10 Kiat Istiqomah (12)

Baca pembahasan sebelumnya 10 Kiat Istiqomah (11)KIAT KETUJUH:“Seorang hamba, meski bagaimanapun tingginya tingkat istiqomahnya, maka ia tidak boleh bersandar kepada amalnya”Kewajiban seorang hamba adalah tidak bersandar kepada amalnya, meski bagaimanapun tingginya tingkat istiqomahnya, walaupun bagaimanapun tingginya keshalehannya.Jangan sampai ia tertipu dan silau dengan ibadahnya, shalatnya, puasanya, dzikirnya ataupun ketaatan lainnya yang ia lakukan.Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata:والمطلوبُ منَ العبد الاستقامةُ وهيَ السَّداد، فإنْ لمْ يَقدِر عليهَا فالمُقارَبَة، فإنْ نَزل عنهَا فالتَّفريطُ والإضَاعةُ،“Yang tertuntut dari seorang hamba adalah istiqomah, yaitu sadaad, jika ia tidak mampu maka bersikaplah muqaarabah. Adapun jika melakukan di bawah muqaarabah, berarti terjerumus ke dalam mengurangi batasan (syar’i) dan menelantarkan(nya)”.Sebagaimana di dalam Ash-Shahihain dari hadits A’isyah radhiyallahu ‘anha dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: سَدِّدُوا وَقَارِبُوا وَأَبْشِرُوا، فَإِنَّهُ لَنْ يُدْخِلَ الجَنَّةَ أَحَدًا عَمَلُهُ، قَالُوا: وَلَا أَنْتَ يَا رَسُولَ الله!؟ قَالَ: وَلَا أَنَا؛ إِلَّا أَنْ يَتَغَمَّدَنِيَ الله مِنْهُ بِمَغْفِرَةٍ ورَحْمَةٍ“Bersikaplah kalian sesuai dengan (sunah) dan mendekatilah, serta bergembiralah, karena sesungguhnya amal seseorang tidaklah memasukkan dirinya kedalam surga”. Para sahabat bertanya: “Tidak pula Anda wahai Rasulullah?”, beliau menjawab: “Tidak pula saya, hanya saja Allah melimpahkan kepadaku ampunan dan rahmat dari-Nya”.Dalam hadits ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menggabungkan seluruh kedudukan-kedudukan dalam agama Islam ini, beliau shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan (umatnya) untuk istiqomah, yaitu: lurus dan benar dalam seluruh niat, ucapan dan perbuatan.Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengabarkan dalam hadits Tsauban, yaitu:استَقِيمُوا ولنْ تُحْصُوا، واعْلَمُوا أنَّ خَيْرَ أعْمَالِكُم الصَّلاة“Istiqomahlah dan kalian tidaklah akan mampu (untuk istiqomah dalam semua ketaatan dengan sebenar-benar istiqomah), dan ketahuilah bahwa sebaik-baik amal kalian adalah shalat” (HR. Imama Malik dalam Al-Muwaththa` dan Ibnu Majah, dinilai sahih oleh Al-Albani).Bahwa mereka tidak mampu (untuk istiqomah dalam semua ketaatan dengan sebenar-benar istiqomah), sehingga Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengalihkan kepada muqaarabah, yaitu: agar mereka mendekat kepada istiqomah sesuai dengan kemampuan mereka, seperti orang yang membidik suatu sasaran, maka jika tidak tepat mengenai sasaran, setidaknya mendekati sasaran tersebut! (Madarijus Salikin: 2/105).Selanjutnya, Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan kandungan lain dari  hadits A’isyah radhiyallahu ‘anha dalam Ash-Shahihain di atas, Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:فأخبَرهُم أنَّ الاستقَامَة والمقارَبة لا تُنْجي يومَ القِيامةِ، فلا يَرْكَن أحدٌ إلى عمَلِه ، ولا يَعْجَب به ، ولا يَرى أنَّ نَجاتَه به ؛ بَل إنَّما نجاتُه برحمةِ الله وعفوِه وفضلِه“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun mengabarkan bahwa istiqomah (sadaad) dan muqaarabah tidaklah menyelamatkan (pelakunya) pada hari kiamat kelak, maka janganlah seseorang bersandar kepada amalnya (merasa aman) dan janganlah ia bangga/silau dengan amalannya, serta janganlah ia memandang bahwa hakekatnya keselamatan dirinya ditentukan oleh amalnya, akan tetapi hakekatnya keselamatan dirinya adalah karena rahmat Allah, maaf-Nya dan karunia-Nya” (Madarijus Salikin: 2/105).(Bersambung)Daftar link artikel ini: 10 Kiat Istiqamah (1) 10 Kiat Istiqamah (2) 10 Kiat Istiqamah (3) 10 Kiat Istiqamah (4) 10 Kiat Istiqamah (5) 10 Kiat Istiqamah (6) 10 Kiat Istiqamah (7) 10 Kiat Istiqamah (8) 10 Kiat Istiqomah (9) 10 Kiat Istiqomah (10) 10 Kiat Istiqomah (11) 10 Kiat Istiqomah (12) Penulis: Sa’id Abu Ukkasyah Artikel: Muslim.or.id🔍 Fadhilah Sholat, Hadist Tentang Pemimpin, Waktu Shalat 5 Waktu, Syarat Wanita Masuk Surga, Hadits Tentang Beladiri

10 Kiat Istiqomah (12)

Baca pembahasan sebelumnya 10 Kiat Istiqomah (11)KIAT KETUJUH:“Seorang hamba, meski bagaimanapun tingginya tingkat istiqomahnya, maka ia tidak boleh bersandar kepada amalnya”Kewajiban seorang hamba adalah tidak bersandar kepada amalnya, meski bagaimanapun tingginya tingkat istiqomahnya, walaupun bagaimanapun tingginya keshalehannya.Jangan sampai ia tertipu dan silau dengan ibadahnya, shalatnya, puasanya, dzikirnya ataupun ketaatan lainnya yang ia lakukan.Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata:والمطلوبُ منَ العبد الاستقامةُ وهيَ السَّداد، فإنْ لمْ يَقدِر عليهَا فالمُقارَبَة، فإنْ نَزل عنهَا فالتَّفريطُ والإضَاعةُ،“Yang tertuntut dari seorang hamba adalah istiqomah, yaitu sadaad, jika ia tidak mampu maka bersikaplah muqaarabah. Adapun jika melakukan di bawah muqaarabah, berarti terjerumus ke dalam mengurangi batasan (syar’i) dan menelantarkan(nya)”.Sebagaimana di dalam Ash-Shahihain dari hadits A’isyah radhiyallahu ‘anha dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: سَدِّدُوا وَقَارِبُوا وَأَبْشِرُوا، فَإِنَّهُ لَنْ يُدْخِلَ الجَنَّةَ أَحَدًا عَمَلُهُ، قَالُوا: وَلَا أَنْتَ يَا رَسُولَ الله!؟ قَالَ: وَلَا أَنَا؛ إِلَّا أَنْ يَتَغَمَّدَنِيَ الله مِنْهُ بِمَغْفِرَةٍ ورَحْمَةٍ“Bersikaplah kalian sesuai dengan (sunah) dan mendekatilah, serta bergembiralah, karena sesungguhnya amal seseorang tidaklah memasukkan dirinya kedalam surga”. Para sahabat bertanya: “Tidak pula Anda wahai Rasulullah?”, beliau menjawab: “Tidak pula saya, hanya saja Allah melimpahkan kepadaku ampunan dan rahmat dari-Nya”.Dalam hadits ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menggabungkan seluruh kedudukan-kedudukan dalam agama Islam ini, beliau shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan (umatnya) untuk istiqomah, yaitu: lurus dan benar dalam seluruh niat, ucapan dan perbuatan.Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengabarkan dalam hadits Tsauban, yaitu:استَقِيمُوا ولنْ تُحْصُوا، واعْلَمُوا أنَّ خَيْرَ أعْمَالِكُم الصَّلاة“Istiqomahlah dan kalian tidaklah akan mampu (untuk istiqomah dalam semua ketaatan dengan sebenar-benar istiqomah), dan ketahuilah bahwa sebaik-baik amal kalian adalah shalat” (HR. Imama Malik dalam Al-Muwaththa` dan Ibnu Majah, dinilai sahih oleh Al-Albani).Bahwa mereka tidak mampu (untuk istiqomah dalam semua ketaatan dengan sebenar-benar istiqomah), sehingga Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengalihkan kepada muqaarabah, yaitu: agar mereka mendekat kepada istiqomah sesuai dengan kemampuan mereka, seperti orang yang membidik suatu sasaran, maka jika tidak tepat mengenai sasaran, setidaknya mendekati sasaran tersebut! (Madarijus Salikin: 2/105).Selanjutnya, Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan kandungan lain dari  hadits A’isyah radhiyallahu ‘anha dalam Ash-Shahihain di atas, Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:فأخبَرهُم أنَّ الاستقَامَة والمقارَبة لا تُنْجي يومَ القِيامةِ، فلا يَرْكَن أحدٌ إلى عمَلِه ، ولا يَعْجَب به ، ولا يَرى أنَّ نَجاتَه به ؛ بَل إنَّما نجاتُه برحمةِ الله وعفوِه وفضلِه“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun mengabarkan bahwa istiqomah (sadaad) dan muqaarabah tidaklah menyelamatkan (pelakunya) pada hari kiamat kelak, maka janganlah seseorang bersandar kepada amalnya (merasa aman) dan janganlah ia bangga/silau dengan amalannya, serta janganlah ia memandang bahwa hakekatnya keselamatan dirinya ditentukan oleh amalnya, akan tetapi hakekatnya keselamatan dirinya adalah karena rahmat Allah, maaf-Nya dan karunia-Nya” (Madarijus Salikin: 2/105).(Bersambung)Daftar link artikel ini: 10 Kiat Istiqamah (1) 10 Kiat Istiqamah (2) 10 Kiat Istiqamah (3) 10 Kiat Istiqamah (4) 10 Kiat Istiqamah (5) 10 Kiat Istiqamah (6) 10 Kiat Istiqamah (7) 10 Kiat Istiqamah (8) 10 Kiat Istiqomah (9) 10 Kiat Istiqomah (10) 10 Kiat Istiqomah (11) 10 Kiat Istiqomah (12) Penulis: Sa’id Abu Ukkasyah Artikel: Muslim.or.id🔍 Fadhilah Sholat, Hadist Tentang Pemimpin, Waktu Shalat 5 Waktu, Syarat Wanita Masuk Surga, Hadits Tentang Beladiri
Baca pembahasan sebelumnya 10 Kiat Istiqomah (11)KIAT KETUJUH:“Seorang hamba, meski bagaimanapun tingginya tingkat istiqomahnya, maka ia tidak boleh bersandar kepada amalnya”Kewajiban seorang hamba adalah tidak bersandar kepada amalnya, meski bagaimanapun tingginya tingkat istiqomahnya, walaupun bagaimanapun tingginya keshalehannya.Jangan sampai ia tertipu dan silau dengan ibadahnya, shalatnya, puasanya, dzikirnya ataupun ketaatan lainnya yang ia lakukan.Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata:والمطلوبُ منَ العبد الاستقامةُ وهيَ السَّداد، فإنْ لمْ يَقدِر عليهَا فالمُقارَبَة، فإنْ نَزل عنهَا فالتَّفريطُ والإضَاعةُ،“Yang tertuntut dari seorang hamba adalah istiqomah, yaitu sadaad, jika ia tidak mampu maka bersikaplah muqaarabah. Adapun jika melakukan di bawah muqaarabah, berarti terjerumus ke dalam mengurangi batasan (syar’i) dan menelantarkan(nya)”.Sebagaimana di dalam Ash-Shahihain dari hadits A’isyah radhiyallahu ‘anha dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: سَدِّدُوا وَقَارِبُوا وَأَبْشِرُوا، فَإِنَّهُ لَنْ يُدْخِلَ الجَنَّةَ أَحَدًا عَمَلُهُ، قَالُوا: وَلَا أَنْتَ يَا رَسُولَ الله!؟ قَالَ: وَلَا أَنَا؛ إِلَّا أَنْ يَتَغَمَّدَنِيَ الله مِنْهُ بِمَغْفِرَةٍ ورَحْمَةٍ“Bersikaplah kalian sesuai dengan (sunah) dan mendekatilah, serta bergembiralah, karena sesungguhnya amal seseorang tidaklah memasukkan dirinya kedalam surga”. Para sahabat bertanya: “Tidak pula Anda wahai Rasulullah?”, beliau menjawab: “Tidak pula saya, hanya saja Allah melimpahkan kepadaku ampunan dan rahmat dari-Nya”.Dalam hadits ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menggabungkan seluruh kedudukan-kedudukan dalam agama Islam ini, beliau shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan (umatnya) untuk istiqomah, yaitu: lurus dan benar dalam seluruh niat, ucapan dan perbuatan.Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengabarkan dalam hadits Tsauban, yaitu:استَقِيمُوا ولنْ تُحْصُوا، واعْلَمُوا أنَّ خَيْرَ أعْمَالِكُم الصَّلاة“Istiqomahlah dan kalian tidaklah akan mampu (untuk istiqomah dalam semua ketaatan dengan sebenar-benar istiqomah), dan ketahuilah bahwa sebaik-baik amal kalian adalah shalat” (HR. Imama Malik dalam Al-Muwaththa` dan Ibnu Majah, dinilai sahih oleh Al-Albani).Bahwa mereka tidak mampu (untuk istiqomah dalam semua ketaatan dengan sebenar-benar istiqomah), sehingga Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengalihkan kepada muqaarabah, yaitu: agar mereka mendekat kepada istiqomah sesuai dengan kemampuan mereka, seperti orang yang membidik suatu sasaran, maka jika tidak tepat mengenai sasaran, setidaknya mendekati sasaran tersebut! (Madarijus Salikin: 2/105).Selanjutnya, Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan kandungan lain dari  hadits A’isyah radhiyallahu ‘anha dalam Ash-Shahihain di atas, Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:فأخبَرهُم أنَّ الاستقَامَة والمقارَبة لا تُنْجي يومَ القِيامةِ، فلا يَرْكَن أحدٌ إلى عمَلِه ، ولا يَعْجَب به ، ولا يَرى أنَّ نَجاتَه به ؛ بَل إنَّما نجاتُه برحمةِ الله وعفوِه وفضلِه“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun mengabarkan bahwa istiqomah (sadaad) dan muqaarabah tidaklah menyelamatkan (pelakunya) pada hari kiamat kelak, maka janganlah seseorang bersandar kepada amalnya (merasa aman) dan janganlah ia bangga/silau dengan amalannya, serta janganlah ia memandang bahwa hakekatnya keselamatan dirinya ditentukan oleh amalnya, akan tetapi hakekatnya keselamatan dirinya adalah karena rahmat Allah, maaf-Nya dan karunia-Nya” (Madarijus Salikin: 2/105).(Bersambung)Daftar link artikel ini: 10 Kiat Istiqamah (1) 10 Kiat Istiqamah (2) 10 Kiat Istiqamah (3) 10 Kiat Istiqamah (4) 10 Kiat Istiqamah (5) 10 Kiat Istiqamah (6) 10 Kiat Istiqamah (7) 10 Kiat Istiqamah (8) 10 Kiat Istiqomah (9) 10 Kiat Istiqomah (10) 10 Kiat Istiqomah (11) 10 Kiat Istiqomah (12) Penulis: Sa’id Abu Ukkasyah Artikel: Muslim.or.id🔍 Fadhilah Sholat, Hadist Tentang Pemimpin, Waktu Shalat 5 Waktu, Syarat Wanita Masuk Surga, Hadits Tentang Beladiri


Baca pembahasan sebelumnya 10 Kiat Istiqomah (11)KIAT KETUJUH:“Seorang hamba, meski bagaimanapun tingginya tingkat istiqomahnya, maka ia tidak boleh bersandar kepada amalnya”Kewajiban seorang hamba adalah tidak bersandar kepada amalnya, meski bagaimanapun tingginya tingkat istiqomahnya, walaupun bagaimanapun tingginya keshalehannya.Jangan sampai ia tertipu dan silau dengan ibadahnya, shalatnya, puasanya, dzikirnya ataupun ketaatan lainnya yang ia lakukan.Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata:والمطلوبُ منَ العبد الاستقامةُ وهيَ السَّداد، فإنْ لمْ يَقدِر عليهَا فالمُقارَبَة، فإنْ نَزل عنهَا فالتَّفريطُ والإضَاعةُ،“Yang tertuntut dari seorang hamba adalah istiqomah, yaitu sadaad, jika ia tidak mampu maka bersikaplah muqaarabah. Adapun jika melakukan di bawah muqaarabah, berarti terjerumus ke dalam mengurangi batasan (syar’i) dan menelantarkan(nya)”.Sebagaimana di dalam Ash-Shahihain dari hadits A’isyah radhiyallahu ‘anha dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: سَدِّدُوا وَقَارِبُوا وَأَبْشِرُوا، فَإِنَّهُ لَنْ يُدْخِلَ الجَنَّةَ أَحَدًا عَمَلُهُ، قَالُوا: وَلَا أَنْتَ يَا رَسُولَ الله!؟ قَالَ: وَلَا أَنَا؛ إِلَّا أَنْ يَتَغَمَّدَنِيَ الله مِنْهُ بِمَغْفِرَةٍ ورَحْمَةٍ“Bersikaplah kalian sesuai dengan (sunah) dan mendekatilah, serta bergembiralah, karena sesungguhnya amal seseorang tidaklah memasukkan dirinya kedalam surga”. Para sahabat bertanya: “Tidak pula Anda wahai Rasulullah?”, beliau menjawab: “Tidak pula saya, hanya saja Allah melimpahkan kepadaku ampunan dan rahmat dari-Nya”.Dalam hadits ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menggabungkan seluruh kedudukan-kedudukan dalam agama Islam ini, beliau shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan (umatnya) untuk istiqomah, yaitu: lurus dan benar dalam seluruh niat, ucapan dan perbuatan.Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengabarkan dalam hadits Tsauban, yaitu:استَقِيمُوا ولنْ تُحْصُوا، واعْلَمُوا أنَّ خَيْرَ أعْمَالِكُم الصَّلاة“Istiqomahlah dan kalian tidaklah akan mampu (untuk istiqomah dalam semua ketaatan dengan sebenar-benar istiqomah), dan ketahuilah bahwa sebaik-baik amal kalian adalah shalat” (HR. Imama Malik dalam Al-Muwaththa` dan Ibnu Majah, dinilai sahih oleh Al-Albani).Bahwa mereka tidak mampu (untuk istiqomah dalam semua ketaatan dengan sebenar-benar istiqomah), sehingga Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengalihkan kepada muqaarabah, yaitu: agar mereka mendekat kepada istiqomah sesuai dengan kemampuan mereka, seperti orang yang membidik suatu sasaran, maka jika tidak tepat mengenai sasaran, setidaknya mendekati sasaran tersebut! (Madarijus Salikin: 2/105).Selanjutnya, Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan kandungan lain dari  hadits A’isyah radhiyallahu ‘anha dalam Ash-Shahihain di atas, Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:فأخبَرهُم أنَّ الاستقَامَة والمقارَبة لا تُنْجي يومَ القِيامةِ، فلا يَرْكَن أحدٌ إلى عمَلِه ، ولا يَعْجَب به ، ولا يَرى أنَّ نَجاتَه به ؛ بَل إنَّما نجاتُه برحمةِ الله وعفوِه وفضلِه“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun mengabarkan bahwa istiqomah (sadaad) dan muqaarabah tidaklah menyelamatkan (pelakunya) pada hari kiamat kelak, maka janganlah seseorang bersandar kepada amalnya (merasa aman) dan janganlah ia bangga/silau dengan amalannya, serta janganlah ia memandang bahwa hakekatnya keselamatan dirinya ditentukan oleh amalnya, akan tetapi hakekatnya keselamatan dirinya adalah karena rahmat Allah, maaf-Nya dan karunia-Nya” (Madarijus Salikin: 2/105).(Bersambung)Daftar link artikel ini: 10 Kiat Istiqamah (1) 10 Kiat Istiqamah (2) 10 Kiat Istiqamah (3) 10 Kiat Istiqamah (4) 10 Kiat Istiqamah (5) 10 Kiat Istiqamah (6) 10 Kiat Istiqamah (7) 10 Kiat Istiqamah (8) 10 Kiat Istiqomah (9) 10 Kiat Istiqomah (10) 10 Kiat Istiqomah (11) 10 Kiat Istiqomah (12) Penulis: Sa’id Abu Ukkasyah Artikel: Muslim.or.id🔍 Fadhilah Sholat, Hadist Tentang Pemimpin, Waktu Shalat 5 Waktu, Syarat Wanita Masuk Surga, Hadits Tentang Beladiri

Tidak Boleh Mengatakan “Insya Allah” Ketika Janjian dengan Non-Muslim?

Kata “Insya Allah” untuk Non-Muslim Assalamualaikum Ustadz, Ijin bertanya. Kita boleh gunakan bahasa arab seperti insyaALLAH untuk janjian dengan non muslim? Dari : Izkey Jawaban: Wa’alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh. Bismillah wasshalaatu wassalam ala Rasulillah, waba’du. Kami belum menemukan jawaban pertanyaan senada dari para ahli fikih. Semoga melalui pendekatan berikut, dapat menemukan jawabannya. Pertama, Hukum Berdoa Untuk Kebaikan Orang Kafir Mendoakan orang kafir ada dua jenis : 1. Mendoakan hidayah Para ulama menjelaskan, mendoakan hidayah untuk orang kafir hukumnya boleh. Karena Nabi pernah mendoakan hidayah untuk orang Yahudi yang bersin di dekat beliau. Dalam sebuah hadis riwayat Imam Ahmad dinyatakan, كان اليهود يتعاطسون عند النبي صلى الله عليه وسلم يرجون أن يقول لهم: يرحمكم الله، فيقول لهم: يهديكم الله ويصلح بالكم Dahulu orang-orang Yahudi bersin di dekat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, berharap supaya didoakan rahmat oleh beliau, dengan doa “Yarhamukumullah.. (semoga Allah merahmati kalian). Namun Nabi mengucapkan doa “Yahdiikumullah wa yushlihu baalakum..” (semoga Allah memberi kalian hidayah dan memperbaiki keadaan kalian). (HR. Ahmad, dinilai shahih oleh Syaikh Albani dan Syaikh Al-Arnauth). Demikian pula, sahabat Tufail bin Amr dari kabilah Daus, pernah meminta Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mendoakan kabilah Daus yang masih kafir, يا رسول الله إن دوسا قد عصت وأبت فادع الله عليها “Ya Rasulullah, kabilah Daus telah melanggar dan membangkang, maka mohon doakan keburukan untuk mereka.” Kata Tufail. Lalu Nabi menghadap ke arah kiblat, kemudian menengadahkan kedua tangan seraya berdoa, اللهم اهد دوسا وائت بهم “Ya Allah, berilah petunjuk kepada kabilah Daus dan datangkan petunjuk itu kepada mereka.” Padahal orang – orang menyangka, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan mendoakan keburukan untuk mereka. (HR. Bukhari dan Muslim). 2. Mendoakan ampunan dan rahmat Adapun mendoakan ampunan dan rahmat untuk orang kafir, hukum dilarang. Karena Allah ‘azzawa jalla berfirman, مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوا أُولِي قُرْبَىٰ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ Tidak boleh bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memohonkan ampunan (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, sekalipun orang-orang itu kaum kerabat(nya), setelah jelas bagi mereka, bahwa orang-orang musyrik itu penghuni neraka Jahanam. (QS. At-Taubah : 113). Dan Allah ‘azzawajalla melarang Nabi shallallahu alaihi wa sallam mendoakan rahmat untuk Ibunda beliau. Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu beliau berkata, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, استأذنت ربي أن أستغفر لأمي فلم يأذن لي , واستأذنته أن أزور قبرها فأذن لي Saya memohon izin kepada Tuhanku untuk mendoakan ampunan untuk ibuku, namun Dia tidak mengizinkan. Aku memohon izin untuk menziarahahi kuburnya, maka Dia mengizinkanku. (HR. Muslim). Fatwa larangan mendoakan rahmat dan ampunan untuk orang kafir disampaikan lembaga Fatwa Syabakah Islamiyah – Qatar, ولكن لا يجوز أن يدعى لغير المسلمين بالرحمة والمغفرة… وإنما يجوز أن يدعى له بالهداية إلى دين الله وصلاح الحال Tidak boleh mendoakan rahmat dan ampunan untuk non-muslim. Akan tetapi boleh mendoakan hidayah dan doa supaya keadaan mereka membaik.. (Fatwa Syabakah Islamiyah no. 66098). Sementara dalam ucapan Insya Allah (jika Allah berkendak), tak sedikitpun terkandung ungkapan doa. Kalimat ini hanya berisi berita, bahwa jika Allah berkehendak maka rencana akan terlaksana, namun bila tidak, rencana tak akan terlaksana. Oleh karenanya boleh mengucapkan kalimat ini, meskipun dalam kondisi kita berinteraksi dengan orang kafir. Terlebih takdir dan kehendak Allah, tidak hanya berlaku pada orang muslim, namun juga kepada orang kafir, bahkan seluruh makhluk-Nya. Kedua, Allah Memerintahkan Nabi Mengucapkan Insya Allah Allah ‘azza wa jalla menegur Nabi-Nya shallallahu alaihi wa sallam karena lupa mengucapkan Insya allah. وَلَا تَقُولَنَّ لِشَيْءٍ إِنِّي فَاعِلٌ ذَٰلِكَ غَدًا* إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ ۚ Dan jangan sekali-kali engkau mengatakan terhadap sesuatu, “Aku pasti melakukan itu besok hari,” lecuali (dengan mengatakan), “Insya Allah.” (QS. Al-Kahfi : 23-24). Pada ayat ini, Allah ta’ala menegur Nabi-Nya shallallahu alaihi wa sallam disebabkan perkataan beliau kepada orang-orang kafir, ketika mereka bertanya tentang ruh, pemuda ash-habul kahfi dan Dzulqarnain, غدا أخبركم بجواب أسئلتكم “Besok saya kabarkan jawaban pertanyaan kalian.” Jawab Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Beliau lupa mengucapkan Insya Allah. Akibatnya wahyu tidak turun selama 15 hari, sampai beliaupun bersedih karena keterlambatan itu. Orang-orang kafir membuat beliau gundah dengan dalih keterlambatan wahyu tersebut. Lalu turunlah surat Al-Kahfi, yang membuat hati Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahagia. Dan pada ayat ini, Allah memerintahkan beliau untuk tidak mengatakan suatu rencana , “besok akan saya lakukan begini dan begitu..” kecuali mengaitkan rencana itu dengan kehendak Allah ‘azza wa jalla. (Lihat : Tafsir Al-Qurtubi pada tafsiran ayat di atas) Ini menunjukkan perintah mengucapkan Insya Allah, meskipun lawan bicara kita adalah non muslim. Karena pada ayat di atas, Allah menegur Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena lupa mengucapkan Insya Allah untuk rencana yang akan beliau lakukan esok hari, padahal lawan bicara beliau ketika itu adalah orang-orang kafir. Demikian… Wallahu a’lam bis shawab. Dijawab oleh Ustadz Ahmad Anshari, Lc. Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. SPONSOR hubungi: 081 326 333 328 DONASI hubungi: 087 882 888 727 REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK 🔍 Hukum Rokok Dalam Islam, Hukum Tidak Membayar Hutang Di Bank, Niat Mengqodho Puasa Ramadhan, Anjing Islam, Jin Terkuat Dalam Islam, Kewajiban Menuntut Ilmu Dalam Islam Visited 177 times, 1 visit(s) today Post Views: 334 QRIS donasi Yufid

Tidak Boleh Mengatakan “Insya Allah” Ketika Janjian dengan Non-Muslim?

Kata “Insya Allah” untuk Non-Muslim Assalamualaikum Ustadz, Ijin bertanya. Kita boleh gunakan bahasa arab seperti insyaALLAH untuk janjian dengan non muslim? Dari : Izkey Jawaban: Wa’alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh. Bismillah wasshalaatu wassalam ala Rasulillah, waba’du. Kami belum menemukan jawaban pertanyaan senada dari para ahli fikih. Semoga melalui pendekatan berikut, dapat menemukan jawabannya. Pertama, Hukum Berdoa Untuk Kebaikan Orang Kafir Mendoakan orang kafir ada dua jenis : 1. Mendoakan hidayah Para ulama menjelaskan, mendoakan hidayah untuk orang kafir hukumnya boleh. Karena Nabi pernah mendoakan hidayah untuk orang Yahudi yang bersin di dekat beliau. Dalam sebuah hadis riwayat Imam Ahmad dinyatakan, كان اليهود يتعاطسون عند النبي صلى الله عليه وسلم يرجون أن يقول لهم: يرحمكم الله، فيقول لهم: يهديكم الله ويصلح بالكم Dahulu orang-orang Yahudi bersin di dekat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, berharap supaya didoakan rahmat oleh beliau, dengan doa “Yarhamukumullah.. (semoga Allah merahmati kalian). Namun Nabi mengucapkan doa “Yahdiikumullah wa yushlihu baalakum..” (semoga Allah memberi kalian hidayah dan memperbaiki keadaan kalian). (HR. Ahmad, dinilai shahih oleh Syaikh Albani dan Syaikh Al-Arnauth). Demikian pula, sahabat Tufail bin Amr dari kabilah Daus, pernah meminta Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mendoakan kabilah Daus yang masih kafir, يا رسول الله إن دوسا قد عصت وأبت فادع الله عليها “Ya Rasulullah, kabilah Daus telah melanggar dan membangkang, maka mohon doakan keburukan untuk mereka.” Kata Tufail. Lalu Nabi menghadap ke arah kiblat, kemudian menengadahkan kedua tangan seraya berdoa, اللهم اهد دوسا وائت بهم “Ya Allah, berilah petunjuk kepada kabilah Daus dan datangkan petunjuk itu kepada mereka.” Padahal orang – orang menyangka, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan mendoakan keburukan untuk mereka. (HR. Bukhari dan Muslim). 2. Mendoakan ampunan dan rahmat Adapun mendoakan ampunan dan rahmat untuk orang kafir, hukum dilarang. Karena Allah ‘azzawa jalla berfirman, مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوا أُولِي قُرْبَىٰ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ Tidak boleh bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memohonkan ampunan (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, sekalipun orang-orang itu kaum kerabat(nya), setelah jelas bagi mereka, bahwa orang-orang musyrik itu penghuni neraka Jahanam. (QS. At-Taubah : 113). Dan Allah ‘azzawajalla melarang Nabi shallallahu alaihi wa sallam mendoakan rahmat untuk Ibunda beliau. Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu beliau berkata, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, استأذنت ربي أن أستغفر لأمي فلم يأذن لي , واستأذنته أن أزور قبرها فأذن لي Saya memohon izin kepada Tuhanku untuk mendoakan ampunan untuk ibuku, namun Dia tidak mengizinkan. Aku memohon izin untuk menziarahahi kuburnya, maka Dia mengizinkanku. (HR. Muslim). Fatwa larangan mendoakan rahmat dan ampunan untuk orang kafir disampaikan lembaga Fatwa Syabakah Islamiyah – Qatar, ولكن لا يجوز أن يدعى لغير المسلمين بالرحمة والمغفرة… وإنما يجوز أن يدعى له بالهداية إلى دين الله وصلاح الحال Tidak boleh mendoakan rahmat dan ampunan untuk non-muslim. Akan tetapi boleh mendoakan hidayah dan doa supaya keadaan mereka membaik.. (Fatwa Syabakah Islamiyah no. 66098). Sementara dalam ucapan Insya Allah (jika Allah berkendak), tak sedikitpun terkandung ungkapan doa. Kalimat ini hanya berisi berita, bahwa jika Allah berkehendak maka rencana akan terlaksana, namun bila tidak, rencana tak akan terlaksana. Oleh karenanya boleh mengucapkan kalimat ini, meskipun dalam kondisi kita berinteraksi dengan orang kafir. Terlebih takdir dan kehendak Allah, tidak hanya berlaku pada orang muslim, namun juga kepada orang kafir, bahkan seluruh makhluk-Nya. Kedua, Allah Memerintahkan Nabi Mengucapkan Insya Allah Allah ‘azza wa jalla menegur Nabi-Nya shallallahu alaihi wa sallam karena lupa mengucapkan Insya allah. وَلَا تَقُولَنَّ لِشَيْءٍ إِنِّي فَاعِلٌ ذَٰلِكَ غَدًا* إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ ۚ Dan jangan sekali-kali engkau mengatakan terhadap sesuatu, “Aku pasti melakukan itu besok hari,” lecuali (dengan mengatakan), “Insya Allah.” (QS. Al-Kahfi : 23-24). Pada ayat ini, Allah ta’ala menegur Nabi-Nya shallallahu alaihi wa sallam disebabkan perkataan beliau kepada orang-orang kafir, ketika mereka bertanya tentang ruh, pemuda ash-habul kahfi dan Dzulqarnain, غدا أخبركم بجواب أسئلتكم “Besok saya kabarkan jawaban pertanyaan kalian.” Jawab Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Beliau lupa mengucapkan Insya Allah. Akibatnya wahyu tidak turun selama 15 hari, sampai beliaupun bersedih karena keterlambatan itu. Orang-orang kafir membuat beliau gundah dengan dalih keterlambatan wahyu tersebut. Lalu turunlah surat Al-Kahfi, yang membuat hati Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahagia. Dan pada ayat ini, Allah memerintahkan beliau untuk tidak mengatakan suatu rencana , “besok akan saya lakukan begini dan begitu..” kecuali mengaitkan rencana itu dengan kehendak Allah ‘azza wa jalla. (Lihat : Tafsir Al-Qurtubi pada tafsiran ayat di atas) Ini menunjukkan perintah mengucapkan Insya Allah, meskipun lawan bicara kita adalah non muslim. Karena pada ayat di atas, Allah menegur Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena lupa mengucapkan Insya Allah untuk rencana yang akan beliau lakukan esok hari, padahal lawan bicara beliau ketika itu adalah orang-orang kafir. Demikian… Wallahu a’lam bis shawab. Dijawab oleh Ustadz Ahmad Anshari, Lc. Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. SPONSOR hubungi: 081 326 333 328 DONASI hubungi: 087 882 888 727 REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK 🔍 Hukum Rokok Dalam Islam, Hukum Tidak Membayar Hutang Di Bank, Niat Mengqodho Puasa Ramadhan, Anjing Islam, Jin Terkuat Dalam Islam, Kewajiban Menuntut Ilmu Dalam Islam Visited 177 times, 1 visit(s) today Post Views: 334 QRIS donasi Yufid
Kata “Insya Allah” untuk Non-Muslim Assalamualaikum Ustadz, Ijin bertanya. Kita boleh gunakan bahasa arab seperti insyaALLAH untuk janjian dengan non muslim? Dari : Izkey Jawaban: Wa’alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh. Bismillah wasshalaatu wassalam ala Rasulillah, waba’du. Kami belum menemukan jawaban pertanyaan senada dari para ahli fikih. Semoga melalui pendekatan berikut, dapat menemukan jawabannya. Pertama, Hukum Berdoa Untuk Kebaikan Orang Kafir Mendoakan orang kafir ada dua jenis : 1. Mendoakan hidayah Para ulama menjelaskan, mendoakan hidayah untuk orang kafir hukumnya boleh. Karena Nabi pernah mendoakan hidayah untuk orang Yahudi yang bersin di dekat beliau. Dalam sebuah hadis riwayat Imam Ahmad dinyatakan, كان اليهود يتعاطسون عند النبي صلى الله عليه وسلم يرجون أن يقول لهم: يرحمكم الله، فيقول لهم: يهديكم الله ويصلح بالكم Dahulu orang-orang Yahudi bersin di dekat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, berharap supaya didoakan rahmat oleh beliau, dengan doa “Yarhamukumullah.. (semoga Allah merahmati kalian). Namun Nabi mengucapkan doa “Yahdiikumullah wa yushlihu baalakum..” (semoga Allah memberi kalian hidayah dan memperbaiki keadaan kalian). (HR. Ahmad, dinilai shahih oleh Syaikh Albani dan Syaikh Al-Arnauth). Demikian pula, sahabat Tufail bin Amr dari kabilah Daus, pernah meminta Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mendoakan kabilah Daus yang masih kafir, يا رسول الله إن دوسا قد عصت وأبت فادع الله عليها “Ya Rasulullah, kabilah Daus telah melanggar dan membangkang, maka mohon doakan keburukan untuk mereka.” Kata Tufail. Lalu Nabi menghadap ke arah kiblat, kemudian menengadahkan kedua tangan seraya berdoa, اللهم اهد دوسا وائت بهم “Ya Allah, berilah petunjuk kepada kabilah Daus dan datangkan petunjuk itu kepada mereka.” Padahal orang – orang menyangka, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan mendoakan keburukan untuk mereka. (HR. Bukhari dan Muslim). 2. Mendoakan ampunan dan rahmat Adapun mendoakan ampunan dan rahmat untuk orang kafir, hukum dilarang. Karena Allah ‘azzawa jalla berfirman, مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوا أُولِي قُرْبَىٰ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ Tidak boleh bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memohonkan ampunan (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, sekalipun orang-orang itu kaum kerabat(nya), setelah jelas bagi mereka, bahwa orang-orang musyrik itu penghuni neraka Jahanam. (QS. At-Taubah : 113). Dan Allah ‘azzawajalla melarang Nabi shallallahu alaihi wa sallam mendoakan rahmat untuk Ibunda beliau. Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu beliau berkata, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, استأذنت ربي أن أستغفر لأمي فلم يأذن لي , واستأذنته أن أزور قبرها فأذن لي Saya memohon izin kepada Tuhanku untuk mendoakan ampunan untuk ibuku, namun Dia tidak mengizinkan. Aku memohon izin untuk menziarahahi kuburnya, maka Dia mengizinkanku. (HR. Muslim). Fatwa larangan mendoakan rahmat dan ampunan untuk orang kafir disampaikan lembaga Fatwa Syabakah Islamiyah – Qatar, ولكن لا يجوز أن يدعى لغير المسلمين بالرحمة والمغفرة… وإنما يجوز أن يدعى له بالهداية إلى دين الله وصلاح الحال Tidak boleh mendoakan rahmat dan ampunan untuk non-muslim. Akan tetapi boleh mendoakan hidayah dan doa supaya keadaan mereka membaik.. (Fatwa Syabakah Islamiyah no. 66098). Sementara dalam ucapan Insya Allah (jika Allah berkendak), tak sedikitpun terkandung ungkapan doa. Kalimat ini hanya berisi berita, bahwa jika Allah berkehendak maka rencana akan terlaksana, namun bila tidak, rencana tak akan terlaksana. Oleh karenanya boleh mengucapkan kalimat ini, meskipun dalam kondisi kita berinteraksi dengan orang kafir. Terlebih takdir dan kehendak Allah, tidak hanya berlaku pada orang muslim, namun juga kepada orang kafir, bahkan seluruh makhluk-Nya. Kedua, Allah Memerintahkan Nabi Mengucapkan Insya Allah Allah ‘azza wa jalla menegur Nabi-Nya shallallahu alaihi wa sallam karena lupa mengucapkan Insya allah. وَلَا تَقُولَنَّ لِشَيْءٍ إِنِّي فَاعِلٌ ذَٰلِكَ غَدًا* إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ ۚ Dan jangan sekali-kali engkau mengatakan terhadap sesuatu, “Aku pasti melakukan itu besok hari,” lecuali (dengan mengatakan), “Insya Allah.” (QS. Al-Kahfi : 23-24). Pada ayat ini, Allah ta’ala menegur Nabi-Nya shallallahu alaihi wa sallam disebabkan perkataan beliau kepada orang-orang kafir, ketika mereka bertanya tentang ruh, pemuda ash-habul kahfi dan Dzulqarnain, غدا أخبركم بجواب أسئلتكم “Besok saya kabarkan jawaban pertanyaan kalian.” Jawab Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Beliau lupa mengucapkan Insya Allah. Akibatnya wahyu tidak turun selama 15 hari, sampai beliaupun bersedih karena keterlambatan itu. Orang-orang kafir membuat beliau gundah dengan dalih keterlambatan wahyu tersebut. Lalu turunlah surat Al-Kahfi, yang membuat hati Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahagia. Dan pada ayat ini, Allah memerintahkan beliau untuk tidak mengatakan suatu rencana , “besok akan saya lakukan begini dan begitu..” kecuali mengaitkan rencana itu dengan kehendak Allah ‘azza wa jalla. (Lihat : Tafsir Al-Qurtubi pada tafsiran ayat di atas) Ini menunjukkan perintah mengucapkan Insya Allah, meskipun lawan bicara kita adalah non muslim. Karena pada ayat di atas, Allah menegur Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena lupa mengucapkan Insya Allah untuk rencana yang akan beliau lakukan esok hari, padahal lawan bicara beliau ketika itu adalah orang-orang kafir. Demikian… Wallahu a’lam bis shawab. Dijawab oleh Ustadz Ahmad Anshari, Lc. Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. SPONSOR hubungi: 081 326 333 328 DONASI hubungi: 087 882 888 727 REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK 🔍 Hukum Rokok Dalam Islam, Hukum Tidak Membayar Hutang Di Bank, Niat Mengqodho Puasa Ramadhan, Anjing Islam, Jin Terkuat Dalam Islam, Kewajiban Menuntut Ilmu Dalam Islam Visited 177 times, 1 visit(s) today Post Views: 334 QRIS donasi Yufid


<iframe src="https://w.soundcloud.com/player/?url=https%3A//api.soundcloud.com/tracks/348659213&amp;color=d5265f&amp;auto_play=false&amp;show_artwork=false&amp;hide_related=true&amp;show_comments=false&amp;show_user=false&amp;show_reposts=false" width="100%" height="166" frameborder="no" scrolling="no"></iframe> Kata “Insya Allah” untuk Non-Muslim Assalamualaikum Ustadz, Ijin bertanya. Kita boleh gunakan bahasa arab seperti insyaALLAH untuk janjian dengan non muslim? Dari : Izkey Jawaban: Wa’alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh. Bismillah wasshalaatu wassalam ala Rasulillah, waba’du. Kami belum menemukan jawaban pertanyaan senada dari para ahli fikih. Semoga melalui pendekatan berikut, dapat menemukan jawabannya. Pertama, Hukum Berdoa Untuk Kebaikan Orang Kafir Mendoakan orang kafir ada dua jenis : 1. Mendoakan hidayah Para ulama menjelaskan, mendoakan hidayah untuk orang kafir hukumnya boleh. Karena Nabi pernah mendoakan hidayah untuk orang Yahudi yang bersin di dekat beliau. Dalam sebuah hadis riwayat Imam Ahmad dinyatakan, كان اليهود يتعاطسون عند النبي صلى الله عليه وسلم يرجون أن يقول لهم: يرحمكم الله، فيقول لهم: يهديكم الله ويصلح بالكم Dahulu orang-orang Yahudi bersin di dekat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, berharap supaya didoakan rahmat oleh beliau, dengan doa “Yarhamukumullah.. (semoga Allah merahmati kalian). Namun Nabi mengucapkan doa “Yahdiikumullah wa yushlihu baalakum..” (semoga Allah memberi kalian hidayah dan memperbaiki keadaan kalian). (HR. Ahmad, dinilai shahih oleh Syaikh Albani dan Syaikh Al-Arnauth). Demikian pula, sahabat Tufail bin Amr dari kabilah Daus, pernah meminta Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mendoakan kabilah Daus yang masih kafir, يا رسول الله إن دوسا قد عصت وأبت فادع الله عليها “Ya Rasulullah, kabilah Daus telah melanggar dan membangkang, maka mohon doakan keburukan untuk mereka.” Kata Tufail. Lalu Nabi menghadap ke arah kiblat, kemudian menengadahkan kedua tangan seraya berdoa, اللهم اهد دوسا وائت بهم “Ya Allah, berilah petunjuk kepada kabilah Daus dan datangkan petunjuk itu kepada mereka.” Padahal orang – orang menyangka, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan mendoakan keburukan untuk mereka. (HR. Bukhari dan Muslim). 2. Mendoakan ampunan dan rahmat Adapun mendoakan ampunan dan rahmat untuk orang kafir, hukum dilarang. Karena Allah ‘azzawa jalla berfirman, مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوا أُولِي قُرْبَىٰ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ Tidak boleh bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memohonkan ampunan (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, sekalipun orang-orang itu kaum kerabat(nya), setelah jelas bagi mereka, bahwa orang-orang musyrik itu penghuni neraka Jahanam. (QS. At-Taubah : 113). Dan Allah ‘azzawajalla melarang Nabi shallallahu alaihi wa sallam mendoakan rahmat untuk Ibunda beliau. Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu beliau berkata, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, استأذنت ربي أن أستغفر لأمي فلم يأذن لي , واستأذنته أن أزور قبرها فأذن لي Saya memohon izin kepada Tuhanku untuk mendoakan ampunan untuk ibuku, namun Dia tidak mengizinkan. Aku memohon izin untuk menziarahahi kuburnya, maka Dia mengizinkanku. (HR. Muslim). Fatwa larangan mendoakan rahmat dan ampunan untuk orang kafir disampaikan lembaga Fatwa Syabakah Islamiyah – Qatar, ولكن لا يجوز أن يدعى لغير المسلمين بالرحمة والمغفرة… وإنما يجوز أن يدعى له بالهداية إلى دين الله وصلاح الحال Tidak boleh mendoakan rahmat dan ampunan untuk non-muslim. Akan tetapi boleh mendoakan hidayah dan doa supaya keadaan mereka membaik.. (Fatwa Syabakah Islamiyah no. 66098). Sementara dalam ucapan Insya Allah (jika Allah berkendak), tak sedikitpun terkandung ungkapan doa. Kalimat ini hanya berisi berita, bahwa jika Allah berkehendak maka rencana akan terlaksana, namun bila tidak, rencana tak akan terlaksana. Oleh karenanya boleh mengucapkan kalimat ini, meskipun dalam kondisi kita berinteraksi dengan orang kafir. Terlebih takdir dan kehendak Allah, tidak hanya berlaku pada orang muslim, namun juga kepada orang kafir, bahkan seluruh makhluk-Nya. Kedua, Allah Memerintahkan Nabi Mengucapkan Insya Allah Allah ‘azza wa jalla menegur Nabi-Nya shallallahu alaihi wa sallam karena lupa mengucapkan Insya allah. وَلَا تَقُولَنَّ لِشَيْءٍ إِنِّي فَاعِلٌ ذَٰلِكَ غَدًا* إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ ۚ Dan jangan sekali-kali engkau mengatakan terhadap sesuatu, “Aku pasti melakukan itu besok hari,” lecuali (dengan mengatakan), “Insya Allah.” (QS. Al-Kahfi : 23-24). Pada ayat ini, Allah ta’ala menegur Nabi-Nya shallallahu alaihi wa sallam disebabkan perkataan beliau kepada orang-orang kafir, ketika mereka bertanya tentang ruh, pemuda ash-habul kahfi dan Dzulqarnain, غدا أخبركم بجواب أسئلتكم “Besok saya kabarkan jawaban pertanyaan kalian.” Jawab Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Beliau lupa mengucapkan Insya Allah. Akibatnya wahyu tidak turun selama 15 hari, sampai beliaupun bersedih karena keterlambatan itu. Orang-orang kafir membuat beliau gundah dengan dalih keterlambatan wahyu tersebut. Lalu turunlah surat Al-Kahfi, yang membuat hati Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahagia. Dan pada ayat ini, Allah memerintahkan beliau untuk tidak mengatakan suatu rencana , “besok akan saya lakukan begini dan begitu..” kecuali mengaitkan rencana itu dengan kehendak Allah ‘azza wa jalla. (Lihat : Tafsir Al-Qurtubi pada tafsiran ayat di atas) Ini menunjukkan perintah mengucapkan Insya Allah, meskipun lawan bicara kita adalah non muslim. Karena pada ayat di atas, Allah menegur Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena lupa mengucapkan Insya Allah untuk rencana yang akan beliau lakukan esok hari, padahal lawan bicara beliau ketika itu adalah orang-orang kafir. Demikian… Wallahu a’lam bis shawab. Dijawab oleh Ustadz Ahmad Anshari, Lc. Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. SPONSOR hubungi: 081 326 333 328 DONASI hubungi: 087 882 888 727 REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK 🔍 Hukum Rokok Dalam Islam, Hukum Tidak Membayar Hutang Di Bank, Niat Mengqodho Puasa Ramadhan, Anjing Islam, Jin Terkuat Dalam Islam, Kewajiban Menuntut Ilmu Dalam Islam Visited 177 times, 1 visit(s) today Post Views: 334 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

7 Catatan Mengenai Doa

Download   Ada beberapa catatan penting mengenai doa berikut ini.   Catatan #01: Mengapa Doaku Tak Kunjung Terkabul?   Jika seorang muslim berdoa pada Allah agar diberi rezeki dan diberi keturunan, akan tetapi doanya tak kunjung pula terkabul, apakah seperti itu adalah buah dari tidak diterimanya amalan? Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz rahimahullah diajukan pertanyaan seperti di atas. Lalu jawaban beliau rahimahullah, Ada berbagai faktor yang menyebabkan doa tak kunjung dikabulkan. Doa tersebut tidak terkabul boleh jadi karena jeleknya amalan, maksiat dan kejelekan yang seseorang perbuat. Boleh jadi juga sebabnya adalah karena makan makanan yang haram. Juga bisa jadi karena ia berdoa biasa dalam keadaan hati yang lalai. Boleh jadi pula karena sebab lainnya. Catatan dari fatwa Syaikh Ibnu Baz pada link http://www.ibnbaz.org.sa/mat/17235, diakses pada 24 Oktober 2017.   Catatan #02: Tiga Cara Doa itu Terkabul   Dari Abu Sa’id radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ما مِنْ مُسْلِمٍ يَدْعُو بِدَعْوَةٍ لَيْسَ فِيهَا إِثْمٌ وَلاَ قَطِيعَةُ رَحِمٍ إِلاَّ أَعْطَاهُ اللَّهُ بِهَا إِحْدَى ثَلاَثٍ إِمَّا أَنْ تُعَجَّلَ لَهُ دَعْوَتُهُ وَإِمَّا أَنْ يَدَّخِرَهَا لَهُ فِى الآخِرَةِ وَإِمَّا أَنْ يَصْرِفَ عَنْهُ مِنَ السُّوءِ مِثْلَهَا ». قَالُوا إِذاً نُكْثِرُ. قَالَ « اللَّهُ أَكْثَرُ ». “Tidaklah seorang muslim memanjatkan do’a pada Allah selama tidak mengandung dosa dan memutuskan silaturahmi (antar kerabat, pen) melainkan Allah akan beri padanya tiga hal: (1) Allah akan segera mengabulkan do’anya, (2) Allah akan menyimpannya baginya di akhirat kelak, dan (3) Allah akan menghindarkan darinya kejelekan yang semisal.” Para sahabat lantas mengatakan, “Kalau begitu kami akan memperbanyak berdo’a.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas berkata, “Allah nanti yang memperbanyak mengabulkan do’a-do’a kalian.” (HR. Ahmad, 3:18. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth menyatakan bahwa sanad hadits ini jayyid.) Contoh gampangnya seperti seorang dokter. Ia mendapati pasien yang sakit dan ingin diobati. Si pasien mengeluhkan penyakitnya seperti ini dan seperti ini. Lantas dokter pun memberikan ia resep obat. Boleh jadi yang ia beri adalah yang persis yang diminta oleh si pasien. Boleh jadi pula dokter beri resep yang lebih baik, lebih dari yang si pasien kira. Boleh jadi pula si dokter memberi resep obat yang lain, tidak seperti yang si pasien minta, namun dokter tersebut tahu mana yang terbaik. Demikianlah permisalan terkabulnya do’a. Catatan ini terinspirasi dari kitab mungil yang ditulis oleh Khalid Al-Husainan, dengan judul Aktsar min 1000 Da’wah fil Yaum wal Lailah.   Catatan #03: Doa Bisa Menolak Takdir   Dari Salman Al-Farisi radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ يَرُدُّ الْقَضَاءَ إِلاَّ الدُّعَاءُ وَلاَ يَزِيدُ فِى الْعُمُرِ إِلاَّ الْبِرُّ “Yang dapat menolak takdir hanyalah doa. Yang dapat menambah umur hanyalah amalan kebaikan.” (HR. Tirmidzi, no. 2139 dalam Kitab Al-Qadr, Bab “Tidak ada yang menolak takdir kecuali doa”. Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, no. 154, 1:286-288, menyatakan bahwa hadits ini hasan.) Yang dimaksud doa bisa menolak takdir terdapat dua makna: Kalau seseorang tidak berdoa, maka takdirnya seperti itu saja. Kalau seseorang berdoa, takdir akan dijalani dengan mudah. Yang terjadi seakan-akan takdir yang jelek itu tertolak. Catatan ini bersumber dari kitab Arba’una Haditsan, Kullu Haditsin fii Khaslatain, hlm. 139-141 karya Prof. Dr. Shalih bin Ghanim As-Sadlan.   Catatan #04: Faedah Berdoa dengan Lirih   1- Menunjukkan keimanan yang benar karena yang memanjatkan doa tersebut mengimani kalau Allah itu mendengar doa yang lirih. 2- Ini lebih menunjukkan adab dan pengagungan. Hal ini dimisalkan seperti rakyat, ia tidak mungkin mengeraskan suaranya di hadapan raja. Siapa saja yang berbicara di hadapan raja dengan suara keras, tentu akan dibenci. Sedangkan Allah lebih sempurna dari raja. Allah dapat mendengar doa yang lirih. Sudah sepantasnya dalam doa tersebut dengan beradab di hadapan-Nya yaitu dengan suara yang lemah lembut (lirih). 3- Lebih menunjukkan kekhusyu’an dan ini adalah ruh dan inti doa. 4- Lebih menunjukkan keikhlasan. 5- Lebih mudah menghimpun hati untuk merendahkan diri dalam doa, sedangkan doa dengan suara keras lebih cenderung tidak menyatukan hati. 6- Doa yang lemah lembut menunjukkan kedekatan orang yang berdoa dengan Allah. Itulah pujian Allah pada Zakariya, إِذْ نَادَى رَبَّهُ نِدَاءً خَفِيًّا “Tatkala Zakariya berdoa kepada Tuhannya dengan suara yang lembut.” (QS. Maryam: 3) Disebutkan bahwa para sahabat pernah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam perjalanan. Mereka mengeraskan suara mereka saat berdoa. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Wahai sekalian manusia, lirihkanlah suara kalian. Kalian tidaklah berdo’a pada sesuatu yang tuli lagi ghoib (tidak ada). Yang kalian seru (yaitu Allah), Maha Mendengar lagi Maha Dekat. Sungguh yang kalian seru itu lebih dekat pada salah seorang di antara kalian lebih dari leher tunggangannya.” (HR. Ahmad 4:402. Sanad hadits ini shahih sesuai syarat Bukhari-Muslim, sebagaimana dikatakan oleh Syaikh Syu’aib Al-Arnauth). 7- Doa yang dibaca lirih akan ajeg (kontinu) karena anggota tubuh tidaklah merasa letih (capek) yang cepat, beda halnya jika doa tersebut dikeraskan. Doa yang dikeraskan tidak bisa berdurasi lama, beda halnya dengan doa yang lirih. 8- Doa lirih lebih selamat dari was-was dibandingkan dengan doa yang dikeraskan. Doa yang dijaherkan akan lebih membangkitkan sifat basyariah (manusiawi) yaitu ingin dipuji atau ingin mendapatkan maksud duniawi, sehingga pengaruh doa jadi berkurang. 9- Setiap nikmat pasti ada yang hasad (iri atau dengki). Termasuk dalam hal doa, ada saja yang iri (hasad) baik sedikit atau banyak. Karena bisa ada yang hasad, maka baiknya memang doa itu dilirihkan biar tidak ada iri ketika yang berdoa itu mendapatkan nikmat. 10- Dalam doa diperintahkan untuk lemah lembut, sebagaimana dalam dzikir. Perintah dalam dzikir, وَاذْكُرْ رَبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِيفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَالْآَصَالِ وَلَا تَكُنْ مِنَ الْغَافِلِينَ “Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.” (QS. Al-A’raf: 205). Mujahid dan Ibnu Juraij menyatakan bahwa ayat tersebut berisi perintah untuk mengingat Allah dengan hati dengan menundukkan diri dan bersikap tenang tanpa mengeraskan suara dan tanpa berteriak-teriak. Bersikap seperti inilah yang merupakan ruh doa dan dzikir. Catatan ini disarikan dari Majmu’ah Al-Fatawa karya Ibnu Taimiyah, 15:15-20.   Catatan #05: Berdoa Sesudah Shalat   Allah Ta’ala berfirman, فَإِذَا فَرَغْتَ فَانْصَبْ (7) وَإِلَى رَبِّكَ فَارْغَبْ (8) “Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain dan hanya kepada Rabbmulah hendaknya kamu berharap.” (QS. Alam Nasyrah: 1-8) ‘Ali bin Abi Thalhah berkata, dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata, “Jika engkau telah selesai (dari shalat atau ibadah, pen.), maka berdo’alah.” Ini jadi dalil sebagian ulama dibolehkan berdoa setelah shalat fardhu. (HR. Ath-Thabari dengan sanad yang tsabit dari ‘Ali) Ibnul Qayyim menyatakan masih boleh berdoa setelah membaca dzikir bada shalat. Namun berdoa dalam shalat lebih afdal karena saat itu orang yang shalat sedang bermunajat dengan Allah. Ini catatan dari Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim karya Ibnu Katsir, 7:599 dan Zaad Al-Ma’ad karya Ibnul Qayyim, 1:249-250.   Catatan #06: Berdoa dengan Selain Bahasa Arab dalam Shalat   Imam Nawawi rahimahullah menjelaskan [Untuk doa ma’tsur] Adapun jika doanya itu ma’tsur (berasal dari Al Quran dan As Sunnah), maka ada tiga pendapat dalam masalah ini di kalangan ulama Syafi’iyah. Pendapat pertama, bagi yang tidak mampu berbahasa Arab, maka ia boleh membaca terjemah dari doa tersebut. Namun bagi yang mampu berbahasa Arab, tidak dibolehkan baginya membaca terjemahnya. Jika ia mampu berbahasa Arab dan tetap memakai terjemah, shalatnya batal. Pendapat kedua, boleh membaca terjemah bagi yang bisa berbahasa Arab ataukah tidak. Pendapat ketiga, tidak dibolehkan membaca terjemah baik yang mampu berbahasa Arab ataukah tidak karena pada saat itu tidak disebut darurat. [Untuk doa yang tidak ma’tsur] Untuk doa yang tidak ma’tsur (tidak berasal dari Al Quran dan As Sunnah) dengan selain bahasa Arab, maka tidak dibolehkan dan ini tidak ada khilaf dalam madzhab Syafi’i dan shalatnya bahkan menjadi batal. Hal ini berbeda jika seseorang membuat-buat doa dengan bahasa Arab, maka seperti itu dibolehkan dalam madzhab Syafi’i tanpa ada khilaf. Ini catatan dari Al-Majmu’ Syarh Al-Muhaddzab karya Imam Nawawi, 3:181.   Catatan #07: Berdoa Tak Perlu Terlalu Diperinci   ‘Abdullah bin Mughoffal pernah mendengar puteranya berdoa, “Ya Allah, jika aku masuk surga berikanlah kepadaku istana berwarna putih di sebelah kanan surga.” ‘Abdullah lalu berkata pada puteranya, “Wahai anakku jika berdoa mintalah pada Allah surga dan mintalah agar dijauhkan dari neraka karena aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Akan datang pada umat ini orang-orang yang berlebihan dalam bersuci dan dalam berdoa.” (HR. Abu Daud, no. 96; Ibnu Majah, no. 3864. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih.) Doa yang terbaik adalah doa yang jawami’ul kalim, yang singkat namun sarat makna seperti doa-doa yang dicontohkan dalam Al-Qur’an dan yang dicontohkan oleh Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam. Catatan ini diambil dari Fatwa Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid dalam fatwa Islamqa, no. 41017. Semoga tujuh catatan ini menjadi ilmu yang berharga dan bermanfaat. — Disusun di Perpus Rumaysho, 4 Shafar 1439 H, Selasa sore Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsberdoa doa doa bahasa indonesia

7 Catatan Mengenai Doa

Download   Ada beberapa catatan penting mengenai doa berikut ini.   Catatan #01: Mengapa Doaku Tak Kunjung Terkabul?   Jika seorang muslim berdoa pada Allah agar diberi rezeki dan diberi keturunan, akan tetapi doanya tak kunjung pula terkabul, apakah seperti itu adalah buah dari tidak diterimanya amalan? Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz rahimahullah diajukan pertanyaan seperti di atas. Lalu jawaban beliau rahimahullah, Ada berbagai faktor yang menyebabkan doa tak kunjung dikabulkan. Doa tersebut tidak terkabul boleh jadi karena jeleknya amalan, maksiat dan kejelekan yang seseorang perbuat. Boleh jadi juga sebabnya adalah karena makan makanan yang haram. Juga bisa jadi karena ia berdoa biasa dalam keadaan hati yang lalai. Boleh jadi pula karena sebab lainnya. Catatan dari fatwa Syaikh Ibnu Baz pada link http://www.ibnbaz.org.sa/mat/17235, diakses pada 24 Oktober 2017.   Catatan #02: Tiga Cara Doa itu Terkabul   Dari Abu Sa’id radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ما مِنْ مُسْلِمٍ يَدْعُو بِدَعْوَةٍ لَيْسَ فِيهَا إِثْمٌ وَلاَ قَطِيعَةُ رَحِمٍ إِلاَّ أَعْطَاهُ اللَّهُ بِهَا إِحْدَى ثَلاَثٍ إِمَّا أَنْ تُعَجَّلَ لَهُ دَعْوَتُهُ وَإِمَّا أَنْ يَدَّخِرَهَا لَهُ فِى الآخِرَةِ وَإِمَّا أَنْ يَصْرِفَ عَنْهُ مِنَ السُّوءِ مِثْلَهَا ». قَالُوا إِذاً نُكْثِرُ. قَالَ « اللَّهُ أَكْثَرُ ». “Tidaklah seorang muslim memanjatkan do’a pada Allah selama tidak mengandung dosa dan memutuskan silaturahmi (antar kerabat, pen) melainkan Allah akan beri padanya tiga hal: (1) Allah akan segera mengabulkan do’anya, (2) Allah akan menyimpannya baginya di akhirat kelak, dan (3) Allah akan menghindarkan darinya kejelekan yang semisal.” Para sahabat lantas mengatakan, “Kalau begitu kami akan memperbanyak berdo’a.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas berkata, “Allah nanti yang memperbanyak mengabulkan do’a-do’a kalian.” (HR. Ahmad, 3:18. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth menyatakan bahwa sanad hadits ini jayyid.) Contoh gampangnya seperti seorang dokter. Ia mendapati pasien yang sakit dan ingin diobati. Si pasien mengeluhkan penyakitnya seperti ini dan seperti ini. Lantas dokter pun memberikan ia resep obat. Boleh jadi yang ia beri adalah yang persis yang diminta oleh si pasien. Boleh jadi pula dokter beri resep yang lebih baik, lebih dari yang si pasien kira. Boleh jadi pula si dokter memberi resep obat yang lain, tidak seperti yang si pasien minta, namun dokter tersebut tahu mana yang terbaik. Demikianlah permisalan terkabulnya do’a. Catatan ini terinspirasi dari kitab mungil yang ditulis oleh Khalid Al-Husainan, dengan judul Aktsar min 1000 Da’wah fil Yaum wal Lailah.   Catatan #03: Doa Bisa Menolak Takdir   Dari Salman Al-Farisi radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ يَرُدُّ الْقَضَاءَ إِلاَّ الدُّعَاءُ وَلاَ يَزِيدُ فِى الْعُمُرِ إِلاَّ الْبِرُّ “Yang dapat menolak takdir hanyalah doa. Yang dapat menambah umur hanyalah amalan kebaikan.” (HR. Tirmidzi, no. 2139 dalam Kitab Al-Qadr, Bab “Tidak ada yang menolak takdir kecuali doa”. Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, no. 154, 1:286-288, menyatakan bahwa hadits ini hasan.) Yang dimaksud doa bisa menolak takdir terdapat dua makna: Kalau seseorang tidak berdoa, maka takdirnya seperti itu saja. Kalau seseorang berdoa, takdir akan dijalani dengan mudah. Yang terjadi seakan-akan takdir yang jelek itu tertolak. Catatan ini bersumber dari kitab Arba’una Haditsan, Kullu Haditsin fii Khaslatain, hlm. 139-141 karya Prof. Dr. Shalih bin Ghanim As-Sadlan.   Catatan #04: Faedah Berdoa dengan Lirih   1- Menunjukkan keimanan yang benar karena yang memanjatkan doa tersebut mengimani kalau Allah itu mendengar doa yang lirih. 2- Ini lebih menunjukkan adab dan pengagungan. Hal ini dimisalkan seperti rakyat, ia tidak mungkin mengeraskan suaranya di hadapan raja. Siapa saja yang berbicara di hadapan raja dengan suara keras, tentu akan dibenci. Sedangkan Allah lebih sempurna dari raja. Allah dapat mendengar doa yang lirih. Sudah sepantasnya dalam doa tersebut dengan beradab di hadapan-Nya yaitu dengan suara yang lemah lembut (lirih). 3- Lebih menunjukkan kekhusyu’an dan ini adalah ruh dan inti doa. 4- Lebih menunjukkan keikhlasan. 5- Lebih mudah menghimpun hati untuk merendahkan diri dalam doa, sedangkan doa dengan suara keras lebih cenderung tidak menyatukan hati. 6- Doa yang lemah lembut menunjukkan kedekatan orang yang berdoa dengan Allah. Itulah pujian Allah pada Zakariya, إِذْ نَادَى رَبَّهُ نِدَاءً خَفِيًّا “Tatkala Zakariya berdoa kepada Tuhannya dengan suara yang lembut.” (QS. Maryam: 3) Disebutkan bahwa para sahabat pernah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam perjalanan. Mereka mengeraskan suara mereka saat berdoa. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Wahai sekalian manusia, lirihkanlah suara kalian. Kalian tidaklah berdo’a pada sesuatu yang tuli lagi ghoib (tidak ada). Yang kalian seru (yaitu Allah), Maha Mendengar lagi Maha Dekat. Sungguh yang kalian seru itu lebih dekat pada salah seorang di antara kalian lebih dari leher tunggangannya.” (HR. Ahmad 4:402. Sanad hadits ini shahih sesuai syarat Bukhari-Muslim, sebagaimana dikatakan oleh Syaikh Syu’aib Al-Arnauth). 7- Doa yang dibaca lirih akan ajeg (kontinu) karena anggota tubuh tidaklah merasa letih (capek) yang cepat, beda halnya jika doa tersebut dikeraskan. Doa yang dikeraskan tidak bisa berdurasi lama, beda halnya dengan doa yang lirih. 8- Doa lirih lebih selamat dari was-was dibandingkan dengan doa yang dikeraskan. Doa yang dijaherkan akan lebih membangkitkan sifat basyariah (manusiawi) yaitu ingin dipuji atau ingin mendapatkan maksud duniawi, sehingga pengaruh doa jadi berkurang. 9- Setiap nikmat pasti ada yang hasad (iri atau dengki). Termasuk dalam hal doa, ada saja yang iri (hasad) baik sedikit atau banyak. Karena bisa ada yang hasad, maka baiknya memang doa itu dilirihkan biar tidak ada iri ketika yang berdoa itu mendapatkan nikmat. 10- Dalam doa diperintahkan untuk lemah lembut, sebagaimana dalam dzikir. Perintah dalam dzikir, وَاذْكُرْ رَبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِيفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَالْآَصَالِ وَلَا تَكُنْ مِنَ الْغَافِلِينَ “Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.” (QS. Al-A’raf: 205). Mujahid dan Ibnu Juraij menyatakan bahwa ayat tersebut berisi perintah untuk mengingat Allah dengan hati dengan menundukkan diri dan bersikap tenang tanpa mengeraskan suara dan tanpa berteriak-teriak. Bersikap seperti inilah yang merupakan ruh doa dan dzikir. Catatan ini disarikan dari Majmu’ah Al-Fatawa karya Ibnu Taimiyah, 15:15-20.   Catatan #05: Berdoa Sesudah Shalat   Allah Ta’ala berfirman, فَإِذَا فَرَغْتَ فَانْصَبْ (7) وَإِلَى رَبِّكَ فَارْغَبْ (8) “Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain dan hanya kepada Rabbmulah hendaknya kamu berharap.” (QS. Alam Nasyrah: 1-8) ‘Ali bin Abi Thalhah berkata, dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata, “Jika engkau telah selesai (dari shalat atau ibadah, pen.), maka berdo’alah.” Ini jadi dalil sebagian ulama dibolehkan berdoa setelah shalat fardhu. (HR. Ath-Thabari dengan sanad yang tsabit dari ‘Ali) Ibnul Qayyim menyatakan masih boleh berdoa setelah membaca dzikir bada shalat. Namun berdoa dalam shalat lebih afdal karena saat itu orang yang shalat sedang bermunajat dengan Allah. Ini catatan dari Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim karya Ibnu Katsir, 7:599 dan Zaad Al-Ma’ad karya Ibnul Qayyim, 1:249-250.   Catatan #06: Berdoa dengan Selain Bahasa Arab dalam Shalat   Imam Nawawi rahimahullah menjelaskan [Untuk doa ma’tsur] Adapun jika doanya itu ma’tsur (berasal dari Al Quran dan As Sunnah), maka ada tiga pendapat dalam masalah ini di kalangan ulama Syafi’iyah. Pendapat pertama, bagi yang tidak mampu berbahasa Arab, maka ia boleh membaca terjemah dari doa tersebut. Namun bagi yang mampu berbahasa Arab, tidak dibolehkan baginya membaca terjemahnya. Jika ia mampu berbahasa Arab dan tetap memakai terjemah, shalatnya batal. Pendapat kedua, boleh membaca terjemah bagi yang bisa berbahasa Arab ataukah tidak. Pendapat ketiga, tidak dibolehkan membaca terjemah baik yang mampu berbahasa Arab ataukah tidak karena pada saat itu tidak disebut darurat. [Untuk doa yang tidak ma’tsur] Untuk doa yang tidak ma’tsur (tidak berasal dari Al Quran dan As Sunnah) dengan selain bahasa Arab, maka tidak dibolehkan dan ini tidak ada khilaf dalam madzhab Syafi’i dan shalatnya bahkan menjadi batal. Hal ini berbeda jika seseorang membuat-buat doa dengan bahasa Arab, maka seperti itu dibolehkan dalam madzhab Syafi’i tanpa ada khilaf. Ini catatan dari Al-Majmu’ Syarh Al-Muhaddzab karya Imam Nawawi, 3:181.   Catatan #07: Berdoa Tak Perlu Terlalu Diperinci   ‘Abdullah bin Mughoffal pernah mendengar puteranya berdoa, “Ya Allah, jika aku masuk surga berikanlah kepadaku istana berwarna putih di sebelah kanan surga.” ‘Abdullah lalu berkata pada puteranya, “Wahai anakku jika berdoa mintalah pada Allah surga dan mintalah agar dijauhkan dari neraka karena aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Akan datang pada umat ini orang-orang yang berlebihan dalam bersuci dan dalam berdoa.” (HR. Abu Daud, no. 96; Ibnu Majah, no. 3864. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih.) Doa yang terbaik adalah doa yang jawami’ul kalim, yang singkat namun sarat makna seperti doa-doa yang dicontohkan dalam Al-Qur’an dan yang dicontohkan oleh Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam. Catatan ini diambil dari Fatwa Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid dalam fatwa Islamqa, no. 41017. Semoga tujuh catatan ini menjadi ilmu yang berharga dan bermanfaat. — Disusun di Perpus Rumaysho, 4 Shafar 1439 H, Selasa sore Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsberdoa doa doa bahasa indonesia
Download   Ada beberapa catatan penting mengenai doa berikut ini.   Catatan #01: Mengapa Doaku Tak Kunjung Terkabul?   Jika seorang muslim berdoa pada Allah agar diberi rezeki dan diberi keturunan, akan tetapi doanya tak kunjung pula terkabul, apakah seperti itu adalah buah dari tidak diterimanya amalan? Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz rahimahullah diajukan pertanyaan seperti di atas. Lalu jawaban beliau rahimahullah, Ada berbagai faktor yang menyebabkan doa tak kunjung dikabulkan. Doa tersebut tidak terkabul boleh jadi karena jeleknya amalan, maksiat dan kejelekan yang seseorang perbuat. Boleh jadi juga sebabnya adalah karena makan makanan yang haram. Juga bisa jadi karena ia berdoa biasa dalam keadaan hati yang lalai. Boleh jadi pula karena sebab lainnya. Catatan dari fatwa Syaikh Ibnu Baz pada link http://www.ibnbaz.org.sa/mat/17235, diakses pada 24 Oktober 2017.   Catatan #02: Tiga Cara Doa itu Terkabul   Dari Abu Sa’id radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ما مِنْ مُسْلِمٍ يَدْعُو بِدَعْوَةٍ لَيْسَ فِيهَا إِثْمٌ وَلاَ قَطِيعَةُ رَحِمٍ إِلاَّ أَعْطَاهُ اللَّهُ بِهَا إِحْدَى ثَلاَثٍ إِمَّا أَنْ تُعَجَّلَ لَهُ دَعْوَتُهُ وَإِمَّا أَنْ يَدَّخِرَهَا لَهُ فِى الآخِرَةِ وَإِمَّا أَنْ يَصْرِفَ عَنْهُ مِنَ السُّوءِ مِثْلَهَا ». قَالُوا إِذاً نُكْثِرُ. قَالَ « اللَّهُ أَكْثَرُ ». “Tidaklah seorang muslim memanjatkan do’a pada Allah selama tidak mengandung dosa dan memutuskan silaturahmi (antar kerabat, pen) melainkan Allah akan beri padanya tiga hal: (1) Allah akan segera mengabulkan do’anya, (2) Allah akan menyimpannya baginya di akhirat kelak, dan (3) Allah akan menghindarkan darinya kejelekan yang semisal.” Para sahabat lantas mengatakan, “Kalau begitu kami akan memperbanyak berdo’a.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas berkata, “Allah nanti yang memperbanyak mengabulkan do’a-do’a kalian.” (HR. Ahmad, 3:18. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth menyatakan bahwa sanad hadits ini jayyid.) Contoh gampangnya seperti seorang dokter. Ia mendapati pasien yang sakit dan ingin diobati. Si pasien mengeluhkan penyakitnya seperti ini dan seperti ini. Lantas dokter pun memberikan ia resep obat. Boleh jadi yang ia beri adalah yang persis yang diminta oleh si pasien. Boleh jadi pula dokter beri resep yang lebih baik, lebih dari yang si pasien kira. Boleh jadi pula si dokter memberi resep obat yang lain, tidak seperti yang si pasien minta, namun dokter tersebut tahu mana yang terbaik. Demikianlah permisalan terkabulnya do’a. Catatan ini terinspirasi dari kitab mungil yang ditulis oleh Khalid Al-Husainan, dengan judul Aktsar min 1000 Da’wah fil Yaum wal Lailah.   Catatan #03: Doa Bisa Menolak Takdir   Dari Salman Al-Farisi radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ يَرُدُّ الْقَضَاءَ إِلاَّ الدُّعَاءُ وَلاَ يَزِيدُ فِى الْعُمُرِ إِلاَّ الْبِرُّ “Yang dapat menolak takdir hanyalah doa. Yang dapat menambah umur hanyalah amalan kebaikan.” (HR. Tirmidzi, no. 2139 dalam Kitab Al-Qadr, Bab “Tidak ada yang menolak takdir kecuali doa”. Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, no. 154, 1:286-288, menyatakan bahwa hadits ini hasan.) Yang dimaksud doa bisa menolak takdir terdapat dua makna: Kalau seseorang tidak berdoa, maka takdirnya seperti itu saja. Kalau seseorang berdoa, takdir akan dijalani dengan mudah. Yang terjadi seakan-akan takdir yang jelek itu tertolak. Catatan ini bersumber dari kitab Arba’una Haditsan, Kullu Haditsin fii Khaslatain, hlm. 139-141 karya Prof. Dr. Shalih bin Ghanim As-Sadlan.   Catatan #04: Faedah Berdoa dengan Lirih   1- Menunjukkan keimanan yang benar karena yang memanjatkan doa tersebut mengimani kalau Allah itu mendengar doa yang lirih. 2- Ini lebih menunjukkan adab dan pengagungan. Hal ini dimisalkan seperti rakyat, ia tidak mungkin mengeraskan suaranya di hadapan raja. Siapa saja yang berbicara di hadapan raja dengan suara keras, tentu akan dibenci. Sedangkan Allah lebih sempurna dari raja. Allah dapat mendengar doa yang lirih. Sudah sepantasnya dalam doa tersebut dengan beradab di hadapan-Nya yaitu dengan suara yang lemah lembut (lirih). 3- Lebih menunjukkan kekhusyu’an dan ini adalah ruh dan inti doa. 4- Lebih menunjukkan keikhlasan. 5- Lebih mudah menghimpun hati untuk merendahkan diri dalam doa, sedangkan doa dengan suara keras lebih cenderung tidak menyatukan hati. 6- Doa yang lemah lembut menunjukkan kedekatan orang yang berdoa dengan Allah. Itulah pujian Allah pada Zakariya, إِذْ نَادَى رَبَّهُ نِدَاءً خَفِيًّا “Tatkala Zakariya berdoa kepada Tuhannya dengan suara yang lembut.” (QS. Maryam: 3) Disebutkan bahwa para sahabat pernah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam perjalanan. Mereka mengeraskan suara mereka saat berdoa. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Wahai sekalian manusia, lirihkanlah suara kalian. Kalian tidaklah berdo’a pada sesuatu yang tuli lagi ghoib (tidak ada). Yang kalian seru (yaitu Allah), Maha Mendengar lagi Maha Dekat. Sungguh yang kalian seru itu lebih dekat pada salah seorang di antara kalian lebih dari leher tunggangannya.” (HR. Ahmad 4:402. Sanad hadits ini shahih sesuai syarat Bukhari-Muslim, sebagaimana dikatakan oleh Syaikh Syu’aib Al-Arnauth). 7- Doa yang dibaca lirih akan ajeg (kontinu) karena anggota tubuh tidaklah merasa letih (capek) yang cepat, beda halnya jika doa tersebut dikeraskan. Doa yang dikeraskan tidak bisa berdurasi lama, beda halnya dengan doa yang lirih. 8- Doa lirih lebih selamat dari was-was dibandingkan dengan doa yang dikeraskan. Doa yang dijaherkan akan lebih membangkitkan sifat basyariah (manusiawi) yaitu ingin dipuji atau ingin mendapatkan maksud duniawi, sehingga pengaruh doa jadi berkurang. 9- Setiap nikmat pasti ada yang hasad (iri atau dengki). Termasuk dalam hal doa, ada saja yang iri (hasad) baik sedikit atau banyak. Karena bisa ada yang hasad, maka baiknya memang doa itu dilirihkan biar tidak ada iri ketika yang berdoa itu mendapatkan nikmat. 10- Dalam doa diperintahkan untuk lemah lembut, sebagaimana dalam dzikir. Perintah dalam dzikir, وَاذْكُرْ رَبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِيفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَالْآَصَالِ وَلَا تَكُنْ مِنَ الْغَافِلِينَ “Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.” (QS. Al-A’raf: 205). Mujahid dan Ibnu Juraij menyatakan bahwa ayat tersebut berisi perintah untuk mengingat Allah dengan hati dengan menundukkan diri dan bersikap tenang tanpa mengeraskan suara dan tanpa berteriak-teriak. Bersikap seperti inilah yang merupakan ruh doa dan dzikir. Catatan ini disarikan dari Majmu’ah Al-Fatawa karya Ibnu Taimiyah, 15:15-20.   Catatan #05: Berdoa Sesudah Shalat   Allah Ta’ala berfirman, فَإِذَا فَرَغْتَ فَانْصَبْ (7) وَإِلَى رَبِّكَ فَارْغَبْ (8) “Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain dan hanya kepada Rabbmulah hendaknya kamu berharap.” (QS. Alam Nasyrah: 1-8) ‘Ali bin Abi Thalhah berkata, dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata, “Jika engkau telah selesai (dari shalat atau ibadah, pen.), maka berdo’alah.” Ini jadi dalil sebagian ulama dibolehkan berdoa setelah shalat fardhu. (HR. Ath-Thabari dengan sanad yang tsabit dari ‘Ali) Ibnul Qayyim menyatakan masih boleh berdoa setelah membaca dzikir bada shalat. Namun berdoa dalam shalat lebih afdal karena saat itu orang yang shalat sedang bermunajat dengan Allah. Ini catatan dari Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim karya Ibnu Katsir, 7:599 dan Zaad Al-Ma’ad karya Ibnul Qayyim, 1:249-250.   Catatan #06: Berdoa dengan Selain Bahasa Arab dalam Shalat   Imam Nawawi rahimahullah menjelaskan [Untuk doa ma’tsur] Adapun jika doanya itu ma’tsur (berasal dari Al Quran dan As Sunnah), maka ada tiga pendapat dalam masalah ini di kalangan ulama Syafi’iyah. Pendapat pertama, bagi yang tidak mampu berbahasa Arab, maka ia boleh membaca terjemah dari doa tersebut. Namun bagi yang mampu berbahasa Arab, tidak dibolehkan baginya membaca terjemahnya. Jika ia mampu berbahasa Arab dan tetap memakai terjemah, shalatnya batal. Pendapat kedua, boleh membaca terjemah bagi yang bisa berbahasa Arab ataukah tidak. Pendapat ketiga, tidak dibolehkan membaca terjemah baik yang mampu berbahasa Arab ataukah tidak karena pada saat itu tidak disebut darurat. [Untuk doa yang tidak ma’tsur] Untuk doa yang tidak ma’tsur (tidak berasal dari Al Quran dan As Sunnah) dengan selain bahasa Arab, maka tidak dibolehkan dan ini tidak ada khilaf dalam madzhab Syafi’i dan shalatnya bahkan menjadi batal. Hal ini berbeda jika seseorang membuat-buat doa dengan bahasa Arab, maka seperti itu dibolehkan dalam madzhab Syafi’i tanpa ada khilaf. Ini catatan dari Al-Majmu’ Syarh Al-Muhaddzab karya Imam Nawawi, 3:181.   Catatan #07: Berdoa Tak Perlu Terlalu Diperinci   ‘Abdullah bin Mughoffal pernah mendengar puteranya berdoa, “Ya Allah, jika aku masuk surga berikanlah kepadaku istana berwarna putih di sebelah kanan surga.” ‘Abdullah lalu berkata pada puteranya, “Wahai anakku jika berdoa mintalah pada Allah surga dan mintalah agar dijauhkan dari neraka karena aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Akan datang pada umat ini orang-orang yang berlebihan dalam bersuci dan dalam berdoa.” (HR. Abu Daud, no. 96; Ibnu Majah, no. 3864. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih.) Doa yang terbaik adalah doa yang jawami’ul kalim, yang singkat namun sarat makna seperti doa-doa yang dicontohkan dalam Al-Qur’an dan yang dicontohkan oleh Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam. Catatan ini diambil dari Fatwa Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid dalam fatwa Islamqa, no. 41017. Semoga tujuh catatan ini menjadi ilmu yang berharga dan bermanfaat. — Disusun di Perpus Rumaysho, 4 Shafar 1439 H, Selasa sore Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsberdoa doa doa bahasa indonesia


Download   Ada beberapa catatan penting mengenai doa berikut ini.   Catatan #01: Mengapa Doaku Tak Kunjung Terkabul?   Jika seorang muslim berdoa pada Allah agar diberi rezeki dan diberi keturunan, akan tetapi doanya tak kunjung pula terkabul, apakah seperti itu adalah buah dari tidak diterimanya amalan? Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz rahimahullah diajukan pertanyaan seperti di atas. Lalu jawaban beliau rahimahullah, Ada berbagai faktor yang menyebabkan doa tak kunjung dikabulkan. Doa tersebut tidak terkabul boleh jadi karena jeleknya amalan, maksiat dan kejelekan yang seseorang perbuat. Boleh jadi juga sebabnya adalah karena makan makanan yang haram. Juga bisa jadi karena ia berdoa biasa dalam keadaan hati yang lalai. Boleh jadi pula karena sebab lainnya. Catatan dari fatwa Syaikh Ibnu Baz pada link http://www.ibnbaz.org.sa/mat/17235, diakses pada 24 Oktober 2017.   Catatan #02: Tiga Cara Doa itu Terkabul   Dari Abu Sa’id radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ما مِنْ مُسْلِمٍ يَدْعُو بِدَعْوَةٍ لَيْسَ فِيهَا إِثْمٌ وَلاَ قَطِيعَةُ رَحِمٍ إِلاَّ أَعْطَاهُ اللَّهُ بِهَا إِحْدَى ثَلاَثٍ إِمَّا أَنْ تُعَجَّلَ لَهُ دَعْوَتُهُ وَإِمَّا أَنْ يَدَّخِرَهَا لَهُ فِى الآخِرَةِ وَإِمَّا أَنْ يَصْرِفَ عَنْهُ مِنَ السُّوءِ مِثْلَهَا ». قَالُوا إِذاً نُكْثِرُ. قَالَ « اللَّهُ أَكْثَرُ ». “Tidaklah seorang muslim memanjatkan do’a pada Allah selama tidak mengandung dosa dan memutuskan silaturahmi (antar kerabat, pen) melainkan Allah akan beri padanya tiga hal: (1) Allah akan segera mengabulkan do’anya, (2) Allah akan menyimpannya baginya di akhirat kelak, dan (3) Allah akan menghindarkan darinya kejelekan yang semisal.” Para sahabat lantas mengatakan, “Kalau begitu kami akan memperbanyak berdo’a.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas berkata, “Allah nanti yang memperbanyak mengabulkan do’a-do’a kalian.” (HR. Ahmad, 3:18. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth menyatakan bahwa sanad hadits ini jayyid.) Contoh gampangnya seperti seorang dokter. Ia mendapati pasien yang sakit dan ingin diobati. Si pasien mengeluhkan penyakitnya seperti ini dan seperti ini. Lantas dokter pun memberikan ia resep obat. Boleh jadi yang ia beri adalah yang persis yang diminta oleh si pasien. Boleh jadi pula dokter beri resep yang lebih baik, lebih dari yang si pasien kira. Boleh jadi pula si dokter memberi resep obat yang lain, tidak seperti yang si pasien minta, namun dokter tersebut tahu mana yang terbaik. Demikianlah permisalan terkabulnya do’a. Catatan ini terinspirasi dari kitab mungil yang ditulis oleh Khalid Al-Husainan, dengan judul Aktsar min 1000 Da’wah fil Yaum wal Lailah.   Catatan #03: Doa Bisa Menolak Takdir   Dari Salman Al-Farisi radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ يَرُدُّ الْقَضَاءَ إِلاَّ الدُّعَاءُ وَلاَ يَزِيدُ فِى الْعُمُرِ إِلاَّ الْبِرُّ “Yang dapat menolak takdir hanyalah doa. Yang dapat menambah umur hanyalah amalan kebaikan.” (HR. Tirmidzi, no. 2139 dalam Kitab Al-Qadr, Bab “Tidak ada yang menolak takdir kecuali doa”. Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, no. 154, 1:286-288, menyatakan bahwa hadits ini hasan.) Yang dimaksud doa bisa menolak takdir terdapat dua makna: Kalau seseorang tidak berdoa, maka takdirnya seperti itu saja. Kalau seseorang berdoa, takdir akan dijalani dengan mudah. Yang terjadi seakan-akan takdir yang jelek itu tertolak. Catatan ini bersumber dari kitab Arba’una Haditsan, Kullu Haditsin fii Khaslatain, hlm. 139-141 karya Prof. Dr. Shalih bin Ghanim As-Sadlan.   Catatan #04: Faedah Berdoa dengan Lirih   1- Menunjukkan keimanan yang benar karena yang memanjatkan doa tersebut mengimani kalau Allah itu mendengar doa yang lirih. 2- Ini lebih menunjukkan adab dan pengagungan. Hal ini dimisalkan seperti rakyat, ia tidak mungkin mengeraskan suaranya di hadapan raja. Siapa saja yang berbicara di hadapan raja dengan suara keras, tentu akan dibenci. Sedangkan Allah lebih sempurna dari raja. Allah dapat mendengar doa yang lirih. Sudah sepantasnya dalam doa tersebut dengan beradab di hadapan-Nya yaitu dengan suara yang lemah lembut (lirih). 3- Lebih menunjukkan kekhusyu’an dan ini adalah ruh dan inti doa. 4- Lebih menunjukkan keikhlasan. 5- Lebih mudah menghimpun hati untuk merendahkan diri dalam doa, sedangkan doa dengan suara keras lebih cenderung tidak menyatukan hati. 6- Doa yang lemah lembut menunjukkan kedekatan orang yang berdoa dengan Allah. Itulah pujian Allah pada Zakariya, إِذْ نَادَى رَبَّهُ نِدَاءً خَفِيًّا “Tatkala Zakariya berdoa kepada Tuhannya dengan suara yang lembut.” (QS. Maryam: 3) Disebutkan bahwa para sahabat pernah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam perjalanan. Mereka mengeraskan suara mereka saat berdoa. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Wahai sekalian manusia, lirihkanlah suara kalian. Kalian tidaklah berdo’a pada sesuatu yang tuli lagi ghoib (tidak ada). Yang kalian seru (yaitu Allah), Maha Mendengar lagi Maha Dekat. Sungguh yang kalian seru itu lebih dekat pada salah seorang di antara kalian lebih dari leher tunggangannya.” (HR. Ahmad 4:402. Sanad hadits ini shahih sesuai syarat Bukhari-Muslim, sebagaimana dikatakan oleh Syaikh Syu’aib Al-Arnauth). 7- Doa yang dibaca lirih akan ajeg (kontinu) karena anggota tubuh tidaklah merasa letih (capek) yang cepat, beda halnya jika doa tersebut dikeraskan. Doa yang dikeraskan tidak bisa berdurasi lama, beda halnya dengan doa yang lirih. 8- Doa lirih lebih selamat dari was-was dibandingkan dengan doa yang dikeraskan. Doa yang dijaherkan akan lebih membangkitkan sifat basyariah (manusiawi) yaitu ingin dipuji atau ingin mendapatkan maksud duniawi, sehingga pengaruh doa jadi berkurang. 9- Setiap nikmat pasti ada yang hasad (iri atau dengki). Termasuk dalam hal doa, ada saja yang iri (hasad) baik sedikit atau banyak. Karena bisa ada yang hasad, maka baiknya memang doa itu dilirihkan biar tidak ada iri ketika yang berdoa itu mendapatkan nikmat. 10- Dalam doa diperintahkan untuk lemah lembut, sebagaimana dalam dzikir. Perintah dalam dzikir, وَاذْكُرْ رَبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِيفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَالْآَصَالِ وَلَا تَكُنْ مِنَ الْغَافِلِينَ “Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.” (QS. Al-A’raf: 205). Mujahid dan Ibnu Juraij menyatakan bahwa ayat tersebut berisi perintah untuk mengingat Allah dengan hati dengan menundukkan diri dan bersikap tenang tanpa mengeraskan suara dan tanpa berteriak-teriak. Bersikap seperti inilah yang merupakan ruh doa dan dzikir. Catatan ini disarikan dari Majmu’ah Al-Fatawa karya Ibnu Taimiyah, 15:15-20.   Catatan #05: Berdoa Sesudah Shalat   Allah Ta’ala berfirman, فَإِذَا فَرَغْتَ فَانْصَبْ (7) وَإِلَى رَبِّكَ فَارْغَبْ (8) “Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain dan hanya kepada Rabbmulah hendaknya kamu berharap.” (QS. Alam Nasyrah: 1-8) ‘Ali bin Abi Thalhah berkata, dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata, “Jika engkau telah selesai (dari shalat atau ibadah, pen.), maka berdo’alah.” Ini jadi dalil sebagian ulama dibolehkan berdoa setelah shalat fardhu. (HR. Ath-Thabari dengan sanad yang tsabit dari ‘Ali) Ibnul Qayyim menyatakan masih boleh berdoa setelah membaca dzikir bada shalat. Namun berdoa dalam shalat lebih afdal karena saat itu orang yang shalat sedang bermunajat dengan Allah. Ini catatan dari Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim karya Ibnu Katsir, 7:599 dan Zaad Al-Ma’ad karya Ibnul Qayyim, 1:249-250.   Catatan #06: Berdoa dengan Selain Bahasa Arab dalam Shalat   Imam Nawawi rahimahullah menjelaskan [Untuk doa ma’tsur] Adapun jika doanya itu ma’tsur (berasal dari Al Quran dan As Sunnah), maka ada tiga pendapat dalam masalah ini di kalangan ulama Syafi’iyah. Pendapat pertama, bagi yang tidak mampu berbahasa Arab, maka ia boleh membaca terjemah dari doa tersebut. Namun bagi yang mampu berbahasa Arab, tidak dibolehkan baginya membaca terjemahnya. Jika ia mampu berbahasa Arab dan tetap memakai terjemah, shalatnya batal. Pendapat kedua, boleh membaca terjemah bagi yang bisa berbahasa Arab ataukah tidak. Pendapat ketiga, tidak dibolehkan membaca terjemah baik yang mampu berbahasa Arab ataukah tidak karena pada saat itu tidak disebut darurat. [Untuk doa yang tidak ma’tsur] Untuk doa yang tidak ma’tsur (tidak berasal dari Al Quran dan As Sunnah) dengan selain bahasa Arab, maka tidak dibolehkan dan ini tidak ada khilaf dalam madzhab Syafi’i dan shalatnya bahkan menjadi batal. Hal ini berbeda jika seseorang membuat-buat doa dengan bahasa Arab, maka seperti itu dibolehkan dalam madzhab Syafi’i tanpa ada khilaf. Ini catatan dari Al-Majmu’ Syarh Al-Muhaddzab karya Imam Nawawi, 3:181.   Catatan #07: Berdoa Tak Perlu Terlalu Diperinci   ‘Abdullah bin Mughoffal pernah mendengar puteranya berdoa, “Ya Allah, jika aku masuk surga berikanlah kepadaku istana berwarna putih di sebelah kanan surga.” ‘Abdullah lalu berkata pada puteranya, “Wahai anakku jika berdoa mintalah pada Allah surga dan mintalah agar dijauhkan dari neraka karena aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Akan datang pada umat ini orang-orang yang berlebihan dalam bersuci dan dalam berdoa.” (HR. Abu Daud, no. 96; Ibnu Majah, no. 3864. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih.) Doa yang terbaik adalah doa yang jawami’ul kalim, yang singkat namun sarat makna seperti doa-doa yang dicontohkan dalam Al-Qur’an dan yang dicontohkan oleh Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam. Catatan ini diambil dari Fatwa Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid dalam fatwa Islamqa, no. 41017. Semoga tujuh catatan ini menjadi ilmu yang berharga dan bermanfaat. — Disusun di Perpus Rumaysho, 4 Shafar 1439 H, Selasa sore Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsberdoa doa doa bahasa indonesia

Siapakah Malaikat Jibril? (bagian 02)

Tentang Malaikat Jibril Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Orang nasrani masa silam menyebut Jibril dengan nama an-Namus [النَّاموس]. An-namus sendiri artinya sosok ghaib yang menjadi kawan seseorang, dia bisa melihatnya namun orang lain tidak bisa melihatnya. Artikel sebelumnya: Siapakah Malaikat Jibril? (bagian 01) Diceritakan oleh Aisyah Radhiyallahu ‘anha, ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pertama kali mendapatkan wahyu surat al-Alaq di gua Hira, beliau pulang menemui Khadijah Radhiyallahu ‘anha dalam kondisi badannya menggigil. Hingga Khadijah membawanya menemui Waraqah bin Naufal – sepupunya Khadijah – dan beliau beragama nasrani di zaman jahiliyah, menulis kitab dan menyalin Injil ke dalam bahasa arab. Ketika itu, Waraqah sudah sangat tua, tuna netra. Setelah Waraqah mendengar cerita yang disampaikan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau langsung berkomentar, هَذَا النَّامُوسُ الَّذِي أُنْزِلَ عَلَى مُوسَى صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، يَا لَيْتَنِي فِيهَا جَذَعًا، يَا لَيْتَنِي أَكُونُ حَيًّا حِينَ يُخْرِجُكَ قَوْمُكَ… لَمْ يَأْتِ رَجُلٌ بِمَا جِئْتَ بِهِ إِلَّا أُوذِيَ، وَإِنْ يُدْرِكْنِي يَوْمُكَ حَيًّا أَنْصُرْكَ نَصْرًا مُؤَزَّرًا Itu Namus yang pernah turun menemui Musa Shallallahu ‘alaihi wa sallam… andai di masa sekarang saya masih muda, andai saya masih hidup ketika kaummu akan mengusirmu… semua orang yang membawa misi dakwah seperti yang anda bawa, pasti diganggu. Andai saya masih hidup ketika anda berdakwah, saya akan membantu dan membela anda. (HR. Bukhari 4953 & Muslim 160). Kehebatan Jibril Ada banyak sifat Jibril yang Allah sebutkan dalam al-Quran, berikut diantaranya, [1] Firman Allah, إِنَّهُ لَقَوْلُ رَسُولٍ كَرِيمٍ . ذِي قُوَّةٍ عِنْدَ ذِي الْعَرْشِ مَكِينٍ . مُطَاعٍ ثَمَّ أَمِينٍ Sesungguhnya Al Quran itu benar-benar firman (Allah yang dibawa oleh) utusan yang mulia (Jibril), yang mempunyai kekuatan, yang mempunyai kedudukan tinggi di sisi Allah yang mempunyai ‘Arsy, yang ditaati di sana (di alam malaikat) lagi dipercaya. (QS. At-Takwir: 19-21). Dalam ayat di atas, ada beberapa sifat jibril, Utusan Allah yang mulia Makhluk yang kuat Memiliki kedudukan yang tinggi di sisi Allah pemilik Arsy Ditaati para malaikat lainnya Amanah di sisi Allah Ta’ala [2] Firman Allah, عَلَّمَهُ شَدِيدُ الْقُوَى*ذُو مِرَّةٍ فَاسْتَوَى Yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat. Yang memiliki mirrah; dan dia menampakkan diri dengan rupa yang asli. (QS. An-Najm: 5-6) Dalam ayat ini, ada beberapa sifat Jibril, Sangat kuat Dzu mirrah. Ulama berbeda pendapat tentang makna Dzu Mirrah, menurut Ibnu Abbas, dzu mirrah artinya penampilan yang sangat indah. Sementara menurut Mujahid, artinya memiliki kekuatan. (Tafsir Ibnu Katsir, 7/444). Jibril Dibenci Yahudi Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma bercerita, Ada beberapa orang yahudi datang menghadap Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dia bertanya banyak hal. Diantara cuplikan dialognya, فَأَخْبِرْنَا مَنْ صَاحِبكَ؟ قَالَ: ” جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلامُ “، قَالُوا: جِبْرِيلُ ذَاكَ الَّذِي يَنْزِلُ بِالْحَرْبِ وَالْقِتَالِ وَالْعَذَابِ عَدُوُّنَا، لَوْ قُلْتَ: مِيكَائِيلَ الَّذِي يَنْزِلُ بِالرَّحْمَةِ وَالنَّبَاتِ وَالْقَطْرِ، لَكَانَ فَأَنْزَلَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: {مَنْ كَانَ عَدُوًّا لِجِبْرِيلَ} “Sampaikan kepada kami, siapakah kawan dekatmu?” tanya yahudi.. “Jibril ‘alaihis salam.” Jawab Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. “Jibril!! Dialah yang turun ikut membantu perang, dan memberikan adzab. Dia musuh kami. Andai kamu tadi menyebut  Mikail, yang menurunkan rahmat, tetumbuhan, dan hujan. Tentu kau benar.” Kemudian Allah menurunkan firman-Nya di surat al-Baqarah: 97. (HR. Ahmad 2483 dan dihasankan Syuaib al-Arnauth). Jibril yang Mengangkat Bumi Kaum Luth Allah berfirman, فَلَمَّا جَاءَ أَمْرُنَا جَعَلْنَا عَالِيَهَا سَافِلَهَا وَأَمْطَرْنَا عَلَيْهَا حِجَارَةً مِنْ سِجِّيلٍ مَنْضُودٍ “Tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah (Kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi.” (QS. Hud: 82). Sesungguhnya Jibril mengangat seluruh wilayah kampung ini dari bumi, diangkat dengan sayapnya hingga sampai ke langit dunia. Hingga penduduk langit dunia mendengar lolongan anjing mereka dan kokok ayam. Kemudian dibalik. Karena itu, Allah sebut mereka dengan al-Muktafikah, terbalik kepala dan kakinya. Lalu dilempar kembali ke tanah. Allah berfirman, وَالْمُؤْتَفِكَةَ أَهْوَى “Al-Muktafikah (negeri-negeri kaum Luth) yang dilempar ke bawah.” (QS. an-Najm: 53) Demikian, Allahu a’lam. Ditulis oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. SPONSOR hubungi: 081 326 333 328 DONASI hubungi: 087 882 888 727 REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK 🔍 Sholat Sunnah Sebelum Ashar, Keluar Madzi Membatalkan Puasa, Pembagian Daging Aqiqah Menurut Islam, Rabbana Lakal Hamdu, Ngupil Batal Puasa, Kultum Tentang Keutamaan Membaca Alquran Visited 143 times, 1 visit(s) today Post Views: 265 QRIS donasi Yufid

Siapakah Malaikat Jibril? (bagian 02)

Tentang Malaikat Jibril Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Orang nasrani masa silam menyebut Jibril dengan nama an-Namus [النَّاموس]. An-namus sendiri artinya sosok ghaib yang menjadi kawan seseorang, dia bisa melihatnya namun orang lain tidak bisa melihatnya. Artikel sebelumnya: Siapakah Malaikat Jibril? (bagian 01) Diceritakan oleh Aisyah Radhiyallahu ‘anha, ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pertama kali mendapatkan wahyu surat al-Alaq di gua Hira, beliau pulang menemui Khadijah Radhiyallahu ‘anha dalam kondisi badannya menggigil. Hingga Khadijah membawanya menemui Waraqah bin Naufal – sepupunya Khadijah – dan beliau beragama nasrani di zaman jahiliyah, menulis kitab dan menyalin Injil ke dalam bahasa arab. Ketika itu, Waraqah sudah sangat tua, tuna netra. Setelah Waraqah mendengar cerita yang disampaikan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau langsung berkomentar, هَذَا النَّامُوسُ الَّذِي أُنْزِلَ عَلَى مُوسَى صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، يَا لَيْتَنِي فِيهَا جَذَعًا، يَا لَيْتَنِي أَكُونُ حَيًّا حِينَ يُخْرِجُكَ قَوْمُكَ… لَمْ يَأْتِ رَجُلٌ بِمَا جِئْتَ بِهِ إِلَّا أُوذِيَ، وَإِنْ يُدْرِكْنِي يَوْمُكَ حَيًّا أَنْصُرْكَ نَصْرًا مُؤَزَّرًا Itu Namus yang pernah turun menemui Musa Shallallahu ‘alaihi wa sallam… andai di masa sekarang saya masih muda, andai saya masih hidup ketika kaummu akan mengusirmu… semua orang yang membawa misi dakwah seperti yang anda bawa, pasti diganggu. Andai saya masih hidup ketika anda berdakwah, saya akan membantu dan membela anda. (HR. Bukhari 4953 & Muslim 160). Kehebatan Jibril Ada banyak sifat Jibril yang Allah sebutkan dalam al-Quran, berikut diantaranya, [1] Firman Allah, إِنَّهُ لَقَوْلُ رَسُولٍ كَرِيمٍ . ذِي قُوَّةٍ عِنْدَ ذِي الْعَرْشِ مَكِينٍ . مُطَاعٍ ثَمَّ أَمِينٍ Sesungguhnya Al Quran itu benar-benar firman (Allah yang dibawa oleh) utusan yang mulia (Jibril), yang mempunyai kekuatan, yang mempunyai kedudukan tinggi di sisi Allah yang mempunyai ‘Arsy, yang ditaati di sana (di alam malaikat) lagi dipercaya. (QS. At-Takwir: 19-21). Dalam ayat di atas, ada beberapa sifat jibril, Utusan Allah yang mulia Makhluk yang kuat Memiliki kedudukan yang tinggi di sisi Allah pemilik Arsy Ditaati para malaikat lainnya Amanah di sisi Allah Ta’ala [2] Firman Allah, عَلَّمَهُ شَدِيدُ الْقُوَى*ذُو مِرَّةٍ فَاسْتَوَى Yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat. Yang memiliki mirrah; dan dia menampakkan diri dengan rupa yang asli. (QS. An-Najm: 5-6) Dalam ayat ini, ada beberapa sifat Jibril, Sangat kuat Dzu mirrah. Ulama berbeda pendapat tentang makna Dzu Mirrah, menurut Ibnu Abbas, dzu mirrah artinya penampilan yang sangat indah. Sementara menurut Mujahid, artinya memiliki kekuatan. (Tafsir Ibnu Katsir, 7/444). Jibril Dibenci Yahudi Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma bercerita, Ada beberapa orang yahudi datang menghadap Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dia bertanya banyak hal. Diantara cuplikan dialognya, فَأَخْبِرْنَا مَنْ صَاحِبكَ؟ قَالَ: ” جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلامُ “، قَالُوا: جِبْرِيلُ ذَاكَ الَّذِي يَنْزِلُ بِالْحَرْبِ وَالْقِتَالِ وَالْعَذَابِ عَدُوُّنَا، لَوْ قُلْتَ: مِيكَائِيلَ الَّذِي يَنْزِلُ بِالرَّحْمَةِ وَالنَّبَاتِ وَالْقَطْرِ، لَكَانَ فَأَنْزَلَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: {مَنْ كَانَ عَدُوًّا لِجِبْرِيلَ} “Sampaikan kepada kami, siapakah kawan dekatmu?” tanya yahudi.. “Jibril ‘alaihis salam.” Jawab Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. “Jibril!! Dialah yang turun ikut membantu perang, dan memberikan adzab. Dia musuh kami. Andai kamu tadi menyebut  Mikail, yang menurunkan rahmat, tetumbuhan, dan hujan. Tentu kau benar.” Kemudian Allah menurunkan firman-Nya di surat al-Baqarah: 97. (HR. Ahmad 2483 dan dihasankan Syuaib al-Arnauth). Jibril yang Mengangkat Bumi Kaum Luth Allah berfirman, فَلَمَّا جَاءَ أَمْرُنَا جَعَلْنَا عَالِيَهَا سَافِلَهَا وَأَمْطَرْنَا عَلَيْهَا حِجَارَةً مِنْ سِجِّيلٍ مَنْضُودٍ “Tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah (Kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi.” (QS. Hud: 82). Sesungguhnya Jibril mengangat seluruh wilayah kampung ini dari bumi, diangkat dengan sayapnya hingga sampai ke langit dunia. Hingga penduduk langit dunia mendengar lolongan anjing mereka dan kokok ayam. Kemudian dibalik. Karena itu, Allah sebut mereka dengan al-Muktafikah, terbalik kepala dan kakinya. Lalu dilempar kembali ke tanah. Allah berfirman, وَالْمُؤْتَفِكَةَ أَهْوَى “Al-Muktafikah (negeri-negeri kaum Luth) yang dilempar ke bawah.” (QS. an-Najm: 53) Demikian, Allahu a’lam. Ditulis oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. SPONSOR hubungi: 081 326 333 328 DONASI hubungi: 087 882 888 727 REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK 🔍 Sholat Sunnah Sebelum Ashar, Keluar Madzi Membatalkan Puasa, Pembagian Daging Aqiqah Menurut Islam, Rabbana Lakal Hamdu, Ngupil Batal Puasa, Kultum Tentang Keutamaan Membaca Alquran Visited 143 times, 1 visit(s) today Post Views: 265 QRIS donasi Yufid
Tentang Malaikat Jibril Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Orang nasrani masa silam menyebut Jibril dengan nama an-Namus [النَّاموس]. An-namus sendiri artinya sosok ghaib yang menjadi kawan seseorang, dia bisa melihatnya namun orang lain tidak bisa melihatnya. Artikel sebelumnya: Siapakah Malaikat Jibril? (bagian 01) Diceritakan oleh Aisyah Radhiyallahu ‘anha, ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pertama kali mendapatkan wahyu surat al-Alaq di gua Hira, beliau pulang menemui Khadijah Radhiyallahu ‘anha dalam kondisi badannya menggigil. Hingga Khadijah membawanya menemui Waraqah bin Naufal – sepupunya Khadijah – dan beliau beragama nasrani di zaman jahiliyah, menulis kitab dan menyalin Injil ke dalam bahasa arab. Ketika itu, Waraqah sudah sangat tua, tuna netra. Setelah Waraqah mendengar cerita yang disampaikan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau langsung berkomentar, هَذَا النَّامُوسُ الَّذِي أُنْزِلَ عَلَى مُوسَى صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، يَا لَيْتَنِي فِيهَا جَذَعًا، يَا لَيْتَنِي أَكُونُ حَيًّا حِينَ يُخْرِجُكَ قَوْمُكَ… لَمْ يَأْتِ رَجُلٌ بِمَا جِئْتَ بِهِ إِلَّا أُوذِيَ، وَإِنْ يُدْرِكْنِي يَوْمُكَ حَيًّا أَنْصُرْكَ نَصْرًا مُؤَزَّرًا Itu Namus yang pernah turun menemui Musa Shallallahu ‘alaihi wa sallam… andai di masa sekarang saya masih muda, andai saya masih hidup ketika kaummu akan mengusirmu… semua orang yang membawa misi dakwah seperti yang anda bawa, pasti diganggu. Andai saya masih hidup ketika anda berdakwah, saya akan membantu dan membela anda. (HR. Bukhari 4953 & Muslim 160). Kehebatan Jibril Ada banyak sifat Jibril yang Allah sebutkan dalam al-Quran, berikut diantaranya, [1] Firman Allah, إِنَّهُ لَقَوْلُ رَسُولٍ كَرِيمٍ . ذِي قُوَّةٍ عِنْدَ ذِي الْعَرْشِ مَكِينٍ . مُطَاعٍ ثَمَّ أَمِينٍ Sesungguhnya Al Quran itu benar-benar firman (Allah yang dibawa oleh) utusan yang mulia (Jibril), yang mempunyai kekuatan, yang mempunyai kedudukan tinggi di sisi Allah yang mempunyai ‘Arsy, yang ditaati di sana (di alam malaikat) lagi dipercaya. (QS. At-Takwir: 19-21). Dalam ayat di atas, ada beberapa sifat jibril, Utusan Allah yang mulia Makhluk yang kuat Memiliki kedudukan yang tinggi di sisi Allah pemilik Arsy Ditaati para malaikat lainnya Amanah di sisi Allah Ta’ala [2] Firman Allah, عَلَّمَهُ شَدِيدُ الْقُوَى*ذُو مِرَّةٍ فَاسْتَوَى Yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat. Yang memiliki mirrah; dan dia menampakkan diri dengan rupa yang asli. (QS. An-Najm: 5-6) Dalam ayat ini, ada beberapa sifat Jibril, Sangat kuat Dzu mirrah. Ulama berbeda pendapat tentang makna Dzu Mirrah, menurut Ibnu Abbas, dzu mirrah artinya penampilan yang sangat indah. Sementara menurut Mujahid, artinya memiliki kekuatan. (Tafsir Ibnu Katsir, 7/444). Jibril Dibenci Yahudi Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma bercerita, Ada beberapa orang yahudi datang menghadap Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dia bertanya banyak hal. Diantara cuplikan dialognya, فَأَخْبِرْنَا مَنْ صَاحِبكَ؟ قَالَ: ” جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلامُ “، قَالُوا: جِبْرِيلُ ذَاكَ الَّذِي يَنْزِلُ بِالْحَرْبِ وَالْقِتَالِ وَالْعَذَابِ عَدُوُّنَا، لَوْ قُلْتَ: مِيكَائِيلَ الَّذِي يَنْزِلُ بِالرَّحْمَةِ وَالنَّبَاتِ وَالْقَطْرِ، لَكَانَ فَأَنْزَلَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: {مَنْ كَانَ عَدُوًّا لِجِبْرِيلَ} “Sampaikan kepada kami, siapakah kawan dekatmu?” tanya yahudi.. “Jibril ‘alaihis salam.” Jawab Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. “Jibril!! Dialah yang turun ikut membantu perang, dan memberikan adzab. Dia musuh kami. Andai kamu tadi menyebut  Mikail, yang menurunkan rahmat, tetumbuhan, dan hujan. Tentu kau benar.” Kemudian Allah menurunkan firman-Nya di surat al-Baqarah: 97. (HR. Ahmad 2483 dan dihasankan Syuaib al-Arnauth). Jibril yang Mengangkat Bumi Kaum Luth Allah berfirman, فَلَمَّا جَاءَ أَمْرُنَا جَعَلْنَا عَالِيَهَا سَافِلَهَا وَأَمْطَرْنَا عَلَيْهَا حِجَارَةً مِنْ سِجِّيلٍ مَنْضُودٍ “Tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah (Kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi.” (QS. Hud: 82). Sesungguhnya Jibril mengangat seluruh wilayah kampung ini dari bumi, diangkat dengan sayapnya hingga sampai ke langit dunia. Hingga penduduk langit dunia mendengar lolongan anjing mereka dan kokok ayam. Kemudian dibalik. Karena itu, Allah sebut mereka dengan al-Muktafikah, terbalik kepala dan kakinya. Lalu dilempar kembali ke tanah. Allah berfirman, وَالْمُؤْتَفِكَةَ أَهْوَى “Al-Muktafikah (negeri-negeri kaum Luth) yang dilempar ke bawah.” (QS. an-Najm: 53) Demikian, Allahu a’lam. Ditulis oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. SPONSOR hubungi: 081 326 333 328 DONASI hubungi: 087 882 888 727 REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK 🔍 Sholat Sunnah Sebelum Ashar, Keluar Madzi Membatalkan Puasa, Pembagian Daging Aqiqah Menurut Islam, Rabbana Lakal Hamdu, Ngupil Batal Puasa, Kultum Tentang Keutamaan Membaca Alquran Visited 143 times, 1 visit(s) today Post Views: 265 QRIS donasi Yufid


<iframe src="https://w.soundcloud.com/player/?url=https%3A//api.soundcloud.com/tracks/349055985&amp;color=d5265f&amp;auto_play=false&amp;show_artwork=false&amp;hide_related=true&amp;show_comments=false&amp;show_user=false&amp;show_reposts=false" width="100%" height="166" frameborder="no" scrolling="no"></iframe> Tentang Malaikat Jibril Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Orang nasrani masa silam menyebut Jibril dengan nama an-Namus [النَّاموس]. An-namus sendiri artinya sosok ghaib yang menjadi kawan seseorang, dia bisa melihatnya namun orang lain tidak bisa melihatnya. Artikel sebelumnya: Siapakah Malaikat Jibril? (bagian 01) Diceritakan oleh Aisyah Radhiyallahu ‘anha, ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pertama kali mendapatkan wahyu surat al-Alaq di gua Hira, beliau pulang menemui Khadijah Radhiyallahu ‘anha dalam kondisi badannya menggigil. Hingga Khadijah membawanya menemui Waraqah bin Naufal – sepupunya Khadijah – dan beliau beragama nasrani di zaman jahiliyah, menulis kitab dan menyalin Injil ke dalam bahasa arab. Ketika itu, Waraqah sudah sangat tua, tuna netra. Setelah Waraqah mendengar cerita yang disampaikan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau langsung berkomentar, هَذَا النَّامُوسُ الَّذِي أُنْزِلَ عَلَى مُوسَى صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، يَا لَيْتَنِي فِيهَا جَذَعًا، يَا لَيْتَنِي أَكُونُ حَيًّا حِينَ يُخْرِجُكَ قَوْمُكَ… لَمْ يَأْتِ رَجُلٌ بِمَا جِئْتَ بِهِ إِلَّا أُوذِيَ، وَإِنْ يُدْرِكْنِي يَوْمُكَ حَيًّا أَنْصُرْكَ نَصْرًا مُؤَزَّرًا Itu Namus yang pernah turun menemui Musa Shallallahu ‘alaihi wa sallam… andai di masa sekarang saya masih muda, andai saya masih hidup ketika kaummu akan mengusirmu… semua orang yang membawa misi dakwah seperti yang anda bawa, pasti diganggu. Andai saya masih hidup ketika anda berdakwah, saya akan membantu dan membela anda. (HR. Bukhari 4953 & Muslim 160). Kehebatan Jibril Ada banyak sifat Jibril yang Allah sebutkan dalam al-Quran, berikut diantaranya, [1] Firman Allah, إِنَّهُ لَقَوْلُ رَسُولٍ كَرِيمٍ . ذِي قُوَّةٍ عِنْدَ ذِي الْعَرْشِ مَكِينٍ . مُطَاعٍ ثَمَّ أَمِينٍ Sesungguhnya Al Quran itu benar-benar firman (Allah yang dibawa oleh) utusan yang mulia (Jibril), yang mempunyai kekuatan, yang mempunyai kedudukan tinggi di sisi Allah yang mempunyai ‘Arsy, yang ditaati di sana (di alam malaikat) lagi dipercaya. (QS. At-Takwir: 19-21). Dalam ayat di atas, ada beberapa sifat jibril, Utusan Allah yang mulia Makhluk yang kuat Memiliki kedudukan yang tinggi di sisi Allah pemilik Arsy Ditaati para malaikat lainnya Amanah di sisi Allah Ta’ala [2] Firman Allah, عَلَّمَهُ شَدِيدُ الْقُوَى*ذُو مِرَّةٍ فَاسْتَوَى Yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat. Yang memiliki mirrah; dan dia menampakkan diri dengan rupa yang asli. (QS. An-Najm: 5-6) Dalam ayat ini, ada beberapa sifat Jibril, Sangat kuat Dzu mirrah. Ulama berbeda pendapat tentang makna Dzu Mirrah, menurut Ibnu Abbas, dzu mirrah artinya penampilan yang sangat indah. Sementara menurut Mujahid, artinya memiliki kekuatan. (Tafsir Ibnu Katsir, 7/444). Jibril Dibenci Yahudi Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma bercerita, Ada beberapa orang yahudi datang menghadap Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dia bertanya banyak hal. Diantara cuplikan dialognya, فَأَخْبِرْنَا مَنْ صَاحِبكَ؟ قَالَ: ” جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلامُ “، قَالُوا: جِبْرِيلُ ذَاكَ الَّذِي يَنْزِلُ بِالْحَرْبِ وَالْقِتَالِ وَالْعَذَابِ عَدُوُّنَا، لَوْ قُلْتَ: مِيكَائِيلَ الَّذِي يَنْزِلُ بِالرَّحْمَةِ وَالنَّبَاتِ وَالْقَطْرِ، لَكَانَ فَأَنْزَلَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: {مَنْ كَانَ عَدُوًّا لِجِبْرِيلَ} “Sampaikan kepada kami, siapakah kawan dekatmu?” tanya yahudi.. “Jibril ‘alaihis salam.” Jawab Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. “Jibril!! Dialah yang turun ikut membantu perang, dan memberikan adzab. Dia musuh kami. Andai kamu tadi menyebut  Mikail, yang menurunkan rahmat, tetumbuhan, dan hujan. Tentu kau benar.” Kemudian Allah menurunkan firman-Nya di surat al-Baqarah: 97. (HR. Ahmad 2483 dan dihasankan Syuaib al-Arnauth). Jibril yang Mengangkat Bumi Kaum Luth Allah berfirman, فَلَمَّا جَاءَ أَمْرُنَا جَعَلْنَا عَالِيَهَا سَافِلَهَا وَأَمْطَرْنَا عَلَيْهَا حِجَارَةً مِنْ سِجِّيلٍ مَنْضُودٍ “Tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah (Kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi.” (QS. Hud: 82). Sesungguhnya Jibril mengangat seluruh wilayah kampung ini dari bumi, diangkat dengan sayapnya hingga sampai ke langit dunia. Hingga penduduk langit dunia mendengar lolongan anjing mereka dan kokok ayam. Kemudian dibalik. Karena itu, Allah sebut mereka dengan al-Muktafikah, terbalik kepala dan kakinya. Lalu dilempar kembali ke tanah. Allah berfirman, وَالْمُؤْتَفِكَةَ أَهْوَى “Al-Muktafikah (negeri-negeri kaum Luth) yang dilempar ke bawah.” (QS. an-Najm: 53) Demikian, Allahu a’lam. Ditulis oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. SPONSOR hubungi: 081 326 333 328 DONASI hubungi: 087 882 888 727 REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK 🔍 Sholat Sunnah Sebelum Ashar, Keluar Madzi Membatalkan Puasa, Pembagian Daging Aqiqah Menurut Islam, Rabbana Lakal Hamdu, Ngupil Batal Puasa, Kultum Tentang Keutamaan Membaca Alquran Visited 143 times, 1 visit(s) today Post Views: 265 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Tidak Boleh Membenarkan Ucapan Jin pada Orang yang Disihir atau Kerasukan

Terdapat ikhtilaf ulama apakah boleh atau tidak mengajak jin berbicara pada orang yang kerasukan atau disihir. Terlepas perselisihan ini, terkadang jin berbicara sendiri tanpa diminta. Ada beberapa penjelasan dari ulama mengenai ucapan jin tersebutBerikut pembahasannya:Syaikh Abdullah Al-Faqih menjelaskan bahwa jangan percaya dengan ucapan jin karena mereka terkenal berdusta. Beliau berkata,ﻻ ﻳﺼﺪﻕ ﺍﻟﺠﻨﻲ ﻓﻲ ﺇﺧﺒﺎﺭﻩ؛ ﻟﺜﺒﻮﺕ ﻓﺴﻘﻪ ﺑﻤﺎ ﻋﻤﻠﻪ ﻣﻦ ﺍﻻﻋﺘﺪﺍﺀ ﺑﺎﻟﻤﺲ , ﻭﻷﻥ ﺍﻟﺠﻦ ﻻ ﻳﺆﺗﻤﻨﻮﻥ , ﻭﻻ ﻳﻮﺛﻖ ﺑﻤﺎ ﻳﻘﻮﻟﻮﻥ , ﻓﻬﻢ ﺃﻫﻞ ﻛﺬﺏ ﻭﺧﺪﺍﻉ، ﻭﻣﺪﻋﻲ ﺍﻹﺳﻼﻡ ﻣﻨﻬﻢ ﻻ ﻳﻌﻠﻢ ﻫﻞ ﻫﻮ ﺻﺎﺩﻕ ﺃﻭ ﻛﺎﺫﺏ“Tidak dibenarkan berita dari jin, karena telah tetap kefasikan mereka pada perbuatan mereka. Jin tidak bisa dipercaya dan tidak dipercaya apa yang mereka katakan. Mereka adalah kelompok yang sering berbohong dan berdusta. Mereka mengaku sebagai “jin muslim” tetapi tidak diketahui apakah mereka jujur atau dusta.”[1] Salah satu dalil mereka berdusta adalah hadist Abu Hurairah yang bertemu jin kemudian mendapatkan informasi keutamaan ayat kursiy, lalu melapor kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau mengatakan bahwa kali ini setan benar padahal mereka sering berdusta. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda saat itu,أَمَا إِنَّهُ قَدْ صَدَقَكَ وَهُوَ كَذُوب“Adapun dia kala itu berkata benar, namun asalnya dia pendusta.”[2] Ibnu Hajar Al-Asqalani menjelaskan hadits ini dan memberikan faidah bahwa hukum asalnya jin suka berdusta, beliau berkata,ﻭﺃﻧﻬﻢ – ﺃﻱ ﺍﻟﺠﻦ – ﻳﺴﺮﻗﻮﻥ ﻭﻳﺨﺪﻋﻮﻥ“Bahwasanya mereka yaitu jin, suka mencuri berita (kemudian berbohong) dan menipu.”[3] [2] Harus ada kemampuan untuk bisa membedakan apakah jin benar atau tidak, apakah jin sedang berbohong atau tidak. Inipun bisa jadi cukup sulit untuk punya kemampuan iniSyaikh Muhammad Ali Firkous menjelaskan hal ini, beliau berkataأما ﻣﺴﺎﺀﻟﺘﻬﻢ ﻭﻣُﺤﺎﻭﺭﺗﻬﻢ ﻋﻠﻰ ﺳﺒﻴﻞ ﺍﻻﻣﺘﺤﺎﻥ ﻟﺤﺎﻟﻬﻢ، ﻭﻣﻌﺮﻓﺔِ ﻭﺟﻪ ﺍﻋﺘﺪﺍﺋﻬﻢ، ﻟﺪﻓﻊ ﺍﻟﻈﻠﻢ ﻭﺇﺯﺍﻟﺘﻪ…..ﻣﻊ ﻭﺟﻮﺩ ﻣﻘﺪﺭﺓٍ ﻋﻠﻰ ﻣﺎ ﻳُﻤﻴِّﺰ ﺑﻪ ﺻﺪْﻗَﻬﻢ ﻣﻦ ﻛﺬﺑﻬﻢ؛ ﻓﺤﻜﻤُﻪ ﺍﻟﺠﻮﺍﺯ“Adapun bertanya atau berbicara untuk tujuan menguji keadaan mereka dan untuk mengetahui bentuk permusuhan, mencegah kedzaliman …. dengan adanya kemampuan membedakan apakah jin tersebur jujur atau berdusta, maka hukumnya boleh.”[4] Kemampuan untuk membedakan ini yang bisa jadi cukup sulit. Sebagaimana penjelasan syaikh Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali, beliau berkata,ﻣﺎ ﺍﻟﺬﻱ ﻳﺪﺭﻳﻚ ﺃﻧﻪ ﻣﺴﻠﻢ ؟ ﻗﺪ ﻳﻜﻮﻥ ﻣﻨﺎﻓﻘًﺎ ﻭﻳﻘﻮﻝ : ‏( ﺃﻧﺎ ﻣﺴﻠﻢ !( ﻳﻜﻮﻥ ﻛﺎﻓﺮًﺍ ، ﻭﻳﻘﻮﻝ : ‏( ﺃﻧﺎ ﻣﺴﻠﻢ !( ﺟﻨﻲ ﻣﺎ ﺗﻌﺮﻓﻪ ﻭﺃﻧﺖ ﻻ ﺗﻌﻠﻢ ﺍﻟﻐﻴﺐ“Apa yang membuatmu tahu (yakin) bahwa jin itu muslim (mengaku muslim), karena bisa jadi jin itu munafik dan bisa jadi jin itu kafir. Keadaan jin tidak engkau ketahui dan engkau tidak mengetahui ilmu ghaib.”[5] Demikian semoga bermanfaat@ Hotel Alya Prapatan, Jakarta Penulis: dr. Raehanul Bahraen Artikel Muslim.or.idCatatan kaki:🔍 Dalil Judi, Doa Ta Awwudz, Riyadussolihin, Hadits Anak Sholeh, Apakah Bumi Datar Atau Bulat

Tidak Boleh Membenarkan Ucapan Jin pada Orang yang Disihir atau Kerasukan

Terdapat ikhtilaf ulama apakah boleh atau tidak mengajak jin berbicara pada orang yang kerasukan atau disihir. Terlepas perselisihan ini, terkadang jin berbicara sendiri tanpa diminta. Ada beberapa penjelasan dari ulama mengenai ucapan jin tersebutBerikut pembahasannya:Syaikh Abdullah Al-Faqih menjelaskan bahwa jangan percaya dengan ucapan jin karena mereka terkenal berdusta. Beliau berkata,ﻻ ﻳﺼﺪﻕ ﺍﻟﺠﻨﻲ ﻓﻲ ﺇﺧﺒﺎﺭﻩ؛ ﻟﺜﺒﻮﺕ ﻓﺴﻘﻪ ﺑﻤﺎ ﻋﻤﻠﻪ ﻣﻦ ﺍﻻﻋﺘﺪﺍﺀ ﺑﺎﻟﻤﺲ , ﻭﻷﻥ ﺍﻟﺠﻦ ﻻ ﻳﺆﺗﻤﻨﻮﻥ , ﻭﻻ ﻳﻮﺛﻖ ﺑﻤﺎ ﻳﻘﻮﻟﻮﻥ , ﻓﻬﻢ ﺃﻫﻞ ﻛﺬﺏ ﻭﺧﺪﺍﻉ، ﻭﻣﺪﻋﻲ ﺍﻹﺳﻼﻡ ﻣﻨﻬﻢ ﻻ ﻳﻌﻠﻢ ﻫﻞ ﻫﻮ ﺻﺎﺩﻕ ﺃﻭ ﻛﺎﺫﺏ“Tidak dibenarkan berita dari jin, karena telah tetap kefasikan mereka pada perbuatan mereka. Jin tidak bisa dipercaya dan tidak dipercaya apa yang mereka katakan. Mereka adalah kelompok yang sering berbohong dan berdusta. Mereka mengaku sebagai “jin muslim” tetapi tidak diketahui apakah mereka jujur atau dusta.”[1] Salah satu dalil mereka berdusta adalah hadist Abu Hurairah yang bertemu jin kemudian mendapatkan informasi keutamaan ayat kursiy, lalu melapor kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau mengatakan bahwa kali ini setan benar padahal mereka sering berdusta. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda saat itu,أَمَا إِنَّهُ قَدْ صَدَقَكَ وَهُوَ كَذُوب“Adapun dia kala itu berkata benar, namun asalnya dia pendusta.”[2] Ibnu Hajar Al-Asqalani menjelaskan hadits ini dan memberikan faidah bahwa hukum asalnya jin suka berdusta, beliau berkata,ﻭﺃﻧﻬﻢ – ﺃﻱ ﺍﻟﺠﻦ – ﻳﺴﺮﻗﻮﻥ ﻭﻳﺨﺪﻋﻮﻥ“Bahwasanya mereka yaitu jin, suka mencuri berita (kemudian berbohong) dan menipu.”[3] [2] Harus ada kemampuan untuk bisa membedakan apakah jin benar atau tidak, apakah jin sedang berbohong atau tidak. Inipun bisa jadi cukup sulit untuk punya kemampuan iniSyaikh Muhammad Ali Firkous menjelaskan hal ini, beliau berkataأما ﻣﺴﺎﺀﻟﺘﻬﻢ ﻭﻣُﺤﺎﻭﺭﺗﻬﻢ ﻋﻠﻰ ﺳﺒﻴﻞ ﺍﻻﻣﺘﺤﺎﻥ ﻟﺤﺎﻟﻬﻢ، ﻭﻣﻌﺮﻓﺔِ ﻭﺟﻪ ﺍﻋﺘﺪﺍﺋﻬﻢ، ﻟﺪﻓﻊ ﺍﻟﻈﻠﻢ ﻭﺇﺯﺍﻟﺘﻪ…..ﻣﻊ ﻭﺟﻮﺩ ﻣﻘﺪﺭﺓٍ ﻋﻠﻰ ﻣﺎ ﻳُﻤﻴِّﺰ ﺑﻪ ﺻﺪْﻗَﻬﻢ ﻣﻦ ﻛﺬﺑﻬﻢ؛ ﻓﺤﻜﻤُﻪ ﺍﻟﺠﻮﺍﺯ“Adapun bertanya atau berbicara untuk tujuan menguji keadaan mereka dan untuk mengetahui bentuk permusuhan, mencegah kedzaliman …. dengan adanya kemampuan membedakan apakah jin tersebur jujur atau berdusta, maka hukumnya boleh.”[4] Kemampuan untuk membedakan ini yang bisa jadi cukup sulit. Sebagaimana penjelasan syaikh Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali, beliau berkata,ﻣﺎ ﺍﻟﺬﻱ ﻳﺪﺭﻳﻚ ﺃﻧﻪ ﻣﺴﻠﻢ ؟ ﻗﺪ ﻳﻜﻮﻥ ﻣﻨﺎﻓﻘًﺎ ﻭﻳﻘﻮﻝ : ‏( ﺃﻧﺎ ﻣﺴﻠﻢ !( ﻳﻜﻮﻥ ﻛﺎﻓﺮًﺍ ، ﻭﻳﻘﻮﻝ : ‏( ﺃﻧﺎ ﻣﺴﻠﻢ !( ﺟﻨﻲ ﻣﺎ ﺗﻌﺮﻓﻪ ﻭﺃﻧﺖ ﻻ ﺗﻌﻠﻢ ﺍﻟﻐﻴﺐ“Apa yang membuatmu tahu (yakin) bahwa jin itu muslim (mengaku muslim), karena bisa jadi jin itu munafik dan bisa jadi jin itu kafir. Keadaan jin tidak engkau ketahui dan engkau tidak mengetahui ilmu ghaib.”[5] Demikian semoga bermanfaat@ Hotel Alya Prapatan, Jakarta Penulis: dr. Raehanul Bahraen Artikel Muslim.or.idCatatan kaki:🔍 Dalil Judi, Doa Ta Awwudz, Riyadussolihin, Hadits Anak Sholeh, Apakah Bumi Datar Atau Bulat
Terdapat ikhtilaf ulama apakah boleh atau tidak mengajak jin berbicara pada orang yang kerasukan atau disihir. Terlepas perselisihan ini, terkadang jin berbicara sendiri tanpa diminta. Ada beberapa penjelasan dari ulama mengenai ucapan jin tersebutBerikut pembahasannya:Syaikh Abdullah Al-Faqih menjelaskan bahwa jangan percaya dengan ucapan jin karena mereka terkenal berdusta. Beliau berkata,ﻻ ﻳﺼﺪﻕ ﺍﻟﺠﻨﻲ ﻓﻲ ﺇﺧﺒﺎﺭﻩ؛ ﻟﺜﺒﻮﺕ ﻓﺴﻘﻪ ﺑﻤﺎ ﻋﻤﻠﻪ ﻣﻦ ﺍﻻﻋﺘﺪﺍﺀ ﺑﺎﻟﻤﺲ , ﻭﻷﻥ ﺍﻟﺠﻦ ﻻ ﻳﺆﺗﻤﻨﻮﻥ , ﻭﻻ ﻳﻮﺛﻖ ﺑﻤﺎ ﻳﻘﻮﻟﻮﻥ , ﻓﻬﻢ ﺃﻫﻞ ﻛﺬﺏ ﻭﺧﺪﺍﻉ، ﻭﻣﺪﻋﻲ ﺍﻹﺳﻼﻡ ﻣﻨﻬﻢ ﻻ ﻳﻌﻠﻢ ﻫﻞ ﻫﻮ ﺻﺎﺩﻕ ﺃﻭ ﻛﺎﺫﺏ“Tidak dibenarkan berita dari jin, karena telah tetap kefasikan mereka pada perbuatan mereka. Jin tidak bisa dipercaya dan tidak dipercaya apa yang mereka katakan. Mereka adalah kelompok yang sering berbohong dan berdusta. Mereka mengaku sebagai “jin muslim” tetapi tidak diketahui apakah mereka jujur atau dusta.”[1] Salah satu dalil mereka berdusta adalah hadist Abu Hurairah yang bertemu jin kemudian mendapatkan informasi keutamaan ayat kursiy, lalu melapor kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau mengatakan bahwa kali ini setan benar padahal mereka sering berdusta. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda saat itu,أَمَا إِنَّهُ قَدْ صَدَقَكَ وَهُوَ كَذُوب“Adapun dia kala itu berkata benar, namun asalnya dia pendusta.”[2] Ibnu Hajar Al-Asqalani menjelaskan hadits ini dan memberikan faidah bahwa hukum asalnya jin suka berdusta, beliau berkata,ﻭﺃﻧﻬﻢ – ﺃﻱ ﺍﻟﺠﻦ – ﻳﺴﺮﻗﻮﻥ ﻭﻳﺨﺪﻋﻮﻥ“Bahwasanya mereka yaitu jin, suka mencuri berita (kemudian berbohong) dan menipu.”[3] [2] Harus ada kemampuan untuk bisa membedakan apakah jin benar atau tidak, apakah jin sedang berbohong atau tidak. Inipun bisa jadi cukup sulit untuk punya kemampuan iniSyaikh Muhammad Ali Firkous menjelaskan hal ini, beliau berkataأما ﻣﺴﺎﺀﻟﺘﻬﻢ ﻭﻣُﺤﺎﻭﺭﺗﻬﻢ ﻋﻠﻰ ﺳﺒﻴﻞ ﺍﻻﻣﺘﺤﺎﻥ ﻟﺤﺎﻟﻬﻢ، ﻭﻣﻌﺮﻓﺔِ ﻭﺟﻪ ﺍﻋﺘﺪﺍﺋﻬﻢ، ﻟﺪﻓﻊ ﺍﻟﻈﻠﻢ ﻭﺇﺯﺍﻟﺘﻪ…..ﻣﻊ ﻭﺟﻮﺩ ﻣﻘﺪﺭﺓٍ ﻋﻠﻰ ﻣﺎ ﻳُﻤﻴِّﺰ ﺑﻪ ﺻﺪْﻗَﻬﻢ ﻣﻦ ﻛﺬﺑﻬﻢ؛ ﻓﺤﻜﻤُﻪ ﺍﻟﺠﻮﺍﺯ“Adapun bertanya atau berbicara untuk tujuan menguji keadaan mereka dan untuk mengetahui bentuk permusuhan, mencegah kedzaliman …. dengan adanya kemampuan membedakan apakah jin tersebur jujur atau berdusta, maka hukumnya boleh.”[4] Kemampuan untuk membedakan ini yang bisa jadi cukup sulit. Sebagaimana penjelasan syaikh Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali, beliau berkata,ﻣﺎ ﺍﻟﺬﻱ ﻳﺪﺭﻳﻚ ﺃﻧﻪ ﻣﺴﻠﻢ ؟ ﻗﺪ ﻳﻜﻮﻥ ﻣﻨﺎﻓﻘًﺎ ﻭﻳﻘﻮﻝ : ‏( ﺃﻧﺎ ﻣﺴﻠﻢ !( ﻳﻜﻮﻥ ﻛﺎﻓﺮًﺍ ، ﻭﻳﻘﻮﻝ : ‏( ﺃﻧﺎ ﻣﺴﻠﻢ !( ﺟﻨﻲ ﻣﺎ ﺗﻌﺮﻓﻪ ﻭﺃﻧﺖ ﻻ ﺗﻌﻠﻢ ﺍﻟﻐﻴﺐ“Apa yang membuatmu tahu (yakin) bahwa jin itu muslim (mengaku muslim), karena bisa jadi jin itu munafik dan bisa jadi jin itu kafir. Keadaan jin tidak engkau ketahui dan engkau tidak mengetahui ilmu ghaib.”[5] Demikian semoga bermanfaat@ Hotel Alya Prapatan, Jakarta Penulis: dr. Raehanul Bahraen Artikel Muslim.or.idCatatan kaki:🔍 Dalil Judi, Doa Ta Awwudz, Riyadussolihin, Hadits Anak Sholeh, Apakah Bumi Datar Atau Bulat


Terdapat ikhtilaf ulama apakah boleh atau tidak mengajak jin berbicara pada orang yang kerasukan atau disihir. Terlepas perselisihan ini, terkadang jin berbicara sendiri tanpa diminta. Ada beberapa penjelasan dari ulama mengenai ucapan jin tersebutBerikut pembahasannya:Syaikh Abdullah Al-Faqih menjelaskan bahwa jangan percaya dengan ucapan jin karena mereka terkenal berdusta. Beliau berkata,ﻻ ﻳﺼﺪﻕ ﺍﻟﺠﻨﻲ ﻓﻲ ﺇﺧﺒﺎﺭﻩ؛ ﻟﺜﺒﻮﺕ ﻓﺴﻘﻪ ﺑﻤﺎ ﻋﻤﻠﻪ ﻣﻦ ﺍﻻﻋﺘﺪﺍﺀ ﺑﺎﻟﻤﺲ , ﻭﻷﻥ ﺍﻟﺠﻦ ﻻ ﻳﺆﺗﻤﻨﻮﻥ , ﻭﻻ ﻳﻮﺛﻖ ﺑﻤﺎ ﻳﻘﻮﻟﻮﻥ , ﻓﻬﻢ ﺃﻫﻞ ﻛﺬﺏ ﻭﺧﺪﺍﻉ، ﻭﻣﺪﻋﻲ ﺍﻹﺳﻼﻡ ﻣﻨﻬﻢ ﻻ ﻳﻌﻠﻢ ﻫﻞ ﻫﻮ ﺻﺎﺩﻕ ﺃﻭ ﻛﺎﺫﺏ“Tidak dibenarkan berita dari jin, karena telah tetap kefasikan mereka pada perbuatan mereka. Jin tidak bisa dipercaya dan tidak dipercaya apa yang mereka katakan. Mereka adalah kelompok yang sering berbohong dan berdusta. Mereka mengaku sebagai “jin muslim” tetapi tidak diketahui apakah mereka jujur atau dusta.”[1] Salah satu dalil mereka berdusta adalah hadist Abu Hurairah yang bertemu jin kemudian mendapatkan informasi keutamaan ayat kursiy, lalu melapor kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau mengatakan bahwa kali ini setan benar padahal mereka sering berdusta. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda saat itu,أَمَا إِنَّهُ قَدْ صَدَقَكَ وَهُوَ كَذُوب“Adapun dia kala itu berkata benar, namun asalnya dia pendusta.”[2] Ibnu Hajar Al-Asqalani menjelaskan hadits ini dan memberikan faidah bahwa hukum asalnya jin suka berdusta, beliau berkata,ﻭﺃﻧﻬﻢ – ﺃﻱ ﺍﻟﺠﻦ – ﻳﺴﺮﻗﻮﻥ ﻭﻳﺨﺪﻋﻮﻥ“Bahwasanya mereka yaitu jin, suka mencuri berita (kemudian berbohong) dan menipu.”[3] [2] Harus ada kemampuan untuk bisa membedakan apakah jin benar atau tidak, apakah jin sedang berbohong atau tidak. Inipun bisa jadi cukup sulit untuk punya kemampuan iniSyaikh Muhammad Ali Firkous menjelaskan hal ini, beliau berkataأما ﻣﺴﺎﺀﻟﺘﻬﻢ ﻭﻣُﺤﺎﻭﺭﺗﻬﻢ ﻋﻠﻰ ﺳﺒﻴﻞ ﺍﻻﻣﺘﺤﺎﻥ ﻟﺤﺎﻟﻬﻢ، ﻭﻣﻌﺮﻓﺔِ ﻭﺟﻪ ﺍﻋﺘﺪﺍﺋﻬﻢ، ﻟﺪﻓﻊ ﺍﻟﻈﻠﻢ ﻭﺇﺯﺍﻟﺘﻪ…..ﻣﻊ ﻭﺟﻮﺩ ﻣﻘﺪﺭﺓٍ ﻋﻠﻰ ﻣﺎ ﻳُﻤﻴِّﺰ ﺑﻪ ﺻﺪْﻗَﻬﻢ ﻣﻦ ﻛﺬﺑﻬﻢ؛ ﻓﺤﻜﻤُﻪ ﺍﻟﺠﻮﺍﺯ“Adapun bertanya atau berbicara untuk tujuan menguji keadaan mereka dan untuk mengetahui bentuk permusuhan, mencegah kedzaliman …. dengan adanya kemampuan membedakan apakah jin tersebur jujur atau berdusta, maka hukumnya boleh.”[4] Kemampuan untuk membedakan ini yang bisa jadi cukup sulit. Sebagaimana penjelasan syaikh Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali, beliau berkata,ﻣﺎ ﺍﻟﺬﻱ ﻳﺪﺭﻳﻚ ﺃﻧﻪ ﻣﺴﻠﻢ ؟ ﻗﺪ ﻳﻜﻮﻥ ﻣﻨﺎﻓﻘًﺎ ﻭﻳﻘﻮﻝ : ‏( ﺃﻧﺎ ﻣﺴﻠﻢ !( ﻳﻜﻮﻥ ﻛﺎﻓﺮًﺍ ، ﻭﻳﻘﻮﻝ : ‏( ﺃﻧﺎ ﻣﺴﻠﻢ !( ﺟﻨﻲ ﻣﺎ ﺗﻌﺮﻓﻪ ﻭﺃﻧﺖ ﻻ ﺗﻌﻠﻢ ﺍﻟﻐﻴﺐ“Apa yang membuatmu tahu (yakin) bahwa jin itu muslim (mengaku muslim), karena bisa jadi jin itu munafik dan bisa jadi jin itu kafir. Keadaan jin tidak engkau ketahui dan engkau tidak mengetahui ilmu ghaib.”[5] Demikian semoga bermanfaat@ Hotel Alya Prapatan, Jakarta Penulis: dr. Raehanul Bahraen Artikel Muslim.or.idCatatan kaki:🔍 Dalil Judi, Doa Ta Awwudz, Riyadussolihin, Hadits Anak Sholeh, Apakah Bumi Datar Atau Bulat

Sirah Nabi 10 – Nasab Nabi Muhammad ﷺ

Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam adalah manusia termulia yang memiliki nasab yang mulia. Nasab beliau adalah sebagai berikut:مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ المُطَّلِبِ بْنِ هَاشِمِ بْنِ عَبْدِ مَنَافِ بْنِ قُصَيِّ بْنِ كِلَابِ بْنِ مُرَّةَ بْنِ كَعبِ بْنِ لؤَيِّ بْنِ غالِبِ بْنِ فِهْرِ بْنِ مَالِكِ بْنِ النَّضْرِ بْنِ كِنَانَةَ بْنِ خُزَيْمَةَ بْنِ مُدْرِكَةَ بْنِ إِلْيَاسَ بْنِ مُضَرَ بْنِ نِزَارِ بْنِ مَعَدِّ بْنِ عَدْنَانَMuhammad bin ‘Abdillāh bin ‘Abdil Muththalib bin Hāsyim bin ‘Abdi Manaf bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin Ghālib bin Fihr bin Nadhar bin Kinānah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyās bin Mudhar bin Nizār bin Ma’ad bin Adnān. (Shahih Al-Bukhari 5/45)Pada bab sebelumnya telah dijelaskan bahwa Qushay bin Kilab adalah kakek dari Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam yang mengumpulkan orang-orang Quraisy yang tercerai berai untuk merebut kekuasaan Ka’bah yang sebelumnya dikuasai oleh Bani Khuzā’ah.Para ulama telah ijmak (sepakat) tentang nasab Nabi hingga Adnān. Adapun dari Adnān sampai ke Ismā’īl ‘alayhissalām maka terdapat khilaf di kalangan para ulama. Selain itu tidak ada hadits shahīh yang menjelaskan tentang hal ini. Ada yang berpendapat bahwa dari Adnān sampai Ismā’īl ‘alayhissalām ada 40 bapak atau kakek.Ada yang mengatakan bahwa jumlah kakek Adnān sampai Ismā’īl ‘alayhissalām adalah 7 atau 9 atau 10.Pada intinya tidak ada kesepakatan di antara para ulama mengenai nasab beliau dari Adnān sampai Ismā’īl ‘alayhissalām. Adapun dari Ismā’īl ‘alayhissalām bin Ibrāhīm ‘alayhissalām sampai ke Ādam ‘alayhissalām lebih tidak pasti lagi. Sedangkan yang dipastikan oleh para ulama yaitu dari Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam sampa Adnān.Di dalam hadits Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam beliau bersabda :إِنَّ اللَّهَ سُبْحَانَهُ اصْطَفَى كِنَانَةَ مِنْ وَلَدِ إِسْمَاعِيلَ وَاصْطَفَى قُرَيْشًا مِنْ كِنَانَةَ، وَاصْطَفَى بَنِي هَاشِمٍ مِنْ قُرَيْشٍ، وَاصْطَفَانِي مِنْ بَنِي هَاشِم“Sesungguhnya Allāh Subhānahu wa Ta’āla telah memilih Bani Kinānah dari anak-anak Ismā’īl ‘alayhissalām dan dari keturunan Kinānah Allāh memilih suku Quraisy dan Allāh memilih dari suku Quraisy Bani Hāsyim dan Allāh memilih aku dari Bani Hāsyim.” (HR Muslim no 2276)Hadits di atas menunjukkan betapa mulianya nasab Rasūlullāh ﷺ dimana beliau terlahir dari jalur nasab yang kesemuanya merupakan manusia terpilih.Diantara kakek-kakek Nabi yang terkenal selain Qushay bin Kilab adalah ‘Abdul Muththalib. Dia semakin terkenal kedudukannya di kalangan orang-orang Arab karena dia bertemu langsung dengan Abrahah ketika meminta kembali 200 ekor untanya. Dan semakin terpandang ketika dia menemukan sumur zamzam.Sumur zamzam muncul di zaman Nabi Ismā’īl ‘alayhissalām (sebagaimana telah dijelaskan di bab yang telah lalu). Kemudian sumur zamzam itu sempat menghilang selama beberapa abad sebagaimana dijelaskan oleh para ulama, disebabkan oleh kemaksiatan yang mereka lakukan di Mekkah. Sehingga lama kelamaan, sumur zamzam kehilangan air dan dilupakan dimana posisinya.Tatkala Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam akan dilahirkan, maka Allāh Subhānahu wa Ta’āla ingin mengembalikan zamzam tersebut yang tadinya surut dan tertutup agar keluar lagi airnya. Dan orang yang menemukan air zamzam tersebut adalah kakek Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam sendiri yaitu ‘Abdul Muththalib. Keterangan ini diriwayatkan oleh Ibnu Ishāq dalam sirahnya dengan tashrih bissamā’ (penegasan mendengarnya), dan beliau (Ibnu Ishaq) adalah seorang yang shadūq. Menurut penilaian para ulama jarh wa ta’dil, apabila Ibnu Ishāq mengatakan “haddatsanii” (telah menyampaikan kepadaku) atau “sami’tu” (aku telah mendengar) maka sanadnya menjadi hasan. Adapun jika dia mengatakan “‘an” (dari) maka sanadnya lemah karena dia seorang mudallis. Di dalam riwayat ini, beliau menyampaikan secara tashrih bit tahdīts, dengan mengatakan “haddatsanii Yazīd bin Abī Habīb Al-Mishriy” hingga menyebutkan sanadnya kepada ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallāhu Ta’āla ‘anhu. Riwayat ini berasal dari kisah ‘Ali bin Abi Thālib yang mana beliau adalah putra dari Abū Thālib, sedangkan Abū Thālib adalah putra ‘Abdul Muththalib. Sehingga ‘Ali bin Abi Thālib menceritakan tentang kisah kakeknya. Riwayat ini bukanlah hadits tapi sekedar cerita tentang kisah kakeknya yaitu ‘Abdul Muththalib. Karena ‘Ali bin Abi Thālib sepupunya Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam.Berikut ini kisahnya sebagaimana disebutkan dalam Sirah Ibnu Ishāq, ‘Abdul Muththalib bercerita:“Suatu hari aku tidur di Hijr Ismā’il (dekat Ka’bah), kemudian ada yang mengatakan kepadaku ‘Gali-lah thayyibah.’ Aku bertanya: ‘Apa itu thayyibah?’ namun dia malah pergi. Keesokan harinya aku kembali tidur di tempat tersebut. Kemudian suara itu datang kembali dan mengatakan ‘Galilah barrah’, maka aku berkata ‘Apa itu barrah?’. Dia pun pergi tidak menjelaskan. Besoknya aku tidur lagi, lalu datang lagi suara itu, dan berkata ‘galilah al-madhnunah’, maka aku berkata,” Apa itu al-madhnuunah?”, lalu ia pun pergi. Keesokan harinya aku kembali tidur di tempat tidurku, kemudian ia kembali berkata ‘Galilah zamzam’, maka aku bertanya ‘Apa itu zamzam?’ Lalu ia berkata, “Zamzam adalah air yang tidak akan surut, dengan air tersebut kau akan memberi minum para jama’ah haji.” Kemudian disebutkan posisinya, yaitu di tempat sarang semut.Di dalam riwayat lain disebutkan bahwa ada burung gagak yang mematuk-matuk disitu. Dijelaskan namanya dan dijelaskan pula posisinya untuk digali. Karena mimpi yang ketiga lebih jelas maka keesokan harinya ‘Abdul Muththalib berangkat dengan membawa cangkulnya. Saat itu ‘Abdul Muththalib baru memiliki satu orang anak laki-laki yang bernama Al-Hārits. Mulailah ‘Abdul Muththalib menggali sumur tersebut, hingga mulai tampak tanda-tanda adanya sumur. Ketika kaum Quraisy mengetahui bahwa ‘Abdul Muththalib menemukan sumur, mereka mendatangi ‘Abdul Muththalib dan berkata: “Wahai ‘Abdul Muththalib, sumur tersebut adalah sumur kakek kita, Ismā’īl ‘alayhissalām. Kami juga punya hak terhadap sumur tersebut. Maka jadikanlah kami termasuk pemilik sumur tersebut. ‘Abdul Muththalib berkata: “Aku tidak mau, ini milikku. Sumur ini telah dikhususkan menjadi milikku, akan tetapi aku akan berbagi dengan kalian.” Mereka pun berkata: “Adillah terhadap kita, kalau tidak, kami tidak akan membiarkanmu menguasai sumur ini sampai kita berhakim kepada seseorang.” Maka ‘Abdul Muththalib dengan adilnya berkata: “Pilihlah siapa saja yang kita akan berhukum kepadanya.” Mereka berkata : “Ada seorang Perempuan dukun tetapi tempatnya jauh di negeri Syam sana.” Maka ‘Abdul Muththalib pun menyetujuinya. Berangkatlah ‘Abdul Muththalib bersama beberapa saudara dari Bani ‘Abdi Manaf, dengan sejumlah orang Quraisy lainnya, mereka berjalan bersama dalam dua grup rombongan. Grup pertama ‘Abdul Muththalib dengan Bani ‘Abdi Manaf dan grup kedua dari qabilah-qabilah lain yang menuntut untuk diberikan zamzam.Saat mereka melewati padang pasir, tiba-tiba persediaan air milik ‘Abdul Muththalib habis, sementara perjalanan masih sangat jauh. Selama dalam perjalanan tersebut mereka tidak menemukan sumber mata air. Hal ini menyebabkan rombongan ‘Abdul Muththalib kehausan, sementara rombongan yang satu masih memiliki persediaan air yang mencukupi. Akhinya ‘Abdul Muththalib dan rombongannya meminta air ke rombongan satunya, tetapi mereka menolak untuk memberi air. Di saat masing-masing dari kelompok ‘Abdul Muththalib merasa akan mati, muncullah ide dalam benak ‘Abdul Muththalib. “Kita masing-masing akan menggali kuburan kita, daripada kita semua tergeletak tanpa ada yang menguburkan. Siapa yang mati terlebih dahulu kita akan kubur lalu kita tutup, begitupun yang mati berikutnya sampai terakhir hanya bersisa satu yang akan mati tanpa dikuburkan.” Akhirnya mereka mulai menggali kuburan masing-masing dan perbuatan ini disaksikan oleh rombongan satunya dan tanpa memperdulikannya.Namun, setelah lubang-lubang kuburan tersebut tergali, ‘Abdul Muththalib lantas berubah pikiran dan mengatakan: “Perbuatan ini hanyalah sikap pasrah, kita harus berusaha.” Akhirnya mereka meninggalkan kuburan yang telah mereka gali. Mulailah ‘Abdul Muththalib naik ke atas untanya lalu tiba-tiba dari kaki untanya keluar mata air. Setelah itu ‘Abdul Muththalib mengambil air dan meminumnya kemudian memanggil grup sebelah yang tidak mau memberikan air kepada’ Abdul Muththalib dan akhirnya mereka pun datang dan ikut minum. Akhirnya grup sebelah sadar bahwasanya air zamzam itu adalah hak ‘Abdul Muththalib, buktinya adalah di tengah-tengah padang pasir Allāh keluarkan air khusus untuk ‘Abdul Muththalib. Akhirnya mereka tidak jadi pergi ke dukun yang berada di daerah Syam, tetapi mereka kembali ke Mekkah dan menyatakan bahwasanya air zamzam tersebut adalah milik ‘Abdul Muththalib.Demikianlah kisah kakek Nabi, ‘Abdul Muththalib. Telah diterangkan sebelumnya bahwa Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam dipilih oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla dengan nasab yang sangat tinggi. Sebagaimana dikisahkan dalam Shahīh Bukhari, ketika Abū Sufyan masih dalam keadaan kafir, dia pernah bertemu dengan Kaisar Romawi Hieraklius. Hieraklus bertanya tentang Nabi Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam dan Abū Sufyan menjawabnya dengan jujur walaupun ia kafir. Diantara pertanyaan Hieraklius yang ditanyakan kepada Abū Sufyan adalah tentang nasab Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam. Hieraklius bertanya,كَيْفَ نَسَبُهُ فِيكُمْ؟“Bagaimana nasab Nabi tersebut?”Maka kata Abū Sufyan:هُوَ فِينَا ذُو نَسَبٍ“Sesungguhnya Muhammad itu di kalangan kami adalah orang yang nasabnya tinggi.”Setelah itu Hieraklius berkata:فَكَذَلِكَ الرُّسُلُ تُبْعَثُ فِي نَسَبِ قَوْمِهَا “Demikianlah para Rasul, mereka diutus oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla dengan nasab yang tinggi diantara kaumnya.” (HR Al-Bukhari no 7)Inilah hikmah yang disebutkan oleh para ulama kenapa Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam dipilih dari kalangan nasab yang tinggi dan terbaik, sehingga tidak ada orang-orang Arab yang akan mencela nasab Nabi. Karena mereka sadar bahwa nasab mereka lebih rendah dari Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam. Bagaimana tidak? Kakek Nabi yaitu ‘Abdul Muththalib adalah pemilik zamzam dan pemimpin orang-orang Quraisy. Seandainya Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam diutus dari nasab yang rendah dari rakyat jelata yang tidak punya kedudukan, maka orang-orang akan menuduh bahwa Muhammad mengaku dirinya sebagai Nabi hanya untuk mencari kekuasaan dan penghormatan.Sedangkan Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam tidak perlu mencari penghormatan, karena beliau sudah menjadi orang yang dihormati. Bahkan ketika berdakwah menyampaikan Islam, beliau malah direndahkan. Sehingga, tatkala Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam diutus dari golongan berstrata tinggi, maka hal ini akan menutup pintu tuduhan bahwa Nabi memiliki tendensi tertentu. Oleh karena itu, Allāh menjadikan Nabi Muhammad (dan juga para nabi yang lain) bernasab tinggi, salah satu hikmahnya adalah apabila orang-orang bernaung di bawah Nabi, mereka tidak akan merasa rendah karena Nabi mereka memilik nasab yang tinggi. Jakarta, 03-02-1439 H / 24-10-2017 MAbu Abdil Muhsin Firanda Andirjawww.firanda.com

Sirah Nabi 10 – Nasab Nabi Muhammad ﷺ

Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam adalah manusia termulia yang memiliki nasab yang mulia. Nasab beliau adalah sebagai berikut:مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ المُطَّلِبِ بْنِ هَاشِمِ بْنِ عَبْدِ مَنَافِ بْنِ قُصَيِّ بْنِ كِلَابِ بْنِ مُرَّةَ بْنِ كَعبِ بْنِ لؤَيِّ بْنِ غالِبِ بْنِ فِهْرِ بْنِ مَالِكِ بْنِ النَّضْرِ بْنِ كِنَانَةَ بْنِ خُزَيْمَةَ بْنِ مُدْرِكَةَ بْنِ إِلْيَاسَ بْنِ مُضَرَ بْنِ نِزَارِ بْنِ مَعَدِّ بْنِ عَدْنَانَMuhammad bin ‘Abdillāh bin ‘Abdil Muththalib bin Hāsyim bin ‘Abdi Manaf bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin Ghālib bin Fihr bin Nadhar bin Kinānah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyās bin Mudhar bin Nizār bin Ma’ad bin Adnān. (Shahih Al-Bukhari 5/45)Pada bab sebelumnya telah dijelaskan bahwa Qushay bin Kilab adalah kakek dari Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam yang mengumpulkan orang-orang Quraisy yang tercerai berai untuk merebut kekuasaan Ka’bah yang sebelumnya dikuasai oleh Bani Khuzā’ah.Para ulama telah ijmak (sepakat) tentang nasab Nabi hingga Adnān. Adapun dari Adnān sampai ke Ismā’īl ‘alayhissalām maka terdapat khilaf di kalangan para ulama. Selain itu tidak ada hadits shahīh yang menjelaskan tentang hal ini. Ada yang berpendapat bahwa dari Adnān sampai Ismā’īl ‘alayhissalām ada 40 bapak atau kakek.Ada yang mengatakan bahwa jumlah kakek Adnān sampai Ismā’īl ‘alayhissalām adalah 7 atau 9 atau 10.Pada intinya tidak ada kesepakatan di antara para ulama mengenai nasab beliau dari Adnān sampai Ismā’īl ‘alayhissalām. Adapun dari Ismā’īl ‘alayhissalām bin Ibrāhīm ‘alayhissalām sampai ke Ādam ‘alayhissalām lebih tidak pasti lagi. Sedangkan yang dipastikan oleh para ulama yaitu dari Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam sampa Adnān.Di dalam hadits Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam beliau bersabda :إِنَّ اللَّهَ سُبْحَانَهُ اصْطَفَى كِنَانَةَ مِنْ وَلَدِ إِسْمَاعِيلَ وَاصْطَفَى قُرَيْشًا مِنْ كِنَانَةَ، وَاصْطَفَى بَنِي هَاشِمٍ مِنْ قُرَيْشٍ، وَاصْطَفَانِي مِنْ بَنِي هَاشِم“Sesungguhnya Allāh Subhānahu wa Ta’āla telah memilih Bani Kinānah dari anak-anak Ismā’īl ‘alayhissalām dan dari keturunan Kinānah Allāh memilih suku Quraisy dan Allāh memilih dari suku Quraisy Bani Hāsyim dan Allāh memilih aku dari Bani Hāsyim.” (HR Muslim no 2276)Hadits di atas menunjukkan betapa mulianya nasab Rasūlullāh ﷺ dimana beliau terlahir dari jalur nasab yang kesemuanya merupakan manusia terpilih.Diantara kakek-kakek Nabi yang terkenal selain Qushay bin Kilab adalah ‘Abdul Muththalib. Dia semakin terkenal kedudukannya di kalangan orang-orang Arab karena dia bertemu langsung dengan Abrahah ketika meminta kembali 200 ekor untanya. Dan semakin terpandang ketika dia menemukan sumur zamzam.Sumur zamzam muncul di zaman Nabi Ismā’īl ‘alayhissalām (sebagaimana telah dijelaskan di bab yang telah lalu). Kemudian sumur zamzam itu sempat menghilang selama beberapa abad sebagaimana dijelaskan oleh para ulama, disebabkan oleh kemaksiatan yang mereka lakukan di Mekkah. Sehingga lama kelamaan, sumur zamzam kehilangan air dan dilupakan dimana posisinya.Tatkala Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam akan dilahirkan, maka Allāh Subhānahu wa Ta’āla ingin mengembalikan zamzam tersebut yang tadinya surut dan tertutup agar keluar lagi airnya. Dan orang yang menemukan air zamzam tersebut adalah kakek Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam sendiri yaitu ‘Abdul Muththalib. Keterangan ini diriwayatkan oleh Ibnu Ishāq dalam sirahnya dengan tashrih bissamā’ (penegasan mendengarnya), dan beliau (Ibnu Ishaq) adalah seorang yang shadūq. Menurut penilaian para ulama jarh wa ta’dil, apabila Ibnu Ishāq mengatakan “haddatsanii” (telah menyampaikan kepadaku) atau “sami’tu” (aku telah mendengar) maka sanadnya menjadi hasan. Adapun jika dia mengatakan “‘an” (dari) maka sanadnya lemah karena dia seorang mudallis. Di dalam riwayat ini, beliau menyampaikan secara tashrih bit tahdīts, dengan mengatakan “haddatsanii Yazīd bin Abī Habīb Al-Mishriy” hingga menyebutkan sanadnya kepada ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallāhu Ta’āla ‘anhu. Riwayat ini berasal dari kisah ‘Ali bin Abi Thālib yang mana beliau adalah putra dari Abū Thālib, sedangkan Abū Thālib adalah putra ‘Abdul Muththalib. Sehingga ‘Ali bin Abi Thālib menceritakan tentang kisah kakeknya. Riwayat ini bukanlah hadits tapi sekedar cerita tentang kisah kakeknya yaitu ‘Abdul Muththalib. Karena ‘Ali bin Abi Thālib sepupunya Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam.Berikut ini kisahnya sebagaimana disebutkan dalam Sirah Ibnu Ishāq, ‘Abdul Muththalib bercerita:“Suatu hari aku tidur di Hijr Ismā’il (dekat Ka’bah), kemudian ada yang mengatakan kepadaku ‘Gali-lah thayyibah.’ Aku bertanya: ‘Apa itu thayyibah?’ namun dia malah pergi. Keesokan harinya aku kembali tidur di tempat tersebut. Kemudian suara itu datang kembali dan mengatakan ‘Galilah barrah’, maka aku berkata ‘Apa itu barrah?’. Dia pun pergi tidak menjelaskan. Besoknya aku tidur lagi, lalu datang lagi suara itu, dan berkata ‘galilah al-madhnunah’, maka aku berkata,” Apa itu al-madhnuunah?”, lalu ia pun pergi. Keesokan harinya aku kembali tidur di tempat tidurku, kemudian ia kembali berkata ‘Galilah zamzam’, maka aku bertanya ‘Apa itu zamzam?’ Lalu ia berkata, “Zamzam adalah air yang tidak akan surut, dengan air tersebut kau akan memberi minum para jama’ah haji.” Kemudian disebutkan posisinya, yaitu di tempat sarang semut.Di dalam riwayat lain disebutkan bahwa ada burung gagak yang mematuk-matuk disitu. Dijelaskan namanya dan dijelaskan pula posisinya untuk digali. Karena mimpi yang ketiga lebih jelas maka keesokan harinya ‘Abdul Muththalib berangkat dengan membawa cangkulnya. Saat itu ‘Abdul Muththalib baru memiliki satu orang anak laki-laki yang bernama Al-Hārits. Mulailah ‘Abdul Muththalib menggali sumur tersebut, hingga mulai tampak tanda-tanda adanya sumur. Ketika kaum Quraisy mengetahui bahwa ‘Abdul Muththalib menemukan sumur, mereka mendatangi ‘Abdul Muththalib dan berkata: “Wahai ‘Abdul Muththalib, sumur tersebut adalah sumur kakek kita, Ismā’īl ‘alayhissalām. Kami juga punya hak terhadap sumur tersebut. Maka jadikanlah kami termasuk pemilik sumur tersebut. ‘Abdul Muththalib berkata: “Aku tidak mau, ini milikku. Sumur ini telah dikhususkan menjadi milikku, akan tetapi aku akan berbagi dengan kalian.” Mereka pun berkata: “Adillah terhadap kita, kalau tidak, kami tidak akan membiarkanmu menguasai sumur ini sampai kita berhakim kepada seseorang.” Maka ‘Abdul Muththalib dengan adilnya berkata: “Pilihlah siapa saja yang kita akan berhukum kepadanya.” Mereka berkata : “Ada seorang Perempuan dukun tetapi tempatnya jauh di negeri Syam sana.” Maka ‘Abdul Muththalib pun menyetujuinya. Berangkatlah ‘Abdul Muththalib bersama beberapa saudara dari Bani ‘Abdi Manaf, dengan sejumlah orang Quraisy lainnya, mereka berjalan bersama dalam dua grup rombongan. Grup pertama ‘Abdul Muththalib dengan Bani ‘Abdi Manaf dan grup kedua dari qabilah-qabilah lain yang menuntut untuk diberikan zamzam.Saat mereka melewati padang pasir, tiba-tiba persediaan air milik ‘Abdul Muththalib habis, sementara perjalanan masih sangat jauh. Selama dalam perjalanan tersebut mereka tidak menemukan sumber mata air. Hal ini menyebabkan rombongan ‘Abdul Muththalib kehausan, sementara rombongan yang satu masih memiliki persediaan air yang mencukupi. Akhinya ‘Abdul Muththalib dan rombongannya meminta air ke rombongan satunya, tetapi mereka menolak untuk memberi air. Di saat masing-masing dari kelompok ‘Abdul Muththalib merasa akan mati, muncullah ide dalam benak ‘Abdul Muththalib. “Kita masing-masing akan menggali kuburan kita, daripada kita semua tergeletak tanpa ada yang menguburkan. Siapa yang mati terlebih dahulu kita akan kubur lalu kita tutup, begitupun yang mati berikutnya sampai terakhir hanya bersisa satu yang akan mati tanpa dikuburkan.” Akhirnya mereka mulai menggali kuburan masing-masing dan perbuatan ini disaksikan oleh rombongan satunya dan tanpa memperdulikannya.Namun, setelah lubang-lubang kuburan tersebut tergali, ‘Abdul Muththalib lantas berubah pikiran dan mengatakan: “Perbuatan ini hanyalah sikap pasrah, kita harus berusaha.” Akhirnya mereka meninggalkan kuburan yang telah mereka gali. Mulailah ‘Abdul Muththalib naik ke atas untanya lalu tiba-tiba dari kaki untanya keluar mata air. Setelah itu ‘Abdul Muththalib mengambil air dan meminumnya kemudian memanggil grup sebelah yang tidak mau memberikan air kepada’ Abdul Muththalib dan akhirnya mereka pun datang dan ikut minum. Akhirnya grup sebelah sadar bahwasanya air zamzam itu adalah hak ‘Abdul Muththalib, buktinya adalah di tengah-tengah padang pasir Allāh keluarkan air khusus untuk ‘Abdul Muththalib. Akhirnya mereka tidak jadi pergi ke dukun yang berada di daerah Syam, tetapi mereka kembali ke Mekkah dan menyatakan bahwasanya air zamzam tersebut adalah milik ‘Abdul Muththalib.Demikianlah kisah kakek Nabi, ‘Abdul Muththalib. Telah diterangkan sebelumnya bahwa Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam dipilih oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla dengan nasab yang sangat tinggi. Sebagaimana dikisahkan dalam Shahīh Bukhari, ketika Abū Sufyan masih dalam keadaan kafir, dia pernah bertemu dengan Kaisar Romawi Hieraklius. Hieraklus bertanya tentang Nabi Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam dan Abū Sufyan menjawabnya dengan jujur walaupun ia kafir. Diantara pertanyaan Hieraklius yang ditanyakan kepada Abū Sufyan adalah tentang nasab Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam. Hieraklius bertanya,كَيْفَ نَسَبُهُ فِيكُمْ؟“Bagaimana nasab Nabi tersebut?”Maka kata Abū Sufyan:هُوَ فِينَا ذُو نَسَبٍ“Sesungguhnya Muhammad itu di kalangan kami adalah orang yang nasabnya tinggi.”Setelah itu Hieraklius berkata:فَكَذَلِكَ الرُّسُلُ تُبْعَثُ فِي نَسَبِ قَوْمِهَا “Demikianlah para Rasul, mereka diutus oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla dengan nasab yang tinggi diantara kaumnya.” (HR Al-Bukhari no 7)Inilah hikmah yang disebutkan oleh para ulama kenapa Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam dipilih dari kalangan nasab yang tinggi dan terbaik, sehingga tidak ada orang-orang Arab yang akan mencela nasab Nabi. Karena mereka sadar bahwa nasab mereka lebih rendah dari Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam. Bagaimana tidak? Kakek Nabi yaitu ‘Abdul Muththalib adalah pemilik zamzam dan pemimpin orang-orang Quraisy. Seandainya Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam diutus dari nasab yang rendah dari rakyat jelata yang tidak punya kedudukan, maka orang-orang akan menuduh bahwa Muhammad mengaku dirinya sebagai Nabi hanya untuk mencari kekuasaan dan penghormatan.Sedangkan Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam tidak perlu mencari penghormatan, karena beliau sudah menjadi orang yang dihormati. Bahkan ketika berdakwah menyampaikan Islam, beliau malah direndahkan. Sehingga, tatkala Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam diutus dari golongan berstrata tinggi, maka hal ini akan menutup pintu tuduhan bahwa Nabi memiliki tendensi tertentu. Oleh karena itu, Allāh menjadikan Nabi Muhammad (dan juga para nabi yang lain) bernasab tinggi, salah satu hikmahnya adalah apabila orang-orang bernaung di bawah Nabi, mereka tidak akan merasa rendah karena Nabi mereka memilik nasab yang tinggi. Jakarta, 03-02-1439 H / 24-10-2017 MAbu Abdil Muhsin Firanda Andirjawww.firanda.com
Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam adalah manusia termulia yang memiliki nasab yang mulia. Nasab beliau adalah sebagai berikut:مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ المُطَّلِبِ بْنِ هَاشِمِ بْنِ عَبْدِ مَنَافِ بْنِ قُصَيِّ بْنِ كِلَابِ بْنِ مُرَّةَ بْنِ كَعبِ بْنِ لؤَيِّ بْنِ غالِبِ بْنِ فِهْرِ بْنِ مَالِكِ بْنِ النَّضْرِ بْنِ كِنَانَةَ بْنِ خُزَيْمَةَ بْنِ مُدْرِكَةَ بْنِ إِلْيَاسَ بْنِ مُضَرَ بْنِ نِزَارِ بْنِ مَعَدِّ بْنِ عَدْنَانَMuhammad bin ‘Abdillāh bin ‘Abdil Muththalib bin Hāsyim bin ‘Abdi Manaf bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin Ghālib bin Fihr bin Nadhar bin Kinānah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyās bin Mudhar bin Nizār bin Ma’ad bin Adnān. (Shahih Al-Bukhari 5/45)Pada bab sebelumnya telah dijelaskan bahwa Qushay bin Kilab adalah kakek dari Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam yang mengumpulkan orang-orang Quraisy yang tercerai berai untuk merebut kekuasaan Ka’bah yang sebelumnya dikuasai oleh Bani Khuzā’ah.Para ulama telah ijmak (sepakat) tentang nasab Nabi hingga Adnān. Adapun dari Adnān sampai ke Ismā’īl ‘alayhissalām maka terdapat khilaf di kalangan para ulama. Selain itu tidak ada hadits shahīh yang menjelaskan tentang hal ini. Ada yang berpendapat bahwa dari Adnān sampai Ismā’īl ‘alayhissalām ada 40 bapak atau kakek.Ada yang mengatakan bahwa jumlah kakek Adnān sampai Ismā’īl ‘alayhissalām adalah 7 atau 9 atau 10.Pada intinya tidak ada kesepakatan di antara para ulama mengenai nasab beliau dari Adnān sampai Ismā’īl ‘alayhissalām. Adapun dari Ismā’īl ‘alayhissalām bin Ibrāhīm ‘alayhissalām sampai ke Ādam ‘alayhissalām lebih tidak pasti lagi. Sedangkan yang dipastikan oleh para ulama yaitu dari Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam sampa Adnān.Di dalam hadits Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam beliau bersabda :إِنَّ اللَّهَ سُبْحَانَهُ اصْطَفَى كِنَانَةَ مِنْ وَلَدِ إِسْمَاعِيلَ وَاصْطَفَى قُرَيْشًا مِنْ كِنَانَةَ، وَاصْطَفَى بَنِي هَاشِمٍ مِنْ قُرَيْشٍ، وَاصْطَفَانِي مِنْ بَنِي هَاشِم“Sesungguhnya Allāh Subhānahu wa Ta’āla telah memilih Bani Kinānah dari anak-anak Ismā’īl ‘alayhissalām dan dari keturunan Kinānah Allāh memilih suku Quraisy dan Allāh memilih dari suku Quraisy Bani Hāsyim dan Allāh memilih aku dari Bani Hāsyim.” (HR Muslim no 2276)Hadits di atas menunjukkan betapa mulianya nasab Rasūlullāh ﷺ dimana beliau terlahir dari jalur nasab yang kesemuanya merupakan manusia terpilih.Diantara kakek-kakek Nabi yang terkenal selain Qushay bin Kilab adalah ‘Abdul Muththalib. Dia semakin terkenal kedudukannya di kalangan orang-orang Arab karena dia bertemu langsung dengan Abrahah ketika meminta kembali 200 ekor untanya. Dan semakin terpandang ketika dia menemukan sumur zamzam.Sumur zamzam muncul di zaman Nabi Ismā’īl ‘alayhissalām (sebagaimana telah dijelaskan di bab yang telah lalu). Kemudian sumur zamzam itu sempat menghilang selama beberapa abad sebagaimana dijelaskan oleh para ulama, disebabkan oleh kemaksiatan yang mereka lakukan di Mekkah. Sehingga lama kelamaan, sumur zamzam kehilangan air dan dilupakan dimana posisinya.Tatkala Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam akan dilahirkan, maka Allāh Subhānahu wa Ta’āla ingin mengembalikan zamzam tersebut yang tadinya surut dan tertutup agar keluar lagi airnya. Dan orang yang menemukan air zamzam tersebut adalah kakek Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam sendiri yaitu ‘Abdul Muththalib. Keterangan ini diriwayatkan oleh Ibnu Ishāq dalam sirahnya dengan tashrih bissamā’ (penegasan mendengarnya), dan beliau (Ibnu Ishaq) adalah seorang yang shadūq. Menurut penilaian para ulama jarh wa ta’dil, apabila Ibnu Ishāq mengatakan “haddatsanii” (telah menyampaikan kepadaku) atau “sami’tu” (aku telah mendengar) maka sanadnya menjadi hasan. Adapun jika dia mengatakan “‘an” (dari) maka sanadnya lemah karena dia seorang mudallis. Di dalam riwayat ini, beliau menyampaikan secara tashrih bit tahdīts, dengan mengatakan “haddatsanii Yazīd bin Abī Habīb Al-Mishriy” hingga menyebutkan sanadnya kepada ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallāhu Ta’āla ‘anhu. Riwayat ini berasal dari kisah ‘Ali bin Abi Thālib yang mana beliau adalah putra dari Abū Thālib, sedangkan Abū Thālib adalah putra ‘Abdul Muththalib. Sehingga ‘Ali bin Abi Thālib menceritakan tentang kisah kakeknya. Riwayat ini bukanlah hadits tapi sekedar cerita tentang kisah kakeknya yaitu ‘Abdul Muththalib. Karena ‘Ali bin Abi Thālib sepupunya Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam.Berikut ini kisahnya sebagaimana disebutkan dalam Sirah Ibnu Ishāq, ‘Abdul Muththalib bercerita:“Suatu hari aku tidur di Hijr Ismā’il (dekat Ka’bah), kemudian ada yang mengatakan kepadaku ‘Gali-lah thayyibah.’ Aku bertanya: ‘Apa itu thayyibah?’ namun dia malah pergi. Keesokan harinya aku kembali tidur di tempat tersebut. Kemudian suara itu datang kembali dan mengatakan ‘Galilah barrah’, maka aku berkata ‘Apa itu barrah?’. Dia pun pergi tidak menjelaskan. Besoknya aku tidur lagi, lalu datang lagi suara itu, dan berkata ‘galilah al-madhnunah’, maka aku berkata,” Apa itu al-madhnuunah?”, lalu ia pun pergi. Keesokan harinya aku kembali tidur di tempat tidurku, kemudian ia kembali berkata ‘Galilah zamzam’, maka aku bertanya ‘Apa itu zamzam?’ Lalu ia berkata, “Zamzam adalah air yang tidak akan surut, dengan air tersebut kau akan memberi minum para jama’ah haji.” Kemudian disebutkan posisinya, yaitu di tempat sarang semut.Di dalam riwayat lain disebutkan bahwa ada burung gagak yang mematuk-matuk disitu. Dijelaskan namanya dan dijelaskan pula posisinya untuk digali. Karena mimpi yang ketiga lebih jelas maka keesokan harinya ‘Abdul Muththalib berangkat dengan membawa cangkulnya. Saat itu ‘Abdul Muththalib baru memiliki satu orang anak laki-laki yang bernama Al-Hārits. Mulailah ‘Abdul Muththalib menggali sumur tersebut, hingga mulai tampak tanda-tanda adanya sumur. Ketika kaum Quraisy mengetahui bahwa ‘Abdul Muththalib menemukan sumur, mereka mendatangi ‘Abdul Muththalib dan berkata: “Wahai ‘Abdul Muththalib, sumur tersebut adalah sumur kakek kita, Ismā’īl ‘alayhissalām. Kami juga punya hak terhadap sumur tersebut. Maka jadikanlah kami termasuk pemilik sumur tersebut. ‘Abdul Muththalib berkata: “Aku tidak mau, ini milikku. Sumur ini telah dikhususkan menjadi milikku, akan tetapi aku akan berbagi dengan kalian.” Mereka pun berkata: “Adillah terhadap kita, kalau tidak, kami tidak akan membiarkanmu menguasai sumur ini sampai kita berhakim kepada seseorang.” Maka ‘Abdul Muththalib dengan adilnya berkata: “Pilihlah siapa saja yang kita akan berhukum kepadanya.” Mereka berkata : “Ada seorang Perempuan dukun tetapi tempatnya jauh di negeri Syam sana.” Maka ‘Abdul Muththalib pun menyetujuinya. Berangkatlah ‘Abdul Muththalib bersama beberapa saudara dari Bani ‘Abdi Manaf, dengan sejumlah orang Quraisy lainnya, mereka berjalan bersama dalam dua grup rombongan. Grup pertama ‘Abdul Muththalib dengan Bani ‘Abdi Manaf dan grup kedua dari qabilah-qabilah lain yang menuntut untuk diberikan zamzam.Saat mereka melewati padang pasir, tiba-tiba persediaan air milik ‘Abdul Muththalib habis, sementara perjalanan masih sangat jauh. Selama dalam perjalanan tersebut mereka tidak menemukan sumber mata air. Hal ini menyebabkan rombongan ‘Abdul Muththalib kehausan, sementara rombongan yang satu masih memiliki persediaan air yang mencukupi. Akhinya ‘Abdul Muththalib dan rombongannya meminta air ke rombongan satunya, tetapi mereka menolak untuk memberi air. Di saat masing-masing dari kelompok ‘Abdul Muththalib merasa akan mati, muncullah ide dalam benak ‘Abdul Muththalib. “Kita masing-masing akan menggali kuburan kita, daripada kita semua tergeletak tanpa ada yang menguburkan. Siapa yang mati terlebih dahulu kita akan kubur lalu kita tutup, begitupun yang mati berikutnya sampai terakhir hanya bersisa satu yang akan mati tanpa dikuburkan.” Akhirnya mereka mulai menggali kuburan masing-masing dan perbuatan ini disaksikan oleh rombongan satunya dan tanpa memperdulikannya.Namun, setelah lubang-lubang kuburan tersebut tergali, ‘Abdul Muththalib lantas berubah pikiran dan mengatakan: “Perbuatan ini hanyalah sikap pasrah, kita harus berusaha.” Akhirnya mereka meninggalkan kuburan yang telah mereka gali. Mulailah ‘Abdul Muththalib naik ke atas untanya lalu tiba-tiba dari kaki untanya keluar mata air. Setelah itu ‘Abdul Muththalib mengambil air dan meminumnya kemudian memanggil grup sebelah yang tidak mau memberikan air kepada’ Abdul Muththalib dan akhirnya mereka pun datang dan ikut minum. Akhirnya grup sebelah sadar bahwasanya air zamzam itu adalah hak ‘Abdul Muththalib, buktinya adalah di tengah-tengah padang pasir Allāh keluarkan air khusus untuk ‘Abdul Muththalib. Akhirnya mereka tidak jadi pergi ke dukun yang berada di daerah Syam, tetapi mereka kembali ke Mekkah dan menyatakan bahwasanya air zamzam tersebut adalah milik ‘Abdul Muththalib.Demikianlah kisah kakek Nabi, ‘Abdul Muththalib. Telah diterangkan sebelumnya bahwa Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam dipilih oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla dengan nasab yang sangat tinggi. Sebagaimana dikisahkan dalam Shahīh Bukhari, ketika Abū Sufyan masih dalam keadaan kafir, dia pernah bertemu dengan Kaisar Romawi Hieraklius. Hieraklus bertanya tentang Nabi Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam dan Abū Sufyan menjawabnya dengan jujur walaupun ia kafir. Diantara pertanyaan Hieraklius yang ditanyakan kepada Abū Sufyan adalah tentang nasab Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam. Hieraklius bertanya,كَيْفَ نَسَبُهُ فِيكُمْ؟“Bagaimana nasab Nabi tersebut?”Maka kata Abū Sufyan:هُوَ فِينَا ذُو نَسَبٍ“Sesungguhnya Muhammad itu di kalangan kami adalah orang yang nasabnya tinggi.”Setelah itu Hieraklius berkata:فَكَذَلِكَ الرُّسُلُ تُبْعَثُ فِي نَسَبِ قَوْمِهَا “Demikianlah para Rasul, mereka diutus oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla dengan nasab yang tinggi diantara kaumnya.” (HR Al-Bukhari no 7)Inilah hikmah yang disebutkan oleh para ulama kenapa Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam dipilih dari kalangan nasab yang tinggi dan terbaik, sehingga tidak ada orang-orang Arab yang akan mencela nasab Nabi. Karena mereka sadar bahwa nasab mereka lebih rendah dari Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam. Bagaimana tidak? Kakek Nabi yaitu ‘Abdul Muththalib adalah pemilik zamzam dan pemimpin orang-orang Quraisy. Seandainya Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam diutus dari nasab yang rendah dari rakyat jelata yang tidak punya kedudukan, maka orang-orang akan menuduh bahwa Muhammad mengaku dirinya sebagai Nabi hanya untuk mencari kekuasaan dan penghormatan.Sedangkan Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam tidak perlu mencari penghormatan, karena beliau sudah menjadi orang yang dihormati. Bahkan ketika berdakwah menyampaikan Islam, beliau malah direndahkan. Sehingga, tatkala Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam diutus dari golongan berstrata tinggi, maka hal ini akan menutup pintu tuduhan bahwa Nabi memiliki tendensi tertentu. Oleh karena itu, Allāh menjadikan Nabi Muhammad (dan juga para nabi yang lain) bernasab tinggi, salah satu hikmahnya adalah apabila orang-orang bernaung di bawah Nabi, mereka tidak akan merasa rendah karena Nabi mereka memilik nasab yang tinggi. Jakarta, 03-02-1439 H / 24-10-2017 MAbu Abdil Muhsin Firanda Andirjawww.firanda.com


Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam adalah manusia termulia yang memiliki nasab yang mulia. Nasab beliau adalah sebagai berikut:مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ المُطَّلِبِ بْنِ هَاشِمِ بْنِ عَبْدِ مَنَافِ بْنِ قُصَيِّ بْنِ كِلَابِ بْنِ مُرَّةَ بْنِ كَعبِ بْنِ لؤَيِّ بْنِ غالِبِ بْنِ فِهْرِ بْنِ مَالِكِ بْنِ النَّضْرِ بْنِ كِنَانَةَ بْنِ خُزَيْمَةَ بْنِ مُدْرِكَةَ بْنِ إِلْيَاسَ بْنِ مُضَرَ بْنِ نِزَارِ بْنِ مَعَدِّ بْنِ عَدْنَانَMuhammad bin ‘Abdillāh bin ‘Abdil Muththalib bin Hāsyim bin ‘Abdi Manaf bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin Ghālib bin Fihr bin Nadhar bin Kinānah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyās bin Mudhar bin Nizār bin Ma’ad bin Adnān. (Shahih Al-Bukhari 5/45)Pada bab sebelumnya telah dijelaskan bahwa Qushay bin Kilab adalah kakek dari Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam yang mengumpulkan orang-orang Quraisy yang tercerai berai untuk merebut kekuasaan Ka’bah yang sebelumnya dikuasai oleh Bani Khuzā’ah.Para ulama telah ijmak (sepakat) tentang nasab Nabi hingga Adnān. Adapun dari Adnān sampai ke Ismā’īl ‘alayhissalām maka terdapat khilaf di kalangan para ulama. Selain itu tidak ada hadits shahīh yang menjelaskan tentang hal ini. Ada yang berpendapat bahwa dari Adnān sampai Ismā’īl ‘alayhissalām ada 40 bapak atau kakek.Ada yang mengatakan bahwa jumlah kakek Adnān sampai Ismā’īl ‘alayhissalām adalah 7 atau 9 atau 10.Pada intinya tidak ada kesepakatan di antara para ulama mengenai nasab beliau dari Adnān sampai Ismā’īl ‘alayhissalām. Adapun dari Ismā’īl ‘alayhissalām bin Ibrāhīm ‘alayhissalām sampai ke Ādam ‘alayhissalām lebih tidak pasti lagi. Sedangkan yang dipastikan oleh para ulama yaitu dari Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam sampa Adnān.Di dalam hadits Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam beliau bersabda :إِنَّ اللَّهَ سُبْحَانَهُ اصْطَفَى كِنَانَةَ مِنْ وَلَدِ إِسْمَاعِيلَ وَاصْطَفَى قُرَيْشًا مِنْ كِنَانَةَ، وَاصْطَفَى بَنِي هَاشِمٍ مِنْ قُرَيْشٍ، وَاصْطَفَانِي مِنْ بَنِي هَاشِم“Sesungguhnya Allāh Subhānahu wa Ta’āla telah memilih Bani Kinānah dari anak-anak Ismā’īl ‘alayhissalām dan dari keturunan Kinānah Allāh memilih suku Quraisy dan Allāh memilih dari suku Quraisy Bani Hāsyim dan Allāh memilih aku dari Bani Hāsyim.” (HR Muslim no 2276)Hadits di atas menunjukkan betapa mulianya nasab Rasūlullāh ﷺ dimana beliau terlahir dari jalur nasab yang kesemuanya merupakan manusia terpilih.Diantara kakek-kakek Nabi yang terkenal selain Qushay bin Kilab adalah ‘Abdul Muththalib. Dia semakin terkenal kedudukannya di kalangan orang-orang Arab karena dia bertemu langsung dengan Abrahah ketika meminta kembali 200 ekor untanya. Dan semakin terpandang ketika dia menemukan sumur zamzam.Sumur zamzam muncul di zaman Nabi Ismā’īl ‘alayhissalām (sebagaimana telah dijelaskan di bab yang telah lalu). Kemudian sumur zamzam itu sempat menghilang selama beberapa abad sebagaimana dijelaskan oleh para ulama, disebabkan oleh kemaksiatan yang mereka lakukan di Mekkah. Sehingga lama kelamaan, sumur zamzam kehilangan air dan dilupakan dimana posisinya.Tatkala Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam akan dilahirkan, maka Allāh Subhānahu wa Ta’āla ingin mengembalikan zamzam tersebut yang tadinya surut dan tertutup agar keluar lagi airnya. Dan orang yang menemukan air zamzam tersebut adalah kakek Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam sendiri yaitu ‘Abdul Muththalib. Keterangan ini diriwayatkan oleh Ibnu Ishāq dalam sirahnya dengan tashrih bissamā’ (penegasan mendengarnya), dan beliau (Ibnu Ishaq) adalah seorang yang shadūq. Menurut penilaian para ulama jarh wa ta’dil, apabila Ibnu Ishāq mengatakan “haddatsanii” (telah menyampaikan kepadaku) atau “sami’tu” (aku telah mendengar) maka sanadnya menjadi hasan. Adapun jika dia mengatakan “‘an” (dari) maka sanadnya lemah karena dia seorang mudallis. Di dalam riwayat ini, beliau menyampaikan secara tashrih bit tahdīts, dengan mengatakan “haddatsanii Yazīd bin Abī Habīb Al-Mishriy” hingga menyebutkan sanadnya kepada ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallāhu Ta’āla ‘anhu. Riwayat ini berasal dari kisah ‘Ali bin Abi Thālib yang mana beliau adalah putra dari Abū Thālib, sedangkan Abū Thālib adalah putra ‘Abdul Muththalib. Sehingga ‘Ali bin Abi Thālib menceritakan tentang kisah kakeknya. Riwayat ini bukanlah hadits tapi sekedar cerita tentang kisah kakeknya yaitu ‘Abdul Muththalib. Karena ‘Ali bin Abi Thālib sepupunya Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam.Berikut ini kisahnya sebagaimana disebutkan dalam Sirah Ibnu Ishāq, ‘Abdul Muththalib bercerita:“Suatu hari aku tidur di Hijr Ismā’il (dekat Ka’bah), kemudian ada yang mengatakan kepadaku ‘Gali-lah thayyibah.’ Aku bertanya: ‘Apa itu thayyibah?’ namun dia malah pergi. Keesokan harinya aku kembali tidur di tempat tersebut. Kemudian suara itu datang kembali dan mengatakan ‘Galilah barrah’, maka aku berkata ‘Apa itu barrah?’. Dia pun pergi tidak menjelaskan. Besoknya aku tidur lagi, lalu datang lagi suara itu, dan berkata ‘galilah al-madhnunah’, maka aku berkata,” Apa itu al-madhnuunah?”, lalu ia pun pergi. Keesokan harinya aku kembali tidur di tempat tidurku, kemudian ia kembali berkata ‘Galilah zamzam’, maka aku bertanya ‘Apa itu zamzam?’ Lalu ia berkata, “Zamzam adalah air yang tidak akan surut, dengan air tersebut kau akan memberi minum para jama’ah haji.” Kemudian disebutkan posisinya, yaitu di tempat sarang semut.Di dalam riwayat lain disebutkan bahwa ada burung gagak yang mematuk-matuk disitu. Dijelaskan namanya dan dijelaskan pula posisinya untuk digali. Karena mimpi yang ketiga lebih jelas maka keesokan harinya ‘Abdul Muththalib berangkat dengan membawa cangkulnya. Saat itu ‘Abdul Muththalib baru memiliki satu orang anak laki-laki yang bernama Al-Hārits. Mulailah ‘Abdul Muththalib menggali sumur tersebut, hingga mulai tampak tanda-tanda adanya sumur. Ketika kaum Quraisy mengetahui bahwa ‘Abdul Muththalib menemukan sumur, mereka mendatangi ‘Abdul Muththalib dan berkata: “Wahai ‘Abdul Muththalib, sumur tersebut adalah sumur kakek kita, Ismā’īl ‘alayhissalām. Kami juga punya hak terhadap sumur tersebut. Maka jadikanlah kami termasuk pemilik sumur tersebut. ‘Abdul Muththalib berkata: “Aku tidak mau, ini milikku. Sumur ini telah dikhususkan menjadi milikku, akan tetapi aku akan berbagi dengan kalian.” Mereka pun berkata: “Adillah terhadap kita, kalau tidak, kami tidak akan membiarkanmu menguasai sumur ini sampai kita berhakim kepada seseorang.” Maka ‘Abdul Muththalib dengan adilnya berkata: “Pilihlah siapa saja yang kita akan berhukum kepadanya.” Mereka berkata : “Ada seorang Perempuan dukun tetapi tempatnya jauh di negeri Syam sana.” Maka ‘Abdul Muththalib pun menyetujuinya. Berangkatlah ‘Abdul Muththalib bersama beberapa saudara dari Bani ‘Abdi Manaf, dengan sejumlah orang Quraisy lainnya, mereka berjalan bersama dalam dua grup rombongan. Grup pertama ‘Abdul Muththalib dengan Bani ‘Abdi Manaf dan grup kedua dari qabilah-qabilah lain yang menuntut untuk diberikan zamzam.Saat mereka melewati padang pasir, tiba-tiba persediaan air milik ‘Abdul Muththalib habis, sementara perjalanan masih sangat jauh. Selama dalam perjalanan tersebut mereka tidak menemukan sumber mata air. Hal ini menyebabkan rombongan ‘Abdul Muththalib kehausan, sementara rombongan yang satu masih memiliki persediaan air yang mencukupi. Akhinya ‘Abdul Muththalib dan rombongannya meminta air ke rombongan satunya, tetapi mereka menolak untuk memberi air. Di saat masing-masing dari kelompok ‘Abdul Muththalib merasa akan mati, muncullah ide dalam benak ‘Abdul Muththalib. “Kita masing-masing akan menggali kuburan kita, daripada kita semua tergeletak tanpa ada yang menguburkan. Siapa yang mati terlebih dahulu kita akan kubur lalu kita tutup, begitupun yang mati berikutnya sampai terakhir hanya bersisa satu yang akan mati tanpa dikuburkan.” Akhirnya mereka mulai menggali kuburan masing-masing dan perbuatan ini disaksikan oleh rombongan satunya dan tanpa memperdulikannya.Namun, setelah lubang-lubang kuburan tersebut tergali, ‘Abdul Muththalib lantas berubah pikiran dan mengatakan: “Perbuatan ini hanyalah sikap pasrah, kita harus berusaha.” Akhirnya mereka meninggalkan kuburan yang telah mereka gali. Mulailah ‘Abdul Muththalib naik ke atas untanya lalu tiba-tiba dari kaki untanya keluar mata air. Setelah itu ‘Abdul Muththalib mengambil air dan meminumnya kemudian memanggil grup sebelah yang tidak mau memberikan air kepada’ Abdul Muththalib dan akhirnya mereka pun datang dan ikut minum. Akhirnya grup sebelah sadar bahwasanya air zamzam itu adalah hak ‘Abdul Muththalib, buktinya adalah di tengah-tengah padang pasir Allāh keluarkan air khusus untuk ‘Abdul Muththalib. Akhirnya mereka tidak jadi pergi ke dukun yang berada di daerah Syam, tetapi mereka kembali ke Mekkah dan menyatakan bahwasanya air zamzam tersebut adalah milik ‘Abdul Muththalib.Demikianlah kisah kakek Nabi, ‘Abdul Muththalib. Telah diterangkan sebelumnya bahwa Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam dipilih oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla dengan nasab yang sangat tinggi. Sebagaimana dikisahkan dalam Shahīh Bukhari, ketika Abū Sufyan masih dalam keadaan kafir, dia pernah bertemu dengan Kaisar Romawi Hieraklius. Hieraklus bertanya tentang Nabi Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam dan Abū Sufyan menjawabnya dengan jujur walaupun ia kafir. Diantara pertanyaan Hieraklius yang ditanyakan kepada Abū Sufyan adalah tentang nasab Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam. Hieraklius bertanya,كَيْفَ نَسَبُهُ فِيكُمْ؟“Bagaimana nasab Nabi tersebut?”Maka kata Abū Sufyan:هُوَ فِينَا ذُو نَسَبٍ“Sesungguhnya Muhammad itu di kalangan kami adalah orang yang nasabnya tinggi.”Setelah itu Hieraklius berkata:فَكَذَلِكَ الرُّسُلُ تُبْعَثُ فِي نَسَبِ قَوْمِهَا “Demikianlah para Rasul, mereka diutus oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla dengan nasab yang tinggi diantara kaumnya.” (HR Al-Bukhari no 7)Inilah hikmah yang disebutkan oleh para ulama kenapa Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam dipilih dari kalangan nasab yang tinggi dan terbaik, sehingga tidak ada orang-orang Arab yang akan mencela nasab Nabi. Karena mereka sadar bahwa nasab mereka lebih rendah dari Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam. Bagaimana tidak? Kakek Nabi yaitu ‘Abdul Muththalib adalah pemilik zamzam dan pemimpin orang-orang Quraisy. Seandainya Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam diutus dari nasab yang rendah dari rakyat jelata yang tidak punya kedudukan, maka orang-orang akan menuduh bahwa Muhammad mengaku dirinya sebagai Nabi hanya untuk mencari kekuasaan dan penghormatan.Sedangkan Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam tidak perlu mencari penghormatan, karena beliau sudah menjadi orang yang dihormati. Bahkan ketika berdakwah menyampaikan Islam, beliau malah direndahkan. Sehingga, tatkala Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam diutus dari golongan berstrata tinggi, maka hal ini akan menutup pintu tuduhan bahwa Nabi memiliki tendensi tertentu. Oleh karena itu, Allāh menjadikan Nabi Muhammad (dan juga para nabi yang lain) bernasab tinggi, salah satu hikmahnya adalah apabila orang-orang bernaung di bawah Nabi, mereka tidak akan merasa rendah karena Nabi mereka memilik nasab yang tinggi. Jakarta, 03-02-1439 H / 24-10-2017 MAbu Abdil Muhsin Firanda Andirjawww.firanda.com

Pendaftaran Santriwan/Wati Baru TP. 2018/2019

PENDAFTARAN SANTRIWAN/WATI BARU TP. 2018/2019PESANTREN ISLAM AL IRSYAD TENGARANJENJANG PENDIDIKAN (PUTRA-PUTRI)1. Sekolah Dasar Islam Tahfidzul Qur’an (SDITQ) tidak menerima asrama 2. Madrasah Tsanawiyah (MTs)/Madrasah Mutawashshitoh (MTW) setingkat SMP 3. I’dad Lughowy (IL) persiapan masuk Madrasah Aliyah (MA) setingkat SMASemua jenjang (SDITQ, MTs dan MA) terakreditasi dan memiliki ijazah negara (Diknas atau Kemenag) serta ijazah pesantren. NB. Tidak menerima pindahanWAKTU PENDAFTARAN DAN SELEKSIPendaftaran : 15 Oktober – 17 Desember 2017 Ujian Seleksi : Sabtu – Ahad, 6 atau 7 Januari 2018 (sesuai undangan, setiap santri hanya 1 hari tes) Pendaftaran dilakukan secara online melalui website pesantren www.pesantrenalirsyad.org Ujian seleksi wajib datang ke pesantren kecuali dari luar Indonesia, Malaysia, Singapura, Timor Leste, Brunei dllPERSYARATAN1. Mengisi formulir pendaftaran online melalui www.pesantrenalirsyad.org 2. Foto copy Raport 2 semester terakhir 3. Menyerahkan NISN (Nomor Induk Siswa Nasional) jika ada 4. Foto hitam putih calon santri ukuran 3 x 4 sebanyak 4 lembar (ketentuan: Putra: baju putih berkerah, tanpa atribut, tanpa penutup kepala dan tanpa kacamata. Putri: Berpakaian putih, berjilbab, dan tanpa kacamata. Dan ditulis nama calon santri di bagian belakang foto) 5. Foto copy Akte Kelahiran 6. Foto copy Kartu Keluarga (KK) 7. Surat keterangan sehat (format khusus dari pesantren dapat didownload setelah pendaftaran online) 8. Membayar biaya pendaftaran (Rp 401.000) atau sesuai jumlah yang tertera usai pendaftaran online ke rekening pesantren, diikuti dengan konfirmasi melalui aplikasi PSB pada menu Informasi Santri bagian Status Pembayaran 9. Mengisi surat kesanggupan membayar biaya pendidikan 10. Diantar orang tua / wali saat datang seleksi ke pesantren, khusus putri wajib diantar mahramMEKANISME & TAHAPAN PENDAFTARAN1. Pendaftaran Online melelui www.pesantrenalirsyad.org 2. Tes Kesehatan (cek umum sesuai form dari Panitia, dapat diperoleh di akhir langkah pendaftaran online) di lembaga kesehatan setempat (Puskesmas/RSUD) dan tes HBSAG dari laborat/rumah sakit 3. Mengirim berkas pendaftaran sesuai ketentuan (via POS) 4. Mengirim/transfer biaya pendaftaran sesuai ketentuan, beserta konfirmasinya 5. Menunggu verifikasi panitia 6. Download dari website pesantren undangan ujian seleksi 7. Datang ke pesantren mengikuti seleksi 8. Menunggu pengumuman hasil seleksi 9. Pengumuman hasil seleksi melalui www.pesantrenalirsyad.org dan SMS Center 10. Membayar/transfer biaya daftar ulang 11. Menunggu kegiatan Pertemuan Wali Santri Baru (PWSB / masuk perdana)UJIAN PERWAKILAN DAERAHMohon maaf, untuk tempat seleksi perwakilan daerah saat ini belum ada, sehingga ujian seleksi hanya diselenggarakan di pusat. Semoga dapat dimaklumi.MATERI UJIAN SELEKSI1. Membaca Al-Qur’an/Iqro’ 2. Tes wawancara lisan/tertulis calon santri dan orang tua/wali 3. Tes Kemampuan Dasar (Matematika dan Bahasa Indonesia) 4. Tes Psikologi (khusus putri)PENGUMUMAN DAN DAFTAR ULANGPengumuman Rabu, 31 Januari 2018 melalui www.pesantrenalirsyad.org Daftar ulang 1 – 14 Februari 2018 (cukup dengan membayar/transfer biaya daftar ulang)GAMBARAN BIAYA DAFTAR ULANGBerikut informasi biaya pendidikan untuk santri baru TP. 2018/2019 Jenis Biaya Putra Putri Putra/i Non Asrama MTs, IL/MA MTs, IL/MA SDITQ * Uang Pangkal 17.000.000 11.000.000 4.500.000 SPP Juli 2018 1.400.000 1.200.000 350.000 Total Biaya Daftar Ulang 18.400.000 12.200.000 4.850.000 * Khusus SDITQ biaya yang tertera pada tabel di atas adalah biaya TP 2017/2018, biaya untuk TP 2018/2019 akan diinformasikan menyusul.NB. Untuk memudahkan pendeteksian uang daftar ulang yang masuk dari transfer bank, harap menambahkan biaya daftar ulang dengan 4 digit akhir nomor pendaftaran. Misal : Ahmad Haikal B181084, maka nominal transfer yang dikirim Rp 18.401.084,-InfoTlp. 0298-321658 (Sabtu – Kamis Pkl 7.30 – 14.30) HP. 0812 8111 1516 (Tlp/SMS/WA) Email : info@pesantrenalirsyad.orgInformasi lanjut : http://www.pesantrenalirsyad.org/pendaftaran-santriwan-santriwati-baru-tp-2018-2019/🔍 Dalil Judi, Doa Ta Awwudz, Riyadussolihin, Hadits Anak Sholeh, Apakah Bumi Datar Atau Bulat

Pendaftaran Santriwan/Wati Baru TP. 2018/2019

PENDAFTARAN SANTRIWAN/WATI BARU TP. 2018/2019PESANTREN ISLAM AL IRSYAD TENGARANJENJANG PENDIDIKAN (PUTRA-PUTRI)1. Sekolah Dasar Islam Tahfidzul Qur’an (SDITQ) tidak menerima asrama 2. Madrasah Tsanawiyah (MTs)/Madrasah Mutawashshitoh (MTW) setingkat SMP 3. I’dad Lughowy (IL) persiapan masuk Madrasah Aliyah (MA) setingkat SMASemua jenjang (SDITQ, MTs dan MA) terakreditasi dan memiliki ijazah negara (Diknas atau Kemenag) serta ijazah pesantren. NB. Tidak menerima pindahanWAKTU PENDAFTARAN DAN SELEKSIPendaftaran : 15 Oktober – 17 Desember 2017 Ujian Seleksi : Sabtu – Ahad, 6 atau 7 Januari 2018 (sesuai undangan, setiap santri hanya 1 hari tes) Pendaftaran dilakukan secara online melalui website pesantren www.pesantrenalirsyad.org Ujian seleksi wajib datang ke pesantren kecuali dari luar Indonesia, Malaysia, Singapura, Timor Leste, Brunei dllPERSYARATAN1. Mengisi formulir pendaftaran online melalui www.pesantrenalirsyad.org 2. Foto copy Raport 2 semester terakhir 3. Menyerahkan NISN (Nomor Induk Siswa Nasional) jika ada 4. Foto hitam putih calon santri ukuran 3 x 4 sebanyak 4 lembar (ketentuan: Putra: baju putih berkerah, tanpa atribut, tanpa penutup kepala dan tanpa kacamata. Putri: Berpakaian putih, berjilbab, dan tanpa kacamata. Dan ditulis nama calon santri di bagian belakang foto) 5. Foto copy Akte Kelahiran 6. Foto copy Kartu Keluarga (KK) 7. Surat keterangan sehat (format khusus dari pesantren dapat didownload setelah pendaftaran online) 8. Membayar biaya pendaftaran (Rp 401.000) atau sesuai jumlah yang tertera usai pendaftaran online ke rekening pesantren, diikuti dengan konfirmasi melalui aplikasi PSB pada menu Informasi Santri bagian Status Pembayaran 9. Mengisi surat kesanggupan membayar biaya pendidikan 10. Diantar orang tua / wali saat datang seleksi ke pesantren, khusus putri wajib diantar mahramMEKANISME & TAHAPAN PENDAFTARAN1. Pendaftaran Online melelui www.pesantrenalirsyad.org 2. Tes Kesehatan (cek umum sesuai form dari Panitia, dapat diperoleh di akhir langkah pendaftaran online) di lembaga kesehatan setempat (Puskesmas/RSUD) dan tes HBSAG dari laborat/rumah sakit 3. Mengirim berkas pendaftaran sesuai ketentuan (via POS) 4. Mengirim/transfer biaya pendaftaran sesuai ketentuan, beserta konfirmasinya 5. Menunggu verifikasi panitia 6. Download dari website pesantren undangan ujian seleksi 7. Datang ke pesantren mengikuti seleksi 8. Menunggu pengumuman hasil seleksi 9. Pengumuman hasil seleksi melalui www.pesantrenalirsyad.org dan SMS Center 10. Membayar/transfer biaya daftar ulang 11. Menunggu kegiatan Pertemuan Wali Santri Baru (PWSB / masuk perdana)UJIAN PERWAKILAN DAERAHMohon maaf, untuk tempat seleksi perwakilan daerah saat ini belum ada, sehingga ujian seleksi hanya diselenggarakan di pusat. Semoga dapat dimaklumi.MATERI UJIAN SELEKSI1. Membaca Al-Qur’an/Iqro’ 2. Tes wawancara lisan/tertulis calon santri dan orang tua/wali 3. Tes Kemampuan Dasar (Matematika dan Bahasa Indonesia) 4. Tes Psikologi (khusus putri)PENGUMUMAN DAN DAFTAR ULANGPengumuman Rabu, 31 Januari 2018 melalui www.pesantrenalirsyad.org Daftar ulang 1 – 14 Februari 2018 (cukup dengan membayar/transfer biaya daftar ulang)GAMBARAN BIAYA DAFTAR ULANGBerikut informasi biaya pendidikan untuk santri baru TP. 2018/2019 Jenis Biaya Putra Putri Putra/i Non Asrama MTs, IL/MA MTs, IL/MA SDITQ * Uang Pangkal 17.000.000 11.000.000 4.500.000 SPP Juli 2018 1.400.000 1.200.000 350.000 Total Biaya Daftar Ulang 18.400.000 12.200.000 4.850.000 * Khusus SDITQ biaya yang tertera pada tabel di atas adalah biaya TP 2017/2018, biaya untuk TP 2018/2019 akan diinformasikan menyusul.NB. Untuk memudahkan pendeteksian uang daftar ulang yang masuk dari transfer bank, harap menambahkan biaya daftar ulang dengan 4 digit akhir nomor pendaftaran. Misal : Ahmad Haikal B181084, maka nominal transfer yang dikirim Rp 18.401.084,-InfoTlp. 0298-321658 (Sabtu – Kamis Pkl 7.30 – 14.30) HP. 0812 8111 1516 (Tlp/SMS/WA) Email : info@pesantrenalirsyad.orgInformasi lanjut : http://www.pesantrenalirsyad.org/pendaftaran-santriwan-santriwati-baru-tp-2018-2019/🔍 Dalil Judi, Doa Ta Awwudz, Riyadussolihin, Hadits Anak Sholeh, Apakah Bumi Datar Atau Bulat
PENDAFTARAN SANTRIWAN/WATI BARU TP. 2018/2019PESANTREN ISLAM AL IRSYAD TENGARANJENJANG PENDIDIKAN (PUTRA-PUTRI)1. Sekolah Dasar Islam Tahfidzul Qur’an (SDITQ) tidak menerima asrama 2. Madrasah Tsanawiyah (MTs)/Madrasah Mutawashshitoh (MTW) setingkat SMP 3. I’dad Lughowy (IL) persiapan masuk Madrasah Aliyah (MA) setingkat SMASemua jenjang (SDITQ, MTs dan MA) terakreditasi dan memiliki ijazah negara (Diknas atau Kemenag) serta ijazah pesantren. NB. Tidak menerima pindahanWAKTU PENDAFTARAN DAN SELEKSIPendaftaran : 15 Oktober – 17 Desember 2017 Ujian Seleksi : Sabtu – Ahad, 6 atau 7 Januari 2018 (sesuai undangan, setiap santri hanya 1 hari tes) Pendaftaran dilakukan secara online melalui website pesantren www.pesantrenalirsyad.org Ujian seleksi wajib datang ke pesantren kecuali dari luar Indonesia, Malaysia, Singapura, Timor Leste, Brunei dllPERSYARATAN1. Mengisi formulir pendaftaran online melalui www.pesantrenalirsyad.org 2. Foto copy Raport 2 semester terakhir 3. Menyerahkan NISN (Nomor Induk Siswa Nasional) jika ada 4. Foto hitam putih calon santri ukuran 3 x 4 sebanyak 4 lembar (ketentuan: Putra: baju putih berkerah, tanpa atribut, tanpa penutup kepala dan tanpa kacamata. Putri: Berpakaian putih, berjilbab, dan tanpa kacamata. Dan ditulis nama calon santri di bagian belakang foto) 5. Foto copy Akte Kelahiran 6. Foto copy Kartu Keluarga (KK) 7. Surat keterangan sehat (format khusus dari pesantren dapat didownload setelah pendaftaran online) 8. Membayar biaya pendaftaran (Rp 401.000) atau sesuai jumlah yang tertera usai pendaftaran online ke rekening pesantren, diikuti dengan konfirmasi melalui aplikasi PSB pada menu Informasi Santri bagian Status Pembayaran 9. Mengisi surat kesanggupan membayar biaya pendidikan 10. Diantar orang tua / wali saat datang seleksi ke pesantren, khusus putri wajib diantar mahramMEKANISME & TAHAPAN PENDAFTARAN1. Pendaftaran Online melelui www.pesantrenalirsyad.org 2. Tes Kesehatan (cek umum sesuai form dari Panitia, dapat diperoleh di akhir langkah pendaftaran online) di lembaga kesehatan setempat (Puskesmas/RSUD) dan tes HBSAG dari laborat/rumah sakit 3. Mengirim berkas pendaftaran sesuai ketentuan (via POS) 4. Mengirim/transfer biaya pendaftaran sesuai ketentuan, beserta konfirmasinya 5. Menunggu verifikasi panitia 6. Download dari website pesantren undangan ujian seleksi 7. Datang ke pesantren mengikuti seleksi 8. Menunggu pengumuman hasil seleksi 9. Pengumuman hasil seleksi melalui www.pesantrenalirsyad.org dan SMS Center 10. Membayar/transfer biaya daftar ulang 11. Menunggu kegiatan Pertemuan Wali Santri Baru (PWSB / masuk perdana)UJIAN PERWAKILAN DAERAHMohon maaf, untuk tempat seleksi perwakilan daerah saat ini belum ada, sehingga ujian seleksi hanya diselenggarakan di pusat. Semoga dapat dimaklumi.MATERI UJIAN SELEKSI1. Membaca Al-Qur’an/Iqro’ 2. Tes wawancara lisan/tertulis calon santri dan orang tua/wali 3. Tes Kemampuan Dasar (Matematika dan Bahasa Indonesia) 4. Tes Psikologi (khusus putri)PENGUMUMAN DAN DAFTAR ULANGPengumuman Rabu, 31 Januari 2018 melalui www.pesantrenalirsyad.org Daftar ulang 1 – 14 Februari 2018 (cukup dengan membayar/transfer biaya daftar ulang)GAMBARAN BIAYA DAFTAR ULANGBerikut informasi biaya pendidikan untuk santri baru TP. 2018/2019 Jenis Biaya Putra Putri Putra/i Non Asrama MTs, IL/MA MTs, IL/MA SDITQ * Uang Pangkal 17.000.000 11.000.000 4.500.000 SPP Juli 2018 1.400.000 1.200.000 350.000 Total Biaya Daftar Ulang 18.400.000 12.200.000 4.850.000 * Khusus SDITQ biaya yang tertera pada tabel di atas adalah biaya TP 2017/2018, biaya untuk TP 2018/2019 akan diinformasikan menyusul.NB. Untuk memudahkan pendeteksian uang daftar ulang yang masuk dari transfer bank, harap menambahkan biaya daftar ulang dengan 4 digit akhir nomor pendaftaran. Misal : Ahmad Haikal B181084, maka nominal transfer yang dikirim Rp 18.401.084,-InfoTlp. 0298-321658 (Sabtu – Kamis Pkl 7.30 – 14.30) HP. 0812 8111 1516 (Tlp/SMS/WA) Email : info@pesantrenalirsyad.orgInformasi lanjut : http://www.pesantrenalirsyad.org/pendaftaran-santriwan-santriwati-baru-tp-2018-2019/🔍 Dalil Judi, Doa Ta Awwudz, Riyadussolihin, Hadits Anak Sholeh, Apakah Bumi Datar Atau Bulat


PENDAFTARAN SANTRIWAN/WATI BARU TP. 2018/2019PESANTREN ISLAM AL IRSYAD TENGARANJENJANG PENDIDIKAN (PUTRA-PUTRI)1. Sekolah Dasar Islam Tahfidzul Qur’an (SDITQ) tidak menerima asrama 2. Madrasah Tsanawiyah (MTs)/Madrasah Mutawashshitoh (MTW) setingkat SMP 3. I’dad Lughowy (IL) persiapan masuk Madrasah Aliyah (MA) setingkat SMASemua jenjang (SDITQ, MTs dan MA) terakreditasi dan memiliki ijazah negara (Diknas atau Kemenag) serta ijazah pesantren. NB. Tidak menerima pindahanWAKTU PENDAFTARAN DAN SELEKSIPendaftaran : 15 Oktober – 17 Desember 2017 Ujian Seleksi : Sabtu – Ahad, 6 atau 7 Januari 2018 (sesuai undangan, setiap santri hanya 1 hari tes) Pendaftaran dilakukan secara online melalui website pesantren www.pesantrenalirsyad.org Ujian seleksi wajib datang ke pesantren kecuali dari luar Indonesia, Malaysia, Singapura, Timor Leste, Brunei dllPERSYARATAN1. Mengisi formulir pendaftaran online melalui www.pesantrenalirsyad.org 2. Foto copy Raport 2 semester terakhir 3. Menyerahkan NISN (Nomor Induk Siswa Nasional) jika ada 4. Foto hitam putih calon santri ukuran 3 x 4 sebanyak 4 lembar (ketentuan: Putra: baju putih berkerah, tanpa atribut, tanpa penutup kepala dan tanpa kacamata. Putri: Berpakaian putih, berjilbab, dan tanpa kacamata. Dan ditulis nama calon santri di bagian belakang foto) 5. Foto copy Akte Kelahiran 6. Foto copy Kartu Keluarga (KK) 7. Surat keterangan sehat (format khusus dari pesantren dapat didownload setelah pendaftaran online) 8. Membayar biaya pendaftaran (Rp 401.000) atau sesuai jumlah yang tertera usai pendaftaran online ke rekening pesantren, diikuti dengan konfirmasi melalui aplikasi PSB pada menu Informasi Santri bagian Status Pembayaran 9. Mengisi surat kesanggupan membayar biaya pendidikan 10. Diantar orang tua / wali saat datang seleksi ke pesantren, khusus putri wajib diantar mahramMEKANISME & TAHAPAN PENDAFTARAN1. Pendaftaran Online melelui www.pesantrenalirsyad.org 2. Tes Kesehatan (cek umum sesuai form dari Panitia, dapat diperoleh di akhir langkah pendaftaran online) di lembaga kesehatan setempat (Puskesmas/RSUD) dan tes HBSAG dari laborat/rumah sakit 3. Mengirim berkas pendaftaran sesuai ketentuan (via POS) 4. Mengirim/transfer biaya pendaftaran sesuai ketentuan, beserta konfirmasinya 5. Menunggu verifikasi panitia 6. Download dari website pesantren undangan ujian seleksi 7. Datang ke pesantren mengikuti seleksi 8. Menunggu pengumuman hasil seleksi 9. Pengumuman hasil seleksi melalui www.pesantrenalirsyad.org dan SMS Center 10. Membayar/transfer biaya daftar ulang 11. Menunggu kegiatan Pertemuan Wali Santri Baru (PWSB / masuk perdana)UJIAN PERWAKILAN DAERAHMohon maaf, untuk tempat seleksi perwakilan daerah saat ini belum ada, sehingga ujian seleksi hanya diselenggarakan di pusat. Semoga dapat dimaklumi.MATERI UJIAN SELEKSI1. Membaca Al-Qur’an/Iqro’ 2. Tes wawancara lisan/tertulis calon santri dan orang tua/wali 3. Tes Kemampuan Dasar (Matematika dan Bahasa Indonesia) 4. Tes Psikologi (khusus putri)PENGUMUMAN DAN DAFTAR ULANGPengumuman Rabu, 31 Januari 2018 melalui www.pesantrenalirsyad.org Daftar ulang 1 – 14 Februari 2018 (cukup dengan membayar/transfer biaya daftar ulang)GAMBARAN BIAYA DAFTAR ULANGBerikut informasi biaya pendidikan untuk santri baru TP. 2018/2019 Jenis Biaya Putra Putri Putra/i Non Asrama MTs, IL/MA MTs, IL/MA SDITQ * Uang Pangkal 17.000.000 11.000.000 4.500.000 SPP Juli 2018 1.400.000 1.200.000 350.000 Total Biaya Daftar Ulang 18.400.000 12.200.000 4.850.000 * Khusus SDITQ biaya yang tertera pada tabel di atas adalah biaya TP 2017/2018, biaya untuk TP 2018/2019 akan diinformasikan menyusul.NB. Untuk memudahkan pendeteksian uang daftar ulang yang masuk dari transfer bank, harap menambahkan biaya daftar ulang dengan 4 digit akhir nomor pendaftaran. Misal : Ahmad Haikal B181084, maka nominal transfer yang dikirim Rp 18.401.084,-InfoTlp. 0298-321658 (Sabtu – Kamis Pkl 7.30 – 14.30) HP. 0812 8111 1516 (Tlp/SMS/WA) Email : info@pesantrenalirsyad.orgInformasi lanjut : http://www.pesantrenalirsyad.org/pendaftaran-santriwan-santriwati-baru-tp-2018-2019/🔍 Dalil Judi, Doa Ta Awwudz, Riyadussolihin, Hadits Anak Sholeh, Apakah Bumi Datar Atau Bulat

Bunga Bank BUKAN Riba, Karena Nasabah Ikhlas?

Bunga Bank itu BUKAN Riba, Asal Saling Ridho? Cak Nun menganggap bunga bank bukan riba, tapi ucapan terima kasih. Karena bank telah memberi utangan. Videonya ada di: https://www.youtube.com/watch?v=o4wGCWhIehg&t=129s Apakah jika saling ikhlas itu bukan riba? maaf, jk ini sya angkat, meskipun sudah basi.. Jawaban: Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Dalam setiap perseteruan antara kebenaran dan kebatilan, setan turut bermain di sana. Setan jin dan setan manusia, bekerja sama saling membisikkan kalimat indah, alibi-alibi, upaya pembenaran, untuk dijadikan senjata agar orang yang bersalah, bisa tetap bertahan dalam kesalahan dan penyimpangannya. Dalam Al-Quran Allah menceritakan, bahwa setan membisikkan kalimat indah, namun menipu. Allah berfirman, وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الْإِنْسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًا “Demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia).” (QS. al-An’am: 112) Dalam al-Quran Allah bercerita, ketika Iblis diusir oleh Allah dari surga karena tidak mau sujud kepada Adam, Iblis dendam dan dia berjanji dengan bersumpah atas nama Allah, akan mengajak semua keturunan Adam ke Neraka. Namun anehnya, sewaktu Iblis menggoda Adam agar juga diusir dari Surga, Iblis datang tidak dengan wajah garang, tidak menampakkan wajah permusuhan. Tapi dia datang dengan wajah pertemanan, bahkan dia sebut dirinya pemberi nasehat bagi Adam dan Hawa. فَوَسْوَسَ لَهُمَا الشَّيْطَانُ لِيُبْدِيَ لَهُمَا مَا وُورِيَ عَنْهُمَا مِنْ سَوْآَتِهِمَا وَقَالَ مَا نَهَاكُمَا رَبُّكُمَا عَنْ هَذِهِ الشَّجَرَةِ إِلَّا أَنْ تَكُونَا مَلَكَيْنِ أَوْ تَكُونَا مِنَ الْخَالِدِينَ  وَقَاسَمَهُمَا إِنِّي لَكُمَا لَمِنَ النَّاصِحِينَ “Syaitan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya untuk menampakkan kepada keduanya apa yang tertutup dari mereka yaitu auratnya dan syaitan berkata: “Tuhan kamu tidak melarangmu dan mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang-orang yang kekal (dalam surga)”. Dan dia (syaitan) bersumpah kepada keduanya. “Sesungguhnya saya adalah termasuk orang yang memberi nasehat kepada kamu berdua.” (QS. al-A’raf: 20 – 21) Seperti itu pula yang dilakukan oang munafik. Mereka membagun prinsip besar, yaitu prinsip serba boleh (permisif) di tengah kaum Muslimin. Mereka memberikan sejuta alasan agar sesuatu yang dilarang dalam al-Quran, menjadi boleh. Allah Ta’ala befirman, الْمُنَافِقُونَ وَالْمُنَافِقَاتُ بَعْضُهُمْ مِنْ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمُنْكَرِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمَعْرُوفِ “Orang munafik lelaki dan orang munafik perempuan, satu sama lain saling memerintahkan yang munkar dan mencegah yang makruf.” (QS. At-Taubah: 67). Bunga Bank Bukan Riba? Semua utang yang menuntut adanya kelebihan adalah riba. Ibnu Qudamah mengatakan, كل قرض شرط به أن يزيده فهو حرام بغير خلاف Semua utang yang mempersyaratkan harus dilebihkan (pelunasannya) hukumnya haram tanpa ada perbedaan (sepakat ulama). (al-Mughni, 4/390). Keterangan lain disampaikan Ibnul Mundzir, أجمعوا على أن المسلف إذا شرط على المستسلف زيادة أو هدية فاسلف على ذلك أن أخذ الزيادة على ذلك ربا Ulama sepakat bahwa apabila orang yang memberi utang mempersyaratkan pihak yang dihutangi harus memberi tambahan atau hadiah, kemudian dilakukan transaksi utang piutang dengan kesepakatan itu, maka mengambil tambahan tadi statusnya riba. (al-Ijma’ , hlm. 90). Semua pengajuan kredit di bank, ada ketentuan harus membayar bunga sekian persen perbulan. Dan sangat jelas ini riba, berdasar sepakat ulama. Bunga atas pinjaman ini adalah manfaat yang didapatkan pihak bank karena memberikan dana utangan ke nasabah. Kita memang tidak bisa mendapatkan keterangan tentang bunga bank di buku-buku klasik. Karena ketika itu belum ada bank. Tapi bisa kita dapatkan dari pernyataan ulama kontemporer yang menjumpai bank. Salah satu kesepakatan mereka dinyatakan dalam kitab Ahkam al-Mal al-Haram, “Muktamar Majma’ al-Buhuts al-Islamiyah di Kairo, tahun 1965, hingga muktamar tertinggi di Mekah, yang dihadiri lebih dari 300 ulama besar, menetapkan bahwa semua bunga bank adalah haram.” (Ahkam al-Mal al-Haram, hlm. 168). Bukankah Bunga itu Saling Ridha? Benar, riba itu saling ridha. Dan saling ridha dalam hal ini tidak mengubah hukum riba menjadi halal. Sahabat Abdullah bin Sallam radhiyallahu ‘anhu pernah berpesan kepada Abu Burdah ketika beliau berkunjung ke rumahnya Abdullah, إِذَا كَانَ لَكَ عَلَى رَجُلٍ حَقٌّ فَأَهْدَى إِلَيْكَ حِمْلَ تِبْنٍ أَوْ حِمْلَ شَعِيرٍ أَوْ حِمْلَ قَتٍّ فَلا تَأْخُذْهُ فَإِنَّهُ رِبًا “Apabila kamu mengutangi orang lain, kemudian orang yang diutangi memberikan fasilitas membawakan jerami, gandum, atau pakan ternak maka janganlah menerimanya, karena itu riba.” (HR. Bukhari 3603) Judi juga saling ridha… sebelum bermain, para penjudi bersepakat, siapa yang kalah, harus menyerahkan hartanya. Tapi saling ridha tidak menyebabkan judi menjadi halal. Sogok dan gratifikasi juga saling ridha… sebelum menang tender, vendor sudah mengikat perjanjian dengan oknum pejabat, akan ada bagi hasil setelah proyek selesai. Tidak semua akad menjadi halal karena saling ridha. Yang dipersyaratkan saling ridha adalah jual beli atau perdagangan. Agar hasilnya halal, disyaratkan pelaku akad harus saling ridha. Allah berfirman, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلَّا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian memakan harta orang lain diantara kalian dengan cara batil, kecuali melalui perdagangan yang saling ridha diantara kalian. (QS. an-Nisa: 29) Dalam ayat di atas, ada 2 syarat agar harta yang kita makan tidak terhitung sebagai harta yang bathil: [1] Didapatkan dari hasil perdagangan atau jual beli [2] Dilakukan saling ridha. Demikian… Semoga anda tidak menjadi pengikut preman… Allahu a’lam. Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. SPONSOR hubungi: 081 326 333 328 DONASI hubungi: 087 882 888 727 REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK 🔍 Sombong Dalam Islam, Hadits Tentang Malaikat Mikail, Hadits Tentang Nikah Siri, Tanda Tanda Mau Meninggal Menurut Islam, Jawab Adzan Subuh, Doa Lupa Menaruh Barang Visited 89 times, 1 visit(s) today Post Views: 299 QRIS donasi Yufid

Bunga Bank BUKAN Riba, Karena Nasabah Ikhlas?

Bunga Bank itu BUKAN Riba, Asal Saling Ridho? Cak Nun menganggap bunga bank bukan riba, tapi ucapan terima kasih. Karena bank telah memberi utangan. Videonya ada di: https://www.youtube.com/watch?v=o4wGCWhIehg&t=129s Apakah jika saling ikhlas itu bukan riba? maaf, jk ini sya angkat, meskipun sudah basi.. Jawaban: Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Dalam setiap perseteruan antara kebenaran dan kebatilan, setan turut bermain di sana. Setan jin dan setan manusia, bekerja sama saling membisikkan kalimat indah, alibi-alibi, upaya pembenaran, untuk dijadikan senjata agar orang yang bersalah, bisa tetap bertahan dalam kesalahan dan penyimpangannya. Dalam Al-Quran Allah menceritakan, bahwa setan membisikkan kalimat indah, namun menipu. Allah berfirman, وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الْإِنْسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًا “Demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia).” (QS. al-An’am: 112) Dalam al-Quran Allah bercerita, ketika Iblis diusir oleh Allah dari surga karena tidak mau sujud kepada Adam, Iblis dendam dan dia berjanji dengan bersumpah atas nama Allah, akan mengajak semua keturunan Adam ke Neraka. Namun anehnya, sewaktu Iblis menggoda Adam agar juga diusir dari Surga, Iblis datang tidak dengan wajah garang, tidak menampakkan wajah permusuhan. Tapi dia datang dengan wajah pertemanan, bahkan dia sebut dirinya pemberi nasehat bagi Adam dan Hawa. فَوَسْوَسَ لَهُمَا الشَّيْطَانُ لِيُبْدِيَ لَهُمَا مَا وُورِيَ عَنْهُمَا مِنْ سَوْآَتِهِمَا وَقَالَ مَا نَهَاكُمَا رَبُّكُمَا عَنْ هَذِهِ الشَّجَرَةِ إِلَّا أَنْ تَكُونَا مَلَكَيْنِ أَوْ تَكُونَا مِنَ الْخَالِدِينَ  وَقَاسَمَهُمَا إِنِّي لَكُمَا لَمِنَ النَّاصِحِينَ “Syaitan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya untuk menampakkan kepada keduanya apa yang tertutup dari mereka yaitu auratnya dan syaitan berkata: “Tuhan kamu tidak melarangmu dan mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang-orang yang kekal (dalam surga)”. Dan dia (syaitan) bersumpah kepada keduanya. “Sesungguhnya saya adalah termasuk orang yang memberi nasehat kepada kamu berdua.” (QS. al-A’raf: 20 – 21) Seperti itu pula yang dilakukan oang munafik. Mereka membagun prinsip besar, yaitu prinsip serba boleh (permisif) di tengah kaum Muslimin. Mereka memberikan sejuta alasan agar sesuatu yang dilarang dalam al-Quran, menjadi boleh. Allah Ta’ala befirman, الْمُنَافِقُونَ وَالْمُنَافِقَاتُ بَعْضُهُمْ مِنْ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمُنْكَرِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمَعْرُوفِ “Orang munafik lelaki dan orang munafik perempuan, satu sama lain saling memerintahkan yang munkar dan mencegah yang makruf.” (QS. At-Taubah: 67). Bunga Bank Bukan Riba? Semua utang yang menuntut adanya kelebihan adalah riba. Ibnu Qudamah mengatakan, كل قرض شرط به أن يزيده فهو حرام بغير خلاف Semua utang yang mempersyaratkan harus dilebihkan (pelunasannya) hukumnya haram tanpa ada perbedaan (sepakat ulama). (al-Mughni, 4/390). Keterangan lain disampaikan Ibnul Mundzir, أجمعوا على أن المسلف إذا شرط على المستسلف زيادة أو هدية فاسلف على ذلك أن أخذ الزيادة على ذلك ربا Ulama sepakat bahwa apabila orang yang memberi utang mempersyaratkan pihak yang dihutangi harus memberi tambahan atau hadiah, kemudian dilakukan transaksi utang piutang dengan kesepakatan itu, maka mengambil tambahan tadi statusnya riba. (al-Ijma’ , hlm. 90). Semua pengajuan kredit di bank, ada ketentuan harus membayar bunga sekian persen perbulan. Dan sangat jelas ini riba, berdasar sepakat ulama. Bunga atas pinjaman ini adalah manfaat yang didapatkan pihak bank karena memberikan dana utangan ke nasabah. Kita memang tidak bisa mendapatkan keterangan tentang bunga bank di buku-buku klasik. Karena ketika itu belum ada bank. Tapi bisa kita dapatkan dari pernyataan ulama kontemporer yang menjumpai bank. Salah satu kesepakatan mereka dinyatakan dalam kitab Ahkam al-Mal al-Haram, “Muktamar Majma’ al-Buhuts al-Islamiyah di Kairo, tahun 1965, hingga muktamar tertinggi di Mekah, yang dihadiri lebih dari 300 ulama besar, menetapkan bahwa semua bunga bank adalah haram.” (Ahkam al-Mal al-Haram, hlm. 168). Bukankah Bunga itu Saling Ridha? Benar, riba itu saling ridha. Dan saling ridha dalam hal ini tidak mengubah hukum riba menjadi halal. Sahabat Abdullah bin Sallam radhiyallahu ‘anhu pernah berpesan kepada Abu Burdah ketika beliau berkunjung ke rumahnya Abdullah, إِذَا كَانَ لَكَ عَلَى رَجُلٍ حَقٌّ فَأَهْدَى إِلَيْكَ حِمْلَ تِبْنٍ أَوْ حِمْلَ شَعِيرٍ أَوْ حِمْلَ قَتٍّ فَلا تَأْخُذْهُ فَإِنَّهُ رِبًا “Apabila kamu mengutangi orang lain, kemudian orang yang diutangi memberikan fasilitas membawakan jerami, gandum, atau pakan ternak maka janganlah menerimanya, karena itu riba.” (HR. Bukhari 3603) Judi juga saling ridha… sebelum bermain, para penjudi bersepakat, siapa yang kalah, harus menyerahkan hartanya. Tapi saling ridha tidak menyebabkan judi menjadi halal. Sogok dan gratifikasi juga saling ridha… sebelum menang tender, vendor sudah mengikat perjanjian dengan oknum pejabat, akan ada bagi hasil setelah proyek selesai. Tidak semua akad menjadi halal karena saling ridha. Yang dipersyaratkan saling ridha adalah jual beli atau perdagangan. Agar hasilnya halal, disyaratkan pelaku akad harus saling ridha. Allah berfirman, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلَّا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian memakan harta orang lain diantara kalian dengan cara batil, kecuali melalui perdagangan yang saling ridha diantara kalian. (QS. an-Nisa: 29) Dalam ayat di atas, ada 2 syarat agar harta yang kita makan tidak terhitung sebagai harta yang bathil: [1] Didapatkan dari hasil perdagangan atau jual beli [2] Dilakukan saling ridha. Demikian… Semoga anda tidak menjadi pengikut preman… Allahu a’lam. Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. SPONSOR hubungi: 081 326 333 328 DONASI hubungi: 087 882 888 727 REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK 🔍 Sombong Dalam Islam, Hadits Tentang Malaikat Mikail, Hadits Tentang Nikah Siri, Tanda Tanda Mau Meninggal Menurut Islam, Jawab Adzan Subuh, Doa Lupa Menaruh Barang Visited 89 times, 1 visit(s) today Post Views: 299 QRIS donasi Yufid
Bunga Bank itu BUKAN Riba, Asal Saling Ridho? Cak Nun menganggap bunga bank bukan riba, tapi ucapan terima kasih. Karena bank telah memberi utangan. Videonya ada di: https://www.youtube.com/watch?v=o4wGCWhIehg&t=129s Apakah jika saling ikhlas itu bukan riba? maaf, jk ini sya angkat, meskipun sudah basi.. Jawaban: Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Dalam setiap perseteruan antara kebenaran dan kebatilan, setan turut bermain di sana. Setan jin dan setan manusia, bekerja sama saling membisikkan kalimat indah, alibi-alibi, upaya pembenaran, untuk dijadikan senjata agar orang yang bersalah, bisa tetap bertahan dalam kesalahan dan penyimpangannya. Dalam Al-Quran Allah menceritakan, bahwa setan membisikkan kalimat indah, namun menipu. Allah berfirman, وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الْإِنْسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًا “Demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia).” (QS. al-An’am: 112) Dalam al-Quran Allah bercerita, ketika Iblis diusir oleh Allah dari surga karena tidak mau sujud kepada Adam, Iblis dendam dan dia berjanji dengan bersumpah atas nama Allah, akan mengajak semua keturunan Adam ke Neraka. Namun anehnya, sewaktu Iblis menggoda Adam agar juga diusir dari Surga, Iblis datang tidak dengan wajah garang, tidak menampakkan wajah permusuhan. Tapi dia datang dengan wajah pertemanan, bahkan dia sebut dirinya pemberi nasehat bagi Adam dan Hawa. فَوَسْوَسَ لَهُمَا الشَّيْطَانُ لِيُبْدِيَ لَهُمَا مَا وُورِيَ عَنْهُمَا مِنْ سَوْآَتِهِمَا وَقَالَ مَا نَهَاكُمَا رَبُّكُمَا عَنْ هَذِهِ الشَّجَرَةِ إِلَّا أَنْ تَكُونَا مَلَكَيْنِ أَوْ تَكُونَا مِنَ الْخَالِدِينَ  وَقَاسَمَهُمَا إِنِّي لَكُمَا لَمِنَ النَّاصِحِينَ “Syaitan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya untuk menampakkan kepada keduanya apa yang tertutup dari mereka yaitu auratnya dan syaitan berkata: “Tuhan kamu tidak melarangmu dan mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang-orang yang kekal (dalam surga)”. Dan dia (syaitan) bersumpah kepada keduanya. “Sesungguhnya saya adalah termasuk orang yang memberi nasehat kepada kamu berdua.” (QS. al-A’raf: 20 – 21) Seperti itu pula yang dilakukan oang munafik. Mereka membagun prinsip besar, yaitu prinsip serba boleh (permisif) di tengah kaum Muslimin. Mereka memberikan sejuta alasan agar sesuatu yang dilarang dalam al-Quran, menjadi boleh. Allah Ta’ala befirman, الْمُنَافِقُونَ وَالْمُنَافِقَاتُ بَعْضُهُمْ مِنْ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمُنْكَرِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمَعْرُوفِ “Orang munafik lelaki dan orang munafik perempuan, satu sama lain saling memerintahkan yang munkar dan mencegah yang makruf.” (QS. At-Taubah: 67). Bunga Bank Bukan Riba? Semua utang yang menuntut adanya kelebihan adalah riba. Ibnu Qudamah mengatakan, كل قرض شرط به أن يزيده فهو حرام بغير خلاف Semua utang yang mempersyaratkan harus dilebihkan (pelunasannya) hukumnya haram tanpa ada perbedaan (sepakat ulama). (al-Mughni, 4/390). Keterangan lain disampaikan Ibnul Mundzir, أجمعوا على أن المسلف إذا شرط على المستسلف زيادة أو هدية فاسلف على ذلك أن أخذ الزيادة على ذلك ربا Ulama sepakat bahwa apabila orang yang memberi utang mempersyaratkan pihak yang dihutangi harus memberi tambahan atau hadiah, kemudian dilakukan transaksi utang piutang dengan kesepakatan itu, maka mengambil tambahan tadi statusnya riba. (al-Ijma’ , hlm. 90). Semua pengajuan kredit di bank, ada ketentuan harus membayar bunga sekian persen perbulan. Dan sangat jelas ini riba, berdasar sepakat ulama. Bunga atas pinjaman ini adalah manfaat yang didapatkan pihak bank karena memberikan dana utangan ke nasabah. Kita memang tidak bisa mendapatkan keterangan tentang bunga bank di buku-buku klasik. Karena ketika itu belum ada bank. Tapi bisa kita dapatkan dari pernyataan ulama kontemporer yang menjumpai bank. Salah satu kesepakatan mereka dinyatakan dalam kitab Ahkam al-Mal al-Haram, “Muktamar Majma’ al-Buhuts al-Islamiyah di Kairo, tahun 1965, hingga muktamar tertinggi di Mekah, yang dihadiri lebih dari 300 ulama besar, menetapkan bahwa semua bunga bank adalah haram.” (Ahkam al-Mal al-Haram, hlm. 168). Bukankah Bunga itu Saling Ridha? Benar, riba itu saling ridha. Dan saling ridha dalam hal ini tidak mengubah hukum riba menjadi halal. Sahabat Abdullah bin Sallam radhiyallahu ‘anhu pernah berpesan kepada Abu Burdah ketika beliau berkunjung ke rumahnya Abdullah, إِذَا كَانَ لَكَ عَلَى رَجُلٍ حَقٌّ فَأَهْدَى إِلَيْكَ حِمْلَ تِبْنٍ أَوْ حِمْلَ شَعِيرٍ أَوْ حِمْلَ قَتٍّ فَلا تَأْخُذْهُ فَإِنَّهُ رِبًا “Apabila kamu mengutangi orang lain, kemudian orang yang diutangi memberikan fasilitas membawakan jerami, gandum, atau pakan ternak maka janganlah menerimanya, karena itu riba.” (HR. Bukhari 3603) Judi juga saling ridha… sebelum bermain, para penjudi bersepakat, siapa yang kalah, harus menyerahkan hartanya. Tapi saling ridha tidak menyebabkan judi menjadi halal. Sogok dan gratifikasi juga saling ridha… sebelum menang tender, vendor sudah mengikat perjanjian dengan oknum pejabat, akan ada bagi hasil setelah proyek selesai. Tidak semua akad menjadi halal karena saling ridha. Yang dipersyaratkan saling ridha adalah jual beli atau perdagangan. Agar hasilnya halal, disyaratkan pelaku akad harus saling ridha. Allah berfirman, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلَّا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian memakan harta orang lain diantara kalian dengan cara batil, kecuali melalui perdagangan yang saling ridha diantara kalian. (QS. an-Nisa: 29) Dalam ayat di atas, ada 2 syarat agar harta yang kita makan tidak terhitung sebagai harta yang bathil: [1] Didapatkan dari hasil perdagangan atau jual beli [2] Dilakukan saling ridha. Demikian… Semoga anda tidak menjadi pengikut preman… Allahu a’lam. Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. SPONSOR hubungi: 081 326 333 328 DONASI hubungi: 087 882 888 727 REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK 🔍 Sombong Dalam Islam, Hadits Tentang Malaikat Mikail, Hadits Tentang Nikah Siri, Tanda Tanda Mau Meninggal Menurut Islam, Jawab Adzan Subuh, Doa Lupa Menaruh Barang Visited 89 times, 1 visit(s) today Post Views: 299 QRIS donasi Yufid


<iframe src="https://w.soundcloud.com/player/?url=https%3A//api.soundcloud.com/tracks/348659112&amp;color=d5265f&amp;auto_play=false&amp;show_artwork=false&amp;hide_related=true&amp;show_comments=false&amp;show_user=false&amp;show_reposts=false" width="100%" height="166" frameborder="no" scrolling="no"></iframe> Bunga Bank itu BUKAN Riba, Asal Saling Ridho? Cak Nun menganggap bunga bank bukan riba, tapi ucapan terima kasih. Karena bank telah memberi utangan. Videonya ada di: https://www.youtube.com/watch?v=o4wGCWhIehg&t=129s Apakah jika saling ikhlas itu bukan riba? maaf, jk ini sya angkat, meskipun sudah basi.. Jawaban: Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Dalam setiap perseteruan antara kebenaran dan kebatilan, setan turut bermain di sana. Setan jin dan setan manusia, bekerja sama saling membisikkan kalimat indah, alibi-alibi, upaya pembenaran, untuk dijadikan senjata agar orang yang bersalah, bisa tetap bertahan dalam kesalahan dan penyimpangannya. Dalam Al-Quran Allah menceritakan, bahwa setan membisikkan kalimat indah, namun menipu. Allah berfirman, وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الْإِنْسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًا “Demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia).” (QS. al-An’am: 112) Dalam al-Quran Allah bercerita, ketika Iblis diusir oleh Allah dari surga karena tidak mau sujud kepada Adam, Iblis dendam dan dia berjanji dengan bersumpah atas nama Allah, akan mengajak semua keturunan Adam ke Neraka. Namun anehnya, sewaktu Iblis menggoda Adam agar juga diusir dari Surga, Iblis datang tidak dengan wajah garang, tidak menampakkan wajah permusuhan. Tapi dia datang dengan wajah pertemanan, bahkan dia sebut dirinya pemberi nasehat bagi Adam dan Hawa. فَوَسْوَسَ لَهُمَا الشَّيْطَانُ لِيُبْدِيَ لَهُمَا مَا وُورِيَ عَنْهُمَا مِنْ سَوْآَتِهِمَا وَقَالَ مَا نَهَاكُمَا رَبُّكُمَا عَنْ هَذِهِ الشَّجَرَةِ إِلَّا أَنْ تَكُونَا مَلَكَيْنِ أَوْ تَكُونَا مِنَ الْخَالِدِينَ  وَقَاسَمَهُمَا إِنِّي لَكُمَا لَمِنَ النَّاصِحِينَ “Syaitan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya untuk menampakkan kepada keduanya apa yang tertutup dari mereka yaitu auratnya dan syaitan berkata: “Tuhan kamu tidak melarangmu dan mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang-orang yang kekal (dalam surga)”. Dan dia (syaitan) bersumpah kepada keduanya. “Sesungguhnya saya adalah termasuk orang yang memberi nasehat kepada kamu berdua.” (QS. al-A’raf: 20 – 21) Seperti itu pula yang dilakukan oang munafik. Mereka membagun prinsip besar, yaitu prinsip serba boleh (permisif) di tengah kaum Muslimin. Mereka memberikan sejuta alasan agar sesuatu yang dilarang dalam al-Quran, menjadi boleh. Allah Ta’ala befirman, الْمُنَافِقُونَ وَالْمُنَافِقَاتُ بَعْضُهُمْ مِنْ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمُنْكَرِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمَعْرُوفِ “Orang munafik lelaki dan orang munafik perempuan, satu sama lain saling memerintahkan yang munkar dan mencegah yang makruf.” (QS. At-Taubah: 67). Bunga Bank Bukan Riba? Semua utang yang menuntut adanya kelebihan adalah riba. Ibnu Qudamah mengatakan, كل قرض شرط به أن يزيده فهو حرام بغير خلاف Semua utang yang mempersyaratkan harus dilebihkan (pelunasannya) hukumnya haram tanpa ada perbedaan (sepakat ulama). (al-Mughni, 4/390). Keterangan lain disampaikan Ibnul Mundzir, أجمعوا على أن المسلف إذا شرط على المستسلف زيادة أو هدية فاسلف على ذلك أن أخذ الزيادة على ذلك ربا Ulama sepakat bahwa apabila orang yang memberi utang mempersyaratkan pihak yang dihutangi harus memberi tambahan atau hadiah, kemudian dilakukan transaksi utang piutang dengan kesepakatan itu, maka mengambil tambahan tadi statusnya riba. (al-Ijma’ , hlm. 90). Semua pengajuan kredit di bank, ada ketentuan harus membayar bunga sekian persen perbulan. Dan sangat jelas ini riba, berdasar sepakat ulama. Bunga atas pinjaman ini adalah manfaat yang didapatkan pihak bank karena memberikan dana utangan ke nasabah. Kita memang tidak bisa mendapatkan keterangan tentang bunga bank di buku-buku klasik. Karena ketika itu belum ada bank. Tapi bisa kita dapatkan dari pernyataan ulama kontemporer yang menjumpai bank. Salah satu kesepakatan mereka dinyatakan dalam kitab Ahkam al-Mal al-Haram, “Muktamar Majma’ al-Buhuts al-Islamiyah di Kairo, tahun 1965, hingga muktamar tertinggi di Mekah, yang dihadiri lebih dari 300 ulama besar, menetapkan bahwa semua bunga bank adalah haram.” (Ahkam al-Mal al-Haram, hlm. 168). Bukankah Bunga itu Saling Ridha? Benar, riba itu saling ridha. Dan saling ridha dalam hal ini tidak mengubah hukum riba menjadi halal. Sahabat Abdullah bin Sallam radhiyallahu ‘anhu pernah berpesan kepada Abu Burdah ketika beliau berkunjung ke rumahnya Abdullah, إِذَا كَانَ لَكَ عَلَى رَجُلٍ حَقٌّ فَأَهْدَى إِلَيْكَ حِمْلَ تِبْنٍ أَوْ حِمْلَ شَعِيرٍ أَوْ حِمْلَ قَتٍّ فَلا تَأْخُذْهُ فَإِنَّهُ رِبًا “Apabila kamu mengutangi orang lain, kemudian orang yang diutangi memberikan fasilitas membawakan jerami, gandum, atau pakan ternak maka janganlah menerimanya, karena itu riba.” (HR. Bukhari 3603) Judi juga saling ridha… sebelum bermain, para penjudi bersepakat, siapa yang kalah, harus menyerahkan hartanya. Tapi saling ridha tidak menyebabkan judi menjadi halal. Sogok dan gratifikasi juga saling ridha… sebelum menang tender, vendor sudah mengikat perjanjian dengan oknum pejabat, akan ada bagi hasil setelah proyek selesai. Tidak semua akad menjadi halal karena saling ridha. Yang dipersyaratkan saling ridha adalah jual beli atau perdagangan. Agar hasilnya halal, disyaratkan pelaku akad harus saling ridha. Allah berfirman, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلَّا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian memakan harta orang lain diantara kalian dengan cara batil, kecuali melalui perdagangan yang saling ridha diantara kalian. (QS. an-Nisa: 29) Dalam ayat di atas, ada 2 syarat agar harta yang kita makan tidak terhitung sebagai harta yang bathil: [1] Didapatkan dari hasil perdagangan atau jual beli [2] Dilakukan saling ridha. Demikian… Semoga anda tidak menjadi pengikut preman… Allahu a’lam. Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. SPONSOR hubungi: 081 326 333 328 DONASI hubungi: 087 882 888 727 REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK 🔍 Sombong Dalam Islam, Hadits Tentang Malaikat Mikail, Hadits Tentang Nikah Siri, Tanda Tanda Mau Meninggal Menurut Islam, Jawab Adzan Subuh, Doa Lupa Menaruh Barang Visited 89 times, 1 visit(s) today Post Views: 299 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Faedah Sirah Nabi: Menikahi Khadijah

Khadijah binti Khuwailid radhiyallahu ‘anha adalah wanita yang terhormat dan terpandang di kalangan Quraisy, dari garis keturunan yang mulia. Dia adalah perempuan yang terkaya di kalangan Quraisy, seorang pedagang yang sering memakai jasa laki-laki untuk menjalankan perniagaannya dengan imbalan upah. Ketika berita tentang kejujuran dan amanah serta keluhuran budi pekerti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai kepada Khadijah, maka dia pun tertarik menawarkan kepada beliau untuk menjalankan perniagaan ke Syam. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menerima tawaran itu, dan beliau berangkat dengan ditemani oleh hamba sahaya milik Khadijah bernama Maisarah. Selama dalam perjalanan, Maisarah banyak menyaksikan peristiwa-peristiwa aneh yang mengagumkan bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dia juga memperhatikan budi pekerti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia, ketinggian akhlak serta kejujurannya. Semua itu ia ceritakan kepada Khadijah sekembalinya dari misi perdagangan yang menguntungkan itu. Setelah semua itu didengar Khadijah, yang sebelumnya dia telah banyak mendengar dari orang lain, akhirnya Khadijah tertarik untuk menikah dengannya. Pada waktu itu usia Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam 25 tahun (sebagaimana perkataan jumhur) dan Khadijah 40 tahun (sebagaimana pendapat yang masyhur). Namun yang dikuatkan oleh Dr. Akram Dhiya’ Al-‘Umari bahwa usia Khadijah saat menikah dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah 28 tahun sebagaimana riwayat dari Ibnu Ishaq. Karena ada dua anak laki-laki dan empat anak perempuan yang dilahirkan dari pernikahan Khadijah radhiyallahu ‘anha dan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan sangat sulit diharapkan enam anak tersebut dilahirkan di usia Khadijah 40 tahun. Karena biasa  mendekati usia 50 tahun sudah sangat sulit memiliki keturunan lagi apalagi banyak. Dua anak laki-laki tersebut adalah Qasim dan ‘Abdullah. Sedangkan empat anak perempuan adalah Zainab, Ruqayyah, Ummu Kultsum, dan Fathimah. Qasim dan ‘Abdullah meninggal dunia ketika kecil. Sedangkan anak perempuan beliau semuanya memeluk Islam. Namun semua puteri beliau meninggal dunia semasa hidup beliau selain Fathimah. Fathimah meninggal dunia enam bulan setelah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat. Sebagian besar riwayat menyebutkan bahwa yang melangsungkan akad nikah adalah paman Khadijah yang bernama Amr bin Sa’ad. Ada juga riwayat yang menyebutkan bahwa sebagai wali nikahnya adalah ayahnya, Khuwailid. Sebelum menikah dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Khadijah telah menikah dua kali. Suaminya yang pertama bernama ‘Atiq bin ‘Aidz Al-Makhzumi. Suami yang kedua bernama Abu Halah bin An-Nabbasy At-Tamimi. Khadijah meninggal dunia tiga tahun sebelum Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hijrah ke Madinah dan meninggalnya sebelum peristiwa Isra’ dan Mi’raj. Sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Waqidi, Khadijah meninggal dalam usia 65 tahun.   Pelajaran Penting Boleh bagi wanita berdagang. Akhlak dan budi pekerti yang baik jadi faktor utama seseorang bisa sukses dalam bisnis dan berhasil menarik kepercayaan, sampai menarik hati yang lainnya untuk menikah. Seorang wanita harus dinikahkan oleh walinya. Seorang laki-laki hendaklah mencari wanita shalihah (yang afifah, menjaga diri seperti Khadijah). Begitu juga wanita hendaklah mencari laki-laki yang shalih sebagai pendamping dan imamnya. Dianjurkan menikah di usia muda. Banyak anak itu lebih baik. Tidak masalah menikahi wanita yang lebih tua. Tidak mengapa pria bujang menikahi janda.   Syarat Wanita Bekerja Syaikh Shalih bin Fauzan bin ‘Abdillah Al-Fauzan hafizhahullah dalam kitab Tambihaat ‘ala Ahkam Takhtash bi Al-Mu’minaat (hlm. 12) mengenai syarat wanita boleh bekerja di luar rumah sebagai berikut: Pekerjaan tersebut adalah pekerjaan yang ia butuhkan atau pekerjaan yang dibutuhkan masyarakat karena tidak mungkin tergantikan oleh laki-laki. Bekerja di luar rumah dilakukan setelah pekerjaan pokok di rumah beres. Pekerjaan yang dilakukan berada di lingkungan para wanita (jauh dari interaksi dengan pria) seperti sebagai pengajar bagi murid-murid perempuan dan merawat pasien wanita. Namun perlu dipahami bahwa sebaik-baik tempat bagi wanita adalah di rumahnya. Allah Ta’ala berfirman, “Dan tinggallah kalian di dalam rumah-rumah kalian dan janganlah kalian berdandan sebagaimana dandan ala jahiliah terdahulu.” (QS Al-Ahzab: 33).   Keutamaan Memiliki Banyak Anak Dari Ma’qil bin Yasar radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa seseorang pernah mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas ia mengatakan pada beliau bahwa ia tertarik pada wanita yang punya kedudukan dan cantik, namun sayangnya ia mandul. Lantas ia bertanya bolehkah untuk menikahi wanita tersebut. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Menikahlah kalian dengan yang penyayang dan punya banyak keturunan. Karena aku begitu bangga dengan banyaknya umatku pada hari kiamat.” (HR. Abu Daud, no. 2050 dan An-Nasa’i, no. 3229. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan.) Imam Abu Hamid Al-Ghazali dalam kitab Ihya ‘Ulum Ad-Diin berkata, “Berusaha untuk mendapatkan keturunan sudah dinilai sebagai suatu bentuk ibadah dilihat dari empat sisi: Menjalankan perintah Allah agar manusia tetap memiliki keturunan. Berharap dicintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam karena beliau akan bangga dengan banyaknya keturunannya pada hari kiamat. Mengharap berkah dari doa baik dari anak shalih setelah itu. Mengharapkan syafa’at dari anak yang meninggal dunia ketika kecil sebelum orang tuanya.” Semoga bermanfaat dan menjadi pelajaran berharga.   Referensi: Ar-Rahiq Al-Makhtum. Cetakan kesepuluh, Tahun 1420 H. Shafiyurrahman Al-Mubarakfuri. Penerbit Darul Wafa’ dan Dar At-Tadmuriyah. As-Sirah An-Nabawiyyah Ash-Shahihah. Cetakan ketujuh, Tahun 1434 H. Dr. Akram Dhiya’ Al-‘Umari. Penerbit Al-‘Ubaikan. hlm. 135-137. As-Sirah An-Nabawiyyah fi Dhau’ Al-Mashadir Al-Ashliyyah. Cetakan ketiga, Tahun 1424 H. Prof. Dr. Mahdi Rizqullah Ahmad. Penerbit Dar Zidni. Fiqh As-Sirah An-Nabawiyyah. Cetakan ke-24, Tahun 1436 H. Dr. Muhammad Sa’id Ramdhan Al-Buthi. Penerbit Darus Salam. Fikih Sirah Nabawiyah. Cetakan kelima, 2016. Prof. Dr. Zaid bin Abdul Karim Zaid. Penerbit Darus Sunnah. Tambihaat ‘ala Ahkam Takhtash bi Al-Mu’minaat. Cetakan kelima, tahun 1429 H. Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan bin ‘Abdillah Al-Fauzan. Penerbit Darul Ifta’. — Disusun di Perpus Rumaysho, 30 Muharram 1439 H,  Jumat siang Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com   Tagsfaedah sirah nabi khadijah nikah sirah nabi

Faedah Sirah Nabi: Menikahi Khadijah

Khadijah binti Khuwailid radhiyallahu ‘anha adalah wanita yang terhormat dan terpandang di kalangan Quraisy, dari garis keturunan yang mulia. Dia adalah perempuan yang terkaya di kalangan Quraisy, seorang pedagang yang sering memakai jasa laki-laki untuk menjalankan perniagaannya dengan imbalan upah. Ketika berita tentang kejujuran dan amanah serta keluhuran budi pekerti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai kepada Khadijah, maka dia pun tertarik menawarkan kepada beliau untuk menjalankan perniagaan ke Syam. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menerima tawaran itu, dan beliau berangkat dengan ditemani oleh hamba sahaya milik Khadijah bernama Maisarah. Selama dalam perjalanan, Maisarah banyak menyaksikan peristiwa-peristiwa aneh yang mengagumkan bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dia juga memperhatikan budi pekerti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia, ketinggian akhlak serta kejujurannya. Semua itu ia ceritakan kepada Khadijah sekembalinya dari misi perdagangan yang menguntungkan itu. Setelah semua itu didengar Khadijah, yang sebelumnya dia telah banyak mendengar dari orang lain, akhirnya Khadijah tertarik untuk menikah dengannya. Pada waktu itu usia Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam 25 tahun (sebagaimana perkataan jumhur) dan Khadijah 40 tahun (sebagaimana pendapat yang masyhur). Namun yang dikuatkan oleh Dr. Akram Dhiya’ Al-‘Umari bahwa usia Khadijah saat menikah dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah 28 tahun sebagaimana riwayat dari Ibnu Ishaq. Karena ada dua anak laki-laki dan empat anak perempuan yang dilahirkan dari pernikahan Khadijah radhiyallahu ‘anha dan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan sangat sulit diharapkan enam anak tersebut dilahirkan di usia Khadijah 40 tahun. Karena biasa  mendekati usia 50 tahun sudah sangat sulit memiliki keturunan lagi apalagi banyak. Dua anak laki-laki tersebut adalah Qasim dan ‘Abdullah. Sedangkan empat anak perempuan adalah Zainab, Ruqayyah, Ummu Kultsum, dan Fathimah. Qasim dan ‘Abdullah meninggal dunia ketika kecil. Sedangkan anak perempuan beliau semuanya memeluk Islam. Namun semua puteri beliau meninggal dunia semasa hidup beliau selain Fathimah. Fathimah meninggal dunia enam bulan setelah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat. Sebagian besar riwayat menyebutkan bahwa yang melangsungkan akad nikah adalah paman Khadijah yang bernama Amr bin Sa’ad. Ada juga riwayat yang menyebutkan bahwa sebagai wali nikahnya adalah ayahnya, Khuwailid. Sebelum menikah dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Khadijah telah menikah dua kali. Suaminya yang pertama bernama ‘Atiq bin ‘Aidz Al-Makhzumi. Suami yang kedua bernama Abu Halah bin An-Nabbasy At-Tamimi. Khadijah meninggal dunia tiga tahun sebelum Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hijrah ke Madinah dan meninggalnya sebelum peristiwa Isra’ dan Mi’raj. Sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Waqidi, Khadijah meninggal dalam usia 65 tahun.   Pelajaran Penting Boleh bagi wanita berdagang. Akhlak dan budi pekerti yang baik jadi faktor utama seseorang bisa sukses dalam bisnis dan berhasil menarik kepercayaan, sampai menarik hati yang lainnya untuk menikah. Seorang wanita harus dinikahkan oleh walinya. Seorang laki-laki hendaklah mencari wanita shalihah (yang afifah, menjaga diri seperti Khadijah). Begitu juga wanita hendaklah mencari laki-laki yang shalih sebagai pendamping dan imamnya. Dianjurkan menikah di usia muda. Banyak anak itu lebih baik. Tidak masalah menikahi wanita yang lebih tua. Tidak mengapa pria bujang menikahi janda.   Syarat Wanita Bekerja Syaikh Shalih bin Fauzan bin ‘Abdillah Al-Fauzan hafizhahullah dalam kitab Tambihaat ‘ala Ahkam Takhtash bi Al-Mu’minaat (hlm. 12) mengenai syarat wanita boleh bekerja di luar rumah sebagai berikut: Pekerjaan tersebut adalah pekerjaan yang ia butuhkan atau pekerjaan yang dibutuhkan masyarakat karena tidak mungkin tergantikan oleh laki-laki. Bekerja di luar rumah dilakukan setelah pekerjaan pokok di rumah beres. Pekerjaan yang dilakukan berada di lingkungan para wanita (jauh dari interaksi dengan pria) seperti sebagai pengajar bagi murid-murid perempuan dan merawat pasien wanita. Namun perlu dipahami bahwa sebaik-baik tempat bagi wanita adalah di rumahnya. Allah Ta’ala berfirman, “Dan tinggallah kalian di dalam rumah-rumah kalian dan janganlah kalian berdandan sebagaimana dandan ala jahiliah terdahulu.” (QS Al-Ahzab: 33).   Keutamaan Memiliki Banyak Anak Dari Ma’qil bin Yasar radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa seseorang pernah mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas ia mengatakan pada beliau bahwa ia tertarik pada wanita yang punya kedudukan dan cantik, namun sayangnya ia mandul. Lantas ia bertanya bolehkah untuk menikahi wanita tersebut. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Menikahlah kalian dengan yang penyayang dan punya banyak keturunan. Karena aku begitu bangga dengan banyaknya umatku pada hari kiamat.” (HR. Abu Daud, no. 2050 dan An-Nasa’i, no. 3229. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan.) Imam Abu Hamid Al-Ghazali dalam kitab Ihya ‘Ulum Ad-Diin berkata, “Berusaha untuk mendapatkan keturunan sudah dinilai sebagai suatu bentuk ibadah dilihat dari empat sisi: Menjalankan perintah Allah agar manusia tetap memiliki keturunan. Berharap dicintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam karena beliau akan bangga dengan banyaknya keturunannya pada hari kiamat. Mengharap berkah dari doa baik dari anak shalih setelah itu. Mengharapkan syafa’at dari anak yang meninggal dunia ketika kecil sebelum orang tuanya.” Semoga bermanfaat dan menjadi pelajaran berharga.   Referensi: Ar-Rahiq Al-Makhtum. Cetakan kesepuluh, Tahun 1420 H. Shafiyurrahman Al-Mubarakfuri. Penerbit Darul Wafa’ dan Dar At-Tadmuriyah. As-Sirah An-Nabawiyyah Ash-Shahihah. Cetakan ketujuh, Tahun 1434 H. Dr. Akram Dhiya’ Al-‘Umari. Penerbit Al-‘Ubaikan. hlm. 135-137. As-Sirah An-Nabawiyyah fi Dhau’ Al-Mashadir Al-Ashliyyah. Cetakan ketiga, Tahun 1424 H. Prof. Dr. Mahdi Rizqullah Ahmad. Penerbit Dar Zidni. Fiqh As-Sirah An-Nabawiyyah. Cetakan ke-24, Tahun 1436 H. Dr. Muhammad Sa’id Ramdhan Al-Buthi. Penerbit Darus Salam. Fikih Sirah Nabawiyah. Cetakan kelima, 2016. Prof. Dr. Zaid bin Abdul Karim Zaid. Penerbit Darus Sunnah. Tambihaat ‘ala Ahkam Takhtash bi Al-Mu’minaat. Cetakan kelima, tahun 1429 H. Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan bin ‘Abdillah Al-Fauzan. Penerbit Darul Ifta’. — Disusun di Perpus Rumaysho, 30 Muharram 1439 H,  Jumat siang Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com   Tagsfaedah sirah nabi khadijah nikah sirah nabi
Khadijah binti Khuwailid radhiyallahu ‘anha adalah wanita yang terhormat dan terpandang di kalangan Quraisy, dari garis keturunan yang mulia. Dia adalah perempuan yang terkaya di kalangan Quraisy, seorang pedagang yang sering memakai jasa laki-laki untuk menjalankan perniagaannya dengan imbalan upah. Ketika berita tentang kejujuran dan amanah serta keluhuran budi pekerti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai kepada Khadijah, maka dia pun tertarik menawarkan kepada beliau untuk menjalankan perniagaan ke Syam. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menerima tawaran itu, dan beliau berangkat dengan ditemani oleh hamba sahaya milik Khadijah bernama Maisarah. Selama dalam perjalanan, Maisarah banyak menyaksikan peristiwa-peristiwa aneh yang mengagumkan bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dia juga memperhatikan budi pekerti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia, ketinggian akhlak serta kejujurannya. Semua itu ia ceritakan kepada Khadijah sekembalinya dari misi perdagangan yang menguntungkan itu. Setelah semua itu didengar Khadijah, yang sebelumnya dia telah banyak mendengar dari orang lain, akhirnya Khadijah tertarik untuk menikah dengannya. Pada waktu itu usia Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam 25 tahun (sebagaimana perkataan jumhur) dan Khadijah 40 tahun (sebagaimana pendapat yang masyhur). Namun yang dikuatkan oleh Dr. Akram Dhiya’ Al-‘Umari bahwa usia Khadijah saat menikah dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah 28 tahun sebagaimana riwayat dari Ibnu Ishaq. Karena ada dua anak laki-laki dan empat anak perempuan yang dilahirkan dari pernikahan Khadijah radhiyallahu ‘anha dan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan sangat sulit diharapkan enam anak tersebut dilahirkan di usia Khadijah 40 tahun. Karena biasa  mendekati usia 50 tahun sudah sangat sulit memiliki keturunan lagi apalagi banyak. Dua anak laki-laki tersebut adalah Qasim dan ‘Abdullah. Sedangkan empat anak perempuan adalah Zainab, Ruqayyah, Ummu Kultsum, dan Fathimah. Qasim dan ‘Abdullah meninggal dunia ketika kecil. Sedangkan anak perempuan beliau semuanya memeluk Islam. Namun semua puteri beliau meninggal dunia semasa hidup beliau selain Fathimah. Fathimah meninggal dunia enam bulan setelah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat. Sebagian besar riwayat menyebutkan bahwa yang melangsungkan akad nikah adalah paman Khadijah yang bernama Amr bin Sa’ad. Ada juga riwayat yang menyebutkan bahwa sebagai wali nikahnya adalah ayahnya, Khuwailid. Sebelum menikah dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Khadijah telah menikah dua kali. Suaminya yang pertama bernama ‘Atiq bin ‘Aidz Al-Makhzumi. Suami yang kedua bernama Abu Halah bin An-Nabbasy At-Tamimi. Khadijah meninggal dunia tiga tahun sebelum Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hijrah ke Madinah dan meninggalnya sebelum peristiwa Isra’ dan Mi’raj. Sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Waqidi, Khadijah meninggal dalam usia 65 tahun.   Pelajaran Penting Boleh bagi wanita berdagang. Akhlak dan budi pekerti yang baik jadi faktor utama seseorang bisa sukses dalam bisnis dan berhasil menarik kepercayaan, sampai menarik hati yang lainnya untuk menikah. Seorang wanita harus dinikahkan oleh walinya. Seorang laki-laki hendaklah mencari wanita shalihah (yang afifah, menjaga diri seperti Khadijah). Begitu juga wanita hendaklah mencari laki-laki yang shalih sebagai pendamping dan imamnya. Dianjurkan menikah di usia muda. Banyak anak itu lebih baik. Tidak masalah menikahi wanita yang lebih tua. Tidak mengapa pria bujang menikahi janda.   Syarat Wanita Bekerja Syaikh Shalih bin Fauzan bin ‘Abdillah Al-Fauzan hafizhahullah dalam kitab Tambihaat ‘ala Ahkam Takhtash bi Al-Mu’minaat (hlm. 12) mengenai syarat wanita boleh bekerja di luar rumah sebagai berikut: Pekerjaan tersebut adalah pekerjaan yang ia butuhkan atau pekerjaan yang dibutuhkan masyarakat karena tidak mungkin tergantikan oleh laki-laki. Bekerja di luar rumah dilakukan setelah pekerjaan pokok di rumah beres. Pekerjaan yang dilakukan berada di lingkungan para wanita (jauh dari interaksi dengan pria) seperti sebagai pengajar bagi murid-murid perempuan dan merawat pasien wanita. Namun perlu dipahami bahwa sebaik-baik tempat bagi wanita adalah di rumahnya. Allah Ta’ala berfirman, “Dan tinggallah kalian di dalam rumah-rumah kalian dan janganlah kalian berdandan sebagaimana dandan ala jahiliah terdahulu.” (QS Al-Ahzab: 33).   Keutamaan Memiliki Banyak Anak Dari Ma’qil bin Yasar radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa seseorang pernah mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas ia mengatakan pada beliau bahwa ia tertarik pada wanita yang punya kedudukan dan cantik, namun sayangnya ia mandul. Lantas ia bertanya bolehkah untuk menikahi wanita tersebut. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Menikahlah kalian dengan yang penyayang dan punya banyak keturunan. Karena aku begitu bangga dengan banyaknya umatku pada hari kiamat.” (HR. Abu Daud, no. 2050 dan An-Nasa’i, no. 3229. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan.) Imam Abu Hamid Al-Ghazali dalam kitab Ihya ‘Ulum Ad-Diin berkata, “Berusaha untuk mendapatkan keturunan sudah dinilai sebagai suatu bentuk ibadah dilihat dari empat sisi: Menjalankan perintah Allah agar manusia tetap memiliki keturunan. Berharap dicintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam karena beliau akan bangga dengan banyaknya keturunannya pada hari kiamat. Mengharap berkah dari doa baik dari anak shalih setelah itu. Mengharapkan syafa’at dari anak yang meninggal dunia ketika kecil sebelum orang tuanya.” Semoga bermanfaat dan menjadi pelajaran berharga.   Referensi: Ar-Rahiq Al-Makhtum. Cetakan kesepuluh, Tahun 1420 H. Shafiyurrahman Al-Mubarakfuri. Penerbit Darul Wafa’ dan Dar At-Tadmuriyah. As-Sirah An-Nabawiyyah Ash-Shahihah. Cetakan ketujuh, Tahun 1434 H. Dr. Akram Dhiya’ Al-‘Umari. Penerbit Al-‘Ubaikan. hlm. 135-137. As-Sirah An-Nabawiyyah fi Dhau’ Al-Mashadir Al-Ashliyyah. Cetakan ketiga, Tahun 1424 H. Prof. Dr. Mahdi Rizqullah Ahmad. Penerbit Dar Zidni. Fiqh As-Sirah An-Nabawiyyah. Cetakan ke-24, Tahun 1436 H. Dr. Muhammad Sa’id Ramdhan Al-Buthi. Penerbit Darus Salam. Fikih Sirah Nabawiyah. Cetakan kelima, 2016. Prof. Dr. Zaid bin Abdul Karim Zaid. Penerbit Darus Sunnah. Tambihaat ‘ala Ahkam Takhtash bi Al-Mu’minaat. Cetakan kelima, tahun 1429 H. Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan bin ‘Abdillah Al-Fauzan. Penerbit Darul Ifta’. — Disusun di Perpus Rumaysho, 30 Muharram 1439 H,  Jumat siang Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com   Tagsfaedah sirah nabi khadijah nikah sirah nabi


Khadijah binti Khuwailid radhiyallahu ‘anha adalah wanita yang terhormat dan terpandang di kalangan Quraisy, dari garis keturunan yang mulia. Dia adalah perempuan yang terkaya di kalangan Quraisy, seorang pedagang yang sering memakai jasa laki-laki untuk menjalankan perniagaannya dengan imbalan upah. Ketika berita tentang kejujuran dan amanah serta keluhuran budi pekerti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai kepada Khadijah, maka dia pun tertarik menawarkan kepada beliau untuk menjalankan perniagaan ke Syam. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menerima tawaran itu, dan beliau berangkat dengan ditemani oleh hamba sahaya milik Khadijah bernama Maisarah. Selama dalam perjalanan, Maisarah banyak menyaksikan peristiwa-peristiwa aneh yang mengagumkan bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dia juga memperhatikan budi pekerti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia, ketinggian akhlak serta kejujurannya. Semua itu ia ceritakan kepada Khadijah sekembalinya dari misi perdagangan yang menguntungkan itu. Setelah semua itu didengar Khadijah, yang sebelumnya dia telah banyak mendengar dari orang lain, akhirnya Khadijah tertarik untuk menikah dengannya. Pada waktu itu usia Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam 25 tahun (sebagaimana perkataan jumhur) dan Khadijah 40 tahun (sebagaimana pendapat yang masyhur). Namun yang dikuatkan oleh Dr. Akram Dhiya’ Al-‘Umari bahwa usia Khadijah saat menikah dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah 28 tahun sebagaimana riwayat dari Ibnu Ishaq. Karena ada dua anak laki-laki dan empat anak perempuan yang dilahirkan dari pernikahan Khadijah radhiyallahu ‘anha dan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan sangat sulit diharapkan enam anak tersebut dilahirkan di usia Khadijah 40 tahun. Karena biasa  mendekati usia 50 tahun sudah sangat sulit memiliki keturunan lagi apalagi banyak. Dua anak laki-laki tersebut adalah Qasim dan ‘Abdullah. Sedangkan empat anak perempuan adalah Zainab, Ruqayyah, Ummu Kultsum, dan Fathimah. Qasim dan ‘Abdullah meninggal dunia ketika kecil. Sedangkan anak perempuan beliau semuanya memeluk Islam. Namun semua puteri beliau meninggal dunia semasa hidup beliau selain Fathimah. Fathimah meninggal dunia enam bulan setelah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat. Sebagian besar riwayat menyebutkan bahwa yang melangsungkan akad nikah adalah paman Khadijah yang bernama Amr bin Sa’ad. Ada juga riwayat yang menyebutkan bahwa sebagai wali nikahnya adalah ayahnya, Khuwailid. Sebelum menikah dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Khadijah telah menikah dua kali. Suaminya yang pertama bernama ‘Atiq bin ‘Aidz Al-Makhzumi. Suami yang kedua bernama Abu Halah bin An-Nabbasy At-Tamimi. Khadijah meninggal dunia tiga tahun sebelum Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hijrah ke Madinah dan meninggalnya sebelum peristiwa Isra’ dan Mi’raj. Sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Waqidi, Khadijah meninggal dalam usia 65 tahun.   Pelajaran Penting Boleh bagi wanita berdagang. Akhlak dan budi pekerti yang baik jadi faktor utama seseorang bisa sukses dalam bisnis dan berhasil menarik kepercayaan, sampai menarik hati yang lainnya untuk menikah. Seorang wanita harus dinikahkan oleh walinya. Seorang laki-laki hendaklah mencari wanita shalihah (yang afifah, menjaga diri seperti Khadijah). Begitu juga wanita hendaklah mencari laki-laki yang shalih sebagai pendamping dan imamnya. Dianjurkan menikah di usia muda. Banyak anak itu lebih baik. Tidak masalah menikahi wanita yang lebih tua. Tidak mengapa pria bujang menikahi janda.   Syarat Wanita Bekerja Syaikh Shalih bin Fauzan bin ‘Abdillah Al-Fauzan hafizhahullah dalam kitab Tambihaat ‘ala Ahkam Takhtash bi Al-Mu’minaat (hlm. 12) mengenai syarat wanita boleh bekerja di luar rumah sebagai berikut: Pekerjaan tersebut adalah pekerjaan yang ia butuhkan atau pekerjaan yang dibutuhkan masyarakat karena tidak mungkin tergantikan oleh laki-laki. Bekerja di luar rumah dilakukan setelah pekerjaan pokok di rumah beres. Pekerjaan yang dilakukan berada di lingkungan para wanita (jauh dari interaksi dengan pria) seperti sebagai pengajar bagi murid-murid perempuan dan merawat pasien wanita. Namun perlu dipahami bahwa sebaik-baik tempat bagi wanita adalah di rumahnya. Allah Ta’ala berfirman, “Dan tinggallah kalian di dalam rumah-rumah kalian dan janganlah kalian berdandan sebagaimana dandan ala jahiliah terdahulu.” (QS Al-Ahzab: 33).   Keutamaan Memiliki Banyak Anak Dari Ma’qil bin Yasar radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa seseorang pernah mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas ia mengatakan pada beliau bahwa ia tertarik pada wanita yang punya kedudukan dan cantik, namun sayangnya ia mandul. Lantas ia bertanya bolehkah untuk menikahi wanita tersebut. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Menikahlah kalian dengan yang penyayang dan punya banyak keturunan. Karena aku begitu bangga dengan banyaknya umatku pada hari kiamat.” (HR. Abu Daud, no. 2050 dan An-Nasa’i, no. 3229. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan.) Imam Abu Hamid Al-Ghazali dalam kitab Ihya ‘Ulum Ad-Diin berkata, “Berusaha untuk mendapatkan keturunan sudah dinilai sebagai suatu bentuk ibadah dilihat dari empat sisi: Menjalankan perintah Allah agar manusia tetap memiliki keturunan. Berharap dicintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam karena beliau akan bangga dengan banyaknya keturunannya pada hari kiamat. Mengharap berkah dari doa baik dari anak shalih setelah itu. Mengharapkan syafa’at dari anak yang meninggal dunia ketika kecil sebelum orang tuanya.” Semoga bermanfaat dan menjadi pelajaran berharga.   Referensi: Ar-Rahiq Al-Makhtum. Cetakan kesepuluh, Tahun 1420 H. Shafiyurrahman Al-Mubarakfuri. Penerbit Darul Wafa’ dan Dar At-Tadmuriyah. As-Sirah An-Nabawiyyah Ash-Shahihah. Cetakan ketujuh, Tahun 1434 H. Dr. Akram Dhiya’ Al-‘Umari. Penerbit Al-‘Ubaikan. hlm. 135-137. As-Sirah An-Nabawiyyah fi Dhau’ Al-Mashadir Al-Ashliyyah. Cetakan ketiga, Tahun 1424 H. Prof. Dr. Mahdi Rizqullah Ahmad. Penerbit Dar Zidni. Fiqh As-Sirah An-Nabawiyyah. Cetakan ke-24, Tahun 1436 H. Dr. Muhammad Sa’id Ramdhan Al-Buthi. Penerbit Darus Salam. Fikih Sirah Nabawiyah. Cetakan kelima, 2016. Prof. Dr. Zaid bin Abdul Karim Zaid. Penerbit Darus Sunnah. Tambihaat ‘ala Ahkam Takhtash bi Al-Mu’minaat. Cetakan kelima, tahun 1429 H. Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan bin ‘Abdillah Al-Fauzan. Penerbit Darul Ifta’. — Disusun di Perpus Rumaysho, 30 Muharram 1439 H,  Jumat siang Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com   Tagsfaedah sirah nabi khadijah nikah sirah nabi

Khutbah Jumat: Tanda Cinta Dunia

Apakah kita termasuk orang yang cinta dunia? Apa ada bahayanya jika kita gila dunia? Baca dan pelajari dari Khutbah Jumat berikut ini.   Khutbah Pertama الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ لَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّ وَنُودُوا أَنْ تِلْكُمُ الْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ أَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ سَارَ عَلَى نَهْجِهِ القَوِيْمِ وَدَعَا إِلَى الصِّرَاطِ المُسْتَقِيْمِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا اللّهُمَّ عَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا، وَانْفَعَنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا، وَزِدْنَا عِلْماً، وَأَرَنَا الحَقَّ حَقّاً وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرَنَا البَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ Amma ba’du: Para jama’ah shalat Jum’at rahimani wa rahimakumullah … Kita diperintahkan untuk senantiasa bersyukur pada Allah atas nikmat yang telah diberikan kepada kita sekalian. Syukur inilah yang kita buktikan dengan takwa sebagaimana yang Allah perintahkan, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS. Ali Imran: 102). Karena hakikat syukur adalah menjalankan ketaatan dan menjauhi maksiat sebagaimana kata Abu Hazim mengenai syukur dengan anggota badan adalah, أَنْ تُكَفَّ عَنِ المَعَاصِي ، وَتُسْتَعْمَلَ فِي الطَّاعَاتِ “Engkau tahan anggota badanmu dari maksiat dan engkau gunakan dalam ketaatan pada Allah.” (Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2:84) Shalawat dan salam semoga tercurah kepada nabi akhir zaman, yang telah mendapatkan mukjizat paling besar dan menjadi pembuka pintu surga, yaitu nabi besar kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, kepada keluarga, sahabat dan setiap orang yang mengikuti salaf tersebut dengan baik hingga akhir zaman. Ada delapan hal yang dicintai manusia, Allah rinci dalam ayat berikut ini. قُلْ إِنْ كَانَ آَبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ “Katakanlah, “Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” (QS. At-Taubah: 24) Ayat di atas menerangkan tentang orang yang mencintai dunia, yaitu keluarga, harta, bisnis hingga rumah tempat tinggalnya. Ayat di atas kata Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab rahimahullah dalam Kitab Tauhid menunjukkan ancaman bagi orang yang menjadikan delapan perkara duniawi tersebut lebih daripada agamanya.   Apa tanda seseorang cinta dunia? Tandanya adalah gila harta, gila jabatan, gila kehormatan, gila ketenaran; hidup mewah dengan pakaian, makanan dan minuman; waktunya sibuk mengejar dunia; ia mengejar dunia lewat amalan akhirat; juga lalai dari ibadah.   Apa bahaya cinta dunia? Pertama: Ibnul Qayyim menyatakan dalam Hadi Al-Arwah (hlm. 48) bahwa kunci segala kejelekan adalah cinta dunia dan panjang angan-angan. Kedua: Orang yang cinta dunia bisa saja mengorbankan agama dan lebih memilih kekafiran. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, بَادِرُوا بِالأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِى كَافِرًا أَوْ يُمْسِى مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا “Bersegeralah melakukan amalan shalih sebelum datang fitnah (musibah) seperti potongan malam yang gelap. Yaitu seseorang pada waktu pagi dalam keadaan beriman dan di sore hari dalam keadaan kafir. Ada pula yang sore hari dalam keadaan beriman dan di pagi hari dalam keadaan kafir. Ia menjual agamanya karena sedikit dari keuntungan dunia.” (HR. Muslim no. 118) Ketiga: Hati jadi lalai dari mengingat akhirat sehingga kurang dalam beramal shalih. Dari Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ أَحَبَّ دُنْيَاهُ أَضَرَّ بِآخِرَتِهِ وَمَنْ أَحَبَّ آخِرَتَهُ أَضَرَّ بِدُنْيَاهُ فَآثِرُوا مَا يَبْقَى عَلَى مَا يَفْنَى “Siapa yang begitu gila dengan dunianya, maka itu akan memudaratkan akhiratnya. Siapa yang begitu cinta akhiratnya, maka itu akan mengurangi kecintaannya pada dunia. Dahulukanlah negeri yang akan kekal abadi (akhirat) dari negeri yang akan fana (dunia).” (HR. Ahmad, 4:412. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa hadits ini hasan lighairihi.) Dalam surat Adz-Dzariyat juga disebutkan, قُتِلَ الْخَرَّاصُونَ (10) الَّذِينَ هُمْ فِي غَمْرَةٍ سَاهُونَ (11) “Terkutuklah orang-orang yang banyak berdusta, (yaitu) orang-orang yang terbenam dalam kebodohan yang lalai.” (QS. Adz-Dzariyat: 10-11) Yang dimaksud “alladzina hum fii ghomroh” adalah mereka buta dan jahil akan perkara akhirat. “Saahun” berarti lalai. As-sahwu itu berarti lalai dari sesuatu dan hati tidak memperhatikannya. Sebagaimana hal ini ditafsirkan dalam Zaad Al-Masir karya Ibnul Jauzi. Keempat: Juga karena cinta dunia akan menjadikan seseorang kurang mendapatkan kelezatan ketika berdzikir. Di dalam Majmu’ah Al-Fatawa (9:312), Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menyebutkan perkataaan ulama Syam yaitu Sulaiman Al-Khawwash, “Dzikir bagi hati kedudukannya seperti makanan untuk badan. Ketika badan sakit, tentu seseorang sulit merasakan lezatnya makanan. Demikian pula untuk hati tidak bisa merasakan nikmatnya dzikir ketika seseorang terlalu cinta dunia.” Terakhir, kelima: Orang yang gila dunia urusannya akan jadi sulit. Beda kalau seseorang mengutamakan akhirat.  Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ كَانَتِ الآخِرَةُ هَمَّهُ جَعَلَ اللَّهُ غِنَاهُ فِى قَلْبِهِ وَجَمَعَ لَهُ شَمْلَهُ وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِىَ رَاغِمَةٌ وَمَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ جَعَلَ اللَّهُ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ وَفَرَّقَ عَلَيْهِ شَمْلَهَ وَلَمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلاَّ مَا قُدِّرَ لَهُ “Barangsiapa yang niatnya adalah untuk menggapai akhirat, maka Allah akan memberikan kecukupan dalam hatinya, Dia akan menyatukan keinginannya yang tercerai berai, dunia pun akan dia peroleh dan tunduk hina padanya. Barangsiapa yang niatnya adalah untuk menggapai dunia, maka Allah akan menjadikan dia tidak pernah merasa cukup, akan mencerai beraikan keinginannya, dunia pun tidak dia peroleh kecuali yang telah ditetapkan baginya.” (HR. Tirmidzi, no. 2465. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih.)   Lalu bagaimana agar tidak gila dunia? Marilah kita belajar agama, luangkan waktu walau sesibuk apa pun untuk mendalami ilmu Islam. Harus yakin dunia itu hina dan yakin dunia itu akan fana dibanding akhirat yang kekal abadi. Qana’ah (nerimo) dengan yang sedikit, apa saja yang Allah beri. Mendahulukan ridha Allah daripada hawa nafsu, keluarga dan kepentingan dunia. Sabar dan haraplah kenikmatan yang begitu banyak di surga. Demikian khutbah pertama ini. Moga Allah memberi taufik dan hidayah. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا َوَاسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ إِنَّهُ هُوَ السَمِيْعُ العَلِيْمُ   Khutbah Kedua أَحْمَدُ رَبِّي وَأَشْكُرُهُ ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ نَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ Jamaah Shalat Jumat yang moga senantiasa diberkahi oleh Allah Ta’ala … Sikap yang seharusnya terhadap dunia Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الدُّنْيَا سِجْنُ الْمُؤْمِنِ وَجَنَّةُ الْكَافِرِ “Dunia adalah penjara bagi orang beriman dan surga bagi orang kafir.” (HR. Muslim, no. 2392) Al-Munawi rahimahullah dalam Mirqah Al-Mafatih menjelaskan, “Dikatakan dalam penjara karena orang mukmin terhalang untuk melakukan syahwat yang diharamkan. Sedangkan keadaan orang kafir adalah sebaliknya sehingga seakan-akan ia berada di surga.” Di hari Jumat yang penuh berkah ini, kami ingatkan untuk memperbanyak shalawat pada Nabi kita Muhammad. Siapa yang bershalawat pada Nabi sekali, maka Allah akan membalas shalawatnya sebanyak sepuluh kali. Juga tak lupa nantinya kita berdoa pada Allah di hari penuh berkah ini, moga doa-doa kita diperkenankan oleh Allah Ta’ala. إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَةِ اللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا يَحُولُ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعَاصِيكَ وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَا بِهِ جَنَّتَكَ وَمِنَ الْيَقِينِ مَا تُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مُصِيبَاتِ الدُّنْيَا وَمَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا وَاجْعَلْ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ ظَلَمَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى مَنْ عَادَانَا وَلاَ تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِى دِينِنَا وَلاَ تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا وَلاَ مَبْلَغَ عِلْمِنَا وَلاَ تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لاَ يَرْحَمُنَا رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى وَالتُّقَى وَالعَفَافَ وَالغِنَى اللَّهُمَّ أَحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِى الأُمُورِ كُلِّهَا وَأَجِرْنَا مِنْ خِزْىِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن. وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ   Referensi utama: Mufsidaat Al-Qulub. Cetakan pertama, Tahun 1438 H. Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid. Penerbit Al-‘Ubaikan. Hlm. 271-301. Download PDFnya: Khutbah Jumat: Tanda Cinta Dunia — Selesai disusun @ Perpus Rumaysho, saat Jumat siang, Jumat Pon, 30 Muharram 1439 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com   Tagscinta dunia

Khutbah Jumat: Tanda Cinta Dunia

Apakah kita termasuk orang yang cinta dunia? Apa ada bahayanya jika kita gila dunia? Baca dan pelajari dari Khutbah Jumat berikut ini.   Khutbah Pertama الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ لَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّ وَنُودُوا أَنْ تِلْكُمُ الْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ أَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ سَارَ عَلَى نَهْجِهِ القَوِيْمِ وَدَعَا إِلَى الصِّرَاطِ المُسْتَقِيْمِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا اللّهُمَّ عَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا، وَانْفَعَنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا، وَزِدْنَا عِلْماً، وَأَرَنَا الحَقَّ حَقّاً وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرَنَا البَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ Amma ba’du: Para jama’ah shalat Jum’at rahimani wa rahimakumullah … Kita diperintahkan untuk senantiasa bersyukur pada Allah atas nikmat yang telah diberikan kepada kita sekalian. Syukur inilah yang kita buktikan dengan takwa sebagaimana yang Allah perintahkan, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS. Ali Imran: 102). Karena hakikat syukur adalah menjalankan ketaatan dan menjauhi maksiat sebagaimana kata Abu Hazim mengenai syukur dengan anggota badan adalah, أَنْ تُكَفَّ عَنِ المَعَاصِي ، وَتُسْتَعْمَلَ فِي الطَّاعَاتِ “Engkau tahan anggota badanmu dari maksiat dan engkau gunakan dalam ketaatan pada Allah.” (Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2:84) Shalawat dan salam semoga tercurah kepada nabi akhir zaman, yang telah mendapatkan mukjizat paling besar dan menjadi pembuka pintu surga, yaitu nabi besar kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, kepada keluarga, sahabat dan setiap orang yang mengikuti salaf tersebut dengan baik hingga akhir zaman. Ada delapan hal yang dicintai manusia, Allah rinci dalam ayat berikut ini. قُلْ إِنْ كَانَ آَبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ “Katakanlah, “Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” (QS. At-Taubah: 24) Ayat di atas menerangkan tentang orang yang mencintai dunia, yaitu keluarga, harta, bisnis hingga rumah tempat tinggalnya. Ayat di atas kata Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab rahimahullah dalam Kitab Tauhid menunjukkan ancaman bagi orang yang menjadikan delapan perkara duniawi tersebut lebih daripada agamanya.   Apa tanda seseorang cinta dunia? Tandanya adalah gila harta, gila jabatan, gila kehormatan, gila ketenaran; hidup mewah dengan pakaian, makanan dan minuman; waktunya sibuk mengejar dunia; ia mengejar dunia lewat amalan akhirat; juga lalai dari ibadah.   Apa bahaya cinta dunia? Pertama: Ibnul Qayyim menyatakan dalam Hadi Al-Arwah (hlm. 48) bahwa kunci segala kejelekan adalah cinta dunia dan panjang angan-angan. Kedua: Orang yang cinta dunia bisa saja mengorbankan agama dan lebih memilih kekafiran. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, بَادِرُوا بِالأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِى كَافِرًا أَوْ يُمْسِى مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا “Bersegeralah melakukan amalan shalih sebelum datang fitnah (musibah) seperti potongan malam yang gelap. Yaitu seseorang pada waktu pagi dalam keadaan beriman dan di sore hari dalam keadaan kafir. Ada pula yang sore hari dalam keadaan beriman dan di pagi hari dalam keadaan kafir. Ia menjual agamanya karena sedikit dari keuntungan dunia.” (HR. Muslim no. 118) Ketiga: Hati jadi lalai dari mengingat akhirat sehingga kurang dalam beramal shalih. Dari Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ أَحَبَّ دُنْيَاهُ أَضَرَّ بِآخِرَتِهِ وَمَنْ أَحَبَّ آخِرَتَهُ أَضَرَّ بِدُنْيَاهُ فَآثِرُوا مَا يَبْقَى عَلَى مَا يَفْنَى “Siapa yang begitu gila dengan dunianya, maka itu akan memudaratkan akhiratnya. Siapa yang begitu cinta akhiratnya, maka itu akan mengurangi kecintaannya pada dunia. Dahulukanlah negeri yang akan kekal abadi (akhirat) dari negeri yang akan fana (dunia).” (HR. Ahmad, 4:412. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa hadits ini hasan lighairihi.) Dalam surat Adz-Dzariyat juga disebutkan, قُتِلَ الْخَرَّاصُونَ (10) الَّذِينَ هُمْ فِي غَمْرَةٍ سَاهُونَ (11) “Terkutuklah orang-orang yang banyak berdusta, (yaitu) orang-orang yang terbenam dalam kebodohan yang lalai.” (QS. Adz-Dzariyat: 10-11) Yang dimaksud “alladzina hum fii ghomroh” adalah mereka buta dan jahil akan perkara akhirat. “Saahun” berarti lalai. As-sahwu itu berarti lalai dari sesuatu dan hati tidak memperhatikannya. Sebagaimana hal ini ditafsirkan dalam Zaad Al-Masir karya Ibnul Jauzi. Keempat: Juga karena cinta dunia akan menjadikan seseorang kurang mendapatkan kelezatan ketika berdzikir. Di dalam Majmu’ah Al-Fatawa (9:312), Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menyebutkan perkataaan ulama Syam yaitu Sulaiman Al-Khawwash, “Dzikir bagi hati kedudukannya seperti makanan untuk badan. Ketika badan sakit, tentu seseorang sulit merasakan lezatnya makanan. Demikian pula untuk hati tidak bisa merasakan nikmatnya dzikir ketika seseorang terlalu cinta dunia.” Terakhir, kelima: Orang yang gila dunia urusannya akan jadi sulit. Beda kalau seseorang mengutamakan akhirat.  Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ كَانَتِ الآخِرَةُ هَمَّهُ جَعَلَ اللَّهُ غِنَاهُ فِى قَلْبِهِ وَجَمَعَ لَهُ شَمْلَهُ وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِىَ رَاغِمَةٌ وَمَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ جَعَلَ اللَّهُ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ وَفَرَّقَ عَلَيْهِ شَمْلَهَ وَلَمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلاَّ مَا قُدِّرَ لَهُ “Barangsiapa yang niatnya adalah untuk menggapai akhirat, maka Allah akan memberikan kecukupan dalam hatinya, Dia akan menyatukan keinginannya yang tercerai berai, dunia pun akan dia peroleh dan tunduk hina padanya. Barangsiapa yang niatnya adalah untuk menggapai dunia, maka Allah akan menjadikan dia tidak pernah merasa cukup, akan mencerai beraikan keinginannya, dunia pun tidak dia peroleh kecuali yang telah ditetapkan baginya.” (HR. Tirmidzi, no. 2465. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih.)   Lalu bagaimana agar tidak gila dunia? Marilah kita belajar agama, luangkan waktu walau sesibuk apa pun untuk mendalami ilmu Islam. Harus yakin dunia itu hina dan yakin dunia itu akan fana dibanding akhirat yang kekal abadi. Qana’ah (nerimo) dengan yang sedikit, apa saja yang Allah beri. Mendahulukan ridha Allah daripada hawa nafsu, keluarga dan kepentingan dunia. Sabar dan haraplah kenikmatan yang begitu banyak di surga. Demikian khutbah pertama ini. Moga Allah memberi taufik dan hidayah. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا َوَاسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ إِنَّهُ هُوَ السَمِيْعُ العَلِيْمُ   Khutbah Kedua أَحْمَدُ رَبِّي وَأَشْكُرُهُ ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ نَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ Jamaah Shalat Jumat yang moga senantiasa diberkahi oleh Allah Ta’ala … Sikap yang seharusnya terhadap dunia Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الدُّنْيَا سِجْنُ الْمُؤْمِنِ وَجَنَّةُ الْكَافِرِ “Dunia adalah penjara bagi orang beriman dan surga bagi orang kafir.” (HR. Muslim, no. 2392) Al-Munawi rahimahullah dalam Mirqah Al-Mafatih menjelaskan, “Dikatakan dalam penjara karena orang mukmin terhalang untuk melakukan syahwat yang diharamkan. Sedangkan keadaan orang kafir adalah sebaliknya sehingga seakan-akan ia berada di surga.” Di hari Jumat yang penuh berkah ini, kami ingatkan untuk memperbanyak shalawat pada Nabi kita Muhammad. Siapa yang bershalawat pada Nabi sekali, maka Allah akan membalas shalawatnya sebanyak sepuluh kali. Juga tak lupa nantinya kita berdoa pada Allah di hari penuh berkah ini, moga doa-doa kita diperkenankan oleh Allah Ta’ala. إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَةِ اللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا يَحُولُ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعَاصِيكَ وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَا بِهِ جَنَّتَكَ وَمِنَ الْيَقِينِ مَا تُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مُصِيبَاتِ الدُّنْيَا وَمَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا وَاجْعَلْ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ ظَلَمَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى مَنْ عَادَانَا وَلاَ تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِى دِينِنَا وَلاَ تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا وَلاَ مَبْلَغَ عِلْمِنَا وَلاَ تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لاَ يَرْحَمُنَا رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى وَالتُّقَى وَالعَفَافَ وَالغِنَى اللَّهُمَّ أَحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِى الأُمُورِ كُلِّهَا وَأَجِرْنَا مِنْ خِزْىِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن. وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ   Referensi utama: Mufsidaat Al-Qulub. Cetakan pertama, Tahun 1438 H. Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid. Penerbit Al-‘Ubaikan. Hlm. 271-301. Download PDFnya: Khutbah Jumat: Tanda Cinta Dunia — Selesai disusun @ Perpus Rumaysho, saat Jumat siang, Jumat Pon, 30 Muharram 1439 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com   Tagscinta dunia
Apakah kita termasuk orang yang cinta dunia? Apa ada bahayanya jika kita gila dunia? Baca dan pelajari dari Khutbah Jumat berikut ini.   Khutbah Pertama الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ لَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّ وَنُودُوا أَنْ تِلْكُمُ الْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ أَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ سَارَ عَلَى نَهْجِهِ القَوِيْمِ وَدَعَا إِلَى الصِّرَاطِ المُسْتَقِيْمِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا اللّهُمَّ عَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا، وَانْفَعَنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا، وَزِدْنَا عِلْماً، وَأَرَنَا الحَقَّ حَقّاً وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرَنَا البَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ Amma ba’du: Para jama’ah shalat Jum’at rahimani wa rahimakumullah … Kita diperintahkan untuk senantiasa bersyukur pada Allah atas nikmat yang telah diberikan kepada kita sekalian. Syukur inilah yang kita buktikan dengan takwa sebagaimana yang Allah perintahkan, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS. Ali Imran: 102). Karena hakikat syukur adalah menjalankan ketaatan dan menjauhi maksiat sebagaimana kata Abu Hazim mengenai syukur dengan anggota badan adalah, أَنْ تُكَفَّ عَنِ المَعَاصِي ، وَتُسْتَعْمَلَ فِي الطَّاعَاتِ “Engkau tahan anggota badanmu dari maksiat dan engkau gunakan dalam ketaatan pada Allah.” (Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2:84) Shalawat dan salam semoga tercurah kepada nabi akhir zaman, yang telah mendapatkan mukjizat paling besar dan menjadi pembuka pintu surga, yaitu nabi besar kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, kepada keluarga, sahabat dan setiap orang yang mengikuti salaf tersebut dengan baik hingga akhir zaman. Ada delapan hal yang dicintai manusia, Allah rinci dalam ayat berikut ini. قُلْ إِنْ كَانَ آَبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ “Katakanlah, “Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” (QS. At-Taubah: 24) Ayat di atas menerangkan tentang orang yang mencintai dunia, yaitu keluarga, harta, bisnis hingga rumah tempat tinggalnya. Ayat di atas kata Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab rahimahullah dalam Kitab Tauhid menunjukkan ancaman bagi orang yang menjadikan delapan perkara duniawi tersebut lebih daripada agamanya.   Apa tanda seseorang cinta dunia? Tandanya adalah gila harta, gila jabatan, gila kehormatan, gila ketenaran; hidup mewah dengan pakaian, makanan dan minuman; waktunya sibuk mengejar dunia; ia mengejar dunia lewat amalan akhirat; juga lalai dari ibadah.   Apa bahaya cinta dunia? Pertama: Ibnul Qayyim menyatakan dalam Hadi Al-Arwah (hlm. 48) bahwa kunci segala kejelekan adalah cinta dunia dan panjang angan-angan. Kedua: Orang yang cinta dunia bisa saja mengorbankan agama dan lebih memilih kekafiran. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, بَادِرُوا بِالأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِى كَافِرًا أَوْ يُمْسِى مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا “Bersegeralah melakukan amalan shalih sebelum datang fitnah (musibah) seperti potongan malam yang gelap. Yaitu seseorang pada waktu pagi dalam keadaan beriman dan di sore hari dalam keadaan kafir. Ada pula yang sore hari dalam keadaan beriman dan di pagi hari dalam keadaan kafir. Ia menjual agamanya karena sedikit dari keuntungan dunia.” (HR. Muslim no. 118) Ketiga: Hati jadi lalai dari mengingat akhirat sehingga kurang dalam beramal shalih. Dari Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ أَحَبَّ دُنْيَاهُ أَضَرَّ بِآخِرَتِهِ وَمَنْ أَحَبَّ آخِرَتَهُ أَضَرَّ بِدُنْيَاهُ فَآثِرُوا مَا يَبْقَى عَلَى مَا يَفْنَى “Siapa yang begitu gila dengan dunianya, maka itu akan memudaratkan akhiratnya. Siapa yang begitu cinta akhiratnya, maka itu akan mengurangi kecintaannya pada dunia. Dahulukanlah negeri yang akan kekal abadi (akhirat) dari negeri yang akan fana (dunia).” (HR. Ahmad, 4:412. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa hadits ini hasan lighairihi.) Dalam surat Adz-Dzariyat juga disebutkan, قُتِلَ الْخَرَّاصُونَ (10) الَّذِينَ هُمْ فِي غَمْرَةٍ سَاهُونَ (11) “Terkutuklah orang-orang yang banyak berdusta, (yaitu) orang-orang yang terbenam dalam kebodohan yang lalai.” (QS. Adz-Dzariyat: 10-11) Yang dimaksud “alladzina hum fii ghomroh” adalah mereka buta dan jahil akan perkara akhirat. “Saahun” berarti lalai. As-sahwu itu berarti lalai dari sesuatu dan hati tidak memperhatikannya. Sebagaimana hal ini ditafsirkan dalam Zaad Al-Masir karya Ibnul Jauzi. Keempat: Juga karena cinta dunia akan menjadikan seseorang kurang mendapatkan kelezatan ketika berdzikir. Di dalam Majmu’ah Al-Fatawa (9:312), Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menyebutkan perkataaan ulama Syam yaitu Sulaiman Al-Khawwash, “Dzikir bagi hati kedudukannya seperti makanan untuk badan. Ketika badan sakit, tentu seseorang sulit merasakan lezatnya makanan. Demikian pula untuk hati tidak bisa merasakan nikmatnya dzikir ketika seseorang terlalu cinta dunia.” Terakhir, kelima: Orang yang gila dunia urusannya akan jadi sulit. Beda kalau seseorang mengutamakan akhirat.  Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ كَانَتِ الآخِرَةُ هَمَّهُ جَعَلَ اللَّهُ غِنَاهُ فِى قَلْبِهِ وَجَمَعَ لَهُ شَمْلَهُ وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِىَ رَاغِمَةٌ وَمَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ جَعَلَ اللَّهُ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ وَفَرَّقَ عَلَيْهِ شَمْلَهَ وَلَمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلاَّ مَا قُدِّرَ لَهُ “Barangsiapa yang niatnya adalah untuk menggapai akhirat, maka Allah akan memberikan kecukupan dalam hatinya, Dia akan menyatukan keinginannya yang tercerai berai, dunia pun akan dia peroleh dan tunduk hina padanya. Barangsiapa yang niatnya adalah untuk menggapai dunia, maka Allah akan menjadikan dia tidak pernah merasa cukup, akan mencerai beraikan keinginannya, dunia pun tidak dia peroleh kecuali yang telah ditetapkan baginya.” (HR. Tirmidzi, no. 2465. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih.)   Lalu bagaimana agar tidak gila dunia? Marilah kita belajar agama, luangkan waktu walau sesibuk apa pun untuk mendalami ilmu Islam. Harus yakin dunia itu hina dan yakin dunia itu akan fana dibanding akhirat yang kekal abadi. Qana’ah (nerimo) dengan yang sedikit, apa saja yang Allah beri. Mendahulukan ridha Allah daripada hawa nafsu, keluarga dan kepentingan dunia. Sabar dan haraplah kenikmatan yang begitu banyak di surga. Demikian khutbah pertama ini. Moga Allah memberi taufik dan hidayah. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا َوَاسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ إِنَّهُ هُوَ السَمِيْعُ العَلِيْمُ   Khutbah Kedua أَحْمَدُ رَبِّي وَأَشْكُرُهُ ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ نَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ Jamaah Shalat Jumat yang moga senantiasa diberkahi oleh Allah Ta’ala … Sikap yang seharusnya terhadap dunia Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الدُّنْيَا سِجْنُ الْمُؤْمِنِ وَجَنَّةُ الْكَافِرِ “Dunia adalah penjara bagi orang beriman dan surga bagi orang kafir.” (HR. Muslim, no. 2392) Al-Munawi rahimahullah dalam Mirqah Al-Mafatih menjelaskan, “Dikatakan dalam penjara karena orang mukmin terhalang untuk melakukan syahwat yang diharamkan. Sedangkan keadaan orang kafir adalah sebaliknya sehingga seakan-akan ia berada di surga.” Di hari Jumat yang penuh berkah ini, kami ingatkan untuk memperbanyak shalawat pada Nabi kita Muhammad. Siapa yang bershalawat pada Nabi sekali, maka Allah akan membalas shalawatnya sebanyak sepuluh kali. Juga tak lupa nantinya kita berdoa pada Allah di hari penuh berkah ini, moga doa-doa kita diperkenankan oleh Allah Ta’ala. إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَةِ اللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا يَحُولُ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعَاصِيكَ وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَا بِهِ جَنَّتَكَ وَمِنَ الْيَقِينِ مَا تُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مُصِيبَاتِ الدُّنْيَا وَمَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا وَاجْعَلْ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ ظَلَمَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى مَنْ عَادَانَا وَلاَ تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِى دِينِنَا وَلاَ تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا وَلاَ مَبْلَغَ عِلْمِنَا وَلاَ تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لاَ يَرْحَمُنَا رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى وَالتُّقَى وَالعَفَافَ وَالغِنَى اللَّهُمَّ أَحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِى الأُمُورِ كُلِّهَا وَأَجِرْنَا مِنْ خِزْىِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن. وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ   Referensi utama: Mufsidaat Al-Qulub. Cetakan pertama, Tahun 1438 H. Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid. Penerbit Al-‘Ubaikan. Hlm. 271-301. Download PDFnya: Khutbah Jumat: Tanda Cinta Dunia — Selesai disusun @ Perpus Rumaysho, saat Jumat siang, Jumat Pon, 30 Muharram 1439 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com   Tagscinta dunia


Apakah kita termasuk orang yang cinta dunia? Apa ada bahayanya jika kita gila dunia? Baca dan pelajari dari Khutbah Jumat berikut ini.   Khutbah Pertama الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ لَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّ وَنُودُوا أَنْ تِلْكُمُ الْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ أَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ سَارَ عَلَى نَهْجِهِ القَوِيْمِ وَدَعَا إِلَى الصِّرَاطِ المُسْتَقِيْمِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا اللّهُمَّ عَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا، وَانْفَعَنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا، وَزِدْنَا عِلْماً، وَأَرَنَا الحَقَّ حَقّاً وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرَنَا البَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ Amma ba’du: Para jama’ah shalat Jum’at rahimani wa rahimakumullah … Kita diperintahkan untuk senantiasa bersyukur pada Allah atas nikmat yang telah diberikan kepada kita sekalian. Syukur inilah yang kita buktikan dengan takwa sebagaimana yang Allah perintahkan, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS. Ali Imran: 102). Karena hakikat syukur adalah menjalankan ketaatan dan menjauhi maksiat sebagaimana kata Abu Hazim mengenai syukur dengan anggota badan adalah, أَنْ تُكَفَّ عَنِ المَعَاصِي ، وَتُسْتَعْمَلَ فِي الطَّاعَاتِ “Engkau tahan anggota badanmu dari maksiat dan engkau gunakan dalam ketaatan pada Allah.” (Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2:84) Shalawat dan salam semoga tercurah kepada nabi akhir zaman, yang telah mendapatkan mukjizat paling besar dan menjadi pembuka pintu surga, yaitu nabi besar kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, kepada keluarga, sahabat dan setiap orang yang mengikuti salaf tersebut dengan baik hingga akhir zaman. Ada delapan hal yang dicintai manusia, Allah rinci dalam ayat berikut ini. قُلْ إِنْ كَانَ آَبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ “Katakanlah, “Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” (QS. At-Taubah: 24) Ayat di atas menerangkan tentang orang yang mencintai dunia, yaitu keluarga, harta, bisnis hingga rumah tempat tinggalnya. Ayat di atas kata Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab rahimahullah dalam Kitab Tauhid menunjukkan ancaman bagi orang yang menjadikan delapan perkara duniawi tersebut lebih daripada agamanya.   Apa tanda seseorang cinta dunia? Tandanya adalah gila harta, gila jabatan, gila kehormatan, gila ketenaran; hidup mewah dengan pakaian, makanan dan minuman; waktunya sibuk mengejar dunia; ia mengejar dunia lewat amalan akhirat; juga lalai dari ibadah.   Apa bahaya cinta dunia? Pertama: Ibnul Qayyim menyatakan dalam Hadi Al-Arwah (hlm. 48) bahwa kunci segala kejelekan adalah cinta dunia dan panjang angan-angan. Kedua: Orang yang cinta dunia bisa saja mengorbankan agama dan lebih memilih kekafiran. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, بَادِرُوا بِالأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِى كَافِرًا أَوْ يُمْسِى مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا “Bersegeralah melakukan amalan shalih sebelum datang fitnah (musibah) seperti potongan malam yang gelap. Yaitu seseorang pada waktu pagi dalam keadaan beriman dan di sore hari dalam keadaan kafir. Ada pula yang sore hari dalam keadaan beriman dan di pagi hari dalam keadaan kafir. Ia menjual agamanya karena sedikit dari keuntungan dunia.” (HR. Muslim no. 118) Ketiga: Hati jadi lalai dari mengingat akhirat sehingga kurang dalam beramal shalih. Dari Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ أَحَبَّ دُنْيَاهُ أَضَرَّ بِآخِرَتِهِ وَمَنْ أَحَبَّ آخِرَتَهُ أَضَرَّ بِدُنْيَاهُ فَآثِرُوا مَا يَبْقَى عَلَى مَا يَفْنَى “Siapa yang begitu gila dengan dunianya, maka itu akan memudaratkan akhiratnya. Siapa yang begitu cinta akhiratnya, maka itu akan mengurangi kecintaannya pada dunia. Dahulukanlah negeri yang akan kekal abadi (akhirat) dari negeri yang akan fana (dunia).” (HR. Ahmad, 4:412. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa hadits ini hasan lighairihi.) Dalam surat Adz-Dzariyat juga disebutkan, قُتِلَ الْخَرَّاصُونَ (10) الَّذِينَ هُمْ فِي غَمْرَةٍ سَاهُونَ (11) “Terkutuklah orang-orang yang banyak berdusta, (yaitu) orang-orang yang terbenam dalam kebodohan yang lalai.” (QS. Adz-Dzariyat: 10-11) Yang dimaksud “alladzina hum fii ghomroh” adalah mereka buta dan jahil akan perkara akhirat. “Saahun” berarti lalai. As-sahwu itu berarti lalai dari sesuatu dan hati tidak memperhatikannya. Sebagaimana hal ini ditafsirkan dalam Zaad Al-Masir karya Ibnul Jauzi. Keempat: Juga karena cinta dunia akan menjadikan seseorang kurang mendapatkan kelezatan ketika berdzikir. Di dalam Majmu’ah Al-Fatawa (9:312), Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menyebutkan perkataaan ulama Syam yaitu Sulaiman Al-Khawwash, “Dzikir bagi hati kedudukannya seperti makanan untuk badan. Ketika badan sakit, tentu seseorang sulit merasakan lezatnya makanan. Demikian pula untuk hati tidak bisa merasakan nikmatnya dzikir ketika seseorang terlalu cinta dunia.” Terakhir, kelima: Orang yang gila dunia urusannya akan jadi sulit. Beda kalau seseorang mengutamakan akhirat.  Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ كَانَتِ الآخِرَةُ هَمَّهُ جَعَلَ اللَّهُ غِنَاهُ فِى قَلْبِهِ وَجَمَعَ لَهُ شَمْلَهُ وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِىَ رَاغِمَةٌ وَمَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ جَعَلَ اللَّهُ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ وَفَرَّقَ عَلَيْهِ شَمْلَهَ وَلَمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلاَّ مَا قُدِّرَ لَهُ “Barangsiapa yang niatnya adalah untuk menggapai akhirat, maka Allah akan memberikan kecukupan dalam hatinya, Dia akan menyatukan keinginannya yang tercerai berai, dunia pun akan dia peroleh dan tunduk hina padanya. Barangsiapa yang niatnya adalah untuk menggapai dunia, maka Allah akan menjadikan dia tidak pernah merasa cukup, akan mencerai beraikan keinginannya, dunia pun tidak dia peroleh kecuali yang telah ditetapkan baginya.” (HR. Tirmidzi, no. 2465. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih.)   Lalu bagaimana agar tidak gila dunia? Marilah kita belajar agama, luangkan waktu walau sesibuk apa pun untuk mendalami ilmu Islam. Harus yakin dunia itu hina dan yakin dunia itu akan fana dibanding akhirat yang kekal abadi. Qana’ah (nerimo) dengan yang sedikit, apa saja yang Allah beri. Mendahulukan ridha Allah daripada hawa nafsu, keluarga dan kepentingan dunia. Sabar dan haraplah kenikmatan yang begitu banyak di surga. Demikian khutbah pertama ini. Moga Allah memberi taufik dan hidayah. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا َوَاسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ إِنَّهُ هُوَ السَمِيْعُ العَلِيْمُ   Khutbah Kedua أَحْمَدُ رَبِّي وَأَشْكُرُهُ ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ نَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ Jamaah Shalat Jumat yang moga senantiasa diberkahi oleh Allah Ta’ala … Sikap yang seharusnya terhadap dunia Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الدُّنْيَا سِجْنُ الْمُؤْمِنِ وَجَنَّةُ الْكَافِرِ “Dunia adalah penjara bagi orang beriman dan surga bagi orang kafir.” (HR. Muslim, no. 2392) Al-Munawi rahimahullah dalam Mirqah Al-Mafatih menjelaskan, “Dikatakan dalam penjara karena orang mukmin terhalang untuk melakukan syahwat yang diharamkan. Sedangkan keadaan orang kafir adalah sebaliknya sehingga seakan-akan ia berada di surga.” Di hari Jumat yang penuh berkah ini, kami ingatkan untuk memperbanyak shalawat pada Nabi kita Muhammad. Siapa yang bershalawat pada Nabi sekali, maka Allah akan membalas shalawatnya sebanyak sepuluh kali. Juga tak lupa nantinya kita berdoa pada Allah di hari penuh berkah ini, moga doa-doa kita diperkenankan oleh Allah Ta’ala. إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَةِ اللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا يَحُولُ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعَاصِيكَ وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَا بِهِ جَنَّتَكَ وَمِنَ الْيَقِينِ مَا تُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مُصِيبَاتِ الدُّنْيَا وَمَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا وَاجْعَلْ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ ظَلَمَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى مَنْ عَادَانَا وَلاَ تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِى دِينِنَا وَلاَ تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا وَلاَ مَبْلَغَ عِلْمِنَا وَلاَ تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لاَ يَرْحَمُنَا رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى وَالتُّقَى وَالعَفَافَ وَالغِنَى اللَّهُمَّ أَحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِى الأُمُورِ كُلِّهَا وَأَجِرْنَا مِنْ خِزْىِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن. وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ   Referensi utama: Mufsidaat Al-Qulub. Cetakan pertama, Tahun 1438 H. Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid. Penerbit Al-‘Ubaikan. Hlm. 271-301. Download PDFnya: Khutbah Jumat: Tanda Cinta Dunia — Selesai disusun @ Perpus Rumaysho, saat Jumat siang, Jumat Pon, 30 Muharram 1439 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com   Tagscinta dunia

Khutbah Jumat: Selingkuh itu Mudah

Selingkuh itu mudah dilakukan karena ada nafsu untuk mendorongnya.   Khutbah Pertama الحَمْدُ للهِ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالهُدَى وَدِيْنِ الحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى دِيْنِ كُلِّهِ وَكَفَى بِاللهِ شَهِيْدًا وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ سَارَ عَلَى نَهْجِهِ القَوِيْمِ وَدَعَا إِلَى الصِّرَاطِ المُسْتَقِيْمِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا اللّهُمَّ عَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا، وَانْفَعَنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا، وَزِدْنَا عِلْماً، وَأَرَنَا الحَقَّ حَقّاً وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرَنَا البَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ Amma ba’du: Para jama’ah shalat Jum’at rahimani wa rahimakumullah … Kita diperintahkan untuk senantiasa bersyukur pada Allah atas nikmat yang telah diberikan kepada kita sekalian. Syukur inilah yang kita buktikan dengan takwa sebagaimana yang Allah perintahkan, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS. Ali Imran: 102) Shalawat dan salam semoga tercurah kepada nabi akhir zaman, yang telah mendapatkan mukjizat paling besar dan menjadi pembuka pintu surga, yaitu nabi besar kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, kepada keluarga, sahabat dan setiap orang yang mengikuti salaf tersebut dengan baik hingga akhir zaman. Allah Ta’ala berfirman, إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّي إِنَّ رَبِّي غَفُورٌ رَحِيمٌ “Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Rabbku.” (QS. Yusuf: 53) Syaikh As-Sa’di rahimahullah menerangkan, “Nafsu akan terus mengajak manusia pada kejelekan dan perbuatan keji serta perbuatan dosa lainnya. Nafsu jelek ini jadi tunggangan setan untuk menyesatka manusia dan dari jalan nafsu inilah setan akan masuk kecuali bagi siapa saja yang dirahmati oleh Allah.” Di antara bentuk nafsu yang diperintahkan untuk dijaga adalah menjaga kemaluan, yaitu menjaganya dari perbuatan zina dan perselingkuhan. Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan, وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ (29) إِلَّا عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ (30) فَمَنِ ابْتَغَى وَرَاءَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْعَادُونَ “Dan orang-orang yang memelihara kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau hamba sahaya yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barangsiapa mencari yang di balik itu, maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.” (QS. Al-Ma’arij: 29-31). Maksud menjaga kemaluan adalah menjaganya dari zina, onani, liwath (homoseks), menyetubuhi pada dubur, juga tidak menyentuh kemaluan lainnya (selain yang halal). Demikian diterangkan oleh Syaikh Musthafa Al-‘Adawi dalam tafsir surat Al-Ma’arij. Bukti bahwa manusia akan didorong untuk berzina adalah setiap anggota badannya punya peluang untuk berzina. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, كُتِبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ نَصِيبُهُ مِنَ الزِّنَى مُدْرِكٌ ذَلِكَ لاَ مَحَالَةَ فَالْعَيْنَانِ زِنَاهُمَا النَّظَرُ وَالأُذُنَانِ زِنَاهُمَا الاِسْتِمَاعُ وَاللِّسَانُ زِنَاهُ الْكَلاَمُ وَالْيَدُ زِنَاهَا الْبَطْشُ وَالرِّجْلُ زِنَاهَا الْخُطَا وَالْقَلْبُ يَهْوَى وَيَتَمَنَّى وَيُصَدِّقُ ذَلِكَ الْفَرْجُ وَيُكَذِّبُهُ “Setiap anak Adam telah ditakdirkan bagian untuk berzina dan ini suatu yang pasti terjadi, tidak bisa tidak. Zina kedua mata adalah dengan melihat. Zina kedua telinga dengan mendengar. Zina lisan adalah dengan berbicara. Zina tangan adalah dengan meraba (menyentuh). Zina kaki adalah dengan melangkah. Zina hati adalah dengan menginginkan dan berangan-angan. Lalu kemaluanlah yang nanti akan membenarkan atau mengingkari yang demikian.” (HR. Muslim, no. 6925)   Hal di atas menunjukkan bahwa kita punya kesempatan untuk berzina, dan berselingkuh, itu mudah dilakukan. Itulah yang kita pikirkan saat ini bagaimana nafsu jelek bisa dikendalikan. Terlebih dahulu kita pelajari sebab terjadinya perselingkuhan.   Kenapa perselingkuhan bisa terjadi? Kurang menundukkan pandangan, ini sebab yang ada pada laki-laki. Ia berselingkuh karena memandang ada yang lebih baik dan cantik, ditambah lagi ada wanita yang memberikan perhatian. Mendapatkan kenyamanan emosional dengan laki-laki lain, ada yang beri perhatian lebih. Istri tidak menjaga diri ketika keluar rumah, lebih-lebih ketika bekerja di kantoran. Beberapa kasus, selingkuh terjadi dengan atasan, ada juga dengan rekan kerja. Mungkin karena sering bertemu, akhirnya fall in love. Suami merasa kurang puas dengan pelayanan istri di rumah. Ingin mendapatkan kesenangan sementara dan sesaat, tak mau berpikir panjang. Lingkungan masyarakat yang tidak mendukung, termasuk juga lingkungan kerja. Ingin sekedar menghambur-hamburkan uang dengan berfoya-foya melampiaskan syahwat dengan mencari teman selingkuhan. Bergaul bebas dengan lawan jenis baik di dunia nyata maupun di dunia maya termasuk lewat handphone tanpa sepengetahuan pasangan. CLBK = Cinta Lama Bersemi Kembali. Ingat akan mantan pacar, akhirnya berzina dengannya. Itulah akibat dari maksiat bisa berbuah maksiat selanjutnya. Wanita yang berpenampilan menor dan menggoda saat keluar rumah.   Terus, bagaimana kiat mengatasi perselingkuhan? Mempelajari agama secara mendalam. Dekat dengan orang shalih. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ “Seseorang akan mencocoki kebiasaan teman karibnya. Oleh karenanya, perhatikanlah siapa yang akan menjadi teman karib kalian.” (HR. Abu Daud, no. 4833; Tirmidzi, no. 2378; Ahmad, 2: 344. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan. Lihat Shahihul Jaami’ 3545). Memperhatikan kewajiban masing-masing; suami menjalankan kewajibannya, istri pula menjalankan kewajibannya. Berusaha menundukkan pandangan dari melihat yang tidak halal. Berhati-hati bergaul dengan lawan jenis, tidak begitu saja bebas berhubungan dengan siapa saja Demikian khutbah pertama ini. Moga Allah memberi taufik dan hidayah. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا َوَاسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ إِنَّهُ هُوَ السَمِيْعُ العَلِيْمُ   Khutbah Kedua أَحْمَدُ رَبِّي وَأَشْكُرُهُ ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ نَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ Jamaah Shalat Jumat yang moga senantiasa diberkahi oleh Allah Ta’ala … Satu lagi peringatan agar kita tidak menuruti hawa nafsu dengan selingkuh ada hadits yang jadi renungan sebagai berikut. Sahabat Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu mengisahkan, “Ada seorang pemuda yang datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu ia berkata, “Wahai Rasulullah! Izinkanlah aku untuk berzina.” Spontan seluruh sahabat yang hadir menoleh kepadanya dan menghardiknya, sambil berkata kepadanya: “Apa-apaan ini!” Adapun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda kepada pemuda itu, “Mendekatlah.” Pemuda itu segera mendekat ke sebelah beliau, lalu ia duduk. Selanjutnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam besabda kepadanya, “Apakah engkau suka bila perbuatan zina menimpa ibumu?” Pemuda itu menjawab, “Tidak, sungguh demi Allah.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Demikian juga orang lain tidak suka bila itu menimpa ibu-ibu mereka.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kembali bertanya, “Apakah engkau suka bila perbuatan zina menimpa anak gadismu?” Pemuda itu menjawab, “Tidak, sungguh demi Allah.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menimpali jawabannya, “Demikian juga orang lain tidak suka bila itu menimpa anak gadis mereka.” Selanjutnya beliau bertanya, “Apakah engkau suka bila perbuatan zina menimpa saudarimu?” Pemuda itu menjawab, “Tidak, sungguh demi Allah.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menimpalinya, “Demikian juga orang lain tidak suka bila itu menimpa saudari mereka.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kembali bertanya, “Apakah engkau suka bila perbuatan zina menimpa saudari ayahmu (bibikmu)?” Pemuda itu menjawab, “Tidak, sungguh demi Allah.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menimpali jawabannnya, “Demikian juga orang lain tidak suka bila itu menimpa saudari ayah mereka.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kembali bertanya, “Apakah engkau suka bila perbuatan zina menimpa saudari ibumu (bibikmu)?” Pemuda itu menjawab, “Tidak, sungguh demi Allah.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menimpali jawabannya, “Demikian juga orang lain tidak suka bila itu menimpa saudari ibu mereka.” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meletakkan tangannya di dada pemuda tersebut, dan berdoa, اللَّهُمَّ اغْفِرْ ذَنْبَهُ وَطَهِّرْ قَلْبَهُ، وَحَصِّنْ فَرْجَهُ “Ya Allah, ampunilah dosanya, sucikanlah hatinya, dan lindungilah kemaluannya.” Semenjak hari itu, pemuda tersebut tidak pernah menoleh ke sesuatu hal (tidak pernah memiliki keinginan untuk berbuat serong atau zina).” (HR. Ahmad, 5:256. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih, perawinya tsiqah termasuk dalam jajaran perawi shahih) Semoga dengan memperhatikan hadits di atas, kita tidak lagi punya niatan untuk berzina karena kita tentu tidak senang orang-orang dekat kita dizinai, begitu pula dengan orang lain. Jamaah Shalat Jumat yang moga senantiasa dirahmati oleh Allah Ta’ala … Di hari Jumat yang penuh berkah ini, kami ingatkan untuk memperbanyak shalawat pada Nabi kita Muhammad. Siapa yang bershalawat pada Nabi sekali, maka Allah akan membalas shalawatnya sebanyak sepuluh kali. Juga tak lupa nantinya kita berdoa pada Allah di hari penuh berkah ini, moga doa-doa kita diperkenankan oleh Allah Ta’ala. إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَةِ اللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا يَحُولُ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعَاصِيكَ وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَا بِهِ جَنَّتَكَ وَمِنَ الْيَقِينِ مَا تُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مُصِيبَاتِ الدُّنْيَا وَمَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا وَاجْعَلْ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ ظَلَمَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى مَنْ عَادَانَا وَلاَ تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِى دِينِنَا وَلاَ تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا وَلاَ مَبْلَغَ عِلْمِنَا وَلاَ تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لاَ يَرْحَمُنَا رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى وَالتُّقَى وَالعَفَافَ وَالغِنَى اللَّهُمَّ أَحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِى الأُمُورِ كُلِّهَا وَأَجِرْنَا مِنْ خِزْىِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن. وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ   — Selesai disusun @ Perpus Rumaysho, saat Jumat siang, Jumat Legi, 23 Muharram 1439 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com   Download Tagspeselingkuh pezina selingkuh zina

Khutbah Jumat: Selingkuh itu Mudah

Selingkuh itu mudah dilakukan karena ada nafsu untuk mendorongnya.   Khutbah Pertama الحَمْدُ للهِ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالهُدَى وَدِيْنِ الحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى دِيْنِ كُلِّهِ وَكَفَى بِاللهِ شَهِيْدًا وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ سَارَ عَلَى نَهْجِهِ القَوِيْمِ وَدَعَا إِلَى الصِّرَاطِ المُسْتَقِيْمِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا اللّهُمَّ عَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا، وَانْفَعَنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا، وَزِدْنَا عِلْماً، وَأَرَنَا الحَقَّ حَقّاً وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرَنَا البَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ Amma ba’du: Para jama’ah shalat Jum’at rahimani wa rahimakumullah … Kita diperintahkan untuk senantiasa bersyukur pada Allah atas nikmat yang telah diberikan kepada kita sekalian. Syukur inilah yang kita buktikan dengan takwa sebagaimana yang Allah perintahkan, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS. Ali Imran: 102) Shalawat dan salam semoga tercurah kepada nabi akhir zaman, yang telah mendapatkan mukjizat paling besar dan menjadi pembuka pintu surga, yaitu nabi besar kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, kepada keluarga, sahabat dan setiap orang yang mengikuti salaf tersebut dengan baik hingga akhir zaman. Allah Ta’ala berfirman, إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّي إِنَّ رَبِّي غَفُورٌ رَحِيمٌ “Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Rabbku.” (QS. Yusuf: 53) Syaikh As-Sa’di rahimahullah menerangkan, “Nafsu akan terus mengajak manusia pada kejelekan dan perbuatan keji serta perbuatan dosa lainnya. Nafsu jelek ini jadi tunggangan setan untuk menyesatka manusia dan dari jalan nafsu inilah setan akan masuk kecuali bagi siapa saja yang dirahmati oleh Allah.” Di antara bentuk nafsu yang diperintahkan untuk dijaga adalah menjaga kemaluan, yaitu menjaganya dari perbuatan zina dan perselingkuhan. Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan, وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ (29) إِلَّا عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ (30) فَمَنِ ابْتَغَى وَرَاءَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْعَادُونَ “Dan orang-orang yang memelihara kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau hamba sahaya yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barangsiapa mencari yang di balik itu, maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.” (QS. Al-Ma’arij: 29-31). Maksud menjaga kemaluan adalah menjaganya dari zina, onani, liwath (homoseks), menyetubuhi pada dubur, juga tidak menyentuh kemaluan lainnya (selain yang halal). Demikian diterangkan oleh Syaikh Musthafa Al-‘Adawi dalam tafsir surat Al-Ma’arij. Bukti bahwa manusia akan didorong untuk berzina adalah setiap anggota badannya punya peluang untuk berzina. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, كُتِبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ نَصِيبُهُ مِنَ الزِّنَى مُدْرِكٌ ذَلِكَ لاَ مَحَالَةَ فَالْعَيْنَانِ زِنَاهُمَا النَّظَرُ وَالأُذُنَانِ زِنَاهُمَا الاِسْتِمَاعُ وَاللِّسَانُ زِنَاهُ الْكَلاَمُ وَالْيَدُ زِنَاهَا الْبَطْشُ وَالرِّجْلُ زِنَاهَا الْخُطَا وَالْقَلْبُ يَهْوَى وَيَتَمَنَّى وَيُصَدِّقُ ذَلِكَ الْفَرْجُ وَيُكَذِّبُهُ “Setiap anak Adam telah ditakdirkan bagian untuk berzina dan ini suatu yang pasti terjadi, tidak bisa tidak. Zina kedua mata adalah dengan melihat. Zina kedua telinga dengan mendengar. Zina lisan adalah dengan berbicara. Zina tangan adalah dengan meraba (menyentuh). Zina kaki adalah dengan melangkah. Zina hati adalah dengan menginginkan dan berangan-angan. Lalu kemaluanlah yang nanti akan membenarkan atau mengingkari yang demikian.” (HR. Muslim, no. 6925)   Hal di atas menunjukkan bahwa kita punya kesempatan untuk berzina, dan berselingkuh, itu mudah dilakukan. Itulah yang kita pikirkan saat ini bagaimana nafsu jelek bisa dikendalikan. Terlebih dahulu kita pelajari sebab terjadinya perselingkuhan.   Kenapa perselingkuhan bisa terjadi? Kurang menundukkan pandangan, ini sebab yang ada pada laki-laki. Ia berselingkuh karena memandang ada yang lebih baik dan cantik, ditambah lagi ada wanita yang memberikan perhatian. Mendapatkan kenyamanan emosional dengan laki-laki lain, ada yang beri perhatian lebih. Istri tidak menjaga diri ketika keluar rumah, lebih-lebih ketika bekerja di kantoran. Beberapa kasus, selingkuh terjadi dengan atasan, ada juga dengan rekan kerja. Mungkin karena sering bertemu, akhirnya fall in love. Suami merasa kurang puas dengan pelayanan istri di rumah. Ingin mendapatkan kesenangan sementara dan sesaat, tak mau berpikir panjang. Lingkungan masyarakat yang tidak mendukung, termasuk juga lingkungan kerja. Ingin sekedar menghambur-hamburkan uang dengan berfoya-foya melampiaskan syahwat dengan mencari teman selingkuhan. Bergaul bebas dengan lawan jenis baik di dunia nyata maupun di dunia maya termasuk lewat handphone tanpa sepengetahuan pasangan. CLBK = Cinta Lama Bersemi Kembali. Ingat akan mantan pacar, akhirnya berzina dengannya. Itulah akibat dari maksiat bisa berbuah maksiat selanjutnya. Wanita yang berpenampilan menor dan menggoda saat keluar rumah.   Terus, bagaimana kiat mengatasi perselingkuhan? Mempelajari agama secara mendalam. Dekat dengan orang shalih. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ “Seseorang akan mencocoki kebiasaan teman karibnya. Oleh karenanya, perhatikanlah siapa yang akan menjadi teman karib kalian.” (HR. Abu Daud, no. 4833; Tirmidzi, no. 2378; Ahmad, 2: 344. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan. Lihat Shahihul Jaami’ 3545). Memperhatikan kewajiban masing-masing; suami menjalankan kewajibannya, istri pula menjalankan kewajibannya. Berusaha menundukkan pandangan dari melihat yang tidak halal. Berhati-hati bergaul dengan lawan jenis, tidak begitu saja bebas berhubungan dengan siapa saja Demikian khutbah pertama ini. Moga Allah memberi taufik dan hidayah. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا َوَاسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ إِنَّهُ هُوَ السَمِيْعُ العَلِيْمُ   Khutbah Kedua أَحْمَدُ رَبِّي وَأَشْكُرُهُ ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ نَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ Jamaah Shalat Jumat yang moga senantiasa diberkahi oleh Allah Ta’ala … Satu lagi peringatan agar kita tidak menuruti hawa nafsu dengan selingkuh ada hadits yang jadi renungan sebagai berikut. Sahabat Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu mengisahkan, “Ada seorang pemuda yang datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu ia berkata, “Wahai Rasulullah! Izinkanlah aku untuk berzina.” Spontan seluruh sahabat yang hadir menoleh kepadanya dan menghardiknya, sambil berkata kepadanya: “Apa-apaan ini!” Adapun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda kepada pemuda itu, “Mendekatlah.” Pemuda itu segera mendekat ke sebelah beliau, lalu ia duduk. Selanjutnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam besabda kepadanya, “Apakah engkau suka bila perbuatan zina menimpa ibumu?” Pemuda itu menjawab, “Tidak, sungguh demi Allah.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Demikian juga orang lain tidak suka bila itu menimpa ibu-ibu mereka.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kembali bertanya, “Apakah engkau suka bila perbuatan zina menimpa anak gadismu?” Pemuda itu menjawab, “Tidak, sungguh demi Allah.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menimpali jawabannya, “Demikian juga orang lain tidak suka bila itu menimpa anak gadis mereka.” Selanjutnya beliau bertanya, “Apakah engkau suka bila perbuatan zina menimpa saudarimu?” Pemuda itu menjawab, “Tidak, sungguh demi Allah.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menimpalinya, “Demikian juga orang lain tidak suka bila itu menimpa saudari mereka.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kembali bertanya, “Apakah engkau suka bila perbuatan zina menimpa saudari ayahmu (bibikmu)?” Pemuda itu menjawab, “Tidak, sungguh demi Allah.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menimpali jawabannnya, “Demikian juga orang lain tidak suka bila itu menimpa saudari ayah mereka.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kembali bertanya, “Apakah engkau suka bila perbuatan zina menimpa saudari ibumu (bibikmu)?” Pemuda itu menjawab, “Tidak, sungguh demi Allah.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menimpali jawabannya, “Demikian juga orang lain tidak suka bila itu menimpa saudari ibu mereka.” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meletakkan tangannya di dada pemuda tersebut, dan berdoa, اللَّهُمَّ اغْفِرْ ذَنْبَهُ وَطَهِّرْ قَلْبَهُ، وَحَصِّنْ فَرْجَهُ “Ya Allah, ampunilah dosanya, sucikanlah hatinya, dan lindungilah kemaluannya.” Semenjak hari itu, pemuda tersebut tidak pernah menoleh ke sesuatu hal (tidak pernah memiliki keinginan untuk berbuat serong atau zina).” (HR. Ahmad, 5:256. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih, perawinya tsiqah termasuk dalam jajaran perawi shahih) Semoga dengan memperhatikan hadits di atas, kita tidak lagi punya niatan untuk berzina karena kita tentu tidak senang orang-orang dekat kita dizinai, begitu pula dengan orang lain. Jamaah Shalat Jumat yang moga senantiasa dirahmati oleh Allah Ta’ala … Di hari Jumat yang penuh berkah ini, kami ingatkan untuk memperbanyak shalawat pada Nabi kita Muhammad. Siapa yang bershalawat pada Nabi sekali, maka Allah akan membalas shalawatnya sebanyak sepuluh kali. Juga tak lupa nantinya kita berdoa pada Allah di hari penuh berkah ini, moga doa-doa kita diperkenankan oleh Allah Ta’ala. إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَةِ اللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا يَحُولُ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعَاصِيكَ وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَا بِهِ جَنَّتَكَ وَمِنَ الْيَقِينِ مَا تُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مُصِيبَاتِ الدُّنْيَا وَمَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا وَاجْعَلْ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ ظَلَمَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى مَنْ عَادَانَا وَلاَ تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِى دِينِنَا وَلاَ تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا وَلاَ مَبْلَغَ عِلْمِنَا وَلاَ تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لاَ يَرْحَمُنَا رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى وَالتُّقَى وَالعَفَافَ وَالغِنَى اللَّهُمَّ أَحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِى الأُمُورِ كُلِّهَا وَأَجِرْنَا مِنْ خِزْىِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن. وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ   — Selesai disusun @ Perpus Rumaysho, saat Jumat siang, Jumat Legi, 23 Muharram 1439 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com   Download Tagspeselingkuh pezina selingkuh zina
Selingkuh itu mudah dilakukan karena ada nafsu untuk mendorongnya.   Khutbah Pertama الحَمْدُ للهِ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالهُدَى وَدِيْنِ الحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى دِيْنِ كُلِّهِ وَكَفَى بِاللهِ شَهِيْدًا وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ سَارَ عَلَى نَهْجِهِ القَوِيْمِ وَدَعَا إِلَى الصِّرَاطِ المُسْتَقِيْمِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا اللّهُمَّ عَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا، وَانْفَعَنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا، وَزِدْنَا عِلْماً، وَأَرَنَا الحَقَّ حَقّاً وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرَنَا البَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ Amma ba’du: Para jama’ah shalat Jum’at rahimani wa rahimakumullah … Kita diperintahkan untuk senantiasa bersyukur pada Allah atas nikmat yang telah diberikan kepada kita sekalian. Syukur inilah yang kita buktikan dengan takwa sebagaimana yang Allah perintahkan, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS. Ali Imran: 102) Shalawat dan salam semoga tercurah kepada nabi akhir zaman, yang telah mendapatkan mukjizat paling besar dan menjadi pembuka pintu surga, yaitu nabi besar kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, kepada keluarga, sahabat dan setiap orang yang mengikuti salaf tersebut dengan baik hingga akhir zaman. Allah Ta’ala berfirman, إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّي إِنَّ رَبِّي غَفُورٌ رَحِيمٌ “Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Rabbku.” (QS. Yusuf: 53) Syaikh As-Sa’di rahimahullah menerangkan, “Nafsu akan terus mengajak manusia pada kejelekan dan perbuatan keji serta perbuatan dosa lainnya. Nafsu jelek ini jadi tunggangan setan untuk menyesatka manusia dan dari jalan nafsu inilah setan akan masuk kecuali bagi siapa saja yang dirahmati oleh Allah.” Di antara bentuk nafsu yang diperintahkan untuk dijaga adalah menjaga kemaluan, yaitu menjaganya dari perbuatan zina dan perselingkuhan. Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan, وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ (29) إِلَّا عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ (30) فَمَنِ ابْتَغَى وَرَاءَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْعَادُونَ “Dan orang-orang yang memelihara kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau hamba sahaya yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barangsiapa mencari yang di balik itu, maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.” (QS. Al-Ma’arij: 29-31). Maksud menjaga kemaluan adalah menjaganya dari zina, onani, liwath (homoseks), menyetubuhi pada dubur, juga tidak menyentuh kemaluan lainnya (selain yang halal). Demikian diterangkan oleh Syaikh Musthafa Al-‘Adawi dalam tafsir surat Al-Ma’arij. Bukti bahwa manusia akan didorong untuk berzina adalah setiap anggota badannya punya peluang untuk berzina. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, كُتِبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ نَصِيبُهُ مِنَ الزِّنَى مُدْرِكٌ ذَلِكَ لاَ مَحَالَةَ فَالْعَيْنَانِ زِنَاهُمَا النَّظَرُ وَالأُذُنَانِ زِنَاهُمَا الاِسْتِمَاعُ وَاللِّسَانُ زِنَاهُ الْكَلاَمُ وَالْيَدُ زِنَاهَا الْبَطْشُ وَالرِّجْلُ زِنَاهَا الْخُطَا وَالْقَلْبُ يَهْوَى وَيَتَمَنَّى وَيُصَدِّقُ ذَلِكَ الْفَرْجُ وَيُكَذِّبُهُ “Setiap anak Adam telah ditakdirkan bagian untuk berzina dan ini suatu yang pasti terjadi, tidak bisa tidak. Zina kedua mata adalah dengan melihat. Zina kedua telinga dengan mendengar. Zina lisan adalah dengan berbicara. Zina tangan adalah dengan meraba (menyentuh). Zina kaki adalah dengan melangkah. Zina hati adalah dengan menginginkan dan berangan-angan. Lalu kemaluanlah yang nanti akan membenarkan atau mengingkari yang demikian.” (HR. Muslim, no. 6925)   Hal di atas menunjukkan bahwa kita punya kesempatan untuk berzina, dan berselingkuh, itu mudah dilakukan. Itulah yang kita pikirkan saat ini bagaimana nafsu jelek bisa dikendalikan. Terlebih dahulu kita pelajari sebab terjadinya perselingkuhan.   Kenapa perselingkuhan bisa terjadi? Kurang menundukkan pandangan, ini sebab yang ada pada laki-laki. Ia berselingkuh karena memandang ada yang lebih baik dan cantik, ditambah lagi ada wanita yang memberikan perhatian. Mendapatkan kenyamanan emosional dengan laki-laki lain, ada yang beri perhatian lebih. Istri tidak menjaga diri ketika keluar rumah, lebih-lebih ketika bekerja di kantoran. Beberapa kasus, selingkuh terjadi dengan atasan, ada juga dengan rekan kerja. Mungkin karena sering bertemu, akhirnya fall in love. Suami merasa kurang puas dengan pelayanan istri di rumah. Ingin mendapatkan kesenangan sementara dan sesaat, tak mau berpikir panjang. Lingkungan masyarakat yang tidak mendukung, termasuk juga lingkungan kerja. Ingin sekedar menghambur-hamburkan uang dengan berfoya-foya melampiaskan syahwat dengan mencari teman selingkuhan. Bergaul bebas dengan lawan jenis baik di dunia nyata maupun di dunia maya termasuk lewat handphone tanpa sepengetahuan pasangan. CLBK = Cinta Lama Bersemi Kembali. Ingat akan mantan pacar, akhirnya berzina dengannya. Itulah akibat dari maksiat bisa berbuah maksiat selanjutnya. Wanita yang berpenampilan menor dan menggoda saat keluar rumah.   Terus, bagaimana kiat mengatasi perselingkuhan? Mempelajari agama secara mendalam. Dekat dengan orang shalih. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ “Seseorang akan mencocoki kebiasaan teman karibnya. Oleh karenanya, perhatikanlah siapa yang akan menjadi teman karib kalian.” (HR. Abu Daud, no. 4833; Tirmidzi, no. 2378; Ahmad, 2: 344. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan. Lihat Shahihul Jaami’ 3545). Memperhatikan kewajiban masing-masing; suami menjalankan kewajibannya, istri pula menjalankan kewajibannya. Berusaha menundukkan pandangan dari melihat yang tidak halal. Berhati-hati bergaul dengan lawan jenis, tidak begitu saja bebas berhubungan dengan siapa saja Demikian khutbah pertama ini. Moga Allah memberi taufik dan hidayah. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا َوَاسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ إِنَّهُ هُوَ السَمِيْعُ العَلِيْمُ   Khutbah Kedua أَحْمَدُ رَبِّي وَأَشْكُرُهُ ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ نَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ Jamaah Shalat Jumat yang moga senantiasa diberkahi oleh Allah Ta’ala … Satu lagi peringatan agar kita tidak menuruti hawa nafsu dengan selingkuh ada hadits yang jadi renungan sebagai berikut. Sahabat Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu mengisahkan, “Ada seorang pemuda yang datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu ia berkata, “Wahai Rasulullah! Izinkanlah aku untuk berzina.” Spontan seluruh sahabat yang hadir menoleh kepadanya dan menghardiknya, sambil berkata kepadanya: “Apa-apaan ini!” Adapun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda kepada pemuda itu, “Mendekatlah.” Pemuda itu segera mendekat ke sebelah beliau, lalu ia duduk. Selanjutnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam besabda kepadanya, “Apakah engkau suka bila perbuatan zina menimpa ibumu?” Pemuda itu menjawab, “Tidak, sungguh demi Allah.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Demikian juga orang lain tidak suka bila itu menimpa ibu-ibu mereka.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kembali bertanya, “Apakah engkau suka bila perbuatan zina menimpa anak gadismu?” Pemuda itu menjawab, “Tidak, sungguh demi Allah.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menimpali jawabannya, “Demikian juga orang lain tidak suka bila itu menimpa anak gadis mereka.” Selanjutnya beliau bertanya, “Apakah engkau suka bila perbuatan zina menimpa saudarimu?” Pemuda itu menjawab, “Tidak, sungguh demi Allah.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menimpalinya, “Demikian juga orang lain tidak suka bila itu menimpa saudari mereka.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kembali bertanya, “Apakah engkau suka bila perbuatan zina menimpa saudari ayahmu (bibikmu)?” Pemuda itu menjawab, “Tidak, sungguh demi Allah.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menimpali jawabannnya, “Demikian juga orang lain tidak suka bila itu menimpa saudari ayah mereka.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kembali bertanya, “Apakah engkau suka bila perbuatan zina menimpa saudari ibumu (bibikmu)?” Pemuda itu menjawab, “Tidak, sungguh demi Allah.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menimpali jawabannya, “Demikian juga orang lain tidak suka bila itu menimpa saudari ibu mereka.” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meletakkan tangannya di dada pemuda tersebut, dan berdoa, اللَّهُمَّ اغْفِرْ ذَنْبَهُ وَطَهِّرْ قَلْبَهُ، وَحَصِّنْ فَرْجَهُ “Ya Allah, ampunilah dosanya, sucikanlah hatinya, dan lindungilah kemaluannya.” Semenjak hari itu, pemuda tersebut tidak pernah menoleh ke sesuatu hal (tidak pernah memiliki keinginan untuk berbuat serong atau zina).” (HR. Ahmad, 5:256. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih, perawinya tsiqah termasuk dalam jajaran perawi shahih) Semoga dengan memperhatikan hadits di atas, kita tidak lagi punya niatan untuk berzina karena kita tentu tidak senang orang-orang dekat kita dizinai, begitu pula dengan orang lain. Jamaah Shalat Jumat yang moga senantiasa dirahmati oleh Allah Ta’ala … Di hari Jumat yang penuh berkah ini, kami ingatkan untuk memperbanyak shalawat pada Nabi kita Muhammad. Siapa yang bershalawat pada Nabi sekali, maka Allah akan membalas shalawatnya sebanyak sepuluh kali. Juga tak lupa nantinya kita berdoa pada Allah di hari penuh berkah ini, moga doa-doa kita diperkenankan oleh Allah Ta’ala. إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَةِ اللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا يَحُولُ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعَاصِيكَ وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَا بِهِ جَنَّتَكَ وَمِنَ الْيَقِينِ مَا تُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مُصِيبَاتِ الدُّنْيَا وَمَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا وَاجْعَلْ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ ظَلَمَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى مَنْ عَادَانَا وَلاَ تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِى دِينِنَا وَلاَ تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا وَلاَ مَبْلَغَ عِلْمِنَا وَلاَ تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لاَ يَرْحَمُنَا رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى وَالتُّقَى وَالعَفَافَ وَالغِنَى اللَّهُمَّ أَحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِى الأُمُورِ كُلِّهَا وَأَجِرْنَا مِنْ خِزْىِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن. وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ   — Selesai disusun @ Perpus Rumaysho, saat Jumat siang, Jumat Legi, 23 Muharram 1439 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com   Download Tagspeselingkuh pezina selingkuh zina


Selingkuh itu mudah dilakukan karena ada nafsu untuk mendorongnya.   Khutbah Pertama الحَمْدُ للهِ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالهُدَى وَدِيْنِ الحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى دِيْنِ كُلِّهِ وَكَفَى بِاللهِ شَهِيْدًا وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ سَارَ عَلَى نَهْجِهِ القَوِيْمِ وَدَعَا إِلَى الصِّرَاطِ المُسْتَقِيْمِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا اللّهُمَّ عَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا، وَانْفَعَنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا، وَزِدْنَا عِلْماً، وَأَرَنَا الحَقَّ حَقّاً وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرَنَا البَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ Amma ba’du: Para jama’ah shalat Jum’at rahimani wa rahimakumullah … Kita diperintahkan untuk senantiasa bersyukur pada Allah atas nikmat yang telah diberikan kepada kita sekalian. Syukur inilah yang kita buktikan dengan takwa sebagaimana yang Allah perintahkan, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS. Ali Imran: 102) Shalawat dan salam semoga tercurah kepada nabi akhir zaman, yang telah mendapatkan mukjizat paling besar dan menjadi pembuka pintu surga, yaitu nabi besar kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, kepada keluarga, sahabat dan setiap orang yang mengikuti salaf tersebut dengan baik hingga akhir zaman. Allah Ta’ala berfirman, إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّي إِنَّ رَبِّي غَفُورٌ رَحِيمٌ “Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Rabbku.” (QS. Yusuf: 53) Syaikh As-Sa’di rahimahullah menerangkan, “Nafsu akan terus mengajak manusia pada kejelekan dan perbuatan keji serta perbuatan dosa lainnya. Nafsu jelek ini jadi tunggangan setan untuk menyesatka manusia dan dari jalan nafsu inilah setan akan masuk kecuali bagi siapa saja yang dirahmati oleh Allah.” Di antara bentuk nafsu yang diperintahkan untuk dijaga adalah menjaga kemaluan, yaitu menjaganya dari perbuatan zina dan perselingkuhan. Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan, وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ (29) إِلَّا عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ (30) فَمَنِ ابْتَغَى وَرَاءَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْعَادُونَ “Dan orang-orang yang memelihara kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau hamba sahaya yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barangsiapa mencari yang di balik itu, maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.” (QS. Al-Ma’arij: 29-31). Maksud menjaga kemaluan adalah menjaganya dari zina, onani, liwath (homoseks), menyetubuhi pada dubur, juga tidak menyentuh kemaluan lainnya (selain yang halal). Demikian diterangkan oleh Syaikh Musthafa Al-‘Adawi dalam tafsir surat Al-Ma’arij. Bukti bahwa manusia akan didorong untuk berzina adalah setiap anggota badannya punya peluang untuk berzina. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, كُتِبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ نَصِيبُهُ مِنَ الزِّنَى مُدْرِكٌ ذَلِكَ لاَ مَحَالَةَ فَالْعَيْنَانِ زِنَاهُمَا النَّظَرُ وَالأُذُنَانِ زِنَاهُمَا الاِسْتِمَاعُ وَاللِّسَانُ زِنَاهُ الْكَلاَمُ وَالْيَدُ زِنَاهَا الْبَطْشُ وَالرِّجْلُ زِنَاهَا الْخُطَا وَالْقَلْبُ يَهْوَى وَيَتَمَنَّى وَيُصَدِّقُ ذَلِكَ الْفَرْجُ وَيُكَذِّبُهُ “Setiap anak Adam telah ditakdirkan bagian untuk berzina dan ini suatu yang pasti terjadi, tidak bisa tidak. Zina kedua mata adalah dengan melihat. Zina kedua telinga dengan mendengar. Zina lisan adalah dengan berbicara. Zina tangan adalah dengan meraba (menyentuh). Zina kaki adalah dengan melangkah. Zina hati adalah dengan menginginkan dan berangan-angan. Lalu kemaluanlah yang nanti akan membenarkan atau mengingkari yang demikian.” (HR. Muslim, no. 6925)   Hal di atas menunjukkan bahwa kita punya kesempatan untuk berzina, dan berselingkuh, itu mudah dilakukan. Itulah yang kita pikirkan saat ini bagaimana nafsu jelek bisa dikendalikan. Terlebih dahulu kita pelajari sebab terjadinya perselingkuhan.   Kenapa perselingkuhan bisa terjadi? Kurang menundukkan pandangan, ini sebab yang ada pada laki-laki. Ia berselingkuh karena memandang ada yang lebih baik dan cantik, ditambah lagi ada wanita yang memberikan perhatian. Mendapatkan kenyamanan emosional dengan laki-laki lain, ada yang beri perhatian lebih. Istri tidak menjaga diri ketika keluar rumah, lebih-lebih ketika bekerja di kantoran. Beberapa kasus, selingkuh terjadi dengan atasan, ada juga dengan rekan kerja. Mungkin karena sering bertemu, akhirnya fall in love. Suami merasa kurang puas dengan pelayanan istri di rumah. Ingin mendapatkan kesenangan sementara dan sesaat, tak mau berpikir panjang. Lingkungan masyarakat yang tidak mendukung, termasuk juga lingkungan kerja. Ingin sekedar menghambur-hamburkan uang dengan berfoya-foya melampiaskan syahwat dengan mencari teman selingkuhan. Bergaul bebas dengan lawan jenis baik di dunia nyata maupun di dunia maya termasuk lewat handphone tanpa sepengetahuan pasangan. CLBK = Cinta Lama Bersemi Kembali. Ingat akan mantan pacar, akhirnya berzina dengannya. Itulah akibat dari maksiat bisa berbuah maksiat selanjutnya. Wanita yang berpenampilan menor dan menggoda saat keluar rumah.   Terus, bagaimana kiat mengatasi perselingkuhan? Mempelajari agama secara mendalam. Dekat dengan orang shalih. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ “Seseorang akan mencocoki kebiasaan teman karibnya. Oleh karenanya, perhatikanlah siapa yang akan menjadi teman karib kalian.” (HR. Abu Daud, no. 4833; Tirmidzi, no. 2378; Ahmad, 2: 344. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan. Lihat Shahihul Jaami’ 3545). Memperhatikan kewajiban masing-masing; suami menjalankan kewajibannya, istri pula menjalankan kewajibannya. Berusaha menundukkan pandangan dari melihat yang tidak halal. Berhati-hati bergaul dengan lawan jenis, tidak begitu saja bebas berhubungan dengan siapa saja Demikian khutbah pertama ini. Moga Allah memberi taufik dan hidayah. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا َوَاسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ إِنَّهُ هُوَ السَمِيْعُ العَلِيْمُ   Khutbah Kedua أَحْمَدُ رَبِّي وَأَشْكُرُهُ ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ نَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ Jamaah Shalat Jumat yang moga senantiasa diberkahi oleh Allah Ta’ala … Satu lagi peringatan agar kita tidak menuruti hawa nafsu dengan selingkuh ada hadits yang jadi renungan sebagai berikut. Sahabat Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu mengisahkan, “Ada seorang pemuda yang datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu ia berkata, “Wahai Rasulullah! Izinkanlah aku untuk berzina.” Spontan seluruh sahabat yang hadir menoleh kepadanya dan menghardiknya, sambil berkata kepadanya: “Apa-apaan ini!” Adapun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda kepada pemuda itu, “Mendekatlah.” Pemuda itu segera mendekat ke sebelah beliau, lalu ia duduk. Selanjutnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam besabda kepadanya, “Apakah engkau suka bila perbuatan zina menimpa ibumu?” Pemuda itu menjawab, “Tidak, sungguh demi Allah.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Demikian juga orang lain tidak suka bila itu menimpa ibu-ibu mereka.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kembali bertanya, “Apakah engkau suka bila perbuatan zina menimpa anak gadismu?” Pemuda itu menjawab, “Tidak, sungguh demi Allah.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menimpali jawabannya, “Demikian juga orang lain tidak suka bila itu menimpa anak gadis mereka.” Selanjutnya beliau bertanya, “Apakah engkau suka bila perbuatan zina menimpa saudarimu?” Pemuda itu menjawab, “Tidak, sungguh demi Allah.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menimpalinya, “Demikian juga orang lain tidak suka bila itu menimpa saudari mereka.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kembali bertanya, “Apakah engkau suka bila perbuatan zina menimpa saudari ayahmu (bibikmu)?” Pemuda itu menjawab, “Tidak, sungguh demi Allah.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menimpali jawabannnya, “Demikian juga orang lain tidak suka bila itu menimpa saudari ayah mereka.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kembali bertanya, “Apakah engkau suka bila perbuatan zina menimpa saudari ibumu (bibikmu)?” Pemuda itu menjawab, “Tidak, sungguh demi Allah.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menimpali jawabannya, “Demikian juga orang lain tidak suka bila itu menimpa saudari ibu mereka.” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meletakkan tangannya di dada pemuda tersebut, dan berdoa, اللَّهُمَّ اغْفِرْ ذَنْبَهُ وَطَهِّرْ قَلْبَهُ، وَحَصِّنْ فَرْجَهُ “Ya Allah, ampunilah dosanya, sucikanlah hatinya, dan lindungilah kemaluannya.” Semenjak hari itu, pemuda tersebut tidak pernah menoleh ke sesuatu hal (tidak pernah memiliki keinginan untuk berbuat serong atau zina).” (HR. Ahmad, 5:256. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih, perawinya tsiqah termasuk dalam jajaran perawi shahih) Semoga dengan memperhatikan hadits di atas, kita tidak lagi punya niatan untuk berzina karena kita tentu tidak senang orang-orang dekat kita dizinai, begitu pula dengan orang lain. Jamaah Shalat Jumat yang moga senantiasa dirahmati oleh Allah Ta’ala … Di hari Jumat yang penuh berkah ini, kami ingatkan untuk memperbanyak shalawat pada Nabi kita Muhammad. Siapa yang bershalawat pada Nabi sekali, maka Allah akan membalas shalawatnya sebanyak sepuluh kali. Juga tak lupa nantinya kita berdoa pada Allah di hari penuh berkah ini, moga doa-doa kita diperkenankan oleh Allah Ta’ala. إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَةِ اللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا يَحُولُ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعَاصِيكَ وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَا بِهِ جَنَّتَكَ وَمِنَ الْيَقِينِ مَا تُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مُصِيبَاتِ الدُّنْيَا وَمَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا وَاجْعَلْ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ ظَلَمَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى مَنْ عَادَانَا وَلاَ تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِى دِينِنَا وَلاَ تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا وَلاَ مَبْلَغَ عِلْمِنَا وَلاَ تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لاَ يَرْحَمُنَا رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى وَالتُّقَى وَالعَفَافَ وَالغِنَى اللَّهُمَّ أَحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِى الأُمُورِ كُلِّهَا وَأَجِرْنَا مِنْ خِزْىِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن. وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ   — Selesai disusun @ Perpus Rumaysho, saat Jumat siang, Jumat Legi, 23 Muharram 1439 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com   Download Tagspeselingkuh pezina selingkuh zina
Prev     Next