Menghindari Dampak Buruk Dosa

Dampak Buruk Maksiat di DuniaBanyak orang belum mengetahui bahwa dosa dan maksiat itu memiliki dampak buruk yang sangat serius bagi pelakunya. Di dunia maupun di akhirat. Bahkan seluruh keburukan itu pemicunya adalah dosa.Efek buruk maksiat di dunia antara lain: menyebabkan rezeki seret. Memunculkan kegelisahan. Menimbulkan ketidakharmonisan hubungan. Segala urusan menjadi ruwet. Melemahkan tubuh dan hati. Mengakibatkan malas beribadah. Menghilangkan keberkahan umur. Dan masih banyak lagi dampak buruk lain dari maksiat.Itu baru efek negatifnya di dunia.Baca Juga: Menjaga Kesehatan dengan Menjauhi MaksiatDampak Buruk Maksiat di AkhiratAdapun di akhirat, maka sungguh dampak buruk maksiat jauh lebih mengerikan. Para pelakunya terancam siksa neraka Jahannam.Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu menuturkan,“وَسُئِلَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ أَكْثَرِ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ النَّارَ، فَقَالَ: «الفَمُ وَالفَرْجُ»”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah ditanya tentang hal yang paling banyak memasukkan orang ke neraka. Beliau menjawab, “(Dosa) mulut dan kemaluan”. HR. Tirmidziy dan dinilai sahih oleh Ibn Hibban.Baca Juga: Sudah Taubat Lalu Bermaksiat Lagi, Apakah Diterima Taubatnya?Menghindari Dampak Buruk DosaManusia dengan kelemahan imannya, berpeluang besar untuk terjerumus pada dosa dan maksiat. Bahkan teramat sering terperosok ke dalam kubangannya. Lantas bisakah manusia yang sudah terlanjur berbuat dosa, terhindar dari dampak buruknya?Jawabannya: bisa! Caranya adalah dengan memperbanyak taubat dan istighfar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan,“كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ”“Setiap anak keturunan Adam banyak dosa. Sebaik-baik orang yang banyak dosa adalah yang sering bertaubat”. HR. Tirmidziy dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu. Al-Hakim menyatakan isnad hadits ini sahih.Baca Juga: Meninggalkan Maksiat Bukan Karena Allah, Apakah Berpahala?Mendalami Makna IstighfarIstighfar berarti memohon maghfirah (ampunan). Makna maghfirah adalah: terhindar dari dampak buruk dosa dan ditutupi. Jadi orang yang beristighfar itu, sejatinya sedang memohon kepada Allah agar dihindarkan dari dampak buruk dosa-dosanya. Baik di dunia maupun di akhirat. Serta memohon kepada Allah ta’ala agar aib-aibnya tersebut ditutupi. Jika kita merasa sering berbuat dosa, maka seharusnya kita lebih sering lagi untuk beristighfar. Dengan harapan bisa terhindar dari dampak buruk dosa-dosa itu.Abu Musa al-Asy’ariy radhiyallahu ‘anhu menceritakan,“جَاءَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَنَحْنُ جُلُوسٌ فَقَالَ: «مَا أَصْبَحْتُ غَدَاةً قَطُّ، إِلَّا اسْتَغْفَرْتُ اللَّهَ فِيهَا مِائَةَ مَرَّةٍ»”Suatu saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam datang saat kami sedang duduk-duduk. Beliau bersabda, “Setiap pagi aku pasti selalu beristighfar seratus kali”. HR. Ibn Abi Syaibah dalam al-Mushannaf dan dinilai sahih oleh al-Albaniy.Inilah kebiasaan harian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Padahal beliau telah diampuni dosa-dosanya oleh Allah dan sudah dijamin masuk surga. Bagaimana dengan kita?Baca Juga:Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, Jum’at, 15 Dzulhijjah 1440 / 15 Agustus 2019Penulis: Ustadz Abdullah Zaen, Lc. MA.Artikel: Muslim.or.id

Menghindari Dampak Buruk Dosa

Dampak Buruk Maksiat di DuniaBanyak orang belum mengetahui bahwa dosa dan maksiat itu memiliki dampak buruk yang sangat serius bagi pelakunya. Di dunia maupun di akhirat. Bahkan seluruh keburukan itu pemicunya adalah dosa.Efek buruk maksiat di dunia antara lain: menyebabkan rezeki seret. Memunculkan kegelisahan. Menimbulkan ketidakharmonisan hubungan. Segala urusan menjadi ruwet. Melemahkan tubuh dan hati. Mengakibatkan malas beribadah. Menghilangkan keberkahan umur. Dan masih banyak lagi dampak buruk lain dari maksiat.Itu baru efek negatifnya di dunia.Baca Juga: Menjaga Kesehatan dengan Menjauhi MaksiatDampak Buruk Maksiat di AkhiratAdapun di akhirat, maka sungguh dampak buruk maksiat jauh lebih mengerikan. Para pelakunya terancam siksa neraka Jahannam.Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu menuturkan,“وَسُئِلَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ أَكْثَرِ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ النَّارَ، فَقَالَ: «الفَمُ وَالفَرْجُ»”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah ditanya tentang hal yang paling banyak memasukkan orang ke neraka. Beliau menjawab, “(Dosa) mulut dan kemaluan”. HR. Tirmidziy dan dinilai sahih oleh Ibn Hibban.Baca Juga: Sudah Taubat Lalu Bermaksiat Lagi, Apakah Diterima Taubatnya?Menghindari Dampak Buruk DosaManusia dengan kelemahan imannya, berpeluang besar untuk terjerumus pada dosa dan maksiat. Bahkan teramat sering terperosok ke dalam kubangannya. Lantas bisakah manusia yang sudah terlanjur berbuat dosa, terhindar dari dampak buruknya?Jawabannya: bisa! Caranya adalah dengan memperbanyak taubat dan istighfar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan,“كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ”“Setiap anak keturunan Adam banyak dosa. Sebaik-baik orang yang banyak dosa adalah yang sering bertaubat”. HR. Tirmidziy dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu. Al-Hakim menyatakan isnad hadits ini sahih.Baca Juga: Meninggalkan Maksiat Bukan Karena Allah, Apakah Berpahala?Mendalami Makna IstighfarIstighfar berarti memohon maghfirah (ampunan). Makna maghfirah adalah: terhindar dari dampak buruk dosa dan ditutupi. Jadi orang yang beristighfar itu, sejatinya sedang memohon kepada Allah agar dihindarkan dari dampak buruk dosa-dosanya. Baik di dunia maupun di akhirat. Serta memohon kepada Allah ta’ala agar aib-aibnya tersebut ditutupi. Jika kita merasa sering berbuat dosa, maka seharusnya kita lebih sering lagi untuk beristighfar. Dengan harapan bisa terhindar dari dampak buruk dosa-dosa itu.Abu Musa al-Asy’ariy radhiyallahu ‘anhu menceritakan,“جَاءَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَنَحْنُ جُلُوسٌ فَقَالَ: «مَا أَصْبَحْتُ غَدَاةً قَطُّ، إِلَّا اسْتَغْفَرْتُ اللَّهَ فِيهَا مِائَةَ مَرَّةٍ»”Suatu saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam datang saat kami sedang duduk-duduk. Beliau bersabda, “Setiap pagi aku pasti selalu beristighfar seratus kali”. HR. Ibn Abi Syaibah dalam al-Mushannaf dan dinilai sahih oleh al-Albaniy.Inilah kebiasaan harian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Padahal beliau telah diampuni dosa-dosanya oleh Allah dan sudah dijamin masuk surga. Bagaimana dengan kita?Baca Juga:Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, Jum’at, 15 Dzulhijjah 1440 / 15 Agustus 2019Penulis: Ustadz Abdullah Zaen, Lc. MA.Artikel: Muslim.or.id
Dampak Buruk Maksiat di DuniaBanyak orang belum mengetahui bahwa dosa dan maksiat itu memiliki dampak buruk yang sangat serius bagi pelakunya. Di dunia maupun di akhirat. Bahkan seluruh keburukan itu pemicunya adalah dosa.Efek buruk maksiat di dunia antara lain: menyebabkan rezeki seret. Memunculkan kegelisahan. Menimbulkan ketidakharmonisan hubungan. Segala urusan menjadi ruwet. Melemahkan tubuh dan hati. Mengakibatkan malas beribadah. Menghilangkan keberkahan umur. Dan masih banyak lagi dampak buruk lain dari maksiat.Itu baru efek negatifnya di dunia.Baca Juga: Menjaga Kesehatan dengan Menjauhi MaksiatDampak Buruk Maksiat di AkhiratAdapun di akhirat, maka sungguh dampak buruk maksiat jauh lebih mengerikan. Para pelakunya terancam siksa neraka Jahannam.Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu menuturkan,“وَسُئِلَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ أَكْثَرِ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ النَّارَ، فَقَالَ: «الفَمُ وَالفَرْجُ»”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah ditanya tentang hal yang paling banyak memasukkan orang ke neraka. Beliau menjawab, “(Dosa) mulut dan kemaluan”. HR. Tirmidziy dan dinilai sahih oleh Ibn Hibban.Baca Juga: Sudah Taubat Lalu Bermaksiat Lagi, Apakah Diterima Taubatnya?Menghindari Dampak Buruk DosaManusia dengan kelemahan imannya, berpeluang besar untuk terjerumus pada dosa dan maksiat. Bahkan teramat sering terperosok ke dalam kubangannya. Lantas bisakah manusia yang sudah terlanjur berbuat dosa, terhindar dari dampak buruknya?Jawabannya: bisa! Caranya adalah dengan memperbanyak taubat dan istighfar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan,“كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ”“Setiap anak keturunan Adam banyak dosa. Sebaik-baik orang yang banyak dosa adalah yang sering bertaubat”. HR. Tirmidziy dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu. Al-Hakim menyatakan isnad hadits ini sahih.Baca Juga: Meninggalkan Maksiat Bukan Karena Allah, Apakah Berpahala?Mendalami Makna IstighfarIstighfar berarti memohon maghfirah (ampunan). Makna maghfirah adalah: terhindar dari dampak buruk dosa dan ditutupi. Jadi orang yang beristighfar itu, sejatinya sedang memohon kepada Allah agar dihindarkan dari dampak buruk dosa-dosanya. Baik di dunia maupun di akhirat. Serta memohon kepada Allah ta’ala agar aib-aibnya tersebut ditutupi. Jika kita merasa sering berbuat dosa, maka seharusnya kita lebih sering lagi untuk beristighfar. Dengan harapan bisa terhindar dari dampak buruk dosa-dosa itu.Abu Musa al-Asy’ariy radhiyallahu ‘anhu menceritakan,“جَاءَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَنَحْنُ جُلُوسٌ فَقَالَ: «مَا أَصْبَحْتُ غَدَاةً قَطُّ، إِلَّا اسْتَغْفَرْتُ اللَّهَ فِيهَا مِائَةَ مَرَّةٍ»”Suatu saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam datang saat kami sedang duduk-duduk. Beliau bersabda, “Setiap pagi aku pasti selalu beristighfar seratus kali”. HR. Ibn Abi Syaibah dalam al-Mushannaf dan dinilai sahih oleh al-Albaniy.Inilah kebiasaan harian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Padahal beliau telah diampuni dosa-dosanya oleh Allah dan sudah dijamin masuk surga. Bagaimana dengan kita?Baca Juga:Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, Jum’at, 15 Dzulhijjah 1440 / 15 Agustus 2019Penulis: Ustadz Abdullah Zaen, Lc. MA.Artikel: Muslim.or.id


Dampak Buruk Maksiat di DuniaBanyak orang belum mengetahui bahwa dosa dan maksiat itu memiliki dampak buruk yang sangat serius bagi pelakunya. Di dunia maupun di akhirat. Bahkan seluruh keburukan itu pemicunya adalah dosa.Efek buruk maksiat di dunia antara lain: menyebabkan rezeki seret. Memunculkan kegelisahan. Menimbulkan ketidakharmonisan hubungan. Segala urusan menjadi ruwet. Melemahkan tubuh dan hati. Mengakibatkan malas beribadah. Menghilangkan keberkahan umur. Dan masih banyak lagi dampak buruk lain dari maksiat.Itu baru efek negatifnya di dunia.Baca Juga: Menjaga Kesehatan dengan Menjauhi MaksiatDampak Buruk Maksiat di AkhiratAdapun di akhirat, maka sungguh dampak buruk maksiat jauh lebih mengerikan. Para pelakunya terancam siksa neraka Jahannam.Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu menuturkan,“وَسُئِلَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ أَكْثَرِ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ النَّارَ، فَقَالَ: «الفَمُ وَالفَرْجُ»”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah ditanya tentang hal yang paling banyak memasukkan orang ke neraka. Beliau menjawab, “(Dosa) mulut dan kemaluan”. HR. Tirmidziy dan dinilai sahih oleh Ibn Hibban.Baca Juga: Sudah Taubat Lalu Bermaksiat Lagi, Apakah Diterima Taubatnya?Menghindari Dampak Buruk DosaManusia dengan kelemahan imannya, berpeluang besar untuk terjerumus pada dosa dan maksiat. Bahkan teramat sering terperosok ke dalam kubangannya. Lantas bisakah manusia yang sudah terlanjur berbuat dosa, terhindar dari dampak buruknya?Jawabannya: bisa! Caranya adalah dengan memperbanyak taubat dan istighfar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan,“كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ”“Setiap anak keturunan Adam banyak dosa. Sebaik-baik orang yang banyak dosa adalah yang sering bertaubat”. HR. Tirmidziy dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu. Al-Hakim menyatakan isnad hadits ini sahih.Baca Juga: Meninggalkan Maksiat Bukan Karena Allah, Apakah Berpahala?Mendalami Makna IstighfarIstighfar berarti memohon maghfirah (ampunan). Makna maghfirah adalah: terhindar dari dampak buruk dosa dan ditutupi. Jadi orang yang beristighfar itu, sejatinya sedang memohon kepada Allah agar dihindarkan dari dampak buruk dosa-dosanya. Baik di dunia maupun di akhirat. Serta memohon kepada Allah ta’ala agar aib-aibnya tersebut ditutupi. Jika kita merasa sering berbuat dosa, maka seharusnya kita lebih sering lagi untuk beristighfar. Dengan harapan bisa terhindar dari dampak buruk dosa-dosa itu.Abu Musa al-Asy’ariy radhiyallahu ‘anhu menceritakan,“جَاءَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَنَحْنُ جُلُوسٌ فَقَالَ: «مَا أَصْبَحْتُ غَدَاةً قَطُّ، إِلَّا اسْتَغْفَرْتُ اللَّهَ فِيهَا مِائَةَ مَرَّةٍ»”Suatu saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam datang saat kami sedang duduk-duduk. Beliau bersabda, “Setiap pagi aku pasti selalu beristighfar seratus kali”. HR. Ibn Abi Syaibah dalam al-Mushannaf dan dinilai sahih oleh al-Albaniy.Inilah kebiasaan harian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Padahal beliau telah diampuni dosa-dosanya oleh Allah dan sudah dijamin masuk surga. Bagaimana dengan kita?Baca Juga:Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, Jum’at, 15 Dzulhijjah 1440 / 15 Agustus 2019Penulis: Ustadz Abdullah Zaen, Lc. MA.Artikel: Muslim.or.id

Laki-Laki adalah Pemimpin Rumah Tangga (Bag. 5)

Baca pembahasan sebelumnya Laki-Laki adalah Pemimpin Rumah Tangga (Bag. 4)Memimpin dengan Penuh KelembutanMemimpin rumah tangga dengan tanggung jawab yang sedemikian besar, bukanlah artinya seorang suami harus bersikap keras dan kasar di rumah. Bahkan sebaliknya, hendaknya dia berhias dengan akhlak yang mulia, berhias dengan kelembutan, dan kasih sayang sebagaimana yang ditunjukkan oleh teladan kita, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah Ta’ala berfirman,فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah, kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 159)Baca Juga: Nasehat Bagi Pemuda-Pemudi Yang Masih Menunda NikahAllah Ta’ala memerintahkan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk memiliki sikap tawadhu’. Allah Ta’ala berfirman,وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِمَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ“Dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman.” (QS. Asy-Syu’araa [26]: 215)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memerintahkan umatnya agar memiliki sikap kelembutan. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,عَلَيْكِ بِالرِّفْقِ“Hendaklah kamu berbuat lembut kepadanya.” (HR. Muslim no. 2594)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memotivasi agar seseorang memiliki sikap lemah lembut kepada sesama. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ الرِّفْقَ لَا يَكُونُ فِي شَيْءٍ إِلَّا زَانَهُ، وَلَا يُنْزَعُ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا شَانَهُ“Sesungguhnya kasih sayang (kelembutan) itu tidak akan berada pada sesuatu, melainkan dia akan menghiasinya (dengan kebaikan). Sebaliknya, jika kasih sayang (kelembutan) itu dicabut dari sesuatu, dia akan membuatnya menjadi buruk.” (HR. Muslim no. 2594)Baca Juga: Menunda Nikah Karena Menuntut IlmuBeliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الرِّفْقَ فِي الأَمْرِ كُلِّهِ“Sesungguhnya Allah Ta’ala mencintai sikap lemah lembut dalam semua perkara.” (HR. Bukhari no. 6024)Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,وَيُعْطِي عَلَى الرِّفْقِ مَا لَا يُعْطِي عَلَى الْعُنْفِ، وَمَا لَا يُعْطِي عَلَى مَا سِوَاهُ“Allah akan memberikan pada sikap lemah lembut sesuatu yang tidak Dia berikan pada sikap yang keras dan juga akan memberikan apa-apa yang tidak diberikan pada sikap lainnya.” (HR. Muslim no. 2593)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ يُحْرَمِ الرِّفْقَ، يُحْرَمِ الْخَيْرَ“Siapa saja yang dijauhkan dari sifat lemah lembut (kasih sayang), berarti dia dijauhkan dari kebaikan.” (HR. Muslim no. 2592)Ketika seorang istri diperintahkan untuk taat kepada suami, maka sudah semestinya bagi seorang suami untuk bersikap lembut, penuh kasih sayang, dan bersikap mudah (tidak mempersulit) kepada sang istri. Baca Juga:[Bersambung]***@Rumah Lendah, 9 Rabi’ul awwal 1441/6 November 2019Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.or.idCatatan KakiDisarikan dari kitab Fiqh At-Ta’aamul baina Az-Zaujain, karya Syaikh Musthafa Al-‘Adawi, hal. 12-13.🔍 Hukum Memakai Cadar Dalam Al Quran, Masyaallah Meaning, Apakah Tumbuhan Bernyawa, Hukum Puasa Di Bulan Sya Ban, Fungsi Ibadah Dalam Islam

Laki-Laki adalah Pemimpin Rumah Tangga (Bag. 5)

Baca pembahasan sebelumnya Laki-Laki adalah Pemimpin Rumah Tangga (Bag. 4)Memimpin dengan Penuh KelembutanMemimpin rumah tangga dengan tanggung jawab yang sedemikian besar, bukanlah artinya seorang suami harus bersikap keras dan kasar di rumah. Bahkan sebaliknya, hendaknya dia berhias dengan akhlak yang mulia, berhias dengan kelembutan, dan kasih sayang sebagaimana yang ditunjukkan oleh teladan kita, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah Ta’ala berfirman,فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah, kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 159)Baca Juga: Nasehat Bagi Pemuda-Pemudi Yang Masih Menunda NikahAllah Ta’ala memerintahkan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk memiliki sikap tawadhu’. Allah Ta’ala berfirman,وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِمَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ“Dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman.” (QS. Asy-Syu’araa [26]: 215)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memerintahkan umatnya agar memiliki sikap kelembutan. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,عَلَيْكِ بِالرِّفْقِ“Hendaklah kamu berbuat lembut kepadanya.” (HR. Muslim no. 2594)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memotivasi agar seseorang memiliki sikap lemah lembut kepada sesama. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ الرِّفْقَ لَا يَكُونُ فِي شَيْءٍ إِلَّا زَانَهُ، وَلَا يُنْزَعُ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا شَانَهُ“Sesungguhnya kasih sayang (kelembutan) itu tidak akan berada pada sesuatu, melainkan dia akan menghiasinya (dengan kebaikan). Sebaliknya, jika kasih sayang (kelembutan) itu dicabut dari sesuatu, dia akan membuatnya menjadi buruk.” (HR. Muslim no. 2594)Baca Juga: Menunda Nikah Karena Menuntut IlmuBeliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الرِّفْقَ فِي الأَمْرِ كُلِّهِ“Sesungguhnya Allah Ta’ala mencintai sikap lemah lembut dalam semua perkara.” (HR. Bukhari no. 6024)Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,وَيُعْطِي عَلَى الرِّفْقِ مَا لَا يُعْطِي عَلَى الْعُنْفِ، وَمَا لَا يُعْطِي عَلَى مَا سِوَاهُ“Allah akan memberikan pada sikap lemah lembut sesuatu yang tidak Dia berikan pada sikap yang keras dan juga akan memberikan apa-apa yang tidak diberikan pada sikap lainnya.” (HR. Muslim no. 2593)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ يُحْرَمِ الرِّفْقَ، يُحْرَمِ الْخَيْرَ“Siapa saja yang dijauhkan dari sifat lemah lembut (kasih sayang), berarti dia dijauhkan dari kebaikan.” (HR. Muslim no. 2592)Ketika seorang istri diperintahkan untuk taat kepada suami, maka sudah semestinya bagi seorang suami untuk bersikap lembut, penuh kasih sayang, dan bersikap mudah (tidak mempersulit) kepada sang istri. Baca Juga:[Bersambung]***@Rumah Lendah, 9 Rabi’ul awwal 1441/6 November 2019Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.or.idCatatan KakiDisarikan dari kitab Fiqh At-Ta’aamul baina Az-Zaujain, karya Syaikh Musthafa Al-‘Adawi, hal. 12-13.🔍 Hukum Memakai Cadar Dalam Al Quran, Masyaallah Meaning, Apakah Tumbuhan Bernyawa, Hukum Puasa Di Bulan Sya Ban, Fungsi Ibadah Dalam Islam
Baca pembahasan sebelumnya Laki-Laki adalah Pemimpin Rumah Tangga (Bag. 4)Memimpin dengan Penuh KelembutanMemimpin rumah tangga dengan tanggung jawab yang sedemikian besar, bukanlah artinya seorang suami harus bersikap keras dan kasar di rumah. Bahkan sebaliknya, hendaknya dia berhias dengan akhlak yang mulia, berhias dengan kelembutan, dan kasih sayang sebagaimana yang ditunjukkan oleh teladan kita, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah Ta’ala berfirman,فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah, kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 159)Baca Juga: Nasehat Bagi Pemuda-Pemudi Yang Masih Menunda NikahAllah Ta’ala memerintahkan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk memiliki sikap tawadhu’. Allah Ta’ala berfirman,وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِمَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ“Dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman.” (QS. Asy-Syu’araa [26]: 215)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memerintahkan umatnya agar memiliki sikap kelembutan. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,عَلَيْكِ بِالرِّفْقِ“Hendaklah kamu berbuat lembut kepadanya.” (HR. Muslim no. 2594)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memotivasi agar seseorang memiliki sikap lemah lembut kepada sesama. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ الرِّفْقَ لَا يَكُونُ فِي شَيْءٍ إِلَّا زَانَهُ، وَلَا يُنْزَعُ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا شَانَهُ“Sesungguhnya kasih sayang (kelembutan) itu tidak akan berada pada sesuatu, melainkan dia akan menghiasinya (dengan kebaikan). Sebaliknya, jika kasih sayang (kelembutan) itu dicabut dari sesuatu, dia akan membuatnya menjadi buruk.” (HR. Muslim no. 2594)Baca Juga: Menunda Nikah Karena Menuntut IlmuBeliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الرِّفْقَ فِي الأَمْرِ كُلِّهِ“Sesungguhnya Allah Ta’ala mencintai sikap lemah lembut dalam semua perkara.” (HR. Bukhari no. 6024)Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,وَيُعْطِي عَلَى الرِّفْقِ مَا لَا يُعْطِي عَلَى الْعُنْفِ، وَمَا لَا يُعْطِي عَلَى مَا سِوَاهُ“Allah akan memberikan pada sikap lemah lembut sesuatu yang tidak Dia berikan pada sikap yang keras dan juga akan memberikan apa-apa yang tidak diberikan pada sikap lainnya.” (HR. Muslim no. 2593)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ يُحْرَمِ الرِّفْقَ، يُحْرَمِ الْخَيْرَ“Siapa saja yang dijauhkan dari sifat lemah lembut (kasih sayang), berarti dia dijauhkan dari kebaikan.” (HR. Muslim no. 2592)Ketika seorang istri diperintahkan untuk taat kepada suami, maka sudah semestinya bagi seorang suami untuk bersikap lembut, penuh kasih sayang, dan bersikap mudah (tidak mempersulit) kepada sang istri. Baca Juga:[Bersambung]***@Rumah Lendah, 9 Rabi’ul awwal 1441/6 November 2019Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.or.idCatatan KakiDisarikan dari kitab Fiqh At-Ta’aamul baina Az-Zaujain, karya Syaikh Musthafa Al-‘Adawi, hal. 12-13.🔍 Hukum Memakai Cadar Dalam Al Quran, Masyaallah Meaning, Apakah Tumbuhan Bernyawa, Hukum Puasa Di Bulan Sya Ban, Fungsi Ibadah Dalam Islam


Baca pembahasan sebelumnya Laki-Laki adalah Pemimpin Rumah Tangga (Bag. 4)Memimpin dengan Penuh KelembutanMemimpin rumah tangga dengan tanggung jawab yang sedemikian besar, bukanlah artinya seorang suami harus bersikap keras dan kasar di rumah. Bahkan sebaliknya, hendaknya dia berhias dengan akhlak yang mulia, berhias dengan kelembutan, dan kasih sayang sebagaimana yang ditunjukkan oleh teladan kita, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah Ta’ala berfirman,فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah, kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 159)Baca Juga: Nasehat Bagi Pemuda-Pemudi Yang Masih Menunda NikahAllah Ta’ala memerintahkan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk memiliki sikap tawadhu’. Allah Ta’ala berfirman,وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِمَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ“Dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman.” (QS. Asy-Syu’araa [26]: 215)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memerintahkan umatnya agar memiliki sikap kelembutan. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,عَلَيْكِ بِالرِّفْقِ“Hendaklah kamu berbuat lembut kepadanya.” (HR. Muslim no. 2594)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memotivasi agar seseorang memiliki sikap lemah lembut kepada sesama. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ الرِّفْقَ لَا يَكُونُ فِي شَيْءٍ إِلَّا زَانَهُ، وَلَا يُنْزَعُ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا شَانَهُ“Sesungguhnya kasih sayang (kelembutan) itu tidak akan berada pada sesuatu, melainkan dia akan menghiasinya (dengan kebaikan). Sebaliknya, jika kasih sayang (kelembutan) itu dicabut dari sesuatu, dia akan membuatnya menjadi buruk.” (HR. Muslim no. 2594)Baca Juga: Menunda Nikah Karena Menuntut IlmuBeliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الرِّفْقَ فِي الأَمْرِ كُلِّهِ“Sesungguhnya Allah Ta’ala mencintai sikap lemah lembut dalam semua perkara.” (HR. Bukhari no. 6024)Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,وَيُعْطِي عَلَى الرِّفْقِ مَا لَا يُعْطِي عَلَى الْعُنْفِ، وَمَا لَا يُعْطِي عَلَى مَا سِوَاهُ“Allah akan memberikan pada sikap lemah lembut sesuatu yang tidak Dia berikan pada sikap yang keras dan juga akan memberikan apa-apa yang tidak diberikan pada sikap lainnya.” (HR. Muslim no. 2593)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ يُحْرَمِ الرِّفْقَ، يُحْرَمِ الْخَيْرَ“Siapa saja yang dijauhkan dari sifat lemah lembut (kasih sayang), berarti dia dijauhkan dari kebaikan.” (HR. Muslim no. 2592)Ketika seorang istri diperintahkan untuk taat kepada suami, maka sudah semestinya bagi seorang suami untuk bersikap lembut, penuh kasih sayang, dan bersikap mudah (tidak mempersulit) kepada sang istri. Baca Juga:[Bersambung]***@Rumah Lendah, 9 Rabi’ul awwal 1441/6 November 2019Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.or.idCatatan KakiDisarikan dari kitab Fiqh At-Ta’aamul baina Az-Zaujain, karya Syaikh Musthafa Al-‘Adawi, hal. 12-13.🔍 Hukum Memakai Cadar Dalam Al Quran, Masyaallah Meaning, Apakah Tumbuhan Bernyawa, Hukum Puasa Di Bulan Sya Ban, Fungsi Ibadah Dalam Islam

PPDB SMA BP IBS (Bintang Pelajar Islamic Boarding School)

Kami berharap bisa menyuguhkan pendidikan yang lebih komprehensif dari segi keilmuan populer (khususnya dibidang sains) dan dari segi Diniyah (keagamaan). Dengan pengalaman lebih dari dua puluh tahun di bidang pengelolaan pendidikan maka kami yakin, insyaAllah, dapat memberikan pelayanan program pendidikan berkualitas tinggi di SMA BP IBS ini. Konsep utama dari SMA BP IBS adalah bagaimana kami dapat menumbuhkan, mengembangkan dan memperbaiki agar generasi yang beriman, bertakwa kepada Allah Azza wa Jalla yang berasaskan Al Qur’an dan Assunah sesuai dengan Ahlusunnah wal Jama’ah. Juga memiliki ilmu dan pengetahuan moderen sebagai bekal untuk mampu berprestasi di skala nasional maupun internasional. Visi“Terwujudnya generasi Islam bermanhaj Ahlussunnah wal Jamaah dan berilmu pengetahuan modern”.Misi Menanamkan aqidah, ibadah, akhlak, dan muamalah berdasarkan Al Quran dan Sunnah sesuai dengan Ahlussunnah wal Jamaah. Menumbuhkan pola berfikir, bersikap, dan bertindak yang mampu mencerminkan ketaatan kepada Allah Azza wa Jalla dan berakhlak mulia. Menyelenggarakan sistem pendidikan Islami dengan menerapkan Islamic Total Quality Management (ITQM) agar peserta didik menguasai ilmu pengetahuan yang bermanfaat bagi kebahagiaan hidupnya di dunia & akhirat. Tujuan Memiliki kemampuan mengamalkan tauhid yang benar sehingga menumbuhkan keistiqomahan dalam beribadah kepada Allah ‘Azza Wa Jalla. Menguasai dan mampu berbahasa Arab dan berbahasa Inggris secara aktif sesuai pendidikan lanjutan yang dipilih. Memiliki hafalan al-Qur’an 5 Juz dengan mutqin. Memiliki, menguasai, dan terampil dalam menerapkan ilmu akademiknya. Pengelolaan sekolah berdasarkan Islamic Total Quality Management (ITQM) sehingga menjamin mutu lulusan yang bertaqwa, berakhlak mulia dan berilmu pengetahuan. Dapat melanjutkan ke kampus favorit pilihannya (universitas umum dan Islam). Memiliki, menguasai, dan terampil dalam kepemimpinan dan kewirausahaan. Khusus putri menguasai dan terampil dalam bidang keputrian (tata boga, tata graha, tata busana, dan kesehatan kewanitaan). PENDAFTARAN: Waktu Pendaftaran dan Tes Seleksi Waktu pendaftaran paling lambat tanggal 30 Juni 2018. Jika kuota sudah tepenuhi sebelum tanggal tersebut, maka pendaftaran akan ditutup. Kelengkapan Berkas : Uang pendaftaran Mengisi formulir pendaftaran online pas foto 3×4 dengan latar putih FC akta kelahiran FC kartu keluarga FC KTP orangtua/wali Rapor Sekolah SD dan SMP asli dan FC Lokasi Tes     : Ruang BP IBS, Bogor (Bintang Pelajar SI) Materi Tes     : One day test (Kedua orang tua wajib hadir) Tes tulis    Diniyah     : Tes tulis materi dasar keislaman & Bahasa Arab Pemula Umum     : Psikotes (IQ, EPPS, TPA) Tes praktek    : Tes baca & hafal Al-Quran Wawancara    : Anak dan Kedua Orang Tua  PEMBIAYAAN PENDAFTARAN, BELAJAR, ASRAMA DAN BEASISWA: Pendaftaran Rp 1,250,000 (formulir, administrasi & komunikasi, test tulis (diniyah+umum), analisis kemampuan potensi akademik & keislaman, tes praktik, dan tes wawancara siswa & kedua orang tuanya  serta makan siang. Uang Asrama dan kegiatannya selama 4 tahun Rp. 45,000,000. (Tidak perlu les lagi di Bintang Pelajar atau tempat les manapun) – dibayarkan selambat-lambatnya saat daftar ulang. Uang SPP: Rp. 4,900,000/bulan.  SPP Juli 2018 dibayarkan saat daftar ulang. Beasiswa diberikan  kepada 10% jumlah siswa dengan pemotongan pembiayaan sampai 100% berdasarkan seleksi dan keputusan sekolah serta yayasan. Semua pembiayaan dapat ditransfer pada Nomor Rekening: 1500 42000 9.  BNI Syariah Cab. Tanah Sareal Bogor. a/n Yayasan Bintang Pelajar Indonesia  Tersedia diskon dan beasiswa khusus :Berdasarkan hasil tes masuk (tes IQ, Psikotes, tes Diniyah, Interview untuk siswa dan orang tua) akan ditentukan kisaran potongan Uang Masuk dan SPP. Sebagai salah satu acuan untuk  menentukan kisaran potongan :  No Faktor Penilaian Kualifikasi Minimal Beasiswa maks. 30% Beasiswa maks. 50% Beasiswa maks. 80% Beasiswa maks. 100% 1 IQ Score 110 ≥ 115 ≥ 120 ≥ 125 ≥ 131 dan / atau dan / atau dan / atau dan / atau 2 Hafalan Quran Memiliki Hafalan Min 5 Juz Min 10 Juz Min 15 Juz Min 20 Juz  HUBUNGI KAMI: Contact Person: Ust. Bukit Adhinugraha, M.Pd.    (0812  8841 115) Ust. Erman Permana, M.Pd.I.    (0852  8453 9294) Alamat: Kantor BP IBS – Komplek Ruko 24, Jl Baru Sholeh Iskandar, Bogor E-mai: bpibs@bintangpelajar.com 🔍 Arti Sebuah Nama Menurut Islam, Hadits Dakwah, Hadits Tentang Air, Ucapan Ulang Tahun Islami, Do'a Iftitah Dan Artinya

PPDB SMA BP IBS (Bintang Pelajar Islamic Boarding School)

Kami berharap bisa menyuguhkan pendidikan yang lebih komprehensif dari segi keilmuan populer (khususnya dibidang sains) dan dari segi Diniyah (keagamaan). Dengan pengalaman lebih dari dua puluh tahun di bidang pengelolaan pendidikan maka kami yakin, insyaAllah, dapat memberikan pelayanan program pendidikan berkualitas tinggi di SMA BP IBS ini. Konsep utama dari SMA BP IBS adalah bagaimana kami dapat menumbuhkan, mengembangkan dan memperbaiki agar generasi yang beriman, bertakwa kepada Allah Azza wa Jalla yang berasaskan Al Qur’an dan Assunah sesuai dengan Ahlusunnah wal Jama’ah. Juga memiliki ilmu dan pengetahuan moderen sebagai bekal untuk mampu berprestasi di skala nasional maupun internasional. Visi“Terwujudnya generasi Islam bermanhaj Ahlussunnah wal Jamaah dan berilmu pengetahuan modern”.Misi Menanamkan aqidah, ibadah, akhlak, dan muamalah berdasarkan Al Quran dan Sunnah sesuai dengan Ahlussunnah wal Jamaah. Menumbuhkan pola berfikir, bersikap, dan bertindak yang mampu mencerminkan ketaatan kepada Allah Azza wa Jalla dan berakhlak mulia. Menyelenggarakan sistem pendidikan Islami dengan menerapkan Islamic Total Quality Management (ITQM) agar peserta didik menguasai ilmu pengetahuan yang bermanfaat bagi kebahagiaan hidupnya di dunia & akhirat. Tujuan Memiliki kemampuan mengamalkan tauhid yang benar sehingga menumbuhkan keistiqomahan dalam beribadah kepada Allah ‘Azza Wa Jalla. Menguasai dan mampu berbahasa Arab dan berbahasa Inggris secara aktif sesuai pendidikan lanjutan yang dipilih. Memiliki hafalan al-Qur’an 5 Juz dengan mutqin. Memiliki, menguasai, dan terampil dalam menerapkan ilmu akademiknya. Pengelolaan sekolah berdasarkan Islamic Total Quality Management (ITQM) sehingga menjamin mutu lulusan yang bertaqwa, berakhlak mulia dan berilmu pengetahuan. Dapat melanjutkan ke kampus favorit pilihannya (universitas umum dan Islam). Memiliki, menguasai, dan terampil dalam kepemimpinan dan kewirausahaan. Khusus putri menguasai dan terampil dalam bidang keputrian (tata boga, tata graha, tata busana, dan kesehatan kewanitaan). PENDAFTARAN: Waktu Pendaftaran dan Tes Seleksi Waktu pendaftaran paling lambat tanggal 30 Juni 2018. Jika kuota sudah tepenuhi sebelum tanggal tersebut, maka pendaftaran akan ditutup. Kelengkapan Berkas : Uang pendaftaran Mengisi formulir pendaftaran online pas foto 3×4 dengan latar putih FC akta kelahiran FC kartu keluarga FC KTP orangtua/wali Rapor Sekolah SD dan SMP asli dan FC Lokasi Tes     : Ruang BP IBS, Bogor (Bintang Pelajar SI) Materi Tes     : One day test (Kedua orang tua wajib hadir) Tes tulis    Diniyah     : Tes tulis materi dasar keislaman & Bahasa Arab Pemula Umum     : Psikotes (IQ, EPPS, TPA) Tes praktek    : Tes baca & hafal Al-Quran Wawancara    : Anak dan Kedua Orang Tua  PEMBIAYAAN PENDAFTARAN, BELAJAR, ASRAMA DAN BEASISWA: Pendaftaran Rp 1,250,000 (formulir, administrasi & komunikasi, test tulis (diniyah+umum), analisis kemampuan potensi akademik & keislaman, tes praktik, dan tes wawancara siswa & kedua orang tuanya  serta makan siang. Uang Asrama dan kegiatannya selama 4 tahun Rp. 45,000,000. (Tidak perlu les lagi di Bintang Pelajar atau tempat les manapun) – dibayarkan selambat-lambatnya saat daftar ulang. Uang SPP: Rp. 4,900,000/bulan.  SPP Juli 2018 dibayarkan saat daftar ulang. Beasiswa diberikan  kepada 10% jumlah siswa dengan pemotongan pembiayaan sampai 100% berdasarkan seleksi dan keputusan sekolah serta yayasan. Semua pembiayaan dapat ditransfer pada Nomor Rekening: 1500 42000 9.  BNI Syariah Cab. Tanah Sareal Bogor. a/n Yayasan Bintang Pelajar Indonesia  Tersedia diskon dan beasiswa khusus :Berdasarkan hasil tes masuk (tes IQ, Psikotes, tes Diniyah, Interview untuk siswa dan orang tua) akan ditentukan kisaran potongan Uang Masuk dan SPP. Sebagai salah satu acuan untuk  menentukan kisaran potongan :  No Faktor Penilaian Kualifikasi Minimal Beasiswa maks. 30% Beasiswa maks. 50% Beasiswa maks. 80% Beasiswa maks. 100% 1 IQ Score 110 ≥ 115 ≥ 120 ≥ 125 ≥ 131 dan / atau dan / atau dan / atau dan / atau 2 Hafalan Quran Memiliki Hafalan Min 5 Juz Min 10 Juz Min 15 Juz Min 20 Juz  HUBUNGI KAMI: Contact Person: Ust. Bukit Adhinugraha, M.Pd.    (0812  8841 115) Ust. Erman Permana, M.Pd.I.    (0852  8453 9294) Alamat: Kantor BP IBS – Komplek Ruko 24, Jl Baru Sholeh Iskandar, Bogor E-mai: bpibs@bintangpelajar.com 🔍 Arti Sebuah Nama Menurut Islam, Hadits Dakwah, Hadits Tentang Air, Ucapan Ulang Tahun Islami, Do'a Iftitah Dan Artinya
Kami berharap bisa menyuguhkan pendidikan yang lebih komprehensif dari segi keilmuan populer (khususnya dibidang sains) dan dari segi Diniyah (keagamaan). Dengan pengalaman lebih dari dua puluh tahun di bidang pengelolaan pendidikan maka kami yakin, insyaAllah, dapat memberikan pelayanan program pendidikan berkualitas tinggi di SMA BP IBS ini. Konsep utama dari SMA BP IBS adalah bagaimana kami dapat menumbuhkan, mengembangkan dan memperbaiki agar generasi yang beriman, bertakwa kepada Allah Azza wa Jalla yang berasaskan Al Qur’an dan Assunah sesuai dengan Ahlusunnah wal Jama’ah. Juga memiliki ilmu dan pengetahuan moderen sebagai bekal untuk mampu berprestasi di skala nasional maupun internasional. Visi“Terwujudnya generasi Islam bermanhaj Ahlussunnah wal Jamaah dan berilmu pengetahuan modern”.Misi Menanamkan aqidah, ibadah, akhlak, dan muamalah berdasarkan Al Quran dan Sunnah sesuai dengan Ahlussunnah wal Jamaah. Menumbuhkan pola berfikir, bersikap, dan bertindak yang mampu mencerminkan ketaatan kepada Allah Azza wa Jalla dan berakhlak mulia. Menyelenggarakan sistem pendidikan Islami dengan menerapkan Islamic Total Quality Management (ITQM) agar peserta didik menguasai ilmu pengetahuan yang bermanfaat bagi kebahagiaan hidupnya di dunia & akhirat. Tujuan Memiliki kemampuan mengamalkan tauhid yang benar sehingga menumbuhkan keistiqomahan dalam beribadah kepada Allah ‘Azza Wa Jalla. Menguasai dan mampu berbahasa Arab dan berbahasa Inggris secara aktif sesuai pendidikan lanjutan yang dipilih. Memiliki hafalan al-Qur’an 5 Juz dengan mutqin. Memiliki, menguasai, dan terampil dalam menerapkan ilmu akademiknya. Pengelolaan sekolah berdasarkan Islamic Total Quality Management (ITQM) sehingga menjamin mutu lulusan yang bertaqwa, berakhlak mulia dan berilmu pengetahuan. Dapat melanjutkan ke kampus favorit pilihannya (universitas umum dan Islam). Memiliki, menguasai, dan terampil dalam kepemimpinan dan kewirausahaan. Khusus putri menguasai dan terampil dalam bidang keputrian (tata boga, tata graha, tata busana, dan kesehatan kewanitaan). PENDAFTARAN: Waktu Pendaftaran dan Tes Seleksi Waktu pendaftaran paling lambat tanggal 30 Juni 2018. Jika kuota sudah tepenuhi sebelum tanggal tersebut, maka pendaftaran akan ditutup. Kelengkapan Berkas : Uang pendaftaran Mengisi formulir pendaftaran online pas foto 3×4 dengan latar putih FC akta kelahiran FC kartu keluarga FC KTP orangtua/wali Rapor Sekolah SD dan SMP asli dan FC Lokasi Tes     : Ruang BP IBS, Bogor (Bintang Pelajar SI) Materi Tes     : One day test (Kedua orang tua wajib hadir) Tes tulis    Diniyah     : Tes tulis materi dasar keislaman & Bahasa Arab Pemula Umum     : Psikotes (IQ, EPPS, TPA) Tes praktek    : Tes baca & hafal Al-Quran Wawancara    : Anak dan Kedua Orang Tua  PEMBIAYAAN PENDAFTARAN, BELAJAR, ASRAMA DAN BEASISWA: Pendaftaran Rp 1,250,000 (formulir, administrasi & komunikasi, test tulis (diniyah+umum), analisis kemampuan potensi akademik & keislaman, tes praktik, dan tes wawancara siswa & kedua orang tuanya  serta makan siang. Uang Asrama dan kegiatannya selama 4 tahun Rp. 45,000,000. (Tidak perlu les lagi di Bintang Pelajar atau tempat les manapun) – dibayarkan selambat-lambatnya saat daftar ulang. Uang SPP: Rp. 4,900,000/bulan.  SPP Juli 2018 dibayarkan saat daftar ulang. Beasiswa diberikan  kepada 10% jumlah siswa dengan pemotongan pembiayaan sampai 100% berdasarkan seleksi dan keputusan sekolah serta yayasan. Semua pembiayaan dapat ditransfer pada Nomor Rekening: 1500 42000 9.  BNI Syariah Cab. Tanah Sareal Bogor. a/n Yayasan Bintang Pelajar Indonesia  Tersedia diskon dan beasiswa khusus :Berdasarkan hasil tes masuk (tes IQ, Psikotes, tes Diniyah, Interview untuk siswa dan orang tua) akan ditentukan kisaran potongan Uang Masuk dan SPP. Sebagai salah satu acuan untuk  menentukan kisaran potongan :  No Faktor Penilaian Kualifikasi Minimal Beasiswa maks. 30% Beasiswa maks. 50% Beasiswa maks. 80% Beasiswa maks. 100% 1 IQ Score 110 ≥ 115 ≥ 120 ≥ 125 ≥ 131 dan / atau dan / atau dan / atau dan / atau 2 Hafalan Quran Memiliki Hafalan Min 5 Juz Min 10 Juz Min 15 Juz Min 20 Juz  HUBUNGI KAMI: Contact Person: Ust. Bukit Adhinugraha, M.Pd.    (0812  8841 115) Ust. Erman Permana, M.Pd.I.    (0852  8453 9294) Alamat: Kantor BP IBS – Komplek Ruko 24, Jl Baru Sholeh Iskandar, Bogor E-mai: bpibs@bintangpelajar.com 🔍 Arti Sebuah Nama Menurut Islam, Hadits Dakwah, Hadits Tentang Air, Ucapan Ulang Tahun Islami, Do'a Iftitah Dan Artinya


Kami berharap bisa menyuguhkan pendidikan yang lebih komprehensif dari segi keilmuan populer (khususnya dibidang sains) dan dari segi Diniyah (keagamaan). Dengan pengalaman lebih dari dua puluh tahun di bidang pengelolaan pendidikan maka kami yakin, insyaAllah, dapat memberikan pelayanan program pendidikan berkualitas tinggi di SMA BP IBS ini. Konsep utama dari SMA BP IBS adalah bagaimana kami dapat menumbuhkan, mengembangkan dan memperbaiki agar generasi yang beriman, bertakwa kepada Allah Azza wa Jalla yang berasaskan Al Qur’an dan Assunah sesuai dengan Ahlusunnah wal Jama’ah. Juga memiliki ilmu dan pengetahuan moderen sebagai bekal untuk mampu berprestasi di skala nasional maupun internasional. Visi“Terwujudnya generasi Islam bermanhaj Ahlussunnah wal Jamaah dan berilmu pengetahuan modern”.Misi Menanamkan aqidah, ibadah, akhlak, dan muamalah berdasarkan Al Quran dan Sunnah sesuai dengan Ahlussunnah wal Jamaah. Menumbuhkan pola berfikir, bersikap, dan bertindak yang mampu mencerminkan ketaatan kepada Allah Azza wa Jalla dan berakhlak mulia. Menyelenggarakan sistem pendidikan Islami dengan menerapkan Islamic Total Quality Management (ITQM) agar peserta didik menguasai ilmu pengetahuan yang bermanfaat bagi kebahagiaan hidupnya di dunia & akhirat. Tujuan Memiliki kemampuan mengamalkan tauhid yang benar sehingga menumbuhkan keistiqomahan dalam beribadah kepada Allah ‘Azza Wa Jalla. Menguasai dan mampu berbahasa Arab dan berbahasa Inggris secara aktif sesuai pendidikan lanjutan yang dipilih. Memiliki hafalan al-Qur’an 5 Juz dengan mutqin. Memiliki, menguasai, dan terampil dalam menerapkan ilmu akademiknya. Pengelolaan sekolah berdasarkan Islamic Total Quality Management (ITQM) sehingga menjamin mutu lulusan yang bertaqwa, berakhlak mulia dan berilmu pengetahuan. Dapat melanjutkan ke kampus favorit pilihannya (universitas umum dan Islam). Memiliki, menguasai, dan terampil dalam kepemimpinan dan kewirausahaan. Khusus putri menguasai dan terampil dalam bidang keputrian (tata boga, tata graha, tata busana, dan kesehatan kewanitaan). PENDAFTARAN: Waktu Pendaftaran dan Tes Seleksi Waktu pendaftaran paling lambat tanggal 30 Juni 2018. Jika kuota sudah tepenuhi sebelum tanggal tersebut, maka pendaftaran akan ditutup. Kelengkapan Berkas : Uang pendaftaran Mengisi formulir pendaftaran online pas foto 3×4 dengan latar putih FC akta kelahiran FC kartu keluarga FC KTP orangtua/wali Rapor Sekolah SD dan SMP asli dan FC Lokasi Tes     : Ruang BP IBS, Bogor (Bintang Pelajar SI) Materi Tes     : One day test (Kedua orang tua wajib hadir) Tes tulis    Diniyah     : Tes tulis materi dasar keislaman & Bahasa Arab Pemula Umum     : Psikotes (IQ, EPPS, TPA) Tes praktek    : Tes baca & hafal Al-Quran Wawancara    : Anak dan Kedua Orang Tua  PEMBIAYAAN PENDAFTARAN, BELAJAR, ASRAMA DAN BEASISWA: Pendaftaran Rp 1,250,000 (formulir, administrasi & komunikasi, test tulis (diniyah+umum), analisis kemampuan potensi akademik & keislaman, tes praktik, dan tes wawancara siswa & kedua orang tuanya  serta makan siang. Uang Asrama dan kegiatannya selama 4 tahun Rp. 45,000,000. (Tidak perlu les lagi di Bintang Pelajar atau tempat les manapun) – dibayarkan selambat-lambatnya saat daftar ulang. Uang SPP: Rp. 4,900,000/bulan.  SPP Juli 2018 dibayarkan saat daftar ulang. Beasiswa diberikan  kepada 10% jumlah siswa dengan pemotongan pembiayaan sampai 100% berdasarkan seleksi dan keputusan sekolah serta yayasan. Semua pembiayaan dapat ditransfer pada Nomor Rekening: 1500 42000 9.  BNI Syariah Cab. Tanah Sareal Bogor. a/n Yayasan Bintang Pelajar Indonesia  Tersedia diskon dan beasiswa khusus :Berdasarkan hasil tes masuk (tes IQ, Psikotes, tes Diniyah, Interview untuk siswa dan orang tua) akan ditentukan kisaran potongan Uang Masuk dan SPP. Sebagai salah satu acuan untuk  menentukan kisaran potongan :  No Faktor Penilaian Kualifikasi Minimal Beasiswa maks. 30% Beasiswa maks. 50% Beasiswa maks. 80% Beasiswa maks. 100% 1 IQ Score 110 ≥ 115 ≥ 120 ≥ 125 ≥ 131 dan / atau dan / atau dan / atau dan / atau 2 Hafalan Quran Memiliki Hafalan Min 5 Juz Min 10 Juz Min 15 Juz Min 20 Juz  HUBUNGI KAMI: Contact Person: Ust. Bukit Adhinugraha, M.Pd.    (0812  8841 115) Ust. Erman Permana, M.Pd.I.    (0852  8453 9294) Alamat: Kantor BP IBS – Komplek Ruko 24, Jl Baru Sholeh Iskandar, Bogor E-mai: bpibs@bintangpelajar.com 🔍 Arti Sebuah Nama Menurut Islam, Hadits Dakwah, Hadits Tentang Air, Ucapan Ulang Tahun Islami, Do'a Iftitah Dan Artinya

Hidup Suri

Apa Itu Hidup Suri?Istilah yang sering kita dengar adalah mati suri. Itu merupakan sebuah istilah untuk menjuluki kondisi di mana sesorang tampaknya mati, tetapi sebenarnya masih hidup. Adapun judul di atas; hidup suri adalah kebalikan mati suri. Itu adalah istilah yang kami buat sendiri untuk menjuluki orang yang tampaknya hidup, padahal sebenarnya ia mati. Siapakah dia? Dia adalah orang yang enggan berdzikir!Baca Juga: Dzikir-Dzikir yang Shahih Setelah ShalatJangan Malas BerdzikirPerlu diketahui, bahwa selain memotivasi para hamba-Nya untuk banyak berdzikir, Allah ta’ala juga mengingatkan mereka agar tidak lalai dari berdzikir. Bahkan terkadang Allah menggabungkan antara keduanya. Antara lain dalam firman-Nya,“وَاذْكُرْ رَبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِيفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَالآصَالِ وَلا تَكُنْ مِنَ الْغَافِلِينَ”.Artinya: “Ingatlah Rabbmu dalam hatimu dengan rendah hati dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, pada waktu pagi dan petang. Serta janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai”. QS. Al-A’raf (7): 205.Kebutuhan seorang hamba kepada dzikir melebihi kebutuhan seekor ikan terhadap air, sebab dzikir merupakan sumber kehidupan hati. Nabi kita shallallahu’alaihiwasallam memberikan sebuah perumpamaan yang sangat buruk bagi manusia yang enggan berdzikir. Kata beliau, “مَثَلُ الَّذِي يَذْكُرُ رَبَّهُ وَالَّذِي لَا يَذْكُرُ رَبَّهُ مَثَلُ الْحَيِّ وَالْمَيِّتِ”.“Perumpamaan orang yang berdzikir (mengingat) Rabbnya dan orang yang tidak berdzikir, seperti orang yang hidup dan orang yang mati”. HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Musa al-Asy’ary radhiyallahu ’anhu.Baca Juga: Bolehkah Orang Junub Berdzikir dari Al Quran?Jenis-Jenis Hati ManusiaBerdasarkan keterangan di atas, hati para manusia bisa diklasifikasikan menjadi tiga jenis:1. Hati yang Hidup dan SehatHati yang hidup dan sehat adalah hati yang senantiasa dipenuhi dengan dzikrullah. Hati yang mengikhlaskan seluruh amalannya hanya untuk Allah ta’ala. Ia mencintai, membenci, memberi dan menahan pemberian karena Allah semata. Dalam bertindak dan berlaku, selalu yang dijadikan sebagai patokan adalah keridaan Allah dan Rasul-Nya shallallahu’alaihiwasallam bukan yang lain.2. Hati yang MatiHati yang mati adalah hati yang kosong dari dzikrullah. Hati yang tidak mengenal Rabbnya, tidak beribadah pada-Nya, tidak menjalankan perintah-Nya maupun menjauhi larangan-Nya. Ia mencintai, membenci, memberi dan menahan pemberian semata karena menuruti hawa nafsunya.Ketiga: Hati yang sakit. Adalah hati yang masih hidup namun menderita penyakit. Tergantung unsur mana yang lebih dominan. Terkadang penyakitnya berkurang karena porsi dzikirnya ia tingkatkan. Namun seringkali, penyakitnya semakin parah, karena terlalu lama tidak berdzikir, sehingga hampir-hampir ia mati.Hati pertama adalah hati yang subur dan lembut. Hati kedua adalah hati yang tandus dan mati. Hati ketiga adalah hati yang sakit, kadangkala mendekati kesembuhan dan tidak jarang pula mendekati kematian. Nomor berapakah hati kita?Baca Juga: Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 19 Rabi’uts Tsani 1433 / 12 Maret 2012Penulis: Ustadz Abdullah Zaen, Lc. MA.Artikel: Muslim.or.id

Hidup Suri

Apa Itu Hidup Suri?Istilah yang sering kita dengar adalah mati suri. Itu merupakan sebuah istilah untuk menjuluki kondisi di mana sesorang tampaknya mati, tetapi sebenarnya masih hidup. Adapun judul di atas; hidup suri adalah kebalikan mati suri. Itu adalah istilah yang kami buat sendiri untuk menjuluki orang yang tampaknya hidup, padahal sebenarnya ia mati. Siapakah dia? Dia adalah orang yang enggan berdzikir!Baca Juga: Dzikir-Dzikir yang Shahih Setelah ShalatJangan Malas BerdzikirPerlu diketahui, bahwa selain memotivasi para hamba-Nya untuk banyak berdzikir, Allah ta’ala juga mengingatkan mereka agar tidak lalai dari berdzikir. Bahkan terkadang Allah menggabungkan antara keduanya. Antara lain dalam firman-Nya,“وَاذْكُرْ رَبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِيفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَالآصَالِ وَلا تَكُنْ مِنَ الْغَافِلِينَ”.Artinya: “Ingatlah Rabbmu dalam hatimu dengan rendah hati dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, pada waktu pagi dan petang. Serta janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai”. QS. Al-A’raf (7): 205.Kebutuhan seorang hamba kepada dzikir melebihi kebutuhan seekor ikan terhadap air, sebab dzikir merupakan sumber kehidupan hati. Nabi kita shallallahu’alaihiwasallam memberikan sebuah perumpamaan yang sangat buruk bagi manusia yang enggan berdzikir. Kata beliau, “مَثَلُ الَّذِي يَذْكُرُ رَبَّهُ وَالَّذِي لَا يَذْكُرُ رَبَّهُ مَثَلُ الْحَيِّ وَالْمَيِّتِ”.“Perumpamaan orang yang berdzikir (mengingat) Rabbnya dan orang yang tidak berdzikir, seperti orang yang hidup dan orang yang mati”. HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Musa al-Asy’ary radhiyallahu ’anhu.Baca Juga: Bolehkah Orang Junub Berdzikir dari Al Quran?Jenis-Jenis Hati ManusiaBerdasarkan keterangan di atas, hati para manusia bisa diklasifikasikan menjadi tiga jenis:1. Hati yang Hidup dan SehatHati yang hidup dan sehat adalah hati yang senantiasa dipenuhi dengan dzikrullah. Hati yang mengikhlaskan seluruh amalannya hanya untuk Allah ta’ala. Ia mencintai, membenci, memberi dan menahan pemberian karena Allah semata. Dalam bertindak dan berlaku, selalu yang dijadikan sebagai patokan adalah keridaan Allah dan Rasul-Nya shallallahu’alaihiwasallam bukan yang lain.2. Hati yang MatiHati yang mati adalah hati yang kosong dari dzikrullah. Hati yang tidak mengenal Rabbnya, tidak beribadah pada-Nya, tidak menjalankan perintah-Nya maupun menjauhi larangan-Nya. Ia mencintai, membenci, memberi dan menahan pemberian semata karena menuruti hawa nafsunya.Ketiga: Hati yang sakit. Adalah hati yang masih hidup namun menderita penyakit. Tergantung unsur mana yang lebih dominan. Terkadang penyakitnya berkurang karena porsi dzikirnya ia tingkatkan. Namun seringkali, penyakitnya semakin parah, karena terlalu lama tidak berdzikir, sehingga hampir-hampir ia mati.Hati pertama adalah hati yang subur dan lembut. Hati kedua adalah hati yang tandus dan mati. Hati ketiga adalah hati yang sakit, kadangkala mendekati kesembuhan dan tidak jarang pula mendekati kematian. Nomor berapakah hati kita?Baca Juga: Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 19 Rabi’uts Tsani 1433 / 12 Maret 2012Penulis: Ustadz Abdullah Zaen, Lc. MA.Artikel: Muslim.or.id
Apa Itu Hidup Suri?Istilah yang sering kita dengar adalah mati suri. Itu merupakan sebuah istilah untuk menjuluki kondisi di mana sesorang tampaknya mati, tetapi sebenarnya masih hidup. Adapun judul di atas; hidup suri adalah kebalikan mati suri. Itu adalah istilah yang kami buat sendiri untuk menjuluki orang yang tampaknya hidup, padahal sebenarnya ia mati. Siapakah dia? Dia adalah orang yang enggan berdzikir!Baca Juga: Dzikir-Dzikir yang Shahih Setelah ShalatJangan Malas BerdzikirPerlu diketahui, bahwa selain memotivasi para hamba-Nya untuk banyak berdzikir, Allah ta’ala juga mengingatkan mereka agar tidak lalai dari berdzikir. Bahkan terkadang Allah menggabungkan antara keduanya. Antara lain dalam firman-Nya,“وَاذْكُرْ رَبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِيفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَالآصَالِ وَلا تَكُنْ مِنَ الْغَافِلِينَ”.Artinya: “Ingatlah Rabbmu dalam hatimu dengan rendah hati dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, pada waktu pagi dan petang. Serta janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai”. QS. Al-A’raf (7): 205.Kebutuhan seorang hamba kepada dzikir melebihi kebutuhan seekor ikan terhadap air, sebab dzikir merupakan sumber kehidupan hati. Nabi kita shallallahu’alaihiwasallam memberikan sebuah perumpamaan yang sangat buruk bagi manusia yang enggan berdzikir. Kata beliau, “مَثَلُ الَّذِي يَذْكُرُ رَبَّهُ وَالَّذِي لَا يَذْكُرُ رَبَّهُ مَثَلُ الْحَيِّ وَالْمَيِّتِ”.“Perumpamaan orang yang berdzikir (mengingat) Rabbnya dan orang yang tidak berdzikir, seperti orang yang hidup dan orang yang mati”. HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Musa al-Asy’ary radhiyallahu ’anhu.Baca Juga: Bolehkah Orang Junub Berdzikir dari Al Quran?Jenis-Jenis Hati ManusiaBerdasarkan keterangan di atas, hati para manusia bisa diklasifikasikan menjadi tiga jenis:1. Hati yang Hidup dan SehatHati yang hidup dan sehat adalah hati yang senantiasa dipenuhi dengan dzikrullah. Hati yang mengikhlaskan seluruh amalannya hanya untuk Allah ta’ala. Ia mencintai, membenci, memberi dan menahan pemberian karena Allah semata. Dalam bertindak dan berlaku, selalu yang dijadikan sebagai patokan adalah keridaan Allah dan Rasul-Nya shallallahu’alaihiwasallam bukan yang lain.2. Hati yang MatiHati yang mati adalah hati yang kosong dari dzikrullah. Hati yang tidak mengenal Rabbnya, tidak beribadah pada-Nya, tidak menjalankan perintah-Nya maupun menjauhi larangan-Nya. Ia mencintai, membenci, memberi dan menahan pemberian semata karena menuruti hawa nafsunya.Ketiga: Hati yang sakit. Adalah hati yang masih hidup namun menderita penyakit. Tergantung unsur mana yang lebih dominan. Terkadang penyakitnya berkurang karena porsi dzikirnya ia tingkatkan. Namun seringkali, penyakitnya semakin parah, karena terlalu lama tidak berdzikir, sehingga hampir-hampir ia mati.Hati pertama adalah hati yang subur dan lembut. Hati kedua adalah hati yang tandus dan mati. Hati ketiga adalah hati yang sakit, kadangkala mendekati kesembuhan dan tidak jarang pula mendekati kematian. Nomor berapakah hati kita?Baca Juga: Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 19 Rabi’uts Tsani 1433 / 12 Maret 2012Penulis: Ustadz Abdullah Zaen, Lc. MA.Artikel: Muslim.or.id


Apa Itu Hidup Suri?Istilah yang sering kita dengar adalah mati suri. Itu merupakan sebuah istilah untuk menjuluki kondisi di mana sesorang tampaknya mati, tetapi sebenarnya masih hidup. Adapun judul di atas; hidup suri adalah kebalikan mati suri. Itu adalah istilah yang kami buat sendiri untuk menjuluki orang yang tampaknya hidup, padahal sebenarnya ia mati. Siapakah dia? Dia adalah orang yang enggan berdzikir!Baca Juga: Dzikir-Dzikir yang Shahih Setelah ShalatJangan Malas BerdzikirPerlu diketahui, bahwa selain memotivasi para hamba-Nya untuk banyak berdzikir, Allah ta’ala juga mengingatkan mereka agar tidak lalai dari berdzikir. Bahkan terkadang Allah menggabungkan antara keduanya. Antara lain dalam firman-Nya,“وَاذْكُرْ رَبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِيفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَالآصَالِ وَلا تَكُنْ مِنَ الْغَافِلِينَ”.Artinya: “Ingatlah Rabbmu dalam hatimu dengan rendah hati dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, pada waktu pagi dan petang. Serta janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai”. QS. Al-A’raf (7): 205.Kebutuhan seorang hamba kepada dzikir melebihi kebutuhan seekor ikan terhadap air, sebab dzikir merupakan sumber kehidupan hati. Nabi kita shallallahu’alaihiwasallam memberikan sebuah perumpamaan yang sangat buruk bagi manusia yang enggan berdzikir. Kata beliau, “مَثَلُ الَّذِي يَذْكُرُ رَبَّهُ وَالَّذِي لَا يَذْكُرُ رَبَّهُ مَثَلُ الْحَيِّ وَالْمَيِّتِ”.“Perumpamaan orang yang berdzikir (mengingat) Rabbnya dan orang yang tidak berdzikir, seperti orang yang hidup dan orang yang mati”. HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Musa al-Asy’ary radhiyallahu ’anhu.Baca Juga: Bolehkah Orang Junub Berdzikir dari Al Quran?Jenis-Jenis Hati ManusiaBerdasarkan keterangan di atas, hati para manusia bisa diklasifikasikan menjadi tiga jenis:1. Hati yang Hidup dan SehatHati yang hidup dan sehat adalah hati yang senantiasa dipenuhi dengan dzikrullah. Hati yang mengikhlaskan seluruh amalannya hanya untuk Allah ta’ala. Ia mencintai, membenci, memberi dan menahan pemberian karena Allah semata. Dalam bertindak dan berlaku, selalu yang dijadikan sebagai patokan adalah keridaan Allah dan Rasul-Nya shallallahu’alaihiwasallam bukan yang lain.2. Hati yang MatiHati yang mati adalah hati yang kosong dari dzikrullah. Hati yang tidak mengenal Rabbnya, tidak beribadah pada-Nya, tidak menjalankan perintah-Nya maupun menjauhi larangan-Nya. Ia mencintai, membenci, memberi dan menahan pemberian semata karena menuruti hawa nafsunya.Ketiga: Hati yang sakit. Adalah hati yang masih hidup namun menderita penyakit. Tergantung unsur mana yang lebih dominan. Terkadang penyakitnya berkurang karena porsi dzikirnya ia tingkatkan. Namun seringkali, penyakitnya semakin parah, karena terlalu lama tidak berdzikir, sehingga hampir-hampir ia mati.Hati pertama adalah hati yang subur dan lembut. Hati kedua adalah hati yang tandus dan mati. Hati ketiga adalah hati yang sakit, kadangkala mendekati kesembuhan dan tidak jarang pula mendekati kematian. Nomor berapakah hati kita?Baca Juga: Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 19 Rabi’uts Tsani 1433 / 12 Maret 2012Penulis: Ustadz Abdullah Zaen, Lc. MA.Artikel: Muslim.or.id

Laki-Laki adalah Pemimpin Rumah Tangga (Bag. 4)

Baca Pembahasan sebelumnya Laki-Laki adalah Pemimpin Rumah Tangga (Bag. 3)Konsekuensi Kepemimpinan Laki-Laki dalam Rumah TanggaKetika seorang laki-laki menjadi pemimpin rumah tangga, tidak lantas dia hanya memikirkan hak-haknya saja sebagai suami sekaligus kepala rumah tangga. Akan tetapi, dia juga harus memperhatikan tanggung jawab yang harus dia tunaikan.Baca Juga: Sunnah Banyak Anak dan Kewajiban Mendidik MerekaMendidik Keluarga dengan Ajaran IslamTanggung jawab laki-laki yang terbesar adalah membimbing dan mendidik keluarganya agar terhindar dari api neraka. Allah Ta’ala berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu (dan anakmu) dan istrimu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahrim [66]: 6)Berkaitan dengan firman Allah Ta’ala (yang artinya), “peliharalah dirimu (dan anakmu) dan istrimu dari api neraka”, sahabat ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata,أدبوهم وعلموهم“Didiklah dan ajarkanlah mereka (perkara agama).”Sedangkan Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata,اعْمَلُوا بطاعة الله واتقوا معاصي الله، وأمروا أهليكم بالذكر ينجكم اللَّهُ مِنَ النَّارِ“Berbuatlah ketaatan kepada Allah dan takutlah dari bermaksiat kepada Allah. Perintahkanlah keluargamu (anak dan istrimu) untuk berdzikir, semoga Allah menyelamatkan kalian dari neraka.”Mujahid rahimahullah berkata,اتَّقُوا اللَّهَ وَأَوْصُوا أَهْلِيكُمْ بتقوى الله“Bertakwalah kepada Allah dan berwasiatlah kepada keluarga kalian agar mereka bertakwa kepada Allah.”Demikian pula yang dikatakan oleh Adh-Dhahhak dan Muqatil,حَقٌّ عَلَى الْمُسْلِمِ أَنْ يُعَلِّمَ أَهْلَهُ مِنْ قَرَابَتِهِ وَإِمَائِهِ وَعَبِيدِهِ مَا فَرَضَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ وَمَا نَهَاهُمُ اللَّهُ عَنْهُ“Menjadi kewajiban seorang muslim (laki-laki) untuk mengajarkan kewajiban yang Allah tetapkan dan larangan-larangan Allah kepada kerabat, budak perempuan, dan budak laki-lakinya.” (Lihat Tafsir Ibnu Katsir, 8: 188-189)Dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,كُلُّكُمْ رَاعٍ فَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، فَالأَمِيرُ الَّذِي عَلَى النَّاسِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ، وَالمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ بَعْلِهَا وَوَلَدِهِ وَهِيَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ، وَالعَبْدُ رَاعٍ عَلَى مَالِ سَيِّدِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُ، أَلاَ فَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ“Setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Amir (kepala Negara), dia adalah pemimpin manusia secara umum, dan dia akan diminta pertanggungjawaban atas mereka. Seorang suami dalam keluarga adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka. Seorang istri adalah pemimpin di dalam rumah tangga suaminya dan terhadap anak-anaknya, dan dia akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka. Seorang hamba sahaya adalah pemimpin dalam urusan harta tuannya, dia akan dimintai pertanggungjawaban atasnya. Ketahuilah, bahwa setiap kalian adalah pemimipin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas siapa yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari no. 2554 dan Muslim no. 1829)Baca Juga: Orang Tua Tidak Pernah Menafkahi, Wajibkah Anak Tetap BerbaktiPerintahkan Anak untuk Mendirikan ShalatDan di antara contoh tanggung jawab seorang kepala rumah tangga adalah memerintahkan anak-anaknya untuk mendirikan shalat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مُرُوا الصَّبِيَّ بِالصَّلَاةِ إِذَا بَلَغَ سَبْعَ سِنِينَ، وَإِذَا بَلَغَ عَشْرَ سِنِينَ فَاضْرِبُوهُ عَلَيْهَا“Perintahkanlah anak kecil untuk melaksanakan shalat apabila sudah mencapai umur tujuh tahun. Dan apabila sudah mencapai umur sepuluh tahun, maka pukullah apabila dia tidak melaksanakannya.” (HR. Abu Dawud no. 494)Mendidik Anak Tanggung Jawab Suami dan IstriDi antara kesalahan suami adalah dia menyerahkan semua urusan pendidikan anak kepada istri. Dia menganggap bahwa urusan dia adalah mencari nafkah (saja). Sedangkan urusan mendidik anak, itu adalah urusan sang istri. Ini adalah sebuah kekeliruan yang besar. Jika ada istilah “istri adalah madrasah pertama bagi anak-anak”, maka ingatlah bahwa madrasah itu memiliki kepala sekolah. Dan siapa lagi kepala sekolah madrasah anak-anaknya selain sang suami (sang bapak) itu sendiri.Baca Juga:[Bersambung]***@Rumah Lendah, 8 Rabi’ul awwal 1441/5 November 2019Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.or.id

Laki-Laki adalah Pemimpin Rumah Tangga (Bag. 4)

Baca Pembahasan sebelumnya Laki-Laki adalah Pemimpin Rumah Tangga (Bag. 3)Konsekuensi Kepemimpinan Laki-Laki dalam Rumah TanggaKetika seorang laki-laki menjadi pemimpin rumah tangga, tidak lantas dia hanya memikirkan hak-haknya saja sebagai suami sekaligus kepala rumah tangga. Akan tetapi, dia juga harus memperhatikan tanggung jawab yang harus dia tunaikan.Baca Juga: Sunnah Banyak Anak dan Kewajiban Mendidik MerekaMendidik Keluarga dengan Ajaran IslamTanggung jawab laki-laki yang terbesar adalah membimbing dan mendidik keluarganya agar terhindar dari api neraka. Allah Ta’ala berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu (dan anakmu) dan istrimu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahrim [66]: 6)Berkaitan dengan firman Allah Ta’ala (yang artinya), “peliharalah dirimu (dan anakmu) dan istrimu dari api neraka”, sahabat ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata,أدبوهم وعلموهم“Didiklah dan ajarkanlah mereka (perkara agama).”Sedangkan Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata,اعْمَلُوا بطاعة الله واتقوا معاصي الله، وأمروا أهليكم بالذكر ينجكم اللَّهُ مِنَ النَّارِ“Berbuatlah ketaatan kepada Allah dan takutlah dari bermaksiat kepada Allah. Perintahkanlah keluargamu (anak dan istrimu) untuk berdzikir, semoga Allah menyelamatkan kalian dari neraka.”Mujahid rahimahullah berkata,اتَّقُوا اللَّهَ وَأَوْصُوا أَهْلِيكُمْ بتقوى الله“Bertakwalah kepada Allah dan berwasiatlah kepada keluarga kalian agar mereka bertakwa kepada Allah.”Demikian pula yang dikatakan oleh Adh-Dhahhak dan Muqatil,حَقٌّ عَلَى الْمُسْلِمِ أَنْ يُعَلِّمَ أَهْلَهُ مِنْ قَرَابَتِهِ وَإِمَائِهِ وَعَبِيدِهِ مَا فَرَضَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ وَمَا نَهَاهُمُ اللَّهُ عَنْهُ“Menjadi kewajiban seorang muslim (laki-laki) untuk mengajarkan kewajiban yang Allah tetapkan dan larangan-larangan Allah kepada kerabat, budak perempuan, dan budak laki-lakinya.” (Lihat Tafsir Ibnu Katsir, 8: 188-189)Dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,كُلُّكُمْ رَاعٍ فَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، فَالأَمِيرُ الَّذِي عَلَى النَّاسِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ، وَالمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ بَعْلِهَا وَوَلَدِهِ وَهِيَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ، وَالعَبْدُ رَاعٍ عَلَى مَالِ سَيِّدِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُ، أَلاَ فَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ“Setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Amir (kepala Negara), dia adalah pemimpin manusia secara umum, dan dia akan diminta pertanggungjawaban atas mereka. Seorang suami dalam keluarga adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka. Seorang istri adalah pemimpin di dalam rumah tangga suaminya dan terhadap anak-anaknya, dan dia akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka. Seorang hamba sahaya adalah pemimpin dalam urusan harta tuannya, dia akan dimintai pertanggungjawaban atasnya. Ketahuilah, bahwa setiap kalian adalah pemimipin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas siapa yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari no. 2554 dan Muslim no. 1829)Baca Juga: Orang Tua Tidak Pernah Menafkahi, Wajibkah Anak Tetap BerbaktiPerintahkan Anak untuk Mendirikan ShalatDan di antara contoh tanggung jawab seorang kepala rumah tangga adalah memerintahkan anak-anaknya untuk mendirikan shalat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مُرُوا الصَّبِيَّ بِالصَّلَاةِ إِذَا بَلَغَ سَبْعَ سِنِينَ، وَإِذَا بَلَغَ عَشْرَ سِنِينَ فَاضْرِبُوهُ عَلَيْهَا“Perintahkanlah anak kecil untuk melaksanakan shalat apabila sudah mencapai umur tujuh tahun. Dan apabila sudah mencapai umur sepuluh tahun, maka pukullah apabila dia tidak melaksanakannya.” (HR. Abu Dawud no. 494)Mendidik Anak Tanggung Jawab Suami dan IstriDi antara kesalahan suami adalah dia menyerahkan semua urusan pendidikan anak kepada istri. Dia menganggap bahwa urusan dia adalah mencari nafkah (saja). Sedangkan urusan mendidik anak, itu adalah urusan sang istri. Ini adalah sebuah kekeliruan yang besar. Jika ada istilah “istri adalah madrasah pertama bagi anak-anak”, maka ingatlah bahwa madrasah itu memiliki kepala sekolah. Dan siapa lagi kepala sekolah madrasah anak-anaknya selain sang suami (sang bapak) itu sendiri.Baca Juga:[Bersambung]***@Rumah Lendah, 8 Rabi’ul awwal 1441/5 November 2019Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.or.id
Baca Pembahasan sebelumnya Laki-Laki adalah Pemimpin Rumah Tangga (Bag. 3)Konsekuensi Kepemimpinan Laki-Laki dalam Rumah TanggaKetika seorang laki-laki menjadi pemimpin rumah tangga, tidak lantas dia hanya memikirkan hak-haknya saja sebagai suami sekaligus kepala rumah tangga. Akan tetapi, dia juga harus memperhatikan tanggung jawab yang harus dia tunaikan.Baca Juga: Sunnah Banyak Anak dan Kewajiban Mendidik MerekaMendidik Keluarga dengan Ajaran IslamTanggung jawab laki-laki yang terbesar adalah membimbing dan mendidik keluarganya agar terhindar dari api neraka. Allah Ta’ala berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu (dan anakmu) dan istrimu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahrim [66]: 6)Berkaitan dengan firman Allah Ta’ala (yang artinya), “peliharalah dirimu (dan anakmu) dan istrimu dari api neraka”, sahabat ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata,أدبوهم وعلموهم“Didiklah dan ajarkanlah mereka (perkara agama).”Sedangkan Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata,اعْمَلُوا بطاعة الله واتقوا معاصي الله، وأمروا أهليكم بالذكر ينجكم اللَّهُ مِنَ النَّارِ“Berbuatlah ketaatan kepada Allah dan takutlah dari bermaksiat kepada Allah. Perintahkanlah keluargamu (anak dan istrimu) untuk berdzikir, semoga Allah menyelamatkan kalian dari neraka.”Mujahid rahimahullah berkata,اتَّقُوا اللَّهَ وَأَوْصُوا أَهْلِيكُمْ بتقوى الله“Bertakwalah kepada Allah dan berwasiatlah kepada keluarga kalian agar mereka bertakwa kepada Allah.”Demikian pula yang dikatakan oleh Adh-Dhahhak dan Muqatil,حَقٌّ عَلَى الْمُسْلِمِ أَنْ يُعَلِّمَ أَهْلَهُ مِنْ قَرَابَتِهِ وَإِمَائِهِ وَعَبِيدِهِ مَا فَرَضَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ وَمَا نَهَاهُمُ اللَّهُ عَنْهُ“Menjadi kewajiban seorang muslim (laki-laki) untuk mengajarkan kewajiban yang Allah tetapkan dan larangan-larangan Allah kepada kerabat, budak perempuan, dan budak laki-lakinya.” (Lihat Tafsir Ibnu Katsir, 8: 188-189)Dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,كُلُّكُمْ رَاعٍ فَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، فَالأَمِيرُ الَّذِي عَلَى النَّاسِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ، وَالمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ بَعْلِهَا وَوَلَدِهِ وَهِيَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ، وَالعَبْدُ رَاعٍ عَلَى مَالِ سَيِّدِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُ، أَلاَ فَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ“Setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Amir (kepala Negara), dia adalah pemimpin manusia secara umum, dan dia akan diminta pertanggungjawaban atas mereka. Seorang suami dalam keluarga adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka. Seorang istri adalah pemimpin di dalam rumah tangga suaminya dan terhadap anak-anaknya, dan dia akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka. Seorang hamba sahaya adalah pemimpin dalam urusan harta tuannya, dia akan dimintai pertanggungjawaban atasnya. Ketahuilah, bahwa setiap kalian adalah pemimipin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas siapa yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari no. 2554 dan Muslim no. 1829)Baca Juga: Orang Tua Tidak Pernah Menafkahi, Wajibkah Anak Tetap BerbaktiPerintahkan Anak untuk Mendirikan ShalatDan di antara contoh tanggung jawab seorang kepala rumah tangga adalah memerintahkan anak-anaknya untuk mendirikan shalat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مُرُوا الصَّبِيَّ بِالصَّلَاةِ إِذَا بَلَغَ سَبْعَ سِنِينَ، وَإِذَا بَلَغَ عَشْرَ سِنِينَ فَاضْرِبُوهُ عَلَيْهَا“Perintahkanlah anak kecil untuk melaksanakan shalat apabila sudah mencapai umur tujuh tahun. Dan apabila sudah mencapai umur sepuluh tahun, maka pukullah apabila dia tidak melaksanakannya.” (HR. Abu Dawud no. 494)Mendidik Anak Tanggung Jawab Suami dan IstriDi antara kesalahan suami adalah dia menyerahkan semua urusan pendidikan anak kepada istri. Dia menganggap bahwa urusan dia adalah mencari nafkah (saja). Sedangkan urusan mendidik anak, itu adalah urusan sang istri. Ini adalah sebuah kekeliruan yang besar. Jika ada istilah “istri adalah madrasah pertama bagi anak-anak”, maka ingatlah bahwa madrasah itu memiliki kepala sekolah. Dan siapa lagi kepala sekolah madrasah anak-anaknya selain sang suami (sang bapak) itu sendiri.Baca Juga:[Bersambung]***@Rumah Lendah, 8 Rabi’ul awwal 1441/5 November 2019Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.or.id


Baca Pembahasan sebelumnya Laki-Laki adalah Pemimpin Rumah Tangga (Bag. 3)Konsekuensi Kepemimpinan Laki-Laki dalam Rumah TanggaKetika seorang laki-laki menjadi pemimpin rumah tangga, tidak lantas dia hanya memikirkan hak-haknya saja sebagai suami sekaligus kepala rumah tangga. Akan tetapi, dia juga harus memperhatikan tanggung jawab yang harus dia tunaikan.Baca Juga: Sunnah Banyak Anak dan Kewajiban Mendidik MerekaMendidik Keluarga dengan Ajaran IslamTanggung jawab laki-laki yang terbesar adalah membimbing dan mendidik keluarganya agar terhindar dari api neraka. Allah Ta’ala berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu (dan anakmu) dan istrimu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahrim [66]: 6)Berkaitan dengan firman Allah Ta’ala (yang artinya), “peliharalah dirimu (dan anakmu) dan istrimu dari api neraka”, sahabat ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata,أدبوهم وعلموهم“Didiklah dan ajarkanlah mereka (perkara agama).”Sedangkan Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata,اعْمَلُوا بطاعة الله واتقوا معاصي الله، وأمروا أهليكم بالذكر ينجكم اللَّهُ مِنَ النَّارِ“Berbuatlah ketaatan kepada Allah dan takutlah dari bermaksiat kepada Allah. Perintahkanlah keluargamu (anak dan istrimu) untuk berdzikir, semoga Allah menyelamatkan kalian dari neraka.”Mujahid rahimahullah berkata,اتَّقُوا اللَّهَ وَأَوْصُوا أَهْلِيكُمْ بتقوى الله“Bertakwalah kepada Allah dan berwasiatlah kepada keluarga kalian agar mereka bertakwa kepada Allah.”Demikian pula yang dikatakan oleh Adh-Dhahhak dan Muqatil,حَقٌّ عَلَى الْمُسْلِمِ أَنْ يُعَلِّمَ أَهْلَهُ مِنْ قَرَابَتِهِ وَإِمَائِهِ وَعَبِيدِهِ مَا فَرَضَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ وَمَا نَهَاهُمُ اللَّهُ عَنْهُ“Menjadi kewajiban seorang muslim (laki-laki) untuk mengajarkan kewajiban yang Allah tetapkan dan larangan-larangan Allah kepada kerabat, budak perempuan, dan budak laki-lakinya.” (Lihat Tafsir Ibnu Katsir, 8: 188-189)Dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,كُلُّكُمْ رَاعٍ فَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، فَالأَمِيرُ الَّذِي عَلَى النَّاسِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ، وَالمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ بَعْلِهَا وَوَلَدِهِ وَهِيَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ، وَالعَبْدُ رَاعٍ عَلَى مَالِ سَيِّدِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُ، أَلاَ فَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ“Setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Amir (kepala Negara), dia adalah pemimpin manusia secara umum, dan dia akan diminta pertanggungjawaban atas mereka. Seorang suami dalam keluarga adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka. Seorang istri adalah pemimpin di dalam rumah tangga suaminya dan terhadap anak-anaknya, dan dia akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka. Seorang hamba sahaya adalah pemimpin dalam urusan harta tuannya, dia akan dimintai pertanggungjawaban atasnya. Ketahuilah, bahwa setiap kalian adalah pemimipin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas siapa yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari no. 2554 dan Muslim no. 1829)Baca Juga: Orang Tua Tidak Pernah Menafkahi, Wajibkah Anak Tetap BerbaktiPerintahkan Anak untuk Mendirikan ShalatDan di antara contoh tanggung jawab seorang kepala rumah tangga adalah memerintahkan anak-anaknya untuk mendirikan shalat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مُرُوا الصَّبِيَّ بِالصَّلَاةِ إِذَا بَلَغَ سَبْعَ سِنِينَ، وَإِذَا بَلَغَ عَشْرَ سِنِينَ فَاضْرِبُوهُ عَلَيْهَا“Perintahkanlah anak kecil untuk melaksanakan shalat apabila sudah mencapai umur tujuh tahun. Dan apabila sudah mencapai umur sepuluh tahun, maka pukullah apabila dia tidak melaksanakannya.” (HR. Abu Dawud no. 494)Mendidik Anak Tanggung Jawab Suami dan IstriDi antara kesalahan suami adalah dia menyerahkan semua urusan pendidikan anak kepada istri. Dia menganggap bahwa urusan dia adalah mencari nafkah (saja). Sedangkan urusan mendidik anak, itu adalah urusan sang istri. Ini adalah sebuah kekeliruan yang besar. Jika ada istilah “istri adalah madrasah pertama bagi anak-anak”, maka ingatlah bahwa madrasah itu memiliki kepala sekolah. Dan siapa lagi kepala sekolah madrasah anak-anaknya selain sang suami (sang bapak) itu sendiri.Baca Juga:[Bersambung]***@Rumah Lendah, 8 Rabi’ul awwal 1441/5 November 2019Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.or.id

Habis Gelap Terbitlah Terang

Alhamdulillâh, wash shalâtu was salâmu ‘alâ rasûlillah…Ujian dalam Perjalanan Hidup ManusiaSiapapun yang hidup di dunia pasti akan menghadapi hal-hal yang tidak enak. Berupa musibah, sakit, sedih, problematika, kekurangan harta dan yang semisalnya. Itu sudah merupakan sunnatullah yang pasti terjadi. Allah Ta’ala menjelaskan,“وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ“Artinya: “Kami (Allah) pasti akan menguji kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa juga buah-buahan. Dan berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar”.  [QS. Al-Baqarah (2): 155]Baca Juga: Orang Baik Bukan Berarti Bebas CobaanKiat Menghadapi Ujian KehidupanDalam menghadapi berbagai ujian tersebut, agar hati terasa lapang, ada beberapa hal yang perlu kita realisasikan. Antara lain:Beratnya Ujian Tidak Akan Melebihi Batas Kemampuan KitaSeberat apapun ujian yang Allah timpakan pada kita, pasti hal itu tidak akan melewati batas kemampuan kita. Alias kita akan mampu untuk menghadapinya, dengan izin Allah. Sebab Allah Ta’ala tidak akan membebani hamba-Nya melampaui batas kemampuannya.“لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا“Artinya: “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya”. [QS. Al-Baqarah (2): 286]Baca Juga: Ujian dan Keutamaan Tinggal di Kota MadinahBerkurangnya Dosa dengan Kesabaran dalam Menghadapi UjianRasulullah shallallahu ’alaihi wasallam menjelaskan,“مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزْنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ”“Tidaklah ada kelelahan, rasa sakit, kesedihan, kekhawatiran, gangguan dan kegundah-gulanaan yang diderita seorang muslim, bahkan sampai duri yang menancap di tubuhnya; melainkan Allah akan menjadikannya sebagai penggugur sebagian dosa-dosanya.” [HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Sa’id dan Abu Hurairah radhiyallahu’anhuma.]Habis Gelap Terbitlah TerangAndaikan kita mau jujur membandingkan antara kenikmatan yang Allah karuniakan dengan musibah yang Allah timpakan pada kita, niscaya akan kita temukan bahwa musibah tersebut jauh lebih sedikit. Contoh kecilnya adalah masalah kesehatan. Antara sehatnya tubuh kita dengan sakitnya, pasti rata-rata kehidupan kita didominasi oleh kesehatan dibandingkan sakit.Kemudian, musibah itu ada selesainya. Bahkan semakin berat ujian, biasanya itu pertanda bahwa sebentar lagi akan berakhir. Allah Ta’ala menjelaskan,“فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا”Artinya: “Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan”. [QS. Al-Insyirah (94): 5]Yakinlah, bahwa cahaya itu akan muncul setelah kegelapan! Habis gelap terbitlah terang…Baca Juga:Pesantren ”Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 18 Syawal 1435 / 15 Agustus 2014Penulis: Ustadz Abdullah Zaen, Lc. MA.Artikel: Muslim.or.id

Habis Gelap Terbitlah Terang

Alhamdulillâh, wash shalâtu was salâmu ‘alâ rasûlillah…Ujian dalam Perjalanan Hidup ManusiaSiapapun yang hidup di dunia pasti akan menghadapi hal-hal yang tidak enak. Berupa musibah, sakit, sedih, problematika, kekurangan harta dan yang semisalnya. Itu sudah merupakan sunnatullah yang pasti terjadi. Allah Ta’ala menjelaskan,“وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ“Artinya: “Kami (Allah) pasti akan menguji kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa juga buah-buahan. Dan berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar”.  [QS. Al-Baqarah (2): 155]Baca Juga: Orang Baik Bukan Berarti Bebas CobaanKiat Menghadapi Ujian KehidupanDalam menghadapi berbagai ujian tersebut, agar hati terasa lapang, ada beberapa hal yang perlu kita realisasikan. Antara lain:Beratnya Ujian Tidak Akan Melebihi Batas Kemampuan KitaSeberat apapun ujian yang Allah timpakan pada kita, pasti hal itu tidak akan melewati batas kemampuan kita. Alias kita akan mampu untuk menghadapinya, dengan izin Allah. Sebab Allah Ta’ala tidak akan membebani hamba-Nya melampaui batas kemampuannya.“لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا“Artinya: “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya”. [QS. Al-Baqarah (2): 286]Baca Juga: Ujian dan Keutamaan Tinggal di Kota MadinahBerkurangnya Dosa dengan Kesabaran dalam Menghadapi UjianRasulullah shallallahu ’alaihi wasallam menjelaskan,“مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزْنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ”“Tidaklah ada kelelahan, rasa sakit, kesedihan, kekhawatiran, gangguan dan kegundah-gulanaan yang diderita seorang muslim, bahkan sampai duri yang menancap di tubuhnya; melainkan Allah akan menjadikannya sebagai penggugur sebagian dosa-dosanya.” [HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Sa’id dan Abu Hurairah radhiyallahu’anhuma.]Habis Gelap Terbitlah TerangAndaikan kita mau jujur membandingkan antara kenikmatan yang Allah karuniakan dengan musibah yang Allah timpakan pada kita, niscaya akan kita temukan bahwa musibah tersebut jauh lebih sedikit. Contoh kecilnya adalah masalah kesehatan. Antara sehatnya tubuh kita dengan sakitnya, pasti rata-rata kehidupan kita didominasi oleh kesehatan dibandingkan sakit.Kemudian, musibah itu ada selesainya. Bahkan semakin berat ujian, biasanya itu pertanda bahwa sebentar lagi akan berakhir. Allah Ta’ala menjelaskan,“فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا”Artinya: “Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan”. [QS. Al-Insyirah (94): 5]Yakinlah, bahwa cahaya itu akan muncul setelah kegelapan! Habis gelap terbitlah terang…Baca Juga:Pesantren ”Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 18 Syawal 1435 / 15 Agustus 2014Penulis: Ustadz Abdullah Zaen, Lc. MA.Artikel: Muslim.or.id
Alhamdulillâh, wash shalâtu was salâmu ‘alâ rasûlillah…Ujian dalam Perjalanan Hidup ManusiaSiapapun yang hidup di dunia pasti akan menghadapi hal-hal yang tidak enak. Berupa musibah, sakit, sedih, problematika, kekurangan harta dan yang semisalnya. Itu sudah merupakan sunnatullah yang pasti terjadi. Allah Ta’ala menjelaskan,“وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ“Artinya: “Kami (Allah) pasti akan menguji kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa juga buah-buahan. Dan berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar”.  [QS. Al-Baqarah (2): 155]Baca Juga: Orang Baik Bukan Berarti Bebas CobaanKiat Menghadapi Ujian KehidupanDalam menghadapi berbagai ujian tersebut, agar hati terasa lapang, ada beberapa hal yang perlu kita realisasikan. Antara lain:Beratnya Ujian Tidak Akan Melebihi Batas Kemampuan KitaSeberat apapun ujian yang Allah timpakan pada kita, pasti hal itu tidak akan melewati batas kemampuan kita. Alias kita akan mampu untuk menghadapinya, dengan izin Allah. Sebab Allah Ta’ala tidak akan membebani hamba-Nya melampaui batas kemampuannya.“لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا“Artinya: “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya”. [QS. Al-Baqarah (2): 286]Baca Juga: Ujian dan Keutamaan Tinggal di Kota MadinahBerkurangnya Dosa dengan Kesabaran dalam Menghadapi UjianRasulullah shallallahu ’alaihi wasallam menjelaskan,“مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزْنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ”“Tidaklah ada kelelahan, rasa sakit, kesedihan, kekhawatiran, gangguan dan kegundah-gulanaan yang diderita seorang muslim, bahkan sampai duri yang menancap di tubuhnya; melainkan Allah akan menjadikannya sebagai penggugur sebagian dosa-dosanya.” [HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Sa’id dan Abu Hurairah radhiyallahu’anhuma.]Habis Gelap Terbitlah TerangAndaikan kita mau jujur membandingkan antara kenikmatan yang Allah karuniakan dengan musibah yang Allah timpakan pada kita, niscaya akan kita temukan bahwa musibah tersebut jauh lebih sedikit. Contoh kecilnya adalah masalah kesehatan. Antara sehatnya tubuh kita dengan sakitnya, pasti rata-rata kehidupan kita didominasi oleh kesehatan dibandingkan sakit.Kemudian, musibah itu ada selesainya. Bahkan semakin berat ujian, biasanya itu pertanda bahwa sebentar lagi akan berakhir. Allah Ta’ala menjelaskan,“فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا”Artinya: “Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan”. [QS. Al-Insyirah (94): 5]Yakinlah, bahwa cahaya itu akan muncul setelah kegelapan! Habis gelap terbitlah terang…Baca Juga:Pesantren ”Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 18 Syawal 1435 / 15 Agustus 2014Penulis: Ustadz Abdullah Zaen, Lc. MA.Artikel: Muslim.or.id


Alhamdulillâh, wash shalâtu was salâmu ‘alâ rasûlillah…Ujian dalam Perjalanan Hidup ManusiaSiapapun yang hidup di dunia pasti akan menghadapi hal-hal yang tidak enak. Berupa musibah, sakit, sedih, problematika, kekurangan harta dan yang semisalnya. Itu sudah merupakan sunnatullah yang pasti terjadi. Allah Ta’ala menjelaskan,“وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ“Artinya: “Kami (Allah) pasti akan menguji kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa juga buah-buahan. Dan berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar”.  [QS. Al-Baqarah (2): 155]Baca Juga: Orang Baik Bukan Berarti Bebas CobaanKiat Menghadapi Ujian KehidupanDalam menghadapi berbagai ujian tersebut, agar hati terasa lapang, ada beberapa hal yang perlu kita realisasikan. Antara lain:Beratnya Ujian Tidak Akan Melebihi Batas Kemampuan KitaSeberat apapun ujian yang Allah timpakan pada kita, pasti hal itu tidak akan melewati batas kemampuan kita. Alias kita akan mampu untuk menghadapinya, dengan izin Allah. Sebab Allah Ta’ala tidak akan membebani hamba-Nya melampaui batas kemampuannya.“لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا“Artinya: “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya”. [QS. Al-Baqarah (2): 286]Baca Juga: Ujian dan Keutamaan Tinggal di Kota MadinahBerkurangnya Dosa dengan Kesabaran dalam Menghadapi UjianRasulullah shallallahu ’alaihi wasallam menjelaskan,“مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزْنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ”“Tidaklah ada kelelahan, rasa sakit, kesedihan, kekhawatiran, gangguan dan kegundah-gulanaan yang diderita seorang muslim, bahkan sampai duri yang menancap di tubuhnya; melainkan Allah akan menjadikannya sebagai penggugur sebagian dosa-dosanya.” [HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Sa’id dan Abu Hurairah radhiyallahu’anhuma.]Habis Gelap Terbitlah TerangAndaikan kita mau jujur membandingkan antara kenikmatan yang Allah karuniakan dengan musibah yang Allah timpakan pada kita, niscaya akan kita temukan bahwa musibah tersebut jauh lebih sedikit. Contoh kecilnya adalah masalah kesehatan. Antara sehatnya tubuh kita dengan sakitnya, pasti rata-rata kehidupan kita didominasi oleh kesehatan dibandingkan sakit.Kemudian, musibah itu ada selesainya. Bahkan semakin berat ujian, biasanya itu pertanda bahwa sebentar lagi akan berakhir. Allah Ta’ala menjelaskan,“فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا”Artinya: “Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan”. [QS. Al-Insyirah (94): 5]Yakinlah, bahwa cahaya itu akan muncul setelah kegelapan! Habis gelap terbitlah terang…Baca Juga:Pesantren ”Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 18 Syawal 1435 / 15 Agustus 2014Penulis: Ustadz Abdullah Zaen, Lc. MA.Artikel: Muslim.or.id

Serial Fiqih Pendidikan Anak No 1: Prolog

PROLOG[1]Berbicara tentang anak, kita semua rata-rata memiliki keinginan yang sama. Manakala anak lahir, kita berharap agar anak tersebut tumbuh lucu dan sehat. Segala upaya dilakukan untuk mewujudkan itu. Walaupun harus mengorbankan waktu, biaya dan tenaga. Sebenarnya hal tersebut manusiawi dan wajar-wajar saja. Namun yang tidak wajar adalah bila menganggap bahwa sehat dan lucu saja sudah cukup.Kita menginginkan anak kita cerdas dan mengukir segudang prestasi. Demi menggapai angan-angan tersebut, kita rela melakukan apapun walaupun terasa berat. Inipun masih dalam taraf kewajaran. Namun yang tidak benar adalah jika kita menganggap bahwa kecerdasan dan prestasi duniawi adalah segala-galanya.Sebab seluruh hal tersebut di atas belum tentu menghasilkan kebahagiaan di dunia dan akhirat.Betapa sering kita mendengar orang tua yang pusing tujuh keliling, akibat tingkah polah anaknya yang selalu membuat gara-gara. Padahal dulunya semasa kecil dia begitu sehat dan amat menggemaskan. Bukan sekali atau dua kali kita menyaksikan orang tua yang semasa mudanya bekerja keras membanting tulang memeras keringat, demi masa depan anaknya. Namun, di penghujung usia, justru tidak segan-segan si anak membentak orang tuanya, seperti membentak seekor binatang yang hina. Atau mencampakkan tumbuh renta itu ke panti jompo, tanpa perasaan bersalah atau berdosa. Na’udzubillah min dzalik..Itu baru di dunia. Belum jika kita berbicara tentang alam akhirat. Akankah seabreg prestasi duniawi dan sederet gelar yang disandang anak, membantu nasib kita di hadapan Allah? Terlebih bila ternyata mereka bukanlah generasi salih, yang setia untuk mendoakan kedua orang tuanya.Sebelum itu semua terjadi, mari kita tilik kembali usaha apa yang telah kita lakukan untuk melahirkan anak-anak yang salih dan salihah? Ketahuilah bahwa mendidik anak itu membutuhkan kesungguhan! Memerlukan pengorbanan! Menuntut keikhlasan dan kesabaran! Serta yang paling penting adalah membutuhkan ilmu yang memadai juga taufik dari Allah ta’ala..Persiapan materi saja tidak cukup, jika kita menginginkan generasi yang handal. Sebab, betapa banyak hal-hal yang tidak bisa dibeli dengan materi.Maka, mari kita terus berusaha untuk berbekal ilmu yang memadai. Tidaklah berlebihan bila dikatakan bahwa ilmu pendidikan anak adalah cabang ilmu khusus yang harus dikuasai setiap orang tua, bahkan sebelum mereka berpredikat sebagai orang tua. Agar kita betul-betul menjadi orangtua yang sebenarnya, bukan sekedar orang yang lebih tua dari anaknya!Amat disayangkan, betapa banyak suami yang menyandang gelar bapak hanya karena istrinya melahirkan. Sebagaimana banyak wanita disebut ibu, semata-mata karena dialah yang melahirkan. Bukan karena mereka menyiapkan diri menjadi orangtua. Bukan pula karena mereka memiliki kepatutan sebagai orangtua. Semoga Allah menjauhkan kita dari tipe orang tua seperti itu. Amien. ANAK, SEBUAH NIKMAT BESAR[2]Terlampau banyak nikmat yang Allah karuniakan kepada kita. Saking banyaknya, hingga kita tidak mungkin bisa menghitungnya. Dan seringkali kita lalai serta tidak menyadari betapa besar nikmat tersebut. Nikmat itu baru terasa manakala lenyap.Dahulu orang bijak mengatakan, “Kesehatan adalah mahkota di atas kepala orang-orang sehat. Tidak ada yang bisa melihat mahkota tersebut, kecuali orang-orang sakit”.Di antara nikmat besar yang kerap terlupakan keberadaannya adalah: anak. Kehadiran sang buah hati merupakan karunia dan hadiah dari Allah ta’ala. Sebagaimana difirmankan oleh-Nya,“لِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ يَهَبُ لِمَنْ يَشَاءُ إِنَاثًا وَيَهَبُ لِمَنْ يَشَاءُ الذُّكُورَ . أَوْ يُزَوِّجُهُمْ ذُكْرَانًا وَإِنَاثًا وَيَجْعَلُ مَنْ يَشَاءُ عَقِيمًا إِنَّهُ عَلِيمٌ قَدِيرٌ”Artinya: “Milik Allah-lah kerajaan langit dan bumi. Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Memberikan anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki, dan memberikan anak laki-laki kepada siapa yang Dia kehendaki. Atau Dia menganugerahkan jenis laki-laki dan perempuan. Dan menjadikan mandul siapa yang Dia kehendaki. Dia Maha Mengetahui, Mahakuasa”. QS. Asy-Syura (42): 49-50.Terlebih bila anak tersebut adalah anak yang salih-salihah. Mereka adalah kekayaan yang tak ternilai harganya, jauh melebihi kekayaan materi. Mereka adalah pembawa bahagia, pelipur lara serta penolong bagi kedua orang tuanya, di dunia ini dan di akhirat kelak.Namun, kenyataannya masih banyak orang tua yang belum merasakan anak sebagai anugerah. Bisa jadi kita juga termasuk jenis orang tua yang belum bersyukur. Buktinya, keluh kesah masih begitu sering terlontar dari lisan. Masih ditambah pula dengan iringan kekesalan dan rasa tidak puas dalam hati.Jika demikian, marilah kita bersama-sama melihat di luar sana…Ternyata begitu banyak pasangan yang lelah berharap untuk memiliki momongan. Namun Allah ta’ala belum juga berkenan mengaruniakan anak kepada mereka. Padahal segala sarana dan saran telah dijalankan. Doa juga tidak lupa untuk selalu dipanjatkan.Di tempat lain, banyak orang tua yang harus kehilangan anak yang sangat dicintainya, pergi untuk selamanya. Ada pula yang semula anaknya sempurna, tiba-tiba menjadi cacat karena suatu bencana. Atau anak yang semula sehat bugar, mendadak tergeletak tak berdaya karena penyakit kronis yang tidak pernah terduga sebelumnya.Dari sini kita sadar…Bahwa ternyata anak adalah anugerah besar. Maka syukurilah nikmat ini, agar langgeng dan terus bertambah baik. Sebagaimana yang Allah jelaskan dalam QS. Ibrahim (14): 7. Dan dengan rasa syukur tersebut diharapkan kita bisa lebih sabar dalam mengasuh dan mendidik anak. Juga semakin memperbesar harapan agar mereka tumbuh menjadi anak salih yang menabur kebahagiaan bagi kedua orang tuanya, amien. ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIAN[3]Alangkah indahnya minum teh dengan ditemani sepiring pisang goreng beserta istri, sambil melihat anak-anak bermain riang gembira. Sulit digambarkan dengan kata-kata! Ya, tidak diragukan lagi bahwa anak merupakan salah satu perhiasan dunia terindah. Rasa penat bekerja seharian seakan lenyap tak berbekas, saat pulang ke rumah bercengkerama dan bersenda gurau dengan anak-anak. Itulah perhiasan dunia!“الْمَالُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا”.Artinya: “Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia”. QS. Al-Kahfi (18): 46.Namun waspadalah, sebab di sisi lain, anak juga merupakan ujian bagi kita.“إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ وَاللَّهُ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ”. Artinya: “Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan sisi Allah-lah pahala yang besar”. QS. At-Taghabun (64): 15.Maka berhati-hatilah, jangan sampai kita terpedaya. Sebab terkadang anak membuat seorang hamba menjadi angkuh dan tidak mensyukuri nikmat Allah.Anak, kerap juga mendorong sang ayah untuk menghalalkan cara yang haram. Seperti menyuap demi kelulusan si buah hati. Demi masa depan anak, katanya…Anak, kadang membuat seorang insan menjadi kikir dan penakut. Saat ingin bersedekah, setan datang memprovokasi, “Barusan anakmu minta ini dan itu!”. Akhirnya iapun urung menginfakkan hartanya di jalan Allah. Padahal yang diminta anaknya bukanlah suatu kebutuhan primer. Benarlah sabda Nabi shallallahu ‘alaihiwasallam,“إِنَّ الْوَلَدَ مَبْخَلَةٌ، مَجْبَنَةٌ، مَحْزَنَةٌ”.“Sesungguhnya anak bisa membuat seseorang menjadi bakhil, penakut dan bersedih”. HR. Al-Hakim dan dinilai sahih oleh beliau juga al-Albany.Ketika anak jatuh sakit, rasa iba mendorong orang tua bertindak bodoh dan melanggar syariat agama. Iapun membawa anaknya berobat ke dukun, padahal agama telah melarang dengan tegas hal itu.Lalu bagaimana caranya agar kita terhindar dari godaan tersebut?Caranya adalah dengan mendahulukan kecintaan kita kepada Allah dan Rasul-Nya di atas segalanya, termasuk terhadap anak-anak. Kemudian senantiasa bertakwa dalam mengurus mereka.Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menjelaskan bahwa di antara amalan yang bisa menghapus keburukan akibat godaan anak, adalah mengerjakan shalat, berpuasa, bersedekah dan beramar ma’ruf nahi mungkar. Beliau bersabda,“فِتْنَةُ الرَّجُلِ فِى أَهْلِهِ وَمَالِهِ وَنَفْسِهِ وَوَلَدِهِ وَجَارِهِ؛ يُكَفِّرُهَا الصِّيَامُ وَالصَّلاَةُ وَالصَّدَقَةُ وَالأَمْرُ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّهْىُ عَنِ الْمُنْكَرِ”.“Gangguan yang menimpa seseorang akibat keluarga, harta, diri, anak dan tetangganya, dapat dihapus dengan puasa, shalat, shadaqah dan amar ma’ruf nahi mungkar”. HR. Bukhari dan Muslim. ANAK ADALAH AMANAH ALLAH[4]Tentu banyak di antara kita yang pernah dititipi sesuatu oleh orang lain. Amanah tersebut mestinya akan kita jaga sebaik-baiknya. Terlebih jika titipan tersebut adalah barang yang amat berharga, dan orang yang menitipkannya kepada kita adalah orang terhormat.Namun, ada satu amanah yang sangat istimewa, dan yang menitipkannya kepada kita pun, Dzat yang amat mulia, tetapi justru malah seringkali kita menyia-nyiakannya. Titipan yang tidak semua orang mendapat kehormatan untuk mengembannya. Amanah tersebut tidak lain adalah anak.Bayi yang Allah anugerahkan kepada kita bagaikan mutiara yang masih berada dalam cangkangnya. Masih terjaga dari jamahan tangan-tangan luar. Hatinya masih suci, ibarat selembar kertas putih, tanpa goresan apalagi ukiran. Setelah itu sedikit demi sedikit, kepribadian dan perilaku anak terbentuk, sesuai dengan apa yang dilihat di komunitas terdekatnya. Yakni di dalam rumah dan lingkungannya.Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menjelaskan,“مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلَّا يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِه”“Setiap bayi lahir dalam keadaan fitrah. Orang tuanya lah yang akan menjadikan ia Yahudi, Nasrani atau Majusi”. HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah.Itulah masa keemasan yang tidak boleh disia-siakan. Kesalihan anak bukanlah hadiah gratis yang turun dari langit begitu saja. Namun membutuhkan usaha dan perjuangan dari orang tua.Tanggung jawab kita terhadap anak bukan sekedar memberinya makan kenyang, pakaian bagus ataupun rumah lapang. Tetapi tanggung jawab yang lebih berat adalah memberikan pendidikan terbaik bagi mereka dan menyelamatkan mereka dari azab Allah. [Lihat: QS. At-Tahrim (66): 6].Allah ta’ala pasti akan meminta pertanggungjawaban kita atas amanah ini. Dalam hadits disebutkan:“كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ؛ … وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ بَعْلِهَا وَوَلَدِهِ وَهِىَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ…”“Setiap kalian adalah pemimpin dan semua akan ditanya tentang bawahannya … Lelaki adalah pemimpin bagi keluarganya, dan dia akan ditanya tentang mereka. Wanita merupakan penanggungjawab di rumah suaminya serta bagi anaknya, dan dia akan ditanya tentang mereka.” HR. Bukhari dan Muslim.Memang tugas dan tanggung jawab ini tidaklah ringan. Ujian dan rintangan mungkin muncul silih berganti. Rasa letih dan bosan kadang datang mendera. Sementara setan terus membuat makar dan tipu daya untuk mematahkan semangat kita. Sekaligus mengompori sifat keluh kesah, yang memang merupakan tabiat dasar manusia. [Baca: QS. Al-Ma’arij (70): 19].Namun, tipu daya tersebut tentu harus dilawan! Jauhilah sifat keluh kesah sebisa mungkin. Sebab keluh kesah hanya akan membawa kerugian. Karena, sekecil apapun tugas dan tanggung jawab, bila disikapi dengan keluh kesah, amarah dan perasaan tidak ikhlas, maka tugas ringan akan menjadi beban berat. Lebih rugi lagi, karena hati tidak ikhlas, akibatnya pahala gagal diraih. Ibarat sudah jatuh tertimpa tangga pula.Sebaliknya, jika tanggung jawab ini dipikul dengan penuh keikhlasan, niscaya akan membawa kebaikan. Sebab, seberat apapun tugas dan tanggung jawab, bila dilakukan dengan penuh keikhlasan, kegembiraan dan harapan, maka tugas berat akan terasa ringan. Lebih dari itu, berkat keikhlasan hati, semua jerih payah dan setiap tetesan keringat, akan bernilai pahala di sisi-Nya. Inilah keberuntungan di atas keberuntungan. Di dunia, pekerjaan terasa nikmat dan bisa mencicipi buah manis kebaktian anak. Sedangkan di akhirat, maka insyaAllah akan menuai limpahan pahala. Allahumma amien… KESALIHAN ORANG TUA, MODAL UTAMA[5]Kita semua mempunyai keinginan dan cita-cita yang sama. Ingin agar keturunan kita menjadi anak yang salih dan salihah. Namun, terkadang kita lupa bahwa modal utama untuk mencapai cita-cita mulia tersebut ternyata adalah: kesalihan dan ketakwaan kita selaku orangtua. Alangkah lucunya, manakala kita berharap anak menjadi salih dan bertakwa, sedangkan kita sendiri berkubang dalam maksiat dan dosa!Kesalihan jiwa dan perilaku orangtua mempunyai andil yang sangat besar dalam membentuk kesalihan anak. Sebab ketika si anak membuka matanya di muka bumi ini, yang pertama kali ia lihat adalah ayah dan bundanya. Manakala ia melihat orangtuanya berhias akhlak mulia serta tekun beribadah, niscaya itulah yang akan terekam dengan kuat di benaknya. Dan insyaAllah itupun juga yang akan ia praktekkan dalam kesehariannya. Pepatah mengatakan: “buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya”. Betapa banyak ketakwaan pada diri anak disebabkan ia mengikuti ketakwaan kedua orangtuanya atau salah seorang dari mereka. Ingat karakter dasar manusia, terutama anak kecil, yang suka meniru!• Beberapa contoh aplikasi nyatanyaManakala kita menginginkan anak kita rajin untuk mendirikan shalat lima waktu, gamitlah tangannya dan berangkatlah ke masjid bersama. Bukan hanya dengan berteriak memerintahkan anak pergi ke masjid, sedangkan Anda asyik menonton televisi.Jika Anda berharap anak rajin membaca al-Qur’an, ramaikanlah rumah dengan lantunan ayat-ayat suci al-Qur’an yang keluar dari lisan ayah, ibu ataupun kaset dan radio. Jangan malah Anda menghabiskan hari-hari dengan membaca koran, diiringi lantunan langgam gendingan atau suara biduanita yang mendayu-dayu!Kalau Anda menginginkan anak jujur dalam bertutur kata, hindarilah berbohong sekecil apapun. Tanpa disadari, ternyata sebagai orang tua kita sering membohongi anak untuk menghindari keinginannya. Salah satu contoh pada saat kita terburu-buru pergi ke kantor di pagi hari, anak kita meminta ikut atau mengajak jalan-jalan mengelilingi perumahan. Apa yang kita lakukan? Apakah kita menjelaskannya dengan kalimat yang jujur? Atau kita lebih memilih berbohong dengan mengatakan, “Bapak hanya sebentar kok, hanya ke depan saja ya. Sebentaaar saja ya sayang…”. Tapi ternyata, kita malah pulang malam!Dalam contoh di atas, sejatinya kita telah berbohong kepada anak, dan itu akan ditiru olehnya.Terus apa yang sebaiknya kita lakukan? Berkatalah dengan jujur kepada anak. Ungkapkan dengan lembut dan penuh kasih serta pengertian, “Sayang, bapak mau pergi ke kantor. Kamu tidak bisa ikut. Tapi kalo bapak ke kebun binatang, insyaAllah kamu bisa ikut”.Kita tak perlu merasa khawatir dan menjadi terburu-buru dengan keadaan ini. Pastinya akan membutuhkan waktu lebih untuk memberi pengertian kepada anak karena biasanya mereka menangis. Anak menangis karena ia belum memahami keadaan mengapa orang tuanya harus selalu pergi di pagi hari. Kita perlu bersabar dan melakukan pengertian kepada mereka secara terus menerus. Perlahan anak akan memahami mengapa orangtuanya selalu pergi di pagi hari dan bila pergi bekerja, anak tidak bisa ikut.Anda ingin anak jujur? Mulailah dari diri Anda sendiri!Semoga Allah senantiasa meridhai setiap langkah baik kita, amien… SAMBUTLAH KABAR GEMBIRA![6]Sejauh apapun kita melangkah, ada saatnya umur kita berakhir. Suatu hari nanti Allah akan mengirimkan malaikat pencabut nyawa untuk mengakhiri hidup kita di dunia. Saat itu tangis haru kehilangan akan pecah dari orang-orang yang mencintai kita. Namun, sebesar apapun kecintaan mereka kepada kita, tetap saja mereka tidak akan mau menemani kita di liang kubur. Tinggallah kita dalam kesendirian di sebuah ruang sempit nan pengap, ditemani hewan-hewan tanah. Amalan terputus dan kesempatan menambah pahala telah pupus.Tetapi, terimalah kabar gembira…Wahai para orang tua yang salih, yang semasa hidupnya tak pernah lekang untuk mendidik anaknya hingga tumbuh menjadi generasi yang salih. Bergembiralah, bahwa pahala akan terus mengalir ke tabunganmu, walaupun jasadmu telah lapuk dimakan tanah. Kuburanmu akan terasa lapang dan terang benderang.Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda,“إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةٍ؛ إِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ”.“Jika manusia mati, maka terputuslah amalannya kecuali tiga. (1) Sedekah jariyah, (2) Ilmu yang bermanfaat dan (3) Anak salih yang mendoakannya”. HR. Muslim dari Abu Hurairah.Setiap anak melakukan ibadah dan kebajikan, akan selalu mengalir pahala untukmu. Sebab engkaulah yang mengajarkan kebaikan tersebut padanya. Nabiyullah shallallahu’alaihiwasallam bertutur,“مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ”.“Barang siapa menunjukkan kepada kebaikan, maka ia akan mendapatkan pahala seperti orang yang melakukannya”. HR. Muslim dari Abu Mas’ud al-Anshary.Bukan hanya itu, namun juga doa anak salih hasil jerih payahmu akan mengangkat derajatmu di surga. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menjelaskan,“إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَيَرْفَعُ الدَّرَجَةَ لِلْعَبْدِ الصَّالِحِ فِي الْجَنَّةِ، فَيَقُولُ: “يَا رَبِّ، أَنَّى لِي هَذِهِ؟” فَيَقُولُ: “بِاسْتِغْفَارِ وَلَدِكَ لَكَ”.“Sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla akan mengangkat derajat hamba yang salih di surga. Ia bertanya, “Wahai Rabbi, apakah yang membuatku (menempati derajat ini?)”. Dia menjawab, “Lantaran doa anakmu yang memohonkan ampunan untukmu”. HR. Ahmad dari Abu Hurairah dan dinilai hasan oleh al-Albany.Engkaupun akan kembali bersua dan berkumpul dengan mereka di negeri keabadian yang penuh kenikmatan. Di surga ‘Adn! Allah ta’ala berfirman,“جَنَّاتُ عَدْنٍ يَدْخُلُونَهَا وَمَنْ صَلَحَ مِنْ آبَائِهِمْ وَأَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيَّاتِهِمْ وَالْمَلَائِكَةُ يَدْخُلُونَ عَلَيْهِمْ مِنْ كُلِّ بَابٍ“Artinya: “(Yaitu) surga-surga ‘Adn, mereka masuk ke dalamnya bersama dengan orang yang salih dari nenek moyangnya, pasangan-pasangannya dan keturunannya. Sedangkan para malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu”. QS. Ar-Ra’du (13): 23.Selamat menyambut kabar gembira tersebut, wahai para orang tua salih yang memiliki anak salih-salihah! HIDAYAH BUKAN DI TANGAN KITA[7]Jika kita menginginkan anak-anak kita menjadi generasi yang salih-salihah, maka kita harus berusaha maksimal untuk itu. Kita wajib mengerahkan segala daya dan upaya yang kita miliki. Siap untuk letih, capai dan lelah untuk mendidik, mengarahkan serta menasehati mereka. Jika itu telah dilakukan, maka bersiaplah untuk memetik buah manis usaha keras kita!Namun, ada satu hal penting yang harus senantiasa diingat. Yaitu hidayah bukanlah di tangan kita. Satu-satunya pemilik mutlaknya adalah Allah ta’ala. Dalam al-Qur’an disebutkan:“فَإِنَّ اللَّهَ يُضِلُّ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ”Artinya: “Sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang dikendaki-Nya dan memberi hidayah kepada siapa yang dikehendaki-Nya”. QS. Fâthir (35): 8.Sebesar apapun usaha yang kita kerahkan, jikalau Allah tidak berkehendak, maka mustahil keinginan kita akan tercapai. Lihatlah bagaimana manusia paling bertakwa di muka bumi, Rasulullah shallallahu ‘alaihiwasallam, pun tak kuasa untuk memberi hidayah kepada orang yang sangat beliau cintai; Abu Thalib pamannya. [Baca: QS. Al-Qashash (28): 56].Apalah pula kesalihan kita dibanding Nabi Nuh ‘alaihissalam? Jikalau beliau tidak kuasa memberikan hidayah kepada buah hatinya, bagaimana dengan kita?Di saat air bah melanda, beliau masih berusaha keras mengajak anaknya untuk menaiki kapal besar yang dibuatnya. Namun Allah tidak berkenan memberikan hidayah kepada si anak, sehingga justru dengan pongahnya ia menjawab akan menaiki gunung tertinggi. Pada akhirnya ia pun tenggelam dilamun ombak. [Baca: QS. Hûd (11): 42-47].Putra seorang Nabi yang telah menghabiskan umur hampir sepuluh abad untuk berdakwah, ternyata justru meninggal dalam keadaan tidak beriman??! Bukankah ini memberikan pelajaran yang amat dalam bahwa hidayah bukanlah di tangan manusia?Seluruh keterangan di atas bukan dalam rangka memprovokasi agar kita melempem dalam mendidik anak, bukan! Tidak pula dalam rangka mengajak kita menyerah dengan keadaan, tanpa melakukan usaha maksimal, tidak! Tetapi tulisan ini dituangkan dalam rangka untuk mengingatkan kita semua bahwa ikhtiar belaka tidaklah cukup. Namun harus diiringi dengan sesuatu yang bernama doa dan tawakal kepada Allah ta’ala.Usaha tanpa doa merupakan sebuah kesombongan, sedangkan pasrah tanpa usaha adalah sebuah kejahilan.Maka jangan sampai kita mengandalkan kekuatan diri sendiri semata dan bergantung padanya saja. Sebagaimana doa yang sering dipanjatkan Nabi shallallahu’alaihiwasallam,“يَا حَيُّ يَا قَيُّومُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيثُ، أَصْلِحْ لِي شَأْنِي كُلَّهُ، وَلاَ تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي طَرَفَةَ عَيْنٍ“ “Wahai Yang Maha Hidup dan Maha mengurusi para makhluk-Nya, dengan rahmat-Mu aku memohon pertolongan. Perbaikilah seluruh keadaanku. Dan jangan Engkau jadikan aku bergantung kepada diriku, walaupun hanya sekejap mata”. HR. Al-Hakim dari Anas bin Malik dan dinilai sahih oleh al-Hakim dan adh-Dhiya’ al-Maqdisy.Maka dari itu selain usaha lahiriah yang kita kerahkan, janganlah pernah melupakan lantunan doa yang senantiasa dipanjatkan ke hadirat Allah ta’ala, terutama di waktu-waktu yang mustajab! MENDIDIK ANAK DALAM KANDUNGAN[8]Mendidik anak dari dini bukanlah dimulai sejak dia baru lahir. Namun semenjak ia masih berada dalam kandungan. Bahkan sejak pertama kali memilih pasangan hidup pun, itu juga akan menentukan keberhasilan kita dalam mendidik anak.Di saat janin dalam rahim berumur 120 hari, sejatinya ia telah bernyawa. Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam menjelaskan,“إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِى بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا، ثُمَّ يَكُونُ فِى ذَلِكَ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يَكُونُ فِى ذَلِكَ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يُرْسَلُ الْمَلَكُ فَيَنْفُخُ فِيهِ الرُّوحَ”.“Sesungguhnya setiap orang berada di dalam perut ibunya (berbentuk mani) selama empat puluh hari. Kemudian berubah menjadi segumpal darah selama itu juga (40 hari). Kemudian berubah menjadi sekerat daging selama itu juga. Lalu diutuslah malaikat untuk meniupkan ruh kepadanya”. HR. Bukhari dan Muslim dari Ibn Mas’ud radhiyallahu’anhu.Jadi, berdasarkan hadits di atas, setelah lewat 4 bulan, janin dalam perut sudah hidup. Lalu penemuan-penemuan ilmiah membuktikan bahwa janin sebelum lahir mampu merespon stimulasi edukatif yang diberikan kepadanya.Jadi, dari pra lahir kita sudah bisa mendidik anak kita. Caranya antara lain dengan:1. Memperbanyak doa.Para nabi ‘alaihimussalam juga orang-orang salih selalu mendoakan anak-anak mereka sejak dalam kandungan. Misalnya: Nabi Ibrahim [QS. Ash-Shâffât (37): 100] dan Nabi Zakariya [QS. Ali Imran (3): 38].2. Tekun beribadah.Tidak ada salahnya, manakala orang tua akan menjalankan aktifitas ibadah, seperti shalat, bersedekah, berdzikir, berpuasa atau yang lainnya, ia menyapa anaknya yang ada di dalam perut. Contohnya: “Sabar ya nak, sekarang kita sedang berpuasa!”.3. Merutinkan membaca al-Qur’an.Bukan hanya membaca al-Qur’an, lebih baik lagi jika orang tua melatih diri untuk menghapal al-Qur’an semampunya. Sehingga diharapkan manakala ia banyak melantunkan ayat-ayat suci al-Qur’an, anak yang berada dalam janin ikut merekam bacaan orang tuanya. Sehingga kelak saat lahir anak telah memiliki ‘bekal’ hapalan al-Qur’an.4. Bertutur kata yang baik.Biasakanlah untuk senantiasa berbicara dengan santun dan baik. Semoga dengan demikian anakpun akan tertular dengan perilaku positif tersebut.Pendek kata, manfaatkanlah setiap detik dalam kehidupan kita untuk mendidik anak kita, tanpa kenal lelah dan pantang menyerah. Sejatinya kesuksesan besar itu sangat ditentukan dengan langkah pertama yang baik.Selamat mempraktekkan! JANGAN BIARKAN SETAN MENJAMAH ANAKMU![9]Ingatlah wahai para orang tua, bahwa setan tidak akan pernah duduk manis, membiarkan anak kita tumbuh menjadi generasi yang salih dan salihah. Dia tidak akan pernah merasa puas, hingga berhasil menjadikan anak-anak kita menjadi kaki tangan mereka. Na’udzubillah min dzalik.Karena liciknya tipu daya mereka, juga tabiat dasar manusia yang lemah, kita perlu memohon bantuan kepada Allah agar Dia berkenan melindungi kita dan anak-anak kita.Berikut cara memohon perlindungan kepada Allah untuk anak-anak kita:1. Mintalah perlindungan pada-Nya sebelum ‘membuat’ anak. Yakni dengan membaca doa berikut sebelum melakukan hubungan suami istri:“بِسْمِ اللهِ اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا”.“Dengan nama Allah. Ya Allah jauhkanlah kami dari gangguan setan dan jauhkan pula gangguan setan dari (anak) yang akan Kau karuniakan pada kami”. HR. Bukhari dari Ibn ‘Abbas radhiyallahu’anhuma.2. Mohonlah perlindungan pada Allah saat anak lahir. Sebagaimana ucapan ibunda Maryam,“وَإِنِّي سَمَّيْتُهَا مَرْيَمَ وَإِنِّي أُعِيذُهَا بِكَ وَذُرِّيَّتَهَا مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ”.Artinya: “Sesungguhnya aku telah menamainya Maryam dan aku mohon perlindungan kepada-Mu untuknya serta keturunannya dari setan yang terkutuk”. QS. Ali Imrân (3): 36.3. Mintalah perlindungan kepada-Nya untuk mereka setiap hari, terutama di waktu pagi dan sore.Jika mereka belum bisa membaca al-Qur’an, bacakanlah surat al-Ikhlas, al-Falaq dan an-Nas, lalu usapkan tanganmu ke tubuh mereka.Atau bisa juga dengan membaca doa perlindungan yang dahulu pernah dibacakan Nabi shallallahu’alaihi wasallam untuk cucu beliau; al-Hasan dan al-Husain radhiyallahu’anhuma,“أُعِيذُكُمَا بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّةِ مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لاَمَّةٍ“.“Aku memohon perlindungan kepada Allah bagi kamu berdua dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna, dari segala gangguan setan, binatang berbisa dan pandangan mata yang jahat”. HR. Abu Dawud dan dinilai sahih oleh Ibn Hibban, al-Hakim, adz-Dzahaby dan al-Albany.Redaksi di atas adalah bila anak yang didoakan berjumlah dua orang. Jika lebih dari dua maka kalimat yang digarisbawahi diganti dengan “u’îdzukum”. Bila satu anak lelaki maka “u’îdzuka”, dan bila satu anak perempuan maka “u’îdzuki”.4. Jangan biarkan anak-anak berkeliaran di luar rumah saat malam tiba. Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam mewanti-wanti,“إِذَا كَانَ جُنْحُ اللَّيْلِ أَوْ أَمْسَيْتُمْ فَكُفُّوا صِبْيَانَكُمْ فَإِنَّ الشَّيَاطِينَ تَنْتَشِرُ حِينَئِذٍ، فَإِذَا ذَهَبَ سَاعَةٌ مِنْ اللَّيْلِ فَحُلُّوهُمْ ““Jika hari mulai gelap tahanlah anak-anak kalian (untuk keluar rumah) karena saat itu setan berkeliaran. Jika telah lewat sebagian malam biarkanlah mereka”. HR. Bukhari (hal. 669 no. 3280) dan Muslim (XIII/185 no. 5218) dari Jabir bin Abdullah dengan redaksi Muslim. KARAKTER PENDIDIK SUKSES bag-1[10]Kesempurnaan sifat pendidik memang hanya dimiliki oleh para rasul ‘alaihimussalam. Namun kita sebagai orang tua, tetap tertuntut dengan segenap kemampuan, untuk memiliki sifat-sifat tersebut. Sebab kita telah dijadikan anak sebagai fokus teladan dan contoh nyata yang mereka saksikan dalam keseharian.Inilah karakter yang harus dimiliki pendidik:1. BERILMUIlmu merupakan kebutuhan primer setiap insan dalam setiap lini kehidupannya, termasuk dalam mendidik anak. Bahkan kebutuhan dia terhadap ilmu dalam mendidik anak, melebihi kebutuhannya terhadap ilmu dalam menjalankan pekerjaannya.Namun, realita berkata lain. Rupanya tidak sedikit di antara kita mempersiapkan ilmu untuk kerja lebih banyak daripada ilmu untuk menjadi orangtua. Padahal tugas kita menjadi orangtua dua puluh empat jam sehari semalam, termasuk saat tidur, terjaga serta antara sadar dan tidak. Sementara tugas kita dalam pekerjaan, hanya sebatas jam kerja.• Ilmu apa saja yang dibutuhkan?Banyak jenis ilmu yang dibutuhkan orangtua dalam mendidik anaknya. Mulai dari ilmu agama dengan berbagai varianya, hingga ilmu cara berkomunikasi dengan anak.Jenis ilmu agama pertama dan utama yang harus dipelajari orangtua adalah akidah. Sehingga ia bisa menanamkan akidah yang lurus dan keimanan yang kuat dalam jiwa anaknya. Nabi shallallahu’alaihi wasallam mencontohkan bagaimana membangun pondasi tersebut dalam jiwa anak, dalam salah satu sabdanya untuk Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma,“إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلْ اللَّهَ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّه”“Jika engkau memohon, mohonlah kepada Allah. Dan jika engkau meminta pertolongan, mintalah kepada Allah”. HR. Tirmidzi dan beliau berkomentar, “Hasan sahih”.Selanjutnya ilmu tentang cara ibadah, terutama shalat dan cara bersuci. Bagaimana mungkin orangtua akan memerintahkan shalat pada anaknya, jikalau ia tidak mengerti tatacara shalat yang benar. Mampukah orang yang tidak mempunyai sesuatu, untuk memberikan sesuatu itu kepada orang lain?Berikutnya ilmu tentang akhlak, mulai adab terhadap orangtua, tetangga, teman, juga adab keseharian si anak. Bagaimana cara makan, minum, tidur, masuk rumah, kamar mandi, bertamu dan lain-lain.Yang tidak kalah pentingnya adalah: ilmu seni berinteraksi dan berkomunikasi dengan anak. Bagaimana kita menghadapi anak yang hiperaktif atau sebaliknya pendiam. Bagaimana membangun rasa percaya diri dalam diri anak. Bagaimana memotivasi mereka untuk gemar belajar. Bagaimana menumbuhkan bakat yang ada dalam diri anak kita. Dan berbagai konsep-konsep dasar pendidikan anak lainnya.• Ayo belajar!Semoga pemaparan singkat di atas bisa menggambarkan pada kita urgensi ilmu dalam mendidik anak. Sehingga diharapkan bisa mendorong kita untuk terus mengembangkan diri, meningkatkan pengetahuan kita, menghadiri majlis taklim, membaca buku-buku panduan pendidikan. Agar kita betul-betul menjadi orangtua yang sebenarnya, bukan sekedar orang yang lebih tua dari anaknya! KARAKTER PENDIDIK SUKSES bag-2[11]Di antara karakter yang harus dimiliki pendidik:2. IKHLASIkhlas merupakan ruh bagi setiap amalan. Amalan tanpa disuntik keikhlasan bagaikan jasad yang tak bernyawa. Termasuk jenis amalan yang harus dilandasi keikhlasan adalah mendidik anak. Apa maksudnya?Maksudnya adalah: Rawat dan didik anak dengan penuh ketulusan dan niat ikhlas semata-mata mengharapkan keridhaan Allah ta’ala.Ikhlas memiliki dampak kekuatan yang begitu dahsyat. Di antaranya:1. Dengan ketulusan, suatu aktivitas akan terasa ringan.Proses ‘membuat’ dan mendidik anak, mulai dari mengandung, melahirkan, menyusui, merawat, membimbing hingga mendidik, jelas membutuhkan waktu yang tidak sebentar dan energi ekstra. Jika Anda ingin seabreg pekerjaan itu terasa ringan, maka jalanilah dengan penuh ketulusan dan keikhlasan! Sebab seberat apapun pekerjaan, jika dilakukan dengan ikhlas insyaAllah akan terasa ringan, bahkan menyenangkan. Sebaliknya, seringan apapun pekerjaan, kalau dilakukan dengan keluh kesah pasti akan terasa seberat gunung dan menyebalkan.2. Dengan keikhlasan, ucapan kita akan berbobot.Sering kita mencermati dan merasakan bahwa di antara kata-kata kita, ada yang sangat membekas di dada anak-anak yang masih belia hingga mereka dewasa kelak. Sebaliknya, tak sedikit ucapan yang bahkan kita teriakkan keras-keras di telinganya, ternyata berlalu begitu saja bagai angin malam yang segera hilang kesejukannya begitu mentari pagi bersinar.Apa yang membedakan? Salah satunya adalah kekuatan yang menggerakkan kata-kata kita. Jika Engkau ucapkan kata-kata itu untuk sekedar meluapkan amarah, maka anak-anak itu akan mendengarnya sesaat dan sesudah itu hilang tanpa bekas. Namun jika Engkau ucapkan dengan sepenuh hati sambil mengharapkan turunnya hidayah untuk anak-anak yang Engkau lahirkan dengan susah payah itu, insya Allah akan menjadi perkataan yang berbobot.3. Dengan keikhlasan anak kita akan mudah diatur Manakala si anak merasakan ketulusan hati orangtuanya dalam setiap yang dikerjakan, ia akan menerima arahan dan nasehat yang disampaikan ayah dan bundanya, karena ia menangkap bahwa segala yang disampaikan padanya adalah semata demi kebaikan dirinya.4. Dengan keikhlasan kita akan memetik buah manis pahalaKeikhlasan bukan hanya memberikan dampak positif di dunia, namun juga akan membuahkan pahala yang amat manis di alam sana. Yang itu berujung kepada berkumpulnya orangtua dengan anak-anaknya di negeri keabadian; surga Allah yang penuh dengan keindahan dan kenikmatan.وَالَّذِينَ آَمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْArtinya: “Orang-orang yang beriman, beserta anak cucu mereka yang mengikuti mereka dalam keimanan, Kami akan pertemukan mereka dengan anak cucu mereka”. QS. Ath-Thur: 21.Dipertemukan di mana? Di surga Allah jalla wa ‘ala![12] KARAKTER PENDIDIK SUKSES bag-3*Di antara karakter yang harus dimiliki pendidik:3. KESALIHAN DIRIKita semua mempunyai keinginan dan cita-cita yang sama. Ingin agar keturunan kita menjadi anak yang salih dan salihah. Namun, terkadang kita lupa bahwa modal utama untuk mencapai cita-cita mulia tersebut ternyata adalah: kesalihan dan ketakwaan kita selaku orangtua. Alangkah lucunya, manakala kita berharap anak menjadi salih dan bertakwa, sedangkan kita sendiri berkubang dalam maksiat dan dosa!Kesalihan jiwa dan perilaku orangtua mempunyai andil yang sangat besar dalam membentuk kesalihan anak. Sebab ketika si anak membuka matanya di muka bumi ini, yang pertama kali ia lihat adalah ayah dan bundanya. Manakala ia melihat orangtuanya berhias akhlak mulia serta tekun beribadah, niscaya itulah yang akan terekam dengan kuat di benaknya. Dan insyaAllah itupun juga yang akan ia praktekkan dalam kesehariannya. Pepatah mengatakan: “Buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya”. Betapa banyak ketakwaan pada diri anak disebabkan ia mengikuti ketakwaan kedua orangtuanya atau salah seorang dari mereka. Ingat karakter dasar manusia, terutama anak kecil, yang suka meniru!Lihatlah bagaimana kesalihan nabiyullah Ibrahim ‘alaihissalam menular kepada diri kedua putranya; nabi Isma’il dan nabi Ishaq ‘alaihimassalam!• Beberapa contoh aplikasi nyataManakala kita menginginkan anak kita rajin untuk mendirikan shalat lima waktu, gamitlah tangannya dan berangkatlah ke masjid bersama. Bukan hanya dengan berteriak memerintahkan anak pergi ke masjid, sedangkan Anda asyik menonton televisi.Jika Anda berharap anak rajin membaca al-Qur’an, ramaikanlah rumah dengan lantunan ayat-ayat suci al-Qur’an yang keluar dari lisan ayah, ibu ataupun kaset dan radio. Jangan malah Anda menghabiskan hari-hari dengan membaca koran, diiringi lantunan langgam gendingan atau suara biduanita yang mendayu-dayu!Kalau Anda menginginkan anak jujur dalam bertutur kata, hindarilah berbohong sekecil apapun. Tanpa disadari, ternyata sebagai orang tua kita sering membohongi anak untuk menghindari keinginannya. Salah satu contoh pada saat kita terburu-buru pergi ke kantor di pagi hari, anak kita meminta ikut atau mengajak jalan-jalan mengelilingi perumahan. Apa yang kita lakukan? Apakah kita menjelaskannya dengan kalimat yang jujur? Atau kita lebih memilih berbohong dengan mengatakan, “Bapak hanya sebentar kok, hanya ke depan saja ya. Sebentaaar saja ya sayang…”. Tapi ternyata, kita malah pulang malam!Dalam contoh di atas, sejatinya kita telah berbohong kepada anak, dan itu akan ditiru olehnya.Terus apa yang sebaiknya kita lakukan? Berkatalah dengan jujur kepada anak. Ungkapkan dengan lembut dan penuh kasih serta pengertian, “Sayang, bapak mau pergi ke kantor. Kamu tidak bisa ikut. Tapi kalo bapak ke kebun binatang, insyaAllah kamu bisa ikut”.Kita tak perlu merasa khawatir dan menjadi terburu-buru dengan keadaan ini. Pastinya akan membutuhkan waktu lebih untuk memberi pengertian kepada anak karena biasanya mereka menangis. Anak menangis karena ia belum memahami keadaan mengapa orang tuanya harus selalu pergi di pagi hari. Kita perlu bersabar dan melakukan pengertian kepada mereka secara terus menerus. Perlahan anak akan memahami mengapa orangtuanya selalu pergi di pagi hari dan bila pergi bekerja, anak tidak bisa ikut.Anda ingin anak jujur? Mulailah dari diri Anda sendiri! KARAKTER PENDIDIK SUKSES bag-4*Di antara karakter yang harus dimiliki pendidik:4. BERTANGGUNG JAWABAnak merupakan salah satu karunia terbesar yang diberikan Allah kepada suatu rumah tangga. Sebuah keluarga tanpa anak, akan terasa amat sepi dan hambar. Kalau boleh diumpamakan, seperti masakan tanpa bumbu.Betapa banyak orang yang menanti kehadiran si jabang bayi selama puluhan tahun, ternyata Allah belum berkenan untuk mengaruniakan sang buah hati. Karena hikmah yang diinginkan-Nya, yang barangkali salah satunya adalah orang tersebut dinilai Allah belum siap untuk menjadi bapak atau ibu.“لِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ يَهَبُ لِمَنْ يَشَاءُ إِنَاثًا وَيَهَبُ لِمَنْ يَشَاءُ الذُّكُورَ . أَوْ يُزَوِّجُهُمْ ذُكْرَانًا وَإِنَاثًا وَيَجْعَلُ مَنْ يَشَاءُ عَقِيمًا إِنَّهُ عَلِيمٌ قَدِيرٌ”Artinya: “Milik Allah-lah kerajaan langit dan bumi. Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Memberikan anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki, dan memberikan anak laki-laki kepada siapa yang Dia kehendaki. Atau Dia menganugerahkan jenis laki-laki dan perempuan. Dan menjadikan mandul siapa yang Dia kehendaki. Dia Maha Mengetahui, Mahakuasa”. QS. Asy-Syura (42): 49-50.Jadi, manakala Allah telah mengaruniakan anak kepada kita, bisa jadi itu pertanda bahwa kita telah harus siap untuk menjadi orang tua. Seberapapun jumlah anak yang Allah karuniakan kepada kita, maka sebenarnya kita harus telah siap untuk menanganinya. Sebab Allah tidak mungkin membebani hamba-Nya melebihi kemampuan-Nya. (Baca: QS. Al-Baqarah: 286).Sebagai orang yang mendapatkan amanah, apalagi dari Allah ta’ala, maka kita harus menjalankan tugas tersebut dengan penuh rasa tanggung jawab.“أَلَا كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، … وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى أَهْلِ بَيْتِ زَوْجِهَا وَوَلَدِهِ وَهِيَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ، …”.“Ketahuilah, kalian semua adalah penanggungjawab dan seluruh kalian akan ditanya tentang tanggung jawabnya … Seorang lelaki penanggungjawab atas keluarganya dan ia akan ditanya tentang mereka. Seorang wanita penanggungjawab atas anak-anak suaminya dan ia akan ditanya tentang mereka …”. HR. Bukhari dan Muslim dari Ibnu Umar radhiyallahu’anhuma.Jadi manakala mendidik anak, kita harus senantiasa berusaha menghadirkan perasaan tanggung jawab terhadap amanah yang Allah berikan kepada kita. Bukan hanya tanggung jawab dalam memenuhi kebutuhan duniawi sang anak. Namun yang lebih penting dari itu adalah tanggung jawab dalam pendidikan agama dan perilaku kesehariannya.Rasa tanggung jawab ini, akan mendorong kita untuk mengerahkan segala daya dan upaya, serta apapun yang kita miliki demi kesuksesan pendidikan anak. Tanpa perasaan itu, semangat akan mengendur dan segala aktifitas dalam mendidik anak akan terasa menjadi sebuah beban yang amat berat! KARAKTER PENDIDIK SUKSES bag-5*Di antara karakter yang harus dimiliki pendidik:5. SABARSabar merupakan salah satu syarat mutlak bagi mereka yang ingin berhasil mengarungi kehidupan di dunia. Kehidupan yang tidak lepas dari susah dan senang, sedih dan bahagia, musibah dan nikmat, menangis dan tertawa, sakit dan sehat, lapar dan kenyang, rugi dan untung, miskin dan kaya, serta mati dan hidup.Di antara episode perjalanan hidup yang membutuhkan kesabaran ekstra adalah masa-masa mendidik anak. Sebab rentang waktunya tidak sebentar dan seringkali anak berperilaku yang tidak sesuai dengan harapan kita.• Contoh aplikasi kesabaran1. Sabar dalam membiasakan perilaku baik terhadap anakAnak bagaikan kertas yang masih putih, tergantung siapa yang menggoreskan lukisan di atasnya. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menggambarkan hal itu dalam sabdanya,“مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلَّا يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِه”“Setiap bayi lahir dalam keadaan fitrah. Orang tuanya lah yang akan menjadikan ia Yahudi, Nasrani atau Majusi”. HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu.Andaikan sejak kecil anak dibiasakan berperilaku baik, mulai dari taat beribadah hingga adab mulia dalam keseharian, insyaAllah hal itu akan sangat membekas dalam dirinya. Sebab mendidik di waktu kecil bagaikan mengukir di atas batu.Mengukir di atas batu membutuhkan kesabaran dan keuletan, namun jika ukiran tersebut telah jadi niscaya ia akan awet dan tahan lama.2. Sabar dalam menghadapi pertanyaan anakMenghadapi pertanyaan anak, apalagi yang baru saja mulai tumbuh dan menginginkan untuk mengetahui segala sesuatu yang ia lihat, memerlukan kesabaran yang tidak sedikit. Terkadang timbul rasa jengkel dengan pertanyaan anak yang tidak ada habis-habisnya, hingga kerap kita kehabisan kata-kata untuk menjawab pertanyaannya.Sesungguhnya kesediaan anak untuk bertanya kepada kita, ‘seburuk’ apa pun pertanyaan yang ia lontarkan, merupakan pertanda bahwa mereka memberikan kepercayaannya kepada kita untuk menjawab. Maka jalan terbaik adalah menghargai kepercayaannya dengan tidak mematikan kesediaannya untuk bertanya, serta memberikan jawaban yang mengena dan menghidupkan jiwa.3. Sabar menjadi pendengar yang baikBanyak orang tua adalah pendengar yang buruk bagi anak-anaknya. Bila ada suatu masalah yang terjadi pada anak, orangtua lebih suka menyela, langsung menasihati tanpa mau bertanya permasalahannya serta asal-usul kejadiannya.4. Sabar manakala emosi memuncakHendaknya kita tidak memberikan sanksi atau hukuman pada anak ketika emosi kita sedang memuncak. Pada saat emosi kita sedang tinggi, apa pun yang keluar dari mulut kita, cenderung untuk menyakiti dan menghakimi, tidak untuk menjadikan anak lebih baik.[1] Disadur oleh Abdullah Zaen, Lc, MA dari buku “Mencetak Generasi Rabbani” karya Ummu Ihsan Choiriyyah dan Abu Ihsan al-Atsary (hal. 1-4) dengan beberapa perubahan.[2] Disadur oleh Abdullah Zaen, Lc, MA dari buku “Mencetak Generasi Rabbani” karya Ummu Ihsan Choiriyyah dan Abu Ihsan al-Atsary (hal. 5-7) dengan beberapa perubahan.[3] Diringkas oleh Abdullah Zaen, Lc, MA dari buku “Mencetak Generasi Rabbani” karya Ummu Ihsan Choiriyyah dan Abu Ihsan al-Atsary (hal. 9-13) dengan beberapa perubahan.[4] Diringkas oleh Abdullah Zaen, Lc, MA dari buku “Mencetak Generasi Rabbani” karya Ummu Ihsan Choiriyyah dan Abu Ihsan al-Atsary (hal. 15-19) dengan beberapa perubahan.[5] Disarikan oleh Abdullah Zaen, Lc, MA dari buku “Mencetak Generasi Rabbani” karya Ummu Ihsan Choiriyyah dan Abu Ihsan al-Atsary (hal. 21-24) dengan banyak tambahan.[6] Disarikan oleh Abdullah Zaen, Lc, MA dari buku “Mencetak Generasi Rabbani” karya Ummu Ihsan Choiriyyah dan Abu Ihsan al-Atsary (hal. 25-27) dengan sedikit perubahan.[7] Diramu ulang oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari buku “Mencetak Generasi Rabbani” karya Ummu Ihsan Choiriyyah dan Abu Ihsan al-Atsary (hal. 29-32) dengan banyak tambahan.[8] Diringkas oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari buku “Mencetak Generasi Rabbani” karya Ummu Ihsan Choiriyyah dan Abu Ihsan al-Atsary (hal. 35-39).[9] Diringkas oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari buku “Mencetak Generasi Rabbani” karya Ummu Ihsan Choiriyyah dan Abu Ihsan al-Atsary (hal. 41-45).[10] Diringkas oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari buku “Mencetak Generasi Rabbani” karya Ummu Ihsan Choiriyyah dan Abu Ihsan al-Atsary (hal. 47) dan Jurus Jitu Mendidik Anak karya Abdullah Zaen.[11] Diringkas dari makalah Jurus Jitu Mendidik Anak karya Abdullah Zaen.[12] Sebagaimana dalam penafsiran Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma yang diriwayatkan Imam al-Baihaqy dalam Kitab al-I’tiqâd (hal. 183).* Diringkas dari makalah Jurus Jitu Mendidik Anak karya Abdullah Zaen.* Diringkas dari makalah “Mengatasi Kenakalan Orang Tua” karya Abdullah Zaen. Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 19: ANAK DAN RUKUN IMAN bag-1*Next Serial Fiqih Pendidikan Anak No 39: ANAK DAN ADAB BERBICARA* Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Comments are closed.Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Serial Fiqih Pendidikan Anak No 1: Prolog

PROLOG[1]Berbicara tentang anak, kita semua rata-rata memiliki keinginan yang sama. Manakala anak lahir, kita berharap agar anak tersebut tumbuh lucu dan sehat. Segala upaya dilakukan untuk mewujudkan itu. Walaupun harus mengorbankan waktu, biaya dan tenaga. Sebenarnya hal tersebut manusiawi dan wajar-wajar saja. Namun yang tidak wajar adalah bila menganggap bahwa sehat dan lucu saja sudah cukup.Kita menginginkan anak kita cerdas dan mengukir segudang prestasi. Demi menggapai angan-angan tersebut, kita rela melakukan apapun walaupun terasa berat. Inipun masih dalam taraf kewajaran. Namun yang tidak benar adalah jika kita menganggap bahwa kecerdasan dan prestasi duniawi adalah segala-galanya.Sebab seluruh hal tersebut di atas belum tentu menghasilkan kebahagiaan di dunia dan akhirat.Betapa sering kita mendengar orang tua yang pusing tujuh keliling, akibat tingkah polah anaknya yang selalu membuat gara-gara. Padahal dulunya semasa kecil dia begitu sehat dan amat menggemaskan. Bukan sekali atau dua kali kita menyaksikan orang tua yang semasa mudanya bekerja keras membanting tulang memeras keringat, demi masa depan anaknya. Namun, di penghujung usia, justru tidak segan-segan si anak membentak orang tuanya, seperti membentak seekor binatang yang hina. Atau mencampakkan tumbuh renta itu ke panti jompo, tanpa perasaan bersalah atau berdosa. Na’udzubillah min dzalik..Itu baru di dunia. Belum jika kita berbicara tentang alam akhirat. Akankah seabreg prestasi duniawi dan sederet gelar yang disandang anak, membantu nasib kita di hadapan Allah? Terlebih bila ternyata mereka bukanlah generasi salih, yang setia untuk mendoakan kedua orang tuanya.Sebelum itu semua terjadi, mari kita tilik kembali usaha apa yang telah kita lakukan untuk melahirkan anak-anak yang salih dan salihah? Ketahuilah bahwa mendidik anak itu membutuhkan kesungguhan! Memerlukan pengorbanan! Menuntut keikhlasan dan kesabaran! Serta yang paling penting adalah membutuhkan ilmu yang memadai juga taufik dari Allah ta’ala..Persiapan materi saja tidak cukup, jika kita menginginkan generasi yang handal. Sebab, betapa banyak hal-hal yang tidak bisa dibeli dengan materi.Maka, mari kita terus berusaha untuk berbekal ilmu yang memadai. Tidaklah berlebihan bila dikatakan bahwa ilmu pendidikan anak adalah cabang ilmu khusus yang harus dikuasai setiap orang tua, bahkan sebelum mereka berpredikat sebagai orang tua. Agar kita betul-betul menjadi orangtua yang sebenarnya, bukan sekedar orang yang lebih tua dari anaknya!Amat disayangkan, betapa banyak suami yang menyandang gelar bapak hanya karena istrinya melahirkan. Sebagaimana banyak wanita disebut ibu, semata-mata karena dialah yang melahirkan. Bukan karena mereka menyiapkan diri menjadi orangtua. Bukan pula karena mereka memiliki kepatutan sebagai orangtua. Semoga Allah menjauhkan kita dari tipe orang tua seperti itu. Amien. ANAK, SEBUAH NIKMAT BESAR[2]Terlampau banyak nikmat yang Allah karuniakan kepada kita. Saking banyaknya, hingga kita tidak mungkin bisa menghitungnya. Dan seringkali kita lalai serta tidak menyadari betapa besar nikmat tersebut. Nikmat itu baru terasa manakala lenyap.Dahulu orang bijak mengatakan, “Kesehatan adalah mahkota di atas kepala orang-orang sehat. Tidak ada yang bisa melihat mahkota tersebut, kecuali orang-orang sakit”.Di antara nikmat besar yang kerap terlupakan keberadaannya adalah: anak. Kehadiran sang buah hati merupakan karunia dan hadiah dari Allah ta’ala. Sebagaimana difirmankan oleh-Nya,“لِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ يَهَبُ لِمَنْ يَشَاءُ إِنَاثًا وَيَهَبُ لِمَنْ يَشَاءُ الذُّكُورَ . أَوْ يُزَوِّجُهُمْ ذُكْرَانًا وَإِنَاثًا وَيَجْعَلُ مَنْ يَشَاءُ عَقِيمًا إِنَّهُ عَلِيمٌ قَدِيرٌ”Artinya: “Milik Allah-lah kerajaan langit dan bumi. Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Memberikan anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki, dan memberikan anak laki-laki kepada siapa yang Dia kehendaki. Atau Dia menganugerahkan jenis laki-laki dan perempuan. Dan menjadikan mandul siapa yang Dia kehendaki. Dia Maha Mengetahui, Mahakuasa”. QS. Asy-Syura (42): 49-50.Terlebih bila anak tersebut adalah anak yang salih-salihah. Mereka adalah kekayaan yang tak ternilai harganya, jauh melebihi kekayaan materi. Mereka adalah pembawa bahagia, pelipur lara serta penolong bagi kedua orang tuanya, di dunia ini dan di akhirat kelak.Namun, kenyataannya masih banyak orang tua yang belum merasakan anak sebagai anugerah. Bisa jadi kita juga termasuk jenis orang tua yang belum bersyukur. Buktinya, keluh kesah masih begitu sering terlontar dari lisan. Masih ditambah pula dengan iringan kekesalan dan rasa tidak puas dalam hati.Jika demikian, marilah kita bersama-sama melihat di luar sana…Ternyata begitu banyak pasangan yang lelah berharap untuk memiliki momongan. Namun Allah ta’ala belum juga berkenan mengaruniakan anak kepada mereka. Padahal segala sarana dan saran telah dijalankan. Doa juga tidak lupa untuk selalu dipanjatkan.Di tempat lain, banyak orang tua yang harus kehilangan anak yang sangat dicintainya, pergi untuk selamanya. Ada pula yang semula anaknya sempurna, tiba-tiba menjadi cacat karena suatu bencana. Atau anak yang semula sehat bugar, mendadak tergeletak tak berdaya karena penyakit kronis yang tidak pernah terduga sebelumnya.Dari sini kita sadar…Bahwa ternyata anak adalah anugerah besar. Maka syukurilah nikmat ini, agar langgeng dan terus bertambah baik. Sebagaimana yang Allah jelaskan dalam QS. Ibrahim (14): 7. Dan dengan rasa syukur tersebut diharapkan kita bisa lebih sabar dalam mengasuh dan mendidik anak. Juga semakin memperbesar harapan agar mereka tumbuh menjadi anak salih yang menabur kebahagiaan bagi kedua orang tuanya, amien. ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIAN[3]Alangkah indahnya minum teh dengan ditemani sepiring pisang goreng beserta istri, sambil melihat anak-anak bermain riang gembira. Sulit digambarkan dengan kata-kata! Ya, tidak diragukan lagi bahwa anak merupakan salah satu perhiasan dunia terindah. Rasa penat bekerja seharian seakan lenyap tak berbekas, saat pulang ke rumah bercengkerama dan bersenda gurau dengan anak-anak. Itulah perhiasan dunia!“الْمَالُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا”.Artinya: “Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia”. QS. Al-Kahfi (18): 46.Namun waspadalah, sebab di sisi lain, anak juga merupakan ujian bagi kita.“إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ وَاللَّهُ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ”. Artinya: “Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan sisi Allah-lah pahala yang besar”. QS. At-Taghabun (64): 15.Maka berhati-hatilah, jangan sampai kita terpedaya. Sebab terkadang anak membuat seorang hamba menjadi angkuh dan tidak mensyukuri nikmat Allah.Anak, kerap juga mendorong sang ayah untuk menghalalkan cara yang haram. Seperti menyuap demi kelulusan si buah hati. Demi masa depan anak, katanya…Anak, kadang membuat seorang insan menjadi kikir dan penakut. Saat ingin bersedekah, setan datang memprovokasi, “Barusan anakmu minta ini dan itu!”. Akhirnya iapun urung menginfakkan hartanya di jalan Allah. Padahal yang diminta anaknya bukanlah suatu kebutuhan primer. Benarlah sabda Nabi shallallahu ‘alaihiwasallam,“إِنَّ الْوَلَدَ مَبْخَلَةٌ، مَجْبَنَةٌ، مَحْزَنَةٌ”.“Sesungguhnya anak bisa membuat seseorang menjadi bakhil, penakut dan bersedih”. HR. Al-Hakim dan dinilai sahih oleh beliau juga al-Albany.Ketika anak jatuh sakit, rasa iba mendorong orang tua bertindak bodoh dan melanggar syariat agama. Iapun membawa anaknya berobat ke dukun, padahal agama telah melarang dengan tegas hal itu.Lalu bagaimana caranya agar kita terhindar dari godaan tersebut?Caranya adalah dengan mendahulukan kecintaan kita kepada Allah dan Rasul-Nya di atas segalanya, termasuk terhadap anak-anak. Kemudian senantiasa bertakwa dalam mengurus mereka.Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menjelaskan bahwa di antara amalan yang bisa menghapus keburukan akibat godaan anak, adalah mengerjakan shalat, berpuasa, bersedekah dan beramar ma’ruf nahi mungkar. Beliau bersabda,“فِتْنَةُ الرَّجُلِ فِى أَهْلِهِ وَمَالِهِ وَنَفْسِهِ وَوَلَدِهِ وَجَارِهِ؛ يُكَفِّرُهَا الصِّيَامُ وَالصَّلاَةُ وَالصَّدَقَةُ وَالأَمْرُ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّهْىُ عَنِ الْمُنْكَرِ”.“Gangguan yang menimpa seseorang akibat keluarga, harta, diri, anak dan tetangganya, dapat dihapus dengan puasa, shalat, shadaqah dan amar ma’ruf nahi mungkar”. HR. Bukhari dan Muslim. ANAK ADALAH AMANAH ALLAH[4]Tentu banyak di antara kita yang pernah dititipi sesuatu oleh orang lain. Amanah tersebut mestinya akan kita jaga sebaik-baiknya. Terlebih jika titipan tersebut adalah barang yang amat berharga, dan orang yang menitipkannya kepada kita adalah orang terhormat.Namun, ada satu amanah yang sangat istimewa, dan yang menitipkannya kepada kita pun, Dzat yang amat mulia, tetapi justru malah seringkali kita menyia-nyiakannya. Titipan yang tidak semua orang mendapat kehormatan untuk mengembannya. Amanah tersebut tidak lain adalah anak.Bayi yang Allah anugerahkan kepada kita bagaikan mutiara yang masih berada dalam cangkangnya. Masih terjaga dari jamahan tangan-tangan luar. Hatinya masih suci, ibarat selembar kertas putih, tanpa goresan apalagi ukiran. Setelah itu sedikit demi sedikit, kepribadian dan perilaku anak terbentuk, sesuai dengan apa yang dilihat di komunitas terdekatnya. Yakni di dalam rumah dan lingkungannya.Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menjelaskan,“مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلَّا يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِه”“Setiap bayi lahir dalam keadaan fitrah. Orang tuanya lah yang akan menjadikan ia Yahudi, Nasrani atau Majusi”. HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah.Itulah masa keemasan yang tidak boleh disia-siakan. Kesalihan anak bukanlah hadiah gratis yang turun dari langit begitu saja. Namun membutuhkan usaha dan perjuangan dari orang tua.Tanggung jawab kita terhadap anak bukan sekedar memberinya makan kenyang, pakaian bagus ataupun rumah lapang. Tetapi tanggung jawab yang lebih berat adalah memberikan pendidikan terbaik bagi mereka dan menyelamatkan mereka dari azab Allah. [Lihat: QS. At-Tahrim (66): 6].Allah ta’ala pasti akan meminta pertanggungjawaban kita atas amanah ini. Dalam hadits disebutkan:“كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ؛ … وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ بَعْلِهَا وَوَلَدِهِ وَهِىَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ…”“Setiap kalian adalah pemimpin dan semua akan ditanya tentang bawahannya … Lelaki adalah pemimpin bagi keluarganya, dan dia akan ditanya tentang mereka. Wanita merupakan penanggungjawab di rumah suaminya serta bagi anaknya, dan dia akan ditanya tentang mereka.” HR. Bukhari dan Muslim.Memang tugas dan tanggung jawab ini tidaklah ringan. Ujian dan rintangan mungkin muncul silih berganti. Rasa letih dan bosan kadang datang mendera. Sementara setan terus membuat makar dan tipu daya untuk mematahkan semangat kita. Sekaligus mengompori sifat keluh kesah, yang memang merupakan tabiat dasar manusia. [Baca: QS. Al-Ma’arij (70): 19].Namun, tipu daya tersebut tentu harus dilawan! Jauhilah sifat keluh kesah sebisa mungkin. Sebab keluh kesah hanya akan membawa kerugian. Karena, sekecil apapun tugas dan tanggung jawab, bila disikapi dengan keluh kesah, amarah dan perasaan tidak ikhlas, maka tugas ringan akan menjadi beban berat. Lebih rugi lagi, karena hati tidak ikhlas, akibatnya pahala gagal diraih. Ibarat sudah jatuh tertimpa tangga pula.Sebaliknya, jika tanggung jawab ini dipikul dengan penuh keikhlasan, niscaya akan membawa kebaikan. Sebab, seberat apapun tugas dan tanggung jawab, bila dilakukan dengan penuh keikhlasan, kegembiraan dan harapan, maka tugas berat akan terasa ringan. Lebih dari itu, berkat keikhlasan hati, semua jerih payah dan setiap tetesan keringat, akan bernilai pahala di sisi-Nya. Inilah keberuntungan di atas keberuntungan. Di dunia, pekerjaan terasa nikmat dan bisa mencicipi buah manis kebaktian anak. Sedangkan di akhirat, maka insyaAllah akan menuai limpahan pahala. Allahumma amien… KESALIHAN ORANG TUA, MODAL UTAMA[5]Kita semua mempunyai keinginan dan cita-cita yang sama. Ingin agar keturunan kita menjadi anak yang salih dan salihah. Namun, terkadang kita lupa bahwa modal utama untuk mencapai cita-cita mulia tersebut ternyata adalah: kesalihan dan ketakwaan kita selaku orangtua. Alangkah lucunya, manakala kita berharap anak menjadi salih dan bertakwa, sedangkan kita sendiri berkubang dalam maksiat dan dosa!Kesalihan jiwa dan perilaku orangtua mempunyai andil yang sangat besar dalam membentuk kesalihan anak. Sebab ketika si anak membuka matanya di muka bumi ini, yang pertama kali ia lihat adalah ayah dan bundanya. Manakala ia melihat orangtuanya berhias akhlak mulia serta tekun beribadah, niscaya itulah yang akan terekam dengan kuat di benaknya. Dan insyaAllah itupun juga yang akan ia praktekkan dalam kesehariannya. Pepatah mengatakan: “buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya”. Betapa banyak ketakwaan pada diri anak disebabkan ia mengikuti ketakwaan kedua orangtuanya atau salah seorang dari mereka. Ingat karakter dasar manusia, terutama anak kecil, yang suka meniru!• Beberapa contoh aplikasi nyatanyaManakala kita menginginkan anak kita rajin untuk mendirikan shalat lima waktu, gamitlah tangannya dan berangkatlah ke masjid bersama. Bukan hanya dengan berteriak memerintahkan anak pergi ke masjid, sedangkan Anda asyik menonton televisi.Jika Anda berharap anak rajin membaca al-Qur’an, ramaikanlah rumah dengan lantunan ayat-ayat suci al-Qur’an yang keluar dari lisan ayah, ibu ataupun kaset dan radio. Jangan malah Anda menghabiskan hari-hari dengan membaca koran, diiringi lantunan langgam gendingan atau suara biduanita yang mendayu-dayu!Kalau Anda menginginkan anak jujur dalam bertutur kata, hindarilah berbohong sekecil apapun. Tanpa disadari, ternyata sebagai orang tua kita sering membohongi anak untuk menghindari keinginannya. Salah satu contoh pada saat kita terburu-buru pergi ke kantor di pagi hari, anak kita meminta ikut atau mengajak jalan-jalan mengelilingi perumahan. Apa yang kita lakukan? Apakah kita menjelaskannya dengan kalimat yang jujur? Atau kita lebih memilih berbohong dengan mengatakan, “Bapak hanya sebentar kok, hanya ke depan saja ya. Sebentaaar saja ya sayang…”. Tapi ternyata, kita malah pulang malam!Dalam contoh di atas, sejatinya kita telah berbohong kepada anak, dan itu akan ditiru olehnya.Terus apa yang sebaiknya kita lakukan? Berkatalah dengan jujur kepada anak. Ungkapkan dengan lembut dan penuh kasih serta pengertian, “Sayang, bapak mau pergi ke kantor. Kamu tidak bisa ikut. Tapi kalo bapak ke kebun binatang, insyaAllah kamu bisa ikut”.Kita tak perlu merasa khawatir dan menjadi terburu-buru dengan keadaan ini. Pastinya akan membutuhkan waktu lebih untuk memberi pengertian kepada anak karena biasanya mereka menangis. Anak menangis karena ia belum memahami keadaan mengapa orang tuanya harus selalu pergi di pagi hari. Kita perlu bersabar dan melakukan pengertian kepada mereka secara terus menerus. Perlahan anak akan memahami mengapa orangtuanya selalu pergi di pagi hari dan bila pergi bekerja, anak tidak bisa ikut.Anda ingin anak jujur? Mulailah dari diri Anda sendiri!Semoga Allah senantiasa meridhai setiap langkah baik kita, amien… SAMBUTLAH KABAR GEMBIRA![6]Sejauh apapun kita melangkah, ada saatnya umur kita berakhir. Suatu hari nanti Allah akan mengirimkan malaikat pencabut nyawa untuk mengakhiri hidup kita di dunia. Saat itu tangis haru kehilangan akan pecah dari orang-orang yang mencintai kita. Namun, sebesar apapun kecintaan mereka kepada kita, tetap saja mereka tidak akan mau menemani kita di liang kubur. Tinggallah kita dalam kesendirian di sebuah ruang sempit nan pengap, ditemani hewan-hewan tanah. Amalan terputus dan kesempatan menambah pahala telah pupus.Tetapi, terimalah kabar gembira…Wahai para orang tua yang salih, yang semasa hidupnya tak pernah lekang untuk mendidik anaknya hingga tumbuh menjadi generasi yang salih. Bergembiralah, bahwa pahala akan terus mengalir ke tabunganmu, walaupun jasadmu telah lapuk dimakan tanah. Kuburanmu akan terasa lapang dan terang benderang.Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda,“إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةٍ؛ إِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ”.“Jika manusia mati, maka terputuslah amalannya kecuali tiga. (1) Sedekah jariyah, (2) Ilmu yang bermanfaat dan (3) Anak salih yang mendoakannya”. HR. Muslim dari Abu Hurairah.Setiap anak melakukan ibadah dan kebajikan, akan selalu mengalir pahala untukmu. Sebab engkaulah yang mengajarkan kebaikan tersebut padanya. Nabiyullah shallallahu’alaihiwasallam bertutur,“مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ”.“Barang siapa menunjukkan kepada kebaikan, maka ia akan mendapatkan pahala seperti orang yang melakukannya”. HR. Muslim dari Abu Mas’ud al-Anshary.Bukan hanya itu, namun juga doa anak salih hasil jerih payahmu akan mengangkat derajatmu di surga. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menjelaskan,“إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَيَرْفَعُ الدَّرَجَةَ لِلْعَبْدِ الصَّالِحِ فِي الْجَنَّةِ، فَيَقُولُ: “يَا رَبِّ، أَنَّى لِي هَذِهِ؟” فَيَقُولُ: “بِاسْتِغْفَارِ وَلَدِكَ لَكَ”.“Sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla akan mengangkat derajat hamba yang salih di surga. Ia bertanya, “Wahai Rabbi, apakah yang membuatku (menempati derajat ini?)”. Dia menjawab, “Lantaran doa anakmu yang memohonkan ampunan untukmu”. HR. Ahmad dari Abu Hurairah dan dinilai hasan oleh al-Albany.Engkaupun akan kembali bersua dan berkumpul dengan mereka di negeri keabadian yang penuh kenikmatan. Di surga ‘Adn! Allah ta’ala berfirman,“جَنَّاتُ عَدْنٍ يَدْخُلُونَهَا وَمَنْ صَلَحَ مِنْ آبَائِهِمْ وَأَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيَّاتِهِمْ وَالْمَلَائِكَةُ يَدْخُلُونَ عَلَيْهِمْ مِنْ كُلِّ بَابٍ“Artinya: “(Yaitu) surga-surga ‘Adn, mereka masuk ke dalamnya bersama dengan orang yang salih dari nenek moyangnya, pasangan-pasangannya dan keturunannya. Sedangkan para malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu”. QS. Ar-Ra’du (13): 23.Selamat menyambut kabar gembira tersebut, wahai para orang tua salih yang memiliki anak salih-salihah! HIDAYAH BUKAN DI TANGAN KITA[7]Jika kita menginginkan anak-anak kita menjadi generasi yang salih-salihah, maka kita harus berusaha maksimal untuk itu. Kita wajib mengerahkan segala daya dan upaya yang kita miliki. Siap untuk letih, capai dan lelah untuk mendidik, mengarahkan serta menasehati mereka. Jika itu telah dilakukan, maka bersiaplah untuk memetik buah manis usaha keras kita!Namun, ada satu hal penting yang harus senantiasa diingat. Yaitu hidayah bukanlah di tangan kita. Satu-satunya pemilik mutlaknya adalah Allah ta’ala. Dalam al-Qur’an disebutkan:“فَإِنَّ اللَّهَ يُضِلُّ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ”Artinya: “Sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang dikendaki-Nya dan memberi hidayah kepada siapa yang dikehendaki-Nya”. QS. Fâthir (35): 8.Sebesar apapun usaha yang kita kerahkan, jikalau Allah tidak berkehendak, maka mustahil keinginan kita akan tercapai. Lihatlah bagaimana manusia paling bertakwa di muka bumi, Rasulullah shallallahu ‘alaihiwasallam, pun tak kuasa untuk memberi hidayah kepada orang yang sangat beliau cintai; Abu Thalib pamannya. [Baca: QS. Al-Qashash (28): 56].Apalah pula kesalihan kita dibanding Nabi Nuh ‘alaihissalam? Jikalau beliau tidak kuasa memberikan hidayah kepada buah hatinya, bagaimana dengan kita?Di saat air bah melanda, beliau masih berusaha keras mengajak anaknya untuk menaiki kapal besar yang dibuatnya. Namun Allah tidak berkenan memberikan hidayah kepada si anak, sehingga justru dengan pongahnya ia menjawab akan menaiki gunung tertinggi. Pada akhirnya ia pun tenggelam dilamun ombak. [Baca: QS. Hûd (11): 42-47].Putra seorang Nabi yang telah menghabiskan umur hampir sepuluh abad untuk berdakwah, ternyata justru meninggal dalam keadaan tidak beriman??! Bukankah ini memberikan pelajaran yang amat dalam bahwa hidayah bukanlah di tangan manusia?Seluruh keterangan di atas bukan dalam rangka memprovokasi agar kita melempem dalam mendidik anak, bukan! Tidak pula dalam rangka mengajak kita menyerah dengan keadaan, tanpa melakukan usaha maksimal, tidak! Tetapi tulisan ini dituangkan dalam rangka untuk mengingatkan kita semua bahwa ikhtiar belaka tidaklah cukup. Namun harus diiringi dengan sesuatu yang bernama doa dan tawakal kepada Allah ta’ala.Usaha tanpa doa merupakan sebuah kesombongan, sedangkan pasrah tanpa usaha adalah sebuah kejahilan.Maka jangan sampai kita mengandalkan kekuatan diri sendiri semata dan bergantung padanya saja. Sebagaimana doa yang sering dipanjatkan Nabi shallallahu’alaihiwasallam,“يَا حَيُّ يَا قَيُّومُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيثُ، أَصْلِحْ لِي شَأْنِي كُلَّهُ، وَلاَ تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي طَرَفَةَ عَيْنٍ“ “Wahai Yang Maha Hidup dan Maha mengurusi para makhluk-Nya, dengan rahmat-Mu aku memohon pertolongan. Perbaikilah seluruh keadaanku. Dan jangan Engkau jadikan aku bergantung kepada diriku, walaupun hanya sekejap mata”. HR. Al-Hakim dari Anas bin Malik dan dinilai sahih oleh al-Hakim dan adh-Dhiya’ al-Maqdisy.Maka dari itu selain usaha lahiriah yang kita kerahkan, janganlah pernah melupakan lantunan doa yang senantiasa dipanjatkan ke hadirat Allah ta’ala, terutama di waktu-waktu yang mustajab! MENDIDIK ANAK DALAM KANDUNGAN[8]Mendidik anak dari dini bukanlah dimulai sejak dia baru lahir. Namun semenjak ia masih berada dalam kandungan. Bahkan sejak pertama kali memilih pasangan hidup pun, itu juga akan menentukan keberhasilan kita dalam mendidik anak.Di saat janin dalam rahim berumur 120 hari, sejatinya ia telah bernyawa. Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam menjelaskan,“إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِى بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا، ثُمَّ يَكُونُ فِى ذَلِكَ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يَكُونُ فِى ذَلِكَ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يُرْسَلُ الْمَلَكُ فَيَنْفُخُ فِيهِ الرُّوحَ”.“Sesungguhnya setiap orang berada di dalam perut ibunya (berbentuk mani) selama empat puluh hari. Kemudian berubah menjadi segumpal darah selama itu juga (40 hari). Kemudian berubah menjadi sekerat daging selama itu juga. Lalu diutuslah malaikat untuk meniupkan ruh kepadanya”. HR. Bukhari dan Muslim dari Ibn Mas’ud radhiyallahu’anhu.Jadi, berdasarkan hadits di atas, setelah lewat 4 bulan, janin dalam perut sudah hidup. Lalu penemuan-penemuan ilmiah membuktikan bahwa janin sebelum lahir mampu merespon stimulasi edukatif yang diberikan kepadanya.Jadi, dari pra lahir kita sudah bisa mendidik anak kita. Caranya antara lain dengan:1. Memperbanyak doa.Para nabi ‘alaihimussalam juga orang-orang salih selalu mendoakan anak-anak mereka sejak dalam kandungan. Misalnya: Nabi Ibrahim [QS. Ash-Shâffât (37): 100] dan Nabi Zakariya [QS. Ali Imran (3): 38].2. Tekun beribadah.Tidak ada salahnya, manakala orang tua akan menjalankan aktifitas ibadah, seperti shalat, bersedekah, berdzikir, berpuasa atau yang lainnya, ia menyapa anaknya yang ada di dalam perut. Contohnya: “Sabar ya nak, sekarang kita sedang berpuasa!”.3. Merutinkan membaca al-Qur’an.Bukan hanya membaca al-Qur’an, lebih baik lagi jika orang tua melatih diri untuk menghapal al-Qur’an semampunya. Sehingga diharapkan manakala ia banyak melantunkan ayat-ayat suci al-Qur’an, anak yang berada dalam janin ikut merekam bacaan orang tuanya. Sehingga kelak saat lahir anak telah memiliki ‘bekal’ hapalan al-Qur’an.4. Bertutur kata yang baik.Biasakanlah untuk senantiasa berbicara dengan santun dan baik. Semoga dengan demikian anakpun akan tertular dengan perilaku positif tersebut.Pendek kata, manfaatkanlah setiap detik dalam kehidupan kita untuk mendidik anak kita, tanpa kenal lelah dan pantang menyerah. Sejatinya kesuksesan besar itu sangat ditentukan dengan langkah pertama yang baik.Selamat mempraktekkan! JANGAN BIARKAN SETAN MENJAMAH ANAKMU![9]Ingatlah wahai para orang tua, bahwa setan tidak akan pernah duduk manis, membiarkan anak kita tumbuh menjadi generasi yang salih dan salihah. Dia tidak akan pernah merasa puas, hingga berhasil menjadikan anak-anak kita menjadi kaki tangan mereka. Na’udzubillah min dzalik.Karena liciknya tipu daya mereka, juga tabiat dasar manusia yang lemah, kita perlu memohon bantuan kepada Allah agar Dia berkenan melindungi kita dan anak-anak kita.Berikut cara memohon perlindungan kepada Allah untuk anak-anak kita:1. Mintalah perlindungan pada-Nya sebelum ‘membuat’ anak. Yakni dengan membaca doa berikut sebelum melakukan hubungan suami istri:“بِسْمِ اللهِ اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا”.“Dengan nama Allah. Ya Allah jauhkanlah kami dari gangguan setan dan jauhkan pula gangguan setan dari (anak) yang akan Kau karuniakan pada kami”. HR. Bukhari dari Ibn ‘Abbas radhiyallahu’anhuma.2. Mohonlah perlindungan pada Allah saat anak lahir. Sebagaimana ucapan ibunda Maryam,“وَإِنِّي سَمَّيْتُهَا مَرْيَمَ وَإِنِّي أُعِيذُهَا بِكَ وَذُرِّيَّتَهَا مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ”.Artinya: “Sesungguhnya aku telah menamainya Maryam dan aku mohon perlindungan kepada-Mu untuknya serta keturunannya dari setan yang terkutuk”. QS. Ali Imrân (3): 36.3. Mintalah perlindungan kepada-Nya untuk mereka setiap hari, terutama di waktu pagi dan sore.Jika mereka belum bisa membaca al-Qur’an, bacakanlah surat al-Ikhlas, al-Falaq dan an-Nas, lalu usapkan tanganmu ke tubuh mereka.Atau bisa juga dengan membaca doa perlindungan yang dahulu pernah dibacakan Nabi shallallahu’alaihi wasallam untuk cucu beliau; al-Hasan dan al-Husain radhiyallahu’anhuma,“أُعِيذُكُمَا بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّةِ مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لاَمَّةٍ“.“Aku memohon perlindungan kepada Allah bagi kamu berdua dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna, dari segala gangguan setan, binatang berbisa dan pandangan mata yang jahat”. HR. Abu Dawud dan dinilai sahih oleh Ibn Hibban, al-Hakim, adz-Dzahaby dan al-Albany.Redaksi di atas adalah bila anak yang didoakan berjumlah dua orang. Jika lebih dari dua maka kalimat yang digarisbawahi diganti dengan “u’îdzukum”. Bila satu anak lelaki maka “u’îdzuka”, dan bila satu anak perempuan maka “u’îdzuki”.4. Jangan biarkan anak-anak berkeliaran di luar rumah saat malam tiba. Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam mewanti-wanti,“إِذَا كَانَ جُنْحُ اللَّيْلِ أَوْ أَمْسَيْتُمْ فَكُفُّوا صِبْيَانَكُمْ فَإِنَّ الشَّيَاطِينَ تَنْتَشِرُ حِينَئِذٍ، فَإِذَا ذَهَبَ سَاعَةٌ مِنْ اللَّيْلِ فَحُلُّوهُمْ ““Jika hari mulai gelap tahanlah anak-anak kalian (untuk keluar rumah) karena saat itu setan berkeliaran. Jika telah lewat sebagian malam biarkanlah mereka”. HR. Bukhari (hal. 669 no. 3280) dan Muslim (XIII/185 no. 5218) dari Jabir bin Abdullah dengan redaksi Muslim. KARAKTER PENDIDIK SUKSES bag-1[10]Kesempurnaan sifat pendidik memang hanya dimiliki oleh para rasul ‘alaihimussalam. Namun kita sebagai orang tua, tetap tertuntut dengan segenap kemampuan, untuk memiliki sifat-sifat tersebut. Sebab kita telah dijadikan anak sebagai fokus teladan dan contoh nyata yang mereka saksikan dalam keseharian.Inilah karakter yang harus dimiliki pendidik:1. BERILMUIlmu merupakan kebutuhan primer setiap insan dalam setiap lini kehidupannya, termasuk dalam mendidik anak. Bahkan kebutuhan dia terhadap ilmu dalam mendidik anak, melebihi kebutuhannya terhadap ilmu dalam menjalankan pekerjaannya.Namun, realita berkata lain. Rupanya tidak sedikit di antara kita mempersiapkan ilmu untuk kerja lebih banyak daripada ilmu untuk menjadi orangtua. Padahal tugas kita menjadi orangtua dua puluh empat jam sehari semalam, termasuk saat tidur, terjaga serta antara sadar dan tidak. Sementara tugas kita dalam pekerjaan, hanya sebatas jam kerja.• Ilmu apa saja yang dibutuhkan?Banyak jenis ilmu yang dibutuhkan orangtua dalam mendidik anaknya. Mulai dari ilmu agama dengan berbagai varianya, hingga ilmu cara berkomunikasi dengan anak.Jenis ilmu agama pertama dan utama yang harus dipelajari orangtua adalah akidah. Sehingga ia bisa menanamkan akidah yang lurus dan keimanan yang kuat dalam jiwa anaknya. Nabi shallallahu’alaihi wasallam mencontohkan bagaimana membangun pondasi tersebut dalam jiwa anak, dalam salah satu sabdanya untuk Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma,“إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلْ اللَّهَ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّه”“Jika engkau memohon, mohonlah kepada Allah. Dan jika engkau meminta pertolongan, mintalah kepada Allah”. HR. Tirmidzi dan beliau berkomentar, “Hasan sahih”.Selanjutnya ilmu tentang cara ibadah, terutama shalat dan cara bersuci. Bagaimana mungkin orangtua akan memerintahkan shalat pada anaknya, jikalau ia tidak mengerti tatacara shalat yang benar. Mampukah orang yang tidak mempunyai sesuatu, untuk memberikan sesuatu itu kepada orang lain?Berikutnya ilmu tentang akhlak, mulai adab terhadap orangtua, tetangga, teman, juga adab keseharian si anak. Bagaimana cara makan, minum, tidur, masuk rumah, kamar mandi, bertamu dan lain-lain.Yang tidak kalah pentingnya adalah: ilmu seni berinteraksi dan berkomunikasi dengan anak. Bagaimana kita menghadapi anak yang hiperaktif atau sebaliknya pendiam. Bagaimana membangun rasa percaya diri dalam diri anak. Bagaimana memotivasi mereka untuk gemar belajar. Bagaimana menumbuhkan bakat yang ada dalam diri anak kita. Dan berbagai konsep-konsep dasar pendidikan anak lainnya.• Ayo belajar!Semoga pemaparan singkat di atas bisa menggambarkan pada kita urgensi ilmu dalam mendidik anak. Sehingga diharapkan bisa mendorong kita untuk terus mengembangkan diri, meningkatkan pengetahuan kita, menghadiri majlis taklim, membaca buku-buku panduan pendidikan. Agar kita betul-betul menjadi orangtua yang sebenarnya, bukan sekedar orang yang lebih tua dari anaknya! KARAKTER PENDIDIK SUKSES bag-2[11]Di antara karakter yang harus dimiliki pendidik:2. IKHLASIkhlas merupakan ruh bagi setiap amalan. Amalan tanpa disuntik keikhlasan bagaikan jasad yang tak bernyawa. Termasuk jenis amalan yang harus dilandasi keikhlasan adalah mendidik anak. Apa maksudnya?Maksudnya adalah: Rawat dan didik anak dengan penuh ketulusan dan niat ikhlas semata-mata mengharapkan keridhaan Allah ta’ala.Ikhlas memiliki dampak kekuatan yang begitu dahsyat. Di antaranya:1. Dengan ketulusan, suatu aktivitas akan terasa ringan.Proses ‘membuat’ dan mendidik anak, mulai dari mengandung, melahirkan, menyusui, merawat, membimbing hingga mendidik, jelas membutuhkan waktu yang tidak sebentar dan energi ekstra. Jika Anda ingin seabreg pekerjaan itu terasa ringan, maka jalanilah dengan penuh ketulusan dan keikhlasan! Sebab seberat apapun pekerjaan, jika dilakukan dengan ikhlas insyaAllah akan terasa ringan, bahkan menyenangkan. Sebaliknya, seringan apapun pekerjaan, kalau dilakukan dengan keluh kesah pasti akan terasa seberat gunung dan menyebalkan.2. Dengan keikhlasan, ucapan kita akan berbobot.Sering kita mencermati dan merasakan bahwa di antara kata-kata kita, ada yang sangat membekas di dada anak-anak yang masih belia hingga mereka dewasa kelak. Sebaliknya, tak sedikit ucapan yang bahkan kita teriakkan keras-keras di telinganya, ternyata berlalu begitu saja bagai angin malam yang segera hilang kesejukannya begitu mentari pagi bersinar.Apa yang membedakan? Salah satunya adalah kekuatan yang menggerakkan kata-kata kita. Jika Engkau ucapkan kata-kata itu untuk sekedar meluapkan amarah, maka anak-anak itu akan mendengarnya sesaat dan sesudah itu hilang tanpa bekas. Namun jika Engkau ucapkan dengan sepenuh hati sambil mengharapkan turunnya hidayah untuk anak-anak yang Engkau lahirkan dengan susah payah itu, insya Allah akan menjadi perkataan yang berbobot.3. Dengan keikhlasan anak kita akan mudah diatur Manakala si anak merasakan ketulusan hati orangtuanya dalam setiap yang dikerjakan, ia akan menerima arahan dan nasehat yang disampaikan ayah dan bundanya, karena ia menangkap bahwa segala yang disampaikan padanya adalah semata demi kebaikan dirinya.4. Dengan keikhlasan kita akan memetik buah manis pahalaKeikhlasan bukan hanya memberikan dampak positif di dunia, namun juga akan membuahkan pahala yang amat manis di alam sana. Yang itu berujung kepada berkumpulnya orangtua dengan anak-anaknya di negeri keabadian; surga Allah yang penuh dengan keindahan dan kenikmatan.وَالَّذِينَ آَمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْArtinya: “Orang-orang yang beriman, beserta anak cucu mereka yang mengikuti mereka dalam keimanan, Kami akan pertemukan mereka dengan anak cucu mereka”. QS. Ath-Thur: 21.Dipertemukan di mana? Di surga Allah jalla wa ‘ala![12] KARAKTER PENDIDIK SUKSES bag-3*Di antara karakter yang harus dimiliki pendidik:3. KESALIHAN DIRIKita semua mempunyai keinginan dan cita-cita yang sama. Ingin agar keturunan kita menjadi anak yang salih dan salihah. Namun, terkadang kita lupa bahwa modal utama untuk mencapai cita-cita mulia tersebut ternyata adalah: kesalihan dan ketakwaan kita selaku orangtua. Alangkah lucunya, manakala kita berharap anak menjadi salih dan bertakwa, sedangkan kita sendiri berkubang dalam maksiat dan dosa!Kesalihan jiwa dan perilaku orangtua mempunyai andil yang sangat besar dalam membentuk kesalihan anak. Sebab ketika si anak membuka matanya di muka bumi ini, yang pertama kali ia lihat adalah ayah dan bundanya. Manakala ia melihat orangtuanya berhias akhlak mulia serta tekun beribadah, niscaya itulah yang akan terekam dengan kuat di benaknya. Dan insyaAllah itupun juga yang akan ia praktekkan dalam kesehariannya. Pepatah mengatakan: “Buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya”. Betapa banyak ketakwaan pada diri anak disebabkan ia mengikuti ketakwaan kedua orangtuanya atau salah seorang dari mereka. Ingat karakter dasar manusia, terutama anak kecil, yang suka meniru!Lihatlah bagaimana kesalihan nabiyullah Ibrahim ‘alaihissalam menular kepada diri kedua putranya; nabi Isma’il dan nabi Ishaq ‘alaihimassalam!• Beberapa contoh aplikasi nyataManakala kita menginginkan anak kita rajin untuk mendirikan shalat lima waktu, gamitlah tangannya dan berangkatlah ke masjid bersama. Bukan hanya dengan berteriak memerintahkan anak pergi ke masjid, sedangkan Anda asyik menonton televisi.Jika Anda berharap anak rajin membaca al-Qur’an, ramaikanlah rumah dengan lantunan ayat-ayat suci al-Qur’an yang keluar dari lisan ayah, ibu ataupun kaset dan radio. Jangan malah Anda menghabiskan hari-hari dengan membaca koran, diiringi lantunan langgam gendingan atau suara biduanita yang mendayu-dayu!Kalau Anda menginginkan anak jujur dalam bertutur kata, hindarilah berbohong sekecil apapun. Tanpa disadari, ternyata sebagai orang tua kita sering membohongi anak untuk menghindari keinginannya. Salah satu contoh pada saat kita terburu-buru pergi ke kantor di pagi hari, anak kita meminta ikut atau mengajak jalan-jalan mengelilingi perumahan. Apa yang kita lakukan? Apakah kita menjelaskannya dengan kalimat yang jujur? Atau kita lebih memilih berbohong dengan mengatakan, “Bapak hanya sebentar kok, hanya ke depan saja ya. Sebentaaar saja ya sayang…”. Tapi ternyata, kita malah pulang malam!Dalam contoh di atas, sejatinya kita telah berbohong kepada anak, dan itu akan ditiru olehnya.Terus apa yang sebaiknya kita lakukan? Berkatalah dengan jujur kepada anak. Ungkapkan dengan lembut dan penuh kasih serta pengertian, “Sayang, bapak mau pergi ke kantor. Kamu tidak bisa ikut. Tapi kalo bapak ke kebun binatang, insyaAllah kamu bisa ikut”.Kita tak perlu merasa khawatir dan menjadi terburu-buru dengan keadaan ini. Pastinya akan membutuhkan waktu lebih untuk memberi pengertian kepada anak karena biasanya mereka menangis. Anak menangis karena ia belum memahami keadaan mengapa orang tuanya harus selalu pergi di pagi hari. Kita perlu bersabar dan melakukan pengertian kepada mereka secara terus menerus. Perlahan anak akan memahami mengapa orangtuanya selalu pergi di pagi hari dan bila pergi bekerja, anak tidak bisa ikut.Anda ingin anak jujur? Mulailah dari diri Anda sendiri! KARAKTER PENDIDIK SUKSES bag-4*Di antara karakter yang harus dimiliki pendidik:4. BERTANGGUNG JAWABAnak merupakan salah satu karunia terbesar yang diberikan Allah kepada suatu rumah tangga. Sebuah keluarga tanpa anak, akan terasa amat sepi dan hambar. Kalau boleh diumpamakan, seperti masakan tanpa bumbu.Betapa banyak orang yang menanti kehadiran si jabang bayi selama puluhan tahun, ternyata Allah belum berkenan untuk mengaruniakan sang buah hati. Karena hikmah yang diinginkan-Nya, yang barangkali salah satunya adalah orang tersebut dinilai Allah belum siap untuk menjadi bapak atau ibu.“لِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ يَهَبُ لِمَنْ يَشَاءُ إِنَاثًا وَيَهَبُ لِمَنْ يَشَاءُ الذُّكُورَ . أَوْ يُزَوِّجُهُمْ ذُكْرَانًا وَإِنَاثًا وَيَجْعَلُ مَنْ يَشَاءُ عَقِيمًا إِنَّهُ عَلِيمٌ قَدِيرٌ”Artinya: “Milik Allah-lah kerajaan langit dan bumi. Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Memberikan anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki, dan memberikan anak laki-laki kepada siapa yang Dia kehendaki. Atau Dia menganugerahkan jenis laki-laki dan perempuan. Dan menjadikan mandul siapa yang Dia kehendaki. Dia Maha Mengetahui, Mahakuasa”. QS. Asy-Syura (42): 49-50.Jadi, manakala Allah telah mengaruniakan anak kepada kita, bisa jadi itu pertanda bahwa kita telah harus siap untuk menjadi orang tua. Seberapapun jumlah anak yang Allah karuniakan kepada kita, maka sebenarnya kita harus telah siap untuk menanganinya. Sebab Allah tidak mungkin membebani hamba-Nya melebihi kemampuan-Nya. (Baca: QS. Al-Baqarah: 286).Sebagai orang yang mendapatkan amanah, apalagi dari Allah ta’ala, maka kita harus menjalankan tugas tersebut dengan penuh rasa tanggung jawab.“أَلَا كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، … وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى أَهْلِ بَيْتِ زَوْجِهَا وَوَلَدِهِ وَهِيَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ، …”.“Ketahuilah, kalian semua adalah penanggungjawab dan seluruh kalian akan ditanya tentang tanggung jawabnya … Seorang lelaki penanggungjawab atas keluarganya dan ia akan ditanya tentang mereka. Seorang wanita penanggungjawab atas anak-anak suaminya dan ia akan ditanya tentang mereka …”. HR. Bukhari dan Muslim dari Ibnu Umar radhiyallahu’anhuma.Jadi manakala mendidik anak, kita harus senantiasa berusaha menghadirkan perasaan tanggung jawab terhadap amanah yang Allah berikan kepada kita. Bukan hanya tanggung jawab dalam memenuhi kebutuhan duniawi sang anak. Namun yang lebih penting dari itu adalah tanggung jawab dalam pendidikan agama dan perilaku kesehariannya.Rasa tanggung jawab ini, akan mendorong kita untuk mengerahkan segala daya dan upaya, serta apapun yang kita miliki demi kesuksesan pendidikan anak. Tanpa perasaan itu, semangat akan mengendur dan segala aktifitas dalam mendidik anak akan terasa menjadi sebuah beban yang amat berat! KARAKTER PENDIDIK SUKSES bag-5*Di antara karakter yang harus dimiliki pendidik:5. SABARSabar merupakan salah satu syarat mutlak bagi mereka yang ingin berhasil mengarungi kehidupan di dunia. Kehidupan yang tidak lepas dari susah dan senang, sedih dan bahagia, musibah dan nikmat, menangis dan tertawa, sakit dan sehat, lapar dan kenyang, rugi dan untung, miskin dan kaya, serta mati dan hidup.Di antara episode perjalanan hidup yang membutuhkan kesabaran ekstra adalah masa-masa mendidik anak. Sebab rentang waktunya tidak sebentar dan seringkali anak berperilaku yang tidak sesuai dengan harapan kita.• Contoh aplikasi kesabaran1. Sabar dalam membiasakan perilaku baik terhadap anakAnak bagaikan kertas yang masih putih, tergantung siapa yang menggoreskan lukisan di atasnya. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menggambarkan hal itu dalam sabdanya,“مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلَّا يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِه”“Setiap bayi lahir dalam keadaan fitrah. Orang tuanya lah yang akan menjadikan ia Yahudi, Nasrani atau Majusi”. HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu.Andaikan sejak kecil anak dibiasakan berperilaku baik, mulai dari taat beribadah hingga adab mulia dalam keseharian, insyaAllah hal itu akan sangat membekas dalam dirinya. Sebab mendidik di waktu kecil bagaikan mengukir di atas batu.Mengukir di atas batu membutuhkan kesabaran dan keuletan, namun jika ukiran tersebut telah jadi niscaya ia akan awet dan tahan lama.2. Sabar dalam menghadapi pertanyaan anakMenghadapi pertanyaan anak, apalagi yang baru saja mulai tumbuh dan menginginkan untuk mengetahui segala sesuatu yang ia lihat, memerlukan kesabaran yang tidak sedikit. Terkadang timbul rasa jengkel dengan pertanyaan anak yang tidak ada habis-habisnya, hingga kerap kita kehabisan kata-kata untuk menjawab pertanyaannya.Sesungguhnya kesediaan anak untuk bertanya kepada kita, ‘seburuk’ apa pun pertanyaan yang ia lontarkan, merupakan pertanda bahwa mereka memberikan kepercayaannya kepada kita untuk menjawab. Maka jalan terbaik adalah menghargai kepercayaannya dengan tidak mematikan kesediaannya untuk bertanya, serta memberikan jawaban yang mengena dan menghidupkan jiwa.3. Sabar menjadi pendengar yang baikBanyak orang tua adalah pendengar yang buruk bagi anak-anaknya. Bila ada suatu masalah yang terjadi pada anak, orangtua lebih suka menyela, langsung menasihati tanpa mau bertanya permasalahannya serta asal-usul kejadiannya.4. Sabar manakala emosi memuncakHendaknya kita tidak memberikan sanksi atau hukuman pada anak ketika emosi kita sedang memuncak. Pada saat emosi kita sedang tinggi, apa pun yang keluar dari mulut kita, cenderung untuk menyakiti dan menghakimi, tidak untuk menjadikan anak lebih baik.[1] Disadur oleh Abdullah Zaen, Lc, MA dari buku “Mencetak Generasi Rabbani” karya Ummu Ihsan Choiriyyah dan Abu Ihsan al-Atsary (hal. 1-4) dengan beberapa perubahan.[2] Disadur oleh Abdullah Zaen, Lc, MA dari buku “Mencetak Generasi Rabbani” karya Ummu Ihsan Choiriyyah dan Abu Ihsan al-Atsary (hal. 5-7) dengan beberapa perubahan.[3] Diringkas oleh Abdullah Zaen, Lc, MA dari buku “Mencetak Generasi Rabbani” karya Ummu Ihsan Choiriyyah dan Abu Ihsan al-Atsary (hal. 9-13) dengan beberapa perubahan.[4] Diringkas oleh Abdullah Zaen, Lc, MA dari buku “Mencetak Generasi Rabbani” karya Ummu Ihsan Choiriyyah dan Abu Ihsan al-Atsary (hal. 15-19) dengan beberapa perubahan.[5] Disarikan oleh Abdullah Zaen, Lc, MA dari buku “Mencetak Generasi Rabbani” karya Ummu Ihsan Choiriyyah dan Abu Ihsan al-Atsary (hal. 21-24) dengan banyak tambahan.[6] Disarikan oleh Abdullah Zaen, Lc, MA dari buku “Mencetak Generasi Rabbani” karya Ummu Ihsan Choiriyyah dan Abu Ihsan al-Atsary (hal. 25-27) dengan sedikit perubahan.[7] Diramu ulang oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari buku “Mencetak Generasi Rabbani” karya Ummu Ihsan Choiriyyah dan Abu Ihsan al-Atsary (hal. 29-32) dengan banyak tambahan.[8] Diringkas oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari buku “Mencetak Generasi Rabbani” karya Ummu Ihsan Choiriyyah dan Abu Ihsan al-Atsary (hal. 35-39).[9] Diringkas oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari buku “Mencetak Generasi Rabbani” karya Ummu Ihsan Choiriyyah dan Abu Ihsan al-Atsary (hal. 41-45).[10] Diringkas oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari buku “Mencetak Generasi Rabbani” karya Ummu Ihsan Choiriyyah dan Abu Ihsan al-Atsary (hal. 47) dan Jurus Jitu Mendidik Anak karya Abdullah Zaen.[11] Diringkas dari makalah Jurus Jitu Mendidik Anak karya Abdullah Zaen.[12] Sebagaimana dalam penafsiran Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma yang diriwayatkan Imam al-Baihaqy dalam Kitab al-I’tiqâd (hal. 183).* Diringkas dari makalah Jurus Jitu Mendidik Anak karya Abdullah Zaen.* Diringkas dari makalah “Mengatasi Kenakalan Orang Tua” karya Abdullah Zaen. Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 19: ANAK DAN RUKUN IMAN bag-1*Next Serial Fiqih Pendidikan Anak No 39: ANAK DAN ADAB BERBICARA* Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Comments are closed.Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
PROLOG[1]Berbicara tentang anak, kita semua rata-rata memiliki keinginan yang sama. Manakala anak lahir, kita berharap agar anak tersebut tumbuh lucu dan sehat. Segala upaya dilakukan untuk mewujudkan itu. Walaupun harus mengorbankan waktu, biaya dan tenaga. Sebenarnya hal tersebut manusiawi dan wajar-wajar saja. Namun yang tidak wajar adalah bila menganggap bahwa sehat dan lucu saja sudah cukup.Kita menginginkan anak kita cerdas dan mengukir segudang prestasi. Demi menggapai angan-angan tersebut, kita rela melakukan apapun walaupun terasa berat. Inipun masih dalam taraf kewajaran. Namun yang tidak benar adalah jika kita menganggap bahwa kecerdasan dan prestasi duniawi adalah segala-galanya.Sebab seluruh hal tersebut di atas belum tentu menghasilkan kebahagiaan di dunia dan akhirat.Betapa sering kita mendengar orang tua yang pusing tujuh keliling, akibat tingkah polah anaknya yang selalu membuat gara-gara. Padahal dulunya semasa kecil dia begitu sehat dan amat menggemaskan. Bukan sekali atau dua kali kita menyaksikan orang tua yang semasa mudanya bekerja keras membanting tulang memeras keringat, demi masa depan anaknya. Namun, di penghujung usia, justru tidak segan-segan si anak membentak orang tuanya, seperti membentak seekor binatang yang hina. Atau mencampakkan tumbuh renta itu ke panti jompo, tanpa perasaan bersalah atau berdosa. Na’udzubillah min dzalik..Itu baru di dunia. Belum jika kita berbicara tentang alam akhirat. Akankah seabreg prestasi duniawi dan sederet gelar yang disandang anak, membantu nasib kita di hadapan Allah? Terlebih bila ternyata mereka bukanlah generasi salih, yang setia untuk mendoakan kedua orang tuanya.Sebelum itu semua terjadi, mari kita tilik kembali usaha apa yang telah kita lakukan untuk melahirkan anak-anak yang salih dan salihah? Ketahuilah bahwa mendidik anak itu membutuhkan kesungguhan! Memerlukan pengorbanan! Menuntut keikhlasan dan kesabaran! Serta yang paling penting adalah membutuhkan ilmu yang memadai juga taufik dari Allah ta’ala..Persiapan materi saja tidak cukup, jika kita menginginkan generasi yang handal. Sebab, betapa banyak hal-hal yang tidak bisa dibeli dengan materi.Maka, mari kita terus berusaha untuk berbekal ilmu yang memadai. Tidaklah berlebihan bila dikatakan bahwa ilmu pendidikan anak adalah cabang ilmu khusus yang harus dikuasai setiap orang tua, bahkan sebelum mereka berpredikat sebagai orang tua. Agar kita betul-betul menjadi orangtua yang sebenarnya, bukan sekedar orang yang lebih tua dari anaknya!Amat disayangkan, betapa banyak suami yang menyandang gelar bapak hanya karena istrinya melahirkan. Sebagaimana banyak wanita disebut ibu, semata-mata karena dialah yang melahirkan. Bukan karena mereka menyiapkan diri menjadi orangtua. Bukan pula karena mereka memiliki kepatutan sebagai orangtua. Semoga Allah menjauhkan kita dari tipe orang tua seperti itu. Amien. ANAK, SEBUAH NIKMAT BESAR[2]Terlampau banyak nikmat yang Allah karuniakan kepada kita. Saking banyaknya, hingga kita tidak mungkin bisa menghitungnya. Dan seringkali kita lalai serta tidak menyadari betapa besar nikmat tersebut. Nikmat itu baru terasa manakala lenyap.Dahulu orang bijak mengatakan, “Kesehatan adalah mahkota di atas kepala orang-orang sehat. Tidak ada yang bisa melihat mahkota tersebut, kecuali orang-orang sakit”.Di antara nikmat besar yang kerap terlupakan keberadaannya adalah: anak. Kehadiran sang buah hati merupakan karunia dan hadiah dari Allah ta’ala. Sebagaimana difirmankan oleh-Nya,“لِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ يَهَبُ لِمَنْ يَشَاءُ إِنَاثًا وَيَهَبُ لِمَنْ يَشَاءُ الذُّكُورَ . أَوْ يُزَوِّجُهُمْ ذُكْرَانًا وَإِنَاثًا وَيَجْعَلُ مَنْ يَشَاءُ عَقِيمًا إِنَّهُ عَلِيمٌ قَدِيرٌ”Artinya: “Milik Allah-lah kerajaan langit dan bumi. Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Memberikan anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki, dan memberikan anak laki-laki kepada siapa yang Dia kehendaki. Atau Dia menganugerahkan jenis laki-laki dan perempuan. Dan menjadikan mandul siapa yang Dia kehendaki. Dia Maha Mengetahui, Mahakuasa”. QS. Asy-Syura (42): 49-50.Terlebih bila anak tersebut adalah anak yang salih-salihah. Mereka adalah kekayaan yang tak ternilai harganya, jauh melebihi kekayaan materi. Mereka adalah pembawa bahagia, pelipur lara serta penolong bagi kedua orang tuanya, di dunia ini dan di akhirat kelak.Namun, kenyataannya masih banyak orang tua yang belum merasakan anak sebagai anugerah. Bisa jadi kita juga termasuk jenis orang tua yang belum bersyukur. Buktinya, keluh kesah masih begitu sering terlontar dari lisan. Masih ditambah pula dengan iringan kekesalan dan rasa tidak puas dalam hati.Jika demikian, marilah kita bersama-sama melihat di luar sana…Ternyata begitu banyak pasangan yang lelah berharap untuk memiliki momongan. Namun Allah ta’ala belum juga berkenan mengaruniakan anak kepada mereka. Padahal segala sarana dan saran telah dijalankan. Doa juga tidak lupa untuk selalu dipanjatkan.Di tempat lain, banyak orang tua yang harus kehilangan anak yang sangat dicintainya, pergi untuk selamanya. Ada pula yang semula anaknya sempurna, tiba-tiba menjadi cacat karena suatu bencana. Atau anak yang semula sehat bugar, mendadak tergeletak tak berdaya karena penyakit kronis yang tidak pernah terduga sebelumnya.Dari sini kita sadar…Bahwa ternyata anak adalah anugerah besar. Maka syukurilah nikmat ini, agar langgeng dan terus bertambah baik. Sebagaimana yang Allah jelaskan dalam QS. Ibrahim (14): 7. Dan dengan rasa syukur tersebut diharapkan kita bisa lebih sabar dalam mengasuh dan mendidik anak. Juga semakin memperbesar harapan agar mereka tumbuh menjadi anak salih yang menabur kebahagiaan bagi kedua orang tuanya, amien. ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIAN[3]Alangkah indahnya minum teh dengan ditemani sepiring pisang goreng beserta istri, sambil melihat anak-anak bermain riang gembira. Sulit digambarkan dengan kata-kata! Ya, tidak diragukan lagi bahwa anak merupakan salah satu perhiasan dunia terindah. Rasa penat bekerja seharian seakan lenyap tak berbekas, saat pulang ke rumah bercengkerama dan bersenda gurau dengan anak-anak. Itulah perhiasan dunia!“الْمَالُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا”.Artinya: “Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia”. QS. Al-Kahfi (18): 46.Namun waspadalah, sebab di sisi lain, anak juga merupakan ujian bagi kita.“إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ وَاللَّهُ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ”. Artinya: “Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan sisi Allah-lah pahala yang besar”. QS. At-Taghabun (64): 15.Maka berhati-hatilah, jangan sampai kita terpedaya. Sebab terkadang anak membuat seorang hamba menjadi angkuh dan tidak mensyukuri nikmat Allah.Anak, kerap juga mendorong sang ayah untuk menghalalkan cara yang haram. Seperti menyuap demi kelulusan si buah hati. Demi masa depan anak, katanya…Anak, kadang membuat seorang insan menjadi kikir dan penakut. Saat ingin bersedekah, setan datang memprovokasi, “Barusan anakmu minta ini dan itu!”. Akhirnya iapun urung menginfakkan hartanya di jalan Allah. Padahal yang diminta anaknya bukanlah suatu kebutuhan primer. Benarlah sabda Nabi shallallahu ‘alaihiwasallam,“إِنَّ الْوَلَدَ مَبْخَلَةٌ، مَجْبَنَةٌ، مَحْزَنَةٌ”.“Sesungguhnya anak bisa membuat seseorang menjadi bakhil, penakut dan bersedih”. HR. Al-Hakim dan dinilai sahih oleh beliau juga al-Albany.Ketika anak jatuh sakit, rasa iba mendorong orang tua bertindak bodoh dan melanggar syariat agama. Iapun membawa anaknya berobat ke dukun, padahal agama telah melarang dengan tegas hal itu.Lalu bagaimana caranya agar kita terhindar dari godaan tersebut?Caranya adalah dengan mendahulukan kecintaan kita kepada Allah dan Rasul-Nya di atas segalanya, termasuk terhadap anak-anak. Kemudian senantiasa bertakwa dalam mengurus mereka.Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menjelaskan bahwa di antara amalan yang bisa menghapus keburukan akibat godaan anak, adalah mengerjakan shalat, berpuasa, bersedekah dan beramar ma’ruf nahi mungkar. Beliau bersabda,“فِتْنَةُ الرَّجُلِ فِى أَهْلِهِ وَمَالِهِ وَنَفْسِهِ وَوَلَدِهِ وَجَارِهِ؛ يُكَفِّرُهَا الصِّيَامُ وَالصَّلاَةُ وَالصَّدَقَةُ وَالأَمْرُ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّهْىُ عَنِ الْمُنْكَرِ”.“Gangguan yang menimpa seseorang akibat keluarga, harta, diri, anak dan tetangganya, dapat dihapus dengan puasa, shalat, shadaqah dan amar ma’ruf nahi mungkar”. HR. Bukhari dan Muslim. ANAK ADALAH AMANAH ALLAH[4]Tentu banyak di antara kita yang pernah dititipi sesuatu oleh orang lain. Amanah tersebut mestinya akan kita jaga sebaik-baiknya. Terlebih jika titipan tersebut adalah barang yang amat berharga, dan orang yang menitipkannya kepada kita adalah orang terhormat.Namun, ada satu amanah yang sangat istimewa, dan yang menitipkannya kepada kita pun, Dzat yang amat mulia, tetapi justru malah seringkali kita menyia-nyiakannya. Titipan yang tidak semua orang mendapat kehormatan untuk mengembannya. Amanah tersebut tidak lain adalah anak.Bayi yang Allah anugerahkan kepada kita bagaikan mutiara yang masih berada dalam cangkangnya. Masih terjaga dari jamahan tangan-tangan luar. Hatinya masih suci, ibarat selembar kertas putih, tanpa goresan apalagi ukiran. Setelah itu sedikit demi sedikit, kepribadian dan perilaku anak terbentuk, sesuai dengan apa yang dilihat di komunitas terdekatnya. Yakni di dalam rumah dan lingkungannya.Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menjelaskan,“مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلَّا يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِه”“Setiap bayi lahir dalam keadaan fitrah. Orang tuanya lah yang akan menjadikan ia Yahudi, Nasrani atau Majusi”. HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah.Itulah masa keemasan yang tidak boleh disia-siakan. Kesalihan anak bukanlah hadiah gratis yang turun dari langit begitu saja. Namun membutuhkan usaha dan perjuangan dari orang tua.Tanggung jawab kita terhadap anak bukan sekedar memberinya makan kenyang, pakaian bagus ataupun rumah lapang. Tetapi tanggung jawab yang lebih berat adalah memberikan pendidikan terbaik bagi mereka dan menyelamatkan mereka dari azab Allah. [Lihat: QS. At-Tahrim (66): 6].Allah ta’ala pasti akan meminta pertanggungjawaban kita atas amanah ini. Dalam hadits disebutkan:“كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ؛ … وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ بَعْلِهَا وَوَلَدِهِ وَهِىَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ…”“Setiap kalian adalah pemimpin dan semua akan ditanya tentang bawahannya … Lelaki adalah pemimpin bagi keluarganya, dan dia akan ditanya tentang mereka. Wanita merupakan penanggungjawab di rumah suaminya serta bagi anaknya, dan dia akan ditanya tentang mereka.” HR. Bukhari dan Muslim.Memang tugas dan tanggung jawab ini tidaklah ringan. Ujian dan rintangan mungkin muncul silih berganti. Rasa letih dan bosan kadang datang mendera. Sementara setan terus membuat makar dan tipu daya untuk mematahkan semangat kita. Sekaligus mengompori sifat keluh kesah, yang memang merupakan tabiat dasar manusia. [Baca: QS. Al-Ma’arij (70): 19].Namun, tipu daya tersebut tentu harus dilawan! Jauhilah sifat keluh kesah sebisa mungkin. Sebab keluh kesah hanya akan membawa kerugian. Karena, sekecil apapun tugas dan tanggung jawab, bila disikapi dengan keluh kesah, amarah dan perasaan tidak ikhlas, maka tugas ringan akan menjadi beban berat. Lebih rugi lagi, karena hati tidak ikhlas, akibatnya pahala gagal diraih. Ibarat sudah jatuh tertimpa tangga pula.Sebaliknya, jika tanggung jawab ini dipikul dengan penuh keikhlasan, niscaya akan membawa kebaikan. Sebab, seberat apapun tugas dan tanggung jawab, bila dilakukan dengan penuh keikhlasan, kegembiraan dan harapan, maka tugas berat akan terasa ringan. Lebih dari itu, berkat keikhlasan hati, semua jerih payah dan setiap tetesan keringat, akan bernilai pahala di sisi-Nya. Inilah keberuntungan di atas keberuntungan. Di dunia, pekerjaan terasa nikmat dan bisa mencicipi buah manis kebaktian anak. Sedangkan di akhirat, maka insyaAllah akan menuai limpahan pahala. Allahumma amien… KESALIHAN ORANG TUA, MODAL UTAMA[5]Kita semua mempunyai keinginan dan cita-cita yang sama. Ingin agar keturunan kita menjadi anak yang salih dan salihah. Namun, terkadang kita lupa bahwa modal utama untuk mencapai cita-cita mulia tersebut ternyata adalah: kesalihan dan ketakwaan kita selaku orangtua. Alangkah lucunya, manakala kita berharap anak menjadi salih dan bertakwa, sedangkan kita sendiri berkubang dalam maksiat dan dosa!Kesalihan jiwa dan perilaku orangtua mempunyai andil yang sangat besar dalam membentuk kesalihan anak. Sebab ketika si anak membuka matanya di muka bumi ini, yang pertama kali ia lihat adalah ayah dan bundanya. Manakala ia melihat orangtuanya berhias akhlak mulia serta tekun beribadah, niscaya itulah yang akan terekam dengan kuat di benaknya. Dan insyaAllah itupun juga yang akan ia praktekkan dalam kesehariannya. Pepatah mengatakan: “buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya”. Betapa banyak ketakwaan pada diri anak disebabkan ia mengikuti ketakwaan kedua orangtuanya atau salah seorang dari mereka. Ingat karakter dasar manusia, terutama anak kecil, yang suka meniru!• Beberapa contoh aplikasi nyatanyaManakala kita menginginkan anak kita rajin untuk mendirikan shalat lima waktu, gamitlah tangannya dan berangkatlah ke masjid bersama. Bukan hanya dengan berteriak memerintahkan anak pergi ke masjid, sedangkan Anda asyik menonton televisi.Jika Anda berharap anak rajin membaca al-Qur’an, ramaikanlah rumah dengan lantunan ayat-ayat suci al-Qur’an yang keluar dari lisan ayah, ibu ataupun kaset dan radio. Jangan malah Anda menghabiskan hari-hari dengan membaca koran, diiringi lantunan langgam gendingan atau suara biduanita yang mendayu-dayu!Kalau Anda menginginkan anak jujur dalam bertutur kata, hindarilah berbohong sekecil apapun. Tanpa disadari, ternyata sebagai orang tua kita sering membohongi anak untuk menghindari keinginannya. Salah satu contoh pada saat kita terburu-buru pergi ke kantor di pagi hari, anak kita meminta ikut atau mengajak jalan-jalan mengelilingi perumahan. Apa yang kita lakukan? Apakah kita menjelaskannya dengan kalimat yang jujur? Atau kita lebih memilih berbohong dengan mengatakan, “Bapak hanya sebentar kok, hanya ke depan saja ya. Sebentaaar saja ya sayang…”. Tapi ternyata, kita malah pulang malam!Dalam contoh di atas, sejatinya kita telah berbohong kepada anak, dan itu akan ditiru olehnya.Terus apa yang sebaiknya kita lakukan? Berkatalah dengan jujur kepada anak. Ungkapkan dengan lembut dan penuh kasih serta pengertian, “Sayang, bapak mau pergi ke kantor. Kamu tidak bisa ikut. Tapi kalo bapak ke kebun binatang, insyaAllah kamu bisa ikut”.Kita tak perlu merasa khawatir dan menjadi terburu-buru dengan keadaan ini. Pastinya akan membutuhkan waktu lebih untuk memberi pengertian kepada anak karena biasanya mereka menangis. Anak menangis karena ia belum memahami keadaan mengapa orang tuanya harus selalu pergi di pagi hari. Kita perlu bersabar dan melakukan pengertian kepada mereka secara terus menerus. Perlahan anak akan memahami mengapa orangtuanya selalu pergi di pagi hari dan bila pergi bekerja, anak tidak bisa ikut.Anda ingin anak jujur? Mulailah dari diri Anda sendiri!Semoga Allah senantiasa meridhai setiap langkah baik kita, amien… SAMBUTLAH KABAR GEMBIRA![6]Sejauh apapun kita melangkah, ada saatnya umur kita berakhir. Suatu hari nanti Allah akan mengirimkan malaikat pencabut nyawa untuk mengakhiri hidup kita di dunia. Saat itu tangis haru kehilangan akan pecah dari orang-orang yang mencintai kita. Namun, sebesar apapun kecintaan mereka kepada kita, tetap saja mereka tidak akan mau menemani kita di liang kubur. Tinggallah kita dalam kesendirian di sebuah ruang sempit nan pengap, ditemani hewan-hewan tanah. Amalan terputus dan kesempatan menambah pahala telah pupus.Tetapi, terimalah kabar gembira…Wahai para orang tua yang salih, yang semasa hidupnya tak pernah lekang untuk mendidik anaknya hingga tumbuh menjadi generasi yang salih. Bergembiralah, bahwa pahala akan terus mengalir ke tabunganmu, walaupun jasadmu telah lapuk dimakan tanah. Kuburanmu akan terasa lapang dan terang benderang.Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda,“إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةٍ؛ إِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ”.“Jika manusia mati, maka terputuslah amalannya kecuali tiga. (1) Sedekah jariyah, (2) Ilmu yang bermanfaat dan (3) Anak salih yang mendoakannya”. HR. Muslim dari Abu Hurairah.Setiap anak melakukan ibadah dan kebajikan, akan selalu mengalir pahala untukmu. Sebab engkaulah yang mengajarkan kebaikan tersebut padanya. Nabiyullah shallallahu’alaihiwasallam bertutur,“مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ”.“Barang siapa menunjukkan kepada kebaikan, maka ia akan mendapatkan pahala seperti orang yang melakukannya”. HR. Muslim dari Abu Mas’ud al-Anshary.Bukan hanya itu, namun juga doa anak salih hasil jerih payahmu akan mengangkat derajatmu di surga. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menjelaskan,“إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَيَرْفَعُ الدَّرَجَةَ لِلْعَبْدِ الصَّالِحِ فِي الْجَنَّةِ، فَيَقُولُ: “يَا رَبِّ، أَنَّى لِي هَذِهِ؟” فَيَقُولُ: “بِاسْتِغْفَارِ وَلَدِكَ لَكَ”.“Sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla akan mengangkat derajat hamba yang salih di surga. Ia bertanya, “Wahai Rabbi, apakah yang membuatku (menempati derajat ini?)”. Dia menjawab, “Lantaran doa anakmu yang memohonkan ampunan untukmu”. HR. Ahmad dari Abu Hurairah dan dinilai hasan oleh al-Albany.Engkaupun akan kembali bersua dan berkumpul dengan mereka di negeri keabadian yang penuh kenikmatan. Di surga ‘Adn! Allah ta’ala berfirman,“جَنَّاتُ عَدْنٍ يَدْخُلُونَهَا وَمَنْ صَلَحَ مِنْ آبَائِهِمْ وَأَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيَّاتِهِمْ وَالْمَلَائِكَةُ يَدْخُلُونَ عَلَيْهِمْ مِنْ كُلِّ بَابٍ“Artinya: “(Yaitu) surga-surga ‘Adn, mereka masuk ke dalamnya bersama dengan orang yang salih dari nenek moyangnya, pasangan-pasangannya dan keturunannya. Sedangkan para malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu”. QS. Ar-Ra’du (13): 23.Selamat menyambut kabar gembira tersebut, wahai para orang tua salih yang memiliki anak salih-salihah! HIDAYAH BUKAN DI TANGAN KITA[7]Jika kita menginginkan anak-anak kita menjadi generasi yang salih-salihah, maka kita harus berusaha maksimal untuk itu. Kita wajib mengerahkan segala daya dan upaya yang kita miliki. Siap untuk letih, capai dan lelah untuk mendidik, mengarahkan serta menasehati mereka. Jika itu telah dilakukan, maka bersiaplah untuk memetik buah manis usaha keras kita!Namun, ada satu hal penting yang harus senantiasa diingat. Yaitu hidayah bukanlah di tangan kita. Satu-satunya pemilik mutlaknya adalah Allah ta’ala. Dalam al-Qur’an disebutkan:“فَإِنَّ اللَّهَ يُضِلُّ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ”Artinya: “Sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang dikendaki-Nya dan memberi hidayah kepada siapa yang dikehendaki-Nya”. QS. Fâthir (35): 8.Sebesar apapun usaha yang kita kerahkan, jikalau Allah tidak berkehendak, maka mustahil keinginan kita akan tercapai. Lihatlah bagaimana manusia paling bertakwa di muka bumi, Rasulullah shallallahu ‘alaihiwasallam, pun tak kuasa untuk memberi hidayah kepada orang yang sangat beliau cintai; Abu Thalib pamannya. [Baca: QS. Al-Qashash (28): 56].Apalah pula kesalihan kita dibanding Nabi Nuh ‘alaihissalam? Jikalau beliau tidak kuasa memberikan hidayah kepada buah hatinya, bagaimana dengan kita?Di saat air bah melanda, beliau masih berusaha keras mengajak anaknya untuk menaiki kapal besar yang dibuatnya. Namun Allah tidak berkenan memberikan hidayah kepada si anak, sehingga justru dengan pongahnya ia menjawab akan menaiki gunung tertinggi. Pada akhirnya ia pun tenggelam dilamun ombak. [Baca: QS. Hûd (11): 42-47].Putra seorang Nabi yang telah menghabiskan umur hampir sepuluh abad untuk berdakwah, ternyata justru meninggal dalam keadaan tidak beriman??! Bukankah ini memberikan pelajaran yang amat dalam bahwa hidayah bukanlah di tangan manusia?Seluruh keterangan di atas bukan dalam rangka memprovokasi agar kita melempem dalam mendidik anak, bukan! Tidak pula dalam rangka mengajak kita menyerah dengan keadaan, tanpa melakukan usaha maksimal, tidak! Tetapi tulisan ini dituangkan dalam rangka untuk mengingatkan kita semua bahwa ikhtiar belaka tidaklah cukup. Namun harus diiringi dengan sesuatu yang bernama doa dan tawakal kepada Allah ta’ala.Usaha tanpa doa merupakan sebuah kesombongan, sedangkan pasrah tanpa usaha adalah sebuah kejahilan.Maka jangan sampai kita mengandalkan kekuatan diri sendiri semata dan bergantung padanya saja. Sebagaimana doa yang sering dipanjatkan Nabi shallallahu’alaihiwasallam,“يَا حَيُّ يَا قَيُّومُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيثُ، أَصْلِحْ لِي شَأْنِي كُلَّهُ، وَلاَ تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي طَرَفَةَ عَيْنٍ“ “Wahai Yang Maha Hidup dan Maha mengurusi para makhluk-Nya, dengan rahmat-Mu aku memohon pertolongan. Perbaikilah seluruh keadaanku. Dan jangan Engkau jadikan aku bergantung kepada diriku, walaupun hanya sekejap mata”. HR. Al-Hakim dari Anas bin Malik dan dinilai sahih oleh al-Hakim dan adh-Dhiya’ al-Maqdisy.Maka dari itu selain usaha lahiriah yang kita kerahkan, janganlah pernah melupakan lantunan doa yang senantiasa dipanjatkan ke hadirat Allah ta’ala, terutama di waktu-waktu yang mustajab! MENDIDIK ANAK DALAM KANDUNGAN[8]Mendidik anak dari dini bukanlah dimulai sejak dia baru lahir. Namun semenjak ia masih berada dalam kandungan. Bahkan sejak pertama kali memilih pasangan hidup pun, itu juga akan menentukan keberhasilan kita dalam mendidik anak.Di saat janin dalam rahim berumur 120 hari, sejatinya ia telah bernyawa. Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam menjelaskan,“إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِى بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا، ثُمَّ يَكُونُ فِى ذَلِكَ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يَكُونُ فِى ذَلِكَ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يُرْسَلُ الْمَلَكُ فَيَنْفُخُ فِيهِ الرُّوحَ”.“Sesungguhnya setiap orang berada di dalam perut ibunya (berbentuk mani) selama empat puluh hari. Kemudian berubah menjadi segumpal darah selama itu juga (40 hari). Kemudian berubah menjadi sekerat daging selama itu juga. Lalu diutuslah malaikat untuk meniupkan ruh kepadanya”. HR. Bukhari dan Muslim dari Ibn Mas’ud radhiyallahu’anhu.Jadi, berdasarkan hadits di atas, setelah lewat 4 bulan, janin dalam perut sudah hidup. Lalu penemuan-penemuan ilmiah membuktikan bahwa janin sebelum lahir mampu merespon stimulasi edukatif yang diberikan kepadanya.Jadi, dari pra lahir kita sudah bisa mendidik anak kita. Caranya antara lain dengan:1. Memperbanyak doa.Para nabi ‘alaihimussalam juga orang-orang salih selalu mendoakan anak-anak mereka sejak dalam kandungan. Misalnya: Nabi Ibrahim [QS. Ash-Shâffât (37): 100] dan Nabi Zakariya [QS. Ali Imran (3): 38].2. Tekun beribadah.Tidak ada salahnya, manakala orang tua akan menjalankan aktifitas ibadah, seperti shalat, bersedekah, berdzikir, berpuasa atau yang lainnya, ia menyapa anaknya yang ada di dalam perut. Contohnya: “Sabar ya nak, sekarang kita sedang berpuasa!”.3. Merutinkan membaca al-Qur’an.Bukan hanya membaca al-Qur’an, lebih baik lagi jika orang tua melatih diri untuk menghapal al-Qur’an semampunya. Sehingga diharapkan manakala ia banyak melantunkan ayat-ayat suci al-Qur’an, anak yang berada dalam janin ikut merekam bacaan orang tuanya. Sehingga kelak saat lahir anak telah memiliki ‘bekal’ hapalan al-Qur’an.4. Bertutur kata yang baik.Biasakanlah untuk senantiasa berbicara dengan santun dan baik. Semoga dengan demikian anakpun akan tertular dengan perilaku positif tersebut.Pendek kata, manfaatkanlah setiap detik dalam kehidupan kita untuk mendidik anak kita, tanpa kenal lelah dan pantang menyerah. Sejatinya kesuksesan besar itu sangat ditentukan dengan langkah pertama yang baik.Selamat mempraktekkan! JANGAN BIARKAN SETAN MENJAMAH ANAKMU![9]Ingatlah wahai para orang tua, bahwa setan tidak akan pernah duduk manis, membiarkan anak kita tumbuh menjadi generasi yang salih dan salihah. Dia tidak akan pernah merasa puas, hingga berhasil menjadikan anak-anak kita menjadi kaki tangan mereka. Na’udzubillah min dzalik.Karena liciknya tipu daya mereka, juga tabiat dasar manusia yang lemah, kita perlu memohon bantuan kepada Allah agar Dia berkenan melindungi kita dan anak-anak kita.Berikut cara memohon perlindungan kepada Allah untuk anak-anak kita:1. Mintalah perlindungan pada-Nya sebelum ‘membuat’ anak. Yakni dengan membaca doa berikut sebelum melakukan hubungan suami istri:“بِسْمِ اللهِ اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا”.“Dengan nama Allah. Ya Allah jauhkanlah kami dari gangguan setan dan jauhkan pula gangguan setan dari (anak) yang akan Kau karuniakan pada kami”. HR. Bukhari dari Ibn ‘Abbas radhiyallahu’anhuma.2. Mohonlah perlindungan pada Allah saat anak lahir. Sebagaimana ucapan ibunda Maryam,“وَإِنِّي سَمَّيْتُهَا مَرْيَمَ وَإِنِّي أُعِيذُهَا بِكَ وَذُرِّيَّتَهَا مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ”.Artinya: “Sesungguhnya aku telah menamainya Maryam dan aku mohon perlindungan kepada-Mu untuknya serta keturunannya dari setan yang terkutuk”. QS. Ali Imrân (3): 36.3. Mintalah perlindungan kepada-Nya untuk mereka setiap hari, terutama di waktu pagi dan sore.Jika mereka belum bisa membaca al-Qur’an, bacakanlah surat al-Ikhlas, al-Falaq dan an-Nas, lalu usapkan tanganmu ke tubuh mereka.Atau bisa juga dengan membaca doa perlindungan yang dahulu pernah dibacakan Nabi shallallahu’alaihi wasallam untuk cucu beliau; al-Hasan dan al-Husain radhiyallahu’anhuma,“أُعِيذُكُمَا بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّةِ مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لاَمَّةٍ“.“Aku memohon perlindungan kepada Allah bagi kamu berdua dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna, dari segala gangguan setan, binatang berbisa dan pandangan mata yang jahat”. HR. Abu Dawud dan dinilai sahih oleh Ibn Hibban, al-Hakim, adz-Dzahaby dan al-Albany.Redaksi di atas adalah bila anak yang didoakan berjumlah dua orang. Jika lebih dari dua maka kalimat yang digarisbawahi diganti dengan “u’îdzukum”. Bila satu anak lelaki maka “u’îdzuka”, dan bila satu anak perempuan maka “u’îdzuki”.4. Jangan biarkan anak-anak berkeliaran di luar rumah saat malam tiba. Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam mewanti-wanti,“إِذَا كَانَ جُنْحُ اللَّيْلِ أَوْ أَمْسَيْتُمْ فَكُفُّوا صِبْيَانَكُمْ فَإِنَّ الشَّيَاطِينَ تَنْتَشِرُ حِينَئِذٍ، فَإِذَا ذَهَبَ سَاعَةٌ مِنْ اللَّيْلِ فَحُلُّوهُمْ ““Jika hari mulai gelap tahanlah anak-anak kalian (untuk keluar rumah) karena saat itu setan berkeliaran. Jika telah lewat sebagian malam biarkanlah mereka”. HR. Bukhari (hal. 669 no. 3280) dan Muslim (XIII/185 no. 5218) dari Jabir bin Abdullah dengan redaksi Muslim. KARAKTER PENDIDIK SUKSES bag-1[10]Kesempurnaan sifat pendidik memang hanya dimiliki oleh para rasul ‘alaihimussalam. Namun kita sebagai orang tua, tetap tertuntut dengan segenap kemampuan, untuk memiliki sifat-sifat tersebut. Sebab kita telah dijadikan anak sebagai fokus teladan dan contoh nyata yang mereka saksikan dalam keseharian.Inilah karakter yang harus dimiliki pendidik:1. BERILMUIlmu merupakan kebutuhan primer setiap insan dalam setiap lini kehidupannya, termasuk dalam mendidik anak. Bahkan kebutuhan dia terhadap ilmu dalam mendidik anak, melebihi kebutuhannya terhadap ilmu dalam menjalankan pekerjaannya.Namun, realita berkata lain. Rupanya tidak sedikit di antara kita mempersiapkan ilmu untuk kerja lebih banyak daripada ilmu untuk menjadi orangtua. Padahal tugas kita menjadi orangtua dua puluh empat jam sehari semalam, termasuk saat tidur, terjaga serta antara sadar dan tidak. Sementara tugas kita dalam pekerjaan, hanya sebatas jam kerja.• Ilmu apa saja yang dibutuhkan?Banyak jenis ilmu yang dibutuhkan orangtua dalam mendidik anaknya. Mulai dari ilmu agama dengan berbagai varianya, hingga ilmu cara berkomunikasi dengan anak.Jenis ilmu agama pertama dan utama yang harus dipelajari orangtua adalah akidah. Sehingga ia bisa menanamkan akidah yang lurus dan keimanan yang kuat dalam jiwa anaknya. Nabi shallallahu’alaihi wasallam mencontohkan bagaimana membangun pondasi tersebut dalam jiwa anak, dalam salah satu sabdanya untuk Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma,“إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلْ اللَّهَ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّه”“Jika engkau memohon, mohonlah kepada Allah. Dan jika engkau meminta pertolongan, mintalah kepada Allah”. HR. Tirmidzi dan beliau berkomentar, “Hasan sahih”.Selanjutnya ilmu tentang cara ibadah, terutama shalat dan cara bersuci. Bagaimana mungkin orangtua akan memerintahkan shalat pada anaknya, jikalau ia tidak mengerti tatacara shalat yang benar. Mampukah orang yang tidak mempunyai sesuatu, untuk memberikan sesuatu itu kepada orang lain?Berikutnya ilmu tentang akhlak, mulai adab terhadap orangtua, tetangga, teman, juga adab keseharian si anak. Bagaimana cara makan, minum, tidur, masuk rumah, kamar mandi, bertamu dan lain-lain.Yang tidak kalah pentingnya adalah: ilmu seni berinteraksi dan berkomunikasi dengan anak. Bagaimana kita menghadapi anak yang hiperaktif atau sebaliknya pendiam. Bagaimana membangun rasa percaya diri dalam diri anak. Bagaimana memotivasi mereka untuk gemar belajar. Bagaimana menumbuhkan bakat yang ada dalam diri anak kita. Dan berbagai konsep-konsep dasar pendidikan anak lainnya.• Ayo belajar!Semoga pemaparan singkat di atas bisa menggambarkan pada kita urgensi ilmu dalam mendidik anak. Sehingga diharapkan bisa mendorong kita untuk terus mengembangkan diri, meningkatkan pengetahuan kita, menghadiri majlis taklim, membaca buku-buku panduan pendidikan. Agar kita betul-betul menjadi orangtua yang sebenarnya, bukan sekedar orang yang lebih tua dari anaknya! KARAKTER PENDIDIK SUKSES bag-2[11]Di antara karakter yang harus dimiliki pendidik:2. IKHLASIkhlas merupakan ruh bagi setiap amalan. Amalan tanpa disuntik keikhlasan bagaikan jasad yang tak bernyawa. Termasuk jenis amalan yang harus dilandasi keikhlasan adalah mendidik anak. Apa maksudnya?Maksudnya adalah: Rawat dan didik anak dengan penuh ketulusan dan niat ikhlas semata-mata mengharapkan keridhaan Allah ta’ala.Ikhlas memiliki dampak kekuatan yang begitu dahsyat. Di antaranya:1. Dengan ketulusan, suatu aktivitas akan terasa ringan.Proses ‘membuat’ dan mendidik anak, mulai dari mengandung, melahirkan, menyusui, merawat, membimbing hingga mendidik, jelas membutuhkan waktu yang tidak sebentar dan energi ekstra. Jika Anda ingin seabreg pekerjaan itu terasa ringan, maka jalanilah dengan penuh ketulusan dan keikhlasan! Sebab seberat apapun pekerjaan, jika dilakukan dengan ikhlas insyaAllah akan terasa ringan, bahkan menyenangkan. Sebaliknya, seringan apapun pekerjaan, kalau dilakukan dengan keluh kesah pasti akan terasa seberat gunung dan menyebalkan.2. Dengan keikhlasan, ucapan kita akan berbobot.Sering kita mencermati dan merasakan bahwa di antara kata-kata kita, ada yang sangat membekas di dada anak-anak yang masih belia hingga mereka dewasa kelak. Sebaliknya, tak sedikit ucapan yang bahkan kita teriakkan keras-keras di telinganya, ternyata berlalu begitu saja bagai angin malam yang segera hilang kesejukannya begitu mentari pagi bersinar.Apa yang membedakan? Salah satunya adalah kekuatan yang menggerakkan kata-kata kita. Jika Engkau ucapkan kata-kata itu untuk sekedar meluapkan amarah, maka anak-anak itu akan mendengarnya sesaat dan sesudah itu hilang tanpa bekas. Namun jika Engkau ucapkan dengan sepenuh hati sambil mengharapkan turunnya hidayah untuk anak-anak yang Engkau lahirkan dengan susah payah itu, insya Allah akan menjadi perkataan yang berbobot.3. Dengan keikhlasan anak kita akan mudah diatur Manakala si anak merasakan ketulusan hati orangtuanya dalam setiap yang dikerjakan, ia akan menerima arahan dan nasehat yang disampaikan ayah dan bundanya, karena ia menangkap bahwa segala yang disampaikan padanya adalah semata demi kebaikan dirinya.4. Dengan keikhlasan kita akan memetik buah manis pahalaKeikhlasan bukan hanya memberikan dampak positif di dunia, namun juga akan membuahkan pahala yang amat manis di alam sana. Yang itu berujung kepada berkumpulnya orangtua dengan anak-anaknya di negeri keabadian; surga Allah yang penuh dengan keindahan dan kenikmatan.وَالَّذِينَ آَمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْArtinya: “Orang-orang yang beriman, beserta anak cucu mereka yang mengikuti mereka dalam keimanan, Kami akan pertemukan mereka dengan anak cucu mereka”. QS. Ath-Thur: 21.Dipertemukan di mana? Di surga Allah jalla wa ‘ala![12] KARAKTER PENDIDIK SUKSES bag-3*Di antara karakter yang harus dimiliki pendidik:3. KESALIHAN DIRIKita semua mempunyai keinginan dan cita-cita yang sama. Ingin agar keturunan kita menjadi anak yang salih dan salihah. Namun, terkadang kita lupa bahwa modal utama untuk mencapai cita-cita mulia tersebut ternyata adalah: kesalihan dan ketakwaan kita selaku orangtua. Alangkah lucunya, manakala kita berharap anak menjadi salih dan bertakwa, sedangkan kita sendiri berkubang dalam maksiat dan dosa!Kesalihan jiwa dan perilaku orangtua mempunyai andil yang sangat besar dalam membentuk kesalihan anak. Sebab ketika si anak membuka matanya di muka bumi ini, yang pertama kali ia lihat adalah ayah dan bundanya. Manakala ia melihat orangtuanya berhias akhlak mulia serta tekun beribadah, niscaya itulah yang akan terekam dengan kuat di benaknya. Dan insyaAllah itupun juga yang akan ia praktekkan dalam kesehariannya. Pepatah mengatakan: “Buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya”. Betapa banyak ketakwaan pada diri anak disebabkan ia mengikuti ketakwaan kedua orangtuanya atau salah seorang dari mereka. Ingat karakter dasar manusia, terutama anak kecil, yang suka meniru!Lihatlah bagaimana kesalihan nabiyullah Ibrahim ‘alaihissalam menular kepada diri kedua putranya; nabi Isma’il dan nabi Ishaq ‘alaihimassalam!• Beberapa contoh aplikasi nyataManakala kita menginginkan anak kita rajin untuk mendirikan shalat lima waktu, gamitlah tangannya dan berangkatlah ke masjid bersama. Bukan hanya dengan berteriak memerintahkan anak pergi ke masjid, sedangkan Anda asyik menonton televisi.Jika Anda berharap anak rajin membaca al-Qur’an, ramaikanlah rumah dengan lantunan ayat-ayat suci al-Qur’an yang keluar dari lisan ayah, ibu ataupun kaset dan radio. Jangan malah Anda menghabiskan hari-hari dengan membaca koran, diiringi lantunan langgam gendingan atau suara biduanita yang mendayu-dayu!Kalau Anda menginginkan anak jujur dalam bertutur kata, hindarilah berbohong sekecil apapun. Tanpa disadari, ternyata sebagai orang tua kita sering membohongi anak untuk menghindari keinginannya. Salah satu contoh pada saat kita terburu-buru pergi ke kantor di pagi hari, anak kita meminta ikut atau mengajak jalan-jalan mengelilingi perumahan. Apa yang kita lakukan? Apakah kita menjelaskannya dengan kalimat yang jujur? Atau kita lebih memilih berbohong dengan mengatakan, “Bapak hanya sebentar kok, hanya ke depan saja ya. Sebentaaar saja ya sayang…”. Tapi ternyata, kita malah pulang malam!Dalam contoh di atas, sejatinya kita telah berbohong kepada anak, dan itu akan ditiru olehnya.Terus apa yang sebaiknya kita lakukan? Berkatalah dengan jujur kepada anak. Ungkapkan dengan lembut dan penuh kasih serta pengertian, “Sayang, bapak mau pergi ke kantor. Kamu tidak bisa ikut. Tapi kalo bapak ke kebun binatang, insyaAllah kamu bisa ikut”.Kita tak perlu merasa khawatir dan menjadi terburu-buru dengan keadaan ini. Pastinya akan membutuhkan waktu lebih untuk memberi pengertian kepada anak karena biasanya mereka menangis. Anak menangis karena ia belum memahami keadaan mengapa orang tuanya harus selalu pergi di pagi hari. Kita perlu bersabar dan melakukan pengertian kepada mereka secara terus menerus. Perlahan anak akan memahami mengapa orangtuanya selalu pergi di pagi hari dan bila pergi bekerja, anak tidak bisa ikut.Anda ingin anak jujur? Mulailah dari diri Anda sendiri! KARAKTER PENDIDIK SUKSES bag-4*Di antara karakter yang harus dimiliki pendidik:4. BERTANGGUNG JAWABAnak merupakan salah satu karunia terbesar yang diberikan Allah kepada suatu rumah tangga. Sebuah keluarga tanpa anak, akan terasa amat sepi dan hambar. Kalau boleh diumpamakan, seperti masakan tanpa bumbu.Betapa banyak orang yang menanti kehadiran si jabang bayi selama puluhan tahun, ternyata Allah belum berkenan untuk mengaruniakan sang buah hati. Karena hikmah yang diinginkan-Nya, yang barangkali salah satunya adalah orang tersebut dinilai Allah belum siap untuk menjadi bapak atau ibu.“لِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ يَهَبُ لِمَنْ يَشَاءُ إِنَاثًا وَيَهَبُ لِمَنْ يَشَاءُ الذُّكُورَ . أَوْ يُزَوِّجُهُمْ ذُكْرَانًا وَإِنَاثًا وَيَجْعَلُ مَنْ يَشَاءُ عَقِيمًا إِنَّهُ عَلِيمٌ قَدِيرٌ”Artinya: “Milik Allah-lah kerajaan langit dan bumi. Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Memberikan anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki, dan memberikan anak laki-laki kepada siapa yang Dia kehendaki. Atau Dia menganugerahkan jenis laki-laki dan perempuan. Dan menjadikan mandul siapa yang Dia kehendaki. Dia Maha Mengetahui, Mahakuasa”. QS. Asy-Syura (42): 49-50.Jadi, manakala Allah telah mengaruniakan anak kepada kita, bisa jadi itu pertanda bahwa kita telah harus siap untuk menjadi orang tua. Seberapapun jumlah anak yang Allah karuniakan kepada kita, maka sebenarnya kita harus telah siap untuk menanganinya. Sebab Allah tidak mungkin membebani hamba-Nya melebihi kemampuan-Nya. (Baca: QS. Al-Baqarah: 286).Sebagai orang yang mendapatkan amanah, apalagi dari Allah ta’ala, maka kita harus menjalankan tugas tersebut dengan penuh rasa tanggung jawab.“أَلَا كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، … وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى أَهْلِ بَيْتِ زَوْجِهَا وَوَلَدِهِ وَهِيَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ، …”.“Ketahuilah, kalian semua adalah penanggungjawab dan seluruh kalian akan ditanya tentang tanggung jawabnya … Seorang lelaki penanggungjawab atas keluarganya dan ia akan ditanya tentang mereka. Seorang wanita penanggungjawab atas anak-anak suaminya dan ia akan ditanya tentang mereka …”. HR. Bukhari dan Muslim dari Ibnu Umar radhiyallahu’anhuma.Jadi manakala mendidik anak, kita harus senantiasa berusaha menghadirkan perasaan tanggung jawab terhadap amanah yang Allah berikan kepada kita. Bukan hanya tanggung jawab dalam memenuhi kebutuhan duniawi sang anak. Namun yang lebih penting dari itu adalah tanggung jawab dalam pendidikan agama dan perilaku kesehariannya.Rasa tanggung jawab ini, akan mendorong kita untuk mengerahkan segala daya dan upaya, serta apapun yang kita miliki demi kesuksesan pendidikan anak. Tanpa perasaan itu, semangat akan mengendur dan segala aktifitas dalam mendidik anak akan terasa menjadi sebuah beban yang amat berat! KARAKTER PENDIDIK SUKSES bag-5*Di antara karakter yang harus dimiliki pendidik:5. SABARSabar merupakan salah satu syarat mutlak bagi mereka yang ingin berhasil mengarungi kehidupan di dunia. Kehidupan yang tidak lepas dari susah dan senang, sedih dan bahagia, musibah dan nikmat, menangis dan tertawa, sakit dan sehat, lapar dan kenyang, rugi dan untung, miskin dan kaya, serta mati dan hidup.Di antara episode perjalanan hidup yang membutuhkan kesabaran ekstra adalah masa-masa mendidik anak. Sebab rentang waktunya tidak sebentar dan seringkali anak berperilaku yang tidak sesuai dengan harapan kita.• Contoh aplikasi kesabaran1. Sabar dalam membiasakan perilaku baik terhadap anakAnak bagaikan kertas yang masih putih, tergantung siapa yang menggoreskan lukisan di atasnya. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menggambarkan hal itu dalam sabdanya,“مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلَّا يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِه”“Setiap bayi lahir dalam keadaan fitrah. Orang tuanya lah yang akan menjadikan ia Yahudi, Nasrani atau Majusi”. HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu.Andaikan sejak kecil anak dibiasakan berperilaku baik, mulai dari taat beribadah hingga adab mulia dalam keseharian, insyaAllah hal itu akan sangat membekas dalam dirinya. Sebab mendidik di waktu kecil bagaikan mengukir di atas batu.Mengukir di atas batu membutuhkan kesabaran dan keuletan, namun jika ukiran tersebut telah jadi niscaya ia akan awet dan tahan lama.2. Sabar dalam menghadapi pertanyaan anakMenghadapi pertanyaan anak, apalagi yang baru saja mulai tumbuh dan menginginkan untuk mengetahui segala sesuatu yang ia lihat, memerlukan kesabaran yang tidak sedikit. Terkadang timbul rasa jengkel dengan pertanyaan anak yang tidak ada habis-habisnya, hingga kerap kita kehabisan kata-kata untuk menjawab pertanyaannya.Sesungguhnya kesediaan anak untuk bertanya kepada kita, ‘seburuk’ apa pun pertanyaan yang ia lontarkan, merupakan pertanda bahwa mereka memberikan kepercayaannya kepada kita untuk menjawab. Maka jalan terbaik adalah menghargai kepercayaannya dengan tidak mematikan kesediaannya untuk bertanya, serta memberikan jawaban yang mengena dan menghidupkan jiwa.3. Sabar menjadi pendengar yang baikBanyak orang tua adalah pendengar yang buruk bagi anak-anaknya. Bila ada suatu masalah yang terjadi pada anak, orangtua lebih suka menyela, langsung menasihati tanpa mau bertanya permasalahannya serta asal-usul kejadiannya.4. Sabar manakala emosi memuncakHendaknya kita tidak memberikan sanksi atau hukuman pada anak ketika emosi kita sedang memuncak. Pada saat emosi kita sedang tinggi, apa pun yang keluar dari mulut kita, cenderung untuk menyakiti dan menghakimi, tidak untuk menjadikan anak lebih baik.[1] Disadur oleh Abdullah Zaen, Lc, MA dari buku “Mencetak Generasi Rabbani” karya Ummu Ihsan Choiriyyah dan Abu Ihsan al-Atsary (hal. 1-4) dengan beberapa perubahan.[2] Disadur oleh Abdullah Zaen, Lc, MA dari buku “Mencetak Generasi Rabbani” karya Ummu Ihsan Choiriyyah dan Abu Ihsan al-Atsary (hal. 5-7) dengan beberapa perubahan.[3] Diringkas oleh Abdullah Zaen, Lc, MA dari buku “Mencetak Generasi Rabbani” karya Ummu Ihsan Choiriyyah dan Abu Ihsan al-Atsary (hal. 9-13) dengan beberapa perubahan.[4] Diringkas oleh Abdullah Zaen, Lc, MA dari buku “Mencetak Generasi Rabbani” karya Ummu Ihsan Choiriyyah dan Abu Ihsan al-Atsary (hal. 15-19) dengan beberapa perubahan.[5] Disarikan oleh Abdullah Zaen, Lc, MA dari buku “Mencetak Generasi Rabbani” karya Ummu Ihsan Choiriyyah dan Abu Ihsan al-Atsary (hal. 21-24) dengan banyak tambahan.[6] Disarikan oleh Abdullah Zaen, Lc, MA dari buku “Mencetak Generasi Rabbani” karya Ummu Ihsan Choiriyyah dan Abu Ihsan al-Atsary (hal. 25-27) dengan sedikit perubahan.[7] Diramu ulang oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari buku “Mencetak Generasi Rabbani” karya Ummu Ihsan Choiriyyah dan Abu Ihsan al-Atsary (hal. 29-32) dengan banyak tambahan.[8] Diringkas oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari buku “Mencetak Generasi Rabbani” karya Ummu Ihsan Choiriyyah dan Abu Ihsan al-Atsary (hal. 35-39).[9] Diringkas oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari buku “Mencetak Generasi Rabbani” karya Ummu Ihsan Choiriyyah dan Abu Ihsan al-Atsary (hal. 41-45).[10] Diringkas oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari buku “Mencetak Generasi Rabbani” karya Ummu Ihsan Choiriyyah dan Abu Ihsan al-Atsary (hal. 47) dan Jurus Jitu Mendidik Anak karya Abdullah Zaen.[11] Diringkas dari makalah Jurus Jitu Mendidik Anak karya Abdullah Zaen.[12] Sebagaimana dalam penafsiran Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma yang diriwayatkan Imam al-Baihaqy dalam Kitab al-I’tiqâd (hal. 183).* Diringkas dari makalah Jurus Jitu Mendidik Anak karya Abdullah Zaen.* Diringkas dari makalah “Mengatasi Kenakalan Orang Tua” karya Abdullah Zaen. Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 19: ANAK DAN RUKUN IMAN bag-1*Next Serial Fiqih Pendidikan Anak No 39: ANAK DAN ADAB BERBICARA* Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Comments are closed.Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


PROLOG[1]Berbicara tentang anak, kita semua rata-rata memiliki keinginan yang sama. Manakala anak lahir, kita berharap agar anak tersebut tumbuh lucu dan sehat. Segala upaya dilakukan untuk mewujudkan itu. Walaupun harus mengorbankan waktu, biaya dan tenaga. Sebenarnya hal tersebut manusiawi dan wajar-wajar saja. Namun yang tidak wajar adalah bila menganggap bahwa sehat dan lucu saja sudah cukup.Kita menginginkan anak kita cerdas dan mengukir segudang prestasi. Demi menggapai angan-angan tersebut, kita rela melakukan apapun walaupun terasa berat. Inipun masih dalam taraf kewajaran. Namun yang tidak benar adalah jika kita menganggap bahwa kecerdasan dan prestasi duniawi adalah segala-galanya.Sebab seluruh hal tersebut di atas belum tentu menghasilkan kebahagiaan di dunia dan akhirat.Betapa sering kita mendengar orang tua yang pusing tujuh keliling, akibat tingkah polah anaknya yang selalu membuat gara-gara. Padahal dulunya semasa kecil dia begitu sehat dan amat menggemaskan. Bukan sekali atau dua kali kita menyaksikan orang tua yang semasa mudanya bekerja keras membanting tulang memeras keringat, demi masa depan anaknya. Namun, di penghujung usia, justru tidak segan-segan si anak membentak orang tuanya, seperti membentak seekor binatang yang hina. Atau mencampakkan tumbuh renta itu ke panti jompo, tanpa perasaan bersalah atau berdosa. Na’udzubillah min dzalik..Itu baru di dunia. Belum jika kita berbicara tentang alam akhirat. Akankah seabreg prestasi duniawi dan sederet gelar yang disandang anak, membantu nasib kita di hadapan Allah? Terlebih bila ternyata mereka bukanlah generasi salih, yang setia untuk mendoakan kedua orang tuanya.Sebelum itu semua terjadi, mari kita tilik kembali usaha apa yang telah kita lakukan untuk melahirkan anak-anak yang salih dan salihah? Ketahuilah bahwa mendidik anak itu membutuhkan kesungguhan! Memerlukan pengorbanan! Menuntut keikhlasan dan kesabaran! Serta yang paling penting adalah membutuhkan ilmu yang memadai juga taufik dari Allah ta’ala..Persiapan materi saja tidak cukup, jika kita menginginkan generasi yang handal. Sebab, betapa banyak hal-hal yang tidak bisa dibeli dengan materi.Maka, mari kita terus berusaha untuk berbekal ilmu yang memadai. Tidaklah berlebihan bila dikatakan bahwa ilmu pendidikan anak adalah cabang ilmu khusus yang harus dikuasai setiap orang tua, bahkan sebelum mereka berpredikat sebagai orang tua. Agar kita betul-betul menjadi orangtua yang sebenarnya, bukan sekedar orang yang lebih tua dari anaknya!Amat disayangkan, betapa banyak suami yang menyandang gelar bapak hanya karena istrinya melahirkan. Sebagaimana banyak wanita disebut ibu, semata-mata karena dialah yang melahirkan. Bukan karena mereka menyiapkan diri menjadi orangtua. Bukan pula karena mereka memiliki kepatutan sebagai orangtua. Semoga Allah menjauhkan kita dari tipe orang tua seperti itu. Amien. ANAK, SEBUAH NIKMAT BESAR[2]Terlampau banyak nikmat yang Allah karuniakan kepada kita. Saking banyaknya, hingga kita tidak mungkin bisa menghitungnya. Dan seringkali kita lalai serta tidak menyadari betapa besar nikmat tersebut. Nikmat itu baru terasa manakala lenyap.Dahulu orang bijak mengatakan, “Kesehatan adalah mahkota di atas kepala orang-orang sehat. Tidak ada yang bisa melihat mahkota tersebut, kecuali orang-orang sakit”.Di antara nikmat besar yang kerap terlupakan keberadaannya adalah: anak. Kehadiran sang buah hati merupakan karunia dan hadiah dari Allah ta’ala. Sebagaimana difirmankan oleh-Nya,“لِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ يَهَبُ لِمَنْ يَشَاءُ إِنَاثًا وَيَهَبُ لِمَنْ يَشَاءُ الذُّكُورَ . أَوْ يُزَوِّجُهُمْ ذُكْرَانًا وَإِنَاثًا وَيَجْعَلُ مَنْ يَشَاءُ عَقِيمًا إِنَّهُ عَلِيمٌ قَدِيرٌ”Artinya: “Milik Allah-lah kerajaan langit dan bumi. Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Memberikan anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki, dan memberikan anak laki-laki kepada siapa yang Dia kehendaki. Atau Dia menganugerahkan jenis laki-laki dan perempuan. Dan menjadikan mandul siapa yang Dia kehendaki. Dia Maha Mengetahui, Mahakuasa”. QS. Asy-Syura (42): 49-50.Terlebih bila anak tersebut adalah anak yang salih-salihah. Mereka adalah kekayaan yang tak ternilai harganya, jauh melebihi kekayaan materi. Mereka adalah pembawa bahagia, pelipur lara serta penolong bagi kedua orang tuanya, di dunia ini dan di akhirat kelak.Namun, kenyataannya masih banyak orang tua yang belum merasakan anak sebagai anugerah. Bisa jadi kita juga termasuk jenis orang tua yang belum bersyukur. Buktinya, keluh kesah masih begitu sering terlontar dari lisan. Masih ditambah pula dengan iringan kekesalan dan rasa tidak puas dalam hati.Jika demikian, marilah kita bersama-sama melihat di luar sana…Ternyata begitu banyak pasangan yang lelah berharap untuk memiliki momongan. Namun Allah ta’ala belum juga berkenan mengaruniakan anak kepada mereka. Padahal segala sarana dan saran telah dijalankan. Doa juga tidak lupa untuk selalu dipanjatkan.Di tempat lain, banyak orang tua yang harus kehilangan anak yang sangat dicintainya, pergi untuk selamanya. Ada pula yang semula anaknya sempurna, tiba-tiba menjadi cacat karena suatu bencana. Atau anak yang semula sehat bugar, mendadak tergeletak tak berdaya karena penyakit kronis yang tidak pernah terduga sebelumnya.Dari sini kita sadar…Bahwa ternyata anak adalah anugerah besar. Maka syukurilah nikmat ini, agar langgeng dan terus bertambah baik. Sebagaimana yang Allah jelaskan dalam QS. Ibrahim (14): 7. Dan dengan rasa syukur tersebut diharapkan kita bisa lebih sabar dalam mengasuh dan mendidik anak. Juga semakin memperbesar harapan agar mereka tumbuh menjadi anak salih yang menabur kebahagiaan bagi kedua orang tuanya, amien. ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIAN[3]Alangkah indahnya minum teh dengan ditemani sepiring pisang goreng beserta istri, sambil melihat anak-anak bermain riang gembira. Sulit digambarkan dengan kata-kata! Ya, tidak diragukan lagi bahwa anak merupakan salah satu perhiasan dunia terindah. Rasa penat bekerja seharian seakan lenyap tak berbekas, saat pulang ke rumah bercengkerama dan bersenda gurau dengan anak-anak. Itulah perhiasan dunia!“الْمَالُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا”.Artinya: “Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia”. QS. Al-Kahfi (18): 46.Namun waspadalah, sebab di sisi lain, anak juga merupakan ujian bagi kita.“إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ وَاللَّهُ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ”. Artinya: “Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan sisi Allah-lah pahala yang besar”. QS. At-Taghabun (64): 15.Maka berhati-hatilah, jangan sampai kita terpedaya. Sebab terkadang anak membuat seorang hamba menjadi angkuh dan tidak mensyukuri nikmat Allah.Anak, kerap juga mendorong sang ayah untuk menghalalkan cara yang haram. Seperti menyuap demi kelulusan si buah hati. Demi masa depan anak, katanya…Anak, kadang membuat seorang insan menjadi kikir dan penakut. Saat ingin bersedekah, setan datang memprovokasi, “Barusan anakmu minta ini dan itu!”. Akhirnya iapun urung menginfakkan hartanya di jalan Allah. Padahal yang diminta anaknya bukanlah suatu kebutuhan primer. Benarlah sabda Nabi shallallahu ‘alaihiwasallam,“إِنَّ الْوَلَدَ مَبْخَلَةٌ، مَجْبَنَةٌ، مَحْزَنَةٌ”.“Sesungguhnya anak bisa membuat seseorang menjadi bakhil, penakut dan bersedih”. HR. Al-Hakim dan dinilai sahih oleh beliau juga al-Albany.Ketika anak jatuh sakit, rasa iba mendorong orang tua bertindak bodoh dan melanggar syariat agama. Iapun membawa anaknya berobat ke dukun, padahal agama telah melarang dengan tegas hal itu.Lalu bagaimana caranya agar kita terhindar dari godaan tersebut?Caranya adalah dengan mendahulukan kecintaan kita kepada Allah dan Rasul-Nya di atas segalanya, termasuk terhadap anak-anak. Kemudian senantiasa bertakwa dalam mengurus mereka.Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menjelaskan bahwa di antara amalan yang bisa menghapus keburukan akibat godaan anak, adalah mengerjakan shalat, berpuasa, bersedekah dan beramar ma’ruf nahi mungkar. Beliau bersabda,“فِتْنَةُ الرَّجُلِ فِى أَهْلِهِ وَمَالِهِ وَنَفْسِهِ وَوَلَدِهِ وَجَارِهِ؛ يُكَفِّرُهَا الصِّيَامُ وَالصَّلاَةُ وَالصَّدَقَةُ وَالأَمْرُ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّهْىُ عَنِ الْمُنْكَرِ”.“Gangguan yang menimpa seseorang akibat keluarga, harta, diri, anak dan tetangganya, dapat dihapus dengan puasa, shalat, shadaqah dan amar ma’ruf nahi mungkar”. HR. Bukhari dan Muslim. ANAK ADALAH AMANAH ALLAH[4]Tentu banyak di antara kita yang pernah dititipi sesuatu oleh orang lain. Amanah tersebut mestinya akan kita jaga sebaik-baiknya. Terlebih jika titipan tersebut adalah barang yang amat berharga, dan orang yang menitipkannya kepada kita adalah orang terhormat.Namun, ada satu amanah yang sangat istimewa, dan yang menitipkannya kepada kita pun, Dzat yang amat mulia, tetapi justru malah seringkali kita menyia-nyiakannya. Titipan yang tidak semua orang mendapat kehormatan untuk mengembannya. Amanah tersebut tidak lain adalah anak.Bayi yang Allah anugerahkan kepada kita bagaikan mutiara yang masih berada dalam cangkangnya. Masih terjaga dari jamahan tangan-tangan luar. Hatinya masih suci, ibarat selembar kertas putih, tanpa goresan apalagi ukiran. Setelah itu sedikit demi sedikit, kepribadian dan perilaku anak terbentuk, sesuai dengan apa yang dilihat di komunitas terdekatnya. Yakni di dalam rumah dan lingkungannya.Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menjelaskan,“مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلَّا يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِه”“Setiap bayi lahir dalam keadaan fitrah. Orang tuanya lah yang akan menjadikan ia Yahudi, Nasrani atau Majusi”. HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah.Itulah masa keemasan yang tidak boleh disia-siakan. Kesalihan anak bukanlah hadiah gratis yang turun dari langit begitu saja. Namun membutuhkan usaha dan perjuangan dari orang tua.Tanggung jawab kita terhadap anak bukan sekedar memberinya makan kenyang, pakaian bagus ataupun rumah lapang. Tetapi tanggung jawab yang lebih berat adalah memberikan pendidikan terbaik bagi mereka dan menyelamatkan mereka dari azab Allah. [Lihat: QS. At-Tahrim (66): 6].Allah ta’ala pasti akan meminta pertanggungjawaban kita atas amanah ini. Dalam hadits disebutkan:“كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ؛ … وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ بَعْلِهَا وَوَلَدِهِ وَهِىَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ…”“Setiap kalian adalah pemimpin dan semua akan ditanya tentang bawahannya … Lelaki adalah pemimpin bagi keluarganya, dan dia akan ditanya tentang mereka. Wanita merupakan penanggungjawab di rumah suaminya serta bagi anaknya, dan dia akan ditanya tentang mereka.” HR. Bukhari dan Muslim.Memang tugas dan tanggung jawab ini tidaklah ringan. Ujian dan rintangan mungkin muncul silih berganti. Rasa letih dan bosan kadang datang mendera. Sementara setan terus membuat makar dan tipu daya untuk mematahkan semangat kita. Sekaligus mengompori sifat keluh kesah, yang memang merupakan tabiat dasar manusia. [Baca: QS. Al-Ma’arij (70): 19].Namun, tipu daya tersebut tentu harus dilawan! Jauhilah sifat keluh kesah sebisa mungkin. Sebab keluh kesah hanya akan membawa kerugian. Karena, sekecil apapun tugas dan tanggung jawab, bila disikapi dengan keluh kesah, amarah dan perasaan tidak ikhlas, maka tugas ringan akan menjadi beban berat. Lebih rugi lagi, karena hati tidak ikhlas, akibatnya pahala gagal diraih. Ibarat sudah jatuh tertimpa tangga pula.Sebaliknya, jika tanggung jawab ini dipikul dengan penuh keikhlasan, niscaya akan membawa kebaikan. Sebab, seberat apapun tugas dan tanggung jawab, bila dilakukan dengan penuh keikhlasan, kegembiraan dan harapan, maka tugas berat akan terasa ringan. Lebih dari itu, berkat keikhlasan hati, semua jerih payah dan setiap tetesan keringat, akan bernilai pahala di sisi-Nya. Inilah keberuntungan di atas keberuntungan. Di dunia, pekerjaan terasa nikmat dan bisa mencicipi buah manis kebaktian anak. Sedangkan di akhirat, maka insyaAllah akan menuai limpahan pahala. Allahumma amien… KESALIHAN ORANG TUA, MODAL UTAMA[5]Kita semua mempunyai keinginan dan cita-cita yang sama. Ingin agar keturunan kita menjadi anak yang salih dan salihah. Namun, terkadang kita lupa bahwa modal utama untuk mencapai cita-cita mulia tersebut ternyata adalah: kesalihan dan ketakwaan kita selaku orangtua. Alangkah lucunya, manakala kita berharap anak menjadi salih dan bertakwa, sedangkan kita sendiri berkubang dalam maksiat dan dosa!Kesalihan jiwa dan perilaku orangtua mempunyai andil yang sangat besar dalam membentuk kesalihan anak. Sebab ketika si anak membuka matanya di muka bumi ini, yang pertama kali ia lihat adalah ayah dan bundanya. Manakala ia melihat orangtuanya berhias akhlak mulia serta tekun beribadah, niscaya itulah yang akan terekam dengan kuat di benaknya. Dan insyaAllah itupun juga yang akan ia praktekkan dalam kesehariannya. Pepatah mengatakan: “buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya”. Betapa banyak ketakwaan pada diri anak disebabkan ia mengikuti ketakwaan kedua orangtuanya atau salah seorang dari mereka. Ingat karakter dasar manusia, terutama anak kecil, yang suka meniru!• Beberapa contoh aplikasi nyatanyaManakala kita menginginkan anak kita rajin untuk mendirikan shalat lima waktu, gamitlah tangannya dan berangkatlah ke masjid bersama. Bukan hanya dengan berteriak memerintahkan anak pergi ke masjid, sedangkan Anda asyik menonton televisi.Jika Anda berharap anak rajin membaca al-Qur’an, ramaikanlah rumah dengan lantunan ayat-ayat suci al-Qur’an yang keluar dari lisan ayah, ibu ataupun kaset dan radio. Jangan malah Anda menghabiskan hari-hari dengan membaca koran, diiringi lantunan langgam gendingan atau suara biduanita yang mendayu-dayu!Kalau Anda menginginkan anak jujur dalam bertutur kata, hindarilah berbohong sekecil apapun. Tanpa disadari, ternyata sebagai orang tua kita sering membohongi anak untuk menghindari keinginannya. Salah satu contoh pada saat kita terburu-buru pergi ke kantor di pagi hari, anak kita meminta ikut atau mengajak jalan-jalan mengelilingi perumahan. Apa yang kita lakukan? Apakah kita menjelaskannya dengan kalimat yang jujur? Atau kita lebih memilih berbohong dengan mengatakan, “Bapak hanya sebentar kok, hanya ke depan saja ya. Sebentaaar saja ya sayang…”. Tapi ternyata, kita malah pulang malam!Dalam contoh di atas, sejatinya kita telah berbohong kepada anak, dan itu akan ditiru olehnya.Terus apa yang sebaiknya kita lakukan? Berkatalah dengan jujur kepada anak. Ungkapkan dengan lembut dan penuh kasih serta pengertian, “Sayang, bapak mau pergi ke kantor. Kamu tidak bisa ikut. Tapi kalo bapak ke kebun binatang, insyaAllah kamu bisa ikut”.Kita tak perlu merasa khawatir dan menjadi terburu-buru dengan keadaan ini. Pastinya akan membutuhkan waktu lebih untuk memberi pengertian kepada anak karena biasanya mereka menangis. Anak menangis karena ia belum memahami keadaan mengapa orang tuanya harus selalu pergi di pagi hari. Kita perlu bersabar dan melakukan pengertian kepada mereka secara terus menerus. Perlahan anak akan memahami mengapa orangtuanya selalu pergi di pagi hari dan bila pergi bekerja, anak tidak bisa ikut.Anda ingin anak jujur? Mulailah dari diri Anda sendiri!Semoga Allah senantiasa meridhai setiap langkah baik kita, amien… SAMBUTLAH KABAR GEMBIRA![6]Sejauh apapun kita melangkah, ada saatnya umur kita berakhir. Suatu hari nanti Allah akan mengirimkan malaikat pencabut nyawa untuk mengakhiri hidup kita di dunia. Saat itu tangis haru kehilangan akan pecah dari orang-orang yang mencintai kita. Namun, sebesar apapun kecintaan mereka kepada kita, tetap saja mereka tidak akan mau menemani kita di liang kubur. Tinggallah kita dalam kesendirian di sebuah ruang sempit nan pengap, ditemani hewan-hewan tanah. Amalan terputus dan kesempatan menambah pahala telah pupus.Tetapi, terimalah kabar gembira…Wahai para orang tua yang salih, yang semasa hidupnya tak pernah lekang untuk mendidik anaknya hingga tumbuh menjadi generasi yang salih. Bergembiralah, bahwa pahala akan terus mengalir ke tabunganmu, walaupun jasadmu telah lapuk dimakan tanah. Kuburanmu akan terasa lapang dan terang benderang.Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda,“إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةٍ؛ إِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ”.“Jika manusia mati, maka terputuslah amalannya kecuali tiga. (1) Sedekah jariyah, (2) Ilmu yang bermanfaat dan (3) Anak salih yang mendoakannya”. HR. Muslim dari Abu Hurairah.Setiap anak melakukan ibadah dan kebajikan, akan selalu mengalir pahala untukmu. Sebab engkaulah yang mengajarkan kebaikan tersebut padanya. Nabiyullah shallallahu’alaihiwasallam bertutur,“مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ”.“Barang siapa menunjukkan kepada kebaikan, maka ia akan mendapatkan pahala seperti orang yang melakukannya”. HR. Muslim dari Abu Mas’ud al-Anshary.Bukan hanya itu, namun juga doa anak salih hasil jerih payahmu akan mengangkat derajatmu di surga. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menjelaskan,“إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَيَرْفَعُ الدَّرَجَةَ لِلْعَبْدِ الصَّالِحِ فِي الْجَنَّةِ، فَيَقُولُ: “يَا رَبِّ، أَنَّى لِي هَذِهِ؟” فَيَقُولُ: “بِاسْتِغْفَارِ وَلَدِكَ لَكَ”.“Sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla akan mengangkat derajat hamba yang salih di surga. Ia bertanya, “Wahai Rabbi, apakah yang membuatku (menempati derajat ini?)”. Dia menjawab, “Lantaran doa anakmu yang memohonkan ampunan untukmu”. HR. Ahmad dari Abu Hurairah dan dinilai hasan oleh al-Albany.Engkaupun akan kembali bersua dan berkumpul dengan mereka di negeri keabadian yang penuh kenikmatan. Di surga ‘Adn! Allah ta’ala berfirman,“جَنَّاتُ عَدْنٍ يَدْخُلُونَهَا وَمَنْ صَلَحَ مِنْ آبَائِهِمْ وَأَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيَّاتِهِمْ وَالْمَلَائِكَةُ يَدْخُلُونَ عَلَيْهِمْ مِنْ كُلِّ بَابٍ“Artinya: “(Yaitu) surga-surga ‘Adn, mereka masuk ke dalamnya bersama dengan orang yang salih dari nenek moyangnya, pasangan-pasangannya dan keturunannya. Sedangkan para malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu”. QS. Ar-Ra’du (13): 23.Selamat menyambut kabar gembira tersebut, wahai para orang tua salih yang memiliki anak salih-salihah! HIDAYAH BUKAN DI TANGAN KITA[7]Jika kita menginginkan anak-anak kita menjadi generasi yang salih-salihah, maka kita harus berusaha maksimal untuk itu. Kita wajib mengerahkan segala daya dan upaya yang kita miliki. Siap untuk letih, capai dan lelah untuk mendidik, mengarahkan serta menasehati mereka. Jika itu telah dilakukan, maka bersiaplah untuk memetik buah manis usaha keras kita!Namun, ada satu hal penting yang harus senantiasa diingat. Yaitu hidayah bukanlah di tangan kita. Satu-satunya pemilik mutlaknya adalah Allah ta’ala. Dalam al-Qur’an disebutkan:“فَإِنَّ اللَّهَ يُضِلُّ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ”Artinya: “Sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang dikendaki-Nya dan memberi hidayah kepada siapa yang dikehendaki-Nya”. QS. Fâthir (35): 8.Sebesar apapun usaha yang kita kerahkan, jikalau Allah tidak berkehendak, maka mustahil keinginan kita akan tercapai. Lihatlah bagaimana manusia paling bertakwa di muka bumi, Rasulullah shallallahu ‘alaihiwasallam, pun tak kuasa untuk memberi hidayah kepada orang yang sangat beliau cintai; Abu Thalib pamannya. [Baca: QS. Al-Qashash (28): 56].Apalah pula kesalihan kita dibanding Nabi Nuh ‘alaihissalam? Jikalau beliau tidak kuasa memberikan hidayah kepada buah hatinya, bagaimana dengan kita?Di saat air bah melanda, beliau masih berusaha keras mengajak anaknya untuk menaiki kapal besar yang dibuatnya. Namun Allah tidak berkenan memberikan hidayah kepada si anak, sehingga justru dengan pongahnya ia menjawab akan menaiki gunung tertinggi. Pada akhirnya ia pun tenggelam dilamun ombak. [Baca: QS. Hûd (11): 42-47].Putra seorang Nabi yang telah menghabiskan umur hampir sepuluh abad untuk berdakwah, ternyata justru meninggal dalam keadaan tidak beriman??! Bukankah ini memberikan pelajaran yang amat dalam bahwa hidayah bukanlah di tangan manusia?Seluruh keterangan di atas bukan dalam rangka memprovokasi agar kita melempem dalam mendidik anak, bukan! Tidak pula dalam rangka mengajak kita menyerah dengan keadaan, tanpa melakukan usaha maksimal, tidak! Tetapi tulisan ini dituangkan dalam rangka untuk mengingatkan kita semua bahwa ikhtiar belaka tidaklah cukup. Namun harus diiringi dengan sesuatu yang bernama doa dan tawakal kepada Allah ta’ala.Usaha tanpa doa merupakan sebuah kesombongan, sedangkan pasrah tanpa usaha adalah sebuah kejahilan.Maka jangan sampai kita mengandalkan kekuatan diri sendiri semata dan bergantung padanya saja. Sebagaimana doa yang sering dipanjatkan Nabi shallallahu’alaihiwasallam,“يَا حَيُّ يَا قَيُّومُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيثُ، أَصْلِحْ لِي شَأْنِي كُلَّهُ، وَلاَ تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي طَرَفَةَ عَيْنٍ“ “Wahai Yang Maha Hidup dan Maha mengurusi para makhluk-Nya, dengan rahmat-Mu aku memohon pertolongan. Perbaikilah seluruh keadaanku. Dan jangan Engkau jadikan aku bergantung kepada diriku, walaupun hanya sekejap mata”. HR. Al-Hakim dari Anas bin Malik dan dinilai sahih oleh al-Hakim dan adh-Dhiya’ al-Maqdisy.Maka dari itu selain usaha lahiriah yang kita kerahkan, janganlah pernah melupakan lantunan doa yang senantiasa dipanjatkan ke hadirat Allah ta’ala, terutama di waktu-waktu yang mustajab! MENDIDIK ANAK DALAM KANDUNGAN[8]Mendidik anak dari dini bukanlah dimulai sejak dia baru lahir. Namun semenjak ia masih berada dalam kandungan. Bahkan sejak pertama kali memilih pasangan hidup pun, itu juga akan menentukan keberhasilan kita dalam mendidik anak.Di saat janin dalam rahim berumur 120 hari, sejatinya ia telah bernyawa. Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam menjelaskan,“إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِى بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا، ثُمَّ يَكُونُ فِى ذَلِكَ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يَكُونُ فِى ذَلِكَ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يُرْسَلُ الْمَلَكُ فَيَنْفُخُ فِيهِ الرُّوحَ”.“Sesungguhnya setiap orang berada di dalam perut ibunya (berbentuk mani) selama empat puluh hari. Kemudian berubah menjadi segumpal darah selama itu juga (40 hari). Kemudian berubah menjadi sekerat daging selama itu juga. Lalu diutuslah malaikat untuk meniupkan ruh kepadanya”. HR. Bukhari dan Muslim dari Ibn Mas’ud radhiyallahu’anhu.Jadi, berdasarkan hadits di atas, setelah lewat 4 bulan, janin dalam perut sudah hidup. Lalu penemuan-penemuan ilmiah membuktikan bahwa janin sebelum lahir mampu merespon stimulasi edukatif yang diberikan kepadanya.Jadi, dari pra lahir kita sudah bisa mendidik anak kita. Caranya antara lain dengan:1. Memperbanyak doa.Para nabi ‘alaihimussalam juga orang-orang salih selalu mendoakan anak-anak mereka sejak dalam kandungan. Misalnya: Nabi Ibrahim [QS. Ash-Shâffât (37): 100] dan Nabi Zakariya [QS. Ali Imran (3): 38].2. Tekun beribadah.Tidak ada salahnya, manakala orang tua akan menjalankan aktifitas ibadah, seperti shalat, bersedekah, berdzikir, berpuasa atau yang lainnya, ia menyapa anaknya yang ada di dalam perut. Contohnya: “Sabar ya nak, sekarang kita sedang berpuasa!”.3. Merutinkan membaca al-Qur’an.Bukan hanya membaca al-Qur’an, lebih baik lagi jika orang tua melatih diri untuk menghapal al-Qur’an semampunya. Sehingga diharapkan manakala ia banyak melantunkan ayat-ayat suci al-Qur’an, anak yang berada dalam janin ikut merekam bacaan orang tuanya. Sehingga kelak saat lahir anak telah memiliki ‘bekal’ hapalan al-Qur’an.4. Bertutur kata yang baik.Biasakanlah untuk senantiasa berbicara dengan santun dan baik. Semoga dengan demikian anakpun akan tertular dengan perilaku positif tersebut.Pendek kata, manfaatkanlah setiap detik dalam kehidupan kita untuk mendidik anak kita, tanpa kenal lelah dan pantang menyerah. Sejatinya kesuksesan besar itu sangat ditentukan dengan langkah pertama yang baik.Selamat mempraktekkan! JANGAN BIARKAN SETAN MENJAMAH ANAKMU![9]Ingatlah wahai para orang tua, bahwa setan tidak akan pernah duduk manis, membiarkan anak kita tumbuh menjadi generasi yang salih dan salihah. Dia tidak akan pernah merasa puas, hingga berhasil menjadikan anak-anak kita menjadi kaki tangan mereka. Na’udzubillah min dzalik.Karena liciknya tipu daya mereka, juga tabiat dasar manusia yang lemah, kita perlu memohon bantuan kepada Allah agar Dia berkenan melindungi kita dan anak-anak kita.Berikut cara memohon perlindungan kepada Allah untuk anak-anak kita:1. Mintalah perlindungan pada-Nya sebelum ‘membuat’ anak. Yakni dengan membaca doa berikut sebelum melakukan hubungan suami istri:“بِسْمِ اللهِ اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا”.“Dengan nama Allah. Ya Allah jauhkanlah kami dari gangguan setan dan jauhkan pula gangguan setan dari (anak) yang akan Kau karuniakan pada kami”. HR. Bukhari dari Ibn ‘Abbas radhiyallahu’anhuma.2. Mohonlah perlindungan pada Allah saat anak lahir. Sebagaimana ucapan ibunda Maryam,“وَإِنِّي سَمَّيْتُهَا مَرْيَمَ وَإِنِّي أُعِيذُهَا بِكَ وَذُرِّيَّتَهَا مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ”.Artinya: “Sesungguhnya aku telah menamainya Maryam dan aku mohon perlindungan kepada-Mu untuknya serta keturunannya dari setan yang terkutuk”. QS. Ali Imrân (3): 36.3. Mintalah perlindungan kepada-Nya untuk mereka setiap hari, terutama di waktu pagi dan sore.Jika mereka belum bisa membaca al-Qur’an, bacakanlah surat al-Ikhlas, al-Falaq dan an-Nas, lalu usapkan tanganmu ke tubuh mereka.Atau bisa juga dengan membaca doa perlindungan yang dahulu pernah dibacakan Nabi shallallahu’alaihi wasallam untuk cucu beliau; al-Hasan dan al-Husain radhiyallahu’anhuma,“أُعِيذُكُمَا بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّةِ مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لاَمَّةٍ“.“Aku memohon perlindungan kepada Allah bagi kamu berdua dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna, dari segala gangguan setan, binatang berbisa dan pandangan mata yang jahat”. HR. Abu Dawud dan dinilai sahih oleh Ibn Hibban, al-Hakim, adz-Dzahaby dan al-Albany.Redaksi di atas adalah bila anak yang didoakan berjumlah dua orang. Jika lebih dari dua maka kalimat yang digarisbawahi diganti dengan “u’îdzukum”. Bila satu anak lelaki maka “u’îdzuka”, dan bila satu anak perempuan maka “u’îdzuki”.4. Jangan biarkan anak-anak berkeliaran di luar rumah saat malam tiba. Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam mewanti-wanti,“إِذَا كَانَ جُنْحُ اللَّيْلِ أَوْ أَمْسَيْتُمْ فَكُفُّوا صِبْيَانَكُمْ فَإِنَّ الشَّيَاطِينَ تَنْتَشِرُ حِينَئِذٍ، فَإِذَا ذَهَبَ سَاعَةٌ مِنْ اللَّيْلِ فَحُلُّوهُمْ ““Jika hari mulai gelap tahanlah anak-anak kalian (untuk keluar rumah) karena saat itu setan berkeliaran. Jika telah lewat sebagian malam biarkanlah mereka”. HR. Bukhari (hal. 669 no. 3280) dan Muslim (XIII/185 no. 5218) dari Jabir bin Abdullah dengan redaksi Muslim. KARAKTER PENDIDIK SUKSES bag-1[10]Kesempurnaan sifat pendidik memang hanya dimiliki oleh para rasul ‘alaihimussalam. Namun kita sebagai orang tua, tetap tertuntut dengan segenap kemampuan, untuk memiliki sifat-sifat tersebut. Sebab kita telah dijadikan anak sebagai fokus teladan dan contoh nyata yang mereka saksikan dalam keseharian.Inilah karakter yang harus dimiliki pendidik:1. BERILMUIlmu merupakan kebutuhan primer setiap insan dalam setiap lini kehidupannya, termasuk dalam mendidik anak. Bahkan kebutuhan dia terhadap ilmu dalam mendidik anak, melebihi kebutuhannya terhadap ilmu dalam menjalankan pekerjaannya.Namun, realita berkata lain. Rupanya tidak sedikit di antara kita mempersiapkan ilmu untuk kerja lebih banyak daripada ilmu untuk menjadi orangtua. Padahal tugas kita menjadi orangtua dua puluh empat jam sehari semalam, termasuk saat tidur, terjaga serta antara sadar dan tidak. Sementara tugas kita dalam pekerjaan, hanya sebatas jam kerja.• Ilmu apa saja yang dibutuhkan?Banyak jenis ilmu yang dibutuhkan orangtua dalam mendidik anaknya. Mulai dari ilmu agama dengan berbagai varianya, hingga ilmu cara berkomunikasi dengan anak.Jenis ilmu agama pertama dan utama yang harus dipelajari orangtua adalah akidah. Sehingga ia bisa menanamkan akidah yang lurus dan keimanan yang kuat dalam jiwa anaknya. Nabi shallallahu’alaihi wasallam mencontohkan bagaimana membangun pondasi tersebut dalam jiwa anak, dalam salah satu sabdanya untuk Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma,“إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلْ اللَّهَ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّه”“Jika engkau memohon, mohonlah kepada Allah. Dan jika engkau meminta pertolongan, mintalah kepada Allah”. HR. Tirmidzi dan beliau berkomentar, “Hasan sahih”.Selanjutnya ilmu tentang cara ibadah, terutama shalat dan cara bersuci. Bagaimana mungkin orangtua akan memerintahkan shalat pada anaknya, jikalau ia tidak mengerti tatacara shalat yang benar. Mampukah orang yang tidak mempunyai sesuatu, untuk memberikan sesuatu itu kepada orang lain?Berikutnya ilmu tentang akhlak, mulai adab terhadap orangtua, tetangga, teman, juga adab keseharian si anak. Bagaimana cara makan, minum, tidur, masuk rumah, kamar mandi, bertamu dan lain-lain.Yang tidak kalah pentingnya adalah: ilmu seni berinteraksi dan berkomunikasi dengan anak. Bagaimana kita menghadapi anak yang hiperaktif atau sebaliknya pendiam. Bagaimana membangun rasa percaya diri dalam diri anak. Bagaimana memotivasi mereka untuk gemar belajar. Bagaimana menumbuhkan bakat yang ada dalam diri anak kita. Dan berbagai konsep-konsep dasar pendidikan anak lainnya.• Ayo belajar!Semoga pemaparan singkat di atas bisa menggambarkan pada kita urgensi ilmu dalam mendidik anak. Sehingga diharapkan bisa mendorong kita untuk terus mengembangkan diri, meningkatkan pengetahuan kita, menghadiri majlis taklim, membaca buku-buku panduan pendidikan. Agar kita betul-betul menjadi orangtua yang sebenarnya, bukan sekedar orang yang lebih tua dari anaknya! KARAKTER PENDIDIK SUKSES bag-2[11]Di antara karakter yang harus dimiliki pendidik:2. IKHLASIkhlas merupakan ruh bagi setiap amalan. Amalan tanpa disuntik keikhlasan bagaikan jasad yang tak bernyawa. Termasuk jenis amalan yang harus dilandasi keikhlasan adalah mendidik anak. Apa maksudnya?Maksudnya adalah: Rawat dan didik anak dengan penuh ketulusan dan niat ikhlas semata-mata mengharapkan keridhaan Allah ta’ala.Ikhlas memiliki dampak kekuatan yang begitu dahsyat. Di antaranya:1. Dengan ketulusan, suatu aktivitas akan terasa ringan.Proses ‘membuat’ dan mendidik anak, mulai dari mengandung, melahirkan, menyusui, merawat, membimbing hingga mendidik, jelas membutuhkan waktu yang tidak sebentar dan energi ekstra. Jika Anda ingin seabreg pekerjaan itu terasa ringan, maka jalanilah dengan penuh ketulusan dan keikhlasan! Sebab seberat apapun pekerjaan, jika dilakukan dengan ikhlas insyaAllah akan terasa ringan, bahkan menyenangkan. Sebaliknya, seringan apapun pekerjaan, kalau dilakukan dengan keluh kesah pasti akan terasa seberat gunung dan menyebalkan.2. Dengan keikhlasan, ucapan kita akan berbobot.Sering kita mencermati dan merasakan bahwa di antara kata-kata kita, ada yang sangat membekas di dada anak-anak yang masih belia hingga mereka dewasa kelak. Sebaliknya, tak sedikit ucapan yang bahkan kita teriakkan keras-keras di telinganya, ternyata berlalu begitu saja bagai angin malam yang segera hilang kesejukannya begitu mentari pagi bersinar.Apa yang membedakan? Salah satunya adalah kekuatan yang menggerakkan kata-kata kita. Jika Engkau ucapkan kata-kata itu untuk sekedar meluapkan amarah, maka anak-anak itu akan mendengarnya sesaat dan sesudah itu hilang tanpa bekas. Namun jika Engkau ucapkan dengan sepenuh hati sambil mengharapkan turunnya hidayah untuk anak-anak yang Engkau lahirkan dengan susah payah itu, insya Allah akan menjadi perkataan yang berbobot.3. Dengan keikhlasan anak kita akan mudah diatur Manakala si anak merasakan ketulusan hati orangtuanya dalam setiap yang dikerjakan, ia akan menerima arahan dan nasehat yang disampaikan ayah dan bundanya, karena ia menangkap bahwa segala yang disampaikan padanya adalah semata demi kebaikan dirinya.4. Dengan keikhlasan kita akan memetik buah manis pahalaKeikhlasan bukan hanya memberikan dampak positif di dunia, namun juga akan membuahkan pahala yang amat manis di alam sana. Yang itu berujung kepada berkumpulnya orangtua dengan anak-anaknya di negeri keabadian; surga Allah yang penuh dengan keindahan dan kenikmatan.وَالَّذِينَ آَمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْArtinya: “Orang-orang yang beriman, beserta anak cucu mereka yang mengikuti mereka dalam keimanan, Kami akan pertemukan mereka dengan anak cucu mereka”. QS. Ath-Thur: 21.Dipertemukan di mana? Di surga Allah jalla wa ‘ala![12] KARAKTER PENDIDIK SUKSES bag-3*Di antara karakter yang harus dimiliki pendidik:3. KESALIHAN DIRIKita semua mempunyai keinginan dan cita-cita yang sama. Ingin agar keturunan kita menjadi anak yang salih dan salihah. Namun, terkadang kita lupa bahwa modal utama untuk mencapai cita-cita mulia tersebut ternyata adalah: kesalihan dan ketakwaan kita selaku orangtua. Alangkah lucunya, manakala kita berharap anak menjadi salih dan bertakwa, sedangkan kita sendiri berkubang dalam maksiat dan dosa!Kesalihan jiwa dan perilaku orangtua mempunyai andil yang sangat besar dalam membentuk kesalihan anak. Sebab ketika si anak membuka matanya di muka bumi ini, yang pertama kali ia lihat adalah ayah dan bundanya. Manakala ia melihat orangtuanya berhias akhlak mulia serta tekun beribadah, niscaya itulah yang akan terekam dengan kuat di benaknya. Dan insyaAllah itupun juga yang akan ia praktekkan dalam kesehariannya. Pepatah mengatakan: “Buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya”. Betapa banyak ketakwaan pada diri anak disebabkan ia mengikuti ketakwaan kedua orangtuanya atau salah seorang dari mereka. Ingat karakter dasar manusia, terutama anak kecil, yang suka meniru!Lihatlah bagaimana kesalihan nabiyullah Ibrahim ‘alaihissalam menular kepada diri kedua putranya; nabi Isma’il dan nabi Ishaq ‘alaihimassalam!• Beberapa contoh aplikasi nyataManakala kita menginginkan anak kita rajin untuk mendirikan shalat lima waktu, gamitlah tangannya dan berangkatlah ke masjid bersama. Bukan hanya dengan berteriak memerintahkan anak pergi ke masjid, sedangkan Anda asyik menonton televisi.Jika Anda berharap anak rajin membaca al-Qur’an, ramaikanlah rumah dengan lantunan ayat-ayat suci al-Qur’an yang keluar dari lisan ayah, ibu ataupun kaset dan radio. Jangan malah Anda menghabiskan hari-hari dengan membaca koran, diiringi lantunan langgam gendingan atau suara biduanita yang mendayu-dayu!Kalau Anda menginginkan anak jujur dalam bertutur kata, hindarilah berbohong sekecil apapun. Tanpa disadari, ternyata sebagai orang tua kita sering membohongi anak untuk menghindari keinginannya. Salah satu contoh pada saat kita terburu-buru pergi ke kantor di pagi hari, anak kita meminta ikut atau mengajak jalan-jalan mengelilingi perumahan. Apa yang kita lakukan? Apakah kita menjelaskannya dengan kalimat yang jujur? Atau kita lebih memilih berbohong dengan mengatakan, “Bapak hanya sebentar kok, hanya ke depan saja ya. Sebentaaar saja ya sayang…”. Tapi ternyata, kita malah pulang malam!Dalam contoh di atas, sejatinya kita telah berbohong kepada anak, dan itu akan ditiru olehnya.Terus apa yang sebaiknya kita lakukan? Berkatalah dengan jujur kepada anak. Ungkapkan dengan lembut dan penuh kasih serta pengertian, “Sayang, bapak mau pergi ke kantor. Kamu tidak bisa ikut. Tapi kalo bapak ke kebun binatang, insyaAllah kamu bisa ikut”.Kita tak perlu merasa khawatir dan menjadi terburu-buru dengan keadaan ini. Pastinya akan membutuhkan waktu lebih untuk memberi pengertian kepada anak karena biasanya mereka menangis. Anak menangis karena ia belum memahami keadaan mengapa orang tuanya harus selalu pergi di pagi hari. Kita perlu bersabar dan melakukan pengertian kepada mereka secara terus menerus. Perlahan anak akan memahami mengapa orangtuanya selalu pergi di pagi hari dan bila pergi bekerja, anak tidak bisa ikut.Anda ingin anak jujur? Mulailah dari diri Anda sendiri! KARAKTER PENDIDIK SUKSES bag-4*Di antara karakter yang harus dimiliki pendidik:4. BERTANGGUNG JAWABAnak merupakan salah satu karunia terbesar yang diberikan Allah kepada suatu rumah tangga. Sebuah keluarga tanpa anak, akan terasa amat sepi dan hambar. Kalau boleh diumpamakan, seperti masakan tanpa bumbu.Betapa banyak orang yang menanti kehadiran si jabang bayi selama puluhan tahun, ternyata Allah belum berkenan untuk mengaruniakan sang buah hati. Karena hikmah yang diinginkan-Nya, yang barangkali salah satunya adalah orang tersebut dinilai Allah belum siap untuk menjadi bapak atau ibu.“لِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ يَهَبُ لِمَنْ يَشَاءُ إِنَاثًا وَيَهَبُ لِمَنْ يَشَاءُ الذُّكُورَ . أَوْ يُزَوِّجُهُمْ ذُكْرَانًا وَإِنَاثًا وَيَجْعَلُ مَنْ يَشَاءُ عَقِيمًا إِنَّهُ عَلِيمٌ قَدِيرٌ”Artinya: “Milik Allah-lah kerajaan langit dan bumi. Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Memberikan anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki, dan memberikan anak laki-laki kepada siapa yang Dia kehendaki. Atau Dia menganugerahkan jenis laki-laki dan perempuan. Dan menjadikan mandul siapa yang Dia kehendaki. Dia Maha Mengetahui, Mahakuasa”. QS. Asy-Syura (42): 49-50.Jadi, manakala Allah telah mengaruniakan anak kepada kita, bisa jadi itu pertanda bahwa kita telah harus siap untuk menjadi orang tua. Seberapapun jumlah anak yang Allah karuniakan kepada kita, maka sebenarnya kita harus telah siap untuk menanganinya. Sebab Allah tidak mungkin membebani hamba-Nya melebihi kemampuan-Nya. (Baca: QS. Al-Baqarah: 286).Sebagai orang yang mendapatkan amanah, apalagi dari Allah ta’ala, maka kita harus menjalankan tugas tersebut dengan penuh rasa tanggung jawab.“أَلَا كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، … وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى أَهْلِ بَيْتِ زَوْجِهَا وَوَلَدِهِ وَهِيَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ، …”.“Ketahuilah, kalian semua adalah penanggungjawab dan seluruh kalian akan ditanya tentang tanggung jawabnya … Seorang lelaki penanggungjawab atas keluarganya dan ia akan ditanya tentang mereka. Seorang wanita penanggungjawab atas anak-anak suaminya dan ia akan ditanya tentang mereka …”. HR. Bukhari dan Muslim dari Ibnu Umar radhiyallahu’anhuma.Jadi manakala mendidik anak, kita harus senantiasa berusaha menghadirkan perasaan tanggung jawab terhadap amanah yang Allah berikan kepada kita. Bukan hanya tanggung jawab dalam memenuhi kebutuhan duniawi sang anak. Namun yang lebih penting dari itu adalah tanggung jawab dalam pendidikan agama dan perilaku kesehariannya.Rasa tanggung jawab ini, akan mendorong kita untuk mengerahkan segala daya dan upaya, serta apapun yang kita miliki demi kesuksesan pendidikan anak. Tanpa perasaan itu, semangat akan mengendur dan segala aktifitas dalam mendidik anak akan terasa menjadi sebuah beban yang amat berat! KARAKTER PENDIDIK SUKSES bag-5*Di antara karakter yang harus dimiliki pendidik:5. SABARSabar merupakan salah satu syarat mutlak bagi mereka yang ingin berhasil mengarungi kehidupan di dunia. Kehidupan yang tidak lepas dari susah dan senang, sedih dan bahagia, musibah dan nikmat, menangis dan tertawa, sakit dan sehat, lapar dan kenyang, rugi dan untung, miskin dan kaya, serta mati dan hidup.Di antara episode perjalanan hidup yang membutuhkan kesabaran ekstra adalah masa-masa mendidik anak. Sebab rentang waktunya tidak sebentar dan seringkali anak berperilaku yang tidak sesuai dengan harapan kita.• Contoh aplikasi kesabaran1. Sabar dalam membiasakan perilaku baik terhadap anakAnak bagaikan kertas yang masih putih, tergantung siapa yang menggoreskan lukisan di atasnya. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menggambarkan hal itu dalam sabdanya,“مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلَّا يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِه”“Setiap bayi lahir dalam keadaan fitrah. Orang tuanya lah yang akan menjadikan ia Yahudi, Nasrani atau Majusi”. HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu.Andaikan sejak kecil anak dibiasakan berperilaku baik, mulai dari taat beribadah hingga adab mulia dalam keseharian, insyaAllah hal itu akan sangat membekas dalam dirinya. Sebab mendidik di waktu kecil bagaikan mengukir di atas batu.Mengukir di atas batu membutuhkan kesabaran dan keuletan, namun jika ukiran tersebut telah jadi niscaya ia akan awet dan tahan lama.2. Sabar dalam menghadapi pertanyaan anakMenghadapi pertanyaan anak, apalagi yang baru saja mulai tumbuh dan menginginkan untuk mengetahui segala sesuatu yang ia lihat, memerlukan kesabaran yang tidak sedikit. Terkadang timbul rasa jengkel dengan pertanyaan anak yang tidak ada habis-habisnya, hingga kerap kita kehabisan kata-kata untuk menjawab pertanyaannya.Sesungguhnya kesediaan anak untuk bertanya kepada kita, ‘seburuk’ apa pun pertanyaan yang ia lontarkan, merupakan pertanda bahwa mereka memberikan kepercayaannya kepada kita untuk menjawab. Maka jalan terbaik adalah menghargai kepercayaannya dengan tidak mematikan kesediaannya untuk bertanya, serta memberikan jawaban yang mengena dan menghidupkan jiwa.3. Sabar menjadi pendengar yang baikBanyak orang tua adalah pendengar yang buruk bagi anak-anaknya. Bila ada suatu masalah yang terjadi pada anak, orangtua lebih suka menyela, langsung menasihati tanpa mau bertanya permasalahannya serta asal-usul kejadiannya.4. Sabar manakala emosi memuncakHendaknya kita tidak memberikan sanksi atau hukuman pada anak ketika emosi kita sedang memuncak. Pada saat emosi kita sedang tinggi, apa pun yang keluar dari mulut kita, cenderung untuk menyakiti dan menghakimi, tidak untuk menjadikan anak lebih baik.[1] Disadur oleh Abdullah Zaen, Lc, MA dari buku “Mencetak Generasi Rabbani” karya Ummu Ihsan Choiriyyah dan Abu Ihsan al-Atsary (hal. 1-4) dengan beberapa perubahan.[2] Disadur oleh Abdullah Zaen, Lc, MA dari buku “Mencetak Generasi Rabbani” karya Ummu Ihsan Choiriyyah dan Abu Ihsan al-Atsary (hal. 5-7) dengan beberapa perubahan.[3] Diringkas oleh Abdullah Zaen, Lc, MA dari buku “Mencetak Generasi Rabbani” karya Ummu Ihsan Choiriyyah dan Abu Ihsan al-Atsary (hal. 9-13) dengan beberapa perubahan.[4] Diringkas oleh Abdullah Zaen, Lc, MA dari buku “Mencetak Generasi Rabbani” karya Ummu Ihsan Choiriyyah dan Abu Ihsan al-Atsary (hal. 15-19) dengan beberapa perubahan.[5] Disarikan oleh Abdullah Zaen, Lc, MA dari buku “Mencetak Generasi Rabbani” karya Ummu Ihsan Choiriyyah dan Abu Ihsan al-Atsary (hal. 21-24) dengan banyak tambahan.[6] Disarikan oleh Abdullah Zaen, Lc, MA dari buku “Mencetak Generasi Rabbani” karya Ummu Ihsan Choiriyyah dan Abu Ihsan al-Atsary (hal. 25-27) dengan sedikit perubahan.[7] Diramu ulang oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari buku “Mencetak Generasi Rabbani” karya Ummu Ihsan Choiriyyah dan Abu Ihsan al-Atsary (hal. 29-32) dengan banyak tambahan.[8] Diringkas oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari buku “Mencetak Generasi Rabbani” karya Ummu Ihsan Choiriyyah dan Abu Ihsan al-Atsary (hal. 35-39).[9] Diringkas oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari buku “Mencetak Generasi Rabbani” karya Ummu Ihsan Choiriyyah dan Abu Ihsan al-Atsary (hal. 41-45).[10] Diringkas oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari buku “Mencetak Generasi Rabbani” karya Ummu Ihsan Choiriyyah dan Abu Ihsan al-Atsary (hal. 47) dan Jurus Jitu Mendidik Anak karya Abdullah Zaen.[11] Diringkas dari makalah Jurus Jitu Mendidik Anak karya Abdullah Zaen.[12] Sebagaimana dalam penafsiran Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma yang diriwayatkan Imam al-Baihaqy dalam Kitab al-I’tiqâd (hal. 183).* Diringkas dari makalah Jurus Jitu Mendidik Anak karya Abdullah Zaen.* Diringkas dari makalah “Mengatasi Kenakalan Orang Tua” karya Abdullah Zaen. Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 19: ANAK DAN RUKUN IMAN bag-1*Next Serial Fiqih Pendidikan Anak No 39: ANAK DAN ADAB BERBICARA* Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Comments are closed.Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Tanah Tandus Tanpa Pohon, tapi Banyak Buah

Kalau satu bukti kebesaran Allah Ta’ala adalah pada doa Nabi Ibrahim ‘alaihis salam ketika membawa Hajar dan Ismail ke tanah ka’bah Masjidil Haram di Mekkah. Daerah sekitar Ka’bah tidak ada tanaman dan tandus bahkan sampai sekarang sulit untuk ditanami tanaman. Meskipun tahu dan mengakui dalam doanya bahwa tanah Mekkah demikian, tetapi Nabi Ibrahim ‘alaihis salam tetap berdoa agar daerah tersebut diberi rezeki buah-buahan oleh Allah. Doa Nabi Ibrahim terkabulkan, saat ini buah-buahan di tanah Mekkah sangat banyak, berlimpah dan beraneka ragam, buah-buahan tersebut didatangkan dari berbagai daerah di dunia.Baca Juga: Agar Doa Lebih Cepat DikabulkanManusia yang terlalu pakai logika, tentu saat itu berpikir mustahil berdoa seperti itu, tidak ada tumbuhan tapi minta agar ada buah-buahan, akan tetapi tidak ada yang namanya mustahil dengan doa. Selama doa itu adalah kebaikan, Allah Maha Mampu mengabulkannya. Ini bukti bahwa manusia tidak bisa mengandalkan logika dan pikiran saja, karena logika manusia terbatas. Perlu bimbingan wahyu agar manusia bahagia hidup dunia-akhirat.Berikut doa Nabi Ibrahim tersebut. Beliau ‘alaihis salam berdoa,ﺭَﺑَّﻨَﺎ ﺇِﻧِّﻲ ﺃَﺳْﻜَﻨْﺖُ ﻣِﻦْ ﺫُﺭِّﻳَّﺘِﻲ ﺑِﻮَﺍﺩٍ ﻏَﻴْﺮِ ﺫِﻱ ﺯَﺭْﻉٍ ﻋِﻨْﺪَ ﺑَﻴْﺘِﻚَ ﺍﻟْﻤُﺤَﺮَّﻡِ ﺭَﺑَّﻨَﺎ ﻟِﻴُﻘِﻴﻤُﻮﺍ ﺍﻟﺼَّﻠَﺎﺓَ ﻓَﺎﺟْﻌَﻞْ ﺃَﻓْﺌِﺪَﺓً ﻣِﻦَ ﺍﻟﻨَّﺎﺱِ ﺗَﻬْﻮِﻱ ﺇِﻟَﻴْﻬِﻢْ ﻭَﺍﺭْﺯُﻗْﻬُﻢْ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺜَّﻤَﺮَﺍﺕِ ﻟَﻌَﻠَّﻬُﻢْ ﻳَﺸْﻜُﺮُﻭﻥَ“ Ya Rabb kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang TIDAK MEMPUNYAI TANAM-TANAMAN di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Rabb kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari BUAH-BUAHAN, mudah-mudahan mereka bersyukur” (QS. Ibrahim: 37).Syaikh Abdurrahman As-Sa’diy menjelaskan bahwa tanah Mekkah memang tidak bisa digunakan untuk menanam, beliau berkata:أي: لأن أرض مكة لا تصلح للزراعة“Yaitu tanah Mekkah yang tidak cocok/layak untuk menanam tumbuhan” [Tafsir As-Sa’diy]Ibnu Katsir menjelaskan ini adalah bentuk terkabulnya doa Nabi Ibrahim, beliau berkata:وهذا من لطفه تعالى وكرمه ورحمته وبركته أنه ليس في البلد الحرام مكة شجرة مثمرة ، وهي تجبى إليها ثمرات ما حولها ، استجابة لخليله إبراهيم – عليه الصلاة والسلام –“Ini adalah bentuk kelembutan, kedermawanan, kasih sayang dan keberkahan Allah, bahwa di tanah haram Mekkah tidak ada pohon berbuah, akan tetapi didatangkan buah-buahan dari sekitarnya, untuk mengabulkan doa kekasih-Nya Nabi Ibrahim ‘alaihissalam.” [Tafsir Ibnu Katsir]Baca Juga: Mengapa Doaku Belum Dikabulkan?Syaikh Abdurraham As-Sa’diy menjelaskan bahwa buah-buahan yang ada saat ini, bukan hanya sedikit, tetapi berlimpah ruah dan beraneka ragam. Beliau berkata,فأجاب الله دعاءه، فصار يجبي إليه ثمرات كل شيء، فإنك ترى مكة المشرفة كل وقت والثمار فيها متوفرة“Allah mengabulkan doa nabi Ibrahim dan didatangkan buah berbagai jenis. Engkau lihat sekarang di Mekkah semua macam buah-buahan yang banyak berlimpah ruah.” [Tafsir As-Sa’diy]Satu pelajaran dari doa Nabi Ibrahim adalah agar kita yakin dengan doa kita dan jangan menganggap tidak mungkin atau sulit dikabulkan, karena Allah Maha Mampu Mengabulkan doa.Hendaknya kita yakin dengan doa kita dan optimis. Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ﻻ ﻳﻘﻞ ﺃﺣﺪﻛﻢ : “ﺍﻟﻠﻬﻢ ﺍﻏﻔﺮ ﻟﻲ ﺇﻥ ﺷﺌﺖ، ﺍﻟﻠﻬﻢ ﺍﺭﺣﻤﻨﻲ ﺇﻥ ﺷﺌﺖ“ﻟﻴﻌﺰﻡ ﺍﻟﻤﺴﺄﻟﺔ ﻓﺈﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﻻ ﻣﻜﺮﻩ ﻟﻪ “JANGANLAH seseorang di antara kalian yang berdo’a dengan ucapan : ‘Ya Allah, ampunilah aku jika Engkau menghendaki’, atau berdo’a :’Ya Allah, rahmatilah aku jika Engkau menghendaki’, tetapi hendaklah meminta dengan MANTAP karena sesungguhnya Allah tidak ada sesuatupun yang memaksa-Nya untuk berbuat sesuatu” (HR. Bukhari & Muslim)Baca Juga: Lebih Baik Tidak Minta Didoakan ketika Memberi SedekahDalam riwayat lainnya:ﻭﻟﻴﻌﻈﻢ ﺍﻟﺮﻏﺒﺔ ﻓﺈﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﻻ ﻳﺘﻌﺎﻇﻤﻪ ﺷﻲﺀ ﺃﻋﻄﺎﻩ“Dan hendaklah ia memiliki keinginan yang besar, karena sesungguhnya Allah tidak terasa berat bagi-Nya sesuatu yang Diaa berikan”.Doa kita pasti dikabulkan oleh Allah. Allah Ta’ala berfirman,وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ“Dan Rabbmu berfirman:“Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu.Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina.” (Al Mukmin: 60).Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إن الله ليستحي أن يرد يدي عبده صفرا إذا رفعهما إليه“Sungguh Allah malu untuk mengembalikan tangan yang dipanjatkan kepadanya dalam kondisi kosong”. (HR. Abu Daud dan Tirmidzi dan beliau hasankan)Baca Juga: Lebih Baik Tidak Minta Didoakan ketika Memberi Sedekah Inilah Manfaatnya Doa Untuk Pemimpin Demikian semoga bermanfaat@ Madinah, Kota Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallamPenyusun: Raehanul BahraenArtikel www.muslim.or.id🔍 Doa Iftitah Rumaysho, Nasehat Rasulullah Tentang Cinta, Ayat Pemanggil Jin, Hari Kebangkitan Manusia Dari Alam Kubur, Pahala Haji Mabrur

Tanah Tandus Tanpa Pohon, tapi Banyak Buah

Kalau satu bukti kebesaran Allah Ta’ala adalah pada doa Nabi Ibrahim ‘alaihis salam ketika membawa Hajar dan Ismail ke tanah ka’bah Masjidil Haram di Mekkah. Daerah sekitar Ka’bah tidak ada tanaman dan tandus bahkan sampai sekarang sulit untuk ditanami tanaman. Meskipun tahu dan mengakui dalam doanya bahwa tanah Mekkah demikian, tetapi Nabi Ibrahim ‘alaihis salam tetap berdoa agar daerah tersebut diberi rezeki buah-buahan oleh Allah. Doa Nabi Ibrahim terkabulkan, saat ini buah-buahan di tanah Mekkah sangat banyak, berlimpah dan beraneka ragam, buah-buahan tersebut didatangkan dari berbagai daerah di dunia.Baca Juga: Agar Doa Lebih Cepat DikabulkanManusia yang terlalu pakai logika, tentu saat itu berpikir mustahil berdoa seperti itu, tidak ada tumbuhan tapi minta agar ada buah-buahan, akan tetapi tidak ada yang namanya mustahil dengan doa. Selama doa itu adalah kebaikan, Allah Maha Mampu mengabulkannya. Ini bukti bahwa manusia tidak bisa mengandalkan logika dan pikiran saja, karena logika manusia terbatas. Perlu bimbingan wahyu agar manusia bahagia hidup dunia-akhirat.Berikut doa Nabi Ibrahim tersebut. Beliau ‘alaihis salam berdoa,ﺭَﺑَّﻨَﺎ ﺇِﻧِّﻲ ﺃَﺳْﻜَﻨْﺖُ ﻣِﻦْ ﺫُﺭِّﻳَّﺘِﻲ ﺑِﻮَﺍﺩٍ ﻏَﻴْﺮِ ﺫِﻱ ﺯَﺭْﻉٍ ﻋِﻨْﺪَ ﺑَﻴْﺘِﻚَ ﺍﻟْﻤُﺤَﺮَّﻡِ ﺭَﺑَّﻨَﺎ ﻟِﻴُﻘِﻴﻤُﻮﺍ ﺍﻟﺼَّﻠَﺎﺓَ ﻓَﺎﺟْﻌَﻞْ ﺃَﻓْﺌِﺪَﺓً ﻣِﻦَ ﺍﻟﻨَّﺎﺱِ ﺗَﻬْﻮِﻱ ﺇِﻟَﻴْﻬِﻢْ ﻭَﺍﺭْﺯُﻗْﻬُﻢْ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺜَّﻤَﺮَﺍﺕِ ﻟَﻌَﻠَّﻬُﻢْ ﻳَﺸْﻜُﺮُﻭﻥَ“ Ya Rabb kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang TIDAK MEMPUNYAI TANAM-TANAMAN di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Rabb kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari BUAH-BUAHAN, mudah-mudahan mereka bersyukur” (QS. Ibrahim: 37).Syaikh Abdurrahman As-Sa’diy menjelaskan bahwa tanah Mekkah memang tidak bisa digunakan untuk menanam, beliau berkata:أي: لأن أرض مكة لا تصلح للزراعة“Yaitu tanah Mekkah yang tidak cocok/layak untuk menanam tumbuhan” [Tafsir As-Sa’diy]Ibnu Katsir menjelaskan ini adalah bentuk terkabulnya doa Nabi Ibrahim, beliau berkata:وهذا من لطفه تعالى وكرمه ورحمته وبركته أنه ليس في البلد الحرام مكة شجرة مثمرة ، وهي تجبى إليها ثمرات ما حولها ، استجابة لخليله إبراهيم – عليه الصلاة والسلام –“Ini adalah bentuk kelembutan, kedermawanan, kasih sayang dan keberkahan Allah, bahwa di tanah haram Mekkah tidak ada pohon berbuah, akan tetapi didatangkan buah-buahan dari sekitarnya, untuk mengabulkan doa kekasih-Nya Nabi Ibrahim ‘alaihissalam.” [Tafsir Ibnu Katsir]Baca Juga: Mengapa Doaku Belum Dikabulkan?Syaikh Abdurraham As-Sa’diy menjelaskan bahwa buah-buahan yang ada saat ini, bukan hanya sedikit, tetapi berlimpah ruah dan beraneka ragam. Beliau berkata,فأجاب الله دعاءه، فصار يجبي إليه ثمرات كل شيء، فإنك ترى مكة المشرفة كل وقت والثمار فيها متوفرة“Allah mengabulkan doa nabi Ibrahim dan didatangkan buah berbagai jenis. Engkau lihat sekarang di Mekkah semua macam buah-buahan yang banyak berlimpah ruah.” [Tafsir As-Sa’diy]Satu pelajaran dari doa Nabi Ibrahim adalah agar kita yakin dengan doa kita dan jangan menganggap tidak mungkin atau sulit dikabulkan, karena Allah Maha Mampu Mengabulkan doa.Hendaknya kita yakin dengan doa kita dan optimis. Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ﻻ ﻳﻘﻞ ﺃﺣﺪﻛﻢ : “ﺍﻟﻠﻬﻢ ﺍﻏﻔﺮ ﻟﻲ ﺇﻥ ﺷﺌﺖ، ﺍﻟﻠﻬﻢ ﺍﺭﺣﻤﻨﻲ ﺇﻥ ﺷﺌﺖ“ﻟﻴﻌﺰﻡ ﺍﻟﻤﺴﺄﻟﺔ ﻓﺈﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﻻ ﻣﻜﺮﻩ ﻟﻪ “JANGANLAH seseorang di antara kalian yang berdo’a dengan ucapan : ‘Ya Allah, ampunilah aku jika Engkau menghendaki’, atau berdo’a :’Ya Allah, rahmatilah aku jika Engkau menghendaki’, tetapi hendaklah meminta dengan MANTAP karena sesungguhnya Allah tidak ada sesuatupun yang memaksa-Nya untuk berbuat sesuatu” (HR. Bukhari & Muslim)Baca Juga: Lebih Baik Tidak Minta Didoakan ketika Memberi SedekahDalam riwayat lainnya:ﻭﻟﻴﻌﻈﻢ ﺍﻟﺮﻏﺒﺔ ﻓﺈﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﻻ ﻳﺘﻌﺎﻇﻤﻪ ﺷﻲﺀ ﺃﻋﻄﺎﻩ“Dan hendaklah ia memiliki keinginan yang besar, karena sesungguhnya Allah tidak terasa berat bagi-Nya sesuatu yang Diaa berikan”.Doa kita pasti dikabulkan oleh Allah. Allah Ta’ala berfirman,وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ“Dan Rabbmu berfirman:“Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu.Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina.” (Al Mukmin: 60).Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إن الله ليستحي أن يرد يدي عبده صفرا إذا رفعهما إليه“Sungguh Allah malu untuk mengembalikan tangan yang dipanjatkan kepadanya dalam kondisi kosong”. (HR. Abu Daud dan Tirmidzi dan beliau hasankan)Baca Juga: Lebih Baik Tidak Minta Didoakan ketika Memberi Sedekah Inilah Manfaatnya Doa Untuk Pemimpin Demikian semoga bermanfaat@ Madinah, Kota Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallamPenyusun: Raehanul BahraenArtikel www.muslim.or.id🔍 Doa Iftitah Rumaysho, Nasehat Rasulullah Tentang Cinta, Ayat Pemanggil Jin, Hari Kebangkitan Manusia Dari Alam Kubur, Pahala Haji Mabrur
Kalau satu bukti kebesaran Allah Ta’ala adalah pada doa Nabi Ibrahim ‘alaihis salam ketika membawa Hajar dan Ismail ke tanah ka’bah Masjidil Haram di Mekkah. Daerah sekitar Ka’bah tidak ada tanaman dan tandus bahkan sampai sekarang sulit untuk ditanami tanaman. Meskipun tahu dan mengakui dalam doanya bahwa tanah Mekkah demikian, tetapi Nabi Ibrahim ‘alaihis salam tetap berdoa agar daerah tersebut diberi rezeki buah-buahan oleh Allah. Doa Nabi Ibrahim terkabulkan, saat ini buah-buahan di tanah Mekkah sangat banyak, berlimpah dan beraneka ragam, buah-buahan tersebut didatangkan dari berbagai daerah di dunia.Baca Juga: Agar Doa Lebih Cepat DikabulkanManusia yang terlalu pakai logika, tentu saat itu berpikir mustahil berdoa seperti itu, tidak ada tumbuhan tapi minta agar ada buah-buahan, akan tetapi tidak ada yang namanya mustahil dengan doa. Selama doa itu adalah kebaikan, Allah Maha Mampu mengabulkannya. Ini bukti bahwa manusia tidak bisa mengandalkan logika dan pikiran saja, karena logika manusia terbatas. Perlu bimbingan wahyu agar manusia bahagia hidup dunia-akhirat.Berikut doa Nabi Ibrahim tersebut. Beliau ‘alaihis salam berdoa,ﺭَﺑَّﻨَﺎ ﺇِﻧِّﻲ ﺃَﺳْﻜَﻨْﺖُ ﻣِﻦْ ﺫُﺭِّﻳَّﺘِﻲ ﺑِﻮَﺍﺩٍ ﻏَﻴْﺮِ ﺫِﻱ ﺯَﺭْﻉٍ ﻋِﻨْﺪَ ﺑَﻴْﺘِﻚَ ﺍﻟْﻤُﺤَﺮَّﻡِ ﺭَﺑَّﻨَﺎ ﻟِﻴُﻘِﻴﻤُﻮﺍ ﺍﻟﺼَّﻠَﺎﺓَ ﻓَﺎﺟْﻌَﻞْ ﺃَﻓْﺌِﺪَﺓً ﻣِﻦَ ﺍﻟﻨَّﺎﺱِ ﺗَﻬْﻮِﻱ ﺇِﻟَﻴْﻬِﻢْ ﻭَﺍﺭْﺯُﻗْﻬُﻢْ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺜَّﻤَﺮَﺍﺕِ ﻟَﻌَﻠَّﻬُﻢْ ﻳَﺸْﻜُﺮُﻭﻥَ“ Ya Rabb kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang TIDAK MEMPUNYAI TANAM-TANAMAN di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Rabb kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari BUAH-BUAHAN, mudah-mudahan mereka bersyukur” (QS. Ibrahim: 37).Syaikh Abdurrahman As-Sa’diy menjelaskan bahwa tanah Mekkah memang tidak bisa digunakan untuk menanam, beliau berkata:أي: لأن أرض مكة لا تصلح للزراعة“Yaitu tanah Mekkah yang tidak cocok/layak untuk menanam tumbuhan” [Tafsir As-Sa’diy]Ibnu Katsir menjelaskan ini adalah bentuk terkabulnya doa Nabi Ibrahim, beliau berkata:وهذا من لطفه تعالى وكرمه ورحمته وبركته أنه ليس في البلد الحرام مكة شجرة مثمرة ، وهي تجبى إليها ثمرات ما حولها ، استجابة لخليله إبراهيم – عليه الصلاة والسلام –“Ini adalah bentuk kelembutan, kedermawanan, kasih sayang dan keberkahan Allah, bahwa di tanah haram Mekkah tidak ada pohon berbuah, akan tetapi didatangkan buah-buahan dari sekitarnya, untuk mengabulkan doa kekasih-Nya Nabi Ibrahim ‘alaihissalam.” [Tafsir Ibnu Katsir]Baca Juga: Mengapa Doaku Belum Dikabulkan?Syaikh Abdurraham As-Sa’diy menjelaskan bahwa buah-buahan yang ada saat ini, bukan hanya sedikit, tetapi berlimpah ruah dan beraneka ragam. Beliau berkata,فأجاب الله دعاءه، فصار يجبي إليه ثمرات كل شيء، فإنك ترى مكة المشرفة كل وقت والثمار فيها متوفرة“Allah mengabulkan doa nabi Ibrahim dan didatangkan buah berbagai jenis. Engkau lihat sekarang di Mekkah semua macam buah-buahan yang banyak berlimpah ruah.” [Tafsir As-Sa’diy]Satu pelajaran dari doa Nabi Ibrahim adalah agar kita yakin dengan doa kita dan jangan menganggap tidak mungkin atau sulit dikabulkan, karena Allah Maha Mampu Mengabulkan doa.Hendaknya kita yakin dengan doa kita dan optimis. Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ﻻ ﻳﻘﻞ ﺃﺣﺪﻛﻢ : “ﺍﻟﻠﻬﻢ ﺍﻏﻔﺮ ﻟﻲ ﺇﻥ ﺷﺌﺖ، ﺍﻟﻠﻬﻢ ﺍﺭﺣﻤﻨﻲ ﺇﻥ ﺷﺌﺖ“ﻟﻴﻌﺰﻡ ﺍﻟﻤﺴﺄﻟﺔ ﻓﺈﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﻻ ﻣﻜﺮﻩ ﻟﻪ “JANGANLAH seseorang di antara kalian yang berdo’a dengan ucapan : ‘Ya Allah, ampunilah aku jika Engkau menghendaki’, atau berdo’a :’Ya Allah, rahmatilah aku jika Engkau menghendaki’, tetapi hendaklah meminta dengan MANTAP karena sesungguhnya Allah tidak ada sesuatupun yang memaksa-Nya untuk berbuat sesuatu” (HR. Bukhari & Muslim)Baca Juga: Lebih Baik Tidak Minta Didoakan ketika Memberi SedekahDalam riwayat lainnya:ﻭﻟﻴﻌﻈﻢ ﺍﻟﺮﻏﺒﺔ ﻓﺈﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﻻ ﻳﺘﻌﺎﻇﻤﻪ ﺷﻲﺀ ﺃﻋﻄﺎﻩ“Dan hendaklah ia memiliki keinginan yang besar, karena sesungguhnya Allah tidak terasa berat bagi-Nya sesuatu yang Diaa berikan”.Doa kita pasti dikabulkan oleh Allah. Allah Ta’ala berfirman,وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ“Dan Rabbmu berfirman:“Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu.Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina.” (Al Mukmin: 60).Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إن الله ليستحي أن يرد يدي عبده صفرا إذا رفعهما إليه“Sungguh Allah malu untuk mengembalikan tangan yang dipanjatkan kepadanya dalam kondisi kosong”. (HR. Abu Daud dan Tirmidzi dan beliau hasankan)Baca Juga: Lebih Baik Tidak Minta Didoakan ketika Memberi Sedekah Inilah Manfaatnya Doa Untuk Pemimpin Demikian semoga bermanfaat@ Madinah, Kota Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallamPenyusun: Raehanul BahraenArtikel www.muslim.or.id🔍 Doa Iftitah Rumaysho, Nasehat Rasulullah Tentang Cinta, Ayat Pemanggil Jin, Hari Kebangkitan Manusia Dari Alam Kubur, Pahala Haji Mabrur


Kalau satu bukti kebesaran Allah Ta’ala adalah pada doa Nabi Ibrahim ‘alaihis salam ketika membawa Hajar dan Ismail ke tanah ka’bah Masjidil Haram di Mekkah. Daerah sekitar Ka’bah tidak ada tanaman dan tandus bahkan sampai sekarang sulit untuk ditanami tanaman. Meskipun tahu dan mengakui dalam doanya bahwa tanah Mekkah demikian, tetapi Nabi Ibrahim ‘alaihis salam tetap berdoa agar daerah tersebut diberi rezeki buah-buahan oleh Allah. Doa Nabi Ibrahim terkabulkan, saat ini buah-buahan di tanah Mekkah sangat banyak, berlimpah dan beraneka ragam, buah-buahan tersebut didatangkan dari berbagai daerah di dunia.Baca Juga: Agar Doa Lebih Cepat DikabulkanManusia yang terlalu pakai logika, tentu saat itu berpikir mustahil berdoa seperti itu, tidak ada tumbuhan tapi minta agar ada buah-buahan, akan tetapi tidak ada yang namanya mustahil dengan doa. Selama doa itu adalah kebaikan, Allah Maha Mampu mengabulkannya. Ini bukti bahwa manusia tidak bisa mengandalkan logika dan pikiran saja, karena logika manusia terbatas. Perlu bimbingan wahyu agar manusia bahagia hidup dunia-akhirat.Berikut doa Nabi Ibrahim tersebut. Beliau ‘alaihis salam berdoa,ﺭَﺑَّﻨَﺎ ﺇِﻧِّﻲ ﺃَﺳْﻜَﻨْﺖُ ﻣِﻦْ ﺫُﺭِّﻳَّﺘِﻲ ﺑِﻮَﺍﺩٍ ﻏَﻴْﺮِ ﺫِﻱ ﺯَﺭْﻉٍ ﻋِﻨْﺪَ ﺑَﻴْﺘِﻚَ ﺍﻟْﻤُﺤَﺮَّﻡِ ﺭَﺑَّﻨَﺎ ﻟِﻴُﻘِﻴﻤُﻮﺍ ﺍﻟﺼَّﻠَﺎﺓَ ﻓَﺎﺟْﻌَﻞْ ﺃَﻓْﺌِﺪَﺓً ﻣِﻦَ ﺍﻟﻨَّﺎﺱِ ﺗَﻬْﻮِﻱ ﺇِﻟَﻴْﻬِﻢْ ﻭَﺍﺭْﺯُﻗْﻬُﻢْ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺜَّﻤَﺮَﺍﺕِ ﻟَﻌَﻠَّﻬُﻢْ ﻳَﺸْﻜُﺮُﻭﻥَ“ Ya Rabb kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang TIDAK MEMPUNYAI TANAM-TANAMAN di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Rabb kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari BUAH-BUAHAN, mudah-mudahan mereka bersyukur” (QS. Ibrahim: 37).Syaikh Abdurrahman As-Sa’diy menjelaskan bahwa tanah Mekkah memang tidak bisa digunakan untuk menanam, beliau berkata:أي: لأن أرض مكة لا تصلح للزراعة“Yaitu tanah Mekkah yang tidak cocok/layak untuk menanam tumbuhan” [Tafsir As-Sa’diy]Ibnu Katsir menjelaskan ini adalah bentuk terkabulnya doa Nabi Ibrahim, beliau berkata:وهذا من لطفه تعالى وكرمه ورحمته وبركته أنه ليس في البلد الحرام مكة شجرة مثمرة ، وهي تجبى إليها ثمرات ما حولها ، استجابة لخليله إبراهيم – عليه الصلاة والسلام –“Ini adalah bentuk kelembutan, kedermawanan, kasih sayang dan keberkahan Allah, bahwa di tanah haram Mekkah tidak ada pohon berbuah, akan tetapi didatangkan buah-buahan dari sekitarnya, untuk mengabulkan doa kekasih-Nya Nabi Ibrahim ‘alaihissalam.” [Tafsir Ibnu Katsir]Baca Juga: Mengapa Doaku Belum Dikabulkan?Syaikh Abdurraham As-Sa’diy menjelaskan bahwa buah-buahan yang ada saat ini, bukan hanya sedikit, tetapi berlimpah ruah dan beraneka ragam. Beliau berkata,فأجاب الله دعاءه، فصار يجبي إليه ثمرات كل شيء، فإنك ترى مكة المشرفة كل وقت والثمار فيها متوفرة“Allah mengabulkan doa nabi Ibrahim dan didatangkan buah berbagai jenis. Engkau lihat sekarang di Mekkah semua macam buah-buahan yang banyak berlimpah ruah.” [Tafsir As-Sa’diy]Satu pelajaran dari doa Nabi Ibrahim adalah agar kita yakin dengan doa kita dan jangan menganggap tidak mungkin atau sulit dikabulkan, karena Allah Maha Mampu Mengabulkan doa.Hendaknya kita yakin dengan doa kita dan optimis. Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ﻻ ﻳﻘﻞ ﺃﺣﺪﻛﻢ : “ﺍﻟﻠﻬﻢ ﺍﻏﻔﺮ ﻟﻲ ﺇﻥ ﺷﺌﺖ، ﺍﻟﻠﻬﻢ ﺍﺭﺣﻤﻨﻲ ﺇﻥ ﺷﺌﺖ“ﻟﻴﻌﺰﻡ ﺍﻟﻤﺴﺄﻟﺔ ﻓﺈﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﻻ ﻣﻜﺮﻩ ﻟﻪ “JANGANLAH seseorang di antara kalian yang berdo’a dengan ucapan : ‘Ya Allah, ampunilah aku jika Engkau menghendaki’, atau berdo’a :’Ya Allah, rahmatilah aku jika Engkau menghendaki’, tetapi hendaklah meminta dengan MANTAP karena sesungguhnya Allah tidak ada sesuatupun yang memaksa-Nya untuk berbuat sesuatu” (HR. Bukhari & Muslim)Baca Juga: Lebih Baik Tidak Minta Didoakan ketika Memberi SedekahDalam riwayat lainnya:ﻭﻟﻴﻌﻈﻢ ﺍﻟﺮﻏﺒﺔ ﻓﺈﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﻻ ﻳﺘﻌﺎﻇﻤﻪ ﺷﻲﺀ ﺃﻋﻄﺎﻩ“Dan hendaklah ia memiliki keinginan yang besar, karena sesungguhnya Allah tidak terasa berat bagi-Nya sesuatu yang Diaa berikan”.Doa kita pasti dikabulkan oleh Allah. Allah Ta’ala berfirman,وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ“Dan Rabbmu berfirman:“Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu.Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina.” (Al Mukmin: 60).Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إن الله ليستحي أن يرد يدي عبده صفرا إذا رفعهما إليه“Sungguh Allah malu untuk mengembalikan tangan yang dipanjatkan kepadanya dalam kondisi kosong”. (HR. Abu Daud dan Tirmidzi dan beliau hasankan)Baca Juga: Lebih Baik Tidak Minta Didoakan ketika Memberi Sedekah Inilah Manfaatnya Doa Untuk Pemimpin Demikian semoga bermanfaat@ Madinah, Kota Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallamPenyusun: Raehanul BahraenArtikel www.muslim.or.id🔍 Doa Iftitah Rumaysho, Nasehat Rasulullah Tentang Cinta, Ayat Pemanggil Jin, Hari Kebangkitan Manusia Dari Alam Kubur, Pahala Haji Mabrur

Modal Dasar Berdoa pada Allah (8)

Baca pembahasan sebelumnya Modal Dasar Berdoa pada Allah (7)Inilah empat perkara yang dibutuhkan seorang manusia!Terdapat sebuah kaidah yang ulama mengingatkan kita dengannya, bahwa setiap makhluk hidup pastilah butuh untuk mendapatkan manfaat dan terhindar dari mudarat (kerugian, kerusakan dan bahaya).Padahal untuk bisa mendapatkan manfaat dan menghindari mudarat, tentulah seorang hamba membutuhkan sarana yang digunakan untuk bisa meraih keduanya.Oleh karena itulah, hakikatnya manusia membutuhkan empat perkara berikut ini, yaitu:Pertama, sesuatu yang dicintai, disukai, dicari, dituju, dan diinginkan keberadaannya.Kedua, sesuatu yang tidak dicintai, tak disukai lagi dibenci dan tidak diinginkan keberadaannya.Ketiga, sarana untuk mendapatkan sesuatu yang dicintai.Keempat, sarana untuk menghindari sesuatu yang tidak dicintai.Keempat hal ini adalah kebutuhan yang mendasar bagi manusia, bahkan bagi setiap makhluk hidup. Tidak mungkin ia hidup dan menjadi baik kecuali dengan empat perkara tersebut!Yang Maha Mampu memenuhi keempat perkara itu semuanya hanyalah Allah Ta’ala semata!Ketahuilah, bahwa Allah Ta’ala satu-satunya Dzat yang dicintai, dituju, dan disembah dengan hak, tiada sekutu bagi-Nya.Dan hakekatnya Allah Ta’ala pula satu-satunya Sang Penolong agar hamba mendapatkan sesuatu yang dicintai tersebut.Inilah hakikatnya makna yang tersirat dalam bacaan seorang hamba dalam salatnya:إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ“Hanya kepada Engkaulah kami menyembah, dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan.”Karena sesungguhnya ibadatullah dalam ayat di atas mengandung tujuan yang dicari dalam bentuk paling sempurna, dan isti’anah billah wahdah mengandung sarana untuk mendapatkan tujuan yang dicari tersebut.Atau dengan kata lain, bahwa hakikatnya Allah Ta’ala satu-satunya Dzat yang dicintai, dituju dan disembah dengan hak, tiada sekutu bagi-Nya dan Allah Ta’ala pula satu-satunya Sang Penolong untuk mendapatkan sesuatu yang dicintai tersebut!Dua perkara yang agung dan mendasar ini terdapat dalam tujuh ayat dalam Al-Qur`an Al-Karim, yaitu:Dalam surat Al-Fatihah,إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ“Hanya kepada Engkaulah kami menyembah, dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan.”عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ“Hanya kepada Allah aku bertawakal dan hanya kepada-Nya-lah aku kembali.” (QS. Huud: 88).فَاعْبُدْهُ وَتَوَكَّلْ عَلَيْهِ“Maka sembahlah Dia, dan bertawakallah kepada-Nya.(QS. Huud: 123).رَبَّنَا عَلَيْكَ تَوَكَّلْنَا وَإِلَيْكَ أَنَبْنَا“Ya Tuhan kami, hanya kepada Engkaulah kami bertawakal dan hanya kepada Engkaulah kami bertaubat.” (Q.S. Al-Mumtahanah: 4).وَتَوَكَّلْ عَلَى الْحَيِّ الَّذِي لَا يَمُوتُ وَسَبِّحْ بِحَمْدِهِ“Dan bertawakallah kepada Allah yang hidup (kekal) Yang tidak mati dan bertasbihlah dengan memuji-Nya.” (QS. Al-Furqaan: 58).عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ مَتَابِ“Hanya kepada-Nya aku bertawakal dan hanya kepada-Nya aku bertaubat.” (QS. Ar-Ra’du: 30).لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ فَاتَّخِذْهُ وَكِيلًا“Tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, maka ambillah Dia sebagai pelindung.” (QS. Al-Muzzammil: 9).[bersambung]Daftar link artikel ini: Modal Dasar Berdoa pada Allah (1) Modal Dasar Berdoa pada Allah (2) Modal Dasar Berdoa pada Allah (3) Modal Dasar Berdoa pada Allah (4) Modal Dasar Berdoa pada Allah (5) Modal Dasar Berdoa pada Allah (6) Modal Dasar Berdoa pada Allah (7) Modal Dasar Berdoa pada Allah (8) Penulis: Sa’id Abu Ukkasyah Artikel: Muslim.or.id🔍 Panduan Umroh, Peran Wanita Dalam Keluarga Menurut Islam, Mendoakan Orang Meninggal Beda Agama, Audzubillah Himinasyaitonirrajim Arab, Ayat Al Quran Tentang Ilmu

Modal Dasar Berdoa pada Allah (8)

Baca pembahasan sebelumnya Modal Dasar Berdoa pada Allah (7)Inilah empat perkara yang dibutuhkan seorang manusia!Terdapat sebuah kaidah yang ulama mengingatkan kita dengannya, bahwa setiap makhluk hidup pastilah butuh untuk mendapatkan manfaat dan terhindar dari mudarat (kerugian, kerusakan dan bahaya).Padahal untuk bisa mendapatkan manfaat dan menghindari mudarat, tentulah seorang hamba membutuhkan sarana yang digunakan untuk bisa meraih keduanya.Oleh karena itulah, hakikatnya manusia membutuhkan empat perkara berikut ini, yaitu:Pertama, sesuatu yang dicintai, disukai, dicari, dituju, dan diinginkan keberadaannya.Kedua, sesuatu yang tidak dicintai, tak disukai lagi dibenci dan tidak diinginkan keberadaannya.Ketiga, sarana untuk mendapatkan sesuatu yang dicintai.Keempat, sarana untuk menghindari sesuatu yang tidak dicintai.Keempat hal ini adalah kebutuhan yang mendasar bagi manusia, bahkan bagi setiap makhluk hidup. Tidak mungkin ia hidup dan menjadi baik kecuali dengan empat perkara tersebut!Yang Maha Mampu memenuhi keempat perkara itu semuanya hanyalah Allah Ta’ala semata!Ketahuilah, bahwa Allah Ta’ala satu-satunya Dzat yang dicintai, dituju, dan disembah dengan hak, tiada sekutu bagi-Nya.Dan hakekatnya Allah Ta’ala pula satu-satunya Sang Penolong agar hamba mendapatkan sesuatu yang dicintai tersebut.Inilah hakikatnya makna yang tersirat dalam bacaan seorang hamba dalam salatnya:إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ“Hanya kepada Engkaulah kami menyembah, dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan.”Karena sesungguhnya ibadatullah dalam ayat di atas mengandung tujuan yang dicari dalam bentuk paling sempurna, dan isti’anah billah wahdah mengandung sarana untuk mendapatkan tujuan yang dicari tersebut.Atau dengan kata lain, bahwa hakikatnya Allah Ta’ala satu-satunya Dzat yang dicintai, dituju dan disembah dengan hak, tiada sekutu bagi-Nya dan Allah Ta’ala pula satu-satunya Sang Penolong untuk mendapatkan sesuatu yang dicintai tersebut!Dua perkara yang agung dan mendasar ini terdapat dalam tujuh ayat dalam Al-Qur`an Al-Karim, yaitu:Dalam surat Al-Fatihah,إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ“Hanya kepada Engkaulah kami menyembah, dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan.”عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ“Hanya kepada Allah aku bertawakal dan hanya kepada-Nya-lah aku kembali.” (QS. Huud: 88).فَاعْبُدْهُ وَتَوَكَّلْ عَلَيْهِ“Maka sembahlah Dia, dan bertawakallah kepada-Nya.(QS. Huud: 123).رَبَّنَا عَلَيْكَ تَوَكَّلْنَا وَإِلَيْكَ أَنَبْنَا“Ya Tuhan kami, hanya kepada Engkaulah kami bertawakal dan hanya kepada Engkaulah kami bertaubat.” (Q.S. Al-Mumtahanah: 4).وَتَوَكَّلْ عَلَى الْحَيِّ الَّذِي لَا يَمُوتُ وَسَبِّحْ بِحَمْدِهِ“Dan bertawakallah kepada Allah yang hidup (kekal) Yang tidak mati dan bertasbihlah dengan memuji-Nya.” (QS. Al-Furqaan: 58).عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ مَتَابِ“Hanya kepada-Nya aku bertawakal dan hanya kepada-Nya aku bertaubat.” (QS. Ar-Ra’du: 30).لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ فَاتَّخِذْهُ وَكِيلًا“Tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, maka ambillah Dia sebagai pelindung.” (QS. Al-Muzzammil: 9).[bersambung]Daftar link artikel ini: Modal Dasar Berdoa pada Allah (1) Modal Dasar Berdoa pada Allah (2) Modal Dasar Berdoa pada Allah (3) Modal Dasar Berdoa pada Allah (4) Modal Dasar Berdoa pada Allah (5) Modal Dasar Berdoa pada Allah (6) Modal Dasar Berdoa pada Allah (7) Modal Dasar Berdoa pada Allah (8) Penulis: Sa’id Abu Ukkasyah Artikel: Muslim.or.id🔍 Panduan Umroh, Peran Wanita Dalam Keluarga Menurut Islam, Mendoakan Orang Meninggal Beda Agama, Audzubillah Himinasyaitonirrajim Arab, Ayat Al Quran Tentang Ilmu
Baca pembahasan sebelumnya Modal Dasar Berdoa pada Allah (7)Inilah empat perkara yang dibutuhkan seorang manusia!Terdapat sebuah kaidah yang ulama mengingatkan kita dengannya, bahwa setiap makhluk hidup pastilah butuh untuk mendapatkan manfaat dan terhindar dari mudarat (kerugian, kerusakan dan bahaya).Padahal untuk bisa mendapatkan manfaat dan menghindari mudarat, tentulah seorang hamba membutuhkan sarana yang digunakan untuk bisa meraih keduanya.Oleh karena itulah, hakikatnya manusia membutuhkan empat perkara berikut ini, yaitu:Pertama, sesuatu yang dicintai, disukai, dicari, dituju, dan diinginkan keberadaannya.Kedua, sesuatu yang tidak dicintai, tak disukai lagi dibenci dan tidak diinginkan keberadaannya.Ketiga, sarana untuk mendapatkan sesuatu yang dicintai.Keempat, sarana untuk menghindari sesuatu yang tidak dicintai.Keempat hal ini adalah kebutuhan yang mendasar bagi manusia, bahkan bagi setiap makhluk hidup. Tidak mungkin ia hidup dan menjadi baik kecuali dengan empat perkara tersebut!Yang Maha Mampu memenuhi keempat perkara itu semuanya hanyalah Allah Ta’ala semata!Ketahuilah, bahwa Allah Ta’ala satu-satunya Dzat yang dicintai, dituju, dan disembah dengan hak, tiada sekutu bagi-Nya.Dan hakekatnya Allah Ta’ala pula satu-satunya Sang Penolong agar hamba mendapatkan sesuatu yang dicintai tersebut.Inilah hakikatnya makna yang tersirat dalam bacaan seorang hamba dalam salatnya:إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ“Hanya kepada Engkaulah kami menyembah, dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan.”Karena sesungguhnya ibadatullah dalam ayat di atas mengandung tujuan yang dicari dalam bentuk paling sempurna, dan isti’anah billah wahdah mengandung sarana untuk mendapatkan tujuan yang dicari tersebut.Atau dengan kata lain, bahwa hakikatnya Allah Ta’ala satu-satunya Dzat yang dicintai, dituju dan disembah dengan hak, tiada sekutu bagi-Nya dan Allah Ta’ala pula satu-satunya Sang Penolong untuk mendapatkan sesuatu yang dicintai tersebut!Dua perkara yang agung dan mendasar ini terdapat dalam tujuh ayat dalam Al-Qur`an Al-Karim, yaitu:Dalam surat Al-Fatihah,إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ“Hanya kepada Engkaulah kami menyembah, dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan.”عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ“Hanya kepada Allah aku bertawakal dan hanya kepada-Nya-lah aku kembali.” (QS. Huud: 88).فَاعْبُدْهُ وَتَوَكَّلْ عَلَيْهِ“Maka sembahlah Dia, dan bertawakallah kepada-Nya.(QS. Huud: 123).رَبَّنَا عَلَيْكَ تَوَكَّلْنَا وَإِلَيْكَ أَنَبْنَا“Ya Tuhan kami, hanya kepada Engkaulah kami bertawakal dan hanya kepada Engkaulah kami bertaubat.” (Q.S. Al-Mumtahanah: 4).وَتَوَكَّلْ عَلَى الْحَيِّ الَّذِي لَا يَمُوتُ وَسَبِّحْ بِحَمْدِهِ“Dan bertawakallah kepada Allah yang hidup (kekal) Yang tidak mati dan bertasbihlah dengan memuji-Nya.” (QS. Al-Furqaan: 58).عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ مَتَابِ“Hanya kepada-Nya aku bertawakal dan hanya kepada-Nya aku bertaubat.” (QS. Ar-Ra’du: 30).لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ فَاتَّخِذْهُ وَكِيلًا“Tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, maka ambillah Dia sebagai pelindung.” (QS. Al-Muzzammil: 9).[bersambung]Daftar link artikel ini: Modal Dasar Berdoa pada Allah (1) Modal Dasar Berdoa pada Allah (2) Modal Dasar Berdoa pada Allah (3) Modal Dasar Berdoa pada Allah (4) Modal Dasar Berdoa pada Allah (5) Modal Dasar Berdoa pada Allah (6) Modal Dasar Berdoa pada Allah (7) Modal Dasar Berdoa pada Allah (8) Penulis: Sa’id Abu Ukkasyah Artikel: Muslim.or.id🔍 Panduan Umroh, Peran Wanita Dalam Keluarga Menurut Islam, Mendoakan Orang Meninggal Beda Agama, Audzubillah Himinasyaitonirrajim Arab, Ayat Al Quran Tentang Ilmu


Baca pembahasan sebelumnya Modal Dasar Berdoa pada Allah (7)Inilah empat perkara yang dibutuhkan seorang manusia!Terdapat sebuah kaidah yang ulama mengingatkan kita dengannya, bahwa setiap makhluk hidup pastilah butuh untuk mendapatkan manfaat dan terhindar dari mudarat (kerugian, kerusakan dan bahaya).Padahal untuk bisa mendapatkan manfaat dan menghindari mudarat, tentulah seorang hamba membutuhkan sarana yang digunakan untuk bisa meraih keduanya.Oleh karena itulah, hakikatnya manusia membutuhkan empat perkara berikut ini, yaitu:Pertama, sesuatu yang dicintai, disukai, dicari, dituju, dan diinginkan keberadaannya.Kedua, sesuatu yang tidak dicintai, tak disukai lagi dibenci dan tidak diinginkan keberadaannya.Ketiga, sarana untuk mendapatkan sesuatu yang dicintai.Keempat, sarana untuk menghindari sesuatu yang tidak dicintai.Keempat hal ini adalah kebutuhan yang mendasar bagi manusia, bahkan bagi setiap makhluk hidup. Tidak mungkin ia hidup dan menjadi baik kecuali dengan empat perkara tersebut!Yang Maha Mampu memenuhi keempat perkara itu semuanya hanyalah Allah Ta’ala semata!Ketahuilah, bahwa Allah Ta’ala satu-satunya Dzat yang dicintai, dituju, dan disembah dengan hak, tiada sekutu bagi-Nya.Dan hakekatnya Allah Ta’ala pula satu-satunya Sang Penolong agar hamba mendapatkan sesuatu yang dicintai tersebut.Inilah hakikatnya makna yang tersirat dalam bacaan seorang hamba dalam salatnya:إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ“Hanya kepada Engkaulah kami menyembah, dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan.”Karena sesungguhnya ibadatullah dalam ayat di atas mengandung tujuan yang dicari dalam bentuk paling sempurna, dan isti’anah billah wahdah mengandung sarana untuk mendapatkan tujuan yang dicari tersebut.Atau dengan kata lain, bahwa hakikatnya Allah Ta’ala satu-satunya Dzat yang dicintai, dituju dan disembah dengan hak, tiada sekutu bagi-Nya dan Allah Ta’ala pula satu-satunya Sang Penolong untuk mendapatkan sesuatu yang dicintai tersebut!Dua perkara yang agung dan mendasar ini terdapat dalam tujuh ayat dalam Al-Qur`an Al-Karim, yaitu:Dalam surat Al-Fatihah,إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ“Hanya kepada Engkaulah kami menyembah, dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan.”عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ“Hanya kepada Allah aku bertawakal dan hanya kepada-Nya-lah aku kembali.” (QS. Huud: 88).فَاعْبُدْهُ وَتَوَكَّلْ عَلَيْهِ“Maka sembahlah Dia, dan bertawakallah kepada-Nya.(QS. Huud: 123).رَبَّنَا عَلَيْكَ تَوَكَّلْنَا وَإِلَيْكَ أَنَبْنَا“Ya Tuhan kami, hanya kepada Engkaulah kami bertawakal dan hanya kepada Engkaulah kami bertaubat.” (Q.S. Al-Mumtahanah: 4).وَتَوَكَّلْ عَلَى الْحَيِّ الَّذِي لَا يَمُوتُ وَسَبِّحْ بِحَمْدِهِ“Dan bertawakallah kepada Allah yang hidup (kekal) Yang tidak mati dan bertasbihlah dengan memuji-Nya.” (QS. Al-Furqaan: 58).عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ مَتَابِ“Hanya kepada-Nya aku bertawakal dan hanya kepada-Nya aku bertaubat.” (QS. Ar-Ra’du: 30).لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ فَاتَّخِذْهُ وَكِيلًا“Tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, maka ambillah Dia sebagai pelindung.” (QS. Al-Muzzammil: 9).[bersambung]Daftar link artikel ini: Modal Dasar Berdoa pada Allah (1) Modal Dasar Berdoa pada Allah (2) Modal Dasar Berdoa pada Allah (3) Modal Dasar Berdoa pada Allah (4) Modal Dasar Berdoa pada Allah (5) Modal Dasar Berdoa pada Allah (6) Modal Dasar Berdoa pada Allah (7) Modal Dasar Berdoa pada Allah (8) Penulis: Sa’id Abu Ukkasyah Artikel: Muslim.or.id🔍 Panduan Umroh, Peran Wanita Dalam Keluarga Menurut Islam, Mendoakan Orang Meninggal Beda Agama, Audzubillah Himinasyaitonirrajim Arab, Ayat Al Quran Tentang Ilmu

Ketika Mendapati Salat Khatib Sudah Mulai Berkhotbah

Apabila kita datang dan salat jumat sudah dimulai yaitu khatib mulai berkhotbah, apa yang kita lakukan? Berikut rinciannya: Apabila kita datang dan adzan berkumandang, kita dianjurkan salat tahiyatul masjid karena menjawab adzan hukumnya sunah sedangkan mendengar khotbah Jumat hukumnya wajib Apabila kita datang sedangkan khatib sudah mulai berkhotbah, kita perintahkan untuk salat tahiyatul masjid dengan ringan (bacaan pendek) karena ada nash perintah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam Baca Juga: Keutamaan Waktu Ba’da Ashar Hari JumatBerikut penjelasannya: Apabila kita datang dan adzan berkumandang, kita dianjurkan salat tahiyatul masjid karena menjawab adzan hukumnya sunnah sedangkan mendengar khotbah Jumat hukumnya wajib. Hal ini sebagaimana yang dijelaskan oleh syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin, beliau berkata, ذكر أهل العلم أن الرجل إذا دخل المسجد وهو يسمع الأذان الثاني فإنه يصلي تحية المسجد ولا يشتغل بمتابعة المؤذن وإجابته، وذلك ليتفرغ لاستماع الخطبة؛ لأن استماعها واجب، وإجابة المؤذن سنة، والسنة لا تزاحم الواجب “Para ulama menjelaskan bahwa apabila ada orang yang masuk masjid ketika itu ia mendengarkan adzan (Jumat), maka ia dianjurkan untuk segera salat tahiyatul masjid dan tidak menyibukkan diri mengikuti dan menjawab adzan. Hal ini dikarenakan agar ia bisa fokus mendengarkan khotbah, karena mendengarkan khotbah hukumnya wajib, sedangkan menjawab adzan hukumnya sunnah. Amal yang sunah tidak bisa mengalahkan amal yang wajib.” [Majmu’ Fatawa Wa Rasaa-iil Ibnu ‘Utsaimin, no. 1276] Apabila kita datang sedangkan khatib sudah mulai berkhotbah, kita diperintahkan untuk salat tahiyatul masjid karena ada nash perintah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.Terdapat nash hadits terkait hal ini. Dari Jabir bin ‘Abdillah, ia berkata, جَاءَ رَجُلٌ وَالنَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – يَخْطُبُ النَّاسَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فَقَالَ « أَصَلَّيْتَ يَا فُلاَنُ » . قَالَ لاَ . قَالَ « قُمْ فَارْكَعْ » “Ada seseorang yang datang dan saat itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang berkhotbah pada hari Jum’at. Nabi bertanya padanya (di tengah-tengah khotbah), “Apakah engkau sudah salat wahai fulan?” “Belum”, jawabnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas memerintahkan, “Berdirilah, salatlah.” (HR. Bukhari no. 930) An-Nawawi menjelaskan makruh hukumnya langsung duduk pada keadaan tersebut, karena ada nash perintah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau berkata: ويكره الجلوس قبل أن يصليهما “Dimakruhkan duduk sebelum salat dua rakaat (tahiyatul masjid) (ketika mendapat khatib telah berkhotbah)” [Syarh Muslim Linnawawi] Ini juga pendapat dari Imam Bukhari rahimahullah, beliau menuliskan judul bab dalam Shahih beliau:باب من جاء والإمام يخطب صلى ركعتين خفيفتين“Bab: Siapa yang datang sedangkan imam sedang berkhotbah, hendaknya salat dua raka’at ringan.”Baca Juga: Agar Tidak Tertidur Ketika Khutbah Jumat Adab Ketika Mendengar Khutbah Jumat Demikian semoga bermanfaat@ Lombok, Pulau Seribu MasjidPenyusun: Raehanul BahraenArtikel www.muslim.or.id🔍 Durhaka Kepada Orang Tua, Pengertian Sabar Dalam Islam, Ilmu Yg Bermanfaat, Tata Cara Sholat Istisqo, Hukum Menguburkan Jenazah

Ketika Mendapati Salat Khatib Sudah Mulai Berkhotbah

Apabila kita datang dan salat jumat sudah dimulai yaitu khatib mulai berkhotbah, apa yang kita lakukan? Berikut rinciannya: Apabila kita datang dan adzan berkumandang, kita dianjurkan salat tahiyatul masjid karena menjawab adzan hukumnya sunah sedangkan mendengar khotbah Jumat hukumnya wajib Apabila kita datang sedangkan khatib sudah mulai berkhotbah, kita perintahkan untuk salat tahiyatul masjid dengan ringan (bacaan pendek) karena ada nash perintah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam Baca Juga: Keutamaan Waktu Ba’da Ashar Hari JumatBerikut penjelasannya: Apabila kita datang dan adzan berkumandang, kita dianjurkan salat tahiyatul masjid karena menjawab adzan hukumnya sunnah sedangkan mendengar khotbah Jumat hukumnya wajib. Hal ini sebagaimana yang dijelaskan oleh syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin, beliau berkata, ذكر أهل العلم أن الرجل إذا دخل المسجد وهو يسمع الأذان الثاني فإنه يصلي تحية المسجد ولا يشتغل بمتابعة المؤذن وإجابته، وذلك ليتفرغ لاستماع الخطبة؛ لأن استماعها واجب، وإجابة المؤذن سنة، والسنة لا تزاحم الواجب “Para ulama menjelaskan bahwa apabila ada orang yang masuk masjid ketika itu ia mendengarkan adzan (Jumat), maka ia dianjurkan untuk segera salat tahiyatul masjid dan tidak menyibukkan diri mengikuti dan menjawab adzan. Hal ini dikarenakan agar ia bisa fokus mendengarkan khotbah, karena mendengarkan khotbah hukumnya wajib, sedangkan menjawab adzan hukumnya sunnah. Amal yang sunah tidak bisa mengalahkan amal yang wajib.” [Majmu’ Fatawa Wa Rasaa-iil Ibnu ‘Utsaimin, no. 1276] Apabila kita datang sedangkan khatib sudah mulai berkhotbah, kita diperintahkan untuk salat tahiyatul masjid karena ada nash perintah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.Terdapat nash hadits terkait hal ini. Dari Jabir bin ‘Abdillah, ia berkata, جَاءَ رَجُلٌ وَالنَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – يَخْطُبُ النَّاسَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فَقَالَ « أَصَلَّيْتَ يَا فُلاَنُ » . قَالَ لاَ . قَالَ « قُمْ فَارْكَعْ » “Ada seseorang yang datang dan saat itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang berkhotbah pada hari Jum’at. Nabi bertanya padanya (di tengah-tengah khotbah), “Apakah engkau sudah salat wahai fulan?” “Belum”, jawabnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas memerintahkan, “Berdirilah, salatlah.” (HR. Bukhari no. 930) An-Nawawi menjelaskan makruh hukumnya langsung duduk pada keadaan tersebut, karena ada nash perintah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau berkata: ويكره الجلوس قبل أن يصليهما “Dimakruhkan duduk sebelum salat dua rakaat (tahiyatul masjid) (ketika mendapat khatib telah berkhotbah)” [Syarh Muslim Linnawawi] Ini juga pendapat dari Imam Bukhari rahimahullah, beliau menuliskan judul bab dalam Shahih beliau:باب من جاء والإمام يخطب صلى ركعتين خفيفتين“Bab: Siapa yang datang sedangkan imam sedang berkhotbah, hendaknya salat dua raka’at ringan.”Baca Juga: Agar Tidak Tertidur Ketika Khutbah Jumat Adab Ketika Mendengar Khutbah Jumat Demikian semoga bermanfaat@ Lombok, Pulau Seribu MasjidPenyusun: Raehanul BahraenArtikel www.muslim.or.id🔍 Durhaka Kepada Orang Tua, Pengertian Sabar Dalam Islam, Ilmu Yg Bermanfaat, Tata Cara Sholat Istisqo, Hukum Menguburkan Jenazah
Apabila kita datang dan salat jumat sudah dimulai yaitu khatib mulai berkhotbah, apa yang kita lakukan? Berikut rinciannya: Apabila kita datang dan adzan berkumandang, kita dianjurkan salat tahiyatul masjid karena menjawab adzan hukumnya sunah sedangkan mendengar khotbah Jumat hukumnya wajib Apabila kita datang sedangkan khatib sudah mulai berkhotbah, kita perintahkan untuk salat tahiyatul masjid dengan ringan (bacaan pendek) karena ada nash perintah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam Baca Juga: Keutamaan Waktu Ba’da Ashar Hari JumatBerikut penjelasannya: Apabila kita datang dan adzan berkumandang, kita dianjurkan salat tahiyatul masjid karena menjawab adzan hukumnya sunnah sedangkan mendengar khotbah Jumat hukumnya wajib. Hal ini sebagaimana yang dijelaskan oleh syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin, beliau berkata, ذكر أهل العلم أن الرجل إذا دخل المسجد وهو يسمع الأذان الثاني فإنه يصلي تحية المسجد ولا يشتغل بمتابعة المؤذن وإجابته، وذلك ليتفرغ لاستماع الخطبة؛ لأن استماعها واجب، وإجابة المؤذن سنة، والسنة لا تزاحم الواجب “Para ulama menjelaskan bahwa apabila ada orang yang masuk masjid ketika itu ia mendengarkan adzan (Jumat), maka ia dianjurkan untuk segera salat tahiyatul masjid dan tidak menyibukkan diri mengikuti dan menjawab adzan. Hal ini dikarenakan agar ia bisa fokus mendengarkan khotbah, karena mendengarkan khotbah hukumnya wajib, sedangkan menjawab adzan hukumnya sunnah. Amal yang sunah tidak bisa mengalahkan amal yang wajib.” [Majmu’ Fatawa Wa Rasaa-iil Ibnu ‘Utsaimin, no. 1276] Apabila kita datang sedangkan khatib sudah mulai berkhotbah, kita diperintahkan untuk salat tahiyatul masjid karena ada nash perintah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.Terdapat nash hadits terkait hal ini. Dari Jabir bin ‘Abdillah, ia berkata, جَاءَ رَجُلٌ وَالنَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – يَخْطُبُ النَّاسَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فَقَالَ « أَصَلَّيْتَ يَا فُلاَنُ » . قَالَ لاَ . قَالَ « قُمْ فَارْكَعْ » “Ada seseorang yang datang dan saat itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang berkhotbah pada hari Jum’at. Nabi bertanya padanya (di tengah-tengah khotbah), “Apakah engkau sudah salat wahai fulan?” “Belum”, jawabnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas memerintahkan, “Berdirilah, salatlah.” (HR. Bukhari no. 930) An-Nawawi menjelaskan makruh hukumnya langsung duduk pada keadaan tersebut, karena ada nash perintah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau berkata: ويكره الجلوس قبل أن يصليهما “Dimakruhkan duduk sebelum salat dua rakaat (tahiyatul masjid) (ketika mendapat khatib telah berkhotbah)” [Syarh Muslim Linnawawi] Ini juga pendapat dari Imam Bukhari rahimahullah, beliau menuliskan judul bab dalam Shahih beliau:باب من جاء والإمام يخطب صلى ركعتين خفيفتين“Bab: Siapa yang datang sedangkan imam sedang berkhotbah, hendaknya salat dua raka’at ringan.”Baca Juga: Agar Tidak Tertidur Ketika Khutbah Jumat Adab Ketika Mendengar Khutbah Jumat Demikian semoga bermanfaat@ Lombok, Pulau Seribu MasjidPenyusun: Raehanul BahraenArtikel www.muslim.or.id🔍 Durhaka Kepada Orang Tua, Pengertian Sabar Dalam Islam, Ilmu Yg Bermanfaat, Tata Cara Sholat Istisqo, Hukum Menguburkan Jenazah


Apabila kita datang dan salat jumat sudah dimulai yaitu khatib mulai berkhotbah, apa yang kita lakukan? Berikut rinciannya: Apabila kita datang dan adzan berkumandang, kita dianjurkan salat tahiyatul masjid karena menjawab adzan hukumnya sunah sedangkan mendengar khotbah Jumat hukumnya wajib Apabila kita datang sedangkan khatib sudah mulai berkhotbah, kita perintahkan untuk salat tahiyatul masjid dengan ringan (bacaan pendek) karena ada nash perintah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam Baca Juga: Keutamaan Waktu Ba’da Ashar Hari JumatBerikut penjelasannya: Apabila kita datang dan adzan berkumandang, kita dianjurkan salat tahiyatul masjid karena menjawab adzan hukumnya sunnah sedangkan mendengar khotbah Jumat hukumnya wajib. Hal ini sebagaimana yang dijelaskan oleh syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin, beliau berkata, ذكر أهل العلم أن الرجل إذا دخل المسجد وهو يسمع الأذان الثاني فإنه يصلي تحية المسجد ولا يشتغل بمتابعة المؤذن وإجابته، وذلك ليتفرغ لاستماع الخطبة؛ لأن استماعها واجب، وإجابة المؤذن سنة، والسنة لا تزاحم الواجب “Para ulama menjelaskan bahwa apabila ada orang yang masuk masjid ketika itu ia mendengarkan adzan (Jumat), maka ia dianjurkan untuk segera salat tahiyatul masjid dan tidak menyibukkan diri mengikuti dan menjawab adzan. Hal ini dikarenakan agar ia bisa fokus mendengarkan khotbah, karena mendengarkan khotbah hukumnya wajib, sedangkan menjawab adzan hukumnya sunnah. Amal yang sunah tidak bisa mengalahkan amal yang wajib.” [Majmu’ Fatawa Wa Rasaa-iil Ibnu ‘Utsaimin, no. 1276] Apabila kita datang sedangkan khatib sudah mulai berkhotbah, kita diperintahkan untuk salat tahiyatul masjid karena ada nash perintah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.Terdapat nash hadits terkait hal ini. Dari Jabir bin ‘Abdillah, ia berkata, جَاءَ رَجُلٌ وَالنَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – يَخْطُبُ النَّاسَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فَقَالَ « أَصَلَّيْتَ يَا فُلاَنُ » . قَالَ لاَ . قَالَ « قُمْ فَارْكَعْ » “Ada seseorang yang datang dan saat itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang berkhotbah pada hari Jum’at. Nabi bertanya padanya (di tengah-tengah khotbah), “Apakah engkau sudah salat wahai fulan?” “Belum”, jawabnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas memerintahkan, “Berdirilah, salatlah.” (HR. Bukhari no. 930) An-Nawawi menjelaskan makruh hukumnya langsung duduk pada keadaan tersebut, karena ada nash perintah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau berkata: ويكره الجلوس قبل أن يصليهما “Dimakruhkan duduk sebelum salat dua rakaat (tahiyatul masjid) (ketika mendapat khatib telah berkhotbah)” [Syarh Muslim Linnawawi] Ini juga pendapat dari Imam Bukhari rahimahullah, beliau menuliskan judul bab dalam Shahih beliau:باب من جاء والإمام يخطب صلى ركعتين خفيفتين“Bab: Siapa yang datang sedangkan imam sedang berkhotbah, hendaknya salat dua raka’at ringan.”Baca Juga: Agar Tidak Tertidur Ketika Khutbah Jumat Adab Ketika Mendengar Khutbah Jumat Demikian semoga bermanfaat@ Lombok, Pulau Seribu MasjidPenyusun: Raehanul BahraenArtikel www.muslim.or.id🔍 Durhaka Kepada Orang Tua, Pengertian Sabar Dalam Islam, Ilmu Yg Bermanfaat, Tata Cara Sholat Istisqo, Hukum Menguburkan Jenazah

Kebodohan Kita terhadap Makna Kalimat Tauhid (Bag. 4)

Baca pembahasan sebelumnya Kebodohan Kita terhadap Makna Kalimat Tauhid (Bag. 3)Makna Kalimat “Laa ilaaha illallah” yang TepatJika memaknai kalimat laa ilaaha illallah dengan “Tidak ada Tuhan selain Allah” adalah pemaknaan yang keliru atau tidak tepat, lalu bagaimanakah makna laa ilaaha illallah yang benar?Salah satu penjelasan menarik tentang makna yang benar dari kalimat “laa ilaaha illallah” yang penulis temui adalah penjelasan yang disampaikan oleh Syaikh Al-‘Allamah Hafidz bin Ahmad Al-Hakami rahimahullah di kitab beliau, Ma’aarijul Qobul. Berikut ini penjelasan beliau rahimahullah yang penulis sampaikan secara ringkas.Makna kalimat “laa ilaaha illallah” adalah “laa ma’buuda bi haqqin illallah” [tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah]. Kalimat “laa ilaaha” bermakna meniadakan seluruh sesembahan selain Allah Ta’ala. Maka tidak ada yang berhak untuk disembah kecuali Allah Ta’ala (“illallah”). Sehingga kalimat “illallah” bermakna menetapkan segala jenis ibadah hanya kepada Allah Ta’ala semata. Dia-lah sesembahan yang haq (yang benar) dan yang berhak untuk diibadahi.Baca Juga: Meraih Kejayaan Islam Dengan TauhidJika ada yang mengatakan bahwa makna “laa ilaaha illallah” adalah “tidak ada ilah (sesembahan) yang ada kecuali Allah”, maka hal ini menimbulkan konsekuensi bahwa seluruh sesembahan, baik yang benar (haq) maupun yang salah (bathil) adalah Allah. Maka jadilah segala yang disembah kaum musyrikin, baik matahari, bulan, bintang, pohon, batu, malaikat, para nabi, orang-orang shalih, dan selainnya adalah Allah. Dan bisa jadi dengan menyembahnya berarti telah bertauhid. Sehingga hal ini –wal’iyadzu billah (kita berlindung kepada Allah dari keyakinan semacam ini, pent.)- adalah kekufuran yang paling besar dan paling jelek secara mutlak. Keyakinan semacam ini berarti telah membatalkan risalah (wahyu) yang dibawa oleh seluruh rasul dan berarti telah kufur (mengingkari) seluruh kitab, dan menentang/mendustakan seluruh syari’at. Ini juga berarti telah mendukung dan memuji seluruh orang kafir. Karena segala makhluk yang mereka sembah tidak lain adalah Allah Ta’ala. Maka tidak ada lagi pada embel-embel syirik tetapi sebaliknya mereka bisa disebut muwahhid (orang yang bertauhid). Maha Tinggi Allah atas apa yang dikatakan oleh orang-orang zhalim dan orang-orang yang menentang ini.Jika kita sudah memahami demikian, maka kita tidak boleh memaknai kalimat “laa ilaaha illallah” dengan “tidak ada sesembahan yang ada kecuali Allah”. Kecuali apabila kita menambahkan kalimat “dengan benar” [atau “yang berhak disembah”] pada makna tersebut, maka hal ini tidaklah mengapa. Jadi tafsir (makna) “laa ilaha illallah” yang tepat menjadi “tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah.” (Lihat Ma’aarijul Qabuul, 2: 516)Berdasarkan penjelasan Syaikh Hafidz bin Ahmad Al-Hakami rahimahullah tersebut, maka makna yang tepat dari kalimat “laa ilaaha illallah” adalah “tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah”. Ditambahkannya kalimat “yang berhak disembah” ini dapat ditinjau dari dua sisi.Baca Juga: Tugas Para Dai Adalah Mendakwahkan TauhidPertama,Kenyataan memang menunjukkan bahwa banyak sekali sesembahan-sesembahan selain Allah Ta’ala di muka bumi ini. Akan tetapi, dari sekian banyak sesembahan tersebut, yang berhak untuk disembah hanyalah Allah Ta’ala semata.Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala,ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ الْبَاطِلُ“Demikianlah, karena sesungguhnya Allah, Dia-lah (sesembahan) yang haq (benar). Dan sesungguhnya apa saja yang mereka sembah selain Allah, itulah (sesembahan) yang batil.” (QS. Luqman [30]: 30)Adapun sesembahan selain Allah, sesungguhnya hanyalah sesembahan yang berdasarkan persangkaan orang-orang musyrik mereka saja. Pada hakikatnya, sesembahan mereka itu tidak berhak menyandang sifat uluhiyyah sedikit pun. Allah Ta’ala berfirman,قُلْ لَوْ كَانَ مَعَهُ آلِهَةٌ كَمَا يَقُولُونَ إِذًا لَابْتَغَوْا إِلَى ذِي الْعَرْشِ سَبِيلًا“Katakanlah, ’Jika ada sesembahan-sesembahan di samping-Nya, sebagaimana yang mereka katakan, niscaya sesembahan-sesembahan itu mencari jalan menuju Dzat Yang Mempunyai ‘Arsy.’” (QS. Al-Isra’ [17]: 42)Ayat ini menunjukkan bahwa sesembahan orang musyrik bukanlah ilah yang hakiki, akan tetapi ilah menurut klaim dan persangkaan mereka semata. Allah Ta’ala tetap menyebut sesembahan orang musyrik tersebut dengan sebutan “ilah” karena realita memang menunjukkan bahwa mereka itu disembah atau diibadahi. Dan setiap yang disembah disebut sebagai ilah. Akan tetapi, sesembahan mereka itu adalah ilah (sesembahan) yang batil. (Lihat Syarh Al-Ushuul min ‘Ilmi Al-Ushuul, hal. 13 karya Syaikh Ibnu ‘Utsaimin)Baca Juga: Hati Tentram Dengan TauhidKedua, Dari sisi bahasa Arab pada kalimat “laa ilaaha illallah” memang ada satu kata yang dibuang, yaitu “haqqun”. Sehingga kalimat lengkap dari kalimat tauhid tersebut sebenarnya adalah (لا اله حق إلا الله) “laa ilaaha haqqun illallah” yang berarti “tidak ada sesembahan yang haq (atau yang berhak disembah) selain Allah”. Hal ini memang agak sulit dipahami, terutama bagi orang-orang yang belum mengenal kaidah dalam bahasa Arab, sehingga tidak kami bahas lebih detil dalam tulisan ini. (Lihat Haqiiqatu Laa Ilaaha Illallah, hal. 108)Kalau ada yang bertanya, ”Mengapa ada kata yang dibuang?” Maka jawabannya adalah karena kaidah bahasa Arab menuntut agar kalimat tersebut disampaikan secara ringkas, namun dapat dipahami oleh setiap orang yang mendengarnya. Meskipun kata “haqqun” dibuang, namun orang-orang musyrik jahiliyyah dahulu telah memahami bahwa ada kata yang dibuang (yaitu “haqqun”) dengan hanya mendengar kalimat “laa ilaaha illallah”. Karena bagaimanapun, orang-orang musyrik jahiliyyah adalah masyarakat yang fasih dalam berbahasa Arab. (Lihat At-Tamhiid, hal. 77-78)Pembuangan kata ini juga biasa kita temukan dalam bahasa Indonesia. Misalnya, ada seseorang bertanya, “Kamu ada di mana sekarang?” Kemudian orang yang ditanya menjawab, “Di pasar.” Jawaban tersebut mengandung kata yang dibuang, jawaban lengkap seharusnya, “Saya ada di pasar.” Setelah mengetahui makna yang benar dari kalimat “laa ilaaha illallah”, maka perlu diketahui bahwa kalimat tersebut memiliki dua rukun. Rukun yang pertama adalah nafi (meniadakan), yang terkandung dalam kalimat “laa ilaaha”. Maksudnya, meniadakan segala sesembahan selain Allah Ta’ala baik sesembahan yang berupa malaikat, para Nabi atau Rasul, orang-orang shalih, atau segala bentuk sesembahan lainnya. Rukun yang ke dua adalah itsbat (menetapkan), yang terkandung dalam kalimat “illallah”. Maksudnya, menetapkan sifat uluhiyyah tersebut hanya untuk Allah Ta’ala semata. Maka Allah-lah satu-satunya sesembahan yang haq, dan segala sesembahan selain Allah adalah sesembahan yang batil. (Lihat Haqiiqatu Laa Ilaaha Illallah, hal. 108-109) Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata,تحقيق شهادة أن لا إله إلا الله فإنها تنفي عن قلبه إلهية ما سوى الحق وتثبت في قلبه إلهية الحق فيكون نافيا إلهية كل شيء من المخلوقات مثبتا لإلهية رب العالمين رب الأرض والسماوات”Mewujudkan kalimat syahadat ‘laa ilaaha illallah’ berarti meniadakan dari dalam hatinya peribadatan kepada selain Al-Haq (yaitu Allah, pent.) dan menetapkan di dalam hatinya peribadatan kepada Al-Haq. Sehingga dia menafikan peribadatan kepada seluruh makhluk dan menetapkan peribadatan kepada Rabb alam semesta, Rabb langit dan bumi.” (Al-‘Ubuudiyyah, 1: 47)Baca Juga: Membersihkan Dan Menyempurnakan Tauhid Kisah Pemuda Ahli Tauhid Yang Pemberani [Bersambung]***@Jogjakarta, 1 Jumadil Awwal 1440/ 7 Januari 2019Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.Or.Id🔍 Hukum Ruqyah, Tata Cara Shalat Witir Sesuai Sunnah, Dosa Zina Mata, Zahir Adalah, Solat Ashar

Kebodohan Kita terhadap Makna Kalimat Tauhid (Bag. 4)

Baca pembahasan sebelumnya Kebodohan Kita terhadap Makna Kalimat Tauhid (Bag. 3)Makna Kalimat “Laa ilaaha illallah” yang TepatJika memaknai kalimat laa ilaaha illallah dengan “Tidak ada Tuhan selain Allah” adalah pemaknaan yang keliru atau tidak tepat, lalu bagaimanakah makna laa ilaaha illallah yang benar?Salah satu penjelasan menarik tentang makna yang benar dari kalimat “laa ilaaha illallah” yang penulis temui adalah penjelasan yang disampaikan oleh Syaikh Al-‘Allamah Hafidz bin Ahmad Al-Hakami rahimahullah di kitab beliau, Ma’aarijul Qobul. Berikut ini penjelasan beliau rahimahullah yang penulis sampaikan secara ringkas.Makna kalimat “laa ilaaha illallah” adalah “laa ma’buuda bi haqqin illallah” [tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah]. Kalimat “laa ilaaha” bermakna meniadakan seluruh sesembahan selain Allah Ta’ala. Maka tidak ada yang berhak untuk disembah kecuali Allah Ta’ala (“illallah”). Sehingga kalimat “illallah” bermakna menetapkan segala jenis ibadah hanya kepada Allah Ta’ala semata. Dia-lah sesembahan yang haq (yang benar) dan yang berhak untuk diibadahi.Baca Juga: Meraih Kejayaan Islam Dengan TauhidJika ada yang mengatakan bahwa makna “laa ilaaha illallah” adalah “tidak ada ilah (sesembahan) yang ada kecuali Allah”, maka hal ini menimbulkan konsekuensi bahwa seluruh sesembahan, baik yang benar (haq) maupun yang salah (bathil) adalah Allah. Maka jadilah segala yang disembah kaum musyrikin, baik matahari, bulan, bintang, pohon, batu, malaikat, para nabi, orang-orang shalih, dan selainnya adalah Allah. Dan bisa jadi dengan menyembahnya berarti telah bertauhid. Sehingga hal ini –wal’iyadzu billah (kita berlindung kepada Allah dari keyakinan semacam ini, pent.)- adalah kekufuran yang paling besar dan paling jelek secara mutlak. Keyakinan semacam ini berarti telah membatalkan risalah (wahyu) yang dibawa oleh seluruh rasul dan berarti telah kufur (mengingkari) seluruh kitab, dan menentang/mendustakan seluruh syari’at. Ini juga berarti telah mendukung dan memuji seluruh orang kafir. Karena segala makhluk yang mereka sembah tidak lain adalah Allah Ta’ala. Maka tidak ada lagi pada embel-embel syirik tetapi sebaliknya mereka bisa disebut muwahhid (orang yang bertauhid). Maha Tinggi Allah atas apa yang dikatakan oleh orang-orang zhalim dan orang-orang yang menentang ini.Jika kita sudah memahami demikian, maka kita tidak boleh memaknai kalimat “laa ilaaha illallah” dengan “tidak ada sesembahan yang ada kecuali Allah”. Kecuali apabila kita menambahkan kalimat “dengan benar” [atau “yang berhak disembah”] pada makna tersebut, maka hal ini tidaklah mengapa. Jadi tafsir (makna) “laa ilaha illallah” yang tepat menjadi “tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah.” (Lihat Ma’aarijul Qabuul, 2: 516)Berdasarkan penjelasan Syaikh Hafidz bin Ahmad Al-Hakami rahimahullah tersebut, maka makna yang tepat dari kalimat “laa ilaaha illallah” adalah “tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah”. Ditambahkannya kalimat “yang berhak disembah” ini dapat ditinjau dari dua sisi.Baca Juga: Tugas Para Dai Adalah Mendakwahkan TauhidPertama,Kenyataan memang menunjukkan bahwa banyak sekali sesembahan-sesembahan selain Allah Ta’ala di muka bumi ini. Akan tetapi, dari sekian banyak sesembahan tersebut, yang berhak untuk disembah hanyalah Allah Ta’ala semata.Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala,ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ الْبَاطِلُ“Demikianlah, karena sesungguhnya Allah, Dia-lah (sesembahan) yang haq (benar). Dan sesungguhnya apa saja yang mereka sembah selain Allah, itulah (sesembahan) yang batil.” (QS. Luqman [30]: 30)Adapun sesembahan selain Allah, sesungguhnya hanyalah sesembahan yang berdasarkan persangkaan orang-orang musyrik mereka saja. Pada hakikatnya, sesembahan mereka itu tidak berhak menyandang sifat uluhiyyah sedikit pun. Allah Ta’ala berfirman,قُلْ لَوْ كَانَ مَعَهُ آلِهَةٌ كَمَا يَقُولُونَ إِذًا لَابْتَغَوْا إِلَى ذِي الْعَرْشِ سَبِيلًا“Katakanlah, ’Jika ada sesembahan-sesembahan di samping-Nya, sebagaimana yang mereka katakan, niscaya sesembahan-sesembahan itu mencari jalan menuju Dzat Yang Mempunyai ‘Arsy.’” (QS. Al-Isra’ [17]: 42)Ayat ini menunjukkan bahwa sesembahan orang musyrik bukanlah ilah yang hakiki, akan tetapi ilah menurut klaim dan persangkaan mereka semata. Allah Ta’ala tetap menyebut sesembahan orang musyrik tersebut dengan sebutan “ilah” karena realita memang menunjukkan bahwa mereka itu disembah atau diibadahi. Dan setiap yang disembah disebut sebagai ilah. Akan tetapi, sesembahan mereka itu adalah ilah (sesembahan) yang batil. (Lihat Syarh Al-Ushuul min ‘Ilmi Al-Ushuul, hal. 13 karya Syaikh Ibnu ‘Utsaimin)Baca Juga: Hati Tentram Dengan TauhidKedua, Dari sisi bahasa Arab pada kalimat “laa ilaaha illallah” memang ada satu kata yang dibuang, yaitu “haqqun”. Sehingga kalimat lengkap dari kalimat tauhid tersebut sebenarnya adalah (لا اله حق إلا الله) “laa ilaaha haqqun illallah” yang berarti “tidak ada sesembahan yang haq (atau yang berhak disembah) selain Allah”. Hal ini memang agak sulit dipahami, terutama bagi orang-orang yang belum mengenal kaidah dalam bahasa Arab, sehingga tidak kami bahas lebih detil dalam tulisan ini. (Lihat Haqiiqatu Laa Ilaaha Illallah, hal. 108)Kalau ada yang bertanya, ”Mengapa ada kata yang dibuang?” Maka jawabannya adalah karena kaidah bahasa Arab menuntut agar kalimat tersebut disampaikan secara ringkas, namun dapat dipahami oleh setiap orang yang mendengarnya. Meskipun kata “haqqun” dibuang, namun orang-orang musyrik jahiliyyah dahulu telah memahami bahwa ada kata yang dibuang (yaitu “haqqun”) dengan hanya mendengar kalimat “laa ilaaha illallah”. Karena bagaimanapun, orang-orang musyrik jahiliyyah adalah masyarakat yang fasih dalam berbahasa Arab. (Lihat At-Tamhiid, hal. 77-78)Pembuangan kata ini juga biasa kita temukan dalam bahasa Indonesia. Misalnya, ada seseorang bertanya, “Kamu ada di mana sekarang?” Kemudian orang yang ditanya menjawab, “Di pasar.” Jawaban tersebut mengandung kata yang dibuang, jawaban lengkap seharusnya, “Saya ada di pasar.” Setelah mengetahui makna yang benar dari kalimat “laa ilaaha illallah”, maka perlu diketahui bahwa kalimat tersebut memiliki dua rukun. Rukun yang pertama adalah nafi (meniadakan), yang terkandung dalam kalimat “laa ilaaha”. Maksudnya, meniadakan segala sesembahan selain Allah Ta’ala baik sesembahan yang berupa malaikat, para Nabi atau Rasul, orang-orang shalih, atau segala bentuk sesembahan lainnya. Rukun yang ke dua adalah itsbat (menetapkan), yang terkandung dalam kalimat “illallah”. Maksudnya, menetapkan sifat uluhiyyah tersebut hanya untuk Allah Ta’ala semata. Maka Allah-lah satu-satunya sesembahan yang haq, dan segala sesembahan selain Allah adalah sesembahan yang batil. (Lihat Haqiiqatu Laa Ilaaha Illallah, hal. 108-109) Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata,تحقيق شهادة أن لا إله إلا الله فإنها تنفي عن قلبه إلهية ما سوى الحق وتثبت في قلبه إلهية الحق فيكون نافيا إلهية كل شيء من المخلوقات مثبتا لإلهية رب العالمين رب الأرض والسماوات”Mewujudkan kalimat syahadat ‘laa ilaaha illallah’ berarti meniadakan dari dalam hatinya peribadatan kepada selain Al-Haq (yaitu Allah, pent.) dan menetapkan di dalam hatinya peribadatan kepada Al-Haq. Sehingga dia menafikan peribadatan kepada seluruh makhluk dan menetapkan peribadatan kepada Rabb alam semesta, Rabb langit dan bumi.” (Al-‘Ubuudiyyah, 1: 47)Baca Juga: Membersihkan Dan Menyempurnakan Tauhid Kisah Pemuda Ahli Tauhid Yang Pemberani [Bersambung]***@Jogjakarta, 1 Jumadil Awwal 1440/ 7 Januari 2019Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.Or.Id🔍 Hukum Ruqyah, Tata Cara Shalat Witir Sesuai Sunnah, Dosa Zina Mata, Zahir Adalah, Solat Ashar
Baca pembahasan sebelumnya Kebodohan Kita terhadap Makna Kalimat Tauhid (Bag. 3)Makna Kalimat “Laa ilaaha illallah” yang TepatJika memaknai kalimat laa ilaaha illallah dengan “Tidak ada Tuhan selain Allah” adalah pemaknaan yang keliru atau tidak tepat, lalu bagaimanakah makna laa ilaaha illallah yang benar?Salah satu penjelasan menarik tentang makna yang benar dari kalimat “laa ilaaha illallah” yang penulis temui adalah penjelasan yang disampaikan oleh Syaikh Al-‘Allamah Hafidz bin Ahmad Al-Hakami rahimahullah di kitab beliau, Ma’aarijul Qobul. Berikut ini penjelasan beliau rahimahullah yang penulis sampaikan secara ringkas.Makna kalimat “laa ilaaha illallah” adalah “laa ma’buuda bi haqqin illallah” [tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah]. Kalimat “laa ilaaha” bermakna meniadakan seluruh sesembahan selain Allah Ta’ala. Maka tidak ada yang berhak untuk disembah kecuali Allah Ta’ala (“illallah”). Sehingga kalimat “illallah” bermakna menetapkan segala jenis ibadah hanya kepada Allah Ta’ala semata. Dia-lah sesembahan yang haq (yang benar) dan yang berhak untuk diibadahi.Baca Juga: Meraih Kejayaan Islam Dengan TauhidJika ada yang mengatakan bahwa makna “laa ilaaha illallah” adalah “tidak ada ilah (sesembahan) yang ada kecuali Allah”, maka hal ini menimbulkan konsekuensi bahwa seluruh sesembahan, baik yang benar (haq) maupun yang salah (bathil) adalah Allah. Maka jadilah segala yang disembah kaum musyrikin, baik matahari, bulan, bintang, pohon, batu, malaikat, para nabi, orang-orang shalih, dan selainnya adalah Allah. Dan bisa jadi dengan menyembahnya berarti telah bertauhid. Sehingga hal ini –wal’iyadzu billah (kita berlindung kepada Allah dari keyakinan semacam ini, pent.)- adalah kekufuran yang paling besar dan paling jelek secara mutlak. Keyakinan semacam ini berarti telah membatalkan risalah (wahyu) yang dibawa oleh seluruh rasul dan berarti telah kufur (mengingkari) seluruh kitab, dan menentang/mendustakan seluruh syari’at. Ini juga berarti telah mendukung dan memuji seluruh orang kafir. Karena segala makhluk yang mereka sembah tidak lain adalah Allah Ta’ala. Maka tidak ada lagi pada embel-embel syirik tetapi sebaliknya mereka bisa disebut muwahhid (orang yang bertauhid). Maha Tinggi Allah atas apa yang dikatakan oleh orang-orang zhalim dan orang-orang yang menentang ini.Jika kita sudah memahami demikian, maka kita tidak boleh memaknai kalimat “laa ilaaha illallah” dengan “tidak ada sesembahan yang ada kecuali Allah”. Kecuali apabila kita menambahkan kalimat “dengan benar” [atau “yang berhak disembah”] pada makna tersebut, maka hal ini tidaklah mengapa. Jadi tafsir (makna) “laa ilaha illallah” yang tepat menjadi “tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah.” (Lihat Ma’aarijul Qabuul, 2: 516)Berdasarkan penjelasan Syaikh Hafidz bin Ahmad Al-Hakami rahimahullah tersebut, maka makna yang tepat dari kalimat “laa ilaaha illallah” adalah “tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah”. Ditambahkannya kalimat “yang berhak disembah” ini dapat ditinjau dari dua sisi.Baca Juga: Tugas Para Dai Adalah Mendakwahkan TauhidPertama,Kenyataan memang menunjukkan bahwa banyak sekali sesembahan-sesembahan selain Allah Ta’ala di muka bumi ini. Akan tetapi, dari sekian banyak sesembahan tersebut, yang berhak untuk disembah hanyalah Allah Ta’ala semata.Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala,ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ الْبَاطِلُ“Demikianlah, karena sesungguhnya Allah, Dia-lah (sesembahan) yang haq (benar). Dan sesungguhnya apa saja yang mereka sembah selain Allah, itulah (sesembahan) yang batil.” (QS. Luqman [30]: 30)Adapun sesembahan selain Allah, sesungguhnya hanyalah sesembahan yang berdasarkan persangkaan orang-orang musyrik mereka saja. Pada hakikatnya, sesembahan mereka itu tidak berhak menyandang sifat uluhiyyah sedikit pun. Allah Ta’ala berfirman,قُلْ لَوْ كَانَ مَعَهُ آلِهَةٌ كَمَا يَقُولُونَ إِذًا لَابْتَغَوْا إِلَى ذِي الْعَرْشِ سَبِيلًا“Katakanlah, ’Jika ada sesembahan-sesembahan di samping-Nya, sebagaimana yang mereka katakan, niscaya sesembahan-sesembahan itu mencari jalan menuju Dzat Yang Mempunyai ‘Arsy.’” (QS. Al-Isra’ [17]: 42)Ayat ini menunjukkan bahwa sesembahan orang musyrik bukanlah ilah yang hakiki, akan tetapi ilah menurut klaim dan persangkaan mereka semata. Allah Ta’ala tetap menyebut sesembahan orang musyrik tersebut dengan sebutan “ilah” karena realita memang menunjukkan bahwa mereka itu disembah atau diibadahi. Dan setiap yang disembah disebut sebagai ilah. Akan tetapi, sesembahan mereka itu adalah ilah (sesembahan) yang batil. (Lihat Syarh Al-Ushuul min ‘Ilmi Al-Ushuul, hal. 13 karya Syaikh Ibnu ‘Utsaimin)Baca Juga: Hati Tentram Dengan TauhidKedua, Dari sisi bahasa Arab pada kalimat “laa ilaaha illallah” memang ada satu kata yang dibuang, yaitu “haqqun”. Sehingga kalimat lengkap dari kalimat tauhid tersebut sebenarnya adalah (لا اله حق إلا الله) “laa ilaaha haqqun illallah” yang berarti “tidak ada sesembahan yang haq (atau yang berhak disembah) selain Allah”. Hal ini memang agak sulit dipahami, terutama bagi orang-orang yang belum mengenal kaidah dalam bahasa Arab, sehingga tidak kami bahas lebih detil dalam tulisan ini. (Lihat Haqiiqatu Laa Ilaaha Illallah, hal. 108)Kalau ada yang bertanya, ”Mengapa ada kata yang dibuang?” Maka jawabannya adalah karena kaidah bahasa Arab menuntut agar kalimat tersebut disampaikan secara ringkas, namun dapat dipahami oleh setiap orang yang mendengarnya. Meskipun kata “haqqun” dibuang, namun orang-orang musyrik jahiliyyah dahulu telah memahami bahwa ada kata yang dibuang (yaitu “haqqun”) dengan hanya mendengar kalimat “laa ilaaha illallah”. Karena bagaimanapun, orang-orang musyrik jahiliyyah adalah masyarakat yang fasih dalam berbahasa Arab. (Lihat At-Tamhiid, hal. 77-78)Pembuangan kata ini juga biasa kita temukan dalam bahasa Indonesia. Misalnya, ada seseorang bertanya, “Kamu ada di mana sekarang?” Kemudian orang yang ditanya menjawab, “Di pasar.” Jawaban tersebut mengandung kata yang dibuang, jawaban lengkap seharusnya, “Saya ada di pasar.” Setelah mengetahui makna yang benar dari kalimat “laa ilaaha illallah”, maka perlu diketahui bahwa kalimat tersebut memiliki dua rukun. Rukun yang pertama adalah nafi (meniadakan), yang terkandung dalam kalimat “laa ilaaha”. Maksudnya, meniadakan segala sesembahan selain Allah Ta’ala baik sesembahan yang berupa malaikat, para Nabi atau Rasul, orang-orang shalih, atau segala bentuk sesembahan lainnya. Rukun yang ke dua adalah itsbat (menetapkan), yang terkandung dalam kalimat “illallah”. Maksudnya, menetapkan sifat uluhiyyah tersebut hanya untuk Allah Ta’ala semata. Maka Allah-lah satu-satunya sesembahan yang haq, dan segala sesembahan selain Allah adalah sesembahan yang batil. (Lihat Haqiiqatu Laa Ilaaha Illallah, hal. 108-109) Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata,تحقيق شهادة أن لا إله إلا الله فإنها تنفي عن قلبه إلهية ما سوى الحق وتثبت في قلبه إلهية الحق فيكون نافيا إلهية كل شيء من المخلوقات مثبتا لإلهية رب العالمين رب الأرض والسماوات”Mewujudkan kalimat syahadat ‘laa ilaaha illallah’ berarti meniadakan dari dalam hatinya peribadatan kepada selain Al-Haq (yaitu Allah, pent.) dan menetapkan di dalam hatinya peribadatan kepada Al-Haq. Sehingga dia menafikan peribadatan kepada seluruh makhluk dan menetapkan peribadatan kepada Rabb alam semesta, Rabb langit dan bumi.” (Al-‘Ubuudiyyah, 1: 47)Baca Juga: Membersihkan Dan Menyempurnakan Tauhid Kisah Pemuda Ahli Tauhid Yang Pemberani [Bersambung]***@Jogjakarta, 1 Jumadil Awwal 1440/ 7 Januari 2019Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.Or.Id🔍 Hukum Ruqyah, Tata Cara Shalat Witir Sesuai Sunnah, Dosa Zina Mata, Zahir Adalah, Solat Ashar


Baca pembahasan sebelumnya Kebodohan Kita terhadap Makna Kalimat Tauhid (Bag. 3)Makna Kalimat “Laa ilaaha illallah” yang TepatJika memaknai kalimat laa ilaaha illallah dengan “Tidak ada Tuhan selain Allah” adalah pemaknaan yang keliru atau tidak tepat, lalu bagaimanakah makna laa ilaaha illallah yang benar?Salah satu penjelasan menarik tentang makna yang benar dari kalimat “laa ilaaha illallah” yang penulis temui adalah penjelasan yang disampaikan oleh Syaikh Al-‘Allamah Hafidz bin Ahmad Al-Hakami rahimahullah di kitab beliau, Ma’aarijul Qobul. Berikut ini penjelasan beliau rahimahullah yang penulis sampaikan secara ringkas.Makna kalimat “laa ilaaha illallah” adalah “laa ma’buuda bi haqqin illallah” [tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah]. Kalimat “laa ilaaha” bermakna meniadakan seluruh sesembahan selain Allah Ta’ala. Maka tidak ada yang berhak untuk disembah kecuali Allah Ta’ala (“illallah”). Sehingga kalimat “illallah” bermakna menetapkan segala jenis ibadah hanya kepada Allah Ta’ala semata. Dia-lah sesembahan yang haq (yang benar) dan yang berhak untuk diibadahi.Baca Juga: Meraih Kejayaan Islam Dengan TauhidJika ada yang mengatakan bahwa makna “laa ilaaha illallah” adalah “tidak ada ilah (sesembahan) yang ada kecuali Allah”, maka hal ini menimbulkan konsekuensi bahwa seluruh sesembahan, baik yang benar (haq) maupun yang salah (bathil) adalah Allah. Maka jadilah segala yang disembah kaum musyrikin, baik matahari, bulan, bintang, pohon, batu, malaikat, para nabi, orang-orang shalih, dan selainnya adalah Allah. Dan bisa jadi dengan menyembahnya berarti telah bertauhid. Sehingga hal ini –wal’iyadzu billah (kita berlindung kepada Allah dari keyakinan semacam ini, pent.)- adalah kekufuran yang paling besar dan paling jelek secara mutlak. Keyakinan semacam ini berarti telah membatalkan risalah (wahyu) yang dibawa oleh seluruh rasul dan berarti telah kufur (mengingkari) seluruh kitab, dan menentang/mendustakan seluruh syari’at. Ini juga berarti telah mendukung dan memuji seluruh orang kafir. Karena segala makhluk yang mereka sembah tidak lain adalah Allah Ta’ala. Maka tidak ada lagi pada embel-embel syirik tetapi sebaliknya mereka bisa disebut muwahhid (orang yang bertauhid). Maha Tinggi Allah atas apa yang dikatakan oleh orang-orang zhalim dan orang-orang yang menentang ini.Jika kita sudah memahami demikian, maka kita tidak boleh memaknai kalimat “laa ilaaha illallah” dengan “tidak ada sesembahan yang ada kecuali Allah”. Kecuali apabila kita menambahkan kalimat “dengan benar” [atau “yang berhak disembah”] pada makna tersebut, maka hal ini tidaklah mengapa. Jadi tafsir (makna) “laa ilaha illallah” yang tepat menjadi “tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah.” (Lihat Ma’aarijul Qabuul, 2: 516)Berdasarkan penjelasan Syaikh Hafidz bin Ahmad Al-Hakami rahimahullah tersebut, maka makna yang tepat dari kalimat “laa ilaaha illallah” adalah “tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah”. Ditambahkannya kalimat “yang berhak disembah” ini dapat ditinjau dari dua sisi.Baca Juga: Tugas Para Dai Adalah Mendakwahkan TauhidPertama,Kenyataan memang menunjukkan bahwa banyak sekali sesembahan-sesembahan selain Allah Ta’ala di muka bumi ini. Akan tetapi, dari sekian banyak sesembahan tersebut, yang berhak untuk disembah hanyalah Allah Ta’ala semata.Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala,ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ الْبَاطِلُ“Demikianlah, karena sesungguhnya Allah, Dia-lah (sesembahan) yang haq (benar). Dan sesungguhnya apa saja yang mereka sembah selain Allah, itulah (sesembahan) yang batil.” (QS. Luqman [30]: 30)Adapun sesembahan selain Allah, sesungguhnya hanyalah sesembahan yang berdasarkan persangkaan orang-orang musyrik mereka saja. Pada hakikatnya, sesembahan mereka itu tidak berhak menyandang sifat uluhiyyah sedikit pun. Allah Ta’ala berfirman,قُلْ لَوْ كَانَ مَعَهُ آلِهَةٌ كَمَا يَقُولُونَ إِذًا لَابْتَغَوْا إِلَى ذِي الْعَرْشِ سَبِيلًا“Katakanlah, ’Jika ada sesembahan-sesembahan di samping-Nya, sebagaimana yang mereka katakan, niscaya sesembahan-sesembahan itu mencari jalan menuju Dzat Yang Mempunyai ‘Arsy.’” (QS. Al-Isra’ [17]: 42)Ayat ini menunjukkan bahwa sesembahan orang musyrik bukanlah ilah yang hakiki, akan tetapi ilah menurut klaim dan persangkaan mereka semata. Allah Ta’ala tetap menyebut sesembahan orang musyrik tersebut dengan sebutan “ilah” karena realita memang menunjukkan bahwa mereka itu disembah atau diibadahi. Dan setiap yang disembah disebut sebagai ilah. Akan tetapi, sesembahan mereka itu adalah ilah (sesembahan) yang batil. (Lihat Syarh Al-Ushuul min ‘Ilmi Al-Ushuul, hal. 13 karya Syaikh Ibnu ‘Utsaimin)Baca Juga: Hati Tentram Dengan TauhidKedua, Dari sisi bahasa Arab pada kalimat “laa ilaaha illallah” memang ada satu kata yang dibuang, yaitu “haqqun”. Sehingga kalimat lengkap dari kalimat tauhid tersebut sebenarnya adalah (لا اله حق إلا الله) “laa ilaaha haqqun illallah” yang berarti “tidak ada sesembahan yang haq (atau yang berhak disembah) selain Allah”. Hal ini memang agak sulit dipahami, terutama bagi orang-orang yang belum mengenal kaidah dalam bahasa Arab, sehingga tidak kami bahas lebih detil dalam tulisan ini. (Lihat Haqiiqatu Laa Ilaaha Illallah, hal. 108)Kalau ada yang bertanya, ”Mengapa ada kata yang dibuang?” Maka jawabannya adalah karena kaidah bahasa Arab menuntut agar kalimat tersebut disampaikan secara ringkas, namun dapat dipahami oleh setiap orang yang mendengarnya. Meskipun kata “haqqun” dibuang, namun orang-orang musyrik jahiliyyah dahulu telah memahami bahwa ada kata yang dibuang (yaitu “haqqun”) dengan hanya mendengar kalimat “laa ilaaha illallah”. Karena bagaimanapun, orang-orang musyrik jahiliyyah adalah masyarakat yang fasih dalam berbahasa Arab. (Lihat At-Tamhiid, hal. 77-78)Pembuangan kata ini juga biasa kita temukan dalam bahasa Indonesia. Misalnya, ada seseorang bertanya, “Kamu ada di mana sekarang?” Kemudian orang yang ditanya menjawab, “Di pasar.” Jawaban tersebut mengandung kata yang dibuang, jawaban lengkap seharusnya, “Saya ada di pasar.” Setelah mengetahui makna yang benar dari kalimat “laa ilaaha illallah”, maka perlu diketahui bahwa kalimat tersebut memiliki dua rukun. Rukun yang pertama adalah nafi (meniadakan), yang terkandung dalam kalimat “laa ilaaha”. Maksudnya, meniadakan segala sesembahan selain Allah Ta’ala baik sesembahan yang berupa malaikat, para Nabi atau Rasul, orang-orang shalih, atau segala bentuk sesembahan lainnya. Rukun yang ke dua adalah itsbat (menetapkan), yang terkandung dalam kalimat “illallah”. Maksudnya, menetapkan sifat uluhiyyah tersebut hanya untuk Allah Ta’ala semata. Maka Allah-lah satu-satunya sesembahan yang haq, dan segala sesembahan selain Allah adalah sesembahan yang batil. (Lihat Haqiiqatu Laa Ilaaha Illallah, hal. 108-109) Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata,تحقيق شهادة أن لا إله إلا الله فإنها تنفي عن قلبه إلهية ما سوى الحق وتثبت في قلبه إلهية الحق فيكون نافيا إلهية كل شيء من المخلوقات مثبتا لإلهية رب العالمين رب الأرض والسماوات”Mewujudkan kalimat syahadat ‘laa ilaaha illallah’ berarti meniadakan dari dalam hatinya peribadatan kepada selain Al-Haq (yaitu Allah, pent.) dan menetapkan di dalam hatinya peribadatan kepada Al-Haq. Sehingga dia menafikan peribadatan kepada seluruh makhluk dan menetapkan peribadatan kepada Rabb alam semesta, Rabb langit dan bumi.” (Al-‘Ubuudiyyah, 1: 47)Baca Juga: Membersihkan Dan Menyempurnakan Tauhid Kisah Pemuda Ahli Tauhid Yang Pemberani [Bersambung]***@Jogjakarta, 1 Jumadil Awwal 1440/ 7 Januari 2019Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.Or.Id🔍 Hukum Ruqyah, Tata Cara Shalat Witir Sesuai Sunnah, Dosa Zina Mata, Zahir Adalah, Solat Ashar

Kiat-Kiat Meraih Shalat Khusyuk (Bag. 3)

Baca pembahasan sebelumnya  Kiat-Kiat Meraih Shalat Khusyuk (Bag. 2)Memvariasikan doa atau dzikir (bacaan) yang dipilih ketika shalatSeringkali seseorang hanya menghafal satu macam bacaan yang dia baca ketika posisi tertentu dalam shalat. Padahal, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan beberapa jenis bacaan yang bisa dibaca ketika berada dalam posisi tersebut. Sebagai akibatnya, dia hanya membaca bacaan tersebut setiap shalat, seolah-olah hafal di luar kepala dan sifatnya otomatis, sehingga mengurangi kekhusyukannya.Di antara kiat meraih shalat khusyuk adalah dia menghafal semua model bacaan yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan merenungi kandungan maknanya. Lalu dia membaca bacaan tersebut secara bergantian ketika shalat.Misalnya, terdapat beberapa model bacaan istiftah ketika shalat. Seseorang bisa membaca,سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ وَتَبَارَكَ اسْمُكَ وَتَعَالَى جَدُّكَ وَلاَ إِلَهَ غَيْرُكَ“Maha suci Engkau ya Allah, aku memuji-Mu, dan Maha berkah Nama-Mu. Maha tinggi kekayaan dan kebesaran-Mu, tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar selain Engkau.” (HR. Muslim no. 399, Abu Daud no. 775, Tirmidzi no. 242, Ibnu Majah no. 804).Baca Juga: Shalat di Masjid yang Ada KuburDoa istiftah lain yang juga bisa diamalkan,اللَّهُمَّ بَاعِدْ بَيْنِي وَبَيْنَ خَطَايَايَ كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ اللَّهُمَّ نَقِّنِي مِنْ خَطَايَايَ كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الْأَبْيَضُ مِنْ الدَّنَسِ اللَّهُمَّ اغْسِلْنِي مِنْ خَطَايَايَ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ“Ya Allah, jauhkanlah antara aku dan kesalahan-kesalahanku, sebagaimana Engkau telah menjauhkan antara timur dan barat. Ya Allah, bersihkanlah aku dari kesalahan-kesalahanku, sebagaimana baju putih yang dibersihkan dari kotoran. Ya Allah, cucilah aku dari kesalahan-kesalahanku dengan air, salju dan embun.” (HR. Bukhari no. 744, Muslim no. 598, An-Nasa’i no. 896. Lafadz hadits ini milik An-Nasa’i)Atau doa istiftah yang lain,اللَّهِ أَكْبَرُ وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيفًا مُسْلِمًا وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ، إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ لَا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ، اللَّهُمَّ أَنْتَ الْمَلِكُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ وَبِحَمْدِكَ“Aku hadapkan wajahku kepada Dzat yang Maha Pencipta langit dan bumi sebagai muslim yang ikhlas dan aku bukan termasuk orang yang musyrik. Sesungguhnya shalatku, sembelihanku, hidupku dan matiku, hanya semata-mata untuk Allah, Rabb semesta alam. Tidak ada sekutu bagi-Nya. Oleh karena itu aku patuh kepada perintah-Nya, dan aku termasuk orang-orang yang berserah diri. Ya Allah, Engkaulah Maha Penguasa. Tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Engkau. Maha Suci Engkau dan Maha Terpuji.” (HR. An-Nasa’i no. 898 dan dinilai shahih oleh Al-Albani) [1]Baca Juga: Fatwa Ulama: Sedang Sakit, Bolehkah Tidak Shalat Berjamaah Di Masjid?Untuk meraih kekhusyukan shalat, seseorang di satu shalat membaca doa istiftah A, di shalat yang lain membaca doa istiftah B, dan begitulah seterusnya. Namun, seseorang tidak boleh membaca semua doa istiftah tersebut dalam sekali shalat, karena hal semacam ini tidak dituntunkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Manfaat lain selain meraih kekhusyukan adalah hal ini menunjukkan semangat seseorang untuk mengamalkan semua sunnah yang ada dan telah dia ketahui.Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullahu Ta’ala berkata setelah menyebutkan beberapa doa istiftah,“Engkau (terkadang) membaca (doa) ini, dan terkadang membaca (doa) yang itu, agar Engkau dapat mengamalkan semua sunnah yang ada. Jika Engkau mengumpulkan semua doa yang ada (maksudnya, membaca semua doa tersebut dalam satu shalat, pent.), maka Engkau telah menyelisihi sunnah. Dalil masalah ini adalah bahwa Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu ketika bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Doa apa yang Engkau baca?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah menyebutkan kecuali satu doa saja. Sehingga hal ini menunjukkan bahwa doa-doa tersebut tidak boleh dikumpulkan jadi satu.” (Shifatus Shalat, hal. 81)Dapat diqiyaskan dalam doa istiftah ini adalah semua doa atau dzikir yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, baik ketika ruku’, sujud, i’tidal, dan yang lainnya.Penulis Kitaabul Adab -Fuad ‘Abdul ‘Aziz Asy-Syahlub- berkata setelah menyebutkan lima model variasi doa setelah makan yang terdapat tuntunannya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,“Dianjurkan untuk mengamalkan semua lafadz pujian yang ada (dalilnya) setelah selesai makan, terkadang doa yang ini, dan terkadang doa yang itu. Sehingga dia menjaga (mengamalkan) sunnah dari semua sisi dan meraih keberkahan doa tertentu. Selain itu, seseorang akan lebih merasakan dalam jiwanya hadirnya makna (kandungan) doa-doa tersebut ketika mengucapkan doa tertentu di waktu tertentu, dan mengucapkan doa yang lain di waktu yang lainnya. Karena jiwa manusia itu jika terbiasa melakukan suatu perkara tertentu –seperti terbiasa membaca dzikir tertentu-, maka karena banyak diulang-ulang, akhirnya berkuranglah perenungan terhadap makna doa tersebut karena banyak diulang (sehingga seolah-olah seperti “gerak refleks”, pent.).” (Kitaabul Adaab, hal. 156)Demikianlah sedikit pembahasan tentang kita meraih shalat khusyuk, semoga Allah Ta’ala mudahkan kita dalam mengamalkannya. [2]Baca Juga:[Selesai]***@Puri Gardenia, 20 Jumadil awwal 1440/ 26 Januari 2018Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.Or.IdCatatan kaki:[1] Disarikan dari kitab Shifatush Shalaat, karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullahu Ta’ala, hal. 174-181 (penerbit Muassasah Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, cetakan ke dua tahun 1434 H) ditambah pembahasan dari kitab lainnya.[2] Untuk doa-doa istiftah yang lain, dapat dibaca di tulisan berikut ini:Macam – Macam Doa Istiftah🔍 Nikah Sirri, Sunnah Poligami, Cara Mengqada Solat, Hadits Tentang Iri Dan Dengki, Hakikat Syahadat Tauhid

Kiat-Kiat Meraih Shalat Khusyuk (Bag. 3)

Baca pembahasan sebelumnya  Kiat-Kiat Meraih Shalat Khusyuk (Bag. 2)Memvariasikan doa atau dzikir (bacaan) yang dipilih ketika shalatSeringkali seseorang hanya menghafal satu macam bacaan yang dia baca ketika posisi tertentu dalam shalat. Padahal, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan beberapa jenis bacaan yang bisa dibaca ketika berada dalam posisi tersebut. Sebagai akibatnya, dia hanya membaca bacaan tersebut setiap shalat, seolah-olah hafal di luar kepala dan sifatnya otomatis, sehingga mengurangi kekhusyukannya.Di antara kiat meraih shalat khusyuk adalah dia menghafal semua model bacaan yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan merenungi kandungan maknanya. Lalu dia membaca bacaan tersebut secara bergantian ketika shalat.Misalnya, terdapat beberapa model bacaan istiftah ketika shalat. Seseorang bisa membaca,سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ وَتَبَارَكَ اسْمُكَ وَتَعَالَى جَدُّكَ وَلاَ إِلَهَ غَيْرُكَ“Maha suci Engkau ya Allah, aku memuji-Mu, dan Maha berkah Nama-Mu. Maha tinggi kekayaan dan kebesaran-Mu, tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar selain Engkau.” (HR. Muslim no. 399, Abu Daud no. 775, Tirmidzi no. 242, Ibnu Majah no. 804).Baca Juga: Shalat di Masjid yang Ada KuburDoa istiftah lain yang juga bisa diamalkan,اللَّهُمَّ بَاعِدْ بَيْنِي وَبَيْنَ خَطَايَايَ كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ اللَّهُمَّ نَقِّنِي مِنْ خَطَايَايَ كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الْأَبْيَضُ مِنْ الدَّنَسِ اللَّهُمَّ اغْسِلْنِي مِنْ خَطَايَايَ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ“Ya Allah, jauhkanlah antara aku dan kesalahan-kesalahanku, sebagaimana Engkau telah menjauhkan antara timur dan barat. Ya Allah, bersihkanlah aku dari kesalahan-kesalahanku, sebagaimana baju putih yang dibersihkan dari kotoran. Ya Allah, cucilah aku dari kesalahan-kesalahanku dengan air, salju dan embun.” (HR. Bukhari no. 744, Muslim no. 598, An-Nasa’i no. 896. Lafadz hadits ini milik An-Nasa’i)Atau doa istiftah yang lain,اللَّهِ أَكْبَرُ وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيفًا مُسْلِمًا وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ، إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ لَا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ، اللَّهُمَّ أَنْتَ الْمَلِكُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ وَبِحَمْدِكَ“Aku hadapkan wajahku kepada Dzat yang Maha Pencipta langit dan bumi sebagai muslim yang ikhlas dan aku bukan termasuk orang yang musyrik. Sesungguhnya shalatku, sembelihanku, hidupku dan matiku, hanya semata-mata untuk Allah, Rabb semesta alam. Tidak ada sekutu bagi-Nya. Oleh karena itu aku patuh kepada perintah-Nya, dan aku termasuk orang-orang yang berserah diri. Ya Allah, Engkaulah Maha Penguasa. Tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Engkau. Maha Suci Engkau dan Maha Terpuji.” (HR. An-Nasa’i no. 898 dan dinilai shahih oleh Al-Albani) [1]Baca Juga: Fatwa Ulama: Sedang Sakit, Bolehkah Tidak Shalat Berjamaah Di Masjid?Untuk meraih kekhusyukan shalat, seseorang di satu shalat membaca doa istiftah A, di shalat yang lain membaca doa istiftah B, dan begitulah seterusnya. Namun, seseorang tidak boleh membaca semua doa istiftah tersebut dalam sekali shalat, karena hal semacam ini tidak dituntunkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Manfaat lain selain meraih kekhusyukan adalah hal ini menunjukkan semangat seseorang untuk mengamalkan semua sunnah yang ada dan telah dia ketahui.Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullahu Ta’ala berkata setelah menyebutkan beberapa doa istiftah,“Engkau (terkadang) membaca (doa) ini, dan terkadang membaca (doa) yang itu, agar Engkau dapat mengamalkan semua sunnah yang ada. Jika Engkau mengumpulkan semua doa yang ada (maksudnya, membaca semua doa tersebut dalam satu shalat, pent.), maka Engkau telah menyelisihi sunnah. Dalil masalah ini adalah bahwa Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu ketika bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Doa apa yang Engkau baca?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah menyebutkan kecuali satu doa saja. Sehingga hal ini menunjukkan bahwa doa-doa tersebut tidak boleh dikumpulkan jadi satu.” (Shifatus Shalat, hal. 81)Dapat diqiyaskan dalam doa istiftah ini adalah semua doa atau dzikir yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, baik ketika ruku’, sujud, i’tidal, dan yang lainnya.Penulis Kitaabul Adab -Fuad ‘Abdul ‘Aziz Asy-Syahlub- berkata setelah menyebutkan lima model variasi doa setelah makan yang terdapat tuntunannya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,“Dianjurkan untuk mengamalkan semua lafadz pujian yang ada (dalilnya) setelah selesai makan, terkadang doa yang ini, dan terkadang doa yang itu. Sehingga dia menjaga (mengamalkan) sunnah dari semua sisi dan meraih keberkahan doa tertentu. Selain itu, seseorang akan lebih merasakan dalam jiwanya hadirnya makna (kandungan) doa-doa tersebut ketika mengucapkan doa tertentu di waktu tertentu, dan mengucapkan doa yang lain di waktu yang lainnya. Karena jiwa manusia itu jika terbiasa melakukan suatu perkara tertentu –seperti terbiasa membaca dzikir tertentu-, maka karena banyak diulang-ulang, akhirnya berkuranglah perenungan terhadap makna doa tersebut karena banyak diulang (sehingga seolah-olah seperti “gerak refleks”, pent.).” (Kitaabul Adaab, hal. 156)Demikianlah sedikit pembahasan tentang kita meraih shalat khusyuk, semoga Allah Ta’ala mudahkan kita dalam mengamalkannya. [2]Baca Juga:[Selesai]***@Puri Gardenia, 20 Jumadil awwal 1440/ 26 Januari 2018Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.Or.IdCatatan kaki:[1] Disarikan dari kitab Shifatush Shalaat, karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullahu Ta’ala, hal. 174-181 (penerbit Muassasah Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, cetakan ke dua tahun 1434 H) ditambah pembahasan dari kitab lainnya.[2] Untuk doa-doa istiftah yang lain, dapat dibaca di tulisan berikut ini:Macam – Macam Doa Istiftah🔍 Nikah Sirri, Sunnah Poligami, Cara Mengqada Solat, Hadits Tentang Iri Dan Dengki, Hakikat Syahadat Tauhid
Baca pembahasan sebelumnya  Kiat-Kiat Meraih Shalat Khusyuk (Bag. 2)Memvariasikan doa atau dzikir (bacaan) yang dipilih ketika shalatSeringkali seseorang hanya menghafal satu macam bacaan yang dia baca ketika posisi tertentu dalam shalat. Padahal, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan beberapa jenis bacaan yang bisa dibaca ketika berada dalam posisi tersebut. Sebagai akibatnya, dia hanya membaca bacaan tersebut setiap shalat, seolah-olah hafal di luar kepala dan sifatnya otomatis, sehingga mengurangi kekhusyukannya.Di antara kiat meraih shalat khusyuk adalah dia menghafal semua model bacaan yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan merenungi kandungan maknanya. Lalu dia membaca bacaan tersebut secara bergantian ketika shalat.Misalnya, terdapat beberapa model bacaan istiftah ketika shalat. Seseorang bisa membaca,سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ وَتَبَارَكَ اسْمُكَ وَتَعَالَى جَدُّكَ وَلاَ إِلَهَ غَيْرُكَ“Maha suci Engkau ya Allah, aku memuji-Mu, dan Maha berkah Nama-Mu. Maha tinggi kekayaan dan kebesaran-Mu, tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar selain Engkau.” (HR. Muslim no. 399, Abu Daud no. 775, Tirmidzi no. 242, Ibnu Majah no. 804).Baca Juga: Shalat di Masjid yang Ada KuburDoa istiftah lain yang juga bisa diamalkan,اللَّهُمَّ بَاعِدْ بَيْنِي وَبَيْنَ خَطَايَايَ كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ اللَّهُمَّ نَقِّنِي مِنْ خَطَايَايَ كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الْأَبْيَضُ مِنْ الدَّنَسِ اللَّهُمَّ اغْسِلْنِي مِنْ خَطَايَايَ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ“Ya Allah, jauhkanlah antara aku dan kesalahan-kesalahanku, sebagaimana Engkau telah menjauhkan antara timur dan barat. Ya Allah, bersihkanlah aku dari kesalahan-kesalahanku, sebagaimana baju putih yang dibersihkan dari kotoran. Ya Allah, cucilah aku dari kesalahan-kesalahanku dengan air, salju dan embun.” (HR. Bukhari no. 744, Muslim no. 598, An-Nasa’i no. 896. Lafadz hadits ini milik An-Nasa’i)Atau doa istiftah yang lain,اللَّهِ أَكْبَرُ وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيفًا مُسْلِمًا وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ، إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ لَا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ، اللَّهُمَّ أَنْتَ الْمَلِكُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ وَبِحَمْدِكَ“Aku hadapkan wajahku kepada Dzat yang Maha Pencipta langit dan bumi sebagai muslim yang ikhlas dan aku bukan termasuk orang yang musyrik. Sesungguhnya shalatku, sembelihanku, hidupku dan matiku, hanya semata-mata untuk Allah, Rabb semesta alam. Tidak ada sekutu bagi-Nya. Oleh karena itu aku patuh kepada perintah-Nya, dan aku termasuk orang-orang yang berserah diri. Ya Allah, Engkaulah Maha Penguasa. Tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Engkau. Maha Suci Engkau dan Maha Terpuji.” (HR. An-Nasa’i no. 898 dan dinilai shahih oleh Al-Albani) [1]Baca Juga: Fatwa Ulama: Sedang Sakit, Bolehkah Tidak Shalat Berjamaah Di Masjid?Untuk meraih kekhusyukan shalat, seseorang di satu shalat membaca doa istiftah A, di shalat yang lain membaca doa istiftah B, dan begitulah seterusnya. Namun, seseorang tidak boleh membaca semua doa istiftah tersebut dalam sekali shalat, karena hal semacam ini tidak dituntunkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Manfaat lain selain meraih kekhusyukan adalah hal ini menunjukkan semangat seseorang untuk mengamalkan semua sunnah yang ada dan telah dia ketahui.Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullahu Ta’ala berkata setelah menyebutkan beberapa doa istiftah,“Engkau (terkadang) membaca (doa) ini, dan terkadang membaca (doa) yang itu, agar Engkau dapat mengamalkan semua sunnah yang ada. Jika Engkau mengumpulkan semua doa yang ada (maksudnya, membaca semua doa tersebut dalam satu shalat, pent.), maka Engkau telah menyelisihi sunnah. Dalil masalah ini adalah bahwa Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu ketika bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Doa apa yang Engkau baca?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah menyebutkan kecuali satu doa saja. Sehingga hal ini menunjukkan bahwa doa-doa tersebut tidak boleh dikumpulkan jadi satu.” (Shifatus Shalat, hal. 81)Dapat diqiyaskan dalam doa istiftah ini adalah semua doa atau dzikir yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, baik ketika ruku’, sujud, i’tidal, dan yang lainnya.Penulis Kitaabul Adab -Fuad ‘Abdul ‘Aziz Asy-Syahlub- berkata setelah menyebutkan lima model variasi doa setelah makan yang terdapat tuntunannya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,“Dianjurkan untuk mengamalkan semua lafadz pujian yang ada (dalilnya) setelah selesai makan, terkadang doa yang ini, dan terkadang doa yang itu. Sehingga dia menjaga (mengamalkan) sunnah dari semua sisi dan meraih keberkahan doa tertentu. Selain itu, seseorang akan lebih merasakan dalam jiwanya hadirnya makna (kandungan) doa-doa tersebut ketika mengucapkan doa tertentu di waktu tertentu, dan mengucapkan doa yang lain di waktu yang lainnya. Karena jiwa manusia itu jika terbiasa melakukan suatu perkara tertentu –seperti terbiasa membaca dzikir tertentu-, maka karena banyak diulang-ulang, akhirnya berkuranglah perenungan terhadap makna doa tersebut karena banyak diulang (sehingga seolah-olah seperti “gerak refleks”, pent.).” (Kitaabul Adaab, hal. 156)Demikianlah sedikit pembahasan tentang kita meraih shalat khusyuk, semoga Allah Ta’ala mudahkan kita dalam mengamalkannya. [2]Baca Juga:[Selesai]***@Puri Gardenia, 20 Jumadil awwal 1440/ 26 Januari 2018Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.Or.IdCatatan kaki:[1] Disarikan dari kitab Shifatush Shalaat, karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullahu Ta’ala, hal. 174-181 (penerbit Muassasah Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, cetakan ke dua tahun 1434 H) ditambah pembahasan dari kitab lainnya.[2] Untuk doa-doa istiftah yang lain, dapat dibaca di tulisan berikut ini:Macam – Macam Doa Istiftah🔍 Nikah Sirri, Sunnah Poligami, Cara Mengqada Solat, Hadits Tentang Iri Dan Dengki, Hakikat Syahadat Tauhid


Baca pembahasan sebelumnya  Kiat-Kiat Meraih Shalat Khusyuk (Bag. 2)Memvariasikan doa atau dzikir (bacaan) yang dipilih ketika shalatSeringkali seseorang hanya menghafal satu macam bacaan yang dia baca ketika posisi tertentu dalam shalat. Padahal, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan beberapa jenis bacaan yang bisa dibaca ketika berada dalam posisi tersebut. Sebagai akibatnya, dia hanya membaca bacaan tersebut setiap shalat, seolah-olah hafal di luar kepala dan sifatnya otomatis, sehingga mengurangi kekhusyukannya.Di antara kiat meraih shalat khusyuk adalah dia menghafal semua model bacaan yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan merenungi kandungan maknanya. Lalu dia membaca bacaan tersebut secara bergantian ketika shalat.Misalnya, terdapat beberapa model bacaan istiftah ketika shalat. Seseorang bisa membaca,سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ وَتَبَارَكَ اسْمُكَ وَتَعَالَى جَدُّكَ وَلاَ إِلَهَ غَيْرُكَ“Maha suci Engkau ya Allah, aku memuji-Mu, dan Maha berkah Nama-Mu. Maha tinggi kekayaan dan kebesaran-Mu, tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar selain Engkau.” (HR. Muslim no. 399, Abu Daud no. 775, Tirmidzi no. 242, Ibnu Majah no. 804).Baca Juga: Shalat di Masjid yang Ada KuburDoa istiftah lain yang juga bisa diamalkan,اللَّهُمَّ بَاعِدْ بَيْنِي وَبَيْنَ خَطَايَايَ كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ اللَّهُمَّ نَقِّنِي مِنْ خَطَايَايَ كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الْأَبْيَضُ مِنْ الدَّنَسِ اللَّهُمَّ اغْسِلْنِي مِنْ خَطَايَايَ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ“Ya Allah, jauhkanlah antara aku dan kesalahan-kesalahanku, sebagaimana Engkau telah menjauhkan antara timur dan barat. Ya Allah, bersihkanlah aku dari kesalahan-kesalahanku, sebagaimana baju putih yang dibersihkan dari kotoran. Ya Allah, cucilah aku dari kesalahan-kesalahanku dengan air, salju dan embun.” (HR. Bukhari no. 744, Muslim no. 598, An-Nasa’i no. 896. Lafadz hadits ini milik An-Nasa’i)Atau doa istiftah yang lain,اللَّهِ أَكْبَرُ وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيفًا مُسْلِمًا وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ، إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ لَا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ، اللَّهُمَّ أَنْتَ الْمَلِكُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ وَبِحَمْدِكَ“Aku hadapkan wajahku kepada Dzat yang Maha Pencipta langit dan bumi sebagai muslim yang ikhlas dan aku bukan termasuk orang yang musyrik. Sesungguhnya shalatku, sembelihanku, hidupku dan matiku, hanya semata-mata untuk Allah, Rabb semesta alam. Tidak ada sekutu bagi-Nya. Oleh karena itu aku patuh kepada perintah-Nya, dan aku termasuk orang-orang yang berserah diri. Ya Allah, Engkaulah Maha Penguasa. Tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Engkau. Maha Suci Engkau dan Maha Terpuji.” (HR. An-Nasa’i no. 898 dan dinilai shahih oleh Al-Albani) [1]Baca Juga: Fatwa Ulama: Sedang Sakit, Bolehkah Tidak Shalat Berjamaah Di Masjid?Untuk meraih kekhusyukan shalat, seseorang di satu shalat membaca doa istiftah A, di shalat yang lain membaca doa istiftah B, dan begitulah seterusnya. Namun, seseorang tidak boleh membaca semua doa istiftah tersebut dalam sekali shalat, karena hal semacam ini tidak dituntunkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Manfaat lain selain meraih kekhusyukan adalah hal ini menunjukkan semangat seseorang untuk mengamalkan semua sunnah yang ada dan telah dia ketahui.Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullahu Ta’ala berkata setelah menyebutkan beberapa doa istiftah,“Engkau (terkadang) membaca (doa) ini, dan terkadang membaca (doa) yang itu, agar Engkau dapat mengamalkan semua sunnah yang ada. Jika Engkau mengumpulkan semua doa yang ada (maksudnya, membaca semua doa tersebut dalam satu shalat, pent.), maka Engkau telah menyelisihi sunnah. Dalil masalah ini adalah bahwa Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu ketika bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Doa apa yang Engkau baca?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah menyebutkan kecuali satu doa saja. Sehingga hal ini menunjukkan bahwa doa-doa tersebut tidak boleh dikumpulkan jadi satu.” (Shifatus Shalat, hal. 81)Dapat diqiyaskan dalam doa istiftah ini adalah semua doa atau dzikir yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, baik ketika ruku’, sujud, i’tidal, dan yang lainnya.Penulis Kitaabul Adab -Fuad ‘Abdul ‘Aziz Asy-Syahlub- berkata setelah menyebutkan lima model variasi doa setelah makan yang terdapat tuntunannya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,“Dianjurkan untuk mengamalkan semua lafadz pujian yang ada (dalilnya) setelah selesai makan, terkadang doa yang ini, dan terkadang doa yang itu. Sehingga dia menjaga (mengamalkan) sunnah dari semua sisi dan meraih keberkahan doa tertentu. Selain itu, seseorang akan lebih merasakan dalam jiwanya hadirnya makna (kandungan) doa-doa tersebut ketika mengucapkan doa tertentu di waktu tertentu, dan mengucapkan doa yang lain di waktu yang lainnya. Karena jiwa manusia itu jika terbiasa melakukan suatu perkara tertentu –seperti terbiasa membaca dzikir tertentu-, maka karena banyak diulang-ulang, akhirnya berkuranglah perenungan terhadap makna doa tersebut karena banyak diulang (sehingga seolah-olah seperti “gerak refleks”, pent.).” (Kitaabul Adaab, hal. 156)Demikianlah sedikit pembahasan tentang kita meraih shalat khusyuk, semoga Allah Ta’ala mudahkan kita dalam mengamalkannya. [2]Baca Juga:[Selesai]***@Puri Gardenia, 20 Jumadil awwal 1440/ 26 Januari 2018Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.Or.IdCatatan kaki:[1] Disarikan dari kitab Shifatush Shalaat, karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullahu Ta’ala, hal. 174-181 (penerbit Muassasah Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, cetakan ke dua tahun 1434 H) ditambah pembahasan dari kitab lainnya.[2] Untuk doa-doa istiftah yang lain, dapat dibaca di tulisan berikut ini:Macam – Macam Doa Istiftah<iframe class="wp-embedded-content" sandbox="allow-scripts" security="restricted" style="position: absolute; clip: rect(1px, 1px, 1px, 1px);" src="http://muslim.or.id/7934-macam-%e2%80%93-macam-doa-istiftah.html/embed#?secret=r10ox9TGCe" data-secret="r10ox9TGCe" width="500" height="282" title="&#8220;Macam – Macam Doa Istiftah&#8221; &#8212; Muslim.Or.Id" frameborder="0" marginwidth="0" marginheight="0" scrolling="no"></iframe>🔍 Nikah Sirri, Sunnah Poligami, Cara Mengqada Solat, Hadits Tentang Iri Dan Dengki, Hakikat Syahadat Tauhid

Modal Dasar Berdoa pada Allah (3)

Baca pembahasan sebelumnya Modal Dasar Berdoa pada Allah (3)Agar Doa DikabulkanIbnul Qayyim rahimahullah menjelaskan syarat dan adab yang penting dalam berdoa pada Allah.Beberapa adab yang penting dalam berdoa bisa dirangkum sebagai berikut: Kehadiran dan kosentrasi hati secara totalitas terhadap perkara yang diharapkan dalam doa. Mencari waktu dikabulkannya doa. Berdoa dengan hati yang khusyu’, merasa tak berdaya di hadapan Allah, merendahkan diri dan tunduk kepada-Nya, serta lembut (dalam berdoa). 4. Menghadapnya hamba yang berdoa ke arah kiblat. Dalam keadaan suci. Mengangkat kedua tangan (memohon) kepada Allah. Memulai (doanya) dengan memuji Allah dan menyanjung-Nya. Bershalawat untuk hamba dan Rasul-Nya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Memulai dengan bertaubat dan beristigfar (kepada Allah) sebelum menyebutkan keperluan (lainnya). Menghadap kepada Allah, memelas dalam berdoa, dan merendahkan diri kepada-Nya Menggabungkan harap dan cemas dalam berdoa kepada-Nya. Bertawassul dengan nama dan sifat-Nya dengan mentauhidkan-Nya. Mendahului doa dengan bersedekah. Memilih lafal doa yang Nabi shallallahu’alaihi wa sallam beritakan bahwa lafal tersebut berpotensi untuk dikabulkan atau mengandung nama-Nya yang agung. Maka doa yang seperti ini tidak akan tertolak, hanya saja ada suatu perkara yang diwanti-wanti oleh para ulama, yaitu seseorang yang sedang berdoa, di samping memenuhi adab dan syarat agar doa dikabulkan, juga perlu memenuhi konsekuensi dan penyempurna doa berupa berusaha dengan sungguh-sungguh mengambil sebab untuk meraih perkara yang diminta dalam doanya.Disebutkan dalam Majmu’ul Fawa’id waqtinashil Awabid, karya Ibnu Sa’di rahimahullah, “Permohonan hidayah kepada Allah itu menuntut (seseorang yang berdoa) melakukan seluruh sebab yang dengannya diperoleh hidayah, baik berupa sebab (mencari) ilmu maupun sebab (mengamalkan) amal (shalih).Permohonan rahmah dan ampunan kepada Allah, menuntut (seseorang yang berdoa) melakukan (seluruh) sebab yang memungkinkan dengannya diperoleh rahmah dan ampunan, dan sebab-sebab tersebut telah diketahui dalam Al-Qur`an dan As-Sunnah.  Apabila seseorang yang berdoa mengucapkanاللهم أصلح لي ديني الذي هــــو عصمة أمري ، وأصلح لي دنياي التي فيهـا معاشي … » (1) إلى آخره“Ya Allah perbaikilah agamaku untukku yang ia merupakan benteng pelindung bagi urusanku dan perbaikilah duniaku untukku yang ia menjadi tempat hidupku…(sampai akhir doa ini).”(Maka) doa dan permohonan perlindungan kepada Allah ini menuntut seorang hamba berusaha memperbaiki agamanya dengan mengenal kebenaran dan mengikutinya, serta mengenal kebatilan dan menjauhinya, serta menolak fitnah syubhat dan syahwat.Doa inipun menuntut (seorang hamba) untuk berusaha dan mengambil sebab yang dengannya menjadi baik urusan dunianya, dan sebab-sebab tersebut beraneka ragam sesuai dengan keadaan makhluk.[Bersambung]Daftar link artikel ini: Modal Dasar Berdoa pada Allah (1) Modal Dasar Berdoa pada Allah (2) Modal Dasar Berdoa pada Allah (3) Penulis: Sa’id Abu Ukkasyah Artikel: Muslim.or.id🔍 Kumpulan Hadits Palsu, Bacaan Setelah Salam, Pengertian Miskin Menurut Islam, Dakwah Sunah, Waktu Sholat Dzuhur

Modal Dasar Berdoa pada Allah (3)

Baca pembahasan sebelumnya Modal Dasar Berdoa pada Allah (3)Agar Doa DikabulkanIbnul Qayyim rahimahullah menjelaskan syarat dan adab yang penting dalam berdoa pada Allah.Beberapa adab yang penting dalam berdoa bisa dirangkum sebagai berikut: Kehadiran dan kosentrasi hati secara totalitas terhadap perkara yang diharapkan dalam doa. Mencari waktu dikabulkannya doa. Berdoa dengan hati yang khusyu’, merasa tak berdaya di hadapan Allah, merendahkan diri dan tunduk kepada-Nya, serta lembut (dalam berdoa). 4. Menghadapnya hamba yang berdoa ke arah kiblat. Dalam keadaan suci. Mengangkat kedua tangan (memohon) kepada Allah. Memulai (doanya) dengan memuji Allah dan menyanjung-Nya. Bershalawat untuk hamba dan Rasul-Nya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Memulai dengan bertaubat dan beristigfar (kepada Allah) sebelum menyebutkan keperluan (lainnya). Menghadap kepada Allah, memelas dalam berdoa, dan merendahkan diri kepada-Nya Menggabungkan harap dan cemas dalam berdoa kepada-Nya. Bertawassul dengan nama dan sifat-Nya dengan mentauhidkan-Nya. Mendahului doa dengan bersedekah. Memilih lafal doa yang Nabi shallallahu’alaihi wa sallam beritakan bahwa lafal tersebut berpotensi untuk dikabulkan atau mengandung nama-Nya yang agung. Maka doa yang seperti ini tidak akan tertolak, hanya saja ada suatu perkara yang diwanti-wanti oleh para ulama, yaitu seseorang yang sedang berdoa, di samping memenuhi adab dan syarat agar doa dikabulkan, juga perlu memenuhi konsekuensi dan penyempurna doa berupa berusaha dengan sungguh-sungguh mengambil sebab untuk meraih perkara yang diminta dalam doanya.Disebutkan dalam Majmu’ul Fawa’id waqtinashil Awabid, karya Ibnu Sa’di rahimahullah, “Permohonan hidayah kepada Allah itu menuntut (seseorang yang berdoa) melakukan seluruh sebab yang dengannya diperoleh hidayah, baik berupa sebab (mencari) ilmu maupun sebab (mengamalkan) amal (shalih).Permohonan rahmah dan ampunan kepada Allah, menuntut (seseorang yang berdoa) melakukan (seluruh) sebab yang memungkinkan dengannya diperoleh rahmah dan ampunan, dan sebab-sebab tersebut telah diketahui dalam Al-Qur`an dan As-Sunnah.  Apabila seseorang yang berdoa mengucapkanاللهم أصلح لي ديني الذي هــــو عصمة أمري ، وأصلح لي دنياي التي فيهـا معاشي … » (1) إلى آخره“Ya Allah perbaikilah agamaku untukku yang ia merupakan benteng pelindung bagi urusanku dan perbaikilah duniaku untukku yang ia menjadi tempat hidupku…(sampai akhir doa ini).”(Maka) doa dan permohonan perlindungan kepada Allah ini menuntut seorang hamba berusaha memperbaiki agamanya dengan mengenal kebenaran dan mengikutinya, serta mengenal kebatilan dan menjauhinya, serta menolak fitnah syubhat dan syahwat.Doa inipun menuntut (seorang hamba) untuk berusaha dan mengambil sebab yang dengannya menjadi baik urusan dunianya, dan sebab-sebab tersebut beraneka ragam sesuai dengan keadaan makhluk.[Bersambung]Daftar link artikel ini: Modal Dasar Berdoa pada Allah (1) Modal Dasar Berdoa pada Allah (2) Modal Dasar Berdoa pada Allah (3) Penulis: Sa’id Abu Ukkasyah Artikel: Muslim.or.id🔍 Kumpulan Hadits Palsu, Bacaan Setelah Salam, Pengertian Miskin Menurut Islam, Dakwah Sunah, Waktu Sholat Dzuhur
Baca pembahasan sebelumnya Modal Dasar Berdoa pada Allah (3)Agar Doa DikabulkanIbnul Qayyim rahimahullah menjelaskan syarat dan adab yang penting dalam berdoa pada Allah.Beberapa adab yang penting dalam berdoa bisa dirangkum sebagai berikut: Kehadiran dan kosentrasi hati secara totalitas terhadap perkara yang diharapkan dalam doa. Mencari waktu dikabulkannya doa. Berdoa dengan hati yang khusyu’, merasa tak berdaya di hadapan Allah, merendahkan diri dan tunduk kepada-Nya, serta lembut (dalam berdoa). 4. Menghadapnya hamba yang berdoa ke arah kiblat. Dalam keadaan suci. Mengangkat kedua tangan (memohon) kepada Allah. Memulai (doanya) dengan memuji Allah dan menyanjung-Nya. Bershalawat untuk hamba dan Rasul-Nya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Memulai dengan bertaubat dan beristigfar (kepada Allah) sebelum menyebutkan keperluan (lainnya). Menghadap kepada Allah, memelas dalam berdoa, dan merendahkan diri kepada-Nya Menggabungkan harap dan cemas dalam berdoa kepada-Nya. Bertawassul dengan nama dan sifat-Nya dengan mentauhidkan-Nya. Mendahului doa dengan bersedekah. Memilih lafal doa yang Nabi shallallahu’alaihi wa sallam beritakan bahwa lafal tersebut berpotensi untuk dikabulkan atau mengandung nama-Nya yang agung. Maka doa yang seperti ini tidak akan tertolak, hanya saja ada suatu perkara yang diwanti-wanti oleh para ulama, yaitu seseorang yang sedang berdoa, di samping memenuhi adab dan syarat agar doa dikabulkan, juga perlu memenuhi konsekuensi dan penyempurna doa berupa berusaha dengan sungguh-sungguh mengambil sebab untuk meraih perkara yang diminta dalam doanya.Disebutkan dalam Majmu’ul Fawa’id waqtinashil Awabid, karya Ibnu Sa’di rahimahullah, “Permohonan hidayah kepada Allah itu menuntut (seseorang yang berdoa) melakukan seluruh sebab yang dengannya diperoleh hidayah, baik berupa sebab (mencari) ilmu maupun sebab (mengamalkan) amal (shalih).Permohonan rahmah dan ampunan kepada Allah, menuntut (seseorang yang berdoa) melakukan (seluruh) sebab yang memungkinkan dengannya diperoleh rahmah dan ampunan, dan sebab-sebab tersebut telah diketahui dalam Al-Qur`an dan As-Sunnah.  Apabila seseorang yang berdoa mengucapkanاللهم أصلح لي ديني الذي هــــو عصمة أمري ، وأصلح لي دنياي التي فيهـا معاشي … » (1) إلى آخره“Ya Allah perbaikilah agamaku untukku yang ia merupakan benteng pelindung bagi urusanku dan perbaikilah duniaku untukku yang ia menjadi tempat hidupku…(sampai akhir doa ini).”(Maka) doa dan permohonan perlindungan kepada Allah ini menuntut seorang hamba berusaha memperbaiki agamanya dengan mengenal kebenaran dan mengikutinya, serta mengenal kebatilan dan menjauhinya, serta menolak fitnah syubhat dan syahwat.Doa inipun menuntut (seorang hamba) untuk berusaha dan mengambil sebab yang dengannya menjadi baik urusan dunianya, dan sebab-sebab tersebut beraneka ragam sesuai dengan keadaan makhluk.[Bersambung]Daftar link artikel ini: Modal Dasar Berdoa pada Allah (1) Modal Dasar Berdoa pada Allah (2) Modal Dasar Berdoa pada Allah (3) Penulis: Sa’id Abu Ukkasyah Artikel: Muslim.or.id🔍 Kumpulan Hadits Palsu, Bacaan Setelah Salam, Pengertian Miskin Menurut Islam, Dakwah Sunah, Waktu Sholat Dzuhur


Baca pembahasan sebelumnya Modal Dasar Berdoa pada Allah (3)Agar Doa DikabulkanIbnul Qayyim rahimahullah menjelaskan syarat dan adab yang penting dalam berdoa pada Allah.Beberapa adab yang penting dalam berdoa bisa dirangkum sebagai berikut: Kehadiran dan kosentrasi hati secara totalitas terhadap perkara yang diharapkan dalam doa. Mencari waktu dikabulkannya doa. Berdoa dengan hati yang khusyu’, merasa tak berdaya di hadapan Allah, merendahkan diri dan tunduk kepada-Nya, serta lembut (dalam berdoa). 4. Menghadapnya hamba yang berdoa ke arah kiblat. Dalam keadaan suci. Mengangkat kedua tangan (memohon) kepada Allah. Memulai (doanya) dengan memuji Allah dan menyanjung-Nya. Bershalawat untuk hamba dan Rasul-Nya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Memulai dengan bertaubat dan beristigfar (kepada Allah) sebelum menyebutkan keperluan (lainnya). Menghadap kepada Allah, memelas dalam berdoa, dan merendahkan diri kepada-Nya Menggabungkan harap dan cemas dalam berdoa kepada-Nya. Bertawassul dengan nama dan sifat-Nya dengan mentauhidkan-Nya. Mendahului doa dengan bersedekah. Memilih lafal doa yang Nabi shallallahu’alaihi wa sallam beritakan bahwa lafal tersebut berpotensi untuk dikabulkan atau mengandung nama-Nya yang agung. Maka doa yang seperti ini tidak akan tertolak, hanya saja ada suatu perkara yang diwanti-wanti oleh para ulama, yaitu seseorang yang sedang berdoa, di samping memenuhi adab dan syarat agar doa dikabulkan, juga perlu memenuhi konsekuensi dan penyempurna doa berupa berusaha dengan sungguh-sungguh mengambil sebab untuk meraih perkara yang diminta dalam doanya.Disebutkan dalam Majmu’ul Fawa’id waqtinashil Awabid, karya Ibnu Sa’di rahimahullah, “Permohonan hidayah kepada Allah itu menuntut (seseorang yang berdoa) melakukan seluruh sebab yang dengannya diperoleh hidayah, baik berupa sebab (mencari) ilmu maupun sebab (mengamalkan) amal (shalih).Permohonan rahmah dan ampunan kepada Allah, menuntut (seseorang yang berdoa) melakukan (seluruh) sebab yang memungkinkan dengannya diperoleh rahmah dan ampunan, dan sebab-sebab tersebut telah diketahui dalam Al-Qur`an dan As-Sunnah.  Apabila seseorang yang berdoa mengucapkanاللهم أصلح لي ديني الذي هــــو عصمة أمري ، وأصلح لي دنياي التي فيهـا معاشي … » (1) إلى آخره“Ya Allah perbaikilah agamaku untukku yang ia merupakan benteng pelindung bagi urusanku dan perbaikilah duniaku untukku yang ia menjadi tempat hidupku…(sampai akhir doa ini).”(Maka) doa dan permohonan perlindungan kepada Allah ini menuntut seorang hamba berusaha memperbaiki agamanya dengan mengenal kebenaran dan mengikutinya, serta mengenal kebatilan dan menjauhinya, serta menolak fitnah syubhat dan syahwat.Doa inipun menuntut (seorang hamba) untuk berusaha dan mengambil sebab yang dengannya menjadi baik urusan dunianya, dan sebab-sebab tersebut beraneka ragam sesuai dengan keadaan makhluk.[Bersambung]Daftar link artikel ini: Modal Dasar Berdoa pada Allah (1) Modal Dasar Berdoa pada Allah (2) Modal Dasar Berdoa pada Allah (3) Penulis: Sa’id Abu Ukkasyah Artikel: Muslim.or.id🔍 Kumpulan Hadits Palsu, Bacaan Setelah Salam, Pengertian Miskin Menurut Islam, Dakwah Sunah, Waktu Sholat Dzuhur

Metode Beriman kepada Malaikat (Bag. 2)

Baca pembahasan sebelumnya Metode Beriman kepada Malaikat (Bag. 1)Beriman secara keseluruhan, tanpa membeda-bedakanTermasuk dalam iman kepada malaikat secara global (mujmal) adalah beriman kepada seluruh malaikat, tanpa membeda-bedakan, hanya beriman kepada malaikat tertentu, dan mengingkari malaikat yang lainnya. Allah Ta’ala berfirman,آمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنزِلَ إِلَيْهِ مِن رَّبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ كُلٌّ آمَنَ بِاللّهِ وَمَلآئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لاَ نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِّن رُّسُلِهِ وَقَالُواْ سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ“Rasul telah beriman kepada Al Qur’an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan), “Kami tidak membeda-bedakan antara seseorang pun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya.” Dan mereka mengatakan, “Kami mendengar dan kami taat.” (Mereka berdoa), “Ampunilah kami, ya Tuhan kami, dan kepada Engkaulah tempat kembali.” (QS. Al-Baqarah [2]: 285)Allah Ta’ala berfirman,وَمَن يَكْفُرْ بِاللّهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلاَلاً بَعِيداً“Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya.” (QS. An-Nisa’ [4]: 136)Oleh karena itu, wajib beriman terhadap seluruh malaikat, tanpa membeda-bedakan satu pun di antara malaikat dalam masalah keimanan ini. Membeda-bedakan ini bisa jadi dalam masalah jumlah (kuantitas) dan bisa jadi dalam masalah sifat.Dalam masalah jumlah (kuantitas), misalnya hanya beriman kepada sebagian malaikat saja, dan mengingkari sebagian malaikat yang lain. Yang semacam ini berarti bertentangan dengan ayat-ayat yang telah disebutkan di atas, bahwa keimanan kepada malaikat itu mencakup iman kepada seluruh malaikat, tanpa membeda-bedakan.Baca Juga: Mengenal Alam MalaikatBeberapa bentuk terlarang yang terkait dengan melekatkan sifat tertentu kepada malaikatBeberapa bentuk terlarang yang terkait dengan melekatkan sifat tertentu kepada malaikat adalah:Pertama, keyakinan bahwa malaikat itu memiliki hak untuk diibadahiAllah Ta’ala telah memerintahkan kita untuk beriman kepada malaikat, dan juga memerintahkan kita untuk tidak menjadikan malaikat sebagai Rabb yang disembah, dan melarang kita dari menjadikan mereka sebagai sekutu (tandingan) bagi Allah Ta’ala.Allah Ta’ala berfirman,قُولُواْ آمَنَّا بِاللّهِ وَمَا أُنزِلَ إِلَيْنَا وَمَا أُنزِلَ إِلَى إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَالأسْبَاطِ وَمَا أُوتِيَ مُوسَى وَعِيسَى وَمَا أُوتِيَ النَّبِيُّونَ مِن رَّبِّهِمْ لاَ نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِّنْهُمْ وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ“Katakanlah (hai orang-orang mukmin), “Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’qub, dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa dan Isa, serta apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhannya. Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya.” (QS. Al-Baqarah [2]: 285)Allah Ta’ala memperingatkan,وَلاَ يَأْمُرَكُمْ أَن تَتَّخِذُواْ الْمَلاَئِكَةَ وَالنِّبِيِّيْنَ أَرْبَاباً أَيَأْمُرُكُم بِالْكُفْرِ بَعْدَ إِذْ أَنتُم مُّسْلِمُونَ“Dan (tidak wajar pula baginya) menyuruhmu menjadikan malaikat dan para Nabi sebagai Tuhan. Apakah (patut) dia menyuruhmu berbuat kekafiran di waktu kamu sudah (menganut agama) Islam?” (QS. Ali ‘Imran [3]: 80)Malaikat tidaklah memiliki sifat yang hanya khusus dimiliki oleh Allah Ta’ala, baik dalam hal uluhiyyah maupun rububiyyah. Malaikat tidak memiliki sifat rububiyyah dan uluhiyyah, yang itu khusus untuk Allah Ta’ala. Sehingga kita katakan, “Jangan sujud kepada malaikat, jangan shalat kepada malaikat, dan jangan berdoa meminta kepada malaikat.” Inilah hakikat tauhid. Dan perkataan semacam ini tidaklah menunjukkan rendahnya kedudukan malaikat atau berarti mencela mereka. Sama sekali tidak.Kedua, keyakinan bahwa malaikat itu adalah anak perempuan Allah Ini adalah keyakinan sebagian kaum musyrikin Arab. Ketika mereka meyakini bahwa malaikat itu berjenis perempuan, lalu mereka meyakini bahwa malaikat itu adalah anak perempuan Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman,وَجَعَلُوا لَهُ مِنْ عِبَادِهِ جُزْءاً إِنَّ الْإِنسَانَ لَكَفُورٌ مُّبِينٌ“Dan mereka menjadikan sebagian dari hamba-hamba-Nya sebagai bagian dari-Nya. Sesungguhnya manusia itu benar-benar pengingkar yang nyata (terhadap rahmat Allah).”أَمِ اتَّخَذَ مِمَّا يَخْلُقُ بَنَاتٍ وَأَصْفَاكُم بِالْبَنِينَ“Patutkah Dia mengambil anak perempuan dari yang diciptakan-Nya dan Dia mengkhususkan buat kamu anak laki-laki.”وَإِذَا بُشِّرَ أَحَدُهُم بِمَا ضَرَبَ لِلرَّحْمَنِ مَثَلاً ظَلَّ وَجْهُهُ مُسْوَدّاً وَهُوَ كَظِيمٌ“Padahal apabila salah seorang di antara mereka diberi kabar gembira dengan apa yang dijadikan sebagai misal bagi Allah Yang Maha Pemurah, jadilah mukanya hitam pekat sedang dia amat menahan sedih.” (orang musyrik dulu sangat benci memiliki anak perempuan, pent.)أَوَمَن يُنَشَّأُ فِي الْحِلْيَةِ وَهُوَ فِي الْخِصَامِ غَيْرُ مُبِينٍ“Dan apakah patut (menjadi anak Allah) orang yang dibesarkan dalam keadaan berperhiasan sedang dia tidak dapat memberi alasan yang terang dalam pertengkaran.”وَجَعَلُوا الْمَلَائِكَةَ الَّذِينَ هُمْ عِبَادُ الرَّحْمَنِ إِنَاثاً أَشَهِدُوا خَلْقَهُمْ سَتُكْتَبُ شَهَادَتُهُمْ وَيُسْأَلُونَ“Dan mereka menjadikan malaikat-malaikat yang mereka itu adalah hamba-hamba Allah Yang Maha Pemurah sebagai orang-orang perempuan. Apakah mereka menyaksikan penciptaan malaika-malaikat itu? Kelak akan dituliskan persaksian mereka dan mereka akan dimintai pertanggung-jawaban.”وَقَالُوا لَوْ شَاء الرَّحْمَنُ مَا عَبَدْنَاهُم مَّا لَهُم بِذَلِكَ مِنْ عِلْمٍ إِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُونَ“Dan mereka berkata, “Jikalau Allah Yang Maha Pemurah menghendaki, tentulah kami tidak menyembah mereka (malaikat).” Mereka tidak mempunyai pengetahuan sedikit pun tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga belaka.” (QS. Az-Zukhruf [43]: 15-20)Baca Juga: Apakah Malaikat Israfil Bertugas Meniup Sangkakala pada Hari Kiamat?Ibnu Katsir rahimahullah berkata,“Allah Ta’ala menceritakan tiga perkataan mereka berkaitan dengan malaikat yang mencapai puncak kekafiran dan kedustaan. Pertama, (1) mereka menjadikan malaikat sebagai anak perempuan Allah. Sehingga (2) mereka meyakini Allah memiliki anak. Dan anak Allah itu berjenis perempuan. Kemudian (3) mereka menyembah malaikat di samping menyembah Allah. Setiap perkataan itu cukup menjadikan mereka kekal di neraka. Kemudian Allah berkata dalam rangka mengingkari keyakinan mereka,أَصْطَفَى الْبَنَاتِ عَلَى الْبَنِينَ“Apakah Tuhan memilih (mengutamakan) anak-anak perempuan daripada anak laki-laki?” (QS. Ash-Shaaffat [37]: 153)Maksudnya, apa yang menyebabkan Allah lebih memilih (memiliki) anak perempuan daripada anak laki-laki?” (Tafsir Ibnu Katsir, 7: 42)Allah Ta’ala berfirman,أَفَأَصْفَاكُمْ رَبُّكُم بِالْبَنِينَ وَاتَّخَذَ مِنَ الْمَلآئِكَةِ إِنَاثاً إِنَّكُمْ لَتَقُولُونَ قَوْلاً عَظِيماً“Maka apakah patut Tuhan memilihkan bagimu anak-anak laki-laki sedang Dia sendiri mengambil anak-anak perempuan di antara para malaikat? Sesungguhnya kamu benar-benar mengucapkan kata-kata yang besar (dosanya).” (QS. Al-Isra’ [17]: 40)Ath-Thabari rahimahullah berkata,“Allah Ta’ala mengatakan kepada orang-orang musyrik yang membuat kebohongan atas nama Allah sebagaimana yang kami sebutkan, “Sesungguhnya kalian, wahai manusia, sungguh perkataan kalian “malaikat itu anak perempuan Allah” adalah perkataan yang amat besar (dosanya). Kalian membuat kebohongan atas nama Allah Ta’ala.” (Tafsir Ath-Thabari, 17: 453)Baca Juga:[Bersambung]***@Rumah Kasongan, 3 Rabi’ul awwal 1442/ 10 Oktober 2021Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.or.id Catatan kaki:Disarikan dari kitab Haqiqatul Malaikat karya Ahmad bin Muhammad bin Ash-Shadiq An-Najar, hal. 35-38. Kutipan-kutipan dalam artikel di atas adalah melalui perantaraan kita tersebut. 🔍 Nifaq, Berpakaian Menurut Islam, Doa Tahiyat Awal, Qurban Dalam Islam, Banjir Nabi Nuh Menurut Al Quran

Metode Beriman kepada Malaikat (Bag. 2)

Baca pembahasan sebelumnya Metode Beriman kepada Malaikat (Bag. 1)Beriman secara keseluruhan, tanpa membeda-bedakanTermasuk dalam iman kepada malaikat secara global (mujmal) adalah beriman kepada seluruh malaikat, tanpa membeda-bedakan, hanya beriman kepada malaikat tertentu, dan mengingkari malaikat yang lainnya. Allah Ta’ala berfirman,آمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنزِلَ إِلَيْهِ مِن رَّبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ كُلٌّ آمَنَ بِاللّهِ وَمَلآئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لاَ نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِّن رُّسُلِهِ وَقَالُواْ سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ“Rasul telah beriman kepada Al Qur’an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan), “Kami tidak membeda-bedakan antara seseorang pun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya.” Dan mereka mengatakan, “Kami mendengar dan kami taat.” (Mereka berdoa), “Ampunilah kami, ya Tuhan kami, dan kepada Engkaulah tempat kembali.” (QS. Al-Baqarah [2]: 285)Allah Ta’ala berfirman,وَمَن يَكْفُرْ بِاللّهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلاَلاً بَعِيداً“Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya.” (QS. An-Nisa’ [4]: 136)Oleh karena itu, wajib beriman terhadap seluruh malaikat, tanpa membeda-bedakan satu pun di antara malaikat dalam masalah keimanan ini. Membeda-bedakan ini bisa jadi dalam masalah jumlah (kuantitas) dan bisa jadi dalam masalah sifat.Dalam masalah jumlah (kuantitas), misalnya hanya beriman kepada sebagian malaikat saja, dan mengingkari sebagian malaikat yang lain. Yang semacam ini berarti bertentangan dengan ayat-ayat yang telah disebutkan di atas, bahwa keimanan kepada malaikat itu mencakup iman kepada seluruh malaikat, tanpa membeda-bedakan.Baca Juga: Mengenal Alam MalaikatBeberapa bentuk terlarang yang terkait dengan melekatkan sifat tertentu kepada malaikatBeberapa bentuk terlarang yang terkait dengan melekatkan sifat tertentu kepada malaikat adalah:Pertama, keyakinan bahwa malaikat itu memiliki hak untuk diibadahiAllah Ta’ala telah memerintahkan kita untuk beriman kepada malaikat, dan juga memerintahkan kita untuk tidak menjadikan malaikat sebagai Rabb yang disembah, dan melarang kita dari menjadikan mereka sebagai sekutu (tandingan) bagi Allah Ta’ala.Allah Ta’ala berfirman,قُولُواْ آمَنَّا بِاللّهِ وَمَا أُنزِلَ إِلَيْنَا وَمَا أُنزِلَ إِلَى إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَالأسْبَاطِ وَمَا أُوتِيَ مُوسَى وَعِيسَى وَمَا أُوتِيَ النَّبِيُّونَ مِن رَّبِّهِمْ لاَ نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِّنْهُمْ وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ“Katakanlah (hai orang-orang mukmin), “Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’qub, dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa dan Isa, serta apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhannya. Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya.” (QS. Al-Baqarah [2]: 285)Allah Ta’ala memperingatkan,وَلاَ يَأْمُرَكُمْ أَن تَتَّخِذُواْ الْمَلاَئِكَةَ وَالنِّبِيِّيْنَ أَرْبَاباً أَيَأْمُرُكُم بِالْكُفْرِ بَعْدَ إِذْ أَنتُم مُّسْلِمُونَ“Dan (tidak wajar pula baginya) menyuruhmu menjadikan malaikat dan para Nabi sebagai Tuhan. Apakah (patut) dia menyuruhmu berbuat kekafiran di waktu kamu sudah (menganut agama) Islam?” (QS. Ali ‘Imran [3]: 80)Malaikat tidaklah memiliki sifat yang hanya khusus dimiliki oleh Allah Ta’ala, baik dalam hal uluhiyyah maupun rububiyyah. Malaikat tidak memiliki sifat rububiyyah dan uluhiyyah, yang itu khusus untuk Allah Ta’ala. Sehingga kita katakan, “Jangan sujud kepada malaikat, jangan shalat kepada malaikat, dan jangan berdoa meminta kepada malaikat.” Inilah hakikat tauhid. Dan perkataan semacam ini tidaklah menunjukkan rendahnya kedudukan malaikat atau berarti mencela mereka. Sama sekali tidak.Kedua, keyakinan bahwa malaikat itu adalah anak perempuan Allah Ini adalah keyakinan sebagian kaum musyrikin Arab. Ketika mereka meyakini bahwa malaikat itu berjenis perempuan, lalu mereka meyakini bahwa malaikat itu adalah anak perempuan Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman,وَجَعَلُوا لَهُ مِنْ عِبَادِهِ جُزْءاً إِنَّ الْإِنسَانَ لَكَفُورٌ مُّبِينٌ“Dan mereka menjadikan sebagian dari hamba-hamba-Nya sebagai bagian dari-Nya. Sesungguhnya manusia itu benar-benar pengingkar yang nyata (terhadap rahmat Allah).”أَمِ اتَّخَذَ مِمَّا يَخْلُقُ بَنَاتٍ وَأَصْفَاكُم بِالْبَنِينَ“Patutkah Dia mengambil anak perempuan dari yang diciptakan-Nya dan Dia mengkhususkan buat kamu anak laki-laki.”وَإِذَا بُشِّرَ أَحَدُهُم بِمَا ضَرَبَ لِلرَّحْمَنِ مَثَلاً ظَلَّ وَجْهُهُ مُسْوَدّاً وَهُوَ كَظِيمٌ“Padahal apabila salah seorang di antara mereka diberi kabar gembira dengan apa yang dijadikan sebagai misal bagi Allah Yang Maha Pemurah, jadilah mukanya hitam pekat sedang dia amat menahan sedih.” (orang musyrik dulu sangat benci memiliki anak perempuan, pent.)أَوَمَن يُنَشَّأُ فِي الْحِلْيَةِ وَهُوَ فِي الْخِصَامِ غَيْرُ مُبِينٍ“Dan apakah patut (menjadi anak Allah) orang yang dibesarkan dalam keadaan berperhiasan sedang dia tidak dapat memberi alasan yang terang dalam pertengkaran.”وَجَعَلُوا الْمَلَائِكَةَ الَّذِينَ هُمْ عِبَادُ الرَّحْمَنِ إِنَاثاً أَشَهِدُوا خَلْقَهُمْ سَتُكْتَبُ شَهَادَتُهُمْ وَيُسْأَلُونَ“Dan mereka menjadikan malaikat-malaikat yang mereka itu adalah hamba-hamba Allah Yang Maha Pemurah sebagai orang-orang perempuan. Apakah mereka menyaksikan penciptaan malaika-malaikat itu? Kelak akan dituliskan persaksian mereka dan mereka akan dimintai pertanggung-jawaban.”وَقَالُوا لَوْ شَاء الرَّحْمَنُ مَا عَبَدْنَاهُم مَّا لَهُم بِذَلِكَ مِنْ عِلْمٍ إِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُونَ“Dan mereka berkata, “Jikalau Allah Yang Maha Pemurah menghendaki, tentulah kami tidak menyembah mereka (malaikat).” Mereka tidak mempunyai pengetahuan sedikit pun tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga belaka.” (QS. Az-Zukhruf [43]: 15-20)Baca Juga: Apakah Malaikat Israfil Bertugas Meniup Sangkakala pada Hari Kiamat?Ibnu Katsir rahimahullah berkata,“Allah Ta’ala menceritakan tiga perkataan mereka berkaitan dengan malaikat yang mencapai puncak kekafiran dan kedustaan. Pertama, (1) mereka menjadikan malaikat sebagai anak perempuan Allah. Sehingga (2) mereka meyakini Allah memiliki anak. Dan anak Allah itu berjenis perempuan. Kemudian (3) mereka menyembah malaikat di samping menyembah Allah. Setiap perkataan itu cukup menjadikan mereka kekal di neraka. Kemudian Allah berkata dalam rangka mengingkari keyakinan mereka,أَصْطَفَى الْبَنَاتِ عَلَى الْبَنِينَ“Apakah Tuhan memilih (mengutamakan) anak-anak perempuan daripada anak laki-laki?” (QS. Ash-Shaaffat [37]: 153)Maksudnya, apa yang menyebabkan Allah lebih memilih (memiliki) anak perempuan daripada anak laki-laki?” (Tafsir Ibnu Katsir, 7: 42)Allah Ta’ala berfirman,أَفَأَصْفَاكُمْ رَبُّكُم بِالْبَنِينَ وَاتَّخَذَ مِنَ الْمَلآئِكَةِ إِنَاثاً إِنَّكُمْ لَتَقُولُونَ قَوْلاً عَظِيماً“Maka apakah patut Tuhan memilihkan bagimu anak-anak laki-laki sedang Dia sendiri mengambil anak-anak perempuan di antara para malaikat? Sesungguhnya kamu benar-benar mengucapkan kata-kata yang besar (dosanya).” (QS. Al-Isra’ [17]: 40)Ath-Thabari rahimahullah berkata,“Allah Ta’ala mengatakan kepada orang-orang musyrik yang membuat kebohongan atas nama Allah sebagaimana yang kami sebutkan, “Sesungguhnya kalian, wahai manusia, sungguh perkataan kalian “malaikat itu anak perempuan Allah” adalah perkataan yang amat besar (dosanya). Kalian membuat kebohongan atas nama Allah Ta’ala.” (Tafsir Ath-Thabari, 17: 453)Baca Juga:[Bersambung]***@Rumah Kasongan, 3 Rabi’ul awwal 1442/ 10 Oktober 2021Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.or.id Catatan kaki:Disarikan dari kitab Haqiqatul Malaikat karya Ahmad bin Muhammad bin Ash-Shadiq An-Najar, hal. 35-38. Kutipan-kutipan dalam artikel di atas adalah melalui perantaraan kita tersebut. 🔍 Nifaq, Berpakaian Menurut Islam, Doa Tahiyat Awal, Qurban Dalam Islam, Banjir Nabi Nuh Menurut Al Quran
Baca pembahasan sebelumnya Metode Beriman kepada Malaikat (Bag. 1)Beriman secara keseluruhan, tanpa membeda-bedakanTermasuk dalam iman kepada malaikat secara global (mujmal) adalah beriman kepada seluruh malaikat, tanpa membeda-bedakan, hanya beriman kepada malaikat tertentu, dan mengingkari malaikat yang lainnya. Allah Ta’ala berfirman,آمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنزِلَ إِلَيْهِ مِن رَّبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ كُلٌّ آمَنَ بِاللّهِ وَمَلآئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لاَ نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِّن رُّسُلِهِ وَقَالُواْ سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ“Rasul telah beriman kepada Al Qur’an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan), “Kami tidak membeda-bedakan antara seseorang pun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya.” Dan mereka mengatakan, “Kami mendengar dan kami taat.” (Mereka berdoa), “Ampunilah kami, ya Tuhan kami, dan kepada Engkaulah tempat kembali.” (QS. Al-Baqarah [2]: 285)Allah Ta’ala berfirman,وَمَن يَكْفُرْ بِاللّهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلاَلاً بَعِيداً“Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya.” (QS. An-Nisa’ [4]: 136)Oleh karena itu, wajib beriman terhadap seluruh malaikat, tanpa membeda-bedakan satu pun di antara malaikat dalam masalah keimanan ini. Membeda-bedakan ini bisa jadi dalam masalah jumlah (kuantitas) dan bisa jadi dalam masalah sifat.Dalam masalah jumlah (kuantitas), misalnya hanya beriman kepada sebagian malaikat saja, dan mengingkari sebagian malaikat yang lain. Yang semacam ini berarti bertentangan dengan ayat-ayat yang telah disebutkan di atas, bahwa keimanan kepada malaikat itu mencakup iman kepada seluruh malaikat, tanpa membeda-bedakan.Baca Juga: Mengenal Alam MalaikatBeberapa bentuk terlarang yang terkait dengan melekatkan sifat tertentu kepada malaikatBeberapa bentuk terlarang yang terkait dengan melekatkan sifat tertentu kepada malaikat adalah:Pertama, keyakinan bahwa malaikat itu memiliki hak untuk diibadahiAllah Ta’ala telah memerintahkan kita untuk beriman kepada malaikat, dan juga memerintahkan kita untuk tidak menjadikan malaikat sebagai Rabb yang disembah, dan melarang kita dari menjadikan mereka sebagai sekutu (tandingan) bagi Allah Ta’ala.Allah Ta’ala berfirman,قُولُواْ آمَنَّا بِاللّهِ وَمَا أُنزِلَ إِلَيْنَا وَمَا أُنزِلَ إِلَى إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَالأسْبَاطِ وَمَا أُوتِيَ مُوسَى وَعِيسَى وَمَا أُوتِيَ النَّبِيُّونَ مِن رَّبِّهِمْ لاَ نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِّنْهُمْ وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ“Katakanlah (hai orang-orang mukmin), “Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’qub, dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa dan Isa, serta apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhannya. Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya.” (QS. Al-Baqarah [2]: 285)Allah Ta’ala memperingatkan,وَلاَ يَأْمُرَكُمْ أَن تَتَّخِذُواْ الْمَلاَئِكَةَ وَالنِّبِيِّيْنَ أَرْبَاباً أَيَأْمُرُكُم بِالْكُفْرِ بَعْدَ إِذْ أَنتُم مُّسْلِمُونَ“Dan (tidak wajar pula baginya) menyuruhmu menjadikan malaikat dan para Nabi sebagai Tuhan. Apakah (patut) dia menyuruhmu berbuat kekafiran di waktu kamu sudah (menganut agama) Islam?” (QS. Ali ‘Imran [3]: 80)Malaikat tidaklah memiliki sifat yang hanya khusus dimiliki oleh Allah Ta’ala, baik dalam hal uluhiyyah maupun rububiyyah. Malaikat tidak memiliki sifat rububiyyah dan uluhiyyah, yang itu khusus untuk Allah Ta’ala. Sehingga kita katakan, “Jangan sujud kepada malaikat, jangan shalat kepada malaikat, dan jangan berdoa meminta kepada malaikat.” Inilah hakikat tauhid. Dan perkataan semacam ini tidaklah menunjukkan rendahnya kedudukan malaikat atau berarti mencela mereka. Sama sekali tidak.Kedua, keyakinan bahwa malaikat itu adalah anak perempuan Allah Ini adalah keyakinan sebagian kaum musyrikin Arab. Ketika mereka meyakini bahwa malaikat itu berjenis perempuan, lalu mereka meyakini bahwa malaikat itu adalah anak perempuan Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman,وَجَعَلُوا لَهُ مِنْ عِبَادِهِ جُزْءاً إِنَّ الْإِنسَانَ لَكَفُورٌ مُّبِينٌ“Dan mereka menjadikan sebagian dari hamba-hamba-Nya sebagai bagian dari-Nya. Sesungguhnya manusia itu benar-benar pengingkar yang nyata (terhadap rahmat Allah).”أَمِ اتَّخَذَ مِمَّا يَخْلُقُ بَنَاتٍ وَأَصْفَاكُم بِالْبَنِينَ“Patutkah Dia mengambil anak perempuan dari yang diciptakan-Nya dan Dia mengkhususkan buat kamu anak laki-laki.”وَإِذَا بُشِّرَ أَحَدُهُم بِمَا ضَرَبَ لِلرَّحْمَنِ مَثَلاً ظَلَّ وَجْهُهُ مُسْوَدّاً وَهُوَ كَظِيمٌ“Padahal apabila salah seorang di antara mereka diberi kabar gembira dengan apa yang dijadikan sebagai misal bagi Allah Yang Maha Pemurah, jadilah mukanya hitam pekat sedang dia amat menahan sedih.” (orang musyrik dulu sangat benci memiliki anak perempuan, pent.)أَوَمَن يُنَشَّأُ فِي الْحِلْيَةِ وَهُوَ فِي الْخِصَامِ غَيْرُ مُبِينٍ“Dan apakah patut (menjadi anak Allah) orang yang dibesarkan dalam keadaan berperhiasan sedang dia tidak dapat memberi alasan yang terang dalam pertengkaran.”وَجَعَلُوا الْمَلَائِكَةَ الَّذِينَ هُمْ عِبَادُ الرَّحْمَنِ إِنَاثاً أَشَهِدُوا خَلْقَهُمْ سَتُكْتَبُ شَهَادَتُهُمْ وَيُسْأَلُونَ“Dan mereka menjadikan malaikat-malaikat yang mereka itu adalah hamba-hamba Allah Yang Maha Pemurah sebagai orang-orang perempuan. Apakah mereka menyaksikan penciptaan malaika-malaikat itu? Kelak akan dituliskan persaksian mereka dan mereka akan dimintai pertanggung-jawaban.”وَقَالُوا لَوْ شَاء الرَّحْمَنُ مَا عَبَدْنَاهُم مَّا لَهُم بِذَلِكَ مِنْ عِلْمٍ إِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُونَ“Dan mereka berkata, “Jikalau Allah Yang Maha Pemurah menghendaki, tentulah kami tidak menyembah mereka (malaikat).” Mereka tidak mempunyai pengetahuan sedikit pun tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga belaka.” (QS. Az-Zukhruf [43]: 15-20)Baca Juga: Apakah Malaikat Israfil Bertugas Meniup Sangkakala pada Hari Kiamat?Ibnu Katsir rahimahullah berkata,“Allah Ta’ala menceritakan tiga perkataan mereka berkaitan dengan malaikat yang mencapai puncak kekafiran dan kedustaan. Pertama, (1) mereka menjadikan malaikat sebagai anak perempuan Allah. Sehingga (2) mereka meyakini Allah memiliki anak. Dan anak Allah itu berjenis perempuan. Kemudian (3) mereka menyembah malaikat di samping menyembah Allah. Setiap perkataan itu cukup menjadikan mereka kekal di neraka. Kemudian Allah berkata dalam rangka mengingkari keyakinan mereka,أَصْطَفَى الْبَنَاتِ عَلَى الْبَنِينَ“Apakah Tuhan memilih (mengutamakan) anak-anak perempuan daripada anak laki-laki?” (QS. Ash-Shaaffat [37]: 153)Maksudnya, apa yang menyebabkan Allah lebih memilih (memiliki) anak perempuan daripada anak laki-laki?” (Tafsir Ibnu Katsir, 7: 42)Allah Ta’ala berfirman,أَفَأَصْفَاكُمْ رَبُّكُم بِالْبَنِينَ وَاتَّخَذَ مِنَ الْمَلآئِكَةِ إِنَاثاً إِنَّكُمْ لَتَقُولُونَ قَوْلاً عَظِيماً“Maka apakah patut Tuhan memilihkan bagimu anak-anak laki-laki sedang Dia sendiri mengambil anak-anak perempuan di antara para malaikat? Sesungguhnya kamu benar-benar mengucapkan kata-kata yang besar (dosanya).” (QS. Al-Isra’ [17]: 40)Ath-Thabari rahimahullah berkata,“Allah Ta’ala mengatakan kepada orang-orang musyrik yang membuat kebohongan atas nama Allah sebagaimana yang kami sebutkan, “Sesungguhnya kalian, wahai manusia, sungguh perkataan kalian “malaikat itu anak perempuan Allah” adalah perkataan yang amat besar (dosanya). Kalian membuat kebohongan atas nama Allah Ta’ala.” (Tafsir Ath-Thabari, 17: 453)Baca Juga:[Bersambung]***@Rumah Kasongan, 3 Rabi’ul awwal 1442/ 10 Oktober 2021Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.or.id Catatan kaki:Disarikan dari kitab Haqiqatul Malaikat karya Ahmad bin Muhammad bin Ash-Shadiq An-Najar, hal. 35-38. Kutipan-kutipan dalam artikel di atas adalah melalui perantaraan kita tersebut. 🔍 Nifaq, Berpakaian Menurut Islam, Doa Tahiyat Awal, Qurban Dalam Islam, Banjir Nabi Nuh Menurut Al Quran


Baca pembahasan sebelumnya Metode Beriman kepada Malaikat (Bag. 1)Beriman secara keseluruhan, tanpa membeda-bedakanTermasuk dalam iman kepada malaikat secara global (mujmal) adalah beriman kepada seluruh malaikat, tanpa membeda-bedakan, hanya beriman kepada malaikat tertentu, dan mengingkari malaikat yang lainnya. Allah Ta’ala berfirman,آمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنزِلَ إِلَيْهِ مِن رَّبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ كُلٌّ آمَنَ بِاللّهِ وَمَلآئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لاَ نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِّن رُّسُلِهِ وَقَالُواْ سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ“Rasul telah beriman kepada Al Qur’an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan), “Kami tidak membeda-bedakan antara seseorang pun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya.” Dan mereka mengatakan, “Kami mendengar dan kami taat.” (Mereka berdoa), “Ampunilah kami, ya Tuhan kami, dan kepada Engkaulah tempat kembali.” (QS. Al-Baqarah [2]: 285)Allah Ta’ala berfirman,وَمَن يَكْفُرْ بِاللّهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلاَلاً بَعِيداً“Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya.” (QS. An-Nisa’ [4]: 136)Oleh karena itu, wajib beriman terhadap seluruh malaikat, tanpa membeda-bedakan satu pun di antara malaikat dalam masalah keimanan ini. Membeda-bedakan ini bisa jadi dalam masalah jumlah (kuantitas) dan bisa jadi dalam masalah sifat.Dalam masalah jumlah (kuantitas), misalnya hanya beriman kepada sebagian malaikat saja, dan mengingkari sebagian malaikat yang lain. Yang semacam ini berarti bertentangan dengan ayat-ayat yang telah disebutkan di atas, bahwa keimanan kepada malaikat itu mencakup iman kepada seluruh malaikat, tanpa membeda-bedakan.Baca Juga: Mengenal Alam MalaikatBeberapa bentuk terlarang yang terkait dengan melekatkan sifat tertentu kepada malaikatBeberapa bentuk terlarang yang terkait dengan melekatkan sifat tertentu kepada malaikat adalah:Pertama, keyakinan bahwa malaikat itu memiliki hak untuk diibadahiAllah Ta’ala telah memerintahkan kita untuk beriman kepada malaikat, dan juga memerintahkan kita untuk tidak menjadikan malaikat sebagai Rabb yang disembah, dan melarang kita dari menjadikan mereka sebagai sekutu (tandingan) bagi Allah Ta’ala.Allah Ta’ala berfirman,قُولُواْ آمَنَّا بِاللّهِ وَمَا أُنزِلَ إِلَيْنَا وَمَا أُنزِلَ إِلَى إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَالأسْبَاطِ وَمَا أُوتِيَ مُوسَى وَعِيسَى وَمَا أُوتِيَ النَّبِيُّونَ مِن رَّبِّهِمْ لاَ نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِّنْهُمْ وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ“Katakanlah (hai orang-orang mukmin), “Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’qub, dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa dan Isa, serta apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhannya. Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya.” (QS. Al-Baqarah [2]: 285)Allah Ta’ala memperingatkan,وَلاَ يَأْمُرَكُمْ أَن تَتَّخِذُواْ الْمَلاَئِكَةَ وَالنِّبِيِّيْنَ أَرْبَاباً أَيَأْمُرُكُم بِالْكُفْرِ بَعْدَ إِذْ أَنتُم مُّسْلِمُونَ“Dan (tidak wajar pula baginya) menyuruhmu menjadikan malaikat dan para Nabi sebagai Tuhan. Apakah (patut) dia menyuruhmu berbuat kekafiran di waktu kamu sudah (menganut agama) Islam?” (QS. Ali ‘Imran [3]: 80)Malaikat tidaklah memiliki sifat yang hanya khusus dimiliki oleh Allah Ta’ala, baik dalam hal uluhiyyah maupun rububiyyah. Malaikat tidak memiliki sifat rububiyyah dan uluhiyyah, yang itu khusus untuk Allah Ta’ala. Sehingga kita katakan, “Jangan sujud kepada malaikat, jangan shalat kepada malaikat, dan jangan berdoa meminta kepada malaikat.” Inilah hakikat tauhid. Dan perkataan semacam ini tidaklah menunjukkan rendahnya kedudukan malaikat atau berarti mencela mereka. Sama sekali tidak.Kedua, keyakinan bahwa malaikat itu adalah anak perempuan Allah Ini adalah keyakinan sebagian kaum musyrikin Arab. Ketika mereka meyakini bahwa malaikat itu berjenis perempuan, lalu mereka meyakini bahwa malaikat itu adalah anak perempuan Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman,وَجَعَلُوا لَهُ مِنْ عِبَادِهِ جُزْءاً إِنَّ الْإِنسَانَ لَكَفُورٌ مُّبِينٌ“Dan mereka menjadikan sebagian dari hamba-hamba-Nya sebagai bagian dari-Nya. Sesungguhnya manusia itu benar-benar pengingkar yang nyata (terhadap rahmat Allah).”أَمِ اتَّخَذَ مِمَّا يَخْلُقُ بَنَاتٍ وَأَصْفَاكُم بِالْبَنِينَ“Patutkah Dia mengambil anak perempuan dari yang diciptakan-Nya dan Dia mengkhususkan buat kamu anak laki-laki.”وَإِذَا بُشِّرَ أَحَدُهُم بِمَا ضَرَبَ لِلرَّحْمَنِ مَثَلاً ظَلَّ وَجْهُهُ مُسْوَدّاً وَهُوَ كَظِيمٌ“Padahal apabila salah seorang di antara mereka diberi kabar gembira dengan apa yang dijadikan sebagai misal bagi Allah Yang Maha Pemurah, jadilah mukanya hitam pekat sedang dia amat menahan sedih.” (orang musyrik dulu sangat benci memiliki anak perempuan, pent.)أَوَمَن يُنَشَّأُ فِي الْحِلْيَةِ وَهُوَ فِي الْخِصَامِ غَيْرُ مُبِينٍ“Dan apakah patut (menjadi anak Allah) orang yang dibesarkan dalam keadaan berperhiasan sedang dia tidak dapat memberi alasan yang terang dalam pertengkaran.”وَجَعَلُوا الْمَلَائِكَةَ الَّذِينَ هُمْ عِبَادُ الرَّحْمَنِ إِنَاثاً أَشَهِدُوا خَلْقَهُمْ سَتُكْتَبُ شَهَادَتُهُمْ وَيُسْأَلُونَ“Dan mereka menjadikan malaikat-malaikat yang mereka itu adalah hamba-hamba Allah Yang Maha Pemurah sebagai orang-orang perempuan. Apakah mereka menyaksikan penciptaan malaika-malaikat itu? Kelak akan dituliskan persaksian mereka dan mereka akan dimintai pertanggung-jawaban.”وَقَالُوا لَوْ شَاء الرَّحْمَنُ مَا عَبَدْنَاهُم مَّا لَهُم بِذَلِكَ مِنْ عِلْمٍ إِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُونَ“Dan mereka berkata, “Jikalau Allah Yang Maha Pemurah menghendaki, tentulah kami tidak menyembah mereka (malaikat).” Mereka tidak mempunyai pengetahuan sedikit pun tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga belaka.” (QS. Az-Zukhruf [43]: 15-20)Baca Juga: Apakah Malaikat Israfil Bertugas Meniup Sangkakala pada Hari Kiamat?Ibnu Katsir rahimahullah berkata,“Allah Ta’ala menceritakan tiga perkataan mereka berkaitan dengan malaikat yang mencapai puncak kekafiran dan kedustaan. Pertama, (1) mereka menjadikan malaikat sebagai anak perempuan Allah. Sehingga (2) mereka meyakini Allah memiliki anak. Dan anak Allah itu berjenis perempuan. Kemudian (3) mereka menyembah malaikat di samping menyembah Allah. Setiap perkataan itu cukup menjadikan mereka kekal di neraka. Kemudian Allah berkata dalam rangka mengingkari keyakinan mereka,أَصْطَفَى الْبَنَاتِ عَلَى الْبَنِينَ“Apakah Tuhan memilih (mengutamakan) anak-anak perempuan daripada anak laki-laki?” (QS. Ash-Shaaffat [37]: 153)Maksudnya, apa yang menyebabkan Allah lebih memilih (memiliki) anak perempuan daripada anak laki-laki?” (Tafsir Ibnu Katsir, 7: 42)Allah Ta’ala berfirman,أَفَأَصْفَاكُمْ رَبُّكُم بِالْبَنِينَ وَاتَّخَذَ مِنَ الْمَلآئِكَةِ إِنَاثاً إِنَّكُمْ لَتَقُولُونَ قَوْلاً عَظِيماً“Maka apakah patut Tuhan memilihkan bagimu anak-anak laki-laki sedang Dia sendiri mengambil anak-anak perempuan di antara para malaikat? Sesungguhnya kamu benar-benar mengucapkan kata-kata yang besar (dosanya).” (QS. Al-Isra’ [17]: 40)Ath-Thabari rahimahullah berkata,“Allah Ta’ala mengatakan kepada orang-orang musyrik yang membuat kebohongan atas nama Allah sebagaimana yang kami sebutkan, “Sesungguhnya kalian, wahai manusia, sungguh perkataan kalian “malaikat itu anak perempuan Allah” adalah perkataan yang amat besar (dosanya). Kalian membuat kebohongan atas nama Allah Ta’ala.” (Tafsir Ath-Thabari, 17: 453)Baca Juga:[Bersambung]***@Rumah Kasongan, 3 Rabi’ul awwal 1442/ 10 Oktober 2021Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.or.id Catatan kaki:Disarikan dari kitab Haqiqatul Malaikat karya Ahmad bin Muhammad bin Ash-Shadiq An-Najar, hal. 35-38. Kutipan-kutipan dalam artikel di atas adalah melalui perantaraan kita tersebut. 🔍 Nifaq, Berpakaian Menurut Islam, Doa Tahiyat Awal, Qurban Dalam Islam, Banjir Nabi Nuh Menurut Al Quran
Prev     Next