Faedah Surat Yasin: Syirik itu Jalan Kesesatan

Download   Syirik itu jalan kesesatan. Kaji dalam tafsir surah Yasin ayat 22-24.   Tafsir Surah Yasin Ayat 22-24 وَمَا لِيَ لَا أَعْبُدُ الَّذِي فَطَرَنِي وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ (22) أَأَتَّخِذُ مِنْ دُونِهِ آَلِهَةً إِنْ يُرِدْنِ الرَّحْمَنُ بِضُرٍّ لَا تُغْنِ عَنِّي شَفَاعَتُهُمْ شَيْئًا وَلَا يُنْقِذُونِ (23) إِنِّي إِذًا لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ (24) “Mengapa aku tidak menyembah (Rabb) yang telah menciptakanku dan yang hanya kepada-Nya-lah kamu (semua) akan dikembalikan? Mengapa aku akan menyembah tuhan-tuhan selain Nya jika (Allah) Yang Maha Pemurah menghendaki kemudharatan terhadapku, niscaya syafaat mereka tidak memberi manfaat sedikit pun bagi diriku dan mereka tidak (pula) dapat menyelamatkanku? Sesungguhnya aku kalau begitu pasti berada dalam kesesatan yang nyata.” (QS. Yasin: 22-24)   Penjelasan Ayat Ibnu Katsir menyatakan bahwa siapa yang menghalangi dalam mengikhlaskan ibadah hanya kepada Allah yang telah menciptakan kita dan tidak pantas bagi Allah memiliki sekutu dalam beribadah. Kepada Allah-lah kita kembali. Allah akan membalas, jika amalan seseorang itu baik, maka akan dibalas juga dengan kebaikan. Jika sebaliknya amalannya jelek, maka akan dibalas juga dengan kejelekan. Ibnu Katsir rahimahullah menerangkan pula bahwa kata tanya yang ada adalah sebagai tanda pengingkaran dan ingin menyatakan bahwa yang dilakukan adalah suatu yang keliru. Ayat tersebut menunjukkan pula bahwa ilah (sesembahan) yang disembah selain Allah (berhala dan lainnya) tidak berkuasa memiliki segala sesuatu. Jika Allah menimpakan suatu musibah, maka tidak ada yang dapat mengangkatnya kecuali Allah. Sesembahan selain Allah tidak dapat menolak dan tidak dapat mencegah. Jadinya, orang yang menjadikan selain Allah sebagai sesembahan (berbuat syirik) berada dalam kesesatan yang nyata. Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 6:335.   Pelajaran dari Ayat Kita diperintahkan untuk beribadah kepada Allah semata (mentauhidkan Allah) karena Allah yang menciptakan kita. Yang Maha Pencipta tentu lebih pantas diibadahi dan disembah. Kepada Allah-lah kita akan kembali, setiap amalan kita yang baik maupun yang buruk akan dibalas termasuk jika kita berbuat syirik dengan menyekutukan Allah. Setiap muslim harus meyakini rububiyah Allah (Allah sebagai pencipta, pemberi rezeki dan pengatur jagat raya) harus juga beribadah kepada Allah semata (menjalankan tauhid uluhiyah). Segala sesuatu selain Allah tidak bisa mendatangkan manfaat dan mudarat, tidak bisa memberi dan menerima, tidak bisa menghidupkan dan mematikan serta membangkitkan. Tidak ada yang dapat memberikan syafaat di sisi Allah kecuali dengan izin Allah. Orang yang berbuat syirik berada dalam kesesatan yang nyata. Kalimat kepada Allah-lah kita akan kembali menunjukkan bahwa ini adalah bentuk menakut-nakuti kepada orang-orang yang beribadah kepada selain Allah, setelah sebelumnya disebutkan kalimat dorongan untuk beribadah kepada Allah semata. Ayat-ayat ada yang menyebutkan suatu hukum dibarengkan dengan ta’lil (alasan). Kejelekan tidak disandarkan kepada Allah. Adapun kalimat Allah menginginkan kemudaratan maksudnya adalah masyi’ah (iradah kauniyyah) yang pasti terjadi kalau Allah berkehendak namun tidak menunjukkan Allah mencintainya. Sedangkan jika ada suatu yang baik, maka itu terjadi karena kehendak Allah yang menunjukkan cinta, disebut iradah syar’iyyah). Contoh, setan itu diciptakan berdasarkan iradah kauniyyah (kehendak Allah yang pasti terjadi). Ada orang yang beriman terjadi berdasarkan iradah syar’iyyah (kehendak Allah yang didasarkan cinta), namun tidak semua jadi beriman). Allah memiliki sifat Ar-Rahman (Maha Penyayang). Orang yang berbuat syirik punya alasan untuk mendapatkan syafaat dari makluk yang mereka sembah.   Referensi: Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Cetakan pertama, Tahun 1431 H. Ibnu Katsir. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Tafsir Al-Qur’an Al-Karim – Surat Yasin. Cetakan kedua, Tahun 1424 H. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Penerbit Dar Ats-Tsuraya. Tafsir As-Sa’di (Taisir Al-Karim Ar-Rahman). Cetakan kedua, Tahun 1433 H. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. Penerbit Muassasah Ar-Risalah.   Empat Kaedah Memahami Syirik Orang musyrik juga mengakui tauhid rububiyyah (Allah sebagai pencipta, pemberi rezeki, dan pengatur alam semesta), namun ternyata itu tidak cukup memasukkan mereka dalam Islam sampai mereka mentauhidkan Allah dalam ibadah. Orang musyrik tidaklah meminta kepada sesembahan mereka secara langsung, namun mereka menjadikan sesembahan itu sebatas sebagai perantara yang mendekatkan diri mereka kepada Allah dan sebagai pemberi syafaat. Orang musyrik memiliki sesembahan yang beraneka ragam, sehingga yang disebut “kesyirikan” bukan hanya perbuatan menyembah patung atau berhala. Menyembah orang shalih juga termasuk kesyirikan. Orang musyrik pada zaman ini lebih parah daripada orang musyrik pada masa silam. (Al-Qowa’idul Arba’ oleh Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab, diambil dari buku “Muslim Tetapi Musyrik” diterbitkan Penerbit Rumaysho)   Syirik Zaman Now Dibanding Zaman Dulu Orang musyrik pada masa silam melakukan kesyirikan pada saat lapang saja, sedangkan pada saat susah mereka beribadah hanya kepada Allah. Adapun orang musyrik pada zaman ini syiriknya pada saat susah maupun saat lapang. Orang musyrik pada masa silam beribadah kepada orang-orang shalih dari golongan para malaikat, para nabi, dan para wali. Saat ini, orang-orang musyrik malah beribadah kepada orang-orang yang paling fajir (gemar bermaksiat) padahal mereka mengetahui hal itu. (Disebut oleh Syaikh Muhammad Abdul Wahhab di dalam kitab Kasyfu Syubuhat) Orang musyrik pada masa silam meyakini bahwa mereka menyelisihi dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Adapun orang musyrik pada zaman ini malah merasa berada di atas jalan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Orang musyrik pada masa silam menjadikan sesembahan mereka sebagai perantara yang mendekatkan diri mereka kepada Allah dan sebagai pemberi syafaat. Adapun orang musyrik pada masa kini malah menjadikan sesembahan mereka itu sebagai pihak yang dimintai secara langsung (mereka menganggap sesembahan itu mampu mengabulkan doa). Orang musyrik pada masa kini menganggap bahwa ibadah kepada orang shalih termasuk bentuk menunaikan hak orang shalih tersebut, dan tidak beribadah kepada orang shalih termasuk bentuk menghinakan mereka. Hal ini tidak ditemukan pada orang musyrik sebelumnya. Syirik yang terjadi pada masa silam adalah syirik pada uluhiyyah; sedangkan syirik yang terjadi pada masa kini adalah syirik dalam rububiyyah, uluhiyyah, dan asma’ wa shifat. Orang musyrik pada masa silam tidaklah meyakini ada yang menguasai dan mengatur jagad raya selain Allah. Adapun orang musyrik pada saat ini meyakini bahwa selain Allah ada yang berkuasa dan mengatur sebagian tempat. Orang musyrik pada dahulu masih mengagungkan syariat Allah, contoh: mereka mau bersumpah dengan nama Allah. Adapun orang musyrik pada masa kini tidak mengagungkan Allah dan syariat-Nya sama sekali. Orang musyrik pada masa silam mengharap kepada sesembahan mereka agar urusan dunia mereka ditunaikan. Adapun orang musyrik pada masa kini bukan meminta untuk urusan dunia saja, namun juga untuk urusan akhirat. (“Muslim Tetapi Musyrik” diterbitkan Penerbit Rumaysho) Semoga Allah memberi taufik dan hidayah. — Disusun di Perpus Rumaysho, 23 Rabi’uts Tsani 1439 H, Rabu siang Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsfaedah surat yasin kaedah syirik surat yasin syirik tafsir surat yasin

Faedah Surat Yasin: Syirik itu Jalan Kesesatan

Download   Syirik itu jalan kesesatan. Kaji dalam tafsir surah Yasin ayat 22-24.   Tafsir Surah Yasin Ayat 22-24 وَمَا لِيَ لَا أَعْبُدُ الَّذِي فَطَرَنِي وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ (22) أَأَتَّخِذُ مِنْ دُونِهِ آَلِهَةً إِنْ يُرِدْنِ الرَّحْمَنُ بِضُرٍّ لَا تُغْنِ عَنِّي شَفَاعَتُهُمْ شَيْئًا وَلَا يُنْقِذُونِ (23) إِنِّي إِذًا لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ (24) “Mengapa aku tidak menyembah (Rabb) yang telah menciptakanku dan yang hanya kepada-Nya-lah kamu (semua) akan dikembalikan? Mengapa aku akan menyembah tuhan-tuhan selain Nya jika (Allah) Yang Maha Pemurah menghendaki kemudharatan terhadapku, niscaya syafaat mereka tidak memberi manfaat sedikit pun bagi diriku dan mereka tidak (pula) dapat menyelamatkanku? Sesungguhnya aku kalau begitu pasti berada dalam kesesatan yang nyata.” (QS. Yasin: 22-24)   Penjelasan Ayat Ibnu Katsir menyatakan bahwa siapa yang menghalangi dalam mengikhlaskan ibadah hanya kepada Allah yang telah menciptakan kita dan tidak pantas bagi Allah memiliki sekutu dalam beribadah. Kepada Allah-lah kita kembali. Allah akan membalas, jika amalan seseorang itu baik, maka akan dibalas juga dengan kebaikan. Jika sebaliknya amalannya jelek, maka akan dibalas juga dengan kejelekan. Ibnu Katsir rahimahullah menerangkan pula bahwa kata tanya yang ada adalah sebagai tanda pengingkaran dan ingin menyatakan bahwa yang dilakukan adalah suatu yang keliru. Ayat tersebut menunjukkan pula bahwa ilah (sesembahan) yang disembah selain Allah (berhala dan lainnya) tidak berkuasa memiliki segala sesuatu. Jika Allah menimpakan suatu musibah, maka tidak ada yang dapat mengangkatnya kecuali Allah. Sesembahan selain Allah tidak dapat menolak dan tidak dapat mencegah. Jadinya, orang yang menjadikan selain Allah sebagai sesembahan (berbuat syirik) berada dalam kesesatan yang nyata. Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 6:335.   Pelajaran dari Ayat Kita diperintahkan untuk beribadah kepada Allah semata (mentauhidkan Allah) karena Allah yang menciptakan kita. Yang Maha Pencipta tentu lebih pantas diibadahi dan disembah. Kepada Allah-lah kita akan kembali, setiap amalan kita yang baik maupun yang buruk akan dibalas termasuk jika kita berbuat syirik dengan menyekutukan Allah. Setiap muslim harus meyakini rububiyah Allah (Allah sebagai pencipta, pemberi rezeki dan pengatur jagat raya) harus juga beribadah kepada Allah semata (menjalankan tauhid uluhiyah). Segala sesuatu selain Allah tidak bisa mendatangkan manfaat dan mudarat, tidak bisa memberi dan menerima, tidak bisa menghidupkan dan mematikan serta membangkitkan. Tidak ada yang dapat memberikan syafaat di sisi Allah kecuali dengan izin Allah. Orang yang berbuat syirik berada dalam kesesatan yang nyata. Kalimat kepada Allah-lah kita akan kembali menunjukkan bahwa ini adalah bentuk menakut-nakuti kepada orang-orang yang beribadah kepada selain Allah, setelah sebelumnya disebutkan kalimat dorongan untuk beribadah kepada Allah semata. Ayat-ayat ada yang menyebutkan suatu hukum dibarengkan dengan ta’lil (alasan). Kejelekan tidak disandarkan kepada Allah. Adapun kalimat Allah menginginkan kemudaratan maksudnya adalah masyi’ah (iradah kauniyyah) yang pasti terjadi kalau Allah berkehendak namun tidak menunjukkan Allah mencintainya. Sedangkan jika ada suatu yang baik, maka itu terjadi karena kehendak Allah yang menunjukkan cinta, disebut iradah syar’iyyah). Contoh, setan itu diciptakan berdasarkan iradah kauniyyah (kehendak Allah yang pasti terjadi). Ada orang yang beriman terjadi berdasarkan iradah syar’iyyah (kehendak Allah yang didasarkan cinta), namun tidak semua jadi beriman). Allah memiliki sifat Ar-Rahman (Maha Penyayang). Orang yang berbuat syirik punya alasan untuk mendapatkan syafaat dari makluk yang mereka sembah.   Referensi: Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Cetakan pertama, Tahun 1431 H. Ibnu Katsir. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Tafsir Al-Qur’an Al-Karim – Surat Yasin. Cetakan kedua, Tahun 1424 H. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Penerbit Dar Ats-Tsuraya. Tafsir As-Sa’di (Taisir Al-Karim Ar-Rahman). Cetakan kedua, Tahun 1433 H. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. Penerbit Muassasah Ar-Risalah.   Empat Kaedah Memahami Syirik Orang musyrik juga mengakui tauhid rububiyyah (Allah sebagai pencipta, pemberi rezeki, dan pengatur alam semesta), namun ternyata itu tidak cukup memasukkan mereka dalam Islam sampai mereka mentauhidkan Allah dalam ibadah. Orang musyrik tidaklah meminta kepada sesembahan mereka secara langsung, namun mereka menjadikan sesembahan itu sebatas sebagai perantara yang mendekatkan diri mereka kepada Allah dan sebagai pemberi syafaat. Orang musyrik memiliki sesembahan yang beraneka ragam, sehingga yang disebut “kesyirikan” bukan hanya perbuatan menyembah patung atau berhala. Menyembah orang shalih juga termasuk kesyirikan. Orang musyrik pada zaman ini lebih parah daripada orang musyrik pada masa silam. (Al-Qowa’idul Arba’ oleh Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab, diambil dari buku “Muslim Tetapi Musyrik” diterbitkan Penerbit Rumaysho)   Syirik Zaman Now Dibanding Zaman Dulu Orang musyrik pada masa silam melakukan kesyirikan pada saat lapang saja, sedangkan pada saat susah mereka beribadah hanya kepada Allah. Adapun orang musyrik pada zaman ini syiriknya pada saat susah maupun saat lapang. Orang musyrik pada masa silam beribadah kepada orang-orang shalih dari golongan para malaikat, para nabi, dan para wali. Saat ini, orang-orang musyrik malah beribadah kepada orang-orang yang paling fajir (gemar bermaksiat) padahal mereka mengetahui hal itu. (Disebut oleh Syaikh Muhammad Abdul Wahhab di dalam kitab Kasyfu Syubuhat) Orang musyrik pada masa silam meyakini bahwa mereka menyelisihi dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Adapun orang musyrik pada zaman ini malah merasa berada di atas jalan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Orang musyrik pada masa silam menjadikan sesembahan mereka sebagai perantara yang mendekatkan diri mereka kepada Allah dan sebagai pemberi syafaat. Adapun orang musyrik pada masa kini malah menjadikan sesembahan mereka itu sebagai pihak yang dimintai secara langsung (mereka menganggap sesembahan itu mampu mengabulkan doa). Orang musyrik pada masa kini menganggap bahwa ibadah kepada orang shalih termasuk bentuk menunaikan hak orang shalih tersebut, dan tidak beribadah kepada orang shalih termasuk bentuk menghinakan mereka. Hal ini tidak ditemukan pada orang musyrik sebelumnya. Syirik yang terjadi pada masa silam adalah syirik pada uluhiyyah; sedangkan syirik yang terjadi pada masa kini adalah syirik dalam rububiyyah, uluhiyyah, dan asma’ wa shifat. Orang musyrik pada masa silam tidaklah meyakini ada yang menguasai dan mengatur jagad raya selain Allah. Adapun orang musyrik pada saat ini meyakini bahwa selain Allah ada yang berkuasa dan mengatur sebagian tempat. Orang musyrik pada dahulu masih mengagungkan syariat Allah, contoh: mereka mau bersumpah dengan nama Allah. Adapun orang musyrik pada masa kini tidak mengagungkan Allah dan syariat-Nya sama sekali. Orang musyrik pada masa silam mengharap kepada sesembahan mereka agar urusan dunia mereka ditunaikan. Adapun orang musyrik pada masa kini bukan meminta untuk urusan dunia saja, namun juga untuk urusan akhirat. (“Muslim Tetapi Musyrik” diterbitkan Penerbit Rumaysho) Semoga Allah memberi taufik dan hidayah. — Disusun di Perpus Rumaysho, 23 Rabi’uts Tsani 1439 H, Rabu siang Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsfaedah surat yasin kaedah syirik surat yasin syirik tafsir surat yasin
Download   Syirik itu jalan kesesatan. Kaji dalam tafsir surah Yasin ayat 22-24.   Tafsir Surah Yasin Ayat 22-24 وَمَا لِيَ لَا أَعْبُدُ الَّذِي فَطَرَنِي وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ (22) أَأَتَّخِذُ مِنْ دُونِهِ آَلِهَةً إِنْ يُرِدْنِ الرَّحْمَنُ بِضُرٍّ لَا تُغْنِ عَنِّي شَفَاعَتُهُمْ شَيْئًا وَلَا يُنْقِذُونِ (23) إِنِّي إِذًا لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ (24) “Mengapa aku tidak menyembah (Rabb) yang telah menciptakanku dan yang hanya kepada-Nya-lah kamu (semua) akan dikembalikan? Mengapa aku akan menyembah tuhan-tuhan selain Nya jika (Allah) Yang Maha Pemurah menghendaki kemudharatan terhadapku, niscaya syafaat mereka tidak memberi manfaat sedikit pun bagi diriku dan mereka tidak (pula) dapat menyelamatkanku? Sesungguhnya aku kalau begitu pasti berada dalam kesesatan yang nyata.” (QS. Yasin: 22-24)   Penjelasan Ayat Ibnu Katsir menyatakan bahwa siapa yang menghalangi dalam mengikhlaskan ibadah hanya kepada Allah yang telah menciptakan kita dan tidak pantas bagi Allah memiliki sekutu dalam beribadah. Kepada Allah-lah kita kembali. Allah akan membalas, jika amalan seseorang itu baik, maka akan dibalas juga dengan kebaikan. Jika sebaliknya amalannya jelek, maka akan dibalas juga dengan kejelekan. Ibnu Katsir rahimahullah menerangkan pula bahwa kata tanya yang ada adalah sebagai tanda pengingkaran dan ingin menyatakan bahwa yang dilakukan adalah suatu yang keliru. Ayat tersebut menunjukkan pula bahwa ilah (sesembahan) yang disembah selain Allah (berhala dan lainnya) tidak berkuasa memiliki segala sesuatu. Jika Allah menimpakan suatu musibah, maka tidak ada yang dapat mengangkatnya kecuali Allah. Sesembahan selain Allah tidak dapat menolak dan tidak dapat mencegah. Jadinya, orang yang menjadikan selain Allah sebagai sesembahan (berbuat syirik) berada dalam kesesatan yang nyata. Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 6:335.   Pelajaran dari Ayat Kita diperintahkan untuk beribadah kepada Allah semata (mentauhidkan Allah) karena Allah yang menciptakan kita. Yang Maha Pencipta tentu lebih pantas diibadahi dan disembah. Kepada Allah-lah kita akan kembali, setiap amalan kita yang baik maupun yang buruk akan dibalas termasuk jika kita berbuat syirik dengan menyekutukan Allah. Setiap muslim harus meyakini rububiyah Allah (Allah sebagai pencipta, pemberi rezeki dan pengatur jagat raya) harus juga beribadah kepada Allah semata (menjalankan tauhid uluhiyah). Segala sesuatu selain Allah tidak bisa mendatangkan manfaat dan mudarat, tidak bisa memberi dan menerima, tidak bisa menghidupkan dan mematikan serta membangkitkan. Tidak ada yang dapat memberikan syafaat di sisi Allah kecuali dengan izin Allah. Orang yang berbuat syirik berada dalam kesesatan yang nyata. Kalimat kepada Allah-lah kita akan kembali menunjukkan bahwa ini adalah bentuk menakut-nakuti kepada orang-orang yang beribadah kepada selain Allah, setelah sebelumnya disebutkan kalimat dorongan untuk beribadah kepada Allah semata. Ayat-ayat ada yang menyebutkan suatu hukum dibarengkan dengan ta’lil (alasan). Kejelekan tidak disandarkan kepada Allah. Adapun kalimat Allah menginginkan kemudaratan maksudnya adalah masyi’ah (iradah kauniyyah) yang pasti terjadi kalau Allah berkehendak namun tidak menunjukkan Allah mencintainya. Sedangkan jika ada suatu yang baik, maka itu terjadi karena kehendak Allah yang menunjukkan cinta, disebut iradah syar’iyyah). Contoh, setan itu diciptakan berdasarkan iradah kauniyyah (kehendak Allah yang pasti terjadi). Ada orang yang beriman terjadi berdasarkan iradah syar’iyyah (kehendak Allah yang didasarkan cinta), namun tidak semua jadi beriman). Allah memiliki sifat Ar-Rahman (Maha Penyayang). Orang yang berbuat syirik punya alasan untuk mendapatkan syafaat dari makluk yang mereka sembah.   Referensi: Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Cetakan pertama, Tahun 1431 H. Ibnu Katsir. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Tafsir Al-Qur’an Al-Karim – Surat Yasin. Cetakan kedua, Tahun 1424 H. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Penerbit Dar Ats-Tsuraya. Tafsir As-Sa’di (Taisir Al-Karim Ar-Rahman). Cetakan kedua, Tahun 1433 H. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. Penerbit Muassasah Ar-Risalah.   Empat Kaedah Memahami Syirik Orang musyrik juga mengakui tauhid rububiyyah (Allah sebagai pencipta, pemberi rezeki, dan pengatur alam semesta), namun ternyata itu tidak cukup memasukkan mereka dalam Islam sampai mereka mentauhidkan Allah dalam ibadah. Orang musyrik tidaklah meminta kepada sesembahan mereka secara langsung, namun mereka menjadikan sesembahan itu sebatas sebagai perantara yang mendekatkan diri mereka kepada Allah dan sebagai pemberi syafaat. Orang musyrik memiliki sesembahan yang beraneka ragam, sehingga yang disebut “kesyirikan” bukan hanya perbuatan menyembah patung atau berhala. Menyembah orang shalih juga termasuk kesyirikan. Orang musyrik pada zaman ini lebih parah daripada orang musyrik pada masa silam. (Al-Qowa’idul Arba’ oleh Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab, diambil dari buku “Muslim Tetapi Musyrik” diterbitkan Penerbit Rumaysho)   Syirik Zaman Now Dibanding Zaman Dulu Orang musyrik pada masa silam melakukan kesyirikan pada saat lapang saja, sedangkan pada saat susah mereka beribadah hanya kepada Allah. Adapun orang musyrik pada zaman ini syiriknya pada saat susah maupun saat lapang. Orang musyrik pada masa silam beribadah kepada orang-orang shalih dari golongan para malaikat, para nabi, dan para wali. Saat ini, orang-orang musyrik malah beribadah kepada orang-orang yang paling fajir (gemar bermaksiat) padahal mereka mengetahui hal itu. (Disebut oleh Syaikh Muhammad Abdul Wahhab di dalam kitab Kasyfu Syubuhat) Orang musyrik pada masa silam meyakini bahwa mereka menyelisihi dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Adapun orang musyrik pada zaman ini malah merasa berada di atas jalan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Orang musyrik pada masa silam menjadikan sesembahan mereka sebagai perantara yang mendekatkan diri mereka kepada Allah dan sebagai pemberi syafaat. Adapun orang musyrik pada masa kini malah menjadikan sesembahan mereka itu sebagai pihak yang dimintai secara langsung (mereka menganggap sesembahan itu mampu mengabulkan doa). Orang musyrik pada masa kini menganggap bahwa ibadah kepada orang shalih termasuk bentuk menunaikan hak orang shalih tersebut, dan tidak beribadah kepada orang shalih termasuk bentuk menghinakan mereka. Hal ini tidak ditemukan pada orang musyrik sebelumnya. Syirik yang terjadi pada masa silam adalah syirik pada uluhiyyah; sedangkan syirik yang terjadi pada masa kini adalah syirik dalam rububiyyah, uluhiyyah, dan asma’ wa shifat. Orang musyrik pada masa silam tidaklah meyakini ada yang menguasai dan mengatur jagad raya selain Allah. Adapun orang musyrik pada saat ini meyakini bahwa selain Allah ada yang berkuasa dan mengatur sebagian tempat. Orang musyrik pada dahulu masih mengagungkan syariat Allah, contoh: mereka mau bersumpah dengan nama Allah. Adapun orang musyrik pada masa kini tidak mengagungkan Allah dan syariat-Nya sama sekali. Orang musyrik pada masa silam mengharap kepada sesembahan mereka agar urusan dunia mereka ditunaikan. Adapun orang musyrik pada masa kini bukan meminta untuk urusan dunia saja, namun juga untuk urusan akhirat. (“Muslim Tetapi Musyrik” diterbitkan Penerbit Rumaysho) Semoga Allah memberi taufik dan hidayah. — Disusun di Perpus Rumaysho, 23 Rabi’uts Tsani 1439 H, Rabu siang Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsfaedah surat yasin kaedah syirik surat yasin syirik tafsir surat yasin


Download   Syirik itu jalan kesesatan. Kaji dalam tafsir surah Yasin ayat 22-24.   Tafsir Surah Yasin Ayat 22-24 وَمَا لِيَ لَا أَعْبُدُ الَّذِي فَطَرَنِي وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ (22) أَأَتَّخِذُ مِنْ دُونِهِ آَلِهَةً إِنْ يُرِدْنِ الرَّحْمَنُ بِضُرٍّ لَا تُغْنِ عَنِّي شَفَاعَتُهُمْ شَيْئًا وَلَا يُنْقِذُونِ (23) إِنِّي إِذًا لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ (24) “Mengapa aku tidak menyembah (Rabb) yang telah menciptakanku dan yang hanya kepada-Nya-lah kamu (semua) akan dikembalikan? Mengapa aku akan menyembah tuhan-tuhan selain Nya jika (Allah) Yang Maha Pemurah menghendaki kemudharatan terhadapku, niscaya syafaat mereka tidak memberi manfaat sedikit pun bagi diriku dan mereka tidak (pula) dapat menyelamatkanku? Sesungguhnya aku kalau begitu pasti berada dalam kesesatan yang nyata.” (QS. Yasin: 22-24)   Penjelasan Ayat Ibnu Katsir menyatakan bahwa siapa yang menghalangi dalam mengikhlaskan ibadah hanya kepada Allah yang telah menciptakan kita dan tidak pantas bagi Allah memiliki sekutu dalam beribadah. Kepada Allah-lah kita kembali. Allah akan membalas, jika amalan seseorang itu baik, maka akan dibalas juga dengan kebaikan. Jika sebaliknya amalannya jelek, maka akan dibalas juga dengan kejelekan. Ibnu Katsir rahimahullah menerangkan pula bahwa kata tanya yang ada adalah sebagai tanda pengingkaran dan ingin menyatakan bahwa yang dilakukan adalah suatu yang keliru. Ayat tersebut menunjukkan pula bahwa ilah (sesembahan) yang disembah selain Allah (berhala dan lainnya) tidak berkuasa memiliki segala sesuatu. Jika Allah menimpakan suatu musibah, maka tidak ada yang dapat mengangkatnya kecuali Allah. Sesembahan selain Allah tidak dapat menolak dan tidak dapat mencegah. Jadinya, orang yang menjadikan selain Allah sebagai sesembahan (berbuat syirik) berada dalam kesesatan yang nyata. Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 6:335.   Pelajaran dari Ayat Kita diperintahkan untuk beribadah kepada Allah semata (mentauhidkan Allah) karena Allah yang menciptakan kita. Yang Maha Pencipta tentu lebih pantas diibadahi dan disembah. Kepada Allah-lah kita akan kembali, setiap amalan kita yang baik maupun yang buruk akan dibalas termasuk jika kita berbuat syirik dengan menyekutukan Allah. Setiap muslim harus meyakini rububiyah Allah (Allah sebagai pencipta, pemberi rezeki dan pengatur jagat raya) harus juga beribadah kepada Allah semata (menjalankan tauhid uluhiyah). Segala sesuatu selain Allah tidak bisa mendatangkan manfaat dan mudarat, tidak bisa memberi dan menerima, tidak bisa menghidupkan dan mematikan serta membangkitkan. Tidak ada yang dapat memberikan syafaat di sisi Allah kecuali dengan izin Allah. Orang yang berbuat syirik berada dalam kesesatan yang nyata. Kalimat kepada Allah-lah kita akan kembali menunjukkan bahwa ini adalah bentuk menakut-nakuti kepada orang-orang yang beribadah kepada selain Allah, setelah sebelumnya disebutkan kalimat dorongan untuk beribadah kepada Allah semata. Ayat-ayat ada yang menyebutkan suatu hukum dibarengkan dengan ta’lil (alasan). Kejelekan tidak disandarkan kepada Allah. Adapun kalimat Allah menginginkan kemudaratan maksudnya adalah masyi’ah (iradah kauniyyah) yang pasti terjadi kalau Allah berkehendak namun tidak menunjukkan Allah mencintainya. Sedangkan jika ada suatu yang baik, maka itu terjadi karena kehendak Allah yang menunjukkan cinta, disebut iradah syar’iyyah). Contoh, setan itu diciptakan berdasarkan iradah kauniyyah (kehendak Allah yang pasti terjadi). Ada orang yang beriman terjadi berdasarkan iradah syar’iyyah (kehendak Allah yang didasarkan cinta), namun tidak semua jadi beriman). Allah memiliki sifat Ar-Rahman (Maha Penyayang). Orang yang berbuat syirik punya alasan untuk mendapatkan syafaat dari makluk yang mereka sembah.   Referensi: Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Cetakan pertama, Tahun 1431 H. Ibnu Katsir. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Tafsir Al-Qur’an Al-Karim – Surat Yasin. Cetakan kedua, Tahun 1424 H. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Penerbit Dar Ats-Tsuraya. Tafsir As-Sa’di (Taisir Al-Karim Ar-Rahman). Cetakan kedua, Tahun 1433 H. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. Penerbit Muassasah Ar-Risalah.   Empat Kaedah Memahami Syirik Orang musyrik juga mengakui tauhid rububiyyah (Allah sebagai pencipta, pemberi rezeki, dan pengatur alam semesta), namun ternyata itu tidak cukup memasukkan mereka dalam Islam sampai mereka mentauhidkan Allah dalam ibadah. Orang musyrik tidaklah meminta kepada sesembahan mereka secara langsung, namun mereka menjadikan sesembahan itu sebatas sebagai perantara yang mendekatkan diri mereka kepada Allah dan sebagai pemberi syafaat. Orang musyrik memiliki sesembahan yang beraneka ragam, sehingga yang disebut “kesyirikan” bukan hanya perbuatan menyembah patung atau berhala. Menyembah orang shalih juga termasuk kesyirikan. Orang musyrik pada zaman ini lebih parah daripada orang musyrik pada masa silam. (Al-Qowa’idul Arba’ oleh Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab, diambil dari buku “Muslim Tetapi Musyrik” diterbitkan Penerbit Rumaysho)   Syirik Zaman Now Dibanding Zaman Dulu Orang musyrik pada masa silam melakukan kesyirikan pada saat lapang saja, sedangkan pada saat susah mereka beribadah hanya kepada Allah. Adapun orang musyrik pada zaman ini syiriknya pada saat susah maupun saat lapang. Orang musyrik pada masa silam beribadah kepada orang-orang shalih dari golongan para malaikat, para nabi, dan para wali. Saat ini, orang-orang musyrik malah beribadah kepada orang-orang yang paling fajir (gemar bermaksiat) padahal mereka mengetahui hal itu. (Disebut oleh Syaikh Muhammad Abdul Wahhab di dalam kitab Kasyfu Syubuhat) Orang musyrik pada masa silam meyakini bahwa mereka menyelisihi dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Adapun orang musyrik pada zaman ini malah merasa berada di atas jalan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Orang musyrik pada masa silam menjadikan sesembahan mereka sebagai perantara yang mendekatkan diri mereka kepada Allah dan sebagai pemberi syafaat. Adapun orang musyrik pada masa kini malah menjadikan sesembahan mereka itu sebagai pihak yang dimintai secara langsung (mereka menganggap sesembahan itu mampu mengabulkan doa). Orang musyrik pada masa kini menganggap bahwa ibadah kepada orang shalih termasuk bentuk menunaikan hak orang shalih tersebut, dan tidak beribadah kepada orang shalih termasuk bentuk menghinakan mereka. Hal ini tidak ditemukan pada orang musyrik sebelumnya. Syirik yang terjadi pada masa silam adalah syirik pada uluhiyyah; sedangkan syirik yang terjadi pada masa kini adalah syirik dalam rububiyyah, uluhiyyah, dan asma’ wa shifat. Orang musyrik pada masa silam tidaklah meyakini ada yang menguasai dan mengatur jagad raya selain Allah. Adapun orang musyrik pada saat ini meyakini bahwa selain Allah ada yang berkuasa dan mengatur sebagian tempat. Orang musyrik pada dahulu masih mengagungkan syariat Allah, contoh: mereka mau bersumpah dengan nama Allah. Adapun orang musyrik pada masa kini tidak mengagungkan Allah dan syariat-Nya sama sekali. Orang musyrik pada masa silam mengharap kepada sesembahan mereka agar urusan dunia mereka ditunaikan. Adapun orang musyrik pada masa kini bukan meminta untuk urusan dunia saja, namun juga untuk urusan akhirat. (“Muslim Tetapi Musyrik” diterbitkan Penerbit Rumaysho) Semoga Allah memberi taufik dan hidayah. — Disusun di Perpus Rumaysho, 23 Rabi’uts Tsani 1439 H, Rabu siang Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsfaedah surat yasin kaedah syirik surat yasin syirik tafsir surat yasin

Hukum Membuat Ilustrasi Hari Kiamat

Tidak Boleh Membuat Ilustrasi Hari Kiamat? Bolehkah membuat ilustrasi utk menggambarkan kondisi kiamat, seperti sirat, timbangan amal, hari kebangkitan, termasuk surga dan neraka? Jawab: Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Allah banyak bercerita tentang hari kiamat dalam al-Quran, demikian pula Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadisnya. Namun Allah merahasiakan hakekat sejatinya. Allah tidak pernah menampakkan surga dan neraka atau kejadian di hari kiamat kepada para hamba-Nya. Selain para utusan-Nya yang mendapatkan izin dari-Nya. Tentang rahasia surga, Allah berfirman, فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَّا أُخْفِيَ لَهُم مِّن قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَاء بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ “Tak seorangpun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang indah dipandang sebagai balasan bagi mereka, atas apa yang mereka kerjakan.” (QS. As-Sajdah: 17). Dalam hadis dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berkhutbah. Diantara penggalan khutbah, beliau menyatakan, إِنِّي رَأَيْتُ الجَنَّةَ، أَوْ أُرِيتُ الجَنَّةَ، فَتَنَاوَلْتُ مِنْهَا عُنْقُودًا، وَلَوْ أَخَذْتُهُ لَأَكَلْتُمْ مِنْهُ مَا بَقِيَتِ الدُّنْيَا، وَرَأَيْتُ النَّارَ، فَلَمْ أَرَ كَاليَوْمِ مَنْظَرًا قَطُّ “Sesungguhnya aku telah melihat surga dan aku tadi berupaya meraih setandan buah-buahan darinya. Seandainya kamu mendapatkannya dan memakannya, niscaya kamu (tidak butuh lagi makanan) di dunia. Kemudian aku melihat neraka dan belum pernah aku melihat pemandangan yang ngerinya seperti itu….” (HR. Bukhari 5197 dan Muslim 907) Dalam riwayat lain, dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala memiliki malaikat-malaikat yang berkelana di jalan-jalan mencari ahli  dzikir. Jika mereka telah mendapatkan sekelompok orang yang berdzikir kepada Allah, mereka duduk bersama dengan orang-orang yang berdzikir. Mereka mengajak malaikat lainnya: “Kemarilah datangi kebutuhan kalian”. Maka para malaikat mengelilingi orang-orang yang berdzikir dengan sayap mereka hingga langit dunia. Kemudian Allah -Azza wa Jalla- bertanya kepada mereka, sedangkan Dia lebih mengetahui daripada mereka, “Apa yang diucapkan oleh hamba-hambaKu?” Para malaikat menjawab, “Mereka mensucikan-Mu (mengucapkan tasbih), mereka membesarkan-Mu (mengucapkan takbir), mereka memuji-Mu (mengucapkan Alhamdulillah), mereka mengagungkan-Mu.” Allah bertanya, “Apakah mereka melihatKu?” Mereka menjawab, “Tidak, demi Alah, mereka tidak melihatMu”. Allah berkata, “Bagaimana seandainya mereka melihatKu?” Mereka menjawab, “Seandainya mereka melihat-Mu, tentulah ibadah mereka menjadi lebih kuat kepada-Mu, lebih mengagungkan-Mu, lebih mensucikan-Mu”. Allah berkata, “Lalu, apakah yang mereka minta kepadaKu?” Mereka menjawab, “Mereka minta surga kepadaMu”. Allah bertanya, “Apakah mereka melihatnya?” Mereka menjawab, “Tidak, demi Alah, Wahai Rabb, mereka tidak melihatnya”. Allah berkata, “Bagaimana seandainya mereka melihatnya?” Mereka menjawab, “Seandainya mereka melihatnya, tentulah mereka menjadi lebih semangat dan lebih banyak meminta serta lebih besar keinginan”. Allah berkata: “Lalu, dari apakah mereka minta perlindungan kepadaKu?” Mereka menjawab, “Mereka minta perlindungan dari neraka kepadaMu”. Allah bertanya, “Apakah mereka melihatnya?” Mereka menjawab, “Tidak, demi Allah, wahai Rabb, Mereka tidak melihatnya.” Allah berkata, “Bagaimana seandainya mereka melihatnya?” Mereka menjawab, “Seandainya mereka melihatnya, tentulah mereka menjadi lebih menjauhi dan lebih besar rasa takut (terhadap neraka)”. Allah berkata, “Aku bersaksi di hadapan kalian, bahwa Aku telah mengampuni mereka”. (HR. al-Bukhari 6458 dan Muslim 2686) Kehebatan akhirat bahkan tidak bisa dibayangkan oleh manusia. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Allah berfirman, أَعْدَدْتُ لِعِبَادِي الصَّالِحِينَ مَا لاَ عَيْنٌ رَأَتْ، وَلاَ أُذُنٌ سَمِعَتْ، وَلاَ خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ “Aku sediakan untuk para hamba-Ku yang saleh, janji indah yang belum pernah dilihat oleh mata, belum didengar oleh telinga, dan belum pernah terlintas dalam batin manusia.” (HR. Bukhari 3244). Allah hanya menceritakan, namun bentuknya tidak ditampakkan. Agar menjadi ujian keimanan bagi para hamba. Karena itulah, para ulama melarang membuat ilustrasi kejadian hari kiamat. Apapun bentuknya. Baik kejadian kebangkitan, proses hisab, shirat yang membentang di atas neraka, timbangan (mizan), termasuk surga dan neraka. Ada beberapa alasan yang mendasari itu, [1] Semua kejadian di hari kiamat tidak bisa dibayangkan manusia. [2] Ilustrasi yang digambarkan, bisa dipastikan dusta, sangat jauh dari aslinya. [3] Akan hilang kewibawaan akhirat di mata manusia. [4] Orang ceroboh bisa lebih nekat dalam membayangkan akhirat. Imam Ibnu Utsaimin pernah ditanya tentang kasus orang membuat gambar kebun sebagai ilustrasi surga atau ilustrasi nyala api seolah itu neraka. Jawab beliau, هذا لا يجوز؛ لأننا لا نعلم كيفية ذلك، كما قال عز وجل: فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَّا أُخْفِيَ لَهُم مِّن قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَاء بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ {السجدة: 17}. ولا يعلم كيفية النار Semacam ini tidak boleh dilakukan. Karena kita tidak mengetahui hakekat dari semua itu. seperti yang Allah firmankan, (yang artinya), “Tak seorangpun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang indah dipandang sebagai balasan bagi mereka, atas apa yang mereka kerjakan.” (QS. As-Sajdah: 17). Dan seperti apa neraka juga tidak diketahui. Lalu beliau melanjutkan, فهل أحد يستطيع أن يمثل النار؟ لا أحد يستطيع، ولهذا بلغ من يفعل ذلك أن هذا حرام، ومع الأسف الشديد أن الناس الآن بدؤوا يجعلون الأمور الأخروية كأنها أمور حسية مشاهدة Adakah orang yang bisa membuat gambar neraka? Tidak ada satupun yang mampu. Karena itu, sampaikan bahwa orang yang melakukan tindakan semacam ini bahwa itu haram. Meskipun sangat disayangkan, banyak masyarakat saat ini mereka menjadikan fenomena akhirat seperti kejadian terindera yang bisa disaksikan. (Liqa’at Bab al-Maftuh, volume 222, no. 22) Keterangan lain pernah disampaikan Syaikh Abdurrahman al-Barrak, حقائق الغيب من الماضي والحاضر والمستقبل لا يمكن تصورها فضلا عن تصويرها ! ومن ذلك: أحوال القيامة كالبعث والصراط والميزان، وما يسبق ذلك من النفخ في الصور، وما ينشأ عنه من فزع وصعق وتغيرات في العالم العلوي والسفلي وما يصاحب ذلك من أهوال Hakekat dari perkara ghaib baik di masa silam, di masa sekarang, maupun di masa mendatang, tidak mungkin untuk dibayangkan, apalagi digambar! Termasuk kondisi kiamat, seperti hari berbangkit, as-Shirat, Mizan, seperti kejadian sebelumnya seperti tiupan sangkakala, kejadian kehancuran besar dan semua perubahan di aats maupun di bawah, dan suasana luar biasa yang mengiringinya. Demikian. Allahu a’lam. Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. SPONSOR hubungi: 081 326 333 328 DONASI hubungi: 087 882 888 727 REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK 🔍 Pengertian Syafaat, Ziarah Kubur Bagi Wanita Hukumnya, Cara Shalat Istisqa, Contoh Kultum Subuh, Doa Birrul Walidain, Ta'awudz Dan Basmallah Visited 170 times, 1 visit(s) today Post Views: 373 QRIS donasi Yufid

Hukum Membuat Ilustrasi Hari Kiamat

Tidak Boleh Membuat Ilustrasi Hari Kiamat? Bolehkah membuat ilustrasi utk menggambarkan kondisi kiamat, seperti sirat, timbangan amal, hari kebangkitan, termasuk surga dan neraka? Jawab: Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Allah banyak bercerita tentang hari kiamat dalam al-Quran, demikian pula Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadisnya. Namun Allah merahasiakan hakekat sejatinya. Allah tidak pernah menampakkan surga dan neraka atau kejadian di hari kiamat kepada para hamba-Nya. Selain para utusan-Nya yang mendapatkan izin dari-Nya. Tentang rahasia surga, Allah berfirman, فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَّا أُخْفِيَ لَهُم مِّن قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَاء بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ “Tak seorangpun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang indah dipandang sebagai balasan bagi mereka, atas apa yang mereka kerjakan.” (QS. As-Sajdah: 17). Dalam hadis dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berkhutbah. Diantara penggalan khutbah, beliau menyatakan, إِنِّي رَأَيْتُ الجَنَّةَ، أَوْ أُرِيتُ الجَنَّةَ، فَتَنَاوَلْتُ مِنْهَا عُنْقُودًا، وَلَوْ أَخَذْتُهُ لَأَكَلْتُمْ مِنْهُ مَا بَقِيَتِ الدُّنْيَا، وَرَأَيْتُ النَّارَ، فَلَمْ أَرَ كَاليَوْمِ مَنْظَرًا قَطُّ “Sesungguhnya aku telah melihat surga dan aku tadi berupaya meraih setandan buah-buahan darinya. Seandainya kamu mendapatkannya dan memakannya, niscaya kamu (tidak butuh lagi makanan) di dunia. Kemudian aku melihat neraka dan belum pernah aku melihat pemandangan yang ngerinya seperti itu….” (HR. Bukhari 5197 dan Muslim 907) Dalam riwayat lain, dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala memiliki malaikat-malaikat yang berkelana di jalan-jalan mencari ahli  dzikir. Jika mereka telah mendapatkan sekelompok orang yang berdzikir kepada Allah, mereka duduk bersama dengan orang-orang yang berdzikir. Mereka mengajak malaikat lainnya: “Kemarilah datangi kebutuhan kalian”. Maka para malaikat mengelilingi orang-orang yang berdzikir dengan sayap mereka hingga langit dunia. Kemudian Allah -Azza wa Jalla- bertanya kepada mereka, sedangkan Dia lebih mengetahui daripada mereka, “Apa yang diucapkan oleh hamba-hambaKu?” Para malaikat menjawab, “Mereka mensucikan-Mu (mengucapkan tasbih), mereka membesarkan-Mu (mengucapkan takbir), mereka memuji-Mu (mengucapkan Alhamdulillah), mereka mengagungkan-Mu.” Allah bertanya, “Apakah mereka melihatKu?” Mereka menjawab, “Tidak, demi Alah, mereka tidak melihatMu”. Allah berkata, “Bagaimana seandainya mereka melihatKu?” Mereka menjawab, “Seandainya mereka melihat-Mu, tentulah ibadah mereka menjadi lebih kuat kepada-Mu, lebih mengagungkan-Mu, lebih mensucikan-Mu”. Allah berkata, “Lalu, apakah yang mereka minta kepadaKu?” Mereka menjawab, “Mereka minta surga kepadaMu”. Allah bertanya, “Apakah mereka melihatnya?” Mereka menjawab, “Tidak, demi Alah, Wahai Rabb, mereka tidak melihatnya”. Allah berkata, “Bagaimana seandainya mereka melihatnya?” Mereka menjawab, “Seandainya mereka melihatnya, tentulah mereka menjadi lebih semangat dan lebih banyak meminta serta lebih besar keinginan”. Allah berkata: “Lalu, dari apakah mereka minta perlindungan kepadaKu?” Mereka menjawab, “Mereka minta perlindungan dari neraka kepadaMu”. Allah bertanya, “Apakah mereka melihatnya?” Mereka menjawab, “Tidak, demi Allah, wahai Rabb, Mereka tidak melihatnya.” Allah berkata, “Bagaimana seandainya mereka melihatnya?” Mereka menjawab, “Seandainya mereka melihatnya, tentulah mereka menjadi lebih menjauhi dan lebih besar rasa takut (terhadap neraka)”. Allah berkata, “Aku bersaksi di hadapan kalian, bahwa Aku telah mengampuni mereka”. (HR. al-Bukhari 6458 dan Muslim 2686) Kehebatan akhirat bahkan tidak bisa dibayangkan oleh manusia. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Allah berfirman, أَعْدَدْتُ لِعِبَادِي الصَّالِحِينَ مَا لاَ عَيْنٌ رَأَتْ، وَلاَ أُذُنٌ سَمِعَتْ، وَلاَ خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ “Aku sediakan untuk para hamba-Ku yang saleh, janji indah yang belum pernah dilihat oleh mata, belum didengar oleh telinga, dan belum pernah terlintas dalam batin manusia.” (HR. Bukhari 3244). Allah hanya menceritakan, namun bentuknya tidak ditampakkan. Agar menjadi ujian keimanan bagi para hamba. Karena itulah, para ulama melarang membuat ilustrasi kejadian hari kiamat. Apapun bentuknya. Baik kejadian kebangkitan, proses hisab, shirat yang membentang di atas neraka, timbangan (mizan), termasuk surga dan neraka. Ada beberapa alasan yang mendasari itu, [1] Semua kejadian di hari kiamat tidak bisa dibayangkan manusia. [2] Ilustrasi yang digambarkan, bisa dipastikan dusta, sangat jauh dari aslinya. [3] Akan hilang kewibawaan akhirat di mata manusia. [4] Orang ceroboh bisa lebih nekat dalam membayangkan akhirat. Imam Ibnu Utsaimin pernah ditanya tentang kasus orang membuat gambar kebun sebagai ilustrasi surga atau ilustrasi nyala api seolah itu neraka. Jawab beliau, هذا لا يجوز؛ لأننا لا نعلم كيفية ذلك، كما قال عز وجل: فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَّا أُخْفِيَ لَهُم مِّن قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَاء بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ {السجدة: 17}. ولا يعلم كيفية النار Semacam ini tidak boleh dilakukan. Karena kita tidak mengetahui hakekat dari semua itu. seperti yang Allah firmankan, (yang artinya), “Tak seorangpun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang indah dipandang sebagai balasan bagi mereka, atas apa yang mereka kerjakan.” (QS. As-Sajdah: 17). Dan seperti apa neraka juga tidak diketahui. Lalu beliau melanjutkan, فهل أحد يستطيع أن يمثل النار؟ لا أحد يستطيع، ولهذا بلغ من يفعل ذلك أن هذا حرام، ومع الأسف الشديد أن الناس الآن بدؤوا يجعلون الأمور الأخروية كأنها أمور حسية مشاهدة Adakah orang yang bisa membuat gambar neraka? Tidak ada satupun yang mampu. Karena itu, sampaikan bahwa orang yang melakukan tindakan semacam ini bahwa itu haram. Meskipun sangat disayangkan, banyak masyarakat saat ini mereka menjadikan fenomena akhirat seperti kejadian terindera yang bisa disaksikan. (Liqa’at Bab al-Maftuh, volume 222, no. 22) Keterangan lain pernah disampaikan Syaikh Abdurrahman al-Barrak, حقائق الغيب من الماضي والحاضر والمستقبل لا يمكن تصورها فضلا عن تصويرها ! ومن ذلك: أحوال القيامة كالبعث والصراط والميزان، وما يسبق ذلك من النفخ في الصور، وما ينشأ عنه من فزع وصعق وتغيرات في العالم العلوي والسفلي وما يصاحب ذلك من أهوال Hakekat dari perkara ghaib baik di masa silam, di masa sekarang, maupun di masa mendatang, tidak mungkin untuk dibayangkan, apalagi digambar! Termasuk kondisi kiamat, seperti hari berbangkit, as-Shirat, Mizan, seperti kejadian sebelumnya seperti tiupan sangkakala, kejadian kehancuran besar dan semua perubahan di aats maupun di bawah, dan suasana luar biasa yang mengiringinya. Demikian. Allahu a’lam. Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. SPONSOR hubungi: 081 326 333 328 DONASI hubungi: 087 882 888 727 REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK 🔍 Pengertian Syafaat, Ziarah Kubur Bagi Wanita Hukumnya, Cara Shalat Istisqa, Contoh Kultum Subuh, Doa Birrul Walidain, Ta'awudz Dan Basmallah Visited 170 times, 1 visit(s) today Post Views: 373 QRIS donasi Yufid
Tidak Boleh Membuat Ilustrasi Hari Kiamat? Bolehkah membuat ilustrasi utk menggambarkan kondisi kiamat, seperti sirat, timbangan amal, hari kebangkitan, termasuk surga dan neraka? Jawab: Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Allah banyak bercerita tentang hari kiamat dalam al-Quran, demikian pula Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadisnya. Namun Allah merahasiakan hakekat sejatinya. Allah tidak pernah menampakkan surga dan neraka atau kejadian di hari kiamat kepada para hamba-Nya. Selain para utusan-Nya yang mendapatkan izin dari-Nya. Tentang rahasia surga, Allah berfirman, فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَّا أُخْفِيَ لَهُم مِّن قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَاء بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ “Tak seorangpun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang indah dipandang sebagai balasan bagi mereka, atas apa yang mereka kerjakan.” (QS. As-Sajdah: 17). Dalam hadis dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berkhutbah. Diantara penggalan khutbah, beliau menyatakan, إِنِّي رَأَيْتُ الجَنَّةَ، أَوْ أُرِيتُ الجَنَّةَ، فَتَنَاوَلْتُ مِنْهَا عُنْقُودًا، وَلَوْ أَخَذْتُهُ لَأَكَلْتُمْ مِنْهُ مَا بَقِيَتِ الدُّنْيَا، وَرَأَيْتُ النَّارَ، فَلَمْ أَرَ كَاليَوْمِ مَنْظَرًا قَطُّ “Sesungguhnya aku telah melihat surga dan aku tadi berupaya meraih setandan buah-buahan darinya. Seandainya kamu mendapatkannya dan memakannya, niscaya kamu (tidak butuh lagi makanan) di dunia. Kemudian aku melihat neraka dan belum pernah aku melihat pemandangan yang ngerinya seperti itu….” (HR. Bukhari 5197 dan Muslim 907) Dalam riwayat lain, dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala memiliki malaikat-malaikat yang berkelana di jalan-jalan mencari ahli  dzikir. Jika mereka telah mendapatkan sekelompok orang yang berdzikir kepada Allah, mereka duduk bersama dengan orang-orang yang berdzikir. Mereka mengajak malaikat lainnya: “Kemarilah datangi kebutuhan kalian”. Maka para malaikat mengelilingi orang-orang yang berdzikir dengan sayap mereka hingga langit dunia. Kemudian Allah -Azza wa Jalla- bertanya kepada mereka, sedangkan Dia lebih mengetahui daripada mereka, “Apa yang diucapkan oleh hamba-hambaKu?” Para malaikat menjawab, “Mereka mensucikan-Mu (mengucapkan tasbih), mereka membesarkan-Mu (mengucapkan takbir), mereka memuji-Mu (mengucapkan Alhamdulillah), mereka mengagungkan-Mu.” Allah bertanya, “Apakah mereka melihatKu?” Mereka menjawab, “Tidak, demi Alah, mereka tidak melihatMu”. Allah berkata, “Bagaimana seandainya mereka melihatKu?” Mereka menjawab, “Seandainya mereka melihat-Mu, tentulah ibadah mereka menjadi lebih kuat kepada-Mu, lebih mengagungkan-Mu, lebih mensucikan-Mu”. Allah berkata, “Lalu, apakah yang mereka minta kepadaKu?” Mereka menjawab, “Mereka minta surga kepadaMu”. Allah bertanya, “Apakah mereka melihatnya?” Mereka menjawab, “Tidak, demi Alah, Wahai Rabb, mereka tidak melihatnya”. Allah berkata, “Bagaimana seandainya mereka melihatnya?” Mereka menjawab, “Seandainya mereka melihatnya, tentulah mereka menjadi lebih semangat dan lebih banyak meminta serta lebih besar keinginan”. Allah berkata: “Lalu, dari apakah mereka minta perlindungan kepadaKu?” Mereka menjawab, “Mereka minta perlindungan dari neraka kepadaMu”. Allah bertanya, “Apakah mereka melihatnya?” Mereka menjawab, “Tidak, demi Allah, wahai Rabb, Mereka tidak melihatnya.” Allah berkata, “Bagaimana seandainya mereka melihatnya?” Mereka menjawab, “Seandainya mereka melihatnya, tentulah mereka menjadi lebih menjauhi dan lebih besar rasa takut (terhadap neraka)”. Allah berkata, “Aku bersaksi di hadapan kalian, bahwa Aku telah mengampuni mereka”. (HR. al-Bukhari 6458 dan Muslim 2686) Kehebatan akhirat bahkan tidak bisa dibayangkan oleh manusia. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Allah berfirman, أَعْدَدْتُ لِعِبَادِي الصَّالِحِينَ مَا لاَ عَيْنٌ رَأَتْ، وَلاَ أُذُنٌ سَمِعَتْ، وَلاَ خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ “Aku sediakan untuk para hamba-Ku yang saleh, janji indah yang belum pernah dilihat oleh mata, belum didengar oleh telinga, dan belum pernah terlintas dalam batin manusia.” (HR. Bukhari 3244). Allah hanya menceritakan, namun bentuknya tidak ditampakkan. Agar menjadi ujian keimanan bagi para hamba. Karena itulah, para ulama melarang membuat ilustrasi kejadian hari kiamat. Apapun bentuknya. Baik kejadian kebangkitan, proses hisab, shirat yang membentang di atas neraka, timbangan (mizan), termasuk surga dan neraka. Ada beberapa alasan yang mendasari itu, [1] Semua kejadian di hari kiamat tidak bisa dibayangkan manusia. [2] Ilustrasi yang digambarkan, bisa dipastikan dusta, sangat jauh dari aslinya. [3] Akan hilang kewibawaan akhirat di mata manusia. [4] Orang ceroboh bisa lebih nekat dalam membayangkan akhirat. Imam Ibnu Utsaimin pernah ditanya tentang kasus orang membuat gambar kebun sebagai ilustrasi surga atau ilustrasi nyala api seolah itu neraka. Jawab beliau, هذا لا يجوز؛ لأننا لا نعلم كيفية ذلك، كما قال عز وجل: فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَّا أُخْفِيَ لَهُم مِّن قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَاء بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ {السجدة: 17}. ولا يعلم كيفية النار Semacam ini tidak boleh dilakukan. Karena kita tidak mengetahui hakekat dari semua itu. seperti yang Allah firmankan, (yang artinya), “Tak seorangpun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang indah dipandang sebagai balasan bagi mereka, atas apa yang mereka kerjakan.” (QS. As-Sajdah: 17). Dan seperti apa neraka juga tidak diketahui. Lalu beliau melanjutkan, فهل أحد يستطيع أن يمثل النار؟ لا أحد يستطيع، ولهذا بلغ من يفعل ذلك أن هذا حرام، ومع الأسف الشديد أن الناس الآن بدؤوا يجعلون الأمور الأخروية كأنها أمور حسية مشاهدة Adakah orang yang bisa membuat gambar neraka? Tidak ada satupun yang mampu. Karena itu, sampaikan bahwa orang yang melakukan tindakan semacam ini bahwa itu haram. Meskipun sangat disayangkan, banyak masyarakat saat ini mereka menjadikan fenomena akhirat seperti kejadian terindera yang bisa disaksikan. (Liqa’at Bab al-Maftuh, volume 222, no. 22) Keterangan lain pernah disampaikan Syaikh Abdurrahman al-Barrak, حقائق الغيب من الماضي والحاضر والمستقبل لا يمكن تصورها فضلا عن تصويرها ! ومن ذلك: أحوال القيامة كالبعث والصراط والميزان، وما يسبق ذلك من النفخ في الصور، وما ينشأ عنه من فزع وصعق وتغيرات في العالم العلوي والسفلي وما يصاحب ذلك من أهوال Hakekat dari perkara ghaib baik di masa silam, di masa sekarang, maupun di masa mendatang, tidak mungkin untuk dibayangkan, apalagi digambar! Termasuk kondisi kiamat, seperti hari berbangkit, as-Shirat, Mizan, seperti kejadian sebelumnya seperti tiupan sangkakala, kejadian kehancuran besar dan semua perubahan di aats maupun di bawah, dan suasana luar biasa yang mengiringinya. Demikian. Allahu a’lam. Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. SPONSOR hubungi: 081 326 333 328 DONASI hubungi: 087 882 888 727 REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK 🔍 Pengertian Syafaat, Ziarah Kubur Bagi Wanita Hukumnya, Cara Shalat Istisqa, Contoh Kultum Subuh, Doa Birrul Walidain, Ta'awudz Dan Basmallah Visited 170 times, 1 visit(s) today Post Views: 373 QRIS donasi Yufid


<iframe src="https://w.soundcloud.com/player/?url=https%3A//api.soundcloud.com/tracks/382409453&amp;color=d5265f&amp;auto_play=false&amp;show_artwork=false&amp;hide_related=true&amp;show_comments=false&amp;show_user=false&amp;show_reposts=false" width="100%" height="166" frameborder="no" scrolling="no"></iframe> Tidak Boleh Membuat Ilustrasi Hari Kiamat? Bolehkah membuat ilustrasi utk menggambarkan kondisi kiamat, seperti sirat, timbangan amal, hari kebangkitan, termasuk surga dan neraka? Jawab: Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Allah banyak bercerita tentang hari kiamat dalam al-Quran, demikian pula Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadisnya. Namun Allah merahasiakan hakekat sejatinya. Allah tidak pernah menampakkan surga dan neraka atau kejadian di hari kiamat kepada para hamba-Nya. Selain para utusan-Nya yang mendapatkan izin dari-Nya. Tentang rahasia surga, Allah berfirman, فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَّا أُخْفِيَ لَهُم مِّن قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَاء بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ “Tak seorangpun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang indah dipandang sebagai balasan bagi mereka, atas apa yang mereka kerjakan.” (QS. As-Sajdah: 17). Dalam hadis dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berkhutbah. Diantara penggalan khutbah, beliau menyatakan, إِنِّي رَأَيْتُ الجَنَّةَ، أَوْ أُرِيتُ الجَنَّةَ، فَتَنَاوَلْتُ مِنْهَا عُنْقُودًا، وَلَوْ أَخَذْتُهُ لَأَكَلْتُمْ مِنْهُ مَا بَقِيَتِ الدُّنْيَا، وَرَأَيْتُ النَّارَ، فَلَمْ أَرَ كَاليَوْمِ مَنْظَرًا قَطُّ “Sesungguhnya aku telah melihat surga dan aku tadi berupaya meraih setandan buah-buahan darinya. Seandainya kamu mendapatkannya dan memakannya, niscaya kamu (tidak butuh lagi makanan) di dunia. Kemudian aku melihat neraka dan belum pernah aku melihat pemandangan yang ngerinya seperti itu….” (HR. Bukhari 5197 dan Muslim 907) Dalam riwayat lain, dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala memiliki malaikat-malaikat yang berkelana di jalan-jalan mencari ahli  dzikir. Jika mereka telah mendapatkan sekelompok orang yang berdzikir kepada Allah, mereka duduk bersama dengan orang-orang yang berdzikir. Mereka mengajak malaikat lainnya: “Kemarilah datangi kebutuhan kalian”. Maka para malaikat mengelilingi orang-orang yang berdzikir dengan sayap mereka hingga langit dunia. Kemudian Allah -Azza wa Jalla- bertanya kepada mereka, sedangkan Dia lebih mengetahui daripada mereka, “Apa yang diucapkan oleh hamba-hambaKu?” Para malaikat menjawab, “Mereka mensucikan-Mu (mengucapkan tasbih), mereka membesarkan-Mu (mengucapkan takbir), mereka memuji-Mu (mengucapkan Alhamdulillah), mereka mengagungkan-Mu.” Allah bertanya, “Apakah mereka melihatKu?” Mereka menjawab, “Tidak, demi Alah, mereka tidak melihatMu”. Allah berkata, “Bagaimana seandainya mereka melihatKu?” Mereka menjawab, “Seandainya mereka melihat-Mu, tentulah ibadah mereka menjadi lebih kuat kepada-Mu, lebih mengagungkan-Mu, lebih mensucikan-Mu”. Allah berkata, “Lalu, apakah yang mereka minta kepadaKu?” Mereka menjawab, “Mereka minta surga kepadaMu”. Allah bertanya, “Apakah mereka melihatnya?” Mereka menjawab, “Tidak, demi Alah, Wahai Rabb, mereka tidak melihatnya”. Allah berkata, “Bagaimana seandainya mereka melihatnya?” Mereka menjawab, “Seandainya mereka melihatnya, tentulah mereka menjadi lebih semangat dan lebih banyak meminta serta lebih besar keinginan”. Allah berkata: “Lalu, dari apakah mereka minta perlindungan kepadaKu?” Mereka menjawab, “Mereka minta perlindungan dari neraka kepadaMu”. Allah bertanya, “Apakah mereka melihatnya?” Mereka menjawab, “Tidak, demi Allah, wahai Rabb, Mereka tidak melihatnya.” Allah berkata, “Bagaimana seandainya mereka melihatnya?” Mereka menjawab, “Seandainya mereka melihatnya, tentulah mereka menjadi lebih menjauhi dan lebih besar rasa takut (terhadap neraka)”. Allah berkata, “Aku bersaksi di hadapan kalian, bahwa Aku telah mengampuni mereka”. (HR. al-Bukhari 6458 dan Muslim 2686) Kehebatan akhirat bahkan tidak bisa dibayangkan oleh manusia. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Allah berfirman, أَعْدَدْتُ لِعِبَادِي الصَّالِحِينَ مَا لاَ عَيْنٌ رَأَتْ، وَلاَ أُذُنٌ سَمِعَتْ، وَلاَ خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ “Aku sediakan untuk para hamba-Ku yang saleh, janji indah yang belum pernah dilihat oleh mata, belum didengar oleh telinga, dan belum pernah terlintas dalam batin manusia.” (HR. Bukhari 3244). Allah hanya menceritakan, namun bentuknya tidak ditampakkan. Agar menjadi ujian keimanan bagi para hamba. Karena itulah, para ulama melarang membuat ilustrasi kejadian hari kiamat. Apapun bentuknya. Baik kejadian kebangkitan, proses hisab, shirat yang membentang di atas neraka, timbangan (mizan), termasuk surga dan neraka. Ada beberapa alasan yang mendasari itu, [1] Semua kejadian di hari kiamat tidak bisa dibayangkan manusia. [2] Ilustrasi yang digambarkan, bisa dipastikan dusta, sangat jauh dari aslinya. [3] Akan hilang kewibawaan akhirat di mata manusia. [4] Orang ceroboh bisa lebih nekat dalam membayangkan akhirat. Imam Ibnu Utsaimin pernah ditanya tentang kasus orang membuat gambar kebun sebagai ilustrasi surga atau ilustrasi nyala api seolah itu neraka. Jawab beliau, هذا لا يجوز؛ لأننا لا نعلم كيفية ذلك، كما قال عز وجل: فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَّا أُخْفِيَ لَهُم مِّن قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَاء بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ {السجدة: 17}. ولا يعلم كيفية النار Semacam ini tidak boleh dilakukan. Karena kita tidak mengetahui hakekat dari semua itu. seperti yang Allah firmankan, (yang artinya), “Tak seorangpun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang indah dipandang sebagai balasan bagi mereka, atas apa yang mereka kerjakan.” (QS. As-Sajdah: 17). Dan seperti apa neraka juga tidak diketahui. Lalu beliau melanjutkan, فهل أحد يستطيع أن يمثل النار؟ لا أحد يستطيع، ولهذا بلغ من يفعل ذلك أن هذا حرام، ومع الأسف الشديد أن الناس الآن بدؤوا يجعلون الأمور الأخروية كأنها أمور حسية مشاهدة Adakah orang yang bisa membuat gambar neraka? Tidak ada satupun yang mampu. Karena itu, sampaikan bahwa orang yang melakukan tindakan semacam ini bahwa itu haram. Meskipun sangat disayangkan, banyak masyarakat saat ini mereka menjadikan fenomena akhirat seperti kejadian terindera yang bisa disaksikan. (Liqa’at Bab al-Maftuh, volume 222, no. 22) Keterangan lain pernah disampaikan Syaikh Abdurrahman al-Barrak, حقائق الغيب من الماضي والحاضر والمستقبل لا يمكن تصورها فضلا عن تصويرها ! ومن ذلك: أحوال القيامة كالبعث والصراط والميزان، وما يسبق ذلك من النفخ في الصور، وما ينشأ عنه من فزع وصعق وتغيرات في العالم العلوي والسفلي وما يصاحب ذلك من أهوال Hakekat dari perkara ghaib baik di masa silam, di masa sekarang, maupun di masa mendatang, tidak mungkin untuk dibayangkan, apalagi digambar! Termasuk kondisi kiamat, seperti hari berbangkit, as-Shirat, Mizan, seperti kejadian sebelumnya seperti tiupan sangkakala, kejadian kehancuran besar dan semua perubahan di aats maupun di bawah, dan suasana luar biasa yang mengiringinya. Demikian. Allahu a’lam. Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. SPONSOR hubungi: 081 326 333 328 DONASI hubungi: 087 882 888 727 REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK 🔍 Pengertian Syafaat, Ziarah Kubur Bagi Wanita Hukumnya, Cara Shalat Istisqa, Contoh Kultum Subuh, Doa Birrul Walidain, Ta'awudz Dan Basmallah Visited 170 times, 1 visit(s) today Post Views: 373 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Apa itu Ibadah Mahdhah?

Pengertian Ibadah Mahdhah Apa itu ibadah mahdah? Mengapa disebut mahdah? Jawab: Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Mahdhah [محضة] artinya murni. Ibadah mahdhah berarti ibadah murni. Mengapa disebut ibadah mahdhah? Istilah ini disampaikan para ulama untuk membedakan dengan ibadah ghairu mahdhah [غير محضة], yaitu ibadah yang tidak murni. Karena ada konsekuensi yang berbeda antara ibadah mahdhah dengan ibadah ghairu mahdhah. Ibnu Rusyd dalam Bidayatul Mujtahid pernah menjelaskan perbedaan antara ibadah mahdhah dengan ghairu mahdhah, berikut perbedaan konsekuensinya. Ketika membahas perbedaan pendapat ulama mengenai wudhu, apakah harus berniat atau tidak, beliau mengatakan, وسبب اختلافهم تردد الوضوء بين أن يكون عبادة محضة: أعني غير معقولة المعنى وإنما يقصد بها القربة له فقط كالصلاة وغيرها وبين أن يكون عبادة معقولة المعنى كغسل النجاسة Sebab perbedaan mereka adalah perselisihan dalam memandang wudhu, apakah termasuk ibadah mahdhah, yaitu ibadah yang tidak bisa dipahami secara logika (Ghair Ma’qul al-Ma’na), akan tetapi tujuannya murni untuk beribadah kepada Allah semata, seperti shalat dan yang lainnya. Atau wudhu termasuk ibadah yang bisa dipahami secara logika, seperti membersihkan najis. Lalu beliau menegaskan, فإنهم لا يختلفون أن العبادة المحضة مفتقرة إلى النية والعبادة المفهومة المعنى غير مفتقرة إلى النية. والوضوء فيه شبه من العبادتين ولذلك وقع الخلاف فيه وذلك أنه يجمع عبادة ونظافة “Karena mereka sepakat bahwa ibadah mahdhah membutuhkan niat, sementara ibadah yang bisa dipahami secara logika, tidak butuh niat. Sementara wudhu mirip dengan ibadah mahdhah dan ghairu mahdhah. Karena itulah, terjadi perbedaan pendapat terkait wudhu, karena wudhu menggabungkan antara amal ibadah dengan bersuci.” (Bidayatul Mujtahid, 1/8). Kita bisa mengenali ibadah yang Ghair Ma’qul al-Ma’na (tidak bisa dipahami secara logika) dengan cara menimbang posisi keberadaan syariat. Andaikan tidak ada syariat yang diturunkan oleh Allah, tentu manusia tidak bisa melakukannya. Karena tidak terbayang dalam logika mereka. Andai tidak ada ajaran syariat, kita tidak akan pernah tahu shalat 5 waktu. Kita juga tidak tahu jumlah rakaatnya. Andai tidak ada ajaran syariat, kita juga tidak tahu mengapa zakat mal itu 2,5%, hanya dikeluarkan untuk 8 ashnaf (golongan). Andai tidak ada ajaran syariat, kita juga tidak tahu bagaimana cara dzikir yang benar setelah shalat. Dst. Logika manusia tidak bisa menjangkaunya. Berbeda dengan ibadah yang Ma’qul al-Ma’na (bisa dipahami berdasarkan logika). Meskipun tidak ada wahyu, orang bisa memahaminya. Seperti membersihkan kotoran dan najis, berbakti kepada kedua orang tua, berbuat baik kepada sesama, amar ma’ruf nahi mungkar, memberi nafkah keluarga, dst. Dengan nalurinya, orang bisa melakukannya. Kaitannya dengan ibadah mahdhah dan ghairu mahdhah, ada 2 hal yang perlu kita bedakan, [1] Keabsahan ibadah [2] Mendapatkan pahala dari ibadah Ibadah mahdhah hanya akan bernilai sah dan berpahala, jika dilakukan dengan niat yang ikhlas. Berbeda dengan ibadah ghairu mahdhah. Jika dilakukan dengan niat yang benar, untuk mendapatkan pahala dari Allah, maka ada nilai pahalanya. Namun jika dilakukan tanpa diiringi niat yang benar, statusnya tetap sah, hanya saja, tidak ada nilai pahalanya. Seorang anak sah disebut berbakti kepada kedua orang tuanya, ketika dia berbuat baik kepada mereka, meskipun bisa jadi tidak ada keinginan untuk mengharap pahala dari Allah. Al-Hafidz Ibnu Rajab mengatakan, قد صح الحديث بأن نفقة الرجل على أهله صدقة… وهذا قد ورد مقيدا في الرواية الأخرى بابتغاء وجه الله… فتحمل الأحاديث المطلقة عليه Terdapat hadis shahih bahwa nafkah seorang suami kepada keluarganya bernilai sedekah… dan dinyatakan dalam riwayat yang lain dengan batasan, ‘dalam rangka mencari wajah Allah.’ Maka hadis yang bersifat mutlak (tanpa batasan), dibawa kepada hadis yang ada batasannya. (Jami’ al-Ulum wal Hikam, 2/63) Rujukan: al-Qawaid al-Fiqhiyah, Syaikh Walid as-Sua’idan Demikian, Allahu a’lam. Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. SPONSOR hubungi: 081 326 333 328 DONASI hubungi: 087 882 888 727 REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK 🔍 Hukum Menelan Air Mani, Pengertian Air Mani, Arti Masjid, Hukum Fidyah Orang Meninggal, Tawaf Umroh, Remaja Coli Visited 238 times, 1 visit(s) today Post Views: 326 QRIS donasi Yufid

Apa itu Ibadah Mahdhah?

Pengertian Ibadah Mahdhah Apa itu ibadah mahdah? Mengapa disebut mahdah? Jawab: Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Mahdhah [محضة] artinya murni. Ibadah mahdhah berarti ibadah murni. Mengapa disebut ibadah mahdhah? Istilah ini disampaikan para ulama untuk membedakan dengan ibadah ghairu mahdhah [غير محضة], yaitu ibadah yang tidak murni. Karena ada konsekuensi yang berbeda antara ibadah mahdhah dengan ibadah ghairu mahdhah. Ibnu Rusyd dalam Bidayatul Mujtahid pernah menjelaskan perbedaan antara ibadah mahdhah dengan ghairu mahdhah, berikut perbedaan konsekuensinya. Ketika membahas perbedaan pendapat ulama mengenai wudhu, apakah harus berniat atau tidak, beliau mengatakan, وسبب اختلافهم تردد الوضوء بين أن يكون عبادة محضة: أعني غير معقولة المعنى وإنما يقصد بها القربة له فقط كالصلاة وغيرها وبين أن يكون عبادة معقولة المعنى كغسل النجاسة Sebab perbedaan mereka adalah perselisihan dalam memandang wudhu, apakah termasuk ibadah mahdhah, yaitu ibadah yang tidak bisa dipahami secara logika (Ghair Ma’qul al-Ma’na), akan tetapi tujuannya murni untuk beribadah kepada Allah semata, seperti shalat dan yang lainnya. Atau wudhu termasuk ibadah yang bisa dipahami secara logika, seperti membersihkan najis. Lalu beliau menegaskan, فإنهم لا يختلفون أن العبادة المحضة مفتقرة إلى النية والعبادة المفهومة المعنى غير مفتقرة إلى النية. والوضوء فيه شبه من العبادتين ولذلك وقع الخلاف فيه وذلك أنه يجمع عبادة ونظافة “Karena mereka sepakat bahwa ibadah mahdhah membutuhkan niat, sementara ibadah yang bisa dipahami secara logika, tidak butuh niat. Sementara wudhu mirip dengan ibadah mahdhah dan ghairu mahdhah. Karena itulah, terjadi perbedaan pendapat terkait wudhu, karena wudhu menggabungkan antara amal ibadah dengan bersuci.” (Bidayatul Mujtahid, 1/8). Kita bisa mengenali ibadah yang Ghair Ma’qul al-Ma’na (tidak bisa dipahami secara logika) dengan cara menimbang posisi keberadaan syariat. Andaikan tidak ada syariat yang diturunkan oleh Allah, tentu manusia tidak bisa melakukannya. Karena tidak terbayang dalam logika mereka. Andai tidak ada ajaran syariat, kita tidak akan pernah tahu shalat 5 waktu. Kita juga tidak tahu jumlah rakaatnya. Andai tidak ada ajaran syariat, kita juga tidak tahu mengapa zakat mal itu 2,5%, hanya dikeluarkan untuk 8 ashnaf (golongan). Andai tidak ada ajaran syariat, kita juga tidak tahu bagaimana cara dzikir yang benar setelah shalat. Dst. Logika manusia tidak bisa menjangkaunya. Berbeda dengan ibadah yang Ma’qul al-Ma’na (bisa dipahami berdasarkan logika). Meskipun tidak ada wahyu, orang bisa memahaminya. Seperti membersihkan kotoran dan najis, berbakti kepada kedua orang tua, berbuat baik kepada sesama, amar ma’ruf nahi mungkar, memberi nafkah keluarga, dst. Dengan nalurinya, orang bisa melakukannya. Kaitannya dengan ibadah mahdhah dan ghairu mahdhah, ada 2 hal yang perlu kita bedakan, [1] Keabsahan ibadah [2] Mendapatkan pahala dari ibadah Ibadah mahdhah hanya akan bernilai sah dan berpahala, jika dilakukan dengan niat yang ikhlas. Berbeda dengan ibadah ghairu mahdhah. Jika dilakukan dengan niat yang benar, untuk mendapatkan pahala dari Allah, maka ada nilai pahalanya. Namun jika dilakukan tanpa diiringi niat yang benar, statusnya tetap sah, hanya saja, tidak ada nilai pahalanya. Seorang anak sah disebut berbakti kepada kedua orang tuanya, ketika dia berbuat baik kepada mereka, meskipun bisa jadi tidak ada keinginan untuk mengharap pahala dari Allah. Al-Hafidz Ibnu Rajab mengatakan, قد صح الحديث بأن نفقة الرجل على أهله صدقة… وهذا قد ورد مقيدا في الرواية الأخرى بابتغاء وجه الله… فتحمل الأحاديث المطلقة عليه Terdapat hadis shahih bahwa nafkah seorang suami kepada keluarganya bernilai sedekah… dan dinyatakan dalam riwayat yang lain dengan batasan, ‘dalam rangka mencari wajah Allah.’ Maka hadis yang bersifat mutlak (tanpa batasan), dibawa kepada hadis yang ada batasannya. (Jami’ al-Ulum wal Hikam, 2/63) Rujukan: al-Qawaid al-Fiqhiyah, Syaikh Walid as-Sua’idan Demikian, Allahu a’lam. Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. SPONSOR hubungi: 081 326 333 328 DONASI hubungi: 087 882 888 727 REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK 🔍 Hukum Menelan Air Mani, Pengertian Air Mani, Arti Masjid, Hukum Fidyah Orang Meninggal, Tawaf Umroh, Remaja Coli Visited 238 times, 1 visit(s) today Post Views: 326 QRIS donasi Yufid
Pengertian Ibadah Mahdhah Apa itu ibadah mahdah? Mengapa disebut mahdah? Jawab: Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Mahdhah [محضة] artinya murni. Ibadah mahdhah berarti ibadah murni. Mengapa disebut ibadah mahdhah? Istilah ini disampaikan para ulama untuk membedakan dengan ibadah ghairu mahdhah [غير محضة], yaitu ibadah yang tidak murni. Karena ada konsekuensi yang berbeda antara ibadah mahdhah dengan ibadah ghairu mahdhah. Ibnu Rusyd dalam Bidayatul Mujtahid pernah menjelaskan perbedaan antara ibadah mahdhah dengan ghairu mahdhah, berikut perbedaan konsekuensinya. Ketika membahas perbedaan pendapat ulama mengenai wudhu, apakah harus berniat atau tidak, beliau mengatakan, وسبب اختلافهم تردد الوضوء بين أن يكون عبادة محضة: أعني غير معقولة المعنى وإنما يقصد بها القربة له فقط كالصلاة وغيرها وبين أن يكون عبادة معقولة المعنى كغسل النجاسة Sebab perbedaan mereka adalah perselisihan dalam memandang wudhu, apakah termasuk ibadah mahdhah, yaitu ibadah yang tidak bisa dipahami secara logika (Ghair Ma’qul al-Ma’na), akan tetapi tujuannya murni untuk beribadah kepada Allah semata, seperti shalat dan yang lainnya. Atau wudhu termasuk ibadah yang bisa dipahami secara logika, seperti membersihkan najis. Lalu beliau menegaskan, فإنهم لا يختلفون أن العبادة المحضة مفتقرة إلى النية والعبادة المفهومة المعنى غير مفتقرة إلى النية. والوضوء فيه شبه من العبادتين ولذلك وقع الخلاف فيه وذلك أنه يجمع عبادة ونظافة “Karena mereka sepakat bahwa ibadah mahdhah membutuhkan niat, sementara ibadah yang bisa dipahami secara logika, tidak butuh niat. Sementara wudhu mirip dengan ibadah mahdhah dan ghairu mahdhah. Karena itulah, terjadi perbedaan pendapat terkait wudhu, karena wudhu menggabungkan antara amal ibadah dengan bersuci.” (Bidayatul Mujtahid, 1/8). Kita bisa mengenali ibadah yang Ghair Ma’qul al-Ma’na (tidak bisa dipahami secara logika) dengan cara menimbang posisi keberadaan syariat. Andaikan tidak ada syariat yang diturunkan oleh Allah, tentu manusia tidak bisa melakukannya. Karena tidak terbayang dalam logika mereka. Andai tidak ada ajaran syariat, kita tidak akan pernah tahu shalat 5 waktu. Kita juga tidak tahu jumlah rakaatnya. Andai tidak ada ajaran syariat, kita juga tidak tahu mengapa zakat mal itu 2,5%, hanya dikeluarkan untuk 8 ashnaf (golongan). Andai tidak ada ajaran syariat, kita juga tidak tahu bagaimana cara dzikir yang benar setelah shalat. Dst. Logika manusia tidak bisa menjangkaunya. Berbeda dengan ibadah yang Ma’qul al-Ma’na (bisa dipahami berdasarkan logika). Meskipun tidak ada wahyu, orang bisa memahaminya. Seperti membersihkan kotoran dan najis, berbakti kepada kedua orang tua, berbuat baik kepada sesama, amar ma’ruf nahi mungkar, memberi nafkah keluarga, dst. Dengan nalurinya, orang bisa melakukannya. Kaitannya dengan ibadah mahdhah dan ghairu mahdhah, ada 2 hal yang perlu kita bedakan, [1] Keabsahan ibadah [2] Mendapatkan pahala dari ibadah Ibadah mahdhah hanya akan bernilai sah dan berpahala, jika dilakukan dengan niat yang ikhlas. Berbeda dengan ibadah ghairu mahdhah. Jika dilakukan dengan niat yang benar, untuk mendapatkan pahala dari Allah, maka ada nilai pahalanya. Namun jika dilakukan tanpa diiringi niat yang benar, statusnya tetap sah, hanya saja, tidak ada nilai pahalanya. Seorang anak sah disebut berbakti kepada kedua orang tuanya, ketika dia berbuat baik kepada mereka, meskipun bisa jadi tidak ada keinginan untuk mengharap pahala dari Allah. Al-Hafidz Ibnu Rajab mengatakan, قد صح الحديث بأن نفقة الرجل على أهله صدقة… وهذا قد ورد مقيدا في الرواية الأخرى بابتغاء وجه الله… فتحمل الأحاديث المطلقة عليه Terdapat hadis shahih bahwa nafkah seorang suami kepada keluarganya bernilai sedekah… dan dinyatakan dalam riwayat yang lain dengan batasan, ‘dalam rangka mencari wajah Allah.’ Maka hadis yang bersifat mutlak (tanpa batasan), dibawa kepada hadis yang ada batasannya. (Jami’ al-Ulum wal Hikam, 2/63) Rujukan: al-Qawaid al-Fiqhiyah, Syaikh Walid as-Sua’idan Demikian, Allahu a’lam. Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. SPONSOR hubungi: 081 326 333 328 DONASI hubungi: 087 882 888 727 REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK 🔍 Hukum Menelan Air Mani, Pengertian Air Mani, Arti Masjid, Hukum Fidyah Orang Meninggal, Tawaf Umroh, Remaja Coli Visited 238 times, 1 visit(s) today Post Views: 326 QRIS donasi Yufid


<iframe src="https://w.soundcloud.com/player/?url=https%3A//api.soundcloud.com/tracks/380909264&amp;color=d5265f&amp;auto_play=false&amp;show_artwork=false&amp;hide_related=true&amp;show_comments=false&amp;show_user=false&amp;show_reposts=false" width="100%" height="166" frameborder="no" scrolling="no"></iframe> Pengertian Ibadah Mahdhah Apa itu ibadah mahdah? Mengapa disebut mahdah? Jawab: Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Mahdhah [محضة] artinya murni. Ibadah mahdhah berarti ibadah murni. Mengapa disebut ibadah mahdhah? Istilah ini disampaikan para ulama untuk membedakan dengan ibadah ghairu mahdhah [غير محضة], yaitu ibadah yang tidak murni. Karena ada konsekuensi yang berbeda antara ibadah mahdhah dengan ibadah ghairu mahdhah. Ibnu Rusyd dalam Bidayatul Mujtahid pernah menjelaskan perbedaan antara ibadah mahdhah dengan ghairu mahdhah, berikut perbedaan konsekuensinya. Ketika membahas perbedaan pendapat ulama mengenai wudhu, apakah harus berniat atau tidak, beliau mengatakan, وسبب اختلافهم تردد الوضوء بين أن يكون عبادة محضة: أعني غير معقولة المعنى وإنما يقصد بها القربة له فقط كالصلاة وغيرها وبين أن يكون عبادة معقولة المعنى كغسل النجاسة Sebab perbedaan mereka adalah perselisihan dalam memandang wudhu, apakah termasuk ibadah mahdhah, yaitu ibadah yang tidak bisa dipahami secara logika (Ghair Ma’qul al-Ma’na), akan tetapi tujuannya murni untuk beribadah kepada Allah semata, seperti shalat dan yang lainnya. Atau wudhu termasuk ibadah yang bisa dipahami secara logika, seperti membersihkan najis. Lalu beliau menegaskan, فإنهم لا يختلفون أن العبادة المحضة مفتقرة إلى النية والعبادة المفهومة المعنى غير مفتقرة إلى النية. والوضوء فيه شبه من العبادتين ولذلك وقع الخلاف فيه وذلك أنه يجمع عبادة ونظافة “Karena mereka sepakat bahwa ibadah mahdhah membutuhkan niat, sementara ibadah yang bisa dipahami secara logika, tidak butuh niat. Sementara wudhu mirip dengan ibadah mahdhah dan ghairu mahdhah. Karena itulah, terjadi perbedaan pendapat terkait wudhu, karena wudhu menggabungkan antara amal ibadah dengan bersuci.” (Bidayatul Mujtahid, 1/8). Kita bisa mengenali ibadah yang Ghair Ma’qul al-Ma’na (tidak bisa dipahami secara logika) dengan cara menimbang posisi keberadaan syariat. Andaikan tidak ada syariat yang diturunkan oleh Allah, tentu manusia tidak bisa melakukannya. Karena tidak terbayang dalam logika mereka. Andai tidak ada ajaran syariat, kita tidak akan pernah tahu shalat 5 waktu. Kita juga tidak tahu jumlah rakaatnya. Andai tidak ada ajaran syariat, kita juga tidak tahu mengapa zakat mal itu 2,5%, hanya dikeluarkan untuk 8 ashnaf (golongan). Andai tidak ada ajaran syariat, kita juga tidak tahu bagaimana cara dzikir yang benar setelah shalat. Dst. Logika manusia tidak bisa menjangkaunya. Berbeda dengan ibadah yang Ma’qul al-Ma’na (bisa dipahami berdasarkan logika). Meskipun tidak ada wahyu, orang bisa memahaminya. Seperti membersihkan kotoran dan najis, berbakti kepada kedua orang tua, berbuat baik kepada sesama, amar ma’ruf nahi mungkar, memberi nafkah keluarga, dst. Dengan nalurinya, orang bisa melakukannya. Kaitannya dengan ibadah mahdhah dan ghairu mahdhah, ada 2 hal yang perlu kita bedakan, [1] Keabsahan ibadah [2] Mendapatkan pahala dari ibadah Ibadah mahdhah hanya akan bernilai sah dan berpahala, jika dilakukan dengan niat yang ikhlas. Berbeda dengan ibadah ghairu mahdhah. Jika dilakukan dengan niat yang benar, untuk mendapatkan pahala dari Allah, maka ada nilai pahalanya. Namun jika dilakukan tanpa diiringi niat yang benar, statusnya tetap sah, hanya saja, tidak ada nilai pahalanya. Seorang anak sah disebut berbakti kepada kedua orang tuanya, ketika dia berbuat baik kepada mereka, meskipun bisa jadi tidak ada keinginan untuk mengharap pahala dari Allah. Al-Hafidz Ibnu Rajab mengatakan, قد صح الحديث بأن نفقة الرجل على أهله صدقة… وهذا قد ورد مقيدا في الرواية الأخرى بابتغاء وجه الله… فتحمل الأحاديث المطلقة عليه Terdapat hadis shahih bahwa nafkah seorang suami kepada keluarganya bernilai sedekah… dan dinyatakan dalam riwayat yang lain dengan batasan, ‘dalam rangka mencari wajah Allah.’ Maka hadis yang bersifat mutlak (tanpa batasan), dibawa kepada hadis yang ada batasannya. (Jami’ al-Ulum wal Hikam, 2/63) Rujukan: al-Qawaid al-Fiqhiyah, Syaikh Walid as-Sua’idan Demikian, Allahu a’lam. Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. SPONSOR hubungi: 081 326 333 328 DONASI hubungi: 087 882 888 727 REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK 🔍 Hukum Menelan Air Mani, Pengertian Air Mani, Arti Masjid, Hukum Fidyah Orang Meninggal, Tawaf Umroh, Remaja Coli Visited 238 times, 1 visit(s) today Post Views: 326 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Menjadi Teladan yang Menginspirasi

Hal terberat bagi seorang guru atau ustadz bukanlah agar ilmu sampai dan dipahami oleh muridnya, tetapi bagaimana menjadi teladan yang baik sehingga memotivasi dan menginspirasi dalam semangat ilmu, amal, dan akhlak yang mulia. Demikian juga para orang tua pada anak-anaknya.Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjadi teladan yang baik bahkan memotivasi para sahabat yang menjadi murid-murid langsung beliau.Allah Ta’ala berfirman,ﻟَّﻘَﺪْ ﻛَﺎﻥَ ﻟَﻜُﻢْ ﻓِﻲ ﺭَﺳُﻮﻝِ ﺍﻟﻠﻪِ ﺃُﺳْﻮَﺓٌ ﺣَﺴَﻨَﺔٌ ﻟِّﻤَﻦ ﻛَﺎﻥَ ﻳَﺮْﺟُﻮﺍ ﺍﻟﻠﻪَ ﻭَﺍﻟْﻴَﻮْﻡَ ﺍْﻷَﺧِﺮَ ﻭَﺫَﻛَﺮَ ﺍﻟﻠﻪَ ﻛَﺜِﻴﺮًﺍ“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah” (QS. Al-Ahzab: 21).Para ulama dahulu sangat paham bahwa murid mereka tidak hanya mengambil ilmu darinya, tetapi juga mencontoh penerapan ilmu mereka berupa adab dan akhlak yang baik.Perhatikan kisah Imam Ahmad bin Hanbal yang mempunyai banyak murid, akan tetapi mayoritas muridnya tidak mencatat ilmu, namun ingin sekedar bertemu dan melihat Imam Ahmad yang merupakan sumber motivasi mereka dalam berilmu dan beramal. Hal ini karena Imam Ahmad telah memberikan contoh yang baik berupa ilmu, amal, dan akhlak yang mulia.Adz-Dzahabi rahimahullahu berkata,كان يجتمع في مجلس أحمد زهاء خمسة آلاف – أو يزيدون نحو خمس مائة – يكتبون، والباقون يتعلمون منه حسن الأدب والسمت“Hadir di majelis Imam Ahmad ada sekitar limaribu orang atau lebih. Limaratus orang menulis (pelajaran), sedangkan sisanya hanya mengambil contoh keluhuran adab dan kepribadiannya.”[1] Demikian juga kisah yang dibawakan oleh ulama besar Ibnul Qayyim Al-Jauziyah rahimahullahu, beliau memiliki ilmu yang banyak dan diakui. Beliau juga melihat langsung teladan ilmu, amal, dan akhlak mulia dari guru beliau yaitu syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah. Ketika mereka merasakan sempit akibat ujian dunia, mereka segera mendatangi gurunya. Belumlah mereka mendengar wejangan dan nasihat dari gurunya, baru bertemu saja dengan gurunya, mereka sudah merasakan ketenangan dan hilanglah rasa sempitnya. Hal ini karena guru mereka benar-benar memberikan contoh teladan yang baik serta kesabaran yang luar biasa.Ibnul Qayyim berkata,وكنا إذا اشتد بنا الخوف وساءت منا الظنون وضاقت بنا الأرض أتيناه، فما هو إلا أن نراه ونسمع كلامه فيذهب ذلك كله وينقلب انشراحاً وقوة ويقيناً وطمأنينة“Kami (murid-murid Ibnu Taimiyyah) jika ditimpa perasaan takut yang berlebihan, timbul dalam diri kami prasangka-prasangka buruk atau (ketika kami merasakan) kesempitan hidup, maka kami mendatangi beliau, dengan hanya memandang beliau dan mendengarkan ucapan beliau, hilang semua kegundahan yang kami rasakan dan berganti dengan perasaan lapang, tegar, yakin dan tenang.”[2] Demikian juga kita sebagai orang tua, jika mendidik anak di rumah harus memberikan contoh teladan terlebih dahulu kepada anak-anak kita:-Jika ingin anak kita shalih/shalihah, sebagai orangtua harus berusaha shalih dan shalihah-Jika ingin anak rajin shalat, sebagai orangtua harus rajin shalat di rumah untuk mencontohkan (ayah shalat wajib di masjid dan shalat sunah di rumah)-Jika ingin anak menghafalkan Al-Quran, kita pun berusaha menghafalkan Al-Qur’an di rumah walaupun sedikit, sering membaca Al-Quran di rumahKhususya bagi para suami dan para ayah, Andalah yang menjadi teladan utama bagi istri dan anak-anak Anda. Perhatikan perkataan ulama berikutإن عصيت الله رأيت ذلك في خلق زوجتي و أهلي و دابتي“Sungguh, ketika bermaksiat kepada Allah, aku mengetahui dampak buruknya ada pada perilaku istriku, keluargaku, dan hewan tungganganku.”Tugas dari para ayah yaitu menjaga keluarganya dari api neraka.Allah Ta’ala berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan” (QS. At-Tahrim [66] :6).Demikian semoga bermanfaat@ Bandara Adisucipto, Yogyakarta tercintaPenulis: dr. Raehanul Bahraen Artikel: Muslim.or.idCatatan kaki:🔍 Hadist Tentang Keluarga, Patuh Pada Suami, Khurofat, Kitbah, Talqin

Menjadi Teladan yang Menginspirasi

Hal terberat bagi seorang guru atau ustadz bukanlah agar ilmu sampai dan dipahami oleh muridnya, tetapi bagaimana menjadi teladan yang baik sehingga memotivasi dan menginspirasi dalam semangat ilmu, amal, dan akhlak yang mulia. Demikian juga para orang tua pada anak-anaknya.Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjadi teladan yang baik bahkan memotivasi para sahabat yang menjadi murid-murid langsung beliau.Allah Ta’ala berfirman,ﻟَّﻘَﺪْ ﻛَﺎﻥَ ﻟَﻜُﻢْ ﻓِﻲ ﺭَﺳُﻮﻝِ ﺍﻟﻠﻪِ ﺃُﺳْﻮَﺓٌ ﺣَﺴَﻨَﺔٌ ﻟِّﻤَﻦ ﻛَﺎﻥَ ﻳَﺮْﺟُﻮﺍ ﺍﻟﻠﻪَ ﻭَﺍﻟْﻴَﻮْﻡَ ﺍْﻷَﺧِﺮَ ﻭَﺫَﻛَﺮَ ﺍﻟﻠﻪَ ﻛَﺜِﻴﺮًﺍ“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah” (QS. Al-Ahzab: 21).Para ulama dahulu sangat paham bahwa murid mereka tidak hanya mengambil ilmu darinya, tetapi juga mencontoh penerapan ilmu mereka berupa adab dan akhlak yang baik.Perhatikan kisah Imam Ahmad bin Hanbal yang mempunyai banyak murid, akan tetapi mayoritas muridnya tidak mencatat ilmu, namun ingin sekedar bertemu dan melihat Imam Ahmad yang merupakan sumber motivasi mereka dalam berilmu dan beramal. Hal ini karena Imam Ahmad telah memberikan contoh yang baik berupa ilmu, amal, dan akhlak yang mulia.Adz-Dzahabi rahimahullahu berkata,كان يجتمع في مجلس أحمد زهاء خمسة آلاف – أو يزيدون نحو خمس مائة – يكتبون، والباقون يتعلمون منه حسن الأدب والسمت“Hadir di majelis Imam Ahmad ada sekitar limaribu orang atau lebih. Limaratus orang menulis (pelajaran), sedangkan sisanya hanya mengambil contoh keluhuran adab dan kepribadiannya.”[1] Demikian juga kisah yang dibawakan oleh ulama besar Ibnul Qayyim Al-Jauziyah rahimahullahu, beliau memiliki ilmu yang banyak dan diakui. Beliau juga melihat langsung teladan ilmu, amal, dan akhlak mulia dari guru beliau yaitu syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah. Ketika mereka merasakan sempit akibat ujian dunia, mereka segera mendatangi gurunya. Belumlah mereka mendengar wejangan dan nasihat dari gurunya, baru bertemu saja dengan gurunya, mereka sudah merasakan ketenangan dan hilanglah rasa sempitnya. Hal ini karena guru mereka benar-benar memberikan contoh teladan yang baik serta kesabaran yang luar biasa.Ibnul Qayyim berkata,وكنا إذا اشتد بنا الخوف وساءت منا الظنون وضاقت بنا الأرض أتيناه، فما هو إلا أن نراه ونسمع كلامه فيذهب ذلك كله وينقلب انشراحاً وقوة ويقيناً وطمأنينة“Kami (murid-murid Ibnu Taimiyyah) jika ditimpa perasaan takut yang berlebihan, timbul dalam diri kami prasangka-prasangka buruk atau (ketika kami merasakan) kesempitan hidup, maka kami mendatangi beliau, dengan hanya memandang beliau dan mendengarkan ucapan beliau, hilang semua kegundahan yang kami rasakan dan berganti dengan perasaan lapang, tegar, yakin dan tenang.”[2] Demikian juga kita sebagai orang tua, jika mendidik anak di rumah harus memberikan contoh teladan terlebih dahulu kepada anak-anak kita:-Jika ingin anak kita shalih/shalihah, sebagai orangtua harus berusaha shalih dan shalihah-Jika ingin anak rajin shalat, sebagai orangtua harus rajin shalat di rumah untuk mencontohkan (ayah shalat wajib di masjid dan shalat sunah di rumah)-Jika ingin anak menghafalkan Al-Quran, kita pun berusaha menghafalkan Al-Qur’an di rumah walaupun sedikit, sering membaca Al-Quran di rumahKhususya bagi para suami dan para ayah, Andalah yang menjadi teladan utama bagi istri dan anak-anak Anda. Perhatikan perkataan ulama berikutإن عصيت الله رأيت ذلك في خلق زوجتي و أهلي و دابتي“Sungguh, ketika bermaksiat kepada Allah, aku mengetahui dampak buruknya ada pada perilaku istriku, keluargaku, dan hewan tungganganku.”Tugas dari para ayah yaitu menjaga keluarganya dari api neraka.Allah Ta’ala berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan” (QS. At-Tahrim [66] :6).Demikian semoga bermanfaat@ Bandara Adisucipto, Yogyakarta tercintaPenulis: dr. Raehanul Bahraen Artikel: Muslim.or.idCatatan kaki:🔍 Hadist Tentang Keluarga, Patuh Pada Suami, Khurofat, Kitbah, Talqin
Hal terberat bagi seorang guru atau ustadz bukanlah agar ilmu sampai dan dipahami oleh muridnya, tetapi bagaimana menjadi teladan yang baik sehingga memotivasi dan menginspirasi dalam semangat ilmu, amal, dan akhlak yang mulia. Demikian juga para orang tua pada anak-anaknya.Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjadi teladan yang baik bahkan memotivasi para sahabat yang menjadi murid-murid langsung beliau.Allah Ta’ala berfirman,ﻟَّﻘَﺪْ ﻛَﺎﻥَ ﻟَﻜُﻢْ ﻓِﻲ ﺭَﺳُﻮﻝِ ﺍﻟﻠﻪِ ﺃُﺳْﻮَﺓٌ ﺣَﺴَﻨَﺔٌ ﻟِّﻤَﻦ ﻛَﺎﻥَ ﻳَﺮْﺟُﻮﺍ ﺍﻟﻠﻪَ ﻭَﺍﻟْﻴَﻮْﻡَ ﺍْﻷَﺧِﺮَ ﻭَﺫَﻛَﺮَ ﺍﻟﻠﻪَ ﻛَﺜِﻴﺮًﺍ“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah” (QS. Al-Ahzab: 21).Para ulama dahulu sangat paham bahwa murid mereka tidak hanya mengambil ilmu darinya, tetapi juga mencontoh penerapan ilmu mereka berupa adab dan akhlak yang baik.Perhatikan kisah Imam Ahmad bin Hanbal yang mempunyai banyak murid, akan tetapi mayoritas muridnya tidak mencatat ilmu, namun ingin sekedar bertemu dan melihat Imam Ahmad yang merupakan sumber motivasi mereka dalam berilmu dan beramal. Hal ini karena Imam Ahmad telah memberikan contoh yang baik berupa ilmu, amal, dan akhlak yang mulia.Adz-Dzahabi rahimahullahu berkata,كان يجتمع في مجلس أحمد زهاء خمسة آلاف – أو يزيدون نحو خمس مائة – يكتبون، والباقون يتعلمون منه حسن الأدب والسمت“Hadir di majelis Imam Ahmad ada sekitar limaribu orang atau lebih. Limaratus orang menulis (pelajaran), sedangkan sisanya hanya mengambil contoh keluhuran adab dan kepribadiannya.”[1] Demikian juga kisah yang dibawakan oleh ulama besar Ibnul Qayyim Al-Jauziyah rahimahullahu, beliau memiliki ilmu yang banyak dan diakui. Beliau juga melihat langsung teladan ilmu, amal, dan akhlak mulia dari guru beliau yaitu syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah. Ketika mereka merasakan sempit akibat ujian dunia, mereka segera mendatangi gurunya. Belumlah mereka mendengar wejangan dan nasihat dari gurunya, baru bertemu saja dengan gurunya, mereka sudah merasakan ketenangan dan hilanglah rasa sempitnya. Hal ini karena guru mereka benar-benar memberikan contoh teladan yang baik serta kesabaran yang luar biasa.Ibnul Qayyim berkata,وكنا إذا اشتد بنا الخوف وساءت منا الظنون وضاقت بنا الأرض أتيناه، فما هو إلا أن نراه ونسمع كلامه فيذهب ذلك كله وينقلب انشراحاً وقوة ويقيناً وطمأنينة“Kami (murid-murid Ibnu Taimiyyah) jika ditimpa perasaan takut yang berlebihan, timbul dalam diri kami prasangka-prasangka buruk atau (ketika kami merasakan) kesempitan hidup, maka kami mendatangi beliau, dengan hanya memandang beliau dan mendengarkan ucapan beliau, hilang semua kegundahan yang kami rasakan dan berganti dengan perasaan lapang, tegar, yakin dan tenang.”[2] Demikian juga kita sebagai orang tua, jika mendidik anak di rumah harus memberikan contoh teladan terlebih dahulu kepada anak-anak kita:-Jika ingin anak kita shalih/shalihah, sebagai orangtua harus berusaha shalih dan shalihah-Jika ingin anak rajin shalat, sebagai orangtua harus rajin shalat di rumah untuk mencontohkan (ayah shalat wajib di masjid dan shalat sunah di rumah)-Jika ingin anak menghafalkan Al-Quran, kita pun berusaha menghafalkan Al-Qur’an di rumah walaupun sedikit, sering membaca Al-Quran di rumahKhususya bagi para suami dan para ayah, Andalah yang menjadi teladan utama bagi istri dan anak-anak Anda. Perhatikan perkataan ulama berikutإن عصيت الله رأيت ذلك في خلق زوجتي و أهلي و دابتي“Sungguh, ketika bermaksiat kepada Allah, aku mengetahui dampak buruknya ada pada perilaku istriku, keluargaku, dan hewan tungganganku.”Tugas dari para ayah yaitu menjaga keluarganya dari api neraka.Allah Ta’ala berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan” (QS. At-Tahrim [66] :6).Demikian semoga bermanfaat@ Bandara Adisucipto, Yogyakarta tercintaPenulis: dr. Raehanul Bahraen Artikel: Muslim.or.idCatatan kaki:🔍 Hadist Tentang Keluarga, Patuh Pada Suami, Khurofat, Kitbah, Talqin


Hal terberat bagi seorang guru atau ustadz bukanlah agar ilmu sampai dan dipahami oleh muridnya, tetapi bagaimana menjadi teladan yang baik sehingga memotivasi dan menginspirasi dalam semangat ilmu, amal, dan akhlak yang mulia. Demikian juga para orang tua pada anak-anaknya.Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjadi teladan yang baik bahkan memotivasi para sahabat yang menjadi murid-murid langsung beliau.Allah Ta’ala berfirman,ﻟَّﻘَﺪْ ﻛَﺎﻥَ ﻟَﻜُﻢْ ﻓِﻲ ﺭَﺳُﻮﻝِ ﺍﻟﻠﻪِ ﺃُﺳْﻮَﺓٌ ﺣَﺴَﻨَﺔٌ ﻟِّﻤَﻦ ﻛَﺎﻥَ ﻳَﺮْﺟُﻮﺍ ﺍﻟﻠﻪَ ﻭَﺍﻟْﻴَﻮْﻡَ ﺍْﻷَﺧِﺮَ ﻭَﺫَﻛَﺮَ ﺍﻟﻠﻪَ ﻛَﺜِﻴﺮًﺍ“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah” (QS. Al-Ahzab: 21).Para ulama dahulu sangat paham bahwa murid mereka tidak hanya mengambil ilmu darinya, tetapi juga mencontoh penerapan ilmu mereka berupa adab dan akhlak yang baik.Perhatikan kisah Imam Ahmad bin Hanbal yang mempunyai banyak murid, akan tetapi mayoritas muridnya tidak mencatat ilmu, namun ingin sekedar bertemu dan melihat Imam Ahmad yang merupakan sumber motivasi mereka dalam berilmu dan beramal. Hal ini karena Imam Ahmad telah memberikan contoh yang baik berupa ilmu, amal, dan akhlak yang mulia.Adz-Dzahabi rahimahullahu berkata,كان يجتمع في مجلس أحمد زهاء خمسة آلاف – أو يزيدون نحو خمس مائة – يكتبون، والباقون يتعلمون منه حسن الأدب والسمت“Hadir di majelis Imam Ahmad ada sekitar limaribu orang atau lebih. Limaratus orang menulis (pelajaran), sedangkan sisanya hanya mengambil contoh keluhuran adab dan kepribadiannya.”[1] Demikian juga kisah yang dibawakan oleh ulama besar Ibnul Qayyim Al-Jauziyah rahimahullahu, beliau memiliki ilmu yang banyak dan diakui. Beliau juga melihat langsung teladan ilmu, amal, dan akhlak mulia dari guru beliau yaitu syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah. Ketika mereka merasakan sempit akibat ujian dunia, mereka segera mendatangi gurunya. Belumlah mereka mendengar wejangan dan nasihat dari gurunya, baru bertemu saja dengan gurunya, mereka sudah merasakan ketenangan dan hilanglah rasa sempitnya. Hal ini karena guru mereka benar-benar memberikan contoh teladan yang baik serta kesabaran yang luar biasa.Ibnul Qayyim berkata,وكنا إذا اشتد بنا الخوف وساءت منا الظنون وضاقت بنا الأرض أتيناه، فما هو إلا أن نراه ونسمع كلامه فيذهب ذلك كله وينقلب انشراحاً وقوة ويقيناً وطمأنينة“Kami (murid-murid Ibnu Taimiyyah) jika ditimpa perasaan takut yang berlebihan, timbul dalam diri kami prasangka-prasangka buruk atau (ketika kami merasakan) kesempitan hidup, maka kami mendatangi beliau, dengan hanya memandang beliau dan mendengarkan ucapan beliau, hilang semua kegundahan yang kami rasakan dan berganti dengan perasaan lapang, tegar, yakin dan tenang.”[2] Demikian juga kita sebagai orang tua, jika mendidik anak di rumah harus memberikan contoh teladan terlebih dahulu kepada anak-anak kita:-Jika ingin anak kita shalih/shalihah, sebagai orangtua harus berusaha shalih dan shalihah-Jika ingin anak rajin shalat, sebagai orangtua harus rajin shalat di rumah untuk mencontohkan (ayah shalat wajib di masjid dan shalat sunah di rumah)-Jika ingin anak menghafalkan Al-Quran, kita pun berusaha menghafalkan Al-Qur’an di rumah walaupun sedikit, sering membaca Al-Quran di rumahKhususya bagi para suami dan para ayah, Andalah yang menjadi teladan utama bagi istri dan anak-anak Anda. Perhatikan perkataan ulama berikutإن عصيت الله رأيت ذلك في خلق زوجتي و أهلي و دابتي“Sungguh, ketika bermaksiat kepada Allah, aku mengetahui dampak buruknya ada pada perilaku istriku, keluargaku, dan hewan tungganganku.”Tugas dari para ayah yaitu menjaga keluarganya dari api neraka.Allah Ta’ala berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan” (QS. At-Tahrim [66] :6).Demikian semoga bermanfaat@ Bandara Adisucipto, Yogyakarta tercintaPenulis: dr. Raehanul Bahraen Artikel: Muslim.or.idCatatan kaki:🔍 Hadist Tentang Keluarga, Patuh Pada Suami, Khurofat, Kitbah, Talqin

Akhlak Mulia dan Tutur Kata yang Baik Memberatkan Timbangan

Ada lagi satu amalan yang berpahala besar dan berat dalam timbangan. Apa itu? Yaitu akhlak mulia dan berkata yang baik. Dari Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَا مِنْ شَىْءٍ يُوضَعُ فِى الْمِيزَانِ أَثْقَلُ مِنْ حُسْنِ الْخُلُقِ وَإِنَّ صَاحِبَ حُسْنِ الْخُلُقِ لَيَبْلُغُ بِهِ دَرَجَةَ صَاحِبِ الصَّوْمِ وَالصَّلاَةِ “Tidak ada sesuatu amalan yang jika diletakkan dalam timbangan lebih berat dari akhlaq yang mulia. Sesungguhnya orang yang berakhlaq mulia bisa menggapai derajat orang yang rajin puasa dan rajin shalat.” (HR. Tirmidzi no. 2134. Syaikh Al-Abani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Lihat Shahih Al Jaami’ no. 5726.) Dalam riwayat Tirmidzi—haditsnya dinyatakan hasan shahih—disebutkan pula hadits dari Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَا مِنْ شَيْءٍ أَثْقَلُ فِي مِيْزَانِ المُؤْمِنِ يَوْمَ القِيَامَةِ مِنْ حُسْنِ الخُلُقِ، وَإِنَّ اللهَ يُبْغِضُ الفَاحِشُ البَذِي “Tidak ada sesuatu yang lebih berat dalam timbangan seorang mukmin pada hari kiamat selain akhlaknya yang baik. Allah sangat membenci orang yang kata-katanya kasar dan kotor.”   Faedah hadits: 1- Contoh husnul khuluq atau berakhlak yang baik sebagaimana dikatakan oleh ‘Abdullah bin Al-Mubarak adalah: senyum manis melakukan yang makruf (kebajikan) menghilangkan gangguan 2- Yang dimaksudkan dengan hadits di atas adalah yang berat pahalanya dalam mizan (timbangan). 3- Allah mencintai dan meridhai orang yang berakhlak mulia. 4- Al-fahisy yang dimaksud dalam hadits adalah orang yang mengeluarkan perkataan yang tidak enak didengar atau perkataan yang tidak pantas. Al-badzi adalah orang yang berkata kotor. Jadi, orang yang bisa menjaga perkataannya adalah orang yang akan berat timbangannya. 5- Mizan (timbangan) amalan itu ada dan wajib diimani.   Referensi: Al-Ajru Al-Kabir ‘ala Al-‘Amal Al-Yasir. Cetakan pertama, Tahun 1415 H. Muhammad Khair Ramdhan Yusuf. Penerbit Dar Ibnu Hazm. hlm. 76. —- Catatan pada Kamis menjelang Zhuhur di Masjid Nabawi Kota Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, 17 Rabi’uts Tsani 1439 H (4 Januari 2018) saat membimbing Batik Travel – Nur Ramadhan Wisata Info Umrah: 083867838752 (Mas Edi Sa’ad) Oleh hamba yang fakir dalam ilmu dan terus butuh ampunan Rabbnya, -Muhammad Abduh Tuasikal   Artikel Rumaysho.Com Tagsakhlak lisan

Akhlak Mulia dan Tutur Kata yang Baik Memberatkan Timbangan

Ada lagi satu amalan yang berpahala besar dan berat dalam timbangan. Apa itu? Yaitu akhlak mulia dan berkata yang baik. Dari Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَا مِنْ شَىْءٍ يُوضَعُ فِى الْمِيزَانِ أَثْقَلُ مِنْ حُسْنِ الْخُلُقِ وَإِنَّ صَاحِبَ حُسْنِ الْخُلُقِ لَيَبْلُغُ بِهِ دَرَجَةَ صَاحِبِ الصَّوْمِ وَالصَّلاَةِ “Tidak ada sesuatu amalan yang jika diletakkan dalam timbangan lebih berat dari akhlaq yang mulia. Sesungguhnya orang yang berakhlaq mulia bisa menggapai derajat orang yang rajin puasa dan rajin shalat.” (HR. Tirmidzi no. 2134. Syaikh Al-Abani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Lihat Shahih Al Jaami’ no. 5726.) Dalam riwayat Tirmidzi—haditsnya dinyatakan hasan shahih—disebutkan pula hadits dari Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَا مِنْ شَيْءٍ أَثْقَلُ فِي مِيْزَانِ المُؤْمِنِ يَوْمَ القِيَامَةِ مِنْ حُسْنِ الخُلُقِ، وَإِنَّ اللهَ يُبْغِضُ الفَاحِشُ البَذِي “Tidak ada sesuatu yang lebih berat dalam timbangan seorang mukmin pada hari kiamat selain akhlaknya yang baik. Allah sangat membenci orang yang kata-katanya kasar dan kotor.”   Faedah hadits: 1- Contoh husnul khuluq atau berakhlak yang baik sebagaimana dikatakan oleh ‘Abdullah bin Al-Mubarak adalah: senyum manis melakukan yang makruf (kebajikan) menghilangkan gangguan 2- Yang dimaksudkan dengan hadits di atas adalah yang berat pahalanya dalam mizan (timbangan). 3- Allah mencintai dan meridhai orang yang berakhlak mulia. 4- Al-fahisy yang dimaksud dalam hadits adalah orang yang mengeluarkan perkataan yang tidak enak didengar atau perkataan yang tidak pantas. Al-badzi adalah orang yang berkata kotor. Jadi, orang yang bisa menjaga perkataannya adalah orang yang akan berat timbangannya. 5- Mizan (timbangan) amalan itu ada dan wajib diimani.   Referensi: Al-Ajru Al-Kabir ‘ala Al-‘Amal Al-Yasir. Cetakan pertama, Tahun 1415 H. Muhammad Khair Ramdhan Yusuf. Penerbit Dar Ibnu Hazm. hlm. 76. —- Catatan pada Kamis menjelang Zhuhur di Masjid Nabawi Kota Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, 17 Rabi’uts Tsani 1439 H (4 Januari 2018) saat membimbing Batik Travel – Nur Ramadhan Wisata Info Umrah: 083867838752 (Mas Edi Sa’ad) Oleh hamba yang fakir dalam ilmu dan terus butuh ampunan Rabbnya, -Muhammad Abduh Tuasikal   Artikel Rumaysho.Com Tagsakhlak lisan
Ada lagi satu amalan yang berpahala besar dan berat dalam timbangan. Apa itu? Yaitu akhlak mulia dan berkata yang baik. Dari Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَا مِنْ شَىْءٍ يُوضَعُ فِى الْمِيزَانِ أَثْقَلُ مِنْ حُسْنِ الْخُلُقِ وَإِنَّ صَاحِبَ حُسْنِ الْخُلُقِ لَيَبْلُغُ بِهِ دَرَجَةَ صَاحِبِ الصَّوْمِ وَالصَّلاَةِ “Tidak ada sesuatu amalan yang jika diletakkan dalam timbangan lebih berat dari akhlaq yang mulia. Sesungguhnya orang yang berakhlaq mulia bisa menggapai derajat orang yang rajin puasa dan rajin shalat.” (HR. Tirmidzi no. 2134. Syaikh Al-Abani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Lihat Shahih Al Jaami’ no. 5726.) Dalam riwayat Tirmidzi—haditsnya dinyatakan hasan shahih—disebutkan pula hadits dari Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَا مِنْ شَيْءٍ أَثْقَلُ فِي مِيْزَانِ المُؤْمِنِ يَوْمَ القِيَامَةِ مِنْ حُسْنِ الخُلُقِ، وَإِنَّ اللهَ يُبْغِضُ الفَاحِشُ البَذِي “Tidak ada sesuatu yang lebih berat dalam timbangan seorang mukmin pada hari kiamat selain akhlaknya yang baik. Allah sangat membenci orang yang kata-katanya kasar dan kotor.”   Faedah hadits: 1- Contoh husnul khuluq atau berakhlak yang baik sebagaimana dikatakan oleh ‘Abdullah bin Al-Mubarak adalah: senyum manis melakukan yang makruf (kebajikan) menghilangkan gangguan 2- Yang dimaksudkan dengan hadits di atas adalah yang berat pahalanya dalam mizan (timbangan). 3- Allah mencintai dan meridhai orang yang berakhlak mulia. 4- Al-fahisy yang dimaksud dalam hadits adalah orang yang mengeluarkan perkataan yang tidak enak didengar atau perkataan yang tidak pantas. Al-badzi adalah orang yang berkata kotor. Jadi, orang yang bisa menjaga perkataannya adalah orang yang akan berat timbangannya. 5- Mizan (timbangan) amalan itu ada dan wajib diimani.   Referensi: Al-Ajru Al-Kabir ‘ala Al-‘Amal Al-Yasir. Cetakan pertama, Tahun 1415 H. Muhammad Khair Ramdhan Yusuf. Penerbit Dar Ibnu Hazm. hlm. 76. —- Catatan pada Kamis menjelang Zhuhur di Masjid Nabawi Kota Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, 17 Rabi’uts Tsani 1439 H (4 Januari 2018) saat membimbing Batik Travel – Nur Ramadhan Wisata Info Umrah: 083867838752 (Mas Edi Sa’ad) Oleh hamba yang fakir dalam ilmu dan terus butuh ampunan Rabbnya, -Muhammad Abduh Tuasikal   Artikel Rumaysho.Com Tagsakhlak lisan


Ada lagi satu amalan yang berpahala besar dan berat dalam timbangan. Apa itu? Yaitu akhlak mulia dan berkata yang baik. Dari Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَا مِنْ شَىْءٍ يُوضَعُ فِى الْمِيزَانِ أَثْقَلُ مِنْ حُسْنِ الْخُلُقِ وَإِنَّ صَاحِبَ حُسْنِ الْخُلُقِ لَيَبْلُغُ بِهِ دَرَجَةَ صَاحِبِ الصَّوْمِ وَالصَّلاَةِ “Tidak ada sesuatu amalan yang jika diletakkan dalam timbangan lebih berat dari akhlaq yang mulia. Sesungguhnya orang yang berakhlaq mulia bisa menggapai derajat orang yang rajin puasa dan rajin shalat.” (HR. Tirmidzi no. 2134. Syaikh Al-Abani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Lihat Shahih Al Jaami’ no. 5726.) Dalam riwayat Tirmidzi—haditsnya dinyatakan hasan shahih—disebutkan pula hadits dari Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَا مِنْ شَيْءٍ أَثْقَلُ فِي مِيْزَانِ المُؤْمِنِ يَوْمَ القِيَامَةِ مِنْ حُسْنِ الخُلُقِ، وَإِنَّ اللهَ يُبْغِضُ الفَاحِشُ البَذِي “Tidak ada sesuatu yang lebih berat dalam timbangan seorang mukmin pada hari kiamat selain akhlaknya yang baik. Allah sangat membenci orang yang kata-katanya kasar dan kotor.”   Faedah hadits: 1- Contoh husnul khuluq atau berakhlak yang baik sebagaimana dikatakan oleh ‘Abdullah bin Al-Mubarak adalah: senyum manis melakukan yang makruf (kebajikan) menghilangkan gangguan 2- Yang dimaksudkan dengan hadits di atas adalah yang berat pahalanya dalam mizan (timbangan). 3- Allah mencintai dan meridhai orang yang berakhlak mulia. 4- Al-fahisy yang dimaksud dalam hadits adalah orang yang mengeluarkan perkataan yang tidak enak didengar atau perkataan yang tidak pantas. Al-badzi adalah orang yang berkata kotor. Jadi, orang yang bisa menjaga perkataannya adalah orang yang akan berat timbangannya. 5- Mizan (timbangan) amalan itu ada dan wajib diimani.   Referensi: Al-Ajru Al-Kabir ‘ala Al-‘Amal Al-Yasir. Cetakan pertama, Tahun 1415 H. Muhammad Khair Ramdhan Yusuf. Penerbit Dar Ibnu Hazm. hlm. 76. —- Catatan pada Kamis menjelang Zhuhur di Masjid Nabawi Kota Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, 17 Rabi’uts Tsani 1439 H (4 Januari 2018) saat membimbing Batik Travel – Nur Ramadhan Wisata Info Umrah: 083867838752 (Mas Edi Sa’ad) Oleh hamba yang fakir dalam ilmu dan terus butuh ampunan Rabbnya, -Muhammad Abduh Tuasikal   Artikel Rumaysho.Com Tagsakhlak lisan

Sedekah dari Usaha yang Halal

Inilah keutamaan sedekah dari usaha yang halal. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ تَصَدَّقَ بِعَدْلِ تَمْرَةٍ مِنْ كَسْبٍ طَيِّبٍ وَلاَ يَقْبَلُ اللهُ إِلاَّ الطَّيِّبَ فَإِنَّ اللهَ يَقْبَلُهَا بِيَمِيْنِهِ ثُمَّ يُرَبِّيْهَا لِصَاحِبِهِ كَمَا يُرَبِّيْ أَحَدُكُمْ فَلُوَّهُ، حَتَّى تَكُوْنَ مِثْلَ الْجَبَلِ. “Barangsiapa yang bersedekah dengan sesuatu yang senilai dengan sebutir kurma dari usaha yang halal, sedangkan Allah tidaklah menerima kecuali yang thayyib (yang baik), maka Allah akan menerima sedekahnya dengan tangan kanan-Nya kemudian mengembangkannya untuk pemiliknya seperti seorang di antara kalian membesarkan kuda kecilnya hingga sedekah tersebut menjadi besar seperti gunung.” (HR. Bukhari, no. 1410 dan Muslim, no. 1014) Dalam riwayat lain disebutkan, لاَ يَتَصَدَّقُ أَحَدٌ بِتَمْرَةٍ مِنْ كَسْبٍ طَيِّبٍ إِلاَّ أَخَذَهَا اللَّهُ بِيَمِينِهِ فَيُرَبِّيهَا كَمَا يُرَبِّى أَحَدُكُمْ فَلُوَّهُ أَوْ قَلُوصَهُ حَتَّى تَكُونَ مِثْلَ الْجَبَلِ أَوْ أَعْظَمَ “Tidaklah seseorang bersedekah dengan sebutir kurma dari hasil kerjanya yang halal melainkan Allah akan mengambil sedekah tersebut dengan tangan kanan-Nya lalu Dia membesarkannya sebagaimana ia membesarkan anak kuda atau anak unta betinanya hingga sampai semisal gunung atau lebih besar dari itu” (HR. Muslim no. 1014). Di sini disebutkan bersedekah dengan “‘adli tamroh” yaitu semisal satu kurma atau senilai dengan sebutir kurma. Disebutkan pula “tsumma yurobbiha” yaitu membuatnya menjadi besar sampai berat dalam timbangan. Al-faluwwu dalam hadits yang dimaksud adalah anak kuda yang lepas dari induknya. Sedekah itu menjadi besar seperti gunung, maksudnya beratnya seperti gunung. Penyebutan tersebut punya maksud permisalan saja untuk menambah pemahaman. Ringkasnya hadits di atas punya maksud tentang pahala sedekah walau dengan sebutir kurma akan dibalas dengan ganjaran seberat gunung. Namun ingat sedekah ini bisa berlipat pahalanya asalkan diambil dari usaha yang halal, bukan dari penghasilan yang haram. Wallahu waliyyut taufiq, moga Allah beri taufik.   Referensi: Al-Ajru Al-Kabir ‘ala Al-‘Amal Al-Yasir. Cetakan pertama, Tahun 1415 H. Muhammad Khair Ramdhan Yusuf. Penerbit Dar Ibnu Hazm. hlm. 53 —- Catatan di Masjidil Haram Makkah, 19 Rabi’uts Tsani 1439 H (6 Januari 2018) saat membimbing Batik Travel – Nur Ramadhan Wisata Info Umrah: 083867838752 (Mas Edi Sa’ad) Oleh hamba yang fakir dalam ilmu dan terus butuh ampunan Rabbnya, -Muhammad Abduh Tuasikal   Artikel Rumaysho.Com Tagssedekah

Sedekah dari Usaha yang Halal

Inilah keutamaan sedekah dari usaha yang halal. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ تَصَدَّقَ بِعَدْلِ تَمْرَةٍ مِنْ كَسْبٍ طَيِّبٍ وَلاَ يَقْبَلُ اللهُ إِلاَّ الطَّيِّبَ فَإِنَّ اللهَ يَقْبَلُهَا بِيَمِيْنِهِ ثُمَّ يُرَبِّيْهَا لِصَاحِبِهِ كَمَا يُرَبِّيْ أَحَدُكُمْ فَلُوَّهُ، حَتَّى تَكُوْنَ مِثْلَ الْجَبَلِ. “Barangsiapa yang bersedekah dengan sesuatu yang senilai dengan sebutir kurma dari usaha yang halal, sedangkan Allah tidaklah menerima kecuali yang thayyib (yang baik), maka Allah akan menerima sedekahnya dengan tangan kanan-Nya kemudian mengembangkannya untuk pemiliknya seperti seorang di antara kalian membesarkan kuda kecilnya hingga sedekah tersebut menjadi besar seperti gunung.” (HR. Bukhari, no. 1410 dan Muslim, no. 1014) Dalam riwayat lain disebutkan, لاَ يَتَصَدَّقُ أَحَدٌ بِتَمْرَةٍ مِنْ كَسْبٍ طَيِّبٍ إِلاَّ أَخَذَهَا اللَّهُ بِيَمِينِهِ فَيُرَبِّيهَا كَمَا يُرَبِّى أَحَدُكُمْ فَلُوَّهُ أَوْ قَلُوصَهُ حَتَّى تَكُونَ مِثْلَ الْجَبَلِ أَوْ أَعْظَمَ “Tidaklah seseorang bersedekah dengan sebutir kurma dari hasil kerjanya yang halal melainkan Allah akan mengambil sedekah tersebut dengan tangan kanan-Nya lalu Dia membesarkannya sebagaimana ia membesarkan anak kuda atau anak unta betinanya hingga sampai semisal gunung atau lebih besar dari itu” (HR. Muslim no. 1014). Di sini disebutkan bersedekah dengan “‘adli tamroh” yaitu semisal satu kurma atau senilai dengan sebutir kurma. Disebutkan pula “tsumma yurobbiha” yaitu membuatnya menjadi besar sampai berat dalam timbangan. Al-faluwwu dalam hadits yang dimaksud adalah anak kuda yang lepas dari induknya. Sedekah itu menjadi besar seperti gunung, maksudnya beratnya seperti gunung. Penyebutan tersebut punya maksud permisalan saja untuk menambah pemahaman. Ringkasnya hadits di atas punya maksud tentang pahala sedekah walau dengan sebutir kurma akan dibalas dengan ganjaran seberat gunung. Namun ingat sedekah ini bisa berlipat pahalanya asalkan diambil dari usaha yang halal, bukan dari penghasilan yang haram. Wallahu waliyyut taufiq, moga Allah beri taufik.   Referensi: Al-Ajru Al-Kabir ‘ala Al-‘Amal Al-Yasir. Cetakan pertama, Tahun 1415 H. Muhammad Khair Ramdhan Yusuf. Penerbit Dar Ibnu Hazm. hlm. 53 —- Catatan di Masjidil Haram Makkah, 19 Rabi’uts Tsani 1439 H (6 Januari 2018) saat membimbing Batik Travel – Nur Ramadhan Wisata Info Umrah: 083867838752 (Mas Edi Sa’ad) Oleh hamba yang fakir dalam ilmu dan terus butuh ampunan Rabbnya, -Muhammad Abduh Tuasikal   Artikel Rumaysho.Com Tagssedekah
Inilah keutamaan sedekah dari usaha yang halal. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ تَصَدَّقَ بِعَدْلِ تَمْرَةٍ مِنْ كَسْبٍ طَيِّبٍ وَلاَ يَقْبَلُ اللهُ إِلاَّ الطَّيِّبَ فَإِنَّ اللهَ يَقْبَلُهَا بِيَمِيْنِهِ ثُمَّ يُرَبِّيْهَا لِصَاحِبِهِ كَمَا يُرَبِّيْ أَحَدُكُمْ فَلُوَّهُ، حَتَّى تَكُوْنَ مِثْلَ الْجَبَلِ. “Barangsiapa yang bersedekah dengan sesuatu yang senilai dengan sebutir kurma dari usaha yang halal, sedangkan Allah tidaklah menerima kecuali yang thayyib (yang baik), maka Allah akan menerima sedekahnya dengan tangan kanan-Nya kemudian mengembangkannya untuk pemiliknya seperti seorang di antara kalian membesarkan kuda kecilnya hingga sedekah tersebut menjadi besar seperti gunung.” (HR. Bukhari, no. 1410 dan Muslim, no. 1014) Dalam riwayat lain disebutkan, لاَ يَتَصَدَّقُ أَحَدٌ بِتَمْرَةٍ مِنْ كَسْبٍ طَيِّبٍ إِلاَّ أَخَذَهَا اللَّهُ بِيَمِينِهِ فَيُرَبِّيهَا كَمَا يُرَبِّى أَحَدُكُمْ فَلُوَّهُ أَوْ قَلُوصَهُ حَتَّى تَكُونَ مِثْلَ الْجَبَلِ أَوْ أَعْظَمَ “Tidaklah seseorang bersedekah dengan sebutir kurma dari hasil kerjanya yang halal melainkan Allah akan mengambil sedekah tersebut dengan tangan kanan-Nya lalu Dia membesarkannya sebagaimana ia membesarkan anak kuda atau anak unta betinanya hingga sampai semisal gunung atau lebih besar dari itu” (HR. Muslim no. 1014). Di sini disebutkan bersedekah dengan “‘adli tamroh” yaitu semisal satu kurma atau senilai dengan sebutir kurma. Disebutkan pula “tsumma yurobbiha” yaitu membuatnya menjadi besar sampai berat dalam timbangan. Al-faluwwu dalam hadits yang dimaksud adalah anak kuda yang lepas dari induknya. Sedekah itu menjadi besar seperti gunung, maksudnya beratnya seperti gunung. Penyebutan tersebut punya maksud permisalan saja untuk menambah pemahaman. Ringkasnya hadits di atas punya maksud tentang pahala sedekah walau dengan sebutir kurma akan dibalas dengan ganjaran seberat gunung. Namun ingat sedekah ini bisa berlipat pahalanya asalkan diambil dari usaha yang halal, bukan dari penghasilan yang haram. Wallahu waliyyut taufiq, moga Allah beri taufik.   Referensi: Al-Ajru Al-Kabir ‘ala Al-‘Amal Al-Yasir. Cetakan pertama, Tahun 1415 H. Muhammad Khair Ramdhan Yusuf. Penerbit Dar Ibnu Hazm. hlm. 53 —- Catatan di Masjidil Haram Makkah, 19 Rabi’uts Tsani 1439 H (6 Januari 2018) saat membimbing Batik Travel – Nur Ramadhan Wisata Info Umrah: 083867838752 (Mas Edi Sa’ad) Oleh hamba yang fakir dalam ilmu dan terus butuh ampunan Rabbnya, -Muhammad Abduh Tuasikal   Artikel Rumaysho.Com Tagssedekah


Inilah keutamaan sedekah dari usaha yang halal. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ تَصَدَّقَ بِعَدْلِ تَمْرَةٍ مِنْ كَسْبٍ طَيِّبٍ وَلاَ يَقْبَلُ اللهُ إِلاَّ الطَّيِّبَ فَإِنَّ اللهَ يَقْبَلُهَا بِيَمِيْنِهِ ثُمَّ يُرَبِّيْهَا لِصَاحِبِهِ كَمَا يُرَبِّيْ أَحَدُكُمْ فَلُوَّهُ، حَتَّى تَكُوْنَ مِثْلَ الْجَبَلِ. “Barangsiapa yang bersedekah dengan sesuatu yang senilai dengan sebutir kurma dari usaha yang halal, sedangkan Allah tidaklah menerima kecuali yang thayyib (yang baik), maka Allah akan menerima sedekahnya dengan tangan kanan-Nya kemudian mengembangkannya untuk pemiliknya seperti seorang di antara kalian membesarkan kuda kecilnya hingga sedekah tersebut menjadi besar seperti gunung.” (HR. Bukhari, no. 1410 dan Muslim, no. 1014) Dalam riwayat lain disebutkan, لاَ يَتَصَدَّقُ أَحَدٌ بِتَمْرَةٍ مِنْ كَسْبٍ طَيِّبٍ إِلاَّ أَخَذَهَا اللَّهُ بِيَمِينِهِ فَيُرَبِّيهَا كَمَا يُرَبِّى أَحَدُكُمْ فَلُوَّهُ أَوْ قَلُوصَهُ حَتَّى تَكُونَ مِثْلَ الْجَبَلِ أَوْ أَعْظَمَ “Tidaklah seseorang bersedekah dengan sebutir kurma dari hasil kerjanya yang halal melainkan Allah akan mengambil sedekah tersebut dengan tangan kanan-Nya lalu Dia membesarkannya sebagaimana ia membesarkan anak kuda atau anak unta betinanya hingga sampai semisal gunung atau lebih besar dari itu” (HR. Muslim no. 1014). Di sini disebutkan bersedekah dengan “‘adli tamroh” yaitu semisal satu kurma atau senilai dengan sebutir kurma. Disebutkan pula “tsumma yurobbiha” yaitu membuatnya menjadi besar sampai berat dalam timbangan. Al-faluwwu dalam hadits yang dimaksud adalah anak kuda yang lepas dari induknya. Sedekah itu menjadi besar seperti gunung, maksudnya beratnya seperti gunung. Penyebutan tersebut punya maksud permisalan saja untuk menambah pemahaman. Ringkasnya hadits di atas punya maksud tentang pahala sedekah walau dengan sebutir kurma akan dibalas dengan ganjaran seberat gunung. Namun ingat sedekah ini bisa berlipat pahalanya asalkan diambil dari usaha yang halal, bukan dari penghasilan yang haram. Wallahu waliyyut taufiq, moga Allah beri taufik.   Referensi: Al-Ajru Al-Kabir ‘ala Al-‘Amal Al-Yasir. Cetakan pertama, Tahun 1415 H. Muhammad Khair Ramdhan Yusuf. Penerbit Dar Ibnu Hazm. hlm. 53 —- Catatan di Masjidil Haram Makkah, 19 Rabi’uts Tsani 1439 H (6 Januari 2018) saat membimbing Batik Travel – Nur Ramadhan Wisata Info Umrah: 083867838752 (Mas Edi Sa’ad) Oleh hamba yang fakir dalam ilmu dan terus butuh ampunan Rabbnya, -Muhammad Abduh Tuasikal   Artikel Rumaysho.Com Tagssedekah

Minum Air Kencing Unta, Pengobatan Nabi

Hukum Meminum Air Kencing Unta, Untuk Pengobatan Tanya sedikit yang saat ini ini lagi rame tadz, benarkah ada khasiat kencing unta, dan bagaimana hukum sebenarnya memimum air kencing unta? Suwun Jawab: Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Dalil mengenai khasiat kencing unta disebutkan dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim dengan banyak redaksi. Diantaranya adalah riwayat dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, beliau bercerita, قَدِمَ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَوْمٌ مِنْ عُكْلٍ أَوْ عُرَيْنَةَ فَاجْتَوَوُا الْمَدِينَةَ فَأَمَرَ لَهُمْ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- بِلِقَاحٍ وَأَمَرَهُمْ أَنْ يَشْرَبُوا مِنْ أَبْوَالِهَا وَأَلْبَانِهَا Ada sejumlah orang dari suku Ukl dan Uranah yang datang menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun mereka mengalami sakit karena tidak betah di Madinah. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan mereka untuk mendatangi kandang unta, dan menyuruh mereka untuk minum air kencingnya dan susunya. (HR. Bukhari 1501 & Muslim 4447) Dalam riwayat lain dinyatakan, bahwa orang yang minum susu dan kencing unta ini menjadi gemuk. فَفَعَلُوا فَصَحُّوا وَسَمِنُوا Merekapun melakukan saran itu, hingga mereka sehat dan menjadi gemuk. Sebagai orang yang beriman kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tentu kita akan membenarkan apa yang beliau sampaikan. Terlepas dari keterlibatan ahli medis di sana. Karena apa yang beliau sampaikan adalah wahyu, dan Allah Maha Tahu apa yang paling bermanfaat bagi hamba-Nya. Ibnul Qoyim – ulama ahli tibbun nabawi – mengatakan, وفي القِصَّة دليلٌ على التداوي والتَّطبُّب، وعلى طهارةِ بوْلِ مأكولِ اللَّحم Dalam kisah ini terdapat dalil mengenai bolehnya berobat dan datang ke tabib (dokter), dan juga menunjukan sucinya air kencing hewan yang halal dagingnya. (Zadul Ma’ad, 4/48). Dan mengenai khasiat air kencing unta juga diakui oleh Ibnu Sina – ahli kedokteran masa silam –, وأنفَعُ الأبوال: بوْلُ الجَمَل الأعرابيّ؛ وهو النجيب Kencing yang paling bermanfaat adalah air kencing unta pedalaman arab, dan itu unta pilihan. (Dinukil Ibnul Qoyim dalam Zadul Ma’ad) Dan ada sejumlah penelitian yang dilakukan sebagian dokter, mengenai khasiat air kencing unta. Diantaranya keterangan Dr. Ahlam al-Iwadhi. Beliau pernah melakukan penelitian untuk beberapa penyakit yang mungkin bisa diobati dengan air kencing unta. Beliau mengatakan bahwa air kencing bisa digunakan untuk mengobati beberapa penyakit kulit, diantaranya panuan, gatal-gatal, luka-luka kecil di badan dan kepala, luka basah maupun kering. Kencing unta juga bermanfaat untuk memperpanjang rambut dan membantu memperlebat rambut. Air kencing unta juga bermanfaat untuk mengobati sakit liver, meskipun sudah sampai pada stadium lanjut, yang sulit diobati dokter. (Majallah ad-Da’wah, volume 1938 April – 2004) Jijik itu Urusan Pribadi Jijik dan tidak jijik itu masalah mental. Karena itu, beda-beda antara satu orang dengan yang lainnya. Bagi sebagian orang jijik, bagi yang lain, itu biasa. Dan biasanya itu hanya masalah kemasan. Bisa saja berobat dengan kencing menjadi tidak jijik karena kemasannya dibuat lebih menarik. Kita tidak memungkiri ada upaya yang dilakukan non muslim dalam membuat anti-tesis dalam masalah ini. Karena bagi mereka, sunah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak boleh dominan. Selama ada celah – menurut mereka – untuk dilecehkan, mereka akan melakukannya. Seperti hadis lalat yang masuk ke minuman. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyarankan agar jangan langsung dibuang, sebelum lalat itu dicelupkan. Karena salah satu sayapnya penyakit, sementara satunya menjadi penawarnya. Pada awalnya, banyak dokter non muslim menyudutkan islam dari sisi hadis ini. namun akhirnya mereka mengakui setelah terbukti dalam penelitian medis yang lebih modern. Bisa jadi saat ini, sebagian ahli medis belum menemukan sisi manfaat untuk kencing unta. Tapi bukan berarti harus ditolak. Karena tidak tahu bukan berarti tidak ada. Demikian, Allahu a’lam. Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. SPONSOR hubungi: 081 326 333 328 DONASI hubungi: 087 882 888 727 REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK 🔍 Suami Pemarah Dalam Islam, Shalat Sunat Sebelum Magrib, Arti Mimpi Online, Bercumbu Dalam Islam, Azab Bagi Orang Yang Meninggalkan Sholat 5 Waktu, Rawatib Isya Visited 374 times, 1 visit(s) today Post Views: 375 QRIS donasi Yufid

Minum Air Kencing Unta, Pengobatan Nabi

Hukum Meminum Air Kencing Unta, Untuk Pengobatan Tanya sedikit yang saat ini ini lagi rame tadz, benarkah ada khasiat kencing unta, dan bagaimana hukum sebenarnya memimum air kencing unta? Suwun Jawab: Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Dalil mengenai khasiat kencing unta disebutkan dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim dengan banyak redaksi. Diantaranya adalah riwayat dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, beliau bercerita, قَدِمَ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَوْمٌ مِنْ عُكْلٍ أَوْ عُرَيْنَةَ فَاجْتَوَوُا الْمَدِينَةَ فَأَمَرَ لَهُمْ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- بِلِقَاحٍ وَأَمَرَهُمْ أَنْ يَشْرَبُوا مِنْ أَبْوَالِهَا وَأَلْبَانِهَا Ada sejumlah orang dari suku Ukl dan Uranah yang datang menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun mereka mengalami sakit karena tidak betah di Madinah. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan mereka untuk mendatangi kandang unta, dan menyuruh mereka untuk minum air kencingnya dan susunya. (HR. Bukhari 1501 & Muslim 4447) Dalam riwayat lain dinyatakan, bahwa orang yang minum susu dan kencing unta ini menjadi gemuk. فَفَعَلُوا فَصَحُّوا وَسَمِنُوا Merekapun melakukan saran itu, hingga mereka sehat dan menjadi gemuk. Sebagai orang yang beriman kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tentu kita akan membenarkan apa yang beliau sampaikan. Terlepas dari keterlibatan ahli medis di sana. Karena apa yang beliau sampaikan adalah wahyu, dan Allah Maha Tahu apa yang paling bermanfaat bagi hamba-Nya. Ibnul Qoyim – ulama ahli tibbun nabawi – mengatakan, وفي القِصَّة دليلٌ على التداوي والتَّطبُّب، وعلى طهارةِ بوْلِ مأكولِ اللَّحم Dalam kisah ini terdapat dalil mengenai bolehnya berobat dan datang ke tabib (dokter), dan juga menunjukan sucinya air kencing hewan yang halal dagingnya. (Zadul Ma’ad, 4/48). Dan mengenai khasiat air kencing unta juga diakui oleh Ibnu Sina – ahli kedokteran masa silam –, وأنفَعُ الأبوال: بوْلُ الجَمَل الأعرابيّ؛ وهو النجيب Kencing yang paling bermanfaat adalah air kencing unta pedalaman arab, dan itu unta pilihan. (Dinukil Ibnul Qoyim dalam Zadul Ma’ad) Dan ada sejumlah penelitian yang dilakukan sebagian dokter, mengenai khasiat air kencing unta. Diantaranya keterangan Dr. Ahlam al-Iwadhi. Beliau pernah melakukan penelitian untuk beberapa penyakit yang mungkin bisa diobati dengan air kencing unta. Beliau mengatakan bahwa air kencing bisa digunakan untuk mengobati beberapa penyakit kulit, diantaranya panuan, gatal-gatal, luka-luka kecil di badan dan kepala, luka basah maupun kering. Kencing unta juga bermanfaat untuk memperpanjang rambut dan membantu memperlebat rambut. Air kencing unta juga bermanfaat untuk mengobati sakit liver, meskipun sudah sampai pada stadium lanjut, yang sulit diobati dokter. (Majallah ad-Da’wah, volume 1938 April – 2004) Jijik itu Urusan Pribadi Jijik dan tidak jijik itu masalah mental. Karena itu, beda-beda antara satu orang dengan yang lainnya. Bagi sebagian orang jijik, bagi yang lain, itu biasa. Dan biasanya itu hanya masalah kemasan. Bisa saja berobat dengan kencing menjadi tidak jijik karena kemasannya dibuat lebih menarik. Kita tidak memungkiri ada upaya yang dilakukan non muslim dalam membuat anti-tesis dalam masalah ini. Karena bagi mereka, sunah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak boleh dominan. Selama ada celah – menurut mereka – untuk dilecehkan, mereka akan melakukannya. Seperti hadis lalat yang masuk ke minuman. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyarankan agar jangan langsung dibuang, sebelum lalat itu dicelupkan. Karena salah satu sayapnya penyakit, sementara satunya menjadi penawarnya. Pada awalnya, banyak dokter non muslim menyudutkan islam dari sisi hadis ini. namun akhirnya mereka mengakui setelah terbukti dalam penelitian medis yang lebih modern. Bisa jadi saat ini, sebagian ahli medis belum menemukan sisi manfaat untuk kencing unta. Tapi bukan berarti harus ditolak. Karena tidak tahu bukan berarti tidak ada. Demikian, Allahu a’lam. Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. SPONSOR hubungi: 081 326 333 328 DONASI hubungi: 087 882 888 727 REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK 🔍 Suami Pemarah Dalam Islam, Shalat Sunat Sebelum Magrib, Arti Mimpi Online, Bercumbu Dalam Islam, Azab Bagi Orang Yang Meninggalkan Sholat 5 Waktu, Rawatib Isya Visited 374 times, 1 visit(s) today Post Views: 375 QRIS donasi Yufid
Hukum Meminum Air Kencing Unta, Untuk Pengobatan Tanya sedikit yang saat ini ini lagi rame tadz, benarkah ada khasiat kencing unta, dan bagaimana hukum sebenarnya memimum air kencing unta? Suwun Jawab: Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Dalil mengenai khasiat kencing unta disebutkan dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim dengan banyak redaksi. Diantaranya adalah riwayat dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, beliau bercerita, قَدِمَ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَوْمٌ مِنْ عُكْلٍ أَوْ عُرَيْنَةَ فَاجْتَوَوُا الْمَدِينَةَ فَأَمَرَ لَهُمْ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- بِلِقَاحٍ وَأَمَرَهُمْ أَنْ يَشْرَبُوا مِنْ أَبْوَالِهَا وَأَلْبَانِهَا Ada sejumlah orang dari suku Ukl dan Uranah yang datang menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun mereka mengalami sakit karena tidak betah di Madinah. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan mereka untuk mendatangi kandang unta, dan menyuruh mereka untuk minum air kencingnya dan susunya. (HR. Bukhari 1501 & Muslim 4447) Dalam riwayat lain dinyatakan, bahwa orang yang minum susu dan kencing unta ini menjadi gemuk. فَفَعَلُوا فَصَحُّوا وَسَمِنُوا Merekapun melakukan saran itu, hingga mereka sehat dan menjadi gemuk. Sebagai orang yang beriman kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tentu kita akan membenarkan apa yang beliau sampaikan. Terlepas dari keterlibatan ahli medis di sana. Karena apa yang beliau sampaikan adalah wahyu, dan Allah Maha Tahu apa yang paling bermanfaat bagi hamba-Nya. Ibnul Qoyim – ulama ahli tibbun nabawi – mengatakan, وفي القِصَّة دليلٌ على التداوي والتَّطبُّب، وعلى طهارةِ بوْلِ مأكولِ اللَّحم Dalam kisah ini terdapat dalil mengenai bolehnya berobat dan datang ke tabib (dokter), dan juga menunjukan sucinya air kencing hewan yang halal dagingnya. (Zadul Ma’ad, 4/48). Dan mengenai khasiat air kencing unta juga diakui oleh Ibnu Sina – ahli kedokteran masa silam –, وأنفَعُ الأبوال: بوْلُ الجَمَل الأعرابيّ؛ وهو النجيب Kencing yang paling bermanfaat adalah air kencing unta pedalaman arab, dan itu unta pilihan. (Dinukil Ibnul Qoyim dalam Zadul Ma’ad) Dan ada sejumlah penelitian yang dilakukan sebagian dokter, mengenai khasiat air kencing unta. Diantaranya keterangan Dr. Ahlam al-Iwadhi. Beliau pernah melakukan penelitian untuk beberapa penyakit yang mungkin bisa diobati dengan air kencing unta. Beliau mengatakan bahwa air kencing bisa digunakan untuk mengobati beberapa penyakit kulit, diantaranya panuan, gatal-gatal, luka-luka kecil di badan dan kepala, luka basah maupun kering. Kencing unta juga bermanfaat untuk memperpanjang rambut dan membantu memperlebat rambut. Air kencing unta juga bermanfaat untuk mengobati sakit liver, meskipun sudah sampai pada stadium lanjut, yang sulit diobati dokter. (Majallah ad-Da’wah, volume 1938 April – 2004) Jijik itu Urusan Pribadi Jijik dan tidak jijik itu masalah mental. Karena itu, beda-beda antara satu orang dengan yang lainnya. Bagi sebagian orang jijik, bagi yang lain, itu biasa. Dan biasanya itu hanya masalah kemasan. Bisa saja berobat dengan kencing menjadi tidak jijik karena kemasannya dibuat lebih menarik. Kita tidak memungkiri ada upaya yang dilakukan non muslim dalam membuat anti-tesis dalam masalah ini. Karena bagi mereka, sunah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak boleh dominan. Selama ada celah – menurut mereka – untuk dilecehkan, mereka akan melakukannya. Seperti hadis lalat yang masuk ke minuman. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyarankan agar jangan langsung dibuang, sebelum lalat itu dicelupkan. Karena salah satu sayapnya penyakit, sementara satunya menjadi penawarnya. Pada awalnya, banyak dokter non muslim menyudutkan islam dari sisi hadis ini. namun akhirnya mereka mengakui setelah terbukti dalam penelitian medis yang lebih modern. Bisa jadi saat ini, sebagian ahli medis belum menemukan sisi manfaat untuk kencing unta. Tapi bukan berarti harus ditolak. Karena tidak tahu bukan berarti tidak ada. Demikian, Allahu a’lam. Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. SPONSOR hubungi: 081 326 333 328 DONASI hubungi: 087 882 888 727 REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK 🔍 Suami Pemarah Dalam Islam, Shalat Sunat Sebelum Magrib, Arti Mimpi Online, Bercumbu Dalam Islam, Azab Bagi Orang Yang Meninggalkan Sholat 5 Waktu, Rawatib Isya Visited 374 times, 1 visit(s) today Post Views: 375 QRIS donasi Yufid


<iframe src="https://w.soundcloud.com/player/?url=https%3A//api.soundcloud.com/tracks/380911214&amp;color=d5265f&amp;auto_play=false&amp;show_artwork=false&amp;hide_related=true&amp;show_comments=false&amp;show_user=false&amp;show_reposts=false" width="100%" height="166" frameborder="no" scrolling="no"></iframe> Hukum Meminum Air Kencing Unta, Untuk Pengobatan Tanya sedikit yang saat ini ini lagi rame tadz, benarkah ada khasiat kencing unta, dan bagaimana hukum sebenarnya memimum air kencing unta? Suwun Jawab: Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Dalil mengenai khasiat kencing unta disebutkan dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim dengan banyak redaksi. Diantaranya adalah riwayat dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, beliau bercerita, قَدِمَ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَوْمٌ مِنْ عُكْلٍ أَوْ عُرَيْنَةَ فَاجْتَوَوُا الْمَدِينَةَ فَأَمَرَ لَهُمْ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- بِلِقَاحٍ وَأَمَرَهُمْ أَنْ يَشْرَبُوا مِنْ أَبْوَالِهَا وَأَلْبَانِهَا Ada sejumlah orang dari suku Ukl dan Uranah yang datang menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun mereka mengalami sakit karena tidak betah di Madinah. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan mereka untuk mendatangi kandang unta, dan menyuruh mereka untuk minum air kencingnya dan susunya. (HR. Bukhari 1501 & Muslim 4447) Dalam riwayat lain dinyatakan, bahwa orang yang minum susu dan kencing unta ini menjadi gemuk. فَفَعَلُوا فَصَحُّوا وَسَمِنُوا Merekapun melakukan saran itu, hingga mereka sehat dan menjadi gemuk. Sebagai orang yang beriman kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tentu kita akan membenarkan apa yang beliau sampaikan. Terlepas dari keterlibatan ahli medis di sana. Karena apa yang beliau sampaikan adalah wahyu, dan Allah Maha Tahu apa yang paling bermanfaat bagi hamba-Nya. Ibnul Qoyim – ulama ahli tibbun nabawi – mengatakan, وفي القِصَّة دليلٌ على التداوي والتَّطبُّب، وعلى طهارةِ بوْلِ مأكولِ اللَّحم Dalam kisah ini terdapat dalil mengenai bolehnya berobat dan datang ke tabib (dokter), dan juga menunjukan sucinya air kencing hewan yang halal dagingnya. (Zadul Ma’ad, 4/48). Dan mengenai khasiat air kencing unta juga diakui oleh Ibnu Sina – ahli kedokteran masa silam –, وأنفَعُ الأبوال: بوْلُ الجَمَل الأعرابيّ؛ وهو النجيب Kencing yang paling bermanfaat adalah air kencing unta pedalaman arab, dan itu unta pilihan. (Dinukil Ibnul Qoyim dalam Zadul Ma’ad) Dan ada sejumlah penelitian yang dilakukan sebagian dokter, mengenai khasiat air kencing unta. Diantaranya keterangan Dr. Ahlam al-Iwadhi. Beliau pernah melakukan penelitian untuk beberapa penyakit yang mungkin bisa diobati dengan air kencing unta. Beliau mengatakan bahwa air kencing bisa digunakan untuk mengobati beberapa penyakit kulit, diantaranya panuan, gatal-gatal, luka-luka kecil di badan dan kepala, luka basah maupun kering. Kencing unta juga bermanfaat untuk memperpanjang rambut dan membantu memperlebat rambut. Air kencing unta juga bermanfaat untuk mengobati sakit liver, meskipun sudah sampai pada stadium lanjut, yang sulit diobati dokter. (Majallah ad-Da’wah, volume 1938 April – 2004) Jijik itu Urusan Pribadi Jijik dan tidak jijik itu masalah mental. Karena itu, beda-beda antara satu orang dengan yang lainnya. Bagi sebagian orang jijik, bagi yang lain, itu biasa. Dan biasanya itu hanya masalah kemasan. Bisa saja berobat dengan kencing menjadi tidak jijik karena kemasannya dibuat lebih menarik. Kita tidak memungkiri ada upaya yang dilakukan non muslim dalam membuat anti-tesis dalam masalah ini. Karena bagi mereka, sunah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak boleh dominan. Selama ada celah – menurut mereka – untuk dilecehkan, mereka akan melakukannya. Seperti hadis lalat yang masuk ke minuman. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyarankan agar jangan langsung dibuang, sebelum lalat itu dicelupkan. Karena salah satu sayapnya penyakit, sementara satunya menjadi penawarnya. Pada awalnya, banyak dokter non muslim menyudutkan islam dari sisi hadis ini. namun akhirnya mereka mengakui setelah terbukti dalam penelitian medis yang lebih modern. Bisa jadi saat ini, sebagian ahli medis belum menemukan sisi manfaat untuk kencing unta. Tapi bukan berarti harus ditolak. Karena tidak tahu bukan berarti tidak ada. Demikian, Allahu a’lam. Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. SPONSOR hubungi: 081 326 333 328 DONASI hubungi: 087 882 888 727 REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK 🔍 Suami Pemarah Dalam Islam, Shalat Sunat Sebelum Magrib, Arti Mimpi Online, Bercumbu Dalam Islam, Azab Bagi Orang Yang Meninggalkan Sholat 5 Waktu, Rawatib Isya Visited 374 times, 1 visit(s) today Post Views: 375 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Tingginya Semangat Para Salaf Dalam Menjalankan Sunnah

Syaikh Abdurrazzaq bin Abdil Muhsin Al AbbadOrang yang membaca kisah-kisah kehidupan para salafus shalih dan para ulama besar yang mapan ilmu dan amalnya, mereka akan menemukan ternyata para salaf memiliki uluwwul himmah (semangat yang tinggi) dan tekad yang tulus serta gigih dalam berpegang teguh pada ajaran agama, yang itu semua membantu mereka (dengan izin Allah) dalam menapaki jalan mereka yang mulia.Berikut ini saya paparkan sebagian contoh dari generasi masa yang telah lampau dari sejarah umat ini yang menunjukkan betapa gigihnya tamassuk (konsistensi) mereka terhadap As Sunnah dan indahnya kekokohan mereka di atas kebaikan dalam hal-hal yang diserukan dan dianjurkan oleh agama. Dan terlebih lagi dalam perkara-perkara fardhu dan wajib. Sedangkan di antara orang sekarang, telah sampai kepada mereka penjelasan mengenai apa-apa yang wajib dan apa-apa yang diperintahkan dalam agama. Namun mereka tidak memiliki semangat untuk menjalankannya dengan konsisten dan tidak ada ambisi untuk berpegang teguh padanya.Dan tujuan kita dalam membaca kisah-kisah para salaf yang mulia tersebut, adalah agar kita lebih bersungguh-sungguh untuk meneladani mereka dengan baik. Barangsiapa di antara kita yang paling mendekati praktek para salaf, maka ia paling mendekati kesempurnaan. Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan:أكمل هذه الأمة في ذلك أصحاب محمد صلى الله عليه وسلم ومن كان بهم أشبه“Umat yang paling sempurna dalam hal itu (menjalankan agama) adalah para sahabat Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam dan orang-orang yang paling mendekati praktek mereka”.Maka renungkanlah beberapa contoh dari para salaf berikut ini:Contoh pertamaعن النعمان بن سالم عن عمرو بن أوس قال حدثنى عنبسة بن أبى سفيان فى مرضه الذى مات فيه بحديث يتسار إليه قال سمعت أم حبيبة تقول سمعت رسول الله –صلى الله عليه وسلم– يقول « من صلى اثنتى عشرة ركعة فى يوم وليلة بنى له بهن بيت فى الجنة ». قالت أم حبيبة فما تركتهن منذ سمعتهن من رسول الله –صلى الله عليه وسلم-. وقال عنبسة فما تركتهن منذ سمعتهن من أم حبيبة. وقال عمرو بن أوس ما تركتهن منذ سمعتهن من عنبسة. وقال النعمان بن سالم ما تركتهن منذ سمعتهن من عمرو بن أوس.رواه مسلم.Dari An Nu’man bin Salim, dari Amr’ bin Aus ia berkata: ‘Anbasah bin Abu Sufyan menuturkan sebuah hadits kepadaku ketika ia sedang sakit, yang dengan sebab sakitnya itulah ia wafat. Ia berkata: aku mendengar Ummu Habibah mengatakan: Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “barangsiapa shalat 10 rakaat sehari-semalam, akan dibangunkan sebuah rumah baginya di surga”. Ummu Habibah mengatakan: “aku tidak pernah meninggalkannya sejak aku mendengar hadits ini dari Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam”. ‘Anbasah juga mengatakan: “aku tidak pernah meninggalkannya sejak aku mendengar hadits ini dari Ummu Habibah”. An Nu’man juga mengatakan: “aku tidak pernah meninggalkannya sejak aku mendengar hadits ini dari ‘Anbasah” (HR. Muslim).Contoh ke duaعن عبد الله بن عمر رضي الله عنهما أنه سمع رسول الله –صلى الله عليه وسلم– قال « ما حق امرئ مسلم له شىء يوصى فيه يبيت ثلاث ليال إلا ووصيته عنده مكتوبة ». قال عبد الله بن عمر ما مرت على ليلة منذ سمعت رسول الله –صلى الله عليه وسلم– قال ذلك إلا وعندى وصيتى.رواه مسلم.Dari Abdullah bin Umar radhiallahu’anhuma, ia mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Tidaklah dibenarkan bagi seorang Muslim yang memiliki sesuatu untuk diwasiatkan, ia menyimpannya sampai tiga malam, kecuali wasiat tersebut menjadi wajib baginya untuk disampaikan”. Abdullah bin Umar berkata: “sejak aku mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam berkata demikian, tidaklah berlalu satu malam pun kecuali aku menyampaikan wasiatku” (HR. Muslim).Contoh ke tigaعن علي بن أبي طالب أن فاطمة – رضي الله عنهما – أتت النبي صلى الله عليه وسلم تسأله خادما فقال ألا أخبرك ما هو خير لك منه تسبحين الله عند منامك ثلاثا وثلاثين وتحمدين الله ثلاثا وثلاثين وتكبرين الله أربعا وثلاثين ، ثم قال سفيان إحداهن أربع وثلاثون – فما تركتها بعدُ، قيل ولا ليلة صفين قال ، ولا ليلة صفين.متفق عليه.Dari Ali bin Abi Thalib, bahwa Fathimah radhiallahu’anha datang kepada Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam untuk meminta seorang pembantu. Lalu Nabi bersabda: “wahai Fathimah, maukah aku sampaikan kepadamu suatu hal yang lebih baik dari hal itu? Bertasbihlah ketika hendak tidur 33x, bertahmidlah 33x, bertakbirlah 34x”. Lalu Sufyan mengatakan: ‘salah satu dzikir tersebut hitungannya 34x’. Ali mengatakan: “aku tidak pernah meninggalkannya setelah (mendengar hadits) itu”. Lalu ada yang bertanya: ”bagaimana ketika hari-hari peristiwa Shiffin?”. Ali berkata: “demikian juga di hari-hari peristiwa Shiffin (aku tidak meninggalkannya)” (Muttafaq ‘alaihi).Contoh ke empatعن ابن عمر رضي الله عنهما قال بينما نحن نصلى مع رسول الله –صلى الله عليه وسلم– إذ قال رجل من القوم الله أكبر كبيرا والحمد لله كثيرا وسبحان الله بكرة وأصيلا. فقال رسول الله –صلى الله عليه وسلم– « من القائل كلمة كذا وكذا ». قال رجل من القوم أنا يا رسول الله. قال « عجبت لها فتحت لها أبواب السماء ». قال ابن عمر فما تركتهن منذ سمعت رسول الله –صلى الله عليه وسلم– يقول ذلك. رواه مسلم Dari Ibnu Umar radhiallahu’anhuma, beliau berkata: “ketika kami shalat bersama Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam, ada seorang yang dari makmum berdoa: Allahu akbar kabiiran wal hamdulillahi katsiran wa subhaanallahi bukratan wa ashiilan”. Maka (setelah shalat) Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “siapa yang berdoa demikian dan demikian?”. Orang tadi berkata: “saya wahai Rasulullah”. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Saya sampai terheran, karena dibuka pintu langit dengan sebab doamu tadi”. Ibnu Umar lalu mengatakan: “aku tidak pernah meninggalkan doa tersebut setelah aku mendengar sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam tersebut” (HR. Muslim).Contoh ke limaعن أبي أمامة– رضي الله عنه – قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : من قرأ آية الكرسي في دبر كلِّ صلاة مكتوبة لم يمنعه من دخول الجنة إلا أن يموت»رواه النسائيDari Abu Umamah radhiallahu’anhu ia berkata: Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “barangsiapa yang membaca ayat Kursi setiap selesai shalat wajib, ia tidak ada yang menghalanginya untuk masuk surga kecuali kematian” (HR. An Nasa’i).Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Zaadul Ma’ad mengatakan:وبلغني عن شيخنا أبي العباس ابن تيمية قدس الله روحه أنَّه قال: ما تركتها عقيب كلِّ صلاة“Telah sampai kepadaku perkataan dari guruku, Abul Abbas Ibnu Taimiyah semoga Allah mensucikan ruhnya, bahwa ia mengatakan: aku tidak pernah meninggalkan amalan tersebut setiap selesai shalat”.Contoh ke enamعن أبي سعيد الخدري– رضي الله عنه – أنَّ رسول الله صلى الله عليه و سلم قال : «غسل الجمعة واجب على كلِّ محتلم». رواه أحمد. قال ابن عثيمين رحمه الله في شرحه لبلوغ المرام :الصواب عندي : أنَّ غسل الجمعة واجب على كلِّ إنسان ، وما تركته منذ علمت بهذا الحديث لا صيفاً ولا شتاء ، ولا حراً ولا برداً ، ولا إذا كان فيّ مرض أتحمل معه الاغتسال .Dari Abu Sa’id Al Khudri radhiallahu’anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “mandi di hari Jum’at wajib bagi setiap lelaki yang sudah baligh” (HR. Ahmad).Syaikh Ibnu Al Utsaimin rahimahullah dalam Syarah Bulughul Maram mengatakan:الصواب عندي : أنَّ غسل الجمعة واجب على كلِّ إنسان ، وما تركته منذ علمت بهذا الحديث لا صيفاً ولا شتاء ، ولا حراً ولا برداً ، ولا إذا كان فيّ مرض أتحمل معه الاغتسال“yang tepat menurutku, mandi di hari Jum’at itu wajib bagi semua orang. Dan saya tidak pernah meninggalkannya sejak saya mengetahui hadits ini, baik musim panas maupun musim dingin. Baik dalam cuaca panas maupun cuaca dingin. Bahkan jika dalam keadaan sakit, saya tetap paksakan untuk mandi”.Contoh-contoh yang demikian sesungguhnya banyak. Dan tujuan penyebutan contoh-contoh di atas sudah bisa terbaca dari isinya.Semoga Allah mengumpulkan kita semua dengan hamba-hamba-Nya yang shalih, dan semoga Allah memberi kita taufik untuk menjalankan setiap kebaikan, dengan nikmat-Nya dan kemurahan-Nya.***Sumber: http://al-badr.net/muqolat/3379Penerjemah: Yulian PurnamaArtikel Muslim.or.id🔍 Karomah Wali, Menghormati Tamu, Tanda Tanda Terkena Sihir Buatan Orang, Laki Laki Rambut Panjang, Dalil Naqli Tentang Asmaul Husna

Tingginya Semangat Para Salaf Dalam Menjalankan Sunnah

Syaikh Abdurrazzaq bin Abdil Muhsin Al AbbadOrang yang membaca kisah-kisah kehidupan para salafus shalih dan para ulama besar yang mapan ilmu dan amalnya, mereka akan menemukan ternyata para salaf memiliki uluwwul himmah (semangat yang tinggi) dan tekad yang tulus serta gigih dalam berpegang teguh pada ajaran agama, yang itu semua membantu mereka (dengan izin Allah) dalam menapaki jalan mereka yang mulia.Berikut ini saya paparkan sebagian contoh dari generasi masa yang telah lampau dari sejarah umat ini yang menunjukkan betapa gigihnya tamassuk (konsistensi) mereka terhadap As Sunnah dan indahnya kekokohan mereka di atas kebaikan dalam hal-hal yang diserukan dan dianjurkan oleh agama. Dan terlebih lagi dalam perkara-perkara fardhu dan wajib. Sedangkan di antara orang sekarang, telah sampai kepada mereka penjelasan mengenai apa-apa yang wajib dan apa-apa yang diperintahkan dalam agama. Namun mereka tidak memiliki semangat untuk menjalankannya dengan konsisten dan tidak ada ambisi untuk berpegang teguh padanya.Dan tujuan kita dalam membaca kisah-kisah para salaf yang mulia tersebut, adalah agar kita lebih bersungguh-sungguh untuk meneladani mereka dengan baik. Barangsiapa di antara kita yang paling mendekati praktek para salaf, maka ia paling mendekati kesempurnaan. Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan:أكمل هذه الأمة في ذلك أصحاب محمد صلى الله عليه وسلم ومن كان بهم أشبه“Umat yang paling sempurna dalam hal itu (menjalankan agama) adalah para sahabat Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam dan orang-orang yang paling mendekati praktek mereka”.Maka renungkanlah beberapa contoh dari para salaf berikut ini:Contoh pertamaعن النعمان بن سالم عن عمرو بن أوس قال حدثنى عنبسة بن أبى سفيان فى مرضه الذى مات فيه بحديث يتسار إليه قال سمعت أم حبيبة تقول سمعت رسول الله –صلى الله عليه وسلم– يقول « من صلى اثنتى عشرة ركعة فى يوم وليلة بنى له بهن بيت فى الجنة ». قالت أم حبيبة فما تركتهن منذ سمعتهن من رسول الله –صلى الله عليه وسلم-. وقال عنبسة فما تركتهن منذ سمعتهن من أم حبيبة. وقال عمرو بن أوس ما تركتهن منذ سمعتهن من عنبسة. وقال النعمان بن سالم ما تركتهن منذ سمعتهن من عمرو بن أوس.رواه مسلم.Dari An Nu’man bin Salim, dari Amr’ bin Aus ia berkata: ‘Anbasah bin Abu Sufyan menuturkan sebuah hadits kepadaku ketika ia sedang sakit, yang dengan sebab sakitnya itulah ia wafat. Ia berkata: aku mendengar Ummu Habibah mengatakan: Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “barangsiapa shalat 10 rakaat sehari-semalam, akan dibangunkan sebuah rumah baginya di surga”. Ummu Habibah mengatakan: “aku tidak pernah meninggalkannya sejak aku mendengar hadits ini dari Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam”. ‘Anbasah juga mengatakan: “aku tidak pernah meninggalkannya sejak aku mendengar hadits ini dari Ummu Habibah”. An Nu’man juga mengatakan: “aku tidak pernah meninggalkannya sejak aku mendengar hadits ini dari ‘Anbasah” (HR. Muslim).Contoh ke duaعن عبد الله بن عمر رضي الله عنهما أنه سمع رسول الله –صلى الله عليه وسلم– قال « ما حق امرئ مسلم له شىء يوصى فيه يبيت ثلاث ليال إلا ووصيته عنده مكتوبة ». قال عبد الله بن عمر ما مرت على ليلة منذ سمعت رسول الله –صلى الله عليه وسلم– قال ذلك إلا وعندى وصيتى.رواه مسلم.Dari Abdullah bin Umar radhiallahu’anhuma, ia mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Tidaklah dibenarkan bagi seorang Muslim yang memiliki sesuatu untuk diwasiatkan, ia menyimpannya sampai tiga malam, kecuali wasiat tersebut menjadi wajib baginya untuk disampaikan”. Abdullah bin Umar berkata: “sejak aku mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam berkata demikian, tidaklah berlalu satu malam pun kecuali aku menyampaikan wasiatku” (HR. Muslim).Contoh ke tigaعن علي بن أبي طالب أن فاطمة – رضي الله عنهما – أتت النبي صلى الله عليه وسلم تسأله خادما فقال ألا أخبرك ما هو خير لك منه تسبحين الله عند منامك ثلاثا وثلاثين وتحمدين الله ثلاثا وثلاثين وتكبرين الله أربعا وثلاثين ، ثم قال سفيان إحداهن أربع وثلاثون – فما تركتها بعدُ، قيل ولا ليلة صفين قال ، ولا ليلة صفين.متفق عليه.Dari Ali bin Abi Thalib, bahwa Fathimah radhiallahu’anha datang kepada Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam untuk meminta seorang pembantu. Lalu Nabi bersabda: “wahai Fathimah, maukah aku sampaikan kepadamu suatu hal yang lebih baik dari hal itu? Bertasbihlah ketika hendak tidur 33x, bertahmidlah 33x, bertakbirlah 34x”. Lalu Sufyan mengatakan: ‘salah satu dzikir tersebut hitungannya 34x’. Ali mengatakan: “aku tidak pernah meninggalkannya setelah (mendengar hadits) itu”. Lalu ada yang bertanya: ”bagaimana ketika hari-hari peristiwa Shiffin?”. Ali berkata: “demikian juga di hari-hari peristiwa Shiffin (aku tidak meninggalkannya)” (Muttafaq ‘alaihi).Contoh ke empatعن ابن عمر رضي الله عنهما قال بينما نحن نصلى مع رسول الله –صلى الله عليه وسلم– إذ قال رجل من القوم الله أكبر كبيرا والحمد لله كثيرا وسبحان الله بكرة وأصيلا. فقال رسول الله –صلى الله عليه وسلم– « من القائل كلمة كذا وكذا ». قال رجل من القوم أنا يا رسول الله. قال « عجبت لها فتحت لها أبواب السماء ». قال ابن عمر فما تركتهن منذ سمعت رسول الله –صلى الله عليه وسلم– يقول ذلك. رواه مسلم Dari Ibnu Umar radhiallahu’anhuma, beliau berkata: “ketika kami shalat bersama Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam, ada seorang yang dari makmum berdoa: Allahu akbar kabiiran wal hamdulillahi katsiran wa subhaanallahi bukratan wa ashiilan”. Maka (setelah shalat) Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “siapa yang berdoa demikian dan demikian?”. Orang tadi berkata: “saya wahai Rasulullah”. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Saya sampai terheran, karena dibuka pintu langit dengan sebab doamu tadi”. Ibnu Umar lalu mengatakan: “aku tidak pernah meninggalkan doa tersebut setelah aku mendengar sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam tersebut” (HR. Muslim).Contoh ke limaعن أبي أمامة– رضي الله عنه – قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : من قرأ آية الكرسي في دبر كلِّ صلاة مكتوبة لم يمنعه من دخول الجنة إلا أن يموت»رواه النسائيDari Abu Umamah radhiallahu’anhu ia berkata: Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “barangsiapa yang membaca ayat Kursi setiap selesai shalat wajib, ia tidak ada yang menghalanginya untuk masuk surga kecuali kematian” (HR. An Nasa’i).Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Zaadul Ma’ad mengatakan:وبلغني عن شيخنا أبي العباس ابن تيمية قدس الله روحه أنَّه قال: ما تركتها عقيب كلِّ صلاة“Telah sampai kepadaku perkataan dari guruku, Abul Abbas Ibnu Taimiyah semoga Allah mensucikan ruhnya, bahwa ia mengatakan: aku tidak pernah meninggalkan amalan tersebut setiap selesai shalat”.Contoh ke enamعن أبي سعيد الخدري– رضي الله عنه – أنَّ رسول الله صلى الله عليه و سلم قال : «غسل الجمعة واجب على كلِّ محتلم». رواه أحمد. قال ابن عثيمين رحمه الله في شرحه لبلوغ المرام :الصواب عندي : أنَّ غسل الجمعة واجب على كلِّ إنسان ، وما تركته منذ علمت بهذا الحديث لا صيفاً ولا شتاء ، ولا حراً ولا برداً ، ولا إذا كان فيّ مرض أتحمل معه الاغتسال .Dari Abu Sa’id Al Khudri radhiallahu’anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “mandi di hari Jum’at wajib bagi setiap lelaki yang sudah baligh” (HR. Ahmad).Syaikh Ibnu Al Utsaimin rahimahullah dalam Syarah Bulughul Maram mengatakan:الصواب عندي : أنَّ غسل الجمعة واجب على كلِّ إنسان ، وما تركته منذ علمت بهذا الحديث لا صيفاً ولا شتاء ، ولا حراً ولا برداً ، ولا إذا كان فيّ مرض أتحمل معه الاغتسال“yang tepat menurutku, mandi di hari Jum’at itu wajib bagi semua orang. Dan saya tidak pernah meninggalkannya sejak saya mengetahui hadits ini, baik musim panas maupun musim dingin. Baik dalam cuaca panas maupun cuaca dingin. Bahkan jika dalam keadaan sakit, saya tetap paksakan untuk mandi”.Contoh-contoh yang demikian sesungguhnya banyak. Dan tujuan penyebutan contoh-contoh di atas sudah bisa terbaca dari isinya.Semoga Allah mengumpulkan kita semua dengan hamba-hamba-Nya yang shalih, dan semoga Allah memberi kita taufik untuk menjalankan setiap kebaikan, dengan nikmat-Nya dan kemurahan-Nya.***Sumber: http://al-badr.net/muqolat/3379Penerjemah: Yulian PurnamaArtikel Muslim.or.id🔍 Karomah Wali, Menghormati Tamu, Tanda Tanda Terkena Sihir Buatan Orang, Laki Laki Rambut Panjang, Dalil Naqli Tentang Asmaul Husna
Syaikh Abdurrazzaq bin Abdil Muhsin Al AbbadOrang yang membaca kisah-kisah kehidupan para salafus shalih dan para ulama besar yang mapan ilmu dan amalnya, mereka akan menemukan ternyata para salaf memiliki uluwwul himmah (semangat yang tinggi) dan tekad yang tulus serta gigih dalam berpegang teguh pada ajaran agama, yang itu semua membantu mereka (dengan izin Allah) dalam menapaki jalan mereka yang mulia.Berikut ini saya paparkan sebagian contoh dari generasi masa yang telah lampau dari sejarah umat ini yang menunjukkan betapa gigihnya tamassuk (konsistensi) mereka terhadap As Sunnah dan indahnya kekokohan mereka di atas kebaikan dalam hal-hal yang diserukan dan dianjurkan oleh agama. Dan terlebih lagi dalam perkara-perkara fardhu dan wajib. Sedangkan di antara orang sekarang, telah sampai kepada mereka penjelasan mengenai apa-apa yang wajib dan apa-apa yang diperintahkan dalam agama. Namun mereka tidak memiliki semangat untuk menjalankannya dengan konsisten dan tidak ada ambisi untuk berpegang teguh padanya.Dan tujuan kita dalam membaca kisah-kisah para salaf yang mulia tersebut, adalah agar kita lebih bersungguh-sungguh untuk meneladani mereka dengan baik. Barangsiapa di antara kita yang paling mendekati praktek para salaf, maka ia paling mendekati kesempurnaan. Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan:أكمل هذه الأمة في ذلك أصحاب محمد صلى الله عليه وسلم ومن كان بهم أشبه“Umat yang paling sempurna dalam hal itu (menjalankan agama) adalah para sahabat Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam dan orang-orang yang paling mendekati praktek mereka”.Maka renungkanlah beberapa contoh dari para salaf berikut ini:Contoh pertamaعن النعمان بن سالم عن عمرو بن أوس قال حدثنى عنبسة بن أبى سفيان فى مرضه الذى مات فيه بحديث يتسار إليه قال سمعت أم حبيبة تقول سمعت رسول الله –صلى الله عليه وسلم– يقول « من صلى اثنتى عشرة ركعة فى يوم وليلة بنى له بهن بيت فى الجنة ». قالت أم حبيبة فما تركتهن منذ سمعتهن من رسول الله –صلى الله عليه وسلم-. وقال عنبسة فما تركتهن منذ سمعتهن من أم حبيبة. وقال عمرو بن أوس ما تركتهن منذ سمعتهن من عنبسة. وقال النعمان بن سالم ما تركتهن منذ سمعتهن من عمرو بن أوس.رواه مسلم.Dari An Nu’man bin Salim, dari Amr’ bin Aus ia berkata: ‘Anbasah bin Abu Sufyan menuturkan sebuah hadits kepadaku ketika ia sedang sakit, yang dengan sebab sakitnya itulah ia wafat. Ia berkata: aku mendengar Ummu Habibah mengatakan: Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “barangsiapa shalat 10 rakaat sehari-semalam, akan dibangunkan sebuah rumah baginya di surga”. Ummu Habibah mengatakan: “aku tidak pernah meninggalkannya sejak aku mendengar hadits ini dari Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam”. ‘Anbasah juga mengatakan: “aku tidak pernah meninggalkannya sejak aku mendengar hadits ini dari Ummu Habibah”. An Nu’man juga mengatakan: “aku tidak pernah meninggalkannya sejak aku mendengar hadits ini dari ‘Anbasah” (HR. Muslim).Contoh ke duaعن عبد الله بن عمر رضي الله عنهما أنه سمع رسول الله –صلى الله عليه وسلم– قال « ما حق امرئ مسلم له شىء يوصى فيه يبيت ثلاث ليال إلا ووصيته عنده مكتوبة ». قال عبد الله بن عمر ما مرت على ليلة منذ سمعت رسول الله –صلى الله عليه وسلم– قال ذلك إلا وعندى وصيتى.رواه مسلم.Dari Abdullah bin Umar radhiallahu’anhuma, ia mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Tidaklah dibenarkan bagi seorang Muslim yang memiliki sesuatu untuk diwasiatkan, ia menyimpannya sampai tiga malam, kecuali wasiat tersebut menjadi wajib baginya untuk disampaikan”. Abdullah bin Umar berkata: “sejak aku mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam berkata demikian, tidaklah berlalu satu malam pun kecuali aku menyampaikan wasiatku” (HR. Muslim).Contoh ke tigaعن علي بن أبي طالب أن فاطمة – رضي الله عنهما – أتت النبي صلى الله عليه وسلم تسأله خادما فقال ألا أخبرك ما هو خير لك منه تسبحين الله عند منامك ثلاثا وثلاثين وتحمدين الله ثلاثا وثلاثين وتكبرين الله أربعا وثلاثين ، ثم قال سفيان إحداهن أربع وثلاثون – فما تركتها بعدُ، قيل ولا ليلة صفين قال ، ولا ليلة صفين.متفق عليه.Dari Ali bin Abi Thalib, bahwa Fathimah radhiallahu’anha datang kepada Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam untuk meminta seorang pembantu. Lalu Nabi bersabda: “wahai Fathimah, maukah aku sampaikan kepadamu suatu hal yang lebih baik dari hal itu? Bertasbihlah ketika hendak tidur 33x, bertahmidlah 33x, bertakbirlah 34x”. Lalu Sufyan mengatakan: ‘salah satu dzikir tersebut hitungannya 34x’. Ali mengatakan: “aku tidak pernah meninggalkannya setelah (mendengar hadits) itu”. Lalu ada yang bertanya: ”bagaimana ketika hari-hari peristiwa Shiffin?”. Ali berkata: “demikian juga di hari-hari peristiwa Shiffin (aku tidak meninggalkannya)” (Muttafaq ‘alaihi).Contoh ke empatعن ابن عمر رضي الله عنهما قال بينما نحن نصلى مع رسول الله –صلى الله عليه وسلم– إذ قال رجل من القوم الله أكبر كبيرا والحمد لله كثيرا وسبحان الله بكرة وأصيلا. فقال رسول الله –صلى الله عليه وسلم– « من القائل كلمة كذا وكذا ». قال رجل من القوم أنا يا رسول الله. قال « عجبت لها فتحت لها أبواب السماء ». قال ابن عمر فما تركتهن منذ سمعت رسول الله –صلى الله عليه وسلم– يقول ذلك. رواه مسلم Dari Ibnu Umar radhiallahu’anhuma, beliau berkata: “ketika kami shalat bersama Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam, ada seorang yang dari makmum berdoa: Allahu akbar kabiiran wal hamdulillahi katsiran wa subhaanallahi bukratan wa ashiilan”. Maka (setelah shalat) Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “siapa yang berdoa demikian dan demikian?”. Orang tadi berkata: “saya wahai Rasulullah”. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Saya sampai terheran, karena dibuka pintu langit dengan sebab doamu tadi”. Ibnu Umar lalu mengatakan: “aku tidak pernah meninggalkan doa tersebut setelah aku mendengar sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam tersebut” (HR. Muslim).Contoh ke limaعن أبي أمامة– رضي الله عنه – قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : من قرأ آية الكرسي في دبر كلِّ صلاة مكتوبة لم يمنعه من دخول الجنة إلا أن يموت»رواه النسائيDari Abu Umamah radhiallahu’anhu ia berkata: Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “barangsiapa yang membaca ayat Kursi setiap selesai shalat wajib, ia tidak ada yang menghalanginya untuk masuk surga kecuali kematian” (HR. An Nasa’i).Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Zaadul Ma’ad mengatakan:وبلغني عن شيخنا أبي العباس ابن تيمية قدس الله روحه أنَّه قال: ما تركتها عقيب كلِّ صلاة“Telah sampai kepadaku perkataan dari guruku, Abul Abbas Ibnu Taimiyah semoga Allah mensucikan ruhnya, bahwa ia mengatakan: aku tidak pernah meninggalkan amalan tersebut setiap selesai shalat”.Contoh ke enamعن أبي سعيد الخدري– رضي الله عنه – أنَّ رسول الله صلى الله عليه و سلم قال : «غسل الجمعة واجب على كلِّ محتلم». رواه أحمد. قال ابن عثيمين رحمه الله في شرحه لبلوغ المرام :الصواب عندي : أنَّ غسل الجمعة واجب على كلِّ إنسان ، وما تركته منذ علمت بهذا الحديث لا صيفاً ولا شتاء ، ولا حراً ولا برداً ، ولا إذا كان فيّ مرض أتحمل معه الاغتسال .Dari Abu Sa’id Al Khudri radhiallahu’anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “mandi di hari Jum’at wajib bagi setiap lelaki yang sudah baligh” (HR. Ahmad).Syaikh Ibnu Al Utsaimin rahimahullah dalam Syarah Bulughul Maram mengatakan:الصواب عندي : أنَّ غسل الجمعة واجب على كلِّ إنسان ، وما تركته منذ علمت بهذا الحديث لا صيفاً ولا شتاء ، ولا حراً ولا برداً ، ولا إذا كان فيّ مرض أتحمل معه الاغتسال“yang tepat menurutku, mandi di hari Jum’at itu wajib bagi semua orang. Dan saya tidak pernah meninggalkannya sejak saya mengetahui hadits ini, baik musim panas maupun musim dingin. Baik dalam cuaca panas maupun cuaca dingin. Bahkan jika dalam keadaan sakit, saya tetap paksakan untuk mandi”.Contoh-contoh yang demikian sesungguhnya banyak. Dan tujuan penyebutan contoh-contoh di atas sudah bisa terbaca dari isinya.Semoga Allah mengumpulkan kita semua dengan hamba-hamba-Nya yang shalih, dan semoga Allah memberi kita taufik untuk menjalankan setiap kebaikan, dengan nikmat-Nya dan kemurahan-Nya.***Sumber: http://al-badr.net/muqolat/3379Penerjemah: Yulian PurnamaArtikel Muslim.or.id🔍 Karomah Wali, Menghormati Tamu, Tanda Tanda Terkena Sihir Buatan Orang, Laki Laki Rambut Panjang, Dalil Naqli Tentang Asmaul Husna


Syaikh Abdurrazzaq bin Abdil Muhsin Al AbbadOrang yang membaca kisah-kisah kehidupan para salafus shalih dan para ulama besar yang mapan ilmu dan amalnya, mereka akan menemukan ternyata para salaf memiliki uluwwul himmah (semangat yang tinggi) dan tekad yang tulus serta gigih dalam berpegang teguh pada ajaran agama, yang itu semua membantu mereka (dengan izin Allah) dalam menapaki jalan mereka yang mulia.Berikut ini saya paparkan sebagian contoh dari generasi masa yang telah lampau dari sejarah umat ini yang menunjukkan betapa gigihnya tamassuk (konsistensi) mereka terhadap As Sunnah dan indahnya kekokohan mereka di atas kebaikan dalam hal-hal yang diserukan dan dianjurkan oleh agama. Dan terlebih lagi dalam perkara-perkara fardhu dan wajib. Sedangkan di antara orang sekarang, telah sampai kepada mereka penjelasan mengenai apa-apa yang wajib dan apa-apa yang diperintahkan dalam agama. Namun mereka tidak memiliki semangat untuk menjalankannya dengan konsisten dan tidak ada ambisi untuk berpegang teguh padanya.Dan tujuan kita dalam membaca kisah-kisah para salaf yang mulia tersebut, adalah agar kita lebih bersungguh-sungguh untuk meneladani mereka dengan baik. Barangsiapa di antara kita yang paling mendekati praktek para salaf, maka ia paling mendekati kesempurnaan. Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan:أكمل هذه الأمة في ذلك أصحاب محمد صلى الله عليه وسلم ومن كان بهم أشبه“Umat yang paling sempurna dalam hal itu (menjalankan agama) adalah para sahabat Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam dan orang-orang yang paling mendekati praktek mereka”.Maka renungkanlah beberapa contoh dari para salaf berikut ini:Contoh pertamaعن النعمان بن سالم عن عمرو بن أوس قال حدثنى عنبسة بن أبى سفيان فى مرضه الذى مات فيه بحديث يتسار إليه قال سمعت أم حبيبة تقول سمعت رسول الله –صلى الله عليه وسلم– يقول « من صلى اثنتى عشرة ركعة فى يوم وليلة بنى له بهن بيت فى الجنة ». قالت أم حبيبة فما تركتهن منذ سمعتهن من رسول الله –صلى الله عليه وسلم-. وقال عنبسة فما تركتهن منذ سمعتهن من أم حبيبة. وقال عمرو بن أوس ما تركتهن منذ سمعتهن من عنبسة. وقال النعمان بن سالم ما تركتهن منذ سمعتهن من عمرو بن أوس.رواه مسلم.Dari An Nu’man bin Salim, dari Amr’ bin Aus ia berkata: ‘Anbasah bin Abu Sufyan menuturkan sebuah hadits kepadaku ketika ia sedang sakit, yang dengan sebab sakitnya itulah ia wafat. Ia berkata: aku mendengar Ummu Habibah mengatakan: Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “barangsiapa shalat 10 rakaat sehari-semalam, akan dibangunkan sebuah rumah baginya di surga”. Ummu Habibah mengatakan: “aku tidak pernah meninggalkannya sejak aku mendengar hadits ini dari Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam”. ‘Anbasah juga mengatakan: “aku tidak pernah meninggalkannya sejak aku mendengar hadits ini dari Ummu Habibah”. An Nu’man juga mengatakan: “aku tidak pernah meninggalkannya sejak aku mendengar hadits ini dari ‘Anbasah” (HR. Muslim).Contoh ke duaعن عبد الله بن عمر رضي الله عنهما أنه سمع رسول الله –صلى الله عليه وسلم– قال « ما حق امرئ مسلم له شىء يوصى فيه يبيت ثلاث ليال إلا ووصيته عنده مكتوبة ». قال عبد الله بن عمر ما مرت على ليلة منذ سمعت رسول الله –صلى الله عليه وسلم– قال ذلك إلا وعندى وصيتى.رواه مسلم.Dari Abdullah bin Umar radhiallahu’anhuma, ia mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Tidaklah dibenarkan bagi seorang Muslim yang memiliki sesuatu untuk diwasiatkan, ia menyimpannya sampai tiga malam, kecuali wasiat tersebut menjadi wajib baginya untuk disampaikan”. Abdullah bin Umar berkata: “sejak aku mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam berkata demikian, tidaklah berlalu satu malam pun kecuali aku menyampaikan wasiatku” (HR. Muslim).Contoh ke tigaعن علي بن أبي طالب أن فاطمة – رضي الله عنهما – أتت النبي صلى الله عليه وسلم تسأله خادما فقال ألا أخبرك ما هو خير لك منه تسبحين الله عند منامك ثلاثا وثلاثين وتحمدين الله ثلاثا وثلاثين وتكبرين الله أربعا وثلاثين ، ثم قال سفيان إحداهن أربع وثلاثون – فما تركتها بعدُ، قيل ولا ليلة صفين قال ، ولا ليلة صفين.متفق عليه.Dari Ali bin Abi Thalib, bahwa Fathimah radhiallahu’anha datang kepada Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam untuk meminta seorang pembantu. Lalu Nabi bersabda: “wahai Fathimah, maukah aku sampaikan kepadamu suatu hal yang lebih baik dari hal itu? Bertasbihlah ketika hendak tidur 33x, bertahmidlah 33x, bertakbirlah 34x”. Lalu Sufyan mengatakan: ‘salah satu dzikir tersebut hitungannya 34x’. Ali mengatakan: “aku tidak pernah meninggalkannya setelah (mendengar hadits) itu”. Lalu ada yang bertanya: ”bagaimana ketika hari-hari peristiwa Shiffin?”. Ali berkata: “demikian juga di hari-hari peristiwa Shiffin (aku tidak meninggalkannya)” (Muttafaq ‘alaihi).Contoh ke empatعن ابن عمر رضي الله عنهما قال بينما نحن نصلى مع رسول الله –صلى الله عليه وسلم– إذ قال رجل من القوم الله أكبر كبيرا والحمد لله كثيرا وسبحان الله بكرة وأصيلا. فقال رسول الله –صلى الله عليه وسلم– « من القائل كلمة كذا وكذا ». قال رجل من القوم أنا يا رسول الله. قال « عجبت لها فتحت لها أبواب السماء ». قال ابن عمر فما تركتهن منذ سمعت رسول الله –صلى الله عليه وسلم– يقول ذلك. رواه مسلم Dari Ibnu Umar radhiallahu’anhuma, beliau berkata: “ketika kami shalat bersama Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam, ada seorang yang dari makmum berdoa: Allahu akbar kabiiran wal hamdulillahi katsiran wa subhaanallahi bukratan wa ashiilan”. Maka (setelah shalat) Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “siapa yang berdoa demikian dan demikian?”. Orang tadi berkata: “saya wahai Rasulullah”. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Saya sampai terheran, karena dibuka pintu langit dengan sebab doamu tadi”. Ibnu Umar lalu mengatakan: “aku tidak pernah meninggalkan doa tersebut setelah aku mendengar sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam tersebut” (HR. Muslim).Contoh ke limaعن أبي أمامة– رضي الله عنه – قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : من قرأ آية الكرسي في دبر كلِّ صلاة مكتوبة لم يمنعه من دخول الجنة إلا أن يموت»رواه النسائيDari Abu Umamah radhiallahu’anhu ia berkata: Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “barangsiapa yang membaca ayat Kursi setiap selesai shalat wajib, ia tidak ada yang menghalanginya untuk masuk surga kecuali kematian” (HR. An Nasa’i).Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Zaadul Ma’ad mengatakan:وبلغني عن شيخنا أبي العباس ابن تيمية قدس الله روحه أنَّه قال: ما تركتها عقيب كلِّ صلاة“Telah sampai kepadaku perkataan dari guruku, Abul Abbas Ibnu Taimiyah semoga Allah mensucikan ruhnya, bahwa ia mengatakan: aku tidak pernah meninggalkan amalan tersebut setiap selesai shalat”.Contoh ke enamعن أبي سعيد الخدري– رضي الله عنه – أنَّ رسول الله صلى الله عليه و سلم قال : «غسل الجمعة واجب على كلِّ محتلم». رواه أحمد. قال ابن عثيمين رحمه الله في شرحه لبلوغ المرام :الصواب عندي : أنَّ غسل الجمعة واجب على كلِّ إنسان ، وما تركته منذ علمت بهذا الحديث لا صيفاً ولا شتاء ، ولا حراً ولا برداً ، ولا إذا كان فيّ مرض أتحمل معه الاغتسال .Dari Abu Sa’id Al Khudri radhiallahu’anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “mandi di hari Jum’at wajib bagi setiap lelaki yang sudah baligh” (HR. Ahmad).Syaikh Ibnu Al Utsaimin rahimahullah dalam Syarah Bulughul Maram mengatakan:الصواب عندي : أنَّ غسل الجمعة واجب على كلِّ إنسان ، وما تركته منذ علمت بهذا الحديث لا صيفاً ولا شتاء ، ولا حراً ولا برداً ، ولا إذا كان فيّ مرض أتحمل معه الاغتسال“yang tepat menurutku, mandi di hari Jum’at itu wajib bagi semua orang. Dan saya tidak pernah meninggalkannya sejak saya mengetahui hadits ini, baik musim panas maupun musim dingin. Baik dalam cuaca panas maupun cuaca dingin. Bahkan jika dalam keadaan sakit, saya tetap paksakan untuk mandi”.Contoh-contoh yang demikian sesungguhnya banyak. Dan tujuan penyebutan contoh-contoh di atas sudah bisa terbaca dari isinya.Semoga Allah mengumpulkan kita semua dengan hamba-hamba-Nya yang shalih, dan semoga Allah memberi kita taufik untuk menjalankan setiap kebaikan, dengan nikmat-Nya dan kemurahan-Nya.***Sumber: http://al-badr.net/muqolat/3379Penerjemah: Yulian PurnamaArtikel Muslim.or.id🔍 Karomah Wali, Menghormati Tamu, Tanda Tanda Terkena Sihir Buatan Orang, Laki Laki Rambut Panjang, Dalil Naqli Tentang Asmaul Husna

Diam Terhadap Penyimpangan Merupakan Mudahanah

Pertanyaan:Sebagian saudara kami yang merupakan da’i ilallah, mereka berpandangan bahwa demi maslahat sebaiknya tidak berbicara mengenai sufiyah dalam muhadharah dan khutbah-khutbah. Tidak membahas masalah istiwa misalnya, atau tidak membahas masalah istightsah atau masalah-masalah yang lain. Mereka berdalil dengan perjanjian yang dilakukan Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam dengan orang Yahudi. Apakah pendalilan ini shahih? Bagaimana arahan anda?Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin menjawab:Ini pendalilan yang tidak benar. Karena sikap semacam ini (tidak mau menjelaskan penyimpangan) adalah yang disebutkan dalam firman Allah Ta’ala:وَدُّوا لَوْ تُدْهِنُ فَيُدْهِنُونَ“Maka mereka menginginkan supaya kamu ber-mudahanah (mengorbankan agama) lalu mereka bersikap lunak (pula kepadamu)” (QS. Al Qalam: 9).Ber-mudahanah*) dalam agama tidak diperbolehkan. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam ketika membuat perjanjian dengan Yahudi tujuannya agar tidak terjadi perbuatan melampaui batas antar masyarakat. Bukan dalam rangka ridha terhadap agama mereka sama sekali. Tidak mungkin Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam ridha terhadap agama mereka. Dan yang anda sebutkan ini, yaitu sikap ridha terhadap penyimpangan mereka adalah kebatilan.Membuat perjanjian dengan cara demikian (yaitu untuk tidak membahas penyimpangan mereka) ini hakekatnya adalah mudahanah. Tidak diperbolehkan bagi siapapun untuk ber-mudahanah dalam perkara agama. Bahkan wajib untuk menjelaskan kebenaran apapun keadaannya.Namun yang dibolehkan dalam rangka maslahah adalah tidak memulai dakwah dengan pengingkaran. Mulailah dengan memberikan penjelasan-penjelasan perkara yang dibenarkan dalam agama.Misalnya, jika ingin membahas masalah istiwa sebagaimana anda sebutkan, maka mulailah dengan membahas makna istiwa, membahas hakekat istiwa, tanpa menyebutkan bahwa ada sekelompok orang yang menyimpang dalam menafsirkan istiwa. Baru dijelaskan ketika orang-orang sudah memahami dengan benar (dasar-dasarnya), dan ketika mereka sudah mengenal al haq, maka ketika itu akan mudah bagi mereka untuk berpindah dari kebatilan kepada al haq.***Sumber: Liqa Al Baabil Maftuh, 156/17, Asy Syamilah*) mudahanah artinya bermuamalah dengan orang fasiq, menampakkan keridhaan kepadanya tanpa menunjukkan pengingkaran (Fathul Bari libni Hajar, 10/528). Sebagian ulama juga mendefinisikan mudahanah adalah mengorbankan agama demi kemaslahatan dunia (Fathul Bari libni Hajar, 10/545).Baca juga: Haruskah Menjadi Sempurna Untuk Bisa Menasehati? Menasehati Pemimpin, Yes, Menghina Pemimpin, No! Maksud Nasehat, Ingin Orang Lain Jadi Baik Penulis: Yulian Purnama Artikel: Muslim.or.id🔍 Hadits Tentang Hijab, Imunisasi Bayi Menurut Islam, Kehidupan Luar Angkasa Menurut Islam, Download Mp3 Ceramah Salafi, Ayat Untuk Meruqyah

Diam Terhadap Penyimpangan Merupakan Mudahanah

Pertanyaan:Sebagian saudara kami yang merupakan da’i ilallah, mereka berpandangan bahwa demi maslahat sebaiknya tidak berbicara mengenai sufiyah dalam muhadharah dan khutbah-khutbah. Tidak membahas masalah istiwa misalnya, atau tidak membahas masalah istightsah atau masalah-masalah yang lain. Mereka berdalil dengan perjanjian yang dilakukan Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam dengan orang Yahudi. Apakah pendalilan ini shahih? Bagaimana arahan anda?Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin menjawab:Ini pendalilan yang tidak benar. Karena sikap semacam ini (tidak mau menjelaskan penyimpangan) adalah yang disebutkan dalam firman Allah Ta’ala:وَدُّوا لَوْ تُدْهِنُ فَيُدْهِنُونَ“Maka mereka menginginkan supaya kamu ber-mudahanah (mengorbankan agama) lalu mereka bersikap lunak (pula kepadamu)” (QS. Al Qalam: 9).Ber-mudahanah*) dalam agama tidak diperbolehkan. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam ketika membuat perjanjian dengan Yahudi tujuannya agar tidak terjadi perbuatan melampaui batas antar masyarakat. Bukan dalam rangka ridha terhadap agama mereka sama sekali. Tidak mungkin Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam ridha terhadap agama mereka. Dan yang anda sebutkan ini, yaitu sikap ridha terhadap penyimpangan mereka adalah kebatilan.Membuat perjanjian dengan cara demikian (yaitu untuk tidak membahas penyimpangan mereka) ini hakekatnya adalah mudahanah. Tidak diperbolehkan bagi siapapun untuk ber-mudahanah dalam perkara agama. Bahkan wajib untuk menjelaskan kebenaran apapun keadaannya.Namun yang dibolehkan dalam rangka maslahah adalah tidak memulai dakwah dengan pengingkaran. Mulailah dengan memberikan penjelasan-penjelasan perkara yang dibenarkan dalam agama.Misalnya, jika ingin membahas masalah istiwa sebagaimana anda sebutkan, maka mulailah dengan membahas makna istiwa, membahas hakekat istiwa, tanpa menyebutkan bahwa ada sekelompok orang yang menyimpang dalam menafsirkan istiwa. Baru dijelaskan ketika orang-orang sudah memahami dengan benar (dasar-dasarnya), dan ketika mereka sudah mengenal al haq, maka ketika itu akan mudah bagi mereka untuk berpindah dari kebatilan kepada al haq.***Sumber: Liqa Al Baabil Maftuh, 156/17, Asy Syamilah*) mudahanah artinya bermuamalah dengan orang fasiq, menampakkan keridhaan kepadanya tanpa menunjukkan pengingkaran (Fathul Bari libni Hajar, 10/528). Sebagian ulama juga mendefinisikan mudahanah adalah mengorbankan agama demi kemaslahatan dunia (Fathul Bari libni Hajar, 10/545).Baca juga: Haruskah Menjadi Sempurna Untuk Bisa Menasehati? Menasehati Pemimpin, Yes, Menghina Pemimpin, No! Maksud Nasehat, Ingin Orang Lain Jadi Baik Penulis: Yulian Purnama Artikel: Muslim.or.id🔍 Hadits Tentang Hijab, Imunisasi Bayi Menurut Islam, Kehidupan Luar Angkasa Menurut Islam, Download Mp3 Ceramah Salafi, Ayat Untuk Meruqyah
Pertanyaan:Sebagian saudara kami yang merupakan da’i ilallah, mereka berpandangan bahwa demi maslahat sebaiknya tidak berbicara mengenai sufiyah dalam muhadharah dan khutbah-khutbah. Tidak membahas masalah istiwa misalnya, atau tidak membahas masalah istightsah atau masalah-masalah yang lain. Mereka berdalil dengan perjanjian yang dilakukan Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam dengan orang Yahudi. Apakah pendalilan ini shahih? Bagaimana arahan anda?Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin menjawab:Ini pendalilan yang tidak benar. Karena sikap semacam ini (tidak mau menjelaskan penyimpangan) adalah yang disebutkan dalam firman Allah Ta’ala:وَدُّوا لَوْ تُدْهِنُ فَيُدْهِنُونَ“Maka mereka menginginkan supaya kamu ber-mudahanah (mengorbankan agama) lalu mereka bersikap lunak (pula kepadamu)” (QS. Al Qalam: 9).Ber-mudahanah*) dalam agama tidak diperbolehkan. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam ketika membuat perjanjian dengan Yahudi tujuannya agar tidak terjadi perbuatan melampaui batas antar masyarakat. Bukan dalam rangka ridha terhadap agama mereka sama sekali. Tidak mungkin Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam ridha terhadap agama mereka. Dan yang anda sebutkan ini, yaitu sikap ridha terhadap penyimpangan mereka adalah kebatilan.Membuat perjanjian dengan cara demikian (yaitu untuk tidak membahas penyimpangan mereka) ini hakekatnya adalah mudahanah. Tidak diperbolehkan bagi siapapun untuk ber-mudahanah dalam perkara agama. Bahkan wajib untuk menjelaskan kebenaran apapun keadaannya.Namun yang dibolehkan dalam rangka maslahah adalah tidak memulai dakwah dengan pengingkaran. Mulailah dengan memberikan penjelasan-penjelasan perkara yang dibenarkan dalam agama.Misalnya, jika ingin membahas masalah istiwa sebagaimana anda sebutkan, maka mulailah dengan membahas makna istiwa, membahas hakekat istiwa, tanpa menyebutkan bahwa ada sekelompok orang yang menyimpang dalam menafsirkan istiwa. Baru dijelaskan ketika orang-orang sudah memahami dengan benar (dasar-dasarnya), dan ketika mereka sudah mengenal al haq, maka ketika itu akan mudah bagi mereka untuk berpindah dari kebatilan kepada al haq.***Sumber: Liqa Al Baabil Maftuh, 156/17, Asy Syamilah*) mudahanah artinya bermuamalah dengan orang fasiq, menampakkan keridhaan kepadanya tanpa menunjukkan pengingkaran (Fathul Bari libni Hajar, 10/528). Sebagian ulama juga mendefinisikan mudahanah adalah mengorbankan agama demi kemaslahatan dunia (Fathul Bari libni Hajar, 10/545).Baca juga: Haruskah Menjadi Sempurna Untuk Bisa Menasehati? Menasehati Pemimpin, Yes, Menghina Pemimpin, No! Maksud Nasehat, Ingin Orang Lain Jadi Baik Penulis: Yulian Purnama Artikel: Muslim.or.id🔍 Hadits Tentang Hijab, Imunisasi Bayi Menurut Islam, Kehidupan Luar Angkasa Menurut Islam, Download Mp3 Ceramah Salafi, Ayat Untuk Meruqyah


Pertanyaan:Sebagian saudara kami yang merupakan da’i ilallah, mereka berpandangan bahwa demi maslahat sebaiknya tidak berbicara mengenai sufiyah dalam muhadharah dan khutbah-khutbah. Tidak membahas masalah istiwa misalnya, atau tidak membahas masalah istightsah atau masalah-masalah yang lain. Mereka berdalil dengan perjanjian yang dilakukan Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam dengan orang Yahudi. Apakah pendalilan ini shahih? Bagaimana arahan anda?Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin menjawab:Ini pendalilan yang tidak benar. Karena sikap semacam ini (tidak mau menjelaskan penyimpangan) adalah yang disebutkan dalam firman Allah Ta’ala:وَدُّوا لَوْ تُدْهِنُ فَيُدْهِنُونَ“Maka mereka menginginkan supaya kamu ber-mudahanah (mengorbankan agama) lalu mereka bersikap lunak (pula kepadamu)” (QS. Al Qalam: 9).Ber-mudahanah*) dalam agama tidak diperbolehkan. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam ketika membuat perjanjian dengan Yahudi tujuannya agar tidak terjadi perbuatan melampaui batas antar masyarakat. Bukan dalam rangka ridha terhadap agama mereka sama sekali. Tidak mungkin Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam ridha terhadap agama mereka. Dan yang anda sebutkan ini, yaitu sikap ridha terhadap penyimpangan mereka adalah kebatilan.Membuat perjanjian dengan cara demikian (yaitu untuk tidak membahas penyimpangan mereka) ini hakekatnya adalah mudahanah. Tidak diperbolehkan bagi siapapun untuk ber-mudahanah dalam perkara agama. Bahkan wajib untuk menjelaskan kebenaran apapun keadaannya.Namun yang dibolehkan dalam rangka maslahah adalah tidak memulai dakwah dengan pengingkaran. Mulailah dengan memberikan penjelasan-penjelasan perkara yang dibenarkan dalam agama.Misalnya, jika ingin membahas masalah istiwa sebagaimana anda sebutkan, maka mulailah dengan membahas makna istiwa, membahas hakekat istiwa, tanpa menyebutkan bahwa ada sekelompok orang yang menyimpang dalam menafsirkan istiwa. Baru dijelaskan ketika orang-orang sudah memahami dengan benar (dasar-dasarnya), dan ketika mereka sudah mengenal al haq, maka ketika itu akan mudah bagi mereka untuk berpindah dari kebatilan kepada al haq.***Sumber: Liqa Al Baabil Maftuh, 156/17, Asy Syamilah*) mudahanah artinya bermuamalah dengan orang fasiq, menampakkan keridhaan kepadanya tanpa menunjukkan pengingkaran (Fathul Bari libni Hajar, 10/528). Sebagian ulama juga mendefinisikan mudahanah adalah mengorbankan agama demi kemaslahatan dunia (Fathul Bari libni Hajar, 10/545).Baca juga: Haruskah Menjadi Sempurna Untuk Bisa Menasehati? Menasehati Pemimpin, Yes, Menghina Pemimpin, No! Maksud Nasehat, Ingin Orang Lain Jadi Baik Penulis: Yulian Purnama Artikel: Muslim.or.id🔍 Hadits Tentang Hijab, Imunisasi Bayi Menurut Islam, Kehidupan Luar Angkasa Menurut Islam, Download Mp3 Ceramah Salafi, Ayat Untuk Meruqyah

Larangan Mencela Seorang Muslim yang Sudah Bertaubat Dari Dosa Maksiatnya

Terkadang ada saudara kita yang melakukan dosa atau maksiat, kemudian menjadi bahan perbincangan atau ghibah. Padahal bisa jadi pelaku dosa tersebut sudah bertaubat dari dosa tersebut. Mengenai hal ini, mari kita perhatikan nasihat dari beberapa ulama, yaitu orang yang menjelek-jelekkan saudaranya yang sudah bertaubat dari dosa, bisa jadi dia akan melakukan dosa tersebut. [1] Misalnya ada teman kita yang ketahuan selingkuh atau berzina, maka kita pun heboh membicarakannya bahkan mencela serta terlalu banyak berkomentar dengan menerka-nerka saja. Hal ini sebaiknya dihindari, sikap muslim adalah diam, menasehati dengan cara empat mata, dan berharap kebaikan pada saudaranya terlebih ia sudah menyesal dan mengaku salah.Syaikh Al-Mubarakfuri menjelaskan, bisa jadi ia terjerumus dalam dosa yang sama karena ada faktor kagum terhadap dirinya sendiri, sombong dan mensucikan diri. Seolah dia berkata kamu kok bisa terjerumus dalam maksiat/dosa itu, lihatlah aku, sulit terjerumus dalam dosa itu. Tentu ini bentuk kesombongan yang nyata dan sangat merendahkan orang lain. Beliau berkata,ﻳُﺠَﺎﺯَﻯ ﺑِﺴَﻠْﺐِ ﺍﻟﺘَّﻮْﻓِﻴﻖِ ﺣَﺘَّﻰ ﻳَﺮْﺗَﻜِﺐَ ﻣَﺎ ﻋَﻴَّﺮَ ﺃَﺧَﺎﻩُ ﺑِﻪِ ﻭَﺫَﺍﻙَ ﺇِﺫَﺍ ﺻَﺤِﺒَﻪُ ﺇِﻋْﺠَﺎﺑُﻪُ ﺑِﻨَﻔْﺴِﻪِ ﻟِﺴَﻼﻣَﺘِﻪِ ﻣِﻤَّﺎ ﻋَﻴَّﺮَ ﺑِﻪِ ﺃَﺧَﺎﻩُ“Dibalas dengan memberikannya jalan hingga ia akan melakukan maksiat yang ia cela yang dilakukan oleh saudaranya. Hal tersebut karena ia sombong/kagum dengan dirinya sendiri karena ia merasa selamat dari dosa tersebut.” [2] Demikian juga Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa menjelek-jelekkan saudaranya yang telah melakukan dosa, maka bisa jadi ia akan melakukan dosa tersebut.ﻭَﻛُﻞُّ ﻣَﻌْﺼِﻴَﺔٍ ﻋُﻴِّﺮَﺕْ ﺑِﻬَﺎ ﺃَﺧَﺎﻙَ ﻓَﻬِﻲَ ﺇِﻟَﻴْﻚَ ﻳَﺤْﺘَﻤِﻞُ ﺃَﻥْ ﻳُﺮِﻳْﺪَ ﺑِﻪِ ﺃَﻧَّﻬَﺎ ﺻَﺎﺋِﺮَﺓٌ ﺇِﻟَﻴْﻚَ ﻭَﻻَ ﺑُﺪَّ ﺃَﻥْ ﺗَﻌْﻤَﻠَﻬَﺎ“Setiap maksiat yang dijelek-jelekkan pada saudaramu, maka itu akan kembali padamu. Maksudnya, engkau bisa dipastikan melakukan dosa tersebut.” [3] Beliau melanjutkan penjelasan bahwa dosa mencela saudaranya yang telah melakukan dosa itu lebih besar dari dosa itu yang dilakukan oleh saudaranya. Beliau berkata,ﺃﻥ ﺗﻌﻴﻴﺮﻙ ﻷﺧﻴﻚ ﺑﺬﻧﺒﻪ ﺃﻋﻈﻢ ﺇﺛﻤﺎ ﻣﻦ ﺫﻧﺒﻪ ﻭﺃﺷﺪ ﻣﻦ ﻣﻌﺼﻴﺘﻪ ﻟﻤﺎ ﻓﻴﻪ ﻣﻦ ﺻﻮﻟﺔ ﺍﻟﻄﺎﻋﺔ ﻭﺗﺰﻛﻴﺔ ﺍﻟﻨﻔﺲ“Engkau mencela saudaramu yang melakukan dosa, ini lebih besar dosanya daripada dosa yang dilakukan  saudaramu dan maksiat yabg lebih besar, karena menghilangkan ketaatan dan merasa dirinya suci.” [4] Para ulama sudah mengingatkan mengenai hal ini, terlebih mereka adalah orang yang sangat berhati-hati dan takut kepada Allah. Seorang ulama Ibrahim An-Nakha’i berkata,” إني لأرى الشيء أكرهه، فما يمنعني أن أتكلّم فيه إلا مخافة أن أُبتلى بمثله”“Aku melihat sesuatu yang aku tidak suka, tidak ada yang menahanku untuk berkomentar dan membicarakannya kecuali karena aku khawatir aku yang akan ditimpakan masalahnya dikemudian hari.” [5] Hasan Al Basri berkata,كانوا يقولون من رمي أخاه بذنب قد تاب إلى الله منه لم يمت حتى يبتليه الله به“Para sahabat dan tabi’in memiliki konsep, barang siapa yang mencela saudaranya, karena dosa-dosanya, sedangkan saudaranya itu sudah bertaubat kepada Allāh, maka si pencela tidak akan meninggal dunia kecuali dia akan mengalami dosa saudaranya tersebut.” [6] Semoga kita bisa menjaga lisan kita karena lisan sangat berbahaya jika tidak terkontrol.Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ﺇِﻥَّ ﺍﻟﺮَّﺟُﻞَ ﻟَﻴَﺘَﻜَﻠَّﻢُ ﺑِﺎﻟْﻜَﻠِﻤَﺔِ ﻟَﺎ ﻳَﺮَﻯ ﺑِﻬَﺎ ﺑَﺄْﺳًﺎ ﻳَﻬْﻮِﻱ ﺑِﻬَﺎ ﺳَﺒْﻌِﻴﻦَ ﺧَﺮِﻳﻔًﺎ ﻓِﻲ ﺍﻟﻨَّﺎﺭِ“Sesungguhnya ada seseorang yang berbicara dengan satu kalimat, ia tidak menganggapnya berbahaya; dengan sebab satu kalimat itu ia terjungkal selama tujuh puluh tahun di dalam neraka.” [7] Jika kita bisa menjaga lisan, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan menjamin surga kepada kita. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ﻣَﻦْ ﻳَﻀْﻤَﻦْ ﻟِﻲ ﻣَﺎ ﺑَﻴْﻦَ ﻟَﺤْﻴَﻴْﻪِ ﻭَﻣَﺎ ﺑَﻴْﻦَ ﺭِﺟْﻠَﻴْﻪِ ﺃَﺿْﻤَﻦْ ﻟَﻪُ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔَ“Barang siapa yang menjamin untukku apa yang ada di antara dua rahangnya dan apa yang ada di antara dua kakinya, niscaya aku menjamin surga baginya.” [8] Baca juga: Dosa Seorang Alim yang Nampak Salah Kaprah Menyikapi Dosa Korupsi dan Koruptor Dosa Batin Lebih Parah Daripada Dosa Zahir Demikian semoga bermanfaat@Yogyakarta TercintaPenulis: dr. Raehanul Bahraen Artikel Muslim.or.idCatatan kaki: 🔍 Artikel Kajian Islam, Kenapa Islam Dibenci Agama Lain, "menurut Hadits Nabi, Doa Perlindungan Dari Dajjal, Konsep Zakat Dalam Islam

Larangan Mencela Seorang Muslim yang Sudah Bertaubat Dari Dosa Maksiatnya

Terkadang ada saudara kita yang melakukan dosa atau maksiat, kemudian menjadi bahan perbincangan atau ghibah. Padahal bisa jadi pelaku dosa tersebut sudah bertaubat dari dosa tersebut. Mengenai hal ini, mari kita perhatikan nasihat dari beberapa ulama, yaitu orang yang menjelek-jelekkan saudaranya yang sudah bertaubat dari dosa, bisa jadi dia akan melakukan dosa tersebut. [1] Misalnya ada teman kita yang ketahuan selingkuh atau berzina, maka kita pun heboh membicarakannya bahkan mencela serta terlalu banyak berkomentar dengan menerka-nerka saja. Hal ini sebaiknya dihindari, sikap muslim adalah diam, menasehati dengan cara empat mata, dan berharap kebaikan pada saudaranya terlebih ia sudah menyesal dan mengaku salah.Syaikh Al-Mubarakfuri menjelaskan, bisa jadi ia terjerumus dalam dosa yang sama karena ada faktor kagum terhadap dirinya sendiri, sombong dan mensucikan diri. Seolah dia berkata kamu kok bisa terjerumus dalam maksiat/dosa itu, lihatlah aku, sulit terjerumus dalam dosa itu. Tentu ini bentuk kesombongan yang nyata dan sangat merendahkan orang lain. Beliau berkata,ﻳُﺠَﺎﺯَﻯ ﺑِﺴَﻠْﺐِ ﺍﻟﺘَّﻮْﻓِﻴﻖِ ﺣَﺘَّﻰ ﻳَﺮْﺗَﻜِﺐَ ﻣَﺎ ﻋَﻴَّﺮَ ﺃَﺧَﺎﻩُ ﺑِﻪِ ﻭَﺫَﺍﻙَ ﺇِﺫَﺍ ﺻَﺤِﺒَﻪُ ﺇِﻋْﺠَﺎﺑُﻪُ ﺑِﻨَﻔْﺴِﻪِ ﻟِﺴَﻼﻣَﺘِﻪِ ﻣِﻤَّﺎ ﻋَﻴَّﺮَ ﺑِﻪِ ﺃَﺧَﺎﻩُ“Dibalas dengan memberikannya jalan hingga ia akan melakukan maksiat yang ia cela yang dilakukan oleh saudaranya. Hal tersebut karena ia sombong/kagum dengan dirinya sendiri karena ia merasa selamat dari dosa tersebut.” [2] Demikian juga Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa menjelek-jelekkan saudaranya yang telah melakukan dosa, maka bisa jadi ia akan melakukan dosa tersebut.ﻭَﻛُﻞُّ ﻣَﻌْﺼِﻴَﺔٍ ﻋُﻴِّﺮَﺕْ ﺑِﻬَﺎ ﺃَﺧَﺎﻙَ ﻓَﻬِﻲَ ﺇِﻟَﻴْﻚَ ﻳَﺤْﺘَﻤِﻞُ ﺃَﻥْ ﻳُﺮِﻳْﺪَ ﺑِﻪِ ﺃَﻧَّﻬَﺎ ﺻَﺎﺋِﺮَﺓٌ ﺇِﻟَﻴْﻚَ ﻭَﻻَ ﺑُﺪَّ ﺃَﻥْ ﺗَﻌْﻤَﻠَﻬَﺎ“Setiap maksiat yang dijelek-jelekkan pada saudaramu, maka itu akan kembali padamu. Maksudnya, engkau bisa dipastikan melakukan dosa tersebut.” [3] Beliau melanjutkan penjelasan bahwa dosa mencela saudaranya yang telah melakukan dosa itu lebih besar dari dosa itu yang dilakukan oleh saudaranya. Beliau berkata,ﺃﻥ ﺗﻌﻴﻴﺮﻙ ﻷﺧﻴﻚ ﺑﺬﻧﺒﻪ ﺃﻋﻈﻢ ﺇﺛﻤﺎ ﻣﻦ ﺫﻧﺒﻪ ﻭﺃﺷﺪ ﻣﻦ ﻣﻌﺼﻴﺘﻪ ﻟﻤﺎ ﻓﻴﻪ ﻣﻦ ﺻﻮﻟﺔ ﺍﻟﻄﺎﻋﺔ ﻭﺗﺰﻛﻴﺔ ﺍﻟﻨﻔﺲ“Engkau mencela saudaramu yang melakukan dosa, ini lebih besar dosanya daripada dosa yang dilakukan  saudaramu dan maksiat yabg lebih besar, karena menghilangkan ketaatan dan merasa dirinya suci.” [4] Para ulama sudah mengingatkan mengenai hal ini, terlebih mereka adalah orang yang sangat berhati-hati dan takut kepada Allah. Seorang ulama Ibrahim An-Nakha’i berkata,” إني لأرى الشيء أكرهه، فما يمنعني أن أتكلّم فيه إلا مخافة أن أُبتلى بمثله”“Aku melihat sesuatu yang aku tidak suka, tidak ada yang menahanku untuk berkomentar dan membicarakannya kecuali karena aku khawatir aku yang akan ditimpakan masalahnya dikemudian hari.” [5] Hasan Al Basri berkata,كانوا يقولون من رمي أخاه بذنب قد تاب إلى الله منه لم يمت حتى يبتليه الله به“Para sahabat dan tabi’in memiliki konsep, barang siapa yang mencela saudaranya, karena dosa-dosanya, sedangkan saudaranya itu sudah bertaubat kepada Allāh, maka si pencela tidak akan meninggal dunia kecuali dia akan mengalami dosa saudaranya tersebut.” [6] Semoga kita bisa menjaga lisan kita karena lisan sangat berbahaya jika tidak terkontrol.Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ﺇِﻥَّ ﺍﻟﺮَّﺟُﻞَ ﻟَﻴَﺘَﻜَﻠَّﻢُ ﺑِﺎﻟْﻜَﻠِﻤَﺔِ ﻟَﺎ ﻳَﺮَﻯ ﺑِﻬَﺎ ﺑَﺄْﺳًﺎ ﻳَﻬْﻮِﻱ ﺑِﻬَﺎ ﺳَﺒْﻌِﻴﻦَ ﺧَﺮِﻳﻔًﺎ ﻓِﻲ ﺍﻟﻨَّﺎﺭِ“Sesungguhnya ada seseorang yang berbicara dengan satu kalimat, ia tidak menganggapnya berbahaya; dengan sebab satu kalimat itu ia terjungkal selama tujuh puluh tahun di dalam neraka.” [7] Jika kita bisa menjaga lisan, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan menjamin surga kepada kita. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ﻣَﻦْ ﻳَﻀْﻤَﻦْ ﻟِﻲ ﻣَﺎ ﺑَﻴْﻦَ ﻟَﺤْﻴَﻴْﻪِ ﻭَﻣَﺎ ﺑَﻴْﻦَ ﺭِﺟْﻠَﻴْﻪِ ﺃَﺿْﻤَﻦْ ﻟَﻪُ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔَ“Barang siapa yang menjamin untukku apa yang ada di antara dua rahangnya dan apa yang ada di antara dua kakinya, niscaya aku menjamin surga baginya.” [8] Baca juga: Dosa Seorang Alim yang Nampak Salah Kaprah Menyikapi Dosa Korupsi dan Koruptor Dosa Batin Lebih Parah Daripada Dosa Zahir Demikian semoga bermanfaat@Yogyakarta TercintaPenulis: dr. Raehanul Bahraen Artikel Muslim.or.idCatatan kaki: 🔍 Artikel Kajian Islam, Kenapa Islam Dibenci Agama Lain, "menurut Hadits Nabi, Doa Perlindungan Dari Dajjal, Konsep Zakat Dalam Islam
Terkadang ada saudara kita yang melakukan dosa atau maksiat, kemudian menjadi bahan perbincangan atau ghibah. Padahal bisa jadi pelaku dosa tersebut sudah bertaubat dari dosa tersebut. Mengenai hal ini, mari kita perhatikan nasihat dari beberapa ulama, yaitu orang yang menjelek-jelekkan saudaranya yang sudah bertaubat dari dosa, bisa jadi dia akan melakukan dosa tersebut. [1] Misalnya ada teman kita yang ketahuan selingkuh atau berzina, maka kita pun heboh membicarakannya bahkan mencela serta terlalu banyak berkomentar dengan menerka-nerka saja. Hal ini sebaiknya dihindari, sikap muslim adalah diam, menasehati dengan cara empat mata, dan berharap kebaikan pada saudaranya terlebih ia sudah menyesal dan mengaku salah.Syaikh Al-Mubarakfuri menjelaskan, bisa jadi ia terjerumus dalam dosa yang sama karena ada faktor kagum terhadap dirinya sendiri, sombong dan mensucikan diri. Seolah dia berkata kamu kok bisa terjerumus dalam maksiat/dosa itu, lihatlah aku, sulit terjerumus dalam dosa itu. Tentu ini bentuk kesombongan yang nyata dan sangat merendahkan orang lain. Beliau berkata,ﻳُﺠَﺎﺯَﻯ ﺑِﺴَﻠْﺐِ ﺍﻟﺘَّﻮْﻓِﻴﻖِ ﺣَﺘَّﻰ ﻳَﺮْﺗَﻜِﺐَ ﻣَﺎ ﻋَﻴَّﺮَ ﺃَﺧَﺎﻩُ ﺑِﻪِ ﻭَﺫَﺍﻙَ ﺇِﺫَﺍ ﺻَﺤِﺒَﻪُ ﺇِﻋْﺠَﺎﺑُﻪُ ﺑِﻨَﻔْﺴِﻪِ ﻟِﺴَﻼﻣَﺘِﻪِ ﻣِﻤَّﺎ ﻋَﻴَّﺮَ ﺑِﻪِ ﺃَﺧَﺎﻩُ“Dibalas dengan memberikannya jalan hingga ia akan melakukan maksiat yang ia cela yang dilakukan oleh saudaranya. Hal tersebut karena ia sombong/kagum dengan dirinya sendiri karena ia merasa selamat dari dosa tersebut.” [2] Demikian juga Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa menjelek-jelekkan saudaranya yang telah melakukan dosa, maka bisa jadi ia akan melakukan dosa tersebut.ﻭَﻛُﻞُّ ﻣَﻌْﺼِﻴَﺔٍ ﻋُﻴِّﺮَﺕْ ﺑِﻬَﺎ ﺃَﺧَﺎﻙَ ﻓَﻬِﻲَ ﺇِﻟَﻴْﻚَ ﻳَﺤْﺘَﻤِﻞُ ﺃَﻥْ ﻳُﺮِﻳْﺪَ ﺑِﻪِ ﺃَﻧَّﻬَﺎ ﺻَﺎﺋِﺮَﺓٌ ﺇِﻟَﻴْﻚَ ﻭَﻻَ ﺑُﺪَّ ﺃَﻥْ ﺗَﻌْﻤَﻠَﻬَﺎ“Setiap maksiat yang dijelek-jelekkan pada saudaramu, maka itu akan kembali padamu. Maksudnya, engkau bisa dipastikan melakukan dosa tersebut.” [3] Beliau melanjutkan penjelasan bahwa dosa mencela saudaranya yang telah melakukan dosa itu lebih besar dari dosa itu yang dilakukan oleh saudaranya. Beliau berkata,ﺃﻥ ﺗﻌﻴﻴﺮﻙ ﻷﺧﻴﻚ ﺑﺬﻧﺒﻪ ﺃﻋﻈﻢ ﺇﺛﻤﺎ ﻣﻦ ﺫﻧﺒﻪ ﻭﺃﺷﺪ ﻣﻦ ﻣﻌﺼﻴﺘﻪ ﻟﻤﺎ ﻓﻴﻪ ﻣﻦ ﺻﻮﻟﺔ ﺍﻟﻄﺎﻋﺔ ﻭﺗﺰﻛﻴﺔ ﺍﻟﻨﻔﺲ“Engkau mencela saudaramu yang melakukan dosa, ini lebih besar dosanya daripada dosa yang dilakukan  saudaramu dan maksiat yabg lebih besar, karena menghilangkan ketaatan dan merasa dirinya suci.” [4] Para ulama sudah mengingatkan mengenai hal ini, terlebih mereka adalah orang yang sangat berhati-hati dan takut kepada Allah. Seorang ulama Ibrahim An-Nakha’i berkata,” إني لأرى الشيء أكرهه، فما يمنعني أن أتكلّم فيه إلا مخافة أن أُبتلى بمثله”“Aku melihat sesuatu yang aku tidak suka, tidak ada yang menahanku untuk berkomentar dan membicarakannya kecuali karena aku khawatir aku yang akan ditimpakan masalahnya dikemudian hari.” [5] Hasan Al Basri berkata,كانوا يقولون من رمي أخاه بذنب قد تاب إلى الله منه لم يمت حتى يبتليه الله به“Para sahabat dan tabi’in memiliki konsep, barang siapa yang mencela saudaranya, karena dosa-dosanya, sedangkan saudaranya itu sudah bertaubat kepada Allāh, maka si pencela tidak akan meninggal dunia kecuali dia akan mengalami dosa saudaranya tersebut.” [6] Semoga kita bisa menjaga lisan kita karena lisan sangat berbahaya jika tidak terkontrol.Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ﺇِﻥَّ ﺍﻟﺮَّﺟُﻞَ ﻟَﻴَﺘَﻜَﻠَّﻢُ ﺑِﺎﻟْﻜَﻠِﻤَﺔِ ﻟَﺎ ﻳَﺮَﻯ ﺑِﻬَﺎ ﺑَﺄْﺳًﺎ ﻳَﻬْﻮِﻱ ﺑِﻬَﺎ ﺳَﺒْﻌِﻴﻦَ ﺧَﺮِﻳﻔًﺎ ﻓِﻲ ﺍﻟﻨَّﺎﺭِ“Sesungguhnya ada seseorang yang berbicara dengan satu kalimat, ia tidak menganggapnya berbahaya; dengan sebab satu kalimat itu ia terjungkal selama tujuh puluh tahun di dalam neraka.” [7] Jika kita bisa menjaga lisan, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan menjamin surga kepada kita. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ﻣَﻦْ ﻳَﻀْﻤَﻦْ ﻟِﻲ ﻣَﺎ ﺑَﻴْﻦَ ﻟَﺤْﻴَﻴْﻪِ ﻭَﻣَﺎ ﺑَﻴْﻦَ ﺭِﺟْﻠَﻴْﻪِ ﺃَﺿْﻤَﻦْ ﻟَﻪُ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔَ“Barang siapa yang menjamin untukku apa yang ada di antara dua rahangnya dan apa yang ada di antara dua kakinya, niscaya aku menjamin surga baginya.” [8] Baca juga: Dosa Seorang Alim yang Nampak Salah Kaprah Menyikapi Dosa Korupsi dan Koruptor Dosa Batin Lebih Parah Daripada Dosa Zahir Demikian semoga bermanfaat@Yogyakarta TercintaPenulis: dr. Raehanul Bahraen Artikel Muslim.or.idCatatan kaki: 🔍 Artikel Kajian Islam, Kenapa Islam Dibenci Agama Lain, "menurut Hadits Nabi, Doa Perlindungan Dari Dajjal, Konsep Zakat Dalam Islam


Terkadang ada saudara kita yang melakukan dosa atau maksiat, kemudian menjadi bahan perbincangan atau ghibah. Padahal bisa jadi pelaku dosa tersebut sudah bertaubat dari dosa tersebut. Mengenai hal ini, mari kita perhatikan nasihat dari beberapa ulama, yaitu orang yang menjelek-jelekkan saudaranya yang sudah bertaubat dari dosa, bisa jadi dia akan melakukan dosa tersebut. [1] Misalnya ada teman kita yang ketahuan selingkuh atau berzina, maka kita pun heboh membicarakannya bahkan mencela serta terlalu banyak berkomentar dengan menerka-nerka saja. Hal ini sebaiknya dihindari, sikap muslim adalah diam, menasehati dengan cara empat mata, dan berharap kebaikan pada saudaranya terlebih ia sudah menyesal dan mengaku salah.Syaikh Al-Mubarakfuri menjelaskan, bisa jadi ia terjerumus dalam dosa yang sama karena ada faktor kagum terhadap dirinya sendiri, sombong dan mensucikan diri. Seolah dia berkata kamu kok bisa terjerumus dalam maksiat/dosa itu, lihatlah aku, sulit terjerumus dalam dosa itu. Tentu ini bentuk kesombongan yang nyata dan sangat merendahkan orang lain. Beliau berkata,ﻳُﺠَﺎﺯَﻯ ﺑِﺴَﻠْﺐِ ﺍﻟﺘَّﻮْﻓِﻴﻖِ ﺣَﺘَّﻰ ﻳَﺮْﺗَﻜِﺐَ ﻣَﺎ ﻋَﻴَّﺮَ ﺃَﺧَﺎﻩُ ﺑِﻪِ ﻭَﺫَﺍﻙَ ﺇِﺫَﺍ ﺻَﺤِﺒَﻪُ ﺇِﻋْﺠَﺎﺑُﻪُ ﺑِﻨَﻔْﺴِﻪِ ﻟِﺴَﻼﻣَﺘِﻪِ ﻣِﻤَّﺎ ﻋَﻴَّﺮَ ﺑِﻪِ ﺃَﺧَﺎﻩُ“Dibalas dengan memberikannya jalan hingga ia akan melakukan maksiat yang ia cela yang dilakukan oleh saudaranya. Hal tersebut karena ia sombong/kagum dengan dirinya sendiri karena ia merasa selamat dari dosa tersebut.” [2] Demikian juga Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa menjelek-jelekkan saudaranya yang telah melakukan dosa, maka bisa jadi ia akan melakukan dosa tersebut.ﻭَﻛُﻞُّ ﻣَﻌْﺼِﻴَﺔٍ ﻋُﻴِّﺮَﺕْ ﺑِﻬَﺎ ﺃَﺧَﺎﻙَ ﻓَﻬِﻲَ ﺇِﻟَﻴْﻚَ ﻳَﺤْﺘَﻤِﻞُ ﺃَﻥْ ﻳُﺮِﻳْﺪَ ﺑِﻪِ ﺃَﻧَّﻬَﺎ ﺻَﺎﺋِﺮَﺓٌ ﺇِﻟَﻴْﻚَ ﻭَﻻَ ﺑُﺪَّ ﺃَﻥْ ﺗَﻌْﻤَﻠَﻬَﺎ“Setiap maksiat yang dijelek-jelekkan pada saudaramu, maka itu akan kembali padamu. Maksudnya, engkau bisa dipastikan melakukan dosa tersebut.” [3] Beliau melanjutkan penjelasan bahwa dosa mencela saudaranya yang telah melakukan dosa itu lebih besar dari dosa itu yang dilakukan oleh saudaranya. Beliau berkata,ﺃﻥ ﺗﻌﻴﻴﺮﻙ ﻷﺧﻴﻚ ﺑﺬﻧﺒﻪ ﺃﻋﻈﻢ ﺇﺛﻤﺎ ﻣﻦ ﺫﻧﺒﻪ ﻭﺃﺷﺪ ﻣﻦ ﻣﻌﺼﻴﺘﻪ ﻟﻤﺎ ﻓﻴﻪ ﻣﻦ ﺻﻮﻟﺔ ﺍﻟﻄﺎﻋﺔ ﻭﺗﺰﻛﻴﺔ ﺍﻟﻨﻔﺲ“Engkau mencela saudaramu yang melakukan dosa, ini lebih besar dosanya daripada dosa yang dilakukan  saudaramu dan maksiat yabg lebih besar, karena menghilangkan ketaatan dan merasa dirinya suci.” [4] Para ulama sudah mengingatkan mengenai hal ini, terlebih mereka adalah orang yang sangat berhati-hati dan takut kepada Allah. Seorang ulama Ibrahim An-Nakha’i berkata,” إني لأرى الشيء أكرهه، فما يمنعني أن أتكلّم فيه إلا مخافة أن أُبتلى بمثله”“Aku melihat sesuatu yang aku tidak suka, tidak ada yang menahanku untuk berkomentar dan membicarakannya kecuali karena aku khawatir aku yang akan ditimpakan masalahnya dikemudian hari.” [5] Hasan Al Basri berkata,كانوا يقولون من رمي أخاه بذنب قد تاب إلى الله منه لم يمت حتى يبتليه الله به“Para sahabat dan tabi’in memiliki konsep, barang siapa yang mencela saudaranya, karena dosa-dosanya, sedangkan saudaranya itu sudah bertaubat kepada Allāh, maka si pencela tidak akan meninggal dunia kecuali dia akan mengalami dosa saudaranya tersebut.” [6] Semoga kita bisa menjaga lisan kita karena lisan sangat berbahaya jika tidak terkontrol.Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ﺇِﻥَّ ﺍﻟﺮَّﺟُﻞَ ﻟَﻴَﺘَﻜَﻠَّﻢُ ﺑِﺎﻟْﻜَﻠِﻤَﺔِ ﻟَﺎ ﻳَﺮَﻯ ﺑِﻬَﺎ ﺑَﺄْﺳًﺎ ﻳَﻬْﻮِﻱ ﺑِﻬَﺎ ﺳَﺒْﻌِﻴﻦَ ﺧَﺮِﻳﻔًﺎ ﻓِﻲ ﺍﻟﻨَّﺎﺭِ“Sesungguhnya ada seseorang yang berbicara dengan satu kalimat, ia tidak menganggapnya berbahaya; dengan sebab satu kalimat itu ia terjungkal selama tujuh puluh tahun di dalam neraka.” [7] Jika kita bisa menjaga lisan, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan menjamin surga kepada kita. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ﻣَﻦْ ﻳَﻀْﻤَﻦْ ﻟِﻲ ﻣَﺎ ﺑَﻴْﻦَ ﻟَﺤْﻴَﻴْﻪِ ﻭَﻣَﺎ ﺑَﻴْﻦَ ﺭِﺟْﻠَﻴْﻪِ ﺃَﺿْﻤَﻦْ ﻟَﻪُ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔَ“Barang siapa yang menjamin untukku apa yang ada di antara dua rahangnya dan apa yang ada di antara dua kakinya, niscaya aku menjamin surga baginya.” [8] Baca juga: Dosa Seorang Alim yang Nampak Salah Kaprah Menyikapi Dosa Korupsi dan Koruptor Dosa Batin Lebih Parah Daripada Dosa Zahir Demikian semoga bermanfaat@Yogyakarta TercintaPenulis: dr. Raehanul Bahraen Artikel Muslim.or.idCatatan kaki: 🔍 Artikel Kajian Islam, Kenapa Islam Dibenci Agama Lain, "menurut Hadits Nabi, Doa Perlindungan Dari Dajjal, Konsep Zakat Dalam Islam

Membayar Zakat Dalam Bentuk Pembebasan Utang

Membebaskan Utang dengan Bayar Zakat Jika saya memiliki piutang di tempat orang lain, sudah ditagih beberapa kali tapi tidak bisa bayar, dan bulan ini saya ingin membayar zakat senilai 2jt. Bolehkah saya sampaikan ke orang yang utang itu bahwa utangmu sudah lunas, krn ditutupi dg zakat saya.. shg sy tdk perlu mengeluarkan uang 2 jt. Mohon pencerahannya Jawab: Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Dalam banyak tentang zakat, Allah menegaskan bahwa zakat itu memberi, sehingga ada unsur mengeluarkan sesuatu. Diantaranya, firman Allah, وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآَتُوا الزَّكَاةَ “Tegakkanlah shalat dan tunaikanlah zakat…” (QS. al-Baqarah: 43). Di ayat yang lain, Allah berfirman, الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ “Yaitu orang-orang yang menegakkan shalat dan menunaikan zakat..” (QS. al-Maidah: 117). Dan ayat yang semisal dengan ini sangat banyak. Disebut menunaikan, karena ada yang dikeluarkan. Sementara mendiamkan uang yang ada di tempat orang lain, tidak termasuk mengeluarkan. Kembali kepada kasus yang ditanyakan. Untuk memahami contoh kasusnya, kita simak ilustrasi berikut, Di tahun 2010, Paijo pernah memberi utang ke Bejo senilai 3jt. Hingga 2017, Bejo belum mampu untuk membayarnya sepeserpun. Di tahun 2017, Paijo menghitung hartanya untuk zakat. Nilai zakat yang harus dibayarkan Paijo adalah 2,8jt. Bolehkah piutang Paijo pada Bejo dijadikan sebagai zakat?, sehingga utang Bejo diputihkan. Kasus semacam ini pernah ditanyakan ke Syaikh Ibnu Jibrin – rahimahullah –. Jawaban beliau, الصحيح أنه لا يجوز إسقاط الدين الذي في ذمة الغريم عند اليأس منه أو تأخره. مع نية احتسابه من الزكاة، لأن الزكاة مال يدفع إلى الفقراء لفقرهم وحاجتهم، لكن لو أعطي من الزكاة فردها على أهلها وفاء لما في ذمته جاز ذلك، إن لم يكن هناك قصد أو محاباة Yang benar, memutihkan utang yang menjadi tanggungan debitor, ketika tidak ada harapan bisa kembali, sementara masih ditagih, tidak boleh dijadikan sebagai zakat. Karena zakat itu menyerahkan harta kepada orang yang tidak mampu, karena dia membutuhkan. Namun, jika orang ini diberi zakat, lalu dia kembalikan ke muzakki sebagai pembayaran utang, hukumnya boleh. Selama tidak dimaksudkan di awal, atau ada kesepakatan di depan. (Fatawa Ibnu Jibrin, volume 31 – no. 6) Keterangan lain disampaikan Imam Ibnu Utsaimin, ثبت في الصحيحين من حديث عبد الله بن عباس رضي الله عنهما أن رسول الله صلى الله عليه وسلم  قال لمعاذ بن جبل حين بعثه إلى اليمن : ( أعلِمهم أن الله افترض عليهم صدقة في أموالهم تؤخذ من أغنيائهم فتردّ على فقرائهم ) فبيّن صلى الله عليه وسلم  أن الزكاة شيء يؤخذ فيُردّ ، وعلى هذا فلا يجوز لك أن تسقط ديناً عمن هو عليه وتعتبره من الزكاة ، لأن إسقاط الدين ليس بأخذ وردّ . وقد ذكر شيخ الإسلام هذه المسألة وقال : إنه لا يُجزئ إسقاط الدين عن زكاة العين بلا نزاع . ولكن لك أن تعطي هذا  المحتاج من زكاتك وتسد حاجته بما تعطيه من هذه الزكاة ، والدين الذي عليه يأتي به الله إن شاء الله فيما بعد . فتاوى منار الإسلام للشيخ ابن عثيمين رحمه الله  ج/1 ص/309-310   Dari kasus Paijo dan Bejo, Paijo boleh saja memutihkan utang Bejo senilai 3jt, namun tidak boleh dihitung sebagai pembayaran zakat. Karena zakat itu bentuknya menyerahkan, dan bukan mendiamkan uang. Namun, jika Paijo membayar zakat senilai 2,8jt, lalu Bejo membayar utangnya 2,8jt ke Paijo, hukumnya dibolehkan, selama tidak ada kesepakatan. Demikian, Allahu a’lam. Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. SPONSOR hubungi: 081 326 333 328 DONASI hubungi: 087 882 888 727 REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK 🔍 Cara Bertaubat Kepada Allah, Anak Di Luar Nikah, Doa Ketika Kita Difitnah, Batas Waktu Shalat Ied, Arti Mimpi Wudhu, Cara Meng Qoshor Sholat Visited 11 times, 1 visit(s) today Post Views: 217 QRIS donasi Yufid

Membayar Zakat Dalam Bentuk Pembebasan Utang

Membebaskan Utang dengan Bayar Zakat Jika saya memiliki piutang di tempat orang lain, sudah ditagih beberapa kali tapi tidak bisa bayar, dan bulan ini saya ingin membayar zakat senilai 2jt. Bolehkah saya sampaikan ke orang yang utang itu bahwa utangmu sudah lunas, krn ditutupi dg zakat saya.. shg sy tdk perlu mengeluarkan uang 2 jt. Mohon pencerahannya Jawab: Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Dalam banyak tentang zakat, Allah menegaskan bahwa zakat itu memberi, sehingga ada unsur mengeluarkan sesuatu. Diantaranya, firman Allah, وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآَتُوا الزَّكَاةَ “Tegakkanlah shalat dan tunaikanlah zakat…” (QS. al-Baqarah: 43). Di ayat yang lain, Allah berfirman, الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ “Yaitu orang-orang yang menegakkan shalat dan menunaikan zakat..” (QS. al-Maidah: 117). Dan ayat yang semisal dengan ini sangat banyak. Disebut menunaikan, karena ada yang dikeluarkan. Sementara mendiamkan uang yang ada di tempat orang lain, tidak termasuk mengeluarkan. Kembali kepada kasus yang ditanyakan. Untuk memahami contoh kasusnya, kita simak ilustrasi berikut, Di tahun 2010, Paijo pernah memberi utang ke Bejo senilai 3jt. Hingga 2017, Bejo belum mampu untuk membayarnya sepeserpun. Di tahun 2017, Paijo menghitung hartanya untuk zakat. Nilai zakat yang harus dibayarkan Paijo adalah 2,8jt. Bolehkah piutang Paijo pada Bejo dijadikan sebagai zakat?, sehingga utang Bejo diputihkan. Kasus semacam ini pernah ditanyakan ke Syaikh Ibnu Jibrin – rahimahullah –. Jawaban beliau, الصحيح أنه لا يجوز إسقاط الدين الذي في ذمة الغريم عند اليأس منه أو تأخره. مع نية احتسابه من الزكاة، لأن الزكاة مال يدفع إلى الفقراء لفقرهم وحاجتهم، لكن لو أعطي من الزكاة فردها على أهلها وفاء لما في ذمته جاز ذلك، إن لم يكن هناك قصد أو محاباة Yang benar, memutihkan utang yang menjadi tanggungan debitor, ketika tidak ada harapan bisa kembali, sementara masih ditagih, tidak boleh dijadikan sebagai zakat. Karena zakat itu menyerahkan harta kepada orang yang tidak mampu, karena dia membutuhkan. Namun, jika orang ini diberi zakat, lalu dia kembalikan ke muzakki sebagai pembayaran utang, hukumnya boleh. Selama tidak dimaksudkan di awal, atau ada kesepakatan di depan. (Fatawa Ibnu Jibrin, volume 31 – no. 6) Keterangan lain disampaikan Imam Ibnu Utsaimin, ثبت في الصحيحين من حديث عبد الله بن عباس رضي الله عنهما أن رسول الله صلى الله عليه وسلم  قال لمعاذ بن جبل حين بعثه إلى اليمن : ( أعلِمهم أن الله افترض عليهم صدقة في أموالهم تؤخذ من أغنيائهم فتردّ على فقرائهم ) فبيّن صلى الله عليه وسلم  أن الزكاة شيء يؤخذ فيُردّ ، وعلى هذا فلا يجوز لك أن تسقط ديناً عمن هو عليه وتعتبره من الزكاة ، لأن إسقاط الدين ليس بأخذ وردّ . وقد ذكر شيخ الإسلام هذه المسألة وقال : إنه لا يُجزئ إسقاط الدين عن زكاة العين بلا نزاع . ولكن لك أن تعطي هذا  المحتاج من زكاتك وتسد حاجته بما تعطيه من هذه الزكاة ، والدين الذي عليه يأتي به الله إن شاء الله فيما بعد . فتاوى منار الإسلام للشيخ ابن عثيمين رحمه الله  ج/1 ص/309-310   Dari kasus Paijo dan Bejo, Paijo boleh saja memutihkan utang Bejo senilai 3jt, namun tidak boleh dihitung sebagai pembayaran zakat. Karena zakat itu bentuknya menyerahkan, dan bukan mendiamkan uang. Namun, jika Paijo membayar zakat senilai 2,8jt, lalu Bejo membayar utangnya 2,8jt ke Paijo, hukumnya dibolehkan, selama tidak ada kesepakatan. Demikian, Allahu a’lam. Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. SPONSOR hubungi: 081 326 333 328 DONASI hubungi: 087 882 888 727 REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK 🔍 Cara Bertaubat Kepada Allah, Anak Di Luar Nikah, Doa Ketika Kita Difitnah, Batas Waktu Shalat Ied, Arti Mimpi Wudhu, Cara Meng Qoshor Sholat Visited 11 times, 1 visit(s) today Post Views: 217 QRIS donasi Yufid
Membebaskan Utang dengan Bayar Zakat Jika saya memiliki piutang di tempat orang lain, sudah ditagih beberapa kali tapi tidak bisa bayar, dan bulan ini saya ingin membayar zakat senilai 2jt. Bolehkah saya sampaikan ke orang yang utang itu bahwa utangmu sudah lunas, krn ditutupi dg zakat saya.. shg sy tdk perlu mengeluarkan uang 2 jt. Mohon pencerahannya Jawab: Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Dalam banyak tentang zakat, Allah menegaskan bahwa zakat itu memberi, sehingga ada unsur mengeluarkan sesuatu. Diantaranya, firman Allah, وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآَتُوا الزَّكَاةَ “Tegakkanlah shalat dan tunaikanlah zakat…” (QS. al-Baqarah: 43). Di ayat yang lain, Allah berfirman, الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ “Yaitu orang-orang yang menegakkan shalat dan menunaikan zakat..” (QS. al-Maidah: 117). Dan ayat yang semisal dengan ini sangat banyak. Disebut menunaikan, karena ada yang dikeluarkan. Sementara mendiamkan uang yang ada di tempat orang lain, tidak termasuk mengeluarkan. Kembali kepada kasus yang ditanyakan. Untuk memahami contoh kasusnya, kita simak ilustrasi berikut, Di tahun 2010, Paijo pernah memberi utang ke Bejo senilai 3jt. Hingga 2017, Bejo belum mampu untuk membayarnya sepeserpun. Di tahun 2017, Paijo menghitung hartanya untuk zakat. Nilai zakat yang harus dibayarkan Paijo adalah 2,8jt. Bolehkah piutang Paijo pada Bejo dijadikan sebagai zakat?, sehingga utang Bejo diputihkan. Kasus semacam ini pernah ditanyakan ke Syaikh Ibnu Jibrin – rahimahullah –. Jawaban beliau, الصحيح أنه لا يجوز إسقاط الدين الذي في ذمة الغريم عند اليأس منه أو تأخره. مع نية احتسابه من الزكاة، لأن الزكاة مال يدفع إلى الفقراء لفقرهم وحاجتهم، لكن لو أعطي من الزكاة فردها على أهلها وفاء لما في ذمته جاز ذلك، إن لم يكن هناك قصد أو محاباة Yang benar, memutihkan utang yang menjadi tanggungan debitor, ketika tidak ada harapan bisa kembali, sementara masih ditagih, tidak boleh dijadikan sebagai zakat. Karena zakat itu menyerahkan harta kepada orang yang tidak mampu, karena dia membutuhkan. Namun, jika orang ini diberi zakat, lalu dia kembalikan ke muzakki sebagai pembayaran utang, hukumnya boleh. Selama tidak dimaksudkan di awal, atau ada kesepakatan di depan. (Fatawa Ibnu Jibrin, volume 31 – no. 6) Keterangan lain disampaikan Imam Ibnu Utsaimin, ثبت في الصحيحين من حديث عبد الله بن عباس رضي الله عنهما أن رسول الله صلى الله عليه وسلم  قال لمعاذ بن جبل حين بعثه إلى اليمن : ( أعلِمهم أن الله افترض عليهم صدقة في أموالهم تؤخذ من أغنيائهم فتردّ على فقرائهم ) فبيّن صلى الله عليه وسلم  أن الزكاة شيء يؤخذ فيُردّ ، وعلى هذا فلا يجوز لك أن تسقط ديناً عمن هو عليه وتعتبره من الزكاة ، لأن إسقاط الدين ليس بأخذ وردّ . وقد ذكر شيخ الإسلام هذه المسألة وقال : إنه لا يُجزئ إسقاط الدين عن زكاة العين بلا نزاع . ولكن لك أن تعطي هذا  المحتاج من زكاتك وتسد حاجته بما تعطيه من هذه الزكاة ، والدين الذي عليه يأتي به الله إن شاء الله فيما بعد . فتاوى منار الإسلام للشيخ ابن عثيمين رحمه الله  ج/1 ص/309-310   Dari kasus Paijo dan Bejo, Paijo boleh saja memutihkan utang Bejo senilai 3jt, namun tidak boleh dihitung sebagai pembayaran zakat. Karena zakat itu bentuknya menyerahkan, dan bukan mendiamkan uang. Namun, jika Paijo membayar zakat senilai 2,8jt, lalu Bejo membayar utangnya 2,8jt ke Paijo, hukumnya dibolehkan, selama tidak ada kesepakatan. Demikian, Allahu a’lam. Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. SPONSOR hubungi: 081 326 333 328 DONASI hubungi: 087 882 888 727 REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK 🔍 Cara Bertaubat Kepada Allah, Anak Di Luar Nikah, Doa Ketika Kita Difitnah, Batas Waktu Shalat Ied, Arti Mimpi Wudhu, Cara Meng Qoshor Sholat Visited 11 times, 1 visit(s) today Post Views: 217 QRIS donasi Yufid


<iframe src="https://w.soundcloud.com/player/?url=https%3A//api.soundcloud.com/tracks/380911565&amp;color=d5265f&amp;auto_play=false&amp;show_artwork=false&amp;hide_related=true&amp;show_comments=false&amp;show_user=false&amp;show_reposts=false" width="100%" height="166" frameborder="no" scrolling="no"></iframe> Membebaskan Utang dengan Bayar Zakat Jika saya memiliki piutang di tempat orang lain, sudah ditagih beberapa kali tapi tidak bisa bayar, dan bulan ini saya ingin membayar zakat senilai 2jt. Bolehkah saya sampaikan ke orang yang utang itu bahwa utangmu sudah lunas, krn ditutupi dg zakat saya.. shg sy tdk perlu mengeluarkan uang 2 jt. Mohon pencerahannya Jawab: Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Dalam banyak tentang zakat, Allah menegaskan bahwa zakat itu memberi, sehingga ada unsur mengeluarkan sesuatu. Diantaranya, firman Allah, وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآَتُوا الزَّكَاةَ “Tegakkanlah shalat dan tunaikanlah zakat…” (QS. al-Baqarah: 43). Di ayat yang lain, Allah berfirman, الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ “Yaitu orang-orang yang menegakkan shalat dan menunaikan zakat..” (QS. al-Maidah: 117). Dan ayat yang semisal dengan ini sangat banyak. Disebut menunaikan, karena ada yang dikeluarkan. Sementara mendiamkan uang yang ada di tempat orang lain, tidak termasuk mengeluarkan. Kembali kepada kasus yang ditanyakan. Untuk memahami contoh kasusnya, kita simak ilustrasi berikut, Di tahun 2010, Paijo pernah memberi utang ke Bejo senilai 3jt. Hingga 2017, Bejo belum mampu untuk membayarnya sepeserpun. Di tahun 2017, Paijo menghitung hartanya untuk zakat. Nilai zakat yang harus dibayarkan Paijo adalah 2,8jt. Bolehkah piutang Paijo pada Bejo dijadikan sebagai zakat?, sehingga utang Bejo diputihkan. Kasus semacam ini pernah ditanyakan ke Syaikh Ibnu Jibrin – rahimahullah –. Jawaban beliau, الصحيح أنه لا يجوز إسقاط الدين الذي في ذمة الغريم عند اليأس منه أو تأخره. مع نية احتسابه من الزكاة، لأن الزكاة مال يدفع إلى الفقراء لفقرهم وحاجتهم، لكن لو أعطي من الزكاة فردها على أهلها وفاء لما في ذمته جاز ذلك، إن لم يكن هناك قصد أو محاباة Yang benar, memutihkan utang yang menjadi tanggungan debitor, ketika tidak ada harapan bisa kembali, sementara masih ditagih, tidak boleh dijadikan sebagai zakat. Karena zakat itu menyerahkan harta kepada orang yang tidak mampu, karena dia membutuhkan. Namun, jika orang ini diberi zakat, lalu dia kembalikan ke muzakki sebagai pembayaran utang, hukumnya boleh. Selama tidak dimaksudkan di awal, atau ada kesepakatan di depan. (Fatawa Ibnu Jibrin, volume 31 – no. 6) Keterangan lain disampaikan Imam Ibnu Utsaimin, ثبت في الصحيحين من حديث عبد الله بن عباس رضي الله عنهما أن رسول الله صلى الله عليه وسلم  قال لمعاذ بن جبل حين بعثه إلى اليمن : ( أعلِمهم أن الله افترض عليهم صدقة في أموالهم تؤخذ من أغنيائهم فتردّ على فقرائهم ) فبيّن صلى الله عليه وسلم  أن الزكاة شيء يؤخذ فيُردّ ، وعلى هذا فلا يجوز لك أن تسقط ديناً عمن هو عليه وتعتبره من الزكاة ، لأن إسقاط الدين ليس بأخذ وردّ . وقد ذكر شيخ الإسلام هذه المسألة وقال : إنه لا يُجزئ إسقاط الدين عن زكاة العين بلا نزاع . ولكن لك أن تعطي هذا  المحتاج من زكاتك وتسد حاجته بما تعطيه من هذه الزكاة ، والدين الذي عليه يأتي به الله إن شاء الله فيما بعد . فتاوى منار الإسلام للشيخ ابن عثيمين رحمه الله  ج/1 ص/309-310   Dari kasus Paijo dan Bejo, Paijo boleh saja memutihkan utang Bejo senilai 3jt, namun tidak boleh dihitung sebagai pembayaran zakat. Karena zakat itu bentuknya menyerahkan, dan bukan mendiamkan uang. Namun, jika Paijo membayar zakat senilai 2,8jt, lalu Bejo membayar utangnya 2,8jt ke Paijo, hukumnya dibolehkan, selama tidak ada kesepakatan. Demikian, Allahu a’lam. Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. SPONSOR hubungi: 081 326 333 328 DONASI hubungi: 087 882 888 727 REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK 🔍 Cara Bertaubat Kepada Allah, Anak Di Luar Nikah, Doa Ketika Kita Difitnah, Batas Waktu Shalat Ied, Arti Mimpi Wudhu, Cara Meng Qoshor Sholat Visited 11 times, 1 visit(s) today Post Views: 217 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Menolong yang Susah Hingga Faedah Menuntut Ilmu

Ini faedah dari menolong yang susah hingga menuntut ilmu agama. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa yang meringankan kesusahan dunia saudaranya, Allah akan mengangkat kesulitannya pada hari kiamat. Siapa yang memberikan kemudahan bagi orang yang susah, Allah akan memberikan kemudahan baginya di dunia dan akhirat. Siapa yang menutup aib saudaranya, Allah akan menutup aibnya di dunia dan di akhirat. Allah senantiasa akan menolong hamba selama ia menolong saudaranya. Siapa yang menempuh jalan menuntut ilmu, Allah akan memberikan ia kemudahan menuju surga. Tidaklah suatu kaum berkumpul di rumah Allah, lalu ia membaca kitab Allah, lalu ia mengajarkan satu dan lainnya, melainkan akan turun kepadanya ketenangan, akan dinaungi rahmat, akan dikelilingi malaikat, Allah akan senantiasa menyebutnya di sisi makhluk-Nya yang mulia. Siapa yang lambat amalnya, maka kedudukan nasabnya yang mulia tidak bisa mengejar lambatnya amalnya tadi.” (HR. Muslim)   Faedah Hadits Hadits di atas menunjukkan keutamaan bagi orang yang membantu hajat kaum muslimin dengan ilmu, harta, pertolongan, memberikan maslahat hingga nasihat. Menunjukkan keutamaan berjalan untuk menuntut ilmu dengan syarat mengharap wajah Allah. Karenanya hendaklah ada waktu kita yang disibukkan dengan belajar ilmu syar’i. Berkumpul di rumah Allah untuk belajar agama juga punya keutamaan mendapatkan ketenangan, naungan rahmat, dikelilingi malaikat hingga disanjung oleh Allah di sisi makhluk-Nya yang mulia. Jangan bergantung pada bagusnya nasab sedangkan amalan begitu kurang.   Referensi: Al-Ajru Al-Kabir ‘ala Al-‘Amal Al-Yasir. Cetakan pertama, Tahun 1415 H. Muhammad Khair Ramdhan Yusuf. Penerbit Dar Ibnu Hazm. hlm. 72.   Catatan Safar #01 perjalanan Jogja – Jakarta, Senin pagi, 14 Rabi’uts Tsani 1439 H (1 Januari 2018) saat membimbing Batik Travel – Nur Ramadhan Wisata Info Umrah: 083867838752 (Mas Edi Sa’ad) Oleh hamba yang fakir dalam ilmu dan terus butuh ampunan Rabbnya, -Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsbelajar belajar agama ilmu keutamaan ilmu menolong

Menolong yang Susah Hingga Faedah Menuntut Ilmu

Ini faedah dari menolong yang susah hingga menuntut ilmu agama. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa yang meringankan kesusahan dunia saudaranya, Allah akan mengangkat kesulitannya pada hari kiamat. Siapa yang memberikan kemudahan bagi orang yang susah, Allah akan memberikan kemudahan baginya di dunia dan akhirat. Siapa yang menutup aib saudaranya, Allah akan menutup aibnya di dunia dan di akhirat. Allah senantiasa akan menolong hamba selama ia menolong saudaranya. Siapa yang menempuh jalan menuntut ilmu, Allah akan memberikan ia kemudahan menuju surga. Tidaklah suatu kaum berkumpul di rumah Allah, lalu ia membaca kitab Allah, lalu ia mengajarkan satu dan lainnya, melainkan akan turun kepadanya ketenangan, akan dinaungi rahmat, akan dikelilingi malaikat, Allah akan senantiasa menyebutnya di sisi makhluk-Nya yang mulia. Siapa yang lambat amalnya, maka kedudukan nasabnya yang mulia tidak bisa mengejar lambatnya amalnya tadi.” (HR. Muslim)   Faedah Hadits Hadits di atas menunjukkan keutamaan bagi orang yang membantu hajat kaum muslimin dengan ilmu, harta, pertolongan, memberikan maslahat hingga nasihat. Menunjukkan keutamaan berjalan untuk menuntut ilmu dengan syarat mengharap wajah Allah. Karenanya hendaklah ada waktu kita yang disibukkan dengan belajar ilmu syar’i. Berkumpul di rumah Allah untuk belajar agama juga punya keutamaan mendapatkan ketenangan, naungan rahmat, dikelilingi malaikat hingga disanjung oleh Allah di sisi makhluk-Nya yang mulia. Jangan bergantung pada bagusnya nasab sedangkan amalan begitu kurang.   Referensi: Al-Ajru Al-Kabir ‘ala Al-‘Amal Al-Yasir. Cetakan pertama, Tahun 1415 H. Muhammad Khair Ramdhan Yusuf. Penerbit Dar Ibnu Hazm. hlm. 72.   Catatan Safar #01 perjalanan Jogja – Jakarta, Senin pagi, 14 Rabi’uts Tsani 1439 H (1 Januari 2018) saat membimbing Batik Travel – Nur Ramadhan Wisata Info Umrah: 083867838752 (Mas Edi Sa’ad) Oleh hamba yang fakir dalam ilmu dan terus butuh ampunan Rabbnya, -Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsbelajar belajar agama ilmu keutamaan ilmu menolong
Ini faedah dari menolong yang susah hingga menuntut ilmu agama. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa yang meringankan kesusahan dunia saudaranya, Allah akan mengangkat kesulitannya pada hari kiamat. Siapa yang memberikan kemudahan bagi orang yang susah, Allah akan memberikan kemudahan baginya di dunia dan akhirat. Siapa yang menutup aib saudaranya, Allah akan menutup aibnya di dunia dan di akhirat. Allah senantiasa akan menolong hamba selama ia menolong saudaranya. Siapa yang menempuh jalan menuntut ilmu, Allah akan memberikan ia kemudahan menuju surga. Tidaklah suatu kaum berkumpul di rumah Allah, lalu ia membaca kitab Allah, lalu ia mengajarkan satu dan lainnya, melainkan akan turun kepadanya ketenangan, akan dinaungi rahmat, akan dikelilingi malaikat, Allah akan senantiasa menyebutnya di sisi makhluk-Nya yang mulia. Siapa yang lambat amalnya, maka kedudukan nasabnya yang mulia tidak bisa mengejar lambatnya amalnya tadi.” (HR. Muslim)   Faedah Hadits Hadits di atas menunjukkan keutamaan bagi orang yang membantu hajat kaum muslimin dengan ilmu, harta, pertolongan, memberikan maslahat hingga nasihat. Menunjukkan keutamaan berjalan untuk menuntut ilmu dengan syarat mengharap wajah Allah. Karenanya hendaklah ada waktu kita yang disibukkan dengan belajar ilmu syar’i. Berkumpul di rumah Allah untuk belajar agama juga punya keutamaan mendapatkan ketenangan, naungan rahmat, dikelilingi malaikat hingga disanjung oleh Allah di sisi makhluk-Nya yang mulia. Jangan bergantung pada bagusnya nasab sedangkan amalan begitu kurang.   Referensi: Al-Ajru Al-Kabir ‘ala Al-‘Amal Al-Yasir. Cetakan pertama, Tahun 1415 H. Muhammad Khair Ramdhan Yusuf. Penerbit Dar Ibnu Hazm. hlm. 72.   Catatan Safar #01 perjalanan Jogja – Jakarta, Senin pagi, 14 Rabi’uts Tsani 1439 H (1 Januari 2018) saat membimbing Batik Travel – Nur Ramadhan Wisata Info Umrah: 083867838752 (Mas Edi Sa’ad) Oleh hamba yang fakir dalam ilmu dan terus butuh ampunan Rabbnya, -Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsbelajar belajar agama ilmu keutamaan ilmu menolong


Ini faedah dari menolong yang susah hingga menuntut ilmu agama. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa yang meringankan kesusahan dunia saudaranya, Allah akan mengangkat kesulitannya pada hari kiamat. Siapa yang memberikan kemudahan bagi orang yang susah, Allah akan memberikan kemudahan baginya di dunia dan akhirat. Siapa yang menutup aib saudaranya, Allah akan menutup aibnya di dunia dan di akhirat. Allah senantiasa akan menolong hamba selama ia menolong saudaranya. Siapa yang menempuh jalan menuntut ilmu, Allah akan memberikan ia kemudahan menuju surga. Tidaklah suatu kaum berkumpul di rumah Allah, lalu ia membaca kitab Allah, lalu ia mengajarkan satu dan lainnya, melainkan akan turun kepadanya ketenangan, akan dinaungi rahmat, akan dikelilingi malaikat, Allah akan senantiasa menyebutnya di sisi makhluk-Nya yang mulia. Siapa yang lambat amalnya, maka kedudukan nasabnya yang mulia tidak bisa mengejar lambatnya amalnya tadi.” (HR. Muslim)   Faedah Hadits Hadits di atas menunjukkan keutamaan bagi orang yang membantu hajat kaum muslimin dengan ilmu, harta, pertolongan, memberikan maslahat hingga nasihat. Menunjukkan keutamaan berjalan untuk menuntut ilmu dengan syarat mengharap wajah Allah. Karenanya hendaklah ada waktu kita yang disibukkan dengan belajar ilmu syar’i. Berkumpul di rumah Allah untuk belajar agama juga punya keutamaan mendapatkan ketenangan, naungan rahmat, dikelilingi malaikat hingga disanjung oleh Allah di sisi makhluk-Nya yang mulia. Jangan bergantung pada bagusnya nasab sedangkan amalan begitu kurang.   Referensi: Al-Ajru Al-Kabir ‘ala Al-‘Amal Al-Yasir. Cetakan pertama, Tahun 1415 H. Muhammad Khair Ramdhan Yusuf. Penerbit Dar Ibnu Hazm. hlm. 72.   Catatan Safar #01 perjalanan Jogja – Jakarta, Senin pagi, 14 Rabi’uts Tsani 1439 H (1 Januari 2018) saat membimbing Batik Travel – Nur Ramadhan Wisata Info Umrah: 083867838752 (Mas Edi Sa’ad) Oleh hamba yang fakir dalam ilmu dan terus butuh ampunan Rabbnya, -Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsbelajar belajar agama ilmu keutamaan ilmu menolong

Makna Ulul Albab dalam al-Qur’an

Ulul Albab Apa makna Ulul Albab dan Siapakah mereka? Jawab: Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Kata ulul albab terdiri dari kata ulu [أولو] dan al-albab [الألباب]. Kata ulu [أولو] adalah bentuk jamak – yang tidak memiliki mufrad (kata tunggal) –, artinya ashab (pemilik). Dan kata ulu dalam penggunaannya dijadikan frase dengan isim dzahir (kata benda selain kata ganti). Seperti Ulu al-Quwwah [أولو القوة] artinya pemilik kekuatan, Ulu al-Maal [أولو المال] artinya pemilik harta, dst. Ditulis dengan ada huruf wawu yang pertama [أولو], namun tidak dibaca. Kata yang kedua adalah kata al-Albab [الألباب]. Kata ini adalah bentuk jamak, dan memiliki 2 kata mufrad (kata tunggal) [1] Mufradnya adalah kata al-Labab [اللَّبَبُ] yang artinya bagian dada binatang yang diikat tali agar pelana tidak lepas. [2] Mufradnya adalah kata al-Lubb [اللُّبُّ] yang artinya inti dari segala sesuatu. Kata lubbur rajul [لُبُّ الرَّجُل] artinya akal seseorang. Karena inti manusia adalah akalnya. (Lisanul Arab, Ibnul Mandzur). Dalam al-Quran, kata Ulul Albab diterjemahkan dengan orang yang berakal. Kaitannya penggunaan kata ini dengan makna bahasa, orang yang berakal disebut ulul albab, karena mereka adalah orang yang menggunakan akalnya dan akal adalah yang menjadi pengikat bagi manusia agar dia tidak melakukan tindakan yang melanggar aturan atau tindakan memalukan. Siapakah Ulul Albab? Ayat pertama yang menyebutkan kata ulul albab adalah firman Allah di surat al-Baqarah: 179. Allah berfirman, وَلَكُمْ فِي الْقِصَاصِ حَيَاةٌ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ Dan dalam qishaash itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu, hai orang-orang yang berakal, supaya kamu bertakwa. Imam as-Sa’di – rahimahullah – menjelaskan tafsir ayat ini, ولما كان هذا الحكم، لا يعرف حقيقته، إلا أهل العقول الكاملة والألباب الثقيلة، خصهم بالخطاب دون غيرهم، وهذا يدل على أن الله تعالى، يحب من عباده، أن يعملوا أفكارهم وعقولهم، في تدبر ما في أحكامه من الحكم، والمصالح الدالة على كماله، وكمال حكمته وحمده، وعدله ورحمته الواسعة، وأن من كان بهذه المثابة فقد استحق المدح بأنه من ذوي الألباب Mengingat hukum ini – qishas – tidak diketahui hakekatnya kecuali orang yang memiliki akal sempurna dan logika yang sehat, Allah mengarahkan ayat ini kepada mereka dan bukan manusia secara umum. Dan ini menunjukkan bahwa Allah memotivasi para hambanya, agar mereka menggunakan pikiran dan akal mereka untuk merenungkan hukum-hukumnya, kemaslahatan hukum yang menunjukkan kesempurnaan-Nya, kesempurnaan hikmah-Nya dan pujian-Nya, keadilan dan Rahmat-Nya yang luas. Dan orang yang memiliki kedudukan semacam ini, dia berhak mendapatkan pujian dan itulah pemilik al-Albab. (Tafsir as-Sa’di, hlm. 84). Kata Ulul Albab atau Ulil Albab disebutkan oleh Allah sebanyak 16 kali dalam al-Qur’an. Dan jika kita perhatikan penggunaan kata ini dalam al-Qur’an, kita bisa menyimpulkan, hakekat ulul albab adalah orang yang menggunakan akalnya untuk mengenal siapakah Allah, bagaimana keagungan-Nya, bagaimana kebijaksanaan-Nya, keadilan-Nya, dengan melihat ayat-ayat Allah. Baik ayat kauniyah (ciptaan-Nya) maupun ayat Syar’iyah (hukum Allah). Sehingga dia akan semakin tunduk dan taat kepada Allah. Sementara orang yang menggunakan logikanya untuk mengakali syariat, yang justru membuat dia semakin jauh dari aturan, semakin liberal, mereka bukan ulul albab. Karena ada yang cacat pada logikanya. Demikian, Allahu a’lam. Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. SPONSOR hubungi: 081 326 333 328 DONASI hubungi: 087 882 888 727 REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK 🔍 Daging Aqiqah Harus Habis Dalam Sehari, Arwah Setelah Meninggal, Apa Perbedaan Nabi Dan Rosul, April Mop Dalam Islam, Tasyahud Awal, Hukum Solat Visited 483 times, 1 visit(s) today Post Views: 432 QRIS donasi Yufid

Makna Ulul Albab dalam al-Qur’an

Ulul Albab Apa makna Ulul Albab dan Siapakah mereka? Jawab: Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Kata ulul albab terdiri dari kata ulu [أولو] dan al-albab [الألباب]. Kata ulu [أولو] adalah bentuk jamak – yang tidak memiliki mufrad (kata tunggal) –, artinya ashab (pemilik). Dan kata ulu dalam penggunaannya dijadikan frase dengan isim dzahir (kata benda selain kata ganti). Seperti Ulu al-Quwwah [أولو القوة] artinya pemilik kekuatan, Ulu al-Maal [أولو المال] artinya pemilik harta, dst. Ditulis dengan ada huruf wawu yang pertama [أولو], namun tidak dibaca. Kata yang kedua adalah kata al-Albab [الألباب]. Kata ini adalah bentuk jamak, dan memiliki 2 kata mufrad (kata tunggal) [1] Mufradnya adalah kata al-Labab [اللَّبَبُ] yang artinya bagian dada binatang yang diikat tali agar pelana tidak lepas. [2] Mufradnya adalah kata al-Lubb [اللُّبُّ] yang artinya inti dari segala sesuatu. Kata lubbur rajul [لُبُّ الرَّجُل] artinya akal seseorang. Karena inti manusia adalah akalnya. (Lisanul Arab, Ibnul Mandzur). Dalam al-Quran, kata Ulul Albab diterjemahkan dengan orang yang berakal. Kaitannya penggunaan kata ini dengan makna bahasa, orang yang berakal disebut ulul albab, karena mereka adalah orang yang menggunakan akalnya dan akal adalah yang menjadi pengikat bagi manusia agar dia tidak melakukan tindakan yang melanggar aturan atau tindakan memalukan. Siapakah Ulul Albab? Ayat pertama yang menyebutkan kata ulul albab adalah firman Allah di surat al-Baqarah: 179. Allah berfirman, وَلَكُمْ فِي الْقِصَاصِ حَيَاةٌ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ Dan dalam qishaash itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu, hai orang-orang yang berakal, supaya kamu bertakwa. Imam as-Sa’di – rahimahullah – menjelaskan tafsir ayat ini, ولما كان هذا الحكم، لا يعرف حقيقته، إلا أهل العقول الكاملة والألباب الثقيلة، خصهم بالخطاب دون غيرهم، وهذا يدل على أن الله تعالى، يحب من عباده، أن يعملوا أفكارهم وعقولهم، في تدبر ما في أحكامه من الحكم، والمصالح الدالة على كماله، وكمال حكمته وحمده، وعدله ورحمته الواسعة، وأن من كان بهذه المثابة فقد استحق المدح بأنه من ذوي الألباب Mengingat hukum ini – qishas – tidak diketahui hakekatnya kecuali orang yang memiliki akal sempurna dan logika yang sehat, Allah mengarahkan ayat ini kepada mereka dan bukan manusia secara umum. Dan ini menunjukkan bahwa Allah memotivasi para hambanya, agar mereka menggunakan pikiran dan akal mereka untuk merenungkan hukum-hukumnya, kemaslahatan hukum yang menunjukkan kesempurnaan-Nya, kesempurnaan hikmah-Nya dan pujian-Nya, keadilan dan Rahmat-Nya yang luas. Dan orang yang memiliki kedudukan semacam ini, dia berhak mendapatkan pujian dan itulah pemilik al-Albab. (Tafsir as-Sa’di, hlm. 84). Kata Ulul Albab atau Ulil Albab disebutkan oleh Allah sebanyak 16 kali dalam al-Qur’an. Dan jika kita perhatikan penggunaan kata ini dalam al-Qur’an, kita bisa menyimpulkan, hakekat ulul albab adalah orang yang menggunakan akalnya untuk mengenal siapakah Allah, bagaimana keagungan-Nya, bagaimana kebijaksanaan-Nya, keadilan-Nya, dengan melihat ayat-ayat Allah. Baik ayat kauniyah (ciptaan-Nya) maupun ayat Syar’iyah (hukum Allah). Sehingga dia akan semakin tunduk dan taat kepada Allah. Sementara orang yang menggunakan logikanya untuk mengakali syariat, yang justru membuat dia semakin jauh dari aturan, semakin liberal, mereka bukan ulul albab. Karena ada yang cacat pada logikanya. Demikian, Allahu a’lam. Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. SPONSOR hubungi: 081 326 333 328 DONASI hubungi: 087 882 888 727 REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK 🔍 Daging Aqiqah Harus Habis Dalam Sehari, Arwah Setelah Meninggal, Apa Perbedaan Nabi Dan Rosul, April Mop Dalam Islam, Tasyahud Awal, Hukum Solat Visited 483 times, 1 visit(s) today Post Views: 432 QRIS donasi Yufid
Ulul Albab Apa makna Ulul Albab dan Siapakah mereka? Jawab: Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Kata ulul albab terdiri dari kata ulu [أولو] dan al-albab [الألباب]. Kata ulu [أولو] adalah bentuk jamak – yang tidak memiliki mufrad (kata tunggal) –, artinya ashab (pemilik). Dan kata ulu dalam penggunaannya dijadikan frase dengan isim dzahir (kata benda selain kata ganti). Seperti Ulu al-Quwwah [أولو القوة] artinya pemilik kekuatan, Ulu al-Maal [أولو المال] artinya pemilik harta, dst. Ditulis dengan ada huruf wawu yang pertama [أولو], namun tidak dibaca. Kata yang kedua adalah kata al-Albab [الألباب]. Kata ini adalah bentuk jamak, dan memiliki 2 kata mufrad (kata tunggal) [1] Mufradnya adalah kata al-Labab [اللَّبَبُ] yang artinya bagian dada binatang yang diikat tali agar pelana tidak lepas. [2] Mufradnya adalah kata al-Lubb [اللُّبُّ] yang artinya inti dari segala sesuatu. Kata lubbur rajul [لُبُّ الرَّجُل] artinya akal seseorang. Karena inti manusia adalah akalnya. (Lisanul Arab, Ibnul Mandzur). Dalam al-Quran, kata Ulul Albab diterjemahkan dengan orang yang berakal. Kaitannya penggunaan kata ini dengan makna bahasa, orang yang berakal disebut ulul albab, karena mereka adalah orang yang menggunakan akalnya dan akal adalah yang menjadi pengikat bagi manusia agar dia tidak melakukan tindakan yang melanggar aturan atau tindakan memalukan. Siapakah Ulul Albab? Ayat pertama yang menyebutkan kata ulul albab adalah firman Allah di surat al-Baqarah: 179. Allah berfirman, وَلَكُمْ فِي الْقِصَاصِ حَيَاةٌ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ Dan dalam qishaash itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu, hai orang-orang yang berakal, supaya kamu bertakwa. Imam as-Sa’di – rahimahullah – menjelaskan tafsir ayat ini, ولما كان هذا الحكم، لا يعرف حقيقته، إلا أهل العقول الكاملة والألباب الثقيلة، خصهم بالخطاب دون غيرهم، وهذا يدل على أن الله تعالى، يحب من عباده، أن يعملوا أفكارهم وعقولهم، في تدبر ما في أحكامه من الحكم، والمصالح الدالة على كماله، وكمال حكمته وحمده، وعدله ورحمته الواسعة، وأن من كان بهذه المثابة فقد استحق المدح بأنه من ذوي الألباب Mengingat hukum ini – qishas – tidak diketahui hakekatnya kecuali orang yang memiliki akal sempurna dan logika yang sehat, Allah mengarahkan ayat ini kepada mereka dan bukan manusia secara umum. Dan ini menunjukkan bahwa Allah memotivasi para hambanya, agar mereka menggunakan pikiran dan akal mereka untuk merenungkan hukum-hukumnya, kemaslahatan hukum yang menunjukkan kesempurnaan-Nya, kesempurnaan hikmah-Nya dan pujian-Nya, keadilan dan Rahmat-Nya yang luas. Dan orang yang memiliki kedudukan semacam ini, dia berhak mendapatkan pujian dan itulah pemilik al-Albab. (Tafsir as-Sa’di, hlm. 84). Kata Ulul Albab atau Ulil Albab disebutkan oleh Allah sebanyak 16 kali dalam al-Qur’an. Dan jika kita perhatikan penggunaan kata ini dalam al-Qur’an, kita bisa menyimpulkan, hakekat ulul albab adalah orang yang menggunakan akalnya untuk mengenal siapakah Allah, bagaimana keagungan-Nya, bagaimana kebijaksanaan-Nya, keadilan-Nya, dengan melihat ayat-ayat Allah. Baik ayat kauniyah (ciptaan-Nya) maupun ayat Syar’iyah (hukum Allah). Sehingga dia akan semakin tunduk dan taat kepada Allah. Sementara orang yang menggunakan logikanya untuk mengakali syariat, yang justru membuat dia semakin jauh dari aturan, semakin liberal, mereka bukan ulul albab. Karena ada yang cacat pada logikanya. Demikian, Allahu a’lam. Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. SPONSOR hubungi: 081 326 333 328 DONASI hubungi: 087 882 888 727 REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK 🔍 Daging Aqiqah Harus Habis Dalam Sehari, Arwah Setelah Meninggal, Apa Perbedaan Nabi Dan Rosul, April Mop Dalam Islam, Tasyahud Awal, Hukum Solat Visited 483 times, 1 visit(s) today Post Views: 432 QRIS donasi Yufid


<iframe src="https://w.soundcloud.com/player/?url=https%3A//api.soundcloud.com/tracks/380911967&amp;color=d5265f&amp;auto_play=false&amp;show_artwork=false&amp;hide_related=true&amp;show_comments=false&amp;show_user=false&amp;show_reposts=false" width="100%" height="166" frameborder="no" scrolling="no"></iframe> Ulul Albab Apa makna Ulul Albab dan Siapakah mereka? Jawab: Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Kata ulul albab terdiri dari kata ulu [أولو] dan al-albab [الألباب]. Kata ulu [أولو] adalah bentuk jamak – yang tidak memiliki mufrad (kata tunggal) –, artinya ashab (pemilik). Dan kata ulu dalam penggunaannya dijadikan frase dengan isim dzahir (kata benda selain kata ganti). Seperti Ulu al-Quwwah [أولو القوة] artinya pemilik kekuatan, Ulu al-Maal [أولو المال] artinya pemilik harta, dst. Ditulis dengan ada huruf wawu yang pertama [أولو], namun tidak dibaca. Kata yang kedua adalah kata al-Albab [الألباب]. Kata ini adalah bentuk jamak, dan memiliki 2 kata mufrad (kata tunggal) [1] Mufradnya adalah kata al-Labab [اللَّبَبُ] yang artinya bagian dada binatang yang diikat tali agar pelana tidak lepas. [2] Mufradnya adalah kata al-Lubb [اللُّبُّ] yang artinya inti dari segala sesuatu. Kata lubbur rajul [لُبُّ الرَّجُل] artinya akal seseorang. Karena inti manusia adalah akalnya. (Lisanul Arab, Ibnul Mandzur). Dalam al-Quran, kata Ulul Albab diterjemahkan dengan orang yang berakal. Kaitannya penggunaan kata ini dengan makna bahasa, orang yang berakal disebut ulul albab, karena mereka adalah orang yang menggunakan akalnya dan akal adalah yang menjadi pengikat bagi manusia agar dia tidak melakukan tindakan yang melanggar aturan atau tindakan memalukan. Siapakah Ulul Albab? Ayat pertama yang menyebutkan kata ulul albab adalah firman Allah di surat al-Baqarah: 179. Allah berfirman, وَلَكُمْ فِي الْقِصَاصِ حَيَاةٌ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ Dan dalam qishaash itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu, hai orang-orang yang berakal, supaya kamu bertakwa. Imam as-Sa’di – rahimahullah – menjelaskan tafsir ayat ini, ولما كان هذا الحكم، لا يعرف حقيقته، إلا أهل العقول الكاملة والألباب الثقيلة، خصهم بالخطاب دون غيرهم، وهذا يدل على أن الله تعالى، يحب من عباده، أن يعملوا أفكارهم وعقولهم، في تدبر ما في أحكامه من الحكم، والمصالح الدالة على كماله، وكمال حكمته وحمده، وعدله ورحمته الواسعة، وأن من كان بهذه المثابة فقد استحق المدح بأنه من ذوي الألباب Mengingat hukum ini – qishas – tidak diketahui hakekatnya kecuali orang yang memiliki akal sempurna dan logika yang sehat, Allah mengarahkan ayat ini kepada mereka dan bukan manusia secara umum. Dan ini menunjukkan bahwa Allah memotivasi para hambanya, agar mereka menggunakan pikiran dan akal mereka untuk merenungkan hukum-hukumnya, kemaslahatan hukum yang menunjukkan kesempurnaan-Nya, kesempurnaan hikmah-Nya dan pujian-Nya, keadilan dan Rahmat-Nya yang luas. Dan orang yang memiliki kedudukan semacam ini, dia berhak mendapatkan pujian dan itulah pemilik al-Albab. (Tafsir as-Sa’di, hlm. 84). Kata Ulul Albab atau Ulil Albab disebutkan oleh Allah sebanyak 16 kali dalam al-Qur’an. Dan jika kita perhatikan penggunaan kata ini dalam al-Qur’an, kita bisa menyimpulkan, hakekat ulul albab adalah orang yang menggunakan akalnya untuk mengenal siapakah Allah, bagaimana keagungan-Nya, bagaimana kebijaksanaan-Nya, keadilan-Nya, dengan melihat ayat-ayat Allah. Baik ayat kauniyah (ciptaan-Nya) maupun ayat Syar’iyah (hukum Allah). Sehingga dia akan semakin tunduk dan taat kepada Allah. Sementara orang yang menggunakan logikanya untuk mengakali syariat, yang justru membuat dia semakin jauh dari aturan, semakin liberal, mereka bukan ulul albab. Karena ada yang cacat pada logikanya. Demikian, Allahu a’lam. Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. SPONSOR hubungi: 081 326 333 328 DONASI hubungi: 087 882 888 727 REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK 🔍 Daging Aqiqah Harus Habis Dalam Sehari, Arwah Setelah Meninggal, Apa Perbedaan Nabi Dan Rosul, April Mop Dalam Islam, Tasyahud Awal, Hukum Solat Visited 483 times, 1 visit(s) today Post Views: 432 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Memberikan Tenggang Waktu

Tolonglah orang yang susah dan berikan tenggang waktu. Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ada orang sebelum kalian yang dihisab dan tidak didapati kebaikan padanya sama sekali. Namun ia adalah orang yang berkecukupan ketika bergaul dengan sesama, ia berikan kemudahan (kelapangan) kepada orang yang susah (dalam hal peminjaman dan pelunasan, pen.). Ia berkata, ‘Allah ‘azza wa jalla berfirman, Kami lebih berhak dalam hal ini daripada dia, maka hapuskanlah kesalahan-kesalahannya.’” (HR. Muslim, dalam Bab Keutamaan Memberikan Tenggang Waktu kepada Yang Susah) Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ada pedagang yang memberikan pinjaman utang pada lainnya. Jika ia melihat orang yang sulit dalam melunasi utang, ia mengatakan kepada pembantunya, ‘Berilah kelapangan baginya dalam berutang (dan melunasinya, pen.), moga Allah memaafkan kesalahan-kesalahan kita. Akhirnya Allah benar-benar memaafkannya.’” (HR. Bukhari, dalam Bab Siapa yang Memberikan Tenggang Waktu pada Orang yang Susah) Dalam Syarh Shahih Muslim dijelaskan bahwa maksud ‘tajawuz’ dalam hadits adalah memberikan kemudahan ketika ada yang meminjam dan melunasinya. Ia siap menerima pengembalian utang walau ada kekurangan sedikit. Hadits ini juga mendorong kita untuk memberikan tenggang waktu kepada orang yang susah, juga keutamaan menghapus utang baik semua utang atau sebagiannya, dari utang yang jumlahnya banyak maupun sedikit. Demikian keterangan Imam Nawawi. Hal di atas memang berat apalagi kalau kita berhadapan dengan orang-orang yang tidak amanat. Dan kami yakin di antara kita pernah dikhianati oleh orang-orang yang meminjam uang pada kita. Solusinya, terus bersabar, berharap pahala dari Allah, terus mengingatkan dia dengan kata-kata yang santun. Moga tidak terulang lagi meminjamkan uang padanya. —- Catatan perjalanan Jakarta – Muscat – Madinah, Senin sore, 14 Rabi’uts Tsani 1439 H (1 Januari 2018) saat membimbing Batik Travel – Nur Ramadhan Wisata Info Umrah: 083867838752 (Mas Edi Sa’ad) Oleh hamba yang fakir dalam ilmu dan terus butuh ampunan Rabbnya, -Muhammad Abduh Tuasikal (Pengasuh Rumaysho)   Artikel Rumaysho.Com Tagsutang utang piutag

Memberikan Tenggang Waktu

Tolonglah orang yang susah dan berikan tenggang waktu. Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ada orang sebelum kalian yang dihisab dan tidak didapati kebaikan padanya sama sekali. Namun ia adalah orang yang berkecukupan ketika bergaul dengan sesama, ia berikan kemudahan (kelapangan) kepada orang yang susah (dalam hal peminjaman dan pelunasan, pen.). Ia berkata, ‘Allah ‘azza wa jalla berfirman, Kami lebih berhak dalam hal ini daripada dia, maka hapuskanlah kesalahan-kesalahannya.’” (HR. Muslim, dalam Bab Keutamaan Memberikan Tenggang Waktu kepada Yang Susah) Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ada pedagang yang memberikan pinjaman utang pada lainnya. Jika ia melihat orang yang sulit dalam melunasi utang, ia mengatakan kepada pembantunya, ‘Berilah kelapangan baginya dalam berutang (dan melunasinya, pen.), moga Allah memaafkan kesalahan-kesalahan kita. Akhirnya Allah benar-benar memaafkannya.’” (HR. Bukhari, dalam Bab Siapa yang Memberikan Tenggang Waktu pada Orang yang Susah) Dalam Syarh Shahih Muslim dijelaskan bahwa maksud ‘tajawuz’ dalam hadits adalah memberikan kemudahan ketika ada yang meminjam dan melunasinya. Ia siap menerima pengembalian utang walau ada kekurangan sedikit. Hadits ini juga mendorong kita untuk memberikan tenggang waktu kepada orang yang susah, juga keutamaan menghapus utang baik semua utang atau sebagiannya, dari utang yang jumlahnya banyak maupun sedikit. Demikian keterangan Imam Nawawi. Hal di atas memang berat apalagi kalau kita berhadapan dengan orang-orang yang tidak amanat. Dan kami yakin di antara kita pernah dikhianati oleh orang-orang yang meminjam uang pada kita. Solusinya, terus bersabar, berharap pahala dari Allah, terus mengingatkan dia dengan kata-kata yang santun. Moga tidak terulang lagi meminjamkan uang padanya. —- Catatan perjalanan Jakarta – Muscat – Madinah, Senin sore, 14 Rabi’uts Tsani 1439 H (1 Januari 2018) saat membimbing Batik Travel – Nur Ramadhan Wisata Info Umrah: 083867838752 (Mas Edi Sa’ad) Oleh hamba yang fakir dalam ilmu dan terus butuh ampunan Rabbnya, -Muhammad Abduh Tuasikal (Pengasuh Rumaysho)   Artikel Rumaysho.Com Tagsutang utang piutag
Tolonglah orang yang susah dan berikan tenggang waktu. Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ada orang sebelum kalian yang dihisab dan tidak didapati kebaikan padanya sama sekali. Namun ia adalah orang yang berkecukupan ketika bergaul dengan sesama, ia berikan kemudahan (kelapangan) kepada orang yang susah (dalam hal peminjaman dan pelunasan, pen.). Ia berkata, ‘Allah ‘azza wa jalla berfirman, Kami lebih berhak dalam hal ini daripada dia, maka hapuskanlah kesalahan-kesalahannya.’” (HR. Muslim, dalam Bab Keutamaan Memberikan Tenggang Waktu kepada Yang Susah) Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ada pedagang yang memberikan pinjaman utang pada lainnya. Jika ia melihat orang yang sulit dalam melunasi utang, ia mengatakan kepada pembantunya, ‘Berilah kelapangan baginya dalam berutang (dan melunasinya, pen.), moga Allah memaafkan kesalahan-kesalahan kita. Akhirnya Allah benar-benar memaafkannya.’” (HR. Bukhari, dalam Bab Siapa yang Memberikan Tenggang Waktu pada Orang yang Susah) Dalam Syarh Shahih Muslim dijelaskan bahwa maksud ‘tajawuz’ dalam hadits adalah memberikan kemudahan ketika ada yang meminjam dan melunasinya. Ia siap menerima pengembalian utang walau ada kekurangan sedikit. Hadits ini juga mendorong kita untuk memberikan tenggang waktu kepada orang yang susah, juga keutamaan menghapus utang baik semua utang atau sebagiannya, dari utang yang jumlahnya banyak maupun sedikit. Demikian keterangan Imam Nawawi. Hal di atas memang berat apalagi kalau kita berhadapan dengan orang-orang yang tidak amanat. Dan kami yakin di antara kita pernah dikhianati oleh orang-orang yang meminjam uang pada kita. Solusinya, terus bersabar, berharap pahala dari Allah, terus mengingatkan dia dengan kata-kata yang santun. Moga tidak terulang lagi meminjamkan uang padanya. —- Catatan perjalanan Jakarta – Muscat – Madinah, Senin sore, 14 Rabi’uts Tsani 1439 H (1 Januari 2018) saat membimbing Batik Travel – Nur Ramadhan Wisata Info Umrah: 083867838752 (Mas Edi Sa’ad) Oleh hamba yang fakir dalam ilmu dan terus butuh ampunan Rabbnya, -Muhammad Abduh Tuasikal (Pengasuh Rumaysho)   Artikel Rumaysho.Com Tagsutang utang piutag


Tolonglah orang yang susah dan berikan tenggang waktu. Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ada orang sebelum kalian yang dihisab dan tidak didapati kebaikan padanya sama sekali. Namun ia adalah orang yang berkecukupan ketika bergaul dengan sesama, ia berikan kemudahan (kelapangan) kepada orang yang susah (dalam hal peminjaman dan pelunasan, pen.). Ia berkata, ‘Allah ‘azza wa jalla berfirman, Kami lebih berhak dalam hal ini daripada dia, maka hapuskanlah kesalahan-kesalahannya.’” (HR. Muslim, dalam Bab Keutamaan Memberikan Tenggang Waktu kepada Yang Susah) Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ada pedagang yang memberikan pinjaman utang pada lainnya. Jika ia melihat orang yang sulit dalam melunasi utang, ia mengatakan kepada pembantunya, ‘Berilah kelapangan baginya dalam berutang (dan melunasinya, pen.), moga Allah memaafkan kesalahan-kesalahan kita. Akhirnya Allah benar-benar memaafkannya.’” (HR. Bukhari, dalam Bab Siapa yang Memberikan Tenggang Waktu pada Orang yang Susah) Dalam Syarh Shahih Muslim dijelaskan bahwa maksud ‘tajawuz’ dalam hadits adalah memberikan kemudahan ketika ada yang meminjam dan melunasinya. Ia siap menerima pengembalian utang walau ada kekurangan sedikit. Hadits ini juga mendorong kita untuk memberikan tenggang waktu kepada orang yang susah, juga keutamaan menghapus utang baik semua utang atau sebagiannya, dari utang yang jumlahnya banyak maupun sedikit. Demikian keterangan Imam Nawawi. Hal di atas memang berat apalagi kalau kita berhadapan dengan orang-orang yang tidak amanat. Dan kami yakin di antara kita pernah dikhianati oleh orang-orang yang meminjam uang pada kita. Solusinya, terus bersabar, berharap pahala dari Allah, terus mengingatkan dia dengan kata-kata yang santun. Moga tidak terulang lagi meminjamkan uang padanya. —- Catatan perjalanan Jakarta – Muscat – Madinah, Senin sore, 14 Rabi’uts Tsani 1439 H (1 Januari 2018) saat membimbing Batik Travel – Nur Ramadhan Wisata Info Umrah: 083867838752 (Mas Edi Sa’ad) Oleh hamba yang fakir dalam ilmu dan terus butuh ampunan Rabbnya, -Muhammad Abduh Tuasikal (Pengasuh Rumaysho)   Artikel Rumaysho.Com Tagsutang utang piutag
Prev     Next