Laporan Donasi YPIA periode Bulan Oktober 2017

Segala puji bagi Allah ta’ala atas limpahan rahmat dan hidayah dari-Nya. Kami mengucapkan jazakumullohu khairan atas partisipasi dan kepercayaan para donatur yang dalam menyalurkan donasinya untuk dakwah melalui Yayasan Pendidikan Islam Al Atsari.Semoga Allah mengganti dengan yang lebih baik dan memudahkan urusan kita, baik di dunia maupun di akhirat kelak. Barakallahu fiikumBerikut ini kami laporkan pemasukan donasi melalui YPIA Bulan Oktober 2017. Semoga bantuan dari kaum muslimin sekalian memberikan manfaat yang besar bagi dakwah Islam yang Haq.Kami mohon maaf, apabila ada penulisan nama ataupun donasi yang belum terlaporkan dalam laporan ini, bisa dikonfirmasikan kepada bidang donasi Dakwah YPIA. Jazakumullohu khairan.Kami juga memohon maaf, untuk rincian lebih lengkapnya bisa mendownload link yang kami berikan di bawah, sekaligus rincian donasi pulsa, karena banyaknya donatur pada Bulan Oktober 2017Adapun Rekap Donasi Bulan Oktober 2017  sebagai berikut:LINK DOWNLOAD: KLIK DI SINIBagi kaum muslimin yang hendak membantu donasi dalam syi’ar dakwah Islam, bisa disalurkan ke rekening  YPIA berikut ini:REKENING DONASI YPIA: Bank BNI Syariah Yogyakarta atas nama Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari. Nomor rekening: 024 1913 801. Bank Muamalat atas nama Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari Yogyakarta. Nomor rekening: 5350002594 Bank Syariah Mandiri atas nama YPIA Yogyakarta. Nomor rekening: 703 157 1329. CIMB Niaga Syariah atas nama Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari. Nomor rekening: 508.01.00028.00.0. Rekening paypal: donasi@muslim.or.id Western union an Muhammad Akmalul Khuluk d/a Kauman GM 1/241 RT/RW 049/013 kel. Ngupasan kec. Gondomanan Yogyakarta Indonesia 55122 (harap segera menginformasikan Nomor Transaksi Pengiriman Uang (MTCN) setelah pengiriman ke: 0857-4722-3366)Konfirmasi donasi :Setiap donatur yang telah menyalurkan bantuan donasi dakwah dimohon mengkonfirmasikan donasi yang telah dikirimkan ke nomor Donasi Dakwah & Sosial YPIA berikut ini:HP: 0857-4722-3366 ( SMS, Telpon, Whatsapp dan Telegram)PIN BBM Tambahan: 7E51c4a4.PIN BBM: 73db10e1 (kontak Penuh)Dengan format konfirmasi sebagai berikut:Nama#Alamat#email#BesarDonasi#TanggalTransfer#Rekening#Tujuan Donasi#Contoh:Abdullah#Jl. Slamet Riyadi, no. 100, Solo.#500.000#12 Oktober 2012#Muamalat#Buletin At Tauhid🔍 Kekuasaan Alloh, Arti Khimar, Adab Dan Doa Ziarah Kubur, Orang Bodoh Dalam Islam, Kata Cinta Dalam Al Quran

Laporan Donasi YPIA periode Bulan Oktober 2017

Segala puji bagi Allah ta’ala atas limpahan rahmat dan hidayah dari-Nya. Kami mengucapkan jazakumullohu khairan atas partisipasi dan kepercayaan para donatur yang dalam menyalurkan donasinya untuk dakwah melalui Yayasan Pendidikan Islam Al Atsari.Semoga Allah mengganti dengan yang lebih baik dan memudahkan urusan kita, baik di dunia maupun di akhirat kelak. Barakallahu fiikumBerikut ini kami laporkan pemasukan donasi melalui YPIA Bulan Oktober 2017. Semoga bantuan dari kaum muslimin sekalian memberikan manfaat yang besar bagi dakwah Islam yang Haq.Kami mohon maaf, apabila ada penulisan nama ataupun donasi yang belum terlaporkan dalam laporan ini, bisa dikonfirmasikan kepada bidang donasi Dakwah YPIA. Jazakumullohu khairan.Kami juga memohon maaf, untuk rincian lebih lengkapnya bisa mendownload link yang kami berikan di bawah, sekaligus rincian donasi pulsa, karena banyaknya donatur pada Bulan Oktober 2017Adapun Rekap Donasi Bulan Oktober 2017  sebagai berikut:LINK DOWNLOAD: KLIK DI SINIBagi kaum muslimin yang hendak membantu donasi dalam syi’ar dakwah Islam, bisa disalurkan ke rekening  YPIA berikut ini:REKENING DONASI YPIA: Bank BNI Syariah Yogyakarta atas nama Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari. Nomor rekening: 024 1913 801. Bank Muamalat atas nama Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari Yogyakarta. Nomor rekening: 5350002594 Bank Syariah Mandiri atas nama YPIA Yogyakarta. Nomor rekening: 703 157 1329. CIMB Niaga Syariah atas nama Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari. Nomor rekening: 508.01.00028.00.0. Rekening paypal: donasi@muslim.or.id Western union an Muhammad Akmalul Khuluk d/a Kauman GM 1/241 RT/RW 049/013 kel. Ngupasan kec. Gondomanan Yogyakarta Indonesia 55122 (harap segera menginformasikan Nomor Transaksi Pengiriman Uang (MTCN) setelah pengiriman ke: 0857-4722-3366)Konfirmasi donasi :Setiap donatur yang telah menyalurkan bantuan donasi dakwah dimohon mengkonfirmasikan donasi yang telah dikirimkan ke nomor Donasi Dakwah & Sosial YPIA berikut ini:HP: 0857-4722-3366 ( SMS, Telpon, Whatsapp dan Telegram)PIN BBM Tambahan: 7E51c4a4.PIN BBM: 73db10e1 (kontak Penuh)Dengan format konfirmasi sebagai berikut:Nama#Alamat#email#BesarDonasi#TanggalTransfer#Rekening#Tujuan Donasi#Contoh:Abdullah#Jl. Slamet Riyadi, no. 100, Solo.#500.000#12 Oktober 2012#Muamalat#Buletin At Tauhid🔍 Kekuasaan Alloh, Arti Khimar, Adab Dan Doa Ziarah Kubur, Orang Bodoh Dalam Islam, Kata Cinta Dalam Al Quran
Segala puji bagi Allah ta’ala atas limpahan rahmat dan hidayah dari-Nya. Kami mengucapkan jazakumullohu khairan atas partisipasi dan kepercayaan para donatur yang dalam menyalurkan donasinya untuk dakwah melalui Yayasan Pendidikan Islam Al Atsari.Semoga Allah mengganti dengan yang lebih baik dan memudahkan urusan kita, baik di dunia maupun di akhirat kelak. Barakallahu fiikumBerikut ini kami laporkan pemasukan donasi melalui YPIA Bulan Oktober 2017. Semoga bantuan dari kaum muslimin sekalian memberikan manfaat yang besar bagi dakwah Islam yang Haq.Kami mohon maaf, apabila ada penulisan nama ataupun donasi yang belum terlaporkan dalam laporan ini, bisa dikonfirmasikan kepada bidang donasi Dakwah YPIA. Jazakumullohu khairan.Kami juga memohon maaf, untuk rincian lebih lengkapnya bisa mendownload link yang kami berikan di bawah, sekaligus rincian donasi pulsa, karena banyaknya donatur pada Bulan Oktober 2017Adapun Rekap Donasi Bulan Oktober 2017  sebagai berikut:LINK DOWNLOAD: KLIK DI SINIBagi kaum muslimin yang hendak membantu donasi dalam syi’ar dakwah Islam, bisa disalurkan ke rekening  YPIA berikut ini:REKENING DONASI YPIA: Bank BNI Syariah Yogyakarta atas nama Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari. Nomor rekening: 024 1913 801. Bank Muamalat atas nama Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari Yogyakarta. Nomor rekening: 5350002594 Bank Syariah Mandiri atas nama YPIA Yogyakarta. Nomor rekening: 703 157 1329. CIMB Niaga Syariah atas nama Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari. Nomor rekening: 508.01.00028.00.0. Rekening paypal: donasi@muslim.or.id Western union an Muhammad Akmalul Khuluk d/a Kauman GM 1/241 RT/RW 049/013 kel. Ngupasan kec. Gondomanan Yogyakarta Indonesia 55122 (harap segera menginformasikan Nomor Transaksi Pengiriman Uang (MTCN) setelah pengiriman ke: 0857-4722-3366)Konfirmasi donasi :Setiap donatur yang telah menyalurkan bantuan donasi dakwah dimohon mengkonfirmasikan donasi yang telah dikirimkan ke nomor Donasi Dakwah & Sosial YPIA berikut ini:HP: 0857-4722-3366 ( SMS, Telpon, Whatsapp dan Telegram)PIN BBM Tambahan: 7E51c4a4.PIN BBM: 73db10e1 (kontak Penuh)Dengan format konfirmasi sebagai berikut:Nama#Alamat#email#BesarDonasi#TanggalTransfer#Rekening#Tujuan Donasi#Contoh:Abdullah#Jl. Slamet Riyadi, no. 100, Solo.#500.000#12 Oktober 2012#Muamalat#Buletin At Tauhid🔍 Kekuasaan Alloh, Arti Khimar, Adab Dan Doa Ziarah Kubur, Orang Bodoh Dalam Islam, Kata Cinta Dalam Al Quran


Segala puji bagi Allah ta’ala atas limpahan rahmat dan hidayah dari-Nya. Kami mengucapkan jazakumullohu khairan atas partisipasi dan kepercayaan para donatur yang dalam menyalurkan donasinya untuk dakwah melalui Yayasan Pendidikan Islam Al Atsari.Semoga Allah mengganti dengan yang lebih baik dan memudahkan urusan kita, baik di dunia maupun di akhirat kelak. Barakallahu fiikumBerikut ini kami laporkan pemasukan donasi melalui YPIA Bulan Oktober 2017. Semoga bantuan dari kaum muslimin sekalian memberikan manfaat yang besar bagi dakwah Islam yang Haq.Kami mohon maaf, apabila ada penulisan nama ataupun donasi yang belum terlaporkan dalam laporan ini, bisa dikonfirmasikan kepada bidang donasi Dakwah YPIA. Jazakumullohu khairan.Kami juga memohon maaf, untuk rincian lebih lengkapnya bisa mendownload link yang kami berikan di bawah, sekaligus rincian donasi pulsa, karena banyaknya donatur pada Bulan Oktober 2017Adapun Rekap Donasi Bulan Oktober 2017  sebagai berikut:LINK DOWNLOAD: KLIK DI SINIBagi kaum muslimin yang hendak membantu donasi dalam syi’ar dakwah Islam, bisa disalurkan ke rekening  YPIA berikut ini:REKENING DONASI YPIA: Bank BNI Syariah Yogyakarta atas nama Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari. Nomor rekening: 024 1913 801. Bank Muamalat atas nama Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari Yogyakarta. Nomor rekening: 5350002594 Bank Syariah Mandiri atas nama YPIA Yogyakarta. Nomor rekening: 703 157 1329. CIMB Niaga Syariah atas nama Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari. Nomor rekening: 508.01.00028.00.0. Rekening paypal: donasi@muslim.or.id Western union an Muhammad Akmalul Khuluk d/a Kauman GM 1/241 RT/RW 049/013 kel. Ngupasan kec. Gondomanan Yogyakarta Indonesia 55122 (harap segera menginformasikan Nomor Transaksi Pengiriman Uang (MTCN) setelah pengiriman ke: 0857-4722-3366)Konfirmasi donasi :Setiap donatur yang telah menyalurkan bantuan donasi dakwah dimohon mengkonfirmasikan donasi yang telah dikirimkan ke nomor Donasi Dakwah & Sosial YPIA berikut ini:HP: 0857-4722-3366 ( SMS, Telpon, Whatsapp dan Telegram)PIN BBM Tambahan: 7E51c4a4.PIN BBM: 73db10e1 (kontak Penuh)Dengan format konfirmasi sebagai berikut:Nama#Alamat#email#BesarDonasi#TanggalTransfer#Rekening#Tujuan Donasi#Contoh:Abdullah#Jl. Slamet Riyadi, no. 100, Solo.#500.000#12 Oktober 2012#Muamalat#Buletin At Tauhid🔍 Kekuasaan Alloh, Arti Khimar, Adab Dan Doa Ziarah Kubur, Orang Bodoh Dalam Islam, Kata Cinta Dalam Al Quran

Ayat-ayat Makkiyyah dan Madaniyyah (3)

Baca pembahasan sebelumnya: Ayat-ayat Makkiyyah dan Madaniyyah (Bag.2)Perbedaan ayat-ayat Makkiyyah dan MadaniyyahDitinjau dari sisi materi kandungannya1. Mayoritas ayat-ayat Makkiyyah berisikan penetapan tauhid dan aqidah yang lurusMayoritas ayat-ayat Makkiyyah berisikan penetapan tauhid dan aqidah yang lurus, khususnya terkait dengan Tauhid Uluhiyyah dan iman terhadap Hari Kebangkitan, karena kebanyakan orang-orang yang diseru dengan ayat-ayat Makkiyyah mengingkari hal tersebut, seperti pengingkaran mereka terhadap hari kebangkitan yang disebutkan dalam Al-Mu`minun: 82قَالُوا أَإِذَا مِتْنَا وَكُنَّا تُرَابًا وَعِظَامًا أَإِنَّا لَمَبْعُوثُونَ “Mereka berkata, ‘Apakah betul, apabila kami telah mati dan kami telah menjadi tanah dan tulang belulang, apakah sesungguhnya kami benar-benar akan dibangkitkan?’”Oleh karena itu, Allah menetapkan keyakinan tentang hari Kebangkitan secara berulang dalam Al-Qur`an, seperti dalam surat Yasin: 79-81,قُلْ يُحْيِيهَا الَّذِي أَنْشَأَهَا أَوَّلَ مَرَّةٍ ۖ وَهُوَ بِكُلِّ خَلْقٍ عَلِيمٌ “Katakanlah, ‘Ia akan dihidupkan oleh Tuhan yang menciptakannya kali yang pertama. Dan Dia Maha Mengetahui tentang segala makhluk.’”الَّذِي جَعَلَ لَكُمْ مِنَ الشَّجَرِ الْأَخْضَرِ نَارًا فَإِذَا أَنْتُمْ مِنْهُ تُوقِدُونَ “yaitu Tuhan yang menjadikan untuk kalian api dari kayu yang hijau, maka tiba-tiba kalian nyalakan (api) dari kayu itu.”أَوَلَيْسَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِقَادِرٍ عَلَىٰ أَنْ يَخْلُقَ مِثْلَهُمْ ۚ بَلَىٰ وَهُوَ الْخَلَّاقُ الْعَلِيمُ“Dan tidakkah Tuhan yang menciptakan langit dan bumi itu berkuasa menciptakan yang serupa dengan itu? Benar, Dia berkuasa. Dan Dialah Maha Pencipta lagi Maha Mengetahui.”Mayoritas ayat-ayat Madaniyyah berisikan perincian ibadah dan mu’amalahAdapun mayoritas ayat-ayat Madaniyyah berisikan perincian ibadah dan mu’amalah, karena orang-orang yang diseru dengan ayat-ayat Madaniyyah telah tertanam tauhid dan aqidah yang lurus di hati mereka, dengan demikian, mereka sangat membutuhkan perincian ibadah dan mu’amalah setelah tertanamnya tauhid dan aqidah yang lurus di hati mereka.Contohnya adalah surat Al-Maidah ayat keenam tentang wudhu`,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ ۚ وَإِنْ كُنْتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوا ۚ وَإِنْ كُنْتُمْ مَرْضَىٰ أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ أَوْ لَامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ مِنْهُ ۚ مَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُمْ مِنْ حَرَجٍ وَلَٰكِنْ يُرِيدُ لِيُطَهِّرَكُمْ وَلِيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ “Hai orang-orang yang beriman, apabila kalian hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah muka kalian dan tangan kalian sampai dengan siku, dan sapulah kepala kalian dan (basuh) kaki kalian sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kalian junub maka mandilah, dan jika kalian sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menggauli wanita, lalu kalian tidak memperoleh air, maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah muka  kalian dan tangan kalian dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kalian, tetapi Dia hendak membersihkan kalian dan menyempurnakan nikmat-Nya bagi kalian, supaya kalian bersyukur.”2. Terdapat banyak penyebutan tentang jihad dan hukum-hukumnya, serta tentang orang-orang munafik dan keadaan mereka didalam ayat-ayat Madaniyyah Dalam ayat-ayat Madaniyyah terdapat banyak penyebutan tentang jihad dan hukum-hukumnya, serta tentang orang-orang munafik dan keadaan mereka, karena ketika itu, masa disyariatkan jihad sehingga muncullah kemunafikan. Dan keadaan yang seperti ini tak dijumpai ketika masa penurunan ayat-ayat Makiyyah.Contoh ayat Madaniyyah tentang jihad adalah surat At-Taubah: 73,يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ جَاهِدِ الْكُفَّارَ وَالْمُنَافِقِينَ وَاغْلُظْ عَلَيْهِمْ ۚ وَمَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ ۖ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ “Hai Nabi, berjihadlah (melawan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu, dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka ialah jahannam. Dan itu adalah tempat kembali yang seburuk-buruknya.”Faedah mengetahui ayat-ayat Makkiyyah dan MadaniyyahMengetahui ayat-ayat Makkiyyah dan Madaniyyah merupakan salah satu macam dari ilmu Al-Qur`an yang penting, karena di dalam keduanya terdapat beberapa faedah, di antaranya: Nampak kesastraan (balaghah) Al-Qur`an pada puncak kesempurnaannya dengan bukti bahwa dalam Al-Qur`an, setiap kaum diseru dengan metode penyampaian dan gaya bahasa sesuai dengan keadaan mereka, baik ditinjau dari sisi kekuatan, ketegasan, kemudahan, dan kelembutannya. Hikmah pensyariatan yang sempurna menjadi nampak jelas, hal itu dibuktikan dengan adanya pensyariatan secara bertahap dimulai dari perkara yang terpenting, dan disesuaikan keadaan orang-orang yang diseru dan kesiapan mereka dalam menerimanya dan melaksanakannya. Tarbiyyah kepada para da’i yang mengajak kepada jalan Allah, yaitu supaya mereka mengikuti jalan lurus dalam Al-Qur`an, dalam hal metode maupun materi dakwah. Hendaknya seorang da’i mendahulukan perkara yang terpenting kemudian perkara yang penting berikutnya, dan menggunakan cara tegas pada tempatnya, dan lembut pada tempatnya. Membedakan nasikh dengan mansukh, yaitu apabila terdapat dua ayat Makkiyyah dan Madaniyyah, serta terpenuhi syarat-syarat penghapusan hukum, maka ayat Madaniyyah sebagai penghapus hukum yang terkandung dalam ayat Makkiyyah, karena ayat Madaniyyah diturunkan lebih akhir. Wallahu a’lamDaftar Link Artikel Berseri ini: Ayat-ayat Makkiyyah dan Madaniyyah (1) Ayat-ayat Makkiyyah dan Madaniyyah (2) Ayat-ayat Makkiyyah dan Madaniyyah (3) Penulis: Sa’id Abu Ukkasyah Artikel: Muslim.or.id🔍 Hadits Tentang Merapatkan Shaf, Menuju Ramadhan 2017, Kenapa Anjing Diharamkan Dalam Islam, Hajar Aswad History, Berdoa Saat Hujan Dikabulkan

Ayat-ayat Makkiyyah dan Madaniyyah (3)

Baca pembahasan sebelumnya: Ayat-ayat Makkiyyah dan Madaniyyah (Bag.2)Perbedaan ayat-ayat Makkiyyah dan MadaniyyahDitinjau dari sisi materi kandungannya1. Mayoritas ayat-ayat Makkiyyah berisikan penetapan tauhid dan aqidah yang lurusMayoritas ayat-ayat Makkiyyah berisikan penetapan tauhid dan aqidah yang lurus, khususnya terkait dengan Tauhid Uluhiyyah dan iman terhadap Hari Kebangkitan, karena kebanyakan orang-orang yang diseru dengan ayat-ayat Makkiyyah mengingkari hal tersebut, seperti pengingkaran mereka terhadap hari kebangkitan yang disebutkan dalam Al-Mu`minun: 82قَالُوا أَإِذَا مِتْنَا وَكُنَّا تُرَابًا وَعِظَامًا أَإِنَّا لَمَبْعُوثُونَ “Mereka berkata, ‘Apakah betul, apabila kami telah mati dan kami telah menjadi tanah dan tulang belulang, apakah sesungguhnya kami benar-benar akan dibangkitkan?’”Oleh karena itu, Allah menetapkan keyakinan tentang hari Kebangkitan secara berulang dalam Al-Qur`an, seperti dalam surat Yasin: 79-81,قُلْ يُحْيِيهَا الَّذِي أَنْشَأَهَا أَوَّلَ مَرَّةٍ ۖ وَهُوَ بِكُلِّ خَلْقٍ عَلِيمٌ “Katakanlah, ‘Ia akan dihidupkan oleh Tuhan yang menciptakannya kali yang pertama. Dan Dia Maha Mengetahui tentang segala makhluk.’”الَّذِي جَعَلَ لَكُمْ مِنَ الشَّجَرِ الْأَخْضَرِ نَارًا فَإِذَا أَنْتُمْ مِنْهُ تُوقِدُونَ “yaitu Tuhan yang menjadikan untuk kalian api dari kayu yang hijau, maka tiba-tiba kalian nyalakan (api) dari kayu itu.”أَوَلَيْسَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِقَادِرٍ عَلَىٰ أَنْ يَخْلُقَ مِثْلَهُمْ ۚ بَلَىٰ وَهُوَ الْخَلَّاقُ الْعَلِيمُ“Dan tidakkah Tuhan yang menciptakan langit dan bumi itu berkuasa menciptakan yang serupa dengan itu? Benar, Dia berkuasa. Dan Dialah Maha Pencipta lagi Maha Mengetahui.”Mayoritas ayat-ayat Madaniyyah berisikan perincian ibadah dan mu’amalahAdapun mayoritas ayat-ayat Madaniyyah berisikan perincian ibadah dan mu’amalah, karena orang-orang yang diseru dengan ayat-ayat Madaniyyah telah tertanam tauhid dan aqidah yang lurus di hati mereka, dengan demikian, mereka sangat membutuhkan perincian ibadah dan mu’amalah setelah tertanamnya tauhid dan aqidah yang lurus di hati mereka.Contohnya adalah surat Al-Maidah ayat keenam tentang wudhu`,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ ۚ وَإِنْ كُنْتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوا ۚ وَإِنْ كُنْتُمْ مَرْضَىٰ أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ أَوْ لَامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ مِنْهُ ۚ مَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُمْ مِنْ حَرَجٍ وَلَٰكِنْ يُرِيدُ لِيُطَهِّرَكُمْ وَلِيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ “Hai orang-orang yang beriman, apabila kalian hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah muka kalian dan tangan kalian sampai dengan siku, dan sapulah kepala kalian dan (basuh) kaki kalian sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kalian junub maka mandilah, dan jika kalian sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menggauli wanita, lalu kalian tidak memperoleh air, maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah muka  kalian dan tangan kalian dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kalian, tetapi Dia hendak membersihkan kalian dan menyempurnakan nikmat-Nya bagi kalian, supaya kalian bersyukur.”2. Terdapat banyak penyebutan tentang jihad dan hukum-hukumnya, serta tentang orang-orang munafik dan keadaan mereka didalam ayat-ayat Madaniyyah Dalam ayat-ayat Madaniyyah terdapat banyak penyebutan tentang jihad dan hukum-hukumnya, serta tentang orang-orang munafik dan keadaan mereka, karena ketika itu, masa disyariatkan jihad sehingga muncullah kemunafikan. Dan keadaan yang seperti ini tak dijumpai ketika masa penurunan ayat-ayat Makiyyah.Contoh ayat Madaniyyah tentang jihad adalah surat At-Taubah: 73,يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ جَاهِدِ الْكُفَّارَ وَالْمُنَافِقِينَ وَاغْلُظْ عَلَيْهِمْ ۚ وَمَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ ۖ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ “Hai Nabi, berjihadlah (melawan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu, dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka ialah jahannam. Dan itu adalah tempat kembali yang seburuk-buruknya.”Faedah mengetahui ayat-ayat Makkiyyah dan MadaniyyahMengetahui ayat-ayat Makkiyyah dan Madaniyyah merupakan salah satu macam dari ilmu Al-Qur`an yang penting, karena di dalam keduanya terdapat beberapa faedah, di antaranya: Nampak kesastraan (balaghah) Al-Qur`an pada puncak kesempurnaannya dengan bukti bahwa dalam Al-Qur`an, setiap kaum diseru dengan metode penyampaian dan gaya bahasa sesuai dengan keadaan mereka, baik ditinjau dari sisi kekuatan, ketegasan, kemudahan, dan kelembutannya. Hikmah pensyariatan yang sempurna menjadi nampak jelas, hal itu dibuktikan dengan adanya pensyariatan secara bertahap dimulai dari perkara yang terpenting, dan disesuaikan keadaan orang-orang yang diseru dan kesiapan mereka dalam menerimanya dan melaksanakannya. Tarbiyyah kepada para da’i yang mengajak kepada jalan Allah, yaitu supaya mereka mengikuti jalan lurus dalam Al-Qur`an, dalam hal metode maupun materi dakwah. Hendaknya seorang da’i mendahulukan perkara yang terpenting kemudian perkara yang penting berikutnya, dan menggunakan cara tegas pada tempatnya, dan lembut pada tempatnya. Membedakan nasikh dengan mansukh, yaitu apabila terdapat dua ayat Makkiyyah dan Madaniyyah, serta terpenuhi syarat-syarat penghapusan hukum, maka ayat Madaniyyah sebagai penghapus hukum yang terkandung dalam ayat Makkiyyah, karena ayat Madaniyyah diturunkan lebih akhir. Wallahu a’lamDaftar Link Artikel Berseri ini: Ayat-ayat Makkiyyah dan Madaniyyah (1) Ayat-ayat Makkiyyah dan Madaniyyah (2) Ayat-ayat Makkiyyah dan Madaniyyah (3) Penulis: Sa’id Abu Ukkasyah Artikel: Muslim.or.id🔍 Hadits Tentang Merapatkan Shaf, Menuju Ramadhan 2017, Kenapa Anjing Diharamkan Dalam Islam, Hajar Aswad History, Berdoa Saat Hujan Dikabulkan
Baca pembahasan sebelumnya: Ayat-ayat Makkiyyah dan Madaniyyah (Bag.2)Perbedaan ayat-ayat Makkiyyah dan MadaniyyahDitinjau dari sisi materi kandungannya1. Mayoritas ayat-ayat Makkiyyah berisikan penetapan tauhid dan aqidah yang lurusMayoritas ayat-ayat Makkiyyah berisikan penetapan tauhid dan aqidah yang lurus, khususnya terkait dengan Tauhid Uluhiyyah dan iman terhadap Hari Kebangkitan, karena kebanyakan orang-orang yang diseru dengan ayat-ayat Makkiyyah mengingkari hal tersebut, seperti pengingkaran mereka terhadap hari kebangkitan yang disebutkan dalam Al-Mu`minun: 82قَالُوا أَإِذَا مِتْنَا وَكُنَّا تُرَابًا وَعِظَامًا أَإِنَّا لَمَبْعُوثُونَ “Mereka berkata, ‘Apakah betul, apabila kami telah mati dan kami telah menjadi tanah dan tulang belulang, apakah sesungguhnya kami benar-benar akan dibangkitkan?’”Oleh karena itu, Allah menetapkan keyakinan tentang hari Kebangkitan secara berulang dalam Al-Qur`an, seperti dalam surat Yasin: 79-81,قُلْ يُحْيِيهَا الَّذِي أَنْشَأَهَا أَوَّلَ مَرَّةٍ ۖ وَهُوَ بِكُلِّ خَلْقٍ عَلِيمٌ “Katakanlah, ‘Ia akan dihidupkan oleh Tuhan yang menciptakannya kali yang pertama. Dan Dia Maha Mengetahui tentang segala makhluk.’”الَّذِي جَعَلَ لَكُمْ مِنَ الشَّجَرِ الْأَخْضَرِ نَارًا فَإِذَا أَنْتُمْ مِنْهُ تُوقِدُونَ “yaitu Tuhan yang menjadikan untuk kalian api dari kayu yang hijau, maka tiba-tiba kalian nyalakan (api) dari kayu itu.”أَوَلَيْسَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِقَادِرٍ عَلَىٰ أَنْ يَخْلُقَ مِثْلَهُمْ ۚ بَلَىٰ وَهُوَ الْخَلَّاقُ الْعَلِيمُ“Dan tidakkah Tuhan yang menciptakan langit dan bumi itu berkuasa menciptakan yang serupa dengan itu? Benar, Dia berkuasa. Dan Dialah Maha Pencipta lagi Maha Mengetahui.”Mayoritas ayat-ayat Madaniyyah berisikan perincian ibadah dan mu’amalahAdapun mayoritas ayat-ayat Madaniyyah berisikan perincian ibadah dan mu’amalah, karena orang-orang yang diseru dengan ayat-ayat Madaniyyah telah tertanam tauhid dan aqidah yang lurus di hati mereka, dengan demikian, mereka sangat membutuhkan perincian ibadah dan mu’amalah setelah tertanamnya tauhid dan aqidah yang lurus di hati mereka.Contohnya adalah surat Al-Maidah ayat keenam tentang wudhu`,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ ۚ وَإِنْ كُنْتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوا ۚ وَإِنْ كُنْتُمْ مَرْضَىٰ أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ أَوْ لَامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ مِنْهُ ۚ مَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُمْ مِنْ حَرَجٍ وَلَٰكِنْ يُرِيدُ لِيُطَهِّرَكُمْ وَلِيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ “Hai orang-orang yang beriman, apabila kalian hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah muka kalian dan tangan kalian sampai dengan siku, dan sapulah kepala kalian dan (basuh) kaki kalian sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kalian junub maka mandilah, dan jika kalian sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menggauli wanita, lalu kalian tidak memperoleh air, maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah muka  kalian dan tangan kalian dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kalian, tetapi Dia hendak membersihkan kalian dan menyempurnakan nikmat-Nya bagi kalian, supaya kalian bersyukur.”2. Terdapat banyak penyebutan tentang jihad dan hukum-hukumnya, serta tentang orang-orang munafik dan keadaan mereka didalam ayat-ayat Madaniyyah Dalam ayat-ayat Madaniyyah terdapat banyak penyebutan tentang jihad dan hukum-hukumnya, serta tentang orang-orang munafik dan keadaan mereka, karena ketika itu, masa disyariatkan jihad sehingga muncullah kemunafikan. Dan keadaan yang seperti ini tak dijumpai ketika masa penurunan ayat-ayat Makiyyah.Contoh ayat Madaniyyah tentang jihad adalah surat At-Taubah: 73,يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ جَاهِدِ الْكُفَّارَ وَالْمُنَافِقِينَ وَاغْلُظْ عَلَيْهِمْ ۚ وَمَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ ۖ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ “Hai Nabi, berjihadlah (melawan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu, dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka ialah jahannam. Dan itu adalah tempat kembali yang seburuk-buruknya.”Faedah mengetahui ayat-ayat Makkiyyah dan MadaniyyahMengetahui ayat-ayat Makkiyyah dan Madaniyyah merupakan salah satu macam dari ilmu Al-Qur`an yang penting, karena di dalam keduanya terdapat beberapa faedah, di antaranya: Nampak kesastraan (balaghah) Al-Qur`an pada puncak kesempurnaannya dengan bukti bahwa dalam Al-Qur`an, setiap kaum diseru dengan metode penyampaian dan gaya bahasa sesuai dengan keadaan mereka, baik ditinjau dari sisi kekuatan, ketegasan, kemudahan, dan kelembutannya. Hikmah pensyariatan yang sempurna menjadi nampak jelas, hal itu dibuktikan dengan adanya pensyariatan secara bertahap dimulai dari perkara yang terpenting, dan disesuaikan keadaan orang-orang yang diseru dan kesiapan mereka dalam menerimanya dan melaksanakannya. Tarbiyyah kepada para da’i yang mengajak kepada jalan Allah, yaitu supaya mereka mengikuti jalan lurus dalam Al-Qur`an, dalam hal metode maupun materi dakwah. Hendaknya seorang da’i mendahulukan perkara yang terpenting kemudian perkara yang penting berikutnya, dan menggunakan cara tegas pada tempatnya, dan lembut pada tempatnya. Membedakan nasikh dengan mansukh, yaitu apabila terdapat dua ayat Makkiyyah dan Madaniyyah, serta terpenuhi syarat-syarat penghapusan hukum, maka ayat Madaniyyah sebagai penghapus hukum yang terkandung dalam ayat Makkiyyah, karena ayat Madaniyyah diturunkan lebih akhir. Wallahu a’lamDaftar Link Artikel Berseri ini: Ayat-ayat Makkiyyah dan Madaniyyah (1) Ayat-ayat Makkiyyah dan Madaniyyah (2) Ayat-ayat Makkiyyah dan Madaniyyah (3) Penulis: Sa’id Abu Ukkasyah Artikel: Muslim.or.id🔍 Hadits Tentang Merapatkan Shaf, Menuju Ramadhan 2017, Kenapa Anjing Diharamkan Dalam Islam, Hajar Aswad History, Berdoa Saat Hujan Dikabulkan


Baca pembahasan sebelumnya: Ayat-ayat Makkiyyah dan Madaniyyah (Bag.2)Perbedaan ayat-ayat Makkiyyah dan MadaniyyahDitinjau dari sisi materi kandungannya1. Mayoritas ayat-ayat Makkiyyah berisikan penetapan tauhid dan aqidah yang lurusMayoritas ayat-ayat Makkiyyah berisikan penetapan tauhid dan aqidah yang lurus, khususnya terkait dengan Tauhid Uluhiyyah dan iman terhadap Hari Kebangkitan, karena kebanyakan orang-orang yang diseru dengan ayat-ayat Makkiyyah mengingkari hal tersebut, seperti pengingkaran mereka terhadap hari kebangkitan yang disebutkan dalam Al-Mu`minun: 82قَالُوا أَإِذَا مِتْنَا وَكُنَّا تُرَابًا وَعِظَامًا أَإِنَّا لَمَبْعُوثُونَ “Mereka berkata, ‘Apakah betul, apabila kami telah mati dan kami telah menjadi tanah dan tulang belulang, apakah sesungguhnya kami benar-benar akan dibangkitkan?’”Oleh karena itu, Allah menetapkan keyakinan tentang hari Kebangkitan secara berulang dalam Al-Qur`an, seperti dalam surat Yasin: 79-81,قُلْ يُحْيِيهَا الَّذِي أَنْشَأَهَا أَوَّلَ مَرَّةٍ ۖ وَهُوَ بِكُلِّ خَلْقٍ عَلِيمٌ “Katakanlah, ‘Ia akan dihidupkan oleh Tuhan yang menciptakannya kali yang pertama. Dan Dia Maha Mengetahui tentang segala makhluk.’”الَّذِي جَعَلَ لَكُمْ مِنَ الشَّجَرِ الْأَخْضَرِ نَارًا فَإِذَا أَنْتُمْ مِنْهُ تُوقِدُونَ “yaitu Tuhan yang menjadikan untuk kalian api dari kayu yang hijau, maka tiba-tiba kalian nyalakan (api) dari kayu itu.”أَوَلَيْسَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِقَادِرٍ عَلَىٰ أَنْ يَخْلُقَ مِثْلَهُمْ ۚ بَلَىٰ وَهُوَ الْخَلَّاقُ الْعَلِيمُ“Dan tidakkah Tuhan yang menciptakan langit dan bumi itu berkuasa menciptakan yang serupa dengan itu? Benar, Dia berkuasa. Dan Dialah Maha Pencipta lagi Maha Mengetahui.”Mayoritas ayat-ayat Madaniyyah berisikan perincian ibadah dan mu’amalahAdapun mayoritas ayat-ayat Madaniyyah berisikan perincian ibadah dan mu’amalah, karena orang-orang yang diseru dengan ayat-ayat Madaniyyah telah tertanam tauhid dan aqidah yang lurus di hati mereka, dengan demikian, mereka sangat membutuhkan perincian ibadah dan mu’amalah setelah tertanamnya tauhid dan aqidah yang lurus di hati mereka.Contohnya adalah surat Al-Maidah ayat keenam tentang wudhu`,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ ۚ وَإِنْ كُنْتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوا ۚ وَإِنْ كُنْتُمْ مَرْضَىٰ أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ أَوْ لَامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ مِنْهُ ۚ مَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُمْ مِنْ حَرَجٍ وَلَٰكِنْ يُرِيدُ لِيُطَهِّرَكُمْ وَلِيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ “Hai orang-orang yang beriman, apabila kalian hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah muka kalian dan tangan kalian sampai dengan siku, dan sapulah kepala kalian dan (basuh) kaki kalian sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kalian junub maka mandilah, dan jika kalian sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menggauli wanita, lalu kalian tidak memperoleh air, maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah muka  kalian dan tangan kalian dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kalian, tetapi Dia hendak membersihkan kalian dan menyempurnakan nikmat-Nya bagi kalian, supaya kalian bersyukur.”2. Terdapat banyak penyebutan tentang jihad dan hukum-hukumnya, serta tentang orang-orang munafik dan keadaan mereka didalam ayat-ayat Madaniyyah Dalam ayat-ayat Madaniyyah terdapat banyak penyebutan tentang jihad dan hukum-hukumnya, serta tentang orang-orang munafik dan keadaan mereka, karena ketika itu, masa disyariatkan jihad sehingga muncullah kemunafikan. Dan keadaan yang seperti ini tak dijumpai ketika masa penurunan ayat-ayat Makiyyah.Contoh ayat Madaniyyah tentang jihad adalah surat At-Taubah: 73,يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ جَاهِدِ الْكُفَّارَ وَالْمُنَافِقِينَ وَاغْلُظْ عَلَيْهِمْ ۚ وَمَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ ۖ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ “Hai Nabi, berjihadlah (melawan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu, dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka ialah jahannam. Dan itu adalah tempat kembali yang seburuk-buruknya.”Faedah mengetahui ayat-ayat Makkiyyah dan MadaniyyahMengetahui ayat-ayat Makkiyyah dan Madaniyyah merupakan salah satu macam dari ilmu Al-Qur`an yang penting, karena di dalam keduanya terdapat beberapa faedah, di antaranya: Nampak kesastraan (balaghah) Al-Qur`an pada puncak kesempurnaannya dengan bukti bahwa dalam Al-Qur`an, setiap kaum diseru dengan metode penyampaian dan gaya bahasa sesuai dengan keadaan mereka, baik ditinjau dari sisi kekuatan, ketegasan, kemudahan, dan kelembutannya. Hikmah pensyariatan yang sempurna menjadi nampak jelas, hal itu dibuktikan dengan adanya pensyariatan secara bertahap dimulai dari perkara yang terpenting, dan disesuaikan keadaan orang-orang yang diseru dan kesiapan mereka dalam menerimanya dan melaksanakannya. Tarbiyyah kepada para da’i yang mengajak kepada jalan Allah, yaitu supaya mereka mengikuti jalan lurus dalam Al-Qur`an, dalam hal metode maupun materi dakwah. Hendaknya seorang da’i mendahulukan perkara yang terpenting kemudian perkara yang penting berikutnya, dan menggunakan cara tegas pada tempatnya, dan lembut pada tempatnya. Membedakan nasikh dengan mansukh, yaitu apabila terdapat dua ayat Makkiyyah dan Madaniyyah, serta terpenuhi syarat-syarat penghapusan hukum, maka ayat Madaniyyah sebagai penghapus hukum yang terkandung dalam ayat Makkiyyah, karena ayat Madaniyyah diturunkan lebih akhir. Wallahu a’lamDaftar Link Artikel Berseri ini: Ayat-ayat Makkiyyah dan Madaniyyah (1) Ayat-ayat Makkiyyah dan Madaniyyah (2) Ayat-ayat Makkiyyah dan Madaniyyah (3) Penulis: Sa’id Abu Ukkasyah Artikel: Muslim.or.id🔍 Hadits Tentang Merapatkan Shaf, Menuju Ramadhan 2017, Kenapa Anjing Diharamkan Dalam Islam, Hajar Aswad History, Berdoa Saat Hujan Dikabulkan

Doa Anak Yatim Mustajab?

Doa Anak Yatim Benarkah doa anak yatim itu mustajab? Adakah dalilnya? Jawab: Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Ada beberapa orang yang doanya diijabahi oleh Allah. Diantaranya 3 orang yang disebutkan dalam hadis dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ثَلاثَةٌ لا تُرَدُّ دَعْوَتُهُمْ الإِمَامُ الْعَادِلُ وَالصَّائِمُ حِينَ يُفْطِرُ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ يَرْفَعُهَا فَوْقَ الْغَمَامِ وَتُفَتَّحُ لَهَا أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَيَقُولُ الرَّبُّ عَزَّ وَجَلَّ وَعِزَّتِي لأَنْصُرَنَّكِ وَلَوْ بَعْدَ حِينٍ Ada 3 orang yang doanya tidak akan ditolak: imam yang adil, orang yang berpuasa ketika berbuka, dan doanya orang yang didzalimi, diangkat oleh Allah ke atas awan, pintu-pintu langit dibuka untuk menyambutnya, dan Allah Ta’ala berfirman, “Demi Keagungan-Ku, sungguh Aku akan menolongmu, meskipun berselang beberapa waktu.” (HR. Turmudzi 2525 dan dishahihkan al-Albani). Termasuk doanya orang tua kepada anaknya dan doanya orang yang sedang safar. Dalam hadis dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ثَلَاثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ، لَا شَكَّ فِيهِنَّ: دَعْوَةُ الْمَظْلُومِ، وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ، وَدَعْوَةُ الْوَالِدِ عَلَى وَلَدِهِ Ada 3 doa yang mustajab, dan tidak diragukan mustajabnya, yaitu doanya orang yang didzalimi, doanya musafir, dan doa orang tua kepada anaknya. (HR. Ahmad 7510 dan dihasankan Syuaib al-Arnauth). Apakah Doa Anak Yatim juga Mustajab? Kami tidak menjumpai adanya dalil yang menyebutkan bahwa doa anak yatim mustajab. Yang ada adalah larangan untuk mendzalimi atau menghardik anak yatim. Karena mereka orang yang lemah, ayahnya telah meninggal, sehingga tidak ada lelaki dewasa yang membelanya. Allah berfirman, فَأَمَّا الْيَتِيمَ فَلَا تَقْهَرْ “Adapun anak yatim, janganlah kalian menghardiknya.” (QS. Ad-Dhuha: 9). Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memerintahkan agar kita menyayangi anak yatim. Dalam hadis dari Sahl bin Sa’d Radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أَنَا وَكَافِلُ الْيَتِيمِ كَهَاتَيْنِ فِي الْجَنَّةِ، وَأَشَارَ بِالسَّبَّابَةِ وَالْوُسْطَى وَفَرَّقَ بَيْنَهُمَا قَلِيلًا Saya dan orang yang menanggung hidup anak yatim di surga seperti ini.. beliau berisyarat dengan jari telunjuk dan jari tengah, dengan sedikit direnggangkan. (HR. Bukhari 6005 dan Ahmad 22820). Demikian. Allahu a’lam … Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. SPONSOR hubungi: 081 326 333 328 DONASI hubungi: 087 882 888 727 REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK 🔍 Jenis Nafsu, Makmum Masbuk, Gambar Makam Ibrahim, Video Dajjal Di Segitiga Bermuda, Doa Agar Dikaruniai Anak Laki Laki, Arti Riya Dalam Islam Visited 103 times, 1 visit(s) today Post Views: 278 QRIS donasi Yufid

Doa Anak Yatim Mustajab?

Doa Anak Yatim Benarkah doa anak yatim itu mustajab? Adakah dalilnya? Jawab: Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Ada beberapa orang yang doanya diijabahi oleh Allah. Diantaranya 3 orang yang disebutkan dalam hadis dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ثَلاثَةٌ لا تُرَدُّ دَعْوَتُهُمْ الإِمَامُ الْعَادِلُ وَالصَّائِمُ حِينَ يُفْطِرُ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ يَرْفَعُهَا فَوْقَ الْغَمَامِ وَتُفَتَّحُ لَهَا أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَيَقُولُ الرَّبُّ عَزَّ وَجَلَّ وَعِزَّتِي لأَنْصُرَنَّكِ وَلَوْ بَعْدَ حِينٍ Ada 3 orang yang doanya tidak akan ditolak: imam yang adil, orang yang berpuasa ketika berbuka, dan doanya orang yang didzalimi, diangkat oleh Allah ke atas awan, pintu-pintu langit dibuka untuk menyambutnya, dan Allah Ta’ala berfirman, “Demi Keagungan-Ku, sungguh Aku akan menolongmu, meskipun berselang beberapa waktu.” (HR. Turmudzi 2525 dan dishahihkan al-Albani). Termasuk doanya orang tua kepada anaknya dan doanya orang yang sedang safar. Dalam hadis dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ثَلَاثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ، لَا شَكَّ فِيهِنَّ: دَعْوَةُ الْمَظْلُومِ، وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ، وَدَعْوَةُ الْوَالِدِ عَلَى وَلَدِهِ Ada 3 doa yang mustajab, dan tidak diragukan mustajabnya, yaitu doanya orang yang didzalimi, doanya musafir, dan doa orang tua kepada anaknya. (HR. Ahmad 7510 dan dihasankan Syuaib al-Arnauth). Apakah Doa Anak Yatim juga Mustajab? Kami tidak menjumpai adanya dalil yang menyebutkan bahwa doa anak yatim mustajab. Yang ada adalah larangan untuk mendzalimi atau menghardik anak yatim. Karena mereka orang yang lemah, ayahnya telah meninggal, sehingga tidak ada lelaki dewasa yang membelanya. Allah berfirman, فَأَمَّا الْيَتِيمَ فَلَا تَقْهَرْ “Adapun anak yatim, janganlah kalian menghardiknya.” (QS. Ad-Dhuha: 9). Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memerintahkan agar kita menyayangi anak yatim. Dalam hadis dari Sahl bin Sa’d Radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أَنَا وَكَافِلُ الْيَتِيمِ كَهَاتَيْنِ فِي الْجَنَّةِ، وَأَشَارَ بِالسَّبَّابَةِ وَالْوُسْطَى وَفَرَّقَ بَيْنَهُمَا قَلِيلًا Saya dan orang yang menanggung hidup anak yatim di surga seperti ini.. beliau berisyarat dengan jari telunjuk dan jari tengah, dengan sedikit direnggangkan. (HR. Bukhari 6005 dan Ahmad 22820). Demikian. Allahu a’lam … Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. SPONSOR hubungi: 081 326 333 328 DONASI hubungi: 087 882 888 727 REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK 🔍 Jenis Nafsu, Makmum Masbuk, Gambar Makam Ibrahim, Video Dajjal Di Segitiga Bermuda, Doa Agar Dikaruniai Anak Laki Laki, Arti Riya Dalam Islam Visited 103 times, 1 visit(s) today Post Views: 278 QRIS donasi Yufid
Doa Anak Yatim Benarkah doa anak yatim itu mustajab? Adakah dalilnya? Jawab: Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Ada beberapa orang yang doanya diijabahi oleh Allah. Diantaranya 3 orang yang disebutkan dalam hadis dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ثَلاثَةٌ لا تُرَدُّ دَعْوَتُهُمْ الإِمَامُ الْعَادِلُ وَالصَّائِمُ حِينَ يُفْطِرُ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ يَرْفَعُهَا فَوْقَ الْغَمَامِ وَتُفَتَّحُ لَهَا أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَيَقُولُ الرَّبُّ عَزَّ وَجَلَّ وَعِزَّتِي لأَنْصُرَنَّكِ وَلَوْ بَعْدَ حِينٍ Ada 3 orang yang doanya tidak akan ditolak: imam yang adil, orang yang berpuasa ketika berbuka, dan doanya orang yang didzalimi, diangkat oleh Allah ke atas awan, pintu-pintu langit dibuka untuk menyambutnya, dan Allah Ta’ala berfirman, “Demi Keagungan-Ku, sungguh Aku akan menolongmu, meskipun berselang beberapa waktu.” (HR. Turmudzi 2525 dan dishahihkan al-Albani). Termasuk doanya orang tua kepada anaknya dan doanya orang yang sedang safar. Dalam hadis dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ثَلَاثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ، لَا شَكَّ فِيهِنَّ: دَعْوَةُ الْمَظْلُومِ، وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ، وَدَعْوَةُ الْوَالِدِ عَلَى وَلَدِهِ Ada 3 doa yang mustajab, dan tidak diragukan mustajabnya, yaitu doanya orang yang didzalimi, doanya musafir, dan doa orang tua kepada anaknya. (HR. Ahmad 7510 dan dihasankan Syuaib al-Arnauth). Apakah Doa Anak Yatim juga Mustajab? Kami tidak menjumpai adanya dalil yang menyebutkan bahwa doa anak yatim mustajab. Yang ada adalah larangan untuk mendzalimi atau menghardik anak yatim. Karena mereka orang yang lemah, ayahnya telah meninggal, sehingga tidak ada lelaki dewasa yang membelanya. Allah berfirman, فَأَمَّا الْيَتِيمَ فَلَا تَقْهَرْ “Adapun anak yatim, janganlah kalian menghardiknya.” (QS. Ad-Dhuha: 9). Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memerintahkan agar kita menyayangi anak yatim. Dalam hadis dari Sahl bin Sa’d Radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أَنَا وَكَافِلُ الْيَتِيمِ كَهَاتَيْنِ فِي الْجَنَّةِ، وَأَشَارَ بِالسَّبَّابَةِ وَالْوُسْطَى وَفَرَّقَ بَيْنَهُمَا قَلِيلًا Saya dan orang yang menanggung hidup anak yatim di surga seperti ini.. beliau berisyarat dengan jari telunjuk dan jari tengah, dengan sedikit direnggangkan. (HR. Bukhari 6005 dan Ahmad 22820). Demikian. Allahu a’lam … Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. SPONSOR hubungi: 081 326 333 328 DONASI hubungi: 087 882 888 727 REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK 🔍 Jenis Nafsu, Makmum Masbuk, Gambar Makam Ibrahim, Video Dajjal Di Segitiga Bermuda, Doa Agar Dikaruniai Anak Laki Laki, Arti Riya Dalam Islam Visited 103 times, 1 visit(s) today Post Views: 278 QRIS donasi Yufid


<iframe src="https://w.soundcloud.com/player/?url=https%3A//api.soundcloud.com/tracks/366086270&amp;color=d5265f&amp;auto_play=false&amp;show_artwork=false&amp;hide_related=true&amp;show_comments=false&amp;show_user=false&amp;show_reposts=false" width="100%" height="166" frameborder="no" scrolling="no"></iframe> Doa Anak Yatim Benarkah doa anak yatim itu mustajab? Adakah dalilnya? Jawab: Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Ada beberapa orang yang doanya diijabahi oleh Allah. Diantaranya 3 orang yang disebutkan dalam hadis dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ثَلاثَةٌ لا تُرَدُّ دَعْوَتُهُمْ الإِمَامُ الْعَادِلُ وَالصَّائِمُ حِينَ يُفْطِرُ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ يَرْفَعُهَا فَوْقَ الْغَمَامِ وَتُفَتَّحُ لَهَا أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَيَقُولُ الرَّبُّ عَزَّ وَجَلَّ وَعِزَّتِي لأَنْصُرَنَّكِ وَلَوْ بَعْدَ حِينٍ Ada 3 orang yang doanya tidak akan ditolak: imam yang adil, orang yang berpuasa ketika berbuka, dan doanya orang yang didzalimi, diangkat oleh Allah ke atas awan, pintu-pintu langit dibuka untuk menyambutnya, dan Allah Ta’ala berfirman, “Demi Keagungan-Ku, sungguh Aku akan menolongmu, meskipun berselang beberapa waktu.” (HR. Turmudzi 2525 dan dishahihkan al-Albani). Termasuk doanya orang tua kepada anaknya dan doanya orang yang sedang safar. Dalam hadis dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ثَلَاثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ، لَا شَكَّ فِيهِنَّ: دَعْوَةُ الْمَظْلُومِ، وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ، وَدَعْوَةُ الْوَالِدِ عَلَى وَلَدِهِ Ada 3 doa yang mustajab, dan tidak diragukan mustajabnya, yaitu doanya orang yang didzalimi, doanya musafir, dan doa orang tua kepada anaknya. (HR. Ahmad 7510 dan dihasankan Syuaib al-Arnauth). Apakah Doa Anak Yatim juga Mustajab? Kami tidak menjumpai adanya dalil yang menyebutkan bahwa doa anak yatim mustajab. Yang ada adalah larangan untuk mendzalimi atau menghardik anak yatim. Karena mereka orang yang lemah, ayahnya telah meninggal, sehingga tidak ada lelaki dewasa yang membelanya. Allah berfirman, فَأَمَّا الْيَتِيمَ فَلَا تَقْهَرْ “Adapun anak yatim, janganlah kalian menghardiknya.” (QS. Ad-Dhuha: 9). Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memerintahkan agar kita menyayangi anak yatim. Dalam hadis dari Sahl bin Sa’d Radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أَنَا وَكَافِلُ الْيَتِيمِ كَهَاتَيْنِ فِي الْجَنَّةِ، وَأَشَارَ بِالسَّبَّابَةِ وَالْوُسْطَى وَفَرَّقَ بَيْنَهُمَا قَلِيلًا Saya dan orang yang menanggung hidup anak yatim di surga seperti ini.. beliau berisyarat dengan jari telunjuk dan jari tengah, dengan sedikit direnggangkan. (HR. Bukhari 6005 dan Ahmad 22820). Demikian. Allahu a’lam … Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. SPONSOR hubungi: 081 326 333 328 DONASI hubungi: 087 882 888 727 REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK 🔍 Jenis Nafsu, Makmum Masbuk, Gambar Makam Ibrahim, Video Dajjal Di Segitiga Bermuda, Doa Agar Dikaruniai Anak Laki Laki, Arti Riya Dalam Islam Visited 103 times, 1 visit(s) today Post Views: 278 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Belum Aqiqah Sampai Dewasa

Belum Diakikah Sampai Dewasa Ustadz mhon pnjelasannya:bgmn halnya dg seseorang yg sdh dewasa ttpi blum diakikahi?jazaakallah khoiron Dari : Sutiyonoripto, di Bantul Jawaban : Bismillah, walhamdulillah was sholaatu was salam ‘ala Rasulillah, waba’du. Barangkali muncul kegelisahan, ketika mendapati diri atau anak kita sudah mencapai usia dewasa, belum juga diakikahi. Karena Nabi shallallahualaihiwa sallam menyebutkan, bahwa seorang anak yang terlahir statusnya tergadai, sampai dia diakikahi. Dari sahabat Samurah bin Jundub radliallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, كُلُّ غُلاَمٍ مُرْتَهَنٌ بِعَقِيقَتِهِ تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ السَّابِعِ وَيُحْلَقُ رَأْسُهُ وَيُسَمَّى “Setiap anak tergadaikan dengan aqiqahnya. Disembelih pada hari ketujuh, dicukur gundul rambutnya, dan diberi nama.” (HR. Ahmad 20722, at-Turmudzi 1605, dan dinilai shahih oleh al-Albani). Tentang makna status tergadai pada hadis di atas, silahkan dipelajari di : Anakmu Tergadai Sampai Diakikahi Perlu kita ketahui, bahwa hukum akikah sebenarnya adalah sunah muakkadah. Terkait waktu pelaksanaannya, para ulama sepakat, bahwa waktu akikah yang paling afdhol adalah hari ketujuh kelahiran. Berdasarkan hadis dari sahabat Samurah bin Jundub di atas. Cara menghitungnya, dimulai sejak hari kelahiran, kemudian ditambah enam hari berikutnya. Namun, bila tidak mampu, akikah boleh dilakukan setelahnya sampai ada kemampuan, meskipun si anak sudah mencapai dewasa. Hal ini berdasar pada perbuatan Nabi shallallahua’alaihi wa sallam, dimana beliau mengakikahi diri beliau sendiri di saat beliau sudah mencapai usia dewasa. Imam Tabrani meriwayatkan hadis yang menjadi dasar kesimpulan ini, أن النبي صلى الله عليه وسلم عق عن نفسه بعد ما بعث نبياً Bahwa Nabi shallallahua’alahi wa sallam meng-akikahi diri beliau sendiri, setelah beliau diutus menjadi Nabi. (Dinilai shahih oleh Syaikh Albani, dalam Silsilah As-Shahihah). Inilah pendapat yang kami nilai kuat diantara persilangan pendapat ulama yang ada dalam masalah ini. Riwayat di atas, juga menunjukkan bolehnya seorang mengakikahi dirinya sendiri, apabila orangtuanya belum mengakikahi dirinya ketika kecil atau karena orangtuanya tidak mampu menunaikan akikah untuknya. Imam Nawawi rahimahullah menjelaskan, فلو ذبحها بعد السابع أو قبله وبعد الولادة أجزأه وإن ذبحها قبل الولادة لم تجزه بلا خلاف, بل تكون شاة لحم Seandanya kambing akikah disembelih sebelum atau setelah hari ketujuh, maka hukumnya sah. Adapun bila disembelih sebelum kelahiran, para ulama sepakat akikah tidak sah. Status kambing yang disembelih adalah sembelihan biasa (tidak teranggap sebagai akikah). (Al-Majmu’ 8/411). Syaikh Abdulaziz bin Baz rahimahullah menjelaskan, ووقتها يوم السابع، هذا هو الأفضل اليوم السابع، وإن ذبحت بعد ذلك فلا حرج، ولو بعد سنة أو سنتين، وإذا لم يعق عنه أبوه وأحب أن يعق عن نفسه فهذا حسن فمشروع في حق الأب لكن لو عق عن نفسه أو عقت عن أمه أو أخوه فلا بأس Waktu pelaksanaan akikah adalah hari ketujuh kelahiran. Inilah waktu yang paling utama, yaitu hari ketujuh. Namun bila kambing akikah disembelih setelah hari ketujuh, tidak mengapa. Bahkan sampai satu atau dua tahun setelahnyapun tidak mengapa. Jika ayahnya belum menunaikan akikah anaknya, sementara anak tersebut ingin mengakikahi dirinya, inipun baik (sah). Meski sebenarnya akikah adalah tanggungan ayah, akak tetapi bila seorang ingin mengakikahi dirinya, atau mengakikahi ibu atau saudaranya, maka tidak mengapa. (Fatwa beliau bisa disimak di sini : https://www.binbaz.org.sa/noor/2817) Wallahua’lam bis showab. Di jawab oleh Ustadz Ahmad Anshori, Lc Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. SPONSOR hubungi: 081 326 333 328 DONASI hubungi: 087 882 888 727 REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK 🔍 Hukum Mencabut Bulu Ketiak, Waktu Itikaf, Allah Ada Di Mana, Mengakhirkan Shalat Isya, Ayat Attahiyatul, Hadits Tentang Mandi Visited 487 times, 1 visit(s) today Post Views: 445 QRIS donasi Yufid

Belum Aqiqah Sampai Dewasa

Belum Diakikah Sampai Dewasa Ustadz mhon pnjelasannya:bgmn halnya dg seseorang yg sdh dewasa ttpi blum diakikahi?jazaakallah khoiron Dari : Sutiyonoripto, di Bantul Jawaban : Bismillah, walhamdulillah was sholaatu was salam ‘ala Rasulillah, waba’du. Barangkali muncul kegelisahan, ketika mendapati diri atau anak kita sudah mencapai usia dewasa, belum juga diakikahi. Karena Nabi shallallahualaihiwa sallam menyebutkan, bahwa seorang anak yang terlahir statusnya tergadai, sampai dia diakikahi. Dari sahabat Samurah bin Jundub radliallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, كُلُّ غُلاَمٍ مُرْتَهَنٌ بِعَقِيقَتِهِ تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ السَّابِعِ وَيُحْلَقُ رَأْسُهُ وَيُسَمَّى “Setiap anak tergadaikan dengan aqiqahnya. Disembelih pada hari ketujuh, dicukur gundul rambutnya, dan diberi nama.” (HR. Ahmad 20722, at-Turmudzi 1605, dan dinilai shahih oleh al-Albani). Tentang makna status tergadai pada hadis di atas, silahkan dipelajari di : Anakmu Tergadai Sampai Diakikahi Perlu kita ketahui, bahwa hukum akikah sebenarnya adalah sunah muakkadah. Terkait waktu pelaksanaannya, para ulama sepakat, bahwa waktu akikah yang paling afdhol adalah hari ketujuh kelahiran. Berdasarkan hadis dari sahabat Samurah bin Jundub di atas. Cara menghitungnya, dimulai sejak hari kelahiran, kemudian ditambah enam hari berikutnya. Namun, bila tidak mampu, akikah boleh dilakukan setelahnya sampai ada kemampuan, meskipun si anak sudah mencapai dewasa. Hal ini berdasar pada perbuatan Nabi shallallahua’alaihi wa sallam, dimana beliau mengakikahi diri beliau sendiri di saat beliau sudah mencapai usia dewasa. Imam Tabrani meriwayatkan hadis yang menjadi dasar kesimpulan ini, أن النبي صلى الله عليه وسلم عق عن نفسه بعد ما بعث نبياً Bahwa Nabi shallallahua’alahi wa sallam meng-akikahi diri beliau sendiri, setelah beliau diutus menjadi Nabi. (Dinilai shahih oleh Syaikh Albani, dalam Silsilah As-Shahihah). Inilah pendapat yang kami nilai kuat diantara persilangan pendapat ulama yang ada dalam masalah ini. Riwayat di atas, juga menunjukkan bolehnya seorang mengakikahi dirinya sendiri, apabila orangtuanya belum mengakikahi dirinya ketika kecil atau karena orangtuanya tidak mampu menunaikan akikah untuknya. Imam Nawawi rahimahullah menjelaskan, فلو ذبحها بعد السابع أو قبله وبعد الولادة أجزأه وإن ذبحها قبل الولادة لم تجزه بلا خلاف, بل تكون شاة لحم Seandanya kambing akikah disembelih sebelum atau setelah hari ketujuh, maka hukumnya sah. Adapun bila disembelih sebelum kelahiran, para ulama sepakat akikah tidak sah. Status kambing yang disembelih adalah sembelihan biasa (tidak teranggap sebagai akikah). (Al-Majmu’ 8/411). Syaikh Abdulaziz bin Baz rahimahullah menjelaskan, ووقتها يوم السابع، هذا هو الأفضل اليوم السابع، وإن ذبحت بعد ذلك فلا حرج، ولو بعد سنة أو سنتين، وإذا لم يعق عنه أبوه وأحب أن يعق عن نفسه فهذا حسن فمشروع في حق الأب لكن لو عق عن نفسه أو عقت عن أمه أو أخوه فلا بأس Waktu pelaksanaan akikah adalah hari ketujuh kelahiran. Inilah waktu yang paling utama, yaitu hari ketujuh. Namun bila kambing akikah disembelih setelah hari ketujuh, tidak mengapa. Bahkan sampai satu atau dua tahun setelahnyapun tidak mengapa. Jika ayahnya belum menunaikan akikah anaknya, sementara anak tersebut ingin mengakikahi dirinya, inipun baik (sah). Meski sebenarnya akikah adalah tanggungan ayah, akak tetapi bila seorang ingin mengakikahi dirinya, atau mengakikahi ibu atau saudaranya, maka tidak mengapa. (Fatwa beliau bisa disimak di sini : https://www.binbaz.org.sa/noor/2817) Wallahua’lam bis showab. Di jawab oleh Ustadz Ahmad Anshori, Lc Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. SPONSOR hubungi: 081 326 333 328 DONASI hubungi: 087 882 888 727 REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK 🔍 Hukum Mencabut Bulu Ketiak, Waktu Itikaf, Allah Ada Di Mana, Mengakhirkan Shalat Isya, Ayat Attahiyatul, Hadits Tentang Mandi Visited 487 times, 1 visit(s) today Post Views: 445 QRIS donasi Yufid
Belum Diakikah Sampai Dewasa Ustadz mhon pnjelasannya:bgmn halnya dg seseorang yg sdh dewasa ttpi blum diakikahi?jazaakallah khoiron Dari : Sutiyonoripto, di Bantul Jawaban : Bismillah, walhamdulillah was sholaatu was salam ‘ala Rasulillah, waba’du. Barangkali muncul kegelisahan, ketika mendapati diri atau anak kita sudah mencapai usia dewasa, belum juga diakikahi. Karena Nabi shallallahualaihiwa sallam menyebutkan, bahwa seorang anak yang terlahir statusnya tergadai, sampai dia diakikahi. Dari sahabat Samurah bin Jundub radliallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, كُلُّ غُلاَمٍ مُرْتَهَنٌ بِعَقِيقَتِهِ تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ السَّابِعِ وَيُحْلَقُ رَأْسُهُ وَيُسَمَّى “Setiap anak tergadaikan dengan aqiqahnya. Disembelih pada hari ketujuh, dicukur gundul rambutnya, dan diberi nama.” (HR. Ahmad 20722, at-Turmudzi 1605, dan dinilai shahih oleh al-Albani). Tentang makna status tergadai pada hadis di atas, silahkan dipelajari di : Anakmu Tergadai Sampai Diakikahi Perlu kita ketahui, bahwa hukum akikah sebenarnya adalah sunah muakkadah. Terkait waktu pelaksanaannya, para ulama sepakat, bahwa waktu akikah yang paling afdhol adalah hari ketujuh kelahiran. Berdasarkan hadis dari sahabat Samurah bin Jundub di atas. Cara menghitungnya, dimulai sejak hari kelahiran, kemudian ditambah enam hari berikutnya. Namun, bila tidak mampu, akikah boleh dilakukan setelahnya sampai ada kemampuan, meskipun si anak sudah mencapai dewasa. Hal ini berdasar pada perbuatan Nabi shallallahua’alaihi wa sallam, dimana beliau mengakikahi diri beliau sendiri di saat beliau sudah mencapai usia dewasa. Imam Tabrani meriwayatkan hadis yang menjadi dasar kesimpulan ini, أن النبي صلى الله عليه وسلم عق عن نفسه بعد ما بعث نبياً Bahwa Nabi shallallahua’alahi wa sallam meng-akikahi diri beliau sendiri, setelah beliau diutus menjadi Nabi. (Dinilai shahih oleh Syaikh Albani, dalam Silsilah As-Shahihah). Inilah pendapat yang kami nilai kuat diantara persilangan pendapat ulama yang ada dalam masalah ini. Riwayat di atas, juga menunjukkan bolehnya seorang mengakikahi dirinya sendiri, apabila orangtuanya belum mengakikahi dirinya ketika kecil atau karena orangtuanya tidak mampu menunaikan akikah untuknya. Imam Nawawi rahimahullah menjelaskan, فلو ذبحها بعد السابع أو قبله وبعد الولادة أجزأه وإن ذبحها قبل الولادة لم تجزه بلا خلاف, بل تكون شاة لحم Seandanya kambing akikah disembelih sebelum atau setelah hari ketujuh, maka hukumnya sah. Adapun bila disembelih sebelum kelahiran, para ulama sepakat akikah tidak sah. Status kambing yang disembelih adalah sembelihan biasa (tidak teranggap sebagai akikah). (Al-Majmu’ 8/411). Syaikh Abdulaziz bin Baz rahimahullah menjelaskan, ووقتها يوم السابع، هذا هو الأفضل اليوم السابع، وإن ذبحت بعد ذلك فلا حرج، ولو بعد سنة أو سنتين، وإذا لم يعق عنه أبوه وأحب أن يعق عن نفسه فهذا حسن فمشروع في حق الأب لكن لو عق عن نفسه أو عقت عن أمه أو أخوه فلا بأس Waktu pelaksanaan akikah adalah hari ketujuh kelahiran. Inilah waktu yang paling utama, yaitu hari ketujuh. Namun bila kambing akikah disembelih setelah hari ketujuh, tidak mengapa. Bahkan sampai satu atau dua tahun setelahnyapun tidak mengapa. Jika ayahnya belum menunaikan akikah anaknya, sementara anak tersebut ingin mengakikahi dirinya, inipun baik (sah). Meski sebenarnya akikah adalah tanggungan ayah, akak tetapi bila seorang ingin mengakikahi dirinya, atau mengakikahi ibu atau saudaranya, maka tidak mengapa. (Fatwa beliau bisa disimak di sini : https://www.binbaz.org.sa/noor/2817) Wallahua’lam bis showab. Di jawab oleh Ustadz Ahmad Anshori, Lc Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. SPONSOR hubungi: 081 326 333 328 DONASI hubungi: 087 882 888 727 REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK 🔍 Hukum Mencabut Bulu Ketiak, Waktu Itikaf, Allah Ada Di Mana, Mengakhirkan Shalat Isya, Ayat Attahiyatul, Hadits Tentang Mandi Visited 487 times, 1 visit(s) today Post Views: 445 QRIS donasi Yufid


<iframe src="https://w.soundcloud.com/player/?url=https%3A//api.soundcloud.com/tracks/366085961&amp;color=d5265f&amp;auto_play=false&amp;show_artwork=false&amp;hide_related=true&amp;show_comments=false&amp;show_user=false&amp;show_reposts=false" width="100%" height="166" frameborder="no" scrolling="no"></iframe> Belum Diakikah Sampai Dewasa Ustadz mhon pnjelasannya:bgmn halnya dg seseorang yg sdh dewasa ttpi blum diakikahi?jazaakallah khoiron Dari : Sutiyonoripto, di Bantul Jawaban : Bismillah, walhamdulillah was sholaatu was salam ‘ala Rasulillah, waba’du. Barangkali muncul kegelisahan, ketika mendapati diri atau anak kita sudah mencapai usia dewasa, belum juga diakikahi. Karena Nabi shallallahualaihiwa sallam menyebutkan, bahwa seorang anak yang terlahir statusnya tergadai, sampai dia diakikahi. Dari sahabat Samurah bin Jundub radliallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, كُلُّ غُلاَمٍ مُرْتَهَنٌ بِعَقِيقَتِهِ تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ السَّابِعِ وَيُحْلَقُ رَأْسُهُ وَيُسَمَّى “Setiap anak tergadaikan dengan aqiqahnya. Disembelih pada hari ketujuh, dicukur gundul rambutnya, dan diberi nama.” (HR. Ahmad 20722, at-Turmudzi 1605, dan dinilai shahih oleh al-Albani). Tentang makna status tergadai pada hadis di atas, silahkan dipelajari di : Anakmu Tergadai Sampai Diakikahi Perlu kita ketahui, bahwa hukum akikah sebenarnya adalah sunah muakkadah. Terkait waktu pelaksanaannya, para ulama sepakat, bahwa waktu akikah yang paling afdhol adalah hari ketujuh kelahiran. Berdasarkan hadis dari sahabat Samurah bin Jundub di atas. Cara menghitungnya, dimulai sejak hari kelahiran, kemudian ditambah enam hari berikutnya. Namun, bila tidak mampu, akikah boleh dilakukan setelahnya sampai ada kemampuan, meskipun si anak sudah mencapai dewasa. Hal ini berdasar pada perbuatan Nabi shallallahua’alaihi wa sallam, dimana beliau mengakikahi diri beliau sendiri di saat beliau sudah mencapai usia dewasa. Imam Tabrani meriwayatkan hadis yang menjadi dasar kesimpulan ini, أن النبي صلى الله عليه وسلم عق عن نفسه بعد ما بعث نبياً Bahwa Nabi shallallahua’alahi wa sallam meng-akikahi diri beliau sendiri, setelah beliau diutus menjadi Nabi. (Dinilai shahih oleh Syaikh Albani, dalam Silsilah As-Shahihah). Inilah pendapat yang kami nilai kuat diantara persilangan pendapat ulama yang ada dalam masalah ini. Riwayat di atas, juga menunjukkan bolehnya seorang mengakikahi dirinya sendiri, apabila orangtuanya belum mengakikahi dirinya ketika kecil atau karena orangtuanya tidak mampu menunaikan akikah untuknya. Imam Nawawi rahimahullah menjelaskan, فلو ذبحها بعد السابع أو قبله وبعد الولادة أجزأه وإن ذبحها قبل الولادة لم تجزه بلا خلاف, بل تكون شاة لحم Seandanya kambing akikah disembelih sebelum atau setelah hari ketujuh, maka hukumnya sah. Adapun bila disembelih sebelum kelahiran, para ulama sepakat akikah tidak sah. Status kambing yang disembelih adalah sembelihan biasa (tidak teranggap sebagai akikah). (Al-Majmu’ 8/411). Syaikh Abdulaziz bin Baz rahimahullah menjelaskan, ووقتها يوم السابع، هذا هو الأفضل اليوم السابع، وإن ذبحت بعد ذلك فلا حرج، ولو بعد سنة أو سنتين، وإذا لم يعق عنه أبوه وأحب أن يعق عن نفسه فهذا حسن فمشروع في حق الأب لكن لو عق عن نفسه أو عقت عن أمه أو أخوه فلا بأس Waktu pelaksanaan akikah adalah hari ketujuh kelahiran. Inilah waktu yang paling utama, yaitu hari ketujuh. Namun bila kambing akikah disembelih setelah hari ketujuh, tidak mengapa. Bahkan sampai satu atau dua tahun setelahnyapun tidak mengapa. Jika ayahnya belum menunaikan akikah anaknya, sementara anak tersebut ingin mengakikahi dirinya, inipun baik (sah). Meski sebenarnya akikah adalah tanggungan ayah, akak tetapi bila seorang ingin mengakikahi dirinya, atau mengakikahi ibu atau saudaranya, maka tidak mengapa. (Fatwa beliau bisa disimak di sini : https://www.binbaz.org.sa/noor/2817) Wallahua’lam bis showab. Di jawab oleh Ustadz Ahmad Anshori, Lc Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. SPONSOR hubungi: 081 326 333 328 DONASI hubungi: 087 882 888 727 REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK 🔍 Hukum Mencabut Bulu Ketiak, Waktu Itikaf, Allah Ada Di Mana, Mengakhirkan Shalat Isya, Ayat Attahiyatul, Hadits Tentang Mandi Visited 487 times, 1 visit(s) today Post Views: 445 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Ayat-ayat Makkiyyah dan Madaniyyah (2)

Baca pembahasan sebelumnya: Ayat-ayat Makkiyyah dan Madaniyyah (Bag.1)  2. Mayoritas ayat-ayat Makkiyyah itu pendek-pendek dan mengandung gaya debat yang kuatMayoritas ayat-ayat Makkiyyah itu pendek-pendek dan mengandung gaya debat yang kuat, karena kebanyakan orang-orang yang diseru dengan ayat-ayat Makkiyyah adalah tipe orang-orang penentang yang sulit menerima kebenaran, maka diserulah dengan seruan yang sesuai dengan keadaan mereka. Hal ini sebagaimana yang nampak dalam surat Ath-Thur.Contoh ayat-ayat Makkiyyah ditinjau dari sisi pendek-pendek ayatnya dan mengandung gaya debat yang kuatDiantara contohnya adalah surat Ath-Thur berikut ini.بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ وَالطُّورِ  “Demi bukit,”وَكِتَابٍ مَسْطُورٍ “dan Kitab yang ditulis,”فِي رَقٍّ مَنْشُورٍ“pada lembaran yang terbuka,”وَالْبَيْتِ الْمَعْمُورِ “dan demi Baitul Ma’mur,”وَالسَّقْفِ الْمَرْفُوعِ “dan atap yang ditinggikan (langit),”Mayoritas ayat-ayat Madaniyyah panjang-panjang ayatnya, dan tanpa mengandung gaya debatSedangkan ayat-ayat Madaniyyah, maka kebanyakan ayat-ayatnya panjang, dan disebutkan hukum-hukum Syar’i tanpa adanya gaya bahasa mendebat, karena metode tersebut sesuai dengan keadaan orang-orang yang diseru dengan ayat-ayat Madaniyyah, yaitu Muhajirun. Al-Muhajirun adalah kaum yang tidak sombong, bahkan tunduk kepada Allah, dan beriman kepada-Nya, serta menerima kebenaran.Sebagai contohnya, bacalah ayat hutang-piutang dalam surat Al-Baqarah.Contoh ayat MadaniyyahDi antara contohnya adalah surat Al-Baqarah: 282 tentang utang piutang,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا تَدَايَنْتُمْ بِدَيْنٍ إِلَىٰ أَجَلٍ مُسَمًّى فَاكْتُبُوهُ ۚ وَلْيَكْتُبْ بَيْنَكُمْ كَاتِبٌ بِالْعَدْلِ ۚ وَلَا يَأْبَ كَاتِبٌ أَنْ يَكْتُبَ كَمَا عَلَّمَهُ اللَّهُ ۚ فَلْيَكْتُبْ وَلْيُمْلِلِ الَّذِي عَلَيْهِ الْحَقُّ وَلْيَتَّقِ اللَّهَ رَبَّهُ وَلَا يَبْخَسْ مِنْهُ شَيْئًا ۚ فَإِنْ كَانَ الَّذِي عَلَيْهِ الْحَقُّ سَفِيهًا أَوْ ضَعِيفًا أَوْ لَا يَسْتَطِيعُ أَنْ يُمِلَّ هُوَ فَلْيُمْلِلْ وَلِيُّهُ بِالْعَدْلِ ۚ وَاسْتَشْهِدُوا شَهِيدَيْنِ مِنْ رِجَالِكُمْ ۖ فَإِنْ لَمْ يَكُونَا رَجُلَيْنِ فَرَجُلٌ وَامْرَأَتَانِ مِمَّنْ تَرْضَوْنَ مِنَ الشُّهَدَاءِ أَنْ تَضِلَّ إِحْدَاهُمَا فَتُذَكِّرَ إِحْدَاهُمَا الْأُخْرَىٰ ۚ وَلَا يَأْبَ الشُّهَدَاءُ إِذَا مَا دُعُوا ۚ وَلَا تَسْأَمُوا أَنْ تَكْتُبُوهُ صَغِيرًا أَوْ كَبِيرًا إِلَىٰ أَجَلِهِ ۚ ذَٰلِكُمْ أَقْسَطُ عِنْدَ اللَّهِ وَأَقْوَمُ لِلشَّهَادَةِ وَأَدْنَىٰ أَلَّا تَرْتَابُوا ۖ إِلَّا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً حَاضِرَةً تُدِيرُونَهَا بَيْنَكُمْ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَلَّا تَكْتُبُوهَا ۗ وَأَشْهِدُوا إِذَا تَبَايَعْتُمْ ۚ وَلَا يُضَارَّ كَاتِبٌ وَلَا شَهِيدٌ ۚ وَإِنْ تَفْعَلُوا فَإِنَّهُ فُسُوقٌ بِكُمْ ۗ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ وَيُعَلِّمُكُمُ اللَّهُ ۗ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ “Hai orang-orang yang beriman, apabila kalian bermu’amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kalian menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis di antara kalian menuliskannya dengan benar. Dan janganlah penulis enggan menuliskannya sebagaimana Allah mengajarkannya, maka hendaklah ia menulis, dan hendaklah orang yang berhutang itu mendiktekan (hutangnya kepada penulis), dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya, dan janganlah ia mengurangi sedikitpun daripada hutangnya. Jika yang berhutang itu orang yang lemah akalnya atau lemah (keadaannya) atau dia sendiri tidak mampu mendiktekan sendiri, maka hendaklah walinya mendiktekannya dengan benar. Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang lelaki (di antara kalian). Jika tak ada dua orang lelaki, maka (boleh) seorang lelaki dan dua orang wanita dari saksi-saksi yang kalian ridhai, supaya jika seorang lupa maka seorang lainnya mengingatkannya. Janganlah saksi-saksi itu enggan (memberi keterangan) apabila mereka dipanggil, dan janganlah kalian jemu menulis hutang itu, baik kecil maupun besar sampai batas waktu membayarnya. Yang demikian itu, lebih adil di sisi Allah dan lebih menguatkan persaksian dan lebih dekat kepada tidak (menimbulkan) keraguan kalian. (Tulislah mu’amalah kalian itu), kecuali jika mu’amalah itu perdagangan tunai yang kalian jalankan di antara kalian, maka tidak ada dosa bagi kalian, (jika) kalian tidak menulisnya. Dan persaksikanlah apabila kalian berjual beli, dan janganlah penulis dan saksi saling sulit menyulitkan. Jika kalian lakukan (yang demikian), maka sesungguhnya hal itu adalah suatu kefasikan pada diri kalian. Dan bertakwalah kepada Allah, (niscaya) Allah mengajarkan ilmu kepada kalian, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”PenjelasanDalam ayat ini, Allah Ta’ala hanya menyebutkan tentang seputar peraturan hutang piutang, dan arahannya, tanpa adanya kandungan perdebatan, karena kaum yang diseru ketika itu adalah orang-orang yang tunduk dan patuh kepada Allah, dan tidak mendebat kebenaran.[Bersambung]Penulis: Sa’id Abu Ukkasyah Artikel: Muslim.or.id🔍 Fitroh, Fakta Segitiga Bermuda Menurut Islam, Ibadah Dalam Islam, Orang Tua Adalah Pintu Surga, Jangan Menyakiti Hati Istri

Ayat-ayat Makkiyyah dan Madaniyyah (2)

Baca pembahasan sebelumnya: Ayat-ayat Makkiyyah dan Madaniyyah (Bag.1)  2. Mayoritas ayat-ayat Makkiyyah itu pendek-pendek dan mengandung gaya debat yang kuatMayoritas ayat-ayat Makkiyyah itu pendek-pendek dan mengandung gaya debat yang kuat, karena kebanyakan orang-orang yang diseru dengan ayat-ayat Makkiyyah adalah tipe orang-orang penentang yang sulit menerima kebenaran, maka diserulah dengan seruan yang sesuai dengan keadaan mereka. Hal ini sebagaimana yang nampak dalam surat Ath-Thur.Contoh ayat-ayat Makkiyyah ditinjau dari sisi pendek-pendek ayatnya dan mengandung gaya debat yang kuatDiantara contohnya adalah surat Ath-Thur berikut ini.بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ وَالطُّورِ  “Demi bukit,”وَكِتَابٍ مَسْطُورٍ “dan Kitab yang ditulis,”فِي رَقٍّ مَنْشُورٍ“pada lembaran yang terbuka,”وَالْبَيْتِ الْمَعْمُورِ “dan demi Baitul Ma’mur,”وَالسَّقْفِ الْمَرْفُوعِ “dan atap yang ditinggikan (langit),”Mayoritas ayat-ayat Madaniyyah panjang-panjang ayatnya, dan tanpa mengandung gaya debatSedangkan ayat-ayat Madaniyyah, maka kebanyakan ayat-ayatnya panjang, dan disebutkan hukum-hukum Syar’i tanpa adanya gaya bahasa mendebat, karena metode tersebut sesuai dengan keadaan orang-orang yang diseru dengan ayat-ayat Madaniyyah, yaitu Muhajirun. Al-Muhajirun adalah kaum yang tidak sombong, bahkan tunduk kepada Allah, dan beriman kepada-Nya, serta menerima kebenaran.Sebagai contohnya, bacalah ayat hutang-piutang dalam surat Al-Baqarah.Contoh ayat MadaniyyahDi antara contohnya adalah surat Al-Baqarah: 282 tentang utang piutang,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا تَدَايَنْتُمْ بِدَيْنٍ إِلَىٰ أَجَلٍ مُسَمًّى فَاكْتُبُوهُ ۚ وَلْيَكْتُبْ بَيْنَكُمْ كَاتِبٌ بِالْعَدْلِ ۚ وَلَا يَأْبَ كَاتِبٌ أَنْ يَكْتُبَ كَمَا عَلَّمَهُ اللَّهُ ۚ فَلْيَكْتُبْ وَلْيُمْلِلِ الَّذِي عَلَيْهِ الْحَقُّ وَلْيَتَّقِ اللَّهَ رَبَّهُ وَلَا يَبْخَسْ مِنْهُ شَيْئًا ۚ فَإِنْ كَانَ الَّذِي عَلَيْهِ الْحَقُّ سَفِيهًا أَوْ ضَعِيفًا أَوْ لَا يَسْتَطِيعُ أَنْ يُمِلَّ هُوَ فَلْيُمْلِلْ وَلِيُّهُ بِالْعَدْلِ ۚ وَاسْتَشْهِدُوا شَهِيدَيْنِ مِنْ رِجَالِكُمْ ۖ فَإِنْ لَمْ يَكُونَا رَجُلَيْنِ فَرَجُلٌ وَامْرَأَتَانِ مِمَّنْ تَرْضَوْنَ مِنَ الشُّهَدَاءِ أَنْ تَضِلَّ إِحْدَاهُمَا فَتُذَكِّرَ إِحْدَاهُمَا الْأُخْرَىٰ ۚ وَلَا يَأْبَ الشُّهَدَاءُ إِذَا مَا دُعُوا ۚ وَلَا تَسْأَمُوا أَنْ تَكْتُبُوهُ صَغِيرًا أَوْ كَبِيرًا إِلَىٰ أَجَلِهِ ۚ ذَٰلِكُمْ أَقْسَطُ عِنْدَ اللَّهِ وَأَقْوَمُ لِلشَّهَادَةِ وَأَدْنَىٰ أَلَّا تَرْتَابُوا ۖ إِلَّا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً حَاضِرَةً تُدِيرُونَهَا بَيْنَكُمْ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَلَّا تَكْتُبُوهَا ۗ وَأَشْهِدُوا إِذَا تَبَايَعْتُمْ ۚ وَلَا يُضَارَّ كَاتِبٌ وَلَا شَهِيدٌ ۚ وَإِنْ تَفْعَلُوا فَإِنَّهُ فُسُوقٌ بِكُمْ ۗ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ وَيُعَلِّمُكُمُ اللَّهُ ۗ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ “Hai orang-orang yang beriman, apabila kalian bermu’amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kalian menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis di antara kalian menuliskannya dengan benar. Dan janganlah penulis enggan menuliskannya sebagaimana Allah mengajarkannya, maka hendaklah ia menulis, dan hendaklah orang yang berhutang itu mendiktekan (hutangnya kepada penulis), dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya, dan janganlah ia mengurangi sedikitpun daripada hutangnya. Jika yang berhutang itu orang yang lemah akalnya atau lemah (keadaannya) atau dia sendiri tidak mampu mendiktekan sendiri, maka hendaklah walinya mendiktekannya dengan benar. Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang lelaki (di antara kalian). Jika tak ada dua orang lelaki, maka (boleh) seorang lelaki dan dua orang wanita dari saksi-saksi yang kalian ridhai, supaya jika seorang lupa maka seorang lainnya mengingatkannya. Janganlah saksi-saksi itu enggan (memberi keterangan) apabila mereka dipanggil, dan janganlah kalian jemu menulis hutang itu, baik kecil maupun besar sampai batas waktu membayarnya. Yang demikian itu, lebih adil di sisi Allah dan lebih menguatkan persaksian dan lebih dekat kepada tidak (menimbulkan) keraguan kalian. (Tulislah mu’amalah kalian itu), kecuali jika mu’amalah itu perdagangan tunai yang kalian jalankan di antara kalian, maka tidak ada dosa bagi kalian, (jika) kalian tidak menulisnya. Dan persaksikanlah apabila kalian berjual beli, dan janganlah penulis dan saksi saling sulit menyulitkan. Jika kalian lakukan (yang demikian), maka sesungguhnya hal itu adalah suatu kefasikan pada diri kalian. Dan bertakwalah kepada Allah, (niscaya) Allah mengajarkan ilmu kepada kalian, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”PenjelasanDalam ayat ini, Allah Ta’ala hanya menyebutkan tentang seputar peraturan hutang piutang, dan arahannya, tanpa adanya kandungan perdebatan, karena kaum yang diseru ketika itu adalah orang-orang yang tunduk dan patuh kepada Allah, dan tidak mendebat kebenaran.[Bersambung]Penulis: Sa’id Abu Ukkasyah Artikel: Muslim.or.id🔍 Fitroh, Fakta Segitiga Bermuda Menurut Islam, Ibadah Dalam Islam, Orang Tua Adalah Pintu Surga, Jangan Menyakiti Hati Istri
Baca pembahasan sebelumnya: Ayat-ayat Makkiyyah dan Madaniyyah (Bag.1)  2. Mayoritas ayat-ayat Makkiyyah itu pendek-pendek dan mengandung gaya debat yang kuatMayoritas ayat-ayat Makkiyyah itu pendek-pendek dan mengandung gaya debat yang kuat, karena kebanyakan orang-orang yang diseru dengan ayat-ayat Makkiyyah adalah tipe orang-orang penentang yang sulit menerima kebenaran, maka diserulah dengan seruan yang sesuai dengan keadaan mereka. Hal ini sebagaimana yang nampak dalam surat Ath-Thur.Contoh ayat-ayat Makkiyyah ditinjau dari sisi pendek-pendek ayatnya dan mengandung gaya debat yang kuatDiantara contohnya adalah surat Ath-Thur berikut ini.بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ وَالطُّورِ  “Demi bukit,”وَكِتَابٍ مَسْطُورٍ “dan Kitab yang ditulis,”فِي رَقٍّ مَنْشُورٍ“pada lembaran yang terbuka,”وَالْبَيْتِ الْمَعْمُورِ “dan demi Baitul Ma’mur,”وَالسَّقْفِ الْمَرْفُوعِ “dan atap yang ditinggikan (langit),”Mayoritas ayat-ayat Madaniyyah panjang-panjang ayatnya, dan tanpa mengandung gaya debatSedangkan ayat-ayat Madaniyyah, maka kebanyakan ayat-ayatnya panjang, dan disebutkan hukum-hukum Syar’i tanpa adanya gaya bahasa mendebat, karena metode tersebut sesuai dengan keadaan orang-orang yang diseru dengan ayat-ayat Madaniyyah, yaitu Muhajirun. Al-Muhajirun adalah kaum yang tidak sombong, bahkan tunduk kepada Allah, dan beriman kepada-Nya, serta menerima kebenaran.Sebagai contohnya, bacalah ayat hutang-piutang dalam surat Al-Baqarah.Contoh ayat MadaniyyahDi antara contohnya adalah surat Al-Baqarah: 282 tentang utang piutang,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا تَدَايَنْتُمْ بِدَيْنٍ إِلَىٰ أَجَلٍ مُسَمًّى فَاكْتُبُوهُ ۚ وَلْيَكْتُبْ بَيْنَكُمْ كَاتِبٌ بِالْعَدْلِ ۚ وَلَا يَأْبَ كَاتِبٌ أَنْ يَكْتُبَ كَمَا عَلَّمَهُ اللَّهُ ۚ فَلْيَكْتُبْ وَلْيُمْلِلِ الَّذِي عَلَيْهِ الْحَقُّ وَلْيَتَّقِ اللَّهَ رَبَّهُ وَلَا يَبْخَسْ مِنْهُ شَيْئًا ۚ فَإِنْ كَانَ الَّذِي عَلَيْهِ الْحَقُّ سَفِيهًا أَوْ ضَعِيفًا أَوْ لَا يَسْتَطِيعُ أَنْ يُمِلَّ هُوَ فَلْيُمْلِلْ وَلِيُّهُ بِالْعَدْلِ ۚ وَاسْتَشْهِدُوا شَهِيدَيْنِ مِنْ رِجَالِكُمْ ۖ فَإِنْ لَمْ يَكُونَا رَجُلَيْنِ فَرَجُلٌ وَامْرَأَتَانِ مِمَّنْ تَرْضَوْنَ مِنَ الشُّهَدَاءِ أَنْ تَضِلَّ إِحْدَاهُمَا فَتُذَكِّرَ إِحْدَاهُمَا الْأُخْرَىٰ ۚ وَلَا يَأْبَ الشُّهَدَاءُ إِذَا مَا دُعُوا ۚ وَلَا تَسْأَمُوا أَنْ تَكْتُبُوهُ صَغِيرًا أَوْ كَبِيرًا إِلَىٰ أَجَلِهِ ۚ ذَٰلِكُمْ أَقْسَطُ عِنْدَ اللَّهِ وَأَقْوَمُ لِلشَّهَادَةِ وَأَدْنَىٰ أَلَّا تَرْتَابُوا ۖ إِلَّا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً حَاضِرَةً تُدِيرُونَهَا بَيْنَكُمْ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَلَّا تَكْتُبُوهَا ۗ وَأَشْهِدُوا إِذَا تَبَايَعْتُمْ ۚ وَلَا يُضَارَّ كَاتِبٌ وَلَا شَهِيدٌ ۚ وَإِنْ تَفْعَلُوا فَإِنَّهُ فُسُوقٌ بِكُمْ ۗ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ وَيُعَلِّمُكُمُ اللَّهُ ۗ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ “Hai orang-orang yang beriman, apabila kalian bermu’amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kalian menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis di antara kalian menuliskannya dengan benar. Dan janganlah penulis enggan menuliskannya sebagaimana Allah mengajarkannya, maka hendaklah ia menulis, dan hendaklah orang yang berhutang itu mendiktekan (hutangnya kepada penulis), dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya, dan janganlah ia mengurangi sedikitpun daripada hutangnya. Jika yang berhutang itu orang yang lemah akalnya atau lemah (keadaannya) atau dia sendiri tidak mampu mendiktekan sendiri, maka hendaklah walinya mendiktekannya dengan benar. Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang lelaki (di antara kalian). Jika tak ada dua orang lelaki, maka (boleh) seorang lelaki dan dua orang wanita dari saksi-saksi yang kalian ridhai, supaya jika seorang lupa maka seorang lainnya mengingatkannya. Janganlah saksi-saksi itu enggan (memberi keterangan) apabila mereka dipanggil, dan janganlah kalian jemu menulis hutang itu, baik kecil maupun besar sampai batas waktu membayarnya. Yang demikian itu, lebih adil di sisi Allah dan lebih menguatkan persaksian dan lebih dekat kepada tidak (menimbulkan) keraguan kalian. (Tulislah mu’amalah kalian itu), kecuali jika mu’amalah itu perdagangan tunai yang kalian jalankan di antara kalian, maka tidak ada dosa bagi kalian, (jika) kalian tidak menulisnya. Dan persaksikanlah apabila kalian berjual beli, dan janganlah penulis dan saksi saling sulit menyulitkan. Jika kalian lakukan (yang demikian), maka sesungguhnya hal itu adalah suatu kefasikan pada diri kalian. Dan bertakwalah kepada Allah, (niscaya) Allah mengajarkan ilmu kepada kalian, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”PenjelasanDalam ayat ini, Allah Ta’ala hanya menyebutkan tentang seputar peraturan hutang piutang, dan arahannya, tanpa adanya kandungan perdebatan, karena kaum yang diseru ketika itu adalah orang-orang yang tunduk dan patuh kepada Allah, dan tidak mendebat kebenaran.[Bersambung]Penulis: Sa’id Abu Ukkasyah Artikel: Muslim.or.id🔍 Fitroh, Fakta Segitiga Bermuda Menurut Islam, Ibadah Dalam Islam, Orang Tua Adalah Pintu Surga, Jangan Menyakiti Hati Istri


Baca pembahasan sebelumnya: Ayat-ayat Makkiyyah dan Madaniyyah (Bag.1)  2. Mayoritas ayat-ayat Makkiyyah itu pendek-pendek dan mengandung gaya debat yang kuatMayoritas ayat-ayat Makkiyyah itu pendek-pendek dan mengandung gaya debat yang kuat, karena kebanyakan orang-orang yang diseru dengan ayat-ayat Makkiyyah adalah tipe orang-orang penentang yang sulit menerima kebenaran, maka diserulah dengan seruan yang sesuai dengan keadaan mereka. Hal ini sebagaimana yang nampak dalam surat Ath-Thur.Contoh ayat-ayat Makkiyyah ditinjau dari sisi pendek-pendek ayatnya dan mengandung gaya debat yang kuatDiantara contohnya adalah surat Ath-Thur berikut ini.بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ وَالطُّورِ  “Demi bukit,”وَكِتَابٍ مَسْطُورٍ “dan Kitab yang ditulis,”فِي رَقٍّ مَنْشُورٍ“pada lembaran yang terbuka,”وَالْبَيْتِ الْمَعْمُورِ “dan demi Baitul Ma’mur,”وَالسَّقْفِ الْمَرْفُوعِ “dan atap yang ditinggikan (langit),”Mayoritas ayat-ayat Madaniyyah panjang-panjang ayatnya, dan tanpa mengandung gaya debatSedangkan ayat-ayat Madaniyyah, maka kebanyakan ayat-ayatnya panjang, dan disebutkan hukum-hukum Syar’i tanpa adanya gaya bahasa mendebat, karena metode tersebut sesuai dengan keadaan orang-orang yang diseru dengan ayat-ayat Madaniyyah, yaitu Muhajirun. Al-Muhajirun adalah kaum yang tidak sombong, bahkan tunduk kepada Allah, dan beriman kepada-Nya, serta menerima kebenaran.Sebagai contohnya, bacalah ayat hutang-piutang dalam surat Al-Baqarah.Contoh ayat MadaniyyahDi antara contohnya adalah surat Al-Baqarah: 282 tentang utang piutang,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا تَدَايَنْتُمْ بِدَيْنٍ إِلَىٰ أَجَلٍ مُسَمًّى فَاكْتُبُوهُ ۚ وَلْيَكْتُبْ بَيْنَكُمْ كَاتِبٌ بِالْعَدْلِ ۚ وَلَا يَأْبَ كَاتِبٌ أَنْ يَكْتُبَ كَمَا عَلَّمَهُ اللَّهُ ۚ فَلْيَكْتُبْ وَلْيُمْلِلِ الَّذِي عَلَيْهِ الْحَقُّ وَلْيَتَّقِ اللَّهَ رَبَّهُ وَلَا يَبْخَسْ مِنْهُ شَيْئًا ۚ فَإِنْ كَانَ الَّذِي عَلَيْهِ الْحَقُّ سَفِيهًا أَوْ ضَعِيفًا أَوْ لَا يَسْتَطِيعُ أَنْ يُمِلَّ هُوَ فَلْيُمْلِلْ وَلِيُّهُ بِالْعَدْلِ ۚ وَاسْتَشْهِدُوا شَهِيدَيْنِ مِنْ رِجَالِكُمْ ۖ فَإِنْ لَمْ يَكُونَا رَجُلَيْنِ فَرَجُلٌ وَامْرَأَتَانِ مِمَّنْ تَرْضَوْنَ مِنَ الشُّهَدَاءِ أَنْ تَضِلَّ إِحْدَاهُمَا فَتُذَكِّرَ إِحْدَاهُمَا الْأُخْرَىٰ ۚ وَلَا يَأْبَ الشُّهَدَاءُ إِذَا مَا دُعُوا ۚ وَلَا تَسْأَمُوا أَنْ تَكْتُبُوهُ صَغِيرًا أَوْ كَبِيرًا إِلَىٰ أَجَلِهِ ۚ ذَٰلِكُمْ أَقْسَطُ عِنْدَ اللَّهِ وَأَقْوَمُ لِلشَّهَادَةِ وَأَدْنَىٰ أَلَّا تَرْتَابُوا ۖ إِلَّا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً حَاضِرَةً تُدِيرُونَهَا بَيْنَكُمْ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَلَّا تَكْتُبُوهَا ۗ وَأَشْهِدُوا إِذَا تَبَايَعْتُمْ ۚ وَلَا يُضَارَّ كَاتِبٌ وَلَا شَهِيدٌ ۚ وَإِنْ تَفْعَلُوا فَإِنَّهُ فُسُوقٌ بِكُمْ ۗ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ وَيُعَلِّمُكُمُ اللَّهُ ۗ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ “Hai orang-orang yang beriman, apabila kalian bermu’amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kalian menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis di antara kalian menuliskannya dengan benar. Dan janganlah penulis enggan menuliskannya sebagaimana Allah mengajarkannya, maka hendaklah ia menulis, dan hendaklah orang yang berhutang itu mendiktekan (hutangnya kepada penulis), dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya, dan janganlah ia mengurangi sedikitpun daripada hutangnya. Jika yang berhutang itu orang yang lemah akalnya atau lemah (keadaannya) atau dia sendiri tidak mampu mendiktekan sendiri, maka hendaklah walinya mendiktekannya dengan benar. Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang lelaki (di antara kalian). Jika tak ada dua orang lelaki, maka (boleh) seorang lelaki dan dua orang wanita dari saksi-saksi yang kalian ridhai, supaya jika seorang lupa maka seorang lainnya mengingatkannya. Janganlah saksi-saksi itu enggan (memberi keterangan) apabila mereka dipanggil, dan janganlah kalian jemu menulis hutang itu, baik kecil maupun besar sampai batas waktu membayarnya. Yang demikian itu, lebih adil di sisi Allah dan lebih menguatkan persaksian dan lebih dekat kepada tidak (menimbulkan) keraguan kalian. (Tulislah mu’amalah kalian itu), kecuali jika mu’amalah itu perdagangan tunai yang kalian jalankan di antara kalian, maka tidak ada dosa bagi kalian, (jika) kalian tidak menulisnya. Dan persaksikanlah apabila kalian berjual beli, dan janganlah penulis dan saksi saling sulit menyulitkan. Jika kalian lakukan (yang demikian), maka sesungguhnya hal itu adalah suatu kefasikan pada diri kalian. Dan bertakwalah kepada Allah, (niscaya) Allah mengajarkan ilmu kepada kalian, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”PenjelasanDalam ayat ini, Allah Ta’ala hanya menyebutkan tentang seputar peraturan hutang piutang, dan arahannya, tanpa adanya kandungan perdebatan, karena kaum yang diseru ketika itu adalah orang-orang yang tunduk dan patuh kepada Allah, dan tidak mendebat kebenaran.[Bersambung]Penulis: Sa’id Abu Ukkasyah Artikel: Muslim.or.id🔍 Fitroh, Fakta Segitiga Bermuda Menurut Islam, Ibadah Dalam Islam, Orang Tua Adalah Pintu Surga, Jangan Menyakiti Hati Istri

Ayat-ayat Makkiyyah dan Madaniyyah (1)

Bismillah walhamdulillah wash shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du:Al-Qur`an Al-Karim diturunkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam secara bertahap dalam dua puluh tiga tahun, dan mayoritasnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendapatkan masa tersebut di Mekkah.Allah Ta’ala berfirman,وَقُرْآنًا فَرَقْنَاهُ لِتَقْرَأَهُ عَلَى النَّاسِ عَلَىٰ مُكْثٍ وَنَزَّلْنَاهُ تَنْزِيلًا “Dan Al-Qur`an itu telah Kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian demi bagian” (Q.S. Al-Israa`:106).Oleh karena itu ulama rahimahumullah ta’ala membagi Al-Qur`an menjadi dua macam, yaitu ayat-ayat makkiyyah dan ayat-ayat madaniyyah.Ayat Makkiyyah Syaikh Muhammad Shalih Al-’Utsaimin rahimahullah menjelaskan Ayat Makkiyyah adalahما نزل على النبي صلى الله عليه و سلم قبل هجرته إلى المدينةAyat yang diturunkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebelum beliau hijrah ke Madinah.Ayat MadaniyyahAyat Madaniyyah, sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh Muhammad Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah, yaituما نزل على النبي صلى الله عليه و سلم بعد هجرته إلى المدينة“Ayat yang diturunkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam setelah beliau hijrah ke Madinah.”Dengan demikian, maka firman Allah Ta’ala,الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا“Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian, dan telah Kucukupkan kepada kalian nikmat-Ku, dan telah Kuridhai Islam itu jadi agama bagi kalian” (Q.S. Al-Maaidah: 3).termasuk jenis madaniyyah, karena ayat tersebut diturunkan di masa haji wada’ di Arafah. Sebagaimana hal ini disampaikan oleh ‘Umar radhiyallahu ‘anhu dalam Shahihul Bukhari tentang ayat di atas,قد عرفنا ذلك اليوم والمكان الذي نزلت فيه على النبي صلى الله عليه وسلم وهو قائم بعرفة يوم جمعة “Kami telah mengetahui hari dan tempat yang padanya diturunkan ayat tersebut kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sedangkan (pada saat itu) beliau berada di Arafah di hari Jum’at.”Perbedaan Ayat-ayat Makkiyyah dan MadaniyyahPerbedaan keduanya akan nampak jelas jika dilihat dari dua sisi tinjauan, yaitu:(A) Ditinjau dari sisi metode penyampaian dan gaya bahasa Ayat-ayat Makkiyyah: tegas metode penyampaiannya, dan kuat seruannya Metode penyampaian pada mayoritas ayat-ayat makkiyyah itu tegas, dan seruannya juga kuat, karena kebanyakan orang-orang yang diseru dengan ayat-ayat makkiyyah ini adalah tipe orang-orang yang berpaling dari kebenaran dan sombong, maka tentunya tidak layak bagi mereka melainkan dengan metode penyampaian dan seruannya yang kuat.Misalnya saja, ayat-ayat makkiyyah yang terdapat dalam surat Al-Muddatsir dan surat Al-Qamar.Contoh ayat-ayat Makkiyyah ditinjau dari sisi ketegasan metode penyampaiannya, dan kekuatan seruannya  Perhatikanlah surat Al-Qamar yang Makkiyyah berikut ini.بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ اقْتَرَبَتِ السَّاعَةُ وَانْشَقَّ الْقَمَرُ (1) “Telah dekat datangnya saat itu dan telah terbelah bulan.”وَإِنْ يَرَوْا آيَةً يُعْرِضُوا وَيَقُولُوا سِحْرٌ مُسْتَمِرٌّ (2) “Dan jika mereka (orang-orang musyrikin) melihat suatu tanda (mukjizat), mereka berpaling dan berkata: “(Ini adalah) sihir yang terus menerus.”وَكَذَّبُوا وَاتَّبَعُوا أَهْوَاءَهُمْ ۚ وَكُلُّ أَمْرٍ مُسْتَقِرٌّ (3) “Dan mereka mendutakan (Nabi) dan mengikuti hawa nafsu mereka, sedang tiap-tiap urusan telah ada ketetapannya.”وَلَقَدْ جَاءَهُمْ مِنَ الْأَنْبَاءِ مَا فِيهِ مُزْدَجَرٌ(4) “Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka beberapa kisah yang di dalamnya terdapat pencegahan (dari kekafiran).”حِكْمَةٌ بَالِغَةٌ ۖ فَمَا تُغْنِ النُّذُرُ (5) “Itulah suatu hikmah yang sempurna maka peringatan-peringatan itu tidak berguna (bagi mereka).”فَتَوَلَّ عَنْهُمْ ۘ يَوْمَ يَدْعُ الدَّاعِ إِلَىٰ شَيْءٍ نُكُرٍ (6) “Maka berpalinglah kamu dari mereka. (Ingatlah) hari (ketika) seorang penyeru (malaikat) menyeru kepada sesuatu yang tidak menyenangkan (hari Pembalasan),”خُشَّعًا أَبْصَارُهُمْ يَخْرُجُونَ مِنَ الْأَجْدَاثِ كَأَنَّهُمْ جَرَادٌ مُنْتَشِرٌ(7) “Sambil menundukkan pandangan-pandangan mereka keluar dari kuburan seakan-akan mereka belalang yang beterbangan.”مُهْطِعِينَ إِلَى الدَّاعِ ۖ يَقُولُ الْكَافِرُونَ هَٰذَا يَوْمٌ عَسِرٌ(8) “Mereka datang dengan cepat kepada penyeru itu. Orang-orang kafir berkata, ‘Ini adalah hari yang berat.’”كَذَّبَتْ قَبْلَهُمْ قَوْمُ نُوحٍ فَكَذَّبُوا عَبْدَنَا وَقَالُوا مَجْنُونٌ وَازْدُجِرَ (9) “Sebelum mereka, telah mendustakan (pula) kamu Nuh, maka mereka mendustakan hamba Kami (Nuh) dan mengatakan, ‘Dia seorang gila dan dia sudah pernah diberi ancaman).’”فَدَعَا رَبَّهُ أَنِّي مَغْلُوبٌ فَانْتَصِرْ (10) “Maka dia mengadu kepada Tuhannya, ‘bahwasanya aku ini adalah orang yang dikalahkan, oleh sebab itu menangkanlah (aku).’”Ayat-ayat Madaniyyah: lembut metode penyampaiannya dan mudah seruannya!Sedangkan ayat-ayat madaniyyah, maka kebanyakan metode penyampaian di dalam ayat-ayat tersebut adalah lembut dan seruannya mudah, karena kebanyakan orang-orang yang diseru dengan ayat-ayat madaniyyah adalah tipe orang-orang yang tunduk dan menerima kebenaran. Silakan baca surat Al-Maidah.Contoh ayat-ayat Madaniyyah ditinjau dari sisi kelembutan metode penyampaiannya dan kemudahan seruannya!Perhatikanlah surat Al-Maidah berikut ini,بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَوْفُوا بِالْعُقُودِ ۚ أُحِلَّتْ لَكُمْ بَهِيمَةُ الْأَنْعَامِ إِلَّا مَا يُتْلَىٰ عَلَيْكُمْ غَيْرَ مُحِلِّي الصَّيْدِ وَأَنْتُمْ حُرُمٌ ۗ إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ مَا يُرِيدُ (1) “Hai orang-orang yang beriman, penuhilah akad-akad itu. Dihalalkan bagi kalian binatang ternak, kecuali yang akan dibacakan kepada kalian. (Yang demikian itu) dengan tidak menghalalkan berburu ketika kalian sedang mengerjakan haji. Sesungguhnya Allah menetapkan hukum-hukum menurut yang dikehendaki-Nya.”يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُحِلُّوا شَعَائِرَ اللَّهِ وَلَا الشَّهْرَ الْحَرَامَ وَلَا الْهَدْيَ وَلَا الْقَلَائِدَ وَلَا آمِّينَ الْبَيْتَ الْحَرَامَ يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنْ رَبِّهِمْ وَرِضْوَانًا ۚ وَإِذَا حَلَلْتُمْ فَاصْطَادُوا ۚ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ أَنْ صَدُّوكُمْ عَنِ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ أَنْ تَعْتَدُوا ۘ وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ (2) “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian melanggar syi’ar-syi’ar Allah, dan jangan melanggar kehormatan bulan-bulan haram, jangan (mengganggu) binatang-binatang hadya, dan binatang-binatang qalaaid, dan jangan (pula) mengganggu orang-orang yang mengunjungi Baitullah sedang mereka mencari karunia dan keridhaan dari Tuhan mereka dan apabila kalian telah menyelesaikan ibadah haji, maka bolehlah kalian berburu. Dan janganlah sekali-kali kebencian (kalian) kepada sesuatu kaum karena mereka menghalang-halangi kalian dari Masjidil Haram mendorong kalian berbuat aniaya (kepada mereka). Dan tolong-menolonglah kalian dalam (mengerjakan) kebaikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kalian kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.[Bersambung]Penulis: Sa’id Abu Ukkasyah Artikel: Muslim.or.idBaca pembahasan selanjutnya: Ayat-ayat Makkiyyah dan Madaniyyah (Bag.2)🔍 Ar Rahman Ar Rahim, Problematika Umat, Hadist Tentang Solat, Dzikir Pagi Petang Rodja Pdf, Waktu Sholat Jumat

Ayat-ayat Makkiyyah dan Madaniyyah (1)

Bismillah walhamdulillah wash shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du:Al-Qur`an Al-Karim diturunkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam secara bertahap dalam dua puluh tiga tahun, dan mayoritasnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendapatkan masa tersebut di Mekkah.Allah Ta’ala berfirman,وَقُرْآنًا فَرَقْنَاهُ لِتَقْرَأَهُ عَلَى النَّاسِ عَلَىٰ مُكْثٍ وَنَزَّلْنَاهُ تَنْزِيلًا “Dan Al-Qur`an itu telah Kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian demi bagian” (Q.S. Al-Israa`:106).Oleh karena itu ulama rahimahumullah ta’ala membagi Al-Qur`an menjadi dua macam, yaitu ayat-ayat makkiyyah dan ayat-ayat madaniyyah.Ayat Makkiyyah Syaikh Muhammad Shalih Al-’Utsaimin rahimahullah menjelaskan Ayat Makkiyyah adalahما نزل على النبي صلى الله عليه و سلم قبل هجرته إلى المدينةAyat yang diturunkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebelum beliau hijrah ke Madinah.Ayat MadaniyyahAyat Madaniyyah, sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh Muhammad Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah, yaituما نزل على النبي صلى الله عليه و سلم بعد هجرته إلى المدينة“Ayat yang diturunkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam setelah beliau hijrah ke Madinah.”Dengan demikian, maka firman Allah Ta’ala,الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا“Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian, dan telah Kucukupkan kepada kalian nikmat-Ku, dan telah Kuridhai Islam itu jadi agama bagi kalian” (Q.S. Al-Maaidah: 3).termasuk jenis madaniyyah, karena ayat tersebut diturunkan di masa haji wada’ di Arafah. Sebagaimana hal ini disampaikan oleh ‘Umar radhiyallahu ‘anhu dalam Shahihul Bukhari tentang ayat di atas,قد عرفنا ذلك اليوم والمكان الذي نزلت فيه على النبي صلى الله عليه وسلم وهو قائم بعرفة يوم جمعة “Kami telah mengetahui hari dan tempat yang padanya diturunkan ayat tersebut kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sedangkan (pada saat itu) beliau berada di Arafah di hari Jum’at.”Perbedaan Ayat-ayat Makkiyyah dan MadaniyyahPerbedaan keduanya akan nampak jelas jika dilihat dari dua sisi tinjauan, yaitu:(A) Ditinjau dari sisi metode penyampaian dan gaya bahasa Ayat-ayat Makkiyyah: tegas metode penyampaiannya, dan kuat seruannya Metode penyampaian pada mayoritas ayat-ayat makkiyyah itu tegas, dan seruannya juga kuat, karena kebanyakan orang-orang yang diseru dengan ayat-ayat makkiyyah ini adalah tipe orang-orang yang berpaling dari kebenaran dan sombong, maka tentunya tidak layak bagi mereka melainkan dengan metode penyampaian dan seruannya yang kuat.Misalnya saja, ayat-ayat makkiyyah yang terdapat dalam surat Al-Muddatsir dan surat Al-Qamar.Contoh ayat-ayat Makkiyyah ditinjau dari sisi ketegasan metode penyampaiannya, dan kekuatan seruannya  Perhatikanlah surat Al-Qamar yang Makkiyyah berikut ini.بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ اقْتَرَبَتِ السَّاعَةُ وَانْشَقَّ الْقَمَرُ (1) “Telah dekat datangnya saat itu dan telah terbelah bulan.”وَإِنْ يَرَوْا آيَةً يُعْرِضُوا وَيَقُولُوا سِحْرٌ مُسْتَمِرٌّ (2) “Dan jika mereka (orang-orang musyrikin) melihat suatu tanda (mukjizat), mereka berpaling dan berkata: “(Ini adalah) sihir yang terus menerus.”وَكَذَّبُوا وَاتَّبَعُوا أَهْوَاءَهُمْ ۚ وَكُلُّ أَمْرٍ مُسْتَقِرٌّ (3) “Dan mereka mendutakan (Nabi) dan mengikuti hawa nafsu mereka, sedang tiap-tiap urusan telah ada ketetapannya.”وَلَقَدْ جَاءَهُمْ مِنَ الْأَنْبَاءِ مَا فِيهِ مُزْدَجَرٌ(4) “Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka beberapa kisah yang di dalamnya terdapat pencegahan (dari kekafiran).”حِكْمَةٌ بَالِغَةٌ ۖ فَمَا تُغْنِ النُّذُرُ (5) “Itulah suatu hikmah yang sempurna maka peringatan-peringatan itu tidak berguna (bagi mereka).”فَتَوَلَّ عَنْهُمْ ۘ يَوْمَ يَدْعُ الدَّاعِ إِلَىٰ شَيْءٍ نُكُرٍ (6) “Maka berpalinglah kamu dari mereka. (Ingatlah) hari (ketika) seorang penyeru (malaikat) menyeru kepada sesuatu yang tidak menyenangkan (hari Pembalasan),”خُشَّعًا أَبْصَارُهُمْ يَخْرُجُونَ مِنَ الْأَجْدَاثِ كَأَنَّهُمْ جَرَادٌ مُنْتَشِرٌ(7) “Sambil menundukkan pandangan-pandangan mereka keluar dari kuburan seakan-akan mereka belalang yang beterbangan.”مُهْطِعِينَ إِلَى الدَّاعِ ۖ يَقُولُ الْكَافِرُونَ هَٰذَا يَوْمٌ عَسِرٌ(8) “Mereka datang dengan cepat kepada penyeru itu. Orang-orang kafir berkata, ‘Ini adalah hari yang berat.’”كَذَّبَتْ قَبْلَهُمْ قَوْمُ نُوحٍ فَكَذَّبُوا عَبْدَنَا وَقَالُوا مَجْنُونٌ وَازْدُجِرَ (9) “Sebelum mereka, telah mendustakan (pula) kamu Nuh, maka mereka mendustakan hamba Kami (Nuh) dan mengatakan, ‘Dia seorang gila dan dia sudah pernah diberi ancaman).’”فَدَعَا رَبَّهُ أَنِّي مَغْلُوبٌ فَانْتَصِرْ (10) “Maka dia mengadu kepada Tuhannya, ‘bahwasanya aku ini adalah orang yang dikalahkan, oleh sebab itu menangkanlah (aku).’”Ayat-ayat Madaniyyah: lembut metode penyampaiannya dan mudah seruannya!Sedangkan ayat-ayat madaniyyah, maka kebanyakan metode penyampaian di dalam ayat-ayat tersebut adalah lembut dan seruannya mudah, karena kebanyakan orang-orang yang diseru dengan ayat-ayat madaniyyah adalah tipe orang-orang yang tunduk dan menerima kebenaran. Silakan baca surat Al-Maidah.Contoh ayat-ayat Madaniyyah ditinjau dari sisi kelembutan metode penyampaiannya dan kemudahan seruannya!Perhatikanlah surat Al-Maidah berikut ini,بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَوْفُوا بِالْعُقُودِ ۚ أُحِلَّتْ لَكُمْ بَهِيمَةُ الْأَنْعَامِ إِلَّا مَا يُتْلَىٰ عَلَيْكُمْ غَيْرَ مُحِلِّي الصَّيْدِ وَأَنْتُمْ حُرُمٌ ۗ إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ مَا يُرِيدُ (1) “Hai orang-orang yang beriman, penuhilah akad-akad itu. Dihalalkan bagi kalian binatang ternak, kecuali yang akan dibacakan kepada kalian. (Yang demikian itu) dengan tidak menghalalkan berburu ketika kalian sedang mengerjakan haji. Sesungguhnya Allah menetapkan hukum-hukum menurut yang dikehendaki-Nya.”يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُحِلُّوا شَعَائِرَ اللَّهِ وَلَا الشَّهْرَ الْحَرَامَ وَلَا الْهَدْيَ وَلَا الْقَلَائِدَ وَلَا آمِّينَ الْبَيْتَ الْحَرَامَ يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنْ رَبِّهِمْ وَرِضْوَانًا ۚ وَإِذَا حَلَلْتُمْ فَاصْطَادُوا ۚ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ أَنْ صَدُّوكُمْ عَنِ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ أَنْ تَعْتَدُوا ۘ وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ (2) “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian melanggar syi’ar-syi’ar Allah, dan jangan melanggar kehormatan bulan-bulan haram, jangan (mengganggu) binatang-binatang hadya, dan binatang-binatang qalaaid, dan jangan (pula) mengganggu orang-orang yang mengunjungi Baitullah sedang mereka mencari karunia dan keridhaan dari Tuhan mereka dan apabila kalian telah menyelesaikan ibadah haji, maka bolehlah kalian berburu. Dan janganlah sekali-kali kebencian (kalian) kepada sesuatu kaum karena mereka menghalang-halangi kalian dari Masjidil Haram mendorong kalian berbuat aniaya (kepada mereka). Dan tolong-menolonglah kalian dalam (mengerjakan) kebaikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kalian kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.[Bersambung]Penulis: Sa’id Abu Ukkasyah Artikel: Muslim.or.idBaca pembahasan selanjutnya: Ayat-ayat Makkiyyah dan Madaniyyah (Bag.2)🔍 Ar Rahman Ar Rahim, Problematika Umat, Hadist Tentang Solat, Dzikir Pagi Petang Rodja Pdf, Waktu Sholat Jumat
Bismillah walhamdulillah wash shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du:Al-Qur`an Al-Karim diturunkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam secara bertahap dalam dua puluh tiga tahun, dan mayoritasnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendapatkan masa tersebut di Mekkah.Allah Ta’ala berfirman,وَقُرْآنًا فَرَقْنَاهُ لِتَقْرَأَهُ عَلَى النَّاسِ عَلَىٰ مُكْثٍ وَنَزَّلْنَاهُ تَنْزِيلًا “Dan Al-Qur`an itu telah Kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian demi bagian” (Q.S. Al-Israa`:106).Oleh karena itu ulama rahimahumullah ta’ala membagi Al-Qur`an menjadi dua macam, yaitu ayat-ayat makkiyyah dan ayat-ayat madaniyyah.Ayat Makkiyyah Syaikh Muhammad Shalih Al-’Utsaimin rahimahullah menjelaskan Ayat Makkiyyah adalahما نزل على النبي صلى الله عليه و سلم قبل هجرته إلى المدينةAyat yang diturunkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebelum beliau hijrah ke Madinah.Ayat MadaniyyahAyat Madaniyyah, sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh Muhammad Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah, yaituما نزل على النبي صلى الله عليه و سلم بعد هجرته إلى المدينة“Ayat yang diturunkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam setelah beliau hijrah ke Madinah.”Dengan demikian, maka firman Allah Ta’ala,الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا“Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian, dan telah Kucukupkan kepada kalian nikmat-Ku, dan telah Kuridhai Islam itu jadi agama bagi kalian” (Q.S. Al-Maaidah: 3).termasuk jenis madaniyyah, karena ayat tersebut diturunkan di masa haji wada’ di Arafah. Sebagaimana hal ini disampaikan oleh ‘Umar radhiyallahu ‘anhu dalam Shahihul Bukhari tentang ayat di atas,قد عرفنا ذلك اليوم والمكان الذي نزلت فيه على النبي صلى الله عليه وسلم وهو قائم بعرفة يوم جمعة “Kami telah mengetahui hari dan tempat yang padanya diturunkan ayat tersebut kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sedangkan (pada saat itu) beliau berada di Arafah di hari Jum’at.”Perbedaan Ayat-ayat Makkiyyah dan MadaniyyahPerbedaan keduanya akan nampak jelas jika dilihat dari dua sisi tinjauan, yaitu:(A) Ditinjau dari sisi metode penyampaian dan gaya bahasa Ayat-ayat Makkiyyah: tegas metode penyampaiannya, dan kuat seruannya Metode penyampaian pada mayoritas ayat-ayat makkiyyah itu tegas, dan seruannya juga kuat, karena kebanyakan orang-orang yang diseru dengan ayat-ayat makkiyyah ini adalah tipe orang-orang yang berpaling dari kebenaran dan sombong, maka tentunya tidak layak bagi mereka melainkan dengan metode penyampaian dan seruannya yang kuat.Misalnya saja, ayat-ayat makkiyyah yang terdapat dalam surat Al-Muddatsir dan surat Al-Qamar.Contoh ayat-ayat Makkiyyah ditinjau dari sisi ketegasan metode penyampaiannya, dan kekuatan seruannya  Perhatikanlah surat Al-Qamar yang Makkiyyah berikut ini.بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ اقْتَرَبَتِ السَّاعَةُ وَانْشَقَّ الْقَمَرُ (1) “Telah dekat datangnya saat itu dan telah terbelah bulan.”وَإِنْ يَرَوْا آيَةً يُعْرِضُوا وَيَقُولُوا سِحْرٌ مُسْتَمِرٌّ (2) “Dan jika mereka (orang-orang musyrikin) melihat suatu tanda (mukjizat), mereka berpaling dan berkata: “(Ini adalah) sihir yang terus menerus.”وَكَذَّبُوا وَاتَّبَعُوا أَهْوَاءَهُمْ ۚ وَكُلُّ أَمْرٍ مُسْتَقِرٌّ (3) “Dan mereka mendutakan (Nabi) dan mengikuti hawa nafsu mereka, sedang tiap-tiap urusan telah ada ketetapannya.”وَلَقَدْ جَاءَهُمْ مِنَ الْأَنْبَاءِ مَا فِيهِ مُزْدَجَرٌ(4) “Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka beberapa kisah yang di dalamnya terdapat pencegahan (dari kekafiran).”حِكْمَةٌ بَالِغَةٌ ۖ فَمَا تُغْنِ النُّذُرُ (5) “Itulah suatu hikmah yang sempurna maka peringatan-peringatan itu tidak berguna (bagi mereka).”فَتَوَلَّ عَنْهُمْ ۘ يَوْمَ يَدْعُ الدَّاعِ إِلَىٰ شَيْءٍ نُكُرٍ (6) “Maka berpalinglah kamu dari mereka. (Ingatlah) hari (ketika) seorang penyeru (malaikat) menyeru kepada sesuatu yang tidak menyenangkan (hari Pembalasan),”خُشَّعًا أَبْصَارُهُمْ يَخْرُجُونَ مِنَ الْأَجْدَاثِ كَأَنَّهُمْ جَرَادٌ مُنْتَشِرٌ(7) “Sambil menundukkan pandangan-pandangan mereka keluar dari kuburan seakan-akan mereka belalang yang beterbangan.”مُهْطِعِينَ إِلَى الدَّاعِ ۖ يَقُولُ الْكَافِرُونَ هَٰذَا يَوْمٌ عَسِرٌ(8) “Mereka datang dengan cepat kepada penyeru itu. Orang-orang kafir berkata, ‘Ini adalah hari yang berat.’”كَذَّبَتْ قَبْلَهُمْ قَوْمُ نُوحٍ فَكَذَّبُوا عَبْدَنَا وَقَالُوا مَجْنُونٌ وَازْدُجِرَ (9) “Sebelum mereka, telah mendustakan (pula) kamu Nuh, maka mereka mendustakan hamba Kami (Nuh) dan mengatakan, ‘Dia seorang gila dan dia sudah pernah diberi ancaman).’”فَدَعَا رَبَّهُ أَنِّي مَغْلُوبٌ فَانْتَصِرْ (10) “Maka dia mengadu kepada Tuhannya, ‘bahwasanya aku ini adalah orang yang dikalahkan, oleh sebab itu menangkanlah (aku).’”Ayat-ayat Madaniyyah: lembut metode penyampaiannya dan mudah seruannya!Sedangkan ayat-ayat madaniyyah, maka kebanyakan metode penyampaian di dalam ayat-ayat tersebut adalah lembut dan seruannya mudah, karena kebanyakan orang-orang yang diseru dengan ayat-ayat madaniyyah adalah tipe orang-orang yang tunduk dan menerima kebenaran. Silakan baca surat Al-Maidah.Contoh ayat-ayat Madaniyyah ditinjau dari sisi kelembutan metode penyampaiannya dan kemudahan seruannya!Perhatikanlah surat Al-Maidah berikut ini,بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَوْفُوا بِالْعُقُودِ ۚ أُحِلَّتْ لَكُمْ بَهِيمَةُ الْأَنْعَامِ إِلَّا مَا يُتْلَىٰ عَلَيْكُمْ غَيْرَ مُحِلِّي الصَّيْدِ وَأَنْتُمْ حُرُمٌ ۗ إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ مَا يُرِيدُ (1) “Hai orang-orang yang beriman, penuhilah akad-akad itu. Dihalalkan bagi kalian binatang ternak, kecuali yang akan dibacakan kepada kalian. (Yang demikian itu) dengan tidak menghalalkan berburu ketika kalian sedang mengerjakan haji. Sesungguhnya Allah menetapkan hukum-hukum menurut yang dikehendaki-Nya.”يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُحِلُّوا شَعَائِرَ اللَّهِ وَلَا الشَّهْرَ الْحَرَامَ وَلَا الْهَدْيَ وَلَا الْقَلَائِدَ وَلَا آمِّينَ الْبَيْتَ الْحَرَامَ يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنْ رَبِّهِمْ وَرِضْوَانًا ۚ وَإِذَا حَلَلْتُمْ فَاصْطَادُوا ۚ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ أَنْ صَدُّوكُمْ عَنِ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ أَنْ تَعْتَدُوا ۘ وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ (2) “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian melanggar syi’ar-syi’ar Allah, dan jangan melanggar kehormatan bulan-bulan haram, jangan (mengganggu) binatang-binatang hadya, dan binatang-binatang qalaaid, dan jangan (pula) mengganggu orang-orang yang mengunjungi Baitullah sedang mereka mencari karunia dan keridhaan dari Tuhan mereka dan apabila kalian telah menyelesaikan ibadah haji, maka bolehlah kalian berburu. Dan janganlah sekali-kali kebencian (kalian) kepada sesuatu kaum karena mereka menghalang-halangi kalian dari Masjidil Haram mendorong kalian berbuat aniaya (kepada mereka). Dan tolong-menolonglah kalian dalam (mengerjakan) kebaikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kalian kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.[Bersambung]Penulis: Sa’id Abu Ukkasyah Artikel: Muslim.or.idBaca pembahasan selanjutnya: Ayat-ayat Makkiyyah dan Madaniyyah (Bag.2)🔍 Ar Rahman Ar Rahim, Problematika Umat, Hadist Tentang Solat, Dzikir Pagi Petang Rodja Pdf, Waktu Sholat Jumat


Bismillah walhamdulillah wash shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du:Al-Qur`an Al-Karim diturunkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam secara bertahap dalam dua puluh tiga tahun, dan mayoritasnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendapatkan masa tersebut di Mekkah.Allah Ta’ala berfirman,وَقُرْآنًا فَرَقْنَاهُ لِتَقْرَأَهُ عَلَى النَّاسِ عَلَىٰ مُكْثٍ وَنَزَّلْنَاهُ تَنْزِيلًا “Dan Al-Qur`an itu telah Kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian demi bagian” (Q.S. Al-Israa`:106).Oleh karena itu ulama rahimahumullah ta’ala membagi Al-Qur`an menjadi dua macam, yaitu ayat-ayat makkiyyah dan ayat-ayat madaniyyah.Ayat Makkiyyah Syaikh Muhammad Shalih Al-’Utsaimin rahimahullah menjelaskan Ayat Makkiyyah adalahما نزل على النبي صلى الله عليه و سلم قبل هجرته إلى المدينةAyat yang diturunkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebelum beliau hijrah ke Madinah.Ayat MadaniyyahAyat Madaniyyah, sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh Muhammad Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah, yaituما نزل على النبي صلى الله عليه و سلم بعد هجرته إلى المدينة“Ayat yang diturunkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam setelah beliau hijrah ke Madinah.”Dengan demikian, maka firman Allah Ta’ala,الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا“Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian, dan telah Kucukupkan kepada kalian nikmat-Ku, dan telah Kuridhai Islam itu jadi agama bagi kalian” (Q.S. Al-Maaidah: 3).termasuk jenis madaniyyah, karena ayat tersebut diturunkan di masa haji wada’ di Arafah. Sebagaimana hal ini disampaikan oleh ‘Umar radhiyallahu ‘anhu dalam Shahihul Bukhari tentang ayat di atas,قد عرفنا ذلك اليوم والمكان الذي نزلت فيه على النبي صلى الله عليه وسلم وهو قائم بعرفة يوم جمعة “Kami telah mengetahui hari dan tempat yang padanya diturunkan ayat tersebut kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sedangkan (pada saat itu) beliau berada di Arafah di hari Jum’at.”Perbedaan Ayat-ayat Makkiyyah dan MadaniyyahPerbedaan keduanya akan nampak jelas jika dilihat dari dua sisi tinjauan, yaitu:(A) Ditinjau dari sisi metode penyampaian dan gaya bahasa Ayat-ayat Makkiyyah: tegas metode penyampaiannya, dan kuat seruannya Metode penyampaian pada mayoritas ayat-ayat makkiyyah itu tegas, dan seruannya juga kuat, karena kebanyakan orang-orang yang diseru dengan ayat-ayat makkiyyah ini adalah tipe orang-orang yang berpaling dari kebenaran dan sombong, maka tentunya tidak layak bagi mereka melainkan dengan metode penyampaian dan seruannya yang kuat.Misalnya saja, ayat-ayat makkiyyah yang terdapat dalam surat Al-Muddatsir dan surat Al-Qamar.Contoh ayat-ayat Makkiyyah ditinjau dari sisi ketegasan metode penyampaiannya, dan kekuatan seruannya  Perhatikanlah surat Al-Qamar yang Makkiyyah berikut ini.بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ اقْتَرَبَتِ السَّاعَةُ وَانْشَقَّ الْقَمَرُ (1) “Telah dekat datangnya saat itu dan telah terbelah bulan.”وَإِنْ يَرَوْا آيَةً يُعْرِضُوا وَيَقُولُوا سِحْرٌ مُسْتَمِرٌّ (2) “Dan jika mereka (orang-orang musyrikin) melihat suatu tanda (mukjizat), mereka berpaling dan berkata: “(Ini adalah) sihir yang terus menerus.”وَكَذَّبُوا وَاتَّبَعُوا أَهْوَاءَهُمْ ۚ وَكُلُّ أَمْرٍ مُسْتَقِرٌّ (3) “Dan mereka mendutakan (Nabi) dan mengikuti hawa nafsu mereka, sedang tiap-tiap urusan telah ada ketetapannya.”وَلَقَدْ جَاءَهُمْ مِنَ الْأَنْبَاءِ مَا فِيهِ مُزْدَجَرٌ(4) “Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka beberapa kisah yang di dalamnya terdapat pencegahan (dari kekafiran).”حِكْمَةٌ بَالِغَةٌ ۖ فَمَا تُغْنِ النُّذُرُ (5) “Itulah suatu hikmah yang sempurna maka peringatan-peringatan itu tidak berguna (bagi mereka).”فَتَوَلَّ عَنْهُمْ ۘ يَوْمَ يَدْعُ الدَّاعِ إِلَىٰ شَيْءٍ نُكُرٍ (6) “Maka berpalinglah kamu dari mereka. (Ingatlah) hari (ketika) seorang penyeru (malaikat) menyeru kepada sesuatu yang tidak menyenangkan (hari Pembalasan),”خُشَّعًا أَبْصَارُهُمْ يَخْرُجُونَ مِنَ الْأَجْدَاثِ كَأَنَّهُمْ جَرَادٌ مُنْتَشِرٌ(7) “Sambil menundukkan pandangan-pandangan mereka keluar dari kuburan seakan-akan mereka belalang yang beterbangan.”مُهْطِعِينَ إِلَى الدَّاعِ ۖ يَقُولُ الْكَافِرُونَ هَٰذَا يَوْمٌ عَسِرٌ(8) “Mereka datang dengan cepat kepada penyeru itu. Orang-orang kafir berkata, ‘Ini adalah hari yang berat.’”كَذَّبَتْ قَبْلَهُمْ قَوْمُ نُوحٍ فَكَذَّبُوا عَبْدَنَا وَقَالُوا مَجْنُونٌ وَازْدُجِرَ (9) “Sebelum mereka, telah mendustakan (pula) kamu Nuh, maka mereka mendustakan hamba Kami (Nuh) dan mengatakan, ‘Dia seorang gila dan dia sudah pernah diberi ancaman).’”فَدَعَا رَبَّهُ أَنِّي مَغْلُوبٌ فَانْتَصِرْ (10) “Maka dia mengadu kepada Tuhannya, ‘bahwasanya aku ini adalah orang yang dikalahkan, oleh sebab itu menangkanlah (aku).’”Ayat-ayat Madaniyyah: lembut metode penyampaiannya dan mudah seruannya!Sedangkan ayat-ayat madaniyyah, maka kebanyakan metode penyampaian di dalam ayat-ayat tersebut adalah lembut dan seruannya mudah, karena kebanyakan orang-orang yang diseru dengan ayat-ayat madaniyyah adalah tipe orang-orang yang tunduk dan menerima kebenaran. Silakan baca surat Al-Maidah.Contoh ayat-ayat Madaniyyah ditinjau dari sisi kelembutan metode penyampaiannya dan kemudahan seruannya!Perhatikanlah surat Al-Maidah berikut ini,بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَوْفُوا بِالْعُقُودِ ۚ أُحِلَّتْ لَكُمْ بَهِيمَةُ الْأَنْعَامِ إِلَّا مَا يُتْلَىٰ عَلَيْكُمْ غَيْرَ مُحِلِّي الصَّيْدِ وَأَنْتُمْ حُرُمٌ ۗ إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ مَا يُرِيدُ (1) “Hai orang-orang yang beriman, penuhilah akad-akad itu. Dihalalkan bagi kalian binatang ternak, kecuali yang akan dibacakan kepada kalian. (Yang demikian itu) dengan tidak menghalalkan berburu ketika kalian sedang mengerjakan haji. Sesungguhnya Allah menetapkan hukum-hukum menurut yang dikehendaki-Nya.”يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُحِلُّوا شَعَائِرَ اللَّهِ وَلَا الشَّهْرَ الْحَرَامَ وَلَا الْهَدْيَ وَلَا الْقَلَائِدَ وَلَا آمِّينَ الْبَيْتَ الْحَرَامَ يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنْ رَبِّهِمْ وَرِضْوَانًا ۚ وَإِذَا حَلَلْتُمْ فَاصْطَادُوا ۚ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ أَنْ صَدُّوكُمْ عَنِ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ أَنْ تَعْتَدُوا ۘ وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ (2) “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian melanggar syi’ar-syi’ar Allah, dan jangan melanggar kehormatan bulan-bulan haram, jangan (mengganggu) binatang-binatang hadya, dan binatang-binatang qalaaid, dan jangan (pula) mengganggu orang-orang yang mengunjungi Baitullah sedang mereka mencari karunia dan keridhaan dari Tuhan mereka dan apabila kalian telah menyelesaikan ibadah haji, maka bolehlah kalian berburu. Dan janganlah sekali-kali kebencian (kalian) kepada sesuatu kaum karena mereka menghalang-halangi kalian dari Masjidil Haram mendorong kalian berbuat aniaya (kepada mereka). Dan tolong-menolonglah kalian dalam (mengerjakan) kebaikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kalian kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.[Bersambung]Penulis: Sa’id Abu Ukkasyah Artikel: Muslim.or.idBaca pembahasan selanjutnya: Ayat-ayat Makkiyyah dan Madaniyyah (Bag.2)🔍 Ar Rahman Ar Rahim, Problematika Umat, Hadist Tentang Solat, Dzikir Pagi Petang Rodja Pdf, Waktu Sholat Jumat

Kesembuhan Melalui Metode Syirik (04)

Baca pembahasan sebelumnya: Kesembuhan Melalui Metode Syirik (Bag. 3)Mengapa Tidak Berfikir Bahwa Itu adalah Hukuman?Sekarang, marilah kita berfikir sejenak. Mengapa kita tidak berfikir bahwa tercapainya tujuan yang kita harapkan dengan cara-cara yang tidak benar itu merupakan bentuk ujian atau hukuman Allah Ta’ala kepada kita? Sehingga kita semakin jauh tersesat dalam kesyirikan, namun kita menyangka bahwa Allah Ta’ala meridhai kita? Hal ini sebagaimana penjelasan Syaikhul Islam di seri sebelumnya, yang menjelaskan bahwa terkabulnya doa bisa jadi merupakan bentuk ujian bagi manusia.Saudaraku, inilah yang disebut dengan istidraj, yaitu Allah Ta’ala membukakan pintu-pintu kenikmatan duniawi kepada orang yang banyak mengerjakan maksiat. Dia pun tertipu dan terperdaya. Orang tersebut merasa bahwa dia melakukan tindakan yang benar, sehingga dia terus tenggelam dalam kemaksiatannya dan tidak terfikir untuk bertaubat. Oleh karena itu, hukuman yang akan dia terima di akhirat pun akan semakin bertambah sesuai dengan kemaksiatan yang terus-menerus dia lakukan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِذَا رَأَيْتَ اللَّهَ يُعْطِى الْعَبْدَ مِنَ الدُّنْيَا عَلَى مَعَاصِيهِ مَا يُحِبُّ فَإِنَّمَا هُوَ اسْتِدْرَاجٌ … “Jika Allah memberikan kenikmatan kepada seorang hamba padahal dia tetap dengan maksiat yang dikerjakannya, maka sesungguhnya itu adalah istidraj …” (HR. Ahmad dalam Al-Musnad (IV/145) no. 17349. Dinilai shahih oleh Syaikh Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah no. 413)Perhatikanlah firman Allah Ta’ala,فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَىْءٍ حَتَّى إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ“Maka ketika mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka. Sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong. Maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.” (QS. Al-An’am [6]: 44)Kenikmatan atau tercapainya tujuan yang diinginkan (padahal dirinya dalam kondisi bermaksiat) inilah yang membuat manusia lalai dan tidak sadar. Mereka tidak sadar kalau mereka sedang diberi hukuman oleh Allah Ta’ala. Karena menurut persangkaan mereka, kenikmatan yang mereka raih adalah bukti ridha Allah Ta’ala atas tindakan mereka. Allah Ta’ala membantah anggapan seperti ini dalam firman-Nya,أَيَحْسَبُونَ أَنَّمَا نُمِدُّهُمْ بِهِ مِنْ مَالٍ وَبَنِينَ نُسَارِعُ لَهُمْ فِي الْخَيْرَاتِ بَلْ لَا يَشْعُرُونَ“Apakah mereka mengira bahwa harta dan anak-anak yang Kami berikan kepada mereka itu (berarti bahwa), Kami bersegera memberikan kebaikan-kebaikan kepada mereka? Tidak, sebenarnya mereka tidak sadar.” (QS. Al-Mu’minuun [23]: 55-56)Lihatlah, bagaimana Allah Ta’ala membukakan pintu-pintu kesenangan dan kenikmatan duniawi kepada orang-orang kafir. Allah Ta’ala memberikan kenikmatan duniawi kepada mereka berupa harta yang melimpah, rumah mewah, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, dan lain-lain. Apakah hal itu berarti Allah Ta’ala mencintai dan merdhai kekafiran mereka? Tidak, sama sekali tidak.Kalau ukuran kebenaran adalah kenikmatan duniawi yang berhasil diraih, berarti agama orang kafir, itulah agama yang benar? Karena orang kafir kebanyakan lebih kaya, lebih sejahtera hidupnya, kehidupan orang kafir lebih modern, dan lebih maju. Sedangkan agama Islam adalah agama yang salah? Karena umat Islam kebanyakan miskin, terbelakang, hina, dan tertinggal jauh dalam hal IPTEK. Tentu kita semua sepakat bahwa hal itu tidak benar.Oleh karena itu, kenikmatan duniawi atau berhasilnya tujuan yang kita raih bukanlah bukti atas bolehnya cara yang ditempuh. Bahkan hal itu justru merupakan ujian dan hukuman yang Allah Ta’ala berikan kepada mereka sehingga mereka semakin tenggelam dalam kesesatannya. [Selesai]***Selesai disempurnakan di pagi hari, Rotterdam NL 1 Muharram 1439/21 September 2017Yang senantiasa membutuhkan ampunan Rabb-nya,Penulis: Muhammad Saifudin Hakim Artikel: Muslim.or.id🔍 Dzikir Malam, Hukum Mendirikan Khilafah, Orang Yang Mempunyai Hutang Disebut Dalam Islam, Cara Meruqyah Diri Sendiri Menurut Islam, Apa Alasan Siti Khadijah Menikahi Nabi Muhammad

Kesembuhan Melalui Metode Syirik (04)

Baca pembahasan sebelumnya: Kesembuhan Melalui Metode Syirik (Bag. 3)Mengapa Tidak Berfikir Bahwa Itu adalah Hukuman?Sekarang, marilah kita berfikir sejenak. Mengapa kita tidak berfikir bahwa tercapainya tujuan yang kita harapkan dengan cara-cara yang tidak benar itu merupakan bentuk ujian atau hukuman Allah Ta’ala kepada kita? Sehingga kita semakin jauh tersesat dalam kesyirikan, namun kita menyangka bahwa Allah Ta’ala meridhai kita? Hal ini sebagaimana penjelasan Syaikhul Islam di seri sebelumnya, yang menjelaskan bahwa terkabulnya doa bisa jadi merupakan bentuk ujian bagi manusia.Saudaraku, inilah yang disebut dengan istidraj, yaitu Allah Ta’ala membukakan pintu-pintu kenikmatan duniawi kepada orang yang banyak mengerjakan maksiat. Dia pun tertipu dan terperdaya. Orang tersebut merasa bahwa dia melakukan tindakan yang benar, sehingga dia terus tenggelam dalam kemaksiatannya dan tidak terfikir untuk bertaubat. Oleh karena itu, hukuman yang akan dia terima di akhirat pun akan semakin bertambah sesuai dengan kemaksiatan yang terus-menerus dia lakukan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِذَا رَأَيْتَ اللَّهَ يُعْطِى الْعَبْدَ مِنَ الدُّنْيَا عَلَى مَعَاصِيهِ مَا يُحِبُّ فَإِنَّمَا هُوَ اسْتِدْرَاجٌ … “Jika Allah memberikan kenikmatan kepada seorang hamba padahal dia tetap dengan maksiat yang dikerjakannya, maka sesungguhnya itu adalah istidraj …” (HR. Ahmad dalam Al-Musnad (IV/145) no. 17349. Dinilai shahih oleh Syaikh Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah no. 413)Perhatikanlah firman Allah Ta’ala,فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَىْءٍ حَتَّى إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ“Maka ketika mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka. Sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong. Maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.” (QS. Al-An’am [6]: 44)Kenikmatan atau tercapainya tujuan yang diinginkan (padahal dirinya dalam kondisi bermaksiat) inilah yang membuat manusia lalai dan tidak sadar. Mereka tidak sadar kalau mereka sedang diberi hukuman oleh Allah Ta’ala. Karena menurut persangkaan mereka, kenikmatan yang mereka raih adalah bukti ridha Allah Ta’ala atas tindakan mereka. Allah Ta’ala membantah anggapan seperti ini dalam firman-Nya,أَيَحْسَبُونَ أَنَّمَا نُمِدُّهُمْ بِهِ مِنْ مَالٍ وَبَنِينَ نُسَارِعُ لَهُمْ فِي الْخَيْرَاتِ بَلْ لَا يَشْعُرُونَ“Apakah mereka mengira bahwa harta dan anak-anak yang Kami berikan kepada mereka itu (berarti bahwa), Kami bersegera memberikan kebaikan-kebaikan kepada mereka? Tidak, sebenarnya mereka tidak sadar.” (QS. Al-Mu’minuun [23]: 55-56)Lihatlah, bagaimana Allah Ta’ala membukakan pintu-pintu kesenangan dan kenikmatan duniawi kepada orang-orang kafir. Allah Ta’ala memberikan kenikmatan duniawi kepada mereka berupa harta yang melimpah, rumah mewah, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, dan lain-lain. Apakah hal itu berarti Allah Ta’ala mencintai dan merdhai kekafiran mereka? Tidak, sama sekali tidak.Kalau ukuran kebenaran adalah kenikmatan duniawi yang berhasil diraih, berarti agama orang kafir, itulah agama yang benar? Karena orang kafir kebanyakan lebih kaya, lebih sejahtera hidupnya, kehidupan orang kafir lebih modern, dan lebih maju. Sedangkan agama Islam adalah agama yang salah? Karena umat Islam kebanyakan miskin, terbelakang, hina, dan tertinggal jauh dalam hal IPTEK. Tentu kita semua sepakat bahwa hal itu tidak benar.Oleh karena itu, kenikmatan duniawi atau berhasilnya tujuan yang kita raih bukanlah bukti atas bolehnya cara yang ditempuh. Bahkan hal itu justru merupakan ujian dan hukuman yang Allah Ta’ala berikan kepada mereka sehingga mereka semakin tenggelam dalam kesesatannya. [Selesai]***Selesai disempurnakan di pagi hari, Rotterdam NL 1 Muharram 1439/21 September 2017Yang senantiasa membutuhkan ampunan Rabb-nya,Penulis: Muhammad Saifudin Hakim Artikel: Muslim.or.id🔍 Dzikir Malam, Hukum Mendirikan Khilafah, Orang Yang Mempunyai Hutang Disebut Dalam Islam, Cara Meruqyah Diri Sendiri Menurut Islam, Apa Alasan Siti Khadijah Menikahi Nabi Muhammad
Baca pembahasan sebelumnya: Kesembuhan Melalui Metode Syirik (Bag. 3)Mengapa Tidak Berfikir Bahwa Itu adalah Hukuman?Sekarang, marilah kita berfikir sejenak. Mengapa kita tidak berfikir bahwa tercapainya tujuan yang kita harapkan dengan cara-cara yang tidak benar itu merupakan bentuk ujian atau hukuman Allah Ta’ala kepada kita? Sehingga kita semakin jauh tersesat dalam kesyirikan, namun kita menyangka bahwa Allah Ta’ala meridhai kita? Hal ini sebagaimana penjelasan Syaikhul Islam di seri sebelumnya, yang menjelaskan bahwa terkabulnya doa bisa jadi merupakan bentuk ujian bagi manusia.Saudaraku, inilah yang disebut dengan istidraj, yaitu Allah Ta’ala membukakan pintu-pintu kenikmatan duniawi kepada orang yang banyak mengerjakan maksiat. Dia pun tertipu dan terperdaya. Orang tersebut merasa bahwa dia melakukan tindakan yang benar, sehingga dia terus tenggelam dalam kemaksiatannya dan tidak terfikir untuk bertaubat. Oleh karena itu, hukuman yang akan dia terima di akhirat pun akan semakin bertambah sesuai dengan kemaksiatan yang terus-menerus dia lakukan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِذَا رَأَيْتَ اللَّهَ يُعْطِى الْعَبْدَ مِنَ الدُّنْيَا عَلَى مَعَاصِيهِ مَا يُحِبُّ فَإِنَّمَا هُوَ اسْتِدْرَاجٌ … “Jika Allah memberikan kenikmatan kepada seorang hamba padahal dia tetap dengan maksiat yang dikerjakannya, maka sesungguhnya itu adalah istidraj …” (HR. Ahmad dalam Al-Musnad (IV/145) no. 17349. Dinilai shahih oleh Syaikh Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah no. 413)Perhatikanlah firman Allah Ta’ala,فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَىْءٍ حَتَّى إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ“Maka ketika mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka. Sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong. Maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.” (QS. Al-An’am [6]: 44)Kenikmatan atau tercapainya tujuan yang diinginkan (padahal dirinya dalam kondisi bermaksiat) inilah yang membuat manusia lalai dan tidak sadar. Mereka tidak sadar kalau mereka sedang diberi hukuman oleh Allah Ta’ala. Karena menurut persangkaan mereka, kenikmatan yang mereka raih adalah bukti ridha Allah Ta’ala atas tindakan mereka. Allah Ta’ala membantah anggapan seperti ini dalam firman-Nya,أَيَحْسَبُونَ أَنَّمَا نُمِدُّهُمْ بِهِ مِنْ مَالٍ وَبَنِينَ نُسَارِعُ لَهُمْ فِي الْخَيْرَاتِ بَلْ لَا يَشْعُرُونَ“Apakah mereka mengira bahwa harta dan anak-anak yang Kami berikan kepada mereka itu (berarti bahwa), Kami bersegera memberikan kebaikan-kebaikan kepada mereka? Tidak, sebenarnya mereka tidak sadar.” (QS. Al-Mu’minuun [23]: 55-56)Lihatlah, bagaimana Allah Ta’ala membukakan pintu-pintu kesenangan dan kenikmatan duniawi kepada orang-orang kafir. Allah Ta’ala memberikan kenikmatan duniawi kepada mereka berupa harta yang melimpah, rumah mewah, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, dan lain-lain. Apakah hal itu berarti Allah Ta’ala mencintai dan merdhai kekafiran mereka? Tidak, sama sekali tidak.Kalau ukuran kebenaran adalah kenikmatan duniawi yang berhasil diraih, berarti agama orang kafir, itulah agama yang benar? Karena orang kafir kebanyakan lebih kaya, lebih sejahtera hidupnya, kehidupan orang kafir lebih modern, dan lebih maju. Sedangkan agama Islam adalah agama yang salah? Karena umat Islam kebanyakan miskin, terbelakang, hina, dan tertinggal jauh dalam hal IPTEK. Tentu kita semua sepakat bahwa hal itu tidak benar.Oleh karena itu, kenikmatan duniawi atau berhasilnya tujuan yang kita raih bukanlah bukti atas bolehnya cara yang ditempuh. Bahkan hal itu justru merupakan ujian dan hukuman yang Allah Ta’ala berikan kepada mereka sehingga mereka semakin tenggelam dalam kesesatannya. [Selesai]***Selesai disempurnakan di pagi hari, Rotterdam NL 1 Muharram 1439/21 September 2017Yang senantiasa membutuhkan ampunan Rabb-nya,Penulis: Muhammad Saifudin Hakim Artikel: Muslim.or.id🔍 Dzikir Malam, Hukum Mendirikan Khilafah, Orang Yang Mempunyai Hutang Disebut Dalam Islam, Cara Meruqyah Diri Sendiri Menurut Islam, Apa Alasan Siti Khadijah Menikahi Nabi Muhammad


Baca pembahasan sebelumnya: Kesembuhan Melalui Metode Syirik (Bag. 3)Mengapa Tidak Berfikir Bahwa Itu adalah Hukuman?Sekarang, marilah kita berfikir sejenak. Mengapa kita tidak berfikir bahwa tercapainya tujuan yang kita harapkan dengan cara-cara yang tidak benar itu merupakan bentuk ujian atau hukuman Allah Ta’ala kepada kita? Sehingga kita semakin jauh tersesat dalam kesyirikan, namun kita menyangka bahwa Allah Ta’ala meridhai kita? Hal ini sebagaimana penjelasan Syaikhul Islam di seri sebelumnya, yang menjelaskan bahwa terkabulnya doa bisa jadi merupakan bentuk ujian bagi manusia.Saudaraku, inilah yang disebut dengan istidraj, yaitu Allah Ta’ala membukakan pintu-pintu kenikmatan duniawi kepada orang yang banyak mengerjakan maksiat. Dia pun tertipu dan terperdaya. Orang tersebut merasa bahwa dia melakukan tindakan yang benar, sehingga dia terus tenggelam dalam kemaksiatannya dan tidak terfikir untuk bertaubat. Oleh karena itu, hukuman yang akan dia terima di akhirat pun akan semakin bertambah sesuai dengan kemaksiatan yang terus-menerus dia lakukan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِذَا رَأَيْتَ اللَّهَ يُعْطِى الْعَبْدَ مِنَ الدُّنْيَا عَلَى مَعَاصِيهِ مَا يُحِبُّ فَإِنَّمَا هُوَ اسْتِدْرَاجٌ … “Jika Allah memberikan kenikmatan kepada seorang hamba padahal dia tetap dengan maksiat yang dikerjakannya, maka sesungguhnya itu adalah istidraj …” (HR. Ahmad dalam Al-Musnad (IV/145) no. 17349. Dinilai shahih oleh Syaikh Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah no. 413)Perhatikanlah firman Allah Ta’ala,فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَىْءٍ حَتَّى إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ“Maka ketika mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka. Sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong. Maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.” (QS. Al-An’am [6]: 44)Kenikmatan atau tercapainya tujuan yang diinginkan (padahal dirinya dalam kondisi bermaksiat) inilah yang membuat manusia lalai dan tidak sadar. Mereka tidak sadar kalau mereka sedang diberi hukuman oleh Allah Ta’ala. Karena menurut persangkaan mereka, kenikmatan yang mereka raih adalah bukti ridha Allah Ta’ala atas tindakan mereka. Allah Ta’ala membantah anggapan seperti ini dalam firman-Nya,أَيَحْسَبُونَ أَنَّمَا نُمِدُّهُمْ بِهِ مِنْ مَالٍ وَبَنِينَ نُسَارِعُ لَهُمْ فِي الْخَيْرَاتِ بَلْ لَا يَشْعُرُونَ“Apakah mereka mengira bahwa harta dan anak-anak yang Kami berikan kepada mereka itu (berarti bahwa), Kami bersegera memberikan kebaikan-kebaikan kepada mereka? Tidak, sebenarnya mereka tidak sadar.” (QS. Al-Mu’minuun [23]: 55-56)Lihatlah, bagaimana Allah Ta’ala membukakan pintu-pintu kesenangan dan kenikmatan duniawi kepada orang-orang kafir. Allah Ta’ala memberikan kenikmatan duniawi kepada mereka berupa harta yang melimpah, rumah mewah, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, dan lain-lain. Apakah hal itu berarti Allah Ta’ala mencintai dan merdhai kekafiran mereka? Tidak, sama sekali tidak.Kalau ukuran kebenaran adalah kenikmatan duniawi yang berhasil diraih, berarti agama orang kafir, itulah agama yang benar? Karena orang kafir kebanyakan lebih kaya, lebih sejahtera hidupnya, kehidupan orang kafir lebih modern, dan lebih maju. Sedangkan agama Islam adalah agama yang salah? Karena umat Islam kebanyakan miskin, terbelakang, hina, dan tertinggal jauh dalam hal IPTEK. Tentu kita semua sepakat bahwa hal itu tidak benar.Oleh karena itu, kenikmatan duniawi atau berhasilnya tujuan yang kita raih bukanlah bukti atas bolehnya cara yang ditempuh. Bahkan hal itu justru merupakan ujian dan hukuman yang Allah Ta’ala berikan kepada mereka sehingga mereka semakin tenggelam dalam kesesatannya. [Selesai]***Selesai disempurnakan di pagi hari, Rotterdam NL 1 Muharram 1439/21 September 2017Yang senantiasa membutuhkan ampunan Rabb-nya,Penulis: Muhammad Saifudin Hakim Artikel: Muslim.or.id🔍 Dzikir Malam, Hukum Mendirikan Khilafah, Orang Yang Mempunyai Hutang Disebut Dalam Islam, Cara Meruqyah Diri Sendiri Menurut Islam, Apa Alasan Siti Khadijah Menikahi Nabi Muhammad

Dzikir Setelah Shalat bagi Mereka yang Buru-buru

Dzikir Setelah Shalat bagi Mereka yang Buru-buru Untuk dzikir selesai shalat baca tasbih, tahmid, takbir 33 kali, bisakah disingkat? Krn kita ingin segera beraktivitas. Sementara dzikir itu jangan sampai bolong.. shg tetap dirutinkan.. Jawab: Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Kita ditekankan sebisa mungkin ketika dzikir, antara ucapan dengan kondisi batin bisa serasi. Dalam arti, tidak hanya lisan yang menyuarakan, tapi batin juga merenungkan pujian yang kita ucapkan. Sebagaimana layaknya shalat, kita diminta untuk merenungkan setiap bacaan di dalamnya. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ لاَ يَسْتَجِيبُ دُعَاءً مِنْ قَلْبٍ غَافِلٍ لاَهٍ Ketahuilah bahwa Allah tidak mengijabahi doa dari hati yang lalai. (HR. Turmudzi 3816 dan dihasankan al-Albani). Berdoa sementara hatinya lalai, lisannya berucap tapi tidak sampai ke dalam batinnya. Karena nilai pahala yang kita dapatkan dari dzikir kita, sesuai kekhusyukan saat kita berdzikir. Sufyan at-Tsauri pernah mengatakan, لَيسَ لِلمَرءِ مِن صَلَاتِهِ إِلَّا مَا عَقل Seseorang tidak mendapatkan pahala dari shalatnya selain apa yang dia pikirkan. (al-Hilyah, Abu Nuaim, 7/61). Untuk itu, sebisa mungkin ketika kita berdzikir, kita membacanya dengan serius, tidak terlalu cepat, hingga bunyinya tidak jelas. Membaca Allahu akbar, yang terbaca hanya roabar…. roabar…. atau membaca alhamdulillah, yang terbaca hanya mdla… mdla… Saking cepetnya. Sehingga bisa kita pastikan, membaca dengan gaya semacam ini tidak ada perenungannya. Seharusnya kita membacanya lebih serius. Kita baca sesuai teksnya. Solusi Bagi yang Terburu-buru Bagi anda yang waktunya terbatas, ada solusi yang bisa anda lakukan, [1] berdzikir sambil berjalan atau beraktivitas lainnya. Bukan syarat dzikir dalam setelah shalat harus dilakukan sambil posisi duduk. Orang boleh berdzikir sambil berjalan, berkendara, memasak, bersih-bersih, nunggu toko, atau aktivitas lainnya. Allah berfirman, memuji ulul albab (orang yang berakal), الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ Yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, sambil duduk, dan ketika berbaring. (QS. Ali Imran: 191) Sehingga ketika selesai shalat, anda harus segera melakukan aktivitas yang lain, anda tetap bisa berdzikir seusai shalat, sambil melakukan aktivitas tersebut. [2] berdzikir dengan redaksi yang lebih pendek. Bila anda merasa kelamaan membaca dzikir tasbih, tahmid, dan takbir masing-masing 33 kali, anda bisa membaca dengan jumlah yang lebih sedikit, yaitu masing-masing dibaca 11 kali atau 10 kali. Keduanya berdasarkan riwayat yang shahih. Untuk dzikir tasbih, tahmid, dan takbir yang dibaca 11 kali, mengacu pada hadis riwayat muslim, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa ada beberapa sahabat miskin yang mengadu kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Ya Rasulullah, orang-orang kaya memborong derajat yang tinggi dan kenikmatan abadi..” “Apa yang terjadi?” tanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. “Mereka bisa shalat sebagaimana kami shalat, mereka puasa sebagaimana kami puasa, mereka bisa bersedekah, sementara kami tidak bisa, mereka bisa membebaskan budak, sementara kami tidak bisa…” jawab sahabat. “Maukah kuajarkan kepada kalian amalan yang bisa mengejar orang yang mendahului amal kalian dan tidak ada orang yang lebih afdhal dibandingkan kalian, kecuali orang yang melakukan amalan sebagaimana yang kalian kerjakan?” Tanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. “Tentu ya Rasulullah…” jawab sahabat. Lalu beliau bersabda, تُسَبِّحُونَ وَتُكَبِّرُونَ وَتَحْمَدُونَ دُبُرَ كُلِّ صَلاَةٍ Kalian baca tasbih, takbir, dan tahmid di setiap selesai shalat. يَقُولُ سُهَيْلٌ إِحْدَى عَشْرَةَ إِحْدَى عَشْرَةَ فَجَمِيعُ ذَلِكَ كُلِّهُ ثَلاَثَةٌ وَثَلاَثُونَ Suhail mengatakan, masing-masing 11 kali-11 kali, total seluruhnya 33 kali. (HR. Muslim 1376). Sementara untuk total 10 kali, mengacu kepada hadis dari Abdullah bin Amr bin Ash radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, خَلَّتَانِ مَنْ حَافَظَ عَلَيْهِمَا، أَدْخَلَتَاهُ الْجَنَّةَ، وَهُمَا يَسِيرٌ، وَمَنْ يَعْمَلُ بِهِمَا قَلِيلٌ Ada 2 amalan, siapa yang menjaganya maka akan mengantarkannya ke dalam surga. Keduanya sangat mudah, meskipun orang yang mengamalkannya sedikit. “Apa itu ya Rasulullah?” tanya para sahabat… Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أَنْ تَحْمَدَ اللهَ وَتُكَبِّرَهُ وَتُسَبِّحَهُ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ مَكْتُوبَةٍ عَشْرًا، عَشْرًا Engkau memuji Allah (membaca tahmid), takbir, dan tasbih di setiap selesai shalat wajib 10 kali-10 kali… (HR. Ahmad 6498 dan dihasankan Syuaib al-Arnauth). Semoga kita bisa istiqamah untuk selalu menjaga rutinitas berdzikir seusai shalat… Demikian, Allahu a’lam. Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. SPONSOR hubungi: 081 326 333 328 DONASI hubungi: 087 882 888 727 REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK 🔍 Cara Meruqyah Diri, Penjelasan Tentang Imam Mahdi, Tata Cara Shalat Makmum Masbuk, Filem Pormo, Doa Dalam Islam Agar Orang Yang Kita Cintai Mencintai Kita, Cara Shalat Tarawih 8 Rakaat Visited 627 times, 4 visit(s) today Post Views: 420 QRIS donasi Yufid

Dzikir Setelah Shalat bagi Mereka yang Buru-buru

Dzikir Setelah Shalat bagi Mereka yang Buru-buru Untuk dzikir selesai shalat baca tasbih, tahmid, takbir 33 kali, bisakah disingkat? Krn kita ingin segera beraktivitas. Sementara dzikir itu jangan sampai bolong.. shg tetap dirutinkan.. Jawab: Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Kita ditekankan sebisa mungkin ketika dzikir, antara ucapan dengan kondisi batin bisa serasi. Dalam arti, tidak hanya lisan yang menyuarakan, tapi batin juga merenungkan pujian yang kita ucapkan. Sebagaimana layaknya shalat, kita diminta untuk merenungkan setiap bacaan di dalamnya. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ لاَ يَسْتَجِيبُ دُعَاءً مِنْ قَلْبٍ غَافِلٍ لاَهٍ Ketahuilah bahwa Allah tidak mengijabahi doa dari hati yang lalai. (HR. Turmudzi 3816 dan dihasankan al-Albani). Berdoa sementara hatinya lalai, lisannya berucap tapi tidak sampai ke dalam batinnya. Karena nilai pahala yang kita dapatkan dari dzikir kita, sesuai kekhusyukan saat kita berdzikir. Sufyan at-Tsauri pernah mengatakan, لَيسَ لِلمَرءِ مِن صَلَاتِهِ إِلَّا مَا عَقل Seseorang tidak mendapatkan pahala dari shalatnya selain apa yang dia pikirkan. (al-Hilyah, Abu Nuaim, 7/61). Untuk itu, sebisa mungkin ketika kita berdzikir, kita membacanya dengan serius, tidak terlalu cepat, hingga bunyinya tidak jelas. Membaca Allahu akbar, yang terbaca hanya roabar…. roabar…. atau membaca alhamdulillah, yang terbaca hanya mdla… mdla… Saking cepetnya. Sehingga bisa kita pastikan, membaca dengan gaya semacam ini tidak ada perenungannya. Seharusnya kita membacanya lebih serius. Kita baca sesuai teksnya. Solusi Bagi yang Terburu-buru Bagi anda yang waktunya terbatas, ada solusi yang bisa anda lakukan, [1] berdzikir sambil berjalan atau beraktivitas lainnya. Bukan syarat dzikir dalam setelah shalat harus dilakukan sambil posisi duduk. Orang boleh berdzikir sambil berjalan, berkendara, memasak, bersih-bersih, nunggu toko, atau aktivitas lainnya. Allah berfirman, memuji ulul albab (orang yang berakal), الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ Yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, sambil duduk, dan ketika berbaring. (QS. Ali Imran: 191) Sehingga ketika selesai shalat, anda harus segera melakukan aktivitas yang lain, anda tetap bisa berdzikir seusai shalat, sambil melakukan aktivitas tersebut. [2] berdzikir dengan redaksi yang lebih pendek. Bila anda merasa kelamaan membaca dzikir tasbih, tahmid, dan takbir masing-masing 33 kali, anda bisa membaca dengan jumlah yang lebih sedikit, yaitu masing-masing dibaca 11 kali atau 10 kali. Keduanya berdasarkan riwayat yang shahih. Untuk dzikir tasbih, tahmid, dan takbir yang dibaca 11 kali, mengacu pada hadis riwayat muslim, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa ada beberapa sahabat miskin yang mengadu kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Ya Rasulullah, orang-orang kaya memborong derajat yang tinggi dan kenikmatan abadi..” “Apa yang terjadi?” tanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. “Mereka bisa shalat sebagaimana kami shalat, mereka puasa sebagaimana kami puasa, mereka bisa bersedekah, sementara kami tidak bisa, mereka bisa membebaskan budak, sementara kami tidak bisa…” jawab sahabat. “Maukah kuajarkan kepada kalian amalan yang bisa mengejar orang yang mendahului amal kalian dan tidak ada orang yang lebih afdhal dibandingkan kalian, kecuali orang yang melakukan amalan sebagaimana yang kalian kerjakan?” Tanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. “Tentu ya Rasulullah…” jawab sahabat. Lalu beliau bersabda, تُسَبِّحُونَ وَتُكَبِّرُونَ وَتَحْمَدُونَ دُبُرَ كُلِّ صَلاَةٍ Kalian baca tasbih, takbir, dan tahmid di setiap selesai shalat. يَقُولُ سُهَيْلٌ إِحْدَى عَشْرَةَ إِحْدَى عَشْرَةَ فَجَمِيعُ ذَلِكَ كُلِّهُ ثَلاَثَةٌ وَثَلاَثُونَ Suhail mengatakan, masing-masing 11 kali-11 kali, total seluruhnya 33 kali. (HR. Muslim 1376). Sementara untuk total 10 kali, mengacu kepada hadis dari Abdullah bin Amr bin Ash radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, خَلَّتَانِ مَنْ حَافَظَ عَلَيْهِمَا، أَدْخَلَتَاهُ الْجَنَّةَ، وَهُمَا يَسِيرٌ، وَمَنْ يَعْمَلُ بِهِمَا قَلِيلٌ Ada 2 amalan, siapa yang menjaganya maka akan mengantarkannya ke dalam surga. Keduanya sangat mudah, meskipun orang yang mengamalkannya sedikit. “Apa itu ya Rasulullah?” tanya para sahabat… Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أَنْ تَحْمَدَ اللهَ وَتُكَبِّرَهُ وَتُسَبِّحَهُ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ مَكْتُوبَةٍ عَشْرًا، عَشْرًا Engkau memuji Allah (membaca tahmid), takbir, dan tasbih di setiap selesai shalat wajib 10 kali-10 kali… (HR. Ahmad 6498 dan dihasankan Syuaib al-Arnauth). Semoga kita bisa istiqamah untuk selalu menjaga rutinitas berdzikir seusai shalat… Demikian, Allahu a’lam. Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. SPONSOR hubungi: 081 326 333 328 DONASI hubungi: 087 882 888 727 REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK 🔍 Cara Meruqyah Diri, Penjelasan Tentang Imam Mahdi, Tata Cara Shalat Makmum Masbuk, Filem Pormo, Doa Dalam Islam Agar Orang Yang Kita Cintai Mencintai Kita, Cara Shalat Tarawih 8 Rakaat Visited 627 times, 4 visit(s) today Post Views: 420 QRIS donasi Yufid
Dzikir Setelah Shalat bagi Mereka yang Buru-buru Untuk dzikir selesai shalat baca tasbih, tahmid, takbir 33 kali, bisakah disingkat? Krn kita ingin segera beraktivitas. Sementara dzikir itu jangan sampai bolong.. shg tetap dirutinkan.. Jawab: Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Kita ditekankan sebisa mungkin ketika dzikir, antara ucapan dengan kondisi batin bisa serasi. Dalam arti, tidak hanya lisan yang menyuarakan, tapi batin juga merenungkan pujian yang kita ucapkan. Sebagaimana layaknya shalat, kita diminta untuk merenungkan setiap bacaan di dalamnya. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ لاَ يَسْتَجِيبُ دُعَاءً مِنْ قَلْبٍ غَافِلٍ لاَهٍ Ketahuilah bahwa Allah tidak mengijabahi doa dari hati yang lalai. (HR. Turmudzi 3816 dan dihasankan al-Albani). Berdoa sementara hatinya lalai, lisannya berucap tapi tidak sampai ke dalam batinnya. Karena nilai pahala yang kita dapatkan dari dzikir kita, sesuai kekhusyukan saat kita berdzikir. Sufyan at-Tsauri pernah mengatakan, لَيسَ لِلمَرءِ مِن صَلَاتِهِ إِلَّا مَا عَقل Seseorang tidak mendapatkan pahala dari shalatnya selain apa yang dia pikirkan. (al-Hilyah, Abu Nuaim, 7/61). Untuk itu, sebisa mungkin ketika kita berdzikir, kita membacanya dengan serius, tidak terlalu cepat, hingga bunyinya tidak jelas. Membaca Allahu akbar, yang terbaca hanya roabar…. roabar…. atau membaca alhamdulillah, yang terbaca hanya mdla… mdla… Saking cepetnya. Sehingga bisa kita pastikan, membaca dengan gaya semacam ini tidak ada perenungannya. Seharusnya kita membacanya lebih serius. Kita baca sesuai teksnya. Solusi Bagi yang Terburu-buru Bagi anda yang waktunya terbatas, ada solusi yang bisa anda lakukan, [1] berdzikir sambil berjalan atau beraktivitas lainnya. Bukan syarat dzikir dalam setelah shalat harus dilakukan sambil posisi duduk. Orang boleh berdzikir sambil berjalan, berkendara, memasak, bersih-bersih, nunggu toko, atau aktivitas lainnya. Allah berfirman, memuji ulul albab (orang yang berakal), الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ Yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, sambil duduk, dan ketika berbaring. (QS. Ali Imran: 191) Sehingga ketika selesai shalat, anda harus segera melakukan aktivitas yang lain, anda tetap bisa berdzikir seusai shalat, sambil melakukan aktivitas tersebut. [2] berdzikir dengan redaksi yang lebih pendek. Bila anda merasa kelamaan membaca dzikir tasbih, tahmid, dan takbir masing-masing 33 kali, anda bisa membaca dengan jumlah yang lebih sedikit, yaitu masing-masing dibaca 11 kali atau 10 kali. Keduanya berdasarkan riwayat yang shahih. Untuk dzikir tasbih, tahmid, dan takbir yang dibaca 11 kali, mengacu pada hadis riwayat muslim, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa ada beberapa sahabat miskin yang mengadu kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Ya Rasulullah, orang-orang kaya memborong derajat yang tinggi dan kenikmatan abadi..” “Apa yang terjadi?” tanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. “Mereka bisa shalat sebagaimana kami shalat, mereka puasa sebagaimana kami puasa, mereka bisa bersedekah, sementara kami tidak bisa, mereka bisa membebaskan budak, sementara kami tidak bisa…” jawab sahabat. “Maukah kuajarkan kepada kalian amalan yang bisa mengejar orang yang mendahului amal kalian dan tidak ada orang yang lebih afdhal dibandingkan kalian, kecuali orang yang melakukan amalan sebagaimana yang kalian kerjakan?” Tanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. “Tentu ya Rasulullah…” jawab sahabat. Lalu beliau bersabda, تُسَبِّحُونَ وَتُكَبِّرُونَ وَتَحْمَدُونَ دُبُرَ كُلِّ صَلاَةٍ Kalian baca tasbih, takbir, dan tahmid di setiap selesai shalat. يَقُولُ سُهَيْلٌ إِحْدَى عَشْرَةَ إِحْدَى عَشْرَةَ فَجَمِيعُ ذَلِكَ كُلِّهُ ثَلاَثَةٌ وَثَلاَثُونَ Suhail mengatakan, masing-masing 11 kali-11 kali, total seluruhnya 33 kali. (HR. Muslim 1376). Sementara untuk total 10 kali, mengacu kepada hadis dari Abdullah bin Amr bin Ash radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, خَلَّتَانِ مَنْ حَافَظَ عَلَيْهِمَا، أَدْخَلَتَاهُ الْجَنَّةَ، وَهُمَا يَسِيرٌ، وَمَنْ يَعْمَلُ بِهِمَا قَلِيلٌ Ada 2 amalan, siapa yang menjaganya maka akan mengantarkannya ke dalam surga. Keduanya sangat mudah, meskipun orang yang mengamalkannya sedikit. “Apa itu ya Rasulullah?” tanya para sahabat… Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أَنْ تَحْمَدَ اللهَ وَتُكَبِّرَهُ وَتُسَبِّحَهُ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ مَكْتُوبَةٍ عَشْرًا، عَشْرًا Engkau memuji Allah (membaca tahmid), takbir, dan tasbih di setiap selesai shalat wajib 10 kali-10 kali… (HR. Ahmad 6498 dan dihasankan Syuaib al-Arnauth). Semoga kita bisa istiqamah untuk selalu menjaga rutinitas berdzikir seusai shalat… Demikian, Allahu a’lam. Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. SPONSOR hubungi: 081 326 333 328 DONASI hubungi: 087 882 888 727 REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK 🔍 Cara Meruqyah Diri, Penjelasan Tentang Imam Mahdi, Tata Cara Shalat Makmum Masbuk, Filem Pormo, Doa Dalam Islam Agar Orang Yang Kita Cintai Mencintai Kita, Cara Shalat Tarawih 8 Rakaat Visited 627 times, 4 visit(s) today Post Views: 420 QRIS donasi Yufid


<iframe src="https://w.soundcloud.com/player/?url=https%3A//api.soundcloud.com/tracks/366175775&amp;color=d5265f&amp;auto_play=false&amp;show_artwork=false&amp;hide_related=true&amp;show_comments=false&amp;show_user=false&amp;show_reposts=false" width="100%" height="166" frameborder="no" scrolling="no"></iframe> Dzikir Setelah Shalat bagi Mereka yang Buru-buru Untuk dzikir selesai shalat baca tasbih, tahmid, takbir 33 kali, bisakah disingkat? Krn kita ingin segera beraktivitas. Sementara dzikir itu jangan sampai bolong.. shg tetap dirutinkan.. Jawab: Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Kita ditekankan sebisa mungkin ketika dzikir, antara ucapan dengan kondisi batin bisa serasi. Dalam arti, tidak hanya lisan yang menyuarakan, tapi batin juga merenungkan pujian yang kita ucapkan. Sebagaimana layaknya shalat, kita diminta untuk merenungkan setiap bacaan di dalamnya. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ لاَ يَسْتَجِيبُ دُعَاءً مِنْ قَلْبٍ غَافِلٍ لاَهٍ Ketahuilah bahwa Allah tidak mengijabahi doa dari hati yang lalai. (HR. Turmudzi 3816 dan dihasankan al-Albani). Berdoa sementara hatinya lalai, lisannya berucap tapi tidak sampai ke dalam batinnya. Karena nilai pahala yang kita dapatkan dari dzikir kita, sesuai kekhusyukan saat kita berdzikir. Sufyan at-Tsauri pernah mengatakan, لَيسَ لِلمَرءِ مِن صَلَاتِهِ إِلَّا مَا عَقل Seseorang tidak mendapatkan pahala dari shalatnya selain apa yang dia pikirkan. (al-Hilyah, Abu Nuaim, 7/61). Untuk itu, sebisa mungkin ketika kita berdzikir, kita membacanya dengan serius, tidak terlalu cepat, hingga bunyinya tidak jelas. Membaca Allahu akbar, yang terbaca hanya roabar…. roabar…. atau membaca alhamdulillah, yang terbaca hanya mdla… mdla… Saking cepetnya. Sehingga bisa kita pastikan, membaca dengan gaya semacam ini tidak ada perenungannya. Seharusnya kita membacanya lebih serius. Kita baca sesuai teksnya. Solusi Bagi yang Terburu-buru Bagi anda yang waktunya terbatas, ada solusi yang bisa anda lakukan, [1] berdzikir sambil berjalan atau beraktivitas lainnya. Bukan syarat dzikir dalam setelah shalat harus dilakukan sambil posisi duduk. Orang boleh berdzikir sambil berjalan, berkendara, memasak, bersih-bersih, nunggu toko, atau aktivitas lainnya. Allah berfirman, memuji ulul albab (orang yang berakal), الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ Yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, sambil duduk, dan ketika berbaring. (QS. Ali Imran: 191) Sehingga ketika selesai shalat, anda harus segera melakukan aktivitas yang lain, anda tetap bisa berdzikir seusai shalat, sambil melakukan aktivitas tersebut. [2] berdzikir dengan redaksi yang lebih pendek. Bila anda merasa kelamaan membaca dzikir tasbih, tahmid, dan takbir masing-masing 33 kali, anda bisa membaca dengan jumlah yang lebih sedikit, yaitu masing-masing dibaca 11 kali atau 10 kali. Keduanya berdasarkan riwayat yang shahih. Untuk dzikir tasbih, tahmid, dan takbir yang dibaca 11 kali, mengacu pada hadis riwayat muslim, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa ada beberapa sahabat miskin yang mengadu kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Ya Rasulullah, orang-orang kaya memborong derajat yang tinggi dan kenikmatan abadi..” “Apa yang terjadi?” tanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. “Mereka bisa shalat sebagaimana kami shalat, mereka puasa sebagaimana kami puasa, mereka bisa bersedekah, sementara kami tidak bisa, mereka bisa membebaskan budak, sementara kami tidak bisa…” jawab sahabat. “Maukah kuajarkan kepada kalian amalan yang bisa mengejar orang yang mendahului amal kalian dan tidak ada orang yang lebih afdhal dibandingkan kalian, kecuali orang yang melakukan amalan sebagaimana yang kalian kerjakan?” Tanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. “Tentu ya Rasulullah…” jawab sahabat. Lalu beliau bersabda, تُسَبِّحُونَ وَتُكَبِّرُونَ وَتَحْمَدُونَ دُبُرَ كُلِّ صَلاَةٍ Kalian baca tasbih, takbir, dan tahmid di setiap selesai shalat. يَقُولُ سُهَيْلٌ إِحْدَى عَشْرَةَ إِحْدَى عَشْرَةَ فَجَمِيعُ ذَلِكَ كُلِّهُ ثَلاَثَةٌ وَثَلاَثُونَ Suhail mengatakan, masing-masing 11 kali-11 kali, total seluruhnya 33 kali. (HR. Muslim 1376). Sementara untuk total 10 kali, mengacu kepada hadis dari Abdullah bin Amr bin Ash radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, خَلَّتَانِ مَنْ حَافَظَ عَلَيْهِمَا، أَدْخَلَتَاهُ الْجَنَّةَ، وَهُمَا يَسِيرٌ، وَمَنْ يَعْمَلُ بِهِمَا قَلِيلٌ Ada 2 amalan, siapa yang menjaganya maka akan mengantarkannya ke dalam surga. Keduanya sangat mudah, meskipun orang yang mengamalkannya sedikit. “Apa itu ya Rasulullah?” tanya para sahabat… Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أَنْ تَحْمَدَ اللهَ وَتُكَبِّرَهُ وَتُسَبِّحَهُ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ مَكْتُوبَةٍ عَشْرًا، عَشْرًا Engkau memuji Allah (membaca tahmid), takbir, dan tasbih di setiap selesai shalat wajib 10 kali-10 kali… (HR. Ahmad 6498 dan dihasankan Syuaib al-Arnauth). Semoga kita bisa istiqamah untuk selalu menjaga rutinitas berdzikir seusai shalat… Demikian, Allahu a’lam. Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. SPONSOR hubungi: 081 326 333 328 DONASI hubungi: 087 882 888 727 REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK 🔍 Cara Meruqyah Diri, Penjelasan Tentang Imam Mahdi, Tata Cara Shalat Makmum Masbuk, Filem Pormo, Doa Dalam Islam Agar Orang Yang Kita Cintai Mencintai Kita, Cara Shalat Tarawih 8 Rakaat Visited 627 times, 4 visit(s) today Post Views: 420 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Faedah Surat An-Nuur #07: Berakhir Kisah Aisyah Dituduh Selingkuh

Download   Inilah akhir kisah Aisyah dituduh selingkuh dan gali faedahnya.   Tafsir Surah An-Nuur Ayat 11 إِنَّ الَّذِينَ جَاءُوا بِالْإِفْكِ عُصْبَةٌ مِنْكُمْ لَا تَحْسَبُوهُ شَرًّا لَكُمْ بَلْ هُوَ خَيْرٌ لَكُمْ لِكُلِّ امْرِئٍ مِنْهُمْ مَا اكْتَسَبَ مِنَ الْإِثْمِ وَالَّذِي تَوَلَّى كِبْرَهُ مِنْهُمْ لَهُ عَذَابٌ عَظِيمٌ “Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bahagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar.” (QS. An-Nuur: 11)   Akhir Kisah Aisyah Dituduh Selingkuh Aisyah radhiyallahu ‘anha melanjutkan kisahnya, “Kemudian Sa’ad bin Ubadah radhiyallahu ‘anha berdiri. Ia adalah pemimpin kabilah Khazraj. Ia adalah lelaki yang shalih tetapi ia tersulut emosi. Lalu ia berkata kepada Sa’ad bin Mu’adz radhiyallahu ‘anhu, ‘Kamu bohong! Demi Allah! Kamu tidak akan membunuhnya dan tidak akan mampu membunuhnya. Jika ia berasal dari kabilahmu pasti kamu tidak ingin membunuhnya.” “Lalu Usaid bin Hudhair radhiyallahu ‘anhu berdiri. Ia adalah sepupu Sa’ad bin Mu’adz radhiyallahu ‘anhu. Ia berkata kepada Sa’ad bin Ubadah radhiyallahu ‘anhu, ‘Kamu bohong! Demi Allah. Sungguh kami akan membunuhnya. Kamu ini munafik dan berdebat untuk membela orang-orang munafik. Lantas terjadi keributan antara kedua kabilah, yakni Aus dan Khazraj sehingga hampir saja mereka saling membunuh padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam masih di atas mimbar. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menenangkan mereka sampai mereka diam dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri juga terdiam.” Aisyah radhiyallahu ‘anha melanjutkan kisahnya, “Pada hari itu aku menangis. Air mataku terus menetes tiada henti dan aku tidak tidur sama sekali. Kedua orang tuaku beranggapan bahwa tangisan dapat membelah hatiku.” Aisyah radhiyallahu ‘anha melanjutkan, “Ketika keduanya sedang duduk di sampingku sedangkan aku sedang menangis, tiba-tiba seorang perempuan dari kalangan Anshar meminta izin kepadaku, lalu aku pun memberi izin kepadanya sehingga ia duduk seraya menangis di sampingku. Ketika kami masih dalam keadaan seperti itu, tiba-tiba Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk kemudian duduk. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah duduk di sampingku sejak beredarnya isu tersebut. Dan telah sebulan penuh tidak ada wahyu turun mengenai perkaraku ini. Lantas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta kesaksian pada saat beliau duduk seraya berkata, ‘Amma ba’du, wahai Aisyah! Sungguh, telah sampai kepadaku isu demikian dan demikian mengenai dirimu. Jika engkau memang bersih dari tuduhan tersebut, pastilah Allah Subhanahu wa Ta’ala akan membebaskanmu. Dan jika engkau melakukan dosa, maka memohonlah ampun kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan bertaubatlah kepada-Nya, karena sesungguhnya seorang hamba yang mau mengakui dosanya dan bertaubat, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menerima taubat-Nya.” Aisyah radhiyallahu ‘anha melanjutkan kisahnya, “Tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah selesai menyampaikan sabdanya ini, maka derai air mataku mulai menyusut, sehingga aku tidak merasakan satu tetes pun. Lalu aku berkata kepada ayahku, ‘Tolong sampaikan jawaban kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam atas namaku!’ Ia menjawab, ‘Demi Allah, aku tidak tahu apa yang harus aku sampaikan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.’ Selanjutnya aku berkata kepada ibuku, ‘Tolong sampaikan jawaban kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam atas namaku!’ Ia menjawab, ‘Demi Allah, aku juga tidak tahu apa yang harus aku sampaikan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.’ Lalu aku berkata, ‘Aku adalah seorang perempuan yang masih belia. Demi Allah, aku tahu bahwa kalian telah mendengar berita ini sehingga kalian simpan di dalam hati dan kalian membenarkannya. Makanya, jika kukatakan kepada kalian bahwa aku bersih dari tuduhan tersebut Allah Maha Mengetahui bahwa aku bersih dari tuduhan tersebut, maka kalian tidak mempercayaiku. Dan jika aku mengakui sesuatu yang Allah Subhanahu wa Ta’ala mengetahui bahwa aku terbebas darinya, malah kalian sungguh-sungguh mempercayaiku. Demi Allah, aku tidak menjumpai pada diriku dan diri kalian suatu perumpamaan selain sebagaimana yang dikatakan oleh Nabi Yusuf ‘alaihis salam, فَصَبْرٌ جَمِيلٌ وَاللَّهُ الْمُسْتَعَانُ عَلَى مَا تَصِفُونَ “Maka hanya sabar yang baik itulah yang terbaik (bagiku). Dan kepada Allah saja memohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu ceritakan.” (QS. Yusuf: 18) “Kemudian aku berpaling, aku berbaring di atas tempat tidurku.” Aisyah radhiyallahu ‘anha melanjutkan kisahnya, “Aku–wallahu a’lam–ketika itu terbebas dan Allah-lah yang melepaskanku dari isu tersebut. Akan tetapi, demi Allah, aku tidak pernah menyangka akan diturunkan suatu wahyu yang akan selalu dibaca perihal persoalanku ini. Sungguh persoalanku ini terlalu remeh untuk difirmankan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadi sesuatu yang akan selalu dibaca. Sebenarnya yang aku harapkan ialah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bermimpi di dalam tidurnya yang di dalam mimpi tersebut Allah Subhanahu wa Ta’ala membebaskanku dari tuduhan tersebut.” Aisyah radhiyallahu ‘anha melanjutkan, “Demi Allah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam belum sempat beranjak dari tempat duduknya dan belum ada seorang pun dari anggota keluargaku yang keluar sehingga Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan wahyu kepada Nabi-Nya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam merasa berat ketika menerima wahyu. Sampai-sampai beliau bercucuran keringat bagaikan mutiara padahal ketika itu sedang musim penghujan. Hal ini lantaran beratnya wahyu yang diturunkan kepada beliau.” Aisyah radhiyallahu ‘anha melanjutkan, “Kontan, kesusahan telah lenyap dari hati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau tersenyum bahagia. Kalimat yang kali pertama beliau katakan ialah, ‘Bergembiralah Aisyah! Allah Subhanahu wa Ta’ala telah membebaskanmu.’ Lalu ibuku berkata kepadaku, ‘Berdirilah kepada Nabi.’ Aku berkata, ‘Demi Allah, aku tidak akan berdiri kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan aku tidak akan memuji kecuali hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dialah yang menurunkan wahyu yang membebaskan diriku. Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan ayat berikut, إِنَّ الَّذِينَ جَاءُوا بِالْإِفْكِ عُصْبَةٌ مِنْكُمْ لَا تَحْسَبُوهُ شَرًّا لَكُمْ بَلْ هُوَ خَيْرٌ لَكُمْ لِكُلِّ امْرِئٍ مِنْهُمْ مَا اكْتَسَبَ مِنَ الْإِثْمِ وَالَّذِي تَوَلَّى كِبْرَهُ مِنْهُمْ لَهُ عَذَابٌ عَظِيمٌ “Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar (pula).” (QS. An-Nur: 11) Sampai sepuluh ayat secara keseluruhan.” “Ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menurunkan ayat ini yang menjelaskan tentang kebebasanku, maka Abu Bakar radhiyallahu ‘anha–beliau adalah orang yang memberikan nafkah kepada Misthah bin Utsatsah radhiyallahu ‘anha karena masih ada hubungan kerabat dan karena ia orang fakir–berkata, ‘Demi Allah, aku tidak akan memberi nafkah kepadanya lagi untuk selamanya setelah apa yang ia katakan kepada Aisyah.’ Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan ayat berikut (yang artinya), “Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nur: 22) “Lantas Abu Bakar radhiyallahu ‘anha berkata, ‘Baiklah. Demi Allah, sungguh aku suka bila Allah Subhanahu wa Ta’ala mengampuniku.’ Kemudian beliau kembali memberi nafkah kepada Misthah yang memang sejak dahulu ia selalu memberinya nafkah. Bahkan ia berkata, ‘Aku tidak akan berhenti memberi nafkah kepadanya untuk selamanya.’ Aisyah radhiyallahu ‘anha melanjutkan, ‘Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada Zainab binti Jahsy radhiyallahu ‘anha, istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai persoalanku. Beliau berkata, ‘Wahai Zainab, apa yang kamu ketahui atau yang kamu lihat?’ Ia menjawab, ‘Wahai Rasulullah! Aku menjaga pendengaran dan penglihatanku. Demi Allah, yang aku tahu dia hanyalah baik.’ Aisyah radhiyallahu ‘anha mengatakan, ‘Dialah di antara istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menyaingiku dalam hal kecantikan, tetapi Allah Subhanahu wa Ta’ala melindunginya dengan sifat wara’. Sedangkan saudara perempuannya, Hamnah binti Jahsy radhiyallahu ‘anha bertentangan dengannya. Maka, binasalah orang-orang yang binasa.” (HR. Bukhari, no. 2661 dan Muslim, no. 2770)   Pelajaran dari Akhir Kisah Aisyah Dituduh Selingkuh Diperintahkan untuk segera menghentikan pertikaian dan menenangkan yang sedang marah. Orang muslim tentu marah kalau ada yang menjatuhkan kehormatan pemimpinnya sendiri. Kita didorong untuk bertaubat dan keutamaan taubat itu luar biasa. Menghormati yang tua (kibar) dengan mempersilakan mereka yang berbicara terlebih dahulu daripada yang muda (shighar) karena mereka lebih punya pemahaman yang sempurna. Disunnahkan untuk memberikan kabar gembira dengan segera ketika mendapat nikmat besar atau terangkat dari musibah besar. Kisah ini menunjukkan keistimewaan Aisyah radhiyallahu ‘anha. Siapa yang ragu dan masih menuduh Aisyah berselingkuh, maka ia kafir dan murtad dengan sepakat para ulama. Hendaklah kita terus memperbarui syukur ketika mendapatkan nikmat baru. Keutamaan memberi makan kepada orang fakir (miskin) apalagi masih punya hubungan kerabat. Siapa yang bersumpah, lalu melihat ada yang lebih baik di balik itu, maka hendaklah ia membatalkan sumpahnya dengan menunaikan kafarah (tebusan). Lihat surah Al-Maidah ayat 89. Di balik kesulitan ketika mencapai puncaknya akan datang kemudahan. “Sesungguhnya di balik kesulitan ada kemudahan, sesungguhnya di balik kesulitan ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah: 5-6) Solusi ketika menghadapi fitnahan dari orang lain adalah sabar. Sabar itu awalnya pahit, namun akhirnya lebih manis daripada madu. Allah yang nanti akan membalas setiap orang yang memfitnah (menuduh orang lain tanpa bukti) dan Allah-lah yang nanti akan menampakkan manakah yang benar. Kejelekan tak perlu dibalas dengan kejelekan, balaslah kejelekan dengan kebaikan. Berikanlah maaf pada orang yang berbuat jelek kepada kita. “Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar.” (QS. Fushilat: 34-35) Berakhir kisah Aisyah dituduh selingkuh, moga jadi pelajaran berharga bagi semua.   Referensi: Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Al-Hajjaj. Cetakan pertama, Tahun 1433 H. Yahya bin Syarf An-Nawawi. Penerbit Dar Ibnu Hazm. 17:107-108.   Kisah Awal Aisyah Dituduh Selingkuh Faedah Surat An-Nuur #05: Awal Kisah Aisyah Dituduh Selingkuh   Kisah Lanjutan Aisyah Dituduh Selingkuh Faedah Surat An-Nuur #06: Lanjutan Kisah Aisyah Dituduh Selingkuh   Keutamaan Aisyah Faedah Sirah Nabi: Keutamaan Aisyah — Disusun di Pesantren Darush Sholihin, Sabtu pagi, 14 Rabi’ul Awwal 1439 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsaisyah faedah surat an nuur keutamaan aisyah selingkuh surat an nuur zina

Faedah Surat An-Nuur #07: Berakhir Kisah Aisyah Dituduh Selingkuh

Download   Inilah akhir kisah Aisyah dituduh selingkuh dan gali faedahnya.   Tafsir Surah An-Nuur Ayat 11 إِنَّ الَّذِينَ جَاءُوا بِالْإِفْكِ عُصْبَةٌ مِنْكُمْ لَا تَحْسَبُوهُ شَرًّا لَكُمْ بَلْ هُوَ خَيْرٌ لَكُمْ لِكُلِّ امْرِئٍ مِنْهُمْ مَا اكْتَسَبَ مِنَ الْإِثْمِ وَالَّذِي تَوَلَّى كِبْرَهُ مِنْهُمْ لَهُ عَذَابٌ عَظِيمٌ “Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bahagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar.” (QS. An-Nuur: 11)   Akhir Kisah Aisyah Dituduh Selingkuh Aisyah radhiyallahu ‘anha melanjutkan kisahnya, “Kemudian Sa’ad bin Ubadah radhiyallahu ‘anha berdiri. Ia adalah pemimpin kabilah Khazraj. Ia adalah lelaki yang shalih tetapi ia tersulut emosi. Lalu ia berkata kepada Sa’ad bin Mu’adz radhiyallahu ‘anhu, ‘Kamu bohong! Demi Allah! Kamu tidak akan membunuhnya dan tidak akan mampu membunuhnya. Jika ia berasal dari kabilahmu pasti kamu tidak ingin membunuhnya.” “Lalu Usaid bin Hudhair radhiyallahu ‘anhu berdiri. Ia adalah sepupu Sa’ad bin Mu’adz radhiyallahu ‘anhu. Ia berkata kepada Sa’ad bin Ubadah radhiyallahu ‘anhu, ‘Kamu bohong! Demi Allah. Sungguh kami akan membunuhnya. Kamu ini munafik dan berdebat untuk membela orang-orang munafik. Lantas terjadi keributan antara kedua kabilah, yakni Aus dan Khazraj sehingga hampir saja mereka saling membunuh padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam masih di atas mimbar. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menenangkan mereka sampai mereka diam dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri juga terdiam.” Aisyah radhiyallahu ‘anha melanjutkan kisahnya, “Pada hari itu aku menangis. Air mataku terus menetes tiada henti dan aku tidak tidur sama sekali. Kedua orang tuaku beranggapan bahwa tangisan dapat membelah hatiku.” Aisyah radhiyallahu ‘anha melanjutkan, “Ketika keduanya sedang duduk di sampingku sedangkan aku sedang menangis, tiba-tiba seorang perempuan dari kalangan Anshar meminta izin kepadaku, lalu aku pun memberi izin kepadanya sehingga ia duduk seraya menangis di sampingku. Ketika kami masih dalam keadaan seperti itu, tiba-tiba Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk kemudian duduk. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah duduk di sampingku sejak beredarnya isu tersebut. Dan telah sebulan penuh tidak ada wahyu turun mengenai perkaraku ini. Lantas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta kesaksian pada saat beliau duduk seraya berkata, ‘Amma ba’du, wahai Aisyah! Sungguh, telah sampai kepadaku isu demikian dan demikian mengenai dirimu. Jika engkau memang bersih dari tuduhan tersebut, pastilah Allah Subhanahu wa Ta’ala akan membebaskanmu. Dan jika engkau melakukan dosa, maka memohonlah ampun kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan bertaubatlah kepada-Nya, karena sesungguhnya seorang hamba yang mau mengakui dosanya dan bertaubat, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menerima taubat-Nya.” Aisyah radhiyallahu ‘anha melanjutkan kisahnya, “Tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah selesai menyampaikan sabdanya ini, maka derai air mataku mulai menyusut, sehingga aku tidak merasakan satu tetes pun. Lalu aku berkata kepada ayahku, ‘Tolong sampaikan jawaban kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam atas namaku!’ Ia menjawab, ‘Demi Allah, aku tidak tahu apa yang harus aku sampaikan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.’ Selanjutnya aku berkata kepada ibuku, ‘Tolong sampaikan jawaban kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam atas namaku!’ Ia menjawab, ‘Demi Allah, aku juga tidak tahu apa yang harus aku sampaikan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.’ Lalu aku berkata, ‘Aku adalah seorang perempuan yang masih belia. Demi Allah, aku tahu bahwa kalian telah mendengar berita ini sehingga kalian simpan di dalam hati dan kalian membenarkannya. Makanya, jika kukatakan kepada kalian bahwa aku bersih dari tuduhan tersebut Allah Maha Mengetahui bahwa aku bersih dari tuduhan tersebut, maka kalian tidak mempercayaiku. Dan jika aku mengakui sesuatu yang Allah Subhanahu wa Ta’ala mengetahui bahwa aku terbebas darinya, malah kalian sungguh-sungguh mempercayaiku. Demi Allah, aku tidak menjumpai pada diriku dan diri kalian suatu perumpamaan selain sebagaimana yang dikatakan oleh Nabi Yusuf ‘alaihis salam, فَصَبْرٌ جَمِيلٌ وَاللَّهُ الْمُسْتَعَانُ عَلَى مَا تَصِفُونَ “Maka hanya sabar yang baik itulah yang terbaik (bagiku). Dan kepada Allah saja memohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu ceritakan.” (QS. Yusuf: 18) “Kemudian aku berpaling, aku berbaring di atas tempat tidurku.” Aisyah radhiyallahu ‘anha melanjutkan kisahnya, “Aku–wallahu a’lam–ketika itu terbebas dan Allah-lah yang melepaskanku dari isu tersebut. Akan tetapi, demi Allah, aku tidak pernah menyangka akan diturunkan suatu wahyu yang akan selalu dibaca perihal persoalanku ini. Sungguh persoalanku ini terlalu remeh untuk difirmankan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadi sesuatu yang akan selalu dibaca. Sebenarnya yang aku harapkan ialah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bermimpi di dalam tidurnya yang di dalam mimpi tersebut Allah Subhanahu wa Ta’ala membebaskanku dari tuduhan tersebut.” Aisyah radhiyallahu ‘anha melanjutkan, “Demi Allah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam belum sempat beranjak dari tempat duduknya dan belum ada seorang pun dari anggota keluargaku yang keluar sehingga Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan wahyu kepada Nabi-Nya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam merasa berat ketika menerima wahyu. Sampai-sampai beliau bercucuran keringat bagaikan mutiara padahal ketika itu sedang musim penghujan. Hal ini lantaran beratnya wahyu yang diturunkan kepada beliau.” Aisyah radhiyallahu ‘anha melanjutkan, “Kontan, kesusahan telah lenyap dari hati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau tersenyum bahagia. Kalimat yang kali pertama beliau katakan ialah, ‘Bergembiralah Aisyah! Allah Subhanahu wa Ta’ala telah membebaskanmu.’ Lalu ibuku berkata kepadaku, ‘Berdirilah kepada Nabi.’ Aku berkata, ‘Demi Allah, aku tidak akan berdiri kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan aku tidak akan memuji kecuali hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dialah yang menurunkan wahyu yang membebaskan diriku. Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan ayat berikut, إِنَّ الَّذِينَ جَاءُوا بِالْإِفْكِ عُصْبَةٌ مِنْكُمْ لَا تَحْسَبُوهُ شَرًّا لَكُمْ بَلْ هُوَ خَيْرٌ لَكُمْ لِكُلِّ امْرِئٍ مِنْهُمْ مَا اكْتَسَبَ مِنَ الْإِثْمِ وَالَّذِي تَوَلَّى كِبْرَهُ مِنْهُمْ لَهُ عَذَابٌ عَظِيمٌ “Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar (pula).” (QS. An-Nur: 11) Sampai sepuluh ayat secara keseluruhan.” “Ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menurunkan ayat ini yang menjelaskan tentang kebebasanku, maka Abu Bakar radhiyallahu ‘anha–beliau adalah orang yang memberikan nafkah kepada Misthah bin Utsatsah radhiyallahu ‘anha karena masih ada hubungan kerabat dan karena ia orang fakir–berkata, ‘Demi Allah, aku tidak akan memberi nafkah kepadanya lagi untuk selamanya setelah apa yang ia katakan kepada Aisyah.’ Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan ayat berikut (yang artinya), “Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nur: 22) “Lantas Abu Bakar radhiyallahu ‘anha berkata, ‘Baiklah. Demi Allah, sungguh aku suka bila Allah Subhanahu wa Ta’ala mengampuniku.’ Kemudian beliau kembali memberi nafkah kepada Misthah yang memang sejak dahulu ia selalu memberinya nafkah. Bahkan ia berkata, ‘Aku tidak akan berhenti memberi nafkah kepadanya untuk selamanya.’ Aisyah radhiyallahu ‘anha melanjutkan, ‘Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada Zainab binti Jahsy radhiyallahu ‘anha, istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai persoalanku. Beliau berkata, ‘Wahai Zainab, apa yang kamu ketahui atau yang kamu lihat?’ Ia menjawab, ‘Wahai Rasulullah! Aku menjaga pendengaran dan penglihatanku. Demi Allah, yang aku tahu dia hanyalah baik.’ Aisyah radhiyallahu ‘anha mengatakan, ‘Dialah di antara istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menyaingiku dalam hal kecantikan, tetapi Allah Subhanahu wa Ta’ala melindunginya dengan sifat wara’. Sedangkan saudara perempuannya, Hamnah binti Jahsy radhiyallahu ‘anha bertentangan dengannya. Maka, binasalah orang-orang yang binasa.” (HR. Bukhari, no. 2661 dan Muslim, no. 2770)   Pelajaran dari Akhir Kisah Aisyah Dituduh Selingkuh Diperintahkan untuk segera menghentikan pertikaian dan menenangkan yang sedang marah. Orang muslim tentu marah kalau ada yang menjatuhkan kehormatan pemimpinnya sendiri. Kita didorong untuk bertaubat dan keutamaan taubat itu luar biasa. Menghormati yang tua (kibar) dengan mempersilakan mereka yang berbicara terlebih dahulu daripada yang muda (shighar) karena mereka lebih punya pemahaman yang sempurna. Disunnahkan untuk memberikan kabar gembira dengan segera ketika mendapat nikmat besar atau terangkat dari musibah besar. Kisah ini menunjukkan keistimewaan Aisyah radhiyallahu ‘anha. Siapa yang ragu dan masih menuduh Aisyah berselingkuh, maka ia kafir dan murtad dengan sepakat para ulama. Hendaklah kita terus memperbarui syukur ketika mendapatkan nikmat baru. Keutamaan memberi makan kepada orang fakir (miskin) apalagi masih punya hubungan kerabat. Siapa yang bersumpah, lalu melihat ada yang lebih baik di balik itu, maka hendaklah ia membatalkan sumpahnya dengan menunaikan kafarah (tebusan). Lihat surah Al-Maidah ayat 89. Di balik kesulitan ketika mencapai puncaknya akan datang kemudahan. “Sesungguhnya di balik kesulitan ada kemudahan, sesungguhnya di balik kesulitan ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah: 5-6) Solusi ketika menghadapi fitnahan dari orang lain adalah sabar. Sabar itu awalnya pahit, namun akhirnya lebih manis daripada madu. Allah yang nanti akan membalas setiap orang yang memfitnah (menuduh orang lain tanpa bukti) dan Allah-lah yang nanti akan menampakkan manakah yang benar. Kejelekan tak perlu dibalas dengan kejelekan, balaslah kejelekan dengan kebaikan. Berikanlah maaf pada orang yang berbuat jelek kepada kita. “Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar.” (QS. Fushilat: 34-35) Berakhir kisah Aisyah dituduh selingkuh, moga jadi pelajaran berharga bagi semua.   Referensi: Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Al-Hajjaj. Cetakan pertama, Tahun 1433 H. Yahya bin Syarf An-Nawawi. Penerbit Dar Ibnu Hazm. 17:107-108.   Kisah Awal Aisyah Dituduh Selingkuh Faedah Surat An-Nuur #05: Awal Kisah Aisyah Dituduh Selingkuh   Kisah Lanjutan Aisyah Dituduh Selingkuh Faedah Surat An-Nuur #06: Lanjutan Kisah Aisyah Dituduh Selingkuh   Keutamaan Aisyah Faedah Sirah Nabi: Keutamaan Aisyah — Disusun di Pesantren Darush Sholihin, Sabtu pagi, 14 Rabi’ul Awwal 1439 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsaisyah faedah surat an nuur keutamaan aisyah selingkuh surat an nuur zina
Download   Inilah akhir kisah Aisyah dituduh selingkuh dan gali faedahnya.   Tafsir Surah An-Nuur Ayat 11 إِنَّ الَّذِينَ جَاءُوا بِالْإِفْكِ عُصْبَةٌ مِنْكُمْ لَا تَحْسَبُوهُ شَرًّا لَكُمْ بَلْ هُوَ خَيْرٌ لَكُمْ لِكُلِّ امْرِئٍ مِنْهُمْ مَا اكْتَسَبَ مِنَ الْإِثْمِ وَالَّذِي تَوَلَّى كِبْرَهُ مِنْهُمْ لَهُ عَذَابٌ عَظِيمٌ “Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bahagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar.” (QS. An-Nuur: 11)   Akhir Kisah Aisyah Dituduh Selingkuh Aisyah radhiyallahu ‘anha melanjutkan kisahnya, “Kemudian Sa’ad bin Ubadah radhiyallahu ‘anha berdiri. Ia adalah pemimpin kabilah Khazraj. Ia adalah lelaki yang shalih tetapi ia tersulut emosi. Lalu ia berkata kepada Sa’ad bin Mu’adz radhiyallahu ‘anhu, ‘Kamu bohong! Demi Allah! Kamu tidak akan membunuhnya dan tidak akan mampu membunuhnya. Jika ia berasal dari kabilahmu pasti kamu tidak ingin membunuhnya.” “Lalu Usaid bin Hudhair radhiyallahu ‘anhu berdiri. Ia adalah sepupu Sa’ad bin Mu’adz radhiyallahu ‘anhu. Ia berkata kepada Sa’ad bin Ubadah radhiyallahu ‘anhu, ‘Kamu bohong! Demi Allah. Sungguh kami akan membunuhnya. Kamu ini munafik dan berdebat untuk membela orang-orang munafik. Lantas terjadi keributan antara kedua kabilah, yakni Aus dan Khazraj sehingga hampir saja mereka saling membunuh padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam masih di atas mimbar. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menenangkan mereka sampai mereka diam dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri juga terdiam.” Aisyah radhiyallahu ‘anha melanjutkan kisahnya, “Pada hari itu aku menangis. Air mataku terus menetes tiada henti dan aku tidak tidur sama sekali. Kedua orang tuaku beranggapan bahwa tangisan dapat membelah hatiku.” Aisyah radhiyallahu ‘anha melanjutkan, “Ketika keduanya sedang duduk di sampingku sedangkan aku sedang menangis, tiba-tiba seorang perempuan dari kalangan Anshar meminta izin kepadaku, lalu aku pun memberi izin kepadanya sehingga ia duduk seraya menangis di sampingku. Ketika kami masih dalam keadaan seperti itu, tiba-tiba Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk kemudian duduk. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah duduk di sampingku sejak beredarnya isu tersebut. Dan telah sebulan penuh tidak ada wahyu turun mengenai perkaraku ini. Lantas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta kesaksian pada saat beliau duduk seraya berkata, ‘Amma ba’du, wahai Aisyah! Sungguh, telah sampai kepadaku isu demikian dan demikian mengenai dirimu. Jika engkau memang bersih dari tuduhan tersebut, pastilah Allah Subhanahu wa Ta’ala akan membebaskanmu. Dan jika engkau melakukan dosa, maka memohonlah ampun kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan bertaubatlah kepada-Nya, karena sesungguhnya seorang hamba yang mau mengakui dosanya dan bertaubat, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menerima taubat-Nya.” Aisyah radhiyallahu ‘anha melanjutkan kisahnya, “Tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah selesai menyampaikan sabdanya ini, maka derai air mataku mulai menyusut, sehingga aku tidak merasakan satu tetes pun. Lalu aku berkata kepada ayahku, ‘Tolong sampaikan jawaban kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam atas namaku!’ Ia menjawab, ‘Demi Allah, aku tidak tahu apa yang harus aku sampaikan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.’ Selanjutnya aku berkata kepada ibuku, ‘Tolong sampaikan jawaban kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam atas namaku!’ Ia menjawab, ‘Demi Allah, aku juga tidak tahu apa yang harus aku sampaikan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.’ Lalu aku berkata, ‘Aku adalah seorang perempuan yang masih belia. Demi Allah, aku tahu bahwa kalian telah mendengar berita ini sehingga kalian simpan di dalam hati dan kalian membenarkannya. Makanya, jika kukatakan kepada kalian bahwa aku bersih dari tuduhan tersebut Allah Maha Mengetahui bahwa aku bersih dari tuduhan tersebut, maka kalian tidak mempercayaiku. Dan jika aku mengakui sesuatu yang Allah Subhanahu wa Ta’ala mengetahui bahwa aku terbebas darinya, malah kalian sungguh-sungguh mempercayaiku. Demi Allah, aku tidak menjumpai pada diriku dan diri kalian suatu perumpamaan selain sebagaimana yang dikatakan oleh Nabi Yusuf ‘alaihis salam, فَصَبْرٌ جَمِيلٌ وَاللَّهُ الْمُسْتَعَانُ عَلَى مَا تَصِفُونَ “Maka hanya sabar yang baik itulah yang terbaik (bagiku). Dan kepada Allah saja memohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu ceritakan.” (QS. Yusuf: 18) “Kemudian aku berpaling, aku berbaring di atas tempat tidurku.” Aisyah radhiyallahu ‘anha melanjutkan kisahnya, “Aku–wallahu a’lam–ketika itu terbebas dan Allah-lah yang melepaskanku dari isu tersebut. Akan tetapi, demi Allah, aku tidak pernah menyangka akan diturunkan suatu wahyu yang akan selalu dibaca perihal persoalanku ini. Sungguh persoalanku ini terlalu remeh untuk difirmankan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadi sesuatu yang akan selalu dibaca. Sebenarnya yang aku harapkan ialah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bermimpi di dalam tidurnya yang di dalam mimpi tersebut Allah Subhanahu wa Ta’ala membebaskanku dari tuduhan tersebut.” Aisyah radhiyallahu ‘anha melanjutkan, “Demi Allah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam belum sempat beranjak dari tempat duduknya dan belum ada seorang pun dari anggota keluargaku yang keluar sehingga Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan wahyu kepada Nabi-Nya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam merasa berat ketika menerima wahyu. Sampai-sampai beliau bercucuran keringat bagaikan mutiara padahal ketika itu sedang musim penghujan. Hal ini lantaran beratnya wahyu yang diturunkan kepada beliau.” Aisyah radhiyallahu ‘anha melanjutkan, “Kontan, kesusahan telah lenyap dari hati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau tersenyum bahagia. Kalimat yang kali pertama beliau katakan ialah, ‘Bergembiralah Aisyah! Allah Subhanahu wa Ta’ala telah membebaskanmu.’ Lalu ibuku berkata kepadaku, ‘Berdirilah kepada Nabi.’ Aku berkata, ‘Demi Allah, aku tidak akan berdiri kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan aku tidak akan memuji kecuali hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dialah yang menurunkan wahyu yang membebaskan diriku. Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan ayat berikut, إِنَّ الَّذِينَ جَاءُوا بِالْإِفْكِ عُصْبَةٌ مِنْكُمْ لَا تَحْسَبُوهُ شَرًّا لَكُمْ بَلْ هُوَ خَيْرٌ لَكُمْ لِكُلِّ امْرِئٍ مِنْهُمْ مَا اكْتَسَبَ مِنَ الْإِثْمِ وَالَّذِي تَوَلَّى كِبْرَهُ مِنْهُمْ لَهُ عَذَابٌ عَظِيمٌ “Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar (pula).” (QS. An-Nur: 11) Sampai sepuluh ayat secara keseluruhan.” “Ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menurunkan ayat ini yang menjelaskan tentang kebebasanku, maka Abu Bakar radhiyallahu ‘anha–beliau adalah orang yang memberikan nafkah kepada Misthah bin Utsatsah radhiyallahu ‘anha karena masih ada hubungan kerabat dan karena ia orang fakir–berkata, ‘Demi Allah, aku tidak akan memberi nafkah kepadanya lagi untuk selamanya setelah apa yang ia katakan kepada Aisyah.’ Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan ayat berikut (yang artinya), “Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nur: 22) “Lantas Abu Bakar radhiyallahu ‘anha berkata, ‘Baiklah. Demi Allah, sungguh aku suka bila Allah Subhanahu wa Ta’ala mengampuniku.’ Kemudian beliau kembali memberi nafkah kepada Misthah yang memang sejak dahulu ia selalu memberinya nafkah. Bahkan ia berkata, ‘Aku tidak akan berhenti memberi nafkah kepadanya untuk selamanya.’ Aisyah radhiyallahu ‘anha melanjutkan, ‘Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada Zainab binti Jahsy radhiyallahu ‘anha, istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai persoalanku. Beliau berkata, ‘Wahai Zainab, apa yang kamu ketahui atau yang kamu lihat?’ Ia menjawab, ‘Wahai Rasulullah! Aku menjaga pendengaran dan penglihatanku. Demi Allah, yang aku tahu dia hanyalah baik.’ Aisyah radhiyallahu ‘anha mengatakan, ‘Dialah di antara istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menyaingiku dalam hal kecantikan, tetapi Allah Subhanahu wa Ta’ala melindunginya dengan sifat wara’. Sedangkan saudara perempuannya, Hamnah binti Jahsy radhiyallahu ‘anha bertentangan dengannya. Maka, binasalah orang-orang yang binasa.” (HR. Bukhari, no. 2661 dan Muslim, no. 2770)   Pelajaran dari Akhir Kisah Aisyah Dituduh Selingkuh Diperintahkan untuk segera menghentikan pertikaian dan menenangkan yang sedang marah. Orang muslim tentu marah kalau ada yang menjatuhkan kehormatan pemimpinnya sendiri. Kita didorong untuk bertaubat dan keutamaan taubat itu luar biasa. Menghormati yang tua (kibar) dengan mempersilakan mereka yang berbicara terlebih dahulu daripada yang muda (shighar) karena mereka lebih punya pemahaman yang sempurna. Disunnahkan untuk memberikan kabar gembira dengan segera ketika mendapat nikmat besar atau terangkat dari musibah besar. Kisah ini menunjukkan keistimewaan Aisyah radhiyallahu ‘anha. Siapa yang ragu dan masih menuduh Aisyah berselingkuh, maka ia kafir dan murtad dengan sepakat para ulama. Hendaklah kita terus memperbarui syukur ketika mendapatkan nikmat baru. Keutamaan memberi makan kepada orang fakir (miskin) apalagi masih punya hubungan kerabat. Siapa yang bersumpah, lalu melihat ada yang lebih baik di balik itu, maka hendaklah ia membatalkan sumpahnya dengan menunaikan kafarah (tebusan). Lihat surah Al-Maidah ayat 89. Di balik kesulitan ketika mencapai puncaknya akan datang kemudahan. “Sesungguhnya di balik kesulitan ada kemudahan, sesungguhnya di balik kesulitan ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah: 5-6) Solusi ketika menghadapi fitnahan dari orang lain adalah sabar. Sabar itu awalnya pahit, namun akhirnya lebih manis daripada madu. Allah yang nanti akan membalas setiap orang yang memfitnah (menuduh orang lain tanpa bukti) dan Allah-lah yang nanti akan menampakkan manakah yang benar. Kejelekan tak perlu dibalas dengan kejelekan, balaslah kejelekan dengan kebaikan. Berikanlah maaf pada orang yang berbuat jelek kepada kita. “Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar.” (QS. Fushilat: 34-35) Berakhir kisah Aisyah dituduh selingkuh, moga jadi pelajaran berharga bagi semua.   Referensi: Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Al-Hajjaj. Cetakan pertama, Tahun 1433 H. Yahya bin Syarf An-Nawawi. Penerbit Dar Ibnu Hazm. 17:107-108.   Kisah Awal Aisyah Dituduh Selingkuh Faedah Surat An-Nuur #05: Awal Kisah Aisyah Dituduh Selingkuh   Kisah Lanjutan Aisyah Dituduh Selingkuh Faedah Surat An-Nuur #06: Lanjutan Kisah Aisyah Dituduh Selingkuh   Keutamaan Aisyah Faedah Sirah Nabi: Keutamaan Aisyah — Disusun di Pesantren Darush Sholihin, Sabtu pagi, 14 Rabi’ul Awwal 1439 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsaisyah faedah surat an nuur keutamaan aisyah selingkuh surat an nuur zina


Download   Inilah akhir kisah Aisyah dituduh selingkuh dan gali faedahnya.   Tafsir Surah An-Nuur Ayat 11 إِنَّ الَّذِينَ جَاءُوا بِالْإِفْكِ عُصْبَةٌ مِنْكُمْ لَا تَحْسَبُوهُ شَرًّا لَكُمْ بَلْ هُوَ خَيْرٌ لَكُمْ لِكُلِّ امْرِئٍ مِنْهُمْ مَا اكْتَسَبَ مِنَ الْإِثْمِ وَالَّذِي تَوَلَّى كِبْرَهُ مِنْهُمْ لَهُ عَذَابٌ عَظِيمٌ “Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bahagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar.” (QS. An-Nuur: 11)   Akhir Kisah Aisyah Dituduh Selingkuh Aisyah radhiyallahu ‘anha melanjutkan kisahnya, “Kemudian Sa’ad bin Ubadah radhiyallahu ‘anha berdiri. Ia adalah pemimpin kabilah Khazraj. Ia adalah lelaki yang shalih tetapi ia tersulut emosi. Lalu ia berkata kepada Sa’ad bin Mu’adz radhiyallahu ‘anhu, ‘Kamu bohong! Demi Allah! Kamu tidak akan membunuhnya dan tidak akan mampu membunuhnya. Jika ia berasal dari kabilahmu pasti kamu tidak ingin membunuhnya.” “Lalu Usaid bin Hudhair radhiyallahu ‘anhu berdiri. Ia adalah sepupu Sa’ad bin Mu’adz radhiyallahu ‘anhu. Ia berkata kepada Sa’ad bin Ubadah radhiyallahu ‘anhu, ‘Kamu bohong! Demi Allah. Sungguh kami akan membunuhnya. Kamu ini munafik dan berdebat untuk membela orang-orang munafik. Lantas terjadi keributan antara kedua kabilah, yakni Aus dan Khazraj sehingga hampir saja mereka saling membunuh padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam masih di atas mimbar. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menenangkan mereka sampai mereka diam dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri juga terdiam.” Aisyah radhiyallahu ‘anha melanjutkan kisahnya, “Pada hari itu aku menangis. Air mataku terus menetes tiada henti dan aku tidak tidur sama sekali. Kedua orang tuaku beranggapan bahwa tangisan dapat membelah hatiku.” Aisyah radhiyallahu ‘anha melanjutkan, “Ketika keduanya sedang duduk di sampingku sedangkan aku sedang menangis, tiba-tiba seorang perempuan dari kalangan Anshar meminta izin kepadaku, lalu aku pun memberi izin kepadanya sehingga ia duduk seraya menangis di sampingku. Ketika kami masih dalam keadaan seperti itu, tiba-tiba Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk kemudian duduk. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah duduk di sampingku sejak beredarnya isu tersebut. Dan telah sebulan penuh tidak ada wahyu turun mengenai perkaraku ini. Lantas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta kesaksian pada saat beliau duduk seraya berkata, ‘Amma ba’du, wahai Aisyah! Sungguh, telah sampai kepadaku isu demikian dan demikian mengenai dirimu. Jika engkau memang bersih dari tuduhan tersebut, pastilah Allah Subhanahu wa Ta’ala akan membebaskanmu. Dan jika engkau melakukan dosa, maka memohonlah ampun kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan bertaubatlah kepada-Nya, karena sesungguhnya seorang hamba yang mau mengakui dosanya dan bertaubat, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menerima taubat-Nya.” Aisyah radhiyallahu ‘anha melanjutkan kisahnya, “Tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah selesai menyampaikan sabdanya ini, maka derai air mataku mulai menyusut, sehingga aku tidak merasakan satu tetes pun. Lalu aku berkata kepada ayahku, ‘Tolong sampaikan jawaban kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam atas namaku!’ Ia menjawab, ‘Demi Allah, aku tidak tahu apa yang harus aku sampaikan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.’ Selanjutnya aku berkata kepada ibuku, ‘Tolong sampaikan jawaban kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam atas namaku!’ Ia menjawab, ‘Demi Allah, aku juga tidak tahu apa yang harus aku sampaikan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.’ Lalu aku berkata, ‘Aku adalah seorang perempuan yang masih belia. Demi Allah, aku tahu bahwa kalian telah mendengar berita ini sehingga kalian simpan di dalam hati dan kalian membenarkannya. Makanya, jika kukatakan kepada kalian bahwa aku bersih dari tuduhan tersebut Allah Maha Mengetahui bahwa aku bersih dari tuduhan tersebut, maka kalian tidak mempercayaiku. Dan jika aku mengakui sesuatu yang Allah Subhanahu wa Ta’ala mengetahui bahwa aku terbebas darinya, malah kalian sungguh-sungguh mempercayaiku. Demi Allah, aku tidak menjumpai pada diriku dan diri kalian suatu perumpamaan selain sebagaimana yang dikatakan oleh Nabi Yusuf ‘alaihis salam, فَصَبْرٌ جَمِيلٌ وَاللَّهُ الْمُسْتَعَانُ عَلَى مَا تَصِفُونَ “Maka hanya sabar yang baik itulah yang terbaik (bagiku). Dan kepada Allah saja memohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu ceritakan.” (QS. Yusuf: 18) “Kemudian aku berpaling, aku berbaring di atas tempat tidurku.” Aisyah radhiyallahu ‘anha melanjutkan kisahnya, “Aku–wallahu a’lam–ketika itu terbebas dan Allah-lah yang melepaskanku dari isu tersebut. Akan tetapi, demi Allah, aku tidak pernah menyangka akan diturunkan suatu wahyu yang akan selalu dibaca perihal persoalanku ini. Sungguh persoalanku ini terlalu remeh untuk difirmankan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadi sesuatu yang akan selalu dibaca. Sebenarnya yang aku harapkan ialah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bermimpi di dalam tidurnya yang di dalam mimpi tersebut Allah Subhanahu wa Ta’ala membebaskanku dari tuduhan tersebut.” Aisyah radhiyallahu ‘anha melanjutkan, “Demi Allah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam belum sempat beranjak dari tempat duduknya dan belum ada seorang pun dari anggota keluargaku yang keluar sehingga Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan wahyu kepada Nabi-Nya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam merasa berat ketika menerima wahyu. Sampai-sampai beliau bercucuran keringat bagaikan mutiara padahal ketika itu sedang musim penghujan. Hal ini lantaran beratnya wahyu yang diturunkan kepada beliau.” Aisyah radhiyallahu ‘anha melanjutkan, “Kontan, kesusahan telah lenyap dari hati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau tersenyum bahagia. Kalimat yang kali pertama beliau katakan ialah, ‘Bergembiralah Aisyah! Allah Subhanahu wa Ta’ala telah membebaskanmu.’ Lalu ibuku berkata kepadaku, ‘Berdirilah kepada Nabi.’ Aku berkata, ‘Demi Allah, aku tidak akan berdiri kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan aku tidak akan memuji kecuali hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dialah yang menurunkan wahyu yang membebaskan diriku. Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan ayat berikut, إِنَّ الَّذِينَ جَاءُوا بِالْإِفْكِ عُصْبَةٌ مِنْكُمْ لَا تَحْسَبُوهُ شَرًّا لَكُمْ بَلْ هُوَ خَيْرٌ لَكُمْ لِكُلِّ امْرِئٍ مِنْهُمْ مَا اكْتَسَبَ مِنَ الْإِثْمِ وَالَّذِي تَوَلَّى كِبْرَهُ مِنْهُمْ لَهُ عَذَابٌ عَظِيمٌ “Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar (pula).” (QS. An-Nur: 11) Sampai sepuluh ayat secara keseluruhan.” “Ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menurunkan ayat ini yang menjelaskan tentang kebebasanku, maka Abu Bakar radhiyallahu ‘anha–beliau adalah orang yang memberikan nafkah kepada Misthah bin Utsatsah radhiyallahu ‘anha karena masih ada hubungan kerabat dan karena ia orang fakir–berkata, ‘Demi Allah, aku tidak akan memberi nafkah kepadanya lagi untuk selamanya setelah apa yang ia katakan kepada Aisyah.’ Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan ayat berikut (yang artinya), “Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nur: 22) “Lantas Abu Bakar radhiyallahu ‘anha berkata, ‘Baiklah. Demi Allah, sungguh aku suka bila Allah Subhanahu wa Ta’ala mengampuniku.’ Kemudian beliau kembali memberi nafkah kepada Misthah yang memang sejak dahulu ia selalu memberinya nafkah. Bahkan ia berkata, ‘Aku tidak akan berhenti memberi nafkah kepadanya untuk selamanya.’ Aisyah radhiyallahu ‘anha melanjutkan, ‘Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada Zainab binti Jahsy radhiyallahu ‘anha, istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai persoalanku. Beliau berkata, ‘Wahai Zainab, apa yang kamu ketahui atau yang kamu lihat?’ Ia menjawab, ‘Wahai Rasulullah! Aku menjaga pendengaran dan penglihatanku. Demi Allah, yang aku tahu dia hanyalah baik.’ Aisyah radhiyallahu ‘anha mengatakan, ‘Dialah di antara istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menyaingiku dalam hal kecantikan, tetapi Allah Subhanahu wa Ta’ala melindunginya dengan sifat wara’. Sedangkan saudara perempuannya, Hamnah binti Jahsy radhiyallahu ‘anha bertentangan dengannya. Maka, binasalah orang-orang yang binasa.” (HR. Bukhari, no. 2661 dan Muslim, no. 2770)   Pelajaran dari Akhir Kisah Aisyah Dituduh Selingkuh Diperintahkan untuk segera menghentikan pertikaian dan menenangkan yang sedang marah. Orang muslim tentu marah kalau ada yang menjatuhkan kehormatan pemimpinnya sendiri. Kita didorong untuk bertaubat dan keutamaan taubat itu luar biasa. Menghormati yang tua (kibar) dengan mempersilakan mereka yang berbicara terlebih dahulu daripada yang muda (shighar) karena mereka lebih punya pemahaman yang sempurna. Disunnahkan untuk memberikan kabar gembira dengan segera ketika mendapat nikmat besar atau terangkat dari musibah besar. Kisah ini menunjukkan keistimewaan Aisyah radhiyallahu ‘anha. Siapa yang ragu dan masih menuduh Aisyah berselingkuh, maka ia kafir dan murtad dengan sepakat para ulama. Hendaklah kita terus memperbarui syukur ketika mendapatkan nikmat baru. Keutamaan memberi makan kepada orang fakir (miskin) apalagi masih punya hubungan kerabat. Siapa yang bersumpah, lalu melihat ada yang lebih baik di balik itu, maka hendaklah ia membatalkan sumpahnya dengan menunaikan kafarah (tebusan). Lihat surah Al-Maidah ayat 89. Di balik kesulitan ketika mencapai puncaknya akan datang kemudahan. “Sesungguhnya di balik kesulitan ada kemudahan, sesungguhnya di balik kesulitan ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah: 5-6) Solusi ketika menghadapi fitnahan dari orang lain adalah sabar. Sabar itu awalnya pahit, namun akhirnya lebih manis daripada madu. Allah yang nanti akan membalas setiap orang yang memfitnah (menuduh orang lain tanpa bukti) dan Allah-lah yang nanti akan menampakkan manakah yang benar. Kejelekan tak perlu dibalas dengan kejelekan, balaslah kejelekan dengan kebaikan. Berikanlah maaf pada orang yang berbuat jelek kepada kita. “Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar.” (QS. Fushilat: 34-35) Berakhir kisah Aisyah dituduh selingkuh, moga jadi pelajaran berharga bagi semua.   Referensi: Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Al-Hajjaj. Cetakan pertama, Tahun 1433 H. Yahya bin Syarf An-Nawawi. Penerbit Dar Ibnu Hazm. 17:107-108.   Kisah Awal Aisyah Dituduh Selingkuh Faedah Surat An-Nuur #05: Awal Kisah Aisyah Dituduh Selingkuh   Kisah Lanjutan Aisyah Dituduh Selingkuh Faedah Surat An-Nuur #06: Lanjutan Kisah Aisyah Dituduh Selingkuh   Keutamaan Aisyah Faedah Sirah Nabi: Keutamaan Aisyah — Disusun di Pesantren Darush Sholihin, Sabtu pagi, 14 Rabi’ul Awwal 1439 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsaisyah faedah surat an nuur keutamaan aisyah selingkuh surat an nuur zina

Kesembuhan Melalui Metode Syirik (03)

Baca pembahasan sebelumnya: Kesembuhan Melalui Metode Syirik (Bag. 2)  Lalu Mengapa Keinginan Mereka Terkabul?Allah Ta’ala adalah Dzat Yang Maha adil dan Maha pemurah. Allah Ta’ala mengabulkan doa dan keinginan hamba-hambaNya yang berdoa kepada-Nya dalam kondisi terpejit, tidak berdaya, dan benar-benar berada dalam kesulitan. Orang-orang seperti itu, dia akan benar-benar ikhlas dalam berdoa, hatinya akan berkonsentrasi dalam berdoa, dan tidak disibukkan oleh perkara-perkara yang lain.Orang yang sedang dalam kondisi terjepit dan mengalami kesusahan, maka tidak ada sesuatu yang dapat memalingkan dan melalaikan hatinya dari apa yang dia butuhkan. Orang dalam kondisi seperti ini, doa dan keinginannya pasti dikabulkan, tidak peduli apakah dia seorang muslim, orang kafir, atau musyrik, apakah dia menempuh jalan yang sesuai dengan syariat, ataukah tidak. Allah Ta’ala berfirman,أَمْ مَنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ“Atau siapakah yang mengabulkan (doa) orang yang berada dalam kesulitan, apabila dia berdoa kepada-Nya?” (QS. An-Naml [27]: 62)Oleh karena itu pula, doa orang yang teraniaya itu pasti dikabulkan karena dalam kondisi teraniaya itu dia akan benar-benar ikhlas dalam berdoa. Meskipun dia adalah orang yang suka bermaksiat, bahkan orang kafir sekalipun. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,دعوة المظلوم مستجابة و إن كان فاجرا ففجوره على نفسه“Doa orang yang teraniaya itu pasti dikabulkan, meskipun dia suka berbuat jahat (maksiat). Karena kejahatannya itu akan kembali kepada dirinya sendiri.” [1] Demikian pula, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إياكم و دعوة المظلوم و إن كانت من كافر فإنه ليس لها حجاب دون الله عز و جل“Hati-hatilah kalian dengan doa orang yang teraniaya, meskipun orang kafir. Karena sesungguhnya tidak ada penghalang yang menghalangi doa tersebut dengan Allah Ta’ala.” [2]Bukti lainnya, Allah Ta’ala mengabulkan doa orang-orang musyrik yang sedang terkepung bahaya di lautan. Karena ketika dalam kondisi terjepit dan terkepung bahaya seperti itu, mereka betul-betul mengikhlaskan doanya kepada Allah Ta’ala, sangat berharap kepada-Nya, dan sangat khawatir kalau doanya tidak dikabulkan. Allah Ta’ala menceritakan tentang kondisi mereka,وَإِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فِي الْبَحْرِ ضَلَّ مَنْ تَدْعُونَ إِلَّا إِيَّاهُ فَلَمَّا نَجَّاكُمْ إِلَى الْبَرِّ أَعْرَضْتُمْ وَكَانَ الْإِنْسَانُ كَفُورًا“Dan apabila kamu ditimpa bahaya di lautan, niscaya hilanglah siapa yang kamu seru kecuali Dia. Maka ketika Dia menyelamatkan kamu ke daratan, kamu berpaling. Dan manusia itu selalu tidak berterima kasih.” (QS. Al-Isra’ [17]: 67)Lihatlah, bagaimana Allah Ta’ala mengabulkan doa mereka, padahal status mereka adalah orang-orang musyrik? Dari sini jelaslah bahwa terkabulnya doa atau terwujudnya keinginan tidaklah menunjukkan bahwa seseorang berada di atas kebenaran. Tidak pula menunjukkan benarnya cara atau metode yang ditempuh.Bagaimana mungkin kita menilai kebenaran dengan berpatokan pada terwujudnya keinginan, padahal Allah Ta’ala pun mengabulkan doa setan ketika setan berdoa kepada-Nya,قَالَ رَبِّ فَأَنْظِرْنِي إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ“Dia (setan) berdoa, ‘Ya Allah, tangguhkan usiaku hingga hari mereka dibangkitkan.’” (QS. Al-Hijr [15]: 36)Dan ternyata, Allah Ta’ala pun mengabulkan doa setan itu dalam firman-Nya,قَالَ فَإِنَّكَ مِنَ الْمُنْظَرِينَ إِلَى يَوْمِ الْوَقْتِ الْمَعْلُومِ“Dia (Allah) berfirman, ‘(Kalau begitu), sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang diberi tangguh sampai (suatu) waktu yang telah ditentukan.” (QS. Al-Hijr [15]: 37-38)Apakah dengan dikabulkannya doa setan itu, berarti Allah Ta’ala ridha dengan tindakan setan yang menyesatkan hamba-Nya di muka bumi? Apakah berarti setan berada dalam jalan kebenaran?Alangkah bagusnya penjelasan yang disampaikan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah ketika beliau menjelaskan sebab-sebab terkabulnya doa dan keinginan manusia. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengatakan,”Adapun terkabulnya doa, maka terkadang sebabnya adalah orang yang berdoa betul-betul sangat membutuhkan dan jujur dalam permohonannya. (Atau bisa jadi) sebabnya semata-mata adalah rahmat Allah Ta’ala kepadanya, atau terkadang karena memang itulah yang Allah tetapkan untuknya, bukan karena doanya. Dan bisa jadi karena sebab-sebab lainnya, sebagai ujian bagi orang yang berdoa. Sesungguhnya kita telah mengetahui bahwa orang kafir pun dikabulkan doanya, sehingga mereka pun diberi hujan, diberi kemenangan, diberi kesehatan, dan diberi rizki. Padahal mereka berdoa kepada berhala-berhala mereka dan ber-tawassul dengan mereka.” [3] Kemudian beliau mengutip firman Allah Ta’ala,كُلًّا نُمِدُّ هَؤُلَاءِ وَهَؤُلَاءِ مِنْ عَطَاءِ رَبِّكَ وَمَا كَانَ عَطَاءُ رَبِّكَ مَحْظُورًا“Kepada masing-masing golongan, baik golongan ini maupun golongan itu, kami berikan bantuan dari kemurahan Tuhanmu. Dan kemurahan Tuhanmu tidak dapat dihalangi.” (QS. Al-Isra’ [17]: 20) [4]Dan juga firman Allah Ta’ala,وَأَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِنَ الْإِنْسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِنَ الْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقًا“Bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin. Maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan.” (QS. Al-Jin [72]: 6)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ رَبَّكُمْ تَبَارَكَ وَتَعَالَى حَيِىٌّ كَرِيمٌ يَسْتَحْيِى مِنْ عَبْدِهِ إِذَا رَفَعَ يَدَيْهِ إِلَيْهِ أَنْ يَرُدَّهُمَا صِفْرًا“Sesungguhnya Rabb kalian Tabaaraka wa Ta’ala itu Maha  malu dan Maha mulia. Allah malu kepada hamba-Nya yang (berdoa) mengangkat kedua tangannya kepada-Nya, dan mengembalikannya dalam keadaan hampa (tidak mengabulkannya).“ (HR. Abu Dawud no. 1488) [5]Oleh karena itulah, terwujudnya doa dan keinginan orang-orang yang berobat ke dukun atau paranormal bisa jadi karena sebab-sebab di atas. Mereka berdoa kepada Allah Ta’ala seperti berdoanya orang yang benar-benar dalam kesulitan dan kesusahan. Hal ini bisa kita saksikan pada orang-orang yang datang ke dukun. Orang-orang yang sedang sakit (atau keluarga pasien) itu datang kepada dukun dalam kondisi kesusahan, terjepit, dan bisa jadi mereka menyadari bahwa tidak ada upaya lagi yang dapat dia tempuh selain berdoa kepada-Nya setelah upaya yang lain berakhir dengan sia-sia. Allah Ta’ala pun mengabulkan doa dan keinginan mereka, meskipun mereka menempuh cara-cara syirik seperti itu. Sehingga hal itu tidaklah menunjukkan benarnya cara yang mereka tempuh. [Bersambung]***Selesai disempurnakan di pagi hari, Rotterdam NL 1 Muharram 1439/21 September 2017Yang senantiasa membutuhkan ampunan Rabb-nya,Penulis: Muhammad Saifudin Hakim Artikel: Muslim.or.idCatatan kaki:[1]     HR. Ath-Thayalisi di dalam Musnad-nya, Ahmad (II/367), dan Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf. Dihasankan oleh Al-Albani dalam Shahih wa Dha’if Al-Jaami’ Ash-Shaghir, hadits no. 5694. Lihat pula Silsilah Ash-Shahihah, II/266.[2]     Terdapat di dalam Al-Jami’ Ash-Shaghir karya As-Suyuthi (Lihat Faidhul Qadir Syarh Al-Jami’ Ash-Shaghir karya Al-Manawi, 3/127, hadits no. 2915). Dihasankan oleh Al-Albani dalam Shahih wa Dha’if Al-Jaami’ Ash-Shaghir, hadits no. 4447.[3]     Iqtidha’ Shirathal Mustaqim, 2/167-168.[4]     Dua golongan itu disebutkan oleh Allah Ta’ala dalam dua ayat sebelumnya,مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْعَاجِلَةَ عَجَّلْنَا لَهُ فِيهَا مَا نَشَاءُ لِمَنْ نُرِيدُ ثُمَّ جَعَلْنَا لَهُ جَهَنَّمَ يَصْلَاهَا مَذْمُومًا مَدْحُورًا وَمَنْ أَرَادَ الْآَخِرَةَ وَسَعَى لَهَا سَعْيَهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَئِكَ كَانَ سَعْيُهُمْ مَشْكُورًا    “Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka kami segerakan baginya di dunia itu apa yang Kami kehendaki, bagi orang yang Kami kehendaki. Dan Kami tentukan baginya neraka jahannam, dia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir. Dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh, sedangkan dia adalah seorang mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalas dengan baik.” (QS. Al-Isra’ [17]: 18-19)[5]     Dinilai shahih oleh Al-Albani dalam Shahih wa Dha’if Sunan Abu Dawud. 🔍 Menjaga Lisan, Syarat Bertaubat, Wirid Sore, Cara Ikhlas Menerima Takdir Allah, Lagu Anak Muslim Asmaul Husna

Kesembuhan Melalui Metode Syirik (03)

Baca pembahasan sebelumnya: Kesembuhan Melalui Metode Syirik (Bag. 2)  Lalu Mengapa Keinginan Mereka Terkabul?Allah Ta’ala adalah Dzat Yang Maha adil dan Maha pemurah. Allah Ta’ala mengabulkan doa dan keinginan hamba-hambaNya yang berdoa kepada-Nya dalam kondisi terpejit, tidak berdaya, dan benar-benar berada dalam kesulitan. Orang-orang seperti itu, dia akan benar-benar ikhlas dalam berdoa, hatinya akan berkonsentrasi dalam berdoa, dan tidak disibukkan oleh perkara-perkara yang lain.Orang yang sedang dalam kondisi terjepit dan mengalami kesusahan, maka tidak ada sesuatu yang dapat memalingkan dan melalaikan hatinya dari apa yang dia butuhkan. Orang dalam kondisi seperti ini, doa dan keinginannya pasti dikabulkan, tidak peduli apakah dia seorang muslim, orang kafir, atau musyrik, apakah dia menempuh jalan yang sesuai dengan syariat, ataukah tidak. Allah Ta’ala berfirman,أَمْ مَنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ“Atau siapakah yang mengabulkan (doa) orang yang berada dalam kesulitan, apabila dia berdoa kepada-Nya?” (QS. An-Naml [27]: 62)Oleh karena itu pula, doa orang yang teraniaya itu pasti dikabulkan karena dalam kondisi teraniaya itu dia akan benar-benar ikhlas dalam berdoa. Meskipun dia adalah orang yang suka bermaksiat, bahkan orang kafir sekalipun. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,دعوة المظلوم مستجابة و إن كان فاجرا ففجوره على نفسه“Doa orang yang teraniaya itu pasti dikabulkan, meskipun dia suka berbuat jahat (maksiat). Karena kejahatannya itu akan kembali kepada dirinya sendiri.” [1] Demikian pula, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إياكم و دعوة المظلوم و إن كانت من كافر فإنه ليس لها حجاب دون الله عز و جل“Hati-hatilah kalian dengan doa orang yang teraniaya, meskipun orang kafir. Karena sesungguhnya tidak ada penghalang yang menghalangi doa tersebut dengan Allah Ta’ala.” [2]Bukti lainnya, Allah Ta’ala mengabulkan doa orang-orang musyrik yang sedang terkepung bahaya di lautan. Karena ketika dalam kondisi terjepit dan terkepung bahaya seperti itu, mereka betul-betul mengikhlaskan doanya kepada Allah Ta’ala, sangat berharap kepada-Nya, dan sangat khawatir kalau doanya tidak dikabulkan. Allah Ta’ala menceritakan tentang kondisi mereka,وَإِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فِي الْبَحْرِ ضَلَّ مَنْ تَدْعُونَ إِلَّا إِيَّاهُ فَلَمَّا نَجَّاكُمْ إِلَى الْبَرِّ أَعْرَضْتُمْ وَكَانَ الْإِنْسَانُ كَفُورًا“Dan apabila kamu ditimpa bahaya di lautan, niscaya hilanglah siapa yang kamu seru kecuali Dia. Maka ketika Dia menyelamatkan kamu ke daratan, kamu berpaling. Dan manusia itu selalu tidak berterima kasih.” (QS. Al-Isra’ [17]: 67)Lihatlah, bagaimana Allah Ta’ala mengabulkan doa mereka, padahal status mereka adalah orang-orang musyrik? Dari sini jelaslah bahwa terkabulnya doa atau terwujudnya keinginan tidaklah menunjukkan bahwa seseorang berada di atas kebenaran. Tidak pula menunjukkan benarnya cara atau metode yang ditempuh.Bagaimana mungkin kita menilai kebenaran dengan berpatokan pada terwujudnya keinginan, padahal Allah Ta’ala pun mengabulkan doa setan ketika setan berdoa kepada-Nya,قَالَ رَبِّ فَأَنْظِرْنِي إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ“Dia (setan) berdoa, ‘Ya Allah, tangguhkan usiaku hingga hari mereka dibangkitkan.’” (QS. Al-Hijr [15]: 36)Dan ternyata, Allah Ta’ala pun mengabulkan doa setan itu dalam firman-Nya,قَالَ فَإِنَّكَ مِنَ الْمُنْظَرِينَ إِلَى يَوْمِ الْوَقْتِ الْمَعْلُومِ“Dia (Allah) berfirman, ‘(Kalau begitu), sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang diberi tangguh sampai (suatu) waktu yang telah ditentukan.” (QS. Al-Hijr [15]: 37-38)Apakah dengan dikabulkannya doa setan itu, berarti Allah Ta’ala ridha dengan tindakan setan yang menyesatkan hamba-Nya di muka bumi? Apakah berarti setan berada dalam jalan kebenaran?Alangkah bagusnya penjelasan yang disampaikan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah ketika beliau menjelaskan sebab-sebab terkabulnya doa dan keinginan manusia. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengatakan,”Adapun terkabulnya doa, maka terkadang sebabnya adalah orang yang berdoa betul-betul sangat membutuhkan dan jujur dalam permohonannya. (Atau bisa jadi) sebabnya semata-mata adalah rahmat Allah Ta’ala kepadanya, atau terkadang karena memang itulah yang Allah tetapkan untuknya, bukan karena doanya. Dan bisa jadi karena sebab-sebab lainnya, sebagai ujian bagi orang yang berdoa. Sesungguhnya kita telah mengetahui bahwa orang kafir pun dikabulkan doanya, sehingga mereka pun diberi hujan, diberi kemenangan, diberi kesehatan, dan diberi rizki. Padahal mereka berdoa kepada berhala-berhala mereka dan ber-tawassul dengan mereka.” [3] Kemudian beliau mengutip firman Allah Ta’ala,كُلًّا نُمِدُّ هَؤُلَاءِ وَهَؤُلَاءِ مِنْ عَطَاءِ رَبِّكَ وَمَا كَانَ عَطَاءُ رَبِّكَ مَحْظُورًا“Kepada masing-masing golongan, baik golongan ini maupun golongan itu, kami berikan bantuan dari kemurahan Tuhanmu. Dan kemurahan Tuhanmu tidak dapat dihalangi.” (QS. Al-Isra’ [17]: 20) [4]Dan juga firman Allah Ta’ala,وَأَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِنَ الْإِنْسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِنَ الْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقًا“Bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin. Maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan.” (QS. Al-Jin [72]: 6)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ رَبَّكُمْ تَبَارَكَ وَتَعَالَى حَيِىٌّ كَرِيمٌ يَسْتَحْيِى مِنْ عَبْدِهِ إِذَا رَفَعَ يَدَيْهِ إِلَيْهِ أَنْ يَرُدَّهُمَا صِفْرًا“Sesungguhnya Rabb kalian Tabaaraka wa Ta’ala itu Maha  malu dan Maha mulia. Allah malu kepada hamba-Nya yang (berdoa) mengangkat kedua tangannya kepada-Nya, dan mengembalikannya dalam keadaan hampa (tidak mengabulkannya).“ (HR. Abu Dawud no. 1488) [5]Oleh karena itulah, terwujudnya doa dan keinginan orang-orang yang berobat ke dukun atau paranormal bisa jadi karena sebab-sebab di atas. Mereka berdoa kepada Allah Ta’ala seperti berdoanya orang yang benar-benar dalam kesulitan dan kesusahan. Hal ini bisa kita saksikan pada orang-orang yang datang ke dukun. Orang-orang yang sedang sakit (atau keluarga pasien) itu datang kepada dukun dalam kondisi kesusahan, terjepit, dan bisa jadi mereka menyadari bahwa tidak ada upaya lagi yang dapat dia tempuh selain berdoa kepada-Nya setelah upaya yang lain berakhir dengan sia-sia. Allah Ta’ala pun mengabulkan doa dan keinginan mereka, meskipun mereka menempuh cara-cara syirik seperti itu. Sehingga hal itu tidaklah menunjukkan benarnya cara yang mereka tempuh. [Bersambung]***Selesai disempurnakan di pagi hari, Rotterdam NL 1 Muharram 1439/21 September 2017Yang senantiasa membutuhkan ampunan Rabb-nya,Penulis: Muhammad Saifudin Hakim Artikel: Muslim.or.idCatatan kaki:[1]     HR. Ath-Thayalisi di dalam Musnad-nya, Ahmad (II/367), dan Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf. Dihasankan oleh Al-Albani dalam Shahih wa Dha’if Al-Jaami’ Ash-Shaghir, hadits no. 5694. Lihat pula Silsilah Ash-Shahihah, II/266.[2]     Terdapat di dalam Al-Jami’ Ash-Shaghir karya As-Suyuthi (Lihat Faidhul Qadir Syarh Al-Jami’ Ash-Shaghir karya Al-Manawi, 3/127, hadits no. 2915). Dihasankan oleh Al-Albani dalam Shahih wa Dha’if Al-Jaami’ Ash-Shaghir, hadits no. 4447.[3]     Iqtidha’ Shirathal Mustaqim, 2/167-168.[4]     Dua golongan itu disebutkan oleh Allah Ta’ala dalam dua ayat sebelumnya,مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْعَاجِلَةَ عَجَّلْنَا لَهُ فِيهَا مَا نَشَاءُ لِمَنْ نُرِيدُ ثُمَّ جَعَلْنَا لَهُ جَهَنَّمَ يَصْلَاهَا مَذْمُومًا مَدْحُورًا وَمَنْ أَرَادَ الْآَخِرَةَ وَسَعَى لَهَا سَعْيَهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَئِكَ كَانَ سَعْيُهُمْ مَشْكُورًا    “Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka kami segerakan baginya di dunia itu apa yang Kami kehendaki, bagi orang yang Kami kehendaki. Dan Kami tentukan baginya neraka jahannam, dia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir. Dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh, sedangkan dia adalah seorang mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalas dengan baik.” (QS. Al-Isra’ [17]: 18-19)[5]     Dinilai shahih oleh Al-Albani dalam Shahih wa Dha’if Sunan Abu Dawud. 🔍 Menjaga Lisan, Syarat Bertaubat, Wirid Sore, Cara Ikhlas Menerima Takdir Allah, Lagu Anak Muslim Asmaul Husna
Baca pembahasan sebelumnya: Kesembuhan Melalui Metode Syirik (Bag. 2)  Lalu Mengapa Keinginan Mereka Terkabul?Allah Ta’ala adalah Dzat Yang Maha adil dan Maha pemurah. Allah Ta’ala mengabulkan doa dan keinginan hamba-hambaNya yang berdoa kepada-Nya dalam kondisi terpejit, tidak berdaya, dan benar-benar berada dalam kesulitan. Orang-orang seperti itu, dia akan benar-benar ikhlas dalam berdoa, hatinya akan berkonsentrasi dalam berdoa, dan tidak disibukkan oleh perkara-perkara yang lain.Orang yang sedang dalam kondisi terjepit dan mengalami kesusahan, maka tidak ada sesuatu yang dapat memalingkan dan melalaikan hatinya dari apa yang dia butuhkan. Orang dalam kondisi seperti ini, doa dan keinginannya pasti dikabulkan, tidak peduli apakah dia seorang muslim, orang kafir, atau musyrik, apakah dia menempuh jalan yang sesuai dengan syariat, ataukah tidak. Allah Ta’ala berfirman,أَمْ مَنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ“Atau siapakah yang mengabulkan (doa) orang yang berada dalam kesulitan, apabila dia berdoa kepada-Nya?” (QS. An-Naml [27]: 62)Oleh karena itu pula, doa orang yang teraniaya itu pasti dikabulkan karena dalam kondisi teraniaya itu dia akan benar-benar ikhlas dalam berdoa. Meskipun dia adalah orang yang suka bermaksiat, bahkan orang kafir sekalipun. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,دعوة المظلوم مستجابة و إن كان فاجرا ففجوره على نفسه“Doa orang yang teraniaya itu pasti dikabulkan, meskipun dia suka berbuat jahat (maksiat). Karena kejahatannya itu akan kembali kepada dirinya sendiri.” [1] Demikian pula, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إياكم و دعوة المظلوم و إن كانت من كافر فإنه ليس لها حجاب دون الله عز و جل“Hati-hatilah kalian dengan doa orang yang teraniaya, meskipun orang kafir. Karena sesungguhnya tidak ada penghalang yang menghalangi doa tersebut dengan Allah Ta’ala.” [2]Bukti lainnya, Allah Ta’ala mengabulkan doa orang-orang musyrik yang sedang terkepung bahaya di lautan. Karena ketika dalam kondisi terjepit dan terkepung bahaya seperti itu, mereka betul-betul mengikhlaskan doanya kepada Allah Ta’ala, sangat berharap kepada-Nya, dan sangat khawatir kalau doanya tidak dikabulkan. Allah Ta’ala menceritakan tentang kondisi mereka,وَإِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فِي الْبَحْرِ ضَلَّ مَنْ تَدْعُونَ إِلَّا إِيَّاهُ فَلَمَّا نَجَّاكُمْ إِلَى الْبَرِّ أَعْرَضْتُمْ وَكَانَ الْإِنْسَانُ كَفُورًا“Dan apabila kamu ditimpa bahaya di lautan, niscaya hilanglah siapa yang kamu seru kecuali Dia. Maka ketika Dia menyelamatkan kamu ke daratan, kamu berpaling. Dan manusia itu selalu tidak berterima kasih.” (QS. Al-Isra’ [17]: 67)Lihatlah, bagaimana Allah Ta’ala mengabulkan doa mereka, padahal status mereka adalah orang-orang musyrik? Dari sini jelaslah bahwa terkabulnya doa atau terwujudnya keinginan tidaklah menunjukkan bahwa seseorang berada di atas kebenaran. Tidak pula menunjukkan benarnya cara atau metode yang ditempuh.Bagaimana mungkin kita menilai kebenaran dengan berpatokan pada terwujudnya keinginan, padahal Allah Ta’ala pun mengabulkan doa setan ketika setan berdoa kepada-Nya,قَالَ رَبِّ فَأَنْظِرْنِي إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ“Dia (setan) berdoa, ‘Ya Allah, tangguhkan usiaku hingga hari mereka dibangkitkan.’” (QS. Al-Hijr [15]: 36)Dan ternyata, Allah Ta’ala pun mengabulkan doa setan itu dalam firman-Nya,قَالَ فَإِنَّكَ مِنَ الْمُنْظَرِينَ إِلَى يَوْمِ الْوَقْتِ الْمَعْلُومِ“Dia (Allah) berfirman, ‘(Kalau begitu), sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang diberi tangguh sampai (suatu) waktu yang telah ditentukan.” (QS. Al-Hijr [15]: 37-38)Apakah dengan dikabulkannya doa setan itu, berarti Allah Ta’ala ridha dengan tindakan setan yang menyesatkan hamba-Nya di muka bumi? Apakah berarti setan berada dalam jalan kebenaran?Alangkah bagusnya penjelasan yang disampaikan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah ketika beliau menjelaskan sebab-sebab terkabulnya doa dan keinginan manusia. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengatakan,”Adapun terkabulnya doa, maka terkadang sebabnya adalah orang yang berdoa betul-betul sangat membutuhkan dan jujur dalam permohonannya. (Atau bisa jadi) sebabnya semata-mata adalah rahmat Allah Ta’ala kepadanya, atau terkadang karena memang itulah yang Allah tetapkan untuknya, bukan karena doanya. Dan bisa jadi karena sebab-sebab lainnya, sebagai ujian bagi orang yang berdoa. Sesungguhnya kita telah mengetahui bahwa orang kafir pun dikabulkan doanya, sehingga mereka pun diberi hujan, diberi kemenangan, diberi kesehatan, dan diberi rizki. Padahal mereka berdoa kepada berhala-berhala mereka dan ber-tawassul dengan mereka.” [3] Kemudian beliau mengutip firman Allah Ta’ala,كُلًّا نُمِدُّ هَؤُلَاءِ وَهَؤُلَاءِ مِنْ عَطَاءِ رَبِّكَ وَمَا كَانَ عَطَاءُ رَبِّكَ مَحْظُورًا“Kepada masing-masing golongan, baik golongan ini maupun golongan itu, kami berikan bantuan dari kemurahan Tuhanmu. Dan kemurahan Tuhanmu tidak dapat dihalangi.” (QS. Al-Isra’ [17]: 20) [4]Dan juga firman Allah Ta’ala,وَأَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِنَ الْإِنْسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِنَ الْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقًا“Bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin. Maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan.” (QS. Al-Jin [72]: 6)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ رَبَّكُمْ تَبَارَكَ وَتَعَالَى حَيِىٌّ كَرِيمٌ يَسْتَحْيِى مِنْ عَبْدِهِ إِذَا رَفَعَ يَدَيْهِ إِلَيْهِ أَنْ يَرُدَّهُمَا صِفْرًا“Sesungguhnya Rabb kalian Tabaaraka wa Ta’ala itu Maha  malu dan Maha mulia. Allah malu kepada hamba-Nya yang (berdoa) mengangkat kedua tangannya kepada-Nya, dan mengembalikannya dalam keadaan hampa (tidak mengabulkannya).“ (HR. Abu Dawud no. 1488) [5]Oleh karena itulah, terwujudnya doa dan keinginan orang-orang yang berobat ke dukun atau paranormal bisa jadi karena sebab-sebab di atas. Mereka berdoa kepada Allah Ta’ala seperti berdoanya orang yang benar-benar dalam kesulitan dan kesusahan. Hal ini bisa kita saksikan pada orang-orang yang datang ke dukun. Orang-orang yang sedang sakit (atau keluarga pasien) itu datang kepada dukun dalam kondisi kesusahan, terjepit, dan bisa jadi mereka menyadari bahwa tidak ada upaya lagi yang dapat dia tempuh selain berdoa kepada-Nya setelah upaya yang lain berakhir dengan sia-sia. Allah Ta’ala pun mengabulkan doa dan keinginan mereka, meskipun mereka menempuh cara-cara syirik seperti itu. Sehingga hal itu tidaklah menunjukkan benarnya cara yang mereka tempuh. [Bersambung]***Selesai disempurnakan di pagi hari, Rotterdam NL 1 Muharram 1439/21 September 2017Yang senantiasa membutuhkan ampunan Rabb-nya,Penulis: Muhammad Saifudin Hakim Artikel: Muslim.or.idCatatan kaki:[1]     HR. Ath-Thayalisi di dalam Musnad-nya, Ahmad (II/367), dan Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf. Dihasankan oleh Al-Albani dalam Shahih wa Dha’if Al-Jaami’ Ash-Shaghir, hadits no. 5694. Lihat pula Silsilah Ash-Shahihah, II/266.[2]     Terdapat di dalam Al-Jami’ Ash-Shaghir karya As-Suyuthi (Lihat Faidhul Qadir Syarh Al-Jami’ Ash-Shaghir karya Al-Manawi, 3/127, hadits no. 2915). Dihasankan oleh Al-Albani dalam Shahih wa Dha’if Al-Jaami’ Ash-Shaghir, hadits no. 4447.[3]     Iqtidha’ Shirathal Mustaqim, 2/167-168.[4]     Dua golongan itu disebutkan oleh Allah Ta’ala dalam dua ayat sebelumnya,مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْعَاجِلَةَ عَجَّلْنَا لَهُ فِيهَا مَا نَشَاءُ لِمَنْ نُرِيدُ ثُمَّ جَعَلْنَا لَهُ جَهَنَّمَ يَصْلَاهَا مَذْمُومًا مَدْحُورًا وَمَنْ أَرَادَ الْآَخِرَةَ وَسَعَى لَهَا سَعْيَهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَئِكَ كَانَ سَعْيُهُمْ مَشْكُورًا    “Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka kami segerakan baginya di dunia itu apa yang Kami kehendaki, bagi orang yang Kami kehendaki. Dan Kami tentukan baginya neraka jahannam, dia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir. Dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh, sedangkan dia adalah seorang mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalas dengan baik.” (QS. Al-Isra’ [17]: 18-19)[5]     Dinilai shahih oleh Al-Albani dalam Shahih wa Dha’if Sunan Abu Dawud. 🔍 Menjaga Lisan, Syarat Bertaubat, Wirid Sore, Cara Ikhlas Menerima Takdir Allah, Lagu Anak Muslim Asmaul Husna


Baca pembahasan sebelumnya: Kesembuhan Melalui Metode Syirik (Bag. 2)  Lalu Mengapa Keinginan Mereka Terkabul?Allah Ta’ala adalah Dzat Yang Maha adil dan Maha pemurah. Allah Ta’ala mengabulkan doa dan keinginan hamba-hambaNya yang berdoa kepada-Nya dalam kondisi terpejit, tidak berdaya, dan benar-benar berada dalam kesulitan. Orang-orang seperti itu, dia akan benar-benar ikhlas dalam berdoa, hatinya akan berkonsentrasi dalam berdoa, dan tidak disibukkan oleh perkara-perkara yang lain.Orang yang sedang dalam kondisi terjepit dan mengalami kesusahan, maka tidak ada sesuatu yang dapat memalingkan dan melalaikan hatinya dari apa yang dia butuhkan. Orang dalam kondisi seperti ini, doa dan keinginannya pasti dikabulkan, tidak peduli apakah dia seorang muslim, orang kafir, atau musyrik, apakah dia menempuh jalan yang sesuai dengan syariat, ataukah tidak. Allah Ta’ala berfirman,أَمْ مَنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ“Atau siapakah yang mengabulkan (doa) orang yang berada dalam kesulitan, apabila dia berdoa kepada-Nya?” (QS. An-Naml [27]: 62)Oleh karena itu pula, doa orang yang teraniaya itu pasti dikabulkan karena dalam kondisi teraniaya itu dia akan benar-benar ikhlas dalam berdoa. Meskipun dia adalah orang yang suka bermaksiat, bahkan orang kafir sekalipun. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,دعوة المظلوم مستجابة و إن كان فاجرا ففجوره على نفسه“Doa orang yang teraniaya itu pasti dikabulkan, meskipun dia suka berbuat jahat (maksiat). Karena kejahatannya itu akan kembali kepada dirinya sendiri.” [1] Demikian pula, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إياكم و دعوة المظلوم و إن كانت من كافر فإنه ليس لها حجاب دون الله عز و جل“Hati-hatilah kalian dengan doa orang yang teraniaya, meskipun orang kafir. Karena sesungguhnya tidak ada penghalang yang menghalangi doa tersebut dengan Allah Ta’ala.” [2]Bukti lainnya, Allah Ta’ala mengabulkan doa orang-orang musyrik yang sedang terkepung bahaya di lautan. Karena ketika dalam kondisi terjepit dan terkepung bahaya seperti itu, mereka betul-betul mengikhlaskan doanya kepada Allah Ta’ala, sangat berharap kepada-Nya, dan sangat khawatir kalau doanya tidak dikabulkan. Allah Ta’ala menceritakan tentang kondisi mereka,وَإِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فِي الْبَحْرِ ضَلَّ مَنْ تَدْعُونَ إِلَّا إِيَّاهُ فَلَمَّا نَجَّاكُمْ إِلَى الْبَرِّ أَعْرَضْتُمْ وَكَانَ الْإِنْسَانُ كَفُورًا“Dan apabila kamu ditimpa bahaya di lautan, niscaya hilanglah siapa yang kamu seru kecuali Dia. Maka ketika Dia menyelamatkan kamu ke daratan, kamu berpaling. Dan manusia itu selalu tidak berterima kasih.” (QS. Al-Isra’ [17]: 67)Lihatlah, bagaimana Allah Ta’ala mengabulkan doa mereka, padahal status mereka adalah orang-orang musyrik? Dari sini jelaslah bahwa terkabulnya doa atau terwujudnya keinginan tidaklah menunjukkan bahwa seseorang berada di atas kebenaran. Tidak pula menunjukkan benarnya cara atau metode yang ditempuh.Bagaimana mungkin kita menilai kebenaran dengan berpatokan pada terwujudnya keinginan, padahal Allah Ta’ala pun mengabulkan doa setan ketika setan berdoa kepada-Nya,قَالَ رَبِّ فَأَنْظِرْنِي إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ“Dia (setan) berdoa, ‘Ya Allah, tangguhkan usiaku hingga hari mereka dibangkitkan.’” (QS. Al-Hijr [15]: 36)Dan ternyata, Allah Ta’ala pun mengabulkan doa setan itu dalam firman-Nya,قَالَ فَإِنَّكَ مِنَ الْمُنْظَرِينَ إِلَى يَوْمِ الْوَقْتِ الْمَعْلُومِ“Dia (Allah) berfirman, ‘(Kalau begitu), sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang diberi tangguh sampai (suatu) waktu yang telah ditentukan.” (QS. Al-Hijr [15]: 37-38)Apakah dengan dikabulkannya doa setan itu, berarti Allah Ta’ala ridha dengan tindakan setan yang menyesatkan hamba-Nya di muka bumi? Apakah berarti setan berada dalam jalan kebenaran?Alangkah bagusnya penjelasan yang disampaikan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah ketika beliau menjelaskan sebab-sebab terkabulnya doa dan keinginan manusia. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengatakan,”Adapun terkabulnya doa, maka terkadang sebabnya adalah orang yang berdoa betul-betul sangat membutuhkan dan jujur dalam permohonannya. (Atau bisa jadi) sebabnya semata-mata adalah rahmat Allah Ta’ala kepadanya, atau terkadang karena memang itulah yang Allah tetapkan untuknya, bukan karena doanya. Dan bisa jadi karena sebab-sebab lainnya, sebagai ujian bagi orang yang berdoa. Sesungguhnya kita telah mengetahui bahwa orang kafir pun dikabulkan doanya, sehingga mereka pun diberi hujan, diberi kemenangan, diberi kesehatan, dan diberi rizki. Padahal mereka berdoa kepada berhala-berhala mereka dan ber-tawassul dengan mereka.” [3] Kemudian beliau mengutip firman Allah Ta’ala,كُلًّا نُمِدُّ هَؤُلَاءِ وَهَؤُلَاءِ مِنْ عَطَاءِ رَبِّكَ وَمَا كَانَ عَطَاءُ رَبِّكَ مَحْظُورًا“Kepada masing-masing golongan, baik golongan ini maupun golongan itu, kami berikan bantuan dari kemurahan Tuhanmu. Dan kemurahan Tuhanmu tidak dapat dihalangi.” (QS. Al-Isra’ [17]: 20) [4]Dan juga firman Allah Ta’ala,وَأَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِنَ الْإِنْسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِنَ الْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقًا“Bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin. Maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan.” (QS. Al-Jin [72]: 6)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ رَبَّكُمْ تَبَارَكَ وَتَعَالَى حَيِىٌّ كَرِيمٌ يَسْتَحْيِى مِنْ عَبْدِهِ إِذَا رَفَعَ يَدَيْهِ إِلَيْهِ أَنْ يَرُدَّهُمَا صِفْرًا“Sesungguhnya Rabb kalian Tabaaraka wa Ta’ala itu Maha  malu dan Maha mulia. Allah malu kepada hamba-Nya yang (berdoa) mengangkat kedua tangannya kepada-Nya, dan mengembalikannya dalam keadaan hampa (tidak mengabulkannya).“ (HR. Abu Dawud no. 1488) [5]Oleh karena itulah, terwujudnya doa dan keinginan orang-orang yang berobat ke dukun atau paranormal bisa jadi karena sebab-sebab di atas. Mereka berdoa kepada Allah Ta’ala seperti berdoanya orang yang benar-benar dalam kesulitan dan kesusahan. Hal ini bisa kita saksikan pada orang-orang yang datang ke dukun. Orang-orang yang sedang sakit (atau keluarga pasien) itu datang kepada dukun dalam kondisi kesusahan, terjepit, dan bisa jadi mereka menyadari bahwa tidak ada upaya lagi yang dapat dia tempuh selain berdoa kepada-Nya setelah upaya yang lain berakhir dengan sia-sia. Allah Ta’ala pun mengabulkan doa dan keinginan mereka, meskipun mereka menempuh cara-cara syirik seperti itu. Sehingga hal itu tidaklah menunjukkan benarnya cara yang mereka tempuh. [Bersambung]***Selesai disempurnakan di pagi hari, Rotterdam NL 1 Muharram 1439/21 September 2017Yang senantiasa membutuhkan ampunan Rabb-nya,Penulis: Muhammad Saifudin Hakim Artikel: Muslim.or.idCatatan kaki:[1]     HR. Ath-Thayalisi di dalam Musnad-nya, Ahmad (II/367), dan Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf. Dihasankan oleh Al-Albani dalam Shahih wa Dha’if Al-Jaami’ Ash-Shaghir, hadits no. 5694. Lihat pula Silsilah Ash-Shahihah, II/266.[2]     Terdapat di dalam Al-Jami’ Ash-Shaghir karya As-Suyuthi (Lihat Faidhul Qadir Syarh Al-Jami’ Ash-Shaghir karya Al-Manawi, 3/127, hadits no. 2915). Dihasankan oleh Al-Albani dalam Shahih wa Dha’if Al-Jaami’ Ash-Shaghir, hadits no. 4447.[3]     Iqtidha’ Shirathal Mustaqim, 2/167-168.[4]     Dua golongan itu disebutkan oleh Allah Ta’ala dalam dua ayat sebelumnya,مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْعَاجِلَةَ عَجَّلْنَا لَهُ فِيهَا مَا نَشَاءُ لِمَنْ نُرِيدُ ثُمَّ جَعَلْنَا لَهُ جَهَنَّمَ يَصْلَاهَا مَذْمُومًا مَدْحُورًا وَمَنْ أَرَادَ الْآَخِرَةَ وَسَعَى لَهَا سَعْيَهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَئِكَ كَانَ سَعْيُهُمْ مَشْكُورًا    “Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka kami segerakan baginya di dunia itu apa yang Kami kehendaki, bagi orang yang Kami kehendaki. Dan Kami tentukan baginya neraka jahannam, dia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir. Dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh, sedangkan dia adalah seorang mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalas dengan baik.” (QS. Al-Isra’ [17]: 18-19)[5]     Dinilai shahih oleh Al-Albani dalam Shahih wa Dha’if Sunan Abu Dawud. 🔍 Menjaga Lisan, Syarat Bertaubat, Wirid Sore, Cara Ikhlas Menerima Takdir Allah, Lagu Anak Muslim Asmaul Husna

Manhajus Salikin: Tartib dan Muwalah Saat Wudhu

Download   Sekarang kita lihat bagian terakhir dari cara wudhu yaitu tartib dan muwalah. Apa itu?   Kitab Ath-Thaharah (Bersuci), Bab Sifat Wudhu   Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata: 5- Mengerjakannya secara tartib (berurutan) sebagaimana urutan dalam ayat, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki.” (QS. Al-Maidah: 6) 6- Tidak memisah dengan jeda yang lama sesuai ‘urf ketika membasuh satu bagian dengan bagian lainnya di mana satu bagian dan lainnya bersambung saat dibasuh. Begitu pula segala sesuatu yang menyaratkan mesti ada muwalah.   Tartib (Berurutan) Ketika Melakukan Rukun Wudhu Ini adalah rukun kelima. Dalilnya adalah ayat wudhu (surah Al-Maidah ayat 6). Allah menyebutkannya secara berurutan dan meletakkan mengusap (pada kepala) di antara dua membasuh. Juga ketika ditunjukkan praktik wudhu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu berurutan dan beliau tidak pernah meninggalkan tartib tersebut. Tartib dalam wudhu adalah dengan memulai dari membasuh wajah, lalu membasuh kedua tangan sampai siku, lalu mengusap kepala, kemudian membasuh kedua kaki sampai mata kaki. Jika seseorang membasuh langsung empat anggota wudhunya satu kali siraman, maka tidaklah sah kecuali yang sah hanya membasuh wajahnya saja karena urutannya yang pertama. Lihat perkataan Imam Asy-Syairazi. (Al-Majmu’, 1:248)   Muwalah, Apa itu dan Bagaimana Hukumnya? Muwalah sebagaimana diterangkan oleh Syaikh As-Sa’di rahimahullah dalam kalimat beliau di atas, “Tidak memisah dengan jeda yang lama sesuai ‘urf ketika membasuh satu bagian dengan bagian lainnya di mana satu bagian dan lainnya bersambung saat dibasuh.” Muwalah ini beliau masukkan dalam rukun keenam dan dihukumi wajib. Artinya, jangan sampai satu anggota wudhu itu kering sebelum membasuh anggota berikutnya. Di antara alasan wajibnya adalah hadits dari Khalid bin Ma’dan, dari sebagian sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia berkata, أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- رَأَى رَجُلاً يُصَلِّى وَفِى ظَهْرِ قَدَمِهِ لُمْعَةٌ قَدْرُ الدِّرْهَمِ لَمْ يُصِبْهَا الْمَاءُ فَأَمَرَهُ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- أَنْ يُعِيدَ الْوُضُوءَ وَالصَّلاَةَ “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melihat seseorang shalat dalam keadaan punggung telapak kakinya terdapat bagian yang berkilau karena tidak terbasuh oleh air wudhu sebesar dirham. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan padanya untuk mengulangi wudhu dan shalatnya.” (HR. Abu Daud, no. 175. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini shahih, begitu pula Syaikh Al-Albani.) Seandainya muwalah tidak wajib, maka tentu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk membasuh bagian yang tidak terbasuh saja, tidak sampai memerintahkan mengulangi wudhu. ‘Umar bin Al-Khattab radhiyallahu ‘anhu mengatakan bahwa ada seseorang yang berwudhu lantas ia meninggalkan satu bagian sebesar kuku tidak terbasuh. Hal itu lantas dilihat oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lantas beliau bersabda, ارْجِعْ فَأَحْسِنْ وُضُوءَكَ “Ulangilah perbaguslah wudhumu.” (HR. Muslim, no. 243) Imam Nawawi rahimahullah menjelaskan, “Memisah sebentar antara anggota wudhu tidaklah bermasalah. Hal ini disepakati oleh para ulama.” (Al-Majmu’, 1:252). Yang beda pendapat di sini adalah kalau terjadi jeda yang lama. Pendapat Imam Syafi’i yang qadim (lama) tidak membolehkan, sedangkan pendapat jadid (baru) membolehkan tidak ada muwalah sebagaimana disebutkan oleh Imam Asy-Syairazi. Semoga menjadi ilmu yang bermanfaat. Dengan ini berakhirlah pembahasan tata cara wudhu.   Referensi: Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab. Cetakan kedua, Tahun 1427 H. Yahya bin Syarf An-Nawawi. Penerbit Dar ‘Alam Al-Kutub. Syarh Manhaj As-Salikin. Cetakan ketiga, Tahun 1435 H. Dr. Sulaiman bin ‘Abdillah Al-Qushair. Penerbit Maktabah Dar Al-Minhaj. hlm. 50-51. — Disusun di Pesantren Darush Sholihin, Kamis sore, 12 Rabi’ul Awwal 1439 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagscara wudhu manhajus salikin

Manhajus Salikin: Tartib dan Muwalah Saat Wudhu

Download   Sekarang kita lihat bagian terakhir dari cara wudhu yaitu tartib dan muwalah. Apa itu?   Kitab Ath-Thaharah (Bersuci), Bab Sifat Wudhu   Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata: 5- Mengerjakannya secara tartib (berurutan) sebagaimana urutan dalam ayat, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki.” (QS. Al-Maidah: 6) 6- Tidak memisah dengan jeda yang lama sesuai ‘urf ketika membasuh satu bagian dengan bagian lainnya di mana satu bagian dan lainnya bersambung saat dibasuh. Begitu pula segala sesuatu yang menyaratkan mesti ada muwalah.   Tartib (Berurutan) Ketika Melakukan Rukun Wudhu Ini adalah rukun kelima. Dalilnya adalah ayat wudhu (surah Al-Maidah ayat 6). Allah menyebutkannya secara berurutan dan meletakkan mengusap (pada kepala) di antara dua membasuh. Juga ketika ditunjukkan praktik wudhu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu berurutan dan beliau tidak pernah meninggalkan tartib tersebut. Tartib dalam wudhu adalah dengan memulai dari membasuh wajah, lalu membasuh kedua tangan sampai siku, lalu mengusap kepala, kemudian membasuh kedua kaki sampai mata kaki. Jika seseorang membasuh langsung empat anggota wudhunya satu kali siraman, maka tidaklah sah kecuali yang sah hanya membasuh wajahnya saja karena urutannya yang pertama. Lihat perkataan Imam Asy-Syairazi. (Al-Majmu’, 1:248)   Muwalah, Apa itu dan Bagaimana Hukumnya? Muwalah sebagaimana diterangkan oleh Syaikh As-Sa’di rahimahullah dalam kalimat beliau di atas, “Tidak memisah dengan jeda yang lama sesuai ‘urf ketika membasuh satu bagian dengan bagian lainnya di mana satu bagian dan lainnya bersambung saat dibasuh.” Muwalah ini beliau masukkan dalam rukun keenam dan dihukumi wajib. Artinya, jangan sampai satu anggota wudhu itu kering sebelum membasuh anggota berikutnya. Di antara alasan wajibnya adalah hadits dari Khalid bin Ma’dan, dari sebagian sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia berkata, أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- رَأَى رَجُلاً يُصَلِّى وَفِى ظَهْرِ قَدَمِهِ لُمْعَةٌ قَدْرُ الدِّرْهَمِ لَمْ يُصِبْهَا الْمَاءُ فَأَمَرَهُ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- أَنْ يُعِيدَ الْوُضُوءَ وَالصَّلاَةَ “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melihat seseorang shalat dalam keadaan punggung telapak kakinya terdapat bagian yang berkilau karena tidak terbasuh oleh air wudhu sebesar dirham. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan padanya untuk mengulangi wudhu dan shalatnya.” (HR. Abu Daud, no. 175. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini shahih, begitu pula Syaikh Al-Albani.) Seandainya muwalah tidak wajib, maka tentu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk membasuh bagian yang tidak terbasuh saja, tidak sampai memerintahkan mengulangi wudhu. ‘Umar bin Al-Khattab radhiyallahu ‘anhu mengatakan bahwa ada seseorang yang berwudhu lantas ia meninggalkan satu bagian sebesar kuku tidak terbasuh. Hal itu lantas dilihat oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lantas beliau bersabda, ارْجِعْ فَأَحْسِنْ وُضُوءَكَ “Ulangilah perbaguslah wudhumu.” (HR. Muslim, no. 243) Imam Nawawi rahimahullah menjelaskan, “Memisah sebentar antara anggota wudhu tidaklah bermasalah. Hal ini disepakati oleh para ulama.” (Al-Majmu’, 1:252). Yang beda pendapat di sini adalah kalau terjadi jeda yang lama. Pendapat Imam Syafi’i yang qadim (lama) tidak membolehkan, sedangkan pendapat jadid (baru) membolehkan tidak ada muwalah sebagaimana disebutkan oleh Imam Asy-Syairazi. Semoga menjadi ilmu yang bermanfaat. Dengan ini berakhirlah pembahasan tata cara wudhu.   Referensi: Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab. Cetakan kedua, Tahun 1427 H. Yahya bin Syarf An-Nawawi. Penerbit Dar ‘Alam Al-Kutub. Syarh Manhaj As-Salikin. Cetakan ketiga, Tahun 1435 H. Dr. Sulaiman bin ‘Abdillah Al-Qushair. Penerbit Maktabah Dar Al-Minhaj. hlm. 50-51. — Disusun di Pesantren Darush Sholihin, Kamis sore, 12 Rabi’ul Awwal 1439 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagscara wudhu manhajus salikin
Download   Sekarang kita lihat bagian terakhir dari cara wudhu yaitu tartib dan muwalah. Apa itu?   Kitab Ath-Thaharah (Bersuci), Bab Sifat Wudhu   Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata: 5- Mengerjakannya secara tartib (berurutan) sebagaimana urutan dalam ayat, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki.” (QS. Al-Maidah: 6) 6- Tidak memisah dengan jeda yang lama sesuai ‘urf ketika membasuh satu bagian dengan bagian lainnya di mana satu bagian dan lainnya bersambung saat dibasuh. Begitu pula segala sesuatu yang menyaratkan mesti ada muwalah.   Tartib (Berurutan) Ketika Melakukan Rukun Wudhu Ini adalah rukun kelima. Dalilnya adalah ayat wudhu (surah Al-Maidah ayat 6). Allah menyebutkannya secara berurutan dan meletakkan mengusap (pada kepala) di antara dua membasuh. Juga ketika ditunjukkan praktik wudhu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu berurutan dan beliau tidak pernah meninggalkan tartib tersebut. Tartib dalam wudhu adalah dengan memulai dari membasuh wajah, lalu membasuh kedua tangan sampai siku, lalu mengusap kepala, kemudian membasuh kedua kaki sampai mata kaki. Jika seseorang membasuh langsung empat anggota wudhunya satu kali siraman, maka tidaklah sah kecuali yang sah hanya membasuh wajahnya saja karena urutannya yang pertama. Lihat perkataan Imam Asy-Syairazi. (Al-Majmu’, 1:248)   Muwalah, Apa itu dan Bagaimana Hukumnya? Muwalah sebagaimana diterangkan oleh Syaikh As-Sa’di rahimahullah dalam kalimat beliau di atas, “Tidak memisah dengan jeda yang lama sesuai ‘urf ketika membasuh satu bagian dengan bagian lainnya di mana satu bagian dan lainnya bersambung saat dibasuh.” Muwalah ini beliau masukkan dalam rukun keenam dan dihukumi wajib. Artinya, jangan sampai satu anggota wudhu itu kering sebelum membasuh anggota berikutnya. Di antara alasan wajibnya adalah hadits dari Khalid bin Ma’dan, dari sebagian sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia berkata, أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- رَأَى رَجُلاً يُصَلِّى وَفِى ظَهْرِ قَدَمِهِ لُمْعَةٌ قَدْرُ الدِّرْهَمِ لَمْ يُصِبْهَا الْمَاءُ فَأَمَرَهُ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- أَنْ يُعِيدَ الْوُضُوءَ وَالصَّلاَةَ “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melihat seseorang shalat dalam keadaan punggung telapak kakinya terdapat bagian yang berkilau karena tidak terbasuh oleh air wudhu sebesar dirham. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan padanya untuk mengulangi wudhu dan shalatnya.” (HR. Abu Daud, no. 175. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini shahih, begitu pula Syaikh Al-Albani.) Seandainya muwalah tidak wajib, maka tentu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk membasuh bagian yang tidak terbasuh saja, tidak sampai memerintahkan mengulangi wudhu. ‘Umar bin Al-Khattab radhiyallahu ‘anhu mengatakan bahwa ada seseorang yang berwudhu lantas ia meninggalkan satu bagian sebesar kuku tidak terbasuh. Hal itu lantas dilihat oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lantas beliau bersabda, ارْجِعْ فَأَحْسِنْ وُضُوءَكَ “Ulangilah perbaguslah wudhumu.” (HR. Muslim, no. 243) Imam Nawawi rahimahullah menjelaskan, “Memisah sebentar antara anggota wudhu tidaklah bermasalah. Hal ini disepakati oleh para ulama.” (Al-Majmu’, 1:252). Yang beda pendapat di sini adalah kalau terjadi jeda yang lama. Pendapat Imam Syafi’i yang qadim (lama) tidak membolehkan, sedangkan pendapat jadid (baru) membolehkan tidak ada muwalah sebagaimana disebutkan oleh Imam Asy-Syairazi. Semoga menjadi ilmu yang bermanfaat. Dengan ini berakhirlah pembahasan tata cara wudhu.   Referensi: Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab. Cetakan kedua, Tahun 1427 H. Yahya bin Syarf An-Nawawi. Penerbit Dar ‘Alam Al-Kutub. Syarh Manhaj As-Salikin. Cetakan ketiga, Tahun 1435 H. Dr. Sulaiman bin ‘Abdillah Al-Qushair. Penerbit Maktabah Dar Al-Minhaj. hlm. 50-51. — Disusun di Pesantren Darush Sholihin, Kamis sore, 12 Rabi’ul Awwal 1439 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagscara wudhu manhajus salikin


Download   Sekarang kita lihat bagian terakhir dari cara wudhu yaitu tartib dan muwalah. Apa itu?   Kitab Ath-Thaharah (Bersuci), Bab Sifat Wudhu   Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata: 5- Mengerjakannya secara tartib (berurutan) sebagaimana urutan dalam ayat, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki.” (QS. Al-Maidah: 6) 6- Tidak memisah dengan jeda yang lama sesuai ‘urf ketika membasuh satu bagian dengan bagian lainnya di mana satu bagian dan lainnya bersambung saat dibasuh. Begitu pula segala sesuatu yang menyaratkan mesti ada muwalah.   Tartib (Berurutan) Ketika Melakukan Rukun Wudhu Ini adalah rukun kelima. Dalilnya adalah ayat wudhu (surah Al-Maidah ayat 6). Allah menyebutkannya secara berurutan dan meletakkan mengusap (pada kepala) di antara dua membasuh. Juga ketika ditunjukkan praktik wudhu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu berurutan dan beliau tidak pernah meninggalkan tartib tersebut. Tartib dalam wudhu adalah dengan memulai dari membasuh wajah, lalu membasuh kedua tangan sampai siku, lalu mengusap kepala, kemudian membasuh kedua kaki sampai mata kaki. Jika seseorang membasuh langsung empat anggota wudhunya satu kali siraman, maka tidaklah sah kecuali yang sah hanya membasuh wajahnya saja karena urutannya yang pertama. Lihat perkataan Imam Asy-Syairazi. (Al-Majmu’, 1:248)   Muwalah, Apa itu dan Bagaimana Hukumnya? Muwalah sebagaimana diterangkan oleh Syaikh As-Sa’di rahimahullah dalam kalimat beliau di atas, “Tidak memisah dengan jeda yang lama sesuai ‘urf ketika membasuh satu bagian dengan bagian lainnya di mana satu bagian dan lainnya bersambung saat dibasuh.” Muwalah ini beliau masukkan dalam rukun keenam dan dihukumi wajib. Artinya, jangan sampai satu anggota wudhu itu kering sebelum membasuh anggota berikutnya. Di antara alasan wajibnya adalah hadits dari Khalid bin Ma’dan, dari sebagian sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia berkata, أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- رَأَى رَجُلاً يُصَلِّى وَفِى ظَهْرِ قَدَمِهِ لُمْعَةٌ قَدْرُ الدِّرْهَمِ لَمْ يُصِبْهَا الْمَاءُ فَأَمَرَهُ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- أَنْ يُعِيدَ الْوُضُوءَ وَالصَّلاَةَ “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melihat seseorang shalat dalam keadaan punggung telapak kakinya terdapat bagian yang berkilau karena tidak terbasuh oleh air wudhu sebesar dirham. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan padanya untuk mengulangi wudhu dan shalatnya.” (HR. Abu Daud, no. 175. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini shahih, begitu pula Syaikh Al-Albani.) Seandainya muwalah tidak wajib, maka tentu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk membasuh bagian yang tidak terbasuh saja, tidak sampai memerintahkan mengulangi wudhu. ‘Umar bin Al-Khattab radhiyallahu ‘anhu mengatakan bahwa ada seseorang yang berwudhu lantas ia meninggalkan satu bagian sebesar kuku tidak terbasuh. Hal itu lantas dilihat oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lantas beliau bersabda, ارْجِعْ فَأَحْسِنْ وُضُوءَكَ “Ulangilah perbaguslah wudhumu.” (HR. Muslim, no. 243) Imam Nawawi rahimahullah menjelaskan, “Memisah sebentar antara anggota wudhu tidaklah bermasalah. Hal ini disepakati oleh para ulama.” (Al-Majmu’, 1:252). Yang beda pendapat di sini adalah kalau terjadi jeda yang lama. Pendapat Imam Syafi’i yang qadim (lama) tidak membolehkan, sedangkan pendapat jadid (baru) membolehkan tidak ada muwalah sebagaimana disebutkan oleh Imam Asy-Syairazi. Semoga menjadi ilmu yang bermanfaat. Dengan ini berakhirlah pembahasan tata cara wudhu.   Referensi: Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab. Cetakan kedua, Tahun 1427 H. Yahya bin Syarf An-Nawawi. Penerbit Dar ‘Alam Al-Kutub. Syarh Manhaj As-Salikin. Cetakan ketiga, Tahun 1435 H. Dr. Sulaiman bin ‘Abdillah Al-Qushair. Penerbit Maktabah Dar Al-Minhaj. hlm. 50-51. — Disusun di Pesantren Darush Sholihin, Kamis sore, 12 Rabi’ul Awwal 1439 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagscara wudhu manhajus salikin

Doa Mohon Ridha Allah Ketika Sujud

Download   Doa ini bagus dibaca ketika sujud untuk memohon ridha Allah.   Riyadhus Sholihin, Kitab Al-Adzkar, Bab Keutamaan Dzikir dan Dorongan untuk Berdzikir Hadits #1430 وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا، قَالَتْ : اِفْتَقَدْتُ النَّبِيَّ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ، ذَاتَ لَيْلَةٍ ، فَتَحَسَّسْتُ ، فَإِذَا هُوَ رَاكِعٌ – أَوْ سَاجِدٌ – يَقُولُ : (( سُبْحَانَكَ وَبِحَمْدِكَ ، لاَ إلهَ إِلاَّ أَنْتَ )) وَفِي رِوَايَةٍ : فَوَقَعَتْ يَدِي عَلَى بَطْنِ قَدَمَيْهِ ، وَهُوَ في المَسْجِدِ وَهُمَا مَنْصُوبَتَانِ ، وَهُوَ يَقُولُ : (( اللَّهُمَّ إنِّي أَعُوذُ بِرِضَاكَ مِنْ سَخَطِكَ ، وَبِمُعَافَاتِكَ مِنْ عُقُوبَتِكَ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْكَ، لاَ أُحْصِي ثَنَاءً عَلَيْكَ أنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ )). رَوَاهُ مُسْلِمٌ ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkatas, “Aku kehilangan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada suatu malam, maka aku mencarinya. Aku meraba-raba ternyata beliau sedang rukuk—atau sujud—beliau mengucapkan, ‘SUBHAANAKA WA BIHAMDIKA LAA ILAAHA ILLA ANTA’ (Mahasuci Engkau dan dengan memuji-Mu, tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau).’” Di dalam riwayat lain disebutkan, “Maka tanganku (‘Aisyah) mengenai telapak kakinya saat beliau sedang sujud dengan posisi telapak kaki tertancap, beliau sambil mengucapkan, ‘ALLOHUMMA INNI A’UDZU BI RIDHOOKA MIN SAKHOTIK, WA BIMU’AAFAATIKA MIN ‘UQUUBATIK WA A’UDZU BIKA MINKA, LAA UH-SHII TSANAA-AN ‘ALAIK, ANTA KAMAA ATSNAITA ‘ALA NAFSIK’ (Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung dengan ridha-Mu dari murka-Mu, dengan maaf-Mu dari hukuman-Mu, dan aku berlindung kepada-Mu dari-Mu, aku tidak dapat menghitung sanjungan untuk-Mu, sebagaimana Engkau menyanjung diri-Mu sendiri).” (HR. Muslim, no. 486) Penjelasan: Bolehnya melakukan shalat malam tanpa membangunkan anggota keluarga karena ada uzur atau pun tidak ada uzur. Namun yang lebih baik adalah membangunkan keluarga untuk diajak shalat malam. Ini jadi dalil oleh sebagian ulama bahwa menyentuh lawan jenis tidaklah membatalkan wudhu. Kalaulah wudhu itu batal karena bersentuhan dengan lawan jenis, maka tentu shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam batal ketika disentuh oleh ‘Aisyah. Cara sujud adalah dengan menancapkan telapak kaki serta sempurna dalam ketundukan dan kecintaan. Tidak ada tempat kembali (memohon ampun atas dosa) kecuali kepada Allah. Orang yang merugi adalah yang terhalang dari kembali kepada-Nya. Disunnahkan memuji kepada Allah dengan menyebut nama dan sifat-Nya, begitu pula berdoa dengan menyebut nama-nama Allah yang ada dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah. Beristighfar dari kekurangan dalam melakukan yang wajib termasuk kewajiban kepada Allah dan menyanjung-Nya. Kita tidak dapat menghitung pujian pada Allah.   Referensi: Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim. Cetakan pertama, Tahun 1433 H. Yahya bin Syarf An-Nawawi. Penerbit Dar Ibnu Hazm. 4:182. Bahjah An-Nazhirin Syarh Riyadh Ash-Shalihin. Cetakan pertama, Tahun 1430 H. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. 2:456.   Doa yang Sama Dibaca Bada Witir Dari ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca di akhir witirnya, “ALLOHUMMA INNI A’UDZU BI RIDOOKA MIN SAKHOTIK WA BI MU’AAFAATIKA MIN ‘UQUBATIK, WA A’UDZU BIKA MINKA LAA UH-SHI TSANAA-AN ‘ALAIK, ANTA KAMAA ATSNAITA ‘ALA NAFSIK” -dibaca 1x- (Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung dengan ridha-Mu dari murka-Mu, dengan maaf-Mu dari hukuman-Mu, dan aku berlindung kepada-Mu dari-Mu, aku tidak dapat menghitung sanjungan untuk-Mu, sebagaimana Engkau menyanjung diri-Mu sendiri). (HR. Abu Daud no. 1427, Tirmidzi no. 3566, An-Nasa’i no. 1748 dan Ibnu Majah no. 1179. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih) Semoga bermanfaat. — Disusun di Pesantren Darush Sholihin, Kamis sore, 12 Rabi’ul Awwal 1439 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsdoa ketika sujud doa sujud

Doa Mohon Ridha Allah Ketika Sujud

Download   Doa ini bagus dibaca ketika sujud untuk memohon ridha Allah.   Riyadhus Sholihin, Kitab Al-Adzkar, Bab Keutamaan Dzikir dan Dorongan untuk Berdzikir Hadits #1430 وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا، قَالَتْ : اِفْتَقَدْتُ النَّبِيَّ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ، ذَاتَ لَيْلَةٍ ، فَتَحَسَّسْتُ ، فَإِذَا هُوَ رَاكِعٌ – أَوْ سَاجِدٌ – يَقُولُ : (( سُبْحَانَكَ وَبِحَمْدِكَ ، لاَ إلهَ إِلاَّ أَنْتَ )) وَفِي رِوَايَةٍ : فَوَقَعَتْ يَدِي عَلَى بَطْنِ قَدَمَيْهِ ، وَهُوَ في المَسْجِدِ وَهُمَا مَنْصُوبَتَانِ ، وَهُوَ يَقُولُ : (( اللَّهُمَّ إنِّي أَعُوذُ بِرِضَاكَ مِنْ سَخَطِكَ ، وَبِمُعَافَاتِكَ مِنْ عُقُوبَتِكَ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْكَ، لاَ أُحْصِي ثَنَاءً عَلَيْكَ أنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ )). رَوَاهُ مُسْلِمٌ ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkatas, “Aku kehilangan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada suatu malam, maka aku mencarinya. Aku meraba-raba ternyata beliau sedang rukuk—atau sujud—beliau mengucapkan, ‘SUBHAANAKA WA BIHAMDIKA LAA ILAAHA ILLA ANTA’ (Mahasuci Engkau dan dengan memuji-Mu, tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau).’” Di dalam riwayat lain disebutkan, “Maka tanganku (‘Aisyah) mengenai telapak kakinya saat beliau sedang sujud dengan posisi telapak kaki tertancap, beliau sambil mengucapkan, ‘ALLOHUMMA INNI A’UDZU BI RIDHOOKA MIN SAKHOTIK, WA BIMU’AAFAATIKA MIN ‘UQUUBATIK WA A’UDZU BIKA MINKA, LAA UH-SHII TSANAA-AN ‘ALAIK, ANTA KAMAA ATSNAITA ‘ALA NAFSIK’ (Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung dengan ridha-Mu dari murka-Mu, dengan maaf-Mu dari hukuman-Mu, dan aku berlindung kepada-Mu dari-Mu, aku tidak dapat menghitung sanjungan untuk-Mu, sebagaimana Engkau menyanjung diri-Mu sendiri).” (HR. Muslim, no. 486) Penjelasan: Bolehnya melakukan shalat malam tanpa membangunkan anggota keluarga karena ada uzur atau pun tidak ada uzur. Namun yang lebih baik adalah membangunkan keluarga untuk diajak shalat malam. Ini jadi dalil oleh sebagian ulama bahwa menyentuh lawan jenis tidaklah membatalkan wudhu. Kalaulah wudhu itu batal karena bersentuhan dengan lawan jenis, maka tentu shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam batal ketika disentuh oleh ‘Aisyah. Cara sujud adalah dengan menancapkan telapak kaki serta sempurna dalam ketundukan dan kecintaan. Tidak ada tempat kembali (memohon ampun atas dosa) kecuali kepada Allah. Orang yang merugi adalah yang terhalang dari kembali kepada-Nya. Disunnahkan memuji kepada Allah dengan menyebut nama dan sifat-Nya, begitu pula berdoa dengan menyebut nama-nama Allah yang ada dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah. Beristighfar dari kekurangan dalam melakukan yang wajib termasuk kewajiban kepada Allah dan menyanjung-Nya. Kita tidak dapat menghitung pujian pada Allah.   Referensi: Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim. Cetakan pertama, Tahun 1433 H. Yahya bin Syarf An-Nawawi. Penerbit Dar Ibnu Hazm. 4:182. Bahjah An-Nazhirin Syarh Riyadh Ash-Shalihin. Cetakan pertama, Tahun 1430 H. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. 2:456.   Doa yang Sama Dibaca Bada Witir Dari ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca di akhir witirnya, “ALLOHUMMA INNI A’UDZU BI RIDOOKA MIN SAKHOTIK WA BI MU’AAFAATIKA MIN ‘UQUBATIK, WA A’UDZU BIKA MINKA LAA UH-SHI TSANAA-AN ‘ALAIK, ANTA KAMAA ATSNAITA ‘ALA NAFSIK” -dibaca 1x- (Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung dengan ridha-Mu dari murka-Mu, dengan maaf-Mu dari hukuman-Mu, dan aku berlindung kepada-Mu dari-Mu, aku tidak dapat menghitung sanjungan untuk-Mu, sebagaimana Engkau menyanjung diri-Mu sendiri). (HR. Abu Daud no. 1427, Tirmidzi no. 3566, An-Nasa’i no. 1748 dan Ibnu Majah no. 1179. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih) Semoga bermanfaat. — Disusun di Pesantren Darush Sholihin, Kamis sore, 12 Rabi’ul Awwal 1439 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsdoa ketika sujud doa sujud
Download   Doa ini bagus dibaca ketika sujud untuk memohon ridha Allah.   Riyadhus Sholihin, Kitab Al-Adzkar, Bab Keutamaan Dzikir dan Dorongan untuk Berdzikir Hadits #1430 وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا، قَالَتْ : اِفْتَقَدْتُ النَّبِيَّ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ، ذَاتَ لَيْلَةٍ ، فَتَحَسَّسْتُ ، فَإِذَا هُوَ رَاكِعٌ – أَوْ سَاجِدٌ – يَقُولُ : (( سُبْحَانَكَ وَبِحَمْدِكَ ، لاَ إلهَ إِلاَّ أَنْتَ )) وَفِي رِوَايَةٍ : فَوَقَعَتْ يَدِي عَلَى بَطْنِ قَدَمَيْهِ ، وَهُوَ في المَسْجِدِ وَهُمَا مَنْصُوبَتَانِ ، وَهُوَ يَقُولُ : (( اللَّهُمَّ إنِّي أَعُوذُ بِرِضَاكَ مِنْ سَخَطِكَ ، وَبِمُعَافَاتِكَ مِنْ عُقُوبَتِكَ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْكَ، لاَ أُحْصِي ثَنَاءً عَلَيْكَ أنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ )). رَوَاهُ مُسْلِمٌ ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkatas, “Aku kehilangan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada suatu malam, maka aku mencarinya. Aku meraba-raba ternyata beliau sedang rukuk—atau sujud—beliau mengucapkan, ‘SUBHAANAKA WA BIHAMDIKA LAA ILAAHA ILLA ANTA’ (Mahasuci Engkau dan dengan memuji-Mu, tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau).’” Di dalam riwayat lain disebutkan, “Maka tanganku (‘Aisyah) mengenai telapak kakinya saat beliau sedang sujud dengan posisi telapak kaki tertancap, beliau sambil mengucapkan, ‘ALLOHUMMA INNI A’UDZU BI RIDHOOKA MIN SAKHOTIK, WA BIMU’AAFAATIKA MIN ‘UQUUBATIK WA A’UDZU BIKA MINKA, LAA UH-SHII TSANAA-AN ‘ALAIK, ANTA KAMAA ATSNAITA ‘ALA NAFSIK’ (Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung dengan ridha-Mu dari murka-Mu, dengan maaf-Mu dari hukuman-Mu, dan aku berlindung kepada-Mu dari-Mu, aku tidak dapat menghitung sanjungan untuk-Mu, sebagaimana Engkau menyanjung diri-Mu sendiri).” (HR. Muslim, no. 486) Penjelasan: Bolehnya melakukan shalat malam tanpa membangunkan anggota keluarga karena ada uzur atau pun tidak ada uzur. Namun yang lebih baik adalah membangunkan keluarga untuk diajak shalat malam. Ini jadi dalil oleh sebagian ulama bahwa menyentuh lawan jenis tidaklah membatalkan wudhu. Kalaulah wudhu itu batal karena bersentuhan dengan lawan jenis, maka tentu shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam batal ketika disentuh oleh ‘Aisyah. Cara sujud adalah dengan menancapkan telapak kaki serta sempurna dalam ketundukan dan kecintaan. Tidak ada tempat kembali (memohon ampun atas dosa) kecuali kepada Allah. Orang yang merugi adalah yang terhalang dari kembali kepada-Nya. Disunnahkan memuji kepada Allah dengan menyebut nama dan sifat-Nya, begitu pula berdoa dengan menyebut nama-nama Allah yang ada dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah. Beristighfar dari kekurangan dalam melakukan yang wajib termasuk kewajiban kepada Allah dan menyanjung-Nya. Kita tidak dapat menghitung pujian pada Allah.   Referensi: Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim. Cetakan pertama, Tahun 1433 H. Yahya bin Syarf An-Nawawi. Penerbit Dar Ibnu Hazm. 4:182. Bahjah An-Nazhirin Syarh Riyadh Ash-Shalihin. Cetakan pertama, Tahun 1430 H. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. 2:456.   Doa yang Sama Dibaca Bada Witir Dari ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca di akhir witirnya, “ALLOHUMMA INNI A’UDZU BI RIDOOKA MIN SAKHOTIK WA BI MU’AAFAATIKA MIN ‘UQUBATIK, WA A’UDZU BIKA MINKA LAA UH-SHI TSANAA-AN ‘ALAIK, ANTA KAMAA ATSNAITA ‘ALA NAFSIK” -dibaca 1x- (Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung dengan ridha-Mu dari murka-Mu, dengan maaf-Mu dari hukuman-Mu, dan aku berlindung kepada-Mu dari-Mu, aku tidak dapat menghitung sanjungan untuk-Mu, sebagaimana Engkau menyanjung diri-Mu sendiri). (HR. Abu Daud no. 1427, Tirmidzi no. 3566, An-Nasa’i no. 1748 dan Ibnu Majah no. 1179. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih) Semoga bermanfaat. — Disusun di Pesantren Darush Sholihin, Kamis sore, 12 Rabi’ul Awwal 1439 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsdoa ketika sujud doa sujud


Download   Doa ini bagus dibaca ketika sujud untuk memohon ridha Allah.   Riyadhus Sholihin, Kitab Al-Adzkar, Bab Keutamaan Dzikir dan Dorongan untuk Berdzikir Hadits #1430 وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا، قَالَتْ : اِفْتَقَدْتُ النَّبِيَّ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ، ذَاتَ لَيْلَةٍ ، فَتَحَسَّسْتُ ، فَإِذَا هُوَ رَاكِعٌ – أَوْ سَاجِدٌ – يَقُولُ : (( سُبْحَانَكَ وَبِحَمْدِكَ ، لاَ إلهَ إِلاَّ أَنْتَ )) وَفِي رِوَايَةٍ : فَوَقَعَتْ يَدِي عَلَى بَطْنِ قَدَمَيْهِ ، وَهُوَ في المَسْجِدِ وَهُمَا مَنْصُوبَتَانِ ، وَهُوَ يَقُولُ : (( اللَّهُمَّ إنِّي أَعُوذُ بِرِضَاكَ مِنْ سَخَطِكَ ، وَبِمُعَافَاتِكَ مِنْ عُقُوبَتِكَ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْكَ، لاَ أُحْصِي ثَنَاءً عَلَيْكَ أنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ )). رَوَاهُ مُسْلِمٌ ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkatas, “Aku kehilangan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada suatu malam, maka aku mencarinya. Aku meraba-raba ternyata beliau sedang rukuk—atau sujud—beliau mengucapkan, ‘SUBHAANAKA WA BIHAMDIKA LAA ILAAHA ILLA ANTA’ (Mahasuci Engkau dan dengan memuji-Mu, tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau).’” Di dalam riwayat lain disebutkan, “Maka tanganku (‘Aisyah) mengenai telapak kakinya saat beliau sedang sujud dengan posisi telapak kaki tertancap, beliau sambil mengucapkan, ‘ALLOHUMMA INNI A’UDZU BI RIDHOOKA MIN SAKHOTIK, WA BIMU’AAFAATIKA MIN ‘UQUUBATIK WA A’UDZU BIKA MINKA, LAA UH-SHII TSANAA-AN ‘ALAIK, ANTA KAMAA ATSNAITA ‘ALA NAFSIK’ (Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung dengan ridha-Mu dari murka-Mu, dengan maaf-Mu dari hukuman-Mu, dan aku berlindung kepada-Mu dari-Mu, aku tidak dapat menghitung sanjungan untuk-Mu, sebagaimana Engkau menyanjung diri-Mu sendiri).” (HR. Muslim, no. 486) Penjelasan: Bolehnya melakukan shalat malam tanpa membangunkan anggota keluarga karena ada uzur atau pun tidak ada uzur. Namun yang lebih baik adalah membangunkan keluarga untuk diajak shalat malam. Ini jadi dalil oleh sebagian ulama bahwa menyentuh lawan jenis tidaklah membatalkan wudhu. Kalaulah wudhu itu batal karena bersentuhan dengan lawan jenis, maka tentu shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam batal ketika disentuh oleh ‘Aisyah. Cara sujud adalah dengan menancapkan telapak kaki serta sempurna dalam ketundukan dan kecintaan. Tidak ada tempat kembali (memohon ampun atas dosa) kecuali kepada Allah. Orang yang merugi adalah yang terhalang dari kembali kepada-Nya. Disunnahkan memuji kepada Allah dengan menyebut nama dan sifat-Nya, begitu pula berdoa dengan menyebut nama-nama Allah yang ada dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah. Beristighfar dari kekurangan dalam melakukan yang wajib termasuk kewajiban kepada Allah dan menyanjung-Nya. Kita tidak dapat menghitung pujian pada Allah.   Referensi: Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim. Cetakan pertama, Tahun 1433 H. Yahya bin Syarf An-Nawawi. Penerbit Dar Ibnu Hazm. 4:182. Bahjah An-Nazhirin Syarh Riyadh Ash-Shalihin. Cetakan pertama, Tahun 1430 H. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. 2:456.   Doa yang Sama Dibaca Bada Witir Dari ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca di akhir witirnya, “ALLOHUMMA INNI A’UDZU BI RIDOOKA MIN SAKHOTIK WA BI MU’AAFAATIKA MIN ‘UQUBATIK, WA A’UDZU BIKA MINKA LAA UH-SHI TSANAA-AN ‘ALAIK, ANTA KAMAA ATSNAITA ‘ALA NAFSIK” -dibaca 1x- (Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung dengan ridha-Mu dari murka-Mu, dengan maaf-Mu dari hukuman-Mu, dan aku berlindung kepada-Mu dari-Mu, aku tidak dapat menghitung sanjungan untuk-Mu, sebagaimana Engkau menyanjung diri-Mu sendiri). (HR. Abu Daud no. 1427, Tirmidzi no. 3566, An-Nasa’i no. 1748 dan Ibnu Majah no. 1179. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih) Semoga bermanfaat. — Disusun di Pesantren Darush Sholihin, Kamis sore, 12 Rabi’ul Awwal 1439 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsdoa ketika sujud doa sujud

Memahami Konsep Rezeki dalam Islam (bagian 02)

Memahami Konsep Rezeki dalam Islam (bag. 02) Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Kita akan lanjutkan kajian kita mengenai konsep rezeki dalam islam… Artikel Sebelumnya: Memahami Konsep Rezeki dalam Islam (bag. 01) Keempat, kita akan dihisab oleh Allah untuk semua yang kita usahakan. Tak terkecuali semua pemasukan yang kita dapatkan. Meskipun belum tentu kita akan memanfaatkannya. Allah berfirman, ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ “Kemudian, pada hari kiamat itu, sungguh kalian akan ditanya tentang kenikmatan.” (QS. at-Takatsur: 8). Kita tidak hanya ditanya tentang bagaimana cara mendapatkan harta, termasuk bagaimana mengunakan harta. Dalam hadis dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمْرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَا فَعَلَ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا أَنْفَقَهُ وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَا أَبْلاَهُ “Tidak akan bergeser dua telapak kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai dia ditanya (dimintai pertanggungjawaban) tentang umurnya kemana dihabiskannya, tentang ilmunya bagaimana dia mengamalkannya, tentang hartanya; dari mana diperolehnya dan ke mana dibelanjakannya, serta tentang tubuhnya untuk apa digunakannya. (HR. Turmudzi 2417, ad-Darimi 537, dan dishahihkan al-Albani) Yang akan dihisab oleh Allah tidak hanya harta yang menjadi kebutuhan sekunder atau tersier, termasuk yang menjadi harta kebutuhan primer, dan bahkan makanan yang dikonsumsi seseorang ketika sedang kelaparan. Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan, “Pada suatu siang hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar. Kemudian beliau berpapasan dengan Abu Bakar dan Umar. Beliau bertanya, “Apa yang menyebabkan kalian keluar dari rumah kalian pada saat-saat seperti ini?” Abu Bakar dan Umar menjawab, “Lapar wahai Rasulullah.” Beliau bersabda, “Demi yang diriku ada di Tangan-Nya, yang membuat aku keluar sama seperti yang menyebabkan kalian keluar. Mari berangkat”. Maka Abu Bakar dan Umar beranjak bersama beliau. Beliau menemui seseorang dari kalangan Anshar –dalam suatu riwayat disebutkan rumah Abu Ayyub al-Anshari-, yang ternyata ia tidak berada di rumahnya. Ketika istrinya melihat kedatangan beliau, maka dia berkata, “Marhaban wa ahlan”. Beliau bertanya, “Dimana suamimu?” Wanita itu menjawab, “Dia pergi untuk mencari air tawar bagi kami.” Hingga sahabat pemilik datang. Dia memandang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan dua orang rekannya (Abu Bakr & Umar). Dia berkata, “Alhamdulillah…, pada hari ini tidak ada yang mendapatkan tamu-tamu yang lebih mulia selain diri tamuku.” Lalu sahabat itu beranjak lalu datang lagi sambil membawa tandan yang di dalamnya ada korma basah dan korma yang sudah dikeringkan. Dia berkata, “Makanlah hidangan ini”. Lalu dia akan mengambilkan tempat minum. Beliau bersabda, “Tak perlu engkau memerah air susu.” Kemudian sahabat itu menyembelih domba, dan mereka semua makan dan minum. Setelah mereka kenyang, beliau bersabda kepada Abu Bakar dan Umar, وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لَتُسْأَلُنَّ عَنْ هَذَا النَّعِيمِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُيُوتِكُمُ الْجُوعُ ثُمَّ لَمْ تَرْجِعُوا حَتَّى أَصَابَكُمْ هَذَا النَّعِيمُ “Demi yang diriku ada di Tangan-Nya, kalian benar-benar akan ditanya tentang kenikmatan ini pada hari kiamat. Rasa lapar telah membuat kalian keluar dari rumah, kemudian kalian tidak kembali melainkan setelah mendapat kenikmatan ini.” (HR. Muslim 5434). Dalam hadis lain, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ أَوَّلَ مَا يُسْأَلُ عَنْهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَعْنِى الْعَبْدَ مِنَ النَّعِيمِ أَنْ يُقَالَ لَهُ أَلَمْ نُصِحَّ لَكَ جِسْمَكَ وَنُرْوِيكَ مِنَ الْمَاءِ الْبَارِدِ “Sungguh nikmat yang akan ditanyakan pada hamba pertama kali pada hari kiamat kelak adalah dengan pertanyaan: “Bukankah Kami telah memberikan kesehatan pada badanmu dan telah memberikan padamu air yang menyegarkan?” (HR. Tirmidzi no. 3358 dan dishahihkan al-Albani). Karena itu, semakin banyak pemasukan seseorang, dia akan menjalani hisab yang lebih lama. sehingga menyebabkan dia tertunda masuk surga. Dalam hadis dari Abdullah bin Amr bin Ash radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ فُقَرَاءَ الْمُهَاجِرِينَ يَسْبِقُونَ الأَغْنِيَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِلَى الْجَنَّةِ بِأَرْبَعِينَ خَرِيفًا “Sesungguhnya kaum muhajirin yang miskin, mereka mendahului masuk surga pada hari kiamat, 40 tahun sebelum orang kaya.” (HR. Ahmad 6735, Muslim 7654, dan Ibnu Hibban 678). Dalam hadis lain, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, يَدْخُلُ فُقَرَاءُ الْمُسْلِمِينَ الْجَنَّةَ قَبْلَ أَغْنِيَائِهِمْ بِنِصْفِ يَوْمٍ، وَهُوَ خَمْسُ مِائَةِ عَامٍ “Orang muslim yang miskin akan masuk surga sebelum orang muslim yang kaya dengan selisih setengah hari, yang itu setara dengan 500 tahun.” (HR. Ahmad 8521, Turmudzi 2528, dan dihasankan Syuaib al-Arnauth). Dua hadis ini tidaklah bertentangan. Al-Qurthubi memahaminya bahwa perbedaan ini kembali kepada perbedaan keadaan orang miskin dan orang kaya yang bersangkutan. Jika persaingan itu terjadi antar-sesama Muhajirin, selisihnya masuk surga antara miskin dan kaya terpaut 40 tahun. Sementara selain Muhajirin, setengah hari di waktu kiamat, sepadan dengan 500 tahun. (at-Tadzkirah, al-Qurthubi, hlm. 548). Kita tidak perlu kepada orang yang lebih kaya… karena berarti kita iri kepada orang yang hisabnya lebih lama… وَلَوْ أَنَّا إِذَا مِتْنَا تُرِكْنَا ***** لَكَانَ المَوْتُ رَاحَةً كُلِّ حَيٍّ وَلَكِنَّا إِذَا مِتْنَا بُعِثْنَا ***** وَنَسْأَلُ بَعْدَهَا عَنْ كُلِّ شَيْءٍ Sekiranya ketika mati, kita dibiarkan begitu saja. Tentu kematian adalah kesempatan beristirahat bagi setiap orang yang pernah hidup. Namun, setelah mati kita akan dibangkitkan kembali, dan akan ditanya tentang segala sesuatu… Kelima, prestasi manusia tidak diukur dari seberapa banyak harta yang dia miliki, tapi dari seberapa banyak dia bisa memberikan manfaat bagi umat. Ada sebuah hadis yang menyatakan, أَحَبُّ النَّاسِ إِلَى اللهِ أَنفَعُهُم لِلنَّاسِ “Manusia yang paling dicintai Allah, adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (at-Thabrani dalam as-Shaghir, 862 – majma’ zawaid 13708) Dulu, waktu kita diaqiqahi, orang tua kita tidak lupa menuliskan harapan untuk anaknya di secarik kertas, ‘Semoga menjadi anak yang soleh – solehah, berguna bagi orang tua, agama dan masyarakat.’ Semenjak bayi, ortu menitipkan sebuah amanah yang luar biasa. Ortu berharap kita menjadi manusia yang serba guna. Bahkan terkadang ditambah, berguna bagi nusa dan bangsa. Rasa-rasanya, hanya akan menjadi angan-angan kosong belaka. Yang jelas, orang tua kita menghendaki agar kita menjadi pribadi yang bermanfaat. Melimpahnya harta yang ada di tangan anda, memang sebuah kelebihan. Tapi anda bisa pastikan, seberapa besar manfaat kelebihn itu, ketika tidak dikendalikan. Coba anda bayangkan, ketika anda bergelimang harta, sementara hanya anda yang bisa memanfaatkannya, dan orang lain hanya bisa melihat. Bisakah dikatakan bermanfaat? Bagaimana cara mengendalikannya? Jawabannya, tentu saja dengan menggunakan ‘pengendali’ dunia akhirat. Itulah syariat. Islam menghargai semua kelebihan manusia, namun kelebihan itu baru ternilai, ketika pemiliknya paham syariat dan ilmu agama. Karena hanya dengan modal paham aturan agama, manusia bisa mengendalikan segala kelebihannya dengan benar, sehingga manfaatnya lebih luas. Standar inilah yang diajarkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hadis hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, النَّاسُ مَعَادِنُ، خِيَارُهُمْ فِي الجَاهِلِيَّةِ خِيَارُهُمْ فِي الإِسْلاَمِ، إِذَا فَقُهُوا “Manusia adalah barang tambang. Manusia terbaik di zaman jahiliyah dia juga yang terbaik setelah masuk islam, apabila dia paham agama.” (HR. Bukhari 3383 dan Muslim 2526) Barang tambang beraneka ragam tingkatannya. Di sana ada emas, ada perak, nikel, besi, bahkan kerikil dan pasir. Masing-masing memiliki nilai yang jauh berbeda sesuai kelebihannya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memisalkan manusia sebagaimana layaknya barang tambang. Masing-masing memiliki nilai yang berbeda sesuai tingkat kelebihannya. Namun semua itu baru memiliki arti, ketika dia paham agama. Orang yang paham agama, dan berusaha mengamalkannya, akan menggunakan potensi hartanya untuk sesuatu yang bermanfaat bagi umat. Dari Abu Kabsyah Al-Anmari radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, ثَلاَثَةٌ أُقْسِمُ عَلَيْهِنَّ ، وَأُحَدِّثُكُمْ حَدِيثًا فَاحْفَظُوهُ ، قَالَ : مَا نَقَصَ مَالُ عَبْدٍ مِنْ صَدَقَةٍ ، وَلاَ ظُلِمَ عَبْدٌ مَظْلِمَةً ، فَصَبَرَ عَلَيْهَا ، إِلاَّ زَادَهُ اللهُ عِزًّا ، وَلاَ فَتَحَ عَبْدٌ بَابَ مَسْأَلَةٍ ، إِلاَّ فَتَحَ اللهُ عَلَيْهِ بَابَ فَقْرٍ ، أَوْ كَلِمَةً نَحْوَهَا ،  وَأُحَدِّثُكُمْ حَدِيثًا فَاحْفَظُوهُ ، قَالَ : إِنَّمَا الدُّنْيَا لأَرْبَعَةِ نَفَرٍ : عَبْدٍ رَزَقَهُ اللهُ مَالاً وَعِلْمًا ، فَهُوَ يَتَّقِي فِيهِ رَبَّهُ ، وَيَصِلُ فِيهِ رَحِمَهُ ، وَيَعْلَمُِ للهِ فِيهِ حَقًّا ، فَهَذَا بِأَفْضَلِ الْمَنَازِلِ ، وَعَبْدٍ رَزَقَهُ اللهُ عِلْمًا وَلَمْ يَرْزُقْهُ مَالاً ، فَهُوَ صَادِقُ النِّيَّةِ ، يَقُولُ : لَوْ أَنَّ لِي مَالاً لَعَمِلْتُ بِعَمَلِ فُلاَنٍ ، فَهُوَ بِنِيَّتِهِ ، فَأَجْرُهُمَا سَوَاءٌ ، وَعَبْدٍ رَزَقَهُ اللهُ مَالاً وَلَمْ يَرْزُقْهُ عِلْمًا ، فَه ُوَ يَخْبِطُ فِي مَالِهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ ، لاَ يَتَّقِي فِيهِ رَبَّهُ ، وَلاَ يَصِلُ فِيهِ رَحِمَهُ ، وَلاَ يَعْلَمُ ِللهِ فِيهِ حَقًّا ، فَهَذَا بِأَخْبَثِ الْمَنَازِلِ ، وَعَبْدٍ لَمْ يَرْزُقْهُ اللهُ مَالاً وَلاَ عِلْمًا ، فَهُوَ يَقُولُ : لَوْ أَنَّ لِي مَالاً لَعَمِلْتُ فِيهِ بِعَمَلِ فُلاَنٍ ، فَهُوَ بِنِيَّتِهِ ، فَوِزْرُهُمَا سَوَاءٌ. “Ada tiga perkara yang aku bersumpah atasnya, dan aku akan menceritakan kepada kalian suatu perkataan, maka hafalkanlah. Beliau bersabda: “Harta seorang hamba tidaklah berkurang disebabkan shodaqoh, dan tidaklah seorang hamba terzholimi dengan suatu kezholiman lalu ia bersabar dalam menghadapinya melainkan Allah menambahkan kemuliaan kepadanya, dan tidaklah seorang hamba membuka pintu utk meminta-minta (kepada orang lain, pent) melainkan Allah akan bukakan baginya pintu kefakiran, -atau suatu kalimat semisalnya-. Dan aku akan sampaikan kepada kalian satu perkataan kemudian hafalkanlah.” Beliau bersabda: “Sesungguhnya dunia ini hanya milik empat golongan saja, (1) Seorang hamba yang dikaruniai harta dan ilmu kemudian ia bertakwa kepada Rabb-nya, menyambung silaturrahim dan mengetahui hak-hak Allah, inilah kedudukan yang paling mulia. (2) Seorang hamba yang dikaruniai ilmu tapi  tidak dikaruniai harta, kemudian dengan niat yang tulus ia berkata: ‘Jika seandainya aku mempunyai harta, maka aku akan beramal seperti amalannya si fulan itu.’  Dengan niat seperti ini, maka pahala keduanya sama. (3) Seorang hamba yang dikaruniai harta namun tidak diberi ilmu, lalu ia membelanjakan hartanya secara serampangan tanpa dasar ilmu, , ia tidak bertakwa kepada Rabbnya, tidak menyambung silaturrahim, dan tidak mengetahui hak-hak Allah, maka ia berada pada kedudukan paling rendah. (4) Dan seorang hamba yang tidak dikaruniai harta dan juga ilmu oleh Allah ta’ala, lantas ia berkata: ‘Kalau seandainya aku memiliki harta, niscaya aku akan berbuat seperti yang dilakukan si Fulan.’ Maka ia dengan niatnya itu, menjadikan dosa keduanya sama.” (HR. Turmudzi  2325, Ahmad 18194 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth). Demikian, Allahu a’lam. Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. SPONSOR hubungi: 081 326 333 328 DONASI hubungi: 087 882 888 727 REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK 🔍 Istri Berzina, Sholat Tahajud Tanpa Tidur, Istri Yang Menolak Ajakan Suami, Hukum Menggambar, Ucapan Selamat Tahun Baru Islam 2018, Tata Cara Sholat Sunah Taubat Visited 333 times, 1 visit(s) today Post Views: 415 QRIS donasi Yufid

Memahami Konsep Rezeki dalam Islam (bagian 02)

Memahami Konsep Rezeki dalam Islam (bag. 02) Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Kita akan lanjutkan kajian kita mengenai konsep rezeki dalam islam… Artikel Sebelumnya: Memahami Konsep Rezeki dalam Islam (bag. 01) Keempat, kita akan dihisab oleh Allah untuk semua yang kita usahakan. Tak terkecuali semua pemasukan yang kita dapatkan. Meskipun belum tentu kita akan memanfaatkannya. Allah berfirman, ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ “Kemudian, pada hari kiamat itu, sungguh kalian akan ditanya tentang kenikmatan.” (QS. at-Takatsur: 8). Kita tidak hanya ditanya tentang bagaimana cara mendapatkan harta, termasuk bagaimana mengunakan harta. Dalam hadis dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمْرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَا فَعَلَ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا أَنْفَقَهُ وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَا أَبْلاَهُ “Tidak akan bergeser dua telapak kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai dia ditanya (dimintai pertanggungjawaban) tentang umurnya kemana dihabiskannya, tentang ilmunya bagaimana dia mengamalkannya, tentang hartanya; dari mana diperolehnya dan ke mana dibelanjakannya, serta tentang tubuhnya untuk apa digunakannya. (HR. Turmudzi 2417, ad-Darimi 537, dan dishahihkan al-Albani) Yang akan dihisab oleh Allah tidak hanya harta yang menjadi kebutuhan sekunder atau tersier, termasuk yang menjadi harta kebutuhan primer, dan bahkan makanan yang dikonsumsi seseorang ketika sedang kelaparan. Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan, “Pada suatu siang hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar. Kemudian beliau berpapasan dengan Abu Bakar dan Umar. Beliau bertanya, “Apa yang menyebabkan kalian keluar dari rumah kalian pada saat-saat seperti ini?” Abu Bakar dan Umar menjawab, “Lapar wahai Rasulullah.” Beliau bersabda, “Demi yang diriku ada di Tangan-Nya, yang membuat aku keluar sama seperti yang menyebabkan kalian keluar. Mari berangkat”. Maka Abu Bakar dan Umar beranjak bersama beliau. Beliau menemui seseorang dari kalangan Anshar –dalam suatu riwayat disebutkan rumah Abu Ayyub al-Anshari-, yang ternyata ia tidak berada di rumahnya. Ketika istrinya melihat kedatangan beliau, maka dia berkata, “Marhaban wa ahlan”. Beliau bertanya, “Dimana suamimu?” Wanita itu menjawab, “Dia pergi untuk mencari air tawar bagi kami.” Hingga sahabat pemilik datang. Dia memandang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan dua orang rekannya (Abu Bakr & Umar). Dia berkata, “Alhamdulillah…, pada hari ini tidak ada yang mendapatkan tamu-tamu yang lebih mulia selain diri tamuku.” Lalu sahabat itu beranjak lalu datang lagi sambil membawa tandan yang di dalamnya ada korma basah dan korma yang sudah dikeringkan. Dia berkata, “Makanlah hidangan ini”. Lalu dia akan mengambilkan tempat minum. Beliau bersabda, “Tak perlu engkau memerah air susu.” Kemudian sahabat itu menyembelih domba, dan mereka semua makan dan minum. Setelah mereka kenyang, beliau bersabda kepada Abu Bakar dan Umar, وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لَتُسْأَلُنَّ عَنْ هَذَا النَّعِيمِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُيُوتِكُمُ الْجُوعُ ثُمَّ لَمْ تَرْجِعُوا حَتَّى أَصَابَكُمْ هَذَا النَّعِيمُ “Demi yang diriku ada di Tangan-Nya, kalian benar-benar akan ditanya tentang kenikmatan ini pada hari kiamat. Rasa lapar telah membuat kalian keluar dari rumah, kemudian kalian tidak kembali melainkan setelah mendapat kenikmatan ini.” (HR. Muslim 5434). Dalam hadis lain, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ أَوَّلَ مَا يُسْأَلُ عَنْهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَعْنِى الْعَبْدَ مِنَ النَّعِيمِ أَنْ يُقَالَ لَهُ أَلَمْ نُصِحَّ لَكَ جِسْمَكَ وَنُرْوِيكَ مِنَ الْمَاءِ الْبَارِدِ “Sungguh nikmat yang akan ditanyakan pada hamba pertama kali pada hari kiamat kelak adalah dengan pertanyaan: “Bukankah Kami telah memberikan kesehatan pada badanmu dan telah memberikan padamu air yang menyegarkan?” (HR. Tirmidzi no. 3358 dan dishahihkan al-Albani). Karena itu, semakin banyak pemasukan seseorang, dia akan menjalani hisab yang lebih lama. sehingga menyebabkan dia tertunda masuk surga. Dalam hadis dari Abdullah bin Amr bin Ash radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ فُقَرَاءَ الْمُهَاجِرِينَ يَسْبِقُونَ الأَغْنِيَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِلَى الْجَنَّةِ بِأَرْبَعِينَ خَرِيفًا “Sesungguhnya kaum muhajirin yang miskin, mereka mendahului masuk surga pada hari kiamat, 40 tahun sebelum orang kaya.” (HR. Ahmad 6735, Muslim 7654, dan Ibnu Hibban 678). Dalam hadis lain, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, يَدْخُلُ فُقَرَاءُ الْمُسْلِمِينَ الْجَنَّةَ قَبْلَ أَغْنِيَائِهِمْ بِنِصْفِ يَوْمٍ، وَهُوَ خَمْسُ مِائَةِ عَامٍ “Orang muslim yang miskin akan masuk surga sebelum orang muslim yang kaya dengan selisih setengah hari, yang itu setara dengan 500 tahun.” (HR. Ahmad 8521, Turmudzi 2528, dan dihasankan Syuaib al-Arnauth). Dua hadis ini tidaklah bertentangan. Al-Qurthubi memahaminya bahwa perbedaan ini kembali kepada perbedaan keadaan orang miskin dan orang kaya yang bersangkutan. Jika persaingan itu terjadi antar-sesama Muhajirin, selisihnya masuk surga antara miskin dan kaya terpaut 40 tahun. Sementara selain Muhajirin, setengah hari di waktu kiamat, sepadan dengan 500 tahun. (at-Tadzkirah, al-Qurthubi, hlm. 548). Kita tidak perlu kepada orang yang lebih kaya… karena berarti kita iri kepada orang yang hisabnya lebih lama… وَلَوْ أَنَّا إِذَا مِتْنَا تُرِكْنَا ***** لَكَانَ المَوْتُ رَاحَةً كُلِّ حَيٍّ وَلَكِنَّا إِذَا مِتْنَا بُعِثْنَا ***** وَنَسْأَلُ بَعْدَهَا عَنْ كُلِّ شَيْءٍ Sekiranya ketika mati, kita dibiarkan begitu saja. Tentu kematian adalah kesempatan beristirahat bagi setiap orang yang pernah hidup. Namun, setelah mati kita akan dibangkitkan kembali, dan akan ditanya tentang segala sesuatu… Kelima, prestasi manusia tidak diukur dari seberapa banyak harta yang dia miliki, tapi dari seberapa banyak dia bisa memberikan manfaat bagi umat. Ada sebuah hadis yang menyatakan, أَحَبُّ النَّاسِ إِلَى اللهِ أَنفَعُهُم لِلنَّاسِ “Manusia yang paling dicintai Allah, adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (at-Thabrani dalam as-Shaghir, 862 – majma’ zawaid 13708) Dulu, waktu kita diaqiqahi, orang tua kita tidak lupa menuliskan harapan untuk anaknya di secarik kertas, ‘Semoga menjadi anak yang soleh – solehah, berguna bagi orang tua, agama dan masyarakat.’ Semenjak bayi, ortu menitipkan sebuah amanah yang luar biasa. Ortu berharap kita menjadi manusia yang serba guna. Bahkan terkadang ditambah, berguna bagi nusa dan bangsa. Rasa-rasanya, hanya akan menjadi angan-angan kosong belaka. Yang jelas, orang tua kita menghendaki agar kita menjadi pribadi yang bermanfaat. Melimpahnya harta yang ada di tangan anda, memang sebuah kelebihan. Tapi anda bisa pastikan, seberapa besar manfaat kelebihn itu, ketika tidak dikendalikan. Coba anda bayangkan, ketika anda bergelimang harta, sementara hanya anda yang bisa memanfaatkannya, dan orang lain hanya bisa melihat. Bisakah dikatakan bermanfaat? Bagaimana cara mengendalikannya? Jawabannya, tentu saja dengan menggunakan ‘pengendali’ dunia akhirat. Itulah syariat. Islam menghargai semua kelebihan manusia, namun kelebihan itu baru ternilai, ketika pemiliknya paham syariat dan ilmu agama. Karena hanya dengan modal paham aturan agama, manusia bisa mengendalikan segala kelebihannya dengan benar, sehingga manfaatnya lebih luas. Standar inilah yang diajarkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hadis hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, النَّاسُ مَعَادِنُ، خِيَارُهُمْ فِي الجَاهِلِيَّةِ خِيَارُهُمْ فِي الإِسْلاَمِ، إِذَا فَقُهُوا “Manusia adalah barang tambang. Manusia terbaik di zaman jahiliyah dia juga yang terbaik setelah masuk islam, apabila dia paham agama.” (HR. Bukhari 3383 dan Muslim 2526) Barang tambang beraneka ragam tingkatannya. Di sana ada emas, ada perak, nikel, besi, bahkan kerikil dan pasir. Masing-masing memiliki nilai yang jauh berbeda sesuai kelebihannya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memisalkan manusia sebagaimana layaknya barang tambang. Masing-masing memiliki nilai yang berbeda sesuai tingkat kelebihannya. Namun semua itu baru memiliki arti, ketika dia paham agama. Orang yang paham agama, dan berusaha mengamalkannya, akan menggunakan potensi hartanya untuk sesuatu yang bermanfaat bagi umat. Dari Abu Kabsyah Al-Anmari radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, ثَلاَثَةٌ أُقْسِمُ عَلَيْهِنَّ ، وَأُحَدِّثُكُمْ حَدِيثًا فَاحْفَظُوهُ ، قَالَ : مَا نَقَصَ مَالُ عَبْدٍ مِنْ صَدَقَةٍ ، وَلاَ ظُلِمَ عَبْدٌ مَظْلِمَةً ، فَصَبَرَ عَلَيْهَا ، إِلاَّ زَادَهُ اللهُ عِزًّا ، وَلاَ فَتَحَ عَبْدٌ بَابَ مَسْأَلَةٍ ، إِلاَّ فَتَحَ اللهُ عَلَيْهِ بَابَ فَقْرٍ ، أَوْ كَلِمَةً نَحْوَهَا ،  وَأُحَدِّثُكُمْ حَدِيثًا فَاحْفَظُوهُ ، قَالَ : إِنَّمَا الدُّنْيَا لأَرْبَعَةِ نَفَرٍ : عَبْدٍ رَزَقَهُ اللهُ مَالاً وَعِلْمًا ، فَهُوَ يَتَّقِي فِيهِ رَبَّهُ ، وَيَصِلُ فِيهِ رَحِمَهُ ، وَيَعْلَمُِ للهِ فِيهِ حَقًّا ، فَهَذَا بِأَفْضَلِ الْمَنَازِلِ ، وَعَبْدٍ رَزَقَهُ اللهُ عِلْمًا وَلَمْ يَرْزُقْهُ مَالاً ، فَهُوَ صَادِقُ النِّيَّةِ ، يَقُولُ : لَوْ أَنَّ لِي مَالاً لَعَمِلْتُ بِعَمَلِ فُلاَنٍ ، فَهُوَ بِنِيَّتِهِ ، فَأَجْرُهُمَا سَوَاءٌ ، وَعَبْدٍ رَزَقَهُ اللهُ مَالاً وَلَمْ يَرْزُقْهُ عِلْمًا ، فَه ُوَ يَخْبِطُ فِي مَالِهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ ، لاَ يَتَّقِي فِيهِ رَبَّهُ ، وَلاَ يَصِلُ فِيهِ رَحِمَهُ ، وَلاَ يَعْلَمُ ِللهِ فِيهِ حَقًّا ، فَهَذَا بِأَخْبَثِ الْمَنَازِلِ ، وَعَبْدٍ لَمْ يَرْزُقْهُ اللهُ مَالاً وَلاَ عِلْمًا ، فَهُوَ يَقُولُ : لَوْ أَنَّ لِي مَالاً لَعَمِلْتُ فِيهِ بِعَمَلِ فُلاَنٍ ، فَهُوَ بِنِيَّتِهِ ، فَوِزْرُهُمَا سَوَاءٌ. “Ada tiga perkara yang aku bersumpah atasnya, dan aku akan menceritakan kepada kalian suatu perkataan, maka hafalkanlah. Beliau bersabda: “Harta seorang hamba tidaklah berkurang disebabkan shodaqoh, dan tidaklah seorang hamba terzholimi dengan suatu kezholiman lalu ia bersabar dalam menghadapinya melainkan Allah menambahkan kemuliaan kepadanya, dan tidaklah seorang hamba membuka pintu utk meminta-minta (kepada orang lain, pent) melainkan Allah akan bukakan baginya pintu kefakiran, -atau suatu kalimat semisalnya-. Dan aku akan sampaikan kepada kalian satu perkataan kemudian hafalkanlah.” Beliau bersabda: “Sesungguhnya dunia ini hanya milik empat golongan saja, (1) Seorang hamba yang dikaruniai harta dan ilmu kemudian ia bertakwa kepada Rabb-nya, menyambung silaturrahim dan mengetahui hak-hak Allah, inilah kedudukan yang paling mulia. (2) Seorang hamba yang dikaruniai ilmu tapi  tidak dikaruniai harta, kemudian dengan niat yang tulus ia berkata: ‘Jika seandainya aku mempunyai harta, maka aku akan beramal seperti amalannya si fulan itu.’  Dengan niat seperti ini, maka pahala keduanya sama. (3) Seorang hamba yang dikaruniai harta namun tidak diberi ilmu, lalu ia membelanjakan hartanya secara serampangan tanpa dasar ilmu, , ia tidak bertakwa kepada Rabbnya, tidak menyambung silaturrahim, dan tidak mengetahui hak-hak Allah, maka ia berada pada kedudukan paling rendah. (4) Dan seorang hamba yang tidak dikaruniai harta dan juga ilmu oleh Allah ta’ala, lantas ia berkata: ‘Kalau seandainya aku memiliki harta, niscaya aku akan berbuat seperti yang dilakukan si Fulan.’ Maka ia dengan niatnya itu, menjadikan dosa keduanya sama.” (HR. Turmudzi  2325, Ahmad 18194 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth). Demikian, Allahu a’lam. Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. SPONSOR hubungi: 081 326 333 328 DONASI hubungi: 087 882 888 727 REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK 🔍 Istri Berzina, Sholat Tahajud Tanpa Tidur, Istri Yang Menolak Ajakan Suami, Hukum Menggambar, Ucapan Selamat Tahun Baru Islam 2018, Tata Cara Sholat Sunah Taubat Visited 333 times, 1 visit(s) today Post Views: 415 QRIS donasi Yufid
Memahami Konsep Rezeki dalam Islam (bag. 02) Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Kita akan lanjutkan kajian kita mengenai konsep rezeki dalam islam… Artikel Sebelumnya: Memahami Konsep Rezeki dalam Islam (bag. 01) Keempat, kita akan dihisab oleh Allah untuk semua yang kita usahakan. Tak terkecuali semua pemasukan yang kita dapatkan. Meskipun belum tentu kita akan memanfaatkannya. Allah berfirman, ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ “Kemudian, pada hari kiamat itu, sungguh kalian akan ditanya tentang kenikmatan.” (QS. at-Takatsur: 8). Kita tidak hanya ditanya tentang bagaimana cara mendapatkan harta, termasuk bagaimana mengunakan harta. Dalam hadis dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمْرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَا فَعَلَ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا أَنْفَقَهُ وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَا أَبْلاَهُ “Tidak akan bergeser dua telapak kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai dia ditanya (dimintai pertanggungjawaban) tentang umurnya kemana dihabiskannya, tentang ilmunya bagaimana dia mengamalkannya, tentang hartanya; dari mana diperolehnya dan ke mana dibelanjakannya, serta tentang tubuhnya untuk apa digunakannya. (HR. Turmudzi 2417, ad-Darimi 537, dan dishahihkan al-Albani) Yang akan dihisab oleh Allah tidak hanya harta yang menjadi kebutuhan sekunder atau tersier, termasuk yang menjadi harta kebutuhan primer, dan bahkan makanan yang dikonsumsi seseorang ketika sedang kelaparan. Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan, “Pada suatu siang hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar. Kemudian beliau berpapasan dengan Abu Bakar dan Umar. Beliau bertanya, “Apa yang menyebabkan kalian keluar dari rumah kalian pada saat-saat seperti ini?” Abu Bakar dan Umar menjawab, “Lapar wahai Rasulullah.” Beliau bersabda, “Demi yang diriku ada di Tangan-Nya, yang membuat aku keluar sama seperti yang menyebabkan kalian keluar. Mari berangkat”. Maka Abu Bakar dan Umar beranjak bersama beliau. Beliau menemui seseorang dari kalangan Anshar –dalam suatu riwayat disebutkan rumah Abu Ayyub al-Anshari-, yang ternyata ia tidak berada di rumahnya. Ketika istrinya melihat kedatangan beliau, maka dia berkata, “Marhaban wa ahlan”. Beliau bertanya, “Dimana suamimu?” Wanita itu menjawab, “Dia pergi untuk mencari air tawar bagi kami.” Hingga sahabat pemilik datang. Dia memandang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan dua orang rekannya (Abu Bakr & Umar). Dia berkata, “Alhamdulillah…, pada hari ini tidak ada yang mendapatkan tamu-tamu yang lebih mulia selain diri tamuku.” Lalu sahabat itu beranjak lalu datang lagi sambil membawa tandan yang di dalamnya ada korma basah dan korma yang sudah dikeringkan. Dia berkata, “Makanlah hidangan ini”. Lalu dia akan mengambilkan tempat minum. Beliau bersabda, “Tak perlu engkau memerah air susu.” Kemudian sahabat itu menyembelih domba, dan mereka semua makan dan minum. Setelah mereka kenyang, beliau bersabda kepada Abu Bakar dan Umar, وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لَتُسْأَلُنَّ عَنْ هَذَا النَّعِيمِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُيُوتِكُمُ الْجُوعُ ثُمَّ لَمْ تَرْجِعُوا حَتَّى أَصَابَكُمْ هَذَا النَّعِيمُ “Demi yang diriku ada di Tangan-Nya, kalian benar-benar akan ditanya tentang kenikmatan ini pada hari kiamat. Rasa lapar telah membuat kalian keluar dari rumah, kemudian kalian tidak kembali melainkan setelah mendapat kenikmatan ini.” (HR. Muslim 5434). Dalam hadis lain, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ أَوَّلَ مَا يُسْأَلُ عَنْهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَعْنِى الْعَبْدَ مِنَ النَّعِيمِ أَنْ يُقَالَ لَهُ أَلَمْ نُصِحَّ لَكَ جِسْمَكَ وَنُرْوِيكَ مِنَ الْمَاءِ الْبَارِدِ “Sungguh nikmat yang akan ditanyakan pada hamba pertama kali pada hari kiamat kelak adalah dengan pertanyaan: “Bukankah Kami telah memberikan kesehatan pada badanmu dan telah memberikan padamu air yang menyegarkan?” (HR. Tirmidzi no. 3358 dan dishahihkan al-Albani). Karena itu, semakin banyak pemasukan seseorang, dia akan menjalani hisab yang lebih lama. sehingga menyebabkan dia tertunda masuk surga. Dalam hadis dari Abdullah bin Amr bin Ash radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ فُقَرَاءَ الْمُهَاجِرِينَ يَسْبِقُونَ الأَغْنِيَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِلَى الْجَنَّةِ بِأَرْبَعِينَ خَرِيفًا “Sesungguhnya kaum muhajirin yang miskin, mereka mendahului masuk surga pada hari kiamat, 40 tahun sebelum orang kaya.” (HR. Ahmad 6735, Muslim 7654, dan Ibnu Hibban 678). Dalam hadis lain, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, يَدْخُلُ فُقَرَاءُ الْمُسْلِمِينَ الْجَنَّةَ قَبْلَ أَغْنِيَائِهِمْ بِنِصْفِ يَوْمٍ، وَهُوَ خَمْسُ مِائَةِ عَامٍ “Orang muslim yang miskin akan masuk surga sebelum orang muslim yang kaya dengan selisih setengah hari, yang itu setara dengan 500 tahun.” (HR. Ahmad 8521, Turmudzi 2528, dan dihasankan Syuaib al-Arnauth). Dua hadis ini tidaklah bertentangan. Al-Qurthubi memahaminya bahwa perbedaan ini kembali kepada perbedaan keadaan orang miskin dan orang kaya yang bersangkutan. Jika persaingan itu terjadi antar-sesama Muhajirin, selisihnya masuk surga antara miskin dan kaya terpaut 40 tahun. Sementara selain Muhajirin, setengah hari di waktu kiamat, sepadan dengan 500 tahun. (at-Tadzkirah, al-Qurthubi, hlm. 548). Kita tidak perlu kepada orang yang lebih kaya… karena berarti kita iri kepada orang yang hisabnya lebih lama… وَلَوْ أَنَّا إِذَا مِتْنَا تُرِكْنَا ***** لَكَانَ المَوْتُ رَاحَةً كُلِّ حَيٍّ وَلَكِنَّا إِذَا مِتْنَا بُعِثْنَا ***** وَنَسْأَلُ بَعْدَهَا عَنْ كُلِّ شَيْءٍ Sekiranya ketika mati, kita dibiarkan begitu saja. Tentu kematian adalah kesempatan beristirahat bagi setiap orang yang pernah hidup. Namun, setelah mati kita akan dibangkitkan kembali, dan akan ditanya tentang segala sesuatu… Kelima, prestasi manusia tidak diukur dari seberapa banyak harta yang dia miliki, tapi dari seberapa banyak dia bisa memberikan manfaat bagi umat. Ada sebuah hadis yang menyatakan, أَحَبُّ النَّاسِ إِلَى اللهِ أَنفَعُهُم لِلنَّاسِ “Manusia yang paling dicintai Allah, adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (at-Thabrani dalam as-Shaghir, 862 – majma’ zawaid 13708) Dulu, waktu kita diaqiqahi, orang tua kita tidak lupa menuliskan harapan untuk anaknya di secarik kertas, ‘Semoga menjadi anak yang soleh – solehah, berguna bagi orang tua, agama dan masyarakat.’ Semenjak bayi, ortu menitipkan sebuah amanah yang luar biasa. Ortu berharap kita menjadi manusia yang serba guna. Bahkan terkadang ditambah, berguna bagi nusa dan bangsa. Rasa-rasanya, hanya akan menjadi angan-angan kosong belaka. Yang jelas, orang tua kita menghendaki agar kita menjadi pribadi yang bermanfaat. Melimpahnya harta yang ada di tangan anda, memang sebuah kelebihan. Tapi anda bisa pastikan, seberapa besar manfaat kelebihn itu, ketika tidak dikendalikan. Coba anda bayangkan, ketika anda bergelimang harta, sementara hanya anda yang bisa memanfaatkannya, dan orang lain hanya bisa melihat. Bisakah dikatakan bermanfaat? Bagaimana cara mengendalikannya? Jawabannya, tentu saja dengan menggunakan ‘pengendali’ dunia akhirat. Itulah syariat. Islam menghargai semua kelebihan manusia, namun kelebihan itu baru ternilai, ketika pemiliknya paham syariat dan ilmu agama. Karena hanya dengan modal paham aturan agama, manusia bisa mengendalikan segala kelebihannya dengan benar, sehingga manfaatnya lebih luas. Standar inilah yang diajarkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hadis hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, النَّاسُ مَعَادِنُ، خِيَارُهُمْ فِي الجَاهِلِيَّةِ خِيَارُهُمْ فِي الإِسْلاَمِ، إِذَا فَقُهُوا “Manusia adalah barang tambang. Manusia terbaik di zaman jahiliyah dia juga yang terbaik setelah masuk islam, apabila dia paham agama.” (HR. Bukhari 3383 dan Muslim 2526) Barang tambang beraneka ragam tingkatannya. Di sana ada emas, ada perak, nikel, besi, bahkan kerikil dan pasir. Masing-masing memiliki nilai yang jauh berbeda sesuai kelebihannya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memisalkan manusia sebagaimana layaknya barang tambang. Masing-masing memiliki nilai yang berbeda sesuai tingkat kelebihannya. Namun semua itu baru memiliki arti, ketika dia paham agama. Orang yang paham agama, dan berusaha mengamalkannya, akan menggunakan potensi hartanya untuk sesuatu yang bermanfaat bagi umat. Dari Abu Kabsyah Al-Anmari radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, ثَلاَثَةٌ أُقْسِمُ عَلَيْهِنَّ ، وَأُحَدِّثُكُمْ حَدِيثًا فَاحْفَظُوهُ ، قَالَ : مَا نَقَصَ مَالُ عَبْدٍ مِنْ صَدَقَةٍ ، وَلاَ ظُلِمَ عَبْدٌ مَظْلِمَةً ، فَصَبَرَ عَلَيْهَا ، إِلاَّ زَادَهُ اللهُ عِزًّا ، وَلاَ فَتَحَ عَبْدٌ بَابَ مَسْأَلَةٍ ، إِلاَّ فَتَحَ اللهُ عَلَيْهِ بَابَ فَقْرٍ ، أَوْ كَلِمَةً نَحْوَهَا ،  وَأُحَدِّثُكُمْ حَدِيثًا فَاحْفَظُوهُ ، قَالَ : إِنَّمَا الدُّنْيَا لأَرْبَعَةِ نَفَرٍ : عَبْدٍ رَزَقَهُ اللهُ مَالاً وَعِلْمًا ، فَهُوَ يَتَّقِي فِيهِ رَبَّهُ ، وَيَصِلُ فِيهِ رَحِمَهُ ، وَيَعْلَمُِ للهِ فِيهِ حَقًّا ، فَهَذَا بِأَفْضَلِ الْمَنَازِلِ ، وَعَبْدٍ رَزَقَهُ اللهُ عِلْمًا وَلَمْ يَرْزُقْهُ مَالاً ، فَهُوَ صَادِقُ النِّيَّةِ ، يَقُولُ : لَوْ أَنَّ لِي مَالاً لَعَمِلْتُ بِعَمَلِ فُلاَنٍ ، فَهُوَ بِنِيَّتِهِ ، فَأَجْرُهُمَا سَوَاءٌ ، وَعَبْدٍ رَزَقَهُ اللهُ مَالاً وَلَمْ يَرْزُقْهُ عِلْمًا ، فَه ُوَ يَخْبِطُ فِي مَالِهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ ، لاَ يَتَّقِي فِيهِ رَبَّهُ ، وَلاَ يَصِلُ فِيهِ رَحِمَهُ ، وَلاَ يَعْلَمُ ِللهِ فِيهِ حَقًّا ، فَهَذَا بِأَخْبَثِ الْمَنَازِلِ ، وَعَبْدٍ لَمْ يَرْزُقْهُ اللهُ مَالاً وَلاَ عِلْمًا ، فَهُوَ يَقُولُ : لَوْ أَنَّ لِي مَالاً لَعَمِلْتُ فِيهِ بِعَمَلِ فُلاَنٍ ، فَهُوَ بِنِيَّتِهِ ، فَوِزْرُهُمَا سَوَاءٌ. “Ada tiga perkara yang aku bersumpah atasnya, dan aku akan menceritakan kepada kalian suatu perkataan, maka hafalkanlah. Beliau bersabda: “Harta seorang hamba tidaklah berkurang disebabkan shodaqoh, dan tidaklah seorang hamba terzholimi dengan suatu kezholiman lalu ia bersabar dalam menghadapinya melainkan Allah menambahkan kemuliaan kepadanya, dan tidaklah seorang hamba membuka pintu utk meminta-minta (kepada orang lain, pent) melainkan Allah akan bukakan baginya pintu kefakiran, -atau suatu kalimat semisalnya-. Dan aku akan sampaikan kepada kalian satu perkataan kemudian hafalkanlah.” Beliau bersabda: “Sesungguhnya dunia ini hanya milik empat golongan saja, (1) Seorang hamba yang dikaruniai harta dan ilmu kemudian ia bertakwa kepada Rabb-nya, menyambung silaturrahim dan mengetahui hak-hak Allah, inilah kedudukan yang paling mulia. (2) Seorang hamba yang dikaruniai ilmu tapi  tidak dikaruniai harta, kemudian dengan niat yang tulus ia berkata: ‘Jika seandainya aku mempunyai harta, maka aku akan beramal seperti amalannya si fulan itu.’  Dengan niat seperti ini, maka pahala keduanya sama. (3) Seorang hamba yang dikaruniai harta namun tidak diberi ilmu, lalu ia membelanjakan hartanya secara serampangan tanpa dasar ilmu, , ia tidak bertakwa kepada Rabbnya, tidak menyambung silaturrahim, dan tidak mengetahui hak-hak Allah, maka ia berada pada kedudukan paling rendah. (4) Dan seorang hamba yang tidak dikaruniai harta dan juga ilmu oleh Allah ta’ala, lantas ia berkata: ‘Kalau seandainya aku memiliki harta, niscaya aku akan berbuat seperti yang dilakukan si Fulan.’ Maka ia dengan niatnya itu, menjadikan dosa keduanya sama.” (HR. Turmudzi  2325, Ahmad 18194 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth). Demikian, Allahu a’lam. Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. SPONSOR hubungi: 081 326 333 328 DONASI hubungi: 087 882 888 727 REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK 🔍 Istri Berzina, Sholat Tahajud Tanpa Tidur, Istri Yang Menolak Ajakan Suami, Hukum Menggambar, Ucapan Selamat Tahun Baru Islam 2018, Tata Cara Sholat Sunah Taubat Visited 333 times, 1 visit(s) today Post Views: 415 QRIS donasi Yufid


<iframe src="https://w.soundcloud.com/player/?url=https%3A//api.soundcloud.com/tracks/365230913&amp;color=d5265f&amp;auto_play=false&amp;show_artwork=false&amp;hide_related=true&amp;show_comments=false&amp;show_user=false&amp;show_reposts=false" width="100%" height="166" frameborder="no" scrolling="no"></iframe> Memahami Konsep Rezeki dalam Islam (bag. 02) Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Kita akan lanjutkan kajian kita mengenai konsep rezeki dalam islam… Artikel Sebelumnya: Memahami Konsep Rezeki dalam Islam (bag. 01) Keempat, kita akan dihisab oleh Allah untuk semua yang kita usahakan. Tak terkecuali semua pemasukan yang kita dapatkan. Meskipun belum tentu kita akan memanfaatkannya. Allah berfirman, ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ “Kemudian, pada hari kiamat itu, sungguh kalian akan ditanya tentang kenikmatan.” (QS. at-Takatsur: 8). Kita tidak hanya ditanya tentang bagaimana cara mendapatkan harta, termasuk bagaimana mengunakan harta. Dalam hadis dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمْرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَا فَعَلَ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا أَنْفَقَهُ وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَا أَبْلاَهُ “Tidak akan bergeser dua telapak kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai dia ditanya (dimintai pertanggungjawaban) tentang umurnya kemana dihabiskannya, tentang ilmunya bagaimana dia mengamalkannya, tentang hartanya; dari mana diperolehnya dan ke mana dibelanjakannya, serta tentang tubuhnya untuk apa digunakannya. (HR. Turmudzi 2417, ad-Darimi 537, dan dishahihkan al-Albani) Yang akan dihisab oleh Allah tidak hanya harta yang menjadi kebutuhan sekunder atau tersier, termasuk yang menjadi harta kebutuhan primer, dan bahkan makanan yang dikonsumsi seseorang ketika sedang kelaparan. Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan, “Pada suatu siang hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar. Kemudian beliau berpapasan dengan Abu Bakar dan Umar. Beliau bertanya, “Apa yang menyebabkan kalian keluar dari rumah kalian pada saat-saat seperti ini?” Abu Bakar dan Umar menjawab, “Lapar wahai Rasulullah.” Beliau bersabda, “Demi yang diriku ada di Tangan-Nya, yang membuat aku keluar sama seperti yang menyebabkan kalian keluar. Mari berangkat”. Maka Abu Bakar dan Umar beranjak bersama beliau. Beliau menemui seseorang dari kalangan Anshar –dalam suatu riwayat disebutkan rumah Abu Ayyub al-Anshari-, yang ternyata ia tidak berada di rumahnya. Ketika istrinya melihat kedatangan beliau, maka dia berkata, “Marhaban wa ahlan”. Beliau bertanya, “Dimana suamimu?” Wanita itu menjawab, “Dia pergi untuk mencari air tawar bagi kami.” Hingga sahabat pemilik datang. Dia memandang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan dua orang rekannya (Abu Bakr & Umar). Dia berkata, “Alhamdulillah…, pada hari ini tidak ada yang mendapatkan tamu-tamu yang lebih mulia selain diri tamuku.” Lalu sahabat itu beranjak lalu datang lagi sambil membawa tandan yang di dalamnya ada korma basah dan korma yang sudah dikeringkan. Dia berkata, “Makanlah hidangan ini”. Lalu dia akan mengambilkan tempat minum. Beliau bersabda, “Tak perlu engkau memerah air susu.” Kemudian sahabat itu menyembelih domba, dan mereka semua makan dan minum. Setelah mereka kenyang, beliau bersabda kepada Abu Bakar dan Umar, وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لَتُسْأَلُنَّ عَنْ هَذَا النَّعِيمِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُيُوتِكُمُ الْجُوعُ ثُمَّ لَمْ تَرْجِعُوا حَتَّى أَصَابَكُمْ هَذَا النَّعِيمُ “Demi yang diriku ada di Tangan-Nya, kalian benar-benar akan ditanya tentang kenikmatan ini pada hari kiamat. Rasa lapar telah membuat kalian keluar dari rumah, kemudian kalian tidak kembali melainkan setelah mendapat kenikmatan ini.” (HR. Muslim 5434). Dalam hadis lain, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ أَوَّلَ مَا يُسْأَلُ عَنْهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَعْنِى الْعَبْدَ مِنَ النَّعِيمِ أَنْ يُقَالَ لَهُ أَلَمْ نُصِحَّ لَكَ جِسْمَكَ وَنُرْوِيكَ مِنَ الْمَاءِ الْبَارِدِ “Sungguh nikmat yang akan ditanyakan pada hamba pertama kali pada hari kiamat kelak adalah dengan pertanyaan: “Bukankah Kami telah memberikan kesehatan pada badanmu dan telah memberikan padamu air yang menyegarkan?” (HR. Tirmidzi no. 3358 dan dishahihkan al-Albani). Karena itu, semakin banyak pemasukan seseorang, dia akan menjalani hisab yang lebih lama. sehingga menyebabkan dia tertunda masuk surga. Dalam hadis dari Abdullah bin Amr bin Ash radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ فُقَرَاءَ الْمُهَاجِرِينَ يَسْبِقُونَ الأَغْنِيَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِلَى الْجَنَّةِ بِأَرْبَعِينَ خَرِيفًا “Sesungguhnya kaum muhajirin yang miskin, mereka mendahului masuk surga pada hari kiamat, 40 tahun sebelum orang kaya.” (HR. Ahmad 6735, Muslim 7654, dan Ibnu Hibban 678). Dalam hadis lain, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, يَدْخُلُ فُقَرَاءُ الْمُسْلِمِينَ الْجَنَّةَ قَبْلَ أَغْنِيَائِهِمْ بِنِصْفِ يَوْمٍ، وَهُوَ خَمْسُ مِائَةِ عَامٍ “Orang muslim yang miskin akan masuk surga sebelum orang muslim yang kaya dengan selisih setengah hari, yang itu setara dengan 500 tahun.” (HR. Ahmad 8521, Turmudzi 2528, dan dihasankan Syuaib al-Arnauth). Dua hadis ini tidaklah bertentangan. Al-Qurthubi memahaminya bahwa perbedaan ini kembali kepada perbedaan keadaan orang miskin dan orang kaya yang bersangkutan. Jika persaingan itu terjadi antar-sesama Muhajirin, selisihnya masuk surga antara miskin dan kaya terpaut 40 tahun. Sementara selain Muhajirin, setengah hari di waktu kiamat, sepadan dengan 500 tahun. (at-Tadzkirah, al-Qurthubi, hlm. 548). Kita tidak perlu kepada orang yang lebih kaya… karena berarti kita iri kepada orang yang hisabnya lebih lama… وَلَوْ أَنَّا إِذَا مِتْنَا تُرِكْنَا ***** لَكَانَ المَوْتُ رَاحَةً كُلِّ حَيٍّ وَلَكِنَّا إِذَا مِتْنَا بُعِثْنَا ***** وَنَسْأَلُ بَعْدَهَا عَنْ كُلِّ شَيْءٍ Sekiranya ketika mati, kita dibiarkan begitu saja. Tentu kematian adalah kesempatan beristirahat bagi setiap orang yang pernah hidup. Namun, setelah mati kita akan dibangkitkan kembali, dan akan ditanya tentang segala sesuatu… Kelima, prestasi manusia tidak diukur dari seberapa banyak harta yang dia miliki, tapi dari seberapa banyak dia bisa memberikan manfaat bagi umat. Ada sebuah hadis yang menyatakan, أَحَبُّ النَّاسِ إِلَى اللهِ أَنفَعُهُم لِلنَّاسِ “Manusia yang paling dicintai Allah, adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (at-Thabrani dalam as-Shaghir, 862 – majma’ zawaid 13708) Dulu, waktu kita diaqiqahi, orang tua kita tidak lupa menuliskan harapan untuk anaknya di secarik kertas, ‘Semoga menjadi anak yang soleh – solehah, berguna bagi orang tua, agama dan masyarakat.’ Semenjak bayi, ortu menitipkan sebuah amanah yang luar biasa. Ortu berharap kita menjadi manusia yang serba guna. Bahkan terkadang ditambah, berguna bagi nusa dan bangsa. Rasa-rasanya, hanya akan menjadi angan-angan kosong belaka. Yang jelas, orang tua kita menghendaki agar kita menjadi pribadi yang bermanfaat. Melimpahnya harta yang ada di tangan anda, memang sebuah kelebihan. Tapi anda bisa pastikan, seberapa besar manfaat kelebihn itu, ketika tidak dikendalikan. Coba anda bayangkan, ketika anda bergelimang harta, sementara hanya anda yang bisa memanfaatkannya, dan orang lain hanya bisa melihat. Bisakah dikatakan bermanfaat? Bagaimana cara mengendalikannya? Jawabannya, tentu saja dengan menggunakan ‘pengendali’ dunia akhirat. Itulah syariat. Islam menghargai semua kelebihan manusia, namun kelebihan itu baru ternilai, ketika pemiliknya paham syariat dan ilmu agama. Karena hanya dengan modal paham aturan agama, manusia bisa mengendalikan segala kelebihannya dengan benar, sehingga manfaatnya lebih luas. Standar inilah yang diajarkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hadis hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, النَّاسُ مَعَادِنُ، خِيَارُهُمْ فِي الجَاهِلِيَّةِ خِيَارُهُمْ فِي الإِسْلاَمِ، إِذَا فَقُهُوا “Manusia adalah barang tambang. Manusia terbaik di zaman jahiliyah dia juga yang terbaik setelah masuk islam, apabila dia paham agama.” (HR. Bukhari 3383 dan Muslim 2526) Barang tambang beraneka ragam tingkatannya. Di sana ada emas, ada perak, nikel, besi, bahkan kerikil dan pasir. Masing-masing memiliki nilai yang jauh berbeda sesuai kelebihannya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memisalkan manusia sebagaimana layaknya barang tambang. Masing-masing memiliki nilai yang berbeda sesuai tingkat kelebihannya. Namun semua itu baru memiliki arti, ketika dia paham agama. Orang yang paham agama, dan berusaha mengamalkannya, akan menggunakan potensi hartanya untuk sesuatu yang bermanfaat bagi umat. Dari Abu Kabsyah Al-Anmari radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, ثَلاَثَةٌ أُقْسِمُ عَلَيْهِنَّ ، وَأُحَدِّثُكُمْ حَدِيثًا فَاحْفَظُوهُ ، قَالَ : مَا نَقَصَ مَالُ عَبْدٍ مِنْ صَدَقَةٍ ، وَلاَ ظُلِمَ عَبْدٌ مَظْلِمَةً ، فَصَبَرَ عَلَيْهَا ، إِلاَّ زَادَهُ اللهُ عِزًّا ، وَلاَ فَتَحَ عَبْدٌ بَابَ مَسْأَلَةٍ ، إِلاَّ فَتَحَ اللهُ عَلَيْهِ بَابَ فَقْرٍ ، أَوْ كَلِمَةً نَحْوَهَا ،  وَأُحَدِّثُكُمْ حَدِيثًا فَاحْفَظُوهُ ، قَالَ : إِنَّمَا الدُّنْيَا لأَرْبَعَةِ نَفَرٍ : عَبْدٍ رَزَقَهُ اللهُ مَالاً وَعِلْمًا ، فَهُوَ يَتَّقِي فِيهِ رَبَّهُ ، وَيَصِلُ فِيهِ رَحِمَهُ ، وَيَعْلَمُِ للهِ فِيهِ حَقًّا ، فَهَذَا بِأَفْضَلِ الْمَنَازِلِ ، وَعَبْدٍ رَزَقَهُ اللهُ عِلْمًا وَلَمْ يَرْزُقْهُ مَالاً ، فَهُوَ صَادِقُ النِّيَّةِ ، يَقُولُ : لَوْ أَنَّ لِي مَالاً لَعَمِلْتُ بِعَمَلِ فُلاَنٍ ، فَهُوَ بِنِيَّتِهِ ، فَأَجْرُهُمَا سَوَاءٌ ، وَعَبْدٍ رَزَقَهُ اللهُ مَالاً وَلَمْ يَرْزُقْهُ عِلْمًا ، فَه ُوَ يَخْبِطُ فِي مَالِهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ ، لاَ يَتَّقِي فِيهِ رَبَّهُ ، وَلاَ يَصِلُ فِيهِ رَحِمَهُ ، وَلاَ يَعْلَمُ ِللهِ فِيهِ حَقًّا ، فَهَذَا بِأَخْبَثِ الْمَنَازِلِ ، وَعَبْدٍ لَمْ يَرْزُقْهُ اللهُ مَالاً وَلاَ عِلْمًا ، فَهُوَ يَقُولُ : لَوْ أَنَّ لِي مَالاً لَعَمِلْتُ فِيهِ بِعَمَلِ فُلاَنٍ ، فَهُوَ بِنِيَّتِهِ ، فَوِزْرُهُمَا سَوَاءٌ. “Ada tiga perkara yang aku bersumpah atasnya, dan aku akan menceritakan kepada kalian suatu perkataan, maka hafalkanlah. Beliau bersabda: “Harta seorang hamba tidaklah berkurang disebabkan shodaqoh, dan tidaklah seorang hamba terzholimi dengan suatu kezholiman lalu ia bersabar dalam menghadapinya melainkan Allah menambahkan kemuliaan kepadanya, dan tidaklah seorang hamba membuka pintu utk meminta-minta (kepada orang lain, pent) melainkan Allah akan bukakan baginya pintu kefakiran, -atau suatu kalimat semisalnya-. Dan aku akan sampaikan kepada kalian satu perkataan kemudian hafalkanlah.” Beliau bersabda: “Sesungguhnya dunia ini hanya milik empat golongan saja, (1) Seorang hamba yang dikaruniai harta dan ilmu kemudian ia bertakwa kepada Rabb-nya, menyambung silaturrahim dan mengetahui hak-hak Allah, inilah kedudukan yang paling mulia. (2) Seorang hamba yang dikaruniai ilmu tapi  tidak dikaruniai harta, kemudian dengan niat yang tulus ia berkata: ‘Jika seandainya aku mempunyai harta, maka aku akan beramal seperti amalannya si fulan itu.’  Dengan niat seperti ini, maka pahala keduanya sama. (3) Seorang hamba yang dikaruniai harta namun tidak diberi ilmu, lalu ia membelanjakan hartanya secara serampangan tanpa dasar ilmu, , ia tidak bertakwa kepada Rabbnya, tidak menyambung silaturrahim, dan tidak mengetahui hak-hak Allah, maka ia berada pada kedudukan paling rendah. (4) Dan seorang hamba yang tidak dikaruniai harta dan juga ilmu oleh Allah ta’ala, lantas ia berkata: ‘Kalau seandainya aku memiliki harta, niscaya aku akan berbuat seperti yang dilakukan si Fulan.’ Maka ia dengan niatnya itu, menjadikan dosa keduanya sama.” (HR. Turmudzi  2325, Ahmad 18194 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth). Demikian, Allahu a’lam. Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. SPONSOR hubungi: 081 326 333 328 DONASI hubungi: 087 882 888 727 REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK 🔍 Istri Berzina, Sholat Tahajud Tanpa Tidur, Istri Yang Menolak Ajakan Suami, Hukum Menggambar, Ucapan Selamat Tahun Baru Islam 2018, Tata Cara Sholat Sunah Taubat Visited 333 times, 1 visit(s) today Post Views: 415 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Hukum Gambar Wali Songo

Hukum Gambar Wali Songo Ada banyak poster gambar wali songo. Kadang ada gambar 4 khalifah Rasyidin. Boleh tidak majang gambar seperti itu, untuk mengenang mereka? Jawab: Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Ada perbedaan cara penghormatan terhadap tokoh yang dilakukan umat islam dengan yang dilakukan ahli kitab. Orang yahudi dan nasrani memvisualisasi para tokoh sebagai bentuk pernghormatan kepada tokoh mereka. Sampai bayi Nabi Isa bersama ibunda Maryam, mereka buat patungnya. Mereka juga memajang foto-foto tokohnya untuk mengenang kesalehan mereka. Beberapa istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, seperti Maimunah dan Ummu Salamah pernah berhijrah ke Habasyah (Ethyopia) ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam masih di Mekah. Ketika mereka di Madinah, Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha bercerita kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai gereja yang mereka lihat di Habasyah. Di sana ada gereja Mariyah. Ummu Salamah bercerita, di dalam gereja itu ada banyak gambar-gambar tokoh nasrani. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أُولَئِكَ قَوْمٌ إِذَا مَاتَ فِيهِمُ الْعَبْدُ الصَّالِحُ – أَوِ الرَّجُلُ الصَّالِحُ – بَنَوْا عَلَى قَبْرِهِ مَسْجِدًا ، وَصَوَّرُوا فِيهِ تِلْكَ الصُّوَرَ ، أُولَئِكَ شِرَارُ الْخَلْقِ عِنْدَ اللَّهِ Mereka adalah sekelompok masyarakat yang apabila ada orang soleh di antara mereka yang meninggal, maka mereka akan membangun masjid di dekat kuburannya dan menggambar wajah orang soleh itu. Merekalah makhluk paling jelek di hadapan Allah. (HR. Bukhari 434, Ahmad 24984 dan lainnya). Hadis ini memberi pelajaran kepada kita, bahwa cara penghormatan tokoh agama, orang soleh seperti yang dilakukan orang nasrani, dengan memajang gambar dan foto tokohnya, adalah tindakan tercela. Karena ini sebab terbesar orang melakukan kultus. Kita meyakini, manusia yang paling dicintai sahabat adalah Nabi Allah, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sahabat ada yang dulunya pandai menggambar. Namun tidak kita jumpai satupun diantara mereka yang membuat reka wajah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk dipajang di masjid nabawi atau di rumah mereka masing-masing. Sekalipun kita sangat yakin, mereka tidak munngkin sampai menyembah gambar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tauhid mereka jauh lebih kuat dibandingkan tauhid kita.. Karena mereka memuliakan tokohnya bukan dengan cara menggambar wajahnya. Memvisualisasi wajah, justru termasuk bentuk pelecehan  dan penghinaan. Karena tentu saja, yang asli lebih indah dan lebih sempurna. Gambar adalah pelecehan kepada tokoh. Ini disepakati kaum muslimin hingga sekarang. Terbukti, tidak ada satupun umat islam yang berani membuat reka gambar wajah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maupun nabi-nabi lainnya. Cara menghormati tokoh adalah dengan mendoakan mereka dan melestarikan ajaran mereka. Bukan dengan menggambar mereka. Apalagi dengan gambar asal-asalan, tanpa bukti yang jelas. Kehormatan Mayit itu Dimakamkan Allah berfirman, ثُمَّ أَمَاتَهُ فَأَقْبَرَهُ Kemudian, orang mati diantara manusia, mereka dikuburkan. (QS. Abasa: 21) Bagian dari kemuliaan yang Allah berikan untuk manusia, Allah syariatkan agar yang meninggal dikuburkan. Dan itu sesuai fitrah manusia. Karena itu, agama yang mengajarkan agar mayit dimakamkan, adalah agama yang mengajarkan fitrah. Ketika ada orang istimewa yang jasadnya di taruh di permukaan, yang terjadi bukan memuliakan, tapi justru menghinakan. Artinya, semakin tidak dinampakkan, semakin dimuliakan. Allahu a’lam. Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. SPONSOR hubungi: 081 326 333 328 DONASI hubungi: 087 882 888 727 REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK 🔍 Alasan Suami Menceraikan Istri Dalam Islam, Hukum Mewarnai Uban, Ukuran Zakat, Makna Kata Islam, Apakah Akikah Itu Wajib, Apakah Makan Membatalkan Wudhu Visited 186 times, 1 visit(s) today Post Views: 424 QRIS donasi Yufid

Hukum Gambar Wali Songo

Hukum Gambar Wali Songo Ada banyak poster gambar wali songo. Kadang ada gambar 4 khalifah Rasyidin. Boleh tidak majang gambar seperti itu, untuk mengenang mereka? Jawab: Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Ada perbedaan cara penghormatan terhadap tokoh yang dilakukan umat islam dengan yang dilakukan ahli kitab. Orang yahudi dan nasrani memvisualisasi para tokoh sebagai bentuk pernghormatan kepada tokoh mereka. Sampai bayi Nabi Isa bersama ibunda Maryam, mereka buat patungnya. Mereka juga memajang foto-foto tokohnya untuk mengenang kesalehan mereka. Beberapa istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, seperti Maimunah dan Ummu Salamah pernah berhijrah ke Habasyah (Ethyopia) ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam masih di Mekah. Ketika mereka di Madinah, Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha bercerita kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai gereja yang mereka lihat di Habasyah. Di sana ada gereja Mariyah. Ummu Salamah bercerita, di dalam gereja itu ada banyak gambar-gambar tokoh nasrani. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أُولَئِكَ قَوْمٌ إِذَا مَاتَ فِيهِمُ الْعَبْدُ الصَّالِحُ – أَوِ الرَّجُلُ الصَّالِحُ – بَنَوْا عَلَى قَبْرِهِ مَسْجِدًا ، وَصَوَّرُوا فِيهِ تِلْكَ الصُّوَرَ ، أُولَئِكَ شِرَارُ الْخَلْقِ عِنْدَ اللَّهِ Mereka adalah sekelompok masyarakat yang apabila ada orang soleh di antara mereka yang meninggal, maka mereka akan membangun masjid di dekat kuburannya dan menggambar wajah orang soleh itu. Merekalah makhluk paling jelek di hadapan Allah. (HR. Bukhari 434, Ahmad 24984 dan lainnya). Hadis ini memberi pelajaran kepada kita, bahwa cara penghormatan tokoh agama, orang soleh seperti yang dilakukan orang nasrani, dengan memajang gambar dan foto tokohnya, adalah tindakan tercela. Karena ini sebab terbesar orang melakukan kultus. Kita meyakini, manusia yang paling dicintai sahabat adalah Nabi Allah, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sahabat ada yang dulunya pandai menggambar. Namun tidak kita jumpai satupun diantara mereka yang membuat reka wajah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk dipajang di masjid nabawi atau di rumah mereka masing-masing. Sekalipun kita sangat yakin, mereka tidak munngkin sampai menyembah gambar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tauhid mereka jauh lebih kuat dibandingkan tauhid kita.. Karena mereka memuliakan tokohnya bukan dengan cara menggambar wajahnya. Memvisualisasi wajah, justru termasuk bentuk pelecehan  dan penghinaan. Karena tentu saja, yang asli lebih indah dan lebih sempurna. Gambar adalah pelecehan kepada tokoh. Ini disepakati kaum muslimin hingga sekarang. Terbukti, tidak ada satupun umat islam yang berani membuat reka gambar wajah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maupun nabi-nabi lainnya. Cara menghormati tokoh adalah dengan mendoakan mereka dan melestarikan ajaran mereka. Bukan dengan menggambar mereka. Apalagi dengan gambar asal-asalan, tanpa bukti yang jelas. Kehormatan Mayit itu Dimakamkan Allah berfirman, ثُمَّ أَمَاتَهُ فَأَقْبَرَهُ Kemudian, orang mati diantara manusia, mereka dikuburkan. (QS. Abasa: 21) Bagian dari kemuliaan yang Allah berikan untuk manusia, Allah syariatkan agar yang meninggal dikuburkan. Dan itu sesuai fitrah manusia. Karena itu, agama yang mengajarkan agar mayit dimakamkan, adalah agama yang mengajarkan fitrah. Ketika ada orang istimewa yang jasadnya di taruh di permukaan, yang terjadi bukan memuliakan, tapi justru menghinakan. Artinya, semakin tidak dinampakkan, semakin dimuliakan. Allahu a’lam. Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. SPONSOR hubungi: 081 326 333 328 DONASI hubungi: 087 882 888 727 REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK 🔍 Alasan Suami Menceraikan Istri Dalam Islam, Hukum Mewarnai Uban, Ukuran Zakat, Makna Kata Islam, Apakah Akikah Itu Wajib, Apakah Makan Membatalkan Wudhu Visited 186 times, 1 visit(s) today Post Views: 424 QRIS donasi Yufid
Hukum Gambar Wali Songo Ada banyak poster gambar wali songo. Kadang ada gambar 4 khalifah Rasyidin. Boleh tidak majang gambar seperti itu, untuk mengenang mereka? Jawab: Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Ada perbedaan cara penghormatan terhadap tokoh yang dilakukan umat islam dengan yang dilakukan ahli kitab. Orang yahudi dan nasrani memvisualisasi para tokoh sebagai bentuk pernghormatan kepada tokoh mereka. Sampai bayi Nabi Isa bersama ibunda Maryam, mereka buat patungnya. Mereka juga memajang foto-foto tokohnya untuk mengenang kesalehan mereka. Beberapa istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, seperti Maimunah dan Ummu Salamah pernah berhijrah ke Habasyah (Ethyopia) ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam masih di Mekah. Ketika mereka di Madinah, Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha bercerita kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai gereja yang mereka lihat di Habasyah. Di sana ada gereja Mariyah. Ummu Salamah bercerita, di dalam gereja itu ada banyak gambar-gambar tokoh nasrani. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أُولَئِكَ قَوْمٌ إِذَا مَاتَ فِيهِمُ الْعَبْدُ الصَّالِحُ – أَوِ الرَّجُلُ الصَّالِحُ – بَنَوْا عَلَى قَبْرِهِ مَسْجِدًا ، وَصَوَّرُوا فِيهِ تِلْكَ الصُّوَرَ ، أُولَئِكَ شِرَارُ الْخَلْقِ عِنْدَ اللَّهِ Mereka adalah sekelompok masyarakat yang apabila ada orang soleh di antara mereka yang meninggal, maka mereka akan membangun masjid di dekat kuburannya dan menggambar wajah orang soleh itu. Merekalah makhluk paling jelek di hadapan Allah. (HR. Bukhari 434, Ahmad 24984 dan lainnya). Hadis ini memberi pelajaran kepada kita, bahwa cara penghormatan tokoh agama, orang soleh seperti yang dilakukan orang nasrani, dengan memajang gambar dan foto tokohnya, adalah tindakan tercela. Karena ini sebab terbesar orang melakukan kultus. Kita meyakini, manusia yang paling dicintai sahabat adalah Nabi Allah, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sahabat ada yang dulunya pandai menggambar. Namun tidak kita jumpai satupun diantara mereka yang membuat reka wajah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk dipajang di masjid nabawi atau di rumah mereka masing-masing. Sekalipun kita sangat yakin, mereka tidak munngkin sampai menyembah gambar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tauhid mereka jauh lebih kuat dibandingkan tauhid kita.. Karena mereka memuliakan tokohnya bukan dengan cara menggambar wajahnya. Memvisualisasi wajah, justru termasuk bentuk pelecehan  dan penghinaan. Karena tentu saja, yang asli lebih indah dan lebih sempurna. Gambar adalah pelecehan kepada tokoh. Ini disepakati kaum muslimin hingga sekarang. Terbukti, tidak ada satupun umat islam yang berani membuat reka gambar wajah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maupun nabi-nabi lainnya. Cara menghormati tokoh adalah dengan mendoakan mereka dan melestarikan ajaran mereka. Bukan dengan menggambar mereka. Apalagi dengan gambar asal-asalan, tanpa bukti yang jelas. Kehormatan Mayit itu Dimakamkan Allah berfirman, ثُمَّ أَمَاتَهُ فَأَقْبَرَهُ Kemudian, orang mati diantara manusia, mereka dikuburkan. (QS. Abasa: 21) Bagian dari kemuliaan yang Allah berikan untuk manusia, Allah syariatkan agar yang meninggal dikuburkan. Dan itu sesuai fitrah manusia. Karena itu, agama yang mengajarkan agar mayit dimakamkan, adalah agama yang mengajarkan fitrah. Ketika ada orang istimewa yang jasadnya di taruh di permukaan, yang terjadi bukan memuliakan, tapi justru menghinakan. Artinya, semakin tidak dinampakkan, semakin dimuliakan. Allahu a’lam. Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. SPONSOR hubungi: 081 326 333 328 DONASI hubungi: 087 882 888 727 REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK 🔍 Alasan Suami Menceraikan Istri Dalam Islam, Hukum Mewarnai Uban, Ukuran Zakat, Makna Kata Islam, Apakah Akikah Itu Wajib, Apakah Makan Membatalkan Wudhu Visited 186 times, 1 visit(s) today Post Views: 424 QRIS donasi Yufid


<iframe src="https://w.soundcloud.com/player/?url=https%3A//api.soundcloud.com/tracks/365231168&amp;color=d5265f&amp;auto_play=false&amp;show_artwork=false&amp;hide_related=true&amp;show_comments=false&amp;show_user=false&amp;show_reposts=false" width="100%" height="166" frameborder="no" scrolling="no"></iframe> Hukum Gambar Wali Songo Ada banyak poster gambar wali songo. Kadang ada gambar 4 khalifah Rasyidin. Boleh tidak majang gambar seperti itu, untuk mengenang mereka? Jawab: Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Ada perbedaan cara penghormatan terhadap tokoh yang dilakukan umat islam dengan yang dilakukan ahli kitab. Orang yahudi dan nasrani memvisualisasi para tokoh sebagai bentuk pernghormatan kepada tokoh mereka. Sampai bayi Nabi Isa bersama ibunda Maryam, mereka buat patungnya. Mereka juga memajang foto-foto tokohnya untuk mengenang kesalehan mereka. Beberapa istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, seperti Maimunah dan Ummu Salamah pernah berhijrah ke Habasyah (Ethyopia) ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam masih di Mekah. Ketika mereka di Madinah, Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha bercerita kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai gereja yang mereka lihat di Habasyah. Di sana ada gereja Mariyah. Ummu Salamah bercerita, di dalam gereja itu ada banyak gambar-gambar tokoh nasrani. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أُولَئِكَ قَوْمٌ إِذَا مَاتَ فِيهِمُ الْعَبْدُ الصَّالِحُ – أَوِ الرَّجُلُ الصَّالِحُ – بَنَوْا عَلَى قَبْرِهِ مَسْجِدًا ، وَصَوَّرُوا فِيهِ تِلْكَ الصُّوَرَ ، أُولَئِكَ شِرَارُ الْخَلْقِ عِنْدَ اللَّهِ Mereka adalah sekelompok masyarakat yang apabila ada orang soleh di antara mereka yang meninggal, maka mereka akan membangun masjid di dekat kuburannya dan menggambar wajah orang soleh itu. Merekalah makhluk paling jelek di hadapan Allah. (HR. Bukhari 434, Ahmad 24984 dan lainnya). Hadis ini memberi pelajaran kepada kita, bahwa cara penghormatan tokoh agama, orang soleh seperti yang dilakukan orang nasrani, dengan memajang gambar dan foto tokohnya, adalah tindakan tercela. Karena ini sebab terbesar orang melakukan kultus. Kita meyakini, manusia yang paling dicintai sahabat adalah Nabi Allah, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sahabat ada yang dulunya pandai menggambar. Namun tidak kita jumpai satupun diantara mereka yang membuat reka wajah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk dipajang di masjid nabawi atau di rumah mereka masing-masing. Sekalipun kita sangat yakin, mereka tidak munngkin sampai menyembah gambar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tauhid mereka jauh lebih kuat dibandingkan tauhid kita.. Karena mereka memuliakan tokohnya bukan dengan cara menggambar wajahnya. Memvisualisasi wajah, justru termasuk bentuk pelecehan  dan penghinaan. Karena tentu saja, yang asli lebih indah dan lebih sempurna. Gambar adalah pelecehan kepada tokoh. Ini disepakati kaum muslimin hingga sekarang. Terbukti, tidak ada satupun umat islam yang berani membuat reka gambar wajah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maupun nabi-nabi lainnya. Cara menghormati tokoh adalah dengan mendoakan mereka dan melestarikan ajaran mereka. Bukan dengan menggambar mereka. Apalagi dengan gambar asal-asalan, tanpa bukti yang jelas. Kehormatan Mayit itu Dimakamkan Allah berfirman, ثُمَّ أَمَاتَهُ فَأَقْبَرَهُ Kemudian, orang mati diantara manusia, mereka dikuburkan. (QS. Abasa: 21) Bagian dari kemuliaan yang Allah berikan untuk manusia, Allah syariatkan agar yang meninggal dikuburkan. Dan itu sesuai fitrah manusia. Karena itu, agama yang mengajarkan agar mayit dimakamkan, adalah agama yang mengajarkan fitrah. Ketika ada orang istimewa yang jasadnya di taruh di permukaan, yang terjadi bukan memuliakan, tapi justru menghinakan. Artinya, semakin tidak dinampakkan, semakin dimuliakan. Allahu a’lam. Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. SPONSOR hubungi: 081 326 333 328 DONASI hubungi: 087 882 888 727 REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK 🔍 Alasan Suami Menceraikan Istri Dalam Islam, Hukum Mewarnai Uban, Ukuran Zakat, Makna Kata Islam, Apakah Akikah Itu Wajib, Apakah Makan Membatalkan Wudhu Visited 186 times, 1 visit(s) today Post Views: 424 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />
Prev     Next