Taqwallah (Khutbah ‘Iedul Fithri 1 Syawwal 1438 H)

إن الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي لهيأيها الذين آمنوا اتقوا الله حق تقاته، ولا تموتن إلا وأنتم مسلمونAllahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar walillahil hamd…Ma’aasyirol Muslimin….Alhamdu lillah… Pujian tiada terhingga kita panjatkan kepada Robb kita, Yang telah memberikan kita karunia untuk bisa beribadah selama bulan Ramadhan. Untuk bisa menyempurnakan puasa sebulan penuh. Sungguh betapa banyak saudara-saudara kita yang berangan-angan merasakan apa yang kita rasakan akan tetapi ajal lebih dahulu menjemput mereka. Banyak sahabat kita, banyak tetangga kita, kerabat kita yang pada tahun ini tidak bisa melaksanakan ibadah di bulan puasa.Segala puji bagiMu Ya Rabb kami, bagaimanapun kami memujiMu maka kami tidak mampu memujiMu sebagaimana mestinya….lisan-lisan kami tidak mampu untuk mengungkapkan keagunganMu…., jari-jari kami tak mampu menulis kemuliaanMu sebagaimana mestinya…Hanya Engkau yang mengetahui keagunganMu yang sesungguhnya… لاَ نُحْصِي ثَنَاءً عَلَيْكَ أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ“Kami tidak mampu memujiMu sebagaimana mestinya….KeagunganMu sebagaimana PujianMu terhadap diriMu” Pujian dan sanjungan tiada terhingga terus kita haturkan kepada Rabb kita, Yang telah menganugrahkan kelezatan-kelezatan dan ketentraman dalam beribadah selama bulan Ramadhan. Kelezatan bertilawah al-Qur’an, kelezatan sholat malam, kelezatan bermunajat kepadaNya, dan Kelezatan meneteskan air mata di haribaanNya, semoga Allah menerima seluruh ibadah kita. Semoga tetesan air mata yang kita keluarkan dengan tulus, sebagai bentuk pengakuan akan dosa-dosa kita, tetesan air mata yang menunjukkan kerinduan untuk masuk surga, menjadi sebab diampuni dosa-dosa yang telah lalu dan begitu banyak, dan sebab untuk meraih surga.تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ صَالِحَ الأَعْمَالِSemoga Allah menerima amal sholih kami dan amal sholih kalian…Maka berbahagialah mereka yang telah berpuasa karena Allah…مَنْ صَامَ رَمَضَانَ، إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ“Siapa yang berpuasa Ramadhan dengan keimanan dan penuh pengharapan maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu”Berbahagialah mereka yang sholat tarawih dan sholat malam karena Allah ….مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ“Barangsiapa yang sholat malam di bulan Ramadhan dengan keimanan dan penuh pengharapan maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu”Berbahagialah mereka yang bersusah payah menahan kantuk untuk mencari lailatul Qodar….مَنْ قَامَ لَيْلَةَ القَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ“Barangsiapa yang beribadah di malam lailatul Qodar dengan keimanan dan penuh pengharapan maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu” Sungguh hari-hari indah tersebut ternyata telah berlalu…tidak terasa sebulan penuh kita telah berjuang…merasakan kelezatan-kelezatan tersebut. Begitu terasa singkat hari-hari mulia dan indah tersebut. Sungguh benar firman Allah :أَيَّامًا مَعْدُودَاتٍ“Hari-hari yang berbilang…” (QS Al-Baqoroh : 184) Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Walillahil Hamd. Kaum muslimin sekalian sesungguhnya Allah telah menghidangkan kepada kita bulan Ramadhan agar kita bisa meraih ketakwaan.Allah berfirman :يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ“Wahai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana telah diwajibkan kepada orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa” (QS Al-Baqoroh : 183)Ayat ini tidak ditujukan kepada orang-orang munafik yang ber KTP islam tapi benci kepada Islam, apalagi orang-orang kafir. Tapi ayat ini ditujukan kepada orang-orang yang beriman…karena merekalah yang bisa meraih predikat takwallah.selama bulan Ramadhan kita telah menggembleng diri kita untuk bisa meraih ketakwaan. Kita menahan lapar dan dahaga, kita meredam syahwat kita, namun alhamdulillah kita telah melewati itu semua.Ternyata “Takwallah” (bertakwa kepada Allah) itulah tujuan kita berpuasa. Takwallah kalimat yang mudah diucapkan oleh lisan…tapi tidak mudah untuk meraihnya. Puasa sebulan kita jalankan ternyata tidak lain adalah untuk meraih ketakwaan. Ada apa gerangan takwallah?Iya…Rabb kita ingin kita bisa meraih ketakwaan agar kita bisa menghadapi sebelas bulan berikutnya…sebelas bulan berikutnya yang penuh dengan ujian. Syaitan-syaitan dari golongan jin yang tadinya dibelenggu kini telah dilepaskan kembali…Syaitan-syaitan manusia yang tatkala bulan Ramadhan masih malu-malu untuk menunjukkan maksiat mereka, kini kembali lagi tidak malu untuk terang-terangan bermaksiat. Ada apa gerangan dengan takwallah?Takwallah (bertakwa kepada Allah) adalah washiat Allah kepada orang-orang terdahulu dan yang terakhir, washiat kepada orang-orang sebelum kalian dan juga kepada kalian, Allah berfirman :وَلَقَدْ وَصَّيْنَا الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَإِيَّاكُمْ أَنِ اتَّقُوا اللَّهَ“Dan sungguh kami telah berwashiat kepada orang-orang yang diberi kitab suci sebelum kalian, dan juga wasiat kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah” (QS An-Nisaa’ : 131)Bahkan begitu pentingnya perkara takwa hingga dalam al-Qur’an ayat-ayat tentang takwallah lebih dari 250 ayat. Ini semua menunjukkan perhatian besar syari’at terhadap takwallah.Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, walillahil hamd… Ada apa gerangan dengan takwallah?Sungguh barangsiapa yang memperhatikan kondisi kaum muslimin di negeri kita secara khusus, maka ia akan melihat begitu banyak kemungkaran yang tersebar…kemungkaran yang dilakukan terang-terangan tanpa ada rasa malu. Tirai rasa malu telah dirobek…telah dikoyak… Kemungkaran-kemungkaran yang terjadi pada jajaran individu atau komunitas, atau bahkan sampai jajaran para pejabat negara.Sebab dari ini semua adalah hilangnya takwallah…sirnanya takwallah.. Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, walillahil hamd.Ma’asyirol muslimin…, pada hari ini banyak para pakar yang berbicara dan mengeluarkan berbagai teori untuk menghadapi problematika sosial dan ekonomi serta moral di negara kita. Banyak teori yang telah dipraktikan akan tetapi permasalahan tetap saja tidak bisa diselesaikan.Ada satu perkara yang terlupakan…yang merupakan solusi bagi seluruh permasalahan. Baik permasalahan individu, keluarga, komunitas, bahkan permasalahan negera. Perkara yang terlupakan tersebut adalah takwallah.Allah telah berfirman :وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًاBarangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar..وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُDan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya…Iya…Allah akan memberikan rizki dari arah yang tidak disangka-sangka…rezki yang datang tanpa kita duga dan tanpa kita sangkaوَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًاDan barang -siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya…وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يُكَفِّرْ عَنْهُ سَيِّئَاتِهِ وَيُعْظِمْ لَهُ أَجْرًاdan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan akan melipat gandakan pahala baginya (QS At-Tholaq : 2-5)Sungguh luar biasa ketakwaan…mendatangkan rizki, memudahkan urusan, dan juga memberikan solusi Allah dengan jelas mengatakanوَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًاBarangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar..Di sini jelas mencakup siapa saja…, siapa saja yang menghadapi permasalahan, apakah seorang kepala rumah tangga, seorang istri, seorang pegawai, seorang guru, seorang miskin, seorang kaya, seorang pejabat, seorang rakyat, maupun seorang presiden.Dalam ayat ini Allah juga tidak menyebutkan permasalahan apa yang dihadapi, oleh karenanya ayat ini mencakup seluruh permasalahan yang dihadapi. Apakah permasalahan ekonomi atau sosial, permasalahan masyarakat atau permasalahan negara…!!Allah juga berfirman :يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَتَّقُوا اللَّهَ يَجْعَلْ لَكُمْ فُرْقَانًاHai orang-orang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah, Kami akan memberikan kepadamu Furqaan. (QS Al-Anfaal “29)Sebagian salaf (seperti Ibnu Abbas, Mujahid, ‘Ikrimah, dan ad-Dhohhak) menafsirkan kata “Furqon” dengan al-Makhroj (solusi) dan an-Najaat (keselamatan)Maka takwallah adalah sumber solusi bagi permasalahan apa saja.Tentu seorang mukmin pasti akan menghadapi ujian dalam kehidupannya, sebagaimana Allah telah berjanji akan menguji kaum mukminin. Allah berfirman :أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ (2) وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ (3)Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi. Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta (QS Al-‘Ankabuut : 2-3)Akan tetapi Alah juga telah menjanjikan bahwa apapun permasalahan dan ujian yang dihadapi pasti ada solusinya bagi orang yang bertakwa. Cepat atau lambat solusi pasti akan datang. Karenanya jika seseorang menghadapi suatu permasalahan namun ia tidak menemukan solusinya maka hendaknya ia mencurigai dirinya, jangan-jangan ia kurang bertakwa kepada Allah. Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Walillahil hamd.Takwallah adalah sumber rezeki, Allah berfirman :وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا نَحْنُ نَرْزُقُكَ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَىDan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa (QS Thoohaa : 132)Ibnu Katsir berkata :يَعْنِي إِذَا أَقَمْتَ الصَّلَاةَ أَتَاكَ الرِّزْقُ مِنْ حَيْثُ لَا تَحْتَسِبُ“Yaitu jika engkau mendirikan sholat maka rizki akan datang kepadamu dari arah yang kau tidak sangka” (Tafsir Ibnu Katsir 5/327) Nuuh berkata kepada kaumnya :فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا (10) يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا (11) وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا (12)maka aku katakan kepada mereka: ´Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, -sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun-, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai (QS Nuuh : 10-12) Huud ‘alaihis salam berkata kepada kaumnya :وَيَاقَوْمِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا وَيَزِدْكُمْ قُوَّةً إِلَى قُوَّتِكُمْ وَلَا تَتَوَلَّوْا مُجْرِمِينَ (52)Dan (Huud berkata): “Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa” (QS Huud : 52)Allah berfirman tentang para jin :وَأَلَّوِ اسْتَقَامُوا عَلَى الطَّرِيقَةِ لَأَسْقَيْنَاهُمْ مَاءً غَدَقًاDan bahwasanya: jikalau mereka (para jin) tetap berjalan lurus di atas jalan itu (agama Islam), benar-benar Kami akan memberi minum kepada mereka air yang segar (rezeki yang banyak) (QS Al-Jinn : 16)Jika para jin saja kalau bertakwa dan beristiqomah Allah memberikan kepada mereka rizki yang banyak, maka bagaimana lagi dengan manusia? Allah juga berfirman :وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَJikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya (QS Al-A’raaf : 96)وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْكِتَابِ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَكَفَّرْنَا عَنْهُمْ سَيِّئَاتِهِمْ وَلَأَدْخَلْنَاهُمْ جَنَّاتِ النَّعِيمِ (65) وَلَوْ أَنَّهُمْ أَقَامُوا التَّوْرَاةَ وَالْإِنْجِيلَ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِمْ مِنْ رَبِّهِمْ لَأَكَلُوا مِنْ فَوْقِهِمْ وَمِنْ تَحْتِ أَرْجُلِهِمْDan sekiranya Ahli Kitab beriman dan bertakwa, tentulah Kami tutup (hapus) kesalahan-kesalahan mereka dan tentulah Kami masukkan mereka kedalam surga-surga yang penuh kenikmatan. Dan sekiranya mereka sungguh-sungguh menjalankan (hukum) Taurat dan Injil dan (Al Quran) yang diturunkan kepada mereka dari Tuhannya, niscaya mereka akan mendapat makanan dari atas dan dari bawah kaki mereka. Diantara mereka ada golongan yang pertengahan. Dan alangkah buruknya apa yang dikerjakan oleh kebanyakan mereka (QS Al-Maidah : 65-66)Jika ahlul kitab dijanjikan oleh Allah rizki yang luas jika mereka beriman dan bertakwa kepada Allah, maka bagaimana lagi dengan kaum muslimin? Kalau Ahlul Kitab dijanjikan dengan rizki yang luas jika mereka menegakkan kitab suci mereka, maka bagaimana lagi dengan kaum muslimin jika mereka menegakkan hukum-hukum al-Qur’an? Maka sungguh menyedihkan dan memilukan hati tatkala hukum-hukum al-Qur’an dicampakan…ditinggalkan…, bahkan dianggap sebagai sebab keterbelakangan…dianggap sebagai sebab permasalahan bukan solusi permasalahan…Sungguh ada negeri-negeri yang kekayaan alamnya jauh lebih sedikit dari negeri kita akan tetapi mereka lebih makmur…mereka lebih tentram dan lebih aman. Sementara negeri kita penuh dengan kekayaan alam, sumber daya alam yang begitu banyak dan luas, akan tetapi ada satu yang kurang…yaitu takwallah. Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, walillahil hamd.Ma’asyirol muslimin…sesungguhnya takwa adalah engkau yakin bahwasanya Allah selalu mengawasimu…melihat gerak-gerikmu, mengetahui seluruh ucapanmu, mengetahui lirikan matamu, bahkan mengetahui apa yang terbetik dalam dadamu.يَعْلَمُ خَائِنَةَ الْأَعْيُنِ وَمَا تُخْفِي الصُّدُورُDia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati (QS Ghoofir : 19)وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي أَنْفُسِكُمْ فَاحْذَرُوهُDan ketahuilah bahwasanya Allah mengetahui apa yang ada dalam hatimu; maka takutlah kepada-Nya (QS Al-aqoroh : 235)Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :اتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ“Bertakwalah kepada Allah kapanpun dan dimanapun kaum berada”Seseorang berusaha selalu bertakwa kepada Allah, menjalankan perintahNya dan menjauhi laranganNya tatkala ia bersendirian, tatkala ia bersafar jauh dari kampung dan keluarganya, tatkala di siang hari dan juga tatkala di malam hari ketika mata-mata manusia tertidur pulas. Yakin bahwasanya apa yang ia lakukan pasti akan dimintai pertanggungjawabannya oleh Allah.Umar bin Al-Khottob pernah berkata :وَلَوْ عَثَرَتْ بَغْلَةٌ فِي الْعِرَاقِ فِي الطَّرِيْقِ لَخِفْتُ أَنَّ اللهَ يَسْأَلُنِي عَنْ ذَلِكَ، لِمَاذَا لَمْ تُسَوِّ لَهَا الطَّرِيْقَ؟“Jika ada seekor begol yang terjatuh di Iraq maka aku takut Allah akan bertanya kepadaku : “Kenapa engkau tidak meratakan jalan untuknya wahai Umar ?!”Lihatlah bagaimana Umar takut jangan sampai ada begol -yang hanya seekor hewan- yang tersungkur jatuh….padahal begol tersebut belum jatuh tersungkur. Ini menunjukkan takwa Umar yang luar biasa yang benar-benar merasakan pertanggung jawaban sebagai seorang pemimpin. Lagi pula begol tersebut bukan di Madinah, tapi di penghujung negeri yaitu di Iraq, sementara Umar tinggal di Madinah. Jika perasaan Umar terhadap hewan saja demikian, maka bagaimana lagi dengan manusia, dengan rakyatnya?Jika setiap pemimpin dan masyarakat merasakan apa yang dirasakan oleh Umar maka tentu akan makmurlah negeri ini. Akan tetapi bukanlah syarat orang bertakwa bahwasanya orang tersebut tidak pernah salah, karena yang ma’sum (terjaga dari kesalahan) hanyalah para Nabi. Akan tetapi orang yang bertakwa bisa saja terjerumus dalam kesalahan akan tetapi ia langsung bertaubat dan kembali kepada Allah.Allah berfirman :إِنَّ الَّذِينَ اتَّقَوْا إِذَا مَسَّهُمْ طَائِفٌ مِنَ الشَّيْطَانِ تَذَكَّرُوا فَإِذَا هُمْ مُبْصِرُونَ (201)Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa was-was dari syaitan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya (QS Al-A’raaf : 201)وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ (135) أُولَئِكَ جَزَاؤُهُمْ مَغْفِرَةٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَجَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَنِعْمَ أَجْرُ الْعَامِلِينَ (136)Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal (QS Ali ‘Imron : 135-136) Jika Anda selama puasa Ramadhan telah berusaha menjadi orang yang bertakwa maka berbahagialah. Semoga Anda telah mencapai predikat La’allakum Tattaquun (agar kalian bertakwa) Berbahagialah pada hari ini….masukanlah rasa senang kepada orang tua, kepada kerabat, kepada anak-anak…beri hadiah kepada mereka…agar mereka tahu bahwasanya mereka sedang berlebaran…sedang merayakan hari kemenangan….kemenangan melawan syahwat selama sebulan penuh…Nabi berkata tatkala hari lebaran :لِتَعْلَمَ يَهُوْدٌ أَنَّ فِي دِيْنِنَا فُسْحَةً“Agar kaum Yahudi tahu bahwasanya dalam agama kita ada kelapangan/kelonggaran”====== doa======= Jakarta, 03-10-1438 H / 27-06-2017Abu Abdil Muhsin Firandawww.firanda.com  

Taqwallah (Khutbah ‘Iedul Fithri 1 Syawwal 1438 H)

إن الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي لهيأيها الذين آمنوا اتقوا الله حق تقاته، ولا تموتن إلا وأنتم مسلمونAllahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar walillahil hamd…Ma’aasyirol Muslimin….Alhamdu lillah… Pujian tiada terhingga kita panjatkan kepada Robb kita, Yang telah memberikan kita karunia untuk bisa beribadah selama bulan Ramadhan. Untuk bisa menyempurnakan puasa sebulan penuh. Sungguh betapa banyak saudara-saudara kita yang berangan-angan merasakan apa yang kita rasakan akan tetapi ajal lebih dahulu menjemput mereka. Banyak sahabat kita, banyak tetangga kita, kerabat kita yang pada tahun ini tidak bisa melaksanakan ibadah di bulan puasa.Segala puji bagiMu Ya Rabb kami, bagaimanapun kami memujiMu maka kami tidak mampu memujiMu sebagaimana mestinya….lisan-lisan kami tidak mampu untuk mengungkapkan keagunganMu…., jari-jari kami tak mampu menulis kemuliaanMu sebagaimana mestinya…Hanya Engkau yang mengetahui keagunganMu yang sesungguhnya… لاَ نُحْصِي ثَنَاءً عَلَيْكَ أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ“Kami tidak mampu memujiMu sebagaimana mestinya….KeagunganMu sebagaimana PujianMu terhadap diriMu” Pujian dan sanjungan tiada terhingga terus kita haturkan kepada Rabb kita, Yang telah menganugrahkan kelezatan-kelezatan dan ketentraman dalam beribadah selama bulan Ramadhan. Kelezatan bertilawah al-Qur’an, kelezatan sholat malam, kelezatan bermunajat kepadaNya, dan Kelezatan meneteskan air mata di haribaanNya, semoga Allah menerima seluruh ibadah kita. Semoga tetesan air mata yang kita keluarkan dengan tulus, sebagai bentuk pengakuan akan dosa-dosa kita, tetesan air mata yang menunjukkan kerinduan untuk masuk surga, menjadi sebab diampuni dosa-dosa yang telah lalu dan begitu banyak, dan sebab untuk meraih surga.تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ صَالِحَ الأَعْمَالِSemoga Allah menerima amal sholih kami dan amal sholih kalian…Maka berbahagialah mereka yang telah berpuasa karena Allah…مَنْ صَامَ رَمَضَانَ، إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ“Siapa yang berpuasa Ramadhan dengan keimanan dan penuh pengharapan maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu”Berbahagialah mereka yang sholat tarawih dan sholat malam karena Allah ….مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ“Barangsiapa yang sholat malam di bulan Ramadhan dengan keimanan dan penuh pengharapan maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu”Berbahagialah mereka yang bersusah payah menahan kantuk untuk mencari lailatul Qodar….مَنْ قَامَ لَيْلَةَ القَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ“Barangsiapa yang beribadah di malam lailatul Qodar dengan keimanan dan penuh pengharapan maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu” Sungguh hari-hari indah tersebut ternyata telah berlalu…tidak terasa sebulan penuh kita telah berjuang…merasakan kelezatan-kelezatan tersebut. Begitu terasa singkat hari-hari mulia dan indah tersebut. Sungguh benar firman Allah :أَيَّامًا مَعْدُودَاتٍ“Hari-hari yang berbilang…” (QS Al-Baqoroh : 184) Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Walillahil Hamd. Kaum muslimin sekalian sesungguhnya Allah telah menghidangkan kepada kita bulan Ramadhan agar kita bisa meraih ketakwaan.Allah berfirman :يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ“Wahai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana telah diwajibkan kepada orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa” (QS Al-Baqoroh : 183)Ayat ini tidak ditujukan kepada orang-orang munafik yang ber KTP islam tapi benci kepada Islam, apalagi orang-orang kafir. Tapi ayat ini ditujukan kepada orang-orang yang beriman…karena merekalah yang bisa meraih predikat takwallah.selama bulan Ramadhan kita telah menggembleng diri kita untuk bisa meraih ketakwaan. Kita menahan lapar dan dahaga, kita meredam syahwat kita, namun alhamdulillah kita telah melewati itu semua.Ternyata “Takwallah” (bertakwa kepada Allah) itulah tujuan kita berpuasa. Takwallah kalimat yang mudah diucapkan oleh lisan…tapi tidak mudah untuk meraihnya. Puasa sebulan kita jalankan ternyata tidak lain adalah untuk meraih ketakwaan. Ada apa gerangan takwallah?Iya…Rabb kita ingin kita bisa meraih ketakwaan agar kita bisa menghadapi sebelas bulan berikutnya…sebelas bulan berikutnya yang penuh dengan ujian. Syaitan-syaitan dari golongan jin yang tadinya dibelenggu kini telah dilepaskan kembali…Syaitan-syaitan manusia yang tatkala bulan Ramadhan masih malu-malu untuk menunjukkan maksiat mereka, kini kembali lagi tidak malu untuk terang-terangan bermaksiat. Ada apa gerangan dengan takwallah?Takwallah (bertakwa kepada Allah) adalah washiat Allah kepada orang-orang terdahulu dan yang terakhir, washiat kepada orang-orang sebelum kalian dan juga kepada kalian, Allah berfirman :وَلَقَدْ وَصَّيْنَا الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَإِيَّاكُمْ أَنِ اتَّقُوا اللَّهَ“Dan sungguh kami telah berwashiat kepada orang-orang yang diberi kitab suci sebelum kalian, dan juga wasiat kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah” (QS An-Nisaa’ : 131)Bahkan begitu pentingnya perkara takwa hingga dalam al-Qur’an ayat-ayat tentang takwallah lebih dari 250 ayat. Ini semua menunjukkan perhatian besar syari’at terhadap takwallah.Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, walillahil hamd… Ada apa gerangan dengan takwallah?Sungguh barangsiapa yang memperhatikan kondisi kaum muslimin di negeri kita secara khusus, maka ia akan melihat begitu banyak kemungkaran yang tersebar…kemungkaran yang dilakukan terang-terangan tanpa ada rasa malu. Tirai rasa malu telah dirobek…telah dikoyak… Kemungkaran-kemungkaran yang terjadi pada jajaran individu atau komunitas, atau bahkan sampai jajaran para pejabat negara.Sebab dari ini semua adalah hilangnya takwallah…sirnanya takwallah.. Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, walillahil hamd.Ma’asyirol muslimin…, pada hari ini banyak para pakar yang berbicara dan mengeluarkan berbagai teori untuk menghadapi problematika sosial dan ekonomi serta moral di negara kita. Banyak teori yang telah dipraktikan akan tetapi permasalahan tetap saja tidak bisa diselesaikan.Ada satu perkara yang terlupakan…yang merupakan solusi bagi seluruh permasalahan. Baik permasalahan individu, keluarga, komunitas, bahkan permasalahan negera. Perkara yang terlupakan tersebut adalah takwallah.Allah telah berfirman :وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًاBarangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar..وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُDan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya…Iya…Allah akan memberikan rizki dari arah yang tidak disangka-sangka…rezki yang datang tanpa kita duga dan tanpa kita sangkaوَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًاDan barang -siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya…وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يُكَفِّرْ عَنْهُ سَيِّئَاتِهِ وَيُعْظِمْ لَهُ أَجْرًاdan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan akan melipat gandakan pahala baginya (QS At-Tholaq : 2-5)Sungguh luar biasa ketakwaan…mendatangkan rizki, memudahkan urusan, dan juga memberikan solusi Allah dengan jelas mengatakanوَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًاBarangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar..Di sini jelas mencakup siapa saja…, siapa saja yang menghadapi permasalahan, apakah seorang kepala rumah tangga, seorang istri, seorang pegawai, seorang guru, seorang miskin, seorang kaya, seorang pejabat, seorang rakyat, maupun seorang presiden.Dalam ayat ini Allah juga tidak menyebutkan permasalahan apa yang dihadapi, oleh karenanya ayat ini mencakup seluruh permasalahan yang dihadapi. Apakah permasalahan ekonomi atau sosial, permasalahan masyarakat atau permasalahan negara…!!Allah juga berfirman :يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَتَّقُوا اللَّهَ يَجْعَلْ لَكُمْ فُرْقَانًاHai orang-orang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah, Kami akan memberikan kepadamu Furqaan. (QS Al-Anfaal “29)Sebagian salaf (seperti Ibnu Abbas, Mujahid, ‘Ikrimah, dan ad-Dhohhak) menafsirkan kata “Furqon” dengan al-Makhroj (solusi) dan an-Najaat (keselamatan)Maka takwallah adalah sumber solusi bagi permasalahan apa saja.Tentu seorang mukmin pasti akan menghadapi ujian dalam kehidupannya, sebagaimana Allah telah berjanji akan menguji kaum mukminin. Allah berfirman :أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ (2) وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ (3)Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi. Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta (QS Al-‘Ankabuut : 2-3)Akan tetapi Alah juga telah menjanjikan bahwa apapun permasalahan dan ujian yang dihadapi pasti ada solusinya bagi orang yang bertakwa. Cepat atau lambat solusi pasti akan datang. Karenanya jika seseorang menghadapi suatu permasalahan namun ia tidak menemukan solusinya maka hendaknya ia mencurigai dirinya, jangan-jangan ia kurang bertakwa kepada Allah. Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Walillahil hamd.Takwallah adalah sumber rezeki, Allah berfirman :وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا نَحْنُ نَرْزُقُكَ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَىDan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa (QS Thoohaa : 132)Ibnu Katsir berkata :يَعْنِي إِذَا أَقَمْتَ الصَّلَاةَ أَتَاكَ الرِّزْقُ مِنْ حَيْثُ لَا تَحْتَسِبُ“Yaitu jika engkau mendirikan sholat maka rizki akan datang kepadamu dari arah yang kau tidak sangka” (Tafsir Ibnu Katsir 5/327) Nuuh berkata kepada kaumnya :فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا (10) يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا (11) وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا (12)maka aku katakan kepada mereka: ´Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, -sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun-, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai (QS Nuuh : 10-12) Huud ‘alaihis salam berkata kepada kaumnya :وَيَاقَوْمِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا وَيَزِدْكُمْ قُوَّةً إِلَى قُوَّتِكُمْ وَلَا تَتَوَلَّوْا مُجْرِمِينَ (52)Dan (Huud berkata): “Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa” (QS Huud : 52)Allah berfirman tentang para jin :وَأَلَّوِ اسْتَقَامُوا عَلَى الطَّرِيقَةِ لَأَسْقَيْنَاهُمْ مَاءً غَدَقًاDan bahwasanya: jikalau mereka (para jin) tetap berjalan lurus di atas jalan itu (agama Islam), benar-benar Kami akan memberi minum kepada mereka air yang segar (rezeki yang banyak) (QS Al-Jinn : 16)Jika para jin saja kalau bertakwa dan beristiqomah Allah memberikan kepada mereka rizki yang banyak, maka bagaimana lagi dengan manusia? Allah juga berfirman :وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَJikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya (QS Al-A’raaf : 96)وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْكِتَابِ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَكَفَّرْنَا عَنْهُمْ سَيِّئَاتِهِمْ وَلَأَدْخَلْنَاهُمْ جَنَّاتِ النَّعِيمِ (65) وَلَوْ أَنَّهُمْ أَقَامُوا التَّوْرَاةَ وَالْإِنْجِيلَ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِمْ مِنْ رَبِّهِمْ لَأَكَلُوا مِنْ فَوْقِهِمْ وَمِنْ تَحْتِ أَرْجُلِهِمْDan sekiranya Ahli Kitab beriman dan bertakwa, tentulah Kami tutup (hapus) kesalahan-kesalahan mereka dan tentulah Kami masukkan mereka kedalam surga-surga yang penuh kenikmatan. Dan sekiranya mereka sungguh-sungguh menjalankan (hukum) Taurat dan Injil dan (Al Quran) yang diturunkan kepada mereka dari Tuhannya, niscaya mereka akan mendapat makanan dari atas dan dari bawah kaki mereka. Diantara mereka ada golongan yang pertengahan. Dan alangkah buruknya apa yang dikerjakan oleh kebanyakan mereka (QS Al-Maidah : 65-66)Jika ahlul kitab dijanjikan oleh Allah rizki yang luas jika mereka beriman dan bertakwa kepada Allah, maka bagaimana lagi dengan kaum muslimin? Kalau Ahlul Kitab dijanjikan dengan rizki yang luas jika mereka menegakkan kitab suci mereka, maka bagaimana lagi dengan kaum muslimin jika mereka menegakkan hukum-hukum al-Qur’an? Maka sungguh menyedihkan dan memilukan hati tatkala hukum-hukum al-Qur’an dicampakan…ditinggalkan…, bahkan dianggap sebagai sebab keterbelakangan…dianggap sebagai sebab permasalahan bukan solusi permasalahan…Sungguh ada negeri-negeri yang kekayaan alamnya jauh lebih sedikit dari negeri kita akan tetapi mereka lebih makmur…mereka lebih tentram dan lebih aman. Sementara negeri kita penuh dengan kekayaan alam, sumber daya alam yang begitu banyak dan luas, akan tetapi ada satu yang kurang…yaitu takwallah. Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, walillahil hamd.Ma’asyirol muslimin…sesungguhnya takwa adalah engkau yakin bahwasanya Allah selalu mengawasimu…melihat gerak-gerikmu, mengetahui seluruh ucapanmu, mengetahui lirikan matamu, bahkan mengetahui apa yang terbetik dalam dadamu.يَعْلَمُ خَائِنَةَ الْأَعْيُنِ وَمَا تُخْفِي الصُّدُورُDia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati (QS Ghoofir : 19)وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي أَنْفُسِكُمْ فَاحْذَرُوهُDan ketahuilah bahwasanya Allah mengetahui apa yang ada dalam hatimu; maka takutlah kepada-Nya (QS Al-aqoroh : 235)Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :اتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ“Bertakwalah kepada Allah kapanpun dan dimanapun kaum berada”Seseorang berusaha selalu bertakwa kepada Allah, menjalankan perintahNya dan menjauhi laranganNya tatkala ia bersendirian, tatkala ia bersafar jauh dari kampung dan keluarganya, tatkala di siang hari dan juga tatkala di malam hari ketika mata-mata manusia tertidur pulas. Yakin bahwasanya apa yang ia lakukan pasti akan dimintai pertanggungjawabannya oleh Allah.Umar bin Al-Khottob pernah berkata :وَلَوْ عَثَرَتْ بَغْلَةٌ فِي الْعِرَاقِ فِي الطَّرِيْقِ لَخِفْتُ أَنَّ اللهَ يَسْأَلُنِي عَنْ ذَلِكَ، لِمَاذَا لَمْ تُسَوِّ لَهَا الطَّرِيْقَ؟“Jika ada seekor begol yang terjatuh di Iraq maka aku takut Allah akan bertanya kepadaku : “Kenapa engkau tidak meratakan jalan untuknya wahai Umar ?!”Lihatlah bagaimana Umar takut jangan sampai ada begol -yang hanya seekor hewan- yang tersungkur jatuh….padahal begol tersebut belum jatuh tersungkur. Ini menunjukkan takwa Umar yang luar biasa yang benar-benar merasakan pertanggung jawaban sebagai seorang pemimpin. Lagi pula begol tersebut bukan di Madinah, tapi di penghujung negeri yaitu di Iraq, sementara Umar tinggal di Madinah. Jika perasaan Umar terhadap hewan saja demikian, maka bagaimana lagi dengan manusia, dengan rakyatnya?Jika setiap pemimpin dan masyarakat merasakan apa yang dirasakan oleh Umar maka tentu akan makmurlah negeri ini. Akan tetapi bukanlah syarat orang bertakwa bahwasanya orang tersebut tidak pernah salah, karena yang ma’sum (terjaga dari kesalahan) hanyalah para Nabi. Akan tetapi orang yang bertakwa bisa saja terjerumus dalam kesalahan akan tetapi ia langsung bertaubat dan kembali kepada Allah.Allah berfirman :إِنَّ الَّذِينَ اتَّقَوْا إِذَا مَسَّهُمْ طَائِفٌ مِنَ الشَّيْطَانِ تَذَكَّرُوا فَإِذَا هُمْ مُبْصِرُونَ (201)Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa was-was dari syaitan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya (QS Al-A’raaf : 201)وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ (135) أُولَئِكَ جَزَاؤُهُمْ مَغْفِرَةٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَجَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَنِعْمَ أَجْرُ الْعَامِلِينَ (136)Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal (QS Ali ‘Imron : 135-136) Jika Anda selama puasa Ramadhan telah berusaha menjadi orang yang bertakwa maka berbahagialah. Semoga Anda telah mencapai predikat La’allakum Tattaquun (agar kalian bertakwa) Berbahagialah pada hari ini….masukanlah rasa senang kepada orang tua, kepada kerabat, kepada anak-anak…beri hadiah kepada mereka…agar mereka tahu bahwasanya mereka sedang berlebaran…sedang merayakan hari kemenangan….kemenangan melawan syahwat selama sebulan penuh…Nabi berkata tatkala hari lebaran :لِتَعْلَمَ يَهُوْدٌ أَنَّ فِي دِيْنِنَا فُسْحَةً“Agar kaum Yahudi tahu bahwasanya dalam agama kita ada kelapangan/kelonggaran”====== doa======= Jakarta, 03-10-1438 H / 27-06-2017Abu Abdil Muhsin Firandawww.firanda.com  
إن الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي لهيأيها الذين آمنوا اتقوا الله حق تقاته، ولا تموتن إلا وأنتم مسلمونAllahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar walillahil hamd…Ma’aasyirol Muslimin….Alhamdu lillah… Pujian tiada terhingga kita panjatkan kepada Robb kita, Yang telah memberikan kita karunia untuk bisa beribadah selama bulan Ramadhan. Untuk bisa menyempurnakan puasa sebulan penuh. Sungguh betapa banyak saudara-saudara kita yang berangan-angan merasakan apa yang kita rasakan akan tetapi ajal lebih dahulu menjemput mereka. Banyak sahabat kita, banyak tetangga kita, kerabat kita yang pada tahun ini tidak bisa melaksanakan ibadah di bulan puasa.Segala puji bagiMu Ya Rabb kami, bagaimanapun kami memujiMu maka kami tidak mampu memujiMu sebagaimana mestinya….lisan-lisan kami tidak mampu untuk mengungkapkan keagunganMu…., jari-jari kami tak mampu menulis kemuliaanMu sebagaimana mestinya…Hanya Engkau yang mengetahui keagunganMu yang sesungguhnya… لاَ نُحْصِي ثَنَاءً عَلَيْكَ أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ“Kami tidak mampu memujiMu sebagaimana mestinya….KeagunganMu sebagaimana PujianMu terhadap diriMu” Pujian dan sanjungan tiada terhingga terus kita haturkan kepada Rabb kita, Yang telah menganugrahkan kelezatan-kelezatan dan ketentraman dalam beribadah selama bulan Ramadhan. Kelezatan bertilawah al-Qur’an, kelezatan sholat malam, kelezatan bermunajat kepadaNya, dan Kelezatan meneteskan air mata di haribaanNya, semoga Allah menerima seluruh ibadah kita. Semoga tetesan air mata yang kita keluarkan dengan tulus, sebagai bentuk pengakuan akan dosa-dosa kita, tetesan air mata yang menunjukkan kerinduan untuk masuk surga, menjadi sebab diampuni dosa-dosa yang telah lalu dan begitu banyak, dan sebab untuk meraih surga.تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ صَالِحَ الأَعْمَالِSemoga Allah menerima amal sholih kami dan amal sholih kalian…Maka berbahagialah mereka yang telah berpuasa karena Allah…مَنْ صَامَ رَمَضَانَ، إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ“Siapa yang berpuasa Ramadhan dengan keimanan dan penuh pengharapan maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu”Berbahagialah mereka yang sholat tarawih dan sholat malam karena Allah ….مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ“Barangsiapa yang sholat malam di bulan Ramadhan dengan keimanan dan penuh pengharapan maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu”Berbahagialah mereka yang bersusah payah menahan kantuk untuk mencari lailatul Qodar….مَنْ قَامَ لَيْلَةَ القَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ“Barangsiapa yang beribadah di malam lailatul Qodar dengan keimanan dan penuh pengharapan maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu” Sungguh hari-hari indah tersebut ternyata telah berlalu…tidak terasa sebulan penuh kita telah berjuang…merasakan kelezatan-kelezatan tersebut. Begitu terasa singkat hari-hari mulia dan indah tersebut. Sungguh benar firman Allah :أَيَّامًا مَعْدُودَاتٍ“Hari-hari yang berbilang…” (QS Al-Baqoroh : 184) Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Walillahil Hamd. Kaum muslimin sekalian sesungguhnya Allah telah menghidangkan kepada kita bulan Ramadhan agar kita bisa meraih ketakwaan.Allah berfirman :يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ“Wahai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana telah diwajibkan kepada orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa” (QS Al-Baqoroh : 183)Ayat ini tidak ditujukan kepada orang-orang munafik yang ber KTP islam tapi benci kepada Islam, apalagi orang-orang kafir. Tapi ayat ini ditujukan kepada orang-orang yang beriman…karena merekalah yang bisa meraih predikat takwallah.selama bulan Ramadhan kita telah menggembleng diri kita untuk bisa meraih ketakwaan. Kita menahan lapar dan dahaga, kita meredam syahwat kita, namun alhamdulillah kita telah melewati itu semua.Ternyata “Takwallah” (bertakwa kepada Allah) itulah tujuan kita berpuasa. Takwallah kalimat yang mudah diucapkan oleh lisan…tapi tidak mudah untuk meraihnya. Puasa sebulan kita jalankan ternyata tidak lain adalah untuk meraih ketakwaan. Ada apa gerangan takwallah?Iya…Rabb kita ingin kita bisa meraih ketakwaan agar kita bisa menghadapi sebelas bulan berikutnya…sebelas bulan berikutnya yang penuh dengan ujian. Syaitan-syaitan dari golongan jin yang tadinya dibelenggu kini telah dilepaskan kembali…Syaitan-syaitan manusia yang tatkala bulan Ramadhan masih malu-malu untuk menunjukkan maksiat mereka, kini kembali lagi tidak malu untuk terang-terangan bermaksiat. Ada apa gerangan dengan takwallah?Takwallah (bertakwa kepada Allah) adalah washiat Allah kepada orang-orang terdahulu dan yang terakhir, washiat kepada orang-orang sebelum kalian dan juga kepada kalian, Allah berfirman :وَلَقَدْ وَصَّيْنَا الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَإِيَّاكُمْ أَنِ اتَّقُوا اللَّهَ“Dan sungguh kami telah berwashiat kepada orang-orang yang diberi kitab suci sebelum kalian, dan juga wasiat kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah” (QS An-Nisaa’ : 131)Bahkan begitu pentingnya perkara takwa hingga dalam al-Qur’an ayat-ayat tentang takwallah lebih dari 250 ayat. Ini semua menunjukkan perhatian besar syari’at terhadap takwallah.Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, walillahil hamd… Ada apa gerangan dengan takwallah?Sungguh barangsiapa yang memperhatikan kondisi kaum muslimin di negeri kita secara khusus, maka ia akan melihat begitu banyak kemungkaran yang tersebar…kemungkaran yang dilakukan terang-terangan tanpa ada rasa malu. Tirai rasa malu telah dirobek…telah dikoyak… Kemungkaran-kemungkaran yang terjadi pada jajaran individu atau komunitas, atau bahkan sampai jajaran para pejabat negara.Sebab dari ini semua adalah hilangnya takwallah…sirnanya takwallah.. Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, walillahil hamd.Ma’asyirol muslimin…, pada hari ini banyak para pakar yang berbicara dan mengeluarkan berbagai teori untuk menghadapi problematika sosial dan ekonomi serta moral di negara kita. Banyak teori yang telah dipraktikan akan tetapi permasalahan tetap saja tidak bisa diselesaikan.Ada satu perkara yang terlupakan…yang merupakan solusi bagi seluruh permasalahan. Baik permasalahan individu, keluarga, komunitas, bahkan permasalahan negera. Perkara yang terlupakan tersebut adalah takwallah.Allah telah berfirman :وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًاBarangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar..وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُDan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya…Iya…Allah akan memberikan rizki dari arah yang tidak disangka-sangka…rezki yang datang tanpa kita duga dan tanpa kita sangkaوَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًاDan barang -siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya…وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يُكَفِّرْ عَنْهُ سَيِّئَاتِهِ وَيُعْظِمْ لَهُ أَجْرًاdan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan akan melipat gandakan pahala baginya (QS At-Tholaq : 2-5)Sungguh luar biasa ketakwaan…mendatangkan rizki, memudahkan urusan, dan juga memberikan solusi Allah dengan jelas mengatakanوَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًاBarangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar..Di sini jelas mencakup siapa saja…, siapa saja yang menghadapi permasalahan, apakah seorang kepala rumah tangga, seorang istri, seorang pegawai, seorang guru, seorang miskin, seorang kaya, seorang pejabat, seorang rakyat, maupun seorang presiden.Dalam ayat ini Allah juga tidak menyebutkan permasalahan apa yang dihadapi, oleh karenanya ayat ini mencakup seluruh permasalahan yang dihadapi. Apakah permasalahan ekonomi atau sosial, permasalahan masyarakat atau permasalahan negara…!!Allah juga berfirman :يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَتَّقُوا اللَّهَ يَجْعَلْ لَكُمْ فُرْقَانًاHai orang-orang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah, Kami akan memberikan kepadamu Furqaan. (QS Al-Anfaal “29)Sebagian salaf (seperti Ibnu Abbas, Mujahid, ‘Ikrimah, dan ad-Dhohhak) menafsirkan kata “Furqon” dengan al-Makhroj (solusi) dan an-Najaat (keselamatan)Maka takwallah adalah sumber solusi bagi permasalahan apa saja.Tentu seorang mukmin pasti akan menghadapi ujian dalam kehidupannya, sebagaimana Allah telah berjanji akan menguji kaum mukminin. Allah berfirman :أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ (2) وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ (3)Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi. Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta (QS Al-‘Ankabuut : 2-3)Akan tetapi Alah juga telah menjanjikan bahwa apapun permasalahan dan ujian yang dihadapi pasti ada solusinya bagi orang yang bertakwa. Cepat atau lambat solusi pasti akan datang. Karenanya jika seseorang menghadapi suatu permasalahan namun ia tidak menemukan solusinya maka hendaknya ia mencurigai dirinya, jangan-jangan ia kurang bertakwa kepada Allah. Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Walillahil hamd.Takwallah adalah sumber rezeki, Allah berfirman :وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا نَحْنُ نَرْزُقُكَ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَىDan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa (QS Thoohaa : 132)Ibnu Katsir berkata :يَعْنِي إِذَا أَقَمْتَ الصَّلَاةَ أَتَاكَ الرِّزْقُ مِنْ حَيْثُ لَا تَحْتَسِبُ“Yaitu jika engkau mendirikan sholat maka rizki akan datang kepadamu dari arah yang kau tidak sangka” (Tafsir Ibnu Katsir 5/327) Nuuh berkata kepada kaumnya :فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا (10) يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا (11) وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا (12)maka aku katakan kepada mereka: ´Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, -sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun-, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai (QS Nuuh : 10-12) Huud ‘alaihis salam berkata kepada kaumnya :وَيَاقَوْمِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا وَيَزِدْكُمْ قُوَّةً إِلَى قُوَّتِكُمْ وَلَا تَتَوَلَّوْا مُجْرِمِينَ (52)Dan (Huud berkata): “Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa” (QS Huud : 52)Allah berfirman tentang para jin :وَأَلَّوِ اسْتَقَامُوا عَلَى الطَّرِيقَةِ لَأَسْقَيْنَاهُمْ مَاءً غَدَقًاDan bahwasanya: jikalau mereka (para jin) tetap berjalan lurus di atas jalan itu (agama Islam), benar-benar Kami akan memberi minum kepada mereka air yang segar (rezeki yang banyak) (QS Al-Jinn : 16)Jika para jin saja kalau bertakwa dan beristiqomah Allah memberikan kepada mereka rizki yang banyak, maka bagaimana lagi dengan manusia? Allah juga berfirman :وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَJikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya (QS Al-A’raaf : 96)وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْكِتَابِ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَكَفَّرْنَا عَنْهُمْ سَيِّئَاتِهِمْ وَلَأَدْخَلْنَاهُمْ جَنَّاتِ النَّعِيمِ (65) وَلَوْ أَنَّهُمْ أَقَامُوا التَّوْرَاةَ وَالْإِنْجِيلَ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِمْ مِنْ رَبِّهِمْ لَأَكَلُوا مِنْ فَوْقِهِمْ وَمِنْ تَحْتِ أَرْجُلِهِمْDan sekiranya Ahli Kitab beriman dan bertakwa, tentulah Kami tutup (hapus) kesalahan-kesalahan mereka dan tentulah Kami masukkan mereka kedalam surga-surga yang penuh kenikmatan. Dan sekiranya mereka sungguh-sungguh menjalankan (hukum) Taurat dan Injil dan (Al Quran) yang diturunkan kepada mereka dari Tuhannya, niscaya mereka akan mendapat makanan dari atas dan dari bawah kaki mereka. Diantara mereka ada golongan yang pertengahan. Dan alangkah buruknya apa yang dikerjakan oleh kebanyakan mereka (QS Al-Maidah : 65-66)Jika ahlul kitab dijanjikan oleh Allah rizki yang luas jika mereka beriman dan bertakwa kepada Allah, maka bagaimana lagi dengan kaum muslimin? Kalau Ahlul Kitab dijanjikan dengan rizki yang luas jika mereka menegakkan kitab suci mereka, maka bagaimana lagi dengan kaum muslimin jika mereka menegakkan hukum-hukum al-Qur’an? Maka sungguh menyedihkan dan memilukan hati tatkala hukum-hukum al-Qur’an dicampakan…ditinggalkan…, bahkan dianggap sebagai sebab keterbelakangan…dianggap sebagai sebab permasalahan bukan solusi permasalahan…Sungguh ada negeri-negeri yang kekayaan alamnya jauh lebih sedikit dari negeri kita akan tetapi mereka lebih makmur…mereka lebih tentram dan lebih aman. Sementara negeri kita penuh dengan kekayaan alam, sumber daya alam yang begitu banyak dan luas, akan tetapi ada satu yang kurang…yaitu takwallah. Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, walillahil hamd.Ma’asyirol muslimin…sesungguhnya takwa adalah engkau yakin bahwasanya Allah selalu mengawasimu…melihat gerak-gerikmu, mengetahui seluruh ucapanmu, mengetahui lirikan matamu, bahkan mengetahui apa yang terbetik dalam dadamu.يَعْلَمُ خَائِنَةَ الْأَعْيُنِ وَمَا تُخْفِي الصُّدُورُDia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati (QS Ghoofir : 19)وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي أَنْفُسِكُمْ فَاحْذَرُوهُDan ketahuilah bahwasanya Allah mengetahui apa yang ada dalam hatimu; maka takutlah kepada-Nya (QS Al-aqoroh : 235)Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :اتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ“Bertakwalah kepada Allah kapanpun dan dimanapun kaum berada”Seseorang berusaha selalu bertakwa kepada Allah, menjalankan perintahNya dan menjauhi laranganNya tatkala ia bersendirian, tatkala ia bersafar jauh dari kampung dan keluarganya, tatkala di siang hari dan juga tatkala di malam hari ketika mata-mata manusia tertidur pulas. Yakin bahwasanya apa yang ia lakukan pasti akan dimintai pertanggungjawabannya oleh Allah.Umar bin Al-Khottob pernah berkata :وَلَوْ عَثَرَتْ بَغْلَةٌ فِي الْعِرَاقِ فِي الطَّرِيْقِ لَخِفْتُ أَنَّ اللهَ يَسْأَلُنِي عَنْ ذَلِكَ، لِمَاذَا لَمْ تُسَوِّ لَهَا الطَّرِيْقَ؟“Jika ada seekor begol yang terjatuh di Iraq maka aku takut Allah akan bertanya kepadaku : “Kenapa engkau tidak meratakan jalan untuknya wahai Umar ?!”Lihatlah bagaimana Umar takut jangan sampai ada begol -yang hanya seekor hewan- yang tersungkur jatuh….padahal begol tersebut belum jatuh tersungkur. Ini menunjukkan takwa Umar yang luar biasa yang benar-benar merasakan pertanggung jawaban sebagai seorang pemimpin. Lagi pula begol tersebut bukan di Madinah, tapi di penghujung negeri yaitu di Iraq, sementara Umar tinggal di Madinah. Jika perasaan Umar terhadap hewan saja demikian, maka bagaimana lagi dengan manusia, dengan rakyatnya?Jika setiap pemimpin dan masyarakat merasakan apa yang dirasakan oleh Umar maka tentu akan makmurlah negeri ini. Akan tetapi bukanlah syarat orang bertakwa bahwasanya orang tersebut tidak pernah salah, karena yang ma’sum (terjaga dari kesalahan) hanyalah para Nabi. Akan tetapi orang yang bertakwa bisa saja terjerumus dalam kesalahan akan tetapi ia langsung bertaubat dan kembali kepada Allah.Allah berfirman :إِنَّ الَّذِينَ اتَّقَوْا إِذَا مَسَّهُمْ طَائِفٌ مِنَ الشَّيْطَانِ تَذَكَّرُوا فَإِذَا هُمْ مُبْصِرُونَ (201)Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa was-was dari syaitan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya (QS Al-A’raaf : 201)وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ (135) أُولَئِكَ جَزَاؤُهُمْ مَغْفِرَةٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَجَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَنِعْمَ أَجْرُ الْعَامِلِينَ (136)Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal (QS Ali ‘Imron : 135-136) Jika Anda selama puasa Ramadhan telah berusaha menjadi orang yang bertakwa maka berbahagialah. Semoga Anda telah mencapai predikat La’allakum Tattaquun (agar kalian bertakwa) Berbahagialah pada hari ini….masukanlah rasa senang kepada orang tua, kepada kerabat, kepada anak-anak…beri hadiah kepada mereka…agar mereka tahu bahwasanya mereka sedang berlebaran…sedang merayakan hari kemenangan….kemenangan melawan syahwat selama sebulan penuh…Nabi berkata tatkala hari lebaran :لِتَعْلَمَ يَهُوْدٌ أَنَّ فِي دِيْنِنَا فُسْحَةً“Agar kaum Yahudi tahu bahwasanya dalam agama kita ada kelapangan/kelonggaran”====== doa======= Jakarta, 03-10-1438 H / 27-06-2017Abu Abdil Muhsin Firandawww.firanda.com  


إن الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي لهيأيها الذين آمنوا اتقوا الله حق تقاته، ولا تموتن إلا وأنتم مسلمونAllahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar walillahil hamd…Ma’aasyirol Muslimin….Alhamdu lillah… Pujian tiada terhingga kita panjatkan kepada Robb kita, Yang telah memberikan kita karunia untuk bisa beribadah selama bulan Ramadhan. Untuk bisa menyempurnakan puasa sebulan penuh. Sungguh betapa banyak saudara-saudara kita yang berangan-angan merasakan apa yang kita rasakan akan tetapi ajal lebih dahulu menjemput mereka. Banyak sahabat kita, banyak tetangga kita, kerabat kita yang pada tahun ini tidak bisa melaksanakan ibadah di bulan puasa.Segala puji bagiMu Ya Rabb kami, bagaimanapun kami memujiMu maka kami tidak mampu memujiMu sebagaimana mestinya….lisan-lisan kami tidak mampu untuk mengungkapkan keagunganMu…., jari-jari kami tak mampu menulis kemuliaanMu sebagaimana mestinya…Hanya Engkau yang mengetahui keagunganMu yang sesungguhnya… لاَ نُحْصِي ثَنَاءً عَلَيْكَ أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ“Kami tidak mampu memujiMu sebagaimana mestinya….KeagunganMu sebagaimana PujianMu terhadap diriMu” Pujian dan sanjungan tiada terhingga terus kita haturkan kepada Rabb kita, Yang telah menganugrahkan kelezatan-kelezatan dan ketentraman dalam beribadah selama bulan Ramadhan. Kelezatan bertilawah al-Qur’an, kelezatan sholat malam, kelezatan bermunajat kepadaNya, dan Kelezatan meneteskan air mata di haribaanNya, semoga Allah menerima seluruh ibadah kita. Semoga tetesan air mata yang kita keluarkan dengan tulus, sebagai bentuk pengakuan akan dosa-dosa kita, tetesan air mata yang menunjukkan kerinduan untuk masuk surga, menjadi sebab diampuni dosa-dosa yang telah lalu dan begitu banyak, dan sebab untuk meraih surga.تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ صَالِحَ الأَعْمَالِSemoga Allah menerima amal sholih kami dan amal sholih kalian…Maka berbahagialah mereka yang telah berpuasa karena Allah…مَنْ صَامَ رَمَضَانَ، إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ“Siapa yang berpuasa Ramadhan dengan keimanan dan penuh pengharapan maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu”Berbahagialah mereka yang sholat tarawih dan sholat malam karena Allah ….مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ“Barangsiapa yang sholat malam di bulan Ramadhan dengan keimanan dan penuh pengharapan maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu”Berbahagialah mereka yang bersusah payah menahan kantuk untuk mencari lailatul Qodar….مَنْ قَامَ لَيْلَةَ القَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ“Barangsiapa yang beribadah di malam lailatul Qodar dengan keimanan dan penuh pengharapan maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu” Sungguh hari-hari indah tersebut ternyata telah berlalu…tidak terasa sebulan penuh kita telah berjuang…merasakan kelezatan-kelezatan tersebut. Begitu terasa singkat hari-hari mulia dan indah tersebut. Sungguh benar firman Allah :أَيَّامًا مَعْدُودَاتٍ“Hari-hari yang berbilang…” (QS Al-Baqoroh : 184) Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Walillahil Hamd. Kaum muslimin sekalian sesungguhnya Allah telah menghidangkan kepada kita bulan Ramadhan agar kita bisa meraih ketakwaan.Allah berfirman :يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ“Wahai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana telah diwajibkan kepada orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa” (QS Al-Baqoroh : 183)Ayat ini tidak ditujukan kepada orang-orang munafik yang ber KTP islam tapi benci kepada Islam, apalagi orang-orang kafir. Tapi ayat ini ditujukan kepada orang-orang yang beriman…karena merekalah yang bisa meraih predikat takwallah.selama bulan Ramadhan kita telah menggembleng diri kita untuk bisa meraih ketakwaan. Kita menahan lapar dan dahaga, kita meredam syahwat kita, namun alhamdulillah kita telah melewati itu semua.Ternyata “Takwallah” (bertakwa kepada Allah) itulah tujuan kita berpuasa. Takwallah kalimat yang mudah diucapkan oleh lisan…tapi tidak mudah untuk meraihnya. Puasa sebulan kita jalankan ternyata tidak lain adalah untuk meraih ketakwaan. Ada apa gerangan takwallah?Iya…Rabb kita ingin kita bisa meraih ketakwaan agar kita bisa menghadapi sebelas bulan berikutnya…sebelas bulan berikutnya yang penuh dengan ujian. Syaitan-syaitan dari golongan jin yang tadinya dibelenggu kini telah dilepaskan kembali…Syaitan-syaitan manusia yang tatkala bulan Ramadhan masih malu-malu untuk menunjukkan maksiat mereka, kini kembali lagi tidak malu untuk terang-terangan bermaksiat. Ada apa gerangan dengan takwallah?Takwallah (bertakwa kepada Allah) adalah washiat Allah kepada orang-orang terdahulu dan yang terakhir, washiat kepada orang-orang sebelum kalian dan juga kepada kalian, Allah berfirman :وَلَقَدْ وَصَّيْنَا الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَإِيَّاكُمْ أَنِ اتَّقُوا اللَّهَ“Dan sungguh kami telah berwashiat kepada orang-orang yang diberi kitab suci sebelum kalian, dan juga wasiat kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah” (QS An-Nisaa’ : 131)Bahkan begitu pentingnya perkara takwa hingga dalam al-Qur’an ayat-ayat tentang takwallah lebih dari 250 ayat. Ini semua menunjukkan perhatian besar syari’at terhadap takwallah.Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, walillahil hamd… Ada apa gerangan dengan takwallah?Sungguh barangsiapa yang memperhatikan kondisi kaum muslimin di negeri kita secara khusus, maka ia akan melihat begitu banyak kemungkaran yang tersebar…kemungkaran yang dilakukan terang-terangan tanpa ada rasa malu. Tirai rasa malu telah dirobek…telah dikoyak… Kemungkaran-kemungkaran yang terjadi pada jajaran individu atau komunitas, atau bahkan sampai jajaran para pejabat negara.Sebab dari ini semua adalah hilangnya takwallah…sirnanya takwallah.. Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, walillahil hamd.Ma’asyirol muslimin…, pada hari ini banyak para pakar yang berbicara dan mengeluarkan berbagai teori untuk menghadapi problematika sosial dan ekonomi serta moral di negara kita. Banyak teori yang telah dipraktikan akan tetapi permasalahan tetap saja tidak bisa diselesaikan.Ada satu perkara yang terlupakan…yang merupakan solusi bagi seluruh permasalahan. Baik permasalahan individu, keluarga, komunitas, bahkan permasalahan negera. Perkara yang terlupakan tersebut adalah takwallah.Allah telah berfirman :وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًاBarangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar..وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُDan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya…Iya…Allah akan memberikan rizki dari arah yang tidak disangka-sangka…rezki yang datang tanpa kita duga dan tanpa kita sangkaوَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًاDan barang -siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya…وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يُكَفِّرْ عَنْهُ سَيِّئَاتِهِ وَيُعْظِمْ لَهُ أَجْرًاdan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan akan melipat gandakan pahala baginya (QS At-Tholaq : 2-5)Sungguh luar biasa ketakwaan…mendatangkan rizki, memudahkan urusan, dan juga memberikan solusi Allah dengan jelas mengatakanوَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًاBarangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar..Di sini jelas mencakup siapa saja…, siapa saja yang menghadapi permasalahan, apakah seorang kepala rumah tangga, seorang istri, seorang pegawai, seorang guru, seorang miskin, seorang kaya, seorang pejabat, seorang rakyat, maupun seorang presiden.Dalam ayat ini Allah juga tidak menyebutkan permasalahan apa yang dihadapi, oleh karenanya ayat ini mencakup seluruh permasalahan yang dihadapi. Apakah permasalahan ekonomi atau sosial, permasalahan masyarakat atau permasalahan negara…!!Allah juga berfirman :يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَتَّقُوا اللَّهَ يَجْعَلْ لَكُمْ فُرْقَانًاHai orang-orang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah, Kami akan memberikan kepadamu Furqaan. (QS Al-Anfaal “29)Sebagian salaf (seperti Ibnu Abbas, Mujahid, ‘Ikrimah, dan ad-Dhohhak) menafsirkan kata “Furqon” dengan al-Makhroj (solusi) dan an-Najaat (keselamatan)Maka takwallah adalah sumber solusi bagi permasalahan apa saja.Tentu seorang mukmin pasti akan menghadapi ujian dalam kehidupannya, sebagaimana Allah telah berjanji akan menguji kaum mukminin. Allah berfirman :أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ (2) وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ (3)Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi. Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta (QS Al-‘Ankabuut : 2-3)Akan tetapi Alah juga telah menjanjikan bahwa apapun permasalahan dan ujian yang dihadapi pasti ada solusinya bagi orang yang bertakwa. Cepat atau lambat solusi pasti akan datang. Karenanya jika seseorang menghadapi suatu permasalahan namun ia tidak menemukan solusinya maka hendaknya ia mencurigai dirinya, jangan-jangan ia kurang bertakwa kepada Allah. Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Walillahil hamd.Takwallah adalah sumber rezeki, Allah berfirman :وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا نَحْنُ نَرْزُقُكَ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَىDan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa (QS Thoohaa : 132)Ibnu Katsir berkata :يَعْنِي إِذَا أَقَمْتَ الصَّلَاةَ أَتَاكَ الرِّزْقُ مِنْ حَيْثُ لَا تَحْتَسِبُ“Yaitu jika engkau mendirikan sholat maka rizki akan datang kepadamu dari arah yang kau tidak sangka” (Tafsir Ibnu Katsir 5/327) Nuuh berkata kepada kaumnya :فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا (10) يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا (11) وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا (12)maka aku katakan kepada mereka: ´Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, -sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun-, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai (QS Nuuh : 10-12) Huud ‘alaihis salam berkata kepada kaumnya :وَيَاقَوْمِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا وَيَزِدْكُمْ قُوَّةً إِلَى قُوَّتِكُمْ وَلَا تَتَوَلَّوْا مُجْرِمِينَ (52)Dan (Huud berkata): “Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa” (QS Huud : 52)Allah berfirman tentang para jin :وَأَلَّوِ اسْتَقَامُوا عَلَى الطَّرِيقَةِ لَأَسْقَيْنَاهُمْ مَاءً غَدَقًاDan bahwasanya: jikalau mereka (para jin) tetap berjalan lurus di atas jalan itu (agama Islam), benar-benar Kami akan memberi minum kepada mereka air yang segar (rezeki yang banyak) (QS Al-Jinn : 16)Jika para jin saja kalau bertakwa dan beristiqomah Allah memberikan kepada mereka rizki yang banyak, maka bagaimana lagi dengan manusia? Allah juga berfirman :وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَJikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya (QS Al-A’raaf : 96)وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْكِتَابِ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَكَفَّرْنَا عَنْهُمْ سَيِّئَاتِهِمْ وَلَأَدْخَلْنَاهُمْ جَنَّاتِ النَّعِيمِ (65) وَلَوْ أَنَّهُمْ أَقَامُوا التَّوْرَاةَ وَالْإِنْجِيلَ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِمْ مِنْ رَبِّهِمْ لَأَكَلُوا مِنْ فَوْقِهِمْ وَمِنْ تَحْتِ أَرْجُلِهِمْDan sekiranya Ahli Kitab beriman dan bertakwa, tentulah Kami tutup (hapus) kesalahan-kesalahan mereka dan tentulah Kami masukkan mereka kedalam surga-surga yang penuh kenikmatan. Dan sekiranya mereka sungguh-sungguh menjalankan (hukum) Taurat dan Injil dan (Al Quran) yang diturunkan kepada mereka dari Tuhannya, niscaya mereka akan mendapat makanan dari atas dan dari bawah kaki mereka. Diantara mereka ada golongan yang pertengahan. Dan alangkah buruknya apa yang dikerjakan oleh kebanyakan mereka (QS Al-Maidah : 65-66)Jika ahlul kitab dijanjikan oleh Allah rizki yang luas jika mereka beriman dan bertakwa kepada Allah, maka bagaimana lagi dengan kaum muslimin? Kalau Ahlul Kitab dijanjikan dengan rizki yang luas jika mereka menegakkan kitab suci mereka, maka bagaimana lagi dengan kaum muslimin jika mereka menegakkan hukum-hukum al-Qur’an? Maka sungguh menyedihkan dan memilukan hati tatkala hukum-hukum al-Qur’an dicampakan…ditinggalkan…, bahkan dianggap sebagai sebab keterbelakangan…dianggap sebagai sebab permasalahan bukan solusi permasalahan…Sungguh ada negeri-negeri yang kekayaan alamnya jauh lebih sedikit dari negeri kita akan tetapi mereka lebih makmur…mereka lebih tentram dan lebih aman. Sementara negeri kita penuh dengan kekayaan alam, sumber daya alam yang begitu banyak dan luas, akan tetapi ada satu yang kurang…yaitu takwallah. Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, walillahil hamd.Ma’asyirol muslimin…sesungguhnya takwa adalah engkau yakin bahwasanya Allah selalu mengawasimu…melihat gerak-gerikmu, mengetahui seluruh ucapanmu, mengetahui lirikan matamu, bahkan mengetahui apa yang terbetik dalam dadamu.يَعْلَمُ خَائِنَةَ الْأَعْيُنِ وَمَا تُخْفِي الصُّدُورُDia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati (QS Ghoofir : 19)وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي أَنْفُسِكُمْ فَاحْذَرُوهُDan ketahuilah bahwasanya Allah mengetahui apa yang ada dalam hatimu; maka takutlah kepada-Nya (QS Al-aqoroh : 235)Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :اتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ“Bertakwalah kepada Allah kapanpun dan dimanapun kaum berada”Seseorang berusaha selalu bertakwa kepada Allah, menjalankan perintahNya dan menjauhi laranganNya tatkala ia bersendirian, tatkala ia bersafar jauh dari kampung dan keluarganya, tatkala di siang hari dan juga tatkala di malam hari ketika mata-mata manusia tertidur pulas. Yakin bahwasanya apa yang ia lakukan pasti akan dimintai pertanggungjawabannya oleh Allah.Umar bin Al-Khottob pernah berkata :وَلَوْ عَثَرَتْ بَغْلَةٌ فِي الْعِرَاقِ فِي الطَّرِيْقِ لَخِفْتُ أَنَّ اللهَ يَسْأَلُنِي عَنْ ذَلِكَ، لِمَاذَا لَمْ تُسَوِّ لَهَا الطَّرِيْقَ؟“Jika ada seekor begol yang terjatuh di Iraq maka aku takut Allah akan bertanya kepadaku : “Kenapa engkau tidak meratakan jalan untuknya wahai Umar ?!”Lihatlah bagaimana Umar takut jangan sampai ada begol -yang hanya seekor hewan- yang tersungkur jatuh….padahal begol tersebut belum jatuh tersungkur. Ini menunjukkan takwa Umar yang luar biasa yang benar-benar merasakan pertanggung jawaban sebagai seorang pemimpin. Lagi pula begol tersebut bukan di Madinah, tapi di penghujung negeri yaitu di Iraq, sementara Umar tinggal di Madinah. Jika perasaan Umar terhadap hewan saja demikian, maka bagaimana lagi dengan manusia, dengan rakyatnya?Jika setiap pemimpin dan masyarakat merasakan apa yang dirasakan oleh Umar maka tentu akan makmurlah negeri ini. Akan tetapi bukanlah syarat orang bertakwa bahwasanya orang tersebut tidak pernah salah, karena yang ma’sum (terjaga dari kesalahan) hanyalah para Nabi. Akan tetapi orang yang bertakwa bisa saja terjerumus dalam kesalahan akan tetapi ia langsung bertaubat dan kembali kepada Allah.Allah berfirman :إِنَّ الَّذِينَ اتَّقَوْا إِذَا مَسَّهُمْ طَائِفٌ مِنَ الشَّيْطَانِ تَذَكَّرُوا فَإِذَا هُمْ مُبْصِرُونَ (201)Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa was-was dari syaitan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya (QS Al-A’raaf : 201)وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ (135) أُولَئِكَ جَزَاؤُهُمْ مَغْفِرَةٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَجَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَنِعْمَ أَجْرُ الْعَامِلِينَ (136)Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal (QS Ali ‘Imron : 135-136) Jika Anda selama puasa Ramadhan telah berusaha menjadi orang yang bertakwa maka berbahagialah. Semoga Anda telah mencapai predikat La’allakum Tattaquun (agar kalian bertakwa) Berbahagialah pada hari ini….masukanlah rasa senang kepada orang tua, kepada kerabat, kepada anak-anak…beri hadiah kepada mereka…agar mereka tahu bahwasanya mereka sedang berlebaran…sedang merayakan hari kemenangan….kemenangan melawan syahwat selama sebulan penuh…Nabi berkata tatkala hari lebaran :لِتَعْلَمَ يَهُوْدٌ أَنَّ فِي دِيْنِنَا فُسْحَةً“Agar kaum Yahudi tahu bahwasanya dalam agama kita ada kelapangan/kelonggaran”====== doa======= Jakarta, 03-10-1438 H / 27-06-2017Abu Abdil Muhsin Firandawww.firanda.com  

Shalat Witir Bersama Imam akan Mendapat Pahala Shalat Semalaman

Selesaikan Tarawih dan Witirmu Bersama Imam“Jangan ngacir sebelum witir bersama imam saat shalat tarawih”Ungkapan di atas terlontar sebab sering kita perhatikan ada sebagian kaum muslimin meninggalkan jamaah ketika shalat tarawih telah selesai, mereka pergi dan tidak ikut shalat witir bersama imam karena hendak melaksanakan shalat malam lagi. Mereka berkeyakinan jika sudah shalat witir maka tidak boleh mengerjakan shalat malam lagi karena witir merupakan penutup salat malam.Jangan Sampai Kehilangan Pahala Shalat Semalam SuntukMeninggalkan shalat witir bersama imam adalah hal yang kurang tepat karena jika tidak ikut shalat sampai selesai bersama imam maka akan kehilangan keutamaan yang besar berupa pahala salat semalam suntuk.Nabi shallallahualaihiwasallam bersabda,ﻣَﻦْ ﻗَﺎﻡَ ﻣَﻊَ ﺍْﻹِﻣَﺎﻡِ ﺣَﺘَّﻰ ﻳَﻨْﺼَﺮِﻑَ ﻛُﺘِﺐَ ﻟَﻪُ ﻗِﻴَﺎﻡُ ﻟَﻴْﻠَﺔ“Barang siapa salat malam bersama imam sampai ia selesai, maka ditulis untuknya (pahala) salat satu malam (penuh).” [1] Dalam fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah dijelaskan,ﺇﺫﺍ ﺻﻠﻴﺖ ﻣﻊ ﺍﻹﻣﺎﻡ ﺻﻼﺓ ﺍﻟﺘﺮﺍﻭﻳﺢ : ﻓﺎﻷﻓﻀﻞ ﺃﻥ ﺗﻮﺗﺮ ﻣﻌﻪ ؛ ﻟﺘﺤﺼﻞ ﻋﻠﻰ ﺍﻷﺟﺮ ﺍﻟﻜﺎﻣﻞ“Jika engkau salat tarawih bersama imam maka lebih afdal jika engkau salat witir bersamanya agar mendapat pahala yang sempurna (berupa pahala salat semalam suntuk).” [2] Dalil Shalat Witir Sebagai Penutup Shalat MalamMemang benar, ada hadits yang zahir-nya adalah memerintahkan agar menjadikan witir sebagai akhir shalat/penutup shalat malam kita. Yaitu hadits,ﺍﺟْﻌَﻠُﻮﺍ ﺁ ﺧِﺮَﺻَﻠَﺎ ﺗِﻜُﻢْ ﺑِﺎﻟﻠَّﻴْﻞِ ﻭِﺗْﺮًﺍ“Jadikanlah akhir shalat kalian pada malam hari adalah shalat ganjil (witir)” [3] Ibnu Hazm menjelaskan bahwa ini hanyalah suatu anjuran bukan suatu keharusan. Beliau berkataﻭﺍﻟﻮﺗﺮ ﺁﺧﺮ ﺍﻟﻠﻴﻞ ﺃﻓﻀﻞ . ﻭﻣﻦ ﺃﻭﺗﺮ ﺃﻭﻟﻪ ﻓﺤﺴﻦ , ﻭﺍﻟﺼﻼﺓ ﺑﻌﺪ ﺍﻟﻮﺗﺮ ﺟﺎﺋﺰﺓ , ﻭﻻ ﻳﻌﻴﺪ ﻭﺗﺮﺍً ﺁﺧﺮ ﺍﻫـ .“Witir di akhir malam lebih afdal. Barangsiapa yang witir di awal malam termasuk kebaikan juga, shalat malam lagi setelah witir hukumnya boleh dan tidak perlu diulang witir lagi (witir dua kali).” [4] Demikian juga penjelasan An-Nawawi, beliau berkata,ﺇﺫﺍ ﺃﻭﺗﺮ ﺛﻢ ﺃﺭﺍﺩ ﺃﻥ ﻳﺼﻠﻲ ﻧﺎﻓﻠﺔ ﺃﻡ ﻏﻴﺮﻫﺎ ﻓﻲ ﺍﻟﻠﻴﻞ ﺟﺎﺯ ﺑﻼ ﻛﺮﺍﻫﺔ ﻭﻻ ﻳﻌﻴﺪ ﺍﻟﻮﺗﺮ“Jila seseorang telah mengerjakan shalat witir kemudian ingin mengerjakan shalat sunah lagi pada malam harinya, hukumnya boleh dan tidak makruh, tetapi tidak mengulang salat witir lagi.” [5] Selepas Witir Bersama Imam Masih Boleh Shalat Malam Tanpa Mengulang WitirJika sudah mengerjakan shalat witir memang tidak boleh mengulangi salat witir kembali karena tidak boleh ada dua kali shalat witir dalam satu malam, akan tetapi masih boleh shalat malam secara umum.Nabi shallallahualaihiwasallam bersabda,ﻻَ ﻭِﺗْﺮَﺍﻥِ ﻓِﻲْ ﻟَﻴْﻠَﺔٍ“Tidak ada dua witir dalam satu malam.” [6] Demikian semoga beemanfaat@Yogyakarta TercintaPenyusun: dr. Raehanul Bahraen Artikel Muslim.or.idCatatan kaki:[1]  HR Ahmad, Abu Daud, Tirmidzi, Ibn Majah, Nasa’i, dan lain-lain, Disahihkan oleh Al-Albani dalam Sahih Tirmidzi [2] Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah jilid II 6/54 [3] Muttafaqqun ‘alaihi [4] Muhallaa 2/92-93 [5] Al-Majmu’ Syarh Al-Muahadzab 3/512 [6] HR. Abu Dawud dan dinilai sahih oleh Ibnu Hibban🔍 Hadits Tentang Mencintai Seseorang, Fitnah Menurut Islam, Video Segitiga Bermuda Dan Dajjal, Hukum Jumatan, Waro Artinya

Shalat Witir Bersama Imam akan Mendapat Pahala Shalat Semalaman

Selesaikan Tarawih dan Witirmu Bersama Imam“Jangan ngacir sebelum witir bersama imam saat shalat tarawih”Ungkapan di atas terlontar sebab sering kita perhatikan ada sebagian kaum muslimin meninggalkan jamaah ketika shalat tarawih telah selesai, mereka pergi dan tidak ikut shalat witir bersama imam karena hendak melaksanakan shalat malam lagi. Mereka berkeyakinan jika sudah shalat witir maka tidak boleh mengerjakan shalat malam lagi karena witir merupakan penutup salat malam.Jangan Sampai Kehilangan Pahala Shalat Semalam SuntukMeninggalkan shalat witir bersama imam adalah hal yang kurang tepat karena jika tidak ikut shalat sampai selesai bersama imam maka akan kehilangan keutamaan yang besar berupa pahala salat semalam suntuk.Nabi shallallahualaihiwasallam bersabda,ﻣَﻦْ ﻗَﺎﻡَ ﻣَﻊَ ﺍْﻹِﻣَﺎﻡِ ﺣَﺘَّﻰ ﻳَﻨْﺼَﺮِﻑَ ﻛُﺘِﺐَ ﻟَﻪُ ﻗِﻴَﺎﻡُ ﻟَﻴْﻠَﺔ“Barang siapa salat malam bersama imam sampai ia selesai, maka ditulis untuknya (pahala) salat satu malam (penuh).” [1] Dalam fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah dijelaskan,ﺇﺫﺍ ﺻﻠﻴﺖ ﻣﻊ ﺍﻹﻣﺎﻡ ﺻﻼﺓ ﺍﻟﺘﺮﺍﻭﻳﺢ : ﻓﺎﻷﻓﻀﻞ ﺃﻥ ﺗﻮﺗﺮ ﻣﻌﻪ ؛ ﻟﺘﺤﺼﻞ ﻋﻠﻰ ﺍﻷﺟﺮ ﺍﻟﻜﺎﻣﻞ“Jika engkau salat tarawih bersama imam maka lebih afdal jika engkau salat witir bersamanya agar mendapat pahala yang sempurna (berupa pahala salat semalam suntuk).” [2] Dalil Shalat Witir Sebagai Penutup Shalat MalamMemang benar, ada hadits yang zahir-nya adalah memerintahkan agar menjadikan witir sebagai akhir shalat/penutup shalat malam kita. Yaitu hadits,ﺍﺟْﻌَﻠُﻮﺍ ﺁ ﺧِﺮَﺻَﻠَﺎ ﺗِﻜُﻢْ ﺑِﺎﻟﻠَّﻴْﻞِ ﻭِﺗْﺮًﺍ“Jadikanlah akhir shalat kalian pada malam hari adalah shalat ganjil (witir)” [3] Ibnu Hazm menjelaskan bahwa ini hanyalah suatu anjuran bukan suatu keharusan. Beliau berkataﻭﺍﻟﻮﺗﺮ ﺁﺧﺮ ﺍﻟﻠﻴﻞ ﺃﻓﻀﻞ . ﻭﻣﻦ ﺃﻭﺗﺮ ﺃﻭﻟﻪ ﻓﺤﺴﻦ , ﻭﺍﻟﺼﻼﺓ ﺑﻌﺪ ﺍﻟﻮﺗﺮ ﺟﺎﺋﺰﺓ , ﻭﻻ ﻳﻌﻴﺪ ﻭﺗﺮﺍً ﺁﺧﺮ ﺍﻫـ .“Witir di akhir malam lebih afdal. Barangsiapa yang witir di awal malam termasuk kebaikan juga, shalat malam lagi setelah witir hukumnya boleh dan tidak perlu diulang witir lagi (witir dua kali).” [4] Demikian juga penjelasan An-Nawawi, beliau berkata,ﺇﺫﺍ ﺃﻭﺗﺮ ﺛﻢ ﺃﺭﺍﺩ ﺃﻥ ﻳﺼﻠﻲ ﻧﺎﻓﻠﺔ ﺃﻡ ﻏﻴﺮﻫﺎ ﻓﻲ ﺍﻟﻠﻴﻞ ﺟﺎﺯ ﺑﻼ ﻛﺮﺍﻫﺔ ﻭﻻ ﻳﻌﻴﺪ ﺍﻟﻮﺗﺮ“Jila seseorang telah mengerjakan shalat witir kemudian ingin mengerjakan shalat sunah lagi pada malam harinya, hukumnya boleh dan tidak makruh, tetapi tidak mengulang salat witir lagi.” [5] Selepas Witir Bersama Imam Masih Boleh Shalat Malam Tanpa Mengulang WitirJika sudah mengerjakan shalat witir memang tidak boleh mengulangi salat witir kembali karena tidak boleh ada dua kali shalat witir dalam satu malam, akan tetapi masih boleh shalat malam secara umum.Nabi shallallahualaihiwasallam bersabda,ﻻَ ﻭِﺗْﺮَﺍﻥِ ﻓِﻲْ ﻟَﻴْﻠَﺔٍ“Tidak ada dua witir dalam satu malam.” [6] Demikian semoga beemanfaat@Yogyakarta TercintaPenyusun: dr. Raehanul Bahraen Artikel Muslim.or.idCatatan kaki:[1]  HR Ahmad, Abu Daud, Tirmidzi, Ibn Majah, Nasa’i, dan lain-lain, Disahihkan oleh Al-Albani dalam Sahih Tirmidzi [2] Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah jilid II 6/54 [3] Muttafaqqun ‘alaihi [4] Muhallaa 2/92-93 [5] Al-Majmu’ Syarh Al-Muahadzab 3/512 [6] HR. Abu Dawud dan dinilai sahih oleh Ibnu Hibban🔍 Hadits Tentang Mencintai Seseorang, Fitnah Menurut Islam, Video Segitiga Bermuda Dan Dajjal, Hukum Jumatan, Waro Artinya
Selesaikan Tarawih dan Witirmu Bersama Imam“Jangan ngacir sebelum witir bersama imam saat shalat tarawih”Ungkapan di atas terlontar sebab sering kita perhatikan ada sebagian kaum muslimin meninggalkan jamaah ketika shalat tarawih telah selesai, mereka pergi dan tidak ikut shalat witir bersama imam karena hendak melaksanakan shalat malam lagi. Mereka berkeyakinan jika sudah shalat witir maka tidak boleh mengerjakan shalat malam lagi karena witir merupakan penutup salat malam.Jangan Sampai Kehilangan Pahala Shalat Semalam SuntukMeninggalkan shalat witir bersama imam adalah hal yang kurang tepat karena jika tidak ikut shalat sampai selesai bersama imam maka akan kehilangan keutamaan yang besar berupa pahala salat semalam suntuk.Nabi shallallahualaihiwasallam bersabda,ﻣَﻦْ ﻗَﺎﻡَ ﻣَﻊَ ﺍْﻹِﻣَﺎﻡِ ﺣَﺘَّﻰ ﻳَﻨْﺼَﺮِﻑَ ﻛُﺘِﺐَ ﻟَﻪُ ﻗِﻴَﺎﻡُ ﻟَﻴْﻠَﺔ“Barang siapa salat malam bersama imam sampai ia selesai, maka ditulis untuknya (pahala) salat satu malam (penuh).” [1] Dalam fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah dijelaskan,ﺇﺫﺍ ﺻﻠﻴﺖ ﻣﻊ ﺍﻹﻣﺎﻡ ﺻﻼﺓ ﺍﻟﺘﺮﺍﻭﻳﺢ : ﻓﺎﻷﻓﻀﻞ ﺃﻥ ﺗﻮﺗﺮ ﻣﻌﻪ ؛ ﻟﺘﺤﺼﻞ ﻋﻠﻰ ﺍﻷﺟﺮ ﺍﻟﻜﺎﻣﻞ“Jika engkau salat tarawih bersama imam maka lebih afdal jika engkau salat witir bersamanya agar mendapat pahala yang sempurna (berupa pahala salat semalam suntuk).” [2] Dalil Shalat Witir Sebagai Penutup Shalat MalamMemang benar, ada hadits yang zahir-nya adalah memerintahkan agar menjadikan witir sebagai akhir shalat/penutup shalat malam kita. Yaitu hadits,ﺍﺟْﻌَﻠُﻮﺍ ﺁ ﺧِﺮَﺻَﻠَﺎ ﺗِﻜُﻢْ ﺑِﺎﻟﻠَّﻴْﻞِ ﻭِﺗْﺮًﺍ“Jadikanlah akhir shalat kalian pada malam hari adalah shalat ganjil (witir)” [3] Ibnu Hazm menjelaskan bahwa ini hanyalah suatu anjuran bukan suatu keharusan. Beliau berkataﻭﺍﻟﻮﺗﺮ ﺁﺧﺮ ﺍﻟﻠﻴﻞ ﺃﻓﻀﻞ . ﻭﻣﻦ ﺃﻭﺗﺮ ﺃﻭﻟﻪ ﻓﺤﺴﻦ , ﻭﺍﻟﺼﻼﺓ ﺑﻌﺪ ﺍﻟﻮﺗﺮ ﺟﺎﺋﺰﺓ , ﻭﻻ ﻳﻌﻴﺪ ﻭﺗﺮﺍً ﺁﺧﺮ ﺍﻫـ .“Witir di akhir malam lebih afdal. Barangsiapa yang witir di awal malam termasuk kebaikan juga, shalat malam lagi setelah witir hukumnya boleh dan tidak perlu diulang witir lagi (witir dua kali).” [4] Demikian juga penjelasan An-Nawawi, beliau berkata,ﺇﺫﺍ ﺃﻭﺗﺮ ﺛﻢ ﺃﺭﺍﺩ ﺃﻥ ﻳﺼﻠﻲ ﻧﺎﻓﻠﺔ ﺃﻡ ﻏﻴﺮﻫﺎ ﻓﻲ ﺍﻟﻠﻴﻞ ﺟﺎﺯ ﺑﻼ ﻛﺮﺍﻫﺔ ﻭﻻ ﻳﻌﻴﺪ ﺍﻟﻮﺗﺮ“Jila seseorang telah mengerjakan shalat witir kemudian ingin mengerjakan shalat sunah lagi pada malam harinya, hukumnya boleh dan tidak makruh, tetapi tidak mengulang salat witir lagi.” [5] Selepas Witir Bersama Imam Masih Boleh Shalat Malam Tanpa Mengulang WitirJika sudah mengerjakan shalat witir memang tidak boleh mengulangi salat witir kembali karena tidak boleh ada dua kali shalat witir dalam satu malam, akan tetapi masih boleh shalat malam secara umum.Nabi shallallahualaihiwasallam bersabda,ﻻَ ﻭِﺗْﺮَﺍﻥِ ﻓِﻲْ ﻟَﻴْﻠَﺔٍ“Tidak ada dua witir dalam satu malam.” [6] Demikian semoga beemanfaat@Yogyakarta TercintaPenyusun: dr. Raehanul Bahraen Artikel Muslim.or.idCatatan kaki:[1]  HR Ahmad, Abu Daud, Tirmidzi, Ibn Majah, Nasa’i, dan lain-lain, Disahihkan oleh Al-Albani dalam Sahih Tirmidzi [2] Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah jilid II 6/54 [3] Muttafaqqun ‘alaihi [4] Muhallaa 2/92-93 [5] Al-Majmu’ Syarh Al-Muahadzab 3/512 [6] HR. Abu Dawud dan dinilai sahih oleh Ibnu Hibban🔍 Hadits Tentang Mencintai Seseorang, Fitnah Menurut Islam, Video Segitiga Bermuda Dan Dajjal, Hukum Jumatan, Waro Artinya


Selesaikan Tarawih dan Witirmu Bersama Imam“Jangan ngacir sebelum witir bersama imam saat shalat tarawih”Ungkapan di atas terlontar sebab sering kita perhatikan ada sebagian kaum muslimin meninggalkan jamaah ketika shalat tarawih telah selesai, mereka pergi dan tidak ikut shalat witir bersama imam karena hendak melaksanakan shalat malam lagi. Mereka berkeyakinan jika sudah shalat witir maka tidak boleh mengerjakan shalat malam lagi karena witir merupakan penutup salat malam.Jangan Sampai Kehilangan Pahala Shalat Semalam SuntukMeninggalkan shalat witir bersama imam adalah hal yang kurang tepat karena jika tidak ikut shalat sampai selesai bersama imam maka akan kehilangan keutamaan yang besar berupa pahala salat semalam suntuk.Nabi shallallahualaihiwasallam bersabda,ﻣَﻦْ ﻗَﺎﻡَ ﻣَﻊَ ﺍْﻹِﻣَﺎﻡِ ﺣَﺘَّﻰ ﻳَﻨْﺼَﺮِﻑَ ﻛُﺘِﺐَ ﻟَﻪُ ﻗِﻴَﺎﻡُ ﻟَﻴْﻠَﺔ“Barang siapa salat malam bersama imam sampai ia selesai, maka ditulis untuknya (pahala) salat satu malam (penuh).” [1] Dalam fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah dijelaskan,ﺇﺫﺍ ﺻﻠﻴﺖ ﻣﻊ ﺍﻹﻣﺎﻡ ﺻﻼﺓ ﺍﻟﺘﺮﺍﻭﻳﺢ : ﻓﺎﻷﻓﻀﻞ ﺃﻥ ﺗﻮﺗﺮ ﻣﻌﻪ ؛ ﻟﺘﺤﺼﻞ ﻋﻠﻰ ﺍﻷﺟﺮ ﺍﻟﻜﺎﻣﻞ“Jika engkau salat tarawih bersama imam maka lebih afdal jika engkau salat witir bersamanya agar mendapat pahala yang sempurna (berupa pahala salat semalam suntuk).” [2] Dalil Shalat Witir Sebagai Penutup Shalat MalamMemang benar, ada hadits yang zahir-nya adalah memerintahkan agar menjadikan witir sebagai akhir shalat/penutup shalat malam kita. Yaitu hadits,ﺍﺟْﻌَﻠُﻮﺍ ﺁ ﺧِﺮَﺻَﻠَﺎ ﺗِﻜُﻢْ ﺑِﺎﻟﻠَّﻴْﻞِ ﻭِﺗْﺮًﺍ“Jadikanlah akhir shalat kalian pada malam hari adalah shalat ganjil (witir)” [3] Ibnu Hazm menjelaskan bahwa ini hanyalah suatu anjuran bukan suatu keharusan. Beliau berkataﻭﺍﻟﻮﺗﺮ ﺁﺧﺮ ﺍﻟﻠﻴﻞ ﺃﻓﻀﻞ . ﻭﻣﻦ ﺃﻭﺗﺮ ﺃﻭﻟﻪ ﻓﺤﺴﻦ , ﻭﺍﻟﺼﻼﺓ ﺑﻌﺪ ﺍﻟﻮﺗﺮ ﺟﺎﺋﺰﺓ , ﻭﻻ ﻳﻌﻴﺪ ﻭﺗﺮﺍً ﺁﺧﺮ ﺍﻫـ .“Witir di akhir malam lebih afdal. Barangsiapa yang witir di awal malam termasuk kebaikan juga, shalat malam lagi setelah witir hukumnya boleh dan tidak perlu diulang witir lagi (witir dua kali).” [4] Demikian juga penjelasan An-Nawawi, beliau berkata,ﺇﺫﺍ ﺃﻭﺗﺮ ﺛﻢ ﺃﺭﺍﺩ ﺃﻥ ﻳﺼﻠﻲ ﻧﺎﻓﻠﺔ ﺃﻡ ﻏﻴﺮﻫﺎ ﻓﻲ ﺍﻟﻠﻴﻞ ﺟﺎﺯ ﺑﻼ ﻛﺮﺍﻫﺔ ﻭﻻ ﻳﻌﻴﺪ ﺍﻟﻮﺗﺮ“Jila seseorang telah mengerjakan shalat witir kemudian ingin mengerjakan shalat sunah lagi pada malam harinya, hukumnya boleh dan tidak makruh, tetapi tidak mengulang salat witir lagi.” [5] Selepas Witir Bersama Imam Masih Boleh Shalat Malam Tanpa Mengulang WitirJika sudah mengerjakan shalat witir memang tidak boleh mengulangi salat witir kembali karena tidak boleh ada dua kali shalat witir dalam satu malam, akan tetapi masih boleh shalat malam secara umum.Nabi shallallahualaihiwasallam bersabda,ﻻَ ﻭِﺗْﺮَﺍﻥِ ﻓِﻲْ ﻟَﻴْﻠَﺔٍ“Tidak ada dua witir dalam satu malam.” [6] Demikian semoga beemanfaat@Yogyakarta TercintaPenyusun: dr. Raehanul Bahraen Artikel Muslim.or.idCatatan kaki:[1]  HR Ahmad, Abu Daud, Tirmidzi, Ibn Majah, Nasa’i, dan lain-lain, Disahihkan oleh Al-Albani dalam Sahih Tirmidzi [2] Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah jilid II 6/54 [3] Muttafaqqun ‘alaihi [4] Muhallaa 2/92-93 [5] Al-Majmu’ Syarh Al-Muahadzab 3/512 [6] HR. Abu Dawud dan dinilai sahih oleh Ibnu Hibban🔍 Hadits Tentang Mencintai Seseorang, Fitnah Menurut Islam, Video Segitiga Bermuda Dan Dajjal, Hukum Jumatan, Waro Artinya

Sakit yang Membolehkan Tidak Puasa

Sakit Sebagai Sebab Tidak BerpuasaBismillah. Kita semua telah mengetahui bahwa sakit adalah salah satu sebab seorang muslim boleh tidak berpuasa. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ۖ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۗ“Barangsiapa di antara kamu ada di bulan itu, maka berpuasalah. Dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (dia tidak berpuasa), maka (wajib menggantinya) sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain.” (QS. Al-Baqarah:185).Jenis Sakit yang Bisa Menjadi Uzur Tidak BerpuasaSakit seperti apakah yang bisa menjadi uzur untuk tidak berpuasa? Semua jenis penyakit atau ada kriteria tertentu? Berikut penjelasan dari Prof. Dr. Sulaiman Ar-Ruhaili -hafizahullah- (guru besar di Fakultas Syariah Universitas Islam Madinah KSA, dan pengajar di masjid Nabawi):Ada permasalahan penting yang dijelaskan oleh para ulama, tentang bagaimana cara mengetahui kadar penyakit yang menjadi uzur untuk tidak berpuasa? Sebagian ulama menerangkan, “melihat pada penyakit-penyakit kronis yang dikenal, kemudian dilihat apakah penyakit yang dialaminya memiliki kadar sakit yang mendekati penyakit kronis tersebut ataukah tidak. Apabila mendekati maka tergolong uzur menurut syariat, namun apabila tidak maka bukan uzur. Akan tetapi pendapat ini sangat sulit diterapkan oleh masyarakat dan tidak ada kaidah atau dalil syariat yang mendukung.” Ulama yang lain berpandangan, “kadar sakit yang mendapat uzur dikembalikan kepada urf (kebiasaan) masyarakat setempat. Apabila masyarakat memandang bahwa suatu penyakit tergolong memberatkan maka bisa menjadi uzur untuk tidak berpuasa, namun apabila menurut pandangan masyarakat bukan termasuk sakit yang memberatkan maka tidak bisa dijadikan uzur untuk tidak puasa. Pendapat ini juga perlu dikoreksi karena patokan ini kurang konsisten. Ulama lain berpandangan, “setiap mukallaf (orang yang terkena beban syariat) harus menimbang sendiri penyakit yang diderita, mana penyakit yang memberatkan dan yang tidak. Tampaknya pendapat terakhir inilah yang paling mendekati kebenaran dan lebih moderat, karena masing-masing orang berbeda-beda, ada orang yang mengalami suatu penyakit namun ia tidak merasa berat untuk melakukan puasa dan ada orang yang mengalami penyakit yang sama namun ia merasa berat untuk berpuasa karena sakitnya tersebut. Misalnya sebagian orang saat menderita flu, ia merasakan capek dan berat sekali, sedangkan sebagian yang lain merasa seakan tidak terjadi apa-apa.Kesimpulan Tentang Uzur Sakit Saat PuasaKesimpulannya, penyakit yang memberatkan seseorang dalam melakukan puasa maka bisa menjadi uzur untuk tidak berpuasa menurut syariat, sedangkan jika tidak sampai memberatkan maka bukan uzur untuk tidak berpuasa.Jangan Sekedar Menduga-Duga SakitPara ulama mengatakan,العبرة بالحقائق لا بالأوهام“Yang menjadi patokan adalah hakikat bukan sangkaan.”Artinya suatu penyakit akan menjadi uzur untuk tidak berpuasa apabila sakit itu memang terbukti ada dan memberatkan untuk melakukan puasa, bukan sekedar sangkaan yang dibuat-buat, karena sekedar sangkaan tidaklah teranggap, seperti seorang anak kecil ketika disuruh berangkat ke sekolah kemudian ia mengatakan sedang sakit padahal tidak sakit, supaya dimaklumi untuk tidak berangkat ke sekolah.Dan ingat bahwa seorang mukallaf (orang yang terkena beban syariat) sejatinya sedang bermuamalah dengan Allah Ta’ala. Maka bila suatu penyakit memang benar menimpa seseorang dan penyakit tersebut memberatkannya untuk berpuasa maka ia mendapat keringanan untuk tidak berpuasa.Dua Macam Orang SakitKemudian, orang sakit berkaitan dengan rukhsah (keringanan) yang diberikan, ada dua jenis:Mengalami sakit dan ia merasa berat untuk berpuasa karena sakit tersebut, namun bila berpuasa tidak sampai membahayakan jiwanya atau salah satu anggota badannya.Pada keadaan ini, boleh bagi orang tersebut untuk tidak puasa, namun yang paling afdal adalah memilih yang paling ringan bagi darinya.Apabila ada yang bertanya, “lebih afdal puasa atau tidak puasa (untuk orang jenis ini)?”Jawabannya,”yang paling ringan menurutmu itulah yang lebih afdal. Sehingga apabila puasa itu menurut anda lebih ringan, maka puasalah, namun apabila tidak berpuasa merupakan pilihan yang lebih ringan, maka berbukalah.”Mengalami sakit dan ia merasa berat untuk berpuasa karena sakit tersebut, kemudian apabila berpuasa akan membahayakan jiwa atau salah satu anggota badannya.Untuk keadaan ini seseorang wajib untuk tidak berpuasa, bahkan haram berpuasa. Misalnya seseorang menderita penyakit nephrosis dan puasa dapat membahayakannya maka berpuasa haram hukumnya dan dia wajib tidak berpuasa. Berdasarkan sabda Nabi shallallahualaihiwasallam,لا ضرر ولا ضرار“Tidak boleh memberikan mudarat kepada diri sendiri dan kepada orang lain.” (HR. Daruquthni (3/ 77 ). Hadis ini dalil yang menunjukkan haramnya melakukan tindakan yang membahayakan diri sendiri dan orang lain.Wallahua’lam bis shawab. ***Penulis: Ahmad Anshori Artikel: Muslim.or.id Catatan Kaki:Penjelasan Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaili bisa disimak di sini :  Penulis: Ahmad Anshori Artikel : Muslim.Or.Id  🔍 Hukum Merayakan Ulang Tahun Dalam Islam, Madzi Wanita, Doa Mohon Keturunan Yang Sholeh, Sejarah April Mop Menurut Islam, Abdullah Taslim Rodja

Sakit yang Membolehkan Tidak Puasa

Sakit Sebagai Sebab Tidak BerpuasaBismillah. Kita semua telah mengetahui bahwa sakit adalah salah satu sebab seorang muslim boleh tidak berpuasa. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ۖ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۗ“Barangsiapa di antara kamu ada di bulan itu, maka berpuasalah. Dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (dia tidak berpuasa), maka (wajib menggantinya) sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain.” (QS. Al-Baqarah:185).Jenis Sakit yang Bisa Menjadi Uzur Tidak BerpuasaSakit seperti apakah yang bisa menjadi uzur untuk tidak berpuasa? Semua jenis penyakit atau ada kriteria tertentu? Berikut penjelasan dari Prof. Dr. Sulaiman Ar-Ruhaili -hafizahullah- (guru besar di Fakultas Syariah Universitas Islam Madinah KSA, dan pengajar di masjid Nabawi):Ada permasalahan penting yang dijelaskan oleh para ulama, tentang bagaimana cara mengetahui kadar penyakit yang menjadi uzur untuk tidak berpuasa? Sebagian ulama menerangkan, “melihat pada penyakit-penyakit kronis yang dikenal, kemudian dilihat apakah penyakit yang dialaminya memiliki kadar sakit yang mendekati penyakit kronis tersebut ataukah tidak. Apabila mendekati maka tergolong uzur menurut syariat, namun apabila tidak maka bukan uzur. Akan tetapi pendapat ini sangat sulit diterapkan oleh masyarakat dan tidak ada kaidah atau dalil syariat yang mendukung.” Ulama yang lain berpandangan, “kadar sakit yang mendapat uzur dikembalikan kepada urf (kebiasaan) masyarakat setempat. Apabila masyarakat memandang bahwa suatu penyakit tergolong memberatkan maka bisa menjadi uzur untuk tidak berpuasa, namun apabila menurut pandangan masyarakat bukan termasuk sakit yang memberatkan maka tidak bisa dijadikan uzur untuk tidak puasa. Pendapat ini juga perlu dikoreksi karena patokan ini kurang konsisten. Ulama lain berpandangan, “setiap mukallaf (orang yang terkena beban syariat) harus menimbang sendiri penyakit yang diderita, mana penyakit yang memberatkan dan yang tidak. Tampaknya pendapat terakhir inilah yang paling mendekati kebenaran dan lebih moderat, karena masing-masing orang berbeda-beda, ada orang yang mengalami suatu penyakit namun ia tidak merasa berat untuk melakukan puasa dan ada orang yang mengalami penyakit yang sama namun ia merasa berat untuk berpuasa karena sakitnya tersebut. Misalnya sebagian orang saat menderita flu, ia merasakan capek dan berat sekali, sedangkan sebagian yang lain merasa seakan tidak terjadi apa-apa.Kesimpulan Tentang Uzur Sakit Saat PuasaKesimpulannya, penyakit yang memberatkan seseorang dalam melakukan puasa maka bisa menjadi uzur untuk tidak berpuasa menurut syariat, sedangkan jika tidak sampai memberatkan maka bukan uzur untuk tidak berpuasa.Jangan Sekedar Menduga-Duga SakitPara ulama mengatakan,العبرة بالحقائق لا بالأوهام“Yang menjadi patokan adalah hakikat bukan sangkaan.”Artinya suatu penyakit akan menjadi uzur untuk tidak berpuasa apabila sakit itu memang terbukti ada dan memberatkan untuk melakukan puasa, bukan sekedar sangkaan yang dibuat-buat, karena sekedar sangkaan tidaklah teranggap, seperti seorang anak kecil ketika disuruh berangkat ke sekolah kemudian ia mengatakan sedang sakit padahal tidak sakit, supaya dimaklumi untuk tidak berangkat ke sekolah.Dan ingat bahwa seorang mukallaf (orang yang terkena beban syariat) sejatinya sedang bermuamalah dengan Allah Ta’ala. Maka bila suatu penyakit memang benar menimpa seseorang dan penyakit tersebut memberatkannya untuk berpuasa maka ia mendapat keringanan untuk tidak berpuasa.Dua Macam Orang SakitKemudian, orang sakit berkaitan dengan rukhsah (keringanan) yang diberikan, ada dua jenis:Mengalami sakit dan ia merasa berat untuk berpuasa karena sakit tersebut, namun bila berpuasa tidak sampai membahayakan jiwanya atau salah satu anggota badannya.Pada keadaan ini, boleh bagi orang tersebut untuk tidak puasa, namun yang paling afdal adalah memilih yang paling ringan bagi darinya.Apabila ada yang bertanya, “lebih afdal puasa atau tidak puasa (untuk orang jenis ini)?”Jawabannya,”yang paling ringan menurutmu itulah yang lebih afdal. Sehingga apabila puasa itu menurut anda lebih ringan, maka puasalah, namun apabila tidak berpuasa merupakan pilihan yang lebih ringan, maka berbukalah.”Mengalami sakit dan ia merasa berat untuk berpuasa karena sakit tersebut, kemudian apabila berpuasa akan membahayakan jiwa atau salah satu anggota badannya.Untuk keadaan ini seseorang wajib untuk tidak berpuasa, bahkan haram berpuasa. Misalnya seseorang menderita penyakit nephrosis dan puasa dapat membahayakannya maka berpuasa haram hukumnya dan dia wajib tidak berpuasa. Berdasarkan sabda Nabi shallallahualaihiwasallam,لا ضرر ولا ضرار“Tidak boleh memberikan mudarat kepada diri sendiri dan kepada orang lain.” (HR. Daruquthni (3/ 77 ). Hadis ini dalil yang menunjukkan haramnya melakukan tindakan yang membahayakan diri sendiri dan orang lain.Wallahua’lam bis shawab. ***Penulis: Ahmad Anshori Artikel: Muslim.or.id Catatan Kaki:Penjelasan Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaili bisa disimak di sini :  Penulis: Ahmad Anshori Artikel : Muslim.Or.Id  🔍 Hukum Merayakan Ulang Tahun Dalam Islam, Madzi Wanita, Doa Mohon Keturunan Yang Sholeh, Sejarah April Mop Menurut Islam, Abdullah Taslim Rodja
Sakit Sebagai Sebab Tidak BerpuasaBismillah. Kita semua telah mengetahui bahwa sakit adalah salah satu sebab seorang muslim boleh tidak berpuasa. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ۖ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۗ“Barangsiapa di antara kamu ada di bulan itu, maka berpuasalah. Dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (dia tidak berpuasa), maka (wajib menggantinya) sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain.” (QS. Al-Baqarah:185).Jenis Sakit yang Bisa Menjadi Uzur Tidak BerpuasaSakit seperti apakah yang bisa menjadi uzur untuk tidak berpuasa? Semua jenis penyakit atau ada kriteria tertentu? Berikut penjelasan dari Prof. Dr. Sulaiman Ar-Ruhaili -hafizahullah- (guru besar di Fakultas Syariah Universitas Islam Madinah KSA, dan pengajar di masjid Nabawi):Ada permasalahan penting yang dijelaskan oleh para ulama, tentang bagaimana cara mengetahui kadar penyakit yang menjadi uzur untuk tidak berpuasa? Sebagian ulama menerangkan, “melihat pada penyakit-penyakit kronis yang dikenal, kemudian dilihat apakah penyakit yang dialaminya memiliki kadar sakit yang mendekati penyakit kronis tersebut ataukah tidak. Apabila mendekati maka tergolong uzur menurut syariat, namun apabila tidak maka bukan uzur. Akan tetapi pendapat ini sangat sulit diterapkan oleh masyarakat dan tidak ada kaidah atau dalil syariat yang mendukung.” Ulama yang lain berpandangan, “kadar sakit yang mendapat uzur dikembalikan kepada urf (kebiasaan) masyarakat setempat. Apabila masyarakat memandang bahwa suatu penyakit tergolong memberatkan maka bisa menjadi uzur untuk tidak berpuasa, namun apabila menurut pandangan masyarakat bukan termasuk sakit yang memberatkan maka tidak bisa dijadikan uzur untuk tidak puasa. Pendapat ini juga perlu dikoreksi karena patokan ini kurang konsisten. Ulama lain berpandangan, “setiap mukallaf (orang yang terkena beban syariat) harus menimbang sendiri penyakit yang diderita, mana penyakit yang memberatkan dan yang tidak. Tampaknya pendapat terakhir inilah yang paling mendekati kebenaran dan lebih moderat, karena masing-masing orang berbeda-beda, ada orang yang mengalami suatu penyakit namun ia tidak merasa berat untuk melakukan puasa dan ada orang yang mengalami penyakit yang sama namun ia merasa berat untuk berpuasa karena sakitnya tersebut. Misalnya sebagian orang saat menderita flu, ia merasakan capek dan berat sekali, sedangkan sebagian yang lain merasa seakan tidak terjadi apa-apa.Kesimpulan Tentang Uzur Sakit Saat PuasaKesimpulannya, penyakit yang memberatkan seseorang dalam melakukan puasa maka bisa menjadi uzur untuk tidak berpuasa menurut syariat, sedangkan jika tidak sampai memberatkan maka bukan uzur untuk tidak berpuasa.Jangan Sekedar Menduga-Duga SakitPara ulama mengatakan,العبرة بالحقائق لا بالأوهام“Yang menjadi patokan adalah hakikat bukan sangkaan.”Artinya suatu penyakit akan menjadi uzur untuk tidak berpuasa apabila sakit itu memang terbukti ada dan memberatkan untuk melakukan puasa, bukan sekedar sangkaan yang dibuat-buat, karena sekedar sangkaan tidaklah teranggap, seperti seorang anak kecil ketika disuruh berangkat ke sekolah kemudian ia mengatakan sedang sakit padahal tidak sakit, supaya dimaklumi untuk tidak berangkat ke sekolah.Dan ingat bahwa seorang mukallaf (orang yang terkena beban syariat) sejatinya sedang bermuamalah dengan Allah Ta’ala. Maka bila suatu penyakit memang benar menimpa seseorang dan penyakit tersebut memberatkannya untuk berpuasa maka ia mendapat keringanan untuk tidak berpuasa.Dua Macam Orang SakitKemudian, orang sakit berkaitan dengan rukhsah (keringanan) yang diberikan, ada dua jenis:Mengalami sakit dan ia merasa berat untuk berpuasa karena sakit tersebut, namun bila berpuasa tidak sampai membahayakan jiwanya atau salah satu anggota badannya.Pada keadaan ini, boleh bagi orang tersebut untuk tidak puasa, namun yang paling afdal adalah memilih yang paling ringan bagi darinya.Apabila ada yang bertanya, “lebih afdal puasa atau tidak puasa (untuk orang jenis ini)?”Jawabannya,”yang paling ringan menurutmu itulah yang lebih afdal. Sehingga apabila puasa itu menurut anda lebih ringan, maka puasalah, namun apabila tidak berpuasa merupakan pilihan yang lebih ringan, maka berbukalah.”Mengalami sakit dan ia merasa berat untuk berpuasa karena sakit tersebut, kemudian apabila berpuasa akan membahayakan jiwa atau salah satu anggota badannya.Untuk keadaan ini seseorang wajib untuk tidak berpuasa, bahkan haram berpuasa. Misalnya seseorang menderita penyakit nephrosis dan puasa dapat membahayakannya maka berpuasa haram hukumnya dan dia wajib tidak berpuasa. Berdasarkan sabda Nabi shallallahualaihiwasallam,لا ضرر ولا ضرار“Tidak boleh memberikan mudarat kepada diri sendiri dan kepada orang lain.” (HR. Daruquthni (3/ 77 ). Hadis ini dalil yang menunjukkan haramnya melakukan tindakan yang membahayakan diri sendiri dan orang lain.Wallahua’lam bis shawab. ***Penulis: Ahmad Anshori Artikel: Muslim.or.id Catatan Kaki:Penjelasan Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaili bisa disimak di sini :  Penulis: Ahmad Anshori Artikel : Muslim.Or.Id  🔍 Hukum Merayakan Ulang Tahun Dalam Islam, Madzi Wanita, Doa Mohon Keturunan Yang Sholeh, Sejarah April Mop Menurut Islam, Abdullah Taslim Rodja


Sakit Sebagai Sebab Tidak BerpuasaBismillah. Kita semua telah mengetahui bahwa sakit adalah salah satu sebab seorang muslim boleh tidak berpuasa. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ۖ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۗ“Barangsiapa di antara kamu ada di bulan itu, maka berpuasalah. Dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (dia tidak berpuasa), maka (wajib menggantinya) sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain.” (QS. Al-Baqarah:185).Jenis Sakit yang Bisa Menjadi Uzur Tidak BerpuasaSakit seperti apakah yang bisa menjadi uzur untuk tidak berpuasa? Semua jenis penyakit atau ada kriteria tertentu? Berikut penjelasan dari Prof. Dr. Sulaiman Ar-Ruhaili -hafizahullah- (guru besar di Fakultas Syariah Universitas Islam Madinah KSA, dan pengajar di masjid Nabawi):Ada permasalahan penting yang dijelaskan oleh para ulama, tentang bagaimana cara mengetahui kadar penyakit yang menjadi uzur untuk tidak berpuasa? Sebagian ulama menerangkan, “melihat pada penyakit-penyakit kronis yang dikenal, kemudian dilihat apakah penyakit yang dialaminya memiliki kadar sakit yang mendekati penyakit kronis tersebut ataukah tidak. Apabila mendekati maka tergolong uzur menurut syariat, namun apabila tidak maka bukan uzur. Akan tetapi pendapat ini sangat sulit diterapkan oleh masyarakat dan tidak ada kaidah atau dalil syariat yang mendukung.” Ulama yang lain berpandangan, “kadar sakit yang mendapat uzur dikembalikan kepada urf (kebiasaan) masyarakat setempat. Apabila masyarakat memandang bahwa suatu penyakit tergolong memberatkan maka bisa menjadi uzur untuk tidak berpuasa, namun apabila menurut pandangan masyarakat bukan termasuk sakit yang memberatkan maka tidak bisa dijadikan uzur untuk tidak puasa. Pendapat ini juga perlu dikoreksi karena patokan ini kurang konsisten. Ulama lain berpandangan, “setiap mukallaf (orang yang terkena beban syariat) harus menimbang sendiri penyakit yang diderita, mana penyakit yang memberatkan dan yang tidak. Tampaknya pendapat terakhir inilah yang paling mendekati kebenaran dan lebih moderat, karena masing-masing orang berbeda-beda, ada orang yang mengalami suatu penyakit namun ia tidak merasa berat untuk melakukan puasa dan ada orang yang mengalami penyakit yang sama namun ia merasa berat untuk berpuasa karena sakitnya tersebut. Misalnya sebagian orang saat menderita flu, ia merasakan capek dan berat sekali, sedangkan sebagian yang lain merasa seakan tidak terjadi apa-apa.Kesimpulan Tentang Uzur Sakit Saat PuasaKesimpulannya, penyakit yang memberatkan seseorang dalam melakukan puasa maka bisa menjadi uzur untuk tidak berpuasa menurut syariat, sedangkan jika tidak sampai memberatkan maka bukan uzur untuk tidak berpuasa.Jangan Sekedar Menduga-Duga SakitPara ulama mengatakan,العبرة بالحقائق لا بالأوهام“Yang menjadi patokan adalah hakikat bukan sangkaan.”Artinya suatu penyakit akan menjadi uzur untuk tidak berpuasa apabila sakit itu memang terbukti ada dan memberatkan untuk melakukan puasa, bukan sekedar sangkaan yang dibuat-buat, karena sekedar sangkaan tidaklah teranggap, seperti seorang anak kecil ketika disuruh berangkat ke sekolah kemudian ia mengatakan sedang sakit padahal tidak sakit, supaya dimaklumi untuk tidak berangkat ke sekolah.Dan ingat bahwa seorang mukallaf (orang yang terkena beban syariat) sejatinya sedang bermuamalah dengan Allah Ta’ala. Maka bila suatu penyakit memang benar menimpa seseorang dan penyakit tersebut memberatkannya untuk berpuasa maka ia mendapat keringanan untuk tidak berpuasa.Dua Macam Orang SakitKemudian, orang sakit berkaitan dengan rukhsah (keringanan) yang diberikan, ada dua jenis:Mengalami sakit dan ia merasa berat untuk berpuasa karena sakit tersebut, namun bila berpuasa tidak sampai membahayakan jiwanya atau salah satu anggota badannya.Pada keadaan ini, boleh bagi orang tersebut untuk tidak puasa, namun yang paling afdal adalah memilih yang paling ringan bagi darinya.Apabila ada yang bertanya, “lebih afdal puasa atau tidak puasa (untuk orang jenis ini)?”Jawabannya,”yang paling ringan menurutmu itulah yang lebih afdal. Sehingga apabila puasa itu menurut anda lebih ringan, maka puasalah, namun apabila tidak berpuasa merupakan pilihan yang lebih ringan, maka berbukalah.”Mengalami sakit dan ia merasa berat untuk berpuasa karena sakit tersebut, kemudian apabila berpuasa akan membahayakan jiwa atau salah satu anggota badannya.Untuk keadaan ini seseorang wajib untuk tidak berpuasa, bahkan haram berpuasa. Misalnya seseorang menderita penyakit nephrosis dan puasa dapat membahayakannya maka berpuasa haram hukumnya dan dia wajib tidak berpuasa. Berdasarkan sabda Nabi shallallahualaihiwasallam,لا ضرر ولا ضرار“Tidak boleh memberikan mudarat kepada diri sendiri dan kepada orang lain.” (HR. Daruquthni (3/ 77 ). Hadis ini dalil yang menunjukkan haramnya melakukan tindakan yang membahayakan diri sendiri dan orang lain.Wallahua’lam bis shawab. ***Penulis: Ahmad Anshori Artikel: Muslim.or.id Catatan Kaki:Penjelasan Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaili bisa disimak di sini :  Penulis: Ahmad Anshori Artikel : Muslim.Or.Id  🔍 Hukum Merayakan Ulang Tahun Dalam Islam, Madzi Wanita, Doa Mohon Keturunan Yang Sholeh, Sejarah April Mop Menurut Islam, Abdullah Taslim Rodja

Khutbah Jumat: Apa yang Dilakukan Bada Ramadhan?

Apa yang dilakukan setelah Ramadhan?   Khutbah Pertama   الحَمْدُ للهِ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالهُدَى وَدِيْنِ الحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى دِيْنِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الكَافِرُوْنَ وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ سَارَ عَلَى نَهْجِهِ القَوِيْمِ وَدَعَا إِلَى الصِّرَاطِ المُسْتَقِيْمِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا اللّهُمَّ عَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا، وَانْفَعَنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا، وَزِدْنَا عِلْماً، وَأَرَنَا الحَقَّ حَقّاً وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرَنَا البَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ   Amma ba’du: Para jama’ah shalat Jum’at rahimani wa rahimakumullah … Sungguh banyak nikmat yang telah Allah berikan kepada kita sehingga akhir Ramadhan ini, kita bisa istiqamah dalam ibadah. Marilah kita bersyukur pada Allah atas nikmat tersebut, kita wujudkan dengan menjalankan perintah dan menjauhi maksiat sebagaimana yang Allah perintahkan, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS. Ali Imran: 102) Maksud ayat ini sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, أَنْ يُطَاعَ فَلاَ يُعْصَى وَأَنْ يُذْكَرَ فَلاَ يُنْسَى، وَأَنْ يُشْكَرَ فَلاَ يُكْفَر “Allah itu ditaati, tidak dimaksiati; Allah itu selalu diingat, tidak dilupakan; Nikmat Allah itu disyukuri, tidak dikufuri.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 2: 388-389) Shalawat dan salam semoga tercurah kepada nabi akhir zaman, suri tauladan kita, dan yang menjadi pembuka pintu surga di akhirat kelak, yaitu nabi besar kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah Ta’ala berfirman, وَرَفَعْنَا لَكَ ذِكْرَكَ “Dan Kami tinggikan bagimu sebutan (nama)mu.” (QS. Alam Nasyrah: 4). Kata Qatadah rahimahullah, “Allah meninggikan penyebutan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di dunia dan di akhirat. Tidaklah seorang khatib naik mimbar lantas dia bersaksi atau orang yang mengumandangkan azan ketika memanggil shalat melainkan ia sebut “asyhadu alla ilaha illallah, wa anna muhammadar rasulullah”. Lihatlah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa disertakan bersama penyebutan nama Allah. (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 7: 596)   Kaum muslimin yang semoga dirahmati oleh Allah Ta’ala … Muslim yang hakiki adalah yang senantiasa menjaga ketakwaannya sepanjang umurnya. Mukmin yang benar adalah mukmin yang menjaga amalnya dengan taat pada Allah dan menjauhi maksiat dan larangan Allah. Ia terus menjaga iman dan takwanya tadi sampai maut menjemputnya. Bulan Ramadhan memang bulan semangat untuk beramal. Namun ingatlah jika musim kebaikan itu berakhir, hendaklah bekas jejaknya masih terus ada.   Saudara-saudaraku … Ada yang perlu kita muhasabah atau kita koreksi saat ini: Apa yang telah kita lakukan di bulan Ramadhan? Apa ada yang tersisa setelah Ramadhan pada ibadah dan akhlak kita? Apakah amalan-amalan yang ada di bulan Ramadhan diteruskan setelahnya? Tiga pertanyaan ini patut kita cek dan periksa.   Kaum muslimin yang semoga senantiasa mendapatkan kebaikan dan keberkahan … Lihatlah para salaf dahulu. Mereka adalah orang-orang yang begitu khawatir apakah amalannya diterima ataukah tidak. Karenanya setelah Ramadhan, mereka berdoa supaya amalan mereka diterima. Allah Ta’ala berfirman, وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آَتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَى رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ “Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Rabb mereka.” (QS. Al-Mu’minun: 60). Ayat di atas, kata Syaikh As-Sa’di rahimahullah menceritakan tentang orang-orang yang melakukan shalat, zakat, haji dan sedekah serta amalan lainnya, namun hati mereka dalam keadaan takut. Mereka khawatir dengan amalan mereka ketika dihadapkan di hadapan Allah, bisa jadi amalan mereka tidak selamat dan malah mendapatkan siksa-Nya. (Tafsir As-Sa’di, hlm. 583) Aisyah radhiyallahu ‘anha pernah bertanya pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang orang-orang yang dimaksud dalam ayat di atas, apakah mereka itu melakukan zina, mencuri dan minum minuman keras. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ يَا بِنْتَ الصِّدِّيقِ وَلَكِنَّهُمُ الَّذِينَ يَصُومُونَ وَيُصَلُّونَ وَيَتَصَدَّقُونَ وَهُمْ يَخَافُونَ أَنْ لاَ يُقْبَلَ مِنْهُمْ أُولَئِكَ الَّذِينَ يُسَارِعُونَ فِى الْخَيْرَاتِ وَهُمْ لَهَا سَابِقُونَ “Tidak wahai binti Ash-Shiddiq (puteri Abu Bakr Ash-Shiddiq, pen.). Akan tetapi, mereka itu rajin puasa, shalat dan sedekah. Namun mereka khawatir amalan mereka tidak diterima. Mereka itu adalah orang-orang yang bersegera dan terdepan dalam kebaikan.” (HR. Tirmidzi, no. 3175; Ibnu Majah, no. 4198. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan) Karena Allah Ta’ala menyatakan, إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ “Sesungguhnya Allah hanya menerima amalan dari orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Maidah: 27) Keadaan seseorang ba’da Ramadhan itu ada dua macam: Lebih baik dari sebelum Ramadhan. Ia jadi orang yang kembali pada Allah, semangat dalam kebaikan, semangat dalam ibadah, rutin menghadiri shalat Jumat dan jama’ah, terus istiqamah dan menjauhi maksiat, itu tanda amalannya diterima. Keadaannya sama dengan sebelum Ramadhan. Walaupun taruhlah Allah menerima amalannya di bulan Ramadhan, namun ia balik ke belakang lagi dengan cepat, ia kembali lagi bermaksiat, ia tinggalkan ibadah, ia terjang larangan Allah, ia lalaikan shalat, hingga senang kembali melakukan maksiat dengan pendengaran, penglihatan, anggota badan, perkataan, perbuatan dan hartanya; orang semacam ini sebenarnya semakin jauh dari Allah. Wal ‘iyadzu billah.   Perhatikan perkataan dari Ka’ab, مَنْ صَامَ رَمَضَانَ وَ هُوَ يُحَدِّثُ نَفْسَهُ إِذَا أَفْطَرَ مِنْ رَمَضَانَ لَمْ يَعْصِ الله دَخَلَ الجَنَّةَ بِغَيْرِ مَسْأَلَةٍ وَ لاَ حِسَابٍ وَ مَنْ صَامَ رَمَضَانَ وَ هُوَ يُحَدِّثُ نَفْسَهُ إِذَا أَفْطَرَ عَصَى رَبَّهُ فَصِيَامُهُ عَلَيْهِ مَرْدُوْدٌ “Siapa yang berpuasa di bulan Ramadhan dan terbetik dalam hatinya, nantinya ba’da Ramadhan setelah tidak berpuasa lagi, ia bertekad tidak akan bermaksiat pada Allah, maka ia akan masuk surga tanpa masalah, tanpa dihisab. Namun siapa yang berpuasa di bulan Ramadhan dan ia terbetik dalam hatinya ba’da Ramadhan setelah tidak berpuasa lagi, ia akan bermaksiat pada Allah, maka puasanya tertolak.” (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 390) Intinya, jangan jadikan ibadah hanya pada bulan Ramadhan saja. Di antara salaf, ada yang bernama Bisyr pernah menyatakan, بِئْسَ القَوْمُ لاَ يَعْرِفُوْنَ اللهَ حَقًّا إِلاَّ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ إِنَّ الصَّالِحَ الَّذِي يَتَعَبَّدُ وَ يَجْتَهِدُ السَّنَةَ كُلَّهَا “Sejelek-jelek kaum adalah yang mengenal Allah di bulan Ramadhan saja. Ingat, orang yang shalih yang sejati adalah yang beribadah dengan sungguh-sungguh sepanjang tahun.” (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 390) Beribadahlah sampai mati. وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ “Dan sembahlah Rabbmu sampai datang kepadamu kematian.” (QS. Al-Hijr: 99). Al-Hasan Al-Bashri menyatakan bahwa Allah tidak menjadikan batasan waktu untuk beramal bagi seorang mukmin kecuali kematian. (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 392) Dalam Kitab Tafsirnya (4: 666), Ibnu Katsir rahimahullah menyatakan bahwa ayat di atas jadi dalil bahwa ibadah seperti shalat dan lainnya, wajib dijalankan oleh setiap orang selama akal masih ada. Apa pun keadaannya, ia tetap shalat. Dalam hadits shahih dikeluarkan oleh Imam Bukhari dari ‘Imran bin Hushain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, صَلِّ قَائِمًا ، فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَقَاعِدًا ، فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَعَلَى جَنْبٍ “Shalatlah dalam keadaan berdiri. Jika tidak mampu, shalatkan dalam keadaan duduk. Jika tidak mampu, shalatlah dengan tidur menyamping.” (HR. Bukhari, no. 1117) Demikian khutbah pertama ini. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا أَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ وَالمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ   Khutbah Kedua   أَحْمَدُ رَبِّي وَأَشْكُرُهُ ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ نَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ   Bagaimana kita bisa istiqamah dalam beramal bada Ramadhan?   Pertama: Perbanyak doa minta istiqamah seperti, يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِينِكَ “Ya muqollibal qulub tsabbit qolbi ‘alaa diinik (Wahai Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu).” (HR. Tirmidzi, no. 2140; Ibnu Majah, no. 3834. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini shahih) Kedua: Kumpul dengan teman-teman yang shalih yang mengantarkan pada kebaikan. وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ “Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Rabbnya di pagi dan senja hari dengan mengharap wajah-Nya.”  (QS. Al-Kahfi: 28). Dalam ayat ini ada perintah untuk berteman dengan orang shalih. Karena berkumpul dengan orang shalih, hati akan menjadi tenang. Al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata, نَظْرُ المُؤْمِنِ إِلَى المُؤْمِنِ يَجْلُو القَلْبَ “Pandangan seorang mukmin kepada mukmin yang lain akan mengilapkan hati.” (Siyar A’lam An- Nubala’, 8: 435) Ketiga: Beribadah yang ajeg walau sedikit, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ “Amalan yang paling dicintai di sisi Allah Ta’ala adalah amalan yang kontinu walau jumlahnya sedikit.” (HR. Bukhari, no. 5861 dan Muslim, no. 782, 783). Aisyah setiap kali beramal, ia konsekuen untuk menjaga amalannya rutin. Kita bisa menjaga terus amalan kita di bulan Ramadhan seperti shalat malam dan baca Al-Qur’an. Walau nanti intensitasnya berkurang yang penting bisa rutin dijaga. Di hari Jumat yang penuh berkah ini, di mana kita juga masih menjalani puasa, kami ingatkan untuk memperbanyak shalawat pada Nabi kita Muhammad, juga mudah-mudahan doa kita diperkenankan di hari penuh berkah ini. إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَةِ اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ، وَجَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَسْمَاعِنَا، وَأَبْصَارِنَا، وَقُلُوبِنَا، وَأَزْوَاجِنَا، وَذُرِّيَّاتِنَا، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ، وَاجْعَلْنَا شَاكِرِينَ لِنِعَمِكَ مُثْنِينَ بِهَا عَلَيْكَ، قَابِلِينَ لَهَا، وَأَتِمِمْهَا عَلَيْنَا رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ اللَّهُمَّ أَحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِى الأُمُورِ كُلِّهَا وَأَجِرْنَا مِنْ خِزْىِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ أَعْمَلَنَا فِي رَمَضَانَ اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ أَعْمَلَنَا فِي رَمَضَانَ اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ أَعْمَلَنَا فِي رَمَضَانَ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن. وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ   Referensi: Kawkabah Al-Khuthab Al-Munifah min Mimbar Al-Ka’bah Asy-Syarifah. Cetakan pertama, tahun 1423 H. Syaikh ‘Abdurrahman bin ‘Abdul ‘Aziz As-Sudais (Imam dan Khatib Al-Masjid Al-Haram). Penerbit Maktabah Imam Ad-Da’wah Al-‘Ilmiyyah. Lathaif Al-Ma’arif. Cetakan pertama, tahun 1428 H. Ibnu Rajab Al-Hambali. Penerbit Al-Maktab Al-Islami. Siyar A’lam An-Nubala. Cetakan kedua, tahun 1435 H. Muhammad bin Ahmad bin ‘Utsman Adz-Dzahabi. Penerbit Muassasah Ar-Risalah. Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Cetakan pertama, tahun 1431 H. Ibnu Katsir. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Tafsir As-Sa’di. Cetakan kedua, tahun 1433 H. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. Penerbit Muassasah Ar-Risalah. — Naskah Khutbah Jumat Terakhir Ramadhan (28 Ramadhan 1438 H) di Masjid Jami’ Al-Adha, Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, D.I.Y. Silakan download filenya dalam bentuk PDF: Khutbah Jumat: Apa yang Dilakukan Bada Ramadhan? — Disusun @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, Jumat pagi, 28 Ramadhan 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsamalan bada ramadhan istiqamah istiqomah khutbah jumat ramadhan setelah Ramadhan

Khutbah Jumat: Apa yang Dilakukan Bada Ramadhan?

Apa yang dilakukan setelah Ramadhan?   Khutbah Pertama   الحَمْدُ للهِ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالهُدَى وَدِيْنِ الحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى دِيْنِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الكَافِرُوْنَ وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ سَارَ عَلَى نَهْجِهِ القَوِيْمِ وَدَعَا إِلَى الصِّرَاطِ المُسْتَقِيْمِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا اللّهُمَّ عَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا، وَانْفَعَنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا، وَزِدْنَا عِلْماً، وَأَرَنَا الحَقَّ حَقّاً وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرَنَا البَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ   Amma ba’du: Para jama’ah shalat Jum’at rahimani wa rahimakumullah … Sungguh banyak nikmat yang telah Allah berikan kepada kita sehingga akhir Ramadhan ini, kita bisa istiqamah dalam ibadah. Marilah kita bersyukur pada Allah atas nikmat tersebut, kita wujudkan dengan menjalankan perintah dan menjauhi maksiat sebagaimana yang Allah perintahkan, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS. Ali Imran: 102) Maksud ayat ini sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, أَنْ يُطَاعَ فَلاَ يُعْصَى وَأَنْ يُذْكَرَ فَلاَ يُنْسَى، وَأَنْ يُشْكَرَ فَلاَ يُكْفَر “Allah itu ditaati, tidak dimaksiati; Allah itu selalu diingat, tidak dilupakan; Nikmat Allah itu disyukuri, tidak dikufuri.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 2: 388-389) Shalawat dan salam semoga tercurah kepada nabi akhir zaman, suri tauladan kita, dan yang menjadi pembuka pintu surga di akhirat kelak, yaitu nabi besar kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah Ta’ala berfirman, وَرَفَعْنَا لَكَ ذِكْرَكَ “Dan Kami tinggikan bagimu sebutan (nama)mu.” (QS. Alam Nasyrah: 4). Kata Qatadah rahimahullah, “Allah meninggikan penyebutan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di dunia dan di akhirat. Tidaklah seorang khatib naik mimbar lantas dia bersaksi atau orang yang mengumandangkan azan ketika memanggil shalat melainkan ia sebut “asyhadu alla ilaha illallah, wa anna muhammadar rasulullah”. Lihatlah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa disertakan bersama penyebutan nama Allah. (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 7: 596)   Kaum muslimin yang semoga dirahmati oleh Allah Ta’ala … Muslim yang hakiki adalah yang senantiasa menjaga ketakwaannya sepanjang umurnya. Mukmin yang benar adalah mukmin yang menjaga amalnya dengan taat pada Allah dan menjauhi maksiat dan larangan Allah. Ia terus menjaga iman dan takwanya tadi sampai maut menjemputnya. Bulan Ramadhan memang bulan semangat untuk beramal. Namun ingatlah jika musim kebaikan itu berakhir, hendaklah bekas jejaknya masih terus ada.   Saudara-saudaraku … Ada yang perlu kita muhasabah atau kita koreksi saat ini: Apa yang telah kita lakukan di bulan Ramadhan? Apa ada yang tersisa setelah Ramadhan pada ibadah dan akhlak kita? Apakah amalan-amalan yang ada di bulan Ramadhan diteruskan setelahnya? Tiga pertanyaan ini patut kita cek dan periksa.   Kaum muslimin yang semoga senantiasa mendapatkan kebaikan dan keberkahan … Lihatlah para salaf dahulu. Mereka adalah orang-orang yang begitu khawatir apakah amalannya diterima ataukah tidak. Karenanya setelah Ramadhan, mereka berdoa supaya amalan mereka diterima. Allah Ta’ala berfirman, وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آَتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَى رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ “Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Rabb mereka.” (QS. Al-Mu’minun: 60). Ayat di atas, kata Syaikh As-Sa’di rahimahullah menceritakan tentang orang-orang yang melakukan shalat, zakat, haji dan sedekah serta amalan lainnya, namun hati mereka dalam keadaan takut. Mereka khawatir dengan amalan mereka ketika dihadapkan di hadapan Allah, bisa jadi amalan mereka tidak selamat dan malah mendapatkan siksa-Nya. (Tafsir As-Sa’di, hlm. 583) Aisyah radhiyallahu ‘anha pernah bertanya pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang orang-orang yang dimaksud dalam ayat di atas, apakah mereka itu melakukan zina, mencuri dan minum minuman keras. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ يَا بِنْتَ الصِّدِّيقِ وَلَكِنَّهُمُ الَّذِينَ يَصُومُونَ وَيُصَلُّونَ وَيَتَصَدَّقُونَ وَهُمْ يَخَافُونَ أَنْ لاَ يُقْبَلَ مِنْهُمْ أُولَئِكَ الَّذِينَ يُسَارِعُونَ فِى الْخَيْرَاتِ وَهُمْ لَهَا سَابِقُونَ “Tidak wahai binti Ash-Shiddiq (puteri Abu Bakr Ash-Shiddiq, pen.). Akan tetapi, mereka itu rajin puasa, shalat dan sedekah. Namun mereka khawatir amalan mereka tidak diterima. Mereka itu adalah orang-orang yang bersegera dan terdepan dalam kebaikan.” (HR. Tirmidzi, no. 3175; Ibnu Majah, no. 4198. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan) Karena Allah Ta’ala menyatakan, إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ “Sesungguhnya Allah hanya menerima amalan dari orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Maidah: 27) Keadaan seseorang ba’da Ramadhan itu ada dua macam: Lebih baik dari sebelum Ramadhan. Ia jadi orang yang kembali pada Allah, semangat dalam kebaikan, semangat dalam ibadah, rutin menghadiri shalat Jumat dan jama’ah, terus istiqamah dan menjauhi maksiat, itu tanda amalannya diterima. Keadaannya sama dengan sebelum Ramadhan. Walaupun taruhlah Allah menerima amalannya di bulan Ramadhan, namun ia balik ke belakang lagi dengan cepat, ia kembali lagi bermaksiat, ia tinggalkan ibadah, ia terjang larangan Allah, ia lalaikan shalat, hingga senang kembali melakukan maksiat dengan pendengaran, penglihatan, anggota badan, perkataan, perbuatan dan hartanya; orang semacam ini sebenarnya semakin jauh dari Allah. Wal ‘iyadzu billah.   Perhatikan perkataan dari Ka’ab, مَنْ صَامَ رَمَضَانَ وَ هُوَ يُحَدِّثُ نَفْسَهُ إِذَا أَفْطَرَ مِنْ رَمَضَانَ لَمْ يَعْصِ الله دَخَلَ الجَنَّةَ بِغَيْرِ مَسْأَلَةٍ وَ لاَ حِسَابٍ وَ مَنْ صَامَ رَمَضَانَ وَ هُوَ يُحَدِّثُ نَفْسَهُ إِذَا أَفْطَرَ عَصَى رَبَّهُ فَصِيَامُهُ عَلَيْهِ مَرْدُوْدٌ “Siapa yang berpuasa di bulan Ramadhan dan terbetik dalam hatinya, nantinya ba’da Ramadhan setelah tidak berpuasa lagi, ia bertekad tidak akan bermaksiat pada Allah, maka ia akan masuk surga tanpa masalah, tanpa dihisab. Namun siapa yang berpuasa di bulan Ramadhan dan ia terbetik dalam hatinya ba’da Ramadhan setelah tidak berpuasa lagi, ia akan bermaksiat pada Allah, maka puasanya tertolak.” (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 390) Intinya, jangan jadikan ibadah hanya pada bulan Ramadhan saja. Di antara salaf, ada yang bernama Bisyr pernah menyatakan, بِئْسَ القَوْمُ لاَ يَعْرِفُوْنَ اللهَ حَقًّا إِلاَّ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ إِنَّ الصَّالِحَ الَّذِي يَتَعَبَّدُ وَ يَجْتَهِدُ السَّنَةَ كُلَّهَا “Sejelek-jelek kaum adalah yang mengenal Allah di bulan Ramadhan saja. Ingat, orang yang shalih yang sejati adalah yang beribadah dengan sungguh-sungguh sepanjang tahun.” (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 390) Beribadahlah sampai mati. وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ “Dan sembahlah Rabbmu sampai datang kepadamu kematian.” (QS. Al-Hijr: 99). Al-Hasan Al-Bashri menyatakan bahwa Allah tidak menjadikan batasan waktu untuk beramal bagi seorang mukmin kecuali kematian. (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 392) Dalam Kitab Tafsirnya (4: 666), Ibnu Katsir rahimahullah menyatakan bahwa ayat di atas jadi dalil bahwa ibadah seperti shalat dan lainnya, wajib dijalankan oleh setiap orang selama akal masih ada. Apa pun keadaannya, ia tetap shalat. Dalam hadits shahih dikeluarkan oleh Imam Bukhari dari ‘Imran bin Hushain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, صَلِّ قَائِمًا ، فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَقَاعِدًا ، فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَعَلَى جَنْبٍ “Shalatlah dalam keadaan berdiri. Jika tidak mampu, shalatkan dalam keadaan duduk. Jika tidak mampu, shalatlah dengan tidur menyamping.” (HR. Bukhari, no. 1117) Demikian khutbah pertama ini. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا أَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ وَالمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ   Khutbah Kedua   أَحْمَدُ رَبِّي وَأَشْكُرُهُ ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ نَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ   Bagaimana kita bisa istiqamah dalam beramal bada Ramadhan?   Pertama: Perbanyak doa minta istiqamah seperti, يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِينِكَ “Ya muqollibal qulub tsabbit qolbi ‘alaa diinik (Wahai Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu).” (HR. Tirmidzi, no. 2140; Ibnu Majah, no. 3834. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini shahih) Kedua: Kumpul dengan teman-teman yang shalih yang mengantarkan pada kebaikan. وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ “Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Rabbnya di pagi dan senja hari dengan mengharap wajah-Nya.”  (QS. Al-Kahfi: 28). Dalam ayat ini ada perintah untuk berteman dengan orang shalih. Karena berkumpul dengan orang shalih, hati akan menjadi tenang. Al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata, نَظْرُ المُؤْمِنِ إِلَى المُؤْمِنِ يَجْلُو القَلْبَ “Pandangan seorang mukmin kepada mukmin yang lain akan mengilapkan hati.” (Siyar A’lam An- Nubala’, 8: 435) Ketiga: Beribadah yang ajeg walau sedikit, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ “Amalan yang paling dicintai di sisi Allah Ta’ala adalah amalan yang kontinu walau jumlahnya sedikit.” (HR. Bukhari, no. 5861 dan Muslim, no. 782, 783). Aisyah setiap kali beramal, ia konsekuen untuk menjaga amalannya rutin. Kita bisa menjaga terus amalan kita di bulan Ramadhan seperti shalat malam dan baca Al-Qur’an. Walau nanti intensitasnya berkurang yang penting bisa rutin dijaga. Di hari Jumat yang penuh berkah ini, di mana kita juga masih menjalani puasa, kami ingatkan untuk memperbanyak shalawat pada Nabi kita Muhammad, juga mudah-mudahan doa kita diperkenankan di hari penuh berkah ini. إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَةِ اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ، وَجَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَسْمَاعِنَا، وَأَبْصَارِنَا، وَقُلُوبِنَا، وَأَزْوَاجِنَا، وَذُرِّيَّاتِنَا، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ، وَاجْعَلْنَا شَاكِرِينَ لِنِعَمِكَ مُثْنِينَ بِهَا عَلَيْكَ، قَابِلِينَ لَهَا، وَأَتِمِمْهَا عَلَيْنَا رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ اللَّهُمَّ أَحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِى الأُمُورِ كُلِّهَا وَأَجِرْنَا مِنْ خِزْىِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ أَعْمَلَنَا فِي رَمَضَانَ اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ أَعْمَلَنَا فِي رَمَضَانَ اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ أَعْمَلَنَا فِي رَمَضَانَ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن. وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ   Referensi: Kawkabah Al-Khuthab Al-Munifah min Mimbar Al-Ka’bah Asy-Syarifah. Cetakan pertama, tahun 1423 H. Syaikh ‘Abdurrahman bin ‘Abdul ‘Aziz As-Sudais (Imam dan Khatib Al-Masjid Al-Haram). Penerbit Maktabah Imam Ad-Da’wah Al-‘Ilmiyyah. Lathaif Al-Ma’arif. Cetakan pertama, tahun 1428 H. Ibnu Rajab Al-Hambali. Penerbit Al-Maktab Al-Islami. Siyar A’lam An-Nubala. Cetakan kedua, tahun 1435 H. Muhammad bin Ahmad bin ‘Utsman Adz-Dzahabi. Penerbit Muassasah Ar-Risalah. Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Cetakan pertama, tahun 1431 H. Ibnu Katsir. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Tafsir As-Sa’di. Cetakan kedua, tahun 1433 H. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. Penerbit Muassasah Ar-Risalah. — Naskah Khutbah Jumat Terakhir Ramadhan (28 Ramadhan 1438 H) di Masjid Jami’ Al-Adha, Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, D.I.Y. Silakan download filenya dalam bentuk PDF: Khutbah Jumat: Apa yang Dilakukan Bada Ramadhan? — Disusun @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, Jumat pagi, 28 Ramadhan 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsamalan bada ramadhan istiqamah istiqomah khutbah jumat ramadhan setelah Ramadhan
Apa yang dilakukan setelah Ramadhan?   Khutbah Pertama   الحَمْدُ للهِ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالهُدَى وَدِيْنِ الحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى دِيْنِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الكَافِرُوْنَ وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ سَارَ عَلَى نَهْجِهِ القَوِيْمِ وَدَعَا إِلَى الصِّرَاطِ المُسْتَقِيْمِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا اللّهُمَّ عَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا، وَانْفَعَنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا، وَزِدْنَا عِلْماً، وَأَرَنَا الحَقَّ حَقّاً وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرَنَا البَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ   Amma ba’du: Para jama’ah shalat Jum’at rahimani wa rahimakumullah … Sungguh banyak nikmat yang telah Allah berikan kepada kita sehingga akhir Ramadhan ini, kita bisa istiqamah dalam ibadah. Marilah kita bersyukur pada Allah atas nikmat tersebut, kita wujudkan dengan menjalankan perintah dan menjauhi maksiat sebagaimana yang Allah perintahkan, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS. Ali Imran: 102) Maksud ayat ini sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, أَنْ يُطَاعَ فَلاَ يُعْصَى وَأَنْ يُذْكَرَ فَلاَ يُنْسَى، وَأَنْ يُشْكَرَ فَلاَ يُكْفَر “Allah itu ditaati, tidak dimaksiati; Allah itu selalu diingat, tidak dilupakan; Nikmat Allah itu disyukuri, tidak dikufuri.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 2: 388-389) Shalawat dan salam semoga tercurah kepada nabi akhir zaman, suri tauladan kita, dan yang menjadi pembuka pintu surga di akhirat kelak, yaitu nabi besar kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah Ta’ala berfirman, وَرَفَعْنَا لَكَ ذِكْرَكَ “Dan Kami tinggikan bagimu sebutan (nama)mu.” (QS. Alam Nasyrah: 4). Kata Qatadah rahimahullah, “Allah meninggikan penyebutan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di dunia dan di akhirat. Tidaklah seorang khatib naik mimbar lantas dia bersaksi atau orang yang mengumandangkan azan ketika memanggil shalat melainkan ia sebut “asyhadu alla ilaha illallah, wa anna muhammadar rasulullah”. Lihatlah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa disertakan bersama penyebutan nama Allah. (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 7: 596)   Kaum muslimin yang semoga dirahmati oleh Allah Ta’ala … Muslim yang hakiki adalah yang senantiasa menjaga ketakwaannya sepanjang umurnya. Mukmin yang benar adalah mukmin yang menjaga amalnya dengan taat pada Allah dan menjauhi maksiat dan larangan Allah. Ia terus menjaga iman dan takwanya tadi sampai maut menjemputnya. Bulan Ramadhan memang bulan semangat untuk beramal. Namun ingatlah jika musim kebaikan itu berakhir, hendaklah bekas jejaknya masih terus ada.   Saudara-saudaraku … Ada yang perlu kita muhasabah atau kita koreksi saat ini: Apa yang telah kita lakukan di bulan Ramadhan? Apa ada yang tersisa setelah Ramadhan pada ibadah dan akhlak kita? Apakah amalan-amalan yang ada di bulan Ramadhan diteruskan setelahnya? Tiga pertanyaan ini patut kita cek dan periksa.   Kaum muslimin yang semoga senantiasa mendapatkan kebaikan dan keberkahan … Lihatlah para salaf dahulu. Mereka adalah orang-orang yang begitu khawatir apakah amalannya diterima ataukah tidak. Karenanya setelah Ramadhan, mereka berdoa supaya amalan mereka diterima. Allah Ta’ala berfirman, وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آَتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَى رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ “Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Rabb mereka.” (QS. Al-Mu’minun: 60). Ayat di atas, kata Syaikh As-Sa’di rahimahullah menceritakan tentang orang-orang yang melakukan shalat, zakat, haji dan sedekah serta amalan lainnya, namun hati mereka dalam keadaan takut. Mereka khawatir dengan amalan mereka ketika dihadapkan di hadapan Allah, bisa jadi amalan mereka tidak selamat dan malah mendapatkan siksa-Nya. (Tafsir As-Sa’di, hlm. 583) Aisyah radhiyallahu ‘anha pernah bertanya pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang orang-orang yang dimaksud dalam ayat di atas, apakah mereka itu melakukan zina, mencuri dan minum minuman keras. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ يَا بِنْتَ الصِّدِّيقِ وَلَكِنَّهُمُ الَّذِينَ يَصُومُونَ وَيُصَلُّونَ وَيَتَصَدَّقُونَ وَهُمْ يَخَافُونَ أَنْ لاَ يُقْبَلَ مِنْهُمْ أُولَئِكَ الَّذِينَ يُسَارِعُونَ فِى الْخَيْرَاتِ وَهُمْ لَهَا سَابِقُونَ “Tidak wahai binti Ash-Shiddiq (puteri Abu Bakr Ash-Shiddiq, pen.). Akan tetapi, mereka itu rajin puasa, shalat dan sedekah. Namun mereka khawatir amalan mereka tidak diterima. Mereka itu adalah orang-orang yang bersegera dan terdepan dalam kebaikan.” (HR. Tirmidzi, no. 3175; Ibnu Majah, no. 4198. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan) Karena Allah Ta’ala menyatakan, إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ “Sesungguhnya Allah hanya menerima amalan dari orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Maidah: 27) Keadaan seseorang ba’da Ramadhan itu ada dua macam: Lebih baik dari sebelum Ramadhan. Ia jadi orang yang kembali pada Allah, semangat dalam kebaikan, semangat dalam ibadah, rutin menghadiri shalat Jumat dan jama’ah, terus istiqamah dan menjauhi maksiat, itu tanda amalannya diterima. Keadaannya sama dengan sebelum Ramadhan. Walaupun taruhlah Allah menerima amalannya di bulan Ramadhan, namun ia balik ke belakang lagi dengan cepat, ia kembali lagi bermaksiat, ia tinggalkan ibadah, ia terjang larangan Allah, ia lalaikan shalat, hingga senang kembali melakukan maksiat dengan pendengaran, penglihatan, anggota badan, perkataan, perbuatan dan hartanya; orang semacam ini sebenarnya semakin jauh dari Allah. Wal ‘iyadzu billah.   Perhatikan perkataan dari Ka’ab, مَنْ صَامَ رَمَضَانَ وَ هُوَ يُحَدِّثُ نَفْسَهُ إِذَا أَفْطَرَ مِنْ رَمَضَانَ لَمْ يَعْصِ الله دَخَلَ الجَنَّةَ بِغَيْرِ مَسْأَلَةٍ وَ لاَ حِسَابٍ وَ مَنْ صَامَ رَمَضَانَ وَ هُوَ يُحَدِّثُ نَفْسَهُ إِذَا أَفْطَرَ عَصَى رَبَّهُ فَصِيَامُهُ عَلَيْهِ مَرْدُوْدٌ “Siapa yang berpuasa di bulan Ramadhan dan terbetik dalam hatinya, nantinya ba’da Ramadhan setelah tidak berpuasa lagi, ia bertekad tidak akan bermaksiat pada Allah, maka ia akan masuk surga tanpa masalah, tanpa dihisab. Namun siapa yang berpuasa di bulan Ramadhan dan ia terbetik dalam hatinya ba’da Ramadhan setelah tidak berpuasa lagi, ia akan bermaksiat pada Allah, maka puasanya tertolak.” (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 390) Intinya, jangan jadikan ibadah hanya pada bulan Ramadhan saja. Di antara salaf, ada yang bernama Bisyr pernah menyatakan, بِئْسَ القَوْمُ لاَ يَعْرِفُوْنَ اللهَ حَقًّا إِلاَّ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ إِنَّ الصَّالِحَ الَّذِي يَتَعَبَّدُ وَ يَجْتَهِدُ السَّنَةَ كُلَّهَا “Sejelek-jelek kaum adalah yang mengenal Allah di bulan Ramadhan saja. Ingat, orang yang shalih yang sejati adalah yang beribadah dengan sungguh-sungguh sepanjang tahun.” (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 390) Beribadahlah sampai mati. وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ “Dan sembahlah Rabbmu sampai datang kepadamu kematian.” (QS. Al-Hijr: 99). Al-Hasan Al-Bashri menyatakan bahwa Allah tidak menjadikan batasan waktu untuk beramal bagi seorang mukmin kecuali kematian. (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 392) Dalam Kitab Tafsirnya (4: 666), Ibnu Katsir rahimahullah menyatakan bahwa ayat di atas jadi dalil bahwa ibadah seperti shalat dan lainnya, wajib dijalankan oleh setiap orang selama akal masih ada. Apa pun keadaannya, ia tetap shalat. Dalam hadits shahih dikeluarkan oleh Imam Bukhari dari ‘Imran bin Hushain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, صَلِّ قَائِمًا ، فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَقَاعِدًا ، فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَعَلَى جَنْبٍ “Shalatlah dalam keadaan berdiri. Jika tidak mampu, shalatkan dalam keadaan duduk. Jika tidak mampu, shalatlah dengan tidur menyamping.” (HR. Bukhari, no. 1117) Demikian khutbah pertama ini. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا أَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ وَالمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ   Khutbah Kedua   أَحْمَدُ رَبِّي وَأَشْكُرُهُ ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ نَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ   Bagaimana kita bisa istiqamah dalam beramal bada Ramadhan?   Pertama: Perbanyak doa minta istiqamah seperti, يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِينِكَ “Ya muqollibal qulub tsabbit qolbi ‘alaa diinik (Wahai Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu).” (HR. Tirmidzi, no. 2140; Ibnu Majah, no. 3834. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini shahih) Kedua: Kumpul dengan teman-teman yang shalih yang mengantarkan pada kebaikan. وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ “Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Rabbnya di pagi dan senja hari dengan mengharap wajah-Nya.”  (QS. Al-Kahfi: 28). Dalam ayat ini ada perintah untuk berteman dengan orang shalih. Karena berkumpul dengan orang shalih, hati akan menjadi tenang. Al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata, نَظْرُ المُؤْمِنِ إِلَى المُؤْمِنِ يَجْلُو القَلْبَ “Pandangan seorang mukmin kepada mukmin yang lain akan mengilapkan hati.” (Siyar A’lam An- Nubala’, 8: 435) Ketiga: Beribadah yang ajeg walau sedikit, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ “Amalan yang paling dicintai di sisi Allah Ta’ala adalah amalan yang kontinu walau jumlahnya sedikit.” (HR. Bukhari, no. 5861 dan Muslim, no. 782, 783). Aisyah setiap kali beramal, ia konsekuen untuk menjaga amalannya rutin. Kita bisa menjaga terus amalan kita di bulan Ramadhan seperti shalat malam dan baca Al-Qur’an. Walau nanti intensitasnya berkurang yang penting bisa rutin dijaga. Di hari Jumat yang penuh berkah ini, di mana kita juga masih menjalani puasa, kami ingatkan untuk memperbanyak shalawat pada Nabi kita Muhammad, juga mudah-mudahan doa kita diperkenankan di hari penuh berkah ini. إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَةِ اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ، وَجَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَسْمَاعِنَا، وَأَبْصَارِنَا، وَقُلُوبِنَا، وَأَزْوَاجِنَا، وَذُرِّيَّاتِنَا، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ، وَاجْعَلْنَا شَاكِرِينَ لِنِعَمِكَ مُثْنِينَ بِهَا عَلَيْكَ، قَابِلِينَ لَهَا، وَأَتِمِمْهَا عَلَيْنَا رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ اللَّهُمَّ أَحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِى الأُمُورِ كُلِّهَا وَأَجِرْنَا مِنْ خِزْىِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ أَعْمَلَنَا فِي رَمَضَانَ اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ أَعْمَلَنَا فِي رَمَضَانَ اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ أَعْمَلَنَا فِي رَمَضَانَ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن. وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ   Referensi: Kawkabah Al-Khuthab Al-Munifah min Mimbar Al-Ka’bah Asy-Syarifah. Cetakan pertama, tahun 1423 H. Syaikh ‘Abdurrahman bin ‘Abdul ‘Aziz As-Sudais (Imam dan Khatib Al-Masjid Al-Haram). Penerbit Maktabah Imam Ad-Da’wah Al-‘Ilmiyyah. Lathaif Al-Ma’arif. Cetakan pertama, tahun 1428 H. Ibnu Rajab Al-Hambali. Penerbit Al-Maktab Al-Islami. Siyar A’lam An-Nubala. Cetakan kedua, tahun 1435 H. Muhammad bin Ahmad bin ‘Utsman Adz-Dzahabi. Penerbit Muassasah Ar-Risalah. Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Cetakan pertama, tahun 1431 H. Ibnu Katsir. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Tafsir As-Sa’di. Cetakan kedua, tahun 1433 H. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. Penerbit Muassasah Ar-Risalah. — Naskah Khutbah Jumat Terakhir Ramadhan (28 Ramadhan 1438 H) di Masjid Jami’ Al-Adha, Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, D.I.Y. Silakan download filenya dalam bentuk PDF: Khutbah Jumat: Apa yang Dilakukan Bada Ramadhan? — Disusun @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, Jumat pagi, 28 Ramadhan 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsamalan bada ramadhan istiqamah istiqomah khutbah jumat ramadhan setelah Ramadhan


Apa yang dilakukan setelah Ramadhan?   Khutbah Pertama   الحَمْدُ للهِ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالهُدَى وَدِيْنِ الحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى دِيْنِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الكَافِرُوْنَ وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ سَارَ عَلَى نَهْجِهِ القَوِيْمِ وَدَعَا إِلَى الصِّرَاطِ المُسْتَقِيْمِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا اللّهُمَّ عَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا، وَانْفَعَنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا، وَزِدْنَا عِلْماً، وَأَرَنَا الحَقَّ حَقّاً وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرَنَا البَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ   Amma ba’du: Para jama’ah shalat Jum’at rahimani wa rahimakumullah … Sungguh banyak nikmat yang telah Allah berikan kepada kita sehingga akhir Ramadhan ini, kita bisa istiqamah dalam ibadah. Marilah kita bersyukur pada Allah atas nikmat tersebut, kita wujudkan dengan menjalankan perintah dan menjauhi maksiat sebagaimana yang Allah perintahkan, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS. Ali Imran: 102) Maksud ayat ini sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, أَنْ يُطَاعَ فَلاَ يُعْصَى وَأَنْ يُذْكَرَ فَلاَ يُنْسَى، وَأَنْ يُشْكَرَ فَلاَ يُكْفَر “Allah itu ditaati, tidak dimaksiati; Allah itu selalu diingat, tidak dilupakan; Nikmat Allah itu disyukuri, tidak dikufuri.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 2: 388-389) Shalawat dan salam semoga tercurah kepada nabi akhir zaman, suri tauladan kita, dan yang menjadi pembuka pintu surga di akhirat kelak, yaitu nabi besar kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah Ta’ala berfirman, وَرَفَعْنَا لَكَ ذِكْرَكَ “Dan Kami tinggikan bagimu sebutan (nama)mu.” (QS. Alam Nasyrah: 4). Kata Qatadah rahimahullah, “Allah meninggikan penyebutan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di dunia dan di akhirat. Tidaklah seorang khatib naik mimbar lantas dia bersaksi atau orang yang mengumandangkan azan ketika memanggil shalat melainkan ia sebut “asyhadu alla ilaha illallah, wa anna muhammadar rasulullah”. Lihatlah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa disertakan bersama penyebutan nama Allah. (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 7: 596)   Kaum muslimin yang semoga dirahmati oleh Allah Ta’ala … Muslim yang hakiki adalah yang senantiasa menjaga ketakwaannya sepanjang umurnya. Mukmin yang benar adalah mukmin yang menjaga amalnya dengan taat pada Allah dan menjauhi maksiat dan larangan Allah. Ia terus menjaga iman dan takwanya tadi sampai maut menjemputnya. Bulan Ramadhan memang bulan semangat untuk beramal. Namun ingatlah jika musim kebaikan itu berakhir, hendaklah bekas jejaknya masih terus ada.   Saudara-saudaraku … Ada yang perlu kita muhasabah atau kita koreksi saat ini: Apa yang telah kita lakukan di bulan Ramadhan? Apa ada yang tersisa setelah Ramadhan pada ibadah dan akhlak kita? Apakah amalan-amalan yang ada di bulan Ramadhan diteruskan setelahnya? Tiga pertanyaan ini patut kita cek dan periksa.   Kaum muslimin yang semoga senantiasa mendapatkan kebaikan dan keberkahan … Lihatlah para salaf dahulu. Mereka adalah orang-orang yang begitu khawatir apakah amalannya diterima ataukah tidak. Karenanya setelah Ramadhan, mereka berdoa supaya amalan mereka diterima. Allah Ta’ala berfirman, وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آَتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَى رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ “Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Rabb mereka.” (QS. Al-Mu’minun: 60). Ayat di atas, kata Syaikh As-Sa’di rahimahullah menceritakan tentang orang-orang yang melakukan shalat, zakat, haji dan sedekah serta amalan lainnya, namun hati mereka dalam keadaan takut. Mereka khawatir dengan amalan mereka ketika dihadapkan di hadapan Allah, bisa jadi amalan mereka tidak selamat dan malah mendapatkan siksa-Nya. (Tafsir As-Sa’di, hlm. 583) Aisyah radhiyallahu ‘anha pernah bertanya pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang orang-orang yang dimaksud dalam ayat di atas, apakah mereka itu melakukan zina, mencuri dan minum minuman keras. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ يَا بِنْتَ الصِّدِّيقِ وَلَكِنَّهُمُ الَّذِينَ يَصُومُونَ وَيُصَلُّونَ وَيَتَصَدَّقُونَ وَهُمْ يَخَافُونَ أَنْ لاَ يُقْبَلَ مِنْهُمْ أُولَئِكَ الَّذِينَ يُسَارِعُونَ فِى الْخَيْرَاتِ وَهُمْ لَهَا سَابِقُونَ “Tidak wahai binti Ash-Shiddiq (puteri Abu Bakr Ash-Shiddiq, pen.). Akan tetapi, mereka itu rajin puasa, shalat dan sedekah. Namun mereka khawatir amalan mereka tidak diterima. Mereka itu adalah orang-orang yang bersegera dan terdepan dalam kebaikan.” (HR. Tirmidzi, no. 3175; Ibnu Majah, no. 4198. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan) Karena Allah Ta’ala menyatakan, إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ “Sesungguhnya Allah hanya menerima amalan dari orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Maidah: 27) Keadaan seseorang ba’da Ramadhan itu ada dua macam: Lebih baik dari sebelum Ramadhan. Ia jadi orang yang kembali pada Allah, semangat dalam kebaikan, semangat dalam ibadah, rutin menghadiri shalat Jumat dan jama’ah, terus istiqamah dan menjauhi maksiat, itu tanda amalannya diterima. Keadaannya sama dengan sebelum Ramadhan. Walaupun taruhlah Allah menerima amalannya di bulan Ramadhan, namun ia balik ke belakang lagi dengan cepat, ia kembali lagi bermaksiat, ia tinggalkan ibadah, ia terjang larangan Allah, ia lalaikan shalat, hingga senang kembali melakukan maksiat dengan pendengaran, penglihatan, anggota badan, perkataan, perbuatan dan hartanya; orang semacam ini sebenarnya semakin jauh dari Allah. Wal ‘iyadzu billah.   Perhatikan perkataan dari Ka’ab, مَنْ صَامَ رَمَضَانَ وَ هُوَ يُحَدِّثُ نَفْسَهُ إِذَا أَفْطَرَ مِنْ رَمَضَانَ لَمْ يَعْصِ الله دَخَلَ الجَنَّةَ بِغَيْرِ مَسْأَلَةٍ وَ لاَ حِسَابٍ وَ مَنْ صَامَ رَمَضَانَ وَ هُوَ يُحَدِّثُ نَفْسَهُ إِذَا أَفْطَرَ عَصَى رَبَّهُ فَصِيَامُهُ عَلَيْهِ مَرْدُوْدٌ “Siapa yang berpuasa di bulan Ramadhan dan terbetik dalam hatinya, nantinya ba’da Ramadhan setelah tidak berpuasa lagi, ia bertekad tidak akan bermaksiat pada Allah, maka ia akan masuk surga tanpa masalah, tanpa dihisab. Namun siapa yang berpuasa di bulan Ramadhan dan ia terbetik dalam hatinya ba’da Ramadhan setelah tidak berpuasa lagi, ia akan bermaksiat pada Allah, maka puasanya tertolak.” (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 390) Intinya, jangan jadikan ibadah hanya pada bulan Ramadhan saja. Di antara salaf, ada yang bernama Bisyr pernah menyatakan, بِئْسَ القَوْمُ لاَ يَعْرِفُوْنَ اللهَ حَقًّا إِلاَّ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ إِنَّ الصَّالِحَ الَّذِي يَتَعَبَّدُ وَ يَجْتَهِدُ السَّنَةَ كُلَّهَا “Sejelek-jelek kaum adalah yang mengenal Allah di bulan Ramadhan saja. Ingat, orang yang shalih yang sejati adalah yang beribadah dengan sungguh-sungguh sepanjang tahun.” (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 390) Beribadahlah sampai mati. وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ “Dan sembahlah Rabbmu sampai datang kepadamu kematian.” (QS. Al-Hijr: 99). Al-Hasan Al-Bashri menyatakan bahwa Allah tidak menjadikan batasan waktu untuk beramal bagi seorang mukmin kecuali kematian. (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 392) Dalam Kitab Tafsirnya (4: 666), Ibnu Katsir rahimahullah menyatakan bahwa ayat di atas jadi dalil bahwa ibadah seperti shalat dan lainnya, wajib dijalankan oleh setiap orang selama akal masih ada. Apa pun keadaannya, ia tetap shalat. Dalam hadits shahih dikeluarkan oleh Imam Bukhari dari ‘Imran bin Hushain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, صَلِّ قَائِمًا ، فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَقَاعِدًا ، فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَعَلَى جَنْبٍ “Shalatlah dalam keadaan berdiri. Jika tidak mampu, shalatkan dalam keadaan duduk. Jika tidak mampu, shalatlah dengan tidur menyamping.” (HR. Bukhari, no. 1117) Demikian khutbah pertama ini. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا أَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ وَالمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ   Khutbah Kedua   أَحْمَدُ رَبِّي وَأَشْكُرُهُ ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ نَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ   Bagaimana kita bisa istiqamah dalam beramal bada Ramadhan?   Pertama: Perbanyak doa minta istiqamah seperti, يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِينِكَ “Ya muqollibal qulub tsabbit qolbi ‘alaa diinik (Wahai Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu).” (HR. Tirmidzi, no. 2140; Ibnu Majah, no. 3834. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini shahih) Kedua: Kumpul dengan teman-teman yang shalih yang mengantarkan pada kebaikan. وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ “Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Rabbnya di pagi dan senja hari dengan mengharap wajah-Nya.”  (QS. Al-Kahfi: 28). Dalam ayat ini ada perintah untuk berteman dengan orang shalih. Karena berkumpul dengan orang shalih, hati akan menjadi tenang. Al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata, نَظْرُ المُؤْمِنِ إِلَى المُؤْمِنِ يَجْلُو القَلْبَ “Pandangan seorang mukmin kepada mukmin yang lain akan mengilapkan hati.” (Siyar A’lam An- Nubala’, 8: 435) Ketiga: Beribadah yang ajeg walau sedikit, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ “Amalan yang paling dicintai di sisi Allah Ta’ala adalah amalan yang kontinu walau jumlahnya sedikit.” (HR. Bukhari, no. 5861 dan Muslim, no. 782, 783). Aisyah setiap kali beramal, ia konsekuen untuk menjaga amalannya rutin. Kita bisa menjaga terus amalan kita di bulan Ramadhan seperti shalat malam dan baca Al-Qur’an. Walau nanti intensitasnya berkurang yang penting bisa rutin dijaga. Di hari Jumat yang penuh berkah ini, di mana kita juga masih menjalani puasa, kami ingatkan untuk memperbanyak shalawat pada Nabi kita Muhammad, juga mudah-mudahan doa kita diperkenankan di hari penuh berkah ini. إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَةِ اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ، وَجَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَسْمَاعِنَا، وَأَبْصَارِنَا، وَقُلُوبِنَا، وَأَزْوَاجِنَا، وَذُرِّيَّاتِنَا، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ، وَاجْعَلْنَا شَاكِرِينَ لِنِعَمِكَ مُثْنِينَ بِهَا عَلَيْكَ، قَابِلِينَ لَهَا، وَأَتِمِمْهَا عَلَيْنَا رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ اللَّهُمَّ أَحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِى الأُمُورِ كُلِّهَا وَأَجِرْنَا مِنْ خِزْىِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ أَعْمَلَنَا فِي رَمَضَانَ اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ أَعْمَلَنَا فِي رَمَضَانَ اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ أَعْمَلَنَا فِي رَمَضَانَ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن. وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ   Referensi: Kawkabah Al-Khuthab Al-Munifah min Mimbar Al-Ka’bah Asy-Syarifah. Cetakan pertama, tahun 1423 H. Syaikh ‘Abdurrahman bin ‘Abdul ‘Aziz As-Sudais (Imam dan Khatib Al-Masjid Al-Haram). Penerbit Maktabah Imam Ad-Da’wah Al-‘Ilmiyyah. Lathaif Al-Ma’arif. Cetakan pertama, tahun 1428 H. Ibnu Rajab Al-Hambali. Penerbit Al-Maktab Al-Islami. Siyar A’lam An-Nubala. Cetakan kedua, tahun 1435 H. Muhammad bin Ahmad bin ‘Utsman Adz-Dzahabi. Penerbit Muassasah Ar-Risalah. Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Cetakan pertama, tahun 1431 H. Ibnu Katsir. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Tafsir As-Sa’di. Cetakan kedua, tahun 1433 H. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. Penerbit Muassasah Ar-Risalah. — Naskah Khutbah Jumat Terakhir Ramadhan (28 Ramadhan 1438 H) di Masjid Jami’ Al-Adha, Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, D.I.Y. Silakan download filenya dalam bentuk PDF: Khutbah Jumat: Apa yang Dilakukan Bada Ramadhan? — Disusun @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, Jumat pagi, 28 Ramadhan 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsamalan bada ramadhan istiqamah istiqomah khutbah jumat ramadhan setelah Ramadhan

Khutbah Idul Fitri: Bada Ramadhan Meraih Surga Firdaus

Bada Ramadhan, tekad kita harusnya bisa meraih SURGA FIRDAUS.   Khutbah Pertama   الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ لَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّ وَنُودُوا أَنْ تِلْكُمُ الْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنَ   اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ Allahu akbar, Allahu akbar, laa ilaaha illallah wallahu akbar. Allahu akbar walillahil hamd.   Jama’ah rahimani wa rahimakumullah, jama’ah yang senantiasa dirahmati dan diberkahi oleh Allah … Di hari yang penuh berbahagia ini, 1 Syawal 1438 H … Kita bersyukur pada Allah akan nikmat yang begitu banyak telah dikaruniakan. Walhamdulillah, sebulan penuh kita telah selesai menjalankan ibadah puasa, shalat malam, merenungkan Al-Qur’an hingga memperbanyak sedekah. Saat ini yang dipikirkan adalah bagaimana kita bisa terus mengoreksi diri, lalu menjadi lebih baik selepas Ramadhan, dan terus bisa menjaga amal shalih kita supaya tetap langgeng dan istiqamah.   Untuk tujuan itu, dalam khutbah kali ini, kami ingin memotivasi jama’ah shalat Idul Fithri sekalian mengenai suatu surga yang disebut SURGA FIRDAUS. Kenapa demikian? Agar selepas Ramadhan ini, kita terus semangat beramal, terutama melakukan amalan untuk menggapai surga Firdaus.   Tahu Surga Firdaus? Surga Firdaus adalah surga yang paling utama dan paling tinggi. Disebutkan dalam hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ فِى الْجَنَّةِ مِائَةَ دَرَجَةٍ أَعَدَّهَا اللَّهُ لِلْمُجَاهِدِينَ فِى سَبِيلِهِ ، كُلُّ دَرَجَتَيْنِ مَا بَيْنَهُمَا كَمَا بَيْنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ ، فَإِذَا سَأَلْتُمُ اللَّهَ فَسَلُوهُ الْفِرْدَوْسَ ، فَإِنَّهُ أَوْسَطُ الْجَنَّةِ وَأَعْلَى الْجَنَّةِ ، وَفَوْقَهُ عَرْشُ الرَّحْمَنِ ، وَمِنْهُ تَفَجَّرُ أَنْهَارُ الْجَنَّةِ “Sesungguhnya di surga itu ada 100 tingkatan yang telah Allah janjikan bagi para mujahid di jalan Allah. Jarak antara dua tingkatan adalah bagaikan jarak antara langit dan bumi. Jika kalian ingin meminta pada Allah, mintalah surga Firdaus. Surga Firdaus adalah surga yang paling utama dan paling tinggi, di atasnya adalah ‘Arsy Ar-Rahman, darinya pula mengalir sungai surga.” (HR. Bukhari, no. 7423) Dikatakan oleh sebagian salaf bahwa suatu kebun tidaklah disebut Firdaus melainkan di situ terdapat anggur. (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 5: 452)   اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ Allahu akbar, Allahu akbar, laa ilaaha illallah wallahu akbar. Allahu akbar walillahil hamd.   Jama’ah rahimani wa rahimakumullah …   Bagaimana Memasuki Surga Firdaus? Allah Ta’ala berfirman, قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ (1) الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ (2) وَالَّذِينَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ (3) وَالَّذِينَ هُمْ لِلزَّكَاةِ فَاعِلُونَ (4) وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ (5) إِلَّا عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ (6) فَمَنِ ابْتَغَى وَرَاءَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْعَادُونَ (7) وَالَّذِينَ هُمْ لِأَمَانَاتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُونَ (8) وَالَّذِينَ هُمْ عَلَى صَلَوَاتِهِمْ يُحَافِظُونَ (9) أُولَئِكَ هُمُ الْوَارِثُونَ (10) الَّذِينَ يَرِثُونَ الْفِرْدَوْسَ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ (11) “Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna, dan orang-orang yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada terceIa. Barangsiapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya. dan orang-orang yang memelihara shalatnya. Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi, (yakni) yang akan mewarisi syurga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al-Mu’minun: 1-11)   Jama’ah rahimani wa rahimakumullah …   Dari ayat di atas, untuk masuk dalam surga Firdaus, ada enam sifat yang harus kita miliki.   Pertama: Khusyu’ dalam shalat Khusyu’ artinya berdiri di hadapan Allah dalam keadaan tunduk, merendahkan diri dan tenang. Dulu para sahabat biasa mengangkat pandangannya ke langit-langit dalam shalat. Ketika turun awal surat Al-Mu’minun (ayat 1 dan 2), barulah mereka menundukkan pandangan mereka dengan memandang ke tempat sujud. Ibnu ‘Abbas menyatakan bahwa khusyu’ itu berarti tenang. ‘Ali bin Abi Thalib menyatakan bahwa khusyu’ itu berarti khusyu’nya hati. Al-Hasan Al-Bashri menyatakan bahwa khusyu’ itu dalam hati yang membuat anggota tubuh kita menjadi ikut tunduk. Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 5: 448. Ibnu Katsir rahimahullah menyatakan dalam halaman yang sama bahwa khusyu’ itu bisa digapai jika hati kita tidak memikirkan hal-hal di luar shalat, dan mementingkan shalat saja daripada berbagai perkara di luar shalat. Khusyu’ sendiri ada dua macam, yaitu khusyu’ pada lahiriyah dan khusyu’ dalam batin. Khusyu’ pada lahiriyah bisa digapai dengan keadaan yang tenang dan tidak banyak melakukan gerakan sia-sia dalam shalat (seperti memandang ke langit-langit, menoleh kanan-kiri, banyak gerak yang tidak berguna dan tidak dibutuhkan). Khusyu’ lahiriyah juga bisa dicapai dalam bentuk tidak mendahului, berbarengan dan telat dari imam karena yang diperintahkan adalah mutaba’ah (mengikuti) imam. Khusyu’ dalam batin bisa digapai dengan menghayati kebesaran Allah, memikirkan makna ayat, dzikir dan do’a dalam shalat, dan tidak peduli pada was-was setan. Para ulama katakan bahwa khusyu’ itu dibangun dari dalam batin dan akan berpengaruh pada jawarih (anggota badan). Jika kekhusyu’an dalam hati itu kurang, maka akan nampak pada anggota badan. Namun ingat, menampak-nampakkan diri kita khusyu’ tidak disukai karena tanda ikhlas adalah menyembunyikan kekhusyu’an. (Lihat bahasan dalam kitab Irsyadul Musholli, hlm. 228-229) Semoga Allah menjadikan kita memiliki shalat yang khusyu’ yang jadi suatu kenikmatan dan penyejuk pandangan.   Kedua: Menjauhkan diri dari hal yang tidak berguna Maksudnya di sini adalah menjauhkan diri dari kebatilan, termasuk kesyirikan. Juga termasuk menjauhkan diri dari perkataan dan perbuatan yang tidak berfaedah. Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 5: 449. Syaikh As-Sa’di menyatakan bahwa jika dari yang sia-sia saja dijauhi, maka yang haram lebih pantas dijauhi. Lihat Tafsir As-Sa’di, hlm. 576.   Ketiga: Menunaikan zakat Yang dimaksud di sini adalah menunaikan zakat maal, yaitu zakat dari harta jika memang sudah terpenuhi syarat nishab dan syarat haul (bertahan selama satu tahun). Perintah menunaikan shalat dengan khusyu’ dan menunaikan zakat menunjukkan bahwa kita tidak hanya mementingkan ibadah pada Sang Khaliq, namun juga hendaklah berbuat baik pada sesama dengan menolong yang susah lewat zakat. Lihat Tafsir As-Sa’di, hlm. 576.   Jama’ah rahimani wa rahimakumullah …   Keempat: Menjaga kemaluan dari zina Sifat keempat ini adalah mereka menjaga kemaluannya dari zina. Termasuk dalam hal ini kata Syaikh As-Sa’di rahimahullah adalah menjaga diri hal-hal yang mengantarkan pada zina seperti memandang lawan jenis (dengan syahwat) dan bersentuhan dengan lawan jenis. Kemaluan tadi dijaga pada setiap orang kecuali pada istri dan budak yang halal untuknya. Ini juga jadi dalil kata Syaikh As-Sa’di bahwa nikah mut’ah (kawin kontrak) itu haram seperti yang dilakukan oleh orang Syi’ah (Rafidhah). Pada kawin kontrak yang dinikahi adalah bukan istri sejati yang maksudnya untuk tetap selamanya. Lihat bahasan dalam Tafsir As-Sa’di, hlm. 576. Hakikat nikah mut’ah adalah zina berkedok nikah. Ibnu Katsir menyatakan bahwa ayat ini juga menunjukkan larangan melakukan liwath (hubungan yang dilakukan dengan sesama jenis) seperti yang terjadi di masa Nabi Luth ‘alaihis salam. Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 5: 449. Ayat ini menunjukkan larangan untuk melakukan onani, yaitu mengeluarkan mani secara paksa dengan tangan. Ini jadi dalil dari Imam Syafi’i rahimahullah dikarenakan dalam ayat hanya dibolehkan syahwat dengan kemaluan disalurkan pada istri atau hamba sahaya yang dimiliki. Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 5: 450.   Kelima: Memperhatikan amanat dan janji Sifat orang beriman lagi tidaklah meniru sifat orang munafik. Sifat orang beriman adalah ketika diberi amanat, ia tidak khianat; ketika berjanji dan membuat akad, maka ia menunaikannya. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مِنْ عَلاَمَاتِ الْمُنَافِقِ ثَلاَثَةٌ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ وَإِذَا ائْتُمِنَ خَانَ “Di antara tanda munafik ada tiga: jika berbicara, dusta; jika berjanji, tidak menepati; jika diberi amanat, ia khianat.” (HR. Muslim, no. 59) Dalam riwayat lain disebutkan, آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلاَثٌ وَإِنْ صَامَ وَصَلَّى وَزَعَمَ أَنَّهُ مُسْلِمٌ “Tanda munafik itu ada tiga, walaupun orang tersebut puasa dan mengerjakan shalat, lalu ia mengklaim dirinya muslim.” (HR. Muslim, no. 59)   Jama’ah rahimani wa rahimakumullah …   Keenam: Menjaga shalat Sifat yang terakhir adalah mereka merutinkan shalat pada waktunya. Dalam hadits disebutkan, “Ibnu Mas’ud pernah bertanya pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, أَىُّ الْعَمَلِ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ قَالَ « الصَّلاَةُ عَلَى وَقْتِهَا » . قَالَ ثُمَّ أَىُّ قَالَ « ثُمَّ بِرُّ الْوَالِدَيْنِ » .قَالَ ثُمَّ أَىّ قَالَ « الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ » “Amalan apa yang paling dicintai oleh Allah?” Jawab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Shalat pada waktunya.” “Kemudian apa lagi?” tanya Ibnu Mas’ud. Jawab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Kemudian berbakti pada kedua orang tua.” “Kemudian apa lagi?” tanya Ibnu Mas’ud. Jawab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Jihad di jalan Allah.” (HR. Bukhari, no. 5970 dan Muslim. no. 85)   Kesimpulannya, orang yang beruntung mendapatkan surga Firdaus: 1- Orang yang shalatnya khusyu’. 2- Orang yang menjauhkan diri dari hal yang tidak berguna. 3- Orang yang menunaikan zakat. 4- Menjaga kemaluan dari zina. 5- Memperhatikan amanat dan janji. 6- Orang yang menjaga shalat.   اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ Allahu akbar, Allahu akbar, laa ilaaha illallah wallahu akbar. Allahu akbar walillahil hamd.   Jama’ah shalat Idul Fithri yang semoga senantiasa mendapatkan berkah dari Allah …   Demikian khutbah pertama ini. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا أَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ وَالمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ Khutbah Kedua   أَحْمَدُ رَبِّي وَأَشْكُرُهُ ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ نَبِيَنَا مُحَمَّدٌ عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ Allahu akbar, Allahu akbar, laa ilaaha illallah wallahu akbar. Allahu akbar walillahil hamd.   Jama’ah shalat Idul Fithri yang semoga senantiasa diberkahi oleh Allah …   Coba perhatikan dalam surat Al-Mu’minun ayat 1-11, sifat orang yang memasuki surga Firdaus diawali dengan perkara shalat dan di akhiri pula dengan perkara shalat. Ibnu Katsir menyatakan bahwa itulah yang menunjukkan keutamaan shalat, sebagaimana disebut dalam kitab tafsirnya, 5: 450. Dari Tsauban radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, اسْتَقِيمُوا وَلَنْ تُحْصُوا وَاعْلَمُوا أَنَّ خَيْرَ أَعْمَالِكُمُ الصَّلاَةُ وَلاَ يُحَافِظُ عَلَى الْوُضُوءِ إِلاَّ مُؤْمِنٌ “Istiqamahlah kalian dan sekali-kali kalian tidak akan dapat menghitungnya. Beramallah, sesungguhnya amalan kalian yang paling utama adalah shalat, dan tidak ada yang menjaga wudlu kecuali orang mukmin.” (HR. Ibnu Majah, no. 277) Orang-orang yang memiliki sifat-sifat di atas (ada enam sifat) itulah yang dijanjikan surga Firdaus, أُولَئِكَ هُمُ الْوَارِثُونَ (10) الَّذِينَ يَرِثُونَ الْفِرْدَوْسَ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ (11) “Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi, (yakni) yang akan mewarisi syurga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al-Mu’minun: 1-11) Selepas Ramadhan ini, marilah enam sifat di atas kita gapai, semoga Allah memudahkan kita untuk masuk dalam surga Firdaus, surga yang paling utama dan paling tinggi.   اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ Allahu akbar, Allahu akbar, laa ilaaha illallah wallahu akbar. Allahu akbar walillahil hamd.   Marilah kita tutup khutbah ied kali ini dengan doa, moga Allah perkenankan setiap doa-doa kita di hari yang penuh berbahagia ini.   اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ، وَجَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَسْمَاعِنَا، وَأَبْصَارِنَا، وَقُلُوبِنَا، وَأَزْوَاجِنَا، وَذُرِّيَّاتِنَا، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ، وَاجْعَلْنَا شَاكِرِينَ لِنِعَمِكَ مُثْنِينَ بِهَا عَلَيْكَ، قَابِلِينَ لَهَا، وَأَتِمِمْهَا عَلَيْنَا اللَّهُمَّ أَحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِى الأُمُورِ كُلِّهَا وَأَجِرْنَا مِنْ خِزْىِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ أَعْمَلَنَا فِي رَمَضَانَ اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ أَعْمَلَنَا فِي رَمَضَانَ اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ أَعْمَلَنَا فِي رَمَضَانَ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ   تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُم تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُم  تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُم عِيْدُكُمْ مُبَارَكٌ وَعَسَاكُمْ مِنَ العَائِدِيْنَ وَالفَائِزِيْنَ كُلُّ عَامٍ وَأَنْتُمْ بِخَيْرٍ   وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن. وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.   Referensi: Irsyadul Musholli ila Shollu Kama Roaytumuni Usholli. Cetakan pertama, tahun 1435 H. Sulaiman bin Muhammad An-Nashoyyan. Penerbit Dar An-Nashihah. Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Cetakan pertama, tahun 1431 H. Ibnu Katsir. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Tafsir As-Sa’di. Cetakan kedua, tahun 1433 H. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. Penerbit Muassasah Ar-Risalah. — Silakan Download Naskah Khutbah Idul Fithri 1438 H Khutbah Idul Fitri: Bada Ramadhan Meraih Surga Firdaus   — Disusun @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, Malam Jumat, 28 Ramadhan 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsamanat bada ramadhan idul fithri idul fitri istiqomah janji khutbah idul fitri menjaga shalat panduan zakat surga surga firdaus Zakat zina

Khutbah Idul Fitri: Bada Ramadhan Meraih Surga Firdaus

Bada Ramadhan, tekad kita harusnya bisa meraih SURGA FIRDAUS.   Khutbah Pertama   الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ لَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّ وَنُودُوا أَنْ تِلْكُمُ الْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنَ   اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ Allahu akbar, Allahu akbar, laa ilaaha illallah wallahu akbar. Allahu akbar walillahil hamd.   Jama’ah rahimani wa rahimakumullah, jama’ah yang senantiasa dirahmati dan diberkahi oleh Allah … Di hari yang penuh berbahagia ini, 1 Syawal 1438 H … Kita bersyukur pada Allah akan nikmat yang begitu banyak telah dikaruniakan. Walhamdulillah, sebulan penuh kita telah selesai menjalankan ibadah puasa, shalat malam, merenungkan Al-Qur’an hingga memperbanyak sedekah. Saat ini yang dipikirkan adalah bagaimana kita bisa terus mengoreksi diri, lalu menjadi lebih baik selepas Ramadhan, dan terus bisa menjaga amal shalih kita supaya tetap langgeng dan istiqamah.   Untuk tujuan itu, dalam khutbah kali ini, kami ingin memotivasi jama’ah shalat Idul Fithri sekalian mengenai suatu surga yang disebut SURGA FIRDAUS. Kenapa demikian? Agar selepas Ramadhan ini, kita terus semangat beramal, terutama melakukan amalan untuk menggapai surga Firdaus.   Tahu Surga Firdaus? Surga Firdaus adalah surga yang paling utama dan paling tinggi. Disebutkan dalam hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ فِى الْجَنَّةِ مِائَةَ دَرَجَةٍ أَعَدَّهَا اللَّهُ لِلْمُجَاهِدِينَ فِى سَبِيلِهِ ، كُلُّ دَرَجَتَيْنِ مَا بَيْنَهُمَا كَمَا بَيْنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ ، فَإِذَا سَأَلْتُمُ اللَّهَ فَسَلُوهُ الْفِرْدَوْسَ ، فَإِنَّهُ أَوْسَطُ الْجَنَّةِ وَأَعْلَى الْجَنَّةِ ، وَفَوْقَهُ عَرْشُ الرَّحْمَنِ ، وَمِنْهُ تَفَجَّرُ أَنْهَارُ الْجَنَّةِ “Sesungguhnya di surga itu ada 100 tingkatan yang telah Allah janjikan bagi para mujahid di jalan Allah. Jarak antara dua tingkatan adalah bagaikan jarak antara langit dan bumi. Jika kalian ingin meminta pada Allah, mintalah surga Firdaus. Surga Firdaus adalah surga yang paling utama dan paling tinggi, di atasnya adalah ‘Arsy Ar-Rahman, darinya pula mengalir sungai surga.” (HR. Bukhari, no. 7423) Dikatakan oleh sebagian salaf bahwa suatu kebun tidaklah disebut Firdaus melainkan di situ terdapat anggur. (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 5: 452)   اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ Allahu akbar, Allahu akbar, laa ilaaha illallah wallahu akbar. Allahu akbar walillahil hamd.   Jama’ah rahimani wa rahimakumullah …   Bagaimana Memasuki Surga Firdaus? Allah Ta’ala berfirman, قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ (1) الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ (2) وَالَّذِينَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ (3) وَالَّذِينَ هُمْ لِلزَّكَاةِ فَاعِلُونَ (4) وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ (5) إِلَّا عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ (6) فَمَنِ ابْتَغَى وَرَاءَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْعَادُونَ (7) وَالَّذِينَ هُمْ لِأَمَانَاتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُونَ (8) وَالَّذِينَ هُمْ عَلَى صَلَوَاتِهِمْ يُحَافِظُونَ (9) أُولَئِكَ هُمُ الْوَارِثُونَ (10) الَّذِينَ يَرِثُونَ الْفِرْدَوْسَ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ (11) “Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna, dan orang-orang yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada terceIa. Barangsiapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya. dan orang-orang yang memelihara shalatnya. Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi, (yakni) yang akan mewarisi syurga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al-Mu’minun: 1-11)   Jama’ah rahimani wa rahimakumullah …   Dari ayat di atas, untuk masuk dalam surga Firdaus, ada enam sifat yang harus kita miliki.   Pertama: Khusyu’ dalam shalat Khusyu’ artinya berdiri di hadapan Allah dalam keadaan tunduk, merendahkan diri dan tenang. Dulu para sahabat biasa mengangkat pandangannya ke langit-langit dalam shalat. Ketika turun awal surat Al-Mu’minun (ayat 1 dan 2), barulah mereka menundukkan pandangan mereka dengan memandang ke tempat sujud. Ibnu ‘Abbas menyatakan bahwa khusyu’ itu berarti tenang. ‘Ali bin Abi Thalib menyatakan bahwa khusyu’ itu berarti khusyu’nya hati. Al-Hasan Al-Bashri menyatakan bahwa khusyu’ itu dalam hati yang membuat anggota tubuh kita menjadi ikut tunduk. Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 5: 448. Ibnu Katsir rahimahullah menyatakan dalam halaman yang sama bahwa khusyu’ itu bisa digapai jika hati kita tidak memikirkan hal-hal di luar shalat, dan mementingkan shalat saja daripada berbagai perkara di luar shalat. Khusyu’ sendiri ada dua macam, yaitu khusyu’ pada lahiriyah dan khusyu’ dalam batin. Khusyu’ pada lahiriyah bisa digapai dengan keadaan yang tenang dan tidak banyak melakukan gerakan sia-sia dalam shalat (seperti memandang ke langit-langit, menoleh kanan-kiri, banyak gerak yang tidak berguna dan tidak dibutuhkan). Khusyu’ lahiriyah juga bisa dicapai dalam bentuk tidak mendahului, berbarengan dan telat dari imam karena yang diperintahkan adalah mutaba’ah (mengikuti) imam. Khusyu’ dalam batin bisa digapai dengan menghayati kebesaran Allah, memikirkan makna ayat, dzikir dan do’a dalam shalat, dan tidak peduli pada was-was setan. Para ulama katakan bahwa khusyu’ itu dibangun dari dalam batin dan akan berpengaruh pada jawarih (anggota badan). Jika kekhusyu’an dalam hati itu kurang, maka akan nampak pada anggota badan. Namun ingat, menampak-nampakkan diri kita khusyu’ tidak disukai karena tanda ikhlas adalah menyembunyikan kekhusyu’an. (Lihat bahasan dalam kitab Irsyadul Musholli, hlm. 228-229) Semoga Allah menjadikan kita memiliki shalat yang khusyu’ yang jadi suatu kenikmatan dan penyejuk pandangan.   Kedua: Menjauhkan diri dari hal yang tidak berguna Maksudnya di sini adalah menjauhkan diri dari kebatilan, termasuk kesyirikan. Juga termasuk menjauhkan diri dari perkataan dan perbuatan yang tidak berfaedah. Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 5: 449. Syaikh As-Sa’di menyatakan bahwa jika dari yang sia-sia saja dijauhi, maka yang haram lebih pantas dijauhi. Lihat Tafsir As-Sa’di, hlm. 576.   Ketiga: Menunaikan zakat Yang dimaksud di sini adalah menunaikan zakat maal, yaitu zakat dari harta jika memang sudah terpenuhi syarat nishab dan syarat haul (bertahan selama satu tahun). Perintah menunaikan shalat dengan khusyu’ dan menunaikan zakat menunjukkan bahwa kita tidak hanya mementingkan ibadah pada Sang Khaliq, namun juga hendaklah berbuat baik pada sesama dengan menolong yang susah lewat zakat. Lihat Tafsir As-Sa’di, hlm. 576.   Jama’ah rahimani wa rahimakumullah …   Keempat: Menjaga kemaluan dari zina Sifat keempat ini adalah mereka menjaga kemaluannya dari zina. Termasuk dalam hal ini kata Syaikh As-Sa’di rahimahullah adalah menjaga diri hal-hal yang mengantarkan pada zina seperti memandang lawan jenis (dengan syahwat) dan bersentuhan dengan lawan jenis. Kemaluan tadi dijaga pada setiap orang kecuali pada istri dan budak yang halal untuknya. Ini juga jadi dalil kata Syaikh As-Sa’di bahwa nikah mut’ah (kawin kontrak) itu haram seperti yang dilakukan oleh orang Syi’ah (Rafidhah). Pada kawin kontrak yang dinikahi adalah bukan istri sejati yang maksudnya untuk tetap selamanya. Lihat bahasan dalam Tafsir As-Sa’di, hlm. 576. Hakikat nikah mut’ah adalah zina berkedok nikah. Ibnu Katsir menyatakan bahwa ayat ini juga menunjukkan larangan melakukan liwath (hubungan yang dilakukan dengan sesama jenis) seperti yang terjadi di masa Nabi Luth ‘alaihis salam. Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 5: 449. Ayat ini menunjukkan larangan untuk melakukan onani, yaitu mengeluarkan mani secara paksa dengan tangan. Ini jadi dalil dari Imam Syafi’i rahimahullah dikarenakan dalam ayat hanya dibolehkan syahwat dengan kemaluan disalurkan pada istri atau hamba sahaya yang dimiliki. Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 5: 450.   Kelima: Memperhatikan amanat dan janji Sifat orang beriman lagi tidaklah meniru sifat orang munafik. Sifat orang beriman adalah ketika diberi amanat, ia tidak khianat; ketika berjanji dan membuat akad, maka ia menunaikannya. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مِنْ عَلاَمَاتِ الْمُنَافِقِ ثَلاَثَةٌ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ وَإِذَا ائْتُمِنَ خَانَ “Di antara tanda munafik ada tiga: jika berbicara, dusta; jika berjanji, tidak menepati; jika diberi amanat, ia khianat.” (HR. Muslim, no. 59) Dalam riwayat lain disebutkan, آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلاَثٌ وَإِنْ صَامَ وَصَلَّى وَزَعَمَ أَنَّهُ مُسْلِمٌ “Tanda munafik itu ada tiga, walaupun orang tersebut puasa dan mengerjakan shalat, lalu ia mengklaim dirinya muslim.” (HR. Muslim, no. 59)   Jama’ah rahimani wa rahimakumullah …   Keenam: Menjaga shalat Sifat yang terakhir adalah mereka merutinkan shalat pada waktunya. Dalam hadits disebutkan, “Ibnu Mas’ud pernah bertanya pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, أَىُّ الْعَمَلِ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ قَالَ « الصَّلاَةُ عَلَى وَقْتِهَا » . قَالَ ثُمَّ أَىُّ قَالَ « ثُمَّ بِرُّ الْوَالِدَيْنِ » .قَالَ ثُمَّ أَىّ قَالَ « الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ » “Amalan apa yang paling dicintai oleh Allah?” Jawab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Shalat pada waktunya.” “Kemudian apa lagi?” tanya Ibnu Mas’ud. Jawab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Kemudian berbakti pada kedua orang tua.” “Kemudian apa lagi?” tanya Ibnu Mas’ud. Jawab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Jihad di jalan Allah.” (HR. Bukhari, no. 5970 dan Muslim. no. 85)   Kesimpulannya, orang yang beruntung mendapatkan surga Firdaus: 1- Orang yang shalatnya khusyu’. 2- Orang yang menjauhkan diri dari hal yang tidak berguna. 3- Orang yang menunaikan zakat. 4- Menjaga kemaluan dari zina. 5- Memperhatikan amanat dan janji. 6- Orang yang menjaga shalat.   اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ Allahu akbar, Allahu akbar, laa ilaaha illallah wallahu akbar. Allahu akbar walillahil hamd.   Jama’ah shalat Idul Fithri yang semoga senantiasa mendapatkan berkah dari Allah …   Demikian khutbah pertama ini. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا أَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ وَالمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ Khutbah Kedua   أَحْمَدُ رَبِّي وَأَشْكُرُهُ ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ نَبِيَنَا مُحَمَّدٌ عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ Allahu akbar, Allahu akbar, laa ilaaha illallah wallahu akbar. Allahu akbar walillahil hamd.   Jama’ah shalat Idul Fithri yang semoga senantiasa diberkahi oleh Allah …   Coba perhatikan dalam surat Al-Mu’minun ayat 1-11, sifat orang yang memasuki surga Firdaus diawali dengan perkara shalat dan di akhiri pula dengan perkara shalat. Ibnu Katsir menyatakan bahwa itulah yang menunjukkan keutamaan shalat, sebagaimana disebut dalam kitab tafsirnya, 5: 450. Dari Tsauban radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, اسْتَقِيمُوا وَلَنْ تُحْصُوا وَاعْلَمُوا أَنَّ خَيْرَ أَعْمَالِكُمُ الصَّلاَةُ وَلاَ يُحَافِظُ عَلَى الْوُضُوءِ إِلاَّ مُؤْمِنٌ “Istiqamahlah kalian dan sekali-kali kalian tidak akan dapat menghitungnya. Beramallah, sesungguhnya amalan kalian yang paling utama adalah shalat, dan tidak ada yang menjaga wudlu kecuali orang mukmin.” (HR. Ibnu Majah, no. 277) Orang-orang yang memiliki sifat-sifat di atas (ada enam sifat) itulah yang dijanjikan surga Firdaus, أُولَئِكَ هُمُ الْوَارِثُونَ (10) الَّذِينَ يَرِثُونَ الْفِرْدَوْسَ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ (11) “Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi, (yakni) yang akan mewarisi syurga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al-Mu’minun: 1-11) Selepas Ramadhan ini, marilah enam sifat di atas kita gapai, semoga Allah memudahkan kita untuk masuk dalam surga Firdaus, surga yang paling utama dan paling tinggi.   اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ Allahu akbar, Allahu akbar, laa ilaaha illallah wallahu akbar. Allahu akbar walillahil hamd.   Marilah kita tutup khutbah ied kali ini dengan doa, moga Allah perkenankan setiap doa-doa kita di hari yang penuh berbahagia ini.   اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ، وَجَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَسْمَاعِنَا، وَأَبْصَارِنَا، وَقُلُوبِنَا، وَأَزْوَاجِنَا، وَذُرِّيَّاتِنَا، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ، وَاجْعَلْنَا شَاكِرِينَ لِنِعَمِكَ مُثْنِينَ بِهَا عَلَيْكَ، قَابِلِينَ لَهَا، وَأَتِمِمْهَا عَلَيْنَا اللَّهُمَّ أَحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِى الأُمُورِ كُلِّهَا وَأَجِرْنَا مِنْ خِزْىِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ أَعْمَلَنَا فِي رَمَضَانَ اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ أَعْمَلَنَا فِي رَمَضَانَ اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ أَعْمَلَنَا فِي رَمَضَانَ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ   تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُم تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُم  تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُم عِيْدُكُمْ مُبَارَكٌ وَعَسَاكُمْ مِنَ العَائِدِيْنَ وَالفَائِزِيْنَ كُلُّ عَامٍ وَأَنْتُمْ بِخَيْرٍ   وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن. وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.   Referensi: Irsyadul Musholli ila Shollu Kama Roaytumuni Usholli. Cetakan pertama, tahun 1435 H. Sulaiman bin Muhammad An-Nashoyyan. Penerbit Dar An-Nashihah. Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Cetakan pertama, tahun 1431 H. Ibnu Katsir. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Tafsir As-Sa’di. Cetakan kedua, tahun 1433 H. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. Penerbit Muassasah Ar-Risalah. — Silakan Download Naskah Khutbah Idul Fithri 1438 H Khutbah Idul Fitri: Bada Ramadhan Meraih Surga Firdaus   — Disusun @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, Malam Jumat, 28 Ramadhan 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsamanat bada ramadhan idul fithri idul fitri istiqomah janji khutbah idul fitri menjaga shalat panduan zakat surga surga firdaus Zakat zina
Bada Ramadhan, tekad kita harusnya bisa meraih SURGA FIRDAUS.   Khutbah Pertama   الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ لَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّ وَنُودُوا أَنْ تِلْكُمُ الْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنَ   اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ Allahu akbar, Allahu akbar, laa ilaaha illallah wallahu akbar. Allahu akbar walillahil hamd.   Jama’ah rahimani wa rahimakumullah, jama’ah yang senantiasa dirahmati dan diberkahi oleh Allah … Di hari yang penuh berbahagia ini, 1 Syawal 1438 H … Kita bersyukur pada Allah akan nikmat yang begitu banyak telah dikaruniakan. Walhamdulillah, sebulan penuh kita telah selesai menjalankan ibadah puasa, shalat malam, merenungkan Al-Qur’an hingga memperbanyak sedekah. Saat ini yang dipikirkan adalah bagaimana kita bisa terus mengoreksi diri, lalu menjadi lebih baik selepas Ramadhan, dan terus bisa menjaga amal shalih kita supaya tetap langgeng dan istiqamah.   Untuk tujuan itu, dalam khutbah kali ini, kami ingin memotivasi jama’ah shalat Idul Fithri sekalian mengenai suatu surga yang disebut SURGA FIRDAUS. Kenapa demikian? Agar selepas Ramadhan ini, kita terus semangat beramal, terutama melakukan amalan untuk menggapai surga Firdaus.   Tahu Surga Firdaus? Surga Firdaus adalah surga yang paling utama dan paling tinggi. Disebutkan dalam hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ فِى الْجَنَّةِ مِائَةَ دَرَجَةٍ أَعَدَّهَا اللَّهُ لِلْمُجَاهِدِينَ فِى سَبِيلِهِ ، كُلُّ دَرَجَتَيْنِ مَا بَيْنَهُمَا كَمَا بَيْنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ ، فَإِذَا سَأَلْتُمُ اللَّهَ فَسَلُوهُ الْفِرْدَوْسَ ، فَإِنَّهُ أَوْسَطُ الْجَنَّةِ وَأَعْلَى الْجَنَّةِ ، وَفَوْقَهُ عَرْشُ الرَّحْمَنِ ، وَمِنْهُ تَفَجَّرُ أَنْهَارُ الْجَنَّةِ “Sesungguhnya di surga itu ada 100 tingkatan yang telah Allah janjikan bagi para mujahid di jalan Allah. Jarak antara dua tingkatan adalah bagaikan jarak antara langit dan bumi. Jika kalian ingin meminta pada Allah, mintalah surga Firdaus. Surga Firdaus adalah surga yang paling utama dan paling tinggi, di atasnya adalah ‘Arsy Ar-Rahman, darinya pula mengalir sungai surga.” (HR. Bukhari, no. 7423) Dikatakan oleh sebagian salaf bahwa suatu kebun tidaklah disebut Firdaus melainkan di situ terdapat anggur. (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 5: 452)   اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ Allahu akbar, Allahu akbar, laa ilaaha illallah wallahu akbar. Allahu akbar walillahil hamd.   Jama’ah rahimani wa rahimakumullah …   Bagaimana Memasuki Surga Firdaus? Allah Ta’ala berfirman, قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ (1) الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ (2) وَالَّذِينَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ (3) وَالَّذِينَ هُمْ لِلزَّكَاةِ فَاعِلُونَ (4) وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ (5) إِلَّا عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ (6) فَمَنِ ابْتَغَى وَرَاءَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْعَادُونَ (7) وَالَّذِينَ هُمْ لِأَمَانَاتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُونَ (8) وَالَّذِينَ هُمْ عَلَى صَلَوَاتِهِمْ يُحَافِظُونَ (9) أُولَئِكَ هُمُ الْوَارِثُونَ (10) الَّذِينَ يَرِثُونَ الْفِرْدَوْسَ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ (11) “Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna, dan orang-orang yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada terceIa. Barangsiapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya. dan orang-orang yang memelihara shalatnya. Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi, (yakni) yang akan mewarisi syurga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al-Mu’minun: 1-11)   Jama’ah rahimani wa rahimakumullah …   Dari ayat di atas, untuk masuk dalam surga Firdaus, ada enam sifat yang harus kita miliki.   Pertama: Khusyu’ dalam shalat Khusyu’ artinya berdiri di hadapan Allah dalam keadaan tunduk, merendahkan diri dan tenang. Dulu para sahabat biasa mengangkat pandangannya ke langit-langit dalam shalat. Ketika turun awal surat Al-Mu’minun (ayat 1 dan 2), barulah mereka menundukkan pandangan mereka dengan memandang ke tempat sujud. Ibnu ‘Abbas menyatakan bahwa khusyu’ itu berarti tenang. ‘Ali bin Abi Thalib menyatakan bahwa khusyu’ itu berarti khusyu’nya hati. Al-Hasan Al-Bashri menyatakan bahwa khusyu’ itu dalam hati yang membuat anggota tubuh kita menjadi ikut tunduk. Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 5: 448. Ibnu Katsir rahimahullah menyatakan dalam halaman yang sama bahwa khusyu’ itu bisa digapai jika hati kita tidak memikirkan hal-hal di luar shalat, dan mementingkan shalat saja daripada berbagai perkara di luar shalat. Khusyu’ sendiri ada dua macam, yaitu khusyu’ pada lahiriyah dan khusyu’ dalam batin. Khusyu’ pada lahiriyah bisa digapai dengan keadaan yang tenang dan tidak banyak melakukan gerakan sia-sia dalam shalat (seperti memandang ke langit-langit, menoleh kanan-kiri, banyak gerak yang tidak berguna dan tidak dibutuhkan). Khusyu’ lahiriyah juga bisa dicapai dalam bentuk tidak mendahului, berbarengan dan telat dari imam karena yang diperintahkan adalah mutaba’ah (mengikuti) imam. Khusyu’ dalam batin bisa digapai dengan menghayati kebesaran Allah, memikirkan makna ayat, dzikir dan do’a dalam shalat, dan tidak peduli pada was-was setan. Para ulama katakan bahwa khusyu’ itu dibangun dari dalam batin dan akan berpengaruh pada jawarih (anggota badan). Jika kekhusyu’an dalam hati itu kurang, maka akan nampak pada anggota badan. Namun ingat, menampak-nampakkan diri kita khusyu’ tidak disukai karena tanda ikhlas adalah menyembunyikan kekhusyu’an. (Lihat bahasan dalam kitab Irsyadul Musholli, hlm. 228-229) Semoga Allah menjadikan kita memiliki shalat yang khusyu’ yang jadi suatu kenikmatan dan penyejuk pandangan.   Kedua: Menjauhkan diri dari hal yang tidak berguna Maksudnya di sini adalah menjauhkan diri dari kebatilan, termasuk kesyirikan. Juga termasuk menjauhkan diri dari perkataan dan perbuatan yang tidak berfaedah. Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 5: 449. Syaikh As-Sa’di menyatakan bahwa jika dari yang sia-sia saja dijauhi, maka yang haram lebih pantas dijauhi. Lihat Tafsir As-Sa’di, hlm. 576.   Ketiga: Menunaikan zakat Yang dimaksud di sini adalah menunaikan zakat maal, yaitu zakat dari harta jika memang sudah terpenuhi syarat nishab dan syarat haul (bertahan selama satu tahun). Perintah menunaikan shalat dengan khusyu’ dan menunaikan zakat menunjukkan bahwa kita tidak hanya mementingkan ibadah pada Sang Khaliq, namun juga hendaklah berbuat baik pada sesama dengan menolong yang susah lewat zakat. Lihat Tafsir As-Sa’di, hlm. 576.   Jama’ah rahimani wa rahimakumullah …   Keempat: Menjaga kemaluan dari zina Sifat keempat ini adalah mereka menjaga kemaluannya dari zina. Termasuk dalam hal ini kata Syaikh As-Sa’di rahimahullah adalah menjaga diri hal-hal yang mengantarkan pada zina seperti memandang lawan jenis (dengan syahwat) dan bersentuhan dengan lawan jenis. Kemaluan tadi dijaga pada setiap orang kecuali pada istri dan budak yang halal untuknya. Ini juga jadi dalil kata Syaikh As-Sa’di bahwa nikah mut’ah (kawin kontrak) itu haram seperti yang dilakukan oleh orang Syi’ah (Rafidhah). Pada kawin kontrak yang dinikahi adalah bukan istri sejati yang maksudnya untuk tetap selamanya. Lihat bahasan dalam Tafsir As-Sa’di, hlm. 576. Hakikat nikah mut’ah adalah zina berkedok nikah. Ibnu Katsir menyatakan bahwa ayat ini juga menunjukkan larangan melakukan liwath (hubungan yang dilakukan dengan sesama jenis) seperti yang terjadi di masa Nabi Luth ‘alaihis salam. Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 5: 449. Ayat ini menunjukkan larangan untuk melakukan onani, yaitu mengeluarkan mani secara paksa dengan tangan. Ini jadi dalil dari Imam Syafi’i rahimahullah dikarenakan dalam ayat hanya dibolehkan syahwat dengan kemaluan disalurkan pada istri atau hamba sahaya yang dimiliki. Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 5: 450.   Kelima: Memperhatikan amanat dan janji Sifat orang beriman lagi tidaklah meniru sifat orang munafik. Sifat orang beriman adalah ketika diberi amanat, ia tidak khianat; ketika berjanji dan membuat akad, maka ia menunaikannya. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مِنْ عَلاَمَاتِ الْمُنَافِقِ ثَلاَثَةٌ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ وَإِذَا ائْتُمِنَ خَانَ “Di antara tanda munafik ada tiga: jika berbicara, dusta; jika berjanji, tidak menepati; jika diberi amanat, ia khianat.” (HR. Muslim, no. 59) Dalam riwayat lain disebutkan, آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلاَثٌ وَإِنْ صَامَ وَصَلَّى وَزَعَمَ أَنَّهُ مُسْلِمٌ “Tanda munafik itu ada tiga, walaupun orang tersebut puasa dan mengerjakan shalat, lalu ia mengklaim dirinya muslim.” (HR. Muslim, no. 59)   Jama’ah rahimani wa rahimakumullah …   Keenam: Menjaga shalat Sifat yang terakhir adalah mereka merutinkan shalat pada waktunya. Dalam hadits disebutkan, “Ibnu Mas’ud pernah bertanya pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, أَىُّ الْعَمَلِ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ قَالَ « الصَّلاَةُ عَلَى وَقْتِهَا » . قَالَ ثُمَّ أَىُّ قَالَ « ثُمَّ بِرُّ الْوَالِدَيْنِ » .قَالَ ثُمَّ أَىّ قَالَ « الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ » “Amalan apa yang paling dicintai oleh Allah?” Jawab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Shalat pada waktunya.” “Kemudian apa lagi?” tanya Ibnu Mas’ud. Jawab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Kemudian berbakti pada kedua orang tua.” “Kemudian apa lagi?” tanya Ibnu Mas’ud. Jawab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Jihad di jalan Allah.” (HR. Bukhari, no. 5970 dan Muslim. no. 85)   Kesimpulannya, orang yang beruntung mendapatkan surga Firdaus: 1- Orang yang shalatnya khusyu’. 2- Orang yang menjauhkan diri dari hal yang tidak berguna. 3- Orang yang menunaikan zakat. 4- Menjaga kemaluan dari zina. 5- Memperhatikan amanat dan janji. 6- Orang yang menjaga shalat.   اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ Allahu akbar, Allahu akbar, laa ilaaha illallah wallahu akbar. Allahu akbar walillahil hamd.   Jama’ah shalat Idul Fithri yang semoga senantiasa mendapatkan berkah dari Allah …   Demikian khutbah pertama ini. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا أَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ وَالمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ Khutbah Kedua   أَحْمَدُ رَبِّي وَأَشْكُرُهُ ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ نَبِيَنَا مُحَمَّدٌ عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ Allahu akbar, Allahu akbar, laa ilaaha illallah wallahu akbar. Allahu akbar walillahil hamd.   Jama’ah shalat Idul Fithri yang semoga senantiasa diberkahi oleh Allah …   Coba perhatikan dalam surat Al-Mu’minun ayat 1-11, sifat orang yang memasuki surga Firdaus diawali dengan perkara shalat dan di akhiri pula dengan perkara shalat. Ibnu Katsir menyatakan bahwa itulah yang menunjukkan keutamaan shalat, sebagaimana disebut dalam kitab tafsirnya, 5: 450. Dari Tsauban radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, اسْتَقِيمُوا وَلَنْ تُحْصُوا وَاعْلَمُوا أَنَّ خَيْرَ أَعْمَالِكُمُ الصَّلاَةُ وَلاَ يُحَافِظُ عَلَى الْوُضُوءِ إِلاَّ مُؤْمِنٌ “Istiqamahlah kalian dan sekali-kali kalian tidak akan dapat menghitungnya. Beramallah, sesungguhnya amalan kalian yang paling utama adalah shalat, dan tidak ada yang menjaga wudlu kecuali orang mukmin.” (HR. Ibnu Majah, no. 277) Orang-orang yang memiliki sifat-sifat di atas (ada enam sifat) itulah yang dijanjikan surga Firdaus, أُولَئِكَ هُمُ الْوَارِثُونَ (10) الَّذِينَ يَرِثُونَ الْفِرْدَوْسَ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ (11) “Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi, (yakni) yang akan mewarisi syurga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al-Mu’minun: 1-11) Selepas Ramadhan ini, marilah enam sifat di atas kita gapai, semoga Allah memudahkan kita untuk masuk dalam surga Firdaus, surga yang paling utama dan paling tinggi.   اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ Allahu akbar, Allahu akbar, laa ilaaha illallah wallahu akbar. Allahu akbar walillahil hamd.   Marilah kita tutup khutbah ied kali ini dengan doa, moga Allah perkenankan setiap doa-doa kita di hari yang penuh berbahagia ini.   اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ، وَجَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَسْمَاعِنَا، وَأَبْصَارِنَا، وَقُلُوبِنَا، وَأَزْوَاجِنَا، وَذُرِّيَّاتِنَا، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ، وَاجْعَلْنَا شَاكِرِينَ لِنِعَمِكَ مُثْنِينَ بِهَا عَلَيْكَ، قَابِلِينَ لَهَا، وَأَتِمِمْهَا عَلَيْنَا اللَّهُمَّ أَحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِى الأُمُورِ كُلِّهَا وَأَجِرْنَا مِنْ خِزْىِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ أَعْمَلَنَا فِي رَمَضَانَ اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ أَعْمَلَنَا فِي رَمَضَانَ اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ أَعْمَلَنَا فِي رَمَضَانَ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ   تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُم تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُم  تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُم عِيْدُكُمْ مُبَارَكٌ وَعَسَاكُمْ مِنَ العَائِدِيْنَ وَالفَائِزِيْنَ كُلُّ عَامٍ وَأَنْتُمْ بِخَيْرٍ   وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن. وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.   Referensi: Irsyadul Musholli ila Shollu Kama Roaytumuni Usholli. Cetakan pertama, tahun 1435 H. Sulaiman bin Muhammad An-Nashoyyan. Penerbit Dar An-Nashihah. Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Cetakan pertama, tahun 1431 H. Ibnu Katsir. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Tafsir As-Sa’di. Cetakan kedua, tahun 1433 H. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. Penerbit Muassasah Ar-Risalah. — Silakan Download Naskah Khutbah Idul Fithri 1438 H Khutbah Idul Fitri: Bada Ramadhan Meraih Surga Firdaus   — Disusun @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, Malam Jumat, 28 Ramadhan 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsamanat bada ramadhan idul fithri idul fitri istiqomah janji khutbah idul fitri menjaga shalat panduan zakat surga surga firdaus Zakat zina


Bada Ramadhan, tekad kita harusnya bisa meraih SURGA FIRDAUS.   Khutbah Pertama   الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ لَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّ وَنُودُوا أَنْ تِلْكُمُ الْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنَ   اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ Allahu akbar, Allahu akbar, laa ilaaha illallah wallahu akbar. Allahu akbar walillahil hamd.   Jama’ah rahimani wa rahimakumullah, jama’ah yang senantiasa dirahmati dan diberkahi oleh Allah … Di hari yang penuh berbahagia ini, 1 Syawal 1438 H … Kita bersyukur pada Allah akan nikmat yang begitu banyak telah dikaruniakan. Walhamdulillah, sebulan penuh kita telah selesai menjalankan ibadah puasa, shalat malam, merenungkan Al-Qur’an hingga memperbanyak sedekah. Saat ini yang dipikirkan adalah bagaimana kita bisa terus mengoreksi diri, lalu menjadi lebih baik selepas Ramadhan, dan terus bisa menjaga amal shalih kita supaya tetap langgeng dan istiqamah.   Untuk tujuan itu, dalam khutbah kali ini, kami ingin memotivasi jama’ah shalat Idul Fithri sekalian mengenai suatu surga yang disebut SURGA FIRDAUS. Kenapa demikian? Agar selepas Ramadhan ini, kita terus semangat beramal, terutama melakukan amalan untuk menggapai surga Firdaus.   Tahu Surga Firdaus? Surga Firdaus adalah surga yang paling utama dan paling tinggi. Disebutkan dalam hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ فِى الْجَنَّةِ مِائَةَ دَرَجَةٍ أَعَدَّهَا اللَّهُ لِلْمُجَاهِدِينَ فِى سَبِيلِهِ ، كُلُّ دَرَجَتَيْنِ مَا بَيْنَهُمَا كَمَا بَيْنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ ، فَإِذَا سَأَلْتُمُ اللَّهَ فَسَلُوهُ الْفِرْدَوْسَ ، فَإِنَّهُ أَوْسَطُ الْجَنَّةِ وَأَعْلَى الْجَنَّةِ ، وَفَوْقَهُ عَرْشُ الرَّحْمَنِ ، وَمِنْهُ تَفَجَّرُ أَنْهَارُ الْجَنَّةِ “Sesungguhnya di surga itu ada 100 tingkatan yang telah Allah janjikan bagi para mujahid di jalan Allah. Jarak antara dua tingkatan adalah bagaikan jarak antara langit dan bumi. Jika kalian ingin meminta pada Allah, mintalah surga Firdaus. Surga Firdaus adalah surga yang paling utama dan paling tinggi, di atasnya adalah ‘Arsy Ar-Rahman, darinya pula mengalir sungai surga.” (HR. Bukhari, no. 7423) Dikatakan oleh sebagian salaf bahwa suatu kebun tidaklah disebut Firdaus melainkan di situ terdapat anggur. (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 5: 452)   اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ Allahu akbar, Allahu akbar, laa ilaaha illallah wallahu akbar. Allahu akbar walillahil hamd.   Jama’ah rahimani wa rahimakumullah …   Bagaimana Memasuki Surga Firdaus? Allah Ta’ala berfirman, قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ (1) الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ (2) وَالَّذِينَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ (3) وَالَّذِينَ هُمْ لِلزَّكَاةِ فَاعِلُونَ (4) وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ (5) إِلَّا عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ (6) فَمَنِ ابْتَغَى وَرَاءَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْعَادُونَ (7) وَالَّذِينَ هُمْ لِأَمَانَاتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُونَ (8) وَالَّذِينَ هُمْ عَلَى صَلَوَاتِهِمْ يُحَافِظُونَ (9) أُولَئِكَ هُمُ الْوَارِثُونَ (10) الَّذِينَ يَرِثُونَ الْفِرْدَوْسَ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ (11) “Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna, dan orang-orang yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada terceIa. Barangsiapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya. dan orang-orang yang memelihara shalatnya. Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi, (yakni) yang akan mewarisi syurga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al-Mu’minun: 1-11)   Jama’ah rahimani wa rahimakumullah …   Dari ayat di atas, untuk masuk dalam surga Firdaus, ada enam sifat yang harus kita miliki.   Pertama: Khusyu’ dalam shalat Khusyu’ artinya berdiri di hadapan Allah dalam keadaan tunduk, merendahkan diri dan tenang. Dulu para sahabat biasa mengangkat pandangannya ke langit-langit dalam shalat. Ketika turun awal surat Al-Mu’minun (ayat 1 dan 2), barulah mereka menundukkan pandangan mereka dengan memandang ke tempat sujud. Ibnu ‘Abbas menyatakan bahwa khusyu’ itu berarti tenang. ‘Ali bin Abi Thalib menyatakan bahwa khusyu’ itu berarti khusyu’nya hati. Al-Hasan Al-Bashri menyatakan bahwa khusyu’ itu dalam hati yang membuat anggota tubuh kita menjadi ikut tunduk. Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 5: 448. Ibnu Katsir rahimahullah menyatakan dalam halaman yang sama bahwa khusyu’ itu bisa digapai jika hati kita tidak memikirkan hal-hal di luar shalat, dan mementingkan shalat saja daripada berbagai perkara di luar shalat. Khusyu’ sendiri ada dua macam, yaitu khusyu’ pada lahiriyah dan khusyu’ dalam batin. Khusyu’ pada lahiriyah bisa digapai dengan keadaan yang tenang dan tidak banyak melakukan gerakan sia-sia dalam shalat (seperti memandang ke langit-langit, menoleh kanan-kiri, banyak gerak yang tidak berguna dan tidak dibutuhkan). Khusyu’ lahiriyah juga bisa dicapai dalam bentuk tidak mendahului, berbarengan dan telat dari imam karena yang diperintahkan adalah mutaba’ah (mengikuti) imam. Khusyu’ dalam batin bisa digapai dengan menghayati kebesaran Allah, memikirkan makna ayat, dzikir dan do’a dalam shalat, dan tidak peduli pada was-was setan. Para ulama katakan bahwa khusyu’ itu dibangun dari dalam batin dan akan berpengaruh pada jawarih (anggota badan). Jika kekhusyu’an dalam hati itu kurang, maka akan nampak pada anggota badan. Namun ingat, menampak-nampakkan diri kita khusyu’ tidak disukai karena tanda ikhlas adalah menyembunyikan kekhusyu’an. (Lihat bahasan dalam kitab Irsyadul Musholli, hlm. 228-229) Semoga Allah menjadikan kita memiliki shalat yang khusyu’ yang jadi suatu kenikmatan dan penyejuk pandangan.   Kedua: Menjauhkan diri dari hal yang tidak berguna Maksudnya di sini adalah menjauhkan diri dari kebatilan, termasuk kesyirikan. Juga termasuk menjauhkan diri dari perkataan dan perbuatan yang tidak berfaedah. Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 5: 449. Syaikh As-Sa’di menyatakan bahwa jika dari yang sia-sia saja dijauhi, maka yang haram lebih pantas dijauhi. Lihat Tafsir As-Sa’di, hlm. 576.   Ketiga: Menunaikan zakat Yang dimaksud di sini adalah menunaikan zakat maal, yaitu zakat dari harta jika memang sudah terpenuhi syarat nishab dan syarat haul (bertahan selama satu tahun). Perintah menunaikan shalat dengan khusyu’ dan menunaikan zakat menunjukkan bahwa kita tidak hanya mementingkan ibadah pada Sang Khaliq, namun juga hendaklah berbuat baik pada sesama dengan menolong yang susah lewat zakat. Lihat Tafsir As-Sa’di, hlm. 576.   Jama’ah rahimani wa rahimakumullah …   Keempat: Menjaga kemaluan dari zina Sifat keempat ini adalah mereka menjaga kemaluannya dari zina. Termasuk dalam hal ini kata Syaikh As-Sa’di rahimahullah adalah menjaga diri hal-hal yang mengantarkan pada zina seperti memandang lawan jenis (dengan syahwat) dan bersentuhan dengan lawan jenis. Kemaluan tadi dijaga pada setiap orang kecuali pada istri dan budak yang halal untuknya. Ini juga jadi dalil kata Syaikh As-Sa’di bahwa nikah mut’ah (kawin kontrak) itu haram seperti yang dilakukan oleh orang Syi’ah (Rafidhah). Pada kawin kontrak yang dinikahi adalah bukan istri sejati yang maksudnya untuk tetap selamanya. Lihat bahasan dalam Tafsir As-Sa’di, hlm. 576. Hakikat nikah mut’ah adalah zina berkedok nikah. Ibnu Katsir menyatakan bahwa ayat ini juga menunjukkan larangan melakukan liwath (hubungan yang dilakukan dengan sesama jenis) seperti yang terjadi di masa Nabi Luth ‘alaihis salam. Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 5: 449. Ayat ini menunjukkan larangan untuk melakukan onani, yaitu mengeluarkan mani secara paksa dengan tangan. Ini jadi dalil dari Imam Syafi’i rahimahullah dikarenakan dalam ayat hanya dibolehkan syahwat dengan kemaluan disalurkan pada istri atau hamba sahaya yang dimiliki. Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 5: 450.   Kelima: Memperhatikan amanat dan janji Sifat orang beriman lagi tidaklah meniru sifat orang munafik. Sifat orang beriman adalah ketika diberi amanat, ia tidak khianat; ketika berjanji dan membuat akad, maka ia menunaikannya. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مِنْ عَلاَمَاتِ الْمُنَافِقِ ثَلاَثَةٌ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ وَإِذَا ائْتُمِنَ خَانَ “Di antara tanda munafik ada tiga: jika berbicara, dusta; jika berjanji, tidak menepati; jika diberi amanat, ia khianat.” (HR. Muslim, no. 59) Dalam riwayat lain disebutkan, آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلاَثٌ وَإِنْ صَامَ وَصَلَّى وَزَعَمَ أَنَّهُ مُسْلِمٌ “Tanda munafik itu ada tiga, walaupun orang tersebut puasa dan mengerjakan shalat, lalu ia mengklaim dirinya muslim.” (HR. Muslim, no. 59)   Jama’ah rahimani wa rahimakumullah …   Keenam: Menjaga shalat Sifat yang terakhir adalah mereka merutinkan shalat pada waktunya. Dalam hadits disebutkan, “Ibnu Mas’ud pernah bertanya pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, أَىُّ الْعَمَلِ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ قَالَ « الصَّلاَةُ عَلَى وَقْتِهَا » . قَالَ ثُمَّ أَىُّ قَالَ « ثُمَّ بِرُّ الْوَالِدَيْنِ » .قَالَ ثُمَّ أَىّ قَالَ « الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ » “Amalan apa yang paling dicintai oleh Allah?” Jawab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Shalat pada waktunya.” “Kemudian apa lagi?” tanya Ibnu Mas’ud. Jawab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Kemudian berbakti pada kedua orang tua.” “Kemudian apa lagi?” tanya Ibnu Mas’ud. Jawab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Jihad di jalan Allah.” (HR. Bukhari, no. 5970 dan Muslim. no. 85)   Kesimpulannya, orang yang beruntung mendapatkan surga Firdaus: 1- Orang yang shalatnya khusyu’. 2- Orang yang menjauhkan diri dari hal yang tidak berguna. 3- Orang yang menunaikan zakat. 4- Menjaga kemaluan dari zina. 5- Memperhatikan amanat dan janji. 6- Orang yang menjaga shalat.   اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ Allahu akbar, Allahu akbar, laa ilaaha illallah wallahu akbar. Allahu akbar walillahil hamd.   Jama’ah shalat Idul Fithri yang semoga senantiasa mendapatkan berkah dari Allah …   Demikian khutbah pertama ini. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا أَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ وَالمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ Khutbah Kedua   أَحْمَدُ رَبِّي وَأَشْكُرُهُ ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ نَبِيَنَا مُحَمَّدٌ عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ Allahu akbar, Allahu akbar, laa ilaaha illallah wallahu akbar. Allahu akbar walillahil hamd.   Jama’ah shalat Idul Fithri yang semoga senantiasa diberkahi oleh Allah …   Coba perhatikan dalam surat Al-Mu’minun ayat 1-11, sifat orang yang memasuki surga Firdaus diawali dengan perkara shalat dan di akhiri pula dengan perkara shalat. Ibnu Katsir menyatakan bahwa itulah yang menunjukkan keutamaan shalat, sebagaimana disebut dalam kitab tafsirnya, 5: 450. Dari Tsauban radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, اسْتَقِيمُوا وَلَنْ تُحْصُوا وَاعْلَمُوا أَنَّ خَيْرَ أَعْمَالِكُمُ الصَّلاَةُ وَلاَ يُحَافِظُ عَلَى الْوُضُوءِ إِلاَّ مُؤْمِنٌ “Istiqamahlah kalian dan sekali-kali kalian tidak akan dapat menghitungnya. Beramallah, sesungguhnya amalan kalian yang paling utama adalah shalat, dan tidak ada yang menjaga wudlu kecuali orang mukmin.” (HR. Ibnu Majah, no. 277) Orang-orang yang memiliki sifat-sifat di atas (ada enam sifat) itulah yang dijanjikan surga Firdaus, أُولَئِكَ هُمُ الْوَارِثُونَ (10) الَّذِينَ يَرِثُونَ الْفِرْدَوْسَ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ (11) “Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi, (yakni) yang akan mewarisi syurga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al-Mu’minun: 1-11) Selepas Ramadhan ini, marilah enam sifat di atas kita gapai, semoga Allah memudahkan kita untuk masuk dalam surga Firdaus, surga yang paling utama dan paling tinggi.   اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ Allahu akbar, Allahu akbar, laa ilaaha illallah wallahu akbar. Allahu akbar walillahil hamd.   Marilah kita tutup khutbah ied kali ini dengan doa, moga Allah perkenankan setiap doa-doa kita di hari yang penuh berbahagia ini.   اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ، وَجَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَسْمَاعِنَا، وَأَبْصَارِنَا، وَقُلُوبِنَا، وَأَزْوَاجِنَا، وَذُرِّيَّاتِنَا، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ، وَاجْعَلْنَا شَاكِرِينَ لِنِعَمِكَ مُثْنِينَ بِهَا عَلَيْكَ، قَابِلِينَ لَهَا، وَأَتِمِمْهَا عَلَيْنَا اللَّهُمَّ أَحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِى الأُمُورِ كُلِّهَا وَأَجِرْنَا مِنْ خِزْىِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ أَعْمَلَنَا فِي رَمَضَانَ اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ أَعْمَلَنَا فِي رَمَضَانَ اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ أَعْمَلَنَا فِي رَمَضَانَ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ   تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُم تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُم  تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُم عِيْدُكُمْ مُبَارَكٌ وَعَسَاكُمْ مِنَ العَائِدِيْنَ وَالفَائِزِيْنَ كُلُّ عَامٍ وَأَنْتُمْ بِخَيْرٍ   وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن. وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.   Referensi: Irsyadul Musholli ila Shollu Kama Roaytumuni Usholli. Cetakan pertama, tahun 1435 H. Sulaiman bin Muhammad An-Nashoyyan. Penerbit Dar An-Nashihah. Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Cetakan pertama, tahun 1431 H. Ibnu Katsir. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Tafsir As-Sa’di. Cetakan kedua, tahun 1433 H. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. Penerbit Muassasah Ar-Risalah. — Silakan Download Naskah Khutbah Idul Fithri 1438 H Khutbah Idul Fitri: Bada Ramadhan Meraih Surga Firdaus   — Disusun @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, Malam Jumat, 28 Ramadhan 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsamanat bada ramadhan idul fithri idul fitri istiqomah janji khutbah idul fitri menjaga shalat panduan zakat surga surga firdaus Zakat zina

Renungan #24, Belajar Agama ataukah Pergi Jihad?

Belajar agama ataukah pergi jihad? Allah Ta’ala berfirman, وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ “Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.” (QS. At-Taubah: 122)   Faedah dari ayat di atas: 1- Tidak semua kaum muslimin pergi ke medan perang karena hal itu akan membuat banyak kebaikan akan luput. Dalam keadaan diwajibkannya jihad, mesti ada yang menetap. 2- Hendaklah ada yang mempelajari ilmu agama, tidak semua turun untuk pergi berjihad. 3- Mempelajari ilmu agama itu penting, tujuannya untuk mengajarkan yang lain setelah mereka pulang dari jihad. 4- Ayat ini menunjukkan keutamaan ilmu agama, karena mesti ada orang yang mendalami ilmu agama, walau pergi berjihad itu baik. 5- Seorang ‘alim (yang berilmu) tidak hanya mencukupkan dirinya sendiri, tidak mau mendakwahkan ilmunya pada yang lain. Penting untuk berdakwah dengan hikmah dan memberi nasihat dengan cara yang baik. 6- Belajar agama yang nantinya akan didakwahkan punya manfaat yang luas untuk maslahat orang banyak. Setiap yang belajar hendaklah meniatkan belajarnya untuk memberikan manfaat pada orang lain. Mau pergi jihad ataukah belajar ilmu agama? Lihat dan renungkan lagi bahasan di atas. Belajar agama punya manfaat untuk setiap waktu, sedangkan jihad itu hanya pada moment tertentu saja. Semoga jadi renungan. Coba pikirkan, kita terus mendengungkan jihad, namun mana semangat kita mendalami agama? Bukankah berjihad mesti butuh ilmu diin dahulu?   Referensi: Tafsir As-Sa’di. Cetakan kedua, tahun 1433 H. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. Penerbit Muassasah Ar-Risalah. — Disusun @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, Senin Sore, 24 Ramadhan 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsbelajar belajar agama jihad renungan ayat renungan quran

Renungan #24, Belajar Agama ataukah Pergi Jihad?

Belajar agama ataukah pergi jihad? Allah Ta’ala berfirman, وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ “Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.” (QS. At-Taubah: 122)   Faedah dari ayat di atas: 1- Tidak semua kaum muslimin pergi ke medan perang karena hal itu akan membuat banyak kebaikan akan luput. Dalam keadaan diwajibkannya jihad, mesti ada yang menetap. 2- Hendaklah ada yang mempelajari ilmu agama, tidak semua turun untuk pergi berjihad. 3- Mempelajari ilmu agama itu penting, tujuannya untuk mengajarkan yang lain setelah mereka pulang dari jihad. 4- Ayat ini menunjukkan keutamaan ilmu agama, karena mesti ada orang yang mendalami ilmu agama, walau pergi berjihad itu baik. 5- Seorang ‘alim (yang berilmu) tidak hanya mencukupkan dirinya sendiri, tidak mau mendakwahkan ilmunya pada yang lain. Penting untuk berdakwah dengan hikmah dan memberi nasihat dengan cara yang baik. 6- Belajar agama yang nantinya akan didakwahkan punya manfaat yang luas untuk maslahat orang banyak. Setiap yang belajar hendaklah meniatkan belajarnya untuk memberikan manfaat pada orang lain. Mau pergi jihad ataukah belajar ilmu agama? Lihat dan renungkan lagi bahasan di atas. Belajar agama punya manfaat untuk setiap waktu, sedangkan jihad itu hanya pada moment tertentu saja. Semoga jadi renungan. Coba pikirkan, kita terus mendengungkan jihad, namun mana semangat kita mendalami agama? Bukankah berjihad mesti butuh ilmu diin dahulu?   Referensi: Tafsir As-Sa’di. Cetakan kedua, tahun 1433 H. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. Penerbit Muassasah Ar-Risalah. — Disusun @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, Senin Sore, 24 Ramadhan 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsbelajar belajar agama jihad renungan ayat renungan quran
Belajar agama ataukah pergi jihad? Allah Ta’ala berfirman, وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ “Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.” (QS. At-Taubah: 122)   Faedah dari ayat di atas: 1- Tidak semua kaum muslimin pergi ke medan perang karena hal itu akan membuat banyak kebaikan akan luput. Dalam keadaan diwajibkannya jihad, mesti ada yang menetap. 2- Hendaklah ada yang mempelajari ilmu agama, tidak semua turun untuk pergi berjihad. 3- Mempelajari ilmu agama itu penting, tujuannya untuk mengajarkan yang lain setelah mereka pulang dari jihad. 4- Ayat ini menunjukkan keutamaan ilmu agama, karena mesti ada orang yang mendalami ilmu agama, walau pergi berjihad itu baik. 5- Seorang ‘alim (yang berilmu) tidak hanya mencukupkan dirinya sendiri, tidak mau mendakwahkan ilmunya pada yang lain. Penting untuk berdakwah dengan hikmah dan memberi nasihat dengan cara yang baik. 6- Belajar agama yang nantinya akan didakwahkan punya manfaat yang luas untuk maslahat orang banyak. Setiap yang belajar hendaklah meniatkan belajarnya untuk memberikan manfaat pada orang lain. Mau pergi jihad ataukah belajar ilmu agama? Lihat dan renungkan lagi bahasan di atas. Belajar agama punya manfaat untuk setiap waktu, sedangkan jihad itu hanya pada moment tertentu saja. Semoga jadi renungan. Coba pikirkan, kita terus mendengungkan jihad, namun mana semangat kita mendalami agama? Bukankah berjihad mesti butuh ilmu diin dahulu?   Referensi: Tafsir As-Sa’di. Cetakan kedua, tahun 1433 H. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. Penerbit Muassasah Ar-Risalah. — Disusun @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, Senin Sore, 24 Ramadhan 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsbelajar belajar agama jihad renungan ayat renungan quran


Belajar agama ataukah pergi jihad? Allah Ta’ala berfirman, وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ “Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.” (QS. At-Taubah: 122)   Faedah dari ayat di atas: 1- Tidak semua kaum muslimin pergi ke medan perang karena hal itu akan membuat banyak kebaikan akan luput. Dalam keadaan diwajibkannya jihad, mesti ada yang menetap. 2- Hendaklah ada yang mempelajari ilmu agama, tidak semua turun untuk pergi berjihad. 3- Mempelajari ilmu agama itu penting, tujuannya untuk mengajarkan yang lain setelah mereka pulang dari jihad. 4- Ayat ini menunjukkan keutamaan ilmu agama, karena mesti ada orang yang mendalami ilmu agama, walau pergi berjihad itu baik. 5- Seorang ‘alim (yang berilmu) tidak hanya mencukupkan dirinya sendiri, tidak mau mendakwahkan ilmunya pada yang lain. Penting untuk berdakwah dengan hikmah dan memberi nasihat dengan cara yang baik. 6- Belajar agama yang nantinya akan didakwahkan punya manfaat yang luas untuk maslahat orang banyak. Setiap yang belajar hendaklah meniatkan belajarnya untuk memberikan manfaat pada orang lain. Mau pergi jihad ataukah belajar ilmu agama? Lihat dan renungkan lagi bahasan di atas. Belajar agama punya manfaat untuk setiap waktu, sedangkan jihad itu hanya pada moment tertentu saja. Semoga jadi renungan. Coba pikirkan, kita terus mendengungkan jihad, namun mana semangat kita mendalami agama? Bukankah berjihad mesti butuh ilmu diin dahulu?   Referensi: Tafsir As-Sa’di. Cetakan kedua, tahun 1433 H. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. Penerbit Muassasah Ar-Risalah. — Disusun @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, Senin Sore, 24 Ramadhan 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsbelajar belajar agama jihad renungan ayat renungan quran

Renungan #23, Dengan Membaca Ayat Ini, Moga Sadar untuk Bayar Zakat

Sudahkah kita memanfaatkan harta dengan benar? Allah Ta’ala berfirman, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنَّ كَثِيرًا مِنَ الْأَحْبَارِ وَالرُّهْبَانِ لَيَأْكُلُونَ أَمْوَالَ النَّاسِ بِالْبَاطِلِ وَيَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ وَالَّذِينَ يَكْنِزُونَ الذَّهَبَ وَالْفِضَّةَ وَلَا يُنْفِقُونَهَا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَبَشِّرْهُمْ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ (34) يَوْمَ يُحْمَى عَلَيْهَا فِي نَارِ جَهَنَّمَ فَتُكْوَى بِهَا جِبَاهُهُمْ وَجُنُوبُهُمْ وَظُهُورُهُمْ هَذَا مَا كَنَزْتُمْ لِأَنْفُسِكُمْ فَذُوقُوا مَا كُنْتُمْ تَكْنِزُونَ (35) “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya sebahagian besar dari orang-orang alim Yahudi dan rahib-rahib Nashrani benar-benar memakan harta orang dengan jalan batil dan mereka menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah. Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih, pada hari dipanaskan emas perak itu dalam neraka jahannam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka: “Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu.” (QS. At-Taubah: 34-35) Faedah yang terdapat dalam ayat ini: 1- Ayat ini menjelaskan peringatan pada orang beriman, mereka diingatkan tentang kelakuan al-ahbar dan ar-ruhban, yaitu ulama Yahudi dan pendeta Nashrani. Hal ini diingatkan agar kaum muslimin tidak mengikutinya. 2- Ada dua hal yang diingatkan terkait dengan kelakukan ulama Yahudi dan pendeta Nashrani: Mengambil harta orang lain dengan cara tidak benar. Menyesatkan manusia dari jalan Allah. 3- Ayat ini memeringatkan tentang dua hal penyimpangan terkait dengan harta: Memakan harta dengan cara yang batil seperti mengeluarkan harta untuk maksiat dan syahwat yang tidak menolong dalam ketaatan pada Allah, juga menyesatkan manusia dari jalan Allah. Menahan harta dan tidak mau mengeluarkan untuk yang wajib. 4- Ayat ini menunjukkan ancaman bagi orang yang menahan hartanya, enggan dikeluarkan untuk zakat, nafkah keluarga, nafkah untuk kerabat hingga pada nafkah jalan fii sabilillah jika itu wajib. 5- Setiap orang yang enggan mengeluarkan hartanya untuk hal wajib, maka akan disiksa dengan hartanya sendiri. 6- Dua sifat yang mesti dijauhi: (a) tidak amanah dalam memanfaatkan harta, (b) tidak pelit dalam mengeluarkan harta untuk yang wajib. Silakan jadikan bahan renungan. Sudah benarkah kita dalam memanfaatkan harta kita? Moga kita sadar, ada hak orang lain dalam harta kita.   Referensi: Tafsir As-Sa’di. Cetakan kedua, tahun 1433 H. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. Penerbit Muassasah Ar-Risalah. — Disusun @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 24 Ramadhan 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagspanduan zakat renungan ayat renungan quran sedekah Zakat

Renungan #23, Dengan Membaca Ayat Ini, Moga Sadar untuk Bayar Zakat

Sudahkah kita memanfaatkan harta dengan benar? Allah Ta’ala berfirman, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنَّ كَثِيرًا مِنَ الْأَحْبَارِ وَالرُّهْبَانِ لَيَأْكُلُونَ أَمْوَالَ النَّاسِ بِالْبَاطِلِ وَيَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ وَالَّذِينَ يَكْنِزُونَ الذَّهَبَ وَالْفِضَّةَ وَلَا يُنْفِقُونَهَا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَبَشِّرْهُمْ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ (34) يَوْمَ يُحْمَى عَلَيْهَا فِي نَارِ جَهَنَّمَ فَتُكْوَى بِهَا جِبَاهُهُمْ وَجُنُوبُهُمْ وَظُهُورُهُمْ هَذَا مَا كَنَزْتُمْ لِأَنْفُسِكُمْ فَذُوقُوا مَا كُنْتُمْ تَكْنِزُونَ (35) “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya sebahagian besar dari orang-orang alim Yahudi dan rahib-rahib Nashrani benar-benar memakan harta orang dengan jalan batil dan mereka menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah. Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih, pada hari dipanaskan emas perak itu dalam neraka jahannam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka: “Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu.” (QS. At-Taubah: 34-35) Faedah yang terdapat dalam ayat ini: 1- Ayat ini menjelaskan peringatan pada orang beriman, mereka diingatkan tentang kelakuan al-ahbar dan ar-ruhban, yaitu ulama Yahudi dan pendeta Nashrani. Hal ini diingatkan agar kaum muslimin tidak mengikutinya. 2- Ada dua hal yang diingatkan terkait dengan kelakukan ulama Yahudi dan pendeta Nashrani: Mengambil harta orang lain dengan cara tidak benar. Menyesatkan manusia dari jalan Allah. 3- Ayat ini memeringatkan tentang dua hal penyimpangan terkait dengan harta: Memakan harta dengan cara yang batil seperti mengeluarkan harta untuk maksiat dan syahwat yang tidak menolong dalam ketaatan pada Allah, juga menyesatkan manusia dari jalan Allah. Menahan harta dan tidak mau mengeluarkan untuk yang wajib. 4- Ayat ini menunjukkan ancaman bagi orang yang menahan hartanya, enggan dikeluarkan untuk zakat, nafkah keluarga, nafkah untuk kerabat hingga pada nafkah jalan fii sabilillah jika itu wajib. 5- Setiap orang yang enggan mengeluarkan hartanya untuk hal wajib, maka akan disiksa dengan hartanya sendiri. 6- Dua sifat yang mesti dijauhi: (a) tidak amanah dalam memanfaatkan harta, (b) tidak pelit dalam mengeluarkan harta untuk yang wajib. Silakan jadikan bahan renungan. Sudah benarkah kita dalam memanfaatkan harta kita? Moga kita sadar, ada hak orang lain dalam harta kita.   Referensi: Tafsir As-Sa’di. Cetakan kedua, tahun 1433 H. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. Penerbit Muassasah Ar-Risalah. — Disusun @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 24 Ramadhan 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagspanduan zakat renungan ayat renungan quran sedekah Zakat
Sudahkah kita memanfaatkan harta dengan benar? Allah Ta’ala berfirman, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنَّ كَثِيرًا مِنَ الْأَحْبَارِ وَالرُّهْبَانِ لَيَأْكُلُونَ أَمْوَالَ النَّاسِ بِالْبَاطِلِ وَيَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ وَالَّذِينَ يَكْنِزُونَ الذَّهَبَ وَالْفِضَّةَ وَلَا يُنْفِقُونَهَا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَبَشِّرْهُمْ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ (34) يَوْمَ يُحْمَى عَلَيْهَا فِي نَارِ جَهَنَّمَ فَتُكْوَى بِهَا جِبَاهُهُمْ وَجُنُوبُهُمْ وَظُهُورُهُمْ هَذَا مَا كَنَزْتُمْ لِأَنْفُسِكُمْ فَذُوقُوا مَا كُنْتُمْ تَكْنِزُونَ (35) “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya sebahagian besar dari orang-orang alim Yahudi dan rahib-rahib Nashrani benar-benar memakan harta orang dengan jalan batil dan mereka menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah. Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih, pada hari dipanaskan emas perak itu dalam neraka jahannam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka: “Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu.” (QS. At-Taubah: 34-35) Faedah yang terdapat dalam ayat ini: 1- Ayat ini menjelaskan peringatan pada orang beriman, mereka diingatkan tentang kelakuan al-ahbar dan ar-ruhban, yaitu ulama Yahudi dan pendeta Nashrani. Hal ini diingatkan agar kaum muslimin tidak mengikutinya. 2- Ada dua hal yang diingatkan terkait dengan kelakukan ulama Yahudi dan pendeta Nashrani: Mengambil harta orang lain dengan cara tidak benar. Menyesatkan manusia dari jalan Allah. 3- Ayat ini memeringatkan tentang dua hal penyimpangan terkait dengan harta: Memakan harta dengan cara yang batil seperti mengeluarkan harta untuk maksiat dan syahwat yang tidak menolong dalam ketaatan pada Allah, juga menyesatkan manusia dari jalan Allah. Menahan harta dan tidak mau mengeluarkan untuk yang wajib. 4- Ayat ini menunjukkan ancaman bagi orang yang menahan hartanya, enggan dikeluarkan untuk zakat, nafkah keluarga, nafkah untuk kerabat hingga pada nafkah jalan fii sabilillah jika itu wajib. 5- Setiap orang yang enggan mengeluarkan hartanya untuk hal wajib, maka akan disiksa dengan hartanya sendiri. 6- Dua sifat yang mesti dijauhi: (a) tidak amanah dalam memanfaatkan harta, (b) tidak pelit dalam mengeluarkan harta untuk yang wajib. Silakan jadikan bahan renungan. Sudah benarkah kita dalam memanfaatkan harta kita? Moga kita sadar, ada hak orang lain dalam harta kita.   Referensi: Tafsir As-Sa’di. Cetakan kedua, tahun 1433 H. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. Penerbit Muassasah Ar-Risalah. — Disusun @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 24 Ramadhan 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagspanduan zakat renungan ayat renungan quran sedekah Zakat


Sudahkah kita memanfaatkan harta dengan benar? Allah Ta’ala berfirman, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنَّ كَثِيرًا مِنَ الْأَحْبَارِ وَالرُّهْبَانِ لَيَأْكُلُونَ أَمْوَالَ النَّاسِ بِالْبَاطِلِ وَيَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ وَالَّذِينَ يَكْنِزُونَ الذَّهَبَ وَالْفِضَّةَ وَلَا يُنْفِقُونَهَا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَبَشِّرْهُمْ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ (34) يَوْمَ يُحْمَى عَلَيْهَا فِي نَارِ جَهَنَّمَ فَتُكْوَى بِهَا جِبَاهُهُمْ وَجُنُوبُهُمْ وَظُهُورُهُمْ هَذَا مَا كَنَزْتُمْ لِأَنْفُسِكُمْ فَذُوقُوا مَا كُنْتُمْ تَكْنِزُونَ (35) “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya sebahagian besar dari orang-orang alim Yahudi dan rahib-rahib Nashrani benar-benar memakan harta orang dengan jalan batil dan mereka menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah. Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih, pada hari dipanaskan emas perak itu dalam neraka jahannam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka: “Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu.” (QS. At-Taubah: 34-35) Faedah yang terdapat dalam ayat ini: 1- Ayat ini menjelaskan peringatan pada orang beriman, mereka diingatkan tentang kelakuan al-ahbar dan ar-ruhban, yaitu ulama Yahudi dan pendeta Nashrani. Hal ini diingatkan agar kaum muslimin tidak mengikutinya. 2- Ada dua hal yang diingatkan terkait dengan kelakukan ulama Yahudi dan pendeta Nashrani: Mengambil harta orang lain dengan cara tidak benar. Menyesatkan manusia dari jalan Allah. 3- Ayat ini memeringatkan tentang dua hal penyimpangan terkait dengan harta: Memakan harta dengan cara yang batil seperti mengeluarkan harta untuk maksiat dan syahwat yang tidak menolong dalam ketaatan pada Allah, juga menyesatkan manusia dari jalan Allah. Menahan harta dan tidak mau mengeluarkan untuk yang wajib. 4- Ayat ini menunjukkan ancaman bagi orang yang menahan hartanya, enggan dikeluarkan untuk zakat, nafkah keluarga, nafkah untuk kerabat hingga pada nafkah jalan fii sabilillah jika itu wajib. 5- Setiap orang yang enggan mengeluarkan hartanya untuk hal wajib, maka akan disiksa dengan hartanya sendiri. 6- Dua sifat yang mesti dijauhi: (a) tidak amanah dalam memanfaatkan harta, (b) tidak pelit dalam mengeluarkan harta untuk yang wajib. Silakan jadikan bahan renungan. Sudah benarkah kita dalam memanfaatkan harta kita? Moga kita sadar, ada hak orang lain dalam harta kita.   Referensi: Tafsir As-Sa’di. Cetakan kedua, tahun 1433 H. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. Penerbit Muassasah Ar-Risalah. — Disusun @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 24 Ramadhan 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagspanduan zakat renungan ayat renungan quran sedekah Zakat

Dokumentasi Kegiatan Buka Puasa Semarak Ramadhan YPIA 1438H

DOKUMENTASI KEGIATAN BUKA PUASA SEMARAK RAMADHAN YPIA 1438 HIJRIYAHAlhamdulillah…, hingga hari ke-20 Ramadhan, Yayasan Pendidikan Islam Al Atsari (YPIA) Yogyakarta telah menyalurkan donasi buka puasa dari Para Donatur Sebesar Rp. 535.810.000 atau 42.820 porsi paket ifthor. Jumlah spot penyaluran sebanyak lebih dari 80 masjid di Daerah Istimewa Yogyakarta dan luar daerah. Kami mengucapkan Jazaakumullahu Khoiron kepada Para Donatur sekalian. Berikut dokumentasi kegiatan buka puasa di beberapa masjid:H:\dokumentasi buka puasa\WhatsApp Image 2017-06-08 at 16.20.00 (2).jpegH:\dokumentasi buka puasa\WhatsApp Image 2017-06-08 at 16.16.20.jpegMasjid Al Ashri Pogungrejo SlemanH:\dokumentasi buka puasa\WhatsApp Image 2017-06-08 at 16.20.00 (3).jpegH:\dokumentasi buka puasa\WhatsApp Image 2017-06-08 at 16.20.00.jpegMasjid Jamilurrahman Wirokerten, BantulH:\dokumentasi buka puasa\WhatsApp Image 2017-06-08 at 16.25.56 (1).jpegMa’had Permata Islam KulonprogoH:\dokumentasi buka puasa\WhatsApp Image 2017-06-08 at 16.17.51 (2).jpegMasjid Pogung Raya, Sleman.H:\dokumentasi buka puasa\WhatsApp Image 2017-06-08 at 16.17.51 (3).jpegMasjid Pogung Dalangan, Sleman.H:\dokumentasi buka puasa\WhatsApp Image 2017-06-16 at 08.27.49 (1).jpegMasjid Al Falah Mrican, SlemanH:\dokumentasi buka puasa\WhatsApp Image 2017-06-16 at 08.27.49 (4).jpegMasjid Kampus UGM, YogyakartaH:\dokumentasi buka puasa\WhatsApp Image 2017-06-16 at 08.27.49 (5).jpegH:\dokumentasi buka puasa\WhatsApp Image 2017-06-16 at 08.27.49 (6).jpegMasjid Baitul Muthohirin, GunungkidulH:\dokumentasi buka puasa\WhatsApp Image 2017-06-08 at 16.17.51 (4).jpegMasjid Al Mukmin, SlemanH:\dokumentasi buka puasa\WhatsApp Image 2017-06-16 at 08.27.49 (10).jpegMasjid Agung Syuhada, Kota YogyakartaH:\dokumentasi buka puasa\WhatsApp Image 2017-06-16 at 08.27.49 (15).jpegMasjid Babul Khoir, Kasihan, BantulH:\dokumentasi buka puasa\WhatsApp Image 2017-06-08 at 16.16.20 (1).jpegMasjid Ismail, Sawo, BantulC:\Users\user\Downloads\WhatsApp Image 2017-06-10 at 18.17.46.jpegC:\Users\user\Downloads\WhatsApp Image 2017-06-10 at 18.17.45.jpegMasjid Al Amin, Kertopaten, BantulC:\Users\user\Downloads\WhatsApp Image 2017-06-08 at 21.16.57.jpegH:\dokumentasi buka puasa\WhatsApp Image 2017-06-08 at 22.46.37.jpegMasjid Baitul Nashihin, BantulC:\Users\user\Downloads\WhatsApp Image 2017-05-29 at 17.21.17.jpegMasjid At Taqwa, Ketopaten, BantulC:\Users\user\Downloads\WhatsApp Image 2017-06-14 at 21.08.02.jpegC:\Users\user\Downloads\WhatsApp Image 2017-06-10 at 18.18.57.jpegC:\Users\user\Downloads\WhatsApp Image 2017-06-10 at 18.18.56.jpegMasjid Al Amin Sampangan, BantulC:\Users\user\Downloads\WhatsApp Image 2017-06-14 at 21.08.02.jpegMasjid Nurussalam, Playen, GunungkidulC:\Users\user\Downloads\WhatsApp Image 2017-06-10 at 16.06.17.jpegMasjid Al Umar, Minggir, SlemanC:\Users\user\Downloads\WhatsApp Image 2017-06-10 at 16.03.11.jpegMasjid Islamic Center Baitul Muhsinin, Sleman🔍 Hadits Makan Sebelum Lapar, Ucapan Duka Cita Untuk Non Muslim, Waktu Yang Diharamkan Puasa, Zikir Pagi Petang, Obat Pemanjang Kumis

Dokumentasi Kegiatan Buka Puasa Semarak Ramadhan YPIA 1438H

DOKUMENTASI KEGIATAN BUKA PUASA SEMARAK RAMADHAN YPIA 1438 HIJRIYAHAlhamdulillah…, hingga hari ke-20 Ramadhan, Yayasan Pendidikan Islam Al Atsari (YPIA) Yogyakarta telah menyalurkan donasi buka puasa dari Para Donatur Sebesar Rp. 535.810.000 atau 42.820 porsi paket ifthor. Jumlah spot penyaluran sebanyak lebih dari 80 masjid di Daerah Istimewa Yogyakarta dan luar daerah. Kami mengucapkan Jazaakumullahu Khoiron kepada Para Donatur sekalian. Berikut dokumentasi kegiatan buka puasa di beberapa masjid:H:\dokumentasi buka puasa\WhatsApp Image 2017-06-08 at 16.20.00 (2).jpegH:\dokumentasi buka puasa\WhatsApp Image 2017-06-08 at 16.16.20.jpegMasjid Al Ashri Pogungrejo SlemanH:\dokumentasi buka puasa\WhatsApp Image 2017-06-08 at 16.20.00 (3).jpegH:\dokumentasi buka puasa\WhatsApp Image 2017-06-08 at 16.20.00.jpegMasjid Jamilurrahman Wirokerten, BantulH:\dokumentasi buka puasa\WhatsApp Image 2017-06-08 at 16.25.56 (1).jpegMa’had Permata Islam KulonprogoH:\dokumentasi buka puasa\WhatsApp Image 2017-06-08 at 16.17.51 (2).jpegMasjid Pogung Raya, Sleman.H:\dokumentasi buka puasa\WhatsApp Image 2017-06-08 at 16.17.51 (3).jpegMasjid Pogung Dalangan, Sleman.H:\dokumentasi buka puasa\WhatsApp Image 2017-06-16 at 08.27.49 (1).jpegMasjid Al Falah Mrican, SlemanH:\dokumentasi buka puasa\WhatsApp Image 2017-06-16 at 08.27.49 (4).jpegMasjid Kampus UGM, YogyakartaH:\dokumentasi buka puasa\WhatsApp Image 2017-06-16 at 08.27.49 (5).jpegH:\dokumentasi buka puasa\WhatsApp Image 2017-06-16 at 08.27.49 (6).jpegMasjid Baitul Muthohirin, GunungkidulH:\dokumentasi buka puasa\WhatsApp Image 2017-06-08 at 16.17.51 (4).jpegMasjid Al Mukmin, SlemanH:\dokumentasi buka puasa\WhatsApp Image 2017-06-16 at 08.27.49 (10).jpegMasjid Agung Syuhada, Kota YogyakartaH:\dokumentasi buka puasa\WhatsApp Image 2017-06-16 at 08.27.49 (15).jpegMasjid Babul Khoir, Kasihan, BantulH:\dokumentasi buka puasa\WhatsApp Image 2017-06-08 at 16.16.20 (1).jpegMasjid Ismail, Sawo, BantulC:\Users\user\Downloads\WhatsApp Image 2017-06-10 at 18.17.46.jpegC:\Users\user\Downloads\WhatsApp Image 2017-06-10 at 18.17.45.jpegMasjid Al Amin, Kertopaten, BantulC:\Users\user\Downloads\WhatsApp Image 2017-06-08 at 21.16.57.jpegH:\dokumentasi buka puasa\WhatsApp Image 2017-06-08 at 22.46.37.jpegMasjid Baitul Nashihin, BantulC:\Users\user\Downloads\WhatsApp Image 2017-05-29 at 17.21.17.jpegMasjid At Taqwa, Ketopaten, BantulC:\Users\user\Downloads\WhatsApp Image 2017-06-14 at 21.08.02.jpegC:\Users\user\Downloads\WhatsApp Image 2017-06-10 at 18.18.57.jpegC:\Users\user\Downloads\WhatsApp Image 2017-06-10 at 18.18.56.jpegMasjid Al Amin Sampangan, BantulC:\Users\user\Downloads\WhatsApp Image 2017-06-14 at 21.08.02.jpegMasjid Nurussalam, Playen, GunungkidulC:\Users\user\Downloads\WhatsApp Image 2017-06-10 at 16.06.17.jpegMasjid Al Umar, Minggir, SlemanC:\Users\user\Downloads\WhatsApp Image 2017-06-10 at 16.03.11.jpegMasjid Islamic Center Baitul Muhsinin, Sleman🔍 Hadits Makan Sebelum Lapar, Ucapan Duka Cita Untuk Non Muslim, Waktu Yang Diharamkan Puasa, Zikir Pagi Petang, Obat Pemanjang Kumis
DOKUMENTASI KEGIATAN BUKA PUASA SEMARAK RAMADHAN YPIA 1438 HIJRIYAHAlhamdulillah…, hingga hari ke-20 Ramadhan, Yayasan Pendidikan Islam Al Atsari (YPIA) Yogyakarta telah menyalurkan donasi buka puasa dari Para Donatur Sebesar Rp. 535.810.000 atau 42.820 porsi paket ifthor. Jumlah spot penyaluran sebanyak lebih dari 80 masjid di Daerah Istimewa Yogyakarta dan luar daerah. Kami mengucapkan Jazaakumullahu Khoiron kepada Para Donatur sekalian. Berikut dokumentasi kegiatan buka puasa di beberapa masjid:H:\dokumentasi buka puasa\WhatsApp Image 2017-06-08 at 16.20.00 (2).jpegH:\dokumentasi buka puasa\WhatsApp Image 2017-06-08 at 16.16.20.jpegMasjid Al Ashri Pogungrejo SlemanH:\dokumentasi buka puasa\WhatsApp Image 2017-06-08 at 16.20.00 (3).jpegH:\dokumentasi buka puasa\WhatsApp Image 2017-06-08 at 16.20.00.jpegMasjid Jamilurrahman Wirokerten, BantulH:\dokumentasi buka puasa\WhatsApp Image 2017-06-08 at 16.25.56 (1).jpegMa’had Permata Islam KulonprogoH:\dokumentasi buka puasa\WhatsApp Image 2017-06-08 at 16.17.51 (2).jpegMasjid Pogung Raya, Sleman.H:\dokumentasi buka puasa\WhatsApp Image 2017-06-08 at 16.17.51 (3).jpegMasjid Pogung Dalangan, Sleman.H:\dokumentasi buka puasa\WhatsApp Image 2017-06-16 at 08.27.49 (1).jpegMasjid Al Falah Mrican, SlemanH:\dokumentasi buka puasa\WhatsApp Image 2017-06-16 at 08.27.49 (4).jpegMasjid Kampus UGM, YogyakartaH:\dokumentasi buka puasa\WhatsApp Image 2017-06-16 at 08.27.49 (5).jpegH:\dokumentasi buka puasa\WhatsApp Image 2017-06-16 at 08.27.49 (6).jpegMasjid Baitul Muthohirin, GunungkidulH:\dokumentasi buka puasa\WhatsApp Image 2017-06-08 at 16.17.51 (4).jpegMasjid Al Mukmin, SlemanH:\dokumentasi buka puasa\WhatsApp Image 2017-06-16 at 08.27.49 (10).jpegMasjid Agung Syuhada, Kota YogyakartaH:\dokumentasi buka puasa\WhatsApp Image 2017-06-16 at 08.27.49 (15).jpegMasjid Babul Khoir, Kasihan, BantulH:\dokumentasi buka puasa\WhatsApp Image 2017-06-08 at 16.16.20 (1).jpegMasjid Ismail, Sawo, BantulC:\Users\user\Downloads\WhatsApp Image 2017-06-10 at 18.17.46.jpegC:\Users\user\Downloads\WhatsApp Image 2017-06-10 at 18.17.45.jpegMasjid Al Amin, Kertopaten, BantulC:\Users\user\Downloads\WhatsApp Image 2017-06-08 at 21.16.57.jpegH:\dokumentasi buka puasa\WhatsApp Image 2017-06-08 at 22.46.37.jpegMasjid Baitul Nashihin, BantulC:\Users\user\Downloads\WhatsApp Image 2017-05-29 at 17.21.17.jpegMasjid At Taqwa, Ketopaten, BantulC:\Users\user\Downloads\WhatsApp Image 2017-06-14 at 21.08.02.jpegC:\Users\user\Downloads\WhatsApp Image 2017-06-10 at 18.18.57.jpegC:\Users\user\Downloads\WhatsApp Image 2017-06-10 at 18.18.56.jpegMasjid Al Amin Sampangan, BantulC:\Users\user\Downloads\WhatsApp Image 2017-06-14 at 21.08.02.jpegMasjid Nurussalam, Playen, GunungkidulC:\Users\user\Downloads\WhatsApp Image 2017-06-10 at 16.06.17.jpegMasjid Al Umar, Minggir, SlemanC:\Users\user\Downloads\WhatsApp Image 2017-06-10 at 16.03.11.jpegMasjid Islamic Center Baitul Muhsinin, Sleman🔍 Hadits Makan Sebelum Lapar, Ucapan Duka Cita Untuk Non Muslim, Waktu Yang Diharamkan Puasa, Zikir Pagi Petang, Obat Pemanjang Kumis


DOKUMENTASI KEGIATAN BUKA PUASA SEMARAK RAMADHAN YPIA 1438 HIJRIYAHAlhamdulillah…, hingga hari ke-20 Ramadhan, Yayasan Pendidikan Islam Al Atsari (YPIA) Yogyakarta telah menyalurkan donasi buka puasa dari Para Donatur Sebesar Rp. 535.810.000 atau 42.820 porsi paket ifthor. Jumlah spot penyaluran sebanyak lebih dari 80 masjid di Daerah Istimewa Yogyakarta dan luar daerah. Kami mengucapkan Jazaakumullahu Khoiron kepada Para Donatur sekalian. Berikut dokumentasi kegiatan buka puasa di beberapa masjid:<img title="" src="https://lh5.googleusercontent.com/AHDsTfQdzvNA6SDDNGLJ4mVdNVbc2uFuROzO0zsmOXrjDvV6NIwqQJkwBfrINd-Jm9Wvc_MsweGcbhBT0y5u202If6IuK9LX57wstx6H7eWeUqppMyegZnBE6GbcccpD7WFtTRs2raPt6zclaw" alt="H:\dokumentasi buka puasa\WhatsApp Image 2017-06-08 at 16.20.00 (2).jpeg" /><img title="" src="https://lh3.googleusercontent.com/MHfXa-8VQqJldQCDoigeMyVHDTD3qySryEbnfhhL813st4PzeMAc6csQsWiR_gWU-afGUZGQgx5qyWU8XNSiCHA06XIZiVEZHbDX0KKtRXMaUsp1IhlKuAm447cp9mcH7OvGJvaYExil16f-rA" alt="H:\dokumentasi buka puasa\WhatsApp Image 2017-06-08 at 16.16.20.jpeg" />Masjid Al Ashri Pogungrejo Sleman<img title="" src="https://lh3.googleusercontent.com/_6HnsOxpKoyIrBfaVGnDAzlXdZTY2qJ4qZTxWSO7nB4csJWZgff7IbkdIx9bswMQRHVby3vUP4uhtHFJ7mIJKPnpxIvqq31FHu2UTyv9_JPT8YlkvW83Yx2J48ZRSbpi8YvmPl0CsMDrfMNpCA" alt="H:\dokumentasi buka puasa\WhatsApp Image 2017-06-08 at 16.20.00 (3).jpeg" /><img title="" src="https://lh3.googleusercontent.com/eO2uilTd7AxzhzRFclqqa0ILIHS1GIkCSoIuY5Fj6c3sK7l6LWr3lgbaQwf0wnxxrhswt_uJIb7TrtPNZpxChOUFIfQ8oEFjTbyb-y7PIR3Xlbtqi9dazPrW8wfnZ95p_ru91G4q40v10WaAuw" alt="H:\dokumentasi buka puasa\WhatsApp Image 2017-06-08 at 16.20.00.jpeg" />Masjid Jamilurrahman Wirokerten, Bantul<img title="" src="https://lh5.googleusercontent.com/RPRMrgVLocHNtnNQwlHLHwqxFfF2P7crYca9SBbgnGme03QtKlPOUwFWPbA-EQCTqiv5HbCnrzY5nGaU9U6GgmYNSPNk3J9Dwb7KJYo-Oy5yO7xEscwBk--qn2tfXfp3Kz1FMJe_4e0TepRkdQ" alt="H:\dokumentasi buka puasa\WhatsApp Image 2017-06-08 at 16.25.56 (1).jpeg" />Ma’had Permata Islam Kulonprogo<img title="" src="https://lh6.googleusercontent.com/OG_lH2_F82CbVqiIalnh9LJuxUF0RBbQVzFITMc09KXgyrYlw0j1WrsESSp8wrlfd7wbpiS9v2wz6JX-uU-V2rC6m2vPMYZbo0IxU5J_IzzOy8lRyF_QI14bnm_AMsQRY_G4VUXLnYuWJ2EdoQ" alt="H:\dokumentasi buka puasa\WhatsApp Image 2017-06-08 at 16.17.51 (2).jpeg" />Masjid Pogung Raya, Sleman.<img title="" src="https://lh3.googleusercontent.com/gprYisyyVIPhOaaxbiuUSKGmBXfmsM9iDraR2IG4SlYniksjH0G9VV0VTi_FGImqGP_8tJchsCn8yG-1Da9O0YFuibpSQaGVAuKLJHVPpQ2PgV-3-7abKQLujgV-zt7cZGpuc_XoAE7JiCQxYg" alt="H:\dokumentasi buka puasa\WhatsApp Image 2017-06-08 at 16.17.51 (3).jpeg" />Masjid Pogung Dalangan, Sleman.<img title="" src="https://lh5.googleusercontent.com/1EVdFItLq5ntis52u1BM1rT9d651P8vz-81JFoOM6vJc8ES90w1nyqn50NdhtK4ZqvnTj_Cff_MjFI3SqzcYVRZhSyKKbLNGTrDsv3soNut55UMhKfTOkTmpWfRqYtvuFXv6iq26SJNUzVJCzQ" alt="H:\dokumentasi buka puasa\WhatsApp Image 2017-06-16 at 08.27.49 (1).jpeg" />Masjid Al Falah Mrican, Sleman<img title="" src="https://lh6.googleusercontent.com/dk3tV2e56ID2V2Y1xMj2P3axPjfzXA2FHQNyaU2f1VmdllRYQzORcgCyvL-tMpTC5eR7Er5dNTqeIYWPxoQvCHUhGNg0nC84jwrWz5URShB_zfhgqI5QzDMlfrwm7YLAsLMpCM-sD92VAMK2Jg" alt="H:\dokumentasi buka puasa\WhatsApp Image 2017-06-16 at 08.27.49 (4).jpeg" />Masjid Kampus UGM, Yogyakarta<img title="" src="https://lh3.googleusercontent.com/FFxnBCuVsGgwLrapBxd1Hs5h5EzsrLJtRzUwI-toanV60gF3WOaRhpPD-p10h7bpO5Bh_yUrsg08yc9jqoVF1yR37xysqqYHVS334JaLgwux2ZdJL0VeszqMdn8xGi9KKGX9Pqv0oKBrHByM3Q" alt="H:\dokumentasi buka puasa\WhatsApp Image 2017-06-16 at 08.27.49 (5).jpeg" /><img title="" src="https://lh5.googleusercontent.com/yGHO62ZwwKb3m5U00_DeTRP_XnOJGaN9b7-5QNKnlXzv1utwhQf-EXRrchoWNVvDcCpsECf3mX1MWFW-CcnbQd9rCMfEERx9Bn4DoluS4nXx1AFSttzQow2IqL7k5bjkAh9b95xYOwnCfHl03g" alt="H:\dokumentasi buka puasa\WhatsApp Image 2017-06-16 at 08.27.49 (6).jpeg" />Masjid Baitul Muthohirin, Gunungkidul<img title="" src="https://lh4.googleusercontent.com/LOQNIUz3Vpvpm1q10xJ9y4qOAycuD2T0EIM8QzmFxgPEJNemG4p3Arj6rRX9BwM8_25v_RbXkC4CcAjv40PHl9aNpIDDhPX3_lVyFQOFV21pZmjM-JrxAGXzPL92_WuGbysEbk-vlBe1zImBbQ" alt="H:\dokumentasi buka puasa\WhatsApp Image 2017-06-08 at 16.17.51 (4).jpeg" />Masjid Al Mukmin, Sleman<img title="" src="https://lh5.googleusercontent.com/q6KSvWDI0sRa3l6VWqJFLr1qWlkfrjxNUoAIZpOHxZkab3Rmy6tDGh_pvBodBJpVsimQC2TeRbv0O2grKl-8EznxOMJqY0izcz1ZCHXuuyAgkfLVIacSwuEvaEU1vkrZ50PTp3NSjOmx00nXGA" alt="H:\dokumentasi buka puasa\WhatsApp Image 2017-06-16 at 08.27.49 (10).jpeg" />Masjid Agung Syuhada, Kota Yogyakarta<img title="" src="https://lh5.googleusercontent.com/kXvlLga_QnCcSh9luGzgnkAy_sN0L9JlDjFFGpFtsDIo7Artjv2ErXOSyIgx6KJjzj_q0EkY8J5ToUMgQ16M4jApxunrzdzaqh9mwIclExNU8D8ZVPycFfQ19UrVjBUBsEYTH5aLeubHI7Y0Zw" alt="H:\dokumentasi buka puasa\WhatsApp Image 2017-06-16 at 08.27.49 (15).jpeg" />Masjid Babul Khoir, Kasihan, Bantul<img title="" src="https://lh3.googleusercontent.com/8Q6qp7afGxIZ17UDo1tC1W8NNHBgMAwyuD1qv-1l5WGq-b_yLdyipzqFVBmyH7HumEuTlmplMvRw3pfK_c40bOvVA7jaOrEOUylbB9PMlsOMjO_1QMI8sOy3Rf47yzaEQPqRPVYuMQLCrVGXsg" alt="H:\dokumentasi buka puasa\WhatsApp Image 2017-06-08 at 16.16.20 (1).jpeg" />Masjid Ismail, Sawo, Bantul<img title="" src="https://lh4.googleusercontent.com/RV0INK9DcWD7e6i7sbuf5VMPL8hfVShyrHmouaj3rxbXvVE0-PVgmIFTtooh6qxVe3ZV4lPW1KckkyrkT6DMiIv8di6USkaQKS4hA9lBcEF0MbuPPar4l8HIVjqktng0w2cu4DRdepmR_bh_Vg" alt="C:\Users\user\Downloads\WhatsApp Image 2017-06-10 at 18.17.46.jpeg" /><img title="" src="https://lh4.googleusercontent.com/u0LOtUO5km8h_z6a96FQoihgOqegd6XhhsibI92ilhjGgNSuxYOqs0HNJk3vYTLIaZD5-OfN8pNED1JPO1UBrofTILbNsGMiGrp0QXnMWarojkhrZgT9wW4pj5IAcc1CxDl6JVOZLIqgk4ZMNg" alt="C:\Users\user\Downloads\WhatsApp Image 2017-06-10 at 18.17.45.jpeg" />Masjid Al Amin, Kertopaten, Bantul<img title="" src="https://lh6.googleusercontent.com/nPdf7jLv_MZw8ingu8SA7pFfakqyx5quMRachIjXI4qag1KSaNJ5gdCwvLbpm9ZeS8oqIB65EAPixH84WbvbNVAegTWKOuH63xMGLzvoExmrNpsVuoOLB909gctfOR3Clg08RHLfNIQLstcfNw" alt="C:\Users\user\Downloads\WhatsApp Image 2017-06-08 at 21.16.57.jpeg" /><img title="" src="https://lh6.googleusercontent.com/zSMhguK31WRJzNJATgd1zJNhxAkI_5x3Kn8bmziU2_NDMKlZS6fikaq9hj0TQ4GdYqN-FiX8PDh_nN5HM1-Wwjh_3_FW3Vbc9_LD-5CD2lx3L5XOVfsxWoFxTp8x1sdmZr_mPvJmckcD-PtdAw" alt="H:\dokumentasi buka puasa\WhatsApp Image 2017-06-08 at 22.46.37.jpeg" />Masjid Baitul Nashihin, Bantul<img title="" src="https://lh5.googleusercontent.com/rAx5hH5TemEVVRDN2V7TkmGayJFCZf2pVwHxnxeO771Tj7D2wARaqkrg_Ta8j26zumrOGHRfxSWosBGqeNj2NNu3NfUfmW5os69f1Ln2PzTer4GEdXcpCCa8Lzle1Qp3b7i-oegneRAp6mz9Eg" alt="C:\Users\user\Downloads\WhatsApp Image 2017-05-29 at 17.21.17.jpeg" />Masjid At Taqwa, Ketopaten, Bantul<img title="" src="https://lh4.googleusercontent.com/ugdzoo3LkPzH0iy9jn0LyylvVVuwg6ezO8dmJXdO30iEz0ilriPU7vhWF9URXnFRtrfE2ZBdK8839LQnkRzCmOYfLhwH-LYDsR_3Fku9Mz8iqk8JCldQNLedNZ0zHLk2AWiFnccT5y7G__b_2A" alt="C:\Users\user\Downloads\WhatsApp Image 2017-06-14 at 21.08.02.jpeg" /><img title="" src="https://lh3.googleusercontent.com/W2yeR8BtBMH5cifx38aDCcCmRhVuXn-HuLMeSpfj7ecSIyrK7PvXxA-Wv9RGfMKGVy0vDmZCDgS4HC-AQA1_iSBazK3j3d2BoE1nTR7dzcPl4OxispWOeYQgRSV_3QEYfqIVIHWdJu7AX5rv4Q" alt="C:\Users\user\Downloads\WhatsApp Image 2017-06-10 at 18.18.57.jpeg" /><img title="" src="https://lh3.googleusercontent.com/VXrzC-do5zUVZNo3KsuVBT8GXN7dd6QrjmsahrFy4ioUzgRkI_kYFqJZkDTtzCz1rAYqdfRqygYW78vc6OkwFt_r5gdgkcT_7N7etOLwE612RLIQXUhFC487q2Z-Ac50DYUXdM9KKa2cp4Busw" alt="C:\Users\user\Downloads\WhatsApp Image 2017-06-10 at 18.18.56.jpeg" />Masjid Al Amin Sampangan, Bantul<img title="" src="https://lh4.googleusercontent.com/ugdzoo3LkPzH0iy9jn0LyylvVVuwg6ezO8dmJXdO30iEz0ilriPU7vhWF9URXnFRtrfE2ZBdK8839LQnkRzCmOYfLhwH-LYDsR_3Fku9Mz8iqk8JCldQNLedNZ0zHLk2AWiFnccT5y7G__b_2A" alt="C:\Users\user\Downloads\WhatsApp Image 2017-06-14 at 21.08.02.jpeg" />Masjid Nurussalam, Playen, Gunungkidul<img title="" src="https://lh3.googleusercontent.com/XU6GXM5djYGHAuIm7UXvVmHNmmflaoaHQyFywfOxSUaO8NYcgFfqyzdB9VyNu_Sp6z1bqagXwxloIUfixDAN9yImoQqlO2_jnyDIqvxmzMLmoTgkbHcvOTWl9haWDc-byCBIfXG-bfny_ch5sw" alt="C:\Users\user\Downloads\WhatsApp Image 2017-06-10 at 16.06.17.jpeg" />Masjid Al Umar, Minggir, Sleman<img title="" src="https://lh5.googleusercontent.com/lMnIsYvKctiJ-wslpniIxvy-JHNYOBuHq9nVoEyKmb6vev4VHaw607VZ8FXesOi4YeqZSAW-a3y4loaZs6aOWtSYFO3sFNg3m7rPhqX5RJd18OOBoPxLdRszcNHBJX_R0U48fk4Ml-wY22AEcg" alt="C:\Users\user\Downloads\WhatsApp Image 2017-06-10 at 16.03.11.jpeg" />Masjid Islamic Center Baitul Muhsinin, Sleman🔍 Hadits Makan Sebelum Lapar, Ucapan Duka Cita Untuk Non Muslim, Waktu Yang Diharamkan Puasa, Zikir Pagi Petang, Obat Pemanjang Kumis

Renungan #22, Lima Dampak Mendiamkan Kemungkaran

Ada dampak jelek jika kita mampu mengingatkan suatu kemungkaran dan maksiat, namun kita diamkan. Allah Ta’ala berfirman, قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لَا تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ غَيْرَ الْحَقِّ وَلَا تَتَّبِعُوا أَهْوَاءَ قَوْمٍ قَدْ ضَلُّوا مِنْ قَبْلُ وَأَضَلُّوا كَثِيرًا وَضَلُّوا عَنْ سَوَاءِ السَّبِيلِ (77) لُعِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ عَلَى لِسَانِ دَاوُودَ وَعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ ذَلِكَ بِمَا عَصَوْا وَكَانُوا يَعْتَدُونَ (78) كَانُوا لَا يَتَنَاهَوْنَ عَنْ مُنْكَرٍ فَعَلُوهُ لَبِئْسَ مَا كَانُوا يَفْعَلُونَ (79) “Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, janganlah kamu berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agamamu. Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulunya (sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka tersesat dari jalan yang lurus.” Telah dilaknati orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan Isa putera Maryam. Yang demikian itu disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan munkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu.” (QS. Al-Maidah: 77-79) Maksud ayat di atas adalah menceritakan tentang sikap ahli kitab yang berlebihan, beralih dari kebenaran kepada kebatilan. Mereka berlebihan dalam perkataan mereka tentang Al-Masih Isa bin Maryam. Mereka juga berlebihan dengan mengikuti orang sebelumnya yang sudah sesat. Sifat ahli kitab lagi adalah mendiamkan kemungkaran padahal mampu untuk memperingatkannya. Ada lima hal yang disebutkan Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah mengenai dampak buruk mendiamkan kemungkaran padahal mampu mengingatkannya: Mendiamkan kemungkaran akan dinilai sama seperti orang yang melakukan maksiat walau tidak melakukannya secara langsung karena sebagaimana wajib menjauhi maksiat, maka wajib juga mengingkari orang yang melakukan maksiat. Mendiamkan kemungkaran menunjukkan menganggap remeh kemungkaran dan menganggap remeh perintah Allah. Kalau maksiat didiamkan, maka perbuatan tersebut akan semakin merebak. Jika orang berilmu dan paham agama mendiamkan maksiat, perbuatan maksiat akan dianggap bukan maksiat, bahkan nantinya bisa dianggap sebagai perbuatan baik. Mendiamkan kemungkaran akan mengakibatkan kejelekan akan terus diikuti oleh yang lainnya dan akan terus seperti itu. Semoga kita diberi taufik untuk terus berada di atas kebenaran, terus diberi kemudahan mendalami ilmu diin, juga dimudahkan untuk saling menasihati dalam kebaikan dan tidak mendiamkan kemungkaran.   Referensi: Tafsir As-Sa’di. Cetakan kedua, tahun 1433 H. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. Penerbit Muassasah Ar-Risalah. — Disusun @ DS, Panggang, GK, Sabtu siang, 22 Ramadhan 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsrenungan ayat renungan quran

Renungan #22, Lima Dampak Mendiamkan Kemungkaran

Ada dampak jelek jika kita mampu mengingatkan suatu kemungkaran dan maksiat, namun kita diamkan. Allah Ta’ala berfirman, قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لَا تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ غَيْرَ الْحَقِّ وَلَا تَتَّبِعُوا أَهْوَاءَ قَوْمٍ قَدْ ضَلُّوا مِنْ قَبْلُ وَأَضَلُّوا كَثِيرًا وَضَلُّوا عَنْ سَوَاءِ السَّبِيلِ (77) لُعِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ عَلَى لِسَانِ دَاوُودَ وَعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ ذَلِكَ بِمَا عَصَوْا وَكَانُوا يَعْتَدُونَ (78) كَانُوا لَا يَتَنَاهَوْنَ عَنْ مُنْكَرٍ فَعَلُوهُ لَبِئْسَ مَا كَانُوا يَفْعَلُونَ (79) “Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, janganlah kamu berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agamamu. Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulunya (sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka tersesat dari jalan yang lurus.” Telah dilaknati orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan Isa putera Maryam. Yang demikian itu disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan munkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu.” (QS. Al-Maidah: 77-79) Maksud ayat di atas adalah menceritakan tentang sikap ahli kitab yang berlebihan, beralih dari kebenaran kepada kebatilan. Mereka berlebihan dalam perkataan mereka tentang Al-Masih Isa bin Maryam. Mereka juga berlebihan dengan mengikuti orang sebelumnya yang sudah sesat. Sifat ahli kitab lagi adalah mendiamkan kemungkaran padahal mampu untuk memperingatkannya. Ada lima hal yang disebutkan Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah mengenai dampak buruk mendiamkan kemungkaran padahal mampu mengingatkannya: Mendiamkan kemungkaran akan dinilai sama seperti orang yang melakukan maksiat walau tidak melakukannya secara langsung karena sebagaimana wajib menjauhi maksiat, maka wajib juga mengingkari orang yang melakukan maksiat. Mendiamkan kemungkaran menunjukkan menganggap remeh kemungkaran dan menganggap remeh perintah Allah. Kalau maksiat didiamkan, maka perbuatan tersebut akan semakin merebak. Jika orang berilmu dan paham agama mendiamkan maksiat, perbuatan maksiat akan dianggap bukan maksiat, bahkan nantinya bisa dianggap sebagai perbuatan baik. Mendiamkan kemungkaran akan mengakibatkan kejelekan akan terus diikuti oleh yang lainnya dan akan terus seperti itu. Semoga kita diberi taufik untuk terus berada di atas kebenaran, terus diberi kemudahan mendalami ilmu diin, juga dimudahkan untuk saling menasihati dalam kebaikan dan tidak mendiamkan kemungkaran.   Referensi: Tafsir As-Sa’di. Cetakan kedua, tahun 1433 H. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. Penerbit Muassasah Ar-Risalah. — Disusun @ DS, Panggang, GK, Sabtu siang, 22 Ramadhan 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsrenungan ayat renungan quran
Ada dampak jelek jika kita mampu mengingatkan suatu kemungkaran dan maksiat, namun kita diamkan. Allah Ta’ala berfirman, قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لَا تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ غَيْرَ الْحَقِّ وَلَا تَتَّبِعُوا أَهْوَاءَ قَوْمٍ قَدْ ضَلُّوا مِنْ قَبْلُ وَأَضَلُّوا كَثِيرًا وَضَلُّوا عَنْ سَوَاءِ السَّبِيلِ (77) لُعِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ عَلَى لِسَانِ دَاوُودَ وَعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ ذَلِكَ بِمَا عَصَوْا وَكَانُوا يَعْتَدُونَ (78) كَانُوا لَا يَتَنَاهَوْنَ عَنْ مُنْكَرٍ فَعَلُوهُ لَبِئْسَ مَا كَانُوا يَفْعَلُونَ (79) “Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, janganlah kamu berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agamamu. Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulunya (sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka tersesat dari jalan yang lurus.” Telah dilaknati orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan Isa putera Maryam. Yang demikian itu disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan munkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu.” (QS. Al-Maidah: 77-79) Maksud ayat di atas adalah menceritakan tentang sikap ahli kitab yang berlebihan, beralih dari kebenaran kepada kebatilan. Mereka berlebihan dalam perkataan mereka tentang Al-Masih Isa bin Maryam. Mereka juga berlebihan dengan mengikuti orang sebelumnya yang sudah sesat. Sifat ahli kitab lagi adalah mendiamkan kemungkaran padahal mampu untuk memperingatkannya. Ada lima hal yang disebutkan Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah mengenai dampak buruk mendiamkan kemungkaran padahal mampu mengingatkannya: Mendiamkan kemungkaran akan dinilai sama seperti orang yang melakukan maksiat walau tidak melakukannya secara langsung karena sebagaimana wajib menjauhi maksiat, maka wajib juga mengingkari orang yang melakukan maksiat. Mendiamkan kemungkaran menunjukkan menganggap remeh kemungkaran dan menganggap remeh perintah Allah. Kalau maksiat didiamkan, maka perbuatan tersebut akan semakin merebak. Jika orang berilmu dan paham agama mendiamkan maksiat, perbuatan maksiat akan dianggap bukan maksiat, bahkan nantinya bisa dianggap sebagai perbuatan baik. Mendiamkan kemungkaran akan mengakibatkan kejelekan akan terus diikuti oleh yang lainnya dan akan terus seperti itu. Semoga kita diberi taufik untuk terus berada di atas kebenaran, terus diberi kemudahan mendalami ilmu diin, juga dimudahkan untuk saling menasihati dalam kebaikan dan tidak mendiamkan kemungkaran.   Referensi: Tafsir As-Sa’di. Cetakan kedua, tahun 1433 H. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. Penerbit Muassasah Ar-Risalah. — Disusun @ DS, Panggang, GK, Sabtu siang, 22 Ramadhan 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsrenungan ayat renungan quran


Ada dampak jelek jika kita mampu mengingatkan suatu kemungkaran dan maksiat, namun kita diamkan. Allah Ta’ala berfirman, قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لَا تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ غَيْرَ الْحَقِّ وَلَا تَتَّبِعُوا أَهْوَاءَ قَوْمٍ قَدْ ضَلُّوا مِنْ قَبْلُ وَأَضَلُّوا كَثِيرًا وَضَلُّوا عَنْ سَوَاءِ السَّبِيلِ (77) لُعِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ عَلَى لِسَانِ دَاوُودَ وَعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ ذَلِكَ بِمَا عَصَوْا وَكَانُوا يَعْتَدُونَ (78) كَانُوا لَا يَتَنَاهَوْنَ عَنْ مُنْكَرٍ فَعَلُوهُ لَبِئْسَ مَا كَانُوا يَفْعَلُونَ (79) “Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, janganlah kamu berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agamamu. Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulunya (sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka tersesat dari jalan yang lurus.” Telah dilaknati orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan Isa putera Maryam. Yang demikian itu disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan munkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu.” (QS. Al-Maidah: 77-79) Maksud ayat di atas adalah menceritakan tentang sikap ahli kitab yang berlebihan, beralih dari kebenaran kepada kebatilan. Mereka berlebihan dalam perkataan mereka tentang Al-Masih Isa bin Maryam. Mereka juga berlebihan dengan mengikuti orang sebelumnya yang sudah sesat. Sifat ahli kitab lagi adalah mendiamkan kemungkaran padahal mampu untuk memperingatkannya. Ada lima hal yang disebutkan Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah mengenai dampak buruk mendiamkan kemungkaran padahal mampu mengingatkannya: Mendiamkan kemungkaran akan dinilai sama seperti orang yang melakukan maksiat walau tidak melakukannya secara langsung karena sebagaimana wajib menjauhi maksiat, maka wajib juga mengingkari orang yang melakukan maksiat. Mendiamkan kemungkaran menunjukkan menganggap remeh kemungkaran dan menganggap remeh perintah Allah. Kalau maksiat didiamkan, maka perbuatan tersebut akan semakin merebak. Jika orang berilmu dan paham agama mendiamkan maksiat, perbuatan maksiat akan dianggap bukan maksiat, bahkan nantinya bisa dianggap sebagai perbuatan baik. Mendiamkan kemungkaran akan mengakibatkan kejelekan akan terus diikuti oleh yang lainnya dan akan terus seperti itu. Semoga kita diberi taufik untuk terus berada di atas kebenaran, terus diberi kemudahan mendalami ilmu diin, juga dimudahkan untuk saling menasihati dalam kebaikan dan tidak mendiamkan kemungkaran.   Referensi: Tafsir As-Sa’di. Cetakan kedua, tahun 1433 H. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. Penerbit Muassasah Ar-Risalah. — Disusun @ DS, Panggang, GK, Sabtu siang, 22 Ramadhan 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsrenungan ayat renungan quran

Khutbah Jumat: Kita Sekarang Berada di Partai Final

Di 10 hari terakhir Ramadhan, seperti berada di partai Final.   Khutbah Pertama إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَ مِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِىَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ اللّهُمَّ صَلِّ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ اللّهُمَّ عَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا، وَانْفَعَنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا، وَزِدْنَا عِلْماً، وَأَرَنَا الحَقَّ حَقّاً وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرَنَا البَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ Amma ba’du Ma’asyirol muslimin jama’ah shalat Jumat rahimani wa rahimakumullah …   Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam yang telah memberikan kita berbagai karunia dan nikmat. Yang jelas dan pasti kita tidak bisa menghitung nikmat Allah yang begitu banyak, وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا “Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya.” (QS. An-Nahl: 18). Bakr Al-Mazini pernah berkata, يَا ابْنَ آدَمَ ، إِنْ أَرَدْتَ أَنْ تَعْلَمَ قَدْرَ مَا أَنْعَمَ اللهُ عَلَيْكَ ، فَغَمِّضْ عَيْنَيْكَ “Wahai manusia, jika engkau ingin tahu kadar nikmat yang telah Allah peruntukkan bagimu, maka penjamkanlah matamu.” (Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2: 76) Mensyukuri nikmat tadi tentu terus memperbaiki ketakwaan dan ibadah kita, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS. Ali Imran: 102) Di antara nikmat yang Allah beri adalah kita berada di hari Jumat di mana kita berkumpul setiap pekannya. Hari Jumat adalah hari keenam dari enam hari di mana Allah menciptakan langit dan bumi. Pada hari Jumat, Allah menciptakan Adam, memasukkan Adam dalam surga, mengeluarkan Adam dari surga, ketika itu juga akan terjadi kiamat. Di hari Jumat ini sebagaimana disebut dalam hadits yang shahih, ada waktu terkabulnya doa. Ada ulama yang berpendapat waktu diijabahinya doa pada hari Jumat adalah ba’da ‘Ashar hingga tenggelamnya matahari. Yang jelas hari ini juga adalah hari ke-21 termasuk dari sepuluh hari terakhir yang sangat-sangat utama dari bulan Ramadhan, apalagi di malam harinya. Shalawat dan salam semoga tercurah pada Nabi yang diutus pada semua umat, di mana beliau juga menjadi Nabi yang berhak mendapatkan syafa’atul uzma (syafa’at paling besar) setelah ada izin dan ridha dari Allah, begitu juga tercurah pada istri beliau tercinta (Ummahatul Mukminin: Khadijah binti Khuwailid, Saudah binti Zam’ah, ‘Aisyah binti Abi Bakr, Zainab binti Khuzaimah, Ummu Salamah binti Abi Umayyah, Zainab binti Jahsy, Juwairiah binti Al-Harits, Ummu Habibah Ramlah binti Abi Sufyan, Shafiyah binti Huyay, Maimunah binti Al-Harits, Hafshah binti ‘Umar), juga kepada para khulafaur rosyidin (Abu Bakr, ‘Umar, ‘Utsman dan ‘Ali radhiyallahu ‘anhum) serta yang mengikuti para salaf tadi dengan baik hingga akhir zaman.   Para jama’ah shalat jumat rahimani wa rahimakumullah … Keadaan kita di akhir bulan Ramadhan berada dalam realita seperti berikut ini: Sudah kurang semangat untuk ibadah dibuktikan dengan jamaah shalat Isya dan Tarawih yang semakin berkurang. Waktu luang yang banyak digunakan untuk banyak tidur. Memikirkan baju, koko, celana, gamis dan pakaian lebaran, dibuktikan dengan mall-mall serta pusat perbelanjaan terus membludak pengunjung. Kue lebaran dan makanan istimewa mesti disiapkan atau dibeli.   Padahal di sepuluh hari terakhir itu moment paling istimewa di bulan Ramadhan. Coba renungkan peristiwa penting dan amalan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam itu sendiri. Pertama: Nabi sibuk ibadah di hari-hari terakhir Ramadhan, bahkan mengajak keluarganya untuk beribadah. عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: – كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – إِذَا دَخَلَ اَلْعَشْرُ -أَيْ: اَلْعَشْرُ اَلْأَخِيرُ مِنْ رَمَضَانَ- شَدَّ مِئْزَرَهُ, وَأَحْيَا لَيْلَهُ, وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ – مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa ketika memasuki 10 Ramadhan terakhir, beliau mengencangkan sarungnya, menghidupkan malam-malam tersebut dengan ibadah, dan membangunkan istri-istrinya untuk beribadah.” Muttafaqun ‘alaih. (HR. Bukhari, no. 2024; Muslim, no. 1174). Yang dimaksud dengan beliau mengencangkan sarungnya adalah meninggalkan istri-istri beliau karena ingin konsentrasi untuk ibadah di akhir-akhir Ramadhan.  (Lihat Nuzhah Al-Muttaqin, hlm. 68).   Kedua: Mencari Lailatul Qadar Kenapa mencari lailatul qadar? Alasan pertama: Lailatul qadar itu lebih baik daripada ibadah selama seribu bulan yang tidak terdapat lailatul qadar. Allah Ta’ala berfirman, لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ “Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.” (QS. Al-Qadar: 3). Alasan kedua: Karena pada malam lailatul qadar, malaikat itu turun, tentu membawa berkah. Allah Ta’ala berfirman, تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا “Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril.” (QS. Al-Qadar: 4) Alasan ketiga: Malam lailatul qadar penuh dengan salaam (keselamatan). Yang dimaksud ‘salaam’ dalam ayat, سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْر “Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.” (QS. Al Qadr: 5) yaitu malam tersebut penuh keselamatan di mana setan tidak dapat berbuat apa-apa di malam tersebut baik berbuat jelek atau mengganggu yang lain. Demikianlah kata Mujahid. Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 7: 610. Sehingga rugi kalau ada yang tidak mendapatkan lailatul qadar. Ibnu Rajab dalam kitabnya Lathaif Al-Ma’arif (hlm. 341) membawakan hadits dalam musnad Imam Ahmad, sunan An Nasai, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ “Di dalam bulan Ramadhan itu terdapat suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Siapa yang tidak mendapati malam tersebut, maka ia akan diharamkan mendapatkan kebaikan.” (HR. An-Nasai no. 2106, shahih)   Ketiga: Nabi melakukan i’tikaf di sepuluh hari terakhir Ramadhan Karena dengan beri’tikaf, berdiam diri dan konsen beribadah di masjid walau hanya semalam akan mudah mendapatkan lailatul qadar. Disebutkan dalam hadits Abu Sa’id Al Khudri di mana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, « إِنِّى اعْتَكَفْتُ الْعَشْرَ الأَوَّلَ أَلْتَمِسُ هَذِهِ اللَّيْلَةَ ثُمَّ اعْتَكَفْتُ الْعَشْرَ الأَوْسَطَ ثُمَّ أُتِيتُ فَقِيلَ لِى إِنَّهَا فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ فَمَنْ أَحَبَّ مِنْكُمْ أَنْ يَعْتَكِفَ فَلْيَعْتَكِفْ ». فَاعْتَكَفَ النَّاسُ مَعَهُ “Aku pernah melakukan i’tikaf pada sepuluh hari Ramadhan yang pertama. Aku berkeinginan mencari malam lailatul qadar pada malam tersebut. Kemudian aku beri’tikaf di pertengahan bulan, aku datang dan ada yang mengatakan padaku bahwa lailatul qadar itu di sepuluh hari yang terakhir. Siapa saja yang ingin beri’tikaf di antara kalian, maka beri’tikaflah.” Lalu di antara para sahabat ada yang beri’tikaf bersama beliau. (HR. Bukhari, no. 2018 dan Muslim, no. 1167). Seharusnya kita semakin semangat di akhir bulan Ramadhan. Sufyan Ats-Tsauri berkata, “Aku sangat suka pada diriku jika memasuki 10 hari terakhir bulan Ramadhan untuk bersungguh-sungguh dalam menghidupkan malam hari dengan ibadah, lalu membangunkan keluarga untuk shalat jika mereka mampu.” (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 331). Yang dimaksud dengan menghidupkan sepuluh hari terakhir atau menghidupkan malam lailatul qadar adalah dengan menghidupkan mayoritas malamnya, tidak mesti seluruhnya. Demikian pendapat ulama Syafi’iyah. Bahkan sebagaimana dinukil dari Imam Syafi’i, keutamaan tersebut didapat bagi orang yang menghidupkan shalat ‘Isya’ secara berjama’ah dan shalat Shubuh secara berjama’ah. Lihat Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 329. Maka sungguh rugi jika ada yang di akhir Ramadhan, semangatnya malah semakin kendor. Wallahu a’lam. Demikian khutbah pertama ini. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا َوَاسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ إِنَّهُ هُوَ السَمِيْعُ العَلِيْمُ   Khutbah Kedua   الحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالمِيْنَ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَافِ الأَنْبِيَاءِ وَالمرْسَلِيْنَ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ   Amma ba’du Ma’asyirol muslimin jama’ah shalat Jumat rahimani wa rahimakumullah … Ingatlah sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan ini bagaikan partai final. Orang yang berada di partai final tentu ingin meraih kemenangan besar dan mendapatkan juara. Jangan sampai kita sudah berada di partai final malah kendor semangat karena tidak tahu strategi untuk menang, akhirnya kalah di akhir dan itu lebih menyakitkan daripada kalah sejak awal. Ingat sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, وَإِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِيمِ “Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada akhirnya.” (HR. Bukhari, no. 6607) Di akhir khutbah ini, kami ingatkan untuk bershalawat pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Siapa yang bershalawat pada beliau sekali, akan dibalas sepuluh kali. إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ Marilah kita berdoa pada Allah, moga setiap doa kita diperkenankan di Jumat penuh berkah ini. اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَةِ اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ، وَجَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَسْمَاعِنَا، وَأَبْصَارِنَا، وَقُلُوبِنَا، وَأَزْوَاجِنَا، وَذُرِّيَّاتِنَا، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ، وَاجْعَلْنَا شَاكِرِينَ لِنِعَمِكَ مُثْنِينَ بِهَا عَلَيْكَ، قَابِلِينَ لَهَا، وَأَتِمِمْهَا عَلَيْنَا رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي رَمَضَانَ وَاَعِنَّا عَلَى صِيَامِهِ وَقِيَامِهِ وَقِيَامِ لَيْلَةَ القَدْرِ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن. وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ   Naskah Khutbah Jumat Masjid Jenderal Sudirman Panggang, Jum’at Pahing, 21 Ramadhan 1438 H (16 Juni 2017) Silakan download File PDF: Naskah Khutbah Jumat: Kita Sekarang Berada di Partai Final — Disusun @ DS, Panggang, GK, Jumat pagi, 21 Ramadhan 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsamalan ramadhan khutbah jumat khutbah jumat ramadhan lailatul qadar

Khutbah Jumat: Kita Sekarang Berada di Partai Final

Di 10 hari terakhir Ramadhan, seperti berada di partai Final.   Khutbah Pertama إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَ مِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِىَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ اللّهُمَّ صَلِّ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ اللّهُمَّ عَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا، وَانْفَعَنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا، وَزِدْنَا عِلْماً، وَأَرَنَا الحَقَّ حَقّاً وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرَنَا البَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ Amma ba’du Ma’asyirol muslimin jama’ah shalat Jumat rahimani wa rahimakumullah …   Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam yang telah memberikan kita berbagai karunia dan nikmat. Yang jelas dan pasti kita tidak bisa menghitung nikmat Allah yang begitu banyak, وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا “Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya.” (QS. An-Nahl: 18). Bakr Al-Mazini pernah berkata, يَا ابْنَ آدَمَ ، إِنْ أَرَدْتَ أَنْ تَعْلَمَ قَدْرَ مَا أَنْعَمَ اللهُ عَلَيْكَ ، فَغَمِّضْ عَيْنَيْكَ “Wahai manusia, jika engkau ingin tahu kadar nikmat yang telah Allah peruntukkan bagimu, maka penjamkanlah matamu.” (Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2: 76) Mensyukuri nikmat tadi tentu terus memperbaiki ketakwaan dan ibadah kita, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS. Ali Imran: 102) Di antara nikmat yang Allah beri adalah kita berada di hari Jumat di mana kita berkumpul setiap pekannya. Hari Jumat adalah hari keenam dari enam hari di mana Allah menciptakan langit dan bumi. Pada hari Jumat, Allah menciptakan Adam, memasukkan Adam dalam surga, mengeluarkan Adam dari surga, ketika itu juga akan terjadi kiamat. Di hari Jumat ini sebagaimana disebut dalam hadits yang shahih, ada waktu terkabulnya doa. Ada ulama yang berpendapat waktu diijabahinya doa pada hari Jumat adalah ba’da ‘Ashar hingga tenggelamnya matahari. Yang jelas hari ini juga adalah hari ke-21 termasuk dari sepuluh hari terakhir yang sangat-sangat utama dari bulan Ramadhan, apalagi di malam harinya. Shalawat dan salam semoga tercurah pada Nabi yang diutus pada semua umat, di mana beliau juga menjadi Nabi yang berhak mendapatkan syafa’atul uzma (syafa’at paling besar) setelah ada izin dan ridha dari Allah, begitu juga tercurah pada istri beliau tercinta (Ummahatul Mukminin: Khadijah binti Khuwailid, Saudah binti Zam’ah, ‘Aisyah binti Abi Bakr, Zainab binti Khuzaimah, Ummu Salamah binti Abi Umayyah, Zainab binti Jahsy, Juwairiah binti Al-Harits, Ummu Habibah Ramlah binti Abi Sufyan, Shafiyah binti Huyay, Maimunah binti Al-Harits, Hafshah binti ‘Umar), juga kepada para khulafaur rosyidin (Abu Bakr, ‘Umar, ‘Utsman dan ‘Ali radhiyallahu ‘anhum) serta yang mengikuti para salaf tadi dengan baik hingga akhir zaman.   Para jama’ah shalat jumat rahimani wa rahimakumullah … Keadaan kita di akhir bulan Ramadhan berada dalam realita seperti berikut ini: Sudah kurang semangat untuk ibadah dibuktikan dengan jamaah shalat Isya dan Tarawih yang semakin berkurang. Waktu luang yang banyak digunakan untuk banyak tidur. Memikirkan baju, koko, celana, gamis dan pakaian lebaran, dibuktikan dengan mall-mall serta pusat perbelanjaan terus membludak pengunjung. Kue lebaran dan makanan istimewa mesti disiapkan atau dibeli.   Padahal di sepuluh hari terakhir itu moment paling istimewa di bulan Ramadhan. Coba renungkan peristiwa penting dan amalan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam itu sendiri. Pertama: Nabi sibuk ibadah di hari-hari terakhir Ramadhan, bahkan mengajak keluarganya untuk beribadah. عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: – كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – إِذَا دَخَلَ اَلْعَشْرُ -أَيْ: اَلْعَشْرُ اَلْأَخِيرُ مِنْ رَمَضَانَ- شَدَّ مِئْزَرَهُ, وَأَحْيَا لَيْلَهُ, وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ – مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa ketika memasuki 10 Ramadhan terakhir, beliau mengencangkan sarungnya, menghidupkan malam-malam tersebut dengan ibadah, dan membangunkan istri-istrinya untuk beribadah.” Muttafaqun ‘alaih. (HR. Bukhari, no. 2024; Muslim, no. 1174). Yang dimaksud dengan beliau mengencangkan sarungnya adalah meninggalkan istri-istri beliau karena ingin konsentrasi untuk ibadah di akhir-akhir Ramadhan.  (Lihat Nuzhah Al-Muttaqin, hlm. 68).   Kedua: Mencari Lailatul Qadar Kenapa mencari lailatul qadar? Alasan pertama: Lailatul qadar itu lebih baik daripada ibadah selama seribu bulan yang tidak terdapat lailatul qadar. Allah Ta’ala berfirman, لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ “Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.” (QS. Al-Qadar: 3). Alasan kedua: Karena pada malam lailatul qadar, malaikat itu turun, tentu membawa berkah. Allah Ta’ala berfirman, تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا “Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril.” (QS. Al-Qadar: 4) Alasan ketiga: Malam lailatul qadar penuh dengan salaam (keselamatan). Yang dimaksud ‘salaam’ dalam ayat, سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْر “Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.” (QS. Al Qadr: 5) yaitu malam tersebut penuh keselamatan di mana setan tidak dapat berbuat apa-apa di malam tersebut baik berbuat jelek atau mengganggu yang lain. Demikianlah kata Mujahid. Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 7: 610. Sehingga rugi kalau ada yang tidak mendapatkan lailatul qadar. Ibnu Rajab dalam kitabnya Lathaif Al-Ma’arif (hlm. 341) membawakan hadits dalam musnad Imam Ahmad, sunan An Nasai, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ “Di dalam bulan Ramadhan itu terdapat suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Siapa yang tidak mendapati malam tersebut, maka ia akan diharamkan mendapatkan kebaikan.” (HR. An-Nasai no. 2106, shahih)   Ketiga: Nabi melakukan i’tikaf di sepuluh hari terakhir Ramadhan Karena dengan beri’tikaf, berdiam diri dan konsen beribadah di masjid walau hanya semalam akan mudah mendapatkan lailatul qadar. Disebutkan dalam hadits Abu Sa’id Al Khudri di mana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, « إِنِّى اعْتَكَفْتُ الْعَشْرَ الأَوَّلَ أَلْتَمِسُ هَذِهِ اللَّيْلَةَ ثُمَّ اعْتَكَفْتُ الْعَشْرَ الأَوْسَطَ ثُمَّ أُتِيتُ فَقِيلَ لِى إِنَّهَا فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ فَمَنْ أَحَبَّ مِنْكُمْ أَنْ يَعْتَكِفَ فَلْيَعْتَكِفْ ». فَاعْتَكَفَ النَّاسُ مَعَهُ “Aku pernah melakukan i’tikaf pada sepuluh hari Ramadhan yang pertama. Aku berkeinginan mencari malam lailatul qadar pada malam tersebut. Kemudian aku beri’tikaf di pertengahan bulan, aku datang dan ada yang mengatakan padaku bahwa lailatul qadar itu di sepuluh hari yang terakhir. Siapa saja yang ingin beri’tikaf di antara kalian, maka beri’tikaflah.” Lalu di antara para sahabat ada yang beri’tikaf bersama beliau. (HR. Bukhari, no. 2018 dan Muslim, no. 1167). Seharusnya kita semakin semangat di akhir bulan Ramadhan. Sufyan Ats-Tsauri berkata, “Aku sangat suka pada diriku jika memasuki 10 hari terakhir bulan Ramadhan untuk bersungguh-sungguh dalam menghidupkan malam hari dengan ibadah, lalu membangunkan keluarga untuk shalat jika mereka mampu.” (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 331). Yang dimaksud dengan menghidupkan sepuluh hari terakhir atau menghidupkan malam lailatul qadar adalah dengan menghidupkan mayoritas malamnya, tidak mesti seluruhnya. Demikian pendapat ulama Syafi’iyah. Bahkan sebagaimana dinukil dari Imam Syafi’i, keutamaan tersebut didapat bagi orang yang menghidupkan shalat ‘Isya’ secara berjama’ah dan shalat Shubuh secara berjama’ah. Lihat Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 329. Maka sungguh rugi jika ada yang di akhir Ramadhan, semangatnya malah semakin kendor. Wallahu a’lam. Demikian khutbah pertama ini. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا َوَاسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ إِنَّهُ هُوَ السَمِيْعُ العَلِيْمُ   Khutbah Kedua   الحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالمِيْنَ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَافِ الأَنْبِيَاءِ وَالمرْسَلِيْنَ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ   Amma ba’du Ma’asyirol muslimin jama’ah shalat Jumat rahimani wa rahimakumullah … Ingatlah sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan ini bagaikan partai final. Orang yang berada di partai final tentu ingin meraih kemenangan besar dan mendapatkan juara. Jangan sampai kita sudah berada di partai final malah kendor semangat karena tidak tahu strategi untuk menang, akhirnya kalah di akhir dan itu lebih menyakitkan daripada kalah sejak awal. Ingat sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, وَإِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِيمِ “Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada akhirnya.” (HR. Bukhari, no. 6607) Di akhir khutbah ini, kami ingatkan untuk bershalawat pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Siapa yang bershalawat pada beliau sekali, akan dibalas sepuluh kali. إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ Marilah kita berdoa pada Allah, moga setiap doa kita diperkenankan di Jumat penuh berkah ini. اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَةِ اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ، وَجَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَسْمَاعِنَا، وَأَبْصَارِنَا، وَقُلُوبِنَا، وَأَزْوَاجِنَا، وَذُرِّيَّاتِنَا، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ، وَاجْعَلْنَا شَاكِرِينَ لِنِعَمِكَ مُثْنِينَ بِهَا عَلَيْكَ، قَابِلِينَ لَهَا، وَأَتِمِمْهَا عَلَيْنَا رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي رَمَضَانَ وَاَعِنَّا عَلَى صِيَامِهِ وَقِيَامِهِ وَقِيَامِ لَيْلَةَ القَدْرِ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن. وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ   Naskah Khutbah Jumat Masjid Jenderal Sudirman Panggang, Jum’at Pahing, 21 Ramadhan 1438 H (16 Juni 2017) Silakan download File PDF: Naskah Khutbah Jumat: Kita Sekarang Berada di Partai Final — Disusun @ DS, Panggang, GK, Jumat pagi, 21 Ramadhan 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsamalan ramadhan khutbah jumat khutbah jumat ramadhan lailatul qadar
Di 10 hari terakhir Ramadhan, seperti berada di partai Final.   Khutbah Pertama إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَ مِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِىَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ اللّهُمَّ صَلِّ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ اللّهُمَّ عَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا، وَانْفَعَنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا، وَزِدْنَا عِلْماً، وَأَرَنَا الحَقَّ حَقّاً وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرَنَا البَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ Amma ba’du Ma’asyirol muslimin jama’ah shalat Jumat rahimani wa rahimakumullah …   Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam yang telah memberikan kita berbagai karunia dan nikmat. Yang jelas dan pasti kita tidak bisa menghitung nikmat Allah yang begitu banyak, وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا “Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya.” (QS. An-Nahl: 18). Bakr Al-Mazini pernah berkata, يَا ابْنَ آدَمَ ، إِنْ أَرَدْتَ أَنْ تَعْلَمَ قَدْرَ مَا أَنْعَمَ اللهُ عَلَيْكَ ، فَغَمِّضْ عَيْنَيْكَ “Wahai manusia, jika engkau ingin tahu kadar nikmat yang telah Allah peruntukkan bagimu, maka penjamkanlah matamu.” (Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2: 76) Mensyukuri nikmat tadi tentu terus memperbaiki ketakwaan dan ibadah kita, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS. Ali Imran: 102) Di antara nikmat yang Allah beri adalah kita berada di hari Jumat di mana kita berkumpul setiap pekannya. Hari Jumat adalah hari keenam dari enam hari di mana Allah menciptakan langit dan bumi. Pada hari Jumat, Allah menciptakan Adam, memasukkan Adam dalam surga, mengeluarkan Adam dari surga, ketika itu juga akan terjadi kiamat. Di hari Jumat ini sebagaimana disebut dalam hadits yang shahih, ada waktu terkabulnya doa. Ada ulama yang berpendapat waktu diijabahinya doa pada hari Jumat adalah ba’da ‘Ashar hingga tenggelamnya matahari. Yang jelas hari ini juga adalah hari ke-21 termasuk dari sepuluh hari terakhir yang sangat-sangat utama dari bulan Ramadhan, apalagi di malam harinya. Shalawat dan salam semoga tercurah pada Nabi yang diutus pada semua umat, di mana beliau juga menjadi Nabi yang berhak mendapatkan syafa’atul uzma (syafa’at paling besar) setelah ada izin dan ridha dari Allah, begitu juga tercurah pada istri beliau tercinta (Ummahatul Mukminin: Khadijah binti Khuwailid, Saudah binti Zam’ah, ‘Aisyah binti Abi Bakr, Zainab binti Khuzaimah, Ummu Salamah binti Abi Umayyah, Zainab binti Jahsy, Juwairiah binti Al-Harits, Ummu Habibah Ramlah binti Abi Sufyan, Shafiyah binti Huyay, Maimunah binti Al-Harits, Hafshah binti ‘Umar), juga kepada para khulafaur rosyidin (Abu Bakr, ‘Umar, ‘Utsman dan ‘Ali radhiyallahu ‘anhum) serta yang mengikuti para salaf tadi dengan baik hingga akhir zaman.   Para jama’ah shalat jumat rahimani wa rahimakumullah … Keadaan kita di akhir bulan Ramadhan berada dalam realita seperti berikut ini: Sudah kurang semangat untuk ibadah dibuktikan dengan jamaah shalat Isya dan Tarawih yang semakin berkurang. Waktu luang yang banyak digunakan untuk banyak tidur. Memikirkan baju, koko, celana, gamis dan pakaian lebaran, dibuktikan dengan mall-mall serta pusat perbelanjaan terus membludak pengunjung. Kue lebaran dan makanan istimewa mesti disiapkan atau dibeli.   Padahal di sepuluh hari terakhir itu moment paling istimewa di bulan Ramadhan. Coba renungkan peristiwa penting dan amalan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam itu sendiri. Pertama: Nabi sibuk ibadah di hari-hari terakhir Ramadhan, bahkan mengajak keluarganya untuk beribadah. عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: – كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – إِذَا دَخَلَ اَلْعَشْرُ -أَيْ: اَلْعَشْرُ اَلْأَخِيرُ مِنْ رَمَضَانَ- شَدَّ مِئْزَرَهُ, وَأَحْيَا لَيْلَهُ, وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ – مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa ketika memasuki 10 Ramadhan terakhir, beliau mengencangkan sarungnya, menghidupkan malam-malam tersebut dengan ibadah, dan membangunkan istri-istrinya untuk beribadah.” Muttafaqun ‘alaih. (HR. Bukhari, no. 2024; Muslim, no. 1174). Yang dimaksud dengan beliau mengencangkan sarungnya adalah meninggalkan istri-istri beliau karena ingin konsentrasi untuk ibadah di akhir-akhir Ramadhan.  (Lihat Nuzhah Al-Muttaqin, hlm. 68).   Kedua: Mencari Lailatul Qadar Kenapa mencari lailatul qadar? Alasan pertama: Lailatul qadar itu lebih baik daripada ibadah selama seribu bulan yang tidak terdapat lailatul qadar. Allah Ta’ala berfirman, لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ “Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.” (QS. Al-Qadar: 3). Alasan kedua: Karena pada malam lailatul qadar, malaikat itu turun, tentu membawa berkah. Allah Ta’ala berfirman, تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا “Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril.” (QS. Al-Qadar: 4) Alasan ketiga: Malam lailatul qadar penuh dengan salaam (keselamatan). Yang dimaksud ‘salaam’ dalam ayat, سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْر “Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.” (QS. Al Qadr: 5) yaitu malam tersebut penuh keselamatan di mana setan tidak dapat berbuat apa-apa di malam tersebut baik berbuat jelek atau mengganggu yang lain. Demikianlah kata Mujahid. Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 7: 610. Sehingga rugi kalau ada yang tidak mendapatkan lailatul qadar. Ibnu Rajab dalam kitabnya Lathaif Al-Ma’arif (hlm. 341) membawakan hadits dalam musnad Imam Ahmad, sunan An Nasai, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ “Di dalam bulan Ramadhan itu terdapat suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Siapa yang tidak mendapati malam tersebut, maka ia akan diharamkan mendapatkan kebaikan.” (HR. An-Nasai no. 2106, shahih)   Ketiga: Nabi melakukan i’tikaf di sepuluh hari terakhir Ramadhan Karena dengan beri’tikaf, berdiam diri dan konsen beribadah di masjid walau hanya semalam akan mudah mendapatkan lailatul qadar. Disebutkan dalam hadits Abu Sa’id Al Khudri di mana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, « إِنِّى اعْتَكَفْتُ الْعَشْرَ الأَوَّلَ أَلْتَمِسُ هَذِهِ اللَّيْلَةَ ثُمَّ اعْتَكَفْتُ الْعَشْرَ الأَوْسَطَ ثُمَّ أُتِيتُ فَقِيلَ لِى إِنَّهَا فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ فَمَنْ أَحَبَّ مِنْكُمْ أَنْ يَعْتَكِفَ فَلْيَعْتَكِفْ ». فَاعْتَكَفَ النَّاسُ مَعَهُ “Aku pernah melakukan i’tikaf pada sepuluh hari Ramadhan yang pertama. Aku berkeinginan mencari malam lailatul qadar pada malam tersebut. Kemudian aku beri’tikaf di pertengahan bulan, aku datang dan ada yang mengatakan padaku bahwa lailatul qadar itu di sepuluh hari yang terakhir. Siapa saja yang ingin beri’tikaf di antara kalian, maka beri’tikaflah.” Lalu di antara para sahabat ada yang beri’tikaf bersama beliau. (HR. Bukhari, no. 2018 dan Muslim, no. 1167). Seharusnya kita semakin semangat di akhir bulan Ramadhan. Sufyan Ats-Tsauri berkata, “Aku sangat suka pada diriku jika memasuki 10 hari terakhir bulan Ramadhan untuk bersungguh-sungguh dalam menghidupkan malam hari dengan ibadah, lalu membangunkan keluarga untuk shalat jika mereka mampu.” (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 331). Yang dimaksud dengan menghidupkan sepuluh hari terakhir atau menghidupkan malam lailatul qadar adalah dengan menghidupkan mayoritas malamnya, tidak mesti seluruhnya. Demikian pendapat ulama Syafi’iyah. Bahkan sebagaimana dinukil dari Imam Syafi’i, keutamaan tersebut didapat bagi orang yang menghidupkan shalat ‘Isya’ secara berjama’ah dan shalat Shubuh secara berjama’ah. Lihat Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 329. Maka sungguh rugi jika ada yang di akhir Ramadhan, semangatnya malah semakin kendor. Wallahu a’lam. Demikian khutbah pertama ini. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا َوَاسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ إِنَّهُ هُوَ السَمِيْعُ العَلِيْمُ   Khutbah Kedua   الحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالمِيْنَ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَافِ الأَنْبِيَاءِ وَالمرْسَلِيْنَ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ   Amma ba’du Ma’asyirol muslimin jama’ah shalat Jumat rahimani wa rahimakumullah … Ingatlah sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan ini bagaikan partai final. Orang yang berada di partai final tentu ingin meraih kemenangan besar dan mendapatkan juara. Jangan sampai kita sudah berada di partai final malah kendor semangat karena tidak tahu strategi untuk menang, akhirnya kalah di akhir dan itu lebih menyakitkan daripada kalah sejak awal. Ingat sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, وَإِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِيمِ “Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada akhirnya.” (HR. Bukhari, no. 6607) Di akhir khutbah ini, kami ingatkan untuk bershalawat pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Siapa yang bershalawat pada beliau sekali, akan dibalas sepuluh kali. إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ Marilah kita berdoa pada Allah, moga setiap doa kita diperkenankan di Jumat penuh berkah ini. اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَةِ اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ، وَجَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَسْمَاعِنَا، وَأَبْصَارِنَا، وَقُلُوبِنَا، وَأَزْوَاجِنَا، وَذُرِّيَّاتِنَا، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ، وَاجْعَلْنَا شَاكِرِينَ لِنِعَمِكَ مُثْنِينَ بِهَا عَلَيْكَ، قَابِلِينَ لَهَا، وَأَتِمِمْهَا عَلَيْنَا رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي رَمَضَانَ وَاَعِنَّا عَلَى صِيَامِهِ وَقِيَامِهِ وَقِيَامِ لَيْلَةَ القَدْرِ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن. وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ   Naskah Khutbah Jumat Masjid Jenderal Sudirman Panggang, Jum’at Pahing, 21 Ramadhan 1438 H (16 Juni 2017) Silakan download File PDF: Naskah Khutbah Jumat: Kita Sekarang Berada di Partai Final — Disusun @ DS, Panggang, GK, Jumat pagi, 21 Ramadhan 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsamalan ramadhan khutbah jumat khutbah jumat ramadhan lailatul qadar


Di 10 hari terakhir Ramadhan, seperti berada di partai Final.   Khutbah Pertama إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَ مِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِىَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ اللّهُمَّ صَلِّ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ اللّهُمَّ عَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا، وَانْفَعَنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا، وَزِدْنَا عِلْماً، وَأَرَنَا الحَقَّ حَقّاً وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرَنَا البَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ Amma ba’du Ma’asyirol muslimin jama’ah shalat Jumat rahimani wa rahimakumullah …   Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam yang telah memberikan kita berbagai karunia dan nikmat. Yang jelas dan pasti kita tidak bisa menghitung nikmat Allah yang begitu banyak, وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا “Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya.” (QS. An-Nahl: 18). Bakr Al-Mazini pernah berkata, يَا ابْنَ آدَمَ ، إِنْ أَرَدْتَ أَنْ تَعْلَمَ قَدْرَ مَا أَنْعَمَ اللهُ عَلَيْكَ ، فَغَمِّضْ عَيْنَيْكَ “Wahai manusia, jika engkau ingin tahu kadar nikmat yang telah Allah peruntukkan bagimu, maka penjamkanlah matamu.” (Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2: 76) Mensyukuri nikmat tadi tentu terus memperbaiki ketakwaan dan ibadah kita, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS. Ali Imran: 102) Di antara nikmat yang Allah beri adalah kita berada di hari Jumat di mana kita berkumpul setiap pekannya. Hari Jumat adalah hari keenam dari enam hari di mana Allah menciptakan langit dan bumi. Pada hari Jumat, Allah menciptakan Adam, memasukkan Adam dalam surga, mengeluarkan Adam dari surga, ketika itu juga akan terjadi kiamat. Di hari Jumat ini sebagaimana disebut dalam hadits yang shahih, ada waktu terkabulnya doa. Ada ulama yang berpendapat waktu diijabahinya doa pada hari Jumat adalah ba’da ‘Ashar hingga tenggelamnya matahari. Yang jelas hari ini juga adalah hari ke-21 termasuk dari sepuluh hari terakhir yang sangat-sangat utama dari bulan Ramadhan, apalagi di malam harinya. Shalawat dan salam semoga tercurah pada Nabi yang diutus pada semua umat, di mana beliau juga menjadi Nabi yang berhak mendapatkan syafa’atul uzma (syafa’at paling besar) setelah ada izin dan ridha dari Allah, begitu juga tercurah pada istri beliau tercinta (Ummahatul Mukminin: Khadijah binti Khuwailid, Saudah binti Zam’ah, ‘Aisyah binti Abi Bakr, Zainab binti Khuzaimah, Ummu Salamah binti Abi Umayyah, Zainab binti Jahsy, Juwairiah binti Al-Harits, Ummu Habibah Ramlah binti Abi Sufyan, Shafiyah binti Huyay, Maimunah binti Al-Harits, Hafshah binti ‘Umar), juga kepada para khulafaur rosyidin (Abu Bakr, ‘Umar, ‘Utsman dan ‘Ali radhiyallahu ‘anhum) serta yang mengikuti para salaf tadi dengan baik hingga akhir zaman.   Para jama’ah shalat jumat rahimani wa rahimakumullah … Keadaan kita di akhir bulan Ramadhan berada dalam realita seperti berikut ini: Sudah kurang semangat untuk ibadah dibuktikan dengan jamaah shalat Isya dan Tarawih yang semakin berkurang. Waktu luang yang banyak digunakan untuk banyak tidur. Memikirkan baju, koko, celana, gamis dan pakaian lebaran, dibuktikan dengan mall-mall serta pusat perbelanjaan terus membludak pengunjung. Kue lebaran dan makanan istimewa mesti disiapkan atau dibeli.   Padahal di sepuluh hari terakhir itu moment paling istimewa di bulan Ramadhan. Coba renungkan peristiwa penting dan amalan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam itu sendiri. Pertama: Nabi sibuk ibadah di hari-hari terakhir Ramadhan, bahkan mengajak keluarganya untuk beribadah. عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: – كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – إِذَا دَخَلَ اَلْعَشْرُ -أَيْ: اَلْعَشْرُ اَلْأَخِيرُ مِنْ رَمَضَانَ- شَدَّ مِئْزَرَهُ, وَأَحْيَا لَيْلَهُ, وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ – مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa ketika memasuki 10 Ramadhan terakhir, beliau mengencangkan sarungnya, menghidupkan malam-malam tersebut dengan ibadah, dan membangunkan istri-istrinya untuk beribadah.” Muttafaqun ‘alaih. (HR. Bukhari, no. 2024; Muslim, no. 1174). Yang dimaksud dengan beliau mengencangkan sarungnya adalah meninggalkan istri-istri beliau karena ingin konsentrasi untuk ibadah di akhir-akhir Ramadhan.  (Lihat Nuzhah Al-Muttaqin, hlm. 68).   Kedua: Mencari Lailatul Qadar Kenapa mencari lailatul qadar? Alasan pertama: Lailatul qadar itu lebih baik daripada ibadah selama seribu bulan yang tidak terdapat lailatul qadar. Allah Ta’ala berfirman, لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ “Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.” (QS. Al-Qadar: 3). Alasan kedua: Karena pada malam lailatul qadar, malaikat itu turun, tentu membawa berkah. Allah Ta’ala berfirman, تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا “Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril.” (QS. Al-Qadar: 4) Alasan ketiga: Malam lailatul qadar penuh dengan salaam (keselamatan). Yang dimaksud ‘salaam’ dalam ayat, سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْر “Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.” (QS. Al Qadr: 5) yaitu malam tersebut penuh keselamatan di mana setan tidak dapat berbuat apa-apa di malam tersebut baik berbuat jelek atau mengganggu yang lain. Demikianlah kata Mujahid. Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 7: 610. Sehingga rugi kalau ada yang tidak mendapatkan lailatul qadar. Ibnu Rajab dalam kitabnya Lathaif Al-Ma’arif (hlm. 341) membawakan hadits dalam musnad Imam Ahmad, sunan An Nasai, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ “Di dalam bulan Ramadhan itu terdapat suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Siapa yang tidak mendapati malam tersebut, maka ia akan diharamkan mendapatkan kebaikan.” (HR. An-Nasai no. 2106, shahih)   Ketiga: Nabi melakukan i’tikaf di sepuluh hari terakhir Ramadhan Karena dengan beri’tikaf, berdiam diri dan konsen beribadah di masjid walau hanya semalam akan mudah mendapatkan lailatul qadar. Disebutkan dalam hadits Abu Sa’id Al Khudri di mana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, « إِنِّى اعْتَكَفْتُ الْعَشْرَ الأَوَّلَ أَلْتَمِسُ هَذِهِ اللَّيْلَةَ ثُمَّ اعْتَكَفْتُ الْعَشْرَ الأَوْسَطَ ثُمَّ أُتِيتُ فَقِيلَ لِى إِنَّهَا فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ فَمَنْ أَحَبَّ مِنْكُمْ أَنْ يَعْتَكِفَ فَلْيَعْتَكِفْ ». فَاعْتَكَفَ النَّاسُ مَعَهُ “Aku pernah melakukan i’tikaf pada sepuluh hari Ramadhan yang pertama. Aku berkeinginan mencari malam lailatul qadar pada malam tersebut. Kemudian aku beri’tikaf di pertengahan bulan, aku datang dan ada yang mengatakan padaku bahwa lailatul qadar itu di sepuluh hari yang terakhir. Siapa saja yang ingin beri’tikaf di antara kalian, maka beri’tikaflah.” Lalu di antara para sahabat ada yang beri’tikaf bersama beliau. (HR. Bukhari, no. 2018 dan Muslim, no. 1167). Seharusnya kita semakin semangat di akhir bulan Ramadhan. Sufyan Ats-Tsauri berkata, “Aku sangat suka pada diriku jika memasuki 10 hari terakhir bulan Ramadhan untuk bersungguh-sungguh dalam menghidupkan malam hari dengan ibadah, lalu membangunkan keluarga untuk shalat jika mereka mampu.” (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 331). Yang dimaksud dengan menghidupkan sepuluh hari terakhir atau menghidupkan malam lailatul qadar adalah dengan menghidupkan mayoritas malamnya, tidak mesti seluruhnya. Demikian pendapat ulama Syafi’iyah. Bahkan sebagaimana dinukil dari Imam Syafi’i, keutamaan tersebut didapat bagi orang yang menghidupkan shalat ‘Isya’ secara berjama’ah dan shalat Shubuh secara berjama’ah. Lihat Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 329. Maka sungguh rugi jika ada yang di akhir Ramadhan, semangatnya malah semakin kendor. Wallahu a’lam. Demikian khutbah pertama ini. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا َوَاسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ إِنَّهُ هُوَ السَمِيْعُ العَلِيْمُ   Khutbah Kedua   الحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالمِيْنَ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَافِ الأَنْبِيَاءِ وَالمرْسَلِيْنَ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ   Amma ba’du Ma’asyirol muslimin jama’ah shalat Jumat rahimani wa rahimakumullah … Ingatlah sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan ini bagaikan partai final. Orang yang berada di partai final tentu ingin meraih kemenangan besar dan mendapatkan juara. Jangan sampai kita sudah berada di partai final malah kendor semangat karena tidak tahu strategi untuk menang, akhirnya kalah di akhir dan itu lebih menyakitkan daripada kalah sejak awal. Ingat sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, وَإِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِيمِ “Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada akhirnya.” (HR. Bukhari, no. 6607) Di akhir khutbah ini, kami ingatkan untuk bershalawat pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Siapa yang bershalawat pada beliau sekali, akan dibalas sepuluh kali. إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ Marilah kita berdoa pada Allah, moga setiap doa kita diperkenankan di Jumat penuh berkah ini. اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَةِ اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ، وَجَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَسْمَاعِنَا، وَأَبْصَارِنَا، وَقُلُوبِنَا، وَأَزْوَاجِنَا، وَذُرِّيَّاتِنَا، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ، وَاجْعَلْنَا شَاكِرِينَ لِنِعَمِكَ مُثْنِينَ بِهَا عَلَيْكَ، قَابِلِينَ لَهَا، وَأَتِمِمْهَا عَلَيْنَا رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي رَمَضَانَ وَاَعِنَّا عَلَى صِيَامِهِ وَقِيَامِهِ وَقِيَامِ لَيْلَةَ القَدْرِ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن. وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ   Naskah Khutbah Jumat Masjid Jenderal Sudirman Panggang, Jum’at Pahing, 21 Ramadhan 1438 H (16 Juni 2017) Silakan download File PDF: Naskah Khutbah Jumat: Kita Sekarang Berada di Partai Final — Disusun @ DS, Panggang, GK, Jumat pagi, 21 Ramadhan 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsamalan ramadhan khutbah jumat khutbah jumat ramadhan lailatul qadar

Hukum Cium Tangan

Hadits Berkaitan dengan Masalah Cium Tangan Cium tangan bagi sebagian besar kaum muslimin sudah menjadi suatu budaya.  Tradisi cium tangan ini dijadikan sebagai wujud dari rasa kasih sayang dan penghormatan. Lalu bagaimana Islam memandang hal ini? berikut hadits yang berkaitan dengan cium tangan.عن جابر أن عمر قام إلى النبي صلى الله عليه وسلم فقبل يده“Dari Jabir Radhiallahu anhu, bahwa Umar bergegas menuju Rasulullah lalu mencium tangannya” (HR. Ahmad dan Ibnul Muqri dalam Taqbilu Al-Yad, Ibnu Hajar mengatakan, sanadnya Jayyid [1/18]).عن صفوان بن عسال أن يهوديا قال لصاحبه: اذهب بنا إلى هذا النبي صلى الله عليه وسلم .قال: فقبلا يديه ورجليه وقالا: نشهد أنك نبي الله صلى الله عليه وسلم“Dari Sofwan bin Assal, bahwa ada dua orang yahudi bertanya kepada Rasulullah  (tentang tujuh ayat yang pernah diturunkan kepada Musa Alaihi Salam), setelah dijawab mereka menicum tangan dan kaki Rasulullah lalu  mereka berkata, kami bersaksi bahwa engkau adalah nabi” (HR. Tirmdizi, beliau berkata, Hasan Shahih, Al-Hafidz Ibnu Hajar mengatakan di dalam At-Talkhis sanadnya kuat 240/5).عن أسامة بن شريك قال: قمنا إلى النبي صلى الله عليه وسلم فقبلنا يده“Dari Usamah bin Syarik, kami bertemu Rasulullah lalu kami mencium tangannya” (HR. Ibnul Muqri dalam Taqbilul Yad, berkata Ibnu Hajar dalam Al-Fath sanad nya kuat).Cium Tangan Bukan Kekhususan RasulullahDari Ammar bin abi Ammar, pernah Zaid bin Tsabit mengatakan kepada Ibnu Abbas, “berikanlah tanganmu.” Maka diberikanlah tangan ibnu Abbas lalu zaid menciumnya” (HR. Ibnu Saad dan Al-Hafidz ibnu hajar mengatakan sanadnya Jayyid).Boleh Mencium Tangan Ahlul Fadli (Guru, Orang Tua, dan Semisal Sebagai Wujud Kasih Sayang dan PenghormatanDari Aisyah bahwa ia berkata, “Tidaklah aku pernah melihat seseorang yang lebih mirip cara bicaranya dengan Rasulullah melainkan fatimah, jika fatimah datang ke rumah Rasulullah, beliau menyambutnya mencium tangannya, dan jika hendak pulang fatimah mencium tangan Rasulullah” (HR. Abu Dawud 5217, di shahihkan pula oleh Al-Albani dalam Misyaktul Masabih).Dari ‘Abdurahman bin Razin beliau berkata, “kami pernah menjumpai Salamah bin Akwa’ lalu kami bersalaman dengannya. Kemudian aku bertanya, “kamu pernah membaiat Rasulullah dengan tanganmu ini?” Maka kami cium tangannya (HR. Bukhari di dalam Adabul Mufrad (1/338) dan Tabrani dalam Al-Ausat (1/205) dihasankan oleh syeikh Al-Albani dalam Shahih Adabul Mufrad, dan berkata haistamy, Rijaluhu tsiqot)Dari Musa bin Dawud bahwa dahulu aku pernah bersama dengan Sufyan bin ‘Uyainah kemudian datang Husain Al-Ju’fi lalu diciumlah tangan Husain oleh Sufyan (Taqbilul yad 1/77).Pendapat Ulama Mengenai Masalah Cium Tangan Di dalam kitabul wara karya Imam Ahmad diriwayatkan bahwa Sufyan At Stauri mengatakan, “Tidak mengapa mencium tangan seorang imam, namun jika untuk kedunian maka tidak boleh.” Berkata Al-Tahtawi dalam Hasyiah Maraqil Falah, “maka diketahui dari dalil-dalil yang kami bawakan bahwa bolehnya mencium tangan, kaki, kasyh, kepala, jidat, bibir, dan di antara kedua mata, AKAN TETAPI harus dalam rangka kasih sayang, dan penghormatan ,bukan syahwat, karena syahwat hanya diperbolehkan untuk pasangan suami istri.” Berkata Al-Imam An-Nawawi dalam Raudhatu Thalibin, “Adapun menicum tangan karena keshalihannya, keilmuan, kemulian, atau jasanya atau sebab-sebab lain yang berkaitan dengan keagamaan maka mandub (disukai), namun jika untuk dunia, untuk jabatan, dan lain sebagainya maka sangat dibenci. Berkata Al Mutawali, hukumnya haram.“ Berkata Abu Bakr Al-Marwazi dalam kitab Al-Wara’, “Saya pernah bertanya kepada Abu Abdillah (IMAM AHMAD) tentang mencium tangan, beliau mengatakan tidak mengapa jika alasannya karena agama, namun jika karena kedunian maka tidak boleh, kecuali dalam keadaan jika tidak menicum tangannya akan di tebas dengan pedang. Berkata Syaikh Ibnu ‘Ustaimin dalam Fatawa Al-Bab Al-Maftuh, “Mencium tangan sebagai bentuk penghormatan kepada orang-orang yang berhak dihormati seperti ayah, para orang-orang tua, guru tidaklah mengapa.” Dari riwayat-riwayat di atas jelas kepada kita akan bolehnya mencium tangan.Syarat dan Batas Bolehnya Mencium TanganNamun para Imam ada yang memberikan syarat-syarat agar mencium tangan tetap dalam koridor yang dibolehkan, syeikh Al-AlBani rahiamhullah menuliskan di dalam Silisalah Ahadistu Shahihah beberapa syarat dalam mencium tangan kepada seorang alim, Tidak dijadikan kebiasaan, yakni tidak menjadikan si alim tersebut terbiasa menjulurkan tangannya kepada para murid dan tidaklah murid untuk mencari berkahnya, ini karena Nabi jarang tangannya dicium oleh para sahabat, maka ini tidak bisa dijadikan sebuah perbuatan yang dilakukan terus menerus sebagaimana yang kita ketahui dalam Qawaidul Fiqhiyah Tidak menjadikan seorang alim sombong, dan melihat dirinya hebat. Tidak menjadikan sunnah yang lain ditinggalkan, seperti hanya bersalaman, karena hanya bersalaman tanpa cium tangan merupakan perintah Rasul. Semoga bermanfaatPenulis: Muhammad Halid Syar’i Artikel: Muslim.or.id🔍 Barangsiapa Yang Menyerupai Suatu Kaum, Berjanji Dalam Islam, Syariat Qurban, Doa Agar Cepat Terkabul, Hukum Orang Tua Menyakiti Hati Anak

Hukum Cium Tangan

Hadits Berkaitan dengan Masalah Cium Tangan Cium tangan bagi sebagian besar kaum muslimin sudah menjadi suatu budaya.  Tradisi cium tangan ini dijadikan sebagai wujud dari rasa kasih sayang dan penghormatan. Lalu bagaimana Islam memandang hal ini? berikut hadits yang berkaitan dengan cium tangan.عن جابر أن عمر قام إلى النبي صلى الله عليه وسلم فقبل يده“Dari Jabir Radhiallahu anhu, bahwa Umar bergegas menuju Rasulullah lalu mencium tangannya” (HR. Ahmad dan Ibnul Muqri dalam Taqbilu Al-Yad, Ibnu Hajar mengatakan, sanadnya Jayyid [1/18]).عن صفوان بن عسال أن يهوديا قال لصاحبه: اذهب بنا إلى هذا النبي صلى الله عليه وسلم .قال: فقبلا يديه ورجليه وقالا: نشهد أنك نبي الله صلى الله عليه وسلم“Dari Sofwan bin Assal, bahwa ada dua orang yahudi bertanya kepada Rasulullah  (tentang tujuh ayat yang pernah diturunkan kepada Musa Alaihi Salam), setelah dijawab mereka menicum tangan dan kaki Rasulullah lalu  mereka berkata, kami bersaksi bahwa engkau adalah nabi” (HR. Tirmdizi, beliau berkata, Hasan Shahih, Al-Hafidz Ibnu Hajar mengatakan di dalam At-Talkhis sanadnya kuat 240/5).عن أسامة بن شريك قال: قمنا إلى النبي صلى الله عليه وسلم فقبلنا يده“Dari Usamah bin Syarik, kami bertemu Rasulullah lalu kami mencium tangannya” (HR. Ibnul Muqri dalam Taqbilul Yad, berkata Ibnu Hajar dalam Al-Fath sanad nya kuat).Cium Tangan Bukan Kekhususan RasulullahDari Ammar bin abi Ammar, pernah Zaid bin Tsabit mengatakan kepada Ibnu Abbas, “berikanlah tanganmu.” Maka diberikanlah tangan ibnu Abbas lalu zaid menciumnya” (HR. Ibnu Saad dan Al-Hafidz ibnu hajar mengatakan sanadnya Jayyid).Boleh Mencium Tangan Ahlul Fadli (Guru, Orang Tua, dan Semisal Sebagai Wujud Kasih Sayang dan PenghormatanDari Aisyah bahwa ia berkata, “Tidaklah aku pernah melihat seseorang yang lebih mirip cara bicaranya dengan Rasulullah melainkan fatimah, jika fatimah datang ke rumah Rasulullah, beliau menyambutnya mencium tangannya, dan jika hendak pulang fatimah mencium tangan Rasulullah” (HR. Abu Dawud 5217, di shahihkan pula oleh Al-Albani dalam Misyaktul Masabih).Dari ‘Abdurahman bin Razin beliau berkata, “kami pernah menjumpai Salamah bin Akwa’ lalu kami bersalaman dengannya. Kemudian aku bertanya, “kamu pernah membaiat Rasulullah dengan tanganmu ini?” Maka kami cium tangannya (HR. Bukhari di dalam Adabul Mufrad (1/338) dan Tabrani dalam Al-Ausat (1/205) dihasankan oleh syeikh Al-Albani dalam Shahih Adabul Mufrad, dan berkata haistamy, Rijaluhu tsiqot)Dari Musa bin Dawud bahwa dahulu aku pernah bersama dengan Sufyan bin ‘Uyainah kemudian datang Husain Al-Ju’fi lalu diciumlah tangan Husain oleh Sufyan (Taqbilul yad 1/77).Pendapat Ulama Mengenai Masalah Cium Tangan Di dalam kitabul wara karya Imam Ahmad diriwayatkan bahwa Sufyan At Stauri mengatakan, “Tidak mengapa mencium tangan seorang imam, namun jika untuk kedunian maka tidak boleh.” Berkata Al-Tahtawi dalam Hasyiah Maraqil Falah, “maka diketahui dari dalil-dalil yang kami bawakan bahwa bolehnya mencium tangan, kaki, kasyh, kepala, jidat, bibir, dan di antara kedua mata, AKAN TETAPI harus dalam rangka kasih sayang, dan penghormatan ,bukan syahwat, karena syahwat hanya diperbolehkan untuk pasangan suami istri.” Berkata Al-Imam An-Nawawi dalam Raudhatu Thalibin, “Adapun menicum tangan karena keshalihannya, keilmuan, kemulian, atau jasanya atau sebab-sebab lain yang berkaitan dengan keagamaan maka mandub (disukai), namun jika untuk dunia, untuk jabatan, dan lain sebagainya maka sangat dibenci. Berkata Al Mutawali, hukumnya haram.“ Berkata Abu Bakr Al-Marwazi dalam kitab Al-Wara’, “Saya pernah bertanya kepada Abu Abdillah (IMAM AHMAD) tentang mencium tangan, beliau mengatakan tidak mengapa jika alasannya karena agama, namun jika karena kedunian maka tidak boleh, kecuali dalam keadaan jika tidak menicum tangannya akan di tebas dengan pedang. Berkata Syaikh Ibnu ‘Ustaimin dalam Fatawa Al-Bab Al-Maftuh, “Mencium tangan sebagai bentuk penghormatan kepada orang-orang yang berhak dihormati seperti ayah, para orang-orang tua, guru tidaklah mengapa.” Dari riwayat-riwayat di atas jelas kepada kita akan bolehnya mencium tangan.Syarat dan Batas Bolehnya Mencium TanganNamun para Imam ada yang memberikan syarat-syarat agar mencium tangan tetap dalam koridor yang dibolehkan, syeikh Al-AlBani rahiamhullah menuliskan di dalam Silisalah Ahadistu Shahihah beberapa syarat dalam mencium tangan kepada seorang alim, Tidak dijadikan kebiasaan, yakni tidak menjadikan si alim tersebut terbiasa menjulurkan tangannya kepada para murid dan tidaklah murid untuk mencari berkahnya, ini karena Nabi jarang tangannya dicium oleh para sahabat, maka ini tidak bisa dijadikan sebuah perbuatan yang dilakukan terus menerus sebagaimana yang kita ketahui dalam Qawaidul Fiqhiyah Tidak menjadikan seorang alim sombong, dan melihat dirinya hebat. Tidak menjadikan sunnah yang lain ditinggalkan, seperti hanya bersalaman, karena hanya bersalaman tanpa cium tangan merupakan perintah Rasul. Semoga bermanfaatPenulis: Muhammad Halid Syar’i Artikel: Muslim.or.id🔍 Barangsiapa Yang Menyerupai Suatu Kaum, Berjanji Dalam Islam, Syariat Qurban, Doa Agar Cepat Terkabul, Hukum Orang Tua Menyakiti Hati Anak
Hadits Berkaitan dengan Masalah Cium Tangan Cium tangan bagi sebagian besar kaum muslimin sudah menjadi suatu budaya.  Tradisi cium tangan ini dijadikan sebagai wujud dari rasa kasih sayang dan penghormatan. Lalu bagaimana Islam memandang hal ini? berikut hadits yang berkaitan dengan cium tangan.عن جابر أن عمر قام إلى النبي صلى الله عليه وسلم فقبل يده“Dari Jabir Radhiallahu anhu, bahwa Umar bergegas menuju Rasulullah lalu mencium tangannya” (HR. Ahmad dan Ibnul Muqri dalam Taqbilu Al-Yad, Ibnu Hajar mengatakan, sanadnya Jayyid [1/18]).عن صفوان بن عسال أن يهوديا قال لصاحبه: اذهب بنا إلى هذا النبي صلى الله عليه وسلم .قال: فقبلا يديه ورجليه وقالا: نشهد أنك نبي الله صلى الله عليه وسلم“Dari Sofwan bin Assal, bahwa ada dua orang yahudi bertanya kepada Rasulullah  (tentang tujuh ayat yang pernah diturunkan kepada Musa Alaihi Salam), setelah dijawab mereka menicum tangan dan kaki Rasulullah lalu  mereka berkata, kami bersaksi bahwa engkau adalah nabi” (HR. Tirmdizi, beliau berkata, Hasan Shahih, Al-Hafidz Ibnu Hajar mengatakan di dalam At-Talkhis sanadnya kuat 240/5).عن أسامة بن شريك قال: قمنا إلى النبي صلى الله عليه وسلم فقبلنا يده“Dari Usamah bin Syarik, kami bertemu Rasulullah lalu kami mencium tangannya” (HR. Ibnul Muqri dalam Taqbilul Yad, berkata Ibnu Hajar dalam Al-Fath sanad nya kuat).Cium Tangan Bukan Kekhususan RasulullahDari Ammar bin abi Ammar, pernah Zaid bin Tsabit mengatakan kepada Ibnu Abbas, “berikanlah tanganmu.” Maka diberikanlah tangan ibnu Abbas lalu zaid menciumnya” (HR. Ibnu Saad dan Al-Hafidz ibnu hajar mengatakan sanadnya Jayyid).Boleh Mencium Tangan Ahlul Fadli (Guru, Orang Tua, dan Semisal Sebagai Wujud Kasih Sayang dan PenghormatanDari Aisyah bahwa ia berkata, “Tidaklah aku pernah melihat seseorang yang lebih mirip cara bicaranya dengan Rasulullah melainkan fatimah, jika fatimah datang ke rumah Rasulullah, beliau menyambutnya mencium tangannya, dan jika hendak pulang fatimah mencium tangan Rasulullah” (HR. Abu Dawud 5217, di shahihkan pula oleh Al-Albani dalam Misyaktul Masabih).Dari ‘Abdurahman bin Razin beliau berkata, “kami pernah menjumpai Salamah bin Akwa’ lalu kami bersalaman dengannya. Kemudian aku bertanya, “kamu pernah membaiat Rasulullah dengan tanganmu ini?” Maka kami cium tangannya (HR. Bukhari di dalam Adabul Mufrad (1/338) dan Tabrani dalam Al-Ausat (1/205) dihasankan oleh syeikh Al-Albani dalam Shahih Adabul Mufrad, dan berkata haistamy, Rijaluhu tsiqot)Dari Musa bin Dawud bahwa dahulu aku pernah bersama dengan Sufyan bin ‘Uyainah kemudian datang Husain Al-Ju’fi lalu diciumlah tangan Husain oleh Sufyan (Taqbilul yad 1/77).Pendapat Ulama Mengenai Masalah Cium Tangan Di dalam kitabul wara karya Imam Ahmad diriwayatkan bahwa Sufyan At Stauri mengatakan, “Tidak mengapa mencium tangan seorang imam, namun jika untuk kedunian maka tidak boleh.” Berkata Al-Tahtawi dalam Hasyiah Maraqil Falah, “maka diketahui dari dalil-dalil yang kami bawakan bahwa bolehnya mencium tangan, kaki, kasyh, kepala, jidat, bibir, dan di antara kedua mata, AKAN TETAPI harus dalam rangka kasih sayang, dan penghormatan ,bukan syahwat, karena syahwat hanya diperbolehkan untuk pasangan suami istri.” Berkata Al-Imam An-Nawawi dalam Raudhatu Thalibin, “Adapun menicum tangan karena keshalihannya, keilmuan, kemulian, atau jasanya atau sebab-sebab lain yang berkaitan dengan keagamaan maka mandub (disukai), namun jika untuk dunia, untuk jabatan, dan lain sebagainya maka sangat dibenci. Berkata Al Mutawali, hukumnya haram.“ Berkata Abu Bakr Al-Marwazi dalam kitab Al-Wara’, “Saya pernah bertanya kepada Abu Abdillah (IMAM AHMAD) tentang mencium tangan, beliau mengatakan tidak mengapa jika alasannya karena agama, namun jika karena kedunian maka tidak boleh, kecuali dalam keadaan jika tidak menicum tangannya akan di tebas dengan pedang. Berkata Syaikh Ibnu ‘Ustaimin dalam Fatawa Al-Bab Al-Maftuh, “Mencium tangan sebagai bentuk penghormatan kepada orang-orang yang berhak dihormati seperti ayah, para orang-orang tua, guru tidaklah mengapa.” Dari riwayat-riwayat di atas jelas kepada kita akan bolehnya mencium tangan.Syarat dan Batas Bolehnya Mencium TanganNamun para Imam ada yang memberikan syarat-syarat agar mencium tangan tetap dalam koridor yang dibolehkan, syeikh Al-AlBani rahiamhullah menuliskan di dalam Silisalah Ahadistu Shahihah beberapa syarat dalam mencium tangan kepada seorang alim, Tidak dijadikan kebiasaan, yakni tidak menjadikan si alim tersebut terbiasa menjulurkan tangannya kepada para murid dan tidaklah murid untuk mencari berkahnya, ini karena Nabi jarang tangannya dicium oleh para sahabat, maka ini tidak bisa dijadikan sebuah perbuatan yang dilakukan terus menerus sebagaimana yang kita ketahui dalam Qawaidul Fiqhiyah Tidak menjadikan seorang alim sombong, dan melihat dirinya hebat. Tidak menjadikan sunnah yang lain ditinggalkan, seperti hanya bersalaman, karena hanya bersalaman tanpa cium tangan merupakan perintah Rasul. Semoga bermanfaatPenulis: Muhammad Halid Syar’i Artikel: Muslim.or.id🔍 Barangsiapa Yang Menyerupai Suatu Kaum, Berjanji Dalam Islam, Syariat Qurban, Doa Agar Cepat Terkabul, Hukum Orang Tua Menyakiti Hati Anak


Hadits Berkaitan dengan Masalah Cium Tangan Cium tangan bagi sebagian besar kaum muslimin sudah menjadi suatu budaya.  Tradisi cium tangan ini dijadikan sebagai wujud dari rasa kasih sayang dan penghormatan. Lalu bagaimana Islam memandang hal ini? berikut hadits yang berkaitan dengan cium tangan.عن جابر أن عمر قام إلى النبي صلى الله عليه وسلم فقبل يده“Dari Jabir Radhiallahu anhu, bahwa Umar bergegas menuju Rasulullah lalu mencium tangannya” (HR. Ahmad dan Ibnul Muqri dalam Taqbilu Al-Yad, Ibnu Hajar mengatakan, sanadnya Jayyid [1/18]).عن صفوان بن عسال أن يهوديا قال لصاحبه: اذهب بنا إلى هذا النبي صلى الله عليه وسلم .قال: فقبلا يديه ورجليه وقالا: نشهد أنك نبي الله صلى الله عليه وسلم“Dari Sofwan bin Assal, bahwa ada dua orang yahudi bertanya kepada Rasulullah  (tentang tujuh ayat yang pernah diturunkan kepada Musa Alaihi Salam), setelah dijawab mereka menicum tangan dan kaki Rasulullah lalu  mereka berkata, kami bersaksi bahwa engkau adalah nabi” (HR. Tirmdizi, beliau berkata, Hasan Shahih, Al-Hafidz Ibnu Hajar mengatakan di dalam At-Talkhis sanadnya kuat 240/5).عن أسامة بن شريك قال: قمنا إلى النبي صلى الله عليه وسلم فقبلنا يده“Dari Usamah bin Syarik, kami bertemu Rasulullah lalu kami mencium tangannya” (HR. Ibnul Muqri dalam Taqbilul Yad, berkata Ibnu Hajar dalam Al-Fath sanad nya kuat).Cium Tangan Bukan Kekhususan RasulullahDari Ammar bin abi Ammar, pernah Zaid bin Tsabit mengatakan kepada Ibnu Abbas, “berikanlah tanganmu.” Maka diberikanlah tangan ibnu Abbas lalu zaid menciumnya” (HR. Ibnu Saad dan Al-Hafidz ibnu hajar mengatakan sanadnya Jayyid).Boleh Mencium Tangan Ahlul Fadli (Guru, Orang Tua, dan Semisal Sebagai Wujud Kasih Sayang dan PenghormatanDari Aisyah bahwa ia berkata, “Tidaklah aku pernah melihat seseorang yang lebih mirip cara bicaranya dengan Rasulullah melainkan fatimah, jika fatimah datang ke rumah Rasulullah, beliau menyambutnya mencium tangannya, dan jika hendak pulang fatimah mencium tangan Rasulullah” (HR. Abu Dawud 5217, di shahihkan pula oleh Al-Albani dalam Misyaktul Masabih).Dari ‘Abdurahman bin Razin beliau berkata, “kami pernah menjumpai Salamah bin Akwa’ lalu kami bersalaman dengannya. Kemudian aku bertanya, “kamu pernah membaiat Rasulullah dengan tanganmu ini?” Maka kami cium tangannya (HR. Bukhari di dalam Adabul Mufrad (1/338) dan Tabrani dalam Al-Ausat (1/205) dihasankan oleh syeikh Al-Albani dalam Shahih Adabul Mufrad, dan berkata haistamy, Rijaluhu tsiqot)Dari Musa bin Dawud bahwa dahulu aku pernah bersama dengan Sufyan bin ‘Uyainah kemudian datang Husain Al-Ju’fi lalu diciumlah tangan Husain oleh Sufyan (Taqbilul yad 1/77).Pendapat Ulama Mengenai Masalah Cium Tangan Di dalam kitabul wara karya Imam Ahmad diriwayatkan bahwa Sufyan At Stauri mengatakan, “Tidak mengapa mencium tangan seorang imam, namun jika untuk kedunian maka tidak boleh.” Berkata Al-Tahtawi dalam Hasyiah Maraqil Falah, “maka diketahui dari dalil-dalil yang kami bawakan bahwa bolehnya mencium tangan, kaki, kasyh, kepala, jidat, bibir, dan di antara kedua mata, AKAN TETAPI harus dalam rangka kasih sayang, dan penghormatan ,bukan syahwat, karena syahwat hanya diperbolehkan untuk pasangan suami istri.” Berkata Al-Imam An-Nawawi dalam Raudhatu Thalibin, “Adapun menicum tangan karena keshalihannya, keilmuan, kemulian, atau jasanya atau sebab-sebab lain yang berkaitan dengan keagamaan maka mandub (disukai), namun jika untuk dunia, untuk jabatan, dan lain sebagainya maka sangat dibenci. Berkata Al Mutawali, hukumnya haram.“ Berkata Abu Bakr Al-Marwazi dalam kitab Al-Wara’, “Saya pernah bertanya kepada Abu Abdillah (IMAM AHMAD) tentang mencium tangan, beliau mengatakan tidak mengapa jika alasannya karena agama, namun jika karena kedunian maka tidak boleh, kecuali dalam keadaan jika tidak menicum tangannya akan di tebas dengan pedang. Berkata Syaikh Ibnu ‘Ustaimin dalam Fatawa Al-Bab Al-Maftuh, “Mencium tangan sebagai bentuk penghormatan kepada orang-orang yang berhak dihormati seperti ayah, para orang-orang tua, guru tidaklah mengapa.” Dari riwayat-riwayat di atas jelas kepada kita akan bolehnya mencium tangan.Syarat dan Batas Bolehnya Mencium TanganNamun para Imam ada yang memberikan syarat-syarat agar mencium tangan tetap dalam koridor yang dibolehkan, syeikh Al-AlBani rahiamhullah menuliskan di dalam Silisalah Ahadistu Shahihah beberapa syarat dalam mencium tangan kepada seorang alim, Tidak dijadikan kebiasaan, yakni tidak menjadikan si alim tersebut terbiasa menjulurkan tangannya kepada para murid dan tidaklah murid untuk mencari berkahnya, ini karena Nabi jarang tangannya dicium oleh para sahabat, maka ini tidak bisa dijadikan sebuah perbuatan yang dilakukan terus menerus sebagaimana yang kita ketahui dalam Qawaidul Fiqhiyah Tidak menjadikan seorang alim sombong, dan melihat dirinya hebat. Tidak menjadikan sunnah yang lain ditinggalkan, seperti hanya bersalaman, karena hanya bersalaman tanpa cium tangan merupakan perintah Rasul. Semoga bermanfaatPenulis: Muhammad Halid Syar’i Artikel: Muslim.or.id🔍 Barangsiapa Yang Menyerupai Suatu Kaum, Berjanji Dalam Islam, Syariat Qurban, Doa Agar Cepat Terkabul, Hukum Orang Tua Menyakiti Hati Anak

Renungan #21, Pakaian Takwa dan Pakaian Penutup Aurat

Walau kita dituntut menutup aurat dengan pakaian kita, ingatlah pakaian takwa itu yang lebih baik. Allah Ta’ala berfirman, يَا بَنِي آَدَمَ قَدْ أَنْزَلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَاسًا يُوَارِي سَوْآَتِكُمْ وَرِيشًا وَلِبَاسُ التَّقْوَى ذَلِكَ خَيْرٌ ذَلِكَ مِنْ آَيَاتِ اللَّهِ لَعَلَّهُمْ يَذَّكَّرُونَ (26) يَا بَنِي آَدَمَ لَا يَفْتِنَنَّكُمُ الشَّيْطَانُ كَمَا أَخْرَجَ أَبَوَيْكُمْ مِنَ الْجَنَّةِ يَنْزِعُ عَنْهُمَا لِبَاسَهُمَا لِيُرِيَهُمَا سَوْآَتِهِمَا إِنَّهُ يَرَاكُمْ هُوَ وَقَبِيلُهُ مِنْ حَيْثُ لَا تَرَوْنَهُمْ إِنَّا جَعَلْنَا الشَّيَاطِينَ أَوْلِيَاءَ لِلَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ (27) “Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat. Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh syaitan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapamu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya ‘auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dan suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan syaitan-syaitan itu pemimpin-pemimpim bagi orang-orang yang tidak beriman..” (QS. Al-A’raf: 26-27) Faedah yang terkandung dalam ayat di atas: Perintah untuk menutupi aurat (pakaian pokok) dan pakaian yang lebih sempurna untuk berhias diri. Pakaian tadi dipakai dengan maksud untuk mendukung dalam ibadah dan ketaatan. Pakaian takwa lebih baik daripada pakaian lahiriyah. Pakaian takwa inilah yang terus bersama hamba tidak pernah lusuh dan rusak. Pakaian takwa itulah yang menghiasi hati dan ruh. Tidak adanya pakaian lahiriyah akan membuat aurat itu nampak, namun ketika dalam keadaan darurat masih boleh ditampakkan. Sedangkan kalau tidak adanya pakaian takwa, terbukalah aurat batin yang jelas menampakkan kehinaan dan aib. Setan berusaha untuk menggoda manusia, mengajak untuk menjadi pengikutnya sebagaimana Adam dan istrinya dahulu tergoda. Setan dari kalangan jin itu melihat kita dan terus bersama kita, sedangkan kita tidak bisa melihat mereka. Setan itu menjadi penolong dan pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman.   Referensi: Tafsir As-Sa’di. Cetakan kedua, tahun 1433 H. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. Penerbit Muassasah Ar-Risalah. — Disusun @ DS, Panggang, GK, Kamis sore, 20 Ramadhan 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsaurat pakaian renungan ayat renungan quran

Renungan #21, Pakaian Takwa dan Pakaian Penutup Aurat

Walau kita dituntut menutup aurat dengan pakaian kita, ingatlah pakaian takwa itu yang lebih baik. Allah Ta’ala berfirman, يَا بَنِي آَدَمَ قَدْ أَنْزَلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَاسًا يُوَارِي سَوْآَتِكُمْ وَرِيشًا وَلِبَاسُ التَّقْوَى ذَلِكَ خَيْرٌ ذَلِكَ مِنْ آَيَاتِ اللَّهِ لَعَلَّهُمْ يَذَّكَّرُونَ (26) يَا بَنِي آَدَمَ لَا يَفْتِنَنَّكُمُ الشَّيْطَانُ كَمَا أَخْرَجَ أَبَوَيْكُمْ مِنَ الْجَنَّةِ يَنْزِعُ عَنْهُمَا لِبَاسَهُمَا لِيُرِيَهُمَا سَوْآَتِهِمَا إِنَّهُ يَرَاكُمْ هُوَ وَقَبِيلُهُ مِنْ حَيْثُ لَا تَرَوْنَهُمْ إِنَّا جَعَلْنَا الشَّيَاطِينَ أَوْلِيَاءَ لِلَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ (27) “Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat. Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh syaitan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapamu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya ‘auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dan suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan syaitan-syaitan itu pemimpin-pemimpim bagi orang-orang yang tidak beriman..” (QS. Al-A’raf: 26-27) Faedah yang terkandung dalam ayat di atas: Perintah untuk menutupi aurat (pakaian pokok) dan pakaian yang lebih sempurna untuk berhias diri. Pakaian tadi dipakai dengan maksud untuk mendukung dalam ibadah dan ketaatan. Pakaian takwa lebih baik daripada pakaian lahiriyah. Pakaian takwa inilah yang terus bersama hamba tidak pernah lusuh dan rusak. Pakaian takwa itulah yang menghiasi hati dan ruh. Tidak adanya pakaian lahiriyah akan membuat aurat itu nampak, namun ketika dalam keadaan darurat masih boleh ditampakkan. Sedangkan kalau tidak adanya pakaian takwa, terbukalah aurat batin yang jelas menampakkan kehinaan dan aib. Setan berusaha untuk menggoda manusia, mengajak untuk menjadi pengikutnya sebagaimana Adam dan istrinya dahulu tergoda. Setan dari kalangan jin itu melihat kita dan terus bersama kita, sedangkan kita tidak bisa melihat mereka. Setan itu menjadi penolong dan pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman.   Referensi: Tafsir As-Sa’di. Cetakan kedua, tahun 1433 H. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. Penerbit Muassasah Ar-Risalah. — Disusun @ DS, Panggang, GK, Kamis sore, 20 Ramadhan 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsaurat pakaian renungan ayat renungan quran
Walau kita dituntut menutup aurat dengan pakaian kita, ingatlah pakaian takwa itu yang lebih baik. Allah Ta’ala berfirman, يَا بَنِي آَدَمَ قَدْ أَنْزَلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَاسًا يُوَارِي سَوْآَتِكُمْ وَرِيشًا وَلِبَاسُ التَّقْوَى ذَلِكَ خَيْرٌ ذَلِكَ مِنْ آَيَاتِ اللَّهِ لَعَلَّهُمْ يَذَّكَّرُونَ (26) يَا بَنِي آَدَمَ لَا يَفْتِنَنَّكُمُ الشَّيْطَانُ كَمَا أَخْرَجَ أَبَوَيْكُمْ مِنَ الْجَنَّةِ يَنْزِعُ عَنْهُمَا لِبَاسَهُمَا لِيُرِيَهُمَا سَوْآَتِهِمَا إِنَّهُ يَرَاكُمْ هُوَ وَقَبِيلُهُ مِنْ حَيْثُ لَا تَرَوْنَهُمْ إِنَّا جَعَلْنَا الشَّيَاطِينَ أَوْلِيَاءَ لِلَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ (27) “Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat. Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh syaitan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapamu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya ‘auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dan suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan syaitan-syaitan itu pemimpin-pemimpim bagi orang-orang yang tidak beriman..” (QS. Al-A’raf: 26-27) Faedah yang terkandung dalam ayat di atas: Perintah untuk menutupi aurat (pakaian pokok) dan pakaian yang lebih sempurna untuk berhias diri. Pakaian tadi dipakai dengan maksud untuk mendukung dalam ibadah dan ketaatan. Pakaian takwa lebih baik daripada pakaian lahiriyah. Pakaian takwa inilah yang terus bersama hamba tidak pernah lusuh dan rusak. Pakaian takwa itulah yang menghiasi hati dan ruh. Tidak adanya pakaian lahiriyah akan membuat aurat itu nampak, namun ketika dalam keadaan darurat masih boleh ditampakkan. Sedangkan kalau tidak adanya pakaian takwa, terbukalah aurat batin yang jelas menampakkan kehinaan dan aib. Setan berusaha untuk menggoda manusia, mengajak untuk menjadi pengikutnya sebagaimana Adam dan istrinya dahulu tergoda. Setan dari kalangan jin itu melihat kita dan terus bersama kita, sedangkan kita tidak bisa melihat mereka. Setan itu menjadi penolong dan pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman.   Referensi: Tafsir As-Sa’di. Cetakan kedua, tahun 1433 H. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. Penerbit Muassasah Ar-Risalah. — Disusun @ DS, Panggang, GK, Kamis sore, 20 Ramadhan 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsaurat pakaian renungan ayat renungan quran


Walau kita dituntut menutup aurat dengan pakaian kita, ingatlah pakaian takwa itu yang lebih baik. Allah Ta’ala berfirman, يَا بَنِي آَدَمَ قَدْ أَنْزَلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَاسًا يُوَارِي سَوْآَتِكُمْ وَرِيشًا وَلِبَاسُ التَّقْوَى ذَلِكَ خَيْرٌ ذَلِكَ مِنْ آَيَاتِ اللَّهِ لَعَلَّهُمْ يَذَّكَّرُونَ (26) يَا بَنِي آَدَمَ لَا يَفْتِنَنَّكُمُ الشَّيْطَانُ كَمَا أَخْرَجَ أَبَوَيْكُمْ مِنَ الْجَنَّةِ يَنْزِعُ عَنْهُمَا لِبَاسَهُمَا لِيُرِيَهُمَا سَوْآَتِهِمَا إِنَّهُ يَرَاكُمْ هُوَ وَقَبِيلُهُ مِنْ حَيْثُ لَا تَرَوْنَهُمْ إِنَّا جَعَلْنَا الشَّيَاطِينَ أَوْلِيَاءَ لِلَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ (27) “Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat. Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh syaitan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapamu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya ‘auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dan suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan syaitan-syaitan itu pemimpin-pemimpim bagi orang-orang yang tidak beriman..” (QS. Al-A’raf: 26-27) Faedah yang terkandung dalam ayat di atas: Perintah untuk menutupi aurat (pakaian pokok) dan pakaian yang lebih sempurna untuk berhias diri. Pakaian tadi dipakai dengan maksud untuk mendukung dalam ibadah dan ketaatan. Pakaian takwa lebih baik daripada pakaian lahiriyah. Pakaian takwa inilah yang terus bersama hamba tidak pernah lusuh dan rusak. Pakaian takwa itulah yang menghiasi hati dan ruh. Tidak adanya pakaian lahiriyah akan membuat aurat itu nampak, namun ketika dalam keadaan darurat masih boleh ditampakkan. Sedangkan kalau tidak adanya pakaian takwa, terbukalah aurat batin yang jelas menampakkan kehinaan dan aib. Setan berusaha untuk menggoda manusia, mengajak untuk menjadi pengikutnya sebagaimana Adam dan istrinya dahulu tergoda. Setan dari kalangan jin itu melihat kita dan terus bersama kita, sedangkan kita tidak bisa melihat mereka. Setan itu menjadi penolong dan pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman.   Referensi: Tafsir As-Sa’di. Cetakan kedua, tahun 1433 H. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. Penerbit Muassasah Ar-Risalah. — Disusun @ DS, Panggang, GK, Kamis sore, 20 Ramadhan 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsaurat pakaian renungan ayat renungan quran

Tabungan Bank Termasuk Qardh (Meminjamkan), Bukan Wadiah (Menitipkan)

Tabungan di bank tepatkah disebut wadiah (menitipkan) ataukah hakikatnya nasabah itu meminjamkan uang pada bank (qardh)? Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin ditanya, sebagian bank memberikan hadiah kepada nasabah yang cuma menyimpan uang saja tanpa ambil bunga, apakah hadiah tersebut boleh dimanfaatkan oleh Nasabah? Syaikh rahimahullah menjelaskan, “Engkau sudah tahu bahwa menyimpan beberapa dirham di bank itu bukan disebut wadi’ah (menitip), namun akad sejatinya adalah qardh (meminjamkan). Yang disebutkan oleh orang-orang bahwa akad tersebut adalah wadi’ah itu keliru. Jika engkau menyerahkan uang pada bank, apakah bank itu menjaga uang tadi sebagaimana adanya, sampai nanti diminta kembali juga bentuknya seperti itu ataukah bank menggunakan uang tadi terlebih dahulu? Tentu bank akan masukkan dalam tabungan dan akan menggunakannya. Kesaimpulannya, hakikat akadnya itu qardh (meminjamkan), bukan wadi’ah (menitipkan). Kalau transaksinya adalah meminjamkan, maka orang yang memberikan pinjaman (kreditor) tidak boleh mengambil keuntungan sama sekali dari transaksi tersebut, tidak boleh menerima hadiah dan lainnya. Hadiah barulah bisa dimanfaatkan setelah utang itu lunas (selama bukan syarat yang ditetapkan di awal, pen.). Kalau bank memberikan hadiah yang sifatnya umum, yaitu bagi siapa saja seperti memberikan hadiah kalender, maka tidak mengapa diterima. Karena hadiah semacam ini biasa diberi pada nasabah atau yang bukan nasabah.” (Lihat Liqa’at Al-Bab Al-Maftuh, 9: 101-102, Liqa’ ke-196, pertanyaan no. 9)   Kaedah Penting Terkait Qardh Ibnu Qudamah rahimahullah berkata, وَكُلُّ قَرْضٍ شَرَطَ فِيهِ أَنْ يَزِيدَهُ فَهُوَ حَرَامٌ بِغَيْرِ خِلَافٍ “Setiap utang yang di dalamnya dipersyaratkan ada tambahan maka itu adalah haram. Hal ini tanpa diperselisihkan oleh para ulama.” (Al-Mughni, 6:436)   Apa manfaatnya bahasan ini? Manfaatnya: 1- Agar kita tahu bahwa menabung di bank bukan bentuk wadiah, namun meminjamkan uang pada bank. 2- Kalau tahu kita meminjamkan uang pada bank, maka bunga bank tidak boleh kita manfaatkan. Bagaimana Penyaluran Harta Riba? 3- Bunga bank tidak boleh dimanfaatkan oleh nasabah. Bagaimana penyaluran bunga bank, baca tulisan di bawah ini: Bagaimana Penyaluran Harta Riba? 4- Menabung di bank sekedar sarana dalam keadaan darurat. 5- Pahami hakikat, jangan cepat dikelabui oleh istilah syar’i. Semoga bermanfaat.   Referensi: Al-Mughni. Cetakan Tahun 1432 H. Ibnu Qudamah Al-Maqdisi. Tahqiq: Abdullah bin ‘Abdul Muhsin At-Turki dan ‘Abdul Fattah. Penerbit Dar ‘Alam Al-Kutub. Liqa’at Al-Bab Al-Maftuh. Cetakan Pertama, Tahun 1438 H. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Penerbit Muassasah Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin Al-Khairiyah. — Disusun di pagi hari penuh berkah, @ DS, Panggang, Gunungkidul, 20 Ramadhan 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsbank riba tabungan bank utang piutang

Tabungan Bank Termasuk Qardh (Meminjamkan), Bukan Wadiah (Menitipkan)

Tabungan di bank tepatkah disebut wadiah (menitipkan) ataukah hakikatnya nasabah itu meminjamkan uang pada bank (qardh)? Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin ditanya, sebagian bank memberikan hadiah kepada nasabah yang cuma menyimpan uang saja tanpa ambil bunga, apakah hadiah tersebut boleh dimanfaatkan oleh Nasabah? Syaikh rahimahullah menjelaskan, “Engkau sudah tahu bahwa menyimpan beberapa dirham di bank itu bukan disebut wadi’ah (menitip), namun akad sejatinya adalah qardh (meminjamkan). Yang disebutkan oleh orang-orang bahwa akad tersebut adalah wadi’ah itu keliru. Jika engkau menyerahkan uang pada bank, apakah bank itu menjaga uang tadi sebagaimana adanya, sampai nanti diminta kembali juga bentuknya seperti itu ataukah bank menggunakan uang tadi terlebih dahulu? Tentu bank akan masukkan dalam tabungan dan akan menggunakannya. Kesaimpulannya, hakikat akadnya itu qardh (meminjamkan), bukan wadi’ah (menitipkan). Kalau transaksinya adalah meminjamkan, maka orang yang memberikan pinjaman (kreditor) tidak boleh mengambil keuntungan sama sekali dari transaksi tersebut, tidak boleh menerima hadiah dan lainnya. Hadiah barulah bisa dimanfaatkan setelah utang itu lunas (selama bukan syarat yang ditetapkan di awal, pen.). Kalau bank memberikan hadiah yang sifatnya umum, yaitu bagi siapa saja seperti memberikan hadiah kalender, maka tidak mengapa diterima. Karena hadiah semacam ini biasa diberi pada nasabah atau yang bukan nasabah.” (Lihat Liqa’at Al-Bab Al-Maftuh, 9: 101-102, Liqa’ ke-196, pertanyaan no. 9)   Kaedah Penting Terkait Qardh Ibnu Qudamah rahimahullah berkata, وَكُلُّ قَرْضٍ شَرَطَ فِيهِ أَنْ يَزِيدَهُ فَهُوَ حَرَامٌ بِغَيْرِ خِلَافٍ “Setiap utang yang di dalamnya dipersyaratkan ada tambahan maka itu adalah haram. Hal ini tanpa diperselisihkan oleh para ulama.” (Al-Mughni, 6:436)   Apa manfaatnya bahasan ini? Manfaatnya: 1- Agar kita tahu bahwa menabung di bank bukan bentuk wadiah, namun meminjamkan uang pada bank. 2- Kalau tahu kita meminjamkan uang pada bank, maka bunga bank tidak boleh kita manfaatkan. Bagaimana Penyaluran Harta Riba? 3- Bunga bank tidak boleh dimanfaatkan oleh nasabah. Bagaimana penyaluran bunga bank, baca tulisan di bawah ini: Bagaimana Penyaluran Harta Riba? 4- Menabung di bank sekedar sarana dalam keadaan darurat. 5- Pahami hakikat, jangan cepat dikelabui oleh istilah syar’i. Semoga bermanfaat.   Referensi: Al-Mughni. Cetakan Tahun 1432 H. Ibnu Qudamah Al-Maqdisi. Tahqiq: Abdullah bin ‘Abdul Muhsin At-Turki dan ‘Abdul Fattah. Penerbit Dar ‘Alam Al-Kutub. Liqa’at Al-Bab Al-Maftuh. Cetakan Pertama, Tahun 1438 H. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Penerbit Muassasah Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin Al-Khairiyah. — Disusun di pagi hari penuh berkah, @ DS, Panggang, Gunungkidul, 20 Ramadhan 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsbank riba tabungan bank utang piutang
Tabungan di bank tepatkah disebut wadiah (menitipkan) ataukah hakikatnya nasabah itu meminjamkan uang pada bank (qardh)? Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin ditanya, sebagian bank memberikan hadiah kepada nasabah yang cuma menyimpan uang saja tanpa ambil bunga, apakah hadiah tersebut boleh dimanfaatkan oleh Nasabah? Syaikh rahimahullah menjelaskan, “Engkau sudah tahu bahwa menyimpan beberapa dirham di bank itu bukan disebut wadi’ah (menitip), namun akad sejatinya adalah qardh (meminjamkan). Yang disebutkan oleh orang-orang bahwa akad tersebut adalah wadi’ah itu keliru. Jika engkau menyerahkan uang pada bank, apakah bank itu menjaga uang tadi sebagaimana adanya, sampai nanti diminta kembali juga bentuknya seperti itu ataukah bank menggunakan uang tadi terlebih dahulu? Tentu bank akan masukkan dalam tabungan dan akan menggunakannya. Kesaimpulannya, hakikat akadnya itu qardh (meminjamkan), bukan wadi’ah (menitipkan). Kalau transaksinya adalah meminjamkan, maka orang yang memberikan pinjaman (kreditor) tidak boleh mengambil keuntungan sama sekali dari transaksi tersebut, tidak boleh menerima hadiah dan lainnya. Hadiah barulah bisa dimanfaatkan setelah utang itu lunas (selama bukan syarat yang ditetapkan di awal, pen.). Kalau bank memberikan hadiah yang sifatnya umum, yaitu bagi siapa saja seperti memberikan hadiah kalender, maka tidak mengapa diterima. Karena hadiah semacam ini biasa diberi pada nasabah atau yang bukan nasabah.” (Lihat Liqa’at Al-Bab Al-Maftuh, 9: 101-102, Liqa’ ke-196, pertanyaan no. 9)   Kaedah Penting Terkait Qardh Ibnu Qudamah rahimahullah berkata, وَكُلُّ قَرْضٍ شَرَطَ فِيهِ أَنْ يَزِيدَهُ فَهُوَ حَرَامٌ بِغَيْرِ خِلَافٍ “Setiap utang yang di dalamnya dipersyaratkan ada tambahan maka itu adalah haram. Hal ini tanpa diperselisihkan oleh para ulama.” (Al-Mughni, 6:436)   Apa manfaatnya bahasan ini? Manfaatnya: 1- Agar kita tahu bahwa menabung di bank bukan bentuk wadiah, namun meminjamkan uang pada bank. 2- Kalau tahu kita meminjamkan uang pada bank, maka bunga bank tidak boleh kita manfaatkan. Bagaimana Penyaluran Harta Riba? 3- Bunga bank tidak boleh dimanfaatkan oleh nasabah. Bagaimana penyaluran bunga bank, baca tulisan di bawah ini: Bagaimana Penyaluran Harta Riba? 4- Menabung di bank sekedar sarana dalam keadaan darurat. 5- Pahami hakikat, jangan cepat dikelabui oleh istilah syar’i. Semoga bermanfaat.   Referensi: Al-Mughni. Cetakan Tahun 1432 H. Ibnu Qudamah Al-Maqdisi. Tahqiq: Abdullah bin ‘Abdul Muhsin At-Turki dan ‘Abdul Fattah. Penerbit Dar ‘Alam Al-Kutub. Liqa’at Al-Bab Al-Maftuh. Cetakan Pertama, Tahun 1438 H. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Penerbit Muassasah Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin Al-Khairiyah. — Disusun di pagi hari penuh berkah, @ DS, Panggang, Gunungkidul, 20 Ramadhan 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsbank riba tabungan bank utang piutang


Tabungan di bank tepatkah disebut wadiah (menitipkan) ataukah hakikatnya nasabah itu meminjamkan uang pada bank (qardh)? Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin ditanya, sebagian bank memberikan hadiah kepada nasabah yang cuma menyimpan uang saja tanpa ambil bunga, apakah hadiah tersebut boleh dimanfaatkan oleh Nasabah? Syaikh rahimahullah menjelaskan, “Engkau sudah tahu bahwa menyimpan beberapa dirham di bank itu bukan disebut wadi’ah (menitip), namun akad sejatinya adalah qardh (meminjamkan). Yang disebutkan oleh orang-orang bahwa akad tersebut adalah wadi’ah itu keliru. Jika engkau menyerahkan uang pada bank, apakah bank itu menjaga uang tadi sebagaimana adanya, sampai nanti diminta kembali juga bentuknya seperti itu ataukah bank menggunakan uang tadi terlebih dahulu? Tentu bank akan masukkan dalam tabungan dan akan menggunakannya. Kesaimpulannya, hakikat akadnya itu qardh (meminjamkan), bukan wadi’ah (menitipkan). Kalau transaksinya adalah meminjamkan, maka orang yang memberikan pinjaman (kreditor) tidak boleh mengambil keuntungan sama sekali dari transaksi tersebut, tidak boleh menerima hadiah dan lainnya. Hadiah barulah bisa dimanfaatkan setelah utang itu lunas (selama bukan syarat yang ditetapkan di awal, pen.). Kalau bank memberikan hadiah yang sifatnya umum, yaitu bagi siapa saja seperti memberikan hadiah kalender, maka tidak mengapa diterima. Karena hadiah semacam ini biasa diberi pada nasabah atau yang bukan nasabah.” (Lihat Liqa’at Al-Bab Al-Maftuh, 9: 101-102, Liqa’ ke-196, pertanyaan no. 9)   Kaedah Penting Terkait Qardh Ibnu Qudamah rahimahullah berkata, وَكُلُّ قَرْضٍ شَرَطَ فِيهِ أَنْ يَزِيدَهُ فَهُوَ حَرَامٌ بِغَيْرِ خِلَافٍ “Setiap utang yang di dalamnya dipersyaratkan ada tambahan maka itu adalah haram. Hal ini tanpa diperselisihkan oleh para ulama.” (Al-Mughni, 6:436)   Apa manfaatnya bahasan ini? Manfaatnya: 1- Agar kita tahu bahwa menabung di bank bukan bentuk wadiah, namun meminjamkan uang pada bank. 2- Kalau tahu kita meminjamkan uang pada bank, maka bunga bank tidak boleh kita manfaatkan. Bagaimana Penyaluran Harta Riba? 3- Bunga bank tidak boleh dimanfaatkan oleh nasabah. Bagaimana penyaluran bunga bank, baca tulisan di bawah ini: Bagaimana Penyaluran Harta Riba? 4- Menabung di bank sekedar sarana dalam keadaan darurat. 5- Pahami hakikat, jangan cepat dikelabui oleh istilah syar’i. Semoga bermanfaat.   Referensi: Al-Mughni. Cetakan Tahun 1432 H. Ibnu Qudamah Al-Maqdisi. Tahqiq: Abdullah bin ‘Abdul Muhsin At-Turki dan ‘Abdul Fattah. Penerbit Dar ‘Alam Al-Kutub. Liqa’at Al-Bab Al-Maftuh. Cetakan Pertama, Tahun 1438 H. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Penerbit Muassasah Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin Al-Khairiyah. — Disusun di pagi hari penuh berkah, @ DS, Panggang, Gunungkidul, 20 Ramadhan 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsbank riba tabungan bank utang piutang

Meramal Hari Baik

Orang Jahiliyah dahulu ketika ingin pergi safar atau ingin mengadakan hajatan besar seperti pesta nikah, mereka terlebih dahulu mengundi nasib dengan anak panah. Ada tiga anak panah yang disiapkan. Salah satunya bertuliskan ‘silakan lakukan’, satunya lagi bertuliskan ‘jangan lakukan’, satunya lagi tidak bertuliskan apa-apa. Anak panah dengan panjang yang sama tersebut itu dikumpulkan di suatu wadah. Lalu dikeluarkan salah satunya. Jika keluar tulisan ‘silakan lakukan’, maka perkara itu akan dikerjakan. Namun jika tertulis ‘jangan lakukan’, maka perkara tersebut tidak akan dilakukan. Jika keluar yang tidak bertuliskan apa-apa, undian nasib tadi akan diulang. Perkara yang dilakukan di atas, itulah yang dilarang dalam ayat berikut, حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ وَالدَّمُ وَلَحْمُ الْخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ وَالْمُنْخَنِقَةُ وَالْمَوْقُوذَةُ وَالْمُتَرَدِّيَةُ وَالنَّطِيحَةُ وَمَا أَكَلَ السَّبُعُ إِلَّا مَا ذَكَّيْتُمْ وَمَا ذُبِحَ عَلَى النُّصُبِ وَأَنْ تَسْتَقْسِمُوا بِالْأَزْلَامِ ذَلِكُمْ فِسْقٌ “Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah, (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan.” (QS. Al-Maidah: 3) Di zaman ini pun di tengah-tengah masyarakat kita, masih dilakukan hal yang sama. Ada yang bentuknya dengan meramal hari baik lewat perhitungan weton (neptu). Neptu merupakan salah satu hal yang sering kali dipertimbangkan dalam meramalkan watak seseorang berdasarkan weton kelahirannya. Neptu juga digunakan untuk meramalkan kecocokan jodoh, kecocokan pekerjaan, besarnya rejeki yang dibawa seorang anak dalam keluarganya, dan lain sebagainya. Akhirnya, untuk menentukan tanggal nikah pun dipakai ilmu perhitungan neptu ini. Yang sebenarnya tradisi ini mirip dengan tradisi Jahiliyah yang diingatkan dalam ayat di atas yaitu sama-sama mengundi nasib, ini hari baik ataukah tidak untuk lakukan hajatan. Sikap yang benar adalah tawakkal dan pasrah penuh pada Allah karena ingat janji Allah, وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ “Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. Ath-Thalaq: 3). Kalau ingin memilih mana yang terbaik, bukan dengan cara mengundi nasib, namun lakukanlah shalat istikharah minimal dua raka’at (waktunya bebas di siang atau malam hari) seperti yang dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits ini, كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يُعَلِّمُ أَصْحَابَهُ الاِسْتِخَارَةَ فِى الأُمُورِ كُلِّهَا ، كَمَا يُعَلِّمُ السُّورَةَ مِنَ الْقُرْآنِ يَقُولُ « إِذَا هَمَّ أَحَدُكُمْ بِالأَمْرِ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ مِنْ غَيْرِ الْفَرِيضَةِ ثُمَّ لِيَقُلِ اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْتَخِيرُكَ بِعِلْمِكَ ، وَأَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ ، وَأَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ ، فَإِنَّكَ تَقْدِرُ وَلاَ أَقْدِرُ ، وَتَعْلَمُ وَلاَ أَعْلَمُ ، وَأَنْتَ عَلاَّمُ الْغُيُوبِ ، اللَّهُمَّ فَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ هَذَا الأَمْرَ – ثُمَّ تُسَمِّيهِ بِعَيْنِهِ – خَيْرًا لِى فِى عَاجِلِ أَمْرِى وَآجِلِهِ – قَالَ أَوْ فِى دِينِى وَمَعَاشِى وَعَاقِبَةِ أَمْرِى – فَاقْدُرْهُ لِى ، وَيَسِّرْهُ لِى ، ثُمَّ بَارِكْ لِى فِيهِ ، اللَّهُمَّ وَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّهُ شَرٌّ لِى فِى دِينِى وَمَعَاشِى وَعَاقِبَةِ أَمْرِى – أَوْ قَالَ فِى عَاجِلِ أَمْرِى وَآجِلِهِ – فَاصْرِفْنِى عَنْهُ ، وَاقْدُرْ لِىَ الْخَيْرَ حَيْثُ كَانَ ، ثُمَّ رَضِّنِى بِهِ » “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa mengajari para sahabatnya shalat istikharah dalam setiap urusan. Beliau mengajari shalat ini sebagaimana beliau mengajari surat dari Al Qur’an. Kemudian beliau bersabda, “Jika salah seorang di antara kalian bertekad untuk melakukan suatu urusan, maka kerjakanlah shalat dua raka’at selain shalat fardhu, lalu hendaklah ia berdo’a: “ALLAHUMMA INNI ASTAKHIRUKA BI ‘ILMIKA, WA ASTAQDIRUKA BI QUDRATIKA, WA AS-ALUKA MIN FADHLIKA, FA INNAKA TAQDIRU WA LAA AQDIRU, WA TA’LAMU WA LAA A’LAMU, WA ANTA ‘ALLAAMUL GHUYUB. ALLAHUMMA FA-IN KUNTA TA’LAMU HADZAL AMRO (SEBUT NAMA URUSAN TERSEBUT) KHOIRON LII FII ‘AAJILI AMRII WA AAJILIH (AW FII DIINII WA MA’AASYI WA ‘AQIBATI AMRII) FAQDUR LII, WA YASSIRHU LII, TSUMMA BAARIK LII FIIHI. ALLAHUMMA IN KUNTA TA’LAMU ANNAHU SYARRUN LII FII DIINI WA MA’AASYI WA ‘AQIBATI AMRII (FII ‘AAJILI AMRI WA AAJILIH) FASH-RIFNII ‘ANHU, WAQDUR LIIL KHOIRO HAITSU KAANA TSUMMA RODH-DHINII BIH” Artinya: Ya Allah, sesungguhnya aku beristikhoroh pada-Mu dengan ilmu-Mu, aku memohon kepada-Mu kekuatan dengan kekuatan-Mu, aku meminta kepada-Mu dengan kemuliaan-Mu. Sesungguhnya Engkau yang menakdirkan dan aku tidaklah mampu melakukannya. Engkau yang Maha Tahu, sedangkan aku tidak. Engkaulah yang mengetahui perkara yang ghoib. Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa perkara ini (sebut urusan tersebut) baik bagiku dalam urusanku di dunia dan di akhirat, (atau baik bagi agama, penghidupan, dan akhir urusanku), maka takdirkanlah hal tersebut untukku, mudahkanlah untukku dan berkahilah ia untukku. Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa perkara tersebut jelek bagi agama, penghidupan, dan akhir urusanku (baik bagiku dalam urusanku di dunia dan akhirat), maka palingkanlah ia dariku, takdirkanlah yang terbaik bagiku di mana pun itu sehingga aku pun ridho dengannya.” (HR. Bukhari, no. 7390; dari Jabir bin ‘Abdillah)   Baca selengkapnya di sini tentang shalat istikharah : Panduan Shalat Istikhoroh Moga jadi perenungan.   Referensi: Tafsir As-Sa’di. Cetakan kedua, tahun 1433 H. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. Penerbit Muassasah Ar-Risalah. — Disusun @ DS, Panggang, Gunungkidul, 19 Ramadhan 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsanggapan sial syirik

Meramal Hari Baik

Orang Jahiliyah dahulu ketika ingin pergi safar atau ingin mengadakan hajatan besar seperti pesta nikah, mereka terlebih dahulu mengundi nasib dengan anak panah. Ada tiga anak panah yang disiapkan. Salah satunya bertuliskan ‘silakan lakukan’, satunya lagi bertuliskan ‘jangan lakukan’, satunya lagi tidak bertuliskan apa-apa. Anak panah dengan panjang yang sama tersebut itu dikumpulkan di suatu wadah. Lalu dikeluarkan salah satunya. Jika keluar tulisan ‘silakan lakukan’, maka perkara itu akan dikerjakan. Namun jika tertulis ‘jangan lakukan’, maka perkara tersebut tidak akan dilakukan. Jika keluar yang tidak bertuliskan apa-apa, undian nasib tadi akan diulang. Perkara yang dilakukan di atas, itulah yang dilarang dalam ayat berikut, حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ وَالدَّمُ وَلَحْمُ الْخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ وَالْمُنْخَنِقَةُ وَالْمَوْقُوذَةُ وَالْمُتَرَدِّيَةُ وَالنَّطِيحَةُ وَمَا أَكَلَ السَّبُعُ إِلَّا مَا ذَكَّيْتُمْ وَمَا ذُبِحَ عَلَى النُّصُبِ وَأَنْ تَسْتَقْسِمُوا بِالْأَزْلَامِ ذَلِكُمْ فِسْقٌ “Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah, (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan.” (QS. Al-Maidah: 3) Di zaman ini pun di tengah-tengah masyarakat kita, masih dilakukan hal yang sama. Ada yang bentuknya dengan meramal hari baik lewat perhitungan weton (neptu). Neptu merupakan salah satu hal yang sering kali dipertimbangkan dalam meramalkan watak seseorang berdasarkan weton kelahirannya. Neptu juga digunakan untuk meramalkan kecocokan jodoh, kecocokan pekerjaan, besarnya rejeki yang dibawa seorang anak dalam keluarganya, dan lain sebagainya. Akhirnya, untuk menentukan tanggal nikah pun dipakai ilmu perhitungan neptu ini. Yang sebenarnya tradisi ini mirip dengan tradisi Jahiliyah yang diingatkan dalam ayat di atas yaitu sama-sama mengundi nasib, ini hari baik ataukah tidak untuk lakukan hajatan. Sikap yang benar adalah tawakkal dan pasrah penuh pada Allah karena ingat janji Allah, وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ “Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. Ath-Thalaq: 3). Kalau ingin memilih mana yang terbaik, bukan dengan cara mengundi nasib, namun lakukanlah shalat istikharah minimal dua raka’at (waktunya bebas di siang atau malam hari) seperti yang dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits ini, كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يُعَلِّمُ أَصْحَابَهُ الاِسْتِخَارَةَ فِى الأُمُورِ كُلِّهَا ، كَمَا يُعَلِّمُ السُّورَةَ مِنَ الْقُرْآنِ يَقُولُ « إِذَا هَمَّ أَحَدُكُمْ بِالأَمْرِ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ مِنْ غَيْرِ الْفَرِيضَةِ ثُمَّ لِيَقُلِ اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْتَخِيرُكَ بِعِلْمِكَ ، وَأَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ ، وَأَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ ، فَإِنَّكَ تَقْدِرُ وَلاَ أَقْدِرُ ، وَتَعْلَمُ وَلاَ أَعْلَمُ ، وَأَنْتَ عَلاَّمُ الْغُيُوبِ ، اللَّهُمَّ فَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ هَذَا الأَمْرَ – ثُمَّ تُسَمِّيهِ بِعَيْنِهِ – خَيْرًا لِى فِى عَاجِلِ أَمْرِى وَآجِلِهِ – قَالَ أَوْ فِى دِينِى وَمَعَاشِى وَعَاقِبَةِ أَمْرِى – فَاقْدُرْهُ لِى ، وَيَسِّرْهُ لِى ، ثُمَّ بَارِكْ لِى فِيهِ ، اللَّهُمَّ وَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّهُ شَرٌّ لِى فِى دِينِى وَمَعَاشِى وَعَاقِبَةِ أَمْرِى – أَوْ قَالَ فِى عَاجِلِ أَمْرِى وَآجِلِهِ – فَاصْرِفْنِى عَنْهُ ، وَاقْدُرْ لِىَ الْخَيْرَ حَيْثُ كَانَ ، ثُمَّ رَضِّنِى بِهِ » “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa mengajari para sahabatnya shalat istikharah dalam setiap urusan. Beliau mengajari shalat ini sebagaimana beliau mengajari surat dari Al Qur’an. Kemudian beliau bersabda, “Jika salah seorang di antara kalian bertekad untuk melakukan suatu urusan, maka kerjakanlah shalat dua raka’at selain shalat fardhu, lalu hendaklah ia berdo’a: “ALLAHUMMA INNI ASTAKHIRUKA BI ‘ILMIKA, WA ASTAQDIRUKA BI QUDRATIKA, WA AS-ALUKA MIN FADHLIKA, FA INNAKA TAQDIRU WA LAA AQDIRU, WA TA’LAMU WA LAA A’LAMU, WA ANTA ‘ALLAAMUL GHUYUB. ALLAHUMMA FA-IN KUNTA TA’LAMU HADZAL AMRO (SEBUT NAMA URUSAN TERSEBUT) KHOIRON LII FII ‘AAJILI AMRII WA AAJILIH (AW FII DIINII WA MA’AASYI WA ‘AQIBATI AMRII) FAQDUR LII, WA YASSIRHU LII, TSUMMA BAARIK LII FIIHI. ALLAHUMMA IN KUNTA TA’LAMU ANNAHU SYARRUN LII FII DIINI WA MA’AASYI WA ‘AQIBATI AMRII (FII ‘AAJILI AMRI WA AAJILIH) FASH-RIFNII ‘ANHU, WAQDUR LIIL KHOIRO HAITSU KAANA TSUMMA RODH-DHINII BIH” Artinya: Ya Allah, sesungguhnya aku beristikhoroh pada-Mu dengan ilmu-Mu, aku memohon kepada-Mu kekuatan dengan kekuatan-Mu, aku meminta kepada-Mu dengan kemuliaan-Mu. Sesungguhnya Engkau yang menakdirkan dan aku tidaklah mampu melakukannya. Engkau yang Maha Tahu, sedangkan aku tidak. Engkaulah yang mengetahui perkara yang ghoib. Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa perkara ini (sebut urusan tersebut) baik bagiku dalam urusanku di dunia dan di akhirat, (atau baik bagi agama, penghidupan, dan akhir urusanku), maka takdirkanlah hal tersebut untukku, mudahkanlah untukku dan berkahilah ia untukku. Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa perkara tersebut jelek bagi agama, penghidupan, dan akhir urusanku (baik bagiku dalam urusanku di dunia dan akhirat), maka palingkanlah ia dariku, takdirkanlah yang terbaik bagiku di mana pun itu sehingga aku pun ridho dengannya.” (HR. Bukhari, no. 7390; dari Jabir bin ‘Abdillah)   Baca selengkapnya di sini tentang shalat istikharah : Panduan Shalat Istikhoroh Moga jadi perenungan.   Referensi: Tafsir As-Sa’di. Cetakan kedua, tahun 1433 H. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. Penerbit Muassasah Ar-Risalah. — Disusun @ DS, Panggang, Gunungkidul, 19 Ramadhan 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsanggapan sial syirik
Orang Jahiliyah dahulu ketika ingin pergi safar atau ingin mengadakan hajatan besar seperti pesta nikah, mereka terlebih dahulu mengundi nasib dengan anak panah. Ada tiga anak panah yang disiapkan. Salah satunya bertuliskan ‘silakan lakukan’, satunya lagi bertuliskan ‘jangan lakukan’, satunya lagi tidak bertuliskan apa-apa. Anak panah dengan panjang yang sama tersebut itu dikumpulkan di suatu wadah. Lalu dikeluarkan salah satunya. Jika keluar tulisan ‘silakan lakukan’, maka perkara itu akan dikerjakan. Namun jika tertulis ‘jangan lakukan’, maka perkara tersebut tidak akan dilakukan. Jika keluar yang tidak bertuliskan apa-apa, undian nasib tadi akan diulang. Perkara yang dilakukan di atas, itulah yang dilarang dalam ayat berikut, حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ وَالدَّمُ وَلَحْمُ الْخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ وَالْمُنْخَنِقَةُ وَالْمَوْقُوذَةُ وَالْمُتَرَدِّيَةُ وَالنَّطِيحَةُ وَمَا أَكَلَ السَّبُعُ إِلَّا مَا ذَكَّيْتُمْ وَمَا ذُبِحَ عَلَى النُّصُبِ وَأَنْ تَسْتَقْسِمُوا بِالْأَزْلَامِ ذَلِكُمْ فِسْقٌ “Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah, (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan.” (QS. Al-Maidah: 3) Di zaman ini pun di tengah-tengah masyarakat kita, masih dilakukan hal yang sama. Ada yang bentuknya dengan meramal hari baik lewat perhitungan weton (neptu). Neptu merupakan salah satu hal yang sering kali dipertimbangkan dalam meramalkan watak seseorang berdasarkan weton kelahirannya. Neptu juga digunakan untuk meramalkan kecocokan jodoh, kecocokan pekerjaan, besarnya rejeki yang dibawa seorang anak dalam keluarganya, dan lain sebagainya. Akhirnya, untuk menentukan tanggal nikah pun dipakai ilmu perhitungan neptu ini. Yang sebenarnya tradisi ini mirip dengan tradisi Jahiliyah yang diingatkan dalam ayat di atas yaitu sama-sama mengundi nasib, ini hari baik ataukah tidak untuk lakukan hajatan. Sikap yang benar adalah tawakkal dan pasrah penuh pada Allah karena ingat janji Allah, وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ “Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. Ath-Thalaq: 3). Kalau ingin memilih mana yang terbaik, bukan dengan cara mengundi nasib, namun lakukanlah shalat istikharah minimal dua raka’at (waktunya bebas di siang atau malam hari) seperti yang dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits ini, كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يُعَلِّمُ أَصْحَابَهُ الاِسْتِخَارَةَ فِى الأُمُورِ كُلِّهَا ، كَمَا يُعَلِّمُ السُّورَةَ مِنَ الْقُرْآنِ يَقُولُ « إِذَا هَمَّ أَحَدُكُمْ بِالأَمْرِ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ مِنْ غَيْرِ الْفَرِيضَةِ ثُمَّ لِيَقُلِ اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْتَخِيرُكَ بِعِلْمِكَ ، وَأَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ ، وَأَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ ، فَإِنَّكَ تَقْدِرُ وَلاَ أَقْدِرُ ، وَتَعْلَمُ وَلاَ أَعْلَمُ ، وَأَنْتَ عَلاَّمُ الْغُيُوبِ ، اللَّهُمَّ فَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ هَذَا الأَمْرَ – ثُمَّ تُسَمِّيهِ بِعَيْنِهِ – خَيْرًا لِى فِى عَاجِلِ أَمْرِى وَآجِلِهِ – قَالَ أَوْ فِى دِينِى وَمَعَاشِى وَعَاقِبَةِ أَمْرِى – فَاقْدُرْهُ لِى ، وَيَسِّرْهُ لِى ، ثُمَّ بَارِكْ لِى فِيهِ ، اللَّهُمَّ وَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّهُ شَرٌّ لِى فِى دِينِى وَمَعَاشِى وَعَاقِبَةِ أَمْرِى – أَوْ قَالَ فِى عَاجِلِ أَمْرِى وَآجِلِهِ – فَاصْرِفْنِى عَنْهُ ، وَاقْدُرْ لِىَ الْخَيْرَ حَيْثُ كَانَ ، ثُمَّ رَضِّنِى بِهِ » “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa mengajari para sahabatnya shalat istikharah dalam setiap urusan. Beliau mengajari shalat ini sebagaimana beliau mengajari surat dari Al Qur’an. Kemudian beliau bersabda, “Jika salah seorang di antara kalian bertekad untuk melakukan suatu urusan, maka kerjakanlah shalat dua raka’at selain shalat fardhu, lalu hendaklah ia berdo’a: “ALLAHUMMA INNI ASTAKHIRUKA BI ‘ILMIKA, WA ASTAQDIRUKA BI QUDRATIKA, WA AS-ALUKA MIN FADHLIKA, FA INNAKA TAQDIRU WA LAA AQDIRU, WA TA’LAMU WA LAA A’LAMU, WA ANTA ‘ALLAAMUL GHUYUB. ALLAHUMMA FA-IN KUNTA TA’LAMU HADZAL AMRO (SEBUT NAMA URUSAN TERSEBUT) KHOIRON LII FII ‘AAJILI AMRII WA AAJILIH (AW FII DIINII WA MA’AASYI WA ‘AQIBATI AMRII) FAQDUR LII, WA YASSIRHU LII, TSUMMA BAARIK LII FIIHI. ALLAHUMMA IN KUNTA TA’LAMU ANNAHU SYARRUN LII FII DIINI WA MA’AASYI WA ‘AQIBATI AMRII (FII ‘AAJILI AMRI WA AAJILIH) FASH-RIFNII ‘ANHU, WAQDUR LIIL KHOIRO HAITSU KAANA TSUMMA RODH-DHINII BIH” Artinya: Ya Allah, sesungguhnya aku beristikhoroh pada-Mu dengan ilmu-Mu, aku memohon kepada-Mu kekuatan dengan kekuatan-Mu, aku meminta kepada-Mu dengan kemuliaan-Mu. Sesungguhnya Engkau yang menakdirkan dan aku tidaklah mampu melakukannya. Engkau yang Maha Tahu, sedangkan aku tidak. Engkaulah yang mengetahui perkara yang ghoib. Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa perkara ini (sebut urusan tersebut) baik bagiku dalam urusanku di dunia dan di akhirat, (atau baik bagi agama, penghidupan, dan akhir urusanku), maka takdirkanlah hal tersebut untukku, mudahkanlah untukku dan berkahilah ia untukku. Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa perkara tersebut jelek bagi agama, penghidupan, dan akhir urusanku (baik bagiku dalam urusanku di dunia dan akhirat), maka palingkanlah ia dariku, takdirkanlah yang terbaik bagiku di mana pun itu sehingga aku pun ridho dengannya.” (HR. Bukhari, no. 7390; dari Jabir bin ‘Abdillah)   Baca selengkapnya di sini tentang shalat istikharah : Panduan Shalat Istikhoroh Moga jadi perenungan.   Referensi: Tafsir As-Sa’di. Cetakan kedua, tahun 1433 H. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. Penerbit Muassasah Ar-Risalah. — Disusun @ DS, Panggang, Gunungkidul, 19 Ramadhan 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsanggapan sial syirik


Orang Jahiliyah dahulu ketika ingin pergi safar atau ingin mengadakan hajatan besar seperti pesta nikah, mereka terlebih dahulu mengundi nasib dengan anak panah. Ada tiga anak panah yang disiapkan. Salah satunya bertuliskan ‘silakan lakukan’, satunya lagi bertuliskan ‘jangan lakukan’, satunya lagi tidak bertuliskan apa-apa. Anak panah dengan panjang yang sama tersebut itu dikumpulkan di suatu wadah. Lalu dikeluarkan salah satunya. Jika keluar tulisan ‘silakan lakukan’, maka perkara itu akan dikerjakan. Namun jika tertulis ‘jangan lakukan’, maka perkara tersebut tidak akan dilakukan. Jika keluar yang tidak bertuliskan apa-apa, undian nasib tadi akan diulang. Perkara yang dilakukan di atas, itulah yang dilarang dalam ayat berikut, حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ وَالدَّمُ وَلَحْمُ الْخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ وَالْمُنْخَنِقَةُ وَالْمَوْقُوذَةُ وَالْمُتَرَدِّيَةُ وَالنَّطِيحَةُ وَمَا أَكَلَ السَّبُعُ إِلَّا مَا ذَكَّيْتُمْ وَمَا ذُبِحَ عَلَى النُّصُبِ وَأَنْ تَسْتَقْسِمُوا بِالْأَزْلَامِ ذَلِكُمْ فِسْقٌ “Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah, (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan.” (QS. Al-Maidah: 3) Di zaman ini pun di tengah-tengah masyarakat kita, masih dilakukan hal yang sama. Ada yang bentuknya dengan meramal hari baik lewat perhitungan weton (neptu). Neptu merupakan salah satu hal yang sering kali dipertimbangkan dalam meramalkan watak seseorang berdasarkan weton kelahirannya. Neptu juga digunakan untuk meramalkan kecocokan jodoh, kecocokan pekerjaan, besarnya rejeki yang dibawa seorang anak dalam keluarganya, dan lain sebagainya. Akhirnya, untuk menentukan tanggal nikah pun dipakai ilmu perhitungan neptu ini. Yang sebenarnya tradisi ini mirip dengan tradisi Jahiliyah yang diingatkan dalam ayat di atas yaitu sama-sama mengundi nasib, ini hari baik ataukah tidak untuk lakukan hajatan. Sikap yang benar adalah tawakkal dan pasrah penuh pada Allah karena ingat janji Allah, وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ “Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. Ath-Thalaq: 3). Kalau ingin memilih mana yang terbaik, bukan dengan cara mengundi nasib, namun lakukanlah shalat istikharah minimal dua raka’at (waktunya bebas di siang atau malam hari) seperti yang dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits ini, كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يُعَلِّمُ أَصْحَابَهُ الاِسْتِخَارَةَ فِى الأُمُورِ كُلِّهَا ، كَمَا يُعَلِّمُ السُّورَةَ مِنَ الْقُرْآنِ يَقُولُ « إِذَا هَمَّ أَحَدُكُمْ بِالأَمْرِ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ مِنْ غَيْرِ الْفَرِيضَةِ ثُمَّ لِيَقُلِ اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْتَخِيرُكَ بِعِلْمِكَ ، وَأَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ ، وَأَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ ، فَإِنَّكَ تَقْدِرُ وَلاَ أَقْدِرُ ، وَتَعْلَمُ وَلاَ أَعْلَمُ ، وَأَنْتَ عَلاَّمُ الْغُيُوبِ ، اللَّهُمَّ فَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ هَذَا الأَمْرَ – ثُمَّ تُسَمِّيهِ بِعَيْنِهِ – خَيْرًا لِى فِى عَاجِلِ أَمْرِى وَآجِلِهِ – قَالَ أَوْ فِى دِينِى وَمَعَاشِى وَعَاقِبَةِ أَمْرِى – فَاقْدُرْهُ لِى ، وَيَسِّرْهُ لِى ، ثُمَّ بَارِكْ لِى فِيهِ ، اللَّهُمَّ وَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّهُ شَرٌّ لِى فِى دِينِى وَمَعَاشِى وَعَاقِبَةِ أَمْرِى – أَوْ قَالَ فِى عَاجِلِ أَمْرِى وَآجِلِهِ – فَاصْرِفْنِى عَنْهُ ، وَاقْدُرْ لِىَ الْخَيْرَ حَيْثُ كَانَ ، ثُمَّ رَضِّنِى بِهِ » “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa mengajari para sahabatnya shalat istikharah dalam setiap urusan. Beliau mengajari shalat ini sebagaimana beliau mengajari surat dari Al Qur’an. Kemudian beliau bersabda, “Jika salah seorang di antara kalian bertekad untuk melakukan suatu urusan, maka kerjakanlah shalat dua raka’at selain shalat fardhu, lalu hendaklah ia berdo’a: “ALLAHUMMA INNI ASTAKHIRUKA BI ‘ILMIKA, WA ASTAQDIRUKA BI QUDRATIKA, WA AS-ALUKA MIN FADHLIKA, FA INNAKA TAQDIRU WA LAA AQDIRU, WA TA’LAMU WA LAA A’LAMU, WA ANTA ‘ALLAAMUL GHUYUB. ALLAHUMMA FA-IN KUNTA TA’LAMU HADZAL AMRO (SEBUT NAMA URUSAN TERSEBUT) KHOIRON LII FII ‘AAJILI AMRII WA AAJILIH (AW FII DIINII WA MA’AASYI WA ‘AQIBATI AMRII) FAQDUR LII, WA YASSIRHU LII, TSUMMA BAARIK LII FIIHI. ALLAHUMMA IN KUNTA TA’LAMU ANNAHU SYARRUN LII FII DIINI WA MA’AASYI WA ‘AQIBATI AMRII (FII ‘AAJILI AMRI WA AAJILIH) FASH-RIFNII ‘ANHU, WAQDUR LIIL KHOIRO HAITSU KAANA TSUMMA RODH-DHINII BIH” Artinya: Ya Allah, sesungguhnya aku beristikhoroh pada-Mu dengan ilmu-Mu, aku memohon kepada-Mu kekuatan dengan kekuatan-Mu, aku meminta kepada-Mu dengan kemuliaan-Mu. Sesungguhnya Engkau yang menakdirkan dan aku tidaklah mampu melakukannya. Engkau yang Maha Tahu, sedangkan aku tidak. Engkaulah yang mengetahui perkara yang ghoib. Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa perkara ini (sebut urusan tersebut) baik bagiku dalam urusanku di dunia dan di akhirat, (atau baik bagi agama, penghidupan, dan akhir urusanku), maka takdirkanlah hal tersebut untukku, mudahkanlah untukku dan berkahilah ia untukku. Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa perkara tersebut jelek bagi agama, penghidupan, dan akhir urusanku (baik bagiku dalam urusanku di dunia dan akhirat), maka palingkanlah ia dariku, takdirkanlah yang terbaik bagiku di mana pun itu sehingga aku pun ridho dengannya.” (HR. Bukhari, no. 7390; dari Jabir bin ‘Abdillah)   Baca selengkapnya di sini tentang shalat istikharah : Panduan Shalat Istikhoroh Moga jadi perenungan.   Referensi: Tafsir As-Sa’di. Cetakan kedua, tahun 1433 H. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. Penerbit Muassasah Ar-Risalah. — Disusun @ DS, Panggang, Gunungkidul, 19 Ramadhan 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsanggapan sial syirik
Prev     Next