Mintalah Kepada Allah Sampai Perkara Remeh Sekalipun

Berdoalah kepada Allah, meminta segala sesuatu, dari perkara besar sampai perkara kecil-kecil. Allah Ta’ala berfirman:ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ“Berdoalah kepadaKu, Aku akan kabulkan doa kalian. Sungguh orang-orang yang menyombongkan diri karena enggan beribadah kepada-Ku, akan dimasukkan ke dalam neraka Jahannam dalam keadaan hina dina” (QS. Ghafir: 60).Dalam sebuah hadits qudsi, Allah Ta’ala berfirman:يا عبادي ! كلكم جائعٌ إلا من أطعمتُه . فاستطعموني أُطعمكم . يا عبادي ! كلكم عارٍ إلا من كسوتُه . فاستكسوني أكْسُكُم“Wahai hamba-Ku, kalian semua kelaparan, kecuali orang yang aku berikan makan. Maka mintalah makan kepadaku, niscaya aku akan berikan. Wahai hamba-Ku, kalian semua tidak berpakaian, kecuali yang aku berikan pakaian, Maka mintalah pakaian kepada-Ku, niscaya akan aku berikan” (HR. Muslim no. 2577).Perhatikan, urusan makan dan pakaian, Allah perintahkan kita untuk meminta kepada-Nya. Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:إِذَا تَمَنَّى أَحَدُكُم فَلْيُكثِر ، فَإِنَّمَا يَسأَلُ رَبَّهُ عَزَّ وَجَلَّ“Barangsiapa yang mengangankan sesuatu (kepada Allah), maka perbanyaklah angan-angan tersebut. Karena ia sedang meminta kepada Allah Azza wa Jalla” (HR. Ibnu Hibban no. 889, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Al Jami’ no. 437).Aisyah radhiallahu ta’ala ‘anha juga mengatakan:سَلُوا اللَّهَ كُلَّ شَيءٍ حَتَّى الشِّسعَ“Mintalah kepada Allah bahkan meminta tali sendal sekalipun” (HR. Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman 2/42, Al Albani berkata: “mauquf jayyid” dalam Silsilah Adh Dha’ifah no. 1363).Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan:وكان بعض السلف يسأل الله في صلاته كل حوائجه حتى ملح عجينه وعلف شاته“Dahulu para salaf meminta kepada Allah dalam shalatnya, semua kebutuhannya sampai-sampai garam untuk adonannya dan tali kekang untuk kambingnya” (Jami’ Al Ulum wal Hikam, 1/225).Maka perbanyaklah doa kepada Allah, bahkan perkara yang kecil-kecil karena semakin menunjukkan kefaqiran kita di hadapan Allah Ta’ala.Wallahu a’lam. Penulis: Yulian PurnamaArtikel: Muslim.Or.Id🔍 Hukum Koperasi Simpan Pinjam, Cara Menghilangkan Rasa Cinta Sesama Jenis, Muslim Bahagia, Surah Tentang Wanita, Kultum Nasehat

Mintalah Kepada Allah Sampai Perkara Remeh Sekalipun

Berdoalah kepada Allah, meminta segala sesuatu, dari perkara besar sampai perkara kecil-kecil. Allah Ta’ala berfirman:ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ“Berdoalah kepadaKu, Aku akan kabulkan doa kalian. Sungguh orang-orang yang menyombongkan diri karena enggan beribadah kepada-Ku, akan dimasukkan ke dalam neraka Jahannam dalam keadaan hina dina” (QS. Ghafir: 60).Dalam sebuah hadits qudsi, Allah Ta’ala berfirman:يا عبادي ! كلكم جائعٌ إلا من أطعمتُه . فاستطعموني أُطعمكم . يا عبادي ! كلكم عارٍ إلا من كسوتُه . فاستكسوني أكْسُكُم“Wahai hamba-Ku, kalian semua kelaparan, kecuali orang yang aku berikan makan. Maka mintalah makan kepadaku, niscaya aku akan berikan. Wahai hamba-Ku, kalian semua tidak berpakaian, kecuali yang aku berikan pakaian, Maka mintalah pakaian kepada-Ku, niscaya akan aku berikan” (HR. Muslim no. 2577).Perhatikan, urusan makan dan pakaian, Allah perintahkan kita untuk meminta kepada-Nya. Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:إِذَا تَمَنَّى أَحَدُكُم فَلْيُكثِر ، فَإِنَّمَا يَسأَلُ رَبَّهُ عَزَّ وَجَلَّ“Barangsiapa yang mengangankan sesuatu (kepada Allah), maka perbanyaklah angan-angan tersebut. Karena ia sedang meminta kepada Allah Azza wa Jalla” (HR. Ibnu Hibban no. 889, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Al Jami’ no. 437).Aisyah radhiallahu ta’ala ‘anha juga mengatakan:سَلُوا اللَّهَ كُلَّ شَيءٍ حَتَّى الشِّسعَ“Mintalah kepada Allah bahkan meminta tali sendal sekalipun” (HR. Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman 2/42, Al Albani berkata: “mauquf jayyid” dalam Silsilah Adh Dha’ifah no. 1363).Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan:وكان بعض السلف يسأل الله في صلاته كل حوائجه حتى ملح عجينه وعلف شاته“Dahulu para salaf meminta kepada Allah dalam shalatnya, semua kebutuhannya sampai-sampai garam untuk adonannya dan tali kekang untuk kambingnya” (Jami’ Al Ulum wal Hikam, 1/225).Maka perbanyaklah doa kepada Allah, bahkan perkara yang kecil-kecil karena semakin menunjukkan kefaqiran kita di hadapan Allah Ta’ala.Wallahu a’lam. Penulis: Yulian PurnamaArtikel: Muslim.Or.Id🔍 Hukum Koperasi Simpan Pinjam, Cara Menghilangkan Rasa Cinta Sesama Jenis, Muslim Bahagia, Surah Tentang Wanita, Kultum Nasehat
Berdoalah kepada Allah, meminta segala sesuatu, dari perkara besar sampai perkara kecil-kecil. Allah Ta’ala berfirman:ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ“Berdoalah kepadaKu, Aku akan kabulkan doa kalian. Sungguh orang-orang yang menyombongkan diri karena enggan beribadah kepada-Ku, akan dimasukkan ke dalam neraka Jahannam dalam keadaan hina dina” (QS. Ghafir: 60).Dalam sebuah hadits qudsi, Allah Ta’ala berfirman:يا عبادي ! كلكم جائعٌ إلا من أطعمتُه . فاستطعموني أُطعمكم . يا عبادي ! كلكم عارٍ إلا من كسوتُه . فاستكسوني أكْسُكُم“Wahai hamba-Ku, kalian semua kelaparan, kecuali orang yang aku berikan makan. Maka mintalah makan kepadaku, niscaya aku akan berikan. Wahai hamba-Ku, kalian semua tidak berpakaian, kecuali yang aku berikan pakaian, Maka mintalah pakaian kepada-Ku, niscaya akan aku berikan” (HR. Muslim no. 2577).Perhatikan, urusan makan dan pakaian, Allah perintahkan kita untuk meminta kepada-Nya. Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:إِذَا تَمَنَّى أَحَدُكُم فَلْيُكثِر ، فَإِنَّمَا يَسأَلُ رَبَّهُ عَزَّ وَجَلَّ“Barangsiapa yang mengangankan sesuatu (kepada Allah), maka perbanyaklah angan-angan tersebut. Karena ia sedang meminta kepada Allah Azza wa Jalla” (HR. Ibnu Hibban no. 889, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Al Jami’ no. 437).Aisyah radhiallahu ta’ala ‘anha juga mengatakan:سَلُوا اللَّهَ كُلَّ شَيءٍ حَتَّى الشِّسعَ“Mintalah kepada Allah bahkan meminta tali sendal sekalipun” (HR. Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman 2/42, Al Albani berkata: “mauquf jayyid” dalam Silsilah Adh Dha’ifah no. 1363).Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan:وكان بعض السلف يسأل الله في صلاته كل حوائجه حتى ملح عجينه وعلف شاته“Dahulu para salaf meminta kepada Allah dalam shalatnya, semua kebutuhannya sampai-sampai garam untuk adonannya dan tali kekang untuk kambingnya” (Jami’ Al Ulum wal Hikam, 1/225).Maka perbanyaklah doa kepada Allah, bahkan perkara yang kecil-kecil karena semakin menunjukkan kefaqiran kita di hadapan Allah Ta’ala.Wallahu a’lam. Penulis: Yulian PurnamaArtikel: Muslim.Or.Id🔍 Hukum Koperasi Simpan Pinjam, Cara Menghilangkan Rasa Cinta Sesama Jenis, Muslim Bahagia, Surah Tentang Wanita, Kultum Nasehat


Berdoalah kepada Allah, meminta segala sesuatu, dari perkara besar sampai perkara kecil-kecil. Allah Ta’ala berfirman:ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ“Berdoalah kepadaKu, Aku akan kabulkan doa kalian. Sungguh orang-orang yang menyombongkan diri karena enggan beribadah kepada-Ku, akan dimasukkan ke dalam neraka Jahannam dalam keadaan hina dina” (QS. Ghafir: 60).Dalam sebuah hadits qudsi, Allah Ta’ala berfirman:يا عبادي ! كلكم جائعٌ إلا من أطعمتُه . فاستطعموني أُطعمكم . يا عبادي ! كلكم عارٍ إلا من كسوتُه . فاستكسوني أكْسُكُم“Wahai hamba-Ku, kalian semua kelaparan, kecuali orang yang aku berikan makan. Maka mintalah makan kepadaku, niscaya aku akan berikan. Wahai hamba-Ku, kalian semua tidak berpakaian, kecuali yang aku berikan pakaian, Maka mintalah pakaian kepada-Ku, niscaya akan aku berikan” (HR. Muslim no. 2577).Perhatikan, urusan makan dan pakaian, Allah perintahkan kita untuk meminta kepada-Nya. Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:إِذَا تَمَنَّى أَحَدُكُم فَلْيُكثِر ، فَإِنَّمَا يَسأَلُ رَبَّهُ عَزَّ وَجَلَّ“Barangsiapa yang mengangankan sesuatu (kepada Allah), maka perbanyaklah angan-angan tersebut. Karena ia sedang meminta kepada Allah Azza wa Jalla” (HR. Ibnu Hibban no. 889, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Al Jami’ no. 437).Aisyah radhiallahu ta’ala ‘anha juga mengatakan:سَلُوا اللَّهَ كُلَّ شَيءٍ حَتَّى الشِّسعَ“Mintalah kepada Allah bahkan meminta tali sendal sekalipun” (HR. Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman 2/42, Al Albani berkata: “mauquf jayyid” dalam Silsilah Adh Dha’ifah no. 1363).Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan:وكان بعض السلف يسأل الله في صلاته كل حوائجه حتى ملح عجينه وعلف شاته“Dahulu para salaf meminta kepada Allah dalam shalatnya, semua kebutuhannya sampai-sampai garam untuk adonannya dan tali kekang untuk kambingnya” (Jami’ Al Ulum wal Hikam, 1/225).Maka perbanyaklah doa kepada Allah, bahkan perkara yang kecil-kecil karena semakin menunjukkan kefaqiran kita di hadapan Allah Ta’ala.Wallahu a’lam. Penulis: Yulian PurnamaArtikel: Muslim.Or.Id🔍 Hukum Koperasi Simpan Pinjam, Cara Menghilangkan Rasa Cinta Sesama Jenis, Muslim Bahagia, Surah Tentang Wanita, Kultum Nasehat

Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 143: MENDOAKAN SESAMA BUKTI KETULUSAN HATI

Mendoakan kebaikan untuk sesama muslim adalah amalan lisan. Namun ini menunjukkan ketulusan hati. Kepedulian, kasih sayang dan perhatian, seyogyanya diwujudkan antara lain dengan mendoakan orang lain. Memohon kepada Allah agar saudaranya dikaruniai hidayah serta kesuksesan dunia dan akhirat. Itulah sosok kepribadian muslim yang ideal. Selalu mengharapkan kebaikan untuk sesama. Jika belum bisa demikian, maka minimal ia tidak menyakiti mereka.Dalam hadits sahih dijelaskan,عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «المُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ المُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ»Dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhuma, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda, “Muslim sejati adalah yang tidak mengganggu muslim lain dengan lisan dan tangannya”. HR. Bukhari dan Muslim.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,«عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ صَدَقَةٌ»، فَقَالُوا: يَا نَبِيَّ اللَّهِ، فَمَنْ لَمْ يَجِدْ؟ قَالَ: «يَعْمَلُ بِيَدِهِ، فَيَنْفَعُ نَفْسَهُ وَيَتَصَدَّقُ» قَالُوا: فَإِنْ لَمْ يَجِدْ؟ قَالَ: «يُعِينُ ذَا الحَاجَةِ المَلْهُوفَ» قَالُوا: فَإِنْ لَمْ يَجِدْ؟ قَالَ: «فَلْيَعْمَلْ بِالْمَعْرُوفِ، وَلْيُمْسِكْ عَنِ الشَّرِّ، فَإِنَّهَا لَهُ صَدَقَةٌ»“Seyogyanya setiap muslim bersedekah”. Para sahabat bertanya, “Wahai Nabiyullah, orang yang tidak punya sesuatu untuk bersedekah bagaimana?”. Beliau menjawab, “Hendaklah ia bekerja dengan tangannya. Sehingga memberi manfaat untuk dirinya sendiri lalu bisa bersedekah”. Mereka bertanya lagi, “Bagaimana bila tidak tersisa?”. Beliau menjawab, “Hendaklah ia menolong orang yang sedang sangat membutuhkan bantuan”. Mereka bertanya kembali, “Jika ia tidak mampu juga?”. Beliau menjawab, “Hendaklah ia berbuat kebaikan dan tidak mengganggu orang lain. Sungguh itu sudah terhitung sedekah”. HR. Bukhari dan Muslim.Seorang muslim selalu menjaga lisannya. Tidak berucap kecuali yang baik-baik saja. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mewanti-wanti,“لَيْسَ الْمُؤْمِنُ بِالطَّعَّانِ وَلاَ اللَّعَّانِ وَلاَ الفَاحِشِ وَلاَ البَذِيءِ““Mukmin itu bukan orang yang suka mencela, gemar melaknat, suka berbuat/ berkata keji dan berkata kotor/ jorok”. HR. Tirmidziy dan dinilai sahih oleh Ibn Hibban juga al-Albaniy. Lisan yang kotor adalah pertanda hati yang kotor. Apalagi bila yang ia cela adalah manusia-manusia mulia. Contohnya: para sahabat Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam. Merendahkan mereka adalah indikator penyimpangan pemahaman pelakunya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah mewanti-wanti,«لَا تَسُبُّوا أَحَدًا مِنْ أَصْحَابِي، فَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَوْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا، مَا أَدْرَكَ مُدَّ أَحَدِهِمْ، وَلَا نَصِيفَهُ»“Jangan kalian mencela seorangpun dari sahabatku. Bila kalian berinfak emas sebesar gunung Uhud, sungguh tidak akan menyamai pahala infak mereka yang hanya setelapak tangan atau separuhnya”. HR. Bukhari dan Muslim.Termasuk hal yang dilarang juga adalah mencela para ulama serta orang-orang salih. @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 18 R. Awwal 1440 / 26 Nopember 2018 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 142: KEUNTUNGAN MENDOAKAN KAUM MUSLIMINNext Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 144: MENDOAKAN ORANG TUA DAN KERABAT Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 143: MENDOAKAN SESAMA BUKTI KETULUSAN HATI

Mendoakan kebaikan untuk sesama muslim adalah amalan lisan. Namun ini menunjukkan ketulusan hati. Kepedulian, kasih sayang dan perhatian, seyogyanya diwujudkan antara lain dengan mendoakan orang lain. Memohon kepada Allah agar saudaranya dikaruniai hidayah serta kesuksesan dunia dan akhirat. Itulah sosok kepribadian muslim yang ideal. Selalu mengharapkan kebaikan untuk sesama. Jika belum bisa demikian, maka minimal ia tidak menyakiti mereka.Dalam hadits sahih dijelaskan,عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «المُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ المُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ»Dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhuma, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda, “Muslim sejati adalah yang tidak mengganggu muslim lain dengan lisan dan tangannya”. HR. Bukhari dan Muslim.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,«عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ صَدَقَةٌ»، فَقَالُوا: يَا نَبِيَّ اللَّهِ، فَمَنْ لَمْ يَجِدْ؟ قَالَ: «يَعْمَلُ بِيَدِهِ، فَيَنْفَعُ نَفْسَهُ وَيَتَصَدَّقُ» قَالُوا: فَإِنْ لَمْ يَجِدْ؟ قَالَ: «يُعِينُ ذَا الحَاجَةِ المَلْهُوفَ» قَالُوا: فَإِنْ لَمْ يَجِدْ؟ قَالَ: «فَلْيَعْمَلْ بِالْمَعْرُوفِ، وَلْيُمْسِكْ عَنِ الشَّرِّ، فَإِنَّهَا لَهُ صَدَقَةٌ»“Seyogyanya setiap muslim bersedekah”. Para sahabat bertanya, “Wahai Nabiyullah, orang yang tidak punya sesuatu untuk bersedekah bagaimana?”. Beliau menjawab, “Hendaklah ia bekerja dengan tangannya. Sehingga memberi manfaat untuk dirinya sendiri lalu bisa bersedekah”. Mereka bertanya lagi, “Bagaimana bila tidak tersisa?”. Beliau menjawab, “Hendaklah ia menolong orang yang sedang sangat membutuhkan bantuan”. Mereka bertanya kembali, “Jika ia tidak mampu juga?”. Beliau menjawab, “Hendaklah ia berbuat kebaikan dan tidak mengganggu orang lain. Sungguh itu sudah terhitung sedekah”. HR. Bukhari dan Muslim.Seorang muslim selalu menjaga lisannya. Tidak berucap kecuali yang baik-baik saja. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mewanti-wanti,“لَيْسَ الْمُؤْمِنُ بِالطَّعَّانِ وَلاَ اللَّعَّانِ وَلاَ الفَاحِشِ وَلاَ البَذِيءِ““Mukmin itu bukan orang yang suka mencela, gemar melaknat, suka berbuat/ berkata keji dan berkata kotor/ jorok”. HR. Tirmidziy dan dinilai sahih oleh Ibn Hibban juga al-Albaniy. Lisan yang kotor adalah pertanda hati yang kotor. Apalagi bila yang ia cela adalah manusia-manusia mulia. Contohnya: para sahabat Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam. Merendahkan mereka adalah indikator penyimpangan pemahaman pelakunya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah mewanti-wanti,«لَا تَسُبُّوا أَحَدًا مِنْ أَصْحَابِي، فَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَوْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا، مَا أَدْرَكَ مُدَّ أَحَدِهِمْ، وَلَا نَصِيفَهُ»“Jangan kalian mencela seorangpun dari sahabatku. Bila kalian berinfak emas sebesar gunung Uhud, sungguh tidak akan menyamai pahala infak mereka yang hanya setelapak tangan atau separuhnya”. HR. Bukhari dan Muslim.Termasuk hal yang dilarang juga adalah mencela para ulama serta orang-orang salih. @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 18 R. Awwal 1440 / 26 Nopember 2018 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 142: KEUNTUNGAN MENDOAKAN KAUM MUSLIMINNext Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 144: MENDOAKAN ORANG TUA DAN KERABAT Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Mendoakan kebaikan untuk sesama muslim adalah amalan lisan. Namun ini menunjukkan ketulusan hati. Kepedulian, kasih sayang dan perhatian, seyogyanya diwujudkan antara lain dengan mendoakan orang lain. Memohon kepada Allah agar saudaranya dikaruniai hidayah serta kesuksesan dunia dan akhirat. Itulah sosok kepribadian muslim yang ideal. Selalu mengharapkan kebaikan untuk sesama. Jika belum bisa demikian, maka minimal ia tidak menyakiti mereka.Dalam hadits sahih dijelaskan,عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «المُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ المُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ»Dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhuma, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda, “Muslim sejati adalah yang tidak mengganggu muslim lain dengan lisan dan tangannya”. HR. Bukhari dan Muslim.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,«عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ صَدَقَةٌ»، فَقَالُوا: يَا نَبِيَّ اللَّهِ، فَمَنْ لَمْ يَجِدْ؟ قَالَ: «يَعْمَلُ بِيَدِهِ، فَيَنْفَعُ نَفْسَهُ وَيَتَصَدَّقُ» قَالُوا: فَإِنْ لَمْ يَجِدْ؟ قَالَ: «يُعِينُ ذَا الحَاجَةِ المَلْهُوفَ» قَالُوا: فَإِنْ لَمْ يَجِدْ؟ قَالَ: «فَلْيَعْمَلْ بِالْمَعْرُوفِ، وَلْيُمْسِكْ عَنِ الشَّرِّ، فَإِنَّهَا لَهُ صَدَقَةٌ»“Seyogyanya setiap muslim bersedekah”. Para sahabat bertanya, “Wahai Nabiyullah, orang yang tidak punya sesuatu untuk bersedekah bagaimana?”. Beliau menjawab, “Hendaklah ia bekerja dengan tangannya. Sehingga memberi manfaat untuk dirinya sendiri lalu bisa bersedekah”. Mereka bertanya lagi, “Bagaimana bila tidak tersisa?”. Beliau menjawab, “Hendaklah ia menolong orang yang sedang sangat membutuhkan bantuan”. Mereka bertanya kembali, “Jika ia tidak mampu juga?”. Beliau menjawab, “Hendaklah ia berbuat kebaikan dan tidak mengganggu orang lain. Sungguh itu sudah terhitung sedekah”. HR. Bukhari dan Muslim.Seorang muslim selalu menjaga lisannya. Tidak berucap kecuali yang baik-baik saja. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mewanti-wanti,“لَيْسَ الْمُؤْمِنُ بِالطَّعَّانِ وَلاَ اللَّعَّانِ وَلاَ الفَاحِشِ وَلاَ البَذِيءِ““Mukmin itu bukan orang yang suka mencela, gemar melaknat, suka berbuat/ berkata keji dan berkata kotor/ jorok”. HR. Tirmidziy dan dinilai sahih oleh Ibn Hibban juga al-Albaniy. Lisan yang kotor adalah pertanda hati yang kotor. Apalagi bila yang ia cela adalah manusia-manusia mulia. Contohnya: para sahabat Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam. Merendahkan mereka adalah indikator penyimpangan pemahaman pelakunya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah mewanti-wanti,«لَا تَسُبُّوا أَحَدًا مِنْ أَصْحَابِي، فَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَوْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا، مَا أَدْرَكَ مُدَّ أَحَدِهِمْ، وَلَا نَصِيفَهُ»“Jangan kalian mencela seorangpun dari sahabatku. Bila kalian berinfak emas sebesar gunung Uhud, sungguh tidak akan menyamai pahala infak mereka yang hanya setelapak tangan atau separuhnya”. HR. Bukhari dan Muslim.Termasuk hal yang dilarang juga adalah mencela para ulama serta orang-orang salih. @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 18 R. Awwal 1440 / 26 Nopember 2018 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 142: KEUNTUNGAN MENDOAKAN KAUM MUSLIMINNext Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 144: MENDOAKAN ORANG TUA DAN KERABAT Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Mendoakan kebaikan untuk sesama muslim adalah amalan lisan. Namun ini menunjukkan ketulusan hati. Kepedulian, kasih sayang dan perhatian, seyogyanya diwujudkan antara lain dengan mendoakan orang lain. Memohon kepada Allah agar saudaranya dikaruniai hidayah serta kesuksesan dunia dan akhirat. Itulah sosok kepribadian muslim yang ideal. Selalu mengharapkan kebaikan untuk sesama. Jika belum bisa demikian, maka minimal ia tidak menyakiti mereka.Dalam hadits sahih dijelaskan,عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «المُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ المُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ»Dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhuma, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda, “Muslim sejati adalah yang tidak mengganggu muslim lain dengan lisan dan tangannya”. HR. Bukhari dan Muslim.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,«عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ صَدَقَةٌ»، فَقَالُوا: يَا نَبِيَّ اللَّهِ، فَمَنْ لَمْ يَجِدْ؟ قَالَ: «يَعْمَلُ بِيَدِهِ، فَيَنْفَعُ نَفْسَهُ وَيَتَصَدَّقُ» قَالُوا: فَإِنْ لَمْ يَجِدْ؟ قَالَ: «يُعِينُ ذَا الحَاجَةِ المَلْهُوفَ» قَالُوا: فَإِنْ لَمْ يَجِدْ؟ قَالَ: «فَلْيَعْمَلْ بِالْمَعْرُوفِ، وَلْيُمْسِكْ عَنِ الشَّرِّ، فَإِنَّهَا لَهُ صَدَقَةٌ»“Seyogyanya setiap muslim bersedekah”. Para sahabat bertanya, “Wahai Nabiyullah, orang yang tidak punya sesuatu untuk bersedekah bagaimana?”. Beliau menjawab, “Hendaklah ia bekerja dengan tangannya. Sehingga memberi manfaat untuk dirinya sendiri lalu bisa bersedekah”. Mereka bertanya lagi, “Bagaimana bila tidak tersisa?”. Beliau menjawab, “Hendaklah ia menolong orang yang sedang sangat membutuhkan bantuan”. Mereka bertanya kembali, “Jika ia tidak mampu juga?”. Beliau menjawab, “Hendaklah ia berbuat kebaikan dan tidak mengganggu orang lain. Sungguh itu sudah terhitung sedekah”. HR. Bukhari dan Muslim.Seorang muslim selalu menjaga lisannya. Tidak berucap kecuali yang baik-baik saja. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mewanti-wanti,“لَيْسَ الْمُؤْمِنُ بِالطَّعَّانِ وَلاَ اللَّعَّانِ وَلاَ الفَاحِشِ وَلاَ البَذِيءِ““Mukmin itu bukan orang yang suka mencela, gemar melaknat, suka berbuat/ berkata keji dan berkata kotor/ jorok”. HR. Tirmidziy dan dinilai sahih oleh Ibn Hibban juga al-Albaniy. Lisan yang kotor adalah pertanda hati yang kotor. Apalagi bila yang ia cela adalah manusia-manusia mulia. Contohnya: para sahabat Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam. Merendahkan mereka adalah indikator penyimpangan pemahaman pelakunya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah mewanti-wanti,«لَا تَسُبُّوا أَحَدًا مِنْ أَصْحَابِي، فَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَوْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا، مَا أَدْرَكَ مُدَّ أَحَدِهِمْ، وَلَا نَصِيفَهُ»“Jangan kalian mencela seorangpun dari sahabatku. Bila kalian berinfak emas sebesar gunung Uhud, sungguh tidak akan menyamai pahala infak mereka yang hanya setelapak tangan atau separuhnya”. HR. Bukhari dan Muslim.Termasuk hal yang dilarang juga adalah mencela para ulama serta orang-orang salih. @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 18 R. Awwal 1440 / 26 Nopember 2018 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 142: KEUNTUNGAN MENDOAKAN KAUM MUSLIMINNext Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 144: MENDOAKAN ORANG TUA DAN KERABAT Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Memahami Hakikat Kesyirikan pada Zaman Jahiliyyah (Bag. 1)

Seseorang yang bertauhid (muwahhid), wajib untuk takut terhadap perbuatan syirik. Tidak selayaknya dia mengatakan, “Saya seorang muwahhid, dan saya telah memahami tauhid, sehingga tidak mungkin saya berbuat syirik.” Perkataan seperti ini adalah hasil dari tipu daya setan, dan seseorang hendaknya tidak memuji dan menyombongkan dirinya sendiri. Seseorang tidak boleh untuk tidak takut terhadap perbuatan syirik selama dia masih hidup. Karena selama itu pula dia akan menemui berbagai macam fitnah.Fitnah kesyirikan adalah fitnah yang sangat berbahaya. Sehingga seseorang selayaknya untuk tidak merasa aman dari tergelincir dalam kesesatan dan dari terjerumus ke dalam perbuatan syirik. Oleh karena itulah, dia harus mempelajari permasalahan syirik ini agar dapat menjauhkan diri darinya. Dan hendaknya seseorang meminta pertolongan kepada Allah Ta’ala dan memohon penjagaan dan petunjuk dari-Nya. [1]Ketidaktahuan Masyarakat terhadap Hakikat SyirikSalah satu akibat jauhnya masyarakat dari ilmu tauhid adalah ketidaktahuan mereka terhadap hakikat syirik yang sebenarnya. Yang mereka fahami, yang disebut sebagai syirik itu adalah jika ada seseorang yang tidak percaya adanya Tuhan, atau jika dia bersujud menyembah patung, batu, pohon, dan sebagainya sebagaimana kaum musyrikin dahulu. Atau seseorang baru disebut sebagai orang musyrik jika yang disembah adalah batu, pohon, patung, dan sejenisnya. Adapun jika yang disembah adalah orang shalih dan para wali yang memiliki kedudukan di sisi Allah Ta’ala, maka hal itu bukanlah kesyirikan. Sehingga dengan “entengnya” seseorang mengatakan, ”Nggak usah belajar tauhid pun, tidak mungkin orang berakal akan menyembah batu atau kayu yang tidak bisa berbuat apa-apa.”Karena kebodohan itulah, mereka tidak bisa memahami, mengapa orang musyrik dahulu disebut sebagai seorang musyrik? Mereka juga tidak memahami, siapakah sesembahan orang musyrik zaman dahulu? Yang mereka fahami, orang musyrik Quraisy dahulu disebut sebagai orang musyrik karena tidak percaya adanya Allah Ta’ala serta menyembah patung dan berhala. Padahal kenyataannya, mereka adalah masyarakat yang beriman kepada rububiyyah Allah Ta’ala. Mereka meyakini bahwa Allah adalah satu-satunya Dzat Yang menciptakan, memberikan rizki, dan mengatur urusan alam semesta. [2] Bahkan keimanan mereka tidak hanya berhenti di situ saja, bahkan mereka pun beribadah kepada Allah Ta’ala. Berikut ini penulis sampaikan sedikit pembahasan tentang dalil-dalil yang menunjukkan bahwa orang musyrik Quraisy adalah masyarakat yang beribadah kepada Allah Ta’ala.Orang-Orang Musyrik Jahiliyyah adalah Masyarakat yang Beribadah kepada AllahSyaikh Shalih bin Abdul Aziz Alu Syaikh hafidzahullah menjelaskan bahwa orang-orang musyrik jahiliyyah bukanlah masyarakat yang tidak beribadah kepada Allah Ta’ala. Bahkan di antara mereka ada orang-orang yang ahli puasa, ahli shalat, ahli berhaji, ahli zakat, ahli sedekah, ahli mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala dengan melaksanakan thawaf atau ber-i’tikaf, dan ibadah-ibadah lainnya. Mereka tidak hanya mencukupkan diri dengan hanya mengakui bahwa Allah-lah satu-satunya Dzat Yang menciptakan atau mentauhidkan Allah dalam rububiyyah-Nya saja. Namun, mereka juga kemudian beribadah kepada Allah dengan melaksanakan shalat, zakat, haji, dan puasa. [3]Di antara bukti yang menunjukkan hal tersebut adalah beberapa ayat dan hadits berikut ini.Bukti pertama, orang-orang musyrik jahiliyyah adalah masyarakat yang mencintai Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman,وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ“Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah. Mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman, amat sangat cintanya kepada Allah” (QS. Al-Baqarah [2]: 165).Ayat tersebut menunjukkan bahwa orang-orang musyrik mencintai sesembahan-sesembahan mereka, sebagaimana mereka juga mencintai Allah Ta’ala. Padahal kita telah mengetahui bahwa cinta (mahabbah) adalah salah satu bentuk ibadah yang sangat agung di sisi Allah Ta’ala. Namun, meskipun mereka sangat mencintai Allah Ta’ala, kecintaan mereka itu tidaklah memasukkan mereka ke dalam Islam. Karena di samping mencintai Allah Ta’ala, ternyata mereka juga mencintai selain Allah Ta’ala. Oleh karena itu, barangsiapa yang mencintai Allah Ta’ala atau mencintai karena Allah Ta’ala, maka dia-lah orang-orang yang ikhlas. Dan barangsiapa yang mencintai Allah Ta’ala dan juga mencintai selain Allah Ta’ala, itulah orang musyrik. [4]Bukti kedua, orang-orang musyrik juga bernadzar kepada Allah Ta’ala. Hal ini ditunjukkan dari hadits Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Umar radhiyallahu ‘anhu bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Dulu di masa jahiliyyah aku pernah bernadzar untuk ber-i’tikaf semalam di Masjidil Haram?”  Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,فَأَوْفِ بِنَذْرِكَ “Tunaikanlah nadzarmu” (HR. Bukhari no. 2032).Perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Umar untuk menunaikan nadzarnya dalam kondisi telah masuk Islam, padahal nadzarnya itu diucapkan ketika masih jahiliyyah menunjukkan bahwa nadzarnya itu adalah karena Allah Ta’ala yang merupakan kebaikan di dalam agama Islam. [5] Jika nadzar itu dulunya ditujukan kepada selain Allah Ta’ala, tentu akan dilarang oleh Rasulullah untuk ditunaikan ketika sudah masuk Islam.Bukti ketiga, orang-orang musyrik juga melaksanakan ibadah haji ke baitullah. Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata,كَانَ الْمُشْرِكُونَ يَقُولُونَ لَبَّيْكَ لاَ شَرِيكَ لَكَ – قَالَ – فَيَقُولُ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم وَيْلَكُمْ قَدْ قَدْ. فَيَقُولُونَ إِلاَّ شَرِيكًا هُوَ لَكَ تَمْلِكُهُ وَمَا مَلَكَ. يَقُولُونَ هَذَا وَهُمْ يَطُوفُونَ بِالْبَيْتِ“Orang-orang musyrik dahulu mengatakan, ‘Labbaika laa syariika laka’ [Aku penuhi panggilan-Mu (Allah), tidak ada sekutu bagimu]. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ’Cukup, cukup!’ Namun mereka justru melanjutkan, ‘Illa syariikan huwa laka tamlikuhu wa maa malaka’ [Kecuali sekutu yang memang Engkau miliki, Engkau memiliki dia, dan apa yang dia miliki]. Mereka mengatakan yang demikian itu dalam keadaan thawaf di baitullah” (HR. Muslim no. 2872).Bukti keempat, orang-orang musyrik juga berpuasa dengan model puasa yang bermacam-macam. Di antara mereka ada yang berpuasa dari terbit fajar hingga tenggelamnya matahari, ada pula yang berpuasa dari matahari terbit hingga matahari tenggelam, dan ada pula yang berpuasa lebih lama dari itu.[6] Mereka juga mempunyai hari tertentu untuk berpuasa, sebagaimana hadits yang diriwayatkan dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ketika beliau radhiyallahu ‘anha berkata,كَانَ يَوْمُ عَاشُورَاءَ تَصُومُهُ قُرَيْشٌ فِى الْجَاهِلِيَّةِ“Dulu, hari ‘Asyura adalah hari dimana orang Quraisy jahiliyyah berpuasa” (HR. Bukhari no. 2002).Bukti kelima, orang-orang musyrik juga bersedekah. Dalam sebuah hadits diceritakan,أَنَّ حَكِيمَ بْنَ حِزَامٍ – رضى الله عنه – أَعْتَقَ فِى الْجَاهِلِيَّةِ مِائَةَ رَقَبَةٍ ، وَحَمَلَ عَلَى مِائَةِ بَعِيرٍ ، فَلَمَّا أَسْلَمَ حَمَلَ عَلَى مِائَةِ بَعِيرٍ وَأَعْتَقَ مِائَةَ رَقَبَةٍ ، قَالَ فَسَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ ، أَرَأَيْتَ أَشْيَاءَ كُنْتُ أَصْنَعُهَا فِى الْجَاهِلِيَّةِ ، كُنْتُ أَتَحَنَّثُ بِهَا ، يَعْنِى أَتَبَرَّرُ بِهَا ، قَالَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم : أَسْلَمْتَ عَلَى مَا سَلَفَ لَكَ مِنْ خَيْرٍ “Sesungguhnya Hakim bin Hizam radhiyallahu ‘anhu membebaskan seratus orang budak pada masa jahiliyyah dan menginfakkan seratus ekor unta (untuk perang). Ketika sudah masuk Islam, dia membebaskan seratus orang budak dan menginfakkan seratus ekor unta (untuk jihad). Hakim bin Hizam berkata, ‘Aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, wahai Rasulullah! Apa pendapatmu tentang apa yang telah aku lakukan selama masa jahiliyyah, aku dahulu beribadah dengan cara tersebut (Maksudnya, aku berbuat kebaikan dengan cara tersebut)’ Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Engkau masuk Islam dengan (membawa) kebaikan yang telah Engkau lakukan’” (HR. Bukhari no. 2538).Contoh lainnya adalah salah satu sesembahan kaum musyrikin, yaitu Al-Latta, adalah seorang hamba Allah yang shalih karena senang bersedekah untuk para jamaah haji. Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata,كَانَ الَّلاَتُ رَجُلاً يَلُتُّ سَوِيقَ الْحَاجِّ“Al-Latta adalah seorang lelaki yang mengaduk tepung untuk (diberikan kepada) jamaah haji” (HR. Bukhari no. 4859).Selain itu, nama ayah Rasulullah yang meninggal dalam keadaan masih musyrik, yaitu “Abdullah” [hamba Allah] sebenarnya juga menunjukkan bahwa orang musyrik mengenal Allah Ta’ala dan meyakini bahwa mereka sebenarnya adalah “hamba Allah”.Bukti-bukti tersebut menunjukkan bahwa orang-orang jahiliyyah tersebut bukanlah masyarakat yang jauh dari beribadah kepada Allah Ta’ala. Bahkan mereka adalah sekelompok masyarakat yang beribadah kepada Allah Ta’ala dengan tatacara ibadah yang mereka warisi dari agama Ibrahim ‘alaihis salaam. Dan dalam sebagian masalah, mereka mewarisinya dari agama Musa ‘alaihis salaam. Namun, meskipun mereka meyakini sifat rububiyyah Allah Ta’ala, meyakini bahwa Allah-lah satu-satunya Dzat yang mencipta dan memberi rizki, yang menghidupkan dan mematikan, akan tetapi mereka tidak termasuk kaum muslimin. Bahkan Allah Ta’ala mengutus Muhammad bin ‘Abdillah yang menyeru mereka untuk mentauhidkan Allah Ta’ala. Lalu, apa sebenarnya permasalahannya? Mengapa mereka dikatakan berbuat syirik? Mengapa mereka disebut sebagai orang musyrik? Padahal mereka meyakini rububiyyah Allah Ta’ala? Mereka juga melakukan berbagai aktivitas ibadah kepada Allah Ta’ala, namun mengapa hal itu tidak menjadikan mereka termasuk dalam golongan kaum muslimin? [7][Bersambung]***Selesai disempurnakan menjelang ‘isya, Rotterdam NL 24 Jumadil akhir 1439/ 3 Maret 2018Penulis: M. Saifudin Hakim Catatan kaki:[1]     Lihat I’anatul Mustafiid, 1/94-95 karya Syaikh Dr. Shalih Al-Fauzan hafidzahullah.[2]    Lihat tulisan kami:    https://muslim.or.id/32546-kesyirikan-pada-zaman-sekarang-ternyata-lebih-parah-01.html[3]     Lihat Syarh Kasyfu Asy-Syubuhat, hal. 24 karya Syaikh Shalih bin ‘Abdul ‘Aziz Alu Syaikh hafidzahullah.[4]     Lihat Fathul Majiid, 1/216-217 karya Syaikh ‘Abdurrahman bin Hasan Alu Syaikh rahimahullah.[5]     Syarh Ibnu Baththal, 7/197.[6]     Lihat Syarh Kasyfu Asy-Syubuhat, hal. 24.[7]     Lihat Syarh Kasyfu Asy-Syubuhaat, hal. 25.🔍 Hadist Tentang Persahabatan, Istiadah, Dalil Tentang Sujud, Bermuhasabah Diri, Telat Sholat Subuh

Memahami Hakikat Kesyirikan pada Zaman Jahiliyyah (Bag. 1)

Seseorang yang bertauhid (muwahhid), wajib untuk takut terhadap perbuatan syirik. Tidak selayaknya dia mengatakan, “Saya seorang muwahhid, dan saya telah memahami tauhid, sehingga tidak mungkin saya berbuat syirik.” Perkataan seperti ini adalah hasil dari tipu daya setan, dan seseorang hendaknya tidak memuji dan menyombongkan dirinya sendiri. Seseorang tidak boleh untuk tidak takut terhadap perbuatan syirik selama dia masih hidup. Karena selama itu pula dia akan menemui berbagai macam fitnah.Fitnah kesyirikan adalah fitnah yang sangat berbahaya. Sehingga seseorang selayaknya untuk tidak merasa aman dari tergelincir dalam kesesatan dan dari terjerumus ke dalam perbuatan syirik. Oleh karena itulah, dia harus mempelajari permasalahan syirik ini agar dapat menjauhkan diri darinya. Dan hendaknya seseorang meminta pertolongan kepada Allah Ta’ala dan memohon penjagaan dan petunjuk dari-Nya. [1]Ketidaktahuan Masyarakat terhadap Hakikat SyirikSalah satu akibat jauhnya masyarakat dari ilmu tauhid adalah ketidaktahuan mereka terhadap hakikat syirik yang sebenarnya. Yang mereka fahami, yang disebut sebagai syirik itu adalah jika ada seseorang yang tidak percaya adanya Tuhan, atau jika dia bersujud menyembah patung, batu, pohon, dan sebagainya sebagaimana kaum musyrikin dahulu. Atau seseorang baru disebut sebagai orang musyrik jika yang disembah adalah batu, pohon, patung, dan sejenisnya. Adapun jika yang disembah adalah orang shalih dan para wali yang memiliki kedudukan di sisi Allah Ta’ala, maka hal itu bukanlah kesyirikan. Sehingga dengan “entengnya” seseorang mengatakan, ”Nggak usah belajar tauhid pun, tidak mungkin orang berakal akan menyembah batu atau kayu yang tidak bisa berbuat apa-apa.”Karena kebodohan itulah, mereka tidak bisa memahami, mengapa orang musyrik dahulu disebut sebagai seorang musyrik? Mereka juga tidak memahami, siapakah sesembahan orang musyrik zaman dahulu? Yang mereka fahami, orang musyrik Quraisy dahulu disebut sebagai orang musyrik karena tidak percaya adanya Allah Ta’ala serta menyembah patung dan berhala. Padahal kenyataannya, mereka adalah masyarakat yang beriman kepada rububiyyah Allah Ta’ala. Mereka meyakini bahwa Allah adalah satu-satunya Dzat Yang menciptakan, memberikan rizki, dan mengatur urusan alam semesta. [2] Bahkan keimanan mereka tidak hanya berhenti di situ saja, bahkan mereka pun beribadah kepada Allah Ta’ala. Berikut ini penulis sampaikan sedikit pembahasan tentang dalil-dalil yang menunjukkan bahwa orang musyrik Quraisy adalah masyarakat yang beribadah kepada Allah Ta’ala.Orang-Orang Musyrik Jahiliyyah adalah Masyarakat yang Beribadah kepada AllahSyaikh Shalih bin Abdul Aziz Alu Syaikh hafidzahullah menjelaskan bahwa orang-orang musyrik jahiliyyah bukanlah masyarakat yang tidak beribadah kepada Allah Ta’ala. Bahkan di antara mereka ada orang-orang yang ahli puasa, ahli shalat, ahli berhaji, ahli zakat, ahli sedekah, ahli mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala dengan melaksanakan thawaf atau ber-i’tikaf, dan ibadah-ibadah lainnya. Mereka tidak hanya mencukupkan diri dengan hanya mengakui bahwa Allah-lah satu-satunya Dzat Yang menciptakan atau mentauhidkan Allah dalam rububiyyah-Nya saja. Namun, mereka juga kemudian beribadah kepada Allah dengan melaksanakan shalat, zakat, haji, dan puasa. [3]Di antara bukti yang menunjukkan hal tersebut adalah beberapa ayat dan hadits berikut ini.Bukti pertama, orang-orang musyrik jahiliyyah adalah masyarakat yang mencintai Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman,وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ“Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah. Mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman, amat sangat cintanya kepada Allah” (QS. Al-Baqarah [2]: 165).Ayat tersebut menunjukkan bahwa orang-orang musyrik mencintai sesembahan-sesembahan mereka, sebagaimana mereka juga mencintai Allah Ta’ala. Padahal kita telah mengetahui bahwa cinta (mahabbah) adalah salah satu bentuk ibadah yang sangat agung di sisi Allah Ta’ala. Namun, meskipun mereka sangat mencintai Allah Ta’ala, kecintaan mereka itu tidaklah memasukkan mereka ke dalam Islam. Karena di samping mencintai Allah Ta’ala, ternyata mereka juga mencintai selain Allah Ta’ala. Oleh karena itu, barangsiapa yang mencintai Allah Ta’ala atau mencintai karena Allah Ta’ala, maka dia-lah orang-orang yang ikhlas. Dan barangsiapa yang mencintai Allah Ta’ala dan juga mencintai selain Allah Ta’ala, itulah orang musyrik. [4]Bukti kedua, orang-orang musyrik juga bernadzar kepada Allah Ta’ala. Hal ini ditunjukkan dari hadits Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Umar radhiyallahu ‘anhu bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Dulu di masa jahiliyyah aku pernah bernadzar untuk ber-i’tikaf semalam di Masjidil Haram?”  Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,فَأَوْفِ بِنَذْرِكَ “Tunaikanlah nadzarmu” (HR. Bukhari no. 2032).Perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Umar untuk menunaikan nadzarnya dalam kondisi telah masuk Islam, padahal nadzarnya itu diucapkan ketika masih jahiliyyah menunjukkan bahwa nadzarnya itu adalah karena Allah Ta’ala yang merupakan kebaikan di dalam agama Islam. [5] Jika nadzar itu dulunya ditujukan kepada selain Allah Ta’ala, tentu akan dilarang oleh Rasulullah untuk ditunaikan ketika sudah masuk Islam.Bukti ketiga, orang-orang musyrik juga melaksanakan ibadah haji ke baitullah. Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata,كَانَ الْمُشْرِكُونَ يَقُولُونَ لَبَّيْكَ لاَ شَرِيكَ لَكَ – قَالَ – فَيَقُولُ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم وَيْلَكُمْ قَدْ قَدْ. فَيَقُولُونَ إِلاَّ شَرِيكًا هُوَ لَكَ تَمْلِكُهُ وَمَا مَلَكَ. يَقُولُونَ هَذَا وَهُمْ يَطُوفُونَ بِالْبَيْتِ“Orang-orang musyrik dahulu mengatakan, ‘Labbaika laa syariika laka’ [Aku penuhi panggilan-Mu (Allah), tidak ada sekutu bagimu]. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ’Cukup, cukup!’ Namun mereka justru melanjutkan, ‘Illa syariikan huwa laka tamlikuhu wa maa malaka’ [Kecuali sekutu yang memang Engkau miliki, Engkau memiliki dia, dan apa yang dia miliki]. Mereka mengatakan yang demikian itu dalam keadaan thawaf di baitullah” (HR. Muslim no. 2872).Bukti keempat, orang-orang musyrik juga berpuasa dengan model puasa yang bermacam-macam. Di antara mereka ada yang berpuasa dari terbit fajar hingga tenggelamnya matahari, ada pula yang berpuasa dari matahari terbit hingga matahari tenggelam, dan ada pula yang berpuasa lebih lama dari itu.[6] Mereka juga mempunyai hari tertentu untuk berpuasa, sebagaimana hadits yang diriwayatkan dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ketika beliau radhiyallahu ‘anha berkata,كَانَ يَوْمُ عَاشُورَاءَ تَصُومُهُ قُرَيْشٌ فِى الْجَاهِلِيَّةِ“Dulu, hari ‘Asyura adalah hari dimana orang Quraisy jahiliyyah berpuasa” (HR. Bukhari no. 2002).Bukti kelima, orang-orang musyrik juga bersedekah. Dalam sebuah hadits diceritakan,أَنَّ حَكِيمَ بْنَ حِزَامٍ – رضى الله عنه – أَعْتَقَ فِى الْجَاهِلِيَّةِ مِائَةَ رَقَبَةٍ ، وَحَمَلَ عَلَى مِائَةِ بَعِيرٍ ، فَلَمَّا أَسْلَمَ حَمَلَ عَلَى مِائَةِ بَعِيرٍ وَأَعْتَقَ مِائَةَ رَقَبَةٍ ، قَالَ فَسَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ ، أَرَأَيْتَ أَشْيَاءَ كُنْتُ أَصْنَعُهَا فِى الْجَاهِلِيَّةِ ، كُنْتُ أَتَحَنَّثُ بِهَا ، يَعْنِى أَتَبَرَّرُ بِهَا ، قَالَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم : أَسْلَمْتَ عَلَى مَا سَلَفَ لَكَ مِنْ خَيْرٍ “Sesungguhnya Hakim bin Hizam radhiyallahu ‘anhu membebaskan seratus orang budak pada masa jahiliyyah dan menginfakkan seratus ekor unta (untuk perang). Ketika sudah masuk Islam, dia membebaskan seratus orang budak dan menginfakkan seratus ekor unta (untuk jihad). Hakim bin Hizam berkata, ‘Aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, wahai Rasulullah! Apa pendapatmu tentang apa yang telah aku lakukan selama masa jahiliyyah, aku dahulu beribadah dengan cara tersebut (Maksudnya, aku berbuat kebaikan dengan cara tersebut)’ Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Engkau masuk Islam dengan (membawa) kebaikan yang telah Engkau lakukan’” (HR. Bukhari no. 2538).Contoh lainnya adalah salah satu sesembahan kaum musyrikin, yaitu Al-Latta, adalah seorang hamba Allah yang shalih karena senang bersedekah untuk para jamaah haji. Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata,كَانَ الَّلاَتُ رَجُلاً يَلُتُّ سَوِيقَ الْحَاجِّ“Al-Latta adalah seorang lelaki yang mengaduk tepung untuk (diberikan kepada) jamaah haji” (HR. Bukhari no. 4859).Selain itu, nama ayah Rasulullah yang meninggal dalam keadaan masih musyrik, yaitu “Abdullah” [hamba Allah] sebenarnya juga menunjukkan bahwa orang musyrik mengenal Allah Ta’ala dan meyakini bahwa mereka sebenarnya adalah “hamba Allah”.Bukti-bukti tersebut menunjukkan bahwa orang-orang jahiliyyah tersebut bukanlah masyarakat yang jauh dari beribadah kepada Allah Ta’ala. Bahkan mereka adalah sekelompok masyarakat yang beribadah kepada Allah Ta’ala dengan tatacara ibadah yang mereka warisi dari agama Ibrahim ‘alaihis salaam. Dan dalam sebagian masalah, mereka mewarisinya dari agama Musa ‘alaihis salaam. Namun, meskipun mereka meyakini sifat rububiyyah Allah Ta’ala, meyakini bahwa Allah-lah satu-satunya Dzat yang mencipta dan memberi rizki, yang menghidupkan dan mematikan, akan tetapi mereka tidak termasuk kaum muslimin. Bahkan Allah Ta’ala mengutus Muhammad bin ‘Abdillah yang menyeru mereka untuk mentauhidkan Allah Ta’ala. Lalu, apa sebenarnya permasalahannya? Mengapa mereka dikatakan berbuat syirik? Mengapa mereka disebut sebagai orang musyrik? Padahal mereka meyakini rububiyyah Allah Ta’ala? Mereka juga melakukan berbagai aktivitas ibadah kepada Allah Ta’ala, namun mengapa hal itu tidak menjadikan mereka termasuk dalam golongan kaum muslimin? [7][Bersambung]***Selesai disempurnakan menjelang ‘isya, Rotterdam NL 24 Jumadil akhir 1439/ 3 Maret 2018Penulis: M. Saifudin Hakim Catatan kaki:[1]     Lihat I’anatul Mustafiid, 1/94-95 karya Syaikh Dr. Shalih Al-Fauzan hafidzahullah.[2]    Lihat tulisan kami:    https://muslim.or.id/32546-kesyirikan-pada-zaman-sekarang-ternyata-lebih-parah-01.html[3]     Lihat Syarh Kasyfu Asy-Syubuhat, hal. 24 karya Syaikh Shalih bin ‘Abdul ‘Aziz Alu Syaikh hafidzahullah.[4]     Lihat Fathul Majiid, 1/216-217 karya Syaikh ‘Abdurrahman bin Hasan Alu Syaikh rahimahullah.[5]     Syarh Ibnu Baththal, 7/197.[6]     Lihat Syarh Kasyfu Asy-Syubuhat, hal. 24.[7]     Lihat Syarh Kasyfu Asy-Syubuhaat, hal. 25.🔍 Hadist Tentang Persahabatan, Istiadah, Dalil Tentang Sujud, Bermuhasabah Diri, Telat Sholat Subuh
Seseorang yang bertauhid (muwahhid), wajib untuk takut terhadap perbuatan syirik. Tidak selayaknya dia mengatakan, “Saya seorang muwahhid, dan saya telah memahami tauhid, sehingga tidak mungkin saya berbuat syirik.” Perkataan seperti ini adalah hasil dari tipu daya setan, dan seseorang hendaknya tidak memuji dan menyombongkan dirinya sendiri. Seseorang tidak boleh untuk tidak takut terhadap perbuatan syirik selama dia masih hidup. Karena selama itu pula dia akan menemui berbagai macam fitnah.Fitnah kesyirikan adalah fitnah yang sangat berbahaya. Sehingga seseorang selayaknya untuk tidak merasa aman dari tergelincir dalam kesesatan dan dari terjerumus ke dalam perbuatan syirik. Oleh karena itulah, dia harus mempelajari permasalahan syirik ini agar dapat menjauhkan diri darinya. Dan hendaknya seseorang meminta pertolongan kepada Allah Ta’ala dan memohon penjagaan dan petunjuk dari-Nya. [1]Ketidaktahuan Masyarakat terhadap Hakikat SyirikSalah satu akibat jauhnya masyarakat dari ilmu tauhid adalah ketidaktahuan mereka terhadap hakikat syirik yang sebenarnya. Yang mereka fahami, yang disebut sebagai syirik itu adalah jika ada seseorang yang tidak percaya adanya Tuhan, atau jika dia bersujud menyembah patung, batu, pohon, dan sebagainya sebagaimana kaum musyrikin dahulu. Atau seseorang baru disebut sebagai orang musyrik jika yang disembah adalah batu, pohon, patung, dan sejenisnya. Adapun jika yang disembah adalah orang shalih dan para wali yang memiliki kedudukan di sisi Allah Ta’ala, maka hal itu bukanlah kesyirikan. Sehingga dengan “entengnya” seseorang mengatakan, ”Nggak usah belajar tauhid pun, tidak mungkin orang berakal akan menyembah batu atau kayu yang tidak bisa berbuat apa-apa.”Karena kebodohan itulah, mereka tidak bisa memahami, mengapa orang musyrik dahulu disebut sebagai seorang musyrik? Mereka juga tidak memahami, siapakah sesembahan orang musyrik zaman dahulu? Yang mereka fahami, orang musyrik Quraisy dahulu disebut sebagai orang musyrik karena tidak percaya adanya Allah Ta’ala serta menyembah patung dan berhala. Padahal kenyataannya, mereka adalah masyarakat yang beriman kepada rububiyyah Allah Ta’ala. Mereka meyakini bahwa Allah adalah satu-satunya Dzat Yang menciptakan, memberikan rizki, dan mengatur urusan alam semesta. [2] Bahkan keimanan mereka tidak hanya berhenti di situ saja, bahkan mereka pun beribadah kepada Allah Ta’ala. Berikut ini penulis sampaikan sedikit pembahasan tentang dalil-dalil yang menunjukkan bahwa orang musyrik Quraisy adalah masyarakat yang beribadah kepada Allah Ta’ala.Orang-Orang Musyrik Jahiliyyah adalah Masyarakat yang Beribadah kepada AllahSyaikh Shalih bin Abdul Aziz Alu Syaikh hafidzahullah menjelaskan bahwa orang-orang musyrik jahiliyyah bukanlah masyarakat yang tidak beribadah kepada Allah Ta’ala. Bahkan di antara mereka ada orang-orang yang ahli puasa, ahli shalat, ahli berhaji, ahli zakat, ahli sedekah, ahli mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala dengan melaksanakan thawaf atau ber-i’tikaf, dan ibadah-ibadah lainnya. Mereka tidak hanya mencukupkan diri dengan hanya mengakui bahwa Allah-lah satu-satunya Dzat Yang menciptakan atau mentauhidkan Allah dalam rububiyyah-Nya saja. Namun, mereka juga kemudian beribadah kepada Allah dengan melaksanakan shalat, zakat, haji, dan puasa. [3]Di antara bukti yang menunjukkan hal tersebut adalah beberapa ayat dan hadits berikut ini.Bukti pertama, orang-orang musyrik jahiliyyah adalah masyarakat yang mencintai Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman,وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ“Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah. Mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman, amat sangat cintanya kepada Allah” (QS. Al-Baqarah [2]: 165).Ayat tersebut menunjukkan bahwa orang-orang musyrik mencintai sesembahan-sesembahan mereka, sebagaimana mereka juga mencintai Allah Ta’ala. Padahal kita telah mengetahui bahwa cinta (mahabbah) adalah salah satu bentuk ibadah yang sangat agung di sisi Allah Ta’ala. Namun, meskipun mereka sangat mencintai Allah Ta’ala, kecintaan mereka itu tidaklah memasukkan mereka ke dalam Islam. Karena di samping mencintai Allah Ta’ala, ternyata mereka juga mencintai selain Allah Ta’ala. Oleh karena itu, barangsiapa yang mencintai Allah Ta’ala atau mencintai karena Allah Ta’ala, maka dia-lah orang-orang yang ikhlas. Dan barangsiapa yang mencintai Allah Ta’ala dan juga mencintai selain Allah Ta’ala, itulah orang musyrik. [4]Bukti kedua, orang-orang musyrik juga bernadzar kepada Allah Ta’ala. Hal ini ditunjukkan dari hadits Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Umar radhiyallahu ‘anhu bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Dulu di masa jahiliyyah aku pernah bernadzar untuk ber-i’tikaf semalam di Masjidil Haram?”  Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,فَأَوْفِ بِنَذْرِكَ “Tunaikanlah nadzarmu” (HR. Bukhari no. 2032).Perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Umar untuk menunaikan nadzarnya dalam kondisi telah masuk Islam, padahal nadzarnya itu diucapkan ketika masih jahiliyyah menunjukkan bahwa nadzarnya itu adalah karena Allah Ta’ala yang merupakan kebaikan di dalam agama Islam. [5] Jika nadzar itu dulunya ditujukan kepada selain Allah Ta’ala, tentu akan dilarang oleh Rasulullah untuk ditunaikan ketika sudah masuk Islam.Bukti ketiga, orang-orang musyrik juga melaksanakan ibadah haji ke baitullah. Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata,كَانَ الْمُشْرِكُونَ يَقُولُونَ لَبَّيْكَ لاَ شَرِيكَ لَكَ – قَالَ – فَيَقُولُ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم وَيْلَكُمْ قَدْ قَدْ. فَيَقُولُونَ إِلاَّ شَرِيكًا هُوَ لَكَ تَمْلِكُهُ وَمَا مَلَكَ. يَقُولُونَ هَذَا وَهُمْ يَطُوفُونَ بِالْبَيْتِ“Orang-orang musyrik dahulu mengatakan, ‘Labbaika laa syariika laka’ [Aku penuhi panggilan-Mu (Allah), tidak ada sekutu bagimu]. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ’Cukup, cukup!’ Namun mereka justru melanjutkan, ‘Illa syariikan huwa laka tamlikuhu wa maa malaka’ [Kecuali sekutu yang memang Engkau miliki, Engkau memiliki dia, dan apa yang dia miliki]. Mereka mengatakan yang demikian itu dalam keadaan thawaf di baitullah” (HR. Muslim no. 2872).Bukti keempat, orang-orang musyrik juga berpuasa dengan model puasa yang bermacam-macam. Di antara mereka ada yang berpuasa dari terbit fajar hingga tenggelamnya matahari, ada pula yang berpuasa dari matahari terbit hingga matahari tenggelam, dan ada pula yang berpuasa lebih lama dari itu.[6] Mereka juga mempunyai hari tertentu untuk berpuasa, sebagaimana hadits yang diriwayatkan dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ketika beliau radhiyallahu ‘anha berkata,كَانَ يَوْمُ عَاشُورَاءَ تَصُومُهُ قُرَيْشٌ فِى الْجَاهِلِيَّةِ“Dulu, hari ‘Asyura adalah hari dimana orang Quraisy jahiliyyah berpuasa” (HR. Bukhari no. 2002).Bukti kelima, orang-orang musyrik juga bersedekah. Dalam sebuah hadits diceritakan,أَنَّ حَكِيمَ بْنَ حِزَامٍ – رضى الله عنه – أَعْتَقَ فِى الْجَاهِلِيَّةِ مِائَةَ رَقَبَةٍ ، وَحَمَلَ عَلَى مِائَةِ بَعِيرٍ ، فَلَمَّا أَسْلَمَ حَمَلَ عَلَى مِائَةِ بَعِيرٍ وَأَعْتَقَ مِائَةَ رَقَبَةٍ ، قَالَ فَسَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ ، أَرَأَيْتَ أَشْيَاءَ كُنْتُ أَصْنَعُهَا فِى الْجَاهِلِيَّةِ ، كُنْتُ أَتَحَنَّثُ بِهَا ، يَعْنِى أَتَبَرَّرُ بِهَا ، قَالَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم : أَسْلَمْتَ عَلَى مَا سَلَفَ لَكَ مِنْ خَيْرٍ “Sesungguhnya Hakim bin Hizam radhiyallahu ‘anhu membebaskan seratus orang budak pada masa jahiliyyah dan menginfakkan seratus ekor unta (untuk perang). Ketika sudah masuk Islam, dia membebaskan seratus orang budak dan menginfakkan seratus ekor unta (untuk jihad). Hakim bin Hizam berkata, ‘Aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, wahai Rasulullah! Apa pendapatmu tentang apa yang telah aku lakukan selama masa jahiliyyah, aku dahulu beribadah dengan cara tersebut (Maksudnya, aku berbuat kebaikan dengan cara tersebut)’ Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Engkau masuk Islam dengan (membawa) kebaikan yang telah Engkau lakukan’” (HR. Bukhari no. 2538).Contoh lainnya adalah salah satu sesembahan kaum musyrikin, yaitu Al-Latta, adalah seorang hamba Allah yang shalih karena senang bersedekah untuk para jamaah haji. Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata,كَانَ الَّلاَتُ رَجُلاً يَلُتُّ سَوِيقَ الْحَاجِّ“Al-Latta adalah seorang lelaki yang mengaduk tepung untuk (diberikan kepada) jamaah haji” (HR. Bukhari no. 4859).Selain itu, nama ayah Rasulullah yang meninggal dalam keadaan masih musyrik, yaitu “Abdullah” [hamba Allah] sebenarnya juga menunjukkan bahwa orang musyrik mengenal Allah Ta’ala dan meyakini bahwa mereka sebenarnya adalah “hamba Allah”.Bukti-bukti tersebut menunjukkan bahwa orang-orang jahiliyyah tersebut bukanlah masyarakat yang jauh dari beribadah kepada Allah Ta’ala. Bahkan mereka adalah sekelompok masyarakat yang beribadah kepada Allah Ta’ala dengan tatacara ibadah yang mereka warisi dari agama Ibrahim ‘alaihis salaam. Dan dalam sebagian masalah, mereka mewarisinya dari agama Musa ‘alaihis salaam. Namun, meskipun mereka meyakini sifat rububiyyah Allah Ta’ala, meyakini bahwa Allah-lah satu-satunya Dzat yang mencipta dan memberi rizki, yang menghidupkan dan mematikan, akan tetapi mereka tidak termasuk kaum muslimin. Bahkan Allah Ta’ala mengutus Muhammad bin ‘Abdillah yang menyeru mereka untuk mentauhidkan Allah Ta’ala. Lalu, apa sebenarnya permasalahannya? Mengapa mereka dikatakan berbuat syirik? Mengapa mereka disebut sebagai orang musyrik? Padahal mereka meyakini rububiyyah Allah Ta’ala? Mereka juga melakukan berbagai aktivitas ibadah kepada Allah Ta’ala, namun mengapa hal itu tidak menjadikan mereka termasuk dalam golongan kaum muslimin? [7][Bersambung]***Selesai disempurnakan menjelang ‘isya, Rotterdam NL 24 Jumadil akhir 1439/ 3 Maret 2018Penulis: M. Saifudin Hakim Catatan kaki:[1]     Lihat I’anatul Mustafiid, 1/94-95 karya Syaikh Dr. Shalih Al-Fauzan hafidzahullah.[2]    Lihat tulisan kami:    https://muslim.or.id/32546-kesyirikan-pada-zaman-sekarang-ternyata-lebih-parah-01.html[3]     Lihat Syarh Kasyfu Asy-Syubuhat, hal. 24 karya Syaikh Shalih bin ‘Abdul ‘Aziz Alu Syaikh hafidzahullah.[4]     Lihat Fathul Majiid, 1/216-217 karya Syaikh ‘Abdurrahman bin Hasan Alu Syaikh rahimahullah.[5]     Syarh Ibnu Baththal, 7/197.[6]     Lihat Syarh Kasyfu Asy-Syubuhat, hal. 24.[7]     Lihat Syarh Kasyfu Asy-Syubuhaat, hal. 25.🔍 Hadist Tentang Persahabatan, Istiadah, Dalil Tentang Sujud, Bermuhasabah Diri, Telat Sholat Subuh


Seseorang yang bertauhid (muwahhid), wajib untuk takut terhadap perbuatan syirik. Tidak selayaknya dia mengatakan, “Saya seorang muwahhid, dan saya telah memahami tauhid, sehingga tidak mungkin saya berbuat syirik.” Perkataan seperti ini adalah hasil dari tipu daya setan, dan seseorang hendaknya tidak memuji dan menyombongkan dirinya sendiri. Seseorang tidak boleh untuk tidak takut terhadap perbuatan syirik selama dia masih hidup. Karena selama itu pula dia akan menemui berbagai macam fitnah.Fitnah kesyirikan adalah fitnah yang sangat berbahaya. Sehingga seseorang selayaknya untuk tidak merasa aman dari tergelincir dalam kesesatan dan dari terjerumus ke dalam perbuatan syirik. Oleh karena itulah, dia harus mempelajari permasalahan syirik ini agar dapat menjauhkan diri darinya. Dan hendaknya seseorang meminta pertolongan kepada Allah Ta’ala dan memohon penjagaan dan petunjuk dari-Nya. [1]Ketidaktahuan Masyarakat terhadap Hakikat SyirikSalah satu akibat jauhnya masyarakat dari ilmu tauhid adalah ketidaktahuan mereka terhadap hakikat syirik yang sebenarnya. Yang mereka fahami, yang disebut sebagai syirik itu adalah jika ada seseorang yang tidak percaya adanya Tuhan, atau jika dia bersujud menyembah patung, batu, pohon, dan sebagainya sebagaimana kaum musyrikin dahulu. Atau seseorang baru disebut sebagai orang musyrik jika yang disembah adalah batu, pohon, patung, dan sejenisnya. Adapun jika yang disembah adalah orang shalih dan para wali yang memiliki kedudukan di sisi Allah Ta’ala, maka hal itu bukanlah kesyirikan. Sehingga dengan “entengnya” seseorang mengatakan, ”Nggak usah belajar tauhid pun, tidak mungkin orang berakal akan menyembah batu atau kayu yang tidak bisa berbuat apa-apa.”Karena kebodohan itulah, mereka tidak bisa memahami, mengapa orang musyrik dahulu disebut sebagai seorang musyrik? Mereka juga tidak memahami, siapakah sesembahan orang musyrik zaman dahulu? Yang mereka fahami, orang musyrik Quraisy dahulu disebut sebagai orang musyrik karena tidak percaya adanya Allah Ta’ala serta menyembah patung dan berhala. Padahal kenyataannya, mereka adalah masyarakat yang beriman kepada rububiyyah Allah Ta’ala. Mereka meyakini bahwa Allah adalah satu-satunya Dzat Yang menciptakan, memberikan rizki, dan mengatur urusan alam semesta. [2] Bahkan keimanan mereka tidak hanya berhenti di situ saja, bahkan mereka pun beribadah kepada Allah Ta’ala. Berikut ini penulis sampaikan sedikit pembahasan tentang dalil-dalil yang menunjukkan bahwa orang musyrik Quraisy adalah masyarakat yang beribadah kepada Allah Ta’ala.Orang-Orang Musyrik Jahiliyyah adalah Masyarakat yang Beribadah kepada AllahSyaikh Shalih bin Abdul Aziz Alu Syaikh hafidzahullah menjelaskan bahwa orang-orang musyrik jahiliyyah bukanlah masyarakat yang tidak beribadah kepada Allah Ta’ala. Bahkan di antara mereka ada orang-orang yang ahli puasa, ahli shalat, ahli berhaji, ahli zakat, ahli sedekah, ahli mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala dengan melaksanakan thawaf atau ber-i’tikaf, dan ibadah-ibadah lainnya. Mereka tidak hanya mencukupkan diri dengan hanya mengakui bahwa Allah-lah satu-satunya Dzat Yang menciptakan atau mentauhidkan Allah dalam rububiyyah-Nya saja. Namun, mereka juga kemudian beribadah kepada Allah dengan melaksanakan shalat, zakat, haji, dan puasa. [3]Di antara bukti yang menunjukkan hal tersebut adalah beberapa ayat dan hadits berikut ini.Bukti pertama, orang-orang musyrik jahiliyyah adalah masyarakat yang mencintai Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman,وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ“Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah. Mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman, amat sangat cintanya kepada Allah” (QS. Al-Baqarah [2]: 165).Ayat tersebut menunjukkan bahwa orang-orang musyrik mencintai sesembahan-sesembahan mereka, sebagaimana mereka juga mencintai Allah Ta’ala. Padahal kita telah mengetahui bahwa cinta (mahabbah) adalah salah satu bentuk ibadah yang sangat agung di sisi Allah Ta’ala. Namun, meskipun mereka sangat mencintai Allah Ta’ala, kecintaan mereka itu tidaklah memasukkan mereka ke dalam Islam. Karena di samping mencintai Allah Ta’ala, ternyata mereka juga mencintai selain Allah Ta’ala. Oleh karena itu, barangsiapa yang mencintai Allah Ta’ala atau mencintai karena Allah Ta’ala, maka dia-lah orang-orang yang ikhlas. Dan barangsiapa yang mencintai Allah Ta’ala dan juga mencintai selain Allah Ta’ala, itulah orang musyrik. [4]Bukti kedua, orang-orang musyrik juga bernadzar kepada Allah Ta’ala. Hal ini ditunjukkan dari hadits Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Umar radhiyallahu ‘anhu bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Dulu di masa jahiliyyah aku pernah bernadzar untuk ber-i’tikaf semalam di Masjidil Haram?”  Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,فَأَوْفِ بِنَذْرِكَ “Tunaikanlah nadzarmu” (HR. Bukhari no. 2032).Perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Umar untuk menunaikan nadzarnya dalam kondisi telah masuk Islam, padahal nadzarnya itu diucapkan ketika masih jahiliyyah menunjukkan bahwa nadzarnya itu adalah karena Allah Ta’ala yang merupakan kebaikan di dalam agama Islam. [5] Jika nadzar itu dulunya ditujukan kepada selain Allah Ta’ala, tentu akan dilarang oleh Rasulullah untuk ditunaikan ketika sudah masuk Islam.Bukti ketiga, orang-orang musyrik juga melaksanakan ibadah haji ke baitullah. Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata,كَانَ الْمُشْرِكُونَ يَقُولُونَ لَبَّيْكَ لاَ شَرِيكَ لَكَ – قَالَ – فَيَقُولُ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم وَيْلَكُمْ قَدْ قَدْ. فَيَقُولُونَ إِلاَّ شَرِيكًا هُوَ لَكَ تَمْلِكُهُ وَمَا مَلَكَ. يَقُولُونَ هَذَا وَهُمْ يَطُوفُونَ بِالْبَيْتِ“Orang-orang musyrik dahulu mengatakan, ‘Labbaika laa syariika laka’ [Aku penuhi panggilan-Mu (Allah), tidak ada sekutu bagimu]. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ’Cukup, cukup!’ Namun mereka justru melanjutkan, ‘Illa syariikan huwa laka tamlikuhu wa maa malaka’ [Kecuali sekutu yang memang Engkau miliki, Engkau memiliki dia, dan apa yang dia miliki]. Mereka mengatakan yang demikian itu dalam keadaan thawaf di baitullah” (HR. Muslim no. 2872).Bukti keempat, orang-orang musyrik juga berpuasa dengan model puasa yang bermacam-macam. Di antara mereka ada yang berpuasa dari terbit fajar hingga tenggelamnya matahari, ada pula yang berpuasa dari matahari terbit hingga matahari tenggelam, dan ada pula yang berpuasa lebih lama dari itu.[6] Mereka juga mempunyai hari tertentu untuk berpuasa, sebagaimana hadits yang diriwayatkan dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ketika beliau radhiyallahu ‘anha berkata,كَانَ يَوْمُ عَاشُورَاءَ تَصُومُهُ قُرَيْشٌ فِى الْجَاهِلِيَّةِ“Dulu, hari ‘Asyura adalah hari dimana orang Quraisy jahiliyyah berpuasa” (HR. Bukhari no. 2002).Bukti kelima, orang-orang musyrik juga bersedekah. Dalam sebuah hadits diceritakan,أَنَّ حَكِيمَ بْنَ حِزَامٍ – رضى الله عنه – أَعْتَقَ فِى الْجَاهِلِيَّةِ مِائَةَ رَقَبَةٍ ، وَحَمَلَ عَلَى مِائَةِ بَعِيرٍ ، فَلَمَّا أَسْلَمَ حَمَلَ عَلَى مِائَةِ بَعِيرٍ وَأَعْتَقَ مِائَةَ رَقَبَةٍ ، قَالَ فَسَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ ، أَرَأَيْتَ أَشْيَاءَ كُنْتُ أَصْنَعُهَا فِى الْجَاهِلِيَّةِ ، كُنْتُ أَتَحَنَّثُ بِهَا ، يَعْنِى أَتَبَرَّرُ بِهَا ، قَالَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم : أَسْلَمْتَ عَلَى مَا سَلَفَ لَكَ مِنْ خَيْرٍ “Sesungguhnya Hakim bin Hizam radhiyallahu ‘anhu membebaskan seratus orang budak pada masa jahiliyyah dan menginfakkan seratus ekor unta (untuk perang). Ketika sudah masuk Islam, dia membebaskan seratus orang budak dan menginfakkan seratus ekor unta (untuk jihad). Hakim bin Hizam berkata, ‘Aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, wahai Rasulullah! Apa pendapatmu tentang apa yang telah aku lakukan selama masa jahiliyyah, aku dahulu beribadah dengan cara tersebut (Maksudnya, aku berbuat kebaikan dengan cara tersebut)’ Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Engkau masuk Islam dengan (membawa) kebaikan yang telah Engkau lakukan’” (HR. Bukhari no. 2538).Contoh lainnya adalah salah satu sesembahan kaum musyrikin, yaitu Al-Latta, adalah seorang hamba Allah yang shalih karena senang bersedekah untuk para jamaah haji. Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata,كَانَ الَّلاَتُ رَجُلاً يَلُتُّ سَوِيقَ الْحَاجِّ“Al-Latta adalah seorang lelaki yang mengaduk tepung untuk (diberikan kepada) jamaah haji” (HR. Bukhari no. 4859).Selain itu, nama ayah Rasulullah yang meninggal dalam keadaan masih musyrik, yaitu “Abdullah” [hamba Allah] sebenarnya juga menunjukkan bahwa orang musyrik mengenal Allah Ta’ala dan meyakini bahwa mereka sebenarnya adalah “hamba Allah”.Bukti-bukti tersebut menunjukkan bahwa orang-orang jahiliyyah tersebut bukanlah masyarakat yang jauh dari beribadah kepada Allah Ta’ala. Bahkan mereka adalah sekelompok masyarakat yang beribadah kepada Allah Ta’ala dengan tatacara ibadah yang mereka warisi dari agama Ibrahim ‘alaihis salaam. Dan dalam sebagian masalah, mereka mewarisinya dari agama Musa ‘alaihis salaam. Namun, meskipun mereka meyakini sifat rububiyyah Allah Ta’ala, meyakini bahwa Allah-lah satu-satunya Dzat yang mencipta dan memberi rizki, yang menghidupkan dan mematikan, akan tetapi mereka tidak termasuk kaum muslimin. Bahkan Allah Ta’ala mengutus Muhammad bin ‘Abdillah yang menyeru mereka untuk mentauhidkan Allah Ta’ala. Lalu, apa sebenarnya permasalahannya? Mengapa mereka dikatakan berbuat syirik? Mengapa mereka disebut sebagai orang musyrik? Padahal mereka meyakini rububiyyah Allah Ta’ala? Mereka juga melakukan berbagai aktivitas ibadah kepada Allah Ta’ala, namun mengapa hal itu tidak menjadikan mereka termasuk dalam golongan kaum muslimin? [7][Bersambung]***Selesai disempurnakan menjelang ‘isya, Rotterdam NL 24 Jumadil akhir 1439/ 3 Maret 2018Penulis: M. Saifudin Hakim Catatan kaki:[1]     Lihat I’anatul Mustafiid, 1/94-95 karya Syaikh Dr. Shalih Al-Fauzan hafidzahullah.[2]    Lihat tulisan kami:    https://muslim.or.id/32546-kesyirikan-pada-zaman-sekarang-ternyata-lebih-parah-01.html[3]     Lihat Syarh Kasyfu Asy-Syubuhat, hal. 24 karya Syaikh Shalih bin ‘Abdul ‘Aziz Alu Syaikh hafidzahullah.[4]     Lihat Fathul Majiid, 1/216-217 karya Syaikh ‘Abdurrahman bin Hasan Alu Syaikh rahimahullah.[5]     Syarh Ibnu Baththal, 7/197.[6]     Lihat Syarh Kasyfu Asy-Syubuhat, hal. 24.[7]     Lihat Syarh Kasyfu Asy-Syubuhaat, hal. 25.🔍 Hadist Tentang Persahabatan, Istiadah, Dalil Tentang Sujud, Bermuhasabah Diri, Telat Sholat Subuh

Berbuka Puasa di Pesawat Terbang

Fatwa Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullahu Ta’alaPertanyaan 1:Di bulan Ramadhan, take off sebagaian penerbangan itu di waktu adzan maghrib, sehingga kami (bisa) berbuka puasa ketika masih di bandara. Setelah pesawat take off dan posisi pesawat semakin tinggi dari permukaan bumi, kami menyaksikan bulatan matahari dengan jelas. Apakah kami menahan diri dari makan dan minum, atau kami menyempurnakan buka puasa kami di pesawat terbang?Jawaban:Jangan menahan diri dari makan dan minum (artinya, teruskan buka puasa di pesawat, pen.), karena Engkau telah berbuka puasa sesuai dengan tuntutan dalil syariat, berdasarkan firman Allah Ta’ala,ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ“Kemudian sempurnakanlah puasa sampai malam” (QS. Al-Baqarah [2]: 187).Juga berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,إِذَا أَقْبَلَ اللَّيْلُ مِنْ هَا هُنَا، وَأَدْبَرَ النَّهَارُ مِنْ هَا هُنَا، وَغَرَبَتِ الشَّمْسُ فَقَدْ أَفْطَرَ الصَّائِمُ“Jika malam telah datang dari sisi sebelah sini (beliau berisyarat ke arah timur), dan ketika siang telah pergi dari sisi sebelah sini (beliau berisyarat ke arah barat), dan matahari telah tenggelam, maka telah masuk waktu berbuka bagi orang yang berpuasa.” (HR. Bukhari no. 1954)Pertanyaan 2:Di bulan Ramadhan, kami melakukan safar. Di tengah-tengah perjalanan, kami menjumpai waktu malam. Kami masih berada di pesawat di udara. Apakah kami berbuka puasa ketika bulatan matahari tidak terlihat di hadapan kami atau apakah kami berbuka sesuai dengan waktu di negeri (daerah) yang kami berada di atasnya?Jawaban:Engkau berbuka puasa ketika melihat matahari sudah tenggelam, berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,إِذَا غَابَتِ الشَّمْسُ مِنْ هَا هُنَا، وَجَاءَ اللَّيْلُ مِنْ هَا هُنَا، فَقَدْ أَفْطَرَ الصَّائِمُ“Jika matahari tenggelam dari sisi sebelah sini [1], dan malam datang dari sisi sebelah sini [2], maka telah masuk waktu berbuka bagi orang yang berpuasa” (HR. Muslim no. 1101).Pertanyaan 3:Jika ada mendung, dan kami berpuasa, lalu bagaimana kami berbuka ketika di pesawat?Jawaban:Jika menurut sangkaan kuatmu bahwa matahari sudah tenggelam, maka berbukalah. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya berbuka puasa pada suatu hari di kota Madinah, dan ketika itu ada mendung. Kemudian ternyata masih terlihat matahari setelah mereka berbuka puasa. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk menahan diri dari makan dan minum, dan tidak memerintahkan mereka untuk mengganti puasa di hari itu (artinya, puasa di hari itu tetap sah, pen.) (HR. Bukhari no. 1959, diriwayatkan dari Asma’ binti Abu Bakr Ash-Shiddiq radhiyallahu Ta’ala  ‘anha). [3][Selesai]***Diselesaikan di pagi hari yang cerah, Bornsesteeg NL, 25 Sya’ban 1439/ 12 Mei 2018Penerjemah: M. Saifudin Hakim Catatan kaki:[1]     Yaitu di arah barat.[2]    Yaitu di arah timur.[3]    Diterjemahkan dari: I’laamul Musaafiriin, karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullahu Ta’ala, hal. 77-78 (pertanyaan nomor 103, 104 dan 105).🔍 Hadits Asmaul Husna, Gambar Mengganggu Orang Beribadah, Hadist Riyadhus Sholihin, Hukum Bersyukur Kepada Allah Adalah, Allahu Akbar Allahu Akbar La Ilaha Illallah Wallahu Akbar Allahu Akbar Walillah Ilham

Berbuka Puasa di Pesawat Terbang

Fatwa Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullahu Ta’alaPertanyaan 1:Di bulan Ramadhan, take off sebagaian penerbangan itu di waktu adzan maghrib, sehingga kami (bisa) berbuka puasa ketika masih di bandara. Setelah pesawat take off dan posisi pesawat semakin tinggi dari permukaan bumi, kami menyaksikan bulatan matahari dengan jelas. Apakah kami menahan diri dari makan dan minum, atau kami menyempurnakan buka puasa kami di pesawat terbang?Jawaban:Jangan menahan diri dari makan dan minum (artinya, teruskan buka puasa di pesawat, pen.), karena Engkau telah berbuka puasa sesuai dengan tuntutan dalil syariat, berdasarkan firman Allah Ta’ala,ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ“Kemudian sempurnakanlah puasa sampai malam” (QS. Al-Baqarah [2]: 187).Juga berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,إِذَا أَقْبَلَ اللَّيْلُ مِنْ هَا هُنَا، وَأَدْبَرَ النَّهَارُ مِنْ هَا هُنَا، وَغَرَبَتِ الشَّمْسُ فَقَدْ أَفْطَرَ الصَّائِمُ“Jika malam telah datang dari sisi sebelah sini (beliau berisyarat ke arah timur), dan ketika siang telah pergi dari sisi sebelah sini (beliau berisyarat ke arah barat), dan matahari telah tenggelam, maka telah masuk waktu berbuka bagi orang yang berpuasa.” (HR. Bukhari no. 1954)Pertanyaan 2:Di bulan Ramadhan, kami melakukan safar. Di tengah-tengah perjalanan, kami menjumpai waktu malam. Kami masih berada di pesawat di udara. Apakah kami berbuka puasa ketika bulatan matahari tidak terlihat di hadapan kami atau apakah kami berbuka sesuai dengan waktu di negeri (daerah) yang kami berada di atasnya?Jawaban:Engkau berbuka puasa ketika melihat matahari sudah tenggelam, berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,إِذَا غَابَتِ الشَّمْسُ مِنْ هَا هُنَا، وَجَاءَ اللَّيْلُ مِنْ هَا هُنَا، فَقَدْ أَفْطَرَ الصَّائِمُ“Jika matahari tenggelam dari sisi sebelah sini [1], dan malam datang dari sisi sebelah sini [2], maka telah masuk waktu berbuka bagi orang yang berpuasa” (HR. Muslim no. 1101).Pertanyaan 3:Jika ada mendung, dan kami berpuasa, lalu bagaimana kami berbuka ketika di pesawat?Jawaban:Jika menurut sangkaan kuatmu bahwa matahari sudah tenggelam, maka berbukalah. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya berbuka puasa pada suatu hari di kota Madinah, dan ketika itu ada mendung. Kemudian ternyata masih terlihat matahari setelah mereka berbuka puasa. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk menahan diri dari makan dan minum, dan tidak memerintahkan mereka untuk mengganti puasa di hari itu (artinya, puasa di hari itu tetap sah, pen.) (HR. Bukhari no. 1959, diriwayatkan dari Asma’ binti Abu Bakr Ash-Shiddiq radhiyallahu Ta’ala  ‘anha). [3][Selesai]***Diselesaikan di pagi hari yang cerah, Bornsesteeg NL, 25 Sya’ban 1439/ 12 Mei 2018Penerjemah: M. Saifudin Hakim Catatan kaki:[1]     Yaitu di arah barat.[2]    Yaitu di arah timur.[3]    Diterjemahkan dari: I’laamul Musaafiriin, karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullahu Ta’ala, hal. 77-78 (pertanyaan nomor 103, 104 dan 105).🔍 Hadits Asmaul Husna, Gambar Mengganggu Orang Beribadah, Hadist Riyadhus Sholihin, Hukum Bersyukur Kepada Allah Adalah, Allahu Akbar Allahu Akbar La Ilaha Illallah Wallahu Akbar Allahu Akbar Walillah Ilham
Fatwa Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullahu Ta’alaPertanyaan 1:Di bulan Ramadhan, take off sebagaian penerbangan itu di waktu adzan maghrib, sehingga kami (bisa) berbuka puasa ketika masih di bandara. Setelah pesawat take off dan posisi pesawat semakin tinggi dari permukaan bumi, kami menyaksikan bulatan matahari dengan jelas. Apakah kami menahan diri dari makan dan minum, atau kami menyempurnakan buka puasa kami di pesawat terbang?Jawaban:Jangan menahan diri dari makan dan minum (artinya, teruskan buka puasa di pesawat, pen.), karena Engkau telah berbuka puasa sesuai dengan tuntutan dalil syariat, berdasarkan firman Allah Ta’ala,ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ“Kemudian sempurnakanlah puasa sampai malam” (QS. Al-Baqarah [2]: 187).Juga berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,إِذَا أَقْبَلَ اللَّيْلُ مِنْ هَا هُنَا، وَأَدْبَرَ النَّهَارُ مِنْ هَا هُنَا، وَغَرَبَتِ الشَّمْسُ فَقَدْ أَفْطَرَ الصَّائِمُ“Jika malam telah datang dari sisi sebelah sini (beliau berisyarat ke arah timur), dan ketika siang telah pergi dari sisi sebelah sini (beliau berisyarat ke arah barat), dan matahari telah tenggelam, maka telah masuk waktu berbuka bagi orang yang berpuasa.” (HR. Bukhari no. 1954)Pertanyaan 2:Di bulan Ramadhan, kami melakukan safar. Di tengah-tengah perjalanan, kami menjumpai waktu malam. Kami masih berada di pesawat di udara. Apakah kami berbuka puasa ketika bulatan matahari tidak terlihat di hadapan kami atau apakah kami berbuka sesuai dengan waktu di negeri (daerah) yang kami berada di atasnya?Jawaban:Engkau berbuka puasa ketika melihat matahari sudah tenggelam, berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,إِذَا غَابَتِ الشَّمْسُ مِنْ هَا هُنَا، وَجَاءَ اللَّيْلُ مِنْ هَا هُنَا، فَقَدْ أَفْطَرَ الصَّائِمُ“Jika matahari tenggelam dari sisi sebelah sini [1], dan malam datang dari sisi sebelah sini [2], maka telah masuk waktu berbuka bagi orang yang berpuasa” (HR. Muslim no. 1101).Pertanyaan 3:Jika ada mendung, dan kami berpuasa, lalu bagaimana kami berbuka ketika di pesawat?Jawaban:Jika menurut sangkaan kuatmu bahwa matahari sudah tenggelam, maka berbukalah. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya berbuka puasa pada suatu hari di kota Madinah, dan ketika itu ada mendung. Kemudian ternyata masih terlihat matahari setelah mereka berbuka puasa. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk menahan diri dari makan dan minum, dan tidak memerintahkan mereka untuk mengganti puasa di hari itu (artinya, puasa di hari itu tetap sah, pen.) (HR. Bukhari no. 1959, diriwayatkan dari Asma’ binti Abu Bakr Ash-Shiddiq radhiyallahu Ta’ala  ‘anha). [3][Selesai]***Diselesaikan di pagi hari yang cerah, Bornsesteeg NL, 25 Sya’ban 1439/ 12 Mei 2018Penerjemah: M. Saifudin Hakim Catatan kaki:[1]     Yaitu di arah barat.[2]    Yaitu di arah timur.[3]    Diterjemahkan dari: I’laamul Musaafiriin, karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullahu Ta’ala, hal. 77-78 (pertanyaan nomor 103, 104 dan 105).🔍 Hadits Asmaul Husna, Gambar Mengganggu Orang Beribadah, Hadist Riyadhus Sholihin, Hukum Bersyukur Kepada Allah Adalah, Allahu Akbar Allahu Akbar La Ilaha Illallah Wallahu Akbar Allahu Akbar Walillah Ilham


Fatwa Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullahu Ta’alaPertanyaan 1:Di bulan Ramadhan, take off sebagaian penerbangan itu di waktu adzan maghrib, sehingga kami (bisa) berbuka puasa ketika masih di bandara. Setelah pesawat take off dan posisi pesawat semakin tinggi dari permukaan bumi, kami menyaksikan bulatan matahari dengan jelas. Apakah kami menahan diri dari makan dan minum, atau kami menyempurnakan buka puasa kami di pesawat terbang?Jawaban:Jangan menahan diri dari makan dan minum (artinya, teruskan buka puasa di pesawat, pen.), karena Engkau telah berbuka puasa sesuai dengan tuntutan dalil syariat, berdasarkan firman Allah Ta’ala,ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ“Kemudian sempurnakanlah puasa sampai malam” (QS. Al-Baqarah [2]: 187).Juga berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,إِذَا أَقْبَلَ اللَّيْلُ مِنْ هَا هُنَا، وَأَدْبَرَ النَّهَارُ مِنْ هَا هُنَا، وَغَرَبَتِ الشَّمْسُ فَقَدْ أَفْطَرَ الصَّائِمُ“Jika malam telah datang dari sisi sebelah sini (beliau berisyarat ke arah timur), dan ketika siang telah pergi dari sisi sebelah sini (beliau berisyarat ke arah barat), dan matahari telah tenggelam, maka telah masuk waktu berbuka bagi orang yang berpuasa.” (HR. Bukhari no. 1954)Pertanyaan 2:Di bulan Ramadhan, kami melakukan safar. Di tengah-tengah perjalanan, kami menjumpai waktu malam. Kami masih berada di pesawat di udara. Apakah kami berbuka puasa ketika bulatan matahari tidak terlihat di hadapan kami atau apakah kami berbuka sesuai dengan waktu di negeri (daerah) yang kami berada di atasnya?Jawaban:Engkau berbuka puasa ketika melihat matahari sudah tenggelam, berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,إِذَا غَابَتِ الشَّمْسُ مِنْ هَا هُنَا، وَجَاءَ اللَّيْلُ مِنْ هَا هُنَا، فَقَدْ أَفْطَرَ الصَّائِمُ“Jika matahari tenggelam dari sisi sebelah sini [1], dan malam datang dari sisi sebelah sini [2], maka telah masuk waktu berbuka bagi orang yang berpuasa” (HR. Muslim no. 1101).Pertanyaan 3:Jika ada mendung, dan kami berpuasa, lalu bagaimana kami berbuka ketika di pesawat?Jawaban:Jika menurut sangkaan kuatmu bahwa matahari sudah tenggelam, maka berbukalah. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya berbuka puasa pada suatu hari di kota Madinah, dan ketika itu ada mendung. Kemudian ternyata masih terlihat matahari setelah mereka berbuka puasa. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk menahan diri dari makan dan minum, dan tidak memerintahkan mereka untuk mengganti puasa di hari itu (artinya, puasa di hari itu tetap sah, pen.) (HR. Bukhari no. 1959, diriwayatkan dari Asma’ binti Abu Bakr Ash-Shiddiq radhiyallahu Ta’ala  ‘anha). [3][Selesai]***Diselesaikan di pagi hari yang cerah, Bornsesteeg NL, 25 Sya’ban 1439/ 12 Mei 2018Penerjemah: M. Saifudin Hakim Catatan kaki:[1]     Yaitu di arah barat.[2]    Yaitu di arah timur.[3]    Diterjemahkan dari: I’laamul Musaafiriin, karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullahu Ta’ala, hal. 77-78 (pertanyaan nomor 103, 104 dan 105).🔍 Hadits Asmaul Husna, Gambar Mengganggu Orang Beribadah, Hadist Riyadhus Sholihin, Hukum Bersyukur Kepada Allah Adalah, Allahu Akbar Allahu Akbar La Ilaha Illallah Wallahu Akbar Allahu Akbar Walillah Ilham

Lelaki Tidak Boleh Menggunakan Celana Pendek

Lelaki tidak boleh memakai celana pendek, karena dengan demikian ia menampakkan auratnya. Dan tidak boleh menampakkan aurat di hadapan lelaki lain, maupun di hadapan wanita selain istrinya atau budak wanitanya. Dalil-Dalil Perintah Menutup Aurat LelakiAllah Ta’ala berfirman:وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ . إِلا عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِين“(Orang beriman) adalah orang yang menjaga kemaluan mereka. Kecuali kepada istri-istri mereka atau budak-budak wanita mereka, jika demikian maka mereka tidak tercela” (QS. Al Mu’minun: 5 – 6).Mu’awiyah bin Haidah Al Qusyairi radhiallahu’anhu, seorang sahabat Nabi, bertanya kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam:يا رسولَ اللَّهِ عوراتُنا ما نأتي منها وما نذَرُ قالَ احفَظْ عورتَكَ إلَّا من زوجتِكَ أو ما ملكت يمينُكَ قلتُ يا رسولَ اللَّهِ أرأيتَ إن كانَ القومُ بعضَهم في بعضٍ قالَ فإنِ استطعتَ أن لا تُريَها أحدًا فلا تُرينَّها قلتُ يا رسولَ اللَّهِ فإن كانَ أحدُنا خالِيًا قالَ فاللَّهُ أحقُّ أن يُستحيا منهُ منَ النَّاسِ“Wahai Rasulullah, mengenai aurat kami, kepada siapa boleh kami tampakkan dan kepada siapa tidak boleh ditampakkan?Rasulullah menjawab: “tutuplah auratmu kecuali kepada istrimu atau budak wanitamu.”Mu’awiyah berkata: Wahai Rasulullah, bagaimana jika seseorang berada di tengah orang banyak yang saling melihat?Rasulullah menjawab: “Jika engkau mampu untuk menjaga auratmu agar tidak terlihat, maka hendaknya lalukanlah. Yaitu engkau tidak melihat aurat orang lain, dan orang lain tidak melihat auratmu.”Mu’awiyah berkata: Wahai Rasulullah, bagaimana jika seseorang sedang sendirian?Rasulullah menjawab: “Allah lebih berhak untuk malu kepada-Nya daripada kepada manusia” (HR. Tirmidzi no. 2794, dihasankan Al Albani dalam Shahih At Tirmidzi).Dan dalam hadits dari Abu Sa’id Al Khudri radhiallahu’anhu, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:لا يَنْظُرُ الرَّجُلُ إِلَى عَوْرَةِ الرَّجُلِ , وَلا الْمَرْأَةُ إِلَى عَوْرَةِ الْمَرْأَةِ“Seorang lelaki tidak boleh melihat aurat lelaki lain, dan wanita tidak boleh melihat aurat wanita lain” (HR. Muslim no. 338). Batasan Aurat LelakiDan batasan aurat lelaki adalah dari pusar hingga lutut. Berdasarkan hadits:أسفلِ السُّرَّةِ وفوقَ الركبتينِ من العورةِ“Yang dibawah pusar dan di atas kedua lutut adalah aurat” (HR. Al Baihaqi, 3362, Ad Daruquthni 1/231, dan yang lainnya).Dan hadits semisal ini banyak sekali, namun semuanya tidak lepas dari kelemahan. Namun demikian isinya diamalkan oleh para ulama. Bahkan Al Albani mengatakan:وهي وإن كانت أسانيدها كلها لا تخلو من ضعف …. فإن بعضها يقوي بعضاً ، لأنه ليس فيهم متهم ، بل عللها تدور بين الاضطراب والجهالة والضعف المحتمل ، فمثلها مما يطمئن القلب لصحة الحديث المروي بها“Hadits-hadits tentang batasan aurat ini walaupun semuanya tidak lepas dari kelemahan, namun sebagiannya menguatkan sebagian yang lain. Karena di dalamnya tidak ada perawi yang muttaham (tertuduh pendusta). Bahkan cacat yang ada hanya seputar idhthirab, jahalah dan kelemahan yang muhtamal. Maka hadits-hadits yang semisal ini termasuk hadits yang menenangkan hati untuk dikatakan hadits yang shahih” (Irwaul Ghalil, 1/297).Diantara dalil pendukungnya adalah hadits dari Abu Darda radhiallahu’anhu, ia berkata:كنت جالسا عند النبي صلى الله عليه وسلم إذ أقبل أبو بكر آخذا بطرف ثوبه حتى أبدى عن ركبته فقال النبي صلى الله عليه وسلم : أما صاحبكم فقد غامر“Aku pernah duduk di sebelah Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam. Tiba-tiba datanglah Abu Bakar menghadap Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam sambil menjinjing ujung pakaiannya hingga terlihat lututnya. Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam berkata: ‘Sesungguhnya teman kalian ini sedang gundah’….” (HR. Bukhari no. 3661).Juga dari Abu Musa Al Asy’ari radhiallahu’anhu ia berkata:أن النبي صلى الله عليه وسلم كان قاعداً في مكان فيه ماء قد انكشف عن ركبته أو ركبتيه فلما دخل عثمان غطاها“Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam pernah duduk di suatu tempat yang terdapat air dalam keadaan terbuka lututnya atau kedua lututnya. Ketika Utsman datang, beliau menutup lututnya” (HR. Al Bukhari no. 3695).Ini adalah pendapat jumhur ulama. Memang sebagian ulama berpendapat paha bukan termasuk aurat, namun ini adalah pendapat yang lemah, jika melihat dalil-dalil di atas.Syaikh Abdul Aziz bin Baz mengatakan:فإن عورة الرجل ما بين السرة والركبة في الصلاة وخارجها لكن يزاد على ذلك في الصلاة أن يستر عاتقيه أو أحدهما برداء ونحوه مع القدرة على ذلك، ولا يجوز للمؤمن في الصلاة أن يبدي شيئاً مما بين السرة والركبة، هذا هو الذي عليه جمهور أهل العلم وهو الصواب، وذهب بعض أهل العلم إلى أن الفخذ ليس بعورة ولكنه قول مرجوح“Aurat lelaki adalah antara pusar dan lutut, baik di dalam shalat maupun di luar shalat. Namun di dalam shalat ditambah dengan menutup kedua pundaknya atau salah satunya dengan rida atau semisalnya selama masih mampu. Dan tidak boleh bagi seorang Mukmin ketika shalat ia memperlihatkan bagian antara pusar hingga lututnya. Ini adalah pendapat jumhur ulama dan ini adalah pendapat yang benar. Sebagian ulama berpendapat bahwa paha bukan termasuk aurat, namun ini adalah pendapat yang lemah” (https://binbaz.org.sa/fatwas/17400).Maka kesimpulannya, tidak diperbolehkan lelaki memakai celana pendek di hadapan lelaki lain, atau di hadapan wanita selain istrinya atau budak wanitanya.Wallahu a’lam. Penulis: Yulian PurnamaArtikel: Muslim.Or.Id🔍 Hadits Tentang Doa, Hajar Aswad Putih, Ilmu Tassawuf, Perjalanan Ruh Setelah Sakaratul Maut, Zakat Mobil

Lelaki Tidak Boleh Menggunakan Celana Pendek

Lelaki tidak boleh memakai celana pendek, karena dengan demikian ia menampakkan auratnya. Dan tidak boleh menampakkan aurat di hadapan lelaki lain, maupun di hadapan wanita selain istrinya atau budak wanitanya. Dalil-Dalil Perintah Menutup Aurat LelakiAllah Ta’ala berfirman:وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ . إِلا عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِين“(Orang beriman) adalah orang yang menjaga kemaluan mereka. Kecuali kepada istri-istri mereka atau budak-budak wanita mereka, jika demikian maka mereka tidak tercela” (QS. Al Mu’minun: 5 – 6).Mu’awiyah bin Haidah Al Qusyairi radhiallahu’anhu, seorang sahabat Nabi, bertanya kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam:يا رسولَ اللَّهِ عوراتُنا ما نأتي منها وما نذَرُ قالَ احفَظْ عورتَكَ إلَّا من زوجتِكَ أو ما ملكت يمينُكَ قلتُ يا رسولَ اللَّهِ أرأيتَ إن كانَ القومُ بعضَهم في بعضٍ قالَ فإنِ استطعتَ أن لا تُريَها أحدًا فلا تُرينَّها قلتُ يا رسولَ اللَّهِ فإن كانَ أحدُنا خالِيًا قالَ فاللَّهُ أحقُّ أن يُستحيا منهُ منَ النَّاسِ“Wahai Rasulullah, mengenai aurat kami, kepada siapa boleh kami tampakkan dan kepada siapa tidak boleh ditampakkan?Rasulullah menjawab: “tutuplah auratmu kecuali kepada istrimu atau budak wanitamu.”Mu’awiyah berkata: Wahai Rasulullah, bagaimana jika seseorang berada di tengah orang banyak yang saling melihat?Rasulullah menjawab: “Jika engkau mampu untuk menjaga auratmu agar tidak terlihat, maka hendaknya lalukanlah. Yaitu engkau tidak melihat aurat orang lain, dan orang lain tidak melihat auratmu.”Mu’awiyah berkata: Wahai Rasulullah, bagaimana jika seseorang sedang sendirian?Rasulullah menjawab: “Allah lebih berhak untuk malu kepada-Nya daripada kepada manusia” (HR. Tirmidzi no. 2794, dihasankan Al Albani dalam Shahih At Tirmidzi).Dan dalam hadits dari Abu Sa’id Al Khudri radhiallahu’anhu, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:لا يَنْظُرُ الرَّجُلُ إِلَى عَوْرَةِ الرَّجُلِ , وَلا الْمَرْأَةُ إِلَى عَوْرَةِ الْمَرْأَةِ“Seorang lelaki tidak boleh melihat aurat lelaki lain, dan wanita tidak boleh melihat aurat wanita lain” (HR. Muslim no. 338). Batasan Aurat LelakiDan batasan aurat lelaki adalah dari pusar hingga lutut. Berdasarkan hadits:أسفلِ السُّرَّةِ وفوقَ الركبتينِ من العورةِ“Yang dibawah pusar dan di atas kedua lutut adalah aurat” (HR. Al Baihaqi, 3362, Ad Daruquthni 1/231, dan yang lainnya).Dan hadits semisal ini banyak sekali, namun semuanya tidak lepas dari kelemahan. Namun demikian isinya diamalkan oleh para ulama. Bahkan Al Albani mengatakan:وهي وإن كانت أسانيدها كلها لا تخلو من ضعف …. فإن بعضها يقوي بعضاً ، لأنه ليس فيهم متهم ، بل عللها تدور بين الاضطراب والجهالة والضعف المحتمل ، فمثلها مما يطمئن القلب لصحة الحديث المروي بها“Hadits-hadits tentang batasan aurat ini walaupun semuanya tidak lepas dari kelemahan, namun sebagiannya menguatkan sebagian yang lain. Karena di dalamnya tidak ada perawi yang muttaham (tertuduh pendusta). Bahkan cacat yang ada hanya seputar idhthirab, jahalah dan kelemahan yang muhtamal. Maka hadits-hadits yang semisal ini termasuk hadits yang menenangkan hati untuk dikatakan hadits yang shahih” (Irwaul Ghalil, 1/297).Diantara dalil pendukungnya adalah hadits dari Abu Darda radhiallahu’anhu, ia berkata:كنت جالسا عند النبي صلى الله عليه وسلم إذ أقبل أبو بكر آخذا بطرف ثوبه حتى أبدى عن ركبته فقال النبي صلى الله عليه وسلم : أما صاحبكم فقد غامر“Aku pernah duduk di sebelah Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam. Tiba-tiba datanglah Abu Bakar menghadap Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam sambil menjinjing ujung pakaiannya hingga terlihat lututnya. Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam berkata: ‘Sesungguhnya teman kalian ini sedang gundah’….” (HR. Bukhari no. 3661).Juga dari Abu Musa Al Asy’ari radhiallahu’anhu ia berkata:أن النبي صلى الله عليه وسلم كان قاعداً في مكان فيه ماء قد انكشف عن ركبته أو ركبتيه فلما دخل عثمان غطاها“Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam pernah duduk di suatu tempat yang terdapat air dalam keadaan terbuka lututnya atau kedua lututnya. Ketika Utsman datang, beliau menutup lututnya” (HR. Al Bukhari no. 3695).Ini adalah pendapat jumhur ulama. Memang sebagian ulama berpendapat paha bukan termasuk aurat, namun ini adalah pendapat yang lemah, jika melihat dalil-dalil di atas.Syaikh Abdul Aziz bin Baz mengatakan:فإن عورة الرجل ما بين السرة والركبة في الصلاة وخارجها لكن يزاد على ذلك في الصلاة أن يستر عاتقيه أو أحدهما برداء ونحوه مع القدرة على ذلك، ولا يجوز للمؤمن في الصلاة أن يبدي شيئاً مما بين السرة والركبة، هذا هو الذي عليه جمهور أهل العلم وهو الصواب، وذهب بعض أهل العلم إلى أن الفخذ ليس بعورة ولكنه قول مرجوح“Aurat lelaki adalah antara pusar dan lutut, baik di dalam shalat maupun di luar shalat. Namun di dalam shalat ditambah dengan menutup kedua pundaknya atau salah satunya dengan rida atau semisalnya selama masih mampu. Dan tidak boleh bagi seorang Mukmin ketika shalat ia memperlihatkan bagian antara pusar hingga lututnya. Ini adalah pendapat jumhur ulama dan ini adalah pendapat yang benar. Sebagian ulama berpendapat bahwa paha bukan termasuk aurat, namun ini adalah pendapat yang lemah” (https://binbaz.org.sa/fatwas/17400).Maka kesimpulannya, tidak diperbolehkan lelaki memakai celana pendek di hadapan lelaki lain, atau di hadapan wanita selain istrinya atau budak wanitanya.Wallahu a’lam. Penulis: Yulian PurnamaArtikel: Muslim.Or.Id🔍 Hadits Tentang Doa, Hajar Aswad Putih, Ilmu Tassawuf, Perjalanan Ruh Setelah Sakaratul Maut, Zakat Mobil
Lelaki tidak boleh memakai celana pendek, karena dengan demikian ia menampakkan auratnya. Dan tidak boleh menampakkan aurat di hadapan lelaki lain, maupun di hadapan wanita selain istrinya atau budak wanitanya. Dalil-Dalil Perintah Menutup Aurat LelakiAllah Ta’ala berfirman:وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ . إِلا عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِين“(Orang beriman) adalah orang yang menjaga kemaluan mereka. Kecuali kepada istri-istri mereka atau budak-budak wanita mereka, jika demikian maka mereka tidak tercela” (QS. Al Mu’minun: 5 – 6).Mu’awiyah bin Haidah Al Qusyairi radhiallahu’anhu, seorang sahabat Nabi, bertanya kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam:يا رسولَ اللَّهِ عوراتُنا ما نأتي منها وما نذَرُ قالَ احفَظْ عورتَكَ إلَّا من زوجتِكَ أو ما ملكت يمينُكَ قلتُ يا رسولَ اللَّهِ أرأيتَ إن كانَ القومُ بعضَهم في بعضٍ قالَ فإنِ استطعتَ أن لا تُريَها أحدًا فلا تُرينَّها قلتُ يا رسولَ اللَّهِ فإن كانَ أحدُنا خالِيًا قالَ فاللَّهُ أحقُّ أن يُستحيا منهُ منَ النَّاسِ“Wahai Rasulullah, mengenai aurat kami, kepada siapa boleh kami tampakkan dan kepada siapa tidak boleh ditampakkan?Rasulullah menjawab: “tutuplah auratmu kecuali kepada istrimu atau budak wanitamu.”Mu’awiyah berkata: Wahai Rasulullah, bagaimana jika seseorang berada di tengah orang banyak yang saling melihat?Rasulullah menjawab: “Jika engkau mampu untuk menjaga auratmu agar tidak terlihat, maka hendaknya lalukanlah. Yaitu engkau tidak melihat aurat orang lain, dan orang lain tidak melihat auratmu.”Mu’awiyah berkata: Wahai Rasulullah, bagaimana jika seseorang sedang sendirian?Rasulullah menjawab: “Allah lebih berhak untuk malu kepada-Nya daripada kepada manusia” (HR. Tirmidzi no. 2794, dihasankan Al Albani dalam Shahih At Tirmidzi).Dan dalam hadits dari Abu Sa’id Al Khudri radhiallahu’anhu, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:لا يَنْظُرُ الرَّجُلُ إِلَى عَوْرَةِ الرَّجُلِ , وَلا الْمَرْأَةُ إِلَى عَوْرَةِ الْمَرْأَةِ“Seorang lelaki tidak boleh melihat aurat lelaki lain, dan wanita tidak boleh melihat aurat wanita lain” (HR. Muslim no. 338). Batasan Aurat LelakiDan batasan aurat lelaki adalah dari pusar hingga lutut. Berdasarkan hadits:أسفلِ السُّرَّةِ وفوقَ الركبتينِ من العورةِ“Yang dibawah pusar dan di atas kedua lutut adalah aurat” (HR. Al Baihaqi, 3362, Ad Daruquthni 1/231, dan yang lainnya).Dan hadits semisal ini banyak sekali, namun semuanya tidak lepas dari kelemahan. Namun demikian isinya diamalkan oleh para ulama. Bahkan Al Albani mengatakan:وهي وإن كانت أسانيدها كلها لا تخلو من ضعف …. فإن بعضها يقوي بعضاً ، لأنه ليس فيهم متهم ، بل عللها تدور بين الاضطراب والجهالة والضعف المحتمل ، فمثلها مما يطمئن القلب لصحة الحديث المروي بها“Hadits-hadits tentang batasan aurat ini walaupun semuanya tidak lepas dari kelemahan, namun sebagiannya menguatkan sebagian yang lain. Karena di dalamnya tidak ada perawi yang muttaham (tertuduh pendusta). Bahkan cacat yang ada hanya seputar idhthirab, jahalah dan kelemahan yang muhtamal. Maka hadits-hadits yang semisal ini termasuk hadits yang menenangkan hati untuk dikatakan hadits yang shahih” (Irwaul Ghalil, 1/297).Diantara dalil pendukungnya adalah hadits dari Abu Darda radhiallahu’anhu, ia berkata:كنت جالسا عند النبي صلى الله عليه وسلم إذ أقبل أبو بكر آخذا بطرف ثوبه حتى أبدى عن ركبته فقال النبي صلى الله عليه وسلم : أما صاحبكم فقد غامر“Aku pernah duduk di sebelah Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam. Tiba-tiba datanglah Abu Bakar menghadap Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam sambil menjinjing ujung pakaiannya hingga terlihat lututnya. Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam berkata: ‘Sesungguhnya teman kalian ini sedang gundah’….” (HR. Bukhari no. 3661).Juga dari Abu Musa Al Asy’ari radhiallahu’anhu ia berkata:أن النبي صلى الله عليه وسلم كان قاعداً في مكان فيه ماء قد انكشف عن ركبته أو ركبتيه فلما دخل عثمان غطاها“Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam pernah duduk di suatu tempat yang terdapat air dalam keadaan terbuka lututnya atau kedua lututnya. Ketika Utsman datang, beliau menutup lututnya” (HR. Al Bukhari no. 3695).Ini adalah pendapat jumhur ulama. Memang sebagian ulama berpendapat paha bukan termasuk aurat, namun ini adalah pendapat yang lemah, jika melihat dalil-dalil di atas.Syaikh Abdul Aziz bin Baz mengatakan:فإن عورة الرجل ما بين السرة والركبة في الصلاة وخارجها لكن يزاد على ذلك في الصلاة أن يستر عاتقيه أو أحدهما برداء ونحوه مع القدرة على ذلك، ولا يجوز للمؤمن في الصلاة أن يبدي شيئاً مما بين السرة والركبة، هذا هو الذي عليه جمهور أهل العلم وهو الصواب، وذهب بعض أهل العلم إلى أن الفخذ ليس بعورة ولكنه قول مرجوح“Aurat lelaki adalah antara pusar dan lutut, baik di dalam shalat maupun di luar shalat. Namun di dalam shalat ditambah dengan menutup kedua pundaknya atau salah satunya dengan rida atau semisalnya selama masih mampu. Dan tidak boleh bagi seorang Mukmin ketika shalat ia memperlihatkan bagian antara pusar hingga lututnya. Ini adalah pendapat jumhur ulama dan ini adalah pendapat yang benar. Sebagian ulama berpendapat bahwa paha bukan termasuk aurat, namun ini adalah pendapat yang lemah” (https://binbaz.org.sa/fatwas/17400).Maka kesimpulannya, tidak diperbolehkan lelaki memakai celana pendek di hadapan lelaki lain, atau di hadapan wanita selain istrinya atau budak wanitanya.Wallahu a’lam. Penulis: Yulian PurnamaArtikel: Muslim.Or.Id🔍 Hadits Tentang Doa, Hajar Aswad Putih, Ilmu Tassawuf, Perjalanan Ruh Setelah Sakaratul Maut, Zakat Mobil


Lelaki tidak boleh memakai celana pendek, karena dengan demikian ia menampakkan auratnya. Dan tidak boleh menampakkan aurat di hadapan lelaki lain, maupun di hadapan wanita selain istrinya atau budak wanitanya. Dalil-Dalil Perintah Menutup Aurat LelakiAllah Ta’ala berfirman:وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ . إِلا عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِين“(Orang beriman) adalah orang yang menjaga kemaluan mereka. Kecuali kepada istri-istri mereka atau budak-budak wanita mereka, jika demikian maka mereka tidak tercela” (QS. Al Mu’minun: 5 – 6).Mu’awiyah bin Haidah Al Qusyairi radhiallahu’anhu, seorang sahabat Nabi, bertanya kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam:يا رسولَ اللَّهِ عوراتُنا ما نأتي منها وما نذَرُ قالَ احفَظْ عورتَكَ إلَّا من زوجتِكَ أو ما ملكت يمينُكَ قلتُ يا رسولَ اللَّهِ أرأيتَ إن كانَ القومُ بعضَهم في بعضٍ قالَ فإنِ استطعتَ أن لا تُريَها أحدًا فلا تُرينَّها قلتُ يا رسولَ اللَّهِ فإن كانَ أحدُنا خالِيًا قالَ فاللَّهُ أحقُّ أن يُستحيا منهُ منَ النَّاسِ“Wahai Rasulullah, mengenai aurat kami, kepada siapa boleh kami tampakkan dan kepada siapa tidak boleh ditampakkan?Rasulullah menjawab: “tutuplah auratmu kecuali kepada istrimu atau budak wanitamu.”Mu’awiyah berkata: Wahai Rasulullah, bagaimana jika seseorang berada di tengah orang banyak yang saling melihat?Rasulullah menjawab: “Jika engkau mampu untuk menjaga auratmu agar tidak terlihat, maka hendaknya lalukanlah. Yaitu engkau tidak melihat aurat orang lain, dan orang lain tidak melihat auratmu.”Mu’awiyah berkata: Wahai Rasulullah, bagaimana jika seseorang sedang sendirian?Rasulullah menjawab: “Allah lebih berhak untuk malu kepada-Nya daripada kepada manusia” (HR. Tirmidzi no. 2794, dihasankan Al Albani dalam Shahih At Tirmidzi).Dan dalam hadits dari Abu Sa’id Al Khudri radhiallahu’anhu, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:لا يَنْظُرُ الرَّجُلُ إِلَى عَوْرَةِ الرَّجُلِ , وَلا الْمَرْأَةُ إِلَى عَوْرَةِ الْمَرْأَةِ“Seorang lelaki tidak boleh melihat aurat lelaki lain, dan wanita tidak boleh melihat aurat wanita lain” (HR. Muslim no. 338). Batasan Aurat LelakiDan batasan aurat lelaki adalah dari pusar hingga lutut. Berdasarkan hadits:أسفلِ السُّرَّةِ وفوقَ الركبتينِ من العورةِ“Yang dibawah pusar dan di atas kedua lutut adalah aurat” (HR. Al Baihaqi, 3362, Ad Daruquthni 1/231, dan yang lainnya).Dan hadits semisal ini banyak sekali, namun semuanya tidak lepas dari kelemahan. Namun demikian isinya diamalkan oleh para ulama. Bahkan Al Albani mengatakan:وهي وإن كانت أسانيدها كلها لا تخلو من ضعف …. فإن بعضها يقوي بعضاً ، لأنه ليس فيهم متهم ، بل عللها تدور بين الاضطراب والجهالة والضعف المحتمل ، فمثلها مما يطمئن القلب لصحة الحديث المروي بها“Hadits-hadits tentang batasan aurat ini walaupun semuanya tidak lepas dari kelemahan, namun sebagiannya menguatkan sebagian yang lain. Karena di dalamnya tidak ada perawi yang muttaham (tertuduh pendusta). Bahkan cacat yang ada hanya seputar idhthirab, jahalah dan kelemahan yang muhtamal. Maka hadits-hadits yang semisal ini termasuk hadits yang menenangkan hati untuk dikatakan hadits yang shahih” (Irwaul Ghalil, 1/297).Diantara dalil pendukungnya adalah hadits dari Abu Darda radhiallahu’anhu, ia berkata:كنت جالسا عند النبي صلى الله عليه وسلم إذ أقبل أبو بكر آخذا بطرف ثوبه حتى أبدى عن ركبته فقال النبي صلى الله عليه وسلم : أما صاحبكم فقد غامر“Aku pernah duduk di sebelah Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam. Tiba-tiba datanglah Abu Bakar menghadap Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam sambil menjinjing ujung pakaiannya hingga terlihat lututnya. Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam berkata: ‘Sesungguhnya teman kalian ini sedang gundah’….” (HR. Bukhari no. 3661).Juga dari Abu Musa Al Asy’ari radhiallahu’anhu ia berkata:أن النبي صلى الله عليه وسلم كان قاعداً في مكان فيه ماء قد انكشف عن ركبته أو ركبتيه فلما دخل عثمان غطاها“Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam pernah duduk di suatu tempat yang terdapat air dalam keadaan terbuka lututnya atau kedua lututnya. Ketika Utsman datang, beliau menutup lututnya” (HR. Al Bukhari no. 3695).Ini adalah pendapat jumhur ulama. Memang sebagian ulama berpendapat paha bukan termasuk aurat, namun ini adalah pendapat yang lemah, jika melihat dalil-dalil di atas.Syaikh Abdul Aziz bin Baz mengatakan:فإن عورة الرجل ما بين السرة والركبة في الصلاة وخارجها لكن يزاد على ذلك في الصلاة أن يستر عاتقيه أو أحدهما برداء ونحوه مع القدرة على ذلك، ولا يجوز للمؤمن في الصلاة أن يبدي شيئاً مما بين السرة والركبة، هذا هو الذي عليه جمهور أهل العلم وهو الصواب، وذهب بعض أهل العلم إلى أن الفخذ ليس بعورة ولكنه قول مرجوح“Aurat lelaki adalah antara pusar dan lutut, baik di dalam shalat maupun di luar shalat. Namun di dalam shalat ditambah dengan menutup kedua pundaknya atau salah satunya dengan rida atau semisalnya selama masih mampu. Dan tidak boleh bagi seorang Mukmin ketika shalat ia memperlihatkan bagian antara pusar hingga lututnya. Ini adalah pendapat jumhur ulama dan ini adalah pendapat yang benar. Sebagian ulama berpendapat bahwa paha bukan termasuk aurat, namun ini adalah pendapat yang lemah” (https://binbaz.org.sa/fatwas/17400).Maka kesimpulannya, tidak diperbolehkan lelaki memakai celana pendek di hadapan lelaki lain, atau di hadapan wanita selain istrinya atau budak wanitanya.Wallahu a’lam. Penulis: Yulian PurnamaArtikel: Muslim.Or.Id🔍 Hadits Tentang Doa, Hajar Aswad Putih, Ilmu Tassawuf, Perjalanan Ruh Setelah Sakaratul Maut, Zakat Mobil

Kitabul Jami’ Hadits 12 – Adab-Adab Memakai Sandal (Bagian 1)

Hadits 12  -Adab-Adab Memakai Sandal (Bagian 1)Oleh: DR. Firanda Andirja, Lc, MAAl-Hāfizh Ibnu Hajar rahimahullāh membawakan hadits dari ‘Ali radhiallahu ‘anhu,وَعَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم: إِذَا انْتَعَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَبْدَأْ بِالْيَمِينِ, وَإِذَا نَزَعَ فَلْيَبْدَأْ بِالشِّمَالِ, وَلْتَكُنْ اَلْيُمْنَى أَوَّلَهُمَا تُنْعَلُ, وَآخِرَهُمَا تُنْزَعُBeliau berkata, Rasūlullāh shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Jika salah seorang dari kalian menggunakan sandal, maka mulailah dengan menggunakan sandal bagian kanan. Jika dia melepaskan sandalnya maka hendaknya dia mulai dengan melepaskan sandal yang kiri terlebih dahulu. Maka jadikanlah sandal yang kanan yang pertama kali dipakai dan jadikanlah sandal yang kanan pula yang terakhir dilepas.” (Muttafaqun ‘alaihi)Hadits ini adalah hadits yang shahih, diriwayatkan oleh Imam Muslim dan lainnya, juga diriwayatkan oleh Imām Mālik dan Abū Dāwūd.Hadits ini merupakan salah satu dari kaidah umum yang disebutkan oleh para ulama, yaitu bahwasanya merupakan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah:Mendahulukan yang kanan dalam perkara-perkara yang baik.Menggunakan/mendahulukan yang kiri dalam perkara-perkara yang buruk. Dalam suatu hadits yang bersumber dari ‘Aisyah radhiyallāhu ‘anhā dalam Shahihain, beliau berkata,كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ «يُعْجِبُهُ التَّيَمُّنُ، فِي تَنَعُّلِهِ، وَتَرَجُّلِهِ، وَطُهُورِهِ، وَفِي شَأْنِهِ كُلِّهِ»“Bahwasanya Rasūlullāh shallallahu ‘alaihi wasallam suka menggunakan (mendahulukan) yang kanan dalam memakai sandal, menyisir rambut, bersuci dan dalam segala perkara.”  (HR Al-Bukhari No. 168 dan 5926)Ini adalah dalil bahwasanya untuk segala perkara yang baik maka Rasūlullāh shallallahu ‘alaihi wasallam menganjurkan kita untuk mendahulukan yang kanan. Contohnya, bersisir, memakai sandal, memakai baju, makan dan minum menggunakan tangan kanan, dan mengambil perkara-perkara yang baik menggunakan tangan kanan.  Bahkan disebutkan bahwa Rasūlullāh shallallahu ‘alaihi wasallam tatkala ber-tahallul, yang Beliau cukur terlebih dahulu adalah bagian kepala yang kanan, baru kemudian bagian kepala yang kiri.Dari Anas bin Malik«لَمَّا رَمَى رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْجَمْرَةَ وَنَحَرَ نُسُكَهُ وَحَلَقَ نَاوَلَ الْحَالِقَ شِقَّهُ الْأَيْمَنَ فَحَلَقَهُ، ثُمَّ دَعَا أَبَا طَلْحَةَ الْأَنْصَارِيَّ فَأَعْطَاهُ إِيَّاهُ، ثُمَّ نَاوَلَهُ الشِّقَّ الْأَيْسَرَ»، فَقَالَ: «احْلِقْ فَحَلَقَهُ، فَأَعْطَاهُ أَبَا طَلْحَةَ»، فَقَالَ: «اقْسِمْهُ بَيْنَ النَّاسِ»Tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallammelempar jamrat al-‘Aqobah dan menyembelih onta-onta beliau dan mencukur gundul maka sang pencukur menggunduli bagian kanan kepala beliau. Lalu beliau memanggil Abu Tholhah al-Anshoriy lalu beliau memberikan rambutnya kepada Abu Tholhah. Kemudian beliau memegang bagian kiri kepala beliau lalu beliau berkata, “Cukur gundul” Lalu dicukurlah kepala beliau lalu beliau memberi rambutnya kepada Abu Tholhah, lalu beliau berkata, “Bagi-bagikanlah rambut itu kepada orang-orang” (HR Muslim No. 1305)Adapun dalam perkara-perkara yang buruk, maka kita mendahulukan atau menggunakan yang kiri. Contohnya, bersuci dari kotoran dengan menggunakan tangan kiri, mengambil barang-barang yang kotor menggunakan tangan kiri, masuk ke dalam WC mendahulukan kaki kiri, dan lain-lain.Di antara sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tentang hal ini (praktik dalam mendahulukan yang kanan dalam perkara yang baik dan mendahulukan yang kiri dalam perkara yang buruk) adalah adab menggunakan sandal.Rasūlullāh shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Jika salah seorang dari kalian menggunakan sandal, maka mulailah dengan menggunakan sandal bagian kanan. Jika dia melepaskan sandalnya maka hendaknya dia mulai dengan melepaskan sandal yang kiri terlebih dahulu. Maka jadikanlah sandal yang kanan yang pertama kali dipakai dan jadikanlah sandal yang kanan pula yang terakhir dilepas.” Mengapa demikian? Karena menggunakan sandal merupakan perkara yang baik, merupakan karamah (perbuatan yang mulia), yaitu menjaga kaki dari kotoran dan dari hal-hal yang bisa mengganggu, maka kita mendahulukan kaki kanan ketika memakai sandal. Sebaliknya,  melepaskan sandal dari kaki adalah perkara yang kurang baik, karena kita menghilangkan penjagaan terhadap kaki. Maka disunnahkan ketika kita melepaskan sandal, kita mendahulukan kaki kiri. Demikianlah sunnahnya.Para pembaca yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’ālā, Perkara ini (memakai dan melepas sandal) adalah perkara yang kita lakukan setiap hari. Kita memperhatikan atau tidak, maka tetap saja kita memakai sandal dalam kehidupan kita sehari-hari. Jika demikian, tidakkah kita ingin mendapatkan pahala?Bagaimana caranya meraih pahala dari memakai sandal? Caranya adalah,  ketika memakai sandal kita niatkan dengan memakai sandal di kaki kanan terlebih dahulu. Kemudian, ketika memasukkan kaki kanan ke dalam sandal, maka kita teringat sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Dengan demikian otomatis Allāh akan memberikan pahala. Demikian pula halnya ketika kita ingin melepas sandal, maka kita lepas sandal dari kaki kiri terlebih dahulu karena kita ingat sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.Adapun kebiasaan kebanyakan orang jika memakai sandal mendahulukan kaki kanan dan ketika melepaskan pun juga mendahulukan kaki kanan (memakai dan melepaskan sandal dengan mendahulukan kaki kanan), maka kurang sempurna sunnahnya. Sunnah yang sempurna adalah mendahulukan kaki kanan ketika memakai sandal dan mendahulukan kaki kiri ketika melepaskannya.Di akhir pembahasan ini, saya ingatkan bahwa para ulama telah ijma’ bahwa memakai sandal dengan mendahulukan kaki  kanan hukumnya adalah sunnah, tidak sampai pada derajat wajib. Akan tetapi, merupakan perkara yang tercela jika seseorang dengan sengaja memakai sandal dengan mendahulukan kaki kiri setelah mengetahui sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ini. Kita tidak mengatakan bahwa dengan mendahulukan kaki kiri ketika memakai sandal itu dia berdosa. Akan tetapi kita katakan bahwa dia menyelisihi sunnah dan menyelisihi sunnah itu adalah perbuatan yang buruk meskipun tidak sampai pada derajat berdosa.Wallahu a’lam.

Kitabul Jami’ Hadits 12 – Adab-Adab Memakai Sandal (Bagian 1)

Hadits 12  -Adab-Adab Memakai Sandal (Bagian 1)Oleh: DR. Firanda Andirja, Lc, MAAl-Hāfizh Ibnu Hajar rahimahullāh membawakan hadits dari ‘Ali radhiallahu ‘anhu,وَعَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم: إِذَا انْتَعَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَبْدَأْ بِالْيَمِينِ, وَإِذَا نَزَعَ فَلْيَبْدَأْ بِالشِّمَالِ, وَلْتَكُنْ اَلْيُمْنَى أَوَّلَهُمَا تُنْعَلُ, وَآخِرَهُمَا تُنْزَعُBeliau berkata, Rasūlullāh shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Jika salah seorang dari kalian menggunakan sandal, maka mulailah dengan menggunakan sandal bagian kanan. Jika dia melepaskan sandalnya maka hendaknya dia mulai dengan melepaskan sandal yang kiri terlebih dahulu. Maka jadikanlah sandal yang kanan yang pertama kali dipakai dan jadikanlah sandal yang kanan pula yang terakhir dilepas.” (Muttafaqun ‘alaihi)Hadits ini adalah hadits yang shahih, diriwayatkan oleh Imam Muslim dan lainnya, juga diriwayatkan oleh Imām Mālik dan Abū Dāwūd.Hadits ini merupakan salah satu dari kaidah umum yang disebutkan oleh para ulama, yaitu bahwasanya merupakan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah:Mendahulukan yang kanan dalam perkara-perkara yang baik.Menggunakan/mendahulukan yang kiri dalam perkara-perkara yang buruk. Dalam suatu hadits yang bersumber dari ‘Aisyah radhiyallāhu ‘anhā dalam Shahihain, beliau berkata,كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ «يُعْجِبُهُ التَّيَمُّنُ، فِي تَنَعُّلِهِ، وَتَرَجُّلِهِ، وَطُهُورِهِ، وَفِي شَأْنِهِ كُلِّهِ»“Bahwasanya Rasūlullāh shallallahu ‘alaihi wasallam suka menggunakan (mendahulukan) yang kanan dalam memakai sandal, menyisir rambut, bersuci dan dalam segala perkara.”  (HR Al-Bukhari No. 168 dan 5926)Ini adalah dalil bahwasanya untuk segala perkara yang baik maka Rasūlullāh shallallahu ‘alaihi wasallam menganjurkan kita untuk mendahulukan yang kanan. Contohnya, bersisir, memakai sandal, memakai baju, makan dan minum menggunakan tangan kanan, dan mengambil perkara-perkara yang baik menggunakan tangan kanan.  Bahkan disebutkan bahwa Rasūlullāh shallallahu ‘alaihi wasallam tatkala ber-tahallul, yang Beliau cukur terlebih dahulu adalah bagian kepala yang kanan, baru kemudian bagian kepala yang kiri.Dari Anas bin Malik«لَمَّا رَمَى رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْجَمْرَةَ وَنَحَرَ نُسُكَهُ وَحَلَقَ نَاوَلَ الْحَالِقَ شِقَّهُ الْأَيْمَنَ فَحَلَقَهُ، ثُمَّ دَعَا أَبَا طَلْحَةَ الْأَنْصَارِيَّ فَأَعْطَاهُ إِيَّاهُ، ثُمَّ نَاوَلَهُ الشِّقَّ الْأَيْسَرَ»، فَقَالَ: «احْلِقْ فَحَلَقَهُ، فَأَعْطَاهُ أَبَا طَلْحَةَ»، فَقَالَ: «اقْسِمْهُ بَيْنَ النَّاسِ»Tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallammelempar jamrat al-‘Aqobah dan menyembelih onta-onta beliau dan mencukur gundul maka sang pencukur menggunduli bagian kanan kepala beliau. Lalu beliau memanggil Abu Tholhah al-Anshoriy lalu beliau memberikan rambutnya kepada Abu Tholhah. Kemudian beliau memegang bagian kiri kepala beliau lalu beliau berkata, “Cukur gundul” Lalu dicukurlah kepala beliau lalu beliau memberi rambutnya kepada Abu Tholhah, lalu beliau berkata, “Bagi-bagikanlah rambut itu kepada orang-orang” (HR Muslim No. 1305)Adapun dalam perkara-perkara yang buruk, maka kita mendahulukan atau menggunakan yang kiri. Contohnya, bersuci dari kotoran dengan menggunakan tangan kiri, mengambil barang-barang yang kotor menggunakan tangan kiri, masuk ke dalam WC mendahulukan kaki kiri, dan lain-lain.Di antara sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tentang hal ini (praktik dalam mendahulukan yang kanan dalam perkara yang baik dan mendahulukan yang kiri dalam perkara yang buruk) adalah adab menggunakan sandal.Rasūlullāh shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Jika salah seorang dari kalian menggunakan sandal, maka mulailah dengan menggunakan sandal bagian kanan. Jika dia melepaskan sandalnya maka hendaknya dia mulai dengan melepaskan sandal yang kiri terlebih dahulu. Maka jadikanlah sandal yang kanan yang pertama kali dipakai dan jadikanlah sandal yang kanan pula yang terakhir dilepas.” Mengapa demikian? Karena menggunakan sandal merupakan perkara yang baik, merupakan karamah (perbuatan yang mulia), yaitu menjaga kaki dari kotoran dan dari hal-hal yang bisa mengganggu, maka kita mendahulukan kaki kanan ketika memakai sandal. Sebaliknya,  melepaskan sandal dari kaki adalah perkara yang kurang baik, karena kita menghilangkan penjagaan terhadap kaki. Maka disunnahkan ketika kita melepaskan sandal, kita mendahulukan kaki kiri. Demikianlah sunnahnya.Para pembaca yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’ālā, Perkara ini (memakai dan melepas sandal) adalah perkara yang kita lakukan setiap hari. Kita memperhatikan atau tidak, maka tetap saja kita memakai sandal dalam kehidupan kita sehari-hari. Jika demikian, tidakkah kita ingin mendapatkan pahala?Bagaimana caranya meraih pahala dari memakai sandal? Caranya adalah,  ketika memakai sandal kita niatkan dengan memakai sandal di kaki kanan terlebih dahulu. Kemudian, ketika memasukkan kaki kanan ke dalam sandal, maka kita teringat sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Dengan demikian otomatis Allāh akan memberikan pahala. Demikian pula halnya ketika kita ingin melepas sandal, maka kita lepas sandal dari kaki kiri terlebih dahulu karena kita ingat sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.Adapun kebiasaan kebanyakan orang jika memakai sandal mendahulukan kaki kanan dan ketika melepaskan pun juga mendahulukan kaki kanan (memakai dan melepaskan sandal dengan mendahulukan kaki kanan), maka kurang sempurna sunnahnya. Sunnah yang sempurna adalah mendahulukan kaki kanan ketika memakai sandal dan mendahulukan kaki kiri ketika melepaskannya.Di akhir pembahasan ini, saya ingatkan bahwa para ulama telah ijma’ bahwa memakai sandal dengan mendahulukan kaki  kanan hukumnya adalah sunnah, tidak sampai pada derajat wajib. Akan tetapi, merupakan perkara yang tercela jika seseorang dengan sengaja memakai sandal dengan mendahulukan kaki kiri setelah mengetahui sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ini. Kita tidak mengatakan bahwa dengan mendahulukan kaki kiri ketika memakai sandal itu dia berdosa. Akan tetapi kita katakan bahwa dia menyelisihi sunnah dan menyelisihi sunnah itu adalah perbuatan yang buruk meskipun tidak sampai pada derajat berdosa.Wallahu a’lam.
Hadits 12  -Adab-Adab Memakai Sandal (Bagian 1)Oleh: DR. Firanda Andirja, Lc, MAAl-Hāfizh Ibnu Hajar rahimahullāh membawakan hadits dari ‘Ali radhiallahu ‘anhu,وَعَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم: إِذَا انْتَعَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَبْدَأْ بِالْيَمِينِ, وَإِذَا نَزَعَ فَلْيَبْدَأْ بِالشِّمَالِ, وَلْتَكُنْ اَلْيُمْنَى أَوَّلَهُمَا تُنْعَلُ, وَآخِرَهُمَا تُنْزَعُBeliau berkata, Rasūlullāh shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Jika salah seorang dari kalian menggunakan sandal, maka mulailah dengan menggunakan sandal bagian kanan. Jika dia melepaskan sandalnya maka hendaknya dia mulai dengan melepaskan sandal yang kiri terlebih dahulu. Maka jadikanlah sandal yang kanan yang pertama kali dipakai dan jadikanlah sandal yang kanan pula yang terakhir dilepas.” (Muttafaqun ‘alaihi)Hadits ini adalah hadits yang shahih, diriwayatkan oleh Imam Muslim dan lainnya, juga diriwayatkan oleh Imām Mālik dan Abū Dāwūd.Hadits ini merupakan salah satu dari kaidah umum yang disebutkan oleh para ulama, yaitu bahwasanya merupakan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah:Mendahulukan yang kanan dalam perkara-perkara yang baik.Menggunakan/mendahulukan yang kiri dalam perkara-perkara yang buruk. Dalam suatu hadits yang bersumber dari ‘Aisyah radhiyallāhu ‘anhā dalam Shahihain, beliau berkata,كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ «يُعْجِبُهُ التَّيَمُّنُ، فِي تَنَعُّلِهِ، وَتَرَجُّلِهِ، وَطُهُورِهِ، وَفِي شَأْنِهِ كُلِّهِ»“Bahwasanya Rasūlullāh shallallahu ‘alaihi wasallam suka menggunakan (mendahulukan) yang kanan dalam memakai sandal, menyisir rambut, bersuci dan dalam segala perkara.”  (HR Al-Bukhari No. 168 dan 5926)Ini adalah dalil bahwasanya untuk segala perkara yang baik maka Rasūlullāh shallallahu ‘alaihi wasallam menganjurkan kita untuk mendahulukan yang kanan. Contohnya, bersisir, memakai sandal, memakai baju, makan dan minum menggunakan tangan kanan, dan mengambil perkara-perkara yang baik menggunakan tangan kanan.  Bahkan disebutkan bahwa Rasūlullāh shallallahu ‘alaihi wasallam tatkala ber-tahallul, yang Beliau cukur terlebih dahulu adalah bagian kepala yang kanan, baru kemudian bagian kepala yang kiri.Dari Anas bin Malik«لَمَّا رَمَى رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْجَمْرَةَ وَنَحَرَ نُسُكَهُ وَحَلَقَ نَاوَلَ الْحَالِقَ شِقَّهُ الْأَيْمَنَ فَحَلَقَهُ، ثُمَّ دَعَا أَبَا طَلْحَةَ الْأَنْصَارِيَّ فَأَعْطَاهُ إِيَّاهُ، ثُمَّ نَاوَلَهُ الشِّقَّ الْأَيْسَرَ»، فَقَالَ: «احْلِقْ فَحَلَقَهُ، فَأَعْطَاهُ أَبَا طَلْحَةَ»، فَقَالَ: «اقْسِمْهُ بَيْنَ النَّاسِ»Tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallammelempar jamrat al-‘Aqobah dan menyembelih onta-onta beliau dan mencukur gundul maka sang pencukur menggunduli bagian kanan kepala beliau. Lalu beliau memanggil Abu Tholhah al-Anshoriy lalu beliau memberikan rambutnya kepada Abu Tholhah. Kemudian beliau memegang bagian kiri kepala beliau lalu beliau berkata, “Cukur gundul” Lalu dicukurlah kepala beliau lalu beliau memberi rambutnya kepada Abu Tholhah, lalu beliau berkata, “Bagi-bagikanlah rambut itu kepada orang-orang” (HR Muslim No. 1305)Adapun dalam perkara-perkara yang buruk, maka kita mendahulukan atau menggunakan yang kiri. Contohnya, bersuci dari kotoran dengan menggunakan tangan kiri, mengambil barang-barang yang kotor menggunakan tangan kiri, masuk ke dalam WC mendahulukan kaki kiri, dan lain-lain.Di antara sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tentang hal ini (praktik dalam mendahulukan yang kanan dalam perkara yang baik dan mendahulukan yang kiri dalam perkara yang buruk) adalah adab menggunakan sandal.Rasūlullāh shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Jika salah seorang dari kalian menggunakan sandal, maka mulailah dengan menggunakan sandal bagian kanan. Jika dia melepaskan sandalnya maka hendaknya dia mulai dengan melepaskan sandal yang kiri terlebih dahulu. Maka jadikanlah sandal yang kanan yang pertama kali dipakai dan jadikanlah sandal yang kanan pula yang terakhir dilepas.” Mengapa demikian? Karena menggunakan sandal merupakan perkara yang baik, merupakan karamah (perbuatan yang mulia), yaitu menjaga kaki dari kotoran dan dari hal-hal yang bisa mengganggu, maka kita mendahulukan kaki kanan ketika memakai sandal. Sebaliknya,  melepaskan sandal dari kaki adalah perkara yang kurang baik, karena kita menghilangkan penjagaan terhadap kaki. Maka disunnahkan ketika kita melepaskan sandal, kita mendahulukan kaki kiri. Demikianlah sunnahnya.Para pembaca yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’ālā, Perkara ini (memakai dan melepas sandal) adalah perkara yang kita lakukan setiap hari. Kita memperhatikan atau tidak, maka tetap saja kita memakai sandal dalam kehidupan kita sehari-hari. Jika demikian, tidakkah kita ingin mendapatkan pahala?Bagaimana caranya meraih pahala dari memakai sandal? Caranya adalah,  ketika memakai sandal kita niatkan dengan memakai sandal di kaki kanan terlebih dahulu. Kemudian, ketika memasukkan kaki kanan ke dalam sandal, maka kita teringat sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Dengan demikian otomatis Allāh akan memberikan pahala. Demikian pula halnya ketika kita ingin melepas sandal, maka kita lepas sandal dari kaki kiri terlebih dahulu karena kita ingat sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.Adapun kebiasaan kebanyakan orang jika memakai sandal mendahulukan kaki kanan dan ketika melepaskan pun juga mendahulukan kaki kanan (memakai dan melepaskan sandal dengan mendahulukan kaki kanan), maka kurang sempurna sunnahnya. Sunnah yang sempurna adalah mendahulukan kaki kanan ketika memakai sandal dan mendahulukan kaki kiri ketika melepaskannya.Di akhir pembahasan ini, saya ingatkan bahwa para ulama telah ijma’ bahwa memakai sandal dengan mendahulukan kaki  kanan hukumnya adalah sunnah, tidak sampai pada derajat wajib. Akan tetapi, merupakan perkara yang tercela jika seseorang dengan sengaja memakai sandal dengan mendahulukan kaki kiri setelah mengetahui sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ini. Kita tidak mengatakan bahwa dengan mendahulukan kaki kiri ketika memakai sandal itu dia berdosa. Akan tetapi kita katakan bahwa dia menyelisihi sunnah dan menyelisihi sunnah itu adalah perbuatan yang buruk meskipun tidak sampai pada derajat berdosa.Wallahu a’lam.


Hadits 12  -Adab-Adab Memakai Sandal (Bagian 1)Oleh: DR. Firanda Andirja, Lc, MAAl-Hāfizh Ibnu Hajar rahimahullāh membawakan hadits dari ‘Ali radhiallahu ‘anhu,وَعَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم: إِذَا انْتَعَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَبْدَأْ بِالْيَمِينِ, وَإِذَا نَزَعَ فَلْيَبْدَأْ بِالشِّمَالِ, وَلْتَكُنْ اَلْيُمْنَى أَوَّلَهُمَا تُنْعَلُ, وَآخِرَهُمَا تُنْزَعُBeliau berkata, Rasūlullāh shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Jika salah seorang dari kalian menggunakan sandal, maka mulailah dengan menggunakan sandal bagian kanan. Jika dia melepaskan sandalnya maka hendaknya dia mulai dengan melepaskan sandal yang kiri terlebih dahulu. Maka jadikanlah sandal yang kanan yang pertama kali dipakai dan jadikanlah sandal yang kanan pula yang terakhir dilepas.” (Muttafaqun ‘alaihi)Hadits ini adalah hadits yang shahih, diriwayatkan oleh Imam Muslim dan lainnya, juga diriwayatkan oleh Imām Mālik dan Abū Dāwūd.Hadits ini merupakan salah satu dari kaidah umum yang disebutkan oleh para ulama, yaitu bahwasanya merupakan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah:Mendahulukan yang kanan dalam perkara-perkara yang baik.Menggunakan/mendahulukan yang kiri dalam perkara-perkara yang buruk. Dalam suatu hadits yang bersumber dari ‘Aisyah radhiyallāhu ‘anhā dalam Shahihain, beliau berkata,كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ «يُعْجِبُهُ التَّيَمُّنُ، فِي تَنَعُّلِهِ، وَتَرَجُّلِهِ، وَطُهُورِهِ، وَفِي شَأْنِهِ كُلِّهِ»“Bahwasanya Rasūlullāh shallallahu ‘alaihi wasallam suka menggunakan (mendahulukan) yang kanan dalam memakai sandal, menyisir rambut, bersuci dan dalam segala perkara.”  (HR Al-Bukhari No. 168 dan 5926)Ini adalah dalil bahwasanya untuk segala perkara yang baik maka Rasūlullāh shallallahu ‘alaihi wasallam menganjurkan kita untuk mendahulukan yang kanan. Contohnya, bersisir, memakai sandal, memakai baju, makan dan minum menggunakan tangan kanan, dan mengambil perkara-perkara yang baik menggunakan tangan kanan.  Bahkan disebutkan bahwa Rasūlullāh shallallahu ‘alaihi wasallam tatkala ber-tahallul, yang Beliau cukur terlebih dahulu adalah bagian kepala yang kanan, baru kemudian bagian kepala yang kiri.Dari Anas bin Malik«لَمَّا رَمَى رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْجَمْرَةَ وَنَحَرَ نُسُكَهُ وَحَلَقَ نَاوَلَ الْحَالِقَ شِقَّهُ الْأَيْمَنَ فَحَلَقَهُ، ثُمَّ دَعَا أَبَا طَلْحَةَ الْأَنْصَارِيَّ فَأَعْطَاهُ إِيَّاهُ، ثُمَّ نَاوَلَهُ الشِّقَّ الْأَيْسَرَ»، فَقَالَ: «احْلِقْ فَحَلَقَهُ، فَأَعْطَاهُ أَبَا طَلْحَةَ»، فَقَالَ: «اقْسِمْهُ بَيْنَ النَّاسِ»Tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallammelempar jamrat al-‘Aqobah dan menyembelih onta-onta beliau dan mencukur gundul maka sang pencukur menggunduli bagian kanan kepala beliau. Lalu beliau memanggil Abu Tholhah al-Anshoriy lalu beliau memberikan rambutnya kepada Abu Tholhah. Kemudian beliau memegang bagian kiri kepala beliau lalu beliau berkata, “Cukur gundul” Lalu dicukurlah kepala beliau lalu beliau memberi rambutnya kepada Abu Tholhah, lalu beliau berkata, “Bagi-bagikanlah rambut itu kepada orang-orang” (HR Muslim No. 1305)Adapun dalam perkara-perkara yang buruk, maka kita mendahulukan atau menggunakan yang kiri. Contohnya, bersuci dari kotoran dengan menggunakan tangan kiri, mengambil barang-barang yang kotor menggunakan tangan kiri, masuk ke dalam WC mendahulukan kaki kiri, dan lain-lain.Di antara sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tentang hal ini (praktik dalam mendahulukan yang kanan dalam perkara yang baik dan mendahulukan yang kiri dalam perkara yang buruk) adalah adab menggunakan sandal.Rasūlullāh shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Jika salah seorang dari kalian menggunakan sandal, maka mulailah dengan menggunakan sandal bagian kanan. Jika dia melepaskan sandalnya maka hendaknya dia mulai dengan melepaskan sandal yang kiri terlebih dahulu. Maka jadikanlah sandal yang kanan yang pertama kali dipakai dan jadikanlah sandal yang kanan pula yang terakhir dilepas.” Mengapa demikian? Karena menggunakan sandal merupakan perkara yang baik, merupakan karamah (perbuatan yang mulia), yaitu menjaga kaki dari kotoran dan dari hal-hal yang bisa mengganggu, maka kita mendahulukan kaki kanan ketika memakai sandal. Sebaliknya,  melepaskan sandal dari kaki adalah perkara yang kurang baik, karena kita menghilangkan penjagaan terhadap kaki. Maka disunnahkan ketika kita melepaskan sandal, kita mendahulukan kaki kiri. Demikianlah sunnahnya.Para pembaca yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’ālā, Perkara ini (memakai dan melepas sandal) adalah perkara yang kita lakukan setiap hari. Kita memperhatikan atau tidak, maka tetap saja kita memakai sandal dalam kehidupan kita sehari-hari. Jika demikian, tidakkah kita ingin mendapatkan pahala?Bagaimana caranya meraih pahala dari memakai sandal? Caranya adalah,  ketika memakai sandal kita niatkan dengan memakai sandal di kaki kanan terlebih dahulu. Kemudian, ketika memasukkan kaki kanan ke dalam sandal, maka kita teringat sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Dengan demikian otomatis Allāh akan memberikan pahala. Demikian pula halnya ketika kita ingin melepas sandal, maka kita lepas sandal dari kaki kiri terlebih dahulu karena kita ingat sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.Adapun kebiasaan kebanyakan orang jika memakai sandal mendahulukan kaki kanan dan ketika melepaskan pun juga mendahulukan kaki kanan (memakai dan melepaskan sandal dengan mendahulukan kaki kanan), maka kurang sempurna sunnahnya. Sunnah yang sempurna adalah mendahulukan kaki kanan ketika memakai sandal dan mendahulukan kaki kiri ketika melepaskannya.Di akhir pembahasan ini, saya ingatkan bahwa para ulama telah ijma’ bahwa memakai sandal dengan mendahulukan kaki  kanan hukumnya adalah sunnah, tidak sampai pada derajat wajib. Akan tetapi, merupakan perkara yang tercela jika seseorang dengan sengaja memakai sandal dengan mendahulukan kaki kiri setelah mengetahui sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ini. Kita tidak mengatakan bahwa dengan mendahulukan kaki kiri ketika memakai sandal itu dia berdosa. Akan tetapi kita katakan bahwa dia menyelisihi sunnah dan menyelisihi sunnah itu adalah perbuatan yang buruk meskipun tidak sampai pada derajat berdosa.Wallahu a’lam.

Menolak Was-Was dalam Shalat

Salat merupakan ibadah yang sangat agung. Seorang hamba yang sedang shalat berarti dia sedang bermunajat kepada Allah Ta’ala. Seorang hamba tidak tahu seberapa besar bagian dari shalatnya yang dituliskan pahala untuknya karena kualitas shalatnya yang belum tentu sempurna. Oleh karena itulah, seorang hamba seharusnya berusaha sebisa mungkin untuk menyempurnakan shalatnya.عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَنَمَةَ قَالَ: رَأَيْتُ عَمَّارَ بْنَ يَاسِرٍ دَخَلَ الْمَسْجِدَ فَصَلَّى، فَأَخَفَّ الصَّلَاةَ، قَالَ: فَلَمَّا خَرَجَ قُمْتُ إِلَيْهِ ، فَقُلْتُ: يَا أَبَا الْيَقْظَانِ لَقَدْ خَفَّفْتَ قَالَ: فَهَلْ رَأَيْتَنِي انْتَقَصْتُ مِنْ حُدُودِهَا شَيْئًا ؟ قُلْتُ: لَا، قَالَ: فَإِنِّي بَادَرْتُ بِهَا سَهْوَةَ الشَّيْطَانِ. سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: إِنَّ الْعَبْدَ لَيُصَلِّي الصَّلَاةَ مَا يُكْتَبُ لَهُ مِنْهَا إِلَّا عُشْرُهَا، تُسْعُهَا، ثُمُنُهَا، سُبُعُهَا، سُدُسُهَا، خُمُسُهَا، رُبُعُهَا، ثُلُثُهَا نِصْفُهَاDari ‘Abdullah bin ‘Anamah, beliau berkata,“Aku pernah melihat sahabat ‘Ammar bin Yaasir masuk ke dalam masjid kemudian salat. Namun, beliau salat dengan salat yang pendek. Ketika beliau keluar, aku berkata, ‘Wahai Abu Yaqdzon, Engkau telah salat dengan salat yang ringan.’‘Ammar bin Yaasir mengatakan, ‘Apakah Engkau melihat saya mengurangi dari batasan-batasan shalat?’ Aku berkata, ‘Tidak.’Sahabat ‘Ammar bin Yaasir berkata, ‘Sungguh aku cepat-cepat agar aku tidak diganggu oleh setan. Aku pernah mendengar Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Sesungguhnya seseorang hamba salat dan tidak ditulis pahala untuk salatnya kecuali sepersepuluhnya, sepersembilannya, seperdelapannya, sepertujuhnya, seperenamnya, seperlimanya, sepertiganya, atau setengahnya’’” (HR. Ahmad no. 18894, Abu Dawud no. 796, dinilai hasan oleh Syaikh Al-Albani).Kesempurnaan salat seorang hamba berbanding lurus dengan sedikitnya was-was yang mengganggu salatnya. Oleh karena itu, menolak rasa was-was atau gangguan dalam hati saat salat merupakan kebutuhan penting bagi seorang hamba. Dua hal yang membantu seseorang untuk menolak was-was tersebut, yakni kuatnya tekad untuk melakukan salat dengan sebaik mungkin dan lemahnya rasa was-was tersebut.Baca Juga: Larangan Mendahului Imam ketika ShalatPertama, tekad untuk menyempurnakan salatSeorang hamba hendaknya bersungguh-sungguh untuk memahami apa yang dibaca dan dikerjakan saat salat. Kemudian juga bersungguh-sungguh merenungkan bacaan, zikir, dan doa yang diucapkannya, serta benar-benar menghadirkan hati dalam salatnya. Seorang hamba hendaknya sadar bahwa saat sedang salat berati dia sedang bermunajat secara langsung kepada Allah Ta’ala. Sehingga seharusnya dia berusaha sebisa mungkin melaksanakan salatnya dengan ‘ihsan’.Adapun maksud dari ‘ihsan’ adalah seorang hamba beribadah kepada Allah Ta’ala seolah-olah dia melihat-Nya. Meskipun dia tidak bisa melihat Allah Ta’ala, maka dia pun sadar sepenuhnya bahwa Allah Ta’ala senantiasa melihatnya. Kadar ihsan seorang hamba dalam salat ini sesuai dengan tingkat keimanannya. Semakin kuat imannya, maka semakin lezat dia menikmati kelezatan dalam salatnya.Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّمَا حُبِّبَ إِلَـيَّ مِنْ دُنْيَاكُمْ: اَلنِّسَاءُ وَالطِّيْبُ، وَجُعِلَتْ قُرَّةُ عَيْنِـيْ فِـي الصَّلَاةِ“Sesungguhnya di antara kesenangan dunia kalian yang aku cintai adalah wanita dan wewangian. Dan dijadikan kesenangan hatiku terletak di dalam salat” (HR. Ahmad no. 12293, An-Nasa’i no. 3939, dinilai sahih oleh Syaikh Al-Albani).Dalam hadis yang lain disebutkan,يَا بِلَالُ ! أَرِحْنـــَا بِالصَّلَاة“Wahai Bilal, istirahatkanlah kami dengan salat” (HR. Ahmad no. 23088, Abu Dawud no. 4985, disahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 7892).Tidak disebutkan dalam hadis tersebut,أَرِحْنـــَا مِنَ الصَّلَاة“Istirahatkanlah kami dari salat.”Faktor yang menguatkan iman seseorang itu banyak. Setiap hamba mempunyai kadar yang berbeda dalam hal pengenalan, rasa cinta, takut, dan harapnya kepada Allah Ta’ala. Begitu pula dalam hal keikhlasan dan kejujuran dalam beribadah. Keadaan hamba tersebut berbanding lurus dengan kadar perenungan terhadap ayat-ayat Al Quran, pengenalan terhadap nama dan sifat Allah Ta’ala, dan kekhusyuan dalam salat. Semakin kuat iman seorang hamba, maka dia akan semakin mengenal nama dan sifat Allah Ta’ala serta keagungan-Nya. Hamba tersebut pun akan semakin merasakan betapa butuhnya dia terhadap Allah Ta’ala, melebihi butuhnya dia terhadap makan dan minum. Dia menyadari bahwa tidak ada kebaikan tanpa peribadahan yang baik kepada Allah Ta’ala. Peribadahan yang benar kepada Allah Ta’ala itulah yang menjadi sebab tenangnya hati, nikmatnya berzikir, dan rileksnya jiwa.Apabila seorang hamba menjadikan selain Allah Ta’ala sebagai tuhan di dalam hatinya, maka dirinya menjadi rusak dan celaka. Tidak ada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan dari Allah Ta’ala. Tidak ada jalan keluar dan tempat kembali kecuali dari dan kepada Allah Ta’ala.Baca Juga: Memakai Pakaian Terbaik ketika ShalatKedua, hilangnya gangguan was-wasSeorang hamba hendaknya berusaha sekuat mungkin menghilangkan dan melawan gangguan-gangguan yang menyibukkan hatinya dengan bersungguh-sungguh khusyu dalam salatnya. Adapun banyak sedikitnya gangguan berupa was-was dalam salat tersebut sesuai dengan banyak sedikitnya syubhat dan syahwat di dalam hatinya.Gangguan tersebut juga dipengaruhi oleh hal-hal yang disukai dan tidak disukainya. Hal-hal yang disukainya akan membuatnya memikirkannya, sedangkan hal-hal yang tidak disukainya akan membuatnya berusaha melawannya.Gangguan-gangguan yang dirasakan saat salat bisa berupa dua hal, yaitu sesuatu yang dicintai dan sesuatu yang diinginkan. Hal-hal yang dicintai akan membuat seseorang untuk memikirkan hal tersebut, begitu pula dengan hal-hal yang diinginkan akan membuatnya memikirkan hal tersebut. Adapula gangguan was-was yang bila diucapkan termasuk dari kekafiran dan kemunafikan. Sebagaimana yang dikisahkan dalam hadis, sahabat bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam,ا رَسُولَ اللهِ! إنَّ أحَدَنا ليَجد فِيْ نَفْسِهِ ما لأَنْ يخِرَّ من السماء أحبُّ إليه من أَنْ يَتَكَلَّمَ بِهِ. فقَالَ « أوَجَدْتُمُوهُ ».؟ قَالُوا :نَعَمْ. قَالَ « ذَالكَ صَرِيحُ الإِيمَانِ“‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya salah seorang di antara kami mendapati sesuatu di dalam hatinya sesuatu (was-was) dimana jatuh dari langit lebih disukai daripada mengucapkan sesuatu tersebut.’Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, ‘Apakah kalian merasakannya?’Para sahabat menjawab, ‘Iya.’Beliau mengatakan, ‘Itulah keimanan yang nyata’” (HR. Muslim no. 209).Dalam hadis tersebut disebutkan bahwa Rasulullah Shalallaahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Itulah keimanan yang nyata”, maksudnya adalah rasa takut para sahabat untuk mengucapkan suatu was-was (yang termasuk kekafiran atau kemunafikan) yang masuk dalam hati dan pikirannya. Perasaan takut untuk mengucapkan sesuatu yang termasuk kekafiran dan kemunafikan hanya dimiliki oleh orang yang benar-benar beriman.Was-was akan mendatangi setiap orang yang hendak menghadap Allah Ta’ala, sehingga seorang hamba harus senantiasa sabar dan tetap melaksanakan ibadah tersebut. Dengan sebab meminta kepada Allah Ta’ala, maka gangguan tersebut akan hilang. Allah Ta’ala berfirman,اِنَّ كَيْدَ الشَّيْطٰنِ كَانَ ضَعِيْفًا“Sesungguhnya tipu daya setan itu lemah” (QS. An Nisa’: 76).Kita memohon kepada Allah Ta’ala semoga diberikan kemudahan dalam menolak was-was dalam salat.“Tidak ada kuasa bagi hamba untuk menolak kejelekan dan tidak ada kekuatan untuk meraih kebaikan selain dengan kuasa Allah.”Catatan kaki:Disarikan dari kitab Ta’zhiim Ash-Shalaat hal. 105-108, karya Syekh ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr Hafidzahullahu Ta’ala, cetakan pertama tahun 1434, penerbit Daar Al-Fadhiilah.Baca Juga: * * *Penulis: Apt. PridiyantoArtikel: Muslim.or.id🔍 Hukum Karma Menurut Islam, Hadits Tentang Suami Istri, Khitanan Adalah, Ceramah Singkat Tentang Qurban, Cara Mendidik Istri

Menolak Was-Was dalam Shalat

Salat merupakan ibadah yang sangat agung. Seorang hamba yang sedang shalat berarti dia sedang bermunajat kepada Allah Ta’ala. Seorang hamba tidak tahu seberapa besar bagian dari shalatnya yang dituliskan pahala untuknya karena kualitas shalatnya yang belum tentu sempurna. Oleh karena itulah, seorang hamba seharusnya berusaha sebisa mungkin untuk menyempurnakan shalatnya.عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَنَمَةَ قَالَ: رَأَيْتُ عَمَّارَ بْنَ يَاسِرٍ دَخَلَ الْمَسْجِدَ فَصَلَّى، فَأَخَفَّ الصَّلَاةَ، قَالَ: فَلَمَّا خَرَجَ قُمْتُ إِلَيْهِ ، فَقُلْتُ: يَا أَبَا الْيَقْظَانِ لَقَدْ خَفَّفْتَ قَالَ: فَهَلْ رَأَيْتَنِي انْتَقَصْتُ مِنْ حُدُودِهَا شَيْئًا ؟ قُلْتُ: لَا، قَالَ: فَإِنِّي بَادَرْتُ بِهَا سَهْوَةَ الشَّيْطَانِ. سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: إِنَّ الْعَبْدَ لَيُصَلِّي الصَّلَاةَ مَا يُكْتَبُ لَهُ مِنْهَا إِلَّا عُشْرُهَا، تُسْعُهَا، ثُمُنُهَا، سُبُعُهَا، سُدُسُهَا، خُمُسُهَا، رُبُعُهَا، ثُلُثُهَا نِصْفُهَاDari ‘Abdullah bin ‘Anamah, beliau berkata,“Aku pernah melihat sahabat ‘Ammar bin Yaasir masuk ke dalam masjid kemudian salat. Namun, beliau salat dengan salat yang pendek. Ketika beliau keluar, aku berkata, ‘Wahai Abu Yaqdzon, Engkau telah salat dengan salat yang ringan.’‘Ammar bin Yaasir mengatakan, ‘Apakah Engkau melihat saya mengurangi dari batasan-batasan shalat?’ Aku berkata, ‘Tidak.’Sahabat ‘Ammar bin Yaasir berkata, ‘Sungguh aku cepat-cepat agar aku tidak diganggu oleh setan. Aku pernah mendengar Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Sesungguhnya seseorang hamba salat dan tidak ditulis pahala untuk salatnya kecuali sepersepuluhnya, sepersembilannya, seperdelapannya, sepertujuhnya, seperenamnya, seperlimanya, sepertiganya, atau setengahnya’’” (HR. Ahmad no. 18894, Abu Dawud no. 796, dinilai hasan oleh Syaikh Al-Albani).Kesempurnaan salat seorang hamba berbanding lurus dengan sedikitnya was-was yang mengganggu salatnya. Oleh karena itu, menolak rasa was-was atau gangguan dalam hati saat salat merupakan kebutuhan penting bagi seorang hamba. Dua hal yang membantu seseorang untuk menolak was-was tersebut, yakni kuatnya tekad untuk melakukan salat dengan sebaik mungkin dan lemahnya rasa was-was tersebut.Baca Juga: Larangan Mendahului Imam ketika ShalatPertama, tekad untuk menyempurnakan salatSeorang hamba hendaknya bersungguh-sungguh untuk memahami apa yang dibaca dan dikerjakan saat salat. Kemudian juga bersungguh-sungguh merenungkan bacaan, zikir, dan doa yang diucapkannya, serta benar-benar menghadirkan hati dalam salatnya. Seorang hamba hendaknya sadar bahwa saat sedang salat berati dia sedang bermunajat secara langsung kepada Allah Ta’ala. Sehingga seharusnya dia berusaha sebisa mungkin melaksanakan salatnya dengan ‘ihsan’.Adapun maksud dari ‘ihsan’ adalah seorang hamba beribadah kepada Allah Ta’ala seolah-olah dia melihat-Nya. Meskipun dia tidak bisa melihat Allah Ta’ala, maka dia pun sadar sepenuhnya bahwa Allah Ta’ala senantiasa melihatnya. Kadar ihsan seorang hamba dalam salat ini sesuai dengan tingkat keimanannya. Semakin kuat imannya, maka semakin lezat dia menikmati kelezatan dalam salatnya.Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّمَا حُبِّبَ إِلَـيَّ مِنْ دُنْيَاكُمْ: اَلنِّسَاءُ وَالطِّيْبُ، وَجُعِلَتْ قُرَّةُ عَيْنِـيْ فِـي الصَّلَاةِ“Sesungguhnya di antara kesenangan dunia kalian yang aku cintai adalah wanita dan wewangian. Dan dijadikan kesenangan hatiku terletak di dalam salat” (HR. Ahmad no. 12293, An-Nasa’i no. 3939, dinilai sahih oleh Syaikh Al-Albani).Dalam hadis yang lain disebutkan,يَا بِلَالُ ! أَرِحْنـــَا بِالصَّلَاة“Wahai Bilal, istirahatkanlah kami dengan salat” (HR. Ahmad no. 23088, Abu Dawud no. 4985, disahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 7892).Tidak disebutkan dalam hadis tersebut,أَرِحْنـــَا مِنَ الصَّلَاة“Istirahatkanlah kami dari salat.”Faktor yang menguatkan iman seseorang itu banyak. Setiap hamba mempunyai kadar yang berbeda dalam hal pengenalan, rasa cinta, takut, dan harapnya kepada Allah Ta’ala. Begitu pula dalam hal keikhlasan dan kejujuran dalam beribadah. Keadaan hamba tersebut berbanding lurus dengan kadar perenungan terhadap ayat-ayat Al Quran, pengenalan terhadap nama dan sifat Allah Ta’ala, dan kekhusyuan dalam salat. Semakin kuat iman seorang hamba, maka dia akan semakin mengenal nama dan sifat Allah Ta’ala serta keagungan-Nya. Hamba tersebut pun akan semakin merasakan betapa butuhnya dia terhadap Allah Ta’ala, melebihi butuhnya dia terhadap makan dan minum. Dia menyadari bahwa tidak ada kebaikan tanpa peribadahan yang baik kepada Allah Ta’ala. Peribadahan yang benar kepada Allah Ta’ala itulah yang menjadi sebab tenangnya hati, nikmatnya berzikir, dan rileksnya jiwa.Apabila seorang hamba menjadikan selain Allah Ta’ala sebagai tuhan di dalam hatinya, maka dirinya menjadi rusak dan celaka. Tidak ada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan dari Allah Ta’ala. Tidak ada jalan keluar dan tempat kembali kecuali dari dan kepada Allah Ta’ala.Baca Juga: Memakai Pakaian Terbaik ketika ShalatKedua, hilangnya gangguan was-wasSeorang hamba hendaknya berusaha sekuat mungkin menghilangkan dan melawan gangguan-gangguan yang menyibukkan hatinya dengan bersungguh-sungguh khusyu dalam salatnya. Adapun banyak sedikitnya gangguan berupa was-was dalam salat tersebut sesuai dengan banyak sedikitnya syubhat dan syahwat di dalam hatinya.Gangguan tersebut juga dipengaruhi oleh hal-hal yang disukai dan tidak disukainya. Hal-hal yang disukainya akan membuatnya memikirkannya, sedangkan hal-hal yang tidak disukainya akan membuatnya berusaha melawannya.Gangguan-gangguan yang dirasakan saat salat bisa berupa dua hal, yaitu sesuatu yang dicintai dan sesuatu yang diinginkan. Hal-hal yang dicintai akan membuat seseorang untuk memikirkan hal tersebut, begitu pula dengan hal-hal yang diinginkan akan membuatnya memikirkan hal tersebut. Adapula gangguan was-was yang bila diucapkan termasuk dari kekafiran dan kemunafikan. Sebagaimana yang dikisahkan dalam hadis, sahabat bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam,ا رَسُولَ اللهِ! إنَّ أحَدَنا ليَجد فِيْ نَفْسِهِ ما لأَنْ يخِرَّ من السماء أحبُّ إليه من أَنْ يَتَكَلَّمَ بِهِ. فقَالَ « أوَجَدْتُمُوهُ ».؟ قَالُوا :نَعَمْ. قَالَ « ذَالكَ صَرِيحُ الإِيمَانِ“‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya salah seorang di antara kami mendapati sesuatu di dalam hatinya sesuatu (was-was) dimana jatuh dari langit lebih disukai daripada mengucapkan sesuatu tersebut.’Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, ‘Apakah kalian merasakannya?’Para sahabat menjawab, ‘Iya.’Beliau mengatakan, ‘Itulah keimanan yang nyata’” (HR. Muslim no. 209).Dalam hadis tersebut disebutkan bahwa Rasulullah Shalallaahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Itulah keimanan yang nyata”, maksudnya adalah rasa takut para sahabat untuk mengucapkan suatu was-was (yang termasuk kekafiran atau kemunafikan) yang masuk dalam hati dan pikirannya. Perasaan takut untuk mengucapkan sesuatu yang termasuk kekafiran dan kemunafikan hanya dimiliki oleh orang yang benar-benar beriman.Was-was akan mendatangi setiap orang yang hendak menghadap Allah Ta’ala, sehingga seorang hamba harus senantiasa sabar dan tetap melaksanakan ibadah tersebut. Dengan sebab meminta kepada Allah Ta’ala, maka gangguan tersebut akan hilang. Allah Ta’ala berfirman,اِنَّ كَيْدَ الشَّيْطٰنِ كَانَ ضَعِيْفًا“Sesungguhnya tipu daya setan itu lemah” (QS. An Nisa’: 76).Kita memohon kepada Allah Ta’ala semoga diberikan kemudahan dalam menolak was-was dalam salat.“Tidak ada kuasa bagi hamba untuk menolak kejelekan dan tidak ada kekuatan untuk meraih kebaikan selain dengan kuasa Allah.”Catatan kaki:Disarikan dari kitab Ta’zhiim Ash-Shalaat hal. 105-108, karya Syekh ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr Hafidzahullahu Ta’ala, cetakan pertama tahun 1434, penerbit Daar Al-Fadhiilah.Baca Juga: * * *Penulis: Apt. PridiyantoArtikel: Muslim.or.id🔍 Hukum Karma Menurut Islam, Hadits Tentang Suami Istri, Khitanan Adalah, Ceramah Singkat Tentang Qurban, Cara Mendidik Istri
Salat merupakan ibadah yang sangat agung. Seorang hamba yang sedang shalat berarti dia sedang bermunajat kepada Allah Ta’ala. Seorang hamba tidak tahu seberapa besar bagian dari shalatnya yang dituliskan pahala untuknya karena kualitas shalatnya yang belum tentu sempurna. Oleh karena itulah, seorang hamba seharusnya berusaha sebisa mungkin untuk menyempurnakan shalatnya.عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَنَمَةَ قَالَ: رَأَيْتُ عَمَّارَ بْنَ يَاسِرٍ دَخَلَ الْمَسْجِدَ فَصَلَّى، فَأَخَفَّ الصَّلَاةَ، قَالَ: فَلَمَّا خَرَجَ قُمْتُ إِلَيْهِ ، فَقُلْتُ: يَا أَبَا الْيَقْظَانِ لَقَدْ خَفَّفْتَ قَالَ: فَهَلْ رَأَيْتَنِي انْتَقَصْتُ مِنْ حُدُودِهَا شَيْئًا ؟ قُلْتُ: لَا، قَالَ: فَإِنِّي بَادَرْتُ بِهَا سَهْوَةَ الشَّيْطَانِ. سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: إِنَّ الْعَبْدَ لَيُصَلِّي الصَّلَاةَ مَا يُكْتَبُ لَهُ مِنْهَا إِلَّا عُشْرُهَا، تُسْعُهَا، ثُمُنُهَا، سُبُعُهَا، سُدُسُهَا، خُمُسُهَا، رُبُعُهَا، ثُلُثُهَا نِصْفُهَاDari ‘Abdullah bin ‘Anamah, beliau berkata,“Aku pernah melihat sahabat ‘Ammar bin Yaasir masuk ke dalam masjid kemudian salat. Namun, beliau salat dengan salat yang pendek. Ketika beliau keluar, aku berkata, ‘Wahai Abu Yaqdzon, Engkau telah salat dengan salat yang ringan.’‘Ammar bin Yaasir mengatakan, ‘Apakah Engkau melihat saya mengurangi dari batasan-batasan shalat?’ Aku berkata, ‘Tidak.’Sahabat ‘Ammar bin Yaasir berkata, ‘Sungguh aku cepat-cepat agar aku tidak diganggu oleh setan. Aku pernah mendengar Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Sesungguhnya seseorang hamba salat dan tidak ditulis pahala untuk salatnya kecuali sepersepuluhnya, sepersembilannya, seperdelapannya, sepertujuhnya, seperenamnya, seperlimanya, sepertiganya, atau setengahnya’’” (HR. Ahmad no. 18894, Abu Dawud no. 796, dinilai hasan oleh Syaikh Al-Albani).Kesempurnaan salat seorang hamba berbanding lurus dengan sedikitnya was-was yang mengganggu salatnya. Oleh karena itu, menolak rasa was-was atau gangguan dalam hati saat salat merupakan kebutuhan penting bagi seorang hamba. Dua hal yang membantu seseorang untuk menolak was-was tersebut, yakni kuatnya tekad untuk melakukan salat dengan sebaik mungkin dan lemahnya rasa was-was tersebut.Baca Juga: Larangan Mendahului Imam ketika ShalatPertama, tekad untuk menyempurnakan salatSeorang hamba hendaknya bersungguh-sungguh untuk memahami apa yang dibaca dan dikerjakan saat salat. Kemudian juga bersungguh-sungguh merenungkan bacaan, zikir, dan doa yang diucapkannya, serta benar-benar menghadirkan hati dalam salatnya. Seorang hamba hendaknya sadar bahwa saat sedang salat berati dia sedang bermunajat secara langsung kepada Allah Ta’ala. Sehingga seharusnya dia berusaha sebisa mungkin melaksanakan salatnya dengan ‘ihsan’.Adapun maksud dari ‘ihsan’ adalah seorang hamba beribadah kepada Allah Ta’ala seolah-olah dia melihat-Nya. Meskipun dia tidak bisa melihat Allah Ta’ala, maka dia pun sadar sepenuhnya bahwa Allah Ta’ala senantiasa melihatnya. Kadar ihsan seorang hamba dalam salat ini sesuai dengan tingkat keimanannya. Semakin kuat imannya, maka semakin lezat dia menikmati kelezatan dalam salatnya.Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّمَا حُبِّبَ إِلَـيَّ مِنْ دُنْيَاكُمْ: اَلنِّسَاءُ وَالطِّيْبُ، وَجُعِلَتْ قُرَّةُ عَيْنِـيْ فِـي الصَّلَاةِ“Sesungguhnya di antara kesenangan dunia kalian yang aku cintai adalah wanita dan wewangian. Dan dijadikan kesenangan hatiku terletak di dalam salat” (HR. Ahmad no. 12293, An-Nasa’i no. 3939, dinilai sahih oleh Syaikh Al-Albani).Dalam hadis yang lain disebutkan,يَا بِلَالُ ! أَرِحْنـــَا بِالصَّلَاة“Wahai Bilal, istirahatkanlah kami dengan salat” (HR. Ahmad no. 23088, Abu Dawud no. 4985, disahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 7892).Tidak disebutkan dalam hadis tersebut,أَرِحْنـــَا مِنَ الصَّلَاة“Istirahatkanlah kami dari salat.”Faktor yang menguatkan iman seseorang itu banyak. Setiap hamba mempunyai kadar yang berbeda dalam hal pengenalan, rasa cinta, takut, dan harapnya kepada Allah Ta’ala. Begitu pula dalam hal keikhlasan dan kejujuran dalam beribadah. Keadaan hamba tersebut berbanding lurus dengan kadar perenungan terhadap ayat-ayat Al Quran, pengenalan terhadap nama dan sifat Allah Ta’ala, dan kekhusyuan dalam salat. Semakin kuat iman seorang hamba, maka dia akan semakin mengenal nama dan sifat Allah Ta’ala serta keagungan-Nya. Hamba tersebut pun akan semakin merasakan betapa butuhnya dia terhadap Allah Ta’ala, melebihi butuhnya dia terhadap makan dan minum. Dia menyadari bahwa tidak ada kebaikan tanpa peribadahan yang baik kepada Allah Ta’ala. Peribadahan yang benar kepada Allah Ta’ala itulah yang menjadi sebab tenangnya hati, nikmatnya berzikir, dan rileksnya jiwa.Apabila seorang hamba menjadikan selain Allah Ta’ala sebagai tuhan di dalam hatinya, maka dirinya menjadi rusak dan celaka. Tidak ada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan dari Allah Ta’ala. Tidak ada jalan keluar dan tempat kembali kecuali dari dan kepada Allah Ta’ala.Baca Juga: Memakai Pakaian Terbaik ketika ShalatKedua, hilangnya gangguan was-wasSeorang hamba hendaknya berusaha sekuat mungkin menghilangkan dan melawan gangguan-gangguan yang menyibukkan hatinya dengan bersungguh-sungguh khusyu dalam salatnya. Adapun banyak sedikitnya gangguan berupa was-was dalam salat tersebut sesuai dengan banyak sedikitnya syubhat dan syahwat di dalam hatinya.Gangguan tersebut juga dipengaruhi oleh hal-hal yang disukai dan tidak disukainya. Hal-hal yang disukainya akan membuatnya memikirkannya, sedangkan hal-hal yang tidak disukainya akan membuatnya berusaha melawannya.Gangguan-gangguan yang dirasakan saat salat bisa berupa dua hal, yaitu sesuatu yang dicintai dan sesuatu yang diinginkan. Hal-hal yang dicintai akan membuat seseorang untuk memikirkan hal tersebut, begitu pula dengan hal-hal yang diinginkan akan membuatnya memikirkan hal tersebut. Adapula gangguan was-was yang bila diucapkan termasuk dari kekafiran dan kemunafikan. Sebagaimana yang dikisahkan dalam hadis, sahabat bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam,ا رَسُولَ اللهِ! إنَّ أحَدَنا ليَجد فِيْ نَفْسِهِ ما لأَنْ يخِرَّ من السماء أحبُّ إليه من أَنْ يَتَكَلَّمَ بِهِ. فقَالَ « أوَجَدْتُمُوهُ ».؟ قَالُوا :نَعَمْ. قَالَ « ذَالكَ صَرِيحُ الإِيمَانِ“‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya salah seorang di antara kami mendapati sesuatu di dalam hatinya sesuatu (was-was) dimana jatuh dari langit lebih disukai daripada mengucapkan sesuatu tersebut.’Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, ‘Apakah kalian merasakannya?’Para sahabat menjawab, ‘Iya.’Beliau mengatakan, ‘Itulah keimanan yang nyata’” (HR. Muslim no. 209).Dalam hadis tersebut disebutkan bahwa Rasulullah Shalallaahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Itulah keimanan yang nyata”, maksudnya adalah rasa takut para sahabat untuk mengucapkan suatu was-was (yang termasuk kekafiran atau kemunafikan) yang masuk dalam hati dan pikirannya. Perasaan takut untuk mengucapkan sesuatu yang termasuk kekafiran dan kemunafikan hanya dimiliki oleh orang yang benar-benar beriman.Was-was akan mendatangi setiap orang yang hendak menghadap Allah Ta’ala, sehingga seorang hamba harus senantiasa sabar dan tetap melaksanakan ibadah tersebut. Dengan sebab meminta kepada Allah Ta’ala, maka gangguan tersebut akan hilang. Allah Ta’ala berfirman,اِنَّ كَيْدَ الشَّيْطٰنِ كَانَ ضَعِيْفًا“Sesungguhnya tipu daya setan itu lemah” (QS. An Nisa’: 76).Kita memohon kepada Allah Ta’ala semoga diberikan kemudahan dalam menolak was-was dalam salat.“Tidak ada kuasa bagi hamba untuk menolak kejelekan dan tidak ada kekuatan untuk meraih kebaikan selain dengan kuasa Allah.”Catatan kaki:Disarikan dari kitab Ta’zhiim Ash-Shalaat hal. 105-108, karya Syekh ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr Hafidzahullahu Ta’ala, cetakan pertama tahun 1434, penerbit Daar Al-Fadhiilah.Baca Juga: * * *Penulis: Apt. PridiyantoArtikel: Muslim.or.id🔍 Hukum Karma Menurut Islam, Hadits Tentang Suami Istri, Khitanan Adalah, Ceramah Singkat Tentang Qurban, Cara Mendidik Istri


Salat merupakan ibadah yang sangat agung. Seorang hamba yang sedang shalat berarti dia sedang bermunajat kepada Allah Ta’ala. Seorang hamba tidak tahu seberapa besar bagian dari shalatnya yang dituliskan pahala untuknya karena kualitas shalatnya yang belum tentu sempurna. Oleh karena itulah, seorang hamba seharusnya berusaha sebisa mungkin untuk menyempurnakan shalatnya.عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَنَمَةَ قَالَ: رَأَيْتُ عَمَّارَ بْنَ يَاسِرٍ دَخَلَ الْمَسْجِدَ فَصَلَّى، فَأَخَفَّ الصَّلَاةَ، قَالَ: فَلَمَّا خَرَجَ قُمْتُ إِلَيْهِ ، فَقُلْتُ: يَا أَبَا الْيَقْظَانِ لَقَدْ خَفَّفْتَ قَالَ: فَهَلْ رَأَيْتَنِي انْتَقَصْتُ مِنْ حُدُودِهَا شَيْئًا ؟ قُلْتُ: لَا، قَالَ: فَإِنِّي بَادَرْتُ بِهَا سَهْوَةَ الشَّيْطَانِ. سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: إِنَّ الْعَبْدَ لَيُصَلِّي الصَّلَاةَ مَا يُكْتَبُ لَهُ مِنْهَا إِلَّا عُشْرُهَا، تُسْعُهَا، ثُمُنُهَا، سُبُعُهَا، سُدُسُهَا، خُمُسُهَا، رُبُعُهَا، ثُلُثُهَا نِصْفُهَاDari ‘Abdullah bin ‘Anamah, beliau berkata,“Aku pernah melihat sahabat ‘Ammar bin Yaasir masuk ke dalam masjid kemudian salat. Namun, beliau salat dengan salat yang pendek. Ketika beliau keluar, aku berkata, ‘Wahai Abu Yaqdzon, Engkau telah salat dengan salat yang ringan.’‘Ammar bin Yaasir mengatakan, ‘Apakah Engkau melihat saya mengurangi dari batasan-batasan shalat?’ Aku berkata, ‘Tidak.’Sahabat ‘Ammar bin Yaasir berkata, ‘Sungguh aku cepat-cepat agar aku tidak diganggu oleh setan. Aku pernah mendengar Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Sesungguhnya seseorang hamba salat dan tidak ditulis pahala untuk salatnya kecuali sepersepuluhnya, sepersembilannya, seperdelapannya, sepertujuhnya, seperenamnya, seperlimanya, sepertiganya, atau setengahnya’’” (HR. Ahmad no. 18894, Abu Dawud no. 796, dinilai hasan oleh Syaikh Al-Albani).Kesempurnaan salat seorang hamba berbanding lurus dengan sedikitnya was-was yang mengganggu salatnya. Oleh karena itu, menolak rasa was-was atau gangguan dalam hati saat salat merupakan kebutuhan penting bagi seorang hamba. Dua hal yang membantu seseorang untuk menolak was-was tersebut, yakni kuatnya tekad untuk melakukan salat dengan sebaik mungkin dan lemahnya rasa was-was tersebut.Baca Juga: Larangan Mendahului Imam ketika ShalatPertama, tekad untuk menyempurnakan salatSeorang hamba hendaknya bersungguh-sungguh untuk memahami apa yang dibaca dan dikerjakan saat salat. Kemudian juga bersungguh-sungguh merenungkan bacaan, zikir, dan doa yang diucapkannya, serta benar-benar menghadirkan hati dalam salatnya. Seorang hamba hendaknya sadar bahwa saat sedang salat berati dia sedang bermunajat secara langsung kepada Allah Ta’ala. Sehingga seharusnya dia berusaha sebisa mungkin melaksanakan salatnya dengan ‘ihsan’.Adapun maksud dari ‘ihsan’ adalah seorang hamba beribadah kepada Allah Ta’ala seolah-olah dia melihat-Nya. Meskipun dia tidak bisa melihat Allah Ta’ala, maka dia pun sadar sepenuhnya bahwa Allah Ta’ala senantiasa melihatnya. Kadar ihsan seorang hamba dalam salat ini sesuai dengan tingkat keimanannya. Semakin kuat imannya, maka semakin lezat dia menikmati kelezatan dalam salatnya.Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّمَا حُبِّبَ إِلَـيَّ مِنْ دُنْيَاكُمْ: اَلنِّسَاءُ وَالطِّيْبُ، وَجُعِلَتْ قُرَّةُ عَيْنِـيْ فِـي الصَّلَاةِ“Sesungguhnya di antara kesenangan dunia kalian yang aku cintai adalah wanita dan wewangian. Dan dijadikan kesenangan hatiku terletak di dalam salat” (HR. Ahmad no. 12293, An-Nasa’i no. 3939, dinilai sahih oleh Syaikh Al-Albani).Dalam hadis yang lain disebutkan,يَا بِلَالُ ! أَرِحْنـــَا بِالصَّلَاة“Wahai Bilal, istirahatkanlah kami dengan salat” (HR. Ahmad no. 23088, Abu Dawud no. 4985, disahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 7892).Tidak disebutkan dalam hadis tersebut,أَرِحْنـــَا مِنَ الصَّلَاة“Istirahatkanlah kami dari salat.”Faktor yang menguatkan iman seseorang itu banyak. Setiap hamba mempunyai kadar yang berbeda dalam hal pengenalan, rasa cinta, takut, dan harapnya kepada Allah Ta’ala. Begitu pula dalam hal keikhlasan dan kejujuran dalam beribadah. Keadaan hamba tersebut berbanding lurus dengan kadar perenungan terhadap ayat-ayat Al Quran, pengenalan terhadap nama dan sifat Allah Ta’ala, dan kekhusyuan dalam salat. Semakin kuat iman seorang hamba, maka dia akan semakin mengenal nama dan sifat Allah Ta’ala serta keagungan-Nya. Hamba tersebut pun akan semakin merasakan betapa butuhnya dia terhadap Allah Ta’ala, melebihi butuhnya dia terhadap makan dan minum. Dia menyadari bahwa tidak ada kebaikan tanpa peribadahan yang baik kepada Allah Ta’ala. Peribadahan yang benar kepada Allah Ta’ala itulah yang menjadi sebab tenangnya hati, nikmatnya berzikir, dan rileksnya jiwa.Apabila seorang hamba menjadikan selain Allah Ta’ala sebagai tuhan di dalam hatinya, maka dirinya menjadi rusak dan celaka. Tidak ada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan dari Allah Ta’ala. Tidak ada jalan keluar dan tempat kembali kecuali dari dan kepada Allah Ta’ala.Baca Juga: Memakai Pakaian Terbaik ketika ShalatKedua, hilangnya gangguan was-wasSeorang hamba hendaknya berusaha sekuat mungkin menghilangkan dan melawan gangguan-gangguan yang menyibukkan hatinya dengan bersungguh-sungguh khusyu dalam salatnya. Adapun banyak sedikitnya gangguan berupa was-was dalam salat tersebut sesuai dengan banyak sedikitnya syubhat dan syahwat di dalam hatinya.Gangguan tersebut juga dipengaruhi oleh hal-hal yang disukai dan tidak disukainya. Hal-hal yang disukainya akan membuatnya memikirkannya, sedangkan hal-hal yang tidak disukainya akan membuatnya berusaha melawannya.Gangguan-gangguan yang dirasakan saat salat bisa berupa dua hal, yaitu sesuatu yang dicintai dan sesuatu yang diinginkan. Hal-hal yang dicintai akan membuat seseorang untuk memikirkan hal tersebut, begitu pula dengan hal-hal yang diinginkan akan membuatnya memikirkan hal tersebut. Adapula gangguan was-was yang bila diucapkan termasuk dari kekafiran dan kemunafikan. Sebagaimana yang dikisahkan dalam hadis, sahabat bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam,ا رَسُولَ اللهِ! إنَّ أحَدَنا ليَجد فِيْ نَفْسِهِ ما لأَنْ يخِرَّ من السماء أحبُّ إليه من أَنْ يَتَكَلَّمَ بِهِ. فقَالَ « أوَجَدْتُمُوهُ ».؟ قَالُوا :نَعَمْ. قَالَ « ذَالكَ صَرِيحُ الإِيمَانِ“‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya salah seorang di antara kami mendapati sesuatu di dalam hatinya sesuatu (was-was) dimana jatuh dari langit lebih disukai daripada mengucapkan sesuatu tersebut.’Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, ‘Apakah kalian merasakannya?’Para sahabat menjawab, ‘Iya.’Beliau mengatakan, ‘Itulah keimanan yang nyata’” (HR. Muslim no. 209).Dalam hadis tersebut disebutkan bahwa Rasulullah Shalallaahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Itulah keimanan yang nyata”, maksudnya adalah rasa takut para sahabat untuk mengucapkan suatu was-was (yang termasuk kekafiran atau kemunafikan) yang masuk dalam hati dan pikirannya. Perasaan takut untuk mengucapkan sesuatu yang termasuk kekafiran dan kemunafikan hanya dimiliki oleh orang yang benar-benar beriman.Was-was akan mendatangi setiap orang yang hendak menghadap Allah Ta’ala, sehingga seorang hamba harus senantiasa sabar dan tetap melaksanakan ibadah tersebut. Dengan sebab meminta kepada Allah Ta’ala, maka gangguan tersebut akan hilang. Allah Ta’ala berfirman,اِنَّ كَيْدَ الشَّيْطٰنِ كَانَ ضَعِيْفًا“Sesungguhnya tipu daya setan itu lemah” (QS. An Nisa’: 76).Kita memohon kepada Allah Ta’ala semoga diberikan kemudahan dalam menolak was-was dalam salat.“Tidak ada kuasa bagi hamba untuk menolak kejelekan dan tidak ada kekuatan untuk meraih kebaikan selain dengan kuasa Allah.”Catatan kaki:Disarikan dari kitab Ta’zhiim Ash-Shalaat hal. 105-108, karya Syekh ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr Hafidzahullahu Ta’ala, cetakan pertama tahun 1434, penerbit Daar Al-Fadhiilah.Baca Juga: * * *Penulis: Apt. PridiyantoArtikel: Muslim.or.id🔍 Hukum Karma Menurut Islam, Hadits Tentang Suami Istri, Khitanan Adalah, Ceramah Singkat Tentang Qurban, Cara Mendidik Istri

Serial Fiqih Pendidikan Anak No 127: SEMUA ANAK ITU HEBAT

Serial Fiqih Pendidikan Anak – No: 127 SEMUA ANAK ITU HEBAT Secara asal, semua anak itu hebat. Karena sejak lahir mereka sudah memiliki kesiapan untuk menerima keimanan. Mereka juga pembelajar, berbakat dan selalu tumbuh berkembang.Maka seharusnya tidak ada anak nakal. Tidak ada anak malas belajar. Tidak ada anak yang tak berbakat. Serta tidak ada anak yang tak tumbuh berkembang dengan baik. Sehingga bila hal-hal negatif tersebut muncul pada diri anak, sebenarnya yang keliru bukan anaknya. Namun yang keliru adalah metode pendidikannya.Bisa jadi metode dan materi pendidikan yang diterapkan atau disampaikan tidak diselaraskan dengan usia dan karakter perkembangan anak. Atau akibat kekeliruan-kekeliruan lainnya.Pendidikan anak bukan sekedar menjejalkan ilmu pengetahuan. Tapi sejatinya adalah menumbuhkan karakter-karakter yang sudah ditanamkan Allah ta’ala pada diri anak.Nah, untuk menumbuhkan karakter tersebut, memerlukan pemahaman yang benar tentang:Tujuan pendidikanMetode pendidikanMateri pendidikanPrioritas pendidikanBerbicara mengenai tujuan pendidikan, karena objek yang dididik adalah manusia, maka tujuan pendidikan itu harus selaras dengan tujuan diciptakannya manusia. Jika tidak, maka pendidikan hanya akan berubah menjadi kumpulan aktivitas tanpa makna.Manusia diciptakan untuk dua tujuan mulia. Pertama: untuk beribadah hanya kepada Allah (QS. Adz-Dzariyat [51]: 56). Kedua: untuk menjadi khalifah di muka bumi (QS. Al-Baqarah [2]: 30). Ibadah kepada Allah terkait dengan keimanan seorang hamba. Sedangkan tugas khalifah berkaitan dengan kinerja manusia di muka bumi. Untuk memakmurkannya dan tidak berbuat kerusakan di dalamnya.Adapun mengenai metode pendidikan, maka metode terbaik adalah yang telah diajarkan dan dicontohkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Yakni saat beliau mendidik para sahabatnya.Sedangkan materi pendidikan yang harus ditanamkan adalah: karakter iman, karakter belajar, karakter bakat dan karakter perkembangan.Karakter iman menghasilkan akhlak mulia terhadap Allah dan sesama makhluk. Karakter belajar menghasilkan ilmu pengetahuan. Karakter bakat menghasilkan kinerja dan peran yang besar pada peradaban, sesuai bakat masing-masing. Adapun karakter perkembangan membuahkan pertumbuhan yang sesuai dengan fase perkembangan anak.Prioritas pendidikan juga harus diperhatikan. Dalam pendidikan Islam, pendidikan pertama yang diberikan kepada anak adalah pendidikan tauhid atau keimanan.Jundub bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu menuturkan,“كُنَّا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى الله عَليْهِ وسَلَّمَ وَنَحْنُ فِتْيَانٌ حَزَاوِرَةٌ، فَتَعَلَّمْنَا الإِيمَانَ قَبْلَ أَنْ نَتَعَلَّمَ الْقُرْآنَ، ثُمَّ تَعَلَّمْنَا الْقُرْآنَ، فَازْدَدْنَا بِهِ إِيمَانًا“.“Kami bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam saat kami masih muda. Kami belajar keimanan sebelum belajar al-Qur’an. Baru kemudian setelahnya kami belajar al-Qur’an. Sehingga bertambahlah keimanan kami lantaran al-Qur’an tersebut”. HR. Ibn Majah dan dinilai sahih oleh al-Albaniy.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 6 Jumada Tsaniyah 1440 / 11 Februari 2019 Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 126: RAGAM KDRT Bagian 3 (Selesai)Next USTADZ JUGA MANUSIA Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Serial Fiqih Pendidikan Anak No 127: SEMUA ANAK ITU HEBAT

Serial Fiqih Pendidikan Anak – No: 127 SEMUA ANAK ITU HEBAT Secara asal, semua anak itu hebat. Karena sejak lahir mereka sudah memiliki kesiapan untuk menerima keimanan. Mereka juga pembelajar, berbakat dan selalu tumbuh berkembang.Maka seharusnya tidak ada anak nakal. Tidak ada anak malas belajar. Tidak ada anak yang tak berbakat. Serta tidak ada anak yang tak tumbuh berkembang dengan baik. Sehingga bila hal-hal negatif tersebut muncul pada diri anak, sebenarnya yang keliru bukan anaknya. Namun yang keliru adalah metode pendidikannya.Bisa jadi metode dan materi pendidikan yang diterapkan atau disampaikan tidak diselaraskan dengan usia dan karakter perkembangan anak. Atau akibat kekeliruan-kekeliruan lainnya.Pendidikan anak bukan sekedar menjejalkan ilmu pengetahuan. Tapi sejatinya adalah menumbuhkan karakter-karakter yang sudah ditanamkan Allah ta’ala pada diri anak.Nah, untuk menumbuhkan karakter tersebut, memerlukan pemahaman yang benar tentang:Tujuan pendidikanMetode pendidikanMateri pendidikanPrioritas pendidikanBerbicara mengenai tujuan pendidikan, karena objek yang dididik adalah manusia, maka tujuan pendidikan itu harus selaras dengan tujuan diciptakannya manusia. Jika tidak, maka pendidikan hanya akan berubah menjadi kumpulan aktivitas tanpa makna.Manusia diciptakan untuk dua tujuan mulia. Pertama: untuk beribadah hanya kepada Allah (QS. Adz-Dzariyat [51]: 56). Kedua: untuk menjadi khalifah di muka bumi (QS. Al-Baqarah [2]: 30). Ibadah kepada Allah terkait dengan keimanan seorang hamba. Sedangkan tugas khalifah berkaitan dengan kinerja manusia di muka bumi. Untuk memakmurkannya dan tidak berbuat kerusakan di dalamnya.Adapun mengenai metode pendidikan, maka metode terbaik adalah yang telah diajarkan dan dicontohkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Yakni saat beliau mendidik para sahabatnya.Sedangkan materi pendidikan yang harus ditanamkan adalah: karakter iman, karakter belajar, karakter bakat dan karakter perkembangan.Karakter iman menghasilkan akhlak mulia terhadap Allah dan sesama makhluk. Karakter belajar menghasilkan ilmu pengetahuan. Karakter bakat menghasilkan kinerja dan peran yang besar pada peradaban, sesuai bakat masing-masing. Adapun karakter perkembangan membuahkan pertumbuhan yang sesuai dengan fase perkembangan anak.Prioritas pendidikan juga harus diperhatikan. Dalam pendidikan Islam, pendidikan pertama yang diberikan kepada anak adalah pendidikan tauhid atau keimanan.Jundub bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu menuturkan,“كُنَّا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى الله عَليْهِ وسَلَّمَ وَنَحْنُ فِتْيَانٌ حَزَاوِرَةٌ، فَتَعَلَّمْنَا الإِيمَانَ قَبْلَ أَنْ نَتَعَلَّمَ الْقُرْآنَ، ثُمَّ تَعَلَّمْنَا الْقُرْآنَ، فَازْدَدْنَا بِهِ إِيمَانًا“.“Kami bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam saat kami masih muda. Kami belajar keimanan sebelum belajar al-Qur’an. Baru kemudian setelahnya kami belajar al-Qur’an. Sehingga bertambahlah keimanan kami lantaran al-Qur’an tersebut”. HR. Ibn Majah dan dinilai sahih oleh al-Albaniy.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 6 Jumada Tsaniyah 1440 / 11 Februari 2019 Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 126: RAGAM KDRT Bagian 3 (Selesai)Next USTADZ JUGA MANUSIA Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Serial Fiqih Pendidikan Anak – No: 127 SEMUA ANAK ITU HEBAT Secara asal, semua anak itu hebat. Karena sejak lahir mereka sudah memiliki kesiapan untuk menerima keimanan. Mereka juga pembelajar, berbakat dan selalu tumbuh berkembang.Maka seharusnya tidak ada anak nakal. Tidak ada anak malas belajar. Tidak ada anak yang tak berbakat. Serta tidak ada anak yang tak tumbuh berkembang dengan baik. Sehingga bila hal-hal negatif tersebut muncul pada diri anak, sebenarnya yang keliru bukan anaknya. Namun yang keliru adalah metode pendidikannya.Bisa jadi metode dan materi pendidikan yang diterapkan atau disampaikan tidak diselaraskan dengan usia dan karakter perkembangan anak. Atau akibat kekeliruan-kekeliruan lainnya.Pendidikan anak bukan sekedar menjejalkan ilmu pengetahuan. Tapi sejatinya adalah menumbuhkan karakter-karakter yang sudah ditanamkan Allah ta’ala pada diri anak.Nah, untuk menumbuhkan karakter tersebut, memerlukan pemahaman yang benar tentang:Tujuan pendidikanMetode pendidikanMateri pendidikanPrioritas pendidikanBerbicara mengenai tujuan pendidikan, karena objek yang dididik adalah manusia, maka tujuan pendidikan itu harus selaras dengan tujuan diciptakannya manusia. Jika tidak, maka pendidikan hanya akan berubah menjadi kumpulan aktivitas tanpa makna.Manusia diciptakan untuk dua tujuan mulia. Pertama: untuk beribadah hanya kepada Allah (QS. Adz-Dzariyat [51]: 56). Kedua: untuk menjadi khalifah di muka bumi (QS. Al-Baqarah [2]: 30). Ibadah kepada Allah terkait dengan keimanan seorang hamba. Sedangkan tugas khalifah berkaitan dengan kinerja manusia di muka bumi. Untuk memakmurkannya dan tidak berbuat kerusakan di dalamnya.Adapun mengenai metode pendidikan, maka metode terbaik adalah yang telah diajarkan dan dicontohkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Yakni saat beliau mendidik para sahabatnya.Sedangkan materi pendidikan yang harus ditanamkan adalah: karakter iman, karakter belajar, karakter bakat dan karakter perkembangan.Karakter iman menghasilkan akhlak mulia terhadap Allah dan sesama makhluk. Karakter belajar menghasilkan ilmu pengetahuan. Karakter bakat menghasilkan kinerja dan peran yang besar pada peradaban, sesuai bakat masing-masing. Adapun karakter perkembangan membuahkan pertumbuhan yang sesuai dengan fase perkembangan anak.Prioritas pendidikan juga harus diperhatikan. Dalam pendidikan Islam, pendidikan pertama yang diberikan kepada anak adalah pendidikan tauhid atau keimanan.Jundub bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu menuturkan,“كُنَّا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى الله عَليْهِ وسَلَّمَ وَنَحْنُ فِتْيَانٌ حَزَاوِرَةٌ، فَتَعَلَّمْنَا الإِيمَانَ قَبْلَ أَنْ نَتَعَلَّمَ الْقُرْآنَ، ثُمَّ تَعَلَّمْنَا الْقُرْآنَ، فَازْدَدْنَا بِهِ إِيمَانًا“.“Kami bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam saat kami masih muda. Kami belajar keimanan sebelum belajar al-Qur’an. Baru kemudian setelahnya kami belajar al-Qur’an. Sehingga bertambahlah keimanan kami lantaran al-Qur’an tersebut”. HR. Ibn Majah dan dinilai sahih oleh al-Albaniy.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 6 Jumada Tsaniyah 1440 / 11 Februari 2019 Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 126: RAGAM KDRT Bagian 3 (Selesai)Next USTADZ JUGA MANUSIA Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Serial Fiqih Pendidikan Anak – No: 127 SEMUA ANAK ITU HEBAT Secara asal, semua anak itu hebat. Karena sejak lahir mereka sudah memiliki kesiapan untuk menerima keimanan. Mereka juga pembelajar, berbakat dan selalu tumbuh berkembang.Maka seharusnya tidak ada anak nakal. Tidak ada anak malas belajar. Tidak ada anak yang tak berbakat. Serta tidak ada anak yang tak tumbuh berkembang dengan baik. Sehingga bila hal-hal negatif tersebut muncul pada diri anak, sebenarnya yang keliru bukan anaknya. Namun yang keliru adalah metode pendidikannya.Bisa jadi metode dan materi pendidikan yang diterapkan atau disampaikan tidak diselaraskan dengan usia dan karakter perkembangan anak. Atau akibat kekeliruan-kekeliruan lainnya.Pendidikan anak bukan sekedar menjejalkan ilmu pengetahuan. Tapi sejatinya adalah menumbuhkan karakter-karakter yang sudah ditanamkan Allah ta’ala pada diri anak.Nah, untuk menumbuhkan karakter tersebut, memerlukan pemahaman yang benar tentang:Tujuan pendidikanMetode pendidikanMateri pendidikanPrioritas pendidikanBerbicara mengenai tujuan pendidikan, karena objek yang dididik adalah manusia, maka tujuan pendidikan itu harus selaras dengan tujuan diciptakannya manusia. Jika tidak, maka pendidikan hanya akan berubah menjadi kumpulan aktivitas tanpa makna.Manusia diciptakan untuk dua tujuan mulia. Pertama: untuk beribadah hanya kepada Allah (QS. Adz-Dzariyat [51]: 56). Kedua: untuk menjadi khalifah di muka bumi (QS. Al-Baqarah [2]: 30). Ibadah kepada Allah terkait dengan keimanan seorang hamba. Sedangkan tugas khalifah berkaitan dengan kinerja manusia di muka bumi. Untuk memakmurkannya dan tidak berbuat kerusakan di dalamnya.Adapun mengenai metode pendidikan, maka metode terbaik adalah yang telah diajarkan dan dicontohkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Yakni saat beliau mendidik para sahabatnya.Sedangkan materi pendidikan yang harus ditanamkan adalah: karakter iman, karakter belajar, karakter bakat dan karakter perkembangan.Karakter iman menghasilkan akhlak mulia terhadap Allah dan sesama makhluk. Karakter belajar menghasilkan ilmu pengetahuan. Karakter bakat menghasilkan kinerja dan peran yang besar pada peradaban, sesuai bakat masing-masing. Adapun karakter perkembangan membuahkan pertumbuhan yang sesuai dengan fase perkembangan anak.Prioritas pendidikan juga harus diperhatikan. Dalam pendidikan Islam, pendidikan pertama yang diberikan kepada anak adalah pendidikan tauhid atau keimanan.Jundub bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu menuturkan,“كُنَّا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى الله عَليْهِ وسَلَّمَ وَنَحْنُ فِتْيَانٌ حَزَاوِرَةٌ، فَتَعَلَّمْنَا الإِيمَانَ قَبْلَ أَنْ نَتَعَلَّمَ الْقُرْآنَ، ثُمَّ تَعَلَّمْنَا الْقُرْآنَ، فَازْدَدْنَا بِهِ إِيمَانًا“.“Kami bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam saat kami masih muda. Kami belajar keimanan sebelum belajar al-Qur’an. Baru kemudian setelahnya kami belajar al-Qur’an. Sehingga bertambahlah keimanan kami lantaran al-Qur’an tersebut”. HR. Ibn Majah dan dinilai sahih oleh al-Albaniy.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 6 Jumada Tsaniyah 1440 / 11 Februari 2019 Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 126: RAGAM KDRT Bagian 3 (Selesai)Next USTADZ JUGA MANUSIA Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Obat Kuat

‘OBAT KUAT’Semoga para pembaca tidak berfikir yang ndak-ndak saat membaca judul di atas. Penulis bukan sedang akan berjualan “obat”.Penulis hanya akan menjelaskan bahwa kesehatan dan kekuatan fisik, juga kesemangatan hidup, itu bukan hanya dengan usaha fisik belaka. Semisal, mengkonsumsi makanan bergizi, meminum jamu-jamuan dan berolahraga.Namun ada faktor lain yang sangat penting tapi malah justru kerap dilupakan. Apakah itu?Antara lain :1. Berdoa setelah bangun tidur, lalu berwudhu dan menunaikan sholat.Rasulullah ﷺ menjelaskan,يَعْقِدُ الشَّيْطَانُ عَلَى قَافِيَةِ رَأْسِ أَحَدِكُمْ إِذَا هُوَ نَامَ ثَلاَثَ عُقَدٍ يَضْرِبُ مَكَانَ كُلِّ عُقْدَةٍ عَلَيْكَ لَيْلٌ طَوِيلٌ فَارْقُدْ فَإِنِ اسْتَيْقَظَ فَذَكَرَ اللَّهَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ فَإِنْ تَوَضَّأَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ فَإِنْ صَلَّى انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ فَأَصْبَحَ نَشِيطًا طَيِّبَ النَّفْسِ وَإِلاَّ أَصْبَحَ خَبِيثَ النَّفْسِ كَسْلاَنَ“Jika salah seorang kalian tidur, setan akan membuat tiga ikatan di tengkuknya. Setan mengencangkan setiap ikatan (sembari berkata),’Malammu masih panjang…’.Jika dia bangun dan mengingat Allah , maka akan lepas satu ikatan. Bila ia berwudhu maka akan lepas dua ikatan. Dan jika ia shalat maka seluruh ikatan akan lepas. (Buahnya) hari itu ia akan bersemangat dan bersih jiwanya. Jika tidak, maka jiwanya akan kotor dan merasa malas.” (HR. Al Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu).2. Membaca Dzikir Pagi dan PetangDi antara bacaannya :اَللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْكَسَلِ وَ سُو ءِ الكِبَرِ“Ya Allah, sungguh aku memohon perlindungan kepada-Mu dari kemalasan dan keburukan masa tua”.3. Membaca Wirid sebelum TidurAntara lain, wirid yang disebutkan dalam hadits ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu. Beliau mengisahkan bahwa Fatimah radhiyallahu ‘anha datang keapda Nabi ﷺ untuk meminta pembantu.Beliau menjawab, “Maukah engkau kuberitahu tentang sesuatu yang lebih baik untukmu dari itu? Bacalah sebelum tidur tasbih 33x, tahmid 33x dan takbir 34x.” (HR. Bukhari Muslim).4. Menjalankan perintah Allah ﷻ dan menjauhi larangannyaDari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Nabi ﷺ bersabda,احْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ“Jagalah Allah (dengan menjalankan perintahNya dan menjauhi laranganNya), niscaya Allah akan menjagamu”. (HR. Tirmidzy dan beliau menyatakan hadits ini hasan sahih).Pesantren Tunas Ilmu, Purbalingga, 28 Rajab 1440H / 4 April 2019 MAbdullah Zaen Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 129: ORTU BERMASALAH, PENDIDIKAN ANAK SUSAHNext Khtubah Jum’at: BELAJAR DARI PENGALAMAN Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Obat Kuat

‘OBAT KUAT’Semoga para pembaca tidak berfikir yang ndak-ndak saat membaca judul di atas. Penulis bukan sedang akan berjualan “obat”.Penulis hanya akan menjelaskan bahwa kesehatan dan kekuatan fisik, juga kesemangatan hidup, itu bukan hanya dengan usaha fisik belaka. Semisal, mengkonsumsi makanan bergizi, meminum jamu-jamuan dan berolahraga.Namun ada faktor lain yang sangat penting tapi malah justru kerap dilupakan. Apakah itu?Antara lain :1. Berdoa setelah bangun tidur, lalu berwudhu dan menunaikan sholat.Rasulullah ﷺ menjelaskan,يَعْقِدُ الشَّيْطَانُ عَلَى قَافِيَةِ رَأْسِ أَحَدِكُمْ إِذَا هُوَ نَامَ ثَلاَثَ عُقَدٍ يَضْرِبُ مَكَانَ كُلِّ عُقْدَةٍ عَلَيْكَ لَيْلٌ طَوِيلٌ فَارْقُدْ فَإِنِ اسْتَيْقَظَ فَذَكَرَ اللَّهَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ فَإِنْ تَوَضَّأَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ فَإِنْ صَلَّى انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ فَأَصْبَحَ نَشِيطًا طَيِّبَ النَّفْسِ وَإِلاَّ أَصْبَحَ خَبِيثَ النَّفْسِ كَسْلاَنَ“Jika salah seorang kalian tidur, setan akan membuat tiga ikatan di tengkuknya. Setan mengencangkan setiap ikatan (sembari berkata),’Malammu masih panjang…’.Jika dia bangun dan mengingat Allah , maka akan lepas satu ikatan. Bila ia berwudhu maka akan lepas dua ikatan. Dan jika ia shalat maka seluruh ikatan akan lepas. (Buahnya) hari itu ia akan bersemangat dan bersih jiwanya. Jika tidak, maka jiwanya akan kotor dan merasa malas.” (HR. Al Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu).2. Membaca Dzikir Pagi dan PetangDi antara bacaannya :اَللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْكَسَلِ وَ سُو ءِ الكِبَرِ“Ya Allah, sungguh aku memohon perlindungan kepada-Mu dari kemalasan dan keburukan masa tua”.3. Membaca Wirid sebelum TidurAntara lain, wirid yang disebutkan dalam hadits ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu. Beliau mengisahkan bahwa Fatimah radhiyallahu ‘anha datang keapda Nabi ﷺ untuk meminta pembantu.Beliau menjawab, “Maukah engkau kuberitahu tentang sesuatu yang lebih baik untukmu dari itu? Bacalah sebelum tidur tasbih 33x, tahmid 33x dan takbir 34x.” (HR. Bukhari Muslim).4. Menjalankan perintah Allah ﷻ dan menjauhi larangannyaDari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Nabi ﷺ bersabda,احْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ“Jagalah Allah (dengan menjalankan perintahNya dan menjauhi laranganNya), niscaya Allah akan menjagamu”. (HR. Tirmidzy dan beliau menyatakan hadits ini hasan sahih).Pesantren Tunas Ilmu, Purbalingga, 28 Rajab 1440H / 4 April 2019 MAbdullah Zaen Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 129: ORTU BERMASALAH, PENDIDIKAN ANAK SUSAHNext Khtubah Jum’at: BELAJAR DARI PENGALAMAN Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
‘OBAT KUAT’Semoga para pembaca tidak berfikir yang ndak-ndak saat membaca judul di atas. Penulis bukan sedang akan berjualan “obat”.Penulis hanya akan menjelaskan bahwa kesehatan dan kekuatan fisik, juga kesemangatan hidup, itu bukan hanya dengan usaha fisik belaka. Semisal, mengkonsumsi makanan bergizi, meminum jamu-jamuan dan berolahraga.Namun ada faktor lain yang sangat penting tapi malah justru kerap dilupakan. Apakah itu?Antara lain :1. Berdoa setelah bangun tidur, lalu berwudhu dan menunaikan sholat.Rasulullah ﷺ menjelaskan,يَعْقِدُ الشَّيْطَانُ عَلَى قَافِيَةِ رَأْسِ أَحَدِكُمْ إِذَا هُوَ نَامَ ثَلاَثَ عُقَدٍ يَضْرِبُ مَكَانَ كُلِّ عُقْدَةٍ عَلَيْكَ لَيْلٌ طَوِيلٌ فَارْقُدْ فَإِنِ اسْتَيْقَظَ فَذَكَرَ اللَّهَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ فَإِنْ تَوَضَّأَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ فَإِنْ صَلَّى انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ فَأَصْبَحَ نَشِيطًا طَيِّبَ النَّفْسِ وَإِلاَّ أَصْبَحَ خَبِيثَ النَّفْسِ كَسْلاَنَ“Jika salah seorang kalian tidur, setan akan membuat tiga ikatan di tengkuknya. Setan mengencangkan setiap ikatan (sembari berkata),’Malammu masih panjang…’.Jika dia bangun dan mengingat Allah , maka akan lepas satu ikatan. Bila ia berwudhu maka akan lepas dua ikatan. Dan jika ia shalat maka seluruh ikatan akan lepas. (Buahnya) hari itu ia akan bersemangat dan bersih jiwanya. Jika tidak, maka jiwanya akan kotor dan merasa malas.” (HR. Al Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu).2. Membaca Dzikir Pagi dan PetangDi antara bacaannya :اَللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْكَسَلِ وَ سُو ءِ الكِبَرِ“Ya Allah, sungguh aku memohon perlindungan kepada-Mu dari kemalasan dan keburukan masa tua”.3. Membaca Wirid sebelum TidurAntara lain, wirid yang disebutkan dalam hadits ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu. Beliau mengisahkan bahwa Fatimah radhiyallahu ‘anha datang keapda Nabi ﷺ untuk meminta pembantu.Beliau menjawab, “Maukah engkau kuberitahu tentang sesuatu yang lebih baik untukmu dari itu? Bacalah sebelum tidur tasbih 33x, tahmid 33x dan takbir 34x.” (HR. Bukhari Muslim).4. Menjalankan perintah Allah ﷻ dan menjauhi larangannyaDari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Nabi ﷺ bersabda,احْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ“Jagalah Allah (dengan menjalankan perintahNya dan menjauhi laranganNya), niscaya Allah akan menjagamu”. (HR. Tirmidzy dan beliau menyatakan hadits ini hasan sahih).Pesantren Tunas Ilmu, Purbalingga, 28 Rajab 1440H / 4 April 2019 MAbdullah Zaen Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 129: ORTU BERMASALAH, PENDIDIKAN ANAK SUSAHNext Khtubah Jum’at: BELAJAR DARI PENGALAMAN Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


‘OBAT KUAT’Semoga para pembaca tidak berfikir yang ndak-ndak saat membaca judul di atas. Penulis bukan sedang akan berjualan “obat”.Penulis hanya akan menjelaskan bahwa kesehatan dan kekuatan fisik, juga kesemangatan hidup, itu bukan hanya dengan usaha fisik belaka. Semisal, mengkonsumsi makanan bergizi, meminum jamu-jamuan dan berolahraga.Namun ada faktor lain yang sangat penting tapi malah justru kerap dilupakan. Apakah itu?Antara lain :1. Berdoa setelah bangun tidur, lalu berwudhu dan menunaikan sholat.Rasulullah ﷺ menjelaskan,يَعْقِدُ الشَّيْطَانُ عَلَى قَافِيَةِ رَأْسِ أَحَدِكُمْ إِذَا هُوَ نَامَ ثَلاَثَ عُقَدٍ يَضْرِبُ مَكَانَ كُلِّ عُقْدَةٍ عَلَيْكَ لَيْلٌ طَوِيلٌ فَارْقُدْ فَإِنِ اسْتَيْقَظَ فَذَكَرَ اللَّهَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ فَإِنْ تَوَضَّأَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ فَإِنْ صَلَّى انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ فَأَصْبَحَ نَشِيطًا طَيِّبَ النَّفْسِ وَإِلاَّ أَصْبَحَ خَبِيثَ النَّفْسِ كَسْلاَنَ“Jika salah seorang kalian tidur, setan akan membuat tiga ikatan di tengkuknya. Setan mengencangkan setiap ikatan (sembari berkata),’Malammu masih panjang…’.Jika dia bangun dan mengingat Allah , maka akan lepas satu ikatan. Bila ia berwudhu maka akan lepas dua ikatan. Dan jika ia shalat maka seluruh ikatan akan lepas. (Buahnya) hari itu ia akan bersemangat dan bersih jiwanya. Jika tidak, maka jiwanya akan kotor dan merasa malas.” (HR. Al Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu).2. Membaca Dzikir Pagi dan PetangDi antara bacaannya :اَللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْكَسَلِ وَ سُو ءِ الكِبَرِ“Ya Allah, sungguh aku memohon perlindungan kepada-Mu dari kemalasan dan keburukan masa tua”.3. Membaca Wirid sebelum TidurAntara lain, wirid yang disebutkan dalam hadits ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu. Beliau mengisahkan bahwa Fatimah radhiyallahu ‘anha datang keapda Nabi ﷺ untuk meminta pembantu.Beliau menjawab, “Maukah engkau kuberitahu tentang sesuatu yang lebih baik untukmu dari itu? Bacalah sebelum tidur tasbih 33x, tahmid 33x dan takbir 34x.” (HR. Bukhari Muslim).4. Menjalankan perintah Allah ﷻ dan menjauhi larangannyaDari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Nabi ﷺ bersabda,احْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ“Jagalah Allah (dengan menjalankan perintahNya dan menjauhi laranganNya), niscaya Allah akan menjagamu”. (HR. Tirmidzy dan beliau menyatakan hadits ini hasan sahih).Pesantren Tunas Ilmu, Purbalingga, 28 Rajab 1440H / 4 April 2019 MAbdullah Zaen Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 129: ORTU BERMASALAH, PENDIDIKAN ANAK SUSAHNext Khtubah Jum’at: BELAJAR DARI PENGALAMAN Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Tantangan dari Al-Quran

Al-Quran adalah mukjizat terbesar Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan yang terbesar di antara semua mukjizat para nabi.Syaikh Abdurrahman As-Sa’diy menjelaskan,ﺍﻟﻤﻌﺠﺰﺓ ﻫﻲ ﻣﺎ ﻳُﺠﺮِﻱ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻰ ﺃﻳﺪﻱ ﺍﻟﺮﺳﻞ ﻭﺍﻷﻧﺒﻴﺎﺀ ﻣﻦ ﺧﻮﺍﺭﻕ ﺍﻟﻌﺎﺩﺍﺕ ﺍﻟﺘﻲ ﻳﺘﺤﺪﻭﻥ ﺑﻬﺎ ﺍﻟﻌﺒﺎﺩ ، ﻭﻳﺨﺒﺮﻭﻥ ﺑﻬﺎ ﻋﻦ ﺍﻟﻠﻪ ﻟﺘﺼﺪﻳﻖ ﻣﺎ ﺑﻌﺜﻬﻢ ﺑﻪ ، ﻭﻳﺆﻳﺪﻫﻢ ﺑﻬﺎ ﺳﺒﺤﺎﻧﻪ ؛ ﻛﺎﻧﺸﻘﺎﻕ ﺍﻟﻘﻤﺮ ، ﻭﻧﺰﻭﻝ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ ، ﻓﺈﻥ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ ﻫﻮ ﺃﻋﻈﻢ ﻣﻌﺠﺰﺓ ﺍﻟﺮﺳﻮﻝ ﻋﻠﻰ ﺍﻹﻃﻼﻕ“Mukjizat adalah suatu yang Allah turunkan melalui para rasul dan nabi berupa kejadian-kejadian luar biasa (di luar hukum adat/sebab-akibat) sebagai bentuk tantangan bagi manusia. Merupakan berita dari Allah untuk membenarkan apa yang telah Allah utus untuk menguatkan para rasul dan nabi. Seperti terbelahnya bulan dan turunnya Al-Quran. Al-Quran adalah mukjizat terbesar dari para rasul secara mutlak.” (At-Tanbihaat Al-Lathiifah hal. 107)Tantangan dari Al-QuranAl-Quran adalah mukjizat yang membuktikan bahwa manusia ini adalah hamba yang lemah dan memiliki Rabb yang harus diibadahi. Al-Quran memiliki mukjizat berupa keindahan susunan kata dan sekaligus memiliki kandungan yang luar biasa berupa hukum, aqidah dan kisah-kisah serta informasi masa depan yang sangat tepat.Al-Quran memberikan tantangan kepada manusia yaitu tantangan bagi manusia semuanya dan para jin sekalipun agar membuat semisal Al-Quran, walau hanya satu surat saja. Sampai sekarang belum ada yang bisa menjawab tantangan ini, bahkan orang-orang pintar yang tidak percaya adanya tuhan dengan hanya mengandalkan kepintaran mereka, juga tidak bisa menjawab tantangan Al-Quran sampai saat ini.Allah menurunkan tantangan agar mendatangkan semisal Al-Quran, Allah berfirman,ﻗُﻞْ ﻟَﺌِﻦِ ﺍﺟْﺘَﻤَﻌَﺖِ ﺍﻟْﺈِﻧْﺲُ ﻭَﺍﻟْﺠِﻦُّ ﻋَﻠَﻰٰ ﺃَﻥْ ﻳَﺄْﺗُﻮﺍ ﺑِﻤِﺜْﻞِ ﻫَٰﺬَﺍ ﺍﻟْﻘُﺮْﺁﻥِ ﻟَﺎ ﻳَﺄْﺗُﻮﻥَ ﺑِﻤِﺜْﻠِﻪِ ﻭَﻟَﻮْ ﻛَﺎﻥَ ﺑَﻌْﻀُﻬُﻢْ ﻟِﺒَﻌْﺾٍ ﻇَﻬِﻴﺮًﺍKatakanlah, “Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa al-Qur’ân ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain. (Al-Israa:88)Ibnu Katsir menjelaskan,، فأخبر أنه لو اجتمعت الإنس والجن كلهم ، واتفقوا على أن يأتوا بمثل ما أنزله على رسوله ، لما أطاقوا ذلك ولما استطاعوه ، ولو تعاونوا وتساعدوا وتظافروا ، فإن هذا أمر لا يستطاع ، وكيف يشبه كلام المخلوقين كلام الخالق ، الذي لا نظير له ، ولا مثال له ، ولا عديل له ؟ !0“Allah mengabarkan bahwa seandainya manusia dan jin seluruhnya bersepakat untuk membuat semisal apa yanh diturunkan kepada Rasul-Nya, mereka tidak akan bisa dan tidak mampu, walaupun mereka saling menolong dan membantu. Perkara ini tidak mungkin bisa dilakukan. Bagaimana mungkin perkataan makhluk bisa menyerupai perkataan pencipta yang tidak ada semisalnya, yang mirip dan yang sebanding.” (Tafsir Ibnu  Katsir)Dalam ayat lain tantangan yang lebih ringan yaitu mendatangkan 10 surat saja.Allah berfirman,ﺃَﻡْ ﻳَﻘُﻮﻟُﻮﻥَ ﺍﻓْﺘَﺮَﺍﻩُ ۖ ﻗُﻞْ ﻓَﺄْﺗُﻮﺍ ﺑِﻌَﺸْﺮِ ﺳُﻮَﺭٍ ﻣِﺜْﻠِﻪِ ﻣُﻔْﺘَﺮَﻳَﺎﺕٍ ﻭَﺍﺩْﻋُﻮﺍ ﻣَﻦِ ﺍﺳْﺘَﻄَﻌْﺘُﻢْ ﻣِﻦْ ﺩُﻭﻥِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺇِﻥْ ﻛُﻨْﺘُﻢْ ﺻَﺎﺩِﻗِﻴﻦَ﴿١٣﴾ﻓَﺈِﻟَّﻢْ ﻳَﺴْﺘَﺠِﻴﺒُﻮﺍ ﻟَﻜُﻢْ ﻓَﺎﻋْﻠَﻤُﻮﺍ ﺃَﻧَّﻤَﺎ ﺃُﻧْﺰِﻝَ ﺑِﻌِﻠْﻢِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻭَﺃَﻥْ ﻟَﺎ ﺇِﻟَٰﻪَ ﺇِﻟَّﺎ ﻫُﻮَ ۖ ﻓَﻬَﻞْ ﺃَﻧْﺘُﻢْ ﻣُﺴْﻠِﻤُﻮﻥَBahkan mereka mengatakan, “Muhammad telah membuat-buat al-Qur’ân itu!” Katakanlah, “(Kalau demikian), maka datangkanlah sepuluh surat yang dibuat yang menyamainya, dan panggillah orang-orang yang kamu sanggup (memanggilnya) selain Allâh, jika kamu memang orang-orang yang benar”. Jika mereka (yang kamu seru itu) tidak menerima seruanmu (ajakanmu) itu, maka ketahuilah, sesungguhnya al-Qur’ân itu diturunkan dengan ilmu Allâh, dan bahwasanya tidak ada Tuhan yang haq selain Dia, maka maukah kamu berserah diri (kepada Allah)? (Hud:13-14)Bahkan Allah turunkan tantangan agar mendatangkan satu surat saja semisal, akan tetapi manusia tidak akan mampu menjawab tantangan tersebutAllah berfirman,ﻭَﺇِﻥْ ﻛُﻨْﺘُﻢْ ﻓِﻲ ﺭَﻳْﺐٍ ﻣِﻤَّﺎ ﻧَﺰَّﻟْﻨَﺎ ﻋَﻠَﻰٰ ﻋَﺒْﺪِﻧَﺎ ﻓَﺄْﺗُﻮﺍ ﺑِﺴُﻮﺭَﺓٍ ﻣِﻦْ ﻣِﺜْﻠِﻪِ ﻭَﺍﺩْﻋُﻮﺍ ﺷُﻬَﺪَﺍﺀَﻛُﻢْ ﻣِﻦْ ﺩُﻭﻥِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺇِﻥْ ﻛُﻨْﺘُﻢْ ﺻَﺎﺩِﻗِﻴﻦ ﴿٢٣﴾ﻓَﺈِﻥْ ﻟَﻢْ ﺗَﻔْﻌَﻠُﻮﺍ ﻭَﻟَﻦْ ﺗَﻔْﻌَﻠُﻮﺍ ﻓَﺎﺗَّﻘُﻮﺍ ﺍﻟﻨَّﺎﺭَ ﺍﻟَّﺘِﻲ ﻭَﻗُﻮﺩُﻫَﺎ ﺍﻟﻨَّﺎﺱُ ﻭَﺍﻟْﺤِﺠَﺎﺭَﺓُ ۖ ﺃُﻋِﺪَّﺕْ ﻟِﻠْﻜَﺎﻓِﺮِﻳﻦَJika kamu (tetap) dalam keraguan tentang al-Qur’ân yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal al-Qur’ân itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allâh, jika kamu orang-orang yang benar. Maka jika kamu tidak dapat membuat(nya), dan pasti kamu tidak akan dapat membuat(nya), peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, (neraka itu) telah disediakan bagi orang-orang kafir. (Al-Baqarah: 23-24)Dalam ayat lainnya Allah berfirman,ﻭَﻣَﺎ ﻛَﺎﻥَ ﻫَٰﺬَﺍ ﺍﻟْﻘُﺮْﺁﻥُ ﺃَﻥْ ﻳُﻔْﺘَﺮَﻯٰ ﻣِﻦْ ﺩُﻭﻥِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻭَﻟَٰﻜِﻦْ ﺗَﺼْﺪِﻳﻖَ ﺍﻟَّﺬِﻱ ﺑَﻴْﻦَ ﻳَﺪَﻳْﻪِ ﻭَﺗَﻔْﺼِﻴﻞَ ﺍﻟْﻜِﺘَﺎﺏِ ﻟَﺎ ﺭَﻳْﺐَ ﻓِﻴﻪِ ﻣِﻦْ ﺭَﺏِّ ﺍﻟْﻌَﺎﻟَﻤِﻴﻦ ﴿٣٧﴾ ﺃَﻡْ ﻳَﻘُﻮﻟُﻮﻥَ ﺍﻓْﺘَﺮَﺍﻩُ ۖ ﻗُﻞْ ﻓَﺄْﺗُﻮﺍ ﺑِﺴُﻮﺭَﺓٍ ﻣِﺜْﻠِﻪِ ﻭَﺍﺩْﻋُﻮﺍ ﻣَﻦِ ﺍﺳْﺘَﻄَﻌْﺘُﻢْ ﻣِﻦْ ﺩُﻭﻥِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺇِﻥْ ﻛُﻨْﺘُﻢْ ﺻَﺎﺩِﻗِﻴﻦَTidaklah mungkin al-Qur’ân ini dibuat oleh selain Allâh ; akan tetapi (al-Qur’ân itu) membenarkan Kitab-Kitab yang sebelumnya dan menjelaskan hukum-hukum yang telah ditetapkannya, tidak ada keraguan di dalamnya, (diturunkan) dari Rabb semesta alam. Atau (patutkah) mereka mengatakan, “Muhammad membuat-buatnya.” Katakanlah, “(Kalau benar yang kamu katakan itu), maka cobalah datangkan sebuah surat semisalnya dan panggillah siapa-siapa yang dapat kamu panggil (untuk membuatnya) selain Allah, jika kamu orang yang benar.” (Yunus : 37- 38)Allah menegaskan bahwa seandainya manusia yang membuat semisal Al-Quran, tentu akan ada banyak pertentangan di dalamnya.Allah berfirman,ﻭَﻟَﻮْ ﻛَﺎﻥَ ﻣِﻦْ ﻋِﻨْﺪِ ﻏَﻴْﺮِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻟَﻮَﺟَﺪُﻭﺍ ﻓِﻴﻪِ ﺍﺧْﺘِﻠَﺎﻓًﺎ ﻛَﺜِﻴﺮًﺍ“Kalau sekiranya al-Qur`ân itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya. (An-Nisaa’:82)Demikian semoga bermanfaat@ Yogyakarta TercintaPenyusun: Raehanul BahraenArtikel www.muslim.or.id🔍 Arti Kalam, Kehidupan Di Planet Lain Menurut Al Quran, Hadits Tentang Uang, Wau Arab, Poker Remi

Tantangan dari Al-Quran

Al-Quran adalah mukjizat terbesar Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan yang terbesar di antara semua mukjizat para nabi.Syaikh Abdurrahman As-Sa’diy menjelaskan,ﺍﻟﻤﻌﺠﺰﺓ ﻫﻲ ﻣﺎ ﻳُﺠﺮِﻱ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻰ ﺃﻳﺪﻱ ﺍﻟﺮﺳﻞ ﻭﺍﻷﻧﺒﻴﺎﺀ ﻣﻦ ﺧﻮﺍﺭﻕ ﺍﻟﻌﺎﺩﺍﺕ ﺍﻟﺘﻲ ﻳﺘﺤﺪﻭﻥ ﺑﻬﺎ ﺍﻟﻌﺒﺎﺩ ، ﻭﻳﺨﺒﺮﻭﻥ ﺑﻬﺎ ﻋﻦ ﺍﻟﻠﻪ ﻟﺘﺼﺪﻳﻖ ﻣﺎ ﺑﻌﺜﻬﻢ ﺑﻪ ، ﻭﻳﺆﻳﺪﻫﻢ ﺑﻬﺎ ﺳﺒﺤﺎﻧﻪ ؛ ﻛﺎﻧﺸﻘﺎﻕ ﺍﻟﻘﻤﺮ ، ﻭﻧﺰﻭﻝ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ ، ﻓﺈﻥ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ ﻫﻮ ﺃﻋﻈﻢ ﻣﻌﺠﺰﺓ ﺍﻟﺮﺳﻮﻝ ﻋﻠﻰ ﺍﻹﻃﻼﻕ“Mukjizat adalah suatu yang Allah turunkan melalui para rasul dan nabi berupa kejadian-kejadian luar biasa (di luar hukum adat/sebab-akibat) sebagai bentuk tantangan bagi manusia. Merupakan berita dari Allah untuk membenarkan apa yang telah Allah utus untuk menguatkan para rasul dan nabi. Seperti terbelahnya bulan dan turunnya Al-Quran. Al-Quran adalah mukjizat terbesar dari para rasul secara mutlak.” (At-Tanbihaat Al-Lathiifah hal. 107)Tantangan dari Al-QuranAl-Quran adalah mukjizat yang membuktikan bahwa manusia ini adalah hamba yang lemah dan memiliki Rabb yang harus diibadahi. Al-Quran memiliki mukjizat berupa keindahan susunan kata dan sekaligus memiliki kandungan yang luar biasa berupa hukum, aqidah dan kisah-kisah serta informasi masa depan yang sangat tepat.Al-Quran memberikan tantangan kepada manusia yaitu tantangan bagi manusia semuanya dan para jin sekalipun agar membuat semisal Al-Quran, walau hanya satu surat saja. Sampai sekarang belum ada yang bisa menjawab tantangan ini, bahkan orang-orang pintar yang tidak percaya adanya tuhan dengan hanya mengandalkan kepintaran mereka, juga tidak bisa menjawab tantangan Al-Quran sampai saat ini.Allah menurunkan tantangan agar mendatangkan semisal Al-Quran, Allah berfirman,ﻗُﻞْ ﻟَﺌِﻦِ ﺍﺟْﺘَﻤَﻌَﺖِ ﺍﻟْﺈِﻧْﺲُ ﻭَﺍﻟْﺠِﻦُّ ﻋَﻠَﻰٰ ﺃَﻥْ ﻳَﺄْﺗُﻮﺍ ﺑِﻤِﺜْﻞِ ﻫَٰﺬَﺍ ﺍﻟْﻘُﺮْﺁﻥِ ﻟَﺎ ﻳَﺄْﺗُﻮﻥَ ﺑِﻤِﺜْﻠِﻪِ ﻭَﻟَﻮْ ﻛَﺎﻥَ ﺑَﻌْﻀُﻬُﻢْ ﻟِﺒَﻌْﺾٍ ﻇَﻬِﻴﺮًﺍKatakanlah, “Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa al-Qur’ân ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain. (Al-Israa:88)Ibnu Katsir menjelaskan,، فأخبر أنه لو اجتمعت الإنس والجن كلهم ، واتفقوا على أن يأتوا بمثل ما أنزله على رسوله ، لما أطاقوا ذلك ولما استطاعوه ، ولو تعاونوا وتساعدوا وتظافروا ، فإن هذا أمر لا يستطاع ، وكيف يشبه كلام المخلوقين كلام الخالق ، الذي لا نظير له ، ولا مثال له ، ولا عديل له ؟ !0“Allah mengabarkan bahwa seandainya manusia dan jin seluruhnya bersepakat untuk membuat semisal apa yanh diturunkan kepada Rasul-Nya, mereka tidak akan bisa dan tidak mampu, walaupun mereka saling menolong dan membantu. Perkara ini tidak mungkin bisa dilakukan. Bagaimana mungkin perkataan makhluk bisa menyerupai perkataan pencipta yang tidak ada semisalnya, yang mirip dan yang sebanding.” (Tafsir Ibnu  Katsir)Dalam ayat lain tantangan yang lebih ringan yaitu mendatangkan 10 surat saja.Allah berfirman,ﺃَﻡْ ﻳَﻘُﻮﻟُﻮﻥَ ﺍﻓْﺘَﺮَﺍﻩُ ۖ ﻗُﻞْ ﻓَﺄْﺗُﻮﺍ ﺑِﻌَﺸْﺮِ ﺳُﻮَﺭٍ ﻣِﺜْﻠِﻪِ ﻣُﻔْﺘَﺮَﻳَﺎﺕٍ ﻭَﺍﺩْﻋُﻮﺍ ﻣَﻦِ ﺍﺳْﺘَﻄَﻌْﺘُﻢْ ﻣِﻦْ ﺩُﻭﻥِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺇِﻥْ ﻛُﻨْﺘُﻢْ ﺻَﺎﺩِﻗِﻴﻦَ﴿١٣﴾ﻓَﺈِﻟَّﻢْ ﻳَﺴْﺘَﺠِﻴﺒُﻮﺍ ﻟَﻜُﻢْ ﻓَﺎﻋْﻠَﻤُﻮﺍ ﺃَﻧَّﻤَﺎ ﺃُﻧْﺰِﻝَ ﺑِﻌِﻠْﻢِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻭَﺃَﻥْ ﻟَﺎ ﺇِﻟَٰﻪَ ﺇِﻟَّﺎ ﻫُﻮَ ۖ ﻓَﻬَﻞْ ﺃَﻧْﺘُﻢْ ﻣُﺴْﻠِﻤُﻮﻥَBahkan mereka mengatakan, “Muhammad telah membuat-buat al-Qur’ân itu!” Katakanlah, “(Kalau demikian), maka datangkanlah sepuluh surat yang dibuat yang menyamainya, dan panggillah orang-orang yang kamu sanggup (memanggilnya) selain Allâh, jika kamu memang orang-orang yang benar”. Jika mereka (yang kamu seru itu) tidak menerima seruanmu (ajakanmu) itu, maka ketahuilah, sesungguhnya al-Qur’ân itu diturunkan dengan ilmu Allâh, dan bahwasanya tidak ada Tuhan yang haq selain Dia, maka maukah kamu berserah diri (kepada Allah)? (Hud:13-14)Bahkan Allah turunkan tantangan agar mendatangkan satu surat saja semisal, akan tetapi manusia tidak akan mampu menjawab tantangan tersebutAllah berfirman,ﻭَﺇِﻥْ ﻛُﻨْﺘُﻢْ ﻓِﻲ ﺭَﻳْﺐٍ ﻣِﻤَّﺎ ﻧَﺰَّﻟْﻨَﺎ ﻋَﻠَﻰٰ ﻋَﺒْﺪِﻧَﺎ ﻓَﺄْﺗُﻮﺍ ﺑِﺴُﻮﺭَﺓٍ ﻣِﻦْ ﻣِﺜْﻠِﻪِ ﻭَﺍﺩْﻋُﻮﺍ ﺷُﻬَﺪَﺍﺀَﻛُﻢْ ﻣِﻦْ ﺩُﻭﻥِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺇِﻥْ ﻛُﻨْﺘُﻢْ ﺻَﺎﺩِﻗِﻴﻦ ﴿٢٣﴾ﻓَﺈِﻥْ ﻟَﻢْ ﺗَﻔْﻌَﻠُﻮﺍ ﻭَﻟَﻦْ ﺗَﻔْﻌَﻠُﻮﺍ ﻓَﺎﺗَّﻘُﻮﺍ ﺍﻟﻨَّﺎﺭَ ﺍﻟَّﺘِﻲ ﻭَﻗُﻮﺩُﻫَﺎ ﺍﻟﻨَّﺎﺱُ ﻭَﺍﻟْﺤِﺠَﺎﺭَﺓُ ۖ ﺃُﻋِﺪَّﺕْ ﻟِﻠْﻜَﺎﻓِﺮِﻳﻦَJika kamu (tetap) dalam keraguan tentang al-Qur’ân yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal al-Qur’ân itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allâh, jika kamu orang-orang yang benar. Maka jika kamu tidak dapat membuat(nya), dan pasti kamu tidak akan dapat membuat(nya), peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, (neraka itu) telah disediakan bagi orang-orang kafir. (Al-Baqarah: 23-24)Dalam ayat lainnya Allah berfirman,ﻭَﻣَﺎ ﻛَﺎﻥَ ﻫَٰﺬَﺍ ﺍﻟْﻘُﺮْﺁﻥُ ﺃَﻥْ ﻳُﻔْﺘَﺮَﻯٰ ﻣِﻦْ ﺩُﻭﻥِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻭَﻟَٰﻜِﻦْ ﺗَﺼْﺪِﻳﻖَ ﺍﻟَّﺬِﻱ ﺑَﻴْﻦَ ﻳَﺪَﻳْﻪِ ﻭَﺗَﻔْﺼِﻴﻞَ ﺍﻟْﻜِﺘَﺎﺏِ ﻟَﺎ ﺭَﻳْﺐَ ﻓِﻴﻪِ ﻣِﻦْ ﺭَﺏِّ ﺍﻟْﻌَﺎﻟَﻤِﻴﻦ ﴿٣٧﴾ ﺃَﻡْ ﻳَﻘُﻮﻟُﻮﻥَ ﺍﻓْﺘَﺮَﺍﻩُ ۖ ﻗُﻞْ ﻓَﺄْﺗُﻮﺍ ﺑِﺴُﻮﺭَﺓٍ ﻣِﺜْﻠِﻪِ ﻭَﺍﺩْﻋُﻮﺍ ﻣَﻦِ ﺍﺳْﺘَﻄَﻌْﺘُﻢْ ﻣِﻦْ ﺩُﻭﻥِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺇِﻥْ ﻛُﻨْﺘُﻢْ ﺻَﺎﺩِﻗِﻴﻦَTidaklah mungkin al-Qur’ân ini dibuat oleh selain Allâh ; akan tetapi (al-Qur’ân itu) membenarkan Kitab-Kitab yang sebelumnya dan menjelaskan hukum-hukum yang telah ditetapkannya, tidak ada keraguan di dalamnya, (diturunkan) dari Rabb semesta alam. Atau (patutkah) mereka mengatakan, “Muhammad membuat-buatnya.” Katakanlah, “(Kalau benar yang kamu katakan itu), maka cobalah datangkan sebuah surat semisalnya dan panggillah siapa-siapa yang dapat kamu panggil (untuk membuatnya) selain Allah, jika kamu orang yang benar.” (Yunus : 37- 38)Allah menegaskan bahwa seandainya manusia yang membuat semisal Al-Quran, tentu akan ada banyak pertentangan di dalamnya.Allah berfirman,ﻭَﻟَﻮْ ﻛَﺎﻥَ ﻣِﻦْ ﻋِﻨْﺪِ ﻏَﻴْﺮِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻟَﻮَﺟَﺪُﻭﺍ ﻓِﻴﻪِ ﺍﺧْﺘِﻠَﺎﻓًﺎ ﻛَﺜِﻴﺮًﺍ“Kalau sekiranya al-Qur`ân itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya. (An-Nisaa’:82)Demikian semoga bermanfaat@ Yogyakarta TercintaPenyusun: Raehanul BahraenArtikel www.muslim.or.id🔍 Arti Kalam, Kehidupan Di Planet Lain Menurut Al Quran, Hadits Tentang Uang, Wau Arab, Poker Remi
Al-Quran adalah mukjizat terbesar Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan yang terbesar di antara semua mukjizat para nabi.Syaikh Abdurrahman As-Sa’diy menjelaskan,ﺍﻟﻤﻌﺠﺰﺓ ﻫﻲ ﻣﺎ ﻳُﺠﺮِﻱ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻰ ﺃﻳﺪﻱ ﺍﻟﺮﺳﻞ ﻭﺍﻷﻧﺒﻴﺎﺀ ﻣﻦ ﺧﻮﺍﺭﻕ ﺍﻟﻌﺎﺩﺍﺕ ﺍﻟﺘﻲ ﻳﺘﺤﺪﻭﻥ ﺑﻬﺎ ﺍﻟﻌﺒﺎﺩ ، ﻭﻳﺨﺒﺮﻭﻥ ﺑﻬﺎ ﻋﻦ ﺍﻟﻠﻪ ﻟﺘﺼﺪﻳﻖ ﻣﺎ ﺑﻌﺜﻬﻢ ﺑﻪ ، ﻭﻳﺆﻳﺪﻫﻢ ﺑﻬﺎ ﺳﺒﺤﺎﻧﻪ ؛ ﻛﺎﻧﺸﻘﺎﻕ ﺍﻟﻘﻤﺮ ، ﻭﻧﺰﻭﻝ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ ، ﻓﺈﻥ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ ﻫﻮ ﺃﻋﻈﻢ ﻣﻌﺠﺰﺓ ﺍﻟﺮﺳﻮﻝ ﻋﻠﻰ ﺍﻹﻃﻼﻕ“Mukjizat adalah suatu yang Allah turunkan melalui para rasul dan nabi berupa kejadian-kejadian luar biasa (di luar hukum adat/sebab-akibat) sebagai bentuk tantangan bagi manusia. Merupakan berita dari Allah untuk membenarkan apa yang telah Allah utus untuk menguatkan para rasul dan nabi. Seperti terbelahnya bulan dan turunnya Al-Quran. Al-Quran adalah mukjizat terbesar dari para rasul secara mutlak.” (At-Tanbihaat Al-Lathiifah hal. 107)Tantangan dari Al-QuranAl-Quran adalah mukjizat yang membuktikan bahwa manusia ini adalah hamba yang lemah dan memiliki Rabb yang harus diibadahi. Al-Quran memiliki mukjizat berupa keindahan susunan kata dan sekaligus memiliki kandungan yang luar biasa berupa hukum, aqidah dan kisah-kisah serta informasi masa depan yang sangat tepat.Al-Quran memberikan tantangan kepada manusia yaitu tantangan bagi manusia semuanya dan para jin sekalipun agar membuat semisal Al-Quran, walau hanya satu surat saja. Sampai sekarang belum ada yang bisa menjawab tantangan ini, bahkan orang-orang pintar yang tidak percaya adanya tuhan dengan hanya mengandalkan kepintaran mereka, juga tidak bisa menjawab tantangan Al-Quran sampai saat ini.Allah menurunkan tantangan agar mendatangkan semisal Al-Quran, Allah berfirman,ﻗُﻞْ ﻟَﺌِﻦِ ﺍﺟْﺘَﻤَﻌَﺖِ ﺍﻟْﺈِﻧْﺲُ ﻭَﺍﻟْﺠِﻦُّ ﻋَﻠَﻰٰ ﺃَﻥْ ﻳَﺄْﺗُﻮﺍ ﺑِﻤِﺜْﻞِ ﻫَٰﺬَﺍ ﺍﻟْﻘُﺮْﺁﻥِ ﻟَﺎ ﻳَﺄْﺗُﻮﻥَ ﺑِﻤِﺜْﻠِﻪِ ﻭَﻟَﻮْ ﻛَﺎﻥَ ﺑَﻌْﻀُﻬُﻢْ ﻟِﺒَﻌْﺾٍ ﻇَﻬِﻴﺮًﺍKatakanlah, “Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa al-Qur’ân ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain. (Al-Israa:88)Ibnu Katsir menjelaskan,، فأخبر أنه لو اجتمعت الإنس والجن كلهم ، واتفقوا على أن يأتوا بمثل ما أنزله على رسوله ، لما أطاقوا ذلك ولما استطاعوه ، ولو تعاونوا وتساعدوا وتظافروا ، فإن هذا أمر لا يستطاع ، وكيف يشبه كلام المخلوقين كلام الخالق ، الذي لا نظير له ، ولا مثال له ، ولا عديل له ؟ !0“Allah mengabarkan bahwa seandainya manusia dan jin seluruhnya bersepakat untuk membuat semisal apa yanh diturunkan kepada Rasul-Nya, mereka tidak akan bisa dan tidak mampu, walaupun mereka saling menolong dan membantu. Perkara ini tidak mungkin bisa dilakukan. Bagaimana mungkin perkataan makhluk bisa menyerupai perkataan pencipta yang tidak ada semisalnya, yang mirip dan yang sebanding.” (Tafsir Ibnu  Katsir)Dalam ayat lain tantangan yang lebih ringan yaitu mendatangkan 10 surat saja.Allah berfirman,ﺃَﻡْ ﻳَﻘُﻮﻟُﻮﻥَ ﺍﻓْﺘَﺮَﺍﻩُ ۖ ﻗُﻞْ ﻓَﺄْﺗُﻮﺍ ﺑِﻌَﺸْﺮِ ﺳُﻮَﺭٍ ﻣِﺜْﻠِﻪِ ﻣُﻔْﺘَﺮَﻳَﺎﺕٍ ﻭَﺍﺩْﻋُﻮﺍ ﻣَﻦِ ﺍﺳْﺘَﻄَﻌْﺘُﻢْ ﻣِﻦْ ﺩُﻭﻥِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺇِﻥْ ﻛُﻨْﺘُﻢْ ﺻَﺎﺩِﻗِﻴﻦَ﴿١٣﴾ﻓَﺈِﻟَّﻢْ ﻳَﺴْﺘَﺠِﻴﺒُﻮﺍ ﻟَﻜُﻢْ ﻓَﺎﻋْﻠَﻤُﻮﺍ ﺃَﻧَّﻤَﺎ ﺃُﻧْﺰِﻝَ ﺑِﻌِﻠْﻢِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻭَﺃَﻥْ ﻟَﺎ ﺇِﻟَٰﻪَ ﺇِﻟَّﺎ ﻫُﻮَ ۖ ﻓَﻬَﻞْ ﺃَﻧْﺘُﻢْ ﻣُﺴْﻠِﻤُﻮﻥَBahkan mereka mengatakan, “Muhammad telah membuat-buat al-Qur’ân itu!” Katakanlah, “(Kalau demikian), maka datangkanlah sepuluh surat yang dibuat yang menyamainya, dan panggillah orang-orang yang kamu sanggup (memanggilnya) selain Allâh, jika kamu memang orang-orang yang benar”. Jika mereka (yang kamu seru itu) tidak menerima seruanmu (ajakanmu) itu, maka ketahuilah, sesungguhnya al-Qur’ân itu diturunkan dengan ilmu Allâh, dan bahwasanya tidak ada Tuhan yang haq selain Dia, maka maukah kamu berserah diri (kepada Allah)? (Hud:13-14)Bahkan Allah turunkan tantangan agar mendatangkan satu surat saja semisal, akan tetapi manusia tidak akan mampu menjawab tantangan tersebutAllah berfirman,ﻭَﺇِﻥْ ﻛُﻨْﺘُﻢْ ﻓِﻲ ﺭَﻳْﺐٍ ﻣِﻤَّﺎ ﻧَﺰَّﻟْﻨَﺎ ﻋَﻠَﻰٰ ﻋَﺒْﺪِﻧَﺎ ﻓَﺄْﺗُﻮﺍ ﺑِﺴُﻮﺭَﺓٍ ﻣِﻦْ ﻣِﺜْﻠِﻪِ ﻭَﺍﺩْﻋُﻮﺍ ﺷُﻬَﺪَﺍﺀَﻛُﻢْ ﻣِﻦْ ﺩُﻭﻥِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺇِﻥْ ﻛُﻨْﺘُﻢْ ﺻَﺎﺩِﻗِﻴﻦ ﴿٢٣﴾ﻓَﺈِﻥْ ﻟَﻢْ ﺗَﻔْﻌَﻠُﻮﺍ ﻭَﻟَﻦْ ﺗَﻔْﻌَﻠُﻮﺍ ﻓَﺎﺗَّﻘُﻮﺍ ﺍﻟﻨَّﺎﺭَ ﺍﻟَّﺘِﻲ ﻭَﻗُﻮﺩُﻫَﺎ ﺍﻟﻨَّﺎﺱُ ﻭَﺍﻟْﺤِﺠَﺎﺭَﺓُ ۖ ﺃُﻋِﺪَّﺕْ ﻟِﻠْﻜَﺎﻓِﺮِﻳﻦَJika kamu (tetap) dalam keraguan tentang al-Qur’ân yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal al-Qur’ân itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allâh, jika kamu orang-orang yang benar. Maka jika kamu tidak dapat membuat(nya), dan pasti kamu tidak akan dapat membuat(nya), peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, (neraka itu) telah disediakan bagi orang-orang kafir. (Al-Baqarah: 23-24)Dalam ayat lainnya Allah berfirman,ﻭَﻣَﺎ ﻛَﺎﻥَ ﻫَٰﺬَﺍ ﺍﻟْﻘُﺮْﺁﻥُ ﺃَﻥْ ﻳُﻔْﺘَﺮَﻯٰ ﻣِﻦْ ﺩُﻭﻥِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻭَﻟَٰﻜِﻦْ ﺗَﺼْﺪِﻳﻖَ ﺍﻟَّﺬِﻱ ﺑَﻴْﻦَ ﻳَﺪَﻳْﻪِ ﻭَﺗَﻔْﺼِﻴﻞَ ﺍﻟْﻜِﺘَﺎﺏِ ﻟَﺎ ﺭَﻳْﺐَ ﻓِﻴﻪِ ﻣِﻦْ ﺭَﺏِّ ﺍﻟْﻌَﺎﻟَﻤِﻴﻦ ﴿٣٧﴾ ﺃَﻡْ ﻳَﻘُﻮﻟُﻮﻥَ ﺍﻓْﺘَﺮَﺍﻩُ ۖ ﻗُﻞْ ﻓَﺄْﺗُﻮﺍ ﺑِﺴُﻮﺭَﺓٍ ﻣِﺜْﻠِﻪِ ﻭَﺍﺩْﻋُﻮﺍ ﻣَﻦِ ﺍﺳْﺘَﻄَﻌْﺘُﻢْ ﻣِﻦْ ﺩُﻭﻥِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺇِﻥْ ﻛُﻨْﺘُﻢْ ﺻَﺎﺩِﻗِﻴﻦَTidaklah mungkin al-Qur’ân ini dibuat oleh selain Allâh ; akan tetapi (al-Qur’ân itu) membenarkan Kitab-Kitab yang sebelumnya dan menjelaskan hukum-hukum yang telah ditetapkannya, tidak ada keraguan di dalamnya, (diturunkan) dari Rabb semesta alam. Atau (patutkah) mereka mengatakan, “Muhammad membuat-buatnya.” Katakanlah, “(Kalau benar yang kamu katakan itu), maka cobalah datangkan sebuah surat semisalnya dan panggillah siapa-siapa yang dapat kamu panggil (untuk membuatnya) selain Allah, jika kamu orang yang benar.” (Yunus : 37- 38)Allah menegaskan bahwa seandainya manusia yang membuat semisal Al-Quran, tentu akan ada banyak pertentangan di dalamnya.Allah berfirman,ﻭَﻟَﻮْ ﻛَﺎﻥَ ﻣِﻦْ ﻋِﻨْﺪِ ﻏَﻴْﺮِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻟَﻮَﺟَﺪُﻭﺍ ﻓِﻴﻪِ ﺍﺧْﺘِﻠَﺎﻓًﺎ ﻛَﺜِﻴﺮًﺍ“Kalau sekiranya al-Qur`ân itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya. (An-Nisaa’:82)Demikian semoga bermanfaat@ Yogyakarta TercintaPenyusun: Raehanul BahraenArtikel www.muslim.or.id🔍 Arti Kalam, Kehidupan Di Planet Lain Menurut Al Quran, Hadits Tentang Uang, Wau Arab, Poker Remi


Al-Quran adalah mukjizat terbesar Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan yang terbesar di antara semua mukjizat para nabi.Syaikh Abdurrahman As-Sa’diy menjelaskan,ﺍﻟﻤﻌﺠﺰﺓ ﻫﻲ ﻣﺎ ﻳُﺠﺮِﻱ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻰ ﺃﻳﺪﻱ ﺍﻟﺮﺳﻞ ﻭﺍﻷﻧﺒﻴﺎﺀ ﻣﻦ ﺧﻮﺍﺭﻕ ﺍﻟﻌﺎﺩﺍﺕ ﺍﻟﺘﻲ ﻳﺘﺤﺪﻭﻥ ﺑﻬﺎ ﺍﻟﻌﺒﺎﺩ ، ﻭﻳﺨﺒﺮﻭﻥ ﺑﻬﺎ ﻋﻦ ﺍﻟﻠﻪ ﻟﺘﺼﺪﻳﻖ ﻣﺎ ﺑﻌﺜﻬﻢ ﺑﻪ ، ﻭﻳﺆﻳﺪﻫﻢ ﺑﻬﺎ ﺳﺒﺤﺎﻧﻪ ؛ ﻛﺎﻧﺸﻘﺎﻕ ﺍﻟﻘﻤﺮ ، ﻭﻧﺰﻭﻝ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ ، ﻓﺈﻥ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ ﻫﻮ ﺃﻋﻈﻢ ﻣﻌﺠﺰﺓ ﺍﻟﺮﺳﻮﻝ ﻋﻠﻰ ﺍﻹﻃﻼﻕ“Mukjizat adalah suatu yang Allah turunkan melalui para rasul dan nabi berupa kejadian-kejadian luar biasa (di luar hukum adat/sebab-akibat) sebagai bentuk tantangan bagi manusia. Merupakan berita dari Allah untuk membenarkan apa yang telah Allah utus untuk menguatkan para rasul dan nabi. Seperti terbelahnya bulan dan turunnya Al-Quran. Al-Quran adalah mukjizat terbesar dari para rasul secara mutlak.” (At-Tanbihaat Al-Lathiifah hal. 107)Tantangan dari Al-QuranAl-Quran adalah mukjizat yang membuktikan bahwa manusia ini adalah hamba yang lemah dan memiliki Rabb yang harus diibadahi. Al-Quran memiliki mukjizat berupa keindahan susunan kata dan sekaligus memiliki kandungan yang luar biasa berupa hukum, aqidah dan kisah-kisah serta informasi masa depan yang sangat tepat.Al-Quran memberikan tantangan kepada manusia yaitu tantangan bagi manusia semuanya dan para jin sekalipun agar membuat semisal Al-Quran, walau hanya satu surat saja. Sampai sekarang belum ada yang bisa menjawab tantangan ini, bahkan orang-orang pintar yang tidak percaya adanya tuhan dengan hanya mengandalkan kepintaran mereka, juga tidak bisa menjawab tantangan Al-Quran sampai saat ini.Allah menurunkan tantangan agar mendatangkan semisal Al-Quran, Allah berfirman,ﻗُﻞْ ﻟَﺌِﻦِ ﺍﺟْﺘَﻤَﻌَﺖِ ﺍﻟْﺈِﻧْﺲُ ﻭَﺍﻟْﺠِﻦُّ ﻋَﻠَﻰٰ ﺃَﻥْ ﻳَﺄْﺗُﻮﺍ ﺑِﻤِﺜْﻞِ ﻫَٰﺬَﺍ ﺍﻟْﻘُﺮْﺁﻥِ ﻟَﺎ ﻳَﺄْﺗُﻮﻥَ ﺑِﻤِﺜْﻠِﻪِ ﻭَﻟَﻮْ ﻛَﺎﻥَ ﺑَﻌْﻀُﻬُﻢْ ﻟِﺒَﻌْﺾٍ ﻇَﻬِﻴﺮًﺍKatakanlah, “Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa al-Qur’ân ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain. (Al-Israa:88)Ibnu Katsir menjelaskan,، فأخبر أنه لو اجتمعت الإنس والجن كلهم ، واتفقوا على أن يأتوا بمثل ما أنزله على رسوله ، لما أطاقوا ذلك ولما استطاعوه ، ولو تعاونوا وتساعدوا وتظافروا ، فإن هذا أمر لا يستطاع ، وكيف يشبه كلام المخلوقين كلام الخالق ، الذي لا نظير له ، ولا مثال له ، ولا عديل له ؟ !0“Allah mengabarkan bahwa seandainya manusia dan jin seluruhnya bersepakat untuk membuat semisal apa yanh diturunkan kepada Rasul-Nya, mereka tidak akan bisa dan tidak mampu, walaupun mereka saling menolong dan membantu. Perkara ini tidak mungkin bisa dilakukan. Bagaimana mungkin perkataan makhluk bisa menyerupai perkataan pencipta yang tidak ada semisalnya, yang mirip dan yang sebanding.” (Tafsir Ibnu  Katsir)Dalam ayat lain tantangan yang lebih ringan yaitu mendatangkan 10 surat saja.Allah berfirman,ﺃَﻡْ ﻳَﻘُﻮﻟُﻮﻥَ ﺍﻓْﺘَﺮَﺍﻩُ ۖ ﻗُﻞْ ﻓَﺄْﺗُﻮﺍ ﺑِﻌَﺸْﺮِ ﺳُﻮَﺭٍ ﻣِﺜْﻠِﻪِ ﻣُﻔْﺘَﺮَﻳَﺎﺕٍ ﻭَﺍﺩْﻋُﻮﺍ ﻣَﻦِ ﺍﺳْﺘَﻄَﻌْﺘُﻢْ ﻣِﻦْ ﺩُﻭﻥِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺇِﻥْ ﻛُﻨْﺘُﻢْ ﺻَﺎﺩِﻗِﻴﻦَ﴿١٣﴾ﻓَﺈِﻟَّﻢْ ﻳَﺴْﺘَﺠِﻴﺒُﻮﺍ ﻟَﻜُﻢْ ﻓَﺎﻋْﻠَﻤُﻮﺍ ﺃَﻧَّﻤَﺎ ﺃُﻧْﺰِﻝَ ﺑِﻌِﻠْﻢِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻭَﺃَﻥْ ﻟَﺎ ﺇِﻟَٰﻪَ ﺇِﻟَّﺎ ﻫُﻮَ ۖ ﻓَﻬَﻞْ ﺃَﻧْﺘُﻢْ ﻣُﺴْﻠِﻤُﻮﻥَBahkan mereka mengatakan, “Muhammad telah membuat-buat al-Qur’ân itu!” Katakanlah, “(Kalau demikian), maka datangkanlah sepuluh surat yang dibuat yang menyamainya, dan panggillah orang-orang yang kamu sanggup (memanggilnya) selain Allâh, jika kamu memang orang-orang yang benar”. Jika mereka (yang kamu seru itu) tidak menerima seruanmu (ajakanmu) itu, maka ketahuilah, sesungguhnya al-Qur’ân itu diturunkan dengan ilmu Allâh, dan bahwasanya tidak ada Tuhan yang haq selain Dia, maka maukah kamu berserah diri (kepada Allah)? (Hud:13-14)Bahkan Allah turunkan tantangan agar mendatangkan satu surat saja semisal, akan tetapi manusia tidak akan mampu menjawab tantangan tersebutAllah berfirman,ﻭَﺇِﻥْ ﻛُﻨْﺘُﻢْ ﻓِﻲ ﺭَﻳْﺐٍ ﻣِﻤَّﺎ ﻧَﺰَّﻟْﻨَﺎ ﻋَﻠَﻰٰ ﻋَﺒْﺪِﻧَﺎ ﻓَﺄْﺗُﻮﺍ ﺑِﺴُﻮﺭَﺓٍ ﻣِﻦْ ﻣِﺜْﻠِﻪِ ﻭَﺍﺩْﻋُﻮﺍ ﺷُﻬَﺪَﺍﺀَﻛُﻢْ ﻣِﻦْ ﺩُﻭﻥِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺇِﻥْ ﻛُﻨْﺘُﻢْ ﺻَﺎﺩِﻗِﻴﻦ ﴿٢٣﴾ﻓَﺈِﻥْ ﻟَﻢْ ﺗَﻔْﻌَﻠُﻮﺍ ﻭَﻟَﻦْ ﺗَﻔْﻌَﻠُﻮﺍ ﻓَﺎﺗَّﻘُﻮﺍ ﺍﻟﻨَّﺎﺭَ ﺍﻟَّﺘِﻲ ﻭَﻗُﻮﺩُﻫَﺎ ﺍﻟﻨَّﺎﺱُ ﻭَﺍﻟْﺤِﺠَﺎﺭَﺓُ ۖ ﺃُﻋِﺪَّﺕْ ﻟِﻠْﻜَﺎﻓِﺮِﻳﻦَJika kamu (tetap) dalam keraguan tentang al-Qur’ân yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal al-Qur’ân itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allâh, jika kamu orang-orang yang benar. Maka jika kamu tidak dapat membuat(nya), dan pasti kamu tidak akan dapat membuat(nya), peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, (neraka itu) telah disediakan bagi orang-orang kafir. (Al-Baqarah: 23-24)Dalam ayat lainnya Allah berfirman,ﻭَﻣَﺎ ﻛَﺎﻥَ ﻫَٰﺬَﺍ ﺍﻟْﻘُﺮْﺁﻥُ ﺃَﻥْ ﻳُﻔْﺘَﺮَﻯٰ ﻣِﻦْ ﺩُﻭﻥِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻭَﻟَٰﻜِﻦْ ﺗَﺼْﺪِﻳﻖَ ﺍﻟَّﺬِﻱ ﺑَﻴْﻦَ ﻳَﺪَﻳْﻪِ ﻭَﺗَﻔْﺼِﻴﻞَ ﺍﻟْﻜِﺘَﺎﺏِ ﻟَﺎ ﺭَﻳْﺐَ ﻓِﻴﻪِ ﻣِﻦْ ﺭَﺏِّ ﺍﻟْﻌَﺎﻟَﻤِﻴﻦ ﴿٣٧﴾ ﺃَﻡْ ﻳَﻘُﻮﻟُﻮﻥَ ﺍﻓْﺘَﺮَﺍﻩُ ۖ ﻗُﻞْ ﻓَﺄْﺗُﻮﺍ ﺑِﺴُﻮﺭَﺓٍ ﻣِﺜْﻠِﻪِ ﻭَﺍﺩْﻋُﻮﺍ ﻣَﻦِ ﺍﺳْﺘَﻄَﻌْﺘُﻢْ ﻣِﻦْ ﺩُﻭﻥِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺇِﻥْ ﻛُﻨْﺘُﻢْ ﺻَﺎﺩِﻗِﻴﻦَTidaklah mungkin al-Qur’ân ini dibuat oleh selain Allâh ; akan tetapi (al-Qur’ân itu) membenarkan Kitab-Kitab yang sebelumnya dan menjelaskan hukum-hukum yang telah ditetapkannya, tidak ada keraguan di dalamnya, (diturunkan) dari Rabb semesta alam. Atau (patutkah) mereka mengatakan, “Muhammad membuat-buatnya.” Katakanlah, “(Kalau benar yang kamu katakan itu), maka cobalah datangkan sebuah surat semisalnya dan panggillah siapa-siapa yang dapat kamu panggil (untuk membuatnya) selain Allah, jika kamu orang yang benar.” (Yunus : 37- 38)Allah menegaskan bahwa seandainya manusia yang membuat semisal Al-Quran, tentu akan ada banyak pertentangan di dalamnya.Allah berfirman,ﻭَﻟَﻮْ ﻛَﺎﻥَ ﻣِﻦْ ﻋِﻨْﺪِ ﻏَﻴْﺮِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻟَﻮَﺟَﺪُﻭﺍ ﻓِﻴﻪِ ﺍﺧْﺘِﻠَﺎﻓًﺎ ﻛَﺜِﻴﺮًﺍ“Kalau sekiranya al-Qur`ân itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya. (An-Nisaa’:82)Demikian semoga bermanfaat@ Yogyakarta TercintaPenyusun: Raehanul BahraenArtikel www.muslim.or.id🔍 Arti Kalam, Kehidupan Di Planet Lain Menurut Al Quran, Hadits Tentang Uang, Wau Arab, Poker Remi

Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 149: DAMPAK BURUK DOSA

DAMPAK BURUK DOSA Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 149Pada Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 129 telah dijelaskan bahwa salah satu adab penting berdoa adalah mengawalinya dengan taubat. Sebab tumpukan dosa yang menggunung adalah salah satu penghalang terbesar dikabulkannya doa.Yahya bin Mu’adz ar-Raziy rahimahullah (w. 258 H) berpetuah, “Jangan heran doamu lama terkabul. Jikalau engkau menutupi jalan terkabulnya doa dengan dosa-dosamu”.Dosa dan maksiat itu memiliki dampak buruk yang teramat banyak. Di dunia maupun di akhirat. Dampak buruk itu antara lain:Pertama: Nikmat akan dicabutNikmat yang Allah berikan kepada para hamba-Nya akan dicabut akibat dosa-dosa mereka. Lalu digantikan dengan musibah yang bertubi-tubi.Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu menjelaskan, “Musibah itu ditimpakan karena dosa. Sebaliknya musibah akan diakhiri dengan taubat”.Allah ta’ala berfirman,“ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ لَمْ يَكُ مُغَيِّرًا نِعْمَةً أَنْعَمَهَا عَلَى قَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ وَأَنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ”Artinya: “Begitulah ketentuan yang berlaku. Karena Allah tidak akan mengubah nikmat yang diberikan-Nya kepada suatu kaum, sampai mereka sendiri yang mengubahnya. Sungguh Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. QS. Al-Anfal (8): 53.Kedua: Hamba akan hina di hadapan AllahSiapapun yang hina di sisi Allah ta’ala, niscaya tidak akan ada yang bisa menjadikannya mulia. Sebagaimana telah dijelaskan dalam firman-Nya,“وَمَنْ يُهِنِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ مُكْرِمٍ”Artinya: “Barang siapa dihinakan Allah, tidak seorang pun yang akan memuliakannya”. QS. Al-Hajj (22): 18.Semakin hamba bertakwa, ia akan semakin mulia di sisi Allah. Sebaliknya, semakin banyak maksiat yang dilakukan, ia akan semakin hina di sisi Allah.Ketiga: Hamba akan diterlantarkan AllahAllah ta’ala berfirman,“يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ (18) وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ أُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ (19)”Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah. Hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat). Bertakwalah kepada Allah. Sungguh Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan. Janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah. Sehingga Allah menjadikan mereka lupa akan diri sendiri. Mereka itulah orang yang fasik”. QS. Al-Hasyr (59): 18-19.Oleh Allah ta’ala, para pendosa dibuat lupa terhadap hal-hal yang mendatangkan kebaikan dunia dan akhiratnya. Sehingga seluruh urusannya pun menjadi sulit. Na’udzu billah min dzalik…Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 13 Jumada Tsaniyah 1440 / 18 Februari 2019Diringkas oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari dari buku “Fiqh al-Ad’iyyah wa al-Adzkâr” karya Syaikh Prof. Dr. Abdurrazzaq al-Badr (II/260-261). Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 130: ORANG TUA SAHABAT ANAK Bagian 1Next Serial Fiqih Pendidikan Anak No 131: ORANG TUA SAHABAT ANAK Bagian 2 (Habis) Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 149: DAMPAK BURUK DOSA

DAMPAK BURUK DOSA Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 149Pada Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 129 telah dijelaskan bahwa salah satu adab penting berdoa adalah mengawalinya dengan taubat. Sebab tumpukan dosa yang menggunung adalah salah satu penghalang terbesar dikabulkannya doa.Yahya bin Mu’adz ar-Raziy rahimahullah (w. 258 H) berpetuah, “Jangan heran doamu lama terkabul. Jikalau engkau menutupi jalan terkabulnya doa dengan dosa-dosamu”.Dosa dan maksiat itu memiliki dampak buruk yang teramat banyak. Di dunia maupun di akhirat. Dampak buruk itu antara lain:Pertama: Nikmat akan dicabutNikmat yang Allah berikan kepada para hamba-Nya akan dicabut akibat dosa-dosa mereka. Lalu digantikan dengan musibah yang bertubi-tubi.Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu menjelaskan, “Musibah itu ditimpakan karena dosa. Sebaliknya musibah akan diakhiri dengan taubat”.Allah ta’ala berfirman,“ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ لَمْ يَكُ مُغَيِّرًا نِعْمَةً أَنْعَمَهَا عَلَى قَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ وَأَنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ”Artinya: “Begitulah ketentuan yang berlaku. Karena Allah tidak akan mengubah nikmat yang diberikan-Nya kepada suatu kaum, sampai mereka sendiri yang mengubahnya. Sungguh Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. QS. Al-Anfal (8): 53.Kedua: Hamba akan hina di hadapan AllahSiapapun yang hina di sisi Allah ta’ala, niscaya tidak akan ada yang bisa menjadikannya mulia. Sebagaimana telah dijelaskan dalam firman-Nya,“وَمَنْ يُهِنِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ مُكْرِمٍ”Artinya: “Barang siapa dihinakan Allah, tidak seorang pun yang akan memuliakannya”. QS. Al-Hajj (22): 18.Semakin hamba bertakwa, ia akan semakin mulia di sisi Allah. Sebaliknya, semakin banyak maksiat yang dilakukan, ia akan semakin hina di sisi Allah.Ketiga: Hamba akan diterlantarkan AllahAllah ta’ala berfirman,“يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ (18) وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ أُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ (19)”Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah. Hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat). Bertakwalah kepada Allah. Sungguh Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan. Janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah. Sehingga Allah menjadikan mereka lupa akan diri sendiri. Mereka itulah orang yang fasik”. QS. Al-Hasyr (59): 18-19.Oleh Allah ta’ala, para pendosa dibuat lupa terhadap hal-hal yang mendatangkan kebaikan dunia dan akhiratnya. Sehingga seluruh urusannya pun menjadi sulit. Na’udzu billah min dzalik…Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 13 Jumada Tsaniyah 1440 / 18 Februari 2019Diringkas oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari dari buku “Fiqh al-Ad’iyyah wa al-Adzkâr” karya Syaikh Prof. Dr. Abdurrazzaq al-Badr (II/260-261). Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 130: ORANG TUA SAHABAT ANAK Bagian 1Next Serial Fiqih Pendidikan Anak No 131: ORANG TUA SAHABAT ANAK Bagian 2 (Habis) Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
DAMPAK BURUK DOSA Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 149Pada Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 129 telah dijelaskan bahwa salah satu adab penting berdoa adalah mengawalinya dengan taubat. Sebab tumpukan dosa yang menggunung adalah salah satu penghalang terbesar dikabulkannya doa.Yahya bin Mu’adz ar-Raziy rahimahullah (w. 258 H) berpetuah, “Jangan heran doamu lama terkabul. Jikalau engkau menutupi jalan terkabulnya doa dengan dosa-dosamu”.Dosa dan maksiat itu memiliki dampak buruk yang teramat banyak. Di dunia maupun di akhirat. Dampak buruk itu antara lain:Pertama: Nikmat akan dicabutNikmat yang Allah berikan kepada para hamba-Nya akan dicabut akibat dosa-dosa mereka. Lalu digantikan dengan musibah yang bertubi-tubi.Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu menjelaskan, “Musibah itu ditimpakan karena dosa. Sebaliknya musibah akan diakhiri dengan taubat”.Allah ta’ala berfirman,“ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ لَمْ يَكُ مُغَيِّرًا نِعْمَةً أَنْعَمَهَا عَلَى قَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ وَأَنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ”Artinya: “Begitulah ketentuan yang berlaku. Karena Allah tidak akan mengubah nikmat yang diberikan-Nya kepada suatu kaum, sampai mereka sendiri yang mengubahnya. Sungguh Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. QS. Al-Anfal (8): 53.Kedua: Hamba akan hina di hadapan AllahSiapapun yang hina di sisi Allah ta’ala, niscaya tidak akan ada yang bisa menjadikannya mulia. Sebagaimana telah dijelaskan dalam firman-Nya,“وَمَنْ يُهِنِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ مُكْرِمٍ”Artinya: “Barang siapa dihinakan Allah, tidak seorang pun yang akan memuliakannya”. QS. Al-Hajj (22): 18.Semakin hamba bertakwa, ia akan semakin mulia di sisi Allah. Sebaliknya, semakin banyak maksiat yang dilakukan, ia akan semakin hina di sisi Allah.Ketiga: Hamba akan diterlantarkan AllahAllah ta’ala berfirman,“يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ (18) وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ أُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ (19)”Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah. Hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat). Bertakwalah kepada Allah. Sungguh Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan. Janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah. Sehingga Allah menjadikan mereka lupa akan diri sendiri. Mereka itulah orang yang fasik”. QS. Al-Hasyr (59): 18-19.Oleh Allah ta’ala, para pendosa dibuat lupa terhadap hal-hal yang mendatangkan kebaikan dunia dan akhiratnya. Sehingga seluruh urusannya pun menjadi sulit. Na’udzu billah min dzalik…Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 13 Jumada Tsaniyah 1440 / 18 Februari 2019Diringkas oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari dari buku “Fiqh al-Ad’iyyah wa al-Adzkâr” karya Syaikh Prof. Dr. Abdurrazzaq al-Badr (II/260-261). Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 130: ORANG TUA SAHABAT ANAK Bagian 1Next Serial Fiqih Pendidikan Anak No 131: ORANG TUA SAHABAT ANAK Bagian 2 (Habis) Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


DAMPAK BURUK DOSA Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 149Pada Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 129 telah dijelaskan bahwa salah satu adab penting berdoa adalah mengawalinya dengan taubat. Sebab tumpukan dosa yang menggunung adalah salah satu penghalang terbesar dikabulkannya doa.Yahya bin Mu’adz ar-Raziy rahimahullah (w. 258 H) berpetuah, “Jangan heran doamu lama terkabul. Jikalau engkau menutupi jalan terkabulnya doa dengan dosa-dosamu”.Dosa dan maksiat itu memiliki dampak buruk yang teramat banyak. Di dunia maupun di akhirat. Dampak buruk itu antara lain:Pertama: Nikmat akan dicabutNikmat yang Allah berikan kepada para hamba-Nya akan dicabut akibat dosa-dosa mereka. Lalu digantikan dengan musibah yang bertubi-tubi.Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu menjelaskan, “Musibah itu ditimpakan karena dosa. Sebaliknya musibah akan diakhiri dengan taubat”.Allah ta’ala berfirman,“ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ لَمْ يَكُ مُغَيِّرًا نِعْمَةً أَنْعَمَهَا عَلَى قَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ وَأَنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ”Artinya: “Begitulah ketentuan yang berlaku. Karena Allah tidak akan mengubah nikmat yang diberikan-Nya kepada suatu kaum, sampai mereka sendiri yang mengubahnya. Sungguh Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. QS. Al-Anfal (8): 53.Kedua: Hamba akan hina di hadapan AllahSiapapun yang hina di sisi Allah ta’ala, niscaya tidak akan ada yang bisa menjadikannya mulia. Sebagaimana telah dijelaskan dalam firman-Nya,“وَمَنْ يُهِنِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ مُكْرِمٍ”Artinya: “Barang siapa dihinakan Allah, tidak seorang pun yang akan memuliakannya”. QS. Al-Hajj (22): 18.Semakin hamba bertakwa, ia akan semakin mulia di sisi Allah. Sebaliknya, semakin banyak maksiat yang dilakukan, ia akan semakin hina di sisi Allah.Ketiga: Hamba akan diterlantarkan AllahAllah ta’ala berfirman,“يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ (18) وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ أُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ (19)”Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah. Hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat). Bertakwalah kepada Allah. Sungguh Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan. Janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah. Sehingga Allah menjadikan mereka lupa akan diri sendiri. Mereka itulah orang yang fasik”. QS. Al-Hasyr (59): 18-19.Oleh Allah ta’ala, para pendosa dibuat lupa terhadap hal-hal yang mendatangkan kebaikan dunia dan akhiratnya. Sehingga seluruh urusannya pun menjadi sulit. Na’udzu billah min dzalik…Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 13 Jumada Tsaniyah 1440 / 18 Februari 2019Diringkas oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari dari buku “Fiqh al-Ad’iyyah wa al-Adzkâr” karya Syaikh Prof. Dr. Abdurrazzaq al-Badr (II/260-261). Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 130: ORANG TUA SAHABAT ANAK Bagian 1Next Serial Fiqih Pendidikan Anak No 131: ORANG TUA SAHABAT ANAK Bagian 2 (Habis) Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Keistimewaan para Rasul (Bag. 2)

Pada pembahasan sebelumnya telah kami jelaskan lima poin keistimewaan para Rasul; diantaranya mendapatkan wahyu, Al-‘Ishmah, matanya tertidur namun hatinya tetap terjaga, mereka dimakamkan di tempat mereka meninggal, dan diberikan pilihan antara dunia dan akhirat ketika sakit. Silahkan simak pembahasan tersebut pada artikel Keistimewaan para Rasul (Bag. 1).Pada penjelasan selanjutnya, akan kami lanjutkan poin keenam sampai kedelapan; diantaranya, jasad para nabi tidak bisa dimakan tanah, setiap nabi memiliki haudh (telaga), dan para nabi tetap hidup di kubur mereka. Silahkan menyimak ketiga ulasan berikut.Keenam, jasad para nabi tidak bisa dimakan tanahDari sahabat Aus bin Aus Radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ مِنْ أَفْضَلِ أَيَّامِكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فَأَكْثِرُوا عَلَيَّ مِنْ الصَّلَاةِ فِيهِ فَإِنَّ صَلَاتَكُمْ مَعْرُوضَةٌ عَلَيَّ“Sesungguhnya hari Jumat adalah di antara hari-hari kalian yang terbaik. Maka perbanyaklah selawat kepadaku pada hari itu, karena sesungguhnya selawat kalian disampaikan kepadaku.”Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana selawat kami disampaikan kepadamu, sementara Anda telah meninggal?”Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ اللَّهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى حَرَّمَ عَلَى الْأَرْضِ أَجْسَادَ الْأَنْبِيَاءِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِمْ“Sesungguhnya Allah Tabaraka wa Ta’ala telah mengharamkan jasad para nabi atas tanah” (HR. Abu Dawud no. 1531 dan An-Nasa’i no. 1374, dinilai shahih oleh Al-Albani).Ketujuh, setiap nabi memiliki haudh (telaga)Dari Samurah bin Jundub Radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ لِكُلِّ نَبِيٍّ حَوْضًا وَإِنَّهُمْ يَتَبَاهَوْنَ أَيُّهُمْ أَكْثَرُ وَارِدَةً وَإِنِّي أَرْجُو أَنْ أَكُونَ أَكْثَرَهُمْ وَارِدَةً“Sesungguhnya tiap-tiap nabi itu memiliki telaga, dan sesungguhnya mereka saling membangga-banggakan telaga siapakah di antara mereka yang paling banyak pengunjungnya. Dan sesungguhnya aku berharap menjadi orang yang paling banyak pengunjungnya” (HR. Tirmidzi no. 2443).Hadis ini diperselisihkan status sahihnya. Dan di antara ulama yang menilai hadis ini hasan adalah Syaikh Ibnu Baaz dan Syaikh Al-Albani Rahimahumullah. Sehingga kita katakan bahwa nabi-nabi yang lain juga memiliki telaga. Meskipun demikian, telaga yang paling istimewa adalah telaga Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mendapatkan suplai air dari surga.Baca Juga: Kedudukan Iman kepada Para RasuKedelapan, para nabi itu tetap hidup di kubur merekaDari sahabat Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الأنبياء أحياء في قبورهم يصلون“Para Nabi itu tetap hidup di kubur-kubur mereka, mereka shalat di dalamnya” (HR. Abu Ya’ala dalam Musnad no. 3425).Dari sahabat Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَرَرْتُ عَلَى مُوسَى لَيْلَةَ أُسْرِيَ بِي عِنْدَ الْكَثِيبِ الْأَحْمَرِ وَهُوَ قَائِمٌ يُصَلِّي فِي قَبْرِهِ“Aku melewati Musa pada malam aku di isra’-kan, yaitu di samping bukit merah, beliau  sedang salat di dalam kuburnya” (HR. Muslim no. 2375).Jika telah diketahui bahwa para nabi itu tetap hidup dalam kubur mereka berdasarkan dalil wahyu (dalil naql), hal itu pun bisa dikuatkan dari sisi logika. Hal ini karena para syuhada juga hidup (di dalam kuburnya) berdasarkan dalil dari Al Quran. Sedangkan kedudukan para nabi itu lebih tinggi daripada kedudukan para syuhada (Fathul Baari, 6: 488).Meskipun demikian, tidak boleh bagi kita untuk meminta sesuatu dari mereka, meskipun mereka tetap hidup di kubur mereka. Karena hal ini tidak pernah dilakukan sama sekali oleh para salaf. Perbuatan itu termasuk sarana menuju kemusyrikan dan juga menujukan ibadah kepada mereka, selain kepada Allah Ta’ala.  Berbeda halnya meminta kepada para Nabi ketika mereka masih hidup di dunia, hal ini bukanlah sarana menuju kemusyrikan (Qa’idah Jalilah fi At-Tawassul wal Wasilah, hal. 289).Kehidupan para nabi di alam kubur adalah kehidupan di alam barzakh, yang kita tidak mengetahui bagaimanakah hakikatnya. Hal itu termasuk perkara gaib yang tidak Allah Ta’ala kabarkan kepada kita. Sehingga, kehidupan mereka di alam kubur itu berbeda dengan kehidupan mereka di alam dunia.Dalam masalah ini, terdapat sekelompok orang yang tersesat, karena mereka menyangka bahwa kehidupan para nabi di alam kubur itu sebagaimana kehidupan mereka di alam dunia. Hal ini bisa dibantah dari beberapa aspek:Pertama, seandainya para nabi itu hidup di alam kubur sebagaimana hidupnya mereka di alam dunia, maka seharusnya mereka berada di atas bumi (di atas tanah), bukan di bawahnya. Ini adalah sunnatullah yang berlaku atas makhluknya, bahwa orang hidup di dunia itu berada di atas bumi, sedangkan orang yang sudah meninggal di bawah bumi.Kedua, terjadi perselisihan pendapat di kalangan sahabat dalam beberapa masalah, demikian pula umat Islam setelah generasi sahabat. Demikian pula, berbagai bidah muncul sepeninggal beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Seandainya nabi itu hidup sebagaimana hidupnya di dunia, akan mudah bagi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk berfatwa, menjelaskan kepada umat manakah yang sunah, dan manakah yang bidah, menjelaskan pekara manakah yang halal dan manakah yang haram.Atau jika tidak demikian, maka ada kemungkinan yang lain, yaitu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mampu untuk berbicara atau tidak mampu menjawab pertanyaan. Atau Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mampu bangkit dari kuburnya. Kita berlindung kepada Allah Ta’ala dari kesesatan semacam ini.Ketiga, Allah Ta’ala mengabarkan bahwa para rasul itu manusia biasa, mereka mati sebagaimana manusia juga mati. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّكَ مَيِّتٌ وَإِنَّهُم مَّيِّتُونَ“Sesungguhnya kamu akan mati dan sesungguhnya mereka akan mati (pula)” (QS. Az-Zumar [39]: 30).Allah Ta’ala berfirman,وَمَا جَعَلْنَا لِبَشَرٍ مِّن قَبْلِكَ الْخُلْدَ أَفَإِن مِّتَّ فَهُمُ الْخَالِدُونَ“Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusia pun sebelum kamu (Muhammad). Maka jikalau kamu mati, apakah mereka akan kekal?” (QS. Al-Anbiya’ [21]: 34).Dan tidak terdapat dalil dari Al Quran dan As Sunnah bahwa mereka akan diutus kembali setelah meninggal dunia.Baca Juga:[Selesai]***@Rumah Kasongan, 17 Jumadil Ula 1442/1 Januari 2021Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.or.id Catatan kaki:Disarikan dari kitab Al-Mabaahits Al-‘Aqdiyyah Al-Muta’alliqah bil Imaan bir Rusul karya Ahmad bin Muhammad bin Ash-Shadiq An-Najar, hal. 51-54.

Keistimewaan para Rasul (Bag. 2)

Pada pembahasan sebelumnya telah kami jelaskan lima poin keistimewaan para Rasul; diantaranya mendapatkan wahyu, Al-‘Ishmah, matanya tertidur namun hatinya tetap terjaga, mereka dimakamkan di tempat mereka meninggal, dan diberikan pilihan antara dunia dan akhirat ketika sakit. Silahkan simak pembahasan tersebut pada artikel Keistimewaan para Rasul (Bag. 1).Pada penjelasan selanjutnya, akan kami lanjutkan poin keenam sampai kedelapan; diantaranya, jasad para nabi tidak bisa dimakan tanah, setiap nabi memiliki haudh (telaga), dan para nabi tetap hidup di kubur mereka. Silahkan menyimak ketiga ulasan berikut.Keenam, jasad para nabi tidak bisa dimakan tanahDari sahabat Aus bin Aus Radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ مِنْ أَفْضَلِ أَيَّامِكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فَأَكْثِرُوا عَلَيَّ مِنْ الصَّلَاةِ فِيهِ فَإِنَّ صَلَاتَكُمْ مَعْرُوضَةٌ عَلَيَّ“Sesungguhnya hari Jumat adalah di antara hari-hari kalian yang terbaik. Maka perbanyaklah selawat kepadaku pada hari itu, karena sesungguhnya selawat kalian disampaikan kepadaku.”Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana selawat kami disampaikan kepadamu, sementara Anda telah meninggal?”Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ اللَّهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى حَرَّمَ عَلَى الْأَرْضِ أَجْسَادَ الْأَنْبِيَاءِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِمْ“Sesungguhnya Allah Tabaraka wa Ta’ala telah mengharamkan jasad para nabi atas tanah” (HR. Abu Dawud no. 1531 dan An-Nasa’i no. 1374, dinilai shahih oleh Al-Albani).Ketujuh, setiap nabi memiliki haudh (telaga)Dari Samurah bin Jundub Radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ لِكُلِّ نَبِيٍّ حَوْضًا وَإِنَّهُمْ يَتَبَاهَوْنَ أَيُّهُمْ أَكْثَرُ وَارِدَةً وَإِنِّي أَرْجُو أَنْ أَكُونَ أَكْثَرَهُمْ وَارِدَةً“Sesungguhnya tiap-tiap nabi itu memiliki telaga, dan sesungguhnya mereka saling membangga-banggakan telaga siapakah di antara mereka yang paling banyak pengunjungnya. Dan sesungguhnya aku berharap menjadi orang yang paling banyak pengunjungnya” (HR. Tirmidzi no. 2443).Hadis ini diperselisihkan status sahihnya. Dan di antara ulama yang menilai hadis ini hasan adalah Syaikh Ibnu Baaz dan Syaikh Al-Albani Rahimahumullah. Sehingga kita katakan bahwa nabi-nabi yang lain juga memiliki telaga. Meskipun demikian, telaga yang paling istimewa adalah telaga Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mendapatkan suplai air dari surga.Baca Juga: Kedudukan Iman kepada Para RasuKedelapan, para nabi itu tetap hidup di kubur merekaDari sahabat Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الأنبياء أحياء في قبورهم يصلون“Para Nabi itu tetap hidup di kubur-kubur mereka, mereka shalat di dalamnya” (HR. Abu Ya’ala dalam Musnad no. 3425).Dari sahabat Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَرَرْتُ عَلَى مُوسَى لَيْلَةَ أُسْرِيَ بِي عِنْدَ الْكَثِيبِ الْأَحْمَرِ وَهُوَ قَائِمٌ يُصَلِّي فِي قَبْرِهِ“Aku melewati Musa pada malam aku di isra’-kan, yaitu di samping bukit merah, beliau  sedang salat di dalam kuburnya” (HR. Muslim no. 2375).Jika telah diketahui bahwa para nabi itu tetap hidup dalam kubur mereka berdasarkan dalil wahyu (dalil naql), hal itu pun bisa dikuatkan dari sisi logika. Hal ini karena para syuhada juga hidup (di dalam kuburnya) berdasarkan dalil dari Al Quran. Sedangkan kedudukan para nabi itu lebih tinggi daripada kedudukan para syuhada (Fathul Baari, 6: 488).Meskipun demikian, tidak boleh bagi kita untuk meminta sesuatu dari mereka, meskipun mereka tetap hidup di kubur mereka. Karena hal ini tidak pernah dilakukan sama sekali oleh para salaf. Perbuatan itu termasuk sarana menuju kemusyrikan dan juga menujukan ibadah kepada mereka, selain kepada Allah Ta’ala.  Berbeda halnya meminta kepada para Nabi ketika mereka masih hidup di dunia, hal ini bukanlah sarana menuju kemusyrikan (Qa’idah Jalilah fi At-Tawassul wal Wasilah, hal. 289).Kehidupan para nabi di alam kubur adalah kehidupan di alam barzakh, yang kita tidak mengetahui bagaimanakah hakikatnya. Hal itu termasuk perkara gaib yang tidak Allah Ta’ala kabarkan kepada kita. Sehingga, kehidupan mereka di alam kubur itu berbeda dengan kehidupan mereka di alam dunia.Dalam masalah ini, terdapat sekelompok orang yang tersesat, karena mereka menyangka bahwa kehidupan para nabi di alam kubur itu sebagaimana kehidupan mereka di alam dunia. Hal ini bisa dibantah dari beberapa aspek:Pertama, seandainya para nabi itu hidup di alam kubur sebagaimana hidupnya mereka di alam dunia, maka seharusnya mereka berada di atas bumi (di atas tanah), bukan di bawahnya. Ini adalah sunnatullah yang berlaku atas makhluknya, bahwa orang hidup di dunia itu berada di atas bumi, sedangkan orang yang sudah meninggal di bawah bumi.Kedua, terjadi perselisihan pendapat di kalangan sahabat dalam beberapa masalah, demikian pula umat Islam setelah generasi sahabat. Demikian pula, berbagai bidah muncul sepeninggal beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Seandainya nabi itu hidup sebagaimana hidupnya di dunia, akan mudah bagi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk berfatwa, menjelaskan kepada umat manakah yang sunah, dan manakah yang bidah, menjelaskan pekara manakah yang halal dan manakah yang haram.Atau jika tidak demikian, maka ada kemungkinan yang lain, yaitu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mampu untuk berbicara atau tidak mampu menjawab pertanyaan. Atau Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mampu bangkit dari kuburnya. Kita berlindung kepada Allah Ta’ala dari kesesatan semacam ini.Ketiga, Allah Ta’ala mengabarkan bahwa para rasul itu manusia biasa, mereka mati sebagaimana manusia juga mati. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّكَ مَيِّتٌ وَإِنَّهُم مَّيِّتُونَ“Sesungguhnya kamu akan mati dan sesungguhnya mereka akan mati (pula)” (QS. Az-Zumar [39]: 30).Allah Ta’ala berfirman,وَمَا جَعَلْنَا لِبَشَرٍ مِّن قَبْلِكَ الْخُلْدَ أَفَإِن مِّتَّ فَهُمُ الْخَالِدُونَ“Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusia pun sebelum kamu (Muhammad). Maka jikalau kamu mati, apakah mereka akan kekal?” (QS. Al-Anbiya’ [21]: 34).Dan tidak terdapat dalil dari Al Quran dan As Sunnah bahwa mereka akan diutus kembali setelah meninggal dunia.Baca Juga:[Selesai]***@Rumah Kasongan, 17 Jumadil Ula 1442/1 Januari 2021Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.or.id Catatan kaki:Disarikan dari kitab Al-Mabaahits Al-‘Aqdiyyah Al-Muta’alliqah bil Imaan bir Rusul karya Ahmad bin Muhammad bin Ash-Shadiq An-Najar, hal. 51-54.
Pada pembahasan sebelumnya telah kami jelaskan lima poin keistimewaan para Rasul; diantaranya mendapatkan wahyu, Al-‘Ishmah, matanya tertidur namun hatinya tetap terjaga, mereka dimakamkan di tempat mereka meninggal, dan diberikan pilihan antara dunia dan akhirat ketika sakit. Silahkan simak pembahasan tersebut pada artikel Keistimewaan para Rasul (Bag. 1).Pada penjelasan selanjutnya, akan kami lanjutkan poin keenam sampai kedelapan; diantaranya, jasad para nabi tidak bisa dimakan tanah, setiap nabi memiliki haudh (telaga), dan para nabi tetap hidup di kubur mereka. Silahkan menyimak ketiga ulasan berikut.Keenam, jasad para nabi tidak bisa dimakan tanahDari sahabat Aus bin Aus Radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ مِنْ أَفْضَلِ أَيَّامِكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فَأَكْثِرُوا عَلَيَّ مِنْ الصَّلَاةِ فِيهِ فَإِنَّ صَلَاتَكُمْ مَعْرُوضَةٌ عَلَيَّ“Sesungguhnya hari Jumat adalah di antara hari-hari kalian yang terbaik. Maka perbanyaklah selawat kepadaku pada hari itu, karena sesungguhnya selawat kalian disampaikan kepadaku.”Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana selawat kami disampaikan kepadamu, sementara Anda telah meninggal?”Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ اللَّهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى حَرَّمَ عَلَى الْأَرْضِ أَجْسَادَ الْأَنْبِيَاءِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِمْ“Sesungguhnya Allah Tabaraka wa Ta’ala telah mengharamkan jasad para nabi atas tanah” (HR. Abu Dawud no. 1531 dan An-Nasa’i no. 1374, dinilai shahih oleh Al-Albani).Ketujuh, setiap nabi memiliki haudh (telaga)Dari Samurah bin Jundub Radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ لِكُلِّ نَبِيٍّ حَوْضًا وَإِنَّهُمْ يَتَبَاهَوْنَ أَيُّهُمْ أَكْثَرُ وَارِدَةً وَإِنِّي أَرْجُو أَنْ أَكُونَ أَكْثَرَهُمْ وَارِدَةً“Sesungguhnya tiap-tiap nabi itu memiliki telaga, dan sesungguhnya mereka saling membangga-banggakan telaga siapakah di antara mereka yang paling banyak pengunjungnya. Dan sesungguhnya aku berharap menjadi orang yang paling banyak pengunjungnya” (HR. Tirmidzi no. 2443).Hadis ini diperselisihkan status sahihnya. Dan di antara ulama yang menilai hadis ini hasan adalah Syaikh Ibnu Baaz dan Syaikh Al-Albani Rahimahumullah. Sehingga kita katakan bahwa nabi-nabi yang lain juga memiliki telaga. Meskipun demikian, telaga yang paling istimewa adalah telaga Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mendapatkan suplai air dari surga.Baca Juga: Kedudukan Iman kepada Para RasuKedelapan, para nabi itu tetap hidup di kubur merekaDari sahabat Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الأنبياء أحياء في قبورهم يصلون“Para Nabi itu tetap hidup di kubur-kubur mereka, mereka shalat di dalamnya” (HR. Abu Ya’ala dalam Musnad no. 3425).Dari sahabat Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَرَرْتُ عَلَى مُوسَى لَيْلَةَ أُسْرِيَ بِي عِنْدَ الْكَثِيبِ الْأَحْمَرِ وَهُوَ قَائِمٌ يُصَلِّي فِي قَبْرِهِ“Aku melewati Musa pada malam aku di isra’-kan, yaitu di samping bukit merah, beliau  sedang salat di dalam kuburnya” (HR. Muslim no. 2375).Jika telah diketahui bahwa para nabi itu tetap hidup dalam kubur mereka berdasarkan dalil wahyu (dalil naql), hal itu pun bisa dikuatkan dari sisi logika. Hal ini karena para syuhada juga hidup (di dalam kuburnya) berdasarkan dalil dari Al Quran. Sedangkan kedudukan para nabi itu lebih tinggi daripada kedudukan para syuhada (Fathul Baari, 6: 488).Meskipun demikian, tidak boleh bagi kita untuk meminta sesuatu dari mereka, meskipun mereka tetap hidup di kubur mereka. Karena hal ini tidak pernah dilakukan sama sekali oleh para salaf. Perbuatan itu termasuk sarana menuju kemusyrikan dan juga menujukan ibadah kepada mereka, selain kepada Allah Ta’ala.  Berbeda halnya meminta kepada para Nabi ketika mereka masih hidup di dunia, hal ini bukanlah sarana menuju kemusyrikan (Qa’idah Jalilah fi At-Tawassul wal Wasilah, hal. 289).Kehidupan para nabi di alam kubur adalah kehidupan di alam barzakh, yang kita tidak mengetahui bagaimanakah hakikatnya. Hal itu termasuk perkara gaib yang tidak Allah Ta’ala kabarkan kepada kita. Sehingga, kehidupan mereka di alam kubur itu berbeda dengan kehidupan mereka di alam dunia.Dalam masalah ini, terdapat sekelompok orang yang tersesat, karena mereka menyangka bahwa kehidupan para nabi di alam kubur itu sebagaimana kehidupan mereka di alam dunia. Hal ini bisa dibantah dari beberapa aspek:Pertama, seandainya para nabi itu hidup di alam kubur sebagaimana hidupnya mereka di alam dunia, maka seharusnya mereka berada di atas bumi (di atas tanah), bukan di bawahnya. Ini adalah sunnatullah yang berlaku atas makhluknya, bahwa orang hidup di dunia itu berada di atas bumi, sedangkan orang yang sudah meninggal di bawah bumi.Kedua, terjadi perselisihan pendapat di kalangan sahabat dalam beberapa masalah, demikian pula umat Islam setelah generasi sahabat. Demikian pula, berbagai bidah muncul sepeninggal beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Seandainya nabi itu hidup sebagaimana hidupnya di dunia, akan mudah bagi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk berfatwa, menjelaskan kepada umat manakah yang sunah, dan manakah yang bidah, menjelaskan pekara manakah yang halal dan manakah yang haram.Atau jika tidak demikian, maka ada kemungkinan yang lain, yaitu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mampu untuk berbicara atau tidak mampu menjawab pertanyaan. Atau Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mampu bangkit dari kuburnya. Kita berlindung kepada Allah Ta’ala dari kesesatan semacam ini.Ketiga, Allah Ta’ala mengabarkan bahwa para rasul itu manusia biasa, mereka mati sebagaimana manusia juga mati. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّكَ مَيِّتٌ وَإِنَّهُم مَّيِّتُونَ“Sesungguhnya kamu akan mati dan sesungguhnya mereka akan mati (pula)” (QS. Az-Zumar [39]: 30).Allah Ta’ala berfirman,وَمَا جَعَلْنَا لِبَشَرٍ مِّن قَبْلِكَ الْخُلْدَ أَفَإِن مِّتَّ فَهُمُ الْخَالِدُونَ“Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusia pun sebelum kamu (Muhammad). Maka jikalau kamu mati, apakah mereka akan kekal?” (QS. Al-Anbiya’ [21]: 34).Dan tidak terdapat dalil dari Al Quran dan As Sunnah bahwa mereka akan diutus kembali setelah meninggal dunia.Baca Juga:[Selesai]***@Rumah Kasongan, 17 Jumadil Ula 1442/1 Januari 2021Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.or.id Catatan kaki:Disarikan dari kitab Al-Mabaahits Al-‘Aqdiyyah Al-Muta’alliqah bil Imaan bir Rusul karya Ahmad bin Muhammad bin Ash-Shadiq An-Najar, hal. 51-54.


Pada pembahasan sebelumnya telah kami jelaskan lima poin keistimewaan para Rasul; diantaranya mendapatkan wahyu, Al-‘Ishmah, matanya tertidur namun hatinya tetap terjaga, mereka dimakamkan di tempat mereka meninggal, dan diberikan pilihan antara dunia dan akhirat ketika sakit. Silahkan simak pembahasan tersebut pada artikel Keistimewaan para Rasul (Bag. 1).Pada penjelasan selanjutnya, akan kami lanjutkan poin keenam sampai kedelapan; diantaranya, jasad para nabi tidak bisa dimakan tanah, setiap nabi memiliki haudh (telaga), dan para nabi tetap hidup di kubur mereka. Silahkan menyimak ketiga ulasan berikut.Keenam, jasad para nabi tidak bisa dimakan tanahDari sahabat Aus bin Aus Radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ مِنْ أَفْضَلِ أَيَّامِكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فَأَكْثِرُوا عَلَيَّ مِنْ الصَّلَاةِ فِيهِ فَإِنَّ صَلَاتَكُمْ مَعْرُوضَةٌ عَلَيَّ“Sesungguhnya hari Jumat adalah di antara hari-hari kalian yang terbaik. Maka perbanyaklah selawat kepadaku pada hari itu, karena sesungguhnya selawat kalian disampaikan kepadaku.”Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana selawat kami disampaikan kepadamu, sementara Anda telah meninggal?”Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ اللَّهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى حَرَّمَ عَلَى الْأَرْضِ أَجْسَادَ الْأَنْبِيَاءِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِمْ“Sesungguhnya Allah Tabaraka wa Ta’ala telah mengharamkan jasad para nabi atas tanah” (HR. Abu Dawud no. 1531 dan An-Nasa’i no. 1374, dinilai shahih oleh Al-Albani).Ketujuh, setiap nabi memiliki haudh (telaga)Dari Samurah bin Jundub Radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ لِكُلِّ نَبِيٍّ حَوْضًا وَإِنَّهُمْ يَتَبَاهَوْنَ أَيُّهُمْ أَكْثَرُ وَارِدَةً وَإِنِّي أَرْجُو أَنْ أَكُونَ أَكْثَرَهُمْ وَارِدَةً“Sesungguhnya tiap-tiap nabi itu memiliki telaga, dan sesungguhnya mereka saling membangga-banggakan telaga siapakah di antara mereka yang paling banyak pengunjungnya. Dan sesungguhnya aku berharap menjadi orang yang paling banyak pengunjungnya” (HR. Tirmidzi no. 2443).Hadis ini diperselisihkan status sahihnya. Dan di antara ulama yang menilai hadis ini hasan adalah Syaikh Ibnu Baaz dan Syaikh Al-Albani Rahimahumullah. Sehingga kita katakan bahwa nabi-nabi yang lain juga memiliki telaga. Meskipun demikian, telaga yang paling istimewa adalah telaga Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mendapatkan suplai air dari surga.Baca Juga: Kedudukan Iman kepada Para RasuKedelapan, para nabi itu tetap hidup di kubur merekaDari sahabat Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الأنبياء أحياء في قبورهم يصلون“Para Nabi itu tetap hidup di kubur-kubur mereka, mereka shalat di dalamnya” (HR. Abu Ya’ala dalam Musnad no. 3425).Dari sahabat Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَرَرْتُ عَلَى مُوسَى لَيْلَةَ أُسْرِيَ بِي عِنْدَ الْكَثِيبِ الْأَحْمَرِ وَهُوَ قَائِمٌ يُصَلِّي فِي قَبْرِهِ“Aku melewati Musa pada malam aku di isra’-kan, yaitu di samping bukit merah, beliau  sedang salat di dalam kuburnya” (HR. Muslim no. 2375).Jika telah diketahui bahwa para nabi itu tetap hidup dalam kubur mereka berdasarkan dalil wahyu (dalil naql), hal itu pun bisa dikuatkan dari sisi logika. Hal ini karena para syuhada juga hidup (di dalam kuburnya) berdasarkan dalil dari Al Quran. Sedangkan kedudukan para nabi itu lebih tinggi daripada kedudukan para syuhada (Fathul Baari, 6: 488).Meskipun demikian, tidak boleh bagi kita untuk meminta sesuatu dari mereka, meskipun mereka tetap hidup di kubur mereka. Karena hal ini tidak pernah dilakukan sama sekali oleh para salaf. Perbuatan itu termasuk sarana menuju kemusyrikan dan juga menujukan ibadah kepada mereka, selain kepada Allah Ta’ala.  Berbeda halnya meminta kepada para Nabi ketika mereka masih hidup di dunia, hal ini bukanlah sarana menuju kemusyrikan (Qa’idah Jalilah fi At-Tawassul wal Wasilah, hal. 289).Kehidupan para nabi di alam kubur adalah kehidupan di alam barzakh, yang kita tidak mengetahui bagaimanakah hakikatnya. Hal itu termasuk perkara gaib yang tidak Allah Ta’ala kabarkan kepada kita. Sehingga, kehidupan mereka di alam kubur itu berbeda dengan kehidupan mereka di alam dunia.Dalam masalah ini, terdapat sekelompok orang yang tersesat, karena mereka menyangka bahwa kehidupan para nabi di alam kubur itu sebagaimana kehidupan mereka di alam dunia. Hal ini bisa dibantah dari beberapa aspek:Pertama, seandainya para nabi itu hidup di alam kubur sebagaimana hidupnya mereka di alam dunia, maka seharusnya mereka berada di atas bumi (di atas tanah), bukan di bawahnya. Ini adalah sunnatullah yang berlaku atas makhluknya, bahwa orang hidup di dunia itu berada di atas bumi, sedangkan orang yang sudah meninggal di bawah bumi.Kedua, terjadi perselisihan pendapat di kalangan sahabat dalam beberapa masalah, demikian pula umat Islam setelah generasi sahabat. Demikian pula, berbagai bidah muncul sepeninggal beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Seandainya nabi itu hidup sebagaimana hidupnya di dunia, akan mudah bagi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk berfatwa, menjelaskan kepada umat manakah yang sunah, dan manakah yang bidah, menjelaskan pekara manakah yang halal dan manakah yang haram.Atau jika tidak demikian, maka ada kemungkinan yang lain, yaitu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mampu untuk berbicara atau tidak mampu menjawab pertanyaan. Atau Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mampu bangkit dari kuburnya. Kita berlindung kepada Allah Ta’ala dari kesesatan semacam ini.Ketiga, Allah Ta’ala mengabarkan bahwa para rasul itu manusia biasa, mereka mati sebagaimana manusia juga mati. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّكَ مَيِّتٌ وَإِنَّهُم مَّيِّتُونَ“Sesungguhnya kamu akan mati dan sesungguhnya mereka akan mati (pula)” (QS. Az-Zumar [39]: 30).Allah Ta’ala berfirman,وَمَا جَعَلْنَا لِبَشَرٍ مِّن قَبْلِكَ الْخُلْدَ أَفَإِن مِّتَّ فَهُمُ الْخَالِدُونَ“Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusia pun sebelum kamu (Muhammad). Maka jikalau kamu mati, apakah mereka akan kekal?” (QS. Al-Anbiya’ [21]: 34).Dan tidak terdapat dalil dari Al Quran dan As Sunnah bahwa mereka akan diutus kembali setelah meninggal dunia.Baca Juga:[Selesai]***@Rumah Kasongan, 17 Jumadil Ula 1442/1 Januari 2021Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.or.id Catatan kaki:Disarikan dari kitab Al-Mabaahits Al-‘Aqdiyyah Al-Muta’alliqah bil Imaan bir Rusul karya Ahmad bin Muhammad bin Ash-Shadiq An-Najar, hal. 51-54.

Tidak Ada Perintah dari Al-Qur’an dan As-Sunnah untuk Berpecah Belah dan Berkelompok-Kelompok

Penjelasan Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullahPertanyaan:Adakah nash (dalil) dari Kitabullah dan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menunjukkan bolehnya berpecah belah dalam berbagai kelompok (jamaah) Islam?Jawaban:Tidak ada di dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah dalil yang membolehkan berbilangnya jamaah dan kelompok (hizb). Bahkan yang ada dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah adalah dalil yang mencelanya. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا لَسْتَ مِنْهُمْ فِي شَيْءٍ إِنَّمَا أَمْرُهُمْ إِلَى اللَّهِ ثُمَّ يُنَبِّئُهُمْ بِمَا كَانُوا يَفْعَلُونَ“Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agama-Nya dan mereka menjadi bergolong-golongan, tidak ada sedikit pun tanggung jawabmu kepada mereka. Sesungguhnya urusan mereka hanyalah terserah kepada Allah. Kemudian Allah akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat.” (QS. Al-An’am [6]: 159)مِنَ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ“Yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.” (QS. Ar-Ruum [30]: 32) Tidak diragukan lagi bahwa kelompok-kelompok ini menafikan (menihilkan) perintah Allah Ta’ala dan bahkan bertentang dengan apa yang dimotivasi oleh Allah Ta’ala dalam firman-Nya,وَإِنَّ هَذِهِ أُمَّتُكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَأَنَا رَبُّكُمْ فَاتَّقُونِ“Sesungguhnya (agama tauhid) ini, adalah agama kamu semua, agama yang satu, dan Aku adalah Tuhanmu, maka bertakwalah kepada-Ku.” (QS. Al-Mu’minuun [23]: 52)Lebih-lebih ketikakalau kita melihat dampak dan pengaruh dari perpecahan dan kelompok-kelompok tersebut ketika masing-masing kelompok menghina, mencela, dan mem-fasik-kan kelompok lainnya, dan terkadang lebih parah dari itu. Oleh karena itu, aku berpendapat bahwa kelompok-kelompok tersebut adalah sebuah kesalahan.Sebagian mereka berkata bahwa tidak mungkin bagi dakwah ini untuk kuat dan tersebar kecuali dengan adanya kelompok-kelompok tersebut?Kami katakan, perkataan tersebut tidaklah benar. Bahkan dakwah tersebut bisa kuat dan tersebar kalau seseorang itu semakin berpegang teguh dengan kitabullah dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan semakin mengikuti tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (ittiba’) dan khulafaur rasyidin.Baca Juga:[Selesai]***@Rumah Lendah, 1 Syawal 1441/ 24 Mei 2020Penerjemah: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.or.idCatatan kaki:Diterjemahkan dari kitab Ash-Shahwah Al-Islamiyyah: Dzawabith wa Taujihaat hal. 131, karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullahu Ta’ala.🔍 Dalil Tentang Takdir, Dalil Doa Iftitah, Jihad Dalam Pandangan Islam, Hukum Makan Ular, Download Ceramah Islam

Tidak Ada Perintah dari Al-Qur’an dan As-Sunnah untuk Berpecah Belah dan Berkelompok-Kelompok

Penjelasan Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullahPertanyaan:Adakah nash (dalil) dari Kitabullah dan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menunjukkan bolehnya berpecah belah dalam berbagai kelompok (jamaah) Islam?Jawaban:Tidak ada di dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah dalil yang membolehkan berbilangnya jamaah dan kelompok (hizb). Bahkan yang ada dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah adalah dalil yang mencelanya. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا لَسْتَ مِنْهُمْ فِي شَيْءٍ إِنَّمَا أَمْرُهُمْ إِلَى اللَّهِ ثُمَّ يُنَبِّئُهُمْ بِمَا كَانُوا يَفْعَلُونَ“Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agama-Nya dan mereka menjadi bergolong-golongan, tidak ada sedikit pun tanggung jawabmu kepada mereka. Sesungguhnya urusan mereka hanyalah terserah kepada Allah. Kemudian Allah akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat.” (QS. Al-An’am [6]: 159)مِنَ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ“Yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.” (QS. Ar-Ruum [30]: 32) Tidak diragukan lagi bahwa kelompok-kelompok ini menafikan (menihilkan) perintah Allah Ta’ala dan bahkan bertentang dengan apa yang dimotivasi oleh Allah Ta’ala dalam firman-Nya,وَإِنَّ هَذِهِ أُمَّتُكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَأَنَا رَبُّكُمْ فَاتَّقُونِ“Sesungguhnya (agama tauhid) ini, adalah agama kamu semua, agama yang satu, dan Aku adalah Tuhanmu, maka bertakwalah kepada-Ku.” (QS. Al-Mu’minuun [23]: 52)Lebih-lebih ketikakalau kita melihat dampak dan pengaruh dari perpecahan dan kelompok-kelompok tersebut ketika masing-masing kelompok menghina, mencela, dan mem-fasik-kan kelompok lainnya, dan terkadang lebih parah dari itu. Oleh karena itu, aku berpendapat bahwa kelompok-kelompok tersebut adalah sebuah kesalahan.Sebagian mereka berkata bahwa tidak mungkin bagi dakwah ini untuk kuat dan tersebar kecuali dengan adanya kelompok-kelompok tersebut?Kami katakan, perkataan tersebut tidaklah benar. Bahkan dakwah tersebut bisa kuat dan tersebar kalau seseorang itu semakin berpegang teguh dengan kitabullah dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan semakin mengikuti tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (ittiba’) dan khulafaur rasyidin.Baca Juga:[Selesai]***@Rumah Lendah, 1 Syawal 1441/ 24 Mei 2020Penerjemah: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.or.idCatatan kaki:Diterjemahkan dari kitab Ash-Shahwah Al-Islamiyyah: Dzawabith wa Taujihaat hal. 131, karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullahu Ta’ala.🔍 Dalil Tentang Takdir, Dalil Doa Iftitah, Jihad Dalam Pandangan Islam, Hukum Makan Ular, Download Ceramah Islam
Penjelasan Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullahPertanyaan:Adakah nash (dalil) dari Kitabullah dan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menunjukkan bolehnya berpecah belah dalam berbagai kelompok (jamaah) Islam?Jawaban:Tidak ada di dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah dalil yang membolehkan berbilangnya jamaah dan kelompok (hizb). Bahkan yang ada dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah adalah dalil yang mencelanya. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا لَسْتَ مِنْهُمْ فِي شَيْءٍ إِنَّمَا أَمْرُهُمْ إِلَى اللَّهِ ثُمَّ يُنَبِّئُهُمْ بِمَا كَانُوا يَفْعَلُونَ“Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agama-Nya dan mereka menjadi bergolong-golongan, tidak ada sedikit pun tanggung jawabmu kepada mereka. Sesungguhnya urusan mereka hanyalah terserah kepada Allah. Kemudian Allah akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat.” (QS. Al-An’am [6]: 159)مِنَ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ“Yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.” (QS. Ar-Ruum [30]: 32) Tidak diragukan lagi bahwa kelompok-kelompok ini menafikan (menihilkan) perintah Allah Ta’ala dan bahkan bertentang dengan apa yang dimotivasi oleh Allah Ta’ala dalam firman-Nya,وَإِنَّ هَذِهِ أُمَّتُكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَأَنَا رَبُّكُمْ فَاتَّقُونِ“Sesungguhnya (agama tauhid) ini, adalah agama kamu semua, agama yang satu, dan Aku adalah Tuhanmu, maka bertakwalah kepada-Ku.” (QS. Al-Mu’minuun [23]: 52)Lebih-lebih ketikakalau kita melihat dampak dan pengaruh dari perpecahan dan kelompok-kelompok tersebut ketika masing-masing kelompok menghina, mencela, dan mem-fasik-kan kelompok lainnya, dan terkadang lebih parah dari itu. Oleh karena itu, aku berpendapat bahwa kelompok-kelompok tersebut adalah sebuah kesalahan.Sebagian mereka berkata bahwa tidak mungkin bagi dakwah ini untuk kuat dan tersebar kecuali dengan adanya kelompok-kelompok tersebut?Kami katakan, perkataan tersebut tidaklah benar. Bahkan dakwah tersebut bisa kuat dan tersebar kalau seseorang itu semakin berpegang teguh dengan kitabullah dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan semakin mengikuti tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (ittiba’) dan khulafaur rasyidin.Baca Juga:[Selesai]***@Rumah Lendah, 1 Syawal 1441/ 24 Mei 2020Penerjemah: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.or.idCatatan kaki:Diterjemahkan dari kitab Ash-Shahwah Al-Islamiyyah: Dzawabith wa Taujihaat hal. 131, karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullahu Ta’ala.🔍 Dalil Tentang Takdir, Dalil Doa Iftitah, Jihad Dalam Pandangan Islam, Hukum Makan Ular, Download Ceramah Islam


Penjelasan Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullahPertanyaan:Adakah nash (dalil) dari Kitabullah dan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menunjukkan bolehnya berpecah belah dalam berbagai kelompok (jamaah) Islam?Jawaban:Tidak ada di dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah dalil yang membolehkan berbilangnya jamaah dan kelompok (hizb). Bahkan yang ada dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah adalah dalil yang mencelanya. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا لَسْتَ مِنْهُمْ فِي شَيْءٍ إِنَّمَا أَمْرُهُمْ إِلَى اللَّهِ ثُمَّ يُنَبِّئُهُمْ بِمَا كَانُوا يَفْعَلُونَ“Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agama-Nya dan mereka menjadi bergolong-golongan, tidak ada sedikit pun tanggung jawabmu kepada mereka. Sesungguhnya urusan mereka hanyalah terserah kepada Allah. Kemudian Allah akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat.” (QS. Al-An’am [6]: 159)مِنَ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ“Yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.” (QS. Ar-Ruum [30]: 32) Tidak diragukan lagi bahwa kelompok-kelompok ini menafikan (menihilkan) perintah Allah Ta’ala dan bahkan bertentang dengan apa yang dimotivasi oleh Allah Ta’ala dalam firman-Nya,وَإِنَّ هَذِهِ أُمَّتُكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَأَنَا رَبُّكُمْ فَاتَّقُونِ“Sesungguhnya (agama tauhid) ini, adalah agama kamu semua, agama yang satu, dan Aku adalah Tuhanmu, maka bertakwalah kepada-Ku.” (QS. Al-Mu’minuun [23]: 52)Lebih-lebih ketikakalau kita melihat dampak dan pengaruh dari perpecahan dan kelompok-kelompok tersebut ketika masing-masing kelompok menghina, mencela, dan mem-fasik-kan kelompok lainnya, dan terkadang lebih parah dari itu. Oleh karena itu, aku berpendapat bahwa kelompok-kelompok tersebut adalah sebuah kesalahan.Sebagian mereka berkata bahwa tidak mungkin bagi dakwah ini untuk kuat dan tersebar kecuali dengan adanya kelompok-kelompok tersebut?Kami katakan, perkataan tersebut tidaklah benar. Bahkan dakwah tersebut bisa kuat dan tersebar kalau seseorang itu semakin berpegang teguh dengan kitabullah dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan semakin mengikuti tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (ittiba’) dan khulafaur rasyidin.Baca Juga:[Selesai]***@Rumah Lendah, 1 Syawal 1441/ 24 Mei 2020Penerjemah: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.or.idCatatan kaki:Diterjemahkan dari kitab Ash-Shahwah Al-Islamiyyah: Dzawabith wa Taujihaat hal. 131, karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullahu Ta’ala.🔍 Dalil Tentang Takdir, Dalil Doa Iftitah, Jihad Dalam Pandangan Islam, Hukum Makan Ular, Download Ceramah Islam

Apakah Syirik Kecil Lebih Dahsyat dari Dosa Besar?

Syirik adalah menyamakan antara selain Allah dengan Allah ta’ala dalam perkara yang termasuk kategori kekhususan yang hanya dimiliki oleh Allah ta’ala saja (Baca selengkapnya artikel “Awas Syirik”)Dosa syirik kecil lebih dahsyat daripada dosa besarSejumlah perkataan ulama menyatakan bahwa dosa syirik kecil lebih dahsyat daripada dosa kemaksiatan yang tercakup dalam dosa-dosa besar (al-kabaair). Di antara perkataan itu adalah: Perkataan Ibnu al-Qayyim rahimahullah ketika menjelaskan perihal dosa bersumpah atas nama selain Allah yang merupakan syirik kecil, beliau menuturkan, وصاحب الشرع يجعله شركاً فرتبته فوق رتبة الكبائر“Allah Ta’ala menyatakan bahwa bersumpah atas nama selain Allah adalah kesyirikan, sehingga tingkatannya melampaui tingkatan dosa-dosa besar.” [I’lam al-Muwaqqi’in 6/572] Perkataan Syaikh Sulaiman bin Abdillah Alu asy-Syaikh rahimahullah ketika mengomentari atsar yang menyatakan bahwa Ibnu Mas’ud lebih memilih bersumpah dusta dengan menyebut nama Allah daripada bersumpah jujur tapi dengan menyebut nama selain Allah. Beliau menyatakan, وفيه دليل على أن الشرك الأصغر أكبر من الكبائر“Dalam atsar ini terdapat dalil bahwa tingkatan syirik kecil lebih parah daripada dosa-dosa besar.” Perkataan Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alu asy-Syaikh ketika menyebutkan bahwa salah satu contoh syirik kecil adalah memberikan putusan hukum pada suatu kasus berdasarkan hawa nafsu dengan tetap meyakini kebenaran hukum Allah dan Rasul-Nya. Beliau berkata, وهذا وإن لم يخرجه كفره عن الملة، فإنه معصية عظمى أكبر من الكبائر “Perbuatan ini meski kekufurannya tidak mengeluarkan pelaku dari agama Islam, tapi ia adalah kemaksiatan yang sangat besar yang melebihi perbuatan dosa besar.” [Tahkim al-Qawanin hlm. 8] Baca Juga: Kaidah Dosa Besar dan Dosa KecilMengapa tingkatan dosa syirik kecil dianggap lebih tinggi? Mungkin ada yang bertanya, mengapa tingkatan dosa syirik kecil dinilai oleh sebagian ulama lebih tinggi daripada dosa besar, padahal bukankah syirik besar juga merupakan dosa besar, bahkan dosa besar yang paling besar?Perlu diketahui bahwa dosa besar itu sendiri terbagi ke dalam dua jenis, yaitu (a) dosa besar yang terkait dengan keyakinan syirik kepada selain Allah sehingga melahirkan aktivitas amal ibadah dan (b) dosa besar berupa aktivitas yang tidak diiringi keyakinan kepada selain Allah.Dosa besar jenis pertama seperti aktivitas beristighatsah kepada selain Allah; menyembelih atau berkurban (memberi sesajen) kepada selain Allah, bernadzar kepada selain Allah, dan semacamnya. Aktivitas fisik ini merupakan dosa besar yang diiringi suatu keyakinan yang menjadikannya tergolong sebagai syirik akbar karena telah memalingkan ibadah kepada selain Allah. Kesyirikan dilakukan karena terdapat pengagungan kepada makhluk sehingga menjadikannya saingan bagi Allah dan dianggap layak diibadahi, entah dijadikan tujuan atau perantara.Adapun dosa jenis kedua adalah aktivitas dosa besar yang tidak diiringi keyakinan kepada selain Allah seperti berzina, meminum khamr, mencuri, memakan riba, memakan harta anak yatim, melarikan diri dari perang, dan dosa besar yang lain.Pada jenis yang kedua inilah dikatakan bahwa syirik kecil memiliki tingkatan dosa yang lebih tinggi daripada dosa besar. Dengan demikian, syirik kecil meski berupa perkataan seperti ucapan “terserah Allah dan terserah kamu”; bersumpah dengan menyebut nama selain Allah; menisbatkan nikmat kepada selain Allah; mengikatkan jimat; atau yang semisalnya, dari segi jenis memiliki tingkatan dosa yang lebih tinggi  daripada dosa besar jenis kedua tadi, yaitu dosa besar yang tidak diiringi keyakinan syirik kepada selain Allah. Mengapa demikian? Hal ini dikarenakan pada dosa besar seperti berzina, mencuri, meminum khamr tidak terjadi prasangka buruk kepada Allah atau pemalingan ibadah kepada selain-Nya. Faktor yang memotivasi semata-mata adalah mengikuti syahwat. Berbeda halnya dengan syirik kecil, dimana dalam aktivitas tersebut terdapat unsur menjadikan makhluk sebagai saingan dan tandingan Allah ta’ala. Telah diketahui bersama bahwa dosa terbesar adalah ketika seseorang mengada-adakan saingan bagi Allah ta’ala padahal Dia-lah yang telah menciptakannya. [at-Tamhid li Syarh Kitab at-Tauhid 2/359-360]Baca Juga: Sebab-Sebab Yang Menjadikan Dosa Kecil Dihukumi Sebagai Dosa BesarTapi, apakah hal ini berlaku mutlak? Syaikh Dr. Abdurrahman bin Nashir al-Barrak hafizhahullah mengatakan,“والظاهر أيضًا: أنّ قول السّلف “الشرك الأصغر أكبر من الكبائر” يعني مما هو من جنسه كالحلفِ، فالحلفُ بغير الله أكبر مِن الحلف بالله كذبًا كما في أثر ابن مسعود، وجنس الشّرك أكبر مِن جنس الكبائر، ولا يلزم مِن ذلك أن يكون كلما قيل: إنّه شرك أصغر يكون أكبر مِن كلّ الكبائر، ففي الكبائر ما جاء فيه مِن التغليظ، والوعيد الشّديد ما لم يأت مثلُه في بعض أنواع الشرك الأصغر، كما تقدم في قول الرجل: ما شاء الله وشئت. والله أعلم”“Apa yang nampak dari ucapan Salaf bahwa syirik kecil memiliki tingkatan dosa yang lebih tinggi daripada dosa besar,  yaitu berlaku pada dosa besar yang sejenis dengan syirik kecil tersebut. Hal ini seperti perbuatan bersumpah dengan menyebut nama selain Allah yang tingkatan dosanya lebih besar daripada bersumpah dusta dengan menyebut nama Allah sebagaimana yang disebutkan dalam atsar Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu. Jenis syirik besar juga termasuk dalam dosa besar, sehingga bukan berarti setiap kali suatu perbuatan dikategorikan sebagai syirik kecil lantas perbuatan itu memiliki tingkatan dosa yang lebih tinggi dari seluruh dosa besar. Sebagian dosa besar justru ditegur dan diancam dengan ancaman yang sangat keras, sementara ancaman yang serupa tidak dinyatakan untuk sebagian syirik kecil seperti yang telah dijelaskan sebelumnya terkait ucapan seseorang “terserah Allah dan terserah kamu.” [الشرك الأصغر والأكبر, diakses dari: https://sh-albarrak.com/article/383]Contoh lain akan hal ini adalah perbandingan antara seorang yang bersumpah dengan menyebut nama orang tua karena saking hormat dengan mereka dan seorang yang membunuh orang tua dengan sengaja. Perbuatan pertama adalah syirik kecil, sedangkan perbuatan kedua adalah dosa besar. Apakah akan dikatakan bahwa dosa perbuatan pertama lebih besar daripada perbuatan kedua, karena status perbuatan pertama adalah syirik kecil? Perbuatan pertama lebih besar dosanya karena telah menciderai akidah, sedangkan yang kedua tidak?Apabila kita menyetujui hal itu, maka konsekuensinya adalah tingkatan dosa segala bentuk syirik kecil melebihi dosa besar. Padahal kita tahu ada perbedaan yang nyata antara sikap yang ditunjukkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada orang yang bersumpah dengan menyebut nama selain Allah dan sikap beliau kepada orang yang membunuh orang lain yang telah mengucapkan kalimat tauhid meski di bawah ancaman pedang. Teguran beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih keras terhadap pelaku perbuatan kedua daripada pelaku perbuatan pertama. Bukti yang menunjukkan bahwa perbuatan kedua meskipun berstatus dosa besar, tapi memiliki tingkatan dosa yang lebih tinggi daripada perbuatan pertama yang berstatus syirik kecil.Baca Juga: Pungutan Liar Termasuk Dosa BesarKesimpulanTibalah kesimpulan dari uraian di atas yang dirangkum dalam beberapa poin sebagai berikut: Terdapat ucapan sebagian Salaf yang menyatakan bahwa syirik kecil memiliki tingkatan dosa yang lebih tinggi daripada dosa besar. Ucapan itu dilatarbelakangi oleh penilaian bahwa dalam perbuatan syirik kecil terdapat unsur pemalingan ibadah kepada selain Allah, pengadaan saingan dan tandingan bagi-Nya, yang tidak ditemui pada kemaksiatan yang tergolong dosa besar. Dosa besar itu sendiri terbagi dua, yaitu (a) dosa besar yang bersumber dari keyakinan kepada selain Allah sehingga melahirkan amal berupa syirik besar; (b) dosa besar berupa aktivitas yang nihil dari keyakinan kepada selain Allah. ucapan sebagian Salaf pada poin (1) berlaku pada dosa besar jenis kedua (poin b). Ucapan sebagian Salaf di atas tidak berlaku mutlak. Artinya dengan tetap melihat kasus per kasus, terdapat kemaksiatan yang tergolong sebagai dosa besar yang secara nyata memiliki tingkatan dosa yang lebih tinggi daripada dosa syirik kecil. Contohnya adalah dosa membunuh seorang muslim dengan sengaja lebih besar daripada dosa bersumpah dengan menyebut nama selain Allah. Demikianlah yang bisa disampaikan. Semoga bermanfaat.Baca Juga:[Selesai]Penulis: Muhammad Nur Ichwan Muslim, ST.Artikel:Muslim.or.id 

Apakah Syirik Kecil Lebih Dahsyat dari Dosa Besar?

Syirik adalah menyamakan antara selain Allah dengan Allah ta’ala dalam perkara yang termasuk kategori kekhususan yang hanya dimiliki oleh Allah ta’ala saja (Baca selengkapnya artikel “Awas Syirik”)Dosa syirik kecil lebih dahsyat daripada dosa besarSejumlah perkataan ulama menyatakan bahwa dosa syirik kecil lebih dahsyat daripada dosa kemaksiatan yang tercakup dalam dosa-dosa besar (al-kabaair). Di antara perkataan itu adalah: Perkataan Ibnu al-Qayyim rahimahullah ketika menjelaskan perihal dosa bersumpah atas nama selain Allah yang merupakan syirik kecil, beliau menuturkan, وصاحب الشرع يجعله شركاً فرتبته فوق رتبة الكبائر“Allah Ta’ala menyatakan bahwa bersumpah atas nama selain Allah adalah kesyirikan, sehingga tingkatannya melampaui tingkatan dosa-dosa besar.” [I’lam al-Muwaqqi’in 6/572] Perkataan Syaikh Sulaiman bin Abdillah Alu asy-Syaikh rahimahullah ketika mengomentari atsar yang menyatakan bahwa Ibnu Mas’ud lebih memilih bersumpah dusta dengan menyebut nama Allah daripada bersumpah jujur tapi dengan menyebut nama selain Allah. Beliau menyatakan, وفيه دليل على أن الشرك الأصغر أكبر من الكبائر“Dalam atsar ini terdapat dalil bahwa tingkatan syirik kecil lebih parah daripada dosa-dosa besar.” Perkataan Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alu asy-Syaikh ketika menyebutkan bahwa salah satu contoh syirik kecil adalah memberikan putusan hukum pada suatu kasus berdasarkan hawa nafsu dengan tetap meyakini kebenaran hukum Allah dan Rasul-Nya. Beliau berkata, وهذا وإن لم يخرجه كفره عن الملة، فإنه معصية عظمى أكبر من الكبائر “Perbuatan ini meski kekufurannya tidak mengeluarkan pelaku dari agama Islam, tapi ia adalah kemaksiatan yang sangat besar yang melebihi perbuatan dosa besar.” [Tahkim al-Qawanin hlm. 8] Baca Juga: Kaidah Dosa Besar dan Dosa KecilMengapa tingkatan dosa syirik kecil dianggap lebih tinggi? Mungkin ada yang bertanya, mengapa tingkatan dosa syirik kecil dinilai oleh sebagian ulama lebih tinggi daripada dosa besar, padahal bukankah syirik besar juga merupakan dosa besar, bahkan dosa besar yang paling besar?Perlu diketahui bahwa dosa besar itu sendiri terbagi ke dalam dua jenis, yaitu (a) dosa besar yang terkait dengan keyakinan syirik kepada selain Allah sehingga melahirkan aktivitas amal ibadah dan (b) dosa besar berupa aktivitas yang tidak diiringi keyakinan kepada selain Allah.Dosa besar jenis pertama seperti aktivitas beristighatsah kepada selain Allah; menyembelih atau berkurban (memberi sesajen) kepada selain Allah, bernadzar kepada selain Allah, dan semacamnya. Aktivitas fisik ini merupakan dosa besar yang diiringi suatu keyakinan yang menjadikannya tergolong sebagai syirik akbar karena telah memalingkan ibadah kepada selain Allah. Kesyirikan dilakukan karena terdapat pengagungan kepada makhluk sehingga menjadikannya saingan bagi Allah dan dianggap layak diibadahi, entah dijadikan tujuan atau perantara.Adapun dosa jenis kedua adalah aktivitas dosa besar yang tidak diiringi keyakinan kepada selain Allah seperti berzina, meminum khamr, mencuri, memakan riba, memakan harta anak yatim, melarikan diri dari perang, dan dosa besar yang lain.Pada jenis yang kedua inilah dikatakan bahwa syirik kecil memiliki tingkatan dosa yang lebih tinggi daripada dosa besar. Dengan demikian, syirik kecil meski berupa perkataan seperti ucapan “terserah Allah dan terserah kamu”; bersumpah dengan menyebut nama selain Allah; menisbatkan nikmat kepada selain Allah; mengikatkan jimat; atau yang semisalnya, dari segi jenis memiliki tingkatan dosa yang lebih tinggi  daripada dosa besar jenis kedua tadi, yaitu dosa besar yang tidak diiringi keyakinan syirik kepada selain Allah. Mengapa demikian? Hal ini dikarenakan pada dosa besar seperti berzina, mencuri, meminum khamr tidak terjadi prasangka buruk kepada Allah atau pemalingan ibadah kepada selain-Nya. Faktor yang memotivasi semata-mata adalah mengikuti syahwat. Berbeda halnya dengan syirik kecil, dimana dalam aktivitas tersebut terdapat unsur menjadikan makhluk sebagai saingan dan tandingan Allah ta’ala. Telah diketahui bersama bahwa dosa terbesar adalah ketika seseorang mengada-adakan saingan bagi Allah ta’ala padahal Dia-lah yang telah menciptakannya. [at-Tamhid li Syarh Kitab at-Tauhid 2/359-360]Baca Juga: Sebab-Sebab Yang Menjadikan Dosa Kecil Dihukumi Sebagai Dosa BesarTapi, apakah hal ini berlaku mutlak? Syaikh Dr. Abdurrahman bin Nashir al-Barrak hafizhahullah mengatakan,“والظاهر أيضًا: أنّ قول السّلف “الشرك الأصغر أكبر من الكبائر” يعني مما هو من جنسه كالحلفِ، فالحلفُ بغير الله أكبر مِن الحلف بالله كذبًا كما في أثر ابن مسعود، وجنس الشّرك أكبر مِن جنس الكبائر، ولا يلزم مِن ذلك أن يكون كلما قيل: إنّه شرك أصغر يكون أكبر مِن كلّ الكبائر، ففي الكبائر ما جاء فيه مِن التغليظ، والوعيد الشّديد ما لم يأت مثلُه في بعض أنواع الشرك الأصغر، كما تقدم في قول الرجل: ما شاء الله وشئت. والله أعلم”“Apa yang nampak dari ucapan Salaf bahwa syirik kecil memiliki tingkatan dosa yang lebih tinggi daripada dosa besar,  yaitu berlaku pada dosa besar yang sejenis dengan syirik kecil tersebut. Hal ini seperti perbuatan bersumpah dengan menyebut nama selain Allah yang tingkatan dosanya lebih besar daripada bersumpah dusta dengan menyebut nama Allah sebagaimana yang disebutkan dalam atsar Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu. Jenis syirik besar juga termasuk dalam dosa besar, sehingga bukan berarti setiap kali suatu perbuatan dikategorikan sebagai syirik kecil lantas perbuatan itu memiliki tingkatan dosa yang lebih tinggi dari seluruh dosa besar. Sebagian dosa besar justru ditegur dan diancam dengan ancaman yang sangat keras, sementara ancaman yang serupa tidak dinyatakan untuk sebagian syirik kecil seperti yang telah dijelaskan sebelumnya terkait ucapan seseorang “terserah Allah dan terserah kamu.” [الشرك الأصغر والأكبر, diakses dari: https://sh-albarrak.com/article/383]Contoh lain akan hal ini adalah perbandingan antara seorang yang bersumpah dengan menyebut nama orang tua karena saking hormat dengan mereka dan seorang yang membunuh orang tua dengan sengaja. Perbuatan pertama adalah syirik kecil, sedangkan perbuatan kedua adalah dosa besar. Apakah akan dikatakan bahwa dosa perbuatan pertama lebih besar daripada perbuatan kedua, karena status perbuatan pertama adalah syirik kecil? Perbuatan pertama lebih besar dosanya karena telah menciderai akidah, sedangkan yang kedua tidak?Apabila kita menyetujui hal itu, maka konsekuensinya adalah tingkatan dosa segala bentuk syirik kecil melebihi dosa besar. Padahal kita tahu ada perbedaan yang nyata antara sikap yang ditunjukkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada orang yang bersumpah dengan menyebut nama selain Allah dan sikap beliau kepada orang yang membunuh orang lain yang telah mengucapkan kalimat tauhid meski di bawah ancaman pedang. Teguran beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih keras terhadap pelaku perbuatan kedua daripada pelaku perbuatan pertama. Bukti yang menunjukkan bahwa perbuatan kedua meskipun berstatus dosa besar, tapi memiliki tingkatan dosa yang lebih tinggi daripada perbuatan pertama yang berstatus syirik kecil.Baca Juga: Pungutan Liar Termasuk Dosa BesarKesimpulanTibalah kesimpulan dari uraian di atas yang dirangkum dalam beberapa poin sebagai berikut: Terdapat ucapan sebagian Salaf yang menyatakan bahwa syirik kecil memiliki tingkatan dosa yang lebih tinggi daripada dosa besar. Ucapan itu dilatarbelakangi oleh penilaian bahwa dalam perbuatan syirik kecil terdapat unsur pemalingan ibadah kepada selain Allah, pengadaan saingan dan tandingan bagi-Nya, yang tidak ditemui pada kemaksiatan yang tergolong dosa besar. Dosa besar itu sendiri terbagi dua, yaitu (a) dosa besar yang bersumber dari keyakinan kepada selain Allah sehingga melahirkan amal berupa syirik besar; (b) dosa besar berupa aktivitas yang nihil dari keyakinan kepada selain Allah. ucapan sebagian Salaf pada poin (1) berlaku pada dosa besar jenis kedua (poin b). Ucapan sebagian Salaf di atas tidak berlaku mutlak. Artinya dengan tetap melihat kasus per kasus, terdapat kemaksiatan yang tergolong sebagai dosa besar yang secara nyata memiliki tingkatan dosa yang lebih tinggi daripada dosa syirik kecil. Contohnya adalah dosa membunuh seorang muslim dengan sengaja lebih besar daripada dosa bersumpah dengan menyebut nama selain Allah. Demikianlah yang bisa disampaikan. Semoga bermanfaat.Baca Juga:[Selesai]Penulis: Muhammad Nur Ichwan Muslim, ST.Artikel:Muslim.or.id 
Syirik adalah menyamakan antara selain Allah dengan Allah ta’ala dalam perkara yang termasuk kategori kekhususan yang hanya dimiliki oleh Allah ta’ala saja (Baca selengkapnya artikel “Awas Syirik”)Dosa syirik kecil lebih dahsyat daripada dosa besarSejumlah perkataan ulama menyatakan bahwa dosa syirik kecil lebih dahsyat daripada dosa kemaksiatan yang tercakup dalam dosa-dosa besar (al-kabaair). Di antara perkataan itu adalah: Perkataan Ibnu al-Qayyim rahimahullah ketika menjelaskan perihal dosa bersumpah atas nama selain Allah yang merupakan syirik kecil, beliau menuturkan, وصاحب الشرع يجعله شركاً فرتبته فوق رتبة الكبائر“Allah Ta’ala menyatakan bahwa bersumpah atas nama selain Allah adalah kesyirikan, sehingga tingkatannya melampaui tingkatan dosa-dosa besar.” [I’lam al-Muwaqqi’in 6/572] Perkataan Syaikh Sulaiman bin Abdillah Alu asy-Syaikh rahimahullah ketika mengomentari atsar yang menyatakan bahwa Ibnu Mas’ud lebih memilih bersumpah dusta dengan menyebut nama Allah daripada bersumpah jujur tapi dengan menyebut nama selain Allah. Beliau menyatakan, وفيه دليل على أن الشرك الأصغر أكبر من الكبائر“Dalam atsar ini terdapat dalil bahwa tingkatan syirik kecil lebih parah daripada dosa-dosa besar.” Perkataan Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alu asy-Syaikh ketika menyebutkan bahwa salah satu contoh syirik kecil adalah memberikan putusan hukum pada suatu kasus berdasarkan hawa nafsu dengan tetap meyakini kebenaran hukum Allah dan Rasul-Nya. Beliau berkata, وهذا وإن لم يخرجه كفره عن الملة، فإنه معصية عظمى أكبر من الكبائر “Perbuatan ini meski kekufurannya tidak mengeluarkan pelaku dari agama Islam, tapi ia adalah kemaksiatan yang sangat besar yang melebihi perbuatan dosa besar.” [Tahkim al-Qawanin hlm. 8] Baca Juga: Kaidah Dosa Besar dan Dosa KecilMengapa tingkatan dosa syirik kecil dianggap lebih tinggi? Mungkin ada yang bertanya, mengapa tingkatan dosa syirik kecil dinilai oleh sebagian ulama lebih tinggi daripada dosa besar, padahal bukankah syirik besar juga merupakan dosa besar, bahkan dosa besar yang paling besar?Perlu diketahui bahwa dosa besar itu sendiri terbagi ke dalam dua jenis, yaitu (a) dosa besar yang terkait dengan keyakinan syirik kepada selain Allah sehingga melahirkan aktivitas amal ibadah dan (b) dosa besar berupa aktivitas yang tidak diiringi keyakinan kepada selain Allah.Dosa besar jenis pertama seperti aktivitas beristighatsah kepada selain Allah; menyembelih atau berkurban (memberi sesajen) kepada selain Allah, bernadzar kepada selain Allah, dan semacamnya. Aktivitas fisik ini merupakan dosa besar yang diiringi suatu keyakinan yang menjadikannya tergolong sebagai syirik akbar karena telah memalingkan ibadah kepada selain Allah. Kesyirikan dilakukan karena terdapat pengagungan kepada makhluk sehingga menjadikannya saingan bagi Allah dan dianggap layak diibadahi, entah dijadikan tujuan atau perantara.Adapun dosa jenis kedua adalah aktivitas dosa besar yang tidak diiringi keyakinan kepada selain Allah seperti berzina, meminum khamr, mencuri, memakan riba, memakan harta anak yatim, melarikan diri dari perang, dan dosa besar yang lain.Pada jenis yang kedua inilah dikatakan bahwa syirik kecil memiliki tingkatan dosa yang lebih tinggi daripada dosa besar. Dengan demikian, syirik kecil meski berupa perkataan seperti ucapan “terserah Allah dan terserah kamu”; bersumpah dengan menyebut nama selain Allah; menisbatkan nikmat kepada selain Allah; mengikatkan jimat; atau yang semisalnya, dari segi jenis memiliki tingkatan dosa yang lebih tinggi  daripada dosa besar jenis kedua tadi, yaitu dosa besar yang tidak diiringi keyakinan syirik kepada selain Allah. Mengapa demikian? Hal ini dikarenakan pada dosa besar seperti berzina, mencuri, meminum khamr tidak terjadi prasangka buruk kepada Allah atau pemalingan ibadah kepada selain-Nya. Faktor yang memotivasi semata-mata adalah mengikuti syahwat. Berbeda halnya dengan syirik kecil, dimana dalam aktivitas tersebut terdapat unsur menjadikan makhluk sebagai saingan dan tandingan Allah ta’ala. Telah diketahui bersama bahwa dosa terbesar adalah ketika seseorang mengada-adakan saingan bagi Allah ta’ala padahal Dia-lah yang telah menciptakannya. [at-Tamhid li Syarh Kitab at-Tauhid 2/359-360]Baca Juga: Sebab-Sebab Yang Menjadikan Dosa Kecil Dihukumi Sebagai Dosa BesarTapi, apakah hal ini berlaku mutlak? Syaikh Dr. Abdurrahman bin Nashir al-Barrak hafizhahullah mengatakan,“والظاهر أيضًا: أنّ قول السّلف “الشرك الأصغر أكبر من الكبائر” يعني مما هو من جنسه كالحلفِ، فالحلفُ بغير الله أكبر مِن الحلف بالله كذبًا كما في أثر ابن مسعود، وجنس الشّرك أكبر مِن جنس الكبائر، ولا يلزم مِن ذلك أن يكون كلما قيل: إنّه شرك أصغر يكون أكبر مِن كلّ الكبائر، ففي الكبائر ما جاء فيه مِن التغليظ، والوعيد الشّديد ما لم يأت مثلُه في بعض أنواع الشرك الأصغر، كما تقدم في قول الرجل: ما شاء الله وشئت. والله أعلم”“Apa yang nampak dari ucapan Salaf bahwa syirik kecil memiliki tingkatan dosa yang lebih tinggi daripada dosa besar,  yaitu berlaku pada dosa besar yang sejenis dengan syirik kecil tersebut. Hal ini seperti perbuatan bersumpah dengan menyebut nama selain Allah yang tingkatan dosanya lebih besar daripada bersumpah dusta dengan menyebut nama Allah sebagaimana yang disebutkan dalam atsar Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu. Jenis syirik besar juga termasuk dalam dosa besar, sehingga bukan berarti setiap kali suatu perbuatan dikategorikan sebagai syirik kecil lantas perbuatan itu memiliki tingkatan dosa yang lebih tinggi dari seluruh dosa besar. Sebagian dosa besar justru ditegur dan diancam dengan ancaman yang sangat keras, sementara ancaman yang serupa tidak dinyatakan untuk sebagian syirik kecil seperti yang telah dijelaskan sebelumnya terkait ucapan seseorang “terserah Allah dan terserah kamu.” [الشرك الأصغر والأكبر, diakses dari: https://sh-albarrak.com/article/383]Contoh lain akan hal ini adalah perbandingan antara seorang yang bersumpah dengan menyebut nama orang tua karena saking hormat dengan mereka dan seorang yang membunuh orang tua dengan sengaja. Perbuatan pertama adalah syirik kecil, sedangkan perbuatan kedua adalah dosa besar. Apakah akan dikatakan bahwa dosa perbuatan pertama lebih besar daripada perbuatan kedua, karena status perbuatan pertama adalah syirik kecil? Perbuatan pertama lebih besar dosanya karena telah menciderai akidah, sedangkan yang kedua tidak?Apabila kita menyetujui hal itu, maka konsekuensinya adalah tingkatan dosa segala bentuk syirik kecil melebihi dosa besar. Padahal kita tahu ada perbedaan yang nyata antara sikap yang ditunjukkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada orang yang bersumpah dengan menyebut nama selain Allah dan sikap beliau kepada orang yang membunuh orang lain yang telah mengucapkan kalimat tauhid meski di bawah ancaman pedang. Teguran beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih keras terhadap pelaku perbuatan kedua daripada pelaku perbuatan pertama. Bukti yang menunjukkan bahwa perbuatan kedua meskipun berstatus dosa besar, tapi memiliki tingkatan dosa yang lebih tinggi daripada perbuatan pertama yang berstatus syirik kecil.Baca Juga: Pungutan Liar Termasuk Dosa BesarKesimpulanTibalah kesimpulan dari uraian di atas yang dirangkum dalam beberapa poin sebagai berikut: Terdapat ucapan sebagian Salaf yang menyatakan bahwa syirik kecil memiliki tingkatan dosa yang lebih tinggi daripada dosa besar. Ucapan itu dilatarbelakangi oleh penilaian bahwa dalam perbuatan syirik kecil terdapat unsur pemalingan ibadah kepada selain Allah, pengadaan saingan dan tandingan bagi-Nya, yang tidak ditemui pada kemaksiatan yang tergolong dosa besar. Dosa besar itu sendiri terbagi dua, yaitu (a) dosa besar yang bersumber dari keyakinan kepada selain Allah sehingga melahirkan amal berupa syirik besar; (b) dosa besar berupa aktivitas yang nihil dari keyakinan kepada selain Allah. ucapan sebagian Salaf pada poin (1) berlaku pada dosa besar jenis kedua (poin b). Ucapan sebagian Salaf di atas tidak berlaku mutlak. Artinya dengan tetap melihat kasus per kasus, terdapat kemaksiatan yang tergolong sebagai dosa besar yang secara nyata memiliki tingkatan dosa yang lebih tinggi daripada dosa syirik kecil. Contohnya adalah dosa membunuh seorang muslim dengan sengaja lebih besar daripada dosa bersumpah dengan menyebut nama selain Allah. Demikianlah yang bisa disampaikan. Semoga bermanfaat.Baca Juga:[Selesai]Penulis: Muhammad Nur Ichwan Muslim, ST.Artikel:Muslim.or.id 


Syirik adalah menyamakan antara selain Allah dengan Allah ta’ala dalam perkara yang termasuk kategori kekhususan yang hanya dimiliki oleh Allah ta’ala saja (Baca selengkapnya artikel “Awas Syirik”)Dosa syirik kecil lebih dahsyat daripada dosa besarSejumlah perkataan ulama menyatakan bahwa dosa syirik kecil lebih dahsyat daripada dosa kemaksiatan yang tercakup dalam dosa-dosa besar (al-kabaair). Di antara perkataan itu adalah: Perkataan Ibnu al-Qayyim rahimahullah ketika menjelaskan perihal dosa bersumpah atas nama selain Allah yang merupakan syirik kecil, beliau menuturkan, وصاحب الشرع يجعله شركاً فرتبته فوق رتبة الكبائر“Allah Ta’ala menyatakan bahwa bersumpah atas nama selain Allah adalah kesyirikan, sehingga tingkatannya melampaui tingkatan dosa-dosa besar.” [I’lam al-Muwaqqi’in 6/572] Perkataan Syaikh Sulaiman bin Abdillah Alu asy-Syaikh rahimahullah ketika mengomentari atsar yang menyatakan bahwa Ibnu Mas’ud lebih memilih bersumpah dusta dengan menyebut nama Allah daripada bersumpah jujur tapi dengan menyebut nama selain Allah. Beliau menyatakan, وفيه دليل على أن الشرك الأصغر أكبر من الكبائر“Dalam atsar ini terdapat dalil bahwa tingkatan syirik kecil lebih parah daripada dosa-dosa besar.” Perkataan Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alu asy-Syaikh ketika menyebutkan bahwa salah satu contoh syirik kecil adalah memberikan putusan hukum pada suatu kasus berdasarkan hawa nafsu dengan tetap meyakini kebenaran hukum Allah dan Rasul-Nya. Beliau berkata, وهذا وإن لم يخرجه كفره عن الملة، فإنه معصية عظمى أكبر من الكبائر “Perbuatan ini meski kekufurannya tidak mengeluarkan pelaku dari agama Islam, tapi ia adalah kemaksiatan yang sangat besar yang melebihi perbuatan dosa besar.” [Tahkim al-Qawanin hlm. 8] Baca Juga: Kaidah Dosa Besar dan Dosa KecilMengapa tingkatan dosa syirik kecil dianggap lebih tinggi? Mungkin ada yang bertanya, mengapa tingkatan dosa syirik kecil dinilai oleh sebagian ulama lebih tinggi daripada dosa besar, padahal bukankah syirik besar juga merupakan dosa besar, bahkan dosa besar yang paling besar?Perlu diketahui bahwa dosa besar itu sendiri terbagi ke dalam dua jenis, yaitu (a) dosa besar yang terkait dengan keyakinan syirik kepada selain Allah sehingga melahirkan aktivitas amal ibadah dan (b) dosa besar berupa aktivitas yang tidak diiringi keyakinan kepada selain Allah.Dosa besar jenis pertama seperti aktivitas beristighatsah kepada selain Allah; menyembelih atau berkurban (memberi sesajen) kepada selain Allah, bernadzar kepada selain Allah, dan semacamnya. Aktivitas fisik ini merupakan dosa besar yang diiringi suatu keyakinan yang menjadikannya tergolong sebagai syirik akbar karena telah memalingkan ibadah kepada selain Allah. Kesyirikan dilakukan karena terdapat pengagungan kepada makhluk sehingga menjadikannya saingan bagi Allah dan dianggap layak diibadahi, entah dijadikan tujuan atau perantara.Adapun dosa jenis kedua adalah aktivitas dosa besar yang tidak diiringi keyakinan kepada selain Allah seperti berzina, meminum khamr, mencuri, memakan riba, memakan harta anak yatim, melarikan diri dari perang, dan dosa besar yang lain.Pada jenis yang kedua inilah dikatakan bahwa syirik kecil memiliki tingkatan dosa yang lebih tinggi daripada dosa besar. Dengan demikian, syirik kecil meski berupa perkataan seperti ucapan “terserah Allah dan terserah kamu”; bersumpah dengan menyebut nama selain Allah; menisbatkan nikmat kepada selain Allah; mengikatkan jimat; atau yang semisalnya, dari segi jenis memiliki tingkatan dosa yang lebih tinggi  daripada dosa besar jenis kedua tadi, yaitu dosa besar yang tidak diiringi keyakinan syirik kepada selain Allah. Mengapa demikian? Hal ini dikarenakan pada dosa besar seperti berzina, mencuri, meminum khamr tidak terjadi prasangka buruk kepada Allah atau pemalingan ibadah kepada selain-Nya. Faktor yang memotivasi semata-mata adalah mengikuti syahwat. Berbeda halnya dengan syirik kecil, dimana dalam aktivitas tersebut terdapat unsur menjadikan makhluk sebagai saingan dan tandingan Allah ta’ala. Telah diketahui bersama bahwa dosa terbesar adalah ketika seseorang mengada-adakan saingan bagi Allah ta’ala padahal Dia-lah yang telah menciptakannya. [at-Tamhid li Syarh Kitab at-Tauhid 2/359-360]Baca Juga: Sebab-Sebab Yang Menjadikan Dosa Kecil Dihukumi Sebagai Dosa BesarTapi, apakah hal ini berlaku mutlak? Syaikh Dr. Abdurrahman bin Nashir al-Barrak hafizhahullah mengatakan,“والظاهر أيضًا: أنّ قول السّلف “الشرك الأصغر أكبر من الكبائر” يعني مما هو من جنسه كالحلفِ، فالحلفُ بغير الله أكبر مِن الحلف بالله كذبًا كما في أثر ابن مسعود، وجنس الشّرك أكبر مِن جنس الكبائر، ولا يلزم مِن ذلك أن يكون كلما قيل: إنّه شرك أصغر يكون أكبر مِن كلّ الكبائر، ففي الكبائر ما جاء فيه مِن التغليظ، والوعيد الشّديد ما لم يأت مثلُه في بعض أنواع الشرك الأصغر، كما تقدم في قول الرجل: ما شاء الله وشئت. والله أعلم”“Apa yang nampak dari ucapan Salaf bahwa syirik kecil memiliki tingkatan dosa yang lebih tinggi daripada dosa besar,  yaitu berlaku pada dosa besar yang sejenis dengan syirik kecil tersebut. Hal ini seperti perbuatan bersumpah dengan menyebut nama selain Allah yang tingkatan dosanya lebih besar daripada bersumpah dusta dengan menyebut nama Allah sebagaimana yang disebutkan dalam atsar Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu. Jenis syirik besar juga termasuk dalam dosa besar, sehingga bukan berarti setiap kali suatu perbuatan dikategorikan sebagai syirik kecil lantas perbuatan itu memiliki tingkatan dosa yang lebih tinggi dari seluruh dosa besar. Sebagian dosa besar justru ditegur dan diancam dengan ancaman yang sangat keras, sementara ancaman yang serupa tidak dinyatakan untuk sebagian syirik kecil seperti yang telah dijelaskan sebelumnya terkait ucapan seseorang “terserah Allah dan terserah kamu.” [الشرك الأصغر والأكبر, diakses dari: https://sh-albarrak.com/article/383]Contoh lain akan hal ini adalah perbandingan antara seorang yang bersumpah dengan menyebut nama orang tua karena saking hormat dengan mereka dan seorang yang membunuh orang tua dengan sengaja. Perbuatan pertama adalah syirik kecil, sedangkan perbuatan kedua adalah dosa besar. Apakah akan dikatakan bahwa dosa perbuatan pertama lebih besar daripada perbuatan kedua, karena status perbuatan pertama adalah syirik kecil? Perbuatan pertama lebih besar dosanya karena telah menciderai akidah, sedangkan yang kedua tidak?Apabila kita menyetujui hal itu, maka konsekuensinya adalah tingkatan dosa segala bentuk syirik kecil melebihi dosa besar. Padahal kita tahu ada perbedaan yang nyata antara sikap yang ditunjukkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada orang yang bersumpah dengan menyebut nama selain Allah dan sikap beliau kepada orang yang membunuh orang lain yang telah mengucapkan kalimat tauhid meski di bawah ancaman pedang. Teguran beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih keras terhadap pelaku perbuatan kedua daripada pelaku perbuatan pertama. Bukti yang menunjukkan bahwa perbuatan kedua meskipun berstatus dosa besar, tapi memiliki tingkatan dosa yang lebih tinggi daripada perbuatan pertama yang berstatus syirik kecil.Baca Juga: Pungutan Liar Termasuk Dosa BesarKesimpulanTibalah kesimpulan dari uraian di atas yang dirangkum dalam beberapa poin sebagai berikut: Terdapat ucapan sebagian Salaf yang menyatakan bahwa syirik kecil memiliki tingkatan dosa yang lebih tinggi daripada dosa besar. Ucapan itu dilatarbelakangi oleh penilaian bahwa dalam perbuatan syirik kecil terdapat unsur pemalingan ibadah kepada selain Allah, pengadaan saingan dan tandingan bagi-Nya, yang tidak ditemui pada kemaksiatan yang tergolong dosa besar. Dosa besar itu sendiri terbagi dua, yaitu (a) dosa besar yang bersumber dari keyakinan kepada selain Allah sehingga melahirkan amal berupa syirik besar; (b) dosa besar berupa aktivitas yang nihil dari keyakinan kepada selain Allah. ucapan sebagian Salaf pada poin (1) berlaku pada dosa besar jenis kedua (poin b). Ucapan sebagian Salaf di atas tidak berlaku mutlak. Artinya dengan tetap melihat kasus per kasus, terdapat kemaksiatan yang tergolong sebagai dosa besar yang secara nyata memiliki tingkatan dosa yang lebih tinggi daripada dosa syirik kecil. Contohnya adalah dosa membunuh seorang muslim dengan sengaja lebih besar daripada dosa bersumpah dengan menyebut nama selain Allah. Demikianlah yang bisa disampaikan. Semoga bermanfaat.Baca Juga:[Selesai]Penulis: Muhammad Nur Ichwan Muslim, ST.Artikel:Muslim.or.id 
Prev     Next