Allah Sangat Sayang kepada Hamba-Nya Melebihi Kasih Sayang Ibu

Seorang hamba harus mengenal Rabb-nya, harus mengenal Allah, agar ia cinta kepada Allah dan Allah cinta kepadanya. Perlu diketahui dari salah satu sifat Allah bahwa Allah sangat sayang kepada hamba-Nya melebihi kasih sayang ibu kepada anaknya. Kita sangat tahu bagaimana kasih sayang seorang ibu kepada anaknya yang mungkin tidak ada tandingannya di dunia ini, akan tetapi kita sangat perlu tahu bahwa kasih sayang Allah melebihi itu semua.Perhatikan hadits berikut, Dari Umar bin Al Khattab radhiallahu ‘anhu , beliau menuturkan:ﻗﺪﻡ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺳﺒﻲ، ﻓﺈﺫﺍ ﺍﻣﺮﺃﺓ ﻣﻦ ﺍﻟﺴﺒﻲ ﻗﺪ ﺗﺤﻠﺐ ﺛﺪﻳﻬﺎ ﺗﺴﻘﻲ، ﺇﺫﺍ ﻭﺟﺪﺕ ﺻﺒﻴﺎً ﻓﻲ ﺍﻟﺴﺒﻲ ﺃﺧﺬﺗﻪ، ﻓﺄﻟﺼﻘﺘﻪ ﺑﺒﻄﻨﻬﺎ ﻭﺃﺭﺿﻌﺘﻪ، ﻓﻘﺎﻝ ﻟﻨﺎ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ : (ﺃﺗﺮﻭﻥ ﻫﺬﻩ ﻃﺎﺭﺣﺔ ﻭﻟﺪﻫﺎ ﻓﻲ ﺍﻟﻨﺎﺭ ). ﻗﻠﻨﺎ: ﻻ، ﻭﻫﻲ ﺗﻘﺪﺭ ﻋﻠﻰ ﺃﻥ ﻻ ﺗﻄﺮﺣﻪ، ﻓﻘﺎﻝ: (ﻟﻠﻪ ﺃﺭﺣﻢ ﺑﻌﺒﺎﺩﻩ ﻣﻦ ﻫﺬﻩ ﺑﻮﻟﺪﻫﺎRasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kedatangan rombongan tawanan perang. Di tengah-tengah rombongan itu ada seorang ibu yang sedang mencari-cari bayinya.Tatkala dia berhasil menemukan bayinya di antara tawanan itu, maka dia pun memeluknya erat-erat ke tubuhnya dan menyusuinya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepada kami, “Apakah menurut kalian ibu ini akan tega melemparkan anaknya ke dalam kobaran api?”Kami menjawab, “Tidak mungkin, demi Allah. Sementara dia sanggup untuk mencegah bayinya terlempar ke dalamnya.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sungguh Allah lebih sayang kepada hamba-hamba-Nya daripada ibu ini kepada anaknya.” (HR. Bukhari dan Muslim)Apabila seorang Ibu tersebut tidak tega melempar anaknya ke dalam api, maka Allah tentu lebih tidak tega lagi melempar dan mencampakkan hamba-Nya ke dalam api neraka, akan tetapi apa yang terjadi? Hamba tersebut tidak mau mengenal Allah, tidak peduli kepada Allah dan agama-Nya, bahkan ia lari jauh dari Allah. Bagaimana Allah bisa sayang kepada hamba tersebut?Kita diperintahkan untuk mengenal Allah dan “lari” menuju Allah. Allah berfirman,فَفِرُّوا إِلَى اللهِ إِنِّي لَكُمْ مِنْهُ نَذِيرٌ مُبِينٌ“Maka segera berlarilah kalian (kembali) menuju Allah. Sungguh aku (Rasul) seorang pemberi peringatan yang nyata dari-Nya bagi kalian.” (adz-Dzaariyaat: 50) Hendaknya tidak terlalu yakin bahwa kita hamba kesayangan AllahMaksudnya adalah jangan sampai kita tertipu dengan berbagai nikmat dan kemudahan yang diberikan oleh Allah di dunia ini. Hendaknya kita TIDAk HANYA bersandar dengan sifat “Allah sangat sayang kepada hamba-Nya” yang menyebabkan kita lupa dan lalai bahwa Alah juga memiliki azdab yang besar dan pedih.Allah berfirman,نَبِّئْ عِبَادِي أَنِّي أَنَا الْغَفُورُ الرَّحِيمُ . وَ أَنَّ عَذَابِي هُوَ الْعَذَابُ الأَلِيمَArtinya: “Kabarkanlah pada para hamba-Ku, bahwa sesungguhnya Aku-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan bahwa sesungguhnya azab-Ku adalah azab yang sangat pedih”. (Q.s. Al-Hijr: 49-50).Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menggambarkan bagaimana kasih sayang dan adzab Allah. Beliau bersabda,لَوْ يَعْلَمُ الْمُؤْمِنُ مَا عِنْدَ اللَّهِ مِنْ الْعُقُوبَةِ مَا طَمِعَ بِجَنَّتِهِ أَحَدٌ، وَلَوْ يَعْلَمُ الْكَافِرُ مَا عِنْدَ اللَّهِ مِنْ الرَّحْمَةِ مَا قَنَطَ مِنْ جَنَّتِهِ أَحَدٌ“Andaikan mukmin mengetahui azab yang disediakan Allah; niscaya tidak ada seorangpun yang berharap bisa mendapatkan surga-Nya. Dan seandainya orang kafir mengetahui kasih sayang yang ada pada Allah; niscaya tak ada seorangpun yang tidak berharap bisa meraih surga-Nya”. (HR. Muslim)Hendaknya seorang muslim berhati-hati nikmat yang terus-menerus dan disertai keadaan tidak mengenal Allah bisa jadi adalah Istidraj (semacam jebakan). Istidraj yaitu Allah berikan dunia kepada seorang hamba, ia hanya bersenang-senang saja akan tetapi hakikatnya Allah sudah tidak peduli kepadanya. Ia hanya akan menunggu balasannya di hari kiamat dan hanya “bersenang-senanglah” sebentar saja.Contoh Istidraj misalnya seorang hamba memiliki bisnis yang lancar dan omset yang terus meningkat, akan tetapi ia melalaikan shalat. Seorang wanita yang karir dan jabatan terus naik meninggi, akan tetapi ia tidak memakai hijab. Bagaikan seorang ibu yang memberikan gadget pada anak kecilnya kemudia ia berkata “mainlah sepuas nak, seharian”.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda mengenai istidraj,إِذَا رَأَيْتَ اللهَ تَعَالَى يُعْطِي الْعَبْدَ مِنَ الدُّنْيَا مَا يُحِبُّ وَهُوَ مُقِيمٌ عَلَى مَعَاصِيْهِ فَإِنَّمَا ذَلِكَ مِنهُ اسْتِدْرَاجٌ“Bila engkau melihat Allah Ta’ala memberi hamba dari (perkara) dunia yang diinginkannya, padahal dia terus berada dalam kemaksiatan kepada-Nya, maka (ketahuilah) bahwa hal itu adalah istidraj (jebakan) dari Allah.” (HR. Ahmad, lihat Shahihul Jami’ no. 561)Demikian juga istidraj dalam ayat berikut yang disebut dengan makar Allah,أَفَأَمِنُواْ مَكْرَ اللّهِ فَلاَ يَأْمَنُ مَكْرَ اللّهِ إِلاَّ الْقَوْمُ الْخَاسِرُونَ“Maka apakah mereka merasa aman dari makar Allah (yang tidak terduga-duga)? Tiada yang merasa aman dan makar Allah kecuali orang-orang yang merugi.” (Al-A’raf: 99)Syaikh Muhammad bin Abdul Aziz Al-Qar’awi menjelaskan,مكر الله: هو استدراج العاصي بالنعم… حيث إنهم لم يُقدِّروا الله حق قدره، ولم يخشوا استدراجه لهم بالنعم وهم مقيمون على معصيته حتى نزل بهم سخط الله، وحلت بهم نقمته“Makar Allah adalah istidraj bagi pelaku maksiat dengan memberikan kenikmatan/kebahagiaan… mereka tidak memuliakan Allah sesuai dengan hak-Nya. Mereka tidak merasa khawatir [tenang-tenang saja] dengan istidraj [jebakan] kenikmatan-kenikmatan bagi mereka, padahal mereka terus-menerus berada dalam kemaksiatan sehingga turunlah bagi mereka murka Allah dan menimpa mereka azab dari Allah.”(Al-Jadid fii Syarhi Kitabit tauhid hal. 306, Maktabah As-Sawadi)Demikian semoga bermanfaat@ Yogyakarta TercintaPenyusun: Raehanul BahraenArtikel www.muslim.or.id🔍 Keutamaan Sholat Subuh, Ada Berapa Pintu Surga, Yaumuddin Artinya, Memilih Suami Menurut Islam, Ayat Yang Pertama Kali Turun

Allah Sangat Sayang kepada Hamba-Nya Melebihi Kasih Sayang Ibu

Seorang hamba harus mengenal Rabb-nya, harus mengenal Allah, agar ia cinta kepada Allah dan Allah cinta kepadanya. Perlu diketahui dari salah satu sifat Allah bahwa Allah sangat sayang kepada hamba-Nya melebihi kasih sayang ibu kepada anaknya. Kita sangat tahu bagaimana kasih sayang seorang ibu kepada anaknya yang mungkin tidak ada tandingannya di dunia ini, akan tetapi kita sangat perlu tahu bahwa kasih sayang Allah melebihi itu semua.Perhatikan hadits berikut, Dari Umar bin Al Khattab radhiallahu ‘anhu , beliau menuturkan:ﻗﺪﻡ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺳﺒﻲ، ﻓﺈﺫﺍ ﺍﻣﺮﺃﺓ ﻣﻦ ﺍﻟﺴﺒﻲ ﻗﺪ ﺗﺤﻠﺐ ﺛﺪﻳﻬﺎ ﺗﺴﻘﻲ، ﺇﺫﺍ ﻭﺟﺪﺕ ﺻﺒﻴﺎً ﻓﻲ ﺍﻟﺴﺒﻲ ﺃﺧﺬﺗﻪ، ﻓﺄﻟﺼﻘﺘﻪ ﺑﺒﻄﻨﻬﺎ ﻭﺃﺭﺿﻌﺘﻪ، ﻓﻘﺎﻝ ﻟﻨﺎ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ : (ﺃﺗﺮﻭﻥ ﻫﺬﻩ ﻃﺎﺭﺣﺔ ﻭﻟﺪﻫﺎ ﻓﻲ ﺍﻟﻨﺎﺭ ). ﻗﻠﻨﺎ: ﻻ، ﻭﻫﻲ ﺗﻘﺪﺭ ﻋﻠﻰ ﺃﻥ ﻻ ﺗﻄﺮﺣﻪ، ﻓﻘﺎﻝ: (ﻟﻠﻪ ﺃﺭﺣﻢ ﺑﻌﺒﺎﺩﻩ ﻣﻦ ﻫﺬﻩ ﺑﻮﻟﺪﻫﺎRasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kedatangan rombongan tawanan perang. Di tengah-tengah rombongan itu ada seorang ibu yang sedang mencari-cari bayinya.Tatkala dia berhasil menemukan bayinya di antara tawanan itu, maka dia pun memeluknya erat-erat ke tubuhnya dan menyusuinya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepada kami, “Apakah menurut kalian ibu ini akan tega melemparkan anaknya ke dalam kobaran api?”Kami menjawab, “Tidak mungkin, demi Allah. Sementara dia sanggup untuk mencegah bayinya terlempar ke dalamnya.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sungguh Allah lebih sayang kepada hamba-hamba-Nya daripada ibu ini kepada anaknya.” (HR. Bukhari dan Muslim)Apabila seorang Ibu tersebut tidak tega melempar anaknya ke dalam api, maka Allah tentu lebih tidak tega lagi melempar dan mencampakkan hamba-Nya ke dalam api neraka, akan tetapi apa yang terjadi? Hamba tersebut tidak mau mengenal Allah, tidak peduli kepada Allah dan agama-Nya, bahkan ia lari jauh dari Allah. Bagaimana Allah bisa sayang kepada hamba tersebut?Kita diperintahkan untuk mengenal Allah dan “lari” menuju Allah. Allah berfirman,فَفِرُّوا إِلَى اللهِ إِنِّي لَكُمْ مِنْهُ نَذِيرٌ مُبِينٌ“Maka segera berlarilah kalian (kembali) menuju Allah. Sungguh aku (Rasul) seorang pemberi peringatan yang nyata dari-Nya bagi kalian.” (adz-Dzaariyaat: 50) Hendaknya tidak terlalu yakin bahwa kita hamba kesayangan AllahMaksudnya adalah jangan sampai kita tertipu dengan berbagai nikmat dan kemudahan yang diberikan oleh Allah di dunia ini. Hendaknya kita TIDAk HANYA bersandar dengan sifat “Allah sangat sayang kepada hamba-Nya” yang menyebabkan kita lupa dan lalai bahwa Alah juga memiliki azdab yang besar dan pedih.Allah berfirman,نَبِّئْ عِبَادِي أَنِّي أَنَا الْغَفُورُ الرَّحِيمُ . وَ أَنَّ عَذَابِي هُوَ الْعَذَابُ الأَلِيمَArtinya: “Kabarkanlah pada para hamba-Ku, bahwa sesungguhnya Aku-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan bahwa sesungguhnya azab-Ku adalah azab yang sangat pedih”. (Q.s. Al-Hijr: 49-50).Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menggambarkan bagaimana kasih sayang dan adzab Allah. Beliau bersabda,لَوْ يَعْلَمُ الْمُؤْمِنُ مَا عِنْدَ اللَّهِ مِنْ الْعُقُوبَةِ مَا طَمِعَ بِجَنَّتِهِ أَحَدٌ، وَلَوْ يَعْلَمُ الْكَافِرُ مَا عِنْدَ اللَّهِ مِنْ الرَّحْمَةِ مَا قَنَطَ مِنْ جَنَّتِهِ أَحَدٌ“Andaikan mukmin mengetahui azab yang disediakan Allah; niscaya tidak ada seorangpun yang berharap bisa mendapatkan surga-Nya. Dan seandainya orang kafir mengetahui kasih sayang yang ada pada Allah; niscaya tak ada seorangpun yang tidak berharap bisa meraih surga-Nya”. (HR. Muslim)Hendaknya seorang muslim berhati-hati nikmat yang terus-menerus dan disertai keadaan tidak mengenal Allah bisa jadi adalah Istidraj (semacam jebakan). Istidraj yaitu Allah berikan dunia kepada seorang hamba, ia hanya bersenang-senang saja akan tetapi hakikatnya Allah sudah tidak peduli kepadanya. Ia hanya akan menunggu balasannya di hari kiamat dan hanya “bersenang-senanglah” sebentar saja.Contoh Istidraj misalnya seorang hamba memiliki bisnis yang lancar dan omset yang terus meningkat, akan tetapi ia melalaikan shalat. Seorang wanita yang karir dan jabatan terus naik meninggi, akan tetapi ia tidak memakai hijab. Bagaikan seorang ibu yang memberikan gadget pada anak kecilnya kemudia ia berkata “mainlah sepuas nak, seharian”.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda mengenai istidraj,إِذَا رَأَيْتَ اللهَ تَعَالَى يُعْطِي الْعَبْدَ مِنَ الدُّنْيَا مَا يُحِبُّ وَهُوَ مُقِيمٌ عَلَى مَعَاصِيْهِ فَإِنَّمَا ذَلِكَ مِنهُ اسْتِدْرَاجٌ“Bila engkau melihat Allah Ta’ala memberi hamba dari (perkara) dunia yang diinginkannya, padahal dia terus berada dalam kemaksiatan kepada-Nya, maka (ketahuilah) bahwa hal itu adalah istidraj (jebakan) dari Allah.” (HR. Ahmad, lihat Shahihul Jami’ no. 561)Demikian juga istidraj dalam ayat berikut yang disebut dengan makar Allah,أَفَأَمِنُواْ مَكْرَ اللّهِ فَلاَ يَأْمَنُ مَكْرَ اللّهِ إِلاَّ الْقَوْمُ الْخَاسِرُونَ“Maka apakah mereka merasa aman dari makar Allah (yang tidak terduga-duga)? Tiada yang merasa aman dan makar Allah kecuali orang-orang yang merugi.” (Al-A’raf: 99)Syaikh Muhammad bin Abdul Aziz Al-Qar’awi menjelaskan,مكر الله: هو استدراج العاصي بالنعم… حيث إنهم لم يُقدِّروا الله حق قدره، ولم يخشوا استدراجه لهم بالنعم وهم مقيمون على معصيته حتى نزل بهم سخط الله، وحلت بهم نقمته“Makar Allah adalah istidraj bagi pelaku maksiat dengan memberikan kenikmatan/kebahagiaan… mereka tidak memuliakan Allah sesuai dengan hak-Nya. Mereka tidak merasa khawatir [tenang-tenang saja] dengan istidraj [jebakan] kenikmatan-kenikmatan bagi mereka, padahal mereka terus-menerus berada dalam kemaksiatan sehingga turunlah bagi mereka murka Allah dan menimpa mereka azab dari Allah.”(Al-Jadid fii Syarhi Kitabit tauhid hal. 306, Maktabah As-Sawadi)Demikian semoga bermanfaat@ Yogyakarta TercintaPenyusun: Raehanul BahraenArtikel www.muslim.or.id🔍 Keutamaan Sholat Subuh, Ada Berapa Pintu Surga, Yaumuddin Artinya, Memilih Suami Menurut Islam, Ayat Yang Pertama Kali Turun
Seorang hamba harus mengenal Rabb-nya, harus mengenal Allah, agar ia cinta kepada Allah dan Allah cinta kepadanya. Perlu diketahui dari salah satu sifat Allah bahwa Allah sangat sayang kepada hamba-Nya melebihi kasih sayang ibu kepada anaknya. Kita sangat tahu bagaimana kasih sayang seorang ibu kepada anaknya yang mungkin tidak ada tandingannya di dunia ini, akan tetapi kita sangat perlu tahu bahwa kasih sayang Allah melebihi itu semua.Perhatikan hadits berikut, Dari Umar bin Al Khattab radhiallahu ‘anhu , beliau menuturkan:ﻗﺪﻡ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺳﺒﻲ، ﻓﺈﺫﺍ ﺍﻣﺮﺃﺓ ﻣﻦ ﺍﻟﺴﺒﻲ ﻗﺪ ﺗﺤﻠﺐ ﺛﺪﻳﻬﺎ ﺗﺴﻘﻲ، ﺇﺫﺍ ﻭﺟﺪﺕ ﺻﺒﻴﺎً ﻓﻲ ﺍﻟﺴﺒﻲ ﺃﺧﺬﺗﻪ، ﻓﺄﻟﺼﻘﺘﻪ ﺑﺒﻄﻨﻬﺎ ﻭﺃﺭﺿﻌﺘﻪ، ﻓﻘﺎﻝ ﻟﻨﺎ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ : (ﺃﺗﺮﻭﻥ ﻫﺬﻩ ﻃﺎﺭﺣﺔ ﻭﻟﺪﻫﺎ ﻓﻲ ﺍﻟﻨﺎﺭ ). ﻗﻠﻨﺎ: ﻻ، ﻭﻫﻲ ﺗﻘﺪﺭ ﻋﻠﻰ ﺃﻥ ﻻ ﺗﻄﺮﺣﻪ، ﻓﻘﺎﻝ: (ﻟﻠﻪ ﺃﺭﺣﻢ ﺑﻌﺒﺎﺩﻩ ﻣﻦ ﻫﺬﻩ ﺑﻮﻟﺪﻫﺎRasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kedatangan rombongan tawanan perang. Di tengah-tengah rombongan itu ada seorang ibu yang sedang mencari-cari bayinya.Tatkala dia berhasil menemukan bayinya di antara tawanan itu, maka dia pun memeluknya erat-erat ke tubuhnya dan menyusuinya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepada kami, “Apakah menurut kalian ibu ini akan tega melemparkan anaknya ke dalam kobaran api?”Kami menjawab, “Tidak mungkin, demi Allah. Sementara dia sanggup untuk mencegah bayinya terlempar ke dalamnya.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sungguh Allah lebih sayang kepada hamba-hamba-Nya daripada ibu ini kepada anaknya.” (HR. Bukhari dan Muslim)Apabila seorang Ibu tersebut tidak tega melempar anaknya ke dalam api, maka Allah tentu lebih tidak tega lagi melempar dan mencampakkan hamba-Nya ke dalam api neraka, akan tetapi apa yang terjadi? Hamba tersebut tidak mau mengenal Allah, tidak peduli kepada Allah dan agama-Nya, bahkan ia lari jauh dari Allah. Bagaimana Allah bisa sayang kepada hamba tersebut?Kita diperintahkan untuk mengenal Allah dan “lari” menuju Allah. Allah berfirman,فَفِرُّوا إِلَى اللهِ إِنِّي لَكُمْ مِنْهُ نَذِيرٌ مُبِينٌ“Maka segera berlarilah kalian (kembali) menuju Allah. Sungguh aku (Rasul) seorang pemberi peringatan yang nyata dari-Nya bagi kalian.” (adz-Dzaariyaat: 50) Hendaknya tidak terlalu yakin bahwa kita hamba kesayangan AllahMaksudnya adalah jangan sampai kita tertipu dengan berbagai nikmat dan kemudahan yang diberikan oleh Allah di dunia ini. Hendaknya kita TIDAk HANYA bersandar dengan sifat “Allah sangat sayang kepada hamba-Nya” yang menyebabkan kita lupa dan lalai bahwa Alah juga memiliki azdab yang besar dan pedih.Allah berfirman,نَبِّئْ عِبَادِي أَنِّي أَنَا الْغَفُورُ الرَّحِيمُ . وَ أَنَّ عَذَابِي هُوَ الْعَذَابُ الأَلِيمَArtinya: “Kabarkanlah pada para hamba-Ku, bahwa sesungguhnya Aku-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan bahwa sesungguhnya azab-Ku adalah azab yang sangat pedih”. (Q.s. Al-Hijr: 49-50).Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menggambarkan bagaimana kasih sayang dan adzab Allah. Beliau bersabda,لَوْ يَعْلَمُ الْمُؤْمِنُ مَا عِنْدَ اللَّهِ مِنْ الْعُقُوبَةِ مَا طَمِعَ بِجَنَّتِهِ أَحَدٌ، وَلَوْ يَعْلَمُ الْكَافِرُ مَا عِنْدَ اللَّهِ مِنْ الرَّحْمَةِ مَا قَنَطَ مِنْ جَنَّتِهِ أَحَدٌ“Andaikan mukmin mengetahui azab yang disediakan Allah; niscaya tidak ada seorangpun yang berharap bisa mendapatkan surga-Nya. Dan seandainya orang kafir mengetahui kasih sayang yang ada pada Allah; niscaya tak ada seorangpun yang tidak berharap bisa meraih surga-Nya”. (HR. Muslim)Hendaknya seorang muslim berhati-hati nikmat yang terus-menerus dan disertai keadaan tidak mengenal Allah bisa jadi adalah Istidraj (semacam jebakan). Istidraj yaitu Allah berikan dunia kepada seorang hamba, ia hanya bersenang-senang saja akan tetapi hakikatnya Allah sudah tidak peduli kepadanya. Ia hanya akan menunggu balasannya di hari kiamat dan hanya “bersenang-senanglah” sebentar saja.Contoh Istidraj misalnya seorang hamba memiliki bisnis yang lancar dan omset yang terus meningkat, akan tetapi ia melalaikan shalat. Seorang wanita yang karir dan jabatan terus naik meninggi, akan tetapi ia tidak memakai hijab. Bagaikan seorang ibu yang memberikan gadget pada anak kecilnya kemudia ia berkata “mainlah sepuas nak, seharian”.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda mengenai istidraj,إِذَا رَأَيْتَ اللهَ تَعَالَى يُعْطِي الْعَبْدَ مِنَ الدُّنْيَا مَا يُحِبُّ وَهُوَ مُقِيمٌ عَلَى مَعَاصِيْهِ فَإِنَّمَا ذَلِكَ مِنهُ اسْتِدْرَاجٌ“Bila engkau melihat Allah Ta’ala memberi hamba dari (perkara) dunia yang diinginkannya, padahal dia terus berada dalam kemaksiatan kepada-Nya, maka (ketahuilah) bahwa hal itu adalah istidraj (jebakan) dari Allah.” (HR. Ahmad, lihat Shahihul Jami’ no. 561)Demikian juga istidraj dalam ayat berikut yang disebut dengan makar Allah,أَفَأَمِنُواْ مَكْرَ اللّهِ فَلاَ يَأْمَنُ مَكْرَ اللّهِ إِلاَّ الْقَوْمُ الْخَاسِرُونَ“Maka apakah mereka merasa aman dari makar Allah (yang tidak terduga-duga)? Tiada yang merasa aman dan makar Allah kecuali orang-orang yang merugi.” (Al-A’raf: 99)Syaikh Muhammad bin Abdul Aziz Al-Qar’awi menjelaskan,مكر الله: هو استدراج العاصي بالنعم… حيث إنهم لم يُقدِّروا الله حق قدره، ولم يخشوا استدراجه لهم بالنعم وهم مقيمون على معصيته حتى نزل بهم سخط الله، وحلت بهم نقمته“Makar Allah adalah istidraj bagi pelaku maksiat dengan memberikan kenikmatan/kebahagiaan… mereka tidak memuliakan Allah sesuai dengan hak-Nya. Mereka tidak merasa khawatir [tenang-tenang saja] dengan istidraj [jebakan] kenikmatan-kenikmatan bagi mereka, padahal mereka terus-menerus berada dalam kemaksiatan sehingga turunlah bagi mereka murka Allah dan menimpa mereka azab dari Allah.”(Al-Jadid fii Syarhi Kitabit tauhid hal. 306, Maktabah As-Sawadi)Demikian semoga bermanfaat@ Yogyakarta TercintaPenyusun: Raehanul BahraenArtikel www.muslim.or.id🔍 Keutamaan Sholat Subuh, Ada Berapa Pintu Surga, Yaumuddin Artinya, Memilih Suami Menurut Islam, Ayat Yang Pertama Kali Turun


Seorang hamba harus mengenal Rabb-nya, harus mengenal Allah, agar ia cinta kepada Allah dan Allah cinta kepadanya. Perlu diketahui dari salah satu sifat Allah bahwa Allah sangat sayang kepada hamba-Nya melebihi kasih sayang ibu kepada anaknya. Kita sangat tahu bagaimana kasih sayang seorang ibu kepada anaknya yang mungkin tidak ada tandingannya di dunia ini, akan tetapi kita sangat perlu tahu bahwa kasih sayang Allah melebihi itu semua.Perhatikan hadits berikut, Dari Umar bin Al Khattab radhiallahu ‘anhu , beliau menuturkan:ﻗﺪﻡ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺳﺒﻲ، ﻓﺈﺫﺍ ﺍﻣﺮﺃﺓ ﻣﻦ ﺍﻟﺴﺒﻲ ﻗﺪ ﺗﺤﻠﺐ ﺛﺪﻳﻬﺎ ﺗﺴﻘﻲ، ﺇﺫﺍ ﻭﺟﺪﺕ ﺻﺒﻴﺎً ﻓﻲ ﺍﻟﺴﺒﻲ ﺃﺧﺬﺗﻪ، ﻓﺄﻟﺼﻘﺘﻪ ﺑﺒﻄﻨﻬﺎ ﻭﺃﺭﺿﻌﺘﻪ، ﻓﻘﺎﻝ ﻟﻨﺎ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ : (ﺃﺗﺮﻭﻥ ﻫﺬﻩ ﻃﺎﺭﺣﺔ ﻭﻟﺪﻫﺎ ﻓﻲ ﺍﻟﻨﺎﺭ ). ﻗﻠﻨﺎ: ﻻ، ﻭﻫﻲ ﺗﻘﺪﺭ ﻋﻠﻰ ﺃﻥ ﻻ ﺗﻄﺮﺣﻪ، ﻓﻘﺎﻝ: (ﻟﻠﻪ ﺃﺭﺣﻢ ﺑﻌﺒﺎﺩﻩ ﻣﻦ ﻫﺬﻩ ﺑﻮﻟﺪﻫﺎRasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kedatangan rombongan tawanan perang. Di tengah-tengah rombongan itu ada seorang ibu yang sedang mencari-cari bayinya.Tatkala dia berhasil menemukan bayinya di antara tawanan itu, maka dia pun memeluknya erat-erat ke tubuhnya dan menyusuinya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepada kami, “Apakah menurut kalian ibu ini akan tega melemparkan anaknya ke dalam kobaran api?”Kami menjawab, “Tidak mungkin, demi Allah. Sementara dia sanggup untuk mencegah bayinya terlempar ke dalamnya.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sungguh Allah lebih sayang kepada hamba-hamba-Nya daripada ibu ini kepada anaknya.” (HR. Bukhari dan Muslim)Apabila seorang Ibu tersebut tidak tega melempar anaknya ke dalam api, maka Allah tentu lebih tidak tega lagi melempar dan mencampakkan hamba-Nya ke dalam api neraka, akan tetapi apa yang terjadi? Hamba tersebut tidak mau mengenal Allah, tidak peduli kepada Allah dan agama-Nya, bahkan ia lari jauh dari Allah. Bagaimana Allah bisa sayang kepada hamba tersebut?Kita diperintahkan untuk mengenal Allah dan “lari” menuju Allah. Allah berfirman,فَفِرُّوا إِلَى اللهِ إِنِّي لَكُمْ مِنْهُ نَذِيرٌ مُبِينٌ“Maka segera berlarilah kalian (kembali) menuju Allah. Sungguh aku (Rasul) seorang pemberi peringatan yang nyata dari-Nya bagi kalian.” (adz-Dzaariyaat: 50) Hendaknya tidak terlalu yakin bahwa kita hamba kesayangan AllahMaksudnya adalah jangan sampai kita tertipu dengan berbagai nikmat dan kemudahan yang diberikan oleh Allah di dunia ini. Hendaknya kita TIDAk HANYA bersandar dengan sifat “Allah sangat sayang kepada hamba-Nya” yang menyebabkan kita lupa dan lalai bahwa Alah juga memiliki azdab yang besar dan pedih.Allah berfirman,نَبِّئْ عِبَادِي أَنِّي أَنَا الْغَفُورُ الرَّحِيمُ . وَ أَنَّ عَذَابِي هُوَ الْعَذَابُ الأَلِيمَArtinya: “Kabarkanlah pada para hamba-Ku, bahwa sesungguhnya Aku-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan bahwa sesungguhnya azab-Ku adalah azab yang sangat pedih”. (Q.s. Al-Hijr: 49-50).Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menggambarkan bagaimana kasih sayang dan adzab Allah. Beliau bersabda,لَوْ يَعْلَمُ الْمُؤْمِنُ مَا عِنْدَ اللَّهِ مِنْ الْعُقُوبَةِ مَا طَمِعَ بِجَنَّتِهِ أَحَدٌ، وَلَوْ يَعْلَمُ الْكَافِرُ مَا عِنْدَ اللَّهِ مِنْ الرَّحْمَةِ مَا قَنَطَ مِنْ جَنَّتِهِ أَحَدٌ“Andaikan mukmin mengetahui azab yang disediakan Allah; niscaya tidak ada seorangpun yang berharap bisa mendapatkan surga-Nya. Dan seandainya orang kafir mengetahui kasih sayang yang ada pada Allah; niscaya tak ada seorangpun yang tidak berharap bisa meraih surga-Nya”. (HR. Muslim)Hendaknya seorang muslim berhati-hati nikmat yang terus-menerus dan disertai keadaan tidak mengenal Allah bisa jadi adalah Istidraj (semacam jebakan). Istidraj yaitu Allah berikan dunia kepada seorang hamba, ia hanya bersenang-senang saja akan tetapi hakikatnya Allah sudah tidak peduli kepadanya. Ia hanya akan menunggu balasannya di hari kiamat dan hanya “bersenang-senanglah” sebentar saja.Contoh Istidraj misalnya seorang hamba memiliki bisnis yang lancar dan omset yang terus meningkat, akan tetapi ia melalaikan shalat. Seorang wanita yang karir dan jabatan terus naik meninggi, akan tetapi ia tidak memakai hijab. Bagaikan seorang ibu yang memberikan gadget pada anak kecilnya kemudia ia berkata “mainlah sepuas nak, seharian”.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda mengenai istidraj,إِذَا رَأَيْتَ اللهَ تَعَالَى يُعْطِي الْعَبْدَ مِنَ الدُّنْيَا مَا يُحِبُّ وَهُوَ مُقِيمٌ عَلَى مَعَاصِيْهِ فَإِنَّمَا ذَلِكَ مِنهُ اسْتِدْرَاجٌ“Bila engkau melihat Allah Ta’ala memberi hamba dari (perkara) dunia yang diinginkannya, padahal dia terus berada dalam kemaksiatan kepada-Nya, maka (ketahuilah) bahwa hal itu adalah istidraj (jebakan) dari Allah.” (HR. Ahmad, lihat Shahihul Jami’ no. 561)Demikian juga istidraj dalam ayat berikut yang disebut dengan makar Allah,أَفَأَمِنُواْ مَكْرَ اللّهِ فَلاَ يَأْمَنُ مَكْرَ اللّهِ إِلاَّ الْقَوْمُ الْخَاسِرُونَ“Maka apakah mereka merasa aman dari makar Allah (yang tidak terduga-duga)? Tiada yang merasa aman dan makar Allah kecuali orang-orang yang merugi.” (Al-A’raf: 99)Syaikh Muhammad bin Abdul Aziz Al-Qar’awi menjelaskan,مكر الله: هو استدراج العاصي بالنعم… حيث إنهم لم يُقدِّروا الله حق قدره، ولم يخشوا استدراجه لهم بالنعم وهم مقيمون على معصيته حتى نزل بهم سخط الله، وحلت بهم نقمته“Makar Allah adalah istidraj bagi pelaku maksiat dengan memberikan kenikmatan/kebahagiaan… mereka tidak memuliakan Allah sesuai dengan hak-Nya. Mereka tidak merasa khawatir [tenang-tenang saja] dengan istidraj [jebakan] kenikmatan-kenikmatan bagi mereka, padahal mereka terus-menerus berada dalam kemaksiatan sehingga turunlah bagi mereka murka Allah dan menimpa mereka azab dari Allah.”(Al-Jadid fii Syarhi Kitabit tauhid hal. 306, Maktabah As-Sawadi)Demikian semoga bermanfaat@ Yogyakarta TercintaPenyusun: Raehanul BahraenArtikel www.muslim.or.id🔍 Keutamaan Sholat Subuh, Ada Berapa Pintu Surga, Yaumuddin Artinya, Memilih Suami Menurut Islam, Ayat Yang Pertama Kali Turun

Tafsir Ayat: “Manusia Diciptakan Lemah”

Tafsirnya adalah laki-laki yang lemah dengan godaan/fitnah wanita. Ayatnya sebagai berikut, Allah berfirman,وَخُلِقَ الْإِنْسَانُ ضَعِيفًا“Dan manusia diciptakan dalam keadaan lemah’” (An Nisa: 2)Ahli tafsir Al-Quthubi rahimahullah menjelaskan bahwa maksudnya adalah sifat laki-laki yang tidak kuat menahan godaan wanita, beliau berkataوَقَالَ طَاوُسٌ: ذَلِكَ فِي أَمْرِ النِّسَاءِ خَاصَّةً. وَرُوِيَ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّهُ قَرَأَ (وَخَلَقَ الْإِنْسَانَ ضَعِيفًا) أَيْ وَخَلَقَ اللَّهُ الْإِنْسَانَ ضَعِيفًا، أَيْ لَا يَصْبِرُ عَنِ النِّسَاءِ“Berkata Thawus rahimahullah , “hal tersebut adalah mengenai wanita”. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma bahwanya beliau membaca [وَخَلَقَ الْإِنْسَانَ ضَعِيفًا] yaitu, tidak sabar terhadap [godaan] wanita.” [1] Ibnu Asyur menjelaskan bahwa ayat tersebut ditafsirkan demikian, karena konteks ayat sebelumnya berbicara tentang motivasi menikah. Beliau berkata,لأن من الأحكام المتقدمة ما هو ترخيص في النكاح“Karena hukum-hukum yang dibahas sebelumnya adalah memurahkan (mahar) pernikahan.”[2] Akan tetapi ada ulama juga yang menafasirkan bahwa bahwa lemah tersebut, mencakup lemah dalam berbagai hal yang seorang hamba butuh kepada Allah. Seperti lemah badan, lemah kekuatan, lemah ilmu dan lain-lain.Ibnul Qayyim menjelaskan,والصواب أَن ضعفه يعم هذا كله ، وضعفه أَعظم من هذا وأَكثر : فَإنه ضعيف البنية ، ضعيف القوة ، ضعيف الإرادة ، ضعيف العلم ، ضعيف الصبر“Yang benar bahwa kelemahan di sini mencakup semuanya secara umum. Kelemahannya lebih dari hal ini dan lebih banyak. Manusia lemah badan, lemah kekuatan, lemah keinginan, lemah ilmu dan lemah kesabaran.”[3] Tafsir dari para ahli bahwa laki-lali lemah terhadap wanita ini didukung dengan berbagai nash.Misalnya hadits bahwa wanita adalah fitnah/ujian terbesar bagi laki-laki.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَا تَرَكْتُ بَعْدِى فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ“Tidaklah aku tinggalkan sepeninggalku fitnah (cobaan) yang lebih berbahaya bagi kaum laki-lakiyaitu (fitnah) wanita.”[4] Fitnah wanita bisa langsung menghilangkan akal sehat laki-laki walaupun sebelumnya kokoh dan istiqamah beragamaRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَا رَأَيْتُ مِنْ نَاقِصَاتِ عَقْلٍ وَدِينٍ أَذْهَبَ لِلُبِّ الرَّجُلِ الْحَازِمِ مِنْ إِحْدَاكُنَّ“Tidaklah aku pernah melihat orang yang kurang akal dan agamanya sehingga dapat menghilangkan akal laki-laki yang teguh selain salah satu di antara kalian wahai wanita.”[5] Bahkan godaan wanita lebih dahsyat dari goadaan setan. Godaan setan itu disebut lemah, sedangkan godaan wanita itu dahsyat.Allah berfirman,إِنَّ كَيْدَ الشَّيْطَانِ كَانَ ضَعِيفاً“sesungguhnya tipu daya syaitan itu adalah lemah.” (An-Nisa’:76)Dan Allah berfirman tentang godaan setan,إِنَّ كَيْدَكُنَّ عَظِيمٌ“Sesungguhnya tipu daya kalian para wanita adalah besar/adzim” (Yusuf:28)Semoga Allah menjaga laki-laki kaum muslimim dari fitnah wanita.Demikian semoga bemanfaat@ Yogyakarta TercintaPenyusun: Raehanul BahraenArtikel www.muslim.or.id Catatan kaki:🔍 Keutamaan Sholat Subuh, Ada Berapa Pintu Surga, Yaumuddin Artinya, Memilih Suami Menurut Islam, Ayat Yang Pertama Kali Turun

Tafsir Ayat: “Manusia Diciptakan Lemah”

Tafsirnya adalah laki-laki yang lemah dengan godaan/fitnah wanita. Ayatnya sebagai berikut, Allah berfirman,وَخُلِقَ الْإِنْسَانُ ضَعِيفًا“Dan manusia diciptakan dalam keadaan lemah’” (An Nisa: 2)Ahli tafsir Al-Quthubi rahimahullah menjelaskan bahwa maksudnya adalah sifat laki-laki yang tidak kuat menahan godaan wanita, beliau berkataوَقَالَ طَاوُسٌ: ذَلِكَ فِي أَمْرِ النِّسَاءِ خَاصَّةً. وَرُوِيَ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّهُ قَرَأَ (وَخَلَقَ الْإِنْسَانَ ضَعِيفًا) أَيْ وَخَلَقَ اللَّهُ الْإِنْسَانَ ضَعِيفًا، أَيْ لَا يَصْبِرُ عَنِ النِّسَاءِ“Berkata Thawus rahimahullah , “hal tersebut adalah mengenai wanita”. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma bahwanya beliau membaca [وَخَلَقَ الْإِنْسَانَ ضَعِيفًا] yaitu, tidak sabar terhadap [godaan] wanita.” [1] Ibnu Asyur menjelaskan bahwa ayat tersebut ditafsirkan demikian, karena konteks ayat sebelumnya berbicara tentang motivasi menikah. Beliau berkata,لأن من الأحكام المتقدمة ما هو ترخيص في النكاح“Karena hukum-hukum yang dibahas sebelumnya adalah memurahkan (mahar) pernikahan.”[2] Akan tetapi ada ulama juga yang menafasirkan bahwa bahwa lemah tersebut, mencakup lemah dalam berbagai hal yang seorang hamba butuh kepada Allah. Seperti lemah badan, lemah kekuatan, lemah ilmu dan lain-lain.Ibnul Qayyim menjelaskan,والصواب أَن ضعفه يعم هذا كله ، وضعفه أَعظم من هذا وأَكثر : فَإنه ضعيف البنية ، ضعيف القوة ، ضعيف الإرادة ، ضعيف العلم ، ضعيف الصبر“Yang benar bahwa kelemahan di sini mencakup semuanya secara umum. Kelemahannya lebih dari hal ini dan lebih banyak. Manusia lemah badan, lemah kekuatan, lemah keinginan, lemah ilmu dan lemah kesabaran.”[3] Tafsir dari para ahli bahwa laki-lali lemah terhadap wanita ini didukung dengan berbagai nash.Misalnya hadits bahwa wanita adalah fitnah/ujian terbesar bagi laki-laki.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَا تَرَكْتُ بَعْدِى فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ“Tidaklah aku tinggalkan sepeninggalku fitnah (cobaan) yang lebih berbahaya bagi kaum laki-lakiyaitu (fitnah) wanita.”[4] Fitnah wanita bisa langsung menghilangkan akal sehat laki-laki walaupun sebelumnya kokoh dan istiqamah beragamaRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَا رَأَيْتُ مِنْ نَاقِصَاتِ عَقْلٍ وَدِينٍ أَذْهَبَ لِلُبِّ الرَّجُلِ الْحَازِمِ مِنْ إِحْدَاكُنَّ“Tidaklah aku pernah melihat orang yang kurang akal dan agamanya sehingga dapat menghilangkan akal laki-laki yang teguh selain salah satu di antara kalian wahai wanita.”[5] Bahkan godaan wanita lebih dahsyat dari goadaan setan. Godaan setan itu disebut lemah, sedangkan godaan wanita itu dahsyat.Allah berfirman,إِنَّ كَيْدَ الشَّيْطَانِ كَانَ ضَعِيفاً“sesungguhnya tipu daya syaitan itu adalah lemah.” (An-Nisa’:76)Dan Allah berfirman tentang godaan setan,إِنَّ كَيْدَكُنَّ عَظِيمٌ“Sesungguhnya tipu daya kalian para wanita adalah besar/adzim” (Yusuf:28)Semoga Allah menjaga laki-laki kaum muslimim dari fitnah wanita.Demikian semoga bemanfaat@ Yogyakarta TercintaPenyusun: Raehanul BahraenArtikel www.muslim.or.id Catatan kaki:🔍 Keutamaan Sholat Subuh, Ada Berapa Pintu Surga, Yaumuddin Artinya, Memilih Suami Menurut Islam, Ayat Yang Pertama Kali Turun
Tafsirnya adalah laki-laki yang lemah dengan godaan/fitnah wanita. Ayatnya sebagai berikut, Allah berfirman,وَخُلِقَ الْإِنْسَانُ ضَعِيفًا“Dan manusia diciptakan dalam keadaan lemah’” (An Nisa: 2)Ahli tafsir Al-Quthubi rahimahullah menjelaskan bahwa maksudnya adalah sifat laki-laki yang tidak kuat menahan godaan wanita, beliau berkataوَقَالَ طَاوُسٌ: ذَلِكَ فِي أَمْرِ النِّسَاءِ خَاصَّةً. وَرُوِيَ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّهُ قَرَأَ (وَخَلَقَ الْإِنْسَانَ ضَعِيفًا) أَيْ وَخَلَقَ اللَّهُ الْإِنْسَانَ ضَعِيفًا، أَيْ لَا يَصْبِرُ عَنِ النِّسَاءِ“Berkata Thawus rahimahullah , “hal tersebut adalah mengenai wanita”. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma bahwanya beliau membaca [وَخَلَقَ الْإِنْسَانَ ضَعِيفًا] yaitu, tidak sabar terhadap [godaan] wanita.” [1] Ibnu Asyur menjelaskan bahwa ayat tersebut ditafsirkan demikian, karena konteks ayat sebelumnya berbicara tentang motivasi menikah. Beliau berkata,لأن من الأحكام المتقدمة ما هو ترخيص في النكاح“Karena hukum-hukum yang dibahas sebelumnya adalah memurahkan (mahar) pernikahan.”[2] Akan tetapi ada ulama juga yang menafasirkan bahwa bahwa lemah tersebut, mencakup lemah dalam berbagai hal yang seorang hamba butuh kepada Allah. Seperti lemah badan, lemah kekuatan, lemah ilmu dan lain-lain.Ibnul Qayyim menjelaskan,والصواب أَن ضعفه يعم هذا كله ، وضعفه أَعظم من هذا وأَكثر : فَإنه ضعيف البنية ، ضعيف القوة ، ضعيف الإرادة ، ضعيف العلم ، ضعيف الصبر“Yang benar bahwa kelemahan di sini mencakup semuanya secara umum. Kelemahannya lebih dari hal ini dan lebih banyak. Manusia lemah badan, lemah kekuatan, lemah keinginan, lemah ilmu dan lemah kesabaran.”[3] Tafsir dari para ahli bahwa laki-lali lemah terhadap wanita ini didukung dengan berbagai nash.Misalnya hadits bahwa wanita adalah fitnah/ujian terbesar bagi laki-laki.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَا تَرَكْتُ بَعْدِى فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ“Tidaklah aku tinggalkan sepeninggalku fitnah (cobaan) yang lebih berbahaya bagi kaum laki-lakiyaitu (fitnah) wanita.”[4] Fitnah wanita bisa langsung menghilangkan akal sehat laki-laki walaupun sebelumnya kokoh dan istiqamah beragamaRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَا رَأَيْتُ مِنْ نَاقِصَاتِ عَقْلٍ وَدِينٍ أَذْهَبَ لِلُبِّ الرَّجُلِ الْحَازِمِ مِنْ إِحْدَاكُنَّ“Tidaklah aku pernah melihat orang yang kurang akal dan agamanya sehingga dapat menghilangkan akal laki-laki yang teguh selain salah satu di antara kalian wahai wanita.”[5] Bahkan godaan wanita lebih dahsyat dari goadaan setan. Godaan setan itu disebut lemah, sedangkan godaan wanita itu dahsyat.Allah berfirman,إِنَّ كَيْدَ الشَّيْطَانِ كَانَ ضَعِيفاً“sesungguhnya tipu daya syaitan itu adalah lemah.” (An-Nisa’:76)Dan Allah berfirman tentang godaan setan,إِنَّ كَيْدَكُنَّ عَظِيمٌ“Sesungguhnya tipu daya kalian para wanita adalah besar/adzim” (Yusuf:28)Semoga Allah menjaga laki-laki kaum muslimim dari fitnah wanita.Demikian semoga bemanfaat@ Yogyakarta TercintaPenyusun: Raehanul BahraenArtikel www.muslim.or.id Catatan kaki:🔍 Keutamaan Sholat Subuh, Ada Berapa Pintu Surga, Yaumuddin Artinya, Memilih Suami Menurut Islam, Ayat Yang Pertama Kali Turun


Tafsirnya adalah laki-laki yang lemah dengan godaan/fitnah wanita. Ayatnya sebagai berikut, Allah berfirman,وَخُلِقَ الْإِنْسَانُ ضَعِيفًا“Dan manusia diciptakan dalam keadaan lemah’” (An Nisa: 2)Ahli tafsir Al-Quthubi rahimahullah menjelaskan bahwa maksudnya adalah sifat laki-laki yang tidak kuat menahan godaan wanita, beliau berkataوَقَالَ طَاوُسٌ: ذَلِكَ فِي أَمْرِ النِّسَاءِ خَاصَّةً. وَرُوِيَ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّهُ قَرَأَ (وَخَلَقَ الْإِنْسَانَ ضَعِيفًا) أَيْ وَخَلَقَ اللَّهُ الْإِنْسَانَ ضَعِيفًا، أَيْ لَا يَصْبِرُ عَنِ النِّسَاءِ“Berkata Thawus rahimahullah , “hal tersebut adalah mengenai wanita”. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma bahwanya beliau membaca [وَخَلَقَ الْإِنْسَانَ ضَعِيفًا] yaitu, tidak sabar terhadap [godaan] wanita.” [1] Ibnu Asyur menjelaskan bahwa ayat tersebut ditafsirkan demikian, karena konteks ayat sebelumnya berbicara tentang motivasi menikah. Beliau berkata,لأن من الأحكام المتقدمة ما هو ترخيص في النكاح“Karena hukum-hukum yang dibahas sebelumnya adalah memurahkan (mahar) pernikahan.”[2] Akan tetapi ada ulama juga yang menafasirkan bahwa bahwa lemah tersebut, mencakup lemah dalam berbagai hal yang seorang hamba butuh kepada Allah. Seperti lemah badan, lemah kekuatan, lemah ilmu dan lain-lain.Ibnul Qayyim menjelaskan,والصواب أَن ضعفه يعم هذا كله ، وضعفه أَعظم من هذا وأَكثر : فَإنه ضعيف البنية ، ضعيف القوة ، ضعيف الإرادة ، ضعيف العلم ، ضعيف الصبر“Yang benar bahwa kelemahan di sini mencakup semuanya secara umum. Kelemahannya lebih dari hal ini dan lebih banyak. Manusia lemah badan, lemah kekuatan, lemah keinginan, lemah ilmu dan lemah kesabaran.”[3] Tafsir dari para ahli bahwa laki-lali lemah terhadap wanita ini didukung dengan berbagai nash.Misalnya hadits bahwa wanita adalah fitnah/ujian terbesar bagi laki-laki.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَا تَرَكْتُ بَعْدِى فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ“Tidaklah aku tinggalkan sepeninggalku fitnah (cobaan) yang lebih berbahaya bagi kaum laki-lakiyaitu (fitnah) wanita.”[4] Fitnah wanita bisa langsung menghilangkan akal sehat laki-laki walaupun sebelumnya kokoh dan istiqamah beragamaRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَا رَأَيْتُ مِنْ نَاقِصَاتِ عَقْلٍ وَدِينٍ أَذْهَبَ لِلُبِّ الرَّجُلِ الْحَازِمِ مِنْ إِحْدَاكُنَّ“Tidaklah aku pernah melihat orang yang kurang akal dan agamanya sehingga dapat menghilangkan akal laki-laki yang teguh selain salah satu di antara kalian wahai wanita.”[5] Bahkan godaan wanita lebih dahsyat dari goadaan setan. Godaan setan itu disebut lemah, sedangkan godaan wanita itu dahsyat.Allah berfirman,إِنَّ كَيْدَ الشَّيْطَانِ كَانَ ضَعِيفاً“sesungguhnya tipu daya syaitan itu adalah lemah.” (An-Nisa’:76)Dan Allah berfirman tentang godaan setan,إِنَّ كَيْدَكُنَّ عَظِيمٌ“Sesungguhnya tipu daya kalian para wanita adalah besar/adzim” (Yusuf:28)Semoga Allah menjaga laki-laki kaum muslimim dari fitnah wanita.Demikian semoga bemanfaat@ Yogyakarta TercintaPenyusun: Raehanul BahraenArtikel www.muslim.or.id Catatan kaki:🔍 Keutamaan Sholat Subuh, Ada Berapa Pintu Surga, Yaumuddin Artinya, Memilih Suami Menurut Islam, Ayat Yang Pertama Kali Turun

Penjelasan Hadits Istikharah (Bag. 3)

Baca pembahasan sebelumnya Penjelasan Hadits Istikharah (Bag. 2)Petikan Haditsكَمَا يُعَلِّمُنَا السُّورَةَ مِنْ الْقُرْآنِ“(sebagaimana mengajari kami) surat dalam Alquran”Penjelasan Dalam hadits ini terdapat penjelasan tentang pentingnya sholat Istikharah didalam kehidupan seorang muslim, oleh karena itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam semangat menjelaskan dan mengajarkannya kepada para sahabatnya sebagaimana menjelaskan dan mengajarkan surat Alquran kepada mereka, hal ini menunjukkan perhatian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam demikian besar terhadap Istikharah dan menunjukkan demikian butuhnya manusia melaksanakan Istikharah dalam seluruh urusannya, besar maupun kecil, karena diqiyaskan dengan pengajaran Alquran yang kebutuhan seorang muslim terhadap Alquran demikian menyeluruh, karena Alquran pedoman hidup dalam seluruh sisi kehidupan.Ath-Thibi berkata :فِيهِ إِشَارَةٌ إِلَى الِاعْتِنَاءِ التَّامِّ الْبَالِغِ بِهَذَا الدُّعَاءِ وَهَذِهِ الصَّلَاةِ لِجَعْلِهِمَا تِلْوَيْنِ لِلْفَرِيضَةِ وَالْقُرْآنِ“Didalam petikan hadits tersebut terdapat isyarat kepada perhatian yang sempurna dan besar terhadap doa dan sholat (Istikharah) ini, karena keduanya disebutkan mengiringi penyebutan sholat wajib dan Alquran.”Oleh karena itu, tak sepantasnya seorang muslim tidak mengetahuinya atau malas mengerjakannya, atau meninggalkannya, apalagi jika diiringi dengan memilih cara-cara mencari petunjuk yang berbau kesyirikan atau perdukunan. Petikan Hadits يَقُولُ إِذَا هَمَّ أَحَدُكُمْ بِالْأَمْرِbeliau bersabda: “Apabila salah seorang diantara kalian hendak melakukan sesuatu (yang membingungkan)” Penjelasan Maksudnya adalah seseorang yang berkehendak melakukan atau meninggalkan sesuatu, dan ia bingung memutuskannya, maka ia beristikharah kepada Allah; apakah akan ia lakukan atau tidak.Dari hadits ini bisa disimpulkan :Seseorang tidaklah diyari’atkan Istikharah ketika terlintas lintasan pikiran dan terbetik betikan batin yang tak berwujud kehendak melakukan atau meninggalkan sesuatu.Dan apabila Istikharah disyari’atkan untuk setiap lintasan pikiran atau batin, tentulah jika dilaksanakan akan menghabiskan waktu manusia, sebab lintasan dan betikan itu sangatlah banyak terdapat pada manusia.Petikan Hadits فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ مِنْ غَيْرِ الْفَرِيضَةِ“maka lakukanlah shalat (sunnah) dua roka’at selain sholat wajib” Penjelasan Dari petikan hadits di atas, dapat diambil beberpa pelajaran, yaitu: Sholat Istikharah itu sholat sunnah Maksudnya : sholat Istikharah itu tidak bisa terwujud dengan salah satu dari sholat fardhu 5 waktu, dan hanya bisa terwujud dengan sholat sunnah dua raka’at.Dengan demikian, istikharah tidak bisa terealisasi -misalnya- dengan berdoa Istikharah setelah sholat Shubuh, meski sholat Shubuh itu jumlahnya dua raka’at. Sholat sunnah Istikharah itu shalat sunnah tersendiri Ulama berselisih pendapat: apakah sholat sunnah Istikharah itu shalat sunnah tersendiri atau bisa digabung dengan sholat sunnah lainnya?  a) Sekelompok ulama berpendapat : Bahwa sholat Istikharah itu mencakup semua sholat sunnah, termasuk sholat sunnah Rawatib, Tahiyyatul Masjid, sholat sunnah Wudhu`, karena semua sholat sunnah tercakup kedalam keumuman : فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ مِنْ غَيْرِ الْفَرِيضَةِ“maka lakukanlah shalat (sunnah) dua roka’at selain sholat wajib” , sehingga tidak terlarang seseorang berdoa Istikharah setelah sholat sunnah Rawatib, misalnya.Berkata An-Nawawi rahimahullah dalam Al-Adzkar:والظاهر أنها تحصل بركعتين من السنن الرواتب، وبتحية المسجد وغيرها من النوافل“Yang nampak (menurutku dari dalilnya) bahwa sholat Istikharah bisa terealisasi dengan sholat sunnah dua raka’at, baik berupa sholat sunnah Rawatib, Tahiyyatul masjid, maupun sholat sunnah selainnya”.Namun, perlunya menggabungkan dua niat dalam melakukannya, yaitu: niat sholat sunnah yang bersangkutan (sholat sunnah Rawatib, misalnya) dan niat sholat Istikharah.Berkata Ibnu Hajar dalam Fathul Bari :ويظهر أن يقال إن نوى تلك الصلاة بعينها وصلاة الاستخارة معا أجزأ بخلاف ما إذا لم ينو“Yang nampak (menurutku) dinyatakan sebagai berikut : jika seseorang meniatkan sholat sunnah itu sendiri dan sholat Istikharah sekaligus, maka (sholat Istikharahnya) sah , lain halnya jika ia tidak berniat (dengan niat sholat Istikharah sama sekali)”.  b) Adapun ulama lain berpendapat bahwa petikan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas menunjukkan bahwa sholat Istikharah harus dilakukan secara tersendiri, maka ini adalah pendapat ulama yang terkuat, yaitu pendapat ulama yang menyatakan bahwa tidak sah sholat Istikharah kecuali jika seseorang melakukannya secara tersendiri. (Bersambung, in sya Allah)Penulis : Ustadz Sa’id Abu Ukasyah Artikel. Muslim.or.id🔍 Hadits Tentang Menyampaikan Ilmu, Dalil Siksa Kubur, Contoh Ceramah Berbakti Kepada Orang Tua, Makna Berhijab, Sikap Qanaah

Penjelasan Hadits Istikharah (Bag. 3)

Baca pembahasan sebelumnya Penjelasan Hadits Istikharah (Bag. 2)Petikan Haditsكَمَا يُعَلِّمُنَا السُّورَةَ مِنْ الْقُرْآنِ“(sebagaimana mengajari kami) surat dalam Alquran”Penjelasan Dalam hadits ini terdapat penjelasan tentang pentingnya sholat Istikharah didalam kehidupan seorang muslim, oleh karena itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam semangat menjelaskan dan mengajarkannya kepada para sahabatnya sebagaimana menjelaskan dan mengajarkan surat Alquran kepada mereka, hal ini menunjukkan perhatian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam demikian besar terhadap Istikharah dan menunjukkan demikian butuhnya manusia melaksanakan Istikharah dalam seluruh urusannya, besar maupun kecil, karena diqiyaskan dengan pengajaran Alquran yang kebutuhan seorang muslim terhadap Alquran demikian menyeluruh, karena Alquran pedoman hidup dalam seluruh sisi kehidupan.Ath-Thibi berkata :فِيهِ إِشَارَةٌ إِلَى الِاعْتِنَاءِ التَّامِّ الْبَالِغِ بِهَذَا الدُّعَاءِ وَهَذِهِ الصَّلَاةِ لِجَعْلِهِمَا تِلْوَيْنِ لِلْفَرِيضَةِ وَالْقُرْآنِ“Didalam petikan hadits tersebut terdapat isyarat kepada perhatian yang sempurna dan besar terhadap doa dan sholat (Istikharah) ini, karena keduanya disebutkan mengiringi penyebutan sholat wajib dan Alquran.”Oleh karena itu, tak sepantasnya seorang muslim tidak mengetahuinya atau malas mengerjakannya, atau meninggalkannya, apalagi jika diiringi dengan memilih cara-cara mencari petunjuk yang berbau kesyirikan atau perdukunan. Petikan Hadits يَقُولُ إِذَا هَمَّ أَحَدُكُمْ بِالْأَمْرِbeliau bersabda: “Apabila salah seorang diantara kalian hendak melakukan sesuatu (yang membingungkan)” Penjelasan Maksudnya adalah seseorang yang berkehendak melakukan atau meninggalkan sesuatu, dan ia bingung memutuskannya, maka ia beristikharah kepada Allah; apakah akan ia lakukan atau tidak.Dari hadits ini bisa disimpulkan :Seseorang tidaklah diyari’atkan Istikharah ketika terlintas lintasan pikiran dan terbetik betikan batin yang tak berwujud kehendak melakukan atau meninggalkan sesuatu.Dan apabila Istikharah disyari’atkan untuk setiap lintasan pikiran atau batin, tentulah jika dilaksanakan akan menghabiskan waktu manusia, sebab lintasan dan betikan itu sangatlah banyak terdapat pada manusia.Petikan Hadits فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ مِنْ غَيْرِ الْفَرِيضَةِ“maka lakukanlah shalat (sunnah) dua roka’at selain sholat wajib” Penjelasan Dari petikan hadits di atas, dapat diambil beberpa pelajaran, yaitu: Sholat Istikharah itu sholat sunnah Maksudnya : sholat Istikharah itu tidak bisa terwujud dengan salah satu dari sholat fardhu 5 waktu, dan hanya bisa terwujud dengan sholat sunnah dua raka’at.Dengan demikian, istikharah tidak bisa terealisasi -misalnya- dengan berdoa Istikharah setelah sholat Shubuh, meski sholat Shubuh itu jumlahnya dua raka’at. Sholat sunnah Istikharah itu shalat sunnah tersendiri Ulama berselisih pendapat: apakah sholat sunnah Istikharah itu shalat sunnah tersendiri atau bisa digabung dengan sholat sunnah lainnya?  a) Sekelompok ulama berpendapat : Bahwa sholat Istikharah itu mencakup semua sholat sunnah, termasuk sholat sunnah Rawatib, Tahiyyatul Masjid, sholat sunnah Wudhu`, karena semua sholat sunnah tercakup kedalam keumuman : فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ مِنْ غَيْرِ الْفَرِيضَةِ“maka lakukanlah shalat (sunnah) dua roka’at selain sholat wajib” , sehingga tidak terlarang seseorang berdoa Istikharah setelah sholat sunnah Rawatib, misalnya.Berkata An-Nawawi rahimahullah dalam Al-Adzkar:والظاهر أنها تحصل بركعتين من السنن الرواتب، وبتحية المسجد وغيرها من النوافل“Yang nampak (menurutku dari dalilnya) bahwa sholat Istikharah bisa terealisasi dengan sholat sunnah dua raka’at, baik berupa sholat sunnah Rawatib, Tahiyyatul masjid, maupun sholat sunnah selainnya”.Namun, perlunya menggabungkan dua niat dalam melakukannya, yaitu: niat sholat sunnah yang bersangkutan (sholat sunnah Rawatib, misalnya) dan niat sholat Istikharah.Berkata Ibnu Hajar dalam Fathul Bari :ويظهر أن يقال إن نوى تلك الصلاة بعينها وصلاة الاستخارة معا أجزأ بخلاف ما إذا لم ينو“Yang nampak (menurutku) dinyatakan sebagai berikut : jika seseorang meniatkan sholat sunnah itu sendiri dan sholat Istikharah sekaligus, maka (sholat Istikharahnya) sah , lain halnya jika ia tidak berniat (dengan niat sholat Istikharah sama sekali)”.  b) Adapun ulama lain berpendapat bahwa petikan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas menunjukkan bahwa sholat Istikharah harus dilakukan secara tersendiri, maka ini adalah pendapat ulama yang terkuat, yaitu pendapat ulama yang menyatakan bahwa tidak sah sholat Istikharah kecuali jika seseorang melakukannya secara tersendiri. (Bersambung, in sya Allah)Penulis : Ustadz Sa’id Abu Ukasyah Artikel. Muslim.or.id🔍 Hadits Tentang Menyampaikan Ilmu, Dalil Siksa Kubur, Contoh Ceramah Berbakti Kepada Orang Tua, Makna Berhijab, Sikap Qanaah
Baca pembahasan sebelumnya Penjelasan Hadits Istikharah (Bag. 2)Petikan Haditsكَمَا يُعَلِّمُنَا السُّورَةَ مِنْ الْقُرْآنِ“(sebagaimana mengajari kami) surat dalam Alquran”Penjelasan Dalam hadits ini terdapat penjelasan tentang pentingnya sholat Istikharah didalam kehidupan seorang muslim, oleh karena itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam semangat menjelaskan dan mengajarkannya kepada para sahabatnya sebagaimana menjelaskan dan mengajarkan surat Alquran kepada mereka, hal ini menunjukkan perhatian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam demikian besar terhadap Istikharah dan menunjukkan demikian butuhnya manusia melaksanakan Istikharah dalam seluruh urusannya, besar maupun kecil, karena diqiyaskan dengan pengajaran Alquran yang kebutuhan seorang muslim terhadap Alquran demikian menyeluruh, karena Alquran pedoman hidup dalam seluruh sisi kehidupan.Ath-Thibi berkata :فِيهِ إِشَارَةٌ إِلَى الِاعْتِنَاءِ التَّامِّ الْبَالِغِ بِهَذَا الدُّعَاءِ وَهَذِهِ الصَّلَاةِ لِجَعْلِهِمَا تِلْوَيْنِ لِلْفَرِيضَةِ وَالْقُرْآنِ“Didalam petikan hadits tersebut terdapat isyarat kepada perhatian yang sempurna dan besar terhadap doa dan sholat (Istikharah) ini, karena keduanya disebutkan mengiringi penyebutan sholat wajib dan Alquran.”Oleh karena itu, tak sepantasnya seorang muslim tidak mengetahuinya atau malas mengerjakannya, atau meninggalkannya, apalagi jika diiringi dengan memilih cara-cara mencari petunjuk yang berbau kesyirikan atau perdukunan. Petikan Hadits يَقُولُ إِذَا هَمَّ أَحَدُكُمْ بِالْأَمْرِbeliau bersabda: “Apabila salah seorang diantara kalian hendak melakukan sesuatu (yang membingungkan)” Penjelasan Maksudnya adalah seseorang yang berkehendak melakukan atau meninggalkan sesuatu, dan ia bingung memutuskannya, maka ia beristikharah kepada Allah; apakah akan ia lakukan atau tidak.Dari hadits ini bisa disimpulkan :Seseorang tidaklah diyari’atkan Istikharah ketika terlintas lintasan pikiran dan terbetik betikan batin yang tak berwujud kehendak melakukan atau meninggalkan sesuatu.Dan apabila Istikharah disyari’atkan untuk setiap lintasan pikiran atau batin, tentulah jika dilaksanakan akan menghabiskan waktu manusia, sebab lintasan dan betikan itu sangatlah banyak terdapat pada manusia.Petikan Hadits فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ مِنْ غَيْرِ الْفَرِيضَةِ“maka lakukanlah shalat (sunnah) dua roka’at selain sholat wajib” Penjelasan Dari petikan hadits di atas, dapat diambil beberpa pelajaran, yaitu: Sholat Istikharah itu sholat sunnah Maksudnya : sholat Istikharah itu tidak bisa terwujud dengan salah satu dari sholat fardhu 5 waktu, dan hanya bisa terwujud dengan sholat sunnah dua raka’at.Dengan demikian, istikharah tidak bisa terealisasi -misalnya- dengan berdoa Istikharah setelah sholat Shubuh, meski sholat Shubuh itu jumlahnya dua raka’at. Sholat sunnah Istikharah itu shalat sunnah tersendiri Ulama berselisih pendapat: apakah sholat sunnah Istikharah itu shalat sunnah tersendiri atau bisa digabung dengan sholat sunnah lainnya?  a) Sekelompok ulama berpendapat : Bahwa sholat Istikharah itu mencakup semua sholat sunnah, termasuk sholat sunnah Rawatib, Tahiyyatul Masjid, sholat sunnah Wudhu`, karena semua sholat sunnah tercakup kedalam keumuman : فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ مِنْ غَيْرِ الْفَرِيضَةِ“maka lakukanlah shalat (sunnah) dua roka’at selain sholat wajib” , sehingga tidak terlarang seseorang berdoa Istikharah setelah sholat sunnah Rawatib, misalnya.Berkata An-Nawawi rahimahullah dalam Al-Adzkar:والظاهر أنها تحصل بركعتين من السنن الرواتب، وبتحية المسجد وغيرها من النوافل“Yang nampak (menurutku dari dalilnya) bahwa sholat Istikharah bisa terealisasi dengan sholat sunnah dua raka’at, baik berupa sholat sunnah Rawatib, Tahiyyatul masjid, maupun sholat sunnah selainnya”.Namun, perlunya menggabungkan dua niat dalam melakukannya, yaitu: niat sholat sunnah yang bersangkutan (sholat sunnah Rawatib, misalnya) dan niat sholat Istikharah.Berkata Ibnu Hajar dalam Fathul Bari :ويظهر أن يقال إن نوى تلك الصلاة بعينها وصلاة الاستخارة معا أجزأ بخلاف ما إذا لم ينو“Yang nampak (menurutku) dinyatakan sebagai berikut : jika seseorang meniatkan sholat sunnah itu sendiri dan sholat Istikharah sekaligus, maka (sholat Istikharahnya) sah , lain halnya jika ia tidak berniat (dengan niat sholat Istikharah sama sekali)”.  b) Adapun ulama lain berpendapat bahwa petikan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas menunjukkan bahwa sholat Istikharah harus dilakukan secara tersendiri, maka ini adalah pendapat ulama yang terkuat, yaitu pendapat ulama yang menyatakan bahwa tidak sah sholat Istikharah kecuali jika seseorang melakukannya secara tersendiri. (Bersambung, in sya Allah)Penulis : Ustadz Sa’id Abu Ukasyah Artikel. Muslim.or.id🔍 Hadits Tentang Menyampaikan Ilmu, Dalil Siksa Kubur, Contoh Ceramah Berbakti Kepada Orang Tua, Makna Berhijab, Sikap Qanaah


Baca pembahasan sebelumnya Penjelasan Hadits Istikharah (Bag. 2)Petikan Haditsكَمَا يُعَلِّمُنَا السُّورَةَ مِنْ الْقُرْآنِ“(sebagaimana mengajari kami) surat dalam Alquran”Penjelasan Dalam hadits ini terdapat penjelasan tentang pentingnya sholat Istikharah didalam kehidupan seorang muslim, oleh karena itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam semangat menjelaskan dan mengajarkannya kepada para sahabatnya sebagaimana menjelaskan dan mengajarkan surat Alquran kepada mereka, hal ini menunjukkan perhatian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam demikian besar terhadap Istikharah dan menunjukkan demikian butuhnya manusia melaksanakan Istikharah dalam seluruh urusannya, besar maupun kecil, karena diqiyaskan dengan pengajaran Alquran yang kebutuhan seorang muslim terhadap Alquran demikian menyeluruh, karena Alquran pedoman hidup dalam seluruh sisi kehidupan.Ath-Thibi berkata :فِيهِ إِشَارَةٌ إِلَى الِاعْتِنَاءِ التَّامِّ الْبَالِغِ بِهَذَا الدُّعَاءِ وَهَذِهِ الصَّلَاةِ لِجَعْلِهِمَا تِلْوَيْنِ لِلْفَرِيضَةِ وَالْقُرْآنِ“Didalam petikan hadits tersebut terdapat isyarat kepada perhatian yang sempurna dan besar terhadap doa dan sholat (Istikharah) ini, karena keduanya disebutkan mengiringi penyebutan sholat wajib dan Alquran.”Oleh karena itu, tak sepantasnya seorang muslim tidak mengetahuinya atau malas mengerjakannya, atau meninggalkannya, apalagi jika diiringi dengan memilih cara-cara mencari petunjuk yang berbau kesyirikan atau perdukunan. Petikan Hadits يَقُولُ إِذَا هَمَّ أَحَدُكُمْ بِالْأَمْرِbeliau bersabda: “Apabila salah seorang diantara kalian hendak melakukan sesuatu (yang membingungkan)” Penjelasan Maksudnya adalah seseorang yang berkehendak melakukan atau meninggalkan sesuatu, dan ia bingung memutuskannya, maka ia beristikharah kepada Allah; apakah akan ia lakukan atau tidak.Dari hadits ini bisa disimpulkan :Seseorang tidaklah diyari’atkan Istikharah ketika terlintas lintasan pikiran dan terbetik betikan batin yang tak berwujud kehendak melakukan atau meninggalkan sesuatu.Dan apabila Istikharah disyari’atkan untuk setiap lintasan pikiran atau batin, tentulah jika dilaksanakan akan menghabiskan waktu manusia, sebab lintasan dan betikan itu sangatlah banyak terdapat pada manusia.Petikan Hadits فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ مِنْ غَيْرِ الْفَرِيضَةِ“maka lakukanlah shalat (sunnah) dua roka’at selain sholat wajib” Penjelasan Dari petikan hadits di atas, dapat diambil beberpa pelajaran, yaitu: Sholat Istikharah itu sholat sunnah Maksudnya : sholat Istikharah itu tidak bisa terwujud dengan salah satu dari sholat fardhu 5 waktu, dan hanya bisa terwujud dengan sholat sunnah dua raka’at.Dengan demikian, istikharah tidak bisa terealisasi -misalnya- dengan berdoa Istikharah setelah sholat Shubuh, meski sholat Shubuh itu jumlahnya dua raka’at. Sholat sunnah Istikharah itu shalat sunnah tersendiri Ulama berselisih pendapat: apakah sholat sunnah Istikharah itu shalat sunnah tersendiri atau bisa digabung dengan sholat sunnah lainnya?  a) Sekelompok ulama berpendapat : Bahwa sholat Istikharah itu mencakup semua sholat sunnah, termasuk sholat sunnah Rawatib, Tahiyyatul Masjid, sholat sunnah Wudhu`, karena semua sholat sunnah tercakup kedalam keumuman : فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ مِنْ غَيْرِ الْفَرِيضَةِ“maka lakukanlah shalat (sunnah) dua roka’at selain sholat wajib” , sehingga tidak terlarang seseorang berdoa Istikharah setelah sholat sunnah Rawatib, misalnya.Berkata An-Nawawi rahimahullah dalam Al-Adzkar:والظاهر أنها تحصل بركعتين من السنن الرواتب، وبتحية المسجد وغيرها من النوافل“Yang nampak (menurutku dari dalilnya) bahwa sholat Istikharah bisa terealisasi dengan sholat sunnah dua raka’at, baik berupa sholat sunnah Rawatib, Tahiyyatul masjid, maupun sholat sunnah selainnya”.Namun, perlunya menggabungkan dua niat dalam melakukannya, yaitu: niat sholat sunnah yang bersangkutan (sholat sunnah Rawatib, misalnya) dan niat sholat Istikharah.Berkata Ibnu Hajar dalam Fathul Bari :ويظهر أن يقال إن نوى تلك الصلاة بعينها وصلاة الاستخارة معا أجزأ بخلاف ما إذا لم ينو“Yang nampak (menurutku) dinyatakan sebagai berikut : jika seseorang meniatkan sholat sunnah itu sendiri dan sholat Istikharah sekaligus, maka (sholat Istikharahnya) sah , lain halnya jika ia tidak berniat (dengan niat sholat Istikharah sama sekali)”.  b) Adapun ulama lain berpendapat bahwa petikan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas menunjukkan bahwa sholat Istikharah harus dilakukan secara tersendiri, maka ini adalah pendapat ulama yang terkuat, yaitu pendapat ulama yang menyatakan bahwa tidak sah sholat Istikharah kecuali jika seseorang melakukannya secara tersendiri. (Bersambung, in sya Allah)Penulis : Ustadz Sa’id Abu Ukasyah Artikel. Muslim.or.id🔍 Hadits Tentang Menyampaikan Ilmu, Dalil Siksa Kubur, Contoh Ceramah Berbakti Kepada Orang Tua, Makna Berhijab, Sikap Qanaah

Beberapa Kesalahan dan Kemungkaran terkait Ibadah Haji (Bag. 5)

Baca pembahasan sebelumnya Beberapa Kesalahan dan Kemungkaran terkait Ibadah Haji (Bag. 4)Mencari berkah (tabarruk) dengan tata cara yang tidak disyariatkanTabarruk adalah perbuatan untuk mencari berkah. Yang dimaksud dengan “berkah” adalah banyaknya kebaikan, bertambahnya kebaikan atau kebaikan yang terus-menerus. Sedangkan semua kebaikan atau keberkahan datangnya hanyalah dari sisi Allah Ta’ala. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, وَالبَرَكَةُ مِنَ اللَّهِ“Semua keberkahan itu berasal dari Allah.” (HR. Bukhari no. 3579)Karena keberkahan itu berasal dari Allah Ta’ala, maka bisa dipahami bahwa dalam mencari keberkahan tersebut juga harus sesuai dengan syariat yang telah Allah Ta’ala tetapkan.Tabarruk yang sesuai dengan syariat adalah tabarruk yang memenuhi dua syarat berikut ini:Syarat pertama, harus terdapat dalil dari Al-Qu’an dan As-Sunnah tentang adanya amalan (baik ucapan atau perbuatan badan), waktu, benda atau tempat tertentu yang memiliki manfaat atau keberkahan.Misalnya: Bertabarruk dengan membaca Al-Qur’an dan mengamalkan isi kandungannya. Tabarruk dengan hajar aswad dan rukun Yamani (sebagaimana yang sudah kami sebutkan dalil-dalilnya di seri sebelumnya). Tabarruk dengan bulan Ramadhan dan malam lailatul qadar. Adanya keberkahan pada Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Adanya keberkahan pada air zam zam. Syarat ke dua, cara mendapatkan keberkahan harus sesuai dengan tuntunan (sunnah) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Misalnya: Cara mendapatkan keberkahan dari hajar aswad adalah dengan (a) mencium; (b) mengusap dengan tangan; (c) mencium tangan setelah mengusap hajar aswad; atau (d) berisyarat ke hajar aswad jika tidak memungkinkan mengusapnya secara langsung (dan tidak boleh mencium tangan dalam kondisi ini). Cara mendapatkan keberkahan rukun Yamani adalah dengan mengusapnya dengan tangan (saja). Kita mengusap hajar aswad dan rukun Yamani bukan karena keyakinan bahwa benda-benda tersebut secara dzatnya dapat memberikan keberkahan, akan tetapi dalam rangka beribadah kepada Allah Ta’ala dengan mengikuti petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (ittiba’). Hal ini sebagaimana perkataan ‘Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu yang telah kami kutip pada seri sebelumnya. Mendapatkan keberkahan di masjid Nabawi dan masjidil Haram adalah dengan memperbanyak shalat di dalamnya. Karena shalat di Masjid Nabawi akan dilipatgandakan sebanyak 1000 kali shalat; sedangkan di Masjidil Haram dilipatgandakan sebanyak 100.000 kali. Hal ini sebagaimana hadits-hadits shahih yang menunjukkan keutamaan tersebut. Tabarruk dengan ka’bah dengan melaksanakan thawaf. Tabarruk di malam lailatul qadar adalah dengan melaksanakan shalat, dzikir, sedekah, dan membaca Al-Qur’an. Adapun mengkhususkan lailatul qadar dengan melaksanakan umrah, maka hal ini tidak ada tuntunannya. Pelanggaran terhadap kedua syarat tersebut akan menyebabkan seseorang terjatuh ke dalam tabarruk yang diharamkan.Dalil tegas masalah ini adalah sebuah hadits yang diriwayatkan dari sahabat Abu Waqid Al-Laitsi radhiyallahu ‘anhu, beliau radhiyallahu ‘anhu menceritakan, “Kami bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pergi ke Hunain. Kami adalah orang-orang yang baru saja masuk Islam. Ketika itu, orang-orang musyrik memiliki pohon yang digunakan untuk bersemedi dan menggantungkan senjata-senjata mereka. Pohon itu dinamakan dengan ‘dzatu anwath’. Ketika kami melewati pohon tersebut, kami mengatakan, ‘Wahai Rasulullah, buatkanlah dzatu anwath untuk kami seperti mereka’. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda,اللهُ أَكْبَرُ! إِنَّهَا السُّنَنُ، قُلْتُمْ ـ وَالَّذِيْ نَفْسِيْ بِيَدِهِ ـ كَمَا قَالَتْ بَنُوْ إِسْرَائِيْلَ لِمُوْسَى: اِجْعَلْ لَنَا إِلَهاً كَمَا لَهُمْ آلِهَةٌ قَالَ إِنَّكُمْ قَوْمٌ تَجْهَلُوْنَ لَتَرْكَبُنَّ سُنَنَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ‘Allahu Akbar, itu adalah tradisi orang-orang sebelum kalian. Demi Dzat yang diriku berada di tangan-Nya, ucapan kalian itu seperti ucapan bani Israil kepada Nabi Musa, ‘Buatkanlah sesembahan-sesembahan untuk kami sebagaimana mereka juga memiliki sesembahan yang banyak’ (QS. Al A’raf [7]:  138). Kalian pasti akan mengikuti tradisi orang-orang sebelum kalian.” (HR. Tirmidzi no. 2180)Berdasarkan hadits di atas, orang-orang musyrik memiliki pohon dzatu anwath yang mereka gunakan untuk tabarruk, yaitu dengan bersemedi (i’tikaf) dan menggantungkan senjata-senjata mereka di pohon tersebut. Dan ketika sahabat yang baru saja masuk Islam meminta dibuatkan pohon yang sama untuk bertabarruk, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mengingkari hal tersebut. Dan menyamakan permintaan mereka dengan permintaan Bani Israil kepada Nabi Musa ‘alaihis salaam untuk dibuatkan sesembahan karena mengikuti orang-orang musyrik di zaman Bani Israil. Jadi, permintaan para sahabat yang baru saja masuk Islam ini sama dengan permintaan Bani Israil dari sisi sama-sama termasuk kemusyrikan, meskipun berbeda dari sisi levelnya. Hal ini karena permintaan para sahabat itu termasuk syirik ashghar, sedangkan permintaan Bani Israil termasuk syirik akbar.Di antara contoh tabarruk yang terlarang: Tabarruk dengan mengusap-ngusapkan badan ke dinding atau tiang-tiang Masjidil Haram atau Masjid Nabawi. Tabarruk dengan mengusap-ngusapkan badan ke sumur zam zam. Tabarruk dengan mengusap sudut ka’bah, selain hajar aswad dan rukun Yamani, sebagaimana pengingkaran Ibnu ‘Abbas terhadap Mu’awiyah bin Abi Sufyan, yang telah kami sebutkan sebelumnya. Dan sahabat Mu’awiyah pun menerima nasihat Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhum. Tabarruk dengan menempelkan wajah dan badan ke semua sisi (dinding) ka’bah selain sisi multazam. Tabarruk dengan kain kiswah penutup ka’bah (misalnya dengan mengusap dan menciumnya), bahkan rela membeli potongan kiswah dengan harga mahal. Mengusap maqam Ibrahim atau mengusap yang biasa disebut orang awam dengan hijir “Isma’il”. (Catatan: adanya hijir ini jauh setelah Nabi Isma’il meninggal dunia, sehingga salah kaprah kalau disebut hijir Isma’il.) Tabarruk dengan gulung-gulung atau menyimpan debu dari tanah haram, untuk digantung di depan pintu rumah atau toko. Tabarrauk dengan mendatangi tempat-tempat yang diyakini sebagai tempat kelahiran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di kota Mekah dan bahkan menempel-nempelkan badan di dinding bangunan tersebut. Status hukum pelaku perbuatan tersebut dapat dirinci menjadi dua keadaan.Kondisi pertama, jika mencari keberkahan kepada selain Allah Ta’ala atau jika seseorang yang bertabarruk tersebut meyakini bahwa benda-benda tersebut dapat memberikan keberkahan dengan sendirinya tanpa takdir Allah Ta’ala, maka ini kemusyrikan syirik akbar. Hal ini karena tabarruk adalah bentuk ibadah yang harus ditujukan hanya kepada Allah Ta’ala, bukan kepada makhluk.Kondisi ke dua, seseorang meyakini bahwa keberkahan tersebut datangnya dari Allah Ta’ala, namun dia meyakini bahwa perbuatannya tersebut mendatangkan keberkahan, padahal tidak ada dalilnya dari syariat. Atau seseorang bertabarruk dengan benda yang ada dalilnya dari syariat, namun dengan tata cara yang tidak dituntunkan. Dalam kondisi seperti ini, belum termasuk kemusyrikan, namun termasuk di antara sebab atau sarana paling besar yang dapat menjerumuskan seseorang ke dalam syirik akbar. (Lihat Tahdzib Tashil Al-‘Aqidah Al-Islamiyyah, hal. 115-126 dan Al-Minzhaar fi Bayaani Katsiir min Al-Akhthaa’i Asy-Syaa’iati, hal. 69-70)Mencari berkah dengan “napak tilas” jejak dan peninggalan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam serta meyakini disyariatkannya mengunjungi tempat-tempat tersebutMasalah ini sebetulnya masih sejenis dengan masalah sebelumnya. Akan tetapi, kami ingin menyebutkannya secara khusus karena pentingnya masalah ini. Jejak dan peninggalan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebut misalnya gunung Tsur, gua Hira’, Jabal ‘Arafah (tepatnya di daerah bebatuan di balik dan di bawah Jabal ‘Arafah), atau tempat-tempat yang dilewati Nabi  shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika safar.Tidak boleh bagi seorang muslim untuk mengunjungi tempat-tempat tersebut dengan niat, maksud, dan tujuan untuk beribadah kepada Allah Ta’ala, baik dengan shalat, berdoa, atau ibadah yang lainnya. Demikian pula, tidak diperbolehkan bagi setiap muslim untuk mengusap-usap tempat tersebut untuk mencari berkahnya (tabarruk).Semua ini termasuk bid’ah yang tidak pernah diajarkan dan tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya radhiyallahu ‘anhum. Mengagungkan dan mengistimewakan tempat atau “petilasan” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan mengunjunginya disertai maksud untuk mencari berkah dan menjadikannya sebagai sarana ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala termasuk di antara sarana menuju kemusyrikan yang terlarang.Adapun jika mengunjungi tempat-tempat tersebut hanya sekedar ingin tahu (jalan-jalan) atau penasaran di manakah letak dan posisinya, tanpa memiliki keyakinan apa pun terkait “keberkahan” tempat-tempat peninggalan tersebut dan tanpa meyakini bahwa hal itu adalah sesuatu yang disyariatkan (dianjurkan) dalam agama ini, maka hal ini diperbolehkan.Oleh karena itu, tidak terdapat contoh dari para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang bersengaja pergi mengunjungi tempat-tempat tersebut untuk mencari berkah, baik dengan mencium, mengusap-usap, menyentuh, dan sejenisnya. Para sahabat pun tidak pernah bersengaja pergi ke sana untuk beribadah kepada Allah Ta’ala.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لاَ تُشَدُّ الرِّحَالُ إِلَّا إِلَى ثَلاَثَةِ مَسَاجِدَ: المَسْجِدِ الحَرَامِ، وَمَسْجِدِ الرَّسُولِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَمَسْجِدِ الأَقْصَى“Tidak boleh bersengaja mengadakan perjalanan (dalam rangka ibadah), kecuali menuju tiga masjid, yaitu Masjidil Haram, masjid Rasulullah (Masjid Nabawi), dan Masjidil Aqsha.” (HR. Bukhari no. 1189 dan Muslim no. 1397)Diriwayatkan dari ‘Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu, ketika beliau melihat manusia singgah di suatu masjid untuk shalat setelah pulang dari ibadah haji, beliau pun bertanya kepada mereka. Mereka berkata, “Ini masjid yang dulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan shalat di sini.”‘Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu kemudian berkata,إِنَّمَا هَلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ أَنَّهُمُ اتَّخَذُوا آثَارَ أَنْبِيَائِهِمْ بِيَعًا“Sesungguhnya (sebab) kebinasaan umat-umat sebelum kalian adalah karena mereka menjadikan bekas-bekas peninggalan Nabi mereka sebagai tempat ibadah.” (Mushannaf ‘Abdurrazaq no. 2734)Kepada kaum muslimin, renungkanlah perkataan sahabat yang mulia, ‘Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu di atas. Seorang sahabat yang dipuji oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya,إِنَّ اللَّهَ جَعَلَ الحَقَّ عَلَى لِسَانِ عُمَرَ وَقَلْبِهِ“Sesungguhnya Allah meletakkan kebenaran pada lisan dan hati ‘Umar bin Khaththab.” (HR. Tirmidzi no. 3682, Ahmad 2/95 dan Ibnu Hibban no. 2185, shahih)Demikian pula, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kita untuk meneladani ‘Umar bin Khaththab,اقْتَدُوا بِاللَّذَيْنِ مِنْ بَعْدِي أَبِي بَكْرٍ، وَعُمَرَ“Ambillah teladan setelahku dengan dua orang yaitu Abu Bakr dan ‘Umar.” (HR. Tirmidzi no. 3662 dan Ahmad 5/382. Hadits ini dinilai hasan oleh Syaikh Syu’aib Al-Arnauth)Berdasarkan perkataan ‘Umar bin Khaththab di atas, dapat kita simpulkan bahwa jika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menjadikan suatu tempat sebagai maksud dan tujuan untuk beribadah, maka kita tidak boleh menjadikan tempat tersebut untuk beribadah. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat di situ hanya karena kebetulan, bukan menjadikan masjid tersebut sebagai maksud pokok.Oleh karena itu, jika ada di antara kita yang kebetulan lewat di tempat-tempat (masjid) tersebut dan waktu shalat sudah masuk, maka silakan shalat. Jika waktu shalat belum tiba, kita pun melanjutkan perjalanan.Catatan penting, jika “napak tilas” jejak Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saja merupakan sebab kebinasaan, bagaimana lagi dengan “napak tilas” jejak orang shalih yang kedudukannya jauh di bawah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam? Semoga kaum muslimin merenungkan hal ini.Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baaz rahimahullah berkata,لا يجوز للمسلم تتبع آثار الأنبياء ليصلي فيها أو ليبني عليها مساجد ؛ لأن ذلك من وسائل الشرك ، ولهذا كان عمر رضي الله عنه ينهى الناس عن ذلك ويقول : ( إنما هلك من كان قبلكم بتتبعهم آثار أنبيائهم ) ، وقطع رضي الله عنه الشجرة التي في الحديبية التي بويع النبي صلى الله عليه وسلم تحتها ؛ لما رأى بعض الناس يذهبون إليها ويصلون تحتها ؛ حسما لوسائل الشرك ، وتحذيرا للأمة من البدع“Tidak boleh atas setiap muslim melakukan napak tilas jejak peninggalan para Nabi dengan tujuan untuk shalat di tempat tersebut atau membangun masjid di atasnya, karena hal itu adalah sarana menuju kemusyrikan. Oleh karena itu, ‘Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu melarang manusia untuk melakukan hal itu dengan mengatakan, “Sesungguhnya kebinasaan umat-umat sebelum kalian adalah karena mereka napak tilas peninggalan para Nabi mereka.” ‘Umar juga menebang pohon, yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berbaiat di bawah pohon tersebut, ketika beliau melihat sebagian manusia sengaja pergi ke sana dan shalat di bawahnya. Hal ini adalah dalam rangka memangkas sarana menuju syirik dan memperingatkan umat dari (bahaya) bid’ah.” (Majmu’ Fataawa Ibnu Baaz, 8: 323)Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata,قبر إبراهيم الخليل: لم يكن في الصحابة ولا التابعين لهم بإحسان من يأتيه للصلاة عنده، ولا الدعاء ولا كانوا يقصدونه للزيارة أصلا“Tidak ada sahabat dan tabi’in yang mengikuti mereka dengan baik yang mendatangi makam Nabi Ibrahim untuk shalat dan berdoa di sisinya, dan sama sekali mereka tidak pula bersengaja untuk mengunjunginya.” (Iqtidha’ Shirathil Mustaqim, 2: 823)[Bersambung]***@Sint-Jobskade 718 NL, 1 Dzulqa’dah 1439/ 15 Juli 2018Oleh seorang hamba yang sangat butuh ampunan Rabb-nya,Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.Or.Id🔍 Tabarruk Adalah, Hadits Sholat Dhuha, Hakikat Shalat 5 Waktu, Mandi Malam Menurut Islam, Doa Poligami

Beberapa Kesalahan dan Kemungkaran terkait Ibadah Haji (Bag. 5)

Baca pembahasan sebelumnya Beberapa Kesalahan dan Kemungkaran terkait Ibadah Haji (Bag. 4)Mencari berkah (tabarruk) dengan tata cara yang tidak disyariatkanTabarruk adalah perbuatan untuk mencari berkah. Yang dimaksud dengan “berkah” adalah banyaknya kebaikan, bertambahnya kebaikan atau kebaikan yang terus-menerus. Sedangkan semua kebaikan atau keberkahan datangnya hanyalah dari sisi Allah Ta’ala. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, وَالبَرَكَةُ مِنَ اللَّهِ“Semua keberkahan itu berasal dari Allah.” (HR. Bukhari no. 3579)Karena keberkahan itu berasal dari Allah Ta’ala, maka bisa dipahami bahwa dalam mencari keberkahan tersebut juga harus sesuai dengan syariat yang telah Allah Ta’ala tetapkan.Tabarruk yang sesuai dengan syariat adalah tabarruk yang memenuhi dua syarat berikut ini:Syarat pertama, harus terdapat dalil dari Al-Qu’an dan As-Sunnah tentang adanya amalan (baik ucapan atau perbuatan badan), waktu, benda atau tempat tertentu yang memiliki manfaat atau keberkahan.Misalnya: Bertabarruk dengan membaca Al-Qur’an dan mengamalkan isi kandungannya. Tabarruk dengan hajar aswad dan rukun Yamani (sebagaimana yang sudah kami sebutkan dalil-dalilnya di seri sebelumnya). Tabarruk dengan bulan Ramadhan dan malam lailatul qadar. Adanya keberkahan pada Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Adanya keberkahan pada air zam zam. Syarat ke dua, cara mendapatkan keberkahan harus sesuai dengan tuntunan (sunnah) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Misalnya: Cara mendapatkan keberkahan dari hajar aswad adalah dengan (a) mencium; (b) mengusap dengan tangan; (c) mencium tangan setelah mengusap hajar aswad; atau (d) berisyarat ke hajar aswad jika tidak memungkinkan mengusapnya secara langsung (dan tidak boleh mencium tangan dalam kondisi ini). Cara mendapatkan keberkahan rukun Yamani adalah dengan mengusapnya dengan tangan (saja). Kita mengusap hajar aswad dan rukun Yamani bukan karena keyakinan bahwa benda-benda tersebut secara dzatnya dapat memberikan keberkahan, akan tetapi dalam rangka beribadah kepada Allah Ta’ala dengan mengikuti petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (ittiba’). Hal ini sebagaimana perkataan ‘Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu yang telah kami kutip pada seri sebelumnya. Mendapatkan keberkahan di masjid Nabawi dan masjidil Haram adalah dengan memperbanyak shalat di dalamnya. Karena shalat di Masjid Nabawi akan dilipatgandakan sebanyak 1000 kali shalat; sedangkan di Masjidil Haram dilipatgandakan sebanyak 100.000 kali. Hal ini sebagaimana hadits-hadits shahih yang menunjukkan keutamaan tersebut. Tabarruk dengan ka’bah dengan melaksanakan thawaf. Tabarruk di malam lailatul qadar adalah dengan melaksanakan shalat, dzikir, sedekah, dan membaca Al-Qur’an. Adapun mengkhususkan lailatul qadar dengan melaksanakan umrah, maka hal ini tidak ada tuntunannya. Pelanggaran terhadap kedua syarat tersebut akan menyebabkan seseorang terjatuh ke dalam tabarruk yang diharamkan.Dalil tegas masalah ini adalah sebuah hadits yang diriwayatkan dari sahabat Abu Waqid Al-Laitsi radhiyallahu ‘anhu, beliau radhiyallahu ‘anhu menceritakan, “Kami bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pergi ke Hunain. Kami adalah orang-orang yang baru saja masuk Islam. Ketika itu, orang-orang musyrik memiliki pohon yang digunakan untuk bersemedi dan menggantungkan senjata-senjata mereka. Pohon itu dinamakan dengan ‘dzatu anwath’. Ketika kami melewati pohon tersebut, kami mengatakan, ‘Wahai Rasulullah, buatkanlah dzatu anwath untuk kami seperti mereka’. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda,اللهُ أَكْبَرُ! إِنَّهَا السُّنَنُ، قُلْتُمْ ـ وَالَّذِيْ نَفْسِيْ بِيَدِهِ ـ كَمَا قَالَتْ بَنُوْ إِسْرَائِيْلَ لِمُوْسَى: اِجْعَلْ لَنَا إِلَهاً كَمَا لَهُمْ آلِهَةٌ قَالَ إِنَّكُمْ قَوْمٌ تَجْهَلُوْنَ لَتَرْكَبُنَّ سُنَنَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ‘Allahu Akbar, itu adalah tradisi orang-orang sebelum kalian. Demi Dzat yang diriku berada di tangan-Nya, ucapan kalian itu seperti ucapan bani Israil kepada Nabi Musa, ‘Buatkanlah sesembahan-sesembahan untuk kami sebagaimana mereka juga memiliki sesembahan yang banyak’ (QS. Al A’raf [7]:  138). Kalian pasti akan mengikuti tradisi orang-orang sebelum kalian.” (HR. Tirmidzi no. 2180)Berdasarkan hadits di atas, orang-orang musyrik memiliki pohon dzatu anwath yang mereka gunakan untuk tabarruk, yaitu dengan bersemedi (i’tikaf) dan menggantungkan senjata-senjata mereka di pohon tersebut. Dan ketika sahabat yang baru saja masuk Islam meminta dibuatkan pohon yang sama untuk bertabarruk, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mengingkari hal tersebut. Dan menyamakan permintaan mereka dengan permintaan Bani Israil kepada Nabi Musa ‘alaihis salaam untuk dibuatkan sesembahan karena mengikuti orang-orang musyrik di zaman Bani Israil. Jadi, permintaan para sahabat yang baru saja masuk Islam ini sama dengan permintaan Bani Israil dari sisi sama-sama termasuk kemusyrikan, meskipun berbeda dari sisi levelnya. Hal ini karena permintaan para sahabat itu termasuk syirik ashghar, sedangkan permintaan Bani Israil termasuk syirik akbar.Di antara contoh tabarruk yang terlarang: Tabarruk dengan mengusap-ngusapkan badan ke dinding atau tiang-tiang Masjidil Haram atau Masjid Nabawi. Tabarruk dengan mengusap-ngusapkan badan ke sumur zam zam. Tabarruk dengan mengusap sudut ka’bah, selain hajar aswad dan rukun Yamani, sebagaimana pengingkaran Ibnu ‘Abbas terhadap Mu’awiyah bin Abi Sufyan, yang telah kami sebutkan sebelumnya. Dan sahabat Mu’awiyah pun menerima nasihat Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhum. Tabarruk dengan menempelkan wajah dan badan ke semua sisi (dinding) ka’bah selain sisi multazam. Tabarruk dengan kain kiswah penutup ka’bah (misalnya dengan mengusap dan menciumnya), bahkan rela membeli potongan kiswah dengan harga mahal. Mengusap maqam Ibrahim atau mengusap yang biasa disebut orang awam dengan hijir “Isma’il”. (Catatan: adanya hijir ini jauh setelah Nabi Isma’il meninggal dunia, sehingga salah kaprah kalau disebut hijir Isma’il.) Tabarruk dengan gulung-gulung atau menyimpan debu dari tanah haram, untuk digantung di depan pintu rumah atau toko. Tabarrauk dengan mendatangi tempat-tempat yang diyakini sebagai tempat kelahiran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di kota Mekah dan bahkan menempel-nempelkan badan di dinding bangunan tersebut. Status hukum pelaku perbuatan tersebut dapat dirinci menjadi dua keadaan.Kondisi pertama, jika mencari keberkahan kepada selain Allah Ta’ala atau jika seseorang yang bertabarruk tersebut meyakini bahwa benda-benda tersebut dapat memberikan keberkahan dengan sendirinya tanpa takdir Allah Ta’ala, maka ini kemusyrikan syirik akbar. Hal ini karena tabarruk adalah bentuk ibadah yang harus ditujukan hanya kepada Allah Ta’ala, bukan kepada makhluk.Kondisi ke dua, seseorang meyakini bahwa keberkahan tersebut datangnya dari Allah Ta’ala, namun dia meyakini bahwa perbuatannya tersebut mendatangkan keberkahan, padahal tidak ada dalilnya dari syariat. Atau seseorang bertabarruk dengan benda yang ada dalilnya dari syariat, namun dengan tata cara yang tidak dituntunkan. Dalam kondisi seperti ini, belum termasuk kemusyrikan, namun termasuk di antara sebab atau sarana paling besar yang dapat menjerumuskan seseorang ke dalam syirik akbar. (Lihat Tahdzib Tashil Al-‘Aqidah Al-Islamiyyah, hal. 115-126 dan Al-Minzhaar fi Bayaani Katsiir min Al-Akhthaa’i Asy-Syaa’iati, hal. 69-70)Mencari berkah dengan “napak tilas” jejak dan peninggalan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam serta meyakini disyariatkannya mengunjungi tempat-tempat tersebutMasalah ini sebetulnya masih sejenis dengan masalah sebelumnya. Akan tetapi, kami ingin menyebutkannya secara khusus karena pentingnya masalah ini. Jejak dan peninggalan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebut misalnya gunung Tsur, gua Hira’, Jabal ‘Arafah (tepatnya di daerah bebatuan di balik dan di bawah Jabal ‘Arafah), atau tempat-tempat yang dilewati Nabi  shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika safar.Tidak boleh bagi seorang muslim untuk mengunjungi tempat-tempat tersebut dengan niat, maksud, dan tujuan untuk beribadah kepada Allah Ta’ala, baik dengan shalat, berdoa, atau ibadah yang lainnya. Demikian pula, tidak diperbolehkan bagi setiap muslim untuk mengusap-usap tempat tersebut untuk mencari berkahnya (tabarruk).Semua ini termasuk bid’ah yang tidak pernah diajarkan dan tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya radhiyallahu ‘anhum. Mengagungkan dan mengistimewakan tempat atau “petilasan” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan mengunjunginya disertai maksud untuk mencari berkah dan menjadikannya sebagai sarana ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala termasuk di antara sarana menuju kemusyrikan yang terlarang.Adapun jika mengunjungi tempat-tempat tersebut hanya sekedar ingin tahu (jalan-jalan) atau penasaran di manakah letak dan posisinya, tanpa memiliki keyakinan apa pun terkait “keberkahan” tempat-tempat peninggalan tersebut dan tanpa meyakini bahwa hal itu adalah sesuatu yang disyariatkan (dianjurkan) dalam agama ini, maka hal ini diperbolehkan.Oleh karena itu, tidak terdapat contoh dari para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang bersengaja pergi mengunjungi tempat-tempat tersebut untuk mencari berkah, baik dengan mencium, mengusap-usap, menyentuh, dan sejenisnya. Para sahabat pun tidak pernah bersengaja pergi ke sana untuk beribadah kepada Allah Ta’ala.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لاَ تُشَدُّ الرِّحَالُ إِلَّا إِلَى ثَلاَثَةِ مَسَاجِدَ: المَسْجِدِ الحَرَامِ، وَمَسْجِدِ الرَّسُولِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَمَسْجِدِ الأَقْصَى“Tidak boleh bersengaja mengadakan perjalanan (dalam rangka ibadah), kecuali menuju tiga masjid, yaitu Masjidil Haram, masjid Rasulullah (Masjid Nabawi), dan Masjidil Aqsha.” (HR. Bukhari no. 1189 dan Muslim no. 1397)Diriwayatkan dari ‘Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu, ketika beliau melihat manusia singgah di suatu masjid untuk shalat setelah pulang dari ibadah haji, beliau pun bertanya kepada mereka. Mereka berkata, “Ini masjid yang dulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan shalat di sini.”‘Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu kemudian berkata,إِنَّمَا هَلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ أَنَّهُمُ اتَّخَذُوا آثَارَ أَنْبِيَائِهِمْ بِيَعًا“Sesungguhnya (sebab) kebinasaan umat-umat sebelum kalian adalah karena mereka menjadikan bekas-bekas peninggalan Nabi mereka sebagai tempat ibadah.” (Mushannaf ‘Abdurrazaq no. 2734)Kepada kaum muslimin, renungkanlah perkataan sahabat yang mulia, ‘Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu di atas. Seorang sahabat yang dipuji oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya,إِنَّ اللَّهَ جَعَلَ الحَقَّ عَلَى لِسَانِ عُمَرَ وَقَلْبِهِ“Sesungguhnya Allah meletakkan kebenaran pada lisan dan hati ‘Umar bin Khaththab.” (HR. Tirmidzi no. 3682, Ahmad 2/95 dan Ibnu Hibban no. 2185, shahih)Demikian pula, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kita untuk meneladani ‘Umar bin Khaththab,اقْتَدُوا بِاللَّذَيْنِ مِنْ بَعْدِي أَبِي بَكْرٍ، وَعُمَرَ“Ambillah teladan setelahku dengan dua orang yaitu Abu Bakr dan ‘Umar.” (HR. Tirmidzi no. 3662 dan Ahmad 5/382. Hadits ini dinilai hasan oleh Syaikh Syu’aib Al-Arnauth)Berdasarkan perkataan ‘Umar bin Khaththab di atas, dapat kita simpulkan bahwa jika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menjadikan suatu tempat sebagai maksud dan tujuan untuk beribadah, maka kita tidak boleh menjadikan tempat tersebut untuk beribadah. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat di situ hanya karena kebetulan, bukan menjadikan masjid tersebut sebagai maksud pokok.Oleh karena itu, jika ada di antara kita yang kebetulan lewat di tempat-tempat (masjid) tersebut dan waktu shalat sudah masuk, maka silakan shalat. Jika waktu shalat belum tiba, kita pun melanjutkan perjalanan.Catatan penting, jika “napak tilas” jejak Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saja merupakan sebab kebinasaan, bagaimana lagi dengan “napak tilas” jejak orang shalih yang kedudukannya jauh di bawah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam? Semoga kaum muslimin merenungkan hal ini.Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baaz rahimahullah berkata,لا يجوز للمسلم تتبع آثار الأنبياء ليصلي فيها أو ليبني عليها مساجد ؛ لأن ذلك من وسائل الشرك ، ولهذا كان عمر رضي الله عنه ينهى الناس عن ذلك ويقول : ( إنما هلك من كان قبلكم بتتبعهم آثار أنبيائهم ) ، وقطع رضي الله عنه الشجرة التي في الحديبية التي بويع النبي صلى الله عليه وسلم تحتها ؛ لما رأى بعض الناس يذهبون إليها ويصلون تحتها ؛ حسما لوسائل الشرك ، وتحذيرا للأمة من البدع“Tidak boleh atas setiap muslim melakukan napak tilas jejak peninggalan para Nabi dengan tujuan untuk shalat di tempat tersebut atau membangun masjid di atasnya, karena hal itu adalah sarana menuju kemusyrikan. Oleh karena itu, ‘Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu melarang manusia untuk melakukan hal itu dengan mengatakan, “Sesungguhnya kebinasaan umat-umat sebelum kalian adalah karena mereka napak tilas peninggalan para Nabi mereka.” ‘Umar juga menebang pohon, yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berbaiat di bawah pohon tersebut, ketika beliau melihat sebagian manusia sengaja pergi ke sana dan shalat di bawahnya. Hal ini adalah dalam rangka memangkas sarana menuju syirik dan memperingatkan umat dari (bahaya) bid’ah.” (Majmu’ Fataawa Ibnu Baaz, 8: 323)Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata,قبر إبراهيم الخليل: لم يكن في الصحابة ولا التابعين لهم بإحسان من يأتيه للصلاة عنده، ولا الدعاء ولا كانوا يقصدونه للزيارة أصلا“Tidak ada sahabat dan tabi’in yang mengikuti mereka dengan baik yang mendatangi makam Nabi Ibrahim untuk shalat dan berdoa di sisinya, dan sama sekali mereka tidak pula bersengaja untuk mengunjunginya.” (Iqtidha’ Shirathil Mustaqim, 2: 823)[Bersambung]***@Sint-Jobskade 718 NL, 1 Dzulqa’dah 1439/ 15 Juli 2018Oleh seorang hamba yang sangat butuh ampunan Rabb-nya,Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.Or.Id🔍 Tabarruk Adalah, Hadits Sholat Dhuha, Hakikat Shalat 5 Waktu, Mandi Malam Menurut Islam, Doa Poligami
Baca pembahasan sebelumnya Beberapa Kesalahan dan Kemungkaran terkait Ibadah Haji (Bag. 4)Mencari berkah (tabarruk) dengan tata cara yang tidak disyariatkanTabarruk adalah perbuatan untuk mencari berkah. Yang dimaksud dengan “berkah” adalah banyaknya kebaikan, bertambahnya kebaikan atau kebaikan yang terus-menerus. Sedangkan semua kebaikan atau keberkahan datangnya hanyalah dari sisi Allah Ta’ala. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, وَالبَرَكَةُ مِنَ اللَّهِ“Semua keberkahan itu berasal dari Allah.” (HR. Bukhari no. 3579)Karena keberkahan itu berasal dari Allah Ta’ala, maka bisa dipahami bahwa dalam mencari keberkahan tersebut juga harus sesuai dengan syariat yang telah Allah Ta’ala tetapkan.Tabarruk yang sesuai dengan syariat adalah tabarruk yang memenuhi dua syarat berikut ini:Syarat pertama, harus terdapat dalil dari Al-Qu’an dan As-Sunnah tentang adanya amalan (baik ucapan atau perbuatan badan), waktu, benda atau tempat tertentu yang memiliki manfaat atau keberkahan.Misalnya: Bertabarruk dengan membaca Al-Qur’an dan mengamalkan isi kandungannya. Tabarruk dengan hajar aswad dan rukun Yamani (sebagaimana yang sudah kami sebutkan dalil-dalilnya di seri sebelumnya). Tabarruk dengan bulan Ramadhan dan malam lailatul qadar. Adanya keberkahan pada Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Adanya keberkahan pada air zam zam. Syarat ke dua, cara mendapatkan keberkahan harus sesuai dengan tuntunan (sunnah) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Misalnya: Cara mendapatkan keberkahan dari hajar aswad adalah dengan (a) mencium; (b) mengusap dengan tangan; (c) mencium tangan setelah mengusap hajar aswad; atau (d) berisyarat ke hajar aswad jika tidak memungkinkan mengusapnya secara langsung (dan tidak boleh mencium tangan dalam kondisi ini). Cara mendapatkan keberkahan rukun Yamani adalah dengan mengusapnya dengan tangan (saja). Kita mengusap hajar aswad dan rukun Yamani bukan karena keyakinan bahwa benda-benda tersebut secara dzatnya dapat memberikan keberkahan, akan tetapi dalam rangka beribadah kepada Allah Ta’ala dengan mengikuti petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (ittiba’). Hal ini sebagaimana perkataan ‘Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu yang telah kami kutip pada seri sebelumnya. Mendapatkan keberkahan di masjid Nabawi dan masjidil Haram adalah dengan memperbanyak shalat di dalamnya. Karena shalat di Masjid Nabawi akan dilipatgandakan sebanyak 1000 kali shalat; sedangkan di Masjidil Haram dilipatgandakan sebanyak 100.000 kali. Hal ini sebagaimana hadits-hadits shahih yang menunjukkan keutamaan tersebut. Tabarruk dengan ka’bah dengan melaksanakan thawaf. Tabarruk di malam lailatul qadar adalah dengan melaksanakan shalat, dzikir, sedekah, dan membaca Al-Qur’an. Adapun mengkhususkan lailatul qadar dengan melaksanakan umrah, maka hal ini tidak ada tuntunannya. Pelanggaran terhadap kedua syarat tersebut akan menyebabkan seseorang terjatuh ke dalam tabarruk yang diharamkan.Dalil tegas masalah ini adalah sebuah hadits yang diriwayatkan dari sahabat Abu Waqid Al-Laitsi radhiyallahu ‘anhu, beliau radhiyallahu ‘anhu menceritakan, “Kami bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pergi ke Hunain. Kami adalah orang-orang yang baru saja masuk Islam. Ketika itu, orang-orang musyrik memiliki pohon yang digunakan untuk bersemedi dan menggantungkan senjata-senjata mereka. Pohon itu dinamakan dengan ‘dzatu anwath’. Ketika kami melewati pohon tersebut, kami mengatakan, ‘Wahai Rasulullah, buatkanlah dzatu anwath untuk kami seperti mereka’. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda,اللهُ أَكْبَرُ! إِنَّهَا السُّنَنُ، قُلْتُمْ ـ وَالَّذِيْ نَفْسِيْ بِيَدِهِ ـ كَمَا قَالَتْ بَنُوْ إِسْرَائِيْلَ لِمُوْسَى: اِجْعَلْ لَنَا إِلَهاً كَمَا لَهُمْ آلِهَةٌ قَالَ إِنَّكُمْ قَوْمٌ تَجْهَلُوْنَ لَتَرْكَبُنَّ سُنَنَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ‘Allahu Akbar, itu adalah tradisi orang-orang sebelum kalian. Demi Dzat yang diriku berada di tangan-Nya, ucapan kalian itu seperti ucapan bani Israil kepada Nabi Musa, ‘Buatkanlah sesembahan-sesembahan untuk kami sebagaimana mereka juga memiliki sesembahan yang banyak’ (QS. Al A’raf [7]:  138). Kalian pasti akan mengikuti tradisi orang-orang sebelum kalian.” (HR. Tirmidzi no. 2180)Berdasarkan hadits di atas, orang-orang musyrik memiliki pohon dzatu anwath yang mereka gunakan untuk tabarruk, yaitu dengan bersemedi (i’tikaf) dan menggantungkan senjata-senjata mereka di pohon tersebut. Dan ketika sahabat yang baru saja masuk Islam meminta dibuatkan pohon yang sama untuk bertabarruk, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mengingkari hal tersebut. Dan menyamakan permintaan mereka dengan permintaan Bani Israil kepada Nabi Musa ‘alaihis salaam untuk dibuatkan sesembahan karena mengikuti orang-orang musyrik di zaman Bani Israil. Jadi, permintaan para sahabat yang baru saja masuk Islam ini sama dengan permintaan Bani Israil dari sisi sama-sama termasuk kemusyrikan, meskipun berbeda dari sisi levelnya. Hal ini karena permintaan para sahabat itu termasuk syirik ashghar, sedangkan permintaan Bani Israil termasuk syirik akbar.Di antara contoh tabarruk yang terlarang: Tabarruk dengan mengusap-ngusapkan badan ke dinding atau tiang-tiang Masjidil Haram atau Masjid Nabawi. Tabarruk dengan mengusap-ngusapkan badan ke sumur zam zam. Tabarruk dengan mengusap sudut ka’bah, selain hajar aswad dan rukun Yamani, sebagaimana pengingkaran Ibnu ‘Abbas terhadap Mu’awiyah bin Abi Sufyan, yang telah kami sebutkan sebelumnya. Dan sahabat Mu’awiyah pun menerima nasihat Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhum. Tabarruk dengan menempelkan wajah dan badan ke semua sisi (dinding) ka’bah selain sisi multazam. Tabarruk dengan kain kiswah penutup ka’bah (misalnya dengan mengusap dan menciumnya), bahkan rela membeli potongan kiswah dengan harga mahal. Mengusap maqam Ibrahim atau mengusap yang biasa disebut orang awam dengan hijir “Isma’il”. (Catatan: adanya hijir ini jauh setelah Nabi Isma’il meninggal dunia, sehingga salah kaprah kalau disebut hijir Isma’il.) Tabarruk dengan gulung-gulung atau menyimpan debu dari tanah haram, untuk digantung di depan pintu rumah atau toko. Tabarrauk dengan mendatangi tempat-tempat yang diyakini sebagai tempat kelahiran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di kota Mekah dan bahkan menempel-nempelkan badan di dinding bangunan tersebut. Status hukum pelaku perbuatan tersebut dapat dirinci menjadi dua keadaan.Kondisi pertama, jika mencari keberkahan kepada selain Allah Ta’ala atau jika seseorang yang bertabarruk tersebut meyakini bahwa benda-benda tersebut dapat memberikan keberkahan dengan sendirinya tanpa takdir Allah Ta’ala, maka ini kemusyrikan syirik akbar. Hal ini karena tabarruk adalah bentuk ibadah yang harus ditujukan hanya kepada Allah Ta’ala, bukan kepada makhluk.Kondisi ke dua, seseorang meyakini bahwa keberkahan tersebut datangnya dari Allah Ta’ala, namun dia meyakini bahwa perbuatannya tersebut mendatangkan keberkahan, padahal tidak ada dalilnya dari syariat. Atau seseorang bertabarruk dengan benda yang ada dalilnya dari syariat, namun dengan tata cara yang tidak dituntunkan. Dalam kondisi seperti ini, belum termasuk kemusyrikan, namun termasuk di antara sebab atau sarana paling besar yang dapat menjerumuskan seseorang ke dalam syirik akbar. (Lihat Tahdzib Tashil Al-‘Aqidah Al-Islamiyyah, hal. 115-126 dan Al-Minzhaar fi Bayaani Katsiir min Al-Akhthaa’i Asy-Syaa’iati, hal. 69-70)Mencari berkah dengan “napak tilas” jejak dan peninggalan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam serta meyakini disyariatkannya mengunjungi tempat-tempat tersebutMasalah ini sebetulnya masih sejenis dengan masalah sebelumnya. Akan tetapi, kami ingin menyebutkannya secara khusus karena pentingnya masalah ini. Jejak dan peninggalan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebut misalnya gunung Tsur, gua Hira’, Jabal ‘Arafah (tepatnya di daerah bebatuan di balik dan di bawah Jabal ‘Arafah), atau tempat-tempat yang dilewati Nabi  shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika safar.Tidak boleh bagi seorang muslim untuk mengunjungi tempat-tempat tersebut dengan niat, maksud, dan tujuan untuk beribadah kepada Allah Ta’ala, baik dengan shalat, berdoa, atau ibadah yang lainnya. Demikian pula, tidak diperbolehkan bagi setiap muslim untuk mengusap-usap tempat tersebut untuk mencari berkahnya (tabarruk).Semua ini termasuk bid’ah yang tidak pernah diajarkan dan tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya radhiyallahu ‘anhum. Mengagungkan dan mengistimewakan tempat atau “petilasan” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan mengunjunginya disertai maksud untuk mencari berkah dan menjadikannya sebagai sarana ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala termasuk di antara sarana menuju kemusyrikan yang terlarang.Adapun jika mengunjungi tempat-tempat tersebut hanya sekedar ingin tahu (jalan-jalan) atau penasaran di manakah letak dan posisinya, tanpa memiliki keyakinan apa pun terkait “keberkahan” tempat-tempat peninggalan tersebut dan tanpa meyakini bahwa hal itu adalah sesuatu yang disyariatkan (dianjurkan) dalam agama ini, maka hal ini diperbolehkan.Oleh karena itu, tidak terdapat contoh dari para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang bersengaja pergi mengunjungi tempat-tempat tersebut untuk mencari berkah, baik dengan mencium, mengusap-usap, menyentuh, dan sejenisnya. Para sahabat pun tidak pernah bersengaja pergi ke sana untuk beribadah kepada Allah Ta’ala.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لاَ تُشَدُّ الرِّحَالُ إِلَّا إِلَى ثَلاَثَةِ مَسَاجِدَ: المَسْجِدِ الحَرَامِ، وَمَسْجِدِ الرَّسُولِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَمَسْجِدِ الأَقْصَى“Tidak boleh bersengaja mengadakan perjalanan (dalam rangka ibadah), kecuali menuju tiga masjid, yaitu Masjidil Haram, masjid Rasulullah (Masjid Nabawi), dan Masjidil Aqsha.” (HR. Bukhari no. 1189 dan Muslim no. 1397)Diriwayatkan dari ‘Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu, ketika beliau melihat manusia singgah di suatu masjid untuk shalat setelah pulang dari ibadah haji, beliau pun bertanya kepada mereka. Mereka berkata, “Ini masjid yang dulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan shalat di sini.”‘Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu kemudian berkata,إِنَّمَا هَلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ أَنَّهُمُ اتَّخَذُوا آثَارَ أَنْبِيَائِهِمْ بِيَعًا“Sesungguhnya (sebab) kebinasaan umat-umat sebelum kalian adalah karena mereka menjadikan bekas-bekas peninggalan Nabi mereka sebagai tempat ibadah.” (Mushannaf ‘Abdurrazaq no. 2734)Kepada kaum muslimin, renungkanlah perkataan sahabat yang mulia, ‘Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu di atas. Seorang sahabat yang dipuji oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya,إِنَّ اللَّهَ جَعَلَ الحَقَّ عَلَى لِسَانِ عُمَرَ وَقَلْبِهِ“Sesungguhnya Allah meletakkan kebenaran pada lisan dan hati ‘Umar bin Khaththab.” (HR. Tirmidzi no. 3682, Ahmad 2/95 dan Ibnu Hibban no. 2185, shahih)Demikian pula, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kita untuk meneladani ‘Umar bin Khaththab,اقْتَدُوا بِاللَّذَيْنِ مِنْ بَعْدِي أَبِي بَكْرٍ، وَعُمَرَ“Ambillah teladan setelahku dengan dua orang yaitu Abu Bakr dan ‘Umar.” (HR. Tirmidzi no. 3662 dan Ahmad 5/382. Hadits ini dinilai hasan oleh Syaikh Syu’aib Al-Arnauth)Berdasarkan perkataan ‘Umar bin Khaththab di atas, dapat kita simpulkan bahwa jika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menjadikan suatu tempat sebagai maksud dan tujuan untuk beribadah, maka kita tidak boleh menjadikan tempat tersebut untuk beribadah. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat di situ hanya karena kebetulan, bukan menjadikan masjid tersebut sebagai maksud pokok.Oleh karena itu, jika ada di antara kita yang kebetulan lewat di tempat-tempat (masjid) tersebut dan waktu shalat sudah masuk, maka silakan shalat. Jika waktu shalat belum tiba, kita pun melanjutkan perjalanan.Catatan penting, jika “napak tilas” jejak Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saja merupakan sebab kebinasaan, bagaimana lagi dengan “napak tilas” jejak orang shalih yang kedudukannya jauh di bawah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam? Semoga kaum muslimin merenungkan hal ini.Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baaz rahimahullah berkata,لا يجوز للمسلم تتبع آثار الأنبياء ليصلي فيها أو ليبني عليها مساجد ؛ لأن ذلك من وسائل الشرك ، ولهذا كان عمر رضي الله عنه ينهى الناس عن ذلك ويقول : ( إنما هلك من كان قبلكم بتتبعهم آثار أنبيائهم ) ، وقطع رضي الله عنه الشجرة التي في الحديبية التي بويع النبي صلى الله عليه وسلم تحتها ؛ لما رأى بعض الناس يذهبون إليها ويصلون تحتها ؛ حسما لوسائل الشرك ، وتحذيرا للأمة من البدع“Tidak boleh atas setiap muslim melakukan napak tilas jejak peninggalan para Nabi dengan tujuan untuk shalat di tempat tersebut atau membangun masjid di atasnya, karena hal itu adalah sarana menuju kemusyrikan. Oleh karena itu, ‘Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu melarang manusia untuk melakukan hal itu dengan mengatakan, “Sesungguhnya kebinasaan umat-umat sebelum kalian adalah karena mereka napak tilas peninggalan para Nabi mereka.” ‘Umar juga menebang pohon, yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berbaiat di bawah pohon tersebut, ketika beliau melihat sebagian manusia sengaja pergi ke sana dan shalat di bawahnya. Hal ini adalah dalam rangka memangkas sarana menuju syirik dan memperingatkan umat dari (bahaya) bid’ah.” (Majmu’ Fataawa Ibnu Baaz, 8: 323)Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata,قبر إبراهيم الخليل: لم يكن في الصحابة ولا التابعين لهم بإحسان من يأتيه للصلاة عنده، ولا الدعاء ولا كانوا يقصدونه للزيارة أصلا“Tidak ada sahabat dan tabi’in yang mengikuti mereka dengan baik yang mendatangi makam Nabi Ibrahim untuk shalat dan berdoa di sisinya, dan sama sekali mereka tidak pula bersengaja untuk mengunjunginya.” (Iqtidha’ Shirathil Mustaqim, 2: 823)[Bersambung]***@Sint-Jobskade 718 NL, 1 Dzulqa’dah 1439/ 15 Juli 2018Oleh seorang hamba yang sangat butuh ampunan Rabb-nya,Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.Or.Id🔍 Tabarruk Adalah, Hadits Sholat Dhuha, Hakikat Shalat 5 Waktu, Mandi Malam Menurut Islam, Doa Poligami


Baca pembahasan sebelumnya Beberapa Kesalahan dan Kemungkaran terkait Ibadah Haji (Bag. 4)Mencari berkah (tabarruk) dengan tata cara yang tidak disyariatkanTabarruk adalah perbuatan untuk mencari berkah. Yang dimaksud dengan “berkah” adalah banyaknya kebaikan, bertambahnya kebaikan atau kebaikan yang terus-menerus. Sedangkan semua kebaikan atau keberkahan datangnya hanyalah dari sisi Allah Ta’ala. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, وَالبَرَكَةُ مِنَ اللَّهِ“Semua keberkahan itu berasal dari Allah.” (HR. Bukhari no. 3579)Karena keberkahan itu berasal dari Allah Ta’ala, maka bisa dipahami bahwa dalam mencari keberkahan tersebut juga harus sesuai dengan syariat yang telah Allah Ta’ala tetapkan.Tabarruk yang sesuai dengan syariat adalah tabarruk yang memenuhi dua syarat berikut ini:Syarat pertama, harus terdapat dalil dari Al-Qu’an dan As-Sunnah tentang adanya amalan (baik ucapan atau perbuatan badan), waktu, benda atau tempat tertentu yang memiliki manfaat atau keberkahan.Misalnya: Bertabarruk dengan membaca Al-Qur’an dan mengamalkan isi kandungannya. Tabarruk dengan hajar aswad dan rukun Yamani (sebagaimana yang sudah kami sebutkan dalil-dalilnya di seri sebelumnya). Tabarruk dengan bulan Ramadhan dan malam lailatul qadar. Adanya keberkahan pada Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Adanya keberkahan pada air zam zam. Syarat ke dua, cara mendapatkan keberkahan harus sesuai dengan tuntunan (sunnah) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Misalnya: Cara mendapatkan keberkahan dari hajar aswad adalah dengan (a) mencium; (b) mengusap dengan tangan; (c) mencium tangan setelah mengusap hajar aswad; atau (d) berisyarat ke hajar aswad jika tidak memungkinkan mengusapnya secara langsung (dan tidak boleh mencium tangan dalam kondisi ini). Cara mendapatkan keberkahan rukun Yamani adalah dengan mengusapnya dengan tangan (saja). Kita mengusap hajar aswad dan rukun Yamani bukan karena keyakinan bahwa benda-benda tersebut secara dzatnya dapat memberikan keberkahan, akan tetapi dalam rangka beribadah kepada Allah Ta’ala dengan mengikuti petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (ittiba’). Hal ini sebagaimana perkataan ‘Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu yang telah kami kutip pada seri sebelumnya. Mendapatkan keberkahan di masjid Nabawi dan masjidil Haram adalah dengan memperbanyak shalat di dalamnya. Karena shalat di Masjid Nabawi akan dilipatgandakan sebanyak 1000 kali shalat; sedangkan di Masjidil Haram dilipatgandakan sebanyak 100.000 kali. Hal ini sebagaimana hadits-hadits shahih yang menunjukkan keutamaan tersebut. Tabarruk dengan ka’bah dengan melaksanakan thawaf. Tabarruk di malam lailatul qadar adalah dengan melaksanakan shalat, dzikir, sedekah, dan membaca Al-Qur’an. Adapun mengkhususkan lailatul qadar dengan melaksanakan umrah, maka hal ini tidak ada tuntunannya. Pelanggaran terhadap kedua syarat tersebut akan menyebabkan seseorang terjatuh ke dalam tabarruk yang diharamkan.Dalil tegas masalah ini adalah sebuah hadits yang diriwayatkan dari sahabat Abu Waqid Al-Laitsi radhiyallahu ‘anhu, beliau radhiyallahu ‘anhu menceritakan, “Kami bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pergi ke Hunain. Kami adalah orang-orang yang baru saja masuk Islam. Ketika itu, orang-orang musyrik memiliki pohon yang digunakan untuk bersemedi dan menggantungkan senjata-senjata mereka. Pohon itu dinamakan dengan ‘dzatu anwath’. Ketika kami melewati pohon tersebut, kami mengatakan, ‘Wahai Rasulullah, buatkanlah dzatu anwath untuk kami seperti mereka’. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda,اللهُ أَكْبَرُ! إِنَّهَا السُّنَنُ، قُلْتُمْ ـ وَالَّذِيْ نَفْسِيْ بِيَدِهِ ـ كَمَا قَالَتْ بَنُوْ إِسْرَائِيْلَ لِمُوْسَى: اِجْعَلْ لَنَا إِلَهاً كَمَا لَهُمْ آلِهَةٌ قَالَ إِنَّكُمْ قَوْمٌ تَجْهَلُوْنَ لَتَرْكَبُنَّ سُنَنَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ‘Allahu Akbar, itu adalah tradisi orang-orang sebelum kalian. Demi Dzat yang diriku berada di tangan-Nya, ucapan kalian itu seperti ucapan bani Israil kepada Nabi Musa, ‘Buatkanlah sesembahan-sesembahan untuk kami sebagaimana mereka juga memiliki sesembahan yang banyak’ (QS. Al A’raf [7]:  138). Kalian pasti akan mengikuti tradisi orang-orang sebelum kalian.” (HR. Tirmidzi no. 2180)Berdasarkan hadits di atas, orang-orang musyrik memiliki pohon dzatu anwath yang mereka gunakan untuk tabarruk, yaitu dengan bersemedi (i’tikaf) dan menggantungkan senjata-senjata mereka di pohon tersebut. Dan ketika sahabat yang baru saja masuk Islam meminta dibuatkan pohon yang sama untuk bertabarruk, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mengingkari hal tersebut. Dan menyamakan permintaan mereka dengan permintaan Bani Israil kepada Nabi Musa ‘alaihis salaam untuk dibuatkan sesembahan karena mengikuti orang-orang musyrik di zaman Bani Israil. Jadi, permintaan para sahabat yang baru saja masuk Islam ini sama dengan permintaan Bani Israil dari sisi sama-sama termasuk kemusyrikan, meskipun berbeda dari sisi levelnya. Hal ini karena permintaan para sahabat itu termasuk syirik ashghar, sedangkan permintaan Bani Israil termasuk syirik akbar.Di antara contoh tabarruk yang terlarang: Tabarruk dengan mengusap-ngusapkan badan ke dinding atau tiang-tiang Masjidil Haram atau Masjid Nabawi. Tabarruk dengan mengusap-ngusapkan badan ke sumur zam zam. Tabarruk dengan mengusap sudut ka’bah, selain hajar aswad dan rukun Yamani, sebagaimana pengingkaran Ibnu ‘Abbas terhadap Mu’awiyah bin Abi Sufyan, yang telah kami sebutkan sebelumnya. Dan sahabat Mu’awiyah pun menerima nasihat Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhum. Tabarruk dengan menempelkan wajah dan badan ke semua sisi (dinding) ka’bah selain sisi multazam. Tabarruk dengan kain kiswah penutup ka’bah (misalnya dengan mengusap dan menciumnya), bahkan rela membeli potongan kiswah dengan harga mahal. Mengusap maqam Ibrahim atau mengusap yang biasa disebut orang awam dengan hijir “Isma’il”. (Catatan: adanya hijir ini jauh setelah Nabi Isma’il meninggal dunia, sehingga salah kaprah kalau disebut hijir Isma’il.) Tabarruk dengan gulung-gulung atau menyimpan debu dari tanah haram, untuk digantung di depan pintu rumah atau toko. Tabarrauk dengan mendatangi tempat-tempat yang diyakini sebagai tempat kelahiran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di kota Mekah dan bahkan menempel-nempelkan badan di dinding bangunan tersebut. Status hukum pelaku perbuatan tersebut dapat dirinci menjadi dua keadaan.Kondisi pertama, jika mencari keberkahan kepada selain Allah Ta’ala atau jika seseorang yang bertabarruk tersebut meyakini bahwa benda-benda tersebut dapat memberikan keberkahan dengan sendirinya tanpa takdir Allah Ta’ala, maka ini kemusyrikan syirik akbar. Hal ini karena tabarruk adalah bentuk ibadah yang harus ditujukan hanya kepada Allah Ta’ala, bukan kepada makhluk.Kondisi ke dua, seseorang meyakini bahwa keberkahan tersebut datangnya dari Allah Ta’ala, namun dia meyakini bahwa perbuatannya tersebut mendatangkan keberkahan, padahal tidak ada dalilnya dari syariat. Atau seseorang bertabarruk dengan benda yang ada dalilnya dari syariat, namun dengan tata cara yang tidak dituntunkan. Dalam kondisi seperti ini, belum termasuk kemusyrikan, namun termasuk di antara sebab atau sarana paling besar yang dapat menjerumuskan seseorang ke dalam syirik akbar. (Lihat Tahdzib Tashil Al-‘Aqidah Al-Islamiyyah, hal. 115-126 dan Al-Minzhaar fi Bayaani Katsiir min Al-Akhthaa’i Asy-Syaa’iati, hal. 69-70)Mencari berkah dengan “napak tilas” jejak dan peninggalan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam serta meyakini disyariatkannya mengunjungi tempat-tempat tersebutMasalah ini sebetulnya masih sejenis dengan masalah sebelumnya. Akan tetapi, kami ingin menyebutkannya secara khusus karena pentingnya masalah ini. Jejak dan peninggalan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebut misalnya gunung Tsur, gua Hira’, Jabal ‘Arafah (tepatnya di daerah bebatuan di balik dan di bawah Jabal ‘Arafah), atau tempat-tempat yang dilewati Nabi  shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika safar.Tidak boleh bagi seorang muslim untuk mengunjungi tempat-tempat tersebut dengan niat, maksud, dan tujuan untuk beribadah kepada Allah Ta’ala, baik dengan shalat, berdoa, atau ibadah yang lainnya. Demikian pula, tidak diperbolehkan bagi setiap muslim untuk mengusap-usap tempat tersebut untuk mencari berkahnya (tabarruk).Semua ini termasuk bid’ah yang tidak pernah diajarkan dan tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya radhiyallahu ‘anhum. Mengagungkan dan mengistimewakan tempat atau “petilasan” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan mengunjunginya disertai maksud untuk mencari berkah dan menjadikannya sebagai sarana ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala termasuk di antara sarana menuju kemusyrikan yang terlarang.Adapun jika mengunjungi tempat-tempat tersebut hanya sekedar ingin tahu (jalan-jalan) atau penasaran di manakah letak dan posisinya, tanpa memiliki keyakinan apa pun terkait “keberkahan” tempat-tempat peninggalan tersebut dan tanpa meyakini bahwa hal itu adalah sesuatu yang disyariatkan (dianjurkan) dalam agama ini, maka hal ini diperbolehkan.Oleh karena itu, tidak terdapat contoh dari para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang bersengaja pergi mengunjungi tempat-tempat tersebut untuk mencari berkah, baik dengan mencium, mengusap-usap, menyentuh, dan sejenisnya. Para sahabat pun tidak pernah bersengaja pergi ke sana untuk beribadah kepada Allah Ta’ala.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لاَ تُشَدُّ الرِّحَالُ إِلَّا إِلَى ثَلاَثَةِ مَسَاجِدَ: المَسْجِدِ الحَرَامِ، وَمَسْجِدِ الرَّسُولِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَمَسْجِدِ الأَقْصَى“Tidak boleh bersengaja mengadakan perjalanan (dalam rangka ibadah), kecuali menuju tiga masjid, yaitu Masjidil Haram, masjid Rasulullah (Masjid Nabawi), dan Masjidil Aqsha.” (HR. Bukhari no. 1189 dan Muslim no. 1397)Diriwayatkan dari ‘Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu, ketika beliau melihat manusia singgah di suatu masjid untuk shalat setelah pulang dari ibadah haji, beliau pun bertanya kepada mereka. Mereka berkata, “Ini masjid yang dulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan shalat di sini.”‘Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu kemudian berkata,إِنَّمَا هَلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ أَنَّهُمُ اتَّخَذُوا آثَارَ أَنْبِيَائِهِمْ بِيَعًا“Sesungguhnya (sebab) kebinasaan umat-umat sebelum kalian adalah karena mereka menjadikan bekas-bekas peninggalan Nabi mereka sebagai tempat ibadah.” (Mushannaf ‘Abdurrazaq no. 2734)Kepada kaum muslimin, renungkanlah perkataan sahabat yang mulia, ‘Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu di atas. Seorang sahabat yang dipuji oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya,إِنَّ اللَّهَ جَعَلَ الحَقَّ عَلَى لِسَانِ عُمَرَ وَقَلْبِهِ“Sesungguhnya Allah meletakkan kebenaran pada lisan dan hati ‘Umar bin Khaththab.” (HR. Tirmidzi no. 3682, Ahmad 2/95 dan Ibnu Hibban no. 2185, shahih)Demikian pula, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kita untuk meneladani ‘Umar bin Khaththab,اقْتَدُوا بِاللَّذَيْنِ مِنْ بَعْدِي أَبِي بَكْرٍ، وَعُمَرَ“Ambillah teladan setelahku dengan dua orang yaitu Abu Bakr dan ‘Umar.” (HR. Tirmidzi no. 3662 dan Ahmad 5/382. Hadits ini dinilai hasan oleh Syaikh Syu’aib Al-Arnauth)Berdasarkan perkataan ‘Umar bin Khaththab di atas, dapat kita simpulkan bahwa jika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menjadikan suatu tempat sebagai maksud dan tujuan untuk beribadah, maka kita tidak boleh menjadikan tempat tersebut untuk beribadah. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat di situ hanya karena kebetulan, bukan menjadikan masjid tersebut sebagai maksud pokok.Oleh karena itu, jika ada di antara kita yang kebetulan lewat di tempat-tempat (masjid) tersebut dan waktu shalat sudah masuk, maka silakan shalat. Jika waktu shalat belum tiba, kita pun melanjutkan perjalanan.Catatan penting, jika “napak tilas” jejak Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saja merupakan sebab kebinasaan, bagaimana lagi dengan “napak tilas” jejak orang shalih yang kedudukannya jauh di bawah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam? Semoga kaum muslimin merenungkan hal ini.Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baaz rahimahullah berkata,لا يجوز للمسلم تتبع آثار الأنبياء ليصلي فيها أو ليبني عليها مساجد ؛ لأن ذلك من وسائل الشرك ، ولهذا كان عمر رضي الله عنه ينهى الناس عن ذلك ويقول : ( إنما هلك من كان قبلكم بتتبعهم آثار أنبيائهم ) ، وقطع رضي الله عنه الشجرة التي في الحديبية التي بويع النبي صلى الله عليه وسلم تحتها ؛ لما رأى بعض الناس يذهبون إليها ويصلون تحتها ؛ حسما لوسائل الشرك ، وتحذيرا للأمة من البدع“Tidak boleh atas setiap muslim melakukan napak tilas jejak peninggalan para Nabi dengan tujuan untuk shalat di tempat tersebut atau membangun masjid di atasnya, karena hal itu adalah sarana menuju kemusyrikan. Oleh karena itu, ‘Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu melarang manusia untuk melakukan hal itu dengan mengatakan, “Sesungguhnya kebinasaan umat-umat sebelum kalian adalah karena mereka napak tilas peninggalan para Nabi mereka.” ‘Umar juga menebang pohon, yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berbaiat di bawah pohon tersebut, ketika beliau melihat sebagian manusia sengaja pergi ke sana dan shalat di bawahnya. Hal ini adalah dalam rangka memangkas sarana menuju syirik dan memperingatkan umat dari (bahaya) bid’ah.” (Majmu’ Fataawa Ibnu Baaz, 8: 323)Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata,قبر إبراهيم الخليل: لم يكن في الصحابة ولا التابعين لهم بإحسان من يأتيه للصلاة عنده، ولا الدعاء ولا كانوا يقصدونه للزيارة أصلا“Tidak ada sahabat dan tabi’in yang mengikuti mereka dengan baik yang mendatangi makam Nabi Ibrahim untuk shalat dan berdoa di sisinya, dan sama sekali mereka tidak pula bersengaja untuk mengunjunginya.” (Iqtidha’ Shirathil Mustaqim, 2: 823)[Bersambung]***@Sint-Jobskade 718 NL, 1 Dzulqa’dah 1439/ 15 Juli 2018Oleh seorang hamba yang sangat butuh ampunan Rabb-nya,Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.Or.Id🔍 Tabarruk Adalah, Hadits Sholat Dhuha, Hakikat Shalat 5 Waktu, Mandi Malam Menurut Islam, Doa Poligami

Mengenal Dua Jenis Nifaq dan Perbuatan Orang Munafik (Bag. 1)

Termasuk di antara pembatal iman adalah nifaq (kemunafikan). Merupakan kewajiban kita kaum muslimin untuk memahami pengertian dan jenis-jenis kemunafikan, serta ciri-ciri orang munafik agar kita bisa menjauhi sifat dan perbuatan tersebut.Pengertian, pembagian nifaq dan hukum pelaku nifaqNifaq secara bahasa berarti “menyembunyikan sesuatu”. Nifaq dibagi menjadi dua, yaitu nifaq akbar (nifaq i’tiqadi) dan nifaq ashghar (nifaq ‘amali).Secara istilah, nifaq akbar (nifak besar) berarti “seseorang yang menampakkan keimanan kepada Allah, malaikat, kitab, para rasul, dan hari akhir, namun kondisi batinnya bertentangan dengan semua hal tersebut atau sebagiannya.”Dengan kata lain, orang munafik adalah orang yang menampakkan Islam secara lahiriyah di hadapan kaum muslimin, menampakkan bahwa dirinya adalah seorang muslim, dan bisa jadi menampakkan sebagian amal ibadah seperti shalat, puasa dan zakat, akan tetapi hatinya pada hakikatnya tidak beriman.Nifaq i’tiqadi mengeluarkan pelakunya dari agama Islam, sehingga berlaku pada orang tersebut hukum yang sama dengan pelaku kafir akbar dan syirik akbar. Hal ini karena pada hakikatnya, orang munafik adalah orang kafir, bahkan mereka lebih jelek dan lebih berbahaya daripada orang kafir asli. Karena selain kekafiran, mereka juga melakukan kedustaan, kebohongan dan tipu daya kepada kaum muslimin.Oleh karena itu, bahaya dan kerusakan yang ditimbulkan oleh orang-orang munafik kepada kaum muslimin sangatlah besar, mereka menipu kaum muslimin seolah-olah mereka adalah bagian dari barisan kaum muslimin, padahal tidak. Mereka memerangi Islam dengan kata-kata yang dipoles indah, untuk menutupi kedok kemunafikannya. Allah Ta’ala berfirman tentang mereka orang munafik,وَإِذَا رَأَيْتَهُمْ تُعْجِبُكَ أَجْسَامُهُمْ وَإِنْ يَقُولُوا تَسْمَعْ لِقَوْلِهِمْ كَأَنَّهُمْ خُشُبٌ مُسَنَّدَةٌ يَحْسَبُونَ كُلَّ صَيْحَةٍ عَلَيْهِمْ هُمُ الْعَدُوُّ فَاحْذَرْهُمْ قَاتَلَهُمُ اللَّهُ أَنَّى يُؤْفَكُونَ“Dan apabila kamu melihat mereka, tubuh-tubuh mereka menjadikan kamu kagum. Dan jika mereka berkata, kamu mendengarkan perkataan mereka. Mereka adalah seakan-akan kayu yang tersandar. Mereka mengira bahwa tiap-tiap teriakan yang keras itu ditujukan kepada mereka. Mereka itulah musuh (yang sebenarnya). Maka waspadalah terhadap mereka, semoga Allah membinasakan mereka. Bagaimanakah mereka sampai dipalingkan (dari kebenaran)?” (QS. Al-Munafiqun [63]: 4)Oleh karena itu, pantaslah di hari kiamat nanti, mereka adalah orang-orang yang paling keras adzabnya. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ الْمُنَافِقِينَ فِي الدَّرْكِ الْأَسْفَلِ مِنَ النَّارِ وَلَنْ تَجِدَ لَهُمْ نَصِيرًا“Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolong pun bagi mereka.” (QS. An-Nisa’ [4]: 145)Adapun nifaq ashghar yang tidak mengeluarkan pelakunya dari Islam, akan dibahas secara khusus di akhir tulisan ini.Perbuatan-perbuatan kekafiran yang ditampakkan oleh orang munafikOrang-orang munafik memiliki perbuatan-perbuatan kekafiran yang menunjukkan atau menjadi tanda adanya nifaq akbar di dalam hatinya. Perbuatan-perbuatan tersebut Allah Ta’ala sebutkan secara rinci dalam Al-Qur’an, di antaranya dalam surat At-Taubah, untuk menyibak kedok kemunafikan dalam diri mereka.Di antara perbuatan-perbuatan orang munafik:Menjadikan Allah Ta’ala, Rasul-Nya, dan Al-Qur’an sebagai bahan candaan dan olok-olokan.Allah Ta’ala berfirman,قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ. لا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ إِنْ نَعْفُ عَنْ طَائِفَةٍ مِنْكُمْ نُعَذِّبْ طَائِفَةَ بِأَنَّهُمْ كَانُوا مُجْرِمِينَ“Katakanlah, ‘Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya, dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?’ Tidak usah kamu meminta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman. Jika Kami memaafkan segolongan dari kamu (lantaran mereka bertaubat), niscaya Kami akan mengadzab golongan (yang lain) disebabkan mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa.” (QS. At-Taubah [9]: 65-66)Di ayat yang lain, Allah Ta’ala berfirman,وَإِذَا لَقُوا الَّذِينَ آمَنُوا قَالُوا آمَنَّا وَإِذَا خَلَوْا إِلَى شَيَاطِينِهِمْ قَالُوا إِنَّا مَعَكُمْ إِنَّمَا نَحْنُ مُسْتَهْزِئُونَ“Dan bila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan, “Kami telah beriman.” Dan bila mereka kembali kepada setan-setan (pemimpin) mereka, mereka mengatakan, “Sesungguhnya kami sependirian dengan kamu, kami hanyalah berolok-olok.” (QS. Al-Baqarah [2]: 14)Mencela dan menghina Allah Ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah Ta’ala berfirman,وَمِنْهُمْ مَنْ يَلْمِزُكَ فِي الصَّدَقَاتِ فَإِنْ أُعْطُوا مِنْهَا رَضُوا وَإِنْ لَمْ يُعْطَوْا مِنْهَا إِذَا هُمْ يَسْخَطُونَ“Dan di antara mereka ada orang yang mencelamu tentang (distribusi) zakat. Jika mereka diberi sebagian darinya, mereka bersenang hati, dan jika mereka tidak diberi sebagian darinya, dengan serta merta mereka menjadi marah.” (QS. At-Taubah [9]: 58)Yaitu, menuduh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak bersikap adil ketika membagi zakat.Berpaling dari ajaran Islam dan mencela syariat, serta berupaya menjauhkan umat dari syariat Islam.Allah Ta’ala berfirman,وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا إِلَى مَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَإِلَى الرَّسُولِ رَأَيْتَ الْمُنَافِقِينَ يَصُدُّونَ عَنْكَ صُدُودًا“Apabila dikatakan kepada mereka, “Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul”, niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu.” (QS. An-Nisa’ [4]: 61)Di antaranya adalah seruan orang-orang munafik kepada kaum wanita untuk menanggalkan jilbab, menuntut persamaan dan kesetaraan dalam kepemimpinan, hukum waris, hukum talaq (perceraian) (maksudnya, seorang istri juga berhak mencerai suami sebagaimana suami berhak mencerai istri), dan sebagainya.Menyerukan untuk menjadikan hukum buatan orang kafir sebagai sumber hukum dan menerapkannya dengan mengatakan bahwa hukum tersebut lebih baik dan lebih mendatangkan maslahat daripada hukum Islam.Allah Ta’ala berfirman,أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يَزْعُمُونَ أَنَّهُمْ آمَنُوا بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ يُرِيدُونَ أَنْ يَتَحَاكَمُوا إِلَى الطَّاغُوتِ وَقَدْ أُمِرُوا أَنْ يَكْفُرُوا بِهِ وَيُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُضِلَّهُمْ ضَلَالًا بَعِيدًا“Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintahkan untuk mengingkari thaghut itu. Dan setan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya.” (QS. An-Nisa’ [4]: 60)Meyakini dan menyerukan “isme-isme” (ideologi) yang merusak dan menghancurkan Islam dan persatuan kaum muslimin.Orang-orang munafik meyakini benarnya isme-isme (ideologi) yang pada hakikatnya merusak Islam dan menyerukannya di tengah-tengah kaum muslimin. Di antara isme tersebut adalah yang kita saksikan dewasa ini ketika mereka mengajak “persatuan kaum muslimin” akan tetapi persatuan semu, karena persatuan tersebut tidak dibangun di atas Al-Qur’an dan As-Sunnah. Seperti persatuan atas dasar kesukuan (qaumiyyah) dan sekat-sekat kebangsaan (wathaniyyah) (nasionalisme) dengan merendahkan (bangsa) yang lainnya. Orang-orang munafik zaman ini, sebagiannya diberi label sebagai cendekiawan dan reformis Islam, mengajak persatuan di atas ikatan-ikatan jahiliyah tersebut, yang telah dilarang oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyerukan persatuan dan persaudaraan atas dasar ikatan iman dan Islam, sebagaimana yang Allah Ta’ala firmankan,إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ“Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” (QS. Al-Hujurat [49]: 10)Berdasarkan ayat tersebut, seluruh kaum muslimin adalah bersaudara, apa pun jenis kebangsaannya.Membantu dan bekerja sama dengan orang kafir untuk menyerang dan menguasai kaum muslimin.Hal ini tidaklah mengherankan, karena mereka pada hakikatnya tidak beriman, alias orang kafir. Sehingga bisa dipahami jika mereka membantu saudaranya sesama orang kafir untuk menyerang kaum muslimin. Allah Ta’ala berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebagian mereka adalah pemimpin bagi sebagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.فَتَرَى الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ يُسَارِعُونَ فِيهِمْ يَقُولُونَ نَخْشَى أَنْ تُصِيبَنَا دَائِرَةٌ فَعَسَى اللَّهُ أَنْ يَأْتِيَ بِالْفَتْحِ أَوْ أَمْرٍ مِنْ عِنْدِهِ فَيُصْبِحُوا عَلَى مَا أَسَرُّوا فِي أَنْفُسِهِمْ نَادِمِينَMaka kamu akan melihat orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya (orang-orang munafik) bersegera mendekati mereka (Yahudi dan Nasrani), seraya berkata, “Kami takut akan mendapat bencana.” Mudah-mudahan Allah akan mendatangkan kemenangan (kepada Rasul-Nya), atau sesuatu keputusan dari sisi-Nya. Maka karena itu, mereka menjadi menyesal terhadap apa yang mereka rahasiakan dalam diri mereka.” (QS. Al-Maidah [5]: 51-52) Menampakkan kegembiraan ketika kaum muslimin tertimpa musibah dan kesusahan atau ketika orang kafir menang mengalahkan kaum muslimin.Allah Ta’ala berfirman,إِنْ تَمْسَسْكُمْ حَسَنَةٌ تَسُؤْهُمْ وَإِنْ تُصِبْكُمْ سَيِّئَةٌ يَفْرَحُوا بِهَا وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا لَا يَضُرُّكُمْ كَيْدُهُمْ شَيْئًا إِنَّ اللَّهَ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطٌ“Jika kamu memperoleh kebaikan, niscaya mereka (orang munafik) bersedih hati. Tetapi jika kamu mendapat bencana, mereka bergembira karenanya. Jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikit pun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu. Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 120)Oleh karena itu, nyata kita jumpai di jaman ini, orang-orang yang tidak merasa kesusahan dan tidak merasa berduka atas musibah dan bencana yang terjadi di negeri-negeri kaum muslimin di berbagai penjuru dunia. Bahkan lebih dari itu, kita mendengar ucapan-ucapan dari mereka yang melarang untuk mendistribusikan bantuan ke negeri-negeri kaum muslimin yang tertimpa kesusahan dan bencana, meskipun dengan kedok alasan “mereka adalah bangsa lain, mari fokus dengan bangsa sendiri”. Sekali lagi, mereka menyeru dengan isme-isme qaumiyyah dan wathaniyyah (bangga dengan kaum dan bangsa sendiri), dan membuang jauh-jauh persatuan di atas ikatan iman dan Islam.Mencela dan menghina para ulama kaum muslimin dan orang-orang shalih dan membenci dakwah dan agama mereka.Allah Ta’ala berfirman,وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ آمِنُوا كَمَا آمَنَ النَّاسُ قَالُوا أَنُؤْمِنُ كَمَا آمَنَ السُّفَهَاءُ أَلَا إِنَّهُمْ هُمُ السُّفَهَاءُ وَلَكِنْ لَا يَعْلَمُونَ“Apabila dikatakan kepada mereka, “Berimanlah kamu sebagaimana orang-orang lain telah beriman (yaitu para sahabat Nabi, pen.).” Mereka menjawab, “Akan berimankah kami sebagaimana orang-orang yang bodoh itu telah beriman?” Ingatlah, sesungguhnya merekalah orang-orang yang bodoh, tetapi mereka tidak tahu.” (QS. Al-Baqarah [2]: 13)Allah Ta’ala juga berfirman,الَّذِينَ يَلْمِزُونَ الْمُطَّوِّعِينَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ فِي الصَّدَقَاتِ وَالَّذِينَ لَا يَجِدُونَ إِلَّا جُهْدَهُمْ فَيَسْخَرُونَ مِنْهُمْ سَخِرَ اللَّهُ مِنْهُمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ“(Orang-orang munafik itu) yaitu orang-orang yang mencela orang-orang mukmin yang memberi sedekah dengan sukarela dan (mencela) orang-orang yang tidak memperoleh (untuk disedekahkan) selain sekedar kesanggupannya. Maka orang-orang munafik itu menghina mereka. Allah akan membalas penghinaan mereka itu, dan untuk mereka azab yang pedih.” (QS. At-Taubah [9]: 79)Oleh karena itu, kita jumpai orang-orang munafik di jaman ini yang memberi gelar kepada para ulama dengan gelar-gelar yang buruk, semacam “ulama haid dan nifas” atau “ulama yang ilmunya tidak keluar dari (maaf) celana dalam perempuan” dan gelar-gelar buruk lainnya. Atau menyebut orang beriman dengan “orang bodoh” (karena keimanannya); sedangkan “orang cerdas” adalah orang-orang ateis yang tidak beriman, misalnya. Atau mencela para da’i yang menyebarkan dan mendakwahkan Islam.Memuji-muji orang kafir dan menyebarkan pemikiran mereka yang bertentangan dengan ajaran Islam.Allah Ta’ala berfirman,أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ تَوَلَّوْا قَوْمًا غَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مَا هُمْ مِنْكُمْ وَلَا مِنْهُمْ وَيَحْلِفُونَ عَلَى الْكَذِبِ وَهُمْ يَعْلَمُونَ“Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang menjadikan suatu kaum yang dimurkai Allah sebagai teman? Orang-orang itu bukan dari golongan kamu dan bukan (pula) dari golongan mereka. Dan mereka bersumpah untuk menguatkan kebohongan, sedang mereka mengetahui.” (QS. Al-Mujaadilah [58]: 14)Oleh karea itu, mereka memuji-muji orang sesat dan orang kafir, baik orang sesat jaman dulu dan sekarang, dan menokohkan mereka.[Bersambung]***@Sint-Jobskade 718 NL, 7 Dzulqa’dah 1439/ 21 Juli 2018Oleh seorang hamba yang sangat butuh ampunan Rabb-nya,Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.Or.Id🔍 Hadits Tentang Syirik, Pengertian Mencuri Dalam Islam, Fadhilah Quran, Salim Ke Orang Tua, Apa Itu Ilmu Kalam

Mengenal Dua Jenis Nifaq dan Perbuatan Orang Munafik (Bag. 1)

Termasuk di antara pembatal iman adalah nifaq (kemunafikan). Merupakan kewajiban kita kaum muslimin untuk memahami pengertian dan jenis-jenis kemunafikan, serta ciri-ciri orang munafik agar kita bisa menjauhi sifat dan perbuatan tersebut.Pengertian, pembagian nifaq dan hukum pelaku nifaqNifaq secara bahasa berarti “menyembunyikan sesuatu”. Nifaq dibagi menjadi dua, yaitu nifaq akbar (nifaq i’tiqadi) dan nifaq ashghar (nifaq ‘amali).Secara istilah, nifaq akbar (nifak besar) berarti “seseorang yang menampakkan keimanan kepada Allah, malaikat, kitab, para rasul, dan hari akhir, namun kondisi batinnya bertentangan dengan semua hal tersebut atau sebagiannya.”Dengan kata lain, orang munafik adalah orang yang menampakkan Islam secara lahiriyah di hadapan kaum muslimin, menampakkan bahwa dirinya adalah seorang muslim, dan bisa jadi menampakkan sebagian amal ibadah seperti shalat, puasa dan zakat, akan tetapi hatinya pada hakikatnya tidak beriman.Nifaq i’tiqadi mengeluarkan pelakunya dari agama Islam, sehingga berlaku pada orang tersebut hukum yang sama dengan pelaku kafir akbar dan syirik akbar. Hal ini karena pada hakikatnya, orang munafik adalah orang kafir, bahkan mereka lebih jelek dan lebih berbahaya daripada orang kafir asli. Karena selain kekafiran, mereka juga melakukan kedustaan, kebohongan dan tipu daya kepada kaum muslimin.Oleh karena itu, bahaya dan kerusakan yang ditimbulkan oleh orang-orang munafik kepada kaum muslimin sangatlah besar, mereka menipu kaum muslimin seolah-olah mereka adalah bagian dari barisan kaum muslimin, padahal tidak. Mereka memerangi Islam dengan kata-kata yang dipoles indah, untuk menutupi kedok kemunafikannya. Allah Ta’ala berfirman tentang mereka orang munafik,وَإِذَا رَأَيْتَهُمْ تُعْجِبُكَ أَجْسَامُهُمْ وَإِنْ يَقُولُوا تَسْمَعْ لِقَوْلِهِمْ كَأَنَّهُمْ خُشُبٌ مُسَنَّدَةٌ يَحْسَبُونَ كُلَّ صَيْحَةٍ عَلَيْهِمْ هُمُ الْعَدُوُّ فَاحْذَرْهُمْ قَاتَلَهُمُ اللَّهُ أَنَّى يُؤْفَكُونَ“Dan apabila kamu melihat mereka, tubuh-tubuh mereka menjadikan kamu kagum. Dan jika mereka berkata, kamu mendengarkan perkataan mereka. Mereka adalah seakan-akan kayu yang tersandar. Mereka mengira bahwa tiap-tiap teriakan yang keras itu ditujukan kepada mereka. Mereka itulah musuh (yang sebenarnya). Maka waspadalah terhadap mereka, semoga Allah membinasakan mereka. Bagaimanakah mereka sampai dipalingkan (dari kebenaran)?” (QS. Al-Munafiqun [63]: 4)Oleh karena itu, pantaslah di hari kiamat nanti, mereka adalah orang-orang yang paling keras adzabnya. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ الْمُنَافِقِينَ فِي الدَّرْكِ الْأَسْفَلِ مِنَ النَّارِ وَلَنْ تَجِدَ لَهُمْ نَصِيرًا“Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolong pun bagi mereka.” (QS. An-Nisa’ [4]: 145)Adapun nifaq ashghar yang tidak mengeluarkan pelakunya dari Islam, akan dibahas secara khusus di akhir tulisan ini.Perbuatan-perbuatan kekafiran yang ditampakkan oleh orang munafikOrang-orang munafik memiliki perbuatan-perbuatan kekafiran yang menunjukkan atau menjadi tanda adanya nifaq akbar di dalam hatinya. Perbuatan-perbuatan tersebut Allah Ta’ala sebutkan secara rinci dalam Al-Qur’an, di antaranya dalam surat At-Taubah, untuk menyibak kedok kemunafikan dalam diri mereka.Di antara perbuatan-perbuatan orang munafik:Menjadikan Allah Ta’ala, Rasul-Nya, dan Al-Qur’an sebagai bahan candaan dan olok-olokan.Allah Ta’ala berfirman,قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ. لا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ إِنْ نَعْفُ عَنْ طَائِفَةٍ مِنْكُمْ نُعَذِّبْ طَائِفَةَ بِأَنَّهُمْ كَانُوا مُجْرِمِينَ“Katakanlah, ‘Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya, dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?’ Tidak usah kamu meminta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman. Jika Kami memaafkan segolongan dari kamu (lantaran mereka bertaubat), niscaya Kami akan mengadzab golongan (yang lain) disebabkan mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa.” (QS. At-Taubah [9]: 65-66)Di ayat yang lain, Allah Ta’ala berfirman,وَإِذَا لَقُوا الَّذِينَ آمَنُوا قَالُوا آمَنَّا وَإِذَا خَلَوْا إِلَى شَيَاطِينِهِمْ قَالُوا إِنَّا مَعَكُمْ إِنَّمَا نَحْنُ مُسْتَهْزِئُونَ“Dan bila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan, “Kami telah beriman.” Dan bila mereka kembali kepada setan-setan (pemimpin) mereka, mereka mengatakan, “Sesungguhnya kami sependirian dengan kamu, kami hanyalah berolok-olok.” (QS. Al-Baqarah [2]: 14)Mencela dan menghina Allah Ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah Ta’ala berfirman,وَمِنْهُمْ مَنْ يَلْمِزُكَ فِي الصَّدَقَاتِ فَإِنْ أُعْطُوا مِنْهَا رَضُوا وَإِنْ لَمْ يُعْطَوْا مِنْهَا إِذَا هُمْ يَسْخَطُونَ“Dan di antara mereka ada orang yang mencelamu tentang (distribusi) zakat. Jika mereka diberi sebagian darinya, mereka bersenang hati, dan jika mereka tidak diberi sebagian darinya, dengan serta merta mereka menjadi marah.” (QS. At-Taubah [9]: 58)Yaitu, menuduh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak bersikap adil ketika membagi zakat.Berpaling dari ajaran Islam dan mencela syariat, serta berupaya menjauhkan umat dari syariat Islam.Allah Ta’ala berfirman,وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا إِلَى مَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَإِلَى الرَّسُولِ رَأَيْتَ الْمُنَافِقِينَ يَصُدُّونَ عَنْكَ صُدُودًا“Apabila dikatakan kepada mereka, “Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul”, niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu.” (QS. An-Nisa’ [4]: 61)Di antaranya adalah seruan orang-orang munafik kepada kaum wanita untuk menanggalkan jilbab, menuntut persamaan dan kesetaraan dalam kepemimpinan, hukum waris, hukum talaq (perceraian) (maksudnya, seorang istri juga berhak mencerai suami sebagaimana suami berhak mencerai istri), dan sebagainya.Menyerukan untuk menjadikan hukum buatan orang kafir sebagai sumber hukum dan menerapkannya dengan mengatakan bahwa hukum tersebut lebih baik dan lebih mendatangkan maslahat daripada hukum Islam.Allah Ta’ala berfirman,أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يَزْعُمُونَ أَنَّهُمْ آمَنُوا بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ يُرِيدُونَ أَنْ يَتَحَاكَمُوا إِلَى الطَّاغُوتِ وَقَدْ أُمِرُوا أَنْ يَكْفُرُوا بِهِ وَيُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُضِلَّهُمْ ضَلَالًا بَعِيدًا“Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintahkan untuk mengingkari thaghut itu. Dan setan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya.” (QS. An-Nisa’ [4]: 60)Meyakini dan menyerukan “isme-isme” (ideologi) yang merusak dan menghancurkan Islam dan persatuan kaum muslimin.Orang-orang munafik meyakini benarnya isme-isme (ideologi) yang pada hakikatnya merusak Islam dan menyerukannya di tengah-tengah kaum muslimin. Di antara isme tersebut adalah yang kita saksikan dewasa ini ketika mereka mengajak “persatuan kaum muslimin” akan tetapi persatuan semu, karena persatuan tersebut tidak dibangun di atas Al-Qur’an dan As-Sunnah. Seperti persatuan atas dasar kesukuan (qaumiyyah) dan sekat-sekat kebangsaan (wathaniyyah) (nasionalisme) dengan merendahkan (bangsa) yang lainnya. Orang-orang munafik zaman ini, sebagiannya diberi label sebagai cendekiawan dan reformis Islam, mengajak persatuan di atas ikatan-ikatan jahiliyah tersebut, yang telah dilarang oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyerukan persatuan dan persaudaraan atas dasar ikatan iman dan Islam, sebagaimana yang Allah Ta’ala firmankan,إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ“Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” (QS. Al-Hujurat [49]: 10)Berdasarkan ayat tersebut, seluruh kaum muslimin adalah bersaudara, apa pun jenis kebangsaannya.Membantu dan bekerja sama dengan orang kafir untuk menyerang dan menguasai kaum muslimin.Hal ini tidaklah mengherankan, karena mereka pada hakikatnya tidak beriman, alias orang kafir. Sehingga bisa dipahami jika mereka membantu saudaranya sesama orang kafir untuk menyerang kaum muslimin. Allah Ta’ala berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebagian mereka adalah pemimpin bagi sebagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.فَتَرَى الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ يُسَارِعُونَ فِيهِمْ يَقُولُونَ نَخْشَى أَنْ تُصِيبَنَا دَائِرَةٌ فَعَسَى اللَّهُ أَنْ يَأْتِيَ بِالْفَتْحِ أَوْ أَمْرٍ مِنْ عِنْدِهِ فَيُصْبِحُوا عَلَى مَا أَسَرُّوا فِي أَنْفُسِهِمْ نَادِمِينَMaka kamu akan melihat orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya (orang-orang munafik) bersegera mendekati mereka (Yahudi dan Nasrani), seraya berkata, “Kami takut akan mendapat bencana.” Mudah-mudahan Allah akan mendatangkan kemenangan (kepada Rasul-Nya), atau sesuatu keputusan dari sisi-Nya. Maka karena itu, mereka menjadi menyesal terhadap apa yang mereka rahasiakan dalam diri mereka.” (QS. Al-Maidah [5]: 51-52) Menampakkan kegembiraan ketika kaum muslimin tertimpa musibah dan kesusahan atau ketika orang kafir menang mengalahkan kaum muslimin.Allah Ta’ala berfirman,إِنْ تَمْسَسْكُمْ حَسَنَةٌ تَسُؤْهُمْ وَإِنْ تُصِبْكُمْ سَيِّئَةٌ يَفْرَحُوا بِهَا وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا لَا يَضُرُّكُمْ كَيْدُهُمْ شَيْئًا إِنَّ اللَّهَ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطٌ“Jika kamu memperoleh kebaikan, niscaya mereka (orang munafik) bersedih hati. Tetapi jika kamu mendapat bencana, mereka bergembira karenanya. Jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikit pun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu. Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 120)Oleh karena itu, nyata kita jumpai di jaman ini, orang-orang yang tidak merasa kesusahan dan tidak merasa berduka atas musibah dan bencana yang terjadi di negeri-negeri kaum muslimin di berbagai penjuru dunia. Bahkan lebih dari itu, kita mendengar ucapan-ucapan dari mereka yang melarang untuk mendistribusikan bantuan ke negeri-negeri kaum muslimin yang tertimpa kesusahan dan bencana, meskipun dengan kedok alasan “mereka adalah bangsa lain, mari fokus dengan bangsa sendiri”. Sekali lagi, mereka menyeru dengan isme-isme qaumiyyah dan wathaniyyah (bangga dengan kaum dan bangsa sendiri), dan membuang jauh-jauh persatuan di atas ikatan iman dan Islam.Mencela dan menghina para ulama kaum muslimin dan orang-orang shalih dan membenci dakwah dan agama mereka.Allah Ta’ala berfirman,وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ آمِنُوا كَمَا آمَنَ النَّاسُ قَالُوا أَنُؤْمِنُ كَمَا آمَنَ السُّفَهَاءُ أَلَا إِنَّهُمْ هُمُ السُّفَهَاءُ وَلَكِنْ لَا يَعْلَمُونَ“Apabila dikatakan kepada mereka, “Berimanlah kamu sebagaimana orang-orang lain telah beriman (yaitu para sahabat Nabi, pen.).” Mereka menjawab, “Akan berimankah kami sebagaimana orang-orang yang bodoh itu telah beriman?” Ingatlah, sesungguhnya merekalah orang-orang yang bodoh, tetapi mereka tidak tahu.” (QS. Al-Baqarah [2]: 13)Allah Ta’ala juga berfirman,الَّذِينَ يَلْمِزُونَ الْمُطَّوِّعِينَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ فِي الصَّدَقَاتِ وَالَّذِينَ لَا يَجِدُونَ إِلَّا جُهْدَهُمْ فَيَسْخَرُونَ مِنْهُمْ سَخِرَ اللَّهُ مِنْهُمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ“(Orang-orang munafik itu) yaitu orang-orang yang mencela orang-orang mukmin yang memberi sedekah dengan sukarela dan (mencela) orang-orang yang tidak memperoleh (untuk disedekahkan) selain sekedar kesanggupannya. Maka orang-orang munafik itu menghina mereka. Allah akan membalas penghinaan mereka itu, dan untuk mereka azab yang pedih.” (QS. At-Taubah [9]: 79)Oleh karena itu, kita jumpai orang-orang munafik di jaman ini yang memberi gelar kepada para ulama dengan gelar-gelar yang buruk, semacam “ulama haid dan nifas” atau “ulama yang ilmunya tidak keluar dari (maaf) celana dalam perempuan” dan gelar-gelar buruk lainnya. Atau menyebut orang beriman dengan “orang bodoh” (karena keimanannya); sedangkan “orang cerdas” adalah orang-orang ateis yang tidak beriman, misalnya. Atau mencela para da’i yang menyebarkan dan mendakwahkan Islam.Memuji-muji orang kafir dan menyebarkan pemikiran mereka yang bertentangan dengan ajaran Islam.Allah Ta’ala berfirman,أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ تَوَلَّوْا قَوْمًا غَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مَا هُمْ مِنْكُمْ وَلَا مِنْهُمْ وَيَحْلِفُونَ عَلَى الْكَذِبِ وَهُمْ يَعْلَمُونَ“Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang menjadikan suatu kaum yang dimurkai Allah sebagai teman? Orang-orang itu bukan dari golongan kamu dan bukan (pula) dari golongan mereka. Dan mereka bersumpah untuk menguatkan kebohongan, sedang mereka mengetahui.” (QS. Al-Mujaadilah [58]: 14)Oleh karea itu, mereka memuji-muji orang sesat dan orang kafir, baik orang sesat jaman dulu dan sekarang, dan menokohkan mereka.[Bersambung]***@Sint-Jobskade 718 NL, 7 Dzulqa’dah 1439/ 21 Juli 2018Oleh seorang hamba yang sangat butuh ampunan Rabb-nya,Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.Or.Id🔍 Hadits Tentang Syirik, Pengertian Mencuri Dalam Islam, Fadhilah Quran, Salim Ke Orang Tua, Apa Itu Ilmu Kalam
Termasuk di antara pembatal iman adalah nifaq (kemunafikan). Merupakan kewajiban kita kaum muslimin untuk memahami pengertian dan jenis-jenis kemunafikan, serta ciri-ciri orang munafik agar kita bisa menjauhi sifat dan perbuatan tersebut.Pengertian, pembagian nifaq dan hukum pelaku nifaqNifaq secara bahasa berarti “menyembunyikan sesuatu”. Nifaq dibagi menjadi dua, yaitu nifaq akbar (nifaq i’tiqadi) dan nifaq ashghar (nifaq ‘amali).Secara istilah, nifaq akbar (nifak besar) berarti “seseorang yang menampakkan keimanan kepada Allah, malaikat, kitab, para rasul, dan hari akhir, namun kondisi batinnya bertentangan dengan semua hal tersebut atau sebagiannya.”Dengan kata lain, orang munafik adalah orang yang menampakkan Islam secara lahiriyah di hadapan kaum muslimin, menampakkan bahwa dirinya adalah seorang muslim, dan bisa jadi menampakkan sebagian amal ibadah seperti shalat, puasa dan zakat, akan tetapi hatinya pada hakikatnya tidak beriman.Nifaq i’tiqadi mengeluarkan pelakunya dari agama Islam, sehingga berlaku pada orang tersebut hukum yang sama dengan pelaku kafir akbar dan syirik akbar. Hal ini karena pada hakikatnya, orang munafik adalah orang kafir, bahkan mereka lebih jelek dan lebih berbahaya daripada orang kafir asli. Karena selain kekafiran, mereka juga melakukan kedustaan, kebohongan dan tipu daya kepada kaum muslimin.Oleh karena itu, bahaya dan kerusakan yang ditimbulkan oleh orang-orang munafik kepada kaum muslimin sangatlah besar, mereka menipu kaum muslimin seolah-olah mereka adalah bagian dari barisan kaum muslimin, padahal tidak. Mereka memerangi Islam dengan kata-kata yang dipoles indah, untuk menutupi kedok kemunafikannya. Allah Ta’ala berfirman tentang mereka orang munafik,وَإِذَا رَأَيْتَهُمْ تُعْجِبُكَ أَجْسَامُهُمْ وَإِنْ يَقُولُوا تَسْمَعْ لِقَوْلِهِمْ كَأَنَّهُمْ خُشُبٌ مُسَنَّدَةٌ يَحْسَبُونَ كُلَّ صَيْحَةٍ عَلَيْهِمْ هُمُ الْعَدُوُّ فَاحْذَرْهُمْ قَاتَلَهُمُ اللَّهُ أَنَّى يُؤْفَكُونَ“Dan apabila kamu melihat mereka, tubuh-tubuh mereka menjadikan kamu kagum. Dan jika mereka berkata, kamu mendengarkan perkataan mereka. Mereka adalah seakan-akan kayu yang tersandar. Mereka mengira bahwa tiap-tiap teriakan yang keras itu ditujukan kepada mereka. Mereka itulah musuh (yang sebenarnya). Maka waspadalah terhadap mereka, semoga Allah membinasakan mereka. Bagaimanakah mereka sampai dipalingkan (dari kebenaran)?” (QS. Al-Munafiqun [63]: 4)Oleh karena itu, pantaslah di hari kiamat nanti, mereka adalah orang-orang yang paling keras adzabnya. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ الْمُنَافِقِينَ فِي الدَّرْكِ الْأَسْفَلِ مِنَ النَّارِ وَلَنْ تَجِدَ لَهُمْ نَصِيرًا“Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolong pun bagi mereka.” (QS. An-Nisa’ [4]: 145)Adapun nifaq ashghar yang tidak mengeluarkan pelakunya dari Islam, akan dibahas secara khusus di akhir tulisan ini.Perbuatan-perbuatan kekafiran yang ditampakkan oleh orang munafikOrang-orang munafik memiliki perbuatan-perbuatan kekafiran yang menunjukkan atau menjadi tanda adanya nifaq akbar di dalam hatinya. Perbuatan-perbuatan tersebut Allah Ta’ala sebutkan secara rinci dalam Al-Qur’an, di antaranya dalam surat At-Taubah, untuk menyibak kedok kemunafikan dalam diri mereka.Di antara perbuatan-perbuatan orang munafik:Menjadikan Allah Ta’ala, Rasul-Nya, dan Al-Qur’an sebagai bahan candaan dan olok-olokan.Allah Ta’ala berfirman,قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ. لا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ إِنْ نَعْفُ عَنْ طَائِفَةٍ مِنْكُمْ نُعَذِّبْ طَائِفَةَ بِأَنَّهُمْ كَانُوا مُجْرِمِينَ“Katakanlah, ‘Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya, dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?’ Tidak usah kamu meminta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman. Jika Kami memaafkan segolongan dari kamu (lantaran mereka bertaubat), niscaya Kami akan mengadzab golongan (yang lain) disebabkan mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa.” (QS. At-Taubah [9]: 65-66)Di ayat yang lain, Allah Ta’ala berfirman,وَإِذَا لَقُوا الَّذِينَ آمَنُوا قَالُوا آمَنَّا وَإِذَا خَلَوْا إِلَى شَيَاطِينِهِمْ قَالُوا إِنَّا مَعَكُمْ إِنَّمَا نَحْنُ مُسْتَهْزِئُونَ“Dan bila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan, “Kami telah beriman.” Dan bila mereka kembali kepada setan-setan (pemimpin) mereka, mereka mengatakan, “Sesungguhnya kami sependirian dengan kamu, kami hanyalah berolok-olok.” (QS. Al-Baqarah [2]: 14)Mencela dan menghina Allah Ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah Ta’ala berfirman,وَمِنْهُمْ مَنْ يَلْمِزُكَ فِي الصَّدَقَاتِ فَإِنْ أُعْطُوا مِنْهَا رَضُوا وَإِنْ لَمْ يُعْطَوْا مِنْهَا إِذَا هُمْ يَسْخَطُونَ“Dan di antara mereka ada orang yang mencelamu tentang (distribusi) zakat. Jika mereka diberi sebagian darinya, mereka bersenang hati, dan jika mereka tidak diberi sebagian darinya, dengan serta merta mereka menjadi marah.” (QS. At-Taubah [9]: 58)Yaitu, menuduh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak bersikap adil ketika membagi zakat.Berpaling dari ajaran Islam dan mencela syariat, serta berupaya menjauhkan umat dari syariat Islam.Allah Ta’ala berfirman,وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا إِلَى مَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَإِلَى الرَّسُولِ رَأَيْتَ الْمُنَافِقِينَ يَصُدُّونَ عَنْكَ صُدُودًا“Apabila dikatakan kepada mereka, “Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul”, niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu.” (QS. An-Nisa’ [4]: 61)Di antaranya adalah seruan orang-orang munafik kepada kaum wanita untuk menanggalkan jilbab, menuntut persamaan dan kesetaraan dalam kepemimpinan, hukum waris, hukum talaq (perceraian) (maksudnya, seorang istri juga berhak mencerai suami sebagaimana suami berhak mencerai istri), dan sebagainya.Menyerukan untuk menjadikan hukum buatan orang kafir sebagai sumber hukum dan menerapkannya dengan mengatakan bahwa hukum tersebut lebih baik dan lebih mendatangkan maslahat daripada hukum Islam.Allah Ta’ala berfirman,أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يَزْعُمُونَ أَنَّهُمْ آمَنُوا بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ يُرِيدُونَ أَنْ يَتَحَاكَمُوا إِلَى الطَّاغُوتِ وَقَدْ أُمِرُوا أَنْ يَكْفُرُوا بِهِ وَيُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُضِلَّهُمْ ضَلَالًا بَعِيدًا“Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintahkan untuk mengingkari thaghut itu. Dan setan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya.” (QS. An-Nisa’ [4]: 60)Meyakini dan menyerukan “isme-isme” (ideologi) yang merusak dan menghancurkan Islam dan persatuan kaum muslimin.Orang-orang munafik meyakini benarnya isme-isme (ideologi) yang pada hakikatnya merusak Islam dan menyerukannya di tengah-tengah kaum muslimin. Di antara isme tersebut adalah yang kita saksikan dewasa ini ketika mereka mengajak “persatuan kaum muslimin” akan tetapi persatuan semu, karena persatuan tersebut tidak dibangun di atas Al-Qur’an dan As-Sunnah. Seperti persatuan atas dasar kesukuan (qaumiyyah) dan sekat-sekat kebangsaan (wathaniyyah) (nasionalisme) dengan merendahkan (bangsa) yang lainnya. Orang-orang munafik zaman ini, sebagiannya diberi label sebagai cendekiawan dan reformis Islam, mengajak persatuan di atas ikatan-ikatan jahiliyah tersebut, yang telah dilarang oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyerukan persatuan dan persaudaraan atas dasar ikatan iman dan Islam, sebagaimana yang Allah Ta’ala firmankan,إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ“Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” (QS. Al-Hujurat [49]: 10)Berdasarkan ayat tersebut, seluruh kaum muslimin adalah bersaudara, apa pun jenis kebangsaannya.Membantu dan bekerja sama dengan orang kafir untuk menyerang dan menguasai kaum muslimin.Hal ini tidaklah mengherankan, karena mereka pada hakikatnya tidak beriman, alias orang kafir. Sehingga bisa dipahami jika mereka membantu saudaranya sesama orang kafir untuk menyerang kaum muslimin. Allah Ta’ala berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebagian mereka adalah pemimpin bagi sebagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.فَتَرَى الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ يُسَارِعُونَ فِيهِمْ يَقُولُونَ نَخْشَى أَنْ تُصِيبَنَا دَائِرَةٌ فَعَسَى اللَّهُ أَنْ يَأْتِيَ بِالْفَتْحِ أَوْ أَمْرٍ مِنْ عِنْدِهِ فَيُصْبِحُوا عَلَى مَا أَسَرُّوا فِي أَنْفُسِهِمْ نَادِمِينَMaka kamu akan melihat orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya (orang-orang munafik) bersegera mendekati mereka (Yahudi dan Nasrani), seraya berkata, “Kami takut akan mendapat bencana.” Mudah-mudahan Allah akan mendatangkan kemenangan (kepada Rasul-Nya), atau sesuatu keputusan dari sisi-Nya. Maka karena itu, mereka menjadi menyesal terhadap apa yang mereka rahasiakan dalam diri mereka.” (QS. Al-Maidah [5]: 51-52) Menampakkan kegembiraan ketika kaum muslimin tertimpa musibah dan kesusahan atau ketika orang kafir menang mengalahkan kaum muslimin.Allah Ta’ala berfirman,إِنْ تَمْسَسْكُمْ حَسَنَةٌ تَسُؤْهُمْ وَإِنْ تُصِبْكُمْ سَيِّئَةٌ يَفْرَحُوا بِهَا وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا لَا يَضُرُّكُمْ كَيْدُهُمْ شَيْئًا إِنَّ اللَّهَ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطٌ“Jika kamu memperoleh kebaikan, niscaya mereka (orang munafik) bersedih hati. Tetapi jika kamu mendapat bencana, mereka bergembira karenanya. Jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikit pun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu. Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 120)Oleh karena itu, nyata kita jumpai di jaman ini, orang-orang yang tidak merasa kesusahan dan tidak merasa berduka atas musibah dan bencana yang terjadi di negeri-negeri kaum muslimin di berbagai penjuru dunia. Bahkan lebih dari itu, kita mendengar ucapan-ucapan dari mereka yang melarang untuk mendistribusikan bantuan ke negeri-negeri kaum muslimin yang tertimpa kesusahan dan bencana, meskipun dengan kedok alasan “mereka adalah bangsa lain, mari fokus dengan bangsa sendiri”. Sekali lagi, mereka menyeru dengan isme-isme qaumiyyah dan wathaniyyah (bangga dengan kaum dan bangsa sendiri), dan membuang jauh-jauh persatuan di atas ikatan iman dan Islam.Mencela dan menghina para ulama kaum muslimin dan orang-orang shalih dan membenci dakwah dan agama mereka.Allah Ta’ala berfirman,وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ آمِنُوا كَمَا آمَنَ النَّاسُ قَالُوا أَنُؤْمِنُ كَمَا آمَنَ السُّفَهَاءُ أَلَا إِنَّهُمْ هُمُ السُّفَهَاءُ وَلَكِنْ لَا يَعْلَمُونَ“Apabila dikatakan kepada mereka, “Berimanlah kamu sebagaimana orang-orang lain telah beriman (yaitu para sahabat Nabi, pen.).” Mereka menjawab, “Akan berimankah kami sebagaimana orang-orang yang bodoh itu telah beriman?” Ingatlah, sesungguhnya merekalah orang-orang yang bodoh, tetapi mereka tidak tahu.” (QS. Al-Baqarah [2]: 13)Allah Ta’ala juga berfirman,الَّذِينَ يَلْمِزُونَ الْمُطَّوِّعِينَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ فِي الصَّدَقَاتِ وَالَّذِينَ لَا يَجِدُونَ إِلَّا جُهْدَهُمْ فَيَسْخَرُونَ مِنْهُمْ سَخِرَ اللَّهُ مِنْهُمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ“(Orang-orang munafik itu) yaitu orang-orang yang mencela orang-orang mukmin yang memberi sedekah dengan sukarela dan (mencela) orang-orang yang tidak memperoleh (untuk disedekahkan) selain sekedar kesanggupannya. Maka orang-orang munafik itu menghina mereka. Allah akan membalas penghinaan mereka itu, dan untuk mereka azab yang pedih.” (QS. At-Taubah [9]: 79)Oleh karena itu, kita jumpai orang-orang munafik di jaman ini yang memberi gelar kepada para ulama dengan gelar-gelar yang buruk, semacam “ulama haid dan nifas” atau “ulama yang ilmunya tidak keluar dari (maaf) celana dalam perempuan” dan gelar-gelar buruk lainnya. Atau menyebut orang beriman dengan “orang bodoh” (karena keimanannya); sedangkan “orang cerdas” adalah orang-orang ateis yang tidak beriman, misalnya. Atau mencela para da’i yang menyebarkan dan mendakwahkan Islam.Memuji-muji orang kafir dan menyebarkan pemikiran mereka yang bertentangan dengan ajaran Islam.Allah Ta’ala berfirman,أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ تَوَلَّوْا قَوْمًا غَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مَا هُمْ مِنْكُمْ وَلَا مِنْهُمْ وَيَحْلِفُونَ عَلَى الْكَذِبِ وَهُمْ يَعْلَمُونَ“Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang menjadikan suatu kaum yang dimurkai Allah sebagai teman? Orang-orang itu bukan dari golongan kamu dan bukan (pula) dari golongan mereka. Dan mereka bersumpah untuk menguatkan kebohongan, sedang mereka mengetahui.” (QS. Al-Mujaadilah [58]: 14)Oleh karea itu, mereka memuji-muji orang sesat dan orang kafir, baik orang sesat jaman dulu dan sekarang, dan menokohkan mereka.[Bersambung]***@Sint-Jobskade 718 NL, 7 Dzulqa’dah 1439/ 21 Juli 2018Oleh seorang hamba yang sangat butuh ampunan Rabb-nya,Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.Or.Id🔍 Hadits Tentang Syirik, Pengertian Mencuri Dalam Islam, Fadhilah Quran, Salim Ke Orang Tua, Apa Itu Ilmu Kalam


Termasuk di antara pembatal iman adalah nifaq (kemunafikan). Merupakan kewajiban kita kaum muslimin untuk memahami pengertian dan jenis-jenis kemunafikan, serta ciri-ciri orang munafik agar kita bisa menjauhi sifat dan perbuatan tersebut.Pengertian, pembagian nifaq dan hukum pelaku nifaqNifaq secara bahasa berarti “menyembunyikan sesuatu”. Nifaq dibagi menjadi dua, yaitu nifaq akbar (nifaq i’tiqadi) dan nifaq ashghar (nifaq ‘amali).Secara istilah, nifaq akbar (nifak besar) berarti “seseorang yang menampakkan keimanan kepada Allah, malaikat, kitab, para rasul, dan hari akhir, namun kondisi batinnya bertentangan dengan semua hal tersebut atau sebagiannya.”Dengan kata lain, orang munafik adalah orang yang menampakkan Islam secara lahiriyah di hadapan kaum muslimin, menampakkan bahwa dirinya adalah seorang muslim, dan bisa jadi menampakkan sebagian amal ibadah seperti shalat, puasa dan zakat, akan tetapi hatinya pada hakikatnya tidak beriman.Nifaq i’tiqadi mengeluarkan pelakunya dari agama Islam, sehingga berlaku pada orang tersebut hukum yang sama dengan pelaku kafir akbar dan syirik akbar. Hal ini karena pada hakikatnya, orang munafik adalah orang kafir, bahkan mereka lebih jelek dan lebih berbahaya daripada orang kafir asli. Karena selain kekafiran, mereka juga melakukan kedustaan, kebohongan dan tipu daya kepada kaum muslimin.Oleh karena itu, bahaya dan kerusakan yang ditimbulkan oleh orang-orang munafik kepada kaum muslimin sangatlah besar, mereka menipu kaum muslimin seolah-olah mereka adalah bagian dari barisan kaum muslimin, padahal tidak. Mereka memerangi Islam dengan kata-kata yang dipoles indah, untuk menutupi kedok kemunafikannya. Allah Ta’ala berfirman tentang mereka orang munafik,وَإِذَا رَأَيْتَهُمْ تُعْجِبُكَ أَجْسَامُهُمْ وَإِنْ يَقُولُوا تَسْمَعْ لِقَوْلِهِمْ كَأَنَّهُمْ خُشُبٌ مُسَنَّدَةٌ يَحْسَبُونَ كُلَّ صَيْحَةٍ عَلَيْهِمْ هُمُ الْعَدُوُّ فَاحْذَرْهُمْ قَاتَلَهُمُ اللَّهُ أَنَّى يُؤْفَكُونَ“Dan apabila kamu melihat mereka, tubuh-tubuh mereka menjadikan kamu kagum. Dan jika mereka berkata, kamu mendengarkan perkataan mereka. Mereka adalah seakan-akan kayu yang tersandar. Mereka mengira bahwa tiap-tiap teriakan yang keras itu ditujukan kepada mereka. Mereka itulah musuh (yang sebenarnya). Maka waspadalah terhadap mereka, semoga Allah membinasakan mereka. Bagaimanakah mereka sampai dipalingkan (dari kebenaran)?” (QS. Al-Munafiqun [63]: 4)Oleh karena itu, pantaslah di hari kiamat nanti, mereka adalah orang-orang yang paling keras adzabnya. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ الْمُنَافِقِينَ فِي الدَّرْكِ الْأَسْفَلِ مِنَ النَّارِ وَلَنْ تَجِدَ لَهُمْ نَصِيرًا“Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolong pun bagi mereka.” (QS. An-Nisa’ [4]: 145)Adapun nifaq ashghar yang tidak mengeluarkan pelakunya dari Islam, akan dibahas secara khusus di akhir tulisan ini.Perbuatan-perbuatan kekafiran yang ditampakkan oleh orang munafikOrang-orang munafik memiliki perbuatan-perbuatan kekafiran yang menunjukkan atau menjadi tanda adanya nifaq akbar di dalam hatinya. Perbuatan-perbuatan tersebut Allah Ta’ala sebutkan secara rinci dalam Al-Qur’an, di antaranya dalam surat At-Taubah, untuk menyibak kedok kemunafikan dalam diri mereka.Di antara perbuatan-perbuatan orang munafik:Menjadikan Allah Ta’ala, Rasul-Nya, dan Al-Qur’an sebagai bahan candaan dan olok-olokan.Allah Ta’ala berfirman,قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ. لا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ إِنْ نَعْفُ عَنْ طَائِفَةٍ مِنْكُمْ نُعَذِّبْ طَائِفَةَ بِأَنَّهُمْ كَانُوا مُجْرِمِينَ“Katakanlah, ‘Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya, dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?’ Tidak usah kamu meminta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman. Jika Kami memaafkan segolongan dari kamu (lantaran mereka bertaubat), niscaya Kami akan mengadzab golongan (yang lain) disebabkan mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa.” (QS. At-Taubah [9]: 65-66)Di ayat yang lain, Allah Ta’ala berfirman,وَإِذَا لَقُوا الَّذِينَ آمَنُوا قَالُوا آمَنَّا وَإِذَا خَلَوْا إِلَى شَيَاطِينِهِمْ قَالُوا إِنَّا مَعَكُمْ إِنَّمَا نَحْنُ مُسْتَهْزِئُونَ“Dan bila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan, “Kami telah beriman.” Dan bila mereka kembali kepada setan-setan (pemimpin) mereka, mereka mengatakan, “Sesungguhnya kami sependirian dengan kamu, kami hanyalah berolok-olok.” (QS. Al-Baqarah [2]: 14)Mencela dan menghina Allah Ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah Ta’ala berfirman,وَمِنْهُمْ مَنْ يَلْمِزُكَ فِي الصَّدَقَاتِ فَإِنْ أُعْطُوا مِنْهَا رَضُوا وَإِنْ لَمْ يُعْطَوْا مِنْهَا إِذَا هُمْ يَسْخَطُونَ“Dan di antara mereka ada orang yang mencelamu tentang (distribusi) zakat. Jika mereka diberi sebagian darinya, mereka bersenang hati, dan jika mereka tidak diberi sebagian darinya, dengan serta merta mereka menjadi marah.” (QS. At-Taubah [9]: 58)Yaitu, menuduh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak bersikap adil ketika membagi zakat.Berpaling dari ajaran Islam dan mencela syariat, serta berupaya menjauhkan umat dari syariat Islam.Allah Ta’ala berfirman,وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا إِلَى مَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَإِلَى الرَّسُولِ رَأَيْتَ الْمُنَافِقِينَ يَصُدُّونَ عَنْكَ صُدُودًا“Apabila dikatakan kepada mereka, “Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul”, niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu.” (QS. An-Nisa’ [4]: 61)Di antaranya adalah seruan orang-orang munafik kepada kaum wanita untuk menanggalkan jilbab, menuntut persamaan dan kesetaraan dalam kepemimpinan, hukum waris, hukum talaq (perceraian) (maksudnya, seorang istri juga berhak mencerai suami sebagaimana suami berhak mencerai istri), dan sebagainya.Menyerukan untuk menjadikan hukum buatan orang kafir sebagai sumber hukum dan menerapkannya dengan mengatakan bahwa hukum tersebut lebih baik dan lebih mendatangkan maslahat daripada hukum Islam.Allah Ta’ala berfirman,أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يَزْعُمُونَ أَنَّهُمْ آمَنُوا بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ يُرِيدُونَ أَنْ يَتَحَاكَمُوا إِلَى الطَّاغُوتِ وَقَدْ أُمِرُوا أَنْ يَكْفُرُوا بِهِ وَيُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُضِلَّهُمْ ضَلَالًا بَعِيدًا“Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintahkan untuk mengingkari thaghut itu. Dan setan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya.” (QS. An-Nisa’ [4]: 60)Meyakini dan menyerukan “isme-isme” (ideologi) yang merusak dan menghancurkan Islam dan persatuan kaum muslimin.Orang-orang munafik meyakini benarnya isme-isme (ideologi) yang pada hakikatnya merusak Islam dan menyerukannya di tengah-tengah kaum muslimin. Di antara isme tersebut adalah yang kita saksikan dewasa ini ketika mereka mengajak “persatuan kaum muslimin” akan tetapi persatuan semu, karena persatuan tersebut tidak dibangun di atas Al-Qur’an dan As-Sunnah. Seperti persatuan atas dasar kesukuan (qaumiyyah) dan sekat-sekat kebangsaan (wathaniyyah) (nasionalisme) dengan merendahkan (bangsa) yang lainnya. Orang-orang munafik zaman ini, sebagiannya diberi label sebagai cendekiawan dan reformis Islam, mengajak persatuan di atas ikatan-ikatan jahiliyah tersebut, yang telah dilarang oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyerukan persatuan dan persaudaraan atas dasar ikatan iman dan Islam, sebagaimana yang Allah Ta’ala firmankan,إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ“Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” (QS. Al-Hujurat [49]: 10)Berdasarkan ayat tersebut, seluruh kaum muslimin adalah bersaudara, apa pun jenis kebangsaannya.Membantu dan bekerja sama dengan orang kafir untuk menyerang dan menguasai kaum muslimin.Hal ini tidaklah mengherankan, karena mereka pada hakikatnya tidak beriman, alias orang kafir. Sehingga bisa dipahami jika mereka membantu saudaranya sesama orang kafir untuk menyerang kaum muslimin. Allah Ta’ala berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebagian mereka adalah pemimpin bagi sebagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.فَتَرَى الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ يُسَارِعُونَ فِيهِمْ يَقُولُونَ نَخْشَى أَنْ تُصِيبَنَا دَائِرَةٌ فَعَسَى اللَّهُ أَنْ يَأْتِيَ بِالْفَتْحِ أَوْ أَمْرٍ مِنْ عِنْدِهِ فَيُصْبِحُوا عَلَى مَا أَسَرُّوا فِي أَنْفُسِهِمْ نَادِمِينَMaka kamu akan melihat orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya (orang-orang munafik) bersegera mendekati mereka (Yahudi dan Nasrani), seraya berkata, “Kami takut akan mendapat bencana.” Mudah-mudahan Allah akan mendatangkan kemenangan (kepada Rasul-Nya), atau sesuatu keputusan dari sisi-Nya. Maka karena itu, mereka menjadi menyesal terhadap apa yang mereka rahasiakan dalam diri mereka.” (QS. Al-Maidah [5]: 51-52) Menampakkan kegembiraan ketika kaum muslimin tertimpa musibah dan kesusahan atau ketika orang kafir menang mengalahkan kaum muslimin.Allah Ta’ala berfirman,إِنْ تَمْسَسْكُمْ حَسَنَةٌ تَسُؤْهُمْ وَإِنْ تُصِبْكُمْ سَيِّئَةٌ يَفْرَحُوا بِهَا وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا لَا يَضُرُّكُمْ كَيْدُهُمْ شَيْئًا إِنَّ اللَّهَ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطٌ“Jika kamu memperoleh kebaikan, niscaya mereka (orang munafik) bersedih hati. Tetapi jika kamu mendapat bencana, mereka bergembira karenanya. Jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikit pun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu. Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 120)Oleh karena itu, nyata kita jumpai di jaman ini, orang-orang yang tidak merasa kesusahan dan tidak merasa berduka atas musibah dan bencana yang terjadi di negeri-negeri kaum muslimin di berbagai penjuru dunia. Bahkan lebih dari itu, kita mendengar ucapan-ucapan dari mereka yang melarang untuk mendistribusikan bantuan ke negeri-negeri kaum muslimin yang tertimpa kesusahan dan bencana, meskipun dengan kedok alasan “mereka adalah bangsa lain, mari fokus dengan bangsa sendiri”. Sekali lagi, mereka menyeru dengan isme-isme qaumiyyah dan wathaniyyah (bangga dengan kaum dan bangsa sendiri), dan membuang jauh-jauh persatuan di atas ikatan iman dan Islam.Mencela dan menghina para ulama kaum muslimin dan orang-orang shalih dan membenci dakwah dan agama mereka.Allah Ta’ala berfirman,وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ آمِنُوا كَمَا آمَنَ النَّاسُ قَالُوا أَنُؤْمِنُ كَمَا آمَنَ السُّفَهَاءُ أَلَا إِنَّهُمْ هُمُ السُّفَهَاءُ وَلَكِنْ لَا يَعْلَمُونَ“Apabila dikatakan kepada mereka, “Berimanlah kamu sebagaimana orang-orang lain telah beriman (yaitu para sahabat Nabi, pen.).” Mereka menjawab, “Akan berimankah kami sebagaimana orang-orang yang bodoh itu telah beriman?” Ingatlah, sesungguhnya merekalah orang-orang yang bodoh, tetapi mereka tidak tahu.” (QS. Al-Baqarah [2]: 13)Allah Ta’ala juga berfirman,الَّذِينَ يَلْمِزُونَ الْمُطَّوِّعِينَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ فِي الصَّدَقَاتِ وَالَّذِينَ لَا يَجِدُونَ إِلَّا جُهْدَهُمْ فَيَسْخَرُونَ مِنْهُمْ سَخِرَ اللَّهُ مِنْهُمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ“(Orang-orang munafik itu) yaitu orang-orang yang mencela orang-orang mukmin yang memberi sedekah dengan sukarela dan (mencela) orang-orang yang tidak memperoleh (untuk disedekahkan) selain sekedar kesanggupannya. Maka orang-orang munafik itu menghina mereka. Allah akan membalas penghinaan mereka itu, dan untuk mereka azab yang pedih.” (QS. At-Taubah [9]: 79)Oleh karena itu, kita jumpai orang-orang munafik di jaman ini yang memberi gelar kepada para ulama dengan gelar-gelar yang buruk, semacam “ulama haid dan nifas” atau “ulama yang ilmunya tidak keluar dari (maaf) celana dalam perempuan” dan gelar-gelar buruk lainnya. Atau menyebut orang beriman dengan “orang bodoh” (karena keimanannya); sedangkan “orang cerdas” adalah orang-orang ateis yang tidak beriman, misalnya. Atau mencela para da’i yang menyebarkan dan mendakwahkan Islam.Memuji-muji orang kafir dan menyebarkan pemikiran mereka yang bertentangan dengan ajaran Islam.Allah Ta’ala berfirman,أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ تَوَلَّوْا قَوْمًا غَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مَا هُمْ مِنْكُمْ وَلَا مِنْهُمْ وَيَحْلِفُونَ عَلَى الْكَذِبِ وَهُمْ يَعْلَمُونَ“Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang menjadikan suatu kaum yang dimurkai Allah sebagai teman? Orang-orang itu bukan dari golongan kamu dan bukan (pula) dari golongan mereka. Dan mereka bersumpah untuk menguatkan kebohongan, sedang mereka mengetahui.” (QS. Al-Mujaadilah [58]: 14)Oleh karea itu, mereka memuji-muji orang sesat dan orang kafir, baik orang sesat jaman dulu dan sekarang, dan menokohkan mereka.[Bersambung]***@Sint-Jobskade 718 NL, 7 Dzulqa’dah 1439/ 21 Juli 2018Oleh seorang hamba yang sangat butuh ampunan Rabb-nya,Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.Or.Id🔍 Hadits Tentang Syirik, Pengertian Mencuri Dalam Islam, Fadhilah Quran, Salim Ke Orang Tua, Apa Itu Ilmu Kalam

Apakah Engkau Ingin Menjadi Pembuka Pintu-Pintu Kebaikan? (Bag. 7)

Baca pembahasan sebelumnya Apakah Engkau Ingin Menjadi Pembuka Pintu-Pintu Kebaikan? (Bag. 6)Ke tujuh: Memperbanyak doa kepada Allah Ta’alaDoa adalah kunci pembuka semua kebaikan. Salah seorang ulama salaf berkata, “Aku merenungkan pokok-pokok kebaikan. Aku jumpai bahwa kebaikan itu memiliki pintu yang banyak. Shalat adalah kebaikan, puasa adalah kebaikan, haji adalah kebaikan. Pintu-pintu kebaikan itu banyak. Dan aku jumpai bahwa itu semua berada di tangan Allah Ta’ala. Sehingga aku yakin bahwa doa adalah kunci pembuka semua kebaikan.”Kita tidaklah mampu untuk shalat, kecuali jika Allah Ta’ala menolong kita. Begitu pula, kita tidak mampu untuk berhaji, berpuasa, bersedekah, berbuat baik kepada orang tua, dan mengerjakan berbagai amal kebaikan, kecuali jika Allah Ta’ala menolong kita.Oleh karena itulah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersyair di saat perang Ahzab,وَاللَّهِ لَوْلاَ اللَّهُ مَا اهْتَدَيْنَا، وَلاَ صُمْنَا وَلاَ صَلَّيْنَا“Demi Allah, seandainya bukan karena Allah, kami tidak akan mendapatkan hidayah, kami tidak akan berpuasa, dan tidak pula mendirikan shalat.” (HR. Bukhari no. 6620 dan Muslim no. 1803)Allah Ta’ala berfirman,وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ مَا زَكَى مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ أَبَدًا وَلَكِنَّ اللَّهَ يُزَكِّي مَنْ يَشَاءُ“Sekiranya tidaklah karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorang pun dari kalian yang bersih (dari perbuatan keji dan munkar itu) selama-lamanya. Akan tetapi Allah membersihkan siapa saja yang dikehendaki-Nya.” (QS. An-Nuur [24]: 21)وَلَكِنَّ اللَّهَ حَبَّبَ إِلَيْكُمُ الْإِيمَانَ وَزَيَّنَهُ فِي قُلُوبِكُمْ وَكَرَّهَ إِلَيْكُمُ الْكُفْرَ وَالْفُسُوقَ وَالْعِصْيَانَ أُولَئِكَ هُمُ الرَّاشِدُونَ ؛ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَنِعْمَةً“Tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus, sebagai karunia dan nikmat dari Allah.” (QS. Al-Hujuraat: 7-8)Baca Juga: Apakah Engkau Ingin Menjadi Pembuka Pintu-Pintu Kebaikan? (Bag. 1)Oleh karena itu, jika kita memang ingin menjadi pembuka pintu kebaikan, menjadi orang-orang yang memiliki keutamaan, menjadi penuntut ilmu yang mulia, maka hendaknya kita banyak meminta kepada Allah Ta’ala. Karena itu semua berada di tangan Allah Ta’ala. Di antara para ulama ada yang mengatakan,الدعاء مفتاح كل خير، فمن وفق لهذا المفتاح وفق للخير، ومن حرم هذا المفتاح حرم من الخير“Doa adalah kunci pembuka kebaikan. Barangsiapa yang mendapatkan taufik untuk mendapatkan kunci ini, maka dia akan mendapatkan taufik untuk memperoleh kebaikan. Barangsiapa yang tercegah dari pintu ini, dia tercegah dari kebaikan.”Berdoa, mengadu kepada Allah Ta’ala, tulus dalam berdoa, serta memberi perhatian terhadap adab, ketentuan (kaidah) dan syarat berdoa sebagaimana yang terdapat di dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah, merupakan asas dan landasan pokok dalam masalah ini.Contoh-contoh doa terkait masalah ini sangatlah banyak. Di antaranya adalah doa yang dibaca Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam setiap kali keluar rumah,اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أَضِلَّ، أَوْ أُضَلَّ، أَوْ أَزِلَّ، أَوْ أُزَلَّ، أَوْ أَظْلِمَ، أَوْ أُظْلَمَ، أَوْ أَجْهَلَ، أَوْ يُجْهَلَ عَلَيَّ“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari menyesatkan atau disesatkan; menggelincirkan atau digelincirkan; berbuat dzalim atau didzalimi; atau berbuat usil atau diusili.” (HR. Abu Dawud no. 5094; Ibnu Majah no. 3448; Tirmidzi no. 3427. Tirmidzi berkata, “Hadits hasan shahih.” Dinilai shahih oleh Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 3163.)Perhatikanlah doa yang agung dan indah ini. Betapa kita sangat membutuhkan doa ini setiap kali keluar rumah. Dan jika Allah Ta’ala mengabulkannya, maka jadilah kita menjadi pintu kebaikan dan penutup keburukan.Sebagian salaf mengucapkan dalam doanya,اللهم سلمني، و سلم مني“Allahumma, sallimnii, wa sallim minnii” (Ya Allah, selamatkanlah aku, dan selamatkanlah aku dari gangguan jiwaku sendiri.)Doa ini semakna dengan doa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas. Akan tetapi, doa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentu lebih luas, lebih indah dan lebih sempurna.Doa lainnya yang dirutinkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam setiap hari selesai shalat subuh adalah,اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَعَمَلًا مُتَقَبَّلًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, amal yang diterima, dan rizki yang baik.” (HR. Ahmad no. 26521 dan Ibnu Majah no. 925. Dinilai shahih oleh Al-Albani dalam Shahih Ibnu Majah no. 753)Di antaranya juga adalah doa yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنَ الْخَيْرِ كُلِّهِ عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ، مَا عَلِمْتُ مِنْهُ وَمَا لَمْ أَعْلَمْ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الشَّرِّ كُلِّهِ عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ، مَا عَلِمْتُ مِنْهُ وَمَا لَمْ أَعْلَمْ، اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِ مَا سَأَلَكَ عَبْدُكَ وَنَبِيُّكَ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا عَاذَ بِهِ عَبْدُكَ وَنَبِيُّكَ، اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ أَوْ عَمَلٍ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ النَّارِ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ أَوْ عَمَلٍ، وَأَسْأَلُكَ أَنْ تَجْعَلَ كُلَّ قَضَاءٍ قَضَيْتَهُ لِي خَيْرًا“Ya Allah, aku meminta kepada-Mu kebaikan seluruhnya, baik yang segera atau yang tertunda, baik yang aku ketahui atau aku belum ketahui. Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekan seluruhnya, baik yang segera atau yang tertunda, baik yang aku ketahui atau aku belum ketahui. Sesungguhnya aku meminta kepada-Mu semua doa kebaikan yang diminta oleh hamba dan Nabi-Mu. Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekan yang hamba dan Nabi-Mu meminta perlindungan dari kejelekan itu. Ya Allah, aku meminta kepada-Mu surga dan segala yang mendekatkan menuju surga, baik ucapan atau perbuatan. Aku berlindung kepada-Mu dari neraka dan segala yang mendekatkan menuju neraka, baik ucapan atau perbuatan. Dan aku meminta kepada-Mu untuk menjadikan semua takdir yang Engkau takdirkan untukku adalah kebaikan.” (HR. Ahmad no. 25019, Ibnu Majah no. 3846 dan Ibnu Hibban no. 869. Dinilai shahih oleh Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 1542.) [Bersambung]Baca Juga: Tinggalkan Pintu Kebaikan, Pasti Masuk Lubang Keburukan Kebaikan Berlipat Ganda, Mau? ***@Sint-Jobskade 718 NL, 8 Syawwal 1439/ 22 Juni 2018Oleh seorang hamba yang sangat butuh ampunan Rabb-nya,Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.or.id Referensi:Disarikan dari kitab Kaifa takuunu miftaahan lil khair karya Syaikh ‘Abdurrazaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr, hal. 32-36.🔍 Amal Tergantung Niat, Cara Meningkatkan Keimanan Kepada Allah, Dalil Sholawat, Ba'da Dzuhur, Dosa Wanita Perebut Suami Orang

Apakah Engkau Ingin Menjadi Pembuka Pintu-Pintu Kebaikan? (Bag. 7)

Baca pembahasan sebelumnya Apakah Engkau Ingin Menjadi Pembuka Pintu-Pintu Kebaikan? (Bag. 6)Ke tujuh: Memperbanyak doa kepada Allah Ta’alaDoa adalah kunci pembuka semua kebaikan. Salah seorang ulama salaf berkata, “Aku merenungkan pokok-pokok kebaikan. Aku jumpai bahwa kebaikan itu memiliki pintu yang banyak. Shalat adalah kebaikan, puasa adalah kebaikan, haji adalah kebaikan. Pintu-pintu kebaikan itu banyak. Dan aku jumpai bahwa itu semua berada di tangan Allah Ta’ala. Sehingga aku yakin bahwa doa adalah kunci pembuka semua kebaikan.”Kita tidaklah mampu untuk shalat, kecuali jika Allah Ta’ala menolong kita. Begitu pula, kita tidak mampu untuk berhaji, berpuasa, bersedekah, berbuat baik kepada orang tua, dan mengerjakan berbagai amal kebaikan, kecuali jika Allah Ta’ala menolong kita.Oleh karena itulah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersyair di saat perang Ahzab,وَاللَّهِ لَوْلاَ اللَّهُ مَا اهْتَدَيْنَا، وَلاَ صُمْنَا وَلاَ صَلَّيْنَا“Demi Allah, seandainya bukan karena Allah, kami tidak akan mendapatkan hidayah, kami tidak akan berpuasa, dan tidak pula mendirikan shalat.” (HR. Bukhari no. 6620 dan Muslim no. 1803)Allah Ta’ala berfirman,وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ مَا زَكَى مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ أَبَدًا وَلَكِنَّ اللَّهَ يُزَكِّي مَنْ يَشَاءُ“Sekiranya tidaklah karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorang pun dari kalian yang bersih (dari perbuatan keji dan munkar itu) selama-lamanya. Akan tetapi Allah membersihkan siapa saja yang dikehendaki-Nya.” (QS. An-Nuur [24]: 21)وَلَكِنَّ اللَّهَ حَبَّبَ إِلَيْكُمُ الْإِيمَانَ وَزَيَّنَهُ فِي قُلُوبِكُمْ وَكَرَّهَ إِلَيْكُمُ الْكُفْرَ وَالْفُسُوقَ وَالْعِصْيَانَ أُولَئِكَ هُمُ الرَّاشِدُونَ ؛ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَنِعْمَةً“Tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus, sebagai karunia dan nikmat dari Allah.” (QS. Al-Hujuraat: 7-8)Baca Juga: Apakah Engkau Ingin Menjadi Pembuka Pintu-Pintu Kebaikan? (Bag. 1)Oleh karena itu, jika kita memang ingin menjadi pembuka pintu kebaikan, menjadi orang-orang yang memiliki keutamaan, menjadi penuntut ilmu yang mulia, maka hendaknya kita banyak meminta kepada Allah Ta’ala. Karena itu semua berada di tangan Allah Ta’ala. Di antara para ulama ada yang mengatakan,الدعاء مفتاح كل خير، فمن وفق لهذا المفتاح وفق للخير، ومن حرم هذا المفتاح حرم من الخير“Doa adalah kunci pembuka kebaikan. Barangsiapa yang mendapatkan taufik untuk mendapatkan kunci ini, maka dia akan mendapatkan taufik untuk memperoleh kebaikan. Barangsiapa yang tercegah dari pintu ini, dia tercegah dari kebaikan.”Berdoa, mengadu kepada Allah Ta’ala, tulus dalam berdoa, serta memberi perhatian terhadap adab, ketentuan (kaidah) dan syarat berdoa sebagaimana yang terdapat di dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah, merupakan asas dan landasan pokok dalam masalah ini.Contoh-contoh doa terkait masalah ini sangatlah banyak. Di antaranya adalah doa yang dibaca Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam setiap kali keluar rumah,اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أَضِلَّ، أَوْ أُضَلَّ، أَوْ أَزِلَّ، أَوْ أُزَلَّ، أَوْ أَظْلِمَ، أَوْ أُظْلَمَ، أَوْ أَجْهَلَ، أَوْ يُجْهَلَ عَلَيَّ“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari menyesatkan atau disesatkan; menggelincirkan atau digelincirkan; berbuat dzalim atau didzalimi; atau berbuat usil atau diusili.” (HR. Abu Dawud no. 5094; Ibnu Majah no. 3448; Tirmidzi no. 3427. Tirmidzi berkata, “Hadits hasan shahih.” Dinilai shahih oleh Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 3163.)Perhatikanlah doa yang agung dan indah ini. Betapa kita sangat membutuhkan doa ini setiap kali keluar rumah. Dan jika Allah Ta’ala mengabulkannya, maka jadilah kita menjadi pintu kebaikan dan penutup keburukan.Sebagian salaf mengucapkan dalam doanya,اللهم سلمني، و سلم مني“Allahumma, sallimnii, wa sallim minnii” (Ya Allah, selamatkanlah aku, dan selamatkanlah aku dari gangguan jiwaku sendiri.)Doa ini semakna dengan doa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas. Akan tetapi, doa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentu lebih luas, lebih indah dan lebih sempurna.Doa lainnya yang dirutinkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam setiap hari selesai shalat subuh adalah,اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَعَمَلًا مُتَقَبَّلًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, amal yang diterima, dan rizki yang baik.” (HR. Ahmad no. 26521 dan Ibnu Majah no. 925. Dinilai shahih oleh Al-Albani dalam Shahih Ibnu Majah no. 753)Di antaranya juga adalah doa yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنَ الْخَيْرِ كُلِّهِ عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ، مَا عَلِمْتُ مِنْهُ وَمَا لَمْ أَعْلَمْ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الشَّرِّ كُلِّهِ عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ، مَا عَلِمْتُ مِنْهُ وَمَا لَمْ أَعْلَمْ، اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِ مَا سَأَلَكَ عَبْدُكَ وَنَبِيُّكَ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا عَاذَ بِهِ عَبْدُكَ وَنَبِيُّكَ، اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ أَوْ عَمَلٍ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ النَّارِ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ أَوْ عَمَلٍ، وَأَسْأَلُكَ أَنْ تَجْعَلَ كُلَّ قَضَاءٍ قَضَيْتَهُ لِي خَيْرًا“Ya Allah, aku meminta kepada-Mu kebaikan seluruhnya, baik yang segera atau yang tertunda, baik yang aku ketahui atau aku belum ketahui. Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekan seluruhnya, baik yang segera atau yang tertunda, baik yang aku ketahui atau aku belum ketahui. Sesungguhnya aku meminta kepada-Mu semua doa kebaikan yang diminta oleh hamba dan Nabi-Mu. Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekan yang hamba dan Nabi-Mu meminta perlindungan dari kejelekan itu. Ya Allah, aku meminta kepada-Mu surga dan segala yang mendekatkan menuju surga, baik ucapan atau perbuatan. Aku berlindung kepada-Mu dari neraka dan segala yang mendekatkan menuju neraka, baik ucapan atau perbuatan. Dan aku meminta kepada-Mu untuk menjadikan semua takdir yang Engkau takdirkan untukku adalah kebaikan.” (HR. Ahmad no. 25019, Ibnu Majah no. 3846 dan Ibnu Hibban no. 869. Dinilai shahih oleh Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 1542.) [Bersambung]Baca Juga: Tinggalkan Pintu Kebaikan, Pasti Masuk Lubang Keburukan Kebaikan Berlipat Ganda, Mau? ***@Sint-Jobskade 718 NL, 8 Syawwal 1439/ 22 Juni 2018Oleh seorang hamba yang sangat butuh ampunan Rabb-nya,Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.or.id Referensi:Disarikan dari kitab Kaifa takuunu miftaahan lil khair karya Syaikh ‘Abdurrazaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr, hal. 32-36.🔍 Amal Tergantung Niat, Cara Meningkatkan Keimanan Kepada Allah, Dalil Sholawat, Ba'da Dzuhur, Dosa Wanita Perebut Suami Orang
Baca pembahasan sebelumnya Apakah Engkau Ingin Menjadi Pembuka Pintu-Pintu Kebaikan? (Bag. 6)Ke tujuh: Memperbanyak doa kepada Allah Ta’alaDoa adalah kunci pembuka semua kebaikan. Salah seorang ulama salaf berkata, “Aku merenungkan pokok-pokok kebaikan. Aku jumpai bahwa kebaikan itu memiliki pintu yang banyak. Shalat adalah kebaikan, puasa adalah kebaikan, haji adalah kebaikan. Pintu-pintu kebaikan itu banyak. Dan aku jumpai bahwa itu semua berada di tangan Allah Ta’ala. Sehingga aku yakin bahwa doa adalah kunci pembuka semua kebaikan.”Kita tidaklah mampu untuk shalat, kecuali jika Allah Ta’ala menolong kita. Begitu pula, kita tidak mampu untuk berhaji, berpuasa, bersedekah, berbuat baik kepada orang tua, dan mengerjakan berbagai amal kebaikan, kecuali jika Allah Ta’ala menolong kita.Oleh karena itulah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersyair di saat perang Ahzab,وَاللَّهِ لَوْلاَ اللَّهُ مَا اهْتَدَيْنَا، وَلاَ صُمْنَا وَلاَ صَلَّيْنَا“Demi Allah, seandainya bukan karena Allah, kami tidak akan mendapatkan hidayah, kami tidak akan berpuasa, dan tidak pula mendirikan shalat.” (HR. Bukhari no. 6620 dan Muslim no. 1803)Allah Ta’ala berfirman,وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ مَا زَكَى مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ أَبَدًا وَلَكِنَّ اللَّهَ يُزَكِّي مَنْ يَشَاءُ“Sekiranya tidaklah karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorang pun dari kalian yang bersih (dari perbuatan keji dan munkar itu) selama-lamanya. Akan tetapi Allah membersihkan siapa saja yang dikehendaki-Nya.” (QS. An-Nuur [24]: 21)وَلَكِنَّ اللَّهَ حَبَّبَ إِلَيْكُمُ الْإِيمَانَ وَزَيَّنَهُ فِي قُلُوبِكُمْ وَكَرَّهَ إِلَيْكُمُ الْكُفْرَ وَالْفُسُوقَ وَالْعِصْيَانَ أُولَئِكَ هُمُ الرَّاشِدُونَ ؛ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَنِعْمَةً“Tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus, sebagai karunia dan nikmat dari Allah.” (QS. Al-Hujuraat: 7-8)Baca Juga: Apakah Engkau Ingin Menjadi Pembuka Pintu-Pintu Kebaikan? (Bag. 1)Oleh karena itu, jika kita memang ingin menjadi pembuka pintu kebaikan, menjadi orang-orang yang memiliki keutamaan, menjadi penuntut ilmu yang mulia, maka hendaknya kita banyak meminta kepada Allah Ta’ala. Karena itu semua berada di tangan Allah Ta’ala. Di antara para ulama ada yang mengatakan,الدعاء مفتاح كل خير، فمن وفق لهذا المفتاح وفق للخير، ومن حرم هذا المفتاح حرم من الخير“Doa adalah kunci pembuka kebaikan. Barangsiapa yang mendapatkan taufik untuk mendapatkan kunci ini, maka dia akan mendapatkan taufik untuk memperoleh kebaikan. Barangsiapa yang tercegah dari pintu ini, dia tercegah dari kebaikan.”Berdoa, mengadu kepada Allah Ta’ala, tulus dalam berdoa, serta memberi perhatian terhadap adab, ketentuan (kaidah) dan syarat berdoa sebagaimana yang terdapat di dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah, merupakan asas dan landasan pokok dalam masalah ini.Contoh-contoh doa terkait masalah ini sangatlah banyak. Di antaranya adalah doa yang dibaca Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam setiap kali keluar rumah,اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أَضِلَّ، أَوْ أُضَلَّ، أَوْ أَزِلَّ، أَوْ أُزَلَّ، أَوْ أَظْلِمَ، أَوْ أُظْلَمَ، أَوْ أَجْهَلَ، أَوْ يُجْهَلَ عَلَيَّ“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari menyesatkan atau disesatkan; menggelincirkan atau digelincirkan; berbuat dzalim atau didzalimi; atau berbuat usil atau diusili.” (HR. Abu Dawud no. 5094; Ibnu Majah no. 3448; Tirmidzi no. 3427. Tirmidzi berkata, “Hadits hasan shahih.” Dinilai shahih oleh Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 3163.)Perhatikanlah doa yang agung dan indah ini. Betapa kita sangat membutuhkan doa ini setiap kali keluar rumah. Dan jika Allah Ta’ala mengabulkannya, maka jadilah kita menjadi pintu kebaikan dan penutup keburukan.Sebagian salaf mengucapkan dalam doanya,اللهم سلمني، و سلم مني“Allahumma, sallimnii, wa sallim minnii” (Ya Allah, selamatkanlah aku, dan selamatkanlah aku dari gangguan jiwaku sendiri.)Doa ini semakna dengan doa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas. Akan tetapi, doa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentu lebih luas, lebih indah dan lebih sempurna.Doa lainnya yang dirutinkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam setiap hari selesai shalat subuh adalah,اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَعَمَلًا مُتَقَبَّلًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, amal yang diterima, dan rizki yang baik.” (HR. Ahmad no. 26521 dan Ibnu Majah no. 925. Dinilai shahih oleh Al-Albani dalam Shahih Ibnu Majah no. 753)Di antaranya juga adalah doa yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنَ الْخَيْرِ كُلِّهِ عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ، مَا عَلِمْتُ مِنْهُ وَمَا لَمْ أَعْلَمْ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الشَّرِّ كُلِّهِ عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ، مَا عَلِمْتُ مِنْهُ وَمَا لَمْ أَعْلَمْ، اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِ مَا سَأَلَكَ عَبْدُكَ وَنَبِيُّكَ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا عَاذَ بِهِ عَبْدُكَ وَنَبِيُّكَ، اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ أَوْ عَمَلٍ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ النَّارِ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ أَوْ عَمَلٍ، وَأَسْأَلُكَ أَنْ تَجْعَلَ كُلَّ قَضَاءٍ قَضَيْتَهُ لِي خَيْرًا“Ya Allah, aku meminta kepada-Mu kebaikan seluruhnya, baik yang segera atau yang tertunda, baik yang aku ketahui atau aku belum ketahui. Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekan seluruhnya, baik yang segera atau yang tertunda, baik yang aku ketahui atau aku belum ketahui. Sesungguhnya aku meminta kepada-Mu semua doa kebaikan yang diminta oleh hamba dan Nabi-Mu. Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekan yang hamba dan Nabi-Mu meminta perlindungan dari kejelekan itu. Ya Allah, aku meminta kepada-Mu surga dan segala yang mendekatkan menuju surga, baik ucapan atau perbuatan. Aku berlindung kepada-Mu dari neraka dan segala yang mendekatkan menuju neraka, baik ucapan atau perbuatan. Dan aku meminta kepada-Mu untuk menjadikan semua takdir yang Engkau takdirkan untukku adalah kebaikan.” (HR. Ahmad no. 25019, Ibnu Majah no. 3846 dan Ibnu Hibban no. 869. Dinilai shahih oleh Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 1542.) [Bersambung]Baca Juga: Tinggalkan Pintu Kebaikan, Pasti Masuk Lubang Keburukan Kebaikan Berlipat Ganda, Mau? ***@Sint-Jobskade 718 NL, 8 Syawwal 1439/ 22 Juni 2018Oleh seorang hamba yang sangat butuh ampunan Rabb-nya,Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.or.id Referensi:Disarikan dari kitab Kaifa takuunu miftaahan lil khair karya Syaikh ‘Abdurrazaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr, hal. 32-36.🔍 Amal Tergantung Niat, Cara Meningkatkan Keimanan Kepada Allah, Dalil Sholawat, Ba'da Dzuhur, Dosa Wanita Perebut Suami Orang


Baca pembahasan sebelumnya Apakah Engkau Ingin Menjadi Pembuka Pintu-Pintu Kebaikan? (Bag. 6)Ke tujuh: Memperbanyak doa kepada Allah Ta’alaDoa adalah kunci pembuka semua kebaikan. Salah seorang ulama salaf berkata, “Aku merenungkan pokok-pokok kebaikan. Aku jumpai bahwa kebaikan itu memiliki pintu yang banyak. Shalat adalah kebaikan, puasa adalah kebaikan, haji adalah kebaikan. Pintu-pintu kebaikan itu banyak. Dan aku jumpai bahwa itu semua berada di tangan Allah Ta’ala. Sehingga aku yakin bahwa doa adalah kunci pembuka semua kebaikan.”Kita tidaklah mampu untuk shalat, kecuali jika Allah Ta’ala menolong kita. Begitu pula, kita tidak mampu untuk berhaji, berpuasa, bersedekah, berbuat baik kepada orang tua, dan mengerjakan berbagai amal kebaikan, kecuali jika Allah Ta’ala menolong kita.Oleh karena itulah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersyair di saat perang Ahzab,وَاللَّهِ لَوْلاَ اللَّهُ مَا اهْتَدَيْنَا، وَلاَ صُمْنَا وَلاَ صَلَّيْنَا“Demi Allah, seandainya bukan karena Allah, kami tidak akan mendapatkan hidayah, kami tidak akan berpuasa, dan tidak pula mendirikan shalat.” (HR. Bukhari no. 6620 dan Muslim no. 1803)Allah Ta’ala berfirman,وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ مَا زَكَى مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ أَبَدًا وَلَكِنَّ اللَّهَ يُزَكِّي مَنْ يَشَاءُ“Sekiranya tidaklah karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorang pun dari kalian yang bersih (dari perbuatan keji dan munkar itu) selama-lamanya. Akan tetapi Allah membersihkan siapa saja yang dikehendaki-Nya.” (QS. An-Nuur [24]: 21)وَلَكِنَّ اللَّهَ حَبَّبَ إِلَيْكُمُ الْإِيمَانَ وَزَيَّنَهُ فِي قُلُوبِكُمْ وَكَرَّهَ إِلَيْكُمُ الْكُفْرَ وَالْفُسُوقَ وَالْعِصْيَانَ أُولَئِكَ هُمُ الرَّاشِدُونَ ؛ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَنِعْمَةً“Tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus, sebagai karunia dan nikmat dari Allah.” (QS. Al-Hujuraat: 7-8)Baca Juga: Apakah Engkau Ingin Menjadi Pembuka Pintu-Pintu Kebaikan? (Bag. 1)Oleh karena itu, jika kita memang ingin menjadi pembuka pintu kebaikan, menjadi orang-orang yang memiliki keutamaan, menjadi penuntut ilmu yang mulia, maka hendaknya kita banyak meminta kepada Allah Ta’ala. Karena itu semua berada di tangan Allah Ta’ala. Di antara para ulama ada yang mengatakan,الدعاء مفتاح كل خير، فمن وفق لهذا المفتاح وفق للخير، ومن حرم هذا المفتاح حرم من الخير“Doa adalah kunci pembuka kebaikan. Barangsiapa yang mendapatkan taufik untuk mendapatkan kunci ini, maka dia akan mendapatkan taufik untuk memperoleh kebaikan. Barangsiapa yang tercegah dari pintu ini, dia tercegah dari kebaikan.”Berdoa, mengadu kepada Allah Ta’ala, tulus dalam berdoa, serta memberi perhatian terhadap adab, ketentuan (kaidah) dan syarat berdoa sebagaimana yang terdapat di dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah, merupakan asas dan landasan pokok dalam masalah ini.Contoh-contoh doa terkait masalah ini sangatlah banyak. Di antaranya adalah doa yang dibaca Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam setiap kali keluar rumah,اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أَضِلَّ، أَوْ أُضَلَّ، أَوْ أَزِلَّ، أَوْ أُزَلَّ، أَوْ أَظْلِمَ، أَوْ أُظْلَمَ، أَوْ أَجْهَلَ، أَوْ يُجْهَلَ عَلَيَّ“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari menyesatkan atau disesatkan; menggelincirkan atau digelincirkan; berbuat dzalim atau didzalimi; atau berbuat usil atau diusili.” (HR. Abu Dawud no. 5094; Ibnu Majah no. 3448; Tirmidzi no. 3427. Tirmidzi berkata, “Hadits hasan shahih.” Dinilai shahih oleh Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 3163.)Perhatikanlah doa yang agung dan indah ini. Betapa kita sangat membutuhkan doa ini setiap kali keluar rumah. Dan jika Allah Ta’ala mengabulkannya, maka jadilah kita menjadi pintu kebaikan dan penutup keburukan.Sebagian salaf mengucapkan dalam doanya,اللهم سلمني، و سلم مني“Allahumma, sallimnii, wa sallim minnii” (Ya Allah, selamatkanlah aku, dan selamatkanlah aku dari gangguan jiwaku sendiri.)Doa ini semakna dengan doa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas. Akan tetapi, doa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentu lebih luas, lebih indah dan lebih sempurna.Doa lainnya yang dirutinkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam setiap hari selesai shalat subuh adalah,اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَعَمَلًا مُتَقَبَّلًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, amal yang diterima, dan rizki yang baik.” (HR. Ahmad no. 26521 dan Ibnu Majah no. 925. Dinilai shahih oleh Al-Albani dalam Shahih Ibnu Majah no. 753)Di antaranya juga adalah doa yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنَ الْخَيْرِ كُلِّهِ عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ، مَا عَلِمْتُ مِنْهُ وَمَا لَمْ أَعْلَمْ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الشَّرِّ كُلِّهِ عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ، مَا عَلِمْتُ مِنْهُ وَمَا لَمْ أَعْلَمْ، اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِ مَا سَأَلَكَ عَبْدُكَ وَنَبِيُّكَ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا عَاذَ بِهِ عَبْدُكَ وَنَبِيُّكَ، اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ أَوْ عَمَلٍ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ النَّارِ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ أَوْ عَمَلٍ، وَأَسْأَلُكَ أَنْ تَجْعَلَ كُلَّ قَضَاءٍ قَضَيْتَهُ لِي خَيْرًا“Ya Allah, aku meminta kepada-Mu kebaikan seluruhnya, baik yang segera atau yang tertunda, baik yang aku ketahui atau aku belum ketahui. Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekan seluruhnya, baik yang segera atau yang tertunda, baik yang aku ketahui atau aku belum ketahui. Sesungguhnya aku meminta kepada-Mu semua doa kebaikan yang diminta oleh hamba dan Nabi-Mu. Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekan yang hamba dan Nabi-Mu meminta perlindungan dari kejelekan itu. Ya Allah, aku meminta kepada-Mu surga dan segala yang mendekatkan menuju surga, baik ucapan atau perbuatan. Aku berlindung kepada-Mu dari neraka dan segala yang mendekatkan menuju neraka, baik ucapan atau perbuatan. Dan aku meminta kepada-Mu untuk menjadikan semua takdir yang Engkau takdirkan untukku adalah kebaikan.” (HR. Ahmad no. 25019, Ibnu Majah no. 3846 dan Ibnu Hibban no. 869. Dinilai shahih oleh Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 1542.) [Bersambung]Baca Juga: Tinggalkan Pintu Kebaikan, Pasti Masuk Lubang Keburukan Kebaikan Berlipat Ganda, Mau? ***@Sint-Jobskade 718 NL, 8 Syawwal 1439/ 22 Juni 2018Oleh seorang hamba yang sangat butuh ampunan Rabb-nya,Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.or.id Referensi:Disarikan dari kitab Kaifa takuunu miftaahan lil khair karya Syaikh ‘Abdurrazaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr, hal. 32-36.🔍 Amal Tergantung Niat, Cara Meningkatkan Keimanan Kepada Allah, Dalil Sholawat, Ba'da Dzuhur, Dosa Wanita Perebut Suami Orang

Untaian 23 Faedah Seputar Tauhid dan Akidah (Bag. 5)

Daftar Isi Toggle Faedah 13: Akibat kesombonganFaedah 14: Mengajak menuju Allah Faedah 13: Akibat kesombongan Allah berfirman, إِنَّهُمۡ كَانُوۤا۟ إِذَا قِیلَ لَهُمۡ لَاۤ إِلَـٰهَ إِلَّا ٱللَّهُ یَسۡتَكۡبِرُونَ  وَیَقُولُونَ أَىِٕنَّا لَتَارِكُوۤا۟ ءَالِهَتِنَا لِشَاعِرࣲ مَّجۡنُونِۭ “Sesungguhnya mereka itu (orang-orang kafir) apabila dikatakan kepada mereka ‘laa ilaha illallah’, mereka pun menyombongkan diri. Mereka pun mengatakan, ‘Apakah kami harus meninggalkan sesembahan-sesembahan kami demi mengikuti seorang penyair yang gila?’” (QS. Ash-Shaffat: 35-36) Ayat ini menunjukkan kepada kita bahwa sesungguhnya orang-orang musyrik yang didakwahi oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengetahui kandungan dan konsekuensi dari kalimat tauhid laa ilaha illallah. Yaitu, wajibnya menyingkirkan segala bentuk syirik dan peribadatan kepada selain Allah. Oleh sebab itulah, mereka menolak dakwah tauhid. (Lihat keterangan Syekh Abdurrahman bin Hasan rahimahullah dalam Qurratu ‘Uyun Al-Muwahhidin, hal. 7) Suatu hal yang sudah dimaklumi bahwa Allah menciptakan jin dan manusia untuk beribadah kepada-Nya. Ibadah kepada Allah adalah dengan tunduk kepada perintah dan larangan-Nya. Ibadah kepada Allah menuntut hamba memurnikan ibadahnya kepada Allah semata dan meninggalkan syirik. Inilah seruan setiap rasul yang Allah utus kepada manusia. Allah berfirman, وَلَقَدۡ بَعَثۡنَا فِی كُلِّ أُمَّةࣲ رَّسُولًا أَنِ ٱعۡبُدُوا۟ ٱللَّهَ وَٱجۡتَنِبُوا۟ ٱلطَّـٰغُوتَۖ “Dan sungguh Kami telah mengutus kepada setiap kaum seorang rasul yang menyerukan, ‘Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.’” (QS. An-Nahl: 36) Ibadah kepada Allah adalah bertauhid, sedangkan menjauhi thaghut adalah dengan berlepas diri dari syirik dan pelakunya. Inilah ajaran Islam dan keadilan tertinggi di alam semesta. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Hak Allah atas para hamba adalah hendaknya mereka beribadah kepada-Nya dan tidak mempersekutukan dengan-Nya sesuatu apa pun.” (HR. Bukhari dan Muslim) Ibadah kepada Allah dibangun di atas sikap tunduk dan merendahkan diri kepada Allah dengan disertai pengagungan kepada-Nya, penuh cinta, takut, dan harap kepada-Nya. Inilah ibadah yang wajib ditujukan kepada Allah, dan tidak boleh dipalingkan kepada selain-Nya. Allah berfirman, وَمَاۤ أُمِرُوۤا۟ إِلَّا لِیَعۡبُدُوا۟ ٱللَّهَ مُخۡلِصِینَ لَهُ ٱلدِّینَ حُنَفَاۤءَ “Dan tidaklah mereka diperintahkan, kecuali supaya beribadah kepada Allah dengan memurnikan untuk-Nya agama dengan hanif (lurus) …” (QS. Al-Bayyinah: 5) Di dalam ibadah inilah, akan tercapai ketentraman dan kebahagiaan hamba. Sebab, itulah tujuan penciptaan dirinya di alam dunia ini. Allah berfirman, وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِیَعۡبُدُونِ “Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56). Allah berfirman, ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ وَلَمۡ یَلۡبِسُوۤا۟ إِیمَـٰنَهُم بِظُلۡمٍ أُو۟لَـٰۤىِٕكَ لَهُمُ ٱلۡأَمۡنُ وَهُم مُّهۡتَدُونَ “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuri imannya dengan kezaliman, maka bagi mereka itulah keamanan dan mereka itulah yang diberi petunjuk.” (QS. Al-An’am: 82) Akan tetapi, ternyata tidak sedikit manusia justru menentang tauhid ini dan memusuhinya. Padahal, tauhid inilah sebab kebahagiaan hidup mereka. Mereka lebih mendahulukan hawa nafsu dan perasaannya di atas wahyu dan bimbingan Allah, Rabb Pencipta alam semesta. Mereka menolak kebenaran dan meremehkan orang yang menyeru kepada tauhid. Sebagaimana dikisahkan dalam ayat di atas bahwa orang-orang musyrik menggelari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai seorang penyair yang gila. Padahal, beliau bukanlah tukang syair apalagi orang gila! Karena itulah, Allah pun menyebut orang yang tidak tunduk beribadah dan berdoa kepada-Nya sebagai orang-orang yang sombong. Allah berfirman, وَقَالَ رَبُّكُمُ ٱدۡعُونِیۤ أَسۡتَجِبۡ لَكُمۡۚ إِنَّ ٱلَّذِینَ یَسۡتَكۡبِرُونَ عَنۡ عِبَادَتِی سَیَدۡخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِینَ “Dan Rabb kalian berfirman, ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari beribadah kepada-Ku pasti akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina.’” (QS. Ghafir: 60) Demikianlah keadaan orang yang menentang perintah Allah. Tidaklah berlebihan jika perilakunya disebut sebagai kesombongan. Sebagaimana Iblis yang menolak perintah Allah karena enggan dan istikbar (kesombongan). Karena itu pula, salah satu bentuk kekafiran perusak iman adalah kufur iba’ wal istikbar (karena enggan dan kesombongan). Kesombongan itulah yang telah membinasakan Fir’aun dan Qarun. Sombong dengan kekuasaan ataupun sombong dengan harta dan kekayaan. Mereka lupa bahwa kenikmatan yang mereka peroleh adalah titipan dari Allah untuk menguji hamba-hamba-Nya. Apakah mereka pandai bersyukur kepada Allah dengannya ataukah justru kufur dan mengingkari ajaran dan petunjuk-Nya?! Hal ini mengingatkan kita kepada nasihat Abu Hazim rahimahullah, “Setiap nikmat yang tidak semakin mendekatkan diri kepada Allah, maka itu adalah malapetaka.” Demikian pula, ilmu merupakan nikmat bagi kemanusiaan. Apabila manusia mengikuti petunjuk Allah dan bimbingan-Nya, niscaya mereka akan bahagia. Allah berfirman,  فَمَنِ ٱتَّبَعَ هُدَایَ فَلَا یَضِلُّ وَلَا یَشۡقَىٰ “Maka, barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya dia tidak akan sesat dan tidak pula celaka.” (QS. Thaha: 123) Dari sini, kita mengetahui bahwa sebab kesengsaraan manusia adalah ketika mereka berpaling dari petunjuk Allah dan mencampakkan Kitab Allah dari hidup dan kebudayaan mereka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda, “Sesungguhnya Allah akan memuliakan dengan sebab Kitab ini (Al-Qur’an) beberapa kaum dan akan merendahkan dengannya beberapa kaum yang lain.” (HR. Muslim) Umar bin Khattab radhiyallahu’anhu berkata, “Kami adalah suatu kaum yang telah Allah muliakan dengan Islam. Maka, kapan saja kami mencari kemuliaan dengan selain cara Islam, pasti Allah akan hinakan kami.” (HR. Al-Hakim dalam Al-Mustadrak) Begitu pula, datangnya Rasul di tengah manusia adalah nikmat agung yang tidak boleh disepelekan. Petunjuk beliau adalah jalan keselamatan dari kehancuran dan malapetaka. Allah berfirman, وَمَن یُشَاقِقِ ٱلرَّسُولَ مِنۢ بَعۡدِ مَا تَبَیَّنَ لَهُ ٱلۡهُدَىٰ وَیَتَّبِعۡ غَیۡرَ سَبِیلِ ٱلۡمُؤۡمِنِینَ نُوَلِّهِۦ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصۡلِهِۦ جَهَنَّمَۖ وَسَاۤءَتۡ مَصِیرًا “Dan barangsiapa yang menentang Rasul itu setelah jelas baginya petunjuk, dan dia mengikuti selain jalan orang-orang beriman, niscaya Kami biarkan dia terombang-ambing dalam kesesatan yang dia pilih dan Kami pun akan memasukkannya ke dalam neraka Jahanam. Dan sesungguhnya Jahanam itu adalah seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. An-Nisa’: 115) Untuk itulah saudaraku yang dirahmati Allah, merupakan kebutuhan besar bagi kita kaum muslimin untuk terus belajar dan mengenali ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Dengan mengikuti ajaran dan petunjuk beliaulah, kita akan meraih kecintaan Allah dan ampunan-Nya. Allah berfirman, قُلۡ إِن كُنتُمۡ تُحِبُّونَ ٱللَّهَ فَٱتَّبِعُونِی یُحۡبِبۡكُمُ ٱللَّهُ وَیَغۡفِرۡ لَكُمۡ ذُنُوبَكُمۡۚ “Katakanlah, ‘Jika kalian mengaku mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian.’” (QS. Ali ‘Imran: 31) Karena itu, Imam Malik rahimahullah berkata, “As-Sunnah (ajaran Nabi) itu laksana perahu Nabi Nuh. Barangsiapa menaikinya, maka dia akan selamat. Dan barangsiapa yang tidak mau ikut naik di atasnya, maka dia akan tenggelam/binasa.” Semoga Allah berikan taufik kepada kami dan segenap pembaca untuk mengikuti jalan kebahagiaan dan dijauhkan dari jalan kebinasaan. Amin. Baca juga: Faedah dari Hadis Pengutusan Mu’adz ke Negeri Yaman Faedah 14: Mengajak menuju Allah Allah berfirman,  وَلَقَدۡ بَعَثۡنَا فِی كُلِّ أُمَّةࣲ رَّسُولًا أَنِ ٱعۡبُدُوا۟ ٱللَّهَ وَٱجۡتَنِبُوا۟ ٱلطَّـٰغُوتَ “Dan sungguh Kami telah mengutus pada setiap umat seorang rasul yang menyerukan, ‘Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.’” (QS. An-Nahl: 36) Ayat ini mengandung perintah beribadah kepada Allah semata dan meninggalkan sesembahan selain-Nya. Tauhid inilah tujuan diciptakannya manusia, misi utama dakwah para rasul dan muatan pokok seluruh kitab yang Allah turunkan. (Lihat Ibthal At-Tandid, hal. 9) Allah berfirman, قُلۡ هَـٰذِهِۦ سَبِیلِیۤ أَدۡعُوۤا۟ إِلَى ٱللَّهِۚ عَلَىٰ بَصِیرَةٍ أَنَا۠ وَمَنِ ٱتَّبَعَنِیۖ “Katakanlah, ‘Inilah jalanku. Aku mengajak menuju Allah di atas bashirah/ilmu yang nyata. Inilah jalanku dan orang-orang yang mengikutiku.’” (QS. Yusuf: 108) Yang dimaksud mengajak menuju Allah adalah dakwah kepada tauhid, dakwah kepada agama-Nya, dan dakwah yang dibangun di atas keikhlasan. Dan dalam menegakkan dakwah ini pun harus berlandaskan dengan ilmu dan keyakinan. Tidak boleh berdakwah bermodalkan kebodohan. (lihat At-Tamhid, hal. 65) Dengan demikian, dakwah ini harus tegak di atas ilmu dan keikhlasan. Penyebab terbesar yang merusak dakwah adalah ketiadaan ikhlas atau ketiadaan ilmu. Perlu dipahami juga bahwa yang dimaksud ilmu di sini bukan hanya seputar hukum agama/materi dakwahnya, tetapi ia juga mencakup pemahaman terhadap kondisi mad’u dan cara yang paling tepat untuk mendakwahinya/metode yang hikmah. (lihat Al-Qaul Al-Mufid, 1: 82) Ayat-ayat di atas kembali menunjukkan kepada kita tentang betapa pentingnya dakwah tauhid. Karena mengingat besarnya kebutuhan manusia guna membenahi akidah mereka, dan mengajarkan tauhid ini merupakan kewajiban yang paling utama, akidah tauhid ini pula yang menjadi asas tegaknya amal saleh. Oleh sebab itu, para rasul menjadikan akidah tauhid ini sebagai prioritas utama dalam dakwahnya. Begitu pula, penjelasan Allah di dalam Al-Qur’an tentang tauhid juga menempati posisi dan jatah yang paling besar. (Lihat Al-Irsyad ila Shahih Al-I’tiqad, hal. 5-6) Syekh Muhammad At-Tamimi mengatakan dalam risalahnya, Al-Ushul Ats-Tsalatsah, bahwa perkara terbesar yang Allah perintahkan adalah tauhid, yaitu mengesakan Allah dalam beribadah. Maksudnya adalah beribadah kepada Allah dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, baik itu nabi, malaikat, raja, dan sebagainya  (lihat Syarh Tsalatsah Ushul, Al-Utsaimin, hal. 39) Di antara dalil yang menunjukkan pentingnya dakwah tauhid ini adalah firman Allah, وَٱلۡعَصۡرِ إِنَّ ٱلۡإِنسَـٰنَ لَفِی خُسۡرٍ إِلَّا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّـٰلِحَـٰتِ وَتَوَاصَوۡا۟ بِٱلۡحَقِّ وَتَوَاصَوۡا۟ بِٱلصَّبۡرِ “Demi masa, sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, beramal saleh, saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menasihati untuk menetapi kesabaran.” (QS. Al-’Ashr: 1-3) Allah juga berfirman, ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ وَلَمۡ یَلۡبِسُوۤا۟ إِیمَـٰنَهُم بِظُلۡمٍ أُو۟لَـٰۤىِٕكَ لَهُمُ ٱلۡأَمۡنُ وَهُم مُّهۡتَدُونَ “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuri imannya dengan kezaliman (syirik); mereka itulah orang yang diberikan keamanan dan mereka itulah orang yang akan diberi petunjuk.” (QS  Al-An’am: 82) Allah juga berfirman, فَمَن كَانَ یَرۡجُوا۟ لِقَاۤءَ رَبِّهِۦ فَلۡیَعۡمَلۡ عَمَلࣰا صَـٰلِحࣰا وَلَا یُشۡرِكۡ بِعِبَادَةِ رَبِّهِۦۤ أَحَدَۢا “Maka, barangsiapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Rabbnya, hendaklah dia melakukan amal saleh dan tidak mempersekutukan dalam beribadah kepada Rabbnya dengan sesuatu apa pun.” (QS. Al-Kahfi: 110) Amal saleh adalah amal yang dilandasi keimanan, yang dikerjakan karena Allah (ikhlas) dan sesuai dengan tuntunan rasul. Apabila amal itu dibangun di atas kekafiran atau kesyirikan, maka tidak akan diterima oleh Allah. Oleh sebab itu, yang menjadi konsentrasi terbesar adalah bagaimana menjaga amalan agar tidak rusak karena syirik atau sebab yang lainnya. Dan ini bukan perkara sepele. [Bersambung] Kembali ke bagian 4: Untaian 23 Faedah Seputar Tauhid dan Akidah (Bag. 4) Lanjut ke bagian 6: Bersambung *** Penulis: Ari Wahyudi, S.Si. Artikel: Muslim.or.id Tags: faedahtauhid

Untaian 23 Faedah Seputar Tauhid dan Akidah (Bag. 5)

Daftar Isi Toggle Faedah 13: Akibat kesombonganFaedah 14: Mengajak menuju Allah Faedah 13: Akibat kesombongan Allah berfirman, إِنَّهُمۡ كَانُوۤا۟ إِذَا قِیلَ لَهُمۡ لَاۤ إِلَـٰهَ إِلَّا ٱللَّهُ یَسۡتَكۡبِرُونَ  وَیَقُولُونَ أَىِٕنَّا لَتَارِكُوۤا۟ ءَالِهَتِنَا لِشَاعِرࣲ مَّجۡنُونِۭ “Sesungguhnya mereka itu (orang-orang kafir) apabila dikatakan kepada mereka ‘laa ilaha illallah’, mereka pun menyombongkan diri. Mereka pun mengatakan, ‘Apakah kami harus meninggalkan sesembahan-sesembahan kami demi mengikuti seorang penyair yang gila?’” (QS. Ash-Shaffat: 35-36) Ayat ini menunjukkan kepada kita bahwa sesungguhnya orang-orang musyrik yang didakwahi oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengetahui kandungan dan konsekuensi dari kalimat tauhid laa ilaha illallah. Yaitu, wajibnya menyingkirkan segala bentuk syirik dan peribadatan kepada selain Allah. Oleh sebab itulah, mereka menolak dakwah tauhid. (Lihat keterangan Syekh Abdurrahman bin Hasan rahimahullah dalam Qurratu ‘Uyun Al-Muwahhidin, hal. 7) Suatu hal yang sudah dimaklumi bahwa Allah menciptakan jin dan manusia untuk beribadah kepada-Nya. Ibadah kepada Allah adalah dengan tunduk kepada perintah dan larangan-Nya. Ibadah kepada Allah menuntut hamba memurnikan ibadahnya kepada Allah semata dan meninggalkan syirik. Inilah seruan setiap rasul yang Allah utus kepada manusia. Allah berfirman, وَلَقَدۡ بَعَثۡنَا فِی كُلِّ أُمَّةࣲ رَّسُولًا أَنِ ٱعۡبُدُوا۟ ٱللَّهَ وَٱجۡتَنِبُوا۟ ٱلطَّـٰغُوتَۖ “Dan sungguh Kami telah mengutus kepada setiap kaum seorang rasul yang menyerukan, ‘Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.’” (QS. An-Nahl: 36) Ibadah kepada Allah adalah bertauhid, sedangkan menjauhi thaghut adalah dengan berlepas diri dari syirik dan pelakunya. Inilah ajaran Islam dan keadilan tertinggi di alam semesta. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Hak Allah atas para hamba adalah hendaknya mereka beribadah kepada-Nya dan tidak mempersekutukan dengan-Nya sesuatu apa pun.” (HR. Bukhari dan Muslim) Ibadah kepada Allah dibangun di atas sikap tunduk dan merendahkan diri kepada Allah dengan disertai pengagungan kepada-Nya, penuh cinta, takut, dan harap kepada-Nya. Inilah ibadah yang wajib ditujukan kepada Allah, dan tidak boleh dipalingkan kepada selain-Nya. Allah berfirman, وَمَاۤ أُمِرُوۤا۟ إِلَّا لِیَعۡبُدُوا۟ ٱللَّهَ مُخۡلِصِینَ لَهُ ٱلدِّینَ حُنَفَاۤءَ “Dan tidaklah mereka diperintahkan, kecuali supaya beribadah kepada Allah dengan memurnikan untuk-Nya agama dengan hanif (lurus) …” (QS. Al-Bayyinah: 5) Di dalam ibadah inilah, akan tercapai ketentraman dan kebahagiaan hamba. Sebab, itulah tujuan penciptaan dirinya di alam dunia ini. Allah berfirman, وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِیَعۡبُدُونِ “Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56). Allah berfirman, ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ وَلَمۡ یَلۡبِسُوۤا۟ إِیمَـٰنَهُم بِظُلۡمٍ أُو۟لَـٰۤىِٕكَ لَهُمُ ٱلۡأَمۡنُ وَهُم مُّهۡتَدُونَ “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuri imannya dengan kezaliman, maka bagi mereka itulah keamanan dan mereka itulah yang diberi petunjuk.” (QS. Al-An’am: 82) Akan tetapi, ternyata tidak sedikit manusia justru menentang tauhid ini dan memusuhinya. Padahal, tauhid inilah sebab kebahagiaan hidup mereka. Mereka lebih mendahulukan hawa nafsu dan perasaannya di atas wahyu dan bimbingan Allah, Rabb Pencipta alam semesta. Mereka menolak kebenaran dan meremehkan orang yang menyeru kepada tauhid. Sebagaimana dikisahkan dalam ayat di atas bahwa orang-orang musyrik menggelari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai seorang penyair yang gila. Padahal, beliau bukanlah tukang syair apalagi orang gila! Karena itulah, Allah pun menyebut orang yang tidak tunduk beribadah dan berdoa kepada-Nya sebagai orang-orang yang sombong. Allah berfirman, وَقَالَ رَبُّكُمُ ٱدۡعُونِیۤ أَسۡتَجِبۡ لَكُمۡۚ إِنَّ ٱلَّذِینَ یَسۡتَكۡبِرُونَ عَنۡ عِبَادَتِی سَیَدۡخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِینَ “Dan Rabb kalian berfirman, ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari beribadah kepada-Ku pasti akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina.’” (QS. Ghafir: 60) Demikianlah keadaan orang yang menentang perintah Allah. Tidaklah berlebihan jika perilakunya disebut sebagai kesombongan. Sebagaimana Iblis yang menolak perintah Allah karena enggan dan istikbar (kesombongan). Karena itu pula, salah satu bentuk kekafiran perusak iman adalah kufur iba’ wal istikbar (karena enggan dan kesombongan). Kesombongan itulah yang telah membinasakan Fir’aun dan Qarun. Sombong dengan kekuasaan ataupun sombong dengan harta dan kekayaan. Mereka lupa bahwa kenikmatan yang mereka peroleh adalah titipan dari Allah untuk menguji hamba-hamba-Nya. Apakah mereka pandai bersyukur kepada Allah dengannya ataukah justru kufur dan mengingkari ajaran dan petunjuk-Nya?! Hal ini mengingatkan kita kepada nasihat Abu Hazim rahimahullah, “Setiap nikmat yang tidak semakin mendekatkan diri kepada Allah, maka itu adalah malapetaka.” Demikian pula, ilmu merupakan nikmat bagi kemanusiaan. Apabila manusia mengikuti petunjuk Allah dan bimbingan-Nya, niscaya mereka akan bahagia. Allah berfirman,  فَمَنِ ٱتَّبَعَ هُدَایَ فَلَا یَضِلُّ وَلَا یَشۡقَىٰ “Maka, barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya dia tidak akan sesat dan tidak pula celaka.” (QS. Thaha: 123) Dari sini, kita mengetahui bahwa sebab kesengsaraan manusia adalah ketika mereka berpaling dari petunjuk Allah dan mencampakkan Kitab Allah dari hidup dan kebudayaan mereka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda, “Sesungguhnya Allah akan memuliakan dengan sebab Kitab ini (Al-Qur’an) beberapa kaum dan akan merendahkan dengannya beberapa kaum yang lain.” (HR. Muslim) Umar bin Khattab radhiyallahu’anhu berkata, “Kami adalah suatu kaum yang telah Allah muliakan dengan Islam. Maka, kapan saja kami mencari kemuliaan dengan selain cara Islam, pasti Allah akan hinakan kami.” (HR. Al-Hakim dalam Al-Mustadrak) Begitu pula, datangnya Rasul di tengah manusia adalah nikmat agung yang tidak boleh disepelekan. Petunjuk beliau adalah jalan keselamatan dari kehancuran dan malapetaka. Allah berfirman, وَمَن یُشَاقِقِ ٱلرَّسُولَ مِنۢ بَعۡدِ مَا تَبَیَّنَ لَهُ ٱلۡهُدَىٰ وَیَتَّبِعۡ غَیۡرَ سَبِیلِ ٱلۡمُؤۡمِنِینَ نُوَلِّهِۦ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصۡلِهِۦ جَهَنَّمَۖ وَسَاۤءَتۡ مَصِیرًا “Dan barangsiapa yang menentang Rasul itu setelah jelas baginya petunjuk, dan dia mengikuti selain jalan orang-orang beriman, niscaya Kami biarkan dia terombang-ambing dalam kesesatan yang dia pilih dan Kami pun akan memasukkannya ke dalam neraka Jahanam. Dan sesungguhnya Jahanam itu adalah seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. An-Nisa’: 115) Untuk itulah saudaraku yang dirahmati Allah, merupakan kebutuhan besar bagi kita kaum muslimin untuk terus belajar dan mengenali ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Dengan mengikuti ajaran dan petunjuk beliaulah, kita akan meraih kecintaan Allah dan ampunan-Nya. Allah berfirman, قُلۡ إِن كُنتُمۡ تُحِبُّونَ ٱللَّهَ فَٱتَّبِعُونِی یُحۡبِبۡكُمُ ٱللَّهُ وَیَغۡفِرۡ لَكُمۡ ذُنُوبَكُمۡۚ “Katakanlah, ‘Jika kalian mengaku mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian.’” (QS. Ali ‘Imran: 31) Karena itu, Imam Malik rahimahullah berkata, “As-Sunnah (ajaran Nabi) itu laksana perahu Nabi Nuh. Barangsiapa menaikinya, maka dia akan selamat. Dan barangsiapa yang tidak mau ikut naik di atasnya, maka dia akan tenggelam/binasa.” Semoga Allah berikan taufik kepada kami dan segenap pembaca untuk mengikuti jalan kebahagiaan dan dijauhkan dari jalan kebinasaan. Amin. Baca juga: Faedah dari Hadis Pengutusan Mu’adz ke Negeri Yaman Faedah 14: Mengajak menuju Allah Allah berfirman,  وَلَقَدۡ بَعَثۡنَا فِی كُلِّ أُمَّةࣲ رَّسُولًا أَنِ ٱعۡبُدُوا۟ ٱللَّهَ وَٱجۡتَنِبُوا۟ ٱلطَّـٰغُوتَ “Dan sungguh Kami telah mengutus pada setiap umat seorang rasul yang menyerukan, ‘Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.’” (QS. An-Nahl: 36) Ayat ini mengandung perintah beribadah kepada Allah semata dan meninggalkan sesembahan selain-Nya. Tauhid inilah tujuan diciptakannya manusia, misi utama dakwah para rasul dan muatan pokok seluruh kitab yang Allah turunkan. (Lihat Ibthal At-Tandid, hal. 9) Allah berfirman, قُلۡ هَـٰذِهِۦ سَبِیلِیۤ أَدۡعُوۤا۟ إِلَى ٱللَّهِۚ عَلَىٰ بَصِیرَةٍ أَنَا۠ وَمَنِ ٱتَّبَعَنِیۖ “Katakanlah, ‘Inilah jalanku. Aku mengajak menuju Allah di atas bashirah/ilmu yang nyata. Inilah jalanku dan orang-orang yang mengikutiku.’” (QS. Yusuf: 108) Yang dimaksud mengajak menuju Allah adalah dakwah kepada tauhid, dakwah kepada agama-Nya, dan dakwah yang dibangun di atas keikhlasan. Dan dalam menegakkan dakwah ini pun harus berlandaskan dengan ilmu dan keyakinan. Tidak boleh berdakwah bermodalkan kebodohan. (lihat At-Tamhid, hal. 65) Dengan demikian, dakwah ini harus tegak di atas ilmu dan keikhlasan. Penyebab terbesar yang merusak dakwah adalah ketiadaan ikhlas atau ketiadaan ilmu. Perlu dipahami juga bahwa yang dimaksud ilmu di sini bukan hanya seputar hukum agama/materi dakwahnya, tetapi ia juga mencakup pemahaman terhadap kondisi mad’u dan cara yang paling tepat untuk mendakwahinya/metode yang hikmah. (lihat Al-Qaul Al-Mufid, 1: 82) Ayat-ayat di atas kembali menunjukkan kepada kita tentang betapa pentingnya dakwah tauhid. Karena mengingat besarnya kebutuhan manusia guna membenahi akidah mereka, dan mengajarkan tauhid ini merupakan kewajiban yang paling utama, akidah tauhid ini pula yang menjadi asas tegaknya amal saleh. Oleh sebab itu, para rasul menjadikan akidah tauhid ini sebagai prioritas utama dalam dakwahnya. Begitu pula, penjelasan Allah di dalam Al-Qur’an tentang tauhid juga menempati posisi dan jatah yang paling besar. (Lihat Al-Irsyad ila Shahih Al-I’tiqad, hal. 5-6) Syekh Muhammad At-Tamimi mengatakan dalam risalahnya, Al-Ushul Ats-Tsalatsah, bahwa perkara terbesar yang Allah perintahkan adalah tauhid, yaitu mengesakan Allah dalam beribadah. Maksudnya adalah beribadah kepada Allah dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, baik itu nabi, malaikat, raja, dan sebagainya  (lihat Syarh Tsalatsah Ushul, Al-Utsaimin, hal. 39) Di antara dalil yang menunjukkan pentingnya dakwah tauhid ini adalah firman Allah, وَٱلۡعَصۡرِ إِنَّ ٱلۡإِنسَـٰنَ لَفِی خُسۡرٍ إِلَّا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّـٰلِحَـٰتِ وَتَوَاصَوۡا۟ بِٱلۡحَقِّ وَتَوَاصَوۡا۟ بِٱلصَّبۡرِ “Demi masa, sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, beramal saleh, saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menasihati untuk menetapi kesabaran.” (QS. Al-’Ashr: 1-3) Allah juga berfirman, ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ وَلَمۡ یَلۡبِسُوۤا۟ إِیمَـٰنَهُم بِظُلۡمٍ أُو۟لَـٰۤىِٕكَ لَهُمُ ٱلۡأَمۡنُ وَهُم مُّهۡتَدُونَ “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuri imannya dengan kezaliman (syirik); mereka itulah orang yang diberikan keamanan dan mereka itulah orang yang akan diberi petunjuk.” (QS  Al-An’am: 82) Allah juga berfirman, فَمَن كَانَ یَرۡجُوا۟ لِقَاۤءَ رَبِّهِۦ فَلۡیَعۡمَلۡ عَمَلࣰا صَـٰلِحࣰا وَلَا یُشۡرِكۡ بِعِبَادَةِ رَبِّهِۦۤ أَحَدَۢا “Maka, barangsiapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Rabbnya, hendaklah dia melakukan amal saleh dan tidak mempersekutukan dalam beribadah kepada Rabbnya dengan sesuatu apa pun.” (QS. Al-Kahfi: 110) Amal saleh adalah amal yang dilandasi keimanan, yang dikerjakan karena Allah (ikhlas) dan sesuai dengan tuntunan rasul. Apabila amal itu dibangun di atas kekafiran atau kesyirikan, maka tidak akan diterima oleh Allah. Oleh sebab itu, yang menjadi konsentrasi terbesar adalah bagaimana menjaga amalan agar tidak rusak karena syirik atau sebab yang lainnya. Dan ini bukan perkara sepele. [Bersambung] Kembali ke bagian 4: Untaian 23 Faedah Seputar Tauhid dan Akidah (Bag. 4) Lanjut ke bagian 6: Bersambung *** Penulis: Ari Wahyudi, S.Si. Artikel: Muslim.or.id Tags: faedahtauhid
Daftar Isi Toggle Faedah 13: Akibat kesombonganFaedah 14: Mengajak menuju Allah Faedah 13: Akibat kesombongan Allah berfirman, إِنَّهُمۡ كَانُوۤا۟ إِذَا قِیلَ لَهُمۡ لَاۤ إِلَـٰهَ إِلَّا ٱللَّهُ یَسۡتَكۡبِرُونَ  وَیَقُولُونَ أَىِٕنَّا لَتَارِكُوۤا۟ ءَالِهَتِنَا لِشَاعِرࣲ مَّجۡنُونِۭ “Sesungguhnya mereka itu (orang-orang kafir) apabila dikatakan kepada mereka ‘laa ilaha illallah’, mereka pun menyombongkan diri. Mereka pun mengatakan, ‘Apakah kami harus meninggalkan sesembahan-sesembahan kami demi mengikuti seorang penyair yang gila?’” (QS. Ash-Shaffat: 35-36) Ayat ini menunjukkan kepada kita bahwa sesungguhnya orang-orang musyrik yang didakwahi oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengetahui kandungan dan konsekuensi dari kalimat tauhid laa ilaha illallah. Yaitu, wajibnya menyingkirkan segala bentuk syirik dan peribadatan kepada selain Allah. Oleh sebab itulah, mereka menolak dakwah tauhid. (Lihat keterangan Syekh Abdurrahman bin Hasan rahimahullah dalam Qurratu ‘Uyun Al-Muwahhidin, hal. 7) Suatu hal yang sudah dimaklumi bahwa Allah menciptakan jin dan manusia untuk beribadah kepada-Nya. Ibadah kepada Allah adalah dengan tunduk kepada perintah dan larangan-Nya. Ibadah kepada Allah menuntut hamba memurnikan ibadahnya kepada Allah semata dan meninggalkan syirik. Inilah seruan setiap rasul yang Allah utus kepada manusia. Allah berfirman, وَلَقَدۡ بَعَثۡنَا فِی كُلِّ أُمَّةࣲ رَّسُولًا أَنِ ٱعۡبُدُوا۟ ٱللَّهَ وَٱجۡتَنِبُوا۟ ٱلطَّـٰغُوتَۖ “Dan sungguh Kami telah mengutus kepada setiap kaum seorang rasul yang menyerukan, ‘Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.’” (QS. An-Nahl: 36) Ibadah kepada Allah adalah bertauhid, sedangkan menjauhi thaghut adalah dengan berlepas diri dari syirik dan pelakunya. Inilah ajaran Islam dan keadilan tertinggi di alam semesta. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Hak Allah atas para hamba adalah hendaknya mereka beribadah kepada-Nya dan tidak mempersekutukan dengan-Nya sesuatu apa pun.” (HR. Bukhari dan Muslim) Ibadah kepada Allah dibangun di atas sikap tunduk dan merendahkan diri kepada Allah dengan disertai pengagungan kepada-Nya, penuh cinta, takut, dan harap kepada-Nya. Inilah ibadah yang wajib ditujukan kepada Allah, dan tidak boleh dipalingkan kepada selain-Nya. Allah berfirman, وَمَاۤ أُمِرُوۤا۟ إِلَّا لِیَعۡبُدُوا۟ ٱللَّهَ مُخۡلِصِینَ لَهُ ٱلدِّینَ حُنَفَاۤءَ “Dan tidaklah mereka diperintahkan, kecuali supaya beribadah kepada Allah dengan memurnikan untuk-Nya agama dengan hanif (lurus) …” (QS. Al-Bayyinah: 5) Di dalam ibadah inilah, akan tercapai ketentraman dan kebahagiaan hamba. Sebab, itulah tujuan penciptaan dirinya di alam dunia ini. Allah berfirman, وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِیَعۡبُدُونِ “Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56). Allah berfirman, ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ وَلَمۡ یَلۡبِسُوۤا۟ إِیمَـٰنَهُم بِظُلۡمٍ أُو۟لَـٰۤىِٕكَ لَهُمُ ٱلۡأَمۡنُ وَهُم مُّهۡتَدُونَ “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuri imannya dengan kezaliman, maka bagi mereka itulah keamanan dan mereka itulah yang diberi petunjuk.” (QS. Al-An’am: 82) Akan tetapi, ternyata tidak sedikit manusia justru menentang tauhid ini dan memusuhinya. Padahal, tauhid inilah sebab kebahagiaan hidup mereka. Mereka lebih mendahulukan hawa nafsu dan perasaannya di atas wahyu dan bimbingan Allah, Rabb Pencipta alam semesta. Mereka menolak kebenaran dan meremehkan orang yang menyeru kepada tauhid. Sebagaimana dikisahkan dalam ayat di atas bahwa orang-orang musyrik menggelari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai seorang penyair yang gila. Padahal, beliau bukanlah tukang syair apalagi orang gila! Karena itulah, Allah pun menyebut orang yang tidak tunduk beribadah dan berdoa kepada-Nya sebagai orang-orang yang sombong. Allah berfirman, وَقَالَ رَبُّكُمُ ٱدۡعُونِیۤ أَسۡتَجِبۡ لَكُمۡۚ إِنَّ ٱلَّذِینَ یَسۡتَكۡبِرُونَ عَنۡ عِبَادَتِی سَیَدۡخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِینَ “Dan Rabb kalian berfirman, ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari beribadah kepada-Ku pasti akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina.’” (QS. Ghafir: 60) Demikianlah keadaan orang yang menentang perintah Allah. Tidaklah berlebihan jika perilakunya disebut sebagai kesombongan. Sebagaimana Iblis yang menolak perintah Allah karena enggan dan istikbar (kesombongan). Karena itu pula, salah satu bentuk kekafiran perusak iman adalah kufur iba’ wal istikbar (karena enggan dan kesombongan). Kesombongan itulah yang telah membinasakan Fir’aun dan Qarun. Sombong dengan kekuasaan ataupun sombong dengan harta dan kekayaan. Mereka lupa bahwa kenikmatan yang mereka peroleh adalah titipan dari Allah untuk menguji hamba-hamba-Nya. Apakah mereka pandai bersyukur kepada Allah dengannya ataukah justru kufur dan mengingkari ajaran dan petunjuk-Nya?! Hal ini mengingatkan kita kepada nasihat Abu Hazim rahimahullah, “Setiap nikmat yang tidak semakin mendekatkan diri kepada Allah, maka itu adalah malapetaka.” Demikian pula, ilmu merupakan nikmat bagi kemanusiaan. Apabila manusia mengikuti petunjuk Allah dan bimbingan-Nya, niscaya mereka akan bahagia. Allah berfirman,  فَمَنِ ٱتَّبَعَ هُدَایَ فَلَا یَضِلُّ وَلَا یَشۡقَىٰ “Maka, barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya dia tidak akan sesat dan tidak pula celaka.” (QS. Thaha: 123) Dari sini, kita mengetahui bahwa sebab kesengsaraan manusia adalah ketika mereka berpaling dari petunjuk Allah dan mencampakkan Kitab Allah dari hidup dan kebudayaan mereka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda, “Sesungguhnya Allah akan memuliakan dengan sebab Kitab ini (Al-Qur’an) beberapa kaum dan akan merendahkan dengannya beberapa kaum yang lain.” (HR. Muslim) Umar bin Khattab radhiyallahu’anhu berkata, “Kami adalah suatu kaum yang telah Allah muliakan dengan Islam. Maka, kapan saja kami mencari kemuliaan dengan selain cara Islam, pasti Allah akan hinakan kami.” (HR. Al-Hakim dalam Al-Mustadrak) Begitu pula, datangnya Rasul di tengah manusia adalah nikmat agung yang tidak boleh disepelekan. Petunjuk beliau adalah jalan keselamatan dari kehancuran dan malapetaka. Allah berfirman, وَمَن یُشَاقِقِ ٱلرَّسُولَ مِنۢ بَعۡدِ مَا تَبَیَّنَ لَهُ ٱلۡهُدَىٰ وَیَتَّبِعۡ غَیۡرَ سَبِیلِ ٱلۡمُؤۡمِنِینَ نُوَلِّهِۦ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصۡلِهِۦ جَهَنَّمَۖ وَسَاۤءَتۡ مَصِیرًا “Dan barangsiapa yang menentang Rasul itu setelah jelas baginya petunjuk, dan dia mengikuti selain jalan orang-orang beriman, niscaya Kami biarkan dia terombang-ambing dalam kesesatan yang dia pilih dan Kami pun akan memasukkannya ke dalam neraka Jahanam. Dan sesungguhnya Jahanam itu adalah seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. An-Nisa’: 115) Untuk itulah saudaraku yang dirahmati Allah, merupakan kebutuhan besar bagi kita kaum muslimin untuk terus belajar dan mengenali ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Dengan mengikuti ajaran dan petunjuk beliaulah, kita akan meraih kecintaan Allah dan ampunan-Nya. Allah berfirman, قُلۡ إِن كُنتُمۡ تُحِبُّونَ ٱللَّهَ فَٱتَّبِعُونِی یُحۡبِبۡكُمُ ٱللَّهُ وَیَغۡفِرۡ لَكُمۡ ذُنُوبَكُمۡۚ “Katakanlah, ‘Jika kalian mengaku mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian.’” (QS. Ali ‘Imran: 31) Karena itu, Imam Malik rahimahullah berkata, “As-Sunnah (ajaran Nabi) itu laksana perahu Nabi Nuh. Barangsiapa menaikinya, maka dia akan selamat. Dan barangsiapa yang tidak mau ikut naik di atasnya, maka dia akan tenggelam/binasa.” Semoga Allah berikan taufik kepada kami dan segenap pembaca untuk mengikuti jalan kebahagiaan dan dijauhkan dari jalan kebinasaan. Amin. Baca juga: Faedah dari Hadis Pengutusan Mu’adz ke Negeri Yaman Faedah 14: Mengajak menuju Allah Allah berfirman,  وَلَقَدۡ بَعَثۡنَا فِی كُلِّ أُمَّةࣲ رَّسُولًا أَنِ ٱعۡبُدُوا۟ ٱللَّهَ وَٱجۡتَنِبُوا۟ ٱلطَّـٰغُوتَ “Dan sungguh Kami telah mengutus pada setiap umat seorang rasul yang menyerukan, ‘Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.’” (QS. An-Nahl: 36) Ayat ini mengandung perintah beribadah kepada Allah semata dan meninggalkan sesembahan selain-Nya. Tauhid inilah tujuan diciptakannya manusia, misi utama dakwah para rasul dan muatan pokok seluruh kitab yang Allah turunkan. (Lihat Ibthal At-Tandid, hal. 9) Allah berfirman, قُلۡ هَـٰذِهِۦ سَبِیلِیۤ أَدۡعُوۤا۟ إِلَى ٱللَّهِۚ عَلَىٰ بَصِیرَةٍ أَنَا۠ وَمَنِ ٱتَّبَعَنِیۖ “Katakanlah, ‘Inilah jalanku. Aku mengajak menuju Allah di atas bashirah/ilmu yang nyata. Inilah jalanku dan orang-orang yang mengikutiku.’” (QS. Yusuf: 108) Yang dimaksud mengajak menuju Allah adalah dakwah kepada tauhid, dakwah kepada agama-Nya, dan dakwah yang dibangun di atas keikhlasan. Dan dalam menegakkan dakwah ini pun harus berlandaskan dengan ilmu dan keyakinan. Tidak boleh berdakwah bermodalkan kebodohan. (lihat At-Tamhid, hal. 65) Dengan demikian, dakwah ini harus tegak di atas ilmu dan keikhlasan. Penyebab terbesar yang merusak dakwah adalah ketiadaan ikhlas atau ketiadaan ilmu. Perlu dipahami juga bahwa yang dimaksud ilmu di sini bukan hanya seputar hukum agama/materi dakwahnya, tetapi ia juga mencakup pemahaman terhadap kondisi mad’u dan cara yang paling tepat untuk mendakwahinya/metode yang hikmah. (lihat Al-Qaul Al-Mufid, 1: 82) Ayat-ayat di atas kembali menunjukkan kepada kita tentang betapa pentingnya dakwah tauhid. Karena mengingat besarnya kebutuhan manusia guna membenahi akidah mereka, dan mengajarkan tauhid ini merupakan kewajiban yang paling utama, akidah tauhid ini pula yang menjadi asas tegaknya amal saleh. Oleh sebab itu, para rasul menjadikan akidah tauhid ini sebagai prioritas utama dalam dakwahnya. Begitu pula, penjelasan Allah di dalam Al-Qur’an tentang tauhid juga menempati posisi dan jatah yang paling besar. (Lihat Al-Irsyad ila Shahih Al-I’tiqad, hal. 5-6) Syekh Muhammad At-Tamimi mengatakan dalam risalahnya, Al-Ushul Ats-Tsalatsah, bahwa perkara terbesar yang Allah perintahkan adalah tauhid, yaitu mengesakan Allah dalam beribadah. Maksudnya adalah beribadah kepada Allah dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, baik itu nabi, malaikat, raja, dan sebagainya  (lihat Syarh Tsalatsah Ushul, Al-Utsaimin, hal. 39) Di antara dalil yang menunjukkan pentingnya dakwah tauhid ini adalah firman Allah, وَٱلۡعَصۡرِ إِنَّ ٱلۡإِنسَـٰنَ لَفِی خُسۡرٍ إِلَّا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّـٰلِحَـٰتِ وَتَوَاصَوۡا۟ بِٱلۡحَقِّ وَتَوَاصَوۡا۟ بِٱلصَّبۡرِ “Demi masa, sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, beramal saleh, saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menasihati untuk menetapi kesabaran.” (QS. Al-’Ashr: 1-3) Allah juga berfirman, ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ وَلَمۡ یَلۡبِسُوۤا۟ إِیمَـٰنَهُم بِظُلۡمٍ أُو۟لَـٰۤىِٕكَ لَهُمُ ٱلۡأَمۡنُ وَهُم مُّهۡتَدُونَ “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuri imannya dengan kezaliman (syirik); mereka itulah orang yang diberikan keamanan dan mereka itulah orang yang akan diberi petunjuk.” (QS  Al-An’am: 82) Allah juga berfirman, فَمَن كَانَ یَرۡجُوا۟ لِقَاۤءَ رَبِّهِۦ فَلۡیَعۡمَلۡ عَمَلࣰا صَـٰلِحࣰا وَلَا یُشۡرِكۡ بِعِبَادَةِ رَبِّهِۦۤ أَحَدَۢا “Maka, barangsiapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Rabbnya, hendaklah dia melakukan amal saleh dan tidak mempersekutukan dalam beribadah kepada Rabbnya dengan sesuatu apa pun.” (QS. Al-Kahfi: 110) Amal saleh adalah amal yang dilandasi keimanan, yang dikerjakan karena Allah (ikhlas) dan sesuai dengan tuntunan rasul. Apabila amal itu dibangun di atas kekafiran atau kesyirikan, maka tidak akan diterima oleh Allah. Oleh sebab itu, yang menjadi konsentrasi terbesar adalah bagaimana menjaga amalan agar tidak rusak karena syirik atau sebab yang lainnya. Dan ini bukan perkara sepele. [Bersambung] Kembali ke bagian 4: Untaian 23 Faedah Seputar Tauhid dan Akidah (Bag. 4) Lanjut ke bagian 6: Bersambung *** Penulis: Ari Wahyudi, S.Si. Artikel: Muslim.or.id Tags: faedahtauhid


Daftar Isi Toggle Faedah 13: Akibat kesombonganFaedah 14: Mengajak menuju Allah Faedah 13: Akibat kesombongan Allah berfirman, إِنَّهُمۡ كَانُوۤا۟ إِذَا قِیلَ لَهُمۡ لَاۤ إِلَـٰهَ إِلَّا ٱللَّهُ یَسۡتَكۡبِرُونَ  وَیَقُولُونَ أَىِٕنَّا لَتَارِكُوۤا۟ ءَالِهَتِنَا لِشَاعِرࣲ مَّجۡنُونِۭ “Sesungguhnya mereka itu (orang-orang kafir) apabila dikatakan kepada mereka ‘laa ilaha illallah’, mereka pun menyombongkan diri. Mereka pun mengatakan, ‘Apakah kami harus meninggalkan sesembahan-sesembahan kami demi mengikuti seorang penyair yang gila?’” (QS. Ash-Shaffat: 35-36) Ayat ini menunjukkan kepada kita bahwa sesungguhnya orang-orang musyrik yang didakwahi oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengetahui kandungan dan konsekuensi dari kalimat tauhid laa ilaha illallah. Yaitu, wajibnya menyingkirkan segala bentuk syirik dan peribadatan kepada selain Allah. Oleh sebab itulah, mereka menolak dakwah tauhid. (Lihat keterangan Syekh Abdurrahman bin Hasan rahimahullah dalam Qurratu ‘Uyun Al-Muwahhidin, hal. 7) Suatu hal yang sudah dimaklumi bahwa Allah menciptakan jin dan manusia untuk beribadah kepada-Nya. Ibadah kepada Allah adalah dengan tunduk kepada perintah dan larangan-Nya. Ibadah kepada Allah menuntut hamba memurnikan ibadahnya kepada Allah semata dan meninggalkan syirik. Inilah seruan setiap rasul yang Allah utus kepada manusia. Allah berfirman, وَلَقَدۡ بَعَثۡنَا فِی كُلِّ أُمَّةࣲ رَّسُولًا أَنِ ٱعۡبُدُوا۟ ٱللَّهَ وَٱجۡتَنِبُوا۟ ٱلطَّـٰغُوتَۖ “Dan sungguh Kami telah mengutus kepada setiap kaum seorang rasul yang menyerukan, ‘Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.’” (QS. An-Nahl: 36) Ibadah kepada Allah adalah bertauhid, sedangkan menjauhi thaghut adalah dengan berlepas diri dari syirik dan pelakunya. Inilah ajaran Islam dan keadilan tertinggi di alam semesta. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Hak Allah atas para hamba adalah hendaknya mereka beribadah kepada-Nya dan tidak mempersekutukan dengan-Nya sesuatu apa pun.” (HR. Bukhari dan Muslim) Ibadah kepada Allah dibangun di atas sikap tunduk dan merendahkan diri kepada Allah dengan disertai pengagungan kepada-Nya, penuh cinta, takut, dan harap kepada-Nya. Inilah ibadah yang wajib ditujukan kepada Allah, dan tidak boleh dipalingkan kepada selain-Nya. Allah berfirman, وَمَاۤ أُمِرُوۤا۟ إِلَّا لِیَعۡبُدُوا۟ ٱللَّهَ مُخۡلِصِینَ لَهُ ٱلدِّینَ حُنَفَاۤءَ “Dan tidaklah mereka diperintahkan, kecuali supaya beribadah kepada Allah dengan memurnikan untuk-Nya agama dengan hanif (lurus) …” (QS. Al-Bayyinah: 5) Di dalam ibadah inilah, akan tercapai ketentraman dan kebahagiaan hamba. Sebab, itulah tujuan penciptaan dirinya di alam dunia ini. Allah berfirman, وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِیَعۡبُدُونِ “Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56). Allah berfirman, ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ وَلَمۡ یَلۡبِسُوۤا۟ إِیمَـٰنَهُم بِظُلۡمٍ أُو۟لَـٰۤىِٕكَ لَهُمُ ٱلۡأَمۡنُ وَهُم مُّهۡتَدُونَ “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuri imannya dengan kezaliman, maka bagi mereka itulah keamanan dan mereka itulah yang diberi petunjuk.” (QS. Al-An’am: 82) Akan tetapi, ternyata tidak sedikit manusia justru menentang tauhid ini dan memusuhinya. Padahal, tauhid inilah sebab kebahagiaan hidup mereka. Mereka lebih mendahulukan hawa nafsu dan perasaannya di atas wahyu dan bimbingan Allah, Rabb Pencipta alam semesta. Mereka menolak kebenaran dan meremehkan orang yang menyeru kepada tauhid. Sebagaimana dikisahkan dalam ayat di atas bahwa orang-orang musyrik menggelari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai seorang penyair yang gila. Padahal, beliau bukanlah tukang syair apalagi orang gila! Karena itulah, Allah pun menyebut orang yang tidak tunduk beribadah dan berdoa kepada-Nya sebagai orang-orang yang sombong. Allah berfirman, وَقَالَ رَبُّكُمُ ٱدۡعُونِیۤ أَسۡتَجِبۡ لَكُمۡۚ إِنَّ ٱلَّذِینَ یَسۡتَكۡبِرُونَ عَنۡ عِبَادَتِی سَیَدۡخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِینَ “Dan Rabb kalian berfirman, ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari beribadah kepada-Ku pasti akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina.’” (QS. Ghafir: 60) Demikianlah keadaan orang yang menentang perintah Allah. Tidaklah berlebihan jika perilakunya disebut sebagai kesombongan. Sebagaimana Iblis yang menolak perintah Allah karena enggan dan istikbar (kesombongan). Karena itu pula, salah satu bentuk kekafiran perusak iman adalah kufur iba’ wal istikbar (karena enggan dan kesombongan). Kesombongan itulah yang telah membinasakan Fir’aun dan Qarun. Sombong dengan kekuasaan ataupun sombong dengan harta dan kekayaan. Mereka lupa bahwa kenikmatan yang mereka peroleh adalah titipan dari Allah untuk menguji hamba-hamba-Nya. Apakah mereka pandai bersyukur kepada Allah dengannya ataukah justru kufur dan mengingkari ajaran dan petunjuk-Nya?! Hal ini mengingatkan kita kepada nasihat Abu Hazim rahimahullah, “Setiap nikmat yang tidak semakin mendekatkan diri kepada Allah, maka itu adalah malapetaka.” Demikian pula, ilmu merupakan nikmat bagi kemanusiaan. Apabila manusia mengikuti petunjuk Allah dan bimbingan-Nya, niscaya mereka akan bahagia. Allah berfirman,  فَمَنِ ٱتَّبَعَ هُدَایَ فَلَا یَضِلُّ وَلَا یَشۡقَىٰ “Maka, barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya dia tidak akan sesat dan tidak pula celaka.” (QS. Thaha: 123) Dari sini, kita mengetahui bahwa sebab kesengsaraan manusia adalah ketika mereka berpaling dari petunjuk Allah dan mencampakkan Kitab Allah dari hidup dan kebudayaan mereka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda, “Sesungguhnya Allah akan memuliakan dengan sebab Kitab ini (Al-Qur’an) beberapa kaum dan akan merendahkan dengannya beberapa kaum yang lain.” (HR. Muslim) Umar bin Khattab radhiyallahu’anhu berkata, “Kami adalah suatu kaum yang telah Allah muliakan dengan Islam. Maka, kapan saja kami mencari kemuliaan dengan selain cara Islam, pasti Allah akan hinakan kami.” (HR. Al-Hakim dalam Al-Mustadrak) Begitu pula, datangnya Rasul di tengah manusia adalah nikmat agung yang tidak boleh disepelekan. Petunjuk beliau adalah jalan keselamatan dari kehancuran dan malapetaka. Allah berfirman, وَمَن یُشَاقِقِ ٱلرَّسُولَ مِنۢ بَعۡدِ مَا تَبَیَّنَ لَهُ ٱلۡهُدَىٰ وَیَتَّبِعۡ غَیۡرَ سَبِیلِ ٱلۡمُؤۡمِنِینَ نُوَلِّهِۦ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصۡلِهِۦ جَهَنَّمَۖ وَسَاۤءَتۡ مَصِیرًا “Dan barangsiapa yang menentang Rasul itu setelah jelas baginya petunjuk, dan dia mengikuti selain jalan orang-orang beriman, niscaya Kami biarkan dia terombang-ambing dalam kesesatan yang dia pilih dan Kami pun akan memasukkannya ke dalam neraka Jahanam. Dan sesungguhnya Jahanam itu adalah seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. An-Nisa’: 115) Untuk itulah saudaraku yang dirahmati Allah, merupakan kebutuhan besar bagi kita kaum muslimin untuk terus belajar dan mengenali ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Dengan mengikuti ajaran dan petunjuk beliaulah, kita akan meraih kecintaan Allah dan ampunan-Nya. Allah berfirman, قُلۡ إِن كُنتُمۡ تُحِبُّونَ ٱللَّهَ فَٱتَّبِعُونِی یُحۡبِبۡكُمُ ٱللَّهُ وَیَغۡفِرۡ لَكُمۡ ذُنُوبَكُمۡۚ “Katakanlah, ‘Jika kalian mengaku mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian.’” (QS. Ali ‘Imran: 31) Karena itu, Imam Malik rahimahullah berkata, “As-Sunnah (ajaran Nabi) itu laksana perahu Nabi Nuh. Barangsiapa menaikinya, maka dia akan selamat. Dan barangsiapa yang tidak mau ikut naik di atasnya, maka dia akan tenggelam/binasa.” Semoga Allah berikan taufik kepada kami dan segenap pembaca untuk mengikuti jalan kebahagiaan dan dijauhkan dari jalan kebinasaan. Amin. Baca juga: Faedah dari Hadis Pengutusan Mu’adz ke Negeri Yaman Faedah 14: Mengajak menuju Allah Allah berfirman,  وَلَقَدۡ بَعَثۡنَا فِی كُلِّ أُمَّةࣲ رَّسُولًا أَنِ ٱعۡبُدُوا۟ ٱللَّهَ وَٱجۡتَنِبُوا۟ ٱلطَّـٰغُوتَ “Dan sungguh Kami telah mengutus pada setiap umat seorang rasul yang menyerukan, ‘Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.’” (QS. An-Nahl: 36) Ayat ini mengandung perintah beribadah kepada Allah semata dan meninggalkan sesembahan selain-Nya. Tauhid inilah tujuan diciptakannya manusia, misi utama dakwah para rasul dan muatan pokok seluruh kitab yang Allah turunkan. (Lihat Ibthal At-Tandid, hal. 9) Allah berfirman, قُلۡ هَـٰذِهِۦ سَبِیلِیۤ أَدۡعُوۤا۟ إِلَى ٱللَّهِۚ عَلَىٰ بَصِیرَةٍ أَنَا۠ وَمَنِ ٱتَّبَعَنِیۖ “Katakanlah, ‘Inilah jalanku. Aku mengajak menuju Allah di atas bashirah/ilmu yang nyata. Inilah jalanku dan orang-orang yang mengikutiku.’” (QS. Yusuf: 108) Yang dimaksud mengajak menuju Allah adalah dakwah kepada tauhid, dakwah kepada agama-Nya, dan dakwah yang dibangun di atas keikhlasan. Dan dalam menegakkan dakwah ini pun harus berlandaskan dengan ilmu dan keyakinan. Tidak boleh berdakwah bermodalkan kebodohan. (lihat At-Tamhid, hal. 65) Dengan demikian, dakwah ini harus tegak di atas ilmu dan keikhlasan. Penyebab terbesar yang merusak dakwah adalah ketiadaan ikhlas atau ketiadaan ilmu. Perlu dipahami juga bahwa yang dimaksud ilmu di sini bukan hanya seputar hukum agama/materi dakwahnya, tetapi ia juga mencakup pemahaman terhadap kondisi mad’u dan cara yang paling tepat untuk mendakwahinya/metode yang hikmah. (lihat Al-Qaul Al-Mufid, 1: 82) Ayat-ayat di atas kembali menunjukkan kepada kita tentang betapa pentingnya dakwah tauhid. Karena mengingat besarnya kebutuhan manusia guna membenahi akidah mereka, dan mengajarkan tauhid ini merupakan kewajiban yang paling utama, akidah tauhid ini pula yang menjadi asas tegaknya amal saleh. Oleh sebab itu, para rasul menjadikan akidah tauhid ini sebagai prioritas utama dalam dakwahnya. Begitu pula, penjelasan Allah di dalam Al-Qur’an tentang tauhid juga menempati posisi dan jatah yang paling besar. (Lihat Al-Irsyad ila Shahih Al-I’tiqad, hal. 5-6) Syekh Muhammad At-Tamimi mengatakan dalam risalahnya, Al-Ushul Ats-Tsalatsah, bahwa perkara terbesar yang Allah perintahkan adalah tauhid, yaitu mengesakan Allah dalam beribadah. Maksudnya adalah beribadah kepada Allah dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, baik itu nabi, malaikat, raja, dan sebagainya  (lihat Syarh Tsalatsah Ushul, Al-Utsaimin, hal. 39) Di antara dalil yang menunjukkan pentingnya dakwah tauhid ini adalah firman Allah, وَٱلۡعَصۡرِ إِنَّ ٱلۡإِنسَـٰنَ لَفِی خُسۡرٍ إِلَّا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّـٰلِحَـٰتِ وَتَوَاصَوۡا۟ بِٱلۡحَقِّ وَتَوَاصَوۡا۟ بِٱلصَّبۡرِ “Demi masa, sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, beramal saleh, saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menasihati untuk menetapi kesabaran.” (QS. Al-’Ashr: 1-3) Allah juga berfirman, ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ وَلَمۡ یَلۡبِسُوۤا۟ إِیمَـٰنَهُم بِظُلۡمٍ أُو۟لَـٰۤىِٕكَ لَهُمُ ٱلۡأَمۡنُ وَهُم مُّهۡتَدُونَ “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuri imannya dengan kezaliman (syirik); mereka itulah orang yang diberikan keamanan dan mereka itulah orang yang akan diberi petunjuk.” (QS  Al-An’am: 82) Allah juga berfirman, فَمَن كَانَ یَرۡجُوا۟ لِقَاۤءَ رَبِّهِۦ فَلۡیَعۡمَلۡ عَمَلࣰا صَـٰلِحࣰا وَلَا یُشۡرِكۡ بِعِبَادَةِ رَبِّهِۦۤ أَحَدَۢا “Maka, barangsiapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Rabbnya, hendaklah dia melakukan amal saleh dan tidak mempersekutukan dalam beribadah kepada Rabbnya dengan sesuatu apa pun.” (QS. Al-Kahfi: 110) Amal saleh adalah amal yang dilandasi keimanan, yang dikerjakan karena Allah (ikhlas) dan sesuai dengan tuntunan rasul. Apabila amal itu dibangun di atas kekafiran atau kesyirikan, maka tidak akan diterima oleh Allah. Oleh sebab itu, yang menjadi konsentrasi terbesar adalah bagaimana menjaga amalan agar tidak rusak karena syirik atau sebab yang lainnya. Dan ini bukan perkara sepele. [Bersambung] Kembali ke bagian 4: Untaian 23 Faedah Seputar Tauhid dan Akidah (Bag. 4) Lanjut ke bagian 6: Bersambung *** Penulis: Ari Wahyudi, S.Si. Artikel: Muslim.or.id Tags: faedahtauhid

10 Kiat Istiqomah (Bag.18)

Baca pembahasan sebelumnya 10 Kiat Istiqomah (Bag.17)Kebenaran hanya satu, sedangkan kebatilan itu banyak, namun semuanya kembali kepada dua fitnah : mengikuti syahwat dan syubhat!Allah Ta’ala berfirman :وَأَنَّ هَٰذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ۚ ذَٰلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ“Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kalian dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kalian bertakwa.” (QS. Al-An’am:153)Ayat di atas dijelaskan maksudnya oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits shahih dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu dalam Musnad Imam Ahmad berkata :خَطَّ لَنَا رَسُولُ الله صلى الله عليه وسلم خَطًّا ثُمَّ قَالَ هَذَا سَبِيلُ الله، ثُمَّ خَطَّ خُطُوطًا عَنْ يَمِينِهِ وَعَنْ شِمَالِهِ ثُمَّ قَالَ هَذِهِ سُبُلٌ عَلَى كُلِّ سَبِيلٍ مِنْهَا شَيْطَانٌ يَدْعُو إِلَيْهِ ، ثُمَّ قَرَأَ﴿وَإِنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلاَ تَتَّبِعُوا السُّبُلَ ، فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ﴾“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menggaris sebuah garis untuk kami, kemudian beliau bersabda : ‘Ini adalah jalan Allah’, kemudian beliau menggaris garis-garis di kanannya dan di kirinya, kemudian beliau bersabda: ‘Ini adalah jalan-jalan (lain), pada setiap jalan dari jalan-jalan tersebut ada setan yang mengajak (manusia) kepadanya’, kemudian beliau membaca (ayat yang artinya) :‘Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kalian dari jalan-Nya.’ ”.Setan yang disebutkan dalam hadits di atas mengajak kepada kesesatan (jalan setan), maka ketahuilah ajakan setan itu ada dua macam, dan kedua macam ajakan setan itu diibaratkan dua kelompok jalan di kedua sisi jalan yang lurus dalam hadits di atas.Baca Juga: Inilah Perjalanan Panjang Meraih Ilmu, Bersabarlah!Dua macam ajakan setanAdapun kedua ajakan atau godaan setan itu adalah ajakan kepada mengikuti syahwat, dan mengajak kepada mengikuti syubhat. Setan tidak peduli dengan ajakan yang mana ia berhasil menyesatkan manusia. Apabila setan melihat tipe orang yang suka teledor dan malas, maka ia goda orang itu dengan jebakan mengikuti syahwat.Namun apabila setan melihat tipe orang yang semangat beribadah dan suka menjaga diri dari maksiat, maka ia goda orang itu dengan jebakan syubhat.Sebagaimana ucapan sebagian Salafush Sholeh :ما أمر الله سبحانه بأمر إلا وللشيطان فيه نزغتان: إما إلى تفريط وتقصير، وإما إلى مجاوزة وغلوّ. ولا يبالى بأيهما ظفر<“Allah Ta’ala tidaklah memerintahkan dengan suatu perintah kecuali setan memiliki dua model tipu daya: (Pertama) jebakan menelantarkan dan teledor (terhadap perintah-Nya), atau jebakan melampaui batas dan berlebihan. Sedangkan setan tak peduli dengan model tipu daya mana ia dapat berhasil (menggoda manusia)”.Ibnul Qoyyim rahimahullah mengatakan : وقَد نصَبَ الله سبحانه الجسرَ الَّذي يمُرُّ النَّاس منْ فوقِه إلى الجنَّة، ونصبَ بجانِبَيه كلاليبَ تَخطف النَّاسَ بأعمالهم ، فهكَذا كَلاليبُ الباطل مِن تَشْبيهات الضَّلال وشَهوات الغَيِّ تمنَع صاحبَها من الاستقامة على طريق الحقِّ وسلوكِه ، والمعصومُ من عصَمَه الله“Allah Subhanahu telah memasang jembatan (Ash-Shiroth) yang manusia melalui diatasnya untuk sampai ke surga, dan Allah-pun memasang di kedua sisi jembatan tersebut besi-besi penyambar yang menyambar manusia sesuai dengan perbuatan mereka (sewaktu di dunia), maka demikian pula ‘penyambar-penyambar yang batil’, baik berupa fitnah syubhat yang menyesatkan dan fitnah syahwat yang menyimpangkan (dari kebenaran), keduanya menghalangi dari istiqomah di jalan yang haq dan menghalngi (seseorang) ketika menitinya. Sedangkan orang yang terjaga (dari penyambar-penyambar) tersebut adalah orang yang dijaga oleh Allah”Baca Juga: Belajar Bersabar Bersama Syaikhul Islam Ibnu TaimiyahAl-Qur`an Al-Karim obat penyakit hatiDan obat dari dua induk penyakit hati tersebut adalah Al-Qur`an Al-Karim, Allah Ta’ala berfirman dalam surat Yunus ayat ke-57:يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ“Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan obat bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Yunus : 57)Dan Ibnul Qoyyim rahimahullah menjelaskan bahwa makna ayat ini adalah didalam Al-Qur`an Al-Karim terdapat obat untuk mengobati berbagai penyakit dalam hati yang meliputi penyakit kebodohan, dan obatnya adalah berilmu dan mendapatkan petunjuk, serta meliputi pula penyakit penyimpangan, dan obatnya adalah mengamalkan ilmu dan petunjuk (rusyd). Dan kedua obat itu ada dalam Al-Qur`an Al-Karim.Baca Juga:(Bersambung, insya Allah)Penulis: Sa’id Abu UkkasyahArtikel: Muslim.or.id🔍 Hadits Senyum, Kewajiban Muslim, Keseharian Nabi Muhammad, Batas Akhir Waktu Sholat, Ayat Alquran Tentang Ibu Bapa

10 Kiat Istiqomah (Bag.18)

Baca pembahasan sebelumnya 10 Kiat Istiqomah (Bag.17)Kebenaran hanya satu, sedangkan kebatilan itu banyak, namun semuanya kembali kepada dua fitnah : mengikuti syahwat dan syubhat!Allah Ta’ala berfirman :وَأَنَّ هَٰذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ۚ ذَٰلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ“Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kalian dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kalian bertakwa.” (QS. Al-An’am:153)Ayat di atas dijelaskan maksudnya oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits shahih dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu dalam Musnad Imam Ahmad berkata :خَطَّ لَنَا رَسُولُ الله صلى الله عليه وسلم خَطًّا ثُمَّ قَالَ هَذَا سَبِيلُ الله، ثُمَّ خَطَّ خُطُوطًا عَنْ يَمِينِهِ وَعَنْ شِمَالِهِ ثُمَّ قَالَ هَذِهِ سُبُلٌ عَلَى كُلِّ سَبِيلٍ مِنْهَا شَيْطَانٌ يَدْعُو إِلَيْهِ ، ثُمَّ قَرَأَ﴿وَإِنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلاَ تَتَّبِعُوا السُّبُلَ ، فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ﴾“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menggaris sebuah garis untuk kami, kemudian beliau bersabda : ‘Ini adalah jalan Allah’, kemudian beliau menggaris garis-garis di kanannya dan di kirinya, kemudian beliau bersabda: ‘Ini adalah jalan-jalan (lain), pada setiap jalan dari jalan-jalan tersebut ada setan yang mengajak (manusia) kepadanya’, kemudian beliau membaca (ayat yang artinya) :‘Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kalian dari jalan-Nya.’ ”.Setan yang disebutkan dalam hadits di atas mengajak kepada kesesatan (jalan setan), maka ketahuilah ajakan setan itu ada dua macam, dan kedua macam ajakan setan itu diibaratkan dua kelompok jalan di kedua sisi jalan yang lurus dalam hadits di atas.Baca Juga: Inilah Perjalanan Panjang Meraih Ilmu, Bersabarlah!Dua macam ajakan setanAdapun kedua ajakan atau godaan setan itu adalah ajakan kepada mengikuti syahwat, dan mengajak kepada mengikuti syubhat. Setan tidak peduli dengan ajakan yang mana ia berhasil menyesatkan manusia. Apabila setan melihat tipe orang yang suka teledor dan malas, maka ia goda orang itu dengan jebakan mengikuti syahwat.Namun apabila setan melihat tipe orang yang semangat beribadah dan suka menjaga diri dari maksiat, maka ia goda orang itu dengan jebakan syubhat.Sebagaimana ucapan sebagian Salafush Sholeh :ما أمر الله سبحانه بأمر إلا وللشيطان فيه نزغتان: إما إلى تفريط وتقصير، وإما إلى مجاوزة وغلوّ. ولا يبالى بأيهما ظفر<“Allah Ta’ala tidaklah memerintahkan dengan suatu perintah kecuali setan memiliki dua model tipu daya: (Pertama) jebakan menelantarkan dan teledor (terhadap perintah-Nya), atau jebakan melampaui batas dan berlebihan. Sedangkan setan tak peduli dengan model tipu daya mana ia dapat berhasil (menggoda manusia)”.Ibnul Qoyyim rahimahullah mengatakan : وقَد نصَبَ الله سبحانه الجسرَ الَّذي يمُرُّ النَّاس منْ فوقِه إلى الجنَّة، ونصبَ بجانِبَيه كلاليبَ تَخطف النَّاسَ بأعمالهم ، فهكَذا كَلاليبُ الباطل مِن تَشْبيهات الضَّلال وشَهوات الغَيِّ تمنَع صاحبَها من الاستقامة على طريق الحقِّ وسلوكِه ، والمعصومُ من عصَمَه الله“Allah Subhanahu telah memasang jembatan (Ash-Shiroth) yang manusia melalui diatasnya untuk sampai ke surga, dan Allah-pun memasang di kedua sisi jembatan tersebut besi-besi penyambar yang menyambar manusia sesuai dengan perbuatan mereka (sewaktu di dunia), maka demikian pula ‘penyambar-penyambar yang batil’, baik berupa fitnah syubhat yang menyesatkan dan fitnah syahwat yang menyimpangkan (dari kebenaran), keduanya menghalangi dari istiqomah di jalan yang haq dan menghalngi (seseorang) ketika menitinya. Sedangkan orang yang terjaga (dari penyambar-penyambar) tersebut adalah orang yang dijaga oleh Allah”Baca Juga: Belajar Bersabar Bersama Syaikhul Islam Ibnu TaimiyahAl-Qur`an Al-Karim obat penyakit hatiDan obat dari dua induk penyakit hati tersebut adalah Al-Qur`an Al-Karim, Allah Ta’ala berfirman dalam surat Yunus ayat ke-57:يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ“Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan obat bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Yunus : 57)Dan Ibnul Qoyyim rahimahullah menjelaskan bahwa makna ayat ini adalah didalam Al-Qur`an Al-Karim terdapat obat untuk mengobati berbagai penyakit dalam hati yang meliputi penyakit kebodohan, dan obatnya adalah berilmu dan mendapatkan petunjuk, serta meliputi pula penyakit penyimpangan, dan obatnya adalah mengamalkan ilmu dan petunjuk (rusyd). Dan kedua obat itu ada dalam Al-Qur`an Al-Karim.Baca Juga:(Bersambung, insya Allah)Penulis: Sa’id Abu UkkasyahArtikel: Muslim.or.id🔍 Hadits Senyum, Kewajiban Muslim, Keseharian Nabi Muhammad, Batas Akhir Waktu Sholat, Ayat Alquran Tentang Ibu Bapa
Baca pembahasan sebelumnya 10 Kiat Istiqomah (Bag.17)Kebenaran hanya satu, sedangkan kebatilan itu banyak, namun semuanya kembali kepada dua fitnah : mengikuti syahwat dan syubhat!Allah Ta’ala berfirman :وَأَنَّ هَٰذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ۚ ذَٰلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ“Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kalian dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kalian bertakwa.” (QS. Al-An’am:153)Ayat di atas dijelaskan maksudnya oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits shahih dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu dalam Musnad Imam Ahmad berkata :خَطَّ لَنَا رَسُولُ الله صلى الله عليه وسلم خَطًّا ثُمَّ قَالَ هَذَا سَبِيلُ الله، ثُمَّ خَطَّ خُطُوطًا عَنْ يَمِينِهِ وَعَنْ شِمَالِهِ ثُمَّ قَالَ هَذِهِ سُبُلٌ عَلَى كُلِّ سَبِيلٍ مِنْهَا شَيْطَانٌ يَدْعُو إِلَيْهِ ، ثُمَّ قَرَأَ﴿وَإِنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلاَ تَتَّبِعُوا السُّبُلَ ، فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ﴾“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menggaris sebuah garis untuk kami, kemudian beliau bersabda : ‘Ini adalah jalan Allah’, kemudian beliau menggaris garis-garis di kanannya dan di kirinya, kemudian beliau bersabda: ‘Ini adalah jalan-jalan (lain), pada setiap jalan dari jalan-jalan tersebut ada setan yang mengajak (manusia) kepadanya’, kemudian beliau membaca (ayat yang artinya) :‘Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kalian dari jalan-Nya.’ ”.Setan yang disebutkan dalam hadits di atas mengajak kepada kesesatan (jalan setan), maka ketahuilah ajakan setan itu ada dua macam, dan kedua macam ajakan setan itu diibaratkan dua kelompok jalan di kedua sisi jalan yang lurus dalam hadits di atas.Baca Juga: Inilah Perjalanan Panjang Meraih Ilmu, Bersabarlah!Dua macam ajakan setanAdapun kedua ajakan atau godaan setan itu adalah ajakan kepada mengikuti syahwat, dan mengajak kepada mengikuti syubhat. Setan tidak peduli dengan ajakan yang mana ia berhasil menyesatkan manusia. Apabila setan melihat tipe orang yang suka teledor dan malas, maka ia goda orang itu dengan jebakan mengikuti syahwat.Namun apabila setan melihat tipe orang yang semangat beribadah dan suka menjaga diri dari maksiat, maka ia goda orang itu dengan jebakan syubhat.Sebagaimana ucapan sebagian Salafush Sholeh :ما أمر الله سبحانه بأمر إلا وللشيطان فيه نزغتان: إما إلى تفريط وتقصير، وإما إلى مجاوزة وغلوّ. ولا يبالى بأيهما ظفر<“Allah Ta’ala tidaklah memerintahkan dengan suatu perintah kecuali setan memiliki dua model tipu daya: (Pertama) jebakan menelantarkan dan teledor (terhadap perintah-Nya), atau jebakan melampaui batas dan berlebihan. Sedangkan setan tak peduli dengan model tipu daya mana ia dapat berhasil (menggoda manusia)”.Ibnul Qoyyim rahimahullah mengatakan : وقَد نصَبَ الله سبحانه الجسرَ الَّذي يمُرُّ النَّاس منْ فوقِه إلى الجنَّة، ونصبَ بجانِبَيه كلاليبَ تَخطف النَّاسَ بأعمالهم ، فهكَذا كَلاليبُ الباطل مِن تَشْبيهات الضَّلال وشَهوات الغَيِّ تمنَع صاحبَها من الاستقامة على طريق الحقِّ وسلوكِه ، والمعصومُ من عصَمَه الله“Allah Subhanahu telah memasang jembatan (Ash-Shiroth) yang manusia melalui diatasnya untuk sampai ke surga, dan Allah-pun memasang di kedua sisi jembatan tersebut besi-besi penyambar yang menyambar manusia sesuai dengan perbuatan mereka (sewaktu di dunia), maka demikian pula ‘penyambar-penyambar yang batil’, baik berupa fitnah syubhat yang menyesatkan dan fitnah syahwat yang menyimpangkan (dari kebenaran), keduanya menghalangi dari istiqomah di jalan yang haq dan menghalngi (seseorang) ketika menitinya. Sedangkan orang yang terjaga (dari penyambar-penyambar) tersebut adalah orang yang dijaga oleh Allah”Baca Juga: Belajar Bersabar Bersama Syaikhul Islam Ibnu TaimiyahAl-Qur`an Al-Karim obat penyakit hatiDan obat dari dua induk penyakit hati tersebut adalah Al-Qur`an Al-Karim, Allah Ta’ala berfirman dalam surat Yunus ayat ke-57:يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ“Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan obat bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Yunus : 57)Dan Ibnul Qoyyim rahimahullah menjelaskan bahwa makna ayat ini adalah didalam Al-Qur`an Al-Karim terdapat obat untuk mengobati berbagai penyakit dalam hati yang meliputi penyakit kebodohan, dan obatnya adalah berilmu dan mendapatkan petunjuk, serta meliputi pula penyakit penyimpangan, dan obatnya adalah mengamalkan ilmu dan petunjuk (rusyd). Dan kedua obat itu ada dalam Al-Qur`an Al-Karim.Baca Juga:(Bersambung, insya Allah)Penulis: Sa’id Abu UkkasyahArtikel: Muslim.or.id🔍 Hadits Senyum, Kewajiban Muslim, Keseharian Nabi Muhammad, Batas Akhir Waktu Sholat, Ayat Alquran Tentang Ibu Bapa


Baca pembahasan sebelumnya 10 Kiat Istiqomah (Bag.17)Kebenaran hanya satu, sedangkan kebatilan itu banyak, namun semuanya kembali kepada dua fitnah : mengikuti syahwat dan syubhat!Allah Ta’ala berfirman :وَأَنَّ هَٰذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ۚ ذَٰلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ“Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kalian dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kalian bertakwa.” (QS. Al-An’am:153)Ayat di atas dijelaskan maksudnya oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits shahih dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu dalam Musnad Imam Ahmad berkata :خَطَّ لَنَا رَسُولُ الله صلى الله عليه وسلم خَطًّا ثُمَّ قَالَ هَذَا سَبِيلُ الله، ثُمَّ خَطَّ خُطُوطًا عَنْ يَمِينِهِ وَعَنْ شِمَالِهِ ثُمَّ قَالَ هَذِهِ سُبُلٌ عَلَى كُلِّ سَبِيلٍ مِنْهَا شَيْطَانٌ يَدْعُو إِلَيْهِ ، ثُمَّ قَرَأَ﴿وَإِنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلاَ تَتَّبِعُوا السُّبُلَ ، فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ﴾“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menggaris sebuah garis untuk kami, kemudian beliau bersabda : ‘Ini adalah jalan Allah’, kemudian beliau menggaris garis-garis di kanannya dan di kirinya, kemudian beliau bersabda: ‘Ini adalah jalan-jalan (lain), pada setiap jalan dari jalan-jalan tersebut ada setan yang mengajak (manusia) kepadanya’, kemudian beliau membaca (ayat yang artinya) :‘Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kalian dari jalan-Nya.’ ”.Setan yang disebutkan dalam hadits di atas mengajak kepada kesesatan (jalan setan), maka ketahuilah ajakan setan itu ada dua macam, dan kedua macam ajakan setan itu diibaratkan dua kelompok jalan di kedua sisi jalan yang lurus dalam hadits di atas.Baca Juga: Inilah Perjalanan Panjang Meraih Ilmu, Bersabarlah!Dua macam ajakan setanAdapun kedua ajakan atau godaan setan itu adalah ajakan kepada mengikuti syahwat, dan mengajak kepada mengikuti syubhat. Setan tidak peduli dengan ajakan yang mana ia berhasil menyesatkan manusia. Apabila setan melihat tipe orang yang suka teledor dan malas, maka ia goda orang itu dengan jebakan mengikuti syahwat.Namun apabila setan melihat tipe orang yang semangat beribadah dan suka menjaga diri dari maksiat, maka ia goda orang itu dengan jebakan syubhat.Sebagaimana ucapan sebagian Salafush Sholeh :ما أمر الله سبحانه بأمر إلا وللشيطان فيه نزغتان: إما إلى تفريط وتقصير، وإما إلى مجاوزة وغلوّ. ولا يبالى بأيهما ظفر<“Allah Ta’ala tidaklah memerintahkan dengan suatu perintah kecuali setan memiliki dua model tipu daya: (Pertama) jebakan menelantarkan dan teledor (terhadap perintah-Nya), atau jebakan melampaui batas dan berlebihan. Sedangkan setan tak peduli dengan model tipu daya mana ia dapat berhasil (menggoda manusia)”.Ibnul Qoyyim rahimahullah mengatakan : وقَد نصَبَ الله سبحانه الجسرَ الَّذي يمُرُّ النَّاس منْ فوقِه إلى الجنَّة، ونصبَ بجانِبَيه كلاليبَ تَخطف النَّاسَ بأعمالهم ، فهكَذا كَلاليبُ الباطل مِن تَشْبيهات الضَّلال وشَهوات الغَيِّ تمنَع صاحبَها من الاستقامة على طريق الحقِّ وسلوكِه ، والمعصومُ من عصَمَه الله“Allah Subhanahu telah memasang jembatan (Ash-Shiroth) yang manusia melalui diatasnya untuk sampai ke surga, dan Allah-pun memasang di kedua sisi jembatan tersebut besi-besi penyambar yang menyambar manusia sesuai dengan perbuatan mereka (sewaktu di dunia), maka demikian pula ‘penyambar-penyambar yang batil’, baik berupa fitnah syubhat yang menyesatkan dan fitnah syahwat yang menyimpangkan (dari kebenaran), keduanya menghalangi dari istiqomah di jalan yang haq dan menghalngi (seseorang) ketika menitinya. Sedangkan orang yang terjaga (dari penyambar-penyambar) tersebut adalah orang yang dijaga oleh Allah”Baca Juga: Belajar Bersabar Bersama Syaikhul Islam Ibnu TaimiyahAl-Qur`an Al-Karim obat penyakit hatiDan obat dari dua induk penyakit hati tersebut adalah Al-Qur`an Al-Karim, Allah Ta’ala berfirman dalam surat Yunus ayat ke-57:يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ“Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan obat bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Yunus : 57)Dan Ibnul Qoyyim rahimahullah menjelaskan bahwa makna ayat ini adalah didalam Al-Qur`an Al-Karim terdapat obat untuk mengobati berbagai penyakit dalam hati yang meliputi penyakit kebodohan, dan obatnya adalah berilmu dan mendapatkan petunjuk, serta meliputi pula penyakit penyimpangan, dan obatnya adalah mengamalkan ilmu dan petunjuk (rusyd). Dan kedua obat itu ada dalam Al-Qur`an Al-Karim.Baca Juga:(Bersambung, insya Allah)Penulis: Sa’id Abu UkkasyahArtikel: Muslim.or.id🔍 Hadits Senyum, Kewajiban Muslim, Keseharian Nabi Muhammad, Batas Akhir Waktu Sholat, Ayat Alquran Tentang Ibu Bapa

Media Social dalam Timbangan

Ketika teknologi hadir pada peradaban yang belum siap, tentunya akan berdampak buruk pada kehidupan peradaban tersebut. Dapat kita saksikan bersama bagaimana era keterbukaan informasi yang disponsori tunggal oleh teknologi informasi masa kini mengakibatkan hadirnya banyak apresiasi dan hujatan yang tidak jarang hadir dalam proporsi yang tidak berimbang. Sekarang, kita coba sedikit fokus terhadap fenomena hujatan di masa kini.Hujatan yang juga merupakan celaan atau bahkan hinaan kini dapat dengan sangat mudah kita temui berseliweran di dunia maya. Betapa tidak, setiap informasi hampir pasti bisa dihujat. Karena sekat keterbatasan media komunikasi yang menjadi sarana penting tersampaikannya celaan atau hujatan tersebut telah dipangkas habis oleh teknologi informasi masa kini. Seorang yang berada di pelosok negeri kini untuk menghujat pimpinan negara, kekurangan-kekurangan seorang da’i atau ustadz, atau pihak lainnya tidak perlu lagi menghabiskan banyak waktu dan biaya untuk menyampaikan hujatannya tersebut, cukup melalui media sosial.Hujatan yang dulunya mungkin hanya terpendam dalam hati karena keterbatasan media informasi, kini dapat disalurkan dengan mudah. Dahulu, orang yang tidak dewasa dalam berpikir yang emosinya mudah meluap, sulit untuk kita dapati hujatannya, karena keterbatasan media komunikasi. Dan dahulu orang yang berilmu tentunya lebih memiliki akses berpendapat, sehingga pendapat yang disampaikan adalah oleh orang-orang yang benar-benar kompeten. Tidak seperti sekarang, semua orang layaknya professor dan ahli. Kita akan sangat sulit membedakan mana orang yang berpendapat dengan ilmu, mana yang tidak. Kebanyakan manusia tidak mengetahuiMemang pada asalnya manusia tidak memiliki pengetahuan. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:وَاللَّهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْئًا…“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun…” (QS. AN Nahl: 78)Kemudian dengan teknologi informasi saat ini banyak di antara manusia yang mampu berpendapat tentang suatu perkara dunia, namun dalam perkara akhirat kebanyakan manusia tidak memiliki ilmu, baik dalam ilmu itu sendiri maupun dalam amal yang dalam hal ini adalah implementasi ilmu tentang berbicara dan menyampaikan pendapat dengan adab yang baik. Namun yang menjadi parah, banyak di antara masyarakat yang berdebat tentang agama melalui media sosial, padahal kebanyakan manusia tidak mengetahui ilmu agama dengan baik. Sebagaimana firman Allah subahanu wa ta’ala:وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ…“… Akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Ar Ruum [30]: 6)Kemudian Allah ta’ala berfirman tentang mereka -yaitu kebanyakan manusia-يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الْآخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ“Mereka mengetahui sisi lahiriyah kehidupan dunia, akan tetapi terhadap perkara akhirat mereka lalai.” (QS. Ar Ruum [30]: 7)Ibnu Katsir memaparkan, “Artinya kebanyakan manusia tidak memiliki ilmu kecuali dalam urusan dunia, tata cara menggapainya, tetek bengeknya serta perkara apa saja yang ada di dalamnya. Mereka adalah orang-orang yang cerdas dan pandai tentang bagaimana cara meraup dunia serta celah-celah untuk bisa mendapatkannya. Namun mereka lalai terhadap hal-hal yang akan mendatangkan manfaat untuk mereka di negeri akhirat. Seolah-olah akal mereka lenyap. Seperti halnya orang yang tidak memiliki akal dan pikiran.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 6/168)Baca juga:  Saudaraku, Sampai Kapan Kita saling Mencela dan Mengolok-olok?Informasi semestinya disampaikan melalui jalur dan tempat yang tepatLuapan emosi dalam bentuk menghujat, menghina atau apapun sejenis itu adalah naluri alami dari manusia, yang berasal dari hawa nafsu yang tercela yang kita diperintahkan untuk menahannya. Padahal tidak semua apa yang kita rasakan atau ketahui harus diungkapkan, karena ini juga ada hubungannya dengan kestabilan sosial. Sebagaimana salah satu adab dalam berbicara yang disampaikan Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz hendaknya kita tidak membicarakan semua yang kita dengar. Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu di dalam haditsnya menuturkan: Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:“Cukuplah mnjadi pendusta seseorang yang menceritakan ulang semua apa yang telah ia dengar” (H.R. Muslim)Artinya, tidaklah semua informasi atau keluh kesah serta ketidaksepakatan kita dalam suatu hal harus disampaikan, terlebih lagi disampaikannya tidak dalam koridor adab yang baik. Ada informasi yang lebih baik disimpan, dan ada yang harus disampaikan melalui metode baik yang sesuai dengan kondisi. Karena dengan menahan emosi yang membuat kita menyampaikan pendapat tidak pada tempat dan jalurnya tersebut, sesungguhnya kita dapat terdidik menjadi orang yang lebih dewasa dalam menghadapi berbagai permasalahan yang hadir.Luapan emosi yang kini batasnya telah dipangkas oleh teknologi tersebut menjadikan kebanyakan dari kita sering lalai dan berpikir pendek. Karena menyampaikan informasinya juga dengan jalan yang begitu pendek dan sangat mudah. Sedikit emosi yang tersulut dapat langsung terbakar di dunia maya. Hal ini juga karena sesungguhnya kita cenderung langsung mempercayai informasi tunggal yang masuk, didukung dengan pemahaman yang dangkal, dan rasa malas untuk mengidentifikasi lebih dalam suatu informasi, jadilah hujatan yang berkobar di dunia maya.Media social = media akselerasi hujatan dan prasangka buruk. Mengapa?(part 2) Akselerator Prasangka BurukDi antara penyebab hujatan yang menjamur di dunia maya tersebut adalah prasangka buruk yang kini hampir selalu dikedepankan, yakni dengan adanya jalan pintas menyampaikan pendapat, sebagian dari proses kita berpikir dengan prasangka buruk juga terpangkas, karena sesungguhnya prasangka buruk itu berupa luapan yang butuh waktu untuk meredakannya. Sehingga waktu yang kita gunakan untuk menilai informasi menjadi sangat singkat, dan kemudian segera berhenti pada prasangka buruk saja. Jadilah justifikasi berdasarkan prasangka buruk semakin di depan.Prasangka buruk yang dipengaruhi waktu berpikir dan kedalaman ilmu pengetahuan kita, kini sangat terbantu dengan hadirnya media sosial. Tidak ada lagi waktu kita (tidak ada lagi kesabaran kita) untuk berpikir apakah perkataan maupun komentar kita ini benar atau salah, apakah baik atau buruk, apakah komentar kita ini akan membawa dampak positif atau negatif, apakah komentar kita ini bermanfaat, dan apakah komentar kita ini akan menyakiti hati orang lain atau tidak, dan sejenisnya. Semua pertanyaan tersebut tidak sempat kita jawab, bahkan kita tanyakan kepada diri kita sendiri, karena dorongan emosi (yang memangkas kesabaran kita) dan pendeknya lintasan untuk mengungkapkan isi otak dan hati kita.Baca juga:  Mengapa Ghibah Disamakan Dengan Memakan Bangkai Manusia?Dalam skala yang lebih besar, sesungguhnya lintasan informasi yang kian pendek oleh teknologi informasi ini tidak didukung dengan kematangan berpikir dan mental yang kuat oleh kelompok manusia yang menggunakan teknologi ini. Semestinya kemajuan teknologi informasi ini tidak disponsori tunggal oleh teknologi itu sendiri, namun juga diiringi dengan peningkatan kemampuan masyarakat dalam peradaban tersebut untuk berpikir lebih cepat dan mendalam pada saat yang bersamaan didukung dengan kekuatan mental serta pemahaman agama yang baik. Jika tidak, maka jadilah media informasi sebagaimana yang kita dapati sekarang, media informasi yang tidak diiringi oleh perkembangan mental dan kematangan berpikir, serta kemampuan untuk bersabar membendung luapan emosi yang dilandasi pemahaman agama yang kuat, yaitu luapan emosi yang kemudian seringkali tidak berdasar pemikiran matang serta kematangan mental dan dengan cepat menyebar ke seluruh dunia memberikan aroma-aroma negatif dalam kehidupan. Itulah yang menjadikan media sosial menjadi akselerator bagi prasangka buruk, bahkan tidak hanya prasangka buruk, namun perkataan, bahkan hingga tindakan buruk. Karena perkembangan media informasi hanya disponsori oleh teknologinya. Tidak berikut dengan perkembangan kehidupan sosial masyarakatnya, khususnya dalam hal agama yang menjadi koridor hidup kita yang mampu membendung semua hal tersebut. Islam Sebagai SolusiBanyak hal dalam agama yang semestinya kita kedepankan untuk menyambut perkembangan teknologi informasi tersebut untuk menghindari hal-hal buruk sebagaimana yang telah dibahas diatas, khususnya dalam hal etika berbicara. Islam mengajarkan banyak hal dalam menjaga adab dalam berbicara, dalam hal ini dapat diterapkan untuk bermedia sosial di antaranya: Hendaknya pembicaran selalu di dalam kebaikan. Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman yang artinya: لَا خَيْرَ فِي كَثِيرٍ مِنْ نَجْوَاهُمْ إِلَّا مَنْ أَمَرَ بِصَدَقَةٍ أَوْ مَعْرُوفٍ أَوْ إِصْلَاحٍ بَيْنَ النَّاسِ ۚ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَٰلِكَ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ فَسَوْفَ نُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا“Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisik-bisikan mereka, kecuali bisik-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah atau berbuat ma`ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia, Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keridhaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar.” (Qs. An-Nisa: 114).2. Hendaknya menghindari perdebatan dan saling membantah, sekalipun kita berada di pihak yang benar dan menjauhi perkataan dusta sekalipun bercanda. Karena banyak di antara isi kolom komentar di dunia maya adalah berisi perdebatan dan saling bantah-membantah.Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:“Aku adalah penjamin sebuah istana di taman surga bagi siapa saja yang menghindari bertikaian (perdebatan) sekalipun ia benar; dan (penjamin) istana di tengah-tengah surga bagi siapa saja yang meninggalkan dusta sekalipun bercanda”.(HR. Abu Daud dan dinilai hasan oleh Al-Albani).Baca juga:  Waspadai Ghibah Terselubung!3. Hendaknya kita menghindari perkataan jorok (keji). Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Seorang mu’min itu bukanlah pencela atau pengutuk atau keji pembicaraannya”.(HR. Al-Bukhari di dalam Al Adab Al Mufrad, dan dishahihkan oleh Al-Albani).4. Hendaknya menghindari perbuatan menggunjing (ghibah) dan mengadu domba. Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman yang artinya:وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا ۚ“Dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain”. (Qs. Al-Hujurat: 12).5. Hendaknya kita menghindari perkataan kasar, keras dan ucapan yang menyakitkan perasaan dan tidak mencari-cari kesalahan pembicaraan orang lain dan kekeliruannya, karena hal tersebut dapat mengundang kebencian, permusuhan dan pertentangan.6. Menghindari sikap mengejek, memperolok-olok dan memandang rendah orang yang berbicara. Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman:يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ ۖ وَلَا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ ۖ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ ۚ وَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olokan kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olokan), dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olokan) wanita-wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olokan). (Qs. Al-Hujurat: 11).Demikianlah sesungguhnya jika masyarakat kita masa ini menyadari betul bahwa agama adalah pedoman hidup kita, tentulah kesiapan masyarakat dalam menyambut perkembangan teknologi informasi akan jauh lebih baik.Baca juga: Sikap Orang Beriman Saat Saudaranya DighibahiHarapan kita semuaSeiring dengan berjalannya waktu -karena manusia adalah tipe makhluk yang mampu belajar- mereka akan perlahan merasakan kejenuhan berada dalam kondisi saling menghujat dan merespon negatif satu dengan yang lainnya. Perlahan mereka akan memahami ketimpangan yang terjadi. Sehingga sesungguhnya kita sedang dalam masa pencerdasan kehidupan sosial masyarakat. Kita berharap akan datang masanya ketika manusia sadar akan perbuatan-perbuatannya di dunia maya yang nampaknya maya, namun kemudian akan disadari bahwa perbuatan tersebut juga termasuk dalam kelalaian mereka dalam mengelola emosi dan dalam menjalankan perintah agama yang tentunya berdampak buruk untuk kehidupan dunia dan akhirat.Semua itu tidak mungkin terjadi dengan sendirinya, melainkan harus diiringi usaha untuk memperkuat nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari agar kesiapan masyarakat dalam menyambut teknologi di masa mendatang, tidak hanya teknologi informasi, namun teknologi apapun, semakin baik dan menjadikan seluruh teknologi tersebut bermanfaat dunia dan akhirat.Semoga kita secara perlahan mampu menjadi manusia yang semakin beriman dan bertakwa yang bertanggung jawab dan mampu menggunakan teknologi dengan kemajuan berpikir serta beragama dan tidak kemudian mudah untuk ikut berkobar dalam kobaran emosi bermuatan negatif dari netizen dalam menilai suatu perkara tanpa pemikiran yang matang dan mendalam yang kemudian menjadikan prasangka buruk kita semakin terakselerasi oleh media sosial.Wallahu’alamBaca juga: Kebangkrutan Besar Akibat Buruknya Lisan di Sosial Media Bijak Menyikapi Kajian di YouTube dan Kajian LIVE di Media Sosial ReferensiBaz, S. A. (n.d.). Al-Qismu Al-Ilmi. Dar Al-Wathan. Penulis: Yarabisa Yanuar (Alumni Ma’had Al-‘Ilmi Yogyakarta)Dimuroja’ah oleh: Ustadz Aris MunandarPenulis: Yarabisa YanuarArtikel: Muslim.Or.Id🔍 Kewajiban Menuntut Ilmu Agama, Arti Kata Arsy, Cara Mencari Hidayah, Niat Shalat Qadha Subuh, Doa Agar Mudah Melahirkan Menurut Islam

Media Social dalam Timbangan

Ketika teknologi hadir pada peradaban yang belum siap, tentunya akan berdampak buruk pada kehidupan peradaban tersebut. Dapat kita saksikan bersama bagaimana era keterbukaan informasi yang disponsori tunggal oleh teknologi informasi masa kini mengakibatkan hadirnya banyak apresiasi dan hujatan yang tidak jarang hadir dalam proporsi yang tidak berimbang. Sekarang, kita coba sedikit fokus terhadap fenomena hujatan di masa kini.Hujatan yang juga merupakan celaan atau bahkan hinaan kini dapat dengan sangat mudah kita temui berseliweran di dunia maya. Betapa tidak, setiap informasi hampir pasti bisa dihujat. Karena sekat keterbatasan media komunikasi yang menjadi sarana penting tersampaikannya celaan atau hujatan tersebut telah dipangkas habis oleh teknologi informasi masa kini. Seorang yang berada di pelosok negeri kini untuk menghujat pimpinan negara, kekurangan-kekurangan seorang da’i atau ustadz, atau pihak lainnya tidak perlu lagi menghabiskan banyak waktu dan biaya untuk menyampaikan hujatannya tersebut, cukup melalui media sosial.Hujatan yang dulunya mungkin hanya terpendam dalam hati karena keterbatasan media informasi, kini dapat disalurkan dengan mudah. Dahulu, orang yang tidak dewasa dalam berpikir yang emosinya mudah meluap, sulit untuk kita dapati hujatannya, karena keterbatasan media komunikasi. Dan dahulu orang yang berilmu tentunya lebih memiliki akses berpendapat, sehingga pendapat yang disampaikan adalah oleh orang-orang yang benar-benar kompeten. Tidak seperti sekarang, semua orang layaknya professor dan ahli. Kita akan sangat sulit membedakan mana orang yang berpendapat dengan ilmu, mana yang tidak. Kebanyakan manusia tidak mengetahuiMemang pada asalnya manusia tidak memiliki pengetahuan. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:وَاللَّهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْئًا…“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun…” (QS. AN Nahl: 78)Kemudian dengan teknologi informasi saat ini banyak di antara manusia yang mampu berpendapat tentang suatu perkara dunia, namun dalam perkara akhirat kebanyakan manusia tidak memiliki ilmu, baik dalam ilmu itu sendiri maupun dalam amal yang dalam hal ini adalah implementasi ilmu tentang berbicara dan menyampaikan pendapat dengan adab yang baik. Namun yang menjadi parah, banyak di antara masyarakat yang berdebat tentang agama melalui media sosial, padahal kebanyakan manusia tidak mengetahui ilmu agama dengan baik. Sebagaimana firman Allah subahanu wa ta’ala:وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ…“… Akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Ar Ruum [30]: 6)Kemudian Allah ta’ala berfirman tentang mereka -yaitu kebanyakan manusia-يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الْآخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ“Mereka mengetahui sisi lahiriyah kehidupan dunia, akan tetapi terhadap perkara akhirat mereka lalai.” (QS. Ar Ruum [30]: 7)Ibnu Katsir memaparkan, “Artinya kebanyakan manusia tidak memiliki ilmu kecuali dalam urusan dunia, tata cara menggapainya, tetek bengeknya serta perkara apa saja yang ada di dalamnya. Mereka adalah orang-orang yang cerdas dan pandai tentang bagaimana cara meraup dunia serta celah-celah untuk bisa mendapatkannya. Namun mereka lalai terhadap hal-hal yang akan mendatangkan manfaat untuk mereka di negeri akhirat. Seolah-olah akal mereka lenyap. Seperti halnya orang yang tidak memiliki akal dan pikiran.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 6/168)Baca juga:  Saudaraku, Sampai Kapan Kita saling Mencela dan Mengolok-olok?Informasi semestinya disampaikan melalui jalur dan tempat yang tepatLuapan emosi dalam bentuk menghujat, menghina atau apapun sejenis itu adalah naluri alami dari manusia, yang berasal dari hawa nafsu yang tercela yang kita diperintahkan untuk menahannya. Padahal tidak semua apa yang kita rasakan atau ketahui harus diungkapkan, karena ini juga ada hubungannya dengan kestabilan sosial. Sebagaimana salah satu adab dalam berbicara yang disampaikan Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz hendaknya kita tidak membicarakan semua yang kita dengar. Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu di dalam haditsnya menuturkan: Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:“Cukuplah mnjadi pendusta seseorang yang menceritakan ulang semua apa yang telah ia dengar” (H.R. Muslim)Artinya, tidaklah semua informasi atau keluh kesah serta ketidaksepakatan kita dalam suatu hal harus disampaikan, terlebih lagi disampaikannya tidak dalam koridor adab yang baik. Ada informasi yang lebih baik disimpan, dan ada yang harus disampaikan melalui metode baik yang sesuai dengan kondisi. Karena dengan menahan emosi yang membuat kita menyampaikan pendapat tidak pada tempat dan jalurnya tersebut, sesungguhnya kita dapat terdidik menjadi orang yang lebih dewasa dalam menghadapi berbagai permasalahan yang hadir.Luapan emosi yang kini batasnya telah dipangkas oleh teknologi tersebut menjadikan kebanyakan dari kita sering lalai dan berpikir pendek. Karena menyampaikan informasinya juga dengan jalan yang begitu pendek dan sangat mudah. Sedikit emosi yang tersulut dapat langsung terbakar di dunia maya. Hal ini juga karena sesungguhnya kita cenderung langsung mempercayai informasi tunggal yang masuk, didukung dengan pemahaman yang dangkal, dan rasa malas untuk mengidentifikasi lebih dalam suatu informasi, jadilah hujatan yang berkobar di dunia maya.Media social = media akselerasi hujatan dan prasangka buruk. Mengapa?(part 2) Akselerator Prasangka BurukDi antara penyebab hujatan yang menjamur di dunia maya tersebut adalah prasangka buruk yang kini hampir selalu dikedepankan, yakni dengan adanya jalan pintas menyampaikan pendapat, sebagian dari proses kita berpikir dengan prasangka buruk juga terpangkas, karena sesungguhnya prasangka buruk itu berupa luapan yang butuh waktu untuk meredakannya. Sehingga waktu yang kita gunakan untuk menilai informasi menjadi sangat singkat, dan kemudian segera berhenti pada prasangka buruk saja. Jadilah justifikasi berdasarkan prasangka buruk semakin di depan.Prasangka buruk yang dipengaruhi waktu berpikir dan kedalaman ilmu pengetahuan kita, kini sangat terbantu dengan hadirnya media sosial. Tidak ada lagi waktu kita (tidak ada lagi kesabaran kita) untuk berpikir apakah perkataan maupun komentar kita ini benar atau salah, apakah baik atau buruk, apakah komentar kita ini akan membawa dampak positif atau negatif, apakah komentar kita ini bermanfaat, dan apakah komentar kita ini akan menyakiti hati orang lain atau tidak, dan sejenisnya. Semua pertanyaan tersebut tidak sempat kita jawab, bahkan kita tanyakan kepada diri kita sendiri, karena dorongan emosi (yang memangkas kesabaran kita) dan pendeknya lintasan untuk mengungkapkan isi otak dan hati kita.Baca juga:  Mengapa Ghibah Disamakan Dengan Memakan Bangkai Manusia?Dalam skala yang lebih besar, sesungguhnya lintasan informasi yang kian pendek oleh teknologi informasi ini tidak didukung dengan kematangan berpikir dan mental yang kuat oleh kelompok manusia yang menggunakan teknologi ini. Semestinya kemajuan teknologi informasi ini tidak disponsori tunggal oleh teknologi itu sendiri, namun juga diiringi dengan peningkatan kemampuan masyarakat dalam peradaban tersebut untuk berpikir lebih cepat dan mendalam pada saat yang bersamaan didukung dengan kekuatan mental serta pemahaman agama yang baik. Jika tidak, maka jadilah media informasi sebagaimana yang kita dapati sekarang, media informasi yang tidak diiringi oleh perkembangan mental dan kematangan berpikir, serta kemampuan untuk bersabar membendung luapan emosi yang dilandasi pemahaman agama yang kuat, yaitu luapan emosi yang kemudian seringkali tidak berdasar pemikiran matang serta kematangan mental dan dengan cepat menyebar ke seluruh dunia memberikan aroma-aroma negatif dalam kehidupan. Itulah yang menjadikan media sosial menjadi akselerator bagi prasangka buruk, bahkan tidak hanya prasangka buruk, namun perkataan, bahkan hingga tindakan buruk. Karena perkembangan media informasi hanya disponsori oleh teknologinya. Tidak berikut dengan perkembangan kehidupan sosial masyarakatnya, khususnya dalam hal agama yang menjadi koridor hidup kita yang mampu membendung semua hal tersebut. Islam Sebagai SolusiBanyak hal dalam agama yang semestinya kita kedepankan untuk menyambut perkembangan teknologi informasi tersebut untuk menghindari hal-hal buruk sebagaimana yang telah dibahas diatas, khususnya dalam hal etika berbicara. Islam mengajarkan banyak hal dalam menjaga adab dalam berbicara, dalam hal ini dapat diterapkan untuk bermedia sosial di antaranya: Hendaknya pembicaran selalu di dalam kebaikan. Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman yang artinya: لَا خَيْرَ فِي كَثِيرٍ مِنْ نَجْوَاهُمْ إِلَّا مَنْ أَمَرَ بِصَدَقَةٍ أَوْ مَعْرُوفٍ أَوْ إِصْلَاحٍ بَيْنَ النَّاسِ ۚ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَٰلِكَ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ فَسَوْفَ نُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا“Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisik-bisikan mereka, kecuali bisik-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah atau berbuat ma`ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia, Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keridhaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar.” (Qs. An-Nisa: 114).2. Hendaknya menghindari perdebatan dan saling membantah, sekalipun kita berada di pihak yang benar dan menjauhi perkataan dusta sekalipun bercanda. Karena banyak di antara isi kolom komentar di dunia maya adalah berisi perdebatan dan saling bantah-membantah.Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:“Aku adalah penjamin sebuah istana di taman surga bagi siapa saja yang menghindari bertikaian (perdebatan) sekalipun ia benar; dan (penjamin) istana di tengah-tengah surga bagi siapa saja yang meninggalkan dusta sekalipun bercanda”.(HR. Abu Daud dan dinilai hasan oleh Al-Albani).Baca juga:  Waspadai Ghibah Terselubung!3. Hendaknya kita menghindari perkataan jorok (keji). Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Seorang mu’min itu bukanlah pencela atau pengutuk atau keji pembicaraannya”.(HR. Al-Bukhari di dalam Al Adab Al Mufrad, dan dishahihkan oleh Al-Albani).4. Hendaknya menghindari perbuatan menggunjing (ghibah) dan mengadu domba. Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman yang artinya:وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا ۚ“Dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain”. (Qs. Al-Hujurat: 12).5. Hendaknya kita menghindari perkataan kasar, keras dan ucapan yang menyakitkan perasaan dan tidak mencari-cari kesalahan pembicaraan orang lain dan kekeliruannya, karena hal tersebut dapat mengundang kebencian, permusuhan dan pertentangan.6. Menghindari sikap mengejek, memperolok-olok dan memandang rendah orang yang berbicara. Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman:يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ ۖ وَلَا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ ۖ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ ۚ وَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olokan kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olokan), dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olokan) wanita-wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olokan). (Qs. Al-Hujurat: 11).Demikianlah sesungguhnya jika masyarakat kita masa ini menyadari betul bahwa agama adalah pedoman hidup kita, tentulah kesiapan masyarakat dalam menyambut perkembangan teknologi informasi akan jauh lebih baik.Baca juga: Sikap Orang Beriman Saat Saudaranya DighibahiHarapan kita semuaSeiring dengan berjalannya waktu -karena manusia adalah tipe makhluk yang mampu belajar- mereka akan perlahan merasakan kejenuhan berada dalam kondisi saling menghujat dan merespon negatif satu dengan yang lainnya. Perlahan mereka akan memahami ketimpangan yang terjadi. Sehingga sesungguhnya kita sedang dalam masa pencerdasan kehidupan sosial masyarakat. Kita berharap akan datang masanya ketika manusia sadar akan perbuatan-perbuatannya di dunia maya yang nampaknya maya, namun kemudian akan disadari bahwa perbuatan tersebut juga termasuk dalam kelalaian mereka dalam mengelola emosi dan dalam menjalankan perintah agama yang tentunya berdampak buruk untuk kehidupan dunia dan akhirat.Semua itu tidak mungkin terjadi dengan sendirinya, melainkan harus diiringi usaha untuk memperkuat nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari agar kesiapan masyarakat dalam menyambut teknologi di masa mendatang, tidak hanya teknologi informasi, namun teknologi apapun, semakin baik dan menjadikan seluruh teknologi tersebut bermanfaat dunia dan akhirat.Semoga kita secara perlahan mampu menjadi manusia yang semakin beriman dan bertakwa yang bertanggung jawab dan mampu menggunakan teknologi dengan kemajuan berpikir serta beragama dan tidak kemudian mudah untuk ikut berkobar dalam kobaran emosi bermuatan negatif dari netizen dalam menilai suatu perkara tanpa pemikiran yang matang dan mendalam yang kemudian menjadikan prasangka buruk kita semakin terakselerasi oleh media sosial.Wallahu’alamBaca juga: Kebangkrutan Besar Akibat Buruknya Lisan di Sosial Media Bijak Menyikapi Kajian di YouTube dan Kajian LIVE di Media Sosial ReferensiBaz, S. A. (n.d.). Al-Qismu Al-Ilmi. Dar Al-Wathan. Penulis: Yarabisa Yanuar (Alumni Ma’had Al-‘Ilmi Yogyakarta)Dimuroja’ah oleh: Ustadz Aris MunandarPenulis: Yarabisa YanuarArtikel: Muslim.Or.Id🔍 Kewajiban Menuntut Ilmu Agama, Arti Kata Arsy, Cara Mencari Hidayah, Niat Shalat Qadha Subuh, Doa Agar Mudah Melahirkan Menurut Islam
Ketika teknologi hadir pada peradaban yang belum siap, tentunya akan berdampak buruk pada kehidupan peradaban tersebut. Dapat kita saksikan bersama bagaimana era keterbukaan informasi yang disponsori tunggal oleh teknologi informasi masa kini mengakibatkan hadirnya banyak apresiasi dan hujatan yang tidak jarang hadir dalam proporsi yang tidak berimbang. Sekarang, kita coba sedikit fokus terhadap fenomena hujatan di masa kini.Hujatan yang juga merupakan celaan atau bahkan hinaan kini dapat dengan sangat mudah kita temui berseliweran di dunia maya. Betapa tidak, setiap informasi hampir pasti bisa dihujat. Karena sekat keterbatasan media komunikasi yang menjadi sarana penting tersampaikannya celaan atau hujatan tersebut telah dipangkas habis oleh teknologi informasi masa kini. Seorang yang berada di pelosok negeri kini untuk menghujat pimpinan negara, kekurangan-kekurangan seorang da’i atau ustadz, atau pihak lainnya tidak perlu lagi menghabiskan banyak waktu dan biaya untuk menyampaikan hujatannya tersebut, cukup melalui media sosial.Hujatan yang dulunya mungkin hanya terpendam dalam hati karena keterbatasan media informasi, kini dapat disalurkan dengan mudah. Dahulu, orang yang tidak dewasa dalam berpikir yang emosinya mudah meluap, sulit untuk kita dapati hujatannya, karena keterbatasan media komunikasi. Dan dahulu orang yang berilmu tentunya lebih memiliki akses berpendapat, sehingga pendapat yang disampaikan adalah oleh orang-orang yang benar-benar kompeten. Tidak seperti sekarang, semua orang layaknya professor dan ahli. Kita akan sangat sulit membedakan mana orang yang berpendapat dengan ilmu, mana yang tidak. Kebanyakan manusia tidak mengetahuiMemang pada asalnya manusia tidak memiliki pengetahuan. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:وَاللَّهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْئًا…“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun…” (QS. AN Nahl: 78)Kemudian dengan teknologi informasi saat ini banyak di antara manusia yang mampu berpendapat tentang suatu perkara dunia, namun dalam perkara akhirat kebanyakan manusia tidak memiliki ilmu, baik dalam ilmu itu sendiri maupun dalam amal yang dalam hal ini adalah implementasi ilmu tentang berbicara dan menyampaikan pendapat dengan adab yang baik. Namun yang menjadi parah, banyak di antara masyarakat yang berdebat tentang agama melalui media sosial, padahal kebanyakan manusia tidak mengetahui ilmu agama dengan baik. Sebagaimana firman Allah subahanu wa ta’ala:وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ…“… Akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Ar Ruum [30]: 6)Kemudian Allah ta’ala berfirman tentang mereka -yaitu kebanyakan manusia-يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الْآخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ“Mereka mengetahui sisi lahiriyah kehidupan dunia, akan tetapi terhadap perkara akhirat mereka lalai.” (QS. Ar Ruum [30]: 7)Ibnu Katsir memaparkan, “Artinya kebanyakan manusia tidak memiliki ilmu kecuali dalam urusan dunia, tata cara menggapainya, tetek bengeknya serta perkara apa saja yang ada di dalamnya. Mereka adalah orang-orang yang cerdas dan pandai tentang bagaimana cara meraup dunia serta celah-celah untuk bisa mendapatkannya. Namun mereka lalai terhadap hal-hal yang akan mendatangkan manfaat untuk mereka di negeri akhirat. Seolah-olah akal mereka lenyap. Seperti halnya orang yang tidak memiliki akal dan pikiran.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 6/168)Baca juga:  Saudaraku, Sampai Kapan Kita saling Mencela dan Mengolok-olok?Informasi semestinya disampaikan melalui jalur dan tempat yang tepatLuapan emosi dalam bentuk menghujat, menghina atau apapun sejenis itu adalah naluri alami dari manusia, yang berasal dari hawa nafsu yang tercela yang kita diperintahkan untuk menahannya. Padahal tidak semua apa yang kita rasakan atau ketahui harus diungkapkan, karena ini juga ada hubungannya dengan kestabilan sosial. Sebagaimana salah satu adab dalam berbicara yang disampaikan Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz hendaknya kita tidak membicarakan semua yang kita dengar. Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu di dalam haditsnya menuturkan: Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:“Cukuplah mnjadi pendusta seseorang yang menceritakan ulang semua apa yang telah ia dengar” (H.R. Muslim)Artinya, tidaklah semua informasi atau keluh kesah serta ketidaksepakatan kita dalam suatu hal harus disampaikan, terlebih lagi disampaikannya tidak dalam koridor adab yang baik. Ada informasi yang lebih baik disimpan, dan ada yang harus disampaikan melalui metode baik yang sesuai dengan kondisi. Karena dengan menahan emosi yang membuat kita menyampaikan pendapat tidak pada tempat dan jalurnya tersebut, sesungguhnya kita dapat terdidik menjadi orang yang lebih dewasa dalam menghadapi berbagai permasalahan yang hadir.Luapan emosi yang kini batasnya telah dipangkas oleh teknologi tersebut menjadikan kebanyakan dari kita sering lalai dan berpikir pendek. Karena menyampaikan informasinya juga dengan jalan yang begitu pendek dan sangat mudah. Sedikit emosi yang tersulut dapat langsung terbakar di dunia maya. Hal ini juga karena sesungguhnya kita cenderung langsung mempercayai informasi tunggal yang masuk, didukung dengan pemahaman yang dangkal, dan rasa malas untuk mengidentifikasi lebih dalam suatu informasi, jadilah hujatan yang berkobar di dunia maya.Media social = media akselerasi hujatan dan prasangka buruk. Mengapa?(part 2) Akselerator Prasangka BurukDi antara penyebab hujatan yang menjamur di dunia maya tersebut adalah prasangka buruk yang kini hampir selalu dikedepankan, yakni dengan adanya jalan pintas menyampaikan pendapat, sebagian dari proses kita berpikir dengan prasangka buruk juga terpangkas, karena sesungguhnya prasangka buruk itu berupa luapan yang butuh waktu untuk meredakannya. Sehingga waktu yang kita gunakan untuk menilai informasi menjadi sangat singkat, dan kemudian segera berhenti pada prasangka buruk saja. Jadilah justifikasi berdasarkan prasangka buruk semakin di depan.Prasangka buruk yang dipengaruhi waktu berpikir dan kedalaman ilmu pengetahuan kita, kini sangat terbantu dengan hadirnya media sosial. Tidak ada lagi waktu kita (tidak ada lagi kesabaran kita) untuk berpikir apakah perkataan maupun komentar kita ini benar atau salah, apakah baik atau buruk, apakah komentar kita ini akan membawa dampak positif atau negatif, apakah komentar kita ini bermanfaat, dan apakah komentar kita ini akan menyakiti hati orang lain atau tidak, dan sejenisnya. Semua pertanyaan tersebut tidak sempat kita jawab, bahkan kita tanyakan kepada diri kita sendiri, karena dorongan emosi (yang memangkas kesabaran kita) dan pendeknya lintasan untuk mengungkapkan isi otak dan hati kita.Baca juga:  Mengapa Ghibah Disamakan Dengan Memakan Bangkai Manusia?Dalam skala yang lebih besar, sesungguhnya lintasan informasi yang kian pendek oleh teknologi informasi ini tidak didukung dengan kematangan berpikir dan mental yang kuat oleh kelompok manusia yang menggunakan teknologi ini. Semestinya kemajuan teknologi informasi ini tidak disponsori tunggal oleh teknologi itu sendiri, namun juga diiringi dengan peningkatan kemampuan masyarakat dalam peradaban tersebut untuk berpikir lebih cepat dan mendalam pada saat yang bersamaan didukung dengan kekuatan mental serta pemahaman agama yang baik. Jika tidak, maka jadilah media informasi sebagaimana yang kita dapati sekarang, media informasi yang tidak diiringi oleh perkembangan mental dan kematangan berpikir, serta kemampuan untuk bersabar membendung luapan emosi yang dilandasi pemahaman agama yang kuat, yaitu luapan emosi yang kemudian seringkali tidak berdasar pemikiran matang serta kematangan mental dan dengan cepat menyebar ke seluruh dunia memberikan aroma-aroma negatif dalam kehidupan. Itulah yang menjadikan media sosial menjadi akselerator bagi prasangka buruk, bahkan tidak hanya prasangka buruk, namun perkataan, bahkan hingga tindakan buruk. Karena perkembangan media informasi hanya disponsori oleh teknologinya. Tidak berikut dengan perkembangan kehidupan sosial masyarakatnya, khususnya dalam hal agama yang menjadi koridor hidup kita yang mampu membendung semua hal tersebut. Islam Sebagai SolusiBanyak hal dalam agama yang semestinya kita kedepankan untuk menyambut perkembangan teknologi informasi tersebut untuk menghindari hal-hal buruk sebagaimana yang telah dibahas diatas, khususnya dalam hal etika berbicara. Islam mengajarkan banyak hal dalam menjaga adab dalam berbicara, dalam hal ini dapat diterapkan untuk bermedia sosial di antaranya: Hendaknya pembicaran selalu di dalam kebaikan. Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman yang artinya: لَا خَيْرَ فِي كَثِيرٍ مِنْ نَجْوَاهُمْ إِلَّا مَنْ أَمَرَ بِصَدَقَةٍ أَوْ مَعْرُوفٍ أَوْ إِصْلَاحٍ بَيْنَ النَّاسِ ۚ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَٰلِكَ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ فَسَوْفَ نُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا“Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisik-bisikan mereka, kecuali bisik-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah atau berbuat ma`ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia, Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keridhaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar.” (Qs. An-Nisa: 114).2. Hendaknya menghindari perdebatan dan saling membantah, sekalipun kita berada di pihak yang benar dan menjauhi perkataan dusta sekalipun bercanda. Karena banyak di antara isi kolom komentar di dunia maya adalah berisi perdebatan dan saling bantah-membantah.Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:“Aku adalah penjamin sebuah istana di taman surga bagi siapa saja yang menghindari bertikaian (perdebatan) sekalipun ia benar; dan (penjamin) istana di tengah-tengah surga bagi siapa saja yang meninggalkan dusta sekalipun bercanda”.(HR. Abu Daud dan dinilai hasan oleh Al-Albani).Baca juga:  Waspadai Ghibah Terselubung!3. Hendaknya kita menghindari perkataan jorok (keji). Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Seorang mu’min itu bukanlah pencela atau pengutuk atau keji pembicaraannya”.(HR. Al-Bukhari di dalam Al Adab Al Mufrad, dan dishahihkan oleh Al-Albani).4. Hendaknya menghindari perbuatan menggunjing (ghibah) dan mengadu domba. Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman yang artinya:وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا ۚ“Dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain”. (Qs. Al-Hujurat: 12).5. Hendaknya kita menghindari perkataan kasar, keras dan ucapan yang menyakitkan perasaan dan tidak mencari-cari kesalahan pembicaraan orang lain dan kekeliruannya, karena hal tersebut dapat mengundang kebencian, permusuhan dan pertentangan.6. Menghindari sikap mengejek, memperolok-olok dan memandang rendah orang yang berbicara. Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman:يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ ۖ وَلَا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ ۖ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ ۚ وَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olokan kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olokan), dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olokan) wanita-wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olokan). (Qs. Al-Hujurat: 11).Demikianlah sesungguhnya jika masyarakat kita masa ini menyadari betul bahwa agama adalah pedoman hidup kita, tentulah kesiapan masyarakat dalam menyambut perkembangan teknologi informasi akan jauh lebih baik.Baca juga: Sikap Orang Beriman Saat Saudaranya DighibahiHarapan kita semuaSeiring dengan berjalannya waktu -karena manusia adalah tipe makhluk yang mampu belajar- mereka akan perlahan merasakan kejenuhan berada dalam kondisi saling menghujat dan merespon negatif satu dengan yang lainnya. Perlahan mereka akan memahami ketimpangan yang terjadi. Sehingga sesungguhnya kita sedang dalam masa pencerdasan kehidupan sosial masyarakat. Kita berharap akan datang masanya ketika manusia sadar akan perbuatan-perbuatannya di dunia maya yang nampaknya maya, namun kemudian akan disadari bahwa perbuatan tersebut juga termasuk dalam kelalaian mereka dalam mengelola emosi dan dalam menjalankan perintah agama yang tentunya berdampak buruk untuk kehidupan dunia dan akhirat.Semua itu tidak mungkin terjadi dengan sendirinya, melainkan harus diiringi usaha untuk memperkuat nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari agar kesiapan masyarakat dalam menyambut teknologi di masa mendatang, tidak hanya teknologi informasi, namun teknologi apapun, semakin baik dan menjadikan seluruh teknologi tersebut bermanfaat dunia dan akhirat.Semoga kita secara perlahan mampu menjadi manusia yang semakin beriman dan bertakwa yang bertanggung jawab dan mampu menggunakan teknologi dengan kemajuan berpikir serta beragama dan tidak kemudian mudah untuk ikut berkobar dalam kobaran emosi bermuatan negatif dari netizen dalam menilai suatu perkara tanpa pemikiran yang matang dan mendalam yang kemudian menjadikan prasangka buruk kita semakin terakselerasi oleh media sosial.Wallahu’alamBaca juga: Kebangkrutan Besar Akibat Buruknya Lisan di Sosial Media Bijak Menyikapi Kajian di YouTube dan Kajian LIVE di Media Sosial ReferensiBaz, S. A. (n.d.). Al-Qismu Al-Ilmi. Dar Al-Wathan. Penulis: Yarabisa Yanuar (Alumni Ma’had Al-‘Ilmi Yogyakarta)Dimuroja’ah oleh: Ustadz Aris MunandarPenulis: Yarabisa YanuarArtikel: Muslim.Or.Id🔍 Kewajiban Menuntut Ilmu Agama, Arti Kata Arsy, Cara Mencari Hidayah, Niat Shalat Qadha Subuh, Doa Agar Mudah Melahirkan Menurut Islam


Ketika teknologi hadir pada peradaban yang belum siap, tentunya akan berdampak buruk pada kehidupan peradaban tersebut. Dapat kita saksikan bersama bagaimana era keterbukaan informasi yang disponsori tunggal oleh teknologi informasi masa kini mengakibatkan hadirnya banyak apresiasi dan hujatan yang tidak jarang hadir dalam proporsi yang tidak berimbang. Sekarang, kita coba sedikit fokus terhadap fenomena hujatan di masa kini.Hujatan yang juga merupakan celaan atau bahkan hinaan kini dapat dengan sangat mudah kita temui berseliweran di dunia maya. Betapa tidak, setiap informasi hampir pasti bisa dihujat. Karena sekat keterbatasan media komunikasi yang menjadi sarana penting tersampaikannya celaan atau hujatan tersebut telah dipangkas habis oleh teknologi informasi masa kini. Seorang yang berada di pelosok negeri kini untuk menghujat pimpinan negara, kekurangan-kekurangan seorang da’i atau ustadz, atau pihak lainnya tidak perlu lagi menghabiskan banyak waktu dan biaya untuk menyampaikan hujatannya tersebut, cukup melalui media sosial.Hujatan yang dulunya mungkin hanya terpendam dalam hati karena keterbatasan media informasi, kini dapat disalurkan dengan mudah. Dahulu, orang yang tidak dewasa dalam berpikir yang emosinya mudah meluap, sulit untuk kita dapati hujatannya, karena keterbatasan media komunikasi. Dan dahulu orang yang berilmu tentunya lebih memiliki akses berpendapat, sehingga pendapat yang disampaikan adalah oleh orang-orang yang benar-benar kompeten. Tidak seperti sekarang, semua orang layaknya professor dan ahli. Kita akan sangat sulit membedakan mana orang yang berpendapat dengan ilmu, mana yang tidak. Kebanyakan manusia tidak mengetahuiMemang pada asalnya manusia tidak memiliki pengetahuan. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:وَاللَّهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْئًا…“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun…” (QS. AN Nahl: 78)Kemudian dengan teknologi informasi saat ini banyak di antara manusia yang mampu berpendapat tentang suatu perkara dunia, namun dalam perkara akhirat kebanyakan manusia tidak memiliki ilmu, baik dalam ilmu itu sendiri maupun dalam amal yang dalam hal ini adalah implementasi ilmu tentang berbicara dan menyampaikan pendapat dengan adab yang baik. Namun yang menjadi parah, banyak di antara masyarakat yang berdebat tentang agama melalui media sosial, padahal kebanyakan manusia tidak mengetahui ilmu agama dengan baik. Sebagaimana firman Allah subahanu wa ta’ala:وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ…“… Akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Ar Ruum [30]: 6)Kemudian Allah ta’ala berfirman tentang mereka -yaitu kebanyakan manusia-يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الْآخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ“Mereka mengetahui sisi lahiriyah kehidupan dunia, akan tetapi terhadap perkara akhirat mereka lalai.” (QS. Ar Ruum [30]: 7)Ibnu Katsir memaparkan, “Artinya kebanyakan manusia tidak memiliki ilmu kecuali dalam urusan dunia, tata cara menggapainya, tetek bengeknya serta perkara apa saja yang ada di dalamnya. Mereka adalah orang-orang yang cerdas dan pandai tentang bagaimana cara meraup dunia serta celah-celah untuk bisa mendapatkannya. Namun mereka lalai terhadap hal-hal yang akan mendatangkan manfaat untuk mereka di negeri akhirat. Seolah-olah akal mereka lenyap. Seperti halnya orang yang tidak memiliki akal dan pikiran.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 6/168)Baca juga:  Saudaraku, Sampai Kapan Kita saling Mencela dan Mengolok-olok?Informasi semestinya disampaikan melalui jalur dan tempat yang tepatLuapan emosi dalam bentuk menghujat, menghina atau apapun sejenis itu adalah naluri alami dari manusia, yang berasal dari hawa nafsu yang tercela yang kita diperintahkan untuk menahannya. Padahal tidak semua apa yang kita rasakan atau ketahui harus diungkapkan, karena ini juga ada hubungannya dengan kestabilan sosial. Sebagaimana salah satu adab dalam berbicara yang disampaikan Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz hendaknya kita tidak membicarakan semua yang kita dengar. Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu di dalam haditsnya menuturkan: Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:“Cukuplah mnjadi pendusta seseorang yang menceritakan ulang semua apa yang telah ia dengar” (H.R. Muslim)Artinya, tidaklah semua informasi atau keluh kesah serta ketidaksepakatan kita dalam suatu hal harus disampaikan, terlebih lagi disampaikannya tidak dalam koridor adab yang baik. Ada informasi yang lebih baik disimpan, dan ada yang harus disampaikan melalui metode baik yang sesuai dengan kondisi. Karena dengan menahan emosi yang membuat kita menyampaikan pendapat tidak pada tempat dan jalurnya tersebut, sesungguhnya kita dapat terdidik menjadi orang yang lebih dewasa dalam menghadapi berbagai permasalahan yang hadir.Luapan emosi yang kini batasnya telah dipangkas oleh teknologi tersebut menjadikan kebanyakan dari kita sering lalai dan berpikir pendek. Karena menyampaikan informasinya juga dengan jalan yang begitu pendek dan sangat mudah. Sedikit emosi yang tersulut dapat langsung terbakar di dunia maya. Hal ini juga karena sesungguhnya kita cenderung langsung mempercayai informasi tunggal yang masuk, didukung dengan pemahaman yang dangkal, dan rasa malas untuk mengidentifikasi lebih dalam suatu informasi, jadilah hujatan yang berkobar di dunia maya.Media social = media akselerasi hujatan dan prasangka buruk. Mengapa?(part 2) Akselerator Prasangka BurukDi antara penyebab hujatan yang menjamur di dunia maya tersebut adalah prasangka buruk yang kini hampir selalu dikedepankan, yakni dengan adanya jalan pintas menyampaikan pendapat, sebagian dari proses kita berpikir dengan prasangka buruk juga terpangkas, karena sesungguhnya prasangka buruk itu berupa luapan yang butuh waktu untuk meredakannya. Sehingga waktu yang kita gunakan untuk menilai informasi menjadi sangat singkat, dan kemudian segera berhenti pada prasangka buruk saja. Jadilah justifikasi berdasarkan prasangka buruk semakin di depan.Prasangka buruk yang dipengaruhi waktu berpikir dan kedalaman ilmu pengetahuan kita, kini sangat terbantu dengan hadirnya media sosial. Tidak ada lagi waktu kita (tidak ada lagi kesabaran kita) untuk berpikir apakah perkataan maupun komentar kita ini benar atau salah, apakah baik atau buruk, apakah komentar kita ini akan membawa dampak positif atau negatif, apakah komentar kita ini bermanfaat, dan apakah komentar kita ini akan menyakiti hati orang lain atau tidak, dan sejenisnya. Semua pertanyaan tersebut tidak sempat kita jawab, bahkan kita tanyakan kepada diri kita sendiri, karena dorongan emosi (yang memangkas kesabaran kita) dan pendeknya lintasan untuk mengungkapkan isi otak dan hati kita.Baca juga:  Mengapa Ghibah Disamakan Dengan Memakan Bangkai Manusia?Dalam skala yang lebih besar, sesungguhnya lintasan informasi yang kian pendek oleh teknologi informasi ini tidak didukung dengan kematangan berpikir dan mental yang kuat oleh kelompok manusia yang menggunakan teknologi ini. Semestinya kemajuan teknologi informasi ini tidak disponsori tunggal oleh teknologi itu sendiri, namun juga diiringi dengan peningkatan kemampuan masyarakat dalam peradaban tersebut untuk berpikir lebih cepat dan mendalam pada saat yang bersamaan didukung dengan kekuatan mental serta pemahaman agama yang baik. Jika tidak, maka jadilah media informasi sebagaimana yang kita dapati sekarang, media informasi yang tidak diiringi oleh perkembangan mental dan kematangan berpikir, serta kemampuan untuk bersabar membendung luapan emosi yang dilandasi pemahaman agama yang kuat, yaitu luapan emosi yang kemudian seringkali tidak berdasar pemikiran matang serta kematangan mental dan dengan cepat menyebar ke seluruh dunia memberikan aroma-aroma negatif dalam kehidupan. Itulah yang menjadikan media sosial menjadi akselerator bagi prasangka buruk, bahkan tidak hanya prasangka buruk, namun perkataan, bahkan hingga tindakan buruk. Karena perkembangan media informasi hanya disponsori oleh teknologinya. Tidak berikut dengan perkembangan kehidupan sosial masyarakatnya, khususnya dalam hal agama yang menjadi koridor hidup kita yang mampu membendung semua hal tersebut. Islam Sebagai SolusiBanyak hal dalam agama yang semestinya kita kedepankan untuk menyambut perkembangan teknologi informasi tersebut untuk menghindari hal-hal buruk sebagaimana yang telah dibahas diatas, khususnya dalam hal etika berbicara. Islam mengajarkan banyak hal dalam menjaga adab dalam berbicara, dalam hal ini dapat diterapkan untuk bermedia sosial di antaranya: Hendaknya pembicaran selalu di dalam kebaikan. Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman yang artinya: لَا خَيْرَ فِي كَثِيرٍ مِنْ نَجْوَاهُمْ إِلَّا مَنْ أَمَرَ بِصَدَقَةٍ أَوْ مَعْرُوفٍ أَوْ إِصْلَاحٍ بَيْنَ النَّاسِ ۚ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَٰلِكَ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ فَسَوْفَ نُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا“Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisik-bisikan mereka, kecuali bisik-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah atau berbuat ma`ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia, Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keridhaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar.” (Qs. An-Nisa: 114).2. Hendaknya menghindari perdebatan dan saling membantah, sekalipun kita berada di pihak yang benar dan menjauhi perkataan dusta sekalipun bercanda. Karena banyak di antara isi kolom komentar di dunia maya adalah berisi perdebatan dan saling bantah-membantah.Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:“Aku adalah penjamin sebuah istana di taman surga bagi siapa saja yang menghindari bertikaian (perdebatan) sekalipun ia benar; dan (penjamin) istana di tengah-tengah surga bagi siapa saja yang meninggalkan dusta sekalipun bercanda”.(HR. Abu Daud dan dinilai hasan oleh Al-Albani).Baca juga:  Waspadai Ghibah Terselubung!3. Hendaknya kita menghindari perkataan jorok (keji). Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Seorang mu’min itu bukanlah pencela atau pengutuk atau keji pembicaraannya”.(HR. Al-Bukhari di dalam Al Adab Al Mufrad, dan dishahihkan oleh Al-Albani).4. Hendaknya menghindari perbuatan menggunjing (ghibah) dan mengadu domba. Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman yang artinya:وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا ۚ“Dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain”. (Qs. Al-Hujurat: 12).5. Hendaknya kita menghindari perkataan kasar, keras dan ucapan yang menyakitkan perasaan dan tidak mencari-cari kesalahan pembicaraan orang lain dan kekeliruannya, karena hal tersebut dapat mengundang kebencian, permusuhan dan pertentangan.6. Menghindari sikap mengejek, memperolok-olok dan memandang rendah orang yang berbicara. Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman:يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ ۖ وَلَا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ ۖ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ ۚ وَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olokan kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olokan), dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olokan) wanita-wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olokan). (Qs. Al-Hujurat: 11).Demikianlah sesungguhnya jika masyarakat kita masa ini menyadari betul bahwa agama adalah pedoman hidup kita, tentulah kesiapan masyarakat dalam menyambut perkembangan teknologi informasi akan jauh lebih baik.Baca juga: Sikap Orang Beriman Saat Saudaranya DighibahiHarapan kita semuaSeiring dengan berjalannya waktu -karena manusia adalah tipe makhluk yang mampu belajar- mereka akan perlahan merasakan kejenuhan berada dalam kondisi saling menghujat dan merespon negatif satu dengan yang lainnya. Perlahan mereka akan memahami ketimpangan yang terjadi. Sehingga sesungguhnya kita sedang dalam masa pencerdasan kehidupan sosial masyarakat. Kita berharap akan datang masanya ketika manusia sadar akan perbuatan-perbuatannya di dunia maya yang nampaknya maya, namun kemudian akan disadari bahwa perbuatan tersebut juga termasuk dalam kelalaian mereka dalam mengelola emosi dan dalam menjalankan perintah agama yang tentunya berdampak buruk untuk kehidupan dunia dan akhirat.Semua itu tidak mungkin terjadi dengan sendirinya, melainkan harus diiringi usaha untuk memperkuat nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari agar kesiapan masyarakat dalam menyambut teknologi di masa mendatang, tidak hanya teknologi informasi, namun teknologi apapun, semakin baik dan menjadikan seluruh teknologi tersebut bermanfaat dunia dan akhirat.Semoga kita secara perlahan mampu menjadi manusia yang semakin beriman dan bertakwa yang bertanggung jawab dan mampu menggunakan teknologi dengan kemajuan berpikir serta beragama dan tidak kemudian mudah untuk ikut berkobar dalam kobaran emosi bermuatan negatif dari netizen dalam menilai suatu perkara tanpa pemikiran yang matang dan mendalam yang kemudian menjadikan prasangka buruk kita semakin terakselerasi oleh media sosial.Wallahu’alamBaca juga: Kebangkrutan Besar Akibat Buruknya Lisan di Sosial Media Bijak Menyikapi Kajian di YouTube dan Kajian LIVE di Media Sosial ReferensiBaz, S. A. (n.d.). Al-Qismu Al-Ilmi. Dar Al-Wathan. Penulis: Yarabisa Yanuar (Alumni Ma’had Al-‘Ilmi Yogyakarta)Dimuroja’ah oleh: Ustadz Aris MunandarPenulis: Yarabisa YanuarArtikel: Muslim.Or.Id🔍 Kewajiban Menuntut Ilmu Agama, Arti Kata Arsy, Cara Mencari Hidayah, Niat Shalat Qadha Subuh, Doa Agar Mudah Melahirkan Menurut Islam

Apakah Engkau Ingin Menjadi Pembuka Pintu-Pintu Kebaikan? (Bag. 9)

Baca pembahasan sebelumnya Apakah Engkau Ingin Menjadi Pembuka Pintu-Pintu Kebaikan? (Bag. 8)Ke sepuluh: Senantiasa mengingat akhirat dan kondisi manusia ketika berdiri di hadapan Allah Ta’alaTermasuk perkara penting berikutnya agar kita bisa menjadi pembuka pintu kebaikan adalah senantiasa mengingat akhirat, mengingat berdirinya kita kelak di hadapan Allah Ta’ala untuk mendapatkan balasan apa yang telah kita perbuat selama di dunia. Kita senantiasa mengingat bahwa surga yang Allah Ta’ala janjikan memiliki delapan pintu, sedangkan neraka yang kita berlindung darinya memiliki tujuh pintu.Allah Ta’ala berfirman di akhir surat Az-Zumar,وَسِيقَ الَّذِينَ كَفَرُوا إِلَى جَهَنَّمَ زُمَرًا حَتَّى إِذَا جَاءُوهَا فُتِحَتْ أَبْوَابُهَا وَقَالَ لَهُمْ خَزَنَتُهَا أَلَمْ يَأْتِكُمْ رُسُلٌ مِنْكُمْ يَتْلُونَ عَلَيْكُمْ آيَاتِ رَبِّكُمْ وَيُنْذِرُونَكُمْ لِقَاءَ يَوْمِكُمْ هَذَا قَالُوا بَلَى وَلَكِنْ حَقَّتْ كَلِمَةُ الْعَذَابِ عَلَى الْكَافِرِينَ“Orang-orang kafir dibawa ke neraka Jahannam berombong-rombongan. Sehingga apabila mereka sampai ke neraka itu dibukakanlah pintu-pintunya dan berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya, ‘Apakah belum pernah datang kepadamu rasul-rasul di antaramu yang membacakan kepadamu ayat-ayat Tuhanmu dan memperingatkan kepadamu akan pertemuan dengan hari ini?’ Mereka menjawab, ‘Benar (telah datang)’. Tetapi telah pasti berlaku ketetapan azab terhadap orang-orang yang kafir.قِيلَ ادْخُلُوا أَبْوَابَ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا فَبِئْسَ مَثْوَى الْمُتَكَبِّرِينَDikatakan (kepada mereka), ‘Masukilah pintu-pintu neraka Jahannam itu, sedang kamu kekal di dalamnya.’ Maka neraka Jahannam itulah seburuk-buruk tempat bagi orang-orang yang menyombongkan diri.وَسِيقَ الَّذِينَ اتَّقَوْا رَبَّهُمْ إِلَى الْجَنَّةِ زُمَرًا حَتَّى إِذَا جَاءُوهَا وَفُتِحَتْ أَبْوَابُهَا وَقَالَ لَهُمْ خَزَنَتُهَا سَلَامٌ عَلَيْكُمْ طِبْتُمْ فَادْخُلُوهَا خَالِدِينَDan orang-orang yang bertakwa kepada Tuhan dibawa ke dalam surga berombong-rombongan (pula). sehingga apabila mereka sampai ke surga itu sedang pintu-pintunya telah terbuka dan berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya, ‘Kesejahteraan (dilimpahkan) atasmu. Berbahagialah kamu! Maka masukilah surga ini, sedang kamu kekal di dalamnya.’وَقَالُوا الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي صَدَقَنَا وَعْدَهُ وَأَوْرَثَنَا الْأَرْضَ نَتَبَوَّأُ مِنَ الْجَنَّةِ حَيْثُ نَشَاءُ فَنِعْمَ أَجْرُ الْعَامِلِينَDan mereka mengucapkan, ‘Segala puji bagi Allah yang telah memenuhi janji-Nya kepada kami dan telah (memberi) kepada kami tempat ini sedang kami (diperkenankan) menempati tempat dalam surga di mana saja yang kami kehendaki. Maka surga Itulah sebaik-baik balasan bagi orang-orang yang beramal.’” (QS. Az-Zumar [39]: 71-74)Surga memiliki pintu dan pintu surga memiliki kunci-kunci pembukanya. Demikian pula neraka. Neraka memiliki pintu dan pintu neraka memiliki kunci-kunci pembukanya. Akan tetapi, kunci pembuka surga dan neraka adalah amal yang dilakukan oleh manusia ketika berada di dunia. Karena negeri akhirat adalah negeri perhitungan dan pembalasan, bukan negeri untuk beramal.Baca juga: Lima Kiat untuk Istiqamah dalam Beramal Pintu surga adalah tauhid, shalat, puasa, taat kepada Allah Ta’ala, dan melaksanakan perintah-Nya. Sedangkan pintu neraka adalah berbuat syirik kepada Allah Ta’ala, kufur kepada-Nya, serta berbuat dosa dan maksiat. Orang-orang yang berbuat kemusyrikan dan kekafiran, belum bertaubat ketika meninggal dunia, maka akan dibukakan pintu neraka untuknya dan mereka pun kekal di dalamnya. Adapun perbuatan dosa dan maksiat yang levelnya di bawah kemusyrikan dan kekafiran, akan dibukakan pintu neraka untuknya untuk diadzab sesuai kadar dosanya, namun tidak kekal di dalamnya.Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa beliau pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ أَنْفَقَ زَوْجَيْنِ فِى سَبِيلِ اللَّهِ نُودِىَ مِنْ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ يَا عَبْدَ اللَّهِ ، هَذَا خَيْرٌ . فَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الصَّلاَةِ دُعِىَ مِنْ بَابِ الصَّلاَةِ ، وَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الْجِهَادِ دُعِىَ مِنْ بَابِ الْجِهَادِ ، وَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الصِّيَامِ دُعِىَ مِنْ بَابِ الرَّيَّانِ ، وَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الصَّدَقَةِ دُعِىَ مِنْ بَابِ الصَّدَقَةِ“Barangsiapa yang berinfak dengan sepasang hartanya di jalan Allah, maka ia akan dipanggil dari pintu-pintu surga, ‘Wahai hamba Allah, inilah kebaikan.’ Orang yang termasuk golongan ahli shalat, ia akan dipanggil dari pintu shalat. Orang yang termasuk golongan ahli jihad, akan dipanggil dari pintu jihad. Orang yang termasuk golongan ahli puasa, akan dipanggil dari pintu Ar-Rayyan. Dan orang yang termasuk golongan ahli sedekah, akan dipanggil dari pintu sedekah.”Ketika mendengar hadits ini, Abu Bakar pun bertanya,فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ – رضى الله عنه – بِأَبِى أَنْتَ وَأُمِّى يَا رَسُولَ اللَّهِ ، مَا عَلَى مَنْ دُعِىَ مِنْ تِلْكَ الأَبْوَابِ مِنْ ضَرُورَةٍ ، فَهَلْ يُدْعَى أَحَدٌ مِنْ تِلْكَ الأَبْوَابِ كُلِّهَا“Ayah dan ibuku sebagai penebus Anda, wahai Rasulullah. Kesulitan apa lagi yang perlu dikhawatirkan oleh orang yang dipanggil dari pintu-pintu itu. Mungkinkah ada orang yang dipanggil dari semua pintu tersebut?”Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menjawab,نَعَمْ . وَأَرْجُو أَنْ تَكُونَ مِنْهُمْ“Iya, ada. Dan aku berharap kamu termasuk golongan mereka.” (HR. Bukhari no. 1897, 3666 dan Muslim no. 1027)Oleh karena itu, penjagaan manusia terhadap amal-amal tersebut ketika berada di dunia, akan menjadi kunci-kunci pembuka pintu surga.Demikian pula ketika manusia mengajak orang lain menuju kebaikan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ الدَّالَّ عَلَى الخَيْرِ كَفَاعِلِهِ“Sesungguhnya orang yang menunjukkan kebaikan, itu seperti pelakunya.” (HR. Tirmidzi no. 2670 dan dinilai shahih oleh Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 1660)Ini adalah sebuah keutamaan yang sangat besar dari Allah Ta’ala. Ketika kita menunjukkan orang lain kepada kebaikan dan orang lain itu melakukannya, maka akan dicatat pahala yang sama untuk kita sebagaimana pahala yang didapatkan oleh pelakunya. Dengan demikian, diangkatlah derajat kita di surga yang penuh dengan kenikmatan.Ke sebelas: Senantiasa bergaul dan bersahabat dengan orang-orang shalihDari sahabat Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّمَا مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ، وَالْجَلِيسِ السَّوْءِ، كَحَامِلِ الْمِسْكِ، وَنَافِخِ الْكِيرِ، فَحَامِلُ الْمِسْكِ: إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ، وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً، وَنَافِخُ الْكِيرِ: إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَةً“Perumpamaan teman yang baik dan teman yang buruk itu ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi bisa jadi akan memberimu minyak wangi atau Engkau bisa membeli minyak wangi darinya. Dan kalaupun tidak, Engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) akan mengenai (membakar) pakaianmu. Dan kalaupun tidak, Engkau tetap mendapatkan bau asap yang tidak sedap.” (HR. Bukhari 5534 dan Muslim 2628)Jadi siapa saja yang ingin menjadi pembuka pintu-pintu kebaikan, hendaklah dia bersabar untuk senantiasa dan menyertai orang-orang shalih, yaitu orang-orang yang hari-harinya dipenuhi dengan ketaatan terhadap Allah Ta’ala. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ وَلَا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا“Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya. Dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini. Dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah kami lalaikan dari mengingati kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.” (QS. Al-Kahfi [18]: 28)Dan sebaliknya, waspadalah dari berteman dengan orang-orang yang buruk, karena di hari akhir nanti, semuanya akan menjadi sebab penyesalan, dan tidaklah bermanfaat penyesalan ketika itu. Allah Ta’ala berfirman,وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلَى يَدَيْهِ يَقُولُ يَا لَيْتَنِي اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُولِ سَبِيلًا؛ يَا وَيْلَتَى لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلًا؛ لَقَدْ أَضَلَّنِي عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَاءَنِي وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِلْإِنْسَانِ خَذُولًا“Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zalim menggigit dua tangannya, seraya berkata, ‘Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul.’ Kecelakaan besarlah bagiku, kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si fulan itu teman akrabku. Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al-Qur’an ketika Al-Qur’an itu telah datang kepadaku. Dan adalah setan itu tidak mau menolong manusia.” (QS. Al-Furqan [25]: 27-29)[Bersambung]Baca Juga: Membicarakan Keburukan Penguasa, Apakah termasuk Ghibah? Lebih Baik Tidak Minta Didoakan ketika Memberi Sedekah ***@Sint-Jobskade 718 NL, 14 Syawwal 1439/ 28 Juni 2018Oleh seorang hamba yang sangat butuh ampunan Rabb-nya,Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.Or.Id Referensi:Disarikan dari kitab Kaifa takuunu miftaahan lil khair karya Syaikh ‘Abdurrazaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr, hal. 45-50.🔍 Kewajiban Menuntut Ilmu Agama, Arti Kata Arsy, Cara Mencari Hidayah, Niat Shalat Qadha Subuh, Doa Agar Mudah Melahirkan Menurut Islam

Apakah Engkau Ingin Menjadi Pembuka Pintu-Pintu Kebaikan? (Bag. 9)

Baca pembahasan sebelumnya Apakah Engkau Ingin Menjadi Pembuka Pintu-Pintu Kebaikan? (Bag. 8)Ke sepuluh: Senantiasa mengingat akhirat dan kondisi manusia ketika berdiri di hadapan Allah Ta’alaTermasuk perkara penting berikutnya agar kita bisa menjadi pembuka pintu kebaikan adalah senantiasa mengingat akhirat, mengingat berdirinya kita kelak di hadapan Allah Ta’ala untuk mendapatkan balasan apa yang telah kita perbuat selama di dunia. Kita senantiasa mengingat bahwa surga yang Allah Ta’ala janjikan memiliki delapan pintu, sedangkan neraka yang kita berlindung darinya memiliki tujuh pintu.Allah Ta’ala berfirman di akhir surat Az-Zumar,وَسِيقَ الَّذِينَ كَفَرُوا إِلَى جَهَنَّمَ زُمَرًا حَتَّى إِذَا جَاءُوهَا فُتِحَتْ أَبْوَابُهَا وَقَالَ لَهُمْ خَزَنَتُهَا أَلَمْ يَأْتِكُمْ رُسُلٌ مِنْكُمْ يَتْلُونَ عَلَيْكُمْ آيَاتِ رَبِّكُمْ وَيُنْذِرُونَكُمْ لِقَاءَ يَوْمِكُمْ هَذَا قَالُوا بَلَى وَلَكِنْ حَقَّتْ كَلِمَةُ الْعَذَابِ عَلَى الْكَافِرِينَ“Orang-orang kafir dibawa ke neraka Jahannam berombong-rombongan. Sehingga apabila mereka sampai ke neraka itu dibukakanlah pintu-pintunya dan berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya, ‘Apakah belum pernah datang kepadamu rasul-rasul di antaramu yang membacakan kepadamu ayat-ayat Tuhanmu dan memperingatkan kepadamu akan pertemuan dengan hari ini?’ Mereka menjawab, ‘Benar (telah datang)’. Tetapi telah pasti berlaku ketetapan azab terhadap orang-orang yang kafir.قِيلَ ادْخُلُوا أَبْوَابَ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا فَبِئْسَ مَثْوَى الْمُتَكَبِّرِينَDikatakan (kepada mereka), ‘Masukilah pintu-pintu neraka Jahannam itu, sedang kamu kekal di dalamnya.’ Maka neraka Jahannam itulah seburuk-buruk tempat bagi orang-orang yang menyombongkan diri.وَسِيقَ الَّذِينَ اتَّقَوْا رَبَّهُمْ إِلَى الْجَنَّةِ زُمَرًا حَتَّى إِذَا جَاءُوهَا وَفُتِحَتْ أَبْوَابُهَا وَقَالَ لَهُمْ خَزَنَتُهَا سَلَامٌ عَلَيْكُمْ طِبْتُمْ فَادْخُلُوهَا خَالِدِينَDan orang-orang yang bertakwa kepada Tuhan dibawa ke dalam surga berombong-rombongan (pula). sehingga apabila mereka sampai ke surga itu sedang pintu-pintunya telah terbuka dan berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya, ‘Kesejahteraan (dilimpahkan) atasmu. Berbahagialah kamu! Maka masukilah surga ini, sedang kamu kekal di dalamnya.’وَقَالُوا الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي صَدَقَنَا وَعْدَهُ وَأَوْرَثَنَا الْأَرْضَ نَتَبَوَّأُ مِنَ الْجَنَّةِ حَيْثُ نَشَاءُ فَنِعْمَ أَجْرُ الْعَامِلِينَDan mereka mengucapkan, ‘Segala puji bagi Allah yang telah memenuhi janji-Nya kepada kami dan telah (memberi) kepada kami tempat ini sedang kami (diperkenankan) menempati tempat dalam surga di mana saja yang kami kehendaki. Maka surga Itulah sebaik-baik balasan bagi orang-orang yang beramal.’” (QS. Az-Zumar [39]: 71-74)Surga memiliki pintu dan pintu surga memiliki kunci-kunci pembukanya. Demikian pula neraka. Neraka memiliki pintu dan pintu neraka memiliki kunci-kunci pembukanya. Akan tetapi, kunci pembuka surga dan neraka adalah amal yang dilakukan oleh manusia ketika berada di dunia. Karena negeri akhirat adalah negeri perhitungan dan pembalasan, bukan negeri untuk beramal.Baca juga: Lima Kiat untuk Istiqamah dalam Beramal Pintu surga adalah tauhid, shalat, puasa, taat kepada Allah Ta’ala, dan melaksanakan perintah-Nya. Sedangkan pintu neraka adalah berbuat syirik kepada Allah Ta’ala, kufur kepada-Nya, serta berbuat dosa dan maksiat. Orang-orang yang berbuat kemusyrikan dan kekafiran, belum bertaubat ketika meninggal dunia, maka akan dibukakan pintu neraka untuknya dan mereka pun kekal di dalamnya. Adapun perbuatan dosa dan maksiat yang levelnya di bawah kemusyrikan dan kekafiran, akan dibukakan pintu neraka untuknya untuk diadzab sesuai kadar dosanya, namun tidak kekal di dalamnya.Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa beliau pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ أَنْفَقَ زَوْجَيْنِ فِى سَبِيلِ اللَّهِ نُودِىَ مِنْ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ يَا عَبْدَ اللَّهِ ، هَذَا خَيْرٌ . فَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الصَّلاَةِ دُعِىَ مِنْ بَابِ الصَّلاَةِ ، وَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الْجِهَادِ دُعِىَ مِنْ بَابِ الْجِهَادِ ، وَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الصِّيَامِ دُعِىَ مِنْ بَابِ الرَّيَّانِ ، وَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الصَّدَقَةِ دُعِىَ مِنْ بَابِ الصَّدَقَةِ“Barangsiapa yang berinfak dengan sepasang hartanya di jalan Allah, maka ia akan dipanggil dari pintu-pintu surga, ‘Wahai hamba Allah, inilah kebaikan.’ Orang yang termasuk golongan ahli shalat, ia akan dipanggil dari pintu shalat. Orang yang termasuk golongan ahli jihad, akan dipanggil dari pintu jihad. Orang yang termasuk golongan ahli puasa, akan dipanggil dari pintu Ar-Rayyan. Dan orang yang termasuk golongan ahli sedekah, akan dipanggil dari pintu sedekah.”Ketika mendengar hadits ini, Abu Bakar pun bertanya,فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ – رضى الله عنه – بِأَبِى أَنْتَ وَأُمِّى يَا رَسُولَ اللَّهِ ، مَا عَلَى مَنْ دُعِىَ مِنْ تِلْكَ الأَبْوَابِ مِنْ ضَرُورَةٍ ، فَهَلْ يُدْعَى أَحَدٌ مِنْ تِلْكَ الأَبْوَابِ كُلِّهَا“Ayah dan ibuku sebagai penebus Anda, wahai Rasulullah. Kesulitan apa lagi yang perlu dikhawatirkan oleh orang yang dipanggil dari pintu-pintu itu. Mungkinkah ada orang yang dipanggil dari semua pintu tersebut?”Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menjawab,نَعَمْ . وَأَرْجُو أَنْ تَكُونَ مِنْهُمْ“Iya, ada. Dan aku berharap kamu termasuk golongan mereka.” (HR. Bukhari no. 1897, 3666 dan Muslim no. 1027)Oleh karena itu, penjagaan manusia terhadap amal-amal tersebut ketika berada di dunia, akan menjadi kunci-kunci pembuka pintu surga.Demikian pula ketika manusia mengajak orang lain menuju kebaikan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ الدَّالَّ عَلَى الخَيْرِ كَفَاعِلِهِ“Sesungguhnya orang yang menunjukkan kebaikan, itu seperti pelakunya.” (HR. Tirmidzi no. 2670 dan dinilai shahih oleh Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 1660)Ini adalah sebuah keutamaan yang sangat besar dari Allah Ta’ala. Ketika kita menunjukkan orang lain kepada kebaikan dan orang lain itu melakukannya, maka akan dicatat pahala yang sama untuk kita sebagaimana pahala yang didapatkan oleh pelakunya. Dengan demikian, diangkatlah derajat kita di surga yang penuh dengan kenikmatan.Ke sebelas: Senantiasa bergaul dan bersahabat dengan orang-orang shalihDari sahabat Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّمَا مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ، وَالْجَلِيسِ السَّوْءِ، كَحَامِلِ الْمِسْكِ، وَنَافِخِ الْكِيرِ، فَحَامِلُ الْمِسْكِ: إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ، وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً، وَنَافِخُ الْكِيرِ: إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَةً“Perumpamaan teman yang baik dan teman yang buruk itu ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi bisa jadi akan memberimu minyak wangi atau Engkau bisa membeli minyak wangi darinya. Dan kalaupun tidak, Engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) akan mengenai (membakar) pakaianmu. Dan kalaupun tidak, Engkau tetap mendapatkan bau asap yang tidak sedap.” (HR. Bukhari 5534 dan Muslim 2628)Jadi siapa saja yang ingin menjadi pembuka pintu-pintu kebaikan, hendaklah dia bersabar untuk senantiasa dan menyertai orang-orang shalih, yaitu orang-orang yang hari-harinya dipenuhi dengan ketaatan terhadap Allah Ta’ala. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ وَلَا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا“Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya. Dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini. Dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah kami lalaikan dari mengingati kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.” (QS. Al-Kahfi [18]: 28)Dan sebaliknya, waspadalah dari berteman dengan orang-orang yang buruk, karena di hari akhir nanti, semuanya akan menjadi sebab penyesalan, dan tidaklah bermanfaat penyesalan ketika itu. Allah Ta’ala berfirman,وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلَى يَدَيْهِ يَقُولُ يَا لَيْتَنِي اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُولِ سَبِيلًا؛ يَا وَيْلَتَى لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلًا؛ لَقَدْ أَضَلَّنِي عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَاءَنِي وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِلْإِنْسَانِ خَذُولًا“Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zalim menggigit dua tangannya, seraya berkata, ‘Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul.’ Kecelakaan besarlah bagiku, kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si fulan itu teman akrabku. Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al-Qur’an ketika Al-Qur’an itu telah datang kepadaku. Dan adalah setan itu tidak mau menolong manusia.” (QS. Al-Furqan [25]: 27-29)[Bersambung]Baca Juga: Membicarakan Keburukan Penguasa, Apakah termasuk Ghibah? Lebih Baik Tidak Minta Didoakan ketika Memberi Sedekah ***@Sint-Jobskade 718 NL, 14 Syawwal 1439/ 28 Juni 2018Oleh seorang hamba yang sangat butuh ampunan Rabb-nya,Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.Or.Id Referensi:Disarikan dari kitab Kaifa takuunu miftaahan lil khair karya Syaikh ‘Abdurrazaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr, hal. 45-50.🔍 Kewajiban Menuntut Ilmu Agama, Arti Kata Arsy, Cara Mencari Hidayah, Niat Shalat Qadha Subuh, Doa Agar Mudah Melahirkan Menurut Islam
Baca pembahasan sebelumnya Apakah Engkau Ingin Menjadi Pembuka Pintu-Pintu Kebaikan? (Bag. 8)Ke sepuluh: Senantiasa mengingat akhirat dan kondisi manusia ketika berdiri di hadapan Allah Ta’alaTermasuk perkara penting berikutnya agar kita bisa menjadi pembuka pintu kebaikan adalah senantiasa mengingat akhirat, mengingat berdirinya kita kelak di hadapan Allah Ta’ala untuk mendapatkan balasan apa yang telah kita perbuat selama di dunia. Kita senantiasa mengingat bahwa surga yang Allah Ta’ala janjikan memiliki delapan pintu, sedangkan neraka yang kita berlindung darinya memiliki tujuh pintu.Allah Ta’ala berfirman di akhir surat Az-Zumar,وَسِيقَ الَّذِينَ كَفَرُوا إِلَى جَهَنَّمَ زُمَرًا حَتَّى إِذَا جَاءُوهَا فُتِحَتْ أَبْوَابُهَا وَقَالَ لَهُمْ خَزَنَتُهَا أَلَمْ يَأْتِكُمْ رُسُلٌ مِنْكُمْ يَتْلُونَ عَلَيْكُمْ آيَاتِ رَبِّكُمْ وَيُنْذِرُونَكُمْ لِقَاءَ يَوْمِكُمْ هَذَا قَالُوا بَلَى وَلَكِنْ حَقَّتْ كَلِمَةُ الْعَذَابِ عَلَى الْكَافِرِينَ“Orang-orang kafir dibawa ke neraka Jahannam berombong-rombongan. Sehingga apabila mereka sampai ke neraka itu dibukakanlah pintu-pintunya dan berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya, ‘Apakah belum pernah datang kepadamu rasul-rasul di antaramu yang membacakan kepadamu ayat-ayat Tuhanmu dan memperingatkan kepadamu akan pertemuan dengan hari ini?’ Mereka menjawab, ‘Benar (telah datang)’. Tetapi telah pasti berlaku ketetapan azab terhadap orang-orang yang kafir.قِيلَ ادْخُلُوا أَبْوَابَ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا فَبِئْسَ مَثْوَى الْمُتَكَبِّرِينَDikatakan (kepada mereka), ‘Masukilah pintu-pintu neraka Jahannam itu, sedang kamu kekal di dalamnya.’ Maka neraka Jahannam itulah seburuk-buruk tempat bagi orang-orang yang menyombongkan diri.وَسِيقَ الَّذِينَ اتَّقَوْا رَبَّهُمْ إِلَى الْجَنَّةِ زُمَرًا حَتَّى إِذَا جَاءُوهَا وَفُتِحَتْ أَبْوَابُهَا وَقَالَ لَهُمْ خَزَنَتُهَا سَلَامٌ عَلَيْكُمْ طِبْتُمْ فَادْخُلُوهَا خَالِدِينَDan orang-orang yang bertakwa kepada Tuhan dibawa ke dalam surga berombong-rombongan (pula). sehingga apabila mereka sampai ke surga itu sedang pintu-pintunya telah terbuka dan berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya, ‘Kesejahteraan (dilimpahkan) atasmu. Berbahagialah kamu! Maka masukilah surga ini, sedang kamu kekal di dalamnya.’وَقَالُوا الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي صَدَقَنَا وَعْدَهُ وَأَوْرَثَنَا الْأَرْضَ نَتَبَوَّأُ مِنَ الْجَنَّةِ حَيْثُ نَشَاءُ فَنِعْمَ أَجْرُ الْعَامِلِينَDan mereka mengucapkan, ‘Segala puji bagi Allah yang telah memenuhi janji-Nya kepada kami dan telah (memberi) kepada kami tempat ini sedang kami (diperkenankan) menempati tempat dalam surga di mana saja yang kami kehendaki. Maka surga Itulah sebaik-baik balasan bagi orang-orang yang beramal.’” (QS. Az-Zumar [39]: 71-74)Surga memiliki pintu dan pintu surga memiliki kunci-kunci pembukanya. Demikian pula neraka. Neraka memiliki pintu dan pintu neraka memiliki kunci-kunci pembukanya. Akan tetapi, kunci pembuka surga dan neraka adalah amal yang dilakukan oleh manusia ketika berada di dunia. Karena negeri akhirat adalah negeri perhitungan dan pembalasan, bukan negeri untuk beramal.Baca juga: Lima Kiat untuk Istiqamah dalam Beramal Pintu surga adalah tauhid, shalat, puasa, taat kepada Allah Ta’ala, dan melaksanakan perintah-Nya. Sedangkan pintu neraka adalah berbuat syirik kepada Allah Ta’ala, kufur kepada-Nya, serta berbuat dosa dan maksiat. Orang-orang yang berbuat kemusyrikan dan kekafiran, belum bertaubat ketika meninggal dunia, maka akan dibukakan pintu neraka untuknya dan mereka pun kekal di dalamnya. Adapun perbuatan dosa dan maksiat yang levelnya di bawah kemusyrikan dan kekafiran, akan dibukakan pintu neraka untuknya untuk diadzab sesuai kadar dosanya, namun tidak kekal di dalamnya.Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa beliau pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ أَنْفَقَ زَوْجَيْنِ فِى سَبِيلِ اللَّهِ نُودِىَ مِنْ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ يَا عَبْدَ اللَّهِ ، هَذَا خَيْرٌ . فَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الصَّلاَةِ دُعِىَ مِنْ بَابِ الصَّلاَةِ ، وَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الْجِهَادِ دُعِىَ مِنْ بَابِ الْجِهَادِ ، وَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الصِّيَامِ دُعِىَ مِنْ بَابِ الرَّيَّانِ ، وَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الصَّدَقَةِ دُعِىَ مِنْ بَابِ الصَّدَقَةِ“Barangsiapa yang berinfak dengan sepasang hartanya di jalan Allah, maka ia akan dipanggil dari pintu-pintu surga, ‘Wahai hamba Allah, inilah kebaikan.’ Orang yang termasuk golongan ahli shalat, ia akan dipanggil dari pintu shalat. Orang yang termasuk golongan ahli jihad, akan dipanggil dari pintu jihad. Orang yang termasuk golongan ahli puasa, akan dipanggil dari pintu Ar-Rayyan. Dan orang yang termasuk golongan ahli sedekah, akan dipanggil dari pintu sedekah.”Ketika mendengar hadits ini, Abu Bakar pun bertanya,فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ – رضى الله عنه – بِأَبِى أَنْتَ وَأُمِّى يَا رَسُولَ اللَّهِ ، مَا عَلَى مَنْ دُعِىَ مِنْ تِلْكَ الأَبْوَابِ مِنْ ضَرُورَةٍ ، فَهَلْ يُدْعَى أَحَدٌ مِنْ تِلْكَ الأَبْوَابِ كُلِّهَا“Ayah dan ibuku sebagai penebus Anda, wahai Rasulullah. Kesulitan apa lagi yang perlu dikhawatirkan oleh orang yang dipanggil dari pintu-pintu itu. Mungkinkah ada orang yang dipanggil dari semua pintu tersebut?”Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menjawab,نَعَمْ . وَأَرْجُو أَنْ تَكُونَ مِنْهُمْ“Iya, ada. Dan aku berharap kamu termasuk golongan mereka.” (HR. Bukhari no. 1897, 3666 dan Muslim no. 1027)Oleh karena itu, penjagaan manusia terhadap amal-amal tersebut ketika berada di dunia, akan menjadi kunci-kunci pembuka pintu surga.Demikian pula ketika manusia mengajak orang lain menuju kebaikan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ الدَّالَّ عَلَى الخَيْرِ كَفَاعِلِهِ“Sesungguhnya orang yang menunjukkan kebaikan, itu seperti pelakunya.” (HR. Tirmidzi no. 2670 dan dinilai shahih oleh Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 1660)Ini adalah sebuah keutamaan yang sangat besar dari Allah Ta’ala. Ketika kita menunjukkan orang lain kepada kebaikan dan orang lain itu melakukannya, maka akan dicatat pahala yang sama untuk kita sebagaimana pahala yang didapatkan oleh pelakunya. Dengan demikian, diangkatlah derajat kita di surga yang penuh dengan kenikmatan.Ke sebelas: Senantiasa bergaul dan bersahabat dengan orang-orang shalihDari sahabat Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّمَا مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ، وَالْجَلِيسِ السَّوْءِ، كَحَامِلِ الْمِسْكِ، وَنَافِخِ الْكِيرِ، فَحَامِلُ الْمِسْكِ: إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ، وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً، وَنَافِخُ الْكِيرِ: إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَةً“Perumpamaan teman yang baik dan teman yang buruk itu ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi bisa jadi akan memberimu minyak wangi atau Engkau bisa membeli minyak wangi darinya. Dan kalaupun tidak, Engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) akan mengenai (membakar) pakaianmu. Dan kalaupun tidak, Engkau tetap mendapatkan bau asap yang tidak sedap.” (HR. Bukhari 5534 dan Muslim 2628)Jadi siapa saja yang ingin menjadi pembuka pintu-pintu kebaikan, hendaklah dia bersabar untuk senantiasa dan menyertai orang-orang shalih, yaitu orang-orang yang hari-harinya dipenuhi dengan ketaatan terhadap Allah Ta’ala. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ وَلَا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا“Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya. Dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini. Dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah kami lalaikan dari mengingati kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.” (QS. Al-Kahfi [18]: 28)Dan sebaliknya, waspadalah dari berteman dengan orang-orang yang buruk, karena di hari akhir nanti, semuanya akan menjadi sebab penyesalan, dan tidaklah bermanfaat penyesalan ketika itu. Allah Ta’ala berfirman,وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلَى يَدَيْهِ يَقُولُ يَا لَيْتَنِي اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُولِ سَبِيلًا؛ يَا وَيْلَتَى لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلًا؛ لَقَدْ أَضَلَّنِي عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَاءَنِي وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِلْإِنْسَانِ خَذُولًا“Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zalim menggigit dua tangannya, seraya berkata, ‘Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul.’ Kecelakaan besarlah bagiku, kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si fulan itu teman akrabku. Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al-Qur’an ketika Al-Qur’an itu telah datang kepadaku. Dan adalah setan itu tidak mau menolong manusia.” (QS. Al-Furqan [25]: 27-29)[Bersambung]Baca Juga: Membicarakan Keburukan Penguasa, Apakah termasuk Ghibah? Lebih Baik Tidak Minta Didoakan ketika Memberi Sedekah ***@Sint-Jobskade 718 NL, 14 Syawwal 1439/ 28 Juni 2018Oleh seorang hamba yang sangat butuh ampunan Rabb-nya,Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.Or.Id Referensi:Disarikan dari kitab Kaifa takuunu miftaahan lil khair karya Syaikh ‘Abdurrazaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr, hal. 45-50.🔍 Kewajiban Menuntut Ilmu Agama, Arti Kata Arsy, Cara Mencari Hidayah, Niat Shalat Qadha Subuh, Doa Agar Mudah Melahirkan Menurut Islam


Baca pembahasan sebelumnya Apakah Engkau Ingin Menjadi Pembuka Pintu-Pintu Kebaikan? (Bag. 8)Ke sepuluh: Senantiasa mengingat akhirat dan kondisi manusia ketika berdiri di hadapan Allah Ta’alaTermasuk perkara penting berikutnya agar kita bisa menjadi pembuka pintu kebaikan adalah senantiasa mengingat akhirat, mengingat berdirinya kita kelak di hadapan Allah Ta’ala untuk mendapatkan balasan apa yang telah kita perbuat selama di dunia. Kita senantiasa mengingat bahwa surga yang Allah Ta’ala janjikan memiliki delapan pintu, sedangkan neraka yang kita berlindung darinya memiliki tujuh pintu.Allah Ta’ala berfirman di akhir surat Az-Zumar,وَسِيقَ الَّذِينَ كَفَرُوا إِلَى جَهَنَّمَ زُمَرًا حَتَّى إِذَا جَاءُوهَا فُتِحَتْ أَبْوَابُهَا وَقَالَ لَهُمْ خَزَنَتُهَا أَلَمْ يَأْتِكُمْ رُسُلٌ مِنْكُمْ يَتْلُونَ عَلَيْكُمْ آيَاتِ رَبِّكُمْ وَيُنْذِرُونَكُمْ لِقَاءَ يَوْمِكُمْ هَذَا قَالُوا بَلَى وَلَكِنْ حَقَّتْ كَلِمَةُ الْعَذَابِ عَلَى الْكَافِرِينَ“Orang-orang kafir dibawa ke neraka Jahannam berombong-rombongan. Sehingga apabila mereka sampai ke neraka itu dibukakanlah pintu-pintunya dan berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya, ‘Apakah belum pernah datang kepadamu rasul-rasul di antaramu yang membacakan kepadamu ayat-ayat Tuhanmu dan memperingatkan kepadamu akan pertemuan dengan hari ini?’ Mereka menjawab, ‘Benar (telah datang)’. Tetapi telah pasti berlaku ketetapan azab terhadap orang-orang yang kafir.قِيلَ ادْخُلُوا أَبْوَابَ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا فَبِئْسَ مَثْوَى الْمُتَكَبِّرِينَDikatakan (kepada mereka), ‘Masukilah pintu-pintu neraka Jahannam itu, sedang kamu kekal di dalamnya.’ Maka neraka Jahannam itulah seburuk-buruk tempat bagi orang-orang yang menyombongkan diri.وَسِيقَ الَّذِينَ اتَّقَوْا رَبَّهُمْ إِلَى الْجَنَّةِ زُمَرًا حَتَّى إِذَا جَاءُوهَا وَفُتِحَتْ أَبْوَابُهَا وَقَالَ لَهُمْ خَزَنَتُهَا سَلَامٌ عَلَيْكُمْ طِبْتُمْ فَادْخُلُوهَا خَالِدِينَDan orang-orang yang bertakwa kepada Tuhan dibawa ke dalam surga berombong-rombongan (pula). sehingga apabila mereka sampai ke surga itu sedang pintu-pintunya telah terbuka dan berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya, ‘Kesejahteraan (dilimpahkan) atasmu. Berbahagialah kamu! Maka masukilah surga ini, sedang kamu kekal di dalamnya.’وَقَالُوا الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي صَدَقَنَا وَعْدَهُ وَأَوْرَثَنَا الْأَرْضَ نَتَبَوَّأُ مِنَ الْجَنَّةِ حَيْثُ نَشَاءُ فَنِعْمَ أَجْرُ الْعَامِلِينَDan mereka mengucapkan, ‘Segala puji bagi Allah yang telah memenuhi janji-Nya kepada kami dan telah (memberi) kepada kami tempat ini sedang kami (diperkenankan) menempati tempat dalam surga di mana saja yang kami kehendaki. Maka surga Itulah sebaik-baik balasan bagi orang-orang yang beramal.’” (QS. Az-Zumar [39]: 71-74)Surga memiliki pintu dan pintu surga memiliki kunci-kunci pembukanya. Demikian pula neraka. Neraka memiliki pintu dan pintu neraka memiliki kunci-kunci pembukanya. Akan tetapi, kunci pembuka surga dan neraka adalah amal yang dilakukan oleh manusia ketika berada di dunia. Karena negeri akhirat adalah negeri perhitungan dan pembalasan, bukan negeri untuk beramal.Baca juga: Lima Kiat untuk Istiqamah dalam Beramal Pintu surga adalah tauhid, shalat, puasa, taat kepada Allah Ta’ala, dan melaksanakan perintah-Nya. Sedangkan pintu neraka adalah berbuat syirik kepada Allah Ta’ala, kufur kepada-Nya, serta berbuat dosa dan maksiat. Orang-orang yang berbuat kemusyrikan dan kekafiran, belum bertaubat ketika meninggal dunia, maka akan dibukakan pintu neraka untuknya dan mereka pun kekal di dalamnya. Adapun perbuatan dosa dan maksiat yang levelnya di bawah kemusyrikan dan kekafiran, akan dibukakan pintu neraka untuknya untuk diadzab sesuai kadar dosanya, namun tidak kekal di dalamnya.Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa beliau pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ أَنْفَقَ زَوْجَيْنِ فِى سَبِيلِ اللَّهِ نُودِىَ مِنْ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ يَا عَبْدَ اللَّهِ ، هَذَا خَيْرٌ . فَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الصَّلاَةِ دُعِىَ مِنْ بَابِ الصَّلاَةِ ، وَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الْجِهَادِ دُعِىَ مِنْ بَابِ الْجِهَادِ ، وَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الصِّيَامِ دُعِىَ مِنْ بَابِ الرَّيَّانِ ، وَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الصَّدَقَةِ دُعِىَ مِنْ بَابِ الصَّدَقَةِ“Barangsiapa yang berinfak dengan sepasang hartanya di jalan Allah, maka ia akan dipanggil dari pintu-pintu surga, ‘Wahai hamba Allah, inilah kebaikan.’ Orang yang termasuk golongan ahli shalat, ia akan dipanggil dari pintu shalat. Orang yang termasuk golongan ahli jihad, akan dipanggil dari pintu jihad. Orang yang termasuk golongan ahli puasa, akan dipanggil dari pintu Ar-Rayyan. Dan orang yang termasuk golongan ahli sedekah, akan dipanggil dari pintu sedekah.”Ketika mendengar hadits ini, Abu Bakar pun bertanya,فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ – رضى الله عنه – بِأَبِى أَنْتَ وَأُمِّى يَا رَسُولَ اللَّهِ ، مَا عَلَى مَنْ دُعِىَ مِنْ تِلْكَ الأَبْوَابِ مِنْ ضَرُورَةٍ ، فَهَلْ يُدْعَى أَحَدٌ مِنْ تِلْكَ الأَبْوَابِ كُلِّهَا“Ayah dan ibuku sebagai penebus Anda, wahai Rasulullah. Kesulitan apa lagi yang perlu dikhawatirkan oleh orang yang dipanggil dari pintu-pintu itu. Mungkinkah ada orang yang dipanggil dari semua pintu tersebut?”Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menjawab,نَعَمْ . وَأَرْجُو أَنْ تَكُونَ مِنْهُمْ“Iya, ada. Dan aku berharap kamu termasuk golongan mereka.” (HR. Bukhari no. 1897, 3666 dan Muslim no. 1027)Oleh karena itu, penjagaan manusia terhadap amal-amal tersebut ketika berada di dunia, akan menjadi kunci-kunci pembuka pintu surga.Demikian pula ketika manusia mengajak orang lain menuju kebaikan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ الدَّالَّ عَلَى الخَيْرِ كَفَاعِلِهِ“Sesungguhnya orang yang menunjukkan kebaikan, itu seperti pelakunya.” (HR. Tirmidzi no. 2670 dan dinilai shahih oleh Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 1660)Ini adalah sebuah keutamaan yang sangat besar dari Allah Ta’ala. Ketika kita menunjukkan orang lain kepada kebaikan dan orang lain itu melakukannya, maka akan dicatat pahala yang sama untuk kita sebagaimana pahala yang didapatkan oleh pelakunya. Dengan demikian, diangkatlah derajat kita di surga yang penuh dengan kenikmatan.Ke sebelas: Senantiasa bergaul dan bersahabat dengan orang-orang shalihDari sahabat Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّمَا مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ، وَالْجَلِيسِ السَّوْءِ، كَحَامِلِ الْمِسْكِ، وَنَافِخِ الْكِيرِ، فَحَامِلُ الْمِسْكِ: إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ، وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً، وَنَافِخُ الْكِيرِ: إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَةً“Perumpamaan teman yang baik dan teman yang buruk itu ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi bisa jadi akan memberimu minyak wangi atau Engkau bisa membeli minyak wangi darinya. Dan kalaupun tidak, Engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) akan mengenai (membakar) pakaianmu. Dan kalaupun tidak, Engkau tetap mendapatkan bau asap yang tidak sedap.” (HR. Bukhari 5534 dan Muslim 2628)Jadi siapa saja yang ingin menjadi pembuka pintu-pintu kebaikan, hendaklah dia bersabar untuk senantiasa dan menyertai orang-orang shalih, yaitu orang-orang yang hari-harinya dipenuhi dengan ketaatan terhadap Allah Ta’ala. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ وَلَا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا“Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya. Dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini. Dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah kami lalaikan dari mengingati kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.” (QS. Al-Kahfi [18]: 28)Dan sebaliknya, waspadalah dari berteman dengan orang-orang yang buruk, karena di hari akhir nanti, semuanya akan menjadi sebab penyesalan, dan tidaklah bermanfaat penyesalan ketika itu. Allah Ta’ala berfirman,وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلَى يَدَيْهِ يَقُولُ يَا لَيْتَنِي اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُولِ سَبِيلًا؛ يَا وَيْلَتَى لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلًا؛ لَقَدْ أَضَلَّنِي عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَاءَنِي وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِلْإِنْسَانِ خَذُولًا“Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zalim menggigit dua tangannya, seraya berkata, ‘Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul.’ Kecelakaan besarlah bagiku, kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si fulan itu teman akrabku. Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al-Qur’an ketika Al-Qur’an itu telah datang kepadaku. Dan adalah setan itu tidak mau menolong manusia.” (QS. Al-Furqan [25]: 27-29)[Bersambung]Baca Juga: Membicarakan Keburukan Penguasa, Apakah termasuk Ghibah? Lebih Baik Tidak Minta Didoakan ketika Memberi Sedekah ***@Sint-Jobskade 718 NL, 14 Syawwal 1439/ 28 Juni 2018Oleh seorang hamba yang sangat butuh ampunan Rabb-nya,Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.Or.Id Referensi:Disarikan dari kitab Kaifa takuunu miftaahan lil khair karya Syaikh ‘Abdurrazaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr, hal. 45-50.🔍 Kewajiban Menuntut Ilmu Agama, Arti Kata Arsy, Cara Mencari Hidayah, Niat Shalat Qadha Subuh, Doa Agar Mudah Melahirkan Menurut Islam

Hukum Jimat dengan menggunakan Al-Qur’an

Jimat adalah kesyirikan, tidak diperbolehkan seorang muslim menggunakannya atau meyakini jimat bisa membawa keberuntungan dan menjauhkan dari bahaya.Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:“Aku telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:إِنَّ الرُّقَى وَالتَّمَائِمَ وَالتِّوَلَةَ شِرْكٌ‘Sesungguhnya jampi, jimat dan tiwalah adalah syirik.’”(HR. Bukhari)dan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,مَنْ عَلَّقَ تَمِيْمَةً فَقَدْ أَشْرَكَ“Barangsiapa menggantungkan jimat, maka ia telah melakukan syirik.” (HR. Abu Dawud, shahih)Bagaimana apabila jimatnya menggunakan Al-Qur’an? Ada dua pendapat ulama:Pertama: membolehkan jimat menggunakan Al-QuranKedua: melarang jimat dengan Al-Qur’an dan inilah pendapat yang TERKUATBaca juga:  Penggunaan Jimat atau Rajah Tetap Syirik, Walau Berkeyakinan Sekedar SebabBerikut penjelasannya:1. Pendapat yang membolehkanAlasan ulama yang membolehkan karena ini dalam rangka tabarruk yang syar’i dengan kalamullah dan asma’ (nama) Allah yang ada di dalamnya.Ibnu Hajar Al-Asqalani berkata,هذا كله في تعليق التمائم وغيرها مما ليس فيه قرآن ونحوه، فأما ما فيه ذكر الله فلا نـهي فيه؛ فإنه إنـما يجعل للتبرك به والتعوذ بأسـمائه وذكره“Semua (hadist) yang melarang mengenai menggantung jimat yang dan yang lainnya adalah karena tidak ada al-Quran di dalamnya (tidak dikecualikan). Adapun apabila ada ‘penyebutan nama Allah’ maka tidak ada larangannya. Hal tersebut dijadikan sebagai tabarruk dan ta’awwudz dengan nama Allah.” (Fathul Bari 6/142)Demikian juga Al-Qurthubi menukilkan perkataan imam Malik, beliau berkata:وقال الإمام مالك: لا بأس بتعليق الكتب التي فيها أسماء الله عز وجل على أعناق المرضى على وجه التبرك“Tidak mengapa menggantungkan (sebagai jimat) lembaran yang ada ‘nama Allah’ pada leher orang sakit untuk tabarruk.” (Tafsir Al-Qurthubi 10/319)2. Melarang jimat dengan Al-Qur’anInilah pendapat yang TERKUAT dengan berbagai pertimbangan ulama dan lebih menenangkan hati. Dijelaskan dalam kitab “Al-Mausu’ah Al-Kuwaitiyyah” tentang 3 alasan tidak bolehnya jimat menggunakan Al-Quran:واحتج هؤلاء لما ذهبوا إليه بما يأتي عموم النهي في الأحاديث ولا مخصص للعموم سد الذريعة، فإنه يفضي إلى تعليق ما اتفق على تحريمهأنه إذا علق فلا بد أن يمتهنه المعلق بحمله معه في حال قضاء الحاجة“Para ulama berhujjah atas pendapat mereka dengan alasan sebagai berikut:1.Keumuman larangan dalam hadits (larangan jimat) dan tidak ada yang mengkhususkan2.Dalam rangka menutup jalan menuju ke arah kesyirikan karena hal ini bisa mengantarkan kepada apa yang telah disepakati keharamannya3.Apabila digantungkan/dipakai, pasti yang memakai akan membawanya akan ikut masuk ketika buang hajat (ke kamar mandi tidak boleh membawa AL-Quran dan lafadz nama Allah). (AL-Muasu’ah Al-Kuwaitiyyah 14/31)Demikian juga syaikh Abdul Aziz Bin Baz menjelaskan bahwa telah ma’ruf bahwa sahabat dan salaf dahulunya tidak membolehkan hal ini. Beliau berkata,أنها لا تجوز وهذا هو المعروف عن عبدالله بن مسعود وحذيفة رضي الله عنهما وجماعة من السلف والخلف قالوا: لا يجوز تعليقها ولو كانت من القرآن سدًا للذريعة وحسمًا لمادة الشرك“Tidak boleh (menggunakan jimat dengan Al-Quran) karena telah ma’ruf bahwa sahabat Abdullah bin Mas’ud, Hudzaifah serta para ulama dahulu dan sekarang mereka mengatakan: ‘Tidak boleh menggantungkan jimat walaupun dari Al-Quran untuk menutup jalan menuju kesyirikan dan untuk memangkas sumber kesyirikan.’” (Majmu’ Fatawa 1/51)Kesimpulan: tidak boleh mengunakan jimat secara mutlah meskipun dari Al-QuranBaca juga: Hukum Menggantungkan Jimat dan Ruqyah Ada Apa Antara Rezeki dan Jimat? Demikian semoga bermanfaat @ Yogyakarat TercintaPenyusun: Raehanul BahraenArtikel www.muslim.or.id🔍 Dropship Haram, Tasbih Setelah Sholat, Cara Shalat Duduk Di Kursi, Doa Kafaratul Masjid, Batas Waktu Sholat Isya Jam Berapa

Hukum Jimat dengan menggunakan Al-Qur’an

Jimat adalah kesyirikan, tidak diperbolehkan seorang muslim menggunakannya atau meyakini jimat bisa membawa keberuntungan dan menjauhkan dari bahaya.Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:“Aku telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:إِنَّ الرُّقَى وَالتَّمَائِمَ وَالتِّوَلَةَ شِرْكٌ‘Sesungguhnya jampi, jimat dan tiwalah adalah syirik.’”(HR. Bukhari)dan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,مَنْ عَلَّقَ تَمِيْمَةً فَقَدْ أَشْرَكَ“Barangsiapa menggantungkan jimat, maka ia telah melakukan syirik.” (HR. Abu Dawud, shahih)Bagaimana apabila jimatnya menggunakan Al-Qur’an? Ada dua pendapat ulama:Pertama: membolehkan jimat menggunakan Al-QuranKedua: melarang jimat dengan Al-Qur’an dan inilah pendapat yang TERKUATBaca juga:  Penggunaan Jimat atau Rajah Tetap Syirik, Walau Berkeyakinan Sekedar SebabBerikut penjelasannya:1. Pendapat yang membolehkanAlasan ulama yang membolehkan karena ini dalam rangka tabarruk yang syar’i dengan kalamullah dan asma’ (nama) Allah yang ada di dalamnya.Ibnu Hajar Al-Asqalani berkata,هذا كله في تعليق التمائم وغيرها مما ليس فيه قرآن ونحوه، فأما ما فيه ذكر الله فلا نـهي فيه؛ فإنه إنـما يجعل للتبرك به والتعوذ بأسـمائه وذكره“Semua (hadist) yang melarang mengenai menggantung jimat yang dan yang lainnya adalah karena tidak ada al-Quran di dalamnya (tidak dikecualikan). Adapun apabila ada ‘penyebutan nama Allah’ maka tidak ada larangannya. Hal tersebut dijadikan sebagai tabarruk dan ta’awwudz dengan nama Allah.” (Fathul Bari 6/142)Demikian juga Al-Qurthubi menukilkan perkataan imam Malik, beliau berkata:وقال الإمام مالك: لا بأس بتعليق الكتب التي فيها أسماء الله عز وجل على أعناق المرضى على وجه التبرك“Tidak mengapa menggantungkan (sebagai jimat) lembaran yang ada ‘nama Allah’ pada leher orang sakit untuk tabarruk.” (Tafsir Al-Qurthubi 10/319)2. Melarang jimat dengan Al-Qur’anInilah pendapat yang TERKUAT dengan berbagai pertimbangan ulama dan lebih menenangkan hati. Dijelaskan dalam kitab “Al-Mausu’ah Al-Kuwaitiyyah” tentang 3 alasan tidak bolehnya jimat menggunakan Al-Quran:واحتج هؤلاء لما ذهبوا إليه بما يأتي عموم النهي في الأحاديث ولا مخصص للعموم سد الذريعة، فإنه يفضي إلى تعليق ما اتفق على تحريمهأنه إذا علق فلا بد أن يمتهنه المعلق بحمله معه في حال قضاء الحاجة“Para ulama berhujjah atas pendapat mereka dengan alasan sebagai berikut:1.Keumuman larangan dalam hadits (larangan jimat) dan tidak ada yang mengkhususkan2.Dalam rangka menutup jalan menuju ke arah kesyirikan karena hal ini bisa mengantarkan kepada apa yang telah disepakati keharamannya3.Apabila digantungkan/dipakai, pasti yang memakai akan membawanya akan ikut masuk ketika buang hajat (ke kamar mandi tidak boleh membawa AL-Quran dan lafadz nama Allah). (AL-Muasu’ah Al-Kuwaitiyyah 14/31)Demikian juga syaikh Abdul Aziz Bin Baz menjelaskan bahwa telah ma’ruf bahwa sahabat dan salaf dahulunya tidak membolehkan hal ini. Beliau berkata,أنها لا تجوز وهذا هو المعروف عن عبدالله بن مسعود وحذيفة رضي الله عنهما وجماعة من السلف والخلف قالوا: لا يجوز تعليقها ولو كانت من القرآن سدًا للذريعة وحسمًا لمادة الشرك“Tidak boleh (menggunakan jimat dengan Al-Quran) karena telah ma’ruf bahwa sahabat Abdullah bin Mas’ud, Hudzaifah serta para ulama dahulu dan sekarang mereka mengatakan: ‘Tidak boleh menggantungkan jimat walaupun dari Al-Quran untuk menutup jalan menuju kesyirikan dan untuk memangkas sumber kesyirikan.’” (Majmu’ Fatawa 1/51)Kesimpulan: tidak boleh mengunakan jimat secara mutlah meskipun dari Al-QuranBaca juga: Hukum Menggantungkan Jimat dan Ruqyah Ada Apa Antara Rezeki dan Jimat? Demikian semoga bermanfaat @ Yogyakarat TercintaPenyusun: Raehanul BahraenArtikel www.muslim.or.id🔍 Dropship Haram, Tasbih Setelah Sholat, Cara Shalat Duduk Di Kursi, Doa Kafaratul Masjid, Batas Waktu Sholat Isya Jam Berapa
Jimat adalah kesyirikan, tidak diperbolehkan seorang muslim menggunakannya atau meyakini jimat bisa membawa keberuntungan dan menjauhkan dari bahaya.Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:“Aku telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:إِنَّ الرُّقَى وَالتَّمَائِمَ وَالتِّوَلَةَ شِرْكٌ‘Sesungguhnya jampi, jimat dan tiwalah adalah syirik.’”(HR. Bukhari)dan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,مَنْ عَلَّقَ تَمِيْمَةً فَقَدْ أَشْرَكَ“Barangsiapa menggantungkan jimat, maka ia telah melakukan syirik.” (HR. Abu Dawud, shahih)Bagaimana apabila jimatnya menggunakan Al-Qur’an? Ada dua pendapat ulama:Pertama: membolehkan jimat menggunakan Al-QuranKedua: melarang jimat dengan Al-Qur’an dan inilah pendapat yang TERKUATBaca juga:  Penggunaan Jimat atau Rajah Tetap Syirik, Walau Berkeyakinan Sekedar SebabBerikut penjelasannya:1. Pendapat yang membolehkanAlasan ulama yang membolehkan karena ini dalam rangka tabarruk yang syar’i dengan kalamullah dan asma’ (nama) Allah yang ada di dalamnya.Ibnu Hajar Al-Asqalani berkata,هذا كله في تعليق التمائم وغيرها مما ليس فيه قرآن ونحوه، فأما ما فيه ذكر الله فلا نـهي فيه؛ فإنه إنـما يجعل للتبرك به والتعوذ بأسـمائه وذكره“Semua (hadist) yang melarang mengenai menggantung jimat yang dan yang lainnya adalah karena tidak ada al-Quran di dalamnya (tidak dikecualikan). Adapun apabila ada ‘penyebutan nama Allah’ maka tidak ada larangannya. Hal tersebut dijadikan sebagai tabarruk dan ta’awwudz dengan nama Allah.” (Fathul Bari 6/142)Demikian juga Al-Qurthubi menukilkan perkataan imam Malik, beliau berkata:وقال الإمام مالك: لا بأس بتعليق الكتب التي فيها أسماء الله عز وجل على أعناق المرضى على وجه التبرك“Tidak mengapa menggantungkan (sebagai jimat) lembaran yang ada ‘nama Allah’ pada leher orang sakit untuk tabarruk.” (Tafsir Al-Qurthubi 10/319)2. Melarang jimat dengan Al-Qur’anInilah pendapat yang TERKUAT dengan berbagai pertimbangan ulama dan lebih menenangkan hati. Dijelaskan dalam kitab “Al-Mausu’ah Al-Kuwaitiyyah” tentang 3 alasan tidak bolehnya jimat menggunakan Al-Quran:واحتج هؤلاء لما ذهبوا إليه بما يأتي عموم النهي في الأحاديث ولا مخصص للعموم سد الذريعة، فإنه يفضي إلى تعليق ما اتفق على تحريمهأنه إذا علق فلا بد أن يمتهنه المعلق بحمله معه في حال قضاء الحاجة“Para ulama berhujjah atas pendapat mereka dengan alasan sebagai berikut:1.Keumuman larangan dalam hadits (larangan jimat) dan tidak ada yang mengkhususkan2.Dalam rangka menutup jalan menuju ke arah kesyirikan karena hal ini bisa mengantarkan kepada apa yang telah disepakati keharamannya3.Apabila digantungkan/dipakai, pasti yang memakai akan membawanya akan ikut masuk ketika buang hajat (ke kamar mandi tidak boleh membawa AL-Quran dan lafadz nama Allah). (AL-Muasu’ah Al-Kuwaitiyyah 14/31)Demikian juga syaikh Abdul Aziz Bin Baz menjelaskan bahwa telah ma’ruf bahwa sahabat dan salaf dahulunya tidak membolehkan hal ini. Beliau berkata,أنها لا تجوز وهذا هو المعروف عن عبدالله بن مسعود وحذيفة رضي الله عنهما وجماعة من السلف والخلف قالوا: لا يجوز تعليقها ولو كانت من القرآن سدًا للذريعة وحسمًا لمادة الشرك“Tidak boleh (menggunakan jimat dengan Al-Quran) karena telah ma’ruf bahwa sahabat Abdullah bin Mas’ud, Hudzaifah serta para ulama dahulu dan sekarang mereka mengatakan: ‘Tidak boleh menggantungkan jimat walaupun dari Al-Quran untuk menutup jalan menuju kesyirikan dan untuk memangkas sumber kesyirikan.’” (Majmu’ Fatawa 1/51)Kesimpulan: tidak boleh mengunakan jimat secara mutlah meskipun dari Al-QuranBaca juga: Hukum Menggantungkan Jimat dan Ruqyah Ada Apa Antara Rezeki dan Jimat? Demikian semoga bermanfaat @ Yogyakarat TercintaPenyusun: Raehanul BahraenArtikel www.muslim.or.id🔍 Dropship Haram, Tasbih Setelah Sholat, Cara Shalat Duduk Di Kursi, Doa Kafaratul Masjid, Batas Waktu Sholat Isya Jam Berapa


Jimat adalah kesyirikan, tidak diperbolehkan seorang muslim menggunakannya atau meyakini jimat bisa membawa keberuntungan dan menjauhkan dari bahaya.Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:“Aku telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:إِنَّ الرُّقَى وَالتَّمَائِمَ وَالتِّوَلَةَ شِرْكٌ‘Sesungguhnya jampi, jimat dan tiwalah adalah syirik.’”(HR. Bukhari)dan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,مَنْ عَلَّقَ تَمِيْمَةً فَقَدْ أَشْرَكَ“Barangsiapa menggantungkan jimat, maka ia telah melakukan syirik.” (HR. Abu Dawud, shahih)Bagaimana apabila jimatnya menggunakan Al-Qur’an? Ada dua pendapat ulama:Pertama: membolehkan jimat menggunakan Al-QuranKedua: melarang jimat dengan Al-Qur’an dan inilah pendapat yang TERKUATBaca juga:  Penggunaan Jimat atau Rajah Tetap Syirik, Walau Berkeyakinan Sekedar SebabBerikut penjelasannya:1. Pendapat yang membolehkanAlasan ulama yang membolehkan karena ini dalam rangka tabarruk yang syar’i dengan kalamullah dan asma’ (nama) Allah yang ada di dalamnya.Ibnu Hajar Al-Asqalani berkata,هذا كله في تعليق التمائم وغيرها مما ليس فيه قرآن ونحوه، فأما ما فيه ذكر الله فلا نـهي فيه؛ فإنه إنـما يجعل للتبرك به والتعوذ بأسـمائه وذكره“Semua (hadist) yang melarang mengenai menggantung jimat yang dan yang lainnya adalah karena tidak ada al-Quran di dalamnya (tidak dikecualikan). Adapun apabila ada ‘penyebutan nama Allah’ maka tidak ada larangannya. Hal tersebut dijadikan sebagai tabarruk dan ta’awwudz dengan nama Allah.” (Fathul Bari 6/142)Demikian juga Al-Qurthubi menukilkan perkataan imam Malik, beliau berkata:وقال الإمام مالك: لا بأس بتعليق الكتب التي فيها أسماء الله عز وجل على أعناق المرضى على وجه التبرك“Tidak mengapa menggantungkan (sebagai jimat) lembaran yang ada ‘nama Allah’ pada leher orang sakit untuk tabarruk.” (Tafsir Al-Qurthubi 10/319)2. Melarang jimat dengan Al-Qur’anInilah pendapat yang TERKUAT dengan berbagai pertimbangan ulama dan lebih menenangkan hati. Dijelaskan dalam kitab “Al-Mausu’ah Al-Kuwaitiyyah” tentang 3 alasan tidak bolehnya jimat menggunakan Al-Quran:واحتج هؤلاء لما ذهبوا إليه بما يأتي عموم النهي في الأحاديث ولا مخصص للعموم سد الذريعة، فإنه يفضي إلى تعليق ما اتفق على تحريمهأنه إذا علق فلا بد أن يمتهنه المعلق بحمله معه في حال قضاء الحاجة“Para ulama berhujjah atas pendapat mereka dengan alasan sebagai berikut:1.Keumuman larangan dalam hadits (larangan jimat) dan tidak ada yang mengkhususkan2.Dalam rangka menutup jalan menuju ke arah kesyirikan karena hal ini bisa mengantarkan kepada apa yang telah disepakati keharamannya3.Apabila digantungkan/dipakai, pasti yang memakai akan membawanya akan ikut masuk ketika buang hajat (ke kamar mandi tidak boleh membawa AL-Quran dan lafadz nama Allah). (AL-Muasu’ah Al-Kuwaitiyyah 14/31)Demikian juga syaikh Abdul Aziz Bin Baz menjelaskan bahwa telah ma’ruf bahwa sahabat dan salaf dahulunya tidak membolehkan hal ini. Beliau berkata,أنها لا تجوز وهذا هو المعروف عن عبدالله بن مسعود وحذيفة رضي الله عنهما وجماعة من السلف والخلف قالوا: لا يجوز تعليقها ولو كانت من القرآن سدًا للذريعة وحسمًا لمادة الشرك“Tidak boleh (menggunakan jimat dengan Al-Quran) karena telah ma’ruf bahwa sahabat Abdullah bin Mas’ud, Hudzaifah serta para ulama dahulu dan sekarang mereka mengatakan: ‘Tidak boleh menggantungkan jimat walaupun dari Al-Quran untuk menutup jalan menuju kesyirikan dan untuk memangkas sumber kesyirikan.’” (Majmu’ Fatawa 1/51)Kesimpulan: tidak boleh mengunakan jimat secara mutlah meskipun dari Al-QuranBaca juga: Hukum Menggantungkan Jimat dan Ruqyah Ada Apa Antara Rezeki dan Jimat? Demikian semoga bermanfaat @ Yogyakarat TercintaPenyusun: Raehanul BahraenArtikel www.muslim.or.id🔍 Dropship Haram, Tasbih Setelah Sholat, Cara Shalat Duduk Di Kursi, Doa Kafaratul Masjid, Batas Waktu Sholat Isya Jam Berapa

Mengapa Engkau Enggan Mengenal Tuhanmu? (Bag. 5)

Baca pembahasan sebelumnya Mengapa Engkau Enggan Mengenal Tuhanmu? (Bag. 4)Allah Ta’ala Telah Memperkenalkan Diri-Nya dalam Banyak Ayat Al-Qur’anAllah Ta’ala telah memperkenalkan diri-Nya kepada hamba-hamba-Nya dengan memberitahukan nama-nama-Nya yang paling indah dan sifat-sifat-Nya yang paling mulia. Semua itu disebutkan dalam Kitab-Nya dan Sunnah Rasul-Nya. Bahkan kita jumpai, hampir pada setiap ayat Al-Qur’an yang kita baca selalu diakhiri dengan peringatan atau penyebutan salah satu dari nama-nama Allah Ta’ala atau salah satu dari sifat-sifat-Nya. Sebagai contoh,  Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ” … Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. At-Taubah [9]: 5)Dan juga firman-Nya,وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا” … Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. An-Nisaa’ [4]: 17)Dalam ayat lain Allah Ta’ala berfirman,وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي أَنْفُسِكُمْ فَاحْذَرُوهُ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ غَفُورٌ حَلِيمٌ”Dan ketahuilah bahwasanya Allah mengetahui apa yang ada dalam hatimu. Maka takutlah kepada-Nya, dan ketahuilah bahwa Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun.” (QS. Al-Baqarah [2]: 235)Hal ini semua disebabkan karena nama-nama yang terbaik dan sifat-sifat yang mulia ini memiliki daya pengaruh dan membekas dalam hati seseorang yang mengetahui-Nya. Sehingga dia selalu merasa diawasi oleh Allah Ta’ala dalam segala aspek kehidupannya. Dengan demikian, rasa malunya kepada Allah pun menjadi sempurna. [1]Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah menjelaskan bahwa penutupan ayat Al Qur’an dengan nama-nama Allah Ta’ala yang husna menunjukkan bahwa hukum yang disebutkan dalam rangkaian ayat tersebut memiliki kaitan dengan nama-Nya yang mulia. Dan ini merupakan suatu kaidah yang sangat bermanfaat. Jika kita memperhatikan dan meneliti semua ayat yang diakhiri dengan penyebutan nama Allah Ta’ala, maka kita akan mendapatkan kesesuaian. Yaitu syariat maupun perintah-Nya semuanya bersumber dari nama dan sifat-Nya serta sangat terkait dengannya. Sehingga jika seorang hamba mengenal Allah Ta’ala melalui nama-namaNya yang mulia, maka dia akan mengetahui pula hukum-hukum yang merupakan konsekuensi dari nama-nama Allah Ta’ala tersebut.Misalnya adalah firman Allah Ta’ala,رَبَّنَا وَابْعَثْ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُزَكِّيهِمْ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ“Ya Rabb kami, utuslah untuk mereka sesorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab (Al Qur’an) dan Al-Hikmah (As-Sunnah) serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha kuasa lagi Maha bijaksana.” (QS. Al-Baqarah [2]: 129)Penutupan ayat tersebut dengan nama Allah “Al ‘Aziz” dan “Al Hakim” menunjukkan bahwa di dalam pengutusan Rasul tersebut terdapat rahmat Allah yang luas, kesempurnaan kekuasaan dan hikmah Allah Ta’ala. Karena tidak termasuk hikmah-Nya jika membiarkan makhluk-Nya begitu saja, tidak mengutus Rasul kepada hamba-Nya. Maka Allah mewujudkan hikmah-Nya dengan mengutus Rasul sehingga manusia tidak memiliki alasan setelah diutusnya Rasul tersebut. Sedangkan semua perkara tidak akan terjadi kecuali dengan kekuasaan dan hikmah Allah Ta’ala.Contoh lainnya adalah perkataan Ibrahim dan Isma’il ‘alaihimas salaam ketika keduanya meninggikan dasar baitullah,وَإِذْ يَرْفَعُ إِبْرَاهِيمُ الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ وَإِسْمَاعِيلُ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ”Dan ingatlah ketika Ibrahim dan isma’il meninggikan dasar baitullah, (sambil berkata), ’Wahai Rabb kami terimalah dari kami (amalan kami). Sesungguhnya Engkaulah yang Maha mendengar lagi Maha mengetahui.’” (QS. Al-Baqarah [2]: 127)Keduanya ber-tawassul dengan dua nama Allah (yaitu As-Samii’ dan Al-‘Aliim) agar amalnya diterima oleh Allah Ta’ala. Karena Allah Ta’ala mengetahui niatnya, mendengar, dan mengabulkan doanya. Karena yang dimaksudkan dengan As-Samii’ dalam konteks “mendengar doa” bermakna “mengabulkan doa”. Sebagaimana firman Allah Ta’ala dalam ayat lain,إِنَّ رَبِّي لَسَمِيعُ الدُّعَاءِ”Sesungguhnya Tuhanku, benar-benar Maha mendengar (mengabulkan) doa.” (QS. Ibrahim [14]: 39)Ketika Allah Ta’ala selesai menyebutkan tentang hukum waris dan bagian masing-masing ahli waris, Allah Ta’ala berfirman,فَرِيضَةً مِنَ اللَّهِ  إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمًا”Ini adalah ketetapan dari Allah. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha bijaksana.” (QS. An-Nisa’ [4]: 11)Maka, karena Allah Ta’ala Maha mengetahui dan Maha bijaksana, Allah Ta’ala mengetahui apa yang tidak diketahui oleh hamba-Nya, dan Allah Ta’ala pun meletakkan sesuatu sesuai dengan tempatnya. Oleh karena itu, patuhilah perintah Allah ketika membagi harta waris kepada orang-orang yang berhak mendapatkannya. Karena pembagian itu berdasarkan ilmu Allah Ta’ala dan hikmah-Nya. Seandainya pembagian waris ini diserahkan kepada pemikiran dan ijtihad (logika atau hasil olah pikir) manusia sendiri, maka pembagian itu akan dilandasi dengan kebodohan dan hawa nafsu, serta tidak ada hikmah di dalamnya. Sehingga justru akan menimbulkan bahaya. Oleh karena itu, barangsiapa yang mencela hukum Allah Ta’ala, atau mengatakan,’ Seandainya hukumnya begini atau begitu’, maka dia telah mencela ilmu dan hikmah Allah Ta’ala. Dan sebagaimana Allah menyebutkan ilmu dan hikmah setelah menyebutkan hukum syariat-Nya, Allah Ta’ala juga menyebutkannya dalam ayat-ayat yang berisi tentang ancaman. Hal ini untuk menjelaskan kepada hamba-Nya bahwa syariat dan balasan-Nya berkaitan dengan hikmah-Nya dan tidak keluar dari ilmu-Nya. [2]KesimpulanTauhid asma’ wa shifat merupakan salah satu komponen keimanan kepada Allah Ta’ala dan merupakan ilmu yang paling pokok dan paling utama. Seorang hamba dituntut untuk mengenal Allah Ta’ala dengan mengetahui nama dan sifat yang telah disebutkan dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah. Dengan mengenal Allah Ta’ala, akan muncul pengagungan kepada-Nya dalam diri seorang hamba sehingga dia beribadah kepada Allah Ta’ala dengan sempurna. Juga akan muncul rasa takut kepada Allah Ta’ala sehingga mendorongnya untuk menjauhi perbuatan maksiat. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ”Sesungguhnya hanyalah yang takut kepada Allah di antara para hamba-Nya adalah para ulama.” (QS. Fathir [35]: 28)[Selesai]***Disempurnakan di malam hari, Rotterdam NL, 9 Jumadil awwal 1439/27 Januari 2018Oleh seorang hamba yang sangat butuh ampunan Rabb-nya,Penulis: Muhammad Saifudin Hakim Artikel: Muslim.or.id Catatan kaki:[1]     Lihat Sittu Durar min Ushuuli Ahil Atsar, hal. 34.[2]     Lihat Al-Qawaa’idul Hisan, hal. 51-57.🔍 Banyak Tertawa Mematikan Hati, Meninggalkan Shalat Subuh, Arti Kata Kafir Dalam Islam, Arti Thuma'ninah, Cara Membersihkan Darah Haid Dalam Islam

Mengapa Engkau Enggan Mengenal Tuhanmu? (Bag. 5)

Baca pembahasan sebelumnya Mengapa Engkau Enggan Mengenal Tuhanmu? (Bag. 4)Allah Ta’ala Telah Memperkenalkan Diri-Nya dalam Banyak Ayat Al-Qur’anAllah Ta’ala telah memperkenalkan diri-Nya kepada hamba-hamba-Nya dengan memberitahukan nama-nama-Nya yang paling indah dan sifat-sifat-Nya yang paling mulia. Semua itu disebutkan dalam Kitab-Nya dan Sunnah Rasul-Nya. Bahkan kita jumpai, hampir pada setiap ayat Al-Qur’an yang kita baca selalu diakhiri dengan peringatan atau penyebutan salah satu dari nama-nama Allah Ta’ala atau salah satu dari sifat-sifat-Nya. Sebagai contoh,  Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ” … Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. At-Taubah [9]: 5)Dan juga firman-Nya,وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا” … Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. An-Nisaa’ [4]: 17)Dalam ayat lain Allah Ta’ala berfirman,وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي أَنْفُسِكُمْ فَاحْذَرُوهُ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ غَفُورٌ حَلِيمٌ”Dan ketahuilah bahwasanya Allah mengetahui apa yang ada dalam hatimu. Maka takutlah kepada-Nya, dan ketahuilah bahwa Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun.” (QS. Al-Baqarah [2]: 235)Hal ini semua disebabkan karena nama-nama yang terbaik dan sifat-sifat yang mulia ini memiliki daya pengaruh dan membekas dalam hati seseorang yang mengetahui-Nya. Sehingga dia selalu merasa diawasi oleh Allah Ta’ala dalam segala aspek kehidupannya. Dengan demikian, rasa malunya kepada Allah pun menjadi sempurna. [1]Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah menjelaskan bahwa penutupan ayat Al Qur’an dengan nama-nama Allah Ta’ala yang husna menunjukkan bahwa hukum yang disebutkan dalam rangkaian ayat tersebut memiliki kaitan dengan nama-Nya yang mulia. Dan ini merupakan suatu kaidah yang sangat bermanfaat. Jika kita memperhatikan dan meneliti semua ayat yang diakhiri dengan penyebutan nama Allah Ta’ala, maka kita akan mendapatkan kesesuaian. Yaitu syariat maupun perintah-Nya semuanya bersumber dari nama dan sifat-Nya serta sangat terkait dengannya. Sehingga jika seorang hamba mengenal Allah Ta’ala melalui nama-namaNya yang mulia, maka dia akan mengetahui pula hukum-hukum yang merupakan konsekuensi dari nama-nama Allah Ta’ala tersebut.Misalnya adalah firman Allah Ta’ala,رَبَّنَا وَابْعَثْ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُزَكِّيهِمْ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ“Ya Rabb kami, utuslah untuk mereka sesorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab (Al Qur’an) dan Al-Hikmah (As-Sunnah) serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha kuasa lagi Maha bijaksana.” (QS. Al-Baqarah [2]: 129)Penutupan ayat tersebut dengan nama Allah “Al ‘Aziz” dan “Al Hakim” menunjukkan bahwa di dalam pengutusan Rasul tersebut terdapat rahmat Allah yang luas, kesempurnaan kekuasaan dan hikmah Allah Ta’ala. Karena tidak termasuk hikmah-Nya jika membiarkan makhluk-Nya begitu saja, tidak mengutus Rasul kepada hamba-Nya. Maka Allah mewujudkan hikmah-Nya dengan mengutus Rasul sehingga manusia tidak memiliki alasan setelah diutusnya Rasul tersebut. Sedangkan semua perkara tidak akan terjadi kecuali dengan kekuasaan dan hikmah Allah Ta’ala.Contoh lainnya adalah perkataan Ibrahim dan Isma’il ‘alaihimas salaam ketika keduanya meninggikan dasar baitullah,وَإِذْ يَرْفَعُ إِبْرَاهِيمُ الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ وَإِسْمَاعِيلُ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ”Dan ingatlah ketika Ibrahim dan isma’il meninggikan dasar baitullah, (sambil berkata), ’Wahai Rabb kami terimalah dari kami (amalan kami). Sesungguhnya Engkaulah yang Maha mendengar lagi Maha mengetahui.’” (QS. Al-Baqarah [2]: 127)Keduanya ber-tawassul dengan dua nama Allah (yaitu As-Samii’ dan Al-‘Aliim) agar amalnya diterima oleh Allah Ta’ala. Karena Allah Ta’ala mengetahui niatnya, mendengar, dan mengabulkan doanya. Karena yang dimaksudkan dengan As-Samii’ dalam konteks “mendengar doa” bermakna “mengabulkan doa”. Sebagaimana firman Allah Ta’ala dalam ayat lain,إِنَّ رَبِّي لَسَمِيعُ الدُّعَاءِ”Sesungguhnya Tuhanku, benar-benar Maha mendengar (mengabulkan) doa.” (QS. Ibrahim [14]: 39)Ketika Allah Ta’ala selesai menyebutkan tentang hukum waris dan bagian masing-masing ahli waris, Allah Ta’ala berfirman,فَرِيضَةً مِنَ اللَّهِ  إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمًا”Ini adalah ketetapan dari Allah. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha bijaksana.” (QS. An-Nisa’ [4]: 11)Maka, karena Allah Ta’ala Maha mengetahui dan Maha bijaksana, Allah Ta’ala mengetahui apa yang tidak diketahui oleh hamba-Nya, dan Allah Ta’ala pun meletakkan sesuatu sesuai dengan tempatnya. Oleh karena itu, patuhilah perintah Allah ketika membagi harta waris kepada orang-orang yang berhak mendapatkannya. Karena pembagian itu berdasarkan ilmu Allah Ta’ala dan hikmah-Nya. Seandainya pembagian waris ini diserahkan kepada pemikiran dan ijtihad (logika atau hasil olah pikir) manusia sendiri, maka pembagian itu akan dilandasi dengan kebodohan dan hawa nafsu, serta tidak ada hikmah di dalamnya. Sehingga justru akan menimbulkan bahaya. Oleh karena itu, barangsiapa yang mencela hukum Allah Ta’ala, atau mengatakan,’ Seandainya hukumnya begini atau begitu’, maka dia telah mencela ilmu dan hikmah Allah Ta’ala. Dan sebagaimana Allah menyebutkan ilmu dan hikmah setelah menyebutkan hukum syariat-Nya, Allah Ta’ala juga menyebutkannya dalam ayat-ayat yang berisi tentang ancaman. Hal ini untuk menjelaskan kepada hamba-Nya bahwa syariat dan balasan-Nya berkaitan dengan hikmah-Nya dan tidak keluar dari ilmu-Nya. [2]KesimpulanTauhid asma’ wa shifat merupakan salah satu komponen keimanan kepada Allah Ta’ala dan merupakan ilmu yang paling pokok dan paling utama. Seorang hamba dituntut untuk mengenal Allah Ta’ala dengan mengetahui nama dan sifat yang telah disebutkan dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah. Dengan mengenal Allah Ta’ala, akan muncul pengagungan kepada-Nya dalam diri seorang hamba sehingga dia beribadah kepada Allah Ta’ala dengan sempurna. Juga akan muncul rasa takut kepada Allah Ta’ala sehingga mendorongnya untuk menjauhi perbuatan maksiat. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ”Sesungguhnya hanyalah yang takut kepada Allah di antara para hamba-Nya adalah para ulama.” (QS. Fathir [35]: 28)[Selesai]***Disempurnakan di malam hari, Rotterdam NL, 9 Jumadil awwal 1439/27 Januari 2018Oleh seorang hamba yang sangat butuh ampunan Rabb-nya,Penulis: Muhammad Saifudin Hakim Artikel: Muslim.or.id Catatan kaki:[1]     Lihat Sittu Durar min Ushuuli Ahil Atsar, hal. 34.[2]     Lihat Al-Qawaa’idul Hisan, hal. 51-57.🔍 Banyak Tertawa Mematikan Hati, Meninggalkan Shalat Subuh, Arti Kata Kafir Dalam Islam, Arti Thuma'ninah, Cara Membersihkan Darah Haid Dalam Islam
Baca pembahasan sebelumnya Mengapa Engkau Enggan Mengenal Tuhanmu? (Bag. 4)Allah Ta’ala Telah Memperkenalkan Diri-Nya dalam Banyak Ayat Al-Qur’anAllah Ta’ala telah memperkenalkan diri-Nya kepada hamba-hamba-Nya dengan memberitahukan nama-nama-Nya yang paling indah dan sifat-sifat-Nya yang paling mulia. Semua itu disebutkan dalam Kitab-Nya dan Sunnah Rasul-Nya. Bahkan kita jumpai, hampir pada setiap ayat Al-Qur’an yang kita baca selalu diakhiri dengan peringatan atau penyebutan salah satu dari nama-nama Allah Ta’ala atau salah satu dari sifat-sifat-Nya. Sebagai contoh,  Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ” … Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. At-Taubah [9]: 5)Dan juga firman-Nya,وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا” … Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. An-Nisaa’ [4]: 17)Dalam ayat lain Allah Ta’ala berfirman,وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي أَنْفُسِكُمْ فَاحْذَرُوهُ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ غَفُورٌ حَلِيمٌ”Dan ketahuilah bahwasanya Allah mengetahui apa yang ada dalam hatimu. Maka takutlah kepada-Nya, dan ketahuilah bahwa Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun.” (QS. Al-Baqarah [2]: 235)Hal ini semua disebabkan karena nama-nama yang terbaik dan sifat-sifat yang mulia ini memiliki daya pengaruh dan membekas dalam hati seseorang yang mengetahui-Nya. Sehingga dia selalu merasa diawasi oleh Allah Ta’ala dalam segala aspek kehidupannya. Dengan demikian, rasa malunya kepada Allah pun menjadi sempurna. [1]Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah menjelaskan bahwa penutupan ayat Al Qur’an dengan nama-nama Allah Ta’ala yang husna menunjukkan bahwa hukum yang disebutkan dalam rangkaian ayat tersebut memiliki kaitan dengan nama-Nya yang mulia. Dan ini merupakan suatu kaidah yang sangat bermanfaat. Jika kita memperhatikan dan meneliti semua ayat yang diakhiri dengan penyebutan nama Allah Ta’ala, maka kita akan mendapatkan kesesuaian. Yaitu syariat maupun perintah-Nya semuanya bersumber dari nama dan sifat-Nya serta sangat terkait dengannya. Sehingga jika seorang hamba mengenal Allah Ta’ala melalui nama-namaNya yang mulia, maka dia akan mengetahui pula hukum-hukum yang merupakan konsekuensi dari nama-nama Allah Ta’ala tersebut.Misalnya adalah firman Allah Ta’ala,رَبَّنَا وَابْعَثْ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُزَكِّيهِمْ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ“Ya Rabb kami, utuslah untuk mereka sesorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab (Al Qur’an) dan Al-Hikmah (As-Sunnah) serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha kuasa lagi Maha bijaksana.” (QS. Al-Baqarah [2]: 129)Penutupan ayat tersebut dengan nama Allah “Al ‘Aziz” dan “Al Hakim” menunjukkan bahwa di dalam pengutusan Rasul tersebut terdapat rahmat Allah yang luas, kesempurnaan kekuasaan dan hikmah Allah Ta’ala. Karena tidak termasuk hikmah-Nya jika membiarkan makhluk-Nya begitu saja, tidak mengutus Rasul kepada hamba-Nya. Maka Allah mewujudkan hikmah-Nya dengan mengutus Rasul sehingga manusia tidak memiliki alasan setelah diutusnya Rasul tersebut. Sedangkan semua perkara tidak akan terjadi kecuali dengan kekuasaan dan hikmah Allah Ta’ala.Contoh lainnya adalah perkataan Ibrahim dan Isma’il ‘alaihimas salaam ketika keduanya meninggikan dasar baitullah,وَإِذْ يَرْفَعُ إِبْرَاهِيمُ الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ وَإِسْمَاعِيلُ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ”Dan ingatlah ketika Ibrahim dan isma’il meninggikan dasar baitullah, (sambil berkata), ’Wahai Rabb kami terimalah dari kami (amalan kami). Sesungguhnya Engkaulah yang Maha mendengar lagi Maha mengetahui.’” (QS. Al-Baqarah [2]: 127)Keduanya ber-tawassul dengan dua nama Allah (yaitu As-Samii’ dan Al-‘Aliim) agar amalnya diterima oleh Allah Ta’ala. Karena Allah Ta’ala mengetahui niatnya, mendengar, dan mengabulkan doanya. Karena yang dimaksudkan dengan As-Samii’ dalam konteks “mendengar doa” bermakna “mengabulkan doa”. Sebagaimana firman Allah Ta’ala dalam ayat lain,إِنَّ رَبِّي لَسَمِيعُ الدُّعَاءِ”Sesungguhnya Tuhanku, benar-benar Maha mendengar (mengabulkan) doa.” (QS. Ibrahim [14]: 39)Ketika Allah Ta’ala selesai menyebutkan tentang hukum waris dan bagian masing-masing ahli waris, Allah Ta’ala berfirman,فَرِيضَةً مِنَ اللَّهِ  إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمًا”Ini adalah ketetapan dari Allah. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha bijaksana.” (QS. An-Nisa’ [4]: 11)Maka, karena Allah Ta’ala Maha mengetahui dan Maha bijaksana, Allah Ta’ala mengetahui apa yang tidak diketahui oleh hamba-Nya, dan Allah Ta’ala pun meletakkan sesuatu sesuai dengan tempatnya. Oleh karena itu, patuhilah perintah Allah ketika membagi harta waris kepada orang-orang yang berhak mendapatkannya. Karena pembagian itu berdasarkan ilmu Allah Ta’ala dan hikmah-Nya. Seandainya pembagian waris ini diserahkan kepada pemikiran dan ijtihad (logika atau hasil olah pikir) manusia sendiri, maka pembagian itu akan dilandasi dengan kebodohan dan hawa nafsu, serta tidak ada hikmah di dalamnya. Sehingga justru akan menimbulkan bahaya. Oleh karena itu, barangsiapa yang mencela hukum Allah Ta’ala, atau mengatakan,’ Seandainya hukumnya begini atau begitu’, maka dia telah mencela ilmu dan hikmah Allah Ta’ala. Dan sebagaimana Allah menyebutkan ilmu dan hikmah setelah menyebutkan hukum syariat-Nya, Allah Ta’ala juga menyebutkannya dalam ayat-ayat yang berisi tentang ancaman. Hal ini untuk menjelaskan kepada hamba-Nya bahwa syariat dan balasan-Nya berkaitan dengan hikmah-Nya dan tidak keluar dari ilmu-Nya. [2]KesimpulanTauhid asma’ wa shifat merupakan salah satu komponen keimanan kepada Allah Ta’ala dan merupakan ilmu yang paling pokok dan paling utama. Seorang hamba dituntut untuk mengenal Allah Ta’ala dengan mengetahui nama dan sifat yang telah disebutkan dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah. Dengan mengenal Allah Ta’ala, akan muncul pengagungan kepada-Nya dalam diri seorang hamba sehingga dia beribadah kepada Allah Ta’ala dengan sempurna. Juga akan muncul rasa takut kepada Allah Ta’ala sehingga mendorongnya untuk menjauhi perbuatan maksiat. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ”Sesungguhnya hanyalah yang takut kepada Allah di antara para hamba-Nya adalah para ulama.” (QS. Fathir [35]: 28)[Selesai]***Disempurnakan di malam hari, Rotterdam NL, 9 Jumadil awwal 1439/27 Januari 2018Oleh seorang hamba yang sangat butuh ampunan Rabb-nya,Penulis: Muhammad Saifudin Hakim Artikel: Muslim.or.id Catatan kaki:[1]     Lihat Sittu Durar min Ushuuli Ahil Atsar, hal. 34.[2]     Lihat Al-Qawaa’idul Hisan, hal. 51-57.🔍 Banyak Tertawa Mematikan Hati, Meninggalkan Shalat Subuh, Arti Kata Kafir Dalam Islam, Arti Thuma'ninah, Cara Membersihkan Darah Haid Dalam Islam


Baca pembahasan sebelumnya Mengapa Engkau Enggan Mengenal Tuhanmu? (Bag. 4)Allah Ta’ala Telah Memperkenalkan Diri-Nya dalam Banyak Ayat Al-Qur’anAllah Ta’ala telah memperkenalkan diri-Nya kepada hamba-hamba-Nya dengan memberitahukan nama-nama-Nya yang paling indah dan sifat-sifat-Nya yang paling mulia. Semua itu disebutkan dalam Kitab-Nya dan Sunnah Rasul-Nya. Bahkan kita jumpai, hampir pada setiap ayat Al-Qur’an yang kita baca selalu diakhiri dengan peringatan atau penyebutan salah satu dari nama-nama Allah Ta’ala atau salah satu dari sifat-sifat-Nya. Sebagai contoh,  Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ” … Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. At-Taubah [9]: 5)Dan juga firman-Nya,وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا” … Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. An-Nisaa’ [4]: 17)Dalam ayat lain Allah Ta’ala berfirman,وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي أَنْفُسِكُمْ فَاحْذَرُوهُ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ غَفُورٌ حَلِيمٌ”Dan ketahuilah bahwasanya Allah mengetahui apa yang ada dalam hatimu. Maka takutlah kepada-Nya, dan ketahuilah bahwa Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun.” (QS. Al-Baqarah [2]: 235)Hal ini semua disebabkan karena nama-nama yang terbaik dan sifat-sifat yang mulia ini memiliki daya pengaruh dan membekas dalam hati seseorang yang mengetahui-Nya. Sehingga dia selalu merasa diawasi oleh Allah Ta’ala dalam segala aspek kehidupannya. Dengan demikian, rasa malunya kepada Allah pun menjadi sempurna. [1]Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah menjelaskan bahwa penutupan ayat Al Qur’an dengan nama-nama Allah Ta’ala yang husna menunjukkan bahwa hukum yang disebutkan dalam rangkaian ayat tersebut memiliki kaitan dengan nama-Nya yang mulia. Dan ini merupakan suatu kaidah yang sangat bermanfaat. Jika kita memperhatikan dan meneliti semua ayat yang diakhiri dengan penyebutan nama Allah Ta’ala, maka kita akan mendapatkan kesesuaian. Yaitu syariat maupun perintah-Nya semuanya bersumber dari nama dan sifat-Nya serta sangat terkait dengannya. Sehingga jika seorang hamba mengenal Allah Ta’ala melalui nama-namaNya yang mulia, maka dia akan mengetahui pula hukum-hukum yang merupakan konsekuensi dari nama-nama Allah Ta’ala tersebut.Misalnya adalah firman Allah Ta’ala,رَبَّنَا وَابْعَثْ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُزَكِّيهِمْ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ“Ya Rabb kami, utuslah untuk mereka sesorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab (Al Qur’an) dan Al-Hikmah (As-Sunnah) serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha kuasa lagi Maha bijaksana.” (QS. Al-Baqarah [2]: 129)Penutupan ayat tersebut dengan nama Allah “Al ‘Aziz” dan “Al Hakim” menunjukkan bahwa di dalam pengutusan Rasul tersebut terdapat rahmat Allah yang luas, kesempurnaan kekuasaan dan hikmah Allah Ta’ala. Karena tidak termasuk hikmah-Nya jika membiarkan makhluk-Nya begitu saja, tidak mengutus Rasul kepada hamba-Nya. Maka Allah mewujudkan hikmah-Nya dengan mengutus Rasul sehingga manusia tidak memiliki alasan setelah diutusnya Rasul tersebut. Sedangkan semua perkara tidak akan terjadi kecuali dengan kekuasaan dan hikmah Allah Ta’ala.Contoh lainnya adalah perkataan Ibrahim dan Isma’il ‘alaihimas salaam ketika keduanya meninggikan dasar baitullah,وَإِذْ يَرْفَعُ إِبْرَاهِيمُ الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ وَإِسْمَاعِيلُ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ”Dan ingatlah ketika Ibrahim dan isma’il meninggikan dasar baitullah, (sambil berkata), ’Wahai Rabb kami terimalah dari kami (amalan kami). Sesungguhnya Engkaulah yang Maha mendengar lagi Maha mengetahui.’” (QS. Al-Baqarah [2]: 127)Keduanya ber-tawassul dengan dua nama Allah (yaitu As-Samii’ dan Al-‘Aliim) agar amalnya diterima oleh Allah Ta’ala. Karena Allah Ta’ala mengetahui niatnya, mendengar, dan mengabulkan doanya. Karena yang dimaksudkan dengan As-Samii’ dalam konteks “mendengar doa” bermakna “mengabulkan doa”. Sebagaimana firman Allah Ta’ala dalam ayat lain,إِنَّ رَبِّي لَسَمِيعُ الدُّعَاءِ”Sesungguhnya Tuhanku, benar-benar Maha mendengar (mengabulkan) doa.” (QS. Ibrahim [14]: 39)Ketika Allah Ta’ala selesai menyebutkan tentang hukum waris dan bagian masing-masing ahli waris, Allah Ta’ala berfirman,فَرِيضَةً مِنَ اللَّهِ  إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمًا”Ini adalah ketetapan dari Allah. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha bijaksana.” (QS. An-Nisa’ [4]: 11)Maka, karena Allah Ta’ala Maha mengetahui dan Maha bijaksana, Allah Ta’ala mengetahui apa yang tidak diketahui oleh hamba-Nya, dan Allah Ta’ala pun meletakkan sesuatu sesuai dengan tempatnya. Oleh karena itu, patuhilah perintah Allah ketika membagi harta waris kepada orang-orang yang berhak mendapatkannya. Karena pembagian itu berdasarkan ilmu Allah Ta’ala dan hikmah-Nya. Seandainya pembagian waris ini diserahkan kepada pemikiran dan ijtihad (logika atau hasil olah pikir) manusia sendiri, maka pembagian itu akan dilandasi dengan kebodohan dan hawa nafsu, serta tidak ada hikmah di dalamnya. Sehingga justru akan menimbulkan bahaya. Oleh karena itu, barangsiapa yang mencela hukum Allah Ta’ala, atau mengatakan,’ Seandainya hukumnya begini atau begitu’, maka dia telah mencela ilmu dan hikmah Allah Ta’ala. Dan sebagaimana Allah menyebutkan ilmu dan hikmah setelah menyebutkan hukum syariat-Nya, Allah Ta’ala juga menyebutkannya dalam ayat-ayat yang berisi tentang ancaman. Hal ini untuk menjelaskan kepada hamba-Nya bahwa syariat dan balasan-Nya berkaitan dengan hikmah-Nya dan tidak keluar dari ilmu-Nya. [2]KesimpulanTauhid asma’ wa shifat merupakan salah satu komponen keimanan kepada Allah Ta’ala dan merupakan ilmu yang paling pokok dan paling utama. Seorang hamba dituntut untuk mengenal Allah Ta’ala dengan mengetahui nama dan sifat yang telah disebutkan dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah. Dengan mengenal Allah Ta’ala, akan muncul pengagungan kepada-Nya dalam diri seorang hamba sehingga dia beribadah kepada Allah Ta’ala dengan sempurna. Juga akan muncul rasa takut kepada Allah Ta’ala sehingga mendorongnya untuk menjauhi perbuatan maksiat. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ”Sesungguhnya hanyalah yang takut kepada Allah di antara para hamba-Nya adalah para ulama.” (QS. Fathir [35]: 28)[Selesai]***Disempurnakan di malam hari, Rotterdam NL, 9 Jumadil awwal 1439/27 Januari 2018Oleh seorang hamba yang sangat butuh ampunan Rabb-nya,Penulis: Muhammad Saifudin Hakim Artikel: Muslim.or.id Catatan kaki:[1]     Lihat Sittu Durar min Ushuuli Ahil Atsar, hal. 34.[2]     Lihat Al-Qawaa’idul Hisan, hal. 51-57.🔍 Banyak Tertawa Mematikan Hati, Meninggalkan Shalat Subuh, Arti Kata Kafir Dalam Islam, Arti Thuma'ninah, Cara Membersihkan Darah Haid Dalam Islam

Rincian Hukum Tauriyah (Bag. 1)

Di antara bentuk maksiat dan dosa lisan adalah perkataan dusta, yaitu mengatakan sesuatu berbeda dengan kondisi senyatanya. Namun terkadang ada beberapa kondisi yang jika kita berkata jujur, akan menimbulkan dampak buruk (mudharat) kepada diri kita. Dalam kondisi semacam ini, boleh berbohong, atau jika tidak, dia bisa mencari jalan keluar dengan mengucapkan kalimat-kalimat tauriyah. Tauriyah inilah yang akan kami bahas dalam tulisan ini.Baca Juga: Sumpah Dusta untuk Melariskan Barang DaganganPengertian tauriyah (ma’aaridh)Yang dimaksud dengan tauriyah adalah seseorang mengucapkan suatu kalimat atau perkataan, dan dia maksudkan dengan kalimat tersebut maksud yang benar dan tidak bohong, meskipun ketika kalimat itu ditangkap oleh orang lain, mereka akan memahami makna lain yang berbeda dengan maksud si pembicara. Untuk memperjelas definisi di atas, berikut ini kami sampaikan satu contoh tauriyah:Ada orang dzalim (si A) yang mengejar dan bermaksud untuk mendzalimi si B. Lalu si B lari dan bersembunyi di rumah kita. Dan ketika si B masuk ke rumah kita, kita sedang duduk di kursi teras rumah. Lalu datanglah si A dan menanyakan apakah melihat si B?Karena kita mengetahui bahwa si A akan berbuat dzalim kepada si B, maka kita menjawab, “Sejak aku berdiri di sini, aku tidak melihat seorang pun.” Yang dipahami oleh si A dari kalimat ini adalah bahwa kita memang tidak melihat siapa pun, termasuk si B. Inilah makna yang ditangkap oleh si A.Padahal makna yang kita maksud, dan ini juga makna yang benar, adalah bahwa kita tidak melihat siapapun itu sejak kita berdiri. Karena tadi si B masuk ke rumah kita, ketika kita sedang duduk. Jadi apa yang kita sampaikan itu sebetulnya bukan kebohongan. Akan tetapi, makna yang ditangkap oleh orang lain itu seolah-olah adalah bohong karena mereka menangkap maksud lain dari kalimat kita.Baca Juga: Fir’aun Mendustakan Allah Berada di Atas LangitContoh lain dari tauriyah adalah tauriyah yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim ‘alaihis salaam, sebagaimana dalam riwayat dalam Shahih Bukhari.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan bahwa pada suatu hari, Nabi Ibrahim ‘alaihis salaam sedang bersama dengan Sarah, istrinya. Beliau datang kepada seorang raja yang zhalim, lalu raja tersebut diberi informasi bahwa akan ada seorang laki-laki bersama seorang wanita yang paling cantik. Sehingga diutuslah seseorang menemui Ibrahim, lalu utusan itu bertanya kepadanya. Utusan itu bertanya, “Siapakah wanita ini?” Ibrahim menjawab, “Dia saudaraku.” Lalu Sarah datang, maka Ibrahim pun berkata,يَا سَارَةُ: لَيْسَ عَلَى وَجْهِ الأَرْضِ مُؤْمِنٌ غَيْرِي وَغَيْرَكِ، وَإِنَّ هَذَا سَأَلَنِي فَأَخْبَرْتُهُ أَنَّكِ أُخْتِي، فَلاَ تُكَذِّبِينِي“Wahai Sarah, tidak ada di muka bumi ini orang yang beriman selain aku dan dirimu. Orang tadi bertanya kepadaku, aku sampaikan bahwa kamu adalah saudariku. Karena itu, jangan Engkau anggap bahwa aku berbohong.” (HR. Bukhari no. 3358)Kata “saudara” bisa dimaksudkan dengan “saudara seiman atau seagama”; dan bisa juga dimaksudkan dengan “saudara kandung”. Nabi Ibrahim memaksudkan jawaban beliau sebagai “saudara seiman” (dan ini makna benar, tidak bohong). Meskipun yang dipahami oleh utusan raja adalah “saudara kandung” (dan ini makna yang tidak benar). Dengan kalimat tersebut, Nabi Ibrahim sedang berusaha menghindarkan istrinya, Sarah, dari kezaliman yang akan dilakukan oleh sang raja.Baca Juga: Bahaya Dusta Atas Nama NabiTauriyah adalah jalan keluar daripada melakukan kebohongan secara terang-teranganIbnul Qayyim rahimahullah menyebutkan sejumlah riwayat dari ulama salaf yang menunjukkan bahwa tauriyah ini adalah jalan keluar daripada harus berkata yang murni bohong dan dusta. ‘Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu mengatakan,إن في معاريض الكلام ما يغني الرجل عن الكذب“Sesunggguhnya dalam bahasa-bahasa tauriyah itu sudah mencukupi seseorang sehingga dia tidak perlu berdusta secara terang-terangan.” (Ighatsatul Lahafaan, 1: 381)Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma mengatakan,ما يسرني بمعاريض الكلام حمر النعم“Tidaklah membahagiakanku ketika bahasa-bahasa tauriyah itu diganti dengan unta merah (harta yang paling mahal ketika itu, pent.)” (Ighatsatul Lahafaan, 1: 381)Jadi, menemukan kalimat-kalimat tauriyah yang bisa menyelamatkan seseorang dari dusta itu jauh lebih berharga dari unta merah yang merupakan harta yang paling mahal ketika itu.Baca Juga: Inilah Kedustaan Dalam PacaranSeorang ulama masa tabi’in, Hammad rahimahullahu Ta’ala, jika seorang tamu datang ke rumah beliau namun beliau tidak mau menemui dan berbicara dengannya, maka beliau meletakkan tangan atau jarinya ke giginya, sambil mengatakan,ضرسي، ضرسي“Gigiku, gigiku … “ (Afaatul Lisaan, hal. 50)Orang mengira bahwa beliau sedang sakit gigi, sehingga mereka pun pulang karena merasa tidak enak. Padahal yang dimaksud Hammad adalah sekedar ingin menunjukkan bahwa ini gigi, dan ini tentu benar karena yang ditunjuk adalah gigi, bukan bagian tubuh yang lain.Baca Juga:[Bersambung]***@Puri Gardenia i10, 12 Syawwal 1440/16 Juni 2019Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.Or.Id🔍 Hadits Tentang Syukur, Keimanan Kepada Allah, Pelaku Riba, Hukum Main Gitar, Bacaan Tahlil Tahmid

Rincian Hukum Tauriyah (Bag. 1)

Di antara bentuk maksiat dan dosa lisan adalah perkataan dusta, yaitu mengatakan sesuatu berbeda dengan kondisi senyatanya. Namun terkadang ada beberapa kondisi yang jika kita berkata jujur, akan menimbulkan dampak buruk (mudharat) kepada diri kita. Dalam kondisi semacam ini, boleh berbohong, atau jika tidak, dia bisa mencari jalan keluar dengan mengucapkan kalimat-kalimat tauriyah. Tauriyah inilah yang akan kami bahas dalam tulisan ini.Baca Juga: Sumpah Dusta untuk Melariskan Barang DaganganPengertian tauriyah (ma’aaridh)Yang dimaksud dengan tauriyah adalah seseorang mengucapkan suatu kalimat atau perkataan, dan dia maksudkan dengan kalimat tersebut maksud yang benar dan tidak bohong, meskipun ketika kalimat itu ditangkap oleh orang lain, mereka akan memahami makna lain yang berbeda dengan maksud si pembicara. Untuk memperjelas definisi di atas, berikut ini kami sampaikan satu contoh tauriyah:Ada orang dzalim (si A) yang mengejar dan bermaksud untuk mendzalimi si B. Lalu si B lari dan bersembunyi di rumah kita. Dan ketika si B masuk ke rumah kita, kita sedang duduk di kursi teras rumah. Lalu datanglah si A dan menanyakan apakah melihat si B?Karena kita mengetahui bahwa si A akan berbuat dzalim kepada si B, maka kita menjawab, “Sejak aku berdiri di sini, aku tidak melihat seorang pun.” Yang dipahami oleh si A dari kalimat ini adalah bahwa kita memang tidak melihat siapa pun, termasuk si B. Inilah makna yang ditangkap oleh si A.Padahal makna yang kita maksud, dan ini juga makna yang benar, adalah bahwa kita tidak melihat siapapun itu sejak kita berdiri. Karena tadi si B masuk ke rumah kita, ketika kita sedang duduk. Jadi apa yang kita sampaikan itu sebetulnya bukan kebohongan. Akan tetapi, makna yang ditangkap oleh orang lain itu seolah-olah adalah bohong karena mereka menangkap maksud lain dari kalimat kita.Baca Juga: Fir’aun Mendustakan Allah Berada di Atas LangitContoh lain dari tauriyah adalah tauriyah yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim ‘alaihis salaam, sebagaimana dalam riwayat dalam Shahih Bukhari.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan bahwa pada suatu hari, Nabi Ibrahim ‘alaihis salaam sedang bersama dengan Sarah, istrinya. Beliau datang kepada seorang raja yang zhalim, lalu raja tersebut diberi informasi bahwa akan ada seorang laki-laki bersama seorang wanita yang paling cantik. Sehingga diutuslah seseorang menemui Ibrahim, lalu utusan itu bertanya kepadanya. Utusan itu bertanya, “Siapakah wanita ini?” Ibrahim menjawab, “Dia saudaraku.” Lalu Sarah datang, maka Ibrahim pun berkata,يَا سَارَةُ: لَيْسَ عَلَى وَجْهِ الأَرْضِ مُؤْمِنٌ غَيْرِي وَغَيْرَكِ، وَإِنَّ هَذَا سَأَلَنِي فَأَخْبَرْتُهُ أَنَّكِ أُخْتِي، فَلاَ تُكَذِّبِينِي“Wahai Sarah, tidak ada di muka bumi ini orang yang beriman selain aku dan dirimu. Orang tadi bertanya kepadaku, aku sampaikan bahwa kamu adalah saudariku. Karena itu, jangan Engkau anggap bahwa aku berbohong.” (HR. Bukhari no. 3358)Kata “saudara” bisa dimaksudkan dengan “saudara seiman atau seagama”; dan bisa juga dimaksudkan dengan “saudara kandung”. Nabi Ibrahim memaksudkan jawaban beliau sebagai “saudara seiman” (dan ini makna benar, tidak bohong). Meskipun yang dipahami oleh utusan raja adalah “saudara kandung” (dan ini makna yang tidak benar). Dengan kalimat tersebut, Nabi Ibrahim sedang berusaha menghindarkan istrinya, Sarah, dari kezaliman yang akan dilakukan oleh sang raja.Baca Juga: Bahaya Dusta Atas Nama NabiTauriyah adalah jalan keluar daripada melakukan kebohongan secara terang-teranganIbnul Qayyim rahimahullah menyebutkan sejumlah riwayat dari ulama salaf yang menunjukkan bahwa tauriyah ini adalah jalan keluar daripada harus berkata yang murni bohong dan dusta. ‘Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu mengatakan,إن في معاريض الكلام ما يغني الرجل عن الكذب“Sesunggguhnya dalam bahasa-bahasa tauriyah itu sudah mencukupi seseorang sehingga dia tidak perlu berdusta secara terang-terangan.” (Ighatsatul Lahafaan, 1: 381)Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma mengatakan,ما يسرني بمعاريض الكلام حمر النعم“Tidaklah membahagiakanku ketika bahasa-bahasa tauriyah itu diganti dengan unta merah (harta yang paling mahal ketika itu, pent.)” (Ighatsatul Lahafaan, 1: 381)Jadi, menemukan kalimat-kalimat tauriyah yang bisa menyelamatkan seseorang dari dusta itu jauh lebih berharga dari unta merah yang merupakan harta yang paling mahal ketika itu.Baca Juga: Inilah Kedustaan Dalam PacaranSeorang ulama masa tabi’in, Hammad rahimahullahu Ta’ala, jika seorang tamu datang ke rumah beliau namun beliau tidak mau menemui dan berbicara dengannya, maka beliau meletakkan tangan atau jarinya ke giginya, sambil mengatakan,ضرسي، ضرسي“Gigiku, gigiku … “ (Afaatul Lisaan, hal. 50)Orang mengira bahwa beliau sedang sakit gigi, sehingga mereka pun pulang karena merasa tidak enak. Padahal yang dimaksud Hammad adalah sekedar ingin menunjukkan bahwa ini gigi, dan ini tentu benar karena yang ditunjuk adalah gigi, bukan bagian tubuh yang lain.Baca Juga:[Bersambung]***@Puri Gardenia i10, 12 Syawwal 1440/16 Juni 2019Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.Or.Id🔍 Hadits Tentang Syukur, Keimanan Kepada Allah, Pelaku Riba, Hukum Main Gitar, Bacaan Tahlil Tahmid
Di antara bentuk maksiat dan dosa lisan adalah perkataan dusta, yaitu mengatakan sesuatu berbeda dengan kondisi senyatanya. Namun terkadang ada beberapa kondisi yang jika kita berkata jujur, akan menimbulkan dampak buruk (mudharat) kepada diri kita. Dalam kondisi semacam ini, boleh berbohong, atau jika tidak, dia bisa mencari jalan keluar dengan mengucapkan kalimat-kalimat tauriyah. Tauriyah inilah yang akan kami bahas dalam tulisan ini.Baca Juga: Sumpah Dusta untuk Melariskan Barang DaganganPengertian tauriyah (ma’aaridh)Yang dimaksud dengan tauriyah adalah seseorang mengucapkan suatu kalimat atau perkataan, dan dia maksudkan dengan kalimat tersebut maksud yang benar dan tidak bohong, meskipun ketika kalimat itu ditangkap oleh orang lain, mereka akan memahami makna lain yang berbeda dengan maksud si pembicara. Untuk memperjelas definisi di atas, berikut ini kami sampaikan satu contoh tauriyah:Ada orang dzalim (si A) yang mengejar dan bermaksud untuk mendzalimi si B. Lalu si B lari dan bersembunyi di rumah kita. Dan ketika si B masuk ke rumah kita, kita sedang duduk di kursi teras rumah. Lalu datanglah si A dan menanyakan apakah melihat si B?Karena kita mengetahui bahwa si A akan berbuat dzalim kepada si B, maka kita menjawab, “Sejak aku berdiri di sini, aku tidak melihat seorang pun.” Yang dipahami oleh si A dari kalimat ini adalah bahwa kita memang tidak melihat siapa pun, termasuk si B. Inilah makna yang ditangkap oleh si A.Padahal makna yang kita maksud, dan ini juga makna yang benar, adalah bahwa kita tidak melihat siapapun itu sejak kita berdiri. Karena tadi si B masuk ke rumah kita, ketika kita sedang duduk. Jadi apa yang kita sampaikan itu sebetulnya bukan kebohongan. Akan tetapi, makna yang ditangkap oleh orang lain itu seolah-olah adalah bohong karena mereka menangkap maksud lain dari kalimat kita.Baca Juga: Fir’aun Mendustakan Allah Berada di Atas LangitContoh lain dari tauriyah adalah tauriyah yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim ‘alaihis salaam, sebagaimana dalam riwayat dalam Shahih Bukhari.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan bahwa pada suatu hari, Nabi Ibrahim ‘alaihis salaam sedang bersama dengan Sarah, istrinya. Beliau datang kepada seorang raja yang zhalim, lalu raja tersebut diberi informasi bahwa akan ada seorang laki-laki bersama seorang wanita yang paling cantik. Sehingga diutuslah seseorang menemui Ibrahim, lalu utusan itu bertanya kepadanya. Utusan itu bertanya, “Siapakah wanita ini?” Ibrahim menjawab, “Dia saudaraku.” Lalu Sarah datang, maka Ibrahim pun berkata,يَا سَارَةُ: لَيْسَ عَلَى وَجْهِ الأَرْضِ مُؤْمِنٌ غَيْرِي وَغَيْرَكِ، وَإِنَّ هَذَا سَأَلَنِي فَأَخْبَرْتُهُ أَنَّكِ أُخْتِي، فَلاَ تُكَذِّبِينِي“Wahai Sarah, tidak ada di muka bumi ini orang yang beriman selain aku dan dirimu. Orang tadi bertanya kepadaku, aku sampaikan bahwa kamu adalah saudariku. Karena itu, jangan Engkau anggap bahwa aku berbohong.” (HR. Bukhari no. 3358)Kata “saudara” bisa dimaksudkan dengan “saudara seiman atau seagama”; dan bisa juga dimaksudkan dengan “saudara kandung”. Nabi Ibrahim memaksudkan jawaban beliau sebagai “saudara seiman” (dan ini makna benar, tidak bohong). Meskipun yang dipahami oleh utusan raja adalah “saudara kandung” (dan ini makna yang tidak benar). Dengan kalimat tersebut, Nabi Ibrahim sedang berusaha menghindarkan istrinya, Sarah, dari kezaliman yang akan dilakukan oleh sang raja.Baca Juga: Bahaya Dusta Atas Nama NabiTauriyah adalah jalan keluar daripada melakukan kebohongan secara terang-teranganIbnul Qayyim rahimahullah menyebutkan sejumlah riwayat dari ulama salaf yang menunjukkan bahwa tauriyah ini adalah jalan keluar daripada harus berkata yang murni bohong dan dusta. ‘Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu mengatakan,إن في معاريض الكلام ما يغني الرجل عن الكذب“Sesunggguhnya dalam bahasa-bahasa tauriyah itu sudah mencukupi seseorang sehingga dia tidak perlu berdusta secara terang-terangan.” (Ighatsatul Lahafaan, 1: 381)Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma mengatakan,ما يسرني بمعاريض الكلام حمر النعم“Tidaklah membahagiakanku ketika bahasa-bahasa tauriyah itu diganti dengan unta merah (harta yang paling mahal ketika itu, pent.)” (Ighatsatul Lahafaan, 1: 381)Jadi, menemukan kalimat-kalimat tauriyah yang bisa menyelamatkan seseorang dari dusta itu jauh lebih berharga dari unta merah yang merupakan harta yang paling mahal ketika itu.Baca Juga: Inilah Kedustaan Dalam PacaranSeorang ulama masa tabi’in, Hammad rahimahullahu Ta’ala, jika seorang tamu datang ke rumah beliau namun beliau tidak mau menemui dan berbicara dengannya, maka beliau meletakkan tangan atau jarinya ke giginya, sambil mengatakan,ضرسي، ضرسي“Gigiku, gigiku … “ (Afaatul Lisaan, hal. 50)Orang mengira bahwa beliau sedang sakit gigi, sehingga mereka pun pulang karena merasa tidak enak. Padahal yang dimaksud Hammad adalah sekedar ingin menunjukkan bahwa ini gigi, dan ini tentu benar karena yang ditunjuk adalah gigi, bukan bagian tubuh yang lain.Baca Juga:[Bersambung]***@Puri Gardenia i10, 12 Syawwal 1440/16 Juni 2019Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.Or.Id🔍 Hadits Tentang Syukur, Keimanan Kepada Allah, Pelaku Riba, Hukum Main Gitar, Bacaan Tahlil Tahmid


Di antara bentuk maksiat dan dosa lisan adalah perkataan dusta, yaitu mengatakan sesuatu berbeda dengan kondisi senyatanya. Namun terkadang ada beberapa kondisi yang jika kita berkata jujur, akan menimbulkan dampak buruk (mudharat) kepada diri kita. Dalam kondisi semacam ini, boleh berbohong, atau jika tidak, dia bisa mencari jalan keluar dengan mengucapkan kalimat-kalimat tauriyah. Tauriyah inilah yang akan kami bahas dalam tulisan ini.Baca Juga: Sumpah Dusta untuk Melariskan Barang DaganganPengertian tauriyah (ma’aaridh)Yang dimaksud dengan tauriyah adalah seseorang mengucapkan suatu kalimat atau perkataan, dan dia maksudkan dengan kalimat tersebut maksud yang benar dan tidak bohong, meskipun ketika kalimat itu ditangkap oleh orang lain, mereka akan memahami makna lain yang berbeda dengan maksud si pembicara. Untuk memperjelas definisi di atas, berikut ini kami sampaikan satu contoh tauriyah:Ada orang dzalim (si A) yang mengejar dan bermaksud untuk mendzalimi si B. Lalu si B lari dan bersembunyi di rumah kita. Dan ketika si B masuk ke rumah kita, kita sedang duduk di kursi teras rumah. Lalu datanglah si A dan menanyakan apakah melihat si B?Karena kita mengetahui bahwa si A akan berbuat dzalim kepada si B, maka kita menjawab, “Sejak aku berdiri di sini, aku tidak melihat seorang pun.” Yang dipahami oleh si A dari kalimat ini adalah bahwa kita memang tidak melihat siapa pun, termasuk si B. Inilah makna yang ditangkap oleh si A.Padahal makna yang kita maksud, dan ini juga makna yang benar, adalah bahwa kita tidak melihat siapapun itu sejak kita berdiri. Karena tadi si B masuk ke rumah kita, ketika kita sedang duduk. Jadi apa yang kita sampaikan itu sebetulnya bukan kebohongan. Akan tetapi, makna yang ditangkap oleh orang lain itu seolah-olah adalah bohong karena mereka menangkap maksud lain dari kalimat kita.Baca Juga: Fir’aun Mendustakan Allah Berada di Atas LangitContoh lain dari tauriyah adalah tauriyah yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim ‘alaihis salaam, sebagaimana dalam riwayat dalam Shahih Bukhari.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan bahwa pada suatu hari, Nabi Ibrahim ‘alaihis salaam sedang bersama dengan Sarah, istrinya. Beliau datang kepada seorang raja yang zhalim, lalu raja tersebut diberi informasi bahwa akan ada seorang laki-laki bersama seorang wanita yang paling cantik. Sehingga diutuslah seseorang menemui Ibrahim, lalu utusan itu bertanya kepadanya. Utusan itu bertanya, “Siapakah wanita ini?” Ibrahim menjawab, “Dia saudaraku.” Lalu Sarah datang, maka Ibrahim pun berkata,يَا سَارَةُ: لَيْسَ عَلَى وَجْهِ الأَرْضِ مُؤْمِنٌ غَيْرِي وَغَيْرَكِ، وَإِنَّ هَذَا سَأَلَنِي فَأَخْبَرْتُهُ أَنَّكِ أُخْتِي، فَلاَ تُكَذِّبِينِي“Wahai Sarah, tidak ada di muka bumi ini orang yang beriman selain aku dan dirimu. Orang tadi bertanya kepadaku, aku sampaikan bahwa kamu adalah saudariku. Karena itu, jangan Engkau anggap bahwa aku berbohong.” (HR. Bukhari no. 3358)Kata “saudara” bisa dimaksudkan dengan “saudara seiman atau seagama”; dan bisa juga dimaksudkan dengan “saudara kandung”. Nabi Ibrahim memaksudkan jawaban beliau sebagai “saudara seiman” (dan ini makna benar, tidak bohong). Meskipun yang dipahami oleh utusan raja adalah “saudara kandung” (dan ini makna yang tidak benar). Dengan kalimat tersebut, Nabi Ibrahim sedang berusaha menghindarkan istrinya, Sarah, dari kezaliman yang akan dilakukan oleh sang raja.Baca Juga: Bahaya Dusta Atas Nama NabiTauriyah adalah jalan keluar daripada melakukan kebohongan secara terang-teranganIbnul Qayyim rahimahullah menyebutkan sejumlah riwayat dari ulama salaf yang menunjukkan bahwa tauriyah ini adalah jalan keluar daripada harus berkata yang murni bohong dan dusta. ‘Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu mengatakan,إن في معاريض الكلام ما يغني الرجل عن الكذب“Sesunggguhnya dalam bahasa-bahasa tauriyah itu sudah mencukupi seseorang sehingga dia tidak perlu berdusta secara terang-terangan.” (Ighatsatul Lahafaan, 1: 381)Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma mengatakan,ما يسرني بمعاريض الكلام حمر النعم“Tidaklah membahagiakanku ketika bahasa-bahasa tauriyah itu diganti dengan unta merah (harta yang paling mahal ketika itu, pent.)” (Ighatsatul Lahafaan, 1: 381)Jadi, menemukan kalimat-kalimat tauriyah yang bisa menyelamatkan seseorang dari dusta itu jauh lebih berharga dari unta merah yang merupakan harta yang paling mahal ketika itu.Baca Juga: Inilah Kedustaan Dalam PacaranSeorang ulama masa tabi’in, Hammad rahimahullahu Ta’ala, jika seorang tamu datang ke rumah beliau namun beliau tidak mau menemui dan berbicara dengannya, maka beliau meletakkan tangan atau jarinya ke giginya, sambil mengatakan,ضرسي، ضرسي“Gigiku, gigiku … “ (Afaatul Lisaan, hal. 50)Orang mengira bahwa beliau sedang sakit gigi, sehingga mereka pun pulang karena merasa tidak enak. Padahal yang dimaksud Hammad adalah sekedar ingin menunjukkan bahwa ini gigi, dan ini tentu benar karena yang ditunjuk adalah gigi, bukan bagian tubuh yang lain.Baca Juga:[Bersambung]***@Puri Gardenia i10, 12 Syawwal 1440/16 Juni 2019Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.Or.Id🔍 Hadits Tentang Syukur, Keimanan Kepada Allah, Pelaku Riba, Hukum Main Gitar, Bacaan Tahlil Tahmid

10 Kaidah dalam Menyucikan Jiwa (Bag. 9) : Memilih Teman dalam Bergaul

Baca pembahasan sebelumnya 10 Kaidah dalam Menyucikan Jiwa (Bag. 8)Kaidah kedelapan: Memilih teman dalam bergaul Allah Ta’ala berfirman,وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ وَلَا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا“Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya. Dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini. Dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah kami lalaikan dari mengingati kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.“ (QS. Al-Kahfi [18]: 28)Syaikh ‘Abdurrahman As-Sa’di rahimahullahu Ta’ala berkata,ففيها الأمر بصحبة الأخيار، ومجاهدة النفس على صحبتهم، ومخالطتهم وإن كانوا فقراء فإن في صحبتهم من الفوائد، ما لا يحصى“Dalam ayat ini terkandung perintah untuk bergaul dengan orang-orang terbaik (pilihan), bersungguh-sungguh untuk berteman dan bersama dengan mereka, meskipun mereka miskin. Karena sesungguhnya, terdapat faidah yang tidak terhitung dalam pergaulan dengan mereka.” (Taisiir Karimirrahman, hal. 547)Baca Juga: Cara Memilih Teman Pergaulan saat KuliahRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ، فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ“Seseorang itu sesuai dengan agama sahabatnya. Oleh karena itu, perhatikanlah siapa yang menjadi sahabat kalian.” (HR. Abu Dawud no. 4833. Dinilai hasan oleh Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah, 2: 634)Abu Sulaiman Al-Khithabi rahimahullahu Ta’ala berkata, “Makna dari ‘Seseorang itu sesuai dengan agama sahabatnya’ adalah janganlah engkau bergaul kecuali dengan orang yang bagus agamanya dan memiliki sifat amanah. Karena jika engkau bergaul dengannya, engkau akan meneladaninya dalam agama dan pemikirannya (pendapatnya). Janganlah engkau tertipu dengan agamamu dan janganlah engkau mempertaruhkan dirimu, sehingga engkau bergaul dengan orang yang cuek dengan agama dan rusak pemikirannya.” (Al-‘Uzlah, hal. 56)Oleh karena itu, Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata,اعتبروا الناس بأخدانهم، فإن المرء لايخادن إلا من يعجبه“Nilailah manusia dengan sahabat dekatnya. Karena seseorang tidaklah bersahabat kecuali dengan orang yang dikaguminya.“ (Diriwayatkan oleh Ibnu Baththah dalam Al-Ibaanah Al-Kubra no. 376) Baca Juga: Baru Ngaji, tapi Khawatir Terpengaruh dengan Teman-Teman LamaRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّمَا مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ، وَالْجَلِيسِ السَّوْءِ، كَحَامِلِ الْمِسْكِ، وَنَافِخِ الْكِيرِ، فَحَامِلُ الْمِسْكِ: إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ، وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً، وَنَافِخُ الْكِيرِ: إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَةً“Hanyalah perumpamaan teman yang baik dan teman yang buruk itu ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi bisa jadi akan memberimu minyak wangi atau Engkau bisa membeli minyak wangi darinya. Dan kalaupun tidak, Engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) akan mengenai (membakar) pakaianmu. Dan kalaupun tidak, Engkau tetap mendapatkan bau asap yang tidak sedap.” (HR. Bukhari 5534 dan Muslim 2628)Al-Qadhi ‘Iyadh rahimahullahu Ta’ala mengatakan,“Dalam hadits di atas terkandung (pelajaran) agar menjauhi interaksi dengan orang-orang yang buruk; bermajelis dengan orang yang jahat, ahli bid’ah, dan orang-orang yang suka menipu manusia. Karena semua orang tersebut akan menimbulkan pengaruh pada teman duduknya. Dan juga terkandung dorongan (motivasi) untuk bermajelis dengan orang-orang yang baik; mempelajari ilmu, adab, hidayah (petunjuk), dan akhlak yang terpuji (dari mereka).” (Ikmaalul Mu’allim bi Fawaaidi Muslim, 8: 108)Baca Juga: Inilah Pengaruh Teman Bergaul Cara Mengingatkan Kebaikan pada Teman [Bersambung]***@Rumah Lendah, 18 Shafar 1440/ 27 Oktober 2018Penerjemah: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.or.idReferensi:Diterjemahkan dari kitab ‘Asyru qawaaida fi tazkiyatin nafsi, hal. 32-34, karya Syaikh ‘Abdurrazaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr hafidzahullahu Ta’ala. 🔍 Hadits Pertemanan, Sejarah Al Ghazali, Hadis Tentang Mendidik Anak, Doa Melihat Keindahan Alam, Manfaat Membaca Al Quran Di Bulan Ramadhan

10 Kaidah dalam Menyucikan Jiwa (Bag. 9) : Memilih Teman dalam Bergaul

Baca pembahasan sebelumnya 10 Kaidah dalam Menyucikan Jiwa (Bag. 8)Kaidah kedelapan: Memilih teman dalam bergaul Allah Ta’ala berfirman,وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ وَلَا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا“Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya. Dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini. Dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah kami lalaikan dari mengingati kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.“ (QS. Al-Kahfi [18]: 28)Syaikh ‘Abdurrahman As-Sa’di rahimahullahu Ta’ala berkata,ففيها الأمر بصحبة الأخيار، ومجاهدة النفس على صحبتهم، ومخالطتهم وإن كانوا فقراء فإن في صحبتهم من الفوائد، ما لا يحصى“Dalam ayat ini terkandung perintah untuk bergaul dengan orang-orang terbaik (pilihan), bersungguh-sungguh untuk berteman dan bersama dengan mereka, meskipun mereka miskin. Karena sesungguhnya, terdapat faidah yang tidak terhitung dalam pergaulan dengan mereka.” (Taisiir Karimirrahman, hal. 547)Baca Juga: Cara Memilih Teman Pergaulan saat KuliahRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ، فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ“Seseorang itu sesuai dengan agama sahabatnya. Oleh karena itu, perhatikanlah siapa yang menjadi sahabat kalian.” (HR. Abu Dawud no. 4833. Dinilai hasan oleh Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah, 2: 634)Abu Sulaiman Al-Khithabi rahimahullahu Ta’ala berkata, “Makna dari ‘Seseorang itu sesuai dengan agama sahabatnya’ adalah janganlah engkau bergaul kecuali dengan orang yang bagus agamanya dan memiliki sifat amanah. Karena jika engkau bergaul dengannya, engkau akan meneladaninya dalam agama dan pemikirannya (pendapatnya). Janganlah engkau tertipu dengan agamamu dan janganlah engkau mempertaruhkan dirimu, sehingga engkau bergaul dengan orang yang cuek dengan agama dan rusak pemikirannya.” (Al-‘Uzlah, hal. 56)Oleh karena itu, Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata,اعتبروا الناس بأخدانهم، فإن المرء لايخادن إلا من يعجبه“Nilailah manusia dengan sahabat dekatnya. Karena seseorang tidaklah bersahabat kecuali dengan orang yang dikaguminya.“ (Diriwayatkan oleh Ibnu Baththah dalam Al-Ibaanah Al-Kubra no. 376) Baca Juga: Baru Ngaji, tapi Khawatir Terpengaruh dengan Teman-Teman LamaRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّمَا مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ، وَالْجَلِيسِ السَّوْءِ، كَحَامِلِ الْمِسْكِ، وَنَافِخِ الْكِيرِ، فَحَامِلُ الْمِسْكِ: إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ، وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً، وَنَافِخُ الْكِيرِ: إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَةً“Hanyalah perumpamaan teman yang baik dan teman yang buruk itu ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi bisa jadi akan memberimu minyak wangi atau Engkau bisa membeli minyak wangi darinya. Dan kalaupun tidak, Engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) akan mengenai (membakar) pakaianmu. Dan kalaupun tidak, Engkau tetap mendapatkan bau asap yang tidak sedap.” (HR. Bukhari 5534 dan Muslim 2628)Al-Qadhi ‘Iyadh rahimahullahu Ta’ala mengatakan,“Dalam hadits di atas terkandung (pelajaran) agar menjauhi interaksi dengan orang-orang yang buruk; bermajelis dengan orang yang jahat, ahli bid’ah, dan orang-orang yang suka menipu manusia. Karena semua orang tersebut akan menimbulkan pengaruh pada teman duduknya. Dan juga terkandung dorongan (motivasi) untuk bermajelis dengan orang-orang yang baik; mempelajari ilmu, adab, hidayah (petunjuk), dan akhlak yang terpuji (dari mereka).” (Ikmaalul Mu’allim bi Fawaaidi Muslim, 8: 108)Baca Juga: Inilah Pengaruh Teman Bergaul Cara Mengingatkan Kebaikan pada Teman [Bersambung]***@Rumah Lendah, 18 Shafar 1440/ 27 Oktober 2018Penerjemah: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.or.idReferensi:Diterjemahkan dari kitab ‘Asyru qawaaida fi tazkiyatin nafsi, hal. 32-34, karya Syaikh ‘Abdurrazaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr hafidzahullahu Ta’ala. 🔍 Hadits Pertemanan, Sejarah Al Ghazali, Hadis Tentang Mendidik Anak, Doa Melihat Keindahan Alam, Manfaat Membaca Al Quran Di Bulan Ramadhan
Baca pembahasan sebelumnya 10 Kaidah dalam Menyucikan Jiwa (Bag. 8)Kaidah kedelapan: Memilih teman dalam bergaul Allah Ta’ala berfirman,وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ وَلَا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا“Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya. Dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini. Dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah kami lalaikan dari mengingati kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.“ (QS. Al-Kahfi [18]: 28)Syaikh ‘Abdurrahman As-Sa’di rahimahullahu Ta’ala berkata,ففيها الأمر بصحبة الأخيار، ومجاهدة النفس على صحبتهم، ومخالطتهم وإن كانوا فقراء فإن في صحبتهم من الفوائد، ما لا يحصى“Dalam ayat ini terkandung perintah untuk bergaul dengan orang-orang terbaik (pilihan), bersungguh-sungguh untuk berteman dan bersama dengan mereka, meskipun mereka miskin. Karena sesungguhnya, terdapat faidah yang tidak terhitung dalam pergaulan dengan mereka.” (Taisiir Karimirrahman, hal. 547)Baca Juga: Cara Memilih Teman Pergaulan saat KuliahRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ، فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ“Seseorang itu sesuai dengan agama sahabatnya. Oleh karena itu, perhatikanlah siapa yang menjadi sahabat kalian.” (HR. Abu Dawud no. 4833. Dinilai hasan oleh Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah, 2: 634)Abu Sulaiman Al-Khithabi rahimahullahu Ta’ala berkata, “Makna dari ‘Seseorang itu sesuai dengan agama sahabatnya’ adalah janganlah engkau bergaul kecuali dengan orang yang bagus agamanya dan memiliki sifat amanah. Karena jika engkau bergaul dengannya, engkau akan meneladaninya dalam agama dan pemikirannya (pendapatnya). Janganlah engkau tertipu dengan agamamu dan janganlah engkau mempertaruhkan dirimu, sehingga engkau bergaul dengan orang yang cuek dengan agama dan rusak pemikirannya.” (Al-‘Uzlah, hal. 56)Oleh karena itu, Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata,اعتبروا الناس بأخدانهم، فإن المرء لايخادن إلا من يعجبه“Nilailah manusia dengan sahabat dekatnya. Karena seseorang tidaklah bersahabat kecuali dengan orang yang dikaguminya.“ (Diriwayatkan oleh Ibnu Baththah dalam Al-Ibaanah Al-Kubra no. 376) Baca Juga: Baru Ngaji, tapi Khawatir Terpengaruh dengan Teman-Teman LamaRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّمَا مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ، وَالْجَلِيسِ السَّوْءِ، كَحَامِلِ الْمِسْكِ، وَنَافِخِ الْكِيرِ، فَحَامِلُ الْمِسْكِ: إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ، وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً، وَنَافِخُ الْكِيرِ: إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَةً“Hanyalah perumpamaan teman yang baik dan teman yang buruk itu ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi bisa jadi akan memberimu minyak wangi atau Engkau bisa membeli minyak wangi darinya. Dan kalaupun tidak, Engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) akan mengenai (membakar) pakaianmu. Dan kalaupun tidak, Engkau tetap mendapatkan bau asap yang tidak sedap.” (HR. Bukhari 5534 dan Muslim 2628)Al-Qadhi ‘Iyadh rahimahullahu Ta’ala mengatakan,“Dalam hadits di atas terkandung (pelajaran) agar menjauhi interaksi dengan orang-orang yang buruk; bermajelis dengan orang yang jahat, ahli bid’ah, dan orang-orang yang suka menipu manusia. Karena semua orang tersebut akan menimbulkan pengaruh pada teman duduknya. Dan juga terkandung dorongan (motivasi) untuk bermajelis dengan orang-orang yang baik; mempelajari ilmu, adab, hidayah (petunjuk), dan akhlak yang terpuji (dari mereka).” (Ikmaalul Mu’allim bi Fawaaidi Muslim, 8: 108)Baca Juga: Inilah Pengaruh Teman Bergaul Cara Mengingatkan Kebaikan pada Teman [Bersambung]***@Rumah Lendah, 18 Shafar 1440/ 27 Oktober 2018Penerjemah: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.or.idReferensi:Diterjemahkan dari kitab ‘Asyru qawaaida fi tazkiyatin nafsi, hal. 32-34, karya Syaikh ‘Abdurrazaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr hafidzahullahu Ta’ala. 🔍 Hadits Pertemanan, Sejarah Al Ghazali, Hadis Tentang Mendidik Anak, Doa Melihat Keindahan Alam, Manfaat Membaca Al Quran Di Bulan Ramadhan


Baca pembahasan sebelumnya 10 Kaidah dalam Menyucikan Jiwa (Bag. 8)Kaidah kedelapan: Memilih teman dalam bergaul Allah Ta’ala berfirman,وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ وَلَا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا“Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya. Dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini. Dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah kami lalaikan dari mengingati kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.“ (QS. Al-Kahfi [18]: 28)Syaikh ‘Abdurrahman As-Sa’di rahimahullahu Ta’ala berkata,ففيها الأمر بصحبة الأخيار، ومجاهدة النفس على صحبتهم، ومخالطتهم وإن كانوا فقراء فإن في صحبتهم من الفوائد، ما لا يحصى“Dalam ayat ini terkandung perintah untuk bergaul dengan orang-orang terbaik (pilihan), bersungguh-sungguh untuk berteman dan bersama dengan mereka, meskipun mereka miskin. Karena sesungguhnya, terdapat faidah yang tidak terhitung dalam pergaulan dengan mereka.” (Taisiir Karimirrahman, hal. 547)Baca Juga: Cara Memilih Teman Pergaulan saat KuliahRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ، فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ“Seseorang itu sesuai dengan agama sahabatnya. Oleh karena itu, perhatikanlah siapa yang menjadi sahabat kalian.” (HR. Abu Dawud no. 4833. Dinilai hasan oleh Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah, 2: 634)Abu Sulaiman Al-Khithabi rahimahullahu Ta’ala berkata, “Makna dari ‘Seseorang itu sesuai dengan agama sahabatnya’ adalah janganlah engkau bergaul kecuali dengan orang yang bagus agamanya dan memiliki sifat amanah. Karena jika engkau bergaul dengannya, engkau akan meneladaninya dalam agama dan pemikirannya (pendapatnya). Janganlah engkau tertipu dengan agamamu dan janganlah engkau mempertaruhkan dirimu, sehingga engkau bergaul dengan orang yang cuek dengan agama dan rusak pemikirannya.” (Al-‘Uzlah, hal. 56)Oleh karena itu, Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata,اعتبروا الناس بأخدانهم، فإن المرء لايخادن إلا من يعجبه“Nilailah manusia dengan sahabat dekatnya. Karena seseorang tidaklah bersahabat kecuali dengan orang yang dikaguminya.“ (Diriwayatkan oleh Ibnu Baththah dalam Al-Ibaanah Al-Kubra no. 376) Baca Juga: Baru Ngaji, tapi Khawatir Terpengaruh dengan Teman-Teman LamaRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّمَا مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ، وَالْجَلِيسِ السَّوْءِ، كَحَامِلِ الْمِسْكِ، وَنَافِخِ الْكِيرِ، فَحَامِلُ الْمِسْكِ: إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ، وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً، وَنَافِخُ الْكِيرِ: إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَةً“Hanyalah perumpamaan teman yang baik dan teman yang buruk itu ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi bisa jadi akan memberimu minyak wangi atau Engkau bisa membeli minyak wangi darinya. Dan kalaupun tidak, Engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) akan mengenai (membakar) pakaianmu. Dan kalaupun tidak, Engkau tetap mendapatkan bau asap yang tidak sedap.” (HR. Bukhari 5534 dan Muslim 2628)Al-Qadhi ‘Iyadh rahimahullahu Ta’ala mengatakan,“Dalam hadits di atas terkandung (pelajaran) agar menjauhi interaksi dengan orang-orang yang buruk; bermajelis dengan orang yang jahat, ahli bid’ah, dan orang-orang yang suka menipu manusia. Karena semua orang tersebut akan menimbulkan pengaruh pada teman duduknya. Dan juga terkandung dorongan (motivasi) untuk bermajelis dengan orang-orang yang baik; mempelajari ilmu, adab, hidayah (petunjuk), dan akhlak yang terpuji (dari mereka).” (Ikmaalul Mu’allim bi Fawaaidi Muslim, 8: 108)Baca Juga: Inilah Pengaruh Teman Bergaul Cara Mengingatkan Kebaikan pada Teman [Bersambung]***@Rumah Lendah, 18 Shafar 1440/ 27 Oktober 2018Penerjemah: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.or.idReferensi:Diterjemahkan dari kitab ‘Asyru qawaaida fi tazkiyatin nafsi, hal. 32-34, karya Syaikh ‘Abdurrazaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr hafidzahullahu Ta’ala. 🔍 Hadits Pertemanan, Sejarah Al Ghazali, Hadis Tentang Mendidik Anak, Doa Melihat Keindahan Alam, Manfaat Membaca Al Quran Di Bulan Ramadhan
Prev     Next