Faedah Surat Yasin: Manusia Hanya dari Mani, Namun SOMBONG

Manusia hanya tercipta dari mani, namun akhirnya ia jadi sombong dan berbuat zalim. Pelajari dari faedah surat Yasin berikut ini. Allah Ta’ala berfirman, أَوَلَمْ يَرَ الْإِنْسَانُ أَنَّا خَلَقْنَاهُ مِنْ نُطْفَةٍ فَإِذَا هُوَ خَصِيمٌ مُبِينٌ “Dan apakah manusia tidak memperhatikan bahwa Kami menciptakannya dari setitik air (mani), maka tiba-tiba ia menjadi penantang yang nyata!” (QS. Yasin: 77)   Faedah dari Ayat Manusia itu diciptakan dari keadaan lemah, hanya dari mani yang hina. Realitanya manusia dari suatu yang lemah, namun akhirnya sombong, angkuh, jadi penantang yang nyata. Harusnya manusia kalau melihat dari asal penciptaannya tidak menjadi orang sombong dan zalim. Berdebat untuk membela kebatilan itu tercela. Namun berdebat untuk membela kebenaran itu terpuji sebagaimana dalam ayat lainnya, “Serulah (manusia) kepada jalan Rabb-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.” (QS. An-Nahl: 125) Ayat ini ditujukan pada Ubay bin Khalaf dan Al-‘Ash bin Wail As-Sahmi, juga setiap orang yang mengingkari hari berbangkit (hari kiamat). Kalau Allah mampu mencipta manusia, maka Allah mampu pula mengembalikan dan membangkitkannya. Semoga raih ilmu yang bermanfaat.   Referensi: At-Tashil li Ta’wil At-Tanzil – Tafsir Juz Yasin. Cetakan pertama, tahun 1431 H. Syaikh Musthafa Al-‘Adawi. Penerbit Maktabah Makkah. Tafsir Al-Qur’an Al-Karim – Surat Yasin. Cetakan kedua, tahun 1424 H. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Penerbit Dar Ats-Tsaraya. —- Disusun @ Perpus Rumaysho Darush Sholihin, 30 Syawal 1438 H di Senin siang penuh berkah Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsfaedah surat yasin hari kiamat mani penciptaan surat yasin tafsir surat yasin takdir

Faedah Surat Yasin: Manusia Hanya dari Mani, Namun SOMBONG

Manusia hanya tercipta dari mani, namun akhirnya ia jadi sombong dan berbuat zalim. Pelajari dari faedah surat Yasin berikut ini. Allah Ta’ala berfirman, أَوَلَمْ يَرَ الْإِنْسَانُ أَنَّا خَلَقْنَاهُ مِنْ نُطْفَةٍ فَإِذَا هُوَ خَصِيمٌ مُبِينٌ “Dan apakah manusia tidak memperhatikan bahwa Kami menciptakannya dari setitik air (mani), maka tiba-tiba ia menjadi penantang yang nyata!” (QS. Yasin: 77)   Faedah dari Ayat Manusia itu diciptakan dari keadaan lemah, hanya dari mani yang hina. Realitanya manusia dari suatu yang lemah, namun akhirnya sombong, angkuh, jadi penantang yang nyata. Harusnya manusia kalau melihat dari asal penciptaannya tidak menjadi orang sombong dan zalim. Berdebat untuk membela kebatilan itu tercela. Namun berdebat untuk membela kebenaran itu terpuji sebagaimana dalam ayat lainnya, “Serulah (manusia) kepada jalan Rabb-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.” (QS. An-Nahl: 125) Ayat ini ditujukan pada Ubay bin Khalaf dan Al-‘Ash bin Wail As-Sahmi, juga setiap orang yang mengingkari hari berbangkit (hari kiamat). Kalau Allah mampu mencipta manusia, maka Allah mampu pula mengembalikan dan membangkitkannya. Semoga raih ilmu yang bermanfaat.   Referensi: At-Tashil li Ta’wil At-Tanzil – Tafsir Juz Yasin. Cetakan pertama, tahun 1431 H. Syaikh Musthafa Al-‘Adawi. Penerbit Maktabah Makkah. Tafsir Al-Qur’an Al-Karim – Surat Yasin. Cetakan kedua, tahun 1424 H. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Penerbit Dar Ats-Tsaraya. —- Disusun @ Perpus Rumaysho Darush Sholihin, 30 Syawal 1438 H di Senin siang penuh berkah Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsfaedah surat yasin hari kiamat mani penciptaan surat yasin tafsir surat yasin takdir
Manusia hanya tercipta dari mani, namun akhirnya ia jadi sombong dan berbuat zalim. Pelajari dari faedah surat Yasin berikut ini. Allah Ta’ala berfirman, أَوَلَمْ يَرَ الْإِنْسَانُ أَنَّا خَلَقْنَاهُ مِنْ نُطْفَةٍ فَإِذَا هُوَ خَصِيمٌ مُبِينٌ “Dan apakah manusia tidak memperhatikan bahwa Kami menciptakannya dari setitik air (mani), maka tiba-tiba ia menjadi penantang yang nyata!” (QS. Yasin: 77)   Faedah dari Ayat Manusia itu diciptakan dari keadaan lemah, hanya dari mani yang hina. Realitanya manusia dari suatu yang lemah, namun akhirnya sombong, angkuh, jadi penantang yang nyata. Harusnya manusia kalau melihat dari asal penciptaannya tidak menjadi orang sombong dan zalim. Berdebat untuk membela kebatilan itu tercela. Namun berdebat untuk membela kebenaran itu terpuji sebagaimana dalam ayat lainnya, “Serulah (manusia) kepada jalan Rabb-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.” (QS. An-Nahl: 125) Ayat ini ditujukan pada Ubay bin Khalaf dan Al-‘Ash bin Wail As-Sahmi, juga setiap orang yang mengingkari hari berbangkit (hari kiamat). Kalau Allah mampu mencipta manusia, maka Allah mampu pula mengembalikan dan membangkitkannya. Semoga raih ilmu yang bermanfaat.   Referensi: At-Tashil li Ta’wil At-Tanzil – Tafsir Juz Yasin. Cetakan pertama, tahun 1431 H. Syaikh Musthafa Al-‘Adawi. Penerbit Maktabah Makkah. Tafsir Al-Qur’an Al-Karim – Surat Yasin. Cetakan kedua, tahun 1424 H. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Penerbit Dar Ats-Tsaraya. —- Disusun @ Perpus Rumaysho Darush Sholihin, 30 Syawal 1438 H di Senin siang penuh berkah Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsfaedah surat yasin hari kiamat mani penciptaan surat yasin tafsir surat yasin takdir


Manusia hanya tercipta dari mani, namun akhirnya ia jadi sombong dan berbuat zalim. Pelajari dari faedah surat Yasin berikut ini. Allah Ta’ala berfirman, أَوَلَمْ يَرَ الْإِنْسَانُ أَنَّا خَلَقْنَاهُ مِنْ نُطْفَةٍ فَإِذَا هُوَ خَصِيمٌ مُبِينٌ “Dan apakah manusia tidak memperhatikan bahwa Kami menciptakannya dari setitik air (mani), maka tiba-tiba ia menjadi penantang yang nyata!” (QS. Yasin: 77)   Faedah dari Ayat Manusia itu diciptakan dari keadaan lemah, hanya dari mani yang hina. Realitanya manusia dari suatu yang lemah, namun akhirnya sombong, angkuh, jadi penantang yang nyata. Harusnya manusia kalau melihat dari asal penciptaannya tidak menjadi orang sombong dan zalim. Berdebat untuk membela kebatilan itu tercela. Namun berdebat untuk membela kebenaran itu terpuji sebagaimana dalam ayat lainnya, “Serulah (manusia) kepada jalan Rabb-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.” (QS. An-Nahl: 125) Ayat ini ditujukan pada Ubay bin Khalaf dan Al-‘Ash bin Wail As-Sahmi, juga setiap orang yang mengingkari hari berbangkit (hari kiamat). Kalau Allah mampu mencipta manusia, maka Allah mampu pula mengembalikan dan membangkitkannya. Semoga raih ilmu yang bermanfaat.   Referensi: At-Tashil li Ta’wil At-Tanzil – Tafsir Juz Yasin. Cetakan pertama, tahun 1431 H. Syaikh Musthafa Al-‘Adawi. Penerbit Maktabah Makkah. Tafsir Al-Qur’an Al-Karim – Surat Yasin. Cetakan kedua, tahun 1424 H. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Penerbit Dar Ats-Tsaraya. —- Disusun @ Perpus Rumaysho Darush Sholihin, 30 Syawal 1438 H di Senin siang penuh berkah Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsfaedah surat yasin hari kiamat mani penciptaan surat yasin tafsir surat yasin takdir

Faedah Sirah Nabi: Ibu Susu Nabi Muhammad

Di sini akan dibicarakan mengenai ibu susu Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yaitu Ummu Aiman, Tsuwaibah dan Halimah.   Pertama: Ummu Aiman Setelah dilahirkan oleh ibunya, Aminah, dia menyusuinya selama tiga atau tujuh hari. Beliau pernah diasuh oleh Ummu Aiman Barakah Al-Habasyiyyah. Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggal dunia, Abu Bakr dan ‘Umar menghampiri Ummu Aiman. Kisahnya dalam hadits berikut ini. عَنْ أَنَسٍ قَالَ قَالَ أَبُو بَكْرٍ رَضِي اللَّهُ عَنْهُ بَعْدَ وَفَاةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِعُمَرَ انْطَلِقْ بِنَا إِلَى أُمِّ أَيْمَنَ نَزُورُهَا كَمَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَزُورُهَا فَلَمَّا انْتَهَيْنَا إِلَيْهَا بَكَتْ فَقَالَا لَهَا مَا يُبْكِيكِ مَا عِنْدَ اللَّهِ خَيْرٌ لِرَسُولِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ مَا أَبْكِي أَنْ لَا أَكُونَ أَعْلَمُ أَنَّ مَا عِنْدَ اللَّهِ خَيْرٌ لِرَسُولِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَكِنْ أَبْكِي أَنَّ الْوَحْيَ قَدِ انْقَطَعَ مِنَ السَّمَاءِ فَهَيَّجَتْهُمَا عَلَى الْبُكَاءِ فَجَعَلَا يَبْكِيَانِ مَعَهَا Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat, Abu Bakar pernah berkata kepada Umar, “Marilah kita pergi mengunjungi Ummu Aiman, sebagaimana dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengunjunginya”. Tatkala kami sampai kepadanya, Ummu Aiman menangis. Maka keduanya berkata kepadanya, “Apa yang membuatmu menangis wahai Ummu Aiman? Sedangkan apa yang ada di sisi Allah lebih baik bagi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Kemudian Ummu Aiman menjawab, “Aku menangis, bukan karena aku tidak tahu bahwa apa yang ada di sisi Allah lebih baik bagi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tetapi aku menangis karena wahyu telah terputus dari langit.” Maka Ummu Aiman menggerakkan Abu Bakar dan Umar untuk menangis, sehingga keduanya menangis bersama Ummu Aiman.” (HR. Muslim, no. 2454) Ummu Aiman sendiri dimerdekakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau dewasa. Lalu Ummu Aiman dinikahi oleh Zaid bin Haritsah. Ummu Aiman sendiri meninggal dunia lima bulan setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggal dunia. (HR. Muslim, no. 1771)   Kedua: Tsuwaibah (Mawla Abu Lahab) Kemudian setelah itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam disusui oleh Tsuwaibah, bekas budak Abu Lahab selama beberapa hari. Dalam Ar-Rahiq Al-Makhtum (hlm. 72), disebutkan bahwa beliau disusui oleh Tsuwaibah selama satu minggu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengatakan, أَرْضَعَتْنِى وَأَبَا سَلَمَةَ ثُوَيْبَةُ “Aku dan Abu Salamah telah disusui oleh Tsuwaibah.” (HR. Bukhari, no. 5101. Lihat Fath Al-Bari, 9: 144) Disebutkan oleh Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Al-Fath (9: 145), kalau dilihat Tsuwaibah dimerdekakan sebelum menyusui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun sirah yang berbicara menyelisihi hal ini, Abu Lahab memerdekakan Tsuwaibah sebelum hijrah dan itu setelah menyusui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk waktu yang lama. As-Suhaili juga menceritakan bahwa Tsuwaibah merdeka sebelum menyusui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Urwah bin Az-Zubair radhiyallahu ‘anhuma berkata, وثُوَيْبَةُ مَوْلَاةٌ لِأَبِي لَهَبٍ ، كَانَ أَبُو لَهَبٍ أَعْتَقَهَا فَأَرْضَعَتْ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، َلَمَّا مَاتَ أَبُو لَهَبٍ أُرِيَهُ بَعْضُ أَهْلِهِ بِشَرِّ حِيبَةٍ – أي بسوء حال -، قَالَ لَهُ : مَاذَا لَقِيتَ ؟ قَالَ أَبُو لَهَبٍ : لَمْ أَلْقَ بَعْدَكُمْ غَيْرَ أَنِّي سُقِيتُ فِي هَذِهِ بِعَتَاقَتِي ثُوَيْبَةَ “Tsuwaibah adalah budak yang telah dimerdekakan oleh Abu Lahab, ia menyusui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Setelah Abu Lahab meninggal dunia, beberapa keluarganya melihat Abu Lahab dalam mimpi bahwa keadaannya nanti buruk, sewaktu dia ditanya, “Apa yang telah kamu temukan?” Dia menjawab, “Saya tidak menemukan sesuatu pun setelah kamu. Hanya saja saya telah mendapatkan minuman sebagai balasan dari memerdekakan Tsuwaibah.” (HR. Bukhari, no. 5101) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyusu pada Tsuwaibah dari susu puteranya yang bernama Masruh. Tsuwaibah juga pernah menyusui Hamzah bin ‘Abdul Muthallib sebelumnya. Setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Tsuwaibah menyusui Abu Salamah bin ‘Abdil Asad. (Lihat Ar-Rahiq Al-Makhtum, hlm. 72) Apakah Tsuwaibah masuk Islam? Mengenai keislamannya, para ulama berselisih pendapat. Abu Nu’aim menyatakan, “Kami tidak mengetahui kalau ada yang menyebutkan keislaman Tsuwaibah.” Intinya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat memuliakan Tsuwaibah. Beliau pernah menemui Tsuwaibah setelah menikah dengan Khadijah. Tsuwaibah meninggal dunia setelah peperangan Khaibar dan Masruh juga meninggal ketika itu. (Fath Al-Bari, 9: 145)   Ketiga: Halimah bin Abi Dzuaib As-Sa’diyah Kisah Halimah sebagai ibu susu berawal dari rombongan wanita yang mencari bayi yang mau disusui. Di antara mereka adalah Halimah binti Abi Dzuaib As-Sa’diyah radhiyallahu ‘anha. Kemudian ditawarkanlah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada para wanita itu. Semua wanita tadi menolak tatkala dikatakan bahwa dia adalah anak yatim. Namun, setelah semua wanita telah mendapatkan anak susuan, sementara Halimah radhiyallahu ‘anha belum mendapatkan anak susuan, maka dia kembali menemui beliau dan membawanya pulang. Dalam Shahih Muslim telah dijelaskan mengenai penyusuan ini. Setelah dua tahun berlalu, Halimah datang bersama beliau kepada ibunya dengan keinginan agar beliau tetap bersamanya karena berkah yang mengiringinya selama Rasulullah tinggal bersama mereka. Akhirnya, beliau tetap bersama Halimah hingga batas waktu yang dia sepakati untuk mengembalikan beliau kepada ibunya. Kisah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyusui pada selain ibunya sangat terkenal dalam kitab-kitab Sirah yang dikisahkan langsung oleh Halimah As-Sa’diyah radhiyallahu ‘anha. Dia menceritakan peristiwa kedatangannya ke Mekkah. Sampai akhirnya memilih Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam karena tidak lagi mendapatkan yang lainnya. Yang terjadi setelah itu, di rumah keluarga Halimah mendapat berkah yang banyak.   Pelajaran dari Persusuan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hingga Dibawa ke Desa Kita dapat simpulkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sengaja dibawa ke desa dari kota untuk disusui sebagaimana menjadi kebiasaan tokoh-tokoh Arab. Apa sebab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam disusui di pedesaan? Berikut beberapa alasannya. 1- Untuk menghindari polusi pergaulan kota dan untuk menghirup udara segar pedesaan. Apalagi kota Mekkah saat itu didatangi oleh banyak pengunjung yang berasal dari penjuru dunia dengan beragam jenis manusianya. Mereka datang untuk menunaikan haji, kunjungan hingga berdagang dan lainnya. Kondisi tersebut berpotensi mengotori pergaulan dan moral. 2- Bayi yang dikirim untuk diasuh di pedalaman dimaksudkan untuk membiasakan mereka berbahasa Arab yang bagus dan untuk menghindari kesalahan dalam berbahasa Arab. Pelajarannya, penting bagi kita untuk menjaga murninya bahasa Arab yang merupakan bahasa dari kitab suci kita. Ibnu Taimiyah rahimahullah menyatakan tentang hukum mempelajari bahasa Arab, وأيضا فإن نفس اللغة العربية من الدين ، ومعرفتها فرض واجب، فإن فهم الكتاب والسنة فرض، ولا يفهم إلا بفهم اللغة العربية، وما لا يتم الواجب إلا به فهو واجب . “Dan juga perlu dipahami bahwa bahasa Arab itu sendiri adalah bagian dari agama. Mempelajarinya adalah fardhu wajib. Karena untuk memahami Al-Qur’an dan As-Sunnah itu wajib. Memahaminya tidaklah bisa kecuali dengan memahami bahasa Arab. Sedangkan kaedah menyatakan, ‘Sesuatu yang wajib yang tidak bisa terpenuhi kecuali dengannya, maka itu dihukumi wajib.’ Kemudian untuk mempelajarinya tadi, ada yang hukumnya fardhu ‘ain dan ada yang hukumnya fardhu kifayah.” (Iqtidha’ Ash-Shirath Al-Mustaqim, 1: 527)   Silakan pelajari secara lebih lengkap “7 Alasan Kenapa Kita Harus Belajar Bahasa Arab”: 7 Alasan Kenapa Kita Harus Belajar Bahasa Arab   3- Allah menakdirkan Halimah radhiyallahu ‘anha untuk menyusui dengan cara yang tidak mudah. Setelah bertekad untuk meninggalkan Mekkah, dia kembali untuk mengambil Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena awalnya tidak suka. Tetapi setelah berada di pangkuannya dan mendapatkan keberkahan baginya dan keluarganya, dia bertekad untuk tidak melepaskan anak yang pada mulanya ditolak disusun oleh semua wanita. Kita bisa bayangkan bagaimana kondisi Halimah yang mengambilnya dalam kondisi tidak tulus, tatkala dia berbisik pada dirinya, “Sudah merupakan nasib saya, semua wanita yang lain telah mendapatkan tujuannya terkecuali saya.” Dia lalai dari kebaikan yang telah disiapkan nantinya yang ia tidak tahu. Alangkah banyaknya fenomena seperti ini yang kita dapatkan dalam kehidupan sehari-hari, kita tergesa-gesa dalam memohon dan mengharapkan sesuatu, padahal kita tidak mengetahui di mana letak kebaikan itu. Harusnya kita semua ingat akan firman Allah, فَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا “Karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (QS. An-Nisa’:19) وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216) Ada pelajaran penting yang disampaikan oleh sahabat Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, “Sesungguhnya seorang hamba ada yang berharap sesuatu dari perniagaan atau kepemimpinan hingga dimudahkan baginya, kemudian Allah memalingkan nikmatnya itu kepadanya. Kemudian Allah berkata kepada malaikat, “Palingkan dia dari keinginannya itu karena jika Aku mengabulkan keinginannya, maka Aku akan memasukannya ke dalam neraka.” Oleh karena itu, Allah pun menjauhkannya dari keinginannya itu, tetapi hamba itu masih saja berkata, “Fulan telah mengalahkan saya, sungguh untunglah Fulan dibandingkan saya, walaupun pada hakikatnya itu adalah karunia dari Allah ‘azza wa jalla.” (Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 1: 470)   Balas Berbuat Baik Kita lihat dalam kisah ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu berbuat baik dengan ibu susunya, yaitu Ummu Aiman dan Tsuwaibah. Pelajaran yang bisa kita ambil adalah kita harus pandai balas budi. Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَن صَنَعَ إِليكُم مَعرُوفًا فَكَافِئُوه ، فَإِن لَم تَجِدُوا مَا تُكَافِئُوا بِهِ فَادعُوا لَهُ حَتَّى تَرَوا أَنَّكُم قَد كَافَأتُمُوهُ “Siapa yang memberikan kebaikan untuk kalian, maka balaslah. Jika engkau tidak mampu membalasnya, doakanlah ia sampai-sampai engkau yakin telah benar-benar membalasnya.” (HR. Abu Daud, no. 1672 dan An-Nasa’i, no. 2568. Hadits ini dishahihkan oleh Ibnu Hibban, Al Hakim dan disepakati oleh Adz-Dzahabi). Bukankah kebaikan lebih pantas dibalas dengan kebaikan? هَلْ جَزَاءُ الْإِحْسَانِ إِلَّا الْإِحْسَانُ “Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula).” (QS. Ar-Rahman: 60).   Saudara Sepersusuan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditawari untuk menikahi puteri dari Hamzah bin ‘Abdul Muthalib radhiyallahu ‘anhu. Namun beliau tidak bersedia, karena beliau dengan Hamzah adalah saudara sepersusuan. Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah   ditanya mengenai puteri Hamzah bin ‘Abdul Muthallib, لاَ تَحِلُّ لِى ، يَحْرُمُ مِنَ الرَّضَاعِ مَا يَحْرُمُ مِنَ النَّسَبِ ، هِىَ بِنْتُ أَخِى مِنَ الرَّضَاعَةِ “Ia tidak halal untukku. Mahram karena sebab persusuan, statusnya sama seperti mahram karena nasab. Ia adalah puteri dari saudara sepersusuan denganku. (HR. Bukhari, no. 2645). Berarti puteri Hamzah adalah keponakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari sepersusuan.   Tentang Kisah Abu Lahab yang Diringankan Siksanya di Akhirat Dalam kisah di atas disebutkan bahwa Abu Lahab akan diringankan siksanya di akhirat. Mengenai hal ini telah dijawab oleh Ibnu Hajar Al-Asqalani sebagai berikut. Hadits tersebut menunjukkan bahwa kafir masih dapat kemanfaatan dari amalan kebajikan di akhirat. Namun hal ini bertentangan dengan tekstual ayat Qur’an yang menyebutkan, وَقَدِمْنَا إِلَى مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَنْثُورًا “Dan kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan.” (QS. Al-Furqan: 23) Jawaban pertama, hadits yang membicarakan hal ini adalah mursal dari ‘Urwah dan tidak disebutkan siapa yang menceritakan padanya (dari sahabat, pen.). Taruhlah kalau hadits tersebut shahih, bagaimana mungkin mimpi bisa dijadikan hujjah. Sehingga apa yang didapatkan dalam mimpi tidak mungkin bisa diterima. Jawaban kedua, taruhlah itu diterima. Kita katakan bahwa apa yang terjadi pada Abu Lahab dalam kekhususan karena telah menjadi jalan disusuinya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sama halnya dengan kisah Abu Thalib yang diperingan siksanya berada di permukaan neraka. Imam Al-Baihaqi menyebutkan bahwa tidak dianggapnya kebaikan orang kafir maksudnya adalah mereka tidak bisa lepas dari siksa neraka dan tidak bisa masuk surga. Boleh saja mereka diperingan siksanya yang seharusnya mereka mendapatkan siksa yang berat karena ada jasa kebaikan yang mereka lakukan. (Fath Al-Bari, 9: 145)   Tentang Nasib Abu Thalib di Akhirat Dari ‘Abbas bin Abdul Muthalib radhiyallahu ‘anhu, beliau bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, مَا أَغْنَيْتَ عَنْ عَمِّكَ، فَإِنَّهُ كَانَ يَحُوطُكَ وَيَغْضَبُ لَكَ؟ “Apakah engkau tidak bisa menolong pamanmu? Karena ia selalu melindungimu dan marah karena membelamu.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, هُوَ فِي ضَحْضَاحٍ مِنْ نَارٍ، وَلَوْلاَ أَنَا لَكَانَ فِي الدَّرَكِ الأَسْفَلِ مِنَ النَّارِ ”Dia berada di permukaan neraka. Andai bukan karenaku niscaya ia berada di kerak neraka.” (HR. Bukhari, no. 3883 dan Muslim, no. 209). Dari Abu Said al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَذُكِرَ عِنْدَهُ عَمُّهُ أَبُو طَالِبٍ، فَقَالَ: «لَعَلَّهُ تَنْفَعُهُ شَفَاعَتِي يَوْمَ القِيَامَةِ، فَيُجْعَلُ فِي ضَحْضَاحٍ مِنَ النَّارِ يَبْلُغُ كَعْبَيْهِ، يَغْلِي مِنْهُ أُمُّ دِمَاغِهِ» “Suatu ketika ada orang yang menyebut tentang paman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yaitu Abu Thalib di samping beliau. Lalu beliau bersabda, “Semoga dia mendapat syafaatku pada hari kiamat, sehingga beliau diletakkan di permukaan neraka yang membakar mata kakinya, namun otaknya mendidih.” (HR. Bukhari, no. 3885 dan Muslim, no. 210) Semoga sajian sirah kali ini bermanfaat dan mendapatkan pelajaran berharga.   Referensi: Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Al-Hajjaj. Cetakan pertama, tahun 1433 H. Yahya bin Syarf An-Nawawi. Penerbit Dar Ibnu Hazm. Ar-Rahiq Al-Makhtum. Cetakan kesepuluh, tahun 1420 H. Shafiyurrahman Al-Mubarakfuri. Penerbit Darul Wafa’ dan Dar At-Tadmuriyah. As-Sirah An-Nabawiyah fi Dhau’ Al-Mashadir Al-Ashliyyah. Cetakan ketiga, tahun 1424 H. Prof. Dr. Hadyu Rizqullah Ahmad. Penerbit Dar Zidni. Fath Al-Bari bi Syarh Shahih Al-Bukhari. Cetakan keempat, tahun 1432 H. Ibnu Hajar Al-Asqalani. Penerbit Dar Thiybah. Iqtidha’ Ash-Shirath Al-Mustaqim. Cetakan kedelapan, tahun 1421 H. Ahmad bin ‘Abdul Halim bin ‘Abdus Salam bin Taimiyah. Tahqiq: Dr. Nashir bin ‘Abdul Karim ‘Al-Aql. Penerbit Maktabah Ar-Rusyd. Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam. Cetakan kesepuluh, tahun 1432 H. Ibnu Rajab Al-Hambali. Tahqiq: Syu’aib Al-Arnauth dan Ibrahim Yajis. Penerbit Muassasah Ar-Risalah. Shahih As-Sirah An-Nabawiyah. Cetakan kesembilan, tahun 1430 H. Ibrahim Al-‘Aliy. Penerbit Dar An-Nafais. Zaad Al-Ma’ad fi Hadyi Khair Al-‘Ibad. Ibnu Qayyim Al-Jauziyah. Tahqiq: Syu’aib dan ‘Abdul Qadir Al-Arnauth. Penerbit Muassasah Ar-Risalah. 1: 82. Referensi Terjemahan: Fikih Sirah Nabawiyah. Cetakan kelima, 2016. Prof. Dr. Zaid bin Abdul Karim Zaid. Penerbit Darus Sunnah. —- Disusun @ Perpus Rumaysho Darush Sholihin, 30 Syawal 1438 H di Senin siang penuh berkah Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsfaedah sirah nabi ibu susu persusuan sirah nabi

Faedah Sirah Nabi: Ibu Susu Nabi Muhammad

Di sini akan dibicarakan mengenai ibu susu Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yaitu Ummu Aiman, Tsuwaibah dan Halimah.   Pertama: Ummu Aiman Setelah dilahirkan oleh ibunya, Aminah, dia menyusuinya selama tiga atau tujuh hari. Beliau pernah diasuh oleh Ummu Aiman Barakah Al-Habasyiyyah. Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggal dunia, Abu Bakr dan ‘Umar menghampiri Ummu Aiman. Kisahnya dalam hadits berikut ini. عَنْ أَنَسٍ قَالَ قَالَ أَبُو بَكْرٍ رَضِي اللَّهُ عَنْهُ بَعْدَ وَفَاةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِعُمَرَ انْطَلِقْ بِنَا إِلَى أُمِّ أَيْمَنَ نَزُورُهَا كَمَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَزُورُهَا فَلَمَّا انْتَهَيْنَا إِلَيْهَا بَكَتْ فَقَالَا لَهَا مَا يُبْكِيكِ مَا عِنْدَ اللَّهِ خَيْرٌ لِرَسُولِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ مَا أَبْكِي أَنْ لَا أَكُونَ أَعْلَمُ أَنَّ مَا عِنْدَ اللَّهِ خَيْرٌ لِرَسُولِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَكِنْ أَبْكِي أَنَّ الْوَحْيَ قَدِ انْقَطَعَ مِنَ السَّمَاءِ فَهَيَّجَتْهُمَا عَلَى الْبُكَاءِ فَجَعَلَا يَبْكِيَانِ مَعَهَا Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat, Abu Bakar pernah berkata kepada Umar, “Marilah kita pergi mengunjungi Ummu Aiman, sebagaimana dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengunjunginya”. Tatkala kami sampai kepadanya, Ummu Aiman menangis. Maka keduanya berkata kepadanya, “Apa yang membuatmu menangis wahai Ummu Aiman? Sedangkan apa yang ada di sisi Allah lebih baik bagi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Kemudian Ummu Aiman menjawab, “Aku menangis, bukan karena aku tidak tahu bahwa apa yang ada di sisi Allah lebih baik bagi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tetapi aku menangis karena wahyu telah terputus dari langit.” Maka Ummu Aiman menggerakkan Abu Bakar dan Umar untuk menangis, sehingga keduanya menangis bersama Ummu Aiman.” (HR. Muslim, no. 2454) Ummu Aiman sendiri dimerdekakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau dewasa. Lalu Ummu Aiman dinikahi oleh Zaid bin Haritsah. Ummu Aiman sendiri meninggal dunia lima bulan setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggal dunia. (HR. Muslim, no. 1771)   Kedua: Tsuwaibah (Mawla Abu Lahab) Kemudian setelah itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam disusui oleh Tsuwaibah, bekas budak Abu Lahab selama beberapa hari. Dalam Ar-Rahiq Al-Makhtum (hlm. 72), disebutkan bahwa beliau disusui oleh Tsuwaibah selama satu minggu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengatakan, أَرْضَعَتْنِى وَأَبَا سَلَمَةَ ثُوَيْبَةُ “Aku dan Abu Salamah telah disusui oleh Tsuwaibah.” (HR. Bukhari, no. 5101. Lihat Fath Al-Bari, 9: 144) Disebutkan oleh Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Al-Fath (9: 145), kalau dilihat Tsuwaibah dimerdekakan sebelum menyusui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun sirah yang berbicara menyelisihi hal ini, Abu Lahab memerdekakan Tsuwaibah sebelum hijrah dan itu setelah menyusui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk waktu yang lama. As-Suhaili juga menceritakan bahwa Tsuwaibah merdeka sebelum menyusui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Urwah bin Az-Zubair radhiyallahu ‘anhuma berkata, وثُوَيْبَةُ مَوْلَاةٌ لِأَبِي لَهَبٍ ، كَانَ أَبُو لَهَبٍ أَعْتَقَهَا فَأَرْضَعَتْ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، َلَمَّا مَاتَ أَبُو لَهَبٍ أُرِيَهُ بَعْضُ أَهْلِهِ بِشَرِّ حِيبَةٍ – أي بسوء حال -، قَالَ لَهُ : مَاذَا لَقِيتَ ؟ قَالَ أَبُو لَهَبٍ : لَمْ أَلْقَ بَعْدَكُمْ غَيْرَ أَنِّي سُقِيتُ فِي هَذِهِ بِعَتَاقَتِي ثُوَيْبَةَ “Tsuwaibah adalah budak yang telah dimerdekakan oleh Abu Lahab, ia menyusui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Setelah Abu Lahab meninggal dunia, beberapa keluarganya melihat Abu Lahab dalam mimpi bahwa keadaannya nanti buruk, sewaktu dia ditanya, “Apa yang telah kamu temukan?” Dia menjawab, “Saya tidak menemukan sesuatu pun setelah kamu. Hanya saja saya telah mendapatkan minuman sebagai balasan dari memerdekakan Tsuwaibah.” (HR. Bukhari, no. 5101) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyusu pada Tsuwaibah dari susu puteranya yang bernama Masruh. Tsuwaibah juga pernah menyusui Hamzah bin ‘Abdul Muthallib sebelumnya. Setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Tsuwaibah menyusui Abu Salamah bin ‘Abdil Asad. (Lihat Ar-Rahiq Al-Makhtum, hlm. 72) Apakah Tsuwaibah masuk Islam? Mengenai keislamannya, para ulama berselisih pendapat. Abu Nu’aim menyatakan, “Kami tidak mengetahui kalau ada yang menyebutkan keislaman Tsuwaibah.” Intinya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat memuliakan Tsuwaibah. Beliau pernah menemui Tsuwaibah setelah menikah dengan Khadijah. Tsuwaibah meninggal dunia setelah peperangan Khaibar dan Masruh juga meninggal ketika itu. (Fath Al-Bari, 9: 145)   Ketiga: Halimah bin Abi Dzuaib As-Sa’diyah Kisah Halimah sebagai ibu susu berawal dari rombongan wanita yang mencari bayi yang mau disusui. Di antara mereka adalah Halimah binti Abi Dzuaib As-Sa’diyah radhiyallahu ‘anha. Kemudian ditawarkanlah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada para wanita itu. Semua wanita tadi menolak tatkala dikatakan bahwa dia adalah anak yatim. Namun, setelah semua wanita telah mendapatkan anak susuan, sementara Halimah radhiyallahu ‘anha belum mendapatkan anak susuan, maka dia kembali menemui beliau dan membawanya pulang. Dalam Shahih Muslim telah dijelaskan mengenai penyusuan ini. Setelah dua tahun berlalu, Halimah datang bersama beliau kepada ibunya dengan keinginan agar beliau tetap bersamanya karena berkah yang mengiringinya selama Rasulullah tinggal bersama mereka. Akhirnya, beliau tetap bersama Halimah hingga batas waktu yang dia sepakati untuk mengembalikan beliau kepada ibunya. Kisah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyusui pada selain ibunya sangat terkenal dalam kitab-kitab Sirah yang dikisahkan langsung oleh Halimah As-Sa’diyah radhiyallahu ‘anha. Dia menceritakan peristiwa kedatangannya ke Mekkah. Sampai akhirnya memilih Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam karena tidak lagi mendapatkan yang lainnya. Yang terjadi setelah itu, di rumah keluarga Halimah mendapat berkah yang banyak.   Pelajaran dari Persusuan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hingga Dibawa ke Desa Kita dapat simpulkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sengaja dibawa ke desa dari kota untuk disusui sebagaimana menjadi kebiasaan tokoh-tokoh Arab. Apa sebab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam disusui di pedesaan? Berikut beberapa alasannya. 1- Untuk menghindari polusi pergaulan kota dan untuk menghirup udara segar pedesaan. Apalagi kota Mekkah saat itu didatangi oleh banyak pengunjung yang berasal dari penjuru dunia dengan beragam jenis manusianya. Mereka datang untuk menunaikan haji, kunjungan hingga berdagang dan lainnya. Kondisi tersebut berpotensi mengotori pergaulan dan moral. 2- Bayi yang dikirim untuk diasuh di pedalaman dimaksudkan untuk membiasakan mereka berbahasa Arab yang bagus dan untuk menghindari kesalahan dalam berbahasa Arab. Pelajarannya, penting bagi kita untuk menjaga murninya bahasa Arab yang merupakan bahasa dari kitab suci kita. Ibnu Taimiyah rahimahullah menyatakan tentang hukum mempelajari bahasa Arab, وأيضا فإن نفس اللغة العربية من الدين ، ومعرفتها فرض واجب، فإن فهم الكتاب والسنة فرض، ولا يفهم إلا بفهم اللغة العربية، وما لا يتم الواجب إلا به فهو واجب . “Dan juga perlu dipahami bahwa bahasa Arab itu sendiri adalah bagian dari agama. Mempelajarinya adalah fardhu wajib. Karena untuk memahami Al-Qur’an dan As-Sunnah itu wajib. Memahaminya tidaklah bisa kecuali dengan memahami bahasa Arab. Sedangkan kaedah menyatakan, ‘Sesuatu yang wajib yang tidak bisa terpenuhi kecuali dengannya, maka itu dihukumi wajib.’ Kemudian untuk mempelajarinya tadi, ada yang hukumnya fardhu ‘ain dan ada yang hukumnya fardhu kifayah.” (Iqtidha’ Ash-Shirath Al-Mustaqim, 1: 527)   Silakan pelajari secara lebih lengkap “7 Alasan Kenapa Kita Harus Belajar Bahasa Arab”: 7 Alasan Kenapa Kita Harus Belajar Bahasa Arab   3- Allah menakdirkan Halimah radhiyallahu ‘anha untuk menyusui dengan cara yang tidak mudah. Setelah bertekad untuk meninggalkan Mekkah, dia kembali untuk mengambil Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena awalnya tidak suka. Tetapi setelah berada di pangkuannya dan mendapatkan keberkahan baginya dan keluarganya, dia bertekad untuk tidak melepaskan anak yang pada mulanya ditolak disusun oleh semua wanita. Kita bisa bayangkan bagaimana kondisi Halimah yang mengambilnya dalam kondisi tidak tulus, tatkala dia berbisik pada dirinya, “Sudah merupakan nasib saya, semua wanita yang lain telah mendapatkan tujuannya terkecuali saya.” Dia lalai dari kebaikan yang telah disiapkan nantinya yang ia tidak tahu. Alangkah banyaknya fenomena seperti ini yang kita dapatkan dalam kehidupan sehari-hari, kita tergesa-gesa dalam memohon dan mengharapkan sesuatu, padahal kita tidak mengetahui di mana letak kebaikan itu. Harusnya kita semua ingat akan firman Allah, فَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا “Karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (QS. An-Nisa’:19) وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216) Ada pelajaran penting yang disampaikan oleh sahabat Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, “Sesungguhnya seorang hamba ada yang berharap sesuatu dari perniagaan atau kepemimpinan hingga dimudahkan baginya, kemudian Allah memalingkan nikmatnya itu kepadanya. Kemudian Allah berkata kepada malaikat, “Palingkan dia dari keinginannya itu karena jika Aku mengabulkan keinginannya, maka Aku akan memasukannya ke dalam neraka.” Oleh karena itu, Allah pun menjauhkannya dari keinginannya itu, tetapi hamba itu masih saja berkata, “Fulan telah mengalahkan saya, sungguh untunglah Fulan dibandingkan saya, walaupun pada hakikatnya itu adalah karunia dari Allah ‘azza wa jalla.” (Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 1: 470)   Balas Berbuat Baik Kita lihat dalam kisah ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu berbuat baik dengan ibu susunya, yaitu Ummu Aiman dan Tsuwaibah. Pelajaran yang bisa kita ambil adalah kita harus pandai balas budi. Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَن صَنَعَ إِليكُم مَعرُوفًا فَكَافِئُوه ، فَإِن لَم تَجِدُوا مَا تُكَافِئُوا بِهِ فَادعُوا لَهُ حَتَّى تَرَوا أَنَّكُم قَد كَافَأتُمُوهُ “Siapa yang memberikan kebaikan untuk kalian, maka balaslah. Jika engkau tidak mampu membalasnya, doakanlah ia sampai-sampai engkau yakin telah benar-benar membalasnya.” (HR. Abu Daud, no. 1672 dan An-Nasa’i, no. 2568. Hadits ini dishahihkan oleh Ibnu Hibban, Al Hakim dan disepakati oleh Adz-Dzahabi). Bukankah kebaikan lebih pantas dibalas dengan kebaikan? هَلْ جَزَاءُ الْإِحْسَانِ إِلَّا الْإِحْسَانُ “Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula).” (QS. Ar-Rahman: 60).   Saudara Sepersusuan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditawari untuk menikahi puteri dari Hamzah bin ‘Abdul Muthalib radhiyallahu ‘anhu. Namun beliau tidak bersedia, karena beliau dengan Hamzah adalah saudara sepersusuan. Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah   ditanya mengenai puteri Hamzah bin ‘Abdul Muthallib, لاَ تَحِلُّ لِى ، يَحْرُمُ مِنَ الرَّضَاعِ مَا يَحْرُمُ مِنَ النَّسَبِ ، هِىَ بِنْتُ أَخِى مِنَ الرَّضَاعَةِ “Ia tidak halal untukku. Mahram karena sebab persusuan, statusnya sama seperti mahram karena nasab. Ia adalah puteri dari saudara sepersusuan denganku. (HR. Bukhari, no. 2645). Berarti puteri Hamzah adalah keponakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari sepersusuan.   Tentang Kisah Abu Lahab yang Diringankan Siksanya di Akhirat Dalam kisah di atas disebutkan bahwa Abu Lahab akan diringankan siksanya di akhirat. Mengenai hal ini telah dijawab oleh Ibnu Hajar Al-Asqalani sebagai berikut. Hadits tersebut menunjukkan bahwa kafir masih dapat kemanfaatan dari amalan kebajikan di akhirat. Namun hal ini bertentangan dengan tekstual ayat Qur’an yang menyebutkan, وَقَدِمْنَا إِلَى مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَنْثُورًا “Dan kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan.” (QS. Al-Furqan: 23) Jawaban pertama, hadits yang membicarakan hal ini adalah mursal dari ‘Urwah dan tidak disebutkan siapa yang menceritakan padanya (dari sahabat, pen.). Taruhlah kalau hadits tersebut shahih, bagaimana mungkin mimpi bisa dijadikan hujjah. Sehingga apa yang didapatkan dalam mimpi tidak mungkin bisa diterima. Jawaban kedua, taruhlah itu diterima. Kita katakan bahwa apa yang terjadi pada Abu Lahab dalam kekhususan karena telah menjadi jalan disusuinya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sama halnya dengan kisah Abu Thalib yang diperingan siksanya berada di permukaan neraka. Imam Al-Baihaqi menyebutkan bahwa tidak dianggapnya kebaikan orang kafir maksudnya adalah mereka tidak bisa lepas dari siksa neraka dan tidak bisa masuk surga. Boleh saja mereka diperingan siksanya yang seharusnya mereka mendapatkan siksa yang berat karena ada jasa kebaikan yang mereka lakukan. (Fath Al-Bari, 9: 145)   Tentang Nasib Abu Thalib di Akhirat Dari ‘Abbas bin Abdul Muthalib radhiyallahu ‘anhu, beliau bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, مَا أَغْنَيْتَ عَنْ عَمِّكَ، فَإِنَّهُ كَانَ يَحُوطُكَ وَيَغْضَبُ لَكَ؟ “Apakah engkau tidak bisa menolong pamanmu? Karena ia selalu melindungimu dan marah karena membelamu.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, هُوَ فِي ضَحْضَاحٍ مِنْ نَارٍ، وَلَوْلاَ أَنَا لَكَانَ فِي الدَّرَكِ الأَسْفَلِ مِنَ النَّارِ ”Dia berada di permukaan neraka. Andai bukan karenaku niscaya ia berada di kerak neraka.” (HR. Bukhari, no. 3883 dan Muslim, no. 209). Dari Abu Said al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَذُكِرَ عِنْدَهُ عَمُّهُ أَبُو طَالِبٍ، فَقَالَ: «لَعَلَّهُ تَنْفَعُهُ شَفَاعَتِي يَوْمَ القِيَامَةِ، فَيُجْعَلُ فِي ضَحْضَاحٍ مِنَ النَّارِ يَبْلُغُ كَعْبَيْهِ، يَغْلِي مِنْهُ أُمُّ دِمَاغِهِ» “Suatu ketika ada orang yang menyebut tentang paman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yaitu Abu Thalib di samping beliau. Lalu beliau bersabda, “Semoga dia mendapat syafaatku pada hari kiamat, sehingga beliau diletakkan di permukaan neraka yang membakar mata kakinya, namun otaknya mendidih.” (HR. Bukhari, no. 3885 dan Muslim, no. 210) Semoga sajian sirah kali ini bermanfaat dan mendapatkan pelajaran berharga.   Referensi: Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Al-Hajjaj. Cetakan pertama, tahun 1433 H. Yahya bin Syarf An-Nawawi. Penerbit Dar Ibnu Hazm. Ar-Rahiq Al-Makhtum. Cetakan kesepuluh, tahun 1420 H. Shafiyurrahman Al-Mubarakfuri. Penerbit Darul Wafa’ dan Dar At-Tadmuriyah. As-Sirah An-Nabawiyah fi Dhau’ Al-Mashadir Al-Ashliyyah. Cetakan ketiga, tahun 1424 H. Prof. Dr. Hadyu Rizqullah Ahmad. Penerbit Dar Zidni. Fath Al-Bari bi Syarh Shahih Al-Bukhari. Cetakan keempat, tahun 1432 H. Ibnu Hajar Al-Asqalani. Penerbit Dar Thiybah. Iqtidha’ Ash-Shirath Al-Mustaqim. Cetakan kedelapan, tahun 1421 H. Ahmad bin ‘Abdul Halim bin ‘Abdus Salam bin Taimiyah. Tahqiq: Dr. Nashir bin ‘Abdul Karim ‘Al-Aql. Penerbit Maktabah Ar-Rusyd. Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam. Cetakan kesepuluh, tahun 1432 H. Ibnu Rajab Al-Hambali. Tahqiq: Syu’aib Al-Arnauth dan Ibrahim Yajis. Penerbit Muassasah Ar-Risalah. Shahih As-Sirah An-Nabawiyah. Cetakan kesembilan, tahun 1430 H. Ibrahim Al-‘Aliy. Penerbit Dar An-Nafais. Zaad Al-Ma’ad fi Hadyi Khair Al-‘Ibad. Ibnu Qayyim Al-Jauziyah. Tahqiq: Syu’aib dan ‘Abdul Qadir Al-Arnauth. Penerbit Muassasah Ar-Risalah. 1: 82. Referensi Terjemahan: Fikih Sirah Nabawiyah. Cetakan kelima, 2016. Prof. Dr. Zaid bin Abdul Karim Zaid. Penerbit Darus Sunnah. —- Disusun @ Perpus Rumaysho Darush Sholihin, 30 Syawal 1438 H di Senin siang penuh berkah Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsfaedah sirah nabi ibu susu persusuan sirah nabi
Di sini akan dibicarakan mengenai ibu susu Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yaitu Ummu Aiman, Tsuwaibah dan Halimah.   Pertama: Ummu Aiman Setelah dilahirkan oleh ibunya, Aminah, dia menyusuinya selama tiga atau tujuh hari. Beliau pernah diasuh oleh Ummu Aiman Barakah Al-Habasyiyyah. Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggal dunia, Abu Bakr dan ‘Umar menghampiri Ummu Aiman. Kisahnya dalam hadits berikut ini. عَنْ أَنَسٍ قَالَ قَالَ أَبُو بَكْرٍ رَضِي اللَّهُ عَنْهُ بَعْدَ وَفَاةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِعُمَرَ انْطَلِقْ بِنَا إِلَى أُمِّ أَيْمَنَ نَزُورُهَا كَمَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَزُورُهَا فَلَمَّا انْتَهَيْنَا إِلَيْهَا بَكَتْ فَقَالَا لَهَا مَا يُبْكِيكِ مَا عِنْدَ اللَّهِ خَيْرٌ لِرَسُولِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ مَا أَبْكِي أَنْ لَا أَكُونَ أَعْلَمُ أَنَّ مَا عِنْدَ اللَّهِ خَيْرٌ لِرَسُولِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَكِنْ أَبْكِي أَنَّ الْوَحْيَ قَدِ انْقَطَعَ مِنَ السَّمَاءِ فَهَيَّجَتْهُمَا عَلَى الْبُكَاءِ فَجَعَلَا يَبْكِيَانِ مَعَهَا Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat, Abu Bakar pernah berkata kepada Umar, “Marilah kita pergi mengunjungi Ummu Aiman, sebagaimana dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengunjunginya”. Tatkala kami sampai kepadanya, Ummu Aiman menangis. Maka keduanya berkata kepadanya, “Apa yang membuatmu menangis wahai Ummu Aiman? Sedangkan apa yang ada di sisi Allah lebih baik bagi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Kemudian Ummu Aiman menjawab, “Aku menangis, bukan karena aku tidak tahu bahwa apa yang ada di sisi Allah lebih baik bagi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tetapi aku menangis karena wahyu telah terputus dari langit.” Maka Ummu Aiman menggerakkan Abu Bakar dan Umar untuk menangis, sehingga keduanya menangis bersama Ummu Aiman.” (HR. Muslim, no. 2454) Ummu Aiman sendiri dimerdekakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau dewasa. Lalu Ummu Aiman dinikahi oleh Zaid bin Haritsah. Ummu Aiman sendiri meninggal dunia lima bulan setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggal dunia. (HR. Muslim, no. 1771)   Kedua: Tsuwaibah (Mawla Abu Lahab) Kemudian setelah itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam disusui oleh Tsuwaibah, bekas budak Abu Lahab selama beberapa hari. Dalam Ar-Rahiq Al-Makhtum (hlm. 72), disebutkan bahwa beliau disusui oleh Tsuwaibah selama satu minggu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengatakan, أَرْضَعَتْنِى وَأَبَا سَلَمَةَ ثُوَيْبَةُ “Aku dan Abu Salamah telah disusui oleh Tsuwaibah.” (HR. Bukhari, no. 5101. Lihat Fath Al-Bari, 9: 144) Disebutkan oleh Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Al-Fath (9: 145), kalau dilihat Tsuwaibah dimerdekakan sebelum menyusui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun sirah yang berbicara menyelisihi hal ini, Abu Lahab memerdekakan Tsuwaibah sebelum hijrah dan itu setelah menyusui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk waktu yang lama. As-Suhaili juga menceritakan bahwa Tsuwaibah merdeka sebelum menyusui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Urwah bin Az-Zubair radhiyallahu ‘anhuma berkata, وثُوَيْبَةُ مَوْلَاةٌ لِأَبِي لَهَبٍ ، كَانَ أَبُو لَهَبٍ أَعْتَقَهَا فَأَرْضَعَتْ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، َلَمَّا مَاتَ أَبُو لَهَبٍ أُرِيَهُ بَعْضُ أَهْلِهِ بِشَرِّ حِيبَةٍ – أي بسوء حال -، قَالَ لَهُ : مَاذَا لَقِيتَ ؟ قَالَ أَبُو لَهَبٍ : لَمْ أَلْقَ بَعْدَكُمْ غَيْرَ أَنِّي سُقِيتُ فِي هَذِهِ بِعَتَاقَتِي ثُوَيْبَةَ “Tsuwaibah adalah budak yang telah dimerdekakan oleh Abu Lahab, ia menyusui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Setelah Abu Lahab meninggal dunia, beberapa keluarganya melihat Abu Lahab dalam mimpi bahwa keadaannya nanti buruk, sewaktu dia ditanya, “Apa yang telah kamu temukan?” Dia menjawab, “Saya tidak menemukan sesuatu pun setelah kamu. Hanya saja saya telah mendapatkan minuman sebagai balasan dari memerdekakan Tsuwaibah.” (HR. Bukhari, no. 5101) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyusu pada Tsuwaibah dari susu puteranya yang bernama Masruh. Tsuwaibah juga pernah menyusui Hamzah bin ‘Abdul Muthallib sebelumnya. Setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Tsuwaibah menyusui Abu Salamah bin ‘Abdil Asad. (Lihat Ar-Rahiq Al-Makhtum, hlm. 72) Apakah Tsuwaibah masuk Islam? Mengenai keislamannya, para ulama berselisih pendapat. Abu Nu’aim menyatakan, “Kami tidak mengetahui kalau ada yang menyebutkan keislaman Tsuwaibah.” Intinya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat memuliakan Tsuwaibah. Beliau pernah menemui Tsuwaibah setelah menikah dengan Khadijah. Tsuwaibah meninggal dunia setelah peperangan Khaibar dan Masruh juga meninggal ketika itu. (Fath Al-Bari, 9: 145)   Ketiga: Halimah bin Abi Dzuaib As-Sa’diyah Kisah Halimah sebagai ibu susu berawal dari rombongan wanita yang mencari bayi yang mau disusui. Di antara mereka adalah Halimah binti Abi Dzuaib As-Sa’diyah radhiyallahu ‘anha. Kemudian ditawarkanlah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada para wanita itu. Semua wanita tadi menolak tatkala dikatakan bahwa dia adalah anak yatim. Namun, setelah semua wanita telah mendapatkan anak susuan, sementara Halimah radhiyallahu ‘anha belum mendapatkan anak susuan, maka dia kembali menemui beliau dan membawanya pulang. Dalam Shahih Muslim telah dijelaskan mengenai penyusuan ini. Setelah dua tahun berlalu, Halimah datang bersama beliau kepada ibunya dengan keinginan agar beliau tetap bersamanya karena berkah yang mengiringinya selama Rasulullah tinggal bersama mereka. Akhirnya, beliau tetap bersama Halimah hingga batas waktu yang dia sepakati untuk mengembalikan beliau kepada ibunya. Kisah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyusui pada selain ibunya sangat terkenal dalam kitab-kitab Sirah yang dikisahkan langsung oleh Halimah As-Sa’diyah radhiyallahu ‘anha. Dia menceritakan peristiwa kedatangannya ke Mekkah. Sampai akhirnya memilih Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam karena tidak lagi mendapatkan yang lainnya. Yang terjadi setelah itu, di rumah keluarga Halimah mendapat berkah yang banyak.   Pelajaran dari Persusuan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hingga Dibawa ke Desa Kita dapat simpulkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sengaja dibawa ke desa dari kota untuk disusui sebagaimana menjadi kebiasaan tokoh-tokoh Arab. Apa sebab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam disusui di pedesaan? Berikut beberapa alasannya. 1- Untuk menghindari polusi pergaulan kota dan untuk menghirup udara segar pedesaan. Apalagi kota Mekkah saat itu didatangi oleh banyak pengunjung yang berasal dari penjuru dunia dengan beragam jenis manusianya. Mereka datang untuk menunaikan haji, kunjungan hingga berdagang dan lainnya. Kondisi tersebut berpotensi mengotori pergaulan dan moral. 2- Bayi yang dikirim untuk diasuh di pedalaman dimaksudkan untuk membiasakan mereka berbahasa Arab yang bagus dan untuk menghindari kesalahan dalam berbahasa Arab. Pelajarannya, penting bagi kita untuk menjaga murninya bahasa Arab yang merupakan bahasa dari kitab suci kita. Ibnu Taimiyah rahimahullah menyatakan tentang hukum mempelajari bahasa Arab, وأيضا فإن نفس اللغة العربية من الدين ، ومعرفتها فرض واجب، فإن فهم الكتاب والسنة فرض، ولا يفهم إلا بفهم اللغة العربية، وما لا يتم الواجب إلا به فهو واجب . “Dan juga perlu dipahami bahwa bahasa Arab itu sendiri adalah bagian dari agama. Mempelajarinya adalah fardhu wajib. Karena untuk memahami Al-Qur’an dan As-Sunnah itu wajib. Memahaminya tidaklah bisa kecuali dengan memahami bahasa Arab. Sedangkan kaedah menyatakan, ‘Sesuatu yang wajib yang tidak bisa terpenuhi kecuali dengannya, maka itu dihukumi wajib.’ Kemudian untuk mempelajarinya tadi, ada yang hukumnya fardhu ‘ain dan ada yang hukumnya fardhu kifayah.” (Iqtidha’ Ash-Shirath Al-Mustaqim, 1: 527)   Silakan pelajari secara lebih lengkap “7 Alasan Kenapa Kita Harus Belajar Bahasa Arab”: 7 Alasan Kenapa Kita Harus Belajar Bahasa Arab   3- Allah menakdirkan Halimah radhiyallahu ‘anha untuk menyusui dengan cara yang tidak mudah. Setelah bertekad untuk meninggalkan Mekkah, dia kembali untuk mengambil Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena awalnya tidak suka. Tetapi setelah berada di pangkuannya dan mendapatkan keberkahan baginya dan keluarganya, dia bertekad untuk tidak melepaskan anak yang pada mulanya ditolak disusun oleh semua wanita. Kita bisa bayangkan bagaimana kondisi Halimah yang mengambilnya dalam kondisi tidak tulus, tatkala dia berbisik pada dirinya, “Sudah merupakan nasib saya, semua wanita yang lain telah mendapatkan tujuannya terkecuali saya.” Dia lalai dari kebaikan yang telah disiapkan nantinya yang ia tidak tahu. Alangkah banyaknya fenomena seperti ini yang kita dapatkan dalam kehidupan sehari-hari, kita tergesa-gesa dalam memohon dan mengharapkan sesuatu, padahal kita tidak mengetahui di mana letak kebaikan itu. Harusnya kita semua ingat akan firman Allah, فَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا “Karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (QS. An-Nisa’:19) وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216) Ada pelajaran penting yang disampaikan oleh sahabat Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, “Sesungguhnya seorang hamba ada yang berharap sesuatu dari perniagaan atau kepemimpinan hingga dimudahkan baginya, kemudian Allah memalingkan nikmatnya itu kepadanya. Kemudian Allah berkata kepada malaikat, “Palingkan dia dari keinginannya itu karena jika Aku mengabulkan keinginannya, maka Aku akan memasukannya ke dalam neraka.” Oleh karena itu, Allah pun menjauhkannya dari keinginannya itu, tetapi hamba itu masih saja berkata, “Fulan telah mengalahkan saya, sungguh untunglah Fulan dibandingkan saya, walaupun pada hakikatnya itu adalah karunia dari Allah ‘azza wa jalla.” (Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 1: 470)   Balas Berbuat Baik Kita lihat dalam kisah ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu berbuat baik dengan ibu susunya, yaitu Ummu Aiman dan Tsuwaibah. Pelajaran yang bisa kita ambil adalah kita harus pandai balas budi. Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَن صَنَعَ إِليكُم مَعرُوفًا فَكَافِئُوه ، فَإِن لَم تَجِدُوا مَا تُكَافِئُوا بِهِ فَادعُوا لَهُ حَتَّى تَرَوا أَنَّكُم قَد كَافَأتُمُوهُ “Siapa yang memberikan kebaikan untuk kalian, maka balaslah. Jika engkau tidak mampu membalasnya, doakanlah ia sampai-sampai engkau yakin telah benar-benar membalasnya.” (HR. Abu Daud, no. 1672 dan An-Nasa’i, no. 2568. Hadits ini dishahihkan oleh Ibnu Hibban, Al Hakim dan disepakati oleh Adz-Dzahabi). Bukankah kebaikan lebih pantas dibalas dengan kebaikan? هَلْ جَزَاءُ الْإِحْسَانِ إِلَّا الْإِحْسَانُ “Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula).” (QS. Ar-Rahman: 60).   Saudara Sepersusuan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditawari untuk menikahi puteri dari Hamzah bin ‘Abdul Muthalib radhiyallahu ‘anhu. Namun beliau tidak bersedia, karena beliau dengan Hamzah adalah saudara sepersusuan. Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah   ditanya mengenai puteri Hamzah bin ‘Abdul Muthallib, لاَ تَحِلُّ لِى ، يَحْرُمُ مِنَ الرَّضَاعِ مَا يَحْرُمُ مِنَ النَّسَبِ ، هِىَ بِنْتُ أَخِى مِنَ الرَّضَاعَةِ “Ia tidak halal untukku. Mahram karena sebab persusuan, statusnya sama seperti mahram karena nasab. Ia adalah puteri dari saudara sepersusuan denganku. (HR. Bukhari, no. 2645). Berarti puteri Hamzah adalah keponakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari sepersusuan.   Tentang Kisah Abu Lahab yang Diringankan Siksanya di Akhirat Dalam kisah di atas disebutkan bahwa Abu Lahab akan diringankan siksanya di akhirat. Mengenai hal ini telah dijawab oleh Ibnu Hajar Al-Asqalani sebagai berikut. Hadits tersebut menunjukkan bahwa kafir masih dapat kemanfaatan dari amalan kebajikan di akhirat. Namun hal ini bertentangan dengan tekstual ayat Qur’an yang menyebutkan, وَقَدِمْنَا إِلَى مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَنْثُورًا “Dan kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan.” (QS. Al-Furqan: 23) Jawaban pertama, hadits yang membicarakan hal ini adalah mursal dari ‘Urwah dan tidak disebutkan siapa yang menceritakan padanya (dari sahabat, pen.). Taruhlah kalau hadits tersebut shahih, bagaimana mungkin mimpi bisa dijadikan hujjah. Sehingga apa yang didapatkan dalam mimpi tidak mungkin bisa diterima. Jawaban kedua, taruhlah itu diterima. Kita katakan bahwa apa yang terjadi pada Abu Lahab dalam kekhususan karena telah menjadi jalan disusuinya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sama halnya dengan kisah Abu Thalib yang diperingan siksanya berada di permukaan neraka. Imam Al-Baihaqi menyebutkan bahwa tidak dianggapnya kebaikan orang kafir maksudnya adalah mereka tidak bisa lepas dari siksa neraka dan tidak bisa masuk surga. Boleh saja mereka diperingan siksanya yang seharusnya mereka mendapatkan siksa yang berat karena ada jasa kebaikan yang mereka lakukan. (Fath Al-Bari, 9: 145)   Tentang Nasib Abu Thalib di Akhirat Dari ‘Abbas bin Abdul Muthalib radhiyallahu ‘anhu, beliau bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, مَا أَغْنَيْتَ عَنْ عَمِّكَ، فَإِنَّهُ كَانَ يَحُوطُكَ وَيَغْضَبُ لَكَ؟ “Apakah engkau tidak bisa menolong pamanmu? Karena ia selalu melindungimu dan marah karena membelamu.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, هُوَ فِي ضَحْضَاحٍ مِنْ نَارٍ، وَلَوْلاَ أَنَا لَكَانَ فِي الدَّرَكِ الأَسْفَلِ مِنَ النَّارِ ”Dia berada di permukaan neraka. Andai bukan karenaku niscaya ia berada di kerak neraka.” (HR. Bukhari, no. 3883 dan Muslim, no. 209). Dari Abu Said al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَذُكِرَ عِنْدَهُ عَمُّهُ أَبُو طَالِبٍ، فَقَالَ: «لَعَلَّهُ تَنْفَعُهُ شَفَاعَتِي يَوْمَ القِيَامَةِ، فَيُجْعَلُ فِي ضَحْضَاحٍ مِنَ النَّارِ يَبْلُغُ كَعْبَيْهِ، يَغْلِي مِنْهُ أُمُّ دِمَاغِهِ» “Suatu ketika ada orang yang menyebut tentang paman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yaitu Abu Thalib di samping beliau. Lalu beliau bersabda, “Semoga dia mendapat syafaatku pada hari kiamat, sehingga beliau diletakkan di permukaan neraka yang membakar mata kakinya, namun otaknya mendidih.” (HR. Bukhari, no. 3885 dan Muslim, no. 210) Semoga sajian sirah kali ini bermanfaat dan mendapatkan pelajaran berharga.   Referensi: Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Al-Hajjaj. Cetakan pertama, tahun 1433 H. Yahya bin Syarf An-Nawawi. Penerbit Dar Ibnu Hazm. Ar-Rahiq Al-Makhtum. Cetakan kesepuluh, tahun 1420 H. Shafiyurrahman Al-Mubarakfuri. Penerbit Darul Wafa’ dan Dar At-Tadmuriyah. As-Sirah An-Nabawiyah fi Dhau’ Al-Mashadir Al-Ashliyyah. Cetakan ketiga, tahun 1424 H. Prof. Dr. Hadyu Rizqullah Ahmad. Penerbit Dar Zidni. Fath Al-Bari bi Syarh Shahih Al-Bukhari. Cetakan keempat, tahun 1432 H. Ibnu Hajar Al-Asqalani. Penerbit Dar Thiybah. Iqtidha’ Ash-Shirath Al-Mustaqim. Cetakan kedelapan, tahun 1421 H. Ahmad bin ‘Abdul Halim bin ‘Abdus Salam bin Taimiyah. Tahqiq: Dr. Nashir bin ‘Abdul Karim ‘Al-Aql. Penerbit Maktabah Ar-Rusyd. Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam. Cetakan kesepuluh, tahun 1432 H. Ibnu Rajab Al-Hambali. Tahqiq: Syu’aib Al-Arnauth dan Ibrahim Yajis. Penerbit Muassasah Ar-Risalah. Shahih As-Sirah An-Nabawiyah. Cetakan kesembilan, tahun 1430 H. Ibrahim Al-‘Aliy. Penerbit Dar An-Nafais. Zaad Al-Ma’ad fi Hadyi Khair Al-‘Ibad. Ibnu Qayyim Al-Jauziyah. Tahqiq: Syu’aib dan ‘Abdul Qadir Al-Arnauth. Penerbit Muassasah Ar-Risalah. 1: 82. Referensi Terjemahan: Fikih Sirah Nabawiyah. Cetakan kelima, 2016. Prof. Dr. Zaid bin Abdul Karim Zaid. Penerbit Darus Sunnah. —- Disusun @ Perpus Rumaysho Darush Sholihin, 30 Syawal 1438 H di Senin siang penuh berkah Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsfaedah sirah nabi ibu susu persusuan sirah nabi


Di sini akan dibicarakan mengenai ibu susu Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yaitu Ummu Aiman, Tsuwaibah dan Halimah.   Pertama: Ummu Aiman Setelah dilahirkan oleh ibunya, Aminah, dia menyusuinya selama tiga atau tujuh hari. Beliau pernah diasuh oleh Ummu Aiman Barakah Al-Habasyiyyah. Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggal dunia, Abu Bakr dan ‘Umar menghampiri Ummu Aiman. Kisahnya dalam hadits berikut ini. عَنْ أَنَسٍ قَالَ قَالَ أَبُو بَكْرٍ رَضِي اللَّهُ عَنْهُ بَعْدَ وَفَاةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِعُمَرَ انْطَلِقْ بِنَا إِلَى أُمِّ أَيْمَنَ نَزُورُهَا كَمَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَزُورُهَا فَلَمَّا انْتَهَيْنَا إِلَيْهَا بَكَتْ فَقَالَا لَهَا مَا يُبْكِيكِ مَا عِنْدَ اللَّهِ خَيْرٌ لِرَسُولِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ مَا أَبْكِي أَنْ لَا أَكُونَ أَعْلَمُ أَنَّ مَا عِنْدَ اللَّهِ خَيْرٌ لِرَسُولِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَكِنْ أَبْكِي أَنَّ الْوَحْيَ قَدِ انْقَطَعَ مِنَ السَّمَاءِ فَهَيَّجَتْهُمَا عَلَى الْبُكَاءِ فَجَعَلَا يَبْكِيَانِ مَعَهَا Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat, Abu Bakar pernah berkata kepada Umar, “Marilah kita pergi mengunjungi Ummu Aiman, sebagaimana dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengunjunginya”. Tatkala kami sampai kepadanya, Ummu Aiman menangis. Maka keduanya berkata kepadanya, “Apa yang membuatmu menangis wahai Ummu Aiman? Sedangkan apa yang ada di sisi Allah lebih baik bagi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Kemudian Ummu Aiman menjawab, “Aku menangis, bukan karena aku tidak tahu bahwa apa yang ada di sisi Allah lebih baik bagi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tetapi aku menangis karena wahyu telah terputus dari langit.” Maka Ummu Aiman menggerakkan Abu Bakar dan Umar untuk menangis, sehingga keduanya menangis bersama Ummu Aiman.” (HR. Muslim, no. 2454) Ummu Aiman sendiri dimerdekakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau dewasa. Lalu Ummu Aiman dinikahi oleh Zaid bin Haritsah. Ummu Aiman sendiri meninggal dunia lima bulan setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggal dunia. (HR. Muslim, no. 1771)   Kedua: Tsuwaibah (Mawla Abu Lahab) Kemudian setelah itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam disusui oleh Tsuwaibah, bekas budak Abu Lahab selama beberapa hari. Dalam Ar-Rahiq Al-Makhtum (hlm. 72), disebutkan bahwa beliau disusui oleh Tsuwaibah selama satu minggu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengatakan, أَرْضَعَتْنِى وَأَبَا سَلَمَةَ ثُوَيْبَةُ “Aku dan Abu Salamah telah disusui oleh Tsuwaibah.” (HR. Bukhari, no. 5101. Lihat Fath Al-Bari, 9: 144) Disebutkan oleh Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Al-Fath (9: 145), kalau dilihat Tsuwaibah dimerdekakan sebelum menyusui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun sirah yang berbicara menyelisihi hal ini, Abu Lahab memerdekakan Tsuwaibah sebelum hijrah dan itu setelah menyusui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk waktu yang lama. As-Suhaili juga menceritakan bahwa Tsuwaibah merdeka sebelum menyusui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Urwah bin Az-Zubair radhiyallahu ‘anhuma berkata, وثُوَيْبَةُ مَوْلَاةٌ لِأَبِي لَهَبٍ ، كَانَ أَبُو لَهَبٍ أَعْتَقَهَا فَأَرْضَعَتْ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، َلَمَّا مَاتَ أَبُو لَهَبٍ أُرِيَهُ بَعْضُ أَهْلِهِ بِشَرِّ حِيبَةٍ – أي بسوء حال -، قَالَ لَهُ : مَاذَا لَقِيتَ ؟ قَالَ أَبُو لَهَبٍ : لَمْ أَلْقَ بَعْدَكُمْ غَيْرَ أَنِّي سُقِيتُ فِي هَذِهِ بِعَتَاقَتِي ثُوَيْبَةَ “Tsuwaibah adalah budak yang telah dimerdekakan oleh Abu Lahab, ia menyusui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Setelah Abu Lahab meninggal dunia, beberapa keluarganya melihat Abu Lahab dalam mimpi bahwa keadaannya nanti buruk, sewaktu dia ditanya, “Apa yang telah kamu temukan?” Dia menjawab, “Saya tidak menemukan sesuatu pun setelah kamu. Hanya saja saya telah mendapatkan minuman sebagai balasan dari memerdekakan Tsuwaibah.” (HR. Bukhari, no. 5101) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyusu pada Tsuwaibah dari susu puteranya yang bernama Masruh. Tsuwaibah juga pernah menyusui Hamzah bin ‘Abdul Muthallib sebelumnya. Setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Tsuwaibah menyusui Abu Salamah bin ‘Abdil Asad. (Lihat Ar-Rahiq Al-Makhtum, hlm. 72) Apakah Tsuwaibah masuk Islam? Mengenai keislamannya, para ulama berselisih pendapat. Abu Nu’aim menyatakan, “Kami tidak mengetahui kalau ada yang menyebutkan keislaman Tsuwaibah.” Intinya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat memuliakan Tsuwaibah. Beliau pernah menemui Tsuwaibah setelah menikah dengan Khadijah. Tsuwaibah meninggal dunia setelah peperangan Khaibar dan Masruh juga meninggal ketika itu. (Fath Al-Bari, 9: 145)   Ketiga: Halimah bin Abi Dzuaib As-Sa’diyah Kisah Halimah sebagai ibu susu berawal dari rombongan wanita yang mencari bayi yang mau disusui. Di antara mereka adalah Halimah binti Abi Dzuaib As-Sa’diyah radhiyallahu ‘anha. Kemudian ditawarkanlah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada para wanita itu. Semua wanita tadi menolak tatkala dikatakan bahwa dia adalah anak yatim. Namun, setelah semua wanita telah mendapatkan anak susuan, sementara Halimah radhiyallahu ‘anha belum mendapatkan anak susuan, maka dia kembali menemui beliau dan membawanya pulang. Dalam Shahih Muslim telah dijelaskan mengenai penyusuan ini. Setelah dua tahun berlalu, Halimah datang bersama beliau kepada ibunya dengan keinginan agar beliau tetap bersamanya karena berkah yang mengiringinya selama Rasulullah tinggal bersama mereka. Akhirnya, beliau tetap bersama Halimah hingga batas waktu yang dia sepakati untuk mengembalikan beliau kepada ibunya. Kisah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyusui pada selain ibunya sangat terkenal dalam kitab-kitab Sirah yang dikisahkan langsung oleh Halimah As-Sa’diyah radhiyallahu ‘anha. Dia menceritakan peristiwa kedatangannya ke Mekkah. Sampai akhirnya memilih Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam karena tidak lagi mendapatkan yang lainnya. Yang terjadi setelah itu, di rumah keluarga Halimah mendapat berkah yang banyak.   Pelajaran dari Persusuan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hingga Dibawa ke Desa Kita dapat simpulkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sengaja dibawa ke desa dari kota untuk disusui sebagaimana menjadi kebiasaan tokoh-tokoh Arab. Apa sebab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam disusui di pedesaan? Berikut beberapa alasannya. 1- Untuk menghindari polusi pergaulan kota dan untuk menghirup udara segar pedesaan. Apalagi kota Mekkah saat itu didatangi oleh banyak pengunjung yang berasal dari penjuru dunia dengan beragam jenis manusianya. Mereka datang untuk menunaikan haji, kunjungan hingga berdagang dan lainnya. Kondisi tersebut berpotensi mengotori pergaulan dan moral. 2- Bayi yang dikirim untuk diasuh di pedalaman dimaksudkan untuk membiasakan mereka berbahasa Arab yang bagus dan untuk menghindari kesalahan dalam berbahasa Arab. Pelajarannya, penting bagi kita untuk menjaga murninya bahasa Arab yang merupakan bahasa dari kitab suci kita. Ibnu Taimiyah rahimahullah menyatakan tentang hukum mempelajari bahasa Arab, وأيضا فإن نفس اللغة العربية من الدين ، ومعرفتها فرض واجب، فإن فهم الكتاب والسنة فرض، ولا يفهم إلا بفهم اللغة العربية، وما لا يتم الواجب إلا به فهو واجب . “Dan juga perlu dipahami bahwa bahasa Arab itu sendiri adalah bagian dari agama. Mempelajarinya adalah fardhu wajib. Karena untuk memahami Al-Qur’an dan As-Sunnah itu wajib. Memahaminya tidaklah bisa kecuali dengan memahami bahasa Arab. Sedangkan kaedah menyatakan, ‘Sesuatu yang wajib yang tidak bisa terpenuhi kecuali dengannya, maka itu dihukumi wajib.’ Kemudian untuk mempelajarinya tadi, ada yang hukumnya fardhu ‘ain dan ada yang hukumnya fardhu kifayah.” (Iqtidha’ Ash-Shirath Al-Mustaqim, 1: 527)   Silakan pelajari secara lebih lengkap “7 Alasan Kenapa Kita Harus Belajar Bahasa Arab”: 7 Alasan Kenapa Kita Harus Belajar Bahasa Arab   3- Allah menakdirkan Halimah radhiyallahu ‘anha untuk menyusui dengan cara yang tidak mudah. Setelah bertekad untuk meninggalkan Mekkah, dia kembali untuk mengambil Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena awalnya tidak suka. Tetapi setelah berada di pangkuannya dan mendapatkan keberkahan baginya dan keluarganya, dia bertekad untuk tidak melepaskan anak yang pada mulanya ditolak disusun oleh semua wanita. Kita bisa bayangkan bagaimana kondisi Halimah yang mengambilnya dalam kondisi tidak tulus, tatkala dia berbisik pada dirinya, “Sudah merupakan nasib saya, semua wanita yang lain telah mendapatkan tujuannya terkecuali saya.” Dia lalai dari kebaikan yang telah disiapkan nantinya yang ia tidak tahu. Alangkah banyaknya fenomena seperti ini yang kita dapatkan dalam kehidupan sehari-hari, kita tergesa-gesa dalam memohon dan mengharapkan sesuatu, padahal kita tidak mengetahui di mana letak kebaikan itu. Harusnya kita semua ingat akan firman Allah, فَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا “Karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (QS. An-Nisa’:19) وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216) Ada pelajaran penting yang disampaikan oleh sahabat Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, “Sesungguhnya seorang hamba ada yang berharap sesuatu dari perniagaan atau kepemimpinan hingga dimudahkan baginya, kemudian Allah memalingkan nikmatnya itu kepadanya. Kemudian Allah berkata kepada malaikat, “Palingkan dia dari keinginannya itu karena jika Aku mengabulkan keinginannya, maka Aku akan memasukannya ke dalam neraka.” Oleh karena itu, Allah pun menjauhkannya dari keinginannya itu, tetapi hamba itu masih saja berkata, “Fulan telah mengalahkan saya, sungguh untunglah Fulan dibandingkan saya, walaupun pada hakikatnya itu adalah karunia dari Allah ‘azza wa jalla.” (Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 1: 470)   Balas Berbuat Baik Kita lihat dalam kisah ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu berbuat baik dengan ibu susunya, yaitu Ummu Aiman dan Tsuwaibah. Pelajaran yang bisa kita ambil adalah kita harus pandai balas budi. Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَن صَنَعَ إِليكُم مَعرُوفًا فَكَافِئُوه ، فَإِن لَم تَجِدُوا مَا تُكَافِئُوا بِهِ فَادعُوا لَهُ حَتَّى تَرَوا أَنَّكُم قَد كَافَأتُمُوهُ “Siapa yang memberikan kebaikan untuk kalian, maka balaslah. Jika engkau tidak mampu membalasnya, doakanlah ia sampai-sampai engkau yakin telah benar-benar membalasnya.” (HR. Abu Daud, no. 1672 dan An-Nasa’i, no. 2568. Hadits ini dishahihkan oleh Ibnu Hibban, Al Hakim dan disepakati oleh Adz-Dzahabi). Bukankah kebaikan lebih pantas dibalas dengan kebaikan? هَلْ جَزَاءُ الْإِحْسَانِ إِلَّا الْإِحْسَانُ “Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula).” (QS. Ar-Rahman: 60).   Saudara Sepersusuan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditawari untuk menikahi puteri dari Hamzah bin ‘Abdul Muthalib radhiyallahu ‘anhu. Namun beliau tidak bersedia, karena beliau dengan Hamzah adalah saudara sepersusuan. Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah   ditanya mengenai puteri Hamzah bin ‘Abdul Muthallib, لاَ تَحِلُّ لِى ، يَحْرُمُ مِنَ الرَّضَاعِ مَا يَحْرُمُ مِنَ النَّسَبِ ، هِىَ بِنْتُ أَخِى مِنَ الرَّضَاعَةِ “Ia tidak halal untukku. Mahram karena sebab persusuan, statusnya sama seperti mahram karena nasab. Ia adalah puteri dari saudara sepersusuan denganku. (HR. Bukhari, no. 2645). Berarti puteri Hamzah adalah keponakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari sepersusuan.   Tentang Kisah Abu Lahab yang Diringankan Siksanya di Akhirat Dalam kisah di atas disebutkan bahwa Abu Lahab akan diringankan siksanya di akhirat. Mengenai hal ini telah dijawab oleh Ibnu Hajar Al-Asqalani sebagai berikut. Hadits tersebut menunjukkan bahwa kafir masih dapat kemanfaatan dari amalan kebajikan di akhirat. Namun hal ini bertentangan dengan tekstual ayat Qur’an yang menyebutkan, وَقَدِمْنَا إِلَى مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَنْثُورًا “Dan kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan.” (QS. Al-Furqan: 23) Jawaban pertama, hadits yang membicarakan hal ini adalah mursal dari ‘Urwah dan tidak disebutkan siapa yang menceritakan padanya (dari sahabat, pen.). Taruhlah kalau hadits tersebut shahih, bagaimana mungkin mimpi bisa dijadikan hujjah. Sehingga apa yang didapatkan dalam mimpi tidak mungkin bisa diterima. Jawaban kedua, taruhlah itu diterima. Kita katakan bahwa apa yang terjadi pada Abu Lahab dalam kekhususan karena telah menjadi jalan disusuinya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sama halnya dengan kisah Abu Thalib yang diperingan siksanya berada di permukaan neraka. Imam Al-Baihaqi menyebutkan bahwa tidak dianggapnya kebaikan orang kafir maksudnya adalah mereka tidak bisa lepas dari siksa neraka dan tidak bisa masuk surga. Boleh saja mereka diperingan siksanya yang seharusnya mereka mendapatkan siksa yang berat karena ada jasa kebaikan yang mereka lakukan. (Fath Al-Bari, 9: 145)   Tentang Nasib Abu Thalib di Akhirat Dari ‘Abbas bin Abdul Muthalib radhiyallahu ‘anhu, beliau bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, مَا أَغْنَيْتَ عَنْ عَمِّكَ، فَإِنَّهُ كَانَ يَحُوطُكَ وَيَغْضَبُ لَكَ؟ “Apakah engkau tidak bisa menolong pamanmu? Karena ia selalu melindungimu dan marah karena membelamu.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, هُوَ فِي ضَحْضَاحٍ مِنْ نَارٍ، وَلَوْلاَ أَنَا لَكَانَ فِي الدَّرَكِ الأَسْفَلِ مِنَ النَّارِ ”Dia berada di permukaan neraka. Andai bukan karenaku niscaya ia berada di kerak neraka.” (HR. Bukhari, no. 3883 dan Muslim, no. 209). Dari Abu Said al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَذُكِرَ عِنْدَهُ عَمُّهُ أَبُو طَالِبٍ، فَقَالَ: «لَعَلَّهُ تَنْفَعُهُ شَفَاعَتِي يَوْمَ القِيَامَةِ، فَيُجْعَلُ فِي ضَحْضَاحٍ مِنَ النَّارِ يَبْلُغُ كَعْبَيْهِ، يَغْلِي مِنْهُ أُمُّ دِمَاغِهِ» “Suatu ketika ada orang yang menyebut tentang paman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yaitu Abu Thalib di samping beliau. Lalu beliau bersabda, “Semoga dia mendapat syafaatku pada hari kiamat, sehingga beliau diletakkan di permukaan neraka yang membakar mata kakinya, namun otaknya mendidih.” (HR. Bukhari, no. 3885 dan Muslim, no. 210) Semoga sajian sirah kali ini bermanfaat dan mendapatkan pelajaran berharga.   Referensi: Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Al-Hajjaj. Cetakan pertama, tahun 1433 H. Yahya bin Syarf An-Nawawi. Penerbit Dar Ibnu Hazm. Ar-Rahiq Al-Makhtum. Cetakan kesepuluh, tahun 1420 H. Shafiyurrahman Al-Mubarakfuri. Penerbit Darul Wafa’ dan Dar At-Tadmuriyah. As-Sirah An-Nabawiyah fi Dhau’ Al-Mashadir Al-Ashliyyah. Cetakan ketiga, tahun 1424 H. Prof. Dr. Hadyu Rizqullah Ahmad. Penerbit Dar Zidni. Fath Al-Bari bi Syarh Shahih Al-Bukhari. Cetakan keempat, tahun 1432 H. Ibnu Hajar Al-Asqalani. Penerbit Dar Thiybah. Iqtidha’ Ash-Shirath Al-Mustaqim. Cetakan kedelapan, tahun 1421 H. Ahmad bin ‘Abdul Halim bin ‘Abdus Salam bin Taimiyah. Tahqiq: Dr. Nashir bin ‘Abdul Karim ‘Al-Aql. Penerbit Maktabah Ar-Rusyd. Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam. Cetakan kesepuluh, tahun 1432 H. Ibnu Rajab Al-Hambali. Tahqiq: Syu’aib Al-Arnauth dan Ibrahim Yajis. Penerbit Muassasah Ar-Risalah. Shahih As-Sirah An-Nabawiyah. Cetakan kesembilan, tahun 1430 H. Ibrahim Al-‘Aliy. Penerbit Dar An-Nafais. Zaad Al-Ma’ad fi Hadyi Khair Al-‘Ibad. Ibnu Qayyim Al-Jauziyah. Tahqiq: Syu’aib dan ‘Abdul Qadir Al-Arnauth. Penerbit Muassasah Ar-Risalah. 1: 82. Referensi Terjemahan: Fikih Sirah Nabawiyah. Cetakan kelima, 2016. Prof. Dr. Zaid bin Abdul Karim Zaid. Penerbit Darus Sunnah. —- Disusun @ Perpus Rumaysho Darush Sholihin, 30 Syawal 1438 H di Senin siang penuh berkah Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsfaedah sirah nabi ibu susu persusuan sirah nabi

7 Alasan Kenapa Kita Harus Belajar Bahasa Arab

Baca tulisan ini, moga termotivasi belajar Bahasa Arab. Inilah 7 alasan kenapa kita harus belajar bahasa Arab. Ibnu Taimiyah rahimahullah menyatakan tentang hukum mempelajari bahasa Arab, وأيضا فإن نفس اللغة العربية من الدين ، ومعرفتها فرض واجب، فإن فهم الكتاب والسنة فرض، ولا يفهم إلا بفهم اللغة العربية، وما لا يتم الواجب إلا به فهو واجب . “Dan juga perlu dipahami bahwa bahasa Arab itu sendiri adalah bagian dari agama. Mempelajarinya adalah fardhu wajib. Karena untuk memahami Al-Qur’an dan As-Sunnah itu wajib. Memahaminya tidaklah bisa kecuali dengan memahami bahasa Arab. Sedangkan kaedah menyatakan, ‘Sesuatu yang wajib yang tidak bisa terpenuhi kecuali dengannya, maka itu dihukumi wajib.’ Kemudian untuk mempelajarinya tadi, ada yang hukumnya fardhu ‘ain dan ada yang hukumnya fardhu kifayah.” (Iqtidha’ Ash-Shirath Al-Mustaqim, 1: 527) Ada beberapa riwayat yang juga dibawakan oleh Ibnu Taimiyah. Diriwayatkan oleh Abu Bakr bin Abi Syaibah, ‘Umar pernah menulis pada Abu Musa, أما بعد: فتفقهوا في السنة ، وتفقهوا في العربية وأعربوا القرآن، فإنه عربي “Pelajarilah As-Sunnah dan pelajarilah bahasa Arab, serta i’rablah Al-Qur’an. Ingatlah Al-Qur’an itu dengan bahasa Arab.” ‘Umar radhiyallahu ‘anhu juga pernah berkata, تعلموا العربية فإنها من دينكم، وتعلموا الفرائض فإنها من دينكم “Pelajarilah bahasa Arab karena ia bagian dari agama kalian. Pelajarilah hukum waris, ia juga bagian dari agama kalian.” Mempelajari bahasa Arab -kata Ibnu Taimiyah- bertujuan agar faqih dalam ucapan. Sedangkan menurut beliau, mempelajari sunnah Nabi bertujuan supaya faqih dalam amalan. Sedangkan dalam diin itu terdiri dari ucapan dan amalan. Lihat bahasan Iqtidha’ Ash-Shirath Al-Mustaqim, 1: 527-528. Ada beberapa alasan kenapa kita lebih baik menguasai bahasa Arab? Kami ringkaskan dari apa yang kami pahami dari perkataan Ibnu Taimiyah rahimahullah: Bahasa arab adalah syiar Islam dan syiar umat Islam. Dan kita tahu bahwa bahasa merupakan sebaik-baiknya syiar. Sebagian fuqaha melarang berdoa dalam shalat dan juga berdzikir dengan bahasa non-Arab. Membiasakan diri dengan bahasa Arab akan berpengaruh amat kuat pada cara berpikir (logika), akhlak, dan agama. Membiasakan diri dengan bahasa Arab akan membuat kita serupa dengan sahabat, dan tabi’in. Sehingga kita bisa meniru cara berpikir, cara beragama dan akhlak mulia mereka. Mempelajari bahasa Arab adalah bagian dari agama. Untuk memahami Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan baik wajib dengan mempelajari bahasa Arab. Walaupun ada yang sifatnya fardhu ‘ain dan fardhu kifayah. Belajar bahasa Arab akan membuat seseorang semakin baik (semakin faqih) dalam ucapan. (Disarikan dari Iqtidha’ Ash-Shirath Al-Mustaqim, 1: 519-528) Semoga bermanfaat.   Referensi: Iqtidha’ Ash-Shirath Al-Mustaqim. Cetakan kedelapan, tahun 1421 H. Ahmad bin ‘Abdul Halim bin ‘Abdus Salam bin Taimiyah. Penerbit Maktabah Ar-Rusyd. — @ Darush Sholihin (Perpus Rumaysho), 30 Syawal 1438 H di pagi hari penuh berkah Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsbahasa arab belajar doa bahasa indonesia

7 Alasan Kenapa Kita Harus Belajar Bahasa Arab

Baca tulisan ini, moga termotivasi belajar Bahasa Arab. Inilah 7 alasan kenapa kita harus belajar bahasa Arab. Ibnu Taimiyah rahimahullah menyatakan tentang hukum mempelajari bahasa Arab, وأيضا فإن نفس اللغة العربية من الدين ، ومعرفتها فرض واجب، فإن فهم الكتاب والسنة فرض، ولا يفهم إلا بفهم اللغة العربية، وما لا يتم الواجب إلا به فهو واجب . “Dan juga perlu dipahami bahwa bahasa Arab itu sendiri adalah bagian dari agama. Mempelajarinya adalah fardhu wajib. Karena untuk memahami Al-Qur’an dan As-Sunnah itu wajib. Memahaminya tidaklah bisa kecuali dengan memahami bahasa Arab. Sedangkan kaedah menyatakan, ‘Sesuatu yang wajib yang tidak bisa terpenuhi kecuali dengannya, maka itu dihukumi wajib.’ Kemudian untuk mempelajarinya tadi, ada yang hukumnya fardhu ‘ain dan ada yang hukumnya fardhu kifayah.” (Iqtidha’ Ash-Shirath Al-Mustaqim, 1: 527) Ada beberapa riwayat yang juga dibawakan oleh Ibnu Taimiyah. Diriwayatkan oleh Abu Bakr bin Abi Syaibah, ‘Umar pernah menulis pada Abu Musa, أما بعد: فتفقهوا في السنة ، وتفقهوا في العربية وأعربوا القرآن، فإنه عربي “Pelajarilah As-Sunnah dan pelajarilah bahasa Arab, serta i’rablah Al-Qur’an. Ingatlah Al-Qur’an itu dengan bahasa Arab.” ‘Umar radhiyallahu ‘anhu juga pernah berkata, تعلموا العربية فإنها من دينكم، وتعلموا الفرائض فإنها من دينكم “Pelajarilah bahasa Arab karena ia bagian dari agama kalian. Pelajarilah hukum waris, ia juga bagian dari agama kalian.” Mempelajari bahasa Arab -kata Ibnu Taimiyah- bertujuan agar faqih dalam ucapan. Sedangkan menurut beliau, mempelajari sunnah Nabi bertujuan supaya faqih dalam amalan. Sedangkan dalam diin itu terdiri dari ucapan dan amalan. Lihat bahasan Iqtidha’ Ash-Shirath Al-Mustaqim, 1: 527-528. Ada beberapa alasan kenapa kita lebih baik menguasai bahasa Arab? Kami ringkaskan dari apa yang kami pahami dari perkataan Ibnu Taimiyah rahimahullah: Bahasa arab adalah syiar Islam dan syiar umat Islam. Dan kita tahu bahwa bahasa merupakan sebaik-baiknya syiar. Sebagian fuqaha melarang berdoa dalam shalat dan juga berdzikir dengan bahasa non-Arab. Membiasakan diri dengan bahasa Arab akan berpengaruh amat kuat pada cara berpikir (logika), akhlak, dan agama. Membiasakan diri dengan bahasa Arab akan membuat kita serupa dengan sahabat, dan tabi’in. Sehingga kita bisa meniru cara berpikir, cara beragama dan akhlak mulia mereka. Mempelajari bahasa Arab adalah bagian dari agama. Untuk memahami Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan baik wajib dengan mempelajari bahasa Arab. Walaupun ada yang sifatnya fardhu ‘ain dan fardhu kifayah. Belajar bahasa Arab akan membuat seseorang semakin baik (semakin faqih) dalam ucapan. (Disarikan dari Iqtidha’ Ash-Shirath Al-Mustaqim, 1: 519-528) Semoga bermanfaat.   Referensi: Iqtidha’ Ash-Shirath Al-Mustaqim. Cetakan kedelapan, tahun 1421 H. Ahmad bin ‘Abdul Halim bin ‘Abdus Salam bin Taimiyah. Penerbit Maktabah Ar-Rusyd. — @ Darush Sholihin (Perpus Rumaysho), 30 Syawal 1438 H di pagi hari penuh berkah Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsbahasa arab belajar doa bahasa indonesia
Baca tulisan ini, moga termotivasi belajar Bahasa Arab. Inilah 7 alasan kenapa kita harus belajar bahasa Arab. Ibnu Taimiyah rahimahullah menyatakan tentang hukum mempelajari bahasa Arab, وأيضا فإن نفس اللغة العربية من الدين ، ومعرفتها فرض واجب، فإن فهم الكتاب والسنة فرض، ولا يفهم إلا بفهم اللغة العربية، وما لا يتم الواجب إلا به فهو واجب . “Dan juga perlu dipahami bahwa bahasa Arab itu sendiri adalah bagian dari agama. Mempelajarinya adalah fardhu wajib. Karena untuk memahami Al-Qur’an dan As-Sunnah itu wajib. Memahaminya tidaklah bisa kecuali dengan memahami bahasa Arab. Sedangkan kaedah menyatakan, ‘Sesuatu yang wajib yang tidak bisa terpenuhi kecuali dengannya, maka itu dihukumi wajib.’ Kemudian untuk mempelajarinya tadi, ada yang hukumnya fardhu ‘ain dan ada yang hukumnya fardhu kifayah.” (Iqtidha’ Ash-Shirath Al-Mustaqim, 1: 527) Ada beberapa riwayat yang juga dibawakan oleh Ibnu Taimiyah. Diriwayatkan oleh Abu Bakr bin Abi Syaibah, ‘Umar pernah menulis pada Abu Musa, أما بعد: فتفقهوا في السنة ، وتفقهوا في العربية وأعربوا القرآن، فإنه عربي “Pelajarilah As-Sunnah dan pelajarilah bahasa Arab, serta i’rablah Al-Qur’an. Ingatlah Al-Qur’an itu dengan bahasa Arab.” ‘Umar radhiyallahu ‘anhu juga pernah berkata, تعلموا العربية فإنها من دينكم، وتعلموا الفرائض فإنها من دينكم “Pelajarilah bahasa Arab karena ia bagian dari agama kalian. Pelajarilah hukum waris, ia juga bagian dari agama kalian.” Mempelajari bahasa Arab -kata Ibnu Taimiyah- bertujuan agar faqih dalam ucapan. Sedangkan menurut beliau, mempelajari sunnah Nabi bertujuan supaya faqih dalam amalan. Sedangkan dalam diin itu terdiri dari ucapan dan amalan. Lihat bahasan Iqtidha’ Ash-Shirath Al-Mustaqim, 1: 527-528. Ada beberapa alasan kenapa kita lebih baik menguasai bahasa Arab? Kami ringkaskan dari apa yang kami pahami dari perkataan Ibnu Taimiyah rahimahullah: Bahasa arab adalah syiar Islam dan syiar umat Islam. Dan kita tahu bahwa bahasa merupakan sebaik-baiknya syiar. Sebagian fuqaha melarang berdoa dalam shalat dan juga berdzikir dengan bahasa non-Arab. Membiasakan diri dengan bahasa Arab akan berpengaruh amat kuat pada cara berpikir (logika), akhlak, dan agama. Membiasakan diri dengan bahasa Arab akan membuat kita serupa dengan sahabat, dan tabi’in. Sehingga kita bisa meniru cara berpikir, cara beragama dan akhlak mulia mereka. Mempelajari bahasa Arab adalah bagian dari agama. Untuk memahami Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan baik wajib dengan mempelajari bahasa Arab. Walaupun ada yang sifatnya fardhu ‘ain dan fardhu kifayah. Belajar bahasa Arab akan membuat seseorang semakin baik (semakin faqih) dalam ucapan. (Disarikan dari Iqtidha’ Ash-Shirath Al-Mustaqim, 1: 519-528) Semoga bermanfaat.   Referensi: Iqtidha’ Ash-Shirath Al-Mustaqim. Cetakan kedelapan, tahun 1421 H. Ahmad bin ‘Abdul Halim bin ‘Abdus Salam bin Taimiyah. Penerbit Maktabah Ar-Rusyd. — @ Darush Sholihin (Perpus Rumaysho), 30 Syawal 1438 H di pagi hari penuh berkah Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsbahasa arab belajar doa bahasa indonesia


Baca tulisan ini, moga termotivasi belajar Bahasa Arab. Inilah 7 alasan kenapa kita harus belajar bahasa Arab. Ibnu Taimiyah rahimahullah menyatakan tentang hukum mempelajari bahasa Arab, وأيضا فإن نفس اللغة العربية من الدين ، ومعرفتها فرض واجب، فإن فهم الكتاب والسنة فرض، ولا يفهم إلا بفهم اللغة العربية، وما لا يتم الواجب إلا به فهو واجب . “Dan juga perlu dipahami bahwa bahasa Arab itu sendiri adalah bagian dari agama. Mempelajarinya adalah fardhu wajib. Karena untuk memahami Al-Qur’an dan As-Sunnah itu wajib. Memahaminya tidaklah bisa kecuali dengan memahami bahasa Arab. Sedangkan kaedah menyatakan, ‘Sesuatu yang wajib yang tidak bisa terpenuhi kecuali dengannya, maka itu dihukumi wajib.’ Kemudian untuk mempelajarinya tadi, ada yang hukumnya fardhu ‘ain dan ada yang hukumnya fardhu kifayah.” (Iqtidha’ Ash-Shirath Al-Mustaqim, 1: 527) Ada beberapa riwayat yang juga dibawakan oleh Ibnu Taimiyah. Diriwayatkan oleh Abu Bakr bin Abi Syaibah, ‘Umar pernah menulis pada Abu Musa, أما بعد: فتفقهوا في السنة ، وتفقهوا في العربية وأعربوا القرآن، فإنه عربي “Pelajarilah As-Sunnah dan pelajarilah bahasa Arab, serta i’rablah Al-Qur’an. Ingatlah Al-Qur’an itu dengan bahasa Arab.” ‘Umar radhiyallahu ‘anhu juga pernah berkata, تعلموا العربية فإنها من دينكم، وتعلموا الفرائض فإنها من دينكم “Pelajarilah bahasa Arab karena ia bagian dari agama kalian. Pelajarilah hukum waris, ia juga bagian dari agama kalian.” Mempelajari bahasa Arab -kata Ibnu Taimiyah- bertujuan agar faqih dalam ucapan. Sedangkan menurut beliau, mempelajari sunnah Nabi bertujuan supaya faqih dalam amalan. Sedangkan dalam diin itu terdiri dari ucapan dan amalan. Lihat bahasan Iqtidha’ Ash-Shirath Al-Mustaqim, 1: 527-528. Ada beberapa alasan kenapa kita lebih baik menguasai bahasa Arab? Kami ringkaskan dari apa yang kami pahami dari perkataan Ibnu Taimiyah rahimahullah: Bahasa arab adalah syiar Islam dan syiar umat Islam. Dan kita tahu bahwa bahasa merupakan sebaik-baiknya syiar. Sebagian fuqaha melarang berdoa dalam shalat dan juga berdzikir dengan bahasa non-Arab. Membiasakan diri dengan bahasa Arab akan berpengaruh amat kuat pada cara berpikir (logika), akhlak, dan agama. Membiasakan diri dengan bahasa Arab akan membuat kita serupa dengan sahabat, dan tabi’in. Sehingga kita bisa meniru cara berpikir, cara beragama dan akhlak mulia mereka. Mempelajari bahasa Arab adalah bagian dari agama. Untuk memahami Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan baik wajib dengan mempelajari bahasa Arab. Walaupun ada yang sifatnya fardhu ‘ain dan fardhu kifayah. Belajar bahasa Arab akan membuat seseorang semakin baik (semakin faqih) dalam ucapan. (Disarikan dari Iqtidha’ Ash-Shirath Al-Mustaqim, 1: 519-528) Semoga bermanfaat.   Referensi: Iqtidha’ Ash-Shirath Al-Mustaqim. Cetakan kedelapan, tahun 1421 H. Ahmad bin ‘Abdul Halim bin ‘Abdus Salam bin Taimiyah. Penerbit Maktabah Ar-Rusyd. — @ Darush Sholihin (Perpus Rumaysho), 30 Syawal 1438 H di pagi hari penuh berkah Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsbahasa arab belajar doa bahasa indonesia

5 Kiat Meredam Marah

Marah kadang perlu diredam agar tidak berdampak jelek dan merusak. Bagaimanakah cara dan kiat-kiatnya meredam marah?   1- Membaca ta’awudz, meminta perlindungan pada Allah dari godaan setan Kenapa sampai meminta tolong pada Allah agar dilindungi dari setan? Karena dalil-dalil berikutnya akan terlihat jelas bahwa marah bisa dari setan. Maka kita mengamalkan firman Allah dari ayat berikut, وَإِمَّا يَنْزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ ۚ إِنَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ “Dan jika setan datang menggodamu, maka berlindunglah kepada Allah. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar Maha Mengetahui.” (QS. Al-A’raf: 200) Sulaiman bin Shurod radhiyallahu ‘anhu berkata, كُنْتُ جَالِسًا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَرَجُلاَنِ يَسْتَبَّانِ، فَأَحَدُهُمَا احْمَرَّ وَجْهُهُ، وَانْتَفَخَتْ أَوْدَاجُهُ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” إِنِّي لَأَعْلَمُ كَلِمَةً لَوْ قَالَهَا ذَهَبَ عَنْهُ مَا يَجِدُ، لَوْ قَالَ: أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ، ذَهَبَ عَنْهُ مَا يَجِدُ “ “Pada suatu hari aku duduk bersama-sama Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam sedang dua orang lelaki sedang saling mengeluarkan kata-kata kotor satu dan lainnya. Salah seorang daripadanya telah merah mukanya dan tegang pula urat lehernya. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda, “Sesungguhnya aku tahu satu perkataan sekiranya dibaca tentu hilang rasa marahnya jika sekiranya ia mau membaca, ‘A’udzubillahi minas-syaitani’ (Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan), niscaya hilang kemarahan yang dialaminya.” (HR Bukhari, no. 3282) Juga ada hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, إِذَا غَضِبَ الرَّجُلُ فَقَالَ أَعُوْذُ بِاللهِ ، سَكَنَ غَضْبُهُ “Jika seseorang dalam keadaan marah, lantas ia ucapkan, ‘A’udzu billah (Aku meminta perlindungan kepada Allah)’, maka redamlah marahnya.” (HR. As-Sahmi dalam Tarikh Jarjan, 252. Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, no. 1376)   2- Diam Karena yang namanya marah itu jika keluar bisa jadi keluar kata-kata yang tidak Allah ridhai. Ada yang marah keluar kata-kata kufur, ada yang marah keluar kalimat mencaci maki, ada yang marah keluar kalimat laknat, ada yang marah keluar kalimat cerai hingga hal-hal sekitarnya pun bisa hancur. Kalau seseorang memaksa dirinya untuk diam ketika akan marah, hal-hal yang rusak tadi tidak akan terjadi. Ada hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, وَ إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْكُتْ “Jika salah seorang di antara kalian marah, diamlah.” (HR. Ahmad, 1: 239. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan lighairihi)   3- Berganti posisi Dari Abu Dzarr radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ  وَهُوَ قَائِمٌ فَلْيَجْلِسْ، فَإِنْ ذَهَبَ عَنْهُ الْغَضَبُ، وَإِلاَّ فَلْيَضْطَجِعْ “Bila salah satu di antara kalian marah saat berdiri, maka duduklah. Jika marahnya telah hilang (maka sudah cukup). Namun jika tidak lenyap pula maka berbaringlah.” (HR. Abu Daud, no. 4782. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini shahih).   4- Mengambil air wudhu Dari Athiyyah as-Sa’di Radhiyallahu anhu berkata, Rasulullah bersabda: إِنَّ الْغَضَبَ مِنْ الشَّيْطَانِ وَإِنَّ الشَّيْطَانَ خُلِقَ مِنْ النَّارِ وَإِنَّمَا تُطْفَأُ النَّارُ بِالْمَاءِ فَإِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَتَوَضَّأْ “Sesungguhnya amarah itu dari setan dan setan diciptakan dari api. Api akan padam dengan air. Apabila salah seorang dari kalian marah, hendaknya berwudhu.” (HR. Abu Daud, no. 4784. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan)   5- Ingat wasiat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan janji beliau Sebelum memuntahkan amarah kepada orang lain atau benda sekalipun, baiknya orang memperhatikan hadits berikut yang berisi pesan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada seseorang yang meminta nasehat dari beliau. عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَجُلًا قَالَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْصِنِي قَالَ لَا تَغْضَبْ فَرَدَّدَ مِرَارًا قَالَ لَا تَغْضَبْ Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, seorang lelaki berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Berilah aku wasiat.” Beliau menjawab, “Janganlah engkau marah.” Lelaki itu mengulang-ulang permintaannya, (namun) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (selalu) menjawab, “Janganlah engkau marah.” (HR. Bukhari, no. 6116) Dari Mu’adz radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ كَظَمَ غَيْظاً وَهُوَ قَادِرٌ عَلَى أَنْ يُنَفِّذهُ دَعَأهُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى رُؤُوْسِ الْخَلاَئِقِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُخَيِّرَهُ مِنَ الْحُوْرِ مَا شَاءَ “Barang siapa menahan amarahnya padahal mampu meluapkannya, Allah akan memanggilnya di hadapan para makhluk pada hari Kiamat untuk memberinya pilihan bidadari yang ia inginkan.” (HR. Abu Daud, no. 4777; Ibnu Majah, no. 4186. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini sanadnya hasan) Dari Abu Ad-Darda’ radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Wahai Rasulullah tunjukkanlah kepadaku suatu amalan yang dapat memasukkan dalam surga.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas, لاَ تَغْضَبْ وَلَكَ الْجَنَّةُ “Jangan engkau marah, maka bagimu surga.” (HR. Thabrani dalam Al-Kabir. Lihat Shahih At-Targhib wa At-Tarhib, hadits ini shahih lighairihi) Semoga Allah memberi taufik dan hidayah. — Disusun @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 28 Syawal 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsmarah

5 Kiat Meredam Marah

Marah kadang perlu diredam agar tidak berdampak jelek dan merusak. Bagaimanakah cara dan kiat-kiatnya meredam marah?   1- Membaca ta’awudz, meminta perlindungan pada Allah dari godaan setan Kenapa sampai meminta tolong pada Allah agar dilindungi dari setan? Karena dalil-dalil berikutnya akan terlihat jelas bahwa marah bisa dari setan. Maka kita mengamalkan firman Allah dari ayat berikut, وَإِمَّا يَنْزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ ۚ إِنَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ “Dan jika setan datang menggodamu, maka berlindunglah kepada Allah. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar Maha Mengetahui.” (QS. Al-A’raf: 200) Sulaiman bin Shurod radhiyallahu ‘anhu berkata, كُنْتُ جَالِسًا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَرَجُلاَنِ يَسْتَبَّانِ، فَأَحَدُهُمَا احْمَرَّ وَجْهُهُ، وَانْتَفَخَتْ أَوْدَاجُهُ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” إِنِّي لَأَعْلَمُ كَلِمَةً لَوْ قَالَهَا ذَهَبَ عَنْهُ مَا يَجِدُ، لَوْ قَالَ: أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ، ذَهَبَ عَنْهُ مَا يَجِدُ “ “Pada suatu hari aku duduk bersama-sama Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam sedang dua orang lelaki sedang saling mengeluarkan kata-kata kotor satu dan lainnya. Salah seorang daripadanya telah merah mukanya dan tegang pula urat lehernya. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda, “Sesungguhnya aku tahu satu perkataan sekiranya dibaca tentu hilang rasa marahnya jika sekiranya ia mau membaca, ‘A’udzubillahi minas-syaitani’ (Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan), niscaya hilang kemarahan yang dialaminya.” (HR Bukhari, no. 3282) Juga ada hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, إِذَا غَضِبَ الرَّجُلُ فَقَالَ أَعُوْذُ بِاللهِ ، سَكَنَ غَضْبُهُ “Jika seseorang dalam keadaan marah, lantas ia ucapkan, ‘A’udzu billah (Aku meminta perlindungan kepada Allah)’, maka redamlah marahnya.” (HR. As-Sahmi dalam Tarikh Jarjan, 252. Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, no. 1376)   2- Diam Karena yang namanya marah itu jika keluar bisa jadi keluar kata-kata yang tidak Allah ridhai. Ada yang marah keluar kata-kata kufur, ada yang marah keluar kalimat mencaci maki, ada yang marah keluar kalimat laknat, ada yang marah keluar kalimat cerai hingga hal-hal sekitarnya pun bisa hancur. Kalau seseorang memaksa dirinya untuk diam ketika akan marah, hal-hal yang rusak tadi tidak akan terjadi. Ada hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, وَ إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْكُتْ “Jika salah seorang di antara kalian marah, diamlah.” (HR. Ahmad, 1: 239. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan lighairihi)   3- Berganti posisi Dari Abu Dzarr radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ  وَهُوَ قَائِمٌ فَلْيَجْلِسْ، فَإِنْ ذَهَبَ عَنْهُ الْغَضَبُ، وَإِلاَّ فَلْيَضْطَجِعْ “Bila salah satu di antara kalian marah saat berdiri, maka duduklah. Jika marahnya telah hilang (maka sudah cukup). Namun jika tidak lenyap pula maka berbaringlah.” (HR. Abu Daud, no. 4782. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini shahih).   4- Mengambil air wudhu Dari Athiyyah as-Sa’di Radhiyallahu anhu berkata, Rasulullah bersabda: إِنَّ الْغَضَبَ مِنْ الشَّيْطَانِ وَإِنَّ الشَّيْطَانَ خُلِقَ مِنْ النَّارِ وَإِنَّمَا تُطْفَأُ النَّارُ بِالْمَاءِ فَإِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَتَوَضَّأْ “Sesungguhnya amarah itu dari setan dan setan diciptakan dari api. Api akan padam dengan air. Apabila salah seorang dari kalian marah, hendaknya berwudhu.” (HR. Abu Daud, no. 4784. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan)   5- Ingat wasiat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan janji beliau Sebelum memuntahkan amarah kepada orang lain atau benda sekalipun, baiknya orang memperhatikan hadits berikut yang berisi pesan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada seseorang yang meminta nasehat dari beliau. عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَجُلًا قَالَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْصِنِي قَالَ لَا تَغْضَبْ فَرَدَّدَ مِرَارًا قَالَ لَا تَغْضَبْ Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, seorang lelaki berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Berilah aku wasiat.” Beliau menjawab, “Janganlah engkau marah.” Lelaki itu mengulang-ulang permintaannya, (namun) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (selalu) menjawab, “Janganlah engkau marah.” (HR. Bukhari, no. 6116) Dari Mu’adz radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ كَظَمَ غَيْظاً وَهُوَ قَادِرٌ عَلَى أَنْ يُنَفِّذهُ دَعَأهُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى رُؤُوْسِ الْخَلاَئِقِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُخَيِّرَهُ مِنَ الْحُوْرِ مَا شَاءَ “Barang siapa menahan amarahnya padahal mampu meluapkannya, Allah akan memanggilnya di hadapan para makhluk pada hari Kiamat untuk memberinya pilihan bidadari yang ia inginkan.” (HR. Abu Daud, no. 4777; Ibnu Majah, no. 4186. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini sanadnya hasan) Dari Abu Ad-Darda’ radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Wahai Rasulullah tunjukkanlah kepadaku suatu amalan yang dapat memasukkan dalam surga.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas, لاَ تَغْضَبْ وَلَكَ الْجَنَّةُ “Jangan engkau marah, maka bagimu surga.” (HR. Thabrani dalam Al-Kabir. Lihat Shahih At-Targhib wa At-Tarhib, hadits ini shahih lighairihi) Semoga Allah memberi taufik dan hidayah. — Disusun @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 28 Syawal 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsmarah
Marah kadang perlu diredam agar tidak berdampak jelek dan merusak. Bagaimanakah cara dan kiat-kiatnya meredam marah?   1- Membaca ta’awudz, meminta perlindungan pada Allah dari godaan setan Kenapa sampai meminta tolong pada Allah agar dilindungi dari setan? Karena dalil-dalil berikutnya akan terlihat jelas bahwa marah bisa dari setan. Maka kita mengamalkan firman Allah dari ayat berikut, وَإِمَّا يَنْزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ ۚ إِنَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ “Dan jika setan datang menggodamu, maka berlindunglah kepada Allah. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar Maha Mengetahui.” (QS. Al-A’raf: 200) Sulaiman bin Shurod radhiyallahu ‘anhu berkata, كُنْتُ جَالِسًا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَرَجُلاَنِ يَسْتَبَّانِ، فَأَحَدُهُمَا احْمَرَّ وَجْهُهُ، وَانْتَفَخَتْ أَوْدَاجُهُ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” إِنِّي لَأَعْلَمُ كَلِمَةً لَوْ قَالَهَا ذَهَبَ عَنْهُ مَا يَجِدُ، لَوْ قَالَ: أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ، ذَهَبَ عَنْهُ مَا يَجِدُ “ “Pada suatu hari aku duduk bersama-sama Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam sedang dua orang lelaki sedang saling mengeluarkan kata-kata kotor satu dan lainnya. Salah seorang daripadanya telah merah mukanya dan tegang pula urat lehernya. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda, “Sesungguhnya aku tahu satu perkataan sekiranya dibaca tentu hilang rasa marahnya jika sekiranya ia mau membaca, ‘A’udzubillahi minas-syaitani’ (Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan), niscaya hilang kemarahan yang dialaminya.” (HR Bukhari, no. 3282) Juga ada hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, إِذَا غَضِبَ الرَّجُلُ فَقَالَ أَعُوْذُ بِاللهِ ، سَكَنَ غَضْبُهُ “Jika seseorang dalam keadaan marah, lantas ia ucapkan, ‘A’udzu billah (Aku meminta perlindungan kepada Allah)’, maka redamlah marahnya.” (HR. As-Sahmi dalam Tarikh Jarjan, 252. Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, no. 1376)   2- Diam Karena yang namanya marah itu jika keluar bisa jadi keluar kata-kata yang tidak Allah ridhai. Ada yang marah keluar kata-kata kufur, ada yang marah keluar kalimat mencaci maki, ada yang marah keluar kalimat laknat, ada yang marah keluar kalimat cerai hingga hal-hal sekitarnya pun bisa hancur. Kalau seseorang memaksa dirinya untuk diam ketika akan marah, hal-hal yang rusak tadi tidak akan terjadi. Ada hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, وَ إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْكُتْ “Jika salah seorang di antara kalian marah, diamlah.” (HR. Ahmad, 1: 239. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan lighairihi)   3- Berganti posisi Dari Abu Dzarr radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ  وَهُوَ قَائِمٌ فَلْيَجْلِسْ، فَإِنْ ذَهَبَ عَنْهُ الْغَضَبُ، وَإِلاَّ فَلْيَضْطَجِعْ “Bila salah satu di antara kalian marah saat berdiri, maka duduklah. Jika marahnya telah hilang (maka sudah cukup). Namun jika tidak lenyap pula maka berbaringlah.” (HR. Abu Daud, no. 4782. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini shahih).   4- Mengambil air wudhu Dari Athiyyah as-Sa’di Radhiyallahu anhu berkata, Rasulullah bersabda: إِنَّ الْغَضَبَ مِنْ الشَّيْطَانِ وَإِنَّ الشَّيْطَانَ خُلِقَ مِنْ النَّارِ وَإِنَّمَا تُطْفَأُ النَّارُ بِالْمَاءِ فَإِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَتَوَضَّأْ “Sesungguhnya amarah itu dari setan dan setan diciptakan dari api. Api akan padam dengan air. Apabila salah seorang dari kalian marah, hendaknya berwudhu.” (HR. Abu Daud, no. 4784. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan)   5- Ingat wasiat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan janji beliau Sebelum memuntahkan amarah kepada orang lain atau benda sekalipun, baiknya orang memperhatikan hadits berikut yang berisi pesan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada seseorang yang meminta nasehat dari beliau. عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَجُلًا قَالَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْصِنِي قَالَ لَا تَغْضَبْ فَرَدَّدَ مِرَارًا قَالَ لَا تَغْضَبْ Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, seorang lelaki berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Berilah aku wasiat.” Beliau menjawab, “Janganlah engkau marah.” Lelaki itu mengulang-ulang permintaannya, (namun) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (selalu) menjawab, “Janganlah engkau marah.” (HR. Bukhari, no. 6116) Dari Mu’adz radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ كَظَمَ غَيْظاً وَهُوَ قَادِرٌ عَلَى أَنْ يُنَفِّذهُ دَعَأهُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى رُؤُوْسِ الْخَلاَئِقِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُخَيِّرَهُ مِنَ الْحُوْرِ مَا شَاءَ “Barang siapa menahan amarahnya padahal mampu meluapkannya, Allah akan memanggilnya di hadapan para makhluk pada hari Kiamat untuk memberinya pilihan bidadari yang ia inginkan.” (HR. Abu Daud, no. 4777; Ibnu Majah, no. 4186. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini sanadnya hasan) Dari Abu Ad-Darda’ radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Wahai Rasulullah tunjukkanlah kepadaku suatu amalan yang dapat memasukkan dalam surga.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas, لاَ تَغْضَبْ وَلَكَ الْجَنَّةُ “Jangan engkau marah, maka bagimu surga.” (HR. Thabrani dalam Al-Kabir. Lihat Shahih At-Targhib wa At-Tarhib, hadits ini shahih lighairihi) Semoga Allah memberi taufik dan hidayah. — Disusun @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 28 Syawal 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsmarah


Marah kadang perlu diredam agar tidak berdampak jelek dan merusak. Bagaimanakah cara dan kiat-kiatnya meredam marah?   1- Membaca ta’awudz, meminta perlindungan pada Allah dari godaan setan Kenapa sampai meminta tolong pada Allah agar dilindungi dari setan? Karena dalil-dalil berikutnya akan terlihat jelas bahwa marah bisa dari setan. Maka kita mengamalkan firman Allah dari ayat berikut, وَإِمَّا يَنْزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ ۚ إِنَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ “Dan jika setan datang menggodamu, maka berlindunglah kepada Allah. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar Maha Mengetahui.” (QS. Al-A’raf: 200) Sulaiman bin Shurod radhiyallahu ‘anhu berkata, كُنْتُ جَالِسًا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَرَجُلاَنِ يَسْتَبَّانِ، فَأَحَدُهُمَا احْمَرَّ وَجْهُهُ، وَانْتَفَخَتْ أَوْدَاجُهُ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” إِنِّي لَأَعْلَمُ كَلِمَةً لَوْ قَالَهَا ذَهَبَ عَنْهُ مَا يَجِدُ، لَوْ قَالَ: أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ، ذَهَبَ عَنْهُ مَا يَجِدُ “ “Pada suatu hari aku duduk bersama-sama Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam sedang dua orang lelaki sedang saling mengeluarkan kata-kata kotor satu dan lainnya. Salah seorang daripadanya telah merah mukanya dan tegang pula urat lehernya. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda, “Sesungguhnya aku tahu satu perkataan sekiranya dibaca tentu hilang rasa marahnya jika sekiranya ia mau membaca, ‘A’udzubillahi minas-syaitani’ (Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan), niscaya hilang kemarahan yang dialaminya.” (HR Bukhari, no. 3282) Juga ada hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, إِذَا غَضِبَ الرَّجُلُ فَقَالَ أَعُوْذُ بِاللهِ ، سَكَنَ غَضْبُهُ “Jika seseorang dalam keadaan marah, lantas ia ucapkan, ‘A’udzu billah (Aku meminta perlindungan kepada Allah)’, maka redamlah marahnya.” (HR. As-Sahmi dalam Tarikh Jarjan, 252. Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, no. 1376)   2- Diam Karena yang namanya marah itu jika keluar bisa jadi keluar kata-kata yang tidak Allah ridhai. Ada yang marah keluar kata-kata kufur, ada yang marah keluar kalimat mencaci maki, ada yang marah keluar kalimat laknat, ada yang marah keluar kalimat cerai hingga hal-hal sekitarnya pun bisa hancur. Kalau seseorang memaksa dirinya untuk diam ketika akan marah, hal-hal yang rusak tadi tidak akan terjadi. Ada hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, وَ إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْكُتْ “Jika salah seorang di antara kalian marah, diamlah.” (HR. Ahmad, 1: 239. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan lighairihi)   3- Berganti posisi Dari Abu Dzarr radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ  وَهُوَ قَائِمٌ فَلْيَجْلِسْ، فَإِنْ ذَهَبَ عَنْهُ الْغَضَبُ، وَإِلاَّ فَلْيَضْطَجِعْ “Bila salah satu di antara kalian marah saat berdiri, maka duduklah. Jika marahnya telah hilang (maka sudah cukup). Namun jika tidak lenyap pula maka berbaringlah.” (HR. Abu Daud, no. 4782. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini shahih).   4- Mengambil air wudhu Dari Athiyyah as-Sa’di Radhiyallahu anhu berkata, Rasulullah bersabda: إِنَّ الْغَضَبَ مِنْ الشَّيْطَانِ وَإِنَّ الشَّيْطَانَ خُلِقَ مِنْ النَّارِ وَإِنَّمَا تُطْفَأُ النَّارُ بِالْمَاءِ فَإِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَتَوَضَّأْ “Sesungguhnya amarah itu dari setan dan setan diciptakan dari api. Api akan padam dengan air. Apabila salah seorang dari kalian marah, hendaknya berwudhu.” (HR. Abu Daud, no. 4784. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan)   5- Ingat wasiat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan janji beliau Sebelum memuntahkan amarah kepada orang lain atau benda sekalipun, baiknya orang memperhatikan hadits berikut yang berisi pesan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada seseorang yang meminta nasehat dari beliau. عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَجُلًا قَالَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْصِنِي قَالَ لَا تَغْضَبْ فَرَدَّدَ مِرَارًا قَالَ لَا تَغْضَبْ Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, seorang lelaki berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Berilah aku wasiat.” Beliau menjawab, “Janganlah engkau marah.” Lelaki itu mengulang-ulang permintaannya, (namun) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (selalu) menjawab, “Janganlah engkau marah.” (HR. Bukhari, no. 6116) Dari Mu’adz radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ كَظَمَ غَيْظاً وَهُوَ قَادِرٌ عَلَى أَنْ يُنَفِّذهُ دَعَأهُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى رُؤُوْسِ الْخَلاَئِقِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُخَيِّرَهُ مِنَ الْحُوْرِ مَا شَاءَ “Barang siapa menahan amarahnya padahal mampu meluapkannya, Allah akan memanggilnya di hadapan para makhluk pada hari Kiamat untuk memberinya pilihan bidadari yang ia inginkan.” (HR. Abu Daud, no. 4777; Ibnu Majah, no. 4186. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini sanadnya hasan) Dari Abu Ad-Darda’ radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Wahai Rasulullah tunjukkanlah kepadaku suatu amalan yang dapat memasukkan dalam surga.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas, لاَ تَغْضَبْ وَلَكَ الْجَنَّةُ “Jangan engkau marah, maka bagimu surga.” (HR. Thabrani dalam Al-Kabir. Lihat Shahih At-Targhib wa At-Tarhib, hadits ini shahih lighairihi) Semoga Allah memberi taufik dan hidayah. — Disusun @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 28 Syawal 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsmarah

Jihad Yang Paling Dasar

Saudaraku, berjihad melawan hawa nafsu dan syahwat adalah jihad yang paling dasar. Tak mungkin kita dapat menjihadi musuh bila kita tak mampu menjihadi hawa nafsu sendiri.Oleh karena itu Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda,أَفْضَلُ الْجِهَادِ أَنْ يُجَاهَدَ الرَّجُلُ نَفْسَهَ وَ هَوَاهُ“Jihad yang paling utama adalah seseorang berjihad (berjuang) melawan dirinya dan hawa nafsunya” (Hadits shahih diriwayatkan oleh ibnu Najjar dari Abu Dzarr).Simaklah faidah indah yang disampaikan oleh ibnu Qayyim ketika menjelaskan surat Al-Ankabut ayat 69,وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا“Dan orang orang yang berjihad di jalan Kami, Kami akan memberikan kepada mereka hidayah kepada jalan jalan Kami” (Al-Ankabut: 69).Ibnu Qayyim rahimahullah berkata, “Dalam ayat ini Allah mengaitkan hidayah dengan jihad. Orang yang paling sempurna hidayahnya adalah yang paling sempurna jihadnya. Jihad yang paling wajib adalah menjihadi diri sendiri, menjihadi hawa nafsu, menjihadi setan, dan menjihadi dunia.Siapa yang menjihadi empat perkara ini karena Allah, maka Allah akan memberinya hidayah kepada jalan jalan keridhaan-Nya yang akan menyampaikannya ke surga. Siapa yang meninggalkan jihad maka ia akan kehilangan hidayah sejumlah jihad yang ia tinggalkan.Al-Junaid berkata, “(Maknanya) Dan orang orang yang menjihadi hawa nafsunya di jalan Kami dengan cara bertaubat, Kami akan memberikan kepada mereka hidayah kepada jalan-jalan ikhlas.Tidak mungkin ia menjihadi musuhnya yang lahiriyah kecuali dengan menjihadi musuhnya yang batin. Barang siapa yang menang melawan musuhnya yang batin, ia akan menang melawan musuhnya yang lahiriyah. Dan siapa yang kalah oleh musuhnya yang batin, ia akan dikalahkan oleh musuhnya yang lahiriyah.”(Fawaidul Fawaid hal. 177)Baca juga; Kiat-Kiat Mengendalikan Hawa Nafsu Apakah Mengikuti Hawa Nafsu Itu Syirik Akbar? Hawa Nafsu, Lawan atau Kawan? Penulis: Ustadz Abu Yahya Badrusalam Artikel: Muslim.or.id 🔍 Arti Kata Thaghut, Ceramah Tentang Ikhlas Dalam Beramal, Kajian Net Ceramah, Islam Menurut Al Quran, Kitab Belajar Bahasa Arab

Jihad Yang Paling Dasar

Saudaraku, berjihad melawan hawa nafsu dan syahwat adalah jihad yang paling dasar. Tak mungkin kita dapat menjihadi musuh bila kita tak mampu menjihadi hawa nafsu sendiri.Oleh karena itu Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda,أَفْضَلُ الْجِهَادِ أَنْ يُجَاهَدَ الرَّجُلُ نَفْسَهَ وَ هَوَاهُ“Jihad yang paling utama adalah seseorang berjihad (berjuang) melawan dirinya dan hawa nafsunya” (Hadits shahih diriwayatkan oleh ibnu Najjar dari Abu Dzarr).Simaklah faidah indah yang disampaikan oleh ibnu Qayyim ketika menjelaskan surat Al-Ankabut ayat 69,وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا“Dan orang orang yang berjihad di jalan Kami, Kami akan memberikan kepada mereka hidayah kepada jalan jalan Kami” (Al-Ankabut: 69).Ibnu Qayyim rahimahullah berkata, “Dalam ayat ini Allah mengaitkan hidayah dengan jihad. Orang yang paling sempurna hidayahnya adalah yang paling sempurna jihadnya. Jihad yang paling wajib adalah menjihadi diri sendiri, menjihadi hawa nafsu, menjihadi setan, dan menjihadi dunia.Siapa yang menjihadi empat perkara ini karena Allah, maka Allah akan memberinya hidayah kepada jalan jalan keridhaan-Nya yang akan menyampaikannya ke surga. Siapa yang meninggalkan jihad maka ia akan kehilangan hidayah sejumlah jihad yang ia tinggalkan.Al-Junaid berkata, “(Maknanya) Dan orang orang yang menjihadi hawa nafsunya di jalan Kami dengan cara bertaubat, Kami akan memberikan kepada mereka hidayah kepada jalan-jalan ikhlas.Tidak mungkin ia menjihadi musuhnya yang lahiriyah kecuali dengan menjihadi musuhnya yang batin. Barang siapa yang menang melawan musuhnya yang batin, ia akan menang melawan musuhnya yang lahiriyah. Dan siapa yang kalah oleh musuhnya yang batin, ia akan dikalahkan oleh musuhnya yang lahiriyah.”(Fawaidul Fawaid hal. 177)Baca juga; Kiat-Kiat Mengendalikan Hawa Nafsu Apakah Mengikuti Hawa Nafsu Itu Syirik Akbar? Hawa Nafsu, Lawan atau Kawan? Penulis: Ustadz Abu Yahya Badrusalam Artikel: Muslim.or.id 🔍 Arti Kata Thaghut, Ceramah Tentang Ikhlas Dalam Beramal, Kajian Net Ceramah, Islam Menurut Al Quran, Kitab Belajar Bahasa Arab
Saudaraku, berjihad melawan hawa nafsu dan syahwat adalah jihad yang paling dasar. Tak mungkin kita dapat menjihadi musuh bila kita tak mampu menjihadi hawa nafsu sendiri.Oleh karena itu Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda,أَفْضَلُ الْجِهَادِ أَنْ يُجَاهَدَ الرَّجُلُ نَفْسَهَ وَ هَوَاهُ“Jihad yang paling utama adalah seseorang berjihad (berjuang) melawan dirinya dan hawa nafsunya” (Hadits shahih diriwayatkan oleh ibnu Najjar dari Abu Dzarr).Simaklah faidah indah yang disampaikan oleh ibnu Qayyim ketika menjelaskan surat Al-Ankabut ayat 69,وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا“Dan orang orang yang berjihad di jalan Kami, Kami akan memberikan kepada mereka hidayah kepada jalan jalan Kami” (Al-Ankabut: 69).Ibnu Qayyim rahimahullah berkata, “Dalam ayat ini Allah mengaitkan hidayah dengan jihad. Orang yang paling sempurna hidayahnya adalah yang paling sempurna jihadnya. Jihad yang paling wajib adalah menjihadi diri sendiri, menjihadi hawa nafsu, menjihadi setan, dan menjihadi dunia.Siapa yang menjihadi empat perkara ini karena Allah, maka Allah akan memberinya hidayah kepada jalan jalan keridhaan-Nya yang akan menyampaikannya ke surga. Siapa yang meninggalkan jihad maka ia akan kehilangan hidayah sejumlah jihad yang ia tinggalkan.Al-Junaid berkata, “(Maknanya) Dan orang orang yang menjihadi hawa nafsunya di jalan Kami dengan cara bertaubat, Kami akan memberikan kepada mereka hidayah kepada jalan-jalan ikhlas.Tidak mungkin ia menjihadi musuhnya yang lahiriyah kecuali dengan menjihadi musuhnya yang batin. Barang siapa yang menang melawan musuhnya yang batin, ia akan menang melawan musuhnya yang lahiriyah. Dan siapa yang kalah oleh musuhnya yang batin, ia akan dikalahkan oleh musuhnya yang lahiriyah.”(Fawaidul Fawaid hal. 177)Baca juga; Kiat-Kiat Mengendalikan Hawa Nafsu Apakah Mengikuti Hawa Nafsu Itu Syirik Akbar? Hawa Nafsu, Lawan atau Kawan? Penulis: Ustadz Abu Yahya Badrusalam Artikel: Muslim.or.id 🔍 Arti Kata Thaghut, Ceramah Tentang Ikhlas Dalam Beramal, Kajian Net Ceramah, Islam Menurut Al Quran, Kitab Belajar Bahasa Arab


Saudaraku, berjihad melawan hawa nafsu dan syahwat adalah jihad yang paling dasar. Tak mungkin kita dapat menjihadi musuh bila kita tak mampu menjihadi hawa nafsu sendiri.Oleh karena itu Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda,أَفْضَلُ الْجِهَادِ أَنْ يُجَاهَدَ الرَّجُلُ نَفْسَهَ وَ هَوَاهُ“Jihad yang paling utama adalah seseorang berjihad (berjuang) melawan dirinya dan hawa nafsunya” (Hadits shahih diriwayatkan oleh ibnu Najjar dari Abu Dzarr).Simaklah faidah indah yang disampaikan oleh ibnu Qayyim ketika menjelaskan surat Al-Ankabut ayat 69,وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا“Dan orang orang yang berjihad di jalan Kami, Kami akan memberikan kepada mereka hidayah kepada jalan jalan Kami” (Al-Ankabut: 69).Ibnu Qayyim rahimahullah berkata, “Dalam ayat ini Allah mengaitkan hidayah dengan jihad. Orang yang paling sempurna hidayahnya adalah yang paling sempurna jihadnya. Jihad yang paling wajib adalah menjihadi diri sendiri, menjihadi hawa nafsu, menjihadi setan, dan menjihadi dunia.Siapa yang menjihadi empat perkara ini karena Allah, maka Allah akan memberinya hidayah kepada jalan jalan keridhaan-Nya yang akan menyampaikannya ke surga. Siapa yang meninggalkan jihad maka ia akan kehilangan hidayah sejumlah jihad yang ia tinggalkan.Al-Junaid berkata, “(Maknanya) Dan orang orang yang menjihadi hawa nafsunya di jalan Kami dengan cara bertaubat, Kami akan memberikan kepada mereka hidayah kepada jalan-jalan ikhlas.Tidak mungkin ia menjihadi musuhnya yang lahiriyah kecuali dengan menjihadi musuhnya yang batin. Barang siapa yang menang melawan musuhnya yang batin, ia akan menang melawan musuhnya yang lahiriyah. Dan siapa yang kalah oleh musuhnya yang batin, ia akan dikalahkan oleh musuhnya yang lahiriyah.”(Fawaidul Fawaid hal. 177)Baca juga; Kiat-Kiat Mengendalikan Hawa Nafsu Apakah Mengikuti Hawa Nafsu Itu Syirik Akbar? Hawa Nafsu, Lawan atau Kawan? Penulis: Ustadz Abu Yahya Badrusalam Artikel: Muslim.or.id 🔍 Arti Kata Thaghut, Ceramah Tentang Ikhlas Dalam Beramal, Kajian Net Ceramah, Islam Menurut Al Quran, Kitab Belajar Bahasa Arab

DONASI PONDOK PESANTREN INTAN ILMU BARITO KUALA KALSEL

SEDIKIT DEMI SEDIKIT MENJADI BUKIT DAN ALLAH MEMUDAHKANBismillah, berikut beberapa Laporan Perkembangan Pembangunan Masjid Umar bin Khattab yang dilaporkan langsung oleh Pembina Pondok Pesantren Intan Ilmu USTADZ AHMAD ZAINUDDIN, Lc di KOMPLEK PONDOK PESANTREN INTAN ILMU BATOLA KAL-SEL Selasa, 24 Syawwal 1438 H/ 18 Juli 2017Berikut beberapa laporan videonya, silahkan slide kesamping…1. Transfer ke Rekening:Bank Syariah MandiriNomor rekening: 79-999-888-94An. Yayasan Intan IlmuBank Mandiri Nomor rekening: 031-00-10697186 A/N Yayasan Intan IlmuCab. BanjarmasinBCANomor rekening: 8275262664A/N Ahmad Zainuddin LC2. Konfirmasi Transfer, SMS/WA dengan format:CITACITABERSAMA#NAMA#DOMISILI#NOMINALContoh :CITACITABERSAMA#ABDURRAZAQ#BANJARMASIN#1.000.000Kirim ke WA/SMS 0811 511 3737Atau datang langsung ke Sekretariat Yayasan Intan IlmuJl. Trans Kalimantan RT 09 No. 76 Handil Bakti, Batola Kalimantan SelatanNo Telp: 0511-6741614Barakallahu fiikum.Silahkan Bantu Sebarkan Info IniSemoga Bermanfaat.ADMIN : INTAN ILMUhttp://www.intanilmu.or.id

DONASI PONDOK PESANTREN INTAN ILMU BARITO KUALA KALSEL

SEDIKIT DEMI SEDIKIT MENJADI BUKIT DAN ALLAH MEMUDAHKANBismillah, berikut beberapa Laporan Perkembangan Pembangunan Masjid Umar bin Khattab yang dilaporkan langsung oleh Pembina Pondok Pesantren Intan Ilmu USTADZ AHMAD ZAINUDDIN, Lc di KOMPLEK PONDOK PESANTREN INTAN ILMU BATOLA KAL-SEL Selasa, 24 Syawwal 1438 H/ 18 Juli 2017Berikut beberapa laporan videonya, silahkan slide kesamping…1. Transfer ke Rekening:Bank Syariah MandiriNomor rekening: 79-999-888-94An. Yayasan Intan IlmuBank Mandiri Nomor rekening: 031-00-10697186 A/N Yayasan Intan IlmuCab. BanjarmasinBCANomor rekening: 8275262664A/N Ahmad Zainuddin LC2. Konfirmasi Transfer, SMS/WA dengan format:CITACITABERSAMA#NAMA#DOMISILI#NOMINALContoh :CITACITABERSAMA#ABDURRAZAQ#BANJARMASIN#1.000.000Kirim ke WA/SMS 0811 511 3737Atau datang langsung ke Sekretariat Yayasan Intan IlmuJl. Trans Kalimantan RT 09 No. 76 Handil Bakti, Batola Kalimantan SelatanNo Telp: 0511-6741614Barakallahu fiikum.Silahkan Bantu Sebarkan Info IniSemoga Bermanfaat.ADMIN : INTAN ILMUhttp://www.intanilmu.or.id
SEDIKIT DEMI SEDIKIT MENJADI BUKIT DAN ALLAH MEMUDAHKANBismillah, berikut beberapa Laporan Perkembangan Pembangunan Masjid Umar bin Khattab yang dilaporkan langsung oleh Pembina Pondok Pesantren Intan Ilmu USTADZ AHMAD ZAINUDDIN, Lc di KOMPLEK PONDOK PESANTREN INTAN ILMU BATOLA KAL-SEL Selasa, 24 Syawwal 1438 H/ 18 Juli 2017Berikut beberapa laporan videonya, silahkan slide kesamping…1. Transfer ke Rekening:Bank Syariah MandiriNomor rekening: 79-999-888-94An. Yayasan Intan IlmuBank Mandiri Nomor rekening: 031-00-10697186 A/N Yayasan Intan IlmuCab. BanjarmasinBCANomor rekening: 8275262664A/N Ahmad Zainuddin LC2. Konfirmasi Transfer, SMS/WA dengan format:CITACITABERSAMA#NAMA#DOMISILI#NOMINALContoh :CITACITABERSAMA#ABDURRAZAQ#BANJARMASIN#1.000.000Kirim ke WA/SMS 0811 511 3737Atau datang langsung ke Sekretariat Yayasan Intan IlmuJl. Trans Kalimantan RT 09 No. 76 Handil Bakti, Batola Kalimantan SelatanNo Telp: 0511-6741614Barakallahu fiikum.Silahkan Bantu Sebarkan Info IniSemoga Bermanfaat.ADMIN : INTAN ILMUhttp://www.intanilmu.or.id


SEDIKIT DEMI SEDIKIT MENJADI BUKIT DAN ALLAH MEMUDAHKANBismillah, berikut beberapa Laporan Perkembangan Pembangunan Masjid Umar bin Khattab yang dilaporkan langsung oleh Pembina Pondok Pesantren Intan Ilmu USTADZ AHMAD ZAINUDDIN, Lc di KOMPLEK PONDOK PESANTREN INTAN ILMU BATOLA KAL-SEL Selasa, 24 Syawwal 1438 H/ 18 Juli 2017Berikut beberapa laporan videonya, silahkan slide kesamping…1. Transfer ke Rekening:Bank Syariah MandiriNomor rekening: 79-999-888-94An. Yayasan Intan IlmuBank Mandiri Nomor rekening: 031-00-10697186 A/N Yayasan Intan IlmuCab. BanjarmasinBCANomor rekening: 8275262664A/N Ahmad Zainuddin LC2. Konfirmasi Transfer, SMS/WA dengan format:CITACITABERSAMA#NAMA#DOMISILI#NOMINALContoh :CITACITABERSAMA#ABDURRAZAQ#BANJARMASIN#1.000.000Kirim ke WA/SMS 0811 511 3737Atau datang langsung ke Sekretariat Yayasan Intan IlmuJl. Trans Kalimantan RT 09 No. 76 Handil Bakti, Batola Kalimantan SelatanNo Telp: 0511-6741614Barakallahu fiikum.Silahkan Bantu Sebarkan Info IniSemoga Bermanfaat.ADMIN : INTAN ILMUhttp://www.intanilmu.or.id

Hukum Pengobatan Kay (Menempelkan Besi Panas)

Salah satu pengobatan yang disebutkan dalam hadits adalah pengobatan kay, yaitu dengan cara menempelkan besi panas pada daerah yang sakit atau terluka. Pengertian kay adalahالكَيُّ: معروف إِحراقُ الجلد بحديدة ونحوها“Kay adalah adalah menempelkan (membakar) dengan besi panas (pada daerah yang sakit atau terluka) atau sejenisnya.” [1] Hukum pengobatan dengan kay diperselisihkan oleh ulama. Ada yang mengharamkan, memakruhkan, dan membolehkan jika ada keperluan dan tidak ada lagi pengobatan yang lain didapatkan selain pengobatan kay. Berikut beberapa hadits terkait pengobatan kay.Hadits pertama: Hadits yang Melarang KayNabi shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda,الشِّفَاءُ فِي ثَلَاثَةٍ فِي شَرْطَةِ مِحْجَمٍ أَوْ شَرْبَةِ عَسَلٍ أَوْ كَيَّةٍ بِنَارٍ وَأَنَا أَنْهَى أُمَّتِي عَنْ الْكَيِّ“Terapi pengobatan itu ada tiga cara, yaitu; berbekam, minum madu, dan kay (menempelkan besi panas pada daerah yang terluka). Adapu aku melarang ummatku berobat dengan kay.” [2] Hadits Kedua: Hadits yang Memakruhnya KayRasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam Bersabda,إِنْ كَانَ فِي شَيْءٍ مِنْ أَدْوِيَتِكُمْ أَوْ يَكُونُ فِي شَيْءٍ مِنْ أَدْوِيَتِكُمْ خَيْرٌ فَفِي شَرْطَةِ مِحْجَمٍ أَوْ شَرْبَةِ عَسَلٍ أَوْ لَذْعَةٍ بِنَار وَمَا أُحِبُّ أَنْ أَكْتَوِيَ“Apabila ada kebaikan dalam pengobatan yang kalian lakukan, maka kebaikan itu ada pada berbekam, minum madu, dan sengatan api panas (terapi dengan menempelkan besi panas di daerah yang luka), namun aku tidak menyukai kay.” [3] Hadits Ketiga: Haidts yang Membolehkan KayDiriwayatkan dari Jabir bin ‘Abdullah radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya ia berkata,رُمِي سعد بن معاذ في أَكْحَلِه فحَسَمَه رسولُ الله ـ صلى الله عليه وسلم ـ بيده بمِشْقَص، ثم وَرِمَتْ فحَسَمَه الثانية“Sa’ad bin Mu’adz pernah kena bidikan panah di urat tangannya, kemudian rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam membedahnya dengan tombak yang dipanasi dengan api, setelah itu luka-luka itu membengkak, kemudian dibedahnya lagi.” [4] Hadits Keempat: Hadits yang Juga Membolehkan KayDari Jabir bin ‘Abdullah radhiallahu ‘anhu, bahwasanya ia berkata,أن النبيَّ ـ صلى الله عليه وسلم ـ بعث إلى أُبَيّ بن كعب طبيبًا، فقطع منه عِرْقًا، ثم كواه عليه“Bahwasanya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam pernah mengirim seorang tabib kepada Ubay bin Ka’ab. Kemudian tabib tersebut membedah uratnya dan menyundutnya dengan al-kay (besi panas).” [5] Ulama sekaligus pakar pengobatan Ibnul Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah menjelaskan beberapa hadits terkait dengan pengobatan kay. Beliau berkata,فقد تضمنت أحاديث الكي أربعة أنواع أحدها : فعله والثاني : عدم محبته له والثالث الثناء على من تركه والرابع النهي عنه ولا تعارض بينها بحمد الله تعالى فإن فعله يدل على جوازه وعدم محبته له لا يدل على المنع منه . وأما الثناء على تاركه فيدل على أن تركه أولى وأفضل . وأما النهي عنه فعلى سبيل الاختيار والكراهة أو عن النوع الذي لا يحتاج إليه بل يفعل خوفا من حدوث الداءHadist-hadist tentang Kay mengandung empat hal:shalallahu ‘alaihi wasallamKeempat hal tersebut tidaklah bertentangan satu dengan yang lainnya -segala puji bagi Allah. Adapun perbuataannya menggunakan kay, menunjukkan kebolehannya, sedangkan ketidaksenangan beliau tidak menunjukkan larangan, adapaun pujian beliau kepada orang yang meninggalkannya menunjukkan bahwa meninggalkan pengobatan dengan kay adalah lebih baik, sedangkan larangan beliau itu berlaku jika memang ada pilihan lain, atau maksudnya makruh, atau menggunakannya untuk hal-hal yang tidak diperlukan, seperti takut terjadi sesuatu penyakit pada dirinya.” [6] Ada ulama yang membolehkan kay dengan syarat bahwa kay menjadi pengobatan terakhir dengan alasan menggunakannya menyebabkan rasa sakit. Akan tetapi alasan menimbulkan rasa sakit tidak terjadi pada sunat dengan menggunakan laser/electrocauter karena sudah menggunakan anastesi (penghilang rasa sakit).An-Nawawi rahimahullah menjelaskan pengobatan kay adalah pilihan terakhir karena menimbulkan rasa sakit yang sangat. Beliau menjelaskan,وقوله صلى الله عليه و سلم ما أحب أن أكتوى إشارة إلى تأخير العلاج بالكى حتى يضطر إليه لما فيه من استعمال الألم الشديد فى دفع ألم قد يكون أضعف من ألم الكى“Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, saya tidak menyukai kay adalah isyarat agar mengakhirkan berobat dengan kay hingga terpaksa. Karena menggunakan kay akan menimbulkan rasa sakit yang sangat. Terkadang sakit (karena penyakit) lebih ringan dari sakit yang ditimbulkan oleh kay.” [7] Demikian juga pendapat ulama sekarang, di antaranya syaikh Abdul Aziz Bin Baz dan Fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah. Beliau berkata,نعم، يجوز التداوي بالكي… لكن إذا دعت الحاجة إلى الكي فلا بأس، وقد كوى جماعة من الصحابة، فإذا احتيج إلى الكي فلا حرج في ذلك، ولكن ترك الكي أولى إذا تيسر دواءٌ آخر وعلاج آخر؛ لأنه نوع من التعذيب فتركه أولى إلا عند الحاجة“Ya, boleh berobat dengan kay… akan tetapi jika ada kebutuhan untuk menggunakan kay, tidak mengapa. Sejumlah sahabat pernah melakukan kay. Jika kay dibutuhkan maka tidak mengapa. Akan tetapi meninggalkan kay lebih baik jika obat dan pengobatan lain lebih mudah. Karena kay menimbulkan sejenis penyiksaan (karena panas) maka meninggalkannya lebih utama kecuali jika ada hajat.” [8] Berdasarkan penjelasan ulama dan hadits-hadits mengenai hukum kay, maka ada beberapa pendapat: Meninggalkan kay jika masih ada pilihan pengobatan lainnya Hukumnya makruh Meninggalkan lebih baik karena khawatir terjadi hal yang lebih berbahaya Menyikapi beberapa pendapat ulama, sikap kita yang terbaik adalah meninggalkan pengobatan kay jika memang ada pengobatan lainnya. Ini lebih baik dan lebih berhati-hati dalam menyikapi perbedaan.Baca juga: Pernah Diruqyah Atau Melakukan Kay, Bisakah Masuk Surga Tanpa Hisab Tanpa Azab? Apakah Berobat Ketika Sakit Berarti Tidak Tawakal? Hukum Menjual Air Yang Dibacakan Ruqyah Penulis: dr. Raehanul Bahraen Artikel Muslim.or.idCatatan kaki:[1] At-Thibbus Sya’biy, sumber:http://www.4muhammed.org/kai.html [2] HR Bukhari, no : 5680 [3] HR Bukhari, no : 5704 dan Muslim, no : 2205 [4] HR Muslim [5] HR Muslim, no : 4088 [6] Zaad al Ma’ad 4/ 58, syamilah [7] Syarh Shahih Muslim 14/139, Dar Ihya’ At-Turats, Beirut, cet. II, 1392 H, syamilah [8] Sumber:http://www.binbaz.org.sa/mat/9464🔍 Hukum Mencuri, Kedudukan Tauhid Dalam Islam, Kalimat Tauhid Png, Perbedaan Sunnah Dan Sunat, Mukmin Artinya

Hukum Pengobatan Kay (Menempelkan Besi Panas)

Salah satu pengobatan yang disebutkan dalam hadits adalah pengobatan kay, yaitu dengan cara menempelkan besi panas pada daerah yang sakit atau terluka. Pengertian kay adalahالكَيُّ: معروف إِحراقُ الجلد بحديدة ونحوها“Kay adalah adalah menempelkan (membakar) dengan besi panas (pada daerah yang sakit atau terluka) atau sejenisnya.” [1] Hukum pengobatan dengan kay diperselisihkan oleh ulama. Ada yang mengharamkan, memakruhkan, dan membolehkan jika ada keperluan dan tidak ada lagi pengobatan yang lain didapatkan selain pengobatan kay. Berikut beberapa hadits terkait pengobatan kay.Hadits pertama: Hadits yang Melarang KayNabi shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda,الشِّفَاءُ فِي ثَلَاثَةٍ فِي شَرْطَةِ مِحْجَمٍ أَوْ شَرْبَةِ عَسَلٍ أَوْ كَيَّةٍ بِنَارٍ وَأَنَا أَنْهَى أُمَّتِي عَنْ الْكَيِّ“Terapi pengobatan itu ada tiga cara, yaitu; berbekam, minum madu, dan kay (menempelkan besi panas pada daerah yang terluka). Adapu aku melarang ummatku berobat dengan kay.” [2] Hadits Kedua: Hadits yang Memakruhnya KayRasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam Bersabda,إِنْ كَانَ فِي شَيْءٍ مِنْ أَدْوِيَتِكُمْ أَوْ يَكُونُ فِي شَيْءٍ مِنْ أَدْوِيَتِكُمْ خَيْرٌ فَفِي شَرْطَةِ مِحْجَمٍ أَوْ شَرْبَةِ عَسَلٍ أَوْ لَذْعَةٍ بِنَار وَمَا أُحِبُّ أَنْ أَكْتَوِيَ“Apabila ada kebaikan dalam pengobatan yang kalian lakukan, maka kebaikan itu ada pada berbekam, minum madu, dan sengatan api panas (terapi dengan menempelkan besi panas di daerah yang luka), namun aku tidak menyukai kay.” [3] Hadits Ketiga: Haidts yang Membolehkan KayDiriwayatkan dari Jabir bin ‘Abdullah radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya ia berkata,رُمِي سعد بن معاذ في أَكْحَلِه فحَسَمَه رسولُ الله ـ صلى الله عليه وسلم ـ بيده بمِشْقَص، ثم وَرِمَتْ فحَسَمَه الثانية“Sa’ad bin Mu’adz pernah kena bidikan panah di urat tangannya, kemudian rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam membedahnya dengan tombak yang dipanasi dengan api, setelah itu luka-luka itu membengkak, kemudian dibedahnya lagi.” [4] Hadits Keempat: Hadits yang Juga Membolehkan KayDari Jabir bin ‘Abdullah radhiallahu ‘anhu, bahwasanya ia berkata,أن النبيَّ ـ صلى الله عليه وسلم ـ بعث إلى أُبَيّ بن كعب طبيبًا، فقطع منه عِرْقًا، ثم كواه عليه“Bahwasanya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam pernah mengirim seorang tabib kepada Ubay bin Ka’ab. Kemudian tabib tersebut membedah uratnya dan menyundutnya dengan al-kay (besi panas).” [5] Ulama sekaligus pakar pengobatan Ibnul Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah menjelaskan beberapa hadits terkait dengan pengobatan kay. Beliau berkata,فقد تضمنت أحاديث الكي أربعة أنواع أحدها : فعله والثاني : عدم محبته له والثالث الثناء على من تركه والرابع النهي عنه ولا تعارض بينها بحمد الله تعالى فإن فعله يدل على جوازه وعدم محبته له لا يدل على المنع منه . وأما الثناء على تاركه فيدل على أن تركه أولى وأفضل . وأما النهي عنه فعلى سبيل الاختيار والكراهة أو عن النوع الذي لا يحتاج إليه بل يفعل خوفا من حدوث الداءHadist-hadist tentang Kay mengandung empat hal:shalallahu ‘alaihi wasallamKeempat hal tersebut tidaklah bertentangan satu dengan yang lainnya -segala puji bagi Allah. Adapun perbuataannya menggunakan kay, menunjukkan kebolehannya, sedangkan ketidaksenangan beliau tidak menunjukkan larangan, adapaun pujian beliau kepada orang yang meninggalkannya menunjukkan bahwa meninggalkan pengobatan dengan kay adalah lebih baik, sedangkan larangan beliau itu berlaku jika memang ada pilihan lain, atau maksudnya makruh, atau menggunakannya untuk hal-hal yang tidak diperlukan, seperti takut terjadi sesuatu penyakit pada dirinya.” [6] Ada ulama yang membolehkan kay dengan syarat bahwa kay menjadi pengobatan terakhir dengan alasan menggunakannya menyebabkan rasa sakit. Akan tetapi alasan menimbulkan rasa sakit tidak terjadi pada sunat dengan menggunakan laser/electrocauter karena sudah menggunakan anastesi (penghilang rasa sakit).An-Nawawi rahimahullah menjelaskan pengobatan kay adalah pilihan terakhir karena menimbulkan rasa sakit yang sangat. Beliau menjelaskan,وقوله صلى الله عليه و سلم ما أحب أن أكتوى إشارة إلى تأخير العلاج بالكى حتى يضطر إليه لما فيه من استعمال الألم الشديد فى دفع ألم قد يكون أضعف من ألم الكى“Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, saya tidak menyukai kay adalah isyarat agar mengakhirkan berobat dengan kay hingga terpaksa. Karena menggunakan kay akan menimbulkan rasa sakit yang sangat. Terkadang sakit (karena penyakit) lebih ringan dari sakit yang ditimbulkan oleh kay.” [7] Demikian juga pendapat ulama sekarang, di antaranya syaikh Abdul Aziz Bin Baz dan Fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah. Beliau berkata,نعم، يجوز التداوي بالكي… لكن إذا دعت الحاجة إلى الكي فلا بأس، وقد كوى جماعة من الصحابة، فإذا احتيج إلى الكي فلا حرج في ذلك، ولكن ترك الكي أولى إذا تيسر دواءٌ آخر وعلاج آخر؛ لأنه نوع من التعذيب فتركه أولى إلا عند الحاجة“Ya, boleh berobat dengan kay… akan tetapi jika ada kebutuhan untuk menggunakan kay, tidak mengapa. Sejumlah sahabat pernah melakukan kay. Jika kay dibutuhkan maka tidak mengapa. Akan tetapi meninggalkan kay lebih baik jika obat dan pengobatan lain lebih mudah. Karena kay menimbulkan sejenis penyiksaan (karena panas) maka meninggalkannya lebih utama kecuali jika ada hajat.” [8] Berdasarkan penjelasan ulama dan hadits-hadits mengenai hukum kay, maka ada beberapa pendapat: Meninggalkan kay jika masih ada pilihan pengobatan lainnya Hukumnya makruh Meninggalkan lebih baik karena khawatir terjadi hal yang lebih berbahaya Menyikapi beberapa pendapat ulama, sikap kita yang terbaik adalah meninggalkan pengobatan kay jika memang ada pengobatan lainnya. Ini lebih baik dan lebih berhati-hati dalam menyikapi perbedaan.Baca juga: Pernah Diruqyah Atau Melakukan Kay, Bisakah Masuk Surga Tanpa Hisab Tanpa Azab? Apakah Berobat Ketika Sakit Berarti Tidak Tawakal? Hukum Menjual Air Yang Dibacakan Ruqyah Penulis: dr. Raehanul Bahraen Artikel Muslim.or.idCatatan kaki:[1] At-Thibbus Sya’biy, sumber:http://www.4muhammed.org/kai.html [2] HR Bukhari, no : 5680 [3] HR Bukhari, no : 5704 dan Muslim, no : 2205 [4] HR Muslim [5] HR Muslim, no : 4088 [6] Zaad al Ma’ad 4/ 58, syamilah [7] Syarh Shahih Muslim 14/139, Dar Ihya’ At-Turats, Beirut, cet. II, 1392 H, syamilah [8] Sumber:http://www.binbaz.org.sa/mat/9464🔍 Hukum Mencuri, Kedudukan Tauhid Dalam Islam, Kalimat Tauhid Png, Perbedaan Sunnah Dan Sunat, Mukmin Artinya
Salah satu pengobatan yang disebutkan dalam hadits adalah pengobatan kay, yaitu dengan cara menempelkan besi panas pada daerah yang sakit atau terluka. Pengertian kay adalahالكَيُّ: معروف إِحراقُ الجلد بحديدة ونحوها“Kay adalah adalah menempelkan (membakar) dengan besi panas (pada daerah yang sakit atau terluka) atau sejenisnya.” [1] Hukum pengobatan dengan kay diperselisihkan oleh ulama. Ada yang mengharamkan, memakruhkan, dan membolehkan jika ada keperluan dan tidak ada lagi pengobatan yang lain didapatkan selain pengobatan kay. Berikut beberapa hadits terkait pengobatan kay.Hadits pertama: Hadits yang Melarang KayNabi shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda,الشِّفَاءُ فِي ثَلَاثَةٍ فِي شَرْطَةِ مِحْجَمٍ أَوْ شَرْبَةِ عَسَلٍ أَوْ كَيَّةٍ بِنَارٍ وَأَنَا أَنْهَى أُمَّتِي عَنْ الْكَيِّ“Terapi pengobatan itu ada tiga cara, yaitu; berbekam, minum madu, dan kay (menempelkan besi panas pada daerah yang terluka). Adapu aku melarang ummatku berobat dengan kay.” [2] Hadits Kedua: Hadits yang Memakruhnya KayRasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam Bersabda,إِنْ كَانَ فِي شَيْءٍ مِنْ أَدْوِيَتِكُمْ أَوْ يَكُونُ فِي شَيْءٍ مِنْ أَدْوِيَتِكُمْ خَيْرٌ فَفِي شَرْطَةِ مِحْجَمٍ أَوْ شَرْبَةِ عَسَلٍ أَوْ لَذْعَةٍ بِنَار وَمَا أُحِبُّ أَنْ أَكْتَوِيَ“Apabila ada kebaikan dalam pengobatan yang kalian lakukan, maka kebaikan itu ada pada berbekam, minum madu, dan sengatan api panas (terapi dengan menempelkan besi panas di daerah yang luka), namun aku tidak menyukai kay.” [3] Hadits Ketiga: Haidts yang Membolehkan KayDiriwayatkan dari Jabir bin ‘Abdullah radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya ia berkata,رُمِي سعد بن معاذ في أَكْحَلِه فحَسَمَه رسولُ الله ـ صلى الله عليه وسلم ـ بيده بمِشْقَص، ثم وَرِمَتْ فحَسَمَه الثانية“Sa’ad bin Mu’adz pernah kena bidikan panah di urat tangannya, kemudian rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam membedahnya dengan tombak yang dipanasi dengan api, setelah itu luka-luka itu membengkak, kemudian dibedahnya lagi.” [4] Hadits Keempat: Hadits yang Juga Membolehkan KayDari Jabir bin ‘Abdullah radhiallahu ‘anhu, bahwasanya ia berkata,أن النبيَّ ـ صلى الله عليه وسلم ـ بعث إلى أُبَيّ بن كعب طبيبًا، فقطع منه عِرْقًا، ثم كواه عليه“Bahwasanya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam pernah mengirim seorang tabib kepada Ubay bin Ka’ab. Kemudian tabib tersebut membedah uratnya dan menyundutnya dengan al-kay (besi panas).” [5] Ulama sekaligus pakar pengobatan Ibnul Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah menjelaskan beberapa hadits terkait dengan pengobatan kay. Beliau berkata,فقد تضمنت أحاديث الكي أربعة أنواع أحدها : فعله والثاني : عدم محبته له والثالث الثناء على من تركه والرابع النهي عنه ولا تعارض بينها بحمد الله تعالى فإن فعله يدل على جوازه وعدم محبته له لا يدل على المنع منه . وأما الثناء على تاركه فيدل على أن تركه أولى وأفضل . وأما النهي عنه فعلى سبيل الاختيار والكراهة أو عن النوع الذي لا يحتاج إليه بل يفعل خوفا من حدوث الداءHadist-hadist tentang Kay mengandung empat hal:shalallahu ‘alaihi wasallamKeempat hal tersebut tidaklah bertentangan satu dengan yang lainnya -segala puji bagi Allah. Adapun perbuataannya menggunakan kay, menunjukkan kebolehannya, sedangkan ketidaksenangan beliau tidak menunjukkan larangan, adapaun pujian beliau kepada orang yang meninggalkannya menunjukkan bahwa meninggalkan pengobatan dengan kay adalah lebih baik, sedangkan larangan beliau itu berlaku jika memang ada pilihan lain, atau maksudnya makruh, atau menggunakannya untuk hal-hal yang tidak diperlukan, seperti takut terjadi sesuatu penyakit pada dirinya.” [6] Ada ulama yang membolehkan kay dengan syarat bahwa kay menjadi pengobatan terakhir dengan alasan menggunakannya menyebabkan rasa sakit. Akan tetapi alasan menimbulkan rasa sakit tidak terjadi pada sunat dengan menggunakan laser/electrocauter karena sudah menggunakan anastesi (penghilang rasa sakit).An-Nawawi rahimahullah menjelaskan pengobatan kay adalah pilihan terakhir karena menimbulkan rasa sakit yang sangat. Beliau menjelaskan,وقوله صلى الله عليه و سلم ما أحب أن أكتوى إشارة إلى تأخير العلاج بالكى حتى يضطر إليه لما فيه من استعمال الألم الشديد فى دفع ألم قد يكون أضعف من ألم الكى“Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, saya tidak menyukai kay adalah isyarat agar mengakhirkan berobat dengan kay hingga terpaksa. Karena menggunakan kay akan menimbulkan rasa sakit yang sangat. Terkadang sakit (karena penyakit) lebih ringan dari sakit yang ditimbulkan oleh kay.” [7] Demikian juga pendapat ulama sekarang, di antaranya syaikh Abdul Aziz Bin Baz dan Fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah. Beliau berkata,نعم، يجوز التداوي بالكي… لكن إذا دعت الحاجة إلى الكي فلا بأس، وقد كوى جماعة من الصحابة، فإذا احتيج إلى الكي فلا حرج في ذلك، ولكن ترك الكي أولى إذا تيسر دواءٌ آخر وعلاج آخر؛ لأنه نوع من التعذيب فتركه أولى إلا عند الحاجة“Ya, boleh berobat dengan kay… akan tetapi jika ada kebutuhan untuk menggunakan kay, tidak mengapa. Sejumlah sahabat pernah melakukan kay. Jika kay dibutuhkan maka tidak mengapa. Akan tetapi meninggalkan kay lebih baik jika obat dan pengobatan lain lebih mudah. Karena kay menimbulkan sejenis penyiksaan (karena panas) maka meninggalkannya lebih utama kecuali jika ada hajat.” [8] Berdasarkan penjelasan ulama dan hadits-hadits mengenai hukum kay, maka ada beberapa pendapat: Meninggalkan kay jika masih ada pilihan pengobatan lainnya Hukumnya makruh Meninggalkan lebih baik karena khawatir terjadi hal yang lebih berbahaya Menyikapi beberapa pendapat ulama, sikap kita yang terbaik adalah meninggalkan pengobatan kay jika memang ada pengobatan lainnya. Ini lebih baik dan lebih berhati-hati dalam menyikapi perbedaan.Baca juga: Pernah Diruqyah Atau Melakukan Kay, Bisakah Masuk Surga Tanpa Hisab Tanpa Azab? Apakah Berobat Ketika Sakit Berarti Tidak Tawakal? Hukum Menjual Air Yang Dibacakan Ruqyah Penulis: dr. Raehanul Bahraen Artikel Muslim.or.idCatatan kaki:[1] At-Thibbus Sya’biy, sumber:http://www.4muhammed.org/kai.html [2] HR Bukhari, no : 5680 [3] HR Bukhari, no : 5704 dan Muslim, no : 2205 [4] HR Muslim [5] HR Muslim, no : 4088 [6] Zaad al Ma’ad 4/ 58, syamilah [7] Syarh Shahih Muslim 14/139, Dar Ihya’ At-Turats, Beirut, cet. II, 1392 H, syamilah [8] Sumber:http://www.binbaz.org.sa/mat/9464🔍 Hukum Mencuri, Kedudukan Tauhid Dalam Islam, Kalimat Tauhid Png, Perbedaan Sunnah Dan Sunat, Mukmin Artinya


Salah satu pengobatan yang disebutkan dalam hadits adalah pengobatan kay, yaitu dengan cara menempelkan besi panas pada daerah yang sakit atau terluka. Pengertian kay adalahالكَيُّ: معروف إِحراقُ الجلد بحديدة ونحوها“Kay adalah adalah menempelkan (membakar) dengan besi panas (pada daerah yang sakit atau terluka) atau sejenisnya.” [1] Hukum pengobatan dengan kay diperselisihkan oleh ulama. Ada yang mengharamkan, memakruhkan, dan membolehkan jika ada keperluan dan tidak ada lagi pengobatan yang lain didapatkan selain pengobatan kay. Berikut beberapa hadits terkait pengobatan kay.Hadits pertama: Hadits yang Melarang KayNabi shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda,الشِّفَاءُ فِي ثَلَاثَةٍ فِي شَرْطَةِ مِحْجَمٍ أَوْ شَرْبَةِ عَسَلٍ أَوْ كَيَّةٍ بِنَارٍ وَأَنَا أَنْهَى أُمَّتِي عَنْ الْكَيِّ“Terapi pengobatan itu ada tiga cara, yaitu; berbekam, minum madu, dan kay (menempelkan besi panas pada daerah yang terluka). Adapu aku melarang ummatku berobat dengan kay.” [2] Hadits Kedua: Hadits yang Memakruhnya KayRasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam Bersabda,إِنْ كَانَ فِي شَيْءٍ مِنْ أَدْوِيَتِكُمْ أَوْ يَكُونُ فِي شَيْءٍ مِنْ أَدْوِيَتِكُمْ خَيْرٌ فَفِي شَرْطَةِ مِحْجَمٍ أَوْ شَرْبَةِ عَسَلٍ أَوْ لَذْعَةٍ بِنَار وَمَا أُحِبُّ أَنْ أَكْتَوِيَ“Apabila ada kebaikan dalam pengobatan yang kalian lakukan, maka kebaikan itu ada pada berbekam, minum madu, dan sengatan api panas (terapi dengan menempelkan besi panas di daerah yang luka), namun aku tidak menyukai kay.” [3] Hadits Ketiga: Haidts yang Membolehkan KayDiriwayatkan dari Jabir bin ‘Abdullah radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya ia berkata,رُمِي سعد بن معاذ في أَكْحَلِه فحَسَمَه رسولُ الله ـ صلى الله عليه وسلم ـ بيده بمِشْقَص، ثم وَرِمَتْ فحَسَمَه الثانية“Sa’ad bin Mu’adz pernah kena bidikan panah di urat tangannya, kemudian rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam membedahnya dengan tombak yang dipanasi dengan api, setelah itu luka-luka itu membengkak, kemudian dibedahnya lagi.” [4] Hadits Keempat: Hadits yang Juga Membolehkan KayDari Jabir bin ‘Abdullah radhiallahu ‘anhu, bahwasanya ia berkata,أن النبيَّ ـ صلى الله عليه وسلم ـ بعث إلى أُبَيّ بن كعب طبيبًا، فقطع منه عِرْقًا، ثم كواه عليه“Bahwasanya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam pernah mengirim seorang tabib kepada Ubay bin Ka’ab. Kemudian tabib tersebut membedah uratnya dan menyundutnya dengan al-kay (besi panas).” [5] Ulama sekaligus pakar pengobatan Ibnul Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah menjelaskan beberapa hadits terkait dengan pengobatan kay. Beliau berkata,فقد تضمنت أحاديث الكي أربعة أنواع أحدها : فعله والثاني : عدم محبته له والثالث الثناء على من تركه والرابع النهي عنه ولا تعارض بينها بحمد الله تعالى فإن فعله يدل على جوازه وعدم محبته له لا يدل على المنع منه . وأما الثناء على تاركه فيدل على أن تركه أولى وأفضل . وأما النهي عنه فعلى سبيل الاختيار والكراهة أو عن النوع الذي لا يحتاج إليه بل يفعل خوفا من حدوث الداءHadist-hadist tentang Kay mengandung empat hal:shalallahu ‘alaihi wasallamKeempat hal tersebut tidaklah bertentangan satu dengan yang lainnya -segala puji bagi Allah. Adapun perbuataannya menggunakan kay, menunjukkan kebolehannya, sedangkan ketidaksenangan beliau tidak menunjukkan larangan, adapaun pujian beliau kepada orang yang meninggalkannya menunjukkan bahwa meninggalkan pengobatan dengan kay adalah lebih baik, sedangkan larangan beliau itu berlaku jika memang ada pilihan lain, atau maksudnya makruh, atau menggunakannya untuk hal-hal yang tidak diperlukan, seperti takut terjadi sesuatu penyakit pada dirinya.” [6] Ada ulama yang membolehkan kay dengan syarat bahwa kay menjadi pengobatan terakhir dengan alasan menggunakannya menyebabkan rasa sakit. Akan tetapi alasan menimbulkan rasa sakit tidak terjadi pada sunat dengan menggunakan laser/electrocauter karena sudah menggunakan anastesi (penghilang rasa sakit).An-Nawawi rahimahullah menjelaskan pengobatan kay adalah pilihan terakhir karena menimbulkan rasa sakit yang sangat. Beliau menjelaskan,وقوله صلى الله عليه و سلم ما أحب أن أكتوى إشارة إلى تأخير العلاج بالكى حتى يضطر إليه لما فيه من استعمال الألم الشديد فى دفع ألم قد يكون أضعف من ألم الكى“Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, saya tidak menyukai kay adalah isyarat agar mengakhirkan berobat dengan kay hingga terpaksa. Karena menggunakan kay akan menimbulkan rasa sakit yang sangat. Terkadang sakit (karena penyakit) lebih ringan dari sakit yang ditimbulkan oleh kay.” [7] Demikian juga pendapat ulama sekarang, di antaranya syaikh Abdul Aziz Bin Baz dan Fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah. Beliau berkata,نعم، يجوز التداوي بالكي… لكن إذا دعت الحاجة إلى الكي فلا بأس، وقد كوى جماعة من الصحابة، فإذا احتيج إلى الكي فلا حرج في ذلك، ولكن ترك الكي أولى إذا تيسر دواءٌ آخر وعلاج آخر؛ لأنه نوع من التعذيب فتركه أولى إلا عند الحاجة“Ya, boleh berobat dengan kay… akan tetapi jika ada kebutuhan untuk menggunakan kay, tidak mengapa. Sejumlah sahabat pernah melakukan kay. Jika kay dibutuhkan maka tidak mengapa. Akan tetapi meninggalkan kay lebih baik jika obat dan pengobatan lain lebih mudah. Karena kay menimbulkan sejenis penyiksaan (karena panas) maka meninggalkannya lebih utama kecuali jika ada hajat.” [8] Berdasarkan penjelasan ulama dan hadits-hadits mengenai hukum kay, maka ada beberapa pendapat: Meninggalkan kay jika masih ada pilihan pengobatan lainnya Hukumnya makruh Meninggalkan lebih baik karena khawatir terjadi hal yang lebih berbahaya Menyikapi beberapa pendapat ulama, sikap kita yang terbaik adalah meninggalkan pengobatan kay jika memang ada pengobatan lainnya. Ini lebih baik dan lebih berhati-hati dalam menyikapi perbedaan.Baca juga: Pernah Diruqyah Atau Melakukan Kay, Bisakah Masuk Surga Tanpa Hisab Tanpa Azab? Apakah Berobat Ketika Sakit Berarti Tidak Tawakal? Hukum Menjual Air Yang Dibacakan Ruqyah Penulis: dr. Raehanul Bahraen Artikel Muslim.or.idCatatan kaki:[1] At-Thibbus Sya’biy, sumber:http://www.4muhammed.org/kai.html [2] HR Bukhari, no : 5680 [3] HR Bukhari, no : 5704 dan Muslim, no : 2205 [4] HR Muslim [5] HR Muslim, no : 4088 [6] Zaad al Ma’ad 4/ 58, syamilah [7] Syarh Shahih Muslim 14/139, Dar Ihya’ At-Turats, Beirut, cet. II, 1392 H, syamilah [8] Sumber:http://www.binbaz.org.sa/mat/9464🔍 Hukum Mencuri, Kedudukan Tauhid Dalam Islam, Kalimat Tauhid Png, Perbedaan Sunnah Dan Sunat, Mukmin Artinya

Kajian Perdana di Wonosari Gunungkidul Bahas Sirah Nabawiyah

Kajian Perdana di Kota Wonosari HADIRI KAJIAN RUTIN TIAP MALAM SABTU (JUMAT SORE) Bada Isya – 21.00 WIB Mulai Malam Sabtu, 21 Juli 2017 Pembicara: Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, S.T., M.Sc. (Pengasuh Rumaysho.Com dan Pesantren Darush Sholihin Panggang Gunungkidul) di Masjid Al-Azhar Karangrejek, Wonosari, Gunungkidul Membahas: SIRAH NABAWIYAH * Materi tersedia dalam buletin Rumaysho.Com yang akan dibagi saat kajian ** Disediakan tanya jawab — Rumaysho.Com Pesantren Darush Sholihin Panitia Kajian Malam Sabtu Masjid Al-Azhar Tagskajian islam kajian rutin

Kajian Perdana di Wonosari Gunungkidul Bahas Sirah Nabawiyah

Kajian Perdana di Kota Wonosari HADIRI KAJIAN RUTIN TIAP MALAM SABTU (JUMAT SORE) Bada Isya – 21.00 WIB Mulai Malam Sabtu, 21 Juli 2017 Pembicara: Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, S.T., M.Sc. (Pengasuh Rumaysho.Com dan Pesantren Darush Sholihin Panggang Gunungkidul) di Masjid Al-Azhar Karangrejek, Wonosari, Gunungkidul Membahas: SIRAH NABAWIYAH * Materi tersedia dalam buletin Rumaysho.Com yang akan dibagi saat kajian ** Disediakan tanya jawab — Rumaysho.Com Pesantren Darush Sholihin Panitia Kajian Malam Sabtu Masjid Al-Azhar Tagskajian islam kajian rutin
Kajian Perdana di Kota Wonosari HADIRI KAJIAN RUTIN TIAP MALAM SABTU (JUMAT SORE) Bada Isya – 21.00 WIB Mulai Malam Sabtu, 21 Juli 2017 Pembicara: Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, S.T., M.Sc. (Pengasuh Rumaysho.Com dan Pesantren Darush Sholihin Panggang Gunungkidul) di Masjid Al-Azhar Karangrejek, Wonosari, Gunungkidul Membahas: SIRAH NABAWIYAH * Materi tersedia dalam buletin Rumaysho.Com yang akan dibagi saat kajian ** Disediakan tanya jawab — Rumaysho.Com Pesantren Darush Sholihin Panitia Kajian Malam Sabtu Masjid Al-Azhar Tagskajian islam kajian rutin


Kajian Perdana di Kota Wonosari HADIRI KAJIAN RUTIN TIAP MALAM SABTU (JUMAT SORE) Bada Isya – 21.00 WIB Mulai Malam Sabtu, 21 Juli 2017 Pembicara: Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, S.T., M.Sc. (Pengasuh Rumaysho.Com dan Pesantren Darush Sholihin Panggang Gunungkidul) di Masjid Al-Azhar Karangrejek, Wonosari, Gunungkidul Membahas: SIRAH NABAWIYAH * Materi tersedia dalam buletin Rumaysho.Com yang akan dibagi saat kajian ** Disediakan tanya jawab — Rumaysho.Com Pesantren Darush Sholihin Panitia Kajian Malam Sabtu Masjid Al-Azhar Tagskajian islam kajian rutin

Kembali Melanjutkan Pembangunan Masjid Flores

Mulai Rabu kemarin, 19 Juli 2017, pembangunan Masjid Flores di daerah Kukuwerang, Solor, Flores Timur dimulai kembali. Rabu tersebut mulai dikirim tukang dari Darush Sholihin sebanyak lima orang, ditambah Bpk. H. Zainuddin sebagai pengawas (dari Yayasan Hodehama) dan Bpk. Sulaiman Nurdin yang menjemput tukang-tukang tadi. Masjid ini ingin dilanjutkan pembangunan karena terpotong liburan Ramadhan dan Idul Fithri. Yang ingin diselesaikan adalah bagian dinding, atap dan lantai.   Cara Berdonasi Bagaimana? Bagi Pembaca Rumaysho.Com yang ingin peduli pada pembangunan masjid ini, silakan mentransfer donasinya via rekening berikut: BSM 7098637286 atas nama Yayasan Darush Sholihin Gunungkidul BRI 697501000453505 atas nama Yayasan Darush Sholihin BCA 895009 3791 atas nama Muhammad Abduh Tuasikal *Kode bank BCA 014, BSM 451, BRI 002   Konfirmasi via SMS/ WA ke 082313950500 dengan format: Renovasi Masjid # Nama Donatur # Alamat # Bank Tujuan Transfer # Tgl Transfer # Besar Donasi. Contoh: Renovasi Masjid # M Abduh Tuasikal # Gunungkidul # BSM # 21 Juli 2017 # 1.000.000.   Info Donasi DS: 0811267791 (Mas Jarot)   Semoga menjadi amal jariyah. Ingat saja keutamaan ini: “Siapa yang membangun masjid karena Allah walaupun hanya selubang tempat burung bertelur atau lebih kecil, maka Allah bangunkan baginya (rumah) seperti itu pula di surga.” (HR. Ibnu Majah no. 738. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih) — Info Rumaysho.Com dan DarushSholihin Tagsrenovasi masjid

Kembali Melanjutkan Pembangunan Masjid Flores

Mulai Rabu kemarin, 19 Juli 2017, pembangunan Masjid Flores di daerah Kukuwerang, Solor, Flores Timur dimulai kembali. Rabu tersebut mulai dikirim tukang dari Darush Sholihin sebanyak lima orang, ditambah Bpk. H. Zainuddin sebagai pengawas (dari Yayasan Hodehama) dan Bpk. Sulaiman Nurdin yang menjemput tukang-tukang tadi. Masjid ini ingin dilanjutkan pembangunan karena terpotong liburan Ramadhan dan Idul Fithri. Yang ingin diselesaikan adalah bagian dinding, atap dan lantai.   Cara Berdonasi Bagaimana? Bagi Pembaca Rumaysho.Com yang ingin peduli pada pembangunan masjid ini, silakan mentransfer donasinya via rekening berikut: BSM 7098637286 atas nama Yayasan Darush Sholihin Gunungkidul BRI 697501000453505 atas nama Yayasan Darush Sholihin BCA 895009 3791 atas nama Muhammad Abduh Tuasikal *Kode bank BCA 014, BSM 451, BRI 002   Konfirmasi via SMS/ WA ke 082313950500 dengan format: Renovasi Masjid # Nama Donatur # Alamat # Bank Tujuan Transfer # Tgl Transfer # Besar Donasi. Contoh: Renovasi Masjid # M Abduh Tuasikal # Gunungkidul # BSM # 21 Juli 2017 # 1.000.000.   Info Donasi DS: 0811267791 (Mas Jarot)   Semoga menjadi amal jariyah. Ingat saja keutamaan ini: “Siapa yang membangun masjid karena Allah walaupun hanya selubang tempat burung bertelur atau lebih kecil, maka Allah bangunkan baginya (rumah) seperti itu pula di surga.” (HR. Ibnu Majah no. 738. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih) — Info Rumaysho.Com dan DarushSholihin Tagsrenovasi masjid
Mulai Rabu kemarin, 19 Juli 2017, pembangunan Masjid Flores di daerah Kukuwerang, Solor, Flores Timur dimulai kembali. Rabu tersebut mulai dikirim tukang dari Darush Sholihin sebanyak lima orang, ditambah Bpk. H. Zainuddin sebagai pengawas (dari Yayasan Hodehama) dan Bpk. Sulaiman Nurdin yang menjemput tukang-tukang tadi. Masjid ini ingin dilanjutkan pembangunan karena terpotong liburan Ramadhan dan Idul Fithri. Yang ingin diselesaikan adalah bagian dinding, atap dan lantai.   Cara Berdonasi Bagaimana? Bagi Pembaca Rumaysho.Com yang ingin peduli pada pembangunan masjid ini, silakan mentransfer donasinya via rekening berikut: BSM 7098637286 atas nama Yayasan Darush Sholihin Gunungkidul BRI 697501000453505 atas nama Yayasan Darush Sholihin BCA 895009 3791 atas nama Muhammad Abduh Tuasikal *Kode bank BCA 014, BSM 451, BRI 002   Konfirmasi via SMS/ WA ke 082313950500 dengan format: Renovasi Masjid # Nama Donatur # Alamat # Bank Tujuan Transfer # Tgl Transfer # Besar Donasi. Contoh: Renovasi Masjid # M Abduh Tuasikal # Gunungkidul # BSM # 21 Juli 2017 # 1.000.000.   Info Donasi DS: 0811267791 (Mas Jarot)   Semoga menjadi amal jariyah. Ingat saja keutamaan ini: “Siapa yang membangun masjid karena Allah walaupun hanya selubang tempat burung bertelur atau lebih kecil, maka Allah bangunkan baginya (rumah) seperti itu pula di surga.” (HR. Ibnu Majah no. 738. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih) — Info Rumaysho.Com dan DarushSholihin Tagsrenovasi masjid


Mulai Rabu kemarin, 19 Juli 2017, pembangunan Masjid Flores di daerah Kukuwerang, Solor, Flores Timur dimulai kembali. Rabu tersebut mulai dikirim tukang dari Darush Sholihin sebanyak lima orang, ditambah Bpk. H. Zainuddin sebagai pengawas (dari Yayasan Hodehama) dan Bpk. Sulaiman Nurdin yang menjemput tukang-tukang tadi. Masjid ini ingin dilanjutkan pembangunan karena terpotong liburan Ramadhan dan Idul Fithri. Yang ingin diselesaikan adalah bagian dinding, atap dan lantai.   Cara Berdonasi Bagaimana? Bagi Pembaca Rumaysho.Com yang ingin peduli pada pembangunan masjid ini, silakan mentransfer donasinya via rekening berikut: BSM 7098637286 atas nama Yayasan Darush Sholihin Gunungkidul BRI 697501000453505 atas nama Yayasan Darush Sholihin BCA 895009 3791 atas nama Muhammad Abduh Tuasikal *Kode bank BCA 014, BSM 451, BRI 002   Konfirmasi via SMS/ WA ke 082313950500 dengan format: Renovasi Masjid # Nama Donatur # Alamat # Bank Tujuan Transfer # Tgl Transfer # Besar Donasi. Contoh: Renovasi Masjid # M Abduh Tuasikal # Gunungkidul # BSM # 21 Juli 2017 # 1.000.000.   Info Donasi DS: 0811267791 (Mas Jarot)   Semoga menjadi amal jariyah. Ingat saja keutamaan ini: “Siapa yang membangun masjid karena Allah walaupun hanya selubang tempat burung bertelur atau lebih kecil, maka Allah bangunkan baginya (rumah) seperti itu pula di surga.” (HR. Ibnu Majah no. 738. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih) — Info Rumaysho.Com dan DarushSholihin Tagsrenovasi masjid

Tebar Qurban Indonesia Timur 2017

Program ini berlaku sampai Sabtu, 22 Juli 2017 Setelah tahun lalu sukses menyalurkan 79 ekor sapi ke Indonesia Timur (Flores Timur, Maluku Tengah, Ambon), tahun 1438 H ini kembali Darush Sholihin dan Rumaysho.Com (binaan Ustadz M Abduh Tuasikal) akan menyalurkannya kembali sesuai dengan berapa yang didapat. Hewan qurban akan kami salurkan ke wilayah pedalaman flores dan para mualaf kurban kerusuhan Ambon dan beberapa kepulauan yang masih sangat membutuhkan dan masih jarang sekali mendapatkan hewan qurban bahkan ada beberapa tempat yang belum pernah berqurban sama sekali. Untuk tahun ini biaya untuk satu ekor sapi Rp. 11.900.000,- atau untuk 1/7 Rp. 1.700.000,-. (Biaya ini sudah termasuk transportasi dan pengurusan qurban) Bagi muhsinin yang ingin berpartisipasi dalam TQIT (Tebar Qurban Indonesia Timur) pada tahun 1438 H bersama Darush Sholihin dan Rumaysho.comdapat menyalurkan melalui rekening: BRI 015301000406566 a/n Yayasan Darush Sholihin BSM 7098637286 a/n Yayasan Darush Sholihin BCA 8610123881 a/n Muhammad Abduh Tuasikal * Kode bank BCA 014, BSM 451, BRI 002 Setelah transfer kemudian konfirmasi dengan format : TQIT1438#Nama#alamat#bank tujuan transfer#nominal transfer#tanggal transfer#jumlah qurban Contoh : TQIT1438#M Abduh Tuasikal#Jogja#BSM#11.900.000#20 Juli 2017# 1 ekor Format konfirmasi dikirim via SMS/WA ke 082313950500.   Info Qurban dan Donasi : 0811267791 (Phone/SMS/WA)   Keterangan: Melebihi Sabtu, 22 Juli 2017, 23:59 WIB, tebar qurban akan disalurkan ke program lain masih dalam penanganan Darush Sholihin dan Rumaysho.Com Semoga Allah menerima ibadah qurban para muhsinin sekalian dan membalas dengan pahala yang melimpah. Mohon bantuan untuk share! — Info DarushSholihin dan Rumaysho.Com Tagstebar qurban

Tebar Qurban Indonesia Timur 2017

Program ini berlaku sampai Sabtu, 22 Juli 2017 Setelah tahun lalu sukses menyalurkan 79 ekor sapi ke Indonesia Timur (Flores Timur, Maluku Tengah, Ambon), tahun 1438 H ini kembali Darush Sholihin dan Rumaysho.Com (binaan Ustadz M Abduh Tuasikal) akan menyalurkannya kembali sesuai dengan berapa yang didapat. Hewan qurban akan kami salurkan ke wilayah pedalaman flores dan para mualaf kurban kerusuhan Ambon dan beberapa kepulauan yang masih sangat membutuhkan dan masih jarang sekali mendapatkan hewan qurban bahkan ada beberapa tempat yang belum pernah berqurban sama sekali. Untuk tahun ini biaya untuk satu ekor sapi Rp. 11.900.000,- atau untuk 1/7 Rp. 1.700.000,-. (Biaya ini sudah termasuk transportasi dan pengurusan qurban) Bagi muhsinin yang ingin berpartisipasi dalam TQIT (Tebar Qurban Indonesia Timur) pada tahun 1438 H bersama Darush Sholihin dan Rumaysho.comdapat menyalurkan melalui rekening: BRI 015301000406566 a/n Yayasan Darush Sholihin BSM 7098637286 a/n Yayasan Darush Sholihin BCA 8610123881 a/n Muhammad Abduh Tuasikal * Kode bank BCA 014, BSM 451, BRI 002 Setelah transfer kemudian konfirmasi dengan format : TQIT1438#Nama#alamat#bank tujuan transfer#nominal transfer#tanggal transfer#jumlah qurban Contoh : TQIT1438#M Abduh Tuasikal#Jogja#BSM#11.900.000#20 Juli 2017# 1 ekor Format konfirmasi dikirim via SMS/WA ke 082313950500.   Info Qurban dan Donasi : 0811267791 (Phone/SMS/WA)   Keterangan: Melebihi Sabtu, 22 Juli 2017, 23:59 WIB, tebar qurban akan disalurkan ke program lain masih dalam penanganan Darush Sholihin dan Rumaysho.Com Semoga Allah menerima ibadah qurban para muhsinin sekalian dan membalas dengan pahala yang melimpah. Mohon bantuan untuk share! — Info DarushSholihin dan Rumaysho.Com Tagstebar qurban
Program ini berlaku sampai Sabtu, 22 Juli 2017 Setelah tahun lalu sukses menyalurkan 79 ekor sapi ke Indonesia Timur (Flores Timur, Maluku Tengah, Ambon), tahun 1438 H ini kembali Darush Sholihin dan Rumaysho.Com (binaan Ustadz M Abduh Tuasikal) akan menyalurkannya kembali sesuai dengan berapa yang didapat. Hewan qurban akan kami salurkan ke wilayah pedalaman flores dan para mualaf kurban kerusuhan Ambon dan beberapa kepulauan yang masih sangat membutuhkan dan masih jarang sekali mendapatkan hewan qurban bahkan ada beberapa tempat yang belum pernah berqurban sama sekali. Untuk tahun ini biaya untuk satu ekor sapi Rp. 11.900.000,- atau untuk 1/7 Rp. 1.700.000,-. (Biaya ini sudah termasuk transportasi dan pengurusan qurban) Bagi muhsinin yang ingin berpartisipasi dalam TQIT (Tebar Qurban Indonesia Timur) pada tahun 1438 H bersama Darush Sholihin dan Rumaysho.comdapat menyalurkan melalui rekening: BRI 015301000406566 a/n Yayasan Darush Sholihin BSM 7098637286 a/n Yayasan Darush Sholihin BCA 8610123881 a/n Muhammad Abduh Tuasikal * Kode bank BCA 014, BSM 451, BRI 002 Setelah transfer kemudian konfirmasi dengan format : TQIT1438#Nama#alamat#bank tujuan transfer#nominal transfer#tanggal transfer#jumlah qurban Contoh : TQIT1438#M Abduh Tuasikal#Jogja#BSM#11.900.000#20 Juli 2017# 1 ekor Format konfirmasi dikirim via SMS/WA ke 082313950500.   Info Qurban dan Donasi : 0811267791 (Phone/SMS/WA)   Keterangan: Melebihi Sabtu, 22 Juli 2017, 23:59 WIB, tebar qurban akan disalurkan ke program lain masih dalam penanganan Darush Sholihin dan Rumaysho.Com Semoga Allah menerima ibadah qurban para muhsinin sekalian dan membalas dengan pahala yang melimpah. Mohon bantuan untuk share! — Info DarushSholihin dan Rumaysho.Com Tagstebar qurban


Program ini berlaku sampai Sabtu, 22 Juli 2017 Setelah tahun lalu sukses menyalurkan 79 ekor sapi ke Indonesia Timur (Flores Timur, Maluku Tengah, Ambon), tahun 1438 H ini kembali Darush Sholihin dan Rumaysho.Com (binaan Ustadz M Abduh Tuasikal) akan menyalurkannya kembali sesuai dengan berapa yang didapat. Hewan qurban akan kami salurkan ke wilayah pedalaman flores dan para mualaf kurban kerusuhan Ambon dan beberapa kepulauan yang masih sangat membutuhkan dan masih jarang sekali mendapatkan hewan qurban bahkan ada beberapa tempat yang belum pernah berqurban sama sekali. Untuk tahun ini biaya untuk satu ekor sapi Rp. 11.900.000,- atau untuk 1/7 Rp. 1.700.000,-. (Biaya ini sudah termasuk transportasi dan pengurusan qurban) Bagi muhsinin yang ingin berpartisipasi dalam TQIT (Tebar Qurban Indonesia Timur) pada tahun 1438 H bersama Darush Sholihin dan Rumaysho.comdapat menyalurkan melalui rekening: BRI 015301000406566 a/n Yayasan Darush Sholihin BSM 7098637286 a/n Yayasan Darush Sholihin BCA 8610123881 a/n Muhammad Abduh Tuasikal * Kode bank BCA 014, BSM 451, BRI 002 Setelah transfer kemudian konfirmasi dengan format : TQIT1438#Nama#alamat#bank tujuan transfer#nominal transfer#tanggal transfer#jumlah qurban Contoh : TQIT1438#M Abduh Tuasikal#Jogja#BSM#11.900.000#20 Juli 2017# 1 ekor Format konfirmasi dikirim via SMS/WA ke 082313950500.   Info Qurban dan Donasi : 0811267791 (Phone/SMS/WA)   Keterangan: Melebihi Sabtu, 22 Juli 2017, 23:59 WIB, tebar qurban akan disalurkan ke program lain masih dalam penanganan Darush Sholihin dan Rumaysho.Com Semoga Allah menerima ibadah qurban para muhsinin sekalian dan membalas dengan pahala yang melimpah. Mohon bantuan untuk share! — Info DarushSholihin dan Rumaysho.Com Tagstebar qurban

Manhajus Salikin: Kaedah Air Thahur dan Najis

Ini rangkaian pelajaran dari Kitab Manhajus Salikin karya Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. Kali ini membahas kaedah air.   Bersuci itu Syarat Shalat memiliki syarat-syarat yang harus diketahui terlebih dahulu, di antaranya adalah bersuci dari hadats dan najis. Bersuci ini dijadikan syarat untuk shalat sebagaimana dikatakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Tidaklah diterima shalat kecuali dengan bersuci.” (Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari dan Muslim) Siapa saja yang tidak bersuci dari hadats besar maupun hadats kecil, juga dari najis, maka tidak ada shalat untuknya. Thaharah (bersuci) ada dua macam. Yang pertama, thaharah dengan air, inilah hukum asalnya. Sedangkan yang kedua, thaharah dengan debu sebagai pengganti air.   Penjelasan: Hadats adalah menunjukkan keadaan diri seseorang, sifatnya maknawi (abstrak) yang menghalangi seseorang melakukan shalat, thawaf, menyentuh mushaf Al-Qur’an dan semacamnya. Najis adalah sesuatu yang nampak (terlihat) kotor menurut anggapan syari’at, disebut juga dengan khabits seperti kencing, dll.   Air itu Ada Dua Macam: Thahur dan Najis Setiap air yang turun dari langit dan keluar dari mata air, maka hukumnya adalah THAHUR (suci dan menyucikan). Air tersebut dapat digunakan untuk menyucikan hadats dan najis, walaupun air tersebut berubah  rasa, warna atau bau karena bercampur dengan benda suci (selama masih disebut air mutlak tetap statusnya thahur, pen.). Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sesungguhnya air itu thahur (suci dan menyucikan), tidak ada sesuatu pun yang dapat menajiskannya.” (Diriwayatkan oleh Ahlus Sunnan, haditsnya shahih. [HR. Abu Daud, no. 66; Tirmidzi, no. 66; An-Nasa’i, no. 326; dari Abu Sa’id Al-Khudri. Hadits ini dishahihkan oleh Imam Ahmad, Ibnu Ma’in dan Ibnu Hazm]) Jika air tersebut berubah sifatnya karena najis, maka menjadi najis dan wajib dijauhi.   Penjelasan: 1- Kesimpulannya air itu ada dua macam yaitu thahur (suci dan menyucikan) dan najis. 2- Tiga kaedah mengenai air yang bercampur: Jika air bercampur dengan benda suci, lalu tidak lagi disebut air mutlak (sudah dinamakan air teh, air kopi, air sabun, pen.), maka air tersebut tidak lagi thahur (tidak bisa menyucikan lainnya). Karena thaharah hanya boleh dengan yang disebut air, “Lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih).” (QS. Al-Maidah: 6) Jika air bercampur dengan benda suci, lalu tidak keluar dari penyebutan air mutlak (masih disebut air), maka air tersebut tetap thahur (suci dan menyucikan). Jika air bercampur dengan benda najis, lalu berubah salah satu dari tiga sifat (bau, rasa, atau warna), maka air tersebut menjadi najis. 3- Bagaimana dengan air musta’mal (bekas bersuci)? Bagaimana dengan air yang kurang dari dua qullah yang kemasukan najis? Ada beda pendapat ulama dalam hal ini. Yang tepat, air musta’mal masih boleh digunakan selama masih disebut air mutlak. Kedua, air yang kurang dari dua qullah (sekitar 200 L) lantas kemasukan najis, maka dilihat apakah berubah salah satu dari tiga sifat ataukah tidak. Jika tidak berubah, berarti tetap suci. Wallahu a’lam. Moga mendapatkan ilmu yang bermanfaat.   Referensi: Ibhajul Mu’minin bi Syarh Manhaj As-Salikin. Syaikh ‘Abdullah bin ‘Abdirrahman bin ‘Abdillah Al-Jibrin. Penerbit Madarul Wathan li An-Nashr. Ghayah Al-Muqtashidin Syarh Manhaj As- Salikin. Ahmad bin ‘Abdurrahman Az-Zauman. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Syarh Manhaj As-Salikin. Dr. Sulaiman bin ‘Abdillah Al-Qushair. Penerbit Maktabah Dar Al-Minhaj. — Buletin Rumaysho.Com untuk Kajian Rutin Kamis Sore di Masjid Pogung Dalangan Disusun @ Perpus Darush Sholihin, 25 Syawal 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsair bersuci kaedah air kaedah fikih macam air manhajus salikin najis suci

Manhajus Salikin: Kaedah Air Thahur dan Najis

Ini rangkaian pelajaran dari Kitab Manhajus Salikin karya Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. Kali ini membahas kaedah air.   Bersuci itu Syarat Shalat memiliki syarat-syarat yang harus diketahui terlebih dahulu, di antaranya adalah bersuci dari hadats dan najis. Bersuci ini dijadikan syarat untuk shalat sebagaimana dikatakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Tidaklah diterima shalat kecuali dengan bersuci.” (Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari dan Muslim) Siapa saja yang tidak bersuci dari hadats besar maupun hadats kecil, juga dari najis, maka tidak ada shalat untuknya. Thaharah (bersuci) ada dua macam. Yang pertama, thaharah dengan air, inilah hukum asalnya. Sedangkan yang kedua, thaharah dengan debu sebagai pengganti air.   Penjelasan: Hadats adalah menunjukkan keadaan diri seseorang, sifatnya maknawi (abstrak) yang menghalangi seseorang melakukan shalat, thawaf, menyentuh mushaf Al-Qur’an dan semacamnya. Najis adalah sesuatu yang nampak (terlihat) kotor menurut anggapan syari’at, disebut juga dengan khabits seperti kencing, dll.   Air itu Ada Dua Macam: Thahur dan Najis Setiap air yang turun dari langit dan keluar dari mata air, maka hukumnya adalah THAHUR (suci dan menyucikan). Air tersebut dapat digunakan untuk menyucikan hadats dan najis, walaupun air tersebut berubah  rasa, warna atau bau karena bercampur dengan benda suci (selama masih disebut air mutlak tetap statusnya thahur, pen.). Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sesungguhnya air itu thahur (suci dan menyucikan), tidak ada sesuatu pun yang dapat menajiskannya.” (Diriwayatkan oleh Ahlus Sunnan, haditsnya shahih. [HR. Abu Daud, no. 66; Tirmidzi, no. 66; An-Nasa’i, no. 326; dari Abu Sa’id Al-Khudri. Hadits ini dishahihkan oleh Imam Ahmad, Ibnu Ma’in dan Ibnu Hazm]) Jika air tersebut berubah sifatnya karena najis, maka menjadi najis dan wajib dijauhi.   Penjelasan: 1- Kesimpulannya air itu ada dua macam yaitu thahur (suci dan menyucikan) dan najis. 2- Tiga kaedah mengenai air yang bercampur: Jika air bercampur dengan benda suci, lalu tidak lagi disebut air mutlak (sudah dinamakan air teh, air kopi, air sabun, pen.), maka air tersebut tidak lagi thahur (tidak bisa menyucikan lainnya). Karena thaharah hanya boleh dengan yang disebut air, “Lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih).” (QS. Al-Maidah: 6) Jika air bercampur dengan benda suci, lalu tidak keluar dari penyebutan air mutlak (masih disebut air), maka air tersebut tetap thahur (suci dan menyucikan). Jika air bercampur dengan benda najis, lalu berubah salah satu dari tiga sifat (bau, rasa, atau warna), maka air tersebut menjadi najis. 3- Bagaimana dengan air musta’mal (bekas bersuci)? Bagaimana dengan air yang kurang dari dua qullah yang kemasukan najis? Ada beda pendapat ulama dalam hal ini. Yang tepat, air musta’mal masih boleh digunakan selama masih disebut air mutlak. Kedua, air yang kurang dari dua qullah (sekitar 200 L) lantas kemasukan najis, maka dilihat apakah berubah salah satu dari tiga sifat ataukah tidak. Jika tidak berubah, berarti tetap suci. Wallahu a’lam. Moga mendapatkan ilmu yang bermanfaat.   Referensi: Ibhajul Mu’minin bi Syarh Manhaj As-Salikin. Syaikh ‘Abdullah bin ‘Abdirrahman bin ‘Abdillah Al-Jibrin. Penerbit Madarul Wathan li An-Nashr. Ghayah Al-Muqtashidin Syarh Manhaj As- Salikin. Ahmad bin ‘Abdurrahman Az-Zauman. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Syarh Manhaj As-Salikin. Dr. Sulaiman bin ‘Abdillah Al-Qushair. Penerbit Maktabah Dar Al-Minhaj. — Buletin Rumaysho.Com untuk Kajian Rutin Kamis Sore di Masjid Pogung Dalangan Disusun @ Perpus Darush Sholihin, 25 Syawal 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsair bersuci kaedah air kaedah fikih macam air manhajus salikin najis suci
Ini rangkaian pelajaran dari Kitab Manhajus Salikin karya Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. Kali ini membahas kaedah air.   Bersuci itu Syarat Shalat memiliki syarat-syarat yang harus diketahui terlebih dahulu, di antaranya adalah bersuci dari hadats dan najis. Bersuci ini dijadikan syarat untuk shalat sebagaimana dikatakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Tidaklah diterima shalat kecuali dengan bersuci.” (Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari dan Muslim) Siapa saja yang tidak bersuci dari hadats besar maupun hadats kecil, juga dari najis, maka tidak ada shalat untuknya. Thaharah (bersuci) ada dua macam. Yang pertama, thaharah dengan air, inilah hukum asalnya. Sedangkan yang kedua, thaharah dengan debu sebagai pengganti air.   Penjelasan: Hadats adalah menunjukkan keadaan diri seseorang, sifatnya maknawi (abstrak) yang menghalangi seseorang melakukan shalat, thawaf, menyentuh mushaf Al-Qur’an dan semacamnya. Najis adalah sesuatu yang nampak (terlihat) kotor menurut anggapan syari’at, disebut juga dengan khabits seperti kencing, dll.   Air itu Ada Dua Macam: Thahur dan Najis Setiap air yang turun dari langit dan keluar dari mata air, maka hukumnya adalah THAHUR (suci dan menyucikan). Air tersebut dapat digunakan untuk menyucikan hadats dan najis, walaupun air tersebut berubah  rasa, warna atau bau karena bercampur dengan benda suci (selama masih disebut air mutlak tetap statusnya thahur, pen.). Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sesungguhnya air itu thahur (suci dan menyucikan), tidak ada sesuatu pun yang dapat menajiskannya.” (Diriwayatkan oleh Ahlus Sunnan, haditsnya shahih. [HR. Abu Daud, no. 66; Tirmidzi, no. 66; An-Nasa’i, no. 326; dari Abu Sa’id Al-Khudri. Hadits ini dishahihkan oleh Imam Ahmad, Ibnu Ma’in dan Ibnu Hazm]) Jika air tersebut berubah sifatnya karena najis, maka menjadi najis dan wajib dijauhi.   Penjelasan: 1- Kesimpulannya air itu ada dua macam yaitu thahur (suci dan menyucikan) dan najis. 2- Tiga kaedah mengenai air yang bercampur: Jika air bercampur dengan benda suci, lalu tidak lagi disebut air mutlak (sudah dinamakan air teh, air kopi, air sabun, pen.), maka air tersebut tidak lagi thahur (tidak bisa menyucikan lainnya). Karena thaharah hanya boleh dengan yang disebut air, “Lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih).” (QS. Al-Maidah: 6) Jika air bercampur dengan benda suci, lalu tidak keluar dari penyebutan air mutlak (masih disebut air), maka air tersebut tetap thahur (suci dan menyucikan). Jika air bercampur dengan benda najis, lalu berubah salah satu dari tiga sifat (bau, rasa, atau warna), maka air tersebut menjadi najis. 3- Bagaimana dengan air musta’mal (bekas bersuci)? Bagaimana dengan air yang kurang dari dua qullah yang kemasukan najis? Ada beda pendapat ulama dalam hal ini. Yang tepat, air musta’mal masih boleh digunakan selama masih disebut air mutlak. Kedua, air yang kurang dari dua qullah (sekitar 200 L) lantas kemasukan najis, maka dilihat apakah berubah salah satu dari tiga sifat ataukah tidak. Jika tidak berubah, berarti tetap suci. Wallahu a’lam. Moga mendapatkan ilmu yang bermanfaat.   Referensi: Ibhajul Mu’minin bi Syarh Manhaj As-Salikin. Syaikh ‘Abdullah bin ‘Abdirrahman bin ‘Abdillah Al-Jibrin. Penerbit Madarul Wathan li An-Nashr. Ghayah Al-Muqtashidin Syarh Manhaj As- Salikin. Ahmad bin ‘Abdurrahman Az-Zauman. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Syarh Manhaj As-Salikin. Dr. Sulaiman bin ‘Abdillah Al-Qushair. Penerbit Maktabah Dar Al-Minhaj. — Buletin Rumaysho.Com untuk Kajian Rutin Kamis Sore di Masjid Pogung Dalangan Disusun @ Perpus Darush Sholihin, 25 Syawal 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsair bersuci kaedah air kaedah fikih macam air manhajus salikin najis suci


Ini rangkaian pelajaran dari Kitab Manhajus Salikin karya Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. Kali ini membahas kaedah air.   Bersuci itu Syarat Shalat memiliki syarat-syarat yang harus diketahui terlebih dahulu, di antaranya adalah bersuci dari hadats dan najis. Bersuci ini dijadikan syarat untuk shalat sebagaimana dikatakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Tidaklah diterima shalat kecuali dengan bersuci.” (Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari dan Muslim) Siapa saja yang tidak bersuci dari hadats besar maupun hadats kecil, juga dari najis, maka tidak ada shalat untuknya. Thaharah (bersuci) ada dua macam. Yang pertama, thaharah dengan air, inilah hukum asalnya. Sedangkan yang kedua, thaharah dengan debu sebagai pengganti air.   Penjelasan: Hadats adalah menunjukkan keadaan diri seseorang, sifatnya maknawi (abstrak) yang menghalangi seseorang melakukan shalat, thawaf, menyentuh mushaf Al-Qur’an dan semacamnya. Najis adalah sesuatu yang nampak (terlihat) kotor menurut anggapan syari’at, disebut juga dengan khabits seperti kencing, dll.   Air itu Ada Dua Macam: Thahur dan Najis Setiap air yang turun dari langit dan keluar dari mata air, maka hukumnya adalah THAHUR (suci dan menyucikan). Air tersebut dapat digunakan untuk menyucikan hadats dan najis, walaupun air tersebut berubah  rasa, warna atau bau karena bercampur dengan benda suci (selama masih disebut air mutlak tetap statusnya thahur, pen.). Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sesungguhnya air itu thahur (suci dan menyucikan), tidak ada sesuatu pun yang dapat menajiskannya.” (Diriwayatkan oleh Ahlus Sunnan, haditsnya shahih. [HR. Abu Daud, no. 66; Tirmidzi, no. 66; An-Nasa’i, no. 326; dari Abu Sa’id Al-Khudri. Hadits ini dishahihkan oleh Imam Ahmad, Ibnu Ma’in dan Ibnu Hazm]) Jika air tersebut berubah sifatnya karena najis, maka menjadi najis dan wajib dijauhi.   Penjelasan: 1- Kesimpulannya air itu ada dua macam yaitu thahur (suci dan menyucikan) dan najis. 2- Tiga kaedah mengenai air yang bercampur: Jika air bercampur dengan benda suci, lalu tidak lagi disebut air mutlak (sudah dinamakan air teh, air kopi, air sabun, pen.), maka air tersebut tidak lagi thahur (tidak bisa menyucikan lainnya). Karena thaharah hanya boleh dengan yang disebut air, “Lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih).” (QS. Al-Maidah: 6) Jika air bercampur dengan benda suci, lalu tidak keluar dari penyebutan air mutlak (masih disebut air), maka air tersebut tetap thahur (suci dan menyucikan). Jika air bercampur dengan benda najis, lalu berubah salah satu dari tiga sifat (bau, rasa, atau warna), maka air tersebut menjadi najis. 3- Bagaimana dengan air musta’mal (bekas bersuci)? Bagaimana dengan air yang kurang dari dua qullah yang kemasukan najis? Ada beda pendapat ulama dalam hal ini. Yang tepat, air musta’mal masih boleh digunakan selama masih disebut air mutlak. Kedua, air yang kurang dari dua qullah (sekitar 200 L) lantas kemasukan najis, maka dilihat apakah berubah salah satu dari tiga sifat ataukah tidak. Jika tidak berubah, berarti tetap suci. Wallahu a’lam. Moga mendapatkan ilmu yang bermanfaat.   Referensi: Ibhajul Mu’minin bi Syarh Manhaj As-Salikin. Syaikh ‘Abdullah bin ‘Abdirrahman bin ‘Abdillah Al-Jibrin. Penerbit Madarul Wathan li An-Nashr. Ghayah Al-Muqtashidin Syarh Manhaj As- Salikin. Ahmad bin ‘Abdurrahman Az-Zauman. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Syarh Manhaj As-Salikin. Dr. Sulaiman bin ‘Abdillah Al-Qushair. Penerbit Maktabah Dar Al-Minhaj. — Buletin Rumaysho.Com untuk Kajian Rutin Kamis Sore di Masjid Pogung Dalangan Disusun @ Perpus Darush Sholihin, 25 Syawal 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsair bersuci kaedah air kaedah fikih macam air manhajus salikin najis suci

BOLEH SHOLAT MENGHADAP KUBURAN?

BOLEH SHOLAT MENGHADAP KUBURAN?(Kritikan terhadap al-Ustadz Abdussomad -hafizohullah- tentang pemahaman beliau terhadap hadits “Janganlah sholat mengarah ke kuburan”) Tentu saling mengingatkan demi kebaikan adalah kebiasaan para ulama, nasihat dan masukan jika tujuannya baik dengan uslub yang baik tentu lebih bermanfaat. Sebelumnya saya pernah mengkritik beliau di link berikut (“Imam Syafi’i menyatakan pahala bacaan al-Qur’an sampai kepada mayat?“)Permasalahan pengagungan terhadap kuburan mendapat perhatian khusus oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, karena pengagungan terhadap kuburan yang berlebihan bisa mengantarkan kepada kesyirikan. Karenanya semua perkara yang mengantarkan terhadap pengagungan terhadap kuburan dilarang oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Karenanya :–    Nabi melarang menulis di kuburan serta melarang menyemen kuburan–    Nabi melarang memasang lampu di kuburan–    Nabi melarang meninggikan kuburan–    Nabi melarang sholat ke arah kuburan–    Bahkan Nabi pernah melarang menziarahi kuburan karena kawatir akan kesyirikan, namun setelah itu Nabi menganjurkan karena ada maslahat yang besar, yaitu untuk mengingat kematian. Al-Muhallab berkata :ومعنى النهى عن زيارة القبور، إنما كان فى أول الإسلام عند قربهم بعبادة الأوثان، واتخاذ القبور مساجد، والله أعلم، فلما استحكم الإسلام، وقوى فى قلوب الناس، وأمنت عبادة القبور والصلاة إليها، نسخ النهى عن زيارتها، لأنها تذكر الآخرة وتزهد فى الدنيا“Dan makna dari larangan menziarahi kuburan yaitu hanyalah dilarang tatkala di permulaan Islam, tatkala mereka baru saja (*terlepas) dari menyembah berhala dan menjadikan kuburan sebagai masjid –wallahu A’lam-. Maka tatkala Islam sudah kokoh dan kuat di hati-hati manusia dan aman dari (*timbulnya) peribadatan kuburan dan sholat ke arah kuburan maka dinaskh (*dihapuslah) larangan menziarahi kuburan, karena dengan berziarah kuburan akan mengingatkan akhirat dan menjadikan zuhud dalam dunia” (Sebagaimana dinukil oleh Ibnu Battool dalam Syarh shahih Al-Bukhari, tahqiq Abu Tamiim Yasir bin Ibrahim, Maktabah Ar-Rusyd 3/271)Al-Munaawi berkata ;(كنت نهيتكم عن زيارة القبور) لحدثان عهدكم بالكفر وأما الآن حيث انمحت آثار الجاهلية واستحكم الإسلام وصرتم أهل يقين وتقوى (فزوروا القبور) أي بشرط أن لا يقترن بذلك تمسح بالقبر أو تقبيل أو سجود عليه أو نحو ذلك فإنه كما قال السبكي بدعة منكرة إنما يفعلها الجهال“(sabda Nabi) “Aku pernah melarang kalian dari ziaroh kuburan” karena kalian baru saja meninggalkan kekufuran. Adapun sekarang tatkala telah hilang sisa-sisa jahiliyah dan telah kokoh Islam dan jadilah kalian orang-orang yang yakin dan  takwa ((Maka ziarahilah kuburan)) yaitu dengan syarat tidak disertai dengan mengusap kuburan atau mencium kuburan atau sujud di atasnya atau yang semisalnya, karena hal itu -sebagaimana perkataan As-Subkiy- adalah bid’ah yang mungkar, hanyalah orang-orang jahil (bodoh) yang melakukannya” (Faidhul Qodiir 5/55, lihat juga At-Taisiir bi syarh Al-Jaami’ As-Shoghiir 2/439)Diantara larangan-larangan Nabi adalah sholat ke arah kuburan. Dari Abu Martsad Al-Gonawi ia berkata : Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :لَا تُصَلُّوا إِلَى الْقُبُورِ“Janganlah kalian sholat mengarah ke kuburan” (HR Muslim No. 972)Larangan tersebut tidak lain adalah bentuk pencegahan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam agar kita tidak sholat mengarah ke kuburan agar jangan sampai akhirnya kuburan diagungkan dan akhirnya disembah !!. Jadi larangan tersebut berkaitan dengan orang yang sholat menyembah Allah akan tetapi pelaksanaan sholatnya menghadap ke kuburan.Maka dari sini jelas bahwa pelarangan tersebut berkaitan dengan pelarangan “sarana” bukan pelarangan tujuan yang dikawatirkan. Karena kalau maksud dari larangan tersebut adalah larangan menyembah kuburan tentu para sahabat sudah memahaminya bahwa hal tersebut merupakan kesyirikan dan kekufuran, dan tidak perlu Nabi mengingatkan secara khusus, karena para sahabat semuanya mengerti bahwa menyembah kepada selain Allah adalah kesyirikan. Tapi yang ingin diingatkan oleh Nabi adalah mencegah sarana yang bisa mengantarkan kepada tujuan kesyirikan. Namun al-Ustadz memahami makna hadits ini adalah “Larangan menyembah penghuni kubur”, sehingga sholat menghadap kuburan itu boleh selama yang disembah adalah Allah dan bukan penghuni kuburan. Berikut transkrip pertanyaan yang ditujukan kepada sang ustadz beserta jawaban sang ustadz. [Pertanyan] : Saya ingin bertanya tentang sholat, sekarang nampaknya sudah ada pendapat tumpang tindih ada yang tidak mau sholat di masjid yang di sebelahnya ada kuburan, apakah memang ada dalilnya atau bagaimana pak ustadz?, mohon penjelasan agar pendapat ini tidak menjadi buah pikiran bagi kami.(Jawaban sang ustadz diantaranya) : “Kalau orang tidak mau sholat karena di dekat masjid tidak mau ada kubur, berarti selama di masjid nabawi dia tak sholat di masjid nabawi karena di dekat masjid nabawi ada kubur. Kalau dia berdalih di dalam masjid nabawi kan kubur nabi Muhammad, Yang nabi kan Muhammad nabi tak papa yang di samping ada makam abu bakar ada makam umar.Lalu Apa makna tak boleh sujud ke kubur ? Laa tasjuduu janganlah kamu sujud ke kubur, sujud dia menyembah kubur.Hadits ini bercerita tentang apa ?, hadits ini menyindir orang bani Israil yang menyembah makam pendeta2 mereka. Sekarang yang ada di vatikan di roma yang mereka sembah itu makam namanya santo Thomas, santo artinya orang suci orang suci tidak berdosa dibangunlah makamnya sujudnya kesitu. Saya mau menengok mana orang Kampar kiri hilir yang menyembah kubur, tak ada….”Al-Ustadz juga berkata, “Dan kita tidak ada satupun kalau dia (kuburan-pent) buat samping ada dinding kiri kanan maka tak satupun sujud ke kubur karena meminta ke kubur.Kalau nanti dia berdalil setiap tanah ada kubur maka tidak boleh sholat di tempat itu, orang yang mengatakan demikian itu dia tidak akan sholat di masjid manapun, kenapa?Karena setiap tanah kalau diurut pasti ada kubur. Oke sebelah sini tak ada kubur kalau terus ke depan sana?. Bumi bulat apakah jamin tak ada kubur?  Tetap jamin ada kubur, satu meter ke depan ada kubur, oleh karena itu makna hadits dipahami tak boleh sujud ke kubur karena meminta kepada yang di kubur dan kronolginya menyindir bani isroil yang menyembah makam nabi dan orang sholeh diantara mereka” Komentar :Pertama : Pendapat al-Ustadz ini menyelisihi pemahaman para ulama tentang hadits ini -terutama para ulama syafi’iyyah-.Perhatikan pernyataan al-Imam An-Nawawi rahimahullah :وَاتَّفَقَتْ نُصُوصُ الشَّافِعِيِّ وَالْأَصْحَابِ عَلَى كَرَاهَةِ بِنَاءِ مَسْجِدٍ عَلَى الْقَبْرِ سَوَاءٌ كَانَ الْمَيِّتُ مَشْهُورًا بِالصَّلَاحِ أَوْ غَيْرِهِ لِعُمُومِ الْأَحَادِيثِ قَالَ الشَّافِعِيُّ وَالْأَصْحَابُ وَتُكْرَهُ الصَّلَاةُ إلَى الْقُبُورِ سَوَاءٌ كَانَ الْمَيِّتُ صَالِحًا أَوْ غَيْرَهُ قَالَ الْحَافِظُ أَبُو مُوسَى قَالَ الْإِمَامُ أَبُو الْحَسَنِ الزعفراني رحمه الله ولا يصلي إلي قبر وَلَا عِنْدَهُ تَبَرُّكًا بِهِ وَإِعْظَامًا لَهُ لِلْأَحَادِيثِ والله أعلم“Dan telah sepakat pernyataan al-Imam Asy-Syafi’i dan para ulama syafi’iyyah akan dibencinya membangun masjid di atas kuburan. Sama saja apakah mayatnya terkenal akan kesholihannya atau tidak, karena keumuman hadits-hadits. Al-Imam Asy-Syafi’i dan para ulama besar syafi’iyah berkata ; “Dan makruh sholat mengarah ke kuburan, sama saja apakah mayatnya sholih atau tidak”. Berkata al-Hafiz Abu Musa : “Berkata Al-Imam Abul Hasan Az-Za’farooni rahimahullah : “Tidak boleh sholat mengarah ke kuburan, dan tidak boleh sholat di sisi kuburan dalam rangka mencari berkah dan mengagungkannya karena hadits-hadits” (Al-Majmuu’ 5/316-317)Ibnu Hajar berkata :قَوْلُهُ وَمَا يُكْرَهُ مِنَ الصَّلَاةِ فِي الْقُبُورِ يَتَنَاوَلُ مَا إِذَا وَقَعَتِ الصَّلَاةُ عَلَى الْقَبْرِ أَوْ إِلَى الْقَبْرِ أَوْ بَيْنَ الْقَبْرَيْنِ وَفِي ذَلِكَ حَدِيثٌ رَوَاهُ مُسْلِمٌ مِنْ طَرِيقِ أَبِي مِرْثَدٍ الْغَنَوِيِّ مَرْفُوعًا لَا تَجْلِسُوا عَلَى الْقُبُورِ وَلَا تُصَلُّوا إِلَيْهَا أَوْ عَلَيْهَا“Perkataan Imam Al-Bukhari ((Dan dibencinya sholat di kuburan)), maka mencakup jika sholat dilakukan (*1) di atas kubur atau (*2) ke arah kubur atau (*3) di antara dua kubur. Dan tentang hal ini ada sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari jalan Abi Martsad Al-Ghonawi secara marfuu’ “Janganlah kalian duduk di atas kuburan, dan janganlah kalian sholat ke (arah) kuburan atau di atas kuburan“” (Fathul Baari 1/524). Kedua : Karenanya para ulama syafi’iyyah berbeda pendapat tentang hukum sholat ke arah kuburan apakah hukumnya makruh atau haram. Dan al-Imam An-Nawawi rahimahullah lebih condong kepada pendapat haramnya sholat ke arah kuburan. Beliau berkata :وَيُكْرَهُ أَنْ يُصَلِّيَ إلَى الْقَبْرِ هَكَذَا قَالُوا يُكْرَهُ وَلَوْ قِيلَ يَحْرُمُ لِحَدِيثِ أَبِي مَرْثَدٍ وَغَيْرِهِ مِمَّا سَبَقَ لَمْ يَبْعُدْ“Dan makruh sholat ke arah kuburan” -demikianlah perkataan mereka (para ulama syafi’iyyah)-, kalau seandainya dikatakan “Dan haram” karena hadits Abu Martsad dan hadits yang lainnya maka tidak jauh pendapat ini (dari kebenaran)” (Al-Majmuu’ 3/158)Jika makna hadits Abu Mirtsad “Jangan sholat ke arah kuburan” adalah “Janganlah sholat menyembah penghuni kubur” maka tentu tidak ada khilaf di kalangan para ulama akan haramnya, bahkan tidak ada khilaf bahwasanya ini adalah kekufuran dan kesyirikan !.Ketiga : Sebagian ulama syafi’iyah semakin mempertegas larangan sholat menghadap kuburan jika kuburan tersebut adalah kuburan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.Zakariya Al-Anshoori berkata “(وَ) يُكْرَهُ (اسْتِقْبَالُ الْقَبْرِ فِيهَا) أَيْ فِي الصَّلَاةِ لِخَبَرِ مُسْلِمٍ «لَا تَجْلِسُوا عَلَى الْقُبُورِ وَلَا تُصَلُّوا إلَيْهَا» وَيُسْتَثْنَى قَبْرُهُ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – فَيَحْرُمُ اسْتِقْبَالُهُ فِيهَا“Dan dibenci sholat menghadap kuburan karena hadits dalam shahih Muslim “Janganlah kalian duduk di atas kuburan dan janganlah kalian sholat menghadap kuburan”. Dan dikecualikan kuburan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam maka haram (bukan sekedar makruh-=pent) sholat menghadap kuburannya” (Asna al-Mathoolib 1/174) Keempat : Sebagian ulama syafi’iyah dengan tegas menyatakan bahwa sholat ke arah kuburan -terutama kuburan para nabi- dilarang karena bisa mengantarkan kepada kesyirikan.Ibnu Hajar al-Haitami tatkala menjelaskan tentang haramnya sholat menghadap kuburan para nabi beliau berkata :لِأَنَّهُ يُؤَدِّي إلَى الشِّرْكِ “Karena hal itu mengantarkan kepada kesyirikan” (Tuhfatul Muhtaaj 2/168)An-Nawawi berkata :قَوْلُهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ (لَا تَجْلِسُوا عَلَى الْقُبُورِ وَلَا تُصَلُّوا إِليْهَا) فيه تصريح بالنهى عن الصلاة إلى القبر قَالَ الشَّافِعِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ وَأَكْرَهُ أَنْ يُعَظَّمَ مَخْلُوقٌ حَتَّى يُجْعَلَ قَبْرُهُ مَسْجِدًا مَخَافَةَ الْفِتْنَةِ عَلَيْهِ وَعَلَى مَنْ بَعْدَهُ مِنَ النَّاسِ“Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam (….dan janganlah kalian sholat ke arah kuburan) di sini ada penegasan tentang larangan sholat menghadap kuburan. Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah berkata : Dan aku benci makhluk diagungkan hingga kuburannya dijadikan mesjid, kawatir fitnah atas nya dan atas orang-orang yang setelahnya” (Al-Minhaaj Syarah Shahih Muslim 7/38) Kelima : Sebagian ulama syafi’iyyah menjadikan sholat ke arah kuburan termasuk dosa besar. Al-Imam Adz-Dzahabi rahimahullah berkata :الْكَبِيرَةُ الثَّالِثَةُ وَالرَّابِعَةُ وَالْخَامِسَةُ وَالسَّادِسَةُ وَالسَّابِعَةُ وَالثَّامِنَةُ وَالتِّسْعُونَ: اتِّخَاذُ الْقُبُورِ مَسَاجِدَ، وَإِيقَادُ السُّرُجِ عَلَيْهَا، وَاِتِّخَاذُهَا أَوْثَانًا، وَالطَّوَافُ بِهَا، وَاسْتِلَامُهَا، وَالصَّلَاةُ إلَيْهَا“Dosa besar yang ke 93, 94, 95, 96, 97, dan 98 adalah menjadikan kuburan sebagai masjid, menyalakan api (penerangan) di atas kuburan, menjadikan kuburan sebagai berhala, thowaf di kuburan, mengusap kuburan (*dengan maksud ibadah-pen), dan sholat ke arah kuburan” (Az-Zawaajir ‘an iqtiroof Al-Kabaair juz 1 hal 154)Perhatikanlah, al-Imam Adz-Dzahabi membedakan 2 dosa, antara dosa sholat ke arah kuburan, dan dosa menyembah kuburan (dengan menjadikannya sebagai berhala). Oleh karenanya ini semakin mempertegas bahwa makna hadits Nabi “Janganlah sholat ke arah kuburan” bukanlah sebagaimana yang dipahami oleh al-Ustadz Abdussomad -hafizohullah- yaitu “Janganlah kalian menyembah kuburan” !Ibnu Hajar al-Haitami tatkala mensyarah perkataan al-Imam Adz-Dzahabi di atas beliau berkata :وَاِتِّخَاذُ الْقَبْرِ مَسْجِدًا مَعْنَاهُ الصَّلَاةُ عَلَيْهِ أَوْ إلَيْهِ“Dan (larangan Nabi -pent) menjadikan kuburan sebagai masjid maknanya adalah sholat di atasnya atau sholat ke arah kuburan”Beliau juga berkata :نَعَمْ قَالَ بَعْضُ الْحَنَابِلَةِ: قَصْدُ الرَّجُلِ الصَّلَاةَ عِنْدَ الْقَبْرِ مُتَبَرِّكًا بِهَا عَيْنُ الْمُحَادَّةِ لِلَّهِ وَرَسُولِهِ، وَإِبْدَاعُ دِينٍ لَمْ يَأْذَنْ بِهِ اللَّهُ لِلنَّهْيِ عَنْهَا ثُمَّ إجْمَاعًا، فَإِنَّ أَعْظَمَ الْمُحَرَّمَاتِ وَأَسْبَابِ الشِّرْكِ الصَّلَاةُ عِنْدَهَا وَاِتِّخَاذُهَا مَسَاجِدَ أَوْ بِنَاؤُهَا عَلَيْهَا. وَالْقَوْلُ بِالْكَرَاهَةِ مَحْمُولٌ عَلَى غَيْرِ ذَلِكَ إذْ لَا يُظَنُّ بِالْعُلَمَاءِ تَجْوِيزُ فِعْلٍ تَوَاتَرَ عَنْ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – لَعْنُ فَاعِلِهِ، وَتَجِبُ الْمُبَادَرَةُ لِهَدْمِهَا وَهَدْمِ الْقِبَابِ الَّتِي عَلَى الْقُبُورِ إذْ هِيَ أَضَرُّ مِنْ مَسْجِدِ الضِّرَارِ لِأَنَّهَا أُسِّسَتْ عَلَى مَعْصِيَةِ رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – لِأَنَّهُ نَهَى عَنْ ذَلِكَ وَأَمَرَ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – بِهَدْمِ الْقُبُورِ الْمُشْرِفَةِ، وَتَجِبُ إزَالَةُ كُلِّ قِنْدِيلٍ أَوْ سِرَاجٍ عَلَى قَبْرٍ وَلَا يَصِحُّ وَقْفُهُ وَنَذْرُهُ Benar, bahwasanya sebagian ulama madzhab hambali menyatakan : Seseorang yang mengerjakan sholat di kuburan dalam rangka mencari keberkahan merupakan bentuk penentangan terhadap Allah dan RasulNya, dan merupakan bid’ah dalam agama yang tidak diizinkan oleh Allah karena ada larangan akan hal ini, kemudian adanya ijmak (*para ulama yang melarang hal ini), karena sesungguhnya keharaman yang sangat besar dan sebab yang sangat besar menuju kesyirikan adalah sholat di kuburan dan menjadikan kuburan sebagai masjid dan membangun masjid di atas.Dan pendapat yang menyatakan makruh di bawakan kepada selain hal itu, karena tidaklah dipersangkakan kepada para ulama untuk membolehkan suatu perbuatan yang telah mutawatir (*sangat masyhur) dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwasanya pelakunya terlaknat. Dan wajib bersegera untuk menghancurkan bangunan di atas kuburan dan menghancurkan kubah-kubah yang berada di atas kuburan karena kubah-kubah itu lebih berbahaya daripada masjid dhiroor, karena kubah-kubah tersebut di bangun di atas kemaksiatan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena Nabi melarang hal itu dan memerintahkan untuk menghancurkan kuburan-kuburan yang tinggi. Dan wajib untuk meniadakan seluruh lampu dan penerangan di atas kuburan, dan tidak sah wakaf dan nadzar untuk menyalakan lampu dikuburan” (Az-Zawaajir ‘an iqtiroof al-Kabaair juz 1 hal 155)Keenam : Kalau kita baca seluruh pembahasan ulama -dari madzhab manapun- tatkala menjelaskan hadits ini (janganlah kalian sholat ke arah kuburan) maka mereka semuanya sedang membahas hukum orang yang sholat menyembah Allah akan tetapi sholatnya ke arah kuburan. Sama sekali tidak ada yang membahas tentang sholatnya orang yang menyembah penghuni kubur, karena hal ini tentu sudah jelas kekufuran.Mataram, Lombok 24 syawwal 1438/18 juli 2107Firanda Andirjawww.firanda.com

BOLEH SHOLAT MENGHADAP KUBURAN?

BOLEH SHOLAT MENGHADAP KUBURAN?(Kritikan terhadap al-Ustadz Abdussomad -hafizohullah- tentang pemahaman beliau terhadap hadits “Janganlah sholat mengarah ke kuburan”) Tentu saling mengingatkan demi kebaikan adalah kebiasaan para ulama, nasihat dan masukan jika tujuannya baik dengan uslub yang baik tentu lebih bermanfaat. Sebelumnya saya pernah mengkritik beliau di link berikut (“Imam Syafi’i menyatakan pahala bacaan al-Qur’an sampai kepada mayat?“)Permasalahan pengagungan terhadap kuburan mendapat perhatian khusus oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, karena pengagungan terhadap kuburan yang berlebihan bisa mengantarkan kepada kesyirikan. Karenanya semua perkara yang mengantarkan terhadap pengagungan terhadap kuburan dilarang oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Karenanya :–    Nabi melarang menulis di kuburan serta melarang menyemen kuburan–    Nabi melarang memasang lampu di kuburan–    Nabi melarang meninggikan kuburan–    Nabi melarang sholat ke arah kuburan–    Bahkan Nabi pernah melarang menziarahi kuburan karena kawatir akan kesyirikan, namun setelah itu Nabi menganjurkan karena ada maslahat yang besar, yaitu untuk mengingat kematian. Al-Muhallab berkata :ومعنى النهى عن زيارة القبور، إنما كان فى أول الإسلام عند قربهم بعبادة الأوثان، واتخاذ القبور مساجد، والله أعلم، فلما استحكم الإسلام، وقوى فى قلوب الناس، وأمنت عبادة القبور والصلاة إليها، نسخ النهى عن زيارتها، لأنها تذكر الآخرة وتزهد فى الدنيا“Dan makna dari larangan menziarahi kuburan yaitu hanyalah dilarang tatkala di permulaan Islam, tatkala mereka baru saja (*terlepas) dari menyembah berhala dan menjadikan kuburan sebagai masjid –wallahu A’lam-. Maka tatkala Islam sudah kokoh dan kuat di hati-hati manusia dan aman dari (*timbulnya) peribadatan kuburan dan sholat ke arah kuburan maka dinaskh (*dihapuslah) larangan menziarahi kuburan, karena dengan berziarah kuburan akan mengingatkan akhirat dan menjadikan zuhud dalam dunia” (Sebagaimana dinukil oleh Ibnu Battool dalam Syarh shahih Al-Bukhari, tahqiq Abu Tamiim Yasir bin Ibrahim, Maktabah Ar-Rusyd 3/271)Al-Munaawi berkata ;(كنت نهيتكم عن زيارة القبور) لحدثان عهدكم بالكفر وأما الآن حيث انمحت آثار الجاهلية واستحكم الإسلام وصرتم أهل يقين وتقوى (فزوروا القبور) أي بشرط أن لا يقترن بذلك تمسح بالقبر أو تقبيل أو سجود عليه أو نحو ذلك فإنه كما قال السبكي بدعة منكرة إنما يفعلها الجهال“(sabda Nabi) “Aku pernah melarang kalian dari ziaroh kuburan” karena kalian baru saja meninggalkan kekufuran. Adapun sekarang tatkala telah hilang sisa-sisa jahiliyah dan telah kokoh Islam dan jadilah kalian orang-orang yang yakin dan  takwa ((Maka ziarahilah kuburan)) yaitu dengan syarat tidak disertai dengan mengusap kuburan atau mencium kuburan atau sujud di atasnya atau yang semisalnya, karena hal itu -sebagaimana perkataan As-Subkiy- adalah bid’ah yang mungkar, hanyalah orang-orang jahil (bodoh) yang melakukannya” (Faidhul Qodiir 5/55, lihat juga At-Taisiir bi syarh Al-Jaami’ As-Shoghiir 2/439)Diantara larangan-larangan Nabi adalah sholat ke arah kuburan. Dari Abu Martsad Al-Gonawi ia berkata : Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :لَا تُصَلُّوا إِلَى الْقُبُورِ“Janganlah kalian sholat mengarah ke kuburan” (HR Muslim No. 972)Larangan tersebut tidak lain adalah bentuk pencegahan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam agar kita tidak sholat mengarah ke kuburan agar jangan sampai akhirnya kuburan diagungkan dan akhirnya disembah !!. Jadi larangan tersebut berkaitan dengan orang yang sholat menyembah Allah akan tetapi pelaksanaan sholatnya menghadap ke kuburan.Maka dari sini jelas bahwa pelarangan tersebut berkaitan dengan pelarangan “sarana” bukan pelarangan tujuan yang dikawatirkan. Karena kalau maksud dari larangan tersebut adalah larangan menyembah kuburan tentu para sahabat sudah memahaminya bahwa hal tersebut merupakan kesyirikan dan kekufuran, dan tidak perlu Nabi mengingatkan secara khusus, karena para sahabat semuanya mengerti bahwa menyembah kepada selain Allah adalah kesyirikan. Tapi yang ingin diingatkan oleh Nabi adalah mencegah sarana yang bisa mengantarkan kepada tujuan kesyirikan. Namun al-Ustadz memahami makna hadits ini adalah “Larangan menyembah penghuni kubur”, sehingga sholat menghadap kuburan itu boleh selama yang disembah adalah Allah dan bukan penghuni kuburan. Berikut transkrip pertanyaan yang ditujukan kepada sang ustadz beserta jawaban sang ustadz. [Pertanyan] : Saya ingin bertanya tentang sholat, sekarang nampaknya sudah ada pendapat tumpang tindih ada yang tidak mau sholat di masjid yang di sebelahnya ada kuburan, apakah memang ada dalilnya atau bagaimana pak ustadz?, mohon penjelasan agar pendapat ini tidak menjadi buah pikiran bagi kami.(Jawaban sang ustadz diantaranya) : “Kalau orang tidak mau sholat karena di dekat masjid tidak mau ada kubur, berarti selama di masjid nabawi dia tak sholat di masjid nabawi karena di dekat masjid nabawi ada kubur. Kalau dia berdalih di dalam masjid nabawi kan kubur nabi Muhammad, Yang nabi kan Muhammad nabi tak papa yang di samping ada makam abu bakar ada makam umar.Lalu Apa makna tak boleh sujud ke kubur ? Laa tasjuduu janganlah kamu sujud ke kubur, sujud dia menyembah kubur.Hadits ini bercerita tentang apa ?, hadits ini menyindir orang bani Israil yang menyembah makam pendeta2 mereka. Sekarang yang ada di vatikan di roma yang mereka sembah itu makam namanya santo Thomas, santo artinya orang suci orang suci tidak berdosa dibangunlah makamnya sujudnya kesitu. Saya mau menengok mana orang Kampar kiri hilir yang menyembah kubur, tak ada….”Al-Ustadz juga berkata, “Dan kita tidak ada satupun kalau dia (kuburan-pent) buat samping ada dinding kiri kanan maka tak satupun sujud ke kubur karena meminta ke kubur.Kalau nanti dia berdalil setiap tanah ada kubur maka tidak boleh sholat di tempat itu, orang yang mengatakan demikian itu dia tidak akan sholat di masjid manapun, kenapa?Karena setiap tanah kalau diurut pasti ada kubur. Oke sebelah sini tak ada kubur kalau terus ke depan sana?. Bumi bulat apakah jamin tak ada kubur?  Tetap jamin ada kubur, satu meter ke depan ada kubur, oleh karena itu makna hadits dipahami tak boleh sujud ke kubur karena meminta kepada yang di kubur dan kronolginya menyindir bani isroil yang menyembah makam nabi dan orang sholeh diantara mereka” Komentar :Pertama : Pendapat al-Ustadz ini menyelisihi pemahaman para ulama tentang hadits ini -terutama para ulama syafi’iyyah-.Perhatikan pernyataan al-Imam An-Nawawi rahimahullah :وَاتَّفَقَتْ نُصُوصُ الشَّافِعِيِّ وَالْأَصْحَابِ عَلَى كَرَاهَةِ بِنَاءِ مَسْجِدٍ عَلَى الْقَبْرِ سَوَاءٌ كَانَ الْمَيِّتُ مَشْهُورًا بِالصَّلَاحِ أَوْ غَيْرِهِ لِعُمُومِ الْأَحَادِيثِ قَالَ الشَّافِعِيُّ وَالْأَصْحَابُ وَتُكْرَهُ الصَّلَاةُ إلَى الْقُبُورِ سَوَاءٌ كَانَ الْمَيِّتُ صَالِحًا أَوْ غَيْرَهُ قَالَ الْحَافِظُ أَبُو مُوسَى قَالَ الْإِمَامُ أَبُو الْحَسَنِ الزعفراني رحمه الله ولا يصلي إلي قبر وَلَا عِنْدَهُ تَبَرُّكًا بِهِ وَإِعْظَامًا لَهُ لِلْأَحَادِيثِ والله أعلم“Dan telah sepakat pernyataan al-Imam Asy-Syafi’i dan para ulama syafi’iyyah akan dibencinya membangun masjid di atas kuburan. Sama saja apakah mayatnya terkenal akan kesholihannya atau tidak, karena keumuman hadits-hadits. Al-Imam Asy-Syafi’i dan para ulama besar syafi’iyah berkata ; “Dan makruh sholat mengarah ke kuburan, sama saja apakah mayatnya sholih atau tidak”. Berkata al-Hafiz Abu Musa : “Berkata Al-Imam Abul Hasan Az-Za’farooni rahimahullah : “Tidak boleh sholat mengarah ke kuburan, dan tidak boleh sholat di sisi kuburan dalam rangka mencari berkah dan mengagungkannya karena hadits-hadits” (Al-Majmuu’ 5/316-317)Ibnu Hajar berkata :قَوْلُهُ وَمَا يُكْرَهُ مِنَ الصَّلَاةِ فِي الْقُبُورِ يَتَنَاوَلُ مَا إِذَا وَقَعَتِ الصَّلَاةُ عَلَى الْقَبْرِ أَوْ إِلَى الْقَبْرِ أَوْ بَيْنَ الْقَبْرَيْنِ وَفِي ذَلِكَ حَدِيثٌ رَوَاهُ مُسْلِمٌ مِنْ طَرِيقِ أَبِي مِرْثَدٍ الْغَنَوِيِّ مَرْفُوعًا لَا تَجْلِسُوا عَلَى الْقُبُورِ وَلَا تُصَلُّوا إِلَيْهَا أَوْ عَلَيْهَا“Perkataan Imam Al-Bukhari ((Dan dibencinya sholat di kuburan)), maka mencakup jika sholat dilakukan (*1) di atas kubur atau (*2) ke arah kubur atau (*3) di antara dua kubur. Dan tentang hal ini ada sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari jalan Abi Martsad Al-Ghonawi secara marfuu’ “Janganlah kalian duduk di atas kuburan, dan janganlah kalian sholat ke (arah) kuburan atau di atas kuburan“” (Fathul Baari 1/524). Kedua : Karenanya para ulama syafi’iyyah berbeda pendapat tentang hukum sholat ke arah kuburan apakah hukumnya makruh atau haram. Dan al-Imam An-Nawawi rahimahullah lebih condong kepada pendapat haramnya sholat ke arah kuburan. Beliau berkata :وَيُكْرَهُ أَنْ يُصَلِّيَ إلَى الْقَبْرِ هَكَذَا قَالُوا يُكْرَهُ وَلَوْ قِيلَ يَحْرُمُ لِحَدِيثِ أَبِي مَرْثَدٍ وَغَيْرِهِ مِمَّا سَبَقَ لَمْ يَبْعُدْ“Dan makruh sholat ke arah kuburan” -demikianlah perkataan mereka (para ulama syafi’iyyah)-, kalau seandainya dikatakan “Dan haram” karena hadits Abu Martsad dan hadits yang lainnya maka tidak jauh pendapat ini (dari kebenaran)” (Al-Majmuu’ 3/158)Jika makna hadits Abu Mirtsad “Jangan sholat ke arah kuburan” adalah “Janganlah sholat menyembah penghuni kubur” maka tentu tidak ada khilaf di kalangan para ulama akan haramnya, bahkan tidak ada khilaf bahwasanya ini adalah kekufuran dan kesyirikan !.Ketiga : Sebagian ulama syafi’iyah semakin mempertegas larangan sholat menghadap kuburan jika kuburan tersebut adalah kuburan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.Zakariya Al-Anshoori berkata “(وَ) يُكْرَهُ (اسْتِقْبَالُ الْقَبْرِ فِيهَا) أَيْ فِي الصَّلَاةِ لِخَبَرِ مُسْلِمٍ «لَا تَجْلِسُوا عَلَى الْقُبُورِ وَلَا تُصَلُّوا إلَيْهَا» وَيُسْتَثْنَى قَبْرُهُ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – فَيَحْرُمُ اسْتِقْبَالُهُ فِيهَا“Dan dibenci sholat menghadap kuburan karena hadits dalam shahih Muslim “Janganlah kalian duduk di atas kuburan dan janganlah kalian sholat menghadap kuburan”. Dan dikecualikan kuburan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam maka haram (bukan sekedar makruh-=pent) sholat menghadap kuburannya” (Asna al-Mathoolib 1/174) Keempat : Sebagian ulama syafi’iyah dengan tegas menyatakan bahwa sholat ke arah kuburan -terutama kuburan para nabi- dilarang karena bisa mengantarkan kepada kesyirikan.Ibnu Hajar al-Haitami tatkala menjelaskan tentang haramnya sholat menghadap kuburan para nabi beliau berkata :لِأَنَّهُ يُؤَدِّي إلَى الشِّرْكِ “Karena hal itu mengantarkan kepada kesyirikan” (Tuhfatul Muhtaaj 2/168)An-Nawawi berkata :قَوْلُهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ (لَا تَجْلِسُوا عَلَى الْقُبُورِ وَلَا تُصَلُّوا إِليْهَا) فيه تصريح بالنهى عن الصلاة إلى القبر قَالَ الشَّافِعِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ وَأَكْرَهُ أَنْ يُعَظَّمَ مَخْلُوقٌ حَتَّى يُجْعَلَ قَبْرُهُ مَسْجِدًا مَخَافَةَ الْفِتْنَةِ عَلَيْهِ وَعَلَى مَنْ بَعْدَهُ مِنَ النَّاسِ“Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam (….dan janganlah kalian sholat ke arah kuburan) di sini ada penegasan tentang larangan sholat menghadap kuburan. Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah berkata : Dan aku benci makhluk diagungkan hingga kuburannya dijadikan mesjid, kawatir fitnah atas nya dan atas orang-orang yang setelahnya” (Al-Minhaaj Syarah Shahih Muslim 7/38) Kelima : Sebagian ulama syafi’iyyah menjadikan sholat ke arah kuburan termasuk dosa besar. Al-Imam Adz-Dzahabi rahimahullah berkata :الْكَبِيرَةُ الثَّالِثَةُ وَالرَّابِعَةُ وَالْخَامِسَةُ وَالسَّادِسَةُ وَالسَّابِعَةُ وَالثَّامِنَةُ وَالتِّسْعُونَ: اتِّخَاذُ الْقُبُورِ مَسَاجِدَ، وَإِيقَادُ السُّرُجِ عَلَيْهَا، وَاِتِّخَاذُهَا أَوْثَانًا، وَالطَّوَافُ بِهَا، وَاسْتِلَامُهَا، وَالصَّلَاةُ إلَيْهَا“Dosa besar yang ke 93, 94, 95, 96, 97, dan 98 adalah menjadikan kuburan sebagai masjid, menyalakan api (penerangan) di atas kuburan, menjadikan kuburan sebagai berhala, thowaf di kuburan, mengusap kuburan (*dengan maksud ibadah-pen), dan sholat ke arah kuburan” (Az-Zawaajir ‘an iqtiroof Al-Kabaair juz 1 hal 154)Perhatikanlah, al-Imam Adz-Dzahabi membedakan 2 dosa, antara dosa sholat ke arah kuburan, dan dosa menyembah kuburan (dengan menjadikannya sebagai berhala). Oleh karenanya ini semakin mempertegas bahwa makna hadits Nabi “Janganlah sholat ke arah kuburan” bukanlah sebagaimana yang dipahami oleh al-Ustadz Abdussomad -hafizohullah- yaitu “Janganlah kalian menyembah kuburan” !Ibnu Hajar al-Haitami tatkala mensyarah perkataan al-Imam Adz-Dzahabi di atas beliau berkata :وَاِتِّخَاذُ الْقَبْرِ مَسْجِدًا مَعْنَاهُ الصَّلَاةُ عَلَيْهِ أَوْ إلَيْهِ“Dan (larangan Nabi -pent) menjadikan kuburan sebagai masjid maknanya adalah sholat di atasnya atau sholat ke arah kuburan”Beliau juga berkata :نَعَمْ قَالَ بَعْضُ الْحَنَابِلَةِ: قَصْدُ الرَّجُلِ الصَّلَاةَ عِنْدَ الْقَبْرِ مُتَبَرِّكًا بِهَا عَيْنُ الْمُحَادَّةِ لِلَّهِ وَرَسُولِهِ، وَإِبْدَاعُ دِينٍ لَمْ يَأْذَنْ بِهِ اللَّهُ لِلنَّهْيِ عَنْهَا ثُمَّ إجْمَاعًا، فَإِنَّ أَعْظَمَ الْمُحَرَّمَاتِ وَأَسْبَابِ الشِّرْكِ الصَّلَاةُ عِنْدَهَا وَاِتِّخَاذُهَا مَسَاجِدَ أَوْ بِنَاؤُهَا عَلَيْهَا. وَالْقَوْلُ بِالْكَرَاهَةِ مَحْمُولٌ عَلَى غَيْرِ ذَلِكَ إذْ لَا يُظَنُّ بِالْعُلَمَاءِ تَجْوِيزُ فِعْلٍ تَوَاتَرَ عَنْ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – لَعْنُ فَاعِلِهِ، وَتَجِبُ الْمُبَادَرَةُ لِهَدْمِهَا وَهَدْمِ الْقِبَابِ الَّتِي عَلَى الْقُبُورِ إذْ هِيَ أَضَرُّ مِنْ مَسْجِدِ الضِّرَارِ لِأَنَّهَا أُسِّسَتْ عَلَى مَعْصِيَةِ رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – لِأَنَّهُ نَهَى عَنْ ذَلِكَ وَأَمَرَ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – بِهَدْمِ الْقُبُورِ الْمُشْرِفَةِ، وَتَجِبُ إزَالَةُ كُلِّ قِنْدِيلٍ أَوْ سِرَاجٍ عَلَى قَبْرٍ وَلَا يَصِحُّ وَقْفُهُ وَنَذْرُهُ Benar, bahwasanya sebagian ulama madzhab hambali menyatakan : Seseorang yang mengerjakan sholat di kuburan dalam rangka mencari keberkahan merupakan bentuk penentangan terhadap Allah dan RasulNya, dan merupakan bid’ah dalam agama yang tidak diizinkan oleh Allah karena ada larangan akan hal ini, kemudian adanya ijmak (*para ulama yang melarang hal ini), karena sesungguhnya keharaman yang sangat besar dan sebab yang sangat besar menuju kesyirikan adalah sholat di kuburan dan menjadikan kuburan sebagai masjid dan membangun masjid di atas.Dan pendapat yang menyatakan makruh di bawakan kepada selain hal itu, karena tidaklah dipersangkakan kepada para ulama untuk membolehkan suatu perbuatan yang telah mutawatir (*sangat masyhur) dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwasanya pelakunya terlaknat. Dan wajib bersegera untuk menghancurkan bangunan di atas kuburan dan menghancurkan kubah-kubah yang berada di atas kuburan karena kubah-kubah itu lebih berbahaya daripada masjid dhiroor, karena kubah-kubah tersebut di bangun di atas kemaksiatan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena Nabi melarang hal itu dan memerintahkan untuk menghancurkan kuburan-kuburan yang tinggi. Dan wajib untuk meniadakan seluruh lampu dan penerangan di atas kuburan, dan tidak sah wakaf dan nadzar untuk menyalakan lampu dikuburan” (Az-Zawaajir ‘an iqtiroof al-Kabaair juz 1 hal 155)Keenam : Kalau kita baca seluruh pembahasan ulama -dari madzhab manapun- tatkala menjelaskan hadits ini (janganlah kalian sholat ke arah kuburan) maka mereka semuanya sedang membahas hukum orang yang sholat menyembah Allah akan tetapi sholatnya ke arah kuburan. Sama sekali tidak ada yang membahas tentang sholatnya orang yang menyembah penghuni kubur, karena hal ini tentu sudah jelas kekufuran.Mataram, Lombok 24 syawwal 1438/18 juli 2107Firanda Andirjawww.firanda.com
BOLEH SHOLAT MENGHADAP KUBURAN?(Kritikan terhadap al-Ustadz Abdussomad -hafizohullah- tentang pemahaman beliau terhadap hadits “Janganlah sholat mengarah ke kuburan”) Tentu saling mengingatkan demi kebaikan adalah kebiasaan para ulama, nasihat dan masukan jika tujuannya baik dengan uslub yang baik tentu lebih bermanfaat. Sebelumnya saya pernah mengkritik beliau di link berikut (“Imam Syafi’i menyatakan pahala bacaan al-Qur’an sampai kepada mayat?“)Permasalahan pengagungan terhadap kuburan mendapat perhatian khusus oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, karena pengagungan terhadap kuburan yang berlebihan bisa mengantarkan kepada kesyirikan. Karenanya semua perkara yang mengantarkan terhadap pengagungan terhadap kuburan dilarang oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Karenanya :–    Nabi melarang menulis di kuburan serta melarang menyemen kuburan–    Nabi melarang memasang lampu di kuburan–    Nabi melarang meninggikan kuburan–    Nabi melarang sholat ke arah kuburan–    Bahkan Nabi pernah melarang menziarahi kuburan karena kawatir akan kesyirikan, namun setelah itu Nabi menganjurkan karena ada maslahat yang besar, yaitu untuk mengingat kematian. Al-Muhallab berkata :ومعنى النهى عن زيارة القبور، إنما كان فى أول الإسلام عند قربهم بعبادة الأوثان، واتخاذ القبور مساجد، والله أعلم، فلما استحكم الإسلام، وقوى فى قلوب الناس، وأمنت عبادة القبور والصلاة إليها، نسخ النهى عن زيارتها، لأنها تذكر الآخرة وتزهد فى الدنيا“Dan makna dari larangan menziarahi kuburan yaitu hanyalah dilarang tatkala di permulaan Islam, tatkala mereka baru saja (*terlepas) dari menyembah berhala dan menjadikan kuburan sebagai masjid –wallahu A’lam-. Maka tatkala Islam sudah kokoh dan kuat di hati-hati manusia dan aman dari (*timbulnya) peribadatan kuburan dan sholat ke arah kuburan maka dinaskh (*dihapuslah) larangan menziarahi kuburan, karena dengan berziarah kuburan akan mengingatkan akhirat dan menjadikan zuhud dalam dunia” (Sebagaimana dinukil oleh Ibnu Battool dalam Syarh shahih Al-Bukhari, tahqiq Abu Tamiim Yasir bin Ibrahim, Maktabah Ar-Rusyd 3/271)Al-Munaawi berkata ;(كنت نهيتكم عن زيارة القبور) لحدثان عهدكم بالكفر وأما الآن حيث انمحت آثار الجاهلية واستحكم الإسلام وصرتم أهل يقين وتقوى (فزوروا القبور) أي بشرط أن لا يقترن بذلك تمسح بالقبر أو تقبيل أو سجود عليه أو نحو ذلك فإنه كما قال السبكي بدعة منكرة إنما يفعلها الجهال“(sabda Nabi) “Aku pernah melarang kalian dari ziaroh kuburan” karena kalian baru saja meninggalkan kekufuran. Adapun sekarang tatkala telah hilang sisa-sisa jahiliyah dan telah kokoh Islam dan jadilah kalian orang-orang yang yakin dan  takwa ((Maka ziarahilah kuburan)) yaitu dengan syarat tidak disertai dengan mengusap kuburan atau mencium kuburan atau sujud di atasnya atau yang semisalnya, karena hal itu -sebagaimana perkataan As-Subkiy- adalah bid’ah yang mungkar, hanyalah orang-orang jahil (bodoh) yang melakukannya” (Faidhul Qodiir 5/55, lihat juga At-Taisiir bi syarh Al-Jaami’ As-Shoghiir 2/439)Diantara larangan-larangan Nabi adalah sholat ke arah kuburan. Dari Abu Martsad Al-Gonawi ia berkata : Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :لَا تُصَلُّوا إِلَى الْقُبُورِ“Janganlah kalian sholat mengarah ke kuburan” (HR Muslim No. 972)Larangan tersebut tidak lain adalah bentuk pencegahan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam agar kita tidak sholat mengarah ke kuburan agar jangan sampai akhirnya kuburan diagungkan dan akhirnya disembah !!. Jadi larangan tersebut berkaitan dengan orang yang sholat menyembah Allah akan tetapi pelaksanaan sholatnya menghadap ke kuburan.Maka dari sini jelas bahwa pelarangan tersebut berkaitan dengan pelarangan “sarana” bukan pelarangan tujuan yang dikawatirkan. Karena kalau maksud dari larangan tersebut adalah larangan menyembah kuburan tentu para sahabat sudah memahaminya bahwa hal tersebut merupakan kesyirikan dan kekufuran, dan tidak perlu Nabi mengingatkan secara khusus, karena para sahabat semuanya mengerti bahwa menyembah kepada selain Allah adalah kesyirikan. Tapi yang ingin diingatkan oleh Nabi adalah mencegah sarana yang bisa mengantarkan kepada tujuan kesyirikan. Namun al-Ustadz memahami makna hadits ini adalah “Larangan menyembah penghuni kubur”, sehingga sholat menghadap kuburan itu boleh selama yang disembah adalah Allah dan bukan penghuni kuburan. Berikut transkrip pertanyaan yang ditujukan kepada sang ustadz beserta jawaban sang ustadz. [Pertanyan] : Saya ingin bertanya tentang sholat, sekarang nampaknya sudah ada pendapat tumpang tindih ada yang tidak mau sholat di masjid yang di sebelahnya ada kuburan, apakah memang ada dalilnya atau bagaimana pak ustadz?, mohon penjelasan agar pendapat ini tidak menjadi buah pikiran bagi kami.(Jawaban sang ustadz diantaranya) : “Kalau orang tidak mau sholat karena di dekat masjid tidak mau ada kubur, berarti selama di masjid nabawi dia tak sholat di masjid nabawi karena di dekat masjid nabawi ada kubur. Kalau dia berdalih di dalam masjid nabawi kan kubur nabi Muhammad, Yang nabi kan Muhammad nabi tak papa yang di samping ada makam abu bakar ada makam umar.Lalu Apa makna tak boleh sujud ke kubur ? Laa tasjuduu janganlah kamu sujud ke kubur, sujud dia menyembah kubur.Hadits ini bercerita tentang apa ?, hadits ini menyindir orang bani Israil yang menyembah makam pendeta2 mereka. Sekarang yang ada di vatikan di roma yang mereka sembah itu makam namanya santo Thomas, santo artinya orang suci orang suci tidak berdosa dibangunlah makamnya sujudnya kesitu. Saya mau menengok mana orang Kampar kiri hilir yang menyembah kubur, tak ada….”Al-Ustadz juga berkata, “Dan kita tidak ada satupun kalau dia (kuburan-pent) buat samping ada dinding kiri kanan maka tak satupun sujud ke kubur karena meminta ke kubur.Kalau nanti dia berdalil setiap tanah ada kubur maka tidak boleh sholat di tempat itu, orang yang mengatakan demikian itu dia tidak akan sholat di masjid manapun, kenapa?Karena setiap tanah kalau diurut pasti ada kubur. Oke sebelah sini tak ada kubur kalau terus ke depan sana?. Bumi bulat apakah jamin tak ada kubur?  Tetap jamin ada kubur, satu meter ke depan ada kubur, oleh karena itu makna hadits dipahami tak boleh sujud ke kubur karena meminta kepada yang di kubur dan kronolginya menyindir bani isroil yang menyembah makam nabi dan orang sholeh diantara mereka” Komentar :Pertama : Pendapat al-Ustadz ini menyelisihi pemahaman para ulama tentang hadits ini -terutama para ulama syafi’iyyah-.Perhatikan pernyataan al-Imam An-Nawawi rahimahullah :وَاتَّفَقَتْ نُصُوصُ الشَّافِعِيِّ وَالْأَصْحَابِ عَلَى كَرَاهَةِ بِنَاءِ مَسْجِدٍ عَلَى الْقَبْرِ سَوَاءٌ كَانَ الْمَيِّتُ مَشْهُورًا بِالصَّلَاحِ أَوْ غَيْرِهِ لِعُمُومِ الْأَحَادِيثِ قَالَ الشَّافِعِيُّ وَالْأَصْحَابُ وَتُكْرَهُ الصَّلَاةُ إلَى الْقُبُورِ سَوَاءٌ كَانَ الْمَيِّتُ صَالِحًا أَوْ غَيْرَهُ قَالَ الْحَافِظُ أَبُو مُوسَى قَالَ الْإِمَامُ أَبُو الْحَسَنِ الزعفراني رحمه الله ولا يصلي إلي قبر وَلَا عِنْدَهُ تَبَرُّكًا بِهِ وَإِعْظَامًا لَهُ لِلْأَحَادِيثِ والله أعلم“Dan telah sepakat pernyataan al-Imam Asy-Syafi’i dan para ulama syafi’iyyah akan dibencinya membangun masjid di atas kuburan. Sama saja apakah mayatnya terkenal akan kesholihannya atau tidak, karena keumuman hadits-hadits. Al-Imam Asy-Syafi’i dan para ulama besar syafi’iyah berkata ; “Dan makruh sholat mengarah ke kuburan, sama saja apakah mayatnya sholih atau tidak”. Berkata al-Hafiz Abu Musa : “Berkata Al-Imam Abul Hasan Az-Za’farooni rahimahullah : “Tidak boleh sholat mengarah ke kuburan, dan tidak boleh sholat di sisi kuburan dalam rangka mencari berkah dan mengagungkannya karena hadits-hadits” (Al-Majmuu’ 5/316-317)Ibnu Hajar berkata :قَوْلُهُ وَمَا يُكْرَهُ مِنَ الصَّلَاةِ فِي الْقُبُورِ يَتَنَاوَلُ مَا إِذَا وَقَعَتِ الصَّلَاةُ عَلَى الْقَبْرِ أَوْ إِلَى الْقَبْرِ أَوْ بَيْنَ الْقَبْرَيْنِ وَفِي ذَلِكَ حَدِيثٌ رَوَاهُ مُسْلِمٌ مِنْ طَرِيقِ أَبِي مِرْثَدٍ الْغَنَوِيِّ مَرْفُوعًا لَا تَجْلِسُوا عَلَى الْقُبُورِ وَلَا تُصَلُّوا إِلَيْهَا أَوْ عَلَيْهَا“Perkataan Imam Al-Bukhari ((Dan dibencinya sholat di kuburan)), maka mencakup jika sholat dilakukan (*1) di atas kubur atau (*2) ke arah kubur atau (*3) di antara dua kubur. Dan tentang hal ini ada sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari jalan Abi Martsad Al-Ghonawi secara marfuu’ “Janganlah kalian duduk di atas kuburan, dan janganlah kalian sholat ke (arah) kuburan atau di atas kuburan“” (Fathul Baari 1/524). Kedua : Karenanya para ulama syafi’iyyah berbeda pendapat tentang hukum sholat ke arah kuburan apakah hukumnya makruh atau haram. Dan al-Imam An-Nawawi rahimahullah lebih condong kepada pendapat haramnya sholat ke arah kuburan. Beliau berkata :وَيُكْرَهُ أَنْ يُصَلِّيَ إلَى الْقَبْرِ هَكَذَا قَالُوا يُكْرَهُ وَلَوْ قِيلَ يَحْرُمُ لِحَدِيثِ أَبِي مَرْثَدٍ وَغَيْرِهِ مِمَّا سَبَقَ لَمْ يَبْعُدْ“Dan makruh sholat ke arah kuburan” -demikianlah perkataan mereka (para ulama syafi’iyyah)-, kalau seandainya dikatakan “Dan haram” karena hadits Abu Martsad dan hadits yang lainnya maka tidak jauh pendapat ini (dari kebenaran)” (Al-Majmuu’ 3/158)Jika makna hadits Abu Mirtsad “Jangan sholat ke arah kuburan” adalah “Janganlah sholat menyembah penghuni kubur” maka tentu tidak ada khilaf di kalangan para ulama akan haramnya, bahkan tidak ada khilaf bahwasanya ini adalah kekufuran dan kesyirikan !.Ketiga : Sebagian ulama syafi’iyah semakin mempertegas larangan sholat menghadap kuburan jika kuburan tersebut adalah kuburan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.Zakariya Al-Anshoori berkata “(وَ) يُكْرَهُ (اسْتِقْبَالُ الْقَبْرِ فِيهَا) أَيْ فِي الصَّلَاةِ لِخَبَرِ مُسْلِمٍ «لَا تَجْلِسُوا عَلَى الْقُبُورِ وَلَا تُصَلُّوا إلَيْهَا» وَيُسْتَثْنَى قَبْرُهُ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – فَيَحْرُمُ اسْتِقْبَالُهُ فِيهَا“Dan dibenci sholat menghadap kuburan karena hadits dalam shahih Muslim “Janganlah kalian duduk di atas kuburan dan janganlah kalian sholat menghadap kuburan”. Dan dikecualikan kuburan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam maka haram (bukan sekedar makruh-=pent) sholat menghadap kuburannya” (Asna al-Mathoolib 1/174) Keempat : Sebagian ulama syafi’iyah dengan tegas menyatakan bahwa sholat ke arah kuburan -terutama kuburan para nabi- dilarang karena bisa mengantarkan kepada kesyirikan.Ibnu Hajar al-Haitami tatkala menjelaskan tentang haramnya sholat menghadap kuburan para nabi beliau berkata :لِأَنَّهُ يُؤَدِّي إلَى الشِّرْكِ “Karena hal itu mengantarkan kepada kesyirikan” (Tuhfatul Muhtaaj 2/168)An-Nawawi berkata :قَوْلُهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ (لَا تَجْلِسُوا عَلَى الْقُبُورِ وَلَا تُصَلُّوا إِليْهَا) فيه تصريح بالنهى عن الصلاة إلى القبر قَالَ الشَّافِعِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ وَأَكْرَهُ أَنْ يُعَظَّمَ مَخْلُوقٌ حَتَّى يُجْعَلَ قَبْرُهُ مَسْجِدًا مَخَافَةَ الْفِتْنَةِ عَلَيْهِ وَعَلَى مَنْ بَعْدَهُ مِنَ النَّاسِ“Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam (….dan janganlah kalian sholat ke arah kuburan) di sini ada penegasan tentang larangan sholat menghadap kuburan. Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah berkata : Dan aku benci makhluk diagungkan hingga kuburannya dijadikan mesjid, kawatir fitnah atas nya dan atas orang-orang yang setelahnya” (Al-Minhaaj Syarah Shahih Muslim 7/38) Kelima : Sebagian ulama syafi’iyyah menjadikan sholat ke arah kuburan termasuk dosa besar. Al-Imam Adz-Dzahabi rahimahullah berkata :الْكَبِيرَةُ الثَّالِثَةُ وَالرَّابِعَةُ وَالْخَامِسَةُ وَالسَّادِسَةُ وَالسَّابِعَةُ وَالثَّامِنَةُ وَالتِّسْعُونَ: اتِّخَاذُ الْقُبُورِ مَسَاجِدَ، وَإِيقَادُ السُّرُجِ عَلَيْهَا، وَاِتِّخَاذُهَا أَوْثَانًا، وَالطَّوَافُ بِهَا، وَاسْتِلَامُهَا، وَالصَّلَاةُ إلَيْهَا“Dosa besar yang ke 93, 94, 95, 96, 97, dan 98 adalah menjadikan kuburan sebagai masjid, menyalakan api (penerangan) di atas kuburan, menjadikan kuburan sebagai berhala, thowaf di kuburan, mengusap kuburan (*dengan maksud ibadah-pen), dan sholat ke arah kuburan” (Az-Zawaajir ‘an iqtiroof Al-Kabaair juz 1 hal 154)Perhatikanlah, al-Imam Adz-Dzahabi membedakan 2 dosa, antara dosa sholat ke arah kuburan, dan dosa menyembah kuburan (dengan menjadikannya sebagai berhala). Oleh karenanya ini semakin mempertegas bahwa makna hadits Nabi “Janganlah sholat ke arah kuburan” bukanlah sebagaimana yang dipahami oleh al-Ustadz Abdussomad -hafizohullah- yaitu “Janganlah kalian menyembah kuburan” !Ibnu Hajar al-Haitami tatkala mensyarah perkataan al-Imam Adz-Dzahabi di atas beliau berkata :وَاِتِّخَاذُ الْقَبْرِ مَسْجِدًا مَعْنَاهُ الصَّلَاةُ عَلَيْهِ أَوْ إلَيْهِ“Dan (larangan Nabi -pent) menjadikan kuburan sebagai masjid maknanya adalah sholat di atasnya atau sholat ke arah kuburan”Beliau juga berkata :نَعَمْ قَالَ بَعْضُ الْحَنَابِلَةِ: قَصْدُ الرَّجُلِ الصَّلَاةَ عِنْدَ الْقَبْرِ مُتَبَرِّكًا بِهَا عَيْنُ الْمُحَادَّةِ لِلَّهِ وَرَسُولِهِ، وَإِبْدَاعُ دِينٍ لَمْ يَأْذَنْ بِهِ اللَّهُ لِلنَّهْيِ عَنْهَا ثُمَّ إجْمَاعًا، فَإِنَّ أَعْظَمَ الْمُحَرَّمَاتِ وَأَسْبَابِ الشِّرْكِ الصَّلَاةُ عِنْدَهَا وَاِتِّخَاذُهَا مَسَاجِدَ أَوْ بِنَاؤُهَا عَلَيْهَا. وَالْقَوْلُ بِالْكَرَاهَةِ مَحْمُولٌ عَلَى غَيْرِ ذَلِكَ إذْ لَا يُظَنُّ بِالْعُلَمَاءِ تَجْوِيزُ فِعْلٍ تَوَاتَرَ عَنْ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – لَعْنُ فَاعِلِهِ، وَتَجِبُ الْمُبَادَرَةُ لِهَدْمِهَا وَهَدْمِ الْقِبَابِ الَّتِي عَلَى الْقُبُورِ إذْ هِيَ أَضَرُّ مِنْ مَسْجِدِ الضِّرَارِ لِأَنَّهَا أُسِّسَتْ عَلَى مَعْصِيَةِ رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – لِأَنَّهُ نَهَى عَنْ ذَلِكَ وَأَمَرَ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – بِهَدْمِ الْقُبُورِ الْمُشْرِفَةِ، وَتَجِبُ إزَالَةُ كُلِّ قِنْدِيلٍ أَوْ سِرَاجٍ عَلَى قَبْرٍ وَلَا يَصِحُّ وَقْفُهُ وَنَذْرُهُ Benar, bahwasanya sebagian ulama madzhab hambali menyatakan : Seseorang yang mengerjakan sholat di kuburan dalam rangka mencari keberkahan merupakan bentuk penentangan terhadap Allah dan RasulNya, dan merupakan bid’ah dalam agama yang tidak diizinkan oleh Allah karena ada larangan akan hal ini, kemudian adanya ijmak (*para ulama yang melarang hal ini), karena sesungguhnya keharaman yang sangat besar dan sebab yang sangat besar menuju kesyirikan adalah sholat di kuburan dan menjadikan kuburan sebagai masjid dan membangun masjid di atas.Dan pendapat yang menyatakan makruh di bawakan kepada selain hal itu, karena tidaklah dipersangkakan kepada para ulama untuk membolehkan suatu perbuatan yang telah mutawatir (*sangat masyhur) dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwasanya pelakunya terlaknat. Dan wajib bersegera untuk menghancurkan bangunan di atas kuburan dan menghancurkan kubah-kubah yang berada di atas kuburan karena kubah-kubah itu lebih berbahaya daripada masjid dhiroor, karena kubah-kubah tersebut di bangun di atas kemaksiatan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena Nabi melarang hal itu dan memerintahkan untuk menghancurkan kuburan-kuburan yang tinggi. Dan wajib untuk meniadakan seluruh lampu dan penerangan di atas kuburan, dan tidak sah wakaf dan nadzar untuk menyalakan lampu dikuburan” (Az-Zawaajir ‘an iqtiroof al-Kabaair juz 1 hal 155)Keenam : Kalau kita baca seluruh pembahasan ulama -dari madzhab manapun- tatkala menjelaskan hadits ini (janganlah kalian sholat ke arah kuburan) maka mereka semuanya sedang membahas hukum orang yang sholat menyembah Allah akan tetapi sholatnya ke arah kuburan. Sama sekali tidak ada yang membahas tentang sholatnya orang yang menyembah penghuni kubur, karena hal ini tentu sudah jelas kekufuran.Mataram, Lombok 24 syawwal 1438/18 juli 2107Firanda Andirjawww.firanda.com


BOLEH SHOLAT MENGHADAP KUBURAN?(Kritikan terhadap al-Ustadz Abdussomad -hafizohullah- tentang pemahaman beliau terhadap hadits “Janganlah sholat mengarah ke kuburan”) Tentu saling mengingatkan demi kebaikan adalah kebiasaan para ulama, nasihat dan masukan jika tujuannya baik dengan uslub yang baik tentu lebih bermanfaat. Sebelumnya saya pernah mengkritik beliau di link berikut (“Imam Syafi’i menyatakan pahala bacaan al-Qur’an sampai kepada mayat?“)Permasalahan pengagungan terhadap kuburan mendapat perhatian khusus oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, karena pengagungan terhadap kuburan yang berlebihan bisa mengantarkan kepada kesyirikan. Karenanya semua perkara yang mengantarkan terhadap pengagungan terhadap kuburan dilarang oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Karenanya :–    Nabi melarang menulis di kuburan serta melarang menyemen kuburan–    Nabi melarang memasang lampu di kuburan–    Nabi melarang meninggikan kuburan–    Nabi melarang sholat ke arah kuburan–    Bahkan Nabi pernah melarang menziarahi kuburan karena kawatir akan kesyirikan, namun setelah itu Nabi menganjurkan karena ada maslahat yang besar, yaitu untuk mengingat kematian. Al-Muhallab berkata :ومعنى النهى عن زيارة القبور، إنما كان فى أول الإسلام عند قربهم بعبادة الأوثان، واتخاذ القبور مساجد، والله أعلم، فلما استحكم الإسلام، وقوى فى قلوب الناس، وأمنت عبادة القبور والصلاة إليها، نسخ النهى عن زيارتها، لأنها تذكر الآخرة وتزهد فى الدنيا“Dan makna dari larangan menziarahi kuburan yaitu hanyalah dilarang tatkala di permulaan Islam, tatkala mereka baru saja (*terlepas) dari menyembah berhala dan menjadikan kuburan sebagai masjid –wallahu A’lam-. Maka tatkala Islam sudah kokoh dan kuat di hati-hati manusia dan aman dari (*timbulnya) peribadatan kuburan dan sholat ke arah kuburan maka dinaskh (*dihapuslah) larangan menziarahi kuburan, karena dengan berziarah kuburan akan mengingatkan akhirat dan menjadikan zuhud dalam dunia” (Sebagaimana dinukil oleh Ibnu Battool dalam Syarh shahih Al-Bukhari, tahqiq Abu Tamiim Yasir bin Ibrahim, Maktabah Ar-Rusyd 3/271)Al-Munaawi berkata ;(كنت نهيتكم عن زيارة القبور) لحدثان عهدكم بالكفر وأما الآن حيث انمحت آثار الجاهلية واستحكم الإسلام وصرتم أهل يقين وتقوى (فزوروا القبور) أي بشرط أن لا يقترن بذلك تمسح بالقبر أو تقبيل أو سجود عليه أو نحو ذلك فإنه كما قال السبكي بدعة منكرة إنما يفعلها الجهال“(sabda Nabi) “Aku pernah melarang kalian dari ziaroh kuburan” karena kalian baru saja meninggalkan kekufuran. Adapun sekarang tatkala telah hilang sisa-sisa jahiliyah dan telah kokoh Islam dan jadilah kalian orang-orang yang yakin dan  takwa ((Maka ziarahilah kuburan)) yaitu dengan syarat tidak disertai dengan mengusap kuburan atau mencium kuburan atau sujud di atasnya atau yang semisalnya, karena hal itu -sebagaimana perkataan As-Subkiy- adalah bid’ah yang mungkar, hanyalah orang-orang jahil (bodoh) yang melakukannya” (Faidhul Qodiir 5/55, lihat juga At-Taisiir bi syarh Al-Jaami’ As-Shoghiir 2/439)Diantara larangan-larangan Nabi adalah sholat ke arah kuburan. Dari Abu Martsad Al-Gonawi ia berkata : Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :لَا تُصَلُّوا إِلَى الْقُبُورِ“Janganlah kalian sholat mengarah ke kuburan” (HR Muslim No. 972)Larangan tersebut tidak lain adalah bentuk pencegahan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam agar kita tidak sholat mengarah ke kuburan agar jangan sampai akhirnya kuburan diagungkan dan akhirnya disembah !!. Jadi larangan tersebut berkaitan dengan orang yang sholat menyembah Allah akan tetapi pelaksanaan sholatnya menghadap ke kuburan.Maka dari sini jelas bahwa pelarangan tersebut berkaitan dengan pelarangan “sarana” bukan pelarangan tujuan yang dikawatirkan. Karena kalau maksud dari larangan tersebut adalah larangan menyembah kuburan tentu para sahabat sudah memahaminya bahwa hal tersebut merupakan kesyirikan dan kekufuran, dan tidak perlu Nabi mengingatkan secara khusus, karena para sahabat semuanya mengerti bahwa menyembah kepada selain Allah adalah kesyirikan. Tapi yang ingin diingatkan oleh Nabi adalah mencegah sarana yang bisa mengantarkan kepada tujuan kesyirikan. Namun al-Ustadz memahami makna hadits ini adalah “Larangan menyembah penghuni kubur”, sehingga sholat menghadap kuburan itu boleh selama yang disembah adalah Allah dan bukan penghuni kuburan. Berikut transkrip pertanyaan yang ditujukan kepada sang ustadz beserta jawaban sang ustadz. [Pertanyan] : Saya ingin bertanya tentang sholat, sekarang nampaknya sudah ada pendapat tumpang tindih ada yang tidak mau sholat di masjid yang di sebelahnya ada kuburan, apakah memang ada dalilnya atau bagaimana pak ustadz?, mohon penjelasan agar pendapat ini tidak menjadi buah pikiran bagi kami.(Jawaban sang ustadz diantaranya) : “Kalau orang tidak mau sholat karena di dekat masjid tidak mau ada kubur, berarti selama di masjid nabawi dia tak sholat di masjid nabawi karena di dekat masjid nabawi ada kubur. Kalau dia berdalih di dalam masjid nabawi kan kubur nabi Muhammad, Yang nabi kan Muhammad nabi tak papa yang di samping ada makam abu bakar ada makam umar.Lalu Apa makna tak boleh sujud ke kubur ? Laa tasjuduu janganlah kamu sujud ke kubur, sujud dia menyembah kubur.Hadits ini bercerita tentang apa ?, hadits ini menyindir orang bani Israil yang menyembah makam pendeta2 mereka. Sekarang yang ada di vatikan di roma yang mereka sembah itu makam namanya santo Thomas, santo artinya orang suci orang suci tidak berdosa dibangunlah makamnya sujudnya kesitu. Saya mau menengok mana orang Kampar kiri hilir yang menyembah kubur, tak ada….”Al-Ustadz juga berkata, “Dan kita tidak ada satupun kalau dia (kuburan-pent) buat samping ada dinding kiri kanan maka tak satupun sujud ke kubur karena meminta ke kubur.Kalau nanti dia berdalil setiap tanah ada kubur maka tidak boleh sholat di tempat itu, orang yang mengatakan demikian itu dia tidak akan sholat di masjid manapun, kenapa?Karena setiap tanah kalau diurut pasti ada kubur. Oke sebelah sini tak ada kubur kalau terus ke depan sana?. Bumi bulat apakah jamin tak ada kubur?  Tetap jamin ada kubur, satu meter ke depan ada kubur, oleh karena itu makna hadits dipahami tak boleh sujud ke kubur karena meminta kepada yang di kubur dan kronolginya menyindir bani isroil yang menyembah makam nabi dan orang sholeh diantara mereka” Komentar :Pertama : Pendapat al-Ustadz ini menyelisihi pemahaman para ulama tentang hadits ini -terutama para ulama syafi’iyyah-.Perhatikan pernyataan al-Imam An-Nawawi rahimahullah :وَاتَّفَقَتْ نُصُوصُ الشَّافِعِيِّ وَالْأَصْحَابِ عَلَى كَرَاهَةِ بِنَاءِ مَسْجِدٍ عَلَى الْقَبْرِ سَوَاءٌ كَانَ الْمَيِّتُ مَشْهُورًا بِالصَّلَاحِ أَوْ غَيْرِهِ لِعُمُومِ الْأَحَادِيثِ قَالَ الشَّافِعِيُّ وَالْأَصْحَابُ وَتُكْرَهُ الصَّلَاةُ إلَى الْقُبُورِ سَوَاءٌ كَانَ الْمَيِّتُ صَالِحًا أَوْ غَيْرَهُ قَالَ الْحَافِظُ أَبُو مُوسَى قَالَ الْإِمَامُ أَبُو الْحَسَنِ الزعفراني رحمه الله ولا يصلي إلي قبر وَلَا عِنْدَهُ تَبَرُّكًا بِهِ وَإِعْظَامًا لَهُ لِلْأَحَادِيثِ والله أعلم“Dan telah sepakat pernyataan al-Imam Asy-Syafi’i dan para ulama syafi’iyyah akan dibencinya membangun masjid di atas kuburan. Sama saja apakah mayatnya terkenal akan kesholihannya atau tidak, karena keumuman hadits-hadits. Al-Imam Asy-Syafi’i dan para ulama besar syafi’iyah berkata ; “Dan makruh sholat mengarah ke kuburan, sama saja apakah mayatnya sholih atau tidak”. Berkata al-Hafiz Abu Musa : “Berkata Al-Imam Abul Hasan Az-Za’farooni rahimahullah : “Tidak boleh sholat mengarah ke kuburan, dan tidak boleh sholat di sisi kuburan dalam rangka mencari berkah dan mengagungkannya karena hadits-hadits” (Al-Majmuu’ 5/316-317)Ibnu Hajar berkata :قَوْلُهُ وَمَا يُكْرَهُ مِنَ الصَّلَاةِ فِي الْقُبُورِ يَتَنَاوَلُ مَا إِذَا وَقَعَتِ الصَّلَاةُ عَلَى الْقَبْرِ أَوْ إِلَى الْقَبْرِ أَوْ بَيْنَ الْقَبْرَيْنِ وَفِي ذَلِكَ حَدِيثٌ رَوَاهُ مُسْلِمٌ مِنْ طَرِيقِ أَبِي مِرْثَدٍ الْغَنَوِيِّ مَرْفُوعًا لَا تَجْلِسُوا عَلَى الْقُبُورِ وَلَا تُصَلُّوا إِلَيْهَا أَوْ عَلَيْهَا“Perkataan Imam Al-Bukhari ((Dan dibencinya sholat di kuburan)), maka mencakup jika sholat dilakukan (*1) di atas kubur atau (*2) ke arah kubur atau (*3) di antara dua kubur. Dan tentang hal ini ada sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari jalan Abi Martsad Al-Ghonawi secara marfuu’ “Janganlah kalian duduk di atas kuburan, dan janganlah kalian sholat ke (arah) kuburan atau di atas kuburan“” (Fathul Baari 1/524). Kedua : Karenanya para ulama syafi’iyyah berbeda pendapat tentang hukum sholat ke arah kuburan apakah hukumnya makruh atau haram. Dan al-Imam An-Nawawi rahimahullah lebih condong kepada pendapat haramnya sholat ke arah kuburan. Beliau berkata :وَيُكْرَهُ أَنْ يُصَلِّيَ إلَى الْقَبْرِ هَكَذَا قَالُوا يُكْرَهُ وَلَوْ قِيلَ يَحْرُمُ لِحَدِيثِ أَبِي مَرْثَدٍ وَغَيْرِهِ مِمَّا سَبَقَ لَمْ يَبْعُدْ“Dan makruh sholat ke arah kuburan” -demikianlah perkataan mereka (para ulama syafi’iyyah)-, kalau seandainya dikatakan “Dan haram” karena hadits Abu Martsad dan hadits yang lainnya maka tidak jauh pendapat ini (dari kebenaran)” (Al-Majmuu’ 3/158)Jika makna hadits Abu Mirtsad “Jangan sholat ke arah kuburan” adalah “Janganlah sholat menyembah penghuni kubur” maka tentu tidak ada khilaf di kalangan para ulama akan haramnya, bahkan tidak ada khilaf bahwasanya ini adalah kekufuran dan kesyirikan !.Ketiga : Sebagian ulama syafi’iyah semakin mempertegas larangan sholat menghadap kuburan jika kuburan tersebut adalah kuburan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.Zakariya Al-Anshoori berkata “(وَ) يُكْرَهُ (اسْتِقْبَالُ الْقَبْرِ فِيهَا) أَيْ فِي الصَّلَاةِ لِخَبَرِ مُسْلِمٍ «لَا تَجْلِسُوا عَلَى الْقُبُورِ وَلَا تُصَلُّوا إلَيْهَا» وَيُسْتَثْنَى قَبْرُهُ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – فَيَحْرُمُ اسْتِقْبَالُهُ فِيهَا“Dan dibenci sholat menghadap kuburan karena hadits dalam shahih Muslim “Janganlah kalian duduk di atas kuburan dan janganlah kalian sholat menghadap kuburan”. Dan dikecualikan kuburan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam maka haram (bukan sekedar makruh-=pent) sholat menghadap kuburannya” (Asna al-Mathoolib 1/174) Keempat : Sebagian ulama syafi’iyah dengan tegas menyatakan bahwa sholat ke arah kuburan -terutama kuburan para nabi- dilarang karena bisa mengantarkan kepada kesyirikan.Ibnu Hajar al-Haitami tatkala menjelaskan tentang haramnya sholat menghadap kuburan para nabi beliau berkata :لِأَنَّهُ يُؤَدِّي إلَى الشِّرْكِ “Karena hal itu mengantarkan kepada kesyirikan” (Tuhfatul Muhtaaj 2/168)An-Nawawi berkata :قَوْلُهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ (لَا تَجْلِسُوا عَلَى الْقُبُورِ وَلَا تُصَلُّوا إِليْهَا) فيه تصريح بالنهى عن الصلاة إلى القبر قَالَ الشَّافِعِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ وَأَكْرَهُ أَنْ يُعَظَّمَ مَخْلُوقٌ حَتَّى يُجْعَلَ قَبْرُهُ مَسْجِدًا مَخَافَةَ الْفِتْنَةِ عَلَيْهِ وَعَلَى مَنْ بَعْدَهُ مِنَ النَّاسِ“Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam (….dan janganlah kalian sholat ke arah kuburan) di sini ada penegasan tentang larangan sholat menghadap kuburan. Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah berkata : Dan aku benci makhluk diagungkan hingga kuburannya dijadikan mesjid, kawatir fitnah atas nya dan atas orang-orang yang setelahnya” (Al-Minhaaj Syarah Shahih Muslim 7/38) Kelima : Sebagian ulama syafi’iyyah menjadikan sholat ke arah kuburan termasuk dosa besar. Al-Imam Adz-Dzahabi rahimahullah berkata :الْكَبِيرَةُ الثَّالِثَةُ وَالرَّابِعَةُ وَالْخَامِسَةُ وَالسَّادِسَةُ وَالسَّابِعَةُ وَالثَّامِنَةُ وَالتِّسْعُونَ: اتِّخَاذُ الْقُبُورِ مَسَاجِدَ، وَإِيقَادُ السُّرُجِ عَلَيْهَا، وَاِتِّخَاذُهَا أَوْثَانًا، وَالطَّوَافُ بِهَا، وَاسْتِلَامُهَا، وَالصَّلَاةُ إلَيْهَا“Dosa besar yang ke 93, 94, 95, 96, 97, dan 98 adalah menjadikan kuburan sebagai masjid, menyalakan api (penerangan) di atas kuburan, menjadikan kuburan sebagai berhala, thowaf di kuburan, mengusap kuburan (*dengan maksud ibadah-pen), dan sholat ke arah kuburan” (Az-Zawaajir ‘an iqtiroof Al-Kabaair juz 1 hal 154)Perhatikanlah, al-Imam Adz-Dzahabi membedakan 2 dosa, antara dosa sholat ke arah kuburan, dan dosa menyembah kuburan (dengan menjadikannya sebagai berhala). Oleh karenanya ini semakin mempertegas bahwa makna hadits Nabi “Janganlah sholat ke arah kuburan” bukanlah sebagaimana yang dipahami oleh al-Ustadz Abdussomad -hafizohullah- yaitu “Janganlah kalian menyembah kuburan” !Ibnu Hajar al-Haitami tatkala mensyarah perkataan al-Imam Adz-Dzahabi di atas beliau berkata :وَاِتِّخَاذُ الْقَبْرِ مَسْجِدًا مَعْنَاهُ الصَّلَاةُ عَلَيْهِ أَوْ إلَيْهِ“Dan (larangan Nabi -pent) menjadikan kuburan sebagai masjid maknanya adalah sholat di atasnya atau sholat ke arah kuburan”Beliau juga berkata :نَعَمْ قَالَ بَعْضُ الْحَنَابِلَةِ: قَصْدُ الرَّجُلِ الصَّلَاةَ عِنْدَ الْقَبْرِ مُتَبَرِّكًا بِهَا عَيْنُ الْمُحَادَّةِ لِلَّهِ وَرَسُولِهِ، وَإِبْدَاعُ دِينٍ لَمْ يَأْذَنْ بِهِ اللَّهُ لِلنَّهْيِ عَنْهَا ثُمَّ إجْمَاعًا، فَإِنَّ أَعْظَمَ الْمُحَرَّمَاتِ وَأَسْبَابِ الشِّرْكِ الصَّلَاةُ عِنْدَهَا وَاِتِّخَاذُهَا مَسَاجِدَ أَوْ بِنَاؤُهَا عَلَيْهَا. وَالْقَوْلُ بِالْكَرَاهَةِ مَحْمُولٌ عَلَى غَيْرِ ذَلِكَ إذْ لَا يُظَنُّ بِالْعُلَمَاءِ تَجْوِيزُ فِعْلٍ تَوَاتَرَ عَنْ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – لَعْنُ فَاعِلِهِ، وَتَجِبُ الْمُبَادَرَةُ لِهَدْمِهَا وَهَدْمِ الْقِبَابِ الَّتِي عَلَى الْقُبُورِ إذْ هِيَ أَضَرُّ مِنْ مَسْجِدِ الضِّرَارِ لِأَنَّهَا أُسِّسَتْ عَلَى مَعْصِيَةِ رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – لِأَنَّهُ نَهَى عَنْ ذَلِكَ وَأَمَرَ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – بِهَدْمِ الْقُبُورِ الْمُشْرِفَةِ، وَتَجِبُ إزَالَةُ كُلِّ قِنْدِيلٍ أَوْ سِرَاجٍ عَلَى قَبْرٍ وَلَا يَصِحُّ وَقْفُهُ وَنَذْرُهُ Benar, bahwasanya sebagian ulama madzhab hambali menyatakan : Seseorang yang mengerjakan sholat di kuburan dalam rangka mencari keberkahan merupakan bentuk penentangan terhadap Allah dan RasulNya, dan merupakan bid’ah dalam agama yang tidak diizinkan oleh Allah karena ada larangan akan hal ini, kemudian adanya ijmak (*para ulama yang melarang hal ini), karena sesungguhnya keharaman yang sangat besar dan sebab yang sangat besar menuju kesyirikan adalah sholat di kuburan dan menjadikan kuburan sebagai masjid dan membangun masjid di atas.Dan pendapat yang menyatakan makruh di bawakan kepada selain hal itu, karena tidaklah dipersangkakan kepada para ulama untuk membolehkan suatu perbuatan yang telah mutawatir (*sangat masyhur) dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwasanya pelakunya terlaknat. Dan wajib bersegera untuk menghancurkan bangunan di atas kuburan dan menghancurkan kubah-kubah yang berada di atas kuburan karena kubah-kubah itu lebih berbahaya daripada masjid dhiroor, karena kubah-kubah tersebut di bangun di atas kemaksiatan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena Nabi melarang hal itu dan memerintahkan untuk menghancurkan kuburan-kuburan yang tinggi. Dan wajib untuk meniadakan seluruh lampu dan penerangan di atas kuburan, dan tidak sah wakaf dan nadzar untuk menyalakan lampu dikuburan” (Az-Zawaajir ‘an iqtiroof al-Kabaair juz 1 hal 155)Keenam : Kalau kita baca seluruh pembahasan ulama -dari madzhab manapun- tatkala menjelaskan hadits ini (janganlah kalian sholat ke arah kuburan) maka mereka semuanya sedang membahas hukum orang yang sholat menyembah Allah akan tetapi sholatnya ke arah kuburan. Sama sekali tidak ada yang membahas tentang sholatnya orang yang menyembah penghuni kubur, karena hal ini tentu sudah jelas kekufuran.Mataram, Lombok 24 syawwal 1438/18 juli 2107Firanda Andirjawww.firanda.com

Keistimewaan Bahasa Arab (5)

Baca pembahasasn sebelumnya: Keistimewaan Bahasa Arab (4)Imam Syafi’i rahimahullah Sosok jenius yang Mendalami Bahasa Arab dalam Kurun Waktu Dua Puluh TahunMerupakan hal yang wajar jika seseorang yang dianugerahi kejeniusan, lalu ia mempelajari sesuatu dalam waktu yang singkat. Namun tidaklah demikian sosok Imam Syafi’i rahimahullah yang cerdas, jenius, dan memiliki kemampuan yang sangat kuat dalam menghafal pelajaran itu.Sosok Imam Syafi’i demikian fahamnya bagaimana tingginya kedudukan ilmu bahasa Arab dalam Islam. Sehingga beliau sangat serius dan sangat besar perhatian, pengorbanan waktu, tenaga dan pikirannya dalam mempelajari bahasa Arab.Inilah kesaksian suami dari putri Imam Syafi’i rahimahullah tentang mertuanya (Imam Syafi’i), ia berkata,فأقام الشافعي علمَ العربية وأيامَ الناس عشرين سنة، فقلنا له في هذا، فقال: ما أردت بهذا إلا استعانةً للفقه“Imam Syafi’i menghabiskan waktu dua puluh tahun dalam mempelajari bahasa Arab, kami bertanya kepada beliau (Imam Syafi’i) tentang hal ini, lalu beliaupun menjawab, ‘Dengan cara ini yang saya inginkan hanyalah agar (saya) terbantu untuk memahami Fiqih (hukum dalam  Al-Qur`an Al-Karim dan As-Sunnah)’” (Al-Faqih wal Mutafaqqih, Al-Khathib Al-Baghdadi: 2/41).Hal ini bukan hal yang aneh karena Imam Syafi’i sendiri pernah berkata,أصحاب ُالعربية جِنُّ الإنس، يُبصرون ما لم يبصرْ غيرُهم“Para ahli bahasa Arab adalah ‘jin’ nya manusia, mereka mengetahui ilmu yang tidak diketahui oleh selain mereka” (Adabusy Syafi’i wa Manaqibuhu, Ar-Razi, hal. 150).5. Bahasa Arab adalah Syi’ar Islam dan Syi’ar Kaum MusliminSyaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,اللسان العربي شعار الإسلام وأهله ، واللغات من أعظم شعائر الأمم التي بها يتميزون“Bahasa Arab adalah syi’ar Islam dan kaum muslimin, dan (sebenarnya) bahasa itu sendiri adalah syi’ar umat yang terbesar, dengannya mereka terbedakan (dengan selain mereka)” (Iqtidha` Ash-Shirath Al-Mustaqim: 1/519).Beliau juga menjelaskan,وما زال السلف يكرهون تغييرَ شعائرِ العربِ حتى في المعاملات وهو التكلّم بغير العربية إلاّ لحاجة، كما نصّ على ذلك مالك والشافعي وأحمد، بل قال مالك: مَنْ تكلّم في مسجدنا بغير العربية أُخرِجَ منه. مع أن سائر الألسن يجوز النطق بها لأصحابها، ولكن سوغوها للحاجة، وكرهوها لغير الحاجة، ولحفظ شعائر الإسلام مَنْ تكلّم في مسجدنا بغير العربية أُخرِجَ منه“Salafush Shalih selalu membenci tindakan merubah syi’ar Arab sampaipun dalam mu’amalah, yaitu berbicara dengan bahasa non Arab, kecuali jika ada keperluan, sebagaimana ini dinyatakan oleh Imam Malik, Imam Syafi’i, dan Imam Ahmad. Bahkan Imam Malik mengatakan, ‘Barangsiapa yang berbicara di masjid kami dengan bahasa non Arab, maka akan dikeluarkan (dari masjid kami).’ Padahal boleh saja bagi orang yang asli berbahasa dengan bahasa non Arab untuk berbahasa dengannya (di negri Arab). Akan tetapi mereka memperbolehkannya jika ada keperluan, dan membencinya apabila tidak ada keperluan, dan (hal itu dilakukan) dalam rangka menjaga syi’ar Islam” (Majmu’ Al-Fatawa: 32/255).[Bersambung]Daftar Link Artikel Berseri: Keistimewaan Bahasa Arab (1) Keistimewaan Bahasa Arab (2) Keistimewaan Bahasa Arab (3) Keistimewaan Bahasa Arab (4) Keistimewaan Bahasa Arab (5) Penulis: Sa’id Abu Ukkasyah Artikel: Muslim.or.idIngin Belajar Bahasa Arab Dari Dasar? Silakan Kunjungi Link Di Bawah Ini:mahadumar.id 🔍 Dalil Tentang Surga Dan Neraka, Pengertian Takut Kepada Allah, Wanita Wanita Muslimah, Tulisan Arab Shadaqallahul Adzim, Ruqyah Syariyah

Keistimewaan Bahasa Arab (5)

Baca pembahasasn sebelumnya: Keistimewaan Bahasa Arab (4)Imam Syafi’i rahimahullah Sosok jenius yang Mendalami Bahasa Arab dalam Kurun Waktu Dua Puluh TahunMerupakan hal yang wajar jika seseorang yang dianugerahi kejeniusan, lalu ia mempelajari sesuatu dalam waktu yang singkat. Namun tidaklah demikian sosok Imam Syafi’i rahimahullah yang cerdas, jenius, dan memiliki kemampuan yang sangat kuat dalam menghafal pelajaran itu.Sosok Imam Syafi’i demikian fahamnya bagaimana tingginya kedudukan ilmu bahasa Arab dalam Islam. Sehingga beliau sangat serius dan sangat besar perhatian, pengorbanan waktu, tenaga dan pikirannya dalam mempelajari bahasa Arab.Inilah kesaksian suami dari putri Imam Syafi’i rahimahullah tentang mertuanya (Imam Syafi’i), ia berkata,فأقام الشافعي علمَ العربية وأيامَ الناس عشرين سنة، فقلنا له في هذا، فقال: ما أردت بهذا إلا استعانةً للفقه“Imam Syafi’i menghabiskan waktu dua puluh tahun dalam mempelajari bahasa Arab, kami bertanya kepada beliau (Imam Syafi’i) tentang hal ini, lalu beliaupun menjawab, ‘Dengan cara ini yang saya inginkan hanyalah agar (saya) terbantu untuk memahami Fiqih (hukum dalam  Al-Qur`an Al-Karim dan As-Sunnah)’” (Al-Faqih wal Mutafaqqih, Al-Khathib Al-Baghdadi: 2/41).Hal ini bukan hal yang aneh karena Imam Syafi’i sendiri pernah berkata,أصحاب ُالعربية جِنُّ الإنس، يُبصرون ما لم يبصرْ غيرُهم“Para ahli bahasa Arab adalah ‘jin’ nya manusia, mereka mengetahui ilmu yang tidak diketahui oleh selain mereka” (Adabusy Syafi’i wa Manaqibuhu, Ar-Razi, hal. 150).5. Bahasa Arab adalah Syi’ar Islam dan Syi’ar Kaum MusliminSyaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,اللسان العربي شعار الإسلام وأهله ، واللغات من أعظم شعائر الأمم التي بها يتميزون“Bahasa Arab adalah syi’ar Islam dan kaum muslimin, dan (sebenarnya) bahasa itu sendiri adalah syi’ar umat yang terbesar, dengannya mereka terbedakan (dengan selain mereka)” (Iqtidha` Ash-Shirath Al-Mustaqim: 1/519).Beliau juga menjelaskan,وما زال السلف يكرهون تغييرَ شعائرِ العربِ حتى في المعاملات وهو التكلّم بغير العربية إلاّ لحاجة، كما نصّ على ذلك مالك والشافعي وأحمد، بل قال مالك: مَنْ تكلّم في مسجدنا بغير العربية أُخرِجَ منه. مع أن سائر الألسن يجوز النطق بها لأصحابها، ولكن سوغوها للحاجة، وكرهوها لغير الحاجة، ولحفظ شعائر الإسلام مَنْ تكلّم في مسجدنا بغير العربية أُخرِجَ منه“Salafush Shalih selalu membenci tindakan merubah syi’ar Arab sampaipun dalam mu’amalah, yaitu berbicara dengan bahasa non Arab, kecuali jika ada keperluan, sebagaimana ini dinyatakan oleh Imam Malik, Imam Syafi’i, dan Imam Ahmad. Bahkan Imam Malik mengatakan, ‘Barangsiapa yang berbicara di masjid kami dengan bahasa non Arab, maka akan dikeluarkan (dari masjid kami).’ Padahal boleh saja bagi orang yang asli berbahasa dengan bahasa non Arab untuk berbahasa dengannya (di negri Arab). Akan tetapi mereka memperbolehkannya jika ada keperluan, dan membencinya apabila tidak ada keperluan, dan (hal itu dilakukan) dalam rangka menjaga syi’ar Islam” (Majmu’ Al-Fatawa: 32/255).[Bersambung]Daftar Link Artikel Berseri: Keistimewaan Bahasa Arab (1) Keistimewaan Bahasa Arab (2) Keistimewaan Bahasa Arab (3) Keistimewaan Bahasa Arab (4) Keistimewaan Bahasa Arab (5) Penulis: Sa’id Abu Ukkasyah Artikel: Muslim.or.idIngin Belajar Bahasa Arab Dari Dasar? Silakan Kunjungi Link Di Bawah Ini:mahadumar.id 🔍 Dalil Tentang Surga Dan Neraka, Pengertian Takut Kepada Allah, Wanita Wanita Muslimah, Tulisan Arab Shadaqallahul Adzim, Ruqyah Syariyah
Baca pembahasasn sebelumnya: Keistimewaan Bahasa Arab (4)Imam Syafi’i rahimahullah Sosok jenius yang Mendalami Bahasa Arab dalam Kurun Waktu Dua Puluh TahunMerupakan hal yang wajar jika seseorang yang dianugerahi kejeniusan, lalu ia mempelajari sesuatu dalam waktu yang singkat. Namun tidaklah demikian sosok Imam Syafi’i rahimahullah yang cerdas, jenius, dan memiliki kemampuan yang sangat kuat dalam menghafal pelajaran itu.Sosok Imam Syafi’i demikian fahamnya bagaimana tingginya kedudukan ilmu bahasa Arab dalam Islam. Sehingga beliau sangat serius dan sangat besar perhatian, pengorbanan waktu, tenaga dan pikirannya dalam mempelajari bahasa Arab.Inilah kesaksian suami dari putri Imam Syafi’i rahimahullah tentang mertuanya (Imam Syafi’i), ia berkata,فأقام الشافعي علمَ العربية وأيامَ الناس عشرين سنة، فقلنا له في هذا، فقال: ما أردت بهذا إلا استعانةً للفقه“Imam Syafi’i menghabiskan waktu dua puluh tahun dalam mempelajari bahasa Arab, kami bertanya kepada beliau (Imam Syafi’i) tentang hal ini, lalu beliaupun menjawab, ‘Dengan cara ini yang saya inginkan hanyalah agar (saya) terbantu untuk memahami Fiqih (hukum dalam  Al-Qur`an Al-Karim dan As-Sunnah)’” (Al-Faqih wal Mutafaqqih, Al-Khathib Al-Baghdadi: 2/41).Hal ini bukan hal yang aneh karena Imam Syafi’i sendiri pernah berkata,أصحاب ُالعربية جِنُّ الإنس، يُبصرون ما لم يبصرْ غيرُهم“Para ahli bahasa Arab adalah ‘jin’ nya manusia, mereka mengetahui ilmu yang tidak diketahui oleh selain mereka” (Adabusy Syafi’i wa Manaqibuhu, Ar-Razi, hal. 150).5. Bahasa Arab adalah Syi’ar Islam dan Syi’ar Kaum MusliminSyaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,اللسان العربي شعار الإسلام وأهله ، واللغات من أعظم شعائر الأمم التي بها يتميزون“Bahasa Arab adalah syi’ar Islam dan kaum muslimin, dan (sebenarnya) bahasa itu sendiri adalah syi’ar umat yang terbesar, dengannya mereka terbedakan (dengan selain mereka)” (Iqtidha` Ash-Shirath Al-Mustaqim: 1/519).Beliau juga menjelaskan,وما زال السلف يكرهون تغييرَ شعائرِ العربِ حتى في المعاملات وهو التكلّم بغير العربية إلاّ لحاجة، كما نصّ على ذلك مالك والشافعي وأحمد، بل قال مالك: مَنْ تكلّم في مسجدنا بغير العربية أُخرِجَ منه. مع أن سائر الألسن يجوز النطق بها لأصحابها، ولكن سوغوها للحاجة، وكرهوها لغير الحاجة، ولحفظ شعائر الإسلام مَنْ تكلّم في مسجدنا بغير العربية أُخرِجَ منه“Salafush Shalih selalu membenci tindakan merubah syi’ar Arab sampaipun dalam mu’amalah, yaitu berbicara dengan bahasa non Arab, kecuali jika ada keperluan, sebagaimana ini dinyatakan oleh Imam Malik, Imam Syafi’i, dan Imam Ahmad. Bahkan Imam Malik mengatakan, ‘Barangsiapa yang berbicara di masjid kami dengan bahasa non Arab, maka akan dikeluarkan (dari masjid kami).’ Padahal boleh saja bagi orang yang asli berbahasa dengan bahasa non Arab untuk berbahasa dengannya (di negri Arab). Akan tetapi mereka memperbolehkannya jika ada keperluan, dan membencinya apabila tidak ada keperluan, dan (hal itu dilakukan) dalam rangka menjaga syi’ar Islam” (Majmu’ Al-Fatawa: 32/255).[Bersambung]Daftar Link Artikel Berseri: Keistimewaan Bahasa Arab (1) Keistimewaan Bahasa Arab (2) Keistimewaan Bahasa Arab (3) Keistimewaan Bahasa Arab (4) Keistimewaan Bahasa Arab (5) Penulis: Sa’id Abu Ukkasyah Artikel: Muslim.or.idIngin Belajar Bahasa Arab Dari Dasar? Silakan Kunjungi Link Di Bawah Ini:mahadumar.id 🔍 Dalil Tentang Surga Dan Neraka, Pengertian Takut Kepada Allah, Wanita Wanita Muslimah, Tulisan Arab Shadaqallahul Adzim, Ruqyah Syariyah


Baca pembahasasn sebelumnya: Keistimewaan Bahasa Arab (4)Imam Syafi’i rahimahullah Sosok jenius yang Mendalami Bahasa Arab dalam Kurun Waktu Dua Puluh TahunMerupakan hal yang wajar jika seseorang yang dianugerahi kejeniusan, lalu ia mempelajari sesuatu dalam waktu yang singkat. Namun tidaklah demikian sosok Imam Syafi’i rahimahullah yang cerdas, jenius, dan memiliki kemampuan yang sangat kuat dalam menghafal pelajaran itu.Sosok Imam Syafi’i demikian fahamnya bagaimana tingginya kedudukan ilmu bahasa Arab dalam Islam. Sehingga beliau sangat serius dan sangat besar perhatian, pengorbanan waktu, tenaga dan pikirannya dalam mempelajari bahasa Arab.Inilah kesaksian suami dari putri Imam Syafi’i rahimahullah tentang mertuanya (Imam Syafi’i), ia berkata,فأقام الشافعي علمَ العربية وأيامَ الناس عشرين سنة، فقلنا له في هذا، فقال: ما أردت بهذا إلا استعانةً للفقه“Imam Syafi’i menghabiskan waktu dua puluh tahun dalam mempelajari bahasa Arab, kami bertanya kepada beliau (Imam Syafi’i) tentang hal ini, lalu beliaupun menjawab, ‘Dengan cara ini yang saya inginkan hanyalah agar (saya) terbantu untuk memahami Fiqih (hukum dalam  Al-Qur`an Al-Karim dan As-Sunnah)’” (Al-Faqih wal Mutafaqqih, Al-Khathib Al-Baghdadi: 2/41).Hal ini bukan hal yang aneh karena Imam Syafi’i sendiri pernah berkata,أصحاب ُالعربية جِنُّ الإنس، يُبصرون ما لم يبصرْ غيرُهم“Para ahli bahasa Arab adalah ‘jin’ nya manusia, mereka mengetahui ilmu yang tidak diketahui oleh selain mereka” (Adabusy Syafi’i wa Manaqibuhu, Ar-Razi, hal. 150).5. Bahasa Arab adalah Syi’ar Islam dan Syi’ar Kaum MusliminSyaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,اللسان العربي شعار الإسلام وأهله ، واللغات من أعظم شعائر الأمم التي بها يتميزون“Bahasa Arab adalah syi’ar Islam dan kaum muslimin, dan (sebenarnya) bahasa itu sendiri adalah syi’ar umat yang terbesar, dengannya mereka terbedakan (dengan selain mereka)” (Iqtidha` Ash-Shirath Al-Mustaqim: 1/519).Beliau juga menjelaskan,وما زال السلف يكرهون تغييرَ شعائرِ العربِ حتى في المعاملات وهو التكلّم بغير العربية إلاّ لحاجة، كما نصّ على ذلك مالك والشافعي وأحمد، بل قال مالك: مَنْ تكلّم في مسجدنا بغير العربية أُخرِجَ منه. مع أن سائر الألسن يجوز النطق بها لأصحابها، ولكن سوغوها للحاجة، وكرهوها لغير الحاجة، ولحفظ شعائر الإسلام مَنْ تكلّم في مسجدنا بغير العربية أُخرِجَ منه“Salafush Shalih selalu membenci tindakan merubah syi’ar Arab sampaipun dalam mu’amalah, yaitu berbicara dengan bahasa non Arab, kecuali jika ada keperluan, sebagaimana ini dinyatakan oleh Imam Malik, Imam Syafi’i, dan Imam Ahmad. Bahkan Imam Malik mengatakan, ‘Barangsiapa yang berbicara di masjid kami dengan bahasa non Arab, maka akan dikeluarkan (dari masjid kami).’ Padahal boleh saja bagi orang yang asli berbahasa dengan bahasa non Arab untuk berbahasa dengannya (di negri Arab). Akan tetapi mereka memperbolehkannya jika ada keperluan, dan membencinya apabila tidak ada keperluan, dan (hal itu dilakukan) dalam rangka menjaga syi’ar Islam” (Majmu’ Al-Fatawa: 32/255).[Bersambung]Daftar Link Artikel Berseri: Keistimewaan Bahasa Arab (1) Keistimewaan Bahasa Arab (2) Keistimewaan Bahasa Arab (3) Keistimewaan Bahasa Arab (4) Keistimewaan Bahasa Arab (5) Penulis: Sa’id Abu Ukkasyah Artikel: Muslim.or.idIngin Belajar Bahasa Arab Dari Dasar? Silakan Kunjungi Link Di Bawah Ini:<img class="wp-image-30275 size-medium" src="https://static.muslim.or.id/wp-content/uploads/2017/06/mahadumar.id_-300x132.jpg" alt="mahadumar.id" width="300" height="132" srcset="https://static.muslim.or.id/wp-content/uploads/2017/06/mahadumar.id_-300x132.jpg 300w, https://static.muslim.or.id/wp-content/uploads/2017/06/mahadumar.id_-768x337.jpg 768w, https://static.muslim.or.id/wp-content/uploads/2017/06/mahadumar.id_-1024x449.jpg 1024w, https://static.muslim.or.id/wp-content/uploads/2017/06/mahadumar.id_-1132x500.jpg 1132w, https://static.muslim.or.id/wp-content/uploads/2017/06/mahadumar.id_.jpg 1140w" sizes="(max-width: 300px) 100vw, 300px" /> 🔍 Dalil Tentang Surga Dan Neraka, Pengertian Takut Kepada Allah, Wanita Wanita Muslimah, Tulisan Arab Shadaqallahul Adzim, Ruqyah Syariyah

AL-QUR’AN YANG KITA BACA ADALAH MAKHLUK MENURUT ASYAIROH (Bag. Kedua)

AL-QURAN YANG KITA BACA ADALAH MAKHLUK MENURUT ASYAIROH(Bagian kedua : Bantahan terhadap syubhat-syubhat Asyairoh)Pernyataan Asya’iroh bahwasanya Allah tidak berbicara dengan suara bukanlah produk yang baru, akan tetapi pendapat seperti ini sudah ada di zaman al-Imam Ahmad bin Hanbal (yang wafat tahun  241 H), yaitu jauh sebelum lahirnya madzhab AsyairohAbdullah (putranya imam Ahmad) berkata:سَأَلْتُ أَبِي رَحِمَهُ اللَّهُ عَنْ قَوْمٍ، يَقُولُونَ: لَمَّا كَلَّمَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ مُوسَى لَمْ يَتَكَلَّمْ بِصَوْتٍ فَقَالَ أَبِي: «بَلَى إِنَّ رَبَّكَ عَزَّ وَجَلَّ تَكَلَّمَ بِصَوْتٍ هَذِهِ الْأَحَادِيثُ نَرْوِيهَا كَمَا جَاءَتْ»“Aku bertanya kepada ayahku tentang suatu kaum yang mereka berkata, “Tatkala Allah berbicara dengan Musa, maka Allah tidaklah berbicara dengan suara?”. Maka ayahku (yaitu Al-Imam Ahmad bin Hanbal)  berkata, “Justru sesungguhnya Rabbmu azza wa jalla telah berfirman dengan suara. Inilah hadits-haditsnya kami riwayatkan sebagaimana datangnya’ (As-Sunnah 1/280 No. 533, sebagaimana juga dinukil oleh Al-Hafiz Ibnu Hajar dalam Fathul Baari 13/460) Abdullah putra Al-Imam Ahmad juga berkata :وَقَالَ أَبِي رَحِمَهُ اللَّهُ: «حَدِيثُ ابْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ» إِذَا تَكَلَّمَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ سُمِعَ لَهُ صَوْتٌ كَجَرِّ السِّلْسِلَةِ عَلَى الصَّفْوَانِ ” قَالَ أَبِي: وَهَذَا الْجَهْمِيَّةُ تُنْكِرُهُ وَقَالَ أَبِي: هَؤُلَاءِ كُفَّارٌ يُرِيدُونَ أَنْ يُمَوِّهُوا عَلَى النَّاسِ، مَنْ زَعَمَ أَنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَمْ يَتَكَلَّمْ فَهُوَ كَافِرٌ، أَلَا إِنَّا نَرْوِي هَذِهِ الْأَحَادِيثَ كَمَا جَاءَتْ“Dan ayahku -semoga Allah merahmatinya- berkata : Hadits Ibnu Mas’udh radhiallahu ‘anhu (dimana Nabi bersabda) : “Jika Allah azza wa jalla berfirman maka terdengar suaraNya seperti gegsekan rantai besi di atas batu licin”. Ayahku berkata, “Hadits ini diingkari oleh Jahmiyah”. Beliau berkata, “Mereka itu (jahmiyah) adalah kafir, mereka ingin mengelabui manusia. Barangsiapa yang menyangka bahwa Allah tidak berbicara maka ia telah kafir. Dan kami meriwayatkan hadits-hadits ini sebagaimana datangnya” (As-Sunnah hal 1/281 No. 534)Karenanya sikap tegas telah nampak sejak dulu dari para ulama terhadap kaum yang menyatkan Allah berbicara tanpa suara.Al-Imam Al-Muwaffaq Ibnu Qudamah al-Maqdisi (wafat 620 H) berkata :ومن زعم أن هذا الكتاب غير القرآن، وأنه كلام المخلوقين وأن القرآن معنىً في النفس لا ينزل ولا يقرأ، ولا يسمع ولا يتلى، ولا ينفع، ولا له أول ولا آخر، ولا جزء ولا بعض، ولا هو سور، ولا آيات وحروف، ولا كلمات، فهذا زنديق راد على رب العالمين، وعلى رسوله الصادق الأمين، مخالف لجميع المسلمين، ناكب عن الصراط المستقيم“Barang siapa yang menyangka bahwa al-kitab ini bukanlah al-Qur’an dan bahwasanya al-kitab ini adalah perkataan makhluk, dan bahwasanya al-Qur’an adalah makna yang ada pada diri (Allah) dan tidak turun, tidak dibaca, tidak didengar, tidak dibaca.., tidak ada awalnya dan tidak ada akhirnya, tidak terbagi, tidak ada sebagian, dan bukanlah surat-surat, bukan juga ayat-ayat, huruf-huruf, dan kalimat-kalimat, maka ia adalah zindiq, yang telah membantah Robbul ‘aalamin, dan membantah Rasulnya yang jujur dan terpercaya, menyelisihi seluruh kaum muslimin, dan menyimpang dari jalan yang lurus” (Risalaah fi al-Qur’an wa Kalaamillah hal 34) Adapun dalil-dalil bahwasanya Allah berbicara dengan suara sangatlah banyak, diantaranya ;Pertama : Dalam banyak ayat Allah mengkhabarkan bahwa Allah menyeru/memanggil hamba-hambaNya, seperti firman Allah :وَنَادَيْنَاهُ مِنْ جَانِبِ الطُّورِ الْأَيْمَنِ“Dan Kami telah memanggilnya (yaitu Musa) dari sebelah kanan gunung Thur” (QS Maryam : 52)وَنَادَيْنَاهُ أَنْ يَا إِبْرَاهِيْمُ“Dan Kami panggil dia : “Wahai Ibrahim” (QS As-Soffaat : 104)وَيَوْمَ يُنَادِيهِمْ فَيَقُولُ أَيْنَ شُرَكَائِيَ الَّذِينَ كُنْتُمْ تَزْعُمُونَ“Dan ingatlah hari di waktu Allah menyeru mereka, seraya berkata : “Dimanakah sekutu-sekutu-Ku yang dahulu kamu katakan?” (QS Al-Qosos : 62).Dan firman Allah وَيَوْمَ يُنَادِيهِمْ  (Dan Ingatlah hari di waktu Allah menyeru mereka) juga terdapat pada ayat-ayat berikut (QS Al-Qosos : 65 dan 74) dan (QS Fussilat : 47)وَنَادَاهُمَا رَبُّهُمَا أَلَمْ أَنْهَكُمَا عَنْ تِلْكُمَا الشَّجَرَةِ وَأَقُلْ لَكُمَا إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمَا عَدُوٌّ مُبِينٌ“Dan Rabb mereka berdua menyeru mereka : “Bukankah Aku telah melarang kamu berdua dari pohon kayu itu dan Aku katakan kepada kamu berdua : “Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu berdua?” (QS Al-A’raaf : 22)Dan dalam bahasa Arab tidaklah dikatakan An-Nidaa’ (seruan) kecuali dengan suara.Kedua : Firman Allah kepada nabi Musa ‘alaihis salam :فَاسْتَمِعْ لِمَا يُوحَى“Maka dengarlah kepada apa yang akan diwahyukan kepadamu” (QS Thoha : 14)Abu Nasr As-Sijzi (wafat 444 H) telah menjelaskan bahwa yang namanya mendengar yaitu mendengar suara. Dan mendengar berbeda dengan memahami (lihat Risalah As-Sijzi hal 165 dan 244)Karenanya Allah membedakan Nabi Musa dengan sebagian nabi-nabi yang lain, dimana Nabi Musa langsung diajak berbicara oleh Allah, sementara sebagian nabi-nabi yang lain dengan wahyu tanpa pembicaraan langsung. Allah berfirman :إِنَّا أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ كَمَا أَوْحَيْنَا إِلَى نُوحٍ وَالنَّبِيِّينَ مِنْ بَعْدِهِ … وَكَلَّمَ اللَّهُ مُوسَى تَكْلِيمًاSesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi yang kemudiannya … Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung (QS An-Nisaa : 163-164)Dan dua cara ini (memberi wahyu dan berbicara langsung di balik hijab) telah dijelaskan juga Allah dalam ayat yang lain. Allah berfirman :وَمَا كَانَ لِبَشَرٍ أَنْ يُكَلِّمَهُ اللَّهُ إِلَّا وَحْيًا أَوْ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍDan tidak mungkin bagi seorang manusiapun bahwa Allah berkata-kata dengan dia kecuali dengan perantaraan wahyu atau di belakang tabir (QS Asy-Syuuroo ; 51)Dibalik tabir yaitu Allah berbicara langsung dengannya dan bukan mewayhukan dengan memahamkan semata. (lihat Majmuu’ Al-Fataawaa 6/531-532)Ketiga : Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallamيقول الله عز وجل أنا عند ظن عبدي بي وأنا معه حين يذكرني فإن ذكرَني في نفسه ذَكَرْتُه فِي نَفْسِي وإن ذكرَني في ملأ ذَكَرْتُهُ فِي مَلَأٍ خير منهم“Allah azza wa jalla berkata ; Aku berdasarkan persangkaan hambaKu kepadaKu, dan Aku bersamanya tatkala ia menyebutku. Jika ia menyebutKu dalam dirinya maka Aku akan menyebutnya di diriKu, dan jika ia menyebutKu di kumpulan orang maka Aku akan menyebutnya di kumpulan yang lebih baik dari kumpulan tersebut” (HR al-Bukhari No. 7405 dan Muslim No. 2675)Al-Imam Adz-Dzahabi mengomentari hadits ini dengan berkata :هذا حديث صحيح وفيه التفريق بين كلام النفس والكلام المسموع فهو تعالى متكلم بهذا وبهذا وهو الذي كلم موسى تكليما وناداه من جانب الطور“Ini adalah hadits shahih, dan menunjukkan adanya perbedaan antara perkataan jiwa dan perkataan yang di dengar. Dan Allah yang maha tinggi berbicara dengan kedua cara ini, dan Dialah yang telah berbicara langsung dengan Musa dan memanggilnya dari sisi gunung at-Tuur” (al-‘Uluw li al-‘Aliy al-Ghoffaar hal 57)                Sebelum menyebutkan syubhat-syubhat mereka, maka penulis ingatkan kembali tentang hakikat aqidah Asyairoh tentang al-Qur’an (maka silahkan baca kembali “AL-QUR’AN YANG KITA BACA ADALAH MAKHLUK MENURUT ASYAIROH (Bagian Pertama)“), dan penulis mendahulukan bantahan terhadap aqidah Asya’iroh tersebut secara global.Sesungguhnya kelaziman dari aqidah mereka tentang kalamullah sebagai berikut :    Mereka (Asyairoh) memandang bahwa Allah tidak pernah berbicara dengan suara. Kalau hal ini benar, lantas kenapa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya tidak pernah menjelaskan sama sekali?. Jangankan dalam hadits yang shahih bahkan hadits yang palsu pun tidak pernah menjelaskan bahwa Allah bicara tanpa suara, dan al-Qur’an yang kalian baca tersebut hanyalah ungkapan dari bahasa jiwa Allah !!    Bahkan seluruh ayat dan hadits menyatakan secara langsung dan tegas : “Allah berfirman”. Jika ternyata al-Qur’an bukan firman Allah hanya ungkapan/ibarat maka tentu kaum muslimin dari zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam hingga saat ini tertipu dengan hal tersebut.    Dalam seluruh bahasa (bahkan dalam bahasa Indonesia) yang namanya berbicara itu adalah dengan suara. Karena kalau renungan dalam hati dikatakan berbicara maka orang bisu bisa dikatakan sebagai orang yang berbicara. Akan tetapi dalam bahasa apapun orang bisu tetap dikatakan orang bisu (yaitu yang tidak bisa berbicara). Kita boleh menamakan pembicaraan dalam hati sebagai pembicaraan jika kita menyebutnya secara khusus yaitu “berbicara dalam hatinya”. Adapun kata “berbicara” tanpa disertai dengan “dalam hati” maka tidak dipahami kecuali berbicara dengan suara.    Jika kalamullah hanyalah kalam nafsi yang tidak ada suara dan tanpa huruf, akan tetapi hanya makna yang ada pada jiwa, maka kalamullah dan sifat irodah (kehendak) Allah merupakan sesuatu yang sama tidak ada bedanya. Padahal Asyairoh sepakat bahwa sifat irodah bukan sifat kalam.    Jika firman Allah tanpa suara, maka ini berarti Nabi Musa sesungguhnya tidak pernah berbicara dengan Allah secara langsung, sebagaimana ini juga pernyataan kaum jahmiyah. Dan ini jelas-jelas bertentangan dengan firman Allah “Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung” (QS An-Nisaa : 164)    Hal ini juga menghilangkan keistimewaan Nabi Musa yang dikenal dengan Kaliimullah, karena pada hakikatnya tidak ada perbedaan antara Nabi Musa dengan nabi-nabi yang lain.    Asyairoh memandang bahwa kalaamullah adalah kalaam nafsi (kalam jiwa) dan qodim serta tidak pernah bertambah dan berkurang, selain itu juga tidak menerima pembagian. Sehingga jika kalam nafsi ini diungkapkan dengan bahasa Arab jadilah al-Qur’an, kalau diungkapkan dengan bahasa Ibrani jadilah Tauroh, dan jika diungkapkan dengan bahasa siryani jadilah injil. Padahal kita tahu isi al-Qur’an bukanlah isi Taurot, dan Isi Taurot bukanlah isinya injil. Kalau berdasarkan pemahaman Asyairoh seharusnya al-Qur’an kalau diterjemahkan ke bahasa Ibrani jadinya Taurot, dan kalau Injil diterjemahkan ke bahasa Arab jadi Al-Qur’an. Karena ketiga kitab suci ini (Al-Qur’an, Taurat, dan Injil) adalah sama-sama ungkapan dari kalam nafsinya Allah.    Kita tahu bahwasanya kalamullah tiada batasnya, sementara al-Qur’an atau Taurot atau Injil isinya terbatas, maka tentu ini menunjukkan bahwa kitab-kitab suci tersebut tidak bisa mengungkapkan kalamullah an-nafsi yang tidak terbatas    Kalau al-Qur’an adalah ungkapan dari sebagian kalaamullah an-Nafsi, maka berarti kalamullah an-nafsi bisa terbagi-bagi menjadi sebagian-sebagian. Dan ini menumbangkan aqidah Asyairoh yang meyakini bahwa kalamullah an-Nafsi tidak menerima pembagian dan parsial.    Kalau al-Qur’an adalah ungkapan dari kalamullah an-Nafsi, lantas kenapa dalam al-Qur’an begitu banyak huruf-huruf terputus-putus di awal-awal surat yang tidak mengungkapkan makna tertentu?. Seperti aliif laam miim, shood, Qoof, nuun, dll, maka ini tentu bukan bahasa ungkapan. Karena ungkapan/ibarat dari sesuatu harusnya jelas. Karena tujuan dari ungkapan adalah penafsiran makna dari kalam nafsi, maka seharusnya ungkapan tersebut dipahami maknanya dengan kesepakatan    Jika kalamullah an-nafsi qodim dan tidak pernah mengalami perubahan dan tidak bisa dibagi-bagi, lantas kenapa ungkapannya (yaitu al-Qur’an) bisa mengalami nasikh dan mansukh?, bahkan ada ayat-ayat yang tadinya dibaca sebagai al-Qur’an kemudian dimansukhkan sehingga tidak dicantumkan lagi sebagai Al-Qur’an?.    Jika al-Qur’an hanyalah ibarat/ungkapan maka seharusnya tidak mengapa al-Qur’an diriwayatkan dengan makna, dan tidak harus dengan huruf-hurufnya, yang penting maknanya sama. Bahkan seharusnya boleh al-Qur’an dibaca dengan bahasa yang lain dan tidak harus bahasa Arab.    Asyairoh meyakini bahwa Allah memahamkan kalaam nafsiNya kepada Muhammad. Nah pertanyaannya, apakah Allah memahamkan seluruh kalaf nafsiNya kepada Muhammad, atau sebagian kalam nafsiNya?. Jika Allah memahamkan seluruh kalaf nafsiNya yang tidak terbagi-bagi kepada Muhammad, berarti Muhammad ilmunya sama dengan ilmu Allah, karena ia memahami seluruh kalam nafsiNya Allah. Bahkan Nabi juga mengetauhi ilmu ghoib sama dengan Allah, dan ini jelas merupakan kekufuran. Namun jika Muhammad hanya dipahamkan sebagian kalam nafsiNya maka ini melazimkan kalam nafsiNya Allah tidak merupakan kesatuan, tapi bisa dibagi-bagi, dan ini berarti menumbangkan aqidah asyairoh.    Padahal ayat tegas menjelaskan bahwa para Rasul tidak mengetahui seluruh yang di jiwa Allah.Nabi Isa ‘alaihis salam berkata :تَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِي وَلَا أَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِكَ إِنَّكَ أَنْتَ عَلَّامُ الْغُيُوبِ“Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang ghaib-ghaib” (QS Al-Maidah : 116) Berikut syubhat-syubhat kaum Asya’iroh yang menyatakan bahwa al-Qur’an yang kita baca adalah makhluk.Syubhat Pertama : Kalau Allah berbicara dengan suara maka berarti menyamakan suara Allah dengan suara makhluk,Bantahan :Pertama : Dalil-dalil yang menunjukkan bahwa Allah berbicara/berfirman dengan suara maka sangatlah banyak sebagaimana telah lalu.Kedua : Persangakaan Asyairoh kalau Allah berbicara/berfirman dengan huruf dan bahasa dan suara berarti seperti makhluk ini adalah persangkaan yang keliru dan telah dibantah oleh para ulama sejak dahulu. Karena bid’ah ini sudah muncul sejak dahulu. Berikut bantahan al-Imam Al-Bukhari rahimahullah. Beliau menjelaskan jika firman Allah dengan suara maka tidak melazimkan bahwa suara Allah seperti suara makhluk, sebagaimana pendengaran dan penglihatan Allah tidak seperti makhluk dan sebagaimana dzat Allah tidak seperti dzat makhluk : Al-Imam Al-Bukhari (wafat 256 H) berkata :وَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يُنَادِي بِصَوْتٍ يَسْمَعُهُ مَنْ بَعُدَ كَمَا يَسْمَعُهُ مَنْ قَرُبَ، فَلَيْسَ هَذَا لِغَيْرِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ ذِكْرُهُ قَالَ أَبُو عَبْدِ اللَّهِ: ” وَفِي هَذَا دَلِيلٌ أَنَّ صَوْتَ اللَّهِ لَا يُشْبِهُ أَصْوَاتَ الْخَلْقِ، لِأَنَّ صَوْتَ اللَّهِ جَلَّ ذِكْرُهُ يُسْمَعُ مِنْ بُعْدٍ كَمَا يُسْمَعُ مِنْ قُرْبِ، وَأَنَّ الْمَلَائِكَةَ يُصْعَقُونَ مِنْ صَوْتِهِ، فَإِذَا تَنَادَى الْمَلَائِكَةُ لَمْ يُصْعَقُوا، وَقَالَ عَزَّ وَجَلَّ: {فَلَا تَجْعَلُوا لِلِّهِ أَنْدَادًا} فَلَيْسَ لِصِفَةِ اللَّهِ نِدٌّ، وَلَا مِثْلٌ، وَلَا يوجدُ شَيْءٌ مِنْ صِفَاتِهِ فِي الْمَخْلُوقِينَ ““Dan sesungguhnya Allah menyeru dengan suara yang didengar orang orang yang jauh sama sebagaimana didengar oleh orang yang dekat. Dan seperti ini tidak bisa untuk selain Allah. Dan ini adalah dalil bahwasanya suara Allah tidak seperti suara-suara makhluk. Karena suara Allah didengar oleh orang yang jauh sebagaimana pendengaran orang yang dekat. Jika para malaikat mendengar suara Allah maka mereka pingsan, dan jika para malaikat –diantara mereka- saling memanggil maka mereka tidak pingsan. Dan Allah telah berfirmanفَلا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَنْدَادًا“Karena itu janganlah kamu Mengadakan tandingan-tandingan bagi Allah” (QS Al-Baqoroh : 22)Maka tidak ada tandingan bagi sifat Allah, dan juga tidak ada yang menyamai, dan tidak ada satu sifat Allah pun yang ada pada para makhluk” (Kholqu Af’aalil ‘Ibaad hal 91-92).Al-Imam Al-Bukhari menjelaskan poin perbedaan suara Allah dengan suara makhluk diantaranya :    Suara Allah didengar sama antara yang jauh maupun yang dekat, dan ini berbeda dengan suara manusia    Suara Allah kalau didengar para malaikat maka merekapun pingsan. Berbeda dengan suara malaikat, takala malaikat berbicara saling mendengar suara diantara mereka maka mereka tidaklah pingsan. Syubhat Kedua : Kalau Allah berbicara dengan suara maka melazimkan Allah membutuhkan tempat keluar suara, pita suara, udara, dllBantahan :Pertama : Itu semua menjadi lazim jika yang dimaksud adalah suara makhluk yang dikenal oleh manusia, adapun suara Allah maka berbeda dan tidak lazim.Ibnu Hajar berkata :فَمَنْ مَنَعَ قَالَ إِنَّ الصَّوْتَ هُوَ الْهَوَاءُ الْمُنْقَطِعُ الْمَسْمُوعُ مِنَ الْحَنْجَرَةِ وَأَجَابَ مَنْ أَثْبَتَهُ بِأَنَّ الصَّوْتَ الْمَوْصُوفَ بِذَلِكَ هُوَ الْمَعْهُودُ مِنَ الْآدَمِيِّينَ كَالسَّمْعِ وَالْبَصَرِ وَصِفَاتُ الرَّبِّ بِخِلَافِ ذَلِكَ فَلَا يَلْزَمُ الْمَحْذُورُ الْمَذْكُورُ مَعَ اعْتِقَادِ التَّنْزِيهِ وَعَدَمِ التَّشْبِيهِ وَأَنَّهُ يَجُوزُ أَنْ يَكُونَ مِنْ غَيْرِ الْحَنْجَرَةِ فَلَا يَلْزَمُ التَّشْبِيهَ“Adapun suara maka barang siapa yang melarang (sifat suara bagi Allah) beralasan bahwa suara adalah aliran nafas yang terhenti yang terdengar dan keluar dari kerongkongan. Maka orang yang menetapkan sifat suara menjawab dengan dalih bahwasanya suara yang sifatnya demikian adalah suara yang dikenal dari para manusia. Sebagaimana pendengaran dan penglihatan. Dan sifat-sifat Ar-Robb berbeda dengan itu semua dan tidaklah melazimkan adanya perkara yang disebutkan yang dilarang tersebut jika disertai keyakinan tanzih (pensucian sifat Allah dari kekurangan-pen) dan tidak adanya tasybih (menyamakan dengan makhluk-pen). Dan suara bisa keluar tanpa kerongkongan, sehingga tidak melazimkan tasybih.” (Fathul Baari 13/460)Kedua : Ternyata makhluk juga ada yang bisa mengeluarkan suaranya tanpa pita suara dan rongga suara. Bukankah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah menyebutkan bahwa ada batu yang pernah memberi salam kepadanya?. Beliau berkata :إني لأعرف حجراً بمكة كان يسلِّم علي قبل أن أُبْعَثُ إِنِّي لأعرفه الآنَ“Sesungguhnya aku mengetahui sebuah batu di Mekah pernah memberi salam kepadaku sebelum aku diangkat menjadi Nabi, dan sungguh aku mengetahuinya sekarang” (HR Muslim No. 2277)Bukankah makanan pernah bertasbih dihadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam?, Ibnu Mas’ud berkata :ولقد كُنَّا نَسْمَعُ تَسْبِيْحَ الطَّعَامِ وَهُوَ يُؤْكَلُ“Dan sungguh kami mendengar tasbih makanan padahal makanan tersebut sedang dimakan” (HR Al-Bukhari No. 3579)Dalam riwayat yang lain :كُنَّا نَأْكُلُ مَعَ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم، وَنَحْنُ نَسْمَعُ تَسْبِيْحَ الطَّعَامِ“Kami makan bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan kami mendengar tasbihnya makanan” (Lihat Fathul Baari 6/592)Bukankah para sahabat mendengar suara tangisan batang korma tatkala ditinggal oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam? Ibnu Umar berkata ;كَانَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم يَخْطُبُ إِلَى جِذْعٍ فَلَمَّا اتَّخَذَ الْمِنْبَرَ تَحَوَّلَ إِلَيْهِ فَحَنَّ الْجِذْعُ فَأَتَاهُ فَمَسَحَ عَلَيْهِ“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkhutbah di batang kurma, tatkala dibuat mimbar dan Nabi ke mimbar maka batang kurma tersebut terisak, lalu Nabi ke batang tersebut lalu mengusapnya’ (HR Al-Bukhari No. 3583)Jika makhluk saja bisa bersuara tanpa rongga dan tanpa pita suara maka bagaimana lagi dengan Allah sang Maha Pencipta?. Bukankah pada hari kiamat kaki, tangan, kulit, dan jari bisa berbicara? Syubhat ketiga : Kalau Allah berbicara dengan huruf maka berarti Allah menerima pembagian, padahal Allah tidak bisa dibagi-bagi.Bantahan :Pertama : Mana dalil bahwasanya firman Allah tidak boleh terbagi-bagi sama sekali?. Terserah Allah membagi firmanNya berbicara sebagian pada suatu waktu dan berbicara dengan topik dan pembicaraan yang lain pada waktu yang lain?. Kenapa tidak boleh?. Bukankah Allah maha berbicara?. Allah berbicara dengan Nabi Musa, bahkan berdialog dengan Nabi Musa, maka pembicaraan Allah terbagi-bagi, bertahap sehingga terjadi dialog dan sahut menyahut dengan Nabi Musa ‘alaihis salam?Bukankah Allah jika berkehendak sesuatu maka Allah mengatakan “Kun Fayakun”, berarti setiap kehendak yang berbeda maka Allah mengucapkan “Kun Fayakun”, bukankah ini berarti Allah terbagi-bagi kalamNya?Yang tidak boleh jika kita mengatakan bahwa zat Allah terbagi-bagi, menjadi ganda atau lebih, memiliki anak atau istri. Adapun sifat Allah terbagi-bagi maka tidak ada larangan, bukankah sifat-sifat Allah banyak?, bukankah sifat-sifat tersebut berbeda-beda? Apakah ini berarti terbagi-bagi yang dilarang?.Jadi kaum Asyairoh terjebak dengan logika filsafat mereka “Allah tidak boleh terbagi-bagi” sehingga tidak bisa masuk akal mereka jika firman Allah terangkai atas suara dan huruf-huruf.Kedua : Kaum Asyairoh juga terjatuh pada apa yang mereka lari darinya -sebagaimana telah lalu penjelasan bantahan secara global-.  Karena mereka meyakini bahwa at-Taurot dan Injil adalah ungkapan dari kalaam Allah yang qodiim? (yang kalam yang qodim tersebut satu kesatuan tidak terbagi-bagi dan tidak berubah-rubah). Demikian pula dengan al-Qur’an adalah ungkapan dari kalam Allah yang qodim tersebut. Nah yang menjadi pertanyaan, apakah al-Qur’an tersebut adalah ungkapan dari seluruh kalam Allah yang qodim tersebut? Ataukah sebagian dari kalaam yang qodim tersebut?    Kalau mereka berkata al-Qur’an adalah ibarat/ungkapan dari seluruh kalaam qodiim tersebut berarti kalam Allah terbatas dong? Karena ungkapannya terbatas?.    Kalau mereka (Asyairoh) berkata bahwa al-Qur’an adalah ungkapan dari sebagian kalam Allah yang qodim, maka berarti mereka terjatuh dalam apa yang mereka lari darinya !Mataram, Lombok 24 syawwal 1438/18 juli 2107Firanda Andirjawww.firanda.com

AL-QUR’AN YANG KITA BACA ADALAH MAKHLUK MENURUT ASYAIROH (Bag. Kedua)

AL-QURAN YANG KITA BACA ADALAH MAKHLUK MENURUT ASYAIROH(Bagian kedua : Bantahan terhadap syubhat-syubhat Asyairoh)Pernyataan Asya’iroh bahwasanya Allah tidak berbicara dengan suara bukanlah produk yang baru, akan tetapi pendapat seperti ini sudah ada di zaman al-Imam Ahmad bin Hanbal (yang wafat tahun  241 H), yaitu jauh sebelum lahirnya madzhab AsyairohAbdullah (putranya imam Ahmad) berkata:سَأَلْتُ أَبِي رَحِمَهُ اللَّهُ عَنْ قَوْمٍ، يَقُولُونَ: لَمَّا كَلَّمَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ مُوسَى لَمْ يَتَكَلَّمْ بِصَوْتٍ فَقَالَ أَبِي: «بَلَى إِنَّ رَبَّكَ عَزَّ وَجَلَّ تَكَلَّمَ بِصَوْتٍ هَذِهِ الْأَحَادِيثُ نَرْوِيهَا كَمَا جَاءَتْ»“Aku bertanya kepada ayahku tentang suatu kaum yang mereka berkata, “Tatkala Allah berbicara dengan Musa, maka Allah tidaklah berbicara dengan suara?”. Maka ayahku (yaitu Al-Imam Ahmad bin Hanbal)  berkata, “Justru sesungguhnya Rabbmu azza wa jalla telah berfirman dengan suara. Inilah hadits-haditsnya kami riwayatkan sebagaimana datangnya’ (As-Sunnah 1/280 No. 533, sebagaimana juga dinukil oleh Al-Hafiz Ibnu Hajar dalam Fathul Baari 13/460) Abdullah putra Al-Imam Ahmad juga berkata :وَقَالَ أَبِي رَحِمَهُ اللَّهُ: «حَدِيثُ ابْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ» إِذَا تَكَلَّمَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ سُمِعَ لَهُ صَوْتٌ كَجَرِّ السِّلْسِلَةِ عَلَى الصَّفْوَانِ ” قَالَ أَبِي: وَهَذَا الْجَهْمِيَّةُ تُنْكِرُهُ وَقَالَ أَبِي: هَؤُلَاءِ كُفَّارٌ يُرِيدُونَ أَنْ يُمَوِّهُوا عَلَى النَّاسِ، مَنْ زَعَمَ أَنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَمْ يَتَكَلَّمْ فَهُوَ كَافِرٌ، أَلَا إِنَّا نَرْوِي هَذِهِ الْأَحَادِيثَ كَمَا جَاءَتْ“Dan ayahku -semoga Allah merahmatinya- berkata : Hadits Ibnu Mas’udh radhiallahu ‘anhu (dimana Nabi bersabda) : “Jika Allah azza wa jalla berfirman maka terdengar suaraNya seperti gegsekan rantai besi di atas batu licin”. Ayahku berkata, “Hadits ini diingkari oleh Jahmiyah”. Beliau berkata, “Mereka itu (jahmiyah) adalah kafir, mereka ingin mengelabui manusia. Barangsiapa yang menyangka bahwa Allah tidak berbicara maka ia telah kafir. Dan kami meriwayatkan hadits-hadits ini sebagaimana datangnya” (As-Sunnah hal 1/281 No. 534)Karenanya sikap tegas telah nampak sejak dulu dari para ulama terhadap kaum yang menyatkan Allah berbicara tanpa suara.Al-Imam Al-Muwaffaq Ibnu Qudamah al-Maqdisi (wafat 620 H) berkata :ومن زعم أن هذا الكتاب غير القرآن، وأنه كلام المخلوقين وأن القرآن معنىً في النفس لا ينزل ولا يقرأ، ولا يسمع ولا يتلى، ولا ينفع، ولا له أول ولا آخر، ولا جزء ولا بعض، ولا هو سور، ولا آيات وحروف، ولا كلمات، فهذا زنديق راد على رب العالمين، وعلى رسوله الصادق الأمين، مخالف لجميع المسلمين، ناكب عن الصراط المستقيم“Barang siapa yang menyangka bahwa al-kitab ini bukanlah al-Qur’an dan bahwasanya al-kitab ini adalah perkataan makhluk, dan bahwasanya al-Qur’an adalah makna yang ada pada diri (Allah) dan tidak turun, tidak dibaca, tidak didengar, tidak dibaca.., tidak ada awalnya dan tidak ada akhirnya, tidak terbagi, tidak ada sebagian, dan bukanlah surat-surat, bukan juga ayat-ayat, huruf-huruf, dan kalimat-kalimat, maka ia adalah zindiq, yang telah membantah Robbul ‘aalamin, dan membantah Rasulnya yang jujur dan terpercaya, menyelisihi seluruh kaum muslimin, dan menyimpang dari jalan yang lurus” (Risalaah fi al-Qur’an wa Kalaamillah hal 34) Adapun dalil-dalil bahwasanya Allah berbicara dengan suara sangatlah banyak, diantaranya ;Pertama : Dalam banyak ayat Allah mengkhabarkan bahwa Allah menyeru/memanggil hamba-hambaNya, seperti firman Allah :وَنَادَيْنَاهُ مِنْ جَانِبِ الطُّورِ الْأَيْمَنِ“Dan Kami telah memanggilnya (yaitu Musa) dari sebelah kanan gunung Thur” (QS Maryam : 52)وَنَادَيْنَاهُ أَنْ يَا إِبْرَاهِيْمُ“Dan Kami panggil dia : “Wahai Ibrahim” (QS As-Soffaat : 104)وَيَوْمَ يُنَادِيهِمْ فَيَقُولُ أَيْنَ شُرَكَائِيَ الَّذِينَ كُنْتُمْ تَزْعُمُونَ“Dan ingatlah hari di waktu Allah menyeru mereka, seraya berkata : “Dimanakah sekutu-sekutu-Ku yang dahulu kamu katakan?” (QS Al-Qosos : 62).Dan firman Allah وَيَوْمَ يُنَادِيهِمْ  (Dan Ingatlah hari di waktu Allah menyeru mereka) juga terdapat pada ayat-ayat berikut (QS Al-Qosos : 65 dan 74) dan (QS Fussilat : 47)وَنَادَاهُمَا رَبُّهُمَا أَلَمْ أَنْهَكُمَا عَنْ تِلْكُمَا الشَّجَرَةِ وَأَقُلْ لَكُمَا إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمَا عَدُوٌّ مُبِينٌ“Dan Rabb mereka berdua menyeru mereka : “Bukankah Aku telah melarang kamu berdua dari pohon kayu itu dan Aku katakan kepada kamu berdua : “Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu berdua?” (QS Al-A’raaf : 22)Dan dalam bahasa Arab tidaklah dikatakan An-Nidaa’ (seruan) kecuali dengan suara.Kedua : Firman Allah kepada nabi Musa ‘alaihis salam :فَاسْتَمِعْ لِمَا يُوحَى“Maka dengarlah kepada apa yang akan diwahyukan kepadamu” (QS Thoha : 14)Abu Nasr As-Sijzi (wafat 444 H) telah menjelaskan bahwa yang namanya mendengar yaitu mendengar suara. Dan mendengar berbeda dengan memahami (lihat Risalah As-Sijzi hal 165 dan 244)Karenanya Allah membedakan Nabi Musa dengan sebagian nabi-nabi yang lain, dimana Nabi Musa langsung diajak berbicara oleh Allah, sementara sebagian nabi-nabi yang lain dengan wahyu tanpa pembicaraan langsung. Allah berfirman :إِنَّا أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ كَمَا أَوْحَيْنَا إِلَى نُوحٍ وَالنَّبِيِّينَ مِنْ بَعْدِهِ … وَكَلَّمَ اللَّهُ مُوسَى تَكْلِيمًاSesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi yang kemudiannya … Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung (QS An-Nisaa : 163-164)Dan dua cara ini (memberi wahyu dan berbicara langsung di balik hijab) telah dijelaskan juga Allah dalam ayat yang lain. Allah berfirman :وَمَا كَانَ لِبَشَرٍ أَنْ يُكَلِّمَهُ اللَّهُ إِلَّا وَحْيًا أَوْ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍDan tidak mungkin bagi seorang manusiapun bahwa Allah berkata-kata dengan dia kecuali dengan perantaraan wahyu atau di belakang tabir (QS Asy-Syuuroo ; 51)Dibalik tabir yaitu Allah berbicara langsung dengannya dan bukan mewayhukan dengan memahamkan semata. (lihat Majmuu’ Al-Fataawaa 6/531-532)Ketiga : Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallamيقول الله عز وجل أنا عند ظن عبدي بي وأنا معه حين يذكرني فإن ذكرَني في نفسه ذَكَرْتُه فِي نَفْسِي وإن ذكرَني في ملأ ذَكَرْتُهُ فِي مَلَأٍ خير منهم“Allah azza wa jalla berkata ; Aku berdasarkan persangkaan hambaKu kepadaKu, dan Aku bersamanya tatkala ia menyebutku. Jika ia menyebutKu dalam dirinya maka Aku akan menyebutnya di diriKu, dan jika ia menyebutKu di kumpulan orang maka Aku akan menyebutnya di kumpulan yang lebih baik dari kumpulan tersebut” (HR al-Bukhari No. 7405 dan Muslim No. 2675)Al-Imam Adz-Dzahabi mengomentari hadits ini dengan berkata :هذا حديث صحيح وفيه التفريق بين كلام النفس والكلام المسموع فهو تعالى متكلم بهذا وبهذا وهو الذي كلم موسى تكليما وناداه من جانب الطور“Ini adalah hadits shahih, dan menunjukkan adanya perbedaan antara perkataan jiwa dan perkataan yang di dengar. Dan Allah yang maha tinggi berbicara dengan kedua cara ini, dan Dialah yang telah berbicara langsung dengan Musa dan memanggilnya dari sisi gunung at-Tuur” (al-‘Uluw li al-‘Aliy al-Ghoffaar hal 57)                Sebelum menyebutkan syubhat-syubhat mereka, maka penulis ingatkan kembali tentang hakikat aqidah Asyairoh tentang al-Qur’an (maka silahkan baca kembali “AL-QUR’AN YANG KITA BACA ADALAH MAKHLUK MENURUT ASYAIROH (Bagian Pertama)“), dan penulis mendahulukan bantahan terhadap aqidah Asya’iroh tersebut secara global.Sesungguhnya kelaziman dari aqidah mereka tentang kalamullah sebagai berikut :    Mereka (Asyairoh) memandang bahwa Allah tidak pernah berbicara dengan suara. Kalau hal ini benar, lantas kenapa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya tidak pernah menjelaskan sama sekali?. Jangankan dalam hadits yang shahih bahkan hadits yang palsu pun tidak pernah menjelaskan bahwa Allah bicara tanpa suara, dan al-Qur’an yang kalian baca tersebut hanyalah ungkapan dari bahasa jiwa Allah !!    Bahkan seluruh ayat dan hadits menyatakan secara langsung dan tegas : “Allah berfirman”. Jika ternyata al-Qur’an bukan firman Allah hanya ungkapan/ibarat maka tentu kaum muslimin dari zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam hingga saat ini tertipu dengan hal tersebut.    Dalam seluruh bahasa (bahkan dalam bahasa Indonesia) yang namanya berbicara itu adalah dengan suara. Karena kalau renungan dalam hati dikatakan berbicara maka orang bisu bisa dikatakan sebagai orang yang berbicara. Akan tetapi dalam bahasa apapun orang bisu tetap dikatakan orang bisu (yaitu yang tidak bisa berbicara). Kita boleh menamakan pembicaraan dalam hati sebagai pembicaraan jika kita menyebutnya secara khusus yaitu “berbicara dalam hatinya”. Adapun kata “berbicara” tanpa disertai dengan “dalam hati” maka tidak dipahami kecuali berbicara dengan suara.    Jika kalamullah hanyalah kalam nafsi yang tidak ada suara dan tanpa huruf, akan tetapi hanya makna yang ada pada jiwa, maka kalamullah dan sifat irodah (kehendak) Allah merupakan sesuatu yang sama tidak ada bedanya. Padahal Asyairoh sepakat bahwa sifat irodah bukan sifat kalam.    Jika firman Allah tanpa suara, maka ini berarti Nabi Musa sesungguhnya tidak pernah berbicara dengan Allah secara langsung, sebagaimana ini juga pernyataan kaum jahmiyah. Dan ini jelas-jelas bertentangan dengan firman Allah “Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung” (QS An-Nisaa : 164)    Hal ini juga menghilangkan keistimewaan Nabi Musa yang dikenal dengan Kaliimullah, karena pada hakikatnya tidak ada perbedaan antara Nabi Musa dengan nabi-nabi yang lain.    Asyairoh memandang bahwa kalaamullah adalah kalaam nafsi (kalam jiwa) dan qodim serta tidak pernah bertambah dan berkurang, selain itu juga tidak menerima pembagian. Sehingga jika kalam nafsi ini diungkapkan dengan bahasa Arab jadilah al-Qur’an, kalau diungkapkan dengan bahasa Ibrani jadilah Tauroh, dan jika diungkapkan dengan bahasa siryani jadilah injil. Padahal kita tahu isi al-Qur’an bukanlah isi Taurot, dan Isi Taurot bukanlah isinya injil. Kalau berdasarkan pemahaman Asyairoh seharusnya al-Qur’an kalau diterjemahkan ke bahasa Ibrani jadinya Taurot, dan kalau Injil diterjemahkan ke bahasa Arab jadi Al-Qur’an. Karena ketiga kitab suci ini (Al-Qur’an, Taurat, dan Injil) adalah sama-sama ungkapan dari kalam nafsinya Allah.    Kita tahu bahwasanya kalamullah tiada batasnya, sementara al-Qur’an atau Taurot atau Injil isinya terbatas, maka tentu ini menunjukkan bahwa kitab-kitab suci tersebut tidak bisa mengungkapkan kalamullah an-nafsi yang tidak terbatas    Kalau al-Qur’an adalah ungkapan dari sebagian kalaamullah an-Nafsi, maka berarti kalamullah an-nafsi bisa terbagi-bagi menjadi sebagian-sebagian. Dan ini menumbangkan aqidah Asyairoh yang meyakini bahwa kalamullah an-Nafsi tidak menerima pembagian dan parsial.    Kalau al-Qur’an adalah ungkapan dari kalamullah an-Nafsi, lantas kenapa dalam al-Qur’an begitu banyak huruf-huruf terputus-putus di awal-awal surat yang tidak mengungkapkan makna tertentu?. Seperti aliif laam miim, shood, Qoof, nuun, dll, maka ini tentu bukan bahasa ungkapan. Karena ungkapan/ibarat dari sesuatu harusnya jelas. Karena tujuan dari ungkapan adalah penafsiran makna dari kalam nafsi, maka seharusnya ungkapan tersebut dipahami maknanya dengan kesepakatan    Jika kalamullah an-nafsi qodim dan tidak pernah mengalami perubahan dan tidak bisa dibagi-bagi, lantas kenapa ungkapannya (yaitu al-Qur’an) bisa mengalami nasikh dan mansukh?, bahkan ada ayat-ayat yang tadinya dibaca sebagai al-Qur’an kemudian dimansukhkan sehingga tidak dicantumkan lagi sebagai Al-Qur’an?.    Jika al-Qur’an hanyalah ibarat/ungkapan maka seharusnya tidak mengapa al-Qur’an diriwayatkan dengan makna, dan tidak harus dengan huruf-hurufnya, yang penting maknanya sama. Bahkan seharusnya boleh al-Qur’an dibaca dengan bahasa yang lain dan tidak harus bahasa Arab.    Asyairoh meyakini bahwa Allah memahamkan kalaam nafsiNya kepada Muhammad. Nah pertanyaannya, apakah Allah memahamkan seluruh kalaf nafsiNya kepada Muhammad, atau sebagian kalam nafsiNya?. Jika Allah memahamkan seluruh kalaf nafsiNya yang tidak terbagi-bagi kepada Muhammad, berarti Muhammad ilmunya sama dengan ilmu Allah, karena ia memahami seluruh kalam nafsiNya Allah. Bahkan Nabi juga mengetauhi ilmu ghoib sama dengan Allah, dan ini jelas merupakan kekufuran. Namun jika Muhammad hanya dipahamkan sebagian kalam nafsiNya maka ini melazimkan kalam nafsiNya Allah tidak merupakan kesatuan, tapi bisa dibagi-bagi, dan ini berarti menumbangkan aqidah asyairoh.    Padahal ayat tegas menjelaskan bahwa para Rasul tidak mengetahui seluruh yang di jiwa Allah.Nabi Isa ‘alaihis salam berkata :تَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِي وَلَا أَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِكَ إِنَّكَ أَنْتَ عَلَّامُ الْغُيُوبِ“Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang ghaib-ghaib” (QS Al-Maidah : 116) Berikut syubhat-syubhat kaum Asya’iroh yang menyatakan bahwa al-Qur’an yang kita baca adalah makhluk.Syubhat Pertama : Kalau Allah berbicara dengan suara maka berarti menyamakan suara Allah dengan suara makhluk,Bantahan :Pertama : Dalil-dalil yang menunjukkan bahwa Allah berbicara/berfirman dengan suara maka sangatlah banyak sebagaimana telah lalu.Kedua : Persangakaan Asyairoh kalau Allah berbicara/berfirman dengan huruf dan bahasa dan suara berarti seperti makhluk ini adalah persangkaan yang keliru dan telah dibantah oleh para ulama sejak dahulu. Karena bid’ah ini sudah muncul sejak dahulu. Berikut bantahan al-Imam Al-Bukhari rahimahullah. Beliau menjelaskan jika firman Allah dengan suara maka tidak melazimkan bahwa suara Allah seperti suara makhluk, sebagaimana pendengaran dan penglihatan Allah tidak seperti makhluk dan sebagaimana dzat Allah tidak seperti dzat makhluk : Al-Imam Al-Bukhari (wafat 256 H) berkata :وَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يُنَادِي بِصَوْتٍ يَسْمَعُهُ مَنْ بَعُدَ كَمَا يَسْمَعُهُ مَنْ قَرُبَ، فَلَيْسَ هَذَا لِغَيْرِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ ذِكْرُهُ قَالَ أَبُو عَبْدِ اللَّهِ: ” وَفِي هَذَا دَلِيلٌ أَنَّ صَوْتَ اللَّهِ لَا يُشْبِهُ أَصْوَاتَ الْخَلْقِ، لِأَنَّ صَوْتَ اللَّهِ جَلَّ ذِكْرُهُ يُسْمَعُ مِنْ بُعْدٍ كَمَا يُسْمَعُ مِنْ قُرْبِ، وَأَنَّ الْمَلَائِكَةَ يُصْعَقُونَ مِنْ صَوْتِهِ، فَإِذَا تَنَادَى الْمَلَائِكَةُ لَمْ يُصْعَقُوا، وَقَالَ عَزَّ وَجَلَّ: {فَلَا تَجْعَلُوا لِلِّهِ أَنْدَادًا} فَلَيْسَ لِصِفَةِ اللَّهِ نِدٌّ، وَلَا مِثْلٌ، وَلَا يوجدُ شَيْءٌ مِنْ صِفَاتِهِ فِي الْمَخْلُوقِينَ ““Dan sesungguhnya Allah menyeru dengan suara yang didengar orang orang yang jauh sama sebagaimana didengar oleh orang yang dekat. Dan seperti ini tidak bisa untuk selain Allah. Dan ini adalah dalil bahwasanya suara Allah tidak seperti suara-suara makhluk. Karena suara Allah didengar oleh orang yang jauh sebagaimana pendengaran orang yang dekat. Jika para malaikat mendengar suara Allah maka mereka pingsan, dan jika para malaikat –diantara mereka- saling memanggil maka mereka tidak pingsan. Dan Allah telah berfirmanفَلا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَنْدَادًا“Karena itu janganlah kamu Mengadakan tandingan-tandingan bagi Allah” (QS Al-Baqoroh : 22)Maka tidak ada tandingan bagi sifat Allah, dan juga tidak ada yang menyamai, dan tidak ada satu sifat Allah pun yang ada pada para makhluk” (Kholqu Af’aalil ‘Ibaad hal 91-92).Al-Imam Al-Bukhari menjelaskan poin perbedaan suara Allah dengan suara makhluk diantaranya :    Suara Allah didengar sama antara yang jauh maupun yang dekat, dan ini berbeda dengan suara manusia    Suara Allah kalau didengar para malaikat maka merekapun pingsan. Berbeda dengan suara malaikat, takala malaikat berbicara saling mendengar suara diantara mereka maka mereka tidaklah pingsan. Syubhat Kedua : Kalau Allah berbicara dengan suara maka melazimkan Allah membutuhkan tempat keluar suara, pita suara, udara, dllBantahan :Pertama : Itu semua menjadi lazim jika yang dimaksud adalah suara makhluk yang dikenal oleh manusia, adapun suara Allah maka berbeda dan tidak lazim.Ibnu Hajar berkata :فَمَنْ مَنَعَ قَالَ إِنَّ الصَّوْتَ هُوَ الْهَوَاءُ الْمُنْقَطِعُ الْمَسْمُوعُ مِنَ الْحَنْجَرَةِ وَأَجَابَ مَنْ أَثْبَتَهُ بِأَنَّ الصَّوْتَ الْمَوْصُوفَ بِذَلِكَ هُوَ الْمَعْهُودُ مِنَ الْآدَمِيِّينَ كَالسَّمْعِ وَالْبَصَرِ وَصِفَاتُ الرَّبِّ بِخِلَافِ ذَلِكَ فَلَا يَلْزَمُ الْمَحْذُورُ الْمَذْكُورُ مَعَ اعْتِقَادِ التَّنْزِيهِ وَعَدَمِ التَّشْبِيهِ وَأَنَّهُ يَجُوزُ أَنْ يَكُونَ مِنْ غَيْرِ الْحَنْجَرَةِ فَلَا يَلْزَمُ التَّشْبِيهَ“Adapun suara maka barang siapa yang melarang (sifat suara bagi Allah) beralasan bahwa suara adalah aliran nafas yang terhenti yang terdengar dan keluar dari kerongkongan. Maka orang yang menetapkan sifat suara menjawab dengan dalih bahwasanya suara yang sifatnya demikian adalah suara yang dikenal dari para manusia. Sebagaimana pendengaran dan penglihatan. Dan sifat-sifat Ar-Robb berbeda dengan itu semua dan tidaklah melazimkan adanya perkara yang disebutkan yang dilarang tersebut jika disertai keyakinan tanzih (pensucian sifat Allah dari kekurangan-pen) dan tidak adanya tasybih (menyamakan dengan makhluk-pen). Dan suara bisa keluar tanpa kerongkongan, sehingga tidak melazimkan tasybih.” (Fathul Baari 13/460)Kedua : Ternyata makhluk juga ada yang bisa mengeluarkan suaranya tanpa pita suara dan rongga suara. Bukankah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah menyebutkan bahwa ada batu yang pernah memberi salam kepadanya?. Beliau berkata :إني لأعرف حجراً بمكة كان يسلِّم علي قبل أن أُبْعَثُ إِنِّي لأعرفه الآنَ“Sesungguhnya aku mengetahui sebuah batu di Mekah pernah memberi salam kepadaku sebelum aku diangkat menjadi Nabi, dan sungguh aku mengetahuinya sekarang” (HR Muslim No. 2277)Bukankah makanan pernah bertasbih dihadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam?, Ibnu Mas’ud berkata :ولقد كُنَّا نَسْمَعُ تَسْبِيْحَ الطَّعَامِ وَهُوَ يُؤْكَلُ“Dan sungguh kami mendengar tasbih makanan padahal makanan tersebut sedang dimakan” (HR Al-Bukhari No. 3579)Dalam riwayat yang lain :كُنَّا نَأْكُلُ مَعَ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم، وَنَحْنُ نَسْمَعُ تَسْبِيْحَ الطَّعَامِ“Kami makan bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan kami mendengar tasbihnya makanan” (Lihat Fathul Baari 6/592)Bukankah para sahabat mendengar suara tangisan batang korma tatkala ditinggal oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam? Ibnu Umar berkata ;كَانَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم يَخْطُبُ إِلَى جِذْعٍ فَلَمَّا اتَّخَذَ الْمِنْبَرَ تَحَوَّلَ إِلَيْهِ فَحَنَّ الْجِذْعُ فَأَتَاهُ فَمَسَحَ عَلَيْهِ“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkhutbah di batang kurma, tatkala dibuat mimbar dan Nabi ke mimbar maka batang kurma tersebut terisak, lalu Nabi ke batang tersebut lalu mengusapnya’ (HR Al-Bukhari No. 3583)Jika makhluk saja bisa bersuara tanpa rongga dan tanpa pita suara maka bagaimana lagi dengan Allah sang Maha Pencipta?. Bukankah pada hari kiamat kaki, tangan, kulit, dan jari bisa berbicara? Syubhat ketiga : Kalau Allah berbicara dengan huruf maka berarti Allah menerima pembagian, padahal Allah tidak bisa dibagi-bagi.Bantahan :Pertama : Mana dalil bahwasanya firman Allah tidak boleh terbagi-bagi sama sekali?. Terserah Allah membagi firmanNya berbicara sebagian pada suatu waktu dan berbicara dengan topik dan pembicaraan yang lain pada waktu yang lain?. Kenapa tidak boleh?. Bukankah Allah maha berbicara?. Allah berbicara dengan Nabi Musa, bahkan berdialog dengan Nabi Musa, maka pembicaraan Allah terbagi-bagi, bertahap sehingga terjadi dialog dan sahut menyahut dengan Nabi Musa ‘alaihis salam?Bukankah Allah jika berkehendak sesuatu maka Allah mengatakan “Kun Fayakun”, berarti setiap kehendak yang berbeda maka Allah mengucapkan “Kun Fayakun”, bukankah ini berarti Allah terbagi-bagi kalamNya?Yang tidak boleh jika kita mengatakan bahwa zat Allah terbagi-bagi, menjadi ganda atau lebih, memiliki anak atau istri. Adapun sifat Allah terbagi-bagi maka tidak ada larangan, bukankah sifat-sifat Allah banyak?, bukankah sifat-sifat tersebut berbeda-beda? Apakah ini berarti terbagi-bagi yang dilarang?.Jadi kaum Asyairoh terjebak dengan logika filsafat mereka “Allah tidak boleh terbagi-bagi” sehingga tidak bisa masuk akal mereka jika firman Allah terangkai atas suara dan huruf-huruf.Kedua : Kaum Asyairoh juga terjatuh pada apa yang mereka lari darinya -sebagaimana telah lalu penjelasan bantahan secara global-.  Karena mereka meyakini bahwa at-Taurot dan Injil adalah ungkapan dari kalaam Allah yang qodiim? (yang kalam yang qodim tersebut satu kesatuan tidak terbagi-bagi dan tidak berubah-rubah). Demikian pula dengan al-Qur’an adalah ungkapan dari kalam Allah yang qodim tersebut. Nah yang menjadi pertanyaan, apakah al-Qur’an tersebut adalah ungkapan dari seluruh kalam Allah yang qodim tersebut? Ataukah sebagian dari kalaam yang qodim tersebut?    Kalau mereka berkata al-Qur’an adalah ibarat/ungkapan dari seluruh kalaam qodiim tersebut berarti kalam Allah terbatas dong? Karena ungkapannya terbatas?.    Kalau mereka (Asyairoh) berkata bahwa al-Qur’an adalah ungkapan dari sebagian kalam Allah yang qodim, maka berarti mereka terjatuh dalam apa yang mereka lari darinya !Mataram, Lombok 24 syawwal 1438/18 juli 2107Firanda Andirjawww.firanda.com
AL-QURAN YANG KITA BACA ADALAH MAKHLUK MENURUT ASYAIROH(Bagian kedua : Bantahan terhadap syubhat-syubhat Asyairoh)Pernyataan Asya’iroh bahwasanya Allah tidak berbicara dengan suara bukanlah produk yang baru, akan tetapi pendapat seperti ini sudah ada di zaman al-Imam Ahmad bin Hanbal (yang wafat tahun  241 H), yaitu jauh sebelum lahirnya madzhab AsyairohAbdullah (putranya imam Ahmad) berkata:سَأَلْتُ أَبِي رَحِمَهُ اللَّهُ عَنْ قَوْمٍ، يَقُولُونَ: لَمَّا كَلَّمَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ مُوسَى لَمْ يَتَكَلَّمْ بِصَوْتٍ فَقَالَ أَبِي: «بَلَى إِنَّ رَبَّكَ عَزَّ وَجَلَّ تَكَلَّمَ بِصَوْتٍ هَذِهِ الْأَحَادِيثُ نَرْوِيهَا كَمَا جَاءَتْ»“Aku bertanya kepada ayahku tentang suatu kaum yang mereka berkata, “Tatkala Allah berbicara dengan Musa, maka Allah tidaklah berbicara dengan suara?”. Maka ayahku (yaitu Al-Imam Ahmad bin Hanbal)  berkata, “Justru sesungguhnya Rabbmu azza wa jalla telah berfirman dengan suara. Inilah hadits-haditsnya kami riwayatkan sebagaimana datangnya’ (As-Sunnah 1/280 No. 533, sebagaimana juga dinukil oleh Al-Hafiz Ibnu Hajar dalam Fathul Baari 13/460) Abdullah putra Al-Imam Ahmad juga berkata :وَقَالَ أَبِي رَحِمَهُ اللَّهُ: «حَدِيثُ ابْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ» إِذَا تَكَلَّمَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ سُمِعَ لَهُ صَوْتٌ كَجَرِّ السِّلْسِلَةِ عَلَى الصَّفْوَانِ ” قَالَ أَبِي: وَهَذَا الْجَهْمِيَّةُ تُنْكِرُهُ وَقَالَ أَبِي: هَؤُلَاءِ كُفَّارٌ يُرِيدُونَ أَنْ يُمَوِّهُوا عَلَى النَّاسِ، مَنْ زَعَمَ أَنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَمْ يَتَكَلَّمْ فَهُوَ كَافِرٌ، أَلَا إِنَّا نَرْوِي هَذِهِ الْأَحَادِيثَ كَمَا جَاءَتْ“Dan ayahku -semoga Allah merahmatinya- berkata : Hadits Ibnu Mas’udh radhiallahu ‘anhu (dimana Nabi bersabda) : “Jika Allah azza wa jalla berfirman maka terdengar suaraNya seperti gegsekan rantai besi di atas batu licin”. Ayahku berkata, “Hadits ini diingkari oleh Jahmiyah”. Beliau berkata, “Mereka itu (jahmiyah) adalah kafir, mereka ingin mengelabui manusia. Barangsiapa yang menyangka bahwa Allah tidak berbicara maka ia telah kafir. Dan kami meriwayatkan hadits-hadits ini sebagaimana datangnya” (As-Sunnah hal 1/281 No. 534)Karenanya sikap tegas telah nampak sejak dulu dari para ulama terhadap kaum yang menyatkan Allah berbicara tanpa suara.Al-Imam Al-Muwaffaq Ibnu Qudamah al-Maqdisi (wafat 620 H) berkata :ومن زعم أن هذا الكتاب غير القرآن، وأنه كلام المخلوقين وأن القرآن معنىً في النفس لا ينزل ولا يقرأ، ولا يسمع ولا يتلى، ولا ينفع، ولا له أول ولا آخر، ولا جزء ولا بعض، ولا هو سور، ولا آيات وحروف، ولا كلمات، فهذا زنديق راد على رب العالمين، وعلى رسوله الصادق الأمين، مخالف لجميع المسلمين، ناكب عن الصراط المستقيم“Barang siapa yang menyangka bahwa al-kitab ini bukanlah al-Qur’an dan bahwasanya al-kitab ini adalah perkataan makhluk, dan bahwasanya al-Qur’an adalah makna yang ada pada diri (Allah) dan tidak turun, tidak dibaca, tidak didengar, tidak dibaca.., tidak ada awalnya dan tidak ada akhirnya, tidak terbagi, tidak ada sebagian, dan bukanlah surat-surat, bukan juga ayat-ayat, huruf-huruf, dan kalimat-kalimat, maka ia adalah zindiq, yang telah membantah Robbul ‘aalamin, dan membantah Rasulnya yang jujur dan terpercaya, menyelisihi seluruh kaum muslimin, dan menyimpang dari jalan yang lurus” (Risalaah fi al-Qur’an wa Kalaamillah hal 34) Adapun dalil-dalil bahwasanya Allah berbicara dengan suara sangatlah banyak, diantaranya ;Pertama : Dalam banyak ayat Allah mengkhabarkan bahwa Allah menyeru/memanggil hamba-hambaNya, seperti firman Allah :وَنَادَيْنَاهُ مِنْ جَانِبِ الطُّورِ الْأَيْمَنِ“Dan Kami telah memanggilnya (yaitu Musa) dari sebelah kanan gunung Thur” (QS Maryam : 52)وَنَادَيْنَاهُ أَنْ يَا إِبْرَاهِيْمُ“Dan Kami panggil dia : “Wahai Ibrahim” (QS As-Soffaat : 104)وَيَوْمَ يُنَادِيهِمْ فَيَقُولُ أَيْنَ شُرَكَائِيَ الَّذِينَ كُنْتُمْ تَزْعُمُونَ“Dan ingatlah hari di waktu Allah menyeru mereka, seraya berkata : “Dimanakah sekutu-sekutu-Ku yang dahulu kamu katakan?” (QS Al-Qosos : 62).Dan firman Allah وَيَوْمَ يُنَادِيهِمْ  (Dan Ingatlah hari di waktu Allah menyeru mereka) juga terdapat pada ayat-ayat berikut (QS Al-Qosos : 65 dan 74) dan (QS Fussilat : 47)وَنَادَاهُمَا رَبُّهُمَا أَلَمْ أَنْهَكُمَا عَنْ تِلْكُمَا الشَّجَرَةِ وَأَقُلْ لَكُمَا إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمَا عَدُوٌّ مُبِينٌ“Dan Rabb mereka berdua menyeru mereka : “Bukankah Aku telah melarang kamu berdua dari pohon kayu itu dan Aku katakan kepada kamu berdua : “Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu berdua?” (QS Al-A’raaf : 22)Dan dalam bahasa Arab tidaklah dikatakan An-Nidaa’ (seruan) kecuali dengan suara.Kedua : Firman Allah kepada nabi Musa ‘alaihis salam :فَاسْتَمِعْ لِمَا يُوحَى“Maka dengarlah kepada apa yang akan diwahyukan kepadamu” (QS Thoha : 14)Abu Nasr As-Sijzi (wafat 444 H) telah menjelaskan bahwa yang namanya mendengar yaitu mendengar suara. Dan mendengar berbeda dengan memahami (lihat Risalah As-Sijzi hal 165 dan 244)Karenanya Allah membedakan Nabi Musa dengan sebagian nabi-nabi yang lain, dimana Nabi Musa langsung diajak berbicara oleh Allah, sementara sebagian nabi-nabi yang lain dengan wahyu tanpa pembicaraan langsung. Allah berfirman :إِنَّا أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ كَمَا أَوْحَيْنَا إِلَى نُوحٍ وَالنَّبِيِّينَ مِنْ بَعْدِهِ … وَكَلَّمَ اللَّهُ مُوسَى تَكْلِيمًاSesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi yang kemudiannya … Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung (QS An-Nisaa : 163-164)Dan dua cara ini (memberi wahyu dan berbicara langsung di balik hijab) telah dijelaskan juga Allah dalam ayat yang lain. Allah berfirman :وَمَا كَانَ لِبَشَرٍ أَنْ يُكَلِّمَهُ اللَّهُ إِلَّا وَحْيًا أَوْ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍDan tidak mungkin bagi seorang manusiapun bahwa Allah berkata-kata dengan dia kecuali dengan perantaraan wahyu atau di belakang tabir (QS Asy-Syuuroo ; 51)Dibalik tabir yaitu Allah berbicara langsung dengannya dan bukan mewayhukan dengan memahamkan semata. (lihat Majmuu’ Al-Fataawaa 6/531-532)Ketiga : Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallamيقول الله عز وجل أنا عند ظن عبدي بي وأنا معه حين يذكرني فإن ذكرَني في نفسه ذَكَرْتُه فِي نَفْسِي وإن ذكرَني في ملأ ذَكَرْتُهُ فِي مَلَأٍ خير منهم“Allah azza wa jalla berkata ; Aku berdasarkan persangkaan hambaKu kepadaKu, dan Aku bersamanya tatkala ia menyebutku. Jika ia menyebutKu dalam dirinya maka Aku akan menyebutnya di diriKu, dan jika ia menyebutKu di kumpulan orang maka Aku akan menyebutnya di kumpulan yang lebih baik dari kumpulan tersebut” (HR al-Bukhari No. 7405 dan Muslim No. 2675)Al-Imam Adz-Dzahabi mengomentari hadits ini dengan berkata :هذا حديث صحيح وفيه التفريق بين كلام النفس والكلام المسموع فهو تعالى متكلم بهذا وبهذا وهو الذي كلم موسى تكليما وناداه من جانب الطور“Ini adalah hadits shahih, dan menunjukkan adanya perbedaan antara perkataan jiwa dan perkataan yang di dengar. Dan Allah yang maha tinggi berbicara dengan kedua cara ini, dan Dialah yang telah berbicara langsung dengan Musa dan memanggilnya dari sisi gunung at-Tuur” (al-‘Uluw li al-‘Aliy al-Ghoffaar hal 57)                Sebelum menyebutkan syubhat-syubhat mereka, maka penulis ingatkan kembali tentang hakikat aqidah Asyairoh tentang al-Qur’an (maka silahkan baca kembali “AL-QUR’AN YANG KITA BACA ADALAH MAKHLUK MENURUT ASYAIROH (Bagian Pertama)“), dan penulis mendahulukan bantahan terhadap aqidah Asya’iroh tersebut secara global.Sesungguhnya kelaziman dari aqidah mereka tentang kalamullah sebagai berikut :    Mereka (Asyairoh) memandang bahwa Allah tidak pernah berbicara dengan suara. Kalau hal ini benar, lantas kenapa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya tidak pernah menjelaskan sama sekali?. Jangankan dalam hadits yang shahih bahkan hadits yang palsu pun tidak pernah menjelaskan bahwa Allah bicara tanpa suara, dan al-Qur’an yang kalian baca tersebut hanyalah ungkapan dari bahasa jiwa Allah !!    Bahkan seluruh ayat dan hadits menyatakan secara langsung dan tegas : “Allah berfirman”. Jika ternyata al-Qur’an bukan firman Allah hanya ungkapan/ibarat maka tentu kaum muslimin dari zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam hingga saat ini tertipu dengan hal tersebut.    Dalam seluruh bahasa (bahkan dalam bahasa Indonesia) yang namanya berbicara itu adalah dengan suara. Karena kalau renungan dalam hati dikatakan berbicara maka orang bisu bisa dikatakan sebagai orang yang berbicara. Akan tetapi dalam bahasa apapun orang bisu tetap dikatakan orang bisu (yaitu yang tidak bisa berbicara). Kita boleh menamakan pembicaraan dalam hati sebagai pembicaraan jika kita menyebutnya secara khusus yaitu “berbicara dalam hatinya”. Adapun kata “berbicara” tanpa disertai dengan “dalam hati” maka tidak dipahami kecuali berbicara dengan suara.    Jika kalamullah hanyalah kalam nafsi yang tidak ada suara dan tanpa huruf, akan tetapi hanya makna yang ada pada jiwa, maka kalamullah dan sifat irodah (kehendak) Allah merupakan sesuatu yang sama tidak ada bedanya. Padahal Asyairoh sepakat bahwa sifat irodah bukan sifat kalam.    Jika firman Allah tanpa suara, maka ini berarti Nabi Musa sesungguhnya tidak pernah berbicara dengan Allah secara langsung, sebagaimana ini juga pernyataan kaum jahmiyah. Dan ini jelas-jelas bertentangan dengan firman Allah “Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung” (QS An-Nisaa : 164)    Hal ini juga menghilangkan keistimewaan Nabi Musa yang dikenal dengan Kaliimullah, karena pada hakikatnya tidak ada perbedaan antara Nabi Musa dengan nabi-nabi yang lain.    Asyairoh memandang bahwa kalaamullah adalah kalaam nafsi (kalam jiwa) dan qodim serta tidak pernah bertambah dan berkurang, selain itu juga tidak menerima pembagian. Sehingga jika kalam nafsi ini diungkapkan dengan bahasa Arab jadilah al-Qur’an, kalau diungkapkan dengan bahasa Ibrani jadilah Tauroh, dan jika diungkapkan dengan bahasa siryani jadilah injil. Padahal kita tahu isi al-Qur’an bukanlah isi Taurot, dan Isi Taurot bukanlah isinya injil. Kalau berdasarkan pemahaman Asyairoh seharusnya al-Qur’an kalau diterjemahkan ke bahasa Ibrani jadinya Taurot, dan kalau Injil diterjemahkan ke bahasa Arab jadi Al-Qur’an. Karena ketiga kitab suci ini (Al-Qur’an, Taurat, dan Injil) adalah sama-sama ungkapan dari kalam nafsinya Allah.    Kita tahu bahwasanya kalamullah tiada batasnya, sementara al-Qur’an atau Taurot atau Injil isinya terbatas, maka tentu ini menunjukkan bahwa kitab-kitab suci tersebut tidak bisa mengungkapkan kalamullah an-nafsi yang tidak terbatas    Kalau al-Qur’an adalah ungkapan dari sebagian kalaamullah an-Nafsi, maka berarti kalamullah an-nafsi bisa terbagi-bagi menjadi sebagian-sebagian. Dan ini menumbangkan aqidah Asyairoh yang meyakini bahwa kalamullah an-Nafsi tidak menerima pembagian dan parsial.    Kalau al-Qur’an adalah ungkapan dari kalamullah an-Nafsi, lantas kenapa dalam al-Qur’an begitu banyak huruf-huruf terputus-putus di awal-awal surat yang tidak mengungkapkan makna tertentu?. Seperti aliif laam miim, shood, Qoof, nuun, dll, maka ini tentu bukan bahasa ungkapan. Karena ungkapan/ibarat dari sesuatu harusnya jelas. Karena tujuan dari ungkapan adalah penafsiran makna dari kalam nafsi, maka seharusnya ungkapan tersebut dipahami maknanya dengan kesepakatan    Jika kalamullah an-nafsi qodim dan tidak pernah mengalami perubahan dan tidak bisa dibagi-bagi, lantas kenapa ungkapannya (yaitu al-Qur’an) bisa mengalami nasikh dan mansukh?, bahkan ada ayat-ayat yang tadinya dibaca sebagai al-Qur’an kemudian dimansukhkan sehingga tidak dicantumkan lagi sebagai Al-Qur’an?.    Jika al-Qur’an hanyalah ibarat/ungkapan maka seharusnya tidak mengapa al-Qur’an diriwayatkan dengan makna, dan tidak harus dengan huruf-hurufnya, yang penting maknanya sama. Bahkan seharusnya boleh al-Qur’an dibaca dengan bahasa yang lain dan tidak harus bahasa Arab.    Asyairoh meyakini bahwa Allah memahamkan kalaam nafsiNya kepada Muhammad. Nah pertanyaannya, apakah Allah memahamkan seluruh kalaf nafsiNya kepada Muhammad, atau sebagian kalam nafsiNya?. Jika Allah memahamkan seluruh kalaf nafsiNya yang tidak terbagi-bagi kepada Muhammad, berarti Muhammad ilmunya sama dengan ilmu Allah, karena ia memahami seluruh kalam nafsiNya Allah. Bahkan Nabi juga mengetauhi ilmu ghoib sama dengan Allah, dan ini jelas merupakan kekufuran. Namun jika Muhammad hanya dipahamkan sebagian kalam nafsiNya maka ini melazimkan kalam nafsiNya Allah tidak merupakan kesatuan, tapi bisa dibagi-bagi, dan ini berarti menumbangkan aqidah asyairoh.    Padahal ayat tegas menjelaskan bahwa para Rasul tidak mengetahui seluruh yang di jiwa Allah.Nabi Isa ‘alaihis salam berkata :تَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِي وَلَا أَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِكَ إِنَّكَ أَنْتَ عَلَّامُ الْغُيُوبِ“Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang ghaib-ghaib” (QS Al-Maidah : 116) Berikut syubhat-syubhat kaum Asya’iroh yang menyatakan bahwa al-Qur’an yang kita baca adalah makhluk.Syubhat Pertama : Kalau Allah berbicara dengan suara maka berarti menyamakan suara Allah dengan suara makhluk,Bantahan :Pertama : Dalil-dalil yang menunjukkan bahwa Allah berbicara/berfirman dengan suara maka sangatlah banyak sebagaimana telah lalu.Kedua : Persangakaan Asyairoh kalau Allah berbicara/berfirman dengan huruf dan bahasa dan suara berarti seperti makhluk ini adalah persangkaan yang keliru dan telah dibantah oleh para ulama sejak dahulu. Karena bid’ah ini sudah muncul sejak dahulu. Berikut bantahan al-Imam Al-Bukhari rahimahullah. Beliau menjelaskan jika firman Allah dengan suara maka tidak melazimkan bahwa suara Allah seperti suara makhluk, sebagaimana pendengaran dan penglihatan Allah tidak seperti makhluk dan sebagaimana dzat Allah tidak seperti dzat makhluk : Al-Imam Al-Bukhari (wafat 256 H) berkata :وَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يُنَادِي بِصَوْتٍ يَسْمَعُهُ مَنْ بَعُدَ كَمَا يَسْمَعُهُ مَنْ قَرُبَ، فَلَيْسَ هَذَا لِغَيْرِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ ذِكْرُهُ قَالَ أَبُو عَبْدِ اللَّهِ: ” وَفِي هَذَا دَلِيلٌ أَنَّ صَوْتَ اللَّهِ لَا يُشْبِهُ أَصْوَاتَ الْخَلْقِ، لِأَنَّ صَوْتَ اللَّهِ جَلَّ ذِكْرُهُ يُسْمَعُ مِنْ بُعْدٍ كَمَا يُسْمَعُ مِنْ قُرْبِ، وَأَنَّ الْمَلَائِكَةَ يُصْعَقُونَ مِنْ صَوْتِهِ، فَإِذَا تَنَادَى الْمَلَائِكَةُ لَمْ يُصْعَقُوا، وَقَالَ عَزَّ وَجَلَّ: {فَلَا تَجْعَلُوا لِلِّهِ أَنْدَادًا} فَلَيْسَ لِصِفَةِ اللَّهِ نِدٌّ، وَلَا مِثْلٌ، وَلَا يوجدُ شَيْءٌ مِنْ صِفَاتِهِ فِي الْمَخْلُوقِينَ ““Dan sesungguhnya Allah menyeru dengan suara yang didengar orang orang yang jauh sama sebagaimana didengar oleh orang yang dekat. Dan seperti ini tidak bisa untuk selain Allah. Dan ini adalah dalil bahwasanya suara Allah tidak seperti suara-suara makhluk. Karena suara Allah didengar oleh orang yang jauh sebagaimana pendengaran orang yang dekat. Jika para malaikat mendengar suara Allah maka mereka pingsan, dan jika para malaikat –diantara mereka- saling memanggil maka mereka tidak pingsan. Dan Allah telah berfirmanفَلا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَنْدَادًا“Karena itu janganlah kamu Mengadakan tandingan-tandingan bagi Allah” (QS Al-Baqoroh : 22)Maka tidak ada tandingan bagi sifat Allah, dan juga tidak ada yang menyamai, dan tidak ada satu sifat Allah pun yang ada pada para makhluk” (Kholqu Af’aalil ‘Ibaad hal 91-92).Al-Imam Al-Bukhari menjelaskan poin perbedaan suara Allah dengan suara makhluk diantaranya :    Suara Allah didengar sama antara yang jauh maupun yang dekat, dan ini berbeda dengan suara manusia    Suara Allah kalau didengar para malaikat maka merekapun pingsan. Berbeda dengan suara malaikat, takala malaikat berbicara saling mendengar suara diantara mereka maka mereka tidaklah pingsan. Syubhat Kedua : Kalau Allah berbicara dengan suara maka melazimkan Allah membutuhkan tempat keluar suara, pita suara, udara, dllBantahan :Pertama : Itu semua menjadi lazim jika yang dimaksud adalah suara makhluk yang dikenal oleh manusia, adapun suara Allah maka berbeda dan tidak lazim.Ibnu Hajar berkata :فَمَنْ مَنَعَ قَالَ إِنَّ الصَّوْتَ هُوَ الْهَوَاءُ الْمُنْقَطِعُ الْمَسْمُوعُ مِنَ الْحَنْجَرَةِ وَأَجَابَ مَنْ أَثْبَتَهُ بِأَنَّ الصَّوْتَ الْمَوْصُوفَ بِذَلِكَ هُوَ الْمَعْهُودُ مِنَ الْآدَمِيِّينَ كَالسَّمْعِ وَالْبَصَرِ وَصِفَاتُ الرَّبِّ بِخِلَافِ ذَلِكَ فَلَا يَلْزَمُ الْمَحْذُورُ الْمَذْكُورُ مَعَ اعْتِقَادِ التَّنْزِيهِ وَعَدَمِ التَّشْبِيهِ وَأَنَّهُ يَجُوزُ أَنْ يَكُونَ مِنْ غَيْرِ الْحَنْجَرَةِ فَلَا يَلْزَمُ التَّشْبِيهَ“Adapun suara maka barang siapa yang melarang (sifat suara bagi Allah) beralasan bahwa suara adalah aliran nafas yang terhenti yang terdengar dan keluar dari kerongkongan. Maka orang yang menetapkan sifat suara menjawab dengan dalih bahwasanya suara yang sifatnya demikian adalah suara yang dikenal dari para manusia. Sebagaimana pendengaran dan penglihatan. Dan sifat-sifat Ar-Robb berbeda dengan itu semua dan tidaklah melazimkan adanya perkara yang disebutkan yang dilarang tersebut jika disertai keyakinan tanzih (pensucian sifat Allah dari kekurangan-pen) dan tidak adanya tasybih (menyamakan dengan makhluk-pen). Dan suara bisa keluar tanpa kerongkongan, sehingga tidak melazimkan tasybih.” (Fathul Baari 13/460)Kedua : Ternyata makhluk juga ada yang bisa mengeluarkan suaranya tanpa pita suara dan rongga suara. Bukankah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah menyebutkan bahwa ada batu yang pernah memberi salam kepadanya?. Beliau berkata :إني لأعرف حجراً بمكة كان يسلِّم علي قبل أن أُبْعَثُ إِنِّي لأعرفه الآنَ“Sesungguhnya aku mengetahui sebuah batu di Mekah pernah memberi salam kepadaku sebelum aku diangkat menjadi Nabi, dan sungguh aku mengetahuinya sekarang” (HR Muslim No. 2277)Bukankah makanan pernah bertasbih dihadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam?, Ibnu Mas’ud berkata :ولقد كُنَّا نَسْمَعُ تَسْبِيْحَ الطَّعَامِ وَهُوَ يُؤْكَلُ“Dan sungguh kami mendengar tasbih makanan padahal makanan tersebut sedang dimakan” (HR Al-Bukhari No. 3579)Dalam riwayat yang lain :كُنَّا نَأْكُلُ مَعَ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم، وَنَحْنُ نَسْمَعُ تَسْبِيْحَ الطَّعَامِ“Kami makan bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan kami mendengar tasbihnya makanan” (Lihat Fathul Baari 6/592)Bukankah para sahabat mendengar suara tangisan batang korma tatkala ditinggal oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam? Ibnu Umar berkata ;كَانَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم يَخْطُبُ إِلَى جِذْعٍ فَلَمَّا اتَّخَذَ الْمِنْبَرَ تَحَوَّلَ إِلَيْهِ فَحَنَّ الْجِذْعُ فَأَتَاهُ فَمَسَحَ عَلَيْهِ“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkhutbah di batang kurma, tatkala dibuat mimbar dan Nabi ke mimbar maka batang kurma tersebut terisak, lalu Nabi ke batang tersebut lalu mengusapnya’ (HR Al-Bukhari No. 3583)Jika makhluk saja bisa bersuara tanpa rongga dan tanpa pita suara maka bagaimana lagi dengan Allah sang Maha Pencipta?. Bukankah pada hari kiamat kaki, tangan, kulit, dan jari bisa berbicara? Syubhat ketiga : Kalau Allah berbicara dengan huruf maka berarti Allah menerima pembagian, padahal Allah tidak bisa dibagi-bagi.Bantahan :Pertama : Mana dalil bahwasanya firman Allah tidak boleh terbagi-bagi sama sekali?. Terserah Allah membagi firmanNya berbicara sebagian pada suatu waktu dan berbicara dengan topik dan pembicaraan yang lain pada waktu yang lain?. Kenapa tidak boleh?. Bukankah Allah maha berbicara?. Allah berbicara dengan Nabi Musa, bahkan berdialog dengan Nabi Musa, maka pembicaraan Allah terbagi-bagi, bertahap sehingga terjadi dialog dan sahut menyahut dengan Nabi Musa ‘alaihis salam?Bukankah Allah jika berkehendak sesuatu maka Allah mengatakan “Kun Fayakun”, berarti setiap kehendak yang berbeda maka Allah mengucapkan “Kun Fayakun”, bukankah ini berarti Allah terbagi-bagi kalamNya?Yang tidak boleh jika kita mengatakan bahwa zat Allah terbagi-bagi, menjadi ganda atau lebih, memiliki anak atau istri. Adapun sifat Allah terbagi-bagi maka tidak ada larangan, bukankah sifat-sifat Allah banyak?, bukankah sifat-sifat tersebut berbeda-beda? Apakah ini berarti terbagi-bagi yang dilarang?.Jadi kaum Asyairoh terjebak dengan logika filsafat mereka “Allah tidak boleh terbagi-bagi” sehingga tidak bisa masuk akal mereka jika firman Allah terangkai atas suara dan huruf-huruf.Kedua : Kaum Asyairoh juga terjatuh pada apa yang mereka lari darinya -sebagaimana telah lalu penjelasan bantahan secara global-.  Karena mereka meyakini bahwa at-Taurot dan Injil adalah ungkapan dari kalaam Allah yang qodiim? (yang kalam yang qodim tersebut satu kesatuan tidak terbagi-bagi dan tidak berubah-rubah). Demikian pula dengan al-Qur’an adalah ungkapan dari kalam Allah yang qodim tersebut. Nah yang menjadi pertanyaan, apakah al-Qur’an tersebut adalah ungkapan dari seluruh kalam Allah yang qodim tersebut? Ataukah sebagian dari kalaam yang qodim tersebut?    Kalau mereka berkata al-Qur’an adalah ibarat/ungkapan dari seluruh kalaam qodiim tersebut berarti kalam Allah terbatas dong? Karena ungkapannya terbatas?.    Kalau mereka (Asyairoh) berkata bahwa al-Qur’an adalah ungkapan dari sebagian kalam Allah yang qodim, maka berarti mereka terjatuh dalam apa yang mereka lari darinya !Mataram, Lombok 24 syawwal 1438/18 juli 2107Firanda Andirjawww.firanda.com


AL-QURAN YANG KITA BACA ADALAH MAKHLUK MENURUT ASYAIROH(Bagian kedua : Bantahan terhadap syubhat-syubhat Asyairoh)Pernyataan Asya’iroh bahwasanya Allah tidak berbicara dengan suara bukanlah produk yang baru, akan tetapi pendapat seperti ini sudah ada di zaman al-Imam Ahmad bin Hanbal (yang wafat tahun  241 H), yaitu jauh sebelum lahirnya madzhab AsyairohAbdullah (putranya imam Ahmad) berkata:سَأَلْتُ أَبِي رَحِمَهُ اللَّهُ عَنْ قَوْمٍ، يَقُولُونَ: لَمَّا كَلَّمَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ مُوسَى لَمْ يَتَكَلَّمْ بِصَوْتٍ فَقَالَ أَبِي: «بَلَى إِنَّ رَبَّكَ عَزَّ وَجَلَّ تَكَلَّمَ بِصَوْتٍ هَذِهِ الْأَحَادِيثُ نَرْوِيهَا كَمَا جَاءَتْ»“Aku bertanya kepada ayahku tentang suatu kaum yang mereka berkata, “Tatkala Allah berbicara dengan Musa, maka Allah tidaklah berbicara dengan suara?”. Maka ayahku (yaitu Al-Imam Ahmad bin Hanbal)  berkata, “Justru sesungguhnya Rabbmu azza wa jalla telah berfirman dengan suara. Inilah hadits-haditsnya kami riwayatkan sebagaimana datangnya’ (As-Sunnah 1/280 No. 533, sebagaimana juga dinukil oleh Al-Hafiz Ibnu Hajar dalam Fathul Baari 13/460) Abdullah putra Al-Imam Ahmad juga berkata :وَقَالَ أَبِي رَحِمَهُ اللَّهُ: «حَدِيثُ ابْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ» إِذَا تَكَلَّمَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ سُمِعَ لَهُ صَوْتٌ كَجَرِّ السِّلْسِلَةِ عَلَى الصَّفْوَانِ ” قَالَ أَبِي: وَهَذَا الْجَهْمِيَّةُ تُنْكِرُهُ وَقَالَ أَبِي: هَؤُلَاءِ كُفَّارٌ يُرِيدُونَ أَنْ يُمَوِّهُوا عَلَى النَّاسِ، مَنْ زَعَمَ أَنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَمْ يَتَكَلَّمْ فَهُوَ كَافِرٌ، أَلَا إِنَّا نَرْوِي هَذِهِ الْأَحَادِيثَ كَمَا جَاءَتْ“Dan ayahku -semoga Allah merahmatinya- berkata : Hadits Ibnu Mas’udh radhiallahu ‘anhu (dimana Nabi bersabda) : “Jika Allah azza wa jalla berfirman maka terdengar suaraNya seperti gegsekan rantai besi di atas batu licin”. Ayahku berkata, “Hadits ini diingkari oleh Jahmiyah”. Beliau berkata, “Mereka itu (jahmiyah) adalah kafir, mereka ingin mengelabui manusia. Barangsiapa yang menyangka bahwa Allah tidak berbicara maka ia telah kafir. Dan kami meriwayatkan hadits-hadits ini sebagaimana datangnya” (As-Sunnah hal 1/281 No. 534)Karenanya sikap tegas telah nampak sejak dulu dari para ulama terhadap kaum yang menyatkan Allah berbicara tanpa suara.Al-Imam Al-Muwaffaq Ibnu Qudamah al-Maqdisi (wafat 620 H) berkata :ومن زعم أن هذا الكتاب غير القرآن، وأنه كلام المخلوقين وأن القرآن معنىً في النفس لا ينزل ولا يقرأ، ولا يسمع ولا يتلى، ولا ينفع، ولا له أول ولا آخر، ولا جزء ولا بعض، ولا هو سور، ولا آيات وحروف، ولا كلمات، فهذا زنديق راد على رب العالمين، وعلى رسوله الصادق الأمين، مخالف لجميع المسلمين، ناكب عن الصراط المستقيم“Barang siapa yang menyangka bahwa al-kitab ini bukanlah al-Qur’an dan bahwasanya al-kitab ini adalah perkataan makhluk, dan bahwasanya al-Qur’an adalah makna yang ada pada diri (Allah) dan tidak turun, tidak dibaca, tidak didengar, tidak dibaca.., tidak ada awalnya dan tidak ada akhirnya, tidak terbagi, tidak ada sebagian, dan bukanlah surat-surat, bukan juga ayat-ayat, huruf-huruf, dan kalimat-kalimat, maka ia adalah zindiq, yang telah membantah Robbul ‘aalamin, dan membantah Rasulnya yang jujur dan terpercaya, menyelisihi seluruh kaum muslimin, dan menyimpang dari jalan yang lurus” (Risalaah fi al-Qur’an wa Kalaamillah hal 34) Adapun dalil-dalil bahwasanya Allah berbicara dengan suara sangatlah banyak, diantaranya ;Pertama : Dalam banyak ayat Allah mengkhabarkan bahwa Allah menyeru/memanggil hamba-hambaNya, seperti firman Allah :وَنَادَيْنَاهُ مِنْ جَانِبِ الطُّورِ الْأَيْمَنِ“Dan Kami telah memanggilnya (yaitu Musa) dari sebelah kanan gunung Thur” (QS Maryam : 52)وَنَادَيْنَاهُ أَنْ يَا إِبْرَاهِيْمُ“Dan Kami panggil dia : “Wahai Ibrahim” (QS As-Soffaat : 104)وَيَوْمَ يُنَادِيهِمْ فَيَقُولُ أَيْنَ شُرَكَائِيَ الَّذِينَ كُنْتُمْ تَزْعُمُونَ“Dan ingatlah hari di waktu Allah menyeru mereka, seraya berkata : “Dimanakah sekutu-sekutu-Ku yang dahulu kamu katakan?” (QS Al-Qosos : 62).Dan firman Allah وَيَوْمَ يُنَادِيهِمْ  (Dan Ingatlah hari di waktu Allah menyeru mereka) juga terdapat pada ayat-ayat berikut (QS Al-Qosos : 65 dan 74) dan (QS Fussilat : 47)وَنَادَاهُمَا رَبُّهُمَا أَلَمْ أَنْهَكُمَا عَنْ تِلْكُمَا الشَّجَرَةِ وَأَقُلْ لَكُمَا إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمَا عَدُوٌّ مُبِينٌ“Dan Rabb mereka berdua menyeru mereka : “Bukankah Aku telah melarang kamu berdua dari pohon kayu itu dan Aku katakan kepada kamu berdua : “Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu berdua?” (QS Al-A’raaf : 22)Dan dalam bahasa Arab tidaklah dikatakan An-Nidaa’ (seruan) kecuali dengan suara.Kedua : Firman Allah kepada nabi Musa ‘alaihis salam :فَاسْتَمِعْ لِمَا يُوحَى“Maka dengarlah kepada apa yang akan diwahyukan kepadamu” (QS Thoha : 14)Abu Nasr As-Sijzi (wafat 444 H) telah menjelaskan bahwa yang namanya mendengar yaitu mendengar suara. Dan mendengar berbeda dengan memahami (lihat Risalah As-Sijzi hal 165 dan 244)Karenanya Allah membedakan Nabi Musa dengan sebagian nabi-nabi yang lain, dimana Nabi Musa langsung diajak berbicara oleh Allah, sementara sebagian nabi-nabi yang lain dengan wahyu tanpa pembicaraan langsung. Allah berfirman :إِنَّا أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ كَمَا أَوْحَيْنَا إِلَى نُوحٍ وَالنَّبِيِّينَ مِنْ بَعْدِهِ … وَكَلَّمَ اللَّهُ مُوسَى تَكْلِيمًاSesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi yang kemudiannya … Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung (QS An-Nisaa : 163-164)Dan dua cara ini (memberi wahyu dan berbicara langsung di balik hijab) telah dijelaskan juga Allah dalam ayat yang lain. Allah berfirman :وَمَا كَانَ لِبَشَرٍ أَنْ يُكَلِّمَهُ اللَّهُ إِلَّا وَحْيًا أَوْ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍDan tidak mungkin bagi seorang manusiapun bahwa Allah berkata-kata dengan dia kecuali dengan perantaraan wahyu atau di belakang tabir (QS Asy-Syuuroo ; 51)Dibalik tabir yaitu Allah berbicara langsung dengannya dan bukan mewayhukan dengan memahamkan semata. (lihat Majmuu’ Al-Fataawaa 6/531-532)Ketiga : Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallamيقول الله عز وجل أنا عند ظن عبدي بي وأنا معه حين يذكرني فإن ذكرَني في نفسه ذَكَرْتُه فِي نَفْسِي وإن ذكرَني في ملأ ذَكَرْتُهُ فِي مَلَأٍ خير منهم“Allah azza wa jalla berkata ; Aku berdasarkan persangkaan hambaKu kepadaKu, dan Aku bersamanya tatkala ia menyebutku. Jika ia menyebutKu dalam dirinya maka Aku akan menyebutnya di diriKu, dan jika ia menyebutKu di kumpulan orang maka Aku akan menyebutnya di kumpulan yang lebih baik dari kumpulan tersebut” (HR al-Bukhari No. 7405 dan Muslim No. 2675)Al-Imam Adz-Dzahabi mengomentari hadits ini dengan berkata :هذا حديث صحيح وفيه التفريق بين كلام النفس والكلام المسموع فهو تعالى متكلم بهذا وبهذا وهو الذي كلم موسى تكليما وناداه من جانب الطور“Ini adalah hadits shahih, dan menunjukkan adanya perbedaan antara perkataan jiwa dan perkataan yang di dengar. Dan Allah yang maha tinggi berbicara dengan kedua cara ini, dan Dialah yang telah berbicara langsung dengan Musa dan memanggilnya dari sisi gunung at-Tuur” (al-‘Uluw li al-‘Aliy al-Ghoffaar hal 57)                Sebelum menyebutkan syubhat-syubhat mereka, maka penulis ingatkan kembali tentang hakikat aqidah Asyairoh tentang al-Qur’an (maka silahkan baca kembali “AL-QUR’AN YANG KITA BACA ADALAH MAKHLUK MENURUT ASYAIROH (Bagian Pertama)“), dan penulis mendahulukan bantahan terhadap aqidah Asya’iroh tersebut secara global.Sesungguhnya kelaziman dari aqidah mereka tentang kalamullah sebagai berikut :    Mereka (Asyairoh) memandang bahwa Allah tidak pernah berbicara dengan suara. Kalau hal ini benar, lantas kenapa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya tidak pernah menjelaskan sama sekali?. Jangankan dalam hadits yang shahih bahkan hadits yang palsu pun tidak pernah menjelaskan bahwa Allah bicara tanpa suara, dan al-Qur’an yang kalian baca tersebut hanyalah ungkapan dari bahasa jiwa Allah !!    Bahkan seluruh ayat dan hadits menyatakan secara langsung dan tegas : “Allah berfirman”. Jika ternyata al-Qur’an bukan firman Allah hanya ungkapan/ibarat maka tentu kaum muslimin dari zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam hingga saat ini tertipu dengan hal tersebut.    Dalam seluruh bahasa (bahkan dalam bahasa Indonesia) yang namanya berbicara itu adalah dengan suara. Karena kalau renungan dalam hati dikatakan berbicara maka orang bisu bisa dikatakan sebagai orang yang berbicara. Akan tetapi dalam bahasa apapun orang bisu tetap dikatakan orang bisu (yaitu yang tidak bisa berbicara). Kita boleh menamakan pembicaraan dalam hati sebagai pembicaraan jika kita menyebutnya secara khusus yaitu “berbicara dalam hatinya”. Adapun kata “berbicara” tanpa disertai dengan “dalam hati” maka tidak dipahami kecuali berbicara dengan suara.    Jika kalamullah hanyalah kalam nafsi yang tidak ada suara dan tanpa huruf, akan tetapi hanya makna yang ada pada jiwa, maka kalamullah dan sifat irodah (kehendak) Allah merupakan sesuatu yang sama tidak ada bedanya. Padahal Asyairoh sepakat bahwa sifat irodah bukan sifat kalam.    Jika firman Allah tanpa suara, maka ini berarti Nabi Musa sesungguhnya tidak pernah berbicara dengan Allah secara langsung, sebagaimana ini juga pernyataan kaum jahmiyah. Dan ini jelas-jelas bertentangan dengan firman Allah “Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung” (QS An-Nisaa : 164)    Hal ini juga menghilangkan keistimewaan Nabi Musa yang dikenal dengan Kaliimullah, karena pada hakikatnya tidak ada perbedaan antara Nabi Musa dengan nabi-nabi yang lain.    Asyairoh memandang bahwa kalaamullah adalah kalaam nafsi (kalam jiwa) dan qodim serta tidak pernah bertambah dan berkurang, selain itu juga tidak menerima pembagian. Sehingga jika kalam nafsi ini diungkapkan dengan bahasa Arab jadilah al-Qur’an, kalau diungkapkan dengan bahasa Ibrani jadilah Tauroh, dan jika diungkapkan dengan bahasa siryani jadilah injil. Padahal kita tahu isi al-Qur’an bukanlah isi Taurot, dan Isi Taurot bukanlah isinya injil. Kalau berdasarkan pemahaman Asyairoh seharusnya al-Qur’an kalau diterjemahkan ke bahasa Ibrani jadinya Taurot, dan kalau Injil diterjemahkan ke bahasa Arab jadi Al-Qur’an. Karena ketiga kitab suci ini (Al-Qur’an, Taurat, dan Injil) adalah sama-sama ungkapan dari kalam nafsinya Allah.    Kita tahu bahwasanya kalamullah tiada batasnya, sementara al-Qur’an atau Taurot atau Injil isinya terbatas, maka tentu ini menunjukkan bahwa kitab-kitab suci tersebut tidak bisa mengungkapkan kalamullah an-nafsi yang tidak terbatas    Kalau al-Qur’an adalah ungkapan dari sebagian kalaamullah an-Nafsi, maka berarti kalamullah an-nafsi bisa terbagi-bagi menjadi sebagian-sebagian. Dan ini menumbangkan aqidah Asyairoh yang meyakini bahwa kalamullah an-Nafsi tidak menerima pembagian dan parsial.    Kalau al-Qur’an adalah ungkapan dari kalamullah an-Nafsi, lantas kenapa dalam al-Qur’an begitu banyak huruf-huruf terputus-putus di awal-awal surat yang tidak mengungkapkan makna tertentu?. Seperti aliif laam miim, shood, Qoof, nuun, dll, maka ini tentu bukan bahasa ungkapan. Karena ungkapan/ibarat dari sesuatu harusnya jelas. Karena tujuan dari ungkapan adalah penafsiran makna dari kalam nafsi, maka seharusnya ungkapan tersebut dipahami maknanya dengan kesepakatan    Jika kalamullah an-nafsi qodim dan tidak pernah mengalami perubahan dan tidak bisa dibagi-bagi, lantas kenapa ungkapannya (yaitu al-Qur’an) bisa mengalami nasikh dan mansukh?, bahkan ada ayat-ayat yang tadinya dibaca sebagai al-Qur’an kemudian dimansukhkan sehingga tidak dicantumkan lagi sebagai Al-Qur’an?.    Jika al-Qur’an hanyalah ibarat/ungkapan maka seharusnya tidak mengapa al-Qur’an diriwayatkan dengan makna, dan tidak harus dengan huruf-hurufnya, yang penting maknanya sama. Bahkan seharusnya boleh al-Qur’an dibaca dengan bahasa yang lain dan tidak harus bahasa Arab.    Asyairoh meyakini bahwa Allah memahamkan kalaam nafsiNya kepada Muhammad. Nah pertanyaannya, apakah Allah memahamkan seluruh kalaf nafsiNya kepada Muhammad, atau sebagian kalam nafsiNya?. Jika Allah memahamkan seluruh kalaf nafsiNya yang tidak terbagi-bagi kepada Muhammad, berarti Muhammad ilmunya sama dengan ilmu Allah, karena ia memahami seluruh kalam nafsiNya Allah. Bahkan Nabi juga mengetauhi ilmu ghoib sama dengan Allah, dan ini jelas merupakan kekufuran. Namun jika Muhammad hanya dipahamkan sebagian kalam nafsiNya maka ini melazimkan kalam nafsiNya Allah tidak merupakan kesatuan, tapi bisa dibagi-bagi, dan ini berarti menumbangkan aqidah asyairoh.    Padahal ayat tegas menjelaskan bahwa para Rasul tidak mengetahui seluruh yang di jiwa Allah.Nabi Isa ‘alaihis salam berkata :تَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِي وَلَا أَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِكَ إِنَّكَ أَنْتَ عَلَّامُ الْغُيُوبِ“Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang ghaib-ghaib” (QS Al-Maidah : 116) Berikut syubhat-syubhat kaum Asya’iroh yang menyatakan bahwa al-Qur’an yang kita baca adalah makhluk.Syubhat Pertama : Kalau Allah berbicara dengan suara maka berarti menyamakan suara Allah dengan suara makhluk,Bantahan :Pertama : Dalil-dalil yang menunjukkan bahwa Allah berbicara/berfirman dengan suara maka sangatlah banyak sebagaimana telah lalu.Kedua : Persangakaan Asyairoh kalau Allah berbicara/berfirman dengan huruf dan bahasa dan suara berarti seperti makhluk ini adalah persangkaan yang keliru dan telah dibantah oleh para ulama sejak dahulu. Karena bid’ah ini sudah muncul sejak dahulu. Berikut bantahan al-Imam Al-Bukhari rahimahullah. Beliau menjelaskan jika firman Allah dengan suara maka tidak melazimkan bahwa suara Allah seperti suara makhluk, sebagaimana pendengaran dan penglihatan Allah tidak seperti makhluk dan sebagaimana dzat Allah tidak seperti dzat makhluk : Al-Imam Al-Bukhari (wafat 256 H) berkata :وَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يُنَادِي بِصَوْتٍ يَسْمَعُهُ مَنْ بَعُدَ كَمَا يَسْمَعُهُ مَنْ قَرُبَ، فَلَيْسَ هَذَا لِغَيْرِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ ذِكْرُهُ قَالَ أَبُو عَبْدِ اللَّهِ: ” وَفِي هَذَا دَلِيلٌ أَنَّ صَوْتَ اللَّهِ لَا يُشْبِهُ أَصْوَاتَ الْخَلْقِ، لِأَنَّ صَوْتَ اللَّهِ جَلَّ ذِكْرُهُ يُسْمَعُ مِنْ بُعْدٍ كَمَا يُسْمَعُ مِنْ قُرْبِ، وَأَنَّ الْمَلَائِكَةَ يُصْعَقُونَ مِنْ صَوْتِهِ، فَإِذَا تَنَادَى الْمَلَائِكَةُ لَمْ يُصْعَقُوا، وَقَالَ عَزَّ وَجَلَّ: {فَلَا تَجْعَلُوا لِلِّهِ أَنْدَادًا} فَلَيْسَ لِصِفَةِ اللَّهِ نِدٌّ، وَلَا مِثْلٌ، وَلَا يوجدُ شَيْءٌ مِنْ صِفَاتِهِ فِي الْمَخْلُوقِينَ ““Dan sesungguhnya Allah menyeru dengan suara yang didengar orang orang yang jauh sama sebagaimana didengar oleh orang yang dekat. Dan seperti ini tidak bisa untuk selain Allah. Dan ini adalah dalil bahwasanya suara Allah tidak seperti suara-suara makhluk. Karena suara Allah didengar oleh orang yang jauh sebagaimana pendengaran orang yang dekat. Jika para malaikat mendengar suara Allah maka mereka pingsan, dan jika para malaikat –diantara mereka- saling memanggil maka mereka tidak pingsan. Dan Allah telah berfirmanفَلا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَنْدَادًا“Karena itu janganlah kamu Mengadakan tandingan-tandingan bagi Allah” (QS Al-Baqoroh : 22)Maka tidak ada tandingan bagi sifat Allah, dan juga tidak ada yang menyamai, dan tidak ada satu sifat Allah pun yang ada pada para makhluk” (Kholqu Af’aalil ‘Ibaad hal 91-92).Al-Imam Al-Bukhari menjelaskan poin perbedaan suara Allah dengan suara makhluk diantaranya :    Suara Allah didengar sama antara yang jauh maupun yang dekat, dan ini berbeda dengan suara manusia    Suara Allah kalau didengar para malaikat maka merekapun pingsan. Berbeda dengan suara malaikat, takala malaikat berbicara saling mendengar suara diantara mereka maka mereka tidaklah pingsan. Syubhat Kedua : Kalau Allah berbicara dengan suara maka melazimkan Allah membutuhkan tempat keluar suara, pita suara, udara, dllBantahan :Pertama : Itu semua menjadi lazim jika yang dimaksud adalah suara makhluk yang dikenal oleh manusia, adapun suara Allah maka berbeda dan tidak lazim.Ibnu Hajar berkata :فَمَنْ مَنَعَ قَالَ إِنَّ الصَّوْتَ هُوَ الْهَوَاءُ الْمُنْقَطِعُ الْمَسْمُوعُ مِنَ الْحَنْجَرَةِ وَأَجَابَ مَنْ أَثْبَتَهُ بِأَنَّ الصَّوْتَ الْمَوْصُوفَ بِذَلِكَ هُوَ الْمَعْهُودُ مِنَ الْآدَمِيِّينَ كَالسَّمْعِ وَالْبَصَرِ وَصِفَاتُ الرَّبِّ بِخِلَافِ ذَلِكَ فَلَا يَلْزَمُ الْمَحْذُورُ الْمَذْكُورُ مَعَ اعْتِقَادِ التَّنْزِيهِ وَعَدَمِ التَّشْبِيهِ وَأَنَّهُ يَجُوزُ أَنْ يَكُونَ مِنْ غَيْرِ الْحَنْجَرَةِ فَلَا يَلْزَمُ التَّشْبِيهَ“Adapun suara maka barang siapa yang melarang (sifat suara bagi Allah) beralasan bahwa suara adalah aliran nafas yang terhenti yang terdengar dan keluar dari kerongkongan. Maka orang yang menetapkan sifat suara menjawab dengan dalih bahwasanya suara yang sifatnya demikian adalah suara yang dikenal dari para manusia. Sebagaimana pendengaran dan penglihatan. Dan sifat-sifat Ar-Robb berbeda dengan itu semua dan tidaklah melazimkan adanya perkara yang disebutkan yang dilarang tersebut jika disertai keyakinan tanzih (pensucian sifat Allah dari kekurangan-pen) dan tidak adanya tasybih (menyamakan dengan makhluk-pen). Dan suara bisa keluar tanpa kerongkongan, sehingga tidak melazimkan tasybih.” (Fathul Baari 13/460)Kedua : Ternyata makhluk juga ada yang bisa mengeluarkan suaranya tanpa pita suara dan rongga suara. Bukankah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah menyebutkan bahwa ada batu yang pernah memberi salam kepadanya?. Beliau berkata :إني لأعرف حجراً بمكة كان يسلِّم علي قبل أن أُبْعَثُ إِنِّي لأعرفه الآنَ“Sesungguhnya aku mengetahui sebuah batu di Mekah pernah memberi salam kepadaku sebelum aku diangkat menjadi Nabi, dan sungguh aku mengetahuinya sekarang” (HR Muslim No. 2277)Bukankah makanan pernah bertasbih dihadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam?, Ibnu Mas’ud berkata :ولقد كُنَّا نَسْمَعُ تَسْبِيْحَ الطَّعَامِ وَهُوَ يُؤْكَلُ“Dan sungguh kami mendengar tasbih makanan padahal makanan tersebut sedang dimakan” (HR Al-Bukhari No. 3579)Dalam riwayat yang lain :كُنَّا نَأْكُلُ مَعَ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم، وَنَحْنُ نَسْمَعُ تَسْبِيْحَ الطَّعَامِ“Kami makan bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan kami mendengar tasbihnya makanan” (Lihat Fathul Baari 6/592)Bukankah para sahabat mendengar suara tangisan batang korma tatkala ditinggal oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam? Ibnu Umar berkata ;كَانَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم يَخْطُبُ إِلَى جِذْعٍ فَلَمَّا اتَّخَذَ الْمِنْبَرَ تَحَوَّلَ إِلَيْهِ فَحَنَّ الْجِذْعُ فَأَتَاهُ فَمَسَحَ عَلَيْهِ“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkhutbah di batang kurma, tatkala dibuat mimbar dan Nabi ke mimbar maka batang kurma tersebut terisak, lalu Nabi ke batang tersebut lalu mengusapnya’ (HR Al-Bukhari No. 3583)Jika makhluk saja bisa bersuara tanpa rongga dan tanpa pita suara maka bagaimana lagi dengan Allah sang Maha Pencipta?. Bukankah pada hari kiamat kaki, tangan, kulit, dan jari bisa berbicara? Syubhat ketiga : Kalau Allah berbicara dengan huruf maka berarti Allah menerima pembagian, padahal Allah tidak bisa dibagi-bagi.Bantahan :Pertama : Mana dalil bahwasanya firman Allah tidak boleh terbagi-bagi sama sekali?. Terserah Allah membagi firmanNya berbicara sebagian pada suatu waktu dan berbicara dengan topik dan pembicaraan yang lain pada waktu yang lain?. Kenapa tidak boleh?. Bukankah Allah maha berbicara?. Allah berbicara dengan Nabi Musa, bahkan berdialog dengan Nabi Musa, maka pembicaraan Allah terbagi-bagi, bertahap sehingga terjadi dialog dan sahut menyahut dengan Nabi Musa ‘alaihis salam?Bukankah Allah jika berkehendak sesuatu maka Allah mengatakan “Kun Fayakun”, berarti setiap kehendak yang berbeda maka Allah mengucapkan “Kun Fayakun”, bukankah ini berarti Allah terbagi-bagi kalamNya?Yang tidak boleh jika kita mengatakan bahwa zat Allah terbagi-bagi, menjadi ganda atau lebih, memiliki anak atau istri. Adapun sifat Allah terbagi-bagi maka tidak ada larangan, bukankah sifat-sifat Allah banyak?, bukankah sifat-sifat tersebut berbeda-beda? Apakah ini berarti terbagi-bagi yang dilarang?.Jadi kaum Asyairoh terjebak dengan logika filsafat mereka “Allah tidak boleh terbagi-bagi” sehingga tidak bisa masuk akal mereka jika firman Allah terangkai atas suara dan huruf-huruf.Kedua : Kaum Asyairoh juga terjatuh pada apa yang mereka lari darinya -sebagaimana telah lalu penjelasan bantahan secara global-.  Karena mereka meyakini bahwa at-Taurot dan Injil adalah ungkapan dari kalaam Allah yang qodiim? (yang kalam yang qodim tersebut satu kesatuan tidak terbagi-bagi dan tidak berubah-rubah). Demikian pula dengan al-Qur’an adalah ungkapan dari kalam Allah yang qodim tersebut. Nah yang menjadi pertanyaan, apakah al-Qur’an tersebut adalah ungkapan dari seluruh kalam Allah yang qodim tersebut? Ataukah sebagian dari kalaam yang qodim tersebut?    Kalau mereka berkata al-Qur’an adalah ibarat/ungkapan dari seluruh kalaam qodiim tersebut berarti kalam Allah terbatas dong? Karena ungkapannya terbatas?.    Kalau mereka (Asyairoh) berkata bahwa al-Qur’an adalah ungkapan dari sebagian kalam Allah yang qodim, maka berarti mereka terjatuh dalam apa yang mereka lari darinya !Mataram, Lombok 24 syawwal 1438/18 juli 2107Firanda Andirjawww.firanda.com
Prev     Next