Shalat dan Puasa di Negeri Non-muslim dengan Mengikuti Waktu Saudi Arabia

Fatwa Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullahu Ta’alaPertanyaan:Apakah hukum orang yang melaksanakan shalat di negeri kafir dengan mengikuti waktu shalat di Arab Saudi? Apa hukum shalat sebelum (masuk) waktunya?Jawaban:Orang yang melaksanakan shalat di negeri kafir dengan mengikuti waktu shalat di Saudi Arabia, dia telah berbuat kesalahan besar, kecuali jika negeri kafir tersebut letaknya dekat dengan Saudi Arabia. Maksudnya, dia tidak keluar dari waktu shalat (di negerinya tersebut, pen.) jika negeri kafir tersebut letaknya di sebelah timur Saudi Arabia [1], atau telah masuk waktu shalat tertentu jika negeri kafir tersebut letaknya di sebelah barat Saudi Arabia [2].Adapun jika waktu shalat di Saudi Arabia telah berakhir sebelum masuknya waktu shalat di negeri kafir tersebut, maka jika dia mengerjakan shalat sesuai dengan waktu Saudi Arabia, pada hakikatnya dia telah shalat sebelum masuk waktunya. Jika dia shalat sebelum waktunya, maka shalatnya tidak sah, sesuai dengan firman Allah Ta’ala,إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا“Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (QS. An-Nisa’ [4]: 103)Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menentukan batas waktu shalat dalam sabdanya,وَقْتُ الظُّهْرِ إِذَا زَالَتِ الشَّمْسُ وَكَانَ ظِلُّ الرَّجُلِ كَطُولِهِ، مَا لَمْ يَحْضُرِ وَقْتُ الْعَصْرِ، وَوَقْتُ الْعَصْرِ إِلَى أَنْ تَصْفَرَّ الشَّمْسُ، وَوَقْتُ صَلَاةِ الْمَغْرِبِ إِلَى مغِبيبِ الشَّفَق، وَوَقْتُ الْعِشَاءِ إِلَى نِصْفِ اللَّيْلِ الْأَوْسَطِ، وَوَقْتُ الْفَجْرِ م إِلَى طُلُوعِ الشَّمْسِ“Waktu dzuhur adalah ketika matahari telah bergeser (ke barat, pen.) dan ketika bayangan seseorang itu sama dengan tinggi orang tersebut, selama belum masuk waktu ashar. Waktu ashar adalah sampai matahari menguning. Waktu maghrib (berakhir) ketika awan merah menghilang. Waktu isya’ adalah sampai pertengahan malam [3]. Waktu shalat fajar (shalat subuh) adalah sampai terbit matahari.” (HR. Muslim no. 612)Demikian pula orang yang mengakhirkan shalat sampai keluar waktunya secara sengaja, maka shalatnya tidak sah (tidak diterima), berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ“Barangsiapa yang mengerjakan suatu amal yang tidak ada dasarnya dari kami, maka amal tersebut tertolak.” (HR. Muslim no. 1718)Telah kita maklumi bersama bahwa orang yang berpuasa di negeri mereka masing-masing, mereka tidak boleh berpuasa dengan mengikuti waktu di Saudi Arabia. Mereka berpuasa sesuai dengan waktu terbit fajar dan tenggelam matahari di negeri mereka tersebut. Maka demikian pula pelaksanaan shalat (yaitu, mengikuti waktu shalat di negerinya masing-masing, pen.). [4] ***Diselesaikan di sore hari ba’da ashar, Rotterdam NL, 14 Sya’ban 1439/ 1 Mei 2018Penerjemah: M. Saifudin Hakim Catatan kaki:[1]     Dalam kondisi seperti ini, waktu di Saudi Arabia lebih lambat dibandingkan negeri kafir tersebut. Jika dia mengikuti waktu Saudi Arabia, bisa jadi waktu shalat di negeri kafir tersebut sudah habis.[2]     Sebaliknya, dalam kondisi seperti ini, waktu di negeri kafir tersebutlah yang lebih lambat dibandingkan waktu di Saudi Arabia. Jika dia mengikuti waktu Saudi Arabia, bisa jadi di negeri kafir tersebut belum masuk waktu shalat.[3]     Maksudnya, tengah-tengah antara waktu tenggelam matahari dan waktu terbit fajar. Misalnya, jika matahari tenggelam jam 18.00 dan terbit fajar jam 04.00, maka tengah malam adalah jam 23.00 (bukan jam 24.00). Maka, pukul 23.00 adalah batas akhir waktu isya’, menurut pendapat yang lebih kuat. Wallahu Ta’ala a’lam.[4]     Diterjemahkan dari kitab: I’laamul Musaafiriin, karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullahu Ta’ala, hal. 32-34 (pertanyaan nomor 27).🔍 Hadits Tentang Doa, Hajar Aswad Putih, Ilmu Tassawuf, Perjalanan Ruh Setelah Sakaratul Maut, Zakat Mobil

Shalat dan Puasa di Negeri Non-muslim dengan Mengikuti Waktu Saudi Arabia

Fatwa Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullahu Ta’alaPertanyaan:Apakah hukum orang yang melaksanakan shalat di negeri kafir dengan mengikuti waktu shalat di Arab Saudi? Apa hukum shalat sebelum (masuk) waktunya?Jawaban:Orang yang melaksanakan shalat di negeri kafir dengan mengikuti waktu shalat di Saudi Arabia, dia telah berbuat kesalahan besar, kecuali jika negeri kafir tersebut letaknya dekat dengan Saudi Arabia. Maksudnya, dia tidak keluar dari waktu shalat (di negerinya tersebut, pen.) jika negeri kafir tersebut letaknya di sebelah timur Saudi Arabia [1], atau telah masuk waktu shalat tertentu jika negeri kafir tersebut letaknya di sebelah barat Saudi Arabia [2].Adapun jika waktu shalat di Saudi Arabia telah berakhir sebelum masuknya waktu shalat di negeri kafir tersebut, maka jika dia mengerjakan shalat sesuai dengan waktu Saudi Arabia, pada hakikatnya dia telah shalat sebelum masuk waktunya. Jika dia shalat sebelum waktunya, maka shalatnya tidak sah, sesuai dengan firman Allah Ta’ala,إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا“Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (QS. An-Nisa’ [4]: 103)Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menentukan batas waktu shalat dalam sabdanya,وَقْتُ الظُّهْرِ إِذَا زَالَتِ الشَّمْسُ وَكَانَ ظِلُّ الرَّجُلِ كَطُولِهِ، مَا لَمْ يَحْضُرِ وَقْتُ الْعَصْرِ، وَوَقْتُ الْعَصْرِ إِلَى أَنْ تَصْفَرَّ الشَّمْسُ، وَوَقْتُ صَلَاةِ الْمَغْرِبِ إِلَى مغِبيبِ الشَّفَق، وَوَقْتُ الْعِشَاءِ إِلَى نِصْفِ اللَّيْلِ الْأَوْسَطِ، وَوَقْتُ الْفَجْرِ م إِلَى طُلُوعِ الشَّمْسِ“Waktu dzuhur adalah ketika matahari telah bergeser (ke barat, pen.) dan ketika bayangan seseorang itu sama dengan tinggi orang tersebut, selama belum masuk waktu ashar. Waktu ashar adalah sampai matahari menguning. Waktu maghrib (berakhir) ketika awan merah menghilang. Waktu isya’ adalah sampai pertengahan malam [3]. Waktu shalat fajar (shalat subuh) adalah sampai terbit matahari.” (HR. Muslim no. 612)Demikian pula orang yang mengakhirkan shalat sampai keluar waktunya secara sengaja, maka shalatnya tidak sah (tidak diterima), berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ“Barangsiapa yang mengerjakan suatu amal yang tidak ada dasarnya dari kami, maka amal tersebut tertolak.” (HR. Muslim no. 1718)Telah kita maklumi bersama bahwa orang yang berpuasa di negeri mereka masing-masing, mereka tidak boleh berpuasa dengan mengikuti waktu di Saudi Arabia. Mereka berpuasa sesuai dengan waktu terbit fajar dan tenggelam matahari di negeri mereka tersebut. Maka demikian pula pelaksanaan shalat (yaitu, mengikuti waktu shalat di negerinya masing-masing, pen.). [4] ***Diselesaikan di sore hari ba’da ashar, Rotterdam NL, 14 Sya’ban 1439/ 1 Mei 2018Penerjemah: M. Saifudin Hakim Catatan kaki:[1]     Dalam kondisi seperti ini, waktu di Saudi Arabia lebih lambat dibandingkan negeri kafir tersebut. Jika dia mengikuti waktu Saudi Arabia, bisa jadi waktu shalat di negeri kafir tersebut sudah habis.[2]     Sebaliknya, dalam kondisi seperti ini, waktu di negeri kafir tersebutlah yang lebih lambat dibandingkan waktu di Saudi Arabia. Jika dia mengikuti waktu Saudi Arabia, bisa jadi di negeri kafir tersebut belum masuk waktu shalat.[3]     Maksudnya, tengah-tengah antara waktu tenggelam matahari dan waktu terbit fajar. Misalnya, jika matahari tenggelam jam 18.00 dan terbit fajar jam 04.00, maka tengah malam adalah jam 23.00 (bukan jam 24.00). Maka, pukul 23.00 adalah batas akhir waktu isya’, menurut pendapat yang lebih kuat. Wallahu Ta’ala a’lam.[4]     Diterjemahkan dari kitab: I’laamul Musaafiriin, karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullahu Ta’ala, hal. 32-34 (pertanyaan nomor 27).🔍 Hadits Tentang Doa, Hajar Aswad Putih, Ilmu Tassawuf, Perjalanan Ruh Setelah Sakaratul Maut, Zakat Mobil
Fatwa Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullahu Ta’alaPertanyaan:Apakah hukum orang yang melaksanakan shalat di negeri kafir dengan mengikuti waktu shalat di Arab Saudi? Apa hukum shalat sebelum (masuk) waktunya?Jawaban:Orang yang melaksanakan shalat di negeri kafir dengan mengikuti waktu shalat di Saudi Arabia, dia telah berbuat kesalahan besar, kecuali jika negeri kafir tersebut letaknya dekat dengan Saudi Arabia. Maksudnya, dia tidak keluar dari waktu shalat (di negerinya tersebut, pen.) jika negeri kafir tersebut letaknya di sebelah timur Saudi Arabia [1], atau telah masuk waktu shalat tertentu jika negeri kafir tersebut letaknya di sebelah barat Saudi Arabia [2].Adapun jika waktu shalat di Saudi Arabia telah berakhir sebelum masuknya waktu shalat di negeri kafir tersebut, maka jika dia mengerjakan shalat sesuai dengan waktu Saudi Arabia, pada hakikatnya dia telah shalat sebelum masuk waktunya. Jika dia shalat sebelum waktunya, maka shalatnya tidak sah, sesuai dengan firman Allah Ta’ala,إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا“Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (QS. An-Nisa’ [4]: 103)Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menentukan batas waktu shalat dalam sabdanya,وَقْتُ الظُّهْرِ إِذَا زَالَتِ الشَّمْسُ وَكَانَ ظِلُّ الرَّجُلِ كَطُولِهِ، مَا لَمْ يَحْضُرِ وَقْتُ الْعَصْرِ، وَوَقْتُ الْعَصْرِ إِلَى أَنْ تَصْفَرَّ الشَّمْسُ، وَوَقْتُ صَلَاةِ الْمَغْرِبِ إِلَى مغِبيبِ الشَّفَق، وَوَقْتُ الْعِشَاءِ إِلَى نِصْفِ اللَّيْلِ الْأَوْسَطِ، وَوَقْتُ الْفَجْرِ م إِلَى طُلُوعِ الشَّمْسِ“Waktu dzuhur adalah ketika matahari telah bergeser (ke barat, pen.) dan ketika bayangan seseorang itu sama dengan tinggi orang tersebut, selama belum masuk waktu ashar. Waktu ashar adalah sampai matahari menguning. Waktu maghrib (berakhir) ketika awan merah menghilang. Waktu isya’ adalah sampai pertengahan malam [3]. Waktu shalat fajar (shalat subuh) adalah sampai terbit matahari.” (HR. Muslim no. 612)Demikian pula orang yang mengakhirkan shalat sampai keluar waktunya secara sengaja, maka shalatnya tidak sah (tidak diterima), berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ“Barangsiapa yang mengerjakan suatu amal yang tidak ada dasarnya dari kami, maka amal tersebut tertolak.” (HR. Muslim no. 1718)Telah kita maklumi bersama bahwa orang yang berpuasa di negeri mereka masing-masing, mereka tidak boleh berpuasa dengan mengikuti waktu di Saudi Arabia. Mereka berpuasa sesuai dengan waktu terbit fajar dan tenggelam matahari di negeri mereka tersebut. Maka demikian pula pelaksanaan shalat (yaitu, mengikuti waktu shalat di negerinya masing-masing, pen.). [4] ***Diselesaikan di sore hari ba’da ashar, Rotterdam NL, 14 Sya’ban 1439/ 1 Mei 2018Penerjemah: M. Saifudin Hakim Catatan kaki:[1]     Dalam kondisi seperti ini, waktu di Saudi Arabia lebih lambat dibandingkan negeri kafir tersebut. Jika dia mengikuti waktu Saudi Arabia, bisa jadi waktu shalat di negeri kafir tersebut sudah habis.[2]     Sebaliknya, dalam kondisi seperti ini, waktu di negeri kafir tersebutlah yang lebih lambat dibandingkan waktu di Saudi Arabia. Jika dia mengikuti waktu Saudi Arabia, bisa jadi di negeri kafir tersebut belum masuk waktu shalat.[3]     Maksudnya, tengah-tengah antara waktu tenggelam matahari dan waktu terbit fajar. Misalnya, jika matahari tenggelam jam 18.00 dan terbit fajar jam 04.00, maka tengah malam adalah jam 23.00 (bukan jam 24.00). Maka, pukul 23.00 adalah batas akhir waktu isya’, menurut pendapat yang lebih kuat. Wallahu Ta’ala a’lam.[4]     Diterjemahkan dari kitab: I’laamul Musaafiriin, karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullahu Ta’ala, hal. 32-34 (pertanyaan nomor 27).🔍 Hadits Tentang Doa, Hajar Aswad Putih, Ilmu Tassawuf, Perjalanan Ruh Setelah Sakaratul Maut, Zakat Mobil


Fatwa Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullahu Ta’alaPertanyaan:Apakah hukum orang yang melaksanakan shalat di negeri kafir dengan mengikuti waktu shalat di Arab Saudi? Apa hukum shalat sebelum (masuk) waktunya?Jawaban:Orang yang melaksanakan shalat di negeri kafir dengan mengikuti waktu shalat di Saudi Arabia, dia telah berbuat kesalahan besar, kecuali jika negeri kafir tersebut letaknya dekat dengan Saudi Arabia. Maksudnya, dia tidak keluar dari waktu shalat (di negerinya tersebut, pen.) jika negeri kafir tersebut letaknya di sebelah timur Saudi Arabia [1], atau telah masuk waktu shalat tertentu jika negeri kafir tersebut letaknya di sebelah barat Saudi Arabia [2].Adapun jika waktu shalat di Saudi Arabia telah berakhir sebelum masuknya waktu shalat di negeri kafir tersebut, maka jika dia mengerjakan shalat sesuai dengan waktu Saudi Arabia, pada hakikatnya dia telah shalat sebelum masuk waktunya. Jika dia shalat sebelum waktunya, maka shalatnya tidak sah, sesuai dengan firman Allah Ta’ala,إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا“Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (QS. An-Nisa’ [4]: 103)Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menentukan batas waktu shalat dalam sabdanya,وَقْتُ الظُّهْرِ إِذَا زَالَتِ الشَّمْسُ وَكَانَ ظِلُّ الرَّجُلِ كَطُولِهِ، مَا لَمْ يَحْضُرِ وَقْتُ الْعَصْرِ، وَوَقْتُ الْعَصْرِ إِلَى أَنْ تَصْفَرَّ الشَّمْسُ، وَوَقْتُ صَلَاةِ الْمَغْرِبِ إِلَى مغِبيبِ الشَّفَق، وَوَقْتُ الْعِشَاءِ إِلَى نِصْفِ اللَّيْلِ الْأَوْسَطِ، وَوَقْتُ الْفَجْرِ م إِلَى طُلُوعِ الشَّمْسِ“Waktu dzuhur adalah ketika matahari telah bergeser (ke barat, pen.) dan ketika bayangan seseorang itu sama dengan tinggi orang tersebut, selama belum masuk waktu ashar. Waktu ashar adalah sampai matahari menguning. Waktu maghrib (berakhir) ketika awan merah menghilang. Waktu isya’ adalah sampai pertengahan malam [3]. Waktu shalat fajar (shalat subuh) adalah sampai terbit matahari.” (HR. Muslim no. 612)Demikian pula orang yang mengakhirkan shalat sampai keluar waktunya secara sengaja, maka shalatnya tidak sah (tidak diterima), berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ“Barangsiapa yang mengerjakan suatu amal yang tidak ada dasarnya dari kami, maka amal tersebut tertolak.” (HR. Muslim no. 1718)Telah kita maklumi bersama bahwa orang yang berpuasa di negeri mereka masing-masing, mereka tidak boleh berpuasa dengan mengikuti waktu di Saudi Arabia. Mereka berpuasa sesuai dengan waktu terbit fajar dan tenggelam matahari di negeri mereka tersebut. Maka demikian pula pelaksanaan shalat (yaitu, mengikuti waktu shalat di negerinya masing-masing, pen.). [4] ***Diselesaikan di sore hari ba’da ashar, Rotterdam NL, 14 Sya’ban 1439/ 1 Mei 2018Penerjemah: M. Saifudin Hakim Catatan kaki:[1]     Dalam kondisi seperti ini, waktu di Saudi Arabia lebih lambat dibandingkan negeri kafir tersebut. Jika dia mengikuti waktu Saudi Arabia, bisa jadi waktu shalat di negeri kafir tersebut sudah habis.[2]     Sebaliknya, dalam kondisi seperti ini, waktu di negeri kafir tersebutlah yang lebih lambat dibandingkan waktu di Saudi Arabia. Jika dia mengikuti waktu Saudi Arabia, bisa jadi di negeri kafir tersebut belum masuk waktu shalat.[3]     Maksudnya, tengah-tengah antara waktu tenggelam matahari dan waktu terbit fajar. Misalnya, jika matahari tenggelam jam 18.00 dan terbit fajar jam 04.00, maka tengah malam adalah jam 23.00 (bukan jam 24.00). Maka, pukul 23.00 adalah batas akhir waktu isya’, menurut pendapat yang lebih kuat. Wallahu Ta’ala a’lam.[4]     Diterjemahkan dari kitab: I’laamul Musaafiriin, karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullahu Ta’ala, hal. 32-34 (pertanyaan nomor 27).🔍 Hadits Tentang Doa, Hajar Aswad Putih, Ilmu Tassawuf, Perjalanan Ruh Setelah Sakaratul Maut, Zakat Mobil

Guru Itu Bernama Ramadhan

(Khutbah ‘Iedul Fithri)Allahu akbar Allahu akbar Allahu akbar walillahil hamd…Berbahagialah wahai para jamaah sekalian yang telah berpuasa…Yang telah menahan lapar dan dahaga karena Allah…Yang berletih-letih berdiri dalam shalat tarawih karena Allah…Yang membasahi lisan dan mengeringkan tenggorokan membaca ayat-ayat al-Qur’an karena Allah…Yang meneteskan air mata taubat karena takut dengan siksaNya dan berharap surgaNya…Semoga setetes air mata yang tulus menjadi sebab diampuni segala dosa….menjadikan lembaran catatan menjadi putih bersih kembali….Bergembiralah dengan ampunan Allah…Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, walillahil hamd.Wahai Kaum Muslim rahimakumullah (semoga Allah merahmati kita seluruhnya)…Ramadhan Bulan penuh berkah itu sudah berlalu…Ramadhan Bulan yang setiap malamnya merupakan malam pembebebasan dari  api neraka ternyata telah berlalu…Ramadhan Bulan yang di dalamnya dosa-dosa diampuni sudah berakhir….Ramadhan bulan yang di dalamnya doa-doa dikabulkan sudah lewat…Bulan Al Quran itu telah lewat…..Bulan berlomba dalam bersedekah itu telah habis…Bulan penuh perjuangan itu telah berakhir….Bulan Lailatul Qadar Malam yang lebih baik dari seribu bulan telah berlalu….Sungguh begitu cepat…. أَيَّامًا مَعْدُودَاتٍ “Hari-hari yang berbilang” (QS Al-Baqoroh : 184)Benar-benar Ramadhan tamu yang mulia itu telah pergi….Berbahagialah mereka, hamba-hamba Allah yang telah menahan lapar karena Allah…, menahan dahaga di tengah terik panasnya matahari…karena Allah…, menahan syahwatnya karena Allah….Berbahagialah mereka yang melawan kantuknya untuk melantunkan firman-firmanNya…., menahan kantuknya… menahan letihnya kaki dalam sholat malamnya karena mengharapkan keridhoan Allah….Berbahagialah mereka yang menyisihkan sebagian hartanya untuk diberikan kepada para faqir miskin, mengurangi beban mereka, memberikan secercah kebahagiaan kepada…semuanya karena Allah…Berbahagialah mereka yang telah meneteskan air matanya karena mengharapkan ampunanNya…di tengah malam tatkala mata-mata manusia pulas terlelap…Semoga setetes air mata yang mereka alirkan karena takut kepada Yang Maha Esa, karena berharap kepada Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, merupakan sebab diampuni seluruh dosa mereka…sebab masuknya mereka ke dalam surga Allah… Merekalah yang telah meraih janji Rasul yang paling Mulia Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, yang telah bersada :مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِBarang siapa yang berpuasa bulan Ramadhan dengan keimanan dan penuh pengharapan maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah laluAllahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, walillahil hamd…Wahai Kaum Muslim rahimakumullah (semoga kita selalu dirahmati Allah)…Ramadhan….tamu yang agung tersebut meninggalkan banyak pelajaran bagi kita semua…Pelajaran-pelajaran berharga agar kita bisa lebih baik menyambutnya dan menjamunya di kesempatan yang lain…di tahun-tahun berikutnya…Diantara pelajaran-pelajaran yang berharga tersebut…Pertama: BertakwaTujuan semuanya adalah meraih ketakwaan لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ “semoga kalian bertakwa”(QS Al-Baqoroh : 183)Ketakwaan adalah barometer penilaian Allah إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ “Sesungguhnya yang termulia diantara kalian adalah yang paling bertakwa”(QS Al-Hujuroot : 13)Sementara kebanyakan orang menjadikan barometer untuk mengukur nilai seseorang adalah dengan harta dan kedudukan, pangkat dan jabatan. Maka Ramadhan mengajarkan kepada kita agar tidak terpedaya dengan sanjugan dan penghormatan manusia terhadap kita. Percuma kita menjadi seseorang yang terpandang di mata masyarakat -karena harta dan jabatan kita- namun ternyata kita hina di hadapan Allah karena ketakwaan kita yang rendah. Bisa jadi orang yang kita rendahkan -karena merupakan pegawai dan pekerja kita- namun dia sangat mulia dan tinggi di sisi Allah, karena ketakwaan dan ketaatannya.Di dalam bulan Ramadhan kita lebih taat kepada Allah dalam melaksanakan kewajiban…. lebih takut kepada Allah sehingga lebih mudah menjauhi maksiat…. lebih semangat untuk banyak berdzikir dan membaca Al Quran…kita bisa lebih bertakwa kepada Allah….Apakah setelah Ramadhan berlalu kita masih bisa bertakwa kepada Allah…? Sesungguhnya Tuhan yang kita sembah di bulan Ramadhan Dialah pula Tuhan yang kita sembah di bulan-bulan yang lain. Sungguh celaka hamba yang hanya bertakwa, hanya mengenal Rabbnya tatkala di bulan Ramadhan saja.Kedua: IkhlashWahai kaum muslimin rahimakumullah (semoga Allah merahmati kita seluruhnya)…Ramadhan menggembleng kita untuk ikhlash kepada Allah.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda tentang keistimewaan:كُلُّ عمل بن آدَمَ لَهُ إِلَّا الصِّيَامَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ“Seluruh amal anak Adam adalah untuknya kecuali puasa, karena puasa adalah untuk-Ku, dan Aku yang akan mengganjarnya”(HR Ibnu Hibban no 3422)Allah menyatakan bahwa khusus puasa adalah untuk Allah, karena seluruh amalan bisa dilihat oleh orang lain melaui gerakannya, seperti sholat, sedekah, wudhu, haji, umroh, menyembelih kurban, dll, kecuali puasa. Orang lain tidak mengetahui bahwa kita sedang puasa kecuali jika kita kabarkan dengan lisan, adapun secara gerakan maka tidak bisa diketahui. Dari sini dikatakan bahwa puasa tidak bisa kemasukan riyaa’ (lihat Fathul Baari 4/107)Ternyata inilah yang menjadikan puasa spesial dan sangat dicintai Allah serta diberi ganjaran yang sangat besar, karena tingginya nilai keikhlasan dalam puasa.Berkata Syeikh Ibnu Ustaimin rahimahullah:“وَهَذَا الحديثُ الجليلُ يدُلُّ على فضيلةِ الصومِ من وجوهٍ عديدةٍ :الوجه الأول : أن الله اختصَّ لنفسه الصوم من بين سائرِ الأعمال ، وذلك لِشرفِهِ عنده ، ومحبَّتهِ له ، وظهور الإِخلاصِ له سبحانه فيه ، لأنه سِرُّ بَيْن العبدِ وربِّه لا يطَّلعُ عليه إلاّ الله . فإِن الصائمَ يكون في الموضِعِ الخالي من الناس مُتمكِّناً منْ تناوُلِ ما حرَّم الله عليه بالصيام ، فلا يتناولُهُ ؛ لأنه يعلم أن له ربّاً يطَّلع عليه في خلوتِه ، وقد حرَّم عَلَيْه ذلك ، فيترُكُه لله خوفاً من عقابه ، ورغبةً في ثوابه ، فمن أجل ذلك شكر اللهُ له هذا الإِخلاصَ ، واختصَّ صيامَه لنفْسِه من بين سَائِرِ أعمالِهِ ولهذا قال : ( يَدعُ شهوتَه وطعامَه من أجْلي ) .“Dan hadits yang agung ini menuinjukkan keutamaan puasa dari beberapa sisi;Yang pertama: Bahwa Allah mengkhususkan untuk diri-Nya puasa dari antara seluruh amalan, dan demikian itu karena kemuliaannya disisi-Nya dan kecintaan-Nya kepada puasa, dan terlihat ikhlas kepada-Nya Maha Suci Allah di dalamnya, karena ia adalah rahasia antara seorang hamba dengan Rabb-Nya, tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah, karena seorang yang berpuasa ia berada disebuah temapt yang kosong dari orang-orang, memungkin baginya untuk mengkonsumsi apa yang diharamkan Allah atasnya dengan puasa, lalu ia tidak menkonsumsinya, karena ia mengetahui bahwa ia memiliki seorang Rabb yang mengetahui dalam kesendiriannya, dan Allah telah mengharamkan hal itu atasnya, maka ia meninggalkannya karena Allah karena takut akan siksa-Nya, berharap pahala-Nya, oleh sebab inilah Allah mensyukurinya keikhlasan ini  dan mengkhususkan puasanya untuk diri-Nya dibandingkan seluruh amalannya, oleh sebab inilah Allah berfirman: “Ia meninggakan syahwat dan makanannya karena Aku.” (Lihat kitab Majalis Syahri Ramadhan, hal. 13).Sebagaimana perkataan Ibnul Mubaarok :رُبَّ عَمَلٍ صَغِيرٍ تُعَظِّمُهُ النِّيَّةُ، وَرُبَّ عَمَلٍ كَبِيرٍ تُصَغِّرُهُ النِّيَّةُ“Betapa banyak amal yang kecil menjadi besar karena niat yang ikhlash, dan sebaliknya betapa banyak amal yang besar menjadi kecil karena niat yang kurang ikhlash” (Jaamiúl Úluum wal Hikam 1/71)Orang yang semakin ikhlash maka semakin meraih syafaat Nabi shallallahu álaihi wasallam. Abu Hurairah pernah bertanya kepada Nabi shallallahu álaihi wasallam :يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَنْ أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِكَ يَوْمَ القِيَامَةِ؟“Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling bahagia (yaitu yang paling mendapatkan bagian besar) dari syafaatmu pada hari kiamat?”.Nabi menjawab :أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِي يَوْمَ القِيَامَةِ مَنْ قَالَ: لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، خَالِصًا مِنْ قَلْبِهِ”Orang yang paling bahagia mendapatkan syafaatku pada hari kiamat adalah orang yang mengucapkan Laa ilaaha illallahu dengan ikhlash dari hatinya”(HR Al-Bukhari no 99)Ibnu Hajar menjelaskan bahwa ini menunjukan bahwa keikhlasan bertingkat-tingkat yang menyebabkan meraih syafaat Nabi juga bertingkat-tingkat (lihat Fathul Baari 11/443).Maka semakin anda tidak mengharapkan sanjungan, pujian, dan pengakuan manusia, maka bergembiralah berarti anda semakin ikhlash, berarti anda semakin meraih syafaat Nabi shallallahu álaihi wasallam pada hari kiamat kelak. Adapun jika sebaliknya anda semakin terpedaya dengan sanjungan dan pujian manusia maka anda semakin terjauhkan dari syafaat Nabi shallallahu álahi wasallam.Ketiga: Murooqobah, Selalu Merasa Diawasi Allah TaalaAllahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, walillahil hamd.Ma’aasyirol Muslimin, Wahai kaum muslimin rahimahkumullah…Di dalam bulan Ramadhan, karena kita berpuasa, maka kita tahan makan dan minum serta seluruh hal yang membatalkan puasa dari mulai terbit fajar kedua sampai terbenam matahari. Meskipun tatkala kita sedang bersendirian, dan dalam kondisi kita yakin bahwa tak seorangpun melihat kita, tidak ada cctv yang merekam kita. Ini semua mampu kita lakukan karena kita tahu dan sadar bahwa Allah melihat apa yang kita kerjakan. Inilah yang disebut dengan murooqobah “merasa diawasi dan dilihat oleh Allah”Maka hendaknya -tatkala sedang bersendirian- kita merasa selalu di awasi oleh Allah baik di dalam rumah, di kantor, di pasar, di masjid, dan dimanapun kita beradaAllah Taala berfirman:{يَعْلَمُ خَائِنَةَ الْأَعْيُنِ وَمَا تُخْفِي الصُّدُورُ}Artinya: “Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati.” QS. GHafir: 16.Jangankan gerakan tangan, kaki, dan anggota tubuh yang lainnya, bahkan gerakan mata, lirikan mata yang digunakan untuk melihat perkara yang haram-pun Allah mencatatnya. Jangankan gerakan mata, bahkan gerakan hati pun Allah mengetahuinya.{إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا}Artinya: “Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” QS. An Nisa: 1.{أَوَلَا يَعْلَمُونَ أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا يُسِرُّونَ وَمَا يُعْلِنُونَ}Artinya: “Tidakkah mereka mengetahui bahwa Allah mengetahui segala yang mereka sembunyikan dan segala yang mereka nyatakan?.” (QS. AL Baqarah: 77).Bahkan seseorang bukan hanya merasa diawasi oleh Allah dalam gerak-geriknya, bahkan hendaknya ia juga merasa diawasi oleh Allah akan gerak-gerik hatinya, apa yang terbetik dalam hatinya. Hendaknya dia berhati-hati, jika dia riya’(ingin dipuji), jika dia dengki dan hasad, jika dia berburuk sangka, ketahuilah bahwasanya Allah mengetahuinya meski tidak seorangpun yang mengetahuinya.Sesungguhnya orang yang merasa diawasi oleh Allah tatkala bersendirian akan diampuni dosa-dosanya.إِنَّ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ بِالْغَيْبِ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَأَجْرٌ كَبِيرٌSesungguhnya orang-orang yang takut kepada Tuhannya tatkala mereka bersendirian, mereka akan memperoleh ampunan dan pahala yang besar (QS Al-Mulk : 12)Bahkan dimasukan ke dalam surga{وَأُزْلِفَتِ الْجَنَّةُ لِلْمُتَّقِينَ غَيْرَ بَعِيدٍ (31) هَذَا مَا تُوعَدُونَ لِكُلِّ أَوَّابٍ حَفِيظٍ (32) مَنْ خَشِيَ الرَّحْمَنَ بِالْغَيْبِ وَجَاءَ بِقَلْبٍ مُنِيبٍ (33) ادْخُلُوهَا بِسَلَامٍ ذَلِكَ يَوْمُ الْخُلُودِ (34) لَهُمْ مَا يَشَاءُونَ فِيهَا وَلَدَيْنَا مَزِيدٌ (35)}Artinya: “Dan didekatkanlah surga itu kepada orang-orang yang bertakwa pada tempat yang tiada jauh (dari mereka).” “Inilah yang dijanjikan kepadamu, (yaitu) kepada setiap hamba yang selalu kembali (kepada Allah) lagi memelihara (semua peraturan-peraturan-Nya).” “(Yaitu) orang yang takut kepada Tuhan Yang Maha Pemurah tatkala dia bersendirian dan dia datang dengan hati yang bertobat.” “Masukilah surga itu dengan aman, itulah hari kekekalan.” “Mereka di dalamnya memperoleh apa yang mereka kehendaki; dan pada sisi Kami ada tambahannya.” (QS. Qaaf: 31-35).Betapa sering sebagian kita tatkala di hadapan banyak orang ia menjadi benar-benar sholih memusuhi Iblis, akan tetapi tatkala besendirian ia menjadi kawan iblis.Keempat: Sabar dari puasaRamadhan melalui puasanya mengajari kita untuk bersabar dengan tiga jenis kesabaran, yaitu (1) sabar dalam mengerjakan ketaatan, (2) sabar dalam menjauhi maksiat dan (3) sabar dalam menghadapi ujian.Tatkala berpuasa Ramadhan seseorang diajari sabar dalam mengerjakan ketaatan dan menjauhi maksiat, karena seseorang menahan makan, minum serta syahwat tatkala puasa. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِى وَأَنَا أَجْزِى بِهِ يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِىArtinya: “Setiap amalan anak Adam akan dilipatkan pahalanya, satu kebaikan dilipatkan menjadi sepuluh kali lipat sampai kepada tujuh ratus lipat, Allah Azza wa Jalla berfirman: “Kecuali puasa, sesungguhnya ia adalah milik-Ku dan Aku yang akan mengganjar pahalanya, ia meninggalkan syahwat dan makannya karena-Ku.” (HR. Muslim).Dengan Puasa Ramadhan seseorang bersabar dalam mengerjakan ketaatan, karena tatkala berpuasa wajib menahan makan dan minum serta seluruh yang membatalkan puasa, disinilah letak pembelajarannya tentang sabar dalam menjalankan ketaatan.Dengan puasa Ramadhan seseorang bersabar dalam menjauhi maksiat, karena tatkala berpuasa wajib menjauhi hal-hal yang membatalkan puasa bahkan wajib menjauhi hal-hal yang mengurangi pahala puasa, disinilah letak pembelajarannya tentang sabar dalam menjauhi dan meninggalkan kemaksiatan.Dengan puasa Ramadhan seseorang belajar bersabar dalam menghadapi ujian dari Allah Ta’ala, karena tatkala puasa ia menahan lapar dan haus, dan itu adalah ujian yang Allah berikan, disinilah letak pembelajarannya tentang sabar dalam menghadapi ujian.Ketiga bentuk kesabaran ini bukanlah perkara yang mudah, butuh perjuangan untuk melaksanakannya. Terlebih di zaman sekarang ini, yang godaan begitu luar biasa, syahwat tersebar di mana-mana, terlebih lagi di media-media sosial.Kelima: BersyukurWahai kaum muslimin rahimahukumullah (semoga Allah Ta’ala selalu merahmati kita seluruhnya)Puasa Ramadhan memberikan pelajaran kepada dan menjadi sarana untuk kita agar menjadi hamba Allah yang pandai bersyukur sebagaiamana yang diinginkan oleh Allah Ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam.Allah berfirman:أَنِ اشْكُرْ لِيBersyukurlah kepada-Ku (QS. Luqman:14).فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِKarena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku (QS Al-Baqoroh : 152)Tatkala seorang berpuasa Ramadhan maka ia merasakan lapar dan haus, yang mana tatkala seseorang dala hari-hari biasa ia tidak merasakan hal tersebut, dan tatkala nikmat hilang dari diri seseorang maka akirnya ia tahu berapa besar kadar nikmat tersebut.Puasa mengajarkan kepada kita untuk mensyukuri nikmat, karena betapa sering seseorang tidak bisa benar-benar merasakan agungnya suatu kenikmatan kecuali tatkala kenikmatan itu dicabut dan hilang.Kita baru merasakan betapa besar nikmat makan dan minum tatkala kita kelaparan dan kehausan. Betapa sering kita tidak merasakan nikmat memandang, nikmat mendengar, nikmat kesehatan….nikmat berkeluarga…, nikmat memiliki istri dan anak…, nikmat hidup di negeri yang aman dan tentram…Coba kita lihat bagaimana orang yang buta, orang yang tuli…bagaimana dengan saudara-saudara kita yang hidup di negara konflik, negara perang, yang mereka bisa jadi merayakan lebaran dengan lapar dan dahaga, dengan suara bom dan tembakan…Dengan berpuasa kita bisa menjadi lebih peka terhadap orang-orang miskin. Bahkan kita merasakan bagaimana susahnya menahan syahwat padahal hanya dari subuh hingga magrib, lantas bagaimana kah dengan seorang janda atau duda atau jomblo yang tidak bisa menyalurkan syahwat mereka bertahun-tahun?, bahkan ada yang hingga meninggal dunia tidak bisa menyalurkan syahwatnya?Sungguh betapa banyak nikmat yang Allah berikan kepada kita, bahkan kenikmatan-kenikmatan yang tidak pernah kita minta, Allah memberikannya kepada kita karena Dialah yang lebih tahu tentang apa yang lebih maslahat bagi kita.Demikian juga betapa banyak doa kita yang telah dikabulkan oleh Allah.{وَآتَاكُمْ مِنْ كُلِّ مَا سَأَلْتُمُوهُ وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَتَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا إِنَّ الْإِنْسَانَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ}Artinya: “Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dari segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat lalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).” (QS. Ibrahim: 34).Janganlah menjadi seorang yang kanuud (sangat ingkar), sebagaimana yang disebutkan oleh Allah إِنَّ الْإِنْسَانَ لِرَبِّهِ لَكَنُودٌ “Sesungguhnya manusia itu sangat ingkar (tidak bersyukur) kepada Tuhannya” (QS Al-Áadiyaat : 6)Al-Hasan al-Bashri berkata tentang ayat ini :هُوَ الْكُفُورُ الَّذِي يَعُدُّ الْمَصَائِبَ، وَيَنْسَى نِعَمَ رَبِّهِ“الكَنُوْدُ adalah orang yang menghitung-hitung (mengingat-ingat) musibah dan melupakan kenikmatan dan anugrah dari Rabbnya” (Tafsir At-Thobari 24/585)Al-Fudhoil bin ‘Iyaad berkata :الْكَنُودُ” الَّذِي أَنْسَتْهُ الْخَصْلَةُ، الْوَاحِدَةُ مِنَ الْإِسَاءَةِ الْخِصَالَ الْكَثِيرَةَ مِنَ الْإِحْسَانِ، وَ”الشَّكُورُ”: الَّذِي أَنْسَتْهُ الْخَصْلَةُ الْوَاحِدَةُ مِنَ الْإِحْسَانِ الْخِصَالَ الْكَثِيرَةَ مِنَ الْإِسَاءَةِ“الكَنُوْدُ adalah orang satu sikap buruh saja maka telah menjadikannya melupakan kebaikan yang banyak. Dan الشَّكُورُ “yang pandai bersyukur/berterima kasih” adalah yang satu kebaikan membuatnya lupa dengan banyaknya keburukan” (Tafsir al-Baghowi 8/509)Orang yang seperti ini kerjaannya selalu mengeluh. Ketika ia sakit seminggu saja maka iapun selalu mengeluh, ia lupa bahwa selama ini berbulan-bulan bahkan mungkin setahun ia telah diberi kenikmatan sehat oleh Allah. Sebagaimana juga seeorang yang diberi kesulitan ekonomi setahun lantas ia selalu mengeluh, dia lupa padahal selama ini bertahun-tahun lamanya Allah selalu memberikan kepadanya kelapangan ekonomi.Keenam : Latihan bersendirian dengan AllahDiantara ibadah yang agung di bulan Ramadhan adalah i’tikaf di 10 hari yang terakhir. Dan hakikat i’tikaf adalah :قَطْعُ الْعَلاَئِقِ عَنِ الْخَلاَئِقِ لِلإِتِّصَالِ بِخِدْمَةِ الْخَالِقِ“Memutuskan relasi dengan makhluk untuk bisa menyambung koneksi untuk beribadah kepada al-Kholiq/sang pencipta”(Lathooiful Maáarif hal 191)Kita sering merasa tentram dan bahagia tatkala kita berinteraksi dan berkomunikasi dengan yang lain. Dan ini adalah hal yang sangat wajar karena asalnya kita adalah makhluk social. Akan tetapi seseorang hendaknya melatih diri untuk terkadang bisa terbiasa merasa tentram dan tenang tatkala berkholwat (bersendirian) dengan Allah.Hal ini karena jika kita telah masuk liang lahad maka tidak ada seorang manusiapun yang akan menemani kita, istri dan anak semuanya tidak akan ikut kita di dalam kuburan.Padahal waktu kita dikuburan lebih lama dari waktu kita hidup di dunia. Yang menemani kita adalah amal sholihnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :يَتْبَعُ المَيِّتَ ثَلاَثَةٌ، فَيَرْجِعُ اثْنَانِ وَيَبْقَى مَعَهُ وَاحِدٌ: يَتْبَعُهُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَعَمَلُهُ، فَيَرْجِعُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَيَبْقَى عَمَلُهُ“Mayat diikuti oleh 3 perkara, yang dua kembali dan yang tetap bersamanya hanya satu. Mayat akan diikuti oleh keluarganya, hartanya, dan amalnya. Maka keluarga dan hartanya akan kembali (tidak menyertainya di kuburan) dan tetap tinggal amalnya (menyertainya di kuburan)”(HR Al-Bukhari no 6514 dan Muslim no 2960)Anak dan istrinya yang sangat mencintainya dan yang sangat ia cintai, yang ketiga hidup pernah bertekad untuk sehidup semati tidak akan setia menemaninya di kuburan. Harta yang ia kumpulkan selama ini tidak akan ia bawa, ia hanya membawa secarik kafan yang dililitkan di tubuhnya. Maka hendaknya seseorang sering melatih diri untuk bisa tentram dengan berkholwat (bersendirian) bersama Allah dengan i’tikaf dan amal yang lainnya seperti sholat malam, sebagaimana sabda Nabi :وَصَلُّوا بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ بِسَلام» “Dan sholat malamlah tatkala orang-orang sedang tidur, niscaya kalian masuk surga dengan penuh keselamatan.” (HR. At-Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad, dan Al-Hakim, dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam As-Shahihah no. 569)Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, walillahil hamd.Para ibu-ibu sekalian, sungguh tatkala Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkhutbah ‘ied maka beliau mengkhususkan sebuah nasehat untuk kalian wahai kaum Hawa.Jabir bin Abdillah radhiallahu ‘anhu beliau berkata :شَهِدْتُ مَعَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الصَّلاَةَ يَوْمَ الْعِيْدِ فَبَدَأَ بِالصَّلاَةِ قَبْلَ الْخُطْبَةِ بِغَيْرِ أَذَانٍ وَلاَ إِقَامَةٍ ثُمَّ قَامَ مُتَوَكِّئًا عَلَى بِلاَلٍ فَأَمَرَ بِتَقْوَى اللهِ وَحَثَّ عَلَى طَاعَتِهِ وَوَعَظَ النَّاسَ وَذَكَّرَهُمْ ثَمَ مَضَى حَتَّى أَتَى النِّسَاءَ فَوَعَظَهُنَّ وَذَكَّرَهُنَّ فَقَالَ : تَصَدَّقْنَ فَإِنَّ أَكْثَرَكُنَّ حَطَبُ جَهَنَّمَ. فَقَامَتْ امْرَأَةٌ مِنْ وَسَطِ النِّسَاءِ سَفْعَاءَ الْخَدَّيْنِ فَقَالَتْ : لِمَ يَارَسُوْلَ اللهِ ؟ قَالَ : لِأَنَّكُنَّ تُكْثِرْنَ الشَّكَاةَ وَتَكْفُرْنَ الْعَشِيْرَ قَالَ : فَجَعَلْنَ يَتَصَدَّقْنَ مِنْ حُلِيِّهِنَّ يُلْقِيْنَ فِي ثَوْبِ بِلاَلٍ مِنْ أَقْرَاطِهِنَّ وَخَوَاتِمِهِنَّ“Aku bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menghadiri sholat pada hari raya, maka beliau memulai dengan sholat sebelu khutbah tanpa adzan dan iqomah, lalu beliau bertelekan kepada Bilal dan beliau memerintahkan untuk bertakwa dan mendorong untuk ta’at kepada Allah dan beliau menasehati orang-orang dan mengingatkan mereka. Setelah itu beliau berjalan menuju para wanita lalu beliau menasehati mereka dan mengingatkan mereka, beliau berkata : “Hendaknya kalian bersedekah, sesungguhnya kalian adalah mayoritas pembakar neraka Jahannam”. Maka diantara para wanita berdirilah seorang wanita yang kedua pipinya ada perubahan dan ada kehitaman dan ia berkata : “Kenapa wahai Rasulullah?”. Maka Nabi berkata :“Karena kalian sering mengeluh dan banyak mengingkari kebaikan suami”. Maka para wanitapun bersedekah dari perhiasan mereka, mereka melemparkan perhiasan mereka ke baju Bilal, berupa anting-anting dan cincin-cincin mereka”Dalam riwayat Abu Sa’id Al-Khudri radhiallahu ‘anhu Rasulullah berkata : تُكْثِرْنَ اللَّعْنَ وَتَكْفُرْنَ الْعَشِيْرَ “Karena kalian banyak melaknat dan kalian banyak mengingkari kebaikan suami” Dalam riwayat Ibnu Umar radhiallahu ‘anhu Nabi berkata kepada mereka : يَا مَعْشَرَ النِّسَاءِ تَصَدَّقْنَ وَأَكْثِرْنَ الإِسْتِغْفَارَ ” “Wahai para wanita bersedekahlah kalian, dan perbanyaklah beristighfar kepada Allah”Karenanya para wanita, janganlah kalian melupakan kebaikan suami kalian, janganlah kalian suka mengeluh kepada suami kalian atau mengeluhkan tentang suami kalian, sesungguhnya kehidupan dunia penuh dengan kepayahan dan kesulitan dan tidak akan pernah ada kesempurnaan. Ingatlah suami kalian adalah surga atau neraka kalian sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallamفَإِنَّهُ جَنَّتُكِ أَوْ نَارُكِ“Sesungguhnya suamimu adalah surgamu atau nerakamu”.Jika suamimu ridho dan suka dengan sikapmu, bahagia tatkala  memandangmu, mendapatimu adalah seorang wanita yang sabar yang tidak suka mengeluh maka sungguh engkau telah membuka selebar-lebarnya pintu surga bagi dirimu. Akan tetapi jika perkaranya adalah sebaliknya, engkau adalah seorang istri yang suka mengeluh, lupa dengan kebaikan suamimu, maka sungguh engkau telah membuka selebar-lebarnya pintu neraka Jahannam bagi dirimu…!!Ingatlah jika engkau telah menikah maka engkau wajib berbakti kepada suamimu sebagaimana engkau wajib berbakti kepada kedua orang tuamu. Jika engkau -wahai wanita sholehah- merasa mendapatkan pahala yang besar tatkala menyenangkan hati ayah dan ibumu, maka demikian pula hendaknya engkau merasa mendapatkan pahala yang besar tatkala menyenangkan dan membahagiakan suamimu. Sebaliknya, jika engkau merasa berdosa besar tatkala membentak dan mengangkat suara di hadapan ayah dan ibumu, maka hendaknya engkau juga merasa berdosa tatkala mengangkat suara dan membentak suami.Allahu Akbar, Allahu Akbar Allahu Akbar, walillahi al-hamdu. Ma’syaro Muslimin….Ramadhan telah berlalu, lembaran baru kehidupan telah kita buka kembali…., catatan dan coretan hitam telah bersih….tantangan baru kembali hadir….Belenggu-belenggu syaitan telah terlepas…. Sebagaimana orang-orang yang berpuasa pada hari ini bergembira -karena meraih ampunan Allah-, maka demikian juga para pelaku maksiat juga ikut bergembira dengan berlalunya bulan Ramadhan. Para sahabat mereka dari kalangan syaitan telah terlepas belenggunya dan siap bekerjasama lagi dengan mereka. Para pelaku kemaksiatan kembali leluasa melancarkan godaan mereka.Sesungguhnya bulan Ramadhan ibarat pesantren kilat yang telah memperbaiki akhlak kita sebulan penuh, telah menggembleng kita untuk kuat sholat malam, mengajari kita untuk meninggalkan syahwat dan hawa nafsu karena Allah, maka sekarang tiba saatnya kita berhadapan dengan ujian…Apakah di sebelas bulan ke depan kita masih bisa menunjukan pelajaran-pelajaran dari Ramadhan sang guru mulia?, ataukah hilang dan lenyaplah nilai-nilai Ramadhan tersebut?Apakah sholat lima waktu secara berjama’ah di masjid masih bisa kita jaga?Apakah sholat malam -meskipun hanya sholat witir tiga raka’at atau bahkan hanya satu raka’at- masih bisa kita jaga?Lembaran-lembaran Al-Qur’an yang selama ini menemani kita di bulan Ramadhan apakah masih bisa tetap menemani kita di sebelas bulan ke depan?Ataukah semuanya telah berubah?, sholat kita mulai bolong-bolong dan mesjid-mesjid mulai kita tinggalkan?, sholat malam kita berganti mimpi-mimpi dalam tidur yang lelap?, Al-Qur’an tidak lagi menemani kita akan tetapi selalu menjadi hiasan indah di rak-rak kita?. Jika perkaranya demikian maka percayalah bahwa sesungguhnya pesantren Ramadhan yang kita jalani selama sebulan adalah pesantren yang gagal, ternyata petuah-petuah Ramadhan sang guru tidak kita indahkan lagi.========== doa ===========Ditulis oleh Ahmad Zainuddin Al Banjary dan Firanda AndirjaJumat, 26 Ramadhan 1437H, Banjarmasin KalSel.

Guru Itu Bernama Ramadhan

(Khutbah ‘Iedul Fithri)Allahu akbar Allahu akbar Allahu akbar walillahil hamd…Berbahagialah wahai para jamaah sekalian yang telah berpuasa…Yang telah menahan lapar dan dahaga karena Allah…Yang berletih-letih berdiri dalam shalat tarawih karena Allah…Yang membasahi lisan dan mengeringkan tenggorokan membaca ayat-ayat al-Qur’an karena Allah…Yang meneteskan air mata taubat karena takut dengan siksaNya dan berharap surgaNya…Semoga setetes air mata yang tulus menjadi sebab diampuni segala dosa….menjadikan lembaran catatan menjadi putih bersih kembali….Bergembiralah dengan ampunan Allah…Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, walillahil hamd.Wahai Kaum Muslim rahimakumullah (semoga Allah merahmati kita seluruhnya)…Ramadhan Bulan penuh berkah itu sudah berlalu…Ramadhan Bulan yang setiap malamnya merupakan malam pembebebasan dari  api neraka ternyata telah berlalu…Ramadhan Bulan yang di dalamnya dosa-dosa diampuni sudah berakhir….Ramadhan bulan yang di dalamnya doa-doa dikabulkan sudah lewat…Bulan Al Quran itu telah lewat…..Bulan berlomba dalam bersedekah itu telah habis…Bulan penuh perjuangan itu telah berakhir….Bulan Lailatul Qadar Malam yang lebih baik dari seribu bulan telah berlalu….Sungguh begitu cepat…. أَيَّامًا مَعْدُودَاتٍ “Hari-hari yang berbilang” (QS Al-Baqoroh : 184)Benar-benar Ramadhan tamu yang mulia itu telah pergi….Berbahagialah mereka, hamba-hamba Allah yang telah menahan lapar karena Allah…, menahan dahaga di tengah terik panasnya matahari…karena Allah…, menahan syahwatnya karena Allah….Berbahagialah mereka yang melawan kantuknya untuk melantunkan firman-firmanNya…., menahan kantuknya… menahan letihnya kaki dalam sholat malamnya karena mengharapkan keridhoan Allah….Berbahagialah mereka yang menyisihkan sebagian hartanya untuk diberikan kepada para faqir miskin, mengurangi beban mereka, memberikan secercah kebahagiaan kepada…semuanya karena Allah…Berbahagialah mereka yang telah meneteskan air matanya karena mengharapkan ampunanNya…di tengah malam tatkala mata-mata manusia pulas terlelap…Semoga setetes air mata yang mereka alirkan karena takut kepada Yang Maha Esa, karena berharap kepada Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, merupakan sebab diampuni seluruh dosa mereka…sebab masuknya mereka ke dalam surga Allah… Merekalah yang telah meraih janji Rasul yang paling Mulia Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, yang telah bersada :مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِBarang siapa yang berpuasa bulan Ramadhan dengan keimanan dan penuh pengharapan maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah laluAllahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, walillahil hamd…Wahai Kaum Muslim rahimakumullah (semoga kita selalu dirahmati Allah)…Ramadhan….tamu yang agung tersebut meninggalkan banyak pelajaran bagi kita semua…Pelajaran-pelajaran berharga agar kita bisa lebih baik menyambutnya dan menjamunya di kesempatan yang lain…di tahun-tahun berikutnya…Diantara pelajaran-pelajaran yang berharga tersebut…Pertama: BertakwaTujuan semuanya adalah meraih ketakwaan لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ “semoga kalian bertakwa”(QS Al-Baqoroh : 183)Ketakwaan adalah barometer penilaian Allah إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ “Sesungguhnya yang termulia diantara kalian adalah yang paling bertakwa”(QS Al-Hujuroot : 13)Sementara kebanyakan orang menjadikan barometer untuk mengukur nilai seseorang adalah dengan harta dan kedudukan, pangkat dan jabatan. Maka Ramadhan mengajarkan kepada kita agar tidak terpedaya dengan sanjugan dan penghormatan manusia terhadap kita. Percuma kita menjadi seseorang yang terpandang di mata masyarakat -karena harta dan jabatan kita- namun ternyata kita hina di hadapan Allah karena ketakwaan kita yang rendah. Bisa jadi orang yang kita rendahkan -karena merupakan pegawai dan pekerja kita- namun dia sangat mulia dan tinggi di sisi Allah, karena ketakwaan dan ketaatannya.Di dalam bulan Ramadhan kita lebih taat kepada Allah dalam melaksanakan kewajiban…. lebih takut kepada Allah sehingga lebih mudah menjauhi maksiat…. lebih semangat untuk banyak berdzikir dan membaca Al Quran…kita bisa lebih bertakwa kepada Allah….Apakah setelah Ramadhan berlalu kita masih bisa bertakwa kepada Allah…? Sesungguhnya Tuhan yang kita sembah di bulan Ramadhan Dialah pula Tuhan yang kita sembah di bulan-bulan yang lain. Sungguh celaka hamba yang hanya bertakwa, hanya mengenal Rabbnya tatkala di bulan Ramadhan saja.Kedua: IkhlashWahai kaum muslimin rahimakumullah (semoga Allah merahmati kita seluruhnya)…Ramadhan menggembleng kita untuk ikhlash kepada Allah.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda tentang keistimewaan:كُلُّ عمل بن آدَمَ لَهُ إِلَّا الصِّيَامَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ“Seluruh amal anak Adam adalah untuknya kecuali puasa, karena puasa adalah untuk-Ku, dan Aku yang akan mengganjarnya”(HR Ibnu Hibban no 3422)Allah menyatakan bahwa khusus puasa adalah untuk Allah, karena seluruh amalan bisa dilihat oleh orang lain melaui gerakannya, seperti sholat, sedekah, wudhu, haji, umroh, menyembelih kurban, dll, kecuali puasa. Orang lain tidak mengetahui bahwa kita sedang puasa kecuali jika kita kabarkan dengan lisan, adapun secara gerakan maka tidak bisa diketahui. Dari sini dikatakan bahwa puasa tidak bisa kemasukan riyaa’ (lihat Fathul Baari 4/107)Ternyata inilah yang menjadikan puasa spesial dan sangat dicintai Allah serta diberi ganjaran yang sangat besar, karena tingginya nilai keikhlasan dalam puasa.Berkata Syeikh Ibnu Ustaimin rahimahullah:“وَهَذَا الحديثُ الجليلُ يدُلُّ على فضيلةِ الصومِ من وجوهٍ عديدةٍ :الوجه الأول : أن الله اختصَّ لنفسه الصوم من بين سائرِ الأعمال ، وذلك لِشرفِهِ عنده ، ومحبَّتهِ له ، وظهور الإِخلاصِ له سبحانه فيه ، لأنه سِرُّ بَيْن العبدِ وربِّه لا يطَّلعُ عليه إلاّ الله . فإِن الصائمَ يكون في الموضِعِ الخالي من الناس مُتمكِّناً منْ تناوُلِ ما حرَّم الله عليه بالصيام ، فلا يتناولُهُ ؛ لأنه يعلم أن له ربّاً يطَّلع عليه في خلوتِه ، وقد حرَّم عَلَيْه ذلك ، فيترُكُه لله خوفاً من عقابه ، ورغبةً في ثوابه ، فمن أجل ذلك شكر اللهُ له هذا الإِخلاصَ ، واختصَّ صيامَه لنفْسِه من بين سَائِرِ أعمالِهِ ولهذا قال : ( يَدعُ شهوتَه وطعامَه من أجْلي ) .“Dan hadits yang agung ini menuinjukkan keutamaan puasa dari beberapa sisi;Yang pertama: Bahwa Allah mengkhususkan untuk diri-Nya puasa dari antara seluruh amalan, dan demikian itu karena kemuliaannya disisi-Nya dan kecintaan-Nya kepada puasa, dan terlihat ikhlas kepada-Nya Maha Suci Allah di dalamnya, karena ia adalah rahasia antara seorang hamba dengan Rabb-Nya, tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah, karena seorang yang berpuasa ia berada disebuah temapt yang kosong dari orang-orang, memungkin baginya untuk mengkonsumsi apa yang diharamkan Allah atasnya dengan puasa, lalu ia tidak menkonsumsinya, karena ia mengetahui bahwa ia memiliki seorang Rabb yang mengetahui dalam kesendiriannya, dan Allah telah mengharamkan hal itu atasnya, maka ia meninggalkannya karena Allah karena takut akan siksa-Nya, berharap pahala-Nya, oleh sebab inilah Allah mensyukurinya keikhlasan ini  dan mengkhususkan puasanya untuk diri-Nya dibandingkan seluruh amalannya, oleh sebab inilah Allah berfirman: “Ia meninggakan syahwat dan makanannya karena Aku.” (Lihat kitab Majalis Syahri Ramadhan, hal. 13).Sebagaimana perkataan Ibnul Mubaarok :رُبَّ عَمَلٍ صَغِيرٍ تُعَظِّمُهُ النِّيَّةُ، وَرُبَّ عَمَلٍ كَبِيرٍ تُصَغِّرُهُ النِّيَّةُ“Betapa banyak amal yang kecil menjadi besar karena niat yang ikhlash, dan sebaliknya betapa banyak amal yang besar menjadi kecil karena niat yang kurang ikhlash” (Jaamiúl Úluum wal Hikam 1/71)Orang yang semakin ikhlash maka semakin meraih syafaat Nabi shallallahu álaihi wasallam. Abu Hurairah pernah bertanya kepada Nabi shallallahu álaihi wasallam :يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَنْ أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِكَ يَوْمَ القِيَامَةِ؟“Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling bahagia (yaitu yang paling mendapatkan bagian besar) dari syafaatmu pada hari kiamat?”.Nabi menjawab :أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِي يَوْمَ القِيَامَةِ مَنْ قَالَ: لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، خَالِصًا مِنْ قَلْبِهِ”Orang yang paling bahagia mendapatkan syafaatku pada hari kiamat adalah orang yang mengucapkan Laa ilaaha illallahu dengan ikhlash dari hatinya”(HR Al-Bukhari no 99)Ibnu Hajar menjelaskan bahwa ini menunjukan bahwa keikhlasan bertingkat-tingkat yang menyebabkan meraih syafaat Nabi juga bertingkat-tingkat (lihat Fathul Baari 11/443).Maka semakin anda tidak mengharapkan sanjungan, pujian, dan pengakuan manusia, maka bergembiralah berarti anda semakin ikhlash, berarti anda semakin meraih syafaat Nabi shallallahu álaihi wasallam pada hari kiamat kelak. Adapun jika sebaliknya anda semakin terpedaya dengan sanjungan dan pujian manusia maka anda semakin terjauhkan dari syafaat Nabi shallallahu álahi wasallam.Ketiga: Murooqobah, Selalu Merasa Diawasi Allah TaalaAllahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, walillahil hamd.Ma’aasyirol Muslimin, Wahai kaum muslimin rahimahkumullah…Di dalam bulan Ramadhan, karena kita berpuasa, maka kita tahan makan dan minum serta seluruh hal yang membatalkan puasa dari mulai terbit fajar kedua sampai terbenam matahari. Meskipun tatkala kita sedang bersendirian, dan dalam kondisi kita yakin bahwa tak seorangpun melihat kita, tidak ada cctv yang merekam kita. Ini semua mampu kita lakukan karena kita tahu dan sadar bahwa Allah melihat apa yang kita kerjakan. Inilah yang disebut dengan murooqobah “merasa diawasi dan dilihat oleh Allah”Maka hendaknya -tatkala sedang bersendirian- kita merasa selalu di awasi oleh Allah baik di dalam rumah, di kantor, di pasar, di masjid, dan dimanapun kita beradaAllah Taala berfirman:{يَعْلَمُ خَائِنَةَ الْأَعْيُنِ وَمَا تُخْفِي الصُّدُورُ}Artinya: “Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati.” QS. GHafir: 16.Jangankan gerakan tangan, kaki, dan anggota tubuh yang lainnya, bahkan gerakan mata, lirikan mata yang digunakan untuk melihat perkara yang haram-pun Allah mencatatnya. Jangankan gerakan mata, bahkan gerakan hati pun Allah mengetahuinya.{إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا}Artinya: “Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” QS. An Nisa: 1.{أَوَلَا يَعْلَمُونَ أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا يُسِرُّونَ وَمَا يُعْلِنُونَ}Artinya: “Tidakkah mereka mengetahui bahwa Allah mengetahui segala yang mereka sembunyikan dan segala yang mereka nyatakan?.” (QS. AL Baqarah: 77).Bahkan seseorang bukan hanya merasa diawasi oleh Allah dalam gerak-geriknya, bahkan hendaknya ia juga merasa diawasi oleh Allah akan gerak-gerik hatinya, apa yang terbetik dalam hatinya. Hendaknya dia berhati-hati, jika dia riya’(ingin dipuji), jika dia dengki dan hasad, jika dia berburuk sangka, ketahuilah bahwasanya Allah mengetahuinya meski tidak seorangpun yang mengetahuinya.Sesungguhnya orang yang merasa diawasi oleh Allah tatkala bersendirian akan diampuni dosa-dosanya.إِنَّ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ بِالْغَيْبِ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَأَجْرٌ كَبِيرٌSesungguhnya orang-orang yang takut kepada Tuhannya tatkala mereka bersendirian, mereka akan memperoleh ampunan dan pahala yang besar (QS Al-Mulk : 12)Bahkan dimasukan ke dalam surga{وَأُزْلِفَتِ الْجَنَّةُ لِلْمُتَّقِينَ غَيْرَ بَعِيدٍ (31) هَذَا مَا تُوعَدُونَ لِكُلِّ أَوَّابٍ حَفِيظٍ (32) مَنْ خَشِيَ الرَّحْمَنَ بِالْغَيْبِ وَجَاءَ بِقَلْبٍ مُنِيبٍ (33) ادْخُلُوهَا بِسَلَامٍ ذَلِكَ يَوْمُ الْخُلُودِ (34) لَهُمْ مَا يَشَاءُونَ فِيهَا وَلَدَيْنَا مَزِيدٌ (35)}Artinya: “Dan didekatkanlah surga itu kepada orang-orang yang bertakwa pada tempat yang tiada jauh (dari mereka).” “Inilah yang dijanjikan kepadamu, (yaitu) kepada setiap hamba yang selalu kembali (kepada Allah) lagi memelihara (semua peraturan-peraturan-Nya).” “(Yaitu) orang yang takut kepada Tuhan Yang Maha Pemurah tatkala dia bersendirian dan dia datang dengan hati yang bertobat.” “Masukilah surga itu dengan aman, itulah hari kekekalan.” “Mereka di dalamnya memperoleh apa yang mereka kehendaki; dan pada sisi Kami ada tambahannya.” (QS. Qaaf: 31-35).Betapa sering sebagian kita tatkala di hadapan banyak orang ia menjadi benar-benar sholih memusuhi Iblis, akan tetapi tatkala besendirian ia menjadi kawan iblis.Keempat: Sabar dari puasaRamadhan melalui puasanya mengajari kita untuk bersabar dengan tiga jenis kesabaran, yaitu (1) sabar dalam mengerjakan ketaatan, (2) sabar dalam menjauhi maksiat dan (3) sabar dalam menghadapi ujian.Tatkala berpuasa Ramadhan seseorang diajari sabar dalam mengerjakan ketaatan dan menjauhi maksiat, karena seseorang menahan makan, minum serta syahwat tatkala puasa. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِى وَأَنَا أَجْزِى بِهِ يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِىArtinya: “Setiap amalan anak Adam akan dilipatkan pahalanya, satu kebaikan dilipatkan menjadi sepuluh kali lipat sampai kepada tujuh ratus lipat, Allah Azza wa Jalla berfirman: “Kecuali puasa, sesungguhnya ia adalah milik-Ku dan Aku yang akan mengganjar pahalanya, ia meninggalkan syahwat dan makannya karena-Ku.” (HR. Muslim).Dengan Puasa Ramadhan seseorang bersabar dalam mengerjakan ketaatan, karena tatkala berpuasa wajib menahan makan dan minum serta seluruh yang membatalkan puasa, disinilah letak pembelajarannya tentang sabar dalam menjalankan ketaatan.Dengan puasa Ramadhan seseorang bersabar dalam menjauhi maksiat, karena tatkala berpuasa wajib menjauhi hal-hal yang membatalkan puasa bahkan wajib menjauhi hal-hal yang mengurangi pahala puasa, disinilah letak pembelajarannya tentang sabar dalam menjauhi dan meninggalkan kemaksiatan.Dengan puasa Ramadhan seseorang belajar bersabar dalam menghadapi ujian dari Allah Ta’ala, karena tatkala puasa ia menahan lapar dan haus, dan itu adalah ujian yang Allah berikan, disinilah letak pembelajarannya tentang sabar dalam menghadapi ujian.Ketiga bentuk kesabaran ini bukanlah perkara yang mudah, butuh perjuangan untuk melaksanakannya. Terlebih di zaman sekarang ini, yang godaan begitu luar biasa, syahwat tersebar di mana-mana, terlebih lagi di media-media sosial.Kelima: BersyukurWahai kaum muslimin rahimahukumullah (semoga Allah Ta’ala selalu merahmati kita seluruhnya)Puasa Ramadhan memberikan pelajaran kepada dan menjadi sarana untuk kita agar menjadi hamba Allah yang pandai bersyukur sebagaiamana yang diinginkan oleh Allah Ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam.Allah berfirman:أَنِ اشْكُرْ لِيBersyukurlah kepada-Ku (QS. Luqman:14).فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِKarena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku (QS Al-Baqoroh : 152)Tatkala seorang berpuasa Ramadhan maka ia merasakan lapar dan haus, yang mana tatkala seseorang dala hari-hari biasa ia tidak merasakan hal tersebut, dan tatkala nikmat hilang dari diri seseorang maka akirnya ia tahu berapa besar kadar nikmat tersebut.Puasa mengajarkan kepada kita untuk mensyukuri nikmat, karena betapa sering seseorang tidak bisa benar-benar merasakan agungnya suatu kenikmatan kecuali tatkala kenikmatan itu dicabut dan hilang.Kita baru merasakan betapa besar nikmat makan dan minum tatkala kita kelaparan dan kehausan. Betapa sering kita tidak merasakan nikmat memandang, nikmat mendengar, nikmat kesehatan….nikmat berkeluarga…, nikmat memiliki istri dan anak…, nikmat hidup di negeri yang aman dan tentram…Coba kita lihat bagaimana orang yang buta, orang yang tuli…bagaimana dengan saudara-saudara kita yang hidup di negara konflik, negara perang, yang mereka bisa jadi merayakan lebaran dengan lapar dan dahaga, dengan suara bom dan tembakan…Dengan berpuasa kita bisa menjadi lebih peka terhadap orang-orang miskin. Bahkan kita merasakan bagaimana susahnya menahan syahwat padahal hanya dari subuh hingga magrib, lantas bagaimana kah dengan seorang janda atau duda atau jomblo yang tidak bisa menyalurkan syahwat mereka bertahun-tahun?, bahkan ada yang hingga meninggal dunia tidak bisa menyalurkan syahwatnya?Sungguh betapa banyak nikmat yang Allah berikan kepada kita, bahkan kenikmatan-kenikmatan yang tidak pernah kita minta, Allah memberikannya kepada kita karena Dialah yang lebih tahu tentang apa yang lebih maslahat bagi kita.Demikian juga betapa banyak doa kita yang telah dikabulkan oleh Allah.{وَآتَاكُمْ مِنْ كُلِّ مَا سَأَلْتُمُوهُ وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَتَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا إِنَّ الْإِنْسَانَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ}Artinya: “Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dari segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat lalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).” (QS. Ibrahim: 34).Janganlah menjadi seorang yang kanuud (sangat ingkar), sebagaimana yang disebutkan oleh Allah إِنَّ الْإِنْسَانَ لِرَبِّهِ لَكَنُودٌ “Sesungguhnya manusia itu sangat ingkar (tidak bersyukur) kepada Tuhannya” (QS Al-Áadiyaat : 6)Al-Hasan al-Bashri berkata tentang ayat ini :هُوَ الْكُفُورُ الَّذِي يَعُدُّ الْمَصَائِبَ، وَيَنْسَى نِعَمَ رَبِّهِ“الكَنُوْدُ adalah orang yang menghitung-hitung (mengingat-ingat) musibah dan melupakan kenikmatan dan anugrah dari Rabbnya” (Tafsir At-Thobari 24/585)Al-Fudhoil bin ‘Iyaad berkata :الْكَنُودُ” الَّذِي أَنْسَتْهُ الْخَصْلَةُ، الْوَاحِدَةُ مِنَ الْإِسَاءَةِ الْخِصَالَ الْكَثِيرَةَ مِنَ الْإِحْسَانِ، وَ”الشَّكُورُ”: الَّذِي أَنْسَتْهُ الْخَصْلَةُ الْوَاحِدَةُ مِنَ الْإِحْسَانِ الْخِصَالَ الْكَثِيرَةَ مِنَ الْإِسَاءَةِ“الكَنُوْدُ adalah orang satu sikap buruh saja maka telah menjadikannya melupakan kebaikan yang banyak. Dan الشَّكُورُ “yang pandai bersyukur/berterima kasih” adalah yang satu kebaikan membuatnya lupa dengan banyaknya keburukan” (Tafsir al-Baghowi 8/509)Orang yang seperti ini kerjaannya selalu mengeluh. Ketika ia sakit seminggu saja maka iapun selalu mengeluh, ia lupa bahwa selama ini berbulan-bulan bahkan mungkin setahun ia telah diberi kenikmatan sehat oleh Allah. Sebagaimana juga seeorang yang diberi kesulitan ekonomi setahun lantas ia selalu mengeluh, dia lupa padahal selama ini bertahun-tahun lamanya Allah selalu memberikan kepadanya kelapangan ekonomi.Keenam : Latihan bersendirian dengan AllahDiantara ibadah yang agung di bulan Ramadhan adalah i’tikaf di 10 hari yang terakhir. Dan hakikat i’tikaf adalah :قَطْعُ الْعَلاَئِقِ عَنِ الْخَلاَئِقِ لِلإِتِّصَالِ بِخِدْمَةِ الْخَالِقِ“Memutuskan relasi dengan makhluk untuk bisa menyambung koneksi untuk beribadah kepada al-Kholiq/sang pencipta”(Lathooiful Maáarif hal 191)Kita sering merasa tentram dan bahagia tatkala kita berinteraksi dan berkomunikasi dengan yang lain. Dan ini adalah hal yang sangat wajar karena asalnya kita adalah makhluk social. Akan tetapi seseorang hendaknya melatih diri untuk terkadang bisa terbiasa merasa tentram dan tenang tatkala berkholwat (bersendirian) dengan Allah.Hal ini karena jika kita telah masuk liang lahad maka tidak ada seorang manusiapun yang akan menemani kita, istri dan anak semuanya tidak akan ikut kita di dalam kuburan.Padahal waktu kita dikuburan lebih lama dari waktu kita hidup di dunia. Yang menemani kita adalah amal sholihnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :يَتْبَعُ المَيِّتَ ثَلاَثَةٌ، فَيَرْجِعُ اثْنَانِ وَيَبْقَى مَعَهُ وَاحِدٌ: يَتْبَعُهُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَعَمَلُهُ، فَيَرْجِعُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَيَبْقَى عَمَلُهُ“Mayat diikuti oleh 3 perkara, yang dua kembali dan yang tetap bersamanya hanya satu. Mayat akan diikuti oleh keluarganya, hartanya, dan amalnya. Maka keluarga dan hartanya akan kembali (tidak menyertainya di kuburan) dan tetap tinggal amalnya (menyertainya di kuburan)”(HR Al-Bukhari no 6514 dan Muslim no 2960)Anak dan istrinya yang sangat mencintainya dan yang sangat ia cintai, yang ketiga hidup pernah bertekad untuk sehidup semati tidak akan setia menemaninya di kuburan. Harta yang ia kumpulkan selama ini tidak akan ia bawa, ia hanya membawa secarik kafan yang dililitkan di tubuhnya. Maka hendaknya seseorang sering melatih diri untuk bisa tentram dengan berkholwat (bersendirian) bersama Allah dengan i’tikaf dan amal yang lainnya seperti sholat malam, sebagaimana sabda Nabi :وَصَلُّوا بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ بِسَلام» “Dan sholat malamlah tatkala orang-orang sedang tidur, niscaya kalian masuk surga dengan penuh keselamatan.” (HR. At-Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad, dan Al-Hakim, dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam As-Shahihah no. 569)Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, walillahil hamd.Para ibu-ibu sekalian, sungguh tatkala Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkhutbah ‘ied maka beliau mengkhususkan sebuah nasehat untuk kalian wahai kaum Hawa.Jabir bin Abdillah radhiallahu ‘anhu beliau berkata :شَهِدْتُ مَعَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الصَّلاَةَ يَوْمَ الْعِيْدِ فَبَدَأَ بِالصَّلاَةِ قَبْلَ الْخُطْبَةِ بِغَيْرِ أَذَانٍ وَلاَ إِقَامَةٍ ثُمَّ قَامَ مُتَوَكِّئًا عَلَى بِلاَلٍ فَأَمَرَ بِتَقْوَى اللهِ وَحَثَّ عَلَى طَاعَتِهِ وَوَعَظَ النَّاسَ وَذَكَّرَهُمْ ثَمَ مَضَى حَتَّى أَتَى النِّسَاءَ فَوَعَظَهُنَّ وَذَكَّرَهُنَّ فَقَالَ : تَصَدَّقْنَ فَإِنَّ أَكْثَرَكُنَّ حَطَبُ جَهَنَّمَ. فَقَامَتْ امْرَأَةٌ مِنْ وَسَطِ النِّسَاءِ سَفْعَاءَ الْخَدَّيْنِ فَقَالَتْ : لِمَ يَارَسُوْلَ اللهِ ؟ قَالَ : لِأَنَّكُنَّ تُكْثِرْنَ الشَّكَاةَ وَتَكْفُرْنَ الْعَشِيْرَ قَالَ : فَجَعَلْنَ يَتَصَدَّقْنَ مِنْ حُلِيِّهِنَّ يُلْقِيْنَ فِي ثَوْبِ بِلاَلٍ مِنْ أَقْرَاطِهِنَّ وَخَوَاتِمِهِنَّ“Aku bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menghadiri sholat pada hari raya, maka beliau memulai dengan sholat sebelu khutbah tanpa adzan dan iqomah, lalu beliau bertelekan kepada Bilal dan beliau memerintahkan untuk bertakwa dan mendorong untuk ta’at kepada Allah dan beliau menasehati orang-orang dan mengingatkan mereka. Setelah itu beliau berjalan menuju para wanita lalu beliau menasehati mereka dan mengingatkan mereka, beliau berkata : “Hendaknya kalian bersedekah, sesungguhnya kalian adalah mayoritas pembakar neraka Jahannam”. Maka diantara para wanita berdirilah seorang wanita yang kedua pipinya ada perubahan dan ada kehitaman dan ia berkata : “Kenapa wahai Rasulullah?”. Maka Nabi berkata :“Karena kalian sering mengeluh dan banyak mengingkari kebaikan suami”. Maka para wanitapun bersedekah dari perhiasan mereka, mereka melemparkan perhiasan mereka ke baju Bilal, berupa anting-anting dan cincin-cincin mereka”Dalam riwayat Abu Sa’id Al-Khudri radhiallahu ‘anhu Rasulullah berkata : تُكْثِرْنَ اللَّعْنَ وَتَكْفُرْنَ الْعَشِيْرَ “Karena kalian banyak melaknat dan kalian banyak mengingkari kebaikan suami” Dalam riwayat Ibnu Umar radhiallahu ‘anhu Nabi berkata kepada mereka : يَا مَعْشَرَ النِّسَاءِ تَصَدَّقْنَ وَأَكْثِرْنَ الإِسْتِغْفَارَ ” “Wahai para wanita bersedekahlah kalian, dan perbanyaklah beristighfar kepada Allah”Karenanya para wanita, janganlah kalian melupakan kebaikan suami kalian, janganlah kalian suka mengeluh kepada suami kalian atau mengeluhkan tentang suami kalian, sesungguhnya kehidupan dunia penuh dengan kepayahan dan kesulitan dan tidak akan pernah ada kesempurnaan. Ingatlah suami kalian adalah surga atau neraka kalian sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallamفَإِنَّهُ جَنَّتُكِ أَوْ نَارُكِ“Sesungguhnya suamimu adalah surgamu atau nerakamu”.Jika suamimu ridho dan suka dengan sikapmu, bahagia tatkala  memandangmu, mendapatimu adalah seorang wanita yang sabar yang tidak suka mengeluh maka sungguh engkau telah membuka selebar-lebarnya pintu surga bagi dirimu. Akan tetapi jika perkaranya adalah sebaliknya, engkau adalah seorang istri yang suka mengeluh, lupa dengan kebaikan suamimu, maka sungguh engkau telah membuka selebar-lebarnya pintu neraka Jahannam bagi dirimu…!!Ingatlah jika engkau telah menikah maka engkau wajib berbakti kepada suamimu sebagaimana engkau wajib berbakti kepada kedua orang tuamu. Jika engkau -wahai wanita sholehah- merasa mendapatkan pahala yang besar tatkala menyenangkan hati ayah dan ibumu, maka demikian pula hendaknya engkau merasa mendapatkan pahala yang besar tatkala menyenangkan dan membahagiakan suamimu. Sebaliknya, jika engkau merasa berdosa besar tatkala membentak dan mengangkat suara di hadapan ayah dan ibumu, maka hendaknya engkau juga merasa berdosa tatkala mengangkat suara dan membentak suami.Allahu Akbar, Allahu Akbar Allahu Akbar, walillahi al-hamdu. Ma’syaro Muslimin….Ramadhan telah berlalu, lembaran baru kehidupan telah kita buka kembali…., catatan dan coretan hitam telah bersih….tantangan baru kembali hadir….Belenggu-belenggu syaitan telah terlepas…. Sebagaimana orang-orang yang berpuasa pada hari ini bergembira -karena meraih ampunan Allah-, maka demikian juga para pelaku maksiat juga ikut bergembira dengan berlalunya bulan Ramadhan. Para sahabat mereka dari kalangan syaitan telah terlepas belenggunya dan siap bekerjasama lagi dengan mereka. Para pelaku kemaksiatan kembali leluasa melancarkan godaan mereka.Sesungguhnya bulan Ramadhan ibarat pesantren kilat yang telah memperbaiki akhlak kita sebulan penuh, telah menggembleng kita untuk kuat sholat malam, mengajari kita untuk meninggalkan syahwat dan hawa nafsu karena Allah, maka sekarang tiba saatnya kita berhadapan dengan ujian…Apakah di sebelas bulan ke depan kita masih bisa menunjukan pelajaran-pelajaran dari Ramadhan sang guru mulia?, ataukah hilang dan lenyaplah nilai-nilai Ramadhan tersebut?Apakah sholat lima waktu secara berjama’ah di masjid masih bisa kita jaga?Apakah sholat malam -meskipun hanya sholat witir tiga raka’at atau bahkan hanya satu raka’at- masih bisa kita jaga?Lembaran-lembaran Al-Qur’an yang selama ini menemani kita di bulan Ramadhan apakah masih bisa tetap menemani kita di sebelas bulan ke depan?Ataukah semuanya telah berubah?, sholat kita mulai bolong-bolong dan mesjid-mesjid mulai kita tinggalkan?, sholat malam kita berganti mimpi-mimpi dalam tidur yang lelap?, Al-Qur’an tidak lagi menemani kita akan tetapi selalu menjadi hiasan indah di rak-rak kita?. Jika perkaranya demikian maka percayalah bahwa sesungguhnya pesantren Ramadhan yang kita jalani selama sebulan adalah pesantren yang gagal, ternyata petuah-petuah Ramadhan sang guru tidak kita indahkan lagi.========== doa ===========Ditulis oleh Ahmad Zainuddin Al Banjary dan Firanda AndirjaJumat, 26 Ramadhan 1437H, Banjarmasin KalSel.
(Khutbah ‘Iedul Fithri)Allahu akbar Allahu akbar Allahu akbar walillahil hamd…Berbahagialah wahai para jamaah sekalian yang telah berpuasa…Yang telah menahan lapar dan dahaga karena Allah…Yang berletih-letih berdiri dalam shalat tarawih karena Allah…Yang membasahi lisan dan mengeringkan tenggorokan membaca ayat-ayat al-Qur’an karena Allah…Yang meneteskan air mata taubat karena takut dengan siksaNya dan berharap surgaNya…Semoga setetes air mata yang tulus menjadi sebab diampuni segala dosa….menjadikan lembaran catatan menjadi putih bersih kembali….Bergembiralah dengan ampunan Allah…Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, walillahil hamd.Wahai Kaum Muslim rahimakumullah (semoga Allah merahmati kita seluruhnya)…Ramadhan Bulan penuh berkah itu sudah berlalu…Ramadhan Bulan yang setiap malamnya merupakan malam pembebebasan dari  api neraka ternyata telah berlalu…Ramadhan Bulan yang di dalamnya dosa-dosa diampuni sudah berakhir….Ramadhan bulan yang di dalamnya doa-doa dikabulkan sudah lewat…Bulan Al Quran itu telah lewat…..Bulan berlomba dalam bersedekah itu telah habis…Bulan penuh perjuangan itu telah berakhir….Bulan Lailatul Qadar Malam yang lebih baik dari seribu bulan telah berlalu….Sungguh begitu cepat…. أَيَّامًا مَعْدُودَاتٍ “Hari-hari yang berbilang” (QS Al-Baqoroh : 184)Benar-benar Ramadhan tamu yang mulia itu telah pergi….Berbahagialah mereka, hamba-hamba Allah yang telah menahan lapar karena Allah…, menahan dahaga di tengah terik panasnya matahari…karena Allah…, menahan syahwatnya karena Allah….Berbahagialah mereka yang melawan kantuknya untuk melantunkan firman-firmanNya…., menahan kantuknya… menahan letihnya kaki dalam sholat malamnya karena mengharapkan keridhoan Allah….Berbahagialah mereka yang menyisihkan sebagian hartanya untuk diberikan kepada para faqir miskin, mengurangi beban mereka, memberikan secercah kebahagiaan kepada…semuanya karena Allah…Berbahagialah mereka yang telah meneteskan air matanya karena mengharapkan ampunanNya…di tengah malam tatkala mata-mata manusia pulas terlelap…Semoga setetes air mata yang mereka alirkan karena takut kepada Yang Maha Esa, karena berharap kepada Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, merupakan sebab diampuni seluruh dosa mereka…sebab masuknya mereka ke dalam surga Allah… Merekalah yang telah meraih janji Rasul yang paling Mulia Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, yang telah bersada :مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِBarang siapa yang berpuasa bulan Ramadhan dengan keimanan dan penuh pengharapan maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah laluAllahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, walillahil hamd…Wahai Kaum Muslim rahimakumullah (semoga kita selalu dirahmati Allah)…Ramadhan….tamu yang agung tersebut meninggalkan banyak pelajaran bagi kita semua…Pelajaran-pelajaran berharga agar kita bisa lebih baik menyambutnya dan menjamunya di kesempatan yang lain…di tahun-tahun berikutnya…Diantara pelajaran-pelajaran yang berharga tersebut…Pertama: BertakwaTujuan semuanya adalah meraih ketakwaan لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ “semoga kalian bertakwa”(QS Al-Baqoroh : 183)Ketakwaan adalah barometer penilaian Allah إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ “Sesungguhnya yang termulia diantara kalian adalah yang paling bertakwa”(QS Al-Hujuroot : 13)Sementara kebanyakan orang menjadikan barometer untuk mengukur nilai seseorang adalah dengan harta dan kedudukan, pangkat dan jabatan. Maka Ramadhan mengajarkan kepada kita agar tidak terpedaya dengan sanjugan dan penghormatan manusia terhadap kita. Percuma kita menjadi seseorang yang terpandang di mata masyarakat -karena harta dan jabatan kita- namun ternyata kita hina di hadapan Allah karena ketakwaan kita yang rendah. Bisa jadi orang yang kita rendahkan -karena merupakan pegawai dan pekerja kita- namun dia sangat mulia dan tinggi di sisi Allah, karena ketakwaan dan ketaatannya.Di dalam bulan Ramadhan kita lebih taat kepada Allah dalam melaksanakan kewajiban…. lebih takut kepada Allah sehingga lebih mudah menjauhi maksiat…. lebih semangat untuk banyak berdzikir dan membaca Al Quran…kita bisa lebih bertakwa kepada Allah….Apakah setelah Ramadhan berlalu kita masih bisa bertakwa kepada Allah…? Sesungguhnya Tuhan yang kita sembah di bulan Ramadhan Dialah pula Tuhan yang kita sembah di bulan-bulan yang lain. Sungguh celaka hamba yang hanya bertakwa, hanya mengenal Rabbnya tatkala di bulan Ramadhan saja.Kedua: IkhlashWahai kaum muslimin rahimakumullah (semoga Allah merahmati kita seluruhnya)…Ramadhan menggembleng kita untuk ikhlash kepada Allah.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda tentang keistimewaan:كُلُّ عمل بن آدَمَ لَهُ إِلَّا الصِّيَامَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ“Seluruh amal anak Adam adalah untuknya kecuali puasa, karena puasa adalah untuk-Ku, dan Aku yang akan mengganjarnya”(HR Ibnu Hibban no 3422)Allah menyatakan bahwa khusus puasa adalah untuk Allah, karena seluruh amalan bisa dilihat oleh orang lain melaui gerakannya, seperti sholat, sedekah, wudhu, haji, umroh, menyembelih kurban, dll, kecuali puasa. Orang lain tidak mengetahui bahwa kita sedang puasa kecuali jika kita kabarkan dengan lisan, adapun secara gerakan maka tidak bisa diketahui. Dari sini dikatakan bahwa puasa tidak bisa kemasukan riyaa’ (lihat Fathul Baari 4/107)Ternyata inilah yang menjadikan puasa spesial dan sangat dicintai Allah serta diberi ganjaran yang sangat besar, karena tingginya nilai keikhlasan dalam puasa.Berkata Syeikh Ibnu Ustaimin rahimahullah:“وَهَذَا الحديثُ الجليلُ يدُلُّ على فضيلةِ الصومِ من وجوهٍ عديدةٍ :الوجه الأول : أن الله اختصَّ لنفسه الصوم من بين سائرِ الأعمال ، وذلك لِشرفِهِ عنده ، ومحبَّتهِ له ، وظهور الإِخلاصِ له سبحانه فيه ، لأنه سِرُّ بَيْن العبدِ وربِّه لا يطَّلعُ عليه إلاّ الله . فإِن الصائمَ يكون في الموضِعِ الخالي من الناس مُتمكِّناً منْ تناوُلِ ما حرَّم الله عليه بالصيام ، فلا يتناولُهُ ؛ لأنه يعلم أن له ربّاً يطَّلع عليه في خلوتِه ، وقد حرَّم عَلَيْه ذلك ، فيترُكُه لله خوفاً من عقابه ، ورغبةً في ثوابه ، فمن أجل ذلك شكر اللهُ له هذا الإِخلاصَ ، واختصَّ صيامَه لنفْسِه من بين سَائِرِ أعمالِهِ ولهذا قال : ( يَدعُ شهوتَه وطعامَه من أجْلي ) .“Dan hadits yang agung ini menuinjukkan keutamaan puasa dari beberapa sisi;Yang pertama: Bahwa Allah mengkhususkan untuk diri-Nya puasa dari antara seluruh amalan, dan demikian itu karena kemuliaannya disisi-Nya dan kecintaan-Nya kepada puasa, dan terlihat ikhlas kepada-Nya Maha Suci Allah di dalamnya, karena ia adalah rahasia antara seorang hamba dengan Rabb-Nya, tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah, karena seorang yang berpuasa ia berada disebuah temapt yang kosong dari orang-orang, memungkin baginya untuk mengkonsumsi apa yang diharamkan Allah atasnya dengan puasa, lalu ia tidak menkonsumsinya, karena ia mengetahui bahwa ia memiliki seorang Rabb yang mengetahui dalam kesendiriannya, dan Allah telah mengharamkan hal itu atasnya, maka ia meninggalkannya karena Allah karena takut akan siksa-Nya, berharap pahala-Nya, oleh sebab inilah Allah mensyukurinya keikhlasan ini  dan mengkhususkan puasanya untuk diri-Nya dibandingkan seluruh amalannya, oleh sebab inilah Allah berfirman: “Ia meninggakan syahwat dan makanannya karena Aku.” (Lihat kitab Majalis Syahri Ramadhan, hal. 13).Sebagaimana perkataan Ibnul Mubaarok :رُبَّ عَمَلٍ صَغِيرٍ تُعَظِّمُهُ النِّيَّةُ، وَرُبَّ عَمَلٍ كَبِيرٍ تُصَغِّرُهُ النِّيَّةُ“Betapa banyak amal yang kecil menjadi besar karena niat yang ikhlash, dan sebaliknya betapa banyak amal yang besar menjadi kecil karena niat yang kurang ikhlash” (Jaamiúl Úluum wal Hikam 1/71)Orang yang semakin ikhlash maka semakin meraih syafaat Nabi shallallahu álaihi wasallam. Abu Hurairah pernah bertanya kepada Nabi shallallahu álaihi wasallam :يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَنْ أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِكَ يَوْمَ القِيَامَةِ؟“Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling bahagia (yaitu yang paling mendapatkan bagian besar) dari syafaatmu pada hari kiamat?”.Nabi menjawab :أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِي يَوْمَ القِيَامَةِ مَنْ قَالَ: لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، خَالِصًا مِنْ قَلْبِهِ”Orang yang paling bahagia mendapatkan syafaatku pada hari kiamat adalah orang yang mengucapkan Laa ilaaha illallahu dengan ikhlash dari hatinya”(HR Al-Bukhari no 99)Ibnu Hajar menjelaskan bahwa ini menunjukan bahwa keikhlasan bertingkat-tingkat yang menyebabkan meraih syafaat Nabi juga bertingkat-tingkat (lihat Fathul Baari 11/443).Maka semakin anda tidak mengharapkan sanjungan, pujian, dan pengakuan manusia, maka bergembiralah berarti anda semakin ikhlash, berarti anda semakin meraih syafaat Nabi shallallahu álaihi wasallam pada hari kiamat kelak. Adapun jika sebaliknya anda semakin terpedaya dengan sanjungan dan pujian manusia maka anda semakin terjauhkan dari syafaat Nabi shallallahu álahi wasallam.Ketiga: Murooqobah, Selalu Merasa Diawasi Allah TaalaAllahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, walillahil hamd.Ma’aasyirol Muslimin, Wahai kaum muslimin rahimahkumullah…Di dalam bulan Ramadhan, karena kita berpuasa, maka kita tahan makan dan minum serta seluruh hal yang membatalkan puasa dari mulai terbit fajar kedua sampai terbenam matahari. Meskipun tatkala kita sedang bersendirian, dan dalam kondisi kita yakin bahwa tak seorangpun melihat kita, tidak ada cctv yang merekam kita. Ini semua mampu kita lakukan karena kita tahu dan sadar bahwa Allah melihat apa yang kita kerjakan. Inilah yang disebut dengan murooqobah “merasa diawasi dan dilihat oleh Allah”Maka hendaknya -tatkala sedang bersendirian- kita merasa selalu di awasi oleh Allah baik di dalam rumah, di kantor, di pasar, di masjid, dan dimanapun kita beradaAllah Taala berfirman:{يَعْلَمُ خَائِنَةَ الْأَعْيُنِ وَمَا تُخْفِي الصُّدُورُ}Artinya: “Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati.” QS. GHafir: 16.Jangankan gerakan tangan, kaki, dan anggota tubuh yang lainnya, bahkan gerakan mata, lirikan mata yang digunakan untuk melihat perkara yang haram-pun Allah mencatatnya. Jangankan gerakan mata, bahkan gerakan hati pun Allah mengetahuinya.{إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا}Artinya: “Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” QS. An Nisa: 1.{أَوَلَا يَعْلَمُونَ أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا يُسِرُّونَ وَمَا يُعْلِنُونَ}Artinya: “Tidakkah mereka mengetahui bahwa Allah mengetahui segala yang mereka sembunyikan dan segala yang mereka nyatakan?.” (QS. AL Baqarah: 77).Bahkan seseorang bukan hanya merasa diawasi oleh Allah dalam gerak-geriknya, bahkan hendaknya ia juga merasa diawasi oleh Allah akan gerak-gerik hatinya, apa yang terbetik dalam hatinya. Hendaknya dia berhati-hati, jika dia riya’(ingin dipuji), jika dia dengki dan hasad, jika dia berburuk sangka, ketahuilah bahwasanya Allah mengetahuinya meski tidak seorangpun yang mengetahuinya.Sesungguhnya orang yang merasa diawasi oleh Allah tatkala bersendirian akan diampuni dosa-dosanya.إِنَّ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ بِالْغَيْبِ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَأَجْرٌ كَبِيرٌSesungguhnya orang-orang yang takut kepada Tuhannya tatkala mereka bersendirian, mereka akan memperoleh ampunan dan pahala yang besar (QS Al-Mulk : 12)Bahkan dimasukan ke dalam surga{وَأُزْلِفَتِ الْجَنَّةُ لِلْمُتَّقِينَ غَيْرَ بَعِيدٍ (31) هَذَا مَا تُوعَدُونَ لِكُلِّ أَوَّابٍ حَفِيظٍ (32) مَنْ خَشِيَ الرَّحْمَنَ بِالْغَيْبِ وَجَاءَ بِقَلْبٍ مُنِيبٍ (33) ادْخُلُوهَا بِسَلَامٍ ذَلِكَ يَوْمُ الْخُلُودِ (34) لَهُمْ مَا يَشَاءُونَ فِيهَا وَلَدَيْنَا مَزِيدٌ (35)}Artinya: “Dan didekatkanlah surga itu kepada orang-orang yang bertakwa pada tempat yang tiada jauh (dari mereka).” “Inilah yang dijanjikan kepadamu, (yaitu) kepada setiap hamba yang selalu kembali (kepada Allah) lagi memelihara (semua peraturan-peraturan-Nya).” “(Yaitu) orang yang takut kepada Tuhan Yang Maha Pemurah tatkala dia bersendirian dan dia datang dengan hati yang bertobat.” “Masukilah surga itu dengan aman, itulah hari kekekalan.” “Mereka di dalamnya memperoleh apa yang mereka kehendaki; dan pada sisi Kami ada tambahannya.” (QS. Qaaf: 31-35).Betapa sering sebagian kita tatkala di hadapan banyak orang ia menjadi benar-benar sholih memusuhi Iblis, akan tetapi tatkala besendirian ia menjadi kawan iblis.Keempat: Sabar dari puasaRamadhan melalui puasanya mengajari kita untuk bersabar dengan tiga jenis kesabaran, yaitu (1) sabar dalam mengerjakan ketaatan, (2) sabar dalam menjauhi maksiat dan (3) sabar dalam menghadapi ujian.Tatkala berpuasa Ramadhan seseorang diajari sabar dalam mengerjakan ketaatan dan menjauhi maksiat, karena seseorang menahan makan, minum serta syahwat tatkala puasa. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِى وَأَنَا أَجْزِى بِهِ يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِىArtinya: “Setiap amalan anak Adam akan dilipatkan pahalanya, satu kebaikan dilipatkan menjadi sepuluh kali lipat sampai kepada tujuh ratus lipat, Allah Azza wa Jalla berfirman: “Kecuali puasa, sesungguhnya ia adalah milik-Ku dan Aku yang akan mengganjar pahalanya, ia meninggalkan syahwat dan makannya karena-Ku.” (HR. Muslim).Dengan Puasa Ramadhan seseorang bersabar dalam mengerjakan ketaatan, karena tatkala berpuasa wajib menahan makan dan minum serta seluruh yang membatalkan puasa, disinilah letak pembelajarannya tentang sabar dalam menjalankan ketaatan.Dengan puasa Ramadhan seseorang bersabar dalam menjauhi maksiat, karena tatkala berpuasa wajib menjauhi hal-hal yang membatalkan puasa bahkan wajib menjauhi hal-hal yang mengurangi pahala puasa, disinilah letak pembelajarannya tentang sabar dalam menjauhi dan meninggalkan kemaksiatan.Dengan puasa Ramadhan seseorang belajar bersabar dalam menghadapi ujian dari Allah Ta’ala, karena tatkala puasa ia menahan lapar dan haus, dan itu adalah ujian yang Allah berikan, disinilah letak pembelajarannya tentang sabar dalam menghadapi ujian.Ketiga bentuk kesabaran ini bukanlah perkara yang mudah, butuh perjuangan untuk melaksanakannya. Terlebih di zaman sekarang ini, yang godaan begitu luar biasa, syahwat tersebar di mana-mana, terlebih lagi di media-media sosial.Kelima: BersyukurWahai kaum muslimin rahimahukumullah (semoga Allah Ta’ala selalu merahmati kita seluruhnya)Puasa Ramadhan memberikan pelajaran kepada dan menjadi sarana untuk kita agar menjadi hamba Allah yang pandai bersyukur sebagaiamana yang diinginkan oleh Allah Ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam.Allah berfirman:أَنِ اشْكُرْ لِيBersyukurlah kepada-Ku (QS. Luqman:14).فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِKarena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku (QS Al-Baqoroh : 152)Tatkala seorang berpuasa Ramadhan maka ia merasakan lapar dan haus, yang mana tatkala seseorang dala hari-hari biasa ia tidak merasakan hal tersebut, dan tatkala nikmat hilang dari diri seseorang maka akirnya ia tahu berapa besar kadar nikmat tersebut.Puasa mengajarkan kepada kita untuk mensyukuri nikmat, karena betapa sering seseorang tidak bisa benar-benar merasakan agungnya suatu kenikmatan kecuali tatkala kenikmatan itu dicabut dan hilang.Kita baru merasakan betapa besar nikmat makan dan minum tatkala kita kelaparan dan kehausan. Betapa sering kita tidak merasakan nikmat memandang, nikmat mendengar, nikmat kesehatan….nikmat berkeluarga…, nikmat memiliki istri dan anak…, nikmat hidup di negeri yang aman dan tentram…Coba kita lihat bagaimana orang yang buta, orang yang tuli…bagaimana dengan saudara-saudara kita yang hidup di negara konflik, negara perang, yang mereka bisa jadi merayakan lebaran dengan lapar dan dahaga, dengan suara bom dan tembakan…Dengan berpuasa kita bisa menjadi lebih peka terhadap orang-orang miskin. Bahkan kita merasakan bagaimana susahnya menahan syahwat padahal hanya dari subuh hingga magrib, lantas bagaimana kah dengan seorang janda atau duda atau jomblo yang tidak bisa menyalurkan syahwat mereka bertahun-tahun?, bahkan ada yang hingga meninggal dunia tidak bisa menyalurkan syahwatnya?Sungguh betapa banyak nikmat yang Allah berikan kepada kita, bahkan kenikmatan-kenikmatan yang tidak pernah kita minta, Allah memberikannya kepada kita karena Dialah yang lebih tahu tentang apa yang lebih maslahat bagi kita.Demikian juga betapa banyak doa kita yang telah dikabulkan oleh Allah.{وَآتَاكُمْ مِنْ كُلِّ مَا سَأَلْتُمُوهُ وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَتَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا إِنَّ الْإِنْسَانَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ}Artinya: “Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dari segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat lalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).” (QS. Ibrahim: 34).Janganlah menjadi seorang yang kanuud (sangat ingkar), sebagaimana yang disebutkan oleh Allah إِنَّ الْإِنْسَانَ لِرَبِّهِ لَكَنُودٌ “Sesungguhnya manusia itu sangat ingkar (tidak bersyukur) kepada Tuhannya” (QS Al-Áadiyaat : 6)Al-Hasan al-Bashri berkata tentang ayat ini :هُوَ الْكُفُورُ الَّذِي يَعُدُّ الْمَصَائِبَ، وَيَنْسَى نِعَمَ رَبِّهِ“الكَنُوْدُ adalah orang yang menghitung-hitung (mengingat-ingat) musibah dan melupakan kenikmatan dan anugrah dari Rabbnya” (Tafsir At-Thobari 24/585)Al-Fudhoil bin ‘Iyaad berkata :الْكَنُودُ” الَّذِي أَنْسَتْهُ الْخَصْلَةُ، الْوَاحِدَةُ مِنَ الْإِسَاءَةِ الْخِصَالَ الْكَثِيرَةَ مِنَ الْإِحْسَانِ، وَ”الشَّكُورُ”: الَّذِي أَنْسَتْهُ الْخَصْلَةُ الْوَاحِدَةُ مِنَ الْإِحْسَانِ الْخِصَالَ الْكَثِيرَةَ مِنَ الْإِسَاءَةِ“الكَنُوْدُ adalah orang satu sikap buruh saja maka telah menjadikannya melupakan kebaikan yang banyak. Dan الشَّكُورُ “yang pandai bersyukur/berterima kasih” adalah yang satu kebaikan membuatnya lupa dengan banyaknya keburukan” (Tafsir al-Baghowi 8/509)Orang yang seperti ini kerjaannya selalu mengeluh. Ketika ia sakit seminggu saja maka iapun selalu mengeluh, ia lupa bahwa selama ini berbulan-bulan bahkan mungkin setahun ia telah diberi kenikmatan sehat oleh Allah. Sebagaimana juga seeorang yang diberi kesulitan ekonomi setahun lantas ia selalu mengeluh, dia lupa padahal selama ini bertahun-tahun lamanya Allah selalu memberikan kepadanya kelapangan ekonomi.Keenam : Latihan bersendirian dengan AllahDiantara ibadah yang agung di bulan Ramadhan adalah i’tikaf di 10 hari yang terakhir. Dan hakikat i’tikaf adalah :قَطْعُ الْعَلاَئِقِ عَنِ الْخَلاَئِقِ لِلإِتِّصَالِ بِخِدْمَةِ الْخَالِقِ“Memutuskan relasi dengan makhluk untuk bisa menyambung koneksi untuk beribadah kepada al-Kholiq/sang pencipta”(Lathooiful Maáarif hal 191)Kita sering merasa tentram dan bahagia tatkala kita berinteraksi dan berkomunikasi dengan yang lain. Dan ini adalah hal yang sangat wajar karena asalnya kita adalah makhluk social. Akan tetapi seseorang hendaknya melatih diri untuk terkadang bisa terbiasa merasa tentram dan tenang tatkala berkholwat (bersendirian) dengan Allah.Hal ini karena jika kita telah masuk liang lahad maka tidak ada seorang manusiapun yang akan menemani kita, istri dan anak semuanya tidak akan ikut kita di dalam kuburan.Padahal waktu kita dikuburan lebih lama dari waktu kita hidup di dunia. Yang menemani kita adalah amal sholihnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :يَتْبَعُ المَيِّتَ ثَلاَثَةٌ، فَيَرْجِعُ اثْنَانِ وَيَبْقَى مَعَهُ وَاحِدٌ: يَتْبَعُهُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَعَمَلُهُ، فَيَرْجِعُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَيَبْقَى عَمَلُهُ“Mayat diikuti oleh 3 perkara, yang dua kembali dan yang tetap bersamanya hanya satu. Mayat akan diikuti oleh keluarganya, hartanya, dan amalnya. Maka keluarga dan hartanya akan kembali (tidak menyertainya di kuburan) dan tetap tinggal amalnya (menyertainya di kuburan)”(HR Al-Bukhari no 6514 dan Muslim no 2960)Anak dan istrinya yang sangat mencintainya dan yang sangat ia cintai, yang ketiga hidup pernah bertekad untuk sehidup semati tidak akan setia menemaninya di kuburan. Harta yang ia kumpulkan selama ini tidak akan ia bawa, ia hanya membawa secarik kafan yang dililitkan di tubuhnya. Maka hendaknya seseorang sering melatih diri untuk bisa tentram dengan berkholwat (bersendirian) bersama Allah dengan i’tikaf dan amal yang lainnya seperti sholat malam, sebagaimana sabda Nabi :وَصَلُّوا بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ بِسَلام» “Dan sholat malamlah tatkala orang-orang sedang tidur, niscaya kalian masuk surga dengan penuh keselamatan.” (HR. At-Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad, dan Al-Hakim, dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam As-Shahihah no. 569)Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, walillahil hamd.Para ibu-ibu sekalian, sungguh tatkala Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkhutbah ‘ied maka beliau mengkhususkan sebuah nasehat untuk kalian wahai kaum Hawa.Jabir bin Abdillah radhiallahu ‘anhu beliau berkata :شَهِدْتُ مَعَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الصَّلاَةَ يَوْمَ الْعِيْدِ فَبَدَأَ بِالصَّلاَةِ قَبْلَ الْخُطْبَةِ بِغَيْرِ أَذَانٍ وَلاَ إِقَامَةٍ ثُمَّ قَامَ مُتَوَكِّئًا عَلَى بِلاَلٍ فَأَمَرَ بِتَقْوَى اللهِ وَحَثَّ عَلَى طَاعَتِهِ وَوَعَظَ النَّاسَ وَذَكَّرَهُمْ ثَمَ مَضَى حَتَّى أَتَى النِّسَاءَ فَوَعَظَهُنَّ وَذَكَّرَهُنَّ فَقَالَ : تَصَدَّقْنَ فَإِنَّ أَكْثَرَكُنَّ حَطَبُ جَهَنَّمَ. فَقَامَتْ امْرَأَةٌ مِنْ وَسَطِ النِّسَاءِ سَفْعَاءَ الْخَدَّيْنِ فَقَالَتْ : لِمَ يَارَسُوْلَ اللهِ ؟ قَالَ : لِأَنَّكُنَّ تُكْثِرْنَ الشَّكَاةَ وَتَكْفُرْنَ الْعَشِيْرَ قَالَ : فَجَعَلْنَ يَتَصَدَّقْنَ مِنْ حُلِيِّهِنَّ يُلْقِيْنَ فِي ثَوْبِ بِلاَلٍ مِنْ أَقْرَاطِهِنَّ وَخَوَاتِمِهِنَّ“Aku bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menghadiri sholat pada hari raya, maka beliau memulai dengan sholat sebelu khutbah tanpa adzan dan iqomah, lalu beliau bertelekan kepada Bilal dan beliau memerintahkan untuk bertakwa dan mendorong untuk ta’at kepada Allah dan beliau menasehati orang-orang dan mengingatkan mereka. Setelah itu beliau berjalan menuju para wanita lalu beliau menasehati mereka dan mengingatkan mereka, beliau berkata : “Hendaknya kalian bersedekah, sesungguhnya kalian adalah mayoritas pembakar neraka Jahannam”. Maka diantara para wanita berdirilah seorang wanita yang kedua pipinya ada perubahan dan ada kehitaman dan ia berkata : “Kenapa wahai Rasulullah?”. Maka Nabi berkata :“Karena kalian sering mengeluh dan banyak mengingkari kebaikan suami”. Maka para wanitapun bersedekah dari perhiasan mereka, mereka melemparkan perhiasan mereka ke baju Bilal, berupa anting-anting dan cincin-cincin mereka”Dalam riwayat Abu Sa’id Al-Khudri radhiallahu ‘anhu Rasulullah berkata : تُكْثِرْنَ اللَّعْنَ وَتَكْفُرْنَ الْعَشِيْرَ “Karena kalian banyak melaknat dan kalian banyak mengingkari kebaikan suami” Dalam riwayat Ibnu Umar radhiallahu ‘anhu Nabi berkata kepada mereka : يَا مَعْشَرَ النِّسَاءِ تَصَدَّقْنَ وَأَكْثِرْنَ الإِسْتِغْفَارَ ” “Wahai para wanita bersedekahlah kalian, dan perbanyaklah beristighfar kepada Allah”Karenanya para wanita, janganlah kalian melupakan kebaikan suami kalian, janganlah kalian suka mengeluh kepada suami kalian atau mengeluhkan tentang suami kalian, sesungguhnya kehidupan dunia penuh dengan kepayahan dan kesulitan dan tidak akan pernah ada kesempurnaan. Ingatlah suami kalian adalah surga atau neraka kalian sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallamفَإِنَّهُ جَنَّتُكِ أَوْ نَارُكِ“Sesungguhnya suamimu adalah surgamu atau nerakamu”.Jika suamimu ridho dan suka dengan sikapmu, bahagia tatkala  memandangmu, mendapatimu adalah seorang wanita yang sabar yang tidak suka mengeluh maka sungguh engkau telah membuka selebar-lebarnya pintu surga bagi dirimu. Akan tetapi jika perkaranya adalah sebaliknya, engkau adalah seorang istri yang suka mengeluh, lupa dengan kebaikan suamimu, maka sungguh engkau telah membuka selebar-lebarnya pintu neraka Jahannam bagi dirimu…!!Ingatlah jika engkau telah menikah maka engkau wajib berbakti kepada suamimu sebagaimana engkau wajib berbakti kepada kedua orang tuamu. Jika engkau -wahai wanita sholehah- merasa mendapatkan pahala yang besar tatkala menyenangkan hati ayah dan ibumu, maka demikian pula hendaknya engkau merasa mendapatkan pahala yang besar tatkala menyenangkan dan membahagiakan suamimu. Sebaliknya, jika engkau merasa berdosa besar tatkala membentak dan mengangkat suara di hadapan ayah dan ibumu, maka hendaknya engkau juga merasa berdosa tatkala mengangkat suara dan membentak suami.Allahu Akbar, Allahu Akbar Allahu Akbar, walillahi al-hamdu. Ma’syaro Muslimin….Ramadhan telah berlalu, lembaran baru kehidupan telah kita buka kembali…., catatan dan coretan hitam telah bersih….tantangan baru kembali hadir….Belenggu-belenggu syaitan telah terlepas…. Sebagaimana orang-orang yang berpuasa pada hari ini bergembira -karena meraih ampunan Allah-, maka demikian juga para pelaku maksiat juga ikut bergembira dengan berlalunya bulan Ramadhan. Para sahabat mereka dari kalangan syaitan telah terlepas belenggunya dan siap bekerjasama lagi dengan mereka. Para pelaku kemaksiatan kembali leluasa melancarkan godaan mereka.Sesungguhnya bulan Ramadhan ibarat pesantren kilat yang telah memperbaiki akhlak kita sebulan penuh, telah menggembleng kita untuk kuat sholat malam, mengajari kita untuk meninggalkan syahwat dan hawa nafsu karena Allah, maka sekarang tiba saatnya kita berhadapan dengan ujian…Apakah di sebelas bulan ke depan kita masih bisa menunjukan pelajaran-pelajaran dari Ramadhan sang guru mulia?, ataukah hilang dan lenyaplah nilai-nilai Ramadhan tersebut?Apakah sholat lima waktu secara berjama’ah di masjid masih bisa kita jaga?Apakah sholat malam -meskipun hanya sholat witir tiga raka’at atau bahkan hanya satu raka’at- masih bisa kita jaga?Lembaran-lembaran Al-Qur’an yang selama ini menemani kita di bulan Ramadhan apakah masih bisa tetap menemani kita di sebelas bulan ke depan?Ataukah semuanya telah berubah?, sholat kita mulai bolong-bolong dan mesjid-mesjid mulai kita tinggalkan?, sholat malam kita berganti mimpi-mimpi dalam tidur yang lelap?, Al-Qur’an tidak lagi menemani kita akan tetapi selalu menjadi hiasan indah di rak-rak kita?. Jika perkaranya demikian maka percayalah bahwa sesungguhnya pesantren Ramadhan yang kita jalani selama sebulan adalah pesantren yang gagal, ternyata petuah-petuah Ramadhan sang guru tidak kita indahkan lagi.========== doa ===========Ditulis oleh Ahmad Zainuddin Al Banjary dan Firanda AndirjaJumat, 26 Ramadhan 1437H, Banjarmasin KalSel.


(Khutbah ‘Iedul Fithri)Allahu akbar Allahu akbar Allahu akbar walillahil hamd…Berbahagialah wahai para jamaah sekalian yang telah berpuasa…Yang telah menahan lapar dan dahaga karena Allah…Yang berletih-letih berdiri dalam shalat tarawih karena Allah…Yang membasahi lisan dan mengeringkan tenggorokan membaca ayat-ayat al-Qur’an karena Allah…Yang meneteskan air mata taubat karena takut dengan siksaNya dan berharap surgaNya…Semoga setetes air mata yang tulus menjadi sebab diampuni segala dosa….menjadikan lembaran catatan menjadi putih bersih kembali….Bergembiralah dengan ampunan Allah…Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, walillahil hamd.Wahai Kaum Muslim rahimakumullah (semoga Allah merahmati kita seluruhnya)…Ramadhan Bulan penuh berkah itu sudah berlalu…Ramadhan Bulan yang setiap malamnya merupakan malam pembebebasan dari  api neraka ternyata telah berlalu…Ramadhan Bulan yang di dalamnya dosa-dosa diampuni sudah berakhir….Ramadhan bulan yang di dalamnya doa-doa dikabulkan sudah lewat…Bulan Al Quran itu telah lewat…..Bulan berlomba dalam bersedekah itu telah habis…Bulan penuh perjuangan itu telah berakhir….Bulan Lailatul Qadar Malam yang lebih baik dari seribu bulan telah berlalu….Sungguh begitu cepat…. أَيَّامًا مَعْدُودَاتٍ “Hari-hari yang berbilang” (QS Al-Baqoroh : 184)Benar-benar Ramadhan tamu yang mulia itu telah pergi….Berbahagialah mereka, hamba-hamba Allah yang telah menahan lapar karena Allah…, menahan dahaga di tengah terik panasnya matahari…karena Allah…, menahan syahwatnya karena Allah….Berbahagialah mereka yang melawan kantuknya untuk melantunkan firman-firmanNya…., menahan kantuknya… menahan letihnya kaki dalam sholat malamnya karena mengharapkan keridhoan Allah….Berbahagialah mereka yang menyisihkan sebagian hartanya untuk diberikan kepada para faqir miskin, mengurangi beban mereka, memberikan secercah kebahagiaan kepada…semuanya karena Allah…Berbahagialah mereka yang telah meneteskan air matanya karena mengharapkan ampunanNya…di tengah malam tatkala mata-mata manusia pulas terlelap…Semoga setetes air mata yang mereka alirkan karena takut kepada Yang Maha Esa, karena berharap kepada Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, merupakan sebab diampuni seluruh dosa mereka…sebab masuknya mereka ke dalam surga Allah… Merekalah yang telah meraih janji Rasul yang paling Mulia Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, yang telah bersada :مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِBarang siapa yang berpuasa bulan Ramadhan dengan keimanan dan penuh pengharapan maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah laluAllahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, walillahil hamd…Wahai Kaum Muslim rahimakumullah (semoga kita selalu dirahmati Allah)…Ramadhan….tamu yang agung tersebut meninggalkan banyak pelajaran bagi kita semua…Pelajaran-pelajaran berharga agar kita bisa lebih baik menyambutnya dan menjamunya di kesempatan yang lain…di tahun-tahun berikutnya…Diantara pelajaran-pelajaran yang berharga tersebut…Pertama: BertakwaTujuan semuanya adalah meraih ketakwaan لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ “semoga kalian bertakwa”(QS Al-Baqoroh : 183)Ketakwaan adalah barometer penilaian Allah إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ “Sesungguhnya yang termulia diantara kalian adalah yang paling bertakwa”(QS Al-Hujuroot : 13)Sementara kebanyakan orang menjadikan barometer untuk mengukur nilai seseorang adalah dengan harta dan kedudukan, pangkat dan jabatan. Maka Ramadhan mengajarkan kepada kita agar tidak terpedaya dengan sanjugan dan penghormatan manusia terhadap kita. Percuma kita menjadi seseorang yang terpandang di mata masyarakat -karena harta dan jabatan kita- namun ternyata kita hina di hadapan Allah karena ketakwaan kita yang rendah. Bisa jadi orang yang kita rendahkan -karena merupakan pegawai dan pekerja kita- namun dia sangat mulia dan tinggi di sisi Allah, karena ketakwaan dan ketaatannya.Di dalam bulan Ramadhan kita lebih taat kepada Allah dalam melaksanakan kewajiban…. lebih takut kepada Allah sehingga lebih mudah menjauhi maksiat…. lebih semangat untuk banyak berdzikir dan membaca Al Quran…kita bisa lebih bertakwa kepada Allah….Apakah setelah Ramadhan berlalu kita masih bisa bertakwa kepada Allah…? Sesungguhnya Tuhan yang kita sembah di bulan Ramadhan Dialah pula Tuhan yang kita sembah di bulan-bulan yang lain. Sungguh celaka hamba yang hanya bertakwa, hanya mengenal Rabbnya tatkala di bulan Ramadhan saja.Kedua: IkhlashWahai kaum muslimin rahimakumullah (semoga Allah merahmati kita seluruhnya)…Ramadhan menggembleng kita untuk ikhlash kepada Allah.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda tentang keistimewaan:كُلُّ عمل بن آدَمَ لَهُ إِلَّا الصِّيَامَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ“Seluruh amal anak Adam adalah untuknya kecuali puasa, karena puasa adalah untuk-Ku, dan Aku yang akan mengganjarnya”(HR Ibnu Hibban no 3422)Allah menyatakan bahwa khusus puasa adalah untuk Allah, karena seluruh amalan bisa dilihat oleh orang lain melaui gerakannya, seperti sholat, sedekah, wudhu, haji, umroh, menyembelih kurban, dll, kecuali puasa. Orang lain tidak mengetahui bahwa kita sedang puasa kecuali jika kita kabarkan dengan lisan, adapun secara gerakan maka tidak bisa diketahui. Dari sini dikatakan bahwa puasa tidak bisa kemasukan riyaa’ (lihat Fathul Baari 4/107)Ternyata inilah yang menjadikan puasa spesial dan sangat dicintai Allah serta diberi ganjaran yang sangat besar, karena tingginya nilai keikhlasan dalam puasa.Berkata Syeikh Ibnu Ustaimin rahimahullah:“وَهَذَا الحديثُ الجليلُ يدُلُّ على فضيلةِ الصومِ من وجوهٍ عديدةٍ :الوجه الأول : أن الله اختصَّ لنفسه الصوم من بين سائرِ الأعمال ، وذلك لِشرفِهِ عنده ، ومحبَّتهِ له ، وظهور الإِخلاصِ له سبحانه فيه ، لأنه سِرُّ بَيْن العبدِ وربِّه لا يطَّلعُ عليه إلاّ الله . فإِن الصائمَ يكون في الموضِعِ الخالي من الناس مُتمكِّناً منْ تناوُلِ ما حرَّم الله عليه بالصيام ، فلا يتناولُهُ ؛ لأنه يعلم أن له ربّاً يطَّلع عليه في خلوتِه ، وقد حرَّم عَلَيْه ذلك ، فيترُكُه لله خوفاً من عقابه ، ورغبةً في ثوابه ، فمن أجل ذلك شكر اللهُ له هذا الإِخلاصَ ، واختصَّ صيامَه لنفْسِه من بين سَائِرِ أعمالِهِ ولهذا قال : ( يَدعُ شهوتَه وطعامَه من أجْلي ) .“Dan hadits yang agung ini menuinjukkan keutamaan puasa dari beberapa sisi;Yang pertama: Bahwa Allah mengkhususkan untuk diri-Nya puasa dari antara seluruh amalan, dan demikian itu karena kemuliaannya disisi-Nya dan kecintaan-Nya kepada puasa, dan terlihat ikhlas kepada-Nya Maha Suci Allah di dalamnya, karena ia adalah rahasia antara seorang hamba dengan Rabb-Nya, tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah, karena seorang yang berpuasa ia berada disebuah temapt yang kosong dari orang-orang, memungkin baginya untuk mengkonsumsi apa yang diharamkan Allah atasnya dengan puasa, lalu ia tidak menkonsumsinya, karena ia mengetahui bahwa ia memiliki seorang Rabb yang mengetahui dalam kesendiriannya, dan Allah telah mengharamkan hal itu atasnya, maka ia meninggalkannya karena Allah karena takut akan siksa-Nya, berharap pahala-Nya, oleh sebab inilah Allah mensyukurinya keikhlasan ini  dan mengkhususkan puasanya untuk diri-Nya dibandingkan seluruh amalannya, oleh sebab inilah Allah berfirman: “Ia meninggakan syahwat dan makanannya karena Aku.” (Lihat kitab Majalis Syahri Ramadhan, hal. 13).Sebagaimana perkataan Ibnul Mubaarok :رُبَّ عَمَلٍ صَغِيرٍ تُعَظِّمُهُ النِّيَّةُ، وَرُبَّ عَمَلٍ كَبِيرٍ تُصَغِّرُهُ النِّيَّةُ“Betapa banyak amal yang kecil menjadi besar karena niat yang ikhlash, dan sebaliknya betapa banyak amal yang besar menjadi kecil karena niat yang kurang ikhlash” (Jaamiúl Úluum wal Hikam 1/71)Orang yang semakin ikhlash maka semakin meraih syafaat Nabi shallallahu álaihi wasallam. Abu Hurairah pernah bertanya kepada Nabi shallallahu álaihi wasallam :يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَنْ أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِكَ يَوْمَ القِيَامَةِ؟“Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling bahagia (yaitu yang paling mendapatkan bagian besar) dari syafaatmu pada hari kiamat?”.Nabi menjawab :أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِي يَوْمَ القِيَامَةِ مَنْ قَالَ: لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، خَالِصًا مِنْ قَلْبِهِ”Orang yang paling bahagia mendapatkan syafaatku pada hari kiamat adalah orang yang mengucapkan Laa ilaaha illallahu dengan ikhlash dari hatinya”(HR Al-Bukhari no 99)Ibnu Hajar menjelaskan bahwa ini menunjukan bahwa keikhlasan bertingkat-tingkat yang menyebabkan meraih syafaat Nabi juga bertingkat-tingkat (lihat Fathul Baari 11/443).Maka semakin anda tidak mengharapkan sanjungan, pujian, dan pengakuan manusia, maka bergembiralah berarti anda semakin ikhlash, berarti anda semakin meraih syafaat Nabi shallallahu álaihi wasallam pada hari kiamat kelak. Adapun jika sebaliknya anda semakin terpedaya dengan sanjungan dan pujian manusia maka anda semakin terjauhkan dari syafaat Nabi shallallahu álahi wasallam.Ketiga: Murooqobah, Selalu Merasa Diawasi Allah TaalaAllahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, walillahil hamd.Ma’aasyirol Muslimin, Wahai kaum muslimin rahimahkumullah…Di dalam bulan Ramadhan, karena kita berpuasa, maka kita tahan makan dan minum serta seluruh hal yang membatalkan puasa dari mulai terbit fajar kedua sampai terbenam matahari. Meskipun tatkala kita sedang bersendirian, dan dalam kondisi kita yakin bahwa tak seorangpun melihat kita, tidak ada cctv yang merekam kita. Ini semua mampu kita lakukan karena kita tahu dan sadar bahwa Allah melihat apa yang kita kerjakan. Inilah yang disebut dengan murooqobah “merasa diawasi dan dilihat oleh Allah”Maka hendaknya -tatkala sedang bersendirian- kita merasa selalu di awasi oleh Allah baik di dalam rumah, di kantor, di pasar, di masjid, dan dimanapun kita beradaAllah Taala berfirman:{يَعْلَمُ خَائِنَةَ الْأَعْيُنِ وَمَا تُخْفِي الصُّدُورُ}Artinya: “Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati.” QS. GHafir: 16.Jangankan gerakan tangan, kaki, dan anggota tubuh yang lainnya, bahkan gerakan mata, lirikan mata yang digunakan untuk melihat perkara yang haram-pun Allah mencatatnya. Jangankan gerakan mata, bahkan gerakan hati pun Allah mengetahuinya.{إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا}Artinya: “Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” QS. An Nisa: 1.{أَوَلَا يَعْلَمُونَ أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا يُسِرُّونَ وَمَا يُعْلِنُونَ}Artinya: “Tidakkah mereka mengetahui bahwa Allah mengetahui segala yang mereka sembunyikan dan segala yang mereka nyatakan?.” (QS. AL Baqarah: 77).Bahkan seseorang bukan hanya merasa diawasi oleh Allah dalam gerak-geriknya, bahkan hendaknya ia juga merasa diawasi oleh Allah akan gerak-gerik hatinya, apa yang terbetik dalam hatinya. Hendaknya dia berhati-hati, jika dia riya’(ingin dipuji), jika dia dengki dan hasad, jika dia berburuk sangka, ketahuilah bahwasanya Allah mengetahuinya meski tidak seorangpun yang mengetahuinya.Sesungguhnya orang yang merasa diawasi oleh Allah tatkala bersendirian akan diampuni dosa-dosanya.إِنَّ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ بِالْغَيْبِ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَأَجْرٌ كَبِيرٌSesungguhnya orang-orang yang takut kepada Tuhannya tatkala mereka bersendirian, mereka akan memperoleh ampunan dan pahala yang besar (QS Al-Mulk : 12)Bahkan dimasukan ke dalam surga{وَأُزْلِفَتِ الْجَنَّةُ لِلْمُتَّقِينَ غَيْرَ بَعِيدٍ (31) هَذَا مَا تُوعَدُونَ لِكُلِّ أَوَّابٍ حَفِيظٍ (32) مَنْ خَشِيَ الرَّحْمَنَ بِالْغَيْبِ وَجَاءَ بِقَلْبٍ مُنِيبٍ (33) ادْخُلُوهَا بِسَلَامٍ ذَلِكَ يَوْمُ الْخُلُودِ (34) لَهُمْ مَا يَشَاءُونَ فِيهَا وَلَدَيْنَا مَزِيدٌ (35)}Artinya: “Dan didekatkanlah surga itu kepada orang-orang yang bertakwa pada tempat yang tiada jauh (dari mereka).” “Inilah yang dijanjikan kepadamu, (yaitu) kepada setiap hamba yang selalu kembali (kepada Allah) lagi memelihara (semua peraturan-peraturan-Nya).” “(Yaitu) orang yang takut kepada Tuhan Yang Maha Pemurah tatkala dia bersendirian dan dia datang dengan hati yang bertobat.” “Masukilah surga itu dengan aman, itulah hari kekekalan.” “Mereka di dalamnya memperoleh apa yang mereka kehendaki; dan pada sisi Kami ada tambahannya.” (QS. Qaaf: 31-35).Betapa sering sebagian kita tatkala di hadapan banyak orang ia menjadi benar-benar sholih memusuhi Iblis, akan tetapi tatkala besendirian ia menjadi kawan iblis.Keempat: Sabar dari puasaRamadhan melalui puasanya mengajari kita untuk bersabar dengan tiga jenis kesabaran, yaitu (1) sabar dalam mengerjakan ketaatan, (2) sabar dalam menjauhi maksiat dan (3) sabar dalam menghadapi ujian.Tatkala berpuasa Ramadhan seseorang diajari sabar dalam mengerjakan ketaatan dan menjauhi maksiat, karena seseorang menahan makan, minum serta syahwat tatkala puasa. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِى وَأَنَا أَجْزِى بِهِ يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِىArtinya: “Setiap amalan anak Adam akan dilipatkan pahalanya, satu kebaikan dilipatkan menjadi sepuluh kali lipat sampai kepada tujuh ratus lipat, Allah Azza wa Jalla berfirman: “Kecuali puasa, sesungguhnya ia adalah milik-Ku dan Aku yang akan mengganjar pahalanya, ia meninggalkan syahwat dan makannya karena-Ku.” (HR. Muslim).Dengan Puasa Ramadhan seseorang bersabar dalam mengerjakan ketaatan, karena tatkala berpuasa wajib menahan makan dan minum serta seluruh yang membatalkan puasa, disinilah letak pembelajarannya tentang sabar dalam menjalankan ketaatan.Dengan puasa Ramadhan seseorang bersabar dalam menjauhi maksiat, karena tatkala berpuasa wajib menjauhi hal-hal yang membatalkan puasa bahkan wajib menjauhi hal-hal yang mengurangi pahala puasa, disinilah letak pembelajarannya tentang sabar dalam menjauhi dan meninggalkan kemaksiatan.Dengan puasa Ramadhan seseorang belajar bersabar dalam menghadapi ujian dari Allah Ta’ala, karena tatkala puasa ia menahan lapar dan haus, dan itu adalah ujian yang Allah berikan, disinilah letak pembelajarannya tentang sabar dalam menghadapi ujian.Ketiga bentuk kesabaran ini bukanlah perkara yang mudah, butuh perjuangan untuk melaksanakannya. Terlebih di zaman sekarang ini, yang godaan begitu luar biasa, syahwat tersebar di mana-mana, terlebih lagi di media-media sosial.Kelima: BersyukurWahai kaum muslimin rahimahukumullah (semoga Allah Ta’ala selalu merahmati kita seluruhnya)Puasa Ramadhan memberikan pelajaran kepada dan menjadi sarana untuk kita agar menjadi hamba Allah yang pandai bersyukur sebagaiamana yang diinginkan oleh Allah Ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam.Allah berfirman:أَنِ اشْكُرْ لِيBersyukurlah kepada-Ku (QS. Luqman:14).فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِKarena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku (QS Al-Baqoroh : 152)Tatkala seorang berpuasa Ramadhan maka ia merasakan lapar dan haus, yang mana tatkala seseorang dala hari-hari biasa ia tidak merasakan hal tersebut, dan tatkala nikmat hilang dari diri seseorang maka akirnya ia tahu berapa besar kadar nikmat tersebut.Puasa mengajarkan kepada kita untuk mensyukuri nikmat, karena betapa sering seseorang tidak bisa benar-benar merasakan agungnya suatu kenikmatan kecuali tatkala kenikmatan itu dicabut dan hilang.Kita baru merasakan betapa besar nikmat makan dan minum tatkala kita kelaparan dan kehausan. Betapa sering kita tidak merasakan nikmat memandang, nikmat mendengar, nikmat kesehatan….nikmat berkeluarga…, nikmat memiliki istri dan anak…, nikmat hidup di negeri yang aman dan tentram…Coba kita lihat bagaimana orang yang buta, orang yang tuli…bagaimana dengan saudara-saudara kita yang hidup di negara konflik, negara perang, yang mereka bisa jadi merayakan lebaran dengan lapar dan dahaga, dengan suara bom dan tembakan…Dengan berpuasa kita bisa menjadi lebih peka terhadap orang-orang miskin. Bahkan kita merasakan bagaimana susahnya menahan syahwat padahal hanya dari subuh hingga magrib, lantas bagaimana kah dengan seorang janda atau duda atau jomblo yang tidak bisa menyalurkan syahwat mereka bertahun-tahun?, bahkan ada yang hingga meninggal dunia tidak bisa menyalurkan syahwatnya?Sungguh betapa banyak nikmat yang Allah berikan kepada kita, bahkan kenikmatan-kenikmatan yang tidak pernah kita minta, Allah memberikannya kepada kita karena Dialah yang lebih tahu tentang apa yang lebih maslahat bagi kita.Demikian juga betapa banyak doa kita yang telah dikabulkan oleh Allah.{وَآتَاكُمْ مِنْ كُلِّ مَا سَأَلْتُمُوهُ وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَتَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا إِنَّ الْإِنْسَانَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ}Artinya: “Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dari segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat lalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).” (QS. Ibrahim: 34).Janganlah menjadi seorang yang kanuud (sangat ingkar), sebagaimana yang disebutkan oleh Allah إِنَّ الْإِنْسَانَ لِرَبِّهِ لَكَنُودٌ “Sesungguhnya manusia itu sangat ingkar (tidak bersyukur) kepada Tuhannya” (QS Al-Áadiyaat : 6)Al-Hasan al-Bashri berkata tentang ayat ini :هُوَ الْكُفُورُ الَّذِي يَعُدُّ الْمَصَائِبَ، وَيَنْسَى نِعَمَ رَبِّهِ“الكَنُوْدُ adalah orang yang menghitung-hitung (mengingat-ingat) musibah dan melupakan kenikmatan dan anugrah dari Rabbnya” (Tafsir At-Thobari 24/585)Al-Fudhoil bin ‘Iyaad berkata :الْكَنُودُ” الَّذِي أَنْسَتْهُ الْخَصْلَةُ، الْوَاحِدَةُ مِنَ الْإِسَاءَةِ الْخِصَالَ الْكَثِيرَةَ مِنَ الْإِحْسَانِ، وَ”الشَّكُورُ”: الَّذِي أَنْسَتْهُ الْخَصْلَةُ الْوَاحِدَةُ مِنَ الْإِحْسَانِ الْخِصَالَ الْكَثِيرَةَ مِنَ الْإِسَاءَةِ“الكَنُوْدُ adalah orang satu sikap buruh saja maka telah menjadikannya melupakan kebaikan yang banyak. Dan الشَّكُورُ “yang pandai bersyukur/berterima kasih” adalah yang satu kebaikan membuatnya lupa dengan banyaknya keburukan” (Tafsir al-Baghowi 8/509)Orang yang seperti ini kerjaannya selalu mengeluh. Ketika ia sakit seminggu saja maka iapun selalu mengeluh, ia lupa bahwa selama ini berbulan-bulan bahkan mungkin setahun ia telah diberi kenikmatan sehat oleh Allah. Sebagaimana juga seeorang yang diberi kesulitan ekonomi setahun lantas ia selalu mengeluh, dia lupa padahal selama ini bertahun-tahun lamanya Allah selalu memberikan kepadanya kelapangan ekonomi.Keenam : Latihan bersendirian dengan AllahDiantara ibadah yang agung di bulan Ramadhan adalah i’tikaf di 10 hari yang terakhir. Dan hakikat i’tikaf adalah :قَطْعُ الْعَلاَئِقِ عَنِ الْخَلاَئِقِ لِلإِتِّصَالِ بِخِدْمَةِ الْخَالِقِ“Memutuskan relasi dengan makhluk untuk bisa menyambung koneksi untuk beribadah kepada al-Kholiq/sang pencipta”(Lathooiful Maáarif hal 191)Kita sering merasa tentram dan bahagia tatkala kita berinteraksi dan berkomunikasi dengan yang lain. Dan ini adalah hal yang sangat wajar karena asalnya kita adalah makhluk social. Akan tetapi seseorang hendaknya melatih diri untuk terkadang bisa terbiasa merasa tentram dan tenang tatkala berkholwat (bersendirian) dengan Allah.Hal ini karena jika kita telah masuk liang lahad maka tidak ada seorang manusiapun yang akan menemani kita, istri dan anak semuanya tidak akan ikut kita di dalam kuburan.Padahal waktu kita dikuburan lebih lama dari waktu kita hidup di dunia. Yang menemani kita adalah amal sholihnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :يَتْبَعُ المَيِّتَ ثَلاَثَةٌ، فَيَرْجِعُ اثْنَانِ وَيَبْقَى مَعَهُ وَاحِدٌ: يَتْبَعُهُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَعَمَلُهُ، فَيَرْجِعُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَيَبْقَى عَمَلُهُ“Mayat diikuti oleh 3 perkara, yang dua kembali dan yang tetap bersamanya hanya satu. Mayat akan diikuti oleh keluarganya, hartanya, dan amalnya. Maka keluarga dan hartanya akan kembali (tidak menyertainya di kuburan) dan tetap tinggal amalnya (menyertainya di kuburan)”(HR Al-Bukhari no 6514 dan Muslim no 2960)Anak dan istrinya yang sangat mencintainya dan yang sangat ia cintai, yang ketiga hidup pernah bertekad untuk sehidup semati tidak akan setia menemaninya di kuburan. Harta yang ia kumpulkan selama ini tidak akan ia bawa, ia hanya membawa secarik kafan yang dililitkan di tubuhnya. Maka hendaknya seseorang sering melatih diri untuk bisa tentram dengan berkholwat (bersendirian) bersama Allah dengan i’tikaf dan amal yang lainnya seperti sholat malam, sebagaimana sabda Nabi :وَصَلُّوا بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ بِسَلام» “Dan sholat malamlah tatkala orang-orang sedang tidur, niscaya kalian masuk surga dengan penuh keselamatan.” (HR. At-Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad, dan Al-Hakim, dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam As-Shahihah no. 569)Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, walillahil hamd.Para ibu-ibu sekalian, sungguh tatkala Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkhutbah ‘ied maka beliau mengkhususkan sebuah nasehat untuk kalian wahai kaum Hawa.Jabir bin Abdillah radhiallahu ‘anhu beliau berkata :شَهِدْتُ مَعَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الصَّلاَةَ يَوْمَ الْعِيْدِ فَبَدَأَ بِالصَّلاَةِ قَبْلَ الْخُطْبَةِ بِغَيْرِ أَذَانٍ وَلاَ إِقَامَةٍ ثُمَّ قَامَ مُتَوَكِّئًا عَلَى بِلاَلٍ فَأَمَرَ بِتَقْوَى اللهِ وَحَثَّ عَلَى طَاعَتِهِ وَوَعَظَ النَّاسَ وَذَكَّرَهُمْ ثَمَ مَضَى حَتَّى أَتَى النِّسَاءَ فَوَعَظَهُنَّ وَذَكَّرَهُنَّ فَقَالَ : تَصَدَّقْنَ فَإِنَّ أَكْثَرَكُنَّ حَطَبُ جَهَنَّمَ. فَقَامَتْ امْرَأَةٌ مِنْ وَسَطِ النِّسَاءِ سَفْعَاءَ الْخَدَّيْنِ فَقَالَتْ : لِمَ يَارَسُوْلَ اللهِ ؟ قَالَ : لِأَنَّكُنَّ تُكْثِرْنَ الشَّكَاةَ وَتَكْفُرْنَ الْعَشِيْرَ قَالَ : فَجَعَلْنَ يَتَصَدَّقْنَ مِنْ حُلِيِّهِنَّ يُلْقِيْنَ فِي ثَوْبِ بِلاَلٍ مِنْ أَقْرَاطِهِنَّ وَخَوَاتِمِهِنَّ“Aku bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menghadiri sholat pada hari raya, maka beliau memulai dengan sholat sebelu khutbah tanpa adzan dan iqomah, lalu beliau bertelekan kepada Bilal dan beliau memerintahkan untuk bertakwa dan mendorong untuk ta’at kepada Allah dan beliau menasehati orang-orang dan mengingatkan mereka. Setelah itu beliau berjalan menuju para wanita lalu beliau menasehati mereka dan mengingatkan mereka, beliau berkata : “Hendaknya kalian bersedekah, sesungguhnya kalian adalah mayoritas pembakar neraka Jahannam”. Maka diantara para wanita berdirilah seorang wanita yang kedua pipinya ada perubahan dan ada kehitaman dan ia berkata : “Kenapa wahai Rasulullah?”. Maka Nabi berkata :“Karena kalian sering mengeluh dan banyak mengingkari kebaikan suami”. Maka para wanitapun bersedekah dari perhiasan mereka, mereka melemparkan perhiasan mereka ke baju Bilal, berupa anting-anting dan cincin-cincin mereka”Dalam riwayat Abu Sa’id Al-Khudri radhiallahu ‘anhu Rasulullah berkata : تُكْثِرْنَ اللَّعْنَ وَتَكْفُرْنَ الْعَشِيْرَ “Karena kalian banyak melaknat dan kalian banyak mengingkari kebaikan suami” Dalam riwayat Ibnu Umar radhiallahu ‘anhu Nabi berkata kepada mereka : يَا مَعْشَرَ النِّسَاءِ تَصَدَّقْنَ وَأَكْثِرْنَ الإِسْتِغْفَارَ ” “Wahai para wanita bersedekahlah kalian, dan perbanyaklah beristighfar kepada Allah”Karenanya para wanita, janganlah kalian melupakan kebaikan suami kalian, janganlah kalian suka mengeluh kepada suami kalian atau mengeluhkan tentang suami kalian, sesungguhnya kehidupan dunia penuh dengan kepayahan dan kesulitan dan tidak akan pernah ada kesempurnaan. Ingatlah suami kalian adalah surga atau neraka kalian sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallamفَإِنَّهُ جَنَّتُكِ أَوْ نَارُكِ“Sesungguhnya suamimu adalah surgamu atau nerakamu”.Jika suamimu ridho dan suka dengan sikapmu, bahagia tatkala  memandangmu, mendapatimu adalah seorang wanita yang sabar yang tidak suka mengeluh maka sungguh engkau telah membuka selebar-lebarnya pintu surga bagi dirimu. Akan tetapi jika perkaranya adalah sebaliknya, engkau adalah seorang istri yang suka mengeluh, lupa dengan kebaikan suamimu, maka sungguh engkau telah membuka selebar-lebarnya pintu neraka Jahannam bagi dirimu…!!Ingatlah jika engkau telah menikah maka engkau wajib berbakti kepada suamimu sebagaimana engkau wajib berbakti kepada kedua orang tuamu. Jika engkau -wahai wanita sholehah- merasa mendapatkan pahala yang besar tatkala menyenangkan hati ayah dan ibumu, maka demikian pula hendaknya engkau merasa mendapatkan pahala yang besar tatkala menyenangkan dan membahagiakan suamimu. Sebaliknya, jika engkau merasa berdosa besar tatkala membentak dan mengangkat suara di hadapan ayah dan ibumu, maka hendaknya engkau juga merasa berdosa tatkala mengangkat suara dan membentak suami.Allahu Akbar, Allahu Akbar Allahu Akbar, walillahi al-hamdu. Ma’syaro Muslimin….Ramadhan telah berlalu, lembaran baru kehidupan telah kita buka kembali…., catatan dan coretan hitam telah bersih….tantangan baru kembali hadir….Belenggu-belenggu syaitan telah terlepas…. Sebagaimana orang-orang yang berpuasa pada hari ini bergembira -karena meraih ampunan Allah-, maka demikian juga para pelaku maksiat juga ikut bergembira dengan berlalunya bulan Ramadhan. Para sahabat mereka dari kalangan syaitan telah terlepas belenggunya dan siap bekerjasama lagi dengan mereka. Para pelaku kemaksiatan kembali leluasa melancarkan godaan mereka.Sesungguhnya bulan Ramadhan ibarat pesantren kilat yang telah memperbaiki akhlak kita sebulan penuh, telah menggembleng kita untuk kuat sholat malam, mengajari kita untuk meninggalkan syahwat dan hawa nafsu karena Allah, maka sekarang tiba saatnya kita berhadapan dengan ujian…Apakah di sebelas bulan ke depan kita masih bisa menunjukan pelajaran-pelajaran dari Ramadhan sang guru mulia?, ataukah hilang dan lenyaplah nilai-nilai Ramadhan tersebut?Apakah sholat lima waktu secara berjama’ah di masjid masih bisa kita jaga?Apakah sholat malam -meskipun hanya sholat witir tiga raka’at atau bahkan hanya satu raka’at- masih bisa kita jaga?Lembaran-lembaran Al-Qur’an yang selama ini menemani kita di bulan Ramadhan apakah masih bisa tetap menemani kita di sebelas bulan ke depan?Ataukah semuanya telah berubah?, sholat kita mulai bolong-bolong dan mesjid-mesjid mulai kita tinggalkan?, sholat malam kita berganti mimpi-mimpi dalam tidur yang lelap?, Al-Qur’an tidak lagi menemani kita akan tetapi selalu menjadi hiasan indah di rak-rak kita?. Jika perkaranya demikian maka percayalah bahwa sesungguhnya pesantren Ramadhan yang kita jalani selama sebulan adalah pesantren yang gagal, ternyata petuah-petuah Ramadhan sang guru tidak kita indahkan lagi.========== doa ===========Ditulis oleh Ahmad Zainuddin Al Banjary dan Firanda AndirjaJumat, 26 Ramadhan 1437H, Banjarmasin KalSel.

Menyambung Kembali Yang Telah Putus….Memilin Kembali Yang Telah Terurai

(Khutbah ‘Iedul Fithri)Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, Walillahil hamd.Hari ini hari kemenangan….menang melawan syaitan dan melawan syahwat…Hari ini hari bergembira….gembira dengan ampunan Allah yang telah dijanjikan, gembira dengan kasih sayang Allah, gembira meraih surga Allah yang telah dijanjikan kepada orang-orang yang diterima puasa mereka.Hari ini…hari saling mengunjungi diantara kaum muslimin…hari saling mendoakan agar perjuangan sebulan penuh diterima di sisiNya. Sungguh tiada kata yang lebih indah dari ucapan تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ “Semoga Allah menerima amal ibadah kami dan ibadah kalian”Apalagi yang diharapkan oleh seorang yang telah berpuasa dan berjuang selama sebulan penuh melainkan agar ibadah mereka diterima oleh Allah.Hari ini adalah hari bergembira… Allah berfirmanقُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَKatakanlah: “Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan” (QS Yunus : 58)Bahkan di hari lebaran Nabi membolehkan untuk bersenang-senang dan bermain-main.Hari raya adalah hari bergembira dan bersenang-senang. Karenanya tatkala Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mendapati penduduk Madinah bermain-main pada dua hari raya tradisi mereka tatkala jahiliyah, maka Nabi mengingkari kedua hari tersebut, akan tetapi Nabi tidak mengingkari bermain-mainnya.وَعَنْ أَنَسٍ رَضَي اللَّهُ عَنْهُ قالَ: قَدمَ رسولُ  الله صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّم المدينة وَلهُم يَوْمان يَلْعبُون فيهما فقَالَ: “قَدْ أَبْدلَكمُ الله بِهِمَا خَيْراً منهما: يومَ الأضحْى ويوْمَ الْفِطْرDari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu berkata : “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mendatangi kota Madinah, dan penduduk kota Madinah memiliki dua hari yang mereka bermain-main pada dua hari tersebut. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata : “Allah telah menggantikan kedua hari tersebut dengan dua hari yang lebih baik, yaitu hari idul Adha dan hari Idul Fithri” (HR Abu Dawud dan Nasaai)As-Shon’aani rahimahullah berkata :وَفِيهِ دَلِيلٌ عَلَى أَنَّ إظْهَارَ السُّرُورِ فِي الْعِيدَيْنِ مَنْدُوبٌ، وَأَنَّ ذَلِكَ مِنْ الشَّرِيعَةِ الَّتِي شَرَعَهَا اللَّهُ لِعِبَادِهِ إذْ فِي إبْدَالِ عِيدِ الْجَاهِلِيَّةِ بِالْعِيدَيْنِ الْمَذْكُورَيْنِ دَلَالَةٌ عَلَى أَنَّهُ يُفْعَلُ فِي الْعِيدَيْنِ الْمَشْرُوعَيْنِ مَا تَفْعَلُهُ الْجَاهِلِيَّةُ فِي أَعْيَادِهَا، وَإِنَّمَا خَالَفَهُمْ فِي تَعْيِينِ الْوَقْتَيْنِ … وَأَمَّا التَّوْسِعَةُ عَلَى الْعِيَالِ فِي الْأَعْيَادِ بِمَا حَصَلَ لَهُمْ مِنْ تَرْوِيحِ الْبَدَنِ وَبَسْطِ النَّفْسِ مِنْ كُلَفِ الْعِبَادَةِ فَهُوَ مَشْرُوعٌ.“Pada hadits ini ada dalil bahwa menampakkan kegembiraan pada dua hari raya adalah perkara yang dianjurkan, dan merupakan bagian dari syari’at yang disyari’atkan oleh Allah kepada hamba-hambaNya. Karena digantinya hari raya jahiliyah dengan dua hari raya Islam menunjukkan bahwa apa yang dilakukan di dua hari raya Islam tersebut adalah apa yang juga dilakukan oleh orang-orang jahiliyah pada perayaan mereka (selama tidak dilarang-pen). Hanya saja Nabi menyelisihi dari sisi penentuan waktu dua hari rayanya… Adapun memberi kelapangan kepada anak-anak dalam hari-hari raya yang menyebabkan mereka senang dan gembira dari beban ibadah maka ini disyari’atkan” (Subulus Salaam 2/70) Karenanya pada hari ‘Ied  Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam membolehkan duff (rebana) dimainkan. Demikian juga Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam membiarkan orang-orang Habasyah untuk bermain-main di Masjid Nabawi, bahkan Aisyah menonton permainan mereka.Dan Nabi shallallahu álaihi wasallam berkata :لَتَعْلَمُ يَهُودُ أَنَّ فِي دِينِنَا فُسْحَةً، إِنِّي أُرْسِلْتُ بِحَنِيفِيَّةٍ سَمْحَةٍ”Agar kaum yahudi bahwasanya pada agama kita ada kelonggaran, sesungguhnya aku diutus dengan agama yang lurus dan mudah” (HR Ahmad no 24855)Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, walillahil hamd.Kaum muslimin sekalian…kegembiraan yang begitu indah ini ternyata pada sebagian orang menjadi terganggu dan terkotori oleh permusuhan yang masih berlanjut, dendam yang masih membara diantara mereka.Ada diantara mereka berlebaran namun hati mereka masih jengkel dan marah kepada kerabatnya sendiri…Ada yang masih bermusuhan dengan saudara kandungnya…Bahkan ada yang masih menyimpan sejuta kejengkelan terhadap orang tuanya sendiri…Telah lama tali silaturahmi terputuskan… telah lama tali silaturahmi tercampakkan…sementara Nabi shallallahu álaihi wasallam bersabda :لاَ يَدْخُلُ الجَنَّةَ قَاطِعٌ“Tidak masuk surga pemutus silaturahmi”(HR Al-Bukhari no 5984 dan Muslim no 2556)Sungguh ancaman yang sangat mengerikan….tidak masuk surga orang yang memutuskan silaturahmi.Silaturahmi adalah menyambung kebaikan kepada kerabat, yaitu yang masih memiliki hubungan darah (yaitu satu Rahim). Rahim seseorang yang terdekat adalah, ibu, ayah, kakek, nenek, saudara kandung, saudara seayah, saudara seibu, dan paman/om serta tante/bibi.Adapun menyambung kebaikan kepada selain kerabat maka itu merupakan kebaikan yang dituntut dalam syariát akan tetapi itu bukanlah silaturahmi. Silaturahmi dikhususkan kepada kerabat, dan kedudukannya lebih tinggi.Sebagian orang menempatkan istilah silaturahim tidak pada tempatnya. Jika ia mengunjungi kawannya -yang bukan kerabatnya- ia menganggap itu adalah silaturahmi.Contoh mereka mengadakan acara “reuni teman-teman sekolah/kuliah” lalu mereka menamakannya dengan silaturahmi, padahal tidak ada hubungan darah, nasab, dan kekerabatan antara mereka.Diantara akibat kerancuan istilah ini ada sebagian orang yang semangat melakukan ziaraoh/kunjungan/pertemuan dengan sahabat-sahabatnya (dengan merasa ia sedang bersilaturahmi) sementara karib kerabatnya yang senasab tidak pernah atau jarang ia kunjungi.Diantara fenomena yang tersebar adalah kita dapati sebagian orang begitu baik dan mesra hubungannya dengan orang lain, orang yang jauh, yang tidak ada hubungan kekerabatan dengannya, akan tetapi ternyata hubungannya sangat buruk dengan kerabatnya sendiri.Selain terancam terhalangi dari surga ternyata orang yang memutuskan silaturahmi dilaknat oleh Allah.Nabi shallallahu álaihi wasallam bersabda :إِنَّ اللهَ خَلَقَ الْخَلْقَ حَتَّى إِذَا فَرَغَ مِنْهُمْ قَامَتِ الرَّحِمُ   (وفي رواية: الرَّحِمُ مُعَلَّقَةٌ بِالْعَرْشِ) ، فَقَالَتْ: هَذَا مَقَامُ الْعَائِذِ مِنَ الْقَطِيعَةِ، قَالَ: نَعَمْ، أَمَا تَرْضَيْنَ أَنْ أَصِلَ مَنْ وَصَلَكِ، وَأَقْطَعَ مَنْ قَطَعَكِ؟ قَالَتْ: بَلَى، قَالَ: فَذَاكِ لَكِ ” ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اقْرَءُوا إِنْ شِئْتُمْ: {فَهَلْ عَسَيْتُمْ إِنْ تَوَلَّيْتُمْ أَنْ تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ وَتُقَطِّعُوا أَرْحَامَكُمْ، أُولَئِكَ الَّذِينَ لَعَنَهُمُ اللهُ فَأَصَمَّهُمْ وَأَعْمَى أَبْصَارَهُمْ، أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَى قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا}“Sesungguhnya tatkala Allah selesai menciptakan makhluk maka Ar-Rahim (kekerabatan) pun berdiri (dalam riwayat yang lain : Bargantung kepada árys) lalu berkata, ”Ini adalah tempat yang berlindung dari pemutusan silaturahmi”. Allah berkata, “Iya, apakah engkau suka jika aku menyambung orang yang menyambungmu, dan aku memutus orang yang memutuskanmu?”. Rahim berkata, “Tentu”. Allah berkata, “Maka itulah untukmu”.Kemudian Rasulullah shallallahu álaihi wasallam berkata, “Bacalah jika kalian menghendaki firman Allah : Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan. Mereka itulah orang-orang yang dilaknati Allah dan ditulikan-Nya telinga mereka dan dibutakan-Nya penglihatan mereka. Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran ataukah hati mereka terkunci (QS Muhammad : 22-24) (HR Muslim no 2554)Ia rajin sholat, ia rajin sedekah, ia rajin membantu orang lain, akan tetapi ternyata ia terlaknat…sungguh kondisi yang mengenaskan.Lihatlah Rahim (kekerabatan) bergantung di makhluk Allah yang tertinggi dan terbesar yaitu Árys Allah, lalu mengeluh dan meminta perlindungan kepada Allah dari para pemutusnya. Maka Allah memenuhi permohonannya. Bahkan Allah mengabarkan bahwa Allah telah melaknatnya.Diantara naasnya pemutus silaturahmi ia juga tidak mendapatkan bonus ampunan dari Allah yang Allah berikan setiap hari senin dan kamis. Nabi shallallahu álaihi wasallam bersabda :تُفْتَحُ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ يَوْمُ الاثْنَيْنِ وَ الْخَمِيسِ فَيُغْفَرُ لِكُلِّ عَبْدٍ لا يُشْرِكُ بِالله شَيْئًا إِلا رَجُلا كَانَتْ بَيْنَهُ وَبَيْنَ أَخِيهِ شَحْنَاءُ ، فَيُقَالُ : أَنْظِرُوا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا “Telah dibukakan pintu-pintu surga setiap hari Senin dan Kamis. Maka seluruh hamba yang tidak berbuat syirik kepada Allāh sama sekali akan diberi ampunan oleh Allāh, kecuali seseorang yang punya permusuhan dengan saudaranya.” Maka dikatakan kepada para malaikat, “Tangguhkanlah (dari ampunan Allāh) dua orang ini sampai mereka berdua damai.” (HR. Muslim no. 2565)Yang lebih parah lagi sebagian mereka tidak saling menyapa hingga berbulan-bulan…bahkan bertahun-tahun. Sementara Nabi shallallahu álaihi wasallam bersabda :مَنْ هَجَرَ أَخَاهُ سَنَةً فَهُوَ كَسَفْكِ دَمِهِ“Barangsiapa yang memboikot / meng-hajr saudaranya selama setahun, maka seakan-akan dia telah menumpahkan darah saudaranya.” (HR. Ahmad no 17.935, Abu Daud no 4.915)Sungguh menyedihkan…dan sungguh celaka…jika ia telah memutuskan silaturahmi sejak setahun penuh….maka selama itu jika ia sholat maka tidak akan diterima sholatnya oleh Allah. Nabi shallallahu álaihi wasallam bersabda :ثَلَاثَةٌ لَا تُرْفَعُ لهم صَلَاتُهُمْ فَوْقَ رُءُوسِهِمْ شِبْرًا : رَجُلٌ أَمَّ قَوْمًا وَهُمْ لَهُ كَارِهُونَ، وَامْرَأَةٌ بَاتَتْ وَزَوْجُهَا عَلَيْهَا سَاخِطٌ، وَأَخَوَانِ مُتَصَارِمَانِ “Ada tiga golongan orang yang shalat, yang shalat mereka tidak akan terangkat di atas kepala mereka meskipun hanya sejengkal (artinya shalat mereka tidak diterima oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla), yaitu seorang yang menjadi imam pada suatu kaum padahal kaumnya itu benci kepadanya (tidak suka dia menjadi imam); seorang wanita yang dia tidur sementara suaminya marah kepadanya, (tentunya marah karena ada sebab yang syar’i) dan dua orang saudara yang saling bermusuhan (saling menghajr). (HR. Ibnu Majah I/311 no. 971, dan dihasankan oleh Al-Albani dalam Misyakatul Mashabih no. 1128)Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar walillahil hamd.Di hari yang indah ini, marilah kita memilin kembali tali rumpun persaudaran kekerabatan yang terurai….menyambung kembali yang terputus…Kalahkan ego…buat apa kita menyimpan dendam dan permusuhan kepada orang terdekat kita…kehidupan kita hanya sebentar maka jangan dirusak dengan dendam dan kejengkelan.لَا يَحِلُّ لمُسْلِمٍ أَنْ يَهْجُرَ أَخَاهُ فَوْقَ ثَلَاثِ لَيَالٍ، يَلْتَقِيَانِ فَيُعْرِضُ هَذَا وَيُعْرِضُ هَذَا، وَخَيْرُهُمَا الَّذِي يَبْدَأُ بِالسَّلَامِ (مُتَّفَقٌ عليهِ)“Tidak halal bagi seorang muslim untuk menghajr (memboikot) saudaranya lebih dari 3 malam (yaitu 3 hari). Mereka berdua bertemu namun yang satu berpaling dan yang lainnya juga berpaling. Dan yang terbaik diantara mereka berdua yaitu yang memulai dengan memberi salam.” (HR Al-Bukhari dan Muslim)Yang terbaik adalah yang mengalahkan egonya -mengalahkan syaitan- karena akhiratnya, sehingga dia yang lebih dahulu menyampaikan salam, meskipun dia yang benar…, apalagi jika dia yang bersalah.Yang sangat menyedihkan betapa banyak orang yang terjerumus dalam memutuskan silaturahmi lantas merekapun berusaha melegalkan dosa mereka ini dengan melimpahkan kesalahan kepada saudaranya. Menuduh bahwa saudaranya yang telah memulai permasalahan…yang memulai memutuskan silaturahmi.Jauh lebih baik orang yang bersalah lantas mengakui bahwa ia berdosa…Orang seperti ini -yang selalu melegalkan sikapnya yang bermusuhan dengan kerabatnya- maka kapankah ia akna bertaubat dari dosa memutuskan silaturahmi…Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar walillahil hamd.Ketahuilah bahwasanya silaturahmi adalah ibadah yang sangat mulia, salah sebab utama yang memasukan seseorang ke dalam surga. Allah berfirman tentang ciri-ciri penghuni surgaوَٱلَّذِينَ يَصِلُونَ مَآ أَمَرَ الله بِهِۦٓ أَن يُوصَلَ“Dan orang-orang yang menghubungkan (menyambungkan) apa-apa yang Allāh perintahkan supaya dihubungkan (disambung, yaitu silaturahim).“ (QS. Ar-Ra’du: 21)Setelah menyebutkan beberapa amalan, lalu Allāh menyebutkan,أُولَٰئِكَ لَهُمْ عُقْبَى الدَّارِ“Bagi mereka kesudahan (tempat tinggal) yang terbaik.” (QS. Ar-Ra’du: 22)جَنَّٰتُ عَدْنٍ يَدْخُلُونَهَا“(yaitu) surga ´Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama.” (QS. Ar-Ra’du: 23)Bahkan Allah mendahulukan kerabat daripada anak yatim dan faqir miskin. Allah berfirman :وَإِذْ أَخَذْنَا مِيثَاقَ بَنِي إِسْرَائِيلَ لَا تَعْبُدُونَ إِلَّا اللَّهَ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِDan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil (yaitu): Janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat kebaikanlah kepada ibu bapa, kaum kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin  (QS Al-Baqoroh : 83)وَآتِ ذَا الْقُرْبَى حَقَّهُ وَالْمِسْكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَلَا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًاDan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros (QS Al-Isroo’: 26)Karena silaturahmi pahalanya sangat besar maka cobaannya pun berat. Terkadang seseorang begitu mencintai hartanya dan merasa berat untuk membantu keluarganya, maka ingatlah bahwa Allah memotivasi hambaNya untuk memberikan harta yang ia cintai pada keluarganya.وَآتَى الْمَالَ عَلَى حُبِّهِ ذَوِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَالسَّائِلِينَ وَفِي الرِّقَابِdan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya (QS Al-Baqoroh : 177)Terkadang seseorang takut jika ia membantu keluarganya maka hartanya akan berkurang, maka ingatlah sabda Nabi :مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِى رِزْقِهِ وَيُنْسَأَ لَهُ فِى أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ“Barangsiapa senang untuk dilapangkan rezeki dan dipanjangkan umurnya, maka jalinlah tali silaturahim (hubungan antarkerabat).” (HR. Bukhari)Terkadang seseorang mendapati kerabatnya yang tidak menghargai pemberiannya, atau menghinanya, atau menyakitinya, maka hendaknya ia bersabar.Rasulullah bersabda,لَيْسَ الْوَاصِلُ بِالْمُكَافِئِ وَلَكِنَّ الْوَاصِلَ الَّذِي إِذَا قُطِعَتْ رَحِمُهُ وَصَلَهَا“Bukanlah penyambung silaturahim adalah yang hanya menyambung kalau dibaiki, akan tetapi penyambung silaturahim adalah yang tetap menyambung meskipun silaturahimnya diputuskan (oleh kerabatnya).” (HR. Al-Bukhari)Artinya, penyambung silaturahim yang sesungguhnya adalah orang yang jika diputuskan silaturahim dia tetap menyambungnya.Dalam Shahih Muslim disebutkan,عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ: أَنَّ رَجُلًا قَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّ لِي قَرَابَةً أَصِلُهُمْ وَيَقْطَعُونِي، وَأُحْسِنُ إِلَيْهِمْ وَيُسِيئُونَ إِلَيَّ، وَأَحْلُمُ عَنْهُمْ وَيَجْهَلُونَ عَلَيَّ. قَالَ: ” لَئِنْ كُنْتَ كَمَا تَقُولُ، فَكَأَنَّمَا  تُسِفُّهُمْ الْمَلَّ، وَلَا يَزَالُ مَعَكَ مِنَ اللهِ ظَهِيرٌ عَلَيْهِمْ، مَا دُمْتَ عَلَى ذَلِكَDari Abu Hurairah,  ada seorang lelaki berkata kepada Rasulullah, “Ya Rasulullah, sesungguhnya aku mempunyai kerabat, aku menyambung silaturahim kepada mereka, namun mereka memutuskan silaturahim kepadaku. Aku berbuat baik kepada mereka, namun mereka berbuat buruk kepadaku. Aku bersabar dengan mereka sementara mereka berbuat kejahilan kepadaku, yaitu dengan mengucapkan kata-kata yang buruk.” Maka kata Nabi, “Kalau engkau benar sebagaimana yang engkau katakan, maka seakan-akan engkau memasukkan debu yang panas di mulut-mulut mereka, dan senantiasa ada penolong dari Allah bersamamu atas mereka selama engkau dalam kondisi demikian.” (HR. Muslim no. 2.558)Maksudnya, Rasulullah menjelaskan kalau dalam kondisi demikian, maka sesungguhnya engkau menghinakan mereka, seakan-akan engkau memasukkan debu yang  panas ke dalam mulut mereka, karena mereka berusaha berbuat buruk dan engkau terus membalas dengan kebaikan.Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, walillahil hamd.Semoga Allah menyatukan hati-hati yang saling menjauh, meluluhkan kembali hati-hati yang menyimpan dendam dan kejengkelan. Agar lebaran kali ini lebih indah….agar lebih bermakna…Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, walillahil hamd.Para ibu-ibu sekalian, sungguh tatkala Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkhutbah ‘ied maka beliau mengkhususkan sebuah nasehat untuk kalian wahai kaum Hawa.Jabir bin Abdillah radhiallahu ‘anhu beliau berkata :شَهِدْتُ مَعَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الصَّلاَةَ يَوْمَ الْعِيْدِ فَبَدَأَ بِالصَّلاَةِ قَبْلَ الْخُطْبَةِ بِغَيْرِ أَذَانٍ وَلاَ إِقَامَةٍ ثُمَّ قَامَ مُتَوَكِّئًا عَلَى بِلاَلٍ فَأَمَرَ بِتَقْوَى اللهِ وَحَثَّ عَلَى طَاعَتِهِ وَوَعَظَ النَّاسَ وَذَكَّرَهُمْ ثَمَ مَضَى حَتَّى أَتَى النِّسَاءَ فَوَعَظَهُنَّ وَذَكَّرَهُنَّ فَقَالَ : تَصَدَّقْنَ فَإِنَّ أَكْثَرَكُنَّ حَطَبُ جَهَنَّمَ. فَقَامَتْ امْرَأَةٌ مِنْ وَسَطِ النِّسَاءِ سَفْعَاءَ الْخَدَّيْنِ فَقَالَتْ : لِمَ يَارَسُوْلَ اللهِ ؟ قَالَ : لِأَنَّكُنَّ تُكْثِرْنَ الشَّكَاةَ وَتَكْفُرْنَ الْعَشِيْرَ قَالَ : فَجَعَلْنَ يَتَصَدَّقْنَ مِنْ حُلِيِّهِنَّ يُلْقِيْنَ فِي ثَوْبِ بِلاَلٍ مِنْ أَقْرَاطِهِنَّ وَخَوَاتِمِهِنَّ“Aku bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menghadiri sholat pada hari raya, maka beliau memulai dengan sholat sebelu khutbah tanpa adzan dan iqomah, lalu beliau bertelekan kepada Bilal dan beliau memerintahkan untuk bertakwa dan mendorong untuk ta’at kepada Allah dan beliau menasehati orang-orang dan mengingatkan mereka. Setelah itu beliau berjalan menuju para wanita lalu beliau menasehati mereka dan mengingatkan mereka, beliau berkata : “Hendaknya kalian bersedekah, sesungguhnya kalian adalah mayoritas pembakar neraka Jahannam”. Maka diantara para wanita berdirilah seorang wanita yang kedua pipinya ada perubahan dan ada kehitaman dan ia berkata : “Kenapa wahai Rasulullah?”. Maka Nabi berkata :“Karena kalian sering mengeluh dan banyak mengingkari kebaikan suami”. Maka para wanitapun bersedekah dari perhiasan mereka, mereka melemparkan perhiasan mereka ke baju Bilal, berupa anting-anting dan cincin-cincin mereka” Dalam riwayat Abu Sa’id Al-Khudri radhiallahu ‘anhu Rasulullah berkata : تُكْثِرْنَ اللَّعْنَ وَتَكْفُرْنَ الْعَشِيْرَ “Karena kalian banyak melaknat dan kalian banyak mengingkari kebaikan suami” Dalam riwayat Ibnu Umar radhiallahu ‘anhu Nabi berkata kepada mereka : يَا مَعْشَرَ النِّسَاءِ تَصَدَّقْنَ وَأَكْثِرْنَ الإِسْتِغْفَارَ ” “Wahai para wanita bersedekahlah kalian, dan perbanyaklah beristighfar kepada Allah”Karenanya para wanita, janganlah kalian melupakan kebaikan suami kalian, janganlah kalian suka mengeluh kepada suami kalian atau mengeluhkan tentang suami kalian, sesungguhnya kehidupan dunia penuh dengan kepayahan dan kesulitan dan tidak akan pernah ada kesempurnaan. Ingatlah suami kalian adalah surga atau neraka kalian sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallamفَإِنَّهُ جَنَّتُكِ أَوْ نَارُكِ“Sesungguhnya suamimu adalah surgamu atau nerakamu”.Jika suamimu ridho dan suka dengan sikapmu, bahagia tatkala  memandangmu, mendapatimu adalah seorang wanita yang sabar yang tidak suka mengeluh maka sungguh engkau telah membuka selebar-lebarnya pintu surga bagi dirimu. Akan tetapi jika perkaranya adalah sebaliknya, engkau adalah seorang istri yang suka mengeluh, lupa dengan kebaikan suamimu, maka sungguh engkau telah membuka selebar-lebarnya pintu neraka Jahannam bagi dirimu…!!Ingatlah jika engkau telah menikah maka engkau wajib berbakti kepada suamimu sebagaimana engkau wajib berbakti kepada kedua orang tuamu. Jika engkau -wahai wanita sholehah- merasa mendapatkan pahala yang besar tatkala menyenangkan hati ayah dan ibumu, maka demikian pula hendaknya engkau merasa mendapatkan pahala yang besar tatkala menyenangkan dan membahagiakan suamimu. Sebaliknya, jika engkau merasa berdosa besar tatkala membentak dan mengangkat suara di hadapan ayah dan ibumu, maka hendaknya engkau juga merasa berdosa tatkala mengangkat suara dan membentak suami.          Allahu Akbar, Allahu Akbar Allahu Akbar, walillahi al-hamdu. Ma’syaro Muslimin….Ramadhan telah berlalu, lembaran baru kehidupan telah kita buka kembali…., catatan dan coretan hitam telah bersih….tantangan baru kembali hadir….Belenggu-belenggu syaitan telah terlepas…. Sebagaimana orang-orang yang berpuasa pada hari ini bergembira -karena meraih ampunan Allah-, maka demikian juga para pelaku maksiat juga ikut bergembira dengan berlalunya bulan Ramadhan. Para sahabat mereka dari kalangan syaitan telah terlepas belenggunya dan siap bekerjasama lagi dengan mereka. Para pelaku kemaksiatan kembali leluasa melancarkan godaan mereka.          Sesungguhnya bulan Ramadhan ibarat pesantren kilat yang telah memperbaiki akhlak kita sebulan penuh, telah menggembleng kita untuk kuat sholat malam, mengajari kita untuk meninggalkan syahwat dan hawa nafsu karena Allah, maka sekarang tiba saatnya kita berhadapan dengan ujian…Apakah di sebelas bulan ke depan kita masih bisa menunjukan pelajaran-pelajaran dari Ramadhan sang guru mulia?, ataukah hilang dan lenyaplah nilai-nilai Ramadhan tersebut?Apakah sholat lima waktu secara berjama’ah di masjid masih bisa kita jaga?Apakah sholat malam -meskipun hanya sholat witir tiga raka’at atau bahkan hanya satu raka’at- masih bisa kita jaga?Lembaran-lembaran Al-Qur’an yang selama ini menemani kita di bulan Ramadhan apakah masih bisa tetap menemani kita di sebelas bulan ke depan?Ataukah semuanya telah berubah?, sholat kita mulai bolong-bolong dan mesjid-mesjid mulai kita tinggalkan?, sholat malam kita berganti mimpi-mimpi dalam tidur yang lelap?, Al-Qur’an tidak lagi menemani kita akan tetapi selalu menjadi hiasan indah di rak-rak kita?. Jika perkaranya demikian maka percayalah bahwa sesungguhnya pesantren Ramadhan yang kita jalani selama sebulan adalah pesantren yang gagal, ternyata petuah-petuah Ramadhan sang guru tidak kita indahkan lagi.========= doa ========

Menyambung Kembali Yang Telah Putus….Memilin Kembali Yang Telah Terurai

(Khutbah ‘Iedul Fithri)Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, Walillahil hamd.Hari ini hari kemenangan….menang melawan syaitan dan melawan syahwat…Hari ini hari bergembira….gembira dengan ampunan Allah yang telah dijanjikan, gembira dengan kasih sayang Allah, gembira meraih surga Allah yang telah dijanjikan kepada orang-orang yang diterima puasa mereka.Hari ini…hari saling mengunjungi diantara kaum muslimin…hari saling mendoakan agar perjuangan sebulan penuh diterima di sisiNya. Sungguh tiada kata yang lebih indah dari ucapan تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ “Semoga Allah menerima amal ibadah kami dan ibadah kalian”Apalagi yang diharapkan oleh seorang yang telah berpuasa dan berjuang selama sebulan penuh melainkan agar ibadah mereka diterima oleh Allah.Hari ini adalah hari bergembira… Allah berfirmanقُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَKatakanlah: “Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan” (QS Yunus : 58)Bahkan di hari lebaran Nabi membolehkan untuk bersenang-senang dan bermain-main.Hari raya adalah hari bergembira dan bersenang-senang. Karenanya tatkala Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mendapati penduduk Madinah bermain-main pada dua hari raya tradisi mereka tatkala jahiliyah, maka Nabi mengingkari kedua hari tersebut, akan tetapi Nabi tidak mengingkari bermain-mainnya.وَعَنْ أَنَسٍ رَضَي اللَّهُ عَنْهُ قالَ: قَدمَ رسولُ  الله صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّم المدينة وَلهُم يَوْمان يَلْعبُون فيهما فقَالَ: “قَدْ أَبْدلَكمُ الله بِهِمَا خَيْراً منهما: يومَ الأضحْى ويوْمَ الْفِطْرDari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu berkata : “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mendatangi kota Madinah, dan penduduk kota Madinah memiliki dua hari yang mereka bermain-main pada dua hari tersebut. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata : “Allah telah menggantikan kedua hari tersebut dengan dua hari yang lebih baik, yaitu hari idul Adha dan hari Idul Fithri” (HR Abu Dawud dan Nasaai)As-Shon’aani rahimahullah berkata :وَفِيهِ دَلِيلٌ عَلَى أَنَّ إظْهَارَ السُّرُورِ فِي الْعِيدَيْنِ مَنْدُوبٌ، وَأَنَّ ذَلِكَ مِنْ الشَّرِيعَةِ الَّتِي شَرَعَهَا اللَّهُ لِعِبَادِهِ إذْ فِي إبْدَالِ عِيدِ الْجَاهِلِيَّةِ بِالْعِيدَيْنِ الْمَذْكُورَيْنِ دَلَالَةٌ عَلَى أَنَّهُ يُفْعَلُ فِي الْعِيدَيْنِ الْمَشْرُوعَيْنِ مَا تَفْعَلُهُ الْجَاهِلِيَّةُ فِي أَعْيَادِهَا، وَإِنَّمَا خَالَفَهُمْ فِي تَعْيِينِ الْوَقْتَيْنِ … وَأَمَّا التَّوْسِعَةُ عَلَى الْعِيَالِ فِي الْأَعْيَادِ بِمَا حَصَلَ لَهُمْ مِنْ تَرْوِيحِ الْبَدَنِ وَبَسْطِ النَّفْسِ مِنْ كُلَفِ الْعِبَادَةِ فَهُوَ مَشْرُوعٌ.“Pada hadits ini ada dalil bahwa menampakkan kegembiraan pada dua hari raya adalah perkara yang dianjurkan, dan merupakan bagian dari syari’at yang disyari’atkan oleh Allah kepada hamba-hambaNya. Karena digantinya hari raya jahiliyah dengan dua hari raya Islam menunjukkan bahwa apa yang dilakukan di dua hari raya Islam tersebut adalah apa yang juga dilakukan oleh orang-orang jahiliyah pada perayaan mereka (selama tidak dilarang-pen). Hanya saja Nabi menyelisihi dari sisi penentuan waktu dua hari rayanya… Adapun memberi kelapangan kepada anak-anak dalam hari-hari raya yang menyebabkan mereka senang dan gembira dari beban ibadah maka ini disyari’atkan” (Subulus Salaam 2/70) Karenanya pada hari ‘Ied  Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam membolehkan duff (rebana) dimainkan. Demikian juga Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam membiarkan orang-orang Habasyah untuk bermain-main di Masjid Nabawi, bahkan Aisyah menonton permainan mereka.Dan Nabi shallallahu álaihi wasallam berkata :لَتَعْلَمُ يَهُودُ أَنَّ فِي دِينِنَا فُسْحَةً، إِنِّي أُرْسِلْتُ بِحَنِيفِيَّةٍ سَمْحَةٍ”Agar kaum yahudi bahwasanya pada agama kita ada kelonggaran, sesungguhnya aku diutus dengan agama yang lurus dan mudah” (HR Ahmad no 24855)Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, walillahil hamd.Kaum muslimin sekalian…kegembiraan yang begitu indah ini ternyata pada sebagian orang menjadi terganggu dan terkotori oleh permusuhan yang masih berlanjut, dendam yang masih membara diantara mereka.Ada diantara mereka berlebaran namun hati mereka masih jengkel dan marah kepada kerabatnya sendiri…Ada yang masih bermusuhan dengan saudara kandungnya…Bahkan ada yang masih menyimpan sejuta kejengkelan terhadap orang tuanya sendiri…Telah lama tali silaturahmi terputuskan… telah lama tali silaturahmi tercampakkan…sementara Nabi shallallahu álaihi wasallam bersabda :لاَ يَدْخُلُ الجَنَّةَ قَاطِعٌ“Tidak masuk surga pemutus silaturahmi”(HR Al-Bukhari no 5984 dan Muslim no 2556)Sungguh ancaman yang sangat mengerikan….tidak masuk surga orang yang memutuskan silaturahmi.Silaturahmi adalah menyambung kebaikan kepada kerabat, yaitu yang masih memiliki hubungan darah (yaitu satu Rahim). Rahim seseorang yang terdekat adalah, ibu, ayah, kakek, nenek, saudara kandung, saudara seayah, saudara seibu, dan paman/om serta tante/bibi.Adapun menyambung kebaikan kepada selain kerabat maka itu merupakan kebaikan yang dituntut dalam syariát akan tetapi itu bukanlah silaturahmi. Silaturahmi dikhususkan kepada kerabat, dan kedudukannya lebih tinggi.Sebagian orang menempatkan istilah silaturahim tidak pada tempatnya. Jika ia mengunjungi kawannya -yang bukan kerabatnya- ia menganggap itu adalah silaturahmi.Contoh mereka mengadakan acara “reuni teman-teman sekolah/kuliah” lalu mereka menamakannya dengan silaturahmi, padahal tidak ada hubungan darah, nasab, dan kekerabatan antara mereka.Diantara akibat kerancuan istilah ini ada sebagian orang yang semangat melakukan ziaraoh/kunjungan/pertemuan dengan sahabat-sahabatnya (dengan merasa ia sedang bersilaturahmi) sementara karib kerabatnya yang senasab tidak pernah atau jarang ia kunjungi.Diantara fenomena yang tersebar adalah kita dapati sebagian orang begitu baik dan mesra hubungannya dengan orang lain, orang yang jauh, yang tidak ada hubungan kekerabatan dengannya, akan tetapi ternyata hubungannya sangat buruk dengan kerabatnya sendiri.Selain terancam terhalangi dari surga ternyata orang yang memutuskan silaturahmi dilaknat oleh Allah.Nabi shallallahu álaihi wasallam bersabda :إِنَّ اللهَ خَلَقَ الْخَلْقَ حَتَّى إِذَا فَرَغَ مِنْهُمْ قَامَتِ الرَّحِمُ   (وفي رواية: الرَّحِمُ مُعَلَّقَةٌ بِالْعَرْشِ) ، فَقَالَتْ: هَذَا مَقَامُ الْعَائِذِ مِنَ الْقَطِيعَةِ، قَالَ: نَعَمْ، أَمَا تَرْضَيْنَ أَنْ أَصِلَ مَنْ وَصَلَكِ، وَأَقْطَعَ مَنْ قَطَعَكِ؟ قَالَتْ: بَلَى، قَالَ: فَذَاكِ لَكِ ” ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اقْرَءُوا إِنْ شِئْتُمْ: {فَهَلْ عَسَيْتُمْ إِنْ تَوَلَّيْتُمْ أَنْ تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ وَتُقَطِّعُوا أَرْحَامَكُمْ، أُولَئِكَ الَّذِينَ لَعَنَهُمُ اللهُ فَأَصَمَّهُمْ وَأَعْمَى أَبْصَارَهُمْ، أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَى قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا}“Sesungguhnya tatkala Allah selesai menciptakan makhluk maka Ar-Rahim (kekerabatan) pun berdiri (dalam riwayat yang lain : Bargantung kepada árys) lalu berkata, ”Ini adalah tempat yang berlindung dari pemutusan silaturahmi”. Allah berkata, “Iya, apakah engkau suka jika aku menyambung orang yang menyambungmu, dan aku memutus orang yang memutuskanmu?”. Rahim berkata, “Tentu”. Allah berkata, “Maka itulah untukmu”.Kemudian Rasulullah shallallahu álaihi wasallam berkata, “Bacalah jika kalian menghendaki firman Allah : Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan. Mereka itulah orang-orang yang dilaknati Allah dan ditulikan-Nya telinga mereka dan dibutakan-Nya penglihatan mereka. Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran ataukah hati mereka terkunci (QS Muhammad : 22-24) (HR Muslim no 2554)Ia rajin sholat, ia rajin sedekah, ia rajin membantu orang lain, akan tetapi ternyata ia terlaknat…sungguh kondisi yang mengenaskan.Lihatlah Rahim (kekerabatan) bergantung di makhluk Allah yang tertinggi dan terbesar yaitu Árys Allah, lalu mengeluh dan meminta perlindungan kepada Allah dari para pemutusnya. Maka Allah memenuhi permohonannya. Bahkan Allah mengabarkan bahwa Allah telah melaknatnya.Diantara naasnya pemutus silaturahmi ia juga tidak mendapatkan bonus ampunan dari Allah yang Allah berikan setiap hari senin dan kamis. Nabi shallallahu álaihi wasallam bersabda :تُفْتَحُ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ يَوْمُ الاثْنَيْنِ وَ الْخَمِيسِ فَيُغْفَرُ لِكُلِّ عَبْدٍ لا يُشْرِكُ بِالله شَيْئًا إِلا رَجُلا كَانَتْ بَيْنَهُ وَبَيْنَ أَخِيهِ شَحْنَاءُ ، فَيُقَالُ : أَنْظِرُوا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا “Telah dibukakan pintu-pintu surga setiap hari Senin dan Kamis. Maka seluruh hamba yang tidak berbuat syirik kepada Allāh sama sekali akan diberi ampunan oleh Allāh, kecuali seseorang yang punya permusuhan dengan saudaranya.” Maka dikatakan kepada para malaikat, “Tangguhkanlah (dari ampunan Allāh) dua orang ini sampai mereka berdua damai.” (HR. Muslim no. 2565)Yang lebih parah lagi sebagian mereka tidak saling menyapa hingga berbulan-bulan…bahkan bertahun-tahun. Sementara Nabi shallallahu álaihi wasallam bersabda :مَنْ هَجَرَ أَخَاهُ سَنَةً فَهُوَ كَسَفْكِ دَمِهِ“Barangsiapa yang memboikot / meng-hajr saudaranya selama setahun, maka seakan-akan dia telah menumpahkan darah saudaranya.” (HR. Ahmad no 17.935, Abu Daud no 4.915)Sungguh menyedihkan…dan sungguh celaka…jika ia telah memutuskan silaturahmi sejak setahun penuh….maka selama itu jika ia sholat maka tidak akan diterima sholatnya oleh Allah. Nabi shallallahu álaihi wasallam bersabda :ثَلَاثَةٌ لَا تُرْفَعُ لهم صَلَاتُهُمْ فَوْقَ رُءُوسِهِمْ شِبْرًا : رَجُلٌ أَمَّ قَوْمًا وَهُمْ لَهُ كَارِهُونَ، وَامْرَأَةٌ بَاتَتْ وَزَوْجُهَا عَلَيْهَا سَاخِطٌ، وَأَخَوَانِ مُتَصَارِمَانِ “Ada tiga golongan orang yang shalat, yang shalat mereka tidak akan terangkat di atas kepala mereka meskipun hanya sejengkal (artinya shalat mereka tidak diterima oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla), yaitu seorang yang menjadi imam pada suatu kaum padahal kaumnya itu benci kepadanya (tidak suka dia menjadi imam); seorang wanita yang dia tidur sementara suaminya marah kepadanya, (tentunya marah karena ada sebab yang syar’i) dan dua orang saudara yang saling bermusuhan (saling menghajr). (HR. Ibnu Majah I/311 no. 971, dan dihasankan oleh Al-Albani dalam Misyakatul Mashabih no. 1128)Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar walillahil hamd.Di hari yang indah ini, marilah kita memilin kembali tali rumpun persaudaran kekerabatan yang terurai….menyambung kembali yang terputus…Kalahkan ego…buat apa kita menyimpan dendam dan permusuhan kepada orang terdekat kita…kehidupan kita hanya sebentar maka jangan dirusak dengan dendam dan kejengkelan.لَا يَحِلُّ لمُسْلِمٍ أَنْ يَهْجُرَ أَخَاهُ فَوْقَ ثَلَاثِ لَيَالٍ، يَلْتَقِيَانِ فَيُعْرِضُ هَذَا وَيُعْرِضُ هَذَا، وَخَيْرُهُمَا الَّذِي يَبْدَأُ بِالسَّلَامِ (مُتَّفَقٌ عليهِ)“Tidak halal bagi seorang muslim untuk menghajr (memboikot) saudaranya lebih dari 3 malam (yaitu 3 hari). Mereka berdua bertemu namun yang satu berpaling dan yang lainnya juga berpaling. Dan yang terbaik diantara mereka berdua yaitu yang memulai dengan memberi salam.” (HR Al-Bukhari dan Muslim)Yang terbaik adalah yang mengalahkan egonya -mengalahkan syaitan- karena akhiratnya, sehingga dia yang lebih dahulu menyampaikan salam, meskipun dia yang benar…, apalagi jika dia yang bersalah.Yang sangat menyedihkan betapa banyak orang yang terjerumus dalam memutuskan silaturahmi lantas merekapun berusaha melegalkan dosa mereka ini dengan melimpahkan kesalahan kepada saudaranya. Menuduh bahwa saudaranya yang telah memulai permasalahan…yang memulai memutuskan silaturahmi.Jauh lebih baik orang yang bersalah lantas mengakui bahwa ia berdosa…Orang seperti ini -yang selalu melegalkan sikapnya yang bermusuhan dengan kerabatnya- maka kapankah ia akna bertaubat dari dosa memutuskan silaturahmi…Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar walillahil hamd.Ketahuilah bahwasanya silaturahmi adalah ibadah yang sangat mulia, salah sebab utama yang memasukan seseorang ke dalam surga. Allah berfirman tentang ciri-ciri penghuni surgaوَٱلَّذِينَ يَصِلُونَ مَآ أَمَرَ الله بِهِۦٓ أَن يُوصَلَ“Dan orang-orang yang menghubungkan (menyambungkan) apa-apa yang Allāh perintahkan supaya dihubungkan (disambung, yaitu silaturahim).“ (QS. Ar-Ra’du: 21)Setelah menyebutkan beberapa amalan, lalu Allāh menyebutkan,أُولَٰئِكَ لَهُمْ عُقْبَى الدَّارِ“Bagi mereka kesudahan (tempat tinggal) yang terbaik.” (QS. Ar-Ra’du: 22)جَنَّٰتُ عَدْنٍ يَدْخُلُونَهَا“(yaitu) surga ´Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama.” (QS. Ar-Ra’du: 23)Bahkan Allah mendahulukan kerabat daripada anak yatim dan faqir miskin. Allah berfirman :وَإِذْ أَخَذْنَا مِيثَاقَ بَنِي إِسْرَائِيلَ لَا تَعْبُدُونَ إِلَّا اللَّهَ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِDan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil (yaitu): Janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat kebaikanlah kepada ibu bapa, kaum kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin  (QS Al-Baqoroh : 83)وَآتِ ذَا الْقُرْبَى حَقَّهُ وَالْمِسْكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَلَا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًاDan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros (QS Al-Isroo’: 26)Karena silaturahmi pahalanya sangat besar maka cobaannya pun berat. Terkadang seseorang begitu mencintai hartanya dan merasa berat untuk membantu keluarganya, maka ingatlah bahwa Allah memotivasi hambaNya untuk memberikan harta yang ia cintai pada keluarganya.وَآتَى الْمَالَ عَلَى حُبِّهِ ذَوِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَالسَّائِلِينَ وَفِي الرِّقَابِdan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya (QS Al-Baqoroh : 177)Terkadang seseorang takut jika ia membantu keluarganya maka hartanya akan berkurang, maka ingatlah sabda Nabi :مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِى رِزْقِهِ وَيُنْسَأَ لَهُ فِى أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ“Barangsiapa senang untuk dilapangkan rezeki dan dipanjangkan umurnya, maka jalinlah tali silaturahim (hubungan antarkerabat).” (HR. Bukhari)Terkadang seseorang mendapati kerabatnya yang tidak menghargai pemberiannya, atau menghinanya, atau menyakitinya, maka hendaknya ia bersabar.Rasulullah bersabda,لَيْسَ الْوَاصِلُ بِالْمُكَافِئِ وَلَكِنَّ الْوَاصِلَ الَّذِي إِذَا قُطِعَتْ رَحِمُهُ وَصَلَهَا“Bukanlah penyambung silaturahim adalah yang hanya menyambung kalau dibaiki, akan tetapi penyambung silaturahim adalah yang tetap menyambung meskipun silaturahimnya diputuskan (oleh kerabatnya).” (HR. Al-Bukhari)Artinya, penyambung silaturahim yang sesungguhnya adalah orang yang jika diputuskan silaturahim dia tetap menyambungnya.Dalam Shahih Muslim disebutkan,عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ: أَنَّ رَجُلًا قَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّ لِي قَرَابَةً أَصِلُهُمْ وَيَقْطَعُونِي، وَأُحْسِنُ إِلَيْهِمْ وَيُسِيئُونَ إِلَيَّ، وَأَحْلُمُ عَنْهُمْ وَيَجْهَلُونَ عَلَيَّ. قَالَ: ” لَئِنْ كُنْتَ كَمَا تَقُولُ، فَكَأَنَّمَا  تُسِفُّهُمْ الْمَلَّ، وَلَا يَزَالُ مَعَكَ مِنَ اللهِ ظَهِيرٌ عَلَيْهِمْ، مَا دُمْتَ عَلَى ذَلِكَDari Abu Hurairah,  ada seorang lelaki berkata kepada Rasulullah, “Ya Rasulullah, sesungguhnya aku mempunyai kerabat, aku menyambung silaturahim kepada mereka, namun mereka memutuskan silaturahim kepadaku. Aku berbuat baik kepada mereka, namun mereka berbuat buruk kepadaku. Aku bersabar dengan mereka sementara mereka berbuat kejahilan kepadaku, yaitu dengan mengucapkan kata-kata yang buruk.” Maka kata Nabi, “Kalau engkau benar sebagaimana yang engkau katakan, maka seakan-akan engkau memasukkan debu yang panas di mulut-mulut mereka, dan senantiasa ada penolong dari Allah bersamamu atas mereka selama engkau dalam kondisi demikian.” (HR. Muslim no. 2.558)Maksudnya, Rasulullah menjelaskan kalau dalam kondisi demikian, maka sesungguhnya engkau menghinakan mereka, seakan-akan engkau memasukkan debu yang  panas ke dalam mulut mereka, karena mereka berusaha berbuat buruk dan engkau terus membalas dengan kebaikan.Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, walillahil hamd.Semoga Allah menyatukan hati-hati yang saling menjauh, meluluhkan kembali hati-hati yang menyimpan dendam dan kejengkelan. Agar lebaran kali ini lebih indah….agar lebih bermakna…Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, walillahil hamd.Para ibu-ibu sekalian, sungguh tatkala Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkhutbah ‘ied maka beliau mengkhususkan sebuah nasehat untuk kalian wahai kaum Hawa.Jabir bin Abdillah radhiallahu ‘anhu beliau berkata :شَهِدْتُ مَعَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الصَّلاَةَ يَوْمَ الْعِيْدِ فَبَدَأَ بِالصَّلاَةِ قَبْلَ الْخُطْبَةِ بِغَيْرِ أَذَانٍ وَلاَ إِقَامَةٍ ثُمَّ قَامَ مُتَوَكِّئًا عَلَى بِلاَلٍ فَأَمَرَ بِتَقْوَى اللهِ وَحَثَّ عَلَى طَاعَتِهِ وَوَعَظَ النَّاسَ وَذَكَّرَهُمْ ثَمَ مَضَى حَتَّى أَتَى النِّسَاءَ فَوَعَظَهُنَّ وَذَكَّرَهُنَّ فَقَالَ : تَصَدَّقْنَ فَإِنَّ أَكْثَرَكُنَّ حَطَبُ جَهَنَّمَ. فَقَامَتْ امْرَأَةٌ مِنْ وَسَطِ النِّسَاءِ سَفْعَاءَ الْخَدَّيْنِ فَقَالَتْ : لِمَ يَارَسُوْلَ اللهِ ؟ قَالَ : لِأَنَّكُنَّ تُكْثِرْنَ الشَّكَاةَ وَتَكْفُرْنَ الْعَشِيْرَ قَالَ : فَجَعَلْنَ يَتَصَدَّقْنَ مِنْ حُلِيِّهِنَّ يُلْقِيْنَ فِي ثَوْبِ بِلاَلٍ مِنْ أَقْرَاطِهِنَّ وَخَوَاتِمِهِنَّ“Aku bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menghadiri sholat pada hari raya, maka beliau memulai dengan sholat sebelu khutbah tanpa adzan dan iqomah, lalu beliau bertelekan kepada Bilal dan beliau memerintahkan untuk bertakwa dan mendorong untuk ta’at kepada Allah dan beliau menasehati orang-orang dan mengingatkan mereka. Setelah itu beliau berjalan menuju para wanita lalu beliau menasehati mereka dan mengingatkan mereka, beliau berkata : “Hendaknya kalian bersedekah, sesungguhnya kalian adalah mayoritas pembakar neraka Jahannam”. Maka diantara para wanita berdirilah seorang wanita yang kedua pipinya ada perubahan dan ada kehitaman dan ia berkata : “Kenapa wahai Rasulullah?”. Maka Nabi berkata :“Karena kalian sering mengeluh dan banyak mengingkari kebaikan suami”. Maka para wanitapun bersedekah dari perhiasan mereka, mereka melemparkan perhiasan mereka ke baju Bilal, berupa anting-anting dan cincin-cincin mereka” Dalam riwayat Abu Sa’id Al-Khudri radhiallahu ‘anhu Rasulullah berkata : تُكْثِرْنَ اللَّعْنَ وَتَكْفُرْنَ الْعَشِيْرَ “Karena kalian banyak melaknat dan kalian banyak mengingkari kebaikan suami” Dalam riwayat Ibnu Umar radhiallahu ‘anhu Nabi berkata kepada mereka : يَا مَعْشَرَ النِّسَاءِ تَصَدَّقْنَ وَأَكْثِرْنَ الإِسْتِغْفَارَ ” “Wahai para wanita bersedekahlah kalian, dan perbanyaklah beristighfar kepada Allah”Karenanya para wanita, janganlah kalian melupakan kebaikan suami kalian, janganlah kalian suka mengeluh kepada suami kalian atau mengeluhkan tentang suami kalian, sesungguhnya kehidupan dunia penuh dengan kepayahan dan kesulitan dan tidak akan pernah ada kesempurnaan. Ingatlah suami kalian adalah surga atau neraka kalian sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallamفَإِنَّهُ جَنَّتُكِ أَوْ نَارُكِ“Sesungguhnya suamimu adalah surgamu atau nerakamu”.Jika suamimu ridho dan suka dengan sikapmu, bahagia tatkala  memandangmu, mendapatimu adalah seorang wanita yang sabar yang tidak suka mengeluh maka sungguh engkau telah membuka selebar-lebarnya pintu surga bagi dirimu. Akan tetapi jika perkaranya adalah sebaliknya, engkau adalah seorang istri yang suka mengeluh, lupa dengan kebaikan suamimu, maka sungguh engkau telah membuka selebar-lebarnya pintu neraka Jahannam bagi dirimu…!!Ingatlah jika engkau telah menikah maka engkau wajib berbakti kepada suamimu sebagaimana engkau wajib berbakti kepada kedua orang tuamu. Jika engkau -wahai wanita sholehah- merasa mendapatkan pahala yang besar tatkala menyenangkan hati ayah dan ibumu, maka demikian pula hendaknya engkau merasa mendapatkan pahala yang besar tatkala menyenangkan dan membahagiakan suamimu. Sebaliknya, jika engkau merasa berdosa besar tatkala membentak dan mengangkat suara di hadapan ayah dan ibumu, maka hendaknya engkau juga merasa berdosa tatkala mengangkat suara dan membentak suami.          Allahu Akbar, Allahu Akbar Allahu Akbar, walillahi al-hamdu. Ma’syaro Muslimin….Ramadhan telah berlalu, lembaran baru kehidupan telah kita buka kembali…., catatan dan coretan hitam telah bersih….tantangan baru kembali hadir….Belenggu-belenggu syaitan telah terlepas…. Sebagaimana orang-orang yang berpuasa pada hari ini bergembira -karena meraih ampunan Allah-, maka demikian juga para pelaku maksiat juga ikut bergembira dengan berlalunya bulan Ramadhan. Para sahabat mereka dari kalangan syaitan telah terlepas belenggunya dan siap bekerjasama lagi dengan mereka. Para pelaku kemaksiatan kembali leluasa melancarkan godaan mereka.          Sesungguhnya bulan Ramadhan ibarat pesantren kilat yang telah memperbaiki akhlak kita sebulan penuh, telah menggembleng kita untuk kuat sholat malam, mengajari kita untuk meninggalkan syahwat dan hawa nafsu karena Allah, maka sekarang tiba saatnya kita berhadapan dengan ujian…Apakah di sebelas bulan ke depan kita masih bisa menunjukan pelajaran-pelajaran dari Ramadhan sang guru mulia?, ataukah hilang dan lenyaplah nilai-nilai Ramadhan tersebut?Apakah sholat lima waktu secara berjama’ah di masjid masih bisa kita jaga?Apakah sholat malam -meskipun hanya sholat witir tiga raka’at atau bahkan hanya satu raka’at- masih bisa kita jaga?Lembaran-lembaran Al-Qur’an yang selama ini menemani kita di bulan Ramadhan apakah masih bisa tetap menemani kita di sebelas bulan ke depan?Ataukah semuanya telah berubah?, sholat kita mulai bolong-bolong dan mesjid-mesjid mulai kita tinggalkan?, sholat malam kita berganti mimpi-mimpi dalam tidur yang lelap?, Al-Qur’an tidak lagi menemani kita akan tetapi selalu menjadi hiasan indah di rak-rak kita?. Jika perkaranya demikian maka percayalah bahwa sesungguhnya pesantren Ramadhan yang kita jalani selama sebulan adalah pesantren yang gagal, ternyata petuah-petuah Ramadhan sang guru tidak kita indahkan lagi.========= doa ========
(Khutbah ‘Iedul Fithri)Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, Walillahil hamd.Hari ini hari kemenangan….menang melawan syaitan dan melawan syahwat…Hari ini hari bergembira….gembira dengan ampunan Allah yang telah dijanjikan, gembira dengan kasih sayang Allah, gembira meraih surga Allah yang telah dijanjikan kepada orang-orang yang diterima puasa mereka.Hari ini…hari saling mengunjungi diantara kaum muslimin…hari saling mendoakan agar perjuangan sebulan penuh diterima di sisiNya. Sungguh tiada kata yang lebih indah dari ucapan تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ “Semoga Allah menerima amal ibadah kami dan ibadah kalian”Apalagi yang diharapkan oleh seorang yang telah berpuasa dan berjuang selama sebulan penuh melainkan agar ibadah mereka diterima oleh Allah.Hari ini adalah hari bergembira… Allah berfirmanقُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَKatakanlah: “Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan” (QS Yunus : 58)Bahkan di hari lebaran Nabi membolehkan untuk bersenang-senang dan bermain-main.Hari raya adalah hari bergembira dan bersenang-senang. Karenanya tatkala Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mendapati penduduk Madinah bermain-main pada dua hari raya tradisi mereka tatkala jahiliyah, maka Nabi mengingkari kedua hari tersebut, akan tetapi Nabi tidak mengingkari bermain-mainnya.وَعَنْ أَنَسٍ رَضَي اللَّهُ عَنْهُ قالَ: قَدمَ رسولُ  الله صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّم المدينة وَلهُم يَوْمان يَلْعبُون فيهما فقَالَ: “قَدْ أَبْدلَكمُ الله بِهِمَا خَيْراً منهما: يومَ الأضحْى ويوْمَ الْفِطْرDari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu berkata : “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mendatangi kota Madinah, dan penduduk kota Madinah memiliki dua hari yang mereka bermain-main pada dua hari tersebut. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata : “Allah telah menggantikan kedua hari tersebut dengan dua hari yang lebih baik, yaitu hari idul Adha dan hari Idul Fithri” (HR Abu Dawud dan Nasaai)As-Shon’aani rahimahullah berkata :وَفِيهِ دَلِيلٌ عَلَى أَنَّ إظْهَارَ السُّرُورِ فِي الْعِيدَيْنِ مَنْدُوبٌ، وَأَنَّ ذَلِكَ مِنْ الشَّرِيعَةِ الَّتِي شَرَعَهَا اللَّهُ لِعِبَادِهِ إذْ فِي إبْدَالِ عِيدِ الْجَاهِلِيَّةِ بِالْعِيدَيْنِ الْمَذْكُورَيْنِ دَلَالَةٌ عَلَى أَنَّهُ يُفْعَلُ فِي الْعِيدَيْنِ الْمَشْرُوعَيْنِ مَا تَفْعَلُهُ الْجَاهِلِيَّةُ فِي أَعْيَادِهَا، وَإِنَّمَا خَالَفَهُمْ فِي تَعْيِينِ الْوَقْتَيْنِ … وَأَمَّا التَّوْسِعَةُ عَلَى الْعِيَالِ فِي الْأَعْيَادِ بِمَا حَصَلَ لَهُمْ مِنْ تَرْوِيحِ الْبَدَنِ وَبَسْطِ النَّفْسِ مِنْ كُلَفِ الْعِبَادَةِ فَهُوَ مَشْرُوعٌ.“Pada hadits ini ada dalil bahwa menampakkan kegembiraan pada dua hari raya adalah perkara yang dianjurkan, dan merupakan bagian dari syari’at yang disyari’atkan oleh Allah kepada hamba-hambaNya. Karena digantinya hari raya jahiliyah dengan dua hari raya Islam menunjukkan bahwa apa yang dilakukan di dua hari raya Islam tersebut adalah apa yang juga dilakukan oleh orang-orang jahiliyah pada perayaan mereka (selama tidak dilarang-pen). Hanya saja Nabi menyelisihi dari sisi penentuan waktu dua hari rayanya… Adapun memberi kelapangan kepada anak-anak dalam hari-hari raya yang menyebabkan mereka senang dan gembira dari beban ibadah maka ini disyari’atkan” (Subulus Salaam 2/70) Karenanya pada hari ‘Ied  Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam membolehkan duff (rebana) dimainkan. Demikian juga Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam membiarkan orang-orang Habasyah untuk bermain-main di Masjid Nabawi, bahkan Aisyah menonton permainan mereka.Dan Nabi shallallahu álaihi wasallam berkata :لَتَعْلَمُ يَهُودُ أَنَّ فِي دِينِنَا فُسْحَةً، إِنِّي أُرْسِلْتُ بِحَنِيفِيَّةٍ سَمْحَةٍ”Agar kaum yahudi bahwasanya pada agama kita ada kelonggaran, sesungguhnya aku diutus dengan agama yang lurus dan mudah” (HR Ahmad no 24855)Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, walillahil hamd.Kaum muslimin sekalian…kegembiraan yang begitu indah ini ternyata pada sebagian orang menjadi terganggu dan terkotori oleh permusuhan yang masih berlanjut, dendam yang masih membara diantara mereka.Ada diantara mereka berlebaran namun hati mereka masih jengkel dan marah kepada kerabatnya sendiri…Ada yang masih bermusuhan dengan saudara kandungnya…Bahkan ada yang masih menyimpan sejuta kejengkelan terhadap orang tuanya sendiri…Telah lama tali silaturahmi terputuskan… telah lama tali silaturahmi tercampakkan…sementara Nabi shallallahu álaihi wasallam bersabda :لاَ يَدْخُلُ الجَنَّةَ قَاطِعٌ“Tidak masuk surga pemutus silaturahmi”(HR Al-Bukhari no 5984 dan Muslim no 2556)Sungguh ancaman yang sangat mengerikan….tidak masuk surga orang yang memutuskan silaturahmi.Silaturahmi adalah menyambung kebaikan kepada kerabat, yaitu yang masih memiliki hubungan darah (yaitu satu Rahim). Rahim seseorang yang terdekat adalah, ibu, ayah, kakek, nenek, saudara kandung, saudara seayah, saudara seibu, dan paman/om serta tante/bibi.Adapun menyambung kebaikan kepada selain kerabat maka itu merupakan kebaikan yang dituntut dalam syariát akan tetapi itu bukanlah silaturahmi. Silaturahmi dikhususkan kepada kerabat, dan kedudukannya lebih tinggi.Sebagian orang menempatkan istilah silaturahim tidak pada tempatnya. Jika ia mengunjungi kawannya -yang bukan kerabatnya- ia menganggap itu adalah silaturahmi.Contoh mereka mengadakan acara “reuni teman-teman sekolah/kuliah” lalu mereka menamakannya dengan silaturahmi, padahal tidak ada hubungan darah, nasab, dan kekerabatan antara mereka.Diantara akibat kerancuan istilah ini ada sebagian orang yang semangat melakukan ziaraoh/kunjungan/pertemuan dengan sahabat-sahabatnya (dengan merasa ia sedang bersilaturahmi) sementara karib kerabatnya yang senasab tidak pernah atau jarang ia kunjungi.Diantara fenomena yang tersebar adalah kita dapati sebagian orang begitu baik dan mesra hubungannya dengan orang lain, orang yang jauh, yang tidak ada hubungan kekerabatan dengannya, akan tetapi ternyata hubungannya sangat buruk dengan kerabatnya sendiri.Selain terancam terhalangi dari surga ternyata orang yang memutuskan silaturahmi dilaknat oleh Allah.Nabi shallallahu álaihi wasallam bersabda :إِنَّ اللهَ خَلَقَ الْخَلْقَ حَتَّى إِذَا فَرَغَ مِنْهُمْ قَامَتِ الرَّحِمُ   (وفي رواية: الرَّحِمُ مُعَلَّقَةٌ بِالْعَرْشِ) ، فَقَالَتْ: هَذَا مَقَامُ الْعَائِذِ مِنَ الْقَطِيعَةِ، قَالَ: نَعَمْ، أَمَا تَرْضَيْنَ أَنْ أَصِلَ مَنْ وَصَلَكِ، وَأَقْطَعَ مَنْ قَطَعَكِ؟ قَالَتْ: بَلَى، قَالَ: فَذَاكِ لَكِ ” ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اقْرَءُوا إِنْ شِئْتُمْ: {فَهَلْ عَسَيْتُمْ إِنْ تَوَلَّيْتُمْ أَنْ تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ وَتُقَطِّعُوا أَرْحَامَكُمْ، أُولَئِكَ الَّذِينَ لَعَنَهُمُ اللهُ فَأَصَمَّهُمْ وَأَعْمَى أَبْصَارَهُمْ، أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَى قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا}“Sesungguhnya tatkala Allah selesai menciptakan makhluk maka Ar-Rahim (kekerabatan) pun berdiri (dalam riwayat yang lain : Bargantung kepada árys) lalu berkata, ”Ini adalah tempat yang berlindung dari pemutusan silaturahmi”. Allah berkata, “Iya, apakah engkau suka jika aku menyambung orang yang menyambungmu, dan aku memutus orang yang memutuskanmu?”. Rahim berkata, “Tentu”. Allah berkata, “Maka itulah untukmu”.Kemudian Rasulullah shallallahu álaihi wasallam berkata, “Bacalah jika kalian menghendaki firman Allah : Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan. Mereka itulah orang-orang yang dilaknati Allah dan ditulikan-Nya telinga mereka dan dibutakan-Nya penglihatan mereka. Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran ataukah hati mereka terkunci (QS Muhammad : 22-24) (HR Muslim no 2554)Ia rajin sholat, ia rajin sedekah, ia rajin membantu orang lain, akan tetapi ternyata ia terlaknat…sungguh kondisi yang mengenaskan.Lihatlah Rahim (kekerabatan) bergantung di makhluk Allah yang tertinggi dan terbesar yaitu Árys Allah, lalu mengeluh dan meminta perlindungan kepada Allah dari para pemutusnya. Maka Allah memenuhi permohonannya. Bahkan Allah mengabarkan bahwa Allah telah melaknatnya.Diantara naasnya pemutus silaturahmi ia juga tidak mendapatkan bonus ampunan dari Allah yang Allah berikan setiap hari senin dan kamis. Nabi shallallahu álaihi wasallam bersabda :تُفْتَحُ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ يَوْمُ الاثْنَيْنِ وَ الْخَمِيسِ فَيُغْفَرُ لِكُلِّ عَبْدٍ لا يُشْرِكُ بِالله شَيْئًا إِلا رَجُلا كَانَتْ بَيْنَهُ وَبَيْنَ أَخِيهِ شَحْنَاءُ ، فَيُقَالُ : أَنْظِرُوا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا “Telah dibukakan pintu-pintu surga setiap hari Senin dan Kamis. Maka seluruh hamba yang tidak berbuat syirik kepada Allāh sama sekali akan diberi ampunan oleh Allāh, kecuali seseorang yang punya permusuhan dengan saudaranya.” Maka dikatakan kepada para malaikat, “Tangguhkanlah (dari ampunan Allāh) dua orang ini sampai mereka berdua damai.” (HR. Muslim no. 2565)Yang lebih parah lagi sebagian mereka tidak saling menyapa hingga berbulan-bulan…bahkan bertahun-tahun. Sementara Nabi shallallahu álaihi wasallam bersabda :مَنْ هَجَرَ أَخَاهُ سَنَةً فَهُوَ كَسَفْكِ دَمِهِ“Barangsiapa yang memboikot / meng-hajr saudaranya selama setahun, maka seakan-akan dia telah menumpahkan darah saudaranya.” (HR. Ahmad no 17.935, Abu Daud no 4.915)Sungguh menyedihkan…dan sungguh celaka…jika ia telah memutuskan silaturahmi sejak setahun penuh….maka selama itu jika ia sholat maka tidak akan diterima sholatnya oleh Allah. Nabi shallallahu álaihi wasallam bersabda :ثَلَاثَةٌ لَا تُرْفَعُ لهم صَلَاتُهُمْ فَوْقَ رُءُوسِهِمْ شِبْرًا : رَجُلٌ أَمَّ قَوْمًا وَهُمْ لَهُ كَارِهُونَ، وَامْرَأَةٌ بَاتَتْ وَزَوْجُهَا عَلَيْهَا سَاخِطٌ، وَأَخَوَانِ مُتَصَارِمَانِ “Ada tiga golongan orang yang shalat, yang shalat mereka tidak akan terangkat di atas kepala mereka meskipun hanya sejengkal (artinya shalat mereka tidak diterima oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla), yaitu seorang yang menjadi imam pada suatu kaum padahal kaumnya itu benci kepadanya (tidak suka dia menjadi imam); seorang wanita yang dia tidur sementara suaminya marah kepadanya, (tentunya marah karena ada sebab yang syar’i) dan dua orang saudara yang saling bermusuhan (saling menghajr). (HR. Ibnu Majah I/311 no. 971, dan dihasankan oleh Al-Albani dalam Misyakatul Mashabih no. 1128)Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar walillahil hamd.Di hari yang indah ini, marilah kita memilin kembali tali rumpun persaudaran kekerabatan yang terurai….menyambung kembali yang terputus…Kalahkan ego…buat apa kita menyimpan dendam dan permusuhan kepada orang terdekat kita…kehidupan kita hanya sebentar maka jangan dirusak dengan dendam dan kejengkelan.لَا يَحِلُّ لمُسْلِمٍ أَنْ يَهْجُرَ أَخَاهُ فَوْقَ ثَلَاثِ لَيَالٍ، يَلْتَقِيَانِ فَيُعْرِضُ هَذَا وَيُعْرِضُ هَذَا، وَخَيْرُهُمَا الَّذِي يَبْدَأُ بِالسَّلَامِ (مُتَّفَقٌ عليهِ)“Tidak halal bagi seorang muslim untuk menghajr (memboikot) saudaranya lebih dari 3 malam (yaitu 3 hari). Mereka berdua bertemu namun yang satu berpaling dan yang lainnya juga berpaling. Dan yang terbaik diantara mereka berdua yaitu yang memulai dengan memberi salam.” (HR Al-Bukhari dan Muslim)Yang terbaik adalah yang mengalahkan egonya -mengalahkan syaitan- karena akhiratnya, sehingga dia yang lebih dahulu menyampaikan salam, meskipun dia yang benar…, apalagi jika dia yang bersalah.Yang sangat menyedihkan betapa banyak orang yang terjerumus dalam memutuskan silaturahmi lantas merekapun berusaha melegalkan dosa mereka ini dengan melimpahkan kesalahan kepada saudaranya. Menuduh bahwa saudaranya yang telah memulai permasalahan…yang memulai memutuskan silaturahmi.Jauh lebih baik orang yang bersalah lantas mengakui bahwa ia berdosa…Orang seperti ini -yang selalu melegalkan sikapnya yang bermusuhan dengan kerabatnya- maka kapankah ia akna bertaubat dari dosa memutuskan silaturahmi…Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar walillahil hamd.Ketahuilah bahwasanya silaturahmi adalah ibadah yang sangat mulia, salah sebab utama yang memasukan seseorang ke dalam surga. Allah berfirman tentang ciri-ciri penghuni surgaوَٱلَّذِينَ يَصِلُونَ مَآ أَمَرَ الله بِهِۦٓ أَن يُوصَلَ“Dan orang-orang yang menghubungkan (menyambungkan) apa-apa yang Allāh perintahkan supaya dihubungkan (disambung, yaitu silaturahim).“ (QS. Ar-Ra’du: 21)Setelah menyebutkan beberapa amalan, lalu Allāh menyebutkan,أُولَٰئِكَ لَهُمْ عُقْبَى الدَّارِ“Bagi mereka kesudahan (tempat tinggal) yang terbaik.” (QS. Ar-Ra’du: 22)جَنَّٰتُ عَدْنٍ يَدْخُلُونَهَا“(yaitu) surga ´Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama.” (QS. Ar-Ra’du: 23)Bahkan Allah mendahulukan kerabat daripada anak yatim dan faqir miskin. Allah berfirman :وَإِذْ أَخَذْنَا مِيثَاقَ بَنِي إِسْرَائِيلَ لَا تَعْبُدُونَ إِلَّا اللَّهَ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِDan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil (yaitu): Janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat kebaikanlah kepada ibu bapa, kaum kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin  (QS Al-Baqoroh : 83)وَآتِ ذَا الْقُرْبَى حَقَّهُ وَالْمِسْكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَلَا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًاDan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros (QS Al-Isroo’: 26)Karena silaturahmi pahalanya sangat besar maka cobaannya pun berat. Terkadang seseorang begitu mencintai hartanya dan merasa berat untuk membantu keluarganya, maka ingatlah bahwa Allah memotivasi hambaNya untuk memberikan harta yang ia cintai pada keluarganya.وَآتَى الْمَالَ عَلَى حُبِّهِ ذَوِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَالسَّائِلِينَ وَفِي الرِّقَابِdan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya (QS Al-Baqoroh : 177)Terkadang seseorang takut jika ia membantu keluarganya maka hartanya akan berkurang, maka ingatlah sabda Nabi :مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِى رِزْقِهِ وَيُنْسَأَ لَهُ فِى أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ“Barangsiapa senang untuk dilapangkan rezeki dan dipanjangkan umurnya, maka jalinlah tali silaturahim (hubungan antarkerabat).” (HR. Bukhari)Terkadang seseorang mendapati kerabatnya yang tidak menghargai pemberiannya, atau menghinanya, atau menyakitinya, maka hendaknya ia bersabar.Rasulullah bersabda,لَيْسَ الْوَاصِلُ بِالْمُكَافِئِ وَلَكِنَّ الْوَاصِلَ الَّذِي إِذَا قُطِعَتْ رَحِمُهُ وَصَلَهَا“Bukanlah penyambung silaturahim adalah yang hanya menyambung kalau dibaiki, akan tetapi penyambung silaturahim adalah yang tetap menyambung meskipun silaturahimnya diputuskan (oleh kerabatnya).” (HR. Al-Bukhari)Artinya, penyambung silaturahim yang sesungguhnya adalah orang yang jika diputuskan silaturahim dia tetap menyambungnya.Dalam Shahih Muslim disebutkan,عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ: أَنَّ رَجُلًا قَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّ لِي قَرَابَةً أَصِلُهُمْ وَيَقْطَعُونِي، وَأُحْسِنُ إِلَيْهِمْ وَيُسِيئُونَ إِلَيَّ، وَأَحْلُمُ عَنْهُمْ وَيَجْهَلُونَ عَلَيَّ. قَالَ: ” لَئِنْ كُنْتَ كَمَا تَقُولُ، فَكَأَنَّمَا  تُسِفُّهُمْ الْمَلَّ، وَلَا يَزَالُ مَعَكَ مِنَ اللهِ ظَهِيرٌ عَلَيْهِمْ، مَا دُمْتَ عَلَى ذَلِكَDari Abu Hurairah,  ada seorang lelaki berkata kepada Rasulullah, “Ya Rasulullah, sesungguhnya aku mempunyai kerabat, aku menyambung silaturahim kepada mereka, namun mereka memutuskan silaturahim kepadaku. Aku berbuat baik kepada mereka, namun mereka berbuat buruk kepadaku. Aku bersabar dengan mereka sementara mereka berbuat kejahilan kepadaku, yaitu dengan mengucapkan kata-kata yang buruk.” Maka kata Nabi, “Kalau engkau benar sebagaimana yang engkau katakan, maka seakan-akan engkau memasukkan debu yang panas di mulut-mulut mereka, dan senantiasa ada penolong dari Allah bersamamu atas mereka selama engkau dalam kondisi demikian.” (HR. Muslim no. 2.558)Maksudnya, Rasulullah menjelaskan kalau dalam kondisi demikian, maka sesungguhnya engkau menghinakan mereka, seakan-akan engkau memasukkan debu yang  panas ke dalam mulut mereka, karena mereka berusaha berbuat buruk dan engkau terus membalas dengan kebaikan.Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, walillahil hamd.Semoga Allah menyatukan hati-hati yang saling menjauh, meluluhkan kembali hati-hati yang menyimpan dendam dan kejengkelan. Agar lebaran kali ini lebih indah….agar lebih bermakna…Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, walillahil hamd.Para ibu-ibu sekalian, sungguh tatkala Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkhutbah ‘ied maka beliau mengkhususkan sebuah nasehat untuk kalian wahai kaum Hawa.Jabir bin Abdillah radhiallahu ‘anhu beliau berkata :شَهِدْتُ مَعَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الصَّلاَةَ يَوْمَ الْعِيْدِ فَبَدَأَ بِالصَّلاَةِ قَبْلَ الْخُطْبَةِ بِغَيْرِ أَذَانٍ وَلاَ إِقَامَةٍ ثُمَّ قَامَ مُتَوَكِّئًا عَلَى بِلاَلٍ فَأَمَرَ بِتَقْوَى اللهِ وَحَثَّ عَلَى طَاعَتِهِ وَوَعَظَ النَّاسَ وَذَكَّرَهُمْ ثَمَ مَضَى حَتَّى أَتَى النِّسَاءَ فَوَعَظَهُنَّ وَذَكَّرَهُنَّ فَقَالَ : تَصَدَّقْنَ فَإِنَّ أَكْثَرَكُنَّ حَطَبُ جَهَنَّمَ. فَقَامَتْ امْرَأَةٌ مِنْ وَسَطِ النِّسَاءِ سَفْعَاءَ الْخَدَّيْنِ فَقَالَتْ : لِمَ يَارَسُوْلَ اللهِ ؟ قَالَ : لِأَنَّكُنَّ تُكْثِرْنَ الشَّكَاةَ وَتَكْفُرْنَ الْعَشِيْرَ قَالَ : فَجَعَلْنَ يَتَصَدَّقْنَ مِنْ حُلِيِّهِنَّ يُلْقِيْنَ فِي ثَوْبِ بِلاَلٍ مِنْ أَقْرَاطِهِنَّ وَخَوَاتِمِهِنَّ“Aku bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menghadiri sholat pada hari raya, maka beliau memulai dengan sholat sebelu khutbah tanpa adzan dan iqomah, lalu beliau bertelekan kepada Bilal dan beliau memerintahkan untuk bertakwa dan mendorong untuk ta’at kepada Allah dan beliau menasehati orang-orang dan mengingatkan mereka. Setelah itu beliau berjalan menuju para wanita lalu beliau menasehati mereka dan mengingatkan mereka, beliau berkata : “Hendaknya kalian bersedekah, sesungguhnya kalian adalah mayoritas pembakar neraka Jahannam”. Maka diantara para wanita berdirilah seorang wanita yang kedua pipinya ada perubahan dan ada kehitaman dan ia berkata : “Kenapa wahai Rasulullah?”. Maka Nabi berkata :“Karena kalian sering mengeluh dan banyak mengingkari kebaikan suami”. Maka para wanitapun bersedekah dari perhiasan mereka, mereka melemparkan perhiasan mereka ke baju Bilal, berupa anting-anting dan cincin-cincin mereka” Dalam riwayat Abu Sa’id Al-Khudri radhiallahu ‘anhu Rasulullah berkata : تُكْثِرْنَ اللَّعْنَ وَتَكْفُرْنَ الْعَشِيْرَ “Karena kalian banyak melaknat dan kalian banyak mengingkari kebaikan suami” Dalam riwayat Ibnu Umar radhiallahu ‘anhu Nabi berkata kepada mereka : يَا مَعْشَرَ النِّسَاءِ تَصَدَّقْنَ وَأَكْثِرْنَ الإِسْتِغْفَارَ ” “Wahai para wanita bersedekahlah kalian, dan perbanyaklah beristighfar kepada Allah”Karenanya para wanita, janganlah kalian melupakan kebaikan suami kalian, janganlah kalian suka mengeluh kepada suami kalian atau mengeluhkan tentang suami kalian, sesungguhnya kehidupan dunia penuh dengan kepayahan dan kesulitan dan tidak akan pernah ada kesempurnaan. Ingatlah suami kalian adalah surga atau neraka kalian sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallamفَإِنَّهُ جَنَّتُكِ أَوْ نَارُكِ“Sesungguhnya suamimu adalah surgamu atau nerakamu”.Jika suamimu ridho dan suka dengan sikapmu, bahagia tatkala  memandangmu, mendapatimu adalah seorang wanita yang sabar yang tidak suka mengeluh maka sungguh engkau telah membuka selebar-lebarnya pintu surga bagi dirimu. Akan tetapi jika perkaranya adalah sebaliknya, engkau adalah seorang istri yang suka mengeluh, lupa dengan kebaikan suamimu, maka sungguh engkau telah membuka selebar-lebarnya pintu neraka Jahannam bagi dirimu…!!Ingatlah jika engkau telah menikah maka engkau wajib berbakti kepada suamimu sebagaimana engkau wajib berbakti kepada kedua orang tuamu. Jika engkau -wahai wanita sholehah- merasa mendapatkan pahala yang besar tatkala menyenangkan hati ayah dan ibumu, maka demikian pula hendaknya engkau merasa mendapatkan pahala yang besar tatkala menyenangkan dan membahagiakan suamimu. Sebaliknya, jika engkau merasa berdosa besar tatkala membentak dan mengangkat suara di hadapan ayah dan ibumu, maka hendaknya engkau juga merasa berdosa tatkala mengangkat suara dan membentak suami.          Allahu Akbar, Allahu Akbar Allahu Akbar, walillahi al-hamdu. Ma’syaro Muslimin….Ramadhan telah berlalu, lembaran baru kehidupan telah kita buka kembali…., catatan dan coretan hitam telah bersih….tantangan baru kembali hadir….Belenggu-belenggu syaitan telah terlepas…. Sebagaimana orang-orang yang berpuasa pada hari ini bergembira -karena meraih ampunan Allah-, maka demikian juga para pelaku maksiat juga ikut bergembira dengan berlalunya bulan Ramadhan. Para sahabat mereka dari kalangan syaitan telah terlepas belenggunya dan siap bekerjasama lagi dengan mereka. Para pelaku kemaksiatan kembali leluasa melancarkan godaan mereka.          Sesungguhnya bulan Ramadhan ibarat pesantren kilat yang telah memperbaiki akhlak kita sebulan penuh, telah menggembleng kita untuk kuat sholat malam, mengajari kita untuk meninggalkan syahwat dan hawa nafsu karena Allah, maka sekarang tiba saatnya kita berhadapan dengan ujian…Apakah di sebelas bulan ke depan kita masih bisa menunjukan pelajaran-pelajaran dari Ramadhan sang guru mulia?, ataukah hilang dan lenyaplah nilai-nilai Ramadhan tersebut?Apakah sholat lima waktu secara berjama’ah di masjid masih bisa kita jaga?Apakah sholat malam -meskipun hanya sholat witir tiga raka’at atau bahkan hanya satu raka’at- masih bisa kita jaga?Lembaran-lembaran Al-Qur’an yang selama ini menemani kita di bulan Ramadhan apakah masih bisa tetap menemani kita di sebelas bulan ke depan?Ataukah semuanya telah berubah?, sholat kita mulai bolong-bolong dan mesjid-mesjid mulai kita tinggalkan?, sholat malam kita berganti mimpi-mimpi dalam tidur yang lelap?, Al-Qur’an tidak lagi menemani kita akan tetapi selalu menjadi hiasan indah di rak-rak kita?. Jika perkaranya demikian maka percayalah bahwa sesungguhnya pesantren Ramadhan yang kita jalani selama sebulan adalah pesantren yang gagal, ternyata petuah-petuah Ramadhan sang guru tidak kita indahkan lagi.========= doa ========


(Khutbah ‘Iedul Fithri)Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, Walillahil hamd.Hari ini hari kemenangan….menang melawan syaitan dan melawan syahwat…Hari ini hari bergembira….gembira dengan ampunan Allah yang telah dijanjikan, gembira dengan kasih sayang Allah, gembira meraih surga Allah yang telah dijanjikan kepada orang-orang yang diterima puasa mereka.Hari ini…hari saling mengunjungi diantara kaum muslimin…hari saling mendoakan agar perjuangan sebulan penuh diterima di sisiNya. Sungguh tiada kata yang lebih indah dari ucapan تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ “Semoga Allah menerima amal ibadah kami dan ibadah kalian”Apalagi yang diharapkan oleh seorang yang telah berpuasa dan berjuang selama sebulan penuh melainkan agar ibadah mereka diterima oleh Allah.Hari ini adalah hari bergembira… Allah berfirmanقُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَKatakanlah: “Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan” (QS Yunus : 58)Bahkan di hari lebaran Nabi membolehkan untuk bersenang-senang dan bermain-main.Hari raya adalah hari bergembira dan bersenang-senang. Karenanya tatkala Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mendapati penduduk Madinah bermain-main pada dua hari raya tradisi mereka tatkala jahiliyah, maka Nabi mengingkari kedua hari tersebut, akan tetapi Nabi tidak mengingkari bermain-mainnya.وَعَنْ أَنَسٍ رَضَي اللَّهُ عَنْهُ قالَ: قَدمَ رسولُ  الله صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّم المدينة وَلهُم يَوْمان يَلْعبُون فيهما فقَالَ: “قَدْ أَبْدلَكمُ الله بِهِمَا خَيْراً منهما: يومَ الأضحْى ويوْمَ الْفِطْرDari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu berkata : “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mendatangi kota Madinah, dan penduduk kota Madinah memiliki dua hari yang mereka bermain-main pada dua hari tersebut. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata : “Allah telah menggantikan kedua hari tersebut dengan dua hari yang lebih baik, yaitu hari idul Adha dan hari Idul Fithri” (HR Abu Dawud dan Nasaai)As-Shon’aani rahimahullah berkata :وَفِيهِ دَلِيلٌ عَلَى أَنَّ إظْهَارَ السُّرُورِ فِي الْعِيدَيْنِ مَنْدُوبٌ، وَأَنَّ ذَلِكَ مِنْ الشَّرِيعَةِ الَّتِي شَرَعَهَا اللَّهُ لِعِبَادِهِ إذْ فِي إبْدَالِ عِيدِ الْجَاهِلِيَّةِ بِالْعِيدَيْنِ الْمَذْكُورَيْنِ دَلَالَةٌ عَلَى أَنَّهُ يُفْعَلُ فِي الْعِيدَيْنِ الْمَشْرُوعَيْنِ مَا تَفْعَلُهُ الْجَاهِلِيَّةُ فِي أَعْيَادِهَا، وَإِنَّمَا خَالَفَهُمْ فِي تَعْيِينِ الْوَقْتَيْنِ … وَأَمَّا التَّوْسِعَةُ عَلَى الْعِيَالِ فِي الْأَعْيَادِ بِمَا حَصَلَ لَهُمْ مِنْ تَرْوِيحِ الْبَدَنِ وَبَسْطِ النَّفْسِ مِنْ كُلَفِ الْعِبَادَةِ فَهُوَ مَشْرُوعٌ.“Pada hadits ini ada dalil bahwa menampakkan kegembiraan pada dua hari raya adalah perkara yang dianjurkan, dan merupakan bagian dari syari’at yang disyari’atkan oleh Allah kepada hamba-hambaNya. Karena digantinya hari raya jahiliyah dengan dua hari raya Islam menunjukkan bahwa apa yang dilakukan di dua hari raya Islam tersebut adalah apa yang juga dilakukan oleh orang-orang jahiliyah pada perayaan mereka (selama tidak dilarang-pen). Hanya saja Nabi menyelisihi dari sisi penentuan waktu dua hari rayanya… Adapun memberi kelapangan kepada anak-anak dalam hari-hari raya yang menyebabkan mereka senang dan gembira dari beban ibadah maka ini disyari’atkan” (Subulus Salaam 2/70) Karenanya pada hari ‘Ied  Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam membolehkan duff (rebana) dimainkan. Demikian juga Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam membiarkan orang-orang Habasyah untuk bermain-main di Masjid Nabawi, bahkan Aisyah menonton permainan mereka.Dan Nabi shallallahu álaihi wasallam berkata :لَتَعْلَمُ يَهُودُ أَنَّ فِي دِينِنَا فُسْحَةً، إِنِّي أُرْسِلْتُ بِحَنِيفِيَّةٍ سَمْحَةٍ”Agar kaum yahudi bahwasanya pada agama kita ada kelonggaran, sesungguhnya aku diutus dengan agama yang lurus dan mudah” (HR Ahmad no 24855)Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, walillahil hamd.Kaum muslimin sekalian…kegembiraan yang begitu indah ini ternyata pada sebagian orang menjadi terganggu dan terkotori oleh permusuhan yang masih berlanjut, dendam yang masih membara diantara mereka.Ada diantara mereka berlebaran namun hati mereka masih jengkel dan marah kepada kerabatnya sendiri…Ada yang masih bermusuhan dengan saudara kandungnya…Bahkan ada yang masih menyimpan sejuta kejengkelan terhadap orang tuanya sendiri…Telah lama tali silaturahmi terputuskan… telah lama tali silaturahmi tercampakkan…sementara Nabi shallallahu álaihi wasallam bersabda :لاَ يَدْخُلُ الجَنَّةَ قَاطِعٌ“Tidak masuk surga pemutus silaturahmi”(HR Al-Bukhari no 5984 dan Muslim no 2556)Sungguh ancaman yang sangat mengerikan….tidak masuk surga orang yang memutuskan silaturahmi.Silaturahmi adalah menyambung kebaikan kepada kerabat, yaitu yang masih memiliki hubungan darah (yaitu satu Rahim). Rahim seseorang yang terdekat adalah, ibu, ayah, kakek, nenek, saudara kandung, saudara seayah, saudara seibu, dan paman/om serta tante/bibi.Adapun menyambung kebaikan kepada selain kerabat maka itu merupakan kebaikan yang dituntut dalam syariát akan tetapi itu bukanlah silaturahmi. Silaturahmi dikhususkan kepada kerabat, dan kedudukannya lebih tinggi.Sebagian orang menempatkan istilah silaturahim tidak pada tempatnya. Jika ia mengunjungi kawannya -yang bukan kerabatnya- ia menganggap itu adalah silaturahmi.Contoh mereka mengadakan acara “reuni teman-teman sekolah/kuliah” lalu mereka menamakannya dengan silaturahmi, padahal tidak ada hubungan darah, nasab, dan kekerabatan antara mereka.Diantara akibat kerancuan istilah ini ada sebagian orang yang semangat melakukan ziaraoh/kunjungan/pertemuan dengan sahabat-sahabatnya (dengan merasa ia sedang bersilaturahmi) sementara karib kerabatnya yang senasab tidak pernah atau jarang ia kunjungi.Diantara fenomena yang tersebar adalah kita dapati sebagian orang begitu baik dan mesra hubungannya dengan orang lain, orang yang jauh, yang tidak ada hubungan kekerabatan dengannya, akan tetapi ternyata hubungannya sangat buruk dengan kerabatnya sendiri.Selain terancam terhalangi dari surga ternyata orang yang memutuskan silaturahmi dilaknat oleh Allah.Nabi shallallahu álaihi wasallam bersabda :إِنَّ اللهَ خَلَقَ الْخَلْقَ حَتَّى إِذَا فَرَغَ مِنْهُمْ قَامَتِ الرَّحِمُ   (وفي رواية: الرَّحِمُ مُعَلَّقَةٌ بِالْعَرْشِ) ، فَقَالَتْ: هَذَا مَقَامُ الْعَائِذِ مِنَ الْقَطِيعَةِ، قَالَ: نَعَمْ، أَمَا تَرْضَيْنَ أَنْ أَصِلَ مَنْ وَصَلَكِ، وَأَقْطَعَ مَنْ قَطَعَكِ؟ قَالَتْ: بَلَى، قَالَ: فَذَاكِ لَكِ ” ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اقْرَءُوا إِنْ شِئْتُمْ: {فَهَلْ عَسَيْتُمْ إِنْ تَوَلَّيْتُمْ أَنْ تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ وَتُقَطِّعُوا أَرْحَامَكُمْ، أُولَئِكَ الَّذِينَ لَعَنَهُمُ اللهُ فَأَصَمَّهُمْ وَأَعْمَى أَبْصَارَهُمْ، أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَى قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا}“Sesungguhnya tatkala Allah selesai menciptakan makhluk maka Ar-Rahim (kekerabatan) pun berdiri (dalam riwayat yang lain : Bargantung kepada árys) lalu berkata, ”Ini adalah tempat yang berlindung dari pemutusan silaturahmi”. Allah berkata, “Iya, apakah engkau suka jika aku menyambung orang yang menyambungmu, dan aku memutus orang yang memutuskanmu?”. Rahim berkata, “Tentu”. Allah berkata, “Maka itulah untukmu”.Kemudian Rasulullah shallallahu álaihi wasallam berkata, “Bacalah jika kalian menghendaki firman Allah : Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan. Mereka itulah orang-orang yang dilaknati Allah dan ditulikan-Nya telinga mereka dan dibutakan-Nya penglihatan mereka. Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran ataukah hati mereka terkunci (QS Muhammad : 22-24) (HR Muslim no 2554)Ia rajin sholat, ia rajin sedekah, ia rajin membantu orang lain, akan tetapi ternyata ia terlaknat…sungguh kondisi yang mengenaskan.Lihatlah Rahim (kekerabatan) bergantung di makhluk Allah yang tertinggi dan terbesar yaitu Árys Allah, lalu mengeluh dan meminta perlindungan kepada Allah dari para pemutusnya. Maka Allah memenuhi permohonannya. Bahkan Allah mengabarkan bahwa Allah telah melaknatnya.Diantara naasnya pemutus silaturahmi ia juga tidak mendapatkan bonus ampunan dari Allah yang Allah berikan setiap hari senin dan kamis. Nabi shallallahu álaihi wasallam bersabda :تُفْتَحُ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ يَوْمُ الاثْنَيْنِ وَ الْخَمِيسِ فَيُغْفَرُ لِكُلِّ عَبْدٍ لا يُشْرِكُ بِالله شَيْئًا إِلا رَجُلا كَانَتْ بَيْنَهُ وَبَيْنَ أَخِيهِ شَحْنَاءُ ، فَيُقَالُ : أَنْظِرُوا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا “Telah dibukakan pintu-pintu surga setiap hari Senin dan Kamis. Maka seluruh hamba yang tidak berbuat syirik kepada Allāh sama sekali akan diberi ampunan oleh Allāh, kecuali seseorang yang punya permusuhan dengan saudaranya.” Maka dikatakan kepada para malaikat, “Tangguhkanlah (dari ampunan Allāh) dua orang ini sampai mereka berdua damai.” (HR. Muslim no. 2565)Yang lebih parah lagi sebagian mereka tidak saling menyapa hingga berbulan-bulan…bahkan bertahun-tahun. Sementara Nabi shallallahu álaihi wasallam bersabda :مَنْ هَجَرَ أَخَاهُ سَنَةً فَهُوَ كَسَفْكِ دَمِهِ“Barangsiapa yang memboikot / meng-hajr saudaranya selama setahun, maka seakan-akan dia telah menumpahkan darah saudaranya.” (HR. Ahmad no 17.935, Abu Daud no 4.915)Sungguh menyedihkan…dan sungguh celaka…jika ia telah memutuskan silaturahmi sejak setahun penuh….maka selama itu jika ia sholat maka tidak akan diterima sholatnya oleh Allah. Nabi shallallahu álaihi wasallam bersabda :ثَلَاثَةٌ لَا تُرْفَعُ لهم صَلَاتُهُمْ فَوْقَ رُءُوسِهِمْ شِبْرًا : رَجُلٌ أَمَّ قَوْمًا وَهُمْ لَهُ كَارِهُونَ، وَامْرَأَةٌ بَاتَتْ وَزَوْجُهَا عَلَيْهَا سَاخِطٌ، وَأَخَوَانِ مُتَصَارِمَانِ “Ada tiga golongan orang yang shalat, yang shalat mereka tidak akan terangkat di atas kepala mereka meskipun hanya sejengkal (artinya shalat mereka tidak diterima oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla), yaitu seorang yang menjadi imam pada suatu kaum padahal kaumnya itu benci kepadanya (tidak suka dia menjadi imam); seorang wanita yang dia tidur sementara suaminya marah kepadanya, (tentunya marah karena ada sebab yang syar’i) dan dua orang saudara yang saling bermusuhan (saling menghajr). (HR. Ibnu Majah I/311 no. 971, dan dihasankan oleh Al-Albani dalam Misyakatul Mashabih no. 1128)Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar walillahil hamd.Di hari yang indah ini, marilah kita memilin kembali tali rumpun persaudaran kekerabatan yang terurai….menyambung kembali yang terputus…Kalahkan ego…buat apa kita menyimpan dendam dan permusuhan kepada orang terdekat kita…kehidupan kita hanya sebentar maka jangan dirusak dengan dendam dan kejengkelan.لَا يَحِلُّ لمُسْلِمٍ أَنْ يَهْجُرَ أَخَاهُ فَوْقَ ثَلَاثِ لَيَالٍ، يَلْتَقِيَانِ فَيُعْرِضُ هَذَا وَيُعْرِضُ هَذَا، وَخَيْرُهُمَا الَّذِي يَبْدَأُ بِالسَّلَامِ (مُتَّفَقٌ عليهِ)“Tidak halal bagi seorang muslim untuk menghajr (memboikot) saudaranya lebih dari 3 malam (yaitu 3 hari). Mereka berdua bertemu namun yang satu berpaling dan yang lainnya juga berpaling. Dan yang terbaik diantara mereka berdua yaitu yang memulai dengan memberi salam.” (HR Al-Bukhari dan Muslim)Yang terbaik adalah yang mengalahkan egonya -mengalahkan syaitan- karena akhiratnya, sehingga dia yang lebih dahulu menyampaikan salam, meskipun dia yang benar…, apalagi jika dia yang bersalah.Yang sangat menyedihkan betapa banyak orang yang terjerumus dalam memutuskan silaturahmi lantas merekapun berusaha melegalkan dosa mereka ini dengan melimpahkan kesalahan kepada saudaranya. Menuduh bahwa saudaranya yang telah memulai permasalahan…yang memulai memutuskan silaturahmi.Jauh lebih baik orang yang bersalah lantas mengakui bahwa ia berdosa…Orang seperti ini -yang selalu melegalkan sikapnya yang bermusuhan dengan kerabatnya- maka kapankah ia akna bertaubat dari dosa memutuskan silaturahmi…Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar walillahil hamd.Ketahuilah bahwasanya silaturahmi adalah ibadah yang sangat mulia, salah sebab utama yang memasukan seseorang ke dalam surga. Allah berfirman tentang ciri-ciri penghuni surgaوَٱلَّذِينَ يَصِلُونَ مَآ أَمَرَ الله بِهِۦٓ أَن يُوصَلَ“Dan orang-orang yang menghubungkan (menyambungkan) apa-apa yang Allāh perintahkan supaya dihubungkan (disambung, yaitu silaturahim).“ (QS. Ar-Ra’du: 21)Setelah menyebutkan beberapa amalan, lalu Allāh menyebutkan,أُولَٰئِكَ لَهُمْ عُقْبَى الدَّارِ“Bagi mereka kesudahan (tempat tinggal) yang terbaik.” (QS. Ar-Ra’du: 22)جَنَّٰتُ عَدْنٍ يَدْخُلُونَهَا“(yaitu) surga ´Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama.” (QS. Ar-Ra’du: 23)Bahkan Allah mendahulukan kerabat daripada anak yatim dan faqir miskin. Allah berfirman :وَإِذْ أَخَذْنَا مِيثَاقَ بَنِي إِسْرَائِيلَ لَا تَعْبُدُونَ إِلَّا اللَّهَ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِDan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil (yaitu): Janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat kebaikanlah kepada ibu bapa, kaum kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin  (QS Al-Baqoroh : 83)وَآتِ ذَا الْقُرْبَى حَقَّهُ وَالْمِسْكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَلَا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًاDan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros (QS Al-Isroo’: 26)Karena silaturahmi pahalanya sangat besar maka cobaannya pun berat. Terkadang seseorang begitu mencintai hartanya dan merasa berat untuk membantu keluarganya, maka ingatlah bahwa Allah memotivasi hambaNya untuk memberikan harta yang ia cintai pada keluarganya.وَآتَى الْمَالَ عَلَى حُبِّهِ ذَوِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَالسَّائِلِينَ وَفِي الرِّقَابِdan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya (QS Al-Baqoroh : 177)Terkadang seseorang takut jika ia membantu keluarganya maka hartanya akan berkurang, maka ingatlah sabda Nabi :مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِى رِزْقِهِ وَيُنْسَأَ لَهُ فِى أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ“Barangsiapa senang untuk dilapangkan rezeki dan dipanjangkan umurnya, maka jalinlah tali silaturahim (hubungan antarkerabat).” (HR. Bukhari)Terkadang seseorang mendapati kerabatnya yang tidak menghargai pemberiannya, atau menghinanya, atau menyakitinya, maka hendaknya ia bersabar.Rasulullah bersabda,لَيْسَ الْوَاصِلُ بِالْمُكَافِئِ وَلَكِنَّ الْوَاصِلَ الَّذِي إِذَا قُطِعَتْ رَحِمُهُ وَصَلَهَا“Bukanlah penyambung silaturahim adalah yang hanya menyambung kalau dibaiki, akan tetapi penyambung silaturahim adalah yang tetap menyambung meskipun silaturahimnya diputuskan (oleh kerabatnya).” (HR. Al-Bukhari)Artinya, penyambung silaturahim yang sesungguhnya adalah orang yang jika diputuskan silaturahim dia tetap menyambungnya.Dalam Shahih Muslim disebutkan,عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ: أَنَّ رَجُلًا قَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّ لِي قَرَابَةً أَصِلُهُمْ وَيَقْطَعُونِي، وَأُحْسِنُ إِلَيْهِمْ وَيُسِيئُونَ إِلَيَّ، وَأَحْلُمُ عَنْهُمْ وَيَجْهَلُونَ عَلَيَّ. قَالَ: ” لَئِنْ كُنْتَ كَمَا تَقُولُ، فَكَأَنَّمَا  تُسِفُّهُمْ الْمَلَّ، وَلَا يَزَالُ مَعَكَ مِنَ اللهِ ظَهِيرٌ عَلَيْهِمْ، مَا دُمْتَ عَلَى ذَلِكَDari Abu Hurairah,  ada seorang lelaki berkata kepada Rasulullah, “Ya Rasulullah, sesungguhnya aku mempunyai kerabat, aku menyambung silaturahim kepada mereka, namun mereka memutuskan silaturahim kepadaku. Aku berbuat baik kepada mereka, namun mereka berbuat buruk kepadaku. Aku bersabar dengan mereka sementara mereka berbuat kejahilan kepadaku, yaitu dengan mengucapkan kata-kata yang buruk.” Maka kata Nabi, “Kalau engkau benar sebagaimana yang engkau katakan, maka seakan-akan engkau memasukkan debu yang panas di mulut-mulut mereka, dan senantiasa ada penolong dari Allah bersamamu atas mereka selama engkau dalam kondisi demikian.” (HR. Muslim no. 2.558)Maksudnya, Rasulullah menjelaskan kalau dalam kondisi demikian, maka sesungguhnya engkau menghinakan mereka, seakan-akan engkau memasukkan debu yang  panas ke dalam mulut mereka, karena mereka berusaha berbuat buruk dan engkau terus membalas dengan kebaikan.Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, walillahil hamd.Semoga Allah menyatukan hati-hati yang saling menjauh, meluluhkan kembali hati-hati yang menyimpan dendam dan kejengkelan. Agar lebaran kali ini lebih indah….agar lebih bermakna…Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, walillahil hamd.Para ibu-ibu sekalian, sungguh tatkala Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkhutbah ‘ied maka beliau mengkhususkan sebuah nasehat untuk kalian wahai kaum Hawa.Jabir bin Abdillah radhiallahu ‘anhu beliau berkata :شَهِدْتُ مَعَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الصَّلاَةَ يَوْمَ الْعِيْدِ فَبَدَأَ بِالصَّلاَةِ قَبْلَ الْخُطْبَةِ بِغَيْرِ أَذَانٍ وَلاَ إِقَامَةٍ ثُمَّ قَامَ مُتَوَكِّئًا عَلَى بِلاَلٍ فَأَمَرَ بِتَقْوَى اللهِ وَحَثَّ عَلَى طَاعَتِهِ وَوَعَظَ النَّاسَ وَذَكَّرَهُمْ ثَمَ مَضَى حَتَّى أَتَى النِّسَاءَ فَوَعَظَهُنَّ وَذَكَّرَهُنَّ فَقَالَ : تَصَدَّقْنَ فَإِنَّ أَكْثَرَكُنَّ حَطَبُ جَهَنَّمَ. فَقَامَتْ امْرَأَةٌ مِنْ وَسَطِ النِّسَاءِ سَفْعَاءَ الْخَدَّيْنِ فَقَالَتْ : لِمَ يَارَسُوْلَ اللهِ ؟ قَالَ : لِأَنَّكُنَّ تُكْثِرْنَ الشَّكَاةَ وَتَكْفُرْنَ الْعَشِيْرَ قَالَ : فَجَعَلْنَ يَتَصَدَّقْنَ مِنْ حُلِيِّهِنَّ يُلْقِيْنَ فِي ثَوْبِ بِلاَلٍ مِنْ أَقْرَاطِهِنَّ وَخَوَاتِمِهِنَّ“Aku bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menghadiri sholat pada hari raya, maka beliau memulai dengan sholat sebelu khutbah tanpa adzan dan iqomah, lalu beliau bertelekan kepada Bilal dan beliau memerintahkan untuk bertakwa dan mendorong untuk ta’at kepada Allah dan beliau menasehati orang-orang dan mengingatkan mereka. Setelah itu beliau berjalan menuju para wanita lalu beliau menasehati mereka dan mengingatkan mereka, beliau berkata : “Hendaknya kalian bersedekah, sesungguhnya kalian adalah mayoritas pembakar neraka Jahannam”. Maka diantara para wanita berdirilah seorang wanita yang kedua pipinya ada perubahan dan ada kehitaman dan ia berkata : “Kenapa wahai Rasulullah?”. Maka Nabi berkata :“Karena kalian sering mengeluh dan banyak mengingkari kebaikan suami”. Maka para wanitapun bersedekah dari perhiasan mereka, mereka melemparkan perhiasan mereka ke baju Bilal, berupa anting-anting dan cincin-cincin mereka” Dalam riwayat Abu Sa’id Al-Khudri radhiallahu ‘anhu Rasulullah berkata : تُكْثِرْنَ اللَّعْنَ وَتَكْفُرْنَ الْعَشِيْرَ “Karena kalian banyak melaknat dan kalian banyak mengingkari kebaikan suami” Dalam riwayat Ibnu Umar radhiallahu ‘anhu Nabi berkata kepada mereka : يَا مَعْشَرَ النِّسَاءِ تَصَدَّقْنَ وَأَكْثِرْنَ الإِسْتِغْفَارَ ” “Wahai para wanita bersedekahlah kalian, dan perbanyaklah beristighfar kepada Allah”Karenanya para wanita, janganlah kalian melupakan kebaikan suami kalian, janganlah kalian suka mengeluh kepada suami kalian atau mengeluhkan tentang suami kalian, sesungguhnya kehidupan dunia penuh dengan kepayahan dan kesulitan dan tidak akan pernah ada kesempurnaan. Ingatlah suami kalian adalah surga atau neraka kalian sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallamفَإِنَّهُ جَنَّتُكِ أَوْ نَارُكِ“Sesungguhnya suamimu adalah surgamu atau nerakamu”.Jika suamimu ridho dan suka dengan sikapmu, bahagia tatkala  memandangmu, mendapatimu adalah seorang wanita yang sabar yang tidak suka mengeluh maka sungguh engkau telah membuka selebar-lebarnya pintu surga bagi dirimu. Akan tetapi jika perkaranya adalah sebaliknya, engkau adalah seorang istri yang suka mengeluh, lupa dengan kebaikan suamimu, maka sungguh engkau telah membuka selebar-lebarnya pintu neraka Jahannam bagi dirimu…!!Ingatlah jika engkau telah menikah maka engkau wajib berbakti kepada suamimu sebagaimana engkau wajib berbakti kepada kedua orang tuamu. Jika engkau -wahai wanita sholehah- merasa mendapatkan pahala yang besar tatkala menyenangkan hati ayah dan ibumu, maka demikian pula hendaknya engkau merasa mendapatkan pahala yang besar tatkala menyenangkan dan membahagiakan suamimu. Sebaliknya, jika engkau merasa berdosa besar tatkala membentak dan mengangkat suara di hadapan ayah dan ibumu, maka hendaknya engkau juga merasa berdosa tatkala mengangkat suara dan membentak suami.          Allahu Akbar, Allahu Akbar Allahu Akbar, walillahi al-hamdu. Ma’syaro Muslimin….Ramadhan telah berlalu, lembaran baru kehidupan telah kita buka kembali…., catatan dan coretan hitam telah bersih….tantangan baru kembali hadir….Belenggu-belenggu syaitan telah terlepas…. Sebagaimana orang-orang yang berpuasa pada hari ini bergembira -karena meraih ampunan Allah-, maka demikian juga para pelaku maksiat juga ikut bergembira dengan berlalunya bulan Ramadhan. Para sahabat mereka dari kalangan syaitan telah terlepas belenggunya dan siap bekerjasama lagi dengan mereka. Para pelaku kemaksiatan kembali leluasa melancarkan godaan mereka.          Sesungguhnya bulan Ramadhan ibarat pesantren kilat yang telah memperbaiki akhlak kita sebulan penuh, telah menggembleng kita untuk kuat sholat malam, mengajari kita untuk meninggalkan syahwat dan hawa nafsu karena Allah, maka sekarang tiba saatnya kita berhadapan dengan ujian…Apakah di sebelas bulan ke depan kita masih bisa menunjukan pelajaran-pelajaran dari Ramadhan sang guru mulia?, ataukah hilang dan lenyaplah nilai-nilai Ramadhan tersebut?Apakah sholat lima waktu secara berjama’ah di masjid masih bisa kita jaga?Apakah sholat malam -meskipun hanya sholat witir tiga raka’at atau bahkan hanya satu raka’at- masih bisa kita jaga?Lembaran-lembaran Al-Qur’an yang selama ini menemani kita di bulan Ramadhan apakah masih bisa tetap menemani kita di sebelas bulan ke depan?Ataukah semuanya telah berubah?, sholat kita mulai bolong-bolong dan mesjid-mesjid mulai kita tinggalkan?, sholat malam kita berganti mimpi-mimpi dalam tidur yang lelap?, Al-Qur’an tidak lagi menemani kita akan tetapi selalu menjadi hiasan indah di rak-rak kita?. Jika perkaranya demikian maka percayalah bahwa sesungguhnya pesantren Ramadhan yang kita jalani selama sebulan adalah pesantren yang gagal, ternyata petuah-petuah Ramadhan sang guru tidak kita indahkan lagi.========= doa ========

Kaidah Dosa Besar dan Dosa Kecil

Dalil-dalil dari Al Qur’an dan As Sunnah menunjukkan bahwa dosa terbagi menjadi dosa besar (al-kab`air) dan dosa kecil (ash-shagha`ir). Sebagaimana dalam firman Allah Ta’ala :وَالَّذِينَ يَجْتَنِبُونَ كَبَائِرَ الْإِثْمِ وَالْفَوَاحِشَ وَإِذَا مَا غَضِبُوا هُمْ يَغْفِرُونَ“Dan (bagi) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan-perbuatan keji, dan apabila mereka marah mereka memberi maaf” (QS. Asy-Syura: 37).Allah Ta’ala juga berfirman:إِنْ تَجْتَنِبُوا كَبَائِرَ مَا تُنْهَوْنَ عَنْهُ نُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَنُدْخِلْكُمْ مُدْخَلًا كَرِيمًا“Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa besar yang dilarang kamu mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu (dosa-dosamu yang kecil) dan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia (surga)” (QS. An-Nisa`: 31).Allah Ta’ala juga berfirman:الَّذِينَ يَجْتَنِبُونَ كَبَائِرَ الْإِثْمِ وَالْفَوَاحِشَ إِلَّا اللَّمَمَ إِنَّ رَبَّكَ وَاسِعُ الْمَغْفِرَةِ“(Yaitu) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji yang selain dari kesalahan-kesalahan kecil. Sesungguhnya Tuhanmu maha luas ampunan-Nya” (QS. An-Najm: 32).Juga dalil-dalil As-Sunnah, menunjukkan adanya pembagian dosa besar dan dosa kecil. Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:الصَّلاةُ الخمسُ والجمعةُ إلى الجمعةِ كفَّارةٌ لما بينَهنَّ ما لم تُغشَ الْكبائرُ“Shalat lima waktu dan shalat Jum’at ke shalat Jum’at selanjutnya, menghapuskan dosa-dosa di antara keduanya, selama tidak melakukan dosa besar” (HR. Muslim no. 233).Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:اجتنبوا السبعَ الموبقاتِ . قالوا : يا رسولَ اللهِ ، وما هن ؟ قال : الشركُ باللهِ ، والسحرُ ، وقتلُ النفسِ التي حرّم اللهُ إلا بالحقِّ ، وأكلُ الربا ، وأكلُ مالِ اليتيمِ ، والتولي يومَ الزحفِ ، وقذفُ المحصناتِ المؤمناتِ الغافلاتِ“Jauhilah tujuh dosa yang membinasakan. Para sahabat bertanya: wahai Rasulullah, apa saja itu? Rasulullah menjawab, ‘syirik terhadap Allah, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan oleh Allah kecuali dengan hak, makan riba, makan harta anak yatim, kabur ketika peperangan, menuduh wanita baik-baik berzina’” (HR. Bukhari no. 2766, Muslim no. 89).Abdullah bin Umar radhiallahu’anhuma mengatakan:الكَبائرُ تِسْعٌ: الإشراكُ باللهِ، وقَتْلُ نَسَمَةٍ، والفِرارُ مِنَ الزَّحفِ، وقَذْفُ المُحْصَنةِ، وأكْلُ الرِّبا، وأكْلُ مالِ اليتيمِ، وإلحادٌ في المسجدِ، والَّذي يَستَسخِرُ، وبُكاءُ الوالدينِ مِنَ العُقوقِ“Ada 9 dosa besar: syirik kepada Allah, membunuh jiwa, kabur dari perang, menuduh wanita baik-baik berzina, makan riba, memakan harta anak yatim, melakukan penyimpangan di masjid, tidak membayar upah pekerja, membuat orang tua menangis karena perbuatan durhaka” (HR. Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad 12/15, dishahihkan Al-Albani dalam Shahih Adabul Mufrad no.6).Dan dalil-dalil lainnya yang menunjukkan adanya dosa besar, maka mafhum-nya dosa-dosa selain dosa besar maka termasuk dosa kecil.Kaidah Dalam Membedakan Dosa Besar Dan Dosa KecilPara ulama banyak menyebutkan dhawabith (kaidah) dalam membedakan dosa besar dengan dosa kecil. Diantara dhawabith dosa besar dan dosa kecil yang disebutkan para ulama adalah:1. Dosa besar adalah yang disebutkan sebagai dosa besar oleh Allah dan Rasul-NyaSemua dosa yang disebutkan secara tegas oleh Allah dan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam sebagai dosa besar atau perbuatan yang membinasakan maka ini adalah dosa besar. Juga yang disepakati oleh para ulama sebagai dosa besar. Al-Qurthubi mengatakan:كُلّ ذَنْب أُطْلِقَ عَلَيْهِ بِنَصِّ كِتَاب أَوْ سُنَّة أَوْ إِجْمَاع أَنَّهُ كَبِيرَة أَوْ عَظِيم“Dosa besar adalah dosa yang dimutlakkan oleh nash Al-Qur`an dan As-Sunnah atau ijma’ sebagai dosa besar” (Fathul Baari, 15/709).Maka setiap dosa yang disebutkan oleh Allah atau oleh Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam sebagai dosa besar, maka itu dosa besar. Sebagaimana dalam beberapa hadits di atas, disebutkan beberapa dosa besar di antaranya syirik, sihir, membunuh, makan riba, makan harta anak yatim, kabur ketika peperangan, menuduh wanita baik-baik berzina, membuat orang tua menangis, dan lainnya.2. Dosa besar adalah setiap dosa yang diancam neraka, atau kemurkaan, atau laknat atau adzabDosa besar adalah dosa yang pelakunya diancam dengan adzab neraka, kemurkaan Allah atau laknat, serta pelakunya disifati dengan kefasikan. Sebagaimana perkataan Ibnu Abbas radhiallahu’anhuma ketika menafsirkan surat An-Nisa`: 31 di atas, beliau berkata:الكبيرة كل ذنب ختمه الله بنار، أو غضب، أو لعنة، أو عذاب“Dosa besar adalah yang Allah tutup dengan ancaman neraka, atau kemurkaan, atau laknat atau adzab” (Tafsir Ibnu Katsir, 2/282).Al-Hasan Al-Bashri mengatakan:كُلّ ذَنْب نَسَبَهُ اللَّه تَعَالَى إِلَى النَّار فَهُوَ كَبِيرَة“Setiap dosa yang Allah gandengkan dengan neraka maka itu adalah dosa besar” (Tafsir Ibnu Katsir, 2/285).3. Dosa besar adalah yang terdapat hukuman khususTermasuk dosa besar, perbuatan yang dilarang oleh syariat dan digandengkan dengan sebuah hukuman tertentu, tidak sekedar dilarang. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin mengatakan:الكبائر هي ما رتب عليه عقوبة خاصة بمعنى أنها ليست مقتصرة على مجرد النهي أو التحريم، بل لا بد من عقوبة خاصة مثل أن يقال من فعل هذا فليس بمؤمن، أو فليس منا، أو ما أشبه ذلك، هذه هي الكبائر، والصغائر هي المحرمات التي ليس عليها عقوبة“Dosa besar adalah yang Allah ancam dengan suatu hukuman khusus. Maksudnya perbuatan tersebut tidak sekedar dilarang atau diharamkan, namun diancam dengan suatu hukuman khusus. Semisal disebutkan dalam dalil ‘barangsiapa yang melakukan ini maka ia bukan mukmin’, atau ‘bukan bagian dari kami’, atau semisal dengan itu. Ini adalah dosa besar. Dan dosa kecil adalah dosa yang tidak diancam dengan suatu hukuman khusus” (Fatawa Nurun ‘alad Darbi libni Al-‘Utsaimin, 2/24, Asy-Syamilah).4. Dosa yang dinafikan pelakunya dari keimanan atau dari umat NabiDosa besar adalah dosa yang pelakunya dikatakan tidak beriman atau dianggap bukan bagian dari umat Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam. Syaikh Abdurrahman bin Hasan mengatakan:وضابطها – يعني : الكبيرة – ما قاله المحققون من العلماء: كل ذنب ختمه الله بنار، أو لعنة، أو غضب، أو عذاب. زاد شيخ الإسلام – يعني: ابن تيمية -: أو نفي الإيمان. قلت: ومن برئ منه رسول الله صلى الله عليه وسلم ، أو قال: ليس منا من فعل كذا أو كذا“Kaidah dosa besar, sebagaimana yang disebutkan oleh para ulama muhaqqiqin, adalah setiap dosa yang Allah gandengkan dengan laknat, atau kemurkaan atau adzab. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menambahkan: juga yang terdapat penafian keimanan. Menurutku juga, termasuk dosa yang Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam berlepas diri darinya, atau Nabi mengatakan: bukan golongan kami yang melakukan ini dan itu” (Fathul Majid, 418).5. Dosa yang terdapat hukuman hadd-nyaDosa besar adalah semua dosa yang terdapat hukuman hadd-nya di dunia. Ibnu Shalah rahimahullah mengatakan:لَهَا أَمَارَات مِنْهَا إِيجَاب الْحَدّ , وَمِنْهَا الْإِيعَاد عَلَيْهَا بِالْعَذَابِ بِالنَّارِ وَنَحْوهَا فِي الْكِتَاب أَوْ السُّنَّة , وَمِنْهَا وَصْف صَاحِبهَا بِالْفِسْقِ , وَمِنْهَا اللَّعْن“Dosa besar ada beberapa indikasinya, di antaranya diwajibkan hukuman hadd kepadanya, juga diancam dengan azab neraka atau semisalnya, di dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah. Demikian juga, pelakunya disifati dengan kefasikan dan laknat ” (Tafsir Ibnu Katsir, 2/285).Syaikh Muhammad bin Ibrahim juga menjelaskan:ما توعد عليه بغضب، أو لعنة، أو رتب عليه عقاب في الدنيا، أو عذاب في الآخرة“Dosa besar adalah dosa yang diancam dengan kemurkaan Allah, atau laknat, atau digandengkan dengan suatu hukuman di dunia, atau dengan suatu adzab di akhirat” (Fatawa war Rasail, 2/54).Konsekuensi Dosa BesarNabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:ما منِ امرئٍ مسلمٍ تحضرهُ صلاةٌ مكتوبةٌ . فيُحسنُ وضوءَها وخشوعَها وركوعَها . إلا كانتْ كفارةً لما قبلها منَ الذنوبِ . ما لمْ يؤتِ كبيرةً . وذلكَ الدهرَ كلَّهُ“Tidaklah seorang Muslim menghadiri shalat wajib (di masjid), ia membaguskan wudhunya dan membaguskan khusyuk serta rukuknya, kecuali itu semua menjadi kafarah (penghapus) dosa-dosanya yang telah berlalu, selama ia tidak mengerjakan dosa besar. Dan itu berlaku sepanjang masa” (HR. Muslim no. 228). Al Imam An-Nawawi menjelaskan hadits ini:مَعْنَاهُ أَنَّ الذُّنُوبَ كُلَّهَا تُغْفَرُ إِلَّا الْكَبَائِرَ فَإِنَّهَا لَا تُغْفَرُ … قَالَ الْقَاضِي عِيَاضٌ هَذَا الْمَذْكُورُ فِي الْحَدِيثِ مِنْ غُفْرَانِ الذُّنُوبِ مَا لَمْ تُؤْتَ كَبِيرَةٌ هُوَ مَذْهَبُ أَهْلِ السُّنَّةِ وَأَنَّ الْكَبَائِرَ إِنَّمَا تُكَفِّرُهَا التَّوْبَةُ أَوْ رَحْمَةُ اللَّهِ تَعَالَى وَفَضْلُهُ“Maknanya bahwa semua dosa akan diampuni (karena amalan tersebut) kecuali dosa besar. Adapun dosa besar tidak diampuni (dengan sebatas amalan tersebut) … Al-Qadhi Iyadh mengatakan bahwa yang disebutkan dalam hadits, yaitu keyakinan bahwa dosa-dosa akan diampuni selama bukan dosa besar, ini adalah keyakinan Ahlussunnah. Dan dosa besar itu hanya dapat dihapuskan dengan taubat atau dengan rahmat dari Allah Ta’ala dan keutamaan dari Allah” (Syarah Shahih Muslim lin Nawawi, 3/112).Juga Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:الصَّلاةُ الخمسُ والجمعةُ إلى الجمعةِ كفَّارةٌ لما بينَهنَّ ما لم تُغشَ الْكبائرُ“Shalat lima waktu dan shalat Jum’at ke shalat Jum’at selanjutnya, menghapuskan dosa-dosa di antara keduanya, selama tidak melakukan dosa besar” (HR. Muslim no. 233).Dan hadits-hadits yang menyebutkan penghapusan dosa karena amalan shalih semisal ini banyak.Maka dosa kecil itu akan pupus dan akan hilang dengan sendirinya jika seseorang melakukan amalan-amalan shalih. Namun tidak demikian pada dosa besar. Dosa besar hanya bisa hilang jika pelakukan bertaubat nasuha.Demikian paparan ringkas ini, semoga bermanfaat. Wabillahi at taufiq was sadaad.___Penyusun: Yulian PurnamaArtikel: Muslim.Or.Id🔍 Dalam Shalat Jenazah Jumlah Takbirnya Sebanyak, Arti Ar Rahim, Tugas Seorang Istri Menurut Al Quran, Kata Kata Bijak Ulama Salaf, Urutan Hadits

Kaidah Dosa Besar dan Dosa Kecil

Dalil-dalil dari Al Qur’an dan As Sunnah menunjukkan bahwa dosa terbagi menjadi dosa besar (al-kab`air) dan dosa kecil (ash-shagha`ir). Sebagaimana dalam firman Allah Ta’ala :وَالَّذِينَ يَجْتَنِبُونَ كَبَائِرَ الْإِثْمِ وَالْفَوَاحِشَ وَإِذَا مَا غَضِبُوا هُمْ يَغْفِرُونَ“Dan (bagi) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan-perbuatan keji, dan apabila mereka marah mereka memberi maaf” (QS. Asy-Syura: 37).Allah Ta’ala juga berfirman:إِنْ تَجْتَنِبُوا كَبَائِرَ مَا تُنْهَوْنَ عَنْهُ نُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَنُدْخِلْكُمْ مُدْخَلًا كَرِيمًا“Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa besar yang dilarang kamu mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu (dosa-dosamu yang kecil) dan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia (surga)” (QS. An-Nisa`: 31).Allah Ta’ala juga berfirman:الَّذِينَ يَجْتَنِبُونَ كَبَائِرَ الْإِثْمِ وَالْفَوَاحِشَ إِلَّا اللَّمَمَ إِنَّ رَبَّكَ وَاسِعُ الْمَغْفِرَةِ“(Yaitu) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji yang selain dari kesalahan-kesalahan kecil. Sesungguhnya Tuhanmu maha luas ampunan-Nya” (QS. An-Najm: 32).Juga dalil-dalil As-Sunnah, menunjukkan adanya pembagian dosa besar dan dosa kecil. Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:الصَّلاةُ الخمسُ والجمعةُ إلى الجمعةِ كفَّارةٌ لما بينَهنَّ ما لم تُغشَ الْكبائرُ“Shalat lima waktu dan shalat Jum’at ke shalat Jum’at selanjutnya, menghapuskan dosa-dosa di antara keduanya, selama tidak melakukan dosa besar” (HR. Muslim no. 233).Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:اجتنبوا السبعَ الموبقاتِ . قالوا : يا رسولَ اللهِ ، وما هن ؟ قال : الشركُ باللهِ ، والسحرُ ، وقتلُ النفسِ التي حرّم اللهُ إلا بالحقِّ ، وأكلُ الربا ، وأكلُ مالِ اليتيمِ ، والتولي يومَ الزحفِ ، وقذفُ المحصناتِ المؤمناتِ الغافلاتِ“Jauhilah tujuh dosa yang membinasakan. Para sahabat bertanya: wahai Rasulullah, apa saja itu? Rasulullah menjawab, ‘syirik terhadap Allah, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan oleh Allah kecuali dengan hak, makan riba, makan harta anak yatim, kabur ketika peperangan, menuduh wanita baik-baik berzina’” (HR. Bukhari no. 2766, Muslim no. 89).Abdullah bin Umar radhiallahu’anhuma mengatakan:الكَبائرُ تِسْعٌ: الإشراكُ باللهِ، وقَتْلُ نَسَمَةٍ، والفِرارُ مِنَ الزَّحفِ، وقَذْفُ المُحْصَنةِ، وأكْلُ الرِّبا، وأكْلُ مالِ اليتيمِ، وإلحادٌ في المسجدِ، والَّذي يَستَسخِرُ، وبُكاءُ الوالدينِ مِنَ العُقوقِ“Ada 9 dosa besar: syirik kepada Allah, membunuh jiwa, kabur dari perang, menuduh wanita baik-baik berzina, makan riba, memakan harta anak yatim, melakukan penyimpangan di masjid, tidak membayar upah pekerja, membuat orang tua menangis karena perbuatan durhaka” (HR. Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad 12/15, dishahihkan Al-Albani dalam Shahih Adabul Mufrad no.6).Dan dalil-dalil lainnya yang menunjukkan adanya dosa besar, maka mafhum-nya dosa-dosa selain dosa besar maka termasuk dosa kecil.Kaidah Dalam Membedakan Dosa Besar Dan Dosa KecilPara ulama banyak menyebutkan dhawabith (kaidah) dalam membedakan dosa besar dengan dosa kecil. Diantara dhawabith dosa besar dan dosa kecil yang disebutkan para ulama adalah:1. Dosa besar adalah yang disebutkan sebagai dosa besar oleh Allah dan Rasul-NyaSemua dosa yang disebutkan secara tegas oleh Allah dan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam sebagai dosa besar atau perbuatan yang membinasakan maka ini adalah dosa besar. Juga yang disepakati oleh para ulama sebagai dosa besar. Al-Qurthubi mengatakan:كُلّ ذَنْب أُطْلِقَ عَلَيْهِ بِنَصِّ كِتَاب أَوْ سُنَّة أَوْ إِجْمَاع أَنَّهُ كَبِيرَة أَوْ عَظِيم“Dosa besar adalah dosa yang dimutlakkan oleh nash Al-Qur`an dan As-Sunnah atau ijma’ sebagai dosa besar” (Fathul Baari, 15/709).Maka setiap dosa yang disebutkan oleh Allah atau oleh Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam sebagai dosa besar, maka itu dosa besar. Sebagaimana dalam beberapa hadits di atas, disebutkan beberapa dosa besar di antaranya syirik, sihir, membunuh, makan riba, makan harta anak yatim, kabur ketika peperangan, menuduh wanita baik-baik berzina, membuat orang tua menangis, dan lainnya.2. Dosa besar adalah setiap dosa yang diancam neraka, atau kemurkaan, atau laknat atau adzabDosa besar adalah dosa yang pelakunya diancam dengan adzab neraka, kemurkaan Allah atau laknat, serta pelakunya disifati dengan kefasikan. Sebagaimana perkataan Ibnu Abbas radhiallahu’anhuma ketika menafsirkan surat An-Nisa`: 31 di atas, beliau berkata:الكبيرة كل ذنب ختمه الله بنار، أو غضب، أو لعنة، أو عذاب“Dosa besar adalah yang Allah tutup dengan ancaman neraka, atau kemurkaan, atau laknat atau adzab” (Tafsir Ibnu Katsir, 2/282).Al-Hasan Al-Bashri mengatakan:كُلّ ذَنْب نَسَبَهُ اللَّه تَعَالَى إِلَى النَّار فَهُوَ كَبِيرَة“Setiap dosa yang Allah gandengkan dengan neraka maka itu adalah dosa besar” (Tafsir Ibnu Katsir, 2/285).3. Dosa besar adalah yang terdapat hukuman khususTermasuk dosa besar, perbuatan yang dilarang oleh syariat dan digandengkan dengan sebuah hukuman tertentu, tidak sekedar dilarang. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin mengatakan:الكبائر هي ما رتب عليه عقوبة خاصة بمعنى أنها ليست مقتصرة على مجرد النهي أو التحريم، بل لا بد من عقوبة خاصة مثل أن يقال من فعل هذا فليس بمؤمن، أو فليس منا، أو ما أشبه ذلك، هذه هي الكبائر، والصغائر هي المحرمات التي ليس عليها عقوبة“Dosa besar adalah yang Allah ancam dengan suatu hukuman khusus. Maksudnya perbuatan tersebut tidak sekedar dilarang atau diharamkan, namun diancam dengan suatu hukuman khusus. Semisal disebutkan dalam dalil ‘barangsiapa yang melakukan ini maka ia bukan mukmin’, atau ‘bukan bagian dari kami’, atau semisal dengan itu. Ini adalah dosa besar. Dan dosa kecil adalah dosa yang tidak diancam dengan suatu hukuman khusus” (Fatawa Nurun ‘alad Darbi libni Al-‘Utsaimin, 2/24, Asy-Syamilah).4. Dosa yang dinafikan pelakunya dari keimanan atau dari umat NabiDosa besar adalah dosa yang pelakunya dikatakan tidak beriman atau dianggap bukan bagian dari umat Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam. Syaikh Abdurrahman bin Hasan mengatakan:وضابطها – يعني : الكبيرة – ما قاله المحققون من العلماء: كل ذنب ختمه الله بنار، أو لعنة، أو غضب، أو عذاب. زاد شيخ الإسلام – يعني: ابن تيمية -: أو نفي الإيمان. قلت: ومن برئ منه رسول الله صلى الله عليه وسلم ، أو قال: ليس منا من فعل كذا أو كذا“Kaidah dosa besar, sebagaimana yang disebutkan oleh para ulama muhaqqiqin, adalah setiap dosa yang Allah gandengkan dengan laknat, atau kemurkaan atau adzab. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menambahkan: juga yang terdapat penafian keimanan. Menurutku juga, termasuk dosa yang Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam berlepas diri darinya, atau Nabi mengatakan: bukan golongan kami yang melakukan ini dan itu” (Fathul Majid, 418).5. Dosa yang terdapat hukuman hadd-nyaDosa besar adalah semua dosa yang terdapat hukuman hadd-nya di dunia. Ibnu Shalah rahimahullah mengatakan:لَهَا أَمَارَات مِنْهَا إِيجَاب الْحَدّ , وَمِنْهَا الْإِيعَاد عَلَيْهَا بِالْعَذَابِ بِالنَّارِ وَنَحْوهَا فِي الْكِتَاب أَوْ السُّنَّة , وَمِنْهَا وَصْف صَاحِبهَا بِالْفِسْقِ , وَمِنْهَا اللَّعْن“Dosa besar ada beberapa indikasinya, di antaranya diwajibkan hukuman hadd kepadanya, juga diancam dengan azab neraka atau semisalnya, di dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah. Demikian juga, pelakunya disifati dengan kefasikan dan laknat ” (Tafsir Ibnu Katsir, 2/285).Syaikh Muhammad bin Ibrahim juga menjelaskan:ما توعد عليه بغضب، أو لعنة، أو رتب عليه عقاب في الدنيا، أو عذاب في الآخرة“Dosa besar adalah dosa yang diancam dengan kemurkaan Allah, atau laknat, atau digandengkan dengan suatu hukuman di dunia, atau dengan suatu adzab di akhirat” (Fatawa war Rasail, 2/54).Konsekuensi Dosa BesarNabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:ما منِ امرئٍ مسلمٍ تحضرهُ صلاةٌ مكتوبةٌ . فيُحسنُ وضوءَها وخشوعَها وركوعَها . إلا كانتْ كفارةً لما قبلها منَ الذنوبِ . ما لمْ يؤتِ كبيرةً . وذلكَ الدهرَ كلَّهُ“Tidaklah seorang Muslim menghadiri shalat wajib (di masjid), ia membaguskan wudhunya dan membaguskan khusyuk serta rukuknya, kecuali itu semua menjadi kafarah (penghapus) dosa-dosanya yang telah berlalu, selama ia tidak mengerjakan dosa besar. Dan itu berlaku sepanjang masa” (HR. Muslim no. 228). Al Imam An-Nawawi menjelaskan hadits ini:مَعْنَاهُ أَنَّ الذُّنُوبَ كُلَّهَا تُغْفَرُ إِلَّا الْكَبَائِرَ فَإِنَّهَا لَا تُغْفَرُ … قَالَ الْقَاضِي عِيَاضٌ هَذَا الْمَذْكُورُ فِي الْحَدِيثِ مِنْ غُفْرَانِ الذُّنُوبِ مَا لَمْ تُؤْتَ كَبِيرَةٌ هُوَ مَذْهَبُ أَهْلِ السُّنَّةِ وَأَنَّ الْكَبَائِرَ إِنَّمَا تُكَفِّرُهَا التَّوْبَةُ أَوْ رَحْمَةُ اللَّهِ تَعَالَى وَفَضْلُهُ“Maknanya bahwa semua dosa akan diampuni (karena amalan tersebut) kecuali dosa besar. Adapun dosa besar tidak diampuni (dengan sebatas amalan tersebut) … Al-Qadhi Iyadh mengatakan bahwa yang disebutkan dalam hadits, yaitu keyakinan bahwa dosa-dosa akan diampuni selama bukan dosa besar, ini adalah keyakinan Ahlussunnah. Dan dosa besar itu hanya dapat dihapuskan dengan taubat atau dengan rahmat dari Allah Ta’ala dan keutamaan dari Allah” (Syarah Shahih Muslim lin Nawawi, 3/112).Juga Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:الصَّلاةُ الخمسُ والجمعةُ إلى الجمعةِ كفَّارةٌ لما بينَهنَّ ما لم تُغشَ الْكبائرُ“Shalat lima waktu dan shalat Jum’at ke shalat Jum’at selanjutnya, menghapuskan dosa-dosa di antara keduanya, selama tidak melakukan dosa besar” (HR. Muslim no. 233).Dan hadits-hadits yang menyebutkan penghapusan dosa karena amalan shalih semisal ini banyak.Maka dosa kecil itu akan pupus dan akan hilang dengan sendirinya jika seseorang melakukan amalan-amalan shalih. Namun tidak demikian pada dosa besar. Dosa besar hanya bisa hilang jika pelakukan bertaubat nasuha.Demikian paparan ringkas ini, semoga bermanfaat. Wabillahi at taufiq was sadaad.___Penyusun: Yulian PurnamaArtikel: Muslim.Or.Id🔍 Dalam Shalat Jenazah Jumlah Takbirnya Sebanyak, Arti Ar Rahim, Tugas Seorang Istri Menurut Al Quran, Kata Kata Bijak Ulama Salaf, Urutan Hadits
Dalil-dalil dari Al Qur’an dan As Sunnah menunjukkan bahwa dosa terbagi menjadi dosa besar (al-kab`air) dan dosa kecil (ash-shagha`ir). Sebagaimana dalam firman Allah Ta’ala :وَالَّذِينَ يَجْتَنِبُونَ كَبَائِرَ الْإِثْمِ وَالْفَوَاحِشَ وَإِذَا مَا غَضِبُوا هُمْ يَغْفِرُونَ“Dan (bagi) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan-perbuatan keji, dan apabila mereka marah mereka memberi maaf” (QS. Asy-Syura: 37).Allah Ta’ala juga berfirman:إِنْ تَجْتَنِبُوا كَبَائِرَ مَا تُنْهَوْنَ عَنْهُ نُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَنُدْخِلْكُمْ مُدْخَلًا كَرِيمًا“Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa besar yang dilarang kamu mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu (dosa-dosamu yang kecil) dan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia (surga)” (QS. An-Nisa`: 31).Allah Ta’ala juga berfirman:الَّذِينَ يَجْتَنِبُونَ كَبَائِرَ الْإِثْمِ وَالْفَوَاحِشَ إِلَّا اللَّمَمَ إِنَّ رَبَّكَ وَاسِعُ الْمَغْفِرَةِ“(Yaitu) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji yang selain dari kesalahan-kesalahan kecil. Sesungguhnya Tuhanmu maha luas ampunan-Nya” (QS. An-Najm: 32).Juga dalil-dalil As-Sunnah, menunjukkan adanya pembagian dosa besar dan dosa kecil. Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:الصَّلاةُ الخمسُ والجمعةُ إلى الجمعةِ كفَّارةٌ لما بينَهنَّ ما لم تُغشَ الْكبائرُ“Shalat lima waktu dan shalat Jum’at ke shalat Jum’at selanjutnya, menghapuskan dosa-dosa di antara keduanya, selama tidak melakukan dosa besar” (HR. Muslim no. 233).Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:اجتنبوا السبعَ الموبقاتِ . قالوا : يا رسولَ اللهِ ، وما هن ؟ قال : الشركُ باللهِ ، والسحرُ ، وقتلُ النفسِ التي حرّم اللهُ إلا بالحقِّ ، وأكلُ الربا ، وأكلُ مالِ اليتيمِ ، والتولي يومَ الزحفِ ، وقذفُ المحصناتِ المؤمناتِ الغافلاتِ“Jauhilah tujuh dosa yang membinasakan. Para sahabat bertanya: wahai Rasulullah, apa saja itu? Rasulullah menjawab, ‘syirik terhadap Allah, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan oleh Allah kecuali dengan hak, makan riba, makan harta anak yatim, kabur ketika peperangan, menuduh wanita baik-baik berzina’” (HR. Bukhari no. 2766, Muslim no. 89).Abdullah bin Umar radhiallahu’anhuma mengatakan:الكَبائرُ تِسْعٌ: الإشراكُ باللهِ، وقَتْلُ نَسَمَةٍ، والفِرارُ مِنَ الزَّحفِ، وقَذْفُ المُحْصَنةِ، وأكْلُ الرِّبا، وأكْلُ مالِ اليتيمِ، وإلحادٌ في المسجدِ، والَّذي يَستَسخِرُ، وبُكاءُ الوالدينِ مِنَ العُقوقِ“Ada 9 dosa besar: syirik kepada Allah, membunuh jiwa, kabur dari perang, menuduh wanita baik-baik berzina, makan riba, memakan harta anak yatim, melakukan penyimpangan di masjid, tidak membayar upah pekerja, membuat orang tua menangis karena perbuatan durhaka” (HR. Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad 12/15, dishahihkan Al-Albani dalam Shahih Adabul Mufrad no.6).Dan dalil-dalil lainnya yang menunjukkan adanya dosa besar, maka mafhum-nya dosa-dosa selain dosa besar maka termasuk dosa kecil.Kaidah Dalam Membedakan Dosa Besar Dan Dosa KecilPara ulama banyak menyebutkan dhawabith (kaidah) dalam membedakan dosa besar dengan dosa kecil. Diantara dhawabith dosa besar dan dosa kecil yang disebutkan para ulama adalah:1. Dosa besar adalah yang disebutkan sebagai dosa besar oleh Allah dan Rasul-NyaSemua dosa yang disebutkan secara tegas oleh Allah dan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam sebagai dosa besar atau perbuatan yang membinasakan maka ini adalah dosa besar. Juga yang disepakati oleh para ulama sebagai dosa besar. Al-Qurthubi mengatakan:كُلّ ذَنْب أُطْلِقَ عَلَيْهِ بِنَصِّ كِتَاب أَوْ سُنَّة أَوْ إِجْمَاع أَنَّهُ كَبِيرَة أَوْ عَظِيم“Dosa besar adalah dosa yang dimutlakkan oleh nash Al-Qur`an dan As-Sunnah atau ijma’ sebagai dosa besar” (Fathul Baari, 15/709).Maka setiap dosa yang disebutkan oleh Allah atau oleh Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam sebagai dosa besar, maka itu dosa besar. Sebagaimana dalam beberapa hadits di atas, disebutkan beberapa dosa besar di antaranya syirik, sihir, membunuh, makan riba, makan harta anak yatim, kabur ketika peperangan, menuduh wanita baik-baik berzina, membuat orang tua menangis, dan lainnya.2. Dosa besar adalah setiap dosa yang diancam neraka, atau kemurkaan, atau laknat atau adzabDosa besar adalah dosa yang pelakunya diancam dengan adzab neraka, kemurkaan Allah atau laknat, serta pelakunya disifati dengan kefasikan. Sebagaimana perkataan Ibnu Abbas radhiallahu’anhuma ketika menafsirkan surat An-Nisa`: 31 di atas, beliau berkata:الكبيرة كل ذنب ختمه الله بنار، أو غضب، أو لعنة، أو عذاب“Dosa besar adalah yang Allah tutup dengan ancaman neraka, atau kemurkaan, atau laknat atau adzab” (Tafsir Ibnu Katsir, 2/282).Al-Hasan Al-Bashri mengatakan:كُلّ ذَنْب نَسَبَهُ اللَّه تَعَالَى إِلَى النَّار فَهُوَ كَبِيرَة“Setiap dosa yang Allah gandengkan dengan neraka maka itu adalah dosa besar” (Tafsir Ibnu Katsir, 2/285).3. Dosa besar adalah yang terdapat hukuman khususTermasuk dosa besar, perbuatan yang dilarang oleh syariat dan digandengkan dengan sebuah hukuman tertentu, tidak sekedar dilarang. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin mengatakan:الكبائر هي ما رتب عليه عقوبة خاصة بمعنى أنها ليست مقتصرة على مجرد النهي أو التحريم، بل لا بد من عقوبة خاصة مثل أن يقال من فعل هذا فليس بمؤمن، أو فليس منا، أو ما أشبه ذلك، هذه هي الكبائر، والصغائر هي المحرمات التي ليس عليها عقوبة“Dosa besar adalah yang Allah ancam dengan suatu hukuman khusus. Maksudnya perbuatan tersebut tidak sekedar dilarang atau diharamkan, namun diancam dengan suatu hukuman khusus. Semisal disebutkan dalam dalil ‘barangsiapa yang melakukan ini maka ia bukan mukmin’, atau ‘bukan bagian dari kami’, atau semisal dengan itu. Ini adalah dosa besar. Dan dosa kecil adalah dosa yang tidak diancam dengan suatu hukuman khusus” (Fatawa Nurun ‘alad Darbi libni Al-‘Utsaimin, 2/24, Asy-Syamilah).4. Dosa yang dinafikan pelakunya dari keimanan atau dari umat NabiDosa besar adalah dosa yang pelakunya dikatakan tidak beriman atau dianggap bukan bagian dari umat Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam. Syaikh Abdurrahman bin Hasan mengatakan:وضابطها – يعني : الكبيرة – ما قاله المحققون من العلماء: كل ذنب ختمه الله بنار، أو لعنة، أو غضب، أو عذاب. زاد شيخ الإسلام – يعني: ابن تيمية -: أو نفي الإيمان. قلت: ومن برئ منه رسول الله صلى الله عليه وسلم ، أو قال: ليس منا من فعل كذا أو كذا“Kaidah dosa besar, sebagaimana yang disebutkan oleh para ulama muhaqqiqin, adalah setiap dosa yang Allah gandengkan dengan laknat, atau kemurkaan atau adzab. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menambahkan: juga yang terdapat penafian keimanan. Menurutku juga, termasuk dosa yang Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam berlepas diri darinya, atau Nabi mengatakan: bukan golongan kami yang melakukan ini dan itu” (Fathul Majid, 418).5. Dosa yang terdapat hukuman hadd-nyaDosa besar adalah semua dosa yang terdapat hukuman hadd-nya di dunia. Ibnu Shalah rahimahullah mengatakan:لَهَا أَمَارَات مِنْهَا إِيجَاب الْحَدّ , وَمِنْهَا الْإِيعَاد عَلَيْهَا بِالْعَذَابِ بِالنَّارِ وَنَحْوهَا فِي الْكِتَاب أَوْ السُّنَّة , وَمِنْهَا وَصْف صَاحِبهَا بِالْفِسْقِ , وَمِنْهَا اللَّعْن“Dosa besar ada beberapa indikasinya, di antaranya diwajibkan hukuman hadd kepadanya, juga diancam dengan azab neraka atau semisalnya, di dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah. Demikian juga, pelakunya disifati dengan kefasikan dan laknat ” (Tafsir Ibnu Katsir, 2/285).Syaikh Muhammad bin Ibrahim juga menjelaskan:ما توعد عليه بغضب، أو لعنة، أو رتب عليه عقاب في الدنيا، أو عذاب في الآخرة“Dosa besar adalah dosa yang diancam dengan kemurkaan Allah, atau laknat, atau digandengkan dengan suatu hukuman di dunia, atau dengan suatu adzab di akhirat” (Fatawa war Rasail, 2/54).Konsekuensi Dosa BesarNabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:ما منِ امرئٍ مسلمٍ تحضرهُ صلاةٌ مكتوبةٌ . فيُحسنُ وضوءَها وخشوعَها وركوعَها . إلا كانتْ كفارةً لما قبلها منَ الذنوبِ . ما لمْ يؤتِ كبيرةً . وذلكَ الدهرَ كلَّهُ“Tidaklah seorang Muslim menghadiri shalat wajib (di masjid), ia membaguskan wudhunya dan membaguskan khusyuk serta rukuknya, kecuali itu semua menjadi kafarah (penghapus) dosa-dosanya yang telah berlalu, selama ia tidak mengerjakan dosa besar. Dan itu berlaku sepanjang masa” (HR. Muslim no. 228). Al Imam An-Nawawi menjelaskan hadits ini:مَعْنَاهُ أَنَّ الذُّنُوبَ كُلَّهَا تُغْفَرُ إِلَّا الْكَبَائِرَ فَإِنَّهَا لَا تُغْفَرُ … قَالَ الْقَاضِي عِيَاضٌ هَذَا الْمَذْكُورُ فِي الْحَدِيثِ مِنْ غُفْرَانِ الذُّنُوبِ مَا لَمْ تُؤْتَ كَبِيرَةٌ هُوَ مَذْهَبُ أَهْلِ السُّنَّةِ وَأَنَّ الْكَبَائِرَ إِنَّمَا تُكَفِّرُهَا التَّوْبَةُ أَوْ رَحْمَةُ اللَّهِ تَعَالَى وَفَضْلُهُ“Maknanya bahwa semua dosa akan diampuni (karena amalan tersebut) kecuali dosa besar. Adapun dosa besar tidak diampuni (dengan sebatas amalan tersebut) … Al-Qadhi Iyadh mengatakan bahwa yang disebutkan dalam hadits, yaitu keyakinan bahwa dosa-dosa akan diampuni selama bukan dosa besar, ini adalah keyakinan Ahlussunnah. Dan dosa besar itu hanya dapat dihapuskan dengan taubat atau dengan rahmat dari Allah Ta’ala dan keutamaan dari Allah” (Syarah Shahih Muslim lin Nawawi, 3/112).Juga Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:الصَّلاةُ الخمسُ والجمعةُ إلى الجمعةِ كفَّارةٌ لما بينَهنَّ ما لم تُغشَ الْكبائرُ“Shalat lima waktu dan shalat Jum’at ke shalat Jum’at selanjutnya, menghapuskan dosa-dosa di antara keduanya, selama tidak melakukan dosa besar” (HR. Muslim no. 233).Dan hadits-hadits yang menyebutkan penghapusan dosa karena amalan shalih semisal ini banyak.Maka dosa kecil itu akan pupus dan akan hilang dengan sendirinya jika seseorang melakukan amalan-amalan shalih. Namun tidak demikian pada dosa besar. Dosa besar hanya bisa hilang jika pelakukan bertaubat nasuha.Demikian paparan ringkas ini, semoga bermanfaat. Wabillahi at taufiq was sadaad.___Penyusun: Yulian PurnamaArtikel: Muslim.Or.Id🔍 Dalam Shalat Jenazah Jumlah Takbirnya Sebanyak, Arti Ar Rahim, Tugas Seorang Istri Menurut Al Quran, Kata Kata Bijak Ulama Salaf, Urutan Hadits


Dalil-dalil dari Al Qur’an dan As Sunnah menunjukkan bahwa dosa terbagi menjadi dosa besar (al-kab`air) dan dosa kecil (ash-shagha`ir). Sebagaimana dalam firman Allah Ta’ala :وَالَّذِينَ يَجْتَنِبُونَ كَبَائِرَ الْإِثْمِ وَالْفَوَاحِشَ وَإِذَا مَا غَضِبُوا هُمْ يَغْفِرُونَ“Dan (bagi) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan-perbuatan keji, dan apabila mereka marah mereka memberi maaf” (QS. Asy-Syura: 37).Allah Ta’ala juga berfirman:إِنْ تَجْتَنِبُوا كَبَائِرَ مَا تُنْهَوْنَ عَنْهُ نُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَنُدْخِلْكُمْ مُدْخَلًا كَرِيمًا“Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa besar yang dilarang kamu mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu (dosa-dosamu yang kecil) dan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia (surga)” (QS. An-Nisa`: 31).Allah Ta’ala juga berfirman:الَّذِينَ يَجْتَنِبُونَ كَبَائِرَ الْإِثْمِ وَالْفَوَاحِشَ إِلَّا اللَّمَمَ إِنَّ رَبَّكَ وَاسِعُ الْمَغْفِرَةِ“(Yaitu) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji yang selain dari kesalahan-kesalahan kecil. Sesungguhnya Tuhanmu maha luas ampunan-Nya” (QS. An-Najm: 32).Juga dalil-dalil As-Sunnah, menunjukkan adanya pembagian dosa besar dan dosa kecil. Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:الصَّلاةُ الخمسُ والجمعةُ إلى الجمعةِ كفَّارةٌ لما بينَهنَّ ما لم تُغشَ الْكبائرُ“Shalat lima waktu dan shalat Jum’at ke shalat Jum’at selanjutnya, menghapuskan dosa-dosa di antara keduanya, selama tidak melakukan dosa besar” (HR. Muslim no. 233).Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:اجتنبوا السبعَ الموبقاتِ . قالوا : يا رسولَ اللهِ ، وما هن ؟ قال : الشركُ باللهِ ، والسحرُ ، وقتلُ النفسِ التي حرّم اللهُ إلا بالحقِّ ، وأكلُ الربا ، وأكلُ مالِ اليتيمِ ، والتولي يومَ الزحفِ ، وقذفُ المحصناتِ المؤمناتِ الغافلاتِ“Jauhilah tujuh dosa yang membinasakan. Para sahabat bertanya: wahai Rasulullah, apa saja itu? Rasulullah menjawab, ‘syirik terhadap Allah, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan oleh Allah kecuali dengan hak, makan riba, makan harta anak yatim, kabur ketika peperangan, menuduh wanita baik-baik berzina’” (HR. Bukhari no. 2766, Muslim no. 89).Abdullah bin Umar radhiallahu’anhuma mengatakan:الكَبائرُ تِسْعٌ: الإشراكُ باللهِ، وقَتْلُ نَسَمَةٍ، والفِرارُ مِنَ الزَّحفِ، وقَذْفُ المُحْصَنةِ، وأكْلُ الرِّبا، وأكْلُ مالِ اليتيمِ، وإلحادٌ في المسجدِ، والَّذي يَستَسخِرُ، وبُكاءُ الوالدينِ مِنَ العُقوقِ“Ada 9 dosa besar: syirik kepada Allah, membunuh jiwa, kabur dari perang, menuduh wanita baik-baik berzina, makan riba, memakan harta anak yatim, melakukan penyimpangan di masjid, tidak membayar upah pekerja, membuat orang tua menangis karena perbuatan durhaka” (HR. Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad 12/15, dishahihkan Al-Albani dalam Shahih Adabul Mufrad no.6).Dan dalil-dalil lainnya yang menunjukkan adanya dosa besar, maka mafhum-nya dosa-dosa selain dosa besar maka termasuk dosa kecil.Kaidah Dalam Membedakan Dosa Besar Dan Dosa KecilPara ulama banyak menyebutkan dhawabith (kaidah) dalam membedakan dosa besar dengan dosa kecil. Diantara dhawabith dosa besar dan dosa kecil yang disebutkan para ulama adalah:1. Dosa besar adalah yang disebutkan sebagai dosa besar oleh Allah dan Rasul-NyaSemua dosa yang disebutkan secara tegas oleh Allah dan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam sebagai dosa besar atau perbuatan yang membinasakan maka ini adalah dosa besar. Juga yang disepakati oleh para ulama sebagai dosa besar. Al-Qurthubi mengatakan:كُلّ ذَنْب أُطْلِقَ عَلَيْهِ بِنَصِّ كِتَاب أَوْ سُنَّة أَوْ إِجْمَاع أَنَّهُ كَبِيرَة أَوْ عَظِيم“Dosa besar adalah dosa yang dimutlakkan oleh nash Al-Qur`an dan As-Sunnah atau ijma’ sebagai dosa besar” (Fathul Baari, 15/709).Maka setiap dosa yang disebutkan oleh Allah atau oleh Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam sebagai dosa besar, maka itu dosa besar. Sebagaimana dalam beberapa hadits di atas, disebutkan beberapa dosa besar di antaranya syirik, sihir, membunuh, makan riba, makan harta anak yatim, kabur ketika peperangan, menuduh wanita baik-baik berzina, membuat orang tua menangis, dan lainnya.2. Dosa besar adalah setiap dosa yang diancam neraka, atau kemurkaan, atau laknat atau adzabDosa besar adalah dosa yang pelakunya diancam dengan adzab neraka, kemurkaan Allah atau laknat, serta pelakunya disifati dengan kefasikan. Sebagaimana perkataan Ibnu Abbas radhiallahu’anhuma ketika menafsirkan surat An-Nisa`: 31 di atas, beliau berkata:الكبيرة كل ذنب ختمه الله بنار، أو غضب، أو لعنة، أو عذاب“Dosa besar adalah yang Allah tutup dengan ancaman neraka, atau kemurkaan, atau laknat atau adzab” (Tafsir Ibnu Katsir, 2/282).Al-Hasan Al-Bashri mengatakan:كُلّ ذَنْب نَسَبَهُ اللَّه تَعَالَى إِلَى النَّار فَهُوَ كَبِيرَة“Setiap dosa yang Allah gandengkan dengan neraka maka itu adalah dosa besar” (Tafsir Ibnu Katsir, 2/285).3. Dosa besar adalah yang terdapat hukuman khususTermasuk dosa besar, perbuatan yang dilarang oleh syariat dan digandengkan dengan sebuah hukuman tertentu, tidak sekedar dilarang. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin mengatakan:الكبائر هي ما رتب عليه عقوبة خاصة بمعنى أنها ليست مقتصرة على مجرد النهي أو التحريم، بل لا بد من عقوبة خاصة مثل أن يقال من فعل هذا فليس بمؤمن، أو فليس منا، أو ما أشبه ذلك، هذه هي الكبائر، والصغائر هي المحرمات التي ليس عليها عقوبة“Dosa besar adalah yang Allah ancam dengan suatu hukuman khusus. Maksudnya perbuatan tersebut tidak sekedar dilarang atau diharamkan, namun diancam dengan suatu hukuman khusus. Semisal disebutkan dalam dalil ‘barangsiapa yang melakukan ini maka ia bukan mukmin’, atau ‘bukan bagian dari kami’, atau semisal dengan itu. Ini adalah dosa besar. Dan dosa kecil adalah dosa yang tidak diancam dengan suatu hukuman khusus” (Fatawa Nurun ‘alad Darbi libni Al-‘Utsaimin, 2/24, Asy-Syamilah).4. Dosa yang dinafikan pelakunya dari keimanan atau dari umat NabiDosa besar adalah dosa yang pelakunya dikatakan tidak beriman atau dianggap bukan bagian dari umat Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam. Syaikh Abdurrahman bin Hasan mengatakan:وضابطها – يعني : الكبيرة – ما قاله المحققون من العلماء: كل ذنب ختمه الله بنار، أو لعنة، أو غضب، أو عذاب. زاد شيخ الإسلام – يعني: ابن تيمية -: أو نفي الإيمان. قلت: ومن برئ منه رسول الله صلى الله عليه وسلم ، أو قال: ليس منا من فعل كذا أو كذا“Kaidah dosa besar, sebagaimana yang disebutkan oleh para ulama muhaqqiqin, adalah setiap dosa yang Allah gandengkan dengan laknat, atau kemurkaan atau adzab. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menambahkan: juga yang terdapat penafian keimanan. Menurutku juga, termasuk dosa yang Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam berlepas diri darinya, atau Nabi mengatakan: bukan golongan kami yang melakukan ini dan itu” (Fathul Majid, 418).5. Dosa yang terdapat hukuman hadd-nyaDosa besar adalah semua dosa yang terdapat hukuman hadd-nya di dunia. Ibnu Shalah rahimahullah mengatakan:لَهَا أَمَارَات مِنْهَا إِيجَاب الْحَدّ , وَمِنْهَا الْإِيعَاد عَلَيْهَا بِالْعَذَابِ بِالنَّارِ وَنَحْوهَا فِي الْكِتَاب أَوْ السُّنَّة , وَمِنْهَا وَصْف صَاحِبهَا بِالْفِسْقِ , وَمِنْهَا اللَّعْن“Dosa besar ada beberapa indikasinya, di antaranya diwajibkan hukuman hadd kepadanya, juga diancam dengan azab neraka atau semisalnya, di dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah. Demikian juga, pelakunya disifati dengan kefasikan dan laknat ” (Tafsir Ibnu Katsir, 2/285).Syaikh Muhammad bin Ibrahim juga menjelaskan:ما توعد عليه بغضب، أو لعنة، أو رتب عليه عقاب في الدنيا، أو عذاب في الآخرة“Dosa besar adalah dosa yang diancam dengan kemurkaan Allah, atau laknat, atau digandengkan dengan suatu hukuman di dunia, atau dengan suatu adzab di akhirat” (Fatawa war Rasail, 2/54).Konsekuensi Dosa BesarNabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:ما منِ امرئٍ مسلمٍ تحضرهُ صلاةٌ مكتوبةٌ . فيُحسنُ وضوءَها وخشوعَها وركوعَها . إلا كانتْ كفارةً لما قبلها منَ الذنوبِ . ما لمْ يؤتِ كبيرةً . وذلكَ الدهرَ كلَّهُ“Tidaklah seorang Muslim menghadiri shalat wajib (di masjid), ia membaguskan wudhunya dan membaguskan khusyuk serta rukuknya, kecuali itu semua menjadi kafarah (penghapus) dosa-dosanya yang telah berlalu, selama ia tidak mengerjakan dosa besar. Dan itu berlaku sepanjang masa” (HR. Muslim no. 228). Al Imam An-Nawawi menjelaskan hadits ini:مَعْنَاهُ أَنَّ الذُّنُوبَ كُلَّهَا تُغْفَرُ إِلَّا الْكَبَائِرَ فَإِنَّهَا لَا تُغْفَرُ … قَالَ الْقَاضِي عِيَاضٌ هَذَا الْمَذْكُورُ فِي الْحَدِيثِ مِنْ غُفْرَانِ الذُّنُوبِ مَا لَمْ تُؤْتَ كَبِيرَةٌ هُوَ مَذْهَبُ أَهْلِ السُّنَّةِ وَأَنَّ الْكَبَائِرَ إِنَّمَا تُكَفِّرُهَا التَّوْبَةُ أَوْ رَحْمَةُ اللَّهِ تَعَالَى وَفَضْلُهُ“Maknanya bahwa semua dosa akan diampuni (karena amalan tersebut) kecuali dosa besar. Adapun dosa besar tidak diampuni (dengan sebatas amalan tersebut) … Al-Qadhi Iyadh mengatakan bahwa yang disebutkan dalam hadits, yaitu keyakinan bahwa dosa-dosa akan diampuni selama bukan dosa besar, ini adalah keyakinan Ahlussunnah. Dan dosa besar itu hanya dapat dihapuskan dengan taubat atau dengan rahmat dari Allah Ta’ala dan keutamaan dari Allah” (Syarah Shahih Muslim lin Nawawi, 3/112).Juga Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:الصَّلاةُ الخمسُ والجمعةُ إلى الجمعةِ كفَّارةٌ لما بينَهنَّ ما لم تُغشَ الْكبائرُ“Shalat lima waktu dan shalat Jum’at ke shalat Jum’at selanjutnya, menghapuskan dosa-dosa di antara keduanya, selama tidak melakukan dosa besar” (HR. Muslim no. 233).Dan hadits-hadits yang menyebutkan penghapusan dosa karena amalan shalih semisal ini banyak.Maka dosa kecil itu akan pupus dan akan hilang dengan sendirinya jika seseorang melakukan amalan-amalan shalih. Namun tidak demikian pada dosa besar. Dosa besar hanya bisa hilang jika pelakukan bertaubat nasuha.Demikian paparan ringkas ini, semoga bermanfaat. Wabillahi at taufiq was sadaad.___Penyusun: Yulian PurnamaArtikel: Muslim.Or.Id🔍 Dalam Shalat Jenazah Jumlah Takbirnya Sebanyak, Arti Ar Rahim, Tugas Seorang Istri Menurut Al Quran, Kata Kata Bijak Ulama Salaf, Urutan Hadits

Khutbah Jumat: Bagi yang Mau Bermaksiat Ba’da Ramadhan

Download   Bagi yang mau bermaksiat ba’da Ramadhan, coba renungkan empat nasihat berikut dalam khutbah Jumat ini.   Khutbah Pertama إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن. يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ حَقّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنّ إِلاّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ اللّهُمَّ عَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا، وَانْفَعَنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا، وَزِدْنَا عِلْماً، وَأَرَنَا الحَقَّ حَقّاً وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرَنَا البَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ   Ma’asyirol muslimin rahimani wa rahimakumullah … Pertama-tama kita bersyukur kepada Allah karena pada hari ini bertepatan dengan bertemunya dua ied yaitu bertemunya hari Jumat dan hari Idul Fitri 1 Syawal 1439 H. Kita diberi nikmat untuk bisa berada dalam dua hari ied ini, dan moga jadi kebaikan yang banyak bagi kita sekalian. Semoga Allah menerima setiap amalan kita pada bulan Ramadhan. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada junjungan kita Nabi besar Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, pada para sahabat, para tabi’in, serta para ulama yang telah memberikan kita contoh terbaik dalam beragama. Jamaah shalat Jumat yang semoga senantiasa dirahmati dan diberkahi oleh Allah. Bulan Ramadhan telah berakhir dan kita tutup dengan bertakbir sejak Malam Idul Fitri sampai pagi hari ketika kita berangkat menuju lapangan. Begitu pula dalam shalat ied, kita diperintahkan untuk banyak bertakbir dengan adanya takbir zawaid (takbir tambahan). Dan khatib saat khutbah ied juga terus memperbanyak takbir. Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, laa ilaha illallah wallahu akbar, Allahu akbar walillahil hamd. Seorang muslim yang terbaik, ia bisa mengambil pelajaran dari bulan Ramadhan yang telah ia lewati. Tentu saja dengan ia berusaha menjadi lebih baik selepas Ramadhan. Kalau keadaannya sama saja dengan sebelum Ramadhan atau lebih jelek dari sebelum Ramadhan, sungguh merugi. Karena tanda amalan Ramadhan seseorang diterima, jika selepas Ramadhan menjadi lebih baik. Kebaikan seharusnya diikuti dengan kebaikan selanjutnya, demikian kata para ulama. Harusnya amalan-amalan pada bulan Ramadhan terus dijaga selepas Ramadhan. Jangan kita menjadi orang yang malah tambah jelek selepas Ramadhan. Sebagaimana kata para ulama, “Bi’sal qoum laa ya’rifunallaha illa fii Ramadhan, sejelek-jelek orang adalah yang mau beribadah kepada Allah hanya pada bulan Ramadhan saja.” Dalam khutbah kali ini ada empat pesan penting yang ingin disampaikan ditujukan bagi siapa saja yang ingin melakukan maksiat ba’da Ramadhan. Coba direnungkan empat pesan berikut.   Pesan pertama: Hendaklah bertakwa kepada Allah dan mengoreksi setiap amalan kita. Allah Ta’ala berfirman, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖوَاتَّقُوا اللَّهَ ۚإِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ “Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat) dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hasyr: 18) Maksud ayat ini kata Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا، وَانْظُرُوا مَاذَا ادْخَرْتُمْ لِأَنْفُسِكُمْ مِنَ الأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ لِيَوْمِ مَعَادِكُمْ وَعَرَضَكُمْ عَلَى رَبِّكُمْ “Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab. Lihatlah apa yang telah kalian siapkan untuk diri kalian berupa amal shalih untuk hari di mana kalian akan kembali dan setiap amal kalian akan dihadapkan kepada Allah.”   Pesan kedua: Ingatlah umur kita terbatas dan besok akan ditanya. Dalam hadits dari Abi Barzah Al-Aslami radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمْرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ “Kedua kaki seorang hamba tidaklah beranjak pada hari kiamat hingga ia ditanya mengenai (di antaranya): umurnya di manakah ia habiskan. …” (HR. Tirmidzi, no. 2417. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih) Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أَعْمَارُ أُمَّتِـي مَا بَيْنَ السِّتِّيْنَ إِلَى السَّبْعِيْنَ وَأَقَلُّهُمْ مَنْ يَجُوزُ ذَلِكَ “Umur umatku antara 60 hingga 70 dan sedikit dari mereka yang melebihi itu.” (HR. Tirmidzi, no. 3550; Ibnu Majah, no. 4236. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan)   Pesan ketiga: Segeralah bertaubat. Dari Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah seorang hamba melakukan dosa kemudian ia bersuci dengan baik, kemudian berdiri untuk melakukan shalat dua raka’at kemudian meminta ampun kepada Allah, kecuali Allah akan mengampuninya.” Kemudian beliau membaca ayat ini, وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَىٰ مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ “Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.” (QS. Ali Imran: 135) (HR. Tirmidzi, no. 406; Abu Daud, no. 1521; Ibnu Majah no. 1395. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)   Pesan keempat: Mengikutkan kebaikan dengan maksiat, tanda tidak diterimanya amalan Ramadhan. Kata para ulama, مِنْ ثَوَابِ الحَسَنَةِ الحَسَنَةُ بَعْدَهَا، وَمِنْ جَزَاءِ السَّيِّئَةِ السَّيِّئَةُ بَعْدَهَا “Di antara balasan kebaikan adalah kebaikan selanjutnya dan di antara balasan kejelekan adalah kejelekan selanjutnya.” Dalil dari hal ini adalah ayat, فَأَمَّا مَنْ أَعْطَى وَاتَّقَى (5) وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَى (6) فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَى (7) وَأَمَّا مَنْ بَخِلَ وَاسْتَغْنَى (8) وَكَذَّبَ بِالْحُسْنَى (9) فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْعُسْرَى (10) “Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar.” (QS. Al-Lail: 5-10) Demikian khutbah pertama ini. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا َوَاسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ إِنَّهُ هُوَ السَمِيْعُ العَلِيْمُ   Khutbah Kedua الحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالمِيْنَ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَافِ الأَنْبِيَاءِ وَالمرْسَلِيْنَ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ Dari sahabat Abu Ayyub Al-Anshariy radhiyallahu ‘anhu, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ “Barang siapa yang berpuasa Ramadhan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia berpuasa seperti setahun penuh.” (HR. Muslim) إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلاَمِ وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ وَجَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَبَارِكْ لَنَا فِى أَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُلُوبِنَا وَأَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ وَاجْعَلْنَا شَاكِرِينَ لِنِعْمَتِكَ مُثْنِينَ بِهَا قَابِلِيهَا وَأَتِمَّهَا عَلَيْنَا اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى اللَّهُمَّ أَحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِى الأُمُورِ كُلِّهَا وَأَجِرْنَا مِنْ خِزْىِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ   — Diselesaikan pada Jumat siang, 1 Syawal 1439 H (15-06-2018) di rumah tercinta @ Dusun Warak, Desa Girisekar, Panggang, Gunungkidul, persiapan Khutbah Jumat di Pesantren Darush Sholihin Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsbada ramadhan dosa besar khutbah jumat maksiat puasa syawal

Khutbah Jumat: Bagi yang Mau Bermaksiat Ba’da Ramadhan

Download   Bagi yang mau bermaksiat ba’da Ramadhan, coba renungkan empat nasihat berikut dalam khutbah Jumat ini.   Khutbah Pertama إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن. يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ حَقّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنّ إِلاّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ اللّهُمَّ عَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا، وَانْفَعَنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا، وَزِدْنَا عِلْماً، وَأَرَنَا الحَقَّ حَقّاً وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرَنَا البَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ   Ma’asyirol muslimin rahimani wa rahimakumullah … Pertama-tama kita bersyukur kepada Allah karena pada hari ini bertepatan dengan bertemunya dua ied yaitu bertemunya hari Jumat dan hari Idul Fitri 1 Syawal 1439 H. Kita diberi nikmat untuk bisa berada dalam dua hari ied ini, dan moga jadi kebaikan yang banyak bagi kita sekalian. Semoga Allah menerima setiap amalan kita pada bulan Ramadhan. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada junjungan kita Nabi besar Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, pada para sahabat, para tabi’in, serta para ulama yang telah memberikan kita contoh terbaik dalam beragama. Jamaah shalat Jumat yang semoga senantiasa dirahmati dan diberkahi oleh Allah. Bulan Ramadhan telah berakhir dan kita tutup dengan bertakbir sejak Malam Idul Fitri sampai pagi hari ketika kita berangkat menuju lapangan. Begitu pula dalam shalat ied, kita diperintahkan untuk banyak bertakbir dengan adanya takbir zawaid (takbir tambahan). Dan khatib saat khutbah ied juga terus memperbanyak takbir. Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, laa ilaha illallah wallahu akbar, Allahu akbar walillahil hamd. Seorang muslim yang terbaik, ia bisa mengambil pelajaran dari bulan Ramadhan yang telah ia lewati. Tentu saja dengan ia berusaha menjadi lebih baik selepas Ramadhan. Kalau keadaannya sama saja dengan sebelum Ramadhan atau lebih jelek dari sebelum Ramadhan, sungguh merugi. Karena tanda amalan Ramadhan seseorang diterima, jika selepas Ramadhan menjadi lebih baik. Kebaikan seharusnya diikuti dengan kebaikan selanjutnya, demikian kata para ulama. Harusnya amalan-amalan pada bulan Ramadhan terus dijaga selepas Ramadhan. Jangan kita menjadi orang yang malah tambah jelek selepas Ramadhan. Sebagaimana kata para ulama, “Bi’sal qoum laa ya’rifunallaha illa fii Ramadhan, sejelek-jelek orang adalah yang mau beribadah kepada Allah hanya pada bulan Ramadhan saja.” Dalam khutbah kali ini ada empat pesan penting yang ingin disampaikan ditujukan bagi siapa saja yang ingin melakukan maksiat ba’da Ramadhan. Coba direnungkan empat pesan berikut.   Pesan pertama: Hendaklah bertakwa kepada Allah dan mengoreksi setiap amalan kita. Allah Ta’ala berfirman, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖوَاتَّقُوا اللَّهَ ۚإِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ “Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat) dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hasyr: 18) Maksud ayat ini kata Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا، وَانْظُرُوا مَاذَا ادْخَرْتُمْ لِأَنْفُسِكُمْ مِنَ الأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ لِيَوْمِ مَعَادِكُمْ وَعَرَضَكُمْ عَلَى رَبِّكُمْ “Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab. Lihatlah apa yang telah kalian siapkan untuk diri kalian berupa amal shalih untuk hari di mana kalian akan kembali dan setiap amal kalian akan dihadapkan kepada Allah.”   Pesan kedua: Ingatlah umur kita terbatas dan besok akan ditanya. Dalam hadits dari Abi Barzah Al-Aslami radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمْرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ “Kedua kaki seorang hamba tidaklah beranjak pada hari kiamat hingga ia ditanya mengenai (di antaranya): umurnya di manakah ia habiskan. …” (HR. Tirmidzi, no. 2417. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih) Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أَعْمَارُ أُمَّتِـي مَا بَيْنَ السِّتِّيْنَ إِلَى السَّبْعِيْنَ وَأَقَلُّهُمْ مَنْ يَجُوزُ ذَلِكَ “Umur umatku antara 60 hingga 70 dan sedikit dari mereka yang melebihi itu.” (HR. Tirmidzi, no. 3550; Ibnu Majah, no. 4236. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan)   Pesan ketiga: Segeralah bertaubat. Dari Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah seorang hamba melakukan dosa kemudian ia bersuci dengan baik, kemudian berdiri untuk melakukan shalat dua raka’at kemudian meminta ampun kepada Allah, kecuali Allah akan mengampuninya.” Kemudian beliau membaca ayat ini, وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَىٰ مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ “Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.” (QS. Ali Imran: 135) (HR. Tirmidzi, no. 406; Abu Daud, no. 1521; Ibnu Majah no. 1395. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)   Pesan keempat: Mengikutkan kebaikan dengan maksiat, tanda tidak diterimanya amalan Ramadhan. Kata para ulama, مِنْ ثَوَابِ الحَسَنَةِ الحَسَنَةُ بَعْدَهَا، وَمِنْ جَزَاءِ السَّيِّئَةِ السَّيِّئَةُ بَعْدَهَا “Di antara balasan kebaikan adalah kebaikan selanjutnya dan di antara balasan kejelekan adalah kejelekan selanjutnya.” Dalil dari hal ini adalah ayat, فَأَمَّا مَنْ أَعْطَى وَاتَّقَى (5) وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَى (6) فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَى (7) وَأَمَّا مَنْ بَخِلَ وَاسْتَغْنَى (8) وَكَذَّبَ بِالْحُسْنَى (9) فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْعُسْرَى (10) “Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar.” (QS. Al-Lail: 5-10) Demikian khutbah pertama ini. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا َوَاسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ إِنَّهُ هُوَ السَمِيْعُ العَلِيْمُ   Khutbah Kedua الحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالمِيْنَ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَافِ الأَنْبِيَاءِ وَالمرْسَلِيْنَ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ Dari sahabat Abu Ayyub Al-Anshariy radhiyallahu ‘anhu, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ “Barang siapa yang berpuasa Ramadhan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia berpuasa seperti setahun penuh.” (HR. Muslim) إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلاَمِ وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ وَجَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَبَارِكْ لَنَا فِى أَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُلُوبِنَا وَأَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ وَاجْعَلْنَا شَاكِرِينَ لِنِعْمَتِكَ مُثْنِينَ بِهَا قَابِلِيهَا وَأَتِمَّهَا عَلَيْنَا اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى اللَّهُمَّ أَحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِى الأُمُورِ كُلِّهَا وَأَجِرْنَا مِنْ خِزْىِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ   — Diselesaikan pada Jumat siang, 1 Syawal 1439 H (15-06-2018) di rumah tercinta @ Dusun Warak, Desa Girisekar, Panggang, Gunungkidul, persiapan Khutbah Jumat di Pesantren Darush Sholihin Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsbada ramadhan dosa besar khutbah jumat maksiat puasa syawal
Download   Bagi yang mau bermaksiat ba’da Ramadhan, coba renungkan empat nasihat berikut dalam khutbah Jumat ini.   Khutbah Pertama إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن. يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ حَقّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنّ إِلاّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ اللّهُمَّ عَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا، وَانْفَعَنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا، وَزِدْنَا عِلْماً، وَأَرَنَا الحَقَّ حَقّاً وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرَنَا البَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ   Ma’asyirol muslimin rahimani wa rahimakumullah … Pertama-tama kita bersyukur kepada Allah karena pada hari ini bertepatan dengan bertemunya dua ied yaitu bertemunya hari Jumat dan hari Idul Fitri 1 Syawal 1439 H. Kita diberi nikmat untuk bisa berada dalam dua hari ied ini, dan moga jadi kebaikan yang banyak bagi kita sekalian. Semoga Allah menerima setiap amalan kita pada bulan Ramadhan. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada junjungan kita Nabi besar Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, pada para sahabat, para tabi’in, serta para ulama yang telah memberikan kita contoh terbaik dalam beragama. Jamaah shalat Jumat yang semoga senantiasa dirahmati dan diberkahi oleh Allah. Bulan Ramadhan telah berakhir dan kita tutup dengan bertakbir sejak Malam Idul Fitri sampai pagi hari ketika kita berangkat menuju lapangan. Begitu pula dalam shalat ied, kita diperintahkan untuk banyak bertakbir dengan adanya takbir zawaid (takbir tambahan). Dan khatib saat khutbah ied juga terus memperbanyak takbir. Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, laa ilaha illallah wallahu akbar, Allahu akbar walillahil hamd. Seorang muslim yang terbaik, ia bisa mengambil pelajaran dari bulan Ramadhan yang telah ia lewati. Tentu saja dengan ia berusaha menjadi lebih baik selepas Ramadhan. Kalau keadaannya sama saja dengan sebelum Ramadhan atau lebih jelek dari sebelum Ramadhan, sungguh merugi. Karena tanda amalan Ramadhan seseorang diterima, jika selepas Ramadhan menjadi lebih baik. Kebaikan seharusnya diikuti dengan kebaikan selanjutnya, demikian kata para ulama. Harusnya amalan-amalan pada bulan Ramadhan terus dijaga selepas Ramadhan. Jangan kita menjadi orang yang malah tambah jelek selepas Ramadhan. Sebagaimana kata para ulama, “Bi’sal qoum laa ya’rifunallaha illa fii Ramadhan, sejelek-jelek orang adalah yang mau beribadah kepada Allah hanya pada bulan Ramadhan saja.” Dalam khutbah kali ini ada empat pesan penting yang ingin disampaikan ditujukan bagi siapa saja yang ingin melakukan maksiat ba’da Ramadhan. Coba direnungkan empat pesan berikut.   Pesan pertama: Hendaklah bertakwa kepada Allah dan mengoreksi setiap amalan kita. Allah Ta’ala berfirman, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖوَاتَّقُوا اللَّهَ ۚإِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ “Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat) dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hasyr: 18) Maksud ayat ini kata Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا، وَانْظُرُوا مَاذَا ادْخَرْتُمْ لِأَنْفُسِكُمْ مِنَ الأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ لِيَوْمِ مَعَادِكُمْ وَعَرَضَكُمْ عَلَى رَبِّكُمْ “Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab. Lihatlah apa yang telah kalian siapkan untuk diri kalian berupa amal shalih untuk hari di mana kalian akan kembali dan setiap amal kalian akan dihadapkan kepada Allah.”   Pesan kedua: Ingatlah umur kita terbatas dan besok akan ditanya. Dalam hadits dari Abi Barzah Al-Aslami radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمْرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ “Kedua kaki seorang hamba tidaklah beranjak pada hari kiamat hingga ia ditanya mengenai (di antaranya): umurnya di manakah ia habiskan. …” (HR. Tirmidzi, no. 2417. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih) Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أَعْمَارُ أُمَّتِـي مَا بَيْنَ السِّتِّيْنَ إِلَى السَّبْعِيْنَ وَأَقَلُّهُمْ مَنْ يَجُوزُ ذَلِكَ “Umur umatku antara 60 hingga 70 dan sedikit dari mereka yang melebihi itu.” (HR. Tirmidzi, no. 3550; Ibnu Majah, no. 4236. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan)   Pesan ketiga: Segeralah bertaubat. Dari Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah seorang hamba melakukan dosa kemudian ia bersuci dengan baik, kemudian berdiri untuk melakukan shalat dua raka’at kemudian meminta ampun kepada Allah, kecuali Allah akan mengampuninya.” Kemudian beliau membaca ayat ini, وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَىٰ مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ “Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.” (QS. Ali Imran: 135) (HR. Tirmidzi, no. 406; Abu Daud, no. 1521; Ibnu Majah no. 1395. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)   Pesan keempat: Mengikutkan kebaikan dengan maksiat, tanda tidak diterimanya amalan Ramadhan. Kata para ulama, مِنْ ثَوَابِ الحَسَنَةِ الحَسَنَةُ بَعْدَهَا، وَمِنْ جَزَاءِ السَّيِّئَةِ السَّيِّئَةُ بَعْدَهَا “Di antara balasan kebaikan adalah kebaikan selanjutnya dan di antara balasan kejelekan adalah kejelekan selanjutnya.” Dalil dari hal ini adalah ayat, فَأَمَّا مَنْ أَعْطَى وَاتَّقَى (5) وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَى (6) فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَى (7) وَأَمَّا مَنْ بَخِلَ وَاسْتَغْنَى (8) وَكَذَّبَ بِالْحُسْنَى (9) فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْعُسْرَى (10) “Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar.” (QS. Al-Lail: 5-10) Demikian khutbah pertama ini. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا َوَاسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ إِنَّهُ هُوَ السَمِيْعُ العَلِيْمُ   Khutbah Kedua الحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالمِيْنَ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَافِ الأَنْبِيَاءِ وَالمرْسَلِيْنَ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ Dari sahabat Abu Ayyub Al-Anshariy radhiyallahu ‘anhu, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ “Barang siapa yang berpuasa Ramadhan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia berpuasa seperti setahun penuh.” (HR. Muslim) إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلاَمِ وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ وَجَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَبَارِكْ لَنَا فِى أَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُلُوبِنَا وَأَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ وَاجْعَلْنَا شَاكِرِينَ لِنِعْمَتِكَ مُثْنِينَ بِهَا قَابِلِيهَا وَأَتِمَّهَا عَلَيْنَا اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى اللَّهُمَّ أَحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِى الأُمُورِ كُلِّهَا وَأَجِرْنَا مِنْ خِزْىِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ   — Diselesaikan pada Jumat siang, 1 Syawal 1439 H (15-06-2018) di rumah tercinta @ Dusun Warak, Desa Girisekar, Panggang, Gunungkidul, persiapan Khutbah Jumat di Pesantren Darush Sholihin Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsbada ramadhan dosa besar khutbah jumat maksiat puasa syawal


Download   Bagi yang mau bermaksiat ba’da Ramadhan, coba renungkan empat nasihat berikut dalam khutbah Jumat ini.   Khutbah Pertama إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن. يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ حَقّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنّ إِلاّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ اللّهُمَّ عَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا، وَانْفَعَنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا، وَزِدْنَا عِلْماً، وَأَرَنَا الحَقَّ حَقّاً وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرَنَا البَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ   Ma’asyirol muslimin rahimani wa rahimakumullah … Pertama-tama kita bersyukur kepada Allah karena pada hari ini bertepatan dengan bertemunya dua ied yaitu bertemunya hari Jumat dan hari Idul Fitri 1 Syawal 1439 H. Kita diberi nikmat untuk bisa berada dalam dua hari ied ini, dan moga jadi kebaikan yang banyak bagi kita sekalian. Semoga Allah menerima setiap amalan kita pada bulan Ramadhan. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada junjungan kita Nabi besar Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, pada para sahabat, para tabi’in, serta para ulama yang telah memberikan kita contoh terbaik dalam beragama. Jamaah shalat Jumat yang semoga senantiasa dirahmati dan diberkahi oleh Allah. Bulan Ramadhan telah berakhir dan kita tutup dengan bertakbir sejak Malam Idul Fitri sampai pagi hari ketika kita berangkat menuju lapangan. Begitu pula dalam shalat ied, kita diperintahkan untuk banyak bertakbir dengan adanya takbir zawaid (takbir tambahan). Dan khatib saat khutbah ied juga terus memperbanyak takbir. Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, laa ilaha illallah wallahu akbar, Allahu akbar walillahil hamd. Seorang muslim yang terbaik, ia bisa mengambil pelajaran dari bulan Ramadhan yang telah ia lewati. Tentu saja dengan ia berusaha menjadi lebih baik selepas Ramadhan. Kalau keadaannya sama saja dengan sebelum Ramadhan atau lebih jelek dari sebelum Ramadhan, sungguh merugi. Karena tanda amalan Ramadhan seseorang diterima, jika selepas Ramadhan menjadi lebih baik. Kebaikan seharusnya diikuti dengan kebaikan selanjutnya, demikian kata para ulama. Harusnya amalan-amalan pada bulan Ramadhan terus dijaga selepas Ramadhan. Jangan kita menjadi orang yang malah tambah jelek selepas Ramadhan. Sebagaimana kata para ulama, “Bi’sal qoum laa ya’rifunallaha illa fii Ramadhan, sejelek-jelek orang adalah yang mau beribadah kepada Allah hanya pada bulan Ramadhan saja.” Dalam khutbah kali ini ada empat pesan penting yang ingin disampaikan ditujukan bagi siapa saja yang ingin melakukan maksiat ba’da Ramadhan. Coba direnungkan empat pesan berikut.   Pesan pertama: Hendaklah bertakwa kepada Allah dan mengoreksi setiap amalan kita. Allah Ta’ala berfirman, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖوَاتَّقُوا اللَّهَ ۚإِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ “Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat) dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hasyr: 18) Maksud ayat ini kata Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا، وَانْظُرُوا مَاذَا ادْخَرْتُمْ لِأَنْفُسِكُمْ مِنَ الأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ لِيَوْمِ مَعَادِكُمْ وَعَرَضَكُمْ عَلَى رَبِّكُمْ “Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab. Lihatlah apa yang telah kalian siapkan untuk diri kalian berupa amal shalih untuk hari di mana kalian akan kembali dan setiap amal kalian akan dihadapkan kepada Allah.”   Pesan kedua: Ingatlah umur kita terbatas dan besok akan ditanya. Dalam hadits dari Abi Barzah Al-Aslami radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمْرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ “Kedua kaki seorang hamba tidaklah beranjak pada hari kiamat hingga ia ditanya mengenai (di antaranya): umurnya di manakah ia habiskan. …” (HR. Tirmidzi, no. 2417. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih) Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أَعْمَارُ أُمَّتِـي مَا بَيْنَ السِّتِّيْنَ إِلَى السَّبْعِيْنَ وَأَقَلُّهُمْ مَنْ يَجُوزُ ذَلِكَ “Umur umatku antara 60 hingga 70 dan sedikit dari mereka yang melebihi itu.” (HR. Tirmidzi, no. 3550; Ibnu Majah, no. 4236. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan)   Pesan ketiga: Segeralah bertaubat. Dari Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah seorang hamba melakukan dosa kemudian ia bersuci dengan baik, kemudian berdiri untuk melakukan shalat dua raka’at kemudian meminta ampun kepada Allah, kecuali Allah akan mengampuninya.” Kemudian beliau membaca ayat ini, وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَىٰ مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ “Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.” (QS. Ali Imran: 135) (HR. Tirmidzi, no. 406; Abu Daud, no. 1521; Ibnu Majah no. 1395. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)   Pesan keempat: Mengikutkan kebaikan dengan maksiat, tanda tidak diterimanya amalan Ramadhan. Kata para ulama, مِنْ ثَوَابِ الحَسَنَةِ الحَسَنَةُ بَعْدَهَا، وَمِنْ جَزَاءِ السَّيِّئَةِ السَّيِّئَةُ بَعْدَهَا “Di antara balasan kebaikan adalah kebaikan selanjutnya dan di antara balasan kejelekan adalah kejelekan selanjutnya.” Dalil dari hal ini adalah ayat, فَأَمَّا مَنْ أَعْطَى وَاتَّقَى (5) وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَى (6) فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَى (7) وَأَمَّا مَنْ بَخِلَ وَاسْتَغْنَى (8) وَكَذَّبَ بِالْحُسْنَى (9) فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْعُسْرَى (10) “Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar.” (QS. Al-Lail: 5-10) Demikian khutbah pertama ini. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا َوَاسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ إِنَّهُ هُوَ السَمِيْعُ العَلِيْمُ   Khutbah Kedua الحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالمِيْنَ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَافِ الأَنْبِيَاءِ وَالمرْسَلِيْنَ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ Dari sahabat Abu Ayyub Al-Anshariy radhiyallahu ‘anhu, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ “Barang siapa yang berpuasa Ramadhan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia berpuasa seperti setahun penuh.” (HR. Muslim) إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلاَمِ وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ وَجَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَبَارِكْ لَنَا فِى أَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُلُوبِنَا وَأَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ وَاجْعَلْنَا شَاكِرِينَ لِنِعْمَتِكَ مُثْنِينَ بِهَا قَابِلِيهَا وَأَتِمَّهَا عَلَيْنَا اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى اللَّهُمَّ أَحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِى الأُمُورِ كُلِّهَا وَأَجِرْنَا مِنْ خِزْىِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ   — Diselesaikan pada Jumat siang, 1 Syawal 1439 H (15-06-2018) di rumah tercinta @ Dusun Warak, Desa Girisekar, Panggang, Gunungkidul, persiapan Khutbah Jumat di Pesantren Darush Sholihin Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsbada ramadhan dosa besar khutbah jumat maksiat puasa syawal

Hukum Memberikan Zakat Bagi Non-Muslim dan di Negeri Non-Muslim

Zakat (termasuk zakat fitri) hanya untuk kaum muslimin dan tidak boleh diberikan kepada orang kafir (akan tetapi boleh memberi sedekah dan hadiah pada non-muslim jika ada mashalahat). Dalilnya adalah perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Mu’adz Bin Jabal ketika berdakwah mengajak kepada Islam. Ketika mereka menerima dakwah dan masuk Islam, mereka diperintahkan membayar zakat yang diambil dari orang kaya kaum muslimin dan dibagikan kepada orang miskin dari kaum muslimin.Rasulullah bersabda kepada Mu’adz ketika akan berdakwah ke Yaman,ﻓﺈﻥ ﺃﻃﺎﻋﻮﻙ ﻟﺬﻟﻚ ﻓﺄﻋﻠﻤﻬﻢ ﺃﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻓﺘﺮﺽ ﻋﻠﻴﻬﻢ ﺻﺪﻗﺔ ﺗﺆﺧﺬ ﻣﻦ ﺃﻏﻨﻴﺎﺋﻬﻢ ﻓﺘﺮﺩ ﻓﻲ ﻓﻘﺮﺍﺋﻬﻢ“Jika mereka pun patuh untuk itu, ajari pula mereka bahwa Allah mewajibkan mereka menunaikan zakat yang ditarik dari orang-orang kaya mereka lalu diserahkan pada para fakir miskin dari kalangan mereka.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim] Ibnul Mudzir menyatakan ada ijma’ ulama dalam hal ini. Beliau berkata, ﺃﺟﻤﻌﻮﺍ ﻋﻠﻰ ﺃﻥ ﺍﻟﺬﻣﻲ ﻻ ﻳﻌﻄﻰ ﻣﻦ ﺯﻛﺎﺓ ﺍﻷﻣﻮﺍﻝ ﺷﻴﺌﺎ“Ulama menyatakan secara ijma’ bahwa kafir dzimmi tidak diberi zakat sedikitpun.” [Al-Ijma’ hal.8] An-Nawawi juga menyatakan inilah pendapat jumhur ulama. Beliau berkata,ﺟﻤﺎﻫﻴﺮ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﺳﻠﻔﺎً ﻭﺧﻠﻔﺎً ﺇﻟﻰ ﺃﻧﻪ ﻻ ﻳﺠﻮﺯ ﺩﻓﻊ ﺷﻲﺀ ﻣﻦ ﺍﻟﺰﻛﺎﺓ ﻟﻠﻔﻘﻴﺮ ﺃﻭ ﺍﻟﻤﺴﻜﻴﻦ ﺍﻟﻜﺎﻓﺮ“Jumhur ulama salaf (dahulu) dan khalaf (sekarang) berpendapat tidak boleh memberikan zakat kepada fakir atau miskin dari orang kafir.” [Al-Majmu’ 6/228)Demikian juga Ibnu Qudamah menyatakan,ﻻ ﻧﻌﻠﻢ ﺑﻴﻦ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﺧﻼﻓﺎ ﻓﻲ ﺃﻥ ﺯﻛﺎﺓ ﺍﻷﻣﻮﺍﻝ ﻻ ﺗﻌﻄﻰ ﻟﻜﺎﻓﺮ ﻭﻻ ﻟﻤﻤﻠﻮﻙ“Kami tidak mengetahui adanya khilaf dari ahli ilmu bahwa zakat harta tidak boleh diberikan kepada orang kafir dan budak.” [Al-Mughni 2/487] Demikian juga zakat fitri, tidak boleh diberikan kepada orang kafir.Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimim ditanya,هل يجوز إعطاء زكاة الفطر للعمال من غير المسلمين؟“Bolehkah memberikan zakat fitri kepada pekerja selain kaum muslimin”?Beliau menjawab,لا يجوز إعطاؤها إلا للفقير من المسلمين فقط“Tidak boleh memberikannya kecuali kepada orang miskin kaum muslimin saja.” [Majmu’ Fatawa 18/285] Bagaimana jika berada di negeri non-muslim?Hukum asalnya adalah lebih baik (afdalnya) zakat itu diberikan kepada yang berhak (mustahiq) tempat kita tinggal. Apabila tinggal di negeri non-muslim, maka kita berusaha mencari dahulu orang miskin (mustahiq) muslim di negara non-muslim tersebut. Jika tidak ada boleh kita mentransfer (memindahkan) zakat ke negeri atau tempat lainnya yang lebih banyak muslimnya atau mereka sangat membutuhkan (misalnya karena ada pemurtadan di daerah miskin)Syaikh Al-‘Utsaimin menjelaskan,ﻧﻘﻞ ﺻﺪﻗﺔ ﺍﻟﻔﻄﺮ ﺇﻟﻰ ﺑﻼﺩ ﻏﻴﺮ ﺑﻼﺩ ﺍﻟﺮﺟﻞ ﺍﻟﺬﻱ ﺃﺧﺮﺟﻬﺎ ﺇﻥ ﻛﺎﻥ ﻟﺤﺎﺟﺔ ﺑﺄﻥ ﻟﻢ ﻳﻜﻦ ﻋﻨﺪﻩ ﺃﺣﺪ ﻣﻦ ﺍﻟﻔﻘﺮﺍﺀ ﻓﻼ ﺑﺄﺱ ﺑﻪ ، ﻭﺇﻥ ﻛﺎﻥ ﻟﻐﻴﺮ ﺣﺎﺟﺔ ﺑﺄﻥ ﻭﺟﺪ ﻓﻲ ﺍﻟﺒﻠﺪ ﻣﻦ ﻳﺘﻘﺒﻠﻬﺎ ﻓﺈﻧﻪ ﻻ ﻳﺠﻮﺯ“Memindahkan (transfer) zakat fitri ke negara/tempat lain, apabila ada hajat (mashlahat), semisal tidak ada orang miskin di tempatnya, maka hukumnya tidak mengapa. Jika tidak ada hajat (mashlahat), maka tidak boleh.” [Fatawa 18, soal 102] Bahkan boleh diberikan kepada non-muslim, apabila tidak ditemukan sama sekali kaum muslimin yang miskin (akan tetapi keyataaan dan fakta saat ini, orang miskin kaum muslimin itu ada). Di riwayatkan dari Ibnu abi Syaibah, Mujahid berkata,ﻻ ﺗﺼﺪﻕ ﻋﻠﻰ ﻳﻬﻮﺩﻱ ﻭﻻ ﻧﺼﺮﺍﻧﻲ ﺇﻻ ﺃﻥ ﻻ ﺗﺠﺪ ﻏﻴﺮﻩ“Jangan berikan zakat kepada Yahudi atau Nashrani kecuali tidak engkau temui yang lainnya (dari kaum muslimin)”[Al-Mushannaf 2/401] Catatan:Zakat yang boleh diberikan kepada orang kafir adalah golongan “muallafatu qulubuhum” yaitu orang yang dilunakkan hatinya dan diharapkan masuk Islam dari para pemimpim dan pembesar, sehingga menjadi contoh bagi kaumnya untuk masuk Islam.Syaikh Bin Baz berkata,ﺃﻣﺎ ﺍﻟﺰﻛﺎﺓ ﻻ، ﻻ ﻳﻌﻄﺎﻫﺎ ﺇﻻ ﺍﻟﻤﺆﻟﻔﺔ ﻗﻠﻮﺑﻬﻢ، ﺍﻟﺰﻛﺎﺓ ﻳﻌﻄﺎﻫﺎ ﺍﻟﻤﺆﻟﻒ ﻣﺜﻞ ﺭﺅﺳﺎﺀ ﺍﻟﻌﺸﺎﺋﺮ، ﻛﺒﺎﺭ ﺍﻟﻘﻮﻡ، ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺍﻟﻠﻲ ﺇﺫﺍ ﺃﻋﻄﻮﺍ ﻳﺮﺟﻰ ﺇﺳﻼﻣﻬﻢ ﺇﺳﻼﻡ ﻧﻈﺮﺍﺋﻬﻢ ﻳﺪﻓﻌﻮﻥ ﻋﻦ ﺍﻟﻤﺴﻠﻤﻴﻦ ﺍﻟﺸﺮ“Adapun zakat, tidak boleh (diberikan kepada orang kafir) kecuali golongan muallafatu qulubuhum (yang dilunakkan hatinya) seperti para pemimpin dan pembesar kaum, atau manusia yang diharapkan masuk Islam, atau mencegah kejahatan mereka pada kaum muslimin.” [Sumber: https://binbaz.org.sa/fatwas/14672] Kesimpulan:1. Zakat (termasuk zakat fitri) tidak boleh diberikan kepada orang kafir2. Jika berada di negeri non-muslim, diusahakan diberikan kepada orang miskin (mustahiq) di negeri tersebut, jika tidak ada maka boleh ditransfer ke negeri muslimDemikian semoga bermanfaat.@ Masjid MPD, Yogyakarta TercintaPenyusun: Raehanul BahraenArtikel www.muslim.or.id🔍 Hadist Memanah, Istighfar Mendatangkan Rezeki, Makna Karomah, Membayar Hutang, Kesesatan Guru Sekumpul

Hukum Memberikan Zakat Bagi Non-Muslim dan di Negeri Non-Muslim

Zakat (termasuk zakat fitri) hanya untuk kaum muslimin dan tidak boleh diberikan kepada orang kafir (akan tetapi boleh memberi sedekah dan hadiah pada non-muslim jika ada mashalahat). Dalilnya adalah perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Mu’adz Bin Jabal ketika berdakwah mengajak kepada Islam. Ketika mereka menerima dakwah dan masuk Islam, mereka diperintahkan membayar zakat yang diambil dari orang kaya kaum muslimin dan dibagikan kepada orang miskin dari kaum muslimin.Rasulullah bersabda kepada Mu’adz ketika akan berdakwah ke Yaman,ﻓﺈﻥ ﺃﻃﺎﻋﻮﻙ ﻟﺬﻟﻚ ﻓﺄﻋﻠﻤﻬﻢ ﺃﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻓﺘﺮﺽ ﻋﻠﻴﻬﻢ ﺻﺪﻗﺔ ﺗﺆﺧﺬ ﻣﻦ ﺃﻏﻨﻴﺎﺋﻬﻢ ﻓﺘﺮﺩ ﻓﻲ ﻓﻘﺮﺍﺋﻬﻢ“Jika mereka pun patuh untuk itu, ajari pula mereka bahwa Allah mewajibkan mereka menunaikan zakat yang ditarik dari orang-orang kaya mereka lalu diserahkan pada para fakir miskin dari kalangan mereka.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim] Ibnul Mudzir menyatakan ada ijma’ ulama dalam hal ini. Beliau berkata, ﺃﺟﻤﻌﻮﺍ ﻋﻠﻰ ﺃﻥ ﺍﻟﺬﻣﻲ ﻻ ﻳﻌﻄﻰ ﻣﻦ ﺯﻛﺎﺓ ﺍﻷﻣﻮﺍﻝ ﺷﻴﺌﺎ“Ulama menyatakan secara ijma’ bahwa kafir dzimmi tidak diberi zakat sedikitpun.” [Al-Ijma’ hal.8] An-Nawawi juga menyatakan inilah pendapat jumhur ulama. Beliau berkata,ﺟﻤﺎﻫﻴﺮ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﺳﻠﻔﺎً ﻭﺧﻠﻔﺎً ﺇﻟﻰ ﺃﻧﻪ ﻻ ﻳﺠﻮﺯ ﺩﻓﻊ ﺷﻲﺀ ﻣﻦ ﺍﻟﺰﻛﺎﺓ ﻟﻠﻔﻘﻴﺮ ﺃﻭ ﺍﻟﻤﺴﻜﻴﻦ ﺍﻟﻜﺎﻓﺮ“Jumhur ulama salaf (dahulu) dan khalaf (sekarang) berpendapat tidak boleh memberikan zakat kepada fakir atau miskin dari orang kafir.” [Al-Majmu’ 6/228)Demikian juga Ibnu Qudamah menyatakan,ﻻ ﻧﻌﻠﻢ ﺑﻴﻦ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﺧﻼﻓﺎ ﻓﻲ ﺃﻥ ﺯﻛﺎﺓ ﺍﻷﻣﻮﺍﻝ ﻻ ﺗﻌﻄﻰ ﻟﻜﺎﻓﺮ ﻭﻻ ﻟﻤﻤﻠﻮﻙ“Kami tidak mengetahui adanya khilaf dari ahli ilmu bahwa zakat harta tidak boleh diberikan kepada orang kafir dan budak.” [Al-Mughni 2/487] Demikian juga zakat fitri, tidak boleh diberikan kepada orang kafir.Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimim ditanya,هل يجوز إعطاء زكاة الفطر للعمال من غير المسلمين؟“Bolehkah memberikan zakat fitri kepada pekerja selain kaum muslimin”?Beliau menjawab,لا يجوز إعطاؤها إلا للفقير من المسلمين فقط“Tidak boleh memberikannya kecuali kepada orang miskin kaum muslimin saja.” [Majmu’ Fatawa 18/285] Bagaimana jika berada di negeri non-muslim?Hukum asalnya adalah lebih baik (afdalnya) zakat itu diberikan kepada yang berhak (mustahiq) tempat kita tinggal. Apabila tinggal di negeri non-muslim, maka kita berusaha mencari dahulu orang miskin (mustahiq) muslim di negara non-muslim tersebut. Jika tidak ada boleh kita mentransfer (memindahkan) zakat ke negeri atau tempat lainnya yang lebih banyak muslimnya atau mereka sangat membutuhkan (misalnya karena ada pemurtadan di daerah miskin)Syaikh Al-‘Utsaimin menjelaskan,ﻧﻘﻞ ﺻﺪﻗﺔ ﺍﻟﻔﻄﺮ ﺇﻟﻰ ﺑﻼﺩ ﻏﻴﺮ ﺑﻼﺩ ﺍﻟﺮﺟﻞ ﺍﻟﺬﻱ ﺃﺧﺮﺟﻬﺎ ﺇﻥ ﻛﺎﻥ ﻟﺤﺎﺟﺔ ﺑﺄﻥ ﻟﻢ ﻳﻜﻦ ﻋﻨﺪﻩ ﺃﺣﺪ ﻣﻦ ﺍﻟﻔﻘﺮﺍﺀ ﻓﻼ ﺑﺄﺱ ﺑﻪ ، ﻭﺇﻥ ﻛﺎﻥ ﻟﻐﻴﺮ ﺣﺎﺟﺔ ﺑﺄﻥ ﻭﺟﺪ ﻓﻲ ﺍﻟﺒﻠﺪ ﻣﻦ ﻳﺘﻘﺒﻠﻬﺎ ﻓﺈﻧﻪ ﻻ ﻳﺠﻮﺯ“Memindahkan (transfer) zakat fitri ke negara/tempat lain, apabila ada hajat (mashlahat), semisal tidak ada orang miskin di tempatnya, maka hukumnya tidak mengapa. Jika tidak ada hajat (mashlahat), maka tidak boleh.” [Fatawa 18, soal 102] Bahkan boleh diberikan kepada non-muslim, apabila tidak ditemukan sama sekali kaum muslimin yang miskin (akan tetapi keyataaan dan fakta saat ini, orang miskin kaum muslimin itu ada). Di riwayatkan dari Ibnu abi Syaibah, Mujahid berkata,ﻻ ﺗﺼﺪﻕ ﻋﻠﻰ ﻳﻬﻮﺩﻱ ﻭﻻ ﻧﺼﺮﺍﻧﻲ ﺇﻻ ﺃﻥ ﻻ ﺗﺠﺪ ﻏﻴﺮﻩ“Jangan berikan zakat kepada Yahudi atau Nashrani kecuali tidak engkau temui yang lainnya (dari kaum muslimin)”[Al-Mushannaf 2/401] Catatan:Zakat yang boleh diberikan kepada orang kafir adalah golongan “muallafatu qulubuhum” yaitu orang yang dilunakkan hatinya dan diharapkan masuk Islam dari para pemimpim dan pembesar, sehingga menjadi contoh bagi kaumnya untuk masuk Islam.Syaikh Bin Baz berkata,ﺃﻣﺎ ﺍﻟﺰﻛﺎﺓ ﻻ، ﻻ ﻳﻌﻄﺎﻫﺎ ﺇﻻ ﺍﻟﻤﺆﻟﻔﺔ ﻗﻠﻮﺑﻬﻢ، ﺍﻟﺰﻛﺎﺓ ﻳﻌﻄﺎﻫﺎ ﺍﻟﻤﺆﻟﻒ ﻣﺜﻞ ﺭﺅﺳﺎﺀ ﺍﻟﻌﺸﺎﺋﺮ، ﻛﺒﺎﺭ ﺍﻟﻘﻮﻡ، ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺍﻟﻠﻲ ﺇﺫﺍ ﺃﻋﻄﻮﺍ ﻳﺮﺟﻰ ﺇﺳﻼﻣﻬﻢ ﺇﺳﻼﻡ ﻧﻈﺮﺍﺋﻬﻢ ﻳﺪﻓﻌﻮﻥ ﻋﻦ ﺍﻟﻤﺴﻠﻤﻴﻦ ﺍﻟﺸﺮ“Adapun zakat, tidak boleh (diberikan kepada orang kafir) kecuali golongan muallafatu qulubuhum (yang dilunakkan hatinya) seperti para pemimpin dan pembesar kaum, atau manusia yang diharapkan masuk Islam, atau mencegah kejahatan mereka pada kaum muslimin.” [Sumber: https://binbaz.org.sa/fatwas/14672] Kesimpulan:1. Zakat (termasuk zakat fitri) tidak boleh diberikan kepada orang kafir2. Jika berada di negeri non-muslim, diusahakan diberikan kepada orang miskin (mustahiq) di negeri tersebut, jika tidak ada maka boleh ditransfer ke negeri muslimDemikian semoga bermanfaat.@ Masjid MPD, Yogyakarta TercintaPenyusun: Raehanul BahraenArtikel www.muslim.or.id🔍 Hadist Memanah, Istighfar Mendatangkan Rezeki, Makna Karomah, Membayar Hutang, Kesesatan Guru Sekumpul
Zakat (termasuk zakat fitri) hanya untuk kaum muslimin dan tidak boleh diberikan kepada orang kafir (akan tetapi boleh memberi sedekah dan hadiah pada non-muslim jika ada mashalahat). Dalilnya adalah perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Mu’adz Bin Jabal ketika berdakwah mengajak kepada Islam. Ketika mereka menerima dakwah dan masuk Islam, mereka diperintahkan membayar zakat yang diambil dari orang kaya kaum muslimin dan dibagikan kepada orang miskin dari kaum muslimin.Rasulullah bersabda kepada Mu’adz ketika akan berdakwah ke Yaman,ﻓﺈﻥ ﺃﻃﺎﻋﻮﻙ ﻟﺬﻟﻚ ﻓﺄﻋﻠﻤﻬﻢ ﺃﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻓﺘﺮﺽ ﻋﻠﻴﻬﻢ ﺻﺪﻗﺔ ﺗﺆﺧﺬ ﻣﻦ ﺃﻏﻨﻴﺎﺋﻬﻢ ﻓﺘﺮﺩ ﻓﻲ ﻓﻘﺮﺍﺋﻬﻢ“Jika mereka pun patuh untuk itu, ajari pula mereka bahwa Allah mewajibkan mereka menunaikan zakat yang ditarik dari orang-orang kaya mereka lalu diserahkan pada para fakir miskin dari kalangan mereka.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim] Ibnul Mudzir menyatakan ada ijma’ ulama dalam hal ini. Beliau berkata, ﺃﺟﻤﻌﻮﺍ ﻋﻠﻰ ﺃﻥ ﺍﻟﺬﻣﻲ ﻻ ﻳﻌﻄﻰ ﻣﻦ ﺯﻛﺎﺓ ﺍﻷﻣﻮﺍﻝ ﺷﻴﺌﺎ“Ulama menyatakan secara ijma’ bahwa kafir dzimmi tidak diberi zakat sedikitpun.” [Al-Ijma’ hal.8] An-Nawawi juga menyatakan inilah pendapat jumhur ulama. Beliau berkata,ﺟﻤﺎﻫﻴﺮ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﺳﻠﻔﺎً ﻭﺧﻠﻔﺎً ﺇﻟﻰ ﺃﻧﻪ ﻻ ﻳﺠﻮﺯ ﺩﻓﻊ ﺷﻲﺀ ﻣﻦ ﺍﻟﺰﻛﺎﺓ ﻟﻠﻔﻘﻴﺮ ﺃﻭ ﺍﻟﻤﺴﻜﻴﻦ ﺍﻟﻜﺎﻓﺮ“Jumhur ulama salaf (dahulu) dan khalaf (sekarang) berpendapat tidak boleh memberikan zakat kepada fakir atau miskin dari orang kafir.” [Al-Majmu’ 6/228)Demikian juga Ibnu Qudamah menyatakan,ﻻ ﻧﻌﻠﻢ ﺑﻴﻦ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﺧﻼﻓﺎ ﻓﻲ ﺃﻥ ﺯﻛﺎﺓ ﺍﻷﻣﻮﺍﻝ ﻻ ﺗﻌﻄﻰ ﻟﻜﺎﻓﺮ ﻭﻻ ﻟﻤﻤﻠﻮﻙ“Kami tidak mengetahui adanya khilaf dari ahli ilmu bahwa zakat harta tidak boleh diberikan kepada orang kafir dan budak.” [Al-Mughni 2/487] Demikian juga zakat fitri, tidak boleh diberikan kepada orang kafir.Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimim ditanya,هل يجوز إعطاء زكاة الفطر للعمال من غير المسلمين؟“Bolehkah memberikan zakat fitri kepada pekerja selain kaum muslimin”?Beliau menjawab,لا يجوز إعطاؤها إلا للفقير من المسلمين فقط“Tidak boleh memberikannya kecuali kepada orang miskin kaum muslimin saja.” [Majmu’ Fatawa 18/285] Bagaimana jika berada di negeri non-muslim?Hukum asalnya adalah lebih baik (afdalnya) zakat itu diberikan kepada yang berhak (mustahiq) tempat kita tinggal. Apabila tinggal di negeri non-muslim, maka kita berusaha mencari dahulu orang miskin (mustahiq) muslim di negara non-muslim tersebut. Jika tidak ada boleh kita mentransfer (memindahkan) zakat ke negeri atau tempat lainnya yang lebih banyak muslimnya atau mereka sangat membutuhkan (misalnya karena ada pemurtadan di daerah miskin)Syaikh Al-‘Utsaimin menjelaskan,ﻧﻘﻞ ﺻﺪﻗﺔ ﺍﻟﻔﻄﺮ ﺇﻟﻰ ﺑﻼﺩ ﻏﻴﺮ ﺑﻼﺩ ﺍﻟﺮﺟﻞ ﺍﻟﺬﻱ ﺃﺧﺮﺟﻬﺎ ﺇﻥ ﻛﺎﻥ ﻟﺤﺎﺟﺔ ﺑﺄﻥ ﻟﻢ ﻳﻜﻦ ﻋﻨﺪﻩ ﺃﺣﺪ ﻣﻦ ﺍﻟﻔﻘﺮﺍﺀ ﻓﻼ ﺑﺄﺱ ﺑﻪ ، ﻭﺇﻥ ﻛﺎﻥ ﻟﻐﻴﺮ ﺣﺎﺟﺔ ﺑﺄﻥ ﻭﺟﺪ ﻓﻲ ﺍﻟﺒﻠﺪ ﻣﻦ ﻳﺘﻘﺒﻠﻬﺎ ﻓﺈﻧﻪ ﻻ ﻳﺠﻮﺯ“Memindahkan (transfer) zakat fitri ke negara/tempat lain, apabila ada hajat (mashlahat), semisal tidak ada orang miskin di tempatnya, maka hukumnya tidak mengapa. Jika tidak ada hajat (mashlahat), maka tidak boleh.” [Fatawa 18, soal 102] Bahkan boleh diberikan kepada non-muslim, apabila tidak ditemukan sama sekali kaum muslimin yang miskin (akan tetapi keyataaan dan fakta saat ini, orang miskin kaum muslimin itu ada). Di riwayatkan dari Ibnu abi Syaibah, Mujahid berkata,ﻻ ﺗﺼﺪﻕ ﻋﻠﻰ ﻳﻬﻮﺩﻱ ﻭﻻ ﻧﺼﺮﺍﻧﻲ ﺇﻻ ﺃﻥ ﻻ ﺗﺠﺪ ﻏﻴﺮﻩ“Jangan berikan zakat kepada Yahudi atau Nashrani kecuali tidak engkau temui yang lainnya (dari kaum muslimin)”[Al-Mushannaf 2/401] Catatan:Zakat yang boleh diberikan kepada orang kafir adalah golongan “muallafatu qulubuhum” yaitu orang yang dilunakkan hatinya dan diharapkan masuk Islam dari para pemimpim dan pembesar, sehingga menjadi contoh bagi kaumnya untuk masuk Islam.Syaikh Bin Baz berkata,ﺃﻣﺎ ﺍﻟﺰﻛﺎﺓ ﻻ، ﻻ ﻳﻌﻄﺎﻫﺎ ﺇﻻ ﺍﻟﻤﺆﻟﻔﺔ ﻗﻠﻮﺑﻬﻢ، ﺍﻟﺰﻛﺎﺓ ﻳﻌﻄﺎﻫﺎ ﺍﻟﻤﺆﻟﻒ ﻣﺜﻞ ﺭﺅﺳﺎﺀ ﺍﻟﻌﺸﺎﺋﺮ، ﻛﺒﺎﺭ ﺍﻟﻘﻮﻡ، ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺍﻟﻠﻲ ﺇﺫﺍ ﺃﻋﻄﻮﺍ ﻳﺮﺟﻰ ﺇﺳﻼﻣﻬﻢ ﺇﺳﻼﻡ ﻧﻈﺮﺍﺋﻬﻢ ﻳﺪﻓﻌﻮﻥ ﻋﻦ ﺍﻟﻤﺴﻠﻤﻴﻦ ﺍﻟﺸﺮ“Adapun zakat, tidak boleh (diberikan kepada orang kafir) kecuali golongan muallafatu qulubuhum (yang dilunakkan hatinya) seperti para pemimpin dan pembesar kaum, atau manusia yang diharapkan masuk Islam, atau mencegah kejahatan mereka pada kaum muslimin.” [Sumber: https://binbaz.org.sa/fatwas/14672] Kesimpulan:1. Zakat (termasuk zakat fitri) tidak boleh diberikan kepada orang kafir2. Jika berada di negeri non-muslim, diusahakan diberikan kepada orang miskin (mustahiq) di negeri tersebut, jika tidak ada maka boleh ditransfer ke negeri muslimDemikian semoga bermanfaat.@ Masjid MPD, Yogyakarta TercintaPenyusun: Raehanul BahraenArtikel www.muslim.or.id🔍 Hadist Memanah, Istighfar Mendatangkan Rezeki, Makna Karomah, Membayar Hutang, Kesesatan Guru Sekumpul


Zakat (termasuk zakat fitri) hanya untuk kaum muslimin dan tidak boleh diberikan kepada orang kafir (akan tetapi boleh memberi sedekah dan hadiah pada non-muslim jika ada mashalahat). Dalilnya adalah perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Mu’adz Bin Jabal ketika berdakwah mengajak kepada Islam. Ketika mereka menerima dakwah dan masuk Islam, mereka diperintahkan membayar zakat yang diambil dari orang kaya kaum muslimin dan dibagikan kepada orang miskin dari kaum muslimin.Rasulullah bersabda kepada Mu’adz ketika akan berdakwah ke Yaman,ﻓﺈﻥ ﺃﻃﺎﻋﻮﻙ ﻟﺬﻟﻚ ﻓﺄﻋﻠﻤﻬﻢ ﺃﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻓﺘﺮﺽ ﻋﻠﻴﻬﻢ ﺻﺪﻗﺔ ﺗﺆﺧﺬ ﻣﻦ ﺃﻏﻨﻴﺎﺋﻬﻢ ﻓﺘﺮﺩ ﻓﻲ ﻓﻘﺮﺍﺋﻬﻢ“Jika mereka pun patuh untuk itu, ajari pula mereka bahwa Allah mewajibkan mereka menunaikan zakat yang ditarik dari orang-orang kaya mereka lalu diserahkan pada para fakir miskin dari kalangan mereka.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim] Ibnul Mudzir menyatakan ada ijma’ ulama dalam hal ini. Beliau berkata, ﺃﺟﻤﻌﻮﺍ ﻋﻠﻰ ﺃﻥ ﺍﻟﺬﻣﻲ ﻻ ﻳﻌﻄﻰ ﻣﻦ ﺯﻛﺎﺓ ﺍﻷﻣﻮﺍﻝ ﺷﻴﺌﺎ“Ulama menyatakan secara ijma’ bahwa kafir dzimmi tidak diberi zakat sedikitpun.” [Al-Ijma’ hal.8] An-Nawawi juga menyatakan inilah pendapat jumhur ulama. Beliau berkata,ﺟﻤﺎﻫﻴﺮ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﺳﻠﻔﺎً ﻭﺧﻠﻔﺎً ﺇﻟﻰ ﺃﻧﻪ ﻻ ﻳﺠﻮﺯ ﺩﻓﻊ ﺷﻲﺀ ﻣﻦ ﺍﻟﺰﻛﺎﺓ ﻟﻠﻔﻘﻴﺮ ﺃﻭ ﺍﻟﻤﺴﻜﻴﻦ ﺍﻟﻜﺎﻓﺮ“Jumhur ulama salaf (dahulu) dan khalaf (sekarang) berpendapat tidak boleh memberikan zakat kepada fakir atau miskin dari orang kafir.” [Al-Majmu’ 6/228)Demikian juga Ibnu Qudamah menyatakan,ﻻ ﻧﻌﻠﻢ ﺑﻴﻦ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﺧﻼﻓﺎ ﻓﻲ ﺃﻥ ﺯﻛﺎﺓ ﺍﻷﻣﻮﺍﻝ ﻻ ﺗﻌﻄﻰ ﻟﻜﺎﻓﺮ ﻭﻻ ﻟﻤﻤﻠﻮﻙ“Kami tidak mengetahui adanya khilaf dari ahli ilmu bahwa zakat harta tidak boleh diberikan kepada orang kafir dan budak.” [Al-Mughni 2/487] Demikian juga zakat fitri, tidak boleh diberikan kepada orang kafir.Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimim ditanya,هل يجوز إعطاء زكاة الفطر للعمال من غير المسلمين؟“Bolehkah memberikan zakat fitri kepada pekerja selain kaum muslimin”?Beliau menjawab,لا يجوز إعطاؤها إلا للفقير من المسلمين فقط“Tidak boleh memberikannya kecuali kepada orang miskin kaum muslimin saja.” [Majmu’ Fatawa 18/285] Bagaimana jika berada di negeri non-muslim?Hukum asalnya adalah lebih baik (afdalnya) zakat itu diberikan kepada yang berhak (mustahiq) tempat kita tinggal. Apabila tinggal di negeri non-muslim, maka kita berusaha mencari dahulu orang miskin (mustahiq) muslim di negara non-muslim tersebut. Jika tidak ada boleh kita mentransfer (memindahkan) zakat ke negeri atau tempat lainnya yang lebih banyak muslimnya atau mereka sangat membutuhkan (misalnya karena ada pemurtadan di daerah miskin)Syaikh Al-‘Utsaimin menjelaskan,ﻧﻘﻞ ﺻﺪﻗﺔ ﺍﻟﻔﻄﺮ ﺇﻟﻰ ﺑﻼﺩ ﻏﻴﺮ ﺑﻼﺩ ﺍﻟﺮﺟﻞ ﺍﻟﺬﻱ ﺃﺧﺮﺟﻬﺎ ﺇﻥ ﻛﺎﻥ ﻟﺤﺎﺟﺔ ﺑﺄﻥ ﻟﻢ ﻳﻜﻦ ﻋﻨﺪﻩ ﺃﺣﺪ ﻣﻦ ﺍﻟﻔﻘﺮﺍﺀ ﻓﻼ ﺑﺄﺱ ﺑﻪ ، ﻭﺇﻥ ﻛﺎﻥ ﻟﻐﻴﺮ ﺣﺎﺟﺔ ﺑﺄﻥ ﻭﺟﺪ ﻓﻲ ﺍﻟﺒﻠﺪ ﻣﻦ ﻳﺘﻘﺒﻠﻬﺎ ﻓﺈﻧﻪ ﻻ ﻳﺠﻮﺯ“Memindahkan (transfer) zakat fitri ke negara/tempat lain, apabila ada hajat (mashlahat), semisal tidak ada orang miskin di tempatnya, maka hukumnya tidak mengapa. Jika tidak ada hajat (mashlahat), maka tidak boleh.” [Fatawa 18, soal 102] Bahkan boleh diberikan kepada non-muslim, apabila tidak ditemukan sama sekali kaum muslimin yang miskin (akan tetapi keyataaan dan fakta saat ini, orang miskin kaum muslimin itu ada). Di riwayatkan dari Ibnu abi Syaibah, Mujahid berkata,ﻻ ﺗﺼﺪﻕ ﻋﻠﻰ ﻳﻬﻮﺩﻱ ﻭﻻ ﻧﺼﺮﺍﻧﻲ ﺇﻻ ﺃﻥ ﻻ ﺗﺠﺪ ﻏﻴﺮﻩ“Jangan berikan zakat kepada Yahudi atau Nashrani kecuali tidak engkau temui yang lainnya (dari kaum muslimin)”[Al-Mushannaf 2/401] Catatan:Zakat yang boleh diberikan kepada orang kafir adalah golongan “muallafatu qulubuhum” yaitu orang yang dilunakkan hatinya dan diharapkan masuk Islam dari para pemimpim dan pembesar, sehingga menjadi contoh bagi kaumnya untuk masuk Islam.Syaikh Bin Baz berkata,ﺃﻣﺎ ﺍﻟﺰﻛﺎﺓ ﻻ، ﻻ ﻳﻌﻄﺎﻫﺎ ﺇﻻ ﺍﻟﻤﺆﻟﻔﺔ ﻗﻠﻮﺑﻬﻢ، ﺍﻟﺰﻛﺎﺓ ﻳﻌﻄﺎﻫﺎ ﺍﻟﻤﺆﻟﻒ ﻣﺜﻞ ﺭﺅﺳﺎﺀ ﺍﻟﻌﺸﺎﺋﺮ، ﻛﺒﺎﺭ ﺍﻟﻘﻮﻡ، ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺍﻟﻠﻲ ﺇﺫﺍ ﺃﻋﻄﻮﺍ ﻳﺮﺟﻰ ﺇﺳﻼﻣﻬﻢ ﺇﺳﻼﻡ ﻧﻈﺮﺍﺋﻬﻢ ﻳﺪﻓﻌﻮﻥ ﻋﻦ ﺍﻟﻤﺴﻠﻤﻴﻦ ﺍﻟﺸﺮ“Adapun zakat, tidak boleh (diberikan kepada orang kafir) kecuali golongan muallafatu qulubuhum (yang dilunakkan hatinya) seperti para pemimpin dan pembesar kaum, atau manusia yang diharapkan masuk Islam, atau mencegah kejahatan mereka pada kaum muslimin.” [Sumber: https://binbaz.org.sa/fatwas/14672] Kesimpulan:1. Zakat (termasuk zakat fitri) tidak boleh diberikan kepada orang kafir2. Jika berada di negeri non-muslim, diusahakan diberikan kepada orang miskin (mustahiq) di negeri tersebut, jika tidak ada maka boleh ditransfer ke negeri muslimDemikian semoga bermanfaat.@ Masjid MPD, Yogyakarta TercintaPenyusun: Raehanul BahraenArtikel www.muslim.or.id🔍 Hadist Memanah, Istighfar Mendatangkan Rezeki, Makna Karomah, Membayar Hutang, Kesesatan Guru Sekumpul

Khutbah Idul Fitri: Pemuda Pemberani, Saat Ini Engkau Di Mana?

Download   Semoga kita bisa mengambil pelajaran dari Khutbah Idul Fitri kali ini untuk menyemangati para pemuda supaya menjadi lebih pemberani dalam membela Islam.   Khutbah Pertama Alhamdulillah hamdan katsiron thoyyiban mubaarokan fiih kamaa yuhibbu robbuna wa yardho. Asy-hadu alla ilaha illallah wahdahu laa syarika laah wa asy-hadu anna Muhammadan ‘abduhu wa rasuuluh. Allahumma sholli ‘ala Muhammad wa ‘ala aalihi wa man taabi’ahum bi ihsaanin ilaa yaumid diin. Yaa ayyuhal ladziina aamanut taqullaha haqqo tuqootihi wa laa tamuutunna illa wa antum muslimin Allahommanfa’anaa bi maa ‘allamtanaa wa ‘alimnaa maa yanfa’unaa wa zidnaa ‘ilmaa Amma ba’du … Alhamdulillah, segala puji bagi Allah. Detik ini kita telah berada di hari yang fithri, hari tidak berpuasa, setelah sebulan penuh kita menjalankan ibadah shiyam. Kita saat ini telah berada di hari kegembiraan. Kita bangga dengan puasa kita di saat kita berbuka dan berbangga pula dengan bekal puasa di hadapan Allah kelak. اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَاَللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ Kumandang takbir pun sebagai penyempurna ibadah shiyam yang kita jalani selama sebulan penuh. Allah Ta’alaberfirman, وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ “Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu bertakwa pada Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (QS. Al Baqarah: 185) اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَاَللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ Tema yang kita bahas kali ini adalah seputar pemuda agar penyemangat bagi mereka untuk segera bangkit dari tidur-tidur mereka. Kita lihat dalam khutbah Idul Fitri kali ini siapakah di antara mereka yang benar-benar mulia dan bagaimana penyimpangan saat ini serta bagaimana bandingan dengan anjuran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamdan keadaan pemuda pada masa emas Islam (pada masa sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam). Moga Allah beri taufik dan hidayah bagi semua. اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَاَللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ Ini hadits pertama yang membicarakan tentang pemuda. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda, “Tujuh golongan yang dinaungi Allah dalam naungan-Nya pada hari di mana tidak ada naungan kecuali naungan-Nya (di antaranya): وَشَابٌّ نَشَأَ بِعِبَادَةِ اللهِ “Seorang pemuda yang tumbuh dewasa dalam beribadah kepada Allah,”(HR. Bukhari, no. 1423 dan Muslim, no. 1031)   Kalau sifat pemuda saat ini (zaman now): Israf dan tabdzir (israf adalah memanfaatkan sesuatu berlebih dan tabdzir adalah memanfaatkan sesuatu kepada tempat yang tidak pantas atau maksiat) Pemudinya buka-bukaan aurat Waktu banyak habis dengan hal yang sia-sia Senangnya mabuk-mabukan Senangnya pacaran hingga berzina Takut untuk menikah, namun senang berzina Pemuda malas berjamaah di masjid Paling durhaka kepada orang tua dan senang membentak orang tuanya Kurang berada dalam majelis ilmu (tidak pernah mau menuntut ilmu agama)   Sebenarnya Allah kagum kepada pemuda yang berada di jalan yang lurus   Dari ‘Uqbah bin ‘Amir radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَيَعْجَبُ مِنَ الشَّابِّ لَيْسَتْ لَهُ صَبْوَةٌ “Sungguh Allah sangat mengagumi seorang pemuda yang tidak menyimpang dari kebenaran.” (HR. Ahmad, 4:151. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa hadits ini hasan lighairihi)   Lihatlah amanah besar yang diberikan kepada para pemuda pada masa silam   Abu Bakar pernah berkata kepada Zaid bin Tsabit dan ketika itu hadir pula ‘Umar bin Al-Khattab, إِنَّكَ رَجُلٌ شَابٌّ عَاقِلٌ وَلاَ نَتَّهِمُكَ ، كُنْتَ تَكْتُبُ الْوَحْىَ لِرَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – فَتَتَبَّعِ الْقُرْآنَ فَاجْمَعْهُ “Engkau itu seorang pemuda yang cerdas dan kami pun tidak ragu padamu, engkau dahulu pernah menulis wahyu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, telusurilah Al-Qur’an lalu kumpulkanlah.” (HR. Bukhari, no. 4679) Ini juga pujian dari Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu pada seorang pemuda seperti Zaid bin Tsabit yang diberi amanah untuk mengumpulkan Al-Qur’an.   Para pemuda harusnya menjauhi maksiat sejak masa muda, balasannya Allah akan menjaganya ketika tua   Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memberi nasehat pada Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, يَا غُلاَمُ إِنِّى أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ احْفَظِ اللَّهَ يَحْفَظْكَ “Wahai anak kecil, jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu.” (HR. Tirmidzi, no. 2516 dan Ahmad, 1:293. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan.)   Pemuda tujuh tahun sudah menjadi imam shalat   ‘Amr bin Salimah pernah menjadi imam sejak usia belia. Sebagaimana disebutkan dalam Shahih Bukhari hadits berikut, ‘Amr bin Abi Salimah menyatakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, « صَلُّوا صَلاَةَ كَذَا فِى حِينِ كَذَا ، وَصَلُّوا كَذَا فِى حِينِ كَذَا ، فَإِذَا حَضَرَتِ الصَّلاَةُ ، فَلْيُؤَذِّنْ أَحَدُكُمْ ، وَلْيَؤُمَّكُمْ أَكْثَرُكُمْ قُرْآنًا » . “Lakukanlah shalat ini pada waktu ini dan shalat itu pada waktu itu. Jika waktu shalat sudah masuk, hendaklah salah seorang dari kalian mengumandangkan azan dan yang paling banyak hafalan Qur’annya hendaklah menjadi imam.” ‘Amr lantas mengatakan, فَنَظَرُوا فَلَمْ يَكُنْ أَحَدٌ أَكْثَرَ قُرْآنًا مِنِّى ، لِمَا كُنْتُ أَتَلَقَّى مِنَ الرُّكْبَانِ ، فَقَدَّمُونِى بَيْنَ أَيْدِيهِمْ ، وَأَنَا ابْنُ سِتٍّ أَوْ سَبْعِ ، سِنِينَ “Mereka semua saling memandang. Ketika itu tidak ada yang punya hafalan Qur’an yang lebih banyak dari diriku, karena sudah banyak mendapatkan hafalan dari para pengendara dahulu. Mereka pun mengajukan diriku sebagai imam bagi mereka, padahal aku masih berusia enam atau tujuh tahun.” (HR. Bukhari, no. 4302)   Para pemuda yang benci kepada orang kafir, bukan senang menyerupai mereka   Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallahu ‘anhu menceritakan, “Ketika Perang Badar aku berada di tengah barisan.Tiba-tiba saja dari sisi kanan dan kiriku muncul dua orang pemuda yang masih sangat belia. Aku berharap seandainya saat itu aku berada di antara tulang-tulang rusuk mereka (untuk melindungi mereka, pen.). Salah seorang dari mereka mengedipkan mata kepadaku dan berkata,  “Wahai paman, engkau kenal Abu Jahal?” Kukatakan kepadanya, “Anakku, apa yang akan kau perbuat dengannya?” Pemuda itu kembali berkata, “Aku mendengar bahwa ia telah mencela Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Aku pun bersumpah kepada Allah seandainya aku melihatnya niscaya aku akan membunuhnya atau aku yang akan mati di tangannya.” Aku pun tercengang kaget dibuatnya. Lalu pemuda yang satunya lagi mengedipkan mata kepadaku dan mengatakan hal yang sama kepadaku. Seketika itu aku melihat Abu Jahal berjalan di tengah kerumunan orang. Aku berkata, “Tidakkah kalian lihat? Itulah orang yang kalian tanyakan tadi.” Mereka pun saling berlomba mengayunkan pedangnya hingga keduanya berhasil membunuh Abu Jahal.” Kemudian mereka menghadap Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan memberitahukan kepada beliau. Maka beliau bertanya, “Siapakah di antara kalian berdua yang membunuhnya?” Keduanya mengacung lalu mengatakan, “Saya yang telah membunuhnya.” Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bertanya, “Apakah kalian sudah membersihkan pedang kalian?” Mereka menjawab, “Belum.” Perawi berkata, “Lalu beliau memeriksa pedang mereka dan bersabda, كِلاَكُمَا قَتَلَهُ ‘Kalian berdua telah membunuhnya.’” Kemudian beliau memutuskan bahwa harta rampasannya untuk Mu’adz Ibnu ‘Amr Ibnu al-Jamuh. Kedua pemuda itu adalah Mu’adz bin ‘Afra’ dan Mu’adz bin ‘Amr bin Al-Jamuh.(HR. Bukhari, no. 3141 dan Muslim, no. 1752)   Cara membahagiakan orang tua   ‘Atha’ pernah ditanya oleh seseorang yang ibunya meminta kepadanya untuk shalat wajib dan puasa Ramadhan saja (tidak ada amalan sunnah, pen.), apakah perlu dituruti. ‘Atha’ mengatakan, “Iya tetap dituruti perintahnya tersebut.” (Al-Birr li Ibnil Jauzi, hlm. 67. Dinukil dari Kitab Min Akhbar As-Salaf Ash-Shalih, hlm. 398) Usamah bin Zaid, seorang sahabat yang dirinya dan orang tuanya disayangi oleh Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallammenyatakan bahwa ia memiliki seribu pohon kurma. Ia memang sengaja mempercantik atau merapikannya. Lalu ada yang berkata pada Usamah, kenapa bisa sampai lakukan seperti itu. Usamah menjawab bahwa ibunya sangat suka jika melihat keadaan kebun kurma itu indah, maka ia melakukannya. Apa saja hal dunia yang diminta oleh ibunya, ia pasti memenuhinya.  (Al-Birr li Ibnil Jauzi, hlm. 225. Dinukil dari Kitab Min Akhbar As-Salaf Ash-Shalih, hlm. 396)   Nikah muda itu jadi ajaran Nabi, bukan menunda nikah, bukan takut menikah, bukan orang tua persulit nikah hingga mapan   Dari ‘Alqamah, ia berkata bahwa ia pernah berjalan bersama ‘Abdullah di Mina. Lantas ‘Abdullah bertemu dengan ‘Utsman. Ia pun berdiri bersama Utsman kemudian berbincang-bincang, Utsman berkata pada ‘Abdullah, “Wahai Abu ‘Abdirrahman, kenapa engkau tidak menikahi seorang gadis saja yang masih muda supaya ia mengingatkanmu pada masa lalumu.” ‘Abdullah mengatakan, “Dorongan untuk menikah seperti itu pernah disampaikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada kami, « يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ » “Wahai para pemuda, barangsiapa yang memiliki baa-ah , maka menikahlah. Karena itu lebih akan menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Barangsiapa yang belum mampu, maka berpuasalah karena puasa itu bagai obat pengekang baginya.” (HR. Bukhari, no. 5065 dan Muslim, no. 1400). Pemuda kalau menurut ulama Syafi’iyah adalah mereka yang berusia di bawah 30 tahun. (Syarh Shahih Muslim, 9:154)   Dari penjelasan ini, mana sekarang pemuda pemberani? Mana pemuda yang: Tidak mau boros dan tidak menyusahkan orang tuanya, mau bekerja dan mandiri? Menutup aurat, bukan umbar aurat? Pintar memenej waktu dan memanfaatkannya untuk kebaikan? Yang tidak gemar bermaksiat? Yang gemar berada di lingkungan yang baik? Yang berani menikah dan tidak cemen, bukan maunya terus berzina? Yang shalat lima waktu rutin di masjid, mengumandangkan azan, dan menjadi imam shalat? Senang berbakti dan berbuat baik kepada kedua orang tua? Senang tholabul ilmu (ngaji) biar semakin dekat kepada Allah? Kami tunggu pemuda-pemuda pemberani yang moga bangkit segera setelah Ramadhan ini. Aquulu qouli hadza, wastaghfirullaha lii wa lakum wa li saa-iril muslimin innahu huwas sami’ul ‘aliim. Khutbah Kedua   Ahmadullah Robbi wa asykuruhu, wa asyhadu alla ilaha illallah wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu wa rasuluh, Allahumma shalli wa sallim ‘ala nabiyyinaa Muhammad wa ‘ala aalihi wa ash-habihi ajma’in. Jamaah Shalat Ied yang moga senantiasa diberkahi oleh Allah Ta’ala … Hari ini juga punya keistimewaan karena bertemunya dua ied yaitu shalat Idul Fitri dan shalat Jumat. “Ibnu Az-Zubair ketika hari ‘ied yang jatuh pada hari Jum’at pernah shalat ‘ied bersama kami di awal siang. Kemudian ketika tiba waktu shalat Jum’at Ibnu Az-Zubair tidak keluar, beliau hanya shalat sendirian. Tatkala itu Ibnu ‘Abbas berada di Thaif. Ketika Ibnu ‘Abbas tiba, kami pun menceritakan kelakuan Ibnu Az Zubair pada Ibnu ‘Abbas. Ibnu ‘Abbas pun mengatakan, “Ia adalah orang yang menjalankan ajaran Nabi (ashobas sunnah).” (HR. Abu Daud no. 1071. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini shahih). Dari Jubair bin Nufair, ia berkata bahwa jika para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamberjumpa dengan hari ‘ied (Idul Fithri atau Idul Adha, pen), satu sama lain saling mengucapkan, “Taqobbalallahu minna wa minka(Semoga Allah menerima amalku dan amal kalian).” Al Hafizh Ibnu Hajar mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan. (Fath Al-Bari, 2:446) اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَةِ اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ، وَجَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَسْمَاعِنَا، وَأَبْصَارِنَا، وَقُلُوبِنَا، وَأَزْوَاجِنَا، وَذُرِّيَّاتِنَا، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ، وَاجْعَلْنَا شَاكِرِينَ لِنِعَمِكَ مُثْنِينَ بِهَا عَلَيْكَ، قَابِلِينَ لَهَا، وَأَتِمِمْهَا عَلَيْنَا اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى اللَّهُمَّتَقَبَّلْ صِيَامَنَا وَقِيَامَنَا وَتِلاَوَتَنَا إِنَّكَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا اللَّهُمَّ أكْثِرْ أَمْوَالَنَا، وَأَوْلاَدَنَا، وَبَارِكْ لَنَا فِيمَا أَعْطَيْتَنَا وَأطِلْ حَيَاتَنَا عَلَى طَاعَتِكَ، وَأحْسِنْ أَعْمَالَنَا وَاغْفِرْ لَنَا رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ Taqabbalallahu minna wa minkum shalihal a’mal. Kullu ‘aamin wa antum bi khair. — Diselesaikan pada Jumat pagi, 1 Syawal 1439 H (15-06-2018) di rumah tercinta @ Dusun Warak, Desa Girisekar, Panggang, Gunungkidul, persiapan Khutbah Ied di Pesantren Darush Sholihin Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsidul fithri idul fitri khutbah idul fitri pemuda

Khutbah Idul Fitri: Pemuda Pemberani, Saat Ini Engkau Di Mana?

Download   Semoga kita bisa mengambil pelajaran dari Khutbah Idul Fitri kali ini untuk menyemangati para pemuda supaya menjadi lebih pemberani dalam membela Islam.   Khutbah Pertama Alhamdulillah hamdan katsiron thoyyiban mubaarokan fiih kamaa yuhibbu robbuna wa yardho. Asy-hadu alla ilaha illallah wahdahu laa syarika laah wa asy-hadu anna Muhammadan ‘abduhu wa rasuuluh. Allahumma sholli ‘ala Muhammad wa ‘ala aalihi wa man taabi’ahum bi ihsaanin ilaa yaumid diin. Yaa ayyuhal ladziina aamanut taqullaha haqqo tuqootihi wa laa tamuutunna illa wa antum muslimin Allahommanfa’anaa bi maa ‘allamtanaa wa ‘alimnaa maa yanfa’unaa wa zidnaa ‘ilmaa Amma ba’du … Alhamdulillah, segala puji bagi Allah. Detik ini kita telah berada di hari yang fithri, hari tidak berpuasa, setelah sebulan penuh kita menjalankan ibadah shiyam. Kita saat ini telah berada di hari kegembiraan. Kita bangga dengan puasa kita di saat kita berbuka dan berbangga pula dengan bekal puasa di hadapan Allah kelak. اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَاَللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ Kumandang takbir pun sebagai penyempurna ibadah shiyam yang kita jalani selama sebulan penuh. Allah Ta’alaberfirman, وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ “Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu bertakwa pada Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (QS. Al Baqarah: 185) اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَاَللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ Tema yang kita bahas kali ini adalah seputar pemuda agar penyemangat bagi mereka untuk segera bangkit dari tidur-tidur mereka. Kita lihat dalam khutbah Idul Fitri kali ini siapakah di antara mereka yang benar-benar mulia dan bagaimana penyimpangan saat ini serta bagaimana bandingan dengan anjuran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamdan keadaan pemuda pada masa emas Islam (pada masa sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam). Moga Allah beri taufik dan hidayah bagi semua. اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَاَللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ Ini hadits pertama yang membicarakan tentang pemuda. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda, “Tujuh golongan yang dinaungi Allah dalam naungan-Nya pada hari di mana tidak ada naungan kecuali naungan-Nya (di antaranya): وَشَابٌّ نَشَأَ بِعِبَادَةِ اللهِ “Seorang pemuda yang tumbuh dewasa dalam beribadah kepada Allah,”(HR. Bukhari, no. 1423 dan Muslim, no. 1031)   Kalau sifat pemuda saat ini (zaman now): Israf dan tabdzir (israf adalah memanfaatkan sesuatu berlebih dan tabdzir adalah memanfaatkan sesuatu kepada tempat yang tidak pantas atau maksiat) Pemudinya buka-bukaan aurat Waktu banyak habis dengan hal yang sia-sia Senangnya mabuk-mabukan Senangnya pacaran hingga berzina Takut untuk menikah, namun senang berzina Pemuda malas berjamaah di masjid Paling durhaka kepada orang tua dan senang membentak orang tuanya Kurang berada dalam majelis ilmu (tidak pernah mau menuntut ilmu agama)   Sebenarnya Allah kagum kepada pemuda yang berada di jalan yang lurus   Dari ‘Uqbah bin ‘Amir radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَيَعْجَبُ مِنَ الشَّابِّ لَيْسَتْ لَهُ صَبْوَةٌ “Sungguh Allah sangat mengagumi seorang pemuda yang tidak menyimpang dari kebenaran.” (HR. Ahmad, 4:151. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa hadits ini hasan lighairihi)   Lihatlah amanah besar yang diberikan kepada para pemuda pada masa silam   Abu Bakar pernah berkata kepada Zaid bin Tsabit dan ketika itu hadir pula ‘Umar bin Al-Khattab, إِنَّكَ رَجُلٌ شَابٌّ عَاقِلٌ وَلاَ نَتَّهِمُكَ ، كُنْتَ تَكْتُبُ الْوَحْىَ لِرَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – فَتَتَبَّعِ الْقُرْآنَ فَاجْمَعْهُ “Engkau itu seorang pemuda yang cerdas dan kami pun tidak ragu padamu, engkau dahulu pernah menulis wahyu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, telusurilah Al-Qur’an lalu kumpulkanlah.” (HR. Bukhari, no. 4679) Ini juga pujian dari Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu pada seorang pemuda seperti Zaid bin Tsabit yang diberi amanah untuk mengumpulkan Al-Qur’an.   Para pemuda harusnya menjauhi maksiat sejak masa muda, balasannya Allah akan menjaganya ketika tua   Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memberi nasehat pada Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, يَا غُلاَمُ إِنِّى أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ احْفَظِ اللَّهَ يَحْفَظْكَ “Wahai anak kecil, jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu.” (HR. Tirmidzi, no. 2516 dan Ahmad, 1:293. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan.)   Pemuda tujuh tahun sudah menjadi imam shalat   ‘Amr bin Salimah pernah menjadi imam sejak usia belia. Sebagaimana disebutkan dalam Shahih Bukhari hadits berikut, ‘Amr bin Abi Salimah menyatakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, « صَلُّوا صَلاَةَ كَذَا فِى حِينِ كَذَا ، وَصَلُّوا كَذَا فِى حِينِ كَذَا ، فَإِذَا حَضَرَتِ الصَّلاَةُ ، فَلْيُؤَذِّنْ أَحَدُكُمْ ، وَلْيَؤُمَّكُمْ أَكْثَرُكُمْ قُرْآنًا » . “Lakukanlah shalat ini pada waktu ini dan shalat itu pada waktu itu. Jika waktu shalat sudah masuk, hendaklah salah seorang dari kalian mengumandangkan azan dan yang paling banyak hafalan Qur’annya hendaklah menjadi imam.” ‘Amr lantas mengatakan, فَنَظَرُوا فَلَمْ يَكُنْ أَحَدٌ أَكْثَرَ قُرْآنًا مِنِّى ، لِمَا كُنْتُ أَتَلَقَّى مِنَ الرُّكْبَانِ ، فَقَدَّمُونِى بَيْنَ أَيْدِيهِمْ ، وَأَنَا ابْنُ سِتٍّ أَوْ سَبْعِ ، سِنِينَ “Mereka semua saling memandang. Ketika itu tidak ada yang punya hafalan Qur’an yang lebih banyak dari diriku, karena sudah banyak mendapatkan hafalan dari para pengendara dahulu. Mereka pun mengajukan diriku sebagai imam bagi mereka, padahal aku masih berusia enam atau tujuh tahun.” (HR. Bukhari, no. 4302)   Para pemuda yang benci kepada orang kafir, bukan senang menyerupai mereka   Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallahu ‘anhu menceritakan, “Ketika Perang Badar aku berada di tengah barisan.Tiba-tiba saja dari sisi kanan dan kiriku muncul dua orang pemuda yang masih sangat belia. Aku berharap seandainya saat itu aku berada di antara tulang-tulang rusuk mereka (untuk melindungi mereka, pen.). Salah seorang dari mereka mengedipkan mata kepadaku dan berkata,  “Wahai paman, engkau kenal Abu Jahal?” Kukatakan kepadanya, “Anakku, apa yang akan kau perbuat dengannya?” Pemuda itu kembali berkata, “Aku mendengar bahwa ia telah mencela Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Aku pun bersumpah kepada Allah seandainya aku melihatnya niscaya aku akan membunuhnya atau aku yang akan mati di tangannya.” Aku pun tercengang kaget dibuatnya. Lalu pemuda yang satunya lagi mengedipkan mata kepadaku dan mengatakan hal yang sama kepadaku. Seketika itu aku melihat Abu Jahal berjalan di tengah kerumunan orang. Aku berkata, “Tidakkah kalian lihat? Itulah orang yang kalian tanyakan tadi.” Mereka pun saling berlomba mengayunkan pedangnya hingga keduanya berhasil membunuh Abu Jahal.” Kemudian mereka menghadap Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan memberitahukan kepada beliau. Maka beliau bertanya, “Siapakah di antara kalian berdua yang membunuhnya?” Keduanya mengacung lalu mengatakan, “Saya yang telah membunuhnya.” Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bertanya, “Apakah kalian sudah membersihkan pedang kalian?” Mereka menjawab, “Belum.” Perawi berkata, “Lalu beliau memeriksa pedang mereka dan bersabda, كِلاَكُمَا قَتَلَهُ ‘Kalian berdua telah membunuhnya.’” Kemudian beliau memutuskan bahwa harta rampasannya untuk Mu’adz Ibnu ‘Amr Ibnu al-Jamuh. Kedua pemuda itu adalah Mu’adz bin ‘Afra’ dan Mu’adz bin ‘Amr bin Al-Jamuh.(HR. Bukhari, no. 3141 dan Muslim, no. 1752)   Cara membahagiakan orang tua   ‘Atha’ pernah ditanya oleh seseorang yang ibunya meminta kepadanya untuk shalat wajib dan puasa Ramadhan saja (tidak ada amalan sunnah, pen.), apakah perlu dituruti. ‘Atha’ mengatakan, “Iya tetap dituruti perintahnya tersebut.” (Al-Birr li Ibnil Jauzi, hlm. 67. Dinukil dari Kitab Min Akhbar As-Salaf Ash-Shalih, hlm. 398) Usamah bin Zaid, seorang sahabat yang dirinya dan orang tuanya disayangi oleh Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallammenyatakan bahwa ia memiliki seribu pohon kurma. Ia memang sengaja mempercantik atau merapikannya. Lalu ada yang berkata pada Usamah, kenapa bisa sampai lakukan seperti itu. Usamah menjawab bahwa ibunya sangat suka jika melihat keadaan kebun kurma itu indah, maka ia melakukannya. Apa saja hal dunia yang diminta oleh ibunya, ia pasti memenuhinya.  (Al-Birr li Ibnil Jauzi, hlm. 225. Dinukil dari Kitab Min Akhbar As-Salaf Ash-Shalih, hlm. 396)   Nikah muda itu jadi ajaran Nabi, bukan menunda nikah, bukan takut menikah, bukan orang tua persulit nikah hingga mapan   Dari ‘Alqamah, ia berkata bahwa ia pernah berjalan bersama ‘Abdullah di Mina. Lantas ‘Abdullah bertemu dengan ‘Utsman. Ia pun berdiri bersama Utsman kemudian berbincang-bincang, Utsman berkata pada ‘Abdullah, “Wahai Abu ‘Abdirrahman, kenapa engkau tidak menikahi seorang gadis saja yang masih muda supaya ia mengingatkanmu pada masa lalumu.” ‘Abdullah mengatakan, “Dorongan untuk menikah seperti itu pernah disampaikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada kami, « يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ » “Wahai para pemuda, barangsiapa yang memiliki baa-ah , maka menikahlah. Karena itu lebih akan menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Barangsiapa yang belum mampu, maka berpuasalah karena puasa itu bagai obat pengekang baginya.” (HR. Bukhari, no. 5065 dan Muslim, no. 1400). Pemuda kalau menurut ulama Syafi’iyah adalah mereka yang berusia di bawah 30 tahun. (Syarh Shahih Muslim, 9:154)   Dari penjelasan ini, mana sekarang pemuda pemberani? Mana pemuda yang: Tidak mau boros dan tidak menyusahkan orang tuanya, mau bekerja dan mandiri? Menutup aurat, bukan umbar aurat? Pintar memenej waktu dan memanfaatkannya untuk kebaikan? Yang tidak gemar bermaksiat? Yang gemar berada di lingkungan yang baik? Yang berani menikah dan tidak cemen, bukan maunya terus berzina? Yang shalat lima waktu rutin di masjid, mengumandangkan azan, dan menjadi imam shalat? Senang berbakti dan berbuat baik kepada kedua orang tua? Senang tholabul ilmu (ngaji) biar semakin dekat kepada Allah? Kami tunggu pemuda-pemuda pemberani yang moga bangkit segera setelah Ramadhan ini. Aquulu qouli hadza, wastaghfirullaha lii wa lakum wa li saa-iril muslimin innahu huwas sami’ul ‘aliim. Khutbah Kedua   Ahmadullah Robbi wa asykuruhu, wa asyhadu alla ilaha illallah wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu wa rasuluh, Allahumma shalli wa sallim ‘ala nabiyyinaa Muhammad wa ‘ala aalihi wa ash-habihi ajma’in. Jamaah Shalat Ied yang moga senantiasa diberkahi oleh Allah Ta’ala … Hari ini juga punya keistimewaan karena bertemunya dua ied yaitu shalat Idul Fitri dan shalat Jumat. “Ibnu Az-Zubair ketika hari ‘ied yang jatuh pada hari Jum’at pernah shalat ‘ied bersama kami di awal siang. Kemudian ketika tiba waktu shalat Jum’at Ibnu Az-Zubair tidak keluar, beliau hanya shalat sendirian. Tatkala itu Ibnu ‘Abbas berada di Thaif. Ketika Ibnu ‘Abbas tiba, kami pun menceritakan kelakuan Ibnu Az Zubair pada Ibnu ‘Abbas. Ibnu ‘Abbas pun mengatakan, “Ia adalah orang yang menjalankan ajaran Nabi (ashobas sunnah).” (HR. Abu Daud no. 1071. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini shahih). Dari Jubair bin Nufair, ia berkata bahwa jika para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamberjumpa dengan hari ‘ied (Idul Fithri atau Idul Adha, pen), satu sama lain saling mengucapkan, “Taqobbalallahu minna wa minka(Semoga Allah menerima amalku dan amal kalian).” Al Hafizh Ibnu Hajar mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan. (Fath Al-Bari, 2:446) اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَةِ اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ، وَجَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَسْمَاعِنَا، وَأَبْصَارِنَا، وَقُلُوبِنَا، وَأَزْوَاجِنَا، وَذُرِّيَّاتِنَا، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ، وَاجْعَلْنَا شَاكِرِينَ لِنِعَمِكَ مُثْنِينَ بِهَا عَلَيْكَ، قَابِلِينَ لَهَا، وَأَتِمِمْهَا عَلَيْنَا اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى اللَّهُمَّتَقَبَّلْ صِيَامَنَا وَقِيَامَنَا وَتِلاَوَتَنَا إِنَّكَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا اللَّهُمَّ أكْثِرْ أَمْوَالَنَا، وَأَوْلاَدَنَا، وَبَارِكْ لَنَا فِيمَا أَعْطَيْتَنَا وَأطِلْ حَيَاتَنَا عَلَى طَاعَتِكَ، وَأحْسِنْ أَعْمَالَنَا وَاغْفِرْ لَنَا رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ Taqabbalallahu minna wa minkum shalihal a’mal. Kullu ‘aamin wa antum bi khair. — Diselesaikan pada Jumat pagi, 1 Syawal 1439 H (15-06-2018) di rumah tercinta @ Dusun Warak, Desa Girisekar, Panggang, Gunungkidul, persiapan Khutbah Ied di Pesantren Darush Sholihin Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsidul fithri idul fitri khutbah idul fitri pemuda
Download   Semoga kita bisa mengambil pelajaran dari Khutbah Idul Fitri kali ini untuk menyemangati para pemuda supaya menjadi lebih pemberani dalam membela Islam.   Khutbah Pertama Alhamdulillah hamdan katsiron thoyyiban mubaarokan fiih kamaa yuhibbu robbuna wa yardho. Asy-hadu alla ilaha illallah wahdahu laa syarika laah wa asy-hadu anna Muhammadan ‘abduhu wa rasuuluh. Allahumma sholli ‘ala Muhammad wa ‘ala aalihi wa man taabi’ahum bi ihsaanin ilaa yaumid diin. Yaa ayyuhal ladziina aamanut taqullaha haqqo tuqootihi wa laa tamuutunna illa wa antum muslimin Allahommanfa’anaa bi maa ‘allamtanaa wa ‘alimnaa maa yanfa’unaa wa zidnaa ‘ilmaa Amma ba’du … Alhamdulillah, segala puji bagi Allah. Detik ini kita telah berada di hari yang fithri, hari tidak berpuasa, setelah sebulan penuh kita menjalankan ibadah shiyam. Kita saat ini telah berada di hari kegembiraan. Kita bangga dengan puasa kita di saat kita berbuka dan berbangga pula dengan bekal puasa di hadapan Allah kelak. اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَاَللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ Kumandang takbir pun sebagai penyempurna ibadah shiyam yang kita jalani selama sebulan penuh. Allah Ta’alaberfirman, وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ “Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu bertakwa pada Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (QS. Al Baqarah: 185) اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَاَللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ Tema yang kita bahas kali ini adalah seputar pemuda agar penyemangat bagi mereka untuk segera bangkit dari tidur-tidur mereka. Kita lihat dalam khutbah Idul Fitri kali ini siapakah di antara mereka yang benar-benar mulia dan bagaimana penyimpangan saat ini serta bagaimana bandingan dengan anjuran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamdan keadaan pemuda pada masa emas Islam (pada masa sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam). Moga Allah beri taufik dan hidayah bagi semua. اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَاَللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ Ini hadits pertama yang membicarakan tentang pemuda. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda, “Tujuh golongan yang dinaungi Allah dalam naungan-Nya pada hari di mana tidak ada naungan kecuali naungan-Nya (di antaranya): وَشَابٌّ نَشَأَ بِعِبَادَةِ اللهِ “Seorang pemuda yang tumbuh dewasa dalam beribadah kepada Allah,”(HR. Bukhari, no. 1423 dan Muslim, no. 1031)   Kalau sifat pemuda saat ini (zaman now): Israf dan tabdzir (israf adalah memanfaatkan sesuatu berlebih dan tabdzir adalah memanfaatkan sesuatu kepada tempat yang tidak pantas atau maksiat) Pemudinya buka-bukaan aurat Waktu banyak habis dengan hal yang sia-sia Senangnya mabuk-mabukan Senangnya pacaran hingga berzina Takut untuk menikah, namun senang berzina Pemuda malas berjamaah di masjid Paling durhaka kepada orang tua dan senang membentak orang tuanya Kurang berada dalam majelis ilmu (tidak pernah mau menuntut ilmu agama)   Sebenarnya Allah kagum kepada pemuda yang berada di jalan yang lurus   Dari ‘Uqbah bin ‘Amir radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَيَعْجَبُ مِنَ الشَّابِّ لَيْسَتْ لَهُ صَبْوَةٌ “Sungguh Allah sangat mengagumi seorang pemuda yang tidak menyimpang dari kebenaran.” (HR. Ahmad, 4:151. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa hadits ini hasan lighairihi)   Lihatlah amanah besar yang diberikan kepada para pemuda pada masa silam   Abu Bakar pernah berkata kepada Zaid bin Tsabit dan ketika itu hadir pula ‘Umar bin Al-Khattab, إِنَّكَ رَجُلٌ شَابٌّ عَاقِلٌ وَلاَ نَتَّهِمُكَ ، كُنْتَ تَكْتُبُ الْوَحْىَ لِرَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – فَتَتَبَّعِ الْقُرْآنَ فَاجْمَعْهُ “Engkau itu seorang pemuda yang cerdas dan kami pun tidak ragu padamu, engkau dahulu pernah menulis wahyu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, telusurilah Al-Qur’an lalu kumpulkanlah.” (HR. Bukhari, no. 4679) Ini juga pujian dari Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu pada seorang pemuda seperti Zaid bin Tsabit yang diberi amanah untuk mengumpulkan Al-Qur’an.   Para pemuda harusnya menjauhi maksiat sejak masa muda, balasannya Allah akan menjaganya ketika tua   Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memberi nasehat pada Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, يَا غُلاَمُ إِنِّى أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ احْفَظِ اللَّهَ يَحْفَظْكَ “Wahai anak kecil, jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu.” (HR. Tirmidzi, no. 2516 dan Ahmad, 1:293. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan.)   Pemuda tujuh tahun sudah menjadi imam shalat   ‘Amr bin Salimah pernah menjadi imam sejak usia belia. Sebagaimana disebutkan dalam Shahih Bukhari hadits berikut, ‘Amr bin Abi Salimah menyatakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, « صَلُّوا صَلاَةَ كَذَا فِى حِينِ كَذَا ، وَصَلُّوا كَذَا فِى حِينِ كَذَا ، فَإِذَا حَضَرَتِ الصَّلاَةُ ، فَلْيُؤَذِّنْ أَحَدُكُمْ ، وَلْيَؤُمَّكُمْ أَكْثَرُكُمْ قُرْآنًا » . “Lakukanlah shalat ini pada waktu ini dan shalat itu pada waktu itu. Jika waktu shalat sudah masuk, hendaklah salah seorang dari kalian mengumandangkan azan dan yang paling banyak hafalan Qur’annya hendaklah menjadi imam.” ‘Amr lantas mengatakan, فَنَظَرُوا فَلَمْ يَكُنْ أَحَدٌ أَكْثَرَ قُرْآنًا مِنِّى ، لِمَا كُنْتُ أَتَلَقَّى مِنَ الرُّكْبَانِ ، فَقَدَّمُونِى بَيْنَ أَيْدِيهِمْ ، وَأَنَا ابْنُ سِتٍّ أَوْ سَبْعِ ، سِنِينَ “Mereka semua saling memandang. Ketika itu tidak ada yang punya hafalan Qur’an yang lebih banyak dari diriku, karena sudah banyak mendapatkan hafalan dari para pengendara dahulu. Mereka pun mengajukan diriku sebagai imam bagi mereka, padahal aku masih berusia enam atau tujuh tahun.” (HR. Bukhari, no. 4302)   Para pemuda yang benci kepada orang kafir, bukan senang menyerupai mereka   Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallahu ‘anhu menceritakan, “Ketika Perang Badar aku berada di tengah barisan.Tiba-tiba saja dari sisi kanan dan kiriku muncul dua orang pemuda yang masih sangat belia. Aku berharap seandainya saat itu aku berada di antara tulang-tulang rusuk mereka (untuk melindungi mereka, pen.). Salah seorang dari mereka mengedipkan mata kepadaku dan berkata,  “Wahai paman, engkau kenal Abu Jahal?” Kukatakan kepadanya, “Anakku, apa yang akan kau perbuat dengannya?” Pemuda itu kembali berkata, “Aku mendengar bahwa ia telah mencela Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Aku pun bersumpah kepada Allah seandainya aku melihatnya niscaya aku akan membunuhnya atau aku yang akan mati di tangannya.” Aku pun tercengang kaget dibuatnya. Lalu pemuda yang satunya lagi mengedipkan mata kepadaku dan mengatakan hal yang sama kepadaku. Seketika itu aku melihat Abu Jahal berjalan di tengah kerumunan orang. Aku berkata, “Tidakkah kalian lihat? Itulah orang yang kalian tanyakan tadi.” Mereka pun saling berlomba mengayunkan pedangnya hingga keduanya berhasil membunuh Abu Jahal.” Kemudian mereka menghadap Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan memberitahukan kepada beliau. Maka beliau bertanya, “Siapakah di antara kalian berdua yang membunuhnya?” Keduanya mengacung lalu mengatakan, “Saya yang telah membunuhnya.” Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bertanya, “Apakah kalian sudah membersihkan pedang kalian?” Mereka menjawab, “Belum.” Perawi berkata, “Lalu beliau memeriksa pedang mereka dan bersabda, كِلاَكُمَا قَتَلَهُ ‘Kalian berdua telah membunuhnya.’” Kemudian beliau memutuskan bahwa harta rampasannya untuk Mu’adz Ibnu ‘Amr Ibnu al-Jamuh. Kedua pemuda itu adalah Mu’adz bin ‘Afra’ dan Mu’adz bin ‘Amr bin Al-Jamuh.(HR. Bukhari, no. 3141 dan Muslim, no. 1752)   Cara membahagiakan orang tua   ‘Atha’ pernah ditanya oleh seseorang yang ibunya meminta kepadanya untuk shalat wajib dan puasa Ramadhan saja (tidak ada amalan sunnah, pen.), apakah perlu dituruti. ‘Atha’ mengatakan, “Iya tetap dituruti perintahnya tersebut.” (Al-Birr li Ibnil Jauzi, hlm. 67. Dinukil dari Kitab Min Akhbar As-Salaf Ash-Shalih, hlm. 398) Usamah bin Zaid, seorang sahabat yang dirinya dan orang tuanya disayangi oleh Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallammenyatakan bahwa ia memiliki seribu pohon kurma. Ia memang sengaja mempercantik atau merapikannya. Lalu ada yang berkata pada Usamah, kenapa bisa sampai lakukan seperti itu. Usamah menjawab bahwa ibunya sangat suka jika melihat keadaan kebun kurma itu indah, maka ia melakukannya. Apa saja hal dunia yang diminta oleh ibunya, ia pasti memenuhinya.  (Al-Birr li Ibnil Jauzi, hlm. 225. Dinukil dari Kitab Min Akhbar As-Salaf Ash-Shalih, hlm. 396)   Nikah muda itu jadi ajaran Nabi, bukan menunda nikah, bukan takut menikah, bukan orang tua persulit nikah hingga mapan   Dari ‘Alqamah, ia berkata bahwa ia pernah berjalan bersama ‘Abdullah di Mina. Lantas ‘Abdullah bertemu dengan ‘Utsman. Ia pun berdiri bersama Utsman kemudian berbincang-bincang, Utsman berkata pada ‘Abdullah, “Wahai Abu ‘Abdirrahman, kenapa engkau tidak menikahi seorang gadis saja yang masih muda supaya ia mengingatkanmu pada masa lalumu.” ‘Abdullah mengatakan, “Dorongan untuk menikah seperti itu pernah disampaikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada kami, « يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ » “Wahai para pemuda, barangsiapa yang memiliki baa-ah , maka menikahlah. Karena itu lebih akan menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Barangsiapa yang belum mampu, maka berpuasalah karena puasa itu bagai obat pengekang baginya.” (HR. Bukhari, no. 5065 dan Muslim, no. 1400). Pemuda kalau menurut ulama Syafi’iyah adalah mereka yang berusia di bawah 30 tahun. (Syarh Shahih Muslim, 9:154)   Dari penjelasan ini, mana sekarang pemuda pemberani? Mana pemuda yang: Tidak mau boros dan tidak menyusahkan orang tuanya, mau bekerja dan mandiri? Menutup aurat, bukan umbar aurat? Pintar memenej waktu dan memanfaatkannya untuk kebaikan? Yang tidak gemar bermaksiat? Yang gemar berada di lingkungan yang baik? Yang berani menikah dan tidak cemen, bukan maunya terus berzina? Yang shalat lima waktu rutin di masjid, mengumandangkan azan, dan menjadi imam shalat? Senang berbakti dan berbuat baik kepada kedua orang tua? Senang tholabul ilmu (ngaji) biar semakin dekat kepada Allah? Kami tunggu pemuda-pemuda pemberani yang moga bangkit segera setelah Ramadhan ini. Aquulu qouli hadza, wastaghfirullaha lii wa lakum wa li saa-iril muslimin innahu huwas sami’ul ‘aliim. Khutbah Kedua   Ahmadullah Robbi wa asykuruhu, wa asyhadu alla ilaha illallah wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu wa rasuluh, Allahumma shalli wa sallim ‘ala nabiyyinaa Muhammad wa ‘ala aalihi wa ash-habihi ajma’in. Jamaah Shalat Ied yang moga senantiasa diberkahi oleh Allah Ta’ala … Hari ini juga punya keistimewaan karena bertemunya dua ied yaitu shalat Idul Fitri dan shalat Jumat. “Ibnu Az-Zubair ketika hari ‘ied yang jatuh pada hari Jum’at pernah shalat ‘ied bersama kami di awal siang. Kemudian ketika tiba waktu shalat Jum’at Ibnu Az-Zubair tidak keluar, beliau hanya shalat sendirian. Tatkala itu Ibnu ‘Abbas berada di Thaif. Ketika Ibnu ‘Abbas tiba, kami pun menceritakan kelakuan Ibnu Az Zubair pada Ibnu ‘Abbas. Ibnu ‘Abbas pun mengatakan, “Ia adalah orang yang menjalankan ajaran Nabi (ashobas sunnah).” (HR. Abu Daud no. 1071. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini shahih). Dari Jubair bin Nufair, ia berkata bahwa jika para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamberjumpa dengan hari ‘ied (Idul Fithri atau Idul Adha, pen), satu sama lain saling mengucapkan, “Taqobbalallahu minna wa minka(Semoga Allah menerima amalku dan amal kalian).” Al Hafizh Ibnu Hajar mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan. (Fath Al-Bari, 2:446) اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَةِ اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ، وَجَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَسْمَاعِنَا، وَأَبْصَارِنَا، وَقُلُوبِنَا، وَأَزْوَاجِنَا، وَذُرِّيَّاتِنَا، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ، وَاجْعَلْنَا شَاكِرِينَ لِنِعَمِكَ مُثْنِينَ بِهَا عَلَيْكَ، قَابِلِينَ لَهَا، وَأَتِمِمْهَا عَلَيْنَا اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى اللَّهُمَّتَقَبَّلْ صِيَامَنَا وَقِيَامَنَا وَتِلاَوَتَنَا إِنَّكَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا اللَّهُمَّ أكْثِرْ أَمْوَالَنَا، وَأَوْلاَدَنَا، وَبَارِكْ لَنَا فِيمَا أَعْطَيْتَنَا وَأطِلْ حَيَاتَنَا عَلَى طَاعَتِكَ، وَأحْسِنْ أَعْمَالَنَا وَاغْفِرْ لَنَا رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ Taqabbalallahu minna wa minkum shalihal a’mal. Kullu ‘aamin wa antum bi khair. — Diselesaikan pada Jumat pagi, 1 Syawal 1439 H (15-06-2018) di rumah tercinta @ Dusun Warak, Desa Girisekar, Panggang, Gunungkidul, persiapan Khutbah Ied di Pesantren Darush Sholihin Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsidul fithri idul fitri khutbah idul fitri pemuda


Download   Semoga kita bisa mengambil pelajaran dari Khutbah Idul Fitri kali ini untuk menyemangati para pemuda supaya menjadi lebih pemberani dalam membela Islam.   Khutbah Pertama Alhamdulillah hamdan katsiron thoyyiban mubaarokan fiih kamaa yuhibbu robbuna wa yardho. Asy-hadu alla ilaha illallah wahdahu laa syarika laah wa asy-hadu anna Muhammadan ‘abduhu wa rasuuluh. Allahumma sholli ‘ala Muhammad wa ‘ala aalihi wa man taabi’ahum bi ihsaanin ilaa yaumid diin. Yaa ayyuhal ladziina aamanut taqullaha haqqo tuqootihi wa laa tamuutunna illa wa antum muslimin Allahommanfa’anaa bi maa ‘allamtanaa wa ‘alimnaa maa yanfa’unaa wa zidnaa ‘ilmaa Amma ba’du … Alhamdulillah, segala puji bagi Allah. Detik ini kita telah berada di hari yang fithri, hari tidak berpuasa, setelah sebulan penuh kita menjalankan ibadah shiyam. Kita saat ini telah berada di hari kegembiraan. Kita bangga dengan puasa kita di saat kita berbuka dan berbangga pula dengan bekal puasa di hadapan Allah kelak. اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَاَللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ Kumandang takbir pun sebagai penyempurna ibadah shiyam yang kita jalani selama sebulan penuh. Allah Ta’alaberfirman, وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ “Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu bertakwa pada Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (QS. Al Baqarah: 185) اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَاَللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ Tema yang kita bahas kali ini adalah seputar pemuda agar penyemangat bagi mereka untuk segera bangkit dari tidur-tidur mereka. Kita lihat dalam khutbah Idul Fitri kali ini siapakah di antara mereka yang benar-benar mulia dan bagaimana penyimpangan saat ini serta bagaimana bandingan dengan anjuran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamdan keadaan pemuda pada masa emas Islam (pada masa sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam). Moga Allah beri taufik dan hidayah bagi semua. اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَاَللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ Ini hadits pertama yang membicarakan tentang pemuda. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda, “Tujuh golongan yang dinaungi Allah dalam naungan-Nya pada hari di mana tidak ada naungan kecuali naungan-Nya (di antaranya): وَشَابٌّ نَشَأَ بِعِبَادَةِ اللهِ “Seorang pemuda yang tumbuh dewasa dalam beribadah kepada Allah,”(HR. Bukhari, no. 1423 dan Muslim, no. 1031)   Kalau sifat pemuda saat ini (zaman now): Israf dan tabdzir (israf adalah memanfaatkan sesuatu berlebih dan tabdzir adalah memanfaatkan sesuatu kepada tempat yang tidak pantas atau maksiat) Pemudinya buka-bukaan aurat Waktu banyak habis dengan hal yang sia-sia Senangnya mabuk-mabukan Senangnya pacaran hingga berzina Takut untuk menikah, namun senang berzina Pemuda malas berjamaah di masjid Paling durhaka kepada orang tua dan senang membentak orang tuanya Kurang berada dalam majelis ilmu (tidak pernah mau menuntut ilmu agama)   Sebenarnya Allah kagum kepada pemuda yang berada di jalan yang lurus   Dari ‘Uqbah bin ‘Amir radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَيَعْجَبُ مِنَ الشَّابِّ لَيْسَتْ لَهُ صَبْوَةٌ “Sungguh Allah sangat mengagumi seorang pemuda yang tidak menyimpang dari kebenaran.” (HR. Ahmad, 4:151. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa hadits ini hasan lighairihi)   Lihatlah amanah besar yang diberikan kepada para pemuda pada masa silam   Abu Bakar pernah berkata kepada Zaid bin Tsabit dan ketika itu hadir pula ‘Umar bin Al-Khattab, إِنَّكَ رَجُلٌ شَابٌّ عَاقِلٌ وَلاَ نَتَّهِمُكَ ، كُنْتَ تَكْتُبُ الْوَحْىَ لِرَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – فَتَتَبَّعِ الْقُرْآنَ فَاجْمَعْهُ “Engkau itu seorang pemuda yang cerdas dan kami pun tidak ragu padamu, engkau dahulu pernah menulis wahyu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, telusurilah Al-Qur’an lalu kumpulkanlah.” (HR. Bukhari, no. 4679) Ini juga pujian dari Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu pada seorang pemuda seperti Zaid bin Tsabit yang diberi amanah untuk mengumpulkan Al-Qur’an.   Para pemuda harusnya menjauhi maksiat sejak masa muda, balasannya Allah akan menjaganya ketika tua   Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memberi nasehat pada Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, يَا غُلاَمُ إِنِّى أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ احْفَظِ اللَّهَ يَحْفَظْكَ “Wahai anak kecil, jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu.” (HR. Tirmidzi, no. 2516 dan Ahmad, 1:293. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan.)   Pemuda tujuh tahun sudah menjadi imam shalat   ‘Amr bin Salimah pernah menjadi imam sejak usia belia. Sebagaimana disebutkan dalam Shahih Bukhari hadits berikut, ‘Amr bin Abi Salimah menyatakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, « صَلُّوا صَلاَةَ كَذَا فِى حِينِ كَذَا ، وَصَلُّوا كَذَا فِى حِينِ كَذَا ، فَإِذَا حَضَرَتِ الصَّلاَةُ ، فَلْيُؤَذِّنْ أَحَدُكُمْ ، وَلْيَؤُمَّكُمْ أَكْثَرُكُمْ قُرْآنًا » . “Lakukanlah shalat ini pada waktu ini dan shalat itu pada waktu itu. Jika waktu shalat sudah masuk, hendaklah salah seorang dari kalian mengumandangkan azan dan yang paling banyak hafalan Qur’annya hendaklah menjadi imam.” ‘Amr lantas mengatakan, فَنَظَرُوا فَلَمْ يَكُنْ أَحَدٌ أَكْثَرَ قُرْآنًا مِنِّى ، لِمَا كُنْتُ أَتَلَقَّى مِنَ الرُّكْبَانِ ، فَقَدَّمُونِى بَيْنَ أَيْدِيهِمْ ، وَأَنَا ابْنُ سِتٍّ أَوْ سَبْعِ ، سِنِينَ “Mereka semua saling memandang. Ketika itu tidak ada yang punya hafalan Qur’an yang lebih banyak dari diriku, karena sudah banyak mendapatkan hafalan dari para pengendara dahulu. Mereka pun mengajukan diriku sebagai imam bagi mereka, padahal aku masih berusia enam atau tujuh tahun.” (HR. Bukhari, no. 4302)   Para pemuda yang benci kepada orang kafir, bukan senang menyerupai mereka   Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallahu ‘anhu menceritakan, “Ketika Perang Badar aku berada di tengah barisan.Tiba-tiba saja dari sisi kanan dan kiriku muncul dua orang pemuda yang masih sangat belia. Aku berharap seandainya saat itu aku berada di antara tulang-tulang rusuk mereka (untuk melindungi mereka, pen.). Salah seorang dari mereka mengedipkan mata kepadaku dan berkata,  “Wahai paman, engkau kenal Abu Jahal?” Kukatakan kepadanya, “Anakku, apa yang akan kau perbuat dengannya?” Pemuda itu kembali berkata, “Aku mendengar bahwa ia telah mencela Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Aku pun bersumpah kepada Allah seandainya aku melihatnya niscaya aku akan membunuhnya atau aku yang akan mati di tangannya.” Aku pun tercengang kaget dibuatnya. Lalu pemuda yang satunya lagi mengedipkan mata kepadaku dan mengatakan hal yang sama kepadaku. Seketika itu aku melihat Abu Jahal berjalan di tengah kerumunan orang. Aku berkata, “Tidakkah kalian lihat? Itulah orang yang kalian tanyakan tadi.” Mereka pun saling berlomba mengayunkan pedangnya hingga keduanya berhasil membunuh Abu Jahal.” Kemudian mereka menghadap Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan memberitahukan kepada beliau. Maka beliau bertanya, “Siapakah di antara kalian berdua yang membunuhnya?” Keduanya mengacung lalu mengatakan, “Saya yang telah membunuhnya.” Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bertanya, “Apakah kalian sudah membersihkan pedang kalian?” Mereka menjawab, “Belum.” Perawi berkata, “Lalu beliau memeriksa pedang mereka dan bersabda, كِلاَكُمَا قَتَلَهُ ‘Kalian berdua telah membunuhnya.’” Kemudian beliau memutuskan bahwa harta rampasannya untuk Mu’adz Ibnu ‘Amr Ibnu al-Jamuh. Kedua pemuda itu adalah Mu’adz bin ‘Afra’ dan Mu’adz bin ‘Amr bin Al-Jamuh.(HR. Bukhari, no. 3141 dan Muslim, no. 1752)   Cara membahagiakan orang tua   ‘Atha’ pernah ditanya oleh seseorang yang ibunya meminta kepadanya untuk shalat wajib dan puasa Ramadhan saja (tidak ada amalan sunnah, pen.), apakah perlu dituruti. ‘Atha’ mengatakan, “Iya tetap dituruti perintahnya tersebut.” (Al-Birr li Ibnil Jauzi, hlm. 67. Dinukil dari Kitab Min Akhbar As-Salaf Ash-Shalih, hlm. 398) Usamah bin Zaid, seorang sahabat yang dirinya dan orang tuanya disayangi oleh Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallammenyatakan bahwa ia memiliki seribu pohon kurma. Ia memang sengaja mempercantik atau merapikannya. Lalu ada yang berkata pada Usamah, kenapa bisa sampai lakukan seperti itu. Usamah menjawab bahwa ibunya sangat suka jika melihat keadaan kebun kurma itu indah, maka ia melakukannya. Apa saja hal dunia yang diminta oleh ibunya, ia pasti memenuhinya.  (Al-Birr li Ibnil Jauzi, hlm. 225. Dinukil dari Kitab Min Akhbar As-Salaf Ash-Shalih, hlm. 396)   Nikah muda itu jadi ajaran Nabi, bukan menunda nikah, bukan takut menikah, bukan orang tua persulit nikah hingga mapan   Dari ‘Alqamah, ia berkata bahwa ia pernah berjalan bersama ‘Abdullah di Mina. Lantas ‘Abdullah bertemu dengan ‘Utsman. Ia pun berdiri bersama Utsman kemudian berbincang-bincang, Utsman berkata pada ‘Abdullah, “Wahai Abu ‘Abdirrahman, kenapa engkau tidak menikahi seorang gadis saja yang masih muda supaya ia mengingatkanmu pada masa lalumu.” ‘Abdullah mengatakan, “Dorongan untuk menikah seperti itu pernah disampaikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada kami, « يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ » “Wahai para pemuda, barangsiapa yang memiliki baa-ah , maka menikahlah. Karena itu lebih akan menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Barangsiapa yang belum mampu, maka berpuasalah karena puasa itu bagai obat pengekang baginya.” (HR. Bukhari, no. 5065 dan Muslim, no. 1400). Pemuda kalau menurut ulama Syafi’iyah adalah mereka yang berusia di bawah 30 tahun. (Syarh Shahih Muslim, 9:154)   Dari penjelasan ini, mana sekarang pemuda pemberani? Mana pemuda yang: Tidak mau boros dan tidak menyusahkan orang tuanya, mau bekerja dan mandiri? Menutup aurat, bukan umbar aurat? Pintar memenej waktu dan memanfaatkannya untuk kebaikan? Yang tidak gemar bermaksiat? Yang gemar berada di lingkungan yang baik? Yang berani menikah dan tidak cemen, bukan maunya terus berzina? Yang shalat lima waktu rutin di masjid, mengumandangkan azan, dan menjadi imam shalat? Senang berbakti dan berbuat baik kepada kedua orang tua? Senang tholabul ilmu (ngaji) biar semakin dekat kepada Allah? Kami tunggu pemuda-pemuda pemberani yang moga bangkit segera setelah Ramadhan ini. Aquulu qouli hadza, wastaghfirullaha lii wa lakum wa li saa-iril muslimin innahu huwas sami’ul ‘aliim. Khutbah Kedua   Ahmadullah Robbi wa asykuruhu, wa asyhadu alla ilaha illallah wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu wa rasuluh, Allahumma shalli wa sallim ‘ala nabiyyinaa Muhammad wa ‘ala aalihi wa ash-habihi ajma’in. Jamaah Shalat Ied yang moga senantiasa diberkahi oleh Allah Ta’ala … Hari ini juga punya keistimewaan karena bertemunya dua ied yaitu shalat Idul Fitri dan shalat Jumat. “Ibnu Az-Zubair ketika hari ‘ied yang jatuh pada hari Jum’at pernah shalat ‘ied bersama kami di awal siang. Kemudian ketika tiba waktu shalat Jum’at Ibnu Az-Zubair tidak keluar, beliau hanya shalat sendirian. Tatkala itu Ibnu ‘Abbas berada di Thaif. Ketika Ibnu ‘Abbas tiba, kami pun menceritakan kelakuan Ibnu Az Zubair pada Ibnu ‘Abbas. Ibnu ‘Abbas pun mengatakan, “Ia adalah orang yang menjalankan ajaran Nabi (ashobas sunnah).” (HR. Abu Daud no. 1071. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini shahih). Dari Jubair bin Nufair, ia berkata bahwa jika para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamberjumpa dengan hari ‘ied (Idul Fithri atau Idul Adha, pen), satu sama lain saling mengucapkan, “Taqobbalallahu minna wa minka(Semoga Allah menerima amalku dan amal kalian).” Al Hafizh Ibnu Hajar mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan. (Fath Al-Bari, 2:446) اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَةِ اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ، وَجَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَسْمَاعِنَا، وَأَبْصَارِنَا، وَقُلُوبِنَا، وَأَزْوَاجِنَا، وَذُرِّيَّاتِنَا، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ، وَاجْعَلْنَا شَاكِرِينَ لِنِعَمِكَ مُثْنِينَ بِهَا عَلَيْكَ، قَابِلِينَ لَهَا، وَأَتِمِمْهَا عَلَيْنَا اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى اللَّهُمَّتَقَبَّلْ صِيَامَنَا وَقِيَامَنَا وَتِلاَوَتَنَا إِنَّكَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا اللَّهُمَّ أكْثِرْ أَمْوَالَنَا، وَأَوْلاَدَنَا، وَبَارِكْ لَنَا فِيمَا أَعْطَيْتَنَا وَأطِلْ حَيَاتَنَا عَلَى طَاعَتِكَ، وَأحْسِنْ أَعْمَالَنَا وَاغْفِرْ لَنَا رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ Taqabbalallahu minna wa minkum shalihal a’mal. Kullu ‘aamin wa antum bi khair. — Diselesaikan pada Jumat pagi, 1 Syawal 1439 H (15-06-2018) di rumah tercinta @ Dusun Warak, Desa Girisekar, Panggang, Gunungkidul, persiapan Khutbah Ied di Pesantren Darush Sholihin Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsidul fithri idul fitri khutbah idul fitri pemuda

Luasnya Rahmat Allah Bahkan Kepada Pelaku Maksiat

Khutbah ‘iedul fithri 1439 H/2018 MKhutbah PertamaAllahu akbar Allahu akbar Allahu akbar walillahil hamd…هَنِيْئًا لَكُمْ أَيُّهَا الصَّائِمُوْنَBerbahagialah wahai para jamaah sekalian yang telah berpuasa…Yang telah menahan lapar dan dahaga karena Allah…Yang berletih-letih berdiri dalam shalat tarawih karena Allah…Yang membasahi lisan dan mengeringkan tenggorokan membaca ayat-ayat al-Qur’an karena Allah…Yang meneteskan air mata taubat karena takut dengan siksaNya dan berharap surgaNya…Semoga setetes air mata yang tulus menjadi sebab diampuni segala dosa….menjadikan lembaran catatan menjadi putih bersih kembali….Bergembiralah dengan ampunan Allah…Ma’asyirol muslimin… Sesungguhnya Allah telah memperkenalkan diriNya kepada hamba-hambaNya melalui ayat-ayatNya. Baik melalui ayat-ayat kauniah berupa agungnya ciptaanNya, demikian pula melalui ayat-ayatNya dalam kitabNya. Dalam al-Qur’an Allah telah banyak menyebutkan nama-namaNya yang terindah dan sifat-sifatNya yang termulia, tidak lain agar kita hamba-hambaNya semakin mengenalNya, dan jika semakin mengenalNya maka akan semakin mencintaiNya. Jika semakin mencintai Rabb kita, maka ibadah kita semakin khusyu’ dan kita semakin rindu untuk bertemu denganNya.Diantara nama-nama Allah yang terindah adalah Ar-Rohiim..Yang Maha Penyayang…begitu banyak lembaran-lembaran al-Qur’an yang menyebutkan nama ini Ar-Rohiim. Allah selalu mengingatkan hambaNya bahwa Dia maha pengasih.Ma’aasyiroh muslimin…., kaum muslimin sekalian…, sesungguhnya kasih sayang Allah begitu luas dan lebih besar dari pada kasih sayang seorang ibu terhadap anaknya.عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ، أَنَّهُ قَالَ: قَدِمَ عَلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِسَبْيٍ فَإِذَا امْرَأَةٌ مِنَ السَّبْيِ، تَبْتَغِي، إِذَا وَجَدَتْ صَبِيًّا فِي السَّبْيِ، أَخَذَتْهُ فَأَلْصَقَتْهُ بِبَطْنِهَا وَأَرْضَعَتْهُ، فَقَالَ لَنَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَتَرَوْنَ هَذِهِ الْمَرْأَةَ طَارِحَةً وَلَدَهَا فِي النَّارِ؟» قُلْنَا: لَا، وَاللهِ وَهِيَ تَقْدِرُ عَلَى أَنْ لَا تَطْرَحَهُ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لَلَّهُ أَرْحَمُ بِعِبَادِهِ مِنْ هَذِهِ بِوَلَدِهَا»Dari ‘Umar bin Al-Khottob ia berkata, “Tawanan perang didatangkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, tiba-tiba ada seorang wanita dari tawanan perang yang sedang mencari. Tatkala ia mendapatkan seorang anak di kalangan para tawanan maka iapun mengambil anak kecil tersebut lalu ia peluk dan menyusuinya. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada kami, “Apakah menurut kalian wanita ini akan melemparkan anaknya di api?”. Maka kami berkata, “Demi Allah, tentu tidak, sementara ia mampu untuk tidak melemparnya”. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, “Sungguh Allah lebih sayang kepada hamba-hambaNya daripada wanita ini terhadap anaknya” (HR Al-Bukhari 5999 dan Muslim no 2754)Kasih sayang terbesar di alam semesta adalah kasih sayang seorang ibu terhadap anaknya. Terlebih lagi sebagaimana kondisi wanita yang disebutkan dalam hadits, dimana ia baru saja kehilangan anaknya lantas iapun mencari-cari sang anak. Akhirnya iapun bertemu dengan anaknya yang hilang tersebut, lalu iapun mendekapnya dan menyusuinya. Inilah kondisi kasih sayang terbesar dari seorang ibu terhadap anaknya.Tatkala Nabi melihat pemandangan ini, maka Nabi ingin agar para sahabat lebih mengerti tentang kasih sayang Rabb mereka. Maka Nabi bertanya kepada mereka, “Apakah ada seorang ibu -terlebih lagi dalam kondisi demikian- yang akan melemparkan anaknya ke api?”. Tentu tidak…demi Allah…., mana mungkin…!!!. Ternyata Allah lebih sayang kepada hambaNya dari pada kasih sayang seorang ibu terhadap anaknya.Sungguh kasih sayang Allah meliputi segala sesuatu…Para malaikat mengakui luasnya rahmat Allah seraya berkataرَبَّنَا وَسِعْتَ كُلَّ شَيْءٍ رَحْمَةً وَعِلْمًا“Ya Tuhan kami, rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu” (QS Ghofir : 7)Allah menggandengkan antara ilmu Allah dan rahmatNya, sebagaimana ilmu Allah meliputi segala sesuatu maka demikian pula rahmatNya meliputi segala sesuatu.Allah telah menegaskan luasnya rahmat dan kasih sayangNya…وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ“Dan Rahmat (kasih sayang)Ku meliputi segala sesuatu” (QS Al-A’roof : 156)As-Sa’di -rahimahullah- dalam tafsirnya berkata{وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ} مِنَ الْعَالَمِ الْعُلْوِي وَالسُّفْلِي، الْبَرِّ وَالْفَاجِرِ، الْمُؤْمِنِ وَالْكَافِرِ، فَلاَ مَخْلُوْقَ إِلاَّ وَقَدْ وَصَلَتْ إِلَيْهِ رَحْمَةُ اللهِ، وَغَمَرَهُ فَضْلُهُ وَإِحْسَانُهُ“Dan rahamatKu meliputi segala sesuatu” yaitu meliputi seluruh makhluk yang di atas dan yang dibawah, meliputi orang baik dan orang fajir, orang mukmin dan orang kafir. Tidak ada satu makhlukpun kecuali rahmat Allah telah sampai kepadanya, Allah mencurahkan karunia dan anugrahnya kepadanya” (Tafsir As-Sa’di hal 305)Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, walillahil hamd…Pada kesempatan yang indah ini kita tidak akan berbicara tentang orang-orang yang beriman yang mendapatkan rahmat Allah, karena mereka memang telah melakukan sebab-sebab yang mendatangkan kasih sayang Allah kepada mereka.Akan tetapi kita berbicara tentang orang-orang yang melakukan sebab-sebab yang mendatangkan murka Allah… mereka yang membangkang perintah Allah…mereka yang menerjang larangan-larangan Allah….Bahkan di bulan Ramadhan, di bulan kaum muslimin sedang berlomba-lomba beribadah, takala kaum muslimin sedang sibuk sholat malam dan melantunkan al-Qur’an… ada sebagian orang yang malah bermaksiat…malah berani membangkang perintah Allah…malah berani melanggar larangan-larangan Allah…Bahkan di malam lailatul qodar, tatkala kaum muslimin sedang tenggelam dalam keberkahan dan ampunan Allah, ternyata ada sebagian orang yang nekat tenggelam dalam dosa-dosa yang penuh kenisataan…Mereka yang seharusnya dimurkai oleh Allah, seharusnya dicabut nyawanya oleh Allah, lalu diadzabnya ternyata masih diberi kesempatan hidup….masih diberi kesempatan untuk berlebaran dan hari raya…Mereka masih diberi kasih sayangNya….Sungguh kasih sayang Allah masih terus tercurahkan bahkan kepada para pendosa. Diantara kasih sayang Allah kepada mereka :Pertama : Allah tutup aib mereka. Dintara nama-nama Allah adalah السِّتِّيْرُ As-Sittiir (Yang Maha menutupi)Yaitu Allah menutupi aib-aib para hamba dan tidak membongkarnya. Sesungguhnya diantara rahmat Allah adalah Allah menutupi aib-aib dan dosa-dosa kita. Apabila kita dimuliakan orang lain, kita dihormati orang lain, semua itu bukan karena kemuliaan dan bukan pula karena amal kebajikan kita, tetapi karena aib kita yang tidak dibuka oleh Allah. Seandainya satu saja aib kita dibuka oleh Allah niscaya tidak akan ada yang mau dekat dengan kita. Sebagaimana perkataan Muhammad bin Wasi’ rahimahullah:لَوْ كَانَ لِلذُّنُوْبِ رِيْحٌ مَا جَلَسَ إِلَيَّ أَحَدٌ“Kalau seandainya dosa-dosa itu ada baunya, niscaya tidak seorangpun yang akan duduk dekat denganku.” (Siyar A’lamin Nubala, 6/120)Berkata pula salah seorang penyair:وَاللهِ لَوْ عَلِمُوْا قَبِيْحَ سَرِيْرَتِيْ   لَأَبَى السَلَامَ عَلَيَّ مَنْ يَلْقَانِي“Demi Allah seandainya mereka mengetahui hakekat rahasiaku tatkala aku bersendirian, maka setiap orang yang bertemu denganku tidak akan mau memberi salam kepadaku.” (Nuniyah Al-Qahthany)Oleh karena itu kita bersyukur kepada Allah Al-Ghafur yang telah menutupi aib-aib kita, keburukan-keburukan dan maksiat-maksiat yang pernah kita lakukan. Kalau saja Allah membuka aib kita, maka binasalah kita.Para ulama mengatakan bahwa suatu saat aib seorang hamba dibuka biasanya itu adalah pertanda bahwa ia terlalu sering melakukan aib tersebut. Karena ketika seorang hamba melakukan keburukan pertama kali, maka biasanya dosanya akan ditutupi oleh Allah terlebih dahulu, biasanya tidak ada yang langsung dibuka. Namun jika dia terus-menerus dan tidak berhenti melakukan kemaksiatan tersebut maka suatu saat aibnya tersebut akan dibuka oleh Allah.Kedua : Allah tidak mengadzab mereka dan mematikan mereka tatkala mereka sedang bermaksiat. Akan tetapi Allahlah al-Haliim, yang terus memberikan kesempatkan kepada pelaku dosa untuk kembali kepadaNya. Bahkan pelaku dosa tatkala membangkang perintah Allah ia sedang menggunakan nikmat-nikmat yang Allah berikan kepadanya.Allah berfirman :وَرَبُّكَ الْغَفُورُ ذُو الرَّحْمَةِ لَوْ يُؤَاخِذُهُمْ بِمَا كَسَبُوا لَعَجَّلَ لَهُمُ الْعَذَابَ بَلْ لَهُمْ مَوْعِدٌ لَنْ يَجِدُوا مِنْ دُونِهِ مَوْئِلًاDan Tuhanmulah yang Maha Pengampun, lagi mempunyai rahmat. Jika Dia mengazab mereka karena perbuatan mereka, tentu Dia akan menyegerakan azab bagi mereka. Tetapi bagi mereka ada waktu yang tertentu (untuk mendapat azab) yang mereka sekali-kali tidak akan menemukan tempat berlindung dari padanya (QS Al-Kahfi : 58)وَلَوْ يُؤَاخِذُ اللَّهُ النَّاسَ بِظُلْمِهِمْ مَا تَرَكَ عَلَيْهَا مِنْ دَابَّةٍ وَلَكِنْ يُؤَخِّرُهُمْ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً وَلَا يَسْتَقْدِمُونَJikalau Allah menghukum manusia karena kezalimannya, niscaya tidak akan ditinggalkan-Nya di muka bumi sesuatupun dari makhluk yang melata, tetapi Allah menangguhkan mereka sampai kepada waktu yang ditentukan. Maka apabila telah tiba waktunya (yang ditentukan) bagi mereka, tidaklah mereka dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak (pula) mendahulukannya (QS An-Nahl : 61)وَلَوْ يُؤَاخِذُ اللَّهُ النَّاسَ بِمَا كَسَبُوا مَا تَرَكَ عَلَى ظَهْرِهَا مِنْ دَابَّةٍ وَلَكِنْ يُؤَخِّرُهُمْ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ بِعِبَادِهِ بَصِيرًاDan kalau sekiranya Allah menyiksa manusia disebabkan usahanya, niscaya Dia tidak akan meninggalkan di atas permukaan bumi suatu mahluk yang melatapun akan tetapi Allah menangguhkan (penyiksaan) mereka, sampai waktu yang tertentu; maka apabila datang ajal mereka, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Melihat (keadaan) hamba-hamba-Nya (QS Fathir : 45)Sungguh betapa banyak orang yang sudah melampaui batas hingga Allah menjadikan mereka mati dalam kondisi suul khotimah. Allah mencabut nyawa mereka tatkala sedang bermaksiat. Sementara sebagian kita sudah berulang-ulang bermaksiat namun Allah masih memberikan kita nafas untuk bisa kembali dan bertaubat kepadaNya.Ketiga : Jika Allah memberi siksaan atau musibah itupun tujuannya agar sang pendosa ingat dan sadar serta segera kembali kepadaNyaAllah berfirman :ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَTelah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supay Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar) (QS Ar-Ruum : 41)وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍDan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu) (QS Asy-Syuroo : 30)Keempat : Bahkan musibah yang Allah timpakan juga ternyata menggugurkan dosa-dosa yang ia lakukan.Nabi bersabda :مَا يُصِيبُ المُسْلِمَ، مِنْ نَصَبٍ وَلاَ وَصَبٍ، وَلاَ هَمٍّ وَلاَ حُزْنٍ وَلاَ أَذًى وَلاَ غَمٍّ، حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا، إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ“Tidak ada apapun yang menimpa seorang muslim baik berupa keletihan, sakit, kekhawatiran, kesedihan, gangguan orang lain, kegelisahan/galau, bahkan duri yang menimpanya kecuali Allah akan menggugurkan dosa-dosanya dengan itu semua” (HR Al-Bukhari no 5641)Bahkan diantara rahmat Allah terkadang Allah menjadikan kegelisahan dan kesedihan kepada seseorang yang berdosa. Dia sendiri pun tidak tahu kenapa ia selalu bersedih. Ternyata Allah tidak menimpakan kepadanya musibah yang besar, Allah tidak menimpakan musibah pada hartanya, atau pada anaknya, atau pada tubuhnya, Allah hanya menjadikannya sedih dan gelisah untuk menggugurkan dosa-dosanya yang banyak.Kelima : Allah buka pintu taubat sebesar-besarnya, betapapun banyaknya dan besarnya dosa sang hamba. Allah berfirman :قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُKatakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (QS Az-Zumar : 53)Lihatlah Fir’aun yang mengaku sebagai Tuhan, Allah tidak langsung mengirim halilintar untuk membakarnya, akan justru Allah mengirim dua orang Rasul, Musa dan Harun untuk menasehatinya dengan selembut-lembutnya. Jika Fir’aun yang mengaku sebagai tuhan taubat tentu dosanya akan diampuni oleh Allah.Keenam : Allah memberi bonus kepada pendosa yang bertaubat kepada Allah.Bonus dunia ; Ditambahkan rizkinya, ditambahkan kekuatan baginyaAllah berfirmanفَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًاMaka aku katakan kepada mereka: ´Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, -sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun-, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai (QS Nuuh : 10-12)وَيَا قَوْمِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا وَيَزِدْكُمْ قُوَّةً إِلَى قُوَّتِكُمْ وَلَا تَتَوَلَّوْا مُجْرِمِينَDan (dia berkata): “Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa” (QS Huud : 52)Bonus akhirat : Dimasukan ke dalam surgaيَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا عَسَى رَبُّكُمْ أَنْ يُكَفِّرَ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُHai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai” (QS At-Tahriim : 9)Apakah ada manusia yang seperti ini…?, kita telah bersalah kepadanya lantas ia malah memberikan hadiah kepada kita?.Ketujuh : Para pelaku dosa diantara hikmah terjerumusnya mereka dalam dosa adalah menjadikan mereka jauh dari ‘ujub yang bisa menggugurkan amal sholih. Hal ini karena orang yang terjerumus dalam dosa dia tidak mengganggap dirinya hebat, karena dia tahu dirinya lemah pernah terperangkap dalam jebakan syaitan, dia pernah terhina dalam kubangan kemaksiatan.Dengan berdosa maka dia akan lebih mengerti tentang nama-nama Allah Al-Ghofuur (Yang Maha Pengampun), At-Tawwaab (Yang Maha Menerima Taubat), Al-‘Afuww (Yang Maha Pemaaf dan Mencintai untuk memaafkan), As-Sittiir (Yang Maha Menutup aib para hamba), Al-Haliim (Yang Maha menunda memberi hukuman, sementara mudah baginya untuk menghukum).Maka tampaklah rahasia sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam :وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ لَمْ تُذْنِبُوا لَذَهَبَ اللهُ بِكُمْ، وَلَجَاءَ بِقَوْمٍ يُذْنِبُونَ، فَيَسْتَغْفِرُونَ اللهَ فَيَغْفِرُ لَهُمْ“Demi yang jiwaku berada di tanganNya, seandainya kalian tidak berdosa, maka Allah akan sirnakan kalian, dan sungguh Allah akan mendatangkan suatu kaum yang mereka berdosa, lalu mereka beristighfar kepada Allah maka Allahpun mengampuni mereka” (HR Muslim no 2749)Khutbah KeduaAllahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, walillahil hamd…Ma’asyiroh muslimin…. Sebagian orang menyangka bahwa siapa yang pernah terjerumus dalam kubangan kenistaan kemaksiatan maka ia susah meraih kembali kecintaan Allah kepadanya. Ini semua adalah bentuk berburuk sangka kepada Tuhan Yang Maha pengasih lagi Maha Penyayang.Jika seorang anak yang bandel, yang selalu menjadikan ibunya menangis, menjadikan ibunya marah….lantas sang anak lari dari rumah…, tentu sang ibu akan bersedih lagi dengan kepergian sang anak. Apalagi setelah berminggu-minggu sang anak tidak pulang. Bagaimanapun sang ibu marah, ia pasti masih sayang kepada sang anak, yang merupakan buah hatinya…yang pernah dikandungnya.Ternyata setelah sekian lama akhirnya sang anak pulang kembali kepada ibunya, dengan penuh air mata penyesalan, bagaimana kira-kira hati sang ibu? Tentu sang ibu akan sayang kembali kepada sang anak, bahkan bisa jadi lebih sayang kepada sang anak.Dan bagi Allah perumpamaan yang lebih tinggi.Maka jika ada seorang pendosa yang kembali kepada Allah maka Allah akan sayang kepadanya, lebih cinta kepadanya.Ibnu Rojab berkata :كَانَ بَعْضُ أَصْحَابِ ذِي النُّونِ يَطُوفُ وَيُنَادِي: آهْ أَيْنَ قَلْبِي، مَنْ وَجَدَ قَلْبِي؟ فَدَخَلَ يَوْمًا بَعْضَ السِّكَكِ، فَوَجَدَ صَبِيًّا يَبْكِي وَأُمُّهُ تَضْرِبُهُ، ثُمَّ أَخْرَجَتْهُ مِنَ الدَّارِ، وَأَغْلَقَتِ الْبَابَ دُونَهُ، فَجَعَلَ الصَّبِيَّ يَلْتَفِتُ يَمِينًا وَشِمَالًا لَا يَدْرِي أَيْنَ يَذْهَبُ وَلَا أَيْنَ يَقْصِدُ، فَرَجَعَ إِلَى بَابِ الدَّارِ، فَجَعَلَ يَبْكِي وَيَقُولُ: يَا أُمَّاهُ مَنْ يَفْتَحُ لِيَ الْبَابَ إِذَا أَغْلَقْتِ عَنِّي بَابَكِ؟ وَمَنْ يُدْنِينِي إِذَا طَرَدْتِينِي؟ وَمَنِ الَّذِي يُدْنِينِي إِذَا غَضِبْتِ عَلَيَّ؟ فَرَحِمَتْهُ أُمُّهُ، فَنَظَرَتْ مِنْ خَلَلِ الْبَابِ، فَوَجَدَتْ وَلَدَهَا تَجْرِي الدُّمُوعُ عَلَى خَدَّيْهِ مُتَمَعِّكًا فِي التُّرَابِ، فَفَتَحَتِ الْبَابَ، وَأَخَذَتْهُ حَتَّى وَضَعَتْهُ فِي حِجْرِهَا وَجَعَلَتْ تُقَبِّلُهُ، وَتَقُولُ: يَا قُرَّةَ عَيْنِي، وَيَا عَزِيزَ نَفْسِي، أَنْتَ الَّذِي حَمَلْتَنِي عَلَى نَفْسِكَ، وَأَنْتَ الَّذِي تَعَرَّضْتَ لِمَا حَلَّ بِكَ، لَوْ كُنْتَ أَطَعْتَنِي لَمْ تَلْقَ مِنِّي مَكْرُوهًا، فَتَوَاجَدَ الْفَتَى، ثُمَّ قَامَ فَصَاحَ، وَقَالَ: قَدْ وَجَدْتُ قَلْبِي، قَدْ وَجَدْتُ قَلْبِيAda seorang pemuda sahabat Dzun Nuun yang berkeliling dan menyeru, “Aduuuh…dimana hatiku?, siapakah yang menemukan hatiku?Maka suatu hari ia melewati sebuah lorong lalu ia mendapati seorang anak kecil yang sedang menangis sementara ibunya memukulinya. Lalu ibunya mengeluarkan anak tersebut dari rumah dan mengunci pintu rumah. Jadilah sang anak melihat ke kanan dan ke kiri, ia tidak tahu harus kemana pergi, kemana ia harus menuju. Lalu iapun kembali ke pintu rumah, lalu ia menangis seraya berkata, “Wahai ibu, siapakah yang akan membukakan pintu jika engkau telah menguncinya? Siapa yang mendekatiku jika engkau telah mengusirku?, siapakah yang mendekatiku jika engkau telah marah kepadaku?. Maka ibunyapun menjadi iba kepadanya. Lalu sang ibu melihat dari celah-celah pintu, makai a mendapati anaknya sedang mengalirkan derasnya air mata hingga membasahi pipinya sambil menghamparkannya ke tanah. Maka sang ibupun membukakan pintu lalu mengambil sang anak dan meletakannya di pangkuannya lalu menciumnya dan berkata, “Wahai buah hatiku, wahai sayangku, engkaulah yang menjadikan ibu melakukan ini semua, engkau yang menyebabkan ini menimpamu. Kalau engkau taat kepadaku tentu engkau tidak mendapati dariku apa yang kau benci.”Maka pemuda ini pun seperti mendapatkan sesuatu, lalu ia berdiri dan berteriak, “Sungguh aku telah menemukan hatiku, sungguh aku telah menemukan hatiku” (Jami’ul ‘Uluum wal Hikam 2/44-45)Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menjelaskan bahwasanya firman Allah وَهُوَ الْغَفُورُ الْوَدُودُ “Dan Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Pengasih” (QS Al-Buruuj : 14) adalah bantahan kepada orang-orang yang menganggap kalau seorang hamba yang bermaksiat kemudian bertaubat maka dia tidak akan dicintai oleh Allah. Tetapi barang siapa yang berdosa kemudian bertaubat kepada Allah maka taubatnya akan diterima oleh Allah lalu Allah akan kembali mencintainya. Itulah rahasia digandengkannya antara الْغَفُورُ ‘’Yang Maha Pengampun’’ dan الْوَدُودُ ‘’Yang Maha Mencintai’’ (Lihat Taisiir Al-Kariim Ar-Rahmaan hal 918)Oleh karena itu, Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:لَلَّهُ أَشَدُّ فَرَحًا بِتَوْبَةِ عَبْدِهِ حِينَ يَتُوبُ إِلَيْهِ مِنْ أَحَدِكُمْ كَانَ عَلَى رَاحِلَتِهِ بِأَرْضِ فَلاَةٍ فَانْفَلَتَتْ مِنْهُ وَعَلَيْهَا طَعَامُهُ وَشَرَابُهُ فَأَيِسَ مِنْهَا فَأَتَى شَجَرَةً فَاضْطَجَعَ فِى ظِلِّهَا قَدْ أَيِسَ مِنْ رَاحِلَتِهِ فَبَيْنَا هُوَ كَذَلِكَ إِذَا هُوَ بِهَا قَائِمَةً عِنْدَهُ فَأَخَذَ بِخِطَامِهَا ثُمَّ قَالَ مِنْ شِدَّةِ الْفَرَحِ اللَّهُمَّ أَنْتَ عَبْدِى وَأَنَا رَبُّكَ.أَخْطَأَ مِنْ شِدَّةِ الْفَرَحِ“Sesungguhnya Allah sangat gembira dengan taubat hamba-Nya ketika ia bertaubat pada-Nya melebihi kegembiraan seseorang di antara kalian yang berada di atas kendaraannya dan berada di suatu tanah yang luas (padang pasir), kemudian hewan yang ditungganginya lari meninggalkannya. Padahal pada hewan tunggangannya itu ada perbekalan makan dan minumnya. Sehingga ia pun menjadi putus asa. Kemudian ia mendatangi sebuah pohon dan tidur berbaring di bawah naungannya dalam keadaan hati yang telah berputus asa. Tiba-tiba ketika ia dalam keadaan seperti itu, kendaraannya tampak berdiri di sisinya, lalu ia mengambil ikatnya. Karena sangat gembiranya, maka ia berkata, ‘Ya Allah, Engkau adalah hambaku dan aku adalah Rabb-Mu.’ Ia telah salah mengucapkan karena sangat gembiranya.” (HR. Muslim no. 2747).Orang ini sangat gembira karena dia menyangka bahwasanya dirinya akan meninggal tetapi ternyata selamat. Namun Allah lebih gembira dengan taubatnya seorang hamba daripada gembiranya orang ini. Oleh karena itu, jika seseorang berdosa maka hendaknya segera bertaubat kepada Allah. Bahkan ketika dia kembali melakukan dosa yang dahulu juga pernah dilakukannya. Hendaknya dia tidak suudzan kepada Allah, ketika dia mulai ragu dan suudzan kepada Allah maka dia telah dimasuki oleh syaithan. Syaithan ingin agar dia meninggal dalam keadaan tidak bertaubat kepada Allah.Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, walillahil hamd…Jika hamba mengetahui bahwa Allah lebih sayang kepadanya dari segala sesuatu, bahkan lebih daripada ibunya maka hendaknya sang hamba hanya menggantungkan harapannya kepada AllahIbnu Hajar berkata :وَفِيهِ إِشَارَةٌ إِلَى أَنَّهُ يَنْبَغِي لِلْمَرْءِ أَنْ يَجْعَلَ تَعَلُّقَهُ فِي جَمِيعِ أُمُورِهِ بِاللَّهِ وَحْدَهُ وَأَنَّ كُلَّ مَنْ فُرِضَ أَنَّ فِيهِ رَحْمَةً مَا حَتَّى يُقْصَدَ لِأَجْلِهَا فَاللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَرْحَمُ مِنْهُ فَلْيَقْصِدِ الْعَاقِلُ لِحَاجَتِهِ مَنْ هُوَ أَشَدُّ لَهُ رَحْمَةً“Dan pada hadits ((Allah lebih sayang kepada hamba-hambaNya daripada ibu kepada anaknya)) ada isyarat hendaknya seseorang menjadikan ketergantungannya dalam segala urusannya hanya kepada Allah. Kalau seandainya ada siapapun yang memiliki rahmat tertentu yang dicari dan dituju maka Allah tentu lebih rahmat daripadanya. Maka seorang yang berakal hendaknya mencari hajatnya kepada Dzat yang paling sayang kepadanya” (Fathul Baari 10/431)Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, walillahil hamd.Di hari yang indah ini terbarkanlah rahmat di antara para hamba niscaya kalian akan meraih rahmat dan kasih sayang Allah. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabdaإِنَّمَا يَرْحَمُ اللهُ مِنْ عِبَادِهِ الرُّحَمَاءَSesungguhnya Allah hanya menyayangi hamba-hambaNya yang penyayang (HR At-Thobrooni dalam al-Mu’jam al-Kabiir, dan dihasankan oleh Syaikh Albani dalam shahih Al-Jaami’ no 2377)Rasulullah juga bersabdaالرَّاحِمُوْنَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمَانُ، اِرْحَمُوا مَنْ فِي الأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ“Para pengasih dan penyayang dikasihi dan di sayang oleh Ar-Rahmaan (Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang-pen), rahmatilah yang ada di bumi niscaya kalian akan dirahmati oleh Dzat yagn ada di langit” (HR Abu Dawud no 4941 dan At-Thirmidzi no 1924 dan dishahihkan oleh Syaikh Albani dalam as-Shahihah no 925)Kasihilah anak yatim, para janda yang kesusahan, kaum dhu’afaa dan fuqoroo, cari mereka dan santunilah mereka.Jika menebarkan rahmat kepada yang jauh saja dianjurkan maka terlebih lagi rahmat kepada orang-orang terdekat, kepada kedua orang tua dan kerabat. Jika ada diantara kita yang masih bermusuhan di antara kerabat maka sudah tiba saatnya untuk menebarkan rahmat, untuk mengangkat ego dan membuangnya sejauh-jauhnya, semuanya kita lakukan agar kita meraih rahmat Allah dan keridoanNya.Taqobbalallahu minnaa wa minkum, semoga Allah menerima amal ibadah kami dan kalian…============ doa =============

Luasnya Rahmat Allah Bahkan Kepada Pelaku Maksiat

Khutbah ‘iedul fithri 1439 H/2018 MKhutbah PertamaAllahu akbar Allahu akbar Allahu akbar walillahil hamd…هَنِيْئًا لَكُمْ أَيُّهَا الصَّائِمُوْنَBerbahagialah wahai para jamaah sekalian yang telah berpuasa…Yang telah menahan lapar dan dahaga karena Allah…Yang berletih-letih berdiri dalam shalat tarawih karena Allah…Yang membasahi lisan dan mengeringkan tenggorokan membaca ayat-ayat al-Qur’an karena Allah…Yang meneteskan air mata taubat karena takut dengan siksaNya dan berharap surgaNya…Semoga setetes air mata yang tulus menjadi sebab diampuni segala dosa….menjadikan lembaran catatan menjadi putih bersih kembali….Bergembiralah dengan ampunan Allah…Ma’asyirol muslimin… Sesungguhnya Allah telah memperkenalkan diriNya kepada hamba-hambaNya melalui ayat-ayatNya. Baik melalui ayat-ayat kauniah berupa agungnya ciptaanNya, demikian pula melalui ayat-ayatNya dalam kitabNya. Dalam al-Qur’an Allah telah banyak menyebutkan nama-namaNya yang terindah dan sifat-sifatNya yang termulia, tidak lain agar kita hamba-hambaNya semakin mengenalNya, dan jika semakin mengenalNya maka akan semakin mencintaiNya. Jika semakin mencintai Rabb kita, maka ibadah kita semakin khusyu’ dan kita semakin rindu untuk bertemu denganNya.Diantara nama-nama Allah yang terindah adalah Ar-Rohiim..Yang Maha Penyayang…begitu banyak lembaran-lembaran al-Qur’an yang menyebutkan nama ini Ar-Rohiim. Allah selalu mengingatkan hambaNya bahwa Dia maha pengasih.Ma’aasyiroh muslimin…., kaum muslimin sekalian…, sesungguhnya kasih sayang Allah begitu luas dan lebih besar dari pada kasih sayang seorang ibu terhadap anaknya.عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ، أَنَّهُ قَالَ: قَدِمَ عَلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِسَبْيٍ فَإِذَا امْرَأَةٌ مِنَ السَّبْيِ، تَبْتَغِي، إِذَا وَجَدَتْ صَبِيًّا فِي السَّبْيِ، أَخَذَتْهُ فَأَلْصَقَتْهُ بِبَطْنِهَا وَأَرْضَعَتْهُ، فَقَالَ لَنَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَتَرَوْنَ هَذِهِ الْمَرْأَةَ طَارِحَةً وَلَدَهَا فِي النَّارِ؟» قُلْنَا: لَا، وَاللهِ وَهِيَ تَقْدِرُ عَلَى أَنْ لَا تَطْرَحَهُ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لَلَّهُ أَرْحَمُ بِعِبَادِهِ مِنْ هَذِهِ بِوَلَدِهَا»Dari ‘Umar bin Al-Khottob ia berkata, “Tawanan perang didatangkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, tiba-tiba ada seorang wanita dari tawanan perang yang sedang mencari. Tatkala ia mendapatkan seorang anak di kalangan para tawanan maka iapun mengambil anak kecil tersebut lalu ia peluk dan menyusuinya. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada kami, “Apakah menurut kalian wanita ini akan melemparkan anaknya di api?”. Maka kami berkata, “Demi Allah, tentu tidak, sementara ia mampu untuk tidak melemparnya”. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, “Sungguh Allah lebih sayang kepada hamba-hambaNya daripada wanita ini terhadap anaknya” (HR Al-Bukhari 5999 dan Muslim no 2754)Kasih sayang terbesar di alam semesta adalah kasih sayang seorang ibu terhadap anaknya. Terlebih lagi sebagaimana kondisi wanita yang disebutkan dalam hadits, dimana ia baru saja kehilangan anaknya lantas iapun mencari-cari sang anak. Akhirnya iapun bertemu dengan anaknya yang hilang tersebut, lalu iapun mendekapnya dan menyusuinya. Inilah kondisi kasih sayang terbesar dari seorang ibu terhadap anaknya.Tatkala Nabi melihat pemandangan ini, maka Nabi ingin agar para sahabat lebih mengerti tentang kasih sayang Rabb mereka. Maka Nabi bertanya kepada mereka, “Apakah ada seorang ibu -terlebih lagi dalam kondisi demikian- yang akan melemparkan anaknya ke api?”. Tentu tidak…demi Allah…., mana mungkin…!!!. Ternyata Allah lebih sayang kepada hambaNya dari pada kasih sayang seorang ibu terhadap anaknya.Sungguh kasih sayang Allah meliputi segala sesuatu…Para malaikat mengakui luasnya rahmat Allah seraya berkataرَبَّنَا وَسِعْتَ كُلَّ شَيْءٍ رَحْمَةً وَعِلْمًا“Ya Tuhan kami, rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu” (QS Ghofir : 7)Allah menggandengkan antara ilmu Allah dan rahmatNya, sebagaimana ilmu Allah meliputi segala sesuatu maka demikian pula rahmatNya meliputi segala sesuatu.Allah telah menegaskan luasnya rahmat dan kasih sayangNya…وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ“Dan Rahmat (kasih sayang)Ku meliputi segala sesuatu” (QS Al-A’roof : 156)As-Sa’di -rahimahullah- dalam tafsirnya berkata{وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ} مِنَ الْعَالَمِ الْعُلْوِي وَالسُّفْلِي، الْبَرِّ وَالْفَاجِرِ، الْمُؤْمِنِ وَالْكَافِرِ، فَلاَ مَخْلُوْقَ إِلاَّ وَقَدْ وَصَلَتْ إِلَيْهِ رَحْمَةُ اللهِ، وَغَمَرَهُ فَضْلُهُ وَإِحْسَانُهُ“Dan rahamatKu meliputi segala sesuatu” yaitu meliputi seluruh makhluk yang di atas dan yang dibawah, meliputi orang baik dan orang fajir, orang mukmin dan orang kafir. Tidak ada satu makhlukpun kecuali rahmat Allah telah sampai kepadanya, Allah mencurahkan karunia dan anugrahnya kepadanya” (Tafsir As-Sa’di hal 305)Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, walillahil hamd…Pada kesempatan yang indah ini kita tidak akan berbicara tentang orang-orang yang beriman yang mendapatkan rahmat Allah, karena mereka memang telah melakukan sebab-sebab yang mendatangkan kasih sayang Allah kepada mereka.Akan tetapi kita berbicara tentang orang-orang yang melakukan sebab-sebab yang mendatangkan murka Allah… mereka yang membangkang perintah Allah…mereka yang menerjang larangan-larangan Allah….Bahkan di bulan Ramadhan, di bulan kaum muslimin sedang berlomba-lomba beribadah, takala kaum muslimin sedang sibuk sholat malam dan melantunkan al-Qur’an… ada sebagian orang yang malah bermaksiat…malah berani membangkang perintah Allah…malah berani melanggar larangan-larangan Allah…Bahkan di malam lailatul qodar, tatkala kaum muslimin sedang tenggelam dalam keberkahan dan ampunan Allah, ternyata ada sebagian orang yang nekat tenggelam dalam dosa-dosa yang penuh kenisataan…Mereka yang seharusnya dimurkai oleh Allah, seharusnya dicabut nyawanya oleh Allah, lalu diadzabnya ternyata masih diberi kesempatan hidup….masih diberi kesempatan untuk berlebaran dan hari raya…Mereka masih diberi kasih sayangNya….Sungguh kasih sayang Allah masih terus tercurahkan bahkan kepada para pendosa. Diantara kasih sayang Allah kepada mereka :Pertama : Allah tutup aib mereka. Dintara nama-nama Allah adalah السِّتِّيْرُ As-Sittiir (Yang Maha menutupi)Yaitu Allah menutupi aib-aib para hamba dan tidak membongkarnya. Sesungguhnya diantara rahmat Allah adalah Allah menutupi aib-aib dan dosa-dosa kita. Apabila kita dimuliakan orang lain, kita dihormati orang lain, semua itu bukan karena kemuliaan dan bukan pula karena amal kebajikan kita, tetapi karena aib kita yang tidak dibuka oleh Allah. Seandainya satu saja aib kita dibuka oleh Allah niscaya tidak akan ada yang mau dekat dengan kita. Sebagaimana perkataan Muhammad bin Wasi’ rahimahullah:لَوْ كَانَ لِلذُّنُوْبِ رِيْحٌ مَا جَلَسَ إِلَيَّ أَحَدٌ“Kalau seandainya dosa-dosa itu ada baunya, niscaya tidak seorangpun yang akan duduk dekat denganku.” (Siyar A’lamin Nubala, 6/120)Berkata pula salah seorang penyair:وَاللهِ لَوْ عَلِمُوْا قَبِيْحَ سَرِيْرَتِيْ   لَأَبَى السَلَامَ عَلَيَّ مَنْ يَلْقَانِي“Demi Allah seandainya mereka mengetahui hakekat rahasiaku tatkala aku bersendirian, maka setiap orang yang bertemu denganku tidak akan mau memberi salam kepadaku.” (Nuniyah Al-Qahthany)Oleh karena itu kita bersyukur kepada Allah Al-Ghafur yang telah menutupi aib-aib kita, keburukan-keburukan dan maksiat-maksiat yang pernah kita lakukan. Kalau saja Allah membuka aib kita, maka binasalah kita.Para ulama mengatakan bahwa suatu saat aib seorang hamba dibuka biasanya itu adalah pertanda bahwa ia terlalu sering melakukan aib tersebut. Karena ketika seorang hamba melakukan keburukan pertama kali, maka biasanya dosanya akan ditutupi oleh Allah terlebih dahulu, biasanya tidak ada yang langsung dibuka. Namun jika dia terus-menerus dan tidak berhenti melakukan kemaksiatan tersebut maka suatu saat aibnya tersebut akan dibuka oleh Allah.Kedua : Allah tidak mengadzab mereka dan mematikan mereka tatkala mereka sedang bermaksiat. Akan tetapi Allahlah al-Haliim, yang terus memberikan kesempatkan kepada pelaku dosa untuk kembali kepadaNya. Bahkan pelaku dosa tatkala membangkang perintah Allah ia sedang menggunakan nikmat-nikmat yang Allah berikan kepadanya.Allah berfirman :وَرَبُّكَ الْغَفُورُ ذُو الرَّحْمَةِ لَوْ يُؤَاخِذُهُمْ بِمَا كَسَبُوا لَعَجَّلَ لَهُمُ الْعَذَابَ بَلْ لَهُمْ مَوْعِدٌ لَنْ يَجِدُوا مِنْ دُونِهِ مَوْئِلًاDan Tuhanmulah yang Maha Pengampun, lagi mempunyai rahmat. Jika Dia mengazab mereka karena perbuatan mereka, tentu Dia akan menyegerakan azab bagi mereka. Tetapi bagi mereka ada waktu yang tertentu (untuk mendapat azab) yang mereka sekali-kali tidak akan menemukan tempat berlindung dari padanya (QS Al-Kahfi : 58)وَلَوْ يُؤَاخِذُ اللَّهُ النَّاسَ بِظُلْمِهِمْ مَا تَرَكَ عَلَيْهَا مِنْ دَابَّةٍ وَلَكِنْ يُؤَخِّرُهُمْ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً وَلَا يَسْتَقْدِمُونَJikalau Allah menghukum manusia karena kezalimannya, niscaya tidak akan ditinggalkan-Nya di muka bumi sesuatupun dari makhluk yang melata, tetapi Allah menangguhkan mereka sampai kepada waktu yang ditentukan. Maka apabila telah tiba waktunya (yang ditentukan) bagi mereka, tidaklah mereka dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak (pula) mendahulukannya (QS An-Nahl : 61)وَلَوْ يُؤَاخِذُ اللَّهُ النَّاسَ بِمَا كَسَبُوا مَا تَرَكَ عَلَى ظَهْرِهَا مِنْ دَابَّةٍ وَلَكِنْ يُؤَخِّرُهُمْ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ بِعِبَادِهِ بَصِيرًاDan kalau sekiranya Allah menyiksa manusia disebabkan usahanya, niscaya Dia tidak akan meninggalkan di atas permukaan bumi suatu mahluk yang melatapun akan tetapi Allah menangguhkan (penyiksaan) mereka, sampai waktu yang tertentu; maka apabila datang ajal mereka, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Melihat (keadaan) hamba-hamba-Nya (QS Fathir : 45)Sungguh betapa banyak orang yang sudah melampaui batas hingga Allah menjadikan mereka mati dalam kondisi suul khotimah. Allah mencabut nyawa mereka tatkala sedang bermaksiat. Sementara sebagian kita sudah berulang-ulang bermaksiat namun Allah masih memberikan kita nafas untuk bisa kembali dan bertaubat kepadaNya.Ketiga : Jika Allah memberi siksaan atau musibah itupun tujuannya agar sang pendosa ingat dan sadar serta segera kembali kepadaNyaAllah berfirman :ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَTelah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supay Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar) (QS Ar-Ruum : 41)وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍDan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu) (QS Asy-Syuroo : 30)Keempat : Bahkan musibah yang Allah timpakan juga ternyata menggugurkan dosa-dosa yang ia lakukan.Nabi bersabda :مَا يُصِيبُ المُسْلِمَ، مِنْ نَصَبٍ وَلاَ وَصَبٍ، وَلاَ هَمٍّ وَلاَ حُزْنٍ وَلاَ أَذًى وَلاَ غَمٍّ، حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا، إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ“Tidak ada apapun yang menimpa seorang muslim baik berupa keletihan, sakit, kekhawatiran, kesedihan, gangguan orang lain, kegelisahan/galau, bahkan duri yang menimpanya kecuali Allah akan menggugurkan dosa-dosanya dengan itu semua” (HR Al-Bukhari no 5641)Bahkan diantara rahmat Allah terkadang Allah menjadikan kegelisahan dan kesedihan kepada seseorang yang berdosa. Dia sendiri pun tidak tahu kenapa ia selalu bersedih. Ternyata Allah tidak menimpakan kepadanya musibah yang besar, Allah tidak menimpakan musibah pada hartanya, atau pada anaknya, atau pada tubuhnya, Allah hanya menjadikannya sedih dan gelisah untuk menggugurkan dosa-dosanya yang banyak.Kelima : Allah buka pintu taubat sebesar-besarnya, betapapun banyaknya dan besarnya dosa sang hamba. Allah berfirman :قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُKatakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (QS Az-Zumar : 53)Lihatlah Fir’aun yang mengaku sebagai Tuhan, Allah tidak langsung mengirim halilintar untuk membakarnya, akan justru Allah mengirim dua orang Rasul, Musa dan Harun untuk menasehatinya dengan selembut-lembutnya. Jika Fir’aun yang mengaku sebagai tuhan taubat tentu dosanya akan diampuni oleh Allah.Keenam : Allah memberi bonus kepada pendosa yang bertaubat kepada Allah.Bonus dunia ; Ditambahkan rizkinya, ditambahkan kekuatan baginyaAllah berfirmanفَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًاMaka aku katakan kepada mereka: ´Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, -sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun-, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai (QS Nuuh : 10-12)وَيَا قَوْمِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا وَيَزِدْكُمْ قُوَّةً إِلَى قُوَّتِكُمْ وَلَا تَتَوَلَّوْا مُجْرِمِينَDan (dia berkata): “Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa” (QS Huud : 52)Bonus akhirat : Dimasukan ke dalam surgaيَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا عَسَى رَبُّكُمْ أَنْ يُكَفِّرَ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُHai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai” (QS At-Tahriim : 9)Apakah ada manusia yang seperti ini…?, kita telah bersalah kepadanya lantas ia malah memberikan hadiah kepada kita?.Ketujuh : Para pelaku dosa diantara hikmah terjerumusnya mereka dalam dosa adalah menjadikan mereka jauh dari ‘ujub yang bisa menggugurkan amal sholih. Hal ini karena orang yang terjerumus dalam dosa dia tidak mengganggap dirinya hebat, karena dia tahu dirinya lemah pernah terperangkap dalam jebakan syaitan, dia pernah terhina dalam kubangan kemaksiatan.Dengan berdosa maka dia akan lebih mengerti tentang nama-nama Allah Al-Ghofuur (Yang Maha Pengampun), At-Tawwaab (Yang Maha Menerima Taubat), Al-‘Afuww (Yang Maha Pemaaf dan Mencintai untuk memaafkan), As-Sittiir (Yang Maha Menutup aib para hamba), Al-Haliim (Yang Maha menunda memberi hukuman, sementara mudah baginya untuk menghukum).Maka tampaklah rahasia sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam :وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ لَمْ تُذْنِبُوا لَذَهَبَ اللهُ بِكُمْ، وَلَجَاءَ بِقَوْمٍ يُذْنِبُونَ، فَيَسْتَغْفِرُونَ اللهَ فَيَغْفِرُ لَهُمْ“Demi yang jiwaku berada di tanganNya, seandainya kalian tidak berdosa, maka Allah akan sirnakan kalian, dan sungguh Allah akan mendatangkan suatu kaum yang mereka berdosa, lalu mereka beristighfar kepada Allah maka Allahpun mengampuni mereka” (HR Muslim no 2749)Khutbah KeduaAllahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, walillahil hamd…Ma’asyiroh muslimin…. Sebagian orang menyangka bahwa siapa yang pernah terjerumus dalam kubangan kenistaan kemaksiatan maka ia susah meraih kembali kecintaan Allah kepadanya. Ini semua adalah bentuk berburuk sangka kepada Tuhan Yang Maha pengasih lagi Maha Penyayang.Jika seorang anak yang bandel, yang selalu menjadikan ibunya menangis, menjadikan ibunya marah….lantas sang anak lari dari rumah…, tentu sang ibu akan bersedih lagi dengan kepergian sang anak. Apalagi setelah berminggu-minggu sang anak tidak pulang. Bagaimanapun sang ibu marah, ia pasti masih sayang kepada sang anak, yang merupakan buah hatinya…yang pernah dikandungnya.Ternyata setelah sekian lama akhirnya sang anak pulang kembali kepada ibunya, dengan penuh air mata penyesalan, bagaimana kira-kira hati sang ibu? Tentu sang ibu akan sayang kembali kepada sang anak, bahkan bisa jadi lebih sayang kepada sang anak.Dan bagi Allah perumpamaan yang lebih tinggi.Maka jika ada seorang pendosa yang kembali kepada Allah maka Allah akan sayang kepadanya, lebih cinta kepadanya.Ibnu Rojab berkata :كَانَ بَعْضُ أَصْحَابِ ذِي النُّونِ يَطُوفُ وَيُنَادِي: آهْ أَيْنَ قَلْبِي، مَنْ وَجَدَ قَلْبِي؟ فَدَخَلَ يَوْمًا بَعْضَ السِّكَكِ، فَوَجَدَ صَبِيًّا يَبْكِي وَأُمُّهُ تَضْرِبُهُ، ثُمَّ أَخْرَجَتْهُ مِنَ الدَّارِ، وَأَغْلَقَتِ الْبَابَ دُونَهُ، فَجَعَلَ الصَّبِيَّ يَلْتَفِتُ يَمِينًا وَشِمَالًا لَا يَدْرِي أَيْنَ يَذْهَبُ وَلَا أَيْنَ يَقْصِدُ، فَرَجَعَ إِلَى بَابِ الدَّارِ، فَجَعَلَ يَبْكِي وَيَقُولُ: يَا أُمَّاهُ مَنْ يَفْتَحُ لِيَ الْبَابَ إِذَا أَغْلَقْتِ عَنِّي بَابَكِ؟ وَمَنْ يُدْنِينِي إِذَا طَرَدْتِينِي؟ وَمَنِ الَّذِي يُدْنِينِي إِذَا غَضِبْتِ عَلَيَّ؟ فَرَحِمَتْهُ أُمُّهُ، فَنَظَرَتْ مِنْ خَلَلِ الْبَابِ، فَوَجَدَتْ وَلَدَهَا تَجْرِي الدُّمُوعُ عَلَى خَدَّيْهِ مُتَمَعِّكًا فِي التُّرَابِ، فَفَتَحَتِ الْبَابَ، وَأَخَذَتْهُ حَتَّى وَضَعَتْهُ فِي حِجْرِهَا وَجَعَلَتْ تُقَبِّلُهُ، وَتَقُولُ: يَا قُرَّةَ عَيْنِي، وَيَا عَزِيزَ نَفْسِي، أَنْتَ الَّذِي حَمَلْتَنِي عَلَى نَفْسِكَ، وَأَنْتَ الَّذِي تَعَرَّضْتَ لِمَا حَلَّ بِكَ، لَوْ كُنْتَ أَطَعْتَنِي لَمْ تَلْقَ مِنِّي مَكْرُوهًا، فَتَوَاجَدَ الْفَتَى، ثُمَّ قَامَ فَصَاحَ، وَقَالَ: قَدْ وَجَدْتُ قَلْبِي، قَدْ وَجَدْتُ قَلْبِيAda seorang pemuda sahabat Dzun Nuun yang berkeliling dan menyeru, “Aduuuh…dimana hatiku?, siapakah yang menemukan hatiku?Maka suatu hari ia melewati sebuah lorong lalu ia mendapati seorang anak kecil yang sedang menangis sementara ibunya memukulinya. Lalu ibunya mengeluarkan anak tersebut dari rumah dan mengunci pintu rumah. Jadilah sang anak melihat ke kanan dan ke kiri, ia tidak tahu harus kemana pergi, kemana ia harus menuju. Lalu iapun kembali ke pintu rumah, lalu ia menangis seraya berkata, “Wahai ibu, siapakah yang akan membukakan pintu jika engkau telah menguncinya? Siapa yang mendekatiku jika engkau telah mengusirku?, siapakah yang mendekatiku jika engkau telah marah kepadaku?. Maka ibunyapun menjadi iba kepadanya. Lalu sang ibu melihat dari celah-celah pintu, makai a mendapati anaknya sedang mengalirkan derasnya air mata hingga membasahi pipinya sambil menghamparkannya ke tanah. Maka sang ibupun membukakan pintu lalu mengambil sang anak dan meletakannya di pangkuannya lalu menciumnya dan berkata, “Wahai buah hatiku, wahai sayangku, engkaulah yang menjadikan ibu melakukan ini semua, engkau yang menyebabkan ini menimpamu. Kalau engkau taat kepadaku tentu engkau tidak mendapati dariku apa yang kau benci.”Maka pemuda ini pun seperti mendapatkan sesuatu, lalu ia berdiri dan berteriak, “Sungguh aku telah menemukan hatiku, sungguh aku telah menemukan hatiku” (Jami’ul ‘Uluum wal Hikam 2/44-45)Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menjelaskan bahwasanya firman Allah وَهُوَ الْغَفُورُ الْوَدُودُ “Dan Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Pengasih” (QS Al-Buruuj : 14) adalah bantahan kepada orang-orang yang menganggap kalau seorang hamba yang bermaksiat kemudian bertaubat maka dia tidak akan dicintai oleh Allah. Tetapi barang siapa yang berdosa kemudian bertaubat kepada Allah maka taubatnya akan diterima oleh Allah lalu Allah akan kembali mencintainya. Itulah rahasia digandengkannya antara الْغَفُورُ ‘’Yang Maha Pengampun’’ dan الْوَدُودُ ‘’Yang Maha Mencintai’’ (Lihat Taisiir Al-Kariim Ar-Rahmaan hal 918)Oleh karena itu, Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:لَلَّهُ أَشَدُّ فَرَحًا بِتَوْبَةِ عَبْدِهِ حِينَ يَتُوبُ إِلَيْهِ مِنْ أَحَدِكُمْ كَانَ عَلَى رَاحِلَتِهِ بِأَرْضِ فَلاَةٍ فَانْفَلَتَتْ مِنْهُ وَعَلَيْهَا طَعَامُهُ وَشَرَابُهُ فَأَيِسَ مِنْهَا فَأَتَى شَجَرَةً فَاضْطَجَعَ فِى ظِلِّهَا قَدْ أَيِسَ مِنْ رَاحِلَتِهِ فَبَيْنَا هُوَ كَذَلِكَ إِذَا هُوَ بِهَا قَائِمَةً عِنْدَهُ فَأَخَذَ بِخِطَامِهَا ثُمَّ قَالَ مِنْ شِدَّةِ الْفَرَحِ اللَّهُمَّ أَنْتَ عَبْدِى وَأَنَا رَبُّكَ.أَخْطَأَ مِنْ شِدَّةِ الْفَرَحِ“Sesungguhnya Allah sangat gembira dengan taubat hamba-Nya ketika ia bertaubat pada-Nya melebihi kegembiraan seseorang di antara kalian yang berada di atas kendaraannya dan berada di suatu tanah yang luas (padang pasir), kemudian hewan yang ditungganginya lari meninggalkannya. Padahal pada hewan tunggangannya itu ada perbekalan makan dan minumnya. Sehingga ia pun menjadi putus asa. Kemudian ia mendatangi sebuah pohon dan tidur berbaring di bawah naungannya dalam keadaan hati yang telah berputus asa. Tiba-tiba ketika ia dalam keadaan seperti itu, kendaraannya tampak berdiri di sisinya, lalu ia mengambil ikatnya. Karena sangat gembiranya, maka ia berkata, ‘Ya Allah, Engkau adalah hambaku dan aku adalah Rabb-Mu.’ Ia telah salah mengucapkan karena sangat gembiranya.” (HR. Muslim no. 2747).Orang ini sangat gembira karena dia menyangka bahwasanya dirinya akan meninggal tetapi ternyata selamat. Namun Allah lebih gembira dengan taubatnya seorang hamba daripada gembiranya orang ini. Oleh karena itu, jika seseorang berdosa maka hendaknya segera bertaubat kepada Allah. Bahkan ketika dia kembali melakukan dosa yang dahulu juga pernah dilakukannya. Hendaknya dia tidak suudzan kepada Allah, ketika dia mulai ragu dan suudzan kepada Allah maka dia telah dimasuki oleh syaithan. Syaithan ingin agar dia meninggal dalam keadaan tidak bertaubat kepada Allah.Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, walillahil hamd…Jika hamba mengetahui bahwa Allah lebih sayang kepadanya dari segala sesuatu, bahkan lebih daripada ibunya maka hendaknya sang hamba hanya menggantungkan harapannya kepada AllahIbnu Hajar berkata :وَفِيهِ إِشَارَةٌ إِلَى أَنَّهُ يَنْبَغِي لِلْمَرْءِ أَنْ يَجْعَلَ تَعَلُّقَهُ فِي جَمِيعِ أُمُورِهِ بِاللَّهِ وَحْدَهُ وَأَنَّ كُلَّ مَنْ فُرِضَ أَنَّ فِيهِ رَحْمَةً مَا حَتَّى يُقْصَدَ لِأَجْلِهَا فَاللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَرْحَمُ مِنْهُ فَلْيَقْصِدِ الْعَاقِلُ لِحَاجَتِهِ مَنْ هُوَ أَشَدُّ لَهُ رَحْمَةً“Dan pada hadits ((Allah lebih sayang kepada hamba-hambaNya daripada ibu kepada anaknya)) ada isyarat hendaknya seseorang menjadikan ketergantungannya dalam segala urusannya hanya kepada Allah. Kalau seandainya ada siapapun yang memiliki rahmat tertentu yang dicari dan dituju maka Allah tentu lebih rahmat daripadanya. Maka seorang yang berakal hendaknya mencari hajatnya kepada Dzat yang paling sayang kepadanya” (Fathul Baari 10/431)Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, walillahil hamd.Di hari yang indah ini terbarkanlah rahmat di antara para hamba niscaya kalian akan meraih rahmat dan kasih sayang Allah. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabdaإِنَّمَا يَرْحَمُ اللهُ مِنْ عِبَادِهِ الرُّحَمَاءَSesungguhnya Allah hanya menyayangi hamba-hambaNya yang penyayang (HR At-Thobrooni dalam al-Mu’jam al-Kabiir, dan dihasankan oleh Syaikh Albani dalam shahih Al-Jaami’ no 2377)Rasulullah juga bersabdaالرَّاحِمُوْنَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمَانُ، اِرْحَمُوا مَنْ فِي الأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ“Para pengasih dan penyayang dikasihi dan di sayang oleh Ar-Rahmaan (Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang-pen), rahmatilah yang ada di bumi niscaya kalian akan dirahmati oleh Dzat yagn ada di langit” (HR Abu Dawud no 4941 dan At-Thirmidzi no 1924 dan dishahihkan oleh Syaikh Albani dalam as-Shahihah no 925)Kasihilah anak yatim, para janda yang kesusahan, kaum dhu’afaa dan fuqoroo, cari mereka dan santunilah mereka.Jika menebarkan rahmat kepada yang jauh saja dianjurkan maka terlebih lagi rahmat kepada orang-orang terdekat, kepada kedua orang tua dan kerabat. Jika ada diantara kita yang masih bermusuhan di antara kerabat maka sudah tiba saatnya untuk menebarkan rahmat, untuk mengangkat ego dan membuangnya sejauh-jauhnya, semuanya kita lakukan agar kita meraih rahmat Allah dan keridoanNya.Taqobbalallahu minnaa wa minkum, semoga Allah menerima amal ibadah kami dan kalian…============ doa =============
Khutbah ‘iedul fithri 1439 H/2018 MKhutbah PertamaAllahu akbar Allahu akbar Allahu akbar walillahil hamd…هَنِيْئًا لَكُمْ أَيُّهَا الصَّائِمُوْنَBerbahagialah wahai para jamaah sekalian yang telah berpuasa…Yang telah menahan lapar dan dahaga karena Allah…Yang berletih-letih berdiri dalam shalat tarawih karena Allah…Yang membasahi lisan dan mengeringkan tenggorokan membaca ayat-ayat al-Qur’an karena Allah…Yang meneteskan air mata taubat karena takut dengan siksaNya dan berharap surgaNya…Semoga setetes air mata yang tulus menjadi sebab diampuni segala dosa….menjadikan lembaran catatan menjadi putih bersih kembali….Bergembiralah dengan ampunan Allah…Ma’asyirol muslimin… Sesungguhnya Allah telah memperkenalkan diriNya kepada hamba-hambaNya melalui ayat-ayatNya. Baik melalui ayat-ayat kauniah berupa agungnya ciptaanNya, demikian pula melalui ayat-ayatNya dalam kitabNya. Dalam al-Qur’an Allah telah banyak menyebutkan nama-namaNya yang terindah dan sifat-sifatNya yang termulia, tidak lain agar kita hamba-hambaNya semakin mengenalNya, dan jika semakin mengenalNya maka akan semakin mencintaiNya. Jika semakin mencintai Rabb kita, maka ibadah kita semakin khusyu’ dan kita semakin rindu untuk bertemu denganNya.Diantara nama-nama Allah yang terindah adalah Ar-Rohiim..Yang Maha Penyayang…begitu banyak lembaran-lembaran al-Qur’an yang menyebutkan nama ini Ar-Rohiim. Allah selalu mengingatkan hambaNya bahwa Dia maha pengasih.Ma’aasyiroh muslimin…., kaum muslimin sekalian…, sesungguhnya kasih sayang Allah begitu luas dan lebih besar dari pada kasih sayang seorang ibu terhadap anaknya.عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ، أَنَّهُ قَالَ: قَدِمَ عَلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِسَبْيٍ فَإِذَا امْرَأَةٌ مِنَ السَّبْيِ، تَبْتَغِي، إِذَا وَجَدَتْ صَبِيًّا فِي السَّبْيِ، أَخَذَتْهُ فَأَلْصَقَتْهُ بِبَطْنِهَا وَأَرْضَعَتْهُ، فَقَالَ لَنَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَتَرَوْنَ هَذِهِ الْمَرْأَةَ طَارِحَةً وَلَدَهَا فِي النَّارِ؟» قُلْنَا: لَا، وَاللهِ وَهِيَ تَقْدِرُ عَلَى أَنْ لَا تَطْرَحَهُ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لَلَّهُ أَرْحَمُ بِعِبَادِهِ مِنْ هَذِهِ بِوَلَدِهَا»Dari ‘Umar bin Al-Khottob ia berkata, “Tawanan perang didatangkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, tiba-tiba ada seorang wanita dari tawanan perang yang sedang mencari. Tatkala ia mendapatkan seorang anak di kalangan para tawanan maka iapun mengambil anak kecil tersebut lalu ia peluk dan menyusuinya. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada kami, “Apakah menurut kalian wanita ini akan melemparkan anaknya di api?”. Maka kami berkata, “Demi Allah, tentu tidak, sementara ia mampu untuk tidak melemparnya”. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, “Sungguh Allah lebih sayang kepada hamba-hambaNya daripada wanita ini terhadap anaknya” (HR Al-Bukhari 5999 dan Muslim no 2754)Kasih sayang terbesar di alam semesta adalah kasih sayang seorang ibu terhadap anaknya. Terlebih lagi sebagaimana kondisi wanita yang disebutkan dalam hadits, dimana ia baru saja kehilangan anaknya lantas iapun mencari-cari sang anak. Akhirnya iapun bertemu dengan anaknya yang hilang tersebut, lalu iapun mendekapnya dan menyusuinya. Inilah kondisi kasih sayang terbesar dari seorang ibu terhadap anaknya.Tatkala Nabi melihat pemandangan ini, maka Nabi ingin agar para sahabat lebih mengerti tentang kasih sayang Rabb mereka. Maka Nabi bertanya kepada mereka, “Apakah ada seorang ibu -terlebih lagi dalam kondisi demikian- yang akan melemparkan anaknya ke api?”. Tentu tidak…demi Allah…., mana mungkin…!!!. Ternyata Allah lebih sayang kepada hambaNya dari pada kasih sayang seorang ibu terhadap anaknya.Sungguh kasih sayang Allah meliputi segala sesuatu…Para malaikat mengakui luasnya rahmat Allah seraya berkataرَبَّنَا وَسِعْتَ كُلَّ شَيْءٍ رَحْمَةً وَعِلْمًا“Ya Tuhan kami, rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu” (QS Ghofir : 7)Allah menggandengkan antara ilmu Allah dan rahmatNya, sebagaimana ilmu Allah meliputi segala sesuatu maka demikian pula rahmatNya meliputi segala sesuatu.Allah telah menegaskan luasnya rahmat dan kasih sayangNya…وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ“Dan Rahmat (kasih sayang)Ku meliputi segala sesuatu” (QS Al-A’roof : 156)As-Sa’di -rahimahullah- dalam tafsirnya berkata{وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ} مِنَ الْعَالَمِ الْعُلْوِي وَالسُّفْلِي، الْبَرِّ وَالْفَاجِرِ، الْمُؤْمِنِ وَالْكَافِرِ، فَلاَ مَخْلُوْقَ إِلاَّ وَقَدْ وَصَلَتْ إِلَيْهِ رَحْمَةُ اللهِ، وَغَمَرَهُ فَضْلُهُ وَإِحْسَانُهُ“Dan rahamatKu meliputi segala sesuatu” yaitu meliputi seluruh makhluk yang di atas dan yang dibawah, meliputi orang baik dan orang fajir, orang mukmin dan orang kafir. Tidak ada satu makhlukpun kecuali rahmat Allah telah sampai kepadanya, Allah mencurahkan karunia dan anugrahnya kepadanya” (Tafsir As-Sa’di hal 305)Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, walillahil hamd…Pada kesempatan yang indah ini kita tidak akan berbicara tentang orang-orang yang beriman yang mendapatkan rahmat Allah, karena mereka memang telah melakukan sebab-sebab yang mendatangkan kasih sayang Allah kepada mereka.Akan tetapi kita berbicara tentang orang-orang yang melakukan sebab-sebab yang mendatangkan murka Allah… mereka yang membangkang perintah Allah…mereka yang menerjang larangan-larangan Allah….Bahkan di bulan Ramadhan, di bulan kaum muslimin sedang berlomba-lomba beribadah, takala kaum muslimin sedang sibuk sholat malam dan melantunkan al-Qur’an… ada sebagian orang yang malah bermaksiat…malah berani membangkang perintah Allah…malah berani melanggar larangan-larangan Allah…Bahkan di malam lailatul qodar, tatkala kaum muslimin sedang tenggelam dalam keberkahan dan ampunan Allah, ternyata ada sebagian orang yang nekat tenggelam dalam dosa-dosa yang penuh kenisataan…Mereka yang seharusnya dimurkai oleh Allah, seharusnya dicabut nyawanya oleh Allah, lalu diadzabnya ternyata masih diberi kesempatan hidup….masih diberi kesempatan untuk berlebaran dan hari raya…Mereka masih diberi kasih sayangNya….Sungguh kasih sayang Allah masih terus tercurahkan bahkan kepada para pendosa. Diantara kasih sayang Allah kepada mereka :Pertama : Allah tutup aib mereka. Dintara nama-nama Allah adalah السِّتِّيْرُ As-Sittiir (Yang Maha menutupi)Yaitu Allah menutupi aib-aib para hamba dan tidak membongkarnya. Sesungguhnya diantara rahmat Allah adalah Allah menutupi aib-aib dan dosa-dosa kita. Apabila kita dimuliakan orang lain, kita dihormati orang lain, semua itu bukan karena kemuliaan dan bukan pula karena amal kebajikan kita, tetapi karena aib kita yang tidak dibuka oleh Allah. Seandainya satu saja aib kita dibuka oleh Allah niscaya tidak akan ada yang mau dekat dengan kita. Sebagaimana perkataan Muhammad bin Wasi’ rahimahullah:لَوْ كَانَ لِلذُّنُوْبِ رِيْحٌ مَا جَلَسَ إِلَيَّ أَحَدٌ“Kalau seandainya dosa-dosa itu ada baunya, niscaya tidak seorangpun yang akan duduk dekat denganku.” (Siyar A’lamin Nubala, 6/120)Berkata pula salah seorang penyair:وَاللهِ لَوْ عَلِمُوْا قَبِيْحَ سَرِيْرَتِيْ   لَأَبَى السَلَامَ عَلَيَّ مَنْ يَلْقَانِي“Demi Allah seandainya mereka mengetahui hakekat rahasiaku tatkala aku bersendirian, maka setiap orang yang bertemu denganku tidak akan mau memberi salam kepadaku.” (Nuniyah Al-Qahthany)Oleh karena itu kita bersyukur kepada Allah Al-Ghafur yang telah menutupi aib-aib kita, keburukan-keburukan dan maksiat-maksiat yang pernah kita lakukan. Kalau saja Allah membuka aib kita, maka binasalah kita.Para ulama mengatakan bahwa suatu saat aib seorang hamba dibuka biasanya itu adalah pertanda bahwa ia terlalu sering melakukan aib tersebut. Karena ketika seorang hamba melakukan keburukan pertama kali, maka biasanya dosanya akan ditutupi oleh Allah terlebih dahulu, biasanya tidak ada yang langsung dibuka. Namun jika dia terus-menerus dan tidak berhenti melakukan kemaksiatan tersebut maka suatu saat aibnya tersebut akan dibuka oleh Allah.Kedua : Allah tidak mengadzab mereka dan mematikan mereka tatkala mereka sedang bermaksiat. Akan tetapi Allahlah al-Haliim, yang terus memberikan kesempatkan kepada pelaku dosa untuk kembali kepadaNya. Bahkan pelaku dosa tatkala membangkang perintah Allah ia sedang menggunakan nikmat-nikmat yang Allah berikan kepadanya.Allah berfirman :وَرَبُّكَ الْغَفُورُ ذُو الرَّحْمَةِ لَوْ يُؤَاخِذُهُمْ بِمَا كَسَبُوا لَعَجَّلَ لَهُمُ الْعَذَابَ بَلْ لَهُمْ مَوْعِدٌ لَنْ يَجِدُوا مِنْ دُونِهِ مَوْئِلًاDan Tuhanmulah yang Maha Pengampun, lagi mempunyai rahmat. Jika Dia mengazab mereka karena perbuatan mereka, tentu Dia akan menyegerakan azab bagi mereka. Tetapi bagi mereka ada waktu yang tertentu (untuk mendapat azab) yang mereka sekali-kali tidak akan menemukan tempat berlindung dari padanya (QS Al-Kahfi : 58)وَلَوْ يُؤَاخِذُ اللَّهُ النَّاسَ بِظُلْمِهِمْ مَا تَرَكَ عَلَيْهَا مِنْ دَابَّةٍ وَلَكِنْ يُؤَخِّرُهُمْ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً وَلَا يَسْتَقْدِمُونَJikalau Allah menghukum manusia karena kezalimannya, niscaya tidak akan ditinggalkan-Nya di muka bumi sesuatupun dari makhluk yang melata, tetapi Allah menangguhkan mereka sampai kepada waktu yang ditentukan. Maka apabila telah tiba waktunya (yang ditentukan) bagi mereka, tidaklah mereka dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak (pula) mendahulukannya (QS An-Nahl : 61)وَلَوْ يُؤَاخِذُ اللَّهُ النَّاسَ بِمَا كَسَبُوا مَا تَرَكَ عَلَى ظَهْرِهَا مِنْ دَابَّةٍ وَلَكِنْ يُؤَخِّرُهُمْ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ بِعِبَادِهِ بَصِيرًاDan kalau sekiranya Allah menyiksa manusia disebabkan usahanya, niscaya Dia tidak akan meninggalkan di atas permukaan bumi suatu mahluk yang melatapun akan tetapi Allah menangguhkan (penyiksaan) mereka, sampai waktu yang tertentu; maka apabila datang ajal mereka, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Melihat (keadaan) hamba-hamba-Nya (QS Fathir : 45)Sungguh betapa banyak orang yang sudah melampaui batas hingga Allah menjadikan mereka mati dalam kondisi suul khotimah. Allah mencabut nyawa mereka tatkala sedang bermaksiat. Sementara sebagian kita sudah berulang-ulang bermaksiat namun Allah masih memberikan kita nafas untuk bisa kembali dan bertaubat kepadaNya.Ketiga : Jika Allah memberi siksaan atau musibah itupun tujuannya agar sang pendosa ingat dan sadar serta segera kembali kepadaNyaAllah berfirman :ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَTelah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supay Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar) (QS Ar-Ruum : 41)وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍDan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu) (QS Asy-Syuroo : 30)Keempat : Bahkan musibah yang Allah timpakan juga ternyata menggugurkan dosa-dosa yang ia lakukan.Nabi bersabda :مَا يُصِيبُ المُسْلِمَ، مِنْ نَصَبٍ وَلاَ وَصَبٍ، وَلاَ هَمٍّ وَلاَ حُزْنٍ وَلاَ أَذًى وَلاَ غَمٍّ، حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا، إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ“Tidak ada apapun yang menimpa seorang muslim baik berupa keletihan, sakit, kekhawatiran, kesedihan, gangguan orang lain, kegelisahan/galau, bahkan duri yang menimpanya kecuali Allah akan menggugurkan dosa-dosanya dengan itu semua” (HR Al-Bukhari no 5641)Bahkan diantara rahmat Allah terkadang Allah menjadikan kegelisahan dan kesedihan kepada seseorang yang berdosa. Dia sendiri pun tidak tahu kenapa ia selalu bersedih. Ternyata Allah tidak menimpakan kepadanya musibah yang besar, Allah tidak menimpakan musibah pada hartanya, atau pada anaknya, atau pada tubuhnya, Allah hanya menjadikannya sedih dan gelisah untuk menggugurkan dosa-dosanya yang banyak.Kelima : Allah buka pintu taubat sebesar-besarnya, betapapun banyaknya dan besarnya dosa sang hamba. Allah berfirman :قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُKatakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (QS Az-Zumar : 53)Lihatlah Fir’aun yang mengaku sebagai Tuhan, Allah tidak langsung mengirim halilintar untuk membakarnya, akan justru Allah mengirim dua orang Rasul, Musa dan Harun untuk menasehatinya dengan selembut-lembutnya. Jika Fir’aun yang mengaku sebagai tuhan taubat tentu dosanya akan diampuni oleh Allah.Keenam : Allah memberi bonus kepada pendosa yang bertaubat kepada Allah.Bonus dunia ; Ditambahkan rizkinya, ditambahkan kekuatan baginyaAllah berfirmanفَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًاMaka aku katakan kepada mereka: ´Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, -sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun-, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai (QS Nuuh : 10-12)وَيَا قَوْمِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا وَيَزِدْكُمْ قُوَّةً إِلَى قُوَّتِكُمْ وَلَا تَتَوَلَّوْا مُجْرِمِينَDan (dia berkata): “Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa” (QS Huud : 52)Bonus akhirat : Dimasukan ke dalam surgaيَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا عَسَى رَبُّكُمْ أَنْ يُكَفِّرَ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُHai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai” (QS At-Tahriim : 9)Apakah ada manusia yang seperti ini…?, kita telah bersalah kepadanya lantas ia malah memberikan hadiah kepada kita?.Ketujuh : Para pelaku dosa diantara hikmah terjerumusnya mereka dalam dosa adalah menjadikan mereka jauh dari ‘ujub yang bisa menggugurkan amal sholih. Hal ini karena orang yang terjerumus dalam dosa dia tidak mengganggap dirinya hebat, karena dia tahu dirinya lemah pernah terperangkap dalam jebakan syaitan, dia pernah terhina dalam kubangan kemaksiatan.Dengan berdosa maka dia akan lebih mengerti tentang nama-nama Allah Al-Ghofuur (Yang Maha Pengampun), At-Tawwaab (Yang Maha Menerima Taubat), Al-‘Afuww (Yang Maha Pemaaf dan Mencintai untuk memaafkan), As-Sittiir (Yang Maha Menutup aib para hamba), Al-Haliim (Yang Maha menunda memberi hukuman, sementara mudah baginya untuk menghukum).Maka tampaklah rahasia sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam :وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ لَمْ تُذْنِبُوا لَذَهَبَ اللهُ بِكُمْ، وَلَجَاءَ بِقَوْمٍ يُذْنِبُونَ، فَيَسْتَغْفِرُونَ اللهَ فَيَغْفِرُ لَهُمْ“Demi yang jiwaku berada di tanganNya, seandainya kalian tidak berdosa, maka Allah akan sirnakan kalian, dan sungguh Allah akan mendatangkan suatu kaum yang mereka berdosa, lalu mereka beristighfar kepada Allah maka Allahpun mengampuni mereka” (HR Muslim no 2749)Khutbah KeduaAllahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, walillahil hamd…Ma’asyiroh muslimin…. Sebagian orang menyangka bahwa siapa yang pernah terjerumus dalam kubangan kenistaan kemaksiatan maka ia susah meraih kembali kecintaan Allah kepadanya. Ini semua adalah bentuk berburuk sangka kepada Tuhan Yang Maha pengasih lagi Maha Penyayang.Jika seorang anak yang bandel, yang selalu menjadikan ibunya menangis, menjadikan ibunya marah….lantas sang anak lari dari rumah…, tentu sang ibu akan bersedih lagi dengan kepergian sang anak. Apalagi setelah berminggu-minggu sang anak tidak pulang. Bagaimanapun sang ibu marah, ia pasti masih sayang kepada sang anak, yang merupakan buah hatinya…yang pernah dikandungnya.Ternyata setelah sekian lama akhirnya sang anak pulang kembali kepada ibunya, dengan penuh air mata penyesalan, bagaimana kira-kira hati sang ibu? Tentu sang ibu akan sayang kembali kepada sang anak, bahkan bisa jadi lebih sayang kepada sang anak.Dan bagi Allah perumpamaan yang lebih tinggi.Maka jika ada seorang pendosa yang kembali kepada Allah maka Allah akan sayang kepadanya, lebih cinta kepadanya.Ibnu Rojab berkata :كَانَ بَعْضُ أَصْحَابِ ذِي النُّونِ يَطُوفُ وَيُنَادِي: آهْ أَيْنَ قَلْبِي، مَنْ وَجَدَ قَلْبِي؟ فَدَخَلَ يَوْمًا بَعْضَ السِّكَكِ، فَوَجَدَ صَبِيًّا يَبْكِي وَأُمُّهُ تَضْرِبُهُ، ثُمَّ أَخْرَجَتْهُ مِنَ الدَّارِ، وَأَغْلَقَتِ الْبَابَ دُونَهُ، فَجَعَلَ الصَّبِيَّ يَلْتَفِتُ يَمِينًا وَشِمَالًا لَا يَدْرِي أَيْنَ يَذْهَبُ وَلَا أَيْنَ يَقْصِدُ، فَرَجَعَ إِلَى بَابِ الدَّارِ، فَجَعَلَ يَبْكِي وَيَقُولُ: يَا أُمَّاهُ مَنْ يَفْتَحُ لِيَ الْبَابَ إِذَا أَغْلَقْتِ عَنِّي بَابَكِ؟ وَمَنْ يُدْنِينِي إِذَا طَرَدْتِينِي؟ وَمَنِ الَّذِي يُدْنِينِي إِذَا غَضِبْتِ عَلَيَّ؟ فَرَحِمَتْهُ أُمُّهُ، فَنَظَرَتْ مِنْ خَلَلِ الْبَابِ، فَوَجَدَتْ وَلَدَهَا تَجْرِي الدُّمُوعُ عَلَى خَدَّيْهِ مُتَمَعِّكًا فِي التُّرَابِ، فَفَتَحَتِ الْبَابَ، وَأَخَذَتْهُ حَتَّى وَضَعَتْهُ فِي حِجْرِهَا وَجَعَلَتْ تُقَبِّلُهُ، وَتَقُولُ: يَا قُرَّةَ عَيْنِي، وَيَا عَزِيزَ نَفْسِي، أَنْتَ الَّذِي حَمَلْتَنِي عَلَى نَفْسِكَ، وَأَنْتَ الَّذِي تَعَرَّضْتَ لِمَا حَلَّ بِكَ، لَوْ كُنْتَ أَطَعْتَنِي لَمْ تَلْقَ مِنِّي مَكْرُوهًا، فَتَوَاجَدَ الْفَتَى، ثُمَّ قَامَ فَصَاحَ، وَقَالَ: قَدْ وَجَدْتُ قَلْبِي، قَدْ وَجَدْتُ قَلْبِيAda seorang pemuda sahabat Dzun Nuun yang berkeliling dan menyeru, “Aduuuh…dimana hatiku?, siapakah yang menemukan hatiku?Maka suatu hari ia melewati sebuah lorong lalu ia mendapati seorang anak kecil yang sedang menangis sementara ibunya memukulinya. Lalu ibunya mengeluarkan anak tersebut dari rumah dan mengunci pintu rumah. Jadilah sang anak melihat ke kanan dan ke kiri, ia tidak tahu harus kemana pergi, kemana ia harus menuju. Lalu iapun kembali ke pintu rumah, lalu ia menangis seraya berkata, “Wahai ibu, siapakah yang akan membukakan pintu jika engkau telah menguncinya? Siapa yang mendekatiku jika engkau telah mengusirku?, siapakah yang mendekatiku jika engkau telah marah kepadaku?. Maka ibunyapun menjadi iba kepadanya. Lalu sang ibu melihat dari celah-celah pintu, makai a mendapati anaknya sedang mengalirkan derasnya air mata hingga membasahi pipinya sambil menghamparkannya ke tanah. Maka sang ibupun membukakan pintu lalu mengambil sang anak dan meletakannya di pangkuannya lalu menciumnya dan berkata, “Wahai buah hatiku, wahai sayangku, engkaulah yang menjadikan ibu melakukan ini semua, engkau yang menyebabkan ini menimpamu. Kalau engkau taat kepadaku tentu engkau tidak mendapati dariku apa yang kau benci.”Maka pemuda ini pun seperti mendapatkan sesuatu, lalu ia berdiri dan berteriak, “Sungguh aku telah menemukan hatiku, sungguh aku telah menemukan hatiku” (Jami’ul ‘Uluum wal Hikam 2/44-45)Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menjelaskan bahwasanya firman Allah وَهُوَ الْغَفُورُ الْوَدُودُ “Dan Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Pengasih” (QS Al-Buruuj : 14) adalah bantahan kepada orang-orang yang menganggap kalau seorang hamba yang bermaksiat kemudian bertaubat maka dia tidak akan dicintai oleh Allah. Tetapi barang siapa yang berdosa kemudian bertaubat kepada Allah maka taubatnya akan diterima oleh Allah lalu Allah akan kembali mencintainya. Itulah rahasia digandengkannya antara الْغَفُورُ ‘’Yang Maha Pengampun’’ dan الْوَدُودُ ‘’Yang Maha Mencintai’’ (Lihat Taisiir Al-Kariim Ar-Rahmaan hal 918)Oleh karena itu, Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:لَلَّهُ أَشَدُّ فَرَحًا بِتَوْبَةِ عَبْدِهِ حِينَ يَتُوبُ إِلَيْهِ مِنْ أَحَدِكُمْ كَانَ عَلَى رَاحِلَتِهِ بِأَرْضِ فَلاَةٍ فَانْفَلَتَتْ مِنْهُ وَعَلَيْهَا طَعَامُهُ وَشَرَابُهُ فَأَيِسَ مِنْهَا فَأَتَى شَجَرَةً فَاضْطَجَعَ فِى ظِلِّهَا قَدْ أَيِسَ مِنْ رَاحِلَتِهِ فَبَيْنَا هُوَ كَذَلِكَ إِذَا هُوَ بِهَا قَائِمَةً عِنْدَهُ فَأَخَذَ بِخِطَامِهَا ثُمَّ قَالَ مِنْ شِدَّةِ الْفَرَحِ اللَّهُمَّ أَنْتَ عَبْدِى وَأَنَا رَبُّكَ.أَخْطَأَ مِنْ شِدَّةِ الْفَرَحِ“Sesungguhnya Allah sangat gembira dengan taubat hamba-Nya ketika ia bertaubat pada-Nya melebihi kegembiraan seseorang di antara kalian yang berada di atas kendaraannya dan berada di suatu tanah yang luas (padang pasir), kemudian hewan yang ditungganginya lari meninggalkannya. Padahal pada hewan tunggangannya itu ada perbekalan makan dan minumnya. Sehingga ia pun menjadi putus asa. Kemudian ia mendatangi sebuah pohon dan tidur berbaring di bawah naungannya dalam keadaan hati yang telah berputus asa. Tiba-tiba ketika ia dalam keadaan seperti itu, kendaraannya tampak berdiri di sisinya, lalu ia mengambil ikatnya. Karena sangat gembiranya, maka ia berkata, ‘Ya Allah, Engkau adalah hambaku dan aku adalah Rabb-Mu.’ Ia telah salah mengucapkan karena sangat gembiranya.” (HR. Muslim no. 2747).Orang ini sangat gembira karena dia menyangka bahwasanya dirinya akan meninggal tetapi ternyata selamat. Namun Allah lebih gembira dengan taubatnya seorang hamba daripada gembiranya orang ini. Oleh karena itu, jika seseorang berdosa maka hendaknya segera bertaubat kepada Allah. Bahkan ketika dia kembali melakukan dosa yang dahulu juga pernah dilakukannya. Hendaknya dia tidak suudzan kepada Allah, ketika dia mulai ragu dan suudzan kepada Allah maka dia telah dimasuki oleh syaithan. Syaithan ingin agar dia meninggal dalam keadaan tidak bertaubat kepada Allah.Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, walillahil hamd…Jika hamba mengetahui bahwa Allah lebih sayang kepadanya dari segala sesuatu, bahkan lebih daripada ibunya maka hendaknya sang hamba hanya menggantungkan harapannya kepada AllahIbnu Hajar berkata :وَفِيهِ إِشَارَةٌ إِلَى أَنَّهُ يَنْبَغِي لِلْمَرْءِ أَنْ يَجْعَلَ تَعَلُّقَهُ فِي جَمِيعِ أُمُورِهِ بِاللَّهِ وَحْدَهُ وَأَنَّ كُلَّ مَنْ فُرِضَ أَنَّ فِيهِ رَحْمَةً مَا حَتَّى يُقْصَدَ لِأَجْلِهَا فَاللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَرْحَمُ مِنْهُ فَلْيَقْصِدِ الْعَاقِلُ لِحَاجَتِهِ مَنْ هُوَ أَشَدُّ لَهُ رَحْمَةً“Dan pada hadits ((Allah lebih sayang kepada hamba-hambaNya daripada ibu kepada anaknya)) ada isyarat hendaknya seseorang menjadikan ketergantungannya dalam segala urusannya hanya kepada Allah. Kalau seandainya ada siapapun yang memiliki rahmat tertentu yang dicari dan dituju maka Allah tentu lebih rahmat daripadanya. Maka seorang yang berakal hendaknya mencari hajatnya kepada Dzat yang paling sayang kepadanya” (Fathul Baari 10/431)Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, walillahil hamd.Di hari yang indah ini terbarkanlah rahmat di antara para hamba niscaya kalian akan meraih rahmat dan kasih sayang Allah. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabdaإِنَّمَا يَرْحَمُ اللهُ مِنْ عِبَادِهِ الرُّحَمَاءَSesungguhnya Allah hanya menyayangi hamba-hambaNya yang penyayang (HR At-Thobrooni dalam al-Mu’jam al-Kabiir, dan dihasankan oleh Syaikh Albani dalam shahih Al-Jaami’ no 2377)Rasulullah juga bersabdaالرَّاحِمُوْنَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمَانُ، اِرْحَمُوا مَنْ فِي الأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ“Para pengasih dan penyayang dikasihi dan di sayang oleh Ar-Rahmaan (Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang-pen), rahmatilah yang ada di bumi niscaya kalian akan dirahmati oleh Dzat yagn ada di langit” (HR Abu Dawud no 4941 dan At-Thirmidzi no 1924 dan dishahihkan oleh Syaikh Albani dalam as-Shahihah no 925)Kasihilah anak yatim, para janda yang kesusahan, kaum dhu’afaa dan fuqoroo, cari mereka dan santunilah mereka.Jika menebarkan rahmat kepada yang jauh saja dianjurkan maka terlebih lagi rahmat kepada orang-orang terdekat, kepada kedua orang tua dan kerabat. Jika ada diantara kita yang masih bermusuhan di antara kerabat maka sudah tiba saatnya untuk menebarkan rahmat, untuk mengangkat ego dan membuangnya sejauh-jauhnya, semuanya kita lakukan agar kita meraih rahmat Allah dan keridoanNya.Taqobbalallahu minnaa wa minkum, semoga Allah menerima amal ibadah kami dan kalian…============ doa =============


Khutbah ‘iedul fithri 1439 H/2018 MKhutbah PertamaAllahu akbar Allahu akbar Allahu akbar walillahil hamd…هَنِيْئًا لَكُمْ أَيُّهَا الصَّائِمُوْنَBerbahagialah wahai para jamaah sekalian yang telah berpuasa…Yang telah menahan lapar dan dahaga karena Allah…Yang berletih-letih berdiri dalam shalat tarawih karena Allah…Yang membasahi lisan dan mengeringkan tenggorokan membaca ayat-ayat al-Qur’an karena Allah…Yang meneteskan air mata taubat karena takut dengan siksaNya dan berharap surgaNya…Semoga setetes air mata yang tulus menjadi sebab diampuni segala dosa….menjadikan lembaran catatan menjadi putih bersih kembali….Bergembiralah dengan ampunan Allah…Ma’asyirol muslimin… Sesungguhnya Allah telah memperkenalkan diriNya kepada hamba-hambaNya melalui ayat-ayatNya. Baik melalui ayat-ayat kauniah berupa agungnya ciptaanNya, demikian pula melalui ayat-ayatNya dalam kitabNya. Dalam al-Qur’an Allah telah banyak menyebutkan nama-namaNya yang terindah dan sifat-sifatNya yang termulia, tidak lain agar kita hamba-hambaNya semakin mengenalNya, dan jika semakin mengenalNya maka akan semakin mencintaiNya. Jika semakin mencintai Rabb kita, maka ibadah kita semakin khusyu’ dan kita semakin rindu untuk bertemu denganNya.Diantara nama-nama Allah yang terindah adalah Ar-Rohiim..Yang Maha Penyayang…begitu banyak lembaran-lembaran al-Qur’an yang menyebutkan nama ini Ar-Rohiim. Allah selalu mengingatkan hambaNya bahwa Dia maha pengasih.Ma’aasyiroh muslimin…., kaum muslimin sekalian…, sesungguhnya kasih sayang Allah begitu luas dan lebih besar dari pada kasih sayang seorang ibu terhadap anaknya.عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ، أَنَّهُ قَالَ: قَدِمَ عَلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِسَبْيٍ فَإِذَا امْرَأَةٌ مِنَ السَّبْيِ، تَبْتَغِي، إِذَا وَجَدَتْ صَبِيًّا فِي السَّبْيِ، أَخَذَتْهُ فَأَلْصَقَتْهُ بِبَطْنِهَا وَأَرْضَعَتْهُ، فَقَالَ لَنَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَتَرَوْنَ هَذِهِ الْمَرْأَةَ طَارِحَةً وَلَدَهَا فِي النَّارِ؟» قُلْنَا: لَا، وَاللهِ وَهِيَ تَقْدِرُ عَلَى أَنْ لَا تَطْرَحَهُ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لَلَّهُ أَرْحَمُ بِعِبَادِهِ مِنْ هَذِهِ بِوَلَدِهَا»Dari ‘Umar bin Al-Khottob ia berkata, “Tawanan perang didatangkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, tiba-tiba ada seorang wanita dari tawanan perang yang sedang mencari. Tatkala ia mendapatkan seorang anak di kalangan para tawanan maka iapun mengambil anak kecil tersebut lalu ia peluk dan menyusuinya. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada kami, “Apakah menurut kalian wanita ini akan melemparkan anaknya di api?”. Maka kami berkata, “Demi Allah, tentu tidak, sementara ia mampu untuk tidak melemparnya”. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, “Sungguh Allah lebih sayang kepada hamba-hambaNya daripada wanita ini terhadap anaknya” (HR Al-Bukhari 5999 dan Muslim no 2754)Kasih sayang terbesar di alam semesta adalah kasih sayang seorang ibu terhadap anaknya. Terlebih lagi sebagaimana kondisi wanita yang disebutkan dalam hadits, dimana ia baru saja kehilangan anaknya lantas iapun mencari-cari sang anak. Akhirnya iapun bertemu dengan anaknya yang hilang tersebut, lalu iapun mendekapnya dan menyusuinya. Inilah kondisi kasih sayang terbesar dari seorang ibu terhadap anaknya.Tatkala Nabi melihat pemandangan ini, maka Nabi ingin agar para sahabat lebih mengerti tentang kasih sayang Rabb mereka. Maka Nabi bertanya kepada mereka, “Apakah ada seorang ibu -terlebih lagi dalam kondisi demikian- yang akan melemparkan anaknya ke api?”. Tentu tidak…demi Allah…., mana mungkin…!!!. Ternyata Allah lebih sayang kepada hambaNya dari pada kasih sayang seorang ibu terhadap anaknya.Sungguh kasih sayang Allah meliputi segala sesuatu…Para malaikat mengakui luasnya rahmat Allah seraya berkataرَبَّنَا وَسِعْتَ كُلَّ شَيْءٍ رَحْمَةً وَعِلْمًا“Ya Tuhan kami, rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu” (QS Ghofir : 7)Allah menggandengkan antara ilmu Allah dan rahmatNya, sebagaimana ilmu Allah meliputi segala sesuatu maka demikian pula rahmatNya meliputi segala sesuatu.Allah telah menegaskan luasnya rahmat dan kasih sayangNya…وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ“Dan Rahmat (kasih sayang)Ku meliputi segala sesuatu” (QS Al-A’roof : 156)As-Sa’di -rahimahullah- dalam tafsirnya berkata{وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ} مِنَ الْعَالَمِ الْعُلْوِي وَالسُّفْلِي، الْبَرِّ وَالْفَاجِرِ، الْمُؤْمِنِ وَالْكَافِرِ، فَلاَ مَخْلُوْقَ إِلاَّ وَقَدْ وَصَلَتْ إِلَيْهِ رَحْمَةُ اللهِ، وَغَمَرَهُ فَضْلُهُ وَإِحْسَانُهُ“Dan rahamatKu meliputi segala sesuatu” yaitu meliputi seluruh makhluk yang di atas dan yang dibawah, meliputi orang baik dan orang fajir, orang mukmin dan orang kafir. Tidak ada satu makhlukpun kecuali rahmat Allah telah sampai kepadanya, Allah mencurahkan karunia dan anugrahnya kepadanya” (Tafsir As-Sa’di hal 305)Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, walillahil hamd…Pada kesempatan yang indah ini kita tidak akan berbicara tentang orang-orang yang beriman yang mendapatkan rahmat Allah, karena mereka memang telah melakukan sebab-sebab yang mendatangkan kasih sayang Allah kepada mereka.Akan tetapi kita berbicara tentang orang-orang yang melakukan sebab-sebab yang mendatangkan murka Allah… mereka yang membangkang perintah Allah…mereka yang menerjang larangan-larangan Allah….Bahkan di bulan Ramadhan, di bulan kaum muslimin sedang berlomba-lomba beribadah, takala kaum muslimin sedang sibuk sholat malam dan melantunkan al-Qur’an… ada sebagian orang yang malah bermaksiat…malah berani membangkang perintah Allah…malah berani melanggar larangan-larangan Allah…Bahkan di malam lailatul qodar, tatkala kaum muslimin sedang tenggelam dalam keberkahan dan ampunan Allah, ternyata ada sebagian orang yang nekat tenggelam dalam dosa-dosa yang penuh kenisataan…Mereka yang seharusnya dimurkai oleh Allah, seharusnya dicabut nyawanya oleh Allah, lalu diadzabnya ternyata masih diberi kesempatan hidup….masih diberi kesempatan untuk berlebaran dan hari raya…Mereka masih diberi kasih sayangNya….Sungguh kasih sayang Allah masih terus tercurahkan bahkan kepada para pendosa. Diantara kasih sayang Allah kepada mereka :Pertama : Allah tutup aib mereka. Dintara nama-nama Allah adalah السِّتِّيْرُ As-Sittiir (Yang Maha menutupi)Yaitu Allah menutupi aib-aib para hamba dan tidak membongkarnya. Sesungguhnya diantara rahmat Allah adalah Allah menutupi aib-aib dan dosa-dosa kita. Apabila kita dimuliakan orang lain, kita dihormati orang lain, semua itu bukan karena kemuliaan dan bukan pula karena amal kebajikan kita, tetapi karena aib kita yang tidak dibuka oleh Allah. Seandainya satu saja aib kita dibuka oleh Allah niscaya tidak akan ada yang mau dekat dengan kita. Sebagaimana perkataan Muhammad bin Wasi’ rahimahullah:لَوْ كَانَ لِلذُّنُوْبِ رِيْحٌ مَا جَلَسَ إِلَيَّ أَحَدٌ“Kalau seandainya dosa-dosa itu ada baunya, niscaya tidak seorangpun yang akan duduk dekat denganku.” (Siyar A’lamin Nubala, 6/120)Berkata pula salah seorang penyair:وَاللهِ لَوْ عَلِمُوْا قَبِيْحَ سَرِيْرَتِيْ   لَأَبَى السَلَامَ عَلَيَّ مَنْ يَلْقَانِي“Demi Allah seandainya mereka mengetahui hakekat rahasiaku tatkala aku bersendirian, maka setiap orang yang bertemu denganku tidak akan mau memberi salam kepadaku.” (Nuniyah Al-Qahthany)Oleh karena itu kita bersyukur kepada Allah Al-Ghafur yang telah menutupi aib-aib kita, keburukan-keburukan dan maksiat-maksiat yang pernah kita lakukan. Kalau saja Allah membuka aib kita, maka binasalah kita.Para ulama mengatakan bahwa suatu saat aib seorang hamba dibuka biasanya itu adalah pertanda bahwa ia terlalu sering melakukan aib tersebut. Karena ketika seorang hamba melakukan keburukan pertama kali, maka biasanya dosanya akan ditutupi oleh Allah terlebih dahulu, biasanya tidak ada yang langsung dibuka. Namun jika dia terus-menerus dan tidak berhenti melakukan kemaksiatan tersebut maka suatu saat aibnya tersebut akan dibuka oleh Allah.Kedua : Allah tidak mengadzab mereka dan mematikan mereka tatkala mereka sedang bermaksiat. Akan tetapi Allahlah al-Haliim, yang terus memberikan kesempatkan kepada pelaku dosa untuk kembali kepadaNya. Bahkan pelaku dosa tatkala membangkang perintah Allah ia sedang menggunakan nikmat-nikmat yang Allah berikan kepadanya.Allah berfirman :وَرَبُّكَ الْغَفُورُ ذُو الرَّحْمَةِ لَوْ يُؤَاخِذُهُمْ بِمَا كَسَبُوا لَعَجَّلَ لَهُمُ الْعَذَابَ بَلْ لَهُمْ مَوْعِدٌ لَنْ يَجِدُوا مِنْ دُونِهِ مَوْئِلًاDan Tuhanmulah yang Maha Pengampun, lagi mempunyai rahmat. Jika Dia mengazab mereka karena perbuatan mereka, tentu Dia akan menyegerakan azab bagi mereka. Tetapi bagi mereka ada waktu yang tertentu (untuk mendapat azab) yang mereka sekali-kali tidak akan menemukan tempat berlindung dari padanya (QS Al-Kahfi : 58)وَلَوْ يُؤَاخِذُ اللَّهُ النَّاسَ بِظُلْمِهِمْ مَا تَرَكَ عَلَيْهَا مِنْ دَابَّةٍ وَلَكِنْ يُؤَخِّرُهُمْ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً وَلَا يَسْتَقْدِمُونَJikalau Allah menghukum manusia karena kezalimannya, niscaya tidak akan ditinggalkan-Nya di muka bumi sesuatupun dari makhluk yang melata, tetapi Allah menangguhkan mereka sampai kepada waktu yang ditentukan. Maka apabila telah tiba waktunya (yang ditentukan) bagi mereka, tidaklah mereka dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak (pula) mendahulukannya (QS An-Nahl : 61)وَلَوْ يُؤَاخِذُ اللَّهُ النَّاسَ بِمَا كَسَبُوا مَا تَرَكَ عَلَى ظَهْرِهَا مِنْ دَابَّةٍ وَلَكِنْ يُؤَخِّرُهُمْ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ بِعِبَادِهِ بَصِيرًاDan kalau sekiranya Allah menyiksa manusia disebabkan usahanya, niscaya Dia tidak akan meninggalkan di atas permukaan bumi suatu mahluk yang melatapun akan tetapi Allah menangguhkan (penyiksaan) mereka, sampai waktu yang tertentu; maka apabila datang ajal mereka, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Melihat (keadaan) hamba-hamba-Nya (QS Fathir : 45)Sungguh betapa banyak orang yang sudah melampaui batas hingga Allah menjadikan mereka mati dalam kondisi suul khotimah. Allah mencabut nyawa mereka tatkala sedang bermaksiat. Sementara sebagian kita sudah berulang-ulang bermaksiat namun Allah masih memberikan kita nafas untuk bisa kembali dan bertaubat kepadaNya.Ketiga : Jika Allah memberi siksaan atau musibah itupun tujuannya agar sang pendosa ingat dan sadar serta segera kembali kepadaNyaAllah berfirman :ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَTelah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supay Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar) (QS Ar-Ruum : 41)وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍDan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu) (QS Asy-Syuroo : 30)Keempat : Bahkan musibah yang Allah timpakan juga ternyata menggugurkan dosa-dosa yang ia lakukan.Nabi bersabda :مَا يُصِيبُ المُسْلِمَ، مِنْ نَصَبٍ وَلاَ وَصَبٍ، وَلاَ هَمٍّ وَلاَ حُزْنٍ وَلاَ أَذًى وَلاَ غَمٍّ، حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا، إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ“Tidak ada apapun yang menimpa seorang muslim baik berupa keletihan, sakit, kekhawatiran, kesedihan, gangguan orang lain, kegelisahan/galau, bahkan duri yang menimpanya kecuali Allah akan menggugurkan dosa-dosanya dengan itu semua” (HR Al-Bukhari no 5641)Bahkan diantara rahmat Allah terkadang Allah menjadikan kegelisahan dan kesedihan kepada seseorang yang berdosa. Dia sendiri pun tidak tahu kenapa ia selalu bersedih. Ternyata Allah tidak menimpakan kepadanya musibah yang besar, Allah tidak menimpakan musibah pada hartanya, atau pada anaknya, atau pada tubuhnya, Allah hanya menjadikannya sedih dan gelisah untuk menggugurkan dosa-dosanya yang banyak.Kelima : Allah buka pintu taubat sebesar-besarnya, betapapun banyaknya dan besarnya dosa sang hamba. Allah berfirman :قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُKatakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (QS Az-Zumar : 53)Lihatlah Fir’aun yang mengaku sebagai Tuhan, Allah tidak langsung mengirim halilintar untuk membakarnya, akan justru Allah mengirim dua orang Rasul, Musa dan Harun untuk menasehatinya dengan selembut-lembutnya. Jika Fir’aun yang mengaku sebagai tuhan taubat tentu dosanya akan diampuni oleh Allah.Keenam : Allah memberi bonus kepada pendosa yang bertaubat kepada Allah.Bonus dunia ; Ditambahkan rizkinya, ditambahkan kekuatan baginyaAllah berfirmanفَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًاMaka aku katakan kepada mereka: ´Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, -sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun-, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai (QS Nuuh : 10-12)وَيَا قَوْمِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا وَيَزِدْكُمْ قُوَّةً إِلَى قُوَّتِكُمْ وَلَا تَتَوَلَّوْا مُجْرِمِينَDan (dia berkata): “Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa” (QS Huud : 52)Bonus akhirat : Dimasukan ke dalam surgaيَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا عَسَى رَبُّكُمْ أَنْ يُكَفِّرَ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُHai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai” (QS At-Tahriim : 9)Apakah ada manusia yang seperti ini…?, kita telah bersalah kepadanya lantas ia malah memberikan hadiah kepada kita?.Ketujuh : Para pelaku dosa diantara hikmah terjerumusnya mereka dalam dosa adalah menjadikan mereka jauh dari ‘ujub yang bisa menggugurkan amal sholih. Hal ini karena orang yang terjerumus dalam dosa dia tidak mengganggap dirinya hebat, karena dia tahu dirinya lemah pernah terperangkap dalam jebakan syaitan, dia pernah terhina dalam kubangan kemaksiatan.Dengan berdosa maka dia akan lebih mengerti tentang nama-nama Allah Al-Ghofuur (Yang Maha Pengampun), At-Tawwaab (Yang Maha Menerima Taubat), Al-‘Afuww (Yang Maha Pemaaf dan Mencintai untuk memaafkan), As-Sittiir (Yang Maha Menutup aib para hamba), Al-Haliim (Yang Maha menunda memberi hukuman, sementara mudah baginya untuk menghukum).Maka tampaklah rahasia sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam :وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ لَمْ تُذْنِبُوا لَذَهَبَ اللهُ بِكُمْ، وَلَجَاءَ بِقَوْمٍ يُذْنِبُونَ، فَيَسْتَغْفِرُونَ اللهَ فَيَغْفِرُ لَهُمْ“Demi yang jiwaku berada di tanganNya, seandainya kalian tidak berdosa, maka Allah akan sirnakan kalian, dan sungguh Allah akan mendatangkan suatu kaum yang mereka berdosa, lalu mereka beristighfar kepada Allah maka Allahpun mengampuni mereka” (HR Muslim no 2749)Khutbah KeduaAllahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, walillahil hamd…Ma’asyiroh muslimin…. Sebagian orang menyangka bahwa siapa yang pernah terjerumus dalam kubangan kenistaan kemaksiatan maka ia susah meraih kembali kecintaan Allah kepadanya. Ini semua adalah bentuk berburuk sangka kepada Tuhan Yang Maha pengasih lagi Maha Penyayang.Jika seorang anak yang bandel, yang selalu menjadikan ibunya menangis, menjadikan ibunya marah….lantas sang anak lari dari rumah…, tentu sang ibu akan bersedih lagi dengan kepergian sang anak. Apalagi setelah berminggu-minggu sang anak tidak pulang. Bagaimanapun sang ibu marah, ia pasti masih sayang kepada sang anak, yang merupakan buah hatinya…yang pernah dikandungnya.Ternyata setelah sekian lama akhirnya sang anak pulang kembali kepada ibunya, dengan penuh air mata penyesalan, bagaimana kira-kira hati sang ibu? Tentu sang ibu akan sayang kembali kepada sang anak, bahkan bisa jadi lebih sayang kepada sang anak.Dan bagi Allah perumpamaan yang lebih tinggi.Maka jika ada seorang pendosa yang kembali kepada Allah maka Allah akan sayang kepadanya, lebih cinta kepadanya.Ibnu Rojab berkata :كَانَ بَعْضُ أَصْحَابِ ذِي النُّونِ يَطُوفُ وَيُنَادِي: آهْ أَيْنَ قَلْبِي، مَنْ وَجَدَ قَلْبِي؟ فَدَخَلَ يَوْمًا بَعْضَ السِّكَكِ، فَوَجَدَ صَبِيًّا يَبْكِي وَأُمُّهُ تَضْرِبُهُ، ثُمَّ أَخْرَجَتْهُ مِنَ الدَّارِ، وَأَغْلَقَتِ الْبَابَ دُونَهُ، فَجَعَلَ الصَّبِيَّ يَلْتَفِتُ يَمِينًا وَشِمَالًا لَا يَدْرِي أَيْنَ يَذْهَبُ وَلَا أَيْنَ يَقْصِدُ، فَرَجَعَ إِلَى بَابِ الدَّارِ، فَجَعَلَ يَبْكِي وَيَقُولُ: يَا أُمَّاهُ مَنْ يَفْتَحُ لِيَ الْبَابَ إِذَا أَغْلَقْتِ عَنِّي بَابَكِ؟ وَمَنْ يُدْنِينِي إِذَا طَرَدْتِينِي؟ وَمَنِ الَّذِي يُدْنِينِي إِذَا غَضِبْتِ عَلَيَّ؟ فَرَحِمَتْهُ أُمُّهُ، فَنَظَرَتْ مِنْ خَلَلِ الْبَابِ، فَوَجَدَتْ وَلَدَهَا تَجْرِي الدُّمُوعُ عَلَى خَدَّيْهِ مُتَمَعِّكًا فِي التُّرَابِ، فَفَتَحَتِ الْبَابَ، وَأَخَذَتْهُ حَتَّى وَضَعَتْهُ فِي حِجْرِهَا وَجَعَلَتْ تُقَبِّلُهُ، وَتَقُولُ: يَا قُرَّةَ عَيْنِي، وَيَا عَزِيزَ نَفْسِي، أَنْتَ الَّذِي حَمَلْتَنِي عَلَى نَفْسِكَ، وَأَنْتَ الَّذِي تَعَرَّضْتَ لِمَا حَلَّ بِكَ، لَوْ كُنْتَ أَطَعْتَنِي لَمْ تَلْقَ مِنِّي مَكْرُوهًا، فَتَوَاجَدَ الْفَتَى، ثُمَّ قَامَ فَصَاحَ، وَقَالَ: قَدْ وَجَدْتُ قَلْبِي، قَدْ وَجَدْتُ قَلْبِيAda seorang pemuda sahabat Dzun Nuun yang berkeliling dan menyeru, “Aduuuh…dimana hatiku?, siapakah yang menemukan hatiku?Maka suatu hari ia melewati sebuah lorong lalu ia mendapati seorang anak kecil yang sedang menangis sementara ibunya memukulinya. Lalu ibunya mengeluarkan anak tersebut dari rumah dan mengunci pintu rumah. Jadilah sang anak melihat ke kanan dan ke kiri, ia tidak tahu harus kemana pergi, kemana ia harus menuju. Lalu iapun kembali ke pintu rumah, lalu ia menangis seraya berkata, “Wahai ibu, siapakah yang akan membukakan pintu jika engkau telah menguncinya? Siapa yang mendekatiku jika engkau telah mengusirku?, siapakah yang mendekatiku jika engkau telah marah kepadaku?. Maka ibunyapun menjadi iba kepadanya. Lalu sang ibu melihat dari celah-celah pintu, makai a mendapati anaknya sedang mengalirkan derasnya air mata hingga membasahi pipinya sambil menghamparkannya ke tanah. Maka sang ibupun membukakan pintu lalu mengambil sang anak dan meletakannya di pangkuannya lalu menciumnya dan berkata, “Wahai buah hatiku, wahai sayangku, engkaulah yang menjadikan ibu melakukan ini semua, engkau yang menyebabkan ini menimpamu. Kalau engkau taat kepadaku tentu engkau tidak mendapati dariku apa yang kau benci.”Maka pemuda ini pun seperti mendapatkan sesuatu, lalu ia berdiri dan berteriak, “Sungguh aku telah menemukan hatiku, sungguh aku telah menemukan hatiku” (Jami’ul ‘Uluum wal Hikam 2/44-45)Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menjelaskan bahwasanya firman Allah وَهُوَ الْغَفُورُ الْوَدُودُ “Dan Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Pengasih” (QS Al-Buruuj : 14) adalah bantahan kepada orang-orang yang menganggap kalau seorang hamba yang bermaksiat kemudian bertaubat maka dia tidak akan dicintai oleh Allah. Tetapi barang siapa yang berdosa kemudian bertaubat kepada Allah maka taubatnya akan diterima oleh Allah lalu Allah akan kembali mencintainya. Itulah rahasia digandengkannya antara الْغَفُورُ ‘’Yang Maha Pengampun’’ dan الْوَدُودُ ‘’Yang Maha Mencintai’’ (Lihat Taisiir Al-Kariim Ar-Rahmaan hal 918)Oleh karena itu, Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:لَلَّهُ أَشَدُّ فَرَحًا بِتَوْبَةِ عَبْدِهِ حِينَ يَتُوبُ إِلَيْهِ مِنْ أَحَدِكُمْ كَانَ عَلَى رَاحِلَتِهِ بِأَرْضِ فَلاَةٍ فَانْفَلَتَتْ مِنْهُ وَعَلَيْهَا طَعَامُهُ وَشَرَابُهُ فَأَيِسَ مِنْهَا فَأَتَى شَجَرَةً فَاضْطَجَعَ فِى ظِلِّهَا قَدْ أَيِسَ مِنْ رَاحِلَتِهِ فَبَيْنَا هُوَ كَذَلِكَ إِذَا هُوَ بِهَا قَائِمَةً عِنْدَهُ فَأَخَذَ بِخِطَامِهَا ثُمَّ قَالَ مِنْ شِدَّةِ الْفَرَحِ اللَّهُمَّ أَنْتَ عَبْدِى وَأَنَا رَبُّكَ.أَخْطَأَ مِنْ شِدَّةِ الْفَرَحِ“Sesungguhnya Allah sangat gembira dengan taubat hamba-Nya ketika ia bertaubat pada-Nya melebihi kegembiraan seseorang di antara kalian yang berada di atas kendaraannya dan berada di suatu tanah yang luas (padang pasir), kemudian hewan yang ditungganginya lari meninggalkannya. Padahal pada hewan tunggangannya itu ada perbekalan makan dan minumnya. Sehingga ia pun menjadi putus asa. Kemudian ia mendatangi sebuah pohon dan tidur berbaring di bawah naungannya dalam keadaan hati yang telah berputus asa. Tiba-tiba ketika ia dalam keadaan seperti itu, kendaraannya tampak berdiri di sisinya, lalu ia mengambil ikatnya. Karena sangat gembiranya, maka ia berkata, ‘Ya Allah, Engkau adalah hambaku dan aku adalah Rabb-Mu.’ Ia telah salah mengucapkan karena sangat gembiranya.” (HR. Muslim no. 2747).Orang ini sangat gembira karena dia menyangka bahwasanya dirinya akan meninggal tetapi ternyata selamat. Namun Allah lebih gembira dengan taubatnya seorang hamba daripada gembiranya orang ini. Oleh karena itu, jika seseorang berdosa maka hendaknya segera bertaubat kepada Allah. Bahkan ketika dia kembali melakukan dosa yang dahulu juga pernah dilakukannya. Hendaknya dia tidak suudzan kepada Allah, ketika dia mulai ragu dan suudzan kepada Allah maka dia telah dimasuki oleh syaithan. Syaithan ingin agar dia meninggal dalam keadaan tidak bertaubat kepada Allah.Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, walillahil hamd…Jika hamba mengetahui bahwa Allah lebih sayang kepadanya dari segala sesuatu, bahkan lebih daripada ibunya maka hendaknya sang hamba hanya menggantungkan harapannya kepada AllahIbnu Hajar berkata :وَفِيهِ إِشَارَةٌ إِلَى أَنَّهُ يَنْبَغِي لِلْمَرْءِ أَنْ يَجْعَلَ تَعَلُّقَهُ فِي جَمِيعِ أُمُورِهِ بِاللَّهِ وَحْدَهُ وَأَنَّ كُلَّ مَنْ فُرِضَ أَنَّ فِيهِ رَحْمَةً مَا حَتَّى يُقْصَدَ لِأَجْلِهَا فَاللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَرْحَمُ مِنْهُ فَلْيَقْصِدِ الْعَاقِلُ لِحَاجَتِهِ مَنْ هُوَ أَشَدُّ لَهُ رَحْمَةً“Dan pada hadits ((Allah lebih sayang kepada hamba-hambaNya daripada ibu kepada anaknya)) ada isyarat hendaknya seseorang menjadikan ketergantungannya dalam segala urusannya hanya kepada Allah. Kalau seandainya ada siapapun yang memiliki rahmat tertentu yang dicari dan dituju maka Allah tentu lebih rahmat daripadanya. Maka seorang yang berakal hendaknya mencari hajatnya kepada Dzat yang paling sayang kepadanya” (Fathul Baari 10/431)Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, walillahil hamd.Di hari yang indah ini terbarkanlah rahmat di antara para hamba niscaya kalian akan meraih rahmat dan kasih sayang Allah. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabdaإِنَّمَا يَرْحَمُ اللهُ مِنْ عِبَادِهِ الرُّحَمَاءَSesungguhnya Allah hanya menyayangi hamba-hambaNya yang penyayang (HR At-Thobrooni dalam al-Mu’jam al-Kabiir, dan dihasankan oleh Syaikh Albani dalam shahih Al-Jaami’ no 2377)Rasulullah juga bersabdaالرَّاحِمُوْنَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمَانُ، اِرْحَمُوا مَنْ فِي الأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ“Para pengasih dan penyayang dikasihi dan di sayang oleh Ar-Rahmaan (Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang-pen), rahmatilah yang ada di bumi niscaya kalian akan dirahmati oleh Dzat yagn ada di langit” (HR Abu Dawud no 4941 dan At-Thirmidzi no 1924 dan dishahihkan oleh Syaikh Albani dalam as-Shahihah no 925)Kasihilah anak yatim, para janda yang kesusahan, kaum dhu’afaa dan fuqoroo, cari mereka dan santunilah mereka.Jika menebarkan rahmat kepada yang jauh saja dianjurkan maka terlebih lagi rahmat kepada orang-orang terdekat, kepada kedua orang tua dan kerabat. Jika ada diantara kita yang masih bermusuhan di antara kerabat maka sudah tiba saatnya untuk menebarkan rahmat, untuk mengangkat ego dan membuangnya sejauh-jauhnya, semuanya kita lakukan agar kita meraih rahmat Allah dan keridoanNya.Taqobbalallahu minnaa wa minkum, semoga Allah menerima amal ibadah kami dan kalian…============ doa =============

Hakekat Maqam Ibrahim

Ada Apa dengan Maqam Ibrahim? Bisa dijelaskan seperti aapakah hakekat maqam Ibrahim itu? Jawab: Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Maqam Ibrahim disebutkan 2 kali dalam al-Quran, [1] di surat al-Baqarah – perintah untuk menjadikan maqam Ibrahim sebagai tempat shalat, وَإِذْ جَعَلْنَا الْبَيْتَ مَثَابَةً لِلنَّاسِ وَأَمْنًا وَاتَّخِذُوا مِنْ مَقَامِ إِبْرَاهِيمَ مُصَلًّى (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah itu (Baitullah) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman. Dan jadikanlah sebahagian maqam Ibrahim tempat shalat. (QS. al-Baqarah: 125) [2] di surat Ali Imran – bercerita tentang keutamaan Ka’bah dan kota Mekah, إِنَّ أَوَّلَ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِي بِبَكَّةَ مُبَارَكًا وَهُدًى لِلْعَالَمِينَ ( ) فِيهِ آَيَاتٌ بَيِّنَاتٌ مَقَامُ إِبْرَاهِيمَ وَمَنْ دَخَلَهُ كَانَ آَمِنًا “Sesungguhnya rumah yang awal mula dibangun untuk (tempat beribadat) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia. ( ) Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim; barangsiapa memasukinya (Baitullah itu) maka dia aman. (QS. Ali Imran: 96-97) Apa itu Maqam Ibrahim? Kita simak beberapa keterangan ulama berikut, [1] Keterangan al-Hafidz Ibnu Katsir dalam al-Bidayah wa an-Nihayah, الحجر الذي كان يقف عليه لما ارتفع البناء عن قامته فوضع له ولده هذا الحجر المشهور ليرتفع عليه لما تعالى البناء … وقد كانت آثار قدمي الخليل عليه السلام باقية في الصخرة إلى أول الإسلام Itulah batu yang dipakai pijakan Ibrahim ketika beliau meninggikan bangunan ka’bah dari pondasinya. Putranya meletakkan batu ini, agar beliau naiki ketika meninggikan bangunan ka’bah… bekas telapak kaki al-Khalil Ibrahim ‘alaihis salam masih ada di batu itu hingga awal islam (zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam).. (al-Bidayah wa an-Nihayah, 1/163). [2] al-Hafidz Ibnu Hajar mengatakan, الْمُرَاد بِمَقَامِ إِبْرَاهِيم الْحَجَر الَّذِي فِيهِ أَثَر قَدَمَيْهِ Yang dimaksud maqam Ibrahim adalah batu yang ada bekas telapak kedua kaki Ibrahim. [3] Keterangan Ibnu Katsir وكانت آثار قدميه ظاهرة فيه ولم يزل هذا معروفا تعرفه العرب في جاهليتها ، وقد أدرك المسلمون ذلك فيه أيضا ، كما قال أنس بن مالك : رأيت المقام فيه أصابعه عليه السلام وأخمص قدميه . غير أنه أذهبه مسح الناس بأيديهم Bekas telapak kedua kaki beliau sangat nampak. Dan bekas itu tetap ada dan masyarakat jahiliyah sangat mengenalnya. Kaum muslimin juga menjumpai bekas kaki itu, sebagaimana yang dinyatakan Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ‘Aku melihat di maqam Ibrahim ada bekas jari-jari kaki beliau ‘alaihis salam dan juga lekukan kaki beliau. Hanya saja, usapan tangan manusia membuat bekas itu bertahap menghilang.’ Ibnu Katsir juga menyebutkan keterangan dari Qatadah, ولقد ذَكَرَ لنا من رأى أثر عقبه وأصابعه فيه فما زالت هذه الأمة يمسحونه حتى انمحى Orang yang pernah melihat bekas telapak kaki dan jari-jari kaki telah menceritakan kepada kami keberadaannya. Namun umat ini selalu mengusapnya hingga bekas itu menghilang.. (Tafsir Ibnu Katsir, 1/117) Dari keterangan di atas bisa kita simpulkan, bahwa: Maqam Ibrahim adalah sesuatu yang riil adanya, dan bukan lambang sesuatu. Maqam Ibrahim adalah tempat berdirinya Ibrahim ketika meninggikan ka’bah. Di masa silam bekas telapak kaki itu kelihatan, bahkan sampai bekas jarinya. Bekas telapak kaki dan jari kaki itu telah menghilang karena sering diusap manusia. Terlihat Relief telapak kaki di batu Maqam Ibrahim Jika kita perhatikan foto-foto maqam ibrahim, terlihat relief bekas kaki di maqam Ibrahim. Bukankah itu sudah hilang? Betul bahwa sebenarnya bekas itu sudah hilang, namun ada kemungkinan dipahat lagi, sehingga terbentuk relief telapak kaki. Imam Ibnu Utsaimin menjelaskan, لا شك أن مقام إبراهيم ثابت وأن هذا الذي بني عليه الزجاج هو مقام إبراهيم ، لكن الحفر الذي فيه لا يظهر أنها أثر القدمين ، لأن المعروف من الناحية التاريخية أن أثر القدمين قد زال منذ أزمنة متطاولة ، ولكن حفرت هذه أو وضعت للعلامة فقط Kita meyakini bahwa maqam Ibrahim adalah sesuatu yang riil. Yang ditutup dengan kaca, itulah maqam Ibrahim. Namun cekungan, nampaknya bukan bekas kedua kaki. Karena info yang makruf dari sisi sejarah bahwa bekas telapak kaki Ibrahim telah hilang sejak masa silam.. namun dipahat ulang atau dibuat tandanya saja. Demikian, Allahu a’lam. Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. SPONSOR hubungi: 081 326 333 328 DONASI hubungi: 087 882 888 727 REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK 🔍 Cara Melihat Makhluk Halus Secara Islam, Ya Juj, Ahli Kitab Dalam Al Quran, Cara Biar Mimpi Basah, Contoh Tabligh Tentang Puasa, Kitab Zabur Yang Asli Visited 124 times, 1 visit(s) today Post Views: 394 QRIS donasi Yufid

Hakekat Maqam Ibrahim

Ada Apa dengan Maqam Ibrahim? Bisa dijelaskan seperti aapakah hakekat maqam Ibrahim itu? Jawab: Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Maqam Ibrahim disebutkan 2 kali dalam al-Quran, [1] di surat al-Baqarah – perintah untuk menjadikan maqam Ibrahim sebagai tempat shalat, وَإِذْ جَعَلْنَا الْبَيْتَ مَثَابَةً لِلنَّاسِ وَأَمْنًا وَاتَّخِذُوا مِنْ مَقَامِ إِبْرَاهِيمَ مُصَلًّى (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah itu (Baitullah) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman. Dan jadikanlah sebahagian maqam Ibrahim tempat shalat. (QS. al-Baqarah: 125) [2] di surat Ali Imran – bercerita tentang keutamaan Ka’bah dan kota Mekah, إِنَّ أَوَّلَ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِي بِبَكَّةَ مُبَارَكًا وَهُدًى لِلْعَالَمِينَ ( ) فِيهِ آَيَاتٌ بَيِّنَاتٌ مَقَامُ إِبْرَاهِيمَ وَمَنْ دَخَلَهُ كَانَ آَمِنًا “Sesungguhnya rumah yang awal mula dibangun untuk (tempat beribadat) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia. ( ) Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim; barangsiapa memasukinya (Baitullah itu) maka dia aman. (QS. Ali Imran: 96-97) Apa itu Maqam Ibrahim? Kita simak beberapa keterangan ulama berikut, [1] Keterangan al-Hafidz Ibnu Katsir dalam al-Bidayah wa an-Nihayah, الحجر الذي كان يقف عليه لما ارتفع البناء عن قامته فوضع له ولده هذا الحجر المشهور ليرتفع عليه لما تعالى البناء … وقد كانت آثار قدمي الخليل عليه السلام باقية في الصخرة إلى أول الإسلام Itulah batu yang dipakai pijakan Ibrahim ketika beliau meninggikan bangunan ka’bah dari pondasinya. Putranya meletakkan batu ini, agar beliau naiki ketika meninggikan bangunan ka’bah… bekas telapak kaki al-Khalil Ibrahim ‘alaihis salam masih ada di batu itu hingga awal islam (zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam).. (al-Bidayah wa an-Nihayah, 1/163). [2] al-Hafidz Ibnu Hajar mengatakan, الْمُرَاد بِمَقَامِ إِبْرَاهِيم الْحَجَر الَّذِي فِيهِ أَثَر قَدَمَيْهِ Yang dimaksud maqam Ibrahim adalah batu yang ada bekas telapak kedua kaki Ibrahim. [3] Keterangan Ibnu Katsir وكانت آثار قدميه ظاهرة فيه ولم يزل هذا معروفا تعرفه العرب في جاهليتها ، وقد أدرك المسلمون ذلك فيه أيضا ، كما قال أنس بن مالك : رأيت المقام فيه أصابعه عليه السلام وأخمص قدميه . غير أنه أذهبه مسح الناس بأيديهم Bekas telapak kedua kaki beliau sangat nampak. Dan bekas itu tetap ada dan masyarakat jahiliyah sangat mengenalnya. Kaum muslimin juga menjumpai bekas kaki itu, sebagaimana yang dinyatakan Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ‘Aku melihat di maqam Ibrahim ada bekas jari-jari kaki beliau ‘alaihis salam dan juga lekukan kaki beliau. Hanya saja, usapan tangan manusia membuat bekas itu bertahap menghilang.’ Ibnu Katsir juga menyebutkan keterangan dari Qatadah, ولقد ذَكَرَ لنا من رأى أثر عقبه وأصابعه فيه فما زالت هذه الأمة يمسحونه حتى انمحى Orang yang pernah melihat bekas telapak kaki dan jari-jari kaki telah menceritakan kepada kami keberadaannya. Namun umat ini selalu mengusapnya hingga bekas itu menghilang.. (Tafsir Ibnu Katsir, 1/117) Dari keterangan di atas bisa kita simpulkan, bahwa: Maqam Ibrahim adalah sesuatu yang riil adanya, dan bukan lambang sesuatu. Maqam Ibrahim adalah tempat berdirinya Ibrahim ketika meninggikan ka’bah. Di masa silam bekas telapak kaki itu kelihatan, bahkan sampai bekas jarinya. Bekas telapak kaki dan jari kaki itu telah menghilang karena sering diusap manusia. Terlihat Relief telapak kaki di batu Maqam Ibrahim Jika kita perhatikan foto-foto maqam ibrahim, terlihat relief bekas kaki di maqam Ibrahim. Bukankah itu sudah hilang? Betul bahwa sebenarnya bekas itu sudah hilang, namun ada kemungkinan dipahat lagi, sehingga terbentuk relief telapak kaki. Imam Ibnu Utsaimin menjelaskan, لا شك أن مقام إبراهيم ثابت وأن هذا الذي بني عليه الزجاج هو مقام إبراهيم ، لكن الحفر الذي فيه لا يظهر أنها أثر القدمين ، لأن المعروف من الناحية التاريخية أن أثر القدمين قد زال منذ أزمنة متطاولة ، ولكن حفرت هذه أو وضعت للعلامة فقط Kita meyakini bahwa maqam Ibrahim adalah sesuatu yang riil. Yang ditutup dengan kaca, itulah maqam Ibrahim. Namun cekungan, nampaknya bukan bekas kedua kaki. Karena info yang makruf dari sisi sejarah bahwa bekas telapak kaki Ibrahim telah hilang sejak masa silam.. namun dipahat ulang atau dibuat tandanya saja. Demikian, Allahu a’lam. Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. SPONSOR hubungi: 081 326 333 328 DONASI hubungi: 087 882 888 727 REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK 🔍 Cara Melihat Makhluk Halus Secara Islam, Ya Juj, Ahli Kitab Dalam Al Quran, Cara Biar Mimpi Basah, Contoh Tabligh Tentang Puasa, Kitab Zabur Yang Asli Visited 124 times, 1 visit(s) today Post Views: 394 QRIS donasi Yufid
Ada Apa dengan Maqam Ibrahim? Bisa dijelaskan seperti aapakah hakekat maqam Ibrahim itu? Jawab: Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Maqam Ibrahim disebutkan 2 kali dalam al-Quran, [1] di surat al-Baqarah – perintah untuk menjadikan maqam Ibrahim sebagai tempat shalat, وَإِذْ جَعَلْنَا الْبَيْتَ مَثَابَةً لِلنَّاسِ وَأَمْنًا وَاتَّخِذُوا مِنْ مَقَامِ إِبْرَاهِيمَ مُصَلًّى (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah itu (Baitullah) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman. Dan jadikanlah sebahagian maqam Ibrahim tempat shalat. (QS. al-Baqarah: 125) [2] di surat Ali Imran – bercerita tentang keutamaan Ka’bah dan kota Mekah, إِنَّ أَوَّلَ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِي بِبَكَّةَ مُبَارَكًا وَهُدًى لِلْعَالَمِينَ ( ) فِيهِ آَيَاتٌ بَيِّنَاتٌ مَقَامُ إِبْرَاهِيمَ وَمَنْ دَخَلَهُ كَانَ آَمِنًا “Sesungguhnya rumah yang awal mula dibangun untuk (tempat beribadat) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia. ( ) Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim; barangsiapa memasukinya (Baitullah itu) maka dia aman. (QS. Ali Imran: 96-97) Apa itu Maqam Ibrahim? Kita simak beberapa keterangan ulama berikut, [1] Keterangan al-Hafidz Ibnu Katsir dalam al-Bidayah wa an-Nihayah, الحجر الذي كان يقف عليه لما ارتفع البناء عن قامته فوضع له ولده هذا الحجر المشهور ليرتفع عليه لما تعالى البناء … وقد كانت آثار قدمي الخليل عليه السلام باقية في الصخرة إلى أول الإسلام Itulah batu yang dipakai pijakan Ibrahim ketika beliau meninggikan bangunan ka’bah dari pondasinya. Putranya meletakkan batu ini, agar beliau naiki ketika meninggikan bangunan ka’bah… bekas telapak kaki al-Khalil Ibrahim ‘alaihis salam masih ada di batu itu hingga awal islam (zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam).. (al-Bidayah wa an-Nihayah, 1/163). [2] al-Hafidz Ibnu Hajar mengatakan, الْمُرَاد بِمَقَامِ إِبْرَاهِيم الْحَجَر الَّذِي فِيهِ أَثَر قَدَمَيْهِ Yang dimaksud maqam Ibrahim adalah batu yang ada bekas telapak kedua kaki Ibrahim. [3] Keterangan Ibnu Katsir وكانت آثار قدميه ظاهرة فيه ولم يزل هذا معروفا تعرفه العرب في جاهليتها ، وقد أدرك المسلمون ذلك فيه أيضا ، كما قال أنس بن مالك : رأيت المقام فيه أصابعه عليه السلام وأخمص قدميه . غير أنه أذهبه مسح الناس بأيديهم Bekas telapak kedua kaki beliau sangat nampak. Dan bekas itu tetap ada dan masyarakat jahiliyah sangat mengenalnya. Kaum muslimin juga menjumpai bekas kaki itu, sebagaimana yang dinyatakan Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ‘Aku melihat di maqam Ibrahim ada bekas jari-jari kaki beliau ‘alaihis salam dan juga lekukan kaki beliau. Hanya saja, usapan tangan manusia membuat bekas itu bertahap menghilang.’ Ibnu Katsir juga menyebutkan keterangan dari Qatadah, ولقد ذَكَرَ لنا من رأى أثر عقبه وأصابعه فيه فما زالت هذه الأمة يمسحونه حتى انمحى Orang yang pernah melihat bekas telapak kaki dan jari-jari kaki telah menceritakan kepada kami keberadaannya. Namun umat ini selalu mengusapnya hingga bekas itu menghilang.. (Tafsir Ibnu Katsir, 1/117) Dari keterangan di atas bisa kita simpulkan, bahwa: Maqam Ibrahim adalah sesuatu yang riil adanya, dan bukan lambang sesuatu. Maqam Ibrahim adalah tempat berdirinya Ibrahim ketika meninggikan ka’bah. Di masa silam bekas telapak kaki itu kelihatan, bahkan sampai bekas jarinya. Bekas telapak kaki dan jari kaki itu telah menghilang karena sering diusap manusia. Terlihat Relief telapak kaki di batu Maqam Ibrahim Jika kita perhatikan foto-foto maqam ibrahim, terlihat relief bekas kaki di maqam Ibrahim. Bukankah itu sudah hilang? Betul bahwa sebenarnya bekas itu sudah hilang, namun ada kemungkinan dipahat lagi, sehingga terbentuk relief telapak kaki. Imam Ibnu Utsaimin menjelaskan, لا شك أن مقام إبراهيم ثابت وأن هذا الذي بني عليه الزجاج هو مقام إبراهيم ، لكن الحفر الذي فيه لا يظهر أنها أثر القدمين ، لأن المعروف من الناحية التاريخية أن أثر القدمين قد زال منذ أزمنة متطاولة ، ولكن حفرت هذه أو وضعت للعلامة فقط Kita meyakini bahwa maqam Ibrahim adalah sesuatu yang riil. Yang ditutup dengan kaca, itulah maqam Ibrahim. Namun cekungan, nampaknya bukan bekas kedua kaki. Karena info yang makruf dari sisi sejarah bahwa bekas telapak kaki Ibrahim telah hilang sejak masa silam.. namun dipahat ulang atau dibuat tandanya saja. Demikian, Allahu a’lam. Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. SPONSOR hubungi: 081 326 333 328 DONASI hubungi: 087 882 888 727 REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK 🔍 Cara Melihat Makhluk Halus Secara Islam, Ya Juj, Ahli Kitab Dalam Al Quran, Cara Biar Mimpi Basah, Contoh Tabligh Tentang Puasa, Kitab Zabur Yang Asli Visited 124 times, 1 visit(s) today Post Views: 394 QRIS donasi Yufid


<iframe src="https://w.soundcloud.com/player/?url=https%3A//api.soundcloud.com/tracks/469213194&amp;color=d5265f&amp;auto_play=false&amp;show_artwork=false&amp;hide_related=true&amp;show_comments=false&amp;show_user=false&amp;show_reposts=false" width="100%" height="166" frameborder="no" scrolling="no"></iframe> Ada Apa dengan Maqam Ibrahim? Bisa dijelaskan seperti aapakah hakekat maqam Ibrahim itu? Jawab: Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Maqam Ibrahim disebutkan 2 kali dalam al-Quran, [1] di surat al-Baqarah – perintah untuk menjadikan maqam Ibrahim sebagai tempat shalat, وَإِذْ جَعَلْنَا الْبَيْتَ مَثَابَةً لِلنَّاسِ وَأَمْنًا وَاتَّخِذُوا مِنْ مَقَامِ إِبْرَاهِيمَ مُصَلًّى (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah itu (Baitullah) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman. Dan jadikanlah sebahagian maqam Ibrahim tempat shalat. (QS. al-Baqarah: 125) [2] di surat Ali Imran – bercerita tentang keutamaan Ka’bah dan kota Mekah, إِنَّ أَوَّلَ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِي بِبَكَّةَ مُبَارَكًا وَهُدًى لِلْعَالَمِينَ ( ) فِيهِ آَيَاتٌ بَيِّنَاتٌ مَقَامُ إِبْرَاهِيمَ وَمَنْ دَخَلَهُ كَانَ آَمِنًا “Sesungguhnya rumah yang awal mula dibangun untuk (tempat beribadat) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia. ( ) Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim; barangsiapa memasukinya (Baitullah itu) maka dia aman. (QS. Ali Imran: 96-97) Apa itu Maqam Ibrahim? Kita simak beberapa keterangan ulama berikut, [1] Keterangan al-Hafidz Ibnu Katsir dalam al-Bidayah wa an-Nihayah, الحجر الذي كان يقف عليه لما ارتفع البناء عن قامته فوضع له ولده هذا الحجر المشهور ليرتفع عليه لما تعالى البناء … وقد كانت آثار قدمي الخليل عليه السلام باقية في الصخرة إلى أول الإسلام Itulah batu yang dipakai pijakan Ibrahim ketika beliau meninggikan bangunan ka’bah dari pondasinya. Putranya meletakkan batu ini, agar beliau naiki ketika meninggikan bangunan ka’bah… bekas telapak kaki al-Khalil Ibrahim ‘alaihis salam masih ada di batu itu hingga awal islam (zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam).. (al-Bidayah wa an-Nihayah, 1/163). [2] al-Hafidz Ibnu Hajar mengatakan, الْمُرَاد بِمَقَامِ إِبْرَاهِيم الْحَجَر الَّذِي فِيهِ أَثَر قَدَمَيْهِ Yang dimaksud maqam Ibrahim adalah batu yang ada bekas telapak kedua kaki Ibrahim. [3] Keterangan Ibnu Katsir وكانت آثار قدميه ظاهرة فيه ولم يزل هذا معروفا تعرفه العرب في جاهليتها ، وقد أدرك المسلمون ذلك فيه أيضا ، كما قال أنس بن مالك : رأيت المقام فيه أصابعه عليه السلام وأخمص قدميه . غير أنه أذهبه مسح الناس بأيديهم Bekas telapak kedua kaki beliau sangat nampak. Dan bekas itu tetap ada dan masyarakat jahiliyah sangat mengenalnya. Kaum muslimin juga menjumpai bekas kaki itu, sebagaimana yang dinyatakan Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ‘Aku melihat di maqam Ibrahim ada bekas jari-jari kaki beliau ‘alaihis salam dan juga lekukan kaki beliau. Hanya saja, usapan tangan manusia membuat bekas itu bertahap menghilang.’ Ibnu Katsir juga menyebutkan keterangan dari Qatadah, ولقد ذَكَرَ لنا من رأى أثر عقبه وأصابعه فيه فما زالت هذه الأمة يمسحونه حتى انمحى Orang yang pernah melihat bekas telapak kaki dan jari-jari kaki telah menceritakan kepada kami keberadaannya. Namun umat ini selalu mengusapnya hingga bekas itu menghilang.. (Tafsir Ibnu Katsir, 1/117) Dari keterangan di atas bisa kita simpulkan, bahwa: Maqam Ibrahim adalah sesuatu yang riil adanya, dan bukan lambang sesuatu. Maqam Ibrahim adalah tempat berdirinya Ibrahim ketika meninggikan ka’bah. Di masa silam bekas telapak kaki itu kelihatan, bahkan sampai bekas jarinya. Bekas telapak kaki dan jari kaki itu telah menghilang karena sering diusap manusia. Terlihat Relief telapak kaki di batu Maqam Ibrahim Jika kita perhatikan foto-foto maqam ibrahim, terlihat relief bekas kaki di maqam Ibrahim. Bukankah itu sudah hilang? Betul bahwa sebenarnya bekas itu sudah hilang, namun ada kemungkinan dipahat lagi, sehingga terbentuk relief telapak kaki. Imam Ibnu Utsaimin menjelaskan, لا شك أن مقام إبراهيم ثابت وأن هذا الذي بني عليه الزجاج هو مقام إبراهيم ، لكن الحفر الذي فيه لا يظهر أنها أثر القدمين ، لأن المعروف من الناحية التاريخية أن أثر القدمين قد زال منذ أزمنة متطاولة ، ولكن حفرت هذه أو وضعت للعلامة فقط Kita meyakini bahwa maqam Ibrahim adalah sesuatu yang riil. Yang ditutup dengan kaca, itulah maqam Ibrahim. Namun cekungan, nampaknya bukan bekas kedua kaki. Karena info yang makruf dari sisi sejarah bahwa bekas telapak kaki Ibrahim telah hilang sejak masa silam.. namun dipahat ulang atau dibuat tandanya saja. Demikian, Allahu a’lam. Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. SPONSOR hubungi: 081 326 333 328 DONASI hubungi: 087 882 888 727 REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK 🔍 Cara Melihat Makhluk Halus Secara Islam, Ya Juj, Ahli Kitab Dalam Al Quran, Cara Biar Mimpi Basah, Contoh Tabligh Tentang Puasa, Kitab Zabur Yang Asli Visited 124 times, 1 visit(s) today Post Views: 394 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Keutamaan Menjawab Adzan yang Mungkin Tidak Anda Sadari

Keutamaan Menjawab Adzan yang Mungkin Tidak Anda Sadari Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Menjawab adzan, ternyata bukan amal yang nilainya ringan. Sekalipun hanya mengucapkan seperti yang diucapkan muadzin, namun islam menghargainya sebagai amal besar. Ada banyak sekali keutamaan amalan sederhana ini, berikut diantaranya, [1] Menjadi saksi kebaikan Dari Abu Said al-Khudri Radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ يَسْمَعُ مَدَى صَوْتِ الْمُؤَذِّنِ جِنٌّ وَلاَ إِنْسٌ وَلاَ شَىْءٌ إِلاَّ شَهِدَ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ “Tidaklah suara azan yang keras dari yang mengumandangkan azan didengar oleh jin, manusia, segala sesuatu yang mendegarnya melainkan itu semua akan menjadi saksi pada hari kiamat.” (HR. Bukhari 609). Hadis ini menunjukkan keutamaan orang yang mengumandangkan adzan. Dan sekaligus mereka yang mendengar adzan dijadikan Allah sebagai saksi kebaikannya. [2] Menjawab adzan karena dorongan keyakinan hati, akan mengantarkan menuju surga. Dari Umar bin Khatab Radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda, إِذَا قَالَ الْمُؤَذِّنُ: اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، فَقَالَ أَحَدُكُمْ: اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، ثُمَّ قَالَ: أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، قَالَ: أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، ثُمَّ قَالَ: أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ قَالَ: أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ، ثُمَّ قَالَ: حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ، قَالَ: لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ، ثُمَّ قَالَ: حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ، قَالَ: لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ، ثُمَّ قَالَ: اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، قَالَ: اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، ثُمَّ قَالَ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، قَالَ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ مِنْ قَلْبِهِ دَخَلَ الْجَنَّةَ “ Ketika muadzin mengumandangkan, Allahu akbar.. Allahu akbar Lalu kalian menjawab: Allahu akbar.. Allahu akbar Kemudian muadzin mengumandangkan, Asyhadu anlaa ilaaha illallaah.. Lalu kalian menjawab, Asyhadu anlaa ilaaha illallaah.. dst… hingga akhir adzan siapa yang mengucapkan itu dari dalam hatinya maka akan masuk surga. (HR. Muslim 385, Abu Daud 527 dan yang lainnya). [3] Dengan menjawab adzan, Allah akan mengampuni dosa kita Dari Sa’d bin Abi Waqqash Radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ قَالَ حِينَ يَسْمَعُ الْمُؤَذِّنَ: وَأَنَا أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلا اللهُ، وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، رَضِيتُ  بِاللهِ رَبًّا وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولًا، وَبِالْإِسْلامِ دِينًا، غُفِرَ لَهُ ذَنْبُهُ Barangsiapa yang ketika mendengar adzan dia mengucapkan, وَأَنَا أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلا اللهُ، وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، رَضِيتُ  بِاللهِ رَبًّا وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولًا، وَبِالْإِسْلامِ دِينًا Saya juga bersaksi bahwasanya tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tiada seukut baginya, dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, aku ridha Allah sebagai Rabku, Muhamamd  sebagai Rasul, dan Islam sebagai agamaku. Siapa yang mengucapkan itu maka dosa-dosanya akan diampuni. (HR. Ahmad 1565, Muslim 386 dan yang lainnya) [4] Siapa yang menjawab adzan, lalu membaca shalawat sekali maka Allah akan memberi shalawat baginya 10 kali. Dari Abdullah bin Amr bin Ash radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِذَا سَمِعْتُمْ الْمُؤَذِّنَ فَقُولُوامِثْلَ مَا يَقُولُ ، ثُمَّ صَلُّوا عَلَيَّ ، فَإِنَّهُ مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلاةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا “Apabila kalian mendengar muadzin, jawablah adzannya. Kemduian bacalah shalawat untukku. Karena orang yang membaca shalawat untukku sekali maka Allah akan memberikan shalawat untuknya 10 kali.” (HR. Muslim 384) Menurut Abul Aliyah – seorang ulama tabiin – bahwa makna dari shalawat Allah kepada makhluk-Nya adalah pujian Allah untuk makhluk tersebut di hadapan para malaikatNya. (HR. Bukhari) [5] Menjawab adzan, lalu memohon wasilah untuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam maka dia berhak mendapat syafaat beliau. Lanjutan hadis dari Abdullah bin Amr bin Ash Radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ثُمَّ سَلُوا اللهَ لِيَ الْوَسِيلَةَ، فَإِنَّهَا مَنْزِلَةٌ فِي الْجَنَّةِ، لَا تَنْبَغِي إِلَّا لِعَبْدٍ مِنْ عِبَادِ اللهِ، وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ أَنَا هُوَ، فَمَنْ سَأَلَ لِي الْوَسِيلَةَ حَلَّتْ لَهُ الشَّفَاعَةُ – Setelah menjawab adzan –  kemudian mintalah wasilah kepada Allah untukku. Wasilah adalah satu kedudukan di surga, yang tidak akan ditempati kecuali oleh salah seorang dari para hamba Allah. Dan saya berharap, saya-lah yang mendudukinya. Siapa yang memohon kepada Allah wasilah untukku maka halal baginya syafaatku. (HR. Muslim 384) Permohonan wasilah ini kita baca dalam doa seusai menjawab adzan, اللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ ، وَالصَّلاَةِ القَائِمَةِ آتِ مُحَمَّدًا الوَسِيلَةَ وَالفَضِيلَةَ… “Ya Allâh! Saya memohon kepada-Mu dengan perantara hak do’a yang sempurna ini serta shalat yang ditegakkan ini, berilah wasilah (derajat di surga) dan keutamaan kepada Nabi Muhammad.…” [6] Menjawab adzan, lalu memohon agar Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendapatkan maqam mahmud, kita berhak mendapat syafaat. Dari Jabir bin Abdillah Radhiyallahu ‘anhuma, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Siapa mendengarkan adzan, lalu dia membaca doa, اللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ ، وَالصَّلاَةِ القَائِمَةِ آتِ مُحَمَّدًا الوَسِيلَةَ وَالفَضِيلَةَ، وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُودًا الَّذِي وَعَدْتَهُ “Ya Allâh! Saya memohon kepada-Mu dengan perantara hak do’a yang sempurna ini serta shalat yang ditegakkan ini, berilah wasilah (derajat di surga) dan keutamaan kepada Nabi Muhammad. Dan tunjuklah beliau sehingga bisa menempati maqam terpuji yang telah Engkau janjikan…” Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, siapa yang membaca doa setelah adzan maka إِلَّا حَلَّتْ لَهُ الشَّفَاعَةُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ Halal baginya syafaat pada hari kiamat. (HR. Bukhari 614, Ahmad 14817 dan yang lainnya) Yang dimaksud maqam mahmud adalah syafaat udzma (terbesar) ketika di padang mahsyar. Sehingga ada 3 hal yang kita lakukan ketika adzan, Menjawab adzab, dengan mengikuti seperti ucapan muadzin Membaca shalawat setelah menjawab adzan Membaca doa setelah adzan. [7] Surga bagi orang yang menjawab adzan dengan penuh keyakinan Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, beliau bercerita, Kami pernah bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu Bilal mengumandangkan adzan. Ketika beliau sudah selesai, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ قَالَ مِثْلَ مَا قَالَ هَذَا يَقِينًا، دَخَلَ الْجَنَّةَ “Siapa yang mengucapkan seperti yang dilantunkan orang ini – Bilal – dengan yakin maka dia akan masuk surga. (HR. Ahmad 8624, Nasai 674 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth) [8] Doa orang yang menjawab adzab, mustajab Dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘anhuma, beliau bercerita, Ada seseorang yang bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Ya Rasulullah, para muadzin mengalahkan kami dalam menggapai keutamaan.. Kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, قُلْ كَمَا يَقُولُونَ فَإِذَا انْتَهَيْتَ فَسَلْ تُعْطَهْ Ucapkan seperti yang diucapkan muadzin, jika kamu telah selesai, berdoalah maka kamu akan diberi. (HR. Abu Daud 524, Ibn Hibban 1695 dan dihasankan Syuaib al-Arnauth) Sungguh, janji pahala yang luar biasa.. sangat disayangkan jika kita menyia-nyiakannya.. Bersabarlah sesaat ketika ada adzan dikumandangkan, dan jawab adzan itu penuh keyakinan, lanjutkan dengan berdoa kepada Allah.. semoga Allah menggolongkan kita sebagi ahli surga., amiin.. Demikian, Allahu a’lam. KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. SPONSOR hubungi: 081 326 333 328 DONASI hubungi: 087 882 888 727 REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORk 🔍 Hadits Tentang Nisfu Sya'ban, Sholat Dhuha Jam, Cara Mengobati Orang Kerasukan Jin, Maulid Nabi Bid'ah, Apa Hukum Pacaran, Qunut Nazilah Corona Visited 2,143 times, 15 visit(s) today Post Views: 875 QRIS donasi Yufid

Keutamaan Menjawab Adzan yang Mungkin Tidak Anda Sadari

Keutamaan Menjawab Adzan yang Mungkin Tidak Anda Sadari Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Menjawab adzan, ternyata bukan amal yang nilainya ringan. Sekalipun hanya mengucapkan seperti yang diucapkan muadzin, namun islam menghargainya sebagai amal besar. Ada banyak sekali keutamaan amalan sederhana ini, berikut diantaranya, [1] Menjadi saksi kebaikan Dari Abu Said al-Khudri Radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ يَسْمَعُ مَدَى صَوْتِ الْمُؤَذِّنِ جِنٌّ وَلاَ إِنْسٌ وَلاَ شَىْءٌ إِلاَّ شَهِدَ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ “Tidaklah suara azan yang keras dari yang mengumandangkan azan didengar oleh jin, manusia, segala sesuatu yang mendegarnya melainkan itu semua akan menjadi saksi pada hari kiamat.” (HR. Bukhari 609). Hadis ini menunjukkan keutamaan orang yang mengumandangkan adzan. Dan sekaligus mereka yang mendengar adzan dijadikan Allah sebagai saksi kebaikannya. [2] Menjawab adzan karena dorongan keyakinan hati, akan mengantarkan menuju surga. Dari Umar bin Khatab Radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda, إِذَا قَالَ الْمُؤَذِّنُ: اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، فَقَالَ أَحَدُكُمْ: اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، ثُمَّ قَالَ: أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، قَالَ: أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، ثُمَّ قَالَ: أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ قَالَ: أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ، ثُمَّ قَالَ: حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ، قَالَ: لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ، ثُمَّ قَالَ: حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ، قَالَ: لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ، ثُمَّ قَالَ: اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، قَالَ: اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، ثُمَّ قَالَ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، قَالَ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ مِنْ قَلْبِهِ دَخَلَ الْجَنَّةَ “ Ketika muadzin mengumandangkan, Allahu akbar.. Allahu akbar Lalu kalian menjawab: Allahu akbar.. Allahu akbar Kemudian muadzin mengumandangkan, Asyhadu anlaa ilaaha illallaah.. Lalu kalian menjawab, Asyhadu anlaa ilaaha illallaah.. dst… hingga akhir adzan siapa yang mengucapkan itu dari dalam hatinya maka akan masuk surga. (HR. Muslim 385, Abu Daud 527 dan yang lainnya). [3] Dengan menjawab adzan, Allah akan mengampuni dosa kita Dari Sa’d bin Abi Waqqash Radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ قَالَ حِينَ يَسْمَعُ الْمُؤَذِّنَ: وَأَنَا أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلا اللهُ، وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، رَضِيتُ  بِاللهِ رَبًّا وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولًا، وَبِالْإِسْلامِ دِينًا، غُفِرَ لَهُ ذَنْبُهُ Barangsiapa yang ketika mendengar adzan dia mengucapkan, وَأَنَا أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلا اللهُ، وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، رَضِيتُ  بِاللهِ رَبًّا وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولًا، وَبِالْإِسْلامِ دِينًا Saya juga bersaksi bahwasanya tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tiada seukut baginya, dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, aku ridha Allah sebagai Rabku, Muhamamd  sebagai Rasul, dan Islam sebagai agamaku. Siapa yang mengucapkan itu maka dosa-dosanya akan diampuni. (HR. Ahmad 1565, Muslim 386 dan yang lainnya) [4] Siapa yang menjawab adzan, lalu membaca shalawat sekali maka Allah akan memberi shalawat baginya 10 kali. Dari Abdullah bin Amr bin Ash radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِذَا سَمِعْتُمْ الْمُؤَذِّنَ فَقُولُوامِثْلَ مَا يَقُولُ ، ثُمَّ صَلُّوا عَلَيَّ ، فَإِنَّهُ مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلاةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا “Apabila kalian mendengar muadzin, jawablah adzannya. Kemduian bacalah shalawat untukku. Karena orang yang membaca shalawat untukku sekali maka Allah akan memberikan shalawat untuknya 10 kali.” (HR. Muslim 384) Menurut Abul Aliyah – seorang ulama tabiin – bahwa makna dari shalawat Allah kepada makhluk-Nya adalah pujian Allah untuk makhluk tersebut di hadapan para malaikatNya. (HR. Bukhari) [5] Menjawab adzan, lalu memohon wasilah untuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam maka dia berhak mendapat syafaat beliau. Lanjutan hadis dari Abdullah bin Amr bin Ash Radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ثُمَّ سَلُوا اللهَ لِيَ الْوَسِيلَةَ، فَإِنَّهَا مَنْزِلَةٌ فِي الْجَنَّةِ، لَا تَنْبَغِي إِلَّا لِعَبْدٍ مِنْ عِبَادِ اللهِ، وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ أَنَا هُوَ، فَمَنْ سَأَلَ لِي الْوَسِيلَةَ حَلَّتْ لَهُ الشَّفَاعَةُ – Setelah menjawab adzan –  kemudian mintalah wasilah kepada Allah untukku. Wasilah adalah satu kedudukan di surga, yang tidak akan ditempati kecuali oleh salah seorang dari para hamba Allah. Dan saya berharap, saya-lah yang mendudukinya. Siapa yang memohon kepada Allah wasilah untukku maka halal baginya syafaatku. (HR. Muslim 384) Permohonan wasilah ini kita baca dalam doa seusai menjawab adzan, اللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ ، وَالصَّلاَةِ القَائِمَةِ آتِ مُحَمَّدًا الوَسِيلَةَ وَالفَضِيلَةَ… “Ya Allâh! Saya memohon kepada-Mu dengan perantara hak do’a yang sempurna ini serta shalat yang ditegakkan ini, berilah wasilah (derajat di surga) dan keutamaan kepada Nabi Muhammad.…” [6] Menjawab adzan, lalu memohon agar Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendapatkan maqam mahmud, kita berhak mendapat syafaat. Dari Jabir bin Abdillah Radhiyallahu ‘anhuma, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Siapa mendengarkan adzan, lalu dia membaca doa, اللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ ، وَالصَّلاَةِ القَائِمَةِ آتِ مُحَمَّدًا الوَسِيلَةَ وَالفَضِيلَةَ، وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُودًا الَّذِي وَعَدْتَهُ “Ya Allâh! Saya memohon kepada-Mu dengan perantara hak do’a yang sempurna ini serta shalat yang ditegakkan ini, berilah wasilah (derajat di surga) dan keutamaan kepada Nabi Muhammad. Dan tunjuklah beliau sehingga bisa menempati maqam terpuji yang telah Engkau janjikan…” Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, siapa yang membaca doa setelah adzan maka إِلَّا حَلَّتْ لَهُ الشَّفَاعَةُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ Halal baginya syafaat pada hari kiamat. (HR. Bukhari 614, Ahmad 14817 dan yang lainnya) Yang dimaksud maqam mahmud adalah syafaat udzma (terbesar) ketika di padang mahsyar. Sehingga ada 3 hal yang kita lakukan ketika adzan, Menjawab adzab, dengan mengikuti seperti ucapan muadzin Membaca shalawat setelah menjawab adzan Membaca doa setelah adzan. [7] Surga bagi orang yang menjawab adzan dengan penuh keyakinan Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, beliau bercerita, Kami pernah bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu Bilal mengumandangkan adzan. Ketika beliau sudah selesai, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ قَالَ مِثْلَ مَا قَالَ هَذَا يَقِينًا، دَخَلَ الْجَنَّةَ “Siapa yang mengucapkan seperti yang dilantunkan orang ini – Bilal – dengan yakin maka dia akan masuk surga. (HR. Ahmad 8624, Nasai 674 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth) [8] Doa orang yang menjawab adzab, mustajab Dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘anhuma, beliau bercerita, Ada seseorang yang bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Ya Rasulullah, para muadzin mengalahkan kami dalam menggapai keutamaan.. Kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, قُلْ كَمَا يَقُولُونَ فَإِذَا انْتَهَيْتَ فَسَلْ تُعْطَهْ Ucapkan seperti yang diucapkan muadzin, jika kamu telah selesai, berdoalah maka kamu akan diberi. (HR. Abu Daud 524, Ibn Hibban 1695 dan dihasankan Syuaib al-Arnauth) Sungguh, janji pahala yang luar biasa.. sangat disayangkan jika kita menyia-nyiakannya.. Bersabarlah sesaat ketika ada adzan dikumandangkan, dan jawab adzan itu penuh keyakinan, lanjutkan dengan berdoa kepada Allah.. semoga Allah menggolongkan kita sebagi ahli surga., amiin.. Demikian, Allahu a’lam. KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. SPONSOR hubungi: 081 326 333 328 DONASI hubungi: 087 882 888 727 REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORk 🔍 Hadits Tentang Nisfu Sya'ban, Sholat Dhuha Jam, Cara Mengobati Orang Kerasukan Jin, Maulid Nabi Bid'ah, Apa Hukum Pacaran, Qunut Nazilah Corona Visited 2,143 times, 15 visit(s) today Post Views: 875 QRIS donasi Yufid
Keutamaan Menjawab Adzan yang Mungkin Tidak Anda Sadari Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Menjawab adzan, ternyata bukan amal yang nilainya ringan. Sekalipun hanya mengucapkan seperti yang diucapkan muadzin, namun islam menghargainya sebagai amal besar. Ada banyak sekali keutamaan amalan sederhana ini, berikut diantaranya, [1] Menjadi saksi kebaikan Dari Abu Said al-Khudri Radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ يَسْمَعُ مَدَى صَوْتِ الْمُؤَذِّنِ جِنٌّ وَلاَ إِنْسٌ وَلاَ شَىْءٌ إِلاَّ شَهِدَ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ “Tidaklah suara azan yang keras dari yang mengumandangkan azan didengar oleh jin, manusia, segala sesuatu yang mendegarnya melainkan itu semua akan menjadi saksi pada hari kiamat.” (HR. Bukhari 609). Hadis ini menunjukkan keutamaan orang yang mengumandangkan adzan. Dan sekaligus mereka yang mendengar adzan dijadikan Allah sebagai saksi kebaikannya. [2] Menjawab adzan karena dorongan keyakinan hati, akan mengantarkan menuju surga. Dari Umar bin Khatab Radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda, إِذَا قَالَ الْمُؤَذِّنُ: اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، فَقَالَ أَحَدُكُمْ: اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، ثُمَّ قَالَ: أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، قَالَ: أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، ثُمَّ قَالَ: أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ قَالَ: أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ، ثُمَّ قَالَ: حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ، قَالَ: لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ، ثُمَّ قَالَ: حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ، قَالَ: لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ، ثُمَّ قَالَ: اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، قَالَ: اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، ثُمَّ قَالَ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، قَالَ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ مِنْ قَلْبِهِ دَخَلَ الْجَنَّةَ “ Ketika muadzin mengumandangkan, Allahu akbar.. Allahu akbar Lalu kalian menjawab: Allahu akbar.. Allahu akbar Kemudian muadzin mengumandangkan, Asyhadu anlaa ilaaha illallaah.. Lalu kalian menjawab, Asyhadu anlaa ilaaha illallaah.. dst… hingga akhir adzan siapa yang mengucapkan itu dari dalam hatinya maka akan masuk surga. (HR. Muslim 385, Abu Daud 527 dan yang lainnya). [3] Dengan menjawab adzan, Allah akan mengampuni dosa kita Dari Sa’d bin Abi Waqqash Radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ قَالَ حِينَ يَسْمَعُ الْمُؤَذِّنَ: وَأَنَا أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلا اللهُ، وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، رَضِيتُ  بِاللهِ رَبًّا وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولًا، وَبِالْإِسْلامِ دِينًا، غُفِرَ لَهُ ذَنْبُهُ Barangsiapa yang ketika mendengar adzan dia mengucapkan, وَأَنَا أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلا اللهُ، وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، رَضِيتُ  بِاللهِ رَبًّا وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولًا، وَبِالْإِسْلامِ دِينًا Saya juga bersaksi bahwasanya tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tiada seukut baginya, dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, aku ridha Allah sebagai Rabku, Muhamamd  sebagai Rasul, dan Islam sebagai agamaku. Siapa yang mengucapkan itu maka dosa-dosanya akan diampuni. (HR. Ahmad 1565, Muslim 386 dan yang lainnya) [4] Siapa yang menjawab adzan, lalu membaca shalawat sekali maka Allah akan memberi shalawat baginya 10 kali. Dari Abdullah bin Amr bin Ash radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِذَا سَمِعْتُمْ الْمُؤَذِّنَ فَقُولُوامِثْلَ مَا يَقُولُ ، ثُمَّ صَلُّوا عَلَيَّ ، فَإِنَّهُ مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلاةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا “Apabila kalian mendengar muadzin, jawablah adzannya. Kemduian bacalah shalawat untukku. Karena orang yang membaca shalawat untukku sekali maka Allah akan memberikan shalawat untuknya 10 kali.” (HR. Muslim 384) Menurut Abul Aliyah – seorang ulama tabiin – bahwa makna dari shalawat Allah kepada makhluk-Nya adalah pujian Allah untuk makhluk tersebut di hadapan para malaikatNya. (HR. Bukhari) [5] Menjawab adzan, lalu memohon wasilah untuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam maka dia berhak mendapat syafaat beliau. Lanjutan hadis dari Abdullah bin Amr bin Ash Radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ثُمَّ سَلُوا اللهَ لِيَ الْوَسِيلَةَ، فَإِنَّهَا مَنْزِلَةٌ فِي الْجَنَّةِ، لَا تَنْبَغِي إِلَّا لِعَبْدٍ مِنْ عِبَادِ اللهِ، وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ أَنَا هُوَ، فَمَنْ سَأَلَ لِي الْوَسِيلَةَ حَلَّتْ لَهُ الشَّفَاعَةُ – Setelah menjawab adzan –  kemudian mintalah wasilah kepada Allah untukku. Wasilah adalah satu kedudukan di surga, yang tidak akan ditempati kecuali oleh salah seorang dari para hamba Allah. Dan saya berharap, saya-lah yang mendudukinya. Siapa yang memohon kepada Allah wasilah untukku maka halal baginya syafaatku. (HR. Muslim 384) Permohonan wasilah ini kita baca dalam doa seusai menjawab adzan, اللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ ، وَالصَّلاَةِ القَائِمَةِ آتِ مُحَمَّدًا الوَسِيلَةَ وَالفَضِيلَةَ… “Ya Allâh! Saya memohon kepada-Mu dengan perantara hak do’a yang sempurna ini serta shalat yang ditegakkan ini, berilah wasilah (derajat di surga) dan keutamaan kepada Nabi Muhammad.…” [6] Menjawab adzan, lalu memohon agar Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendapatkan maqam mahmud, kita berhak mendapat syafaat. Dari Jabir bin Abdillah Radhiyallahu ‘anhuma, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Siapa mendengarkan adzan, lalu dia membaca doa, اللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ ، وَالصَّلاَةِ القَائِمَةِ آتِ مُحَمَّدًا الوَسِيلَةَ وَالفَضِيلَةَ، وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُودًا الَّذِي وَعَدْتَهُ “Ya Allâh! Saya memohon kepada-Mu dengan perantara hak do’a yang sempurna ini serta shalat yang ditegakkan ini, berilah wasilah (derajat di surga) dan keutamaan kepada Nabi Muhammad. Dan tunjuklah beliau sehingga bisa menempati maqam terpuji yang telah Engkau janjikan…” Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, siapa yang membaca doa setelah adzan maka إِلَّا حَلَّتْ لَهُ الشَّفَاعَةُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ Halal baginya syafaat pada hari kiamat. (HR. Bukhari 614, Ahmad 14817 dan yang lainnya) Yang dimaksud maqam mahmud adalah syafaat udzma (terbesar) ketika di padang mahsyar. Sehingga ada 3 hal yang kita lakukan ketika adzan, Menjawab adzab, dengan mengikuti seperti ucapan muadzin Membaca shalawat setelah menjawab adzan Membaca doa setelah adzan. [7] Surga bagi orang yang menjawab adzan dengan penuh keyakinan Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, beliau bercerita, Kami pernah bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu Bilal mengumandangkan adzan. Ketika beliau sudah selesai, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ قَالَ مِثْلَ مَا قَالَ هَذَا يَقِينًا، دَخَلَ الْجَنَّةَ “Siapa yang mengucapkan seperti yang dilantunkan orang ini – Bilal – dengan yakin maka dia akan masuk surga. (HR. Ahmad 8624, Nasai 674 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth) [8] Doa orang yang menjawab adzab, mustajab Dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘anhuma, beliau bercerita, Ada seseorang yang bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Ya Rasulullah, para muadzin mengalahkan kami dalam menggapai keutamaan.. Kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, قُلْ كَمَا يَقُولُونَ فَإِذَا انْتَهَيْتَ فَسَلْ تُعْطَهْ Ucapkan seperti yang diucapkan muadzin, jika kamu telah selesai, berdoalah maka kamu akan diberi. (HR. Abu Daud 524, Ibn Hibban 1695 dan dihasankan Syuaib al-Arnauth) Sungguh, janji pahala yang luar biasa.. sangat disayangkan jika kita menyia-nyiakannya.. Bersabarlah sesaat ketika ada adzan dikumandangkan, dan jawab adzan itu penuh keyakinan, lanjutkan dengan berdoa kepada Allah.. semoga Allah menggolongkan kita sebagi ahli surga., amiin.. Demikian, Allahu a’lam. KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. SPONSOR hubungi: 081 326 333 328 DONASI hubungi: 087 882 888 727 REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORk 🔍 Hadits Tentang Nisfu Sya'ban, Sholat Dhuha Jam, Cara Mengobati Orang Kerasukan Jin, Maulid Nabi Bid'ah, Apa Hukum Pacaran, Qunut Nazilah Corona Visited 2,143 times, 15 visit(s) today Post Views: 875 QRIS donasi Yufid


<iframe src="https://w.soundcloud.com/player/?url=https%3A//api.soundcloud.com/tracks/470105415&amp;color=d5265f&amp;auto_play=false&amp;show_artwork=false&amp;hide_related=true&amp;show_comments=false&amp;show_user=false&amp;show_reposts=false" width="100%" height="166" frameborder="no" scrolling="no"></iframe> Keutamaan Menjawab Adzan yang Mungkin Tidak Anda Sadari Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Menjawab adzan, ternyata bukan amal yang nilainya ringan. Sekalipun hanya mengucapkan seperti yang diucapkan muadzin, namun islam menghargainya sebagai amal besar. Ada banyak sekali keutamaan amalan sederhana ini, berikut diantaranya, [1] Menjadi saksi kebaikan Dari Abu Said al-Khudri Radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ يَسْمَعُ مَدَى صَوْتِ الْمُؤَذِّنِ جِنٌّ وَلاَ إِنْسٌ وَلاَ شَىْءٌ إِلاَّ شَهِدَ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ “Tidaklah suara azan yang keras dari yang mengumandangkan azan didengar oleh jin, manusia, segala sesuatu yang mendegarnya melainkan itu semua akan menjadi saksi pada hari kiamat.” (HR. Bukhari 609). Hadis ini menunjukkan keutamaan orang yang mengumandangkan adzan. Dan sekaligus mereka yang mendengar adzan dijadikan Allah sebagai saksi kebaikannya. [2] Menjawab adzan karena dorongan keyakinan hati, akan mengantarkan menuju surga. Dari Umar bin Khatab Radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda, إِذَا قَالَ الْمُؤَذِّنُ: اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، فَقَالَ أَحَدُكُمْ: اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، ثُمَّ قَالَ: أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، قَالَ: أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، ثُمَّ قَالَ: أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ قَالَ: أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ، ثُمَّ قَالَ: حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ، قَالَ: لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ، ثُمَّ قَالَ: حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ، قَالَ: لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ، ثُمَّ قَالَ: اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، قَالَ: اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، ثُمَّ قَالَ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، قَالَ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ مِنْ قَلْبِهِ دَخَلَ الْجَنَّةَ “ Ketika muadzin mengumandangkan, Allahu akbar.. Allahu akbar Lalu kalian menjawab: Allahu akbar.. Allahu akbar Kemudian muadzin mengumandangkan, Asyhadu anlaa ilaaha illallaah.. Lalu kalian menjawab, Asyhadu anlaa ilaaha illallaah.. dst… hingga akhir adzan siapa yang mengucapkan itu dari dalam hatinya maka akan masuk surga. (HR. Muslim 385, Abu Daud 527 dan yang lainnya). [3] Dengan menjawab adzan, Allah akan mengampuni dosa kita Dari Sa’d bin Abi Waqqash Radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ قَالَ حِينَ يَسْمَعُ الْمُؤَذِّنَ: وَأَنَا أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلا اللهُ، وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، رَضِيتُ  بِاللهِ رَبًّا وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولًا، وَبِالْإِسْلامِ دِينًا، غُفِرَ لَهُ ذَنْبُهُ Barangsiapa yang ketika mendengar adzan dia mengucapkan, وَأَنَا أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلا اللهُ، وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، رَضِيتُ  بِاللهِ رَبًّا وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولًا، وَبِالْإِسْلامِ دِينًا Saya juga bersaksi bahwasanya tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tiada seukut baginya, dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, aku ridha Allah sebagai Rabku, Muhamamd  sebagai Rasul, dan Islam sebagai agamaku. Siapa yang mengucapkan itu maka dosa-dosanya akan diampuni. (HR. Ahmad 1565, Muslim 386 dan yang lainnya) [4] Siapa yang menjawab adzan, lalu membaca shalawat sekali maka Allah akan memberi shalawat baginya 10 kali. Dari Abdullah bin Amr bin Ash radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِذَا سَمِعْتُمْ الْمُؤَذِّنَ فَقُولُوامِثْلَ مَا يَقُولُ ، ثُمَّ صَلُّوا عَلَيَّ ، فَإِنَّهُ مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلاةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا “Apabila kalian mendengar muadzin, jawablah adzannya. Kemduian bacalah shalawat untukku. Karena orang yang membaca shalawat untukku sekali maka Allah akan memberikan shalawat untuknya 10 kali.” (HR. Muslim 384) Menurut Abul Aliyah – seorang ulama tabiin – bahwa makna dari shalawat Allah kepada makhluk-Nya adalah pujian Allah untuk makhluk tersebut di hadapan para malaikatNya. (HR. Bukhari) [5] Menjawab adzan, lalu memohon wasilah untuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam maka dia berhak mendapat syafaat beliau. Lanjutan hadis dari Abdullah bin Amr bin Ash Radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ثُمَّ سَلُوا اللهَ لِيَ الْوَسِيلَةَ، فَإِنَّهَا مَنْزِلَةٌ فِي الْجَنَّةِ، لَا تَنْبَغِي إِلَّا لِعَبْدٍ مِنْ عِبَادِ اللهِ، وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ أَنَا هُوَ، فَمَنْ سَأَلَ لِي الْوَسِيلَةَ حَلَّتْ لَهُ الشَّفَاعَةُ – Setelah menjawab adzan –  kemudian mintalah wasilah kepada Allah untukku. Wasilah adalah satu kedudukan di surga, yang tidak akan ditempati kecuali oleh salah seorang dari para hamba Allah. Dan saya berharap, saya-lah yang mendudukinya. Siapa yang memohon kepada Allah wasilah untukku maka halal baginya syafaatku. (HR. Muslim 384) Permohonan wasilah ini kita baca dalam doa seusai menjawab adzan, اللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ ، وَالصَّلاَةِ القَائِمَةِ آتِ مُحَمَّدًا الوَسِيلَةَ وَالفَضِيلَةَ… “Ya Allâh! Saya memohon kepada-Mu dengan perantara hak do’a yang sempurna ini serta shalat yang ditegakkan ini, berilah wasilah (derajat di surga) dan keutamaan kepada Nabi Muhammad.…” [6] Menjawab adzan, lalu memohon agar Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendapatkan maqam mahmud, kita berhak mendapat syafaat. Dari Jabir bin Abdillah Radhiyallahu ‘anhuma, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Siapa mendengarkan adzan, lalu dia membaca doa, اللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ ، وَالصَّلاَةِ القَائِمَةِ آتِ مُحَمَّدًا الوَسِيلَةَ وَالفَضِيلَةَ، وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُودًا الَّذِي وَعَدْتَهُ “Ya Allâh! Saya memohon kepada-Mu dengan perantara hak do’a yang sempurna ini serta shalat yang ditegakkan ini, berilah wasilah (derajat di surga) dan keutamaan kepada Nabi Muhammad. Dan tunjuklah beliau sehingga bisa menempati maqam terpuji yang telah Engkau janjikan…” Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, siapa yang membaca doa setelah adzan maka إِلَّا حَلَّتْ لَهُ الشَّفَاعَةُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ Halal baginya syafaat pada hari kiamat. (HR. Bukhari 614, Ahmad 14817 dan yang lainnya) Yang dimaksud maqam mahmud adalah syafaat udzma (terbesar) ketika di padang mahsyar. Sehingga ada 3 hal yang kita lakukan ketika adzan, Menjawab adzab, dengan mengikuti seperti ucapan muadzin Membaca shalawat setelah menjawab adzan Membaca doa setelah adzan. [7] Surga bagi orang yang menjawab adzan dengan penuh keyakinan Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, beliau bercerita, Kami pernah bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu Bilal mengumandangkan adzan. Ketika beliau sudah selesai, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ قَالَ مِثْلَ مَا قَالَ هَذَا يَقِينًا، دَخَلَ الْجَنَّةَ “Siapa yang mengucapkan seperti yang dilantunkan orang ini – Bilal – dengan yakin maka dia akan masuk surga. (HR. Ahmad 8624, Nasai 674 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth) [8] Doa orang yang menjawab adzab, mustajab Dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘anhuma, beliau bercerita, Ada seseorang yang bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Ya Rasulullah, para muadzin mengalahkan kami dalam menggapai keutamaan.. Kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, قُلْ كَمَا يَقُولُونَ فَإِذَا انْتَهَيْتَ فَسَلْ تُعْطَهْ Ucapkan seperti yang diucapkan muadzin, jika kamu telah selesai, berdoalah maka kamu akan diberi. (HR. Abu Daud 524, Ibn Hibban 1695 dan dihasankan Syuaib al-Arnauth) Sungguh, janji pahala yang luar biasa.. sangat disayangkan jika kita menyia-nyiakannya.. Bersabarlah sesaat ketika ada adzan dikumandangkan, dan jawab adzan itu penuh keyakinan, lanjutkan dengan berdoa kepada Allah.. semoga Allah menggolongkan kita sebagi ahli surga., amiin.. Demikian, Allahu a’lam. KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. SPONSOR hubungi: 081 326 333 328 DONASI hubungi: 087 882 888 727 REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORk 🔍 Hadits Tentang Nisfu Sya'ban, Sholat Dhuha Jam, Cara Mengobati Orang Kerasukan Jin, Maulid Nabi Bid'ah, Apa Hukum Pacaran, Qunut Nazilah Corona Visited 2,143 times, 15 visit(s) today Post Views: 875 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Sifat Kalam: antara ‘Aqidah Ahlus Sunnah, Jahmiyyah dan Asy’ariyyah (Bag. 6)

Baca pembahasan sebelumnya Sifat Kalam: antara ‘Aqidah Ahlus Sunnah, Jahmiyyah dan Asy’ariyyah (05)Munculnya Bid’ah “Lafdziyyah” dan Bid’ah “Al-Waaqifah”Setelah munculnya penyimpangan Jahmiyyah yang mengatakan bahwa Al-Qur’an itu makhluk, muncul lagi bid’ah yang baru, yaitu bid’ah lafdziyyah dan bid’ah al-waaqifah. Bid’ah lafdziyyah adalah perkataan yang dipopulerkan oleh pengikut Jahmiyyah,لَفْظِي بِالْقُرْآنِ مَخْلُوقٌ“Lafadzku terhadap Al-Qur’an adalah makhluk.”Sedangkan bid’ah al-waaqifah adalah perkataan mereka,لَا أَدْرِي مَخْلُوق أَو لَيْسَ بمخلوق“Aku tidak mengetahui (tawaqquf atau abstain), apakah Al-Qur’an itu makhluk atau bukan makhluk.”Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata dalam Al-Ushuul As-Sunnah,وَإِيَّاك ومناظرة من أحدث فِيهِ وَمن قَالَ بِاللَّفْظِ وَغَيره وَمن وقف فِيهِ فَقَالَ لَا أَدْرِي مَخْلُوق أَو لَيْسَ بمخلوق وَإِنَّمَا هُوَ كَلَام الله فَهَذَا صَاحب بِدعَة مثل من قَالَ هُوَ مَخْلُوق وَإِنَّمَا هُوَ كَلَام الله لَيْسَ بمخلوق“Jauhilah berdebat dengan orang yang mengada-ada dalam masalah ini (yaitu, yang berkata kalau Al-Qur’an itu makhluk, pen.) dan dengan orang-orang lafdziyyah atau yang lainnya, atau dengan orang yang tawaquf (abstain) dalam masalah ini, yaitu yang berkata, “Aku tidak mengetahui apakah Al-Qur’an itu makhluk atau bukan makhluk, akan tetapi yang jelas Al-Qur’an itu kalamullah.” Orang seperti ini adalah ahlul bid’ah, semisal dengan orang yang mengatakan bahwa Al-Qur’an itu makhluk. (Keyakinan ahlus sunnah adalah) Al-Qur’an itu kalamullah dan bukan makhluk.”Yang pertama kali mencetuskan ide lafdziyyah adalah seseorang bernama Husain bin ‘Ali Al-Karabisi (wafat tahun 245 H) di masa Imam Ahmad rahimahullah. Adz-Dzahabi Asy-Syafi’i rahimahullah berkata,فَأَوَّلُ مَنْ أَظْهَرَ مَسْأَلَةَ اللَّفْظِ حُسَيْنُ بنُ عَلِيٍّ الكَرَابِيْسِيُّ“Orang yang pertama kali mempopulerkan lafdziyyah adalah Husain bin ‘Ali Al-Karabisi.” (Siyar A’laam An-Nubalaa, 11/289)Bid’ah lafdziyyah hanyalah ingin membuat masalah menjadi kabur. Karena perkataan “lafadzku” bisa bermakna dua hal yang berbeda:Pertama, “lafadz” dalam arti “suara manusia”, yang dihasilkan dari gerakan mulut, bibir, gigi dan lidah serta dihasilkan oleh pita suara. Maka suara manusia adalah makhluk, apa pun yang diucapkan, baik itu Al-Qur’an atau bukan Al-Qur’an.Kedua, “lafadz” dalam arti “apa yang diucapkan”. Jika yang diucapkan adalah Al-Qur’an, maka Al-Qur’an itu bukan makhluk, akan tetapi kalamullah. Sedangkan jika yang diucapkan adalah selain Al-Qur’an, maka hal itu tentu saja makhluk.Ucapan semacam ini hanyalah dimunculkan oleh Jahmiyyah untuk membuat aqidah menjadi kabur dan rancu. Pada asalnya, ucapan ini tidak kita benarkan, tidak pula kita salahkan, karena memang ada kemungkinan benar dan salah. Akan tetapi, karena sebetulnya yang mereka maksudkan adalah makna yang ke dua, namun mereka sengaja memakai kalimat yang multi tafsir supaya tidak tampak nyata penyimpangan mereka, maka para ulama pun kemudian melarang ucapan semacam ini. Ucapan inilah yang kemudian menjadi syi’ar di antara syi’ar-syi’ar kelompok Jahmiyyah untuk menimbulkan kerancuan aqidah di tengah-tengah kaum muslimin.Oleh karena itulah Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata,مَنْ قَالَ لَفْظِي بِالْقُرْآنِ مَخْلُوقٌ فَهُوَ جَهْمِيُّ“Barangsiapa berkata, “lafadzku terhadap Al-Qur’an itu makhluk”, maka dia adalah pengikut Jahmiyyah.” (As-Sunnah no. 181, karya ‘Abdullah bin Ahmad bin Hanbal)‘Abdullah bin Ahmad bin Hanbal rahimahullah mendengar dari ayahnya (Imam Ahmad) ketika ditanya tentang ucapan lafdziyyah. Imam Ahmad rahimahullah berkata,هُمْ جَهْمِيَّةٌ وَهُوَ قَوْلُ جَهْمٍ، ثُمَّ قَالَ: لَا تُجَالِسُوهُمْ“Mereka adalah Jahmiyyah. Itu adalah ucapan kelompok Jahmiyyah.” Kemudian Imam Ahmad berkata, “Janganlah kalian duduk bersama mereka.” (As-Sunnah no. 182, karya ‘Abdullah bin Ahmad bin Hanbal)‘Abdullah bin Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata, “Aku mendengar ayahku (Imam Ahmad) berkata,مَنْ قَالَ لَفْظِي بِالْقُرْآنِ مَخْلُوقٌ هَذَا كَلَامُ سُوءٍ رَدِيءٌ وَهُوَ كَلَامُ الْجَهْمِيَّةِ“Barangsiapa yang berkata bahwa ‘lafadzku terhadap Al-Qur’an adalah makhluk’, ini adalah ucapan yang jelek dan hina. Ini adalah ucapan Jahmiyyah.”‘Abdullah bin Ahmad bin Hanbal berkata, “Sesungguhnya Al-Karabisi mengucapkan yang demikian itu?”Imam Ahmad rahimahullah kemudian berkataكَذَبَ – هَتَكَهُ اللَّهُ – الْخَبِيثُ“Orang yang kotor itu (Al-Karabisi) telah berdusta, semoga Allah menghancurkannya.” (As-Sunnah, no. 186)Kemudian tentang bid’ah al-waaqifah, ‘Utsman bin Sa’iid Ad-Daarimi rahimahullahu Ta’ala (wafat tahun 280 H) berkata dalam kitab beliau yang khusus membantah Jahmiyyah,ثُمَّ إِنَّ نَاسًا مِمَّنْ كَتَبُوا الْعِلْمَ بِزَعْمِهِمْ وَادَّعَوْا مَعْرِفَتَهُ وَقَفُوا فِي الْقُرْآنِ، فَقَالُوا: لَا نَقُولُ مَخْلُوقٌ هُوَ وَلَا غَيْرُ مَخْلُوقٍ، وَمَعَ وُقُوفِهِمْ هَذَا لَمْ يَرْضَوْا حَتَّى ادَّعَوْا أَنَّهُمْ يَنْسُبُونَ إِلَى الْبِدْعَةِ مَنْ خَالَفَهُمْ وَقَالَ بِأَحَدِ هَذَيْنِ الْقَوْلَيْنِ.“Kemudian manusia yang menulis ilmu -menurut persangkaan mereka- dan mengklaim memahami ilmu, mereka abstain dalam masalah Al-Qur’an. Mereka berkata, “Kami tidak mengatakan (Al-Qur’an itu) makhluk, dan tidak pula mengatakan (Al-Qur’an itu) bukan makhluk.” Bersama dengan sikap abstain mereka, mereka tidaklah ridha sampai mereka memvonis bid’ah bagi siapa saja yang menyelisihi ucapan mereka. Mereka (Jahmiyyah) pun berkata dengan salah satu dari perkataan ini (lafdziyyah atau al-waaqifah, pen.)” (Ar-Radd ‘ala Jahmiyyah, hal. 193)Sehingga orang-orang yang abstain (al-waaqifah), maka hakikatnya mereka sedang memelihara kebodohan. Bagaikan seseorang berdiri di tanah lapang di siang hari bolong yang terik, lalu dia mengatakan, “Aku tidak mengetahui, apakah sekarang ini masih siang ataukah sudah malam?”Hal ini karena dalil-dalil Al-Qur’an dan As-Sunnah jelas menunjukkan bahwa Al-Qur’an adalah kalamullah dan bukan makhluk, tanpa meninggalkan keraguan sedikit pun. Sehingga ketika mereka “ngotot” mengatakan, “Saya tidak tahu, apakah makhluk atau bukan makhluk?”, hal ini nyata-nyata berpaling dari hidayah (petunjuk). Oleh karena itu, Imam Ahmad rahimahullah memvonis mereka sebagai ahlul bid’ah karena ucapan semacam ini tidak pernah dikatakan oleh satu pun sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan generasi terbaik setelahnya.[Bersambung]***Diselesaikan di sore hari, Rotterdam NL, 27 Rajab 1439/14 April 2018Penulis: M. Saifudin Hakim Referensi:Syarh Al-Ushuul As-Sunnah lil Imam Ahmad bin Hanbal, karya Syaikh Dr. Muhammad bin Sa’iid Raslaan hafidzahullah, Jilid 1 hal 279-287 (penerbit Daarul Minhaj, cetakan ke dua tahun 1437).Diraasaatun fil Bid’ati wal Mubtadi’in, karya Syaikh Dr. Muhammad bin Sa’iid Raslan hafidzahullah, hal. 187-189 (penerbit Daarul Minhaj, cetakan pertama tahun 1436).🔍 Meminta Maaf Sebelum Ramadhan, Hadits Senyum Itu Ibadah, Hukum Menunda Pernikahan Dalam Islam, Ya Allah Ya Rahman, Surat Alzazalah

Sifat Kalam: antara ‘Aqidah Ahlus Sunnah, Jahmiyyah dan Asy’ariyyah (Bag. 6)

Baca pembahasan sebelumnya Sifat Kalam: antara ‘Aqidah Ahlus Sunnah, Jahmiyyah dan Asy’ariyyah (05)Munculnya Bid’ah “Lafdziyyah” dan Bid’ah “Al-Waaqifah”Setelah munculnya penyimpangan Jahmiyyah yang mengatakan bahwa Al-Qur’an itu makhluk, muncul lagi bid’ah yang baru, yaitu bid’ah lafdziyyah dan bid’ah al-waaqifah. Bid’ah lafdziyyah adalah perkataan yang dipopulerkan oleh pengikut Jahmiyyah,لَفْظِي بِالْقُرْآنِ مَخْلُوقٌ“Lafadzku terhadap Al-Qur’an adalah makhluk.”Sedangkan bid’ah al-waaqifah adalah perkataan mereka,لَا أَدْرِي مَخْلُوق أَو لَيْسَ بمخلوق“Aku tidak mengetahui (tawaqquf atau abstain), apakah Al-Qur’an itu makhluk atau bukan makhluk.”Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata dalam Al-Ushuul As-Sunnah,وَإِيَّاك ومناظرة من أحدث فِيهِ وَمن قَالَ بِاللَّفْظِ وَغَيره وَمن وقف فِيهِ فَقَالَ لَا أَدْرِي مَخْلُوق أَو لَيْسَ بمخلوق وَإِنَّمَا هُوَ كَلَام الله فَهَذَا صَاحب بِدعَة مثل من قَالَ هُوَ مَخْلُوق وَإِنَّمَا هُوَ كَلَام الله لَيْسَ بمخلوق“Jauhilah berdebat dengan orang yang mengada-ada dalam masalah ini (yaitu, yang berkata kalau Al-Qur’an itu makhluk, pen.) dan dengan orang-orang lafdziyyah atau yang lainnya, atau dengan orang yang tawaquf (abstain) dalam masalah ini, yaitu yang berkata, “Aku tidak mengetahui apakah Al-Qur’an itu makhluk atau bukan makhluk, akan tetapi yang jelas Al-Qur’an itu kalamullah.” Orang seperti ini adalah ahlul bid’ah, semisal dengan orang yang mengatakan bahwa Al-Qur’an itu makhluk. (Keyakinan ahlus sunnah adalah) Al-Qur’an itu kalamullah dan bukan makhluk.”Yang pertama kali mencetuskan ide lafdziyyah adalah seseorang bernama Husain bin ‘Ali Al-Karabisi (wafat tahun 245 H) di masa Imam Ahmad rahimahullah. Adz-Dzahabi Asy-Syafi’i rahimahullah berkata,فَأَوَّلُ مَنْ أَظْهَرَ مَسْأَلَةَ اللَّفْظِ حُسَيْنُ بنُ عَلِيٍّ الكَرَابِيْسِيُّ“Orang yang pertama kali mempopulerkan lafdziyyah adalah Husain bin ‘Ali Al-Karabisi.” (Siyar A’laam An-Nubalaa, 11/289)Bid’ah lafdziyyah hanyalah ingin membuat masalah menjadi kabur. Karena perkataan “lafadzku” bisa bermakna dua hal yang berbeda:Pertama, “lafadz” dalam arti “suara manusia”, yang dihasilkan dari gerakan mulut, bibir, gigi dan lidah serta dihasilkan oleh pita suara. Maka suara manusia adalah makhluk, apa pun yang diucapkan, baik itu Al-Qur’an atau bukan Al-Qur’an.Kedua, “lafadz” dalam arti “apa yang diucapkan”. Jika yang diucapkan adalah Al-Qur’an, maka Al-Qur’an itu bukan makhluk, akan tetapi kalamullah. Sedangkan jika yang diucapkan adalah selain Al-Qur’an, maka hal itu tentu saja makhluk.Ucapan semacam ini hanyalah dimunculkan oleh Jahmiyyah untuk membuat aqidah menjadi kabur dan rancu. Pada asalnya, ucapan ini tidak kita benarkan, tidak pula kita salahkan, karena memang ada kemungkinan benar dan salah. Akan tetapi, karena sebetulnya yang mereka maksudkan adalah makna yang ke dua, namun mereka sengaja memakai kalimat yang multi tafsir supaya tidak tampak nyata penyimpangan mereka, maka para ulama pun kemudian melarang ucapan semacam ini. Ucapan inilah yang kemudian menjadi syi’ar di antara syi’ar-syi’ar kelompok Jahmiyyah untuk menimbulkan kerancuan aqidah di tengah-tengah kaum muslimin.Oleh karena itulah Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata,مَنْ قَالَ لَفْظِي بِالْقُرْآنِ مَخْلُوقٌ فَهُوَ جَهْمِيُّ“Barangsiapa berkata, “lafadzku terhadap Al-Qur’an itu makhluk”, maka dia adalah pengikut Jahmiyyah.” (As-Sunnah no. 181, karya ‘Abdullah bin Ahmad bin Hanbal)‘Abdullah bin Ahmad bin Hanbal rahimahullah mendengar dari ayahnya (Imam Ahmad) ketika ditanya tentang ucapan lafdziyyah. Imam Ahmad rahimahullah berkata,هُمْ جَهْمِيَّةٌ وَهُوَ قَوْلُ جَهْمٍ، ثُمَّ قَالَ: لَا تُجَالِسُوهُمْ“Mereka adalah Jahmiyyah. Itu adalah ucapan kelompok Jahmiyyah.” Kemudian Imam Ahmad berkata, “Janganlah kalian duduk bersama mereka.” (As-Sunnah no. 182, karya ‘Abdullah bin Ahmad bin Hanbal)‘Abdullah bin Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata, “Aku mendengar ayahku (Imam Ahmad) berkata,مَنْ قَالَ لَفْظِي بِالْقُرْآنِ مَخْلُوقٌ هَذَا كَلَامُ سُوءٍ رَدِيءٌ وَهُوَ كَلَامُ الْجَهْمِيَّةِ“Barangsiapa yang berkata bahwa ‘lafadzku terhadap Al-Qur’an adalah makhluk’, ini adalah ucapan yang jelek dan hina. Ini adalah ucapan Jahmiyyah.”‘Abdullah bin Ahmad bin Hanbal berkata, “Sesungguhnya Al-Karabisi mengucapkan yang demikian itu?”Imam Ahmad rahimahullah kemudian berkataكَذَبَ – هَتَكَهُ اللَّهُ – الْخَبِيثُ“Orang yang kotor itu (Al-Karabisi) telah berdusta, semoga Allah menghancurkannya.” (As-Sunnah, no. 186)Kemudian tentang bid’ah al-waaqifah, ‘Utsman bin Sa’iid Ad-Daarimi rahimahullahu Ta’ala (wafat tahun 280 H) berkata dalam kitab beliau yang khusus membantah Jahmiyyah,ثُمَّ إِنَّ نَاسًا مِمَّنْ كَتَبُوا الْعِلْمَ بِزَعْمِهِمْ وَادَّعَوْا مَعْرِفَتَهُ وَقَفُوا فِي الْقُرْآنِ، فَقَالُوا: لَا نَقُولُ مَخْلُوقٌ هُوَ وَلَا غَيْرُ مَخْلُوقٍ، وَمَعَ وُقُوفِهِمْ هَذَا لَمْ يَرْضَوْا حَتَّى ادَّعَوْا أَنَّهُمْ يَنْسُبُونَ إِلَى الْبِدْعَةِ مَنْ خَالَفَهُمْ وَقَالَ بِأَحَدِ هَذَيْنِ الْقَوْلَيْنِ.“Kemudian manusia yang menulis ilmu -menurut persangkaan mereka- dan mengklaim memahami ilmu, mereka abstain dalam masalah Al-Qur’an. Mereka berkata, “Kami tidak mengatakan (Al-Qur’an itu) makhluk, dan tidak pula mengatakan (Al-Qur’an itu) bukan makhluk.” Bersama dengan sikap abstain mereka, mereka tidaklah ridha sampai mereka memvonis bid’ah bagi siapa saja yang menyelisihi ucapan mereka. Mereka (Jahmiyyah) pun berkata dengan salah satu dari perkataan ini (lafdziyyah atau al-waaqifah, pen.)” (Ar-Radd ‘ala Jahmiyyah, hal. 193)Sehingga orang-orang yang abstain (al-waaqifah), maka hakikatnya mereka sedang memelihara kebodohan. Bagaikan seseorang berdiri di tanah lapang di siang hari bolong yang terik, lalu dia mengatakan, “Aku tidak mengetahui, apakah sekarang ini masih siang ataukah sudah malam?”Hal ini karena dalil-dalil Al-Qur’an dan As-Sunnah jelas menunjukkan bahwa Al-Qur’an adalah kalamullah dan bukan makhluk, tanpa meninggalkan keraguan sedikit pun. Sehingga ketika mereka “ngotot” mengatakan, “Saya tidak tahu, apakah makhluk atau bukan makhluk?”, hal ini nyata-nyata berpaling dari hidayah (petunjuk). Oleh karena itu, Imam Ahmad rahimahullah memvonis mereka sebagai ahlul bid’ah karena ucapan semacam ini tidak pernah dikatakan oleh satu pun sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan generasi terbaik setelahnya.[Bersambung]***Diselesaikan di sore hari, Rotterdam NL, 27 Rajab 1439/14 April 2018Penulis: M. Saifudin Hakim Referensi:Syarh Al-Ushuul As-Sunnah lil Imam Ahmad bin Hanbal, karya Syaikh Dr. Muhammad bin Sa’iid Raslaan hafidzahullah, Jilid 1 hal 279-287 (penerbit Daarul Minhaj, cetakan ke dua tahun 1437).Diraasaatun fil Bid’ati wal Mubtadi’in, karya Syaikh Dr. Muhammad bin Sa’iid Raslan hafidzahullah, hal. 187-189 (penerbit Daarul Minhaj, cetakan pertama tahun 1436).🔍 Meminta Maaf Sebelum Ramadhan, Hadits Senyum Itu Ibadah, Hukum Menunda Pernikahan Dalam Islam, Ya Allah Ya Rahman, Surat Alzazalah
Baca pembahasan sebelumnya Sifat Kalam: antara ‘Aqidah Ahlus Sunnah, Jahmiyyah dan Asy’ariyyah (05)Munculnya Bid’ah “Lafdziyyah” dan Bid’ah “Al-Waaqifah”Setelah munculnya penyimpangan Jahmiyyah yang mengatakan bahwa Al-Qur’an itu makhluk, muncul lagi bid’ah yang baru, yaitu bid’ah lafdziyyah dan bid’ah al-waaqifah. Bid’ah lafdziyyah adalah perkataan yang dipopulerkan oleh pengikut Jahmiyyah,لَفْظِي بِالْقُرْآنِ مَخْلُوقٌ“Lafadzku terhadap Al-Qur’an adalah makhluk.”Sedangkan bid’ah al-waaqifah adalah perkataan mereka,لَا أَدْرِي مَخْلُوق أَو لَيْسَ بمخلوق“Aku tidak mengetahui (tawaqquf atau abstain), apakah Al-Qur’an itu makhluk atau bukan makhluk.”Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata dalam Al-Ushuul As-Sunnah,وَإِيَّاك ومناظرة من أحدث فِيهِ وَمن قَالَ بِاللَّفْظِ وَغَيره وَمن وقف فِيهِ فَقَالَ لَا أَدْرِي مَخْلُوق أَو لَيْسَ بمخلوق وَإِنَّمَا هُوَ كَلَام الله فَهَذَا صَاحب بِدعَة مثل من قَالَ هُوَ مَخْلُوق وَإِنَّمَا هُوَ كَلَام الله لَيْسَ بمخلوق“Jauhilah berdebat dengan orang yang mengada-ada dalam masalah ini (yaitu, yang berkata kalau Al-Qur’an itu makhluk, pen.) dan dengan orang-orang lafdziyyah atau yang lainnya, atau dengan orang yang tawaquf (abstain) dalam masalah ini, yaitu yang berkata, “Aku tidak mengetahui apakah Al-Qur’an itu makhluk atau bukan makhluk, akan tetapi yang jelas Al-Qur’an itu kalamullah.” Orang seperti ini adalah ahlul bid’ah, semisal dengan orang yang mengatakan bahwa Al-Qur’an itu makhluk. (Keyakinan ahlus sunnah adalah) Al-Qur’an itu kalamullah dan bukan makhluk.”Yang pertama kali mencetuskan ide lafdziyyah adalah seseorang bernama Husain bin ‘Ali Al-Karabisi (wafat tahun 245 H) di masa Imam Ahmad rahimahullah. Adz-Dzahabi Asy-Syafi’i rahimahullah berkata,فَأَوَّلُ مَنْ أَظْهَرَ مَسْأَلَةَ اللَّفْظِ حُسَيْنُ بنُ عَلِيٍّ الكَرَابِيْسِيُّ“Orang yang pertama kali mempopulerkan lafdziyyah adalah Husain bin ‘Ali Al-Karabisi.” (Siyar A’laam An-Nubalaa, 11/289)Bid’ah lafdziyyah hanyalah ingin membuat masalah menjadi kabur. Karena perkataan “lafadzku” bisa bermakna dua hal yang berbeda:Pertama, “lafadz” dalam arti “suara manusia”, yang dihasilkan dari gerakan mulut, bibir, gigi dan lidah serta dihasilkan oleh pita suara. Maka suara manusia adalah makhluk, apa pun yang diucapkan, baik itu Al-Qur’an atau bukan Al-Qur’an.Kedua, “lafadz” dalam arti “apa yang diucapkan”. Jika yang diucapkan adalah Al-Qur’an, maka Al-Qur’an itu bukan makhluk, akan tetapi kalamullah. Sedangkan jika yang diucapkan adalah selain Al-Qur’an, maka hal itu tentu saja makhluk.Ucapan semacam ini hanyalah dimunculkan oleh Jahmiyyah untuk membuat aqidah menjadi kabur dan rancu. Pada asalnya, ucapan ini tidak kita benarkan, tidak pula kita salahkan, karena memang ada kemungkinan benar dan salah. Akan tetapi, karena sebetulnya yang mereka maksudkan adalah makna yang ke dua, namun mereka sengaja memakai kalimat yang multi tafsir supaya tidak tampak nyata penyimpangan mereka, maka para ulama pun kemudian melarang ucapan semacam ini. Ucapan inilah yang kemudian menjadi syi’ar di antara syi’ar-syi’ar kelompok Jahmiyyah untuk menimbulkan kerancuan aqidah di tengah-tengah kaum muslimin.Oleh karena itulah Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata,مَنْ قَالَ لَفْظِي بِالْقُرْآنِ مَخْلُوقٌ فَهُوَ جَهْمِيُّ“Barangsiapa berkata, “lafadzku terhadap Al-Qur’an itu makhluk”, maka dia adalah pengikut Jahmiyyah.” (As-Sunnah no. 181, karya ‘Abdullah bin Ahmad bin Hanbal)‘Abdullah bin Ahmad bin Hanbal rahimahullah mendengar dari ayahnya (Imam Ahmad) ketika ditanya tentang ucapan lafdziyyah. Imam Ahmad rahimahullah berkata,هُمْ جَهْمِيَّةٌ وَهُوَ قَوْلُ جَهْمٍ، ثُمَّ قَالَ: لَا تُجَالِسُوهُمْ“Mereka adalah Jahmiyyah. Itu adalah ucapan kelompok Jahmiyyah.” Kemudian Imam Ahmad berkata, “Janganlah kalian duduk bersama mereka.” (As-Sunnah no. 182, karya ‘Abdullah bin Ahmad bin Hanbal)‘Abdullah bin Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata, “Aku mendengar ayahku (Imam Ahmad) berkata,مَنْ قَالَ لَفْظِي بِالْقُرْآنِ مَخْلُوقٌ هَذَا كَلَامُ سُوءٍ رَدِيءٌ وَهُوَ كَلَامُ الْجَهْمِيَّةِ“Barangsiapa yang berkata bahwa ‘lafadzku terhadap Al-Qur’an adalah makhluk’, ini adalah ucapan yang jelek dan hina. Ini adalah ucapan Jahmiyyah.”‘Abdullah bin Ahmad bin Hanbal berkata, “Sesungguhnya Al-Karabisi mengucapkan yang demikian itu?”Imam Ahmad rahimahullah kemudian berkataكَذَبَ – هَتَكَهُ اللَّهُ – الْخَبِيثُ“Orang yang kotor itu (Al-Karabisi) telah berdusta, semoga Allah menghancurkannya.” (As-Sunnah, no. 186)Kemudian tentang bid’ah al-waaqifah, ‘Utsman bin Sa’iid Ad-Daarimi rahimahullahu Ta’ala (wafat tahun 280 H) berkata dalam kitab beliau yang khusus membantah Jahmiyyah,ثُمَّ إِنَّ نَاسًا مِمَّنْ كَتَبُوا الْعِلْمَ بِزَعْمِهِمْ وَادَّعَوْا مَعْرِفَتَهُ وَقَفُوا فِي الْقُرْآنِ، فَقَالُوا: لَا نَقُولُ مَخْلُوقٌ هُوَ وَلَا غَيْرُ مَخْلُوقٍ، وَمَعَ وُقُوفِهِمْ هَذَا لَمْ يَرْضَوْا حَتَّى ادَّعَوْا أَنَّهُمْ يَنْسُبُونَ إِلَى الْبِدْعَةِ مَنْ خَالَفَهُمْ وَقَالَ بِأَحَدِ هَذَيْنِ الْقَوْلَيْنِ.“Kemudian manusia yang menulis ilmu -menurut persangkaan mereka- dan mengklaim memahami ilmu, mereka abstain dalam masalah Al-Qur’an. Mereka berkata, “Kami tidak mengatakan (Al-Qur’an itu) makhluk, dan tidak pula mengatakan (Al-Qur’an itu) bukan makhluk.” Bersama dengan sikap abstain mereka, mereka tidaklah ridha sampai mereka memvonis bid’ah bagi siapa saja yang menyelisihi ucapan mereka. Mereka (Jahmiyyah) pun berkata dengan salah satu dari perkataan ini (lafdziyyah atau al-waaqifah, pen.)” (Ar-Radd ‘ala Jahmiyyah, hal. 193)Sehingga orang-orang yang abstain (al-waaqifah), maka hakikatnya mereka sedang memelihara kebodohan. Bagaikan seseorang berdiri di tanah lapang di siang hari bolong yang terik, lalu dia mengatakan, “Aku tidak mengetahui, apakah sekarang ini masih siang ataukah sudah malam?”Hal ini karena dalil-dalil Al-Qur’an dan As-Sunnah jelas menunjukkan bahwa Al-Qur’an adalah kalamullah dan bukan makhluk, tanpa meninggalkan keraguan sedikit pun. Sehingga ketika mereka “ngotot” mengatakan, “Saya tidak tahu, apakah makhluk atau bukan makhluk?”, hal ini nyata-nyata berpaling dari hidayah (petunjuk). Oleh karena itu, Imam Ahmad rahimahullah memvonis mereka sebagai ahlul bid’ah karena ucapan semacam ini tidak pernah dikatakan oleh satu pun sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan generasi terbaik setelahnya.[Bersambung]***Diselesaikan di sore hari, Rotterdam NL, 27 Rajab 1439/14 April 2018Penulis: M. Saifudin Hakim Referensi:Syarh Al-Ushuul As-Sunnah lil Imam Ahmad bin Hanbal, karya Syaikh Dr. Muhammad bin Sa’iid Raslaan hafidzahullah, Jilid 1 hal 279-287 (penerbit Daarul Minhaj, cetakan ke dua tahun 1437).Diraasaatun fil Bid’ati wal Mubtadi’in, karya Syaikh Dr. Muhammad bin Sa’iid Raslan hafidzahullah, hal. 187-189 (penerbit Daarul Minhaj, cetakan pertama tahun 1436).🔍 Meminta Maaf Sebelum Ramadhan, Hadits Senyum Itu Ibadah, Hukum Menunda Pernikahan Dalam Islam, Ya Allah Ya Rahman, Surat Alzazalah


Baca pembahasan sebelumnya Sifat Kalam: antara ‘Aqidah Ahlus Sunnah, Jahmiyyah dan Asy’ariyyah (05)Munculnya Bid’ah “Lafdziyyah” dan Bid’ah “Al-Waaqifah”Setelah munculnya penyimpangan Jahmiyyah yang mengatakan bahwa Al-Qur’an itu makhluk, muncul lagi bid’ah yang baru, yaitu bid’ah lafdziyyah dan bid’ah al-waaqifah. Bid’ah lafdziyyah adalah perkataan yang dipopulerkan oleh pengikut Jahmiyyah,لَفْظِي بِالْقُرْآنِ مَخْلُوقٌ“Lafadzku terhadap Al-Qur’an adalah makhluk.”Sedangkan bid’ah al-waaqifah adalah perkataan mereka,لَا أَدْرِي مَخْلُوق أَو لَيْسَ بمخلوق“Aku tidak mengetahui (tawaqquf atau abstain), apakah Al-Qur’an itu makhluk atau bukan makhluk.”Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata dalam Al-Ushuul As-Sunnah,وَإِيَّاك ومناظرة من أحدث فِيهِ وَمن قَالَ بِاللَّفْظِ وَغَيره وَمن وقف فِيهِ فَقَالَ لَا أَدْرِي مَخْلُوق أَو لَيْسَ بمخلوق وَإِنَّمَا هُوَ كَلَام الله فَهَذَا صَاحب بِدعَة مثل من قَالَ هُوَ مَخْلُوق وَإِنَّمَا هُوَ كَلَام الله لَيْسَ بمخلوق“Jauhilah berdebat dengan orang yang mengada-ada dalam masalah ini (yaitu, yang berkata kalau Al-Qur’an itu makhluk, pen.) dan dengan orang-orang lafdziyyah atau yang lainnya, atau dengan orang yang tawaquf (abstain) dalam masalah ini, yaitu yang berkata, “Aku tidak mengetahui apakah Al-Qur’an itu makhluk atau bukan makhluk, akan tetapi yang jelas Al-Qur’an itu kalamullah.” Orang seperti ini adalah ahlul bid’ah, semisal dengan orang yang mengatakan bahwa Al-Qur’an itu makhluk. (Keyakinan ahlus sunnah adalah) Al-Qur’an itu kalamullah dan bukan makhluk.”Yang pertama kali mencetuskan ide lafdziyyah adalah seseorang bernama Husain bin ‘Ali Al-Karabisi (wafat tahun 245 H) di masa Imam Ahmad rahimahullah. Adz-Dzahabi Asy-Syafi’i rahimahullah berkata,فَأَوَّلُ مَنْ أَظْهَرَ مَسْأَلَةَ اللَّفْظِ حُسَيْنُ بنُ عَلِيٍّ الكَرَابِيْسِيُّ“Orang yang pertama kali mempopulerkan lafdziyyah adalah Husain bin ‘Ali Al-Karabisi.” (Siyar A’laam An-Nubalaa, 11/289)Bid’ah lafdziyyah hanyalah ingin membuat masalah menjadi kabur. Karena perkataan “lafadzku” bisa bermakna dua hal yang berbeda:Pertama, “lafadz” dalam arti “suara manusia”, yang dihasilkan dari gerakan mulut, bibir, gigi dan lidah serta dihasilkan oleh pita suara. Maka suara manusia adalah makhluk, apa pun yang diucapkan, baik itu Al-Qur’an atau bukan Al-Qur’an.Kedua, “lafadz” dalam arti “apa yang diucapkan”. Jika yang diucapkan adalah Al-Qur’an, maka Al-Qur’an itu bukan makhluk, akan tetapi kalamullah. Sedangkan jika yang diucapkan adalah selain Al-Qur’an, maka hal itu tentu saja makhluk.Ucapan semacam ini hanyalah dimunculkan oleh Jahmiyyah untuk membuat aqidah menjadi kabur dan rancu. Pada asalnya, ucapan ini tidak kita benarkan, tidak pula kita salahkan, karena memang ada kemungkinan benar dan salah. Akan tetapi, karena sebetulnya yang mereka maksudkan adalah makna yang ke dua, namun mereka sengaja memakai kalimat yang multi tafsir supaya tidak tampak nyata penyimpangan mereka, maka para ulama pun kemudian melarang ucapan semacam ini. Ucapan inilah yang kemudian menjadi syi’ar di antara syi’ar-syi’ar kelompok Jahmiyyah untuk menimbulkan kerancuan aqidah di tengah-tengah kaum muslimin.Oleh karena itulah Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata,مَنْ قَالَ لَفْظِي بِالْقُرْآنِ مَخْلُوقٌ فَهُوَ جَهْمِيُّ“Barangsiapa berkata, “lafadzku terhadap Al-Qur’an itu makhluk”, maka dia adalah pengikut Jahmiyyah.” (As-Sunnah no. 181, karya ‘Abdullah bin Ahmad bin Hanbal)‘Abdullah bin Ahmad bin Hanbal rahimahullah mendengar dari ayahnya (Imam Ahmad) ketika ditanya tentang ucapan lafdziyyah. Imam Ahmad rahimahullah berkata,هُمْ جَهْمِيَّةٌ وَهُوَ قَوْلُ جَهْمٍ، ثُمَّ قَالَ: لَا تُجَالِسُوهُمْ“Mereka adalah Jahmiyyah. Itu adalah ucapan kelompok Jahmiyyah.” Kemudian Imam Ahmad berkata, “Janganlah kalian duduk bersama mereka.” (As-Sunnah no. 182, karya ‘Abdullah bin Ahmad bin Hanbal)‘Abdullah bin Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata, “Aku mendengar ayahku (Imam Ahmad) berkata,مَنْ قَالَ لَفْظِي بِالْقُرْآنِ مَخْلُوقٌ هَذَا كَلَامُ سُوءٍ رَدِيءٌ وَهُوَ كَلَامُ الْجَهْمِيَّةِ“Barangsiapa yang berkata bahwa ‘lafadzku terhadap Al-Qur’an adalah makhluk’, ini adalah ucapan yang jelek dan hina. Ini adalah ucapan Jahmiyyah.”‘Abdullah bin Ahmad bin Hanbal berkata, “Sesungguhnya Al-Karabisi mengucapkan yang demikian itu?”Imam Ahmad rahimahullah kemudian berkataكَذَبَ – هَتَكَهُ اللَّهُ – الْخَبِيثُ“Orang yang kotor itu (Al-Karabisi) telah berdusta, semoga Allah menghancurkannya.” (As-Sunnah, no. 186)Kemudian tentang bid’ah al-waaqifah, ‘Utsman bin Sa’iid Ad-Daarimi rahimahullahu Ta’ala (wafat tahun 280 H) berkata dalam kitab beliau yang khusus membantah Jahmiyyah,ثُمَّ إِنَّ نَاسًا مِمَّنْ كَتَبُوا الْعِلْمَ بِزَعْمِهِمْ وَادَّعَوْا مَعْرِفَتَهُ وَقَفُوا فِي الْقُرْآنِ، فَقَالُوا: لَا نَقُولُ مَخْلُوقٌ هُوَ وَلَا غَيْرُ مَخْلُوقٍ، وَمَعَ وُقُوفِهِمْ هَذَا لَمْ يَرْضَوْا حَتَّى ادَّعَوْا أَنَّهُمْ يَنْسُبُونَ إِلَى الْبِدْعَةِ مَنْ خَالَفَهُمْ وَقَالَ بِأَحَدِ هَذَيْنِ الْقَوْلَيْنِ.“Kemudian manusia yang menulis ilmu -menurut persangkaan mereka- dan mengklaim memahami ilmu, mereka abstain dalam masalah Al-Qur’an. Mereka berkata, “Kami tidak mengatakan (Al-Qur’an itu) makhluk, dan tidak pula mengatakan (Al-Qur’an itu) bukan makhluk.” Bersama dengan sikap abstain mereka, mereka tidaklah ridha sampai mereka memvonis bid’ah bagi siapa saja yang menyelisihi ucapan mereka. Mereka (Jahmiyyah) pun berkata dengan salah satu dari perkataan ini (lafdziyyah atau al-waaqifah, pen.)” (Ar-Radd ‘ala Jahmiyyah, hal. 193)Sehingga orang-orang yang abstain (al-waaqifah), maka hakikatnya mereka sedang memelihara kebodohan. Bagaikan seseorang berdiri di tanah lapang di siang hari bolong yang terik, lalu dia mengatakan, “Aku tidak mengetahui, apakah sekarang ini masih siang ataukah sudah malam?”Hal ini karena dalil-dalil Al-Qur’an dan As-Sunnah jelas menunjukkan bahwa Al-Qur’an adalah kalamullah dan bukan makhluk, tanpa meninggalkan keraguan sedikit pun. Sehingga ketika mereka “ngotot” mengatakan, “Saya tidak tahu, apakah makhluk atau bukan makhluk?”, hal ini nyata-nyata berpaling dari hidayah (petunjuk). Oleh karena itu, Imam Ahmad rahimahullah memvonis mereka sebagai ahlul bid’ah karena ucapan semacam ini tidak pernah dikatakan oleh satu pun sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan generasi terbaik setelahnya.[Bersambung]***Diselesaikan di sore hari, Rotterdam NL, 27 Rajab 1439/14 April 2018Penulis: M. Saifudin Hakim Referensi:Syarh Al-Ushuul As-Sunnah lil Imam Ahmad bin Hanbal, karya Syaikh Dr. Muhammad bin Sa’iid Raslaan hafidzahullah, Jilid 1 hal 279-287 (penerbit Daarul Minhaj, cetakan ke dua tahun 1437).Diraasaatun fil Bid’ati wal Mubtadi’in, karya Syaikh Dr. Muhammad bin Sa’iid Raslan hafidzahullah, hal. 187-189 (penerbit Daarul Minhaj, cetakan pertama tahun 1436).🔍 Meminta Maaf Sebelum Ramadhan, Hadits Senyum Itu Ibadah, Hukum Menunda Pernikahan Dalam Islam, Ya Allah Ya Rahman, Surat Alzazalah

Puasa dan Al-Quran Memberikan Syafa’at dengan Izin Allah

Puasa dan Al-Quran bisa memberikan syafa’at bagi kaum muslimin di hari kiamat kelak dengan izin Allah.Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,ﺍﻟﺼِّﻴَﺎﻡُ ﻭَﺍﻟْﻘُﺮْﺁﻥُ ﻳَﺸْﻔَﻌَﺎﻥِ ﻟِﻠْﻌَﺒْﺪِ ﻳَﻮْﻡَ ﺍﻟْﻘِﻴَﺎﻣَﺔِ، ﻳَﻘُﻮﻝُ ﺍﻟﺼِّﻴَﺎﻡُ : ﺃَﻱْ ﺭَﺏِّ، ﻣَﻨَﻌْﺘُﻪُ ﺍﻟﻄَّﻌَﺎﻡَ ﻭَﺍﻟﺸَّﻬَﻮَﺍﺕِ ﺑِﺎﻟﻨَّﻬَﺎﺭِ، ﻓَﺸَﻔِّﻌْﻨِﻲ ﻓِﻴﻪِ، ﻭَﻳَﻘُﻮﻝُ ﺍﻟْﻘُﺮْﺁﻥُ : ﻣَﻨَﻌْﺘُﻪُ ﺍﻟﻨَّﻮْﻡَ ﺑِﺎﻟﻠَّﻴْﻞِ، ﻓَﺸَﻔِّﻌْﻨِﻲ ﻓِﻴﻪِ، ﻗَﺎﻝَ : ﻓَﻴُﺸَﻔَّﻌَﺎﻥِ“Amalan puasa dan membaca Al-Qur’an akan memberi syafa’at bagi seorang hamba di hari kiamat. Puasa berkata: Wahai Rabb, aku telah menahannya dari makan dan syahwat di siang hari, maka izinkanlah aku memberi syafa’at kepadanya. Dan Al-Qur’an berkata: Aku menahannya dari tidur di waktu malam, maka izinkanlah aku memberi syafa’at kepadanya, maka keduanya pun diizinkan memberi syafa’at.” [HR. Ahmad, Shahih At-Targhib: 1429] Dalam riwayat yang lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لأَصْحَابِهِ“Rajinlah membaca al-Quran, karena dia akan menjadi syafaat bagi penghafalnya di hari kiamat.” [HR. Muslim 1910] Hendaknya kita sangat berharap syafa’at terutama di bulan Ramadhan yang merupakan bulan berpuasa dan membaca Al-Quran.Apakah itu Syafa’at?Para ulama mendefinisikan syafa’at:ﻓﺎﻟﺸﻔﺎﻋﺔ ﻫﻲ ﺍﻟﺘﻮﺳﻂ ﻟﻠﻐﻴﺮ ﻓﻲ ﺟﻠﺐ ﺍﻟﻤﻨﻔﻌﺔ ﺃﻭ ﺩﻓﻊ ﺍﻟﻤﻀﺮﺓ“Syafa’at adalah sebagai penengah/wasilah bagi yang lain untuk mendatangkan manfaat dan mencegah bahaya/madharat.”Syafa’at ini bisa berupa syafa’at di dunia maupun syafa’at di akhirat. Syafa’at di dunia bisa berupa syafa’at yang baik dam buruk sedangkan syafa’at di akhirat adalah syafa’at yang baikAllah Ta’ala berfirman,مَنْ يَشْفَعْ شَفَاعَةً حَسَنَةً يَكُنْ لَهُ نَصِيبٌ مِنْهَا ۖ وَمَنْ يَشْفَعْ شَفَاعَةً سَيِّئَةً يَكُنْ لَهُ كِفْلٌ مِنْهَا“Barangsiapa yang memberikan syafa’at yang BAIK, niscaya ia akan memperoleh bahagian (pahala) dari padanya. Dan barangsiapa memberi syafa’at yang BURUK, niscaya ia akan memikul bahagian (dosa) dari padanya.” (An-Nisaa’ :85)Maksud hadits yang kami sampaikan di awal tulisan mengenai syafa’at oleh puasa dan Al-Quran adalah syafaat di akhirat. Saat itu, manusia sangat butuh syafa’at dengan izin Allah karena kesusahan yang manusia alami pada hari kiamat, semisal:1. Matahari didekatkan pada manusia sejauh satu mil 2. Manusia ada yang tenggelam dengan keringatnya 3. Manusia ada yang diseret dan berjalan dengan wajahnya 4. Kejadian di padang mahsyar yang sangat lama, di mana satu hari di akhirat sama dengan 1000 tahun di bumi.Kami nukilkan salah satu dalil mengenai hal ini. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ﺇِﻧَّﻜُﻢْ ﺗُﺤْﺸَﺮُﻭْﻥَ ﺭِﺟَﺎﻻً ﻭَﺭُﻛْﺒَﺎﻧًﺎ ﻭَﺗُﺠَﺮُّﻭْﻥَ ﻋَﻠَﻰ ﻭُﺟُﻮْﻫِﻜُﻢْ“Sesungguhnya kalian akan dikumpulkan (ke Padang Mahsyar) dalam keadaan berjalan, dan (ada juga yang) berkendaraan, serta (ada juga yang) diseret di atas wajah-wajah kalian.” (HR. Tirmidzi, Shahih at-Targhib wat-Tarhib  no. 3582).Kita sangat butuh syafa’at di hari kiamat termasuk yang bisa memberi syafa’at adalah puasa dan Al-Quran sebagaimana dalam hadits.Perlu ditekankan bahwa syafa’at ini hanya milik AllahAllah Ta’ala berfirman,ﻗُﻞ ﻟِّﻠَّﻪِ ﭐﻟﺸَّﻔَٰﻌَﺔُ ﺟَﻤِﻴﻌٗﺎۖ“Katakanlah semua syafaat hanyalah milik Allah.” (az-Zumar: 44)Puasa dan Al-Quran serta makhluk lainnya yang bisa memberi syafa’at sebagaimana dalam dalil tidaklah mempunyai syafa’at sebenarnya, tetapi diberikan izin oleh Allah untuk memberikan syafa’at. Oleh karena itu, kita hanya boleh meminta syafa’at hanya kepada Allah saja. Tidak boleh meminta kepada makhluknya. Semisal perkataan yang TIDAK boleh:“Wahai Nabi, aku minta syafa’at-mu”Tapi katakanlah:“Yaa Allah, aku memohon syafa’at Nabi-Mu”Allah Ta’ala berfirmanﻣَﻦ ﺫَﺍ ﭐﻟَّﺬِﻱ ﻳَﺸۡﻔَﻊُ ﻋِﻨﺪَﻩُۥٓ ﺇِﻟَّﺎ ﺑِﺈِﺫۡﻧِﻪِۦۚ“Tidak ada yang memberikan syafaat disisi Allah kecuali dengan izin-Nya.” (al-Baqarah: 255)Semoga kita termasuk orang yang beruntung mendapatkan syafa’at dan bisa memberikan syafa’at pada orang lain.@ Perum PTSC, CileungsiPenyusun: Raehanul BahraenArtikel www.muslim.or.id🔍 Dalil Tentang Riba, Baligh Adalah, Lauh Mahfuzh, Hukum Jilbab Dalam Islam, Keutamaan Menikah Dalam Islam

Puasa dan Al-Quran Memberikan Syafa’at dengan Izin Allah

Puasa dan Al-Quran bisa memberikan syafa’at bagi kaum muslimin di hari kiamat kelak dengan izin Allah.Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,ﺍﻟﺼِّﻴَﺎﻡُ ﻭَﺍﻟْﻘُﺮْﺁﻥُ ﻳَﺸْﻔَﻌَﺎﻥِ ﻟِﻠْﻌَﺒْﺪِ ﻳَﻮْﻡَ ﺍﻟْﻘِﻴَﺎﻣَﺔِ، ﻳَﻘُﻮﻝُ ﺍﻟﺼِّﻴَﺎﻡُ : ﺃَﻱْ ﺭَﺏِّ، ﻣَﻨَﻌْﺘُﻪُ ﺍﻟﻄَّﻌَﺎﻡَ ﻭَﺍﻟﺸَّﻬَﻮَﺍﺕِ ﺑِﺎﻟﻨَّﻬَﺎﺭِ، ﻓَﺸَﻔِّﻌْﻨِﻲ ﻓِﻴﻪِ، ﻭَﻳَﻘُﻮﻝُ ﺍﻟْﻘُﺮْﺁﻥُ : ﻣَﻨَﻌْﺘُﻪُ ﺍﻟﻨَّﻮْﻡَ ﺑِﺎﻟﻠَّﻴْﻞِ، ﻓَﺸَﻔِّﻌْﻨِﻲ ﻓِﻴﻪِ، ﻗَﺎﻝَ : ﻓَﻴُﺸَﻔَّﻌَﺎﻥِ“Amalan puasa dan membaca Al-Qur’an akan memberi syafa’at bagi seorang hamba di hari kiamat. Puasa berkata: Wahai Rabb, aku telah menahannya dari makan dan syahwat di siang hari, maka izinkanlah aku memberi syafa’at kepadanya. Dan Al-Qur’an berkata: Aku menahannya dari tidur di waktu malam, maka izinkanlah aku memberi syafa’at kepadanya, maka keduanya pun diizinkan memberi syafa’at.” [HR. Ahmad, Shahih At-Targhib: 1429] Dalam riwayat yang lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لأَصْحَابِهِ“Rajinlah membaca al-Quran, karena dia akan menjadi syafaat bagi penghafalnya di hari kiamat.” [HR. Muslim 1910] Hendaknya kita sangat berharap syafa’at terutama di bulan Ramadhan yang merupakan bulan berpuasa dan membaca Al-Quran.Apakah itu Syafa’at?Para ulama mendefinisikan syafa’at:ﻓﺎﻟﺸﻔﺎﻋﺔ ﻫﻲ ﺍﻟﺘﻮﺳﻂ ﻟﻠﻐﻴﺮ ﻓﻲ ﺟﻠﺐ ﺍﻟﻤﻨﻔﻌﺔ ﺃﻭ ﺩﻓﻊ ﺍﻟﻤﻀﺮﺓ“Syafa’at adalah sebagai penengah/wasilah bagi yang lain untuk mendatangkan manfaat dan mencegah bahaya/madharat.”Syafa’at ini bisa berupa syafa’at di dunia maupun syafa’at di akhirat. Syafa’at di dunia bisa berupa syafa’at yang baik dam buruk sedangkan syafa’at di akhirat adalah syafa’at yang baikAllah Ta’ala berfirman,مَنْ يَشْفَعْ شَفَاعَةً حَسَنَةً يَكُنْ لَهُ نَصِيبٌ مِنْهَا ۖ وَمَنْ يَشْفَعْ شَفَاعَةً سَيِّئَةً يَكُنْ لَهُ كِفْلٌ مِنْهَا“Barangsiapa yang memberikan syafa’at yang BAIK, niscaya ia akan memperoleh bahagian (pahala) dari padanya. Dan barangsiapa memberi syafa’at yang BURUK, niscaya ia akan memikul bahagian (dosa) dari padanya.” (An-Nisaa’ :85)Maksud hadits yang kami sampaikan di awal tulisan mengenai syafa’at oleh puasa dan Al-Quran adalah syafaat di akhirat. Saat itu, manusia sangat butuh syafa’at dengan izin Allah karena kesusahan yang manusia alami pada hari kiamat, semisal:1. Matahari didekatkan pada manusia sejauh satu mil 2. Manusia ada yang tenggelam dengan keringatnya 3. Manusia ada yang diseret dan berjalan dengan wajahnya 4. Kejadian di padang mahsyar yang sangat lama, di mana satu hari di akhirat sama dengan 1000 tahun di bumi.Kami nukilkan salah satu dalil mengenai hal ini. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ﺇِﻧَّﻜُﻢْ ﺗُﺤْﺸَﺮُﻭْﻥَ ﺭِﺟَﺎﻻً ﻭَﺭُﻛْﺒَﺎﻧًﺎ ﻭَﺗُﺠَﺮُّﻭْﻥَ ﻋَﻠَﻰ ﻭُﺟُﻮْﻫِﻜُﻢْ“Sesungguhnya kalian akan dikumpulkan (ke Padang Mahsyar) dalam keadaan berjalan, dan (ada juga yang) berkendaraan, serta (ada juga yang) diseret di atas wajah-wajah kalian.” (HR. Tirmidzi, Shahih at-Targhib wat-Tarhib  no. 3582).Kita sangat butuh syafa’at di hari kiamat termasuk yang bisa memberi syafa’at adalah puasa dan Al-Quran sebagaimana dalam hadits.Perlu ditekankan bahwa syafa’at ini hanya milik AllahAllah Ta’ala berfirman,ﻗُﻞ ﻟِّﻠَّﻪِ ﭐﻟﺸَّﻔَٰﻌَﺔُ ﺟَﻤِﻴﻌٗﺎۖ“Katakanlah semua syafaat hanyalah milik Allah.” (az-Zumar: 44)Puasa dan Al-Quran serta makhluk lainnya yang bisa memberi syafa’at sebagaimana dalam dalil tidaklah mempunyai syafa’at sebenarnya, tetapi diberikan izin oleh Allah untuk memberikan syafa’at. Oleh karena itu, kita hanya boleh meminta syafa’at hanya kepada Allah saja. Tidak boleh meminta kepada makhluknya. Semisal perkataan yang TIDAK boleh:“Wahai Nabi, aku minta syafa’at-mu”Tapi katakanlah:“Yaa Allah, aku memohon syafa’at Nabi-Mu”Allah Ta’ala berfirmanﻣَﻦ ﺫَﺍ ﭐﻟَّﺬِﻱ ﻳَﺸۡﻔَﻊُ ﻋِﻨﺪَﻩُۥٓ ﺇِﻟَّﺎ ﺑِﺈِﺫۡﻧِﻪِۦۚ“Tidak ada yang memberikan syafaat disisi Allah kecuali dengan izin-Nya.” (al-Baqarah: 255)Semoga kita termasuk orang yang beruntung mendapatkan syafa’at dan bisa memberikan syafa’at pada orang lain.@ Perum PTSC, CileungsiPenyusun: Raehanul BahraenArtikel www.muslim.or.id🔍 Dalil Tentang Riba, Baligh Adalah, Lauh Mahfuzh, Hukum Jilbab Dalam Islam, Keutamaan Menikah Dalam Islam
Puasa dan Al-Quran bisa memberikan syafa’at bagi kaum muslimin di hari kiamat kelak dengan izin Allah.Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,ﺍﻟﺼِّﻴَﺎﻡُ ﻭَﺍﻟْﻘُﺮْﺁﻥُ ﻳَﺸْﻔَﻌَﺎﻥِ ﻟِﻠْﻌَﺒْﺪِ ﻳَﻮْﻡَ ﺍﻟْﻘِﻴَﺎﻣَﺔِ، ﻳَﻘُﻮﻝُ ﺍﻟﺼِّﻴَﺎﻡُ : ﺃَﻱْ ﺭَﺏِّ، ﻣَﻨَﻌْﺘُﻪُ ﺍﻟﻄَّﻌَﺎﻡَ ﻭَﺍﻟﺸَّﻬَﻮَﺍﺕِ ﺑِﺎﻟﻨَّﻬَﺎﺭِ، ﻓَﺸَﻔِّﻌْﻨِﻲ ﻓِﻴﻪِ، ﻭَﻳَﻘُﻮﻝُ ﺍﻟْﻘُﺮْﺁﻥُ : ﻣَﻨَﻌْﺘُﻪُ ﺍﻟﻨَّﻮْﻡَ ﺑِﺎﻟﻠَّﻴْﻞِ، ﻓَﺸَﻔِّﻌْﻨِﻲ ﻓِﻴﻪِ، ﻗَﺎﻝَ : ﻓَﻴُﺸَﻔَّﻌَﺎﻥِ“Amalan puasa dan membaca Al-Qur’an akan memberi syafa’at bagi seorang hamba di hari kiamat. Puasa berkata: Wahai Rabb, aku telah menahannya dari makan dan syahwat di siang hari, maka izinkanlah aku memberi syafa’at kepadanya. Dan Al-Qur’an berkata: Aku menahannya dari tidur di waktu malam, maka izinkanlah aku memberi syafa’at kepadanya, maka keduanya pun diizinkan memberi syafa’at.” [HR. Ahmad, Shahih At-Targhib: 1429] Dalam riwayat yang lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لأَصْحَابِهِ“Rajinlah membaca al-Quran, karena dia akan menjadi syafaat bagi penghafalnya di hari kiamat.” [HR. Muslim 1910] Hendaknya kita sangat berharap syafa’at terutama di bulan Ramadhan yang merupakan bulan berpuasa dan membaca Al-Quran.Apakah itu Syafa’at?Para ulama mendefinisikan syafa’at:ﻓﺎﻟﺸﻔﺎﻋﺔ ﻫﻲ ﺍﻟﺘﻮﺳﻂ ﻟﻠﻐﻴﺮ ﻓﻲ ﺟﻠﺐ ﺍﻟﻤﻨﻔﻌﺔ ﺃﻭ ﺩﻓﻊ ﺍﻟﻤﻀﺮﺓ“Syafa’at adalah sebagai penengah/wasilah bagi yang lain untuk mendatangkan manfaat dan mencegah bahaya/madharat.”Syafa’at ini bisa berupa syafa’at di dunia maupun syafa’at di akhirat. Syafa’at di dunia bisa berupa syafa’at yang baik dam buruk sedangkan syafa’at di akhirat adalah syafa’at yang baikAllah Ta’ala berfirman,مَنْ يَشْفَعْ شَفَاعَةً حَسَنَةً يَكُنْ لَهُ نَصِيبٌ مِنْهَا ۖ وَمَنْ يَشْفَعْ شَفَاعَةً سَيِّئَةً يَكُنْ لَهُ كِفْلٌ مِنْهَا“Barangsiapa yang memberikan syafa’at yang BAIK, niscaya ia akan memperoleh bahagian (pahala) dari padanya. Dan barangsiapa memberi syafa’at yang BURUK, niscaya ia akan memikul bahagian (dosa) dari padanya.” (An-Nisaa’ :85)Maksud hadits yang kami sampaikan di awal tulisan mengenai syafa’at oleh puasa dan Al-Quran adalah syafaat di akhirat. Saat itu, manusia sangat butuh syafa’at dengan izin Allah karena kesusahan yang manusia alami pada hari kiamat, semisal:1. Matahari didekatkan pada manusia sejauh satu mil 2. Manusia ada yang tenggelam dengan keringatnya 3. Manusia ada yang diseret dan berjalan dengan wajahnya 4. Kejadian di padang mahsyar yang sangat lama, di mana satu hari di akhirat sama dengan 1000 tahun di bumi.Kami nukilkan salah satu dalil mengenai hal ini. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ﺇِﻧَّﻜُﻢْ ﺗُﺤْﺸَﺮُﻭْﻥَ ﺭِﺟَﺎﻻً ﻭَﺭُﻛْﺒَﺎﻧًﺎ ﻭَﺗُﺠَﺮُّﻭْﻥَ ﻋَﻠَﻰ ﻭُﺟُﻮْﻫِﻜُﻢْ“Sesungguhnya kalian akan dikumpulkan (ke Padang Mahsyar) dalam keadaan berjalan, dan (ada juga yang) berkendaraan, serta (ada juga yang) diseret di atas wajah-wajah kalian.” (HR. Tirmidzi, Shahih at-Targhib wat-Tarhib  no. 3582).Kita sangat butuh syafa’at di hari kiamat termasuk yang bisa memberi syafa’at adalah puasa dan Al-Quran sebagaimana dalam hadits.Perlu ditekankan bahwa syafa’at ini hanya milik AllahAllah Ta’ala berfirman,ﻗُﻞ ﻟِّﻠَّﻪِ ﭐﻟﺸَّﻔَٰﻌَﺔُ ﺟَﻤِﻴﻌٗﺎۖ“Katakanlah semua syafaat hanyalah milik Allah.” (az-Zumar: 44)Puasa dan Al-Quran serta makhluk lainnya yang bisa memberi syafa’at sebagaimana dalam dalil tidaklah mempunyai syafa’at sebenarnya, tetapi diberikan izin oleh Allah untuk memberikan syafa’at. Oleh karena itu, kita hanya boleh meminta syafa’at hanya kepada Allah saja. Tidak boleh meminta kepada makhluknya. Semisal perkataan yang TIDAK boleh:“Wahai Nabi, aku minta syafa’at-mu”Tapi katakanlah:“Yaa Allah, aku memohon syafa’at Nabi-Mu”Allah Ta’ala berfirmanﻣَﻦ ﺫَﺍ ﭐﻟَّﺬِﻱ ﻳَﺸۡﻔَﻊُ ﻋِﻨﺪَﻩُۥٓ ﺇِﻟَّﺎ ﺑِﺈِﺫۡﻧِﻪِۦۚ“Tidak ada yang memberikan syafaat disisi Allah kecuali dengan izin-Nya.” (al-Baqarah: 255)Semoga kita termasuk orang yang beruntung mendapatkan syafa’at dan bisa memberikan syafa’at pada orang lain.@ Perum PTSC, CileungsiPenyusun: Raehanul BahraenArtikel www.muslim.or.id🔍 Dalil Tentang Riba, Baligh Adalah, Lauh Mahfuzh, Hukum Jilbab Dalam Islam, Keutamaan Menikah Dalam Islam


Puasa dan Al-Quran bisa memberikan syafa’at bagi kaum muslimin di hari kiamat kelak dengan izin Allah.Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,ﺍﻟﺼِّﻴَﺎﻡُ ﻭَﺍﻟْﻘُﺮْﺁﻥُ ﻳَﺸْﻔَﻌَﺎﻥِ ﻟِﻠْﻌَﺒْﺪِ ﻳَﻮْﻡَ ﺍﻟْﻘِﻴَﺎﻣَﺔِ، ﻳَﻘُﻮﻝُ ﺍﻟﺼِّﻴَﺎﻡُ : ﺃَﻱْ ﺭَﺏِّ، ﻣَﻨَﻌْﺘُﻪُ ﺍﻟﻄَّﻌَﺎﻡَ ﻭَﺍﻟﺸَّﻬَﻮَﺍﺕِ ﺑِﺎﻟﻨَّﻬَﺎﺭِ، ﻓَﺸَﻔِّﻌْﻨِﻲ ﻓِﻴﻪِ، ﻭَﻳَﻘُﻮﻝُ ﺍﻟْﻘُﺮْﺁﻥُ : ﻣَﻨَﻌْﺘُﻪُ ﺍﻟﻨَّﻮْﻡَ ﺑِﺎﻟﻠَّﻴْﻞِ، ﻓَﺸَﻔِّﻌْﻨِﻲ ﻓِﻴﻪِ، ﻗَﺎﻝَ : ﻓَﻴُﺸَﻔَّﻌَﺎﻥِ“Amalan puasa dan membaca Al-Qur’an akan memberi syafa’at bagi seorang hamba di hari kiamat. Puasa berkata: Wahai Rabb, aku telah menahannya dari makan dan syahwat di siang hari, maka izinkanlah aku memberi syafa’at kepadanya. Dan Al-Qur’an berkata: Aku menahannya dari tidur di waktu malam, maka izinkanlah aku memberi syafa’at kepadanya, maka keduanya pun diizinkan memberi syafa’at.” [HR. Ahmad, Shahih At-Targhib: 1429] Dalam riwayat yang lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لأَصْحَابِهِ“Rajinlah membaca al-Quran, karena dia akan menjadi syafaat bagi penghafalnya di hari kiamat.” [HR. Muslim 1910] Hendaknya kita sangat berharap syafa’at terutama di bulan Ramadhan yang merupakan bulan berpuasa dan membaca Al-Quran.Apakah itu Syafa’at?Para ulama mendefinisikan syafa’at:ﻓﺎﻟﺸﻔﺎﻋﺔ ﻫﻲ ﺍﻟﺘﻮﺳﻂ ﻟﻠﻐﻴﺮ ﻓﻲ ﺟﻠﺐ ﺍﻟﻤﻨﻔﻌﺔ ﺃﻭ ﺩﻓﻊ ﺍﻟﻤﻀﺮﺓ“Syafa’at adalah sebagai penengah/wasilah bagi yang lain untuk mendatangkan manfaat dan mencegah bahaya/madharat.”Syafa’at ini bisa berupa syafa’at di dunia maupun syafa’at di akhirat. Syafa’at di dunia bisa berupa syafa’at yang baik dam buruk sedangkan syafa’at di akhirat adalah syafa’at yang baikAllah Ta’ala berfirman,مَنْ يَشْفَعْ شَفَاعَةً حَسَنَةً يَكُنْ لَهُ نَصِيبٌ مِنْهَا ۖ وَمَنْ يَشْفَعْ شَفَاعَةً سَيِّئَةً يَكُنْ لَهُ كِفْلٌ مِنْهَا“Barangsiapa yang memberikan syafa’at yang BAIK, niscaya ia akan memperoleh bahagian (pahala) dari padanya. Dan barangsiapa memberi syafa’at yang BURUK, niscaya ia akan memikul bahagian (dosa) dari padanya.” (An-Nisaa’ :85)Maksud hadits yang kami sampaikan di awal tulisan mengenai syafa’at oleh puasa dan Al-Quran adalah syafaat di akhirat. Saat itu, manusia sangat butuh syafa’at dengan izin Allah karena kesusahan yang manusia alami pada hari kiamat, semisal:1. Matahari didekatkan pada manusia sejauh satu mil 2. Manusia ada yang tenggelam dengan keringatnya 3. Manusia ada yang diseret dan berjalan dengan wajahnya 4. Kejadian di padang mahsyar yang sangat lama, di mana satu hari di akhirat sama dengan 1000 tahun di bumi.Kami nukilkan salah satu dalil mengenai hal ini. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ﺇِﻧَّﻜُﻢْ ﺗُﺤْﺸَﺮُﻭْﻥَ ﺭِﺟَﺎﻻً ﻭَﺭُﻛْﺒَﺎﻧًﺎ ﻭَﺗُﺠَﺮُّﻭْﻥَ ﻋَﻠَﻰ ﻭُﺟُﻮْﻫِﻜُﻢْ“Sesungguhnya kalian akan dikumpulkan (ke Padang Mahsyar) dalam keadaan berjalan, dan (ada juga yang) berkendaraan, serta (ada juga yang) diseret di atas wajah-wajah kalian.” (HR. Tirmidzi, Shahih at-Targhib wat-Tarhib  no. 3582).Kita sangat butuh syafa’at di hari kiamat termasuk yang bisa memberi syafa’at adalah puasa dan Al-Quran sebagaimana dalam hadits.Perlu ditekankan bahwa syafa’at ini hanya milik AllahAllah Ta’ala berfirman,ﻗُﻞ ﻟِّﻠَّﻪِ ﭐﻟﺸَّﻔَٰﻌَﺔُ ﺟَﻤِﻴﻌٗﺎۖ“Katakanlah semua syafaat hanyalah milik Allah.” (az-Zumar: 44)Puasa dan Al-Quran serta makhluk lainnya yang bisa memberi syafa’at sebagaimana dalam dalil tidaklah mempunyai syafa’at sebenarnya, tetapi diberikan izin oleh Allah untuk memberikan syafa’at. Oleh karena itu, kita hanya boleh meminta syafa’at hanya kepada Allah saja. Tidak boleh meminta kepada makhluknya. Semisal perkataan yang TIDAK boleh:“Wahai Nabi, aku minta syafa’at-mu”Tapi katakanlah:“Yaa Allah, aku memohon syafa’at Nabi-Mu”Allah Ta’ala berfirmanﻣَﻦ ﺫَﺍ ﭐﻟَّﺬِﻱ ﻳَﺸۡﻔَﻊُ ﻋِﻨﺪَﻩُۥٓ ﺇِﻟَّﺎ ﺑِﺈِﺫۡﻧِﻪِۦۚ“Tidak ada yang memberikan syafaat disisi Allah kecuali dengan izin-Nya.” (al-Baqarah: 255)Semoga kita termasuk orang yang beruntung mendapatkan syafa’at dan bisa memberikan syafa’at pada orang lain.@ Perum PTSC, CileungsiPenyusun: Raehanul BahraenArtikel www.muslim.or.id🔍 Dalil Tentang Riba, Baligh Adalah, Lauh Mahfuzh, Hukum Jilbab Dalam Islam, Keutamaan Menikah Dalam Islam

Mengokohkan Ilmu dengan Beramal

Sangat perhatian dalam mengamalkan ilmuPerhatian dalam mengamalkan ilmu agama merupakan sebab terbesar semakin kokoh dan mantapnya ilmu agama (ilmu syar’i) yang telah kita dapatkan. Jika amal tidak diperhatikan alias ditinggalkan, maka hilanglah ilmu.Dari ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu Ta’ala ‘anhu, beliau berkata,هتف بالعلم العمل ؛ فإن أجابه وإلا ارتحل“Amal itu memanggil dengan sebab ilmu. Jika panggilan itu direspon, (maka itulah yang diharapkan). Jika tidak, maka dia akan pergi.” [1]Oleh karena itu, amal adalah sebab kokohnya ilmu. Asy-Sya’bi rahimahullahu Ta’ala (generasi tabi’in) berkata,كنا نستعين على حفظ الحديث بالعمل به“Dulu kami berusaha untuk menghapal hadits dengan mengamalkannya.” [2]Juga diriwayatkan dari Abu Darda’ radhiyallahu Ta’ala ‘anhu, beliau berkata,إنك لن تكون عالما حتي تكون متعلما، ولن تكون متعلما حتي تكون عاملا بما تعلمت“Sesungguhnya Engkau tidak akan menjadi seorang ‘alim (orang yang berilmu), sampai Engkau belajar (menuntut ilmu). Tidaklah Engkau menjadi penuntut ilmu, sampai Engkau mengamalkan ilmu yang telah Engkau pelajari.” [3]Kalimat-kalimat yang semakna dengan kutipan di atas sangatlah banyak dinukil dari para salaf terdahulu, semoga Allah Ta’ala meridhai dan merahmati mereka semuanya.Memohon pertolongan Allah Ta’ala dalam mengamalkan ilmuDi antara doa yang dirutinkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam setiap hari setelah shalat subuh adalah,اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلًا مُتَقَبَّلًا“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rizki yang baik, dan amal yang diterima.”Dalam riwayat yang lain,وَعَمَلًا صالحا“Dan amal yang shalih.” [4]Dalam doa di atas, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendahulukan ilmu yang bermanfaat sebelum rizki yang baik dan amal yang shalih (amal yang diterima). Hal ini karena seorang hamba tentu saja tidak bisa membedakan mana rizki yang baik dan mana rizki yang tidak baik (yang haram), kecuali dengan ilmu. Demikian pula, seorang hamba tidak bisa membedakan mana amal yang shalih dengan amal yang sia-sia, kecuali dengan ilmu.Doa di atas juga sangat cocok dan sesuai dipanjatkan setiap muslim di pagi hari sebelum memulai berbagai aktivitas harian. Karena hari-hari setiap muslim adalah medan untuk beramal dengan tiga target yang terdapat dalam doa di atas, yaitu: (1) ilmu yang bermanfaat; (2) rizki yang baik (halal); dan (3) amal shalih yang diterima.Setelah memanjatkan doa di atas, seorang muslim berangkat memulai berbagai aktivitasnya, dengan terus memohon pertolongan dari Allah Ta’ala, agar senantiasa mendapatkan bantuan dan pertolongan dalam menuntut ilmu, mencari rezeki yang halal dan bersungguh-sungguh dalam beramal shalih.Ilmu yang bermanfaat dan amal yang diterima adalah dua hal yang saling terkait. Karena “ilmu yang bermanfaat” (al-‘ilmu an-naafi’) itu mengandung dua pengertian:Pertama, dilihat dari sumbernya. Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunnah, juga perkataan para sahabat radhiyallahu ‘anhum dan para ulama yang mendapatkan petunjuk di atas kebenaran.Kedua, dilihat dari dampak ilmu tersebut. Tidak diragukan lagi, ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang membuahkan amal shalih, bukan sekedar hanya sebagai wawasan semata.Dan amal itulah yang akan semakin mengokohkan ilmunya. [5]***@ Sint-Jobskade NL 718, 12 Ramadhan 1439/ 29 Mei 2018Oleh seorang hamba yang sangat butuh ampunan Rabb-nya,Penulis: M. Saifudin Hakim Catatan kaki:[1]     Diriwayatkan oleh Ibnu ‘Asaakir dalam “Dzamm man lam ya’mal bi ‘ilmihi”, hal. 38.[2]     Diriwayatkan oleh Ibnu ‘Abdil Barr dalam “Jaami’ bayaan al-‘ilmi”, 1/709.[3]     Diriwayatkan oleh Al-Khathib Al-Baghdadi dalam “Al-Iqtidha”, hal. 16-17.[4]    Diriwayatkan oleh Ahmad (6/294), Ibnu Majah (no. 925) dan Ath-Thabrani dalam Ad-Du’aa’ (no. 670). Dinilai hasan oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam Nataaijul Afkaar (2/315) dan dinilai shahih oleh Al-Albani dalam Shahih Ibnu Majah.[5]     Pembahasan ini disarikan dari kitab Tsamaratul ‘Ilmi Al-‘Amalu, karya Syaikh ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr.🔍 Teman Dalam Islam, Dosa Orang Yang Meninggalkan Shalat, Air Madzi Wanita, Mahrom Wanita, Hadits Kebaikan Adalah Sedekah

Mengokohkan Ilmu dengan Beramal

Sangat perhatian dalam mengamalkan ilmuPerhatian dalam mengamalkan ilmu agama merupakan sebab terbesar semakin kokoh dan mantapnya ilmu agama (ilmu syar’i) yang telah kita dapatkan. Jika amal tidak diperhatikan alias ditinggalkan, maka hilanglah ilmu.Dari ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu Ta’ala ‘anhu, beliau berkata,هتف بالعلم العمل ؛ فإن أجابه وإلا ارتحل“Amal itu memanggil dengan sebab ilmu. Jika panggilan itu direspon, (maka itulah yang diharapkan). Jika tidak, maka dia akan pergi.” [1]Oleh karena itu, amal adalah sebab kokohnya ilmu. Asy-Sya’bi rahimahullahu Ta’ala (generasi tabi’in) berkata,كنا نستعين على حفظ الحديث بالعمل به“Dulu kami berusaha untuk menghapal hadits dengan mengamalkannya.” [2]Juga diriwayatkan dari Abu Darda’ radhiyallahu Ta’ala ‘anhu, beliau berkata,إنك لن تكون عالما حتي تكون متعلما، ولن تكون متعلما حتي تكون عاملا بما تعلمت“Sesungguhnya Engkau tidak akan menjadi seorang ‘alim (orang yang berilmu), sampai Engkau belajar (menuntut ilmu). Tidaklah Engkau menjadi penuntut ilmu, sampai Engkau mengamalkan ilmu yang telah Engkau pelajari.” [3]Kalimat-kalimat yang semakna dengan kutipan di atas sangatlah banyak dinukil dari para salaf terdahulu, semoga Allah Ta’ala meridhai dan merahmati mereka semuanya.Memohon pertolongan Allah Ta’ala dalam mengamalkan ilmuDi antara doa yang dirutinkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam setiap hari setelah shalat subuh adalah,اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلًا مُتَقَبَّلًا“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rizki yang baik, dan amal yang diterima.”Dalam riwayat yang lain,وَعَمَلًا صالحا“Dan amal yang shalih.” [4]Dalam doa di atas, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendahulukan ilmu yang bermanfaat sebelum rizki yang baik dan amal yang shalih (amal yang diterima). Hal ini karena seorang hamba tentu saja tidak bisa membedakan mana rizki yang baik dan mana rizki yang tidak baik (yang haram), kecuali dengan ilmu. Demikian pula, seorang hamba tidak bisa membedakan mana amal yang shalih dengan amal yang sia-sia, kecuali dengan ilmu.Doa di atas juga sangat cocok dan sesuai dipanjatkan setiap muslim di pagi hari sebelum memulai berbagai aktivitas harian. Karena hari-hari setiap muslim adalah medan untuk beramal dengan tiga target yang terdapat dalam doa di atas, yaitu: (1) ilmu yang bermanfaat; (2) rizki yang baik (halal); dan (3) amal shalih yang diterima.Setelah memanjatkan doa di atas, seorang muslim berangkat memulai berbagai aktivitasnya, dengan terus memohon pertolongan dari Allah Ta’ala, agar senantiasa mendapatkan bantuan dan pertolongan dalam menuntut ilmu, mencari rezeki yang halal dan bersungguh-sungguh dalam beramal shalih.Ilmu yang bermanfaat dan amal yang diterima adalah dua hal yang saling terkait. Karena “ilmu yang bermanfaat” (al-‘ilmu an-naafi’) itu mengandung dua pengertian:Pertama, dilihat dari sumbernya. Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunnah, juga perkataan para sahabat radhiyallahu ‘anhum dan para ulama yang mendapatkan petunjuk di atas kebenaran.Kedua, dilihat dari dampak ilmu tersebut. Tidak diragukan lagi, ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang membuahkan amal shalih, bukan sekedar hanya sebagai wawasan semata.Dan amal itulah yang akan semakin mengokohkan ilmunya. [5]***@ Sint-Jobskade NL 718, 12 Ramadhan 1439/ 29 Mei 2018Oleh seorang hamba yang sangat butuh ampunan Rabb-nya,Penulis: M. Saifudin Hakim Catatan kaki:[1]     Diriwayatkan oleh Ibnu ‘Asaakir dalam “Dzamm man lam ya’mal bi ‘ilmihi”, hal. 38.[2]     Diriwayatkan oleh Ibnu ‘Abdil Barr dalam “Jaami’ bayaan al-‘ilmi”, 1/709.[3]     Diriwayatkan oleh Al-Khathib Al-Baghdadi dalam “Al-Iqtidha”, hal. 16-17.[4]    Diriwayatkan oleh Ahmad (6/294), Ibnu Majah (no. 925) dan Ath-Thabrani dalam Ad-Du’aa’ (no. 670). Dinilai hasan oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam Nataaijul Afkaar (2/315) dan dinilai shahih oleh Al-Albani dalam Shahih Ibnu Majah.[5]     Pembahasan ini disarikan dari kitab Tsamaratul ‘Ilmi Al-‘Amalu, karya Syaikh ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr.🔍 Teman Dalam Islam, Dosa Orang Yang Meninggalkan Shalat, Air Madzi Wanita, Mahrom Wanita, Hadits Kebaikan Adalah Sedekah
Sangat perhatian dalam mengamalkan ilmuPerhatian dalam mengamalkan ilmu agama merupakan sebab terbesar semakin kokoh dan mantapnya ilmu agama (ilmu syar’i) yang telah kita dapatkan. Jika amal tidak diperhatikan alias ditinggalkan, maka hilanglah ilmu.Dari ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu Ta’ala ‘anhu, beliau berkata,هتف بالعلم العمل ؛ فإن أجابه وإلا ارتحل“Amal itu memanggil dengan sebab ilmu. Jika panggilan itu direspon, (maka itulah yang diharapkan). Jika tidak, maka dia akan pergi.” [1]Oleh karena itu, amal adalah sebab kokohnya ilmu. Asy-Sya’bi rahimahullahu Ta’ala (generasi tabi’in) berkata,كنا نستعين على حفظ الحديث بالعمل به“Dulu kami berusaha untuk menghapal hadits dengan mengamalkannya.” [2]Juga diriwayatkan dari Abu Darda’ radhiyallahu Ta’ala ‘anhu, beliau berkata,إنك لن تكون عالما حتي تكون متعلما، ولن تكون متعلما حتي تكون عاملا بما تعلمت“Sesungguhnya Engkau tidak akan menjadi seorang ‘alim (orang yang berilmu), sampai Engkau belajar (menuntut ilmu). Tidaklah Engkau menjadi penuntut ilmu, sampai Engkau mengamalkan ilmu yang telah Engkau pelajari.” [3]Kalimat-kalimat yang semakna dengan kutipan di atas sangatlah banyak dinukil dari para salaf terdahulu, semoga Allah Ta’ala meridhai dan merahmati mereka semuanya.Memohon pertolongan Allah Ta’ala dalam mengamalkan ilmuDi antara doa yang dirutinkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam setiap hari setelah shalat subuh adalah,اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلًا مُتَقَبَّلًا“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rizki yang baik, dan amal yang diterima.”Dalam riwayat yang lain,وَعَمَلًا صالحا“Dan amal yang shalih.” [4]Dalam doa di atas, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendahulukan ilmu yang bermanfaat sebelum rizki yang baik dan amal yang shalih (amal yang diterima). Hal ini karena seorang hamba tentu saja tidak bisa membedakan mana rizki yang baik dan mana rizki yang tidak baik (yang haram), kecuali dengan ilmu. Demikian pula, seorang hamba tidak bisa membedakan mana amal yang shalih dengan amal yang sia-sia, kecuali dengan ilmu.Doa di atas juga sangat cocok dan sesuai dipanjatkan setiap muslim di pagi hari sebelum memulai berbagai aktivitas harian. Karena hari-hari setiap muslim adalah medan untuk beramal dengan tiga target yang terdapat dalam doa di atas, yaitu: (1) ilmu yang bermanfaat; (2) rizki yang baik (halal); dan (3) amal shalih yang diterima.Setelah memanjatkan doa di atas, seorang muslim berangkat memulai berbagai aktivitasnya, dengan terus memohon pertolongan dari Allah Ta’ala, agar senantiasa mendapatkan bantuan dan pertolongan dalam menuntut ilmu, mencari rezeki yang halal dan bersungguh-sungguh dalam beramal shalih.Ilmu yang bermanfaat dan amal yang diterima adalah dua hal yang saling terkait. Karena “ilmu yang bermanfaat” (al-‘ilmu an-naafi’) itu mengandung dua pengertian:Pertama, dilihat dari sumbernya. Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunnah, juga perkataan para sahabat radhiyallahu ‘anhum dan para ulama yang mendapatkan petunjuk di atas kebenaran.Kedua, dilihat dari dampak ilmu tersebut. Tidak diragukan lagi, ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang membuahkan amal shalih, bukan sekedar hanya sebagai wawasan semata.Dan amal itulah yang akan semakin mengokohkan ilmunya. [5]***@ Sint-Jobskade NL 718, 12 Ramadhan 1439/ 29 Mei 2018Oleh seorang hamba yang sangat butuh ampunan Rabb-nya,Penulis: M. Saifudin Hakim Catatan kaki:[1]     Diriwayatkan oleh Ibnu ‘Asaakir dalam “Dzamm man lam ya’mal bi ‘ilmihi”, hal. 38.[2]     Diriwayatkan oleh Ibnu ‘Abdil Barr dalam “Jaami’ bayaan al-‘ilmi”, 1/709.[3]     Diriwayatkan oleh Al-Khathib Al-Baghdadi dalam “Al-Iqtidha”, hal. 16-17.[4]    Diriwayatkan oleh Ahmad (6/294), Ibnu Majah (no. 925) dan Ath-Thabrani dalam Ad-Du’aa’ (no. 670). Dinilai hasan oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam Nataaijul Afkaar (2/315) dan dinilai shahih oleh Al-Albani dalam Shahih Ibnu Majah.[5]     Pembahasan ini disarikan dari kitab Tsamaratul ‘Ilmi Al-‘Amalu, karya Syaikh ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr.🔍 Teman Dalam Islam, Dosa Orang Yang Meninggalkan Shalat, Air Madzi Wanita, Mahrom Wanita, Hadits Kebaikan Adalah Sedekah


Sangat perhatian dalam mengamalkan ilmuPerhatian dalam mengamalkan ilmu agama merupakan sebab terbesar semakin kokoh dan mantapnya ilmu agama (ilmu syar’i) yang telah kita dapatkan. Jika amal tidak diperhatikan alias ditinggalkan, maka hilanglah ilmu.Dari ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu Ta’ala ‘anhu, beliau berkata,هتف بالعلم العمل ؛ فإن أجابه وإلا ارتحل“Amal itu memanggil dengan sebab ilmu. Jika panggilan itu direspon, (maka itulah yang diharapkan). Jika tidak, maka dia akan pergi.” [1]Oleh karena itu, amal adalah sebab kokohnya ilmu. Asy-Sya’bi rahimahullahu Ta’ala (generasi tabi’in) berkata,كنا نستعين على حفظ الحديث بالعمل به“Dulu kami berusaha untuk menghapal hadits dengan mengamalkannya.” [2]Juga diriwayatkan dari Abu Darda’ radhiyallahu Ta’ala ‘anhu, beliau berkata,إنك لن تكون عالما حتي تكون متعلما، ولن تكون متعلما حتي تكون عاملا بما تعلمت“Sesungguhnya Engkau tidak akan menjadi seorang ‘alim (orang yang berilmu), sampai Engkau belajar (menuntut ilmu). Tidaklah Engkau menjadi penuntut ilmu, sampai Engkau mengamalkan ilmu yang telah Engkau pelajari.” [3]Kalimat-kalimat yang semakna dengan kutipan di atas sangatlah banyak dinukil dari para salaf terdahulu, semoga Allah Ta’ala meridhai dan merahmati mereka semuanya.Memohon pertolongan Allah Ta’ala dalam mengamalkan ilmuDi antara doa yang dirutinkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam setiap hari setelah shalat subuh adalah,اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلًا مُتَقَبَّلًا“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rizki yang baik, dan amal yang diterima.”Dalam riwayat yang lain,وَعَمَلًا صالحا“Dan amal yang shalih.” [4]Dalam doa di atas, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendahulukan ilmu yang bermanfaat sebelum rizki yang baik dan amal yang shalih (amal yang diterima). Hal ini karena seorang hamba tentu saja tidak bisa membedakan mana rizki yang baik dan mana rizki yang tidak baik (yang haram), kecuali dengan ilmu. Demikian pula, seorang hamba tidak bisa membedakan mana amal yang shalih dengan amal yang sia-sia, kecuali dengan ilmu.Doa di atas juga sangat cocok dan sesuai dipanjatkan setiap muslim di pagi hari sebelum memulai berbagai aktivitas harian. Karena hari-hari setiap muslim adalah medan untuk beramal dengan tiga target yang terdapat dalam doa di atas, yaitu: (1) ilmu yang bermanfaat; (2) rizki yang baik (halal); dan (3) amal shalih yang diterima.Setelah memanjatkan doa di atas, seorang muslim berangkat memulai berbagai aktivitasnya, dengan terus memohon pertolongan dari Allah Ta’ala, agar senantiasa mendapatkan bantuan dan pertolongan dalam menuntut ilmu, mencari rezeki yang halal dan bersungguh-sungguh dalam beramal shalih.Ilmu yang bermanfaat dan amal yang diterima adalah dua hal yang saling terkait. Karena “ilmu yang bermanfaat” (al-‘ilmu an-naafi’) itu mengandung dua pengertian:Pertama, dilihat dari sumbernya. Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunnah, juga perkataan para sahabat radhiyallahu ‘anhum dan para ulama yang mendapatkan petunjuk di atas kebenaran.Kedua, dilihat dari dampak ilmu tersebut. Tidak diragukan lagi, ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang membuahkan amal shalih, bukan sekedar hanya sebagai wawasan semata.Dan amal itulah yang akan semakin mengokohkan ilmunya. [5]***@ Sint-Jobskade NL 718, 12 Ramadhan 1439/ 29 Mei 2018Oleh seorang hamba yang sangat butuh ampunan Rabb-nya,Penulis: M. Saifudin Hakim Catatan kaki:[1]     Diriwayatkan oleh Ibnu ‘Asaakir dalam “Dzamm man lam ya’mal bi ‘ilmihi”, hal. 38.[2]     Diriwayatkan oleh Ibnu ‘Abdil Barr dalam “Jaami’ bayaan al-‘ilmi”, 1/709.[3]     Diriwayatkan oleh Al-Khathib Al-Baghdadi dalam “Al-Iqtidha”, hal. 16-17.[4]    Diriwayatkan oleh Ahmad (6/294), Ibnu Majah (no. 925) dan Ath-Thabrani dalam Ad-Du’aa’ (no. 670). Dinilai hasan oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam Nataaijul Afkaar (2/315) dan dinilai shahih oleh Al-Albani dalam Shahih Ibnu Majah.[5]     Pembahasan ini disarikan dari kitab Tsamaratul ‘Ilmi Al-‘Amalu, karya Syaikh ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr.🔍 Teman Dalam Islam, Dosa Orang Yang Meninggalkan Shalat, Air Madzi Wanita, Mahrom Wanita, Hadits Kebaikan Adalah Sedekah

Faedah Sirah Nabi: Dakwah Rahasia, Sembunyi-Sembunyi

Download   Apa rahasianya dakwah nabi sampai dilakukan sembunyi-sembunyi di masa awal-awal Islam?   Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengawali dakwahnya dengan rahasia (sirriyyah). Sudah merupakan suatu hal yang lumrah dan alami apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan rahasia itu kepada orang yang paling dekat dengannya dari keluarganya dan teman-teman dekatnya. Selain itu, kepada orang yang diharapkan darinya kebaikan melalui pertimbangan dan cara memilih orang yang bisa dijadikan sebagai teman berkomunikasi, hingga muncullah orang-orang yang memenuhi panggilan tersebut.   Yang paling utama di antaranya adalah: Khadijah binti Khuwailid radhiyallahu ‘anha Ummul Mukminin, istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Waraqah bin Naufal, yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Jangan ada yang mencemooh Waraqah bin Naufal, karena saya telah melihat sebuah surga atau dua buah surga untuknya.” Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Setelah peristiwa itu, tidak lama kemudian Waraqah meninggal.” Karena apa yang dikatakannya adalah ungkapan keimanan terhadap apa yang dia dapatkan, dan sebuah keyakinan terhadap wahyu dan niat yang tulus untuk mengikuti kebenaran yang sebentar lagi tiba. Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Pendeta Waraqah bin Naufal masuk Islam saat itu dan berjanji membela Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tatkala dikeluarkan dari kampung halamannya.” Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Oleh karena itu, kami katakan bahwa yang paling pertama masuk Islam dari kalangan wanita adalah Khadijah dan dari kalangan laki-laki adalah Waraqah bin Naufal.” Namun, karena dia meninggal dunia dengan sangat cepat setelah itu menyebabkan muncul perselisihan tentang keislamannya. Wallahu a’lam. Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu. Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, dia adalah orang yang paling pertama masuk Islam dari kalangan anak-anak. Zaid bin Haritsah pelayan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.   Mereka adalah generasi awal yang gesit melakukan dakwah dengan rahasia, sehingga melalui tangan Abu Bakar, banyak sekali dari kalangan sahabat telah masuk Islam, seperti ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu, Az-Zubair bin Awwam radhiyallahu ‘anhu, ‘Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallahu ‘anhu, Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu, Thalhah bin Ubaidillah radhiyallahu ‘anhu, mereka adalah di antara lima sahabat yang tergolong dalam sepuluh sahabat yang diberi kabar gembira akan masuk surga. Termasuk yang paling awal masuk Islam adalah Abu Ubaidah Amir bin Al-Jarrah, Abu Salamah, Al-Arqam bin Abi Al-Arqam, Utsman bin Mazh’un, dan kedua saudaranya ‘Abdullah dan Said bin Zaid, dan lain-lain. Adapun yang pertama kali masuk Islam secara garis besar dan hampir saja merupakan ijmak adalah Khadijah radhiyallahu ‘anha. Mereka  semua itu masuk Islam secara rahasia dan mereka berkumpul bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan cara rahasia dan sembunyi-sembunyi untuk membacakan wahyu Al-Qur’an dan untuk memberikan pengarahan keagamaan.   Apakah Dakwah Saat Ini Harus Sirriyyah?   Syaikh Abu Bakar Al-Jazairi berkata, “Tidak ada dalil akurat yang bisa dijadikan pegangan oleh mereka yang melakukan dakwah rahasia di negara-negara kaum muslimin dewasa ini. Dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selama tiga tahun tidak bisa dijadikan sebagai pegangan dalam masalah itu, karena beliau dan sahabat-sahabatnya pada waktu itu tidak mampu untuk memperdengarkan kalimat Laa ilaha illallah Muhammadar Rasulullah. Mereka tidak diizinkan untuk melakukan shalat. Tetapi setelah barisan dakwah mereka kuat, maka akhirnya dakwah menjadi terang-terangan. Konsekuensinya, mereka berhadapan dengan siksaan dan intimidasi sebagaimana yang dikenal di kalangan umat Islam. Oleh karena itu, asal dari dakwah ini adalah terang-terangan. Adapun cara rahasia hanya dipakai apabila berhadapan dengan darurat yang kondisinya bisa dipahami oleh orang cerdas. Dakwah sembunyi-sembunyi adalah bentuk pengecualian dan bukan dasar utama.”   Apa Hikmah Dakwah Secara Sirriyyah yang Dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?   Agar warga Mekkah tidak menjadi kaget jika dakwah langsung terang-terangan. Agar barisan dakwah mendapatkan kader-kader yang siap membela dakwah tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukannya terang-terangan. Berdakwah itu sesuai dengan kemampuan. Berdakwah itu tidak tergesa-gesa dalam memetik hasil. Yang pertama kali masuk Islam dari dakwah sirriyyah adalah seorang wanita dan berikutnya menjadi pendukung Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu Khadijah radhiyallahu ‘anha. Abu Bakar mendakwahi lima orang sehingga masuk Islam. Ini dilakukan dengan metode pertemuan, ziarah dan kunjungan, serta membangun komunikasi secara pribadi dalam menjelaskan kebenaran.   Dari sini berarti kita bisa mulai berdakwah dari rumah dan orang-orang dekat kita.   Semoga bermanfaat dan membuat kita semakin semangat dalam berdakwah.   Referensi: Fikih Sirah Nabawiyah. Cetakan kelima, Tahun 2016. Prof. Dr. Zaid bin Abdul Karim Zaid. Penerbit Darus Sunnah.   Diselesaikan pada Jumat siang, 23 Ramadhan di rumah tercinta @ Dusun Warak, Desa Girisekar, Panggang, Gunungkidul Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsdakwah faedah sirah nabi khadijah sirah nabi strategi dakwah

Faedah Sirah Nabi: Dakwah Rahasia, Sembunyi-Sembunyi

Download   Apa rahasianya dakwah nabi sampai dilakukan sembunyi-sembunyi di masa awal-awal Islam?   Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengawali dakwahnya dengan rahasia (sirriyyah). Sudah merupakan suatu hal yang lumrah dan alami apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan rahasia itu kepada orang yang paling dekat dengannya dari keluarganya dan teman-teman dekatnya. Selain itu, kepada orang yang diharapkan darinya kebaikan melalui pertimbangan dan cara memilih orang yang bisa dijadikan sebagai teman berkomunikasi, hingga muncullah orang-orang yang memenuhi panggilan tersebut.   Yang paling utama di antaranya adalah: Khadijah binti Khuwailid radhiyallahu ‘anha Ummul Mukminin, istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Waraqah bin Naufal, yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Jangan ada yang mencemooh Waraqah bin Naufal, karena saya telah melihat sebuah surga atau dua buah surga untuknya.” Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Setelah peristiwa itu, tidak lama kemudian Waraqah meninggal.” Karena apa yang dikatakannya adalah ungkapan keimanan terhadap apa yang dia dapatkan, dan sebuah keyakinan terhadap wahyu dan niat yang tulus untuk mengikuti kebenaran yang sebentar lagi tiba. Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Pendeta Waraqah bin Naufal masuk Islam saat itu dan berjanji membela Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tatkala dikeluarkan dari kampung halamannya.” Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Oleh karena itu, kami katakan bahwa yang paling pertama masuk Islam dari kalangan wanita adalah Khadijah dan dari kalangan laki-laki adalah Waraqah bin Naufal.” Namun, karena dia meninggal dunia dengan sangat cepat setelah itu menyebabkan muncul perselisihan tentang keislamannya. Wallahu a’lam. Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu. Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, dia adalah orang yang paling pertama masuk Islam dari kalangan anak-anak. Zaid bin Haritsah pelayan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.   Mereka adalah generasi awal yang gesit melakukan dakwah dengan rahasia, sehingga melalui tangan Abu Bakar, banyak sekali dari kalangan sahabat telah masuk Islam, seperti ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu, Az-Zubair bin Awwam radhiyallahu ‘anhu, ‘Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallahu ‘anhu, Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu, Thalhah bin Ubaidillah radhiyallahu ‘anhu, mereka adalah di antara lima sahabat yang tergolong dalam sepuluh sahabat yang diberi kabar gembira akan masuk surga. Termasuk yang paling awal masuk Islam adalah Abu Ubaidah Amir bin Al-Jarrah, Abu Salamah, Al-Arqam bin Abi Al-Arqam, Utsman bin Mazh’un, dan kedua saudaranya ‘Abdullah dan Said bin Zaid, dan lain-lain. Adapun yang pertama kali masuk Islam secara garis besar dan hampir saja merupakan ijmak adalah Khadijah radhiyallahu ‘anha. Mereka  semua itu masuk Islam secara rahasia dan mereka berkumpul bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan cara rahasia dan sembunyi-sembunyi untuk membacakan wahyu Al-Qur’an dan untuk memberikan pengarahan keagamaan.   Apakah Dakwah Saat Ini Harus Sirriyyah?   Syaikh Abu Bakar Al-Jazairi berkata, “Tidak ada dalil akurat yang bisa dijadikan pegangan oleh mereka yang melakukan dakwah rahasia di negara-negara kaum muslimin dewasa ini. Dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selama tiga tahun tidak bisa dijadikan sebagai pegangan dalam masalah itu, karena beliau dan sahabat-sahabatnya pada waktu itu tidak mampu untuk memperdengarkan kalimat Laa ilaha illallah Muhammadar Rasulullah. Mereka tidak diizinkan untuk melakukan shalat. Tetapi setelah barisan dakwah mereka kuat, maka akhirnya dakwah menjadi terang-terangan. Konsekuensinya, mereka berhadapan dengan siksaan dan intimidasi sebagaimana yang dikenal di kalangan umat Islam. Oleh karena itu, asal dari dakwah ini adalah terang-terangan. Adapun cara rahasia hanya dipakai apabila berhadapan dengan darurat yang kondisinya bisa dipahami oleh orang cerdas. Dakwah sembunyi-sembunyi adalah bentuk pengecualian dan bukan dasar utama.”   Apa Hikmah Dakwah Secara Sirriyyah yang Dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?   Agar warga Mekkah tidak menjadi kaget jika dakwah langsung terang-terangan. Agar barisan dakwah mendapatkan kader-kader yang siap membela dakwah tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukannya terang-terangan. Berdakwah itu sesuai dengan kemampuan. Berdakwah itu tidak tergesa-gesa dalam memetik hasil. Yang pertama kali masuk Islam dari dakwah sirriyyah adalah seorang wanita dan berikutnya menjadi pendukung Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu Khadijah radhiyallahu ‘anha. Abu Bakar mendakwahi lima orang sehingga masuk Islam. Ini dilakukan dengan metode pertemuan, ziarah dan kunjungan, serta membangun komunikasi secara pribadi dalam menjelaskan kebenaran.   Dari sini berarti kita bisa mulai berdakwah dari rumah dan orang-orang dekat kita.   Semoga bermanfaat dan membuat kita semakin semangat dalam berdakwah.   Referensi: Fikih Sirah Nabawiyah. Cetakan kelima, Tahun 2016. Prof. Dr. Zaid bin Abdul Karim Zaid. Penerbit Darus Sunnah.   Diselesaikan pada Jumat siang, 23 Ramadhan di rumah tercinta @ Dusun Warak, Desa Girisekar, Panggang, Gunungkidul Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsdakwah faedah sirah nabi khadijah sirah nabi strategi dakwah
Download   Apa rahasianya dakwah nabi sampai dilakukan sembunyi-sembunyi di masa awal-awal Islam?   Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengawali dakwahnya dengan rahasia (sirriyyah). Sudah merupakan suatu hal yang lumrah dan alami apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan rahasia itu kepada orang yang paling dekat dengannya dari keluarganya dan teman-teman dekatnya. Selain itu, kepada orang yang diharapkan darinya kebaikan melalui pertimbangan dan cara memilih orang yang bisa dijadikan sebagai teman berkomunikasi, hingga muncullah orang-orang yang memenuhi panggilan tersebut.   Yang paling utama di antaranya adalah: Khadijah binti Khuwailid radhiyallahu ‘anha Ummul Mukminin, istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Waraqah bin Naufal, yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Jangan ada yang mencemooh Waraqah bin Naufal, karena saya telah melihat sebuah surga atau dua buah surga untuknya.” Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Setelah peristiwa itu, tidak lama kemudian Waraqah meninggal.” Karena apa yang dikatakannya adalah ungkapan keimanan terhadap apa yang dia dapatkan, dan sebuah keyakinan terhadap wahyu dan niat yang tulus untuk mengikuti kebenaran yang sebentar lagi tiba. Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Pendeta Waraqah bin Naufal masuk Islam saat itu dan berjanji membela Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tatkala dikeluarkan dari kampung halamannya.” Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Oleh karena itu, kami katakan bahwa yang paling pertama masuk Islam dari kalangan wanita adalah Khadijah dan dari kalangan laki-laki adalah Waraqah bin Naufal.” Namun, karena dia meninggal dunia dengan sangat cepat setelah itu menyebabkan muncul perselisihan tentang keislamannya. Wallahu a’lam. Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu. Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, dia adalah orang yang paling pertama masuk Islam dari kalangan anak-anak. Zaid bin Haritsah pelayan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.   Mereka adalah generasi awal yang gesit melakukan dakwah dengan rahasia, sehingga melalui tangan Abu Bakar, banyak sekali dari kalangan sahabat telah masuk Islam, seperti ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu, Az-Zubair bin Awwam radhiyallahu ‘anhu, ‘Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallahu ‘anhu, Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu, Thalhah bin Ubaidillah radhiyallahu ‘anhu, mereka adalah di antara lima sahabat yang tergolong dalam sepuluh sahabat yang diberi kabar gembira akan masuk surga. Termasuk yang paling awal masuk Islam adalah Abu Ubaidah Amir bin Al-Jarrah, Abu Salamah, Al-Arqam bin Abi Al-Arqam, Utsman bin Mazh’un, dan kedua saudaranya ‘Abdullah dan Said bin Zaid, dan lain-lain. Adapun yang pertama kali masuk Islam secara garis besar dan hampir saja merupakan ijmak adalah Khadijah radhiyallahu ‘anha. Mereka  semua itu masuk Islam secara rahasia dan mereka berkumpul bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan cara rahasia dan sembunyi-sembunyi untuk membacakan wahyu Al-Qur’an dan untuk memberikan pengarahan keagamaan.   Apakah Dakwah Saat Ini Harus Sirriyyah?   Syaikh Abu Bakar Al-Jazairi berkata, “Tidak ada dalil akurat yang bisa dijadikan pegangan oleh mereka yang melakukan dakwah rahasia di negara-negara kaum muslimin dewasa ini. Dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selama tiga tahun tidak bisa dijadikan sebagai pegangan dalam masalah itu, karena beliau dan sahabat-sahabatnya pada waktu itu tidak mampu untuk memperdengarkan kalimat Laa ilaha illallah Muhammadar Rasulullah. Mereka tidak diizinkan untuk melakukan shalat. Tetapi setelah barisan dakwah mereka kuat, maka akhirnya dakwah menjadi terang-terangan. Konsekuensinya, mereka berhadapan dengan siksaan dan intimidasi sebagaimana yang dikenal di kalangan umat Islam. Oleh karena itu, asal dari dakwah ini adalah terang-terangan. Adapun cara rahasia hanya dipakai apabila berhadapan dengan darurat yang kondisinya bisa dipahami oleh orang cerdas. Dakwah sembunyi-sembunyi adalah bentuk pengecualian dan bukan dasar utama.”   Apa Hikmah Dakwah Secara Sirriyyah yang Dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?   Agar warga Mekkah tidak menjadi kaget jika dakwah langsung terang-terangan. Agar barisan dakwah mendapatkan kader-kader yang siap membela dakwah tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukannya terang-terangan. Berdakwah itu sesuai dengan kemampuan. Berdakwah itu tidak tergesa-gesa dalam memetik hasil. Yang pertama kali masuk Islam dari dakwah sirriyyah adalah seorang wanita dan berikutnya menjadi pendukung Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu Khadijah radhiyallahu ‘anha. Abu Bakar mendakwahi lima orang sehingga masuk Islam. Ini dilakukan dengan metode pertemuan, ziarah dan kunjungan, serta membangun komunikasi secara pribadi dalam menjelaskan kebenaran.   Dari sini berarti kita bisa mulai berdakwah dari rumah dan orang-orang dekat kita.   Semoga bermanfaat dan membuat kita semakin semangat dalam berdakwah.   Referensi: Fikih Sirah Nabawiyah. Cetakan kelima, Tahun 2016. Prof. Dr. Zaid bin Abdul Karim Zaid. Penerbit Darus Sunnah.   Diselesaikan pada Jumat siang, 23 Ramadhan di rumah tercinta @ Dusun Warak, Desa Girisekar, Panggang, Gunungkidul Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsdakwah faedah sirah nabi khadijah sirah nabi strategi dakwah


Download   Apa rahasianya dakwah nabi sampai dilakukan sembunyi-sembunyi di masa awal-awal Islam?   Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengawali dakwahnya dengan rahasia (sirriyyah). Sudah merupakan suatu hal yang lumrah dan alami apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan rahasia itu kepada orang yang paling dekat dengannya dari keluarganya dan teman-teman dekatnya. Selain itu, kepada orang yang diharapkan darinya kebaikan melalui pertimbangan dan cara memilih orang yang bisa dijadikan sebagai teman berkomunikasi, hingga muncullah orang-orang yang memenuhi panggilan tersebut.   Yang paling utama di antaranya adalah: Khadijah binti Khuwailid radhiyallahu ‘anha Ummul Mukminin, istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Waraqah bin Naufal, yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Jangan ada yang mencemooh Waraqah bin Naufal, karena saya telah melihat sebuah surga atau dua buah surga untuknya.” Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Setelah peristiwa itu, tidak lama kemudian Waraqah meninggal.” Karena apa yang dikatakannya adalah ungkapan keimanan terhadap apa yang dia dapatkan, dan sebuah keyakinan terhadap wahyu dan niat yang tulus untuk mengikuti kebenaran yang sebentar lagi tiba. Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Pendeta Waraqah bin Naufal masuk Islam saat itu dan berjanji membela Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tatkala dikeluarkan dari kampung halamannya.” Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Oleh karena itu, kami katakan bahwa yang paling pertama masuk Islam dari kalangan wanita adalah Khadijah dan dari kalangan laki-laki adalah Waraqah bin Naufal.” Namun, karena dia meninggal dunia dengan sangat cepat setelah itu menyebabkan muncul perselisihan tentang keislamannya. Wallahu a’lam. Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu. Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, dia adalah orang yang paling pertama masuk Islam dari kalangan anak-anak. Zaid bin Haritsah pelayan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.   Mereka adalah generasi awal yang gesit melakukan dakwah dengan rahasia, sehingga melalui tangan Abu Bakar, banyak sekali dari kalangan sahabat telah masuk Islam, seperti ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu, Az-Zubair bin Awwam radhiyallahu ‘anhu, ‘Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallahu ‘anhu, Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu, Thalhah bin Ubaidillah radhiyallahu ‘anhu, mereka adalah di antara lima sahabat yang tergolong dalam sepuluh sahabat yang diberi kabar gembira akan masuk surga. Termasuk yang paling awal masuk Islam adalah Abu Ubaidah Amir bin Al-Jarrah, Abu Salamah, Al-Arqam bin Abi Al-Arqam, Utsman bin Mazh’un, dan kedua saudaranya ‘Abdullah dan Said bin Zaid, dan lain-lain. Adapun yang pertama kali masuk Islam secara garis besar dan hampir saja merupakan ijmak adalah Khadijah radhiyallahu ‘anha. Mereka  semua itu masuk Islam secara rahasia dan mereka berkumpul bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan cara rahasia dan sembunyi-sembunyi untuk membacakan wahyu Al-Qur’an dan untuk memberikan pengarahan keagamaan.   Apakah Dakwah Saat Ini Harus Sirriyyah?   Syaikh Abu Bakar Al-Jazairi berkata, “Tidak ada dalil akurat yang bisa dijadikan pegangan oleh mereka yang melakukan dakwah rahasia di negara-negara kaum muslimin dewasa ini. Dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selama tiga tahun tidak bisa dijadikan sebagai pegangan dalam masalah itu, karena beliau dan sahabat-sahabatnya pada waktu itu tidak mampu untuk memperdengarkan kalimat Laa ilaha illallah Muhammadar Rasulullah. Mereka tidak diizinkan untuk melakukan shalat. Tetapi setelah barisan dakwah mereka kuat, maka akhirnya dakwah menjadi terang-terangan. Konsekuensinya, mereka berhadapan dengan siksaan dan intimidasi sebagaimana yang dikenal di kalangan umat Islam. Oleh karena itu, asal dari dakwah ini adalah terang-terangan. Adapun cara rahasia hanya dipakai apabila berhadapan dengan darurat yang kondisinya bisa dipahami oleh orang cerdas. Dakwah sembunyi-sembunyi adalah bentuk pengecualian dan bukan dasar utama.”   Apa Hikmah Dakwah Secara Sirriyyah yang Dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?   Agar warga Mekkah tidak menjadi kaget jika dakwah langsung terang-terangan. Agar barisan dakwah mendapatkan kader-kader yang siap membela dakwah tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukannya terang-terangan. Berdakwah itu sesuai dengan kemampuan. Berdakwah itu tidak tergesa-gesa dalam memetik hasil. Yang pertama kali masuk Islam dari dakwah sirriyyah adalah seorang wanita dan berikutnya menjadi pendukung Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu Khadijah radhiyallahu ‘anha. Abu Bakar mendakwahi lima orang sehingga masuk Islam. Ini dilakukan dengan metode pertemuan, ziarah dan kunjungan, serta membangun komunikasi secara pribadi dalam menjelaskan kebenaran.   Dari sini berarti kita bisa mulai berdakwah dari rumah dan orang-orang dekat kita.   Semoga bermanfaat dan membuat kita semakin semangat dalam berdakwah.   Referensi: Fikih Sirah Nabawiyah. Cetakan kelima, Tahun 2016. Prof. Dr. Zaid bin Abdul Karim Zaid. Penerbit Darus Sunnah.   Diselesaikan pada Jumat siang, 23 Ramadhan di rumah tercinta @ Dusun Warak, Desa Girisekar, Panggang, Gunungkidul Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsdakwah faedah sirah nabi khadijah sirah nabi strategi dakwah
Prev     Next