوسَىٰ يَا قَوْمِ إِنْ كُنْتُمْ آمَنْتُمْ بِاللَّهِ فَعَلَيْهِ تَوَكَّلُوا إِنْ كُنْتُمْ مُسْلِمِينَ“Berkata Musa: “Hai kaumku, jika kalian beriman kepada Allah, maka bertawakkallah kepada-Nya saja, jika kalian benar-benar muslimin” (QS. Yunus: 84).– Firman Allah Ta’ala tentang Nabi Isa Al-Masih ‘alaihis salamوَإِذْ أَوْحَيْتُ إِلَى الْحَوَارِيِّينَ أَنْ آمِنُوا بِي وَبِرَسُولِي قَالُوا آمَنَّا وَاشْهَدْ بِأَنَّنَا مُسْلِمُونَ“Dan (ingatlah), ketika Aku ilhamkan kepada pengikut Isa yang setia: “Berimanlah kamu kepada-Ku dan kepada Rasul-Ku.” Mereka menjawab: “Kami telah beriman dan saksikanlah (wahai Rasul) bahwa sesungguhnya kami adalah muslim” (QS. Al-Maaidah: 111).– Firman Allah Ta’ala tentang Para Nabi ‘alaihimush shalatu was salam Terdahuluإِنَّا أَنْزَلْنَا التَّوْرَاةَ فِيهَا هُدًى وَنُورٌ ۚ يَحْكُمُ بِهَا النَّبِيُّونَ الَّذِينَ أَسْلَمُوا“Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab Taurat di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), yang dengan Kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang berislam (berserah diri kepada Allah)…” (QS. Al-Maaidah: 44).Dengan demikian, seluruh nabi dan rasul ‘alaihimush shalatu was salam adalah muslim. Para pengikut mereka yang beragama dengan agama para nabi dan rasul ‘alaihimush shalatu was salam yang masih murni sebelum dihapus, maka mereka pun disebut muslim.2. Islam dengan Makna KhususSyaikhul Islam rahimahullah menyatakan di dalam risalah At-Tadmuriyyah bahwa Islam dengan makna khusus adalah agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi was sallam dan umat yang menganutnya pun hanyalah kaum muslimin umat beliau shallallahu ‘alaihi was sallam.Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata,فإن الإسلام الخاص الذي بعث الله به محمدا صلى الله عليه وسلم المتضمن لشريعة القرآن : ليس عليه إلا أمة محمد صلى الله عليه وسلم “…karena sesungguhnya Islam dengan makna khusus yang Allah utus Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi was sallam dengannya, lagi mengandung syari’at Alquran, maka (diantara umat-umat yang ada) hanyalah umat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi was sallam yang memeluknya.”Keistimewaan Agama yang Diridhai Oleh AllahAgama Islam adalah satu-satunya agama yang diridhai oleh Allah, maka tentulah agama ini memiliki keistemewaan sekaligus keindahan yang sangat banyak, di antara keistimewaan dan keindahan tersebut adalah sebagai berikut.1. Islam adalah Agama yang SempurnaAllah Ta’ala berfirman,الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu menjadi agama bagimu” (QS. Al-Maaidah: 3).[Bersambung]***Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id [serialposts]🔍 Hadits Menyantuni Anak Yatim, Pengertian Ijma Dan Contohnya, Sejarah Isro Mi Roj, Bumi Hamparan, Bacaan Tahiyat Awal Dan Akhir Yang Betul
– Firman Allah Ta’ala tentang Nabi Ibrahim ‘alaihis salamوَمَنْ يَرْغَبُ عَنْ مِلَّةِ إِبْرَاهِيمَ إِلَّا مَنْ سَفِهَ نَفْسَهُ ۚ وَلَقَدِ اصْطَفَيْنَاهُ فِي الدُّنْيَا ۖ وَإِنَّهُ فِي الْآخِرَةِ لَمِنَ الصَّالِحِينَ“Dan tidak ada yang benci kepada agama Ibrahim, melainkan orang yang memperbodoh dirinya sendiri, dan sungguh Kami telah memilihnya di dunia dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk orang-orang yang saleh”.إِذْ قَالَ لَهُ رَبُّهُ أَسْلِمْ ۖ قَالَ أَسْلَمْتُ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ“Ketika Tuhannya berfirman kepadanya: “Islamlah (Tunduk patuhlah)!” Ibrahim menjawab: “Aku tunduk patuh kepada Tuhan semesta alam.”.وَوَصَّىٰ بِهَا إِبْرَاهِيمُ بَنِيهِ وَيَعْقُوبُ يَا بَنِيَّ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَىٰ لَكُمُ الدِّينَ فَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ“Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qub. (Ibrahim berkata): “Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam” (QS. Al-Baqarah: 130-132).– Firman Allah Ta’ala tentang Nabi Musa ‘alaihis salamوَقَالَ مُوسَىٰ يَا قَوْمِ إِنْ كُنْتُمْ آمَنْتُمْ بِاللَّهِ فَعَلَيْهِ تَوَكَّلُوا إِنْ كُنْتُمْ مُسْلِمِينَ“Berkata Musa: “Hai kaumku, jika kalian beriman kepada Allah, maka bertawakkallah kepada-Nya saja, jika kalian benar-benar muslimin” (QS. Yunus: 84).– Firman Allah Ta’ala tentang Nabi Isa Al-Masih ‘alaihis salamوَإِذْ أَوْحَيْتُ إِلَى الْحَوَارِيِّينَ أَنْ آمِنُوا بِي وَبِرَسُولِي قَالُوا آمَنَّا وَاشْهَدْ بِأَنَّنَا مُسْلِمُونَ“Dan (ingatlah), ketika Aku ilhamkan kepada pengikut Isa yang setia: “Berimanlah kamu kepada-Ku dan kepada Rasul-Ku.” Mereka menjawab: “Kami telah beriman dan saksikanlah (wahai Rasul) bahwa sesungguhnya kami adalah muslim” (QS. Al-Maaidah: 111).– Firman Allah Ta’ala tentang Para Nabi ‘alaihimush shalatu was salam Terdahuluإِنَّا أَنْزَلْنَا التَّوْرَاةَ فِيهَا هُدًى وَنُورٌ ۚ يَحْكُمُ بِهَا النَّبِيُّونَ الَّذِينَ أَسْلَمُوا“Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab Taurat di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), yang dengan Kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang berislam (berserah diri kepada Allah)…” (QS. Al-Maaidah: 44).Dengan demikian, seluruh nabi dan rasul ‘alaihimush shalatu was salam adalah muslim. Para pengikut mereka yang beragama dengan agama para nabi dan rasul ‘alaihimush shalatu was salam yang masih murni sebelum dihapus, maka mereka pun disebut muslim.2. Islam dengan Makna KhususSyaikhul Islam rahimahullah menyatakan di dalam risalah At-Tadmuriyyah bahwa Islam dengan makna khusus adalah agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi was sallam dan umat yang menganutnya pun hanyalah kaum muslimin umat beliau shallallahu ‘alaihi was sallam.Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata,فإن الإسلام الخاص الذي بعث الله به محمدا صلى الله عليه وسلم المتضمن لشريعة القرآن : ليس عليه إلا أمة محمد صلى الله عليه وسلم “…karena sesungguhnya Islam dengan makna khusus yang Allah utus Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi was sallam dengannya, lagi mengandung syari’at Alquran, maka (diantara umat-umat yang ada) hanyalah umat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi was sallam yang memeluknya.”Keistimewaan Agama yang Diridhai Oleh AllahAgama Islam adalah satu-satunya agama yang diridhai oleh Allah, maka tentulah agama ini memiliki keistemewaan sekaligus keindahan yang sangat banyak, di antara keistimewaan dan keindahan tersebut adalah sebagai berikut.1. Islam adalah Agama yang SempurnaAllah Ta’ala berfirman,الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu menjadi agama bagimu” (QS. Al-Maaidah: 3).[Bersambung]***Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id [serialposts]🔍 Hadits Menyantuni Anak Yatim, Pengertian Ijma Dan Contohnya, Sejarah Isro Mi Roj, Bumi Hamparan, Bacaan Tahiyat Awal Dan Akhir Yang Betul


– Firman Allah Ta’ala tentang Nabi Ibrahim ‘alaihis salamوَمَنْ يَرْغَبُ عَنْ مِلَّةِ إِبْرَاهِيمَ إِلَّا مَنْ سَفِهَ نَفْسَهُ ۚ وَلَقَدِ اصْطَفَيْنَاهُ فِي الدُّنْيَا ۖ وَإِنَّهُ فِي الْآخِرَةِ لَمِنَ الصَّالِحِينَ“Dan tidak ada yang benci kepada agama Ibrahim, melainkan orang yang memperbodoh dirinya sendiri, dan sungguh Kami telah memilihnya di dunia dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk orang-orang yang saleh”.إِذْ قَالَ لَهُ رَبُّهُ أَسْلِمْ ۖ قَالَ أَسْلَمْتُ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ“Ketika Tuhannya berfirman kepadanya: “Islamlah (Tunduk patuhlah)!” Ibrahim menjawab: “Aku tunduk patuh kepada Tuhan semesta alam.”.وَوَصَّىٰ بِهَا إِبْرَاهِيمُ بَنِيهِ وَيَعْقُوبُ يَا بَنِيَّ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَىٰ لَكُمُ الدِّينَ فَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ“Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qub. (Ibrahim berkata): “Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam” (QS. Al-Baqarah: 130-132).– Firman Allah Ta’ala tentang Nabi Musa ‘alaihis salamوَقَالَ مُوسَىٰ يَا قَوْمِ إِنْ كُنْتُمْ آمَنْتُمْ بِاللَّهِ فَعَلَيْهِ تَوَكَّلُوا إِنْ كُنْتُمْ مُسْلِمِينَ“Berkata Musa: “Hai kaumku, jika kalian beriman kepada Allah, maka bertawakkallah kepada-Nya saja, jika kalian benar-benar muslimin” (QS. Yunus: 84).– Firman Allah Ta’ala tentang Nabi Isa Al-Masih ‘alaihis salamوَإِذْ أَوْحَيْتُ إِلَى الْحَوَارِيِّينَ أَنْ آمِنُوا بِي وَبِرَسُولِي قَالُوا آمَنَّا وَاشْهَدْ بِأَنَّنَا مُسْلِمُونَ“Dan (ingatlah), ketika Aku ilhamkan kepada pengikut Isa yang setia: “Berimanlah kamu kepada-Ku dan kepada Rasul-Ku.” Mereka menjawab: “Kami telah beriman dan saksikanlah (wahai Rasul) bahwa sesungguhnya kami adalah muslim” (QS. Al-Maaidah: 111).– Firman Allah Ta’ala tentang Para Nabi ‘alaihimush shalatu was salam Terdahuluإِنَّا أَنْزَلْنَا التَّوْرَاةَ فِيهَا هُدًى وَنُورٌ ۚ يَحْكُمُ بِهَا النَّبِيُّونَ الَّذِينَ أَسْلَمُوا“Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab Taurat di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), yang dengan Kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang berislam (berserah diri kepada Allah)…” (QS. Al-Maaidah: 44).Dengan demikian, seluruh nabi dan rasul ‘alaihimush shalatu was salam adalah muslim. Para pengikut mereka yang beragama dengan agama para nabi dan rasul ‘alaihimush shalatu was salam yang masih murni sebelum dihapus, maka mereka pun disebut muslim.2. Islam dengan Makna KhususSyaikhul Islam rahimahullah menyatakan di dalam risalah At-Tadmuriyyah bahwa Islam dengan makna khusus adalah agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi was sallam dan umat yang menganutnya pun hanyalah kaum muslimin umat beliau shallallahu ‘alaihi was sallam.Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata,فإن الإسلام الخاص الذي بعث الله به محمدا صلى الله عليه وسلم المتضمن لشريعة القرآن : ليس عليه إلا أمة محمد صلى الله عليه وسلم “…karena sesungguhnya Islam dengan makna khusus yang Allah utus Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi was sallam dengannya, lagi mengandung syari’at Alquran, maka (diantara umat-umat yang ada) hanyalah umat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi was sallam yang memeluknya.”Keistimewaan Agama yang Diridhai Oleh AllahAgama Islam adalah satu-satunya agama yang diridhai oleh Allah, maka tentulah agama ini memiliki keistemewaan sekaligus keindahan yang sangat banyak, di antara keistimewaan dan keindahan tersebut adalah sebagai berikut.1. Islam adalah Agama yang SempurnaAllah Ta’ala berfirman,الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu menjadi agama bagimu” (QS. Al-Maaidah: 3).[Bersambung]***Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id [serialposts]🔍 Hadits Menyantuni Anak Yatim, Pengertian Ijma Dan Contohnya, Sejarah Isro Mi Roj, Bumi Hamparan, Bacaan Tahiyat Awal Dan Akhir Yang Betul

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 84: Melatih Anak Rutinitas Bermanfaat

27JanSilsilah Fiqih Pendidikan Anak No 84: Melatih Anak Rutinitas BermanfaatJanuary 27, 2017Fikih, Keluarga Islami anyak orang tua yang mengeluhkan anaknya yang tak bisa diatur dan tak tahu waktu. Memupuk kedisplinan pada anak harus dilatih sedikit demi sedikit sedari kecil. Sebab ini merupakan faktor yang sangat dominan dalam perkembangan anak secara sosial. Dalam hidup bermasyarakat, seseorang sangat dituntut menjadi sosok yang disiplin, punya komitmen dan bertanggung jawab. Karakter tersebut tentu tidak bisa didapatkan secara instan, melainkan harus diukir dan ditempa sedikit demi sedikit dalam diri anak semenjak dini. Karenanya kita harus berusaha melatih dan memupuknya. Dalam hal itu kita perlu disesuaikan dengan tahapan usianya. Berikut contohnya: Usia 1 Tahun Melatih sikap mandiri dan kedisplinan bisa dilakukan sedini mungkin, bahkan ketika anak baru berusia 1 tahun. Itu bisa dilakukan dengan melatih anak kita melakukan rutinitas sehari-hari. Kita bisa melatihnya dengan hal-hal yang kecil terlebih dahulu. Contohnya dengan memberi kesempatan anak kita memilih makanan yang ia sukai. Mengajarkan anak kita memegang gelas sendiri ketika minum. Tentunya dengan menggunakan gelas plastik terlebih dahulu agar lebih aman. Melatih anak untuk bergerak sendiri tanpa digendong dan lain-lain. Pada usia ini kita harus memperbanyak merangsang pergerakan anak kita agar kemampuan motoriknya bisa terlatih dengan baik. Dengan hal tersebut bisa sangat berguna untuk melatih kemandirian anak kita sejak dini. Usia 2 Tahun Pada usia 2 tahun, anak kita sudah bisa dilatih melakukan rutinitas sehari-hari dengan jenis yang lebih kompleks lagi. Kita bisa melatihnya dengan membiasakan makan sendiri dengan tangannya atau dengan sendok dan garpunya sendiri. Melatih memakai dan melepas baju sendiri, membiasakan dia menggunakan kamar mandi dan toilet. Latih juga anak kita untuk mengambil barang-barang sendiri tanpa bantuan orang lain. Dengan demikian rutinitas tersebut bisa menjadi suatu kebiasaan yang bermanfaat sehingga bisa tumbuh menjadi pribadi yang mandiri dan berdisiplin kelak di kemudian hari. Usia 3 Tahun Ketika buah hati kita sudah menginjak usia 3 tahun, kita bisa melatih dengan memberinya tanggung jawab ringan. Ajarkan juga ke anak kita untuk bisa mengembalikan apapun yang ia pakai ke tempat semula. Latih dia untuk membereskan mainannya sendiri setelah digunakan. Mengembalikan handuk pada tempatnya setelah dipakai. Mengembalikan tas dan alat tulis di tempat semula, dan lain-lain. Dengan demikian anak akan terbiasa hidup dengan rapi dan sedikit demi sedikit bisa menunaikan tanggung jawabnya dengan baik. Di usia-usia berikutnya, orang tua bisa meningkatkan pola pembiasaan dalam hal-hal yang merupakan keperluan bersama dalam keluarga. Seperti membersihkan rumah, pekarangan rumah, kamar mandi dan lain sebagainya. Kita bisa memotivasi mereka dengan hadits Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam, طَهِّرُوا أَفْنِيَتَكُمْ، فَإِنَّ الْيَهُودَ لَا تُطَهِّرُ أَفْنِيَتَهَا “Bersihkanlah pekarangan kalian. Karena orang-orang Yahudi tidak membersihkan pekarangan mereka”. HR. Ath-Thabaraniy dalam al-Ausath dan dinilai sahih oleh al-Albaniy. Amatilah terus perkembangannya! Mungkin hasilnya tak seberapa atau mungkin pekerjaan jadi lebih lama selesainya. Namun ingat bahwa yang kita harapkan di sini adalah terasahnya kedisplinan, tanggung jawab dan kecakapan anak. Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 26 R. Awwal 1438 / 26 Desember 2016 PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 84: Melatih Anak Rutinitas Bermanfaat

27JanSilsilah Fiqih Pendidikan Anak No 84: Melatih Anak Rutinitas BermanfaatJanuary 27, 2017Fikih, Keluarga Islami anyak orang tua yang mengeluhkan anaknya yang tak bisa diatur dan tak tahu waktu. Memupuk kedisplinan pada anak harus dilatih sedikit demi sedikit sedari kecil. Sebab ini merupakan faktor yang sangat dominan dalam perkembangan anak secara sosial. Dalam hidup bermasyarakat, seseorang sangat dituntut menjadi sosok yang disiplin, punya komitmen dan bertanggung jawab. Karakter tersebut tentu tidak bisa didapatkan secara instan, melainkan harus diukir dan ditempa sedikit demi sedikit dalam diri anak semenjak dini. Karenanya kita harus berusaha melatih dan memupuknya. Dalam hal itu kita perlu disesuaikan dengan tahapan usianya. Berikut contohnya: Usia 1 Tahun Melatih sikap mandiri dan kedisplinan bisa dilakukan sedini mungkin, bahkan ketika anak baru berusia 1 tahun. Itu bisa dilakukan dengan melatih anak kita melakukan rutinitas sehari-hari. Kita bisa melatihnya dengan hal-hal yang kecil terlebih dahulu. Contohnya dengan memberi kesempatan anak kita memilih makanan yang ia sukai. Mengajarkan anak kita memegang gelas sendiri ketika minum. Tentunya dengan menggunakan gelas plastik terlebih dahulu agar lebih aman. Melatih anak untuk bergerak sendiri tanpa digendong dan lain-lain. Pada usia ini kita harus memperbanyak merangsang pergerakan anak kita agar kemampuan motoriknya bisa terlatih dengan baik. Dengan hal tersebut bisa sangat berguna untuk melatih kemandirian anak kita sejak dini. Usia 2 Tahun Pada usia 2 tahun, anak kita sudah bisa dilatih melakukan rutinitas sehari-hari dengan jenis yang lebih kompleks lagi. Kita bisa melatihnya dengan membiasakan makan sendiri dengan tangannya atau dengan sendok dan garpunya sendiri. Melatih memakai dan melepas baju sendiri, membiasakan dia menggunakan kamar mandi dan toilet. Latih juga anak kita untuk mengambil barang-barang sendiri tanpa bantuan orang lain. Dengan demikian rutinitas tersebut bisa menjadi suatu kebiasaan yang bermanfaat sehingga bisa tumbuh menjadi pribadi yang mandiri dan berdisiplin kelak di kemudian hari. Usia 3 Tahun Ketika buah hati kita sudah menginjak usia 3 tahun, kita bisa melatih dengan memberinya tanggung jawab ringan. Ajarkan juga ke anak kita untuk bisa mengembalikan apapun yang ia pakai ke tempat semula. Latih dia untuk membereskan mainannya sendiri setelah digunakan. Mengembalikan handuk pada tempatnya setelah dipakai. Mengembalikan tas dan alat tulis di tempat semula, dan lain-lain. Dengan demikian anak akan terbiasa hidup dengan rapi dan sedikit demi sedikit bisa menunaikan tanggung jawabnya dengan baik. Di usia-usia berikutnya, orang tua bisa meningkatkan pola pembiasaan dalam hal-hal yang merupakan keperluan bersama dalam keluarga. Seperti membersihkan rumah, pekarangan rumah, kamar mandi dan lain sebagainya. Kita bisa memotivasi mereka dengan hadits Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam, طَهِّرُوا أَفْنِيَتَكُمْ، فَإِنَّ الْيَهُودَ لَا تُطَهِّرُ أَفْنِيَتَهَا “Bersihkanlah pekarangan kalian. Karena orang-orang Yahudi tidak membersihkan pekarangan mereka”. HR. Ath-Thabaraniy dalam al-Ausath dan dinilai sahih oleh al-Albaniy. Amatilah terus perkembangannya! Mungkin hasilnya tak seberapa atau mungkin pekerjaan jadi lebih lama selesainya. Namun ingat bahwa yang kita harapkan di sini adalah terasahnya kedisplinan, tanggung jawab dan kecakapan anak. Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 26 R. Awwal 1438 / 26 Desember 2016 PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022
27JanSilsilah Fiqih Pendidikan Anak No 84: Melatih Anak Rutinitas BermanfaatJanuary 27, 2017Fikih, Keluarga Islami anyak orang tua yang mengeluhkan anaknya yang tak bisa diatur dan tak tahu waktu. Memupuk kedisplinan pada anak harus dilatih sedikit demi sedikit sedari kecil. Sebab ini merupakan faktor yang sangat dominan dalam perkembangan anak secara sosial. Dalam hidup bermasyarakat, seseorang sangat dituntut menjadi sosok yang disiplin, punya komitmen dan bertanggung jawab. Karakter tersebut tentu tidak bisa didapatkan secara instan, melainkan harus diukir dan ditempa sedikit demi sedikit dalam diri anak semenjak dini. Karenanya kita harus berusaha melatih dan memupuknya. Dalam hal itu kita perlu disesuaikan dengan tahapan usianya. Berikut contohnya: Usia 1 Tahun Melatih sikap mandiri dan kedisplinan bisa dilakukan sedini mungkin, bahkan ketika anak baru berusia 1 tahun. Itu bisa dilakukan dengan melatih anak kita melakukan rutinitas sehari-hari. Kita bisa melatihnya dengan hal-hal yang kecil terlebih dahulu. Contohnya dengan memberi kesempatan anak kita memilih makanan yang ia sukai. Mengajarkan anak kita memegang gelas sendiri ketika minum. Tentunya dengan menggunakan gelas plastik terlebih dahulu agar lebih aman. Melatih anak untuk bergerak sendiri tanpa digendong dan lain-lain. Pada usia ini kita harus memperbanyak merangsang pergerakan anak kita agar kemampuan motoriknya bisa terlatih dengan baik. Dengan hal tersebut bisa sangat berguna untuk melatih kemandirian anak kita sejak dini. Usia 2 Tahun Pada usia 2 tahun, anak kita sudah bisa dilatih melakukan rutinitas sehari-hari dengan jenis yang lebih kompleks lagi. Kita bisa melatihnya dengan membiasakan makan sendiri dengan tangannya atau dengan sendok dan garpunya sendiri. Melatih memakai dan melepas baju sendiri, membiasakan dia menggunakan kamar mandi dan toilet. Latih juga anak kita untuk mengambil barang-barang sendiri tanpa bantuan orang lain. Dengan demikian rutinitas tersebut bisa menjadi suatu kebiasaan yang bermanfaat sehingga bisa tumbuh menjadi pribadi yang mandiri dan berdisiplin kelak di kemudian hari. Usia 3 Tahun Ketika buah hati kita sudah menginjak usia 3 tahun, kita bisa melatih dengan memberinya tanggung jawab ringan. Ajarkan juga ke anak kita untuk bisa mengembalikan apapun yang ia pakai ke tempat semula. Latih dia untuk membereskan mainannya sendiri setelah digunakan. Mengembalikan handuk pada tempatnya setelah dipakai. Mengembalikan tas dan alat tulis di tempat semula, dan lain-lain. Dengan demikian anak akan terbiasa hidup dengan rapi dan sedikit demi sedikit bisa menunaikan tanggung jawabnya dengan baik. Di usia-usia berikutnya, orang tua bisa meningkatkan pola pembiasaan dalam hal-hal yang merupakan keperluan bersama dalam keluarga. Seperti membersihkan rumah, pekarangan rumah, kamar mandi dan lain sebagainya. Kita bisa memotivasi mereka dengan hadits Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam, طَهِّرُوا أَفْنِيَتَكُمْ، فَإِنَّ الْيَهُودَ لَا تُطَهِّرُ أَفْنِيَتَهَا “Bersihkanlah pekarangan kalian. Karena orang-orang Yahudi tidak membersihkan pekarangan mereka”. HR. Ath-Thabaraniy dalam al-Ausath dan dinilai sahih oleh al-Albaniy. Amatilah terus perkembangannya! Mungkin hasilnya tak seberapa atau mungkin pekerjaan jadi lebih lama selesainya. Namun ingat bahwa yang kita harapkan di sini adalah terasahnya kedisplinan, tanggung jawab dan kecakapan anak. Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 26 R. Awwal 1438 / 26 Desember 2016 PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022


27JanSilsilah Fiqih Pendidikan Anak No 84: Melatih Anak Rutinitas BermanfaatJanuary 27, 2017Fikih, Keluarga Islami anyak orang tua yang mengeluhkan anaknya yang tak bisa diatur dan tak tahu waktu. Memupuk kedisplinan pada anak harus dilatih sedikit demi sedikit sedari kecil. Sebab ini merupakan faktor yang sangat dominan dalam perkembangan anak secara sosial. Dalam hidup bermasyarakat, seseorang sangat dituntut menjadi sosok yang disiplin, punya komitmen dan bertanggung jawab. Karakter tersebut tentu tidak bisa didapatkan secara instan, melainkan harus diukir dan ditempa sedikit demi sedikit dalam diri anak semenjak dini. Karenanya kita harus berusaha melatih dan memupuknya. Dalam hal itu kita perlu disesuaikan dengan tahapan usianya. Berikut contohnya: Usia 1 Tahun Melatih sikap mandiri dan kedisplinan bisa dilakukan sedini mungkin, bahkan ketika anak baru berusia 1 tahun. Itu bisa dilakukan dengan melatih anak kita melakukan rutinitas sehari-hari. Kita bisa melatihnya dengan hal-hal yang kecil terlebih dahulu. Contohnya dengan memberi kesempatan anak kita memilih makanan yang ia sukai. Mengajarkan anak kita memegang gelas sendiri ketika minum. Tentunya dengan menggunakan gelas plastik terlebih dahulu agar lebih aman. Melatih anak untuk bergerak sendiri tanpa digendong dan lain-lain. Pada usia ini kita harus memperbanyak merangsang pergerakan anak kita agar kemampuan motoriknya bisa terlatih dengan baik. Dengan hal tersebut bisa sangat berguna untuk melatih kemandirian anak kita sejak dini. Usia 2 Tahun Pada usia 2 tahun, anak kita sudah bisa dilatih melakukan rutinitas sehari-hari dengan jenis yang lebih kompleks lagi. Kita bisa melatihnya dengan membiasakan makan sendiri dengan tangannya atau dengan sendok dan garpunya sendiri. Melatih memakai dan melepas baju sendiri, membiasakan dia menggunakan kamar mandi dan toilet. Latih juga anak kita untuk mengambil barang-barang sendiri tanpa bantuan orang lain. Dengan demikian rutinitas tersebut bisa menjadi suatu kebiasaan yang bermanfaat sehingga bisa tumbuh menjadi pribadi yang mandiri dan berdisiplin kelak di kemudian hari. Usia 3 Tahun Ketika buah hati kita sudah menginjak usia 3 tahun, kita bisa melatih dengan memberinya tanggung jawab ringan. Ajarkan juga ke anak kita untuk bisa mengembalikan apapun yang ia pakai ke tempat semula. Latih dia untuk membereskan mainannya sendiri setelah digunakan. Mengembalikan handuk pada tempatnya setelah dipakai. Mengembalikan tas dan alat tulis di tempat semula, dan lain-lain. Dengan demikian anak akan terbiasa hidup dengan rapi dan sedikit demi sedikit bisa menunaikan tanggung jawabnya dengan baik. Di usia-usia berikutnya, orang tua bisa meningkatkan pola pembiasaan dalam hal-hal yang merupakan keperluan bersama dalam keluarga. Seperti membersihkan rumah, pekarangan rumah, kamar mandi dan lain sebagainya. Kita bisa memotivasi mereka dengan hadits Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam, طَهِّرُوا أَفْنِيَتَكُمْ، فَإِنَّ الْيَهُودَ لَا تُطَهِّرُ أَفْنِيَتَهَا “Bersihkanlah pekarangan kalian. Karena orang-orang Yahudi tidak membersihkan pekarangan mereka”. HR. Ath-Thabaraniy dalam al-Ausath dan dinilai sahih oleh al-Albaniy. Amatilah terus perkembangannya! Mungkin hasilnya tak seberapa atau mungkin pekerjaan jadi lebih lama selesainya. Namun ingat bahwa yang kita harapkan di sini adalah terasahnya kedisplinan, tanggung jawab dan kecakapan anak. Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 26 R. Awwal 1438 / 26 Desember 2016 PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022

Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 105: Doa dan Dzikir Yang Komplet

27JanSilsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 105: Doa dan Dzikir Yang KompletJanuary 27, 2017Belajar Islam, Doa dan Dzikir, Fikih Salah satu kelebihan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah beliau dikaruniai ungkapan-ungkapan kalimat yang sempurna. Beliau bersabda, “بُعِثْتُ بِجَوَامِعِ الْكَلِمِ“ “Aku diutus Allah dengan membawa jawâmi’ul kalim”. HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu. Arti jawâmi’ul kalim adalah “kandungan banyak yang diungkapkan dalam kalimat yang ringkas”. Demikian keterangan yang disampaikan Imam Ibn Syihab az-Zuhriy. Keistimewaan itu mencakup nasehat beliau, doa beliau dan dzikir beliau. Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha menuturkan, ” كَانَ يُعْجِبُهُ الْجَوَامِعُ مِنَ الدُّعَاءِ، وَيَدَعُ مَا بَيْنَ ذَلِكَ “ “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sangat menyukai doa-doa yang komplet dan meninggalkan selain itu”. HR. Ahmad dan dinilai sahih oleh Ibn Hibban juga al-Albaniy. Nabi shallallahu‘alaihiwasallam pernah berpesan kepada istri beliau tercinta; Aisyah radhiyallahu ‘anha, “يَا عَائِشَةُ، عَلَيْكِ بِجَوَامِعِ الدُّعَاءِ؛ اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنَ الْخَيْرِ كُلِّهِ عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ، مَا عَلِمْتُ مِنْهُ وَمَا لَمْ أَعْلَمْ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الشَّرِّ كُلِّهِ عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ، مَا عَلِمْتُ مِنْهُ وَمَا لَمْ أَعْلَمْ. اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِ مَا سَأَلَكَ مِنْهُ مُحَمَّدٌ عَبْدُكَ وَنَبِيُّكَ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا عَاذَ مِنْهُ عَبْدُكَ وَنَبِيُّكَ، اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ وَعَمَلٍ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ النَّارِ، وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ وَعَمَلٍ، وَأَسْأَلُكَ مَا قَضَيْتَ لِي مِنْ قَضَاءٍ، أَنْ تَجْعَلَ عَاقِبَتَهُ رُشْدًا“ “Wahai Aisyah hendaklah engkau mengamalkan doa yang komplet; “Ya Allah, aku mohon kepada-Mu kebaikan seluruhnya di dunia maupun di akhirat, yang kuketahui maupun yang tidak kuketahui. Dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukan seluruhnya di dunia maupun akhirat, yang kuketahui maupun yang tidak kuketahui. Ya Allah, Aku meminta kepada-Mu kebaikan yang diminta oleh hamba dan Nabi-Mu Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam kepada-Mu. Dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukan yang hamba dan Nabi-Mu berlindung kepada-Mu darinya. Ya Allah, aku meminta kepada-Mu surga dan apa saja yang mendekatkan kepadanya; baik berupa ucapan maupun perbuatan. Dan aku berlindung kepada-Mu dari neraka dan apa saja yang mendekatkan kepadanya; baik berupa ucapan maupun perbuatan. Aku memohon segala sesuatu yang telah Engkau takdirkan untukku, hendaklah Engkau jadikan akibatnya adalah kesadaran (petunjuk)”. HR. Al-Firyabiy dan lainnya. Seluruh doa dan dzikir yang ada dalam al-Qur’an dan hadits adalah komplet dan sempurna. Oleh karena itu hendaklah kita senantiasa mengamalkan doa dan dzikir tersebut juga memprioritaskannya. Daripada mengamalkan doa dan dzikir hasil bikinan manusia biasa yang penuh dengan kekurangan. Dan hasil kreasi tersebut tentu berpeluang besar untuk mengandung kekeliruan. @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 7 Shafar 1438 / 7 Nopember 2016 PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022

Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 105: Doa dan Dzikir Yang Komplet

27JanSilsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 105: Doa dan Dzikir Yang KompletJanuary 27, 2017Belajar Islam, Doa dan Dzikir, Fikih Salah satu kelebihan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah beliau dikaruniai ungkapan-ungkapan kalimat yang sempurna. Beliau bersabda, “بُعِثْتُ بِجَوَامِعِ الْكَلِمِ“ “Aku diutus Allah dengan membawa jawâmi’ul kalim”. HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu. Arti jawâmi’ul kalim adalah “kandungan banyak yang diungkapkan dalam kalimat yang ringkas”. Demikian keterangan yang disampaikan Imam Ibn Syihab az-Zuhriy. Keistimewaan itu mencakup nasehat beliau, doa beliau dan dzikir beliau. Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha menuturkan, ” كَانَ يُعْجِبُهُ الْجَوَامِعُ مِنَ الدُّعَاءِ، وَيَدَعُ مَا بَيْنَ ذَلِكَ “ “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sangat menyukai doa-doa yang komplet dan meninggalkan selain itu”. HR. Ahmad dan dinilai sahih oleh Ibn Hibban juga al-Albaniy. Nabi shallallahu‘alaihiwasallam pernah berpesan kepada istri beliau tercinta; Aisyah radhiyallahu ‘anha, “يَا عَائِشَةُ، عَلَيْكِ بِجَوَامِعِ الدُّعَاءِ؛ اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنَ الْخَيْرِ كُلِّهِ عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ، مَا عَلِمْتُ مِنْهُ وَمَا لَمْ أَعْلَمْ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الشَّرِّ كُلِّهِ عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ، مَا عَلِمْتُ مِنْهُ وَمَا لَمْ أَعْلَمْ. اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِ مَا سَأَلَكَ مِنْهُ مُحَمَّدٌ عَبْدُكَ وَنَبِيُّكَ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا عَاذَ مِنْهُ عَبْدُكَ وَنَبِيُّكَ، اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ وَعَمَلٍ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ النَّارِ، وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ وَعَمَلٍ، وَأَسْأَلُكَ مَا قَضَيْتَ لِي مِنْ قَضَاءٍ، أَنْ تَجْعَلَ عَاقِبَتَهُ رُشْدًا“ “Wahai Aisyah hendaklah engkau mengamalkan doa yang komplet; “Ya Allah, aku mohon kepada-Mu kebaikan seluruhnya di dunia maupun di akhirat, yang kuketahui maupun yang tidak kuketahui. Dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukan seluruhnya di dunia maupun akhirat, yang kuketahui maupun yang tidak kuketahui. Ya Allah, Aku meminta kepada-Mu kebaikan yang diminta oleh hamba dan Nabi-Mu Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam kepada-Mu. Dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukan yang hamba dan Nabi-Mu berlindung kepada-Mu darinya. Ya Allah, aku meminta kepada-Mu surga dan apa saja yang mendekatkan kepadanya; baik berupa ucapan maupun perbuatan. Dan aku berlindung kepada-Mu dari neraka dan apa saja yang mendekatkan kepadanya; baik berupa ucapan maupun perbuatan. Aku memohon segala sesuatu yang telah Engkau takdirkan untukku, hendaklah Engkau jadikan akibatnya adalah kesadaran (petunjuk)”. HR. Al-Firyabiy dan lainnya. Seluruh doa dan dzikir yang ada dalam al-Qur’an dan hadits adalah komplet dan sempurna. Oleh karena itu hendaklah kita senantiasa mengamalkan doa dan dzikir tersebut juga memprioritaskannya. Daripada mengamalkan doa dan dzikir hasil bikinan manusia biasa yang penuh dengan kekurangan. Dan hasil kreasi tersebut tentu berpeluang besar untuk mengandung kekeliruan. @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 7 Shafar 1438 / 7 Nopember 2016 PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022
27JanSilsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 105: Doa dan Dzikir Yang KompletJanuary 27, 2017Belajar Islam, Doa dan Dzikir, Fikih Salah satu kelebihan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah beliau dikaruniai ungkapan-ungkapan kalimat yang sempurna. Beliau bersabda, “بُعِثْتُ بِجَوَامِعِ الْكَلِمِ“ “Aku diutus Allah dengan membawa jawâmi’ul kalim”. HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu. Arti jawâmi’ul kalim adalah “kandungan banyak yang diungkapkan dalam kalimat yang ringkas”. Demikian keterangan yang disampaikan Imam Ibn Syihab az-Zuhriy. Keistimewaan itu mencakup nasehat beliau, doa beliau dan dzikir beliau. Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha menuturkan, ” كَانَ يُعْجِبُهُ الْجَوَامِعُ مِنَ الدُّعَاءِ، وَيَدَعُ مَا بَيْنَ ذَلِكَ “ “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sangat menyukai doa-doa yang komplet dan meninggalkan selain itu”. HR. Ahmad dan dinilai sahih oleh Ibn Hibban juga al-Albaniy. Nabi shallallahu‘alaihiwasallam pernah berpesan kepada istri beliau tercinta; Aisyah radhiyallahu ‘anha, “يَا عَائِشَةُ، عَلَيْكِ بِجَوَامِعِ الدُّعَاءِ؛ اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنَ الْخَيْرِ كُلِّهِ عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ، مَا عَلِمْتُ مِنْهُ وَمَا لَمْ أَعْلَمْ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الشَّرِّ كُلِّهِ عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ، مَا عَلِمْتُ مِنْهُ وَمَا لَمْ أَعْلَمْ. اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِ مَا سَأَلَكَ مِنْهُ مُحَمَّدٌ عَبْدُكَ وَنَبِيُّكَ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا عَاذَ مِنْهُ عَبْدُكَ وَنَبِيُّكَ، اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ وَعَمَلٍ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ النَّارِ، وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ وَعَمَلٍ، وَأَسْأَلُكَ مَا قَضَيْتَ لِي مِنْ قَضَاءٍ، أَنْ تَجْعَلَ عَاقِبَتَهُ رُشْدًا“ “Wahai Aisyah hendaklah engkau mengamalkan doa yang komplet; “Ya Allah, aku mohon kepada-Mu kebaikan seluruhnya di dunia maupun di akhirat, yang kuketahui maupun yang tidak kuketahui. Dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukan seluruhnya di dunia maupun akhirat, yang kuketahui maupun yang tidak kuketahui. Ya Allah, Aku meminta kepada-Mu kebaikan yang diminta oleh hamba dan Nabi-Mu Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam kepada-Mu. Dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukan yang hamba dan Nabi-Mu berlindung kepada-Mu darinya. Ya Allah, aku meminta kepada-Mu surga dan apa saja yang mendekatkan kepadanya; baik berupa ucapan maupun perbuatan. Dan aku berlindung kepada-Mu dari neraka dan apa saja yang mendekatkan kepadanya; baik berupa ucapan maupun perbuatan. Aku memohon segala sesuatu yang telah Engkau takdirkan untukku, hendaklah Engkau jadikan akibatnya adalah kesadaran (petunjuk)”. HR. Al-Firyabiy dan lainnya. Seluruh doa dan dzikir yang ada dalam al-Qur’an dan hadits adalah komplet dan sempurna. Oleh karena itu hendaklah kita senantiasa mengamalkan doa dan dzikir tersebut juga memprioritaskannya. Daripada mengamalkan doa dan dzikir hasil bikinan manusia biasa yang penuh dengan kekurangan. Dan hasil kreasi tersebut tentu berpeluang besar untuk mengandung kekeliruan. @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 7 Shafar 1438 / 7 Nopember 2016 PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022


27JanSilsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 105: Doa dan Dzikir Yang KompletJanuary 27, 2017Belajar Islam, Doa dan Dzikir, Fikih Salah satu kelebihan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah beliau dikaruniai ungkapan-ungkapan kalimat yang sempurna. Beliau bersabda, “بُعِثْتُ بِجَوَامِعِ الْكَلِمِ“ “Aku diutus Allah dengan membawa jawâmi’ul kalim”. HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu. Arti jawâmi’ul kalim adalah “kandungan banyak yang diungkapkan dalam kalimat yang ringkas”. Demikian keterangan yang disampaikan Imam Ibn Syihab az-Zuhriy. Keistimewaan itu mencakup nasehat beliau, doa beliau dan dzikir beliau. Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha menuturkan, ” كَانَ يُعْجِبُهُ الْجَوَامِعُ مِنَ الدُّعَاءِ، وَيَدَعُ مَا بَيْنَ ذَلِكَ “ “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sangat menyukai doa-doa yang komplet dan meninggalkan selain itu”. HR. Ahmad dan dinilai sahih oleh Ibn Hibban juga al-Albaniy. Nabi shallallahu‘alaihiwasallam pernah berpesan kepada istri beliau tercinta; Aisyah radhiyallahu ‘anha, “يَا عَائِشَةُ، عَلَيْكِ بِجَوَامِعِ الدُّعَاءِ؛ اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنَ الْخَيْرِ كُلِّهِ عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ، مَا عَلِمْتُ مِنْهُ وَمَا لَمْ أَعْلَمْ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الشَّرِّ كُلِّهِ عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ، مَا عَلِمْتُ مِنْهُ وَمَا لَمْ أَعْلَمْ. اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِ مَا سَأَلَكَ مِنْهُ مُحَمَّدٌ عَبْدُكَ وَنَبِيُّكَ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا عَاذَ مِنْهُ عَبْدُكَ وَنَبِيُّكَ، اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ وَعَمَلٍ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ النَّارِ، وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ وَعَمَلٍ، وَأَسْأَلُكَ مَا قَضَيْتَ لِي مِنْ قَضَاءٍ، أَنْ تَجْعَلَ عَاقِبَتَهُ رُشْدًا“ “Wahai Aisyah hendaklah engkau mengamalkan doa yang komplet; “Ya Allah, aku mohon kepada-Mu kebaikan seluruhnya di dunia maupun di akhirat, yang kuketahui maupun yang tidak kuketahui. Dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukan seluruhnya di dunia maupun akhirat, yang kuketahui maupun yang tidak kuketahui. Ya Allah, Aku meminta kepada-Mu kebaikan yang diminta oleh hamba dan Nabi-Mu Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam kepada-Mu. Dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukan yang hamba dan Nabi-Mu berlindung kepada-Mu darinya. Ya Allah, aku meminta kepada-Mu surga dan apa saja yang mendekatkan kepadanya; baik berupa ucapan maupun perbuatan. Dan aku berlindung kepada-Mu dari neraka dan apa saja yang mendekatkan kepadanya; baik berupa ucapan maupun perbuatan. Aku memohon segala sesuatu yang telah Engkau takdirkan untukku, hendaklah Engkau jadikan akibatnya adalah kesadaran (petunjuk)”. HR. Al-Firyabiy dan lainnya. Seluruh doa dan dzikir yang ada dalam al-Qur’an dan hadits adalah komplet dan sempurna. Oleh karena itu hendaklah kita senantiasa mengamalkan doa dan dzikir tersebut juga memprioritaskannya. Daripada mengamalkan doa dan dzikir hasil bikinan manusia biasa yang penuh dengan kekurangan. Dan hasil kreasi tersebut tentu berpeluang besar untuk mengandung kekeliruan. @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 7 Shafar 1438 / 7 Nopember 2016 PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022

Keindahan Islam (2)

Allah Ta’ala berfirman,وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) darinya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi” (QS. Ali Imraan: 85).Syaikh As-Sa’di berkata,أي: من يدين لله بغير دين الإسلام الذي ارتضاه الله لعباده، فعمله مردود غير مقبول، لأن دين الإسلام هو المتضمن للاستسلام لله، إخلاصا وانقيادا لرسله فما لم يأت به العبد لم يأت بسبب النجاة من عذاب الله والفوز بثوابه، وكل دين سواه فباطل Maksudnya: barangsiapa yang beragama dengan agama selain Islam dalam rangka menyembah Allah -yang Islam itu adalah sebuah agama yang Allah ridhai untuk hamba-hamba-Nya-, maka (pastilah) amalnya tertolak, tidak diterima. Karena agama Islam mengandung kepasrahan kepada Allah dengan ikhlas dan ketaatan kepada para rasul-Nya. Oleh karena itu, selama seorang hamba tidak beragama dengannya, maka berarti ia tidak mengambil sebab keselamatan dari azab Allah dan sebab keberuntungan untuk mendapatkan pahala-Nya. Jadi, setiap agama selain Islam itu adalah agama yang batil.”Apakah Itu Islam?Kata “Islam” secara umum diperuntukkan untuk dua makna, yaitu:1. Islam dengan Makna UmumIslam dengan makna kepasrahan kepada Allah semata yang mengandung ketaatan dan peribadahan kepada-Nya semata. Oleh karena itulah,  para ulama rahimahumullah mendefinisikan Islam dengan makna umum ini dengan lafaz berikut.الاستسلام لله بالتوحيد، والانقياد له بالطاعة، والبراءة من الشرك وأهله“Berserah diri kepada Allah dengan mengesakan-Nya, tunduk kepada-Nya dengan menaati-Nya, dan benci terhadap perbuatan menyekutukan Allah (syirik) dan pelakunya”.Maka barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hanya menyembah-Nya dengan melaksanakan syari’at-Nya yang masih murni dan belum dihapus, maka ia adalah seorang muslim dan agamanya disebut dengan agama Islam (dengan makna umum).Agama Islam dengan makna umum ini merupakan agama seluruh para Nabi ‘alaihimush shalatu was salam. Syaikhul Islam rahimahullah menyatakan di dalam risalah At-Tadmuriyyah yang disebutkan dalam Majmu’ul Fatawa,وهذا الدين هو دين الإسلام الذي لا يقبل الله دينا غيره لا من الأولين ولا من الآخرين فإن جميع الأنبياء على دين الإسلام “Agama ini adalah agama Islam, yang Allah tidak menerima agama selainnya, tidak dari orang-orang terdahulu yang pertama-tama dan tidak pula dari orang-orang belakangan (terakhir), karena seluruh para nabi ‘alaihimush shalatu was salam beragama Islam”.Kemudian beliaupun menyebutkan dalil-dalil bahwa seluruh  para nabi ‘alaihimush shalatu was salam beragama Islam, di antaranya yaitu:– Firman Allah Ta’ala tentang Nabi Yusuf ‘alaihis salamوَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ نُوحٍ إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ يَا قَوْمِ إِنْ كَانَ كَبُرَ عَلَيْكُمْ مَقَامِي وَتَذْكِيرِي بِآيَاتِ اللَّهِ فَعَلَى اللَّهِ تَوَكَّلْتُ فَأَجْمِعُوا أَمْرَكُمْ وَشُرَكَاءَكُمْ ثُمَّ لَا يَكُنْ أَمْرُكُمْ عَلَيْكُمْ غُمَّةً ثُمَّ اقْضُوا إِلَيَّ وَلَا تُنْظِرُونِ“Dan bacakanIah kepada mereka berita penting tentang Nuh di waktu dia berkata kepada kaumnya: “Hai kaumku, jika terasa berat bagimu tinggal (bersamaku) dan peringatanku (kepadamu) dengan ayat-ayat Allah, maka kepada Allah-lah aku bertawakal, karena itu bulatkanlah keputusanmu dan (kumpulkanlah) sekutu-sekutumu (untuk membinasakanku). Kemudian janganlah keputusanmu itu dirahasiakan, lalu lakukanlah terhadap diriku, dan janganlah kamu memberi tangguh kepadaku.”فَإِنْ تَوَلَّيْتُمْ فَمَا سَأَلْتُكُمْ مِنْ أَجْرٍ ۖ إِنْ أَجْرِيَ إِلَّا عَلَى اللَّهِ ۖ وَأُمِرْتُ أَنْ أَكُونَ مِنَ الْمُسْلِمِينَ“Jika kamu berpaling (dari peringatanku), aku tidak meminta upah sedikitpun darimu. Ganjaran untukku tidak lain hanyalah dari Allah belaka, dan aku disuruh supaya aku termasuk golongan muslimin” (QS.Yunus: 71-72).[Bersambung]***Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id🔍 Hati Yang Sakit, Hukum Wanita Keluar Rumah, Memendam Rasa Cinta Dalam Islam, Materi Kultum Tentang Bersyukur

Keindahan Islam (2)

Allah Ta’ala berfirman,وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) darinya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi” (QS. Ali Imraan: 85).Syaikh As-Sa’di berkata,أي: من يدين لله بغير دين الإسلام الذي ارتضاه الله لعباده، فعمله مردود غير مقبول، لأن دين الإسلام هو المتضمن للاستسلام لله، إخلاصا وانقيادا لرسله فما لم يأت به العبد لم يأت بسبب النجاة من عذاب الله والفوز بثوابه، وكل دين سواه فباطل Maksudnya: barangsiapa yang beragama dengan agama selain Islam dalam rangka menyembah Allah -yang Islam itu adalah sebuah agama yang Allah ridhai untuk hamba-hamba-Nya-, maka (pastilah) amalnya tertolak, tidak diterima. Karena agama Islam mengandung kepasrahan kepada Allah dengan ikhlas dan ketaatan kepada para rasul-Nya. Oleh karena itu, selama seorang hamba tidak beragama dengannya, maka berarti ia tidak mengambil sebab keselamatan dari azab Allah dan sebab keberuntungan untuk mendapatkan pahala-Nya. Jadi, setiap agama selain Islam itu adalah agama yang batil.”Apakah Itu Islam?Kata “Islam” secara umum diperuntukkan untuk dua makna, yaitu:1. Islam dengan Makna UmumIslam dengan makna kepasrahan kepada Allah semata yang mengandung ketaatan dan peribadahan kepada-Nya semata. Oleh karena itulah,  para ulama rahimahumullah mendefinisikan Islam dengan makna umum ini dengan lafaz berikut.الاستسلام لله بالتوحيد، والانقياد له بالطاعة، والبراءة من الشرك وأهله“Berserah diri kepada Allah dengan mengesakan-Nya, tunduk kepada-Nya dengan menaati-Nya, dan benci terhadap perbuatan menyekutukan Allah (syirik) dan pelakunya”.Maka barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hanya menyembah-Nya dengan melaksanakan syari’at-Nya yang masih murni dan belum dihapus, maka ia adalah seorang muslim dan agamanya disebut dengan agama Islam (dengan makna umum).Agama Islam dengan makna umum ini merupakan agama seluruh para Nabi ‘alaihimush shalatu was salam. Syaikhul Islam rahimahullah menyatakan di dalam risalah At-Tadmuriyyah yang disebutkan dalam Majmu’ul Fatawa,وهذا الدين هو دين الإسلام الذي لا يقبل الله دينا غيره لا من الأولين ولا من الآخرين فإن جميع الأنبياء على دين الإسلام “Agama ini adalah agama Islam, yang Allah tidak menerima agama selainnya, tidak dari orang-orang terdahulu yang pertama-tama dan tidak pula dari orang-orang belakangan (terakhir), karena seluruh para nabi ‘alaihimush shalatu was salam beragama Islam”.Kemudian beliaupun menyebutkan dalil-dalil bahwa seluruh  para nabi ‘alaihimush shalatu was salam beragama Islam, di antaranya yaitu:– Firman Allah Ta’ala tentang Nabi Yusuf ‘alaihis salamوَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ نُوحٍ إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ يَا قَوْمِ إِنْ كَانَ كَبُرَ عَلَيْكُمْ مَقَامِي وَتَذْكِيرِي بِآيَاتِ اللَّهِ فَعَلَى اللَّهِ تَوَكَّلْتُ فَأَجْمِعُوا أَمْرَكُمْ وَشُرَكَاءَكُمْ ثُمَّ لَا يَكُنْ أَمْرُكُمْ عَلَيْكُمْ غُمَّةً ثُمَّ اقْضُوا إِلَيَّ وَلَا تُنْظِرُونِ“Dan bacakanIah kepada mereka berita penting tentang Nuh di waktu dia berkata kepada kaumnya: “Hai kaumku, jika terasa berat bagimu tinggal (bersamaku) dan peringatanku (kepadamu) dengan ayat-ayat Allah, maka kepada Allah-lah aku bertawakal, karena itu bulatkanlah keputusanmu dan (kumpulkanlah) sekutu-sekutumu (untuk membinasakanku). Kemudian janganlah keputusanmu itu dirahasiakan, lalu lakukanlah terhadap diriku, dan janganlah kamu memberi tangguh kepadaku.”فَإِنْ تَوَلَّيْتُمْ فَمَا سَأَلْتُكُمْ مِنْ أَجْرٍ ۖ إِنْ أَجْرِيَ إِلَّا عَلَى اللَّهِ ۖ وَأُمِرْتُ أَنْ أَكُونَ مِنَ الْمُسْلِمِينَ“Jika kamu berpaling (dari peringatanku), aku tidak meminta upah sedikitpun darimu. Ganjaran untukku tidak lain hanyalah dari Allah belaka, dan aku disuruh supaya aku termasuk golongan muslimin” (QS.Yunus: 71-72).[Bersambung]***Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id🔍 Hati Yang Sakit, Hukum Wanita Keluar Rumah, Memendam Rasa Cinta Dalam Islam, Materi Kultum Tentang Bersyukur
Allah Ta’ala berfirman,وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) darinya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi” (QS. Ali Imraan: 85).Syaikh As-Sa’di berkata,أي: من يدين لله بغير دين الإسلام الذي ارتضاه الله لعباده، فعمله مردود غير مقبول، لأن دين الإسلام هو المتضمن للاستسلام لله، إخلاصا وانقيادا لرسله فما لم يأت به العبد لم يأت بسبب النجاة من عذاب الله والفوز بثوابه، وكل دين سواه فباطل Maksudnya: barangsiapa yang beragama dengan agama selain Islam dalam rangka menyembah Allah -yang Islam itu adalah sebuah agama yang Allah ridhai untuk hamba-hamba-Nya-, maka (pastilah) amalnya tertolak, tidak diterima. Karena agama Islam mengandung kepasrahan kepada Allah dengan ikhlas dan ketaatan kepada para rasul-Nya. Oleh karena itu, selama seorang hamba tidak beragama dengannya, maka berarti ia tidak mengambil sebab keselamatan dari azab Allah dan sebab keberuntungan untuk mendapatkan pahala-Nya. Jadi, setiap agama selain Islam itu adalah agama yang batil.”Apakah Itu Islam?Kata “Islam” secara umum diperuntukkan untuk dua makna, yaitu:1. Islam dengan Makna UmumIslam dengan makna kepasrahan kepada Allah semata yang mengandung ketaatan dan peribadahan kepada-Nya semata. Oleh karena itulah,  para ulama rahimahumullah mendefinisikan Islam dengan makna umum ini dengan lafaz berikut.الاستسلام لله بالتوحيد، والانقياد له بالطاعة، والبراءة من الشرك وأهله“Berserah diri kepada Allah dengan mengesakan-Nya, tunduk kepada-Nya dengan menaati-Nya, dan benci terhadap perbuatan menyekutukan Allah (syirik) dan pelakunya”.Maka barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hanya menyembah-Nya dengan melaksanakan syari’at-Nya yang masih murni dan belum dihapus, maka ia adalah seorang muslim dan agamanya disebut dengan agama Islam (dengan makna umum).Agama Islam dengan makna umum ini merupakan agama seluruh para Nabi ‘alaihimush shalatu was salam. Syaikhul Islam rahimahullah menyatakan di dalam risalah At-Tadmuriyyah yang disebutkan dalam Majmu’ul Fatawa,وهذا الدين هو دين الإسلام الذي لا يقبل الله دينا غيره لا من الأولين ولا من الآخرين فإن جميع الأنبياء على دين الإسلام “Agama ini adalah agama Islam, yang Allah tidak menerima agama selainnya, tidak dari orang-orang terdahulu yang pertama-tama dan tidak pula dari orang-orang belakangan (terakhir), karena seluruh para nabi ‘alaihimush shalatu was salam beragama Islam”.Kemudian beliaupun menyebutkan dalil-dalil bahwa seluruh  para nabi ‘alaihimush shalatu was salam beragama Islam, di antaranya yaitu:– Firman Allah Ta’ala tentang Nabi Yusuf ‘alaihis salamوَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ نُوحٍ إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ يَا قَوْمِ إِنْ كَانَ كَبُرَ عَلَيْكُمْ مَقَامِي وَتَذْكِيرِي بِآيَاتِ اللَّهِ فَعَلَى اللَّهِ تَوَكَّلْتُ فَأَجْمِعُوا أَمْرَكُمْ وَشُرَكَاءَكُمْ ثُمَّ لَا يَكُنْ أَمْرُكُمْ عَلَيْكُمْ غُمَّةً ثُمَّ اقْضُوا إِلَيَّ وَلَا تُنْظِرُونِ“Dan bacakanIah kepada mereka berita penting tentang Nuh di waktu dia berkata kepada kaumnya: “Hai kaumku, jika terasa berat bagimu tinggal (bersamaku) dan peringatanku (kepadamu) dengan ayat-ayat Allah, maka kepada Allah-lah aku bertawakal, karena itu bulatkanlah keputusanmu dan (kumpulkanlah) sekutu-sekutumu (untuk membinasakanku). Kemudian janganlah keputusanmu itu dirahasiakan, lalu lakukanlah terhadap diriku, dan janganlah kamu memberi tangguh kepadaku.”فَإِنْ تَوَلَّيْتُمْ فَمَا سَأَلْتُكُمْ مِنْ أَجْرٍ ۖ إِنْ أَجْرِيَ إِلَّا عَلَى اللَّهِ ۖ وَأُمِرْتُ أَنْ أَكُونَ مِنَ الْمُسْلِمِينَ“Jika kamu berpaling (dari peringatanku), aku tidak meminta upah sedikitpun darimu. Ganjaran untukku tidak lain hanyalah dari Allah belaka, dan aku disuruh supaya aku termasuk golongan muslimin” (QS.Yunus: 71-72).[Bersambung]***Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id🔍 Hati Yang Sakit, Hukum Wanita Keluar Rumah, Memendam Rasa Cinta Dalam Islam, Materi Kultum Tentang Bersyukur


Allah Ta’ala berfirman,وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) darinya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi” (QS. Ali Imraan: 85).Syaikh As-Sa’di berkata,أي: من يدين لله بغير دين الإسلام الذي ارتضاه الله لعباده، فعمله مردود غير مقبول، لأن دين الإسلام هو المتضمن للاستسلام لله، إخلاصا وانقيادا لرسله فما لم يأت به العبد لم يأت بسبب النجاة من عذاب الله والفوز بثوابه، وكل دين سواه فباطل Maksudnya: barangsiapa yang beragama dengan agama selain Islam dalam rangka menyembah Allah -yang Islam itu adalah sebuah agama yang Allah ridhai untuk hamba-hamba-Nya-, maka (pastilah) amalnya tertolak, tidak diterima. Karena agama Islam mengandung kepasrahan kepada Allah dengan ikhlas dan ketaatan kepada para rasul-Nya. Oleh karena itu, selama seorang hamba tidak beragama dengannya, maka berarti ia tidak mengambil sebab keselamatan dari azab Allah dan sebab keberuntungan untuk mendapatkan pahala-Nya. Jadi, setiap agama selain Islam itu adalah agama yang batil.”Apakah Itu Islam?Kata “Islam” secara umum diperuntukkan untuk dua makna, yaitu:1. Islam dengan Makna UmumIslam dengan makna kepasrahan kepada Allah semata yang mengandung ketaatan dan peribadahan kepada-Nya semata. Oleh karena itulah,  para ulama rahimahumullah mendefinisikan Islam dengan makna umum ini dengan lafaz berikut.الاستسلام لله بالتوحيد، والانقياد له بالطاعة، والبراءة من الشرك وأهله“Berserah diri kepada Allah dengan mengesakan-Nya, tunduk kepada-Nya dengan menaati-Nya, dan benci terhadap perbuatan menyekutukan Allah (syirik) dan pelakunya”.Maka barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hanya menyembah-Nya dengan melaksanakan syari’at-Nya yang masih murni dan belum dihapus, maka ia adalah seorang muslim dan agamanya disebut dengan agama Islam (dengan makna umum).Agama Islam dengan makna umum ini merupakan agama seluruh para Nabi ‘alaihimush shalatu was salam. Syaikhul Islam rahimahullah menyatakan di dalam risalah At-Tadmuriyyah yang disebutkan dalam Majmu’ul Fatawa,وهذا الدين هو دين الإسلام الذي لا يقبل الله دينا غيره لا من الأولين ولا من الآخرين فإن جميع الأنبياء على دين الإسلام “Agama ini adalah agama Islam, yang Allah tidak menerima agama selainnya, tidak dari orang-orang terdahulu yang pertama-tama dan tidak pula dari orang-orang belakangan (terakhir), karena seluruh para nabi ‘alaihimush shalatu was salam beragama Islam”.Kemudian beliaupun menyebutkan dalil-dalil bahwa seluruh  para nabi ‘alaihimush shalatu was salam beragama Islam, di antaranya yaitu:– Firman Allah Ta’ala tentang Nabi Yusuf ‘alaihis salamوَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ نُوحٍ إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ يَا قَوْمِ إِنْ كَانَ كَبُرَ عَلَيْكُمْ مَقَامِي وَتَذْكِيرِي بِآيَاتِ اللَّهِ فَعَلَى اللَّهِ تَوَكَّلْتُ فَأَجْمِعُوا أَمْرَكُمْ وَشُرَكَاءَكُمْ ثُمَّ لَا يَكُنْ أَمْرُكُمْ عَلَيْكُمْ غُمَّةً ثُمَّ اقْضُوا إِلَيَّ وَلَا تُنْظِرُونِ“Dan bacakanIah kepada mereka berita penting tentang Nuh di waktu dia berkata kepada kaumnya: “Hai kaumku, jika terasa berat bagimu tinggal (bersamaku) dan peringatanku (kepadamu) dengan ayat-ayat Allah, maka kepada Allah-lah aku bertawakal, karena itu bulatkanlah keputusanmu dan (kumpulkanlah) sekutu-sekutumu (untuk membinasakanku). Kemudian janganlah keputusanmu itu dirahasiakan, lalu lakukanlah terhadap diriku, dan janganlah kamu memberi tangguh kepadaku.”فَإِنْ تَوَلَّيْتُمْ فَمَا سَأَلْتُكُمْ مِنْ أَجْرٍ ۖ إِنْ أَجْرِيَ إِلَّا عَلَى اللَّهِ ۖ وَأُمِرْتُ أَنْ أَكُونَ مِنَ الْمُسْلِمِينَ“Jika kamu berpaling (dari peringatanku), aku tidak meminta upah sedikitpun darimu. Ganjaran untukku tidak lain hanyalah dari Allah belaka, dan aku disuruh supaya aku termasuk golongan muslimin” (QS.Yunus: 71-72).[Bersambung]***Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id🔍 Hati Yang Sakit, Hukum Wanita Keluar Rumah, Memendam Rasa Cinta Dalam Islam, Materi Kultum Tentang Bersyukur

Khutbah Jumat: Lima Sikap Menghadapi Fitnah Media

Fitnah media begitu kejam sekali saat ini, apalagi kalau sudah gosipkan orang-orang baik, jujur dan shalih.   Khutbah Pertama   إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَ مِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِىَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ اللّهُمَّ صَلِّ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ اللّهُمَّ عَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا، وَانْفَعَنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا، وَزِدْنَا عِلْماً، وَأَرَنَا الحَقَّ حَقّاً وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرَنَا البَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ Amma ba’du Ma’asyirol muslimin jama’ah shalat Jumat rahimani wa rahimakumullah …   Segala puji bagi Allah yang telah memberikan kita nikmat. Nikmat yang paling besar adalah nikmat iman dan islam yang Allah anugerahkan. Selain Allah juga masih memberikan kita keselamatan dari berbagai macam musibah, kesulitan dan fitnah. Dan kita memohon pada Allah supaya nikmat-nikmat tersebut tetap terus terjaga. Moga kita dapat mensyukuri nikmat yang ada tadi dengan terus meningkatkan ketakwaan pada Allah.   Allah Ta’ala memerintah untuk bertakwa dengan sebenar-benarnya, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS. Ali Imran: 102)   Shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada junjungan dan suri tauladan kita, Nabi besar kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, juga kepada para sahabat dan istri-istri beliau yang tercinta serta pada setiap pengikut beliau yang mengikuti beliau dengan baik hingga akhir zaman.   Para jama’ah rahimani wa rahimakumullah … Pasti di antara kita adalah orang-orang yang gemar membaca berita. Selain berita bola, senang pula membaca berita politik dan selebriti. Lebih-lebih yang senang dibaca adalah berita dari media mainstream tentang artis bercerai dan seputar rumah tangga artis yang rusak. Jarang berita baik yang biasa diperoleh lewat koran atau gadget kita. Semua berita diperoleh seputar itu tadi. Sama halnya juga kalau ada pejabat yang korupsi, jadi kesenangan kita untuk mengikutinya hingga tuntas, hingga pejabat tersebut masuk dalam bui. Ada beberapa nasihat dari kami selaku khotib Jumat kali ini dalam menyikapi berita media. Ada lima sikap sebagai seorang muslim yang wajib kita miliki.   Sikap pertama: Hati-hati dalam menerima berita dan jangan asal-asalan menyebar berita.   Apalagi itu aib, lebih-lebih beritanya belum 100% benar, bisa jadi juga itu fitnah atau jebakan. Apalagi si pelaku mengaku bahwa ia tidak berbuat hal itu dan kita tahu dia adalah orang shalih yang jujur. Cobalah lihat bagaimana Allah perintahkan kita untuk mengecek berita terlebih dahulu. Jangan mudah-mudahan untuk menyebarnya sampai kita punya bukti yang kuat.   Allah Ta’ala berfirman, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS. Al Hujurat: 6).   Ibnu Katsir rahimahullah dalam Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim berkata, “Allah Ta’ala memerintahkan untuk melakukan kroscek terhadap berita dari orang fasik. Karena boleh jadi berita yang tersebar adalah berita dusta dan keliru.”   Karena kehormatan seorang muslim benar-benar harus kita jaga.   Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengatakan pada khutbah beliau saat musim haji, فَإِنَّ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ وَأَعْرَاضَكُمْ بَيْنَكُمْ حَرَامٌ كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا ، فِى شَهْرِكُمْ هَذَا ، فِى بَلَدِكُمْ هَذَا “Sesungguhnya dara, harta dan kehormatan sesama kalian itu terjaga sebagaimana kemuliaan hari ini, kemuliaan bulan ini dan kemuliaan negeri kalian ini.” (HR. Bukhari, no. 67 dan Muslim, no. 1679)   Coba lihat kerjaan para pencari berita saat ini. Jika ada artis atau pejabat yang terkena kasus, mereka tunggu seharian di depan rumah, berjejer menunggu berita apa yang bisa dibuat. Orang yang ingin diberitakan tidak ada di rumah, sudah jadi berita yang WAH. Belum jadi tersangka, sudah diisukan ini dan itu. Wallahul musta’an.   Padahal dalam kitab suci kita telah diterangkan, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang.” (QS. Al Hujurat: 12).   Sebagaimana disebutkan dalam Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim karya Ibnu Katsir, tajassus -seperti kata Imam Al Auza’i- adalah mencari-cari sesuatu. Ada juga istilah tahassus yang maksudnya adalah menguping untuk mencari-cari kejelekan suatu kaum di mana mereka tidak suka untuk didengar, atau menguping di depan pintu-pintu mereka. Demikian diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim.   Persis bukan dengan kelakuan pencari berita saat ini?   Coba simak perkataan keras Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada orang yang melakukan tajassus.   Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, وَمَنِ اسْتَمَعَ إِلَى حَدِيثِ قَوْمٍ وَهُمْ لَهُ كَارِهُونَ أَوْ يَفِرُّونَ مِنْهُ ، صُبَّ فِى أُذُنِهِ الآنُكُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ “Barangsiapa menguping omongan orang lain, sedangkan mereka tidak suka (kalau didengarkan selain mereka) atau mereka berlepas diri dari hal itu, maka pada telinga yang menguping tadi akan dituangkan cairan tembaga pada hari kiamat.” (HR. Bukhari, no. 7042).   Jama’ah rahimani wa rahimakumullah … Saran kami, para jamaah kalau mendengar berita-berita media atau mendapatkan berita gosip lewat pesan singkat, lewat WhatsApp, lewat Facebook atau media sosial lainnya, jangan mudah-mudahan untuk menshare atau menyebarkannya.   Ingatlah hadits berikut ini …   Dari Hafsh bin ‘Ashim, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ “Cukup seseorang dikatakan dusta jika ia menceritakan setiap apa yang ia dengar.” (HR. Muslim, no. 5)   Berarti dapat kita katakan, cukup seseorang dikatakan pendusta jika ia menshare setiap berita (yang tidak jelas) yang ia peroleh.   Sikap kedua: Menuduh esek-esek atau selingkuh itu bahaya.   Coba lihat, mudah sekali media menuduh jika ada pejabat -termasuk yang shalih dan baik- tertangkap tangan, pasti dikaitkan dengan ada wanita dalam penangkapan tersebut, lalu dikatakan “habis esek-esek atau selingkuh”. Wallahul musta’an. Padahal yang buat berita dan opini ini tidak bisa mendatangkan bukti esek-esek atau perselingkuhan tersebut. Dan ingatlah menuduh selingkuh seperti itu berat, berat hukumannya di dunia dan berat siksanya di akhirat.   Allah Ta’ala berfirman, وَالَّذِينَ يَرْمُونَ الْمُحْصَنَاتِ ثُمَّ لَمْ يَأْتُوا بِأَرْبَعَةِ شُهَدَاءَ فَاجْلِدُوهُمْ ثَمَانِينَ جَلْدَةً وَلَا تَقْبَلُوا لَهُمْ شَهَادَةً أَبَدًا وَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ “Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik (berbuat zina) dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, maka deralah mereka (yang menuduh itu) delapan puluh kali dera, dan janganlah kamu terima kesaksian mereka buat selama-lamanya. Dan mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS. An-Nuur: 4)   Lihatlah yang menuduh tanpa bukti dihukum qazaf dengan 80 kali cambukan. Apalagi dengan media yang senang berita dusta itu tersebar, dikatakan juga pada ayat selanjutnya pada surat An-Nuur, إِنَّ الَّذِينَ يُحِبُّونَ أَنْ تَشِيعَ الْفَاحِشَةُ فِي الَّذِينَ آَمَنُوا لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ فِي الدُّنْيَا وَالْآَخِرَةِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ “Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui, sedang, kamu tidak mengetahui.” (QS. An-Nuur: 19) Sikap ketiga: Jangan sampai menghina dan mencela   Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, وَكُلُّ مَعْصِيَةٍ عُيِّرَتْ بِهَا أَخَاكَ فَهِيَ إِلَيْكَ يَحْتَمِلُ أَنْ يُرِيْدَ بِهِ أَنَّهَا صَائِرَةٌ إِلَيْكَ وَلاَ بُدَّ أَنْ تَعْمَلَهَا “Setiap maksiat yang dijelek-jelekkan pada saudaramu, maka itu akan kembali padamu. Maksudnya, engkau bisa dipastikan melakukan dosa tersebut.” (Madarijus Salikin, 1: 176)   Bagaimana jika kriminal yang dituduhkan tidak benar, hanya fitnah atau hanyalah jebakan? Kita akan tahu akibatnya.   Sikap keempat: Doakan kebaikan bagi yang terfitnah.   Doakanlah dia! Apalagi itu adalah orang yang lahiriyahnya adalah orang shalih dan suka menebar kebaikan di mana pun, bahkan punya beberapa pesantren yang menyebar Islam yang benar.   Ingat sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang pernah disampaikan pada Abu Darda’ dan sampai juga pada Ummu Darda’, دَعْوَةُ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ لأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ كُلَّمَا دَعَا لأَخِيهِ بِخَيْرٍ قَالَ الْمَلَكُ الْمُوَكَّلُ بِهِ آمِينَ وَلَكَ بِمِثْلٍ “Do’a seorang muslim kepada saudaranya ketika saudaranya tidak mengetahuinya adalah do’a yang mustajab (terkabulkan). Di sisinya ada malaikat (yang bertugas mengaminkan do’anya kepada saudarany). Ketika dia berdo’a kebaikan kepada saudaranya, malaikat tersebut berkata : Amin, engkau akan mendapatkan yang semisal dengannya.” (HR. Muslim, no. 2733)   Sikap kelima: Belum tentu kita lebih baik darinya.   Jangan sampai kita sendiri merasa lebih baik dari orang yang punya kasus, hingga gampang-gampangan untuk menghina dan merendahkan.   Allah Ta’ala berfirman, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَى أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ “Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka.” (QS. Al-Hujurat: 11)   Semoga Allah memberi taufik dan hidayah pada kita semua. Demikian khutbah pertama ini. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا َوَاسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ إِنَّهُ هُوَ السَمِيْعُ العَلِيْمُ Khutbah Kedua   الحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالمِيْنَ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَافِ الأَنْبِيَاءِ وَالمرْسَلِيْنَ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ   Amma ba’du Ma’asyirol muslimin jama’ah shalat Jumat rahimani wa rahimakumullah …   Di khutbah kedua ini kami ingin ingatkan untuk semua … Ingatlah dunia itu sebentar … Allah itu pengadil sesungguhnya. Kita yakini Allah itu Maha Adil. Kalau ada yang salah di dunia, dia benar-benar menyesal dan bertaubat, akhiratnya pasti aman. Kalau ada yang dizalimi, ingatlah makin banyak pahala yang diperoleh, ia akan makin untung di akhirat. Karena pahala semua yang menzaliminya akan pindah kepadanya. Hingga yang menzalimi akan menjadi orang yang bangkrut, bangkrut dan bangkrut. Coba perhatikan hadits yang membicarakan tentang orang yang muflis atau bangkrut berikut ini, haditsnya dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bertanya pada para sahabat, أَتَدْرُونَ مَنِ الْمُفْلِسُ قَالُوا الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لَا دِرْهَمَ لَهُ وَلَا مَتَاعَ فَقَالَ إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي مَنْ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلَاةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا وَقَذَفَ هَذَا وَأَكَلَ مَالَ هَذَا وَسَفَكَ دَمَ هَذَا وَضَرَبَ هَذَا فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ “Apakah kalian tahu siapa muflis (orang yang pailit) itu?” Para sahabat menjawab, “Muflis (orang yang pailit) itu adalah yang tidak mempunyai dirham maupun harta benda.” Akan tetapi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Muflis (orang yang pailit) dari umatku ialah, orang yang datang pada hari Kiamat membawa (pahala) shalat, puasa dan zakat, namun (ketika di dunia) dia telah mencaci dan (salah) menuduh orang lain, makan harta, menumpahkan darah dan memukul orang lain (tanpa hak). Maka orang-orang itu akan diberi pahala dari kebaikan-kebaikannya. Jika telah habis kebaikan-kebaikannya, maka dosa-dosa mereka akan ditimpakan kepadanya, kemudian dia akan dilemparkan ke dalam neraka.” (HR. Muslim, no. 2581)   Hati-hatilah pembuat berita, bisa jadi Anda masuk orang yang muflis seperti di atas … Bertakwalah pada Allah, bertakwalah pada Allah.   Demikian khutbah kami untuk Jumat kali ini.   Semoga Allah menyelamatkan kita, menyelamatkan orang shalih di tengah kita, menyelematkan setiap pemimpin dan setiap hakim kita yang berlaku adil, moga semua diselamatkan dari berbagai macam musibah, diselamatkan dari fitnah yang keji, diselamatkan dari orang-orang yang hasad (cemburu), diselamatkan pula dari kerugian akhirat dan siksa neraka.   إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ   اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَةِ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ رَبَّنَا انْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْمُفْسِدِينَ رَبَّنَا لَا تَجْعَلْنَا فِتْنَةً لِلَّذِينَ كَفَرُوا وَاغْفِرْ لَنَا رَبَّنَا إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، اَللَّهُمَّ وَفِّقْهُمْ لِمَا فِيْهِ صَلَاحُهُمْ وَصَلَاحُ اْلإِسْلَامِ وَالْمُسْلِمِيْنَ اَللَّهُمَّ أَعِنْهُمْ عَلَى الْقِيَامِ بِمَهَامِهِمْ كَمَا أَمَرْتَهُمْ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ اَللَّهُمَّ أَبْعِدْ عَنْهُمْ بِطَانَةَ السُّوْءِ وَالْمُفْسِدِيْنَ وَقَرِّبْ إِلَيْهِمْ أَهْلَ الْخَيْرِ وَالنَّاصِحِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ إِيْمَانًا لاَ يَرْتَدُّ، وَنَعِيْمًا لاَ يَنْفَدُ، وَمُرَافَقَةَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي أَعْلَى جَنَّةِ الْخُلْدِ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن. وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ   — Naskah Khutbah Jum’at di Masjid Jenderal Sudirman Panggang, Gunungkidul – Jum’at Pahing, 28 Rabi’uts Tsani 1438 H (27 Januari 2017) Download Naskah Khutbah Jumat: Lima Sikap Menghadapi Fitnah Media  — Disusun di DS Panggang, Jumat, 28 Rabi’uts Tsani 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagsbahaya lisan berita koran dosa besar fasik ghibah jujur korupsi tajassus taubat

Khutbah Jumat: Lima Sikap Menghadapi Fitnah Media

Fitnah media begitu kejam sekali saat ini, apalagi kalau sudah gosipkan orang-orang baik, jujur dan shalih.   Khutbah Pertama   إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَ مِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِىَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ اللّهُمَّ صَلِّ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ اللّهُمَّ عَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا، وَانْفَعَنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا، وَزِدْنَا عِلْماً، وَأَرَنَا الحَقَّ حَقّاً وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرَنَا البَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ Amma ba’du Ma’asyirol muslimin jama’ah shalat Jumat rahimani wa rahimakumullah …   Segala puji bagi Allah yang telah memberikan kita nikmat. Nikmat yang paling besar adalah nikmat iman dan islam yang Allah anugerahkan. Selain Allah juga masih memberikan kita keselamatan dari berbagai macam musibah, kesulitan dan fitnah. Dan kita memohon pada Allah supaya nikmat-nikmat tersebut tetap terus terjaga. Moga kita dapat mensyukuri nikmat yang ada tadi dengan terus meningkatkan ketakwaan pada Allah.   Allah Ta’ala memerintah untuk bertakwa dengan sebenar-benarnya, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS. Ali Imran: 102)   Shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada junjungan dan suri tauladan kita, Nabi besar kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, juga kepada para sahabat dan istri-istri beliau yang tercinta serta pada setiap pengikut beliau yang mengikuti beliau dengan baik hingga akhir zaman.   Para jama’ah rahimani wa rahimakumullah … Pasti di antara kita adalah orang-orang yang gemar membaca berita. Selain berita bola, senang pula membaca berita politik dan selebriti. Lebih-lebih yang senang dibaca adalah berita dari media mainstream tentang artis bercerai dan seputar rumah tangga artis yang rusak. Jarang berita baik yang biasa diperoleh lewat koran atau gadget kita. Semua berita diperoleh seputar itu tadi. Sama halnya juga kalau ada pejabat yang korupsi, jadi kesenangan kita untuk mengikutinya hingga tuntas, hingga pejabat tersebut masuk dalam bui. Ada beberapa nasihat dari kami selaku khotib Jumat kali ini dalam menyikapi berita media. Ada lima sikap sebagai seorang muslim yang wajib kita miliki.   Sikap pertama: Hati-hati dalam menerima berita dan jangan asal-asalan menyebar berita.   Apalagi itu aib, lebih-lebih beritanya belum 100% benar, bisa jadi juga itu fitnah atau jebakan. Apalagi si pelaku mengaku bahwa ia tidak berbuat hal itu dan kita tahu dia adalah orang shalih yang jujur. Cobalah lihat bagaimana Allah perintahkan kita untuk mengecek berita terlebih dahulu. Jangan mudah-mudahan untuk menyebarnya sampai kita punya bukti yang kuat.   Allah Ta’ala berfirman, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS. Al Hujurat: 6).   Ibnu Katsir rahimahullah dalam Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim berkata, “Allah Ta’ala memerintahkan untuk melakukan kroscek terhadap berita dari orang fasik. Karena boleh jadi berita yang tersebar adalah berita dusta dan keliru.”   Karena kehormatan seorang muslim benar-benar harus kita jaga.   Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengatakan pada khutbah beliau saat musim haji, فَإِنَّ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ وَأَعْرَاضَكُمْ بَيْنَكُمْ حَرَامٌ كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا ، فِى شَهْرِكُمْ هَذَا ، فِى بَلَدِكُمْ هَذَا “Sesungguhnya dara, harta dan kehormatan sesama kalian itu terjaga sebagaimana kemuliaan hari ini, kemuliaan bulan ini dan kemuliaan negeri kalian ini.” (HR. Bukhari, no. 67 dan Muslim, no. 1679)   Coba lihat kerjaan para pencari berita saat ini. Jika ada artis atau pejabat yang terkena kasus, mereka tunggu seharian di depan rumah, berjejer menunggu berita apa yang bisa dibuat. Orang yang ingin diberitakan tidak ada di rumah, sudah jadi berita yang WAH. Belum jadi tersangka, sudah diisukan ini dan itu. Wallahul musta’an.   Padahal dalam kitab suci kita telah diterangkan, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang.” (QS. Al Hujurat: 12).   Sebagaimana disebutkan dalam Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim karya Ibnu Katsir, tajassus -seperti kata Imam Al Auza’i- adalah mencari-cari sesuatu. Ada juga istilah tahassus yang maksudnya adalah menguping untuk mencari-cari kejelekan suatu kaum di mana mereka tidak suka untuk didengar, atau menguping di depan pintu-pintu mereka. Demikian diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim.   Persis bukan dengan kelakuan pencari berita saat ini?   Coba simak perkataan keras Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada orang yang melakukan tajassus.   Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, وَمَنِ اسْتَمَعَ إِلَى حَدِيثِ قَوْمٍ وَهُمْ لَهُ كَارِهُونَ أَوْ يَفِرُّونَ مِنْهُ ، صُبَّ فِى أُذُنِهِ الآنُكُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ “Barangsiapa menguping omongan orang lain, sedangkan mereka tidak suka (kalau didengarkan selain mereka) atau mereka berlepas diri dari hal itu, maka pada telinga yang menguping tadi akan dituangkan cairan tembaga pada hari kiamat.” (HR. Bukhari, no. 7042).   Jama’ah rahimani wa rahimakumullah … Saran kami, para jamaah kalau mendengar berita-berita media atau mendapatkan berita gosip lewat pesan singkat, lewat WhatsApp, lewat Facebook atau media sosial lainnya, jangan mudah-mudahan untuk menshare atau menyebarkannya.   Ingatlah hadits berikut ini …   Dari Hafsh bin ‘Ashim, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ “Cukup seseorang dikatakan dusta jika ia menceritakan setiap apa yang ia dengar.” (HR. Muslim, no. 5)   Berarti dapat kita katakan, cukup seseorang dikatakan pendusta jika ia menshare setiap berita (yang tidak jelas) yang ia peroleh.   Sikap kedua: Menuduh esek-esek atau selingkuh itu bahaya.   Coba lihat, mudah sekali media menuduh jika ada pejabat -termasuk yang shalih dan baik- tertangkap tangan, pasti dikaitkan dengan ada wanita dalam penangkapan tersebut, lalu dikatakan “habis esek-esek atau selingkuh”. Wallahul musta’an. Padahal yang buat berita dan opini ini tidak bisa mendatangkan bukti esek-esek atau perselingkuhan tersebut. Dan ingatlah menuduh selingkuh seperti itu berat, berat hukumannya di dunia dan berat siksanya di akhirat.   Allah Ta’ala berfirman, وَالَّذِينَ يَرْمُونَ الْمُحْصَنَاتِ ثُمَّ لَمْ يَأْتُوا بِأَرْبَعَةِ شُهَدَاءَ فَاجْلِدُوهُمْ ثَمَانِينَ جَلْدَةً وَلَا تَقْبَلُوا لَهُمْ شَهَادَةً أَبَدًا وَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ “Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik (berbuat zina) dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, maka deralah mereka (yang menuduh itu) delapan puluh kali dera, dan janganlah kamu terima kesaksian mereka buat selama-lamanya. Dan mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS. An-Nuur: 4)   Lihatlah yang menuduh tanpa bukti dihukum qazaf dengan 80 kali cambukan. Apalagi dengan media yang senang berita dusta itu tersebar, dikatakan juga pada ayat selanjutnya pada surat An-Nuur, إِنَّ الَّذِينَ يُحِبُّونَ أَنْ تَشِيعَ الْفَاحِشَةُ فِي الَّذِينَ آَمَنُوا لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ فِي الدُّنْيَا وَالْآَخِرَةِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ “Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui, sedang, kamu tidak mengetahui.” (QS. An-Nuur: 19) Sikap ketiga: Jangan sampai menghina dan mencela   Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, وَكُلُّ مَعْصِيَةٍ عُيِّرَتْ بِهَا أَخَاكَ فَهِيَ إِلَيْكَ يَحْتَمِلُ أَنْ يُرِيْدَ بِهِ أَنَّهَا صَائِرَةٌ إِلَيْكَ وَلاَ بُدَّ أَنْ تَعْمَلَهَا “Setiap maksiat yang dijelek-jelekkan pada saudaramu, maka itu akan kembali padamu. Maksudnya, engkau bisa dipastikan melakukan dosa tersebut.” (Madarijus Salikin, 1: 176)   Bagaimana jika kriminal yang dituduhkan tidak benar, hanya fitnah atau hanyalah jebakan? Kita akan tahu akibatnya.   Sikap keempat: Doakan kebaikan bagi yang terfitnah.   Doakanlah dia! Apalagi itu adalah orang yang lahiriyahnya adalah orang shalih dan suka menebar kebaikan di mana pun, bahkan punya beberapa pesantren yang menyebar Islam yang benar.   Ingat sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang pernah disampaikan pada Abu Darda’ dan sampai juga pada Ummu Darda’, دَعْوَةُ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ لأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ كُلَّمَا دَعَا لأَخِيهِ بِخَيْرٍ قَالَ الْمَلَكُ الْمُوَكَّلُ بِهِ آمِينَ وَلَكَ بِمِثْلٍ “Do’a seorang muslim kepada saudaranya ketika saudaranya tidak mengetahuinya adalah do’a yang mustajab (terkabulkan). Di sisinya ada malaikat (yang bertugas mengaminkan do’anya kepada saudarany). Ketika dia berdo’a kebaikan kepada saudaranya, malaikat tersebut berkata : Amin, engkau akan mendapatkan yang semisal dengannya.” (HR. Muslim, no. 2733)   Sikap kelima: Belum tentu kita lebih baik darinya.   Jangan sampai kita sendiri merasa lebih baik dari orang yang punya kasus, hingga gampang-gampangan untuk menghina dan merendahkan.   Allah Ta’ala berfirman, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَى أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ “Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka.” (QS. Al-Hujurat: 11)   Semoga Allah memberi taufik dan hidayah pada kita semua. Demikian khutbah pertama ini. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا َوَاسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ إِنَّهُ هُوَ السَمِيْعُ العَلِيْمُ Khutbah Kedua   الحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالمِيْنَ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَافِ الأَنْبِيَاءِ وَالمرْسَلِيْنَ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ   Amma ba’du Ma’asyirol muslimin jama’ah shalat Jumat rahimani wa rahimakumullah …   Di khutbah kedua ini kami ingin ingatkan untuk semua … Ingatlah dunia itu sebentar … Allah itu pengadil sesungguhnya. Kita yakini Allah itu Maha Adil. Kalau ada yang salah di dunia, dia benar-benar menyesal dan bertaubat, akhiratnya pasti aman. Kalau ada yang dizalimi, ingatlah makin banyak pahala yang diperoleh, ia akan makin untung di akhirat. Karena pahala semua yang menzaliminya akan pindah kepadanya. Hingga yang menzalimi akan menjadi orang yang bangkrut, bangkrut dan bangkrut. Coba perhatikan hadits yang membicarakan tentang orang yang muflis atau bangkrut berikut ini, haditsnya dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bertanya pada para sahabat, أَتَدْرُونَ مَنِ الْمُفْلِسُ قَالُوا الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لَا دِرْهَمَ لَهُ وَلَا مَتَاعَ فَقَالَ إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي مَنْ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلَاةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا وَقَذَفَ هَذَا وَأَكَلَ مَالَ هَذَا وَسَفَكَ دَمَ هَذَا وَضَرَبَ هَذَا فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ “Apakah kalian tahu siapa muflis (orang yang pailit) itu?” Para sahabat menjawab, “Muflis (orang yang pailit) itu adalah yang tidak mempunyai dirham maupun harta benda.” Akan tetapi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Muflis (orang yang pailit) dari umatku ialah, orang yang datang pada hari Kiamat membawa (pahala) shalat, puasa dan zakat, namun (ketika di dunia) dia telah mencaci dan (salah) menuduh orang lain, makan harta, menumpahkan darah dan memukul orang lain (tanpa hak). Maka orang-orang itu akan diberi pahala dari kebaikan-kebaikannya. Jika telah habis kebaikan-kebaikannya, maka dosa-dosa mereka akan ditimpakan kepadanya, kemudian dia akan dilemparkan ke dalam neraka.” (HR. Muslim, no. 2581)   Hati-hatilah pembuat berita, bisa jadi Anda masuk orang yang muflis seperti di atas … Bertakwalah pada Allah, bertakwalah pada Allah.   Demikian khutbah kami untuk Jumat kali ini.   Semoga Allah menyelamatkan kita, menyelamatkan orang shalih di tengah kita, menyelematkan setiap pemimpin dan setiap hakim kita yang berlaku adil, moga semua diselamatkan dari berbagai macam musibah, diselamatkan dari fitnah yang keji, diselamatkan dari orang-orang yang hasad (cemburu), diselamatkan pula dari kerugian akhirat dan siksa neraka.   إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ   اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَةِ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ رَبَّنَا انْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْمُفْسِدِينَ رَبَّنَا لَا تَجْعَلْنَا فِتْنَةً لِلَّذِينَ كَفَرُوا وَاغْفِرْ لَنَا رَبَّنَا إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، اَللَّهُمَّ وَفِّقْهُمْ لِمَا فِيْهِ صَلَاحُهُمْ وَصَلَاحُ اْلإِسْلَامِ وَالْمُسْلِمِيْنَ اَللَّهُمَّ أَعِنْهُمْ عَلَى الْقِيَامِ بِمَهَامِهِمْ كَمَا أَمَرْتَهُمْ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ اَللَّهُمَّ أَبْعِدْ عَنْهُمْ بِطَانَةَ السُّوْءِ وَالْمُفْسِدِيْنَ وَقَرِّبْ إِلَيْهِمْ أَهْلَ الْخَيْرِ وَالنَّاصِحِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ إِيْمَانًا لاَ يَرْتَدُّ، وَنَعِيْمًا لاَ يَنْفَدُ، وَمُرَافَقَةَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي أَعْلَى جَنَّةِ الْخُلْدِ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن. وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ   — Naskah Khutbah Jum’at di Masjid Jenderal Sudirman Panggang, Gunungkidul – Jum’at Pahing, 28 Rabi’uts Tsani 1438 H (27 Januari 2017) Download Naskah Khutbah Jumat: Lima Sikap Menghadapi Fitnah Media  — Disusun di DS Panggang, Jumat, 28 Rabi’uts Tsani 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagsbahaya lisan berita koran dosa besar fasik ghibah jujur korupsi tajassus taubat
Fitnah media begitu kejam sekali saat ini, apalagi kalau sudah gosipkan orang-orang baik, jujur dan shalih.   Khutbah Pertama   إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَ مِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِىَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ اللّهُمَّ صَلِّ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ اللّهُمَّ عَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا، وَانْفَعَنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا، وَزِدْنَا عِلْماً، وَأَرَنَا الحَقَّ حَقّاً وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرَنَا البَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ Amma ba’du Ma’asyirol muslimin jama’ah shalat Jumat rahimani wa rahimakumullah …   Segala puji bagi Allah yang telah memberikan kita nikmat. Nikmat yang paling besar adalah nikmat iman dan islam yang Allah anugerahkan. Selain Allah juga masih memberikan kita keselamatan dari berbagai macam musibah, kesulitan dan fitnah. Dan kita memohon pada Allah supaya nikmat-nikmat tersebut tetap terus terjaga. Moga kita dapat mensyukuri nikmat yang ada tadi dengan terus meningkatkan ketakwaan pada Allah.   Allah Ta’ala memerintah untuk bertakwa dengan sebenar-benarnya, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS. Ali Imran: 102)   Shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada junjungan dan suri tauladan kita, Nabi besar kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, juga kepada para sahabat dan istri-istri beliau yang tercinta serta pada setiap pengikut beliau yang mengikuti beliau dengan baik hingga akhir zaman.   Para jama’ah rahimani wa rahimakumullah … Pasti di antara kita adalah orang-orang yang gemar membaca berita. Selain berita bola, senang pula membaca berita politik dan selebriti. Lebih-lebih yang senang dibaca adalah berita dari media mainstream tentang artis bercerai dan seputar rumah tangga artis yang rusak. Jarang berita baik yang biasa diperoleh lewat koran atau gadget kita. Semua berita diperoleh seputar itu tadi. Sama halnya juga kalau ada pejabat yang korupsi, jadi kesenangan kita untuk mengikutinya hingga tuntas, hingga pejabat tersebut masuk dalam bui. Ada beberapa nasihat dari kami selaku khotib Jumat kali ini dalam menyikapi berita media. Ada lima sikap sebagai seorang muslim yang wajib kita miliki.   Sikap pertama: Hati-hati dalam menerima berita dan jangan asal-asalan menyebar berita.   Apalagi itu aib, lebih-lebih beritanya belum 100% benar, bisa jadi juga itu fitnah atau jebakan. Apalagi si pelaku mengaku bahwa ia tidak berbuat hal itu dan kita tahu dia adalah orang shalih yang jujur. Cobalah lihat bagaimana Allah perintahkan kita untuk mengecek berita terlebih dahulu. Jangan mudah-mudahan untuk menyebarnya sampai kita punya bukti yang kuat.   Allah Ta’ala berfirman, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS. Al Hujurat: 6).   Ibnu Katsir rahimahullah dalam Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim berkata, “Allah Ta’ala memerintahkan untuk melakukan kroscek terhadap berita dari orang fasik. Karena boleh jadi berita yang tersebar adalah berita dusta dan keliru.”   Karena kehormatan seorang muslim benar-benar harus kita jaga.   Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengatakan pada khutbah beliau saat musim haji, فَإِنَّ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ وَأَعْرَاضَكُمْ بَيْنَكُمْ حَرَامٌ كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا ، فِى شَهْرِكُمْ هَذَا ، فِى بَلَدِكُمْ هَذَا “Sesungguhnya dara, harta dan kehormatan sesama kalian itu terjaga sebagaimana kemuliaan hari ini, kemuliaan bulan ini dan kemuliaan negeri kalian ini.” (HR. Bukhari, no. 67 dan Muslim, no. 1679)   Coba lihat kerjaan para pencari berita saat ini. Jika ada artis atau pejabat yang terkena kasus, mereka tunggu seharian di depan rumah, berjejer menunggu berita apa yang bisa dibuat. Orang yang ingin diberitakan tidak ada di rumah, sudah jadi berita yang WAH. Belum jadi tersangka, sudah diisukan ini dan itu. Wallahul musta’an.   Padahal dalam kitab suci kita telah diterangkan, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang.” (QS. Al Hujurat: 12).   Sebagaimana disebutkan dalam Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim karya Ibnu Katsir, tajassus -seperti kata Imam Al Auza’i- adalah mencari-cari sesuatu. Ada juga istilah tahassus yang maksudnya adalah menguping untuk mencari-cari kejelekan suatu kaum di mana mereka tidak suka untuk didengar, atau menguping di depan pintu-pintu mereka. Demikian diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim.   Persis bukan dengan kelakuan pencari berita saat ini?   Coba simak perkataan keras Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada orang yang melakukan tajassus.   Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, وَمَنِ اسْتَمَعَ إِلَى حَدِيثِ قَوْمٍ وَهُمْ لَهُ كَارِهُونَ أَوْ يَفِرُّونَ مِنْهُ ، صُبَّ فِى أُذُنِهِ الآنُكُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ “Barangsiapa menguping omongan orang lain, sedangkan mereka tidak suka (kalau didengarkan selain mereka) atau mereka berlepas diri dari hal itu, maka pada telinga yang menguping tadi akan dituangkan cairan tembaga pada hari kiamat.” (HR. Bukhari, no. 7042).   Jama’ah rahimani wa rahimakumullah … Saran kami, para jamaah kalau mendengar berita-berita media atau mendapatkan berita gosip lewat pesan singkat, lewat WhatsApp, lewat Facebook atau media sosial lainnya, jangan mudah-mudahan untuk menshare atau menyebarkannya.   Ingatlah hadits berikut ini …   Dari Hafsh bin ‘Ashim, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ “Cukup seseorang dikatakan dusta jika ia menceritakan setiap apa yang ia dengar.” (HR. Muslim, no. 5)   Berarti dapat kita katakan, cukup seseorang dikatakan pendusta jika ia menshare setiap berita (yang tidak jelas) yang ia peroleh.   Sikap kedua: Menuduh esek-esek atau selingkuh itu bahaya.   Coba lihat, mudah sekali media menuduh jika ada pejabat -termasuk yang shalih dan baik- tertangkap tangan, pasti dikaitkan dengan ada wanita dalam penangkapan tersebut, lalu dikatakan “habis esek-esek atau selingkuh”. Wallahul musta’an. Padahal yang buat berita dan opini ini tidak bisa mendatangkan bukti esek-esek atau perselingkuhan tersebut. Dan ingatlah menuduh selingkuh seperti itu berat, berat hukumannya di dunia dan berat siksanya di akhirat.   Allah Ta’ala berfirman, وَالَّذِينَ يَرْمُونَ الْمُحْصَنَاتِ ثُمَّ لَمْ يَأْتُوا بِأَرْبَعَةِ شُهَدَاءَ فَاجْلِدُوهُمْ ثَمَانِينَ جَلْدَةً وَلَا تَقْبَلُوا لَهُمْ شَهَادَةً أَبَدًا وَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ “Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik (berbuat zina) dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, maka deralah mereka (yang menuduh itu) delapan puluh kali dera, dan janganlah kamu terima kesaksian mereka buat selama-lamanya. Dan mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS. An-Nuur: 4)   Lihatlah yang menuduh tanpa bukti dihukum qazaf dengan 80 kali cambukan. Apalagi dengan media yang senang berita dusta itu tersebar, dikatakan juga pada ayat selanjutnya pada surat An-Nuur, إِنَّ الَّذِينَ يُحِبُّونَ أَنْ تَشِيعَ الْفَاحِشَةُ فِي الَّذِينَ آَمَنُوا لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ فِي الدُّنْيَا وَالْآَخِرَةِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ “Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui, sedang, kamu tidak mengetahui.” (QS. An-Nuur: 19) Sikap ketiga: Jangan sampai menghina dan mencela   Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, وَكُلُّ مَعْصِيَةٍ عُيِّرَتْ بِهَا أَخَاكَ فَهِيَ إِلَيْكَ يَحْتَمِلُ أَنْ يُرِيْدَ بِهِ أَنَّهَا صَائِرَةٌ إِلَيْكَ وَلاَ بُدَّ أَنْ تَعْمَلَهَا “Setiap maksiat yang dijelek-jelekkan pada saudaramu, maka itu akan kembali padamu. Maksudnya, engkau bisa dipastikan melakukan dosa tersebut.” (Madarijus Salikin, 1: 176)   Bagaimana jika kriminal yang dituduhkan tidak benar, hanya fitnah atau hanyalah jebakan? Kita akan tahu akibatnya.   Sikap keempat: Doakan kebaikan bagi yang terfitnah.   Doakanlah dia! Apalagi itu adalah orang yang lahiriyahnya adalah orang shalih dan suka menebar kebaikan di mana pun, bahkan punya beberapa pesantren yang menyebar Islam yang benar.   Ingat sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang pernah disampaikan pada Abu Darda’ dan sampai juga pada Ummu Darda’, دَعْوَةُ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ لأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ كُلَّمَا دَعَا لأَخِيهِ بِخَيْرٍ قَالَ الْمَلَكُ الْمُوَكَّلُ بِهِ آمِينَ وَلَكَ بِمِثْلٍ “Do’a seorang muslim kepada saudaranya ketika saudaranya tidak mengetahuinya adalah do’a yang mustajab (terkabulkan). Di sisinya ada malaikat (yang bertugas mengaminkan do’anya kepada saudarany). Ketika dia berdo’a kebaikan kepada saudaranya, malaikat tersebut berkata : Amin, engkau akan mendapatkan yang semisal dengannya.” (HR. Muslim, no. 2733)   Sikap kelima: Belum tentu kita lebih baik darinya.   Jangan sampai kita sendiri merasa lebih baik dari orang yang punya kasus, hingga gampang-gampangan untuk menghina dan merendahkan.   Allah Ta’ala berfirman, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَى أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ “Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka.” (QS. Al-Hujurat: 11)   Semoga Allah memberi taufik dan hidayah pada kita semua. Demikian khutbah pertama ini. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا َوَاسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ إِنَّهُ هُوَ السَمِيْعُ العَلِيْمُ Khutbah Kedua   الحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالمِيْنَ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَافِ الأَنْبِيَاءِ وَالمرْسَلِيْنَ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ   Amma ba’du Ma’asyirol muslimin jama’ah shalat Jumat rahimani wa rahimakumullah …   Di khutbah kedua ini kami ingin ingatkan untuk semua … Ingatlah dunia itu sebentar … Allah itu pengadil sesungguhnya. Kita yakini Allah itu Maha Adil. Kalau ada yang salah di dunia, dia benar-benar menyesal dan bertaubat, akhiratnya pasti aman. Kalau ada yang dizalimi, ingatlah makin banyak pahala yang diperoleh, ia akan makin untung di akhirat. Karena pahala semua yang menzaliminya akan pindah kepadanya. Hingga yang menzalimi akan menjadi orang yang bangkrut, bangkrut dan bangkrut. Coba perhatikan hadits yang membicarakan tentang orang yang muflis atau bangkrut berikut ini, haditsnya dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bertanya pada para sahabat, أَتَدْرُونَ مَنِ الْمُفْلِسُ قَالُوا الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لَا دِرْهَمَ لَهُ وَلَا مَتَاعَ فَقَالَ إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي مَنْ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلَاةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا وَقَذَفَ هَذَا وَأَكَلَ مَالَ هَذَا وَسَفَكَ دَمَ هَذَا وَضَرَبَ هَذَا فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ “Apakah kalian tahu siapa muflis (orang yang pailit) itu?” Para sahabat menjawab, “Muflis (orang yang pailit) itu adalah yang tidak mempunyai dirham maupun harta benda.” Akan tetapi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Muflis (orang yang pailit) dari umatku ialah, orang yang datang pada hari Kiamat membawa (pahala) shalat, puasa dan zakat, namun (ketika di dunia) dia telah mencaci dan (salah) menuduh orang lain, makan harta, menumpahkan darah dan memukul orang lain (tanpa hak). Maka orang-orang itu akan diberi pahala dari kebaikan-kebaikannya. Jika telah habis kebaikan-kebaikannya, maka dosa-dosa mereka akan ditimpakan kepadanya, kemudian dia akan dilemparkan ke dalam neraka.” (HR. Muslim, no. 2581)   Hati-hatilah pembuat berita, bisa jadi Anda masuk orang yang muflis seperti di atas … Bertakwalah pada Allah, bertakwalah pada Allah.   Demikian khutbah kami untuk Jumat kali ini.   Semoga Allah menyelamatkan kita, menyelamatkan orang shalih di tengah kita, menyelematkan setiap pemimpin dan setiap hakim kita yang berlaku adil, moga semua diselamatkan dari berbagai macam musibah, diselamatkan dari fitnah yang keji, diselamatkan dari orang-orang yang hasad (cemburu), diselamatkan pula dari kerugian akhirat dan siksa neraka.   إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ   اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَةِ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ رَبَّنَا انْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْمُفْسِدِينَ رَبَّنَا لَا تَجْعَلْنَا فِتْنَةً لِلَّذِينَ كَفَرُوا وَاغْفِرْ لَنَا رَبَّنَا إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، اَللَّهُمَّ وَفِّقْهُمْ لِمَا فِيْهِ صَلَاحُهُمْ وَصَلَاحُ اْلإِسْلَامِ وَالْمُسْلِمِيْنَ اَللَّهُمَّ أَعِنْهُمْ عَلَى الْقِيَامِ بِمَهَامِهِمْ كَمَا أَمَرْتَهُمْ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ اَللَّهُمَّ أَبْعِدْ عَنْهُمْ بِطَانَةَ السُّوْءِ وَالْمُفْسِدِيْنَ وَقَرِّبْ إِلَيْهِمْ أَهْلَ الْخَيْرِ وَالنَّاصِحِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ إِيْمَانًا لاَ يَرْتَدُّ، وَنَعِيْمًا لاَ يَنْفَدُ، وَمُرَافَقَةَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي أَعْلَى جَنَّةِ الْخُلْدِ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن. وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ   — Naskah Khutbah Jum’at di Masjid Jenderal Sudirman Panggang, Gunungkidul – Jum’at Pahing, 28 Rabi’uts Tsani 1438 H (27 Januari 2017) Download Naskah Khutbah Jumat: Lima Sikap Menghadapi Fitnah Media  — Disusun di DS Panggang, Jumat, 28 Rabi’uts Tsani 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagsbahaya lisan berita koran dosa besar fasik ghibah jujur korupsi tajassus taubat


Fitnah media begitu kejam sekali saat ini, apalagi kalau sudah gosipkan orang-orang baik, jujur dan shalih.   Khutbah Pertama   إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَ مِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِىَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ اللّهُمَّ صَلِّ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ اللّهُمَّ عَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا، وَانْفَعَنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا، وَزِدْنَا عِلْماً، وَأَرَنَا الحَقَّ حَقّاً وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرَنَا البَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ Amma ba’du Ma’asyirol muslimin jama’ah shalat Jumat rahimani wa rahimakumullah …   Segala puji bagi Allah yang telah memberikan kita nikmat. Nikmat yang paling besar adalah nikmat iman dan islam yang Allah anugerahkan. Selain Allah juga masih memberikan kita keselamatan dari berbagai macam musibah, kesulitan dan fitnah. Dan kita memohon pada Allah supaya nikmat-nikmat tersebut tetap terus terjaga. Moga kita dapat mensyukuri nikmat yang ada tadi dengan terus meningkatkan ketakwaan pada Allah.   Allah Ta’ala memerintah untuk bertakwa dengan sebenar-benarnya, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS. Ali Imran: 102)   Shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada junjungan dan suri tauladan kita, Nabi besar kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, juga kepada para sahabat dan istri-istri beliau yang tercinta serta pada setiap pengikut beliau yang mengikuti beliau dengan baik hingga akhir zaman.   Para jama’ah rahimani wa rahimakumullah … Pasti di antara kita adalah orang-orang yang gemar membaca berita. Selain berita bola, senang pula membaca berita politik dan selebriti. Lebih-lebih yang senang dibaca adalah berita dari media mainstream tentang artis bercerai dan seputar rumah tangga artis yang rusak. Jarang berita baik yang biasa diperoleh lewat koran atau gadget kita. Semua berita diperoleh seputar itu tadi. Sama halnya juga kalau ada pejabat yang korupsi, jadi kesenangan kita untuk mengikutinya hingga tuntas, hingga pejabat tersebut masuk dalam bui. Ada beberapa nasihat dari kami selaku khotib Jumat kali ini dalam menyikapi berita media. Ada lima sikap sebagai seorang muslim yang wajib kita miliki.   Sikap pertama: Hati-hati dalam menerima berita dan jangan asal-asalan menyebar berita.   Apalagi itu aib, lebih-lebih beritanya belum 100% benar, bisa jadi juga itu fitnah atau jebakan. Apalagi si pelaku mengaku bahwa ia tidak berbuat hal itu dan kita tahu dia adalah orang shalih yang jujur. Cobalah lihat bagaimana Allah perintahkan kita untuk mengecek berita terlebih dahulu. Jangan mudah-mudahan untuk menyebarnya sampai kita punya bukti yang kuat.   Allah Ta’ala berfirman, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS. Al Hujurat: 6).   Ibnu Katsir rahimahullah dalam Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim berkata, “Allah Ta’ala memerintahkan untuk melakukan kroscek terhadap berita dari orang fasik. Karena boleh jadi berita yang tersebar adalah berita dusta dan keliru.”   Karena kehormatan seorang muslim benar-benar harus kita jaga.   Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengatakan pada khutbah beliau saat musim haji, فَإِنَّ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ وَأَعْرَاضَكُمْ بَيْنَكُمْ حَرَامٌ كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا ، فِى شَهْرِكُمْ هَذَا ، فِى بَلَدِكُمْ هَذَا “Sesungguhnya dara, harta dan kehormatan sesama kalian itu terjaga sebagaimana kemuliaan hari ini, kemuliaan bulan ini dan kemuliaan negeri kalian ini.” (HR. Bukhari, no. 67 dan Muslim, no. 1679)   Coba lihat kerjaan para pencari berita saat ini. Jika ada artis atau pejabat yang terkena kasus, mereka tunggu seharian di depan rumah, berjejer menunggu berita apa yang bisa dibuat. Orang yang ingin diberitakan tidak ada di rumah, sudah jadi berita yang WAH. Belum jadi tersangka, sudah diisukan ini dan itu. Wallahul musta’an.   Padahal dalam kitab suci kita telah diterangkan, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang.” (QS. Al Hujurat: 12).   Sebagaimana disebutkan dalam Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim karya Ibnu Katsir, tajassus -seperti kata Imam Al Auza’i- adalah mencari-cari sesuatu. Ada juga istilah tahassus yang maksudnya adalah menguping untuk mencari-cari kejelekan suatu kaum di mana mereka tidak suka untuk didengar, atau menguping di depan pintu-pintu mereka. Demikian diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim.   Persis bukan dengan kelakuan pencari berita saat ini?   Coba simak perkataan keras Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada orang yang melakukan tajassus.   Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, وَمَنِ اسْتَمَعَ إِلَى حَدِيثِ قَوْمٍ وَهُمْ لَهُ كَارِهُونَ أَوْ يَفِرُّونَ مِنْهُ ، صُبَّ فِى أُذُنِهِ الآنُكُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ “Barangsiapa menguping omongan orang lain, sedangkan mereka tidak suka (kalau didengarkan selain mereka) atau mereka berlepas diri dari hal itu, maka pada telinga yang menguping tadi akan dituangkan cairan tembaga pada hari kiamat.” (HR. Bukhari, no. 7042).   Jama’ah rahimani wa rahimakumullah … Saran kami, para jamaah kalau mendengar berita-berita media atau mendapatkan berita gosip lewat pesan singkat, lewat WhatsApp, lewat Facebook atau media sosial lainnya, jangan mudah-mudahan untuk menshare atau menyebarkannya.   Ingatlah hadits berikut ini …   Dari Hafsh bin ‘Ashim, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ “Cukup seseorang dikatakan dusta jika ia menceritakan setiap apa yang ia dengar.” (HR. Muslim, no. 5)   Berarti dapat kita katakan, cukup seseorang dikatakan pendusta jika ia menshare setiap berita (yang tidak jelas) yang ia peroleh.   Sikap kedua: Menuduh esek-esek atau selingkuh itu bahaya.   Coba lihat, mudah sekali media menuduh jika ada pejabat -termasuk yang shalih dan baik- tertangkap tangan, pasti dikaitkan dengan ada wanita dalam penangkapan tersebut, lalu dikatakan “habis esek-esek atau selingkuh”. Wallahul musta’an. Padahal yang buat berita dan opini ini tidak bisa mendatangkan bukti esek-esek atau perselingkuhan tersebut. Dan ingatlah menuduh selingkuh seperti itu berat, berat hukumannya di dunia dan berat siksanya di akhirat.   Allah Ta’ala berfirman, وَالَّذِينَ يَرْمُونَ الْمُحْصَنَاتِ ثُمَّ لَمْ يَأْتُوا بِأَرْبَعَةِ شُهَدَاءَ فَاجْلِدُوهُمْ ثَمَانِينَ جَلْدَةً وَلَا تَقْبَلُوا لَهُمْ شَهَادَةً أَبَدًا وَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ “Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik (berbuat zina) dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, maka deralah mereka (yang menuduh itu) delapan puluh kali dera, dan janganlah kamu terima kesaksian mereka buat selama-lamanya. Dan mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS. An-Nuur: 4)   Lihatlah yang menuduh tanpa bukti dihukum qazaf dengan 80 kali cambukan. Apalagi dengan media yang senang berita dusta itu tersebar, dikatakan juga pada ayat selanjutnya pada surat An-Nuur, إِنَّ الَّذِينَ يُحِبُّونَ أَنْ تَشِيعَ الْفَاحِشَةُ فِي الَّذِينَ آَمَنُوا لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ فِي الدُّنْيَا وَالْآَخِرَةِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ “Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui, sedang, kamu tidak mengetahui.” (QS. An-Nuur: 19) Sikap ketiga: Jangan sampai menghina dan mencela   Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, وَكُلُّ مَعْصِيَةٍ عُيِّرَتْ بِهَا أَخَاكَ فَهِيَ إِلَيْكَ يَحْتَمِلُ أَنْ يُرِيْدَ بِهِ أَنَّهَا صَائِرَةٌ إِلَيْكَ وَلاَ بُدَّ أَنْ تَعْمَلَهَا “Setiap maksiat yang dijelek-jelekkan pada saudaramu, maka itu akan kembali padamu. Maksudnya, engkau bisa dipastikan melakukan dosa tersebut.” (Madarijus Salikin, 1: 176)   Bagaimana jika kriminal yang dituduhkan tidak benar, hanya fitnah atau hanyalah jebakan? Kita akan tahu akibatnya.   Sikap keempat: Doakan kebaikan bagi yang terfitnah.   Doakanlah dia! Apalagi itu adalah orang yang lahiriyahnya adalah orang shalih dan suka menebar kebaikan di mana pun, bahkan punya beberapa pesantren yang menyebar Islam yang benar.   Ingat sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang pernah disampaikan pada Abu Darda’ dan sampai juga pada Ummu Darda’, دَعْوَةُ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ لأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ كُلَّمَا دَعَا لأَخِيهِ بِخَيْرٍ قَالَ الْمَلَكُ الْمُوَكَّلُ بِهِ آمِينَ وَلَكَ بِمِثْلٍ “Do’a seorang muslim kepada saudaranya ketika saudaranya tidak mengetahuinya adalah do’a yang mustajab (terkabulkan). Di sisinya ada malaikat (yang bertugas mengaminkan do’anya kepada saudarany). Ketika dia berdo’a kebaikan kepada saudaranya, malaikat tersebut berkata : Amin, engkau akan mendapatkan yang semisal dengannya.” (HR. Muslim, no. 2733)   Sikap kelima: Belum tentu kita lebih baik darinya.   Jangan sampai kita sendiri merasa lebih baik dari orang yang punya kasus, hingga gampang-gampangan untuk menghina dan merendahkan.   Allah Ta’ala berfirman, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَى أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ “Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka.” (QS. Al-Hujurat: 11)   Semoga Allah memberi taufik dan hidayah pada kita semua. Demikian khutbah pertama ini. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا َوَاسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ إِنَّهُ هُوَ السَمِيْعُ العَلِيْمُ Khutbah Kedua   الحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالمِيْنَ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَافِ الأَنْبِيَاءِ وَالمرْسَلِيْنَ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ   Amma ba’du Ma’asyirol muslimin jama’ah shalat Jumat rahimani wa rahimakumullah …   Di khutbah kedua ini kami ingin ingatkan untuk semua … Ingatlah dunia itu sebentar … Allah itu pengadil sesungguhnya. Kita yakini Allah itu Maha Adil. Kalau ada yang salah di dunia, dia benar-benar menyesal dan bertaubat, akhiratnya pasti aman. Kalau ada yang dizalimi, ingatlah makin banyak pahala yang diperoleh, ia akan makin untung di akhirat. Karena pahala semua yang menzaliminya akan pindah kepadanya. Hingga yang menzalimi akan menjadi orang yang bangkrut, bangkrut dan bangkrut. Coba perhatikan hadits yang membicarakan tentang orang yang muflis atau bangkrut berikut ini, haditsnya dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bertanya pada para sahabat, أَتَدْرُونَ مَنِ الْمُفْلِسُ قَالُوا الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لَا دِرْهَمَ لَهُ وَلَا مَتَاعَ فَقَالَ إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي مَنْ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلَاةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا وَقَذَفَ هَذَا وَأَكَلَ مَالَ هَذَا وَسَفَكَ دَمَ هَذَا وَضَرَبَ هَذَا فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ “Apakah kalian tahu siapa muflis (orang yang pailit) itu?” Para sahabat menjawab, “Muflis (orang yang pailit) itu adalah yang tidak mempunyai dirham maupun harta benda.” Akan tetapi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Muflis (orang yang pailit) dari umatku ialah, orang yang datang pada hari Kiamat membawa (pahala) shalat, puasa dan zakat, namun (ketika di dunia) dia telah mencaci dan (salah) menuduh orang lain, makan harta, menumpahkan darah dan memukul orang lain (tanpa hak). Maka orang-orang itu akan diberi pahala dari kebaikan-kebaikannya. Jika telah habis kebaikan-kebaikannya, maka dosa-dosa mereka akan ditimpakan kepadanya, kemudian dia akan dilemparkan ke dalam neraka.” (HR. Muslim, no. 2581)   Hati-hatilah pembuat berita, bisa jadi Anda masuk orang yang muflis seperti di atas … Bertakwalah pada Allah, bertakwalah pada Allah.   Demikian khutbah kami untuk Jumat kali ini.   Semoga Allah menyelamatkan kita, menyelamatkan orang shalih di tengah kita, menyelematkan setiap pemimpin dan setiap hakim kita yang berlaku adil, moga semua diselamatkan dari berbagai macam musibah, diselamatkan dari fitnah yang keji, diselamatkan dari orang-orang yang hasad (cemburu), diselamatkan pula dari kerugian akhirat dan siksa neraka.   إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ   اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَةِ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ رَبَّنَا انْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْمُفْسِدِينَ رَبَّنَا لَا تَجْعَلْنَا فِتْنَةً لِلَّذِينَ كَفَرُوا وَاغْفِرْ لَنَا رَبَّنَا إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، اَللَّهُمَّ وَفِّقْهُمْ لِمَا فِيْهِ صَلَاحُهُمْ وَصَلَاحُ اْلإِسْلَامِ وَالْمُسْلِمِيْنَ اَللَّهُمَّ أَعِنْهُمْ عَلَى الْقِيَامِ بِمَهَامِهِمْ كَمَا أَمَرْتَهُمْ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ اَللَّهُمَّ أَبْعِدْ عَنْهُمْ بِطَانَةَ السُّوْءِ وَالْمُفْسِدِيْنَ وَقَرِّبْ إِلَيْهِمْ أَهْلَ الْخَيْرِ وَالنَّاصِحِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ إِيْمَانًا لاَ يَرْتَدُّ، وَنَعِيْمًا لاَ يَنْفَدُ، وَمُرَافَقَةَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي أَعْلَى جَنَّةِ الْخُلْدِ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن. وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ   — Naskah Khutbah Jum’at di Masjid Jenderal Sudirman Panggang, Gunungkidul – Jum’at Pahing, 28 Rabi’uts Tsani 1438 H (27 Januari 2017) Download Naskah Khutbah Jumat: Lima Sikap Menghadapi Fitnah Media  — Disusun di DS Panggang, Jumat, 28 Rabi’uts Tsani 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagsbahaya lisan berita koran dosa besar fasik ghibah jujur korupsi tajassus taubat
Prev     Next