Serial Fiqih Pendidikan Anak No 144: MENJADI TEMPAT CURHAT YANG NYAMAN BAGI ANAK

Sebuah riset menyatakan bahwa remaja yang diberi kesempatan berbicara atau curhat kepada orangtua, mereka akan memiliki daya tahan mental lebih baik terhadap lingkungan negatif.Namun, hanya anak-anak yang merasa dekat dengan orangtua, yang dapat melakukan curhat. Nah, bagaimanakah caranya agar Anda bisa menjadi tempat curhat yang nyaman bagi anak? Ikuti langkah-langkah praktis berikut ini:Pertama: Kenali karakter anakSebagian anak dengan mudah bercerita, panjang dan bahkan tanpa jeda. Kadang juga tak peduli waktu dan tempat.Sebagian yang lain memiliki hambatan tersendiri. Berpikir lama sebelum memutuskan untuk bercerita, atau menunggu waktu dan tempat khusus.Ada pula yang terpaksa memendam isi hati; akibat pengalaman buruk sebelumnya dengan orangtua. Misalnya, dia merasa pernah dipermalukan, dianggap cengeng, tidak ditanggapi serius, atau sama sekali tidak didengarkan.Pendekatan untuk setiap anak akan berbeda. Tapi, berbicara adalah kebutuhan semua orang, termasuk anak-anak, yang pendiam sekalipun. Jadi percayalah, dengan sendirinya, anak Anda akan mencari tempat curhat. Pastikan tempat itu adalah Anda!Kedua: Jangan memaksa anak berbicaraJika Anda mendapati anak murung atau sedih karena suatu masalah, tapi belum mau bercerita, tidak mengapa. Memaksa berbicara, hanya akan membuat anak merasa terancam dan otak reptilnya bekerja untuk melindungi diri. Sehingga pada akhirnya, justru dia akan semakin tertutup.Anda cukup mengatakan, “Ibu senang jika Kakak mau bercerita. Nanti kalau Kakak sudah mau bercerita, Ibu siap mendengarkan”.Ketiga: Tahan dulu nasehat AndaJika setelah anak curhat, Anda mendapati bahwa masalahnya ditimbulkan oleh kelalaian atau kecerobohannya sendiri, jangan terburu-buru menceramahi atau memberikan nasehat panjang kepadanya. Biarkan dia bebas mengungkapkan apa yang dirasakannya. Katakan bahwa Anda memahami perasaannya. Tunjukkan bahwa Anda sungguh-sungguh mendengarkan.Keempat: Berikan kepercayaan kepadanya untuk mencari solusi masalahnya sendiriTentu saja, orangtua boleh membantu. Tetapi sebaik-baik solusi adalah yang dipikirkan dan diupayakan oleh anak sendiri. Orangtua berperan sebagai fasilitator. “Ibu tahu kamu sedih dengan nilai rapormu. Kira-kira apa yang bisa kamu lakukan agar nilai kamu meningkat?”. “Ada atau tidak yang bisa Ibu bantu dalam hal ini?”.Dengan demikian, anak-anak dilatih menjadi pencari solusi masalah, setidaknya untuk diri sendiri. Dan anaklah yang memutuskan, pada bagian mana orangtuanya dapat membantu.Kelima: Silahkan mengungkapkan gagasanAnda boleh mengungkapkan gagasan, pikiran dan perasaan Anda kepada anak setelah ia selesai berbicara dan jika diperlukan.Namun ingat, Anda berbicara dengan berfokus pada solusi. Bukan sekedar menyalahkan, mengungkit-ungkit masalah yang sudah lama berlalu atau membanding-bandingkannya dengan kakak atau adiknya secara tidak proporsional.Keenam: Gunakan waktu santai anakMemanfaatkan waktu santai akan lebih efektif. Karena anak berada dalam keadaan rileks. Dia lebih nyaman untuk berbicara dan bahkan mungkin bisa menerima pesan-pesan yang disampaikan orangtua.Ketujuh: Bersikap ekspresiflahGunakanlah bahasa tubuh dan ekspresi Anda. Silahkan tersenyum, tertawa atau menunjukkan wajah sedih, sesuai dengan apa yang diceritakan anak. Tetapi, tak usah berlebihan. Terutama ketika Anda merasa khawatir. Anda harus pandai mengendalikan diri sendiri. Ingatlah bahwa Anda dituntut untuk berempati, namun tetap harus menjadi sosok orangtua yang bisa diandalkan.Ketujuh hal di atas insyaAllah sama sekali tidak merepotkan. Menjadi tempat curhat adalah hal yang sangat sederhana dan tidak memerlukan keterampilan khusus seperti ketika Anda berbicara.Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 19 Rabi’uts Tsani 1441 / 16 Desember 2019 Post navigation Previous Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 165: BACAAN DZIKIR PAGI-PETANG (Bagian-9)Next Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 166: BACAAN DZIKIR PAGI-PETANG (Bagian-10) Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Serial Fiqih Pendidikan Anak No 144: MENJADI TEMPAT CURHAT YANG NYAMAN BAGI ANAK

Sebuah riset menyatakan bahwa remaja yang diberi kesempatan berbicara atau curhat kepada orangtua, mereka akan memiliki daya tahan mental lebih baik terhadap lingkungan negatif.Namun, hanya anak-anak yang merasa dekat dengan orangtua, yang dapat melakukan curhat. Nah, bagaimanakah caranya agar Anda bisa menjadi tempat curhat yang nyaman bagi anak? Ikuti langkah-langkah praktis berikut ini:Pertama: Kenali karakter anakSebagian anak dengan mudah bercerita, panjang dan bahkan tanpa jeda. Kadang juga tak peduli waktu dan tempat.Sebagian yang lain memiliki hambatan tersendiri. Berpikir lama sebelum memutuskan untuk bercerita, atau menunggu waktu dan tempat khusus.Ada pula yang terpaksa memendam isi hati; akibat pengalaman buruk sebelumnya dengan orangtua. Misalnya, dia merasa pernah dipermalukan, dianggap cengeng, tidak ditanggapi serius, atau sama sekali tidak didengarkan.Pendekatan untuk setiap anak akan berbeda. Tapi, berbicara adalah kebutuhan semua orang, termasuk anak-anak, yang pendiam sekalipun. Jadi percayalah, dengan sendirinya, anak Anda akan mencari tempat curhat. Pastikan tempat itu adalah Anda!Kedua: Jangan memaksa anak berbicaraJika Anda mendapati anak murung atau sedih karena suatu masalah, tapi belum mau bercerita, tidak mengapa. Memaksa berbicara, hanya akan membuat anak merasa terancam dan otak reptilnya bekerja untuk melindungi diri. Sehingga pada akhirnya, justru dia akan semakin tertutup.Anda cukup mengatakan, “Ibu senang jika Kakak mau bercerita. Nanti kalau Kakak sudah mau bercerita, Ibu siap mendengarkan”.Ketiga: Tahan dulu nasehat AndaJika setelah anak curhat, Anda mendapati bahwa masalahnya ditimbulkan oleh kelalaian atau kecerobohannya sendiri, jangan terburu-buru menceramahi atau memberikan nasehat panjang kepadanya. Biarkan dia bebas mengungkapkan apa yang dirasakannya. Katakan bahwa Anda memahami perasaannya. Tunjukkan bahwa Anda sungguh-sungguh mendengarkan.Keempat: Berikan kepercayaan kepadanya untuk mencari solusi masalahnya sendiriTentu saja, orangtua boleh membantu. Tetapi sebaik-baik solusi adalah yang dipikirkan dan diupayakan oleh anak sendiri. Orangtua berperan sebagai fasilitator. “Ibu tahu kamu sedih dengan nilai rapormu. Kira-kira apa yang bisa kamu lakukan agar nilai kamu meningkat?”. “Ada atau tidak yang bisa Ibu bantu dalam hal ini?”.Dengan demikian, anak-anak dilatih menjadi pencari solusi masalah, setidaknya untuk diri sendiri. Dan anaklah yang memutuskan, pada bagian mana orangtuanya dapat membantu.Kelima: Silahkan mengungkapkan gagasanAnda boleh mengungkapkan gagasan, pikiran dan perasaan Anda kepada anak setelah ia selesai berbicara dan jika diperlukan.Namun ingat, Anda berbicara dengan berfokus pada solusi. Bukan sekedar menyalahkan, mengungkit-ungkit masalah yang sudah lama berlalu atau membanding-bandingkannya dengan kakak atau adiknya secara tidak proporsional.Keenam: Gunakan waktu santai anakMemanfaatkan waktu santai akan lebih efektif. Karena anak berada dalam keadaan rileks. Dia lebih nyaman untuk berbicara dan bahkan mungkin bisa menerima pesan-pesan yang disampaikan orangtua.Ketujuh: Bersikap ekspresiflahGunakanlah bahasa tubuh dan ekspresi Anda. Silahkan tersenyum, tertawa atau menunjukkan wajah sedih, sesuai dengan apa yang diceritakan anak. Tetapi, tak usah berlebihan. Terutama ketika Anda merasa khawatir. Anda harus pandai mengendalikan diri sendiri. Ingatlah bahwa Anda dituntut untuk berempati, namun tetap harus menjadi sosok orangtua yang bisa diandalkan.Ketujuh hal di atas insyaAllah sama sekali tidak merepotkan. Menjadi tempat curhat adalah hal yang sangat sederhana dan tidak memerlukan keterampilan khusus seperti ketika Anda berbicara.Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 19 Rabi’uts Tsani 1441 / 16 Desember 2019 Post navigation Previous Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 165: BACAAN DZIKIR PAGI-PETANG (Bagian-9)Next Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 166: BACAAN DZIKIR PAGI-PETANG (Bagian-10) Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Sebuah riset menyatakan bahwa remaja yang diberi kesempatan berbicara atau curhat kepada orangtua, mereka akan memiliki daya tahan mental lebih baik terhadap lingkungan negatif.Namun, hanya anak-anak yang merasa dekat dengan orangtua, yang dapat melakukan curhat. Nah, bagaimanakah caranya agar Anda bisa menjadi tempat curhat yang nyaman bagi anak? Ikuti langkah-langkah praktis berikut ini:Pertama: Kenali karakter anakSebagian anak dengan mudah bercerita, panjang dan bahkan tanpa jeda. Kadang juga tak peduli waktu dan tempat.Sebagian yang lain memiliki hambatan tersendiri. Berpikir lama sebelum memutuskan untuk bercerita, atau menunggu waktu dan tempat khusus.Ada pula yang terpaksa memendam isi hati; akibat pengalaman buruk sebelumnya dengan orangtua. Misalnya, dia merasa pernah dipermalukan, dianggap cengeng, tidak ditanggapi serius, atau sama sekali tidak didengarkan.Pendekatan untuk setiap anak akan berbeda. Tapi, berbicara adalah kebutuhan semua orang, termasuk anak-anak, yang pendiam sekalipun. Jadi percayalah, dengan sendirinya, anak Anda akan mencari tempat curhat. Pastikan tempat itu adalah Anda!Kedua: Jangan memaksa anak berbicaraJika Anda mendapati anak murung atau sedih karena suatu masalah, tapi belum mau bercerita, tidak mengapa. Memaksa berbicara, hanya akan membuat anak merasa terancam dan otak reptilnya bekerja untuk melindungi diri. Sehingga pada akhirnya, justru dia akan semakin tertutup.Anda cukup mengatakan, “Ibu senang jika Kakak mau bercerita. Nanti kalau Kakak sudah mau bercerita, Ibu siap mendengarkan”.Ketiga: Tahan dulu nasehat AndaJika setelah anak curhat, Anda mendapati bahwa masalahnya ditimbulkan oleh kelalaian atau kecerobohannya sendiri, jangan terburu-buru menceramahi atau memberikan nasehat panjang kepadanya. Biarkan dia bebas mengungkapkan apa yang dirasakannya. Katakan bahwa Anda memahami perasaannya. Tunjukkan bahwa Anda sungguh-sungguh mendengarkan.Keempat: Berikan kepercayaan kepadanya untuk mencari solusi masalahnya sendiriTentu saja, orangtua boleh membantu. Tetapi sebaik-baik solusi adalah yang dipikirkan dan diupayakan oleh anak sendiri. Orangtua berperan sebagai fasilitator. “Ibu tahu kamu sedih dengan nilai rapormu. Kira-kira apa yang bisa kamu lakukan agar nilai kamu meningkat?”. “Ada atau tidak yang bisa Ibu bantu dalam hal ini?”.Dengan demikian, anak-anak dilatih menjadi pencari solusi masalah, setidaknya untuk diri sendiri. Dan anaklah yang memutuskan, pada bagian mana orangtuanya dapat membantu.Kelima: Silahkan mengungkapkan gagasanAnda boleh mengungkapkan gagasan, pikiran dan perasaan Anda kepada anak setelah ia selesai berbicara dan jika diperlukan.Namun ingat, Anda berbicara dengan berfokus pada solusi. Bukan sekedar menyalahkan, mengungkit-ungkit masalah yang sudah lama berlalu atau membanding-bandingkannya dengan kakak atau adiknya secara tidak proporsional.Keenam: Gunakan waktu santai anakMemanfaatkan waktu santai akan lebih efektif. Karena anak berada dalam keadaan rileks. Dia lebih nyaman untuk berbicara dan bahkan mungkin bisa menerima pesan-pesan yang disampaikan orangtua.Ketujuh: Bersikap ekspresiflahGunakanlah bahasa tubuh dan ekspresi Anda. Silahkan tersenyum, tertawa atau menunjukkan wajah sedih, sesuai dengan apa yang diceritakan anak. Tetapi, tak usah berlebihan. Terutama ketika Anda merasa khawatir. Anda harus pandai mengendalikan diri sendiri. Ingatlah bahwa Anda dituntut untuk berempati, namun tetap harus menjadi sosok orangtua yang bisa diandalkan.Ketujuh hal di atas insyaAllah sama sekali tidak merepotkan. Menjadi tempat curhat adalah hal yang sangat sederhana dan tidak memerlukan keterampilan khusus seperti ketika Anda berbicara.Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 19 Rabi’uts Tsani 1441 / 16 Desember 2019 Post navigation Previous Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 165: BACAAN DZIKIR PAGI-PETANG (Bagian-9)Next Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 166: BACAAN DZIKIR PAGI-PETANG (Bagian-10) Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Sebuah riset menyatakan bahwa remaja yang diberi kesempatan berbicara atau curhat kepada orangtua, mereka akan memiliki daya tahan mental lebih baik terhadap lingkungan negatif.Namun, hanya anak-anak yang merasa dekat dengan orangtua, yang dapat melakukan curhat. Nah, bagaimanakah caranya agar Anda bisa menjadi tempat curhat yang nyaman bagi anak? Ikuti langkah-langkah praktis berikut ini:Pertama: Kenali karakter anakSebagian anak dengan mudah bercerita, panjang dan bahkan tanpa jeda. Kadang juga tak peduli waktu dan tempat.Sebagian yang lain memiliki hambatan tersendiri. Berpikir lama sebelum memutuskan untuk bercerita, atau menunggu waktu dan tempat khusus.Ada pula yang terpaksa memendam isi hati; akibat pengalaman buruk sebelumnya dengan orangtua. Misalnya, dia merasa pernah dipermalukan, dianggap cengeng, tidak ditanggapi serius, atau sama sekali tidak didengarkan.Pendekatan untuk setiap anak akan berbeda. Tapi, berbicara adalah kebutuhan semua orang, termasuk anak-anak, yang pendiam sekalipun. Jadi percayalah, dengan sendirinya, anak Anda akan mencari tempat curhat. Pastikan tempat itu adalah Anda!Kedua: Jangan memaksa anak berbicaraJika Anda mendapati anak murung atau sedih karena suatu masalah, tapi belum mau bercerita, tidak mengapa. Memaksa berbicara, hanya akan membuat anak merasa terancam dan otak reptilnya bekerja untuk melindungi diri. Sehingga pada akhirnya, justru dia akan semakin tertutup.Anda cukup mengatakan, “Ibu senang jika Kakak mau bercerita. Nanti kalau Kakak sudah mau bercerita, Ibu siap mendengarkan”.Ketiga: Tahan dulu nasehat AndaJika setelah anak curhat, Anda mendapati bahwa masalahnya ditimbulkan oleh kelalaian atau kecerobohannya sendiri, jangan terburu-buru menceramahi atau memberikan nasehat panjang kepadanya. Biarkan dia bebas mengungkapkan apa yang dirasakannya. Katakan bahwa Anda memahami perasaannya. Tunjukkan bahwa Anda sungguh-sungguh mendengarkan.Keempat: Berikan kepercayaan kepadanya untuk mencari solusi masalahnya sendiriTentu saja, orangtua boleh membantu. Tetapi sebaik-baik solusi adalah yang dipikirkan dan diupayakan oleh anak sendiri. Orangtua berperan sebagai fasilitator. “Ibu tahu kamu sedih dengan nilai rapormu. Kira-kira apa yang bisa kamu lakukan agar nilai kamu meningkat?”. “Ada atau tidak yang bisa Ibu bantu dalam hal ini?”.Dengan demikian, anak-anak dilatih menjadi pencari solusi masalah, setidaknya untuk diri sendiri. Dan anaklah yang memutuskan, pada bagian mana orangtuanya dapat membantu.Kelima: Silahkan mengungkapkan gagasanAnda boleh mengungkapkan gagasan, pikiran dan perasaan Anda kepada anak setelah ia selesai berbicara dan jika diperlukan.Namun ingat, Anda berbicara dengan berfokus pada solusi. Bukan sekedar menyalahkan, mengungkit-ungkit masalah yang sudah lama berlalu atau membanding-bandingkannya dengan kakak atau adiknya secara tidak proporsional.Keenam: Gunakan waktu santai anakMemanfaatkan waktu santai akan lebih efektif. Karena anak berada dalam keadaan rileks. Dia lebih nyaman untuk berbicara dan bahkan mungkin bisa menerima pesan-pesan yang disampaikan orangtua.Ketujuh: Bersikap ekspresiflahGunakanlah bahasa tubuh dan ekspresi Anda. Silahkan tersenyum, tertawa atau menunjukkan wajah sedih, sesuai dengan apa yang diceritakan anak. Tetapi, tak usah berlebihan. Terutama ketika Anda merasa khawatir. Anda harus pandai mengendalikan diri sendiri. Ingatlah bahwa Anda dituntut untuk berempati, namun tetap harus menjadi sosok orangtua yang bisa diandalkan.Ketujuh hal di atas insyaAllah sama sekali tidak merepotkan. Menjadi tempat curhat adalah hal yang sangat sederhana dan tidak memerlukan keterampilan khusus seperti ketika Anda berbicara.Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 19 Rabi’uts Tsani 1441 / 16 Desember 2019 Post navigation Previous Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 165: BACAAN DZIKIR PAGI-PETANG (Bagian-9)Next Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 166: BACAAN DZIKIR PAGI-PETANG (Bagian-10) Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Tafsir Surat Al-Balad – Tafsir Juz ‘Amma

Tafsir Surat Al-BaladOleh: DR. Firanda Andirja, Lc. MASurat Al-Balad adalah surat makiyyah, yang diturunkan oleh Allah kepada Nabi shalallahu ‘alayhi wa sallam sebelum beliau berhijrah ke kota Madinah. Para ulama menjelaskan hubungan antara surat Al-Balad dengan surat Al-Fajr. Adapun pada surat Al-Fajr Allah menyebutkan beberapa amalan-amalan yang menyebabkan orang kafir masuk neraka jahannam. Allah berfirman:كَلَّا ۖ بَل لَّا تُكْرِمُونَ الْيَتِيمَ (17) وَلَا تَحَاضُّونَ عَلَىٰ طَعَامِ الْمِسْكِينِ (18) وَتَأْكُلُونَ التُّرَاثَ أَكْلًا لَّمًّا (19) وَتُحِبُّونَ الْمَالَ حُبًّا جَمًّا (20)“(17) Sekali-kali tidak! Bahkan kamu tidak memuliakan anak yatim ; (18) Dan kamu tidak saling mengajak memberi makan orang miskin ; (19) Sedangkan kamu memakan harta warisan dengan cara mencampur-baurkan (yang halal dan yang haram) ; (20) Dan kamu mencintai harta dengan kecintaan yang berlebihan.” (QS Al-Fajr : 17-20)Sedangkan pada surat Al-Balad Allah menyebutkan beberapa amalan-amalan yang menyebabkan orang beriman masuk surga. Allah berfirman:فَكُّ رَقَبَةٍ(13) أَوْ إِطْعَامٌ فِي يَوْمٍ ذِي مَسْغَبَةٍ (14) يَتِيمًا ذَا مَقْرَبَةٍ (15) أَوْ مِسْكِينًا ذَا مَتْرَبَةٍ (16)“(13) (Yaitu) melepaskan perbudakan (hamba sahaya) ; (14) Atau memberi makan pada hari terjadi kelaparan ; (15) (Kepada) anak yatim yang ada hubungan kerabat ; (16) Atau orang miskin yang sangat fakir.” (QS Al-Balad : 13-16)Inilah hubungan antara surat Al-Fajr dan Al-Balad, yang satu menyebutkan amalan-amalan penghuni neraka satunya amalan-amalan penghuni surga.Allah berfirman pada permulaan surat:1. لَا أُقْسِمُ بِهَٰذَا الْبَلَدِ“Aku bersumpah dengan negeri ini (Mekah)”Para ulama sepakat bahwa yang dimaksud dengan negeri disini adalah kota Mekkah. Namun para ulama khilaf (silang pendapat) makna laa pada awal ayat ini. Pendapat pertama mengatakan laa disini adalah untuk membantah, seakan-akan Allah membantah persangkaan orang-orang musyrik yang mengatakan tidak ada hari kebangkitan, lalu Allah melanjutkan bersumpah dengan Mekah bahwasanya hari kiamat itu benar adanya. Yaitu seakan-akan Allah berkata “Tidak benar persangkaan kalian wahai kaum musyrikin bahwa tidak ada hari kiamat, sungguh Aku bersumpah dengan kota ini”Pendapat kedua mengatakan laa disini bermakna tidak, seakan-akan Allah tidak bersumpah dengan kota Mekah karena adanya hari kebangkitan tidak butuh dengan sumpah. Adanya hari kebangkitan merupakan perkara yang sangat jelas sehingga tidak butuh bersumpah dengan kota Mekkah.Pendapat ketiga mengatakan laa disini laa zaidah (tambahan)1 yang maksudnya untuk menguatkan. Artinya Allah benar-benar bersumpah dengan kota Mekah. Inilah pendapat yang dikuatkan oleh para salaf dan inilah yang lebih benar. Dalam bahasa Arab kata laa sering digunakan untuk penekanan. Seperti firman Allah kepada iblis:قَالَ مَا مَنَعَكَ أَلَّا تَسْجُدَ إِذْ أَمَرْتُكَ ۖ قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِّنْهُ خَلَقْتَنِي مِن نَّارٍ وَخَلَقْتَهُ مِن طِينٍ“(Allah) berfirman, ‘Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) ketika Aku menyuruhmu?’ (Iblis) menjawab, ‘Aku lebih baik daripada dia, Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.’” (QS Al-A’raf : 12)Dan di ayat lain yang mirip dengan ayat di atas, Allah berfirman:قَالَ يَا إِبْلِيسُ مَا مَنَعَكَ أَن تَسْجُدَ لِمَا خَلَقْتُ بِيَدَيَّ ۖ أَسْتَكْبَرْتَ أَمْ كُنتَ مِنَ الْعَالِينَ“(Allah) berfirman, ‘Wahai iblis, apakah yang menghalangimu untuk bersujud kepada yang telah Aku ciptakan dengan kedua tangan-Ku. Apakah kamu menyombongkan diri atau kamu (merasa) termasuk golongan yang (lebih) tinggi?’” (QS Shad : 75)Di ayat pertama Allah menggunakan laa tetapi di ayat kedua Allah tidak menggunakan laa, padahal maksud yang diinginkan sama. Dari sini dapat disimpulkan penggunaan laa pada ayat pertama adalah untuk penekanan. Contoh lain bisa dijumpai pada firman Allah:لِّئَلَّا يَعْلَمَ أَهْلُ الْكِتَابِ أَلَّا يَقْدِرُونَ عَلَىٰ شَيْءٍ مِّن فَضْلِ اللَّهِ ۙ“Agar ahli kitab mengetahui bahwa sedikitpun mereka tidak akan mendapat karunia Allah.” (QS Al-Hadid : 29)Bentuk yang persis mirip dengan ayat pertama surat Al-Balad ini bisa dijumpai pada firman Allah:۞ فَلَا أُقْسِمُ بِمَوَاقِعِ النُّجُومِ(75) وَإِنَّهُ لَقَسَمٌ لَّوْ تَعْلَمُونَ عَظِيمٌ “(75) Lalu Aku bersumpah dengan tempat beredarnya bintang-bintang; (76) Dan sesungguhnya itu benar-benar sumpah yang besar sekiranya kamu mengetahui.” (QS Al-Waqi’ah : 75-76)Oleh karena itu, pendapat yang terkuat dari tiga pendapat tadi bahwasanya laa disitu adalah laa zaidah untuk penekanan, bahwasanya Allah benar-benar bersumpah dengan kota Mekah.Kota Mekah adalah kota mulia yang aman lagi suci. Allah juga bersumpah dengan kota Mekah di ayat yang lain:وَهَٰذَا الْبَلَدِ الْأَمِينِ“Dan demi negeri (Mekah) yang aman ini.” (QS At-Tin : 3)Mekah juga merupakan salah satu dari dua tanah suci, Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:إِنَّ إِبْرَاهِيمَ حَرَّمَ مَكَّةَ وَإِنِّي حَرَّمْتُ الْمَدِينَةَ“Sesungguhnya Nabi Ibrahim menjadikan kota Mekah sebagai kota haram, dan sesungguhnya aku menjadikan Madinah sebagai kota yang haram juga.” (HR Muslim no. 1362)Diantara keistimewaan dari kota Mekah yang tidak dimiliki oleh kota-kota yang lain adalah barangsiapa yang berniat buruk di kota Mekah maka terancam dengan azab yang pedih, bahkan ketika niat itu baru muncul di dalam hatinya. Allah berfirman:وَمَن يُرِدْ فِيهِ بِإِلْحَادٍ بِظُلْمٍ نُّذِقْهُ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ“Dan siapa saja yang bermaksud melakukan kejahatan secara zhalim di dalamnya, niscaya akan Kami rasakan kepadanya siksa yang pedih.” (QS Al-Hajj : 25)Inilah salah satu kekhususan kota Mekah yang tidak terdapat pada kota-kota lainnya. Barangsiapa yang menginginkan, berkehendak, bertekad, atau berniat untuk melakukan keburukan di kota Mekah maka dia terancam dengan adzab yang pedih. Kata para ulama meskipun dia tatkala berniat buruk sedang sedang berada di Shan’a (di Yaman) dan belum di Mekah. Apalagi berniat buruknya tatkala di Mekah.Kemudian Allah berfirman:2. وَأَنتَ حِلٌّ بِهَٰذَا الْبَلَدِ“Dan engkau (Muhammad) bertempat di negeri (Mekah) ini”Ada tiga pendapat di kalangan ahli tafsir tentang maksud “dan engkau halal di kota (Mekah) ini.” Pendapat pertama mengatakan ayat ini bermakna “lebih-lebih engkau berada di kota Mekah ini”, sehingga Allah berhak bersumpah dengan kota Mekah, lebih-lebih Nabi Muhammad berada di kota tersebut.Pendapat kedua mengatakan ayat ini bermakna “dan engkau dihalalakan darahnya oleh orang-orang kafir Quraisy di kota Mekah ini”, sehingga seakan-akan Allah bersumpah untuk mengingkarinya. Sebagaimana sayembara yang pernah dilakukan oleh orang-orang kafir Quraisy bagi yang berhasil menangkap Nabi Muhammad atau Abu Bakar masing-masing akan diberi serratus ekor unta.Pendapat ketiga dan inilah pendapat yang kuat mengatakan ayat ini bermakna “dan kota suci Mekah halal bagi engkau”. Maksudnya adalah dibolehkan bagi Nabi untuk berperang di kota Mekah. Ini terjadi ketika Fathu Makkah (penaklukan kota Mekah) pada tahun 8 H tatkala Nabi menyerang kota Mekah. Pada asalnya dilarang berperang dan menumpahkan darah di kota Mekah dan hal inipun diketahui oleh orang-orang musyrikin Quraisy, namun pada saat Fathu Makkah maka Allah menghalalkan bagi Nabi shallallahu álaihi wasallam untuk memerangi kaum musyrikin di Mekah. Karenanya Nabi shalallahu álaihi wa sallam memerintahkan sahabatnya untuk membunuh Ibnu Khothol (HR Al-Bukhari no 1846 dan Muslim no 1357). Ibnu Khothol adalah seorang yang suka mengejek Nabi dan dia suka membuat syair-syair untuk menghina Nabi. Bahkan Ibnu Ishaq menyebutkan bahwa Ibnu Khothol sempat masuk Islam namun dia murtad bahkan membunuh seorang muslim (lihat As-Siroh An-Nabawiyah, Ibnu Ishaaq hal 530 dan dinukil oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Baari 4/61) . Maka meskipun dia berlindung dengan memegang kain/kiswah Ka’bah, Nabi tetap menyuruh sahabatnya untuk membunuhnya.Nabi bersabda:وَإِنَّمَا أَذِنَ لِي فِيهَا سَاعَةً مِنْ نَهَارٍ، ثُمَّ عَادَتْ حُرْمَتُهَا اليَوْمَ كَحُرْمَتِهَا بِالأَمْسِ“Sesungguhnya Allah telah mengizinkanku pada suatu saat di siang hari kemudian dikembalikan kesuciannya hari ini sebagaimana disucikannya sebelumnya.” (HR Bukhari no. 104 dan Muslim no. 1354)Hanya beberapa saat saja Nabi diizinkan berperang di kota Mekah. Yaitu sejak terbit matahari hingga sholat ashar (lihat Fathul Baari, Ibnu Hajar 4/44 dan At-Taudhiih, Ibnul Mulaqqin 12/456).Ayat ini juga menjadi dalil bahwasanya Allah mengabarkan tentang suatu kejadian di masa depan. Karena surat ini -surat makkiyah- turun tatkala Nabi masih ditindas di kota Mekah dan belum berhijrah ke kota Madinah. Tetapi Allah mengabarkan bahwa suatu saat nanti Nabi akan masuk kembali ke kota Mekah untuk berperang di dalamnya hingga beliau berhasil menguasainya.Kemudian Allah berfirman:3. وَوَالِدٍ وَمَا وَلَدَ“Dan demi (pertalian) bapak dan anaknya”Ada 2 pendapat di kalangan para ulama tentang makna مَا pada ayat ini. Pendapat pertama, jika مَا disitu adalah مَا اَلْمَوْصُوْلَةُmaka makna ayat menjadi “Dan demi orangtua dan anak yang dia lahirkan.” Pendapat kedua, jikaمَا disitu adalah مَا النَّافِيَةُ maka makna ayat menjadi “Dan demi orang yang melahirkan dan orang yang tidak bisa melahirkan (mandul).”Namun pendapat yang lebih kuat adalah مَا اَلْمَوْصُوْلَةُ. Kemudian siapakah yang dimaksud dengan orangtua dan anak yang dilahirkannya?. Sebagian ulama mengatakan Nabi Adam dan keturunannya. Sebagian yang lain mengatakan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, kemudian beranak pinak sampai lahirlah Nabi Muhammad shalallahu ‘alayhi wa sallam. Dan pendapat yang dipilih oleh At-Thobari bahwa ayat ini bersifat umum mencakup semua yang melahirkan dan yang dilahirkan (Tafsir At-Thobari 24/408)Kemudian Allah berfirman:4. لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ فِي كَبَدٍ“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia berada dalam kepayahan”Allah bersumpah dengan empat perkara pada tiga ayat sebelumnya untuk menegaskan bahwa manusia itu tercipta dalam kesulitan dan kepayahan. Allah ingin membantah persangkaan sebagian orang bahwa dunia ini bisa ditempuh dengan senang-senang tanpa ada kesulitan sama sekali. Padahal Allah menjadikan manusia dalam keadan sulit dan payah sepanjang hidupnya, bahkan sejak lahirnya. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam Al-Qurthubi rahimahullah bahwa seorang anak sejak lahir sudah mengalami kepayahan. Pada saat dilahirkan pusarnya dipotong kemudian dia harus menyusu kepada ibunya, kadangkala air susu ibunya tidak lancar. Tatkala giginya tumbuh ia merasa kesakitan dan panas. Setelah dia bertumbuh semakin besar dia harus menghadapi kehidupannya, setelah dia menikah dia harus menanggung nafkah istri dan anak-anaknya. Memasuki masa tuanya badannya mulai lemah dan terus menerus mengalami kepayahan hingga akhirnya dia meninggal dunia. Di dalam kubur dia akan ditanyai oleh para malaikat, kemudian dibangkitkan lagi dalam keadaan payah. Ini semua menunjukan bahwa ada Tuhan yang mengatur dirinya, kalau seandainya tidak ada yang mengatur tentu dia tidak akan memilih kesulitan dan kepayahan tersebut. Karenanya hendaknya ia tunduk kepada Tuhan tersebut yang mengatur segala urusannya. (lihat Tafsir al-Qurthubi 20/62-63). Maka hendaknya ia berusaha untuk beramal sholih yang menyelamatkannya dari kesulitan-kesulitan akhirat, jika tidak maka ia akan terus dalam kesulitan dan kepayahan yang abadi (lihat Tafsir As-Sa’di hal 924). Manusia istirahat dari kepayahannya adalah ketika masuk ke dalam surga.Ada seseorang datang jauh-jauh dari Khurosan untuk menemui Imam Ahmad, ia berkata;يا أبا عَبْد اللَّهِ قَصَدْتُكَ مِنْ خُرَاسَان أَسْأَلُكَ عَنْ مَسْأَلَةٍ“Wahai Abu Abdillah (yaitu Imam Ahmad) aku datang menemuimu dari Khurosan untuk bertanya kepadamu tentang satu permasalahan?”Imam Ahmad berkata kepadanya, سَلْ “Tanyakanlah !”. Orang itu berkata, مَتَى يَجِدُ الْعَبْدُ طَعْمَ الرَّاحَةِ؟ “Kapankah seorang hamba merasakan nikmatnya istirahat?”. Imam Ahmad berkata:عِنْدَ أَوَّلِ قَدَمٍ يَضَعُهَا فِي الْجَنَّةِ“Tatkala pertama kali ia menginjakan kakinya di surga” (Thobaqoot al-Hanaabilah 1/293 dan al-Maqshod al-Arsyad 2/398)Oleh karena itu, ada 2 pendapat di kalangan para ahli tafsir tentang manusia yang akan merasakan kepayahan yang dimaksudkan dalam ayat ini. Sebagian mengatakan bahwa yang dimaksudkan adalah manusia secara umum sebab pada kenyataannya semua manusia mengalami kepayahan. Baik muslim maupun kafir, baik laki-laki maupun perempuan, baik tua maupun muda, baik baik kaya maupun miskin, baik dia presiden ataupun rakyat. Semua orang dalam keadaan susah dan payah, tidak ada kelezatan yang sempurna dan peristirahatan yang sempurna kecuali di surga kelak. Semua manusia akan diuji, apalagi orang-orang yang beriman. Bahkan Allah berjanji untuk menguji mereka, semakin tinggi iman seseorang semakin berat ujiannya. Dalam sebuah hadits dari Mush’ab bin Sa’id -seorang tabi’in- dari ayahnya, ia berkata,يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلاَءً“Wahai Rasulullah, manusia manakah yang paling berat ujiannya?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,الأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الأَمْثَلُ فَالأَمْثَلُ فَيُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَإِنْ كَانَ دِينُهُ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلاَؤُهُ وَإِنْ كَانَ فِى دِينِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِىَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَمَا يَبْرَحُ الْبَلاَءُ بِالْعَبْدِ حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِى عَلَى الأَرْضِ مَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ“Para Nabi, kemudian yang semisalnya dan semisalnya lagi. Seseorang akan diuji sesuai dengan kondisi agamanya. Apabila agamanya begitu kuat (kokoh), maka semakin berat pula ujiannya. Apabila agamanya lemah, maka ia akan diuji sesuai dengan kualitas agamanya. Seorang hamba senantiasa akan mendapatkan cobaan hingga dia berjalan di muka bumi dalam keadaan bersih dari dosa.” (HR Tirmidzi no. 2398, Ibnu Majah no. 4024)Namun sebagian ulama yang lain berpendapat bahwa yang dimaksudkan adalah orang kafir. (lihat At-Thariir wa At-Tanwiir 30/351) Sebagaimana kaidah yang telah berlalu pada tafsir surat sebelumnya, seluruh kata al-insan yang terdapat dalam surat Makiyyah ditujukan untuk orang kafir karena surat tersebut turun dalam rangka mencela dan mengajak orang-orang kafir untuk berpikir. Sehingga yang dimaksudkan dalam ayat mengalami kepayahan adalah orang-orang kafir. Dan konteks ayat-ayat dari pertama hingga terkahir adalah tentang orang kafir. Karena orang mukmin meskipun menghadapi kepayahan tetapi hatinya tenteram, karena ada keimanan di dalam hatinya. Allah berfirman:الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS Ar-Ra’d : 28)Meskipun orang-orang mukmin diuji oleh Allah tetapi hatinya akan tenang. Berbeda dengan orang-rang kafir, meskipun nampaknya mereka dalam kesenangan dan kemewahan, tetapi hati mereka kosong dari keimanan, hati mereka tidak bahagia. Mereka hanya merasakan kelezatan jasmani dan tidak merasakan kebahagiaan hati. Allah berfirman:وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَىٰ“Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatan-Ku maka sungguh dia akan menjalani kehidupan yang sempit, dan Kami akan mengumpulkannya pada hari Kiamat dalam keadaan buta.” (QS Thaha : 124)Kemudian Allah berfirman:5. أَيَحْسَبُ أَن لَّن يَقْدِرَ عَلَيْهِ أَحَدٌ“Apakah dia (manusia) itu mengira bahwa tidak ada sesuatu pun yang berkuasa atasnya?”Sehingga dia bebas melakukan kemaksiatan, bebas melakukan apa yang dia inginkan, seakan-akan dia cuma hidup sekali dan tidak akan dihidupkan lagi pada hari kiamat kelak?. Apakah setelah tubuhnya menjadi hancur dan tulang belulangnya berubah menjadi tanah Allah tidak mampu membangkitkannya? (lihat At-Tahriir wa At-Tanwiir 30/351)6. يَقُولُ أَهْلَكْتُ مَالًا لُّبَدًا“Dia mengatakan, ‘Aku telah menghabiskan harta yang banyak’.” Dia menghabiskan harta sepuasnya, menghabiskan hartanya untuk hal-hal yang haram, untuk berfoya-foya, karena dia menyangka bahwasanya hartanya akan ada terus tidak habis-habis. Karenanya Allah menamakan sikap menghabiskan harta pada kemaksiatan dengan إِهْلَاك , yaitu “memusnahkan”, dan Allah tidak menamakannya dengan “infaq”. Hal ini karena harta yang digunakan untuk maksiat tidak akan memberi manfaat kepada pelakunya, dan tidaklah kembali kepada pelakunya kecuali kerugian dan penyesalan. Lain halnya dengan orang yang berinfaq di jalan Allah, maka ia telah berdagang dengan Allah, ia akan mendapatkan keuntungan yang berlipat-lipat ganda. (lihat Tafsir As-Sa’adi hal 924)7. أَيَحْسَبُ أَن لَّمْ يَرَهُ أَحَدٌ“Apakah dia mengira bahwa tidak ada sesuatu pun yang melihatnya?”Orang ini tatkala berkata أَهْلَكْتُ مَالًا لُّبَدًا “Aku telah menghabiskan harta yang banyak”, ia mengucapkannya dengan kesombongan. Ia menyombongkan harta yang banyak yang telah ia hambur-hamburkan dalam kemaksiatan.Dahulu orang-orang jahiliyah berbangga-banggaan dalam menghambur-hamburkan uang untuk hal-hal yang tidak bermanfaat. Bahkan mereka menganggap sikap seperti ini adalah kemuliaan. Ini mereka lakukan untuk menunjukan bahwa saking banyak hartanya maka mereka tidak perduli untuk menghamburkan harta mereka (Lihat At-Tahriir wa at-Tanwiir 30/352)2Apakah ia menyangka bahwa perbuatannya tersebut tidak ada yang lihat? Tidak akan dihisab baik yang kecil maupun besar?. Padahal apapun yang dia lakukan semuanya akan dilihat oleh Allah dan dicatat oleh malaikat. (lihat Tafsir As-Sa’di hal 924)Kemudian mengingatkan manusia ini akan kenikmatan dan karunia yang Allah berikan kepadanya, yang seharusnya semua karunia tersebut dia gunakan untuk bersyukur kepada Allah, bukan untuk membangkang kepada Allah. Allah berfirman :8. أَلَمْ نَجْعَل لَّهُ عَيْنَيْنِ“Bukankah Kami telah menjadikan untuknya sepasang mata”9. وَلِسَانًا وَشَفَتَيْنِ“Dan lidah dan sepasang bibir”Allah ingin menunjukkan karunia Allah kepada manusia. Allah telah memberikan kepadanya kenikmatan lisan, kenikmatan dua bibir, dan kenikmatan dua mata. Ini diantara kenikmatan yang sangat besar. Kedua mata untuk melihat keagungan dan kebesaran Allah dalam ciptaanNya, lisan dan kedua bibir yang bisa digunakan untuk mengungkapkan isi hati. Demikian juga membantu untuk makan dan minum serta menambah indahnya rupa. (lihat Tafsir Ibnu Katsir 8/393). Namun kebanyakan manusia tidak mensyukurinya dengan menggunakan nikmat-nikmat tersebut dalam hal-hal yang tidak bermanfaat. Lisan yang diberikan oleh Allah tidak digunakan untuk berdzikir, melainkan hanya ucapan yang sia-sia saja. Mata yang diberikan oleh Allah digunakannya untuk melihat hal-hal yang haram.Setelah Allah menyebutkan sebagian kenikmatan yang berkaitan dengan dunia Allah juga menyebutkan kenikmatan yang berkaitan dengan agama, Allah berfirman :10 وَهَدَيْنَاهُ النَّجْدَيْنِ“Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan (kebajikan dan kejahatan)”Yaitu Allah telah menjelaskan kedua jalan tersebut dengan sejelas-jelasnya agar manusia mengikuti jalan kebaikan dan meninggalkan jalan keburukan.Lalu Allah menjelaskan tentang apa yang seharusnya yang dilakukan oleh orang yang Allah telah berikan karunia kepadanya terlebih lagi harta yang banyak. Bukan untuk dihamburkan tapi untuk disalurkan kepada jalna-jalan kebaikan. Allah berfirman:11. فَلَا اقْتَحَمَ الْعَقَبَةَ“Tetapi dia tidak menempuh jalan yang mendaki lagi sukar”عَقَبَةَ dalam bahasa arab artinya jalan yang ada di sela-sela gunung-gunung. Yang dimaksudkan adalah jalan menuju surga. Jalan menuju surga seperti menempuh jalan di atas gunung, jalurnya sukar dan butuh perjuangan karena berlawanan dengan hawa nafsu. Seharusnya seseorang apabila mengetahui bahwa sesuatu itu baik sepatutnya dia langsung melaksanakannya tanpa perlu berpikir panjang meskipun itu adalah perkara yang berat. Seperti seorang yang melewati jalan-jalan gunung yang membutuhkan perjuangan. Karena demikianlah jalan menuju surga.Sebenarnya jalan-jalan ini adalah tidak terlalu berat hanya saja dirasa sangat berat bagi orang yang tenggelam dalam kemaksiatan, sehingga untuk berbuat baik akan terasa sangat berat karena ia telah mengikuti hawa nafsunya (lihat Tafsir As-Sa’di hal 924). Adapun orang yang beriman maka meski jalan-jalan ini berat akan tetapi keimanannya menjadikannya lebih terasa ringan untuk menempuhnya.Pendapat lain menyatakan bahwa maksud dari عَقَبَةَ adalah gunung di neraka (lihat Tafsir As-Sam’aani 6/229) sehingga maksud ayat ini adalah jika seseorang hendak lolos dan selamat dari siksaan mendaki gunung di neraka maka lewatilah gunung tersebut dengan melakukan amalan-amalan kebajika seperti membebaskan budak, memberi makan orang miskin, dll.Setelah itu Allah menjelaskan tentang apa itu jalan yang sulit, Allah berfirman:12. وَمَا أَدْرَاكَ مَا الْعَقَبَةُ“Dan tahukah kamu apakah jalan yang mendaki dan sukar itu?”13. فَكُّ رَقَبَةٍ“(Yaitu) melepaskan perbudakan (hamba sahaya)”Diantara jalan yang sulit tersebut adalah membebaskan seorang budak. Islam adalah agama yang menganjurkan untuk membebaskan budak. Tidak seperti yang dituduhkan oleh orang-orang nasrani bahwa islam adalah agama yang menganjurkan memperbudak. Perbudakan sudah ada di zaman Nabi saat itu, termasuk orang-orang romawi juga memperbudak, orang-orang nasrani juga memperbudak, begitupun dengan orang-orang yahudi. Tapi tatkala Islam datang maka Nabi shalallahu ‘alayhi wa sallam memotivasi agar membebaskan budak. Dimana ini merupakan salah satu jalan menuju surga. Termasuk dalam makna membebaskan budak selain memerdekakannya secara langsung adalah dengan membantunya dalam mukatabahnya (yaitu melunasi hutang sang budak yang ingin menebus dirinya sendiri dari majikannya). Demikian juga membebaskan tawanan perang muslim yang ditawan oleh pihak musuh. (lihat Tafsir As-Sa’di hal 924)Kemudian Allah berfirman:14. أَوْ إِطْعَامٌ فِي يَوْمٍ ذِي مَسْغَبَةٍ“Atau memberi makan pada hari terjadi kelaparan”Diantara jalan yang sulit tersebut adalah memberi makan pada hari kelaparan. Pahala seorang yang bersedekah bertingkat-tingkat sesuai dengan kondisi orang yang disedekahi, apabila kita memberi sedekah kepada orang yang sangat membutuhkan maka pahalanya lebih besar. Al-Qurthubi berkata :وَإِطْعَامُ الطَّعَامِ فَضِيلَةٌ، وَهُوَ مَعَ السَّغَبِ الَّذِي هُوَ الْجُوعُ أَفْضَلُ“Memberi makanan adalah kemuliaan, dan jika disertai dengan kelaparan yang amat sangat maka lebih mulia lagi” (Tafsir Al-Qurthubi 20/69)15. يَتِيمًا ذَا مَقْرَبَةٍ“(Kepada) anak yatim yang ada hubungan kerabat”Diantaranya yaitu memberi makan anak yatim yang memiliki hubungan kekerabatan. Anak yatim adalah anak yang belum baligh namun ayahnya telah meninggal dunia. Memberi makan anak yatim yang memiliki hubungan kekerabatan lebih utama daripada anak yatim yang tidak ada hubungan kekerabatan. Karena berinfak kepada kerabat pahalanya lebih besar, yaitu pahala infak dan pahala silaturrahmi. Oleh karena itu, sebagian ulama berfatwa bahwa hukum asal zakat adalah tidak boleh dikeluarkan dari suatu negeri, tetapi harus diberikan kepada penduduk negeri tersebut kecuali kalau di negeri lain ada kerabat kita yang miskin, maka tidak mengapa kita salurkan untuk kerabat kita tersebut.Sebagian orang terkadang berbuat sebaliknya, mereka justru lebih semangat untuk membantu orang-orang yang jauh yang bukan kerabatnya. Padahal seharusnya dengan kerabatnya yang mengalami kesusahan dia harus lebih perhatian, karena lebih utama untuk dibantu.Demikian pula memberi bantuan kepada anak yatim yang tidak orang yang mengayominya lebih besar pahalanya daripada kepada anak yatim yang sudah ada yang mengayominya (lihat Tafsir Al-Qurthubi 20/70)16. أَوْ مِسْكِينًا ذَا مَتْرَبَةٍ“Atau orang miskin yang sangat fakir”مَتْرَبَةٍdiambil dari kata تُرَابٌ yang artinya tanah. Disebut memiliki tanah karena saking miskinnya ia seakan-akan tidak memiliki apa-apa kecuali hanya tanah yang dimilikinya atau saking miskinnya ia seakan-akan menempel ditanah. Intinya adalah memberi sedekah kepada orang yang sangat fakir miskin lebih utama dari yang sekedar miskin. Karenanya pahala sedekah bertingkat-tingkat sesuai dengan kondisi orang yang disedekahi tersebut, semakin dia butuh maka pahala semakin besar.Kemudian Allah berfirman:17. ثُمَّ كَانَ مِنَ الَّذِينَ آمَنُوا وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ وَتَوَاصَوْا بِالْمَرْحَمَةِ“Kemudian dia termasuk orang-orang yang beriman, dan saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang”Terdapat dua pendapat di kalangan para ulama mengenai ayat ini. Pendapat pertama mengatakan, maksud ayat ini adalah seakan-akan Allah mengatakan kepada orang kafir tadi mengapa ia tidak mau berbuat kebaikan-kebaikan tersebut? Dan jika dia hendak melakukan kebaikan-kebaikan tersebut maka ia harus beriman terlebih dahulu. Ini menunjukkan bahwasanya seorang kafir bagaimanapun amalan kebajikan yang dia lakukan namun tidak dibangun di atas keimanan tetap tidak akan diterima oleh Allah. (lihat Tafsir Al-Baghowi 8/433)Aisyah radhiallahu ‘anhaa berkata :يَا رَسُولَ اللهِ، ابْنُ جُدْعَانَ كَانَ فِي الْجَاهِلِيَّةِ يَصِلُ الرَّحِمَ، وَيُطْعِمُ الْمِسْكِينَ، فَهَلْ ذَاكَ نَافِعُهُ؟ قَالَ: ” لَا يَنْفَعُهُ، إِنَّهُ لَمْ يَقُلْ يَوْمًا: رَبِّ اغْفِرْ لِي خَطِيئَتِي يَوْمَ الدِّينِ“Wahai Rasulullah, dahulu di zaman jahiliyah, Ibnu Jad’an gemar menyambung tali silaturrahmi, memberi makan orang miskin, apakah itu bermanfaat baginya?” Nabi menjawab, “Tidak, sesungguhnya ia tidak pernah sekalipun mengatakan, ‘Wahai Rabbku ampunilah kesalahanku pada hari pembalasan’.” (HR Muslim no. 214)Seluruh kebaikan yang dia lakukan tidak bermanfaat meskipun dia membebaskan budak-budak, meskipun dia memberi makan kepada fakir miskin, meskipun dia memuliakan tamu, meskipun dia menyambung silaturahmi, namun itu semua tidak ada faedahnya di sisi Allah. Allah berfirman:وَمَا مَنَعَهُمْ أَن تُقْبَلَ مِنْهُمْ نَفَقَاتُهُمْ إِلَّا أَنَّهُمْ كَفَرُوا بِاللَّهِ وَبِرَسُولِهِ“Dan tidaklah ada yang menghalangi infak mereka diterima kecuali karena mereka kafir (ingkar) kepada Allah dan Rasul-Nya.” (QS At-Taubah : 54)Demikian juga apa yang terjadi pada Abu Thalib, paman Nabi shalallahu ‘alayhi wa sallam yang rela mati demi membela Nabi. Dia rela berperang melawan kerabat-kerabatnya demi membela keponakannya yaitu Muhammad shalallahu ‘alayhi wa sallam. Tetapi karena meninggal dalam kesyirikan, dia tetap dimasukkan ke dalam neraka Jahannam. Oleh karena itu, para ikhwan yang dirahmati olerh Allah SWT, seorang meskipun baiknya apapun jika dia musyrik, tidak beriman kepada Allah, kebaikannya tidak akan diterima oleh Allah SWT. oleh karenanya Allah mengatakan tsumma kaana minalladziina aamanuu, silahkan engkau berbuat kebajikan dengan syarat engkau termasuk orang-orang yang beriman,Pendapat kedua bahwa maksud ayat ini adalah barangsiapa yang berbuat kebajikan, diantaranya membebaskan budak, memberi makan kepada fakir miskin, kemudian setelah itu dia masuk islam dan beriman, maka seluruh kebajikan yang pernah dia lakukan tersebut ketika masih jahiliyyah akan diterima oleh Allah. (lihat Tafsir al-Qurthubi 20/71). Demikianlah salah satu keistimewaan islam, barangsiapa yang masuk islam maka amalan shaleh yang pernah dia lakukan sebelum islam akan diikut sertakan dalam keislamannya, semua akan menjadi simpanan amal shaleh baginya. Adapun kemaksiatan yang pernah dia lakukan sewaktu kafir semuanya akan terhapuskan.عَنْ حَكِيْمِ بْنِ حِزَامٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، أَرَأَيْتَ أَشْيَاءَ كُنْتُ أَتَحَنَّثُ بِهَا فِي الْجَاهِلِيَّةِ مِنْ صَدَقَةٍ أَوْ عَتَاقَةٍ أَو صِلَةِ رَحِمٍ ، فَهَلْ فِيْهَا مِنْ أَجْرٍ؟ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَسْلَمْتَ عَلَى مَا سَلَفَ مِنْ خَيْرٍ.Dari Hakim bin Hizam Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Wahai Rasulullah, apakah engkau memandang perbuatan-perbuatan baik yang aku lakukan sewaktu masa Jahiliyyah seperti shadaqah, membebaskan budak atau silaturahmi tetap mendapat pahala?” Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Engkau telah masuk Islam beserta semua kebaikanmu yang dahulu.” (HR Bukhari no. 1436)Ini adalah dalil bahwasanya orang yang baru masuk islam maka seluruh amalan kebajikan yang pernah dia lakukan sewaktu kafir juga akan tercatat di sisi Allah sebagai amalan shaleh.Kemudian Allah menyebutkan ciri-ciri orang yang beriman, yaitu senantiasa saling berwasiat untuk bersabar. Karena kehidupan ini butuh dengan kesabaran, yaitu kesabaran dalam menjalankan ketaatan, kesabaran dalam menjauhi kemaksiatan, dan kesabaran tatkala ditimpa musibah. Dan mereka juga saling mewasiatkan untuk saling merahmati satu sama lain. Dan saling mewasiatkan untuk merahmati adalah perangai yang agung. Dan tidaklah seseorang berwashiat untuk merahmati kecuali ia tahu betul akan keagungan dan kemuliaan rahmat. Dan tentunya ia telah melakukannya sebelum berwashiat kepada orang lain. Ini juga menunjukan bahwa diantara sifat utama orang-orang yang beriman adalah sabar dan sayang kepada sesama makhluk (lihat At-Tahriir wa at-Tanwiir 30/361).Barangsiapa yang merahmati orang lain maka dia akan dirahmati oleh Allah. Nabi bersabda:الرَّاحِمُونَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمَنُ ارْحَمُوا مَنْ فِى الأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِى السَّمَاء“Orang-orang yang penyayang niscaya akan disayangi pula oleh ar-Rahman (Allah). Maka sayangilah yang di atas muka bumi niscaya Yang di atas langit pun akan menyayangi kalian.” (HR Tirmidzi no. 1924)Bahwa ketika ada seorang lelaki yang berkata kepada Nabi, “Ya Rasulullah, sesungguhnya aku mengasihi kambing jika aku menyembelihnya”. Maka beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :وَالشَّاةُ إِنْ رَحِمْتَهَا رَحِمَكَ اللَّهُ“Jika engkau mengasihinya maka Allah merahmatinya.” (HR Bukhari dalam Adabul Mufrad no. 373)Jika mereka saling berwashiat untuk merahmati (mengasihi) maka mereka akan memperhatikan orang-orang miskin dan anak yatim (Lihat Tafsir al-Qurthubi 20/71)Kemudian Allah berfirman:18. أُولَٰئِكَ أَصْحَابُ الْمَيْمَنَةِ“Mereka (orang-orang yang beriman dan saling berpesan itu) adalah golongan kanan”Yaitu para penghuni surga19. وَالَّذِينَ كَفَرُوا بِآيَاتِنَا هُمْ أَصْحَابُ الْمَشْأَمَةِ“Dan orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, mereka itu adalah golongan kiri”Yaitu para penghuni neraka Jahannam20. عَلَيْهِمْ نَارٌ مُّؤْصَدَةٌ“Mereka berada dalam neraka yang ditutup rapat”Orang kafir yang telah memasuki neraka neraka seakan-akan neraka itu menjadi tertutup bagi mereka sehingga tidak mungkin keluar lagi.إِنَّ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا وَاسْتَكْبَرُوا عَنْهَا لَا تُفَتَّحُ لَهُمْ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَلَا يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّىٰ يَلِجَ الْجَمَلُ فِي سَمِّ الْخِيَاطِ ۚ وَكَذَٰلِكَ نَجْزِي الْمُجْرِمِينَ“sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, tidak akan dibukakan pintu-pintu langit bagi mereka, dan mereka tidak akan masuk surga, sebelum unta masuk ke dalam lubang jarum. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat jahat.” (QS Al-A’raf : 40)Dan hal tersebut mustahil terjadi. Oleh karena itu, orang kafir abadi di dalam neraka jahannam disiksa. Keterangan:1 الحُرُوْفُ الزَّائِدَةُ Huruf-huruf tambahan dalam al-Qurán bukanlah maksudnya sama saja jika tidak ada huruf tersebut tidak merubah arti, akan tetapi maksudnya “tambahan”dari sisi i’roob, bahwasanya huruf-huruf secara i’roob tidak memiliki kedudukan. Akan tetapi secara makna tentu ada tambahan makna yaitu untuk menekankan, sebagaimana dalam ayat ini dan ayat-ayat yang lainnya. Diantara fungsi huruf-huruf tambahan ini juga adalha untuk memperindah susunan kata-kata. (lihat Al-Burhaan fi Úluumil Quráan, Az-Zarkasyi 3/72, Sirrul Fashoohah, Al-Khofaaji hal 156, Tafsiir al-Kasyyaaf, Az-Zmakhsyari 1/431)2Gaya hidup seperti ini terkadang masih terwariskan kepada sebagian kaum muslimin, yang terkadang berbangga-banggaan dalam menghamburkan uang pada perkara yang tidak bermanfaat dan sia-sia. Sebagian orang bangga tatkala mengadakan pesta besar-besaran bahkan hingga berhari-hari. Ini dilakukan hanya untuk menunjukan bahwa hartanya banyak. Atau sebagian orang sengaja membeli mobil yang banyak dengan harga yang melangit, untuk ia pamerkan kepada masyarakat. Hanya untuk menunjukan bahwa ia adalah orang yang sangat kaya.

Tafsir Surat Al-Balad – Tafsir Juz ‘Amma

Tafsir Surat Al-BaladOleh: DR. Firanda Andirja, Lc. MASurat Al-Balad adalah surat makiyyah, yang diturunkan oleh Allah kepada Nabi shalallahu ‘alayhi wa sallam sebelum beliau berhijrah ke kota Madinah. Para ulama menjelaskan hubungan antara surat Al-Balad dengan surat Al-Fajr. Adapun pada surat Al-Fajr Allah menyebutkan beberapa amalan-amalan yang menyebabkan orang kafir masuk neraka jahannam. Allah berfirman:كَلَّا ۖ بَل لَّا تُكْرِمُونَ الْيَتِيمَ (17) وَلَا تَحَاضُّونَ عَلَىٰ طَعَامِ الْمِسْكِينِ (18) وَتَأْكُلُونَ التُّرَاثَ أَكْلًا لَّمًّا (19) وَتُحِبُّونَ الْمَالَ حُبًّا جَمًّا (20)“(17) Sekali-kali tidak! Bahkan kamu tidak memuliakan anak yatim ; (18) Dan kamu tidak saling mengajak memberi makan orang miskin ; (19) Sedangkan kamu memakan harta warisan dengan cara mencampur-baurkan (yang halal dan yang haram) ; (20) Dan kamu mencintai harta dengan kecintaan yang berlebihan.” (QS Al-Fajr : 17-20)Sedangkan pada surat Al-Balad Allah menyebutkan beberapa amalan-amalan yang menyebabkan orang beriman masuk surga. Allah berfirman:فَكُّ رَقَبَةٍ(13) أَوْ إِطْعَامٌ فِي يَوْمٍ ذِي مَسْغَبَةٍ (14) يَتِيمًا ذَا مَقْرَبَةٍ (15) أَوْ مِسْكِينًا ذَا مَتْرَبَةٍ (16)“(13) (Yaitu) melepaskan perbudakan (hamba sahaya) ; (14) Atau memberi makan pada hari terjadi kelaparan ; (15) (Kepada) anak yatim yang ada hubungan kerabat ; (16) Atau orang miskin yang sangat fakir.” (QS Al-Balad : 13-16)Inilah hubungan antara surat Al-Fajr dan Al-Balad, yang satu menyebutkan amalan-amalan penghuni neraka satunya amalan-amalan penghuni surga.Allah berfirman pada permulaan surat:1. لَا أُقْسِمُ بِهَٰذَا الْبَلَدِ“Aku bersumpah dengan negeri ini (Mekah)”Para ulama sepakat bahwa yang dimaksud dengan negeri disini adalah kota Mekkah. Namun para ulama khilaf (silang pendapat) makna laa pada awal ayat ini. Pendapat pertama mengatakan laa disini adalah untuk membantah, seakan-akan Allah membantah persangkaan orang-orang musyrik yang mengatakan tidak ada hari kebangkitan, lalu Allah melanjutkan bersumpah dengan Mekah bahwasanya hari kiamat itu benar adanya. Yaitu seakan-akan Allah berkata “Tidak benar persangkaan kalian wahai kaum musyrikin bahwa tidak ada hari kiamat, sungguh Aku bersumpah dengan kota ini”Pendapat kedua mengatakan laa disini bermakna tidak, seakan-akan Allah tidak bersumpah dengan kota Mekah karena adanya hari kebangkitan tidak butuh dengan sumpah. Adanya hari kebangkitan merupakan perkara yang sangat jelas sehingga tidak butuh bersumpah dengan kota Mekkah.Pendapat ketiga mengatakan laa disini laa zaidah (tambahan)1 yang maksudnya untuk menguatkan. Artinya Allah benar-benar bersumpah dengan kota Mekah. Inilah pendapat yang dikuatkan oleh para salaf dan inilah yang lebih benar. Dalam bahasa Arab kata laa sering digunakan untuk penekanan. Seperti firman Allah kepada iblis:قَالَ مَا مَنَعَكَ أَلَّا تَسْجُدَ إِذْ أَمَرْتُكَ ۖ قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِّنْهُ خَلَقْتَنِي مِن نَّارٍ وَخَلَقْتَهُ مِن طِينٍ“(Allah) berfirman, ‘Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) ketika Aku menyuruhmu?’ (Iblis) menjawab, ‘Aku lebih baik daripada dia, Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.’” (QS Al-A’raf : 12)Dan di ayat lain yang mirip dengan ayat di atas, Allah berfirman:قَالَ يَا إِبْلِيسُ مَا مَنَعَكَ أَن تَسْجُدَ لِمَا خَلَقْتُ بِيَدَيَّ ۖ أَسْتَكْبَرْتَ أَمْ كُنتَ مِنَ الْعَالِينَ“(Allah) berfirman, ‘Wahai iblis, apakah yang menghalangimu untuk bersujud kepada yang telah Aku ciptakan dengan kedua tangan-Ku. Apakah kamu menyombongkan diri atau kamu (merasa) termasuk golongan yang (lebih) tinggi?’” (QS Shad : 75)Di ayat pertama Allah menggunakan laa tetapi di ayat kedua Allah tidak menggunakan laa, padahal maksud yang diinginkan sama. Dari sini dapat disimpulkan penggunaan laa pada ayat pertama adalah untuk penekanan. Contoh lain bisa dijumpai pada firman Allah:لِّئَلَّا يَعْلَمَ أَهْلُ الْكِتَابِ أَلَّا يَقْدِرُونَ عَلَىٰ شَيْءٍ مِّن فَضْلِ اللَّهِ ۙ“Agar ahli kitab mengetahui bahwa sedikitpun mereka tidak akan mendapat karunia Allah.” (QS Al-Hadid : 29)Bentuk yang persis mirip dengan ayat pertama surat Al-Balad ini bisa dijumpai pada firman Allah:۞ فَلَا أُقْسِمُ بِمَوَاقِعِ النُّجُومِ(75) وَإِنَّهُ لَقَسَمٌ لَّوْ تَعْلَمُونَ عَظِيمٌ “(75) Lalu Aku bersumpah dengan tempat beredarnya bintang-bintang; (76) Dan sesungguhnya itu benar-benar sumpah yang besar sekiranya kamu mengetahui.” (QS Al-Waqi’ah : 75-76)Oleh karena itu, pendapat yang terkuat dari tiga pendapat tadi bahwasanya laa disitu adalah laa zaidah untuk penekanan, bahwasanya Allah benar-benar bersumpah dengan kota Mekah.Kota Mekah adalah kota mulia yang aman lagi suci. Allah juga bersumpah dengan kota Mekah di ayat yang lain:وَهَٰذَا الْبَلَدِ الْأَمِينِ“Dan demi negeri (Mekah) yang aman ini.” (QS At-Tin : 3)Mekah juga merupakan salah satu dari dua tanah suci, Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:إِنَّ إِبْرَاهِيمَ حَرَّمَ مَكَّةَ وَإِنِّي حَرَّمْتُ الْمَدِينَةَ“Sesungguhnya Nabi Ibrahim menjadikan kota Mekah sebagai kota haram, dan sesungguhnya aku menjadikan Madinah sebagai kota yang haram juga.” (HR Muslim no. 1362)Diantara keistimewaan dari kota Mekah yang tidak dimiliki oleh kota-kota yang lain adalah barangsiapa yang berniat buruk di kota Mekah maka terancam dengan azab yang pedih, bahkan ketika niat itu baru muncul di dalam hatinya. Allah berfirman:وَمَن يُرِدْ فِيهِ بِإِلْحَادٍ بِظُلْمٍ نُّذِقْهُ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ“Dan siapa saja yang bermaksud melakukan kejahatan secara zhalim di dalamnya, niscaya akan Kami rasakan kepadanya siksa yang pedih.” (QS Al-Hajj : 25)Inilah salah satu kekhususan kota Mekah yang tidak terdapat pada kota-kota lainnya. Barangsiapa yang menginginkan, berkehendak, bertekad, atau berniat untuk melakukan keburukan di kota Mekah maka dia terancam dengan adzab yang pedih. Kata para ulama meskipun dia tatkala berniat buruk sedang sedang berada di Shan’a (di Yaman) dan belum di Mekah. Apalagi berniat buruknya tatkala di Mekah.Kemudian Allah berfirman:2. وَأَنتَ حِلٌّ بِهَٰذَا الْبَلَدِ“Dan engkau (Muhammad) bertempat di negeri (Mekah) ini”Ada tiga pendapat di kalangan ahli tafsir tentang maksud “dan engkau halal di kota (Mekah) ini.” Pendapat pertama mengatakan ayat ini bermakna “lebih-lebih engkau berada di kota Mekah ini”, sehingga Allah berhak bersumpah dengan kota Mekah, lebih-lebih Nabi Muhammad berada di kota tersebut.Pendapat kedua mengatakan ayat ini bermakna “dan engkau dihalalakan darahnya oleh orang-orang kafir Quraisy di kota Mekah ini”, sehingga seakan-akan Allah bersumpah untuk mengingkarinya. Sebagaimana sayembara yang pernah dilakukan oleh orang-orang kafir Quraisy bagi yang berhasil menangkap Nabi Muhammad atau Abu Bakar masing-masing akan diberi serratus ekor unta.Pendapat ketiga dan inilah pendapat yang kuat mengatakan ayat ini bermakna “dan kota suci Mekah halal bagi engkau”. Maksudnya adalah dibolehkan bagi Nabi untuk berperang di kota Mekah. Ini terjadi ketika Fathu Makkah (penaklukan kota Mekah) pada tahun 8 H tatkala Nabi menyerang kota Mekah. Pada asalnya dilarang berperang dan menumpahkan darah di kota Mekah dan hal inipun diketahui oleh orang-orang musyrikin Quraisy, namun pada saat Fathu Makkah maka Allah menghalalkan bagi Nabi shallallahu álaihi wasallam untuk memerangi kaum musyrikin di Mekah. Karenanya Nabi shalallahu álaihi wa sallam memerintahkan sahabatnya untuk membunuh Ibnu Khothol (HR Al-Bukhari no 1846 dan Muslim no 1357). Ibnu Khothol adalah seorang yang suka mengejek Nabi dan dia suka membuat syair-syair untuk menghina Nabi. Bahkan Ibnu Ishaq menyebutkan bahwa Ibnu Khothol sempat masuk Islam namun dia murtad bahkan membunuh seorang muslim (lihat As-Siroh An-Nabawiyah, Ibnu Ishaaq hal 530 dan dinukil oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Baari 4/61) . Maka meskipun dia berlindung dengan memegang kain/kiswah Ka’bah, Nabi tetap menyuruh sahabatnya untuk membunuhnya.Nabi bersabda:وَإِنَّمَا أَذِنَ لِي فِيهَا سَاعَةً مِنْ نَهَارٍ، ثُمَّ عَادَتْ حُرْمَتُهَا اليَوْمَ كَحُرْمَتِهَا بِالأَمْسِ“Sesungguhnya Allah telah mengizinkanku pada suatu saat di siang hari kemudian dikembalikan kesuciannya hari ini sebagaimana disucikannya sebelumnya.” (HR Bukhari no. 104 dan Muslim no. 1354)Hanya beberapa saat saja Nabi diizinkan berperang di kota Mekah. Yaitu sejak terbit matahari hingga sholat ashar (lihat Fathul Baari, Ibnu Hajar 4/44 dan At-Taudhiih, Ibnul Mulaqqin 12/456).Ayat ini juga menjadi dalil bahwasanya Allah mengabarkan tentang suatu kejadian di masa depan. Karena surat ini -surat makkiyah- turun tatkala Nabi masih ditindas di kota Mekah dan belum berhijrah ke kota Madinah. Tetapi Allah mengabarkan bahwa suatu saat nanti Nabi akan masuk kembali ke kota Mekah untuk berperang di dalamnya hingga beliau berhasil menguasainya.Kemudian Allah berfirman:3. وَوَالِدٍ وَمَا وَلَدَ“Dan demi (pertalian) bapak dan anaknya”Ada 2 pendapat di kalangan para ulama tentang makna مَا pada ayat ini. Pendapat pertama, jika مَا disitu adalah مَا اَلْمَوْصُوْلَةُmaka makna ayat menjadi “Dan demi orangtua dan anak yang dia lahirkan.” Pendapat kedua, jikaمَا disitu adalah مَا النَّافِيَةُ maka makna ayat menjadi “Dan demi orang yang melahirkan dan orang yang tidak bisa melahirkan (mandul).”Namun pendapat yang lebih kuat adalah مَا اَلْمَوْصُوْلَةُ. Kemudian siapakah yang dimaksud dengan orangtua dan anak yang dilahirkannya?. Sebagian ulama mengatakan Nabi Adam dan keturunannya. Sebagian yang lain mengatakan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, kemudian beranak pinak sampai lahirlah Nabi Muhammad shalallahu ‘alayhi wa sallam. Dan pendapat yang dipilih oleh At-Thobari bahwa ayat ini bersifat umum mencakup semua yang melahirkan dan yang dilahirkan (Tafsir At-Thobari 24/408)Kemudian Allah berfirman:4. لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ فِي كَبَدٍ“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia berada dalam kepayahan”Allah bersumpah dengan empat perkara pada tiga ayat sebelumnya untuk menegaskan bahwa manusia itu tercipta dalam kesulitan dan kepayahan. Allah ingin membantah persangkaan sebagian orang bahwa dunia ini bisa ditempuh dengan senang-senang tanpa ada kesulitan sama sekali. Padahal Allah menjadikan manusia dalam keadan sulit dan payah sepanjang hidupnya, bahkan sejak lahirnya. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam Al-Qurthubi rahimahullah bahwa seorang anak sejak lahir sudah mengalami kepayahan. Pada saat dilahirkan pusarnya dipotong kemudian dia harus menyusu kepada ibunya, kadangkala air susu ibunya tidak lancar. Tatkala giginya tumbuh ia merasa kesakitan dan panas. Setelah dia bertumbuh semakin besar dia harus menghadapi kehidupannya, setelah dia menikah dia harus menanggung nafkah istri dan anak-anaknya. Memasuki masa tuanya badannya mulai lemah dan terus menerus mengalami kepayahan hingga akhirnya dia meninggal dunia. Di dalam kubur dia akan ditanyai oleh para malaikat, kemudian dibangkitkan lagi dalam keadaan payah. Ini semua menunjukan bahwa ada Tuhan yang mengatur dirinya, kalau seandainya tidak ada yang mengatur tentu dia tidak akan memilih kesulitan dan kepayahan tersebut. Karenanya hendaknya ia tunduk kepada Tuhan tersebut yang mengatur segala urusannya. (lihat Tafsir al-Qurthubi 20/62-63). Maka hendaknya ia berusaha untuk beramal sholih yang menyelamatkannya dari kesulitan-kesulitan akhirat, jika tidak maka ia akan terus dalam kesulitan dan kepayahan yang abadi (lihat Tafsir As-Sa’di hal 924). Manusia istirahat dari kepayahannya adalah ketika masuk ke dalam surga.Ada seseorang datang jauh-jauh dari Khurosan untuk menemui Imam Ahmad, ia berkata;يا أبا عَبْد اللَّهِ قَصَدْتُكَ مِنْ خُرَاسَان أَسْأَلُكَ عَنْ مَسْأَلَةٍ“Wahai Abu Abdillah (yaitu Imam Ahmad) aku datang menemuimu dari Khurosan untuk bertanya kepadamu tentang satu permasalahan?”Imam Ahmad berkata kepadanya, سَلْ “Tanyakanlah !”. Orang itu berkata, مَتَى يَجِدُ الْعَبْدُ طَعْمَ الرَّاحَةِ؟ “Kapankah seorang hamba merasakan nikmatnya istirahat?”. Imam Ahmad berkata:عِنْدَ أَوَّلِ قَدَمٍ يَضَعُهَا فِي الْجَنَّةِ“Tatkala pertama kali ia menginjakan kakinya di surga” (Thobaqoot al-Hanaabilah 1/293 dan al-Maqshod al-Arsyad 2/398)Oleh karena itu, ada 2 pendapat di kalangan para ahli tafsir tentang manusia yang akan merasakan kepayahan yang dimaksudkan dalam ayat ini. Sebagian mengatakan bahwa yang dimaksudkan adalah manusia secara umum sebab pada kenyataannya semua manusia mengalami kepayahan. Baik muslim maupun kafir, baik laki-laki maupun perempuan, baik tua maupun muda, baik baik kaya maupun miskin, baik dia presiden ataupun rakyat. Semua orang dalam keadaan susah dan payah, tidak ada kelezatan yang sempurna dan peristirahatan yang sempurna kecuali di surga kelak. Semua manusia akan diuji, apalagi orang-orang yang beriman. Bahkan Allah berjanji untuk menguji mereka, semakin tinggi iman seseorang semakin berat ujiannya. Dalam sebuah hadits dari Mush’ab bin Sa’id -seorang tabi’in- dari ayahnya, ia berkata,يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلاَءً“Wahai Rasulullah, manusia manakah yang paling berat ujiannya?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,الأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الأَمْثَلُ فَالأَمْثَلُ فَيُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَإِنْ كَانَ دِينُهُ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلاَؤُهُ وَإِنْ كَانَ فِى دِينِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِىَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَمَا يَبْرَحُ الْبَلاَءُ بِالْعَبْدِ حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِى عَلَى الأَرْضِ مَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ“Para Nabi, kemudian yang semisalnya dan semisalnya lagi. Seseorang akan diuji sesuai dengan kondisi agamanya. Apabila agamanya begitu kuat (kokoh), maka semakin berat pula ujiannya. Apabila agamanya lemah, maka ia akan diuji sesuai dengan kualitas agamanya. Seorang hamba senantiasa akan mendapatkan cobaan hingga dia berjalan di muka bumi dalam keadaan bersih dari dosa.” (HR Tirmidzi no. 2398, Ibnu Majah no. 4024)Namun sebagian ulama yang lain berpendapat bahwa yang dimaksudkan adalah orang kafir. (lihat At-Thariir wa At-Tanwiir 30/351) Sebagaimana kaidah yang telah berlalu pada tafsir surat sebelumnya, seluruh kata al-insan yang terdapat dalam surat Makiyyah ditujukan untuk orang kafir karena surat tersebut turun dalam rangka mencela dan mengajak orang-orang kafir untuk berpikir. Sehingga yang dimaksudkan dalam ayat mengalami kepayahan adalah orang-orang kafir. Dan konteks ayat-ayat dari pertama hingga terkahir adalah tentang orang kafir. Karena orang mukmin meskipun menghadapi kepayahan tetapi hatinya tenteram, karena ada keimanan di dalam hatinya. Allah berfirman:الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS Ar-Ra’d : 28)Meskipun orang-orang mukmin diuji oleh Allah tetapi hatinya akan tenang. Berbeda dengan orang-rang kafir, meskipun nampaknya mereka dalam kesenangan dan kemewahan, tetapi hati mereka kosong dari keimanan, hati mereka tidak bahagia. Mereka hanya merasakan kelezatan jasmani dan tidak merasakan kebahagiaan hati. Allah berfirman:وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَىٰ“Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatan-Ku maka sungguh dia akan menjalani kehidupan yang sempit, dan Kami akan mengumpulkannya pada hari Kiamat dalam keadaan buta.” (QS Thaha : 124)Kemudian Allah berfirman:5. أَيَحْسَبُ أَن لَّن يَقْدِرَ عَلَيْهِ أَحَدٌ“Apakah dia (manusia) itu mengira bahwa tidak ada sesuatu pun yang berkuasa atasnya?”Sehingga dia bebas melakukan kemaksiatan, bebas melakukan apa yang dia inginkan, seakan-akan dia cuma hidup sekali dan tidak akan dihidupkan lagi pada hari kiamat kelak?. Apakah setelah tubuhnya menjadi hancur dan tulang belulangnya berubah menjadi tanah Allah tidak mampu membangkitkannya? (lihat At-Tahriir wa At-Tanwiir 30/351)6. يَقُولُ أَهْلَكْتُ مَالًا لُّبَدًا“Dia mengatakan, ‘Aku telah menghabiskan harta yang banyak’.” Dia menghabiskan harta sepuasnya, menghabiskan hartanya untuk hal-hal yang haram, untuk berfoya-foya, karena dia menyangka bahwasanya hartanya akan ada terus tidak habis-habis. Karenanya Allah menamakan sikap menghabiskan harta pada kemaksiatan dengan إِهْلَاك , yaitu “memusnahkan”, dan Allah tidak menamakannya dengan “infaq”. Hal ini karena harta yang digunakan untuk maksiat tidak akan memberi manfaat kepada pelakunya, dan tidaklah kembali kepada pelakunya kecuali kerugian dan penyesalan. Lain halnya dengan orang yang berinfaq di jalan Allah, maka ia telah berdagang dengan Allah, ia akan mendapatkan keuntungan yang berlipat-lipat ganda. (lihat Tafsir As-Sa’adi hal 924)7. أَيَحْسَبُ أَن لَّمْ يَرَهُ أَحَدٌ“Apakah dia mengira bahwa tidak ada sesuatu pun yang melihatnya?”Orang ini tatkala berkata أَهْلَكْتُ مَالًا لُّبَدًا “Aku telah menghabiskan harta yang banyak”, ia mengucapkannya dengan kesombongan. Ia menyombongkan harta yang banyak yang telah ia hambur-hamburkan dalam kemaksiatan.Dahulu orang-orang jahiliyah berbangga-banggaan dalam menghambur-hamburkan uang untuk hal-hal yang tidak bermanfaat. Bahkan mereka menganggap sikap seperti ini adalah kemuliaan. Ini mereka lakukan untuk menunjukan bahwa saking banyak hartanya maka mereka tidak perduli untuk menghamburkan harta mereka (Lihat At-Tahriir wa at-Tanwiir 30/352)2Apakah ia menyangka bahwa perbuatannya tersebut tidak ada yang lihat? Tidak akan dihisab baik yang kecil maupun besar?. Padahal apapun yang dia lakukan semuanya akan dilihat oleh Allah dan dicatat oleh malaikat. (lihat Tafsir As-Sa’di hal 924)Kemudian mengingatkan manusia ini akan kenikmatan dan karunia yang Allah berikan kepadanya, yang seharusnya semua karunia tersebut dia gunakan untuk bersyukur kepada Allah, bukan untuk membangkang kepada Allah. Allah berfirman :8. أَلَمْ نَجْعَل لَّهُ عَيْنَيْنِ“Bukankah Kami telah menjadikan untuknya sepasang mata”9. وَلِسَانًا وَشَفَتَيْنِ“Dan lidah dan sepasang bibir”Allah ingin menunjukkan karunia Allah kepada manusia. Allah telah memberikan kepadanya kenikmatan lisan, kenikmatan dua bibir, dan kenikmatan dua mata. Ini diantara kenikmatan yang sangat besar. Kedua mata untuk melihat keagungan dan kebesaran Allah dalam ciptaanNya, lisan dan kedua bibir yang bisa digunakan untuk mengungkapkan isi hati. Demikian juga membantu untuk makan dan minum serta menambah indahnya rupa. (lihat Tafsir Ibnu Katsir 8/393). Namun kebanyakan manusia tidak mensyukurinya dengan menggunakan nikmat-nikmat tersebut dalam hal-hal yang tidak bermanfaat. Lisan yang diberikan oleh Allah tidak digunakan untuk berdzikir, melainkan hanya ucapan yang sia-sia saja. Mata yang diberikan oleh Allah digunakannya untuk melihat hal-hal yang haram.Setelah Allah menyebutkan sebagian kenikmatan yang berkaitan dengan dunia Allah juga menyebutkan kenikmatan yang berkaitan dengan agama, Allah berfirman :10 وَهَدَيْنَاهُ النَّجْدَيْنِ“Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan (kebajikan dan kejahatan)”Yaitu Allah telah menjelaskan kedua jalan tersebut dengan sejelas-jelasnya agar manusia mengikuti jalan kebaikan dan meninggalkan jalan keburukan.Lalu Allah menjelaskan tentang apa yang seharusnya yang dilakukan oleh orang yang Allah telah berikan karunia kepadanya terlebih lagi harta yang banyak. Bukan untuk dihamburkan tapi untuk disalurkan kepada jalna-jalan kebaikan. Allah berfirman:11. فَلَا اقْتَحَمَ الْعَقَبَةَ“Tetapi dia tidak menempuh jalan yang mendaki lagi sukar”عَقَبَةَ dalam bahasa arab artinya jalan yang ada di sela-sela gunung-gunung. Yang dimaksudkan adalah jalan menuju surga. Jalan menuju surga seperti menempuh jalan di atas gunung, jalurnya sukar dan butuh perjuangan karena berlawanan dengan hawa nafsu. Seharusnya seseorang apabila mengetahui bahwa sesuatu itu baik sepatutnya dia langsung melaksanakannya tanpa perlu berpikir panjang meskipun itu adalah perkara yang berat. Seperti seorang yang melewati jalan-jalan gunung yang membutuhkan perjuangan. Karena demikianlah jalan menuju surga.Sebenarnya jalan-jalan ini adalah tidak terlalu berat hanya saja dirasa sangat berat bagi orang yang tenggelam dalam kemaksiatan, sehingga untuk berbuat baik akan terasa sangat berat karena ia telah mengikuti hawa nafsunya (lihat Tafsir As-Sa’di hal 924). Adapun orang yang beriman maka meski jalan-jalan ini berat akan tetapi keimanannya menjadikannya lebih terasa ringan untuk menempuhnya.Pendapat lain menyatakan bahwa maksud dari عَقَبَةَ adalah gunung di neraka (lihat Tafsir As-Sam’aani 6/229) sehingga maksud ayat ini adalah jika seseorang hendak lolos dan selamat dari siksaan mendaki gunung di neraka maka lewatilah gunung tersebut dengan melakukan amalan-amalan kebajika seperti membebaskan budak, memberi makan orang miskin, dll.Setelah itu Allah menjelaskan tentang apa itu jalan yang sulit, Allah berfirman:12. وَمَا أَدْرَاكَ مَا الْعَقَبَةُ“Dan tahukah kamu apakah jalan yang mendaki dan sukar itu?”13. فَكُّ رَقَبَةٍ“(Yaitu) melepaskan perbudakan (hamba sahaya)”Diantara jalan yang sulit tersebut adalah membebaskan seorang budak. Islam adalah agama yang menganjurkan untuk membebaskan budak. Tidak seperti yang dituduhkan oleh orang-orang nasrani bahwa islam adalah agama yang menganjurkan memperbudak. Perbudakan sudah ada di zaman Nabi saat itu, termasuk orang-orang romawi juga memperbudak, orang-orang nasrani juga memperbudak, begitupun dengan orang-orang yahudi. Tapi tatkala Islam datang maka Nabi shalallahu ‘alayhi wa sallam memotivasi agar membebaskan budak. Dimana ini merupakan salah satu jalan menuju surga. Termasuk dalam makna membebaskan budak selain memerdekakannya secara langsung adalah dengan membantunya dalam mukatabahnya (yaitu melunasi hutang sang budak yang ingin menebus dirinya sendiri dari majikannya). Demikian juga membebaskan tawanan perang muslim yang ditawan oleh pihak musuh. (lihat Tafsir As-Sa’di hal 924)Kemudian Allah berfirman:14. أَوْ إِطْعَامٌ فِي يَوْمٍ ذِي مَسْغَبَةٍ“Atau memberi makan pada hari terjadi kelaparan”Diantara jalan yang sulit tersebut adalah memberi makan pada hari kelaparan. Pahala seorang yang bersedekah bertingkat-tingkat sesuai dengan kondisi orang yang disedekahi, apabila kita memberi sedekah kepada orang yang sangat membutuhkan maka pahalanya lebih besar. Al-Qurthubi berkata :وَإِطْعَامُ الطَّعَامِ فَضِيلَةٌ، وَهُوَ مَعَ السَّغَبِ الَّذِي هُوَ الْجُوعُ أَفْضَلُ“Memberi makanan adalah kemuliaan, dan jika disertai dengan kelaparan yang amat sangat maka lebih mulia lagi” (Tafsir Al-Qurthubi 20/69)15. يَتِيمًا ذَا مَقْرَبَةٍ“(Kepada) anak yatim yang ada hubungan kerabat”Diantaranya yaitu memberi makan anak yatim yang memiliki hubungan kekerabatan. Anak yatim adalah anak yang belum baligh namun ayahnya telah meninggal dunia. Memberi makan anak yatim yang memiliki hubungan kekerabatan lebih utama daripada anak yatim yang tidak ada hubungan kekerabatan. Karena berinfak kepada kerabat pahalanya lebih besar, yaitu pahala infak dan pahala silaturrahmi. Oleh karena itu, sebagian ulama berfatwa bahwa hukum asal zakat adalah tidak boleh dikeluarkan dari suatu negeri, tetapi harus diberikan kepada penduduk negeri tersebut kecuali kalau di negeri lain ada kerabat kita yang miskin, maka tidak mengapa kita salurkan untuk kerabat kita tersebut.Sebagian orang terkadang berbuat sebaliknya, mereka justru lebih semangat untuk membantu orang-orang yang jauh yang bukan kerabatnya. Padahal seharusnya dengan kerabatnya yang mengalami kesusahan dia harus lebih perhatian, karena lebih utama untuk dibantu.Demikian pula memberi bantuan kepada anak yatim yang tidak orang yang mengayominya lebih besar pahalanya daripada kepada anak yatim yang sudah ada yang mengayominya (lihat Tafsir Al-Qurthubi 20/70)16. أَوْ مِسْكِينًا ذَا مَتْرَبَةٍ“Atau orang miskin yang sangat fakir”مَتْرَبَةٍdiambil dari kata تُرَابٌ yang artinya tanah. Disebut memiliki tanah karena saking miskinnya ia seakan-akan tidak memiliki apa-apa kecuali hanya tanah yang dimilikinya atau saking miskinnya ia seakan-akan menempel ditanah. Intinya adalah memberi sedekah kepada orang yang sangat fakir miskin lebih utama dari yang sekedar miskin. Karenanya pahala sedekah bertingkat-tingkat sesuai dengan kondisi orang yang disedekahi tersebut, semakin dia butuh maka pahala semakin besar.Kemudian Allah berfirman:17. ثُمَّ كَانَ مِنَ الَّذِينَ آمَنُوا وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ وَتَوَاصَوْا بِالْمَرْحَمَةِ“Kemudian dia termasuk orang-orang yang beriman, dan saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang”Terdapat dua pendapat di kalangan para ulama mengenai ayat ini. Pendapat pertama mengatakan, maksud ayat ini adalah seakan-akan Allah mengatakan kepada orang kafir tadi mengapa ia tidak mau berbuat kebaikan-kebaikan tersebut? Dan jika dia hendak melakukan kebaikan-kebaikan tersebut maka ia harus beriman terlebih dahulu. Ini menunjukkan bahwasanya seorang kafir bagaimanapun amalan kebajikan yang dia lakukan namun tidak dibangun di atas keimanan tetap tidak akan diterima oleh Allah. (lihat Tafsir Al-Baghowi 8/433)Aisyah radhiallahu ‘anhaa berkata :يَا رَسُولَ اللهِ، ابْنُ جُدْعَانَ كَانَ فِي الْجَاهِلِيَّةِ يَصِلُ الرَّحِمَ، وَيُطْعِمُ الْمِسْكِينَ، فَهَلْ ذَاكَ نَافِعُهُ؟ قَالَ: ” لَا يَنْفَعُهُ، إِنَّهُ لَمْ يَقُلْ يَوْمًا: رَبِّ اغْفِرْ لِي خَطِيئَتِي يَوْمَ الدِّينِ“Wahai Rasulullah, dahulu di zaman jahiliyah, Ibnu Jad’an gemar menyambung tali silaturrahmi, memberi makan orang miskin, apakah itu bermanfaat baginya?” Nabi menjawab, “Tidak, sesungguhnya ia tidak pernah sekalipun mengatakan, ‘Wahai Rabbku ampunilah kesalahanku pada hari pembalasan’.” (HR Muslim no. 214)Seluruh kebaikan yang dia lakukan tidak bermanfaat meskipun dia membebaskan budak-budak, meskipun dia memberi makan kepada fakir miskin, meskipun dia memuliakan tamu, meskipun dia menyambung silaturahmi, namun itu semua tidak ada faedahnya di sisi Allah. Allah berfirman:وَمَا مَنَعَهُمْ أَن تُقْبَلَ مِنْهُمْ نَفَقَاتُهُمْ إِلَّا أَنَّهُمْ كَفَرُوا بِاللَّهِ وَبِرَسُولِهِ“Dan tidaklah ada yang menghalangi infak mereka diterima kecuali karena mereka kafir (ingkar) kepada Allah dan Rasul-Nya.” (QS At-Taubah : 54)Demikian juga apa yang terjadi pada Abu Thalib, paman Nabi shalallahu ‘alayhi wa sallam yang rela mati demi membela Nabi. Dia rela berperang melawan kerabat-kerabatnya demi membela keponakannya yaitu Muhammad shalallahu ‘alayhi wa sallam. Tetapi karena meninggal dalam kesyirikan, dia tetap dimasukkan ke dalam neraka Jahannam. Oleh karena itu, para ikhwan yang dirahmati olerh Allah SWT, seorang meskipun baiknya apapun jika dia musyrik, tidak beriman kepada Allah, kebaikannya tidak akan diterima oleh Allah SWT. oleh karenanya Allah mengatakan tsumma kaana minalladziina aamanuu, silahkan engkau berbuat kebajikan dengan syarat engkau termasuk orang-orang yang beriman,Pendapat kedua bahwa maksud ayat ini adalah barangsiapa yang berbuat kebajikan, diantaranya membebaskan budak, memberi makan kepada fakir miskin, kemudian setelah itu dia masuk islam dan beriman, maka seluruh kebajikan yang pernah dia lakukan tersebut ketika masih jahiliyyah akan diterima oleh Allah. (lihat Tafsir al-Qurthubi 20/71). Demikianlah salah satu keistimewaan islam, barangsiapa yang masuk islam maka amalan shaleh yang pernah dia lakukan sebelum islam akan diikut sertakan dalam keislamannya, semua akan menjadi simpanan amal shaleh baginya. Adapun kemaksiatan yang pernah dia lakukan sewaktu kafir semuanya akan terhapuskan.عَنْ حَكِيْمِ بْنِ حِزَامٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، أَرَأَيْتَ أَشْيَاءَ كُنْتُ أَتَحَنَّثُ بِهَا فِي الْجَاهِلِيَّةِ مِنْ صَدَقَةٍ أَوْ عَتَاقَةٍ أَو صِلَةِ رَحِمٍ ، فَهَلْ فِيْهَا مِنْ أَجْرٍ؟ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَسْلَمْتَ عَلَى مَا سَلَفَ مِنْ خَيْرٍ.Dari Hakim bin Hizam Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Wahai Rasulullah, apakah engkau memandang perbuatan-perbuatan baik yang aku lakukan sewaktu masa Jahiliyyah seperti shadaqah, membebaskan budak atau silaturahmi tetap mendapat pahala?” Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Engkau telah masuk Islam beserta semua kebaikanmu yang dahulu.” (HR Bukhari no. 1436)Ini adalah dalil bahwasanya orang yang baru masuk islam maka seluruh amalan kebajikan yang pernah dia lakukan sewaktu kafir juga akan tercatat di sisi Allah sebagai amalan shaleh.Kemudian Allah menyebutkan ciri-ciri orang yang beriman, yaitu senantiasa saling berwasiat untuk bersabar. Karena kehidupan ini butuh dengan kesabaran, yaitu kesabaran dalam menjalankan ketaatan, kesabaran dalam menjauhi kemaksiatan, dan kesabaran tatkala ditimpa musibah. Dan mereka juga saling mewasiatkan untuk saling merahmati satu sama lain. Dan saling mewasiatkan untuk merahmati adalah perangai yang agung. Dan tidaklah seseorang berwashiat untuk merahmati kecuali ia tahu betul akan keagungan dan kemuliaan rahmat. Dan tentunya ia telah melakukannya sebelum berwashiat kepada orang lain. Ini juga menunjukan bahwa diantara sifat utama orang-orang yang beriman adalah sabar dan sayang kepada sesama makhluk (lihat At-Tahriir wa at-Tanwiir 30/361).Barangsiapa yang merahmati orang lain maka dia akan dirahmati oleh Allah. Nabi bersabda:الرَّاحِمُونَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمَنُ ارْحَمُوا مَنْ فِى الأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِى السَّمَاء“Orang-orang yang penyayang niscaya akan disayangi pula oleh ar-Rahman (Allah). Maka sayangilah yang di atas muka bumi niscaya Yang di atas langit pun akan menyayangi kalian.” (HR Tirmidzi no. 1924)Bahwa ketika ada seorang lelaki yang berkata kepada Nabi, “Ya Rasulullah, sesungguhnya aku mengasihi kambing jika aku menyembelihnya”. Maka beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :وَالشَّاةُ إِنْ رَحِمْتَهَا رَحِمَكَ اللَّهُ“Jika engkau mengasihinya maka Allah merahmatinya.” (HR Bukhari dalam Adabul Mufrad no. 373)Jika mereka saling berwashiat untuk merahmati (mengasihi) maka mereka akan memperhatikan orang-orang miskin dan anak yatim (Lihat Tafsir al-Qurthubi 20/71)Kemudian Allah berfirman:18. أُولَٰئِكَ أَصْحَابُ الْمَيْمَنَةِ“Mereka (orang-orang yang beriman dan saling berpesan itu) adalah golongan kanan”Yaitu para penghuni surga19. وَالَّذِينَ كَفَرُوا بِآيَاتِنَا هُمْ أَصْحَابُ الْمَشْأَمَةِ“Dan orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, mereka itu adalah golongan kiri”Yaitu para penghuni neraka Jahannam20. عَلَيْهِمْ نَارٌ مُّؤْصَدَةٌ“Mereka berada dalam neraka yang ditutup rapat”Orang kafir yang telah memasuki neraka neraka seakan-akan neraka itu menjadi tertutup bagi mereka sehingga tidak mungkin keluar lagi.إِنَّ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا وَاسْتَكْبَرُوا عَنْهَا لَا تُفَتَّحُ لَهُمْ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَلَا يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّىٰ يَلِجَ الْجَمَلُ فِي سَمِّ الْخِيَاطِ ۚ وَكَذَٰلِكَ نَجْزِي الْمُجْرِمِينَ“sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, tidak akan dibukakan pintu-pintu langit bagi mereka, dan mereka tidak akan masuk surga, sebelum unta masuk ke dalam lubang jarum. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat jahat.” (QS Al-A’raf : 40)Dan hal tersebut mustahil terjadi. Oleh karena itu, orang kafir abadi di dalam neraka jahannam disiksa. Keterangan:1 الحُرُوْفُ الزَّائِدَةُ Huruf-huruf tambahan dalam al-Qurán bukanlah maksudnya sama saja jika tidak ada huruf tersebut tidak merubah arti, akan tetapi maksudnya “tambahan”dari sisi i’roob, bahwasanya huruf-huruf secara i’roob tidak memiliki kedudukan. Akan tetapi secara makna tentu ada tambahan makna yaitu untuk menekankan, sebagaimana dalam ayat ini dan ayat-ayat yang lainnya. Diantara fungsi huruf-huruf tambahan ini juga adalha untuk memperindah susunan kata-kata. (lihat Al-Burhaan fi Úluumil Quráan, Az-Zarkasyi 3/72, Sirrul Fashoohah, Al-Khofaaji hal 156, Tafsiir al-Kasyyaaf, Az-Zmakhsyari 1/431)2Gaya hidup seperti ini terkadang masih terwariskan kepada sebagian kaum muslimin, yang terkadang berbangga-banggaan dalam menghamburkan uang pada perkara yang tidak bermanfaat dan sia-sia. Sebagian orang bangga tatkala mengadakan pesta besar-besaran bahkan hingga berhari-hari. Ini dilakukan hanya untuk menunjukan bahwa hartanya banyak. Atau sebagian orang sengaja membeli mobil yang banyak dengan harga yang melangit, untuk ia pamerkan kepada masyarakat. Hanya untuk menunjukan bahwa ia adalah orang yang sangat kaya.
Tafsir Surat Al-BaladOleh: DR. Firanda Andirja, Lc. MASurat Al-Balad adalah surat makiyyah, yang diturunkan oleh Allah kepada Nabi shalallahu ‘alayhi wa sallam sebelum beliau berhijrah ke kota Madinah. Para ulama menjelaskan hubungan antara surat Al-Balad dengan surat Al-Fajr. Adapun pada surat Al-Fajr Allah menyebutkan beberapa amalan-amalan yang menyebabkan orang kafir masuk neraka jahannam. Allah berfirman:كَلَّا ۖ بَل لَّا تُكْرِمُونَ الْيَتِيمَ (17) وَلَا تَحَاضُّونَ عَلَىٰ طَعَامِ الْمِسْكِينِ (18) وَتَأْكُلُونَ التُّرَاثَ أَكْلًا لَّمًّا (19) وَتُحِبُّونَ الْمَالَ حُبًّا جَمًّا (20)“(17) Sekali-kali tidak! Bahkan kamu tidak memuliakan anak yatim ; (18) Dan kamu tidak saling mengajak memberi makan orang miskin ; (19) Sedangkan kamu memakan harta warisan dengan cara mencampur-baurkan (yang halal dan yang haram) ; (20) Dan kamu mencintai harta dengan kecintaan yang berlebihan.” (QS Al-Fajr : 17-20)Sedangkan pada surat Al-Balad Allah menyebutkan beberapa amalan-amalan yang menyebabkan orang beriman masuk surga. Allah berfirman:فَكُّ رَقَبَةٍ(13) أَوْ إِطْعَامٌ فِي يَوْمٍ ذِي مَسْغَبَةٍ (14) يَتِيمًا ذَا مَقْرَبَةٍ (15) أَوْ مِسْكِينًا ذَا مَتْرَبَةٍ (16)“(13) (Yaitu) melepaskan perbudakan (hamba sahaya) ; (14) Atau memberi makan pada hari terjadi kelaparan ; (15) (Kepada) anak yatim yang ada hubungan kerabat ; (16) Atau orang miskin yang sangat fakir.” (QS Al-Balad : 13-16)Inilah hubungan antara surat Al-Fajr dan Al-Balad, yang satu menyebutkan amalan-amalan penghuni neraka satunya amalan-amalan penghuni surga.Allah berfirman pada permulaan surat:1. لَا أُقْسِمُ بِهَٰذَا الْبَلَدِ“Aku bersumpah dengan negeri ini (Mekah)”Para ulama sepakat bahwa yang dimaksud dengan negeri disini adalah kota Mekkah. Namun para ulama khilaf (silang pendapat) makna laa pada awal ayat ini. Pendapat pertama mengatakan laa disini adalah untuk membantah, seakan-akan Allah membantah persangkaan orang-orang musyrik yang mengatakan tidak ada hari kebangkitan, lalu Allah melanjutkan bersumpah dengan Mekah bahwasanya hari kiamat itu benar adanya. Yaitu seakan-akan Allah berkata “Tidak benar persangkaan kalian wahai kaum musyrikin bahwa tidak ada hari kiamat, sungguh Aku bersumpah dengan kota ini”Pendapat kedua mengatakan laa disini bermakna tidak, seakan-akan Allah tidak bersumpah dengan kota Mekah karena adanya hari kebangkitan tidak butuh dengan sumpah. Adanya hari kebangkitan merupakan perkara yang sangat jelas sehingga tidak butuh bersumpah dengan kota Mekkah.Pendapat ketiga mengatakan laa disini laa zaidah (tambahan)1 yang maksudnya untuk menguatkan. Artinya Allah benar-benar bersumpah dengan kota Mekah. Inilah pendapat yang dikuatkan oleh para salaf dan inilah yang lebih benar. Dalam bahasa Arab kata laa sering digunakan untuk penekanan. Seperti firman Allah kepada iblis:قَالَ مَا مَنَعَكَ أَلَّا تَسْجُدَ إِذْ أَمَرْتُكَ ۖ قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِّنْهُ خَلَقْتَنِي مِن نَّارٍ وَخَلَقْتَهُ مِن طِينٍ“(Allah) berfirman, ‘Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) ketika Aku menyuruhmu?’ (Iblis) menjawab, ‘Aku lebih baik daripada dia, Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.’” (QS Al-A’raf : 12)Dan di ayat lain yang mirip dengan ayat di atas, Allah berfirman:قَالَ يَا إِبْلِيسُ مَا مَنَعَكَ أَن تَسْجُدَ لِمَا خَلَقْتُ بِيَدَيَّ ۖ أَسْتَكْبَرْتَ أَمْ كُنتَ مِنَ الْعَالِينَ“(Allah) berfirman, ‘Wahai iblis, apakah yang menghalangimu untuk bersujud kepada yang telah Aku ciptakan dengan kedua tangan-Ku. Apakah kamu menyombongkan diri atau kamu (merasa) termasuk golongan yang (lebih) tinggi?’” (QS Shad : 75)Di ayat pertama Allah menggunakan laa tetapi di ayat kedua Allah tidak menggunakan laa, padahal maksud yang diinginkan sama. Dari sini dapat disimpulkan penggunaan laa pada ayat pertama adalah untuk penekanan. Contoh lain bisa dijumpai pada firman Allah:لِّئَلَّا يَعْلَمَ أَهْلُ الْكِتَابِ أَلَّا يَقْدِرُونَ عَلَىٰ شَيْءٍ مِّن فَضْلِ اللَّهِ ۙ“Agar ahli kitab mengetahui bahwa sedikitpun mereka tidak akan mendapat karunia Allah.” (QS Al-Hadid : 29)Bentuk yang persis mirip dengan ayat pertama surat Al-Balad ini bisa dijumpai pada firman Allah:۞ فَلَا أُقْسِمُ بِمَوَاقِعِ النُّجُومِ(75) وَإِنَّهُ لَقَسَمٌ لَّوْ تَعْلَمُونَ عَظِيمٌ “(75) Lalu Aku bersumpah dengan tempat beredarnya bintang-bintang; (76) Dan sesungguhnya itu benar-benar sumpah yang besar sekiranya kamu mengetahui.” (QS Al-Waqi’ah : 75-76)Oleh karena itu, pendapat yang terkuat dari tiga pendapat tadi bahwasanya laa disitu adalah laa zaidah untuk penekanan, bahwasanya Allah benar-benar bersumpah dengan kota Mekah.Kota Mekah adalah kota mulia yang aman lagi suci. Allah juga bersumpah dengan kota Mekah di ayat yang lain:وَهَٰذَا الْبَلَدِ الْأَمِينِ“Dan demi negeri (Mekah) yang aman ini.” (QS At-Tin : 3)Mekah juga merupakan salah satu dari dua tanah suci, Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:إِنَّ إِبْرَاهِيمَ حَرَّمَ مَكَّةَ وَإِنِّي حَرَّمْتُ الْمَدِينَةَ“Sesungguhnya Nabi Ibrahim menjadikan kota Mekah sebagai kota haram, dan sesungguhnya aku menjadikan Madinah sebagai kota yang haram juga.” (HR Muslim no. 1362)Diantara keistimewaan dari kota Mekah yang tidak dimiliki oleh kota-kota yang lain adalah barangsiapa yang berniat buruk di kota Mekah maka terancam dengan azab yang pedih, bahkan ketika niat itu baru muncul di dalam hatinya. Allah berfirman:وَمَن يُرِدْ فِيهِ بِإِلْحَادٍ بِظُلْمٍ نُّذِقْهُ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ“Dan siapa saja yang bermaksud melakukan kejahatan secara zhalim di dalamnya, niscaya akan Kami rasakan kepadanya siksa yang pedih.” (QS Al-Hajj : 25)Inilah salah satu kekhususan kota Mekah yang tidak terdapat pada kota-kota lainnya. Barangsiapa yang menginginkan, berkehendak, bertekad, atau berniat untuk melakukan keburukan di kota Mekah maka dia terancam dengan adzab yang pedih. Kata para ulama meskipun dia tatkala berniat buruk sedang sedang berada di Shan’a (di Yaman) dan belum di Mekah. Apalagi berniat buruknya tatkala di Mekah.Kemudian Allah berfirman:2. وَأَنتَ حِلٌّ بِهَٰذَا الْبَلَدِ“Dan engkau (Muhammad) bertempat di negeri (Mekah) ini”Ada tiga pendapat di kalangan ahli tafsir tentang maksud “dan engkau halal di kota (Mekah) ini.” Pendapat pertama mengatakan ayat ini bermakna “lebih-lebih engkau berada di kota Mekah ini”, sehingga Allah berhak bersumpah dengan kota Mekah, lebih-lebih Nabi Muhammad berada di kota tersebut.Pendapat kedua mengatakan ayat ini bermakna “dan engkau dihalalakan darahnya oleh orang-orang kafir Quraisy di kota Mekah ini”, sehingga seakan-akan Allah bersumpah untuk mengingkarinya. Sebagaimana sayembara yang pernah dilakukan oleh orang-orang kafir Quraisy bagi yang berhasil menangkap Nabi Muhammad atau Abu Bakar masing-masing akan diberi serratus ekor unta.Pendapat ketiga dan inilah pendapat yang kuat mengatakan ayat ini bermakna “dan kota suci Mekah halal bagi engkau”. Maksudnya adalah dibolehkan bagi Nabi untuk berperang di kota Mekah. Ini terjadi ketika Fathu Makkah (penaklukan kota Mekah) pada tahun 8 H tatkala Nabi menyerang kota Mekah. Pada asalnya dilarang berperang dan menumpahkan darah di kota Mekah dan hal inipun diketahui oleh orang-orang musyrikin Quraisy, namun pada saat Fathu Makkah maka Allah menghalalkan bagi Nabi shallallahu álaihi wasallam untuk memerangi kaum musyrikin di Mekah. Karenanya Nabi shalallahu álaihi wa sallam memerintahkan sahabatnya untuk membunuh Ibnu Khothol (HR Al-Bukhari no 1846 dan Muslim no 1357). Ibnu Khothol adalah seorang yang suka mengejek Nabi dan dia suka membuat syair-syair untuk menghina Nabi. Bahkan Ibnu Ishaq menyebutkan bahwa Ibnu Khothol sempat masuk Islam namun dia murtad bahkan membunuh seorang muslim (lihat As-Siroh An-Nabawiyah, Ibnu Ishaaq hal 530 dan dinukil oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Baari 4/61) . Maka meskipun dia berlindung dengan memegang kain/kiswah Ka’bah, Nabi tetap menyuruh sahabatnya untuk membunuhnya.Nabi bersabda:وَإِنَّمَا أَذِنَ لِي فِيهَا سَاعَةً مِنْ نَهَارٍ، ثُمَّ عَادَتْ حُرْمَتُهَا اليَوْمَ كَحُرْمَتِهَا بِالأَمْسِ“Sesungguhnya Allah telah mengizinkanku pada suatu saat di siang hari kemudian dikembalikan kesuciannya hari ini sebagaimana disucikannya sebelumnya.” (HR Bukhari no. 104 dan Muslim no. 1354)Hanya beberapa saat saja Nabi diizinkan berperang di kota Mekah. Yaitu sejak terbit matahari hingga sholat ashar (lihat Fathul Baari, Ibnu Hajar 4/44 dan At-Taudhiih, Ibnul Mulaqqin 12/456).Ayat ini juga menjadi dalil bahwasanya Allah mengabarkan tentang suatu kejadian di masa depan. Karena surat ini -surat makkiyah- turun tatkala Nabi masih ditindas di kota Mekah dan belum berhijrah ke kota Madinah. Tetapi Allah mengabarkan bahwa suatu saat nanti Nabi akan masuk kembali ke kota Mekah untuk berperang di dalamnya hingga beliau berhasil menguasainya.Kemudian Allah berfirman:3. وَوَالِدٍ وَمَا وَلَدَ“Dan demi (pertalian) bapak dan anaknya”Ada 2 pendapat di kalangan para ulama tentang makna مَا pada ayat ini. Pendapat pertama, jika مَا disitu adalah مَا اَلْمَوْصُوْلَةُmaka makna ayat menjadi “Dan demi orangtua dan anak yang dia lahirkan.” Pendapat kedua, jikaمَا disitu adalah مَا النَّافِيَةُ maka makna ayat menjadi “Dan demi orang yang melahirkan dan orang yang tidak bisa melahirkan (mandul).”Namun pendapat yang lebih kuat adalah مَا اَلْمَوْصُوْلَةُ. Kemudian siapakah yang dimaksud dengan orangtua dan anak yang dilahirkannya?. Sebagian ulama mengatakan Nabi Adam dan keturunannya. Sebagian yang lain mengatakan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, kemudian beranak pinak sampai lahirlah Nabi Muhammad shalallahu ‘alayhi wa sallam. Dan pendapat yang dipilih oleh At-Thobari bahwa ayat ini bersifat umum mencakup semua yang melahirkan dan yang dilahirkan (Tafsir At-Thobari 24/408)Kemudian Allah berfirman:4. لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ فِي كَبَدٍ“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia berada dalam kepayahan”Allah bersumpah dengan empat perkara pada tiga ayat sebelumnya untuk menegaskan bahwa manusia itu tercipta dalam kesulitan dan kepayahan. Allah ingin membantah persangkaan sebagian orang bahwa dunia ini bisa ditempuh dengan senang-senang tanpa ada kesulitan sama sekali. Padahal Allah menjadikan manusia dalam keadan sulit dan payah sepanjang hidupnya, bahkan sejak lahirnya. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam Al-Qurthubi rahimahullah bahwa seorang anak sejak lahir sudah mengalami kepayahan. Pada saat dilahirkan pusarnya dipotong kemudian dia harus menyusu kepada ibunya, kadangkala air susu ibunya tidak lancar. Tatkala giginya tumbuh ia merasa kesakitan dan panas. Setelah dia bertumbuh semakin besar dia harus menghadapi kehidupannya, setelah dia menikah dia harus menanggung nafkah istri dan anak-anaknya. Memasuki masa tuanya badannya mulai lemah dan terus menerus mengalami kepayahan hingga akhirnya dia meninggal dunia. Di dalam kubur dia akan ditanyai oleh para malaikat, kemudian dibangkitkan lagi dalam keadaan payah. Ini semua menunjukan bahwa ada Tuhan yang mengatur dirinya, kalau seandainya tidak ada yang mengatur tentu dia tidak akan memilih kesulitan dan kepayahan tersebut. Karenanya hendaknya ia tunduk kepada Tuhan tersebut yang mengatur segala urusannya. (lihat Tafsir al-Qurthubi 20/62-63). Maka hendaknya ia berusaha untuk beramal sholih yang menyelamatkannya dari kesulitan-kesulitan akhirat, jika tidak maka ia akan terus dalam kesulitan dan kepayahan yang abadi (lihat Tafsir As-Sa’di hal 924). Manusia istirahat dari kepayahannya adalah ketika masuk ke dalam surga.Ada seseorang datang jauh-jauh dari Khurosan untuk menemui Imam Ahmad, ia berkata;يا أبا عَبْد اللَّهِ قَصَدْتُكَ مِنْ خُرَاسَان أَسْأَلُكَ عَنْ مَسْأَلَةٍ“Wahai Abu Abdillah (yaitu Imam Ahmad) aku datang menemuimu dari Khurosan untuk bertanya kepadamu tentang satu permasalahan?”Imam Ahmad berkata kepadanya, سَلْ “Tanyakanlah !”. Orang itu berkata, مَتَى يَجِدُ الْعَبْدُ طَعْمَ الرَّاحَةِ؟ “Kapankah seorang hamba merasakan nikmatnya istirahat?”. Imam Ahmad berkata:عِنْدَ أَوَّلِ قَدَمٍ يَضَعُهَا فِي الْجَنَّةِ“Tatkala pertama kali ia menginjakan kakinya di surga” (Thobaqoot al-Hanaabilah 1/293 dan al-Maqshod al-Arsyad 2/398)Oleh karena itu, ada 2 pendapat di kalangan para ahli tafsir tentang manusia yang akan merasakan kepayahan yang dimaksudkan dalam ayat ini. Sebagian mengatakan bahwa yang dimaksudkan adalah manusia secara umum sebab pada kenyataannya semua manusia mengalami kepayahan. Baik muslim maupun kafir, baik laki-laki maupun perempuan, baik tua maupun muda, baik baik kaya maupun miskin, baik dia presiden ataupun rakyat. Semua orang dalam keadaan susah dan payah, tidak ada kelezatan yang sempurna dan peristirahatan yang sempurna kecuali di surga kelak. Semua manusia akan diuji, apalagi orang-orang yang beriman. Bahkan Allah berjanji untuk menguji mereka, semakin tinggi iman seseorang semakin berat ujiannya. Dalam sebuah hadits dari Mush’ab bin Sa’id -seorang tabi’in- dari ayahnya, ia berkata,يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلاَءً“Wahai Rasulullah, manusia manakah yang paling berat ujiannya?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,الأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الأَمْثَلُ فَالأَمْثَلُ فَيُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَإِنْ كَانَ دِينُهُ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلاَؤُهُ وَإِنْ كَانَ فِى دِينِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِىَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَمَا يَبْرَحُ الْبَلاَءُ بِالْعَبْدِ حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِى عَلَى الأَرْضِ مَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ“Para Nabi, kemudian yang semisalnya dan semisalnya lagi. Seseorang akan diuji sesuai dengan kondisi agamanya. Apabila agamanya begitu kuat (kokoh), maka semakin berat pula ujiannya. Apabila agamanya lemah, maka ia akan diuji sesuai dengan kualitas agamanya. Seorang hamba senantiasa akan mendapatkan cobaan hingga dia berjalan di muka bumi dalam keadaan bersih dari dosa.” (HR Tirmidzi no. 2398, Ibnu Majah no. 4024)Namun sebagian ulama yang lain berpendapat bahwa yang dimaksudkan adalah orang kafir. (lihat At-Thariir wa At-Tanwiir 30/351) Sebagaimana kaidah yang telah berlalu pada tafsir surat sebelumnya, seluruh kata al-insan yang terdapat dalam surat Makiyyah ditujukan untuk orang kafir karena surat tersebut turun dalam rangka mencela dan mengajak orang-orang kafir untuk berpikir. Sehingga yang dimaksudkan dalam ayat mengalami kepayahan adalah orang-orang kafir. Dan konteks ayat-ayat dari pertama hingga terkahir adalah tentang orang kafir. Karena orang mukmin meskipun menghadapi kepayahan tetapi hatinya tenteram, karena ada keimanan di dalam hatinya. Allah berfirman:الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS Ar-Ra’d : 28)Meskipun orang-orang mukmin diuji oleh Allah tetapi hatinya akan tenang. Berbeda dengan orang-rang kafir, meskipun nampaknya mereka dalam kesenangan dan kemewahan, tetapi hati mereka kosong dari keimanan, hati mereka tidak bahagia. Mereka hanya merasakan kelezatan jasmani dan tidak merasakan kebahagiaan hati. Allah berfirman:وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَىٰ“Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatan-Ku maka sungguh dia akan menjalani kehidupan yang sempit, dan Kami akan mengumpulkannya pada hari Kiamat dalam keadaan buta.” (QS Thaha : 124)Kemudian Allah berfirman:5. أَيَحْسَبُ أَن لَّن يَقْدِرَ عَلَيْهِ أَحَدٌ“Apakah dia (manusia) itu mengira bahwa tidak ada sesuatu pun yang berkuasa atasnya?”Sehingga dia bebas melakukan kemaksiatan, bebas melakukan apa yang dia inginkan, seakan-akan dia cuma hidup sekali dan tidak akan dihidupkan lagi pada hari kiamat kelak?. Apakah setelah tubuhnya menjadi hancur dan tulang belulangnya berubah menjadi tanah Allah tidak mampu membangkitkannya? (lihat At-Tahriir wa At-Tanwiir 30/351)6. يَقُولُ أَهْلَكْتُ مَالًا لُّبَدًا“Dia mengatakan, ‘Aku telah menghabiskan harta yang banyak’.” Dia menghabiskan harta sepuasnya, menghabiskan hartanya untuk hal-hal yang haram, untuk berfoya-foya, karena dia menyangka bahwasanya hartanya akan ada terus tidak habis-habis. Karenanya Allah menamakan sikap menghabiskan harta pada kemaksiatan dengan إِهْلَاك , yaitu “memusnahkan”, dan Allah tidak menamakannya dengan “infaq”. Hal ini karena harta yang digunakan untuk maksiat tidak akan memberi manfaat kepada pelakunya, dan tidaklah kembali kepada pelakunya kecuali kerugian dan penyesalan. Lain halnya dengan orang yang berinfaq di jalan Allah, maka ia telah berdagang dengan Allah, ia akan mendapatkan keuntungan yang berlipat-lipat ganda. (lihat Tafsir As-Sa’adi hal 924)7. أَيَحْسَبُ أَن لَّمْ يَرَهُ أَحَدٌ“Apakah dia mengira bahwa tidak ada sesuatu pun yang melihatnya?”Orang ini tatkala berkata أَهْلَكْتُ مَالًا لُّبَدًا “Aku telah menghabiskan harta yang banyak”, ia mengucapkannya dengan kesombongan. Ia menyombongkan harta yang banyak yang telah ia hambur-hamburkan dalam kemaksiatan.Dahulu orang-orang jahiliyah berbangga-banggaan dalam menghambur-hamburkan uang untuk hal-hal yang tidak bermanfaat. Bahkan mereka menganggap sikap seperti ini adalah kemuliaan. Ini mereka lakukan untuk menunjukan bahwa saking banyak hartanya maka mereka tidak perduli untuk menghamburkan harta mereka (Lihat At-Tahriir wa at-Tanwiir 30/352)2Apakah ia menyangka bahwa perbuatannya tersebut tidak ada yang lihat? Tidak akan dihisab baik yang kecil maupun besar?. Padahal apapun yang dia lakukan semuanya akan dilihat oleh Allah dan dicatat oleh malaikat. (lihat Tafsir As-Sa’di hal 924)Kemudian mengingatkan manusia ini akan kenikmatan dan karunia yang Allah berikan kepadanya, yang seharusnya semua karunia tersebut dia gunakan untuk bersyukur kepada Allah, bukan untuk membangkang kepada Allah. Allah berfirman :8. أَلَمْ نَجْعَل لَّهُ عَيْنَيْنِ“Bukankah Kami telah menjadikan untuknya sepasang mata”9. وَلِسَانًا وَشَفَتَيْنِ“Dan lidah dan sepasang bibir”Allah ingin menunjukkan karunia Allah kepada manusia. Allah telah memberikan kepadanya kenikmatan lisan, kenikmatan dua bibir, dan kenikmatan dua mata. Ini diantara kenikmatan yang sangat besar. Kedua mata untuk melihat keagungan dan kebesaran Allah dalam ciptaanNya, lisan dan kedua bibir yang bisa digunakan untuk mengungkapkan isi hati. Demikian juga membantu untuk makan dan minum serta menambah indahnya rupa. (lihat Tafsir Ibnu Katsir 8/393). Namun kebanyakan manusia tidak mensyukurinya dengan menggunakan nikmat-nikmat tersebut dalam hal-hal yang tidak bermanfaat. Lisan yang diberikan oleh Allah tidak digunakan untuk berdzikir, melainkan hanya ucapan yang sia-sia saja. Mata yang diberikan oleh Allah digunakannya untuk melihat hal-hal yang haram.Setelah Allah menyebutkan sebagian kenikmatan yang berkaitan dengan dunia Allah juga menyebutkan kenikmatan yang berkaitan dengan agama, Allah berfirman :10 وَهَدَيْنَاهُ النَّجْدَيْنِ“Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan (kebajikan dan kejahatan)”Yaitu Allah telah menjelaskan kedua jalan tersebut dengan sejelas-jelasnya agar manusia mengikuti jalan kebaikan dan meninggalkan jalan keburukan.Lalu Allah menjelaskan tentang apa yang seharusnya yang dilakukan oleh orang yang Allah telah berikan karunia kepadanya terlebih lagi harta yang banyak. Bukan untuk dihamburkan tapi untuk disalurkan kepada jalna-jalan kebaikan. Allah berfirman:11. فَلَا اقْتَحَمَ الْعَقَبَةَ“Tetapi dia tidak menempuh jalan yang mendaki lagi sukar”عَقَبَةَ dalam bahasa arab artinya jalan yang ada di sela-sela gunung-gunung. Yang dimaksudkan adalah jalan menuju surga. Jalan menuju surga seperti menempuh jalan di atas gunung, jalurnya sukar dan butuh perjuangan karena berlawanan dengan hawa nafsu. Seharusnya seseorang apabila mengetahui bahwa sesuatu itu baik sepatutnya dia langsung melaksanakannya tanpa perlu berpikir panjang meskipun itu adalah perkara yang berat. Seperti seorang yang melewati jalan-jalan gunung yang membutuhkan perjuangan. Karena demikianlah jalan menuju surga.Sebenarnya jalan-jalan ini adalah tidak terlalu berat hanya saja dirasa sangat berat bagi orang yang tenggelam dalam kemaksiatan, sehingga untuk berbuat baik akan terasa sangat berat karena ia telah mengikuti hawa nafsunya (lihat Tafsir As-Sa’di hal 924). Adapun orang yang beriman maka meski jalan-jalan ini berat akan tetapi keimanannya menjadikannya lebih terasa ringan untuk menempuhnya.Pendapat lain menyatakan bahwa maksud dari عَقَبَةَ adalah gunung di neraka (lihat Tafsir As-Sam’aani 6/229) sehingga maksud ayat ini adalah jika seseorang hendak lolos dan selamat dari siksaan mendaki gunung di neraka maka lewatilah gunung tersebut dengan melakukan amalan-amalan kebajika seperti membebaskan budak, memberi makan orang miskin, dll.Setelah itu Allah menjelaskan tentang apa itu jalan yang sulit, Allah berfirman:12. وَمَا أَدْرَاكَ مَا الْعَقَبَةُ“Dan tahukah kamu apakah jalan yang mendaki dan sukar itu?”13. فَكُّ رَقَبَةٍ“(Yaitu) melepaskan perbudakan (hamba sahaya)”Diantara jalan yang sulit tersebut adalah membebaskan seorang budak. Islam adalah agama yang menganjurkan untuk membebaskan budak. Tidak seperti yang dituduhkan oleh orang-orang nasrani bahwa islam adalah agama yang menganjurkan memperbudak. Perbudakan sudah ada di zaman Nabi saat itu, termasuk orang-orang romawi juga memperbudak, orang-orang nasrani juga memperbudak, begitupun dengan orang-orang yahudi. Tapi tatkala Islam datang maka Nabi shalallahu ‘alayhi wa sallam memotivasi agar membebaskan budak. Dimana ini merupakan salah satu jalan menuju surga. Termasuk dalam makna membebaskan budak selain memerdekakannya secara langsung adalah dengan membantunya dalam mukatabahnya (yaitu melunasi hutang sang budak yang ingin menebus dirinya sendiri dari majikannya). Demikian juga membebaskan tawanan perang muslim yang ditawan oleh pihak musuh. (lihat Tafsir As-Sa’di hal 924)Kemudian Allah berfirman:14. أَوْ إِطْعَامٌ فِي يَوْمٍ ذِي مَسْغَبَةٍ“Atau memberi makan pada hari terjadi kelaparan”Diantara jalan yang sulit tersebut adalah memberi makan pada hari kelaparan. Pahala seorang yang bersedekah bertingkat-tingkat sesuai dengan kondisi orang yang disedekahi, apabila kita memberi sedekah kepada orang yang sangat membutuhkan maka pahalanya lebih besar. Al-Qurthubi berkata :وَإِطْعَامُ الطَّعَامِ فَضِيلَةٌ، وَهُوَ مَعَ السَّغَبِ الَّذِي هُوَ الْجُوعُ أَفْضَلُ“Memberi makanan adalah kemuliaan, dan jika disertai dengan kelaparan yang amat sangat maka lebih mulia lagi” (Tafsir Al-Qurthubi 20/69)15. يَتِيمًا ذَا مَقْرَبَةٍ“(Kepada) anak yatim yang ada hubungan kerabat”Diantaranya yaitu memberi makan anak yatim yang memiliki hubungan kekerabatan. Anak yatim adalah anak yang belum baligh namun ayahnya telah meninggal dunia. Memberi makan anak yatim yang memiliki hubungan kekerabatan lebih utama daripada anak yatim yang tidak ada hubungan kekerabatan. Karena berinfak kepada kerabat pahalanya lebih besar, yaitu pahala infak dan pahala silaturrahmi. Oleh karena itu, sebagian ulama berfatwa bahwa hukum asal zakat adalah tidak boleh dikeluarkan dari suatu negeri, tetapi harus diberikan kepada penduduk negeri tersebut kecuali kalau di negeri lain ada kerabat kita yang miskin, maka tidak mengapa kita salurkan untuk kerabat kita tersebut.Sebagian orang terkadang berbuat sebaliknya, mereka justru lebih semangat untuk membantu orang-orang yang jauh yang bukan kerabatnya. Padahal seharusnya dengan kerabatnya yang mengalami kesusahan dia harus lebih perhatian, karena lebih utama untuk dibantu.Demikian pula memberi bantuan kepada anak yatim yang tidak orang yang mengayominya lebih besar pahalanya daripada kepada anak yatim yang sudah ada yang mengayominya (lihat Tafsir Al-Qurthubi 20/70)16. أَوْ مِسْكِينًا ذَا مَتْرَبَةٍ“Atau orang miskin yang sangat fakir”مَتْرَبَةٍdiambil dari kata تُرَابٌ yang artinya tanah. Disebut memiliki tanah karena saking miskinnya ia seakan-akan tidak memiliki apa-apa kecuali hanya tanah yang dimilikinya atau saking miskinnya ia seakan-akan menempel ditanah. Intinya adalah memberi sedekah kepada orang yang sangat fakir miskin lebih utama dari yang sekedar miskin. Karenanya pahala sedekah bertingkat-tingkat sesuai dengan kondisi orang yang disedekahi tersebut, semakin dia butuh maka pahala semakin besar.Kemudian Allah berfirman:17. ثُمَّ كَانَ مِنَ الَّذِينَ آمَنُوا وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ وَتَوَاصَوْا بِالْمَرْحَمَةِ“Kemudian dia termasuk orang-orang yang beriman, dan saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang”Terdapat dua pendapat di kalangan para ulama mengenai ayat ini. Pendapat pertama mengatakan, maksud ayat ini adalah seakan-akan Allah mengatakan kepada orang kafir tadi mengapa ia tidak mau berbuat kebaikan-kebaikan tersebut? Dan jika dia hendak melakukan kebaikan-kebaikan tersebut maka ia harus beriman terlebih dahulu. Ini menunjukkan bahwasanya seorang kafir bagaimanapun amalan kebajikan yang dia lakukan namun tidak dibangun di atas keimanan tetap tidak akan diterima oleh Allah. (lihat Tafsir Al-Baghowi 8/433)Aisyah radhiallahu ‘anhaa berkata :يَا رَسُولَ اللهِ، ابْنُ جُدْعَانَ كَانَ فِي الْجَاهِلِيَّةِ يَصِلُ الرَّحِمَ، وَيُطْعِمُ الْمِسْكِينَ، فَهَلْ ذَاكَ نَافِعُهُ؟ قَالَ: ” لَا يَنْفَعُهُ، إِنَّهُ لَمْ يَقُلْ يَوْمًا: رَبِّ اغْفِرْ لِي خَطِيئَتِي يَوْمَ الدِّينِ“Wahai Rasulullah, dahulu di zaman jahiliyah, Ibnu Jad’an gemar menyambung tali silaturrahmi, memberi makan orang miskin, apakah itu bermanfaat baginya?” Nabi menjawab, “Tidak, sesungguhnya ia tidak pernah sekalipun mengatakan, ‘Wahai Rabbku ampunilah kesalahanku pada hari pembalasan’.” (HR Muslim no. 214)Seluruh kebaikan yang dia lakukan tidak bermanfaat meskipun dia membebaskan budak-budak, meskipun dia memberi makan kepada fakir miskin, meskipun dia memuliakan tamu, meskipun dia menyambung silaturahmi, namun itu semua tidak ada faedahnya di sisi Allah. Allah berfirman:وَمَا مَنَعَهُمْ أَن تُقْبَلَ مِنْهُمْ نَفَقَاتُهُمْ إِلَّا أَنَّهُمْ كَفَرُوا بِاللَّهِ وَبِرَسُولِهِ“Dan tidaklah ada yang menghalangi infak mereka diterima kecuali karena mereka kafir (ingkar) kepada Allah dan Rasul-Nya.” (QS At-Taubah : 54)Demikian juga apa yang terjadi pada Abu Thalib, paman Nabi shalallahu ‘alayhi wa sallam yang rela mati demi membela Nabi. Dia rela berperang melawan kerabat-kerabatnya demi membela keponakannya yaitu Muhammad shalallahu ‘alayhi wa sallam. Tetapi karena meninggal dalam kesyirikan, dia tetap dimasukkan ke dalam neraka Jahannam. Oleh karena itu, para ikhwan yang dirahmati olerh Allah SWT, seorang meskipun baiknya apapun jika dia musyrik, tidak beriman kepada Allah, kebaikannya tidak akan diterima oleh Allah SWT. oleh karenanya Allah mengatakan tsumma kaana minalladziina aamanuu, silahkan engkau berbuat kebajikan dengan syarat engkau termasuk orang-orang yang beriman,Pendapat kedua bahwa maksud ayat ini adalah barangsiapa yang berbuat kebajikan, diantaranya membebaskan budak, memberi makan kepada fakir miskin, kemudian setelah itu dia masuk islam dan beriman, maka seluruh kebajikan yang pernah dia lakukan tersebut ketika masih jahiliyyah akan diterima oleh Allah. (lihat Tafsir al-Qurthubi 20/71). Demikianlah salah satu keistimewaan islam, barangsiapa yang masuk islam maka amalan shaleh yang pernah dia lakukan sebelum islam akan diikut sertakan dalam keislamannya, semua akan menjadi simpanan amal shaleh baginya. Adapun kemaksiatan yang pernah dia lakukan sewaktu kafir semuanya akan terhapuskan.عَنْ حَكِيْمِ بْنِ حِزَامٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، أَرَأَيْتَ أَشْيَاءَ كُنْتُ أَتَحَنَّثُ بِهَا فِي الْجَاهِلِيَّةِ مِنْ صَدَقَةٍ أَوْ عَتَاقَةٍ أَو صِلَةِ رَحِمٍ ، فَهَلْ فِيْهَا مِنْ أَجْرٍ؟ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَسْلَمْتَ عَلَى مَا سَلَفَ مِنْ خَيْرٍ.Dari Hakim bin Hizam Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Wahai Rasulullah, apakah engkau memandang perbuatan-perbuatan baik yang aku lakukan sewaktu masa Jahiliyyah seperti shadaqah, membebaskan budak atau silaturahmi tetap mendapat pahala?” Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Engkau telah masuk Islam beserta semua kebaikanmu yang dahulu.” (HR Bukhari no. 1436)Ini adalah dalil bahwasanya orang yang baru masuk islam maka seluruh amalan kebajikan yang pernah dia lakukan sewaktu kafir juga akan tercatat di sisi Allah sebagai amalan shaleh.Kemudian Allah menyebutkan ciri-ciri orang yang beriman, yaitu senantiasa saling berwasiat untuk bersabar. Karena kehidupan ini butuh dengan kesabaran, yaitu kesabaran dalam menjalankan ketaatan, kesabaran dalam menjauhi kemaksiatan, dan kesabaran tatkala ditimpa musibah. Dan mereka juga saling mewasiatkan untuk saling merahmati satu sama lain. Dan saling mewasiatkan untuk merahmati adalah perangai yang agung. Dan tidaklah seseorang berwashiat untuk merahmati kecuali ia tahu betul akan keagungan dan kemuliaan rahmat. Dan tentunya ia telah melakukannya sebelum berwashiat kepada orang lain. Ini juga menunjukan bahwa diantara sifat utama orang-orang yang beriman adalah sabar dan sayang kepada sesama makhluk (lihat At-Tahriir wa at-Tanwiir 30/361).Barangsiapa yang merahmati orang lain maka dia akan dirahmati oleh Allah. Nabi bersabda:الرَّاحِمُونَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمَنُ ارْحَمُوا مَنْ فِى الأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِى السَّمَاء“Orang-orang yang penyayang niscaya akan disayangi pula oleh ar-Rahman (Allah). Maka sayangilah yang di atas muka bumi niscaya Yang di atas langit pun akan menyayangi kalian.” (HR Tirmidzi no. 1924)Bahwa ketika ada seorang lelaki yang berkata kepada Nabi, “Ya Rasulullah, sesungguhnya aku mengasihi kambing jika aku menyembelihnya”. Maka beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :وَالشَّاةُ إِنْ رَحِمْتَهَا رَحِمَكَ اللَّهُ“Jika engkau mengasihinya maka Allah merahmatinya.” (HR Bukhari dalam Adabul Mufrad no. 373)Jika mereka saling berwashiat untuk merahmati (mengasihi) maka mereka akan memperhatikan orang-orang miskin dan anak yatim (Lihat Tafsir al-Qurthubi 20/71)Kemudian Allah berfirman:18. أُولَٰئِكَ أَصْحَابُ الْمَيْمَنَةِ“Mereka (orang-orang yang beriman dan saling berpesan itu) adalah golongan kanan”Yaitu para penghuni surga19. وَالَّذِينَ كَفَرُوا بِآيَاتِنَا هُمْ أَصْحَابُ الْمَشْأَمَةِ“Dan orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, mereka itu adalah golongan kiri”Yaitu para penghuni neraka Jahannam20. عَلَيْهِمْ نَارٌ مُّؤْصَدَةٌ“Mereka berada dalam neraka yang ditutup rapat”Orang kafir yang telah memasuki neraka neraka seakan-akan neraka itu menjadi tertutup bagi mereka sehingga tidak mungkin keluar lagi.إِنَّ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا وَاسْتَكْبَرُوا عَنْهَا لَا تُفَتَّحُ لَهُمْ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَلَا يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّىٰ يَلِجَ الْجَمَلُ فِي سَمِّ الْخِيَاطِ ۚ وَكَذَٰلِكَ نَجْزِي الْمُجْرِمِينَ“sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, tidak akan dibukakan pintu-pintu langit bagi mereka, dan mereka tidak akan masuk surga, sebelum unta masuk ke dalam lubang jarum. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat jahat.” (QS Al-A’raf : 40)Dan hal tersebut mustahil terjadi. Oleh karena itu, orang kafir abadi di dalam neraka jahannam disiksa. Keterangan:1 الحُرُوْفُ الزَّائِدَةُ Huruf-huruf tambahan dalam al-Qurán bukanlah maksudnya sama saja jika tidak ada huruf tersebut tidak merubah arti, akan tetapi maksudnya “tambahan”dari sisi i’roob, bahwasanya huruf-huruf secara i’roob tidak memiliki kedudukan. Akan tetapi secara makna tentu ada tambahan makna yaitu untuk menekankan, sebagaimana dalam ayat ini dan ayat-ayat yang lainnya. Diantara fungsi huruf-huruf tambahan ini juga adalha untuk memperindah susunan kata-kata. (lihat Al-Burhaan fi Úluumil Quráan, Az-Zarkasyi 3/72, Sirrul Fashoohah, Al-Khofaaji hal 156, Tafsiir al-Kasyyaaf, Az-Zmakhsyari 1/431)2Gaya hidup seperti ini terkadang masih terwariskan kepada sebagian kaum muslimin, yang terkadang berbangga-banggaan dalam menghamburkan uang pada perkara yang tidak bermanfaat dan sia-sia. Sebagian orang bangga tatkala mengadakan pesta besar-besaran bahkan hingga berhari-hari. Ini dilakukan hanya untuk menunjukan bahwa hartanya banyak. Atau sebagian orang sengaja membeli mobil yang banyak dengan harga yang melangit, untuk ia pamerkan kepada masyarakat. Hanya untuk menunjukan bahwa ia adalah orang yang sangat kaya.


Tafsir Surat Al-BaladOleh: DR. Firanda Andirja, Lc. MASurat Al-Balad adalah surat makiyyah, yang diturunkan oleh Allah kepada Nabi shalallahu ‘alayhi wa sallam sebelum beliau berhijrah ke kota Madinah. Para ulama menjelaskan hubungan antara surat Al-Balad dengan surat Al-Fajr. Adapun pada surat Al-Fajr Allah menyebutkan beberapa amalan-amalan yang menyebabkan orang kafir masuk neraka jahannam. Allah berfirman:كَلَّا ۖ بَل لَّا تُكْرِمُونَ الْيَتِيمَ (17) وَلَا تَحَاضُّونَ عَلَىٰ طَعَامِ الْمِسْكِينِ (18) وَتَأْكُلُونَ التُّرَاثَ أَكْلًا لَّمًّا (19) وَتُحِبُّونَ الْمَالَ حُبًّا جَمًّا (20)“(17) Sekali-kali tidak! Bahkan kamu tidak memuliakan anak yatim ; (18) Dan kamu tidak saling mengajak memberi makan orang miskin ; (19) Sedangkan kamu memakan harta warisan dengan cara mencampur-baurkan (yang halal dan yang haram) ; (20) Dan kamu mencintai harta dengan kecintaan yang berlebihan.” (QS Al-Fajr : 17-20)Sedangkan pada surat Al-Balad Allah menyebutkan beberapa amalan-amalan yang menyebabkan orang beriman masuk surga. Allah berfirman:فَكُّ رَقَبَةٍ(13) أَوْ إِطْعَامٌ فِي يَوْمٍ ذِي مَسْغَبَةٍ (14) يَتِيمًا ذَا مَقْرَبَةٍ (15) أَوْ مِسْكِينًا ذَا مَتْرَبَةٍ (16)“(13) (Yaitu) melepaskan perbudakan (hamba sahaya) ; (14) Atau memberi makan pada hari terjadi kelaparan ; (15) (Kepada) anak yatim yang ada hubungan kerabat ; (16) Atau orang miskin yang sangat fakir.” (QS Al-Balad : 13-16)Inilah hubungan antara surat Al-Fajr dan Al-Balad, yang satu menyebutkan amalan-amalan penghuni neraka satunya amalan-amalan penghuni surga.Allah berfirman pada permulaan surat:1. لَا أُقْسِمُ بِهَٰذَا الْبَلَدِ“Aku bersumpah dengan negeri ini (Mekah)”Para ulama sepakat bahwa yang dimaksud dengan negeri disini adalah kota Mekkah. Namun para ulama khilaf (silang pendapat) makna laa pada awal ayat ini. Pendapat pertama mengatakan laa disini adalah untuk membantah, seakan-akan Allah membantah persangkaan orang-orang musyrik yang mengatakan tidak ada hari kebangkitan, lalu Allah melanjutkan bersumpah dengan Mekah bahwasanya hari kiamat itu benar adanya. Yaitu seakan-akan Allah berkata “Tidak benar persangkaan kalian wahai kaum musyrikin bahwa tidak ada hari kiamat, sungguh Aku bersumpah dengan kota ini”Pendapat kedua mengatakan laa disini bermakna tidak, seakan-akan Allah tidak bersumpah dengan kota Mekah karena adanya hari kebangkitan tidak butuh dengan sumpah. Adanya hari kebangkitan merupakan perkara yang sangat jelas sehingga tidak butuh bersumpah dengan kota Mekkah.Pendapat ketiga mengatakan laa disini laa zaidah (tambahan)1 yang maksudnya untuk menguatkan. Artinya Allah benar-benar bersumpah dengan kota Mekah. Inilah pendapat yang dikuatkan oleh para salaf dan inilah yang lebih benar. Dalam bahasa Arab kata laa sering digunakan untuk penekanan. Seperti firman Allah kepada iblis:قَالَ مَا مَنَعَكَ أَلَّا تَسْجُدَ إِذْ أَمَرْتُكَ ۖ قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِّنْهُ خَلَقْتَنِي مِن نَّارٍ وَخَلَقْتَهُ مِن طِينٍ“(Allah) berfirman, ‘Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) ketika Aku menyuruhmu?’ (Iblis) menjawab, ‘Aku lebih baik daripada dia, Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.’” (QS Al-A’raf : 12)Dan di ayat lain yang mirip dengan ayat di atas, Allah berfirman:قَالَ يَا إِبْلِيسُ مَا مَنَعَكَ أَن تَسْجُدَ لِمَا خَلَقْتُ بِيَدَيَّ ۖ أَسْتَكْبَرْتَ أَمْ كُنتَ مِنَ الْعَالِينَ“(Allah) berfirman, ‘Wahai iblis, apakah yang menghalangimu untuk bersujud kepada yang telah Aku ciptakan dengan kedua tangan-Ku. Apakah kamu menyombongkan diri atau kamu (merasa) termasuk golongan yang (lebih) tinggi?’” (QS Shad : 75)Di ayat pertama Allah menggunakan laa tetapi di ayat kedua Allah tidak menggunakan laa, padahal maksud yang diinginkan sama. Dari sini dapat disimpulkan penggunaan laa pada ayat pertama adalah untuk penekanan. Contoh lain bisa dijumpai pada firman Allah:لِّئَلَّا يَعْلَمَ أَهْلُ الْكِتَابِ أَلَّا يَقْدِرُونَ عَلَىٰ شَيْءٍ مِّن فَضْلِ اللَّهِ ۙ“Agar ahli kitab mengetahui bahwa sedikitpun mereka tidak akan mendapat karunia Allah.” (QS Al-Hadid : 29)Bentuk yang persis mirip dengan ayat pertama surat Al-Balad ini bisa dijumpai pada firman Allah:۞ فَلَا أُقْسِمُ بِمَوَاقِعِ النُّجُومِ(75) وَإِنَّهُ لَقَسَمٌ لَّوْ تَعْلَمُونَ عَظِيمٌ “(75) Lalu Aku bersumpah dengan tempat beredarnya bintang-bintang; (76) Dan sesungguhnya itu benar-benar sumpah yang besar sekiranya kamu mengetahui.” (QS Al-Waqi’ah : 75-76)Oleh karena itu, pendapat yang terkuat dari tiga pendapat tadi bahwasanya laa disitu adalah laa zaidah untuk penekanan, bahwasanya Allah benar-benar bersumpah dengan kota Mekah.Kota Mekah adalah kota mulia yang aman lagi suci. Allah juga bersumpah dengan kota Mekah di ayat yang lain:وَهَٰذَا الْبَلَدِ الْأَمِينِ“Dan demi negeri (Mekah) yang aman ini.” (QS At-Tin : 3)Mekah juga merupakan salah satu dari dua tanah suci, Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:إِنَّ إِبْرَاهِيمَ حَرَّمَ مَكَّةَ وَإِنِّي حَرَّمْتُ الْمَدِينَةَ“Sesungguhnya Nabi Ibrahim menjadikan kota Mekah sebagai kota haram, dan sesungguhnya aku menjadikan Madinah sebagai kota yang haram juga.” (HR Muslim no. 1362)Diantara keistimewaan dari kota Mekah yang tidak dimiliki oleh kota-kota yang lain adalah barangsiapa yang berniat buruk di kota Mekah maka terancam dengan azab yang pedih, bahkan ketika niat itu baru muncul di dalam hatinya. Allah berfirman:وَمَن يُرِدْ فِيهِ بِإِلْحَادٍ بِظُلْمٍ نُّذِقْهُ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ“Dan siapa saja yang bermaksud melakukan kejahatan secara zhalim di dalamnya, niscaya akan Kami rasakan kepadanya siksa yang pedih.” (QS Al-Hajj : 25)Inilah salah satu kekhususan kota Mekah yang tidak terdapat pada kota-kota lainnya. Barangsiapa yang menginginkan, berkehendak, bertekad, atau berniat untuk melakukan keburukan di kota Mekah maka dia terancam dengan adzab yang pedih. Kata para ulama meskipun dia tatkala berniat buruk sedang sedang berada di Shan’a (di Yaman) dan belum di Mekah. Apalagi berniat buruknya tatkala di Mekah.Kemudian Allah berfirman:2. وَأَنتَ حِلٌّ بِهَٰذَا الْبَلَدِ“Dan engkau (Muhammad) bertempat di negeri (Mekah) ini”Ada tiga pendapat di kalangan ahli tafsir tentang maksud “dan engkau halal di kota (Mekah) ini.” Pendapat pertama mengatakan ayat ini bermakna “lebih-lebih engkau berada di kota Mekah ini”, sehingga Allah berhak bersumpah dengan kota Mekah, lebih-lebih Nabi Muhammad berada di kota tersebut.Pendapat kedua mengatakan ayat ini bermakna “dan engkau dihalalakan darahnya oleh orang-orang kafir Quraisy di kota Mekah ini”, sehingga seakan-akan Allah bersumpah untuk mengingkarinya. Sebagaimana sayembara yang pernah dilakukan oleh orang-orang kafir Quraisy bagi yang berhasil menangkap Nabi Muhammad atau Abu Bakar masing-masing akan diberi serratus ekor unta.Pendapat ketiga dan inilah pendapat yang kuat mengatakan ayat ini bermakna “dan kota suci Mekah halal bagi engkau”. Maksudnya adalah dibolehkan bagi Nabi untuk berperang di kota Mekah. Ini terjadi ketika Fathu Makkah (penaklukan kota Mekah) pada tahun 8 H tatkala Nabi menyerang kota Mekah. Pada asalnya dilarang berperang dan menumpahkan darah di kota Mekah dan hal inipun diketahui oleh orang-orang musyrikin Quraisy, namun pada saat Fathu Makkah maka Allah menghalalkan bagi Nabi shallallahu álaihi wasallam untuk memerangi kaum musyrikin di Mekah. Karenanya Nabi shalallahu álaihi wa sallam memerintahkan sahabatnya untuk membunuh Ibnu Khothol (HR Al-Bukhari no 1846 dan Muslim no 1357). Ibnu Khothol adalah seorang yang suka mengejek Nabi dan dia suka membuat syair-syair untuk menghina Nabi. Bahkan Ibnu Ishaq menyebutkan bahwa Ibnu Khothol sempat masuk Islam namun dia murtad bahkan membunuh seorang muslim (lihat As-Siroh An-Nabawiyah, Ibnu Ishaaq hal 530 dan dinukil oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Baari 4/61) . Maka meskipun dia berlindung dengan memegang kain/kiswah Ka’bah, Nabi tetap menyuruh sahabatnya untuk membunuhnya.Nabi bersabda:وَإِنَّمَا أَذِنَ لِي فِيهَا سَاعَةً مِنْ نَهَارٍ، ثُمَّ عَادَتْ حُرْمَتُهَا اليَوْمَ كَحُرْمَتِهَا بِالأَمْسِ“Sesungguhnya Allah telah mengizinkanku pada suatu saat di siang hari kemudian dikembalikan kesuciannya hari ini sebagaimana disucikannya sebelumnya.” (HR Bukhari no. 104 dan Muslim no. 1354)Hanya beberapa saat saja Nabi diizinkan berperang di kota Mekah. Yaitu sejak terbit matahari hingga sholat ashar (lihat Fathul Baari, Ibnu Hajar 4/44 dan At-Taudhiih, Ibnul Mulaqqin 12/456).Ayat ini juga menjadi dalil bahwasanya Allah mengabarkan tentang suatu kejadian di masa depan. Karena surat ini -surat makkiyah- turun tatkala Nabi masih ditindas di kota Mekah dan belum berhijrah ke kota Madinah. Tetapi Allah mengabarkan bahwa suatu saat nanti Nabi akan masuk kembali ke kota Mekah untuk berperang di dalamnya hingga beliau berhasil menguasainya.Kemudian Allah berfirman:3. وَوَالِدٍ وَمَا وَلَدَ“Dan demi (pertalian) bapak dan anaknya”Ada 2 pendapat di kalangan para ulama tentang makna مَا pada ayat ini. Pendapat pertama, jika مَا disitu adalah مَا اَلْمَوْصُوْلَةُmaka makna ayat menjadi “Dan demi orangtua dan anak yang dia lahirkan.” Pendapat kedua, jikaمَا disitu adalah مَا النَّافِيَةُ maka makna ayat menjadi “Dan demi orang yang melahirkan dan orang yang tidak bisa melahirkan (mandul).”Namun pendapat yang lebih kuat adalah مَا اَلْمَوْصُوْلَةُ. Kemudian siapakah yang dimaksud dengan orangtua dan anak yang dilahirkannya?. Sebagian ulama mengatakan Nabi Adam dan keturunannya. Sebagian yang lain mengatakan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, kemudian beranak pinak sampai lahirlah Nabi Muhammad shalallahu ‘alayhi wa sallam. Dan pendapat yang dipilih oleh At-Thobari bahwa ayat ini bersifat umum mencakup semua yang melahirkan dan yang dilahirkan (Tafsir At-Thobari 24/408)Kemudian Allah berfirman:4. لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ فِي كَبَدٍ“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia berada dalam kepayahan”Allah bersumpah dengan empat perkara pada tiga ayat sebelumnya untuk menegaskan bahwa manusia itu tercipta dalam kesulitan dan kepayahan. Allah ingin membantah persangkaan sebagian orang bahwa dunia ini bisa ditempuh dengan senang-senang tanpa ada kesulitan sama sekali. Padahal Allah menjadikan manusia dalam keadan sulit dan payah sepanjang hidupnya, bahkan sejak lahirnya. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam Al-Qurthubi rahimahullah bahwa seorang anak sejak lahir sudah mengalami kepayahan. Pada saat dilahirkan pusarnya dipotong kemudian dia harus menyusu kepada ibunya, kadangkala air susu ibunya tidak lancar. Tatkala giginya tumbuh ia merasa kesakitan dan panas. Setelah dia bertumbuh semakin besar dia harus menghadapi kehidupannya, setelah dia menikah dia harus menanggung nafkah istri dan anak-anaknya. Memasuki masa tuanya badannya mulai lemah dan terus menerus mengalami kepayahan hingga akhirnya dia meninggal dunia. Di dalam kubur dia akan ditanyai oleh para malaikat, kemudian dibangkitkan lagi dalam keadaan payah. Ini semua menunjukan bahwa ada Tuhan yang mengatur dirinya, kalau seandainya tidak ada yang mengatur tentu dia tidak akan memilih kesulitan dan kepayahan tersebut. Karenanya hendaknya ia tunduk kepada Tuhan tersebut yang mengatur segala urusannya. (lihat Tafsir al-Qurthubi 20/62-63). Maka hendaknya ia berusaha untuk beramal sholih yang menyelamatkannya dari kesulitan-kesulitan akhirat, jika tidak maka ia akan terus dalam kesulitan dan kepayahan yang abadi (lihat Tafsir As-Sa’di hal 924). Manusia istirahat dari kepayahannya adalah ketika masuk ke dalam surga.Ada seseorang datang jauh-jauh dari Khurosan untuk menemui Imam Ahmad, ia berkata;يا أبا عَبْد اللَّهِ قَصَدْتُكَ مِنْ خُرَاسَان أَسْأَلُكَ عَنْ مَسْأَلَةٍ“Wahai Abu Abdillah (yaitu Imam Ahmad) aku datang menemuimu dari Khurosan untuk bertanya kepadamu tentang satu permasalahan?”Imam Ahmad berkata kepadanya, سَلْ “Tanyakanlah !”. Orang itu berkata, مَتَى يَجِدُ الْعَبْدُ طَعْمَ الرَّاحَةِ؟ “Kapankah seorang hamba merasakan nikmatnya istirahat?”. Imam Ahmad berkata:عِنْدَ أَوَّلِ قَدَمٍ يَضَعُهَا فِي الْجَنَّةِ“Tatkala pertama kali ia menginjakan kakinya di surga” (Thobaqoot al-Hanaabilah 1/293 dan al-Maqshod al-Arsyad 2/398)Oleh karena itu, ada 2 pendapat di kalangan para ahli tafsir tentang manusia yang akan merasakan kepayahan yang dimaksudkan dalam ayat ini. Sebagian mengatakan bahwa yang dimaksudkan adalah manusia secara umum sebab pada kenyataannya semua manusia mengalami kepayahan. Baik muslim maupun kafir, baik laki-laki maupun perempuan, baik tua maupun muda, baik baik kaya maupun miskin, baik dia presiden ataupun rakyat. Semua orang dalam keadaan susah dan payah, tidak ada kelezatan yang sempurna dan peristirahatan yang sempurna kecuali di surga kelak. Semua manusia akan diuji, apalagi orang-orang yang beriman. Bahkan Allah berjanji untuk menguji mereka, semakin tinggi iman seseorang semakin berat ujiannya. Dalam sebuah hadits dari Mush’ab bin Sa’id -seorang tabi’in- dari ayahnya, ia berkata,يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلاَءً“Wahai Rasulullah, manusia manakah yang paling berat ujiannya?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,الأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الأَمْثَلُ فَالأَمْثَلُ فَيُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَإِنْ كَانَ دِينُهُ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلاَؤُهُ وَإِنْ كَانَ فِى دِينِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِىَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَمَا يَبْرَحُ الْبَلاَءُ بِالْعَبْدِ حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِى عَلَى الأَرْضِ مَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ“Para Nabi, kemudian yang semisalnya dan semisalnya lagi. Seseorang akan diuji sesuai dengan kondisi agamanya. Apabila agamanya begitu kuat (kokoh), maka semakin berat pula ujiannya. Apabila agamanya lemah, maka ia akan diuji sesuai dengan kualitas agamanya. Seorang hamba senantiasa akan mendapatkan cobaan hingga dia berjalan di muka bumi dalam keadaan bersih dari dosa.” (HR Tirmidzi no. 2398, Ibnu Majah no. 4024)Namun sebagian ulama yang lain berpendapat bahwa yang dimaksudkan adalah orang kafir. (lihat At-Thariir wa At-Tanwiir 30/351) Sebagaimana kaidah yang telah berlalu pada tafsir surat sebelumnya, seluruh kata al-insan yang terdapat dalam surat Makiyyah ditujukan untuk orang kafir karena surat tersebut turun dalam rangka mencela dan mengajak orang-orang kafir untuk berpikir. Sehingga yang dimaksudkan dalam ayat mengalami kepayahan adalah orang-orang kafir. Dan konteks ayat-ayat dari pertama hingga terkahir adalah tentang orang kafir. Karena orang mukmin meskipun menghadapi kepayahan tetapi hatinya tenteram, karena ada keimanan di dalam hatinya. Allah berfirman:الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS Ar-Ra’d : 28)Meskipun orang-orang mukmin diuji oleh Allah tetapi hatinya akan tenang. Berbeda dengan orang-rang kafir, meskipun nampaknya mereka dalam kesenangan dan kemewahan, tetapi hati mereka kosong dari keimanan, hati mereka tidak bahagia. Mereka hanya merasakan kelezatan jasmani dan tidak merasakan kebahagiaan hati. Allah berfirman:وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَىٰ“Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatan-Ku maka sungguh dia akan menjalani kehidupan yang sempit, dan Kami akan mengumpulkannya pada hari Kiamat dalam keadaan buta.” (QS Thaha : 124)Kemudian Allah berfirman:5. أَيَحْسَبُ أَن لَّن يَقْدِرَ عَلَيْهِ أَحَدٌ“Apakah dia (manusia) itu mengira bahwa tidak ada sesuatu pun yang berkuasa atasnya?”Sehingga dia bebas melakukan kemaksiatan, bebas melakukan apa yang dia inginkan, seakan-akan dia cuma hidup sekali dan tidak akan dihidupkan lagi pada hari kiamat kelak?. Apakah setelah tubuhnya menjadi hancur dan tulang belulangnya berubah menjadi tanah Allah tidak mampu membangkitkannya? (lihat At-Tahriir wa At-Tanwiir 30/351)6. يَقُولُ أَهْلَكْتُ مَالًا لُّبَدًا“Dia mengatakan, ‘Aku telah menghabiskan harta yang banyak’.” Dia menghabiskan harta sepuasnya, menghabiskan hartanya untuk hal-hal yang haram, untuk berfoya-foya, karena dia menyangka bahwasanya hartanya akan ada terus tidak habis-habis. Karenanya Allah menamakan sikap menghabiskan harta pada kemaksiatan dengan إِهْلَاك , yaitu “memusnahkan”, dan Allah tidak menamakannya dengan “infaq”. Hal ini karena harta yang digunakan untuk maksiat tidak akan memberi manfaat kepada pelakunya, dan tidaklah kembali kepada pelakunya kecuali kerugian dan penyesalan. Lain halnya dengan orang yang berinfaq di jalan Allah, maka ia telah berdagang dengan Allah, ia akan mendapatkan keuntungan yang berlipat-lipat ganda. (lihat Tafsir As-Sa’adi hal 924)7. أَيَحْسَبُ أَن لَّمْ يَرَهُ أَحَدٌ“Apakah dia mengira bahwa tidak ada sesuatu pun yang melihatnya?”Orang ini tatkala berkata أَهْلَكْتُ مَالًا لُّبَدًا “Aku telah menghabiskan harta yang banyak”, ia mengucapkannya dengan kesombongan. Ia menyombongkan harta yang banyak yang telah ia hambur-hamburkan dalam kemaksiatan.Dahulu orang-orang jahiliyah berbangga-banggaan dalam menghambur-hamburkan uang untuk hal-hal yang tidak bermanfaat. Bahkan mereka menganggap sikap seperti ini adalah kemuliaan. Ini mereka lakukan untuk menunjukan bahwa saking banyak hartanya maka mereka tidak perduli untuk menghamburkan harta mereka (Lihat At-Tahriir wa at-Tanwiir 30/352)2Apakah ia menyangka bahwa perbuatannya tersebut tidak ada yang lihat? Tidak akan dihisab baik yang kecil maupun besar?. Padahal apapun yang dia lakukan semuanya akan dilihat oleh Allah dan dicatat oleh malaikat. (lihat Tafsir As-Sa’di hal 924)Kemudian mengingatkan manusia ini akan kenikmatan dan karunia yang Allah berikan kepadanya, yang seharusnya semua karunia tersebut dia gunakan untuk bersyukur kepada Allah, bukan untuk membangkang kepada Allah. Allah berfirman :8. أَلَمْ نَجْعَل لَّهُ عَيْنَيْنِ“Bukankah Kami telah menjadikan untuknya sepasang mata”9. وَلِسَانًا وَشَفَتَيْنِ“Dan lidah dan sepasang bibir”Allah ingin menunjukkan karunia Allah kepada manusia. Allah telah memberikan kepadanya kenikmatan lisan, kenikmatan dua bibir, dan kenikmatan dua mata. Ini diantara kenikmatan yang sangat besar. Kedua mata untuk melihat keagungan dan kebesaran Allah dalam ciptaanNya, lisan dan kedua bibir yang bisa digunakan untuk mengungkapkan isi hati. Demikian juga membantu untuk makan dan minum serta menambah indahnya rupa. (lihat Tafsir Ibnu Katsir 8/393). Namun kebanyakan manusia tidak mensyukurinya dengan menggunakan nikmat-nikmat tersebut dalam hal-hal yang tidak bermanfaat. Lisan yang diberikan oleh Allah tidak digunakan untuk berdzikir, melainkan hanya ucapan yang sia-sia saja. Mata yang diberikan oleh Allah digunakannya untuk melihat hal-hal yang haram.Setelah Allah menyebutkan sebagian kenikmatan yang berkaitan dengan dunia Allah juga menyebutkan kenikmatan yang berkaitan dengan agama, Allah berfirman :10 وَهَدَيْنَاهُ النَّجْدَيْنِ“Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan (kebajikan dan kejahatan)”Yaitu Allah telah menjelaskan kedua jalan tersebut dengan sejelas-jelasnya agar manusia mengikuti jalan kebaikan dan meninggalkan jalan keburukan.Lalu Allah menjelaskan tentang apa yang seharusnya yang dilakukan oleh orang yang Allah telah berikan karunia kepadanya terlebih lagi harta yang banyak. Bukan untuk dihamburkan tapi untuk disalurkan kepada jalna-jalan kebaikan. Allah berfirman:11. فَلَا اقْتَحَمَ الْعَقَبَةَ“Tetapi dia tidak menempuh jalan yang mendaki lagi sukar”عَقَبَةَ dalam bahasa arab artinya jalan yang ada di sela-sela gunung-gunung. Yang dimaksudkan adalah jalan menuju surga. Jalan menuju surga seperti menempuh jalan di atas gunung, jalurnya sukar dan butuh perjuangan karena berlawanan dengan hawa nafsu. Seharusnya seseorang apabila mengetahui bahwa sesuatu itu baik sepatutnya dia langsung melaksanakannya tanpa perlu berpikir panjang meskipun itu adalah perkara yang berat. Seperti seorang yang melewati jalan-jalan gunung yang membutuhkan perjuangan. Karena demikianlah jalan menuju surga.Sebenarnya jalan-jalan ini adalah tidak terlalu berat hanya saja dirasa sangat berat bagi orang yang tenggelam dalam kemaksiatan, sehingga untuk berbuat baik akan terasa sangat berat karena ia telah mengikuti hawa nafsunya (lihat Tafsir As-Sa’di hal 924). Adapun orang yang beriman maka meski jalan-jalan ini berat akan tetapi keimanannya menjadikannya lebih terasa ringan untuk menempuhnya.Pendapat lain menyatakan bahwa maksud dari عَقَبَةَ adalah gunung di neraka (lihat Tafsir As-Sam’aani 6/229) sehingga maksud ayat ini adalah jika seseorang hendak lolos dan selamat dari siksaan mendaki gunung di neraka maka lewatilah gunung tersebut dengan melakukan amalan-amalan kebajika seperti membebaskan budak, memberi makan orang miskin, dll.Setelah itu Allah menjelaskan tentang apa itu jalan yang sulit, Allah berfirman:12. وَمَا أَدْرَاكَ مَا الْعَقَبَةُ“Dan tahukah kamu apakah jalan yang mendaki dan sukar itu?”13. فَكُّ رَقَبَةٍ“(Yaitu) melepaskan perbudakan (hamba sahaya)”Diantara jalan yang sulit tersebut adalah membebaskan seorang budak. Islam adalah agama yang menganjurkan untuk membebaskan budak. Tidak seperti yang dituduhkan oleh orang-orang nasrani bahwa islam adalah agama yang menganjurkan memperbudak. Perbudakan sudah ada di zaman Nabi saat itu, termasuk orang-orang romawi juga memperbudak, orang-orang nasrani juga memperbudak, begitupun dengan orang-orang yahudi. Tapi tatkala Islam datang maka Nabi shalallahu ‘alayhi wa sallam memotivasi agar membebaskan budak. Dimana ini merupakan salah satu jalan menuju surga. Termasuk dalam makna membebaskan budak selain memerdekakannya secara langsung adalah dengan membantunya dalam mukatabahnya (yaitu melunasi hutang sang budak yang ingin menebus dirinya sendiri dari majikannya). Demikian juga membebaskan tawanan perang muslim yang ditawan oleh pihak musuh. (lihat Tafsir As-Sa’di hal 924)Kemudian Allah berfirman:14. أَوْ إِطْعَامٌ فِي يَوْمٍ ذِي مَسْغَبَةٍ“Atau memberi makan pada hari terjadi kelaparan”Diantara jalan yang sulit tersebut adalah memberi makan pada hari kelaparan. Pahala seorang yang bersedekah bertingkat-tingkat sesuai dengan kondisi orang yang disedekahi, apabila kita memberi sedekah kepada orang yang sangat membutuhkan maka pahalanya lebih besar. Al-Qurthubi berkata :وَإِطْعَامُ الطَّعَامِ فَضِيلَةٌ، وَهُوَ مَعَ السَّغَبِ الَّذِي هُوَ الْجُوعُ أَفْضَلُ“Memberi makanan adalah kemuliaan, dan jika disertai dengan kelaparan yang amat sangat maka lebih mulia lagi” (Tafsir Al-Qurthubi 20/69)15. يَتِيمًا ذَا مَقْرَبَةٍ“(Kepada) anak yatim yang ada hubungan kerabat”Diantaranya yaitu memberi makan anak yatim yang memiliki hubungan kekerabatan. Anak yatim adalah anak yang belum baligh namun ayahnya telah meninggal dunia. Memberi makan anak yatim yang memiliki hubungan kekerabatan lebih utama daripada anak yatim yang tidak ada hubungan kekerabatan. Karena berinfak kepada kerabat pahalanya lebih besar, yaitu pahala infak dan pahala silaturrahmi. Oleh karena itu, sebagian ulama berfatwa bahwa hukum asal zakat adalah tidak boleh dikeluarkan dari suatu negeri, tetapi harus diberikan kepada penduduk negeri tersebut kecuali kalau di negeri lain ada kerabat kita yang miskin, maka tidak mengapa kita salurkan untuk kerabat kita tersebut.Sebagian orang terkadang berbuat sebaliknya, mereka justru lebih semangat untuk membantu orang-orang yang jauh yang bukan kerabatnya. Padahal seharusnya dengan kerabatnya yang mengalami kesusahan dia harus lebih perhatian, karena lebih utama untuk dibantu.Demikian pula memberi bantuan kepada anak yatim yang tidak orang yang mengayominya lebih besar pahalanya daripada kepada anak yatim yang sudah ada yang mengayominya (lihat Tafsir Al-Qurthubi 20/70)16. أَوْ مِسْكِينًا ذَا مَتْرَبَةٍ“Atau orang miskin yang sangat fakir”مَتْرَبَةٍdiambil dari kata تُرَابٌ yang artinya tanah. Disebut memiliki tanah karena saking miskinnya ia seakan-akan tidak memiliki apa-apa kecuali hanya tanah yang dimilikinya atau saking miskinnya ia seakan-akan menempel ditanah. Intinya adalah memberi sedekah kepada orang yang sangat fakir miskin lebih utama dari yang sekedar miskin. Karenanya pahala sedekah bertingkat-tingkat sesuai dengan kondisi orang yang disedekahi tersebut, semakin dia butuh maka pahala semakin besar.Kemudian Allah berfirman:17. ثُمَّ كَانَ مِنَ الَّذِينَ آمَنُوا وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ وَتَوَاصَوْا بِالْمَرْحَمَةِ“Kemudian dia termasuk orang-orang yang beriman, dan saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang”Terdapat dua pendapat di kalangan para ulama mengenai ayat ini. Pendapat pertama mengatakan, maksud ayat ini adalah seakan-akan Allah mengatakan kepada orang kafir tadi mengapa ia tidak mau berbuat kebaikan-kebaikan tersebut? Dan jika dia hendak melakukan kebaikan-kebaikan tersebut maka ia harus beriman terlebih dahulu. Ini menunjukkan bahwasanya seorang kafir bagaimanapun amalan kebajikan yang dia lakukan namun tidak dibangun di atas keimanan tetap tidak akan diterima oleh Allah. (lihat Tafsir Al-Baghowi 8/433)Aisyah radhiallahu ‘anhaa berkata :يَا رَسُولَ اللهِ، ابْنُ جُدْعَانَ كَانَ فِي الْجَاهِلِيَّةِ يَصِلُ الرَّحِمَ، وَيُطْعِمُ الْمِسْكِينَ، فَهَلْ ذَاكَ نَافِعُهُ؟ قَالَ: ” لَا يَنْفَعُهُ، إِنَّهُ لَمْ يَقُلْ يَوْمًا: رَبِّ اغْفِرْ لِي خَطِيئَتِي يَوْمَ الدِّينِ“Wahai Rasulullah, dahulu di zaman jahiliyah, Ibnu Jad’an gemar menyambung tali silaturrahmi, memberi makan orang miskin, apakah itu bermanfaat baginya?” Nabi menjawab, “Tidak, sesungguhnya ia tidak pernah sekalipun mengatakan, ‘Wahai Rabbku ampunilah kesalahanku pada hari pembalasan’.” (HR Muslim no. 214)Seluruh kebaikan yang dia lakukan tidak bermanfaat meskipun dia membebaskan budak-budak, meskipun dia memberi makan kepada fakir miskin, meskipun dia memuliakan tamu, meskipun dia menyambung silaturahmi, namun itu semua tidak ada faedahnya di sisi Allah. Allah berfirman:وَمَا مَنَعَهُمْ أَن تُقْبَلَ مِنْهُمْ نَفَقَاتُهُمْ إِلَّا أَنَّهُمْ كَفَرُوا بِاللَّهِ وَبِرَسُولِهِ“Dan tidaklah ada yang menghalangi infak mereka diterima kecuali karena mereka kafir (ingkar) kepada Allah dan Rasul-Nya.” (QS At-Taubah : 54)Demikian juga apa yang terjadi pada Abu Thalib, paman Nabi shalallahu ‘alayhi wa sallam yang rela mati demi membela Nabi. Dia rela berperang melawan kerabat-kerabatnya demi membela keponakannya yaitu Muhammad shalallahu ‘alayhi wa sallam. Tetapi karena meninggal dalam kesyirikan, dia tetap dimasukkan ke dalam neraka Jahannam. Oleh karena itu, para ikhwan yang dirahmati olerh Allah SWT, seorang meskipun baiknya apapun jika dia musyrik, tidak beriman kepada Allah, kebaikannya tidak akan diterima oleh Allah SWT. oleh karenanya Allah mengatakan tsumma kaana minalladziina aamanuu, silahkan engkau berbuat kebajikan dengan syarat engkau termasuk orang-orang yang beriman,Pendapat kedua bahwa maksud ayat ini adalah barangsiapa yang berbuat kebajikan, diantaranya membebaskan budak, memberi makan kepada fakir miskin, kemudian setelah itu dia masuk islam dan beriman, maka seluruh kebajikan yang pernah dia lakukan tersebut ketika masih jahiliyyah akan diterima oleh Allah. (lihat Tafsir al-Qurthubi 20/71). Demikianlah salah satu keistimewaan islam, barangsiapa yang masuk islam maka amalan shaleh yang pernah dia lakukan sebelum islam akan diikut sertakan dalam keislamannya, semua akan menjadi simpanan amal shaleh baginya. Adapun kemaksiatan yang pernah dia lakukan sewaktu kafir semuanya akan terhapuskan.عَنْ حَكِيْمِ بْنِ حِزَامٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، أَرَأَيْتَ أَشْيَاءَ كُنْتُ أَتَحَنَّثُ بِهَا فِي الْجَاهِلِيَّةِ مِنْ صَدَقَةٍ أَوْ عَتَاقَةٍ أَو صِلَةِ رَحِمٍ ، فَهَلْ فِيْهَا مِنْ أَجْرٍ؟ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَسْلَمْتَ عَلَى مَا سَلَفَ مِنْ خَيْرٍ.Dari Hakim bin Hizam Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Wahai Rasulullah, apakah engkau memandang perbuatan-perbuatan baik yang aku lakukan sewaktu masa Jahiliyyah seperti shadaqah, membebaskan budak atau silaturahmi tetap mendapat pahala?” Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Engkau telah masuk Islam beserta semua kebaikanmu yang dahulu.” (HR Bukhari no. 1436)Ini adalah dalil bahwasanya orang yang baru masuk islam maka seluruh amalan kebajikan yang pernah dia lakukan sewaktu kafir juga akan tercatat di sisi Allah sebagai amalan shaleh.Kemudian Allah menyebutkan ciri-ciri orang yang beriman, yaitu senantiasa saling berwasiat untuk bersabar. Karena kehidupan ini butuh dengan kesabaran, yaitu kesabaran dalam menjalankan ketaatan, kesabaran dalam menjauhi kemaksiatan, dan kesabaran tatkala ditimpa musibah. Dan mereka juga saling mewasiatkan untuk saling merahmati satu sama lain. Dan saling mewasiatkan untuk merahmati adalah perangai yang agung. Dan tidaklah seseorang berwashiat untuk merahmati kecuali ia tahu betul akan keagungan dan kemuliaan rahmat. Dan tentunya ia telah melakukannya sebelum berwashiat kepada orang lain. Ini juga menunjukan bahwa diantara sifat utama orang-orang yang beriman adalah sabar dan sayang kepada sesama makhluk (lihat At-Tahriir wa at-Tanwiir 30/361).Barangsiapa yang merahmati orang lain maka dia akan dirahmati oleh Allah. Nabi bersabda:الرَّاحِمُونَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمَنُ ارْحَمُوا مَنْ فِى الأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِى السَّمَاء“Orang-orang yang penyayang niscaya akan disayangi pula oleh ar-Rahman (Allah). Maka sayangilah yang di atas muka bumi niscaya Yang di atas langit pun akan menyayangi kalian.” (HR Tirmidzi no. 1924)Bahwa ketika ada seorang lelaki yang berkata kepada Nabi, “Ya Rasulullah, sesungguhnya aku mengasihi kambing jika aku menyembelihnya”. Maka beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :وَالشَّاةُ إِنْ رَحِمْتَهَا رَحِمَكَ اللَّهُ“Jika engkau mengasihinya maka Allah merahmatinya.” (HR Bukhari dalam Adabul Mufrad no. 373)Jika mereka saling berwashiat untuk merahmati (mengasihi) maka mereka akan memperhatikan orang-orang miskin dan anak yatim (Lihat Tafsir al-Qurthubi 20/71)Kemudian Allah berfirman:18. أُولَٰئِكَ أَصْحَابُ الْمَيْمَنَةِ“Mereka (orang-orang yang beriman dan saling berpesan itu) adalah golongan kanan”Yaitu para penghuni surga19. وَالَّذِينَ كَفَرُوا بِآيَاتِنَا هُمْ أَصْحَابُ الْمَشْأَمَةِ“Dan orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, mereka itu adalah golongan kiri”Yaitu para penghuni neraka Jahannam20. عَلَيْهِمْ نَارٌ مُّؤْصَدَةٌ“Mereka berada dalam neraka yang ditutup rapat”Orang kafir yang telah memasuki neraka neraka seakan-akan neraka itu menjadi tertutup bagi mereka sehingga tidak mungkin keluar lagi.إِنَّ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا وَاسْتَكْبَرُوا عَنْهَا لَا تُفَتَّحُ لَهُمْ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَلَا يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّىٰ يَلِجَ الْجَمَلُ فِي سَمِّ الْخِيَاطِ ۚ وَكَذَٰلِكَ نَجْزِي الْمُجْرِمِينَ“sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, tidak akan dibukakan pintu-pintu langit bagi mereka, dan mereka tidak akan masuk surga, sebelum unta masuk ke dalam lubang jarum. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat jahat.” (QS Al-A’raf : 40)Dan hal tersebut mustahil terjadi. Oleh karena itu, orang kafir abadi di dalam neraka jahannam disiksa. Keterangan:1 الحُرُوْفُ الزَّائِدَةُ Huruf-huruf tambahan dalam al-Qurán bukanlah maksudnya sama saja jika tidak ada huruf tersebut tidak merubah arti, akan tetapi maksudnya “tambahan”dari sisi i’roob, bahwasanya huruf-huruf secara i’roob tidak memiliki kedudukan. Akan tetapi secara makna tentu ada tambahan makna yaitu untuk menekankan, sebagaimana dalam ayat ini dan ayat-ayat yang lainnya. Diantara fungsi huruf-huruf tambahan ini juga adalha untuk memperindah susunan kata-kata. (lihat Al-Burhaan fi Úluumil Quráan, Az-Zarkasyi 3/72, Sirrul Fashoohah, Al-Khofaaji hal 156, Tafsiir al-Kasyyaaf, Az-Zmakhsyari 1/431)2Gaya hidup seperti ini terkadang masih terwariskan kepada sebagian kaum muslimin, yang terkadang berbangga-banggaan dalam menghamburkan uang pada perkara yang tidak bermanfaat dan sia-sia. Sebagian orang bangga tatkala mengadakan pesta besar-besaran bahkan hingga berhari-hari. Ini dilakukan hanya untuk menunjukan bahwa hartanya banyak. Atau sebagian orang sengaja membeli mobil yang banyak dengan harga yang melangit, untuk ia pamerkan kepada masyarakat. Hanya untuk menunjukan bahwa ia adalah orang yang sangat kaya.

Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 166: BACAAN DZIKIR PAGI-PETANG (Bagian-10)

Dzikir pagi dan petang amat beragam bacaannya. Antara lain:BACAAN KESEPULUH:Membaca dzikir berikut ini setiap pagi tiga kali dan setiap petang tiga kali:“بِسْمِ اللَّهِ الَّذِي لَا يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْءٌ، فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ، وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ”“Dengan menyebut nama Allah, yang dengan nama-Nya tidak ada sesuatu pun yang bisa membahayakan. Baik di bumi maupun di langit”.Dalil LandasanRasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَا مِنْ عَبْدٍ يَقُولُ فِي صَبَاحِ كُلِّ يَوْمٍ وَمَسَاءِ كُلِّ لَيْلَةٍ: “بِسْمِ اللهِ الَّذِي لاَ يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْءٌ، فِي الأَرْضِ وَلاَ فِي السَّمَاءِ، وَهُوَ السَّمِيعُ العَلِيمُ” ثَلاَثَ مَرَّاتٍ؛ فَيَضُرَّهُ شَيْءٌ“Setiap hamba yang membaca di pagi dan sore hari, “Bismillâhilladzî lâ yadhurru ma’asmihi syai’un fil ardhi walâ fis samâ’i, wa huwas samî’ul ‘alîm” tiga kali; niscaya dia tidak akan terkena musibah sedikitpun”. HR. Tirmidziy dari Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu. Tirmidziy menyatakan hadits ini hasan sahih gharib.Renungan KandunganImam Qurthubiy rahimahullah menjelaskan, bahwa hadits di atas terbukti manjur untuk perlindungan. Beliau melanjutkan penuturannya, “Semenjak aku mengetahui hadits ini dan mengamalkannya, aku belum pernah terkena marabahaya. Hingga suatu malam aku tersengat kalajengking. Akupun merenung. Ternyata di sore hari aku lupa membaca dzikir tersebut”.Mari kita kaji kandungan bacaan ajaib ini.Dzikir ini diawali dengan basmalah. Alias dengan menyebut nama Allah. Maksudnya kita memohon perlindungan kepada Allah dengan cara menyebutkan nama-Nya.Siapapun yang memohon perlindungan kepada Allah, niscaya tidak ada sesuatupun yang bisa mencelakainya. Entah marabahaya tersebut terletak di bumi, maupun di langit. Sebab seluruh alam semesta ini ada di bawah kendali dan kekuasaan Allah ‘azza wa jalla.Allah ta’ala berfirman,تَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌArtinya: “Maha suci Allah yang di tangan-Nyalah segala kerajaan. Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu”. QS. Al-Mulk (67): 1.Seluruh peristiwa di alam semesta ini terjadi dengan kehendak Allah. Apapun yang tidak dikehendaki-Nya maka tidak akan mungkin terjadi.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan,وَاعْلَمْ أَنَّ الأُمَّةَ لَوْ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ لَكَ، وَلَوْ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَيْكَ“Ketahuilah, seandainya seluruh makhluk bersatu padu untuk memberimu suatu manfaat, maka mereka tidak akan bisa melakukannya. Kecuali bila telah ditakdirkan Allah. (Sebaliknya) jika mereka bersatu padu untuk mencelakaimu, niscaya mereka tidak mampu melakukannya. Kecuali bila telah ditakdirkan Allah”. HR. Tirmidziy dari Ibn Abbas radhiyallahu ‘anhuma. Tirmidziy menilai hadits ini hasan sahih.Terakhir, dzikir ini ditutup dengan dua nama Allah yang mulia. Yaitu as-Sami’ (Yang Maha Mendengar) dan al-‘Alim (Yang Maha Mengetahui). Sungguh, Allah Maha Mendengar seluruh ucapan kita dan Maha Mengetahui seluruh perbuatan kita. Tidak ada yang terlewat sedikitpun dari pengawasan Allah.Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 23 Jumadal Ula 1441 / 19 Januari 2020 Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 144: MENJADI TEMPAT CURHAT YANG NYAMAN BAGI ANAKNext Serial Fiqih Pendidikan Anak No 146: BERKOMUNIKASI BAIK DENGAN ANAK Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 166: BACAAN DZIKIR PAGI-PETANG (Bagian-10)

Dzikir pagi dan petang amat beragam bacaannya. Antara lain:BACAAN KESEPULUH:Membaca dzikir berikut ini setiap pagi tiga kali dan setiap petang tiga kali:“بِسْمِ اللَّهِ الَّذِي لَا يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْءٌ، فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ، وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ”“Dengan menyebut nama Allah, yang dengan nama-Nya tidak ada sesuatu pun yang bisa membahayakan. Baik di bumi maupun di langit”.Dalil LandasanRasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَا مِنْ عَبْدٍ يَقُولُ فِي صَبَاحِ كُلِّ يَوْمٍ وَمَسَاءِ كُلِّ لَيْلَةٍ: “بِسْمِ اللهِ الَّذِي لاَ يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْءٌ، فِي الأَرْضِ وَلاَ فِي السَّمَاءِ، وَهُوَ السَّمِيعُ العَلِيمُ” ثَلاَثَ مَرَّاتٍ؛ فَيَضُرَّهُ شَيْءٌ“Setiap hamba yang membaca di pagi dan sore hari, “Bismillâhilladzî lâ yadhurru ma’asmihi syai’un fil ardhi walâ fis samâ’i, wa huwas samî’ul ‘alîm” tiga kali; niscaya dia tidak akan terkena musibah sedikitpun”. HR. Tirmidziy dari Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu. Tirmidziy menyatakan hadits ini hasan sahih gharib.Renungan KandunganImam Qurthubiy rahimahullah menjelaskan, bahwa hadits di atas terbukti manjur untuk perlindungan. Beliau melanjutkan penuturannya, “Semenjak aku mengetahui hadits ini dan mengamalkannya, aku belum pernah terkena marabahaya. Hingga suatu malam aku tersengat kalajengking. Akupun merenung. Ternyata di sore hari aku lupa membaca dzikir tersebut”.Mari kita kaji kandungan bacaan ajaib ini.Dzikir ini diawali dengan basmalah. Alias dengan menyebut nama Allah. Maksudnya kita memohon perlindungan kepada Allah dengan cara menyebutkan nama-Nya.Siapapun yang memohon perlindungan kepada Allah, niscaya tidak ada sesuatupun yang bisa mencelakainya. Entah marabahaya tersebut terletak di bumi, maupun di langit. Sebab seluruh alam semesta ini ada di bawah kendali dan kekuasaan Allah ‘azza wa jalla.Allah ta’ala berfirman,تَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌArtinya: “Maha suci Allah yang di tangan-Nyalah segala kerajaan. Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu”. QS. Al-Mulk (67): 1.Seluruh peristiwa di alam semesta ini terjadi dengan kehendak Allah. Apapun yang tidak dikehendaki-Nya maka tidak akan mungkin terjadi.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan,وَاعْلَمْ أَنَّ الأُمَّةَ لَوْ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ لَكَ، وَلَوْ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَيْكَ“Ketahuilah, seandainya seluruh makhluk bersatu padu untuk memberimu suatu manfaat, maka mereka tidak akan bisa melakukannya. Kecuali bila telah ditakdirkan Allah. (Sebaliknya) jika mereka bersatu padu untuk mencelakaimu, niscaya mereka tidak mampu melakukannya. Kecuali bila telah ditakdirkan Allah”. HR. Tirmidziy dari Ibn Abbas radhiyallahu ‘anhuma. Tirmidziy menilai hadits ini hasan sahih.Terakhir, dzikir ini ditutup dengan dua nama Allah yang mulia. Yaitu as-Sami’ (Yang Maha Mendengar) dan al-‘Alim (Yang Maha Mengetahui). Sungguh, Allah Maha Mendengar seluruh ucapan kita dan Maha Mengetahui seluruh perbuatan kita. Tidak ada yang terlewat sedikitpun dari pengawasan Allah.Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 23 Jumadal Ula 1441 / 19 Januari 2020 Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 144: MENJADI TEMPAT CURHAT YANG NYAMAN BAGI ANAKNext Serial Fiqih Pendidikan Anak No 146: BERKOMUNIKASI BAIK DENGAN ANAK Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Dzikir pagi dan petang amat beragam bacaannya. Antara lain:BACAAN KESEPULUH:Membaca dzikir berikut ini setiap pagi tiga kali dan setiap petang tiga kali:“بِسْمِ اللَّهِ الَّذِي لَا يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْءٌ، فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ، وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ”“Dengan menyebut nama Allah, yang dengan nama-Nya tidak ada sesuatu pun yang bisa membahayakan. Baik di bumi maupun di langit”.Dalil LandasanRasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَا مِنْ عَبْدٍ يَقُولُ فِي صَبَاحِ كُلِّ يَوْمٍ وَمَسَاءِ كُلِّ لَيْلَةٍ: “بِسْمِ اللهِ الَّذِي لاَ يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْءٌ، فِي الأَرْضِ وَلاَ فِي السَّمَاءِ، وَهُوَ السَّمِيعُ العَلِيمُ” ثَلاَثَ مَرَّاتٍ؛ فَيَضُرَّهُ شَيْءٌ“Setiap hamba yang membaca di pagi dan sore hari, “Bismillâhilladzî lâ yadhurru ma’asmihi syai’un fil ardhi walâ fis samâ’i, wa huwas samî’ul ‘alîm” tiga kali; niscaya dia tidak akan terkena musibah sedikitpun”. HR. Tirmidziy dari Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu. Tirmidziy menyatakan hadits ini hasan sahih gharib.Renungan KandunganImam Qurthubiy rahimahullah menjelaskan, bahwa hadits di atas terbukti manjur untuk perlindungan. Beliau melanjutkan penuturannya, “Semenjak aku mengetahui hadits ini dan mengamalkannya, aku belum pernah terkena marabahaya. Hingga suatu malam aku tersengat kalajengking. Akupun merenung. Ternyata di sore hari aku lupa membaca dzikir tersebut”.Mari kita kaji kandungan bacaan ajaib ini.Dzikir ini diawali dengan basmalah. Alias dengan menyebut nama Allah. Maksudnya kita memohon perlindungan kepada Allah dengan cara menyebutkan nama-Nya.Siapapun yang memohon perlindungan kepada Allah, niscaya tidak ada sesuatupun yang bisa mencelakainya. Entah marabahaya tersebut terletak di bumi, maupun di langit. Sebab seluruh alam semesta ini ada di bawah kendali dan kekuasaan Allah ‘azza wa jalla.Allah ta’ala berfirman,تَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌArtinya: “Maha suci Allah yang di tangan-Nyalah segala kerajaan. Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu”. QS. Al-Mulk (67): 1.Seluruh peristiwa di alam semesta ini terjadi dengan kehendak Allah. Apapun yang tidak dikehendaki-Nya maka tidak akan mungkin terjadi.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan,وَاعْلَمْ أَنَّ الأُمَّةَ لَوْ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ لَكَ، وَلَوْ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَيْكَ“Ketahuilah, seandainya seluruh makhluk bersatu padu untuk memberimu suatu manfaat, maka mereka tidak akan bisa melakukannya. Kecuali bila telah ditakdirkan Allah. (Sebaliknya) jika mereka bersatu padu untuk mencelakaimu, niscaya mereka tidak mampu melakukannya. Kecuali bila telah ditakdirkan Allah”. HR. Tirmidziy dari Ibn Abbas radhiyallahu ‘anhuma. Tirmidziy menilai hadits ini hasan sahih.Terakhir, dzikir ini ditutup dengan dua nama Allah yang mulia. Yaitu as-Sami’ (Yang Maha Mendengar) dan al-‘Alim (Yang Maha Mengetahui). Sungguh, Allah Maha Mendengar seluruh ucapan kita dan Maha Mengetahui seluruh perbuatan kita. Tidak ada yang terlewat sedikitpun dari pengawasan Allah.Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 23 Jumadal Ula 1441 / 19 Januari 2020 Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 144: MENJADI TEMPAT CURHAT YANG NYAMAN BAGI ANAKNext Serial Fiqih Pendidikan Anak No 146: BERKOMUNIKASI BAIK DENGAN ANAK Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Dzikir pagi dan petang amat beragam bacaannya. Antara lain:BACAAN KESEPULUH:Membaca dzikir berikut ini setiap pagi tiga kali dan setiap petang tiga kali:“بِسْمِ اللَّهِ الَّذِي لَا يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْءٌ، فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ، وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ”“Dengan menyebut nama Allah, yang dengan nama-Nya tidak ada sesuatu pun yang bisa membahayakan. Baik di bumi maupun di langit”.Dalil LandasanRasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَا مِنْ عَبْدٍ يَقُولُ فِي صَبَاحِ كُلِّ يَوْمٍ وَمَسَاءِ كُلِّ لَيْلَةٍ: “بِسْمِ اللهِ الَّذِي لاَ يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْءٌ، فِي الأَرْضِ وَلاَ فِي السَّمَاءِ، وَهُوَ السَّمِيعُ العَلِيمُ” ثَلاَثَ مَرَّاتٍ؛ فَيَضُرَّهُ شَيْءٌ“Setiap hamba yang membaca di pagi dan sore hari, “Bismillâhilladzî lâ yadhurru ma’asmihi syai’un fil ardhi walâ fis samâ’i, wa huwas samî’ul ‘alîm” tiga kali; niscaya dia tidak akan terkena musibah sedikitpun”. HR. Tirmidziy dari Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu. Tirmidziy menyatakan hadits ini hasan sahih gharib.Renungan KandunganImam Qurthubiy rahimahullah menjelaskan, bahwa hadits di atas terbukti manjur untuk perlindungan. Beliau melanjutkan penuturannya, “Semenjak aku mengetahui hadits ini dan mengamalkannya, aku belum pernah terkena marabahaya. Hingga suatu malam aku tersengat kalajengking. Akupun merenung. Ternyata di sore hari aku lupa membaca dzikir tersebut”.Mari kita kaji kandungan bacaan ajaib ini.Dzikir ini diawali dengan basmalah. Alias dengan menyebut nama Allah. Maksudnya kita memohon perlindungan kepada Allah dengan cara menyebutkan nama-Nya.Siapapun yang memohon perlindungan kepada Allah, niscaya tidak ada sesuatupun yang bisa mencelakainya. Entah marabahaya tersebut terletak di bumi, maupun di langit. Sebab seluruh alam semesta ini ada di bawah kendali dan kekuasaan Allah ‘azza wa jalla.Allah ta’ala berfirman,تَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌArtinya: “Maha suci Allah yang di tangan-Nyalah segala kerajaan. Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu”. QS. Al-Mulk (67): 1.Seluruh peristiwa di alam semesta ini terjadi dengan kehendak Allah. Apapun yang tidak dikehendaki-Nya maka tidak akan mungkin terjadi.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan,وَاعْلَمْ أَنَّ الأُمَّةَ لَوْ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ لَكَ، وَلَوْ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَيْكَ“Ketahuilah, seandainya seluruh makhluk bersatu padu untuk memberimu suatu manfaat, maka mereka tidak akan bisa melakukannya. Kecuali bila telah ditakdirkan Allah. (Sebaliknya) jika mereka bersatu padu untuk mencelakaimu, niscaya mereka tidak mampu melakukannya. Kecuali bila telah ditakdirkan Allah”. HR. Tirmidziy dari Ibn Abbas radhiyallahu ‘anhuma. Tirmidziy menilai hadits ini hasan sahih.Terakhir, dzikir ini ditutup dengan dua nama Allah yang mulia. Yaitu as-Sami’ (Yang Maha Mendengar) dan al-‘Alim (Yang Maha Mengetahui). Sungguh, Allah Maha Mendengar seluruh ucapan kita dan Maha Mengetahui seluruh perbuatan kita. Tidak ada yang terlewat sedikitpun dari pengawasan Allah.Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 23 Jumadal Ula 1441 / 19 Januari 2020 Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 144: MENJADI TEMPAT CURHAT YANG NYAMAN BAGI ANAKNext Serial Fiqih Pendidikan Anak No 146: BERKOMUNIKASI BAIK DENGAN ANAK Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Tanda Kiamat: Munculnya Gunung Emas

Di antara tanda kecil terjadinya kiamat (asyraatus saa’ah ash-sughra) adalah mengeringnya sungai Efrat di Irak, sehingga muncullah gunung emas dari sungai tersebut. Manusia pun saling bunuh untuk memperebutkannya. Hal ini sebagaimana yang disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَحْسِرَ الْفُرَاتُ عَنْ جَبَلٍ مِنْ ذَهَبٍ، يَقْتَتِلُ النَّاسُ عَلَيْهِ، فَيُقْتَلُ مِنْ كُلِّ مِائَةٍ، تِسْعَةٌ وَتِسْعُونَ، وَيَقُولُ كُلُّ رَجُلٍ مِنْهُمْ: لَعَلِّي أَكُونُ أَنَا الَّذِي أَنْجُو“Kiamat tidak akan terjadi sampai sungai Efrat mengering sehingga muncullah gunung emas. Manusia pun saling bunuh untuk memperebutkannya. Dari setiap seratus orang (yang memperebutkannya), terbunuhlah sembilan puluh sembilan orang. Setiap orang dari mereka mengatakan, ‘Mudah-mudahan aku-lah orang yang selamat.’” (HR. Muslim no. 2894)Bukanlah yang dimaksud dengan “gunung emas” di sini adalah minyak bumi, sebagaimana yang disangka oleh sebagian orang. Meskipun minyak bumi sendiri dalam bahasa kita sering disebut dengan istilah “emas hitam”. Anggapan semacam ini adalah tidak tepat, dengan ditinjau dari beberapa sisi:Pertama, hadits di atas tegas menyebutkan “gunung emas”, adapun minyak bumi secara hakikatnya bukanlah emas. Karena emas adalah barang tambang yang sudah kita kenal, berbeda dengan minyak bumi.Kedua, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan bahwa air sungai Efrat akan mengering, lalu tampaklah (muncullah) gunung emas tersebut, sehingga bisa dilihat oleh manusia. Adapun minyak bumi, harus diambil dari dalam bumi dengan alat-alat tambang di kedalaman yang sangat jauh.Ketiga, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengkhususkan sungai Efrat saja, tanpa menyebutkan sungai atau lautan yang lain. Sedangkan minyak bumi, sebagaimana yang kita ketahui, bisa ditambang dari laut atau dari dalam bumi, di tempat-tempat penambangan yang sangat banyak.Keempat, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan bahwa manusia akan saling bunuh untuk memperebutkan simpanan ini. Kenyataannya, hal ini tidaklah terjadi ketika ditemukannya cadangan minyak bumi, baik di sungai Efrat ataupun di tempat-tempat lainnya.Bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang siapa saja yang melihat kemunculan gunung emas tersebut untuk mengambilnya sedikit pun. Sebagaimana yang juga diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,يُوشِكُ الْفُرَاتُ أَنْ يَحْسِرَ عَنْ جَبَلٍ مِنْ ذَهَبٍ، فَمَنْ حَضَرَهُ فَلَا يَأْخُذْ مِنْهُ شَيْئًا“Segera saja sungai Efrat akan mengering lalu nampaklah gunung emas. Barangsiapa yang menjumpainya, jangan diambil sedikit pun.” (HR. Muslim no. 2894)Dalam redaksi hadits yang lain disebutkan,عَنْ كَنْزٍ مِنْ ذَهَبٍ“ … lalu nampaklah simpanan berupa emas …” (HR. Bukhari no. 7119 dan Muslim no. 2894)Oleh karena itu, barangsiapa yang menganggap bahwa yang dimaksud dengan gunung (simpanan) emas tersebut adalah minyak bumi, konsekuensinya adalah melarang siapa pun untuk menambang (mengambil) minyak bumi sebagaimana larangan dalam hadits di atas. Tentu saja, tidak ada satu pun yang berani mengatakan demikian.Semua ini adalah bukti bahwa memaknai “gunung emas” dengan “minyak bumi” adalah anggapan yang tidak tepat dan mengada-ada.Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah menjelaskan bahwa sebab dilarangnya mengambil emas dari gunung tersebut adalah untuk mencegah terjadinya kekacauan dan saling bunuh di antara manusia. (Fathul Baari, 13/81)Baca juga: Perkara yang Pertama Kali Dihisab pada Hari Kiamat Tanda Kiamat, Bulan Terlihat Membesar (Supermoon) ? 19 Nama Hari Kiamat ***Diselesaikan ba’da subuh, Rotterdam NL 1 Rajab 1439/ 18 Maret 2018Penulis: Muhammad Saifudin Hakim Artikel: Muslim.or.id Referensi:Asyraatus Saa’ah, karya Yusuf bin ‘Abdullah bin Yusuf Al-Wabil, cetakan  keempat, penerbit Daar Ibnul Jauzi KSA, tahun 1435, hal. 177-178.🔍 Ya'juj Ma'juj, Hukum Menunda Bayar Hutang, Ridho Ibu Adalah Ridho Allah, Bingkai Allah, Hukum Silaturahmi

Tanda Kiamat: Munculnya Gunung Emas

Di antara tanda kecil terjadinya kiamat (asyraatus saa’ah ash-sughra) adalah mengeringnya sungai Efrat di Irak, sehingga muncullah gunung emas dari sungai tersebut. Manusia pun saling bunuh untuk memperebutkannya. Hal ini sebagaimana yang disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَحْسِرَ الْفُرَاتُ عَنْ جَبَلٍ مِنْ ذَهَبٍ، يَقْتَتِلُ النَّاسُ عَلَيْهِ، فَيُقْتَلُ مِنْ كُلِّ مِائَةٍ، تِسْعَةٌ وَتِسْعُونَ، وَيَقُولُ كُلُّ رَجُلٍ مِنْهُمْ: لَعَلِّي أَكُونُ أَنَا الَّذِي أَنْجُو“Kiamat tidak akan terjadi sampai sungai Efrat mengering sehingga muncullah gunung emas. Manusia pun saling bunuh untuk memperebutkannya. Dari setiap seratus orang (yang memperebutkannya), terbunuhlah sembilan puluh sembilan orang. Setiap orang dari mereka mengatakan, ‘Mudah-mudahan aku-lah orang yang selamat.’” (HR. Muslim no. 2894)Bukanlah yang dimaksud dengan “gunung emas” di sini adalah minyak bumi, sebagaimana yang disangka oleh sebagian orang. Meskipun minyak bumi sendiri dalam bahasa kita sering disebut dengan istilah “emas hitam”. Anggapan semacam ini adalah tidak tepat, dengan ditinjau dari beberapa sisi:Pertama, hadits di atas tegas menyebutkan “gunung emas”, adapun minyak bumi secara hakikatnya bukanlah emas. Karena emas adalah barang tambang yang sudah kita kenal, berbeda dengan minyak bumi.Kedua, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan bahwa air sungai Efrat akan mengering, lalu tampaklah (muncullah) gunung emas tersebut, sehingga bisa dilihat oleh manusia. Adapun minyak bumi, harus diambil dari dalam bumi dengan alat-alat tambang di kedalaman yang sangat jauh.Ketiga, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengkhususkan sungai Efrat saja, tanpa menyebutkan sungai atau lautan yang lain. Sedangkan minyak bumi, sebagaimana yang kita ketahui, bisa ditambang dari laut atau dari dalam bumi, di tempat-tempat penambangan yang sangat banyak.Keempat, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan bahwa manusia akan saling bunuh untuk memperebutkan simpanan ini. Kenyataannya, hal ini tidaklah terjadi ketika ditemukannya cadangan minyak bumi, baik di sungai Efrat ataupun di tempat-tempat lainnya.Bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang siapa saja yang melihat kemunculan gunung emas tersebut untuk mengambilnya sedikit pun. Sebagaimana yang juga diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,يُوشِكُ الْفُرَاتُ أَنْ يَحْسِرَ عَنْ جَبَلٍ مِنْ ذَهَبٍ، فَمَنْ حَضَرَهُ فَلَا يَأْخُذْ مِنْهُ شَيْئًا“Segera saja sungai Efrat akan mengering lalu nampaklah gunung emas. Barangsiapa yang menjumpainya, jangan diambil sedikit pun.” (HR. Muslim no. 2894)Dalam redaksi hadits yang lain disebutkan,عَنْ كَنْزٍ مِنْ ذَهَبٍ“ … lalu nampaklah simpanan berupa emas …” (HR. Bukhari no. 7119 dan Muslim no. 2894)Oleh karena itu, barangsiapa yang menganggap bahwa yang dimaksud dengan gunung (simpanan) emas tersebut adalah minyak bumi, konsekuensinya adalah melarang siapa pun untuk menambang (mengambil) minyak bumi sebagaimana larangan dalam hadits di atas. Tentu saja, tidak ada satu pun yang berani mengatakan demikian.Semua ini adalah bukti bahwa memaknai “gunung emas” dengan “minyak bumi” adalah anggapan yang tidak tepat dan mengada-ada.Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah menjelaskan bahwa sebab dilarangnya mengambil emas dari gunung tersebut adalah untuk mencegah terjadinya kekacauan dan saling bunuh di antara manusia. (Fathul Baari, 13/81)Baca juga: Perkara yang Pertama Kali Dihisab pada Hari Kiamat Tanda Kiamat, Bulan Terlihat Membesar (Supermoon) ? 19 Nama Hari Kiamat ***Diselesaikan ba’da subuh, Rotterdam NL 1 Rajab 1439/ 18 Maret 2018Penulis: Muhammad Saifudin Hakim Artikel: Muslim.or.id Referensi:Asyraatus Saa’ah, karya Yusuf bin ‘Abdullah bin Yusuf Al-Wabil, cetakan  keempat, penerbit Daar Ibnul Jauzi KSA, tahun 1435, hal. 177-178.🔍 Ya'juj Ma'juj, Hukum Menunda Bayar Hutang, Ridho Ibu Adalah Ridho Allah, Bingkai Allah, Hukum Silaturahmi
Di antara tanda kecil terjadinya kiamat (asyraatus saa’ah ash-sughra) adalah mengeringnya sungai Efrat di Irak, sehingga muncullah gunung emas dari sungai tersebut. Manusia pun saling bunuh untuk memperebutkannya. Hal ini sebagaimana yang disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَحْسِرَ الْفُرَاتُ عَنْ جَبَلٍ مِنْ ذَهَبٍ، يَقْتَتِلُ النَّاسُ عَلَيْهِ، فَيُقْتَلُ مِنْ كُلِّ مِائَةٍ، تِسْعَةٌ وَتِسْعُونَ، وَيَقُولُ كُلُّ رَجُلٍ مِنْهُمْ: لَعَلِّي أَكُونُ أَنَا الَّذِي أَنْجُو“Kiamat tidak akan terjadi sampai sungai Efrat mengering sehingga muncullah gunung emas. Manusia pun saling bunuh untuk memperebutkannya. Dari setiap seratus orang (yang memperebutkannya), terbunuhlah sembilan puluh sembilan orang. Setiap orang dari mereka mengatakan, ‘Mudah-mudahan aku-lah orang yang selamat.’” (HR. Muslim no. 2894)Bukanlah yang dimaksud dengan “gunung emas” di sini adalah minyak bumi, sebagaimana yang disangka oleh sebagian orang. Meskipun minyak bumi sendiri dalam bahasa kita sering disebut dengan istilah “emas hitam”. Anggapan semacam ini adalah tidak tepat, dengan ditinjau dari beberapa sisi:Pertama, hadits di atas tegas menyebutkan “gunung emas”, adapun minyak bumi secara hakikatnya bukanlah emas. Karena emas adalah barang tambang yang sudah kita kenal, berbeda dengan minyak bumi.Kedua, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan bahwa air sungai Efrat akan mengering, lalu tampaklah (muncullah) gunung emas tersebut, sehingga bisa dilihat oleh manusia. Adapun minyak bumi, harus diambil dari dalam bumi dengan alat-alat tambang di kedalaman yang sangat jauh.Ketiga, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengkhususkan sungai Efrat saja, tanpa menyebutkan sungai atau lautan yang lain. Sedangkan minyak bumi, sebagaimana yang kita ketahui, bisa ditambang dari laut atau dari dalam bumi, di tempat-tempat penambangan yang sangat banyak.Keempat, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan bahwa manusia akan saling bunuh untuk memperebutkan simpanan ini. Kenyataannya, hal ini tidaklah terjadi ketika ditemukannya cadangan minyak bumi, baik di sungai Efrat ataupun di tempat-tempat lainnya.Bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang siapa saja yang melihat kemunculan gunung emas tersebut untuk mengambilnya sedikit pun. Sebagaimana yang juga diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,يُوشِكُ الْفُرَاتُ أَنْ يَحْسِرَ عَنْ جَبَلٍ مِنْ ذَهَبٍ، فَمَنْ حَضَرَهُ فَلَا يَأْخُذْ مِنْهُ شَيْئًا“Segera saja sungai Efrat akan mengering lalu nampaklah gunung emas. Barangsiapa yang menjumpainya, jangan diambil sedikit pun.” (HR. Muslim no. 2894)Dalam redaksi hadits yang lain disebutkan,عَنْ كَنْزٍ مِنْ ذَهَبٍ“ … lalu nampaklah simpanan berupa emas …” (HR. Bukhari no. 7119 dan Muslim no. 2894)Oleh karena itu, barangsiapa yang menganggap bahwa yang dimaksud dengan gunung (simpanan) emas tersebut adalah minyak bumi, konsekuensinya adalah melarang siapa pun untuk menambang (mengambil) minyak bumi sebagaimana larangan dalam hadits di atas. Tentu saja, tidak ada satu pun yang berani mengatakan demikian.Semua ini adalah bukti bahwa memaknai “gunung emas” dengan “minyak bumi” adalah anggapan yang tidak tepat dan mengada-ada.Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah menjelaskan bahwa sebab dilarangnya mengambil emas dari gunung tersebut adalah untuk mencegah terjadinya kekacauan dan saling bunuh di antara manusia. (Fathul Baari, 13/81)Baca juga: Perkara yang Pertama Kali Dihisab pada Hari Kiamat Tanda Kiamat, Bulan Terlihat Membesar (Supermoon) ? 19 Nama Hari Kiamat ***Diselesaikan ba’da subuh, Rotterdam NL 1 Rajab 1439/ 18 Maret 2018Penulis: Muhammad Saifudin Hakim Artikel: Muslim.or.id Referensi:Asyraatus Saa’ah, karya Yusuf bin ‘Abdullah bin Yusuf Al-Wabil, cetakan  keempat, penerbit Daar Ibnul Jauzi KSA, tahun 1435, hal. 177-178.🔍 Ya'juj Ma'juj, Hukum Menunda Bayar Hutang, Ridho Ibu Adalah Ridho Allah, Bingkai Allah, Hukum Silaturahmi


Di antara tanda kecil terjadinya kiamat (asyraatus saa’ah ash-sughra) adalah mengeringnya sungai Efrat di Irak, sehingga muncullah gunung emas dari sungai tersebut. Manusia pun saling bunuh untuk memperebutkannya. Hal ini sebagaimana yang disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَحْسِرَ الْفُرَاتُ عَنْ جَبَلٍ مِنْ ذَهَبٍ، يَقْتَتِلُ النَّاسُ عَلَيْهِ، فَيُقْتَلُ مِنْ كُلِّ مِائَةٍ، تِسْعَةٌ وَتِسْعُونَ، وَيَقُولُ كُلُّ رَجُلٍ مِنْهُمْ: لَعَلِّي أَكُونُ أَنَا الَّذِي أَنْجُو“Kiamat tidak akan terjadi sampai sungai Efrat mengering sehingga muncullah gunung emas. Manusia pun saling bunuh untuk memperebutkannya. Dari setiap seratus orang (yang memperebutkannya), terbunuhlah sembilan puluh sembilan orang. Setiap orang dari mereka mengatakan, ‘Mudah-mudahan aku-lah orang yang selamat.’” (HR. Muslim no. 2894)Bukanlah yang dimaksud dengan “gunung emas” di sini adalah minyak bumi, sebagaimana yang disangka oleh sebagian orang. Meskipun minyak bumi sendiri dalam bahasa kita sering disebut dengan istilah “emas hitam”. Anggapan semacam ini adalah tidak tepat, dengan ditinjau dari beberapa sisi:Pertama, hadits di atas tegas menyebutkan “gunung emas”, adapun minyak bumi secara hakikatnya bukanlah emas. Karena emas adalah barang tambang yang sudah kita kenal, berbeda dengan minyak bumi.Kedua, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan bahwa air sungai Efrat akan mengering, lalu tampaklah (muncullah) gunung emas tersebut, sehingga bisa dilihat oleh manusia. Adapun minyak bumi, harus diambil dari dalam bumi dengan alat-alat tambang di kedalaman yang sangat jauh.Ketiga, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengkhususkan sungai Efrat saja, tanpa menyebutkan sungai atau lautan yang lain. Sedangkan minyak bumi, sebagaimana yang kita ketahui, bisa ditambang dari laut atau dari dalam bumi, di tempat-tempat penambangan yang sangat banyak.Keempat, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan bahwa manusia akan saling bunuh untuk memperebutkan simpanan ini. Kenyataannya, hal ini tidaklah terjadi ketika ditemukannya cadangan minyak bumi, baik di sungai Efrat ataupun di tempat-tempat lainnya.Bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang siapa saja yang melihat kemunculan gunung emas tersebut untuk mengambilnya sedikit pun. Sebagaimana yang juga diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,يُوشِكُ الْفُرَاتُ أَنْ يَحْسِرَ عَنْ جَبَلٍ مِنْ ذَهَبٍ، فَمَنْ حَضَرَهُ فَلَا يَأْخُذْ مِنْهُ شَيْئًا“Segera saja sungai Efrat akan mengering lalu nampaklah gunung emas. Barangsiapa yang menjumpainya, jangan diambil sedikit pun.” (HR. Muslim no. 2894)Dalam redaksi hadits yang lain disebutkan,عَنْ كَنْزٍ مِنْ ذَهَبٍ“ … lalu nampaklah simpanan berupa emas …” (HR. Bukhari no. 7119 dan Muslim no. 2894)Oleh karena itu, barangsiapa yang menganggap bahwa yang dimaksud dengan gunung (simpanan) emas tersebut adalah minyak bumi, konsekuensinya adalah melarang siapa pun untuk menambang (mengambil) minyak bumi sebagaimana larangan dalam hadits di atas. Tentu saja, tidak ada satu pun yang berani mengatakan demikian.Semua ini adalah bukti bahwa memaknai “gunung emas” dengan “minyak bumi” adalah anggapan yang tidak tepat dan mengada-ada.Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah menjelaskan bahwa sebab dilarangnya mengambil emas dari gunung tersebut adalah untuk mencegah terjadinya kekacauan dan saling bunuh di antara manusia. (Fathul Baari, 13/81)Baca juga: Perkara yang Pertama Kali Dihisab pada Hari Kiamat Tanda Kiamat, Bulan Terlihat Membesar (Supermoon) ? 19 Nama Hari Kiamat ***Diselesaikan ba’da subuh, Rotterdam NL 1 Rajab 1439/ 18 Maret 2018Penulis: Muhammad Saifudin Hakim Artikel: Muslim.or.id Referensi:Asyraatus Saa’ah, karya Yusuf bin ‘Abdullah bin Yusuf Al-Wabil, cetakan  keempat, penerbit Daar Ibnul Jauzi KSA, tahun 1435, hal. 177-178.🔍 Ya'juj Ma'juj, Hukum Menunda Bayar Hutang, Ridho Ibu Adalah Ridho Allah, Bingkai Allah, Hukum Silaturahmi

Serial Fiqih Pendidikan Anak No 146: BERKOMUNIKASI BAIK DENGAN ANAK

Komunikasi baik orang tua dengan anak adalah yang melibatkan pertukaran kata-kata, gagasan dan perasaan. Komunikasi adalah apa yang kita katakan dan bagaimana mengatakannya. Komunikasi itu melibatkan niat (tulus atau bulus), wajah (cemberut atau tersenyum), tindakan (tamparan atau pelukan) dan tentu kata-kata (ramah atau ketus).Dampak Komunikasi Positif dan NegatifKomunikasi yang baik akan menciptakan hubungan yang hangat, kerja sama dan perasaan dihargai. Dari komunikasi yang efektif dengan orangtua, anak-anak akan mendapatkan inspirasi untuk melakukan apa yang diharapkan. Bisa memecahkan masalah mereka sendiri. Serta menumbuhkan konsep diri yang positif.Sebaliknya, komunikasi yang buruk menciptakan anak-anak yang enggan mendengarkan orang lain. Memunculkan konflik dan pertengkaran. Serta menumbuhkan perasaan tidak dihargai.Contoh Praktek Komunikasi BaikAl-Qur’an menukilkan untuk kita contoh komunikasi ideal ayah-anak. Yaitu antara Nabi Ibrahim ‘alaihis salam dengan putra beliau; Nabi Ismail ‘alaihissalam. Allah ta’ala mengisahkan,“فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِن شَاء اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ”Artinya: “Tatkala anak itu telah dewasa, Ibrahim berkata padanya, “Wahai anakku sungguh aku telah bermimpi menyembelih dirimu. Apa gerangan pendapatmu mengenai mimpi tersebut?”. Ia menjawab, ‘Wahai ayahanda, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Insya Allah Engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. QS. Ash-Shaffat (37): 102.Dalam dialog ini, terlihat Nabi Ibrahim sangat menyayangi anaknya dan memberi kesempatan untuk bertukar pikiran. Sifat kasih sayang itu tergambar dari pilihan kata yang diguna¬kannya ketika menyeru buah hatinya, “Ya bunayya (wahai anakku)”. Penggunakan kata “Ya bunayya” merupakan pang¬gi¬lan penuh kasih sayang kepada anaknya.Di antara tujuan yang ingin dicapai Ibrahim dalam proses komunikasi adalah kerelaan Ismail untuk ‘dikorbankan’. Selain itu, Ibrahim berharap Ismail mengetahui bahwa ‘penyembelihan’ itu sebagai bentuk penghambaan kepada Allah. Dua target yang ingin dicapai Ibrahim dalam komunikasi itu ternyata berhasil dicapai.Hal itu disebabkan, antara lain karena adanya kesamaan pola keimanan antara keduanya. Juga kepercayaan tinggi Ismail terhadap ayahnya, yang muncul dari keteladanan Ibrahim.Ismail percaya betul bahwa ayahnya tidak mempunyai kepentingan pribadi, kecuali semata-mata untuk beribadah kepada Allah. Dengan pemahaman seperti itu, Ismail juga harus mengerjakan perintah Allah. Karena Ismail juga mengakui dirinya sebagai hamba Allah.Makanya, jangankan mengajak un¬tuk kebaikan yang mengun¬tungkan secara lahiriah, keti¬ka diajak untuk mengor¬bankan nyawa sekali pun, sang anak pun rela tanpa banyak protes.Dua Faktor Penting KomunikasiJadi, dalam berkomunikasi, sekurang-kurangnya ada dua faktor penting yang harus diperhatikan. Pertama: Niat yang tulus. Kedua: Ungkapan yang baik.Yuk berkomunikasi baik dengan anak!Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 30 Jumadats Tsaniyah 1441 / 24 Februari 2020 Post navigation Previous Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 166: BACAAN DZIKIR PAGI-PETANG (Bagian-10)Next Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 167: BACAAN DZIKIR PAGI-PETANG (Bagian-11) Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Serial Fiqih Pendidikan Anak No 146: BERKOMUNIKASI BAIK DENGAN ANAK

Komunikasi baik orang tua dengan anak adalah yang melibatkan pertukaran kata-kata, gagasan dan perasaan. Komunikasi adalah apa yang kita katakan dan bagaimana mengatakannya. Komunikasi itu melibatkan niat (tulus atau bulus), wajah (cemberut atau tersenyum), tindakan (tamparan atau pelukan) dan tentu kata-kata (ramah atau ketus).Dampak Komunikasi Positif dan NegatifKomunikasi yang baik akan menciptakan hubungan yang hangat, kerja sama dan perasaan dihargai. Dari komunikasi yang efektif dengan orangtua, anak-anak akan mendapatkan inspirasi untuk melakukan apa yang diharapkan. Bisa memecahkan masalah mereka sendiri. Serta menumbuhkan konsep diri yang positif.Sebaliknya, komunikasi yang buruk menciptakan anak-anak yang enggan mendengarkan orang lain. Memunculkan konflik dan pertengkaran. Serta menumbuhkan perasaan tidak dihargai.Contoh Praktek Komunikasi BaikAl-Qur’an menukilkan untuk kita contoh komunikasi ideal ayah-anak. Yaitu antara Nabi Ibrahim ‘alaihis salam dengan putra beliau; Nabi Ismail ‘alaihissalam. Allah ta’ala mengisahkan,“فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِن شَاء اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ”Artinya: “Tatkala anak itu telah dewasa, Ibrahim berkata padanya, “Wahai anakku sungguh aku telah bermimpi menyembelih dirimu. Apa gerangan pendapatmu mengenai mimpi tersebut?”. Ia menjawab, ‘Wahai ayahanda, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Insya Allah Engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. QS. Ash-Shaffat (37): 102.Dalam dialog ini, terlihat Nabi Ibrahim sangat menyayangi anaknya dan memberi kesempatan untuk bertukar pikiran. Sifat kasih sayang itu tergambar dari pilihan kata yang diguna¬kannya ketika menyeru buah hatinya, “Ya bunayya (wahai anakku)”. Penggunakan kata “Ya bunayya” merupakan pang¬gi¬lan penuh kasih sayang kepada anaknya.Di antara tujuan yang ingin dicapai Ibrahim dalam proses komunikasi adalah kerelaan Ismail untuk ‘dikorbankan’. Selain itu, Ibrahim berharap Ismail mengetahui bahwa ‘penyembelihan’ itu sebagai bentuk penghambaan kepada Allah. Dua target yang ingin dicapai Ibrahim dalam komunikasi itu ternyata berhasil dicapai.Hal itu disebabkan, antara lain karena adanya kesamaan pola keimanan antara keduanya. Juga kepercayaan tinggi Ismail terhadap ayahnya, yang muncul dari keteladanan Ibrahim.Ismail percaya betul bahwa ayahnya tidak mempunyai kepentingan pribadi, kecuali semata-mata untuk beribadah kepada Allah. Dengan pemahaman seperti itu, Ismail juga harus mengerjakan perintah Allah. Karena Ismail juga mengakui dirinya sebagai hamba Allah.Makanya, jangankan mengajak un¬tuk kebaikan yang mengun¬tungkan secara lahiriah, keti¬ka diajak untuk mengor¬bankan nyawa sekali pun, sang anak pun rela tanpa banyak protes.Dua Faktor Penting KomunikasiJadi, dalam berkomunikasi, sekurang-kurangnya ada dua faktor penting yang harus diperhatikan. Pertama: Niat yang tulus. Kedua: Ungkapan yang baik.Yuk berkomunikasi baik dengan anak!Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 30 Jumadats Tsaniyah 1441 / 24 Februari 2020 Post navigation Previous Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 166: BACAAN DZIKIR PAGI-PETANG (Bagian-10)Next Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 167: BACAAN DZIKIR PAGI-PETANG (Bagian-11) Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Komunikasi baik orang tua dengan anak adalah yang melibatkan pertukaran kata-kata, gagasan dan perasaan. Komunikasi adalah apa yang kita katakan dan bagaimana mengatakannya. Komunikasi itu melibatkan niat (tulus atau bulus), wajah (cemberut atau tersenyum), tindakan (tamparan atau pelukan) dan tentu kata-kata (ramah atau ketus).Dampak Komunikasi Positif dan NegatifKomunikasi yang baik akan menciptakan hubungan yang hangat, kerja sama dan perasaan dihargai. Dari komunikasi yang efektif dengan orangtua, anak-anak akan mendapatkan inspirasi untuk melakukan apa yang diharapkan. Bisa memecahkan masalah mereka sendiri. Serta menumbuhkan konsep diri yang positif.Sebaliknya, komunikasi yang buruk menciptakan anak-anak yang enggan mendengarkan orang lain. Memunculkan konflik dan pertengkaran. Serta menumbuhkan perasaan tidak dihargai.Contoh Praktek Komunikasi BaikAl-Qur’an menukilkan untuk kita contoh komunikasi ideal ayah-anak. Yaitu antara Nabi Ibrahim ‘alaihis salam dengan putra beliau; Nabi Ismail ‘alaihissalam. Allah ta’ala mengisahkan,“فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِن شَاء اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ”Artinya: “Tatkala anak itu telah dewasa, Ibrahim berkata padanya, “Wahai anakku sungguh aku telah bermimpi menyembelih dirimu. Apa gerangan pendapatmu mengenai mimpi tersebut?”. Ia menjawab, ‘Wahai ayahanda, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Insya Allah Engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. QS. Ash-Shaffat (37): 102.Dalam dialog ini, terlihat Nabi Ibrahim sangat menyayangi anaknya dan memberi kesempatan untuk bertukar pikiran. Sifat kasih sayang itu tergambar dari pilihan kata yang diguna¬kannya ketika menyeru buah hatinya, “Ya bunayya (wahai anakku)”. Penggunakan kata “Ya bunayya” merupakan pang¬gi¬lan penuh kasih sayang kepada anaknya.Di antara tujuan yang ingin dicapai Ibrahim dalam proses komunikasi adalah kerelaan Ismail untuk ‘dikorbankan’. Selain itu, Ibrahim berharap Ismail mengetahui bahwa ‘penyembelihan’ itu sebagai bentuk penghambaan kepada Allah. Dua target yang ingin dicapai Ibrahim dalam komunikasi itu ternyata berhasil dicapai.Hal itu disebabkan, antara lain karena adanya kesamaan pola keimanan antara keduanya. Juga kepercayaan tinggi Ismail terhadap ayahnya, yang muncul dari keteladanan Ibrahim.Ismail percaya betul bahwa ayahnya tidak mempunyai kepentingan pribadi, kecuali semata-mata untuk beribadah kepada Allah. Dengan pemahaman seperti itu, Ismail juga harus mengerjakan perintah Allah. Karena Ismail juga mengakui dirinya sebagai hamba Allah.Makanya, jangankan mengajak un¬tuk kebaikan yang mengun¬tungkan secara lahiriah, keti¬ka diajak untuk mengor¬bankan nyawa sekali pun, sang anak pun rela tanpa banyak protes.Dua Faktor Penting KomunikasiJadi, dalam berkomunikasi, sekurang-kurangnya ada dua faktor penting yang harus diperhatikan. Pertama: Niat yang tulus. Kedua: Ungkapan yang baik.Yuk berkomunikasi baik dengan anak!Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 30 Jumadats Tsaniyah 1441 / 24 Februari 2020 Post navigation Previous Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 166: BACAAN DZIKIR PAGI-PETANG (Bagian-10)Next Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 167: BACAAN DZIKIR PAGI-PETANG (Bagian-11) Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Komunikasi baik orang tua dengan anak adalah yang melibatkan pertukaran kata-kata, gagasan dan perasaan. Komunikasi adalah apa yang kita katakan dan bagaimana mengatakannya. Komunikasi itu melibatkan niat (tulus atau bulus), wajah (cemberut atau tersenyum), tindakan (tamparan atau pelukan) dan tentu kata-kata (ramah atau ketus).Dampak Komunikasi Positif dan NegatifKomunikasi yang baik akan menciptakan hubungan yang hangat, kerja sama dan perasaan dihargai. Dari komunikasi yang efektif dengan orangtua, anak-anak akan mendapatkan inspirasi untuk melakukan apa yang diharapkan. Bisa memecahkan masalah mereka sendiri. Serta menumbuhkan konsep diri yang positif.Sebaliknya, komunikasi yang buruk menciptakan anak-anak yang enggan mendengarkan orang lain. Memunculkan konflik dan pertengkaran. Serta menumbuhkan perasaan tidak dihargai.Contoh Praktek Komunikasi BaikAl-Qur’an menukilkan untuk kita contoh komunikasi ideal ayah-anak. Yaitu antara Nabi Ibrahim ‘alaihis salam dengan putra beliau; Nabi Ismail ‘alaihissalam. Allah ta’ala mengisahkan,“فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِن شَاء اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ”Artinya: “Tatkala anak itu telah dewasa, Ibrahim berkata padanya, “Wahai anakku sungguh aku telah bermimpi menyembelih dirimu. Apa gerangan pendapatmu mengenai mimpi tersebut?”. Ia menjawab, ‘Wahai ayahanda, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Insya Allah Engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. QS. Ash-Shaffat (37): 102.Dalam dialog ini, terlihat Nabi Ibrahim sangat menyayangi anaknya dan memberi kesempatan untuk bertukar pikiran. Sifat kasih sayang itu tergambar dari pilihan kata yang diguna¬kannya ketika menyeru buah hatinya, “Ya bunayya (wahai anakku)”. Penggunakan kata “Ya bunayya” merupakan pang¬gi¬lan penuh kasih sayang kepada anaknya.Di antara tujuan yang ingin dicapai Ibrahim dalam proses komunikasi adalah kerelaan Ismail untuk ‘dikorbankan’. Selain itu, Ibrahim berharap Ismail mengetahui bahwa ‘penyembelihan’ itu sebagai bentuk penghambaan kepada Allah. Dua target yang ingin dicapai Ibrahim dalam komunikasi itu ternyata berhasil dicapai.Hal itu disebabkan, antara lain karena adanya kesamaan pola keimanan antara keduanya. Juga kepercayaan tinggi Ismail terhadap ayahnya, yang muncul dari keteladanan Ibrahim.Ismail percaya betul bahwa ayahnya tidak mempunyai kepentingan pribadi, kecuali semata-mata untuk beribadah kepada Allah. Dengan pemahaman seperti itu, Ismail juga harus mengerjakan perintah Allah. Karena Ismail juga mengakui dirinya sebagai hamba Allah.Makanya, jangankan mengajak un¬tuk kebaikan yang mengun¬tungkan secara lahiriah, keti¬ka diajak untuk mengor¬bankan nyawa sekali pun, sang anak pun rela tanpa banyak protes.Dua Faktor Penting KomunikasiJadi, dalam berkomunikasi, sekurang-kurangnya ada dua faktor penting yang harus diperhatikan. Pertama: Niat yang tulus. Kedua: Ungkapan yang baik.Yuk berkomunikasi baik dengan anak!Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 30 Jumadats Tsaniyah 1441 / 24 Februari 2020 Post navigation Previous Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 166: BACAAN DZIKIR PAGI-PETANG (Bagian-10)Next Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 167: BACAAN DZIKIR PAGI-PETANG (Bagian-11) Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Surat Al-Fajr – Tafsir Juz ‘Amma

Tafsir Surat Al–FajrOleh: DR. Firanda Andirja, Lc. MA.Surat Al-Fajr adalah surat makiyyah, dilihat dari isi surat tersebut. Karena diantara ciri-ciri surat makiyyah selain karena diturunkan sebelum Nabi berhjirah ke Madinah adalah pada umumnya surat-surat makiyyah terdiri dari ayat-ayat yang pendek. Sebagaimana rangkaian-rangkaian ayat dari surat Al-Fajr. Berbeda dengan surat madaniyyah, pada umumnya terdiri dari ayat-ayat yang panjang. Ciri lainnya adalah dilihat dari topik pembahasannya yang berbicara tentang adanya hari kebangkitan, hari kiamat, adanya penghuni neraka jahannam dan penghuni surga yang mana merupakan ciri-ciri surat makiyyah. Selain itu surat Al-Fajr berkaitan dengan surat sebelumnya yaitu surat Al-Ghasyiyah, dimana surat Al-Ghasyiyah berbicara tentang ancaman untuk orang kafir kemudian Al-Fajr berbicara tentang siksaan untuk orang kafir.Allah berfirman pada permulaan surat:وَالْفَجْرِ“Demi fajar”Ada dua pendapat di kalangan para ulama tentang makna al-fajr. Pendapat pertama, al-fajr adalah waktu dimana gelapnya malam mulai sirna diganti dengan cahaya yang perlahan mulai keluar yang dikenal dengan waktu shubuh. Allah bersumpah dengan al-fajr karena merupakan waktu yang sangat penting.Pendapat kedua, maksud Allah bersumpah demi waktu fajar adalah demi shalat fajar yaitu shalat subuh. Allah bersumpah dengan shalat shubuh karena shalat shubuh merupakan shalat yang sangat penting yang sering dilalaikan oleh banyak kaum muslimin. Oleh karena itu, Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:مَنْ صَلَّى الصُّبْحَ فَهُوَ فِي ذِمَّةِ اللهِ“Barangsiapa yang shalat shubuh (secara berjamaah) maka dia di bawah penjagaan Allah.” (HR Muslim no. 657)Dalam hadist yang lain Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:مَنْ صَلَّى البَرْدَيْنِ دَخَلَ الجَنَّةَ“Barangsiapa yang shalat di dua waktu yang dingin niscaya masuk surga.” (HR Bukhari no. 574 dan Muslim no. 635)Kata para ulama, البَرْدَيْنِ  adalah shalat shubuh dan shalat ashar. Dikatakan shalat yang dingin karena shubuh merupakan awal dari hari dan udaranya masih dingin, sedangkan ashar waktu peralihan dari siang ke malam, perlahan-lahan panasnya siang beralih menjadi dinginnya malam.Al-Khotthoobi berkata :وَإِنَّمَا قِيْلَ لَهُمَا: بَرْدَانِ، وَأَبْرَدَانِ لِطِيْبِ الْهَوَاءِ، وَبَرْدِهِ فِى هَذَيْنِ الْوَقْتَيْنِ“Hanyalah sholat Ashar dan shalat Subuh dikatan “dua yang dingin” karena udaranya yang baik dan sejuk di kedua waktu ini” (Syarh Shahih Al-Bukhari, Ibnu Batthool 2/199)Rasulullah menjanjikan surga karena dua shalat inilah yang sering dilalaikan oleh kaum muslimin. Shalat shubuh terlalaikan karena banyak orang yang tenggelam dalam nikmatnya tidur, sedangkan shalat ashar terlalaikan karena kebanyakan orang letih setelah bekerja sepanjang hari lalu tidur dan melewatkan shalat ashar. Atau karena sebagian orang di waktu ashar masih saja sibuk bekerja dan mengurus dunia sehingga terlewatkan sholat ashar (lihat Ihkaamul Ahkaam, Ibnu Ad-Daqiiq 1/172)Hal ini sebagaimana sabda Nabi :إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ رَبَّكُمْ، كَمَا تَرَوْنَ هَذَا القَمَرَ، لاَ تُضَامُّونَ فِي رُؤْيَتِهِ، فَإِنِ اسْتَطَعْتُمْ أَنْ لاَ تُغْلَبُوا عَلَى صَلاَةٍ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ غُرُوبِهَا فَافْعَلُوا“Sesungguhnya kalian akan melihat Rabb kalian sebagaimana kalian melihat bulan ini, kalian tidak berdesak-desakan dalam melihatNya. Maka jika kalian mampu untuk tidak terlewatkan dalam melaksanakan sholat sebelum terbit matahari (yaitu sholat subuh) dan sholat sebelum terbenam matahari (yaitu sholat ashar) maka lakukanlah”(HR Al-Bukhari no 554 dan Muslim no 633)Sehingga dari sini sebagian ulama memilih pendapat bahwasanya Allah bersumpah dengan shalat fajar karena shalat lah yang harus diperhatikan. Kedua pendapat ini kuat tetapi pendapat yang lebih kuat adalah Allah bersumpah dengan waktu fajar itu sendiri (lihat Tafsir Ibnu Katsir 8/381 dan Fathul Qodiir 5/526). Sebagaimana Allah banyak bersumpah dengan waktu-waktu, hal ini banyak dijumpai pada permulaan surat-surat di Juz ‘Amma.Sebagian ulama memberikan alasan mengapa Allah besumpah dengan waktu fajar. Diantaranya :Karena Allah ingin menunjukan bahwa hanya Allahlah yang mengatur alam semesta ini, tidak ada yang bias mendatangkan fajar kecuali Allah. Allah menghilangkan kegelapan malam dengan memunculkan fajar, ini menunjukan kesempurnaan Allah dan hanya Allahlah yang berhak untuk disembah (Taisiir Al-Kariim Ar-Rahman hal 923)Karena subuh merupakan awal dari kegiatan dan terlepasnya seseorang dari tidur yang merupakan kematian kecil (At-Tahriir wa At-Tanwiir 30/313)Karena ada hukum syarí yang dibangun di atas fajar, diantaranya awal puasa (wajibnya imsaak) dimulai dengan terbitnya fajar, dan waktu sholat subuh juga dimulai dengan terbitnya fajar (Tafsir Juz Ámma, Ibnu al-Útsaimin hal 187)Karena Allah ingin membantah orang-orang kafir Quraisy yang mengingkari adanya hari kebangkitan (sebagaimana isi surat Al-Fajr). Seakan-akan Allah ingin menyampaikan kepada mereka kesamaan antara waktu fajar dengan keadaan manusia kelak. Waktu fajar adalah waktu dimana hilangnya malam kemudian terbitlah cahaya. Demikianlah manusia akan mati tetapi Allah mampu untuk membangkitkannya kembali dari kegelapan, dari kematian menuju kehidupan yang baru yaitu kehidupan akhirat yang kekal abadi. Sebagaimana malam-malam yang hilang akan digantikan dengan cahaya yang sebelumnya tidak ada.Kemudian Allah berfirman:وَلَيَالٍ عَشْرٍ“Demi malam-malam yang sepuluh” Terkait makna ‘malam-malam yang sepuluh’, ulama juga terbagi ke dalam dua pendapat. Pendapat pertama sekaligus pendapat mayoritas bahwa malam-malam yang dimaksudkan adalah hari-hari 10 Dzulhijjah. Dan dalam bahasa Arab terkadang ”hari” disebut dengan malam (lihat Tafsir Juz Ámma, Ibnu al-Útsaimin hal 188)Pendapat kedua bahwa yang dimaksudkan adalah 10 malam terakhir di bulan Ramadhan. Allah bersumpah dengan 10 malam terakhir bulan ramadhan karena malam-malam tersebut adalah malam yang mulia, diantaranya ada malam lailatul qadar yang lebih baik dari seribu bulan. Yang menguatkan pendapat ini adalah Allah menyebut dalam ayat ini lafal “lail”yang artinya secara asal bahasa Arab adalah malam dan bukan siang atau hari. (dan inilah pendapat yang dirajihkan oleh Ibnu al-Útsaimin)Adapun pendapat jumhur (dan inilah pendapat yang dipilih oleh At-Thobari dalam tafsirnya 24/348) yaitu 10 hari Dzulhijjah, Allah bersumpah dengannya karena amalan yang dilakukan pada 10 hari Dzulhijjah adalah amalan yang sangat dicintai oleh Allah. Dalam suatu hadist Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهِا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ عَزَّوَجَلَّ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ، يَعْنِيْ أَيَّامَ الْعَشْرِ، قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ ؟ قَالَ: “وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَىْءٍ“Tidak ada hari-hari dimana suatu amal shalih lebih di cintai Allah melebihi amal shalih yang dilakukan di hari-hari ini (yakni sepuluh hari pertama Dzulhijjah)”. Para sahabat bertanya,”Wahai Rasulullah, termasuk lebih utama dari jihad di jalan Allah?” Nabi ٍShallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Termasuk lebih utama dibanding jihad di jalan Allah, kecuali orang yang keluar dengan jiwa dan hartanya (kemedan jihad) dan dia tidak kembali dengan apapun sama sekali (yaitu jiwanya tidak kembali yaitu dia mati syahid dan hartanya juga tidak kembali karena dirampas musuh-pen).” (HR Bukhari no. 969)Sama saja apakah kita menguatkan pendapat pertama atau pendapat kedua maka keduanya (baik 10 hari pertama Dzulhijjah atau 10 malam terakhir Ramadhan) adalah waktu yang agung untuk beribadah dan meraih pahala sebanyak-banyaknya. Kita jumpai sebagian besar kaum muslimin -terutama di tanah air- memusatkan konsentrasi mereka pada 10 malam terakhir Ramadhan, namun banyak diantara mereka kurang memperhatikan 10 hari Dzulhijjah, padahal keutamaan 10 hari Dzulhijjah besar sebagaimana dalam hadits sebelumnya. Oleh karena itu, ketika memasuki bulan Dzulhijjah maka hendaknya kita memperbanyak ibadah kepada Allah dengan ibadah apa saja, mulai dari shalat, puasa, dzikir, baca Al-Quran, sedekah, dan lain-lainnya.Kemudian Allah berfirman:وَالشَّفْعِ وَالْوَتْرِ“Demi yang genap dan yang ganjil”Dalam qiroat yang lain dengan mengkasroh huruf وِ yaitu وَالْوِتْرِ. Pendapat yang kuat dalam masalah ini adalah Allah bersumpah dengan segala sesuatu yang genap dan segala sesuatu yang ganjil. Dan ini merupakan pendapat yang dipilih oleh At-Thobari dalam tafsirnya (Tafsir At-Thobari 24/355). Karenanya dijumpai banyak pendapat dari kalangan salaf yang menyebutkan tentang makna genap dan ganjil.Diantara pendapat dari kalangan para ahli tafsir masa salaf adalah Allah bersumpah dengan shalat-shalat yang rakaatnya genap yaitu shalat dhuhur, shalat ashar, shalat isya’, dan shalat shubuh, dan Allah bersumpah dengan shalat rakaatnya ganjil yaitu shalat maghrib.Ada juga pendapat yang mengatakan bahwa genap adalah yaumun nahr yang jatuh pada tanggal 10 Dzulhijjah merupakan tanggal yang genap, dan ganjil adalah hari arafah yang jatuh pada tanggal 9 Dzulhijjah merupakan tanggal yang ganjil.Ada pula yang mengatakan bahwa genap adalah seluruh makhluk sedangkan ganjil maksudnya Allah (lihst Tafsir At-Thobari 24/350) Karena dalam sebuah hadist, Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:إِنَّ اللَّهَ وِتْرٌ يُحِبُّ الْوِتْرَ“Sesungguhnya Allah itu Witr (yaitu Maha Esa) dan menyukai yang witr (ganjil).” (HR Bukhari no. 6410 dan Muslim no. 2677)Sedangkan makhluk Allah diciptakan dalam keadaan genap yaitu berpasang-pasangan. Allah berfirman :وَمِنْ كُلِّ شَيْءٍ خَلَقْنَا زَوْجَيْنِ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ“Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kalian mengingat kebesaran Allah” (QS Adz-Dzariyaat : 49)وَخَلَقْنَاكُمْ أَزْوَاجًا“Dan Kami menciptakan kalian berpasang-pasangan”(QS An-Naba’: 8)Sebagaimana yang bisa disaksikan di alam semesta ini semuanya berpasang-pasangan, ada kematian ada kehidupan, ada buta ada melihat, ada atas bawah, ada jantan ada betina, ada positif ada negatif, ada iman dan kufur, ada petunjuk dan kesesatan, ada Iblis dan Jibril, dll. Adapun Allah maka Dia Ada tanpa membutuhkan pasangan.Kemudian Allah berfirman:وَاللَّيْلِ إِذَا يَسْرِ“Demi malam apabila berlalu”يَسْرِ dalam bahasa arab mempunyai dua kemungkinan makna. Bisa bermakna أَقْبَلَ الَّيْلُ yang artinya malam yang datang, bisa bermakna الَّيْلُ أَدْبَرَ artinya malam yang pergi  (lihat Tafsir al-Baghowi 8/417). Namun sebagian ulama merajihkan pendapat yang mengatakan bahwa yang dimaksudkan adalah malam apabila datang. Alasan mereka adalah karena di ayat pertama Allah telah bersumpah dengan waktu fajar yang berarti malam pergi kemudian disusul dengan datangnya cahaya. Sebaliknya pada ayat ini Allah bersumpah dengan waktu tatkala cahaya pergi disusul dengan datangnya malam.Sebagian ulama berpendapat bahwa yang dimaksud dengan “malam”di sini adalah malam khusus yaitu malam Muzdalifah. Ini adalah pendapat ulama yang memandang bahwa sumpah-sumpah di awal surat al-Fajar semuanya berkaitan dengan manasik haji. “Demi fajar” maksudnya adalah “fajar hari Nahar 10 Dzulhijjah”, demi “malam-malam yang sepuluh” maksudnya “10 hari Dzulhijjah”, “Demi yang genap dan yang ganjil” maksudnya adalah hari Nahar (10 Dzulhijjah) dan hari Árofah (9 Dzulhijjah), “Demi malam yang berlalu”maksudnya adalah “malam Muzdalifah”. Namun al-Qurthubi berpendapat bahwa yang dimaksud dengan malam dalam ayat ini adalah bersifat umum bukan khusus malam Muzdalifah saja (Lihat Tafsir al-Qurthubi 20/42)Kemudian Allah berfirman:هَلْ فِي ذَٰلِكَ قَسَمٌ لِّذِي حِجْرٍ“Adakah pada yang demikian itu terdapat sumpah (yang dapat diterima) bagi orang-orang yang berakal?”ذِيْ حِجْرٍ yaitu ذِيْ عَقْلٍ yang memiliki akal (Lihat Tafsir At-Thobari 24/3580. حِجْرٍ artinya membatasi, karena seseorang yang menjaga akalnya akan terbatasi dari melakukan hal-hal yang buruk dengan akalnya (lihat Tafsir al-Baghowi 8/417). Disebut juga  عِقَالٌ yang artinya menahan, karena akal yang benar akan menahan seseorang dari perbuatan yang buruk dan dari melakukan perbuatan-perbuatan yang tercela dan tidak senonoh.Dari empat ayat ini, Allah bersumpah dengan 5 perkara, وَالْفَجْرِ, وَلَيَالٍ عَشْرٍ, وَالشَّفْعِ, وَالْوَتْرِ, وَاللَّيْلِ إِذَا يَسْرِ. Namun Allah tidak menyebutkan Allah bersumpah untuk apa (al-muqsam ‘alaih). Kata para ulama, hal tersebut karena perkara yang ingin Allah tekankan telah dimaklumi. Seakan-akan Allah ingin mengatakan, “Demi fajar, sungguh kalian wahai kaum musyirkin benar-benar akan diadzab.” Karena surat Al-Fajr diturunkan berkaitan dengan orang-orang Quraisy Makkah yang mengingkari hari kebangkitan dan hari pembasalan. Karenanya setelah itu Allah menceritakan tentang kaum-kaum yang dibinasakan oleh Allah. (lihat Tafsir al-Baidhoowi 5/309)Di akhir-akhir surat Al-Ghasyiyah Allah mengancam orang-orang kafir dengan adzab dan siksaan-Nya. Lalu pada surat Al-Fajr Allah menceritakan beberapa kaum yang dibinasakan oleh Allah, seakan-akan Allah ingin mengabarkan kepada kaum musyrikin Arab bahwa ada kaum yang lebih hebat dari mereka tetapi Allah membinasakannya. Allah menyebutkan tentang tiga kaum, Pertama kaum ‘Ad, kedua kaum Tsamud, ketiga Firaun dan kaumnya.Kaum ‘Ad dan kaum Tsamud adalah bangsa yang dahulunya tinggal di jazirah arab. Kaum ‘Ad tinggal di daerah selatan Jazirah Arab di al-Ahqoof, letaknya di Yaman antara Óman dan Hadromaut (lihat Tafsir Ibnu Katsir 3/390). Sekarang yang bersisa tinggal gurun pasir, rumah-rumah mereka telah tertutupi dengan padang pasir. Adapun kaum Tsamud (kaum Nabi Shalih) sampai sekarang masih ada bekas-bekas peninggalan mereka. Kaum ‘Ad dan kaum Tsamud termasuk Arab Ba’idah yaitu bangsa arab kuno yang telah dimusnahkan oleh Allah. Sehingga berita tentang mereka telah diketahui oleh orang-orang kafir Quraisy bahwasanya mereka adalah kaum-kaum yang  hebat.Adapun berita tentang Firaun dan bagaimana ia dibinasakan oleh Allah adalah berita yang masyhur di kalangan orang-orang Yahudi. Sering pula kaum Yahudi menceritakan tentang kisah Nabi Musa dan Firaun karena orang-orang yahudi sangat membanggakan Nabi Musa, sehingga kisah-kisah itu sampai pada tetangganya yaitu kaum musyrikin Arab. Oleh karena itu, Allah hanya menceritakan kisah-kisah yang telah diketahui oleh kaum musyrikin Arab, dua kaum yang berasal dari jazirah Arab itu sendiri dan satunya tentang kaum yang mereka dengar dari Yahudi. Allah menceritakan kaum-kaum yang lebih hebat dari mereka namun karena kesombongan dan kecongkakan, kaum-kaum tersebut dibinasakan oleh Allah dengan ditimpakannya adzab di dunia sebelum adzab di akhirat.Kemudian Allah berfirman tentang kaum ‘Ad:أَلَمْ تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِعَادٍ“Tidakkah engkau (Muhammad) memperhatikan bagaimana Tuhanmu berbuat terhadap (kaum) ‘Aad?”Kaum ‘Aad adalah kaum Arab kuno yang diutus kepada mereka Nabi Hud. Allah berfirman:وَإِلَىٰ عَادٍ أَخَاهُمْ هُودًا ۗ قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُم مِّنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ ۚ أَفَلَا تَتَّقُونَ“Dan kepada kaum ‘Aad (Kami utus) Hud, saudara mereka. Dia berkata, ‘Wahai kaumku! Sembahlah Allah! Tidak ada tuhan (sesembahan) bagimu selain Dia. Maka mengapa kamu tidak bertakwa?’” (QS Al-A’raf : 65)Akan tetapi kaum ‘Ad adalah kaum yang sombong lagi angkuh. Mereka diberi kekuatan oleh Allah tetapi digunakan untuk semakin ingkar kepada Allah. Allah berfirman tentang perkataan Nabi Hud:وَاذْكُرُوا إِذْ جَعَلَكُمْ خُلَفَاءَ مِن بَعْدِ قَوْمِ نُوحٍ وَزَادَكُمْ فِي الْخَلْقِ بَسْطَةً ۖ فَاذْكُرُوا آلَاءَ اللَّهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ“Ingatlah ketika Dia menjadikan kalian sebagai khalifah-khalifah setelah kaum Nuh, dan Dia lebihkan kalian dalam kekuatan tubuh dan perawakan. Maka ingatlah akan nikmat-nikmat Allah agar kalian beruntung.” (QS Al-A’raf : 69)Firman Allah “dan Dia lebihkan kalian dalam kekuatan tubuh dan perawakan” setelah Allah menyebutkan tentang kaum Nuh, menunjukan bahwa Kaum ‘Aad memiliki tubuh yang lebih besar daripada tubuh kaum Nuh. Namun seberapa tingginya ? Wallahu A’lam. Memang dalam sebagian buku tafsir disebutkan bahwasanya tinggi kaum ‘Ad adalah sekitar 300 hasta atau 150 meter. Namun hal ini dibantah oleh para ulama -diantaranya Ibnu Katsir- karena manusia yang paling tinggi adalah Nabi Adam ‘alaihis salam yang memiliki tinggi 60 hasta atau sekitar 30 meter. Kemudian manusia-manusia yang datang setelahnya semakin berkurang tingginya hingga manusia zaman sekarang. Manusia akan kembali ditinggikan sebagaimana Nabi Adam setelah ia memasuki surga.Nabi bersabda :خَلَقَ اللَّهُ آدَمَ وَطُولُهُ سِتُّونَ ذِرَاعًا، … فَكُلُّ مَنْ يَدْخُلُ الجَنَّةَ عَلَى صُورَةِ آدَمَ، فَلَمْ يَزَلِ الخَلْقُ يَنْقُصُ حَتَّى الآنَ“Allah menciptakna Adam tingginya 60 hasta….maka semua yang masuk surga sesuai bentuk Nabi Adam, dan senantiasa manusia berkurang (tingginya) hingga sekarang” (HR Al-Bukhari no 3326 dan Muslim no 2841)Kemudian Allah berfirman:إِرَمَ ذَاتِ الْعِمَادِ“(Yaitu) penduduk Iram yang mempunyai bangunan-bangunan yang tinggi”Terdapat khilaf diantara para ulama tentang makna Iram. Sebagian mengatakan bahwa Iram adalah nama kota yang ditinggali kaum ‘Aad. Sebagian yang lain mengatakan Iram adalah nama kakeknya kaum ‘Aad dan bukan nama kota, sebagaimana pendapat Ibnu Ishaq yang diriwayatkan oleh Ibnu Jarir At-Thabari di dalam tafsirnya dan dinukil oleh Al-Hafidz Ibnu Katsir di dalam tafsirnya. Jadi, ‘Ad adalah suatu kaum yang terdiri atas beberapa kabilah yang kembali pada عادٌ بن إِرَمَ بن عَوَضٍ بن سَامٍ بن نُوْحٍ ‘Aad bin Iram bin ‘Awadl bin Saam bin Nuh, sehingga ada empat generasi dari kaum ‘Ad sampai Nabi Nuh.Ikrimah berkata :كَانَ بَيْنَ آدَمَ وَنُوحٍ عَشْرَةُ قُرُونٍ، كُلُّهُمْ عَلَى الْإِسْلَامِ‘’Antara Adam dan Nuh sepuluh kurun/generasi, semuanya di atas Islam” (Tafsir At-Thobari 23/303)Dan القَرْنُ bias artinya kurun yaitu 100 tahun, dan bisa juga artinya generasi (lihat Qoshosh al-Anbiyaa hal 75), sehingga umur setiap generasi antara Adam dan Nuh tidak ada yang mengetahuinya, karena lama Nabi Nuh saja berdakwah adalah 950 tahun yang ini menunjukan bahwa generasi Nabi Nuh usia mereka lebih dari 950 tahun. Ini menunjukan bisa jadi jarak antara Adam dan Nuh ribuan tahun, dan demikian juga jarak antara Nuh dan Hud (kaum Áad).‘Imaad dalam bahasa Arab artinya tinggi. Para ulama berbeda pendapat tentang yang dimaksudkan dengan tinggi. Pendapat pertama, maksud dari ذَاتِ الْعِمَادِ adalah mereka memiliki tubuh yang tinggi, sebagaimana para ulama sepakat bahwa kaum ‘Aad diberi tubuh yang besar.Pendapat kedua, maksud dari ذَاتِ الْعِمَادِ adalah orang-orang yang tinggal di padang pasir di dalam kemah-kemah yang terbuat dari tiang-tiang yang tinggi. Sehingga secara tidak langsung dapat disimpulkan bahwa tubuh mereka juga tinggi. Jika mereka berpindah tempat maka mereka akan mengangkat kemah-kemah mereka.Pendapat ketiga, maksud dari ذَاتِ الْعِمَادِ adalah kaum yang memiliki tempat tinggal dari bangunan-bangunan yang tinggi. Pendapat ini adalah pendapat terkuat. Adapun pendapat yang menyatakan bahwasanya mereka tinggal di kemah-kemah yang berpindah-pindah maka pendapat ini kurang kuat, karena Allah sebutkan ketika Allah membinasakan mereka dengan mengirimkan angin maka rumah-rumah mereka tetap kokoh.Ketika kaum ‘Ad diberi tubuh yang kuat mereka lantas sombong dan angkuh. Allah berfirman:فَأَمَّا عَادٌ فَاسْتَكْبَرُوا فِي الْأَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَقَالُوا مَنْ أَشَدُّ مِنَّا قُوَّةً ۖ“Maka adapun kaum ‘Ad, mereka menyombongkan diri di bumi tanpa (mengindahkan) kebenaran dan merek berkata, ‘Siapakah yang lebih hebat kekuatannya dari kami?’” (QS Fushshilat : 15)Saking kuatnya sampai-sampai disebutkan dalam sebagian riwayat ahli tafsir, apabila mereka marah kepada suatu kampung, salah seorang dari kaum ‘Ad sanggup menghancurkan kaum tersebut dengan sekali lemparan batu besar sehingga mati semualah penduduknya. Allah pun membantah mereka dengan mengatakan:أَوَلَمْ يَرَوْا أَنَّ اللَّهَ الَّذِي خَلَقَهُمْ هُوَ أَشَدُّ مِنْهُمْ قُوَّةً ۖ وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يَجْحَدُونَ“Tidakkah mereka memperhatikan bahwa sesungguhnya Allah yang menciptakan mereka. Dia lebih hebat kekuatan-Nya dari mereka? Dan mereka telah mengingkari tanda-tanda (kebesaran) Kami.” (QS Fushshilat : 15)Maka Allah pun mengirim angin yang datang dari kejauhan seperti awan gelap yang mereka kira adalah hujan biasa. Allah berfirman:فَلَمَّا رَأَوْهُ عَارِضًا مُّسْتَقْبِلَ أَوْدِيَتِهِمْ قَالُوا هَٰذَا عَارِضٌ مُّمْطِرُنَا ۚ بَلْ هُوَ مَا اسْتَعْجَلْتُم بِهِ ۖ رِيحٌ فِيهَا عَذَابٌ أَلِيمٌ (24) تُدَمِّرُ كُلَّ شَيْءٍ بِأَمْرِ رَبِّهَا فَأَصْبَحُوا لَا يُرَىٰ إِلَّا مَسَاكِنُهُمْ ۚ كَذَٰلِكَ نَجْزِي الْقَوْمَ الْمُجْرِمِينَ (25)“(24) Maka ketika mereka melihat adzab itu berupa awan yang menuju ke lembah-lembah mereka, mereka berkata, ‘Inilah awan yang akan menurunkan hujan kepada kita.’ (Bukan!) Tetapi itulah adzab yang kamu minta agar disegerakan datangnya (yaitu) angin yang mengandung adzab yang pedih; (25) yang menghancurkan segala sesuatu dengan perintah Tuhannya, sehingga mereka (kaum ‘Ad) menjadi tidak tampak lagi (di bumi) kecuali hanya (bekas-bekas) tempat tinggal mereka. Demikianlah Kami memberi balasan kepada kaum yang berdosa.” (QS Al-Ahqaf : 24-25)Dalam ayat yang lain Allah berfirman:وَأَمَّا عَادٌ فَأُهْلِكُوا بِرِيحٍ صَرْصَرٍ عَاتِيَةٍ (6) سَخَّرَهَا عَلَيْهِمْ سَبْعَ لَيَالٍ وَثَمَانِيَةَ أَيَّامٍ حُسُومًا فَتَرَى الْقَوْمَ فِيهَا صَرْعَىٰ كَأَنَّهُمْ أَعْجَازُ نَخْلٍ خَاوِيَةٍ (7)“(6) Sedangkan kaum ‘Ad, mereka telah dibinasakan dengan angin topan yang sangat dingin; (7) Allah menimpakan angin kepada mereka selama tujuh malam delapan hari terus-menerus. Maka kamu melihat kaum ‘Ad pada waktu itu mati bergelimpangan seperti batang-batang pohon kurma yang telah kosong (lapuk).” (QS Al-Haqqah : 6-7)Mereka adalah kaum yang memiliki badan yang besar dan kuat. Akan tetapi mereka malah bertambah sombong dan merasa paling kuat kuat. Akhirnya Allah mengirimkan angin untuk menghinakan mereka. Padahal mereka telah berlindung di gunung-gunung, bersembunyi di dalam goa-goa, akan tetapi angin tersebut bisa mencabut mereka dari dalam goa kemudian menerbangkan mereka di udara. Meskipun tubuh mereka sangat besar dan kuat akan tetapi mereka diombang-ambingkan oleh angin yang sangat dingin dan bersuara sangat keras selama 8 hari. Setelah itu anginpun menjatuhkan mereka ke daratan dengan kepala terlebih dahulu yang jatuh sehingga hancur kepala mereka. Karena itulah Allah menyamakan mereka seperti batang kurma yang telah kosong yaitu tanpa kepala (lihat Tafsir Ibnu Katsir 6/139).Dalam ayat yang lain :كَأَنَّهُمْ أَعْجازُ نَخْلٍ مُنْقَعِرٍ“Seakan-akan mereka batang kurma yang terlobangi” (QS Al-Qomar : 20)Firman Allah مُنْقَعِرٍ (yang terlobangi) menunjukan bahwa angin telah menghantam mereka sehingga terbelah perut mereka dan bertebanglah usus-usus dan jantung mereka keluar maka jadilah mereka mayat-mayat yang kosong isinya (Lihat At-Tahriir wa at-Tanwiir 27/194)Kaum ‘Aad yang begitu sombong dengan kekuatan tubuh mereka ternyata dibinasakan oleh Allah hanya dengan udara.Kemudian Allah berfirman:الَّتِي لَمْ يُخْلَقْ مِثْلُهَا فِي الْبِلَادِ“Yang belum pernah diciptakan seperti itu di negeri-negeri lain”Ada dua pendapat ulama tentang apa yang dimaksudkan dengan tidak pernah diciptakan semisalnya. Pendapat pertama mengatakan yang dimaksudkan adalah bangunan. Bangunan mereka sangat canggih sehingga tidak pernah ada bangunan selain milik kaum ‘Ad yang lebih canggih.Pendapat kedua mengatakan yang dimaksudkan adalah kaum ‘Ad itu sendiri. Bahwasanya Allah tidak pernah menciptakan manusia yang kuat seperti kaum ‘Ad. Dan ini adalah pendapat yang lebih kuat. Karenaيُخْلَقْ  (diciptakan) lebih tepat untuk menunjukkan penciptaan manusia, adapun jika yang dimaksudkan adalah bangunan maka akan lebih tepat jika memakai kata يُبْنَى (dibangun), sehingga secara bahasa lebih kuat pendapat kedua, yaitu Allah tidak pernah menciptakan manusia yang kuat sebagaimana kaum ‘Aad.Adapun cerita-cerita yang beredar bahwa ada orang yang pernah menemukan kota kaum ‘Aad, dimana jembatannya terbuat dari emas, bangunan dan rumah-rumahnya terbuat dari emas dan perak, maka kata Al-Hafidz Ibnu Katsir, ini semua adalah khurafatnya Bani Israil. Riwayat-riwayat yang menceritakan tentang itu tidak shahih, meskipun benar bahwasanya mereka memiliki bangunan-bangunan yang tinggi namun tidak sebagaimana yang disebutkan dalam riwayat-riwayat tersebut.Kemudian Allah menyebutkan kaum yang kedua, Allah berfirman:وَثَمُودَ الَّذِينَ جَابُوا الصَّخْرَ بِالْوَادِ“Dan (terhadap) kaum Tsamud yang memotong batu-batu besar di lembah”Yaitu mereka melobangi batu-batu besar seperti gunung untuk dijadikan sebagai tempat tinggal mereka. Yang batu-batu yang besar ibarat gunung itu letaknya di lembah. Yaitu wadi “al-Quroo”, yang letaknya sekarang di sebuah kota Namanya al-‘Ula, sekitar 300 km sebelah utara kota Madinah.Kaum Tsamud juga termasuk kaum yang kuat. Allah menghancurkan kaum Tsamud dengan suara yang menggelegar. Namun rumah-rumah mereka tidak hancur, bahkan sampai sekarang masih ada. Mengunjungi tempat-tempat seperti itu diperbolehkan tetapi hendaknya untuk mengambil pelajaran. Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:لاَ تَدْخُلُوا مَسَاكِنَ الَّذِينَ ظَلَمُوا إِلاَّ أَنْ تَكُونُوا بَاكِينَ، أَنْ يُصِيبَكُمْ مَا أَصَابَهُمْ“Janganlah kalian memasuki tempat tinggal orang-orang yang dzalim, kecuali sambil menangis. Karena apa yang menimpa mereka bisa menimpa kalian.” (HR Ahmad 5466 dan Bukhari 4419)Maka lihatlah bagaimana gunung-gunung yang dipahat oleh mereka untuk dijadikan rumah, di dalamnya ada kamar-kamar, dipan-dipan, menunjukkan akan kekuatan mereka dan kecerdasan yang diberikan oleh Allah dalam masalah menghias dan mengukir gunung. Tetapi karena kesombongan mereka setelah diberi kelebihan oleh Allah, mereka akhirnya dibinasakan oleh Allah.Kemudian Allah menyebutkan kaum yang ketiga, Allah berfirman:وَفِرْعَوْنَ ذِي الْأَوْتَادِ“Dan (terhadap) Fir’aun yang mempunyai pasak-pasak (bangunan yang besar)”الْأَوْتَادِ adalah tali-tali yang dipasang untuk mengikat sesuatu seperti orang yang sedang membangun kemah kemudian menggunakan tali pengikat untuk mengokohkannya. Ada 3 pendapat di kalangan para ulama tentang makna tali-tali tersebut.Pendapat pertama mengatakan dahulu Firaun mengadzab Bani Israil dengan cara mengikat mereka dengan tali ke tangan dan kaki mereka kemudian menarik tali-tali tersebut. Sehingga Firaun dikenal sebagai pemilik tali-tali untuk menyiksa kaum Bani Israil.Pendapat kedua mengatakan yang dimaksudkan adalah tali-tali dan pasak-pasak yang besar yang dipasang oleh Firaun untuk meninggikan payung-payung besar yang dibuat oleh oleh Fir’aun untuk menaungi lapangan atau lokasi untuk bermain-main.Pendapat ketiga mengatakan bahwa makna الْأَوْتَادِ pada ayat ini artinya pasukan. Yaitu Fir’aun memasang besi di tangan dan kaki mereka (lihat ketiga pendapat ini di Tafsir At-Thobari 24/370-372).Firaun memiliki pasukan yang banyak lalu mengerahkan semuanya dan memerintahkannya mengejar Nabi Musa. Bahkan menteri-menterinya semuanya dikerahkan untuk ikut serta mengejar Nabi Musa. Pada akhirnya Allah menghancurkan semuanya.Kemudian Allah berfirman:الَّذِينَ طَغَوْا فِي الْبِلَادِ“Yang berbuat sewenang-wenang dalam negeri”Mereka semua yaitu kaum ‘Ad, kaum Tsamud, dan kaum Firaun telah melampaui batas, berbuat kedzaliman di negeri-negeri, melanggar larangan Allah dan sombong di atas muka bumi.فَأَكْثَرُوا فِيهَا الْفَسَادَ“Lalu mereka banyak berbuat kerusakan dalam negeri itu”Akhirnya mereka melakukan banyak kerusakan. Karena seseorang yang sombong dan sewenang-wenang biasanya akan menimbulkan kerusakan.فَصَبَّ عَلَيْهِمْ رَبُّكَ سَوْطَ عَذَابٍ“Karena itu Tuhanmu menuangkan cemeti adzab kepada mereka”Karena mereka banyak melakukan kerusakan maka Allah berikan adzab kepada mereka yaitu adzab di dunia sebelum di akherat kelak akan ditimpakan adzab lagi yang lebih berat. Allah memberi ungkapan dengan “cemeti” yang menunjukan adzab yang Allah timpakan kepada mereka adalah ringan dibandingkan dengan adzab yang akan mereka terima di akhirat. Allah hanya mengirim angin untuk memporak-porandakan kaum ‘Ad, Allah hanya mengadzab dengan suara yang menggelegar untuk kaum Tsamud, dan Allah hanya menjadikan laut menutup Fir’aun dan bala tentaranya. Ini semua adalah adzab yang mudah bagi Allah.Firaun dan kaumnya diadzab oleh Allah dengan cara ditenggelamkan oleh Allah. Allah memerintahkan Musa untuk memukulkan tongkatnya. Dalam Al-Quran Allah berfirman:وَلَقَدْ أَوْحَيْنَا إِلَىٰ مُوسَىٰ أَنْ أَسْرِ بِعِبَادِي فَاضْرِبْ لَهُمْ طَرِيقًا فِي الْبَحْرِ يَبَسًا لَّا تَخَافُ دَرَكًا وَلَا تَخْشَىٰ“Dan sungguh telah Kami wahyukan kepada Musa, ‘Pergilah bersama hamba-hamba-ku (Bani Israil) pada malam hari, dan pukullah (buatlah) untuk mereka jalan yag kering di laut itu, (engkau) tidak perlu takut akan tersusul dan tidak perlu khawatir (akan tenggelam)’.” (QS Thaha : 77)Setelah Musa memukulkan tongkatnya maka terbukalah laut merah, seketika permukaan tanahnya menjadi kering sehingga mudah untuk dipijak. Disebutkan bahwa laut tersebut terbelah menjadi 12 jalur karena bani Israil ada 12 suku, dan masing-masing jalur tersebut dibatasi oleh lautan  yang naik menjulang seperti gunung akan tetapi lautan tersebut masih ada celah-celahnya seperti jarring-jaring yang berlobang sehingga setiap suku masih bisa melihat suku yang lain dan memastikan bahwa semuanya selamat. Setelah Nabi Musa berhasil melewatinya, Nabi Musa ingin memukulkan tongkatnya kembali agar lautnya tertutup. Namun Allah menegurnya, Allah berfirman:فَأَسْرِ بِعِبَادِي لَيْلًا إِنَّكُم مُّتَّبَعُونَ (23) وَاتْرُكِ الْبَحْرَ رَهْوًا ۖ إِنَّهُمْ جُندٌ مُّغْرَقُونَ (24)“(23) (Allah berfirma), ‘Karena itu berjalanlah dengan hamba-hamba-Ku pada malam hari, sesungguhnya kamu akan dikejar; (24) dan biarkanlah laut itu terbelah. Sesungguhnya mereka, bala tentara yang akan ditenggelamkan’.” (QS Ad-Dukhan : 23-24)Nabi Musa pun tidak jadi memukulkan tongkatnya dan membiarkan lautannya tetap terbuka. Akhirnya dalam keadaan laut yang masih terbelah, Firaun pun melanjutkan pengejarannya terhadap Nabi Musa setelah sebelumnya ia ragu, namun Fir’aun terpaksa menyabarkan dirinya di hadapan para pembesarnya -ia jaga gengsi- setelah itu ia meyakinkan pasukannya untuk masuk menyeberangi lautan. Namun ketika Firaun dan pasukannya seluruhnya telah berada di tengah laut, Nabi Musa pun memukulkan tongkatnya. Laut pun tertutup kembali atas izin Allah dan Allah membinasakan mereka semua. (lihat Tafsir Ibnu Katsir 4/254)Allah menggunakan ibarat صَبَّ “menuangkan” sebagai kiasan seperti tertuangnya air yang terus menerus kepada seseorang yang sedang mandi dan sebagaimana air hujan yang tertuangkan ke atas muka bumi. Yang hal ini menunjukan bahwa adzab yang menimpa mereka sekali tahapan saja, cepat, dan datang dengan tiba-tiba. Kaum ‘Aad melihat angin seperti awan dan menyangka itu adalah karunia ternyata adzab. Kaum Tsamud tidak tahu adzab apa yang akan menimpa mereka ternyata suara yang sangat keras yang mencabut nyawa mereka. Fir’aun dan bala tentaranya masuk di tengah lautan yang terbuka dan tidak menduga ternyata lautan tersebut tiba-tiba menenggelamkan mereka. (Lihat At-Tahriir wa At-Tanwiir 30/322)Kemudian Allah berfirman:إِنَّ رَبَّكَ لَبِالْمِرْصَادِ“Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mengawasi” Ini adalah peringatan terhadap kaum musyrikin Arab agar tidak sombong dan angkuh yang bisa menjadi penyebab ditimpakannya adzab Allah di dunia sebelum di akhirat. Allah mengingatkan mereka akan kejadian yang menimpa kaum ‘Ad, kaum Tsamud, Firaun dan bala tentaranya karena kesombongan mereka. Karena Allah mengawasi amal perbuatan mereka, kekufuran dan kesombongan mereka, tidak ada satu amalan merekapun yang luput dari pengawasan Allah (lihat Fathul Qodiir 5/531)Kemudian Allah menyebutkan sifat orang-orang kafir, Allah berfirman:فَأَمَّا الْإِنسَانُ إِذَا مَا ابْتَلَاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ“Maka adapun manusia apabila Tuhan mengujinya lalu memuliakannya dan memberinya kesenangan, maka dia berkata, ‘Tuhanku telah memuliakanku’” وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلَاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ“Namun apabila Tuhan mengujinya lalu membatasi rezekinya, maka dia berkata, ‘Tuhanku telah menghinakanku’”Para ulama memberikan kaedah, jika disebutkan kata الْإِنسَانُ di dalam surat makiyyah maka itu maksudnya adalah orang kafir, kecuali ada dalil yang memalingkannya. Bahkan sebagian ahli tafsir menyatakan bahwa kedua ayat ini turun tentang Umayyah bin Kholaf al-Jumahi (Lihat Tafsir As-Sm’aani 6/221)Dua ayat ini adalah gambaran pola pikir orang kafir, jika diberi rezeki mereka merasa dimuliakan tetapi jika rezekinya disempitkan mereka merasa dihinakan. Mereka menjadikan barometer pemuliaan dan penghinaan pada harta. Adapun orang beriman tidaklah demikian, orang beriman akan merasa dimuliakan jika diberi taufik untuk beribadah kepada Allah. Mereka menjadikan barometer pemuliaan dengan ketaatan dan barometer penghinaan dengan kemaksiatan. (Lihat Tafsir As-Sama’aani 6/221 dan Tafsir Al-Qurthubi 8/421) Jika dia rajin shalat, rajin bershadaqah, rajin beribadah, itu artinya Allah memuliakannya. Namun jika dia malas beribadah, maka Allah telah menghinakan dia. Dan demikianlah musibah yang sebenarnya, tatkala seseorang terjauhkan dari ketaatan kepada Allah. Oleh karena itu, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam berdoa:وَلَا تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِي دِينِنَا“Ya Allah, Janganlah Engkau jadikan musibah yang menimpa kami dalam urusan agama kami.” (HR Tirmidzi no.3502)Kemudian Allah berfirman:كَلَّا ۖ بَل لَّا تُكْرِمُونَ الْيَتِيمَ“Sekali-kali tidak! Bahkan kamu tidak memuliakan anak yatim”“Sekali-kali tidak!”, yaitu Allah membantah cara berpikir orang kafir bahwasanya kalau kaya dimuliakan, kalau miskin dihinakan. Karena harta bukanlah ukuran kemuliaan dan kehinaan. Seseorang itu bisa mulia baik dia kaya maupun miskin. Sebagaimana apa yang ada pada para Nabi, diantara mereka ada yang kaya ada pula yang miskin, namun itu tidak mempengaruhi kadar kemuliaan mereka. Diantara sahabat ada pula yang kaya dan ada juga yang miskin, namun itu semua tidak mengurangi status mereka sebagai pendamping Nabi. Akan tetapi seseorang bisa mulia dengan keimanan dan ketakwaan, adapun hartanya dia gunakan sebagai sarana untuk bertakwa bukan menjadi tujuan.Cara berpikir demikian adalah cara berpikir orang kafir, kemuliaan dan kehinaan berdasarkan harta. Sehingga mereka tidak memuliakan anak-anak yatim. Karena tujuan mereka adalah dunia dan dunia. Jika mereka bersedekah maka hartanya akan berkurang, jika hartanya berkurang maka kemuliaannya akan berkurang. Atau bahkan mereka karena tamaknya dengan dunia yang dianggap sebagai barometer kemuliaan sehingga mereka memakan harta anak yatim.[1]Allah berfirman:وَلَا تَحَاضُّونَ عَلَىٰ طَعَامِ الْمِسْكِينِ“Dan kamu tidak saling mengajak memberi makan orang miskin”Demikianlah keadaan orang kafir, tidak ada keinginan untuk saling memotivasi agar memberi makan fakir miskin. Karena mereka adalah orang pelit yang tujuannya hanyalah dunia.وَتَأْكُلُونَ التُّرَاثَ أَكْلًا لَّمًّا“Sedangkan kamu memakan harta warisan dengan cara mencampurbaurkan (yang halal dan yang haram)”Ibnu Az-Zaid berkata :الْأَكْلُ اللَّمُّ الَّذِي يَأْكُلُ كُلَّ شَيْءٍ يَجِدُهُ، لَا يَسْأَلُ عَنْهُ أَحَلَالٌ هُوَ أَمْ حَرَامٌ؟ وَيَأْكُلُ الَّذِي لَهُ وَلِغَيْرِهِ“أَكْلًا لَّمًّا yaitu yang memakan segala sesuatu yang ia dapati, ia tidak bertanya tentang harta yang ia dapati (di tangannya) apakah halal ataukah haram. Ia juga memakan miliknya dan milik orang lain” (Tafsir Al-Qurthubi 8/422)Demikianlah keadaan orang kafir, tidak peduli yang penting dapat uang yang berlimpah. Baik dengan cara yang benar atau cara yang bathil. Kata mereka, harta yang halal adalah harta yang di tangan, harta yang haram adalah harta yang tidak ada di tangan. Semua harta yang sampai di tangan bagaimana pun caranya maka itu halal. Mereka memakan harta warisan yang bukan hak mereka, ini semua karena tamak terhadap dunia.وَتُحِبُّونَ الْمَالَ حُبًّا جَمًّا“Dan kamu mencintai harta dengan kecintaan yang berlebihan”Ini adalah sifat-sifat umum pada orang kafir, dan demikian pula sifat manusia secara asalnya yaitu mencintai harta. Terlebih harta tersebut diraih dengan susah payah, dengan membanting tulang, dengan mengeluarkan keringat, kemudian setelah mendapatkannya lalu diperintahkan untuk diinfakkan, maka itu adalah hal yang sangat berat. Padahal harta tersebut tidak akan dibawa mati, hakikat harta kita adalah yang diinfakkan. Dalam suatu hadits tatkala disembelih seekor kambing kemudian Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam menyuruh istri-istrinya untuk membagikan (daging) kambing tersebut kepada orang lain. Maka setelah dibagikan (daging) kambing tersebut Nabi bertanya kepada ‘Aisyah:مَا بَقِيَ مِنْهَا؟ قَالَتْ مَا بَقِيَ مِنْهَا إِلَّا كَتِفُهَا قَالَ بَقِيَ كُلُّهَا غَيْرَ كَتِفِهَا“Wahai ‘Aisyah, bagian mana dari kambing tersebut yang masih tersisa?” Maka ‘Aisyah berkata: “Tidak ada yang tersisa kecuali hanya bagian pundak dari kambing.” Maka Nabi mengatakan: “Seluruh kambing tersisa kecuali pundak yang tersisa.” (HR. Tirmidzi no. 2470)Artinya adalah semua yang sudah dibagikan itulah yang tersisa di akhirat, sedangkan yang yang belum dibagikan itu yang tidak tersisa di akhirat. Kalau kita ingin menabung yang pasti aman dan pasti tersisa maka menabunglah dengan cara bershadaqah.Kemudian Allah berfirman:كَلَّا إِذَا دُكَّتِ الْأَرْضُ دَكًّا دَكًّا“Sekali-kali tidak! Apabila bumi diguncangkan berturut-turut (berbenturan)”وَجَاءَ رَبُّكَ وَالْمَلَكُ صَفًّا صَفًّا“Dan datanglah Tuhanmu sedang malaikat berbaris-baris”Kata para ulama, Allah akan datang ketika melaksanakan persidangan. Dan kejadian ini terjadi setelah semua manusia berkumpul di padang mahsyar di bawah matahari yang berjarak hanya 1 mil dari kepala mereka dan berlangsung dalam waktu yang sangat lama. Persidangan akan ditegakkan setelah Allah mengabulkan syafaat udzma dari Nabi Muhammad shalallahu ‘alayhi wa sallam. Kemudian datanglah Allah untuk melakukan persidangan terhadap seluruh manusia.Kemudian Allah berfirman:وَجِيءَ يَوْمَئِذٍ بِجَهَنَّمَ ۚ يَوْمَئِذٍ يَتَذَكَّرُ الْإِنسَانُ وَأَنَّىٰ لَهُ الذِّكْرَىٰ“Dan pada hari itu diperlihatkan Neraka Jahannam. Pada hari itu sadarlah manusia, tetapi tidak berguna lagi baginya kesadaran itu”Setelah hari perhitungan dan penimbangan, didatangkanlah neraka jahannam. Dalam suatu hadist, dari Abdullah bin Mas’ud dia berkata, Rasulullah bersabda:يُؤْتَى بِجَهَنَّمَ يَوْمَئِذٍ لَها سَبْعُوْنَ أَلْفِ زَمامٍ، مَعَ كُلِّ زَمامٍ سَبْعُوْنَ أَلْفِ مَلَكٍ يَجُرُّوْنَها“Jahannam akan didatangkan pada hari itu dan dia mempunyai 70.000 tali kekang, dan setiap tali kekang akan ditarik oleh 70.000 malaikat.” (HR. Muslim no. 2842)Hadist ini menunjukkan bahwa neraka jahannam itu sangat besar, sampai-sampai membutuhkan 4 milyar 900 juta malaikat untuk menariknya, dan masing-masing ukuran malaikat tidak ada yang mengetahui besarnya kecuali Allah. Bahkan neraka jahannam selalu meminta agar ditambahkan penghuni ke dalamnya. Allah berfirman tentang perkataan neraka jahannam:يَوْمَ نَقُولُ لِجَهَنَّمَ هَلِ امْتَلَأْتِ وَتَقُولُ هَلْ مِن مَّزِيدٍ“(Ingatlah) pada hari (ketika) Kami bertanya kepada Jahannam, ‘Apakah kamu sudah penuh?’ Ia menjawab, ‘Masih adakah tambahan?’” (QS Qaf : 30)Ini karena saking begitu luasnya neraka jahannam itu. Dan neraka jahannam nanti bisa melihat dan berbicara, neraka jahannam marah dan ingin segera menelan calon penghuninya. Allah berfirman:إِذَا رَأَتْهُم مِّن مَّكَانٍ بَعِيدٍ سَمِعُوا لَهَا تَغَيُّظًا وَزَفِيرًا“Apabila ia (neraka) melihat mereka dari tempat yang jauh, mereka mendengar suaranya yang gemuruh karena marahnya.” (QS Al-Furqan : 12)Kemudian Allah berfirman:يَقُولُ يَا لَيْتَنِي قَدَّمْتُ لِحَيَاتِي“Dia mengatakan, ‘Alangkah baiknya sekiranya dahulu aku mengerjakan (kebajikan) untuk hidupku ini’”Maka pada hari tersebut setiap manusia akan mengingat seluruh perbuatan berupa kebaikan dan keburukan yang pernah dia lakukan. Namun mengingat itu semua tiada berguna lagi, yang bersisa hanyalah penyesalan. Bahkan para ulama berkata bahwasanya yang menyesal bukan hanya orang-orang yang diadzab tetapi termasuk orang-orang mukmin, dia merasa ibadah-ibadah yang dia kerjakan kurang banyak.Ibnu Katsir berkata -:يَقُولُ يَا لَيْتَنِي قَدَّمْتُ لِحَيَاتِي: يَعْنِي يَنْدَمُ عَلَى مَا كَانَ سَلَفَ مِنْهُ مِنَ الْمَعَاصِي -إِنْ كَانَ عَاصِيًا-وَيَوَدُّ لَوْ كَانَ ازْدَادَ مِنَ الطَّاعَاتِ -إِنْ كَانَ طَائِعًا“Firman Allah : (Dia mengatakan, ‘Alangkah baiknya sekiranya dahulu aku mengerjakan (kebajikan) untuk hidupku ini’) yaitu dia menyesal atas apa yang dulu ia kerjakan (di dunia), kalau ia seorang pelaku maksiat maka ia menyesali kemaksiatan-kemaksiatan yang pernah ia lakukan. Jika ia seorang yang ta’at maka ia berangan-angan kalau seandainya ia menambah ketaatannya” (Tafsir Ibnu Katsir 8/389)Muhammad bin Abi Úmairoh radhiallahu ánhu berkata :لَوْ أَنَّ عَبْدًا خَرَّ عَلَى وَجْهِهِ مِنْ يَوْمِ وُلِدَ، إِلَى أَنْ يَمُوتَ هَرَمًا فِي طَاعَةِ اللهِ، لَحَقَّرَهُ ذَلِكَ الْيَوْمَ، وَلَوَدَّ أَنَّهُ رُدَّ إِلَى الدُّنْيَا كَيْمَا يَزْدَادَ مِنَ الْأَجْرِ وَالثَّوَابِ“Jika seorang hamba tersungkur di atas wajahnya sejak lahir hingga meninggal karena menghabiskan waktu dalam ketaatan kepada Allah maka pada hari itu ia akan merasa sedikit amal perbuatannya, dan sungguh ia akan berangan-angan seandainya ia dikembalikan lagi ke dunia agar ia bisa menambah pahala dan ganjaran”(Atsar riwayat al-Imam Ahmad dalam musnadnya no 17650 dengan sanad yang shahih)Orang-orang kafir sejak dimasukkan ke kuburan sudah menyesal, kemudian diperlihatkan neraka jahannam mereka semakin menyesal, dan ketika dimasukkan ke dalam neraka jahannam maka penyesalannya semakin bertambah lagi, namun penyesalan tersebut tidak ada faiedahnya lagi. Allah berfirman tentang penyesalan mereka:وَهُمْ يَصْطَرِخُونَ فِيهَا رَبَّنَا أَخْرِجْنَا نَعْمَلْ صَالِحًا غَيْرَ الَّذِي كُنَّا نَعْمَلُ ۚ“Dan mereka berteriak di dalam neraka itu, ‘Ya Tuhan kami,, keluarkanlah kami (dari neraka), niscaya kami akan mengerjakan kebajikan, yang berlainan dengan yang telah kami kerjakan dahulu.’” (QS Fathir : 37)Kemudian Allah berfirman:فَيَوْمَئِذٍ لَّا يُعَذِّبُ عَذَابَهُ أَحَدٌ“Maka pada hari itu tidak ada seorang pun yang mengadzab seperti adzab-Nya (yang adil)”Karena adzabnya Allah sangat pedih, tidak ada yang sanggup menyamainya. As-Smaáani berkata :لَا يُعَذِّبُ أَحَدٌ فِي الدُّنْيَا بِمثل مَا يُعَذِّبُهُ اللهُ فِي الْآخِرَة“Tidak seorangpun di dunia yang menyiksa seperti siksaan Allah di akhirat”(Tafsir As-Samáani 6/223)وَلَا يُوثِقُ وَثَاقَهُ أَحَدٌ“Dan tidak ada seorang pun yang mengikat (dengan belenggu-belenggu di neraka jahnnam) seperti ikatan-Nya”Kedua ayat di atas juga dalam qiroáh yang lain dengan memfathah yaitu (فَيَوْمَئِذٍ لَّا يُعَذَّبُ عَذَابَهُ أَحَدٌ) dan (وَلَا يُوثَقُ وَثَاقَهُ أَحَدٌ) yang artinya : “Tidak ada seorangpun yang disiksa seperti siksaannya (yaitu si kafir) dan tidak seorangpun yang dibelenggu seperti dibelenggunya (si kafir)” (lihat Tafsir As-Smaáani 6/223)Kemudian Allah menyebutkan tentang orang-orang beriman, Allah berfirman:يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ“Wahai jiwa yang tenang!”Yaitu yang tenang dengan keimanannya kepada Allah beserta hari pembalasan-Nya, yang yakin dengan janji Allah akan pahala dan ganjaran pada hari akhirat, yang tidak terbelenggu dengan ketamakan dunia (lihat Tafsir al-Qurthubi 20/57)Ada pula yang berpendapat bahwa ini adalah perkataan malaikat kepada orang-orang beriman tatkala akan meninggal dunia.ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً“Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai-Nya”ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ  “Kepada Rabbmu”yaitu “kepada Tuhanmu”, maksudnya adalah menuju surga, sebagaimana firman Allah :إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي جَنَّاتٍ وَنَهَرٍ (54) فِي مَقْعَدِ صِدْقٍ عِنْدَ مَلِيكٍ مُقْتَدِرٍ (55)“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa di dalam taman-taman (surga) dan sungai-sungai, di tempat yang disenangi di sisi Tuhan Yang Berkuasa”(QS Al-Qomar 54-55)Yang hal ini dicuapkan oleh malaikat kepada ruh orang beriman tatkal akan meninggal dunia dengan memberi kabar gembira kepadanya tentang surga.Dan ada yang berpendapat bahwa yang dimaksud dengan “Kepada Rabbmu”yaitu “Kepada Pemilimmu wahai ruuh, yaitu jasadmu”, yang ini diucapkan ketika hari kebangkitan ketika ruh-ruh dikembalikan kepada jasad (Lihat At-Tahriir wa At-Tanwiir 30/342)رَاضِيَةً Yaitu dengan hati yang ridho dan senang dengan pahala dan ganjaran yang Allah berikan kepadanya. Karena semua yang ia cita-citakan dan impikan terwujudkan pada hari itu. Dan مَّرْضِيَّةً (diridhoiNya) yaitu tambahan pujian kepada jiwa tersebut disertai penekanan akan tambahan karunia dan ganjaran kepadanya. Karena bukan sekedar dia yang senang bahkan Robbnya juga rido kepadanya dan akan memberi tambahan ganjaran kepadanya (lihat At-Tahriir wa at-Tanwiir 30/343)فَادْخُلِي فِي عِبَادِي“Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku”Yaitu hamba-hambaKu sholihin. Kata para ulama, ini adalah kabar gembira bagi para penghuni surga bahwasanya dia tidak masuk surga sendiri.وَادْخُلِي جَنَّتِي“Dan masuklah ke dalam surga-Ku”Sebelumnya Allah menggunakan dhomir al-ghoib (kata ganti orang ketiga) maka pada ayat ini Allah menggunakan dhomir al-mutakallim (kata ganti orang pertama) sebagai bentuk tambahan pemuliaan.Allah juga tidak berkata فَادْخُلِي جَنَّتِي فِي عِبَادِي “Masuklah surga bersama hamba-hambaKu”, akan tetapi Allah mengkhususkan penyebutan sang jiwa secara sendirian dengan berkata وَادْخُلِي جَنَّتِي “Masuklah engkau ke surgaKu” agar menambah kebahagiaannya, seakan-akan ia sangat spesial dengan mendapat perhatian khusus (lihat At-Tahriir wa at-Tanwiir 30/344)[1] Ada dua pendapat ulama tentang makna “tidak memuliakan anak yatim”, yaitu (1) tidak berbuat baik kepada mereka dan (2) memakan harta mereka (lihat Tafsir As-Sam’aani 6/221)

Surat Al-Fajr – Tafsir Juz ‘Amma

Tafsir Surat Al–FajrOleh: DR. Firanda Andirja, Lc. MA.Surat Al-Fajr adalah surat makiyyah, dilihat dari isi surat tersebut. Karena diantara ciri-ciri surat makiyyah selain karena diturunkan sebelum Nabi berhjirah ke Madinah adalah pada umumnya surat-surat makiyyah terdiri dari ayat-ayat yang pendek. Sebagaimana rangkaian-rangkaian ayat dari surat Al-Fajr. Berbeda dengan surat madaniyyah, pada umumnya terdiri dari ayat-ayat yang panjang. Ciri lainnya adalah dilihat dari topik pembahasannya yang berbicara tentang adanya hari kebangkitan, hari kiamat, adanya penghuni neraka jahannam dan penghuni surga yang mana merupakan ciri-ciri surat makiyyah. Selain itu surat Al-Fajr berkaitan dengan surat sebelumnya yaitu surat Al-Ghasyiyah, dimana surat Al-Ghasyiyah berbicara tentang ancaman untuk orang kafir kemudian Al-Fajr berbicara tentang siksaan untuk orang kafir.Allah berfirman pada permulaan surat:وَالْفَجْرِ“Demi fajar”Ada dua pendapat di kalangan para ulama tentang makna al-fajr. Pendapat pertama, al-fajr adalah waktu dimana gelapnya malam mulai sirna diganti dengan cahaya yang perlahan mulai keluar yang dikenal dengan waktu shubuh. Allah bersumpah dengan al-fajr karena merupakan waktu yang sangat penting.Pendapat kedua, maksud Allah bersumpah demi waktu fajar adalah demi shalat fajar yaitu shalat subuh. Allah bersumpah dengan shalat shubuh karena shalat shubuh merupakan shalat yang sangat penting yang sering dilalaikan oleh banyak kaum muslimin. Oleh karena itu, Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:مَنْ صَلَّى الصُّبْحَ فَهُوَ فِي ذِمَّةِ اللهِ“Barangsiapa yang shalat shubuh (secara berjamaah) maka dia di bawah penjagaan Allah.” (HR Muslim no. 657)Dalam hadist yang lain Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:مَنْ صَلَّى البَرْدَيْنِ دَخَلَ الجَنَّةَ“Barangsiapa yang shalat di dua waktu yang dingin niscaya masuk surga.” (HR Bukhari no. 574 dan Muslim no. 635)Kata para ulama, البَرْدَيْنِ  adalah shalat shubuh dan shalat ashar. Dikatakan shalat yang dingin karena shubuh merupakan awal dari hari dan udaranya masih dingin, sedangkan ashar waktu peralihan dari siang ke malam, perlahan-lahan panasnya siang beralih menjadi dinginnya malam.Al-Khotthoobi berkata :وَإِنَّمَا قِيْلَ لَهُمَا: بَرْدَانِ، وَأَبْرَدَانِ لِطِيْبِ الْهَوَاءِ، وَبَرْدِهِ فِى هَذَيْنِ الْوَقْتَيْنِ“Hanyalah sholat Ashar dan shalat Subuh dikatan “dua yang dingin” karena udaranya yang baik dan sejuk di kedua waktu ini” (Syarh Shahih Al-Bukhari, Ibnu Batthool 2/199)Rasulullah menjanjikan surga karena dua shalat inilah yang sering dilalaikan oleh kaum muslimin. Shalat shubuh terlalaikan karena banyak orang yang tenggelam dalam nikmatnya tidur, sedangkan shalat ashar terlalaikan karena kebanyakan orang letih setelah bekerja sepanjang hari lalu tidur dan melewatkan shalat ashar. Atau karena sebagian orang di waktu ashar masih saja sibuk bekerja dan mengurus dunia sehingga terlewatkan sholat ashar (lihat Ihkaamul Ahkaam, Ibnu Ad-Daqiiq 1/172)Hal ini sebagaimana sabda Nabi :إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ رَبَّكُمْ، كَمَا تَرَوْنَ هَذَا القَمَرَ، لاَ تُضَامُّونَ فِي رُؤْيَتِهِ، فَإِنِ اسْتَطَعْتُمْ أَنْ لاَ تُغْلَبُوا عَلَى صَلاَةٍ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ غُرُوبِهَا فَافْعَلُوا“Sesungguhnya kalian akan melihat Rabb kalian sebagaimana kalian melihat bulan ini, kalian tidak berdesak-desakan dalam melihatNya. Maka jika kalian mampu untuk tidak terlewatkan dalam melaksanakan sholat sebelum terbit matahari (yaitu sholat subuh) dan sholat sebelum terbenam matahari (yaitu sholat ashar) maka lakukanlah”(HR Al-Bukhari no 554 dan Muslim no 633)Sehingga dari sini sebagian ulama memilih pendapat bahwasanya Allah bersumpah dengan shalat fajar karena shalat lah yang harus diperhatikan. Kedua pendapat ini kuat tetapi pendapat yang lebih kuat adalah Allah bersumpah dengan waktu fajar itu sendiri (lihat Tafsir Ibnu Katsir 8/381 dan Fathul Qodiir 5/526). Sebagaimana Allah banyak bersumpah dengan waktu-waktu, hal ini banyak dijumpai pada permulaan surat-surat di Juz ‘Amma.Sebagian ulama memberikan alasan mengapa Allah besumpah dengan waktu fajar. Diantaranya :Karena Allah ingin menunjukan bahwa hanya Allahlah yang mengatur alam semesta ini, tidak ada yang bias mendatangkan fajar kecuali Allah. Allah menghilangkan kegelapan malam dengan memunculkan fajar, ini menunjukan kesempurnaan Allah dan hanya Allahlah yang berhak untuk disembah (Taisiir Al-Kariim Ar-Rahman hal 923)Karena subuh merupakan awal dari kegiatan dan terlepasnya seseorang dari tidur yang merupakan kematian kecil (At-Tahriir wa At-Tanwiir 30/313)Karena ada hukum syarí yang dibangun di atas fajar, diantaranya awal puasa (wajibnya imsaak) dimulai dengan terbitnya fajar, dan waktu sholat subuh juga dimulai dengan terbitnya fajar (Tafsir Juz Ámma, Ibnu al-Útsaimin hal 187)Karena Allah ingin membantah orang-orang kafir Quraisy yang mengingkari adanya hari kebangkitan (sebagaimana isi surat Al-Fajr). Seakan-akan Allah ingin menyampaikan kepada mereka kesamaan antara waktu fajar dengan keadaan manusia kelak. Waktu fajar adalah waktu dimana hilangnya malam kemudian terbitlah cahaya. Demikianlah manusia akan mati tetapi Allah mampu untuk membangkitkannya kembali dari kegelapan, dari kematian menuju kehidupan yang baru yaitu kehidupan akhirat yang kekal abadi. Sebagaimana malam-malam yang hilang akan digantikan dengan cahaya yang sebelumnya tidak ada.Kemudian Allah berfirman:وَلَيَالٍ عَشْرٍ“Demi malam-malam yang sepuluh” Terkait makna ‘malam-malam yang sepuluh’, ulama juga terbagi ke dalam dua pendapat. Pendapat pertama sekaligus pendapat mayoritas bahwa malam-malam yang dimaksudkan adalah hari-hari 10 Dzulhijjah. Dan dalam bahasa Arab terkadang ”hari” disebut dengan malam (lihat Tafsir Juz Ámma, Ibnu al-Útsaimin hal 188)Pendapat kedua bahwa yang dimaksudkan adalah 10 malam terakhir di bulan Ramadhan. Allah bersumpah dengan 10 malam terakhir bulan ramadhan karena malam-malam tersebut adalah malam yang mulia, diantaranya ada malam lailatul qadar yang lebih baik dari seribu bulan. Yang menguatkan pendapat ini adalah Allah menyebut dalam ayat ini lafal “lail”yang artinya secara asal bahasa Arab adalah malam dan bukan siang atau hari. (dan inilah pendapat yang dirajihkan oleh Ibnu al-Útsaimin)Adapun pendapat jumhur (dan inilah pendapat yang dipilih oleh At-Thobari dalam tafsirnya 24/348) yaitu 10 hari Dzulhijjah, Allah bersumpah dengannya karena amalan yang dilakukan pada 10 hari Dzulhijjah adalah amalan yang sangat dicintai oleh Allah. Dalam suatu hadist Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهِا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ عَزَّوَجَلَّ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ، يَعْنِيْ أَيَّامَ الْعَشْرِ، قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ ؟ قَالَ: “وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَىْءٍ“Tidak ada hari-hari dimana suatu amal shalih lebih di cintai Allah melebihi amal shalih yang dilakukan di hari-hari ini (yakni sepuluh hari pertama Dzulhijjah)”. Para sahabat bertanya,”Wahai Rasulullah, termasuk lebih utama dari jihad di jalan Allah?” Nabi ٍShallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Termasuk lebih utama dibanding jihad di jalan Allah, kecuali orang yang keluar dengan jiwa dan hartanya (kemedan jihad) dan dia tidak kembali dengan apapun sama sekali (yaitu jiwanya tidak kembali yaitu dia mati syahid dan hartanya juga tidak kembali karena dirampas musuh-pen).” (HR Bukhari no. 969)Sama saja apakah kita menguatkan pendapat pertama atau pendapat kedua maka keduanya (baik 10 hari pertama Dzulhijjah atau 10 malam terakhir Ramadhan) adalah waktu yang agung untuk beribadah dan meraih pahala sebanyak-banyaknya. Kita jumpai sebagian besar kaum muslimin -terutama di tanah air- memusatkan konsentrasi mereka pada 10 malam terakhir Ramadhan, namun banyak diantara mereka kurang memperhatikan 10 hari Dzulhijjah, padahal keutamaan 10 hari Dzulhijjah besar sebagaimana dalam hadits sebelumnya. Oleh karena itu, ketika memasuki bulan Dzulhijjah maka hendaknya kita memperbanyak ibadah kepada Allah dengan ibadah apa saja, mulai dari shalat, puasa, dzikir, baca Al-Quran, sedekah, dan lain-lainnya.Kemudian Allah berfirman:وَالشَّفْعِ وَالْوَتْرِ“Demi yang genap dan yang ganjil”Dalam qiroat yang lain dengan mengkasroh huruf وِ yaitu وَالْوِتْرِ. Pendapat yang kuat dalam masalah ini adalah Allah bersumpah dengan segala sesuatu yang genap dan segala sesuatu yang ganjil. Dan ini merupakan pendapat yang dipilih oleh At-Thobari dalam tafsirnya (Tafsir At-Thobari 24/355). Karenanya dijumpai banyak pendapat dari kalangan salaf yang menyebutkan tentang makna genap dan ganjil.Diantara pendapat dari kalangan para ahli tafsir masa salaf adalah Allah bersumpah dengan shalat-shalat yang rakaatnya genap yaitu shalat dhuhur, shalat ashar, shalat isya’, dan shalat shubuh, dan Allah bersumpah dengan shalat rakaatnya ganjil yaitu shalat maghrib.Ada juga pendapat yang mengatakan bahwa genap adalah yaumun nahr yang jatuh pada tanggal 10 Dzulhijjah merupakan tanggal yang genap, dan ganjil adalah hari arafah yang jatuh pada tanggal 9 Dzulhijjah merupakan tanggal yang ganjil.Ada pula yang mengatakan bahwa genap adalah seluruh makhluk sedangkan ganjil maksudnya Allah (lihst Tafsir At-Thobari 24/350) Karena dalam sebuah hadist, Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:إِنَّ اللَّهَ وِتْرٌ يُحِبُّ الْوِتْرَ“Sesungguhnya Allah itu Witr (yaitu Maha Esa) dan menyukai yang witr (ganjil).” (HR Bukhari no. 6410 dan Muslim no. 2677)Sedangkan makhluk Allah diciptakan dalam keadaan genap yaitu berpasang-pasangan. Allah berfirman :وَمِنْ كُلِّ شَيْءٍ خَلَقْنَا زَوْجَيْنِ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ“Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kalian mengingat kebesaran Allah” (QS Adz-Dzariyaat : 49)وَخَلَقْنَاكُمْ أَزْوَاجًا“Dan Kami menciptakan kalian berpasang-pasangan”(QS An-Naba’: 8)Sebagaimana yang bisa disaksikan di alam semesta ini semuanya berpasang-pasangan, ada kematian ada kehidupan, ada buta ada melihat, ada atas bawah, ada jantan ada betina, ada positif ada negatif, ada iman dan kufur, ada petunjuk dan kesesatan, ada Iblis dan Jibril, dll. Adapun Allah maka Dia Ada tanpa membutuhkan pasangan.Kemudian Allah berfirman:وَاللَّيْلِ إِذَا يَسْرِ“Demi malam apabila berlalu”يَسْرِ dalam bahasa arab mempunyai dua kemungkinan makna. Bisa bermakna أَقْبَلَ الَّيْلُ yang artinya malam yang datang, bisa bermakna الَّيْلُ أَدْبَرَ artinya malam yang pergi  (lihat Tafsir al-Baghowi 8/417). Namun sebagian ulama merajihkan pendapat yang mengatakan bahwa yang dimaksudkan adalah malam apabila datang. Alasan mereka adalah karena di ayat pertama Allah telah bersumpah dengan waktu fajar yang berarti malam pergi kemudian disusul dengan datangnya cahaya. Sebaliknya pada ayat ini Allah bersumpah dengan waktu tatkala cahaya pergi disusul dengan datangnya malam.Sebagian ulama berpendapat bahwa yang dimaksud dengan “malam”di sini adalah malam khusus yaitu malam Muzdalifah. Ini adalah pendapat ulama yang memandang bahwa sumpah-sumpah di awal surat al-Fajar semuanya berkaitan dengan manasik haji. “Demi fajar” maksudnya adalah “fajar hari Nahar 10 Dzulhijjah”, demi “malam-malam yang sepuluh” maksudnya “10 hari Dzulhijjah”, “Demi yang genap dan yang ganjil” maksudnya adalah hari Nahar (10 Dzulhijjah) dan hari Árofah (9 Dzulhijjah), “Demi malam yang berlalu”maksudnya adalah “malam Muzdalifah”. Namun al-Qurthubi berpendapat bahwa yang dimaksud dengan malam dalam ayat ini adalah bersifat umum bukan khusus malam Muzdalifah saja (Lihat Tafsir al-Qurthubi 20/42)Kemudian Allah berfirman:هَلْ فِي ذَٰلِكَ قَسَمٌ لِّذِي حِجْرٍ“Adakah pada yang demikian itu terdapat sumpah (yang dapat diterima) bagi orang-orang yang berakal?”ذِيْ حِجْرٍ yaitu ذِيْ عَقْلٍ yang memiliki akal (Lihat Tafsir At-Thobari 24/3580. حِجْرٍ artinya membatasi, karena seseorang yang menjaga akalnya akan terbatasi dari melakukan hal-hal yang buruk dengan akalnya (lihat Tafsir al-Baghowi 8/417). Disebut juga  عِقَالٌ yang artinya menahan, karena akal yang benar akan menahan seseorang dari perbuatan yang buruk dan dari melakukan perbuatan-perbuatan yang tercela dan tidak senonoh.Dari empat ayat ini, Allah bersumpah dengan 5 perkara, وَالْفَجْرِ, وَلَيَالٍ عَشْرٍ, وَالشَّفْعِ, وَالْوَتْرِ, وَاللَّيْلِ إِذَا يَسْرِ. Namun Allah tidak menyebutkan Allah bersumpah untuk apa (al-muqsam ‘alaih). Kata para ulama, hal tersebut karena perkara yang ingin Allah tekankan telah dimaklumi. Seakan-akan Allah ingin mengatakan, “Demi fajar, sungguh kalian wahai kaum musyirkin benar-benar akan diadzab.” Karena surat Al-Fajr diturunkan berkaitan dengan orang-orang Quraisy Makkah yang mengingkari hari kebangkitan dan hari pembasalan. Karenanya setelah itu Allah menceritakan tentang kaum-kaum yang dibinasakan oleh Allah. (lihat Tafsir al-Baidhoowi 5/309)Di akhir-akhir surat Al-Ghasyiyah Allah mengancam orang-orang kafir dengan adzab dan siksaan-Nya. Lalu pada surat Al-Fajr Allah menceritakan beberapa kaum yang dibinasakan oleh Allah, seakan-akan Allah ingin mengabarkan kepada kaum musyrikin Arab bahwa ada kaum yang lebih hebat dari mereka tetapi Allah membinasakannya. Allah menyebutkan tentang tiga kaum, Pertama kaum ‘Ad, kedua kaum Tsamud, ketiga Firaun dan kaumnya.Kaum ‘Ad dan kaum Tsamud adalah bangsa yang dahulunya tinggal di jazirah arab. Kaum ‘Ad tinggal di daerah selatan Jazirah Arab di al-Ahqoof, letaknya di Yaman antara Óman dan Hadromaut (lihat Tafsir Ibnu Katsir 3/390). Sekarang yang bersisa tinggal gurun pasir, rumah-rumah mereka telah tertutupi dengan padang pasir. Adapun kaum Tsamud (kaum Nabi Shalih) sampai sekarang masih ada bekas-bekas peninggalan mereka. Kaum ‘Ad dan kaum Tsamud termasuk Arab Ba’idah yaitu bangsa arab kuno yang telah dimusnahkan oleh Allah. Sehingga berita tentang mereka telah diketahui oleh orang-orang kafir Quraisy bahwasanya mereka adalah kaum-kaum yang  hebat.Adapun berita tentang Firaun dan bagaimana ia dibinasakan oleh Allah adalah berita yang masyhur di kalangan orang-orang Yahudi. Sering pula kaum Yahudi menceritakan tentang kisah Nabi Musa dan Firaun karena orang-orang yahudi sangat membanggakan Nabi Musa, sehingga kisah-kisah itu sampai pada tetangganya yaitu kaum musyrikin Arab. Oleh karena itu, Allah hanya menceritakan kisah-kisah yang telah diketahui oleh kaum musyrikin Arab, dua kaum yang berasal dari jazirah Arab itu sendiri dan satunya tentang kaum yang mereka dengar dari Yahudi. Allah menceritakan kaum-kaum yang lebih hebat dari mereka namun karena kesombongan dan kecongkakan, kaum-kaum tersebut dibinasakan oleh Allah dengan ditimpakannya adzab di dunia sebelum adzab di akhirat.Kemudian Allah berfirman tentang kaum ‘Ad:أَلَمْ تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِعَادٍ“Tidakkah engkau (Muhammad) memperhatikan bagaimana Tuhanmu berbuat terhadap (kaum) ‘Aad?”Kaum ‘Aad adalah kaum Arab kuno yang diutus kepada mereka Nabi Hud. Allah berfirman:وَإِلَىٰ عَادٍ أَخَاهُمْ هُودًا ۗ قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُم مِّنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ ۚ أَفَلَا تَتَّقُونَ“Dan kepada kaum ‘Aad (Kami utus) Hud, saudara mereka. Dia berkata, ‘Wahai kaumku! Sembahlah Allah! Tidak ada tuhan (sesembahan) bagimu selain Dia. Maka mengapa kamu tidak bertakwa?’” (QS Al-A’raf : 65)Akan tetapi kaum ‘Ad adalah kaum yang sombong lagi angkuh. Mereka diberi kekuatan oleh Allah tetapi digunakan untuk semakin ingkar kepada Allah. Allah berfirman tentang perkataan Nabi Hud:وَاذْكُرُوا إِذْ جَعَلَكُمْ خُلَفَاءَ مِن بَعْدِ قَوْمِ نُوحٍ وَزَادَكُمْ فِي الْخَلْقِ بَسْطَةً ۖ فَاذْكُرُوا آلَاءَ اللَّهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ“Ingatlah ketika Dia menjadikan kalian sebagai khalifah-khalifah setelah kaum Nuh, dan Dia lebihkan kalian dalam kekuatan tubuh dan perawakan. Maka ingatlah akan nikmat-nikmat Allah agar kalian beruntung.” (QS Al-A’raf : 69)Firman Allah “dan Dia lebihkan kalian dalam kekuatan tubuh dan perawakan” setelah Allah menyebutkan tentang kaum Nuh, menunjukan bahwa Kaum ‘Aad memiliki tubuh yang lebih besar daripada tubuh kaum Nuh. Namun seberapa tingginya ? Wallahu A’lam. Memang dalam sebagian buku tafsir disebutkan bahwasanya tinggi kaum ‘Ad adalah sekitar 300 hasta atau 150 meter. Namun hal ini dibantah oleh para ulama -diantaranya Ibnu Katsir- karena manusia yang paling tinggi adalah Nabi Adam ‘alaihis salam yang memiliki tinggi 60 hasta atau sekitar 30 meter. Kemudian manusia-manusia yang datang setelahnya semakin berkurang tingginya hingga manusia zaman sekarang. Manusia akan kembali ditinggikan sebagaimana Nabi Adam setelah ia memasuki surga.Nabi bersabda :خَلَقَ اللَّهُ آدَمَ وَطُولُهُ سِتُّونَ ذِرَاعًا، … فَكُلُّ مَنْ يَدْخُلُ الجَنَّةَ عَلَى صُورَةِ آدَمَ، فَلَمْ يَزَلِ الخَلْقُ يَنْقُصُ حَتَّى الآنَ“Allah menciptakna Adam tingginya 60 hasta….maka semua yang masuk surga sesuai bentuk Nabi Adam, dan senantiasa manusia berkurang (tingginya) hingga sekarang” (HR Al-Bukhari no 3326 dan Muslim no 2841)Kemudian Allah berfirman:إِرَمَ ذَاتِ الْعِمَادِ“(Yaitu) penduduk Iram yang mempunyai bangunan-bangunan yang tinggi”Terdapat khilaf diantara para ulama tentang makna Iram. Sebagian mengatakan bahwa Iram adalah nama kota yang ditinggali kaum ‘Aad. Sebagian yang lain mengatakan Iram adalah nama kakeknya kaum ‘Aad dan bukan nama kota, sebagaimana pendapat Ibnu Ishaq yang diriwayatkan oleh Ibnu Jarir At-Thabari di dalam tafsirnya dan dinukil oleh Al-Hafidz Ibnu Katsir di dalam tafsirnya. Jadi, ‘Ad adalah suatu kaum yang terdiri atas beberapa kabilah yang kembali pada عادٌ بن إِرَمَ بن عَوَضٍ بن سَامٍ بن نُوْحٍ ‘Aad bin Iram bin ‘Awadl bin Saam bin Nuh, sehingga ada empat generasi dari kaum ‘Ad sampai Nabi Nuh.Ikrimah berkata :كَانَ بَيْنَ آدَمَ وَنُوحٍ عَشْرَةُ قُرُونٍ، كُلُّهُمْ عَلَى الْإِسْلَامِ‘’Antara Adam dan Nuh sepuluh kurun/generasi, semuanya di atas Islam” (Tafsir At-Thobari 23/303)Dan القَرْنُ bias artinya kurun yaitu 100 tahun, dan bisa juga artinya generasi (lihat Qoshosh al-Anbiyaa hal 75), sehingga umur setiap generasi antara Adam dan Nuh tidak ada yang mengetahuinya, karena lama Nabi Nuh saja berdakwah adalah 950 tahun yang ini menunjukan bahwa generasi Nabi Nuh usia mereka lebih dari 950 tahun. Ini menunjukan bisa jadi jarak antara Adam dan Nuh ribuan tahun, dan demikian juga jarak antara Nuh dan Hud (kaum Áad).‘Imaad dalam bahasa Arab artinya tinggi. Para ulama berbeda pendapat tentang yang dimaksudkan dengan tinggi. Pendapat pertama, maksud dari ذَاتِ الْعِمَادِ adalah mereka memiliki tubuh yang tinggi, sebagaimana para ulama sepakat bahwa kaum ‘Aad diberi tubuh yang besar.Pendapat kedua, maksud dari ذَاتِ الْعِمَادِ adalah orang-orang yang tinggal di padang pasir di dalam kemah-kemah yang terbuat dari tiang-tiang yang tinggi. Sehingga secara tidak langsung dapat disimpulkan bahwa tubuh mereka juga tinggi. Jika mereka berpindah tempat maka mereka akan mengangkat kemah-kemah mereka.Pendapat ketiga, maksud dari ذَاتِ الْعِمَادِ adalah kaum yang memiliki tempat tinggal dari bangunan-bangunan yang tinggi. Pendapat ini adalah pendapat terkuat. Adapun pendapat yang menyatakan bahwasanya mereka tinggal di kemah-kemah yang berpindah-pindah maka pendapat ini kurang kuat, karena Allah sebutkan ketika Allah membinasakan mereka dengan mengirimkan angin maka rumah-rumah mereka tetap kokoh.Ketika kaum ‘Ad diberi tubuh yang kuat mereka lantas sombong dan angkuh. Allah berfirman:فَأَمَّا عَادٌ فَاسْتَكْبَرُوا فِي الْأَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَقَالُوا مَنْ أَشَدُّ مِنَّا قُوَّةً ۖ“Maka adapun kaum ‘Ad, mereka menyombongkan diri di bumi tanpa (mengindahkan) kebenaran dan merek berkata, ‘Siapakah yang lebih hebat kekuatannya dari kami?’” (QS Fushshilat : 15)Saking kuatnya sampai-sampai disebutkan dalam sebagian riwayat ahli tafsir, apabila mereka marah kepada suatu kampung, salah seorang dari kaum ‘Ad sanggup menghancurkan kaum tersebut dengan sekali lemparan batu besar sehingga mati semualah penduduknya. Allah pun membantah mereka dengan mengatakan:أَوَلَمْ يَرَوْا أَنَّ اللَّهَ الَّذِي خَلَقَهُمْ هُوَ أَشَدُّ مِنْهُمْ قُوَّةً ۖ وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يَجْحَدُونَ“Tidakkah mereka memperhatikan bahwa sesungguhnya Allah yang menciptakan mereka. Dia lebih hebat kekuatan-Nya dari mereka? Dan mereka telah mengingkari tanda-tanda (kebesaran) Kami.” (QS Fushshilat : 15)Maka Allah pun mengirim angin yang datang dari kejauhan seperti awan gelap yang mereka kira adalah hujan biasa. Allah berfirman:فَلَمَّا رَأَوْهُ عَارِضًا مُّسْتَقْبِلَ أَوْدِيَتِهِمْ قَالُوا هَٰذَا عَارِضٌ مُّمْطِرُنَا ۚ بَلْ هُوَ مَا اسْتَعْجَلْتُم بِهِ ۖ رِيحٌ فِيهَا عَذَابٌ أَلِيمٌ (24) تُدَمِّرُ كُلَّ شَيْءٍ بِأَمْرِ رَبِّهَا فَأَصْبَحُوا لَا يُرَىٰ إِلَّا مَسَاكِنُهُمْ ۚ كَذَٰلِكَ نَجْزِي الْقَوْمَ الْمُجْرِمِينَ (25)“(24) Maka ketika mereka melihat adzab itu berupa awan yang menuju ke lembah-lembah mereka, mereka berkata, ‘Inilah awan yang akan menurunkan hujan kepada kita.’ (Bukan!) Tetapi itulah adzab yang kamu minta agar disegerakan datangnya (yaitu) angin yang mengandung adzab yang pedih; (25) yang menghancurkan segala sesuatu dengan perintah Tuhannya, sehingga mereka (kaum ‘Ad) menjadi tidak tampak lagi (di bumi) kecuali hanya (bekas-bekas) tempat tinggal mereka. Demikianlah Kami memberi balasan kepada kaum yang berdosa.” (QS Al-Ahqaf : 24-25)Dalam ayat yang lain Allah berfirman:وَأَمَّا عَادٌ فَأُهْلِكُوا بِرِيحٍ صَرْصَرٍ عَاتِيَةٍ (6) سَخَّرَهَا عَلَيْهِمْ سَبْعَ لَيَالٍ وَثَمَانِيَةَ أَيَّامٍ حُسُومًا فَتَرَى الْقَوْمَ فِيهَا صَرْعَىٰ كَأَنَّهُمْ أَعْجَازُ نَخْلٍ خَاوِيَةٍ (7)“(6) Sedangkan kaum ‘Ad, mereka telah dibinasakan dengan angin topan yang sangat dingin; (7) Allah menimpakan angin kepada mereka selama tujuh malam delapan hari terus-menerus. Maka kamu melihat kaum ‘Ad pada waktu itu mati bergelimpangan seperti batang-batang pohon kurma yang telah kosong (lapuk).” (QS Al-Haqqah : 6-7)Mereka adalah kaum yang memiliki badan yang besar dan kuat. Akan tetapi mereka malah bertambah sombong dan merasa paling kuat kuat. Akhirnya Allah mengirimkan angin untuk menghinakan mereka. Padahal mereka telah berlindung di gunung-gunung, bersembunyi di dalam goa-goa, akan tetapi angin tersebut bisa mencabut mereka dari dalam goa kemudian menerbangkan mereka di udara. Meskipun tubuh mereka sangat besar dan kuat akan tetapi mereka diombang-ambingkan oleh angin yang sangat dingin dan bersuara sangat keras selama 8 hari. Setelah itu anginpun menjatuhkan mereka ke daratan dengan kepala terlebih dahulu yang jatuh sehingga hancur kepala mereka. Karena itulah Allah menyamakan mereka seperti batang kurma yang telah kosong yaitu tanpa kepala (lihat Tafsir Ibnu Katsir 6/139).Dalam ayat yang lain :كَأَنَّهُمْ أَعْجازُ نَخْلٍ مُنْقَعِرٍ“Seakan-akan mereka batang kurma yang terlobangi” (QS Al-Qomar : 20)Firman Allah مُنْقَعِرٍ (yang terlobangi) menunjukan bahwa angin telah menghantam mereka sehingga terbelah perut mereka dan bertebanglah usus-usus dan jantung mereka keluar maka jadilah mereka mayat-mayat yang kosong isinya (Lihat At-Tahriir wa at-Tanwiir 27/194)Kaum ‘Aad yang begitu sombong dengan kekuatan tubuh mereka ternyata dibinasakan oleh Allah hanya dengan udara.Kemudian Allah berfirman:الَّتِي لَمْ يُخْلَقْ مِثْلُهَا فِي الْبِلَادِ“Yang belum pernah diciptakan seperti itu di negeri-negeri lain”Ada dua pendapat ulama tentang apa yang dimaksudkan dengan tidak pernah diciptakan semisalnya. Pendapat pertama mengatakan yang dimaksudkan adalah bangunan. Bangunan mereka sangat canggih sehingga tidak pernah ada bangunan selain milik kaum ‘Ad yang lebih canggih.Pendapat kedua mengatakan yang dimaksudkan adalah kaum ‘Ad itu sendiri. Bahwasanya Allah tidak pernah menciptakan manusia yang kuat seperti kaum ‘Ad. Dan ini adalah pendapat yang lebih kuat. Karenaيُخْلَقْ  (diciptakan) lebih tepat untuk menunjukkan penciptaan manusia, adapun jika yang dimaksudkan adalah bangunan maka akan lebih tepat jika memakai kata يُبْنَى (dibangun), sehingga secara bahasa lebih kuat pendapat kedua, yaitu Allah tidak pernah menciptakan manusia yang kuat sebagaimana kaum ‘Aad.Adapun cerita-cerita yang beredar bahwa ada orang yang pernah menemukan kota kaum ‘Aad, dimana jembatannya terbuat dari emas, bangunan dan rumah-rumahnya terbuat dari emas dan perak, maka kata Al-Hafidz Ibnu Katsir, ini semua adalah khurafatnya Bani Israil. Riwayat-riwayat yang menceritakan tentang itu tidak shahih, meskipun benar bahwasanya mereka memiliki bangunan-bangunan yang tinggi namun tidak sebagaimana yang disebutkan dalam riwayat-riwayat tersebut.Kemudian Allah menyebutkan kaum yang kedua, Allah berfirman:وَثَمُودَ الَّذِينَ جَابُوا الصَّخْرَ بِالْوَادِ“Dan (terhadap) kaum Tsamud yang memotong batu-batu besar di lembah”Yaitu mereka melobangi batu-batu besar seperti gunung untuk dijadikan sebagai tempat tinggal mereka. Yang batu-batu yang besar ibarat gunung itu letaknya di lembah. Yaitu wadi “al-Quroo”, yang letaknya sekarang di sebuah kota Namanya al-‘Ula, sekitar 300 km sebelah utara kota Madinah.Kaum Tsamud juga termasuk kaum yang kuat. Allah menghancurkan kaum Tsamud dengan suara yang menggelegar. Namun rumah-rumah mereka tidak hancur, bahkan sampai sekarang masih ada. Mengunjungi tempat-tempat seperti itu diperbolehkan tetapi hendaknya untuk mengambil pelajaran. Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:لاَ تَدْخُلُوا مَسَاكِنَ الَّذِينَ ظَلَمُوا إِلاَّ أَنْ تَكُونُوا بَاكِينَ، أَنْ يُصِيبَكُمْ مَا أَصَابَهُمْ“Janganlah kalian memasuki tempat tinggal orang-orang yang dzalim, kecuali sambil menangis. Karena apa yang menimpa mereka bisa menimpa kalian.” (HR Ahmad 5466 dan Bukhari 4419)Maka lihatlah bagaimana gunung-gunung yang dipahat oleh mereka untuk dijadikan rumah, di dalamnya ada kamar-kamar, dipan-dipan, menunjukkan akan kekuatan mereka dan kecerdasan yang diberikan oleh Allah dalam masalah menghias dan mengukir gunung. Tetapi karena kesombongan mereka setelah diberi kelebihan oleh Allah, mereka akhirnya dibinasakan oleh Allah.Kemudian Allah menyebutkan kaum yang ketiga, Allah berfirman:وَفِرْعَوْنَ ذِي الْأَوْتَادِ“Dan (terhadap) Fir’aun yang mempunyai pasak-pasak (bangunan yang besar)”الْأَوْتَادِ adalah tali-tali yang dipasang untuk mengikat sesuatu seperti orang yang sedang membangun kemah kemudian menggunakan tali pengikat untuk mengokohkannya. Ada 3 pendapat di kalangan para ulama tentang makna tali-tali tersebut.Pendapat pertama mengatakan dahulu Firaun mengadzab Bani Israil dengan cara mengikat mereka dengan tali ke tangan dan kaki mereka kemudian menarik tali-tali tersebut. Sehingga Firaun dikenal sebagai pemilik tali-tali untuk menyiksa kaum Bani Israil.Pendapat kedua mengatakan yang dimaksudkan adalah tali-tali dan pasak-pasak yang besar yang dipasang oleh Firaun untuk meninggikan payung-payung besar yang dibuat oleh oleh Fir’aun untuk menaungi lapangan atau lokasi untuk bermain-main.Pendapat ketiga mengatakan bahwa makna الْأَوْتَادِ pada ayat ini artinya pasukan. Yaitu Fir’aun memasang besi di tangan dan kaki mereka (lihat ketiga pendapat ini di Tafsir At-Thobari 24/370-372).Firaun memiliki pasukan yang banyak lalu mengerahkan semuanya dan memerintahkannya mengejar Nabi Musa. Bahkan menteri-menterinya semuanya dikerahkan untuk ikut serta mengejar Nabi Musa. Pada akhirnya Allah menghancurkan semuanya.Kemudian Allah berfirman:الَّذِينَ طَغَوْا فِي الْبِلَادِ“Yang berbuat sewenang-wenang dalam negeri”Mereka semua yaitu kaum ‘Ad, kaum Tsamud, dan kaum Firaun telah melampaui batas, berbuat kedzaliman di negeri-negeri, melanggar larangan Allah dan sombong di atas muka bumi.فَأَكْثَرُوا فِيهَا الْفَسَادَ“Lalu mereka banyak berbuat kerusakan dalam negeri itu”Akhirnya mereka melakukan banyak kerusakan. Karena seseorang yang sombong dan sewenang-wenang biasanya akan menimbulkan kerusakan.فَصَبَّ عَلَيْهِمْ رَبُّكَ سَوْطَ عَذَابٍ“Karena itu Tuhanmu menuangkan cemeti adzab kepada mereka”Karena mereka banyak melakukan kerusakan maka Allah berikan adzab kepada mereka yaitu adzab di dunia sebelum di akherat kelak akan ditimpakan adzab lagi yang lebih berat. Allah memberi ungkapan dengan “cemeti” yang menunjukan adzab yang Allah timpakan kepada mereka adalah ringan dibandingkan dengan adzab yang akan mereka terima di akhirat. Allah hanya mengirim angin untuk memporak-porandakan kaum ‘Ad, Allah hanya mengadzab dengan suara yang menggelegar untuk kaum Tsamud, dan Allah hanya menjadikan laut menutup Fir’aun dan bala tentaranya. Ini semua adalah adzab yang mudah bagi Allah.Firaun dan kaumnya diadzab oleh Allah dengan cara ditenggelamkan oleh Allah. Allah memerintahkan Musa untuk memukulkan tongkatnya. Dalam Al-Quran Allah berfirman:وَلَقَدْ أَوْحَيْنَا إِلَىٰ مُوسَىٰ أَنْ أَسْرِ بِعِبَادِي فَاضْرِبْ لَهُمْ طَرِيقًا فِي الْبَحْرِ يَبَسًا لَّا تَخَافُ دَرَكًا وَلَا تَخْشَىٰ“Dan sungguh telah Kami wahyukan kepada Musa, ‘Pergilah bersama hamba-hamba-ku (Bani Israil) pada malam hari, dan pukullah (buatlah) untuk mereka jalan yag kering di laut itu, (engkau) tidak perlu takut akan tersusul dan tidak perlu khawatir (akan tenggelam)’.” (QS Thaha : 77)Setelah Musa memukulkan tongkatnya maka terbukalah laut merah, seketika permukaan tanahnya menjadi kering sehingga mudah untuk dipijak. Disebutkan bahwa laut tersebut terbelah menjadi 12 jalur karena bani Israil ada 12 suku, dan masing-masing jalur tersebut dibatasi oleh lautan  yang naik menjulang seperti gunung akan tetapi lautan tersebut masih ada celah-celahnya seperti jarring-jaring yang berlobang sehingga setiap suku masih bisa melihat suku yang lain dan memastikan bahwa semuanya selamat. Setelah Nabi Musa berhasil melewatinya, Nabi Musa ingin memukulkan tongkatnya kembali agar lautnya tertutup. Namun Allah menegurnya, Allah berfirman:فَأَسْرِ بِعِبَادِي لَيْلًا إِنَّكُم مُّتَّبَعُونَ (23) وَاتْرُكِ الْبَحْرَ رَهْوًا ۖ إِنَّهُمْ جُندٌ مُّغْرَقُونَ (24)“(23) (Allah berfirma), ‘Karena itu berjalanlah dengan hamba-hamba-Ku pada malam hari, sesungguhnya kamu akan dikejar; (24) dan biarkanlah laut itu terbelah. Sesungguhnya mereka, bala tentara yang akan ditenggelamkan’.” (QS Ad-Dukhan : 23-24)Nabi Musa pun tidak jadi memukulkan tongkatnya dan membiarkan lautannya tetap terbuka. Akhirnya dalam keadaan laut yang masih terbelah, Firaun pun melanjutkan pengejarannya terhadap Nabi Musa setelah sebelumnya ia ragu, namun Fir’aun terpaksa menyabarkan dirinya di hadapan para pembesarnya -ia jaga gengsi- setelah itu ia meyakinkan pasukannya untuk masuk menyeberangi lautan. Namun ketika Firaun dan pasukannya seluruhnya telah berada di tengah laut, Nabi Musa pun memukulkan tongkatnya. Laut pun tertutup kembali atas izin Allah dan Allah membinasakan mereka semua. (lihat Tafsir Ibnu Katsir 4/254)Allah menggunakan ibarat صَبَّ “menuangkan” sebagai kiasan seperti tertuangnya air yang terus menerus kepada seseorang yang sedang mandi dan sebagaimana air hujan yang tertuangkan ke atas muka bumi. Yang hal ini menunjukan bahwa adzab yang menimpa mereka sekali tahapan saja, cepat, dan datang dengan tiba-tiba. Kaum ‘Aad melihat angin seperti awan dan menyangka itu adalah karunia ternyata adzab. Kaum Tsamud tidak tahu adzab apa yang akan menimpa mereka ternyata suara yang sangat keras yang mencabut nyawa mereka. Fir’aun dan bala tentaranya masuk di tengah lautan yang terbuka dan tidak menduga ternyata lautan tersebut tiba-tiba menenggelamkan mereka. (Lihat At-Tahriir wa At-Tanwiir 30/322)Kemudian Allah berfirman:إِنَّ رَبَّكَ لَبِالْمِرْصَادِ“Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mengawasi” Ini adalah peringatan terhadap kaum musyrikin Arab agar tidak sombong dan angkuh yang bisa menjadi penyebab ditimpakannya adzab Allah di dunia sebelum di akhirat. Allah mengingatkan mereka akan kejadian yang menimpa kaum ‘Ad, kaum Tsamud, Firaun dan bala tentaranya karena kesombongan mereka. Karena Allah mengawasi amal perbuatan mereka, kekufuran dan kesombongan mereka, tidak ada satu amalan merekapun yang luput dari pengawasan Allah (lihat Fathul Qodiir 5/531)Kemudian Allah menyebutkan sifat orang-orang kafir, Allah berfirman:فَأَمَّا الْإِنسَانُ إِذَا مَا ابْتَلَاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ“Maka adapun manusia apabila Tuhan mengujinya lalu memuliakannya dan memberinya kesenangan, maka dia berkata, ‘Tuhanku telah memuliakanku’” وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلَاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ“Namun apabila Tuhan mengujinya lalu membatasi rezekinya, maka dia berkata, ‘Tuhanku telah menghinakanku’”Para ulama memberikan kaedah, jika disebutkan kata الْإِنسَانُ di dalam surat makiyyah maka itu maksudnya adalah orang kafir, kecuali ada dalil yang memalingkannya. Bahkan sebagian ahli tafsir menyatakan bahwa kedua ayat ini turun tentang Umayyah bin Kholaf al-Jumahi (Lihat Tafsir As-Sm’aani 6/221)Dua ayat ini adalah gambaran pola pikir orang kafir, jika diberi rezeki mereka merasa dimuliakan tetapi jika rezekinya disempitkan mereka merasa dihinakan. Mereka menjadikan barometer pemuliaan dan penghinaan pada harta. Adapun orang beriman tidaklah demikian, orang beriman akan merasa dimuliakan jika diberi taufik untuk beribadah kepada Allah. Mereka menjadikan barometer pemuliaan dengan ketaatan dan barometer penghinaan dengan kemaksiatan. (Lihat Tafsir As-Sama’aani 6/221 dan Tafsir Al-Qurthubi 8/421) Jika dia rajin shalat, rajin bershadaqah, rajin beribadah, itu artinya Allah memuliakannya. Namun jika dia malas beribadah, maka Allah telah menghinakan dia. Dan demikianlah musibah yang sebenarnya, tatkala seseorang terjauhkan dari ketaatan kepada Allah. Oleh karena itu, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam berdoa:وَلَا تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِي دِينِنَا“Ya Allah, Janganlah Engkau jadikan musibah yang menimpa kami dalam urusan agama kami.” (HR Tirmidzi no.3502)Kemudian Allah berfirman:كَلَّا ۖ بَل لَّا تُكْرِمُونَ الْيَتِيمَ“Sekali-kali tidak! Bahkan kamu tidak memuliakan anak yatim”“Sekali-kali tidak!”, yaitu Allah membantah cara berpikir orang kafir bahwasanya kalau kaya dimuliakan, kalau miskin dihinakan. Karena harta bukanlah ukuran kemuliaan dan kehinaan. Seseorang itu bisa mulia baik dia kaya maupun miskin. Sebagaimana apa yang ada pada para Nabi, diantara mereka ada yang kaya ada pula yang miskin, namun itu tidak mempengaruhi kadar kemuliaan mereka. Diantara sahabat ada pula yang kaya dan ada juga yang miskin, namun itu semua tidak mengurangi status mereka sebagai pendamping Nabi. Akan tetapi seseorang bisa mulia dengan keimanan dan ketakwaan, adapun hartanya dia gunakan sebagai sarana untuk bertakwa bukan menjadi tujuan.Cara berpikir demikian adalah cara berpikir orang kafir, kemuliaan dan kehinaan berdasarkan harta. Sehingga mereka tidak memuliakan anak-anak yatim. Karena tujuan mereka adalah dunia dan dunia. Jika mereka bersedekah maka hartanya akan berkurang, jika hartanya berkurang maka kemuliaannya akan berkurang. Atau bahkan mereka karena tamaknya dengan dunia yang dianggap sebagai barometer kemuliaan sehingga mereka memakan harta anak yatim.[1]Allah berfirman:وَلَا تَحَاضُّونَ عَلَىٰ طَعَامِ الْمِسْكِينِ“Dan kamu tidak saling mengajak memberi makan orang miskin”Demikianlah keadaan orang kafir, tidak ada keinginan untuk saling memotivasi agar memberi makan fakir miskin. Karena mereka adalah orang pelit yang tujuannya hanyalah dunia.وَتَأْكُلُونَ التُّرَاثَ أَكْلًا لَّمًّا“Sedangkan kamu memakan harta warisan dengan cara mencampurbaurkan (yang halal dan yang haram)”Ibnu Az-Zaid berkata :الْأَكْلُ اللَّمُّ الَّذِي يَأْكُلُ كُلَّ شَيْءٍ يَجِدُهُ، لَا يَسْأَلُ عَنْهُ أَحَلَالٌ هُوَ أَمْ حَرَامٌ؟ وَيَأْكُلُ الَّذِي لَهُ وَلِغَيْرِهِ“أَكْلًا لَّمًّا yaitu yang memakan segala sesuatu yang ia dapati, ia tidak bertanya tentang harta yang ia dapati (di tangannya) apakah halal ataukah haram. Ia juga memakan miliknya dan milik orang lain” (Tafsir Al-Qurthubi 8/422)Demikianlah keadaan orang kafir, tidak peduli yang penting dapat uang yang berlimpah. Baik dengan cara yang benar atau cara yang bathil. Kata mereka, harta yang halal adalah harta yang di tangan, harta yang haram adalah harta yang tidak ada di tangan. Semua harta yang sampai di tangan bagaimana pun caranya maka itu halal. Mereka memakan harta warisan yang bukan hak mereka, ini semua karena tamak terhadap dunia.وَتُحِبُّونَ الْمَالَ حُبًّا جَمًّا“Dan kamu mencintai harta dengan kecintaan yang berlebihan”Ini adalah sifat-sifat umum pada orang kafir, dan demikian pula sifat manusia secara asalnya yaitu mencintai harta. Terlebih harta tersebut diraih dengan susah payah, dengan membanting tulang, dengan mengeluarkan keringat, kemudian setelah mendapatkannya lalu diperintahkan untuk diinfakkan, maka itu adalah hal yang sangat berat. Padahal harta tersebut tidak akan dibawa mati, hakikat harta kita adalah yang diinfakkan. Dalam suatu hadits tatkala disembelih seekor kambing kemudian Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam menyuruh istri-istrinya untuk membagikan (daging) kambing tersebut kepada orang lain. Maka setelah dibagikan (daging) kambing tersebut Nabi bertanya kepada ‘Aisyah:مَا بَقِيَ مِنْهَا؟ قَالَتْ مَا بَقِيَ مِنْهَا إِلَّا كَتِفُهَا قَالَ بَقِيَ كُلُّهَا غَيْرَ كَتِفِهَا“Wahai ‘Aisyah, bagian mana dari kambing tersebut yang masih tersisa?” Maka ‘Aisyah berkata: “Tidak ada yang tersisa kecuali hanya bagian pundak dari kambing.” Maka Nabi mengatakan: “Seluruh kambing tersisa kecuali pundak yang tersisa.” (HR. Tirmidzi no. 2470)Artinya adalah semua yang sudah dibagikan itulah yang tersisa di akhirat, sedangkan yang yang belum dibagikan itu yang tidak tersisa di akhirat. Kalau kita ingin menabung yang pasti aman dan pasti tersisa maka menabunglah dengan cara bershadaqah.Kemudian Allah berfirman:كَلَّا إِذَا دُكَّتِ الْأَرْضُ دَكًّا دَكًّا“Sekali-kali tidak! Apabila bumi diguncangkan berturut-turut (berbenturan)”وَجَاءَ رَبُّكَ وَالْمَلَكُ صَفًّا صَفًّا“Dan datanglah Tuhanmu sedang malaikat berbaris-baris”Kata para ulama, Allah akan datang ketika melaksanakan persidangan. Dan kejadian ini terjadi setelah semua manusia berkumpul di padang mahsyar di bawah matahari yang berjarak hanya 1 mil dari kepala mereka dan berlangsung dalam waktu yang sangat lama. Persidangan akan ditegakkan setelah Allah mengabulkan syafaat udzma dari Nabi Muhammad shalallahu ‘alayhi wa sallam. Kemudian datanglah Allah untuk melakukan persidangan terhadap seluruh manusia.Kemudian Allah berfirman:وَجِيءَ يَوْمَئِذٍ بِجَهَنَّمَ ۚ يَوْمَئِذٍ يَتَذَكَّرُ الْإِنسَانُ وَأَنَّىٰ لَهُ الذِّكْرَىٰ“Dan pada hari itu diperlihatkan Neraka Jahannam. Pada hari itu sadarlah manusia, tetapi tidak berguna lagi baginya kesadaran itu”Setelah hari perhitungan dan penimbangan, didatangkanlah neraka jahannam. Dalam suatu hadist, dari Abdullah bin Mas’ud dia berkata, Rasulullah bersabda:يُؤْتَى بِجَهَنَّمَ يَوْمَئِذٍ لَها سَبْعُوْنَ أَلْفِ زَمامٍ، مَعَ كُلِّ زَمامٍ سَبْعُوْنَ أَلْفِ مَلَكٍ يَجُرُّوْنَها“Jahannam akan didatangkan pada hari itu dan dia mempunyai 70.000 tali kekang, dan setiap tali kekang akan ditarik oleh 70.000 malaikat.” (HR. Muslim no. 2842)Hadist ini menunjukkan bahwa neraka jahannam itu sangat besar, sampai-sampai membutuhkan 4 milyar 900 juta malaikat untuk menariknya, dan masing-masing ukuran malaikat tidak ada yang mengetahui besarnya kecuali Allah. Bahkan neraka jahannam selalu meminta agar ditambahkan penghuni ke dalamnya. Allah berfirman tentang perkataan neraka jahannam:يَوْمَ نَقُولُ لِجَهَنَّمَ هَلِ امْتَلَأْتِ وَتَقُولُ هَلْ مِن مَّزِيدٍ“(Ingatlah) pada hari (ketika) Kami bertanya kepada Jahannam, ‘Apakah kamu sudah penuh?’ Ia menjawab, ‘Masih adakah tambahan?’” (QS Qaf : 30)Ini karena saking begitu luasnya neraka jahannam itu. Dan neraka jahannam nanti bisa melihat dan berbicara, neraka jahannam marah dan ingin segera menelan calon penghuninya. Allah berfirman:إِذَا رَأَتْهُم مِّن مَّكَانٍ بَعِيدٍ سَمِعُوا لَهَا تَغَيُّظًا وَزَفِيرًا“Apabila ia (neraka) melihat mereka dari tempat yang jauh, mereka mendengar suaranya yang gemuruh karena marahnya.” (QS Al-Furqan : 12)Kemudian Allah berfirman:يَقُولُ يَا لَيْتَنِي قَدَّمْتُ لِحَيَاتِي“Dia mengatakan, ‘Alangkah baiknya sekiranya dahulu aku mengerjakan (kebajikan) untuk hidupku ini’”Maka pada hari tersebut setiap manusia akan mengingat seluruh perbuatan berupa kebaikan dan keburukan yang pernah dia lakukan. Namun mengingat itu semua tiada berguna lagi, yang bersisa hanyalah penyesalan. Bahkan para ulama berkata bahwasanya yang menyesal bukan hanya orang-orang yang diadzab tetapi termasuk orang-orang mukmin, dia merasa ibadah-ibadah yang dia kerjakan kurang banyak.Ibnu Katsir berkata -:يَقُولُ يَا لَيْتَنِي قَدَّمْتُ لِحَيَاتِي: يَعْنِي يَنْدَمُ عَلَى مَا كَانَ سَلَفَ مِنْهُ مِنَ الْمَعَاصِي -إِنْ كَانَ عَاصِيًا-وَيَوَدُّ لَوْ كَانَ ازْدَادَ مِنَ الطَّاعَاتِ -إِنْ كَانَ طَائِعًا“Firman Allah : (Dia mengatakan, ‘Alangkah baiknya sekiranya dahulu aku mengerjakan (kebajikan) untuk hidupku ini’) yaitu dia menyesal atas apa yang dulu ia kerjakan (di dunia), kalau ia seorang pelaku maksiat maka ia menyesali kemaksiatan-kemaksiatan yang pernah ia lakukan. Jika ia seorang yang ta’at maka ia berangan-angan kalau seandainya ia menambah ketaatannya” (Tafsir Ibnu Katsir 8/389)Muhammad bin Abi Úmairoh radhiallahu ánhu berkata :لَوْ أَنَّ عَبْدًا خَرَّ عَلَى وَجْهِهِ مِنْ يَوْمِ وُلِدَ، إِلَى أَنْ يَمُوتَ هَرَمًا فِي طَاعَةِ اللهِ، لَحَقَّرَهُ ذَلِكَ الْيَوْمَ، وَلَوَدَّ أَنَّهُ رُدَّ إِلَى الدُّنْيَا كَيْمَا يَزْدَادَ مِنَ الْأَجْرِ وَالثَّوَابِ“Jika seorang hamba tersungkur di atas wajahnya sejak lahir hingga meninggal karena menghabiskan waktu dalam ketaatan kepada Allah maka pada hari itu ia akan merasa sedikit amal perbuatannya, dan sungguh ia akan berangan-angan seandainya ia dikembalikan lagi ke dunia agar ia bisa menambah pahala dan ganjaran”(Atsar riwayat al-Imam Ahmad dalam musnadnya no 17650 dengan sanad yang shahih)Orang-orang kafir sejak dimasukkan ke kuburan sudah menyesal, kemudian diperlihatkan neraka jahannam mereka semakin menyesal, dan ketika dimasukkan ke dalam neraka jahannam maka penyesalannya semakin bertambah lagi, namun penyesalan tersebut tidak ada faiedahnya lagi. Allah berfirman tentang penyesalan mereka:وَهُمْ يَصْطَرِخُونَ فِيهَا رَبَّنَا أَخْرِجْنَا نَعْمَلْ صَالِحًا غَيْرَ الَّذِي كُنَّا نَعْمَلُ ۚ“Dan mereka berteriak di dalam neraka itu, ‘Ya Tuhan kami,, keluarkanlah kami (dari neraka), niscaya kami akan mengerjakan kebajikan, yang berlainan dengan yang telah kami kerjakan dahulu.’” (QS Fathir : 37)Kemudian Allah berfirman:فَيَوْمَئِذٍ لَّا يُعَذِّبُ عَذَابَهُ أَحَدٌ“Maka pada hari itu tidak ada seorang pun yang mengadzab seperti adzab-Nya (yang adil)”Karena adzabnya Allah sangat pedih, tidak ada yang sanggup menyamainya. As-Smaáani berkata :لَا يُعَذِّبُ أَحَدٌ فِي الدُّنْيَا بِمثل مَا يُعَذِّبُهُ اللهُ فِي الْآخِرَة“Tidak seorangpun di dunia yang menyiksa seperti siksaan Allah di akhirat”(Tafsir As-Samáani 6/223)وَلَا يُوثِقُ وَثَاقَهُ أَحَدٌ“Dan tidak ada seorang pun yang mengikat (dengan belenggu-belenggu di neraka jahnnam) seperti ikatan-Nya”Kedua ayat di atas juga dalam qiroáh yang lain dengan memfathah yaitu (فَيَوْمَئِذٍ لَّا يُعَذَّبُ عَذَابَهُ أَحَدٌ) dan (وَلَا يُوثَقُ وَثَاقَهُ أَحَدٌ) yang artinya : “Tidak ada seorangpun yang disiksa seperti siksaannya (yaitu si kafir) dan tidak seorangpun yang dibelenggu seperti dibelenggunya (si kafir)” (lihat Tafsir As-Smaáani 6/223)Kemudian Allah menyebutkan tentang orang-orang beriman, Allah berfirman:يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ“Wahai jiwa yang tenang!”Yaitu yang tenang dengan keimanannya kepada Allah beserta hari pembalasan-Nya, yang yakin dengan janji Allah akan pahala dan ganjaran pada hari akhirat, yang tidak terbelenggu dengan ketamakan dunia (lihat Tafsir al-Qurthubi 20/57)Ada pula yang berpendapat bahwa ini adalah perkataan malaikat kepada orang-orang beriman tatkala akan meninggal dunia.ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً“Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai-Nya”ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ  “Kepada Rabbmu”yaitu “kepada Tuhanmu”, maksudnya adalah menuju surga, sebagaimana firman Allah :إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي جَنَّاتٍ وَنَهَرٍ (54) فِي مَقْعَدِ صِدْقٍ عِنْدَ مَلِيكٍ مُقْتَدِرٍ (55)“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa di dalam taman-taman (surga) dan sungai-sungai, di tempat yang disenangi di sisi Tuhan Yang Berkuasa”(QS Al-Qomar 54-55)Yang hal ini dicuapkan oleh malaikat kepada ruh orang beriman tatkal akan meninggal dunia dengan memberi kabar gembira kepadanya tentang surga.Dan ada yang berpendapat bahwa yang dimaksud dengan “Kepada Rabbmu”yaitu “Kepada Pemilimmu wahai ruuh, yaitu jasadmu”, yang ini diucapkan ketika hari kebangkitan ketika ruh-ruh dikembalikan kepada jasad (Lihat At-Tahriir wa At-Tanwiir 30/342)رَاضِيَةً Yaitu dengan hati yang ridho dan senang dengan pahala dan ganjaran yang Allah berikan kepadanya. Karena semua yang ia cita-citakan dan impikan terwujudkan pada hari itu. Dan مَّرْضِيَّةً (diridhoiNya) yaitu tambahan pujian kepada jiwa tersebut disertai penekanan akan tambahan karunia dan ganjaran kepadanya. Karena bukan sekedar dia yang senang bahkan Robbnya juga rido kepadanya dan akan memberi tambahan ganjaran kepadanya (lihat At-Tahriir wa at-Tanwiir 30/343)فَادْخُلِي فِي عِبَادِي“Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku”Yaitu hamba-hambaKu sholihin. Kata para ulama, ini adalah kabar gembira bagi para penghuni surga bahwasanya dia tidak masuk surga sendiri.وَادْخُلِي جَنَّتِي“Dan masuklah ke dalam surga-Ku”Sebelumnya Allah menggunakan dhomir al-ghoib (kata ganti orang ketiga) maka pada ayat ini Allah menggunakan dhomir al-mutakallim (kata ganti orang pertama) sebagai bentuk tambahan pemuliaan.Allah juga tidak berkata فَادْخُلِي جَنَّتِي فِي عِبَادِي “Masuklah surga bersama hamba-hambaKu”, akan tetapi Allah mengkhususkan penyebutan sang jiwa secara sendirian dengan berkata وَادْخُلِي جَنَّتِي “Masuklah engkau ke surgaKu” agar menambah kebahagiaannya, seakan-akan ia sangat spesial dengan mendapat perhatian khusus (lihat At-Tahriir wa at-Tanwiir 30/344)[1] Ada dua pendapat ulama tentang makna “tidak memuliakan anak yatim”, yaitu (1) tidak berbuat baik kepada mereka dan (2) memakan harta mereka (lihat Tafsir As-Sam’aani 6/221)
Tafsir Surat Al–FajrOleh: DR. Firanda Andirja, Lc. MA.Surat Al-Fajr adalah surat makiyyah, dilihat dari isi surat tersebut. Karena diantara ciri-ciri surat makiyyah selain karena diturunkan sebelum Nabi berhjirah ke Madinah adalah pada umumnya surat-surat makiyyah terdiri dari ayat-ayat yang pendek. Sebagaimana rangkaian-rangkaian ayat dari surat Al-Fajr. Berbeda dengan surat madaniyyah, pada umumnya terdiri dari ayat-ayat yang panjang. Ciri lainnya adalah dilihat dari topik pembahasannya yang berbicara tentang adanya hari kebangkitan, hari kiamat, adanya penghuni neraka jahannam dan penghuni surga yang mana merupakan ciri-ciri surat makiyyah. Selain itu surat Al-Fajr berkaitan dengan surat sebelumnya yaitu surat Al-Ghasyiyah, dimana surat Al-Ghasyiyah berbicara tentang ancaman untuk orang kafir kemudian Al-Fajr berbicara tentang siksaan untuk orang kafir.Allah berfirman pada permulaan surat:وَالْفَجْرِ“Demi fajar”Ada dua pendapat di kalangan para ulama tentang makna al-fajr. Pendapat pertama, al-fajr adalah waktu dimana gelapnya malam mulai sirna diganti dengan cahaya yang perlahan mulai keluar yang dikenal dengan waktu shubuh. Allah bersumpah dengan al-fajr karena merupakan waktu yang sangat penting.Pendapat kedua, maksud Allah bersumpah demi waktu fajar adalah demi shalat fajar yaitu shalat subuh. Allah bersumpah dengan shalat shubuh karena shalat shubuh merupakan shalat yang sangat penting yang sering dilalaikan oleh banyak kaum muslimin. Oleh karena itu, Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:مَنْ صَلَّى الصُّبْحَ فَهُوَ فِي ذِمَّةِ اللهِ“Barangsiapa yang shalat shubuh (secara berjamaah) maka dia di bawah penjagaan Allah.” (HR Muslim no. 657)Dalam hadist yang lain Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:مَنْ صَلَّى البَرْدَيْنِ دَخَلَ الجَنَّةَ“Barangsiapa yang shalat di dua waktu yang dingin niscaya masuk surga.” (HR Bukhari no. 574 dan Muslim no. 635)Kata para ulama, البَرْدَيْنِ  adalah shalat shubuh dan shalat ashar. Dikatakan shalat yang dingin karena shubuh merupakan awal dari hari dan udaranya masih dingin, sedangkan ashar waktu peralihan dari siang ke malam, perlahan-lahan panasnya siang beralih menjadi dinginnya malam.Al-Khotthoobi berkata :وَإِنَّمَا قِيْلَ لَهُمَا: بَرْدَانِ، وَأَبْرَدَانِ لِطِيْبِ الْهَوَاءِ، وَبَرْدِهِ فِى هَذَيْنِ الْوَقْتَيْنِ“Hanyalah sholat Ashar dan shalat Subuh dikatan “dua yang dingin” karena udaranya yang baik dan sejuk di kedua waktu ini” (Syarh Shahih Al-Bukhari, Ibnu Batthool 2/199)Rasulullah menjanjikan surga karena dua shalat inilah yang sering dilalaikan oleh kaum muslimin. Shalat shubuh terlalaikan karena banyak orang yang tenggelam dalam nikmatnya tidur, sedangkan shalat ashar terlalaikan karena kebanyakan orang letih setelah bekerja sepanjang hari lalu tidur dan melewatkan shalat ashar. Atau karena sebagian orang di waktu ashar masih saja sibuk bekerja dan mengurus dunia sehingga terlewatkan sholat ashar (lihat Ihkaamul Ahkaam, Ibnu Ad-Daqiiq 1/172)Hal ini sebagaimana sabda Nabi :إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ رَبَّكُمْ، كَمَا تَرَوْنَ هَذَا القَمَرَ، لاَ تُضَامُّونَ فِي رُؤْيَتِهِ، فَإِنِ اسْتَطَعْتُمْ أَنْ لاَ تُغْلَبُوا عَلَى صَلاَةٍ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ غُرُوبِهَا فَافْعَلُوا“Sesungguhnya kalian akan melihat Rabb kalian sebagaimana kalian melihat bulan ini, kalian tidak berdesak-desakan dalam melihatNya. Maka jika kalian mampu untuk tidak terlewatkan dalam melaksanakan sholat sebelum terbit matahari (yaitu sholat subuh) dan sholat sebelum terbenam matahari (yaitu sholat ashar) maka lakukanlah”(HR Al-Bukhari no 554 dan Muslim no 633)Sehingga dari sini sebagian ulama memilih pendapat bahwasanya Allah bersumpah dengan shalat fajar karena shalat lah yang harus diperhatikan. Kedua pendapat ini kuat tetapi pendapat yang lebih kuat adalah Allah bersumpah dengan waktu fajar itu sendiri (lihat Tafsir Ibnu Katsir 8/381 dan Fathul Qodiir 5/526). Sebagaimana Allah banyak bersumpah dengan waktu-waktu, hal ini banyak dijumpai pada permulaan surat-surat di Juz ‘Amma.Sebagian ulama memberikan alasan mengapa Allah besumpah dengan waktu fajar. Diantaranya :Karena Allah ingin menunjukan bahwa hanya Allahlah yang mengatur alam semesta ini, tidak ada yang bias mendatangkan fajar kecuali Allah. Allah menghilangkan kegelapan malam dengan memunculkan fajar, ini menunjukan kesempurnaan Allah dan hanya Allahlah yang berhak untuk disembah (Taisiir Al-Kariim Ar-Rahman hal 923)Karena subuh merupakan awal dari kegiatan dan terlepasnya seseorang dari tidur yang merupakan kematian kecil (At-Tahriir wa At-Tanwiir 30/313)Karena ada hukum syarí yang dibangun di atas fajar, diantaranya awal puasa (wajibnya imsaak) dimulai dengan terbitnya fajar, dan waktu sholat subuh juga dimulai dengan terbitnya fajar (Tafsir Juz Ámma, Ibnu al-Útsaimin hal 187)Karena Allah ingin membantah orang-orang kafir Quraisy yang mengingkari adanya hari kebangkitan (sebagaimana isi surat Al-Fajr). Seakan-akan Allah ingin menyampaikan kepada mereka kesamaan antara waktu fajar dengan keadaan manusia kelak. Waktu fajar adalah waktu dimana hilangnya malam kemudian terbitlah cahaya. Demikianlah manusia akan mati tetapi Allah mampu untuk membangkitkannya kembali dari kegelapan, dari kematian menuju kehidupan yang baru yaitu kehidupan akhirat yang kekal abadi. Sebagaimana malam-malam yang hilang akan digantikan dengan cahaya yang sebelumnya tidak ada.Kemudian Allah berfirman:وَلَيَالٍ عَشْرٍ“Demi malam-malam yang sepuluh” Terkait makna ‘malam-malam yang sepuluh’, ulama juga terbagi ke dalam dua pendapat. Pendapat pertama sekaligus pendapat mayoritas bahwa malam-malam yang dimaksudkan adalah hari-hari 10 Dzulhijjah. Dan dalam bahasa Arab terkadang ”hari” disebut dengan malam (lihat Tafsir Juz Ámma, Ibnu al-Útsaimin hal 188)Pendapat kedua bahwa yang dimaksudkan adalah 10 malam terakhir di bulan Ramadhan. Allah bersumpah dengan 10 malam terakhir bulan ramadhan karena malam-malam tersebut adalah malam yang mulia, diantaranya ada malam lailatul qadar yang lebih baik dari seribu bulan. Yang menguatkan pendapat ini adalah Allah menyebut dalam ayat ini lafal “lail”yang artinya secara asal bahasa Arab adalah malam dan bukan siang atau hari. (dan inilah pendapat yang dirajihkan oleh Ibnu al-Útsaimin)Adapun pendapat jumhur (dan inilah pendapat yang dipilih oleh At-Thobari dalam tafsirnya 24/348) yaitu 10 hari Dzulhijjah, Allah bersumpah dengannya karena amalan yang dilakukan pada 10 hari Dzulhijjah adalah amalan yang sangat dicintai oleh Allah. Dalam suatu hadist Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهِا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ عَزَّوَجَلَّ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ، يَعْنِيْ أَيَّامَ الْعَشْرِ، قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ ؟ قَالَ: “وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَىْءٍ“Tidak ada hari-hari dimana suatu amal shalih lebih di cintai Allah melebihi amal shalih yang dilakukan di hari-hari ini (yakni sepuluh hari pertama Dzulhijjah)”. Para sahabat bertanya,”Wahai Rasulullah, termasuk lebih utama dari jihad di jalan Allah?” Nabi ٍShallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Termasuk lebih utama dibanding jihad di jalan Allah, kecuali orang yang keluar dengan jiwa dan hartanya (kemedan jihad) dan dia tidak kembali dengan apapun sama sekali (yaitu jiwanya tidak kembali yaitu dia mati syahid dan hartanya juga tidak kembali karena dirampas musuh-pen).” (HR Bukhari no. 969)Sama saja apakah kita menguatkan pendapat pertama atau pendapat kedua maka keduanya (baik 10 hari pertama Dzulhijjah atau 10 malam terakhir Ramadhan) adalah waktu yang agung untuk beribadah dan meraih pahala sebanyak-banyaknya. Kita jumpai sebagian besar kaum muslimin -terutama di tanah air- memusatkan konsentrasi mereka pada 10 malam terakhir Ramadhan, namun banyak diantara mereka kurang memperhatikan 10 hari Dzulhijjah, padahal keutamaan 10 hari Dzulhijjah besar sebagaimana dalam hadits sebelumnya. Oleh karena itu, ketika memasuki bulan Dzulhijjah maka hendaknya kita memperbanyak ibadah kepada Allah dengan ibadah apa saja, mulai dari shalat, puasa, dzikir, baca Al-Quran, sedekah, dan lain-lainnya.Kemudian Allah berfirman:وَالشَّفْعِ وَالْوَتْرِ“Demi yang genap dan yang ganjil”Dalam qiroat yang lain dengan mengkasroh huruf وِ yaitu وَالْوِتْرِ. Pendapat yang kuat dalam masalah ini adalah Allah bersumpah dengan segala sesuatu yang genap dan segala sesuatu yang ganjil. Dan ini merupakan pendapat yang dipilih oleh At-Thobari dalam tafsirnya (Tafsir At-Thobari 24/355). Karenanya dijumpai banyak pendapat dari kalangan salaf yang menyebutkan tentang makna genap dan ganjil.Diantara pendapat dari kalangan para ahli tafsir masa salaf adalah Allah bersumpah dengan shalat-shalat yang rakaatnya genap yaitu shalat dhuhur, shalat ashar, shalat isya’, dan shalat shubuh, dan Allah bersumpah dengan shalat rakaatnya ganjil yaitu shalat maghrib.Ada juga pendapat yang mengatakan bahwa genap adalah yaumun nahr yang jatuh pada tanggal 10 Dzulhijjah merupakan tanggal yang genap, dan ganjil adalah hari arafah yang jatuh pada tanggal 9 Dzulhijjah merupakan tanggal yang ganjil.Ada pula yang mengatakan bahwa genap adalah seluruh makhluk sedangkan ganjil maksudnya Allah (lihst Tafsir At-Thobari 24/350) Karena dalam sebuah hadist, Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:إِنَّ اللَّهَ وِتْرٌ يُحِبُّ الْوِتْرَ“Sesungguhnya Allah itu Witr (yaitu Maha Esa) dan menyukai yang witr (ganjil).” (HR Bukhari no. 6410 dan Muslim no. 2677)Sedangkan makhluk Allah diciptakan dalam keadaan genap yaitu berpasang-pasangan. Allah berfirman :وَمِنْ كُلِّ شَيْءٍ خَلَقْنَا زَوْجَيْنِ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ“Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kalian mengingat kebesaran Allah” (QS Adz-Dzariyaat : 49)وَخَلَقْنَاكُمْ أَزْوَاجًا“Dan Kami menciptakan kalian berpasang-pasangan”(QS An-Naba’: 8)Sebagaimana yang bisa disaksikan di alam semesta ini semuanya berpasang-pasangan, ada kematian ada kehidupan, ada buta ada melihat, ada atas bawah, ada jantan ada betina, ada positif ada negatif, ada iman dan kufur, ada petunjuk dan kesesatan, ada Iblis dan Jibril, dll. Adapun Allah maka Dia Ada tanpa membutuhkan pasangan.Kemudian Allah berfirman:وَاللَّيْلِ إِذَا يَسْرِ“Demi malam apabila berlalu”يَسْرِ dalam bahasa arab mempunyai dua kemungkinan makna. Bisa bermakna أَقْبَلَ الَّيْلُ yang artinya malam yang datang, bisa bermakna الَّيْلُ أَدْبَرَ artinya malam yang pergi  (lihat Tafsir al-Baghowi 8/417). Namun sebagian ulama merajihkan pendapat yang mengatakan bahwa yang dimaksudkan adalah malam apabila datang. Alasan mereka adalah karena di ayat pertama Allah telah bersumpah dengan waktu fajar yang berarti malam pergi kemudian disusul dengan datangnya cahaya. Sebaliknya pada ayat ini Allah bersumpah dengan waktu tatkala cahaya pergi disusul dengan datangnya malam.Sebagian ulama berpendapat bahwa yang dimaksud dengan “malam”di sini adalah malam khusus yaitu malam Muzdalifah. Ini adalah pendapat ulama yang memandang bahwa sumpah-sumpah di awal surat al-Fajar semuanya berkaitan dengan manasik haji. “Demi fajar” maksudnya adalah “fajar hari Nahar 10 Dzulhijjah”, demi “malam-malam yang sepuluh” maksudnya “10 hari Dzulhijjah”, “Demi yang genap dan yang ganjil” maksudnya adalah hari Nahar (10 Dzulhijjah) dan hari Árofah (9 Dzulhijjah), “Demi malam yang berlalu”maksudnya adalah “malam Muzdalifah”. Namun al-Qurthubi berpendapat bahwa yang dimaksud dengan malam dalam ayat ini adalah bersifat umum bukan khusus malam Muzdalifah saja (Lihat Tafsir al-Qurthubi 20/42)Kemudian Allah berfirman:هَلْ فِي ذَٰلِكَ قَسَمٌ لِّذِي حِجْرٍ“Adakah pada yang demikian itu terdapat sumpah (yang dapat diterima) bagi orang-orang yang berakal?”ذِيْ حِجْرٍ yaitu ذِيْ عَقْلٍ yang memiliki akal (Lihat Tafsir At-Thobari 24/3580. حِجْرٍ artinya membatasi, karena seseorang yang menjaga akalnya akan terbatasi dari melakukan hal-hal yang buruk dengan akalnya (lihat Tafsir al-Baghowi 8/417). Disebut juga  عِقَالٌ yang artinya menahan, karena akal yang benar akan menahan seseorang dari perbuatan yang buruk dan dari melakukan perbuatan-perbuatan yang tercela dan tidak senonoh.Dari empat ayat ini, Allah bersumpah dengan 5 perkara, وَالْفَجْرِ, وَلَيَالٍ عَشْرٍ, وَالشَّفْعِ, وَالْوَتْرِ, وَاللَّيْلِ إِذَا يَسْرِ. Namun Allah tidak menyebutkan Allah bersumpah untuk apa (al-muqsam ‘alaih). Kata para ulama, hal tersebut karena perkara yang ingin Allah tekankan telah dimaklumi. Seakan-akan Allah ingin mengatakan, “Demi fajar, sungguh kalian wahai kaum musyirkin benar-benar akan diadzab.” Karena surat Al-Fajr diturunkan berkaitan dengan orang-orang Quraisy Makkah yang mengingkari hari kebangkitan dan hari pembasalan. Karenanya setelah itu Allah menceritakan tentang kaum-kaum yang dibinasakan oleh Allah. (lihat Tafsir al-Baidhoowi 5/309)Di akhir-akhir surat Al-Ghasyiyah Allah mengancam orang-orang kafir dengan adzab dan siksaan-Nya. Lalu pada surat Al-Fajr Allah menceritakan beberapa kaum yang dibinasakan oleh Allah, seakan-akan Allah ingin mengabarkan kepada kaum musyrikin Arab bahwa ada kaum yang lebih hebat dari mereka tetapi Allah membinasakannya. Allah menyebutkan tentang tiga kaum, Pertama kaum ‘Ad, kedua kaum Tsamud, ketiga Firaun dan kaumnya.Kaum ‘Ad dan kaum Tsamud adalah bangsa yang dahulunya tinggal di jazirah arab. Kaum ‘Ad tinggal di daerah selatan Jazirah Arab di al-Ahqoof, letaknya di Yaman antara Óman dan Hadromaut (lihat Tafsir Ibnu Katsir 3/390). Sekarang yang bersisa tinggal gurun pasir, rumah-rumah mereka telah tertutupi dengan padang pasir. Adapun kaum Tsamud (kaum Nabi Shalih) sampai sekarang masih ada bekas-bekas peninggalan mereka. Kaum ‘Ad dan kaum Tsamud termasuk Arab Ba’idah yaitu bangsa arab kuno yang telah dimusnahkan oleh Allah. Sehingga berita tentang mereka telah diketahui oleh orang-orang kafir Quraisy bahwasanya mereka adalah kaum-kaum yang  hebat.Adapun berita tentang Firaun dan bagaimana ia dibinasakan oleh Allah adalah berita yang masyhur di kalangan orang-orang Yahudi. Sering pula kaum Yahudi menceritakan tentang kisah Nabi Musa dan Firaun karena orang-orang yahudi sangat membanggakan Nabi Musa, sehingga kisah-kisah itu sampai pada tetangganya yaitu kaum musyrikin Arab. Oleh karena itu, Allah hanya menceritakan kisah-kisah yang telah diketahui oleh kaum musyrikin Arab, dua kaum yang berasal dari jazirah Arab itu sendiri dan satunya tentang kaum yang mereka dengar dari Yahudi. Allah menceritakan kaum-kaum yang lebih hebat dari mereka namun karena kesombongan dan kecongkakan, kaum-kaum tersebut dibinasakan oleh Allah dengan ditimpakannya adzab di dunia sebelum adzab di akhirat.Kemudian Allah berfirman tentang kaum ‘Ad:أَلَمْ تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِعَادٍ“Tidakkah engkau (Muhammad) memperhatikan bagaimana Tuhanmu berbuat terhadap (kaum) ‘Aad?”Kaum ‘Aad adalah kaum Arab kuno yang diutus kepada mereka Nabi Hud. Allah berfirman:وَإِلَىٰ عَادٍ أَخَاهُمْ هُودًا ۗ قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُم مِّنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ ۚ أَفَلَا تَتَّقُونَ“Dan kepada kaum ‘Aad (Kami utus) Hud, saudara mereka. Dia berkata, ‘Wahai kaumku! Sembahlah Allah! Tidak ada tuhan (sesembahan) bagimu selain Dia. Maka mengapa kamu tidak bertakwa?’” (QS Al-A’raf : 65)Akan tetapi kaum ‘Ad adalah kaum yang sombong lagi angkuh. Mereka diberi kekuatan oleh Allah tetapi digunakan untuk semakin ingkar kepada Allah. Allah berfirman tentang perkataan Nabi Hud:وَاذْكُرُوا إِذْ جَعَلَكُمْ خُلَفَاءَ مِن بَعْدِ قَوْمِ نُوحٍ وَزَادَكُمْ فِي الْخَلْقِ بَسْطَةً ۖ فَاذْكُرُوا آلَاءَ اللَّهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ“Ingatlah ketika Dia menjadikan kalian sebagai khalifah-khalifah setelah kaum Nuh, dan Dia lebihkan kalian dalam kekuatan tubuh dan perawakan. Maka ingatlah akan nikmat-nikmat Allah agar kalian beruntung.” (QS Al-A’raf : 69)Firman Allah “dan Dia lebihkan kalian dalam kekuatan tubuh dan perawakan” setelah Allah menyebutkan tentang kaum Nuh, menunjukan bahwa Kaum ‘Aad memiliki tubuh yang lebih besar daripada tubuh kaum Nuh. Namun seberapa tingginya ? Wallahu A’lam. Memang dalam sebagian buku tafsir disebutkan bahwasanya tinggi kaum ‘Ad adalah sekitar 300 hasta atau 150 meter. Namun hal ini dibantah oleh para ulama -diantaranya Ibnu Katsir- karena manusia yang paling tinggi adalah Nabi Adam ‘alaihis salam yang memiliki tinggi 60 hasta atau sekitar 30 meter. Kemudian manusia-manusia yang datang setelahnya semakin berkurang tingginya hingga manusia zaman sekarang. Manusia akan kembali ditinggikan sebagaimana Nabi Adam setelah ia memasuki surga.Nabi bersabda :خَلَقَ اللَّهُ آدَمَ وَطُولُهُ سِتُّونَ ذِرَاعًا، … فَكُلُّ مَنْ يَدْخُلُ الجَنَّةَ عَلَى صُورَةِ آدَمَ، فَلَمْ يَزَلِ الخَلْقُ يَنْقُصُ حَتَّى الآنَ“Allah menciptakna Adam tingginya 60 hasta….maka semua yang masuk surga sesuai bentuk Nabi Adam, dan senantiasa manusia berkurang (tingginya) hingga sekarang” (HR Al-Bukhari no 3326 dan Muslim no 2841)Kemudian Allah berfirman:إِرَمَ ذَاتِ الْعِمَادِ“(Yaitu) penduduk Iram yang mempunyai bangunan-bangunan yang tinggi”Terdapat khilaf diantara para ulama tentang makna Iram. Sebagian mengatakan bahwa Iram adalah nama kota yang ditinggali kaum ‘Aad. Sebagian yang lain mengatakan Iram adalah nama kakeknya kaum ‘Aad dan bukan nama kota, sebagaimana pendapat Ibnu Ishaq yang diriwayatkan oleh Ibnu Jarir At-Thabari di dalam tafsirnya dan dinukil oleh Al-Hafidz Ibnu Katsir di dalam tafsirnya. Jadi, ‘Ad adalah suatu kaum yang terdiri atas beberapa kabilah yang kembali pada عادٌ بن إِرَمَ بن عَوَضٍ بن سَامٍ بن نُوْحٍ ‘Aad bin Iram bin ‘Awadl bin Saam bin Nuh, sehingga ada empat generasi dari kaum ‘Ad sampai Nabi Nuh.Ikrimah berkata :كَانَ بَيْنَ آدَمَ وَنُوحٍ عَشْرَةُ قُرُونٍ، كُلُّهُمْ عَلَى الْإِسْلَامِ‘’Antara Adam dan Nuh sepuluh kurun/generasi, semuanya di atas Islam” (Tafsir At-Thobari 23/303)Dan القَرْنُ bias artinya kurun yaitu 100 tahun, dan bisa juga artinya generasi (lihat Qoshosh al-Anbiyaa hal 75), sehingga umur setiap generasi antara Adam dan Nuh tidak ada yang mengetahuinya, karena lama Nabi Nuh saja berdakwah adalah 950 tahun yang ini menunjukan bahwa generasi Nabi Nuh usia mereka lebih dari 950 tahun. Ini menunjukan bisa jadi jarak antara Adam dan Nuh ribuan tahun, dan demikian juga jarak antara Nuh dan Hud (kaum Áad).‘Imaad dalam bahasa Arab artinya tinggi. Para ulama berbeda pendapat tentang yang dimaksudkan dengan tinggi. Pendapat pertama, maksud dari ذَاتِ الْعِمَادِ adalah mereka memiliki tubuh yang tinggi, sebagaimana para ulama sepakat bahwa kaum ‘Aad diberi tubuh yang besar.Pendapat kedua, maksud dari ذَاتِ الْعِمَادِ adalah orang-orang yang tinggal di padang pasir di dalam kemah-kemah yang terbuat dari tiang-tiang yang tinggi. Sehingga secara tidak langsung dapat disimpulkan bahwa tubuh mereka juga tinggi. Jika mereka berpindah tempat maka mereka akan mengangkat kemah-kemah mereka.Pendapat ketiga, maksud dari ذَاتِ الْعِمَادِ adalah kaum yang memiliki tempat tinggal dari bangunan-bangunan yang tinggi. Pendapat ini adalah pendapat terkuat. Adapun pendapat yang menyatakan bahwasanya mereka tinggal di kemah-kemah yang berpindah-pindah maka pendapat ini kurang kuat, karena Allah sebutkan ketika Allah membinasakan mereka dengan mengirimkan angin maka rumah-rumah mereka tetap kokoh.Ketika kaum ‘Ad diberi tubuh yang kuat mereka lantas sombong dan angkuh. Allah berfirman:فَأَمَّا عَادٌ فَاسْتَكْبَرُوا فِي الْأَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَقَالُوا مَنْ أَشَدُّ مِنَّا قُوَّةً ۖ“Maka adapun kaum ‘Ad, mereka menyombongkan diri di bumi tanpa (mengindahkan) kebenaran dan merek berkata, ‘Siapakah yang lebih hebat kekuatannya dari kami?’” (QS Fushshilat : 15)Saking kuatnya sampai-sampai disebutkan dalam sebagian riwayat ahli tafsir, apabila mereka marah kepada suatu kampung, salah seorang dari kaum ‘Ad sanggup menghancurkan kaum tersebut dengan sekali lemparan batu besar sehingga mati semualah penduduknya. Allah pun membantah mereka dengan mengatakan:أَوَلَمْ يَرَوْا أَنَّ اللَّهَ الَّذِي خَلَقَهُمْ هُوَ أَشَدُّ مِنْهُمْ قُوَّةً ۖ وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يَجْحَدُونَ“Tidakkah mereka memperhatikan bahwa sesungguhnya Allah yang menciptakan mereka. Dia lebih hebat kekuatan-Nya dari mereka? Dan mereka telah mengingkari tanda-tanda (kebesaran) Kami.” (QS Fushshilat : 15)Maka Allah pun mengirim angin yang datang dari kejauhan seperti awan gelap yang mereka kira adalah hujan biasa. Allah berfirman:فَلَمَّا رَأَوْهُ عَارِضًا مُّسْتَقْبِلَ أَوْدِيَتِهِمْ قَالُوا هَٰذَا عَارِضٌ مُّمْطِرُنَا ۚ بَلْ هُوَ مَا اسْتَعْجَلْتُم بِهِ ۖ رِيحٌ فِيهَا عَذَابٌ أَلِيمٌ (24) تُدَمِّرُ كُلَّ شَيْءٍ بِأَمْرِ رَبِّهَا فَأَصْبَحُوا لَا يُرَىٰ إِلَّا مَسَاكِنُهُمْ ۚ كَذَٰلِكَ نَجْزِي الْقَوْمَ الْمُجْرِمِينَ (25)“(24) Maka ketika mereka melihat adzab itu berupa awan yang menuju ke lembah-lembah mereka, mereka berkata, ‘Inilah awan yang akan menurunkan hujan kepada kita.’ (Bukan!) Tetapi itulah adzab yang kamu minta agar disegerakan datangnya (yaitu) angin yang mengandung adzab yang pedih; (25) yang menghancurkan segala sesuatu dengan perintah Tuhannya, sehingga mereka (kaum ‘Ad) menjadi tidak tampak lagi (di bumi) kecuali hanya (bekas-bekas) tempat tinggal mereka. Demikianlah Kami memberi balasan kepada kaum yang berdosa.” (QS Al-Ahqaf : 24-25)Dalam ayat yang lain Allah berfirman:وَأَمَّا عَادٌ فَأُهْلِكُوا بِرِيحٍ صَرْصَرٍ عَاتِيَةٍ (6) سَخَّرَهَا عَلَيْهِمْ سَبْعَ لَيَالٍ وَثَمَانِيَةَ أَيَّامٍ حُسُومًا فَتَرَى الْقَوْمَ فِيهَا صَرْعَىٰ كَأَنَّهُمْ أَعْجَازُ نَخْلٍ خَاوِيَةٍ (7)“(6) Sedangkan kaum ‘Ad, mereka telah dibinasakan dengan angin topan yang sangat dingin; (7) Allah menimpakan angin kepada mereka selama tujuh malam delapan hari terus-menerus. Maka kamu melihat kaum ‘Ad pada waktu itu mati bergelimpangan seperti batang-batang pohon kurma yang telah kosong (lapuk).” (QS Al-Haqqah : 6-7)Mereka adalah kaum yang memiliki badan yang besar dan kuat. Akan tetapi mereka malah bertambah sombong dan merasa paling kuat kuat. Akhirnya Allah mengirimkan angin untuk menghinakan mereka. Padahal mereka telah berlindung di gunung-gunung, bersembunyi di dalam goa-goa, akan tetapi angin tersebut bisa mencabut mereka dari dalam goa kemudian menerbangkan mereka di udara. Meskipun tubuh mereka sangat besar dan kuat akan tetapi mereka diombang-ambingkan oleh angin yang sangat dingin dan bersuara sangat keras selama 8 hari. Setelah itu anginpun menjatuhkan mereka ke daratan dengan kepala terlebih dahulu yang jatuh sehingga hancur kepala mereka. Karena itulah Allah menyamakan mereka seperti batang kurma yang telah kosong yaitu tanpa kepala (lihat Tafsir Ibnu Katsir 6/139).Dalam ayat yang lain :كَأَنَّهُمْ أَعْجازُ نَخْلٍ مُنْقَعِرٍ“Seakan-akan mereka batang kurma yang terlobangi” (QS Al-Qomar : 20)Firman Allah مُنْقَعِرٍ (yang terlobangi) menunjukan bahwa angin telah menghantam mereka sehingga terbelah perut mereka dan bertebanglah usus-usus dan jantung mereka keluar maka jadilah mereka mayat-mayat yang kosong isinya (Lihat At-Tahriir wa at-Tanwiir 27/194)Kaum ‘Aad yang begitu sombong dengan kekuatan tubuh mereka ternyata dibinasakan oleh Allah hanya dengan udara.Kemudian Allah berfirman:الَّتِي لَمْ يُخْلَقْ مِثْلُهَا فِي الْبِلَادِ“Yang belum pernah diciptakan seperti itu di negeri-negeri lain”Ada dua pendapat ulama tentang apa yang dimaksudkan dengan tidak pernah diciptakan semisalnya. Pendapat pertama mengatakan yang dimaksudkan adalah bangunan. Bangunan mereka sangat canggih sehingga tidak pernah ada bangunan selain milik kaum ‘Ad yang lebih canggih.Pendapat kedua mengatakan yang dimaksudkan adalah kaum ‘Ad itu sendiri. Bahwasanya Allah tidak pernah menciptakan manusia yang kuat seperti kaum ‘Ad. Dan ini adalah pendapat yang lebih kuat. Karenaيُخْلَقْ  (diciptakan) lebih tepat untuk menunjukkan penciptaan manusia, adapun jika yang dimaksudkan adalah bangunan maka akan lebih tepat jika memakai kata يُبْنَى (dibangun), sehingga secara bahasa lebih kuat pendapat kedua, yaitu Allah tidak pernah menciptakan manusia yang kuat sebagaimana kaum ‘Aad.Adapun cerita-cerita yang beredar bahwa ada orang yang pernah menemukan kota kaum ‘Aad, dimana jembatannya terbuat dari emas, bangunan dan rumah-rumahnya terbuat dari emas dan perak, maka kata Al-Hafidz Ibnu Katsir, ini semua adalah khurafatnya Bani Israil. Riwayat-riwayat yang menceritakan tentang itu tidak shahih, meskipun benar bahwasanya mereka memiliki bangunan-bangunan yang tinggi namun tidak sebagaimana yang disebutkan dalam riwayat-riwayat tersebut.Kemudian Allah menyebutkan kaum yang kedua, Allah berfirman:وَثَمُودَ الَّذِينَ جَابُوا الصَّخْرَ بِالْوَادِ“Dan (terhadap) kaum Tsamud yang memotong batu-batu besar di lembah”Yaitu mereka melobangi batu-batu besar seperti gunung untuk dijadikan sebagai tempat tinggal mereka. Yang batu-batu yang besar ibarat gunung itu letaknya di lembah. Yaitu wadi “al-Quroo”, yang letaknya sekarang di sebuah kota Namanya al-‘Ula, sekitar 300 km sebelah utara kota Madinah.Kaum Tsamud juga termasuk kaum yang kuat. Allah menghancurkan kaum Tsamud dengan suara yang menggelegar. Namun rumah-rumah mereka tidak hancur, bahkan sampai sekarang masih ada. Mengunjungi tempat-tempat seperti itu diperbolehkan tetapi hendaknya untuk mengambil pelajaran. Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:لاَ تَدْخُلُوا مَسَاكِنَ الَّذِينَ ظَلَمُوا إِلاَّ أَنْ تَكُونُوا بَاكِينَ، أَنْ يُصِيبَكُمْ مَا أَصَابَهُمْ“Janganlah kalian memasuki tempat tinggal orang-orang yang dzalim, kecuali sambil menangis. Karena apa yang menimpa mereka bisa menimpa kalian.” (HR Ahmad 5466 dan Bukhari 4419)Maka lihatlah bagaimana gunung-gunung yang dipahat oleh mereka untuk dijadikan rumah, di dalamnya ada kamar-kamar, dipan-dipan, menunjukkan akan kekuatan mereka dan kecerdasan yang diberikan oleh Allah dalam masalah menghias dan mengukir gunung. Tetapi karena kesombongan mereka setelah diberi kelebihan oleh Allah, mereka akhirnya dibinasakan oleh Allah.Kemudian Allah menyebutkan kaum yang ketiga, Allah berfirman:وَفِرْعَوْنَ ذِي الْأَوْتَادِ“Dan (terhadap) Fir’aun yang mempunyai pasak-pasak (bangunan yang besar)”الْأَوْتَادِ adalah tali-tali yang dipasang untuk mengikat sesuatu seperti orang yang sedang membangun kemah kemudian menggunakan tali pengikat untuk mengokohkannya. Ada 3 pendapat di kalangan para ulama tentang makna tali-tali tersebut.Pendapat pertama mengatakan dahulu Firaun mengadzab Bani Israil dengan cara mengikat mereka dengan tali ke tangan dan kaki mereka kemudian menarik tali-tali tersebut. Sehingga Firaun dikenal sebagai pemilik tali-tali untuk menyiksa kaum Bani Israil.Pendapat kedua mengatakan yang dimaksudkan adalah tali-tali dan pasak-pasak yang besar yang dipasang oleh Firaun untuk meninggikan payung-payung besar yang dibuat oleh oleh Fir’aun untuk menaungi lapangan atau lokasi untuk bermain-main.Pendapat ketiga mengatakan bahwa makna الْأَوْتَادِ pada ayat ini artinya pasukan. Yaitu Fir’aun memasang besi di tangan dan kaki mereka (lihat ketiga pendapat ini di Tafsir At-Thobari 24/370-372).Firaun memiliki pasukan yang banyak lalu mengerahkan semuanya dan memerintahkannya mengejar Nabi Musa. Bahkan menteri-menterinya semuanya dikerahkan untuk ikut serta mengejar Nabi Musa. Pada akhirnya Allah menghancurkan semuanya.Kemudian Allah berfirman:الَّذِينَ طَغَوْا فِي الْبِلَادِ“Yang berbuat sewenang-wenang dalam negeri”Mereka semua yaitu kaum ‘Ad, kaum Tsamud, dan kaum Firaun telah melampaui batas, berbuat kedzaliman di negeri-negeri, melanggar larangan Allah dan sombong di atas muka bumi.فَأَكْثَرُوا فِيهَا الْفَسَادَ“Lalu mereka banyak berbuat kerusakan dalam negeri itu”Akhirnya mereka melakukan banyak kerusakan. Karena seseorang yang sombong dan sewenang-wenang biasanya akan menimbulkan kerusakan.فَصَبَّ عَلَيْهِمْ رَبُّكَ سَوْطَ عَذَابٍ“Karena itu Tuhanmu menuangkan cemeti adzab kepada mereka”Karena mereka banyak melakukan kerusakan maka Allah berikan adzab kepada mereka yaitu adzab di dunia sebelum di akherat kelak akan ditimpakan adzab lagi yang lebih berat. Allah memberi ungkapan dengan “cemeti” yang menunjukan adzab yang Allah timpakan kepada mereka adalah ringan dibandingkan dengan adzab yang akan mereka terima di akhirat. Allah hanya mengirim angin untuk memporak-porandakan kaum ‘Ad, Allah hanya mengadzab dengan suara yang menggelegar untuk kaum Tsamud, dan Allah hanya menjadikan laut menutup Fir’aun dan bala tentaranya. Ini semua adalah adzab yang mudah bagi Allah.Firaun dan kaumnya diadzab oleh Allah dengan cara ditenggelamkan oleh Allah. Allah memerintahkan Musa untuk memukulkan tongkatnya. Dalam Al-Quran Allah berfirman:وَلَقَدْ أَوْحَيْنَا إِلَىٰ مُوسَىٰ أَنْ أَسْرِ بِعِبَادِي فَاضْرِبْ لَهُمْ طَرِيقًا فِي الْبَحْرِ يَبَسًا لَّا تَخَافُ دَرَكًا وَلَا تَخْشَىٰ“Dan sungguh telah Kami wahyukan kepada Musa, ‘Pergilah bersama hamba-hamba-ku (Bani Israil) pada malam hari, dan pukullah (buatlah) untuk mereka jalan yag kering di laut itu, (engkau) tidak perlu takut akan tersusul dan tidak perlu khawatir (akan tenggelam)’.” (QS Thaha : 77)Setelah Musa memukulkan tongkatnya maka terbukalah laut merah, seketika permukaan tanahnya menjadi kering sehingga mudah untuk dipijak. Disebutkan bahwa laut tersebut terbelah menjadi 12 jalur karena bani Israil ada 12 suku, dan masing-masing jalur tersebut dibatasi oleh lautan  yang naik menjulang seperti gunung akan tetapi lautan tersebut masih ada celah-celahnya seperti jarring-jaring yang berlobang sehingga setiap suku masih bisa melihat suku yang lain dan memastikan bahwa semuanya selamat. Setelah Nabi Musa berhasil melewatinya, Nabi Musa ingin memukulkan tongkatnya kembali agar lautnya tertutup. Namun Allah menegurnya, Allah berfirman:فَأَسْرِ بِعِبَادِي لَيْلًا إِنَّكُم مُّتَّبَعُونَ (23) وَاتْرُكِ الْبَحْرَ رَهْوًا ۖ إِنَّهُمْ جُندٌ مُّغْرَقُونَ (24)“(23) (Allah berfirma), ‘Karena itu berjalanlah dengan hamba-hamba-Ku pada malam hari, sesungguhnya kamu akan dikejar; (24) dan biarkanlah laut itu terbelah. Sesungguhnya mereka, bala tentara yang akan ditenggelamkan’.” (QS Ad-Dukhan : 23-24)Nabi Musa pun tidak jadi memukulkan tongkatnya dan membiarkan lautannya tetap terbuka. Akhirnya dalam keadaan laut yang masih terbelah, Firaun pun melanjutkan pengejarannya terhadap Nabi Musa setelah sebelumnya ia ragu, namun Fir’aun terpaksa menyabarkan dirinya di hadapan para pembesarnya -ia jaga gengsi- setelah itu ia meyakinkan pasukannya untuk masuk menyeberangi lautan. Namun ketika Firaun dan pasukannya seluruhnya telah berada di tengah laut, Nabi Musa pun memukulkan tongkatnya. Laut pun tertutup kembali atas izin Allah dan Allah membinasakan mereka semua. (lihat Tafsir Ibnu Katsir 4/254)Allah menggunakan ibarat صَبَّ “menuangkan” sebagai kiasan seperti tertuangnya air yang terus menerus kepada seseorang yang sedang mandi dan sebagaimana air hujan yang tertuangkan ke atas muka bumi. Yang hal ini menunjukan bahwa adzab yang menimpa mereka sekali tahapan saja, cepat, dan datang dengan tiba-tiba. Kaum ‘Aad melihat angin seperti awan dan menyangka itu adalah karunia ternyata adzab. Kaum Tsamud tidak tahu adzab apa yang akan menimpa mereka ternyata suara yang sangat keras yang mencabut nyawa mereka. Fir’aun dan bala tentaranya masuk di tengah lautan yang terbuka dan tidak menduga ternyata lautan tersebut tiba-tiba menenggelamkan mereka. (Lihat At-Tahriir wa At-Tanwiir 30/322)Kemudian Allah berfirman:إِنَّ رَبَّكَ لَبِالْمِرْصَادِ“Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mengawasi” Ini adalah peringatan terhadap kaum musyrikin Arab agar tidak sombong dan angkuh yang bisa menjadi penyebab ditimpakannya adzab Allah di dunia sebelum di akhirat. Allah mengingatkan mereka akan kejadian yang menimpa kaum ‘Ad, kaum Tsamud, Firaun dan bala tentaranya karena kesombongan mereka. Karena Allah mengawasi amal perbuatan mereka, kekufuran dan kesombongan mereka, tidak ada satu amalan merekapun yang luput dari pengawasan Allah (lihat Fathul Qodiir 5/531)Kemudian Allah menyebutkan sifat orang-orang kafir, Allah berfirman:فَأَمَّا الْإِنسَانُ إِذَا مَا ابْتَلَاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ“Maka adapun manusia apabila Tuhan mengujinya lalu memuliakannya dan memberinya kesenangan, maka dia berkata, ‘Tuhanku telah memuliakanku’” وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلَاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ“Namun apabila Tuhan mengujinya lalu membatasi rezekinya, maka dia berkata, ‘Tuhanku telah menghinakanku’”Para ulama memberikan kaedah, jika disebutkan kata الْإِنسَانُ di dalam surat makiyyah maka itu maksudnya adalah orang kafir, kecuali ada dalil yang memalingkannya. Bahkan sebagian ahli tafsir menyatakan bahwa kedua ayat ini turun tentang Umayyah bin Kholaf al-Jumahi (Lihat Tafsir As-Sm’aani 6/221)Dua ayat ini adalah gambaran pola pikir orang kafir, jika diberi rezeki mereka merasa dimuliakan tetapi jika rezekinya disempitkan mereka merasa dihinakan. Mereka menjadikan barometer pemuliaan dan penghinaan pada harta. Adapun orang beriman tidaklah demikian, orang beriman akan merasa dimuliakan jika diberi taufik untuk beribadah kepada Allah. Mereka menjadikan barometer pemuliaan dengan ketaatan dan barometer penghinaan dengan kemaksiatan. (Lihat Tafsir As-Sama’aani 6/221 dan Tafsir Al-Qurthubi 8/421) Jika dia rajin shalat, rajin bershadaqah, rajin beribadah, itu artinya Allah memuliakannya. Namun jika dia malas beribadah, maka Allah telah menghinakan dia. Dan demikianlah musibah yang sebenarnya, tatkala seseorang terjauhkan dari ketaatan kepada Allah. Oleh karena itu, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam berdoa:وَلَا تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِي دِينِنَا“Ya Allah, Janganlah Engkau jadikan musibah yang menimpa kami dalam urusan agama kami.” (HR Tirmidzi no.3502)Kemudian Allah berfirman:كَلَّا ۖ بَل لَّا تُكْرِمُونَ الْيَتِيمَ“Sekali-kali tidak! Bahkan kamu tidak memuliakan anak yatim”“Sekali-kali tidak!”, yaitu Allah membantah cara berpikir orang kafir bahwasanya kalau kaya dimuliakan, kalau miskin dihinakan. Karena harta bukanlah ukuran kemuliaan dan kehinaan. Seseorang itu bisa mulia baik dia kaya maupun miskin. Sebagaimana apa yang ada pada para Nabi, diantara mereka ada yang kaya ada pula yang miskin, namun itu tidak mempengaruhi kadar kemuliaan mereka. Diantara sahabat ada pula yang kaya dan ada juga yang miskin, namun itu semua tidak mengurangi status mereka sebagai pendamping Nabi. Akan tetapi seseorang bisa mulia dengan keimanan dan ketakwaan, adapun hartanya dia gunakan sebagai sarana untuk bertakwa bukan menjadi tujuan.Cara berpikir demikian adalah cara berpikir orang kafir, kemuliaan dan kehinaan berdasarkan harta. Sehingga mereka tidak memuliakan anak-anak yatim. Karena tujuan mereka adalah dunia dan dunia. Jika mereka bersedekah maka hartanya akan berkurang, jika hartanya berkurang maka kemuliaannya akan berkurang. Atau bahkan mereka karena tamaknya dengan dunia yang dianggap sebagai barometer kemuliaan sehingga mereka memakan harta anak yatim.[1]Allah berfirman:وَلَا تَحَاضُّونَ عَلَىٰ طَعَامِ الْمِسْكِينِ“Dan kamu tidak saling mengajak memberi makan orang miskin”Demikianlah keadaan orang kafir, tidak ada keinginan untuk saling memotivasi agar memberi makan fakir miskin. Karena mereka adalah orang pelit yang tujuannya hanyalah dunia.وَتَأْكُلُونَ التُّرَاثَ أَكْلًا لَّمًّا“Sedangkan kamu memakan harta warisan dengan cara mencampurbaurkan (yang halal dan yang haram)”Ibnu Az-Zaid berkata :الْأَكْلُ اللَّمُّ الَّذِي يَأْكُلُ كُلَّ شَيْءٍ يَجِدُهُ، لَا يَسْأَلُ عَنْهُ أَحَلَالٌ هُوَ أَمْ حَرَامٌ؟ وَيَأْكُلُ الَّذِي لَهُ وَلِغَيْرِهِ“أَكْلًا لَّمًّا yaitu yang memakan segala sesuatu yang ia dapati, ia tidak bertanya tentang harta yang ia dapati (di tangannya) apakah halal ataukah haram. Ia juga memakan miliknya dan milik orang lain” (Tafsir Al-Qurthubi 8/422)Demikianlah keadaan orang kafir, tidak peduli yang penting dapat uang yang berlimpah. Baik dengan cara yang benar atau cara yang bathil. Kata mereka, harta yang halal adalah harta yang di tangan, harta yang haram adalah harta yang tidak ada di tangan. Semua harta yang sampai di tangan bagaimana pun caranya maka itu halal. Mereka memakan harta warisan yang bukan hak mereka, ini semua karena tamak terhadap dunia.وَتُحِبُّونَ الْمَالَ حُبًّا جَمًّا“Dan kamu mencintai harta dengan kecintaan yang berlebihan”Ini adalah sifat-sifat umum pada orang kafir, dan demikian pula sifat manusia secara asalnya yaitu mencintai harta. Terlebih harta tersebut diraih dengan susah payah, dengan membanting tulang, dengan mengeluarkan keringat, kemudian setelah mendapatkannya lalu diperintahkan untuk diinfakkan, maka itu adalah hal yang sangat berat. Padahal harta tersebut tidak akan dibawa mati, hakikat harta kita adalah yang diinfakkan. Dalam suatu hadits tatkala disembelih seekor kambing kemudian Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam menyuruh istri-istrinya untuk membagikan (daging) kambing tersebut kepada orang lain. Maka setelah dibagikan (daging) kambing tersebut Nabi bertanya kepada ‘Aisyah:مَا بَقِيَ مِنْهَا؟ قَالَتْ مَا بَقِيَ مِنْهَا إِلَّا كَتِفُهَا قَالَ بَقِيَ كُلُّهَا غَيْرَ كَتِفِهَا“Wahai ‘Aisyah, bagian mana dari kambing tersebut yang masih tersisa?” Maka ‘Aisyah berkata: “Tidak ada yang tersisa kecuali hanya bagian pundak dari kambing.” Maka Nabi mengatakan: “Seluruh kambing tersisa kecuali pundak yang tersisa.” (HR. Tirmidzi no. 2470)Artinya adalah semua yang sudah dibagikan itulah yang tersisa di akhirat, sedangkan yang yang belum dibagikan itu yang tidak tersisa di akhirat. Kalau kita ingin menabung yang pasti aman dan pasti tersisa maka menabunglah dengan cara bershadaqah.Kemudian Allah berfirman:كَلَّا إِذَا دُكَّتِ الْأَرْضُ دَكًّا دَكًّا“Sekali-kali tidak! Apabila bumi diguncangkan berturut-turut (berbenturan)”وَجَاءَ رَبُّكَ وَالْمَلَكُ صَفًّا صَفًّا“Dan datanglah Tuhanmu sedang malaikat berbaris-baris”Kata para ulama, Allah akan datang ketika melaksanakan persidangan. Dan kejadian ini terjadi setelah semua manusia berkumpul di padang mahsyar di bawah matahari yang berjarak hanya 1 mil dari kepala mereka dan berlangsung dalam waktu yang sangat lama. Persidangan akan ditegakkan setelah Allah mengabulkan syafaat udzma dari Nabi Muhammad shalallahu ‘alayhi wa sallam. Kemudian datanglah Allah untuk melakukan persidangan terhadap seluruh manusia.Kemudian Allah berfirman:وَجِيءَ يَوْمَئِذٍ بِجَهَنَّمَ ۚ يَوْمَئِذٍ يَتَذَكَّرُ الْإِنسَانُ وَأَنَّىٰ لَهُ الذِّكْرَىٰ“Dan pada hari itu diperlihatkan Neraka Jahannam. Pada hari itu sadarlah manusia, tetapi tidak berguna lagi baginya kesadaran itu”Setelah hari perhitungan dan penimbangan, didatangkanlah neraka jahannam. Dalam suatu hadist, dari Abdullah bin Mas’ud dia berkata, Rasulullah bersabda:يُؤْتَى بِجَهَنَّمَ يَوْمَئِذٍ لَها سَبْعُوْنَ أَلْفِ زَمامٍ، مَعَ كُلِّ زَمامٍ سَبْعُوْنَ أَلْفِ مَلَكٍ يَجُرُّوْنَها“Jahannam akan didatangkan pada hari itu dan dia mempunyai 70.000 tali kekang, dan setiap tali kekang akan ditarik oleh 70.000 malaikat.” (HR. Muslim no. 2842)Hadist ini menunjukkan bahwa neraka jahannam itu sangat besar, sampai-sampai membutuhkan 4 milyar 900 juta malaikat untuk menariknya, dan masing-masing ukuran malaikat tidak ada yang mengetahui besarnya kecuali Allah. Bahkan neraka jahannam selalu meminta agar ditambahkan penghuni ke dalamnya. Allah berfirman tentang perkataan neraka jahannam:يَوْمَ نَقُولُ لِجَهَنَّمَ هَلِ امْتَلَأْتِ وَتَقُولُ هَلْ مِن مَّزِيدٍ“(Ingatlah) pada hari (ketika) Kami bertanya kepada Jahannam, ‘Apakah kamu sudah penuh?’ Ia menjawab, ‘Masih adakah tambahan?’” (QS Qaf : 30)Ini karena saking begitu luasnya neraka jahannam itu. Dan neraka jahannam nanti bisa melihat dan berbicara, neraka jahannam marah dan ingin segera menelan calon penghuninya. Allah berfirman:إِذَا رَأَتْهُم مِّن مَّكَانٍ بَعِيدٍ سَمِعُوا لَهَا تَغَيُّظًا وَزَفِيرًا“Apabila ia (neraka) melihat mereka dari tempat yang jauh, mereka mendengar suaranya yang gemuruh karena marahnya.” (QS Al-Furqan : 12)Kemudian Allah berfirman:يَقُولُ يَا لَيْتَنِي قَدَّمْتُ لِحَيَاتِي“Dia mengatakan, ‘Alangkah baiknya sekiranya dahulu aku mengerjakan (kebajikan) untuk hidupku ini’”Maka pada hari tersebut setiap manusia akan mengingat seluruh perbuatan berupa kebaikan dan keburukan yang pernah dia lakukan. Namun mengingat itu semua tiada berguna lagi, yang bersisa hanyalah penyesalan. Bahkan para ulama berkata bahwasanya yang menyesal bukan hanya orang-orang yang diadzab tetapi termasuk orang-orang mukmin, dia merasa ibadah-ibadah yang dia kerjakan kurang banyak.Ibnu Katsir berkata -:يَقُولُ يَا لَيْتَنِي قَدَّمْتُ لِحَيَاتِي: يَعْنِي يَنْدَمُ عَلَى مَا كَانَ سَلَفَ مِنْهُ مِنَ الْمَعَاصِي -إِنْ كَانَ عَاصِيًا-وَيَوَدُّ لَوْ كَانَ ازْدَادَ مِنَ الطَّاعَاتِ -إِنْ كَانَ طَائِعًا“Firman Allah : (Dia mengatakan, ‘Alangkah baiknya sekiranya dahulu aku mengerjakan (kebajikan) untuk hidupku ini’) yaitu dia menyesal atas apa yang dulu ia kerjakan (di dunia), kalau ia seorang pelaku maksiat maka ia menyesali kemaksiatan-kemaksiatan yang pernah ia lakukan. Jika ia seorang yang ta’at maka ia berangan-angan kalau seandainya ia menambah ketaatannya” (Tafsir Ibnu Katsir 8/389)Muhammad bin Abi Úmairoh radhiallahu ánhu berkata :لَوْ أَنَّ عَبْدًا خَرَّ عَلَى وَجْهِهِ مِنْ يَوْمِ وُلِدَ، إِلَى أَنْ يَمُوتَ هَرَمًا فِي طَاعَةِ اللهِ، لَحَقَّرَهُ ذَلِكَ الْيَوْمَ، وَلَوَدَّ أَنَّهُ رُدَّ إِلَى الدُّنْيَا كَيْمَا يَزْدَادَ مِنَ الْأَجْرِ وَالثَّوَابِ“Jika seorang hamba tersungkur di atas wajahnya sejak lahir hingga meninggal karena menghabiskan waktu dalam ketaatan kepada Allah maka pada hari itu ia akan merasa sedikit amal perbuatannya, dan sungguh ia akan berangan-angan seandainya ia dikembalikan lagi ke dunia agar ia bisa menambah pahala dan ganjaran”(Atsar riwayat al-Imam Ahmad dalam musnadnya no 17650 dengan sanad yang shahih)Orang-orang kafir sejak dimasukkan ke kuburan sudah menyesal, kemudian diperlihatkan neraka jahannam mereka semakin menyesal, dan ketika dimasukkan ke dalam neraka jahannam maka penyesalannya semakin bertambah lagi, namun penyesalan tersebut tidak ada faiedahnya lagi. Allah berfirman tentang penyesalan mereka:وَهُمْ يَصْطَرِخُونَ فِيهَا رَبَّنَا أَخْرِجْنَا نَعْمَلْ صَالِحًا غَيْرَ الَّذِي كُنَّا نَعْمَلُ ۚ“Dan mereka berteriak di dalam neraka itu, ‘Ya Tuhan kami,, keluarkanlah kami (dari neraka), niscaya kami akan mengerjakan kebajikan, yang berlainan dengan yang telah kami kerjakan dahulu.’” (QS Fathir : 37)Kemudian Allah berfirman:فَيَوْمَئِذٍ لَّا يُعَذِّبُ عَذَابَهُ أَحَدٌ“Maka pada hari itu tidak ada seorang pun yang mengadzab seperti adzab-Nya (yang adil)”Karena adzabnya Allah sangat pedih, tidak ada yang sanggup menyamainya. As-Smaáani berkata :لَا يُعَذِّبُ أَحَدٌ فِي الدُّنْيَا بِمثل مَا يُعَذِّبُهُ اللهُ فِي الْآخِرَة“Tidak seorangpun di dunia yang menyiksa seperti siksaan Allah di akhirat”(Tafsir As-Samáani 6/223)وَلَا يُوثِقُ وَثَاقَهُ أَحَدٌ“Dan tidak ada seorang pun yang mengikat (dengan belenggu-belenggu di neraka jahnnam) seperti ikatan-Nya”Kedua ayat di atas juga dalam qiroáh yang lain dengan memfathah yaitu (فَيَوْمَئِذٍ لَّا يُعَذَّبُ عَذَابَهُ أَحَدٌ) dan (وَلَا يُوثَقُ وَثَاقَهُ أَحَدٌ) yang artinya : “Tidak ada seorangpun yang disiksa seperti siksaannya (yaitu si kafir) dan tidak seorangpun yang dibelenggu seperti dibelenggunya (si kafir)” (lihat Tafsir As-Smaáani 6/223)Kemudian Allah menyebutkan tentang orang-orang beriman, Allah berfirman:يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ“Wahai jiwa yang tenang!”Yaitu yang tenang dengan keimanannya kepada Allah beserta hari pembalasan-Nya, yang yakin dengan janji Allah akan pahala dan ganjaran pada hari akhirat, yang tidak terbelenggu dengan ketamakan dunia (lihat Tafsir al-Qurthubi 20/57)Ada pula yang berpendapat bahwa ini adalah perkataan malaikat kepada orang-orang beriman tatkala akan meninggal dunia.ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً“Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai-Nya”ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ  “Kepada Rabbmu”yaitu “kepada Tuhanmu”, maksudnya adalah menuju surga, sebagaimana firman Allah :إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي جَنَّاتٍ وَنَهَرٍ (54) فِي مَقْعَدِ صِدْقٍ عِنْدَ مَلِيكٍ مُقْتَدِرٍ (55)“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa di dalam taman-taman (surga) dan sungai-sungai, di tempat yang disenangi di sisi Tuhan Yang Berkuasa”(QS Al-Qomar 54-55)Yang hal ini dicuapkan oleh malaikat kepada ruh orang beriman tatkal akan meninggal dunia dengan memberi kabar gembira kepadanya tentang surga.Dan ada yang berpendapat bahwa yang dimaksud dengan “Kepada Rabbmu”yaitu “Kepada Pemilimmu wahai ruuh, yaitu jasadmu”, yang ini diucapkan ketika hari kebangkitan ketika ruh-ruh dikembalikan kepada jasad (Lihat At-Tahriir wa At-Tanwiir 30/342)رَاضِيَةً Yaitu dengan hati yang ridho dan senang dengan pahala dan ganjaran yang Allah berikan kepadanya. Karena semua yang ia cita-citakan dan impikan terwujudkan pada hari itu. Dan مَّرْضِيَّةً (diridhoiNya) yaitu tambahan pujian kepada jiwa tersebut disertai penekanan akan tambahan karunia dan ganjaran kepadanya. Karena bukan sekedar dia yang senang bahkan Robbnya juga rido kepadanya dan akan memberi tambahan ganjaran kepadanya (lihat At-Tahriir wa at-Tanwiir 30/343)فَادْخُلِي فِي عِبَادِي“Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku”Yaitu hamba-hambaKu sholihin. Kata para ulama, ini adalah kabar gembira bagi para penghuni surga bahwasanya dia tidak masuk surga sendiri.وَادْخُلِي جَنَّتِي“Dan masuklah ke dalam surga-Ku”Sebelumnya Allah menggunakan dhomir al-ghoib (kata ganti orang ketiga) maka pada ayat ini Allah menggunakan dhomir al-mutakallim (kata ganti orang pertama) sebagai bentuk tambahan pemuliaan.Allah juga tidak berkata فَادْخُلِي جَنَّتِي فِي عِبَادِي “Masuklah surga bersama hamba-hambaKu”, akan tetapi Allah mengkhususkan penyebutan sang jiwa secara sendirian dengan berkata وَادْخُلِي جَنَّتِي “Masuklah engkau ke surgaKu” agar menambah kebahagiaannya, seakan-akan ia sangat spesial dengan mendapat perhatian khusus (lihat At-Tahriir wa at-Tanwiir 30/344)[1] Ada dua pendapat ulama tentang makna “tidak memuliakan anak yatim”, yaitu (1) tidak berbuat baik kepada mereka dan (2) memakan harta mereka (lihat Tafsir As-Sam’aani 6/221)


Tafsir Surat Al–FajrOleh: DR. Firanda Andirja, Lc. MA.Surat Al-Fajr adalah surat makiyyah, dilihat dari isi surat tersebut. Karena diantara ciri-ciri surat makiyyah selain karena diturunkan sebelum Nabi berhjirah ke Madinah adalah pada umumnya surat-surat makiyyah terdiri dari ayat-ayat yang pendek. Sebagaimana rangkaian-rangkaian ayat dari surat Al-Fajr. Berbeda dengan surat madaniyyah, pada umumnya terdiri dari ayat-ayat yang panjang. Ciri lainnya adalah dilihat dari topik pembahasannya yang berbicara tentang adanya hari kebangkitan, hari kiamat, adanya penghuni neraka jahannam dan penghuni surga yang mana merupakan ciri-ciri surat makiyyah. Selain itu surat Al-Fajr berkaitan dengan surat sebelumnya yaitu surat Al-Ghasyiyah, dimana surat Al-Ghasyiyah berbicara tentang ancaman untuk orang kafir kemudian Al-Fajr berbicara tentang siksaan untuk orang kafir.Allah berfirman pada permulaan surat:وَالْفَجْرِ“Demi fajar”Ada dua pendapat di kalangan para ulama tentang makna al-fajr. Pendapat pertama, al-fajr adalah waktu dimana gelapnya malam mulai sirna diganti dengan cahaya yang perlahan mulai keluar yang dikenal dengan waktu shubuh. Allah bersumpah dengan al-fajr karena merupakan waktu yang sangat penting.Pendapat kedua, maksud Allah bersumpah demi waktu fajar adalah demi shalat fajar yaitu shalat subuh. Allah bersumpah dengan shalat shubuh karena shalat shubuh merupakan shalat yang sangat penting yang sering dilalaikan oleh banyak kaum muslimin. Oleh karena itu, Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:مَنْ صَلَّى الصُّبْحَ فَهُوَ فِي ذِمَّةِ اللهِ“Barangsiapa yang shalat shubuh (secara berjamaah) maka dia di bawah penjagaan Allah.” (HR Muslim no. 657)Dalam hadist yang lain Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:مَنْ صَلَّى البَرْدَيْنِ دَخَلَ الجَنَّةَ“Barangsiapa yang shalat di dua waktu yang dingin niscaya masuk surga.” (HR Bukhari no. 574 dan Muslim no. 635)Kata para ulama, البَرْدَيْنِ  adalah shalat shubuh dan shalat ashar. Dikatakan shalat yang dingin karena shubuh merupakan awal dari hari dan udaranya masih dingin, sedangkan ashar waktu peralihan dari siang ke malam, perlahan-lahan panasnya siang beralih menjadi dinginnya malam.Al-Khotthoobi berkata :وَإِنَّمَا قِيْلَ لَهُمَا: بَرْدَانِ، وَأَبْرَدَانِ لِطِيْبِ الْهَوَاءِ، وَبَرْدِهِ فِى هَذَيْنِ الْوَقْتَيْنِ“Hanyalah sholat Ashar dan shalat Subuh dikatan “dua yang dingin” karena udaranya yang baik dan sejuk di kedua waktu ini” (Syarh Shahih Al-Bukhari, Ibnu Batthool 2/199)Rasulullah menjanjikan surga karena dua shalat inilah yang sering dilalaikan oleh kaum muslimin. Shalat shubuh terlalaikan karena banyak orang yang tenggelam dalam nikmatnya tidur, sedangkan shalat ashar terlalaikan karena kebanyakan orang letih setelah bekerja sepanjang hari lalu tidur dan melewatkan shalat ashar. Atau karena sebagian orang di waktu ashar masih saja sibuk bekerja dan mengurus dunia sehingga terlewatkan sholat ashar (lihat Ihkaamul Ahkaam, Ibnu Ad-Daqiiq 1/172)Hal ini sebagaimana sabda Nabi :إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ رَبَّكُمْ، كَمَا تَرَوْنَ هَذَا القَمَرَ، لاَ تُضَامُّونَ فِي رُؤْيَتِهِ، فَإِنِ اسْتَطَعْتُمْ أَنْ لاَ تُغْلَبُوا عَلَى صَلاَةٍ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ غُرُوبِهَا فَافْعَلُوا“Sesungguhnya kalian akan melihat Rabb kalian sebagaimana kalian melihat bulan ini, kalian tidak berdesak-desakan dalam melihatNya. Maka jika kalian mampu untuk tidak terlewatkan dalam melaksanakan sholat sebelum terbit matahari (yaitu sholat subuh) dan sholat sebelum terbenam matahari (yaitu sholat ashar) maka lakukanlah”(HR Al-Bukhari no 554 dan Muslim no 633)Sehingga dari sini sebagian ulama memilih pendapat bahwasanya Allah bersumpah dengan shalat fajar karena shalat lah yang harus diperhatikan. Kedua pendapat ini kuat tetapi pendapat yang lebih kuat adalah Allah bersumpah dengan waktu fajar itu sendiri (lihat Tafsir Ibnu Katsir 8/381 dan Fathul Qodiir 5/526). Sebagaimana Allah banyak bersumpah dengan waktu-waktu, hal ini banyak dijumpai pada permulaan surat-surat di Juz ‘Amma.Sebagian ulama memberikan alasan mengapa Allah besumpah dengan waktu fajar. Diantaranya :Karena Allah ingin menunjukan bahwa hanya Allahlah yang mengatur alam semesta ini, tidak ada yang bias mendatangkan fajar kecuali Allah. Allah menghilangkan kegelapan malam dengan memunculkan fajar, ini menunjukan kesempurnaan Allah dan hanya Allahlah yang berhak untuk disembah (Taisiir Al-Kariim Ar-Rahman hal 923)Karena subuh merupakan awal dari kegiatan dan terlepasnya seseorang dari tidur yang merupakan kematian kecil (At-Tahriir wa At-Tanwiir 30/313)Karena ada hukum syarí yang dibangun di atas fajar, diantaranya awal puasa (wajibnya imsaak) dimulai dengan terbitnya fajar, dan waktu sholat subuh juga dimulai dengan terbitnya fajar (Tafsir Juz Ámma, Ibnu al-Útsaimin hal 187)Karena Allah ingin membantah orang-orang kafir Quraisy yang mengingkari adanya hari kebangkitan (sebagaimana isi surat Al-Fajr). Seakan-akan Allah ingin menyampaikan kepada mereka kesamaan antara waktu fajar dengan keadaan manusia kelak. Waktu fajar adalah waktu dimana hilangnya malam kemudian terbitlah cahaya. Demikianlah manusia akan mati tetapi Allah mampu untuk membangkitkannya kembali dari kegelapan, dari kematian menuju kehidupan yang baru yaitu kehidupan akhirat yang kekal abadi. Sebagaimana malam-malam yang hilang akan digantikan dengan cahaya yang sebelumnya tidak ada.Kemudian Allah berfirman:وَلَيَالٍ عَشْرٍ“Demi malam-malam yang sepuluh” Terkait makna ‘malam-malam yang sepuluh’, ulama juga terbagi ke dalam dua pendapat. Pendapat pertama sekaligus pendapat mayoritas bahwa malam-malam yang dimaksudkan adalah hari-hari 10 Dzulhijjah. Dan dalam bahasa Arab terkadang ”hari” disebut dengan malam (lihat Tafsir Juz Ámma, Ibnu al-Útsaimin hal 188)Pendapat kedua bahwa yang dimaksudkan adalah 10 malam terakhir di bulan Ramadhan. Allah bersumpah dengan 10 malam terakhir bulan ramadhan karena malam-malam tersebut adalah malam yang mulia, diantaranya ada malam lailatul qadar yang lebih baik dari seribu bulan. Yang menguatkan pendapat ini adalah Allah menyebut dalam ayat ini lafal “lail”yang artinya secara asal bahasa Arab adalah malam dan bukan siang atau hari. (dan inilah pendapat yang dirajihkan oleh Ibnu al-Útsaimin)Adapun pendapat jumhur (dan inilah pendapat yang dipilih oleh At-Thobari dalam tafsirnya 24/348) yaitu 10 hari Dzulhijjah, Allah bersumpah dengannya karena amalan yang dilakukan pada 10 hari Dzulhijjah adalah amalan yang sangat dicintai oleh Allah. Dalam suatu hadist Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهِا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ عَزَّوَجَلَّ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ، يَعْنِيْ أَيَّامَ الْعَشْرِ، قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ ؟ قَالَ: “وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَىْءٍ“Tidak ada hari-hari dimana suatu amal shalih lebih di cintai Allah melebihi amal shalih yang dilakukan di hari-hari ini (yakni sepuluh hari pertama Dzulhijjah)”. Para sahabat bertanya,”Wahai Rasulullah, termasuk lebih utama dari jihad di jalan Allah?” Nabi ٍShallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Termasuk lebih utama dibanding jihad di jalan Allah, kecuali orang yang keluar dengan jiwa dan hartanya (kemedan jihad) dan dia tidak kembali dengan apapun sama sekali (yaitu jiwanya tidak kembali yaitu dia mati syahid dan hartanya juga tidak kembali karena dirampas musuh-pen).” (HR Bukhari no. 969)Sama saja apakah kita menguatkan pendapat pertama atau pendapat kedua maka keduanya (baik 10 hari pertama Dzulhijjah atau 10 malam terakhir Ramadhan) adalah waktu yang agung untuk beribadah dan meraih pahala sebanyak-banyaknya. Kita jumpai sebagian besar kaum muslimin -terutama di tanah air- memusatkan konsentrasi mereka pada 10 malam terakhir Ramadhan, namun banyak diantara mereka kurang memperhatikan 10 hari Dzulhijjah, padahal keutamaan 10 hari Dzulhijjah besar sebagaimana dalam hadits sebelumnya. Oleh karena itu, ketika memasuki bulan Dzulhijjah maka hendaknya kita memperbanyak ibadah kepada Allah dengan ibadah apa saja, mulai dari shalat, puasa, dzikir, baca Al-Quran, sedekah, dan lain-lainnya.Kemudian Allah berfirman:وَالشَّفْعِ وَالْوَتْرِ“Demi yang genap dan yang ganjil”Dalam qiroat yang lain dengan mengkasroh huruf وِ yaitu وَالْوِتْرِ. Pendapat yang kuat dalam masalah ini adalah Allah bersumpah dengan segala sesuatu yang genap dan segala sesuatu yang ganjil. Dan ini merupakan pendapat yang dipilih oleh At-Thobari dalam tafsirnya (Tafsir At-Thobari 24/355). Karenanya dijumpai banyak pendapat dari kalangan salaf yang menyebutkan tentang makna genap dan ganjil.Diantara pendapat dari kalangan para ahli tafsir masa salaf adalah Allah bersumpah dengan shalat-shalat yang rakaatnya genap yaitu shalat dhuhur, shalat ashar, shalat isya’, dan shalat shubuh, dan Allah bersumpah dengan shalat rakaatnya ganjil yaitu shalat maghrib.Ada juga pendapat yang mengatakan bahwa genap adalah yaumun nahr yang jatuh pada tanggal 10 Dzulhijjah merupakan tanggal yang genap, dan ganjil adalah hari arafah yang jatuh pada tanggal 9 Dzulhijjah merupakan tanggal yang ganjil.Ada pula yang mengatakan bahwa genap adalah seluruh makhluk sedangkan ganjil maksudnya Allah (lihst Tafsir At-Thobari 24/350) Karena dalam sebuah hadist, Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:إِنَّ اللَّهَ وِتْرٌ يُحِبُّ الْوِتْرَ“Sesungguhnya Allah itu Witr (yaitu Maha Esa) dan menyukai yang witr (ganjil).” (HR Bukhari no. 6410 dan Muslim no. 2677)Sedangkan makhluk Allah diciptakan dalam keadaan genap yaitu berpasang-pasangan. Allah berfirman :وَمِنْ كُلِّ شَيْءٍ خَلَقْنَا زَوْجَيْنِ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ“Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kalian mengingat kebesaran Allah” (QS Adz-Dzariyaat : 49)وَخَلَقْنَاكُمْ أَزْوَاجًا“Dan Kami menciptakan kalian berpasang-pasangan”(QS An-Naba’: 8)Sebagaimana yang bisa disaksikan di alam semesta ini semuanya berpasang-pasangan, ada kematian ada kehidupan, ada buta ada melihat, ada atas bawah, ada jantan ada betina, ada positif ada negatif, ada iman dan kufur, ada petunjuk dan kesesatan, ada Iblis dan Jibril, dll. Adapun Allah maka Dia Ada tanpa membutuhkan pasangan.Kemudian Allah berfirman:وَاللَّيْلِ إِذَا يَسْرِ“Demi malam apabila berlalu”يَسْرِ dalam bahasa arab mempunyai dua kemungkinan makna. Bisa bermakna أَقْبَلَ الَّيْلُ yang artinya malam yang datang, bisa bermakna الَّيْلُ أَدْبَرَ artinya malam yang pergi  (lihat Tafsir al-Baghowi 8/417). Namun sebagian ulama merajihkan pendapat yang mengatakan bahwa yang dimaksudkan adalah malam apabila datang. Alasan mereka adalah karena di ayat pertama Allah telah bersumpah dengan waktu fajar yang berarti malam pergi kemudian disusul dengan datangnya cahaya. Sebaliknya pada ayat ini Allah bersumpah dengan waktu tatkala cahaya pergi disusul dengan datangnya malam.Sebagian ulama berpendapat bahwa yang dimaksud dengan “malam”di sini adalah malam khusus yaitu malam Muzdalifah. Ini adalah pendapat ulama yang memandang bahwa sumpah-sumpah di awal surat al-Fajar semuanya berkaitan dengan manasik haji. “Demi fajar” maksudnya adalah “fajar hari Nahar 10 Dzulhijjah”, demi “malam-malam yang sepuluh” maksudnya “10 hari Dzulhijjah”, “Demi yang genap dan yang ganjil” maksudnya adalah hari Nahar (10 Dzulhijjah) dan hari Árofah (9 Dzulhijjah), “Demi malam yang berlalu”maksudnya adalah “malam Muzdalifah”. Namun al-Qurthubi berpendapat bahwa yang dimaksud dengan malam dalam ayat ini adalah bersifat umum bukan khusus malam Muzdalifah saja (Lihat Tafsir al-Qurthubi 20/42)Kemudian Allah berfirman:هَلْ فِي ذَٰلِكَ قَسَمٌ لِّذِي حِجْرٍ“Adakah pada yang demikian itu terdapat sumpah (yang dapat diterima) bagi orang-orang yang berakal?”ذِيْ حِجْرٍ yaitu ذِيْ عَقْلٍ yang memiliki akal (Lihat Tafsir At-Thobari 24/3580. حِجْرٍ artinya membatasi, karena seseorang yang menjaga akalnya akan terbatasi dari melakukan hal-hal yang buruk dengan akalnya (lihat Tafsir al-Baghowi 8/417). Disebut juga  عِقَالٌ yang artinya menahan, karena akal yang benar akan menahan seseorang dari perbuatan yang buruk dan dari melakukan perbuatan-perbuatan yang tercela dan tidak senonoh.Dari empat ayat ini, Allah bersumpah dengan 5 perkara, وَالْفَجْرِ, وَلَيَالٍ عَشْرٍ, وَالشَّفْعِ, وَالْوَتْرِ, وَاللَّيْلِ إِذَا يَسْرِ. Namun Allah tidak menyebutkan Allah bersumpah untuk apa (al-muqsam ‘alaih). Kata para ulama, hal tersebut karena perkara yang ingin Allah tekankan telah dimaklumi. Seakan-akan Allah ingin mengatakan, “Demi fajar, sungguh kalian wahai kaum musyirkin benar-benar akan diadzab.” Karena surat Al-Fajr diturunkan berkaitan dengan orang-orang Quraisy Makkah yang mengingkari hari kebangkitan dan hari pembasalan. Karenanya setelah itu Allah menceritakan tentang kaum-kaum yang dibinasakan oleh Allah. (lihat Tafsir al-Baidhoowi 5/309)Di akhir-akhir surat Al-Ghasyiyah Allah mengancam orang-orang kafir dengan adzab dan siksaan-Nya. Lalu pada surat Al-Fajr Allah menceritakan beberapa kaum yang dibinasakan oleh Allah, seakan-akan Allah ingin mengabarkan kepada kaum musyrikin Arab bahwa ada kaum yang lebih hebat dari mereka tetapi Allah membinasakannya. Allah menyebutkan tentang tiga kaum, Pertama kaum ‘Ad, kedua kaum Tsamud, ketiga Firaun dan kaumnya.Kaum ‘Ad dan kaum Tsamud adalah bangsa yang dahulunya tinggal di jazirah arab. Kaum ‘Ad tinggal di daerah selatan Jazirah Arab di al-Ahqoof, letaknya di Yaman antara Óman dan Hadromaut (lihat Tafsir Ibnu Katsir 3/390). Sekarang yang bersisa tinggal gurun pasir, rumah-rumah mereka telah tertutupi dengan padang pasir. Adapun kaum Tsamud (kaum Nabi Shalih) sampai sekarang masih ada bekas-bekas peninggalan mereka. Kaum ‘Ad dan kaum Tsamud termasuk Arab Ba’idah yaitu bangsa arab kuno yang telah dimusnahkan oleh Allah. Sehingga berita tentang mereka telah diketahui oleh orang-orang kafir Quraisy bahwasanya mereka adalah kaum-kaum yang  hebat.Adapun berita tentang Firaun dan bagaimana ia dibinasakan oleh Allah adalah berita yang masyhur di kalangan orang-orang Yahudi. Sering pula kaum Yahudi menceritakan tentang kisah Nabi Musa dan Firaun karena orang-orang yahudi sangat membanggakan Nabi Musa, sehingga kisah-kisah itu sampai pada tetangganya yaitu kaum musyrikin Arab. Oleh karena itu, Allah hanya menceritakan kisah-kisah yang telah diketahui oleh kaum musyrikin Arab, dua kaum yang berasal dari jazirah Arab itu sendiri dan satunya tentang kaum yang mereka dengar dari Yahudi. Allah menceritakan kaum-kaum yang lebih hebat dari mereka namun karena kesombongan dan kecongkakan, kaum-kaum tersebut dibinasakan oleh Allah dengan ditimpakannya adzab di dunia sebelum adzab di akhirat.Kemudian Allah berfirman tentang kaum ‘Ad:أَلَمْ تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِعَادٍ“Tidakkah engkau (Muhammad) memperhatikan bagaimana Tuhanmu berbuat terhadap (kaum) ‘Aad?”Kaum ‘Aad adalah kaum Arab kuno yang diutus kepada mereka Nabi Hud. Allah berfirman:وَإِلَىٰ عَادٍ أَخَاهُمْ هُودًا ۗ قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُم مِّنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ ۚ أَفَلَا تَتَّقُونَ“Dan kepada kaum ‘Aad (Kami utus) Hud, saudara mereka. Dia berkata, ‘Wahai kaumku! Sembahlah Allah! Tidak ada tuhan (sesembahan) bagimu selain Dia. Maka mengapa kamu tidak bertakwa?’” (QS Al-A’raf : 65)Akan tetapi kaum ‘Ad adalah kaum yang sombong lagi angkuh. Mereka diberi kekuatan oleh Allah tetapi digunakan untuk semakin ingkar kepada Allah. Allah berfirman tentang perkataan Nabi Hud:وَاذْكُرُوا إِذْ جَعَلَكُمْ خُلَفَاءَ مِن بَعْدِ قَوْمِ نُوحٍ وَزَادَكُمْ فِي الْخَلْقِ بَسْطَةً ۖ فَاذْكُرُوا آلَاءَ اللَّهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ“Ingatlah ketika Dia menjadikan kalian sebagai khalifah-khalifah setelah kaum Nuh, dan Dia lebihkan kalian dalam kekuatan tubuh dan perawakan. Maka ingatlah akan nikmat-nikmat Allah agar kalian beruntung.” (QS Al-A’raf : 69)Firman Allah “dan Dia lebihkan kalian dalam kekuatan tubuh dan perawakan” setelah Allah menyebutkan tentang kaum Nuh, menunjukan bahwa Kaum ‘Aad memiliki tubuh yang lebih besar daripada tubuh kaum Nuh. Namun seberapa tingginya ? Wallahu A’lam. Memang dalam sebagian buku tafsir disebutkan bahwasanya tinggi kaum ‘Ad adalah sekitar 300 hasta atau 150 meter. Namun hal ini dibantah oleh para ulama -diantaranya Ibnu Katsir- karena manusia yang paling tinggi adalah Nabi Adam ‘alaihis salam yang memiliki tinggi 60 hasta atau sekitar 30 meter. Kemudian manusia-manusia yang datang setelahnya semakin berkurang tingginya hingga manusia zaman sekarang. Manusia akan kembali ditinggikan sebagaimana Nabi Adam setelah ia memasuki surga.Nabi bersabda :خَلَقَ اللَّهُ آدَمَ وَطُولُهُ سِتُّونَ ذِرَاعًا، … فَكُلُّ مَنْ يَدْخُلُ الجَنَّةَ عَلَى صُورَةِ آدَمَ، فَلَمْ يَزَلِ الخَلْقُ يَنْقُصُ حَتَّى الآنَ“Allah menciptakna Adam tingginya 60 hasta….maka semua yang masuk surga sesuai bentuk Nabi Adam, dan senantiasa manusia berkurang (tingginya) hingga sekarang” (HR Al-Bukhari no 3326 dan Muslim no 2841)Kemudian Allah berfirman:إِرَمَ ذَاتِ الْعِمَادِ“(Yaitu) penduduk Iram yang mempunyai bangunan-bangunan yang tinggi”Terdapat khilaf diantara para ulama tentang makna Iram. Sebagian mengatakan bahwa Iram adalah nama kota yang ditinggali kaum ‘Aad. Sebagian yang lain mengatakan Iram adalah nama kakeknya kaum ‘Aad dan bukan nama kota, sebagaimana pendapat Ibnu Ishaq yang diriwayatkan oleh Ibnu Jarir At-Thabari di dalam tafsirnya dan dinukil oleh Al-Hafidz Ibnu Katsir di dalam tafsirnya. Jadi, ‘Ad adalah suatu kaum yang terdiri atas beberapa kabilah yang kembali pada عادٌ بن إِرَمَ بن عَوَضٍ بن سَامٍ بن نُوْحٍ ‘Aad bin Iram bin ‘Awadl bin Saam bin Nuh, sehingga ada empat generasi dari kaum ‘Ad sampai Nabi Nuh.Ikrimah berkata :كَانَ بَيْنَ آدَمَ وَنُوحٍ عَشْرَةُ قُرُونٍ، كُلُّهُمْ عَلَى الْإِسْلَامِ‘’Antara Adam dan Nuh sepuluh kurun/generasi, semuanya di atas Islam” (Tafsir At-Thobari 23/303)Dan القَرْنُ bias artinya kurun yaitu 100 tahun, dan bisa juga artinya generasi (lihat Qoshosh al-Anbiyaa hal 75), sehingga umur setiap generasi antara Adam dan Nuh tidak ada yang mengetahuinya, karena lama Nabi Nuh saja berdakwah adalah 950 tahun yang ini menunjukan bahwa generasi Nabi Nuh usia mereka lebih dari 950 tahun. Ini menunjukan bisa jadi jarak antara Adam dan Nuh ribuan tahun, dan demikian juga jarak antara Nuh dan Hud (kaum Áad).‘Imaad dalam bahasa Arab artinya tinggi. Para ulama berbeda pendapat tentang yang dimaksudkan dengan tinggi. Pendapat pertama, maksud dari ذَاتِ الْعِمَادِ adalah mereka memiliki tubuh yang tinggi, sebagaimana para ulama sepakat bahwa kaum ‘Aad diberi tubuh yang besar.Pendapat kedua, maksud dari ذَاتِ الْعِمَادِ adalah orang-orang yang tinggal di padang pasir di dalam kemah-kemah yang terbuat dari tiang-tiang yang tinggi. Sehingga secara tidak langsung dapat disimpulkan bahwa tubuh mereka juga tinggi. Jika mereka berpindah tempat maka mereka akan mengangkat kemah-kemah mereka.Pendapat ketiga, maksud dari ذَاتِ الْعِمَادِ adalah kaum yang memiliki tempat tinggal dari bangunan-bangunan yang tinggi. Pendapat ini adalah pendapat terkuat. Adapun pendapat yang menyatakan bahwasanya mereka tinggal di kemah-kemah yang berpindah-pindah maka pendapat ini kurang kuat, karena Allah sebutkan ketika Allah membinasakan mereka dengan mengirimkan angin maka rumah-rumah mereka tetap kokoh.Ketika kaum ‘Ad diberi tubuh yang kuat mereka lantas sombong dan angkuh. Allah berfirman:فَأَمَّا عَادٌ فَاسْتَكْبَرُوا فِي الْأَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَقَالُوا مَنْ أَشَدُّ مِنَّا قُوَّةً ۖ“Maka adapun kaum ‘Ad, mereka menyombongkan diri di bumi tanpa (mengindahkan) kebenaran dan merek berkata, ‘Siapakah yang lebih hebat kekuatannya dari kami?’” (QS Fushshilat : 15)Saking kuatnya sampai-sampai disebutkan dalam sebagian riwayat ahli tafsir, apabila mereka marah kepada suatu kampung, salah seorang dari kaum ‘Ad sanggup menghancurkan kaum tersebut dengan sekali lemparan batu besar sehingga mati semualah penduduknya. Allah pun membantah mereka dengan mengatakan:أَوَلَمْ يَرَوْا أَنَّ اللَّهَ الَّذِي خَلَقَهُمْ هُوَ أَشَدُّ مِنْهُمْ قُوَّةً ۖ وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يَجْحَدُونَ“Tidakkah mereka memperhatikan bahwa sesungguhnya Allah yang menciptakan mereka. Dia lebih hebat kekuatan-Nya dari mereka? Dan mereka telah mengingkari tanda-tanda (kebesaran) Kami.” (QS Fushshilat : 15)Maka Allah pun mengirim angin yang datang dari kejauhan seperti awan gelap yang mereka kira adalah hujan biasa. Allah berfirman:فَلَمَّا رَأَوْهُ عَارِضًا مُّسْتَقْبِلَ أَوْدِيَتِهِمْ قَالُوا هَٰذَا عَارِضٌ مُّمْطِرُنَا ۚ بَلْ هُوَ مَا اسْتَعْجَلْتُم بِهِ ۖ رِيحٌ فِيهَا عَذَابٌ أَلِيمٌ (24) تُدَمِّرُ كُلَّ شَيْءٍ بِأَمْرِ رَبِّهَا فَأَصْبَحُوا لَا يُرَىٰ إِلَّا مَسَاكِنُهُمْ ۚ كَذَٰلِكَ نَجْزِي الْقَوْمَ الْمُجْرِمِينَ (25)“(24) Maka ketika mereka melihat adzab itu berupa awan yang menuju ke lembah-lembah mereka, mereka berkata, ‘Inilah awan yang akan menurunkan hujan kepada kita.’ (Bukan!) Tetapi itulah adzab yang kamu minta agar disegerakan datangnya (yaitu) angin yang mengandung adzab yang pedih; (25) yang menghancurkan segala sesuatu dengan perintah Tuhannya, sehingga mereka (kaum ‘Ad) menjadi tidak tampak lagi (di bumi) kecuali hanya (bekas-bekas) tempat tinggal mereka. Demikianlah Kami memberi balasan kepada kaum yang berdosa.” (QS Al-Ahqaf : 24-25)Dalam ayat yang lain Allah berfirman:وَأَمَّا عَادٌ فَأُهْلِكُوا بِرِيحٍ صَرْصَرٍ عَاتِيَةٍ (6) سَخَّرَهَا عَلَيْهِمْ سَبْعَ لَيَالٍ وَثَمَانِيَةَ أَيَّامٍ حُسُومًا فَتَرَى الْقَوْمَ فِيهَا صَرْعَىٰ كَأَنَّهُمْ أَعْجَازُ نَخْلٍ خَاوِيَةٍ (7)“(6) Sedangkan kaum ‘Ad, mereka telah dibinasakan dengan angin topan yang sangat dingin; (7) Allah menimpakan angin kepada mereka selama tujuh malam delapan hari terus-menerus. Maka kamu melihat kaum ‘Ad pada waktu itu mati bergelimpangan seperti batang-batang pohon kurma yang telah kosong (lapuk).” (QS Al-Haqqah : 6-7)Mereka adalah kaum yang memiliki badan yang besar dan kuat. Akan tetapi mereka malah bertambah sombong dan merasa paling kuat kuat. Akhirnya Allah mengirimkan angin untuk menghinakan mereka. Padahal mereka telah berlindung di gunung-gunung, bersembunyi di dalam goa-goa, akan tetapi angin tersebut bisa mencabut mereka dari dalam goa kemudian menerbangkan mereka di udara. Meskipun tubuh mereka sangat besar dan kuat akan tetapi mereka diombang-ambingkan oleh angin yang sangat dingin dan bersuara sangat keras selama 8 hari. Setelah itu anginpun menjatuhkan mereka ke daratan dengan kepala terlebih dahulu yang jatuh sehingga hancur kepala mereka. Karena itulah Allah menyamakan mereka seperti batang kurma yang telah kosong yaitu tanpa kepala (lihat Tafsir Ibnu Katsir 6/139).Dalam ayat yang lain :كَأَنَّهُمْ أَعْجازُ نَخْلٍ مُنْقَعِرٍ“Seakan-akan mereka batang kurma yang terlobangi” (QS Al-Qomar : 20)Firman Allah مُنْقَعِرٍ (yang terlobangi) menunjukan bahwa angin telah menghantam mereka sehingga terbelah perut mereka dan bertebanglah usus-usus dan jantung mereka keluar maka jadilah mereka mayat-mayat yang kosong isinya (Lihat At-Tahriir wa at-Tanwiir 27/194)Kaum ‘Aad yang begitu sombong dengan kekuatan tubuh mereka ternyata dibinasakan oleh Allah hanya dengan udara.Kemudian Allah berfirman:الَّتِي لَمْ يُخْلَقْ مِثْلُهَا فِي الْبِلَادِ“Yang belum pernah diciptakan seperti itu di negeri-negeri lain”Ada dua pendapat ulama tentang apa yang dimaksudkan dengan tidak pernah diciptakan semisalnya. Pendapat pertama mengatakan yang dimaksudkan adalah bangunan. Bangunan mereka sangat canggih sehingga tidak pernah ada bangunan selain milik kaum ‘Ad yang lebih canggih.Pendapat kedua mengatakan yang dimaksudkan adalah kaum ‘Ad itu sendiri. Bahwasanya Allah tidak pernah menciptakan manusia yang kuat seperti kaum ‘Ad. Dan ini adalah pendapat yang lebih kuat. Karenaيُخْلَقْ  (diciptakan) lebih tepat untuk menunjukkan penciptaan manusia, adapun jika yang dimaksudkan adalah bangunan maka akan lebih tepat jika memakai kata يُبْنَى (dibangun), sehingga secara bahasa lebih kuat pendapat kedua, yaitu Allah tidak pernah menciptakan manusia yang kuat sebagaimana kaum ‘Aad.Adapun cerita-cerita yang beredar bahwa ada orang yang pernah menemukan kota kaum ‘Aad, dimana jembatannya terbuat dari emas, bangunan dan rumah-rumahnya terbuat dari emas dan perak, maka kata Al-Hafidz Ibnu Katsir, ini semua adalah khurafatnya Bani Israil. Riwayat-riwayat yang menceritakan tentang itu tidak shahih, meskipun benar bahwasanya mereka memiliki bangunan-bangunan yang tinggi namun tidak sebagaimana yang disebutkan dalam riwayat-riwayat tersebut.Kemudian Allah menyebutkan kaum yang kedua, Allah berfirman:وَثَمُودَ الَّذِينَ جَابُوا الصَّخْرَ بِالْوَادِ“Dan (terhadap) kaum Tsamud yang memotong batu-batu besar di lembah”Yaitu mereka melobangi batu-batu besar seperti gunung untuk dijadikan sebagai tempat tinggal mereka. Yang batu-batu yang besar ibarat gunung itu letaknya di lembah. Yaitu wadi “al-Quroo”, yang letaknya sekarang di sebuah kota Namanya al-‘Ula, sekitar 300 km sebelah utara kota Madinah.Kaum Tsamud juga termasuk kaum yang kuat. Allah menghancurkan kaum Tsamud dengan suara yang menggelegar. Namun rumah-rumah mereka tidak hancur, bahkan sampai sekarang masih ada. Mengunjungi tempat-tempat seperti itu diperbolehkan tetapi hendaknya untuk mengambil pelajaran. Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:لاَ تَدْخُلُوا مَسَاكِنَ الَّذِينَ ظَلَمُوا إِلاَّ أَنْ تَكُونُوا بَاكِينَ، أَنْ يُصِيبَكُمْ مَا أَصَابَهُمْ“Janganlah kalian memasuki tempat tinggal orang-orang yang dzalim, kecuali sambil menangis. Karena apa yang menimpa mereka bisa menimpa kalian.” (HR Ahmad 5466 dan Bukhari 4419)Maka lihatlah bagaimana gunung-gunung yang dipahat oleh mereka untuk dijadikan rumah, di dalamnya ada kamar-kamar, dipan-dipan, menunjukkan akan kekuatan mereka dan kecerdasan yang diberikan oleh Allah dalam masalah menghias dan mengukir gunung. Tetapi karena kesombongan mereka setelah diberi kelebihan oleh Allah, mereka akhirnya dibinasakan oleh Allah.Kemudian Allah menyebutkan kaum yang ketiga, Allah berfirman:وَفِرْعَوْنَ ذِي الْأَوْتَادِ“Dan (terhadap) Fir’aun yang mempunyai pasak-pasak (bangunan yang besar)”الْأَوْتَادِ adalah tali-tali yang dipasang untuk mengikat sesuatu seperti orang yang sedang membangun kemah kemudian menggunakan tali pengikat untuk mengokohkannya. Ada 3 pendapat di kalangan para ulama tentang makna tali-tali tersebut.Pendapat pertama mengatakan dahulu Firaun mengadzab Bani Israil dengan cara mengikat mereka dengan tali ke tangan dan kaki mereka kemudian menarik tali-tali tersebut. Sehingga Firaun dikenal sebagai pemilik tali-tali untuk menyiksa kaum Bani Israil.Pendapat kedua mengatakan yang dimaksudkan adalah tali-tali dan pasak-pasak yang besar yang dipasang oleh Firaun untuk meninggikan payung-payung besar yang dibuat oleh oleh Fir’aun untuk menaungi lapangan atau lokasi untuk bermain-main.Pendapat ketiga mengatakan bahwa makna الْأَوْتَادِ pada ayat ini artinya pasukan. Yaitu Fir’aun memasang besi di tangan dan kaki mereka (lihat ketiga pendapat ini di Tafsir At-Thobari 24/370-372).Firaun memiliki pasukan yang banyak lalu mengerahkan semuanya dan memerintahkannya mengejar Nabi Musa. Bahkan menteri-menterinya semuanya dikerahkan untuk ikut serta mengejar Nabi Musa. Pada akhirnya Allah menghancurkan semuanya.Kemudian Allah berfirman:الَّذِينَ طَغَوْا فِي الْبِلَادِ“Yang berbuat sewenang-wenang dalam negeri”Mereka semua yaitu kaum ‘Ad, kaum Tsamud, dan kaum Firaun telah melampaui batas, berbuat kedzaliman di negeri-negeri, melanggar larangan Allah dan sombong di atas muka bumi.فَأَكْثَرُوا فِيهَا الْفَسَادَ“Lalu mereka banyak berbuat kerusakan dalam negeri itu”Akhirnya mereka melakukan banyak kerusakan. Karena seseorang yang sombong dan sewenang-wenang biasanya akan menimbulkan kerusakan.فَصَبَّ عَلَيْهِمْ رَبُّكَ سَوْطَ عَذَابٍ“Karena itu Tuhanmu menuangkan cemeti adzab kepada mereka”Karena mereka banyak melakukan kerusakan maka Allah berikan adzab kepada mereka yaitu adzab di dunia sebelum di akherat kelak akan ditimpakan adzab lagi yang lebih berat. Allah memberi ungkapan dengan “cemeti” yang menunjukan adzab yang Allah timpakan kepada mereka adalah ringan dibandingkan dengan adzab yang akan mereka terima di akhirat. Allah hanya mengirim angin untuk memporak-porandakan kaum ‘Ad, Allah hanya mengadzab dengan suara yang menggelegar untuk kaum Tsamud, dan Allah hanya menjadikan laut menutup Fir’aun dan bala tentaranya. Ini semua adalah adzab yang mudah bagi Allah.Firaun dan kaumnya diadzab oleh Allah dengan cara ditenggelamkan oleh Allah. Allah memerintahkan Musa untuk memukulkan tongkatnya. Dalam Al-Quran Allah berfirman:وَلَقَدْ أَوْحَيْنَا إِلَىٰ مُوسَىٰ أَنْ أَسْرِ بِعِبَادِي فَاضْرِبْ لَهُمْ طَرِيقًا فِي الْبَحْرِ يَبَسًا لَّا تَخَافُ دَرَكًا وَلَا تَخْشَىٰ“Dan sungguh telah Kami wahyukan kepada Musa, ‘Pergilah bersama hamba-hamba-ku (Bani Israil) pada malam hari, dan pukullah (buatlah) untuk mereka jalan yag kering di laut itu, (engkau) tidak perlu takut akan tersusul dan tidak perlu khawatir (akan tenggelam)’.” (QS Thaha : 77)Setelah Musa memukulkan tongkatnya maka terbukalah laut merah, seketika permukaan tanahnya menjadi kering sehingga mudah untuk dipijak. Disebutkan bahwa laut tersebut terbelah menjadi 12 jalur karena bani Israil ada 12 suku, dan masing-masing jalur tersebut dibatasi oleh lautan  yang naik menjulang seperti gunung akan tetapi lautan tersebut masih ada celah-celahnya seperti jarring-jaring yang berlobang sehingga setiap suku masih bisa melihat suku yang lain dan memastikan bahwa semuanya selamat. Setelah Nabi Musa berhasil melewatinya, Nabi Musa ingin memukulkan tongkatnya kembali agar lautnya tertutup. Namun Allah menegurnya, Allah berfirman:فَأَسْرِ بِعِبَادِي لَيْلًا إِنَّكُم مُّتَّبَعُونَ (23) وَاتْرُكِ الْبَحْرَ رَهْوًا ۖ إِنَّهُمْ جُندٌ مُّغْرَقُونَ (24)“(23) (Allah berfirma), ‘Karena itu berjalanlah dengan hamba-hamba-Ku pada malam hari, sesungguhnya kamu akan dikejar; (24) dan biarkanlah laut itu terbelah. Sesungguhnya mereka, bala tentara yang akan ditenggelamkan’.” (QS Ad-Dukhan : 23-24)Nabi Musa pun tidak jadi memukulkan tongkatnya dan membiarkan lautannya tetap terbuka. Akhirnya dalam keadaan laut yang masih terbelah, Firaun pun melanjutkan pengejarannya terhadap Nabi Musa setelah sebelumnya ia ragu, namun Fir’aun terpaksa menyabarkan dirinya di hadapan para pembesarnya -ia jaga gengsi- setelah itu ia meyakinkan pasukannya untuk masuk menyeberangi lautan. Namun ketika Firaun dan pasukannya seluruhnya telah berada di tengah laut, Nabi Musa pun memukulkan tongkatnya. Laut pun tertutup kembali atas izin Allah dan Allah membinasakan mereka semua. (lihat Tafsir Ibnu Katsir 4/254)Allah menggunakan ibarat صَبَّ “menuangkan” sebagai kiasan seperti tertuangnya air yang terus menerus kepada seseorang yang sedang mandi dan sebagaimana air hujan yang tertuangkan ke atas muka bumi. Yang hal ini menunjukan bahwa adzab yang menimpa mereka sekali tahapan saja, cepat, dan datang dengan tiba-tiba. Kaum ‘Aad melihat angin seperti awan dan menyangka itu adalah karunia ternyata adzab. Kaum Tsamud tidak tahu adzab apa yang akan menimpa mereka ternyata suara yang sangat keras yang mencabut nyawa mereka. Fir’aun dan bala tentaranya masuk di tengah lautan yang terbuka dan tidak menduga ternyata lautan tersebut tiba-tiba menenggelamkan mereka. (Lihat At-Tahriir wa At-Tanwiir 30/322)Kemudian Allah berfirman:إِنَّ رَبَّكَ لَبِالْمِرْصَادِ“Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mengawasi” Ini adalah peringatan terhadap kaum musyrikin Arab agar tidak sombong dan angkuh yang bisa menjadi penyebab ditimpakannya adzab Allah di dunia sebelum di akhirat. Allah mengingatkan mereka akan kejadian yang menimpa kaum ‘Ad, kaum Tsamud, Firaun dan bala tentaranya karena kesombongan mereka. Karena Allah mengawasi amal perbuatan mereka, kekufuran dan kesombongan mereka, tidak ada satu amalan merekapun yang luput dari pengawasan Allah (lihat Fathul Qodiir 5/531)Kemudian Allah menyebutkan sifat orang-orang kafir, Allah berfirman:فَأَمَّا الْإِنسَانُ إِذَا مَا ابْتَلَاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ“Maka adapun manusia apabila Tuhan mengujinya lalu memuliakannya dan memberinya kesenangan, maka dia berkata, ‘Tuhanku telah memuliakanku’” وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلَاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ“Namun apabila Tuhan mengujinya lalu membatasi rezekinya, maka dia berkata, ‘Tuhanku telah menghinakanku’”Para ulama memberikan kaedah, jika disebutkan kata الْإِنسَانُ di dalam surat makiyyah maka itu maksudnya adalah orang kafir, kecuali ada dalil yang memalingkannya. Bahkan sebagian ahli tafsir menyatakan bahwa kedua ayat ini turun tentang Umayyah bin Kholaf al-Jumahi (Lihat Tafsir As-Sm’aani 6/221)Dua ayat ini adalah gambaran pola pikir orang kafir, jika diberi rezeki mereka merasa dimuliakan tetapi jika rezekinya disempitkan mereka merasa dihinakan. Mereka menjadikan barometer pemuliaan dan penghinaan pada harta. Adapun orang beriman tidaklah demikian, orang beriman akan merasa dimuliakan jika diberi taufik untuk beribadah kepada Allah. Mereka menjadikan barometer pemuliaan dengan ketaatan dan barometer penghinaan dengan kemaksiatan. (Lihat Tafsir As-Sama’aani 6/221 dan Tafsir Al-Qurthubi 8/421) Jika dia rajin shalat, rajin bershadaqah, rajin beribadah, itu artinya Allah memuliakannya. Namun jika dia malas beribadah, maka Allah telah menghinakan dia. Dan demikianlah musibah yang sebenarnya, tatkala seseorang terjauhkan dari ketaatan kepada Allah. Oleh karena itu, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam berdoa:وَلَا تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِي دِينِنَا“Ya Allah, Janganlah Engkau jadikan musibah yang menimpa kami dalam urusan agama kami.” (HR Tirmidzi no.3502)Kemudian Allah berfirman:كَلَّا ۖ بَل لَّا تُكْرِمُونَ الْيَتِيمَ“Sekali-kali tidak! Bahkan kamu tidak memuliakan anak yatim”“Sekali-kali tidak!”, yaitu Allah membantah cara berpikir orang kafir bahwasanya kalau kaya dimuliakan, kalau miskin dihinakan. Karena harta bukanlah ukuran kemuliaan dan kehinaan. Seseorang itu bisa mulia baik dia kaya maupun miskin. Sebagaimana apa yang ada pada para Nabi, diantara mereka ada yang kaya ada pula yang miskin, namun itu tidak mempengaruhi kadar kemuliaan mereka. Diantara sahabat ada pula yang kaya dan ada juga yang miskin, namun itu semua tidak mengurangi status mereka sebagai pendamping Nabi. Akan tetapi seseorang bisa mulia dengan keimanan dan ketakwaan, adapun hartanya dia gunakan sebagai sarana untuk bertakwa bukan menjadi tujuan.Cara berpikir demikian adalah cara berpikir orang kafir, kemuliaan dan kehinaan berdasarkan harta. Sehingga mereka tidak memuliakan anak-anak yatim. Karena tujuan mereka adalah dunia dan dunia. Jika mereka bersedekah maka hartanya akan berkurang, jika hartanya berkurang maka kemuliaannya akan berkurang. Atau bahkan mereka karena tamaknya dengan dunia yang dianggap sebagai barometer kemuliaan sehingga mereka memakan harta anak yatim.[1]Allah berfirman:وَلَا تَحَاضُّونَ عَلَىٰ طَعَامِ الْمِسْكِينِ“Dan kamu tidak saling mengajak memberi makan orang miskin”Demikianlah keadaan orang kafir, tidak ada keinginan untuk saling memotivasi agar memberi makan fakir miskin. Karena mereka adalah orang pelit yang tujuannya hanyalah dunia.وَتَأْكُلُونَ التُّرَاثَ أَكْلًا لَّمًّا“Sedangkan kamu memakan harta warisan dengan cara mencampurbaurkan (yang halal dan yang haram)”Ibnu Az-Zaid berkata :الْأَكْلُ اللَّمُّ الَّذِي يَأْكُلُ كُلَّ شَيْءٍ يَجِدُهُ، لَا يَسْأَلُ عَنْهُ أَحَلَالٌ هُوَ أَمْ حَرَامٌ؟ وَيَأْكُلُ الَّذِي لَهُ وَلِغَيْرِهِ“أَكْلًا لَّمًّا yaitu yang memakan segala sesuatu yang ia dapati, ia tidak bertanya tentang harta yang ia dapati (di tangannya) apakah halal ataukah haram. Ia juga memakan miliknya dan milik orang lain” (Tafsir Al-Qurthubi 8/422)Demikianlah keadaan orang kafir, tidak peduli yang penting dapat uang yang berlimpah. Baik dengan cara yang benar atau cara yang bathil. Kata mereka, harta yang halal adalah harta yang di tangan, harta yang haram adalah harta yang tidak ada di tangan. Semua harta yang sampai di tangan bagaimana pun caranya maka itu halal. Mereka memakan harta warisan yang bukan hak mereka, ini semua karena tamak terhadap dunia.وَتُحِبُّونَ الْمَالَ حُبًّا جَمًّا“Dan kamu mencintai harta dengan kecintaan yang berlebihan”Ini adalah sifat-sifat umum pada orang kafir, dan demikian pula sifat manusia secara asalnya yaitu mencintai harta. Terlebih harta tersebut diraih dengan susah payah, dengan membanting tulang, dengan mengeluarkan keringat, kemudian setelah mendapatkannya lalu diperintahkan untuk diinfakkan, maka itu adalah hal yang sangat berat. Padahal harta tersebut tidak akan dibawa mati, hakikat harta kita adalah yang diinfakkan. Dalam suatu hadits tatkala disembelih seekor kambing kemudian Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam menyuruh istri-istrinya untuk membagikan (daging) kambing tersebut kepada orang lain. Maka setelah dibagikan (daging) kambing tersebut Nabi bertanya kepada ‘Aisyah:مَا بَقِيَ مِنْهَا؟ قَالَتْ مَا بَقِيَ مِنْهَا إِلَّا كَتِفُهَا قَالَ بَقِيَ كُلُّهَا غَيْرَ كَتِفِهَا“Wahai ‘Aisyah, bagian mana dari kambing tersebut yang masih tersisa?” Maka ‘Aisyah berkata: “Tidak ada yang tersisa kecuali hanya bagian pundak dari kambing.” Maka Nabi mengatakan: “Seluruh kambing tersisa kecuali pundak yang tersisa.” (HR. Tirmidzi no. 2470)Artinya adalah semua yang sudah dibagikan itulah yang tersisa di akhirat, sedangkan yang yang belum dibagikan itu yang tidak tersisa di akhirat. Kalau kita ingin menabung yang pasti aman dan pasti tersisa maka menabunglah dengan cara bershadaqah.Kemudian Allah berfirman:كَلَّا إِذَا دُكَّتِ الْأَرْضُ دَكًّا دَكًّا“Sekali-kali tidak! Apabila bumi diguncangkan berturut-turut (berbenturan)”وَجَاءَ رَبُّكَ وَالْمَلَكُ صَفًّا صَفًّا“Dan datanglah Tuhanmu sedang malaikat berbaris-baris”Kata para ulama, Allah akan datang ketika melaksanakan persidangan. Dan kejadian ini terjadi setelah semua manusia berkumpul di padang mahsyar di bawah matahari yang berjarak hanya 1 mil dari kepala mereka dan berlangsung dalam waktu yang sangat lama. Persidangan akan ditegakkan setelah Allah mengabulkan syafaat udzma dari Nabi Muhammad shalallahu ‘alayhi wa sallam. Kemudian datanglah Allah untuk melakukan persidangan terhadap seluruh manusia.Kemudian Allah berfirman:وَجِيءَ يَوْمَئِذٍ بِجَهَنَّمَ ۚ يَوْمَئِذٍ يَتَذَكَّرُ الْإِنسَانُ وَأَنَّىٰ لَهُ الذِّكْرَىٰ“Dan pada hari itu diperlihatkan Neraka Jahannam. Pada hari itu sadarlah manusia, tetapi tidak berguna lagi baginya kesadaran itu”Setelah hari perhitungan dan penimbangan, didatangkanlah neraka jahannam. Dalam suatu hadist, dari Abdullah bin Mas’ud dia berkata, Rasulullah bersabda:يُؤْتَى بِجَهَنَّمَ يَوْمَئِذٍ لَها سَبْعُوْنَ أَلْفِ زَمامٍ، مَعَ كُلِّ زَمامٍ سَبْعُوْنَ أَلْفِ مَلَكٍ يَجُرُّوْنَها“Jahannam akan didatangkan pada hari itu dan dia mempunyai 70.000 tali kekang, dan setiap tali kekang akan ditarik oleh 70.000 malaikat.” (HR. Muslim no. 2842)Hadist ini menunjukkan bahwa neraka jahannam itu sangat besar, sampai-sampai membutuhkan 4 milyar 900 juta malaikat untuk menariknya, dan masing-masing ukuran malaikat tidak ada yang mengetahui besarnya kecuali Allah. Bahkan neraka jahannam selalu meminta agar ditambahkan penghuni ke dalamnya. Allah berfirman tentang perkataan neraka jahannam:يَوْمَ نَقُولُ لِجَهَنَّمَ هَلِ امْتَلَأْتِ وَتَقُولُ هَلْ مِن مَّزِيدٍ“(Ingatlah) pada hari (ketika) Kami bertanya kepada Jahannam, ‘Apakah kamu sudah penuh?’ Ia menjawab, ‘Masih adakah tambahan?’” (QS Qaf : 30)Ini karena saking begitu luasnya neraka jahannam itu. Dan neraka jahannam nanti bisa melihat dan berbicara, neraka jahannam marah dan ingin segera menelan calon penghuninya. Allah berfirman:إِذَا رَأَتْهُم مِّن مَّكَانٍ بَعِيدٍ سَمِعُوا لَهَا تَغَيُّظًا وَزَفِيرًا“Apabila ia (neraka) melihat mereka dari tempat yang jauh, mereka mendengar suaranya yang gemuruh karena marahnya.” (QS Al-Furqan : 12)Kemudian Allah berfirman:يَقُولُ يَا لَيْتَنِي قَدَّمْتُ لِحَيَاتِي“Dia mengatakan, ‘Alangkah baiknya sekiranya dahulu aku mengerjakan (kebajikan) untuk hidupku ini’”Maka pada hari tersebut setiap manusia akan mengingat seluruh perbuatan berupa kebaikan dan keburukan yang pernah dia lakukan. Namun mengingat itu semua tiada berguna lagi, yang bersisa hanyalah penyesalan. Bahkan para ulama berkata bahwasanya yang menyesal bukan hanya orang-orang yang diadzab tetapi termasuk orang-orang mukmin, dia merasa ibadah-ibadah yang dia kerjakan kurang banyak.Ibnu Katsir berkata -:يَقُولُ يَا لَيْتَنِي قَدَّمْتُ لِحَيَاتِي: يَعْنِي يَنْدَمُ عَلَى مَا كَانَ سَلَفَ مِنْهُ مِنَ الْمَعَاصِي -إِنْ كَانَ عَاصِيًا-وَيَوَدُّ لَوْ كَانَ ازْدَادَ مِنَ الطَّاعَاتِ -إِنْ كَانَ طَائِعًا“Firman Allah : (Dia mengatakan, ‘Alangkah baiknya sekiranya dahulu aku mengerjakan (kebajikan) untuk hidupku ini’) yaitu dia menyesal atas apa yang dulu ia kerjakan (di dunia), kalau ia seorang pelaku maksiat maka ia menyesali kemaksiatan-kemaksiatan yang pernah ia lakukan. Jika ia seorang yang ta’at maka ia berangan-angan kalau seandainya ia menambah ketaatannya” (Tafsir Ibnu Katsir 8/389)Muhammad bin Abi Úmairoh radhiallahu ánhu berkata :لَوْ أَنَّ عَبْدًا خَرَّ عَلَى وَجْهِهِ مِنْ يَوْمِ وُلِدَ، إِلَى أَنْ يَمُوتَ هَرَمًا فِي طَاعَةِ اللهِ، لَحَقَّرَهُ ذَلِكَ الْيَوْمَ، وَلَوَدَّ أَنَّهُ رُدَّ إِلَى الدُّنْيَا كَيْمَا يَزْدَادَ مِنَ الْأَجْرِ وَالثَّوَابِ“Jika seorang hamba tersungkur di atas wajahnya sejak lahir hingga meninggal karena menghabiskan waktu dalam ketaatan kepada Allah maka pada hari itu ia akan merasa sedikit amal perbuatannya, dan sungguh ia akan berangan-angan seandainya ia dikembalikan lagi ke dunia agar ia bisa menambah pahala dan ganjaran”(Atsar riwayat al-Imam Ahmad dalam musnadnya no 17650 dengan sanad yang shahih)Orang-orang kafir sejak dimasukkan ke kuburan sudah menyesal, kemudian diperlihatkan neraka jahannam mereka semakin menyesal, dan ketika dimasukkan ke dalam neraka jahannam maka penyesalannya semakin bertambah lagi, namun penyesalan tersebut tidak ada faiedahnya lagi. Allah berfirman tentang penyesalan mereka:وَهُمْ يَصْطَرِخُونَ فِيهَا رَبَّنَا أَخْرِجْنَا نَعْمَلْ صَالِحًا غَيْرَ الَّذِي كُنَّا نَعْمَلُ ۚ“Dan mereka berteriak di dalam neraka itu, ‘Ya Tuhan kami,, keluarkanlah kami (dari neraka), niscaya kami akan mengerjakan kebajikan, yang berlainan dengan yang telah kami kerjakan dahulu.’” (QS Fathir : 37)Kemudian Allah berfirman:فَيَوْمَئِذٍ لَّا يُعَذِّبُ عَذَابَهُ أَحَدٌ“Maka pada hari itu tidak ada seorang pun yang mengadzab seperti adzab-Nya (yang adil)”Karena adzabnya Allah sangat pedih, tidak ada yang sanggup menyamainya. As-Smaáani berkata :لَا يُعَذِّبُ أَحَدٌ فِي الدُّنْيَا بِمثل مَا يُعَذِّبُهُ اللهُ فِي الْآخِرَة“Tidak seorangpun di dunia yang menyiksa seperti siksaan Allah di akhirat”(Tafsir As-Samáani 6/223)وَلَا يُوثِقُ وَثَاقَهُ أَحَدٌ“Dan tidak ada seorang pun yang mengikat (dengan belenggu-belenggu di neraka jahnnam) seperti ikatan-Nya”Kedua ayat di atas juga dalam qiroáh yang lain dengan memfathah yaitu (فَيَوْمَئِذٍ لَّا يُعَذَّبُ عَذَابَهُ أَحَدٌ) dan (وَلَا يُوثَقُ وَثَاقَهُ أَحَدٌ) yang artinya : “Tidak ada seorangpun yang disiksa seperti siksaannya (yaitu si kafir) dan tidak seorangpun yang dibelenggu seperti dibelenggunya (si kafir)” (lihat Tafsir As-Smaáani 6/223)Kemudian Allah menyebutkan tentang orang-orang beriman, Allah berfirman:يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ“Wahai jiwa yang tenang!”Yaitu yang tenang dengan keimanannya kepada Allah beserta hari pembalasan-Nya, yang yakin dengan janji Allah akan pahala dan ganjaran pada hari akhirat, yang tidak terbelenggu dengan ketamakan dunia (lihat Tafsir al-Qurthubi 20/57)Ada pula yang berpendapat bahwa ini adalah perkataan malaikat kepada orang-orang beriman tatkala akan meninggal dunia.ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً“Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai-Nya”ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ  “Kepada Rabbmu”yaitu “kepada Tuhanmu”, maksudnya adalah menuju surga, sebagaimana firman Allah :إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي جَنَّاتٍ وَنَهَرٍ (54) فِي مَقْعَدِ صِدْقٍ عِنْدَ مَلِيكٍ مُقْتَدِرٍ (55)“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa di dalam taman-taman (surga) dan sungai-sungai, di tempat yang disenangi di sisi Tuhan Yang Berkuasa”(QS Al-Qomar 54-55)Yang hal ini dicuapkan oleh malaikat kepada ruh orang beriman tatkal akan meninggal dunia dengan memberi kabar gembira kepadanya tentang surga.Dan ada yang berpendapat bahwa yang dimaksud dengan “Kepada Rabbmu”yaitu “Kepada Pemilimmu wahai ruuh, yaitu jasadmu”, yang ini diucapkan ketika hari kebangkitan ketika ruh-ruh dikembalikan kepada jasad (Lihat At-Tahriir wa At-Tanwiir 30/342)رَاضِيَةً Yaitu dengan hati yang ridho dan senang dengan pahala dan ganjaran yang Allah berikan kepadanya. Karena semua yang ia cita-citakan dan impikan terwujudkan pada hari itu. Dan مَّرْضِيَّةً (diridhoiNya) yaitu tambahan pujian kepada jiwa tersebut disertai penekanan akan tambahan karunia dan ganjaran kepadanya. Karena bukan sekedar dia yang senang bahkan Robbnya juga rido kepadanya dan akan memberi tambahan ganjaran kepadanya (lihat At-Tahriir wa at-Tanwiir 30/343)فَادْخُلِي فِي عِبَادِي“Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku”Yaitu hamba-hambaKu sholihin. Kata para ulama, ini adalah kabar gembira bagi para penghuni surga bahwasanya dia tidak masuk surga sendiri.وَادْخُلِي جَنَّتِي“Dan masuklah ke dalam surga-Ku”Sebelumnya Allah menggunakan dhomir al-ghoib (kata ganti orang ketiga) maka pada ayat ini Allah menggunakan dhomir al-mutakallim (kata ganti orang pertama) sebagai bentuk tambahan pemuliaan.Allah juga tidak berkata فَادْخُلِي جَنَّتِي فِي عِبَادِي “Masuklah surga bersama hamba-hambaKu”, akan tetapi Allah mengkhususkan penyebutan sang jiwa secara sendirian dengan berkata وَادْخُلِي جَنَّتِي “Masuklah engkau ke surgaKu” agar menambah kebahagiaannya, seakan-akan ia sangat spesial dengan mendapat perhatian khusus (lihat At-Tahriir wa at-Tanwiir 30/344)[1] Ada dua pendapat ulama tentang makna “tidak memuliakan anak yatim”, yaitu (1) tidak berbuat baik kepada mereka dan (2) memakan harta mereka (lihat Tafsir As-Sam’aani 6/221)

Belajar Dulu atau Berdakwah?

Fatwa Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan bin ‘Abdullah Al-FauzanPertanyaan:Manakah yang lebih afdhal (lebih utama), menuntut ilmu agama (thalabul ‘ilmi) ataukah berdakwah kepada Allah Ta’ala?Jawaban:(Tentu) menuntut ilmu (thalabul ‘ilmi) terlebih dahulu. Karena seseorang tidak mungkin untuk berdakwah kepada Allah Ta’ala kecuali jika dia memiliki ilmu (agama). Jika dia tidak memiliki ilmu, dia tidak akan mampu untuk berdakwah kepada Allah Ta’ala. Jika dia (tetap) berdakwah (tanpa memiliki ilmu, pent.), maka dia akan lebih banyak melakukan kesalahan (merusak) daripada berada dalam kebenaran (memperbaiki).Disyaratkan untuk setiap orang yang ingin berdakwah agar dia memiliki ilmu agama sebelum terjun di medan dakwah. Allah Ta’ala berfirman,قُلْ هَـذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَاْ وَمَنِ اتَّبَعَنِي“Katakanlah, “Inilah jalan (agama)-ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata.” (QS. Yusuf [12]: 108)Namun, terdapat beberapa perkara yang memungkinkan bagi orang awam untuk mendakwahkannya. Misalnya, (mengajak orang) untuk menegakkan shalat; mencegah dari meninggalkan shalat jama’ah dan shalat bersama keluarga (di rumah); dan memerintahkan anak-anak untuk shalat.Perkara-perkara ini sangat jelas, sama-sama diketahui (diilmui), baik oleh orang awam atau pun orang yang belajar agama. Akan tetapi, perkara-perkara yang membutuhkan fiqh, ilmu (ilmu agama yang kuat, pent.), perkara tentang halal dan haram, perkara tauhid dan syirik, maka perkara-perkara tersebut harus dilandasi oleh ilmu. ***@Rumah Kasongan, 8 Muharram 1442/ 28 Agustus 2020Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.or.id Catatan kaki:Diterjemahkan dari kitab Al-Ajwibah Al-Mufiidah ‘an As-ilati Al-Manaahij Al-Jadiidah, hal. 146 (penerbit Maktabah Al-Hadyu Al-Muhammadi Kairo, cetakan pertama tahun 1429)🔍 Tata Cara Bersuci, Doa Hijrah, Gambaran Surga Allah, Cross Hijabers Adalah, Asal Usul Yahudi Dan Nasrani

Belajar Dulu atau Berdakwah?

Fatwa Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan bin ‘Abdullah Al-FauzanPertanyaan:Manakah yang lebih afdhal (lebih utama), menuntut ilmu agama (thalabul ‘ilmi) ataukah berdakwah kepada Allah Ta’ala?Jawaban:(Tentu) menuntut ilmu (thalabul ‘ilmi) terlebih dahulu. Karena seseorang tidak mungkin untuk berdakwah kepada Allah Ta’ala kecuali jika dia memiliki ilmu (agama). Jika dia tidak memiliki ilmu, dia tidak akan mampu untuk berdakwah kepada Allah Ta’ala. Jika dia (tetap) berdakwah (tanpa memiliki ilmu, pent.), maka dia akan lebih banyak melakukan kesalahan (merusak) daripada berada dalam kebenaran (memperbaiki).Disyaratkan untuk setiap orang yang ingin berdakwah agar dia memiliki ilmu agama sebelum terjun di medan dakwah. Allah Ta’ala berfirman,قُلْ هَـذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَاْ وَمَنِ اتَّبَعَنِي“Katakanlah, “Inilah jalan (agama)-ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata.” (QS. Yusuf [12]: 108)Namun, terdapat beberapa perkara yang memungkinkan bagi orang awam untuk mendakwahkannya. Misalnya, (mengajak orang) untuk menegakkan shalat; mencegah dari meninggalkan shalat jama’ah dan shalat bersama keluarga (di rumah); dan memerintahkan anak-anak untuk shalat.Perkara-perkara ini sangat jelas, sama-sama diketahui (diilmui), baik oleh orang awam atau pun orang yang belajar agama. Akan tetapi, perkara-perkara yang membutuhkan fiqh, ilmu (ilmu agama yang kuat, pent.), perkara tentang halal dan haram, perkara tauhid dan syirik, maka perkara-perkara tersebut harus dilandasi oleh ilmu. ***@Rumah Kasongan, 8 Muharram 1442/ 28 Agustus 2020Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.or.id Catatan kaki:Diterjemahkan dari kitab Al-Ajwibah Al-Mufiidah ‘an As-ilati Al-Manaahij Al-Jadiidah, hal. 146 (penerbit Maktabah Al-Hadyu Al-Muhammadi Kairo, cetakan pertama tahun 1429)🔍 Tata Cara Bersuci, Doa Hijrah, Gambaran Surga Allah, Cross Hijabers Adalah, Asal Usul Yahudi Dan Nasrani
Fatwa Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan bin ‘Abdullah Al-FauzanPertanyaan:Manakah yang lebih afdhal (lebih utama), menuntut ilmu agama (thalabul ‘ilmi) ataukah berdakwah kepada Allah Ta’ala?Jawaban:(Tentu) menuntut ilmu (thalabul ‘ilmi) terlebih dahulu. Karena seseorang tidak mungkin untuk berdakwah kepada Allah Ta’ala kecuali jika dia memiliki ilmu (agama). Jika dia tidak memiliki ilmu, dia tidak akan mampu untuk berdakwah kepada Allah Ta’ala. Jika dia (tetap) berdakwah (tanpa memiliki ilmu, pent.), maka dia akan lebih banyak melakukan kesalahan (merusak) daripada berada dalam kebenaran (memperbaiki).Disyaratkan untuk setiap orang yang ingin berdakwah agar dia memiliki ilmu agama sebelum terjun di medan dakwah. Allah Ta’ala berfirman,قُلْ هَـذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَاْ وَمَنِ اتَّبَعَنِي“Katakanlah, “Inilah jalan (agama)-ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata.” (QS. Yusuf [12]: 108)Namun, terdapat beberapa perkara yang memungkinkan bagi orang awam untuk mendakwahkannya. Misalnya, (mengajak orang) untuk menegakkan shalat; mencegah dari meninggalkan shalat jama’ah dan shalat bersama keluarga (di rumah); dan memerintahkan anak-anak untuk shalat.Perkara-perkara ini sangat jelas, sama-sama diketahui (diilmui), baik oleh orang awam atau pun orang yang belajar agama. Akan tetapi, perkara-perkara yang membutuhkan fiqh, ilmu (ilmu agama yang kuat, pent.), perkara tentang halal dan haram, perkara tauhid dan syirik, maka perkara-perkara tersebut harus dilandasi oleh ilmu. ***@Rumah Kasongan, 8 Muharram 1442/ 28 Agustus 2020Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.or.id Catatan kaki:Diterjemahkan dari kitab Al-Ajwibah Al-Mufiidah ‘an As-ilati Al-Manaahij Al-Jadiidah, hal. 146 (penerbit Maktabah Al-Hadyu Al-Muhammadi Kairo, cetakan pertama tahun 1429)🔍 Tata Cara Bersuci, Doa Hijrah, Gambaran Surga Allah, Cross Hijabers Adalah, Asal Usul Yahudi Dan Nasrani


Fatwa Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan bin ‘Abdullah Al-FauzanPertanyaan:Manakah yang lebih afdhal (lebih utama), menuntut ilmu agama (thalabul ‘ilmi) ataukah berdakwah kepada Allah Ta’ala?Jawaban:(Tentu) menuntut ilmu (thalabul ‘ilmi) terlebih dahulu. Karena seseorang tidak mungkin untuk berdakwah kepada Allah Ta’ala kecuali jika dia memiliki ilmu (agama). Jika dia tidak memiliki ilmu, dia tidak akan mampu untuk berdakwah kepada Allah Ta’ala. Jika dia (tetap) berdakwah (tanpa memiliki ilmu, pent.), maka dia akan lebih banyak melakukan kesalahan (merusak) daripada berada dalam kebenaran (memperbaiki).Disyaratkan untuk setiap orang yang ingin berdakwah agar dia memiliki ilmu agama sebelum terjun di medan dakwah. Allah Ta’ala berfirman,قُلْ هَـذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَاْ وَمَنِ اتَّبَعَنِي“Katakanlah, “Inilah jalan (agama)-ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata.” (QS. Yusuf [12]: 108)Namun, terdapat beberapa perkara yang memungkinkan bagi orang awam untuk mendakwahkannya. Misalnya, (mengajak orang) untuk menegakkan shalat; mencegah dari meninggalkan shalat jama’ah dan shalat bersama keluarga (di rumah); dan memerintahkan anak-anak untuk shalat.Perkara-perkara ini sangat jelas, sama-sama diketahui (diilmui), baik oleh orang awam atau pun orang yang belajar agama. Akan tetapi, perkara-perkara yang membutuhkan fiqh, ilmu (ilmu agama yang kuat, pent.), perkara tentang halal dan haram, perkara tauhid dan syirik, maka perkara-perkara tersebut harus dilandasi oleh ilmu. ***@Rumah Kasongan, 8 Muharram 1442/ 28 Agustus 2020Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.or.id Catatan kaki:Diterjemahkan dari kitab Al-Ajwibah Al-Mufiidah ‘an As-ilati Al-Manaahij Al-Jadiidah, hal. 146 (penerbit Maktabah Al-Hadyu Al-Muhammadi Kairo, cetakan pertama tahun 1429)🔍 Tata Cara Bersuci, Doa Hijrah, Gambaran Surga Allah, Cross Hijabers Adalah, Asal Usul Yahudi Dan Nasrani

Wahai Suami, Segeralah Pulang ke Rumah

Apabila seseorang pergi safar ke luar, hendaknya dia segera pulang ke rumah apabila segala urusannya telah selesai. Agar istri dan keluarga di rumah tidak lama menunggu. Istri juga butuh dengan suami dan anak-anak juga butuh dengan bapaknya. Hendaknya hal ini menjadi perhatian para suami dan ayah, karena terkadang ada oknum yang sering safar dan keluar rumah mencari kebahagiaan sendiri tanpa memperhatikan anak dan istrinya.Terdapat hadits yang menjelaskan hal ini, di mana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,فَإذَا قَضَى أحَدُكُمْ نَهْمَتَهُ مِنْ سَفَرِهِ، فَلْيُعَجِّلْ إِلَى أهْلِهِ“Jika salah seorang dari kalian telah selesai dari tujuan/kebutuhan berpergiannya (safar), maka hendaknya dia kembali kepada keluarganya” (HR. Bukhari dan Muslim).An-Nawawi rahimahullah menjelaskan hadits ini bahwa (segera) kembali ke rumah dan keluarganya itu agar dia tidak melakukan hal-hal yang tidak bermanfaat ketika safar di luar. Beliau rahimahullah berkata,المقصود فى هذا الحديث استحباب تعجيل الرجوع إلى الأهل بعد قضاء شغله ولا يتأخر بما ليس له بمهم“Maksud dari hadits ini adalah sunahnya menyegerakan kembali pulang ke keluarganya setelah menunaikan semua tugas (hajat). Hendaknya jangan menunda dengan melakukan hal yang bukan menjadi tugas (tujuan safar)” (Syarh Muslim, 13: 70).Baca Juga: Hukum Safar di Hari Jum’atSebenarnya kebahagiaan sejati itu di rumah bersama keluarga, istri, dan anak-anaknya. Seseorang yang tidak bahagia di rumahnya, maka dia akan sulit bahagia di luar rumah. Sekiranya dia merasa bahagia, itu adalah kebahagiaan semu dan sebentar saja. Seorang muslim harus bahagia di rumahnya. Hal ini dijelaskan oleh Ibnu hajar Al-Atsqalani rahimahullah ketika menjelaskan hadits ini. Beliau rahimahullah berkata,قال ابن حجر: وفي الحديث كراهة التغرب عن الأهل لغير حاجة، واستحباب استعجال الرجوع ولا سيما من يُخشى عليهم الضَّيعة بالغيبة، ولما في الإقامة في الأهل من الرَّاحة المعينة على صلاح الدِّين والدنيا“Hadits ini menjelaskan makruhnya menjauh dari keluarga tanpa hajat. Sunnahnya adalah segera kembali, terlebih jika dikhawatirkan akan menyia-nyiakan keluarga selama dia pergi.  Segera pulang dan tinggal bersama keluarga akan memberikan rasa tenang/lapang yang dapat menjaga kemaslahatan agama dan dunia” (Fathul Bari, 6: 10).Syaikh Musa Syahin Lasyin menjelaskan juga bahwa dengan segera kembali ke keluarga dan rumah, dia akan terlepas dari kesusahan selama safar. Meskipun di zaman ini safar cukup mudah dengan berbagai kemudahan sarana dan prasarana transportasi. Akan tetapi tetap saja bahwa yang namanya safar itu sulit dan kurang nyaman. Syaikh Musa Syahin Lasyin berkata,وإذا قضى أحكم حاجته التي سافر من أجلها فليعجل العودة إلى أهله، ليتخلص من عذاب السفر، وليريح أهله“Apabila salah seorang dari kalian telah menunaikan hajatnya ketika safar, hendaknya segera kembali ke keluarganya agar segera terlepas dari kesusahan safar dan menyenangkan keluarganya” (Fathul Mun’im, 7: 200).Safar adalah bagian dari azab sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,السَّفَرُ قِطْعَةٌ مِنَ الْعَذَابِ يَمْنَعُ أَحَدَكُمْ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ وَنَوْمَهُ“Safar itu bagian dari azab. Seseorang akan terhalang (terganggu) makan, minum, dan tidurnya” (HR. Bukhari dan Muslim).Demikian juga secara umum dan menimbang adab dan tanggung jawab sebagai suami dan ayah. Ketika suami keluar rumah (tidak harus safar), hendaknya segera pulang ke rumah apabila hajatnya telah selesai. Misalnya, apabila sudah selesai pergi kajian dan tidak ada urusan penting, hendaknya segera pulang. Jangan sampai setelah kajian, malah dilanjutkan dengan majelis kopi (ngobrol) bersama teman-temannya, sedangkan istrinya menunggu di rumah. Bagaimanapun juga, istri dan anak kita adalah yang paling berhak mendapatkan kebaikan kita. Sebelum orang lain merasakan manfaat dari kita berupa akhlak dan bantuan, hendaknya kita pastikan bahwa anak dan istri kita adalah orang yang paling pertama merasakan manfaat tersebut. Oleh karena itu, orang yang terbaik adalah orang yang paling baik terhadap istri dan anak-anaknya.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِيْنَ إِيْمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا وَخِيَارُكُمْ خِيَارُكُمْ لِنِسَائِهِمْ خُلُقًا“Orang yang imannya paling sempurna di antara kaum mukminin adalah orang yang paling bagus akhlaknya di antara mereka. Dan sebaik-baik kalian adalah yang terbaik akhlaknya terhadap istri-istrinya” (HR At-Tirmidzi. Lihat As-Shahihah no 284).Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya. Dan aku adalah yang paling baik di antara kalian dalam bermuamalah dengan keluargaku” (HR At-Tirmidzi. Lihat As-Shahihah no 285).Muhammad bin ‘Ali Asy-Syaukani rahimahullah berkata menjelaskan hadits tersebut,في ذلك تنبيه على أعلى الناس رتبة في الخير وأحقهم بالاتصاف به هو من كان خير الناس لأهله، فإن الأهل هم الأحقاء بالبشر وحسن الخلق والإحسان وجلب النفع ودفع الضر، فإذا كان الرجل كذلك فهو خير الناس وإن كان على العكس من ذلك فهو في الجانب الآخر من الشر، وكثيرا ما يقع الناس في هذه الورطة، فترى الرجل إذا لقي أهله كان أسوأ الناس أخلاقا وأشجعهم نفسا وأقلهم خيرا، وإذا لقي غير الأهل من الأجانب لانت عريكته وانبسطت أخلاقه وجادت نفسه وكثر خيره، ولا شك أن من كان كذلك فهو محروم التوفيق زائغ عن سواء الطريق، نسأل الله السلامة“Pada hadits ini terdapat peringatan bahwa orang yang paling tinggi kebaikannya dan yang paling berhak untuk disifati dengan kebaikan adalah orang yang terbaik bagi istrinya. Karena istri adalah orang yang berhak untuk mendapatkan perlakuan mulia, akhlak yang baik, perbuatan baik, pemberian manfaat, dan penolakan mudharat (bahaya). Jika seorang lelaki bersikap demikian, maka dia adalah orang yang terbaik. Namun jika keadaannya adalah sebaliknya, maka dia telah berada di sisi yang lain, yaitu sisi keburukan.Banyak orang yang terjatuh dalam kesalahan ini. Engkau melihat jika seorang pria bertemu dengan istrinya, maka dia adalah orang yang terburuk akhlaknya, paling pelit, dan paling sedikit kebaikannya. Namun jika dia bertemu dengan orang lain, maka dia akan bersikap lemah lembut, berakhlak mulia, hilang sikap pelitnya, dan banyak kebaikan yang dilakukannya. Tidak diragukan lagi bahwa barangsiapa yang demikian kondisinya, maka dia telah terhalang dari taufik (petunjuk) Allah dan telah menyimpang dari jalan yang lurus. Kita memohon keselamatan kepada Allah” (Nailul Authar 6: 245-256).Baca Juga:Demikian, semoga bermanfaat.@ Lombok, Pulau seribu masjidPenyusun: Raehanul BahraenArtikel www.muslim.or.id🔍 Bacaan Shalat Sesuai Sunnah, Hadits Lengkap Dengan Sanadnya, Hadits Tentang Perdagangan, Hadis Rasulullah Tentang Wanita, Makna Iman Kepada Kitab Allah

Wahai Suami, Segeralah Pulang ke Rumah

Apabila seseorang pergi safar ke luar, hendaknya dia segera pulang ke rumah apabila segala urusannya telah selesai. Agar istri dan keluarga di rumah tidak lama menunggu. Istri juga butuh dengan suami dan anak-anak juga butuh dengan bapaknya. Hendaknya hal ini menjadi perhatian para suami dan ayah, karena terkadang ada oknum yang sering safar dan keluar rumah mencari kebahagiaan sendiri tanpa memperhatikan anak dan istrinya.Terdapat hadits yang menjelaskan hal ini, di mana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,فَإذَا قَضَى أحَدُكُمْ نَهْمَتَهُ مِنْ سَفَرِهِ، فَلْيُعَجِّلْ إِلَى أهْلِهِ“Jika salah seorang dari kalian telah selesai dari tujuan/kebutuhan berpergiannya (safar), maka hendaknya dia kembali kepada keluarganya” (HR. Bukhari dan Muslim).An-Nawawi rahimahullah menjelaskan hadits ini bahwa (segera) kembali ke rumah dan keluarganya itu agar dia tidak melakukan hal-hal yang tidak bermanfaat ketika safar di luar. Beliau rahimahullah berkata,المقصود فى هذا الحديث استحباب تعجيل الرجوع إلى الأهل بعد قضاء شغله ولا يتأخر بما ليس له بمهم“Maksud dari hadits ini adalah sunahnya menyegerakan kembali pulang ke keluarganya setelah menunaikan semua tugas (hajat). Hendaknya jangan menunda dengan melakukan hal yang bukan menjadi tugas (tujuan safar)” (Syarh Muslim, 13: 70).Baca Juga: Hukum Safar di Hari Jum’atSebenarnya kebahagiaan sejati itu di rumah bersama keluarga, istri, dan anak-anaknya. Seseorang yang tidak bahagia di rumahnya, maka dia akan sulit bahagia di luar rumah. Sekiranya dia merasa bahagia, itu adalah kebahagiaan semu dan sebentar saja. Seorang muslim harus bahagia di rumahnya. Hal ini dijelaskan oleh Ibnu hajar Al-Atsqalani rahimahullah ketika menjelaskan hadits ini. Beliau rahimahullah berkata,قال ابن حجر: وفي الحديث كراهة التغرب عن الأهل لغير حاجة، واستحباب استعجال الرجوع ولا سيما من يُخشى عليهم الضَّيعة بالغيبة، ولما في الإقامة في الأهل من الرَّاحة المعينة على صلاح الدِّين والدنيا“Hadits ini menjelaskan makruhnya menjauh dari keluarga tanpa hajat. Sunnahnya adalah segera kembali, terlebih jika dikhawatirkan akan menyia-nyiakan keluarga selama dia pergi.  Segera pulang dan tinggal bersama keluarga akan memberikan rasa tenang/lapang yang dapat menjaga kemaslahatan agama dan dunia” (Fathul Bari, 6: 10).Syaikh Musa Syahin Lasyin menjelaskan juga bahwa dengan segera kembali ke keluarga dan rumah, dia akan terlepas dari kesusahan selama safar. Meskipun di zaman ini safar cukup mudah dengan berbagai kemudahan sarana dan prasarana transportasi. Akan tetapi tetap saja bahwa yang namanya safar itu sulit dan kurang nyaman. Syaikh Musa Syahin Lasyin berkata,وإذا قضى أحكم حاجته التي سافر من أجلها فليعجل العودة إلى أهله، ليتخلص من عذاب السفر، وليريح أهله“Apabila salah seorang dari kalian telah menunaikan hajatnya ketika safar, hendaknya segera kembali ke keluarganya agar segera terlepas dari kesusahan safar dan menyenangkan keluarganya” (Fathul Mun’im, 7: 200).Safar adalah bagian dari azab sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,السَّفَرُ قِطْعَةٌ مِنَ الْعَذَابِ يَمْنَعُ أَحَدَكُمْ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ وَنَوْمَهُ“Safar itu bagian dari azab. Seseorang akan terhalang (terganggu) makan, minum, dan tidurnya” (HR. Bukhari dan Muslim).Demikian juga secara umum dan menimbang adab dan tanggung jawab sebagai suami dan ayah. Ketika suami keluar rumah (tidak harus safar), hendaknya segera pulang ke rumah apabila hajatnya telah selesai. Misalnya, apabila sudah selesai pergi kajian dan tidak ada urusan penting, hendaknya segera pulang. Jangan sampai setelah kajian, malah dilanjutkan dengan majelis kopi (ngobrol) bersama teman-temannya, sedangkan istrinya menunggu di rumah. Bagaimanapun juga, istri dan anak kita adalah yang paling berhak mendapatkan kebaikan kita. Sebelum orang lain merasakan manfaat dari kita berupa akhlak dan bantuan, hendaknya kita pastikan bahwa anak dan istri kita adalah orang yang paling pertama merasakan manfaat tersebut. Oleh karena itu, orang yang terbaik adalah orang yang paling baik terhadap istri dan anak-anaknya.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِيْنَ إِيْمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا وَخِيَارُكُمْ خِيَارُكُمْ لِنِسَائِهِمْ خُلُقًا“Orang yang imannya paling sempurna di antara kaum mukminin adalah orang yang paling bagus akhlaknya di antara mereka. Dan sebaik-baik kalian adalah yang terbaik akhlaknya terhadap istri-istrinya” (HR At-Tirmidzi. Lihat As-Shahihah no 284).Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya. Dan aku adalah yang paling baik di antara kalian dalam bermuamalah dengan keluargaku” (HR At-Tirmidzi. Lihat As-Shahihah no 285).Muhammad bin ‘Ali Asy-Syaukani rahimahullah berkata menjelaskan hadits tersebut,في ذلك تنبيه على أعلى الناس رتبة في الخير وأحقهم بالاتصاف به هو من كان خير الناس لأهله، فإن الأهل هم الأحقاء بالبشر وحسن الخلق والإحسان وجلب النفع ودفع الضر، فإذا كان الرجل كذلك فهو خير الناس وإن كان على العكس من ذلك فهو في الجانب الآخر من الشر، وكثيرا ما يقع الناس في هذه الورطة، فترى الرجل إذا لقي أهله كان أسوأ الناس أخلاقا وأشجعهم نفسا وأقلهم خيرا، وإذا لقي غير الأهل من الأجانب لانت عريكته وانبسطت أخلاقه وجادت نفسه وكثر خيره، ولا شك أن من كان كذلك فهو محروم التوفيق زائغ عن سواء الطريق، نسأل الله السلامة“Pada hadits ini terdapat peringatan bahwa orang yang paling tinggi kebaikannya dan yang paling berhak untuk disifati dengan kebaikan adalah orang yang terbaik bagi istrinya. Karena istri adalah orang yang berhak untuk mendapatkan perlakuan mulia, akhlak yang baik, perbuatan baik, pemberian manfaat, dan penolakan mudharat (bahaya). Jika seorang lelaki bersikap demikian, maka dia adalah orang yang terbaik. Namun jika keadaannya adalah sebaliknya, maka dia telah berada di sisi yang lain, yaitu sisi keburukan.Banyak orang yang terjatuh dalam kesalahan ini. Engkau melihat jika seorang pria bertemu dengan istrinya, maka dia adalah orang yang terburuk akhlaknya, paling pelit, dan paling sedikit kebaikannya. Namun jika dia bertemu dengan orang lain, maka dia akan bersikap lemah lembut, berakhlak mulia, hilang sikap pelitnya, dan banyak kebaikan yang dilakukannya. Tidak diragukan lagi bahwa barangsiapa yang demikian kondisinya, maka dia telah terhalang dari taufik (petunjuk) Allah dan telah menyimpang dari jalan yang lurus. Kita memohon keselamatan kepada Allah” (Nailul Authar 6: 245-256).Baca Juga:Demikian, semoga bermanfaat.@ Lombok, Pulau seribu masjidPenyusun: Raehanul BahraenArtikel www.muslim.or.id🔍 Bacaan Shalat Sesuai Sunnah, Hadits Lengkap Dengan Sanadnya, Hadits Tentang Perdagangan, Hadis Rasulullah Tentang Wanita, Makna Iman Kepada Kitab Allah
Apabila seseorang pergi safar ke luar, hendaknya dia segera pulang ke rumah apabila segala urusannya telah selesai. Agar istri dan keluarga di rumah tidak lama menunggu. Istri juga butuh dengan suami dan anak-anak juga butuh dengan bapaknya. Hendaknya hal ini menjadi perhatian para suami dan ayah, karena terkadang ada oknum yang sering safar dan keluar rumah mencari kebahagiaan sendiri tanpa memperhatikan anak dan istrinya.Terdapat hadits yang menjelaskan hal ini, di mana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,فَإذَا قَضَى أحَدُكُمْ نَهْمَتَهُ مِنْ سَفَرِهِ، فَلْيُعَجِّلْ إِلَى أهْلِهِ“Jika salah seorang dari kalian telah selesai dari tujuan/kebutuhan berpergiannya (safar), maka hendaknya dia kembali kepada keluarganya” (HR. Bukhari dan Muslim).An-Nawawi rahimahullah menjelaskan hadits ini bahwa (segera) kembali ke rumah dan keluarganya itu agar dia tidak melakukan hal-hal yang tidak bermanfaat ketika safar di luar. Beliau rahimahullah berkata,المقصود فى هذا الحديث استحباب تعجيل الرجوع إلى الأهل بعد قضاء شغله ولا يتأخر بما ليس له بمهم“Maksud dari hadits ini adalah sunahnya menyegerakan kembali pulang ke keluarganya setelah menunaikan semua tugas (hajat). Hendaknya jangan menunda dengan melakukan hal yang bukan menjadi tugas (tujuan safar)” (Syarh Muslim, 13: 70).Baca Juga: Hukum Safar di Hari Jum’atSebenarnya kebahagiaan sejati itu di rumah bersama keluarga, istri, dan anak-anaknya. Seseorang yang tidak bahagia di rumahnya, maka dia akan sulit bahagia di luar rumah. Sekiranya dia merasa bahagia, itu adalah kebahagiaan semu dan sebentar saja. Seorang muslim harus bahagia di rumahnya. Hal ini dijelaskan oleh Ibnu hajar Al-Atsqalani rahimahullah ketika menjelaskan hadits ini. Beliau rahimahullah berkata,قال ابن حجر: وفي الحديث كراهة التغرب عن الأهل لغير حاجة، واستحباب استعجال الرجوع ولا سيما من يُخشى عليهم الضَّيعة بالغيبة، ولما في الإقامة في الأهل من الرَّاحة المعينة على صلاح الدِّين والدنيا“Hadits ini menjelaskan makruhnya menjauh dari keluarga tanpa hajat. Sunnahnya adalah segera kembali, terlebih jika dikhawatirkan akan menyia-nyiakan keluarga selama dia pergi.  Segera pulang dan tinggal bersama keluarga akan memberikan rasa tenang/lapang yang dapat menjaga kemaslahatan agama dan dunia” (Fathul Bari, 6: 10).Syaikh Musa Syahin Lasyin menjelaskan juga bahwa dengan segera kembali ke keluarga dan rumah, dia akan terlepas dari kesusahan selama safar. Meskipun di zaman ini safar cukup mudah dengan berbagai kemudahan sarana dan prasarana transportasi. Akan tetapi tetap saja bahwa yang namanya safar itu sulit dan kurang nyaman. Syaikh Musa Syahin Lasyin berkata,وإذا قضى أحكم حاجته التي سافر من أجلها فليعجل العودة إلى أهله، ليتخلص من عذاب السفر، وليريح أهله“Apabila salah seorang dari kalian telah menunaikan hajatnya ketika safar, hendaknya segera kembali ke keluarganya agar segera terlepas dari kesusahan safar dan menyenangkan keluarganya” (Fathul Mun’im, 7: 200).Safar adalah bagian dari azab sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,السَّفَرُ قِطْعَةٌ مِنَ الْعَذَابِ يَمْنَعُ أَحَدَكُمْ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ وَنَوْمَهُ“Safar itu bagian dari azab. Seseorang akan terhalang (terganggu) makan, minum, dan tidurnya” (HR. Bukhari dan Muslim).Demikian juga secara umum dan menimbang adab dan tanggung jawab sebagai suami dan ayah. Ketika suami keluar rumah (tidak harus safar), hendaknya segera pulang ke rumah apabila hajatnya telah selesai. Misalnya, apabila sudah selesai pergi kajian dan tidak ada urusan penting, hendaknya segera pulang. Jangan sampai setelah kajian, malah dilanjutkan dengan majelis kopi (ngobrol) bersama teman-temannya, sedangkan istrinya menunggu di rumah. Bagaimanapun juga, istri dan anak kita adalah yang paling berhak mendapatkan kebaikan kita. Sebelum orang lain merasakan manfaat dari kita berupa akhlak dan bantuan, hendaknya kita pastikan bahwa anak dan istri kita adalah orang yang paling pertama merasakan manfaat tersebut. Oleh karena itu, orang yang terbaik adalah orang yang paling baik terhadap istri dan anak-anaknya.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِيْنَ إِيْمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا وَخِيَارُكُمْ خِيَارُكُمْ لِنِسَائِهِمْ خُلُقًا“Orang yang imannya paling sempurna di antara kaum mukminin adalah orang yang paling bagus akhlaknya di antara mereka. Dan sebaik-baik kalian adalah yang terbaik akhlaknya terhadap istri-istrinya” (HR At-Tirmidzi. Lihat As-Shahihah no 284).Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya. Dan aku adalah yang paling baik di antara kalian dalam bermuamalah dengan keluargaku” (HR At-Tirmidzi. Lihat As-Shahihah no 285).Muhammad bin ‘Ali Asy-Syaukani rahimahullah berkata menjelaskan hadits tersebut,في ذلك تنبيه على أعلى الناس رتبة في الخير وأحقهم بالاتصاف به هو من كان خير الناس لأهله، فإن الأهل هم الأحقاء بالبشر وحسن الخلق والإحسان وجلب النفع ودفع الضر، فإذا كان الرجل كذلك فهو خير الناس وإن كان على العكس من ذلك فهو في الجانب الآخر من الشر، وكثيرا ما يقع الناس في هذه الورطة، فترى الرجل إذا لقي أهله كان أسوأ الناس أخلاقا وأشجعهم نفسا وأقلهم خيرا، وإذا لقي غير الأهل من الأجانب لانت عريكته وانبسطت أخلاقه وجادت نفسه وكثر خيره، ولا شك أن من كان كذلك فهو محروم التوفيق زائغ عن سواء الطريق، نسأل الله السلامة“Pada hadits ini terdapat peringatan bahwa orang yang paling tinggi kebaikannya dan yang paling berhak untuk disifati dengan kebaikan adalah orang yang terbaik bagi istrinya. Karena istri adalah orang yang berhak untuk mendapatkan perlakuan mulia, akhlak yang baik, perbuatan baik, pemberian manfaat, dan penolakan mudharat (bahaya). Jika seorang lelaki bersikap demikian, maka dia adalah orang yang terbaik. Namun jika keadaannya adalah sebaliknya, maka dia telah berada di sisi yang lain, yaitu sisi keburukan.Banyak orang yang terjatuh dalam kesalahan ini. Engkau melihat jika seorang pria bertemu dengan istrinya, maka dia adalah orang yang terburuk akhlaknya, paling pelit, dan paling sedikit kebaikannya. Namun jika dia bertemu dengan orang lain, maka dia akan bersikap lemah lembut, berakhlak mulia, hilang sikap pelitnya, dan banyak kebaikan yang dilakukannya. Tidak diragukan lagi bahwa barangsiapa yang demikian kondisinya, maka dia telah terhalang dari taufik (petunjuk) Allah dan telah menyimpang dari jalan yang lurus. Kita memohon keselamatan kepada Allah” (Nailul Authar 6: 245-256).Baca Juga:Demikian, semoga bermanfaat.@ Lombok, Pulau seribu masjidPenyusun: Raehanul BahraenArtikel www.muslim.or.id🔍 Bacaan Shalat Sesuai Sunnah, Hadits Lengkap Dengan Sanadnya, Hadits Tentang Perdagangan, Hadis Rasulullah Tentang Wanita, Makna Iman Kepada Kitab Allah


Apabila seseorang pergi safar ke luar, hendaknya dia segera pulang ke rumah apabila segala urusannya telah selesai. Agar istri dan keluarga di rumah tidak lama menunggu. Istri juga butuh dengan suami dan anak-anak juga butuh dengan bapaknya. Hendaknya hal ini menjadi perhatian para suami dan ayah, karena terkadang ada oknum yang sering safar dan keluar rumah mencari kebahagiaan sendiri tanpa memperhatikan anak dan istrinya.Terdapat hadits yang menjelaskan hal ini, di mana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,فَإذَا قَضَى أحَدُكُمْ نَهْمَتَهُ مِنْ سَفَرِهِ، فَلْيُعَجِّلْ إِلَى أهْلِهِ“Jika salah seorang dari kalian telah selesai dari tujuan/kebutuhan berpergiannya (safar), maka hendaknya dia kembali kepada keluarganya” (HR. Bukhari dan Muslim).An-Nawawi rahimahullah menjelaskan hadits ini bahwa (segera) kembali ke rumah dan keluarganya itu agar dia tidak melakukan hal-hal yang tidak bermanfaat ketika safar di luar. Beliau rahimahullah berkata,المقصود فى هذا الحديث استحباب تعجيل الرجوع إلى الأهل بعد قضاء شغله ولا يتأخر بما ليس له بمهم“Maksud dari hadits ini adalah sunahnya menyegerakan kembali pulang ke keluarganya setelah menunaikan semua tugas (hajat). Hendaknya jangan menunda dengan melakukan hal yang bukan menjadi tugas (tujuan safar)” (Syarh Muslim, 13: 70).Baca Juga: Hukum Safar di Hari Jum’atSebenarnya kebahagiaan sejati itu di rumah bersama keluarga, istri, dan anak-anaknya. Seseorang yang tidak bahagia di rumahnya, maka dia akan sulit bahagia di luar rumah. Sekiranya dia merasa bahagia, itu adalah kebahagiaan semu dan sebentar saja. Seorang muslim harus bahagia di rumahnya. Hal ini dijelaskan oleh Ibnu hajar Al-Atsqalani rahimahullah ketika menjelaskan hadits ini. Beliau rahimahullah berkata,قال ابن حجر: وفي الحديث كراهة التغرب عن الأهل لغير حاجة، واستحباب استعجال الرجوع ولا سيما من يُخشى عليهم الضَّيعة بالغيبة، ولما في الإقامة في الأهل من الرَّاحة المعينة على صلاح الدِّين والدنيا“Hadits ini menjelaskan makruhnya menjauh dari keluarga tanpa hajat. Sunnahnya adalah segera kembali, terlebih jika dikhawatirkan akan menyia-nyiakan keluarga selama dia pergi.  Segera pulang dan tinggal bersama keluarga akan memberikan rasa tenang/lapang yang dapat menjaga kemaslahatan agama dan dunia” (Fathul Bari, 6: 10).Syaikh Musa Syahin Lasyin menjelaskan juga bahwa dengan segera kembali ke keluarga dan rumah, dia akan terlepas dari kesusahan selama safar. Meskipun di zaman ini safar cukup mudah dengan berbagai kemudahan sarana dan prasarana transportasi. Akan tetapi tetap saja bahwa yang namanya safar itu sulit dan kurang nyaman. Syaikh Musa Syahin Lasyin berkata,وإذا قضى أحكم حاجته التي سافر من أجلها فليعجل العودة إلى أهله، ليتخلص من عذاب السفر، وليريح أهله“Apabila salah seorang dari kalian telah menunaikan hajatnya ketika safar, hendaknya segera kembali ke keluarganya agar segera terlepas dari kesusahan safar dan menyenangkan keluarganya” (Fathul Mun’im, 7: 200).Safar adalah bagian dari azab sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,السَّفَرُ قِطْعَةٌ مِنَ الْعَذَابِ يَمْنَعُ أَحَدَكُمْ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ وَنَوْمَهُ“Safar itu bagian dari azab. Seseorang akan terhalang (terganggu) makan, minum, dan tidurnya” (HR. Bukhari dan Muslim).Demikian juga secara umum dan menimbang adab dan tanggung jawab sebagai suami dan ayah. Ketika suami keluar rumah (tidak harus safar), hendaknya segera pulang ke rumah apabila hajatnya telah selesai. Misalnya, apabila sudah selesai pergi kajian dan tidak ada urusan penting, hendaknya segera pulang. Jangan sampai setelah kajian, malah dilanjutkan dengan majelis kopi (ngobrol) bersama teman-temannya, sedangkan istrinya menunggu di rumah. Bagaimanapun juga, istri dan anak kita adalah yang paling berhak mendapatkan kebaikan kita. Sebelum orang lain merasakan manfaat dari kita berupa akhlak dan bantuan, hendaknya kita pastikan bahwa anak dan istri kita adalah orang yang paling pertama merasakan manfaat tersebut. Oleh karena itu, orang yang terbaik adalah orang yang paling baik terhadap istri dan anak-anaknya.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِيْنَ إِيْمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا وَخِيَارُكُمْ خِيَارُكُمْ لِنِسَائِهِمْ خُلُقًا“Orang yang imannya paling sempurna di antara kaum mukminin adalah orang yang paling bagus akhlaknya di antara mereka. Dan sebaik-baik kalian adalah yang terbaik akhlaknya terhadap istri-istrinya” (HR At-Tirmidzi. Lihat As-Shahihah no 284).Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya. Dan aku adalah yang paling baik di antara kalian dalam bermuamalah dengan keluargaku” (HR At-Tirmidzi. Lihat As-Shahihah no 285).Muhammad bin ‘Ali Asy-Syaukani rahimahullah berkata menjelaskan hadits tersebut,في ذلك تنبيه على أعلى الناس رتبة في الخير وأحقهم بالاتصاف به هو من كان خير الناس لأهله، فإن الأهل هم الأحقاء بالبشر وحسن الخلق والإحسان وجلب النفع ودفع الضر، فإذا كان الرجل كذلك فهو خير الناس وإن كان على العكس من ذلك فهو في الجانب الآخر من الشر، وكثيرا ما يقع الناس في هذه الورطة، فترى الرجل إذا لقي أهله كان أسوأ الناس أخلاقا وأشجعهم نفسا وأقلهم خيرا، وإذا لقي غير الأهل من الأجانب لانت عريكته وانبسطت أخلاقه وجادت نفسه وكثر خيره، ولا شك أن من كان كذلك فهو محروم التوفيق زائغ عن سواء الطريق، نسأل الله السلامة“Pada hadits ini terdapat peringatan bahwa orang yang paling tinggi kebaikannya dan yang paling berhak untuk disifati dengan kebaikan adalah orang yang terbaik bagi istrinya. Karena istri adalah orang yang berhak untuk mendapatkan perlakuan mulia, akhlak yang baik, perbuatan baik, pemberian manfaat, dan penolakan mudharat (bahaya). Jika seorang lelaki bersikap demikian, maka dia adalah orang yang terbaik. Namun jika keadaannya adalah sebaliknya, maka dia telah berada di sisi yang lain, yaitu sisi keburukan.Banyak orang yang terjatuh dalam kesalahan ini. Engkau melihat jika seorang pria bertemu dengan istrinya, maka dia adalah orang yang terburuk akhlaknya, paling pelit, dan paling sedikit kebaikannya. Namun jika dia bertemu dengan orang lain, maka dia akan bersikap lemah lembut, berakhlak mulia, hilang sikap pelitnya, dan banyak kebaikan yang dilakukannya. Tidak diragukan lagi bahwa barangsiapa yang demikian kondisinya, maka dia telah terhalang dari taufik (petunjuk) Allah dan telah menyimpang dari jalan yang lurus. Kita memohon keselamatan kepada Allah” (Nailul Authar 6: 245-256).Baca Juga:Demikian, semoga bermanfaat.@ Lombok, Pulau seribu masjidPenyusun: Raehanul BahraenArtikel www.muslim.or.id🔍 Bacaan Shalat Sesuai Sunnah, Hadits Lengkap Dengan Sanadnya, Hadits Tentang Perdagangan, Hadis Rasulullah Tentang Wanita, Makna Iman Kepada Kitab Allah

Wisma Muslim Yogyakarta 2018

Untukmu mahasiswa muslim, tidakkah engkau rindu dengan lingkungan islami yang akan menuntunmu dalam kebaikan? Ayo jangan mau hanya sekedar jadi mahasiswa biasa, jadilah mahasiswa yang tumbuh dalam hatinya keimanan dan ilmu sampai ia kelak lulus dan siap terjun di medan dakwahSekilas Pandang Wisma Muslim:1.      Dekat dengan lingkungan kampus UGM (masih dalam lingkungan kampus)2.      Dekat dengan berbagai fasilitas umum3.      Mudah dijangkau oleh moda transportasi publik semisal Ojek dan Taksi online4.      Dekat dengan berbagai kulineran5.      Dekat dengan jalan-jalan utama di Jogja6.      Dekat dengan berbagai masjid yang semarak dengan shalat berjamaahnya7.      Dekat dengan kajian ilmu agama yang bisa ditemukan hampir setiap hari8.      Satu atap dengan teman-teman yang cinta dengan ilmu agama9.      Satu atap dengan generasi muda Islam yang berusaha kuliah sembari menimba ilmu agama10.    Banyak kegiatan positif untuk pengembangan soft skill di dalam organisasi dan masyarakat11.    Ikut berkontribusi dalam dakwah di kalangan mahasiswa12.    Dan masih banyak lagiDibuka pendaftaran warga Wisma Muslim Yogyakarta angkatan 2017/2018. Seleksi ini bersifat terbuka bagi mahasiswa yang tertarik menjadi bagian dari  warga Wisma Muslim Yogyakarta pada periode 2017/ 2018.Persyaratan:§  Mahasiswa Muslim§  Bersemangat menuntut ilmu agama§  Siap membantu kegiatan dakwah/ kajian§  Lulus seleksiPeriode Pendaftaran dan Tes Online:1 Mei 2018 s.d. 9 Mei 2018Pendaftaran dapat dilakukan disiniTes Wawancara  :Kamis, 10 Mei 2018 pukul 08.00 di Masjid Pogung RayaPengumuman Hasil Seleksi :Daftar nama peserta yang lulus seleksi penerimaan akan di umumkan di website http://wisma.muslim.or.id  pada Sabtu,12 Mei 2018Spesifikasi dan Biaya WismaSpesifikasi dan Biaya Wisma akan diumumkan kemudian. Sebagai pertimbangan bisa lihat spesifikasi dan biaya tahun lalu klik http://wisma.muslim.or.id/?p=167Raih Juga kesempatan beasiswa belajar di YPIA🔍 Majelis Ilmu Adalah Taman Surga, Ayat Alquran Tentang Cinta Tanah Air Dan Bela Negara, Rahasia Surat Jin, Arti Barokah, Sejarah Babi Haram

Wisma Muslim Yogyakarta 2018

Untukmu mahasiswa muslim, tidakkah engkau rindu dengan lingkungan islami yang akan menuntunmu dalam kebaikan? Ayo jangan mau hanya sekedar jadi mahasiswa biasa, jadilah mahasiswa yang tumbuh dalam hatinya keimanan dan ilmu sampai ia kelak lulus dan siap terjun di medan dakwahSekilas Pandang Wisma Muslim:1.      Dekat dengan lingkungan kampus UGM (masih dalam lingkungan kampus)2.      Dekat dengan berbagai fasilitas umum3.      Mudah dijangkau oleh moda transportasi publik semisal Ojek dan Taksi online4.      Dekat dengan berbagai kulineran5.      Dekat dengan jalan-jalan utama di Jogja6.      Dekat dengan berbagai masjid yang semarak dengan shalat berjamaahnya7.      Dekat dengan kajian ilmu agama yang bisa ditemukan hampir setiap hari8.      Satu atap dengan teman-teman yang cinta dengan ilmu agama9.      Satu atap dengan generasi muda Islam yang berusaha kuliah sembari menimba ilmu agama10.    Banyak kegiatan positif untuk pengembangan soft skill di dalam organisasi dan masyarakat11.    Ikut berkontribusi dalam dakwah di kalangan mahasiswa12.    Dan masih banyak lagiDibuka pendaftaran warga Wisma Muslim Yogyakarta angkatan 2017/2018. Seleksi ini bersifat terbuka bagi mahasiswa yang tertarik menjadi bagian dari  warga Wisma Muslim Yogyakarta pada periode 2017/ 2018.Persyaratan:§  Mahasiswa Muslim§  Bersemangat menuntut ilmu agama§  Siap membantu kegiatan dakwah/ kajian§  Lulus seleksiPeriode Pendaftaran dan Tes Online:1 Mei 2018 s.d. 9 Mei 2018Pendaftaran dapat dilakukan disiniTes Wawancara  :Kamis, 10 Mei 2018 pukul 08.00 di Masjid Pogung RayaPengumuman Hasil Seleksi :Daftar nama peserta yang lulus seleksi penerimaan akan di umumkan di website http://wisma.muslim.or.id  pada Sabtu,12 Mei 2018Spesifikasi dan Biaya WismaSpesifikasi dan Biaya Wisma akan diumumkan kemudian. Sebagai pertimbangan bisa lihat spesifikasi dan biaya tahun lalu klik http://wisma.muslim.or.id/?p=167Raih Juga kesempatan beasiswa belajar di YPIA🔍 Majelis Ilmu Adalah Taman Surga, Ayat Alquran Tentang Cinta Tanah Air Dan Bela Negara, Rahasia Surat Jin, Arti Barokah, Sejarah Babi Haram
Untukmu mahasiswa muslim, tidakkah engkau rindu dengan lingkungan islami yang akan menuntunmu dalam kebaikan? Ayo jangan mau hanya sekedar jadi mahasiswa biasa, jadilah mahasiswa yang tumbuh dalam hatinya keimanan dan ilmu sampai ia kelak lulus dan siap terjun di medan dakwahSekilas Pandang Wisma Muslim:1.      Dekat dengan lingkungan kampus UGM (masih dalam lingkungan kampus)2.      Dekat dengan berbagai fasilitas umum3.      Mudah dijangkau oleh moda transportasi publik semisal Ojek dan Taksi online4.      Dekat dengan berbagai kulineran5.      Dekat dengan jalan-jalan utama di Jogja6.      Dekat dengan berbagai masjid yang semarak dengan shalat berjamaahnya7.      Dekat dengan kajian ilmu agama yang bisa ditemukan hampir setiap hari8.      Satu atap dengan teman-teman yang cinta dengan ilmu agama9.      Satu atap dengan generasi muda Islam yang berusaha kuliah sembari menimba ilmu agama10.    Banyak kegiatan positif untuk pengembangan soft skill di dalam organisasi dan masyarakat11.    Ikut berkontribusi dalam dakwah di kalangan mahasiswa12.    Dan masih banyak lagiDibuka pendaftaran warga Wisma Muslim Yogyakarta angkatan 2017/2018. Seleksi ini bersifat terbuka bagi mahasiswa yang tertarik menjadi bagian dari  warga Wisma Muslim Yogyakarta pada periode 2017/ 2018.Persyaratan:§  Mahasiswa Muslim§  Bersemangat menuntut ilmu agama§  Siap membantu kegiatan dakwah/ kajian§  Lulus seleksiPeriode Pendaftaran dan Tes Online:1 Mei 2018 s.d. 9 Mei 2018Pendaftaran dapat dilakukan disiniTes Wawancara  :Kamis, 10 Mei 2018 pukul 08.00 di Masjid Pogung RayaPengumuman Hasil Seleksi :Daftar nama peserta yang lulus seleksi penerimaan akan di umumkan di website http://wisma.muslim.or.id  pada Sabtu,12 Mei 2018Spesifikasi dan Biaya WismaSpesifikasi dan Biaya Wisma akan diumumkan kemudian. Sebagai pertimbangan bisa lihat spesifikasi dan biaya tahun lalu klik http://wisma.muslim.or.id/?p=167Raih Juga kesempatan beasiswa belajar di YPIA🔍 Majelis Ilmu Adalah Taman Surga, Ayat Alquran Tentang Cinta Tanah Air Dan Bela Negara, Rahasia Surat Jin, Arti Barokah, Sejarah Babi Haram


Untukmu mahasiswa muslim, tidakkah engkau rindu dengan lingkungan islami yang akan menuntunmu dalam kebaikan? Ayo jangan mau hanya sekedar jadi mahasiswa biasa, jadilah mahasiswa yang tumbuh dalam hatinya keimanan dan ilmu sampai ia kelak lulus dan siap terjun di medan dakwahSekilas Pandang Wisma Muslim:1.      Dekat dengan lingkungan kampus UGM (masih dalam lingkungan kampus)2.      Dekat dengan berbagai fasilitas umum3.      Mudah dijangkau oleh moda transportasi publik semisal Ojek dan Taksi online4.      Dekat dengan berbagai kulineran5.      Dekat dengan jalan-jalan utama di Jogja6.      Dekat dengan berbagai masjid yang semarak dengan shalat berjamaahnya7.      Dekat dengan kajian ilmu agama yang bisa ditemukan hampir setiap hari8.      Satu atap dengan teman-teman yang cinta dengan ilmu agama9.      Satu atap dengan generasi muda Islam yang berusaha kuliah sembari menimba ilmu agama10.    Banyak kegiatan positif untuk pengembangan soft skill di dalam organisasi dan masyarakat11.    Ikut berkontribusi dalam dakwah di kalangan mahasiswa12.    Dan masih banyak lagiDibuka pendaftaran warga Wisma Muslim Yogyakarta angkatan 2017/2018. Seleksi ini bersifat terbuka bagi mahasiswa yang tertarik menjadi bagian dari  warga Wisma Muslim Yogyakarta pada periode 2017/ 2018.Persyaratan:§  Mahasiswa Muslim§  Bersemangat menuntut ilmu agama§  Siap membantu kegiatan dakwah/ kajian§  Lulus seleksiPeriode Pendaftaran dan Tes Online:1 Mei 2018 s.d. 9 Mei 2018Pendaftaran dapat dilakukan disiniTes Wawancara  :Kamis, 10 Mei 2018 pukul 08.00 di Masjid Pogung RayaPengumuman Hasil Seleksi :Daftar nama peserta yang lulus seleksi penerimaan akan di umumkan di website http://wisma.muslim.or.id  pada Sabtu,12 Mei 2018Spesifikasi dan Biaya WismaSpesifikasi dan Biaya Wisma akan diumumkan kemudian. Sebagai pertimbangan bisa lihat spesifikasi dan biaya tahun lalu klik http://wisma.muslim.or.id/?p=167Raih Juga kesempatan beasiswa belajar di YPIA🔍 Majelis Ilmu Adalah Taman Surga, Ayat Alquran Tentang Cinta Tanah Air Dan Bela Negara, Rahasia Surat Jin, Arti Barokah, Sejarah Babi Haram

Shalat, Kewajiban Seluruh Nabi (Bag. 2)

Baca artikel sebelumnya Shalat, Kewajiban Seluruh Nabi (Bag. 1)Kisah Nabi Dawud ‘alaihis salaamKetika beliau melakukan suatu kesalahan, dan ingin bertaubat, beliau memulai taubatnya dengan segera mendirikan shalat. Allah Ta’ala berfirman,وَظَنَّ دَاوُودُ أَنَّمَا فَتَنَّاهُ فَاسْتَغْفَرَ رَبَّهُ وَخَرَّ رَاكِعاً وَأَنَابَ“Dan Daud mengetahui bahwa Kami mengujinya, maka ia meminta ampun (istighfar) kepada Tuhannya lalu menyungkur sujud dan bertaubat.” (QS. Shaad [38]: 24)Kisah Nabi Sulaiman bin Dawud ‘alaihimas salaamDitunjukkan kepada Nabi Sulaiman kuda di sore hari. Kemudian beliau tersibukkan diri dengan memandangi kuda-kuda tersebut sehingga beliau pun lupa mendirikan shalat Ashar dan shalat di akhir waktunya. Kemudian beliau pun menyesal. Allah Ta’ala berfirman,وَوَهَبْنَا لِدَاوُودَ سُلَيْمَانَ نِعْمَ الْعَبْدُ إِنَّهُ أَوَّابٌ إِذْ عُرِضَ عَلَيْهِ بِالْعَشِيِّ الصَّافِنَاتُ الْجِيَادُ فَقَالَ إِنِّي أَحْبَبْتُ حُبَّ الْخَيْرِ عَن ذِكْرِ رَبِّي حَتَّى تَوَارَتْ بِالْحِجَابِ رُدُّوهَا عَلَيَّ فَطَفِقَ مَسْحاً بِالسُّوقِ وَالْأَعْنَاقِ“Dan Kami karuniakan kepada Dawud, Sulaiman, dia adalah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhannya). (Ingatlah) ketika ditunjukkan kepadanya kuda-kuda yang tenang di waktu berhenti dan cepat waktu berlari pada waktu sore, maka ia berkata, ‘Sesungguhnya aku menyukai kesenangan terhadap barang yang baik (kuda) sehingga aku lalai mengingat Tuhanku sampai kuda itu hilang dari pandangan. Bawalah kuda-kuda itu kembali kepadaku.’ Lalu ia potong kaki dan leher kuda itu.” (QS. Shaad [38]: 30-33)Baca Juga: Hubungan antara Shalat dan Melihat Wajah Allah Ta’alaIbnu Katsir rahimahullah berkata,“Banyak salaf dan ahli tafsir menyebutkan bahwa beliau sibuk melihat (kuda) sampai terlewat dari waktu shalat ashar. Yang dapat dipastikan bahwa beliau tidaklah meninggalkan shalat Ashar secara sengaja, akan tetapi karena lupa. Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tersibukkan diri saat perang Khandaq dari shalat Ashar sampai beliau mendirikan shalat Ashar setelah matahari tenggelam.” (Tafsir Ibnu Katsir, 7: 65)Kisah Nabi Zakariyya ‘alaihis salaamAllah Ta’ala berfirman,فَنَادَتْهُ الْمَلآئِكَةُ وَهُوَ قَائِمٌ يُصَلِّي فِي الْمِحْرَابِ“Kemudian Malaikat (Jibril) memanggil Zakariya, sedang dia tengah berdiri melakukan shalat di mihrab.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 39)Kisah Nabi Isa ‘alaihis salaamKetika beliau mampu berbicara saat masih dalam gendongan, beliau berkata,قَالَ إِنِّي عَبْدُ اللَّهِ آتَانِيَ الْكِتَابَ وَجَعَلَنِي نَبِيّاً وَجَعَلَنِي مُبَارَكاً أَيْنَ مَا كُنتُ وَأَوْصَانِي بِالصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ مَا دُمْتُ حَيّاً“Isa berkata, ‘Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al-Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi. Dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup.’” (QS. Maryam [19]: 30-31)Baca Juga: Menjawab Argumen: “Apa Dalilnya Membuka Handphone Setelah Shalat?Kisah para Nabi Bani IsrailAllah Ta’ala berfirman,وَلَقَدْ أَخَذَ اللّهُ مِيثَاقَ بَنِي إِسْرَائِيلَ وَبَعَثْنَا مِنهُمُ اثْنَيْ عَشَرَ نَقِيباً وَقَالَ اللّهُ إِنِّي مَعَكُمْ لَئِنْ أَقَمْتُمُ الصَّلاَةَ وَآتَيْتُمُ الزَّكَاةَ وَآمَنتُم بِرُسُلِي“Dan sesungguhnya Allah telah mengambil perjanjian (dari) Bani Israil dan telah Kami angkat di antara mereka 12 orang pemimpin dan Allah berfirman, ‘Sesungguhnya Aku beserta kamu, sesungguhnya jika kamu mendirikan shalat dan menunaikan zakat serta beriman kepada rasul-rasul-Ku …'” (QS. Al-Maidah [5]: 12).Selain itu, Allah Ta’ala juga menyebutkan satu per satu Nabi, kemudian menceritakan tentang mereka,أُوْلَئِكَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِم مِّنَ النَّبِيِّينَ مِن ذُرِّيَّةِ آدَمَ وَمِمَّنْ حَمَلْنَا مَعَ نُوحٍ وَمِن ذُرِّيَّةِ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْرَائِيلَ وَمِمَّنْ هَدَيْنَا وَاجْتَبَيْنَا إِذَا تُتْلَى عَلَيْهِمْ آيَاتُ الرَّحْمَن خَرُّوا سُجَّداً وَبُكِيّاً“Mereka itu adalah orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi dari keturunan Adam, dan dari orang-orang yang Kami angkat bersama Nuh, dan dari keturunan Ibrahim dan Israil, dan dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis.” (QS. Maryam [19]: 58)Allah pun mengabarkan bahwa seluruh Nabi beribadah kepada Allah Ta’ala dan mendekatkan diri kepada-Nya dengan ibadah shalat. Kemudian Allah Ta’ala mengatakan,فَخَلَفَ مِن بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيّاً“Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan.” (QS. Maryam [19]: 59)Baca Juga: Berdoa Dengan Bahasa Indonesia Di Dalam ShalatNabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika bersama JibrilSesungguhnya para Nabi terdahulu seluruhnya, mereka terus-menerus mendirikan shalat wajib lima waktu sebagaimana shalat yang diajarkan oleh malaikat Jibril kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,أَمَّنِي جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلَام عِنْدَ الْبَيْتِ مَرَّتَيْنِ، فَصَلَّى بِيَ الظُّهْرَ حِينَ زَالَتِ الشَّمْسُ وَكَانَتْ قَدْرَ الشِّرَاكِ، وَصَلَّى بِيَ الْعَصْرَ حِينَ كَانَ ظِلُّهُ مِثْلَهُ، وَصَلَّى بِيَ يَعْنِي الْمَغْرِبَ حِينَ أَفْطَرَ الصَّائِمُ، وَصَلَّى بِيَ الْعِشَاءَ حِينَ غَابَ الشَّفَقُ، وَصَلَّى بِيَ الْفَجْرَ حِينَ حَرُمَ الطَّعَامُ وَالشَّرَابُ عَلَى الصَّائِمِ، فَلَمَّا كَانَ الْغَدُ صَلَّى بِيَ الظُّهْرَ حِينَ كَانَ ظِلُّهُ مِثْلَهُ، وَصَلَّى بِي الْعَصْرَ حِينَ كَانَ ظِلُّهُ مِثْلَيْهِ، وَصَلَّى بِيَ الْمَغْرِبَ حِينَ أَفْطَرَ الصَّائِمُ، وَصَلَّى بِيَ الْعِشَاءَ إِلَى ثُلُثِ اللَّيْلِ، وَصَلَّى بِيَ الْفَجْرَ فَأَسْفَرَ“Jibril ‘alaihis salam telah mengimamiku di sisi Baitullah dua kali. Dia shalat Zuhur bersamaku ketika matahari tergelincir (condong) ke barat sepanjang tali sandal, kemudian shalat Ashar denganku ketika panjang bayangan suatu benda sama dengannya, lalu shalat Maghrib bersamaku ketika orang yang berpuasa berbuka, kemudian shalat Isya’ bersamaku ketika awan merah telah hilang, dan shalat Subuh bersamaku tatkala orang yang berpuasa dilarang makan dan minum.Besok harinya, dia shalat Zuhur bersamaku ketika bayangan suatu benda sama dengannya, lalu shalat Ashar bersamaku ketika bayangan suatu benda sepanjang dua kali benda itu, kemudian shalat Maghrib bersamaku ketika orang yang berpuasa berbuka, lalu shalat Isya’ bersamaku hingga sepertiga malam, dan shalat subuh bersamaku ketika waktu pagi mulai bercahaya.”Kemudian Jibril menoleh kepadaku seraya berkata,يَا مُحَمَّدُ، هَذَا وَقْتُ الْأَنْبِيَاءِ مِنْ قَبْلِكَ، وَالْوَقْتُ مَا بَيْنَ هَذَيْنِ الْوَقْتَيْنِ“Wahai Muhammad, inilah waktu shalat para Nabi sebelum kamu, dan jarak waktu untuk shalat adalah antara dua waktu ini.” (HR. Abu Dawud no. 393, At-Tirmidzi no. 149, dan Ahmad no. 3322. Dinilai shahih oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jaami’ no. 1402)Semoga Allah Ta’ala memberikan hidayah kepada kita agar mengagungkan shalat dan senantiasa mendirikan shalat.Baca Juga:[Selesai]***@FK UGM, 29 Shafar 1442/ 16 Oktober 2020Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.or.idCatatan kaki:Disarikan dari kitab Ta’zhiim Ash-Shalaat  hal. 11-12, karya Syaikh ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr hafidzahullahu Ta’ala, cetakan pertama tahun 1434, penerbit Daar Al-Imam Muslim, Madinah KSA.🔍 Subhanakallahumma, Hadits Setiap Kalian Adalah Pemimpin, Tasyakur Bi Ni'mah Artinya, Hikmah Membaca Sholawat, Kitab Tauhid Syaikh Muhammad At Tamimi Pdf

Shalat, Kewajiban Seluruh Nabi (Bag. 2)

Baca artikel sebelumnya Shalat, Kewajiban Seluruh Nabi (Bag. 1)Kisah Nabi Dawud ‘alaihis salaamKetika beliau melakukan suatu kesalahan, dan ingin bertaubat, beliau memulai taubatnya dengan segera mendirikan shalat. Allah Ta’ala berfirman,وَظَنَّ دَاوُودُ أَنَّمَا فَتَنَّاهُ فَاسْتَغْفَرَ رَبَّهُ وَخَرَّ رَاكِعاً وَأَنَابَ“Dan Daud mengetahui bahwa Kami mengujinya, maka ia meminta ampun (istighfar) kepada Tuhannya lalu menyungkur sujud dan bertaubat.” (QS. Shaad [38]: 24)Kisah Nabi Sulaiman bin Dawud ‘alaihimas salaamDitunjukkan kepada Nabi Sulaiman kuda di sore hari. Kemudian beliau tersibukkan diri dengan memandangi kuda-kuda tersebut sehingga beliau pun lupa mendirikan shalat Ashar dan shalat di akhir waktunya. Kemudian beliau pun menyesal. Allah Ta’ala berfirman,وَوَهَبْنَا لِدَاوُودَ سُلَيْمَانَ نِعْمَ الْعَبْدُ إِنَّهُ أَوَّابٌ إِذْ عُرِضَ عَلَيْهِ بِالْعَشِيِّ الصَّافِنَاتُ الْجِيَادُ فَقَالَ إِنِّي أَحْبَبْتُ حُبَّ الْخَيْرِ عَن ذِكْرِ رَبِّي حَتَّى تَوَارَتْ بِالْحِجَابِ رُدُّوهَا عَلَيَّ فَطَفِقَ مَسْحاً بِالسُّوقِ وَالْأَعْنَاقِ“Dan Kami karuniakan kepada Dawud, Sulaiman, dia adalah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhannya). (Ingatlah) ketika ditunjukkan kepadanya kuda-kuda yang tenang di waktu berhenti dan cepat waktu berlari pada waktu sore, maka ia berkata, ‘Sesungguhnya aku menyukai kesenangan terhadap barang yang baik (kuda) sehingga aku lalai mengingat Tuhanku sampai kuda itu hilang dari pandangan. Bawalah kuda-kuda itu kembali kepadaku.’ Lalu ia potong kaki dan leher kuda itu.” (QS. Shaad [38]: 30-33)Baca Juga: Hubungan antara Shalat dan Melihat Wajah Allah Ta’alaIbnu Katsir rahimahullah berkata,“Banyak salaf dan ahli tafsir menyebutkan bahwa beliau sibuk melihat (kuda) sampai terlewat dari waktu shalat ashar. Yang dapat dipastikan bahwa beliau tidaklah meninggalkan shalat Ashar secara sengaja, akan tetapi karena lupa. Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tersibukkan diri saat perang Khandaq dari shalat Ashar sampai beliau mendirikan shalat Ashar setelah matahari tenggelam.” (Tafsir Ibnu Katsir, 7: 65)Kisah Nabi Zakariyya ‘alaihis salaamAllah Ta’ala berfirman,فَنَادَتْهُ الْمَلآئِكَةُ وَهُوَ قَائِمٌ يُصَلِّي فِي الْمِحْرَابِ“Kemudian Malaikat (Jibril) memanggil Zakariya, sedang dia tengah berdiri melakukan shalat di mihrab.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 39)Kisah Nabi Isa ‘alaihis salaamKetika beliau mampu berbicara saat masih dalam gendongan, beliau berkata,قَالَ إِنِّي عَبْدُ اللَّهِ آتَانِيَ الْكِتَابَ وَجَعَلَنِي نَبِيّاً وَجَعَلَنِي مُبَارَكاً أَيْنَ مَا كُنتُ وَأَوْصَانِي بِالصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ مَا دُمْتُ حَيّاً“Isa berkata, ‘Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al-Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi. Dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup.’” (QS. Maryam [19]: 30-31)Baca Juga: Menjawab Argumen: “Apa Dalilnya Membuka Handphone Setelah Shalat?Kisah para Nabi Bani IsrailAllah Ta’ala berfirman,وَلَقَدْ أَخَذَ اللّهُ مِيثَاقَ بَنِي إِسْرَائِيلَ وَبَعَثْنَا مِنهُمُ اثْنَيْ عَشَرَ نَقِيباً وَقَالَ اللّهُ إِنِّي مَعَكُمْ لَئِنْ أَقَمْتُمُ الصَّلاَةَ وَآتَيْتُمُ الزَّكَاةَ وَآمَنتُم بِرُسُلِي“Dan sesungguhnya Allah telah mengambil perjanjian (dari) Bani Israil dan telah Kami angkat di antara mereka 12 orang pemimpin dan Allah berfirman, ‘Sesungguhnya Aku beserta kamu, sesungguhnya jika kamu mendirikan shalat dan menunaikan zakat serta beriman kepada rasul-rasul-Ku …'” (QS. Al-Maidah [5]: 12).Selain itu, Allah Ta’ala juga menyebutkan satu per satu Nabi, kemudian menceritakan tentang mereka,أُوْلَئِكَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِم مِّنَ النَّبِيِّينَ مِن ذُرِّيَّةِ آدَمَ وَمِمَّنْ حَمَلْنَا مَعَ نُوحٍ وَمِن ذُرِّيَّةِ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْرَائِيلَ وَمِمَّنْ هَدَيْنَا وَاجْتَبَيْنَا إِذَا تُتْلَى عَلَيْهِمْ آيَاتُ الرَّحْمَن خَرُّوا سُجَّداً وَبُكِيّاً“Mereka itu adalah orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi dari keturunan Adam, dan dari orang-orang yang Kami angkat bersama Nuh, dan dari keturunan Ibrahim dan Israil, dan dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis.” (QS. Maryam [19]: 58)Allah pun mengabarkan bahwa seluruh Nabi beribadah kepada Allah Ta’ala dan mendekatkan diri kepada-Nya dengan ibadah shalat. Kemudian Allah Ta’ala mengatakan,فَخَلَفَ مِن بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيّاً“Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan.” (QS. Maryam [19]: 59)Baca Juga: Berdoa Dengan Bahasa Indonesia Di Dalam ShalatNabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika bersama JibrilSesungguhnya para Nabi terdahulu seluruhnya, mereka terus-menerus mendirikan shalat wajib lima waktu sebagaimana shalat yang diajarkan oleh malaikat Jibril kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,أَمَّنِي جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلَام عِنْدَ الْبَيْتِ مَرَّتَيْنِ، فَصَلَّى بِيَ الظُّهْرَ حِينَ زَالَتِ الشَّمْسُ وَكَانَتْ قَدْرَ الشِّرَاكِ، وَصَلَّى بِيَ الْعَصْرَ حِينَ كَانَ ظِلُّهُ مِثْلَهُ، وَصَلَّى بِيَ يَعْنِي الْمَغْرِبَ حِينَ أَفْطَرَ الصَّائِمُ، وَصَلَّى بِيَ الْعِشَاءَ حِينَ غَابَ الشَّفَقُ، وَصَلَّى بِيَ الْفَجْرَ حِينَ حَرُمَ الطَّعَامُ وَالشَّرَابُ عَلَى الصَّائِمِ، فَلَمَّا كَانَ الْغَدُ صَلَّى بِيَ الظُّهْرَ حِينَ كَانَ ظِلُّهُ مِثْلَهُ، وَصَلَّى بِي الْعَصْرَ حِينَ كَانَ ظِلُّهُ مِثْلَيْهِ، وَصَلَّى بِيَ الْمَغْرِبَ حِينَ أَفْطَرَ الصَّائِمُ، وَصَلَّى بِيَ الْعِشَاءَ إِلَى ثُلُثِ اللَّيْلِ، وَصَلَّى بِيَ الْفَجْرَ فَأَسْفَرَ“Jibril ‘alaihis salam telah mengimamiku di sisi Baitullah dua kali. Dia shalat Zuhur bersamaku ketika matahari tergelincir (condong) ke barat sepanjang tali sandal, kemudian shalat Ashar denganku ketika panjang bayangan suatu benda sama dengannya, lalu shalat Maghrib bersamaku ketika orang yang berpuasa berbuka, kemudian shalat Isya’ bersamaku ketika awan merah telah hilang, dan shalat Subuh bersamaku tatkala orang yang berpuasa dilarang makan dan minum.Besok harinya, dia shalat Zuhur bersamaku ketika bayangan suatu benda sama dengannya, lalu shalat Ashar bersamaku ketika bayangan suatu benda sepanjang dua kali benda itu, kemudian shalat Maghrib bersamaku ketika orang yang berpuasa berbuka, lalu shalat Isya’ bersamaku hingga sepertiga malam, dan shalat subuh bersamaku ketika waktu pagi mulai bercahaya.”Kemudian Jibril menoleh kepadaku seraya berkata,يَا مُحَمَّدُ، هَذَا وَقْتُ الْأَنْبِيَاءِ مِنْ قَبْلِكَ، وَالْوَقْتُ مَا بَيْنَ هَذَيْنِ الْوَقْتَيْنِ“Wahai Muhammad, inilah waktu shalat para Nabi sebelum kamu, dan jarak waktu untuk shalat adalah antara dua waktu ini.” (HR. Abu Dawud no. 393, At-Tirmidzi no. 149, dan Ahmad no. 3322. Dinilai shahih oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jaami’ no. 1402)Semoga Allah Ta’ala memberikan hidayah kepada kita agar mengagungkan shalat dan senantiasa mendirikan shalat.Baca Juga:[Selesai]***@FK UGM, 29 Shafar 1442/ 16 Oktober 2020Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.or.idCatatan kaki:Disarikan dari kitab Ta’zhiim Ash-Shalaat  hal. 11-12, karya Syaikh ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr hafidzahullahu Ta’ala, cetakan pertama tahun 1434, penerbit Daar Al-Imam Muslim, Madinah KSA.🔍 Subhanakallahumma, Hadits Setiap Kalian Adalah Pemimpin, Tasyakur Bi Ni'mah Artinya, Hikmah Membaca Sholawat, Kitab Tauhid Syaikh Muhammad At Tamimi Pdf
Baca artikel sebelumnya Shalat, Kewajiban Seluruh Nabi (Bag. 1)Kisah Nabi Dawud ‘alaihis salaamKetika beliau melakukan suatu kesalahan, dan ingin bertaubat, beliau memulai taubatnya dengan segera mendirikan shalat. Allah Ta’ala berfirman,وَظَنَّ دَاوُودُ أَنَّمَا فَتَنَّاهُ فَاسْتَغْفَرَ رَبَّهُ وَخَرَّ رَاكِعاً وَأَنَابَ“Dan Daud mengetahui bahwa Kami mengujinya, maka ia meminta ampun (istighfar) kepada Tuhannya lalu menyungkur sujud dan bertaubat.” (QS. Shaad [38]: 24)Kisah Nabi Sulaiman bin Dawud ‘alaihimas salaamDitunjukkan kepada Nabi Sulaiman kuda di sore hari. Kemudian beliau tersibukkan diri dengan memandangi kuda-kuda tersebut sehingga beliau pun lupa mendirikan shalat Ashar dan shalat di akhir waktunya. Kemudian beliau pun menyesal. Allah Ta’ala berfirman,وَوَهَبْنَا لِدَاوُودَ سُلَيْمَانَ نِعْمَ الْعَبْدُ إِنَّهُ أَوَّابٌ إِذْ عُرِضَ عَلَيْهِ بِالْعَشِيِّ الصَّافِنَاتُ الْجِيَادُ فَقَالَ إِنِّي أَحْبَبْتُ حُبَّ الْخَيْرِ عَن ذِكْرِ رَبِّي حَتَّى تَوَارَتْ بِالْحِجَابِ رُدُّوهَا عَلَيَّ فَطَفِقَ مَسْحاً بِالسُّوقِ وَالْأَعْنَاقِ“Dan Kami karuniakan kepada Dawud, Sulaiman, dia adalah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhannya). (Ingatlah) ketika ditunjukkan kepadanya kuda-kuda yang tenang di waktu berhenti dan cepat waktu berlari pada waktu sore, maka ia berkata, ‘Sesungguhnya aku menyukai kesenangan terhadap barang yang baik (kuda) sehingga aku lalai mengingat Tuhanku sampai kuda itu hilang dari pandangan. Bawalah kuda-kuda itu kembali kepadaku.’ Lalu ia potong kaki dan leher kuda itu.” (QS. Shaad [38]: 30-33)Baca Juga: Hubungan antara Shalat dan Melihat Wajah Allah Ta’alaIbnu Katsir rahimahullah berkata,“Banyak salaf dan ahli tafsir menyebutkan bahwa beliau sibuk melihat (kuda) sampai terlewat dari waktu shalat ashar. Yang dapat dipastikan bahwa beliau tidaklah meninggalkan shalat Ashar secara sengaja, akan tetapi karena lupa. Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tersibukkan diri saat perang Khandaq dari shalat Ashar sampai beliau mendirikan shalat Ashar setelah matahari tenggelam.” (Tafsir Ibnu Katsir, 7: 65)Kisah Nabi Zakariyya ‘alaihis salaamAllah Ta’ala berfirman,فَنَادَتْهُ الْمَلآئِكَةُ وَهُوَ قَائِمٌ يُصَلِّي فِي الْمِحْرَابِ“Kemudian Malaikat (Jibril) memanggil Zakariya, sedang dia tengah berdiri melakukan shalat di mihrab.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 39)Kisah Nabi Isa ‘alaihis salaamKetika beliau mampu berbicara saat masih dalam gendongan, beliau berkata,قَالَ إِنِّي عَبْدُ اللَّهِ آتَانِيَ الْكِتَابَ وَجَعَلَنِي نَبِيّاً وَجَعَلَنِي مُبَارَكاً أَيْنَ مَا كُنتُ وَأَوْصَانِي بِالصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ مَا دُمْتُ حَيّاً“Isa berkata, ‘Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al-Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi. Dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup.’” (QS. Maryam [19]: 30-31)Baca Juga: Menjawab Argumen: “Apa Dalilnya Membuka Handphone Setelah Shalat?Kisah para Nabi Bani IsrailAllah Ta’ala berfirman,وَلَقَدْ أَخَذَ اللّهُ مِيثَاقَ بَنِي إِسْرَائِيلَ وَبَعَثْنَا مِنهُمُ اثْنَيْ عَشَرَ نَقِيباً وَقَالَ اللّهُ إِنِّي مَعَكُمْ لَئِنْ أَقَمْتُمُ الصَّلاَةَ وَآتَيْتُمُ الزَّكَاةَ وَآمَنتُم بِرُسُلِي“Dan sesungguhnya Allah telah mengambil perjanjian (dari) Bani Israil dan telah Kami angkat di antara mereka 12 orang pemimpin dan Allah berfirman, ‘Sesungguhnya Aku beserta kamu, sesungguhnya jika kamu mendirikan shalat dan menunaikan zakat serta beriman kepada rasul-rasul-Ku …'” (QS. Al-Maidah [5]: 12).Selain itu, Allah Ta’ala juga menyebutkan satu per satu Nabi, kemudian menceritakan tentang mereka,أُوْلَئِكَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِم مِّنَ النَّبِيِّينَ مِن ذُرِّيَّةِ آدَمَ وَمِمَّنْ حَمَلْنَا مَعَ نُوحٍ وَمِن ذُرِّيَّةِ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْرَائِيلَ وَمِمَّنْ هَدَيْنَا وَاجْتَبَيْنَا إِذَا تُتْلَى عَلَيْهِمْ آيَاتُ الرَّحْمَن خَرُّوا سُجَّداً وَبُكِيّاً“Mereka itu adalah orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi dari keturunan Adam, dan dari orang-orang yang Kami angkat bersama Nuh, dan dari keturunan Ibrahim dan Israil, dan dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis.” (QS. Maryam [19]: 58)Allah pun mengabarkan bahwa seluruh Nabi beribadah kepada Allah Ta’ala dan mendekatkan diri kepada-Nya dengan ibadah shalat. Kemudian Allah Ta’ala mengatakan,فَخَلَفَ مِن بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيّاً“Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan.” (QS. Maryam [19]: 59)Baca Juga: Berdoa Dengan Bahasa Indonesia Di Dalam ShalatNabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika bersama JibrilSesungguhnya para Nabi terdahulu seluruhnya, mereka terus-menerus mendirikan shalat wajib lima waktu sebagaimana shalat yang diajarkan oleh malaikat Jibril kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,أَمَّنِي جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلَام عِنْدَ الْبَيْتِ مَرَّتَيْنِ، فَصَلَّى بِيَ الظُّهْرَ حِينَ زَالَتِ الشَّمْسُ وَكَانَتْ قَدْرَ الشِّرَاكِ، وَصَلَّى بِيَ الْعَصْرَ حِينَ كَانَ ظِلُّهُ مِثْلَهُ، وَصَلَّى بِيَ يَعْنِي الْمَغْرِبَ حِينَ أَفْطَرَ الصَّائِمُ، وَصَلَّى بِيَ الْعِشَاءَ حِينَ غَابَ الشَّفَقُ، وَصَلَّى بِيَ الْفَجْرَ حِينَ حَرُمَ الطَّعَامُ وَالشَّرَابُ عَلَى الصَّائِمِ، فَلَمَّا كَانَ الْغَدُ صَلَّى بِيَ الظُّهْرَ حِينَ كَانَ ظِلُّهُ مِثْلَهُ، وَصَلَّى بِي الْعَصْرَ حِينَ كَانَ ظِلُّهُ مِثْلَيْهِ، وَصَلَّى بِيَ الْمَغْرِبَ حِينَ أَفْطَرَ الصَّائِمُ، وَصَلَّى بِيَ الْعِشَاءَ إِلَى ثُلُثِ اللَّيْلِ، وَصَلَّى بِيَ الْفَجْرَ فَأَسْفَرَ“Jibril ‘alaihis salam telah mengimamiku di sisi Baitullah dua kali. Dia shalat Zuhur bersamaku ketika matahari tergelincir (condong) ke barat sepanjang tali sandal, kemudian shalat Ashar denganku ketika panjang bayangan suatu benda sama dengannya, lalu shalat Maghrib bersamaku ketika orang yang berpuasa berbuka, kemudian shalat Isya’ bersamaku ketika awan merah telah hilang, dan shalat Subuh bersamaku tatkala orang yang berpuasa dilarang makan dan minum.Besok harinya, dia shalat Zuhur bersamaku ketika bayangan suatu benda sama dengannya, lalu shalat Ashar bersamaku ketika bayangan suatu benda sepanjang dua kali benda itu, kemudian shalat Maghrib bersamaku ketika orang yang berpuasa berbuka, lalu shalat Isya’ bersamaku hingga sepertiga malam, dan shalat subuh bersamaku ketika waktu pagi mulai bercahaya.”Kemudian Jibril menoleh kepadaku seraya berkata,يَا مُحَمَّدُ، هَذَا وَقْتُ الْأَنْبِيَاءِ مِنْ قَبْلِكَ، وَالْوَقْتُ مَا بَيْنَ هَذَيْنِ الْوَقْتَيْنِ“Wahai Muhammad, inilah waktu shalat para Nabi sebelum kamu, dan jarak waktu untuk shalat adalah antara dua waktu ini.” (HR. Abu Dawud no. 393, At-Tirmidzi no. 149, dan Ahmad no. 3322. Dinilai shahih oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jaami’ no. 1402)Semoga Allah Ta’ala memberikan hidayah kepada kita agar mengagungkan shalat dan senantiasa mendirikan shalat.Baca Juga:[Selesai]***@FK UGM, 29 Shafar 1442/ 16 Oktober 2020Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.or.idCatatan kaki:Disarikan dari kitab Ta’zhiim Ash-Shalaat  hal. 11-12, karya Syaikh ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr hafidzahullahu Ta’ala, cetakan pertama tahun 1434, penerbit Daar Al-Imam Muslim, Madinah KSA.🔍 Subhanakallahumma, Hadits Setiap Kalian Adalah Pemimpin, Tasyakur Bi Ni'mah Artinya, Hikmah Membaca Sholawat, Kitab Tauhid Syaikh Muhammad At Tamimi Pdf


Baca artikel sebelumnya Shalat, Kewajiban Seluruh Nabi (Bag. 1)Kisah Nabi Dawud ‘alaihis salaamKetika beliau melakukan suatu kesalahan, dan ingin bertaubat, beliau memulai taubatnya dengan segera mendirikan shalat. Allah Ta’ala berfirman,وَظَنَّ دَاوُودُ أَنَّمَا فَتَنَّاهُ فَاسْتَغْفَرَ رَبَّهُ وَخَرَّ رَاكِعاً وَأَنَابَ“Dan Daud mengetahui bahwa Kami mengujinya, maka ia meminta ampun (istighfar) kepada Tuhannya lalu menyungkur sujud dan bertaubat.” (QS. Shaad [38]: 24)Kisah Nabi Sulaiman bin Dawud ‘alaihimas salaamDitunjukkan kepada Nabi Sulaiman kuda di sore hari. Kemudian beliau tersibukkan diri dengan memandangi kuda-kuda tersebut sehingga beliau pun lupa mendirikan shalat Ashar dan shalat di akhir waktunya. Kemudian beliau pun menyesal. Allah Ta’ala berfirman,وَوَهَبْنَا لِدَاوُودَ سُلَيْمَانَ نِعْمَ الْعَبْدُ إِنَّهُ أَوَّابٌ إِذْ عُرِضَ عَلَيْهِ بِالْعَشِيِّ الصَّافِنَاتُ الْجِيَادُ فَقَالَ إِنِّي أَحْبَبْتُ حُبَّ الْخَيْرِ عَن ذِكْرِ رَبِّي حَتَّى تَوَارَتْ بِالْحِجَابِ رُدُّوهَا عَلَيَّ فَطَفِقَ مَسْحاً بِالسُّوقِ وَالْأَعْنَاقِ“Dan Kami karuniakan kepada Dawud, Sulaiman, dia adalah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhannya). (Ingatlah) ketika ditunjukkan kepadanya kuda-kuda yang tenang di waktu berhenti dan cepat waktu berlari pada waktu sore, maka ia berkata, ‘Sesungguhnya aku menyukai kesenangan terhadap barang yang baik (kuda) sehingga aku lalai mengingat Tuhanku sampai kuda itu hilang dari pandangan. Bawalah kuda-kuda itu kembali kepadaku.’ Lalu ia potong kaki dan leher kuda itu.” (QS. Shaad [38]: 30-33)Baca Juga: Hubungan antara Shalat dan Melihat Wajah Allah Ta’alaIbnu Katsir rahimahullah berkata,“Banyak salaf dan ahli tafsir menyebutkan bahwa beliau sibuk melihat (kuda) sampai terlewat dari waktu shalat ashar. Yang dapat dipastikan bahwa beliau tidaklah meninggalkan shalat Ashar secara sengaja, akan tetapi karena lupa. Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tersibukkan diri saat perang Khandaq dari shalat Ashar sampai beliau mendirikan shalat Ashar setelah matahari tenggelam.” (Tafsir Ibnu Katsir, 7: 65)Kisah Nabi Zakariyya ‘alaihis salaamAllah Ta’ala berfirman,فَنَادَتْهُ الْمَلآئِكَةُ وَهُوَ قَائِمٌ يُصَلِّي فِي الْمِحْرَابِ“Kemudian Malaikat (Jibril) memanggil Zakariya, sedang dia tengah berdiri melakukan shalat di mihrab.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 39)Kisah Nabi Isa ‘alaihis salaamKetika beliau mampu berbicara saat masih dalam gendongan, beliau berkata,قَالَ إِنِّي عَبْدُ اللَّهِ آتَانِيَ الْكِتَابَ وَجَعَلَنِي نَبِيّاً وَجَعَلَنِي مُبَارَكاً أَيْنَ مَا كُنتُ وَأَوْصَانِي بِالصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ مَا دُمْتُ حَيّاً“Isa berkata, ‘Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al-Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi. Dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup.’” (QS. Maryam [19]: 30-31)Baca Juga: Menjawab Argumen: “Apa Dalilnya Membuka Handphone Setelah Shalat?Kisah para Nabi Bani IsrailAllah Ta’ala berfirman,وَلَقَدْ أَخَذَ اللّهُ مِيثَاقَ بَنِي إِسْرَائِيلَ وَبَعَثْنَا مِنهُمُ اثْنَيْ عَشَرَ نَقِيباً وَقَالَ اللّهُ إِنِّي مَعَكُمْ لَئِنْ أَقَمْتُمُ الصَّلاَةَ وَآتَيْتُمُ الزَّكَاةَ وَآمَنتُم بِرُسُلِي“Dan sesungguhnya Allah telah mengambil perjanjian (dari) Bani Israil dan telah Kami angkat di antara mereka 12 orang pemimpin dan Allah berfirman, ‘Sesungguhnya Aku beserta kamu, sesungguhnya jika kamu mendirikan shalat dan menunaikan zakat serta beriman kepada rasul-rasul-Ku …'” (QS. Al-Maidah [5]: 12).Selain itu, Allah Ta’ala juga menyebutkan satu per satu Nabi, kemudian menceritakan tentang mereka,أُوْلَئِكَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِم مِّنَ النَّبِيِّينَ مِن ذُرِّيَّةِ آدَمَ وَمِمَّنْ حَمَلْنَا مَعَ نُوحٍ وَمِن ذُرِّيَّةِ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْرَائِيلَ وَمِمَّنْ هَدَيْنَا وَاجْتَبَيْنَا إِذَا تُتْلَى عَلَيْهِمْ آيَاتُ الرَّحْمَن خَرُّوا سُجَّداً وَبُكِيّاً“Mereka itu adalah orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi dari keturunan Adam, dan dari orang-orang yang Kami angkat bersama Nuh, dan dari keturunan Ibrahim dan Israil, dan dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis.” (QS. Maryam [19]: 58)Allah pun mengabarkan bahwa seluruh Nabi beribadah kepada Allah Ta’ala dan mendekatkan diri kepada-Nya dengan ibadah shalat. Kemudian Allah Ta’ala mengatakan,فَخَلَفَ مِن بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيّاً“Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan.” (QS. Maryam [19]: 59)Baca Juga: Berdoa Dengan Bahasa Indonesia Di Dalam ShalatNabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika bersama JibrilSesungguhnya para Nabi terdahulu seluruhnya, mereka terus-menerus mendirikan shalat wajib lima waktu sebagaimana shalat yang diajarkan oleh malaikat Jibril kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,أَمَّنِي جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلَام عِنْدَ الْبَيْتِ مَرَّتَيْنِ، فَصَلَّى بِيَ الظُّهْرَ حِينَ زَالَتِ الشَّمْسُ وَكَانَتْ قَدْرَ الشِّرَاكِ، وَصَلَّى بِيَ الْعَصْرَ حِينَ كَانَ ظِلُّهُ مِثْلَهُ، وَصَلَّى بِيَ يَعْنِي الْمَغْرِبَ حِينَ أَفْطَرَ الصَّائِمُ، وَصَلَّى بِيَ الْعِشَاءَ حِينَ غَابَ الشَّفَقُ، وَصَلَّى بِيَ الْفَجْرَ حِينَ حَرُمَ الطَّعَامُ وَالشَّرَابُ عَلَى الصَّائِمِ، فَلَمَّا كَانَ الْغَدُ صَلَّى بِيَ الظُّهْرَ حِينَ كَانَ ظِلُّهُ مِثْلَهُ، وَصَلَّى بِي الْعَصْرَ حِينَ كَانَ ظِلُّهُ مِثْلَيْهِ، وَصَلَّى بِيَ الْمَغْرِبَ حِينَ أَفْطَرَ الصَّائِمُ، وَصَلَّى بِيَ الْعِشَاءَ إِلَى ثُلُثِ اللَّيْلِ، وَصَلَّى بِيَ الْفَجْرَ فَأَسْفَرَ“Jibril ‘alaihis salam telah mengimamiku di sisi Baitullah dua kali. Dia shalat Zuhur bersamaku ketika matahari tergelincir (condong) ke barat sepanjang tali sandal, kemudian shalat Ashar denganku ketika panjang bayangan suatu benda sama dengannya, lalu shalat Maghrib bersamaku ketika orang yang berpuasa berbuka, kemudian shalat Isya’ bersamaku ketika awan merah telah hilang, dan shalat Subuh bersamaku tatkala orang yang berpuasa dilarang makan dan minum.Besok harinya, dia shalat Zuhur bersamaku ketika bayangan suatu benda sama dengannya, lalu shalat Ashar bersamaku ketika bayangan suatu benda sepanjang dua kali benda itu, kemudian shalat Maghrib bersamaku ketika orang yang berpuasa berbuka, lalu shalat Isya’ bersamaku hingga sepertiga malam, dan shalat subuh bersamaku ketika waktu pagi mulai bercahaya.”Kemudian Jibril menoleh kepadaku seraya berkata,يَا مُحَمَّدُ، هَذَا وَقْتُ الْأَنْبِيَاءِ مِنْ قَبْلِكَ، وَالْوَقْتُ مَا بَيْنَ هَذَيْنِ الْوَقْتَيْنِ“Wahai Muhammad, inilah waktu shalat para Nabi sebelum kamu, dan jarak waktu untuk shalat adalah antara dua waktu ini.” (HR. Abu Dawud no. 393, At-Tirmidzi no. 149, dan Ahmad no. 3322. Dinilai shahih oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jaami’ no. 1402)Semoga Allah Ta’ala memberikan hidayah kepada kita agar mengagungkan shalat dan senantiasa mendirikan shalat.Baca Juga:[Selesai]***@FK UGM, 29 Shafar 1442/ 16 Oktober 2020Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.or.idCatatan kaki:Disarikan dari kitab Ta’zhiim Ash-Shalaat  hal. 11-12, karya Syaikh ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr hafidzahullahu Ta’ala, cetakan pertama tahun 1434, penerbit Daar Al-Imam Muslim, Madinah KSA.🔍 Subhanakallahumma, Hadits Setiap Kalian Adalah Pemimpin, Tasyakur Bi Ni'mah Artinya, Hikmah Membaca Sholawat, Kitab Tauhid Syaikh Muhammad At Tamimi Pdf

KELUARGA SAYANG KELUARGA MALANG

KELUARGA SAYANG KELUARGA MALANGOleh: Abdullah Zaen, Lc., MASetelah karunia iman, nikmat terbesar yang dikaruniakan Allah kepada kita adalah nikmat keluarga. Ayah, ibu, suami, istri dan anak. Orang-orang terdekat nan istimewa. Teman bercengkerama, serta tempat berbagi suka dan duka. Namun sayang beribu sayang, realita berkata bahwa banyak orang yang mengabaikan karunia istimewa tadi, dengan berbagai alasan. Kesibukan pekerjaan. Keasyikan menjalani hobi atau pertemanan di dunia nyata maupun maya. Hingga alasan yang paling parah, yaitu menerlantarkan keluarga akibat sibuk bermaksiat.Padahal jika mau merenung sedikit, niscaya akan disadari betapa berharganya karunia ilahi tadi. Bukankah tidak sedikit orang yang merindukan kehadiran anak selama puluhan tahun, namun Allah belum mengaruniakannya? Apakah kita baru akan menyadari mahalnya nikmat keberadaan keluarga, hanya saat kehilangan mereka? Na’udzubillah min dzalik..Berikut berbagai poin penting untuk menjaga kehangatan suasana kita dengan keluarga. Bukan hanya di dunia saja, namun kita juga berharap bisa berkumpul bersama mereka di surga Allah ta’ala.Pertama: PrioritasMuslim sejati tentu akan menomorsatukan hak Allah dalam kehidupannya. Setelah itu, hak keluarga yang harus diprioritaskan. Karena memang begitu yang diajarkan oleh agama. Ditambah lagi keluargalah yang bakal peduli pada kita, saat datang masa tua, bahkan ketika kita telah tiada.Yakinlah bahwa orang yang bakal setia menemani kita di masa tua, bukan teman arisan, rekan bisnis, apalagi anggota puluhan grup WA yang kita ikuti. Namun suami atau istri atau putra-putri kita. Mereka pula yang akan rutin mendoakan kita, saat tubuh telah terbujur kaku berkalang tanah.Kedua: KonsistensiMembangun keharmonisan rumah tangga bukan pekerjaan sehari-dua hari, atau hanya saat bulan madu saja. Namun aktivitas seumur hidup. Selama hayat masih dikandung badan dan selama masih terikat hubungan pernikahan yang sah; maka hak dan kewajiban suami-istri masih berlaku terhadap pasangan tersebut.Suami berkewajiban untuk membimbing istrinya secara rutin. Istri berkewajiban melayani suaminya secara baik. Orang tua berkewajiban mendidik anak-anaknya dengan panduan agama. Ini semua tidak bersifat insidentil. Bukan sekali dalam setahun hanya dalam momen tertentu, lalu setelahnya vakum hingga momen itu datang kembali.Ketiga: ProporsionalitasMasing-masing kita tentu memiliki kesibukan di luar rumah. Entah itu terkait langsung dengan roda kehidupan rumah tangga kita, seperti aktivitas mencari nafkah. Atau yang tidak berhubungan secara langsung, semisal beragam kegiatan menyalurkan hobi. Selama berbagai kesibukan itu dijalankan secara proporsional, insyaAllah tidak mengapa.Namun yang kerap memicu masalah, adalah saat beragam kesibukan di luar rumah itu mengakibatkan keluarga kita terlantar. Barangkali bukan terlantar secara materi, sebab kebutuhan fisik mereka terpenuhi. Namun terlantar secara psikologis. Sebab anak jarang mendapatkan belaian dan dekapan kasih sayang ayah-bundanya. Sehingga status dia hanyalah anak biologis dari orang tuanya, bukan anak ideologis dari keduanya. Tragisnya yang dipercaya untuk membentuk karakter anak adalah pembantu rumah tangga, yang seringkali tingkat pendidikannya rendah. Bahkan mungkin bukan orang yang mengerti dan patuh beragama.Kita harus pandai dan bijak dalam membagi waktu. Ada waktu untuk bekerja. Ada waktu untuk keluarga. Ada waktu untuk menyalurkan hobi. Jika terpaksa durasi yang tersedia untuk keluarga hanya sedikit, maka jangan sampai waktu mahal itu tidak berkualitas. Singkirkan gadget saat kita sedang makan bersama keluarga, atau di momen kita menemani anak sebelum tidurnya.Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, Jum’at, 1 Jumada Tsaniyah 1443 H / 4 Januari 2022 Post navigation Previous PENERIMAAN SANTRI BARU ANGKATAN KEDUABELAS PROGRAM PENGKADERAN DA’I TAHUN AKADEMIK: 1443/1444 H – 2022/2023 MNext Serial Fiqih Pendidikan Anak No 159: BUKAN ASAL NAMA Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

KELUARGA SAYANG KELUARGA MALANG

KELUARGA SAYANG KELUARGA MALANGOleh: Abdullah Zaen, Lc., MASetelah karunia iman, nikmat terbesar yang dikaruniakan Allah kepada kita adalah nikmat keluarga. Ayah, ibu, suami, istri dan anak. Orang-orang terdekat nan istimewa. Teman bercengkerama, serta tempat berbagi suka dan duka. Namun sayang beribu sayang, realita berkata bahwa banyak orang yang mengabaikan karunia istimewa tadi, dengan berbagai alasan. Kesibukan pekerjaan. Keasyikan menjalani hobi atau pertemanan di dunia nyata maupun maya. Hingga alasan yang paling parah, yaitu menerlantarkan keluarga akibat sibuk bermaksiat.Padahal jika mau merenung sedikit, niscaya akan disadari betapa berharganya karunia ilahi tadi. Bukankah tidak sedikit orang yang merindukan kehadiran anak selama puluhan tahun, namun Allah belum mengaruniakannya? Apakah kita baru akan menyadari mahalnya nikmat keberadaan keluarga, hanya saat kehilangan mereka? Na’udzubillah min dzalik..Berikut berbagai poin penting untuk menjaga kehangatan suasana kita dengan keluarga. Bukan hanya di dunia saja, namun kita juga berharap bisa berkumpul bersama mereka di surga Allah ta’ala.Pertama: PrioritasMuslim sejati tentu akan menomorsatukan hak Allah dalam kehidupannya. Setelah itu, hak keluarga yang harus diprioritaskan. Karena memang begitu yang diajarkan oleh agama. Ditambah lagi keluargalah yang bakal peduli pada kita, saat datang masa tua, bahkan ketika kita telah tiada.Yakinlah bahwa orang yang bakal setia menemani kita di masa tua, bukan teman arisan, rekan bisnis, apalagi anggota puluhan grup WA yang kita ikuti. Namun suami atau istri atau putra-putri kita. Mereka pula yang akan rutin mendoakan kita, saat tubuh telah terbujur kaku berkalang tanah.Kedua: KonsistensiMembangun keharmonisan rumah tangga bukan pekerjaan sehari-dua hari, atau hanya saat bulan madu saja. Namun aktivitas seumur hidup. Selama hayat masih dikandung badan dan selama masih terikat hubungan pernikahan yang sah; maka hak dan kewajiban suami-istri masih berlaku terhadap pasangan tersebut.Suami berkewajiban untuk membimbing istrinya secara rutin. Istri berkewajiban melayani suaminya secara baik. Orang tua berkewajiban mendidik anak-anaknya dengan panduan agama. Ini semua tidak bersifat insidentil. Bukan sekali dalam setahun hanya dalam momen tertentu, lalu setelahnya vakum hingga momen itu datang kembali.Ketiga: ProporsionalitasMasing-masing kita tentu memiliki kesibukan di luar rumah. Entah itu terkait langsung dengan roda kehidupan rumah tangga kita, seperti aktivitas mencari nafkah. Atau yang tidak berhubungan secara langsung, semisal beragam kegiatan menyalurkan hobi. Selama berbagai kesibukan itu dijalankan secara proporsional, insyaAllah tidak mengapa.Namun yang kerap memicu masalah, adalah saat beragam kesibukan di luar rumah itu mengakibatkan keluarga kita terlantar. Barangkali bukan terlantar secara materi, sebab kebutuhan fisik mereka terpenuhi. Namun terlantar secara psikologis. Sebab anak jarang mendapatkan belaian dan dekapan kasih sayang ayah-bundanya. Sehingga status dia hanyalah anak biologis dari orang tuanya, bukan anak ideologis dari keduanya. Tragisnya yang dipercaya untuk membentuk karakter anak adalah pembantu rumah tangga, yang seringkali tingkat pendidikannya rendah. Bahkan mungkin bukan orang yang mengerti dan patuh beragama.Kita harus pandai dan bijak dalam membagi waktu. Ada waktu untuk bekerja. Ada waktu untuk keluarga. Ada waktu untuk menyalurkan hobi. Jika terpaksa durasi yang tersedia untuk keluarga hanya sedikit, maka jangan sampai waktu mahal itu tidak berkualitas. Singkirkan gadget saat kita sedang makan bersama keluarga, atau di momen kita menemani anak sebelum tidurnya.Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, Jum’at, 1 Jumada Tsaniyah 1443 H / 4 Januari 2022 Post navigation Previous PENERIMAAN SANTRI BARU ANGKATAN KEDUABELAS PROGRAM PENGKADERAN DA’I TAHUN AKADEMIK: 1443/1444 H – 2022/2023 MNext Serial Fiqih Pendidikan Anak No 159: BUKAN ASAL NAMA Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
KELUARGA SAYANG KELUARGA MALANGOleh: Abdullah Zaen, Lc., MASetelah karunia iman, nikmat terbesar yang dikaruniakan Allah kepada kita adalah nikmat keluarga. Ayah, ibu, suami, istri dan anak. Orang-orang terdekat nan istimewa. Teman bercengkerama, serta tempat berbagi suka dan duka. Namun sayang beribu sayang, realita berkata bahwa banyak orang yang mengabaikan karunia istimewa tadi, dengan berbagai alasan. Kesibukan pekerjaan. Keasyikan menjalani hobi atau pertemanan di dunia nyata maupun maya. Hingga alasan yang paling parah, yaitu menerlantarkan keluarga akibat sibuk bermaksiat.Padahal jika mau merenung sedikit, niscaya akan disadari betapa berharganya karunia ilahi tadi. Bukankah tidak sedikit orang yang merindukan kehadiran anak selama puluhan tahun, namun Allah belum mengaruniakannya? Apakah kita baru akan menyadari mahalnya nikmat keberadaan keluarga, hanya saat kehilangan mereka? Na’udzubillah min dzalik..Berikut berbagai poin penting untuk menjaga kehangatan suasana kita dengan keluarga. Bukan hanya di dunia saja, namun kita juga berharap bisa berkumpul bersama mereka di surga Allah ta’ala.Pertama: PrioritasMuslim sejati tentu akan menomorsatukan hak Allah dalam kehidupannya. Setelah itu, hak keluarga yang harus diprioritaskan. Karena memang begitu yang diajarkan oleh agama. Ditambah lagi keluargalah yang bakal peduli pada kita, saat datang masa tua, bahkan ketika kita telah tiada.Yakinlah bahwa orang yang bakal setia menemani kita di masa tua, bukan teman arisan, rekan bisnis, apalagi anggota puluhan grup WA yang kita ikuti. Namun suami atau istri atau putra-putri kita. Mereka pula yang akan rutin mendoakan kita, saat tubuh telah terbujur kaku berkalang tanah.Kedua: KonsistensiMembangun keharmonisan rumah tangga bukan pekerjaan sehari-dua hari, atau hanya saat bulan madu saja. Namun aktivitas seumur hidup. Selama hayat masih dikandung badan dan selama masih terikat hubungan pernikahan yang sah; maka hak dan kewajiban suami-istri masih berlaku terhadap pasangan tersebut.Suami berkewajiban untuk membimbing istrinya secara rutin. Istri berkewajiban melayani suaminya secara baik. Orang tua berkewajiban mendidik anak-anaknya dengan panduan agama. Ini semua tidak bersifat insidentil. Bukan sekali dalam setahun hanya dalam momen tertentu, lalu setelahnya vakum hingga momen itu datang kembali.Ketiga: ProporsionalitasMasing-masing kita tentu memiliki kesibukan di luar rumah. Entah itu terkait langsung dengan roda kehidupan rumah tangga kita, seperti aktivitas mencari nafkah. Atau yang tidak berhubungan secara langsung, semisal beragam kegiatan menyalurkan hobi. Selama berbagai kesibukan itu dijalankan secara proporsional, insyaAllah tidak mengapa.Namun yang kerap memicu masalah, adalah saat beragam kesibukan di luar rumah itu mengakibatkan keluarga kita terlantar. Barangkali bukan terlantar secara materi, sebab kebutuhan fisik mereka terpenuhi. Namun terlantar secara psikologis. Sebab anak jarang mendapatkan belaian dan dekapan kasih sayang ayah-bundanya. Sehingga status dia hanyalah anak biologis dari orang tuanya, bukan anak ideologis dari keduanya. Tragisnya yang dipercaya untuk membentuk karakter anak adalah pembantu rumah tangga, yang seringkali tingkat pendidikannya rendah. Bahkan mungkin bukan orang yang mengerti dan patuh beragama.Kita harus pandai dan bijak dalam membagi waktu. Ada waktu untuk bekerja. Ada waktu untuk keluarga. Ada waktu untuk menyalurkan hobi. Jika terpaksa durasi yang tersedia untuk keluarga hanya sedikit, maka jangan sampai waktu mahal itu tidak berkualitas. Singkirkan gadget saat kita sedang makan bersama keluarga, atau di momen kita menemani anak sebelum tidurnya.Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, Jum’at, 1 Jumada Tsaniyah 1443 H / 4 Januari 2022 Post navigation Previous PENERIMAAN SANTRI BARU ANGKATAN KEDUABELAS PROGRAM PENGKADERAN DA’I TAHUN AKADEMIK: 1443/1444 H – 2022/2023 MNext Serial Fiqih Pendidikan Anak No 159: BUKAN ASAL NAMA Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


KELUARGA SAYANG KELUARGA MALANGOleh: Abdullah Zaen, Lc., MASetelah karunia iman, nikmat terbesar yang dikaruniakan Allah kepada kita adalah nikmat keluarga. Ayah, ibu, suami, istri dan anak. Orang-orang terdekat nan istimewa. Teman bercengkerama, serta tempat berbagi suka dan duka. Namun sayang beribu sayang, realita berkata bahwa banyak orang yang mengabaikan karunia istimewa tadi, dengan berbagai alasan. Kesibukan pekerjaan. Keasyikan menjalani hobi atau pertemanan di dunia nyata maupun maya. Hingga alasan yang paling parah, yaitu menerlantarkan keluarga akibat sibuk bermaksiat.Padahal jika mau merenung sedikit, niscaya akan disadari betapa berharganya karunia ilahi tadi. Bukankah tidak sedikit orang yang merindukan kehadiran anak selama puluhan tahun, namun Allah belum mengaruniakannya? Apakah kita baru akan menyadari mahalnya nikmat keberadaan keluarga, hanya saat kehilangan mereka? Na’udzubillah min dzalik..Berikut berbagai poin penting untuk menjaga kehangatan suasana kita dengan keluarga. Bukan hanya di dunia saja, namun kita juga berharap bisa berkumpul bersama mereka di surga Allah ta’ala.Pertama: PrioritasMuslim sejati tentu akan menomorsatukan hak Allah dalam kehidupannya. Setelah itu, hak keluarga yang harus diprioritaskan. Karena memang begitu yang diajarkan oleh agama. Ditambah lagi keluargalah yang bakal peduli pada kita, saat datang masa tua, bahkan ketika kita telah tiada.Yakinlah bahwa orang yang bakal setia menemani kita di masa tua, bukan teman arisan, rekan bisnis, apalagi anggota puluhan grup WA yang kita ikuti. Namun suami atau istri atau putra-putri kita. Mereka pula yang akan rutin mendoakan kita, saat tubuh telah terbujur kaku berkalang tanah.Kedua: KonsistensiMembangun keharmonisan rumah tangga bukan pekerjaan sehari-dua hari, atau hanya saat bulan madu saja. Namun aktivitas seumur hidup. Selama hayat masih dikandung badan dan selama masih terikat hubungan pernikahan yang sah; maka hak dan kewajiban suami-istri masih berlaku terhadap pasangan tersebut.Suami berkewajiban untuk membimbing istrinya secara rutin. Istri berkewajiban melayani suaminya secara baik. Orang tua berkewajiban mendidik anak-anaknya dengan panduan agama. Ini semua tidak bersifat insidentil. Bukan sekali dalam setahun hanya dalam momen tertentu, lalu setelahnya vakum hingga momen itu datang kembali.Ketiga: ProporsionalitasMasing-masing kita tentu memiliki kesibukan di luar rumah. Entah itu terkait langsung dengan roda kehidupan rumah tangga kita, seperti aktivitas mencari nafkah. Atau yang tidak berhubungan secara langsung, semisal beragam kegiatan menyalurkan hobi. Selama berbagai kesibukan itu dijalankan secara proporsional, insyaAllah tidak mengapa.Namun yang kerap memicu masalah, adalah saat beragam kesibukan di luar rumah itu mengakibatkan keluarga kita terlantar. Barangkali bukan terlantar secara materi, sebab kebutuhan fisik mereka terpenuhi. Namun terlantar secara psikologis. Sebab anak jarang mendapatkan belaian dan dekapan kasih sayang ayah-bundanya. Sehingga status dia hanyalah anak biologis dari orang tuanya, bukan anak ideologis dari keduanya. Tragisnya yang dipercaya untuk membentuk karakter anak adalah pembantu rumah tangga, yang seringkali tingkat pendidikannya rendah. Bahkan mungkin bukan orang yang mengerti dan patuh beragama.Kita harus pandai dan bijak dalam membagi waktu. Ada waktu untuk bekerja. Ada waktu untuk keluarga. Ada waktu untuk menyalurkan hobi. Jika terpaksa durasi yang tersedia untuk keluarga hanya sedikit, maka jangan sampai waktu mahal itu tidak berkualitas. Singkirkan gadget saat kita sedang makan bersama keluarga, atau di momen kita menemani anak sebelum tidurnya.Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, Jum’at, 1 Jumada Tsaniyah 1443 H / 4 Januari 2022 Post navigation Previous PENERIMAAN SANTRI BARU ANGKATAN KEDUABELAS PROGRAM PENGKADERAN DA’I TAHUN AKADEMIK: 1443/1444 H – 2022/2023 MNext Serial Fiqih Pendidikan Anak No 159: BUKAN ASAL NAMA Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Menjadikan Islam sebagai Sarana Meraih Dunia

Fatwa Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullahPertanyaan:Bagaimana pendapat ulama yang mulia tentang orang-orang yang menyibukkan diri dalam Islam, namun bertujuan untuk mewujudukan ambisi (keinginan) pribadi?Baca Juga: Mencela Seseorang yang Sudah Meninggal DuniaJawaban:Islam adalah agama kebenaran sebagaimana yang telah diketahui (telah dikenal), walillahil hamd (segala puji hanya milik Allah Ta’ala). Sebagaimana firman Allah Ta’ala kepada Nabi-Nya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam,إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ بِالْحَقِّ بَشِيراً وَنَذِيراً“Sesungguhnya Kami telah mengutusmu (Muhammad) dengan kebenaran, sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan.” (QS. Al-Baqarah [2]” 119)Agama Islam itu lebih tinggi, lebih mulia, dan lebih unggul, lebih dari sekedar dijadikan sebagai sarana untuk meraih ambisi (keinginan) pribadi (yang bersifat duniawi, pent.). Setiap orang yang mengklaim bahwa dia adalah penolong dan pembela Islam, wajib baginya untuk membuktikan ucapannya itu dengan perbuatannya, sehingga jelaslah bahwa klaimnya tersebut adalah klaim yang jujur. Hal ini karena orang-orang munafik pun mengabarkan (mengklaim) bahwa mereka berpegang teguh dengan Islam setiap kali mereka mendengar seseorang mempertanyakan apakah mereka itu orang yang beriman.Sebagaimana firman Allah Ta’ala,إِذَا جَاءكَ الْمُنَافِقُونَ قَالُوا نَشْهَدُ إِنَّكَ لَرَسُولُ اللَّهِ“Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata, “Kami mengakui, bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul Allah.”Kemudian Allah Ta’ala mengatakan,وَاللَّهُ يَعْلَمُ إِنَّكَ لَرَسُولُهُ وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَكَاذِبُونَ اتَّخَذُوا أَيْمَانَهُمْ جُنَّةً فَصَدُّوا عَن سَبِيلِ اللَّهِ إِنَّهُمْ سَاء مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ“Dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul-Nya, dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar orang pendusta. Mereka itu menjadikan sumpah mereka sebagai perisai, lalu mereka menghalangi (manusia) dari jalan Allah. Sesungguhnya amat buruklah apa yang telah mereka kerjakan.”Sampai dengan firman Allah Ta’ala,وَإِذَا رَأَيْتَهُمْ تُعْجِبُكَ أَجْسَامُهُمْ وَإِن يَقُولُوا تَسْمَعْ لِقَوْلِهِمْ كَأَنَّهُمْ خُشُبٌ مُّسَنَّدَةٌ يَحْسَبُونَ كُلَّ صَيْحَةٍ عَلَيْهِمْ هُمُ الْعَدُوُّ فَاحْذَرْهُمْ قَاتَلَهُمُ اللَّهُ أَنَّى يُؤْفَكُونَ“Dan apabila kamu melihat mereka, tubuh-tubuh mereka menjadikan kamu kagum. Dan jika mereka berkata kamu mendengarkan perkataan mereka. Mereka adalah seakan-akan kayu yang tersandar. Mereka mengira bahwa tiap-tiap teriakan yang keras ditujukan kepada mereka. Mereka itulah musuh (yang sebenarnya) maka waspadalah terhadap mereka; semoga Allah membinasakan mereka. Bagaimanakah mereka sampai dipalingkan (dari kebenaran)?” (QS. Al-Munaafiquun [63]: 1-4)Oleh karena itu, tidak boleh bagi seseorang menjadikan Islam ini hanya sebagai sarana untuk meraih ambisi pribadinya, yaitu menjadikan Islam ini sebagai sarana untuk meraih tujuan-tujuan yang bersifat duniawi. Bahkan wajib baginya untuk berpegang teguh dengan Islam untuk meraih buah yang mulia, di antaranya adalah kemuliaan dan kejayaan di dunia, sebelum pahala di akhirat kelak. Allah Ta’ala berfirman,وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُم فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُم مِّن بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْناً يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئاً وَمَن كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang shalih bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS. An-Nuur [24]: 55)Allah Ta’ala juga berfirman,مَنْ عَمِلَ صَالِحاً مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُواْ يَعْمَلُونَ“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl [16]: 97)Baca Juga:***@Kantor YPIA, 24 Muharram 1442/ 17 September 2020Penerjemah: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.or.idCatatan kaki:Diterjemahkan dari kitab Ash-Shahwah Al-Islamiyyah: Dzawabith wa Taujihaat hal. 164-165, karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullahu Ta’ala.🔍 Hadits Tentang Akhlak Mulia, Hadits Suudzon, Munafik Menurut Islam, Tata Cara Zakat Penghasilan, Faedah Membaca Al Quran

Menjadikan Islam sebagai Sarana Meraih Dunia

Fatwa Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullahPertanyaan:Bagaimana pendapat ulama yang mulia tentang orang-orang yang menyibukkan diri dalam Islam, namun bertujuan untuk mewujudukan ambisi (keinginan) pribadi?Baca Juga: Mencela Seseorang yang Sudah Meninggal DuniaJawaban:Islam adalah agama kebenaran sebagaimana yang telah diketahui (telah dikenal), walillahil hamd (segala puji hanya milik Allah Ta’ala). Sebagaimana firman Allah Ta’ala kepada Nabi-Nya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam,إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ بِالْحَقِّ بَشِيراً وَنَذِيراً“Sesungguhnya Kami telah mengutusmu (Muhammad) dengan kebenaran, sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan.” (QS. Al-Baqarah [2]” 119)Agama Islam itu lebih tinggi, lebih mulia, dan lebih unggul, lebih dari sekedar dijadikan sebagai sarana untuk meraih ambisi (keinginan) pribadi (yang bersifat duniawi, pent.). Setiap orang yang mengklaim bahwa dia adalah penolong dan pembela Islam, wajib baginya untuk membuktikan ucapannya itu dengan perbuatannya, sehingga jelaslah bahwa klaimnya tersebut adalah klaim yang jujur. Hal ini karena orang-orang munafik pun mengabarkan (mengklaim) bahwa mereka berpegang teguh dengan Islam setiap kali mereka mendengar seseorang mempertanyakan apakah mereka itu orang yang beriman.Sebagaimana firman Allah Ta’ala,إِذَا جَاءكَ الْمُنَافِقُونَ قَالُوا نَشْهَدُ إِنَّكَ لَرَسُولُ اللَّهِ“Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata, “Kami mengakui, bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul Allah.”Kemudian Allah Ta’ala mengatakan,وَاللَّهُ يَعْلَمُ إِنَّكَ لَرَسُولُهُ وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَكَاذِبُونَ اتَّخَذُوا أَيْمَانَهُمْ جُنَّةً فَصَدُّوا عَن سَبِيلِ اللَّهِ إِنَّهُمْ سَاء مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ“Dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul-Nya, dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar orang pendusta. Mereka itu menjadikan sumpah mereka sebagai perisai, lalu mereka menghalangi (manusia) dari jalan Allah. Sesungguhnya amat buruklah apa yang telah mereka kerjakan.”Sampai dengan firman Allah Ta’ala,وَإِذَا رَأَيْتَهُمْ تُعْجِبُكَ أَجْسَامُهُمْ وَإِن يَقُولُوا تَسْمَعْ لِقَوْلِهِمْ كَأَنَّهُمْ خُشُبٌ مُّسَنَّدَةٌ يَحْسَبُونَ كُلَّ صَيْحَةٍ عَلَيْهِمْ هُمُ الْعَدُوُّ فَاحْذَرْهُمْ قَاتَلَهُمُ اللَّهُ أَنَّى يُؤْفَكُونَ“Dan apabila kamu melihat mereka, tubuh-tubuh mereka menjadikan kamu kagum. Dan jika mereka berkata kamu mendengarkan perkataan mereka. Mereka adalah seakan-akan kayu yang tersandar. Mereka mengira bahwa tiap-tiap teriakan yang keras ditujukan kepada mereka. Mereka itulah musuh (yang sebenarnya) maka waspadalah terhadap mereka; semoga Allah membinasakan mereka. Bagaimanakah mereka sampai dipalingkan (dari kebenaran)?” (QS. Al-Munaafiquun [63]: 1-4)Oleh karena itu, tidak boleh bagi seseorang menjadikan Islam ini hanya sebagai sarana untuk meraih ambisi pribadinya, yaitu menjadikan Islam ini sebagai sarana untuk meraih tujuan-tujuan yang bersifat duniawi. Bahkan wajib baginya untuk berpegang teguh dengan Islam untuk meraih buah yang mulia, di antaranya adalah kemuliaan dan kejayaan di dunia, sebelum pahala di akhirat kelak. Allah Ta’ala berfirman,وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُم فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُم مِّن بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْناً يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئاً وَمَن كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang shalih bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS. An-Nuur [24]: 55)Allah Ta’ala juga berfirman,مَنْ عَمِلَ صَالِحاً مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُواْ يَعْمَلُونَ“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl [16]: 97)Baca Juga:***@Kantor YPIA, 24 Muharram 1442/ 17 September 2020Penerjemah: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.or.idCatatan kaki:Diterjemahkan dari kitab Ash-Shahwah Al-Islamiyyah: Dzawabith wa Taujihaat hal. 164-165, karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullahu Ta’ala.🔍 Hadits Tentang Akhlak Mulia, Hadits Suudzon, Munafik Menurut Islam, Tata Cara Zakat Penghasilan, Faedah Membaca Al Quran
Fatwa Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullahPertanyaan:Bagaimana pendapat ulama yang mulia tentang orang-orang yang menyibukkan diri dalam Islam, namun bertujuan untuk mewujudukan ambisi (keinginan) pribadi?Baca Juga: Mencela Seseorang yang Sudah Meninggal DuniaJawaban:Islam adalah agama kebenaran sebagaimana yang telah diketahui (telah dikenal), walillahil hamd (segala puji hanya milik Allah Ta’ala). Sebagaimana firman Allah Ta’ala kepada Nabi-Nya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam,إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ بِالْحَقِّ بَشِيراً وَنَذِيراً“Sesungguhnya Kami telah mengutusmu (Muhammad) dengan kebenaran, sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan.” (QS. Al-Baqarah [2]” 119)Agama Islam itu lebih tinggi, lebih mulia, dan lebih unggul, lebih dari sekedar dijadikan sebagai sarana untuk meraih ambisi (keinginan) pribadi (yang bersifat duniawi, pent.). Setiap orang yang mengklaim bahwa dia adalah penolong dan pembela Islam, wajib baginya untuk membuktikan ucapannya itu dengan perbuatannya, sehingga jelaslah bahwa klaimnya tersebut adalah klaim yang jujur. Hal ini karena orang-orang munafik pun mengabarkan (mengklaim) bahwa mereka berpegang teguh dengan Islam setiap kali mereka mendengar seseorang mempertanyakan apakah mereka itu orang yang beriman.Sebagaimana firman Allah Ta’ala,إِذَا جَاءكَ الْمُنَافِقُونَ قَالُوا نَشْهَدُ إِنَّكَ لَرَسُولُ اللَّهِ“Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata, “Kami mengakui, bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul Allah.”Kemudian Allah Ta’ala mengatakan,وَاللَّهُ يَعْلَمُ إِنَّكَ لَرَسُولُهُ وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَكَاذِبُونَ اتَّخَذُوا أَيْمَانَهُمْ جُنَّةً فَصَدُّوا عَن سَبِيلِ اللَّهِ إِنَّهُمْ سَاء مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ“Dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul-Nya, dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar orang pendusta. Mereka itu menjadikan sumpah mereka sebagai perisai, lalu mereka menghalangi (manusia) dari jalan Allah. Sesungguhnya amat buruklah apa yang telah mereka kerjakan.”Sampai dengan firman Allah Ta’ala,وَإِذَا رَأَيْتَهُمْ تُعْجِبُكَ أَجْسَامُهُمْ وَإِن يَقُولُوا تَسْمَعْ لِقَوْلِهِمْ كَأَنَّهُمْ خُشُبٌ مُّسَنَّدَةٌ يَحْسَبُونَ كُلَّ صَيْحَةٍ عَلَيْهِمْ هُمُ الْعَدُوُّ فَاحْذَرْهُمْ قَاتَلَهُمُ اللَّهُ أَنَّى يُؤْفَكُونَ“Dan apabila kamu melihat mereka, tubuh-tubuh mereka menjadikan kamu kagum. Dan jika mereka berkata kamu mendengarkan perkataan mereka. Mereka adalah seakan-akan kayu yang tersandar. Mereka mengira bahwa tiap-tiap teriakan yang keras ditujukan kepada mereka. Mereka itulah musuh (yang sebenarnya) maka waspadalah terhadap mereka; semoga Allah membinasakan mereka. Bagaimanakah mereka sampai dipalingkan (dari kebenaran)?” (QS. Al-Munaafiquun [63]: 1-4)Oleh karena itu, tidak boleh bagi seseorang menjadikan Islam ini hanya sebagai sarana untuk meraih ambisi pribadinya, yaitu menjadikan Islam ini sebagai sarana untuk meraih tujuan-tujuan yang bersifat duniawi. Bahkan wajib baginya untuk berpegang teguh dengan Islam untuk meraih buah yang mulia, di antaranya adalah kemuliaan dan kejayaan di dunia, sebelum pahala di akhirat kelak. Allah Ta’ala berfirman,وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُم فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُم مِّن بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْناً يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئاً وَمَن كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang shalih bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS. An-Nuur [24]: 55)Allah Ta’ala juga berfirman,مَنْ عَمِلَ صَالِحاً مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُواْ يَعْمَلُونَ“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl [16]: 97)Baca Juga:***@Kantor YPIA, 24 Muharram 1442/ 17 September 2020Penerjemah: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.or.idCatatan kaki:Diterjemahkan dari kitab Ash-Shahwah Al-Islamiyyah: Dzawabith wa Taujihaat hal. 164-165, karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullahu Ta’ala.🔍 Hadits Tentang Akhlak Mulia, Hadits Suudzon, Munafik Menurut Islam, Tata Cara Zakat Penghasilan, Faedah Membaca Al Quran


Fatwa Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullahPertanyaan:Bagaimana pendapat ulama yang mulia tentang orang-orang yang menyibukkan diri dalam Islam, namun bertujuan untuk mewujudukan ambisi (keinginan) pribadi?Baca Juga: Mencela Seseorang yang Sudah Meninggal DuniaJawaban:Islam adalah agama kebenaran sebagaimana yang telah diketahui (telah dikenal), walillahil hamd (segala puji hanya milik Allah Ta’ala). Sebagaimana firman Allah Ta’ala kepada Nabi-Nya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam,إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ بِالْحَقِّ بَشِيراً وَنَذِيراً“Sesungguhnya Kami telah mengutusmu (Muhammad) dengan kebenaran, sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan.” (QS. Al-Baqarah [2]” 119)Agama Islam itu lebih tinggi, lebih mulia, dan lebih unggul, lebih dari sekedar dijadikan sebagai sarana untuk meraih ambisi (keinginan) pribadi (yang bersifat duniawi, pent.). Setiap orang yang mengklaim bahwa dia adalah penolong dan pembela Islam, wajib baginya untuk membuktikan ucapannya itu dengan perbuatannya, sehingga jelaslah bahwa klaimnya tersebut adalah klaim yang jujur. Hal ini karena orang-orang munafik pun mengabarkan (mengklaim) bahwa mereka berpegang teguh dengan Islam setiap kali mereka mendengar seseorang mempertanyakan apakah mereka itu orang yang beriman.Sebagaimana firman Allah Ta’ala,إِذَا جَاءكَ الْمُنَافِقُونَ قَالُوا نَشْهَدُ إِنَّكَ لَرَسُولُ اللَّهِ“Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata, “Kami mengakui, bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul Allah.”Kemudian Allah Ta’ala mengatakan,وَاللَّهُ يَعْلَمُ إِنَّكَ لَرَسُولُهُ وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَكَاذِبُونَ اتَّخَذُوا أَيْمَانَهُمْ جُنَّةً فَصَدُّوا عَن سَبِيلِ اللَّهِ إِنَّهُمْ سَاء مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ“Dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul-Nya, dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar orang pendusta. Mereka itu menjadikan sumpah mereka sebagai perisai, lalu mereka menghalangi (manusia) dari jalan Allah. Sesungguhnya amat buruklah apa yang telah mereka kerjakan.”Sampai dengan firman Allah Ta’ala,وَإِذَا رَأَيْتَهُمْ تُعْجِبُكَ أَجْسَامُهُمْ وَإِن يَقُولُوا تَسْمَعْ لِقَوْلِهِمْ كَأَنَّهُمْ خُشُبٌ مُّسَنَّدَةٌ يَحْسَبُونَ كُلَّ صَيْحَةٍ عَلَيْهِمْ هُمُ الْعَدُوُّ فَاحْذَرْهُمْ قَاتَلَهُمُ اللَّهُ أَنَّى يُؤْفَكُونَ“Dan apabila kamu melihat mereka, tubuh-tubuh mereka menjadikan kamu kagum. Dan jika mereka berkata kamu mendengarkan perkataan mereka. Mereka adalah seakan-akan kayu yang tersandar. Mereka mengira bahwa tiap-tiap teriakan yang keras ditujukan kepada mereka. Mereka itulah musuh (yang sebenarnya) maka waspadalah terhadap mereka; semoga Allah membinasakan mereka. Bagaimanakah mereka sampai dipalingkan (dari kebenaran)?” (QS. Al-Munaafiquun [63]: 1-4)Oleh karena itu, tidak boleh bagi seseorang menjadikan Islam ini hanya sebagai sarana untuk meraih ambisi pribadinya, yaitu menjadikan Islam ini sebagai sarana untuk meraih tujuan-tujuan yang bersifat duniawi. Bahkan wajib baginya untuk berpegang teguh dengan Islam untuk meraih buah yang mulia, di antaranya adalah kemuliaan dan kejayaan di dunia, sebelum pahala di akhirat kelak. Allah Ta’ala berfirman,وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُم فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُم مِّن بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْناً يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئاً وَمَن كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang shalih bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS. An-Nuur [24]: 55)Allah Ta’ala juga berfirman,مَنْ عَمِلَ صَالِحاً مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُواْ يَعْمَلُونَ“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl [16]: 97)Baca Juga:***@Kantor YPIA, 24 Muharram 1442/ 17 September 2020Penerjemah: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.or.idCatatan kaki:Diterjemahkan dari kitab Ash-Shahwah Al-Islamiyyah: Dzawabith wa Taujihaat hal. 164-165, karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullahu Ta’ala.🔍 Hadits Tentang Akhlak Mulia, Hadits Suudzon, Munafik Menurut Islam, Tata Cara Zakat Penghasilan, Faedah Membaca Al Quran

Pentingnya Pemahaman dalam Mempelajari Al-Qur’an dan As-Sunnah

Di antara perkara penting dalam mempelajari Al-Qur’an dan As-Sunnah adalah “pemahaman” (al-fahmu). Yaitu, kita diberikan pemahaman tentang apa yang diinginkan oleh Allah Ta’ala dan juga apa yang diinginkan (dimaksudkan) oleh Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hal ini karena mayoritas manusia diberikan ilmu, namun tidak diberikan pemahaman (al-fahmu). Tidaklah cukup bagi seseorang kalau hanya menghapal Al-Qur’an dan menghapal hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mudah baginya, namun tidak memiliki pemahaman. Betapa banyak orang yang berdalil dengan ayat Al-Qur’an atau hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun tidak sesuai dengan apa yang diinginkan oleh Allah Ta’ala dan Rasul-Nya. Sehingga dengan itu, mereka pun terjatuh dalam kesesatan.Salah dalam pemahaman itu lebih berbahayaOleh karena itu, satu hal yang perlu diingat adalah bahwa kesalahan dalam pemahaman itu lebih berbahaya daripada kejahilan (tidak berilmu sama sekali). Hal ini karena seseorang yang bodoh, kemudian terjatuh dalam kesalahan, dia tahu bahwa dia tidak berilmu (bodoh) sehingga hal itu mendorong dirinya untuk belajar.Adapun orang yang salah dalam pemahaman, dia mengira bahwa dirinya orang yang berilmu. Dia juga mengira apa yang dia pahami itu adalah apa yang diinginkan oleh Allah Ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Baca Juga: Makna Kata “Al Wail” di Dalam AlquranAntara Nabi Dawud dan Sulaiman ‘alaihimassalaamAllah Ta’ala berfirman,وَدَاوُودَ وَسُلَيْمَانَ إِذْ يَحْكُمَانِ فِي الْحَرْثِ إِذْ نَفَشَتْ فِيهِ غَنَمُ الْقَوْمِ وَكُنَّا لِحُكْمِهِمْ شَاهِدِينَ فَفَهَّمْنَاهَا سُلَيْمَانَ وَكُلّاً آتَيْنَا حُكْماً وَعِلْماً وَسَخَّرْنَا مَعَ دَاوُودَ الْجِبَالَ يُسَبِّحْنَ وَالطَّيْرَ وَكُنَّا فَاعِلِينَ“Dan (ingatlah kisah) Daud dan Sulaiman, di waktu keduanya memberikan keputusan mengenai tanaman, karena tanaman itu dirusak oleh kambing-kambing kepunyaan kaumnya. Dan adalah Kami menyaksikan keputusan yang diberikan oleh mereka itu. Maka Kami telah memberikan pengertian (pemahaman) kepada Sulaiman tentang hukum (yang lebih tepat). Dan kepada masing-masing mereka telah Kami berikan hikmah dan ilmu, dan telah Kami tundukkan gunung-gunung dan burung-burung, semua bertasbih bersama Daud. Dan kamilah yang melakukannya.” (QS. Al-Anbiya’ [21]: 78-79)Dalam masalah ini, Allah Ta’ala memberikan keutamaan lebih kepada Nabi Sulaiman ‘alahis salaam dibandingkan dengan Nabi Dawud ‘alaihis salaam, karena adanya pemahaman yang dimiliki oleh Nabi Sulaiman ‘alahis salaam. Allah Ta’ala mengatakan,فَفَهَّمْنَاهَا سُلَيْمَانَ“Maka Kami telah memberikan pengertian (pemahaman) kepada Sulaiman tentang hukum (yang lebih tepat).”Namun, hal itu bukanlah celaan terhadap ilmu Nabi Daud ‘alaihis salaam, karena Allah Ta’ala mengatakan,وَكُلّاً آتَيْنَا حُكْماً وَعِلْماً“Dan kepada masing-masing mereka telah Kami berikan hikmah dan ilmu.”Perhatikanlah ayat ini, kita bisa melihat bagaimana Allah Ta’ala menyebutkan keutamaan yang dimiliki oleh Nabi Sulaiman berupa pemahaman. Kemudian Allah Ta’ala sebutkan pula keutamaan Nabi Daud ‘alaihis salaam,وَسَخَّرْنَا مَعَ دَاوُودَ الْجِبَالَ يُسَبِّحْنَ“Dan telah Kami tundukkan gunung-gunung dan burung-burung, semua bertasbih bersama Daud.”Sehingga mereka pun saling mengungguli satu sama lain. Meskipun ada dua hal yang mereka berserikat (sama) di dalamnya, yaitu hikmah dan ilmu. Lalu Allah Ta’ala menyebutkan perkara yang membuat masing-masing dari mereka lebih unggul dari yang lain. Hal ini menunjukkan pentingnya pemahaman (al-fahmu).Baca Juga: Keutamaan Mempelajari Tafsir AlquranContoh salah dalam pemahamanContoh dalam pemahaman adalah kasus semisal ini. Jika ada dua wadah, satu wadah berisi air hangat dan satu wadah berisi air dingin. Ketika itu sedang musim dingin, dan ada seseorang yang ingin mandi wajib (mandi janabah). Sebagian orang akan berkata bahwa yang lebih afdhal (lebih utama) adalah memakai air dingin, Karena jika memakai air dingin, kondisinya lebih berat (ada masyaqqah), sehingga lebih besar pahalanya. Kemudian di pun berdalil dengan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,أَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى مَا يَمْحُو اللهُ بِهِ الْخَطَايَا، وَيَرْفَعُ بِهِ الدَّرَجَاتِ؟ قَالُوا بَلَى يَا رَسُولَ اللهِ قَالَ: «إِسْبَاغُ الْوُضُوءِ عَلَى الْمَكَارِهِ، وَكَثْرَةُ الْخُطَا إِلَى الْمَسَاجِدِ، وَانْتِظَارُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الصَّلَاةِ، فَذَلِكُمُ الرِّبَاطُ“Maukah kalian aku tunjukkan kepada suatu amal yang dapat menghapus kesalahan (dosa) dan meninggikan derajat?” Para sahabat menjawab, ”Ya, wahai Rasulullah.” Rasulullah bersabda, ”(Yaitu) menyempurnakan wudhu dalam kondisi sulit, banyaknya langkah menuju masjid, menunggu shalat setelah mendirikan shalat. Itulah kebaikan (yang banyak).” (HR. Muslim no. 251)Di manakah kesalahan dalam kasus ini?Kesalahannya terletak dalam masalah pemahaman. Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, إِسْبَاغُ الْوُضُوءِ عَلَى الْمَكَارِهِ”Menyempurnakan wudhu dalam kondisi sulit.”Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengatakan, “Pilihlah air dingin ketika wudhu.”Dua ungkapan ini jelas sekali berbeda. Karena maksud Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah janganlah dinginnya air mencegah seseorang dari menyempurnakan wudhu. Selain itu, Allah Ta’ala menghendaki kemudahan bagi hamba-Nya. Allah Ta’ala berfirman,يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ“Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesulitan bagimu.” (QS. Al Baqarah (2): 185)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ الدِّينَ يُسْرٌ“Sesungguhnya agama itu mudah.” (HR. Bukhari no. 39) Sangat jelas bahwa Allah Ta’ala menghendaki kemudahan kepada para hamba-Nya dan tidak menghendaki kesulitan.Baca Juga:***@Kantor YPIA, 24 Muharram 1442/ 17 September 2020Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.or.idCatatan kaki:Disarikan dari kitab Ash-Shahwah Al-Islamiyyah: Dzawabith wa Taujihaat hal. 23-24, karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullahu Ta’ala.

Pentingnya Pemahaman dalam Mempelajari Al-Qur’an dan As-Sunnah

Di antara perkara penting dalam mempelajari Al-Qur’an dan As-Sunnah adalah “pemahaman” (al-fahmu). Yaitu, kita diberikan pemahaman tentang apa yang diinginkan oleh Allah Ta’ala dan juga apa yang diinginkan (dimaksudkan) oleh Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hal ini karena mayoritas manusia diberikan ilmu, namun tidak diberikan pemahaman (al-fahmu). Tidaklah cukup bagi seseorang kalau hanya menghapal Al-Qur’an dan menghapal hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mudah baginya, namun tidak memiliki pemahaman. Betapa banyak orang yang berdalil dengan ayat Al-Qur’an atau hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun tidak sesuai dengan apa yang diinginkan oleh Allah Ta’ala dan Rasul-Nya. Sehingga dengan itu, mereka pun terjatuh dalam kesesatan.Salah dalam pemahaman itu lebih berbahayaOleh karena itu, satu hal yang perlu diingat adalah bahwa kesalahan dalam pemahaman itu lebih berbahaya daripada kejahilan (tidak berilmu sama sekali). Hal ini karena seseorang yang bodoh, kemudian terjatuh dalam kesalahan, dia tahu bahwa dia tidak berilmu (bodoh) sehingga hal itu mendorong dirinya untuk belajar.Adapun orang yang salah dalam pemahaman, dia mengira bahwa dirinya orang yang berilmu. Dia juga mengira apa yang dia pahami itu adalah apa yang diinginkan oleh Allah Ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Baca Juga: Makna Kata “Al Wail” di Dalam AlquranAntara Nabi Dawud dan Sulaiman ‘alaihimassalaamAllah Ta’ala berfirman,وَدَاوُودَ وَسُلَيْمَانَ إِذْ يَحْكُمَانِ فِي الْحَرْثِ إِذْ نَفَشَتْ فِيهِ غَنَمُ الْقَوْمِ وَكُنَّا لِحُكْمِهِمْ شَاهِدِينَ فَفَهَّمْنَاهَا سُلَيْمَانَ وَكُلّاً آتَيْنَا حُكْماً وَعِلْماً وَسَخَّرْنَا مَعَ دَاوُودَ الْجِبَالَ يُسَبِّحْنَ وَالطَّيْرَ وَكُنَّا فَاعِلِينَ“Dan (ingatlah kisah) Daud dan Sulaiman, di waktu keduanya memberikan keputusan mengenai tanaman, karena tanaman itu dirusak oleh kambing-kambing kepunyaan kaumnya. Dan adalah Kami menyaksikan keputusan yang diberikan oleh mereka itu. Maka Kami telah memberikan pengertian (pemahaman) kepada Sulaiman tentang hukum (yang lebih tepat). Dan kepada masing-masing mereka telah Kami berikan hikmah dan ilmu, dan telah Kami tundukkan gunung-gunung dan burung-burung, semua bertasbih bersama Daud. Dan kamilah yang melakukannya.” (QS. Al-Anbiya’ [21]: 78-79)Dalam masalah ini, Allah Ta’ala memberikan keutamaan lebih kepada Nabi Sulaiman ‘alahis salaam dibandingkan dengan Nabi Dawud ‘alaihis salaam, karena adanya pemahaman yang dimiliki oleh Nabi Sulaiman ‘alahis salaam. Allah Ta’ala mengatakan,فَفَهَّمْنَاهَا سُلَيْمَانَ“Maka Kami telah memberikan pengertian (pemahaman) kepada Sulaiman tentang hukum (yang lebih tepat).”Namun, hal itu bukanlah celaan terhadap ilmu Nabi Daud ‘alaihis salaam, karena Allah Ta’ala mengatakan,وَكُلّاً آتَيْنَا حُكْماً وَعِلْماً“Dan kepada masing-masing mereka telah Kami berikan hikmah dan ilmu.”Perhatikanlah ayat ini, kita bisa melihat bagaimana Allah Ta’ala menyebutkan keutamaan yang dimiliki oleh Nabi Sulaiman berupa pemahaman. Kemudian Allah Ta’ala sebutkan pula keutamaan Nabi Daud ‘alaihis salaam,وَسَخَّرْنَا مَعَ دَاوُودَ الْجِبَالَ يُسَبِّحْنَ“Dan telah Kami tundukkan gunung-gunung dan burung-burung, semua bertasbih bersama Daud.”Sehingga mereka pun saling mengungguli satu sama lain. Meskipun ada dua hal yang mereka berserikat (sama) di dalamnya, yaitu hikmah dan ilmu. Lalu Allah Ta’ala menyebutkan perkara yang membuat masing-masing dari mereka lebih unggul dari yang lain. Hal ini menunjukkan pentingnya pemahaman (al-fahmu).Baca Juga: Keutamaan Mempelajari Tafsir AlquranContoh salah dalam pemahamanContoh dalam pemahaman adalah kasus semisal ini. Jika ada dua wadah, satu wadah berisi air hangat dan satu wadah berisi air dingin. Ketika itu sedang musim dingin, dan ada seseorang yang ingin mandi wajib (mandi janabah). Sebagian orang akan berkata bahwa yang lebih afdhal (lebih utama) adalah memakai air dingin, Karena jika memakai air dingin, kondisinya lebih berat (ada masyaqqah), sehingga lebih besar pahalanya. Kemudian di pun berdalil dengan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,أَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى مَا يَمْحُو اللهُ بِهِ الْخَطَايَا، وَيَرْفَعُ بِهِ الدَّرَجَاتِ؟ قَالُوا بَلَى يَا رَسُولَ اللهِ قَالَ: «إِسْبَاغُ الْوُضُوءِ عَلَى الْمَكَارِهِ، وَكَثْرَةُ الْخُطَا إِلَى الْمَسَاجِدِ، وَانْتِظَارُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الصَّلَاةِ، فَذَلِكُمُ الرِّبَاطُ“Maukah kalian aku tunjukkan kepada suatu amal yang dapat menghapus kesalahan (dosa) dan meninggikan derajat?” Para sahabat menjawab, ”Ya, wahai Rasulullah.” Rasulullah bersabda, ”(Yaitu) menyempurnakan wudhu dalam kondisi sulit, banyaknya langkah menuju masjid, menunggu shalat setelah mendirikan shalat. Itulah kebaikan (yang banyak).” (HR. Muslim no. 251)Di manakah kesalahan dalam kasus ini?Kesalahannya terletak dalam masalah pemahaman. Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, إِسْبَاغُ الْوُضُوءِ عَلَى الْمَكَارِهِ”Menyempurnakan wudhu dalam kondisi sulit.”Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengatakan, “Pilihlah air dingin ketika wudhu.”Dua ungkapan ini jelas sekali berbeda. Karena maksud Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah janganlah dinginnya air mencegah seseorang dari menyempurnakan wudhu. Selain itu, Allah Ta’ala menghendaki kemudahan bagi hamba-Nya. Allah Ta’ala berfirman,يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ“Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesulitan bagimu.” (QS. Al Baqarah (2): 185)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ الدِّينَ يُسْرٌ“Sesungguhnya agama itu mudah.” (HR. Bukhari no. 39) Sangat jelas bahwa Allah Ta’ala menghendaki kemudahan kepada para hamba-Nya dan tidak menghendaki kesulitan.Baca Juga:***@Kantor YPIA, 24 Muharram 1442/ 17 September 2020Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.or.idCatatan kaki:Disarikan dari kitab Ash-Shahwah Al-Islamiyyah: Dzawabith wa Taujihaat hal. 23-24, karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullahu Ta’ala.
Di antara perkara penting dalam mempelajari Al-Qur’an dan As-Sunnah adalah “pemahaman” (al-fahmu). Yaitu, kita diberikan pemahaman tentang apa yang diinginkan oleh Allah Ta’ala dan juga apa yang diinginkan (dimaksudkan) oleh Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hal ini karena mayoritas manusia diberikan ilmu, namun tidak diberikan pemahaman (al-fahmu). Tidaklah cukup bagi seseorang kalau hanya menghapal Al-Qur’an dan menghapal hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mudah baginya, namun tidak memiliki pemahaman. Betapa banyak orang yang berdalil dengan ayat Al-Qur’an atau hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun tidak sesuai dengan apa yang diinginkan oleh Allah Ta’ala dan Rasul-Nya. Sehingga dengan itu, mereka pun terjatuh dalam kesesatan.Salah dalam pemahaman itu lebih berbahayaOleh karena itu, satu hal yang perlu diingat adalah bahwa kesalahan dalam pemahaman itu lebih berbahaya daripada kejahilan (tidak berilmu sama sekali). Hal ini karena seseorang yang bodoh, kemudian terjatuh dalam kesalahan, dia tahu bahwa dia tidak berilmu (bodoh) sehingga hal itu mendorong dirinya untuk belajar.Adapun orang yang salah dalam pemahaman, dia mengira bahwa dirinya orang yang berilmu. Dia juga mengira apa yang dia pahami itu adalah apa yang diinginkan oleh Allah Ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Baca Juga: Makna Kata “Al Wail” di Dalam AlquranAntara Nabi Dawud dan Sulaiman ‘alaihimassalaamAllah Ta’ala berfirman,وَدَاوُودَ وَسُلَيْمَانَ إِذْ يَحْكُمَانِ فِي الْحَرْثِ إِذْ نَفَشَتْ فِيهِ غَنَمُ الْقَوْمِ وَكُنَّا لِحُكْمِهِمْ شَاهِدِينَ فَفَهَّمْنَاهَا سُلَيْمَانَ وَكُلّاً آتَيْنَا حُكْماً وَعِلْماً وَسَخَّرْنَا مَعَ دَاوُودَ الْجِبَالَ يُسَبِّحْنَ وَالطَّيْرَ وَكُنَّا فَاعِلِينَ“Dan (ingatlah kisah) Daud dan Sulaiman, di waktu keduanya memberikan keputusan mengenai tanaman, karena tanaman itu dirusak oleh kambing-kambing kepunyaan kaumnya. Dan adalah Kami menyaksikan keputusan yang diberikan oleh mereka itu. Maka Kami telah memberikan pengertian (pemahaman) kepada Sulaiman tentang hukum (yang lebih tepat). Dan kepada masing-masing mereka telah Kami berikan hikmah dan ilmu, dan telah Kami tundukkan gunung-gunung dan burung-burung, semua bertasbih bersama Daud. Dan kamilah yang melakukannya.” (QS. Al-Anbiya’ [21]: 78-79)Dalam masalah ini, Allah Ta’ala memberikan keutamaan lebih kepada Nabi Sulaiman ‘alahis salaam dibandingkan dengan Nabi Dawud ‘alaihis salaam, karena adanya pemahaman yang dimiliki oleh Nabi Sulaiman ‘alahis salaam. Allah Ta’ala mengatakan,فَفَهَّمْنَاهَا سُلَيْمَانَ“Maka Kami telah memberikan pengertian (pemahaman) kepada Sulaiman tentang hukum (yang lebih tepat).”Namun, hal itu bukanlah celaan terhadap ilmu Nabi Daud ‘alaihis salaam, karena Allah Ta’ala mengatakan,وَكُلّاً آتَيْنَا حُكْماً وَعِلْماً“Dan kepada masing-masing mereka telah Kami berikan hikmah dan ilmu.”Perhatikanlah ayat ini, kita bisa melihat bagaimana Allah Ta’ala menyebutkan keutamaan yang dimiliki oleh Nabi Sulaiman berupa pemahaman. Kemudian Allah Ta’ala sebutkan pula keutamaan Nabi Daud ‘alaihis salaam,وَسَخَّرْنَا مَعَ دَاوُودَ الْجِبَالَ يُسَبِّحْنَ“Dan telah Kami tundukkan gunung-gunung dan burung-burung, semua bertasbih bersama Daud.”Sehingga mereka pun saling mengungguli satu sama lain. Meskipun ada dua hal yang mereka berserikat (sama) di dalamnya, yaitu hikmah dan ilmu. Lalu Allah Ta’ala menyebutkan perkara yang membuat masing-masing dari mereka lebih unggul dari yang lain. Hal ini menunjukkan pentingnya pemahaman (al-fahmu).Baca Juga: Keutamaan Mempelajari Tafsir AlquranContoh salah dalam pemahamanContoh dalam pemahaman adalah kasus semisal ini. Jika ada dua wadah, satu wadah berisi air hangat dan satu wadah berisi air dingin. Ketika itu sedang musim dingin, dan ada seseorang yang ingin mandi wajib (mandi janabah). Sebagian orang akan berkata bahwa yang lebih afdhal (lebih utama) adalah memakai air dingin, Karena jika memakai air dingin, kondisinya lebih berat (ada masyaqqah), sehingga lebih besar pahalanya. Kemudian di pun berdalil dengan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,أَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى مَا يَمْحُو اللهُ بِهِ الْخَطَايَا، وَيَرْفَعُ بِهِ الدَّرَجَاتِ؟ قَالُوا بَلَى يَا رَسُولَ اللهِ قَالَ: «إِسْبَاغُ الْوُضُوءِ عَلَى الْمَكَارِهِ، وَكَثْرَةُ الْخُطَا إِلَى الْمَسَاجِدِ، وَانْتِظَارُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الصَّلَاةِ، فَذَلِكُمُ الرِّبَاطُ“Maukah kalian aku tunjukkan kepada suatu amal yang dapat menghapus kesalahan (dosa) dan meninggikan derajat?” Para sahabat menjawab, ”Ya, wahai Rasulullah.” Rasulullah bersabda, ”(Yaitu) menyempurnakan wudhu dalam kondisi sulit, banyaknya langkah menuju masjid, menunggu shalat setelah mendirikan shalat. Itulah kebaikan (yang banyak).” (HR. Muslim no. 251)Di manakah kesalahan dalam kasus ini?Kesalahannya terletak dalam masalah pemahaman. Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, إِسْبَاغُ الْوُضُوءِ عَلَى الْمَكَارِهِ”Menyempurnakan wudhu dalam kondisi sulit.”Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengatakan, “Pilihlah air dingin ketika wudhu.”Dua ungkapan ini jelas sekali berbeda. Karena maksud Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah janganlah dinginnya air mencegah seseorang dari menyempurnakan wudhu. Selain itu, Allah Ta’ala menghendaki kemudahan bagi hamba-Nya. Allah Ta’ala berfirman,يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ“Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesulitan bagimu.” (QS. Al Baqarah (2): 185)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ الدِّينَ يُسْرٌ“Sesungguhnya agama itu mudah.” (HR. Bukhari no. 39) Sangat jelas bahwa Allah Ta’ala menghendaki kemudahan kepada para hamba-Nya dan tidak menghendaki kesulitan.Baca Juga:***@Kantor YPIA, 24 Muharram 1442/ 17 September 2020Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.or.idCatatan kaki:Disarikan dari kitab Ash-Shahwah Al-Islamiyyah: Dzawabith wa Taujihaat hal. 23-24, karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullahu Ta’ala.


Di antara perkara penting dalam mempelajari Al-Qur’an dan As-Sunnah adalah “pemahaman” (al-fahmu). Yaitu, kita diberikan pemahaman tentang apa yang diinginkan oleh Allah Ta’ala dan juga apa yang diinginkan (dimaksudkan) oleh Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hal ini karena mayoritas manusia diberikan ilmu, namun tidak diberikan pemahaman (al-fahmu). Tidaklah cukup bagi seseorang kalau hanya menghapal Al-Qur’an dan menghapal hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mudah baginya, namun tidak memiliki pemahaman. Betapa banyak orang yang berdalil dengan ayat Al-Qur’an atau hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun tidak sesuai dengan apa yang diinginkan oleh Allah Ta’ala dan Rasul-Nya. Sehingga dengan itu, mereka pun terjatuh dalam kesesatan.Salah dalam pemahaman itu lebih berbahayaOleh karena itu, satu hal yang perlu diingat adalah bahwa kesalahan dalam pemahaman itu lebih berbahaya daripada kejahilan (tidak berilmu sama sekali). Hal ini karena seseorang yang bodoh, kemudian terjatuh dalam kesalahan, dia tahu bahwa dia tidak berilmu (bodoh) sehingga hal itu mendorong dirinya untuk belajar.Adapun orang yang salah dalam pemahaman, dia mengira bahwa dirinya orang yang berilmu. Dia juga mengira apa yang dia pahami itu adalah apa yang diinginkan oleh Allah Ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Baca Juga: Makna Kata “Al Wail” di Dalam AlquranAntara Nabi Dawud dan Sulaiman ‘alaihimassalaamAllah Ta’ala berfirman,وَدَاوُودَ وَسُلَيْمَانَ إِذْ يَحْكُمَانِ فِي الْحَرْثِ إِذْ نَفَشَتْ فِيهِ غَنَمُ الْقَوْمِ وَكُنَّا لِحُكْمِهِمْ شَاهِدِينَ فَفَهَّمْنَاهَا سُلَيْمَانَ وَكُلّاً آتَيْنَا حُكْماً وَعِلْماً وَسَخَّرْنَا مَعَ دَاوُودَ الْجِبَالَ يُسَبِّحْنَ وَالطَّيْرَ وَكُنَّا فَاعِلِينَ“Dan (ingatlah kisah) Daud dan Sulaiman, di waktu keduanya memberikan keputusan mengenai tanaman, karena tanaman itu dirusak oleh kambing-kambing kepunyaan kaumnya. Dan adalah Kami menyaksikan keputusan yang diberikan oleh mereka itu. Maka Kami telah memberikan pengertian (pemahaman) kepada Sulaiman tentang hukum (yang lebih tepat). Dan kepada masing-masing mereka telah Kami berikan hikmah dan ilmu, dan telah Kami tundukkan gunung-gunung dan burung-burung, semua bertasbih bersama Daud. Dan kamilah yang melakukannya.” (QS. Al-Anbiya’ [21]: 78-79)Dalam masalah ini, Allah Ta’ala memberikan keutamaan lebih kepada Nabi Sulaiman ‘alahis salaam dibandingkan dengan Nabi Dawud ‘alaihis salaam, karena adanya pemahaman yang dimiliki oleh Nabi Sulaiman ‘alahis salaam. Allah Ta’ala mengatakan,فَفَهَّمْنَاهَا سُلَيْمَانَ“Maka Kami telah memberikan pengertian (pemahaman) kepada Sulaiman tentang hukum (yang lebih tepat).”Namun, hal itu bukanlah celaan terhadap ilmu Nabi Daud ‘alaihis salaam, karena Allah Ta’ala mengatakan,وَكُلّاً آتَيْنَا حُكْماً وَعِلْماً“Dan kepada masing-masing mereka telah Kami berikan hikmah dan ilmu.”Perhatikanlah ayat ini, kita bisa melihat bagaimana Allah Ta’ala menyebutkan keutamaan yang dimiliki oleh Nabi Sulaiman berupa pemahaman. Kemudian Allah Ta’ala sebutkan pula keutamaan Nabi Daud ‘alaihis salaam,وَسَخَّرْنَا مَعَ دَاوُودَ الْجِبَالَ يُسَبِّحْنَ“Dan telah Kami tundukkan gunung-gunung dan burung-burung, semua bertasbih bersama Daud.”Sehingga mereka pun saling mengungguli satu sama lain. Meskipun ada dua hal yang mereka berserikat (sama) di dalamnya, yaitu hikmah dan ilmu. Lalu Allah Ta’ala menyebutkan perkara yang membuat masing-masing dari mereka lebih unggul dari yang lain. Hal ini menunjukkan pentingnya pemahaman (al-fahmu).Baca Juga: Keutamaan Mempelajari Tafsir AlquranContoh salah dalam pemahamanContoh dalam pemahaman adalah kasus semisal ini. Jika ada dua wadah, satu wadah berisi air hangat dan satu wadah berisi air dingin. Ketika itu sedang musim dingin, dan ada seseorang yang ingin mandi wajib (mandi janabah). Sebagian orang akan berkata bahwa yang lebih afdhal (lebih utama) adalah memakai air dingin, Karena jika memakai air dingin, kondisinya lebih berat (ada masyaqqah), sehingga lebih besar pahalanya. Kemudian di pun berdalil dengan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,أَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى مَا يَمْحُو اللهُ بِهِ الْخَطَايَا، وَيَرْفَعُ بِهِ الدَّرَجَاتِ؟ قَالُوا بَلَى يَا رَسُولَ اللهِ قَالَ: «إِسْبَاغُ الْوُضُوءِ عَلَى الْمَكَارِهِ، وَكَثْرَةُ الْخُطَا إِلَى الْمَسَاجِدِ، وَانْتِظَارُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الصَّلَاةِ، فَذَلِكُمُ الرِّبَاطُ“Maukah kalian aku tunjukkan kepada suatu amal yang dapat menghapus kesalahan (dosa) dan meninggikan derajat?” Para sahabat menjawab, ”Ya, wahai Rasulullah.” Rasulullah bersabda, ”(Yaitu) menyempurnakan wudhu dalam kondisi sulit, banyaknya langkah menuju masjid, menunggu shalat setelah mendirikan shalat. Itulah kebaikan (yang banyak).” (HR. Muslim no. 251)Di manakah kesalahan dalam kasus ini?Kesalahannya terletak dalam masalah pemahaman. Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, إِسْبَاغُ الْوُضُوءِ عَلَى الْمَكَارِهِ”Menyempurnakan wudhu dalam kondisi sulit.”Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengatakan, “Pilihlah air dingin ketika wudhu.”Dua ungkapan ini jelas sekali berbeda. Karena maksud Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah janganlah dinginnya air mencegah seseorang dari menyempurnakan wudhu. Selain itu, Allah Ta’ala menghendaki kemudahan bagi hamba-Nya. Allah Ta’ala berfirman,يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ“Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesulitan bagimu.” (QS. Al Baqarah (2): 185)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ الدِّينَ يُسْرٌ“Sesungguhnya agama itu mudah.” (HR. Bukhari no. 39) Sangat jelas bahwa Allah Ta’ala menghendaki kemudahan kepada para hamba-Nya dan tidak menghendaki kesulitan.Baca Juga:***@Kantor YPIA, 24 Muharram 1442/ 17 September 2020Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.or.idCatatan kaki:Disarikan dari kitab Ash-Shahwah Al-Islamiyyah: Dzawabith wa Taujihaat hal. 23-24, karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullahu Ta’ala.

Shalat, Kewajiban Seluruh Nabi (Bag. 1)

Termasuk yang menunjukkan agungnya kedudukan shalat adalah kewajiban shalat tersebut yang berlaku kepada seluruh Nabi ‘alaihimush shalaatu was salaam. Juga berita yang menunjukkan betapa seluruh Nabi tersebut mengagungkan ibadah shalat. Terdapat banyak dalil yang menguatkan dan menunjukkan hal tersebut dalam Al-Qur’an Al-Karim.Kisah Nabi Yunus ‘alahis salaamAllah Ta’ala berfirman ketika beliau dimakan ikan,فَلَوْلَا أَنَّهُ كَانَ مِنْ الْمُسَبِّحِينَ لَلَبِثَ فِي بَطْنِهِ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ“Maka kalau sekiranya dia tidak termasuk orang-orang yang banyak mengingat Allah. Niscaya ia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari berbangkit.” (QS. Ash-Shaaffat [37]: 143-144)Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau mengatakan,“Termasuk orang-orang yang mendirikan shalat.”Demikian juga semisal penafsiran tersebut dari Sa’id bin Jubair, Qatadah, dan lain-lain. (Tafsir Ath-Thabari, 21: 109)Baca Juga: Keutamaan Bersegera Menuju ke Masjid dan Menunggu Shalat Jama’ahKisah Nabi Ibrahim dan Isma’il ‘alaihimus salaamKetika beliau meninggalkan Isma’il ‘alaihis salaam di sebuah lembah yang tidak ada seorang manusia lain di sana. Nabi Ibrahim berdoa kepada Allah Ta’ala dengan mengatakan,رَّبَّنَا إِنِّي أَسْكَنتُ مِن ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِندَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُواْ الصَّلاَةَ“Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati. Ya Tuhan kami, (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat.” (QS. Ibrahim [14]: 37)Dan beliau tidak menyebutkan amalan lain selain shalat. Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada amalan yang lebih afdhal dibandingkan shalat, juga tidak ada amalan yang sebanding dengannya.Allah Ta’ala berfirman,وَإِذْ بَوَّأْنَا لِإِبْرَاهِيمَ مَكَانَ الْبَيْتِ أَن لَّا تُشْرِكْ بِي شَيْئاً وَطَهِّرْ بَيْتِيَ لِلطَّائِفِينَ وَالْقَائِمِينَ وَالرُّكَّعِ السُّجُودِ“Dan (ingatlah), ketika Kami memberikan tempat kepada Ibrahim di tempat Baitullah (dengan mengatakan), ‘Janganlah kamu mempersekutukan sesuatu pun dengan Aku dan sucikanlah rumah-Ku ini bagi orang-orang yang thawaf, orang-orang yang beribadah, dan orang-orang yang ruku’ dan sujud.’” (QS. Al-Hajj [22]: 26)Allah Ta’ala juga menyebutkan bahwa di antara doa beliau adalah,رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلاَةِ وَمِن ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاء“Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat. Ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku.” (QS. Ibrahim [14]: 40)Adapun Nabi Isma’il ‘alaihis salaam, Allah Ta’ala berfirman menceritakan kondisi beliau,وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ إِسْمَاعِيلَ إِنَّهُ كَانَ صَادِقَ الْوَعْدِ وَكَانَ رَسُولاً نَّبِيّاً وَكَانَ يَأْمُرُ أَهْلَهُ بِالصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ وَكَانَ عِندَ رَبِّهِ مَرْضِيّاً“Dan ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka), kisah Ismail (yang tersebut) di dalam Al-Qur’an. Sesungguhnya dia adalah seorang yang benar janjinya, dan dia adalah seorang rasul dan nabi. Dan dia menyuruh keluarganya untuk shalat dan menunaikan zakat. Dan dia adalah seorang yang diridhai di sisi Tuhannya.” (QS. Maryam [19]: 54-55)Baca Juga: Memakai Pakaian Terbaik ketika ShalatKisah Nabi Ishaq ‘alaihis salaam dan keturunannyaAllah Ta’ala berfirman,وَوَهَبْنَا لَهُ إِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ نَافِلَةً وَكُلّاً جَعَلْنَا صَالِحِينَ وَجَعَلْنَاهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا وَأَوْحَيْنَا إِلَيْهِمْ فِعْلَ الْخَيْرَاتِ وَإِقَامَ الصَّلَاةِ وَإِيتَاء الزَّكَاةِ وَكَانُوا لَنَا عَابِدِينَ“Dan Kami telah memberikan kepada-nya (Ibrahim) lshak dan Ya’qub, sebagai suatu anugerah (daripada Kami). Dan masing-masingnya Kami jadikan orang-orang yang shalih. Kami telah menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami dan telah Kami wahyukan kepada mereka agar mengerjakan kebajikan, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan hanya kepada Kamilah mereka selalu menyembah.” (QS. Al-Anbiya’ [21]: 72-73)Kisah Nabi Syu’aib ‘alaihis salaamAllah Ta’ala menceritakan kisah Nabi Syu’aib ‘alaihis salaam, ketika beliau melarang kaumnya dari beribadah kepada selain Allah Ta’ala dan juga melarang mereka melakukan kecurangan dalam takaran dan timbangan,قَالُواْ يَا شُعَيْبُ أَصَلاَتُكَ تَأْمُرُكَ أَن نَّتْرُكَ مَا يَعْبُدُ آبَاؤُنَا أَوْ أَن نَّفْعَلَ فِي أَمْوَالِنَا مَا نَشَاء إِنَّكَ لَأَنتَ الْحَلِيمُ الرَّشِيدُ“Mereka berkata, ‘Hai Syu’aib, apakah shalatmu menyuruh kamu agar kami meninggalkan apa yang disembah oleh bapak-bapak kami atau melarang kami berbuat apa yang kami kehendaki tentang harta kami. Sesungguhnya kamu adalah orang yang sangat penyantun lagi berakal.’” (QS. Huud [11]: 87)Hal ini menunjukkan bahwa kaum Nabi Syu’aib tidak melihat Nabi Syu’aib mengagungkan sesuatu melebihi pengagungan terhadap ibadah shalat.Syaikh ‘Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah berkata ketika menafsirkan ayat ini,“Shalat terus-menerus disyariatkan atas para Nabi terdahulu dan shalat merupakan amal yang paling utama. Sampai-sampai tertanam dalam diri orang kafir tentang keutamaan dibandingkan amal-amal yang lain. Bahwa shalat mencegah perbuatan keji dan mungkar, dan shalat merupakan timbangan bagi iman dan syariat. Dengan mendirikan shalat, sempurnalah kondisi seseorang, dan dengan tidak mendirikan shalat, maka cacatlah kondisi agamanya.”Baca Juga: Bolehkah Ada Beberapa Shalat Jama’ah dalam Satu MasjidKisah Nabi Musa ‘alaihis salaamAllah Ta’ala mengajak Nabi Musa berbicara secara langsung. Dan perkara yang pertama kali diwajibkan kepada Nabi Musa setelah Allah Ta’ala memerintahkan Nabi Musa beribadah kepada-Nya adalah kewajiban shalat. Allah Ta’ala berkata secara langsung kepada Nabi Musa tanpa ada penerjemah,فَاسْتَمِعْ لِمَا يُوحَى إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي“Maka dengarkanlah apa yang akan diwahyukan (kepadamu). Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.” (QS. Thaaha [20]: 13-14)Hal ini menunjukkan tingginya kedudukan shalat dibandingkan seluruh amal ibadah yang lain. Karena Allah Ta’ala tidaklah memulai pembicaraan untuk menyebutkan kewajiban suatu ibadah, kecuali menyebutkan ibadah shalat.Kemudian di antara yang diperintahkan oleh Nabi Musa ‘alaihis salaam kepada kaumnya Bani Israil setelah perintah agar mereka beriman adalah perintah untuk mendirikan shalat. Allah Ta’ala berfirman,وَأَوْحَيْنَا إِلَى مُوسَى وَأَخِيهِ أَن تَبَوَّءَا لِقَوْمِكُمَا بِمِصْرَ بُيُوتاً وَاجْعَلُواْ بُيُوتَكُمْ قِبْلَةً وَأَقِيمُواْ الصَّلاَةَ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ“Dan Kami wahyukan kepada Musa dan saudaranya, ‘Ambillah olehmu berdua beberapa buah rumah di Mesir untuk tempat tinggal bagi kaummu dan jadikanlah olehmu rumah-rumahmu itu tempat shalat dan dirikanlah shalat, serta gembirakanlah orang-orang yang beriman.’” (QS. Yunus [10]: 87)[Bersambung]Baca artikel selanjutnya di Shalat: Kewajiban Seluruh Nabi (Bag. 2)Baca Juga:***@FK UGM, 29 Shafar 1442/ 16 Oktober 2020Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.or.idCatatan kaki:Disarikan dari kitab Ta’zhiim Ash-Shalaat  hal. 9-10, karya Syaikh ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr hafidzahullahu Ta’ala, cetakan pertama tahun 1434, penerbit Daar Al-Imam Muslim, Madinah KSA.

Shalat, Kewajiban Seluruh Nabi (Bag. 1)

Termasuk yang menunjukkan agungnya kedudukan shalat adalah kewajiban shalat tersebut yang berlaku kepada seluruh Nabi ‘alaihimush shalaatu was salaam. Juga berita yang menunjukkan betapa seluruh Nabi tersebut mengagungkan ibadah shalat. Terdapat banyak dalil yang menguatkan dan menunjukkan hal tersebut dalam Al-Qur’an Al-Karim.Kisah Nabi Yunus ‘alahis salaamAllah Ta’ala berfirman ketika beliau dimakan ikan,فَلَوْلَا أَنَّهُ كَانَ مِنْ الْمُسَبِّحِينَ لَلَبِثَ فِي بَطْنِهِ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ“Maka kalau sekiranya dia tidak termasuk orang-orang yang banyak mengingat Allah. Niscaya ia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari berbangkit.” (QS. Ash-Shaaffat [37]: 143-144)Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau mengatakan,“Termasuk orang-orang yang mendirikan shalat.”Demikian juga semisal penafsiran tersebut dari Sa’id bin Jubair, Qatadah, dan lain-lain. (Tafsir Ath-Thabari, 21: 109)Baca Juga: Keutamaan Bersegera Menuju ke Masjid dan Menunggu Shalat Jama’ahKisah Nabi Ibrahim dan Isma’il ‘alaihimus salaamKetika beliau meninggalkan Isma’il ‘alaihis salaam di sebuah lembah yang tidak ada seorang manusia lain di sana. Nabi Ibrahim berdoa kepada Allah Ta’ala dengan mengatakan,رَّبَّنَا إِنِّي أَسْكَنتُ مِن ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِندَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُواْ الصَّلاَةَ“Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati. Ya Tuhan kami, (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat.” (QS. Ibrahim [14]: 37)Dan beliau tidak menyebutkan amalan lain selain shalat. Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada amalan yang lebih afdhal dibandingkan shalat, juga tidak ada amalan yang sebanding dengannya.Allah Ta’ala berfirman,وَإِذْ بَوَّأْنَا لِإِبْرَاهِيمَ مَكَانَ الْبَيْتِ أَن لَّا تُشْرِكْ بِي شَيْئاً وَطَهِّرْ بَيْتِيَ لِلطَّائِفِينَ وَالْقَائِمِينَ وَالرُّكَّعِ السُّجُودِ“Dan (ingatlah), ketika Kami memberikan tempat kepada Ibrahim di tempat Baitullah (dengan mengatakan), ‘Janganlah kamu mempersekutukan sesuatu pun dengan Aku dan sucikanlah rumah-Ku ini bagi orang-orang yang thawaf, orang-orang yang beribadah, dan orang-orang yang ruku’ dan sujud.’” (QS. Al-Hajj [22]: 26)Allah Ta’ala juga menyebutkan bahwa di antara doa beliau adalah,رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلاَةِ وَمِن ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاء“Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat. Ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku.” (QS. Ibrahim [14]: 40)Adapun Nabi Isma’il ‘alaihis salaam, Allah Ta’ala berfirman menceritakan kondisi beliau,وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ إِسْمَاعِيلَ إِنَّهُ كَانَ صَادِقَ الْوَعْدِ وَكَانَ رَسُولاً نَّبِيّاً وَكَانَ يَأْمُرُ أَهْلَهُ بِالصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ وَكَانَ عِندَ رَبِّهِ مَرْضِيّاً“Dan ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka), kisah Ismail (yang tersebut) di dalam Al-Qur’an. Sesungguhnya dia adalah seorang yang benar janjinya, dan dia adalah seorang rasul dan nabi. Dan dia menyuruh keluarganya untuk shalat dan menunaikan zakat. Dan dia adalah seorang yang diridhai di sisi Tuhannya.” (QS. Maryam [19]: 54-55)Baca Juga: Memakai Pakaian Terbaik ketika ShalatKisah Nabi Ishaq ‘alaihis salaam dan keturunannyaAllah Ta’ala berfirman,وَوَهَبْنَا لَهُ إِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ نَافِلَةً وَكُلّاً جَعَلْنَا صَالِحِينَ وَجَعَلْنَاهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا وَأَوْحَيْنَا إِلَيْهِمْ فِعْلَ الْخَيْرَاتِ وَإِقَامَ الصَّلَاةِ وَإِيتَاء الزَّكَاةِ وَكَانُوا لَنَا عَابِدِينَ“Dan Kami telah memberikan kepada-nya (Ibrahim) lshak dan Ya’qub, sebagai suatu anugerah (daripada Kami). Dan masing-masingnya Kami jadikan orang-orang yang shalih. Kami telah menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami dan telah Kami wahyukan kepada mereka agar mengerjakan kebajikan, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan hanya kepada Kamilah mereka selalu menyembah.” (QS. Al-Anbiya’ [21]: 72-73)Kisah Nabi Syu’aib ‘alaihis salaamAllah Ta’ala menceritakan kisah Nabi Syu’aib ‘alaihis salaam, ketika beliau melarang kaumnya dari beribadah kepada selain Allah Ta’ala dan juga melarang mereka melakukan kecurangan dalam takaran dan timbangan,قَالُواْ يَا شُعَيْبُ أَصَلاَتُكَ تَأْمُرُكَ أَن نَّتْرُكَ مَا يَعْبُدُ آبَاؤُنَا أَوْ أَن نَّفْعَلَ فِي أَمْوَالِنَا مَا نَشَاء إِنَّكَ لَأَنتَ الْحَلِيمُ الرَّشِيدُ“Mereka berkata, ‘Hai Syu’aib, apakah shalatmu menyuruh kamu agar kami meninggalkan apa yang disembah oleh bapak-bapak kami atau melarang kami berbuat apa yang kami kehendaki tentang harta kami. Sesungguhnya kamu adalah orang yang sangat penyantun lagi berakal.’” (QS. Huud [11]: 87)Hal ini menunjukkan bahwa kaum Nabi Syu’aib tidak melihat Nabi Syu’aib mengagungkan sesuatu melebihi pengagungan terhadap ibadah shalat.Syaikh ‘Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah berkata ketika menafsirkan ayat ini,“Shalat terus-menerus disyariatkan atas para Nabi terdahulu dan shalat merupakan amal yang paling utama. Sampai-sampai tertanam dalam diri orang kafir tentang keutamaan dibandingkan amal-amal yang lain. Bahwa shalat mencegah perbuatan keji dan mungkar, dan shalat merupakan timbangan bagi iman dan syariat. Dengan mendirikan shalat, sempurnalah kondisi seseorang, dan dengan tidak mendirikan shalat, maka cacatlah kondisi agamanya.”Baca Juga: Bolehkah Ada Beberapa Shalat Jama’ah dalam Satu MasjidKisah Nabi Musa ‘alaihis salaamAllah Ta’ala mengajak Nabi Musa berbicara secara langsung. Dan perkara yang pertama kali diwajibkan kepada Nabi Musa setelah Allah Ta’ala memerintahkan Nabi Musa beribadah kepada-Nya adalah kewajiban shalat. Allah Ta’ala berkata secara langsung kepada Nabi Musa tanpa ada penerjemah,فَاسْتَمِعْ لِمَا يُوحَى إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي“Maka dengarkanlah apa yang akan diwahyukan (kepadamu). Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.” (QS. Thaaha [20]: 13-14)Hal ini menunjukkan tingginya kedudukan shalat dibandingkan seluruh amal ibadah yang lain. Karena Allah Ta’ala tidaklah memulai pembicaraan untuk menyebutkan kewajiban suatu ibadah, kecuali menyebutkan ibadah shalat.Kemudian di antara yang diperintahkan oleh Nabi Musa ‘alaihis salaam kepada kaumnya Bani Israil setelah perintah agar mereka beriman adalah perintah untuk mendirikan shalat. Allah Ta’ala berfirman,وَأَوْحَيْنَا إِلَى مُوسَى وَأَخِيهِ أَن تَبَوَّءَا لِقَوْمِكُمَا بِمِصْرَ بُيُوتاً وَاجْعَلُواْ بُيُوتَكُمْ قِبْلَةً وَأَقِيمُواْ الصَّلاَةَ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ“Dan Kami wahyukan kepada Musa dan saudaranya, ‘Ambillah olehmu berdua beberapa buah rumah di Mesir untuk tempat tinggal bagi kaummu dan jadikanlah olehmu rumah-rumahmu itu tempat shalat dan dirikanlah shalat, serta gembirakanlah orang-orang yang beriman.’” (QS. Yunus [10]: 87)[Bersambung]Baca artikel selanjutnya di Shalat: Kewajiban Seluruh Nabi (Bag. 2)Baca Juga:***@FK UGM, 29 Shafar 1442/ 16 Oktober 2020Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.or.idCatatan kaki:Disarikan dari kitab Ta’zhiim Ash-Shalaat  hal. 9-10, karya Syaikh ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr hafidzahullahu Ta’ala, cetakan pertama tahun 1434, penerbit Daar Al-Imam Muslim, Madinah KSA.
Termasuk yang menunjukkan agungnya kedudukan shalat adalah kewajiban shalat tersebut yang berlaku kepada seluruh Nabi ‘alaihimush shalaatu was salaam. Juga berita yang menunjukkan betapa seluruh Nabi tersebut mengagungkan ibadah shalat. Terdapat banyak dalil yang menguatkan dan menunjukkan hal tersebut dalam Al-Qur’an Al-Karim.Kisah Nabi Yunus ‘alahis salaamAllah Ta’ala berfirman ketika beliau dimakan ikan,فَلَوْلَا أَنَّهُ كَانَ مِنْ الْمُسَبِّحِينَ لَلَبِثَ فِي بَطْنِهِ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ“Maka kalau sekiranya dia tidak termasuk orang-orang yang banyak mengingat Allah. Niscaya ia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari berbangkit.” (QS. Ash-Shaaffat [37]: 143-144)Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau mengatakan,“Termasuk orang-orang yang mendirikan shalat.”Demikian juga semisal penafsiran tersebut dari Sa’id bin Jubair, Qatadah, dan lain-lain. (Tafsir Ath-Thabari, 21: 109)Baca Juga: Keutamaan Bersegera Menuju ke Masjid dan Menunggu Shalat Jama’ahKisah Nabi Ibrahim dan Isma’il ‘alaihimus salaamKetika beliau meninggalkan Isma’il ‘alaihis salaam di sebuah lembah yang tidak ada seorang manusia lain di sana. Nabi Ibrahim berdoa kepada Allah Ta’ala dengan mengatakan,رَّبَّنَا إِنِّي أَسْكَنتُ مِن ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِندَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُواْ الصَّلاَةَ“Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati. Ya Tuhan kami, (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat.” (QS. Ibrahim [14]: 37)Dan beliau tidak menyebutkan amalan lain selain shalat. Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada amalan yang lebih afdhal dibandingkan shalat, juga tidak ada amalan yang sebanding dengannya.Allah Ta’ala berfirman,وَإِذْ بَوَّأْنَا لِإِبْرَاهِيمَ مَكَانَ الْبَيْتِ أَن لَّا تُشْرِكْ بِي شَيْئاً وَطَهِّرْ بَيْتِيَ لِلطَّائِفِينَ وَالْقَائِمِينَ وَالرُّكَّعِ السُّجُودِ“Dan (ingatlah), ketika Kami memberikan tempat kepada Ibrahim di tempat Baitullah (dengan mengatakan), ‘Janganlah kamu mempersekutukan sesuatu pun dengan Aku dan sucikanlah rumah-Ku ini bagi orang-orang yang thawaf, orang-orang yang beribadah, dan orang-orang yang ruku’ dan sujud.’” (QS. Al-Hajj [22]: 26)Allah Ta’ala juga menyebutkan bahwa di antara doa beliau adalah,رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلاَةِ وَمِن ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاء“Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat. Ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku.” (QS. Ibrahim [14]: 40)Adapun Nabi Isma’il ‘alaihis salaam, Allah Ta’ala berfirman menceritakan kondisi beliau,وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ إِسْمَاعِيلَ إِنَّهُ كَانَ صَادِقَ الْوَعْدِ وَكَانَ رَسُولاً نَّبِيّاً وَكَانَ يَأْمُرُ أَهْلَهُ بِالصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ وَكَانَ عِندَ رَبِّهِ مَرْضِيّاً“Dan ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka), kisah Ismail (yang tersebut) di dalam Al-Qur’an. Sesungguhnya dia adalah seorang yang benar janjinya, dan dia adalah seorang rasul dan nabi. Dan dia menyuruh keluarganya untuk shalat dan menunaikan zakat. Dan dia adalah seorang yang diridhai di sisi Tuhannya.” (QS. Maryam [19]: 54-55)Baca Juga: Memakai Pakaian Terbaik ketika ShalatKisah Nabi Ishaq ‘alaihis salaam dan keturunannyaAllah Ta’ala berfirman,وَوَهَبْنَا لَهُ إِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ نَافِلَةً وَكُلّاً جَعَلْنَا صَالِحِينَ وَجَعَلْنَاهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا وَأَوْحَيْنَا إِلَيْهِمْ فِعْلَ الْخَيْرَاتِ وَإِقَامَ الصَّلَاةِ وَإِيتَاء الزَّكَاةِ وَكَانُوا لَنَا عَابِدِينَ“Dan Kami telah memberikan kepada-nya (Ibrahim) lshak dan Ya’qub, sebagai suatu anugerah (daripada Kami). Dan masing-masingnya Kami jadikan orang-orang yang shalih. Kami telah menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami dan telah Kami wahyukan kepada mereka agar mengerjakan kebajikan, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan hanya kepada Kamilah mereka selalu menyembah.” (QS. Al-Anbiya’ [21]: 72-73)Kisah Nabi Syu’aib ‘alaihis salaamAllah Ta’ala menceritakan kisah Nabi Syu’aib ‘alaihis salaam, ketika beliau melarang kaumnya dari beribadah kepada selain Allah Ta’ala dan juga melarang mereka melakukan kecurangan dalam takaran dan timbangan,قَالُواْ يَا شُعَيْبُ أَصَلاَتُكَ تَأْمُرُكَ أَن نَّتْرُكَ مَا يَعْبُدُ آبَاؤُنَا أَوْ أَن نَّفْعَلَ فِي أَمْوَالِنَا مَا نَشَاء إِنَّكَ لَأَنتَ الْحَلِيمُ الرَّشِيدُ“Mereka berkata, ‘Hai Syu’aib, apakah shalatmu menyuruh kamu agar kami meninggalkan apa yang disembah oleh bapak-bapak kami atau melarang kami berbuat apa yang kami kehendaki tentang harta kami. Sesungguhnya kamu adalah orang yang sangat penyantun lagi berakal.’” (QS. Huud [11]: 87)Hal ini menunjukkan bahwa kaum Nabi Syu’aib tidak melihat Nabi Syu’aib mengagungkan sesuatu melebihi pengagungan terhadap ibadah shalat.Syaikh ‘Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah berkata ketika menafsirkan ayat ini,“Shalat terus-menerus disyariatkan atas para Nabi terdahulu dan shalat merupakan amal yang paling utama. Sampai-sampai tertanam dalam diri orang kafir tentang keutamaan dibandingkan amal-amal yang lain. Bahwa shalat mencegah perbuatan keji dan mungkar, dan shalat merupakan timbangan bagi iman dan syariat. Dengan mendirikan shalat, sempurnalah kondisi seseorang, dan dengan tidak mendirikan shalat, maka cacatlah kondisi agamanya.”Baca Juga: Bolehkah Ada Beberapa Shalat Jama’ah dalam Satu MasjidKisah Nabi Musa ‘alaihis salaamAllah Ta’ala mengajak Nabi Musa berbicara secara langsung. Dan perkara yang pertama kali diwajibkan kepada Nabi Musa setelah Allah Ta’ala memerintahkan Nabi Musa beribadah kepada-Nya adalah kewajiban shalat. Allah Ta’ala berkata secara langsung kepada Nabi Musa tanpa ada penerjemah,فَاسْتَمِعْ لِمَا يُوحَى إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي“Maka dengarkanlah apa yang akan diwahyukan (kepadamu). Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.” (QS. Thaaha [20]: 13-14)Hal ini menunjukkan tingginya kedudukan shalat dibandingkan seluruh amal ibadah yang lain. Karena Allah Ta’ala tidaklah memulai pembicaraan untuk menyebutkan kewajiban suatu ibadah, kecuali menyebutkan ibadah shalat.Kemudian di antara yang diperintahkan oleh Nabi Musa ‘alaihis salaam kepada kaumnya Bani Israil setelah perintah agar mereka beriman adalah perintah untuk mendirikan shalat. Allah Ta’ala berfirman,وَأَوْحَيْنَا إِلَى مُوسَى وَأَخِيهِ أَن تَبَوَّءَا لِقَوْمِكُمَا بِمِصْرَ بُيُوتاً وَاجْعَلُواْ بُيُوتَكُمْ قِبْلَةً وَأَقِيمُواْ الصَّلاَةَ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ“Dan Kami wahyukan kepada Musa dan saudaranya, ‘Ambillah olehmu berdua beberapa buah rumah di Mesir untuk tempat tinggal bagi kaummu dan jadikanlah olehmu rumah-rumahmu itu tempat shalat dan dirikanlah shalat, serta gembirakanlah orang-orang yang beriman.’” (QS. Yunus [10]: 87)[Bersambung]Baca artikel selanjutnya di Shalat: Kewajiban Seluruh Nabi (Bag. 2)Baca Juga:***@FK UGM, 29 Shafar 1442/ 16 Oktober 2020Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.or.idCatatan kaki:Disarikan dari kitab Ta’zhiim Ash-Shalaat  hal. 9-10, karya Syaikh ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr hafidzahullahu Ta’ala, cetakan pertama tahun 1434, penerbit Daar Al-Imam Muslim, Madinah KSA.


Termasuk yang menunjukkan agungnya kedudukan shalat adalah kewajiban shalat tersebut yang berlaku kepada seluruh Nabi ‘alaihimush shalaatu was salaam. Juga berita yang menunjukkan betapa seluruh Nabi tersebut mengagungkan ibadah shalat. Terdapat banyak dalil yang menguatkan dan menunjukkan hal tersebut dalam Al-Qur’an Al-Karim.Kisah Nabi Yunus ‘alahis salaamAllah Ta’ala berfirman ketika beliau dimakan ikan,فَلَوْلَا أَنَّهُ كَانَ مِنْ الْمُسَبِّحِينَ لَلَبِثَ فِي بَطْنِهِ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ“Maka kalau sekiranya dia tidak termasuk orang-orang yang banyak mengingat Allah. Niscaya ia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari berbangkit.” (QS. Ash-Shaaffat [37]: 143-144)Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau mengatakan,“Termasuk orang-orang yang mendirikan shalat.”Demikian juga semisal penafsiran tersebut dari Sa’id bin Jubair, Qatadah, dan lain-lain. (Tafsir Ath-Thabari, 21: 109)Baca Juga: Keutamaan Bersegera Menuju ke Masjid dan Menunggu Shalat Jama’ahKisah Nabi Ibrahim dan Isma’il ‘alaihimus salaamKetika beliau meninggalkan Isma’il ‘alaihis salaam di sebuah lembah yang tidak ada seorang manusia lain di sana. Nabi Ibrahim berdoa kepada Allah Ta’ala dengan mengatakan,رَّبَّنَا إِنِّي أَسْكَنتُ مِن ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِندَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُواْ الصَّلاَةَ“Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati. Ya Tuhan kami, (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat.” (QS. Ibrahim [14]: 37)Dan beliau tidak menyebutkan amalan lain selain shalat. Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada amalan yang lebih afdhal dibandingkan shalat, juga tidak ada amalan yang sebanding dengannya.Allah Ta’ala berfirman,وَإِذْ بَوَّأْنَا لِإِبْرَاهِيمَ مَكَانَ الْبَيْتِ أَن لَّا تُشْرِكْ بِي شَيْئاً وَطَهِّرْ بَيْتِيَ لِلطَّائِفِينَ وَالْقَائِمِينَ وَالرُّكَّعِ السُّجُودِ“Dan (ingatlah), ketika Kami memberikan tempat kepada Ibrahim di tempat Baitullah (dengan mengatakan), ‘Janganlah kamu mempersekutukan sesuatu pun dengan Aku dan sucikanlah rumah-Ku ini bagi orang-orang yang thawaf, orang-orang yang beribadah, dan orang-orang yang ruku’ dan sujud.’” (QS. Al-Hajj [22]: 26)Allah Ta’ala juga menyebutkan bahwa di antara doa beliau adalah,رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلاَةِ وَمِن ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاء“Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat. Ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku.” (QS. Ibrahim [14]: 40)Adapun Nabi Isma’il ‘alaihis salaam, Allah Ta’ala berfirman menceritakan kondisi beliau,وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ إِسْمَاعِيلَ إِنَّهُ كَانَ صَادِقَ الْوَعْدِ وَكَانَ رَسُولاً نَّبِيّاً وَكَانَ يَأْمُرُ أَهْلَهُ بِالصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ وَكَانَ عِندَ رَبِّهِ مَرْضِيّاً“Dan ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka), kisah Ismail (yang tersebut) di dalam Al-Qur’an. Sesungguhnya dia adalah seorang yang benar janjinya, dan dia adalah seorang rasul dan nabi. Dan dia menyuruh keluarganya untuk shalat dan menunaikan zakat. Dan dia adalah seorang yang diridhai di sisi Tuhannya.” (QS. Maryam [19]: 54-55)Baca Juga: Memakai Pakaian Terbaik ketika ShalatKisah Nabi Ishaq ‘alaihis salaam dan keturunannyaAllah Ta’ala berfirman,وَوَهَبْنَا لَهُ إِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ نَافِلَةً وَكُلّاً جَعَلْنَا صَالِحِينَ وَجَعَلْنَاهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا وَأَوْحَيْنَا إِلَيْهِمْ فِعْلَ الْخَيْرَاتِ وَإِقَامَ الصَّلَاةِ وَإِيتَاء الزَّكَاةِ وَكَانُوا لَنَا عَابِدِينَ“Dan Kami telah memberikan kepada-nya (Ibrahim) lshak dan Ya’qub, sebagai suatu anugerah (daripada Kami). Dan masing-masingnya Kami jadikan orang-orang yang shalih. Kami telah menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami dan telah Kami wahyukan kepada mereka agar mengerjakan kebajikan, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan hanya kepada Kamilah mereka selalu menyembah.” (QS. Al-Anbiya’ [21]: 72-73)Kisah Nabi Syu’aib ‘alaihis salaamAllah Ta’ala menceritakan kisah Nabi Syu’aib ‘alaihis salaam, ketika beliau melarang kaumnya dari beribadah kepada selain Allah Ta’ala dan juga melarang mereka melakukan kecurangan dalam takaran dan timbangan,قَالُواْ يَا شُعَيْبُ أَصَلاَتُكَ تَأْمُرُكَ أَن نَّتْرُكَ مَا يَعْبُدُ آبَاؤُنَا أَوْ أَن نَّفْعَلَ فِي أَمْوَالِنَا مَا نَشَاء إِنَّكَ لَأَنتَ الْحَلِيمُ الرَّشِيدُ“Mereka berkata, ‘Hai Syu’aib, apakah shalatmu menyuruh kamu agar kami meninggalkan apa yang disembah oleh bapak-bapak kami atau melarang kami berbuat apa yang kami kehendaki tentang harta kami. Sesungguhnya kamu adalah orang yang sangat penyantun lagi berakal.’” (QS. Huud [11]: 87)Hal ini menunjukkan bahwa kaum Nabi Syu’aib tidak melihat Nabi Syu’aib mengagungkan sesuatu melebihi pengagungan terhadap ibadah shalat.Syaikh ‘Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah berkata ketika menafsirkan ayat ini,“Shalat terus-menerus disyariatkan atas para Nabi terdahulu dan shalat merupakan amal yang paling utama. Sampai-sampai tertanam dalam diri orang kafir tentang keutamaan dibandingkan amal-amal yang lain. Bahwa shalat mencegah perbuatan keji dan mungkar, dan shalat merupakan timbangan bagi iman dan syariat. Dengan mendirikan shalat, sempurnalah kondisi seseorang, dan dengan tidak mendirikan shalat, maka cacatlah kondisi agamanya.”Baca Juga: Bolehkah Ada Beberapa Shalat Jama’ah dalam Satu MasjidKisah Nabi Musa ‘alaihis salaamAllah Ta’ala mengajak Nabi Musa berbicara secara langsung. Dan perkara yang pertama kali diwajibkan kepada Nabi Musa setelah Allah Ta’ala memerintahkan Nabi Musa beribadah kepada-Nya adalah kewajiban shalat. Allah Ta’ala berkata secara langsung kepada Nabi Musa tanpa ada penerjemah,فَاسْتَمِعْ لِمَا يُوحَى إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي“Maka dengarkanlah apa yang akan diwahyukan (kepadamu). Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.” (QS. Thaaha [20]: 13-14)Hal ini menunjukkan tingginya kedudukan shalat dibandingkan seluruh amal ibadah yang lain. Karena Allah Ta’ala tidaklah memulai pembicaraan untuk menyebutkan kewajiban suatu ibadah, kecuali menyebutkan ibadah shalat.Kemudian di antara yang diperintahkan oleh Nabi Musa ‘alaihis salaam kepada kaumnya Bani Israil setelah perintah agar mereka beriman adalah perintah untuk mendirikan shalat. Allah Ta’ala berfirman,وَأَوْحَيْنَا إِلَى مُوسَى وَأَخِيهِ أَن تَبَوَّءَا لِقَوْمِكُمَا بِمِصْرَ بُيُوتاً وَاجْعَلُواْ بُيُوتَكُمْ قِبْلَةً وَأَقِيمُواْ الصَّلاَةَ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ“Dan Kami wahyukan kepada Musa dan saudaranya, ‘Ambillah olehmu berdua beberapa buah rumah di Mesir untuk tempat tinggal bagi kaummu dan jadikanlah olehmu rumah-rumahmu itu tempat shalat dan dirikanlah shalat, serta gembirakanlah orang-orang yang beriman.’” (QS. Yunus [10]: 87)[Bersambung]Baca artikel selanjutnya di Shalat: Kewajiban Seluruh Nabi (Bag. 2)Baca Juga:***@FK UGM, 29 Shafar 1442/ 16 Oktober 2020Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.or.idCatatan kaki:Disarikan dari kitab Ta’zhiim Ash-Shalaat  hal. 9-10, karya Syaikh ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr hafidzahullahu Ta’ala, cetakan pertama tahun 1434, penerbit Daar Al-Imam Muslim, Madinah KSA.
Prev     Next